Seekor Anjing Mati di Bala Murghab

Seekor Anjing Mati di Bala Murghab by Linda Christanty

“Laut memang sama di mana-mana. airnya asin. Tapi ini Atlantik. Lain. Bagaimana?”

Bukti bahwa nama besar tak selalu menjamin bukunya selalu bagus. Kumpulan cerpen ini, dimula bagus, di tengah agak menurun, dan akhir yang malah biasa saja. Apalagi ada blundr bahwa Superman adalah pahlawan keluaran komik Marvel. Ketika kubagikan di grup film jadi bahan bully, mereka tak tahu bahwa penulisnya adalah penulis yang sudah menang penghargaan sastra bergengsi.
Dengan setting bervariasi, dari Jepang, Eropa, Timur Tengah, hingga pantai-pantai lokal. Kita diajak melalang buana dalam bernarasi. Paling bagus cerita kedua, cerita sederhana tentang mengantar barang tapi dibumbui mistik. Paling biasa cerita terakhir.

#1. Ketika Makan Kepiting

Keluarga biasa tinggal di pesisir, makan kepiting rebus adalah keistimewaan. Bayangan masa kecil itu terus menempelnya. Ayahnya meninggal dunia, lalu ibunya menikah lagi. Kini ia memiliki ayah tiri. Keadaan baru ini membuat Orin kembali beradaptasi, tapi keanehan muncul saat malam ada ayahnya pulang dari dinas luar, tapi paginya tak ada.

“Orin tidak suka kue-kue ini. kau makanlah.”

#2. Zakaria

Zakaria bertugas mengantar barang dengan truk, meminta bantuan kepada orang pintar yang bisa membuatnya tak terlihat dengan membunuh kucing hitam bermata merah. Syaratnya berat sekali, kucing itu dipelihara hingga sayang, lalu dibunuh untuk dikuburkan di perempatan. Sang jagoan Geuchik Syawal meminta ditemani Taufik, sobatnya. Lantas dalam aksinya, di jalan melintas kucing putih belang-belang, segalanya berantakan.

“Pertanda apa ini?” / “Pertanda buruk.”

#3. Karunia dari Laut

Hikayat orang pesisir. Hantu-hantu hanya khayalan para pengecut. Mereka ada, bila kita memikirkannya, kata ibu. Suatu hari ayahnya hilang, dan ibunya menikah lagi. ayahnya buta huruf, tapi sering membelikannya buku dan meminta mencerita isinya. Dan terjadilah masalah dengan kedekatan itu. Itulah kenapa Bibi Salma tak mau menikah, bertekad hidup sendiri.

“Lelaki-lelaki itu yang mengejar-ngejarku. Aku suka-suka saja.”

#4. Sihir Musim Dingin

Persahabatan di Jepang. Keiko dan Hana, nuansa dingin yang mengigit. Seminar, belajar, persahabatan yang kental. Hal-hal biasa dalam hubungan antar manusia. Rasa-saranya, ia sering bertemu orang-orang yang menyenangkan dan kemudian menghilang begitu saja seperti gas perut menguap di udara. Meninggalkan bau, tanpa wujud. Bau = kenangan. Wujud = kabar atau berita.

“Apakah kamu menikah?”

#5. Jack dan Bidadari

Saya dan Bidadari sering bertengkar, di musim apa pun, tentang apa pun. Ini bisa jadi hubungan rumit, setelah bercerai ia memiliki hubungan dengan seorang pekerja malam. Sering tinggal di rumahnya, lalu bertengkar dan pergi, lalu kembali lagi. Nasehat sobatnya Tom yang bekerja sering meliput perang, hubungan seperti itu tak baik. Anaknya Anna bergantian tinggal sama dia dan mantan istrinya. Oh Jack yang malang.

“Saya akan menelpon polisi sesudah sarapan. Nama saya, Jack. Kamu? Rati? Rati-h?”

#6. Perpisahan

Berlin dengan lika-liku sejarahnya. Runtuhnya tembok tahun 1990 dan akibat setelahnya. Hans dan orang tercinta yang harus berpisah akibat sakit yang dideritanya. Udara benar-benar dingin.

“Musim panas seharusnya lebih panjang.”

#7. Kisah Cinta

Cerita seperti detektif. Tubuh mati Erika Sartika di kolan ikan. Apakah bunuh diri atau tindakan jatuh tak sengaja? Tina Wang mencoba menganalisis. Sebagai sahabatnya, ia sering meminta Erika untuk memasang gerendel di jendelanya. Malah dibalas, cerewet kayak nenek-nenek. Apalagi ada pekerja kebun Rahmat yang sering mengintipnya ganti baju, Erika tahu tapi malah menikmatinya. Tina lupa nama saudara Erika, untuk mengurus pemakaman. Dan saat Rahmat memberitahunya, ia malah membatin. Tiran? Diktator?

“Nama asik Ibu Erika… Tiran, Bu.”

#8. Pertemuan Atlantik

Pertemuan orang-orang dari berbagai Negara untuk belajar bareng. Perkara menghabiskan waktu luang saja ribet, mau tidur istirahat, mau melihat-lihat pantai, atau sekadar jalan-jalan. Mereka tinggal di penginapan biasa, padahal di depannya ada hotel besar mewah nan megah.

“Kamu tidak suka laut?”

#9. Seekor Anjing Mati di Bala Murghab

Perkara anjing mati yang ditembak tentara, mencipta kesedihan mendalam seorang anak. Ini zona perang, apa pun tindakannya, nyawa manusia yang utama bukan nyawa anjing. Bala Murghab adalah nama tempat di Afghanistan, sang bocah laki-laki (terdengar bernama Aref) yang menjerit kehilangan anjingnya, coba ditahan dan diamankan oleh ibunya. Sang fotografer, si Aku bahkan tak ada niat mengabadikan memen haru itu.

Aku melantunkan lagu Tom Waits, “Romeo is Bleeding.”. dan hari ini kulihat darah anjing.

#10. Catatan tentang Luta; Manusia yang Hidup Abadi

Awalnya kukira Luta, manusia abadi berusia 300 tahun ini istimewa. Lantas beberapa orang juga memiliki usia yang setara, sehingga jadi banyak orang yang abadi. Helmut Herzog, antropolog Jerman ia meneliti tentang orang-orang yang hidup abadi.
Manusia abadi hanya punya satu persoalan, yaitu kesepian abadi.

“Mungkin Datu Pasir akan ikut.”

Kutuntaskan dalam dua hari baca. Jumat saat perjalanan ke Noodle Cibitung dalam tugas koperasi, duduk di jok mobil belakang. Rasanya nyaman sekali menikmati perjalanan tol yang membosankan dengan musik radio dan buku. Lebih nyaman dan tenang dengan kumpulan cerpan, sebab akan terputus saat sampai tujuan, makanya tak sepanjang novel. Buku ini kubeli dari Mas Udi, temannya temanku yang ada di twitter. Kubeli November tepat tahun lalu, baru sempat kubaca sekarang.

Ini bukan buku pertama Linda yang kubaca sebelumnya Rahasia Selma lumayan bagus. Ini sedikit berkurang, terutama dua cerpen penutup yang sangat biasa. Setting tempat yang melalangbuana malah tak nyaman, tokoh-tokoh dengan nama Barat juga tak langsung bikin klik kalau yang menulis kita. Tak membumi. Linda memiliki CV mentereng, dan itu dijabarkan di kover belakang. Ya.

Seekor Anjing Mati di Bala Murghab | by Linda Christanty | kumpulan cerpen | GM 201 01 12 0023 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Jui 2012 | Desain cover Mulyono | Foto diambil dari Shutterstcok.com | Setter Rahayu Lestari | ISBN 978-979-22-8495-9 | Skor: 3.5/5

Karawang, 261121 – Fats Waller – Handful of Keys

Thx to Mas Udi, Yogya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s