The Art Of Deception – Nora Roberts

Adam: “Kau tahu kebanyakan perempuan mengharapkan rayuan, tak peduli betapa gombalnya.” | Kirby: “Kebanyakn perempuan bukan Kirby Fairchild. Aku tak ingin membuatmu bosan dengan rayuan kuno.

Serial Harlequin terbaik yang kubaca sejauh ini. Setelah kecewa beberapa kali, akhirnya ada serial ini yang lumayan bagus. Memang endingnnya ketebak. Tetap isinya cinta-cintaan nafsu, tapi ada sisi art yang menunjang cerita. Bukan sekedar hajar bleh, ciuman, buka baju dan terjadilah, yang penting pembaca nefsu dan senang. Enggak. Kisah cintanya menjadi sedikit berbobot ketika kedua insan memiliki motif kuat untuk saling mengalahkan, ada semacam benang merah yang menghubungkan segala plot sederhana ini. Yah, setidaknya ga drop amat. Mungkin karena sebagian kisah berkutat pada gerak tipuan-tipuan dalam seni lukis, saling serang dalam permainan pikiran dan intimidasi serta menyinggung hubungan ayah-anak yang lumayan ngena sehingga ga rugi-rugi amat kutuntaskan baca. Selalu, chemistry antara ayah-anak ada di tempat hati. Hatiku mudah tersentuh bila menyinggung koneksi spesial itu.

Saya review segera karena sudah didesak Meyka untuk secepatnya mengembalikan tiga buku Harlequin pinjaman kepada temannya. Yang pertama sudah baca tahun lalu, terbengkelai kejar Best 100 Novels, buku ini awal tahun kunikmati dan satu lagi kini masih dalam progres baca. Akan segera kutuntaskan, karena memang buku pinjam selalu prioritas. Daftar buku beli di #Promo61 sementara hold dulu, dan beginilah kisah ‘Indahnya Dusta’.

Adam Haines adalah pemuda pelukis pemula yang dikirim ke rumah seniman kondang, rumah bak istana di dekat sungai Hudson, pinggiran kota New York. Seniman kaya raya itu mempekerjakan magang atau mengajari atau membagi ilmu kepada pemuda punya talenta, banyak berbagi kepada pemula. Seniman yang kalau beneran ada pasti akan membuat dunia gempar karena bisa meniru dan memalsukan lukisan legendaris dengan cermat dari Rembrandt, Van Gogh, Titian, Da Vinci, Picasso, Masaccio, Dali, dst. Sebut saja lukisan hebat Eropa tempo doeloe yang ada dalam kepalamu, ia bisa menciptanya. Hebat. Mr. Fairchild memiliki putri semata mayang yang cantik jelita Kirby Fairchild, yang di kisah ini menyambut Adam membukakan pintu yang dikira pelayan. Karena ini roman picisan maka dengan mudah kita bisa menebaknya, mereka pasti bersatu entah bagaimana caranya pasti happy ending dalam satu peluk indah. Well, kalau saya bilang iya apakah ini spoiler yang akan membuat kalian kecewa? Ga usah khawatir, gampang banget kok mengiranya karena di akhir bab pertama saja kita sudah tahu mereka saling menggoda. Bocoran sederhana untuk kisah sederhana.

Namun sebelum jauh menuju ke sana kita diajak mengenal lebih dekat profesi sesungguhnya Tuan Fairchild. Dalam ke-glamor-an pesta, bisnis seni yang menjanjikan dan hiruk pikuk kota besar Amerika ternyata ada banyak sekali singgung emosi antar pribadi yang katanya manusia beradab. Adam memang menjadi tokoh utama yang diambil sudut pandangnya, sehingga saat lapisan fakta satu per satu dikupas Pembaca dalam posisi sama-sama tak tahu. Ia dengan pelan mengamati segala hal keluarga ini. Dari hal sepele seperti kebiasan makan malam, waktu luang yang dihabiskan ke mana sampai teknik lukis yang rumit. Kirby pernah tunangan dengan Stuart, seorang pemuda yang awalnya terlihat bermasa depan cerah, tapi terputus oleh sebuah sebab yang sungguh berat. Masalah hati.

Kirby pernah slek dengan teman dekat Mellanie yang sudah dianggap saudara sendiri. Karena Kirby yang jelita selalu mengambil perhatian, merebut pacar, dan unggul segala hal. Dendam itu merekah dengan berjalannya waktu. Bahkan di kisah cinta-cintaan ini Melly nantinya berniat membunuh dan menghancurkan keluarga ini. Dengan pistol dan rencana ledakan gas? Luar biasa. Memang kisah harus mencipta konflik berat untuk menjadi keren. Namun tetap, tenang saja ini kisah cinta.

Sebelum ke sana kita akan diberitahu bahwa Tuan Fairchild ternyata seorang kriminal. Pencuri lukisan terkenal, mencipta ulang dan menjualnya kepada para kolektor gila yang berani membayar mahal. Jelas ini penipuan sehingga semirip apapun karya yang dicipta tetap saja lukisan yang dijual adalah palsu. Ia bersama rekan Phillip memiliki galeri yang sama-sama gila lukisan ternama memiliki kesepakatan memiliki bergantian. Namun jelas akan ada penghianatan. Akan ada riak dalam persahabatan.

Adam sendiri bak pion yang ditendang ke sana kemari mengikuti alur keras persaingan para pesohor. Walau karakter ini terlihat lemah, yang jelas beruntung sekali karena dalam kesehariannya ia dekat dengan Kirby. Bahu-membahu membantu Tuan Fairchild agar tak tertangkap, agar tidak kena bui, bahkan dalam satu malam yang menegangkan melakukan pencurian lukisan! Nah, pada akhirnya timbul benih-benih cinta. Mudah ditebak mereka akhirnya melepas dahaga cinta, di sini bagian ini di-eksplore lumayan banyak bahkan nyaris bikin muntah. Romantis ala ala ABG yang merayu, merajuk dan lebay. Apakah sebenarnya ini daya jualnya? Duh! Kirby: “Aku benci harus mengulang-ulang lagi, tapi aku cinta padamu.” | Adam: “Ulanglah terus sesering kau mau. Kau mencuri nafasku.

Saat pada akhirnya Kirby berhasil takluk mencinta penuh damba pada Adam ada sesuatu yang tak terduga diungkap. Saat Tuan Fairchild sudah menaruh banyak tanggung jawab dan kepercayaan pada Adam, ada sebuah kejutan yang bagiku sih ga kaget-kaget amat, tapi tetap saja ini memang sengaja disimpan untuk membuat lonjak girang Pembaca. Adam yang kita kenal sepanjang 200 halaman itu tak selugu yang dituturkan. Ia memiliki sebuah rahasia yang sejatinya ayah-putri ini tahu jelas tak akan menerima masuk istana mereka. Sebuah kejutan yang merusak segalanya. Apakah ada kesempatan kedua? Adam: “Aku datang mencari Rembrandt. Sewaktu aku masuk lewat pintu aku hanya punya satu tujuan, menemukan lukisan itu. Tapi aku belum mengenalmu ketika aku masuk ke sini. Aku belum jatuh cinta padamu.

Bagiku kisah seperti ini sudah tak terlalu memuaskan, klise dan sederhana. Namun Nora Roberts memberi senyawa kisah yang sejatinya bisa jadi begitu hidup. Yah, setidaknya dibanding Harlequin sebelum ini. Saya jadi penasaran apakah ada dalam serial ini yang mengangkat senjata dalam perang epik bacok-bacokan penuh darah?

Jualan cinta semacam ini memang menjadi komoditi utama dan akan masih terus digandrungi 20, 25 tahun lagi. Cerita cinta memang selalu ada tempat, generasi muda silih berganti. Seperti kita yang pernah muda, proses menuju dewasa selalu memberi daya deg-degan hanya sekedar memandang lawan jenis. Bandingkan saat usia sudah 30an atau malah 40an, hal yang membuat remaja belasan tahun itu tak ada artinya. Seperti itulah Harlequin walau cintanya norak akan selalu laku dijual.

Indahnya Dusta | by Nora Roberts | diterjemahkan dari The Art Of Deception | copyright 1986 | alih bahasa Marina Suksmono | GM 404 03.005 | Sampul Marcel A.W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Mei 2003 | 304 hlm.; 18 cm | ISBN 979-22-0319-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 220318 – Shontelle – Impossible

Thx to: Melly Potter, Meyka’s friend

Iklan

Robinson Crusoe – Daniel Defoe

Robinson Crusoe – Daniel Defoe

Classic tales

Kutipan-Kutipan

Kesederhanaan, ketenangan, kesehatan masyarakat, semua hiburan yang baik dan kesenangan yang diinginkan, merupakan berkat yang ada dalam kehidupan kelas menengah. Inilah cara orang menjalani hidup dengan tenang dan baik.

“Anak muda. Sebaiknya kau jangan pernah berlayar lagi. Seharusnya kau melihat hal ini sebagai pertanda yang jelas dan nyata bahwa kau bukanlah seorang pelaut.”

Pengaruh buruklah yang membawaku pertama kali lari dari rumah ayahku, pengaruh ini pula yang pertama membawaku pada ide liar dan tak dapat dicerna oleh akal sehat untuk mengejar kekayaanku.

Namun keputusanku sudah bulat, kemana pun angin berhembus aku harus pergi dari tempat mengerikan itu. Kelanjutannya kuserahkan pada nasib saja.

Tetapi itulah kebiasaanku, selalu melakukan hal yang salah.

Kekayaan sering kali merupakan musuh terbesar kita, sebagaimana yang terjadi dengan diriku.

Aku mendapat tiga bantuan. Pertama, laut yang tenang. Kedua, ombak yang mengalir ke pantai. Tiga, angin kecil yang berhembus membawaku ke arah darat.

Pulau ini tidak dihuni kecuali binatang liar.

Aku yakin bahwa itulah suara tembakan pertama yang terdengar di pulau itu sejak dunia diciptakan.

“Apa gunanya dirimu? Kau sama sekali tak berguna bagiku. Tak berguna untuk menggali. Salah satu dari pisau ini lebih berharga dari tumpukan ini.”

Aku tidak akan terdampar di pulau ini andai saja tidak terdorong oleh keinginanku untuk memperdagangkan manusia diluar batas.

Orang jahat dipertimbangkan dengan kebaikan yang ada padanya dan hal terburuk yang menimpanya.

Benda yang akan kuberikan padamu adalah salinannya (sekalipun di dalamnya terdapat hal-hal yang sama diceritakan berkali-kali) selama hal ini berlangsung.

Aku segera mengabaikan untuk memuliakan hari Minggu, karena dengan menghilangkan tandanya dari posku, aku lupa yang mana hari Minggu itu.

Aku bukan tipe orang yang mudah putus asa.

Saat merenung mengenai bagaimana aku terdampar di tempat mengerikan ini, di luar jangkauan manusia lain, tiada harapan ditolong ataupun tetap hidup dan aku tidak akan mati kelaparan, semua rasa deritaku menghilang.

“Ya Allah, tolonglah diriku, karena aku dalam kesulitan yang besar.”

Akulah raja dan penguasa negeri yang tidak berpenghuni ini dan berhak memilikinya. Jika aku bisa membawanya, aku mungkin mewariskannya sebagaimana setiap penguasa sebuah manor di Inggris.

Hari ini aku berpuasa dengan khidmat, menyediakan waktu untuk beribadah, dengan bersujud dan merendahkan diri dengan sungguh-sungguh, mengakui dosa kepada Allah, mengakui kebenaran penghakiman-Nya terhadap diriku dan berdoa kepadanya.

Sekarang aku mulai merasakan betapa membahagiakannya hidup yang kini kujalani, dengan semua penderitaannya, daripada kehidupan buruk yang kulalui sebelumnya.

Aku melihat betapa bodohnya memulai sesuatu pekerjaan sebelum memperhitungkan biayanya, dan sebelum kita menilai kekuatan kita dengan benar apakah kita dapat melakukannya.

Alam dan pengalaman mengajarkanku, melalui perenungan bahwa semua hal baik di dunia ini tidak akan menjadi baik bagi kami jika digunakan melebihi kebutuhan.

Orang yang paling kikir, suka iri hati, dan suka mengeluh di dunia ini bisa disembuhkan dari dosanya jika ia berada dalam posisiku.

Sekalipun hidupku menyedihkan, hidupku ini juga penuh dengan belas kasihan.

Sekalipun udara memang sangat panas sehingga pakaian tidak diperlukan, tetapi aku tidak pernah hidup telanjang.

Ketika aku melakukan pelayaran ini, yang ternyata lebih lama daripada yang kuperkirakan.

Kini, aku melihat betapa mudahnya Allah membuat penderitaan terburuk manusia menjadi jauh lebih buruk lagi. Sekarang aku melihat pulau terpencilku sebagai tempat yang paling menyennagkan di dunia dan aku benar-benar ingin kembali ke sana lagi.

“Poll”, makhluk yang bersosialisasi dan mendatangiku.

Kelaparan bisa menjinakkan hewan liar.

Saat itu, aku benar-benar terkejut dengan jejak kaki telanjang manusia di pantai, yang sangat jelas ada di pasir.

Betapa aneh kehidupan manusia ini! Apa yang kita kasihi hari ini akan kita benci pada keesokan harinya. Apa yang kita cari hari ini besok akan kita abaikan.

Sikap damai, bersyukur dan kasih merupakan kerangka doa yang lebih tepat dibandingkan ketakutan dan ketidaktenangan.

Aku pun mengira bahwa tidak ada satu pun di gua itu yang lebih menakutkan daripada diriku.

Robinson Crusoe | by Daniel Defoe | diterjemahkan dari Robinson Crusoe | terjemahan Bahasa Indonesia oleh Peusy Sharmaya | Penerbit PT. Elex Media Komputindo | EMK 777101669 | ISBN 978-979-27-8093-2 | Skor: 5/5

Karawang, 041117 – Backstreet Boys – Incomplete

Pisau Gaib – Philip Pullman

Pisau Gaib – Philip Pullman

“Langit runtuh, dan roh-roh mondar-mandir antara dunia ini dan dunia itu. Semua tanah bergerak. Es meleleh, lalu membeku lagi. Roh-roh menutup lubangnya beberapa waktu kemudian. Menyegelnya. Tapi kata penyihir, langit di sana tipis, di balik cahaya utara.”

Malam itu sepi dan laut tidak bergerak. Ia melipat dan menyimpan kembali surat-suratnya lalu pergi tidur. Novel pertama The Golden Compass hilang, dipinjam teman sudah sepuluh tahun tak kembali, lost contact. Novel kedua The Subtle Knife adalah yang terbaik. Kalau yang pertama fokus pada petualangan Lyra Belacqua ke utara dalam dimensi dengan aturan setiap manusia memiliki daemon, sekuel akan makin melebar ke dimensi lain. Aku mencari apa yang kudengar dari legenda tua: Lubang pada material dunia, lubang yang muncul antara alam semesta kami dan alam semesta yang lain. Beberapa rekanku tersesat di ambang pintu itu, tanpa melihatnya, dan meninggalkan dunia kami. Mula-mula kami tak menyadari apa yang terjadi. Kami terus berjalan hingga menemukan kota, kemudian tidak mungkin keliru lagi. Kami berada di dunia yang lain. Tokoh utamanya adalah William Parry, Dimensi yang ditinggalinya adalah dunia kita. Manusia tanpa daemon, Will suatu hari membunuh seorang penyergap di rumahnya setelah ia menitipkan ibunya yang sakit ke seorang guru. Ayah will hilang dalam ekpedisi ke utara. Dan aku sangat mencintai istriku, sebagaimana aku mencintai putraku, satu-satunya anakku, anak laki-laki yang belum lagi berusia setahun ketika aku meninggalkan duniaku.

Anak ini memiliki dahan pinus awan yang benar di rumah Dr Lanselius: ia anak yang selama ini kita nantikan, dan sekarang ia menghilang. Dalam pelarian ia secara tak sengaja menemukan pintu, sebuah lubang di udara yang mengantarnya ke dunia lain, Cittagazze. Apa pun dunia baru ini, pasti lebih baik daripada dunia yang ditinggalkannya. Seiring dengan kepala yang terasa ringan, perasaan bahwa ia tengah bermimpi tapi juga terjaga, ia berdiri dan memandang sekitarnya, mencari kucing tadi, pemandunya. “Kau tidak tahu tentang kucing? Kucing membawa iblis dalam diri mereka, tahu tidak? Kau harus membunuh setiap kucing yang kaujumpai, mereka menggigitmu dan memasukkan setan ke dalam tubuhmu.” Di dimensi itu sedang mencekam akibat serbuan Spectre, para pelahap jiwa orang-orang dewasa. Bertemulah ia dengan Lyra di sebuah rumah, ending Buku Satu saat ia menyeberangi bintang emas dirajut di sini. Saat Pan berbuat begitu, Will dan Lyra menyadarinya mereka berpegangan tangan, dan perlahan-lahan melepaskannya. Pelabuhan di depan mereka, lampu-lampu di sepanjang bulevar yang kosong, bintang-bintang di langit yang gelap di atas, semua melayang dalam kesunyian hebat seakan-akan hal-hal lain tak ada sama sekali. Mereka sepakat saling menjaga dan kembali ke dunia kita ke Oxford untuk bertemu Dr Mary Malone, seorang ahli fisika yang meneliti partikel materi gelap. “Kau dulu biarawati. Aku takkan bisa menebaknya. Biarawati seharusnya berada dalam biara seumur hidup mereka. Tapi kau berhenti mempercayai Gereja dan mereka membiarkan dirimu pergi. Itu tak seperti duniaku, sama sekali.”

Saat itulah mereka terjebak dan ditolong oleh Sir Charles Latrom yang diluarduga malah mencuri alethiometer-nya Lyra. Kesepakatan diraih, Sir Charles mau mengembalikannya asal mereka berdua kembali ke Cittagazze untuk mengambil benda ajaib Pisau Gaib. Kenapa harus mereka? Ya karena Spectre hanya memangsa orang dewasa. Kembalinya Lyra dan will ke sana dan menuju Torre Degli Angeli, Menara Para Malaikat. Di sanalah adu tangkas, adu fisik, padu terjadi, Will berhasil mengalahkan Giancomo Paradisi namun dua jarinya terpotong. Ada yang sangat salah dan ia tidak menyadarinya. Ia menjatuhkan pisau dan memeluk tangan kirinya. Lilitannya basah kuyup dengan darah. “Aku hanya bisa memberikan pisau itu kepadamu dan menunjukkan cara menggunakannya.” Namun justru fakta itulah yang menjadikan Will seorang Pembawa Pisau Gaib yang baru. “Aku yang memegang pisau gaib atas nama Serikat.” Setelah mendapatkannya, mereka justru curiga Sir Charles tak akan menepati janji, apalagi saat tahu senjata baru ini kereeen sekali. Saya saja terpukau iri. Pisau Gaib itu semacam ‘Pintu Ke Mana Saja’ nya Doraemon. Ia berani melakukan apa yang bahkan tidak pernah berani dipikirkan orang lain. Dan lihat apa yang sudah berhasil dicapainya, ia merobek langit, ia membuka jalan ke dunia lain. Siapa lagi yang pernah melakukannya? Siapa lagi yang pernah memikirkannya? “Sial bagi kita semua, alethiometer itu ada di tanganku, dan pisaunya ada di tangannya.

Sekarang Lyra bergetar hebat. Mungkin reaksi tertunda dari kecelakaan tadi, atau shock sekarang akibat menemukan gedung yang sangat berbeda di tempat akademi Jordan yang dikenalnya sebagai rumah seharusnya berada. Kejadiannya hampir seketika. Ia merasa seakan telah melangkah ke ruang yang tak ada. Seluruh jiwa raganya terhempas karena shock. Butuh beberapa saat sebelum ia cukup tenang untuk mencoba lagi. Dan kecurigaan itu terbukti tepat, karena saat mereka kembali ke Oxford kejutan besar terjadi di mana Sir Charles ternyata bersekongkol dengan Mrs. Coulter! Aku pembohong terbaik yang pernah ada. Tapi aku tidak akan membohongimu, tidak akan pernah. Aku bersumpah. Sulit menceritakan kebenaran pada mereka kalau kebohongan jauh lebih mudah untuk mereka pahami. Lyra merasa jantungnya seperti dihantam, hantaman terburuk yang dirasakannya sejak melarikan diri dari Bolvangar, karena tamu Sir Charles ternyata ibunya. Wow wow wow, konspirasi macam ini?

Sementara itu Penyihir cool Serafina Pekkala yang sudah mencari Lyra ke sana kemari justru menemukan fakta lain tentang Otoritas dan sekongkong menuju babak baru, ia segera melakukan pertemuan darurat dengan aeronaut Lee Scoresby, dan ratu penyihir Skadi di danau Enara. Keputusan itu menghasilkan sang Penyihir melanjutkan pencarian Lyra sedang Lee ditugaskan memastikan nasib Stanislaus Grumman yang hilang. Tiba-tiba Lee merasa bulu tengkuknya merinding, dan Hester mengejang dalam pelukannya karena mereka sadar bahwa mereka diawasi. Di antara bunga-bunga kering dan ranting pinus, ada mata kucing yang memandang keluar. Mata itu milik daemon. Aku tidak bisa melihat masa depan, tapi aku bisa melihat masa kini dengan cukup jelas. Siapa itu Stanislaus? Mudah ditebak, karena perannya yang penting dan menyeret banyak karakter untuk mencari sekutu, itu jelas mengarah kepada satu nama. “Kalau mereka sedang mencarimu, aku sudah menyingkirkan mereka.”

Kedua penyihir dan pasukan itu lalu mengarah ke Cittagazze, dan di sanalah puncak The Subtle Knife terjadi. Perang yang disulut Lord Asriel untuk melawan Otoritas, Tuhan-nya His Dark Materials. Akhirnya siapa yang bisa tetap tersenyum?

Ending kisahnya menggantung. Jelas, karena ini adalah trilogy dalam satu rangkaian. Saat membumbung ke atas, dengan angin kencang di belakang dan dunia baru di depan: apa yang lebih baik lagi dalam hidup ini? Semua akan meledak di The Amber Spyglass, satu lagi benda gaib ajaib ciptaan Philip Pullman. “Itu hal terhebat yang pernah kulihat seumur hidupku.” Dan pengetahuan inilah yang dicari orang-orang itu… maka pengetahuan ini juga berbahaya.

Serangkaian cahaya yang menari-nari yang tampak sangat mirip tirai aurora yang berpendar, menyambar ke seluruh layar. Rangkaian cahaya itu membentuk pola yang bertahan hanya sesaat sebelum menyebar dan membentuk lagi, bentuk yang berbeda atau warna yang berbeda, mereka berputar-putar dan bergoyang-goyang, menyebar, meledak menjadi hujan cahaya yang tiba-tiba bergoyang ke sini atau ke sana seperti gerombolan burung berubah arah di langit.

“Kalian ingin tahu tentang malaikat? Baiklah. Mereka menamai diri mereka sendiri bene elim, aku diberitahu begitu. Beberapa orang menyebutnya Pengawas. Mereka bukan makhluk berjasad seperti kita, mereka roh, atau mungkin jasad mereka lebih halus daripada kita, lebih ringan, lebih jernih. Mereka membawa pesan dari surga, itu tugas mereka. Terkadang kami melihat mereka di langit, melintasi dunia ini dalam perjalanan ke dunia lain, berkilau seperti kunang-kunang jauh tinggi di langit. Di malam yang sepi kau bahkan dapat mendengar suara kepak sayap mereka.

Salah satu bagian yang memikatku, mungkin sederhana namun penggambaran setting tempatnya bagus banget: Ruangan itu luas dengan langit-langit dipenuhi sarang laba-laba. Dinding-dindingnya dipenuhi rak-rak buku berisi buku-buku tak terawat dengan sampul yang sudah lepas dan terkelupas, atau ringsek karena lembab. Beberapa buku terserak di luar rak, tergeletak terbuka di lantai atau di meja-meja yang berdebu, dan yang lainnya dijejalkan kembali ke rak dengan serampangan.

Lalu ia menuliskan alamatnya dan membeli prangko serta memeluk kartu itu sejenak sebelum memasukkannya ke kotak pos.

His Dark Materials jelas salah satu fantasi terbaik sedunia!

Pisau Gaib | by Philip Pullman | diterjemahkan dari The Subtle Knife | copyright 1995 | alih bahasa B. Sendra Tanuwidjaja | editor Poopy Damayanti Chusfani | GM 322 07.001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 408 hlm.; 23 cm | ISBN 979-22-2578-1 | Skor: 5/5

Ruang HRGA CIF NICI – Karawang, 031117 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

Frankenstein – Mary Shelley

Frankenstein – Mary Shelley

Kutipan-Kutipan

Apakah aku memintamu, hai, Pencipta, untuk menjadikanku manusia dari tanah liat itu? Apakah aku memohon padamu untuk mengeluarkan dari kegelapan? – Paradise Lost

Ekpedisi yang kuimpikan sejak kanak-kanak. Aku melalaikan pendidikanku, tapi aku sangat gemar membaca.

Gerakan kereta menyenangkan, dan menurut pendapatku rasanya jauh lebih nikmat daripada naik kereta kuda di Inggris.

“Sungguh mulia hatinya.”

Kenanglah aku dengan penuh kasih sayang, seandainya kau tak pernah mendengar apa pun lagi dariku.

Apa yang bisa menghalangi kebulatan hati dan tekad manusia?

Mustahil aku akan menemukan seorang sahabat di tengah samudera luas. Tapi ternyata kini aku bertemu orang yang sebelum semangatnya patah karena penderitaan tentu sangat menyenangkan sebagai sahabat.

Perasaannya sangat halus, bicaranya mengalir dengan cepat dan fasih, kata-katanya terpilih.

Hidup-mati satu orang tak berati apa-apa demi penemuan pengetahuan yang sedang kuselidiki ini. Sebab penemuan yang sedang kucari ini sangat besar menfaatnya bagi seluruh umat manusia.

“Kita semua makhluk yang tidak sempurna, hanya separuh jadi.”

Kau punya harapan, dan dunia luas terhampar di hadapanmu. Kau tak punya alasan apa pun untuk berputus asa. Tapi aku… telah kehilangan segala-galanya dan tak bisa memulai hidup dari permulaan lagi.

Dengan sungguh-sungguh aku berharap semoga kelak impianmu tidak berubah menjadi ular berbisa yang akan menggigitmu.

“Aku punya hadiah yang sangat Indah untuk Victor-ku. Esok pagi dia akan mendapatkannya.”

Kabarnya Sir Issac Newton pernah menyatakan merasa seperti anak kecil yang sedang memunguti kulit kerang di tepi samudera kebenaran yang luas dan belum terjelajahi.

Konstruksi jiwa kita memang sangat aneh. Kita hanya dihubungkan oleh ikatan yang sangat tipis menuju kebahagian atau kehancuran.

Tekadir terlampau kuat, dan hukumnya yang tidak tergoyahkan telah menentukan kehancuranku yang mengerikan.

Berat sekali rasanya berpisah serta saling mengucapkan kata-kata “Selamat Tinggal!” tapi akhirnya perkataan itu keluar juga.

Mereka telah menjelajahi surga. Mereka telah menyelidiki bagaimana darah beredar dalam tubuh kita, serta hakikat udara yang kita pakai untuk bernapas. Mereka telah menemukan kekuatan baru yang hampir tak berbatas besarnya. Mereka bisa memerintahkan halilintar di langit, meniru gempa bumi, dan bahkan mencemooh dunia yang tidak kelihatan dengan bayangannya sendiri.

Kecuali pernah mengalaminya, tak seorangpun yang bisa memahami godaan ilmu pengetahuan. Dalam pelajaran lain, orang hanya bisa maju sejauh yang sudah diketahui orang sebelumnya. Tapi dalam penyelidikan ilmu pengetahuan selalu ada bahan untuk memperoleh penemuan dan keajaiban baru.

Dari mana sebenarnya asal nyawa setiap makhluk hidup. Pertanyaan ini memang lancang. Sebab masalah ini sudah dianggap rahasia abadi.

Bagiku kuburan hanyalah tempat menyimpan tubuh yang sudah tak bernyawa, yang dari tempat bersemayam kecantikan dan kekuatan kemudian berubah menjadi makanan cacing.

Aku melihat bagaimana kematian berhasil mengalahkan kehidupan, aku mengerti bagaimana cacing mewarisi keajaiban mata dan otak.

Kau bahkan mampu menghidupkan benda tak bernyawa.

Sadarilah betapa berbahayanya orang memiliki ilmu pengetahuan. Dan juga yakinlah betapa lebih bahagia orang yang menganggap kota kediamannya sebagai dunianya, daripada orang yang ingin menjadi lebih besar daripada yang diizinkan kodratnya.

Manusia ciptaanku akan kubuat dalam ukuran raksasa. Tinggi badannya akan kubuat sekitar dua setengah meter, dengan bagian-bagian tubuh serbabesar.

Kelak suatu jenis makhluk baru akan menunjunjung diriku sebagai pencipta mereka. Ciptaanku akan menjadi manusia sempurna dan bahagia.

Kepada harapan inilah aku membaktikan diriku.

Waktu musim panas terindah yang pernah kualami. Belum pernah ladang memberikan hasil bumi begitu melimpah ruah dan kebun anggur menghasilkan buah demikian bagus.

Terhentinya surat-surat yang kau kirim merupakan bukti bahwa tugasmu yang lain juga kauabaikan.

Orang baik harus selalu menjaga ketenangan dan ketenteraman pikirannya serta tak pernah membiarkan ketenteramannya ini terganggu nafsu atau keinginan sementara.

Kalau orang tidak boleh mengejar pengetahuan yang akan merusak ketenangan dan kasih sayang, Yunani takkan pernah diperbudak, Caesar takkan menyia-nyiakan negerinya, Amerika takkan segera ditemukan, serta Kerajaan Mexico dan Peru takkan dihancurkan.

Olahraga dan bersenang-senang. Aku berjanji kepada diriku sendiri akan segera melakukan kedua hal itu setelah pekerjaanku selesai.

Pada suatu malam di bulan November yang suram, kulihat jerih payahku akan membuahkan hasil.

Dalam mimpi aku melihat Elizabeth sehat, cantik berseri-seri, sedang berjalan di Ingolstadt.

Bahkan Dante sekalipun takkan bisa mengkhayalkan makhluk semacam ini.

Ia menganggap belajar sebagai tugas yang sangat berat, belenggu yang sangat dibencinya.

Tapi kekhawatiranku muncul kembali saat aku mengakhiri suratku.

Dia anak muda yang beberapa tahun berselang masih menaruh kepercayaan kepada Cornelius Agrippa seteguh orang mempercayai Injil.

Kalau kau membaca tulisan mereka, hidup rasanya terdiri atas hangatnya matahari di taman bunga mawar, senyuman dan kerut dahi musuh yang jujur, serta api yang membakar hatimu sendiri.

William sudah meninggal! Ya anak yang begitu manis yang senyumannya menggembirakan serta menghangatkan hati.

Jangan menyimpan rasa dendam terhadap si pembunuh.

Rasa takut menguasai diriku. Aku tidak berani terus. Aku takut pada ribuan bencana tanpa nama yang membuat tubuhku gemetar, walaupun aku tidak bisa mengatakan bencana apa yang membuatku takut.

Pikiranku tak bisa lepas dari makhluk ciptaanku yang kulepaskan di tengah manusia.

Waktu enam tahun telah berlalu seperti mimpi, kecuali satu perubahan yang tak bisa dihapuskan.

Para juri yang mau menjatuhkan hukuman kepada seseorang penjahat hanya berdasarkan prasangka belaka, betapapun jelasnya.

“Aku tidak takut mati. Rasa takut semacam itu sudah tidak kurasakan lagi. Tuhan sudah membuang kelemahanku serta memberiku kekuatan dan keberanian untuk memanggul cobaan terburuk.” Keesokan harinya Justine dihukum mati.

Menangislah kau orang yang bersedih hati, tapi ini bukan air mata penghabisanmu!

Sering kali saat seluruh keluarga sudah tidur, aku mengambil perahu dan selama berjam-jam berperahu di tengah danau.

Dulu aku mengenal kejahatan dan ketidakadilan dari yang kubaca di buku atau kudengar dari orang lain sebagi dongeng atau cerita khayal.

Aku tidak pernah menyetujui pembunuhan terhadap sesama manusia dengan alasan apapun.

Kalau kepalsuan dapat kelihatan begitu sama dengan kebenaran, siapa yang bisa yakin akan kebahagiannya sendiri?

Kini aku sudah merupakan barang rongsokan, sedangkan pegunungan dan alam masih liar ini tidak ada yang mengubahnya.

Tapi kemana larinya semua ini ketika aku bangun keesokan harinya?

Seaandainya insting kita hanya terbatas pada rasa lapar, haus, dan berahi pasti kita hampir bebas dari segala-galanya.

Waktu itu aku juga pertama kalinya menyadari tugas pencipta kepada ciptaannya.

Aku makhluk malang, tak berdaya dan sangat menyedihkan.

Kalau makhluk yang cantik saja bisa bersedih hati tak aneh lagi kalau aku – makhluk tak sempurna yang sebatang kara – susah dan merana. Jadi benarkan aku makhluk mengerikan, sampah dunia, yang dihindari dan dibenci smeua manusia?

“Terkutuklah ketika aku menerima kehidupan. Pencipta terkutuk, mengapa kau ciptakan makhluk yang begini mengerikan sehingga kau sendiri membuang muka karena jijik? Tuhan karena kasihNya menciptakan manusia yang cantik dan menarik menurut citra-Nya sendiri.”

“Jangan khawatir, tidak punya teman merupakan kemalangan besar. Tapi hati manusia, kalau tidak mementingkan diri sendiri, selalu penuh persahabatan dan belas kasihan.”

“Dan bisakah aku mengasihi musuhku? Tidak! Sejak saat itu aku menyatakan perang abadi terhadap bangsa manusia.”

“Aku bersumpah! Demi matahari, demi langit biru dan demi api cinta yang membakar hatiku kalau kau meluluskan permintaanku, selama manusia hidup mereka takkan melihatku lagi.”

“Untuk inilah aku hidup. Sekarang aku benar-benar bisa menikmati kehidupan.”

Tapi masih saja kegembiraanku diracuni kenangan pahit masa lalu serta bayangan gelap masa depan.”

“Kau penciptaku, tapi akulah tuanmu. Patuhi perintahku!”

Sementara itu khayalanku membayangakn ribuan gambaran yang menyiksa dan mengahntui.

Aku akan datang kepadamu pada malam perkawinanmu”

Alangkah anehnya perasaan kita. Kita merasa begitu mencintai hidup saat-saat kita terancam oleh bahaya maut!

Tapi buah terlarang sudah kumakan dan tangan malaikat melintang menghalangiku dari setiap harapan.

“Bung! Kau membanggakan diri sendiri sebagai orang bijak, padahal sebenarnya jiwamu kosong.”

“Demi tanah suci tempatku belutut, demi arwah yang berkeliaran di dekatku, demi kesedihan abadi yang kurasakan, aku bersumpah…”

Dalam tidur, mimpiku sering kali mendatangkan rasa bahagia.

Alangkah cintanya aku pada mereka!

“Waktu aku masih muda, aku yakin ditakdirkan untuk menghasilkan karya agung! Sejak kecil aku dididik untuk bercita-cita setinggi bintang.”

“Oh! Jadilah manusia atau lebih dari manusia.”

Yang kurasakan waktu itu hanya keputusasaan tanpa batas. Kejahatan sudah menjadi perbuatan yang biasa bagiku.

Akulah makhluk buruk yang harus dibenci, disepak, diinjak-injak.

Frankenstein | by Mary Shelley | diterjemahkan dari Frankenstein | alih bahasa Anton Adiwiyoto | desain cover dan ilustrasi Satya Utama Jadi | GM 402 01. 09. 0073 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | pertama terbit Desembr 1994 | edisi yang diperbarui cetakan keempat, November 2012 | 312 hlm.; 20 cm | ISBN 978-979-22-5096 | Skor: 5/5

Ruang  HRGA CIF – NICI – Karawang, 021117 – 031117 – KGV V5/23 – Sherina Munaf – Pergilah Kau

Tsotsi – Athol Fugard

Tsotsi – Athol Fugard

“Satu penny bisa membeli sekotak korek api. Satu penny dan kau bisa membakar dunia.”

Saya mulai membaca Tsotsi ketika muncul berita penemuan bayi di jembatan Babaton (27/10-17), dekat alun-alun Karawang. Bayi laki-laki itu dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang untuk dirawat sembari menanti nasib. Banyak yang ingin mengadopsinya, yang pada akhirnya bupati kita yang cantik Cellica-lah terpilih. Nasib bayi di jembatan itu dibandingkan dalam kisah novel ini jauh lebih beruntung, karena bayi yang dalam gendongan Tsotsi itu akhirnya harus tinggal di bangunan reyot, reruntuhan bangun semi permanen para jelata jalanan yang setiap saat kena gusur Pemerintah. Sungguh ironi, yang satu diselamatkan Kepala Pemerintah, yang satu kena dampak dari kebijakan Pemerintah. Nasib memang sulit ditebak.

Dengan pengantar kutipan dari orang besar Afrika Selatan, Nelson Mandela dalam autobiografinya Long Walk to Freedom: “Nyawa itu murah, pistol dan pisau berkuasa di malam hari.” Kisah dalam novel seakan memang penjabarannya. Lebih dalam lagi tentang  UU Pertahanan 1913 menjatah 77 persen wilayah Negara untuk digunakan kulit putih, pemerintah Afrika Selatan tak mau mengakui bahwa kaum kulit hitam memiliki hak tinggal di perkampungan yang bermunculan sebagai asrama buruh di sekitar kota. Kombinasi antara tekanan sosial dan ekonomi akan mengakhiri kekuasaan kaum kulit putih dengan diadakannya pemilu demokratis pertama di negeri itu pada tahun 1994. Membumi, tersesat, dibutakan oleh kepedulian penindasan, tetapi akhirnya mampu melampauinya. Tsotsi tenyata menjadi model ramalan bagi penebusan dosa negaranya. Tentang Tsotsi alias David Madondo yang menelusuri kerasnya kehidupan Negara di ujung selatan Afrika tahun 1940an.

Selama setahun dia pergi dari perkampungan menuju kota pagi-pagi, bersama bejibun manusia lain di kereta penuh sesak, untuk bekerja dan pulang sore-sore bersama sejibun manusia yang sama di kereta yang sama, untuk tidur.

“Kau pasti punya jiwa Tsotsi. Semua orang punya jiwa. Setiap manusia hidup punya jiwa.”

Kelebihan Boston adalah dia pintar.

Peraturan pertama adalah peraturan pada momen bekerja. Momen itu selalu datang seperti mukjizat, berupa ledakan cahaya yang tiba-tiba pada saat dia membuka mata disertai suara dan sensasi, merasa dan membaui, peraturan kedua yang berlaku setelahnya adalah jangan pernah mengganggu kegelapan batinnya dengan cahaya pikiran tentang dirinya atau dengan mencoba mengingat. Peraturan ketiga dan terakhir sebenarnya merupakan kelanjutan peraturan kedua. Peraturan yang dilanggar Boston. Tsotsi tidak menerima pertanyaan dari orang lain. Bukan karena dia tidak punya jawaban, jurang keadaan-tanpa-wujud.

Mengapa? Apakah ada kematian yang terpilih, yang istimewa untuk bayi ini? Tsotsi ingin mempercayai ini karena, seiring ketekunan yang dicurahkannya bagi segala upayanya yang canggung dan meraba-raba untuk memenuhi kebutuhan bayi itu, ada juga kebencian.

Ketakutan aneh yang tak bernama di dalam dirinya.

Sesuatu telah terjadi, sesuatu yang telah lama diwaspadainya agar tak terjadi.

Waktu selalu mengajukan pertanyaan yang sama: apa yang bisa kulakukan dengan waktu?

Aku senang merasakan apa pun yang hangat karena kakiku pernah mendingin dan aku belajar bahwa dingin adalah sentuhan kematian. Batu hangat, berapa lama lagi aku merasakanmu?

Sewaktu aku kecil, dan ada yang memenggal kepala ayam, tubuh ayam itu masih berlarian beberapa lama. Aku pun seperti itu; bedanya kakikulah yang hilang.

Dia membencinya karena cara uang itu diberikan dan karena dia tidak bekerja untuk memperolehnya dan orang yang menerima uang tanpa bekerja adalah jenis orang yang berbeda dengan Morris Tshabalala.

Tetapi ada satu bagian dirinya yang mati kelaparan, yaitu harga dirinya.

“Mereka menembak bulan hingga berlubang, betul aku sudah baca. Lubang di bulan, leit edisyen. Nanti ada yang bersinar di malam hari”

Aku ingin hidup. Aku baru tahu. Aku ingin ke jalan lagi besok. Aku ingin duduk melewati satu hari lagi, di sudut lain. Aku ingin kembali ke sini lagi besok malam untuk makan. Sisa diriku ingin hidup.

Pengemis lebih cocok dimangsa oleh anak muda yang sudah bosan mengutil di toko dan mulai memikirkan rencana yang lebih berani dan lebih besar.

Dunia adalah tempat yang buruk. Keburukanlah yang membengkok dan terpelintir sehingga tak lagi bermakna.

Mangsanya sudah kabur untuk menikmati tambahan beberapa jam hidup sengsara dan Tsotsi merasa sangat lega.

Seperti cahaya, simpati dapat menerangi. Jika didesak lebih jauh, dia mungkin membayangkan kegelapan dan menyalakan lilin.

Kau memilih satu orang dan kau terus mengejarnya sampai semuanya tuntas.

Waktu itu relatif. Jika diukur oleh sesuatu selain hari dan bulan, enam tahun ini telah menjadikannya orang tua.

Dia tampaknya tak mampu memegang satu pikiran cukup lama untuk menghindai pikiran berikutnya.

Kota itu terbentang di cakrawala dalam siluet bergigi yang mencuri beberapa inci saja dari lengkung langit luas di atas.

Sejak dulu Tsotsi menganggap kehidupan sebagai garis lurus tidak berbelok seperti jalan yang barusan diikutinya saat menguntit pengemis dari terminal.

Dia merasa lebih baik, membunuh semut telah memulihkan sebagian rasa percaya dirinya.

Harus. Hari esok tidak menghormati tragedi hari ini.

Akhirnya tiba setelah senja menggelandang malas di bawah sinar matahari dan sekarang bersiap-siap tidur dengan kuapan terlebar dan geliat terpanjang pekan itu.

Bulan naik dan anjing-anjing memulai panduan suara menyalak dan menggonggong.

Dia mengingatnya berulang-ulang hanya berhenti dalam keheningan mendalam di antara setiap kegiatan mengenang, untuk bertanya-tanya bagaimana dia bisa sampai lupa.

Cara ibunya mengatakan ‘suatu hari nanti’ tidak kedengaran terlalu lama lagi. Besok memang hari besar.

Kau tak tahu? Itu karena kita tak bisa membela diri.

Apapun bisa menyerang kita. Kutu dan lalat di musim dingin, hujan di bocoran atap pada musim dingin, dan juga flu dan hal-hal seperti polisi dan maut. Itulah serangan terhadap hidup kita.

“Apakah hanya di kuburan aku akan beristirahat tanpa gangguan? Apakah tak ada lagi yang menghormati tulang-tulang tua ini?”

Hari adalah waktu yang panjang.

Baginya, ingatan tak ada gunanya. Lagipula dia tak punya ingatan apa-apa.

Ada apa lagi sekarang. Semua terjadi terlalu cepat.

Bayi ini dan David, yakni dirinya sendiri, yang mula-mula saling tertukar, sekarang telah menyatu menjadi satu orang yang sama.

Kau hanya membicarakan pohon setelah memetik buah pertamanya.

“David, tak pernah bertemu ayahnya.”

Walter ‘Boston’ Nguza lahir di Umtata. Dididik hingga kelas delapan di St. John College. Melanjutkan beasiswa ke St. Peter’s High School, Johannesburg. “Mengabdilah untuk kaummu!”

Dia bangga atas tulisannya, sederhana, ringkas, tidak sentimental, tanpa detail tak perlu, garis kehidupan yang lurus dan menanjak dalam bentuk lengkungan rapi hingga sampai titik patahnya.

Dengan mati rasa ‘ini kesalahan’. Itu ringkasnya. Kesalahan. Disebut ketidakadilan pun tidak bisa.

Takdir turun tangan dan mengambil alih saat dia sudah hampir menyerah pada aib yang dicoba dihindarinya dengan tidak pulang. Johnboy Lethetwa.

Sheeben adalah tempat yang cukup bagus untuk merenungi kesalahan masa lalu dan kesalahan baru miliknya, atau milik orang lain yang dilihatnya.

Masalahnya sederhana, solusinya lebih sederhana lagi, begitu sederhana sehingga mereka terkagum-kagum ketika Boston menunjukkannya kepada mereka.

Tetapi dia lelaki terhormat, Tolong, dan Terima Kasih, dan Permisi, dan Perlu Kubantu? Itu berarti banyak di mata Marty.

Mengapa menemukan ampunan itu aneh? Betapa luar biasa ampunan! Kata itu sendiri seperti desahan angin.

Membunyikan bel itu berarti memanggil semua orang lain untuk beriman pada Tuhan. Ingat, ada yang malas dan tak ingin mendengar.

“Tuhan menciptakan dunia. Dia menciptakan segala sesuatu. Kau, aku, jalan ini, semuanya.” 

“Dengarkanlah demi aku, aku akan memanggilmu untuk beriman pada Tuhan.”

Hal-hal yang disimpan sendiri akan menjadi masam.

Saya (hampir) selesai membaca Tsotsi ketika novel A Clockwork Orange datang, baca kilat, ulas di Blog ini dan masuk ke rak. Novel ini di selanya, saat sampai tengah kulanjutkan barulah selesai. Ada benang merah yang bisa ditarik bahwa keduanya tentang geng pemuda pembuat onar. Alex, Dim, Georgie dan Pete versus Tsotsi, Jagal, Boston dan Die Aap.

“Kita ini sakit, Tsotsi. Kita semua, kita ini sakit.”

Tsotsi | by Athol Fugard | copyright 1980 | diterjemahkan dari Tsotsi A Novel | terbitan Grove Press, New York, 1980 | penerjemah Femmy Syahrani | penyunting Hermawan Aksan | desain sampul Andreas Kusumahadi | pemeriksa aksara Yayan R. H. | penata aksara Iyan Wb. | Penerbit Bentang | cetakan pertama, September 2006 | xxiv + 352 hlm.; 17.5 cm | ISBN 979-3062-96-7 | Skor: 5/5

Karawang 011117 – Sherina Munaf – Balon Udara

A Clockwork Orange – Anthony Burgess

A Clockwork Orange – Anthony Burgess

“Lihat, dia menangis.”

Malam (30/10-17) sepulang kerja pesanan buku dari toko buku daring ‘Taman Baca Rindang’ kuterima. Hermione langsung buka segel plastik, saat orang-orang siap terlelap, jam 22:31 saya mulai baca buku ini, menjadi pilihan pertama dari tiga. Tiga jam kemudian saya selesai lahap. Saya baca sekali duduk bersama segelas kopi pahit untuk bertahan melewati tengah malam dan ditemani sederet lagu Sherina Munaf album Tuna. Buku yang sangat bagus, tiap lembarnya memberi tanya nasib Alex. Benar-benar mengerikan opsi, ‘empat belas tahun penjara atau dua minggu ditransformasi manusia mesin lalu bebas?’ sebuah konsekuensi. Kaubisa melihat semuanya berantakan. Kauakan mengerti kalau satu hal akan membawamu ke hal lainnya.

Kisahnya tentang berandalan muda yang beraksi di malam hari. Dari sudut pandang Alex, seorang remaja lima belas tahun yang memimpin komplotan: Pete, Georgie dan Dim. Adalah lumrah bergerombol dengan empat atau lima anggota, empat anggota sudah cukup, sedangkan enam anggota terlalu banyak untuk berandalan saat itu. Namun, si malang Dim tetap melihat bintang di langit dan berkata, “Apa mereka itu? Aku penasaran. Apa yang ada di atas sana.” Dengan setting di masa depan, sebuah masa distopia yang misterius. Hobi berkelahi, mencuri, memperkosa, sampai iseng bikin onar. “Dunia macam apa ini? Orang pergi ke bulan dan berkeliling dunia. Namun, tidak ada yang peduli dengan hukum. Karma akan datang membalas kalian, Pecundang.”

Suatu malam mereka memainkan akting di depan rumah bertulis RUMAH, setelah bel rumah berbunyi Alex akting minta tolong kalau teman mereka terluka dan pinjam telepon atau sedekar minta air putih. Saat lengah, para berandal ini masuk dan melakukan aksi. “Jangan takut. Jika ketakutan ada dalam hatimu saudaraku, doa akan menenangkanmu.” Malam itu mereka melakukan tindakan biadap di rumah seorang Penulis. Kertas dan mesin tik dihancurkan, Penulis itu dilukai sampai wajahnya ungu dan mengeluarkan sirup spesial (darah) serta istrinya dilecehkan. “Aku kagum pada mereka yang bisa menulis buku.” Aku melihat lembar paling depan dan tertulis: Manusia Mesin. “Ini judul yang bodoh. Siapa yang pernah mendengar manusia mesin?” Kemudian mereka kabur hura-hura, meninggalkan mobil curian di stasiun berpencar pisah naik kereta. Lalu mesin espresso tua (kereta) datang, kami segera naik. Kereta saat itu tampak sangat sepi.

Besoknya dia bolos sekolah. Guru konselingnya datang. P.R. Deltoid yang seakan tahu perbuatan kriminalnya. Hanya karena polisi tidak menangkapmu, bukan berarti kau tidak bersalah. Beliau heran karena Alex punya rumah yang bagus di sini, orangtua yang menyanyangimu, dan kau tidak bodoh. Apa ada monster dalam dirimu? Nasehatnya untuk berhenti dari kebrutalan memang ditanggapi senyum, namun sinis. Sejernih danau tak berlumpur. Jelas seperti langit biru di musim panas. Anda bisa mengandalkanku. “Orang itu menjijikkan dan terlihat seperti kotoran.” Malam adalah saat yang paling menyenangkan. Benar ‘kan? Duduk. Kalau kau tidak lebih berhati-hati dengan dirimu sendiri, aku beri tahu, suatu saat nanti pasti ada pengakuan atas kesalahan setiap manusia dalam hidupnya. Ada adegan lucu saat Alex baca Koran dan melihat iklan di dalamnya. Adegan sepintas yang kocak. Tawaran sabun gratis dengan menukar kaleng sabun hanya selama satu minggu, cukup membuatku tertawa.
Siangnya ia memang berniat untuk berangkat sekolah namun terhenti di toko kaset dan malah berakhir kekerasan lain. Hari ini aku tidak akan ke sekolah selesai makan siang, tetapi pendidikan itu penting, jadi Alex akan menjadi guru. Nama mereka adalah Marty dan Sonieta, cukup gila fesyen untuk gadis seusia mereka. Kaubisa tahu siapa dan mana orang yang paling penting di antara mereka dari pakaiannya, kawan. Aku tahu aku suka fesyen. “Cinta itu seperti mimpi buruk.”

Malamnya Alex yang ditunggu rekan sejawat tak datang tepat waktu setelah ditunggu di tempat biasa. Trio itu menghampiri. Namun terjadi cekcok karena Alex yang merasa pimpinan, mulai terusik tampuknya digoyang. Apalagi ia mimpi buruk. Namun, mimpi tidaklah nyata. Cekcok uang, kalau kau butuh uang, ambillah. Kenapa mendadak menjadi kapitalis? Lalu Georgie yang mulai mengatur. Mimpiku menjadi kenyataan sekarang. Georgie si jenderal memerintahkan apa yang harus dan tidak dilakukan, Dim dengan cambuknya menyeringai seperti anjing. Sampai adegan marahnya pada Dim yang merusak suasana yang dipenuhi udara lagu. “Kau mengerti kenapa aku memukulmu. Itu karena musiknya, kautahu. Aku menjadi gila ketika seseorang mengganggu musiknya. Seperti itulah.”

Aksi berikutnya mereka terusik atas saran gerombolan lain Billyboy untuk merampok wanita tua yang hidup bersama kucing-kucingnya. Aksi itu gagal, karena saat pintu diketuk sang tuan rumah curiga. Aku sadar bahwa berfikir adalah tindakan yang bodoh dan masuk akal jika digunakan sebagai inspirasi atas apa yang Tuhan berikan. Kita akan bertemu di surga. Kecurigaan wanita tua ini tidak bisa disalahkan karena ada banyak berandalan di malam hari. Tentu saja tidak. Maka dengan kenekatan ala MacGyver, Alex menerobos masuk lewat lubang di atas pintu dengan didorong teman-temannya. Saat akhirnya dia di dalam rumah sang nenek melakukan perlawanan walau akhirnya berhasil dilumpuhkan. Dan memaki, “Terkutuk kau anak muda. Kau akan sial seumur hidupmu!” Keinginan untuk menjadi pencuri atau tukang pukul. Hasrat untuk hidup enak.

Naas, Alex terkurung di dalam rumah saat raungan mobil polisi terdengar. Pada lari tunggal langgang, tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini saudaraku. Begitulah menurutku. Dan inilah akhir dari aksi brutalisme kebebasan sang pelajar. Di penjara ia mengalami sensasi lain tentang kekerasan. Guru konselingnya datang menjenguk, namun tak dinyana P.R. Deltoid lalu melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan olehku seolah-olah itu bukan dirinya. Dia mendekatiku, lalu meludahiku. Di penjara kapasitas tiga namun berisi enam itu ia sering mimpi buruk. Mimpi ada kambing berwajah manusia memainkan seruling. Ada bunga mawar seperti Ludwig van dengan wajah, dasi, dan rambut yang berantakan. Aku dikenal dengan nama 6655321, bukan Alex. Aku sudah melakukan banyak hal, dan aku masih lima belas tahun.

Alex dihukum empat belas tahun penjara, sang korban meninggal dunia selain akibat tindak kekerasan ia juga kena serangan jantung. Kebaikan itu sesuatu yang dipilih. Ketika seseorang tidak bisa memilih, dia telah gagal menjadi manusia. Aksi kekerasan Alex ternyata tak berhenti walau sudah dikurung, ia bahkan melakukan pembunuhan lagi, walau prosesnya tak berniat. Jika seseorang memukulmu, kau akan membalas pukulannya. Benar ‘kan? Namun, aturan baru itu melarangnya. Esoknya Alex mendapat kejutan karena saat dipanggil gubernur, menteri dalam negeri sampai kepala sipir ia ditawari kebebasan dalam dua minggu ke depan. Sang Pendeta memberikan asumsi. “Oh akan menyenangkan menjadi orang baik.” Namun aku tertawa di benakku saat mengatakannya. Semua anak baik-baik saja, siapa tahu? Jalan Tuhan sangat susah ditebak.

Kekerasan adalah sesuatu yang menakutkan. Itu yang akan kaupelajari sekarang. Tubuhmu sedang mempelajarinya. Syaratnya hanya Alex diminta menonton film. “Pasti filmnya sangat bagus sampai kaumelakukan ini pada mataku.” Dipandu Dr. Brodsky dan asistennya Dr. Branom. Proses itu disebut Ludovico. Saya tak akan menjelaskan bagian ini karena memang ini adalah bagian terbaik. Saran saya hanya satu: BACA! Nikmatilah! Atau muntahkanlah!

“Kaumerasa sakit siang ini karena kau menjadi lebih sehat. Ketika kita sehat, tubuh kita akan merespon dengan adanya rasa benci akan ketakutan dan kejenuhan. Alex muak dan kepala senut-senut. “Semua alat ini yang menyodomi kepala dan badanku. Itu semua.” Dunia ini hanya ada satu, begitu juga kehidupan. Sesuatu yang paling berkesan dibandingkan kekerasan adalah cinta – contoh pada musik. Bahkan kecintaannya pada musik menjadi begitu membuncah hingga berubah menakutkan. Musik tertentu sama seperti emosi, membuatku merasa sakit sama dengan melihat atau melakukan kekerasan. Musik dan hal-hal seksual, literatur dan seni, semuanya tidak menjadi kenikmatan lagi melainkan kesakitan. Pilihan, dia tidak punya pilihan ‘kan? Kebutuhan diri, takut akan rasa sakit, membuatnya melakukan hal yang memalukan. Alex sedang menjalani Reklamasi, kenikmatan menjadi malaikat Tuhan.

Jika aku punya bunga mawar maka aku akan memberikannya padamu. Jika hujan turun, aku akan melindungimu kakimu dari lumpur di jalanan dengan pakaianku. Pembebasan itu akhirnya terlaksana. Dengan pakaian seadanya, uang saku ala kadar untuk memulai hidup baru, bahkan pisau lipat britva juga diberikan. Seseorang tidak bisa memilih untuk menjadi manusia.

Kau memang bersalah tapi hukumanmu sudah keterlaluan. Mereka telah mengubahmu. Kau tidak memiliki hak untuk memilih.  Kita tumbuh di dunia pepohonan yang diciptakan Tuhan. Kita ada karena Tuhan ingin kita mengisi rasa hausnya akan cinta dan sejenisnya. Sebelum kita tahu posisi kita, kita harus mulai melawan. Kisah makin absurb saat pada akhirnya sang residivis ini tak diterima masyarakat dan dikucilkan. Takdir mengantarnya kembali ke RUMAH dalam keadaan babak belur. Aku bukan orang politik. Namun, ketika aku melihat sesuatu yang tidak benar aku akan menghapusnya. Partai politik tidak berarti apa-apa. F. Alexander sudah gila, dialah Penulis ‘manusia mesin’ yang ada di awal kisah yang dirampok itu. Dia bersama tiga rekannya yang aneh: Z. Dolin, Rubinstein dan D.B. da Silva mencoba menjadikan Alex senjata melawan kekuasaan. Alex sebenarnya hanya ingin kembali menjadi normal. Apa yang harus kulakukan untuk kembali seperti dulu? Mati syahid demi kebebasan. “Buka jendela untuk udara segar, ide segar dan hidup baru.” – selebaran itu menunjukkan cara untuk mati dengan melompat keluar. Rasa sakitnya hanya sebentar, mungkin, lalu aku akan tidur selamanya. Selamat tinggal, selamat tinggal. Semoga Tuhan mengampuni dosamu untuk hidup yang hancur. Menghancurkan memang lebih mudah daripada membangun.

Saat akhirnya kita mencapai klimak cerita, justru Anthony memberi tawaran ending yang lain bersama Ren, Rick dan Bully yang dipanggil Bully karena mirip dengan kerbau – gendut dan besar. Jadi petuahnya: “Apa yang sudah kutulis sudah kutulis.”

Ini adalah buku pertama dari Penerbit Papyrus yang saya baca. Terjemahan bagus, jilid OK, sampul keren. Sayang sekali typo banyak saya temukan. Pengalaman memang penting sih, proof reader dan penyunting harus triple check untuk memastikan tak ada salah tulis kata. Dicetak bulan September dilahap Oktober, update! Memang, saat tahu buku ini naik cetak dalam Bahasa saya langsung berburu. Gajian ini wajib beli. Ini adalah buku incaran luuuamaaaa sekali. Terima kasih Papyrus Publishing, kamu mewujudkan harapan itu. Gaungnya sudah menggema jauh hari berkat adaptasi sukses Stanley Kubrick. Walau belum menontonnya, dari sinopsis singkat bahwa Alex terduduk di kursi roda menatap layar menonton film mengerikan dengan terikat dan mata terus dipaksa melek itu ikonik banget. Bagian ini sungguh pilu, begitu hidup dan sangat mengerikan. Sampai segitunyakah untuk mencetak manusia baik?

Lagi pula, keburukan ada pada semua orang, yang membuat dirimu menjadi dirimu.

A Clockwork Orange | by Anthony Burgess | copyright 1962 | diterjemahkan dari A Clockwork Orange | penerjemah Nur Hamidah Oktaviani | penyelaras akhir Nisa MS | perancang sampul dan lukisan Anzi Matta | penata letak Mawaidi D. Mas | Yogyakarta, 2017 | Penerbit Papyrus Publishing | vi+221 hlm.; 13×19 cm | ISBN 978-602-61330-5-2 | cetakan Pertama, September 2017 | Skor: 5/5

Ruang HRGA CIF – NICI. Karawang, 311017 – Sherina Munaf – Primadona

Thx to Ari di Taman Baca Rindang. Saya membuat catatan tambahan ini karena saya cinta buku ini, untuk membantu cetakan berikutnya saja, berikut typo yang saya temukan:

Halaman 43: Andi/Andy, 73 – hokum, 84 – melirik ku, 88 – memebual, 98 – The Doctor/The Doktor, 113 – dnegan, 115 – alu, 125 – orang-orag, 130 – kelelalahan, 146 – yg, 151 – sakitini, 155 – iu, 156 – Alu, 159 – Kristalografi/Kristalograi, 162 – memnendangiku, 163 – Tidak mungkin”, 174 – memngingat, 180 – berhat-hati, 186 – Billybooy, 192 – menungu, 200 – artikal, 201 – Namu, 216 – Toko utama, 219 – di london, 220 – amerika

Surga Kecil Di Atas Awan – Kirana Kejora

image

“Akan tersaji keelokan istana dengan taman agungnya di langit kuasa bagi mereka yang meniti hidup tanpa keputusan.”

Buku kedua terbitan Euthenia yang kubaca. Hasilnya sama saja, datar. Isinya hanya berputar tentang seorang anak cerdas kelas 3 SMP dengan pelbagai probematikanya. Dituturkan dengan monoton, tanpa konflik, tanpa membuat penasaran Pembaca. Benar-benar cerita sederhana.

Jamus, sebuah nama bukit. Memiliki arti yang tersirat penuh ‘kawruh’ atau pengertian suci akan makna hidup, untuk dibaca setiap hamba dengan baik agar tak ‘kemeruh’ atau tidak merasa tahu.

Awan adalah anak tunggal, asli Ngawi, Jawa Timur. Ayahnya pekerja buruh dengan penghasilan pas-pasan. Ibunya seorang guru yang kakinya sakit sampai harus beberapa kali operasi. Mereka dari keluarga sederhana. Awan diceritakan sangat cerdas, dapat rangking satu terus. Berotak encer. Yanu, teman akrabnya berkebalikan. Ia selalu dapat nilai rendah dalam akademik. Ayahnya minggat. Ibunya mengadu nasib jadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Malaysia. Ia tinggal sama neneknya. Dengan kesederhanaan wong ndeso, kita diajak mengenal seluk beluk Ngawi, sebuah lereng Selatan Gunung Lawu yang legendaris itu.

Seperti yang saya sampaikan di awal, ceritanya datar. Sangat monoton, mungkin karena penututurannya yang biasa jadi pembaca tidak diajak terlibat. Kita hanya seperti baca selebaran iklan kota Ngawi dengan keramahannya. Padahal ini kan sebuah buku cerita, tertulisnya novel lho bukan pamflet.

Seperti asal mula nama kota Ngawi. Itu entah karena penuturannya yang ga bagus atau memang susunan sajinya ga oke? Padahal itu jadi potensi tambahan vitamin ilmu buat pembaca. Saya sendiri baru tahu. Yah walaupun ketika kita googling akan dengan mudah menemukan banyak jawab.

Ngawi, berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu awi yang berarti bambu lalu mendapat tambahan huruf sengau, yaitu ‘ng’ sehingga jadi Ngawi. Bambu yang banyak tumbuh di sekitar sungai Bengawan Solo. Bambu bagi masyarakat desa mempunyai peranan penting, apalagi dalam masa sekarang. Banyak orang butuh bambu.

Ada juga yang bilang Ngawi dari kata ‘ngawiwiti’ artinya memulai. Semua hal memang selalu ada permulaan, disitulah awal semua perjuangan kehidupan. Ada juga yang bilang ‘ngawiyat’ yang berarti tempat yang tinggi. Kita berada di tempat yang tinggi, bahkan ditinggikan pada saatnya nanti sama Gusti Allah.

Pada suatu Minggu pagi, duo ini Awan dan Yanu ingin ke Museum Trinil dengan nebeng paklik Darmo. Setelah di-drop di jalan mereka melanjutkan perjalan dengan jalan kaki. 3 Km bro. Dibuatlah skenario itu, Yanu diserempet mobil VW (Volks Wagen) Beetle. Namanya juga cerita, mereka berdua pun diajak sekalian naik itu mobil mewah karena ternyata dua bule Londo itu juga mau ke museum. Arga yang mengendari, Berg dan Alva duo bule. Setelah dari museum Trinil mereka lanjut ke Benteng Pendem dan kebetulan lagi Awan dan Yanu juga ingin ke sana. Udah gitu ditraktir pecel, dikasih uang transport buat pulang. Boleh sih bercerita tentang keberuntung yang terus menghampiri gitu, asal dituturkan dengan seru. Sayang sekali di sini tidak.

Sesampai di rumah, mereka dapat kabar duka. Sang ayah kecelakaan sampai akhirnya meninggal dunia. Kronologinya, beliau ingin membeli gitar KW 2 untuk kado prestasi Awan dapat rangking kelas. Dengan menggadaikan motor bututnya, ia pun beli alat musik itu. Sayang sekali, terjadi insiden. Kehilangan orang yang dicinta tentu saja penuh duka. Seminggu penuh mereka terpuruk. Kehidupan harus terus berjalan. Kini ibu-anak itu mengarungi kerasnya hidup. Dengan penghasilan yang pas-pasan sebagai guru berhasilkah Awan Rojo Panemu menyelesaikan pendidikannya?

Mendaki bukit selalu berawal dari lereng sini untuk bisa mencapai puncaknya. Buku itu bukan hanya jadi jendela dunia, namun juga akan jadi sayapmu untuk terbang mengangkasa, menjelajah dunia.

Buku seperti dengan cepat akan terlupakan. Sekali cetak, menghilang. Lebih layak disebut novelet karena tipis. Sekali baca, lupakan. Nyaris semua pengetahuan (yang mungkin jadi tujuan ditulisnya buku ini) yang disampaikan dengan mudah ditemukan di internet. Asal usul kota Ngawi. Sejarah museum Trinil, Sangiran, Benteng Pendem, arti lambang kota Ngawi. Wait, arti lambang kota Ngawi dituturkan juga? Yup, kalian sedang belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bukan?

Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman. Urip iku urup.

 

Surga Kecil Di atas Awan | oleh Kirana Kejora | editor Cahyaning | Penerbit Euthenia | Cetakan I, 2015 | III, 184 hlm | 13×19 cm | ISBN 978-602-1010-45-7 | Skor: 1,5/5
Karawang, 200416 # TheAdams – Gelisah