Sastra adalah… Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

“Jika Anda seorang pengarang, dan tak menemukan ungkapan-ungkapan yang pas untuk menjelaskan perasaan yang rumit dan intim dan dalam dari tokoh-tokoh yang ingin Anda ceritakan dalam bahasa Indonesia, maka boleh jadi Anda akan lari mencari pertolongan kepada bahasa yang Anda alami sehari-hari atau kepada bahasa yang Anda anggap lebih kompleks berdasar kecenderungan bacaan Anda…”

Menurutku buku ini setara bagusnya dengan Cerita, Bualan, Kebenaran. Tips-tips menulis yang dibalut bukan tips menulis. Nyaman dan terasa sangat masuk akal. Jelas lebih keren dari Menumis itu Gampang yang bertema umum. Poinnya sama, Cak Mahfud bercerita kesehariannya. Buku ini terasa lebih asyik sebab bahasannya fokus ke proses kreatif, yang setelah ditelaah, tak kreatif juga, tak banyak nasehat, atau petuah membumbung. Benar-benar cerita bagaimana ketahananan menulis buku itu perlu, pengalaman dari Penulis pemenang DKJ dan KSK. Dua penghargaan sastra paling bergengsi tanah air. Walau judulnya provokatif, bagaimana penulis menganggur, percayalah, itu hanya jeda. Judulnya biar tampak eksotik. Itu hanya masa santuy, sejatinya menulis memang kudu tahan banting, konsistensi, dan dipaksa. Maka tata kelola waktu juga sebuah kunci, dan buku ini jelas patut dipertimbangkan jadi rujukan proses mencipta karya. Seperti yang dulu pernah kubilang di ulasan buku Mario Vargas Llosa dalam Matinya Seorang Penulis Besar (sudah diterjemahkan oleh Shira Media), bahwa buku-buku dibalik karya sangat patut dicetak sebanyak mungkin agar pembaca tak meraba ngasal. Setidaknya kita tahu, buku-buku itu diterbitkan penuh pengorbanan, tak sim salabim mengada.

#1. Hanya Penulis

Sosial media, atau di sini Facebook telah mengikat kita dalam pergaulan instan. Bisa saling mengenal secara daring orang-orang asing, serta para idola yang dulu rasanya tak terjangkau. Dibuka dengan sebuah kotak pesan masuk yang menanyakan pendapat kontribusi penulis di masa pandemi. Dan dijawab dengan apa adanya, mungkin benar kurang memuaskan, tapi ini benar-benar real. Kenapa, sebab “jangan memberi panggung kepada orang-orang yang tak kompeten,” adalah mutlak.

Jangan tanya tanggapan Lesti.

#2. Penulis? Oh, yang di Percetakan

Karena sudah baca dua kumpulan esai, saya jadi tahu perjalanan hidup Cak Mahfud yang lulusan pesantren, kuliah Yogya, bekerja di Jakarta, lantas menyepi menekuri tulisan dengan serius kembali ke Yogya. Maka saat baca judulnya, jelas ini adalah lontaran tanya dari rekan saat di Utan Kayu. Penjelasan bagaimana ia ‘tak menyangka’ jadi penulis suatu hari kelak tampak seolah hanya mengikuti arus kehidupan. Dan penulis yang dikenali sekaligus tak dikenali, kocak juga kontribusinya, saat truk-truk bahan bangunan yang bising di balik tembok tempat tinggalnya dan ia bergeming, tak turun tangan. Tak mengapa, saya sama saja kalau di posisi itu.

#3. Alasan untuk Tidak Menulis

Sudah menulis dari era mesin tik, dan bagaimana cerpen pembuka Belajar Mencintai Kambing berproses. Sibuk jadi semacam kelakar saat ditanyakan pada Penulis. Hingga bagaimana tatapan pada Ayu Utami di meja kafe seberang dengan laptopnya, sepuluh tahun kemudian, beliau punya karya setara bagusnya. Sejatinya, penundaan menunaikan tugas (di sini menulis) adalah hal wajar bagi manusia. Termasuk alibi, kalau punya komputer, kalau punya laptop kualitas bagus, kalau punya tempat nyaman menulis, serta kalau kalau yang lain.

Penutupnya bagus, langsung kena jap. “… semakin cepat capek dan diserang pegal-pegal. Saya pasti akan jauh lebih sigap dan lebih cepat menyelesaikan tulisan ini jika saya masih seumur para penulis muda yang sore itu saya temui.” Hahaha…

#4. Pengarang dan Kemelut

Mengandaikan masa hidup di era lama, tak hanya cocok untuk para penulis. Bayangkan, kalau kamu buruh di masa kemerdekaan, apakah mungkin sudah bergabung angkat senjata? Atau bayangkan hidup di masa ’65, mungkin kamu buruh yang keciduk karena ikut coblos Merah. Nah, di sini membayangkan bagaimana kalau penulis hidup di masa itu? Bakalan angkat senjata? Bakalan turut serta disingkirkan? Chairil Anwar memang penyair terbesar kita, dan bagaimana ia berumur muda banyak memberi warna kebangkitan Indonesia.

#5. Bahasa Indonesia dan Persoalannya – bagi Seorang Pengarang Jawa

Ini menyenggol Azhari Aiyup si penulis Kura-kura Berjanggut yang fenomenal itu. Bagaimana cerpennya terbit di Kompas dan mencipta iri Cak Mahfud, terutama gaya bahasa, pilihan diksi, hingga keluwesan bercerita yang bagus, seorang Aceh yang mahir berbahasa Indonesia.

Dan bagaimana kehidupan sehari-hari mempengaruhi kehidupan sosial kita, terutama bahasa. Jadi seperti apakah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu. Lebih nyaman memang memilih “percampuran” bahasa ibu dan bahasa Indonesia, dan itu sangat wajar. Bukankah malah tampak aneh, orang Jawa dengan fasih bercerita tentang kehidupan suku Dani?

#6. Pulang, Pola, Mood

Pulang kampung adalah jeda dari kesibukan. Menikmati waktu dengan keluarga, menelusuri kenangan, ngopi sama rekan main kelereng, hingga ketawa-ketiwi sama teman-teman lama yang tak merantau. Begitu pula penulis, mudik adalah masa kosong dari mengetik kata-kata, refreshing-kan pikiran, mengisi ulang ide-ide. Masalahnya, mood-nya tak kunjung kembali saat telah kembali ke kota tempat kita mencari uang.

“Jadi, sekali lagi, mood itu eksis. Ia bukan mitos. Ia ada, dan beberapa orang betul-betul memerlukannya untuk mencipta. Ia, membentuk sejenis pola bagi orang-orang tertentu…”

#7. Buku Baru

Buku debut Ulid bersampul kuning yang terkenal itu, disambut dengan sederhana oleh penulisnya. Bersepeda Wymcicle AC Milan santuy ke tempat kelahirannya, mengambil 25 eksemplar, merayakan dengan mampir ke tempat teman, meminta meresensinya, dan setelah lama berselang itulah satu-satunya resensi. Hiks, si sulung yang malang katanya. Namun lihatlah, setelah belasan tahun, buku itu justru kembali nge-hits efek ketenaran.

“Semua istimewa pada masing-masing tempatnya.”

#8. Melihat Pengarang tidak Bekerja

Ini hanya curhat masa tak mood menulis. Klontang-klantung, ngopi sama teman, haha hihi lupa waktu, menunda nulis, buka sosmed yang menghamburkan waktu banyak, menunda lagi nulis untuk mencari makan, kembali membuat kopi, dst. Hal-hal wajar yang memengaruhi kreativitas, yang terasa tak wajar adalah, saat penulis tak bekerja, malah jadi tulisan. Ironi di atas ironi kata Spongebob.

“Dengan malas ia bangun dan mematikan lampu… dan dengan malas ia akhirnya memutuskan bangun.”

#9. Tentang Menulis Populer

Ini mungkin yang paling bagus, tulisan populer itu yang bagaimana? Pertama mendengarnya, jelas buku-buku buruk Tere Liye. Laris manis, penulisnya baper, ngudi-udi di sosial media demi mendongkrak penjualan. Kita harus sepakat di awal, bahwa buku-buku Tere jelex, tapi sayangnya laris manis, dikutip para abege, dan beberapa berhasil diadaptasi film. Itulah tulisan populer, menurutku.

Cak Mahfud menjabarkan panjang lebar, dimula dalam seminar yang diadakan para pelajar, yang lantas membedahnya. Benarkah tulisan populer itu mudah? Beliau menjawab, dalam jenis tulisan apa pun, menulis populer haruslah didasari oleh kemampuan teknis yang lebih dari sekadar memadai, malahan lebih lihai, dengan kemampuan menyampaikan ide dan gagasan atau cerita kepada pembaca di atas rata-rata. Jangan dikata lagi isi yang disampaikan. Terlihat Cak Mahfud sering kali curhat terkait seminar/bedah buku yang diisinya. Saya sendiri dua kali ikut, dan seru. Cuma satu pertanyaanku waktu itu, nulis cerpen sudah, esai sudah, novel sudah, kapan nulis puisi? Cuma dijawab tawa, dan bilang ‘endak… endak...’ sambil terus mengelak.

“… sengaja atau tidak, para penulis pop ini kemudian menyepakati, dalam banyak kesempatan mungkin malah memanfaatkan, pandangan bahwa yang populer adalah dangkal dan gampangan…”

#10. Penulis dan Tidurnya

“Terlambat karena kita tidak bisa mengatasi kenapa kita terlambat jauh lebih tidak menyenangkan dibanding terlambat karena kita lali atau disebabkan melakukan hal lain…”

Ceritanya, beliau lagi nostalgia bagaimana mencipta tidur yang nyaman. Memiliki kamar pribadi tentu saja sebuah kenyamanan, atau malah sebuah kemewahan bagi kita kebanyakan (keluarga Rafathar jelas tak dihitung). Tidur di masjid sesuatu yang lumrah, tidur di pos ronda wah ekstrem, tidur cepat dengan niat agar esok bisa bugar dan siap menulis, sungguh utopia. Saya sendiri sering kali tidur larut kala hari libur, dan bangun subuh setelahnya. Rasanya, sayang sekali akhir pekan tak memeluk buku lebih lama. Sebuah kerugian bagi pecinta buku bangun kesiangan di hari libur.

#11. Sastra adalah.. Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

Sampai sekarang, definisi sastra masih simpang siur dan mengundang pendapat beragam. Teori sastra di buku Welleck dan Warren yang kebetulan sudah kubaca, juga menimbulkan banyak tafsir. Maka kalau dalam seminar ada yang berpendapat Satra itu gelap, wajar. Apalagi deretan contoh yang disajikan mayoritas mengiyakan. Satu paragraph yang mengutar menyelamatkan seseorang yang menganggap KKN Desa Penari sebagai sastra, bisa jadi benar. Namun kita tak tahu, seratus tahun lagi, buku dari sensasi twit ini bisa jadi berbelok nyastra. Merefleksikan kehidupan, menggetarkan hati pembaca… nah… ‘kan.

“Saya menjawab bukan untuk membuatnya mengerti, tapi untuk membuatnya diam.”

#12. Duaribu Duapuluh

Pandemi dan orang-orang yang bertahan hidup sampai sekarang. Saya, dan kalian yang membaca blog ini, saya ucapkan selamat. “Hidup hanya menunda kekalahan,” kata Chairil Anwar, dan ya 2020 memang tahun tak wajar.

Suka sekali sekali penutup bab, sekaligus buku ini tentang Jimmy Glass yang menyelamatkan Carlisle United tahun 1999 dari degradasi dari divisi empat Liga Inggris. Kiper cadangan yang mencetak gol dramatis, yang mendadak jadi pahlawan, lantas pensiun dini 27 tahun sebab tak ada yang memakai jasanya. Baru tahu, dan kalian harus tahu. Tipis memang, pahlawan dan pecundang.

Kubaca selama libur Lebaran saat mudik ke Solo kemarin, kutuntaskan setelah kembali tiba di Karawang. Selang seling sama buku kumpulan cerpen Frederick Forsyth: No Comebacks. Jelas pilihan bagus, keduanya saling melengkapi, esai dan cerpen, dan sebuah buku tipis kumpulan puisi dalam sepekan, langsung kelar.

Selamat ulang tahun Mahfud Ikhwan, 42 tahun. Buku-buku barumu selalu kunanti.

Melihat Pengarang Tidak Bekerja | by Mahfud Ikhwan | Ilustrator Alfin Rizal | Tata Sampul alfin Rizal | Tata Isi Vitrya | Pracetak Antini, Dwi, Wardi | Cetakan pertama, Maret 2022 | Penerbit Diva Press | 128 hlm; 13 x 19 cm | ISBN 978-623-293-651-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 090522 – Patrice Rushen – Forget Me Nots

Thx to Gramedia Karawang

Adu Jotos Lone Ranger dan Tonto di Surga

Ada sedikit keajaiban dalam segala sesuatu lalu sebagian menyusut hilang sama sekali. – Lou Reed

Cerita-cerita tak biasa di daerah observasi kaum Indian. Menggugah dan menyentuh hati. Disajikan dengan alur lambat, sering kali mengambil sudut pandang Victor, dan sungguh ini fiksi terasa nyata. Jelas ini dinukil dari kisah hidup penulis. Modifikasi pengalaman hidup seorang Indian Spokane yang tinggal di reservasi yang bersinggungan dengan warga mayoritas Amerika. Atau seperti yang ia bilang, Reservasi Indian Spokane adalah Sebuah reservasi kesenyapan.

Dibuka dengan dua kutipan:

Kusimak suara tembakan yang tidak bisa kita dengar, dan mengawali perjalanan ini dengan cahaya pengetahuan akar cinta menggelegarku. – Joy Harjo

Seseorang pasti mengatakan kebohongan tentang Joseph K., sebab tanpa melakukan kesalahan apa pun dia ditangkap pada suatu pagi yang cerah.Franz Kafka

Karena ini buku ditulis oleh Indian Amerika, mayoritas isinya pengalaman hidup sang penulis. Dari masa kecilnya yang terkucil di rumah sendiri, padahal Indian adalah suku asli hingga riwayat hidup para tetua. Dari mabuk menyetir hingga permainan basket. Tema beragam, terkucil di tanah sendiri. Di era modern ini tak perlu perang dengan senapan, atau adu jago kuda, mereka hanya memerlukan satu tim basket keren untuk mengalahkan tim kulit putih, ini demi supremasi dan harga diri. James Naismith dianggap menemukan olahraga basket.

Dituturkan dengan pola acak, tak langsung mudah dipahami. Butuh beberapa kali baca untuk klik, seperti kalimat, “Mencengangkan betul menyadari bahwa aku hidup, bernapas dan membasahi tempat tidurku, sewaktu Jimi Hendrix masih hidup dan membanting gitar.” Tak ada korelasi langsung tentunya, sebab Jimi Hendrix adalah idola. Ayahku memainkan rekaman Jimi Hendrixnya sampai soak. Lagi dan lagi.

Banyak kata kiasan dan hiperbolis, “Orang bisa melakukan hal-hal yang sepenuhnya bertentangan dengan sifat mereka, sepenuhnya. Rasanya seperti gempa kecil menggemuruh dalam jiwa dan ragamu, dan itulah satu-satunya gempa yang akan kamu rasakan. Tetapi itu sangat merusak, meremukkan pondasi hidupmu selama-lamanya.” Atau kalimat ini, “Jika kamera video saat itu sudah ada, mungkin Victor sudah memfilmkannya, tetapi ingatannya jauh lebih bisa diandalkan.”

Salah satu tokoh kocak Thomas Built the Fire, yang hobinya mendongeng walaupun tak banyak yang mau mendengarkan, hingga sajian keju busuk yang menjadi santapan. Dari Jimmy Many Horses yang sekarat terkena kanker hingga edaran alkohol melimpah. Ditulis dengan fun sekaligus satire. Setiap orang menaksir kerugian, menimbang-nimbang pilihan.

Ini novel pertama Sherman yang kubaca, dan sangat menarik. Jadi tahu inspirasi tulisan-tulisan Bung Yusi Pareanom, beberapa pola bertuturnya mirip, beberapa kosakatanya sama, dan beberapanya lagi diadopsi. Umpatan-umpatan dalam Raden Mandasia jelas terobsesi sama Victor dan kawan-kawan. Walau levelnya tentu diperhalus.

Dan sekali lagi, penerbit Banana memuaskanku. Mau terjemahan ataupun tulisan lokal semuanya keren. Apakah ada penerbit lain yang bisa konsisten menerbitkan karya bagus seperti ini?

Adu Jotos Lone Ranger dan Tonto di Surga | by Sherman Alexie | Istilah “Lone Ranger” dan “Tonto” serta karakter pada sampul adalah merek dagang milik dan digunakan seizing Palladium Limited Partnership. | Copyright 1993 | Penerbit Banana | Cetakan pertama, Agustus 2007 | Penerjemah Nppe Cholis dan Yusi Avianto Pareanom | Penyunting Yusi Avianto Pareanom | Sampul Mamato “Casava Underground” | ISBN 978-979-1079-05-1 | Skor: 5/5

Karawang, 310122 – 070422 – Tiffany – If Love is Blind

Thx to Rusa Merah, Bekasi

Menunggu Godot

Vladimir: belum lama kita sendirian, menunggu datang malam, meunggu Godot, menunggu… menunggu… sepanjang sore kita suntuk bertengkar, tanpa bantuan. Semua kini berlalu. Rasanya kini sudah beralih menjadi esok.

Kubaca dalam dua hari. Secara cepat dan lugas. Walau berisi dua ratus halaman, tapi karena berisi dialog, isi buku tak padat. Pilihan katanya juga umum, tak perlu kerut kening. Intinya dua orang menunggu Godot di sebuah hutan, di bawah pohon. Lalu muncul orang asing yang mengisi kekosongan, lalu muncul utusan bahwa yang ditunggu tak bisa hadir, ia akan hadir besok senja. Dan esoknya beberapa hal terulang. Ini adalah naskah sandiwara, berisi dialog dan beberapa petunjuk gerak laku di atas panggung. Pesan tersirat, kita punya banyak waktu untuk menjadi renta sementara udara mampat dengan tangisan kita.

Berisi lima pelakon. Dan Godot-nya sendiri tak tampak hingga layar ditutup. Dua orang yang dominan adalah pasukan Vladimir dan Estragon. Keduanya saling silang berdialog di atas panggung, tentang waktu-waktu yang berlalu sembari menanti bos mereka. Lalu muncullah dua orang aneh Pozzo dan Lucky, bisa dan budak yang menyapa mereka. Mengisi banyak kekosongan yang tersaji. Makna waktu yang linier disinggung. Vladimir: berlalulah sang waktu / Estragon: betapa pun juga kini waktu berlalu. / Vladimir: Yah, meskipun tidak cukup cepat.

Keduanya berdebat dan seolah tak henti-hentinya bicara. Estragon: Sementara itu marilah kita mencoba tenang, lalu berbincang dengan tenang pula. Soalnya kita tidak berbakat untuk membisu.

Keyakinan dan keraguan mengambang, tak ada yang pasti. Vladimir: Ah, Gogo, jangan seperti itulah. Besok segalanya akan lebih baik. / Estragon: Kok kamu bisa seyakin itu?

Atau celetuk unik. Vladimir: Waktu cepat berlalu kalau orang bergurau!

Begitu juga diksi bagus yang puitik. Estragon: Pucat karena pudar. / Vladimir: Hah? / Estragon: Menggurat langit dan memandang kepada makhluk seperti kita.

Hari pertama tak hadir, tokoh kelima yang memberitahu laki-laki yang membawa pesan ketidakhadiran Godot. Keesokan harinya, hal sama terulang, dengan tingkah polah baru, dan pemukulan, ketidaksabaran, hingga keputusan apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup. Hasilnya sama, Godot tak hadir. Lalu sebelum layar ditutup, mereka berencana beranjak pergi, tapi ternyata tak pergi.

Pozzo: Saya juga senang bertemu dia. Semakin banyak orang yang kutemui, semakin senang saja hatiku. Dengan bergaul dengan nakhluk berbudi orang bisa menjadi makin bijak, makin kaya – suatu hal yang biasanya tidak disadarinya. Bahkan dari kalian… bahkan dari kalian pun aku akan bisa menambah-nambah khazanahku.

Apa maknanya? Menanti yang tak pasti jelas ada di posisi tertinggi untuk mengartikan secara harfiah buku ini. Namun penafsiran lebih luas malah lebih liar. Ini tentang ketaatan pada kewajiban, bisa juga diartikan sebagai menjalankan kehidupan, menanti kematian, hal-hal dari dimensi lain yang dikaitkan ini malah makin menarik. Ini memang buku panggung yang absurd, tak gamblang, makna-makna penuh kiasan dan tersirat. Dan itu sah-sah saja. Dan seperti kata Estragon, menunggu juga pilihan, “Maka yang bisa kita lakukan tak lain cuma menunggu saja di sini.”

Lalu sempat bisa-bisa memikirkan bunuh diri, yang untungnya tak ada tali. Estragon: (memandang pohon) sayangnya kita tidak punya seutas tambang.

Makin menambah daya tarik mereka menunggunya di bawah pohon, kalau imajinasi kita lepaskan dan bebas mengartikan penantian di bawah pohon, bisa jadi itu juga naungan kehidupan. Pohon kan menghasilkan banyak manfaat buat manusia. Semua tampak mati kecuali pohon itu. Pohon Willow.

Ada satu kalimat panjang yang filosofis, “Air mata di alam ini jumlahnya tetap saja. Begitu ada seseorang mulai menangis, maka di tempat lain ada yang mulai diam. Demikian pula halnya dengan tertawa. Ah, tak perlulah kita omongkan perkara derita yang ditanggung generasi kita, bukan berarti generasi kita lebih tidak bahagia dibanding leluhur kita.”

Buku pertama terbit 1952, sudah tujuh puluh tahun berlalu dan kini menjadi klasik. Terbitan Narasi lumayan bagus alih bahasanya, kovernya juga kece, untuk kali ini tak banyak komplain. Nikmat dan nyaman dibaca santai tanpa perlu waktu khusus, artinya kubaca saat menjadi sopir keluarga, nongkrong di warung kopi di Karawang Timur di bawah pohon cerry. Karena tak banyak baca buku-buku sandiwara, rasanya buku ini tampak fresh. Imaji kita melalangbuana membayangkan kejadian-kejadian di bawah pohon itu.

Saya tutup catatan ini dengan dialog yang mengingatkanku pada kata-kata di atas makam Annemarie Schimmel yang dikutipnya dari Sahabat Nabi. Pozzo: “Saya bangun pada suatu hari yang cerah dalam keadaan buta bagaikan Dewi Fortuna yang kata orang juga buta itu. Kadang saya bertanya-tanya apakah saya ini tidak sedang tidur?” Dijawab dengan muram oleh Vladimir: “Rasanya semuanya cuma khayalan! Berani sumpah, kenyataan adalah kebalikan dari semuanya tadi.”

Menunggu Godot | by Samuel Beckett | Diterjemahkan dari Waiting Godot, A Tragicomedy in Two Acts, Faber and Faber, London, 1956 | Penerjemah Farid Bambang S. | Desain sampul Sugeng D.T. | Cet. 1, 2016 | Penerbit Narasi | 14 x 20 cm, | Skor: 5/5

Karawang, 170222 – 070322 – 060422 – RHCP – Easily

Thx to Jojo Merdeka, Bekasi

Kritik Sastra Indonesia

Buku-buku di rak kantor

Penilaian adalah hal yang penting, tidak dapat disanggah. Buku ditulis, diterbitkan, disalurkan, sampailah pada pembaca. Untuk mengetahui bagus tidaknya sebuah karya, butuh penilaian. Pembaca menjadi krusial karena memberi respon. Banyak hal yang terjadi selama proses itu, panjang nan berliku. Penulis tidak memiliki jalan pintas. Penerbit dan penjual juga tak ada jalan pendek. Muara di pembaca, semua proses ke muara memang butuh waktu dan tenaga. Penulis bukan penemu, tetapi mensuplai pengetahuan. Pembaca bukan hakim, tetapi berhak mengulik nilai akhir.

Sastra Indonesia memang tengah bergeliat, sangat menyenangkan kita hidup di era serba digital. Di masa kini, buku-buku dengan mudahnya kita cari dan dapatkan. Bermodal android dan pertemanan di dunia maya, tinggal ketik di pencarian maka abracadabra, muncullah. Dalam dunia maya segalanya mungkin, seolah Tuhan berkata, “Fiat lux!” (jadilah terang), maka dalam hitungan hari buku yang dicari sudah bisa dinikmati. Setiap kemudahan sejatinya dibarengi dengan tikaman ancam, maka dunia kertas yang sudah seabad lebih menguasai pasar perbukuan kini dalam raungan alarm akan serbuan bentuk digital. Banyak yang sulit beradaptasi, kenikmatan aroma buku dalam kenyamanan menjadi benteng akhir untuk dipertahankan. Namun sampai kapan? Sampai angin dan matahari hanya membicarakan kesepian.

Saya teringat Pramoedya Ananta Toer di buku Bumi Manusia, betapa beruntungnya Minke hidup di era mula abad 20. Ada mesin pencetak kertas, gambar bisa dicetak ratusan dalam sehari, era kemudahan dalam menikmati karya, relate untuk masa kini bila kukatakan betapa beruntungnya kita di era digital ini. Kalau masa itu Minke merasa hidup dalam kemewahan dan kemegahan, kita mungkin serasa di surga teknologi. Surplus informasi, kebanjiran berita, teori ilmu melimpah ruah.

Dari sastra kita belajar banyak hal. Dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, kita menuai pelajaran arti cinta pertama, cinta sejati, cinta mati. Tak ada cinta yang lain, sebuah kesetiaan yang sulit kita terima dengan nalar, memang setiap individu itu unik, sebagian besar kita mungkin malah pernah mengalami cinta bodoh dengan tetap mengedepankan kesetiaan tanpa syarat, kekerasan hati Hayati mengingatkanku pula pada Daisy Buchanan dalam The Great Gatsby-nya F. Scott Fitzgerald. Terasa sekali ceweknya jahat banget, menikam kemurnian kasih.

Di tahun 2002 muncul novel Cantik Itu Luka, dua tahun berselang muncul Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan, tidak langsung booming, tidak serta merta menuai kesuksesan di pasar, terlambat panas. Butuh waktu lumayan lama untuk meledak, tahun 2010-an barulah namanya mencuat hebat. Kualitas memang tak berbohong, kualitas akan tertanam kuat di peredaran apa pun alasannya. Apalagi, kemudian muncul Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Lunas dan O, yang bisa konsisten membentuk dunia imaji luar biasa. Permainan kata dan plot menjadi komoditi utama.

Ketika membaca Saman karya Ayu Utami, saya menemukan dunia wanita yang tak lazim, berontak dan berani bersuara, lebih terasa makin jleb karena muncul di pergantian era, Orde Baru jelang runtuh, di sana ada kritik sosial dan politik, bagaimana Laila menghadapi hari-hari liar dengan memikirkan Sihar yang tersandung politik. Saman seolah menjadi pembuka kran tema feminisme di Indonesia. Cala Ibi, Tarian Bumi, Biru, Supernova menyusul. Ceritanya bisa saja lebih menghentak, tapi karena Saman muncul terlebih dulu, saya mencatatnya lebih pas momentumnya.

Saya teringat kata-kata tokoh Watanabe di novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami yang berujar bahwa ia tak akan menikmati karya sastra modern yang belum dibaptis waktu, hidup ini singkat. Atau kata-kata AJ Fikry dalam The Storied Life of A.J. Fikry karya Gabrielle Zevin bahwa ia tak suka buku remaja. Sejatinya bagi para penikmat buku yang sudah sangat berpengalaman, otomatis kualitas akan menyaring sendirinya. Waktulah yang memvonisnya. Kebetulan keduanya adalah orang yang memiliki hobi dan kecimpung di dunia buku, lalu membentuk pola bahwa mutu sastra yang bagus itu klasik sehingga berhasil melewati masa dan bertahan hidup di era kita. Lantas apakah dokrin ini sah dan laik dipertahankan?

Sastra kita sejatinya mengalami banyak kemajuan, selain era yang memang lebih maju, tema yang disodorkan di pasar lebih bervariatif. Sastra kita membuncah dan semarak. Pasar akan sortir sendiri, kualitas akan bertahan di tengah gempuran karya, dan yang bertahan (pastilah) hanya karya bermutu. Saya teringat Manusia Harimau, buku ini berserak dalam obral diskon setelah dua atau tiga tahun pasca rilis. Masa menempanya, tahun 2010-an nama Eka mencuat, dan sosial media memblow-up keganasan Margio. Lihatlah sekarang, semua buku Eka sangat laku, terbitan lama justru berharga lebih mahal ketimbang edisi cover baru. Itulah kualitas.

Penerbit Indie di era digital menggeliat dengan taring sangat menjanjikan, dalam penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK), dekade 2010-an juara kategori Prosa contohnya dari Kura-Kura Berjanggut (Banana), Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi (Banana), sampai Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (Marjin Kiri). Bukti bahwa tak ada dominasi, tak ada relevansi antara modal dan kualitas. Gambaran yang bisa memicu berkarya dan diterbitkan dengan opsi lebih beragam. Karya sastra menentukan nasibnya sendiri.

Harus diakui dunia digital mengancam perbukuan bentuk kertas, dalam sebuah pos di blog ada yang berkomentar heran, saya masih menikmati buku (kertas) ditengah gempuran e-book, sejatinya dan sewajarnya kita memang harus beradaptasi pada perkembangan zaman, nyatanya kenikmatan membaca dalam layar tak maksimal, saya takkan betah memandang layar bercahaya bermenit-menit, apalagi berjam-jam. Aroma buku kertas dan kenyamaan di tiap ujung telunjuk, sensasi membalik kertas bagiku belum tergantikan, mungkin untuk generasi berikutnya saja. Beberapa Penerbit sudah mengantisipasinya, dan waktu terus berjalan.

Ketekunan kita membaca mencipta dunia imaji, dan dengan sendirinya kita hidup di dalamnya, minimal pelarian beberapa waktu dari penatnya kenyataan. Ada keseruan, ada keindahan, tapi memang terbatas di sana. Untuk bisa keluar perlu kembali kesadaran, terhanyut, tercerabut.

Sastra kita masih banyak perlu perjuangan berbagai pihak, orang-orang yang gemar membaca, menjadikan membaca buku sebagai kebutuhan masihlah sedikit, kalau tak mau dibilang kritis. Minat baca Negara kita menurut Central Connecticut State University (CCSU) tahun 2016 berdasarkan lima indikator kesehatan literasi: perpustakaan, input dan output pendidikan, surat kabar, dan ketersediaan komputer berada di angka 60 dari 61! Banyak Pekerjaan Rumah (PR) memang, tentu dibutuhkan banyak aksi lebih mumpuni ketimbang berteori.

Segala upaya para pejuang literasi memang sungguh aduhai dan kita wajib apresiai, tapi sayangnya tak banyak. Mayoritas masyarakat masih nyaman nongkrong sama gawai berjam-jam ketimbang mantengin buku. Sebuah kejadian langka ketika di ruang umum mendapati seseorang nyaman dengan buku, lihat saja, orang-orang lebih nyaman sama tempaan layar gawai untuk menunggu. Bukan mau menyalahkan siapapun, siapa tahu menatap layar ternyata baca e-book kumpulan puisi, tapi sejujurnya pikiran semacam itu jauh dari kenyataan. Permainan daring lebih memikat daripada baca buku, inilah PR kita semua. Lantas kepada siapa tuntutan itu disampaikan, diarahkan?

Semakin bertambahnya usia semakin matang pula pemikirnan, semakin baik kualitas tulisan. Banyak penulis yang sudah berhasil mencipta karya di usia remaja, tema yang disodorkan mayoritas cinta monyet, waktu menempa, dan ketika dewasa tulisannya (seharusnya) matang. Semua tamasya pengetahuan dalam menikmati sastra memiliki keunikan walaupun mungkin tema narasi sama. Sama-sama buku cinta misalnya, tulisan remaja jelas masih a la sinetron yang acakadut tayang di televisi waktu jam utama. Bertambahnya usia, temanya tetap cinta. Dengan kritik tajam di sana-sini, masalah yang dikemukan lebih berwarna. Sekali lagi seharusnya. Kenikmatan dilambangkan dengan angka 16 karena (diduga) kegiatan seksual dimulai pada usia enam belas. Namun karena dibutuhkan dua manusia untuk bersetubuh dilambangkan dengan dua angka 16. *(1) Di situlah usia krusial menanamkan ideologi dan masa penting menentukan arah.

Coba tengok ke toko buku, buku-buku remaja berhamburan. Sangat banyak, tapi terlihat asing? Mengapa? Karena saring usia. Saya sangat jarang menikmati buku remaja yang ditulis remaja, isinya jarang bagus. Memang segmen pasar juga sih. Beberapa kali coba iseng kunikmati, ya ampun benar-benar lemah dalam banyak hal. Namun usaha itu patut diapresiasi, memang bukan untuk generasi baby boomer target pasar mereka. Seperti sinetron yang ambyar secara kualitas, novel remaja memang diperuntukkan untuk generasi milenial. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang mampu berbicara dan merangsang kedua otak secara bersamaan. *(2)

Apakah buku cinta-cintaan, buku horor yang mengagetkan, atau buku-buku yang dicetak dari wattpad bisa disebut sastra? Batasan sastra adalah segala yang tertulis atau tercetak, tapi karena luas maka batasan dipersempit menjadi segala yang tertulis lebih berkualitas, atau kritikus menulisnya mahakarya, buku-buku yang dianggap menonjol, karena bentuk dan ekspresinya istimewa, sastra sejatinya juga meliputi sastra lisan. Bahasa sastra mencoba memengaruhi, membujuk, akhirnya mengubah sikap dan pandangan pembaca. Bahasa sastra penuh simbolisme suara, tanda dari kata-kata. *(3)

Saya menikmati buku sastra sejak sekolah, dapat pinjaman di perpustakaan kota Solo. Saya ingat waktu itu iseng saja membawa pulang Namaku Hiroko karya Nh. Dini. Ada dunia asing yang memikat, novel dewasa dibaca remaja. Ada rasa malu, ada rasa perkewuh. Karena ada adegan dewasa ketika tokoh Hiroko memutuskan melepas keperawanan. Dan karena pendidikan seks di sini masih tabu untuk diperbincangkan maka masa itu bagiku sebagai dunia antah, dunia asing dan baru. Sungguh pengalaman berkesan menuntaskan kisah hidup karakter asing dari negeri Sakura.

Lalu novel detektif Misteri Dian yang Padam karya S. Mara GD memikat. Setelah beberapa cerita Agatha Christie dengan Pirot-nya memesonaku, juga Sherlock-nya Sir Arthur Conan Doyle, ada novel lokal yang tak kalah seru dalam penyelidikan kejahatan dalam dua karakter; kapten polisi Kosasih dan mantan narapidana Gozali. Saya merasakan kenikmatan tersendiri menelusur dunia detektif. Agak sulit mungkin membayangkan kota London yang walau di era Victoria, tetaplah megah. Maka terasa lebih klik dengan kota Ngawi dan sekitarnya, dalam penyelidikan pembunuhan Dian. Inilah mula saya mencintai buku, inilah pemicu. Menjadikannya rutin membaca, sebagai anak sekolah di pinggiran kota Solo dari keluarga sederhana, membeli buku adalah kemewahan. Semua itu saya pinjam, fiksi durasi yang diberikan Perpustakaan adalah dua minggu, sangat cukup untuk menuntaskan satu-dua buku di sela belajar.

Saya menemukan novel-novel sastra justru di luar, bukan di perpustakaan sekolah. Koneksi menjadi kutu buku memang wajarnya dari dalam, dari diri sendiri, menjadikannya mencintai buku juga butuh perjuangan, tidak mengeluhkan keadaan, tapi rasanya distribusi ke sekolah-sekolah untuk novel lokal berkualitas memang dirasa kurang. Entah di era digital sekarang, apakah ada alokasi khusus menuju ke sana. Ataukah masih sama saja, setiap cetak sastra yang ada di perpustakaan sekolah akan menjadikan dekat dengan generasi muda. Antisipasi utama yang seharusnya menjadi prioritas kala kita membicarakan literasi.

Usia memang bukan patokan kedewasaan, tapi tetap saja kualitas bacaan akan sangat memengaruhi perkembangan dan pilihan hidup di masa depan. Sudah seyogyanya masa-masa krusial remaja kini dijejali bacaan bermutu. Okelah acara tv swasta kita memang tak bermutu, memberi opsi ke channel daring untuk menikmati hiburan tonton, jangan berharap banyak dari tayangan televisi. Radio bisalah, karena membaca pun bisa dengan mendengarkan musik atau siaran radio. Dunia perbukuan sejatinya tak jauh beda, hanya opsi lahapnya lebih bebas waktu dan bisa di mana saja. Sekiranya untuk buku cetak bisa dipermudah dalam penyaluran (terutama) ke kawasan Timur Indonesia. Lebih terjangkau dan merakyat. Buku masih bisa diandalkan untuk hiburan, pendidikan, sampai perenungan.

Penghargaan Sastra nasional semakin banyak semakin bagus, dengan juri-juri Sastrawan ternama dan kualitas saring yang lebih ketat. Dalam dua puluh tahun terakhir, penghargaan Sastra yang patut mendapat sorotan salah satunya dalam Kusala Sastra Khatulistiwa, saya mengikuti perkembangan beberapa waktu terakhir dan menjadi saksi tahun-tahun kegemilangan para juara. Tahun 2016 Raden Mandasia contohnya, sungguh aduhai cara bertutur kata Yusi Avianto Pareanom, atau dua tahun berselang dari penerbit yang sama menghasilkan Kura-Kura Berjanggut yang luar biasa tebal, hal-hal yang membanggakan ini sejatinya membuat geliat penikmat buku tetap ada, dan nyata. Bagaimanapun, sastra membutuhkan perenungan yang intens.

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) masih terdepan, sudah lima puluh tahun menjadi rujukan sastra. Sekarang sudah banyak penulis muda menyeruak, tak ada dominasi sastrawan lama. Angkatan 2000-an atau kita bisa menyebutnya Angkatan Digital. Tema sudah sangat beragam, hal-hal yang di masa Orde Baru kena sortir, sekarang sudah bebas. Era yang represif, dan militerlistik sudah berakhir. Bahkan terlampau bebas. Tema-tema yang dulu rasanya mustahil terbit, sekarang menjadi komoditi umum. Cinta sesama jenis contohnya, sudah lazim dicipta. Atau kritik sosial politik, jumlahnya bisa dideret panjang. Perhargaan nasional resmi dari pemerintah juga patut diapresiasi, walau tak serutin dan seintens dua even yang kusebut, geliat penulis dan penghargaan patut disematkan. Puisi dan prosa diproduksi dengan oplah melimpah, bahkan terjadi inflasi karya di masa kini. Namun untuk sastra berkualitas masih butuh waktu lagi, sedekade lagi mungkin. Untuk menjadi sastrawan, memang wajib banyak membaca, banyak menulis.

Semangat zaman bisa dilihat dalam setiap masa terbitnya buku. Tiap dekade berjalan memiliki konsepsi penilaian dan apresiasi sastra yang berbeda-beda. Setiap era merupakan satu kesatuan dengan tipe novel atau puisi yang khas, dan tak bisa dibandingkan dengan zaman setelahnya. Kalau dilihat sepintas, sastra Indonesia benar-benar mulai menggeliat di tahun 1920-an. Balai Pustaka adalah penerbit di bawah kolonial, novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli adalah tonggak penting literasi kita. Cerita tentang perseteruan anak muda dan orang tua, cinta tak sampai dengan latar budaya Minang yang kental. Tahun 1928 muncul Salah Asuhan karya Abdul Muis yang menampilkan pertentangan budaya lokal dengan Barat (Belanda). Namun nama Muhammad Yamin tentu wajib dikedepankan di era itu karena seorang perintis puisi baru Indonesia yang mengetengahkan konsep Tanah Air dan bahasa persatuan.

Tahun 1930-an adalah era Pujangga Baru. Beberapa novel menonjol sekiranya bisa disematkan pada Layar Terkembang karya St. Takdir Alisyahbana, I Swasta Setahun di Bedahulu karya IGN Panji Tisna, sampai Katak Hendak Jadi Lembu karya Nur St Iskandar. Beberapa masih menampilkan roman yang mumpuni antara modernitas dan budaya lokal. Tahun 1940-an adalah milik penyair Chairil Anwar, yang menasbihkan Angkatan 1945. Sampai akhirnya muncul Angkatan 1966 di mana tahun politik bergolak. Setelahnya hingga reformasi, berbagai genre dan jenis sastra menyeruak. Konfliks yang lumrah di masa itu, seperti novel Pulang-nya Leila S. Chudori yang mengetengahkan politik bersih-bersih efek politik tahun 1965, dan berujung pada reformasi 1998, mustahil terbit di era Soeharto. Lihatlah, tahun-tahun yang panjang itu sejatinya adalah bentuk kehidupan sosial masyarakat. Ada perubahan gaya sastra yang sangat cepat, ada generasi sastra baru tiap sepuluh tahun, lima belas tahun, dua puluh tahun. Setiap masa menampilkan kekhasannya masing-masing.

Kebudayaan mematik kenangan, kenangan akan menjelma karya yang jika dituturkan dengan benar dan nyaman akan menjadi karya sastra yang aduhai. Buku sastra bukan studi psikologi atau telaahnya, melainkan drama atau melodrama kehidupan sehari-hari. Cerminan waktu. Dulu dengan segala kesederhanaan, seminal dalam Di Bawah Lindungan Ka’bah cinta yang terbentang di tanah Arab dengan Tanah Sumatra, nyaris tak ada komunikasi. Sekarang, kita bersama teknologi, pastinya cinta miss-komunikasi Hamid dan Zainab tak akan ada. Bagaimana tidak, orang sekarang menyatakan cinta saja bisa lewat sosial media atau sekadar kirim pesan! Atau riwayat kasih tak sampai Zainudin kepada Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk, di era sekarang rasanya belenggu adat sudah (dapat) dihilangkan. Cinta ya cinta, pilihan kembali ke pemuda-pemudi menentukan jodohnya sendiri. Tak ada banyak campur tangan orang tua, atau ikatan adat. Selamat datang di dunia modernitas yang tunggang-langgang.

Dalam Kura-Kura Berjanggut karya Azhari Aiyup, rentang waktu dari era kerajaan sampai abad 21. Kitab cara membunuh Sang Raja, itu konon masih ada. Sejarah Aceh yang bergolak digarap dengan syahdu dalam konfliks beragam. Ini adalah novel lokal tertebal yang saya nikmati, nyaris seribu halaman. Kita disuguhi banyak tema dan kecanduan adu cerdik perebuatan kekuasaan. Novel itu jelas membutuhkan riset mendalam, tak sembarang orang bisa mengkhayalkan adegan, dililit sejarah, terasa nyata. Kita dapat mengumpulkan informasi tentang latar belakang sosial, latar belakang kerajaan yang memimpin, dan posisi ekonomi penulis. Kita dapat menunjukkan apa peran Azhari dalam masyarakat Aceh, kaum jelata atau mungkin penggiat sosial, dan tampilan cerita itu menggambarkan dengan jitu dalam lanskap sastra. Sosok sastrawan berinduk pada tradisi dan kultur tempatan.

Apakah ada sebuah buku berpengaruh terhadap pembacanya? Jawabnya tentu bisa ya, jikalau buku itu terasa istimewa. Apakah pengaruh Chairil Anwar menyebabkan generasi berikutnya mengingin profesi menjadi penyair? Apakah novel Ateis membuat para orang tua tak terlalu kolot mendidik anak? Ataukah novel Hati yang Damai membentuk dunia pernikahan harus dilandasi cinta? Penulis dipengaruhi dan memengaruhi kehidupan masyarakat, sastra tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Banyak orang meniru gaya hidup para karakter dunia rekaan yang dicetak. Banyak orang menamai keturunannya dengan nama tokoh fiksi novel. Lhaa… kalau yang ini saya sendiri contohnya. Bukti keterkaitan itu ada. Penulis mengajarkan banyak sifat-sifat menuasia ketimbang konsultan kemanusiaan. Sastra adalah gudang adat istiadat, buku sumber sejarah peradaban, terutama sejarah kehidupan sosial budaya masyarakat. Sastra lahir dari rahim kehidupan sosial budaya sekitar.

Saya teringat ucapan teman satu kos dulu, yang bilang membaca itu merusak mata dan membuang waktu berharga. Dalam buku Pengarang Tidak Mati, ada kalimat: membaca karya sastra sebagai kegiatan membuang-buang waktu. Mereka membaca karya sastra dicap sebagai pemalas. Inilah pandangan sebagian besar masyarakat kita mengenai profesi sastrawan dan memperlakukan karya sastra sebagai karya tidak mendatangkan manfaat apa-apa. *(4)

Keahlian membaca memang sangat diperlukan dan menjadi dasar untuk membudayakan apresiasi sastra dalam masyarakat, juga pilihan baca harus ke arah buku-buku bermutu. Kritik yang muncul menjadi pemicu karya berikutnya yang lebih baik. Dalam Tentang Menulis *(5) karya Bernard Batubara, ia mengaku tiga karya perdana yang bertema cinta memang dirasa biasa, tapi sukses di pasar dan menjadi pematik menulis, bahkan ada yang memberi satu bintang di Goodreads disertai ulasan minor bahwa bukunya sampah, ia dengan hati terbuka menerima, muhasabah, dan lihatlah, muncul karya beliau di kemudian hari dengan mutu bagus, contohnya Milana dan Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran secara cerita sangat bagus. Di sini jelas, kritik itu menempa dan berfungsi dengan tepat.

Dengan buku yang sama penilaian baca tiap kepala tentunya berbeda, pembacaan tiap masa juga berbeda. Sama halnya dalam musik. Bahkan jika karya yang sama dimainkan lagi malam harinya, karya itu juga diharapkan terdengar baru. Tuntutan tingkat kreativitas sangat tinggi, bahkan terdengar tidak realistis; musisi tidak saja dituntut untuk terdengar berbeda dari musisi lain tapi juga berbeda dari dirinya sendiri. *(6) Penulis dituntut mencipta karya yang beragam tema, tapi tetap mutunya aduhai. Setiap individu, setiap masa, setiap kesempatan kemungkinan memunculkan beda tafsir dan pemahaman. Kita berhak mencari penafsiran makna perilaku Si Tukang Pos yang menyelam dalam amplop, yang mungkin malah tidak disadari oleh Seno Gumira Ajidarma sendiri.

Dari zaman dulu, perdebatan mutu kalau sudah kembali ke selera akan sulit didiskusikan, sulit menemukan titik temu yang memuaskan semua individu, karena selera itu sufatnya abstrak serta unik. Banyak hal bergelantung di dalamnya, sama seperti tiap manusia yang unik, selera tiap orang tidak ada yang sama, bahkan dalam manusia yang kembar sekalipun. Reputasi juga berkaitan dengan masalah tanggapan pembaca. Tanggapan pembaca dari satu periode diselidiki melalui sejumlah pernyataan resmi yang dianggap mewakili pendapat umum. Jadi masalah ‘selera yang berubah-ubah’ bersifat ‘sosial’, dan dapat diletakkan pada dasar sosiologi yang jelas. Hubungan karya dan publik tertentu dapat ditelusuri melalui sejumlah edisi dan buku yang terjual. *(7) Sejarah mencatat, kualitas dan cap ‘best-seller’ di sampul buku sering kali tak segaris lurus. Pasar buku, seperti halnya dunia ini yang sulit diprediksi. Maka sastra boleh dibaca, dinikmati, dan diapresiasi… Apresiasi, selera, dan antusiasme adalah urusan pribadi. Intuisi mengarah pada apreasiasi yang bersifat emosional, jelas lebih subjektif. *(8)

Sebagai seorang blogger (buku, film, sepak bola) saya mencoba menempatkan diri dalam pandangan umum. Buku yang sepuluh tahun lalu kubaca menimbulkan decak kagum, belum tentu sama penilaiannya dengan sekarang. Buku yang tak kumengerti alur dan maksudnya lima belas tahun lalu, ketika dibaca ulang, bisa saja menimbulkan respon positif. Banyak faktor, banyak hal yang bisa dilihat. Setidaknya setiap pembaca memberi respon penilaian, sudah patut diapresiasi. Setiap orang ingin dihargai; penulis,orang-orang di balik penerbitan, penjual, dan tentu saja pembaca. Sastra kita memang perlu dipecut!

Terakhir, saya ingin mengutip tentang kreativitas menulis. Tekad untuk menjadi original dan tidak mau membaca apa pun itu sungguh mengharukan dan tidak masuk akal. Anda boleh saja bersikukuh tidak membaca buku-buku yang ditulis orang orang lain, sebab Anda tidak ingin terpengaruh… apa pun dalihnya itu sangat egoistis dan ajaib… Dan, kalau novel itu jadi, saya betul-betul tidak ingin membacanya. Saya kira itu cukup adil karena ia tidak mau membaca karya orang lain. *(9)

Banyak-banyaklah membaca, percayalah suatu saat ilmu yang diserap itu akan berguna, dan cobalah menulis.

Karawang, 070920 – The Adams – Pahlawan Lokal

——————————————————————————-

1) Eco, Umberto, “Bahasa & Kegilaan”, Circa: cetakan pertama: Agustus 2019, hlm. 76

2) Manson, Mark, “Segala-galanya Ambyar”, Grasindo: cetakan II: Februari 2020, hlm. 54

3) Wellek, Rene; Warren, Austin, “Teori Kesusastraan”, Gramedia Pustaka Utama: cetakan keenam (cover baru) September 2016, hlm. 11

4) Mahayana, S Maman, “Pengarang Tidak Mati”, Nuansa: cetakan I, Juli 2012, hlm. 32

5) Batubara, Bernard, “Tentang Menulis”, Tanda Baca: cetakan pertama, Juli 2019, hlm. 24

6) Szwed, John F., “Memahami dan Menikmati Jazz”, Gramedia Pustaka Utama: cetakan kedua, Juli 2013, hlm. 35

7) Wellek, Rene; Warren, Austin, “Teori Kesusastraan”, Gramedia Pustaka Utama: cetakan keenam (cover baru) September 2016, hlm. 107.

8) Ibid. hlm. 4

9) Laksana, A.S., “Creative Writing”, Banana, 2020, hlm. 184-185

** Tahun 2020 saya kirim ke lomba Kritik Sastra dan kalah, saya pos di blog ini agar bisa dinikmati para pembaca.

Menjalankan Wejangan Ray Bradbury #35

Mulai agak malesi, beberapa kubaca di paginya, bahkan pernah siang hari berikutnya. Namun tak mengapa, saya terus berusaha melanjutkan komitmen ini, seribu itu banyak, dan ini baru 3.5% perjalanan, masih sangat panjang…

Hari 26

#1. Cerpen: Kepala Kantor Pos (Rabindranath Tagore)

Seorang petugas pos dikirim ke kantor cabang di pelosok untuk jadi kepala kantor pos. Desa yang sederhana ini memberi cerita mengharukan.

#2. Esai: How the World Work Bab Yang Kaya Sedikit dan Yang Gelisah Banyak (Noam Chomsky)

Amerika yang digdaya pasca Perang Dunia Kedua melakukan banyak invasi, menjaga harga minyak untuk menyuplai warganya. Bersekutu dengan Negara-negara ketiga, atau membumihanguskannya.

#3. Puisi: Ingin Menghilang (Triyanto Triwikromo)

Jauhilah Aku sesaat agar kau tahu betapa kita / begitu dekat. Aku ingin sendiri. Aku tak ingin kausentih / dengan cinta dan doa paling lembut sekalipun. Aku / ingin menghilang…

#4. Kata: Indonesia

Afdal: lebih baik, lebih utama; lengkap, komplet

Hari 27

#1. Cerpen: Ule Sondok So-Len (Al El Afif)

Cerpen buruk, entah kumpulan cerpen di sini makin tak jelas.

#2. Esai: Etika Dasar bab Suara Hati (Franz Magnis-suseno)

Ketika bermsyarakat kita sering memertanyakan kebebasan, tapi tak bisa seenaknya sendiri juga. Ada batasan, dan suara dalam hati berfungsi menjaganya.

#3. Puisi: Jika Kau Rupa Stasiun (Yopi Setia Umbara)

:Widzar Al-Ghifary

Jika kau serupa stasiun / merasa senantiasa ditinggalkan / lalu bagaimana dengan mereka / yang silih berganti datang / bawa wajah-wajah kisah / bukankah keberangkatan dan kedatangan / adalah rel melintang / pada dadamu / seperti garis takdirmu / terjaga dalam sunyi / jam menempel pada dinding hatimu / mencatat pada mereka yang datang dan pergi / bersama pilihannya / dalam risalah hidupmu / sebagai stasiun / kau layak menyediakan lobi sunyi / bagi segara keriuhan kisah / yang mereka bawa / juga mereka / tinggalkan padamu – 2007

#4. Kata: Indonesia

ambulans: kendaraan yang dilengkapi peralatan medis untuk orang sakit, korban kecelakaan, dll

Hari 28

#1. Cerpen: Budayut (Tony Lesmana)

Bunuh diri, gundul, masa depan yang aneh.

#2. Esai: Membangun Koperasi (Moh. Hatta)

Ceramah sang proklamator untuk kesekian kalinya untuk membangun ekonomi rakyat, membangun koperasi, dasarnya kuat.

#3. Puisi: Sang Guru (Yopi Setia Umbara)

:Riski Lesmana

Dan kau ucapkan selamat tinggal / pada keremajaan jalan / di sepanjang cekungan / yang tercipta dari kisah para hyang

di bawah garis merah lembayung / pada langit matamu / kau berjalan menuju sunyi satu kota / di mana hujan selalu turun lebih deras

mungkin di sana / namamu akan mengenang / pada tanah merah serupa tujuan hujan / yang resap ke dalam hati ibu bumi – 2007

#4. Kata: Indonesia

amendemen: usul perubahan undang-undang; penambahan pada bagian yang sudah ada

Hari 29

#1. Cerpen: Obat Mujarab (Mo Yan)

Seram. Hukuman mati dilakukan di atas jembatan di fajar yang baru merekah, satu keluarga ditembak algojo dan mayatnya dilempar di kolong jemabatan. Bapak anak menunggu di sana, untuk mencari obat mujarab.

#2. Esai: Apakah Kita Masih Perlu Ngantor? (Andina Dwifatma)

Selama pandemi kita dihadapkan nama baru: Work From Home (WFH). Banyak kantor melakukannya, juga sekolah online. Banyak keuntungannya, tanpa mandi, tanpa perlu make-up, bahkan 15 menit sebelum jam masuk kita masih bisa rebahan! Nantinya kalau sudah enddemi, apakah masih dilakukan?

#3. Puisi: Catatan Masa Kecil, 4 (Sapardi Djoko Damono)

Ia tak pernah sempat bertanya kenapa dua kali dua hasilnya sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar dari tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol. Dan setiap kali ia menghitung dua tambah tiga kali empat kurang dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam ketika ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhum nenek dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar mandi yang dekat sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.

Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.  

#4. Kata: Indonesia

amonia: gas tak berwarna, baunya menusuk, terdiri atas unsur nitrogen dan hidrogen, mudah larut dalam air, dll

Hari 30

#1. Cerpen: Lelaki Tua di Jembatan (Ernest Hemingway)

Lelaki tua yang mendaku sebagai penggembala, pemelihara binatang. Ia diminta segera pergi sebab akan ada serangan, tenang saja binatang-binatang itu akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri, apalagi kucing. Benarkah?

#2. Esai: Filsafat Administrasi bab Planning (Dr.S.P. Siagiam, MPA)

Rencana adalah separuh keberhasilan.

#3. Puisi: Jarak (Triyanto Triwikromo)

Aku sudah di balkon. Kau masih di tanah becek. / Aku sudah jadi semacam burung. Kau masih jadi / semacam kecoa. Aku sudah asap. Kau masih api. Aku / hujan. Kau awan. Aku lima kaki. Kau dua kaki. Aku / topeng. Kau wajah busuk. Aku meninggalkan neraka / lima hari lagi. kau berjalan tertatih-tatih ke neraka / hingga tujuh hari. Aku sedih. Kau menari-nari.

#4. Kata: Indonesia

andal: dapat dipercaya, memberi hasil yang sama pada ujian atau percobaan berulang

Hari 31

#1. Cerpen: Kejadian di Michigan (Ernest Hemingway)

Cinta buta. Jill Gilmore dicintai Liz dengan membabibuta di pedesaan yang lengang, hanya lima rumah di sana. Liz tak bisa tidur saat Jill dan para lelaki berburu di hutan, dan saat kembali, terjadilah apa yang selama ini diidamkan Liz, tapi tak sepenuhnya sama.

#2. Esai: Filsafat Administrasi bab Organizing (Dr.S.P. Siagiam, MPA)

Atasan dan bawahan diatur dalam organisasi yang tepat, saling menghargai dan menjalankan tugas sesuai perannya.

#3. Puisi: Kurang Ajar (Triyanto Triwikromo)

Ada makhluk-makhluk yang kurang ajar pada-Ku. / Di laut penuh hantu, ada seekor paus yang selalu / menganngap aku hanyalah beruang kutup. Galak. / Berjalan sendirian. Di langit penuh merpati, ada seekor / rajawali yang menganggap Aku hanyalah cacing / di tanah gembur. Rapuh. Diabaikan oleh siapa pun.

“Kau hendak menghukum makhluk-makhluk itu? Katamu

#4. Kata: Indonesia

antre: berdiri berderet-deret di belakang menunggu giliran, antrean

Hari 32

#1. Cerpen: Meninggalkan Maverley (Alice Munro)

Gadis tukang sobek tiket bioskop yang lucu menghilang. Dibawa pemain musik, yang mencipta geger kota kecil Maverley. Waktu terus bergulir dan kabar itu tertimpa kabar-kabar lainnya. Namun saya tak kan melupakannya.

#2. Esai: Perkara Nama (Andina Dwifatma)

Nama anak zaman sekarang memang unik dan panjang-panjang. Saya mau complain, tapi kok ya anakku juga sebelas dua belas. Wajar, nama adalah doa. Justru yang mengagetkanku motifnya. Tak ada keinginan untuk mencipta web dengan nama anak.

#3. Puisi: Sunyi yang Lebat (Sapardi Djoko Damono)

Sunyi yang lebat: ujung-ujung jari / sunyi yang lebat: bola mata dan gendang telinga / sunyi yang lebat: lidah dan lubang hidung / sunyi yang dikenal sebagai hutan: pohon-pohon roboh, / margasatwa membusuk di tepi sungai kering, para / pemburu mencari jejak pencaindra…

#4. Kata: Indonesia

asas: dasar, dasar cita-cita, hukum dasar

Hari 33

#1. Cerpen: Kerikil (Alice Munro)

Bekas tambang di samping rumah yang kini menjelam danau sebab ditempa hujan. Keluarga ini pindah ke sana, kehidupan baru yang lebih berat. Dan tragedy dicipta dengan penuh intimidasi.

#2. Esai: Manusia Indonesia Bab Dunia Kini (Mochtar Lubis)

Modernitas yang rumit. Indonesia ingin seperti dunia barat, tapi orang-orang Eropa malah mengingin hidup sederhana seperti orang timur.

#3. Puisi: Membangun Kata (Deddy Arsya)

Memang ada kota yang didirikan dari gerutu / dari derap omong-kosong rak sudah-sudah!

Lalu mereka berkata: kita mesti atur itu siasat / masa depan hanya dapat diraih dengan gelegak hasrat / harus kau pilih jembatan antar selat atau kapal pengankut segala / pesawat-pesawat semakin sering jatuh dan orang-orang takut terbang / padahal kelak ato dan sepit akan diberi sayap / “tapi maaf, ya, penyair partikelir seperti Anda susah dibawa serta!”

Penyair-penyair mabuk menguping dari biliknya yang pengap / sebab tak punya bini, hanya bisa menggerutu pada diri sendiri. / mereka kira kata-kata seperti sak-sak semen / dan setumpuk batu-bata yang bisa bangun gedong bersusun / mereka kira puisi bisa menyelamatkan kita dari amok-murka?

Memang ada kota yang dibangun dari lentingan kata-kata?

#4. Kata: Indonesia

astronaut: antariksawan, kosmonaut

Hari 34

#1. Cerpen: Surga (Alice Munro)

Perbedaan pandangan kepercayaan, mencipta perdebatan antar keluarga. Sang dokter tak ingin mengenal kakaknya yang musisi, dan istrinya begitu taatnya.

#2. Esai: Jalan Pintas Menuju Cinta (Andina Dwifatma)

Sudah nonton film The Tinder Swindler yang menegangkan itu, dan sepakat sama tulisan di sini betapa manusia memang menyukai yang instan, bahkan cinta.

#3. Puisi: Di Radio Lokal (Deddy Arsya)

Di radio lokal / ia menunggu / menjelang akhir lagu / hujan dan waktu

Ke langit lengang ia bersuara / Kapan kau akan segera tiba?

Serupa kilau / mata kucing / hatinya nyala

Di radio lokal / Ia menunggu / menjelang datang sepi / dan mendesak ragu

Kau entah di mana berada

#4. Kata: Indonesia

autentik: dapat dipercaya; asli, tulen; sah

Hari 35

#1. Cerpen: Harga Diri (Alice Munro)

Riwayat hidup gadis bernama unik. Melewati masa perang dunia dan mencoba bertahan hidup, menjadi piatu saat remaja, kini ia yatim piatu. Dan sang aku melewatkan hari bersama, saling mengisi.

#2. Esai: Hidup yang Saling Bersinggungan (Andina Dwifatma)

Cerita burung nuri yang akan dicuri tetangga. Triknya lucu, dan seperti itulah hidup, terkadang lucu. Tetangga menjadi orang terdekat yang bersinggungan dengan kita.

#3. Puisi: Surat dari Ibu (Asrul Sani)

Pergi ke dunia luas, anakku sayang / pergi ke hidup bebas! / Selama angin masih angina buritan / dan matahari pagi menyinar daun-daunan / dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku sayang / pergi ke alam bebas! / selama hari belum petang / warnasenja belum kemerah-merahan / menutup pintu waktu lampau

Jika bayang telah pudar / dan elang laut pulang ke sarang / angina bertiup ke benua / Tiang-tiang akan kering sendiri .  dan nahkoda sudah tak pedoman, / boleh engkau dayang padaku

#4. Kata: Indonesia

azan: seruan mengajak untuk salat berjemaah

Karawang, 040422 – M2M – The Day You Went Away

Februari2022 Baca

Cassie, kau harus percaya. Rumah ini berhantu. Ada sesuatu yang terjadi di sini.” Para Pengganggu (E.E. Richardson)

Bulan kedua tahun ini tetap santai. Sejatinya sedang kejar film-film Oscar, tapi entah kenapa mood menonton terkikis taham. Tetap nyamannya baca buku, sejauh ini filmnya tak sampai setengahnya kunikmati.

Buku memang pilihan utama untuk membuang waktu. Pagi, siang, malam. Di manapun bisa. Terutama kegiatan nyupir. Februari hampir tiap minggu nyupir, baik keluar kota. Depok, Cilamaya, atau sekadar jalan-jalan. Atau dalam kota, ya ampun ke mal-mal sampai bosan, saya sembunyi ke tempat parkir baca buku.

Dari delapan buku, buku nomor 8 paling krusial. Berulang kali dulu coba dibaca, akhirnya kelar separuhnya di Depok. Buku nomor 5 kubaca kilat, dua hari kelar. Namun ada yang lebih kilat, nomor 7, buku Atria tipis dan ketebak kubaca sehari saja. Memang butuh tekanan lebih berat untuk buku bagus.

#1. A Dog’s Life by Ann M. Martin

Daftar cerita binatang yang menarik sangat panjang, maka tanpa ragu saya ambil buku ini. A Dog’s Life membawa sub judul, autobiografi anjing terlantar, yang secara sederhana bisa kita tangkap, ini kisah hidup anjing liar dari lahir hingga mencapai titik tertentu. Dan benar, di pembuka kita sudah tahu anjing ini akan makmur. Akan damai, duduk di perapian yang hangat, dengan belai kasih pemilik. Namun, penyajiannya ternyata tak sehebat yang kuharap. Terlalu sederhana untuk novel yang menyandang stempel Newberry honor Award. Oklah kalau untuk kisah menyentuhnya, tapi secara cerita terlampau sederhana.

“Hati-hati! Aku tidak mau kau memegang anjing yang tidak kau kenal.”

#2. Pengantar Ilmu Antropologi by Koentjaraningrat

Buku non fiksi yang bergizi, saking bergizinya saya sampai sepintas membandingkannya dengan Sapiens. Namun ternyata setelah ditelaah lebih lanjut, tidak. Sapiens dibawakan dengan fun dan sangat luar biasa. Buku ini lebih banyak teori-nya, rerata dinukil dari buku-buku sebelumnya, teori yang sudah ada disusun dan dijadikan acuan. Sedang Sapiens malah banyak yang mengandalkan spekulasi, banyak yang berdasar pemikiran, dan ‘sejarah’ manusianya tampak fiksi. Maka, hanya beberapa yang laik disandingkan.

“Kepribadian Timur mementingkan kehidupan rohani, mistik, pikiran prelogis, keramah-tamahan, dan kehidupan kolektif. Sedang Barat, mementingkan kehidupan material, logis, hubungan berdasarkan azas-guna, dan individualism”

#3. Sebastian Darke by Philip Caveney

Lucu. Ini memang buku fantasi remaja, maka menempatkan diri ke sana itu penting. Beberapa bagian memang sederhana, beberapa klise, tapi idenya patut diacungi jempol. Seorang putri yang berjuang untuk merebut kembali haknya di tampuk pimpinan kerajaan. Langsung mengingatkanku pada Prince Caspian atau Lion King. Di sini para protagonist hanya ditempatkan sebagai peran pembantu memang, tapi tetap saja menyenangkan. Kunci utama adalah penyampaian kisah yang nyaman dan mudah dicerna. Kita hanya ada di lingkar luar kekuasaan, dan itu justru asyiknya.

“Aku sudah menyarankan Tuan Muda untuk membuangnya sebelum terjadi musibah, namun, seperti biasa, tidak ada yang mendengarkan aku.”

#4. Chicker Soup Romantic Soul (kolabs)

Saya sudah pernah membacanya doeloe tahun 2005/2006-an. Bukunya dipinjam teman tak kembali, makanya beli lagi. Bukunya dulu terasa bagus banget. Kisah-kisah romantis keluarga biasa orang Barat, hal-hal remeh temeh yang dilakukan pasangan untuk mengarungi kehidupan. Beberapa nempel di ingatan, hingga sekarang. Seperti seorang istri yang menyiapkan kejutan atas usulan kenaikan upah suami. Yang disambut meriah, suaminya heran, kok bisa tahu? Padahal istrinya, menyiapkan cadangan kejut bila gagal. Begitu juga pasangan, seorang tukang bangunan, mau romantis gmana? Ya udah, nama istrinya dicetak saja di tembok-tembok. Hehe, intinya sejenis itu. Kejadian biasa untuk hal-hal luar biasa. Kubaca ulang, selesai pas 14 Februari.

Setiap orang bisa bergairah, tetapi hanya pecinta sejati yang sanggup menjadi konyol.”Rose Franken

#5. Menunggu Godot by Samuel Bechett

Kubaca dalam dua hari. Secara cepat dan lugas. Walau berisi dua ratus halaman, tapi karena berisi dialog, isi buku tak padat. Pilihan katanya juga umum, tak perlu kerut kening. Intinya dua orang menunggu Godot di sebuah hutan, di bawah pohon. Lalu muncul orang asing yang mengisi kekosongan, lalu muncul utusan bahwa yang ditunggu tak bisa hadir, ia akan hadir besok senja. Dan esoknya beberapa hal terulang. Ini adalah naskah sandiwara, berisi dialog dan beberapa petunjuk gerak laku di atas panggung.

Estragon: Maka yang bisa kita lakukan tak lain cuma menunggu saja di sini.

#6. Days of Drums by Phillip Shelby

Kisahnya rumit, menyentuh 400an halaman guna mengungkap dalang pembunuhan Senator Charles Westbourne. Kudu sabar sebab untuk mencapainya kita diajak berkeliling mengenal para penghianat, pembunuh serial berdarah dingin, istri yang marah, affair, rahasia-rahasia gelap para pejabat, tampak kejam dan tak pandang bulu, mengenal organisasi agen rahasia pemerintahan yang bertugas menjaga keamanan Gedung Putih. Maka benar adanya, menikmati fiksi rumit dan panjang itu melelahkan, dan saat diganjar cerita bagus, sungguh memuaskan.

Dia sangat suka membunuh dan menyiksa, terutama wanita. Dia lari dari sini sebelum bisa kucegah. Dia dilaporkan meninggal, tapi muncul lagi di DC.”

#7. Sang Pengganggu by E.R. Richardson

Buku tipis yang tipikal. Kalian pasti bisa menebaknya. Keluarga baru, pasangan tunangan yang masing-masing sudah punya dua anak bersatu ke rumah tua yang baru saja dibeli. Rumah itu tampak angker, yang memang ada penghuni lain. Seperti judulnya, ia jadi sang pengganggu. Empat anak yang bersatu tak akur, saling silang tak mau bersatu. Dan misteri rumah tua itupun coba diungkap. Masa lalu kelam.

“Yah, Joel kasus ini semakin lama semakin menarik.” / “Kurasa maksudmu menyeramkan.”

#8. Notes From Underground by Fyodor Dostoevsky

Kita kadang-kadang memilih suatu omong kosong karena oleh kebodohan kita, kita mengira omong kosong itu jalan yang paling mudah untuk memperoleh sesuatu keuntungan. Catatan yang luar biasa. Melimpah penuh amarah, sekaligus ketakutan. Seolah benar-benar tulisan refleks curahan hati. Seorang penulis jenius curhat, hasilnya menakjubkan di satu sisi, mengerikan di sisi lain. Kata-kata kritik biasanya mengcuat di puncak, tapi kali ini justru memerlihatkan betapa muak ia, yang mengaku cerdik, terhimpit di tengah masyarakat yang bebal dan menyebalkan.

“Angan-angan biasanya bisa terasa manis dan hidup sekali setelah kita mengalami suatu masa sia-sia, mereka datang bersama penyesalan dan air mata, dan kutukan dan keharuan.”

Karawang, 120322 – Eliane Elias – Jammin’

Para Pengganggu

Aku sering melihat… hal-hal aneh, melalui ujung mataku, hanya sekilas. Benda-benda seperti bergerak, atau kelihatan berbeda.” – Joel

Apakah memang ada kekuatan supernatural di rumah ini atau hal itu hanya imajinasinya saja? Buku tipis yang tipikal. Kalian pasti bisa menebaknya. Keluarga baru, pasangan tunangan yang masing-masing sudah punya dua anak bersatu ke rumah tua yang baru saja dibeli. Rumah itu tampak angker, yang memang ada penghuni lain. Seperti judulnya, ia jadi para pengganggu. Empat anak yang bersatu tak akur, saling silang tak mau bersatu. Dan misteri rumah tua itupun coba diungkap. Masa lalu kelam. Mereka tak hanya menyaksikan sebuah ilusi optik pendek, namun mereka juga disentuh, dicengkeram, dan terjepit pintu yang tak bisa ditutup siapa pun. “Kita memang selalu bertindak gila.”

Kisahnya tentang Cassie Demetrius yang suka menyendiri, suka baca buku, dan muak sama anggota keluarga barunya. Adiknya Joel lebih terbuka dan sopan. Ibunya baru saja bertunangan dengan duda beranak dua, Gerard Wilder. Cassie keberatan menerima ayah dan saudara tiri, maka ia bersikap dingin.

Mereka bersatu dalam rumah baru bertingkat dan tampak angker. Ibunya selalu membujuk Cassie untuk lebih terbuka, tak kolot, memberi kesempatan, laiknya sang adik yang justru malah tampak lebih dewasa. Gerard, laiknya ayah tiri, pasif menjaga jarak. Damon dan Tim juga menjaga jarak, bersatunya dua keluarga ini sepertinya tak akan mulus. Memang secara fisik, dua keluarga ini sangat berbeda. Wilder bertubuh gempal, Demetrius pada kurus. Hanya Tim yang bertubuh kurus. Namun harusnya tak jadi soal ‘kan fisik?

Damon tampak jujur dan menarik, Tim lebih halus dan mudah panik. Cassie tertutup dan selalu curiga, Joel lebih riang dan selalu memandang hal-hal secara positif. Seharunya seluruh perbedaan sifat ini malah menyatukan dan melengkapi.

Dan petang itu, saat dua mobil sampai di rumah baru dan tua, bagai minyak dan air, keduanya sulit disatukan. Namun kekhawatiran mereka sepertinya lebih baik dilimpahkan ke hal lainnya yang lebih urgent, dan gawat. Dalam keheningan, tak ada suara apa pun kecuali napas mereka dan suara televisi yang berdengung keras. Rumah itu tampaknya berhantu. Berbagai penampakan, dan hal-hal berbau mistis muncul. Terutama Joel yang sering lihat penampakan, “Cassie, kau harus percaya. Rumah ini berhantu. Ada sesuatu yang terjadi di sini.”

Awalnya dikira halusinasi, tapi lama-kelamaan makin berwujud. Bahkan dalam mimpinya yang berulang ia tertekan, “Kalau aku sampai mati dalam tidurku, aku berdoa semoga Tuhan menerima jiwaku di sisi-Nya, kalau aku sampai mati dalam tidurku…”

Ini sudah sangat mengganggu, dan taruhannya keselamatan keluarga. Berhasilkah dua keluarga ini akhirnya disatukan? Apakah benar ada hantu di sana? Apakah hanya oknum yang bergerak, demi kepentingan individu atau golongan yang menaruh tangannya di rumah itu untuk sebuah niat jahat? Rasanya kalian bisa menebaknya bahkan sebelum menyentuh sepertiga buku.

Ketegangan yang disajikan sejatinya cukup pas. Dengan adegan mengagetkan, saling picing mata, saling tuduh, dst. Lantai atas gelap gulita sehingga mereka merasa seperti buta. Semua ini hanya permainan adu nyali. Untuk ukuran buku anak, sudah cukup menyeramkan. Terutama Joel sang penakut, “Suara napasnya bergemuruh, sangat kencang – terlalu kencang, sehingga ia ingin mencekik dirinya sendiri agar tidak berisik. Ia kemudian sadar kalau napas pendek itu adalah serangkaian kata, sebuah doa yang terus-menerus mengalun.”

Cassie sendiri tampak menyebalkan. Ia seolah tukang atur, sebab sebagai anak sulung yang sok kuasa, dan juga tampak sinis. “Aku wanita dewasa, coba dengar aumanku!” Begitu juga saat adiknya ketakutan, ia selalu menanggapi. “Hantu hanyalah bayangan, itu saja. Oke? Dan mimpi buruk tidak terlalu menakutkan. Semua ini hanya imajinasimu.”

Salah satu percakapan menarik, adalah Cassie selalu rasional. Logika selalu di depan. Adiknya panik mulu. Pernah sarkas meledek, “Yah, Joel kasus ini semakin lama semakin menarik.” Akhirnya Cassie tergerak ikut pada suasana keluarga baru dan nuansa seram. Dibalas dengan gemetar adiknya, “Kurasa maksudmu menyeramkan.” Haha, lucu dan menggemaskan.

Joel yang memang seolah selalu dikuntit. Ia jadi tokoh yang ditekan keadaan. Hantunya masak mengincar dia saja? Melalui penampakan, melalui mimpi. “Seperti mimpi-mimpi kami. Hantu itu mungkin tidak berusaha masuk ke dalam pikiran kami, namun kenangan-kenangan yang ada… gema dari semua kejadian yang ada terlalu kuat untuk berlalu begitu saja.”

Keadaan di sekitar terasa begitu hening sampai-sampai Joel bisa mendengar kakaknya menelan ludah sebelum menajutkan bicara. Badai pun berkecamuk. Bagai terperangkap di bawah sehelai selimut dingin. Jejak itu memenuhi pikirannya dengan potongan doa yang diulang-ulang. “Apakah ini akan berakhir buruk?”

Sekali lagi, buku terbitan Atria, memuaskan dengan catatan. Hanya harus bisa menempatkan diri dari sudut pandang anak-anak. Tak mungkin kan kita mengkritisi buku anak dengan sudut orangtua? Ya, harus diakui, mungkin dari sekian banyak buku Atria, buku ini yang paling lemah. Plotnya tertebak, sudah banyak kisah horror dicipta dengan ending sejenis saat ini. buku dicipta 2006, sebelum itu sudah kita sering lihat film-film dengan kejutan seperti itu. Namun tetap saja, ini cukup fun. Polanya mirip novel-novel Stephen King, di mana rumah baru sebagai pembuka. Opening sejenis ini memang lebih nyaman, sebab pembaca ditempatkan ke setting tempat asing.

Deret antri Atria panjang di rak, dengan sedikit penurunan kualitas ini, tak terlalu mengganggu mood untuk terus gaaas, menikmati buku-buku lainnya. Minimal sebulan satu Atria, bagaimana dengan Maret ini? See ya…

Para Pengganggu | by E.R. Richardson | Copyright 2006 | Diterjemahkan dari The Intruders | terbitan The Bodley Head, an imprint of Random House Children’s Books | Penerjemah Mukti Mulyana | Penyunting Ferry Halim | Pewajah isi e-Lie | Penerbit Atria | PT. Serambi Ilmu Semesta | Cetakan I: Juni 2007 | ISBN 979-1112-08-8 | Skor: 3.5/5

Untuk Sam dan Tara

Karawang, 080322 – Betty Carter – That Sunday, That Summer

Thx to Ade Buku, Bdg

The Brief Wondrous Life of Oscar Wao

“Seperti gadis di mana saja yang sedang dimabuk cinta, ia hanya mendengar yang ia ingin dengar.”

Buku dibuka dengan kutipan yang cukup mewakili segala kegelisahan kehidupan. Betapa remehnya hal-hal yang meresahkan kita. Tak ada ujung kuku. Buku ini juga membahas tindakan dan konsekuensi, jadi rasanya sungguh terwakili. “Apa artinya kehidupan-kehidupan yang singkat dan tak bernama… bagi Galactus?”Fantastic Four, Stan Lee dan Jack Kirby (Vol. 1, No. 49, April 1966)

Cinta adalah benda langka, dengan mudah orang mencampuradukkan dengan hal lain. Seprti harapan yang tidak masuk akal. Banyak hal yang tercantum adalah fatamorgana. Dunia tak segemerlap itu untuk orang gendut. Kalau ada istilah, dunia berkonspirasi untuk menjatuhkanmu. Maka bisa jadi ini sungguh tepat. Gelap mata, gelap hati, terbuai kasih samar, dan bodohnya lugu walau sempat dihantam hingga sekarat.

Buku yang panjang nan melelahkan, cara penyampaiannya sungguh unik. Polanya acak, sudut yang diambil juga bergantian. Tokoh utama memang Oscar Wao, siswa gembrot penyuka fiksi ilmiah, tapi sejatinya ia juga roda penggerak yang sama seperti kakaknya, teman kampusnya, kakeknya, dst. Budaya lokal Rep. Dominika sungguh kental, perpaduan area mistis dan terjangan modernitas. Dan tentu, karena kisah bersisian dengan sejarah, dengan masa sang diktator maka secara fasih kita diajak mengenal masa lalu Negara ini. Ini buku untuk semua orang, semua genre. Menyenangkan nan menghibur.

Oscar Wao memang istimewa, ia adalah pembaca cerita-cerita fiksi. Komik adalah andalan, tapi segala fantasi novel atau kumpulan cerpen juga dilibas. Dua temannya yang sama-sama kutu buku, Al dan Miggs. Tak hanya pembaca, ia benar-benar terpengaruh akan kehidupan para tokoh fiksi. Ia bertubuh gemuk, sebab jarang keluar rumah dan sangat pemalu. Sayangnya dunia ini sering kali menghantam dengan keras orang-orang pasif, terdengar tak adil, tapi mau bagaimana lagi. Hidup memang keras.

Kakaknya Lola tahu adiknya sulit bergaul, maka saat ia melanjutkan sekolah, ingin memastikan seatap dengan teman yang pas. Maka ia seolah jadi penghubung. Lola sendiri juga mengalami pendulum kepahitan. Ini Rep. Dominika yang sekian lama dipimpin diktator Trujillo – El Jefe. Tak ada yang mudah. Orang selalu meremehkan pengaruh dari kengerian akan kelaparan sepanjang hidup, ketidakberdayaan, dan kehinaan dalam diri seorang anak muda. “Mengapa tak pernah kulupakan wajah itu, bahkan hingga sekarang, meski bertahun-tahun telah berlalu? Tubuh lelah bekerja, mata membengkak karena kurang tidur, campuran kemarahan dan kerapuhan yang sangat tidak masuk akal, itulah Lola, selalu dan selamanya.”

Setelahnya kita diajak melalangbuana ke masa lalu. Kehidupan kelurga Wao, dari ibunya, ke kakeknya. Masa-masa mencekam, negeri korup yang tentu saja mengingatkan era Orde Baru. Segala tindakan diawasi, segala hal-hal yang menyimpang disikat, bahkan baru mengarah ke isu politik berseberangan akan disikat. Apes, sang kakek Dokter Abelard kepleset lidah atau di sini disebut hanya karena khilaf lidah, kehidupannya secara dramatis mendadak hancur. Keberuntungannya berakhir lebih cepat daripada yang diperkirakan semua orang. Kejam sekali rasanya pemerintahan salah kaprah ini. Lalu kepahitan itu turun temurun. Belicia Cabral, putri seorang dokter bedah yang sangat terkenal di dunia juga mengalami kesialan nasib. Mungkin sekadar nasib buruk? Sepanjang hidup, mereka berusaha untuk mencari kebahagiaan, tetapi Santo Domingo celaka telah menghambat langkahnya setiap tikungan kehidupannya.

Nah, Oscar ketika mudik ke Peterson malah menemukan cintanya. Sepertinya karma jelek tunacinta yang menimpa Oscar juga menimpa keduanya. Cinta yang salah, cinta yang terlambat, cinta yang aneh nan langka. Ia jatuh hati sama tetangga rumah neneknya, seorang pelacur Ybon yang sudah melalangbuana. Sudah punya pacar tetap di luar kota, yang apesnya preman militer. Dan Oscar yang sudah dinasehati keluarga, tetap ngeyel. Tetap memegang teguh cintanya. Apa yang akan kau dapatkan darinya selain kegetiran dan patah hati. Ia sempat dihajar di kebun hingga sekarat, persis yang dialami keluarganya, tapi Oscar ternyata tak belajar dari kesalahan, ia justru terjerumus makin dalam. Dunia memang sulit untuk dilogika saat cinta buta diapungkan. Oscar sudah menunggu seumur hidup untuk merasakan cinta.

Novel yang luar biasa, menggebu meriah. Disampaikan dengan unik sekali. Banyak sekali catatan, banyak sekali istilah asing. Sungguh buku yang bervitamin. Buku komplit, tapi uang utama adalah, cara penyampaiaan kisah yang tak lazim. Plotnya acak, sudut pandangnya berubah-ubah, setting waktu juga malah mundur, seolah makin ke belakang makin kelam. Dan tentu saja referensi meriah, banyaaak sekali hal-hal baru didapat. Atau hal-hal lama yang kubaca lagi jadi fresh menambah wawasan. Salut.

Tanpa tanda petik untuk kalimat langsung, dengan huruf bold untuk kata-kata asing, catatan kaki melimpah. Kutipan-kutipan yang mendukung cerita, hingga pada memainkan kata penuh emosi. Tentang apa saja, saling merajut kata tentang keseharian mereka. Betapa kehidupan telah memerangkap mereka. Keajaiban juga punya batasanya.

Ini buku pertama Junot Diaz yang kubaca, ditulis bak diary, secara umum jelas kita tahu sebagian adalah pengalaman pribadinya. Latarnya cocok dengan kehidupan sang Penulis, lahir dan besar di Rep. Dominika, melanjutkan studi ke Amerika. Bukankah itu Oscar banget? Namun segala dramatisasi dan nasib para tokoh jelas fiksi. Keras menghantam sanubari.

Seperti kata Observer, “Jika kita beruntung, satu atau dua tulisan sebagus ini akan muncul di setiap generasi.”

The Brief Wondrous Life of Oscar Wao | by Junot Diaz | Copyright 2008 | Terbitan Faber and Faber Limited, London | Penerjemah A. Rahartati Bambang Haryo | Editor Andityas Prabantoro | Proofreader Eti Rohaeti dan Ine Ufiyatiputri | Desainer sampul M. Roniyadi | Penerbit Qanita | Cetakan I, Oktober 2011 | 380 h; 23.5 cm | ISBN 978-602-9225-19-8 | Skor: 5/5

Elizabeth de Leon

Karawang, 110222 – 100322 – Louis Armstrong – On The Sunny of the Street

Thx to Ade Buku, Bandung