Dari Tour de France Hingga Hemingway


Revolusi Nuklir oleh Eko Darmoko

“Di dunia ini terlalu banyak serba kemungkinan, dan kita dipaksa untuk meneruskan hidup.”

Lelah, tapi puas. 22 cerpen dalam buku kecil 200 halaman. Sebagian sudah diterbitkan di media, sebagian besarnya belum. Semua yang berkisah di masa depan tampak kurang, atau kalau mau jujur tampak aneh. Burung besi berkisah, pohon android, dst. Semua yang dikisahkan di perjalanan gunung, tampak nostalgia. Ibadah puisi di Rinjani, petualang sekual Apocalyto, dst. Semua yang dikisahkan secara flashback tampak nyata, atau nyata yang dimodifikasi. Telinga putus, pacar yang hamil berencana memberi kejutan yang malah mengejutkan, hotel Kurt Cobain, dst.

Yang bagus menurutku adalah bagian-bagian yang sederhana. Malaikat pencabut nyawa yang mengambil kembarannya, itu kisah mudah dicerna, walau memilukan tapi malah terasa emosional. Atau pencabut nyawa yang diusir oleh PSK, klenik yang membuncah kan masih banyak berlaku di msyarakat. Atau Ayam Kampus yang mengambil keset kampus, tenang, diam, dan malah langsung in kan? Tak perlu muluk-muluk untuk berfantasinya. Kabar dari Brescia misal, itu malah tampak angun tentang kangen, dan bila menyangkut kangen, hal-hal bisa jadi menyentuh. Kapir lebih sederhana lagi, kunjungan ke rumah sahabatnya yang alim dan tatoan, dengan sambutan kontra akan kebiasaan. Lihatlah, mending cerita tuh yang umum sahaja. Yang penting kisahnya bagus, dituturkan dengan bagus, pembaca akan tertaut secara emosi.

Aku biasanya membahas satu persatu cerpen dalam buku kumpulan cerpen, tapi karena sedang suasana males seharis Magrib ini, dan cuaca Karawang yang biasanya panas malah diguyur hujan sebagai penanda untuk ngopi santuy, yo wes bahas singkat saja tiap cerpennya dalam satu kalimat, dimaktub dalam satu paragraf.

Nuklir yang merasai, proyek rahasia bocor dan diledakkan. Pendaki yang becinta di tanah seberang berujar, “aku lebih suka Frida Kahlo ketimbang Gabriel Garcia Marquez.” Silampukau mengoceh kepada burung-burung di pohon masa depan. Penasehat yang membunuh. Mel Gibson kelolotan celeng setan. Oh, mungkinkah teori hubungan biologis dikalahkan bayang-bayang kenangan? Keset, saksi bisu orang-orang terpelajar yang kurang ajar. Slamet yang malang. Sergapan kepiting gaib. The persistence of Memory. Nenek mendapat kunjungan istimewa. Roh korban pembunuhan dan pemerkosaan yang mencinta sahabatnya. Gadis panggilan, gadis penolong. “Kau harus ke Nordlingen!” Mabuk dan bisnis saling silang. Don Juan Dul Koplo. Begal pensiun. Kangen dua insan di kapal yang sama, pacar di Bresia mati, pacar di Jawa Timur bertahan. Dua orang sebatang kara disatukan, lalu dipilukan. Sejarah Tuhan mampir di dua rumah. Gairah membunuh penulis kalem, jangankan membunuhnya, menangkap bayangannya saja pun rasanya mustahil. Namanya Gregor Samsa, tapi orangtuanya tak tahu Franz Kafka, kok bisa?

“Ia tak ingin diganggu ketika sedang menulis. Bahkan Tuhan pun akan dibunuh jika sudah menggangu jam menulisnya.” Kalau diminta memilih yang terbaik, saya pilih yang ini. kutipan itu kunukil di cerpen ‘Wabah Bekicot’, penulis yang sedang bergairah akan dibunuh, tapi akhir yang aneh ditampilkan, dan kutipan ini mewakili isinya. Mungkin tertebak, tapi aku memang tak menebak sebab ngalir sahaja. Bagusnya, saat penulis sedang on high, dan produktif rasanya memang segala yang mengganggu laik dimusnahkan. Dunia koma, dan ketikan berkejaran.

Prediksiku, buku ini rasanya sulit juara, bahkan rasanya tak akan masuk daftar pendek. Temanya beragam, nan simpang siur. Ngoceh bebas ke mana-mana boleh saja, benang merahnya malah ngundet. Tagline, cerpen-cerpen dari masa depan hanya ditampilkan di awal buku, dan itu justru melegakan. Buku ini buku kelima yang kuterima, tapi malah jadi buku ketujuh yang selesai kubaca. Jujur saja, awal-awalnya boring. Makanya aku bilang, untung saja tema masa depan itu hanya di mula. Sulit sekali menulis masa depan, kata Niels Bohr, “Prediksi itu sulit sekali, terutama bila menyangkut masa depan.” Menulislah ke masa lalu, karena selalu aktual. Apa-apa yang sudah terjadi akan lebih mudah ditulis, dan dikisahkan, begitu pula dipahami pembaca. Tak ngawang-awang. Makanya cerpen-cerpen awal di buku ini kurang OK, sampai akhirnya kembali membumi.

Secara keseluruhan bagus, tak bosenin. Ditulis di banyak tempat, sejatinya jelas sebagian pengalaman pribadi. Tanpa mengenal secara personal, aku tahu Bung Eko suka mendaki gunung, buku-buku klasik, dan suka berpetualang. Seperti yang kubilang, buku yang berhasil adalah buku yang bisa membangkitakn emosi pembaca, melibatkannya, mengajaknya petualang. Revolusi Nuklir jelas melesat tinggi menembus awan, dengan congak dan percaya diri, setiap waktu siap meledakkan kalian.

Kita semua bosan acara tv, mengeluhkan cuaca panas, kesal sama tetangga yang cerewet, muak sama trending topic murahan. Singkatnya segala yang serba cepat tak otomatis nyaman. Kita semua merindukan suasana klasik sederhana tanpa gadget. Namun kita selalu memegang HP, menatap layar seolah semua yang muncul di sana penting. Lantas, apakah ini saat yang pas untuk revolusi?

Revolusi Nuklir | oleh Eko Darmoko | Editor Muhmmad Aswar | Pemeriksa Aksara Daruz Armedian | Tata sampul HOOK STUDIO | Tata isi @kulikata_ | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, Juni 2021 | Penerbit Basabasi | iv + 200 hlmn; 12 x 19 cm | ISBN 978-623-305-218-4 | Skor: 4/5

Karawang, 191021 – Earl Klugh – Midnight in San Juan

Tujuh sudah, tiga otw

Thx to Intan P; thx to Basabasi Store.

Orang-orang di Masa Lalu yang Telah Meninggalkan Cerita ke Masa Mendatang


Segala yang Diisap Langit oleh Pinto Anugrah

“Tatapanmu, tatapan pesimis dan penuh amarah! Tidak baik memelihara tatapan seperti itu! Setan-setan akan senang di dalamnya, mereka akan berpesta pora di matamu!”

Ringkas nan memikat. Hanya seratusan halaman, kubaca sekali duduk selama satu setengah jam pada Sabtu, 16 Oktober 2021 selepas Subuh. Langsung ke poin-poin apa yang hendak dituturkan. Tentang Islamisasi di tanah Sumatra di masa Tuanku Imam Bonjol. Mengambil sudut pandang sebuah keluarga lokal yang kalah dan tersingkir. Segalanya jelas, tapi akan mencipta keberpihakan abu-abu.

Kisahnya di daerah Batang Ka, negeri di tenggara Gunung Marapi, Sumatra. Dibuka dengan pasangan suami istri yang absurd. Bungi Rabiah mendamba anak perempuan sebagai penerus sebagai pelanjut lambang kebesaran dari Rumah Gadang Rangkayo, suaminya Tuanku Tan Amo yang gila perempuan sudah punya banyak istri, Bungo Rabiah sebagai istri kelima. Memang ingin dimadu sama bangsawan. Terjadi kesepakatan di antara mereka, bagaimana masa depan generasi ini harus diselamatkan.

Rabiah memiliki hubungan gelap dengan saudara kandungnya Magek Takangkang/Datuk Raja Malik, satu ibu beda bapak. Dorongan yang begitu besar dari dirinya untuk tetap menjaga kemurnian darah keturunan Rangkayo. Ia tak mau darah keturunan Rangkayo ternoda dengan darah-darah yang lain. Mereka memiliki anak Karengkang Gadang yang bandelnya minta ampun, sejak tahu hamil, Rabiah langsung mencari suami, seolah asal ambil, ia menikah dengan pekerja kasar saat Magek Takangkang sedang dalam perjalanan bisnisnya. Pilihan langsung jatuh kepada Gaek Binga, bujang lapuk yang bekerja sebagai pemecah bukit pada tambang-tambang emas di tanahnya. Sudah bisa ditebak, pernikahan ini kandas dengan mudah, memang hanya untuk status sahaja. Rabiah lalu menikah lagi dengan Tan Amo, seperti yang terlihat di adegan pembuka.

Karengkang Gadang tukang mabuk dan judi. Hidupnya kacau, sakaw karena narkoba dan nyaris mati. Tan Amo mabuk perempuan, menggoda sana-sini walau sudah punya banyak istri. Kesamaan keduanya adalah judi, ia sering kali memertaruhkan banyak harta, termasuk perkebunan. Suatu hari desa mereka kena serang. Seranganya yang memporakporandakan wilayah sekitar itu kini menyambangi mereka. Satu lagi, Jintan Itam yang merupakan anak pungut yang dibesarkan seolah anak sendiri, mengabdi tanpa pamrih. Ia mewarnai kekacauan keadaan dengan pelayanan memuaskan.

Pasukan putih, tanpa menyebut secara terbuka ini adalah pasukan Tuanku Imam Bonjol yang terkenal itu, kita tahu ini adalah Jihad penyebaran agama Islam. Mereka juga memakai sebutan Tuanku untuk orang-orang terhormat bagi mereka. Nah, di sinilah dilema muncul. Magek kini jadi bagian dari pasukan ini, Magek Takangkang, Datuk Raja Malik yang mengganti nama Kasim Raja Malik, ia menjadi panglima yang paling depan mengangkat pedang dan menderap kuda. Pilihan bagi yang kalah perang hanya dua: mengikuti ajaran baru, atau mati. Ia tak pandang bulu meratakan daerah manapun.

Sebagian warga yang sudah tahu, memilih kabur. Yang bertahan luluh lantak, adegan keluarga Bungo ini ditaruh di ujung kisah. Drama memilukan, tak perlu kita tanya apakah Sang Kasim tega membinasakan keluarganya demi agama baru ini? Ataukah hatinya tetap tersentuh. Jangankan keluarganya, pusaka pribadinya yang mencipta dosa sahaja ia siap musnahkan. Dunia memang seperti itu, penuh dengan makhluk serba unik dan aneh. Kalau sudah ngomongin prinsip hidup, segalanya memang bisa diterjang, segalanya diisap langit!

Tanpa perlu turut mendukung pihak manapun, pembunuhan adalah salah. Apalagi pembunuhan dengan membabi buta, dengan bengis dan amarah memuncak. “Kau! Kelompokmu! Tuanku-tuanku kau itu! Hanya orang-orang kalah pada kehidupan, lalu melarikan diri kepada Tuhan!”

Tanpa bermaksud mendukung atau menhujat pihak manapun, selingkuh adalah salah, hubungan incen juga salah, judi, mabuk, narkoba jelas salah. Lantas bagaimana kita menempatkan diri? Dunia memang seperti itu, mau zaman dulu dan sekarang sama saja, hanya teknologinya saja yang berubah. Kalau mau objektif, semua karakter ini pendosa, dan saat bertaubat, ia memilih jalan yang keras, dan yah, salah juga mengangkat pedang. Kalau zaman sekarang, menyandang bom untuk menegakkan bendera agama dengan meledakkan diskotik misalkan, tetap saja salah. “Atas nama agama, katanya!”

Perjuangan melawan semacam kutukan juga terlihat di sini. Rabiah! Ingat, kau adalah keturunan ketujuh dan kutukan kepunahan pada keturunan ketujuh akan menghantuimu. Munculnya karakter minor yang ternyata memiliki peran penting dirasa pas. “Apakah orang-orang mencatat apa-apa yang pernah terjadi pada masa lampau kita, Jintan?” Maka akhir yang manis dengan api berkobar sudah sungguh pas.

Overall ceritanya bagus, tak njelimet, jadi sungguh enak dilahap. Benar-benar clir semuanya, apa yang mau disampaikan juga jelas, silsilah di halaman depan mungkin agak membantu, tapi untuk kisah seratusan halaman, rasanya tak diperlukan. Mungkin salah satu saran, jangan terlalu sering menggunakan tanda perintah (!) terutama untuk kalimat langsung. Mungkin maksudnya marah, atau meminta, atau memerintah, tapi tetap kubaca jadi kurang nyaman. Atau semuanya berakhiran dengan tanda itu dan tanda tanya (?)? contoh kalimat-kalimat langsung yang sebenarnya bisa dengan tanda titik (.), atau ada yang salah dengan tanda ini. (1) “Memang kita tidak akan mengerti, jika mengerti berarti kita selamat di ambang zaman ini!”; (2) “Sebentar lagi kita akan punah! Semuanya akan habis! Saya lebih peduli akan hal itu. Saya dan Rumah Gadang ini, tidak ingin hilang begitu saja, makanya perlu ada yang mencacat! Perlu dicatat!” (3) “Saya telah memilih jalan ini, Tuanku! Maka, saya pun akan berjuang sampai titik darah penghabisan, Tuanku!”; dst…

Prediksiku, buku ini laik masuk lima besar. Kisahnya sudah sangat pas, tak perlu bertele-tele, langsung ‘masuk’ ke intinya. Kursi goyang yang mewarnai kenyamanan hidup hanya selingan bab mula, masa kolonial yang keras bahkan tak disebut dan tak dikhawatirkan. Pasukan Padri, pasukan lokal yang perkasa malah justru yang mencipta khawatir. Rasanya banyak hal yang disampaikan, dan memang sepantasnya tak disampaikan sebab bersisian sejarah. Lihat, cerita bagus tak harus njelimet dan melingkar mumet bikin pusing pembaca, inti cerita yang utama.

Aku tutup catatan ini dengan kutipan dari Matthew Pearl, penulis The Dante Club ketika diwawancarai terkait cerita fiksinya yang bersetting sejarah Amerika, ia menjawab; “Saat Anda menulis fiksi sejarah, Anda harus tahu detail-detail tokohnya: makanan apa yang mereka santap ketika sarapan, apa jenis topi yang mereka kenakan, bagaimana cara mereka beruluk salam ketika saling bertemu di jalan.”

Segala yang Diisap Langit sukses menerjemahkannya.

Segala yang Diisap Langit | oleh Pinto Anugrah | Cetakan pertama, Agustus 2021 | Penyunting Dhewiberta Hardjono | Perancang sampul Bella Ansori | Pemeriksa aksara Yusnida, Nurani | Penata aksara Labusian | Penerbit Bentang | vi + 138 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-291-842-4 | ISBN 978-602-291-843-1 (EPUB) | ISBN 978-602-291-844-8 (PDF) | Skor: 4/5

Terima kasih untuk istri tercinta, Welly Zein

Karawang, 181021 – Fourplay (feat. El Debarge) – After the Dance

*Enam sudah, empat gegas.

**Thx to Titus, Karawang. Thx to Stanbuku, Yogyakarta.

***Judul catatan kuambil dari ucapan terima kasih penulis di halaman awal berbunyi: “Dan, terima kasih untuk orang-orang di masa lalu yang telah meninggalkan cerita ke masa mendatang.”

Cerita Mini dari Kota Sejuta Rawa

Anak Asli Asal Mappi oleh Casper Aliandu

“Terlalu asyik, Teman. Alamnya terlalu indah.”

Cerita mini, mirip fiksi mini. Dan karena ini berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar di Mappi, Papua maka bisa disebut fakta mini sahaja. Ceritanya terlampau biasa, terlampau sederhana, pengalaman sehari-har. Dan selain cerita mini, bukunya juga, hanya seratusan halaman. Namun harganya tak mini. Contoh buku mini harga mini yang kubeli tahun ini, Sumur-nya Eka Kurniawan. Satu cerpen dicetak, dijual dengan harga masih sungguh wajar 50 ribu. Anak Asli lebih dari itu. Sumur kubaca tak sampai setengah jam, Anak Asli hanya sejam pada Rabu, 13 Oktober 2021 selepas Subuh, ditemani kopi dan serentet lagu Sherina Munaf dalam album My Life. Serba mni, skor juga? Mari kita lihat.

Tak ada inti atau benang merah yang patut dikhawatirkan laiknya novel, tak ada alur yang patut diikuti dengan teliti, tak ada emosi di dalamnya, ngalir saja, tanpa riak sama sekali. Ini fakta mini, bertutur bagaimana keseharian Casper Aliandu mendidik, menjadi guru di pedalaman Mappi yang mendapat julukan kota sejuta rawa. Sah-sah saja, pernah baca beberapa kisah sejenis ini, tapi rerata memang biasa kalau tak mau dibilang jeleq. Termasuk ini. ditulis dengan sederhana, tanpa jiwa meletup, tanpa tautan penting ke jiwa pelahapnya. Cerita tak ada sinyal misalnya, yang mengharuskan ke kabupaten/kota hanya untuk terhubung internet, tak istimewa dan tak ada hal yang baru, wajar dong kan pedalaman. Kecuali saat cari sinyal bertemu singa dengan aumaaan terpekik, atau ketemu gadis jelita dan aku jatuh hati padanya, langit seakan runtuh. Atau cerita gaji yang terlambat, bukankah di sini di negeri ini hal ini sudah terbiasa sehingga apa yang harus dipetik hikmahnya? Korupsi atau alur yang panjang sehingga bocor bisa saja terjadi, dan memang sering terjadi; mau kritik sosial birokrasi juga tak mengarah dengan pas. Ngambang.

Atau cerita anak-anak dengan cita-citanya, dari pengen jadi perawat, dokter, guru, dst. Hal-hal yang juga bisa temui di sepanjang pulau di Indonesia. Kecuali bilang, pengen bercita menjadi bajak laut, atau penyihir wilayah Timur, atau penakluk naga, mungkin juga bilang ingin jadi pengusaha kayu gelondong, atau pengen jadi pendekar penjaga hutan, baru terdengar beda. Tidak, cerita-cerita di sini wajar dan apa adanya. Tanpa ledakan, tanpa letupan. Pemilihan diksi juga tak ada yang istimewa, tanpa kata-kata puitik, tanpa sentuhan bahasa sastrawi.

Tiap cerita dengan judul bahasa Inggris, nah ini. aku pernah komplain dulu penulis remaja bernarasi keseharian bersekolah dengan tiap bab dibuka dengan bahasa Inggris, hal ginian cuma buat gaya dengan esensi kedalaman rendah. Dengan dalil diambil dan terinspirasi dari pakaian yang dikenakan, judulnya malah terbaca ‘walaaah…’, kalau tak mau dibilang norak. Akan lebih eksotik bila judul-judulnya memakai bahasa asli Papua, atau yang biasa saja. Misal ‘Noken is Papua’, kenapa ga jadi ‘Noken adalah Papua’. Tak ada yang salah dengan bahasa Nasional. Namun ya itu tadi, gaya dikedepankan dengan cerita biasa. Coba aku ketik ulang lima judul pertama dalam daftar isi: Making magic happen, creating something from nothing, we started with trust, not just see but observe, life is nothing without love. Kalian bisa simpulkam, terdengar norak ‘kan? Seperti belajar bahasa Inggris level beginner. Ayolaaahh, ini KSK. Ini penghargaan sastra Nasional.

Sistem berceritanya juga dibuat beda, tiap karakter berbicara digambarkan dengan simbol; positif (+), negative (-), lingkaran (Ŏ), sampai sama dengan (=). Sah-sah saja, tapi tetap tak terlalu berpengaruh sama cerita. Tak ada tanda kutip untuk kalimat langsung juga sah-sah saja, mau dibuat aneh-aneh bentuk kodok, jerangkong, kuda nil juga monggo aja, sah-sah saja yang penting ada hal bagus yang didapat pembaca pasca-membaca. Ini negeri demokrasi, bebas berekspresi.

Ada dua cerita yang lumayan bagus. Tentang mencari ikan dan udang. Casper tidak bisa berenang, ia mengajak muridnya untuk berburu di tengah sungai. Takut riak dan khawatir perahu oleng. Hhhmmm… di kelas dialah gurunya, di alam, muridnyalah gurunya. Saling melengkapi. Begitu juga saat muridnya itu sudah lulus, dan ganti murid lainnya. Sama saja, keberanian naik perahu untuk seorang yang tak bisa renang saja sudah patut diapresiasi, tak semua orang berani di tengah air dalam dengan pengamanan minim, atau sekalipun dengan pelampung untuk lebih  tenang, tetap saja patut dikasih jempol. Pengabdian dan pengalaman serunya. Nah, cerita itu disampaikan ke sahabatnya. Bagaimana Casper apakah sudah move on dari pujaan hati yang terlepas, ataukah tetap tertambat. Hal-hal biasa, hal-hal yang wajar dan normal dialami semua pemuda. Pengabdiannya ke pedalaman untuk pendidikanlah yang luar biasa, tak semua orang mampu dan mau. Dan untuk itu, mungkin buku ini terjaring.

Buku ini terlampau tipis, mudah dicerna, mudah dipahami, cepat selesai, tak sebanding dengan harganya. Penutupnya mungkin akan membuat beberapa pembaca terharu, yah minimal tersentuh, perjuangan di pedalaman untuk menulis dan mengirimnya, tapi tetap bagiku biasa saja. Perjuangan yang lebih keras dan berpeluh keringat sangat banyak dilakukan pengarang lain. Haruki Murakami untuk menelurkan karya debut, begadang dari tengah malam sampai subuh lantas siangnya kerja keras sampai tengah malam lagi. penulis dari Timur Tengah dalam gejolak perang, menulis dengan suara dentuman bom sebagai teman. Maka, seperti kubilang, epilog itu juga biasa saja bagiku. Namun, keteguhannyalah yang tetap harus diapresiasi.

Prediksiku jelas, buku ini hanya sebagai pelengkap hingar bingar pesta KSK. Sudah masuk 10 besar saja sudah sungguh beruntung. Mungkin kedepannya harus lebih padat, tebal, dan dalam, yah setidaknya ada benang merah dari awal sampai akhir yang memancing rasa penasaran pembaca. cerita nyata pun harus tetap memesona.

Anak Asli Asal Mappi, Cerita-cerita Mini dari Papua | oleh Casper Aliandu | © 2020 | Penerbit IndonesiaTera | Cetakan pertama, Oktober 2020 | Penyunting Dorothea Rosa Herliany | Desain sampul Regina Redaning & Sabina Kencana Arimanintan | Lay out Irwan Supriyono | ISBN 978-9797-7531-46 | Skor: 3/5

Karawang, 141021 – Sherina Munaf – Sebuah Rahasia

Lima sudah, lima belum.

Thx to Stan Buku, Yogya. Thx to Titus, Karawang.

Rekayasa Buah: Mengapa Aku Bilang Buku ini Jeleq

Rekayasa Buah oleh Rio Johan

“Oh, ini mah buah lupu.” / “Buah apa buah lupu ini?” / “Buah yang mahal, susah didapat di sembarang toko.”

Entah apa yang menjadi dasar pemilihan buku ini masuk ke 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2021. Buku ini jeleq. Aku sudah baca Aksara Amananunna yang menjadi buku pilihan Tempo 2014, jeleq. Aku juga sudah menyelesaikan baca Ibu Susu yang menang KSK 2018 untuk karya pertama kedua, jeleq. Sejatinya satu buku jeleq tak akan merentang buku lainnya, ingat prinsipku; first impress itu penting banget. Pengalaman membaca buku pertama seorang penulis akan sangat menentukan buku karya-karya lainnya apakah akan kunikmati atau skip maksimal, kecuali masuk daftar penghargaan Sastra. Nah, salahnya di sini, memberi pengecualian. Sejak tahun 2018 kuikuti KSK dan kubaca semua Prosanya. Dari ‘kecuali’ ini, keterpaksaan menghasilkan Ibu Susu dan Rekayasa Buah, dan terbukti, jeleq jeleq.

Kalau kubeli buku antah, tanpa embel-embel apapun, dari penulis tak dikenal, atau dengan genre diluar favoritku, atau iseng sahaja tetiba pengen berkelana, kalau jeleq atau kurang puas ya wajar dan tak akan terlalu komplain. Baca buku remaja, misalnya ekspektasiku juga dunia remaja dengan hingar bingar darah muda. Pas kubaca buku fantasi, Neil Gaiman misalkan, atau Jonathan Stroud yang kuharap tentu saja sebuah imaji. Buku-buku John Grisham tentang gugat menggugat di ranah hukum sebab keseharian sang penulis memang di bidang itu. Pengalaman membaca ribuan buku menciptaku untuk bisa menempatkan diri dan ekspektasi. Contoh kasus, pernah baca buku Ika Natasha, Divortiare jeleq karena ceritanya hedon dan tak terjangkau pemikiran jelata, bayangkan konfliks yang ditawarkan adalah memilih cowok, yang satu tampan yang satu kaya. Kata temanku Harsoyo Lee, itu sih tinggal milih merem. Dan saat baca-baca buku lainnya, sama saja. Maka berikutnya, tak kubaca lagi, atau tak akan kubeli lagi pas rilis buku baru. Memang sudah jadi pijakannya. Lantas pengalaman baca pula buku-buku Tere Liye (tahun 2015 pas ulang tahun dibelikan istri sepaket), jeleq juga sebab banyak jiplakan, dulu kukira sistem seperti ini adalah metode ATM, amati tiru modifikasi; tapi setelah kutelaah, kudalami lagi jelas buku si Liye ini banyak sekali mencuri ide penulis lain. Mencuri itu haram di bidang manapun. Sampling, dua buku saja, Rembulan Tenggelam di Wajahmu itu idenya Mitch Albom, lalu Negeri Para Bedebah ada klub duel bawah tanah, jelas sekali aturan mainnya mengambil dengan tanpa izin aturan baku Fight Club-nya Chuck Palahniuk. Dengan pengalaman itu, tak kubacai lagi keduanya. Seharusnya Rio juga.

Yang membedakan adalah, Rio dapat ‘amanat’ di daftar KSK, dan itu malah makin bikin jengkel. Ibarat film jeleq muncul di Oscar. Bah!

Rekayasa Buah mencipta banyak sekali varian kata baru yang bikin kzl, seolah turut merasakan buah busuk dilahap, pengen muntah. Contoh buah mangga dimofikasi untuk tujuan tertentu, bisa bikin wajah glowing, buat jadi obat kuat, diblender jus sehat, untuk obat kutu air, dst lantas dibuat nama baru dan diadakan dalam perdebatan para peneliti. Sejujurnya mau milih nama jadi manggoooooooo, atau mang amang-beego, e-mango, mang jago, terserah dan tak memengaruhi cerita. Cuma kreatifitas tak jelas aja ini sih. Dikira membuat kata baru itu terlihat keren, bah! Enggak bro. sama seperti orang-orang yang suka mengutip kata-kata Pram atau Eka Kurniawan atau Ayu Utami, tak lantas otomatis jadi keren. Esensi membaca buku kan cerita, esensi keren bukan dengan menyebut kata sulit, sampai-sampai memodifikasi jenis hurufnya. Bukan begitu caranya, Vicky Prasetyo akan tertawa ngakak mendengarnya. Mencipta kata baru kalau ada sangkut paut kisah masih sah-sah saja, misal Lord Voldemort yang tampak unik dan aneh, ternyata di buku dua dijelaskan sebuah anagram. Itu baru kelas. Ada alasan mengapa memilih nama itu. Dalam buku ini, ada nama dengan semua konsonan semua: ‘Symphymphymm’, atau nama buah ‘snollygosterslang-whangersnickersneeberi’ hahaha, kata Bung Takdir temanku, “Biasalah masih ada yang anggap karya bagus itu kalau kosakatanya aneh aneh.”

Rekaysa terdiri atas sepuluh cerpen, saling silang beberapa cerita seperti Korporasi Hayati yang mewadahi penelitian, muncul di banyak paragraf. Kesemuannya enggak jelas, mencoba revolusioner dengan melihat masa depan, jauh di dunia antah dengan nama-nama kota modifikasi sendiri, sayang dibarengi plot cemen. Contoh, seorang bintang iklan buah yang tersingkir, dikagumi oleh kakek tua yang meninggalkan warisan melimpah untuknya. ‘Orang asing’ yang beruntung, yang material-oriented. Itu template di abad sekarang juga bisa, iklan kosmetik misal dengan mal-praktik dokter yang mengacaukan wajah bintangnya. 

Atau dalam Buah untuk Diktator Terakhir di Muka Bumi, seorang peneliti mempersembahkan buah untuk pernikahan kesekian-sekian-sekian, sekadar kudeta dengan buah sebagai pelurunya. Dalam Misteri Visiceri ada abtraksi dan kode-kode gaul dengan tulisan di kanan-kiri, dibolak-balik, bah tak ada esensi. Blink-blink kek Smash Blast. First thing first story! Gaya taruh di belakang aja. Ini memenuhi halaman, aku baca sambil nguap dan malesi tenan.

Dalam cerita Beri-beri Berlipat Ganda, perhatikan halaman 51 dalam memberi nama bisa sehalaman penuh/dua tiga halaman lainnya membahas penamaan juga, dan tak terlalu menautkan kepentingan dalam kisah, mau namain cerybel, cerytel, cerybah, ceryoletel, ceryceryjingan anggak krusial, nggak ngaruh, nggak ada eksotik-eksotiknya, kalian muak ga sih? Bayangkan ada 70-100 nama baru tiap tahun, syukur saja sih bukunya tak muncul tiap tahun. Simpan uang kalian, selamatkan waktu kalian, nikmatilah karya yang lebih bermutu. Inilah fungsi blog ini, inilah manfaat rekomendasi.

Dengan komposisi ini, satu buku lainnya Buanglah Hajat Pada Tempatnya jelas skip keras. Aksara Amananunna adalah buku debut kuberi skor 2 dari 5, Ibu Susu sama saja, permainan kata dengan plot nggak jelas, dan karena aku terjatuh di lubang yang sama, skor sejatinya bisa identik, tapi aku drop jadi 1.5. Satu utas yang menghubungkan ketiganya adalah, Rio suka sekali mencipta kata baru, dikira keren kali ya. Cerita ngawang-awang, padahal cerita bagus harusnya bisa ‘in’ dengan pembaca, kata Penulis favoritku Cak Mahfud, nulis cerita tuh tak perlu rumit dan tak perlu ndakik-ndakik.

Ketika membaca apapun genre dan jenisnya ekspektasiku juga mengikuti kok. Memang sulit mencerita masa depan. Akan salah bila aku mengharap sehebat Brave New World yang melihat masa depan gemilang. Atau Do Adroids Dream of Electric Sheep yang melihat dunia replikan menjadikan nyata/maya jadi abu-abu. Enggak. Kalau ada yang komplain, membandingkan buku klasik, baik aku aku kasih contoh sastra modern yang terbit tahun 2010-an. Baca buku-buku Yusi Avianto Pareanom, semuanya gemilang. Raden Mandasia bisa jadi adalah masterpiecenya. Atau Mahfud  Ikhwan dengan Dawuk-nya (aku nyebut dia lagi ya), itu kisah tanpa kerut kening juga bisa langsung ‘masuk’. Kebetulan dua itu menang KSK. Kalau usia dijadikan patokan, baik penulis muda yang mencipta buku bagus yang pernah kubaca juga ada, semisal Faisal Oddang dalam Tiba Sebelum Berangkat; atau Sabda Armandio Alif dalam 24 Jam Bersama Gaspar. Lihat dan rasakan kualitasnya.

Pasca membaca Rekayasa, aku butuh netralisir keadaan kalau tak ingin muntah. Untungnya ada Haruki Murakami, Kronik Burung Pegas seratus halaman langsung kulahap, dan benar-benar nyaman sekali. Lihat, seorang Haruki saja bercerita tentang keadaan sehari-hari. Pria kesepian ditinggal pergi istrinya, yang lantas merespon keadaan dengan apa adanya. Dan buku Looking For Alaska-nya John Green tentang remaja yang menempati sekolah asrama lantas jatuh hati. Sederhana ‘kan. Dan dibawakan dengan indah pula! 

Cerita bagus memang harusnya aktual, dan masa lalu selalu aktual. Mencerita masa depan, hanya berandai, mengangan, mengumpamakan; tahun 2050 mobil udah bisa terbang, tahun 2060 manusia bisa makan pil sebagai pengenyang, tahun 2070 ilmu bisa diinjeksi, tahun 2080 lorong teleport sudah dirancang, tahun 2090 buah direkayasa dari batu, tapi boong! Beda sama bercerita tahun 1945 terjadi Perang Dunia Kedua, dan kakekku turut memanggul senjata, terdampar di parit saat pasukan Jepang melakukan pembersihan, sebutir peluru melukai kakinya sehingga ia harus terpincang-pincang saat menyelamatkan diri, andai raganya tak kuat, bisa jadi aku takkan lahir, dst. Kita bisa langsung ‘in’ serta pembaca diajak bersafari di alam fantasi, dalam sisipan sejarah ada, dan logikanya bisa di-pas-kan. Buku yang berhasil adalah buku yang bisa melibatkan pembaca secara emosi.

Rasanya tak ada habisanya mengupas buku ini, seperti buku bagus, aku mengetik dengan semangat, begitu juga buku jeleq, aku mengetik ini dengan semangat mencerahkan. Aku tutup saja cerita curhat sore ini, habis lari sore bau keringat, kututup dengan kutipan dari penulis favoritku (wah favoritnya banyak ya), Gabriel Garcia Marquez bilang, “Tugas seorang penulis adalah menulis dengan sebaik-baiknya.” Mau ditulis di tanah kelahiran atau di tanah seberang atau di dunia jauh, mau ditulis di mana saja, tujuannya adalah agar penulis berbakti pada bangsanya.

Salam hangat dari korporasi haryati. Istighfar Bud.

Rekayasa Buah | Oleh Rio Johan | GM 621202011 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Teguh Afandi | Ilustrasi isi dan sampul Martin Demonchuax | Desain sampul Isran Febrianto | Desai nisi Ayu Lestari | Cetakan pertama, Juni 2021 | ISBN 978-602-06-5332-7 | ISBN Digital 978-602-06-5333-4 | Skor: 1.5/5

Karawang, 131021 – Billie Holiday – Me, My Self, and I

Empat sudah, tersisa enam.

Thx to Dojo Buku, Jakarta Barat. Thx to Titus Pradita, Karawang. Thx to Richard Oh, atas rekomendasinya.

Sekali Yogya tetap Yogya


Yogya Yogya oleh Herry Gendut Jananto


Ma, ketahuilah, di Yogya sebenarnya Papa hanya ingin numpang bahagia. Ya, Papa sudah cukup terhibur dengan merajut aneka kenangan masa lalu di Yogya…”


Kenyang dan girang / waktu cepat terbang / namun, kenangan tak pernah hilang


Cerita hanya berisi nostalgia. Dan saya suka cerita yang menengok masa lalu ketimbang ngawang-awang ke masa depan yang tak jelas. Orang Yogya yang merantau ke ibukota, sesekali mudik Yogya menekuri wilayah-wilayah yang dulu pernah disinggahi, ditelusur untuk dikenang, dengan sudut pandang orang pertama, segala yang disampaikan jelas bergaya orang bercerita satu arah. Tak ada hal-hal yang luar biasa, maksudnya nyaris tak ada ledakan, separuh pertama bahkan hampir tak ada konfliks, mungkin masalah paling berat ialah curiga istri pada suami yang kemungkinan selingkuh, atau curiga suami mengingat dan menemui sang mantan. Barulah separuh kedua cerita mulai menyayat hati, mengingat masa lalu, masa muda penuh gejolak, masa di mana cintanya kandas dua kali, oleh sahabatnya yang hamil sama playboy, rontok sebab beda suku. Duh! dan muridnya yang dipaksa pergi, terlampau muda. Bagian itulah yang menurutku bagus, masa muda masa yang berapi-api, gejolaknya terasa nyata. Shakespeare in Parangtritis!


Dibuka dengan sebuah reuni tak formal para sahabat alumni Reuni SMA Kolese Johanes de Britto dan angkatan sekitar yang berziarah di Malioboro, mereka bersaksi ihwal sekujur alur tubuh Malioboro yang berdinamika dari masa ke masa dan terus berubah. Hanya kelurusannya saja yang bakal terus kekal abadi. Melihat-lihat suasana kota, kuliner, foto-foto, hingga nyanyi di kafe. Adalah Gayuh Agustinus Widodo, jagoan kita yang menyenandungkan nostalgia. Si anak pelindung: Agustinus. Beristri gadis Bali, Ni Luh Putu Astini, dengan dua anaknya Ading dan Evita. Templatenya terlalu manis. Bayangkan dua destinasi liburan paling ideal di Indonesia: Yogya dan Bali bersatu! Menikmati dua tempat itu, dengan nyiur melampai di pantai. Angin sepoi membasuh pantai coba peduli. Pasutri ini mematung diam seakan membacai langit fajar.


Mereka ikut ke Yogya saat Gayuh ketemu teman-temannya. Terlihat ia begitu dominan saat bercerita masa lalu, masa-masa pahit/manis saat dicerita ulang dengan orang-orang yang tepat, terutama yang juga mengalami, jelas akan tampak meriah. “Gayuh, kan, memang suka banget bernostalgia, sedikit-sedikit menukik ke masa silam. Benar-benar Gayuh itu manusia past tense. Mister Past Tense!” dengan Jip berbodi panjang Wrangler Rubicon warna orange menyala mereka bertafakur, menamai diri dalam Komunitas Mumpung Tuwo.
Ia dulunya adalah seorang Manajer personalia PT. Gemah Ripah, perusahan ekspor impor buah-buahan dan hasil bumi. Kini ia mengambil pensiun dini, menikmati masa tua, jadi pengusaha buah-buahan. Istrinya dulu adalah sekretarisnya, beda usia lumayan jauh. Gayuh memang terlambat menikah untuk ukuran umum, di usia sungguh matang 38 baru berlabuh, maka di usia tuanya kedua anaknya masih berkutat di bangku sekolah.


Gayuh memang harus hadir tiga unsur tadi: gitar, bulan, dan kenangan. Kita lantas mengetahuinya saat kisah ditarik mundur. Ia pernah mengajar bahasa Inggris di sekolah SMA Stella Duce. Guru gaul untuk sekolah puteri ini lantas naik pangkat atau tambah tanggungjawab, mengajar ekstra kulikuler Seni Teater, tentang drama dan sandiwara. Charles Jehlinger bilang, seluruh masalah pemeranan tidak lain adalah upaya untuk mendengarkan. Kelas teater ini pernah berkunjung ke pantai Parangtritis untuk adu puisi, di tengah debur ombak mereka membuat syair secara spontan. Ah kenangan… membayangkannya saja sudah sejuk dan dingin, apalagi ditenggarai sayup-sayup puisi. Jos!


Ada siswi istimewa yang terjalin kasih, hubungan mereka walau backstreet (tanpa boy), terendus orang sekitar. Hanya sayang, hati kedua insan itu tak bisa dibantah, tengah luluh masygul. Kinara muda, masa masih sangat panjang. Sepincuk memori manis di masa cinta monyet. Maka di Minggu pagi cerah mereka janjian ketemu untuk memutuskan lanjut tidaknya, tentu saja komunikasi kaku sebab mereka guru-murid, lantas lanjut bertamsya ke Gembira Loka, sebab mereka ingin tetap di dalam kota, tak mau kesorean pulang, tapi tetap menawarkan keindahan dan daya tarik alam. Naas, di sana Gayuh mengalami kejadian yang akan terus tergores di ingatan, nestapa itu pula salah satu yang memicunya kabur ke ibu kota. Merantau meninggalkan kenangan, sekaligus mencipta kenangan dan tantangan baru. Selebihnya seperti yang kita tahu, mapan, menikah , punya anak, dan mengenang kenang.


Dengan rutinitas kantor yang padat, kelas sastra dan seni hanya sesekali digeluti. Bukan sebagai tumpuan utama sebab finansialnya dari pekerja kantor, maka wajar dunia menyenangkan itu kini hanya sekadar sampingan, penyalur hobi, sesekali dilakoni, dan waktu memang melindas segalanya. Tua itu pasti, meninggalkan segala rona.
Mudik atau pulang kampung juga bukan jadi alasan harus ada kepentingan. Tidak ada hal khusus yang mewajibkan dirinya kudu melongok kampung halaman, selain semata-mata untuk membereskan rasa rindu yang tiba-tiba saja nyembul bergolak. Jadi kalau tetiba pengen pulang, yo wes cuss berangkat, walaupun cuma sehari juga ga masalah. Sesekali pulang… itu justru cara untuk merawat rasa kangen.


Perjalanan juga lebih asyik naik kereta api, sebab meresapi. Naik pesawat, tiket berlipat mahal, singkat waktu, gagal pula menikmati permai pahatan dan lukisan alam. Semacam sentimental journey, begitu istilah yang pernah ditiupkan oleh budayawan Umar Kayam. Benar juga sih, selain alasan itu, kita jadi terasa tersentuh dan lebih dekat dengan kenyataan.


Salah satu doa untuk anak yang patut kucatat adalah, “Papa ingin kamu lebih bisa mandiri.” Benar sekali, selain sehat dan berkah, kurasa usia remaja itu kata ‘mandiri’ dirasa perlu sebagai bekal untuk masa depan. Pantas pula bila mendaras rasa syukur.


Malam-malam di kafe karaoke dirasa syahdu. Temanya juga beragam dengan campur lokal dan luar negeri. Reggae Night, Jazz Nightm Campursaru Night… Antonio’s Song berkisah tentang Antonio Carlos Jobim, musisi Brazil pujaan Michael Franks. Lagu-lagu Koes Plus masih saja menggema di bilik benak memorinya. Kebetulan saya juga suka dengarkan lagu-lagu Franks, paling suka Hourglass.


Cepat atau lambat, hidup seseorang akan selalu mengalami perubahan, baik itu secara terencana maupun dadakan tak terduga. Menikah memang menjadi bagian dari hidup. Tak peduli di usia berapapun, saat jodoh datang silakan disambut. “Dengan segala cara, menikahlah. Jika mendapat istri yang baik, kamu akan bahagia. Jika mendapat istri yang buruk, kamu akan menjadi filsuf.” Kata Socrates. Sementara Jane Austen bilang, “sebagai kum pria yang dinaungi nasib baik semestinya dia memerlukan kehadiran seorang istri di sisinya.”


Sejujurnya novel ini sempat diambang mengecewakan. Seolah ini diary kakek yang kangen masa muda. Sentuhannya nyata, apa yang dicerita sungguh sederhana dan mudah dicerna seolah tak mengandung jiwa sastrawi. Namun justru terasa nyatanya yang buat bagus, wah ini kisah kok malah sunggguh menyentuh. Apalagi di akhir diungkap bahwa Yogya Yogya fiksi, ada beberapa kejadian yang terinspirasi kejadian sebenarnya, tapi tetap saja ini fiksi.

Akhir cerita juga pas, mengalir tanpa perlu sentuhan sentimental. Bukankah kehidupan juga sejenis itu. Hal-hal yang berhasil dirasa dan menyentuh, adalah jenis bacaan bagus. Dan untuk itu Yogya Yogya pantas maju ke lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa. Goodluck!


Yogya Yogya oleh Herry Gendut Jananto | KPG 59 20 01863 | Cetakan pertama, November 2020 | Editor Candra Gautama | Perancang sampul Wendie Lena Cahyaningtyas | Penata letak Wendie Artswenda | Penebit KPG | vii + 243; 13.5 x 20 cm | ISBN 978-602-481-504-2 | Skor: 4/5


Untuk komunitas Samin JB ’77, Sadhar ED ’78, dan keluarga tercinta di Puri Beta.


Karawang, 061021 – Michael Frankz – Rendezvous in Rio


Tiga sudah, tujuh berikutnya. Kubaca dalam sehari di Masjid Puri Perum Peruri 01.10.21 bersama Damar Kambang.


Buku ini kubeli di Dojo Buku, Jakarta Barat. Thx. Dan dibantu Titus buat transfer. Thx.

Pelita, Pertanda


Damar Kambang oleh Muna Masyari


Orangtua memang harus selalu dibenarkan ya.”


Pembukanya fantastic. Seorang istri yang ngalah, legowo atas apapun keputusan suami. Dengan setting Madura, yang terkenal dengan adu karavan sapi dengan festival Gubeng sebagai puncaknya. Seorang suami gemar berjudi, memertaruhkan segalanya. Kemenangan/kekalahan timbul tenggelam bersama waktu. Apa yang dipertaruh berbagai hal, berbagai jenis; motor, sapi, rumah, emas, tegalan, dan pada puncaknya adalah rumah dengan segala isinya. Narasi pembuka membuat kuduk berdiri sebab sang suami kalah, dan si buntung berhasil membalas, ia beserta ‘dukun;’-nya datang mengambil piala kemenangan. Dahsyat bukan?

Pembuka yang memesona sejenis ini biasanya langsung menegakkan punggung dan memancing konsentrasi berlebih guna terus berkutat mengikuti cerita, banyak yang tumbang gagal memertahankan tempo, sedikit yang berhasil hingga garis finish. Damar Kambang termasuk yang sedikit itu, walaupun sesekali temponya memang harus sedikit teredam. Aku baca sekali duduk di Jumat pagi yang cerah. Untungnya, suami-istri di pembuka ini identitasnya tak dikuak, fakta ini akan jadi semacam tautan yang ditaruh di tengah kecamuk adu sihir. Perhatikan sahaja, buku yang berhasil salah satu faktornya para tokoh memiliki motif yang kuat untuk mengambil tindakan, tindakan dijalankan dengan logika dasar. Tak perlu muluk-muluk, tak perlu ndakik-ndakik.


Cebbhing akan menikah dengan Kacong, usianya masih 14 tahun dan baru bertemu calon suaminya tiga kali. Damar kambang adalah adalah pelita yang menyala dengan sumbu mengambang di atas minyak yang dinayalakan jelang hari pernikahan. “Damar kambang adalah lambang harapan pernikahan, jangan biarkan mati.” Pelita mati pertanda tak bagus, dan benar saja saat persiapan acara pernikahan, pelita itu perlu beberapa kali dinyala ulang, pesta itu batal sebab menurut tradisi calon suami harusnya membawa tengka untuk seserahan. Persoalan tengka memang selalu rumit, kerena yang bicara adalah hukum sosial tak tertulis tapi sengit. Harkat dan martabat dijunjung agung. Semakin mewah semakin dahsyat sambutan dan antusiasme keluarga dan tetangga. “Orangtua tidak akan melepas anak gadisnya untuk lelaki yang tidak membawa rumah, karena sama artinya memberikan burung pada tuan yang tak memiliki sangkar…”


Falsafah dengan empat sudut pelapah pohon pisang berarti: agama, kehormatan, harta, dan rupa. Harus dijaga. Dalam pernikahan, jika salah satu terabaikan, akan terjadi ketimpangan, roda kehidupan rumah tangga tidak seimbang, dari sanalah kerap timbul persoalan. Seperti itukah pernikahan? Memahaminya saja sulit, apalagi menjalani.


Sayang, tradisi tengka tak diketahui dengan pasti sama keluarga calon suami, maka proses dihentikan di tengah acara dan rombongan pengantin pria balik perahu, menanggung malu. Dendam itu harus dibalaskan.


Bab berikutnya malah mengerikan, memainkan dukun dan jampi-jampi. “Lelaki yang sejak tadi malam menyesaki pikiranku, kerinduan padanya telah membuatku setengah gila.” Dunia mistik yang dimanfaatkan dengan salah, Cebbhing mengalami sejenis halusinasi suara, ia diguna-guna untuk datang ke rumah Kacong. Siang itu ia mendapat panggilan lembut, siasat itu dilancarkan ‘paman’ Kacong, dan benar saja ia terpedaya. Semua tak lebih berharga dari kehidupanmu dalam hidupku. Takluk dalam pelukan pria yang seharusnya jadi suaminya. Bapaknya datang, marah, menyeretnya pulang, membelenggu, yang lantas menjelma liar.


Cebbhing dinikah siri sama Kiai Ke Bulla yang sudah berumur dan sudah memiliki dua istri. Ini dilakukan demi penyembuhan dari guna-guna, setelah berbagai dukun memberi tips dan trik yang gagal. Remaja sebelia itu, pantas marah, tak bisa berbuat apa-apa sebab keputusan ayahnya adalah mutlak. “Kau lupa apa yang diajarkan Ayahmu? Mematuhi buppa’-bhabbu’, ghuru, rato.” Bagi Ayah, suara kiai junjungannya seperi sabda nabi yang harus dipatuhi. Kehamilannya lantas menyeret banyak hal, Mariten, istri lama kedua dipanggil nyai juga marah, yang lantas mengetahui fakta bayi yang terkandung. Fakta lain yang tak kalah seru, identitas Kacong yang saling silang dalam silsilah, ternyata mereka punya masalahnya tersendiri, hahaha… harga diri apaan Cuk! Dan yang paling menyenangkan tentu saja menyimak kisah bagus dalam penempatan prolog itu, ada di sisi motif yang kuat, istri yang diserahkan dalam kalah judi itu memiliki andil luar biasa di pusaran Damar Kambang, hebat. “Kau tidak percaya atau justru takut memecayainya?”


Plotnya tak rumit, walaupun dipecah dan dibagi dengan pola acak. Tak ada tanda tanya nasib tiap karakter, semua jelas dan gamblang, tak ada gantungan. Dan mungkin ini salah satu kelemahannya, pembaca tak jadi penasaran sebab segalanya terjawab. Menyerah pada kematian demi memperjuangkan kehidupan baru, atau terseret dalam kesibukan mengurus bayi hingga tak sempat mengurus diri.


Buku kedua Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2021 yang selesai kubaca. Prediksiku jelas, novel ini masuk lima besar atau bahkan memenangkannya.

Semua syarat ada: cerita bagus, diksi yahud, disampaikan dengan nyaman dan sungguh aduhai. Dengan budaya lokal yang kental, dipaparkan dengan mistik dunia hitam, ilmu magis saling bertautan saling serang, kuat-kuatan, mengingatkanku pada buku-buku Abdullah Harahap, rerata adu sihirnya mencekam, di sini mungkin hanya jadi tempelan drama dalam pergulatan budaya, tapi tetap saja memiliki pengaruh hebat. Memang bukan tema baru, struktur bercerita juga sudah lazim ditemui dalam drama yang mencoba mengelabui pembaca. Namun jelas, secara keseluruhan keseruan dan tembakan kengerian itu mengenai sasaran, sukses bertahan sampai lembar-lembar akhir. Aku bahkan membayangkan pernikahan di halaman terakhir itu, dengan buah hati berceloteh imut di pesta janji suci yang tertunda.


Kali ini saya sepakat sama endosm almarhum Budi Darma yang bilang, “Dalam perkembangan sastra mutakhir, Muna Masyari adalah sebuah meteor yang datang tanpa diduga, sekonyong-konyong muncul dengan sinar memukau…”


Selamat!


Damar Kambang | oleh Muna Masyari | KPG 59 20 01834 | Cetakan pertama, Desember 2020 | Penyunting Udji Kayang | Penataletak Teguh Tri Erdyan | Perancang sampul Teguh Tri Erdyan | vii + 200 hlm., 13.5 x 20 cm | ISBN 978-602-481-456-4 | Skor: 4/5


Karawang, 061021 – Manhattan Jazz Quartet – Jazz Vocal Classics


Dua sudah, delapan tersisa. Kubaca dalam sehari di Masjid Puri Perum Peruri 01.10.21 bersama Yogya Yogya.
Buku ini kubeli di Dojo Buku, Jakarta Barat. Thx.


Dibantu transfer di Tokopedia oleh sobatku, Titus P, Thx.

Gurita di Punggung Naf Tikore


Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga oleh Erni Aladjai


Tapi besok malam kau akan datang lagi kan?”


Pembukanya jitu sekali, hok yang keras dan menghantui. Pembunuhan suami istri, yang (kemungkinan) dilakukan oleh anaknya sendiri. Pembunuhan sadis itu membuat warga sekitar ketakutan berhubungan dengan pelaku, muncul desas-desus ia memiliki ilmu hitam, kebal sakit, manusia yang melakukan perjanjian dengan iblis, sampai kesaktian mandraguna dengan penghuni dimensi lain. Hal-hal sejenis itu, sungguh sangat mujarab openingnya, mencipta tanya, lantas kehidupan berlari kencang di tahun 1990-an.


Setting utama di desa Ko, di jelang akhir masa Pemerintahan Soeharto. Gejolak Orde Baru merambati kehidupan sehari-hari di perkebunan cengkih yang asri. Haniyah membesarkan sendiri anaknya Ala yang kini beranjak remaja. Rumah mereka bernama Teteruga sudah berusia seabad lebih, dan seperti pada umumnya hubungan anak-ibu, mereka saling mengisi keseharian. Saling menguatkan. Dari sekolah, membantu pekerjaan di kebun cengkih, mengajarkan hal-hal bijak bestari, dst.

Novel ini banyak menyorot sosial budaya kehidupan di sekeliling kebun.
Ala di sekolah dipanggil Aljul (Ala Juling) yang membuatnya ngambek sama teman-teman dan bu guru Hijima, teman Haniyah sekolah dulu. Teman akrabnya Yolanda dan Siti Amaranti juga mengesalkan. Ala mencatat olokan itu di papan tersembunyi, mencapai 180-an. Awalnya tak dicerita, tapi nantinya kekesalan itu membuatnya marah, dan ia melabrak ke sekolah. Kisah tentang bullying? Enggak juga.


Cerita sejatinya malah ada di kebun cengkih tetangga kita, Naf Tikore yang di prolog melakukan kejahatan. Segala desas-desus itu menjadikannya terasing, tak berhubungan dengan sesama. Ia tak ke masjid, tak pula ke gereja. “Bukan Muslim, bukan Kristien, sudah sepantasnya dia tinggal di hutan.” Ia tak makan binatang, ia hidup dari hasil alam sekitar. Dalam sejarah singkat yang ditulis, ia menjadi hebat dengan bantuan gurita di kapal perang menjadikannya legenda. Pada suatu hari di Sungai Mariata…


Nah, koneksinya di sini. Ala suatu malam bertemu hantu remaja bernama Ido. Datang dalam kabut dan mengajaknya berkomunikasi, ia adalah korban di zaman colonial. Anak pribumi yang bergaul sama anak londo, dibunuh oleh seorang pribumi demi mengabdi penjajah, tapi tetap abdinya tak digubris. Kepala Ido dipenggal dan dikubur terpisah.


Ala punya misi menyatukan jasad yang dikubur di kolong rumahnya dan di kolong rumah Naf. Saat semua warga takur dan begidik sama Naf, Ala dengan langkah ringan ke sana. Membawa makanan berkat, dan setelah basa-basi mengutarkan niatnya. Sesederhana itu. Kisah ditutup dengan isu perekonomian, sebuah keputusan anak penguasa Orde Baru mencekik petani cengkih, dan setelah berbagai upaya, baru berhasil dihapus setelah Orde itu tumbang.


Temanya beragam, tapi intinya bisa jadi budaya lokal dengan kritik sosial. Pelukisan perkebunan dan tradisi setempat bisa saja menjadi daya saing yang menjanjikan, tapi tetap intinya sederhana. Hantu anak yang baik, walau kehidupannya tragis bisa memunculkan berbagai kemungkinan horror, jagoan yang sakti juga bisa saja meledakkan amarah ke warga, tidak. Kisah ini berakhir dengan tenang. Pesannya bisa saja, apa yang kita makan menghasilkan apa tindakannya. “Tanaman bertenaga-baik membuat manusia yang memakannya berjiwa baik.” Ah, kembali ke jiwa. Misteri semesta ini, merongrong tanya. Dunia Haniyah dan Ala masih di seputar kebun, dan itu membuatnya tetap membumi. Aroma khas cengkihnya bahkan berhasil terbaui hanya dari penuturan.


Pembuka Kusala Sastra Khatulistiwa yang kurang OK. Ekspetasi memang tak tinggi, nama Erni Aladjai sendiri masih asing di telinga, dengan lebl Pemenang ketiga Sayembara Novel DKJ 2019, tetap saja bukan jaminan. Tebakanku jelas novel ini akan tersingkir dari daftar pendek. Kita butuh suatu ledakan hebat untuk jadi juara.


Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga | by Erni Aladjai | KPG 592101875 | Cetakan pertama, Januari 2021 | Penyunting Christina M. Udiani | Penataletak dan Perancang sampul Pinahayu Parvati | Penerbit KPG | vi + 146 hlm.; 13.5 x 20 cm | ISBN 978-602-481-527-1 | Skor: 3/5


Karawang, 051021 – Michael Franks – Time Together


Satu sudah, Sembilan menunggu
Buku ini kubeli di Gramedia Karawang sepulang kerja, tepat di hari diumumkan nominasi KSK.

Domba-domba Telah Membisu


The Silence of The Lambs by Thomas Harris


Kalau hanya berdasarkan pertimbang-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku?” – 1 Korintus


Perlukah aku melihat kepala kematian dalam lingkaran, padahal sudah melekat di wajahku?” John Donne, “Devotions


Buku dibuka dengan dua kutipan di atas, maka laik diketik ulang dan dibagikan.


Memecahkan masalah tak ubahnya berburu. Kenikmatan liar dan kita memburunya sejak kita lahir. Ini jenis buku yang butuh kesabaran, menahan tak muntah sebab pembunuh serial ini menyiksa calon korban. Dikurung seminggu, lantas dikuliti hidup-hidup untuk diambil kulitnya, mayatnya dibuang di sungai dengan kepompong disangkutkan di tenggorokan. Blusnya ditemukan dalam keadaan tersayat di punggung. Serangga muda yang belum sempurna, di dalam chrysalis – kepompong yang membungkusnya selama proses metamorphosis dari larva ke serangga dewasa. Jenis bacaan dapat label 18+ untuk kekejaman yang disajikan. Karena saya belum baca buku serial Hanibal, maka terasa sekali plotnya fresh. Filmnya juga belum tonton tuntas, makanya bayangan itu samar, serta mood baca butuh tinggi, beberapa kali ketiduran.


Kisahnya melingkar, tak langsung ke intinya. Saya coba runutkan saja. Jadi terjadi pembunuhan berantai dengan korban cewek-cewek muda. Pembunuh diberi inisial Buffalo Bill. FBI yang dipimpin oleh polisi senior Jack Crowford yang sedang berduka sebab istrinya sakit parah, lantas meminta anak kuliah Clarice Starling untuk meminta bantuan pada sosiopat legendaris Dr. Hanibal Lecter. Sang tahanan tak mau bicara sama siapapun untuk diminta bantuan, jarang sekali membuka diri. “Kami telah berusaha mewawancarai dan memeriksa ketiga puluh dua pembunuh berantai yang ada dalam tahanan, untuk mengembangkan database guna menyusun profil psikologi bagi kasus-kasus yang belum terpecahkan…” Crowford mengembangkan senyum, namun matanya tetap redup.


Maka dipilihnya Starling, mahasiswa bening baik otak dan wajahnya menjadi jalan keluar yang ideal. Dan ide itu berhasil sebab, Lecter mau menerimanya. Menjawab dengan pengamanan ekstra ketat. Tak ada kontak, terpisah jeruri, taka da benda tajam yang ditukar tanya, dst. Dari jawaban-jawaban Lecter jelas sekali ini orang jenius. Sangat encer otaknya, menganalisis kasus dengan jitu dan detail, tapi sayangnya ia tak gamblang, jaul mahal untuk segala informasi penting, padahal kepolisian dikejar waktu sebelum korban berikutnya muncul.


Korban yang kini ditangani adalah Kimberly Jane Emberg, berusia dua puluh dua asal Detroit. Petunjuk itu malah membuka kasus lain, pembunuhan musisi, korban Lecter ternyata ada sangkut pautnya sama sang pembunuh karena menemukan korban lain dengan kepompong di tenggorokan. Dan kita diberi petunjuk penting, sang pelaku adalah pasien Lecter. Sesuatu yang tak relevan bagi Anda mungkin justru petunjuk berharga bagi para seorang ahli. Dr. Lecter bertahun-tahun menjalankan praktik psikiatri yang sukses sebelum kita menangkapnya sebagai pembunuh.


Masalah pelik itu muncul saat calon korban terbaru adalah Catherine Martin, anak tunggal Senator Martin. Karena ini melibatkan orang penting, berita diekspos lebih besar lagi. Starling meminta detail-detail lain dengan imbalan ia berkisah masa lalunya. Bagaimana masa kecilnya dihabiskan di panti asuhan. Ia tak mengenal harta, tapi begitu akrab dengan rasa lapar. Dan mimpi-mimpi buruknya. Mimpi buruk dengan metafora burung gagak tersebut mengambil apapun yang berwarna cerah. Ternyata judul buku diambil dari sini. Para domba yang mengembik menakutkan. Ia sering tergugah rasa takut pada mimpinya. Sementara mereka diskusi, Catherine sedang menanti nasib di tetirah Bill, dan kita punya waktu sekitar seminggu. Itu batas maksimal.


Rencana itu ambyar saat pemimpin rumah sakit jiwa Chilton mengambil alih kasus. Ia menawari Lecter ketenangan. Permintaan Lecter aneh-aneh, akan dipindahkan ke Brushy Mountain, diberi akses telepon, dan salah satunya yang unik adalah diboleh perdengarkan musik. Penyanyi favorinya: Glenn Gould, Goldberg Variations. Nanti kucari ah!


Lantas ia dipindahkan ke rumah sakit jiwa lintas Negara bagian, semua itu langsung merusak rencana FBI. Starling segera dibebastugaskan, Jack tak punya wewenang lebih besar sebab ini langsung instruksi Senator. Menyangkut nyawa anaknya, segalanya dikerahkan. Apalagi kabar duka muncul, istri Jack, Bella akhirnya meninggal dunia setelah melawan rasa sakit berkepanjangan. Ia tidak menangis, air matanya telah kering. Fokus itu buyar. “Ada dua hal yang perlu kau ingat. Kita berpegang pada anggapan bahwa Dr. Lecter memang mengetahui sesuatu yang konkret. Kedua, Lecter selalu mencari kesenangan…”


Novel lantas mencapai kekuatan penuh ketika Lecter melakukan aksi pelarian dengan oenuh gaya, berdarah-darah, cemerlang. Memakan korban para penjaga, kabur dengan ambulan yang akhirnya membunuh semua petugas medis, dan mencari identitas baru. Jelas ini adalah titik penting untuk novel lanjutan. Sebelum kabur ia memberi petunjuk penting untuk menggeledah rumah identitas yang diberi.


Sementara Starling bersiap untuk kembali ke kampus, ia seakan ‘pamit’ ke Jack. Dan melakukan penyelidikan terakhir sebelum kembali menyerahkan senjata dan surat tugas, semua tindak lanjut dengan kembali ke korban pertama itu malah menjadi adegan mendebarkan dan luar biasa seru. Pertanyaan utama kisah ini jelas, berhasilkan anak sang senator selamat? Korban pertama ditemukan di Sungai Blackwater di Missouri, pinggiran Lone Jack.


Di tengah kita juga tak blank, sebab proses penculikan Catherine dijelaskan. Setting tempat penyekapan juga jelas sekali, di sumur bawah tanah, dengan anjing kesayangan, dan betapa pelaku adalah seorang desainer baju, agak melambai karena pernah mengajukan ganti kelamin, dst. Ini bukan spoilert sebab memang dijelaskan ditengah buku selama penyelidikan.


Novel ini dengan jitu menampar para pengambil keputusan yang seenaknya sendiri. Memberi kecoh tempat pembunuh juga dirasa memuaskan pembaca. Untuk sampai ke sana memang butuh kesabaran dan ketelitian, buku empat ratus halaman dengan pola melingkar, meliuk dulu baru ketemu Bill. Aku sebenarnya kurang suka kisah-kisah gore penuh darah, tapi kalau dituturkan dengan brilian seperti ini ya layak lahap. Beberapa karalter juga memberi ciri khas, Jack misal suka minuman kopi dengan campuran Alka-Seltzer. Yang bagiku awam istilah itu, biasanya kita kan mencampur kopi dengan gula atau taburan kreamer.


Salah satu nasehat Lecter yang patut dicatat adalah kalimat: Primum non nocere, pertama-tama jangan perparah keadaan. Patut dicatat juga. Sang pembunuh bernyanyi di kamar mandi lagu Cash for Your Trash ciptaan Fats Waller, dari musikal ‘Ain’t Misbehavin’ ini juga akan kucari filenya.


Ada istilah psikoanalis. Imago adalah gambaran mengenai orangtua yang tertanam di bawah sadar sejak masa kanak-kanak dan sarat dengan kasih sayang kekanak-kanakan. Kata itu berasal dari patung lilin leluhur yang dibawa orang Romawi kuno dalam upacara pemakaman. Para korban selalu dibuang di sungai, Acherontia Styx, namanya diambil dari dua sungai di neraka.


Untuk penerbit major, cetakan kedua ditemukan typo puluhan kata sungguh terlalu. Hanya sedikit mengurangi kenikmatan, secara overall jelas buku istimewa. Tak salah sudah kubeli seri lainnya. Tinggal Hanibal Rises aja yang kurang. Oh setelah baca bukunya, sebaiknya kuga gegas kutonton filmnya. Pemenang Oscar!


Domba-domba Telah Membisu | by Thomas Harris | Diterjemahkan dari The Silence of The Lambs | Copyright 1988 by Yazoo Fabrications, Inc | Alih bahasa Hendarto Setiadi | Desain dan ilustrasi sampul Satya Utama Jadi | GM 40201120141 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Oktober 1996 | Cetakan kedua, November 2012 | 408 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-9075-2 | Skor: 5/5


Dipersembahkan pada ayahku


Karawang, 280921 – Lee Wiley – Make Believe


Thx to Buku Vide, Yogyakarta

Zoon Politikon

Sosiologi by Dr. Soedjono Dirdjosisworo, S.H.

Bouman: “Kebersamaan dengan halaman baru dalam kepercayaan Nasrani (reformasi) dengan Renaissance, maka mulailah suatu zaman individualism, yang empat abad: tumbuh menjadi suatu corak kehidupan yang baru sama sekali.”

Efek sebuah buku bisa sangat panjang. Saya menikmati sekali buku Prof Priono yang mengulas sejak terjang Anthony Giddens, mengupas kulitnya saja tentang sosiologi. Nah, dari situlah saya menelusuri banyak buku terkait. Ini salah satu gema sosiologi tersebut. Buku ini memperkenalkan sosiologi pengantar dengan peringatan bahwa pandangan falsafah terentu mempunyai pengaruh terhadap pengertian dan persespsi terhadap gejala sosial yang terjadi.

Sosiologi berarti Ilmu pengetahuan tentang hidup bersama, yang dibicarakan di sini adalah sebuah ilmu pengetahuan, artinya pelajaran yang memenuhi semua persayaratan, ilmu pengetahuan adalah karya manusia yang mencoba mencari kebenaran yang didasarkan pada kenyataan, dengan susunan yang sistematis, logis (rational), dan metodis (menggunakan metoda-metoda). Ciri-ciri ilmu pengetahuan menurut Ralph Ross dalam bukunya The Fabric Society, ada empat: bersifat rasional, emipiris,umum, dan akumulatif.

Hipotesis adalah suatu generalisasi ilmiah yang mengadakan spesifikasi terhadap kondisi-kondisi yang ada korelasinya dengan fenomena-fenomena yang sedang diselidiki oleh peneliti.

Kebenaran ilmiah itu tidak absolut dan bersifat final. Kebenaran ilmiah selalu terbuka untuk peninjauan kembali berdasarkan atas adanya fakta-fakta baru yang sebelumnya tak diketahui.

Ilmu pengetahuan alam membutuhkan laboratorium, ilmu sosial tidak mempunyai laboratorium bagia penelitian yang dapat dikuasai sepenuhnya. Oleh karena itu teori-teori dalam ilmu sosial lebih mudah untuk mendapatkan koreksi kritis. Dan seharusnya apabila seorang ilmuwan itu harus selalu bersikap kritis, malahan harus bersikap skeptic yaotu sikap yang dapat disebut sebagai sikap ilmiah.

Membaca sebuah buku harus dimulai dari permulaan halaman demi halaman, sampai pada halaman terakhir. Membuat percobaan-percobaan tidak bisa selalu sekali jadi. Butuh kesabaran intelektual. Ilmu tidak mempunyai tujuan dan tugas untuk pada akhirnya membuat penilaian tentang apa yang baik dan apa yang buruk, melainkan ilmu mempunyai tugas untuk mengemukakan apa yang salah dan apa yang benar secara relatif. Ilmuwan tidak mempunyai preferensi politik, relijius, dan moral. Baginya semua fakta boleh dikatakan suci, artinya tidak dibenarkan memutarbalikkan fakta. Tidak dibenarkan melakukan diskriminasi fakta-fakta dan memilih untuk penyusunan teori-teorinya tentang fakta-fakta yang disenanginya saja.

Cendekiawan Arab, Ibnu Chaldun (1332 – 1406) dalam karyanya ‘Prolego Mena’ (Muqaddama) dipandang sebagai Pembina dasar-dasar sosiologi modern di luar daratan Eropa. Menurut Ibnu Chaldun, sosiologi merupakan studi tentang masyarakat manusia dalam berbagai bentuknya serta sifat dan gejala-gejala masyarakat yang dalam perkembangannya dipengaruhi oleh hukum-hukum alam. August Comte membawanya ke Barat, ke Granada tahun 1362 saat diundang Raja di Suna.

Rasa heran yang mendorong seorang peneliti untuk mengadakan penelitian, merupakan sumber penemuan-penemuan ilmiah. Maka sumber dari ilmu pengetahuan adalah ‘rasa heran’. Menurut Prof. Soedirman Kartohadiprojo, manusia adalah makluk hidup yang memiliki perlengkapan-perlengkapan berupa: raga (jasmani, sebagai wadah), rasa, ratio, dan rukun.

Zaman Renaissance (abad 13 – 16, abad pertengahan) menurut Jacob Burckhardt, “adalah suatu zaman di mana manusia menemukan kembali kepribadiannya.” Sebelumnya manusia dalam kekangan dan belenggu kekuasaan gereja, atau disebut sebagai The Dark Ages. Itulah pandangan Barat yang dipakai sampai sekarang, pandangan ‘individualisme’.

Apakah yang harus didahulukan, kepentingan individu (perorangan) atau pergaulan hidup (kolektif)? Dan muncullah persaingan antara aliran Demokrasi Liberal dan Sosiolis Komunis. Yang pertama mengutamakan kekebasan individu, yang keuda mengutamakan kepenting kolektif atau pergaulan hidup.

Tiga aspek kejiwaan terdiri atas aspek naruliah, perasaan, dan kebiasaan. Menurut para ahli yang menganut bio-psychologis memandangn bahwa mula-mula naluri yang berkuasa, kemudian kebiasaan dan tradidi mendapat arti yang lebih besar, akhirnya pikiran menjadi kekuatan sosial yang utama, maka tak heran bahwa masyarakat petani yang tradisional akan memiliki pola-pola hidup yang sama terus sehingga tidak jarang ada yang menamakan bahwa masyarakat petani yang tinggal di desa bersifat ‘statis’.

Kaidah sosial yang utama ada tiga konsep: Folkway, Mores, Laws. Hukum bangkit, dilembagakan, direncanakan, diatur dan dipaksakan oleh fungsionaris-fungsionaris hukum dan pejabat-pejabat politik di suatu masyarakat atau Negara. Mores dan folkway direnacanakan, diatur dan dipaksakan oleh suatu perasaan masyarakat, sehingga tidak memiliki kekuatan atau sanksi hukum. Perbedaan lain, folkway dan mores tumbuh, berkembang dan berubah secara relative lebih cepat mengikuti trends.

Norma kesopanan dan kesusilaan bila dilanggar tidak ada sanksi hukum dari penguasa tapi dari masyarakat sekitar dengan celaan, cemooh, dan dibenci.

R. Linton dalam bukunya ‘The Cultural Background of Personality’ mengemukakan kebudayaan adalah konfigurasi tingkah laku manusia yang dipelajari dan hasil dari tingkah laku yang unsur-unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu.

Gemeinschatf adalah kesatuan kelompok manusia yang terbentuknya sebagai kelompok tersebut kodrat Tuahn seperti keluarga, klan, marga, dan suku-suku bangsa. Gesellschaft adalah kesatuan kelompok manusia yang terbentuknya sebagai kelompok tersebut karena kehendak masing-masing anggota-anggota kelompok tersebut sepetu nampak pada organisasi-organisasi kemasyarakatan.

Natie atau lebih dikenal dengan warga Negara (bangsa) yakni kelompok manusia yang hidup sebagai suatu bangsa dari suatu Negara tertentu dikarenakan memenuhi ketentuan-ketentuan kewarganegaraan suatu Negara tertentu.

Prof. Dr. Selo Sumardjan bilang, “Kepemimpinan adalah suatu kemampuan untuk memperngaryhi pihak lain sehingga ia denagn kemauan sendiri berbuat seperti yang dikehendaki oleh si pemimpin.” Di dalam setiap masyarakat tidak selalu tenteram dan damai seperti gambaran surgawi dalam kitab suci dan masyarakat utopianya Thomas More.

Interaksi dimulai dengan kerjasama, kemudian menjadi persaingan dan memuncak menjadi pertikaian kemudian terjadi akomodasi, walaupun kadang-kadang memang terjadi demikian.

Di dunia ini ada dua keruntuhan besar ‘Weltordnung’ yaitu terjadinya keruntuhan dari abad 13 ke abad 14 (berakhirnya zaman pertengahan dengan keruntuhan struktur masyarakatnya yang sempurna) dan berakhirnya Perang Dunia II. Yang mempengaruhi sekali ‘social chanfe’ di seluruh dunia.

Muncullah keyakinan bahwa nasibnya bisa diperbaiki asalkan ia berusaha kuat. Demokrasi bukan hanya berarti tata cara, ia juga merupakan tujuan dari kehidupan bermasyarakat. Ideologi harus dapat menimbulkan harapan-harapan yang cukup besar, tetapi sebaliknya ia tak boleh didasarkan atas khayalan-khayalan yang berlebihan dan yang tak mungkin dicapai.

Buta huruf merupakan halangan untuk berkembangnya msyarakat untuk melaksanakan pembanguan dalam abad modern. Tujuan pendidiakn pengajaran pada intinya memberikan kemampuan dan keterampilan pribadi anggota masyarakat dan membina kesadaran untuk melaksanakan tugas-tugas sosial sebaik-baiknya.

Frank W. Notesten berkata bahwa masalah penduduk merupakan salah satu problema sosial yang paling menyulitkan dalam era modern. Laju kenaikan jumlah penduduk yang mencepat akan mempunyai efek involusi terhadap kenaikan produk pangan.

Masalah mendasar kependudukan di Indonesia ada tiga pokok: laju pertambahan, penebaran tak seimbang dan mutu yang rendah. Dalam membangun desa jangan sekali-sekali merusak dan mengacaukan nilai-nilai dan karakteristik kehidupan desa-desa karena hal ini akan berakibat buruk dan tidak membawa hasil sesuai dengan tujuan membangun desa itu sendiri.

Solusi untuk mengurangi kepadatan penduduk salah satunya adalah perpindahan penduduk ke daerah yang lebih karang. Transmigrasi dapat memberikan dukungan logistic wilayah ebagai contra untuk pembangunan regional. Dua aspek transmigrasi terpenting adalah kesejahteraan dan keamanan (prosperity dan security).

Masyarakat yang heterogen tentu segaris lurus dengan permasalahan yang menemukan. Begitu pula penyakit masyarakat, akan selalu ada. Gelandangan adalah masalah serius bagi setiap kota, secara nyata agaknya persoalan ini mencerminkan problema sosial yang besar yang dapat ditemui dalam pergaulan hidup kota di manapun. Gelandangan adalah orang-orang yang kehidupannya mengembara dan tidak mempunyai tempat tinggal tertentu.

Prostitusi berasal dari bahasa latin ‘prostituere’ yang artinya menonjolkan diri (dalam hal-hal buruk), atau menyerahkan diri secara terang-terangan kepasa umum. Pelacuran menurut Barners & Teeters merupakan penyakit sosial tertua yang terus ada dari mas ke masa. Di sini ada hukum permintaan dan penawaran yang didorong oleh faktor-faktor lingkunan sehingga terbentuk ‘pasar’. Pelacuran sulit diberantas, tapi harus ada usaha penanggulangan dalam arti sekurang-kurangnya menekan atau mengurangi meningkatnya jumlah.

Kenakalan remaja atau dalam istilah umu ‘juvenile deliquency’, banyak sebuatnya. Salah satunya taruna tersesat. Statistic kenakalan anak-anak di usia 16-19 tahun (masa pubertas atau addolesensi). Menurut Sheldon dan Eleanor Clusck dalam bukunya ‘One Thousand’, “Lebih dari 95% anak-anak nakal adalah mereka yang telah berhubungan dengan ‘bad companious’ dan ‘bad habits’.

Semua manusia dilahirkan tidak dengan takdir bahwa kelak akan menjadi orang jahat atau baik, ia akan berkembang dalam lingkunagn pergaulan hidup; dan akan berkembang dalam lingkungan pergaulan hidup; dan dalam situasi dan kondisi tertentu, faktor inilah yang kelask sangat berpengaruh atas pertumbuhan anak-anak ada sebab musababnya.

Filsafat Pancasila, “Ora sanak ora kadang jen mati melu kelangan” artinya bukan sanak bukan saudara kalau mati ikut kehilangan. Peranan hukum dalam pembangunan adalah untuk menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur.

Buku bagus, best seller di masanya hingga cetak beberapa kali. Masih sangat relevan dengan zaman, sebab bahasannya umum. Enak dinikmati, tak perlu lulusan IPS untuk merasa nyaman dengan kalimat-kalimatnya. Dan jelas ini akan memicu buku-vuku genre sosiologi yang lainnya. Kekuatan perdana dan kepuasan yang didapat.

Sosiologi | by Dr. Soedjono Dirdjosisworo, S.H. | Copyright 1981 | Penerbit Alumni | 10 9 8 7 6 5 | IBM Setting, layout, film, cetak offset oleh Percetakan Offset Alumni, Kotak pos 272, Bandung | Skor: 4/5

Karawang, 040921 – Dee Dee Bridgewater – Angel Eyes

Thx to Ade Buku, Bandung

Tidak Ada yang Lebih Menyenangkan Daripada Kopi di Pagi Hari


Lotre dan Cerita-cerita Lainnya by Shirley Jackson


“Aku merasa terjebak, tinggi di atas gedung tua dengan api; rasanya seperti mimpi buruk. Dan di kota yang asing.”

#1. Percakapan

Kunjungan Nyonya Arnold ke Dokter Murphy. Konsultasi tentang kekhawatiran suaminya tahu, ia khawatir. Ketakutan menjadi gila, semua orang berbeda dan berkepribadian unik hingga isu global.


“Saya ingin Anda mengendalikan diri. Di dunia yang membingungkan seperti dunia kita saat ini, keterasingan dari kenyataan sering –“ / “Membingungkan. Keterasingan. Kenyataan. Kenyataan.”

#2. Elizabeth

Cerpen kedua yang sangat panjang. Melelahkan tutur bahasanya, intinya adalah Elizabeth Style yang bekerja dengan Robert Shax bertahun-tahun penuh perjuangan membangun penerbitan buku, lebih pasnya sebagai agen sastra. Suatu hari ada anak baru, Nona Hill Dephne yang aneh dan mencurigakan, atau malah tampak annoying sebab seenaknya sendiri saat ditinggal sendiri di kantor. Salah satunya berani meminjam buku-buku di meja kerjanya tanpa izin! Sombong sekali kau Nak. Lalu Elizabeth yang kesal lalu mengambil tindakan.


“Saya rasa dia tidak akan mengatakannya, ketika saya melihat bagaimana kau langsung bersikap seolah-olah kau akan terus berada di sini.”

#3. Firma Lama yang Bagus

Kunjungan Nyonya Friedman kepada Nyonya Concord dan putri tertuanya, Helen. Memilih dan memilah tembakau, lalu bergosip ria. Menanyakan kabar putranya yang di Angkatan Darat, Bob Friedman dan Charlie menjadi bahan utama, dan penuh gaya bahwa sebelum masuk tentara Charlie kuliah hukum. Khas gosip ibu-ibu yang membanggakan anak, menanbah-nambahkan detail.


“Firma lama yang bagus, kakek Tuan Concord dulunya adalah seorang partner.”

#4. Sang Boneka

Kunjungan nyonya Wilkins dan Nyonya Straw ke restoran elit. Semua pelayan siap melayani dengan hormat. Mengatur jarak duduk, membicarakan menu makanan yang lezat, kaserol udang, ayam goreng, dst. Dan pemandangan indah di sekitar. Lalu pembicaraan tentang surat dari Walter. Dan akhirnya sampai kepada omongan tamu restoran yang lain. Ada gadis lugu bergaun hijau, disebutnya mirip monyet dan tampak norak, padahal ia makan sama pemuda tampan, dan sang boneka. Lantas sudut berganti ke meja mereka bertiga, tahu apa yang mereka bicarakan? Hahaha…


“Aku suka melihat tempat yang menyajikan makanan enak dan bersih.”

#5. Tujuh Jenis Ambiguitas

Tuan Harris, pemilik sekaligus pelayan toko buku tua, suatu hari kedatangan sepasang bapak-ibu dan pemuda delapan belas tahun (mereka tak saling kenal dan sesama tamu), berbincang literatur dan yang utama ingin belanja buku banyak, sangat banyak. Beberapa koleksi. Meminta rekomendasi, termasuk beberapa karya Dickens, Bronte bersaudara, Mark Twain, dst. Dan sampailah pada buku berjudul Tujuh Jenis Ambiguitas. Sang pria besar terkesan kepada sang pemuda, buku-buku klasik berbobot tahu dan sudah dilahap!


“Perhatikan anak tangga paling bawah.”

#6. Berdansalah denganku di Irlandia

Nyonya Archer muda, Kathy Valentine, dan Nyonya Corn sambil menimang bayi, mereka bergosip. Lalu bel rumah berbunyi, ternyata tamu pria tua yang menawarkan barang tali sepatu berharga satu quarter, ia tinggal di blok seberang, sempat akan ditolak tapi terbesit rasa kasihan, maka dibelinya. Sekadar sopan santun. Namun tak sampai di situ aja, sang tamu dipersilakan masuk, disajikan minuman, makanan. Dan jamuan mendadak-pun tersaji, pria bernama John O’Flaherty, orang Irlandia. Dan nama penyair Irlandia disebut Yeats, karyanya dalam puisi, I am Of Ireland dibacakan, salah satu kutipannya,


“Come out of Charity, come dance with me in Irlandia”

#7. Tentu Saja

Nyonya Tylor yang memperhatikan tetangga, sebuah mobil van berhenti dan anak sekitar empat tahun turun. Disusul perempuan muda. Mereka sedang pindahan, tetangga baru. Nyonya Tylor bersama anaknya Carol bersapa. Mereka bernama Nyonya Harris dan James Junior. Sopan-santun, saling mengakrabkan. Hobi, kegiatan rutin, profesi suami, dst. Rasanya banyak hal bertolak belakang, yang satu suka nonton bioskop, yang satu suka radio, sementara yang lainnya justru kesal sama suara radio keras, dan larangan anaknya nonton film. Oh, awal yang tak bagus. Walau senyum, tapi jelas masam. Ah basa-basi, rasanya memang perlu?


“Tentu saja.”

#8. Tiang Garam

Sepasang suami-istri dalam perjalanan kereta dari New Hampshire ke New York. Muncul lagu lawas di sana, lagu soundtrack film. Lagu yang terdengar akrab, tapi lupa judulnya. Lagu yang rasanya bisa dinyanyikan, tapi liriknya agak terlupa. Brad dan Margaret melakukan liburannya melihat-lihat kota. Berbelanja, makan di restoran, dst. Karena sang istri suka belanja lama, sang suami tak mau menemani. Pengalaman buruk muncul, saat ditemukan mayat dan polisi dipanggil. Lalu Margaret ada rasa semacam phopia terhadap orang-orang, kerumunan, takut akan hal-hal janggal di tengah kota. Ia pun menelpon Brad dari telpon umum untuk menjemputnya.


“Aku merasa terjebak, tinggi di atas gedung tua dengan api, rasanya seperti mimpi buruk. Dan di kota yang asing.”

#9. Pria dengan Sepatu Besarnya

Nyonya Hart, calon ibu muda yang menanti buah hati pertamanya. Nyonya Anderson, pembantunya yang datang dan melayani tiap pagi, sang pembantu suka mengeluh, kerjanya kurang bersih, dan beberapa complain disajikan. Awalnya dirasa mungkin butuh keakraban di antara mereka, tapi ternyata bukan hanya dimula, setelah sebulan lebih, ketidaknyamanan kecil itu benar adanya. Mereka bercerita, bergosip tentang keluarga, kegiatan favorit, dan akhirnya sampai pada Bill, suami Hart. Dikompori sama pembantunya, dipanasi betapa pasangan muda harus lebih saling peduli, tak boleh cuek gitu, dst. Jangan-jangan suami Anda selingkuh?!


“Saya rasa orang tak perlu membicarakan orang lain, maksud saya, menurut saya tidak adil untuk mengatakan hal-hal yang Anda tidak bisa tahu dengan pasti.”

#10. Gigi

Aku merasa aneh.” Clara Spencer bilang ke suaminya. Apakah ini efek obat bius untuk mengobati giginya? Cobalah tidur dalam bus perjalanan ke New York ini, saran suaminya. Ini bukan perjalanan pertamanya ke sana, tapi ia merasa ada kejanggalan. Teman duduknya adalah pemuda bernama Jim, sopan dan mengajaknya ngobrol, ngopi. Ia berasal dari jauh, lebih jauh dari Samarkand. Saat sampai di klinik, hasil x-ray bilang geraham bawah harus dicabut, hal yang harusnya ia lakukan jauh hari. Proses cabut gigi yang dirasa biasa menjelma ketakutan, samar tapi ini kan hanya gigi!


“Ini hanya sakit gigi. Tidak ada yang serius dengan sakit gigi.”

#11. Surat dari Jimmy

Surat dari Jimmy yang tak pernah dibuka, langsung diposkan lagi, dikirim balik. Suaminya selalu begitu, istrinya sempat meminta untuk membacanya. Namun rasanya tak akan. Tak akan pernah. Oh benarkah? Sepadankah?


“Konyol sekali menyimpan dendam terhadao surat. Melawan Jimmy, baiklah. Tetapi tidak membaca surat karena dendam itu konyol.”

#12. Lotre

Di alun-alun yang panas pada 27 Juni, sebuah desa kecil sekiatr tiga ratus warga. Mereka berkumpul, berpesta menyelenggarakan lotre. Kepala pos, Tuan Graves meletakkan kotak berkaki tiga di tengah-tengah. Tuan Summers mengaduk-aduk kertas di dalamnya, Tuan Martin dna putranya Baxter memegang kotaknya. Ritual rutin memilih secarik keras lalu Tuan Summers mengambil satu, setelah para keluarga atau perwakilannya memasukkan kertasnya. Tradisi ini sering ribut, beberapa kali bahkan ia disumpah tak curang, dan memang kali ini sangat kacau.


Ini tidak adil, ini tidak benar,” teriak Nyonya Hutchincon, lalu mereka menyerbunya.


Ini adalah buku pertama dari Shirley Jackson (1916 – 1965) yang kubaca. Lahir di San Francisco, California, USA. Penulis dengan genre horror dan misteri. Lulusan Syracuse University New York dan aktif di jurnal sastra kampus. Bertemu dengan calon suaminya Stanley Edgar Hyman, dan setelah lulus keduanya berkarier di The New Yorker. Shirley menjadi penulis fiksi, suaminya contributor ‘Talk of the Town’.


Karya Shirley yang terkenal, The Road Through the Wall (1948), Hangsman (1951), The Bird’s Nest (1954), The Sundial (1958), The Haunting of Hill House (1959), dan We Have Always Libed in the Castle (1962). Lottery sudah diadaptasi tiga kali ke layar lebar, dan paling terkenal rilis tahun 1969.


Terlihat banyak sekali cerpen yang diambil dari pengalaman pribadi. Sebagai seorang ibu, Shirley jelas suka bergosip dengan tetangga, ada banyak adegan di sini. Sebagai seorang agen penerbit ia tentu saja berpengalaman menghadapi staf nakal, di sini dikisahkan panjang sekali. Sebagai seorang istri, ia menyampaikan pengalaman perjalanan ke New York baik saat bersama suami atau sendiri naik bus, ada di sini. Sebagai warga Negara yang baik, ia tentu menyambut tetangga baru, di sini ada lebih dari dua kali. Sebagai manusia biasa, ia tentu beberapa kali ke dokter, ada beberapa pula. Hampir semua mengambil sudut pandang seorang wanita, seorang IRT, seorang pekerja kantor, seorang istri yang baik, dst. Jelas ini adalah pengalaman sendiri dengan bumbu imaji. Semuanya adalah kejadian sehari-hari, wajar, biasa, sangat sederhana. Nah, inilah hebatnya, kisah biasa kalau dicerita dengan bagus akan luar biasa. Di sinilah pengalaman (menulis dan membaca) itu penting sekali. Mencipta cerita bagus tak seperti lotre yang bisa diambil acak dan asal, harus dilatih dan ditempa panjang. Shirley Jackson tentu saja melakukannya.


Lotre; dan Cerita-Cerita Lainnya | by Shirley Jackson | Diterjemahkan dari The Lottery and Other Stories | Terbitan Farrar, Straus and Giroux, 2005 | Penerjemah Laura Harsoyo | Penyunting Nasrina Lubis | Tata sampul Airarumi | Tata isi Vitrya | Pracetak Wardi | Cetakan pertama, 2021 | Penerbit Noktah | 196 hlmn; 13 x 19 cm | ISBN 978-623-6175-08-8 | Skor: 4/5


Untuk ibu dan ayahku


Karawang, 280721 – 060921 – Earl Klugh – Midnight in San Juan


Thx to Diva Press