Gerbang Neraka Akan Segera Dibuka

The Gates (buku satu dari tiga) by John Connolly

Ilmuwan tidak mengejar kebenaran; kebenaranlah yang mengejar ilmuwan.”Dr. Karl Schlecta (1904-1985)

Secara teknis aku adalah entitas ektoplasma yang berkeliaran bebas… artinya setan yang dapat mengambil hampir segala bentuk dan wujud berdasarkan getaran spiritual yang dipancarkan korbannya.”

Ini kisah malam Helloween yang janggal. “Aku benar-benar minta maaf, ini malam yang sangat aneh. Mungkin kau mau minum teh, semua terasa lebih enak setelah secangkir teh.” Kita mungkin telah membuktikan keberadaan multi-semesta. Spiggit’s Old Peculia, Si Tua Aneh adalah bir yang dinamai dengan tepat. Cerita remaja dengan imaji monster-monster, bukan sembarang monster karena diundang langsung dari neraka.

Kita tahu perjalanan antara dunia ini dan dunia kita dapat dilakukan. Novel yang aneh, teori lubang hitam dan terbentuknya semesta, menghadirkan pasukan setan ke bumi untuk dihancurkan, tapi ternyata dituturkan dengan nge-pop, santai di tengah serbuan. Argumen induktif adalah kemungkinan, bukan kepastian. Titik amat kecil, para ilmuwan menyebutnya ‘singularitas’. Orang relijius mungkin menyebutnya partikel debu di mata Tuhan yang mencipta semesta setelah ledakan besar. Ilmuwan membutuhkan bukti, yang lain tidak. Keanehan dan segala teori praktis semesta itu langsung terasa ga ada ngeri-ngerinya. Malah lelucon garing bagaimana bertahan hidup dan upaya mengirim balik para perusuh ini, selama gerbang neraka terbuka, atau kalau terlambat bisa runyam sepenuhnya. 300 halaman yang sederhana, melacur kata dalam tak teraturan garis cerita. Mereka semua terlihat seperti fosil yang hidup kembali, bagian dalam tubuh mereka dilindungi oleh kerangka luar, diseret dengan kaki-kaki pendek terbungkus logam.

Tokoh utamanya remaja freak Samuel Johnson bersama anjingnya yang cekat Boswell, duet ini dibantu dewa rusuh Nurd menjelma kekuatan bak super-man. Di ruang bawah tanah 666 Crowley Avenue, rumah tuan Abernathy diketuk oleh Samuel, ini malam yang lebih mula hari Helloween, jadi ditolak kasih permen. Tuan Abernathy dan istrinya, dan kedua tamunya pasangan Doris dan Reginald Renfield ternyata menemukan sebuah buku panduan berbahasa asing untuk mendatangkan makhluk jahat ke dunia. Acara iseng bersenang-senang itu menjadi petaka karena mantranya bekerja.

Sementara di sebuah laboratorium CERN Proferor Hilbert dan para ahli molekul Ed dan Victor sedang melakukan penelitian tentang kemungkinan adanya semesta lain permainan ‘Kapal Perang’, tabrakan, loncatan frekuensi, ke-abnormal-an itulah fakta adanya kemungkinan sebuah portal terbuka. Menyelidiki kebocoran energi. Penabrak Hadron Akbar.

Dia menduga alam semesta adalah tempat yang jauh lebih aneh dibandingkan perkiraan siapa pun, yang membuatnya bersemangat untuk membuktikan bahwa betapa luar biasa alam semesta ini. Minat profesor Hilbert adalah dimensi, secara spesifik dia tertarik pada kemungkinan ada begitu banyak alam semesta di luar sana, dan alam semesta kita hanya salah satunya.
Sebenarnya ada bunyi di sekeliling kita, bahkan jika kita tidak bisa mendengarkan dengan baik. Namun bunyi tidak sama dengan suara: bunyi bersifat acak dan teratur, sementara suara dibuat. Rasanya seperti mendengar gumaman orang gila dalam bahasa asing. Ini bahasa yang dikenal. Kami sudah menelitinya. Ini bahasa Aramaic awal, mungkin priode sekitar seribu SM. “Menurut kami dia mengatakan, ‘Takutilah kami’…”

Kau tidak bisa membuat prinsip yang meruntuhkan semua prinsip. Ilmu pengetahuan tidak bekerja seperti itu. Maka kepala departemen fisika partikel CERN, Profesor Stefan mencoba menyeimbang, tapi nyatanya benar-benar ada lonjakan titik, munculnya makhluk selain manusia ke bumi. “Buruk! Ini buruk! Larilah sekarang!”

Samuel hidup bersama ibunya, ayahnya menikah lagi dan pergi, hanya mobil antik yang tertinggal di garasi rumah. Di sekolah ia dikenal sebagai anak aneh yang berpikiran out of the box, jarum dengan ujung jutaan malaikat, teori ketakteraturan alam. Di gereja Timidus ia juga dikenal sebagai anak nakal dengan pertanyaan tak lazim seperti asal mula dosa, serangkaian malaikat dan setan yang mengawasi, sampai hal klenik yang membuat pusing para pendeta dan asistennya. Pendeta Ussher, sang vikaris dan Tuan Berkeley, sang pengurus.

Nurd, pembawa petaka lima dewa. Lima entitas: Schwell, Setan sepatu tak nyaman; Ick, setan hal-hal yang tak menyenangkan yang ditemukan di lubang pembuangan saat dibersihkan; Graham, setan biskuit dan kue cracker basi; Marvis, setan nama-nama tak pantas untuk laki-laki; dan terakhir, sekaligus mungkin yang paling rendah Erics, setan tanda baca keliru. Perumpamaan jitu tentang para dewa adalah, “Bagaikan lalat di tangan anak-anak ceroboh, begitulah kita di mata para dewa, mereka membunuh kita untuk hiburan.” King Lear, William Shakepeare. Menggembirakan, ya. mengkhawatrirkan, kadang-kadang.

Karakter bagus di sini justru setan Nurd ini. Dalam suatu tindakan berbahaya serius, salah satu percikan energi telah menciptakan celah kecil antara dunia kita dengan ruang yang ditempati singgasana Nurd, atau lebih tepatnya lagi, Nurd sendiri. “Yah, seperti yang kubilang tadi, aku tinggal di padang tandus. Tidak ada yang bisa dilihat, tidak ada yang bisa dilakukan, dan aku sudah kehabisan bahan pembicaraan dengan Wormwood. Hanya karena aku setan, bukan berarti aku jahat.”

Aku tidak ingin menjadi menakutkan, atau mengerikan. Aku hanya ingin mondar-mandir dengan santai, mengurus urusanku sendiri. Nurd, tidak pernah punya ibu bapak, yang tidak pernah mencintai atau dicintai, takjub mendapati betapa rasa yang begitu indah ternyata juga bisa membuat seseorang sangat menderita. Bagaimanapun, tidak melakukan perbuatan buruk tidak sama dengan melakukan perbuatan baik. Bagaimana ia jenuh di asalnya dan pamit sama asistennya yang annoy. “Selamat tinggal Wormwood, aku ingin mengatakan bahwa aku akan merindukanmu, tapi itu tidak benar.”

Nah, kejadian terbukanya gerbang neraka membuat kota Biddlecombe yang lalu terisolasi berantakan. Kekacauan tercipta, setan-setan keluar memporakporandakan segalanya. Nurd, setan yang tak jahat-jahat amat mencoba membantu Samuel dan kedua temannya yang juga ga kalah aneh Tom Hobbes dan Maria Mayer. Para profesor dari CERN turut serta, jauh-jauh datang setelah menerima email janggal. Malam itu malam Helloween, malam cekam yang biasanya sekadar trick or treat, berubah menjadi malam kelam. “Akhir dunia, neraka telah dibuka. Malapetaka besar akan datang… Sang Mahadengki…” Sebelum sang musuh utama dipanggil kedua asistennya Shan dan Gath, Nurd, Samuel dan kawan-kawan harus gegas menutup portal, berhasilkah?

Referensi utama karya perunggu besar bertajuk La Porte de l’Enfer yang diterjemahkan menjadi ‘Gerbang Neraka’, karya Auguste Rodin, ia diminta membuat karya tahun 1880, dan berjanji menyelesaikannya tahun 1885, ternyata Rodin masih mengerjakannya saat wafat tahun 1917. Bangsa Romawi dan Yunani memercayai bahwa gerbang neraka dijaga oleh anjing berkepala tiga bernama Cerberus yang memastikan bahwa siapa pun yang sudah masuk, tak kan bisa keluar lagi. “Yah, ini neraka di bumi bukan? Gerbang Neraka telah dibuka, setan menyerbu keluar. Akhir dunia dan semua itu.”

Buku guyon remaja yang tak lucu untuk teori besar seperti ini sebenarnya juga sudah banyak dibuat, hanya masalah cara tutur dan pemilihan gaya bahasa, The Gates ada di tengah-tengah antara mau bekerja serius adanya serangan setan atau penuh humor slap-stick konyol. Satu hal yang menarik tentang lubang hitam: semakin keras kau berjuang untuk meloloskan diri dari kekuatannya, semakin cepat kau mendekati seluruh proses tentang proses kepadatan tak terhingga, tentang meremukkan dan sebagainya, disebabkna dimensi waktu dan ruang yang kacau balau.

Seperti pemanggilan sang Mahadengki yang merupakn villain utama, digambarkan seram dan besar. Dia menjulang di atas pasukannya, sehingga mereka bagaiman kumpulan serangga di hadapannya. Dia membuka mulut, dan meraung, dan mereka gemetar di hadapannya, karena keagungannya begitu mengerikan untuk disaksikan. Mengingatkanku pada tokoh Dormamu di Doctor Strange yang dipanggil melalui gerbang, tapi hanya sepintas keluar lalu frustasi balik lagi.

Ini buku pertama John Connolly yang kubaca, kurang sreg sih. Tapi saya sudah lacur beli Trilogi komplit, jadi mau tak mau harus diselesaikan perjalanan Samuel Johnson ini.

Penyelesaian kisah juga terlalu gampang. Mobil ayah Samuel yang antik menjadi sumbat? Oh my! “Secara ilmiah solusi ini memiliki banyak ketidakpastian, mungkin tidak akan berhasil sama sekali. Rencana ini terdengar sangat gila, berbahaya, dan benar-benar mustahil sehingga mungkin saja berhasil, sekarang yang kita butuhkan adalah mobil.”

Gerbang Neraka | by John Connolly | The Gates | Copyright 2009 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 617185026 | Alih bahasa Barokah Ruziati | Editor Ariyantri E. Tarman | Desain & ilustrasi cover eMTe | Pertama terbit, Desember 2011 | Cetakan kedua, Juli 2017 | ISBN 9789792278217 | 320 hlm; 20 cm | Skor: 3.5/5

Untuk Cameron dan Alistair

Karawang, 230520 – Bill Wither – Harlem

Historia Bintang Jatuh: Sebuah Fantasi Liar

Stardust by Neil Gaiman

Aku bersedia dibayar dengan warna rambutmu, atau semua ingatanmu sebelum kau berusia tiga tahun. Aku bersedia dibayar dengan pendengaran dari telinga kirimu – tidak semuanya, cukup supaya kau tak bisa menikmati musik atau menghargai desau arus sungai atau desir angin.”

Tentang petualangan anak setengah manusia setengah peri yang menakjubkan. Untuk memulai perjalanan kita perlu mengenal desa asal, Desa Tembok di padang rumput Inggris yang tenang. Tak sembarangan yang bisa melintas, setiap Sembilan tahun sekali di seberang tembok yang bercelah ada bazar festival yang digelar dan desa itu menjadi penginapan mendadak. Syahdan, seorang pemuda rupawan Dunstan Thorn berusia delapan belas tahun mengalami malam sensasional. Terasa gigil dan gemetar di pusat alam. “Ini kuucapkan: kau telah mencuri pengetahuan yang tak layak kauperoleh, tetapi pengetahuan ini tak akan menguntungkanmu…”

Dengan setting waktu masa Ratu Victoria yang bertakhta sebelum menjadi janda Windsor, Charles Dickens tengah menerbitkan novel Oliver Twist. Mr. Draper baru saja memotret bulan untuk pertama kalinya, membekukan wajah pucatnya pada kertas dingin; Mr. Morse baru-baru saja mengumumkan cara mengirim pesan melalui kawat logam. Dunstan memasuki bazar berkenalan gadis cantik terikat di karavan, dengan satu ciuman yang menderet asmara mistis. Ciuman gadis dengan bibir yang bercita rasa lumatan arbei hutan. Tak disangka satu malam berkelindan peluk itu mencipta keturunan. Sembilan bulan pasca bazar, di celah Desa Tembok ada keranjang bayi dengan secarik kertas berpeniti bertuliskan ‘Tristran Thorn.’

Ini kisah tentang Tristran Thorn. Jadi kejadian melompat delapan belas tahun kemudian. Ia jatuh hati sama gadis desa Victoria Forester, dan dalam canda gombal remaja, si Victoria bilang bawakan saya bintang jatuh. “Kau masih muda dan sedang kasmaran, setiap pemuda dalam situasimu adalah pemuda paling merana yang pernah hidup.” Tristran menanggapinya serius, maka ia pamit sama ibu, bapak, dan adiknya melakukan petualang ke hutan seberang. Dibawakan bunga tetes salju dari ayahnya, yang didapat dari ibu aslinya. Perjalanan inilah yang menjadi komoditi utama Stardust. Walau banyak hal terasa kebetulan tapi jelas tutur kata di negeri peri ini sungguh dahsyat. Seni bertahan hidup, termasuk dalam memasak, bagaimana di hutan tak ada garam, tapi dibumbui sedikit semangi, sedikit serpili gunung, ini pasti sama lezatnya.

Berkenalan dengan katai, manusia kecil yang baik hati, ia merasa lelaki ini sungguh polos dan jujur sekali dalam bercerita tujuan utamanya mencari bintang jatuh. Dan, terlalu lugu untuk merasa takjub, terlalu muda untuk merasa gentar, Tristran menyeberangi padang yang kita kenal… dan memasuki Negeri Peri. Terasa sulit tapi ga mustahil, maka ia membantu Tristran dengan memberi lilin cahaya yang bisa melakukan perjalanan antar dimensi. Aturan mainnya, lilin nyala itu akan mengantarnya menembus ruang dan waktu, lalu sekejap saat dimatikan ia sudah sampai tujuannya. Lilinnya dikit maka gunakan dengan bijak. Pesannya agar berhati-hati, ketika ditanya orang asing jangan berkata apa adanya, bilang saja; ia dari belakang dan akan maju ke depan. Maka dengan pamit ala kadar yang memusing, Tristran melesat. Bintang yang diajarkan Mrs Cherry adalah bola gas yang berkobar dan menyala, selebar ratusan mil, mirip matahari, hanya lebih jauh.

Betapa terkejutnya, bahwa bintang jatuh mirip berlian atau batu, jelas ia tak menyangka adalah seorang gadis. “Ini kulakukan demi cinta, dan kau benar-benar harapanku satu-satunya…” Bintang itu cedera, satu kakinya patah, maka ia ikat dan papah dalam perjalanan, dan dibawanya pulang. Dengan kuda bertanduk yang diselamatkan ketika akan diterkam singa, bertiga melakukan perjalanan balik. Nah, di sinilah keseruan benar-benar diramu. Perjalanan itu tak mudah, penuh onak duri dan orang-orang berniat jahat.

Halangan pertama dari Ratu Penyihir hitam, panggil dia dengan sebutan Morwanneg. Tiga saudari di dimensi lain, yang tertua keluar dari dunia cermin, mendapatkan kembali usia mudanya, ia ke negeri Peri untuk mendapatkan bintang jatuh. Karena jantung-bintang-hidup adalah obat manjur untuk melawan jerat usia dan waktu, adik-adiknya menanti pulang. Sang Ratu penyihir memiliki kekuatan besar, paling mungkin memenangkan pertarungan perebutan bintang, tapi nikmati saja perjalanan ini kejutan demi kejutan bersaji. “Kami hanya makan kegelapan, dan kami hanya minum cahaya. Jadi aku tidak lapar, aku kesepian dan takut dan dingin dan merana dan disandera tapi aku tidak lapar.”

Halangan kedua dari perebutan takhta Stormhold di gunung Houn. “Takdirku. Hak memerintah.” Jadi sang raja mangkat, mutiara manikamnya ia lempar ke langit yang mengakibat bintang jatuh, jadi ketujuh putera mahkota yang memilikinyalah yang akan resmi memerintah kerajaan. Empat saudaranya sudah tewas, saling tikam dan bunuh: Secundus, Quintus, Quartus, dan Sextus. Sisa tiga: Primus, Tertius, dan Septimus. Di sini alurnya unik sekali, bintang jatuh bukan karena tersandung tapi sejatinya tertabrak sebuah kuningan utas perak yang dilempar raja. Dalam perjalanan menuju takhta, di penginapan satu orang diracun saudaranya sendiri, sehingga menyisa dua. Karena panik, Primus kabur terlebih dulu. Menjaga diri tak akan makan dari produk asing. Septimus mengejar, sembari juang mencari jatuhnya bintang. Oiya, mereka yang tewas bisa melihat kehidupan. Jadi saudara-saudara ini membayang menyaksi perjuangan menuju takhta siapa yang tersisa. Ternyata ada orang-orang baik di negeri yang gelap ini, si bintang memutuskan dengan rasa hangat dan tenteram.

Pertempuran puncak sejatinya di penginapan. Kereta ratu penyihir yang tiba duluan, menikam pemilik lalu menjelma mengubah diri pemilik baru, dan kusir serta kudanya (yang disihir dari manusia menjadi hewan) menjadi pelayan. Menanti bintang dan kuda bertanduknya tiba. Karena Tristran dan Bintang slek, melarikan diri. Bintang dan kuda bertanduk tiba disambut, alat bedah sudah disiapkan namun tiba-tiba pintu diketuk, muncullah Tristran dan Primus yang bersatu di jalan. Kalimat: “Ini bisa menunggu.” Menjadi penyelamat. Dia tahu, di suatu tempat aneh dalam dirinya yang mengetahui arah dan jarak benda-benda yang belum pernah dilihatnya dan tempat-tempat yang belum dikunjunginya, dan si bintang sudah mendekat… ini bisa menunggu. Kebetulan atau entah apa namanya, Primus yang terbunuh dulu, Tristran dan bintang yang terdesak, sekelibat pikir cepat, menyala lilin intas dimensi, dan wuuuzzzz…. Mereka selamat. Lilin redup lalu mati di negeri awan. Mereka diselamatkan Kapal Merdeka Pardita. Menurunkannya di suatu bukit, lalu melanjut perjalan pulang.

Ratu Penyihir geram, lalu strategi diubah. Ia akan menanti di Parit Diggory, tempat terbuka celah lembah menuju Desa Tembok. Sementara Septimus yang kini menjadi satu-satunya yang masih hidup, sejengkal lagi jadi raja, syarat terakhir harus dipenuhi, membalas dendamkan saudaranya. Di Parit itulah titik akhir para penghalang berakhir. Adegan bakar serta seni menipu, well dia Ratu Penyihir yang punya kekuatan dahsyat ya, sehingga takhta itu lenyap kini.

Sementara Tristran dan bintang kini menjadi akrab. “Aku membencimu. Aku sudah membencimu utuk segalanya, tetapi sekarang ini aku paling membencimu.” Setelah ¾ kisah, barulah kita tahu siapa namanya. Saudari-saudariku memanggilku Yvaine, karena aku bintang senja. Ia membuka diri, menjadi turut serta pulang sekalipun ketika melintas dinding perbatas akan menjadi serbuk bintang, butir biasa di dunia manusia. Kau tahu gadis itu sebuah bintang dan seorang manusia fana. Di sini kebetulan kembali dicipta, Tristran bertemu penyihir yang di mula diperkenal sebagai Mistress Semele (nama kenalan), aslinya Ditchwater Sal. Penyihir ini mau menukar bunga tetes salju yang dibawa sang pengelana, syarat mengantarnya sampai Desa Tembok dengan selamat tanpa kurang apa pun. “Dan aku tak bisa menyesali petualanganku sedetikpun, meskipun ada kalanya merindukan tempat tidur yang empuk, dan aku tak akan pernah lagi melihat tikus dengan cara yang sama…”

Siapa sangka Tristran disulap jadi tikus, sang bintang disimpan juga. Dengan begitu mereka selamat lemintas Parit Diggory dan sampai di perbatasan dengan selamat. Selesai? Penutup yang njelimet karena fakta-fakta baru diungkap membuat bungah, Yvaine memiliki mahkota, burung yang dibawa sang penyihir ternyata memiliki kekuatan super juga setelah sihir tahanannya lenyap ehem Daisy Thorn, ketika Senin ketemu Senin di hari Jumat. Dan segalanya menyenangkan. Ending sempurna untuk kisah yang sungguh sempurna. Identitas Lady Una, penguasa Stormhold muncul ketika kerajaan mencapai titik hopeless. Bahagia itu apa? Tristran mewujudkannya, bukan harta, bukan takhta, bukan pula gelimang fantasi imaji: tapi bersama orang terkasih yang tepat, saling mencinta, saling mengisi. So sweet, too sweet untuk sebuah epic Neil Gaiman.

Dimula buku ada puisi karya John Donne, 1572-1631 berjudul Dendang.

Kisahnya sangat Gaiman, fantasi murni di Negeri Peri yang penuh keajaiban dan segala imaji yang tak terbatas. Saya menyukai fantasi khas Inggis seperti ini ketimbang kisah-kisah yang dicipta di daratan Amerika. Belum bisa menandingi The Ocean Lane at the End of the Lane yang fenomenal itu, tapi ini jelas lebih liar ketimbang kehidupan malaikat dan makhluk-makhluk ajaib di subway kereta api London. Bagaimana bisa mencerita petualangan dengan aturan lentur menyeret keadaan mendesak untuk gegas menyelamatkan situasi, yang paling kutakjubkan ada tiga. Cahaya lilin yang menghantar lintas dan waktu sebagai semacam portkey, kedua bintang jatuh itu adalah putri. Gadis yang memukau kecantikan dan tutur lembutnya. Dan terakhir, runutan kisah yang rapi dan menempa pikiran terliar sekalipun. Genre fantasi imaji banyak sekali yang indah-indah, dan Stardust jelas masuk salah satunya.

Permintaan sederhana, budi terkecil yang kuminta darimu, “Kadangkala, malam-malam aku dan saudari-saudariku bernyanyi bersama, bersenandung lagu tentang ibu kami, dan sifat masa, dan nikmatnya bersinar dan kesepian.” Tampak manis bukan?!

Serbuk Bintang | by Neil Gaiman | Diterjemahkan dari Stardust | Copyright 1999 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 617188003 | Alih bahasa Femmy Syahrani Ardiyanto dan Herman Ardiyanto | Desain dan ilustrasi cover Martin Dima | Cetakan kelima, Mei 2017 | ISBN 9789792226881 | 256 hlm; 20 cm | Skor: 5/5

Untuk Gene dan Rosemary Wolfe

Karawang, 220520 – Bill Withers – Hello Like Before

“Adakah Kau Juga Menjual Doa?”

Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering by Hasan Aspahani

Aku tanya, “Adakah kau juga menjual doa?”Penjual Bunga di Jalanan Kota Bangkok

Dibuka oleh ulasan maestro penyair Tanah Air Sapardi Djoko Damono, dan ditutup oleh Goenawan Moehammad yang lebih sederhana. Hebat, kalau empunya puisi sudah mau turun gunung memberi sambutan atau kata pengantar, berarti ada sesuatu yang istimewa sehingga perlu ditelaah lebih lanjut. Beliau berujar: “… Suatu hal yang wajar yang tidak bisa dihalang-halangi oleh penyair yang konon memiliki lisensi puitik maupun lembaga yang diberi tugas ‘menjaga’ bahasa. Dan karena bahasa tidak lain adalah wadah dari ‘dongeng’, bahkan juga ‘dongeng’ itu sendiri, maka ia terus bergerak tanpa arah yang bisa ditebak. Dalam khazanah sastra modern kita, restoran adalah tempat yang sering muncul, baik sebagai sekadar latar maupun sebagai penanda. Yang menyatukan bait-bait sajak itu bukan prinsip kausalitas, tetapi suasana. Benda dan konsep yang disebut dalam sajak itu saling mendukung terciptanya suatu suasana yang, kalau boleh meminjam larik Amir Hamzah, ‘bertukar tangkap dengan lepas’. Dalam sajak ini, kematian adalah suasana dan bukan makna…”SDD

Rangkaian puisi yang berselibat narasi rasanya lebih kusukai ketimbang syair-syair pendek penuh rima. Ada jalinan utas kisah yang nyambung dari tiap sisinya, maka Bagian III. Penjahit Telanjang dan Sosok-Sosok Lainnya terasa biasa, yang lainnya dengan total empat bagian besar, tak jadi soal. Atau bisa kubilang Ok lah.

Kumpulan puisi yang lebih banyak bertutur dari sudut pandang orang pertama lebih nyaman dan asyik disenandungkan, karena melibat pembaca langsung, kata-kata boleh runut atau ditebar dalam petak lurus kanan per bait. Maka wajar, saya menyukai buku ini. Sempat berujar ‘huuufhhh… so typical…’ pas bagian tiga, tapi langsung membuncah lagi, bagian keempat mungkin yang terbaik selain awal-awal yang bersinggungan dengan kematian, terasa janggal dan absurd. Metafora yang membalikkan posisi kata dalam larik itu merupakan sumber keterampilan berbahasa sekaligus ambiguitas.

Karena saya ga romantis, dan ga terlalu bisa menikmati atau mencipta puisi, sajak-sajak pujian sakral bagiku, saya kutip sahaja sebagian yang menurutku bagus atau setidaknya menarik hati. Monggo dieja dengan kenyamanan tersendiri:

Sajak Ini Kuberi Judul: Buku: Diam-diam aku sedang mempersiapkan /

sebuah kematian yang paling sempurna: / dikuburkan di dalam buku. Engkau tahu? /Buku akan hidup abadi. Tak mati-mati! – (h. 40)

GMT, The Home of Time: Akhirnya aku memilih sebuah jam yang / bisa menangis setiap pergantian hari tiba. (h. 44)

Skenario Untuk Klip Video Lagu Rock: “Beri aku lirik yang lebih keras!” / “Tuan, beri aku hingar yang lebih meraung!” / “Beri aku gelap yang tak tembus suara…” (h. 49)

Tawa Untuk Karikatur Lainnya: “Hasil jepretanmu itu kartun atau gambar biasa?” tanyaku / Kau tertawa. Aku juga tertawa. Tawa untuk karikatur lainnya: / Negeri tak kelar berkelakar, yang tak akan habis kita gambar. (h. 67)

Sungai Yang Mengalir di Negeri Kami: /1/ Inilah sungai yang mengalir di negeri kami. Arusnya berlapis tiga: di permukaan ada pedih kenyataan, di tengahnya harapan yang kadang-kadang beku, lebih kerap buntu, dan di dasarnya darah yang masih deras dari hulu: luka lama itu. /2/ Inilah sungai yang mengalir ke petak-petak sawah tua, mengentalkan lumpur, yang berabad-abad lekat di kaki kami. (h.71)

Rapsodi Pembunuh Lembu: Ya, aku harus pergi, Pak, bukan karena takut itu, tapi hanya dengan jalan ini aku bisa membunuh kepengecutanku. (h. 77)

Melangkah Aku Seperti Langkah Seorang Lelaki: Kalau nanti kusaksikan letak paksi ke arah paksina / aku harus pulang ke sana, melipat peta, lalu / melangkah seperti langkah kaki seorang lelaki – / seperti lagu yang aku dengar dari Springteen – dan / menuliskan puisi yang aku takut pada bait-baitnya. (h. 79)

Mimpi, Sajak Apakah Ini: Kalau aku menangis, ikan di dalam mataku pasti / ada yang terperangkap ke luar. Di kulkas ada / garam. Dengan sedikit luka di pangkal sisiknya, / kukira cukup nikmat rasa pedih itu untuk kusantap, / sekadar penahan laparku. Lagi pula perutku / sendiri, mungkin aku bisa lain melihat diriku. (h. 82)

Kamus Yang Sangat Tidak Lengkap: II. ada sebuag panggung, dan kau berada di panggung / itu melakonkan dirimu sendiri, kau juga duduk di kursi / penonton, menyaksikan dirimu sendiri. Ketika terbangun / kau tak tahu pasti, “Aku ini adalah aku yang tadi berlakon, ataukah aku yang duduk sebagai penonton.” (h. 87)

Relikui: Apa yang tak mengenangkan aku padamu? Segala seperti relikui / Layangan putus, menyerahkan ujung benang, menyentakkan relikui (h. 92)

Pemetik, 2: Kalau sudah teramat rimbun waktu / aku duga itu dari serbuk air matamu / menempias sejuk ke hutan usiranku (h. 103)

Pendayung, 1: Lautku mendayungkan perahumu, berlabuhlah / Anginku menunjukkan ke pelabuhanmu, berlayarlah / Malamku memperada kerlip bintangmu, berianglah! (h. 107)

Pelupa: Tidur lama, dan lupa, membebaskan kita dari maut dan tua. / Tapi, kita terkurung sawang, menebal di pintu guha. Tak / terbaca tanda waktu, di tulang anjing dan kerangka kuda (h. 130)

Ia Menulis di Linimasa: Pada usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian, / Ia menulis di linimasanya, hidup yang baik telahg / memberi satu hal: aku telah mampu untuk lupa… // Pada usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian, / ia menulis di linimasanya, hidup yang baik tetap / memberi satu hal: aku masih mampu untuk ingat. (h. 134)

Lelaki Ke-15 dan Seorang Perempuan yang Tak Sempat Ia Ajak Menulis Sajak Bersama: 6. Saya di rak buku itu? nama kita, nama yang melupakan kita. / Tiap napas: sepasang hirup dan hembus, adalah kalimat tidak / sederhana, dengan gumpal tanda tanya di ujungnya, Kita tak bisa / berhenti bertanya, kita terus mempertanyakan pertanyaan kita.

7. Kita yang lama mengawani sunyi, tak pernah baik mengenal / sunyi. Berpapasan denganya, kita ragu dan kecut, tapi talk / bisa menghindar, “Kesunyian dan kesendirian adalah cabang / filsafat yang tak pernah selesai dirumuskan.” Kata profesor yang / tertinggal ajarannya, padahal sudah beberapa jam lalu dia pulang / entah ke rumah yang mana. (h. 151)

Beberapa Sajak yang Aku Pikir Seharusnya Aku yang Menulisnya: Aku pernah mencoba melacak apa sebenarnya / rahasia, dibalik bait-baitnya. Diam-diam aku pun / menjadi diam. Menyelinap masuk ke bait-bait / sajak pendek itu, dan oh, baru aku tahu kemudian, / ternyata rumit sekali kata di balik kalimat yang / ketika sekilas kubaca, tampak sangat sederhana. (h. 159)

Tak banyak buku kumpulan puisi yang kubaca, selain memang agak sulit tune in dengan aliran kata dan diksi dan segala yang spontan, saya tak bisa runut nikmat dari awal hingga kalimat terakhir. Saya langganan Koran Kompas Minggu doeloe, bagian puisi nyaris skip semua. Tak seperti novel yang ada klik dalam sebuku, atau kumpulan cerpen yang walau mungkin terpenggal-penggal tiap ganti cerita namun masih ada aliran benangnya. Buku Kumpulan puisi masihlah oase gurun dan menjadi sekadar selingan baca, dulu sempat merencana sebulan sekali baca kumpulan puisi, tapi pas ada tragedi awal tahun, mencipta kesedihan akut yang merusak tatanan, yang akhirnya kembali ke habitat. Pena Sudah Diangkat, setidaknya memberi banyak narasi, jalinannya masih nyaman, seperti kumpulan puisi terakhir yang kunikmati: Kitab Para Pencibir yang juga nyaman karena naratif, sama-sama terbuka segala tafsirnya.

Mungkin karena memainkan waktu, usia, dan beberapa kejanggalan linier masa, menurutku yang terbaik di kumpulan puisi ini ada di judul: Aku Belum Tua:

Segala rupa puitik selama alirannya mendegub jantung dan berhasil menelisik telinga, sah-sah saja untuk dilahap. Nyaring atau lirih? Ah itu sekadar pilihan lahap. Demi waktu baca dan segelas kopi, mari gegas bersajak! Penasaran kumpulan puisi apa lagi berikutnya yang tersedia untuk kudedah?

Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering | by Hasan Aspahani | GM 616202048 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, September 2016 | Penyelia naskah Mirna Yulistiani | Proof read Sasa | Desain cover Kuro-neko | Setter Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-3402-8 | Skor: 4/5

Judul buku ini diambil dari kalimat terakhir hadist ke-19 dari kumpulan 40 hadist yang dikumpulkam oleh Imam An-Nawawi, yang sangat termahsyur sebagai Hadist Arba’in.

Karawang, 150520-210520 – Bill Withers – Railroad Man / Katy Perry – Last Friday Night

Reportase-Reportase Terbaik Ernest Hemingway

Aku tidak tahu Paris itu seperti ini. Aku kira meriah, banyak cahaya, dan indah.”

Berisi 31 tulisan yang bertema variatif, berpusat di Paris tempat ia bertugas menjadi wartawan. Tulisannya rata-rata bersinggung kehidupan sosial dan poilitik, kritik budaya, agama, sampai laporan perkembangan kehidupan jelata bertahan hidup. Memikat di satu sisi, menyenangkan bak gelombang oase yang menyejukan, memuakkan atas perilaku politik di sisi lain. Beragam budaya yang ditangkap dalam tulisan klasik tahun 1920an pasca Perang Dunia Pertama. Seru, mendebar, hingar bingar.

Lebih merakyat dari yang kita kira, karena Ernest menyatu dengan kehidupan setempat. Jika Anda mendapatkan cukup orang Prancis di kafe-kafe di berbagai pernjuru Prancis, Anda akan mendapat opini nasional sejati, bukan bayang-bayang opini nasional yang direfleksikan dalam pemilu atau koran-koran. Bagaimana ia bisa mendapat harga murah penginapan, makan yang murah di berbagai sudut kota. Masakannya di atas semua harga. Bagaikan permata dari buritan pertama dalam masakannya. Pakaian hanya masalah kecil.

Karena suasana pasca perang dan teknologi terbatas, pengiriman warta juga mengalami ketersendatan, penyensoran. Saat wartawan Inggris dan Amerika siap menggunakan Corona, selalu ada antrean mengerikan di belakang mereka. Sistem sensor kepausan telah ditetapkan dan semua surat kawat berisi nama-nama kardinal tertentu akan secara otomatis ditahan di kantor pengiriman. Pada akhirnya, penyensoran ini melindungi koresponden yang telah belajar dari ‘sumber-sumber yang dapat diandalakan’ dari pemilihan ini tentang kardinal tertentu yang tidak bisa menjadi paus baru, dan mengirim surta kawat mengumukan keterpilihannya. Klasik sekali, sensor menjadi begitu benar-benar memainkan perannya.

Nasib sebuah negara tergantung pada isi perut perdana menterinyaVoltaire. Nah, Ernest di Prancis di era Perdana Menteri Poincare, kenalah ia kritik, sasaran warta. Salah satunya tentang pose foto di pemakaman yang tampak tersenyum, itu bisa melukai banyak orang, atau bisa juga tak sengaja? “Apa jadinya jika Poincare benar-benar tertawa di pemakaman?” Semua orang bisa saja tertawa secara tak sengaja, lagi pula soal apa semua kegemparan ini berlangsung. Bisa dikatakan, tidak ada satu pun orang bernyawa di Prancis yang mendapat respek lebih besar daripada yang didapatkan orang-orang yang tak bernyawa. Marsekal Foch, Anatole France, Henri Barbuse, M. Poincare, atau Paus, tidak akan pernah – salah satu pun dari mereka – menerima penghormatan penuh seutuhnya dari semua orang yang akan mereka temui jika berkendara dua blok saja dari Champ-Elysees. Adalah spirit penghormatan besar terhadap orang-orang mati, dipadu dengan pentingnya Verdun sebagai kota martir, yang menimbulkan pertanyaan besar tentang apakah M. Poincare tertawa atau tidak sehingga menjadi keterkenalan nasional. Ia tiba-tiba diisyaratkan untuk melakukan semua hal yang ia sarankan sebagai pengamat.

Situasinya menghadirkan kesulitan.

Reportase tentang penjualan topi lucu melibat burung gereja. Para pembuat topi di Paris akhirnya menemukan kegunaan dari English Sparrow (burung gereja). Tapi bulu monyetnya yang sulit karena harus diimpor dari Afrika atau Amerika Selatan dan sekarang menjadi langka. Begitu pula laporan tentang penjual karpet yang bajakan, dari kulit harimau tapi palsu, kulit kambing! Harganya gila, dari 400 franc di mula, bisa deal di angka 40 franc! Ditulis dengan lucu karena para penjual imigran begitu gigih dan luar biasa menggugah, roda ekonomi jelata yang terus berputar.

Buku yang menciptakan badai adalah novel Batouala karya Rene Maran, warga kulit hitam pemenang Goncount Academy Prize sebesar 5,000 Franc untuk penulis muda tahun ini. Tentang imperalisme Prancis atas koloni-koloninya sebuah karya seni, kecuali prakatanya penuh propaganda. Yang kontroversi adalah betapa komunitas damai 10.000 orang kulit hitam di Afrika bisa berkurang menjadi 1.000 di bawah pemerintahan Prancis. Dibuka dengan kepala desa bernama Batouala terbangun pagi hari di gubugnya yang dingin dan ditempa tungu penghangat, lalu ditutup dengan usia senja dengan sendi-sendi yang kaku dicapik leopard yang lolos dari tombaknya, terbaring diam di lantai tanah gubugnya, warga desa sudah melupakannya karena ada kepala desa baru. Demam, sekarat dengan anjing kurap menjilati luka-lukanya.

Aperitif atau minuman pembuka adalah minuman yang tinggi, terang, berwarna merah atau kuning yang dikucurkan dari dua atau tiga botol oleh pelayan yang bergerak cepat dalam satu jam sebelum makan siang dan makan malam. Pemerintah mengeluarkan beberapa juta franc untuk pesta-pesta jalanan semacam itu. itu dipandang sebagai pembelanjaan yang bijak dalam hal untuk mengenang dan membangkitkan patriotisme. Bendera-bendera Prancis ada di mana-mana, kembang api meletus menghiasi angkasa di berbagai tempat sepanjang saat, ada pameran militer besar di Longchamps pada jam delapan pagi, inilah pesta jalanan.

Koran-koran Prancis menjual kolom-kolom berita mereka sebagaimana mereka lakukan pada ruang iklan. Maka Pemerintah membayar koran-koran dalam jumlah tertentu untuk mencetak berita-berita tentang pemerintah. Itu dipandang sebagai iklan pemerintah. Maka, Pemerintah adalah klien terbesar bagi koran-koran. Semua pemerintah di Eropa memiliki dana khusus untuk publisitas koran-koran yang tidak harus diperhitungkan. Tak peduli betapa idealistiknya politisi Eropa, suatu idealis kepercayaan adalah sama amannya dalam sistem sebagaimana orang buta tersandung-sandung dalam pabrik penggergajian.

Kehidupan malam di Eropa tidak sekadar deretan kafe-kafe. Itu adalah suatu bentuk penyakit aneh, selalu ada, dan terus dikipasi agar membara sejak era perang. Bara itu membakar seluruh generasi. Paris beradab dan menghibur. Berlin paling mesum, gawat, dan kejam. Madrid paling membosankan. Konstantinopel sangat memikat, dulunya. Di bar Cocteau lah kehidupan malam berada di citarasa tertinggi – takni hidup di malam hari – dibawa hingga ke titik didih. Sampanye sementara itu, adalah nama yang disakralkan di Prancis. Satu-satunya wine yang diperbolehkan hukum untuk disebut ‘anggur sampanye’ datang dari distrik yang sudah ditetapkan di sekitar Rheims di propinsi Champagne.

Kehidupan malam adalah hal yang menyenangkan. Tampaknya tidak ada alasan atau aturan yang mengontrolnya. Anda tidak bisa menemukannya saat Anda menginginkannya. Dan Anda tidak bisa menghindar darinya saat Anda tidak menginginkannya. Ini adalah produk Eropa.

Ada satu kalimat langsung yang mengingatkanku pada salah satu esai Seno Gumira Ajidarma di kumpulan tulisannya dalam ‘Tiada Ojek di Paris’ kalimat itu berbunyi “Jadi ini yang namanya Paris.” Yang sama beliau menjadi “Jadi ini yang namanya Jakarta.” Bagaimana seorang pendatang melihat Kuningan, disanggah sama beliau dan diseret ke kolong jembatan dan pemukiman kumuh. Berujar, inilah Jakarta yang sesungguhnya!

Studi tentang memperdayai orang asing kaya dalam mencari-cari kesenangan telah diturunkan menjadi karya seni bagus. Paris telah menjadi kiblat bagi para pemalsu, penipu, dan pembohong dalam setiap garis usaha keras mulai dari musik hingga tinju. Inilah ironi, artis yang terkenal yang tak dikenal di negeri sendiri. Artis dari Rusia, Amerika, Inggris menjadi sangat terkenal dan dihormati di Prancis, padahal di negaranya sendiri adalah artis antah, atau minimal kelas b. Ya seperti itulah, keterbatasan informasi beredar, menjadi jumawa di negeri asing, menjadi kerdil di negeri sendiri.

Rakyat Prancis selalu mendukung Pemerintah dalam upaya apa pun yang dilakukan terhadap musuh asing begitu pemerintah telah memulai. Itu adalah patriotisme menakjubkan dari Prancis. Semua orang Prancis adalah patriotik – dan hampir semua orang Prancis adalah politisi. Prang Prancis merasa mereka harus mutlak setia pada pemerintah namun mereka bisa saja mendepak pemerintah dan menempatkan pemerintah baru yang loyal setiap waktu tentunya. Akan sulit untuk menemukan detail arsitektur yang lebih populer pada wisatawan Eropa daripada gargoyle-gargoyle dari Notre Dame di Paris.

Catatan tentang seorang algojo hukuman mati, menjadi absurd karena tetangga tak tahu profesinya. Aneh bin nyeleneh. “Deibler sudah kembali. Ia sudah melakukan perjalanan jauh untuk pemerintah. Tapi, saya heran, apa sih yang dilakukan Deibler?” Inilah Kota penuh pahlawan, bagaimana lencana dan tropi dicipta sedemikian mudah demi gengsi dan rasa patriotisme, sayangnya ga bertahan lama karena jadi semacam kencana biasa bila terlampau sering dicetak.

Masa lalu sudah semati catatan pemutar rekaman musik Victoria yang rusak. Mengejar kemarin adalah pertunjukan untuk gelandangan, dan jika Anda harus membuktikan kembalilah ke front lama Anda.

Tidak mungkin menulis secara tidak berpihak tentang suatu negara jika Anda sedang mencintainya. Ernest sekalipun melempar banyak kritik, sebagai seorang ekspatriat di Paris begitu mencinta hiruk pikuk dan segala kekumuhan dan keindahan sudut-sudut ibu kota Prancis.

Reportase terbaik ini dicetak mini oleh penerbit indi, sekalipun kualitas cetak dan terjemahan ga semegah penerbit major, jelas kualitas seorang Ernest Hemingway dengan kalimat langsung dan menohok tanpa banyak basa-basi tetaplah berkualitas.
Anda tidak akan tahu apa Natal hingga Anda kehilangan dia di tahan yang asing.

Reportase-Reportase Terbaik: Biarlah Air Mengalir di Bawah Jembatan, dan Alkohol di Tenggorokanmu | by Ernest Hemingway | copyright 1922 | Penerjemah Tom Bapallaz | Editor Arturo | Penyelaras bahasa Dianve | Pemeriksa aksara Agus AHA | Desain sampul Bambang Hidayatullah | Tata letak teks Bambang Hidayatullah | Penerbit Ecosystem Publishing | ISBN 978-602-1527-47-4 | Cetakan I, 2017 | Skor: 4/5

Karawang, 200520 – Bill Withers – Let Me in Your Life

Thx to Angga Adi di Surabaya

Corona Ujian Tuhan by M. Quraish Shihab

Allah tidak menurunkan satu penyakit, kecuali menurunkan juga penyebab kesembuhannya, maka bertobatlah.”HR. Bukhari

Buku yang sangat singkat, padat, dan dinikmati kilat di meja kerja. Sejatinya saya sangat jarang membaca buku-buku reliji baik fiksi ataupun non fiksi, baik berdasar Al Quran dan Hadis maupun agama yang lain. Buku bentuk pdf ini muncul di grup WA – Bank Buku dan karena tipis dan bisa dibaca sambil lalu di waktu kerja, serta temanya yang umum dan aktual, jadinya cepat dilahap. Lumayan bergizi, ketimbang baca berita daring mending baca buku yang lebih kredibel dan nyaman.

Sebuah ungkapan ‘Manusia mengenal kebaikan sejak manusia mengenal keburukan. Bagaimana mengenal indah kedamaian kalau dia tidak mengenal kekacauan? Manusia mengenal kebajikan sejak adanya keburukan. Dan mengenal keluhuran dan kesetiaan sejak adanya iblis.’

Setiap muslim wajib percaya ‘Qada’ yakni ilmu Allah menyangkut segala sesuatu sebelum terjadinya dan ‘Qadar’ yakni terjadinya sesuatu dalam kenyataan sesuai dengan ilmu-Nya itu dan sesuai kehendak dan ukuran yang ditetapkan Allah baik kecil atau besar. Manusia kendati ditetapkan juga takdirnya, tetapi ia diberi pilihan dan memiliki kebebasan dalam ‘ruang takdir’ yang ditetapkan Allah itu. Manusia bisa menghindar takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Sayyidina Umar r.a. pernah berkata, “Kita menghindari takdir Allah, menuju takdir Allah yang lain.”

Seorang ahli bedah Prancis A. Carrel (1873-1941 M) peraih nobel kedokteran menulis dalam bukunya Pray (doa) tentang pengalamannya mengobati pasien. “Banyak di antara mereka mendapat kesembuhan melalui doa. Doa adalah suatu kejala keagamaan yang paling agung bagi manusia karena pada saat itu jiwa manusia terbang menuju Tuhannya.” Pentingnya power of belief (kekuatan kepercayaan).

Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Al Baqarah [2]: 2016). Jadi demikian jangan menggerutu atau protes pada Tuhan akibat bencana ini, mari cari hikmah di baliknya dan tetap bersyukur padaNya, karena Allah tak pernah berbuat zalim pada hamba-hamba-Nya sambil memahami dan memerhatikan tuntunan agama yang disampaikan oleh para ahli serta pengalaman mengalami situasinya.

Senang ada tanggapan bahwa corona itu tentara Allah, langsung disanggah salah. Bahwa Allah berfirman: “Tidak ada yang mengetahui tentara-tentara Tuhan-Mu kecuali Dia.” (QS. Al Muddaststir [74]: 31). Haha… masih ingat kan awal mula kemunduran corona, berita itu digaungkan seorang penceramah. Tak ada yang mengetahui jenis, hakikat, jumlah dan kekuatannya kecuali Allah.

Tahun 1720 terjadi wabah Tha’un yang membuat 100.000 orang meninggal di Marseille. Tahun 1820 terjadi di Indonesia, Thailand, dan Filipina yang mewafatkan puluhan ribu. 1920 ada flu Spanyol yang konon memakan korban jutaan orang. Jadi sekarang corona, sejauh ini sudah terdata 320.173 orang meninggal (Karawang, 19/05/20 jam 10:00 dari situs worldmeters.info/coronavirus/) dan akan terus bertambah. Di sisi lain, Allah Mahabaik, tentara Allah melakukan hal-hal yang baik, bukan buruk. Penyakit adalah buruk, jadi jelas ini bukan tentara Tuhan. “Siapa yang hendak beriman silakan, siapa yang hendak kufur silakan juga.”

Sungguh dalam menafsirkan sunnah, banyak ditemukan dan semestinya dihindari adalah menampilkan hadis-hadis yang yang belum tentu kesahihannya lalu memberi penafsiran yang menakutkan. Rasul SAW berpesan, “Menyampaikan yang menggembirakan bukan yang menakutkan, yang mempermudah bukan yang memberatkan, yang mendekatkan Allah bukan yang menjauhkan.”

Memang pembaruan pemikiran agama – menyangkut rinciannya – harus terus dilakukan karena agama Islam menyatakan bahwa ajarannya selalu selaras dengan setiap waktu dan tempat. Teks-teks agama (AL Quran dan hadis) terbatas jumlahnya dan tak berkembang lagi, sedang kasus-kasus yang terjadi dan dihadapi manusia demikian banyak dan terus bertambah. Diperlukan apa yang namanya ijtihad yakni upaya pemikiran sungguh-sungguh untuk menemukan tuntunan dengan memerhatikan teks keagamaan dan kaidah-kaidah umum yang telah dirumuskan para ahli. Bukan sekadar tanya Google yang terlalu liar. Terutama betapa bahaya informasi yang disampaikan oleh orang yang disebut ustaz atau mubalig yang sekadar mengandalkan internet atau satu dua kitab lama. Contoh paling aktual, penangguhan sholat Jumat.

Ketetapan ini jelas sudah dikaji dan telaah mendalam, serta dikeluarkan langsung oleh Mejelis Ulama Indonesia (MUI). Kaidah ini berdasar yang dinamai maqashid asy-syariah yang mengandung penjelasan tentang maksud dan kehadiran agama. Ada lima ketentuan pokok agama yang hadir untuk memelihara: agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Semua yang mendukung tujuan tersebut diperintahkan dan didukung oleh agama dalam berbagai tingkat dukungan dan semua yang mengakibatkan terabaikannya salah satu dari tujuan tersebut terlarang oleh agama dalam berbagai tingkat larangan. Karena para ahli sudah merumuskan larangan berkumpulnya jumlah besar di satu tempat, sehingga timbul potensi tertular Covid-19 yang mengakibat kematian, maka semua perhimpunan yang mengarah kepada dugaan kematian harus dilarang agama. Di zaman Nabi SAW pernah ada hujan lebat yang mengakibat jalan becek menuju masjid maka muazin diperintahkan mengganti redaksi ajakan ke masjid dari ‘hayya ‘ala ash-shalat’ diganti dengan ‘shallu fi buyutikum’ (shalatlah di rumah masing-masing). Jadi bagaimana hukumnya meninggalkan salat Jumat tiga kali berturut? Jawabannya ancaman ditutup hatinya adalah yang meninggalkan tanpa uzur, sedangkan yang beruzur diperbolehkan selama uzur masih melekat pada dirinya. Wallahu a’lam.

Virus Covid-19 yang melanda dunia harusnya lebih memperkokoh hubungan kemanusiaan kita, karena kita semua adalah manusia yang dari satu turunan Adam dan Hawa. Saling membantu dan mengasihi. Udah pada bayar zakat belum? Tinggal empat hari nih, monggo gegas. Zakat merupakan kewajiban karena apa yang dihasilkan seseorang bukan merupakan usaha sendiri, ada pihak lain yang mendukung. Manusia hanya mengelolanya, bantuan yang diberi bukan terbatas materi, tapi juga mencakup tenaga dan pikiran serta dukungan moral, bisa dalam bentuk mengabarkan semangat optimism serta informasi yang menguatkan ketegaran menghadapi bencana. Betapa pun sulitnya keadaan, kita harus yakin ada hikmah sekaligus jalan keluar. Firman Allah: “Sesungguhnya bersma kesulitan terdapat dua kemudahan.” (QS. Asy-Syarh [94]: 5-6)

Jangan menakut-nakuti umat. Contoh bentar lagi kiamat, akibat virus ini ibadah Umrah dan (terancam) Haji ditutup, well ini bukan yang pertama. Dalam catatan resmi Kerajaan Arab Saudi, pernah 40 kali ibadah haji dibatalkan karena satu dan sebab lain. Serangan kelompok Qaramithah ke Mekkah yang membunuh siapa pun yang melakukan tawaf, serta mencuri Hajar Aswad. Yaitu tahun 317 H dan terhenti beberapa tahun kemudian. Lalu tahun 357 H ada wabah yang menyerang Mekkah, tahun 419 H karena biaya yang tinggi, lalu perang yang terjadi antara tahun 654-658 H. Tahun 1213 H, ada ekspedisi militer Prancis. Bukti bahwa kewajiban itu bersyarat dengan kemampuan melaksanakannya. QS. Ali Imran [3]: 97.

Pandemik corona mengubah banyak hal dalam budaya seperti pakai masker, sering cuci tangan, tak bersentuhan dengan orang lain, jaga jarak, salat tarawih, iktikaf, silaturahmi mudik, dst. Harus diakui bulan Puasa tahun ini sangat berbeda, tak pernah kusangka kita akan mengalami era wabah yang dulu hanya bisa kita baca di buku sejarah. Tahun 2020 akan dibaca anak-cucu-cicit kita, jangan konyol. Bagi kalian yang masih bisa membaca ulasan blog ini, selamat kalian masih selamat dari maut corona. Tetap pertahankan, tetap jaga kesehatan dan keselamatan. Ikuti anjuran positif, kurang dari seminggu Lebaran. #DiRumahAja #JanganMudik dan tetap #Ngopi

Kehidupan manusia suka atau tidak, mengandung penderitaan, kesedihan, dan kegagalan di samping kegembiraan, prestasi, dan keberhasilan. Ujian adalah keniscayaan hidup. Tetap bersyukur dan tentu saja tetaplah waras, bersama keluarga.

Corona Ujian Tuhan: Sikap Muslim Menghadapinya | by M. Quraish Shihab | Terbit Pertama, April 2020 | Penerbit Lentera Hati | Penyunting Mutimmatun Nadhifah | Pewajah isi @nurhasanahridwan12 | Perancang sampul @nurhasanahridwan12 | 136 hlm.; 10 x 14.5 cm | ISBN 978-623-7713-26-5 (pdf) | Skor: 3/5

Karawang, 190520 – Bill Withers – Friend of Mine (live)

Teman terbaik sepanjang waktu adalah buku

File bisa diunduh di sini https://play.google.com/store/books/details?id=siXfDwAAQBAJ

Reuni Hitam di Pemakaman Sang Pelatih

Bleachers by John Grisham

Bagaimana kau bisa tidak merindukan Rake begitu kau bermain untuknya? Aku melihat wajahnya setiap hari, aku mendengar suaranya. Aku bisa mencium bau keringatnya. Aku bisa merasakan dia menghantamku, tanpa bantalan. Aku bisa menirukan geramannya, gerutuannya, omelannya. Aku ingat cerita-ceritanya, ceramah-ceramahnya, pelajaran-pelajarannya. Aku ingat keempat puluh permainan dan ketiga puluh delapan permainan yang kujalani sewaktu masih mengenakan seragam. Ayahku meninggal empat tahun yang lalu dan aku sangat menyayanginya, tapi, dan ini sulit dikatakan, Eddie Rake lebih berpengaruh bagiku daripada ayahku sendiri.” – Nat

Tidak ada yang menyayangi Rake seperti Silo. Apa yang terlitas pertama kali saat selesai menikmati Bleachers? Sir Alex Ferguson. Seorang pelatih kenamaan yang bertahan lama di Manchester United dalam liga paling keras sedunia English Premier League, metode pelatihnya yang keras sehingga menimbulkan banyak konfliks dalam tim. Hubungan dengan Roy Keane yang buruk, bisa sangat mirip dengan bintang lapangan Neely. Yah, karena saya tak mengenal football Amerika, dan sangat akrab dengan football maka pembandingnya sepak bola saja.

Kisahnya mengambil sudut pandang Neely, mantan kapten football Amerika yang sudah lima belas tahun tak kembali ke Messina. Hari Selasa ia menelusuri lapangan yang membesarkan namanya. Kabar sang pelatih terhebat Eddie Rake sekarat telah mengetuk hatinya, dan sebagian mantan anak asuh untuk pulang. “Lima belas tahun, Pal…” Jadilah ini seperti reuni hitam, dibuka dengan hari Selasa, ditutup pada hari Jumat, hari pemakaman. Selain setting waktu yang minim hanya empat hari, setting tempat juga minim: bangku penonton, kafe, pemakaman, mobil, dst. Novel ini mengandalkan kekuatan dialog dan narasi sehingga hujaman kata harus benar-benar memikat untuk terus bertahan sepanjang 200 halaman. Kubaca kilat dalam dua hari Minggu malam setelah tarawih, kutuntaskan Senin sore sepulang kerja (100520). Tipis, dengan pacu kata kencang.

Neely Crenshaw bertemu dahulu dengan Paul Curry di bangku penonton Rake Field mengenang kenang. Mereka duduk terpisah sejauh tiga kaki, keduanya menatap ke kejauhan, bercakap-cakap tapi sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu pembaca diantar memutar memori itu. Di kelas Sembilan Rake sendiri mengawasi latihan kita dan kita hafal keempat puluh play yang ada di bukunya. Bahkan dalam tidur. Hari-hari jaya kita hilang dalam sekejap mata. “Ayolah, hentikan. Nikmati saja kenangannya.”

Mereka juga membuka kelabu masa lalu tentang pilihan kuliah pasca kelulusan. “Aku tidak pernah memberitahu siapa pun hingga sekarang. Benar-benar bisnis kotor… setiap sekolah menawarkan uang tunai, Paul, jangan naïf. Itu bagian dari permainan.” Bagaimana pilihan Neely ke kampus Tech melukai beberapa pihak. Ternyata dibalik itu, ada uang tunai yang terselip. “Kenapa menabung kalau kau berada dalam daftar gaji?” Anak muda yang lulus tahun 1987 dengan uang melimpah. Sapaan saling dilontarkan, penghinaan dibalas. Begitu banyak yang tertinggal di antara mereka berdua hingga tidak satu pun ingin memulainya.

Lalu muncul alumni lain yang lebih muda, bintang terakhir arahan Rake. Randy Jaeger, “Kapan kau selesai? Tanya Neely. / “Sembilan puluh tiga.” / “Dan mereka memecatnya tahun__?” / “Sembilan puluh dua, tahun seniorku. Aku salah satu kapten.” Beda angkatan ini lalu mengupas apa saja waktu-waktu kenang sang pelatih. Bahas apa saja. Musim pertandingan tanpa kebobolan gawang satu kali membutuhkan waktu semenit untuk dicerna, tahun-tahun yang lebih mula diapungkan. Dan di akhir karier kepelatihan koran-koran mencetak berita besar di headline. “… Selama tiga puluh empat tahun ia melatih tujuh ratus empat belas pemain. Itu judul artikelnya – Eddie Rake dan Ketujuh Ratus Spartan.”

Muncul pula angkatan yang lebih tua, seorang polisi Mal, seangkatan lainnya bankir Curry dan sebagainya. Neely mengetahui legendanya, bukan orangnya. Bangku lapangan itu di malam Rake sekarat karena kanker menjadi malam nostalgia. Bagaimana Rake, selalu merupakan pakar motivator, menggunakan penundaan itu untuk memicu semangat pasukannya. Rake memiliki masalah dengan bintang. Kita semua mengetahuinya. Kalau kau memenangkan terlalu banyak piala, membuat rekor terlalu banyak, Rake iri. Sesederhana itu. Ia melatih kita seperti anjing dan ingin setiap orang dari kita menjadi pemain hebat. “Rasanya seperti baru kemarin, tapi kalau dipikir lagi rasanya seperti mimpi.”

Messina memiliki para pahlawannya, dan mereka diharapkan menikmati nostalgianya. “Hak untuk membual, apalagi yang bisa mereka bualkan?” Setiap Jumat malam menjadi altar pemujaan sekaligus hujatan di lapangan football yang keras. Di kota seukuran Messina, bakat datang berdasarkan siklus. Saat-saat puncak dengan Neely, Silo, Paul, Alonzo Taylor, dan empat penebang kayu yang brutal. Skornya sangat bagus. “Aku tak ingin membicarakan football, oke? Aku tak ingin membicarakan betapa hebatnya diriku dulu.”

Sejatinya ada apa dengan pelatih legendaris ini sehingga dipecat secara tak hormat? Kita tahu dalam kupasan lembar hari berikutnya. Neely ngopi di kafe yang memajang posternya di atas kasir. “Tidak ada yang membencimu Neely, kau jagoan Amerika.” Pada waktu itu ia telah melatih Spartan selama lebih dari tiga dekade dan sudah melihat segalanya. Gelar terakhirnya yang ketiga belas, diraihnya tahun 1987. Rake terkenal akan gerutuannya, yang selalu bisa didengar. Tahun 1992, di akhir musim yang berakhir buruk Rake melakukan training yang lebih keras di hari Minggu pagi, hari suci yang harusnya di gereja itu malah berakhir bencana karena seorang pemain tewas kala latihan. Kota terpecah, situasi memburuk. Menyedihkan untuk Scotty, dan menyedihkan karena era Rake tampaknya telah berakhir.

Era akhir itu pilu, Rake dipuja dan dibenci. Waktu berjalan, pertandingan tetap ada. Dan menang adalah segalanya. Situasi tampaknya bisa oke ketika kita menang, tapi satu kekalahan itu telah memecah belah kota hingga bertahun-tahun. “Isu selalu bisa dipercaya di sini, terutama tentang Rake.”

Rake lalu menepi, jarang muncul di keramaian, lebih dekat dengan keluarga. Dan salah satu mantan anak didik Nat yang membuka toko buku di Messina membuka pintu khusus buatnya. Ngopi dan baca buku. Buku-buku bacaan karya Raymond Chandler, Dashiell Hammett, Elmore Leonard. Menjadi bahan diskusi, menghabiskan masa tua. Tersisih, tapi tetap dikenang.

Di toko buku itulah Neely lalu datang di hari berikutnya. Bertemu rekan setim Nat yang antusias menyambut pahlawan yang pulang. Semangat itu perlu kawan, usia tua adalah keniscayaan. Ada pelanggan seratus sepuluh tahun usianya, dan ia menyukai novel koboi erotis. Pikirkanlah. Kita belum separuhnya, jangan muram. Pameran itu merupakan penghargaan bagi pelatih yang cemerlang dan pemain yang berdedikasi, dan pengingat yang menyedihkan mengenai keadaan yang menyedihkan dulu.

Waktu berjalan, hal-hal biasa bisa saja berubah. Football adalah raja dan ini tidak berubah. Football membawa kemegahan dan membayar tagihan-taguhan dan hanya itu. Kariermu yang meriah hanya akan menjadi catatan kaki, semua gadis kecil yang manis akan menjadi ibu-ibu. Barang SMU, barang anak-anak. Hanya sedikit yang berubah. Pelatih-pelatih yang berbeda, pemain-pemain yang berbeda, bocah-bocah yang berbeda dalam band, tetapi mereka masih tetap Spartan di Rake Field dengan Rabbit di atas mesin pemotong rumput dan kegugupan menghadapi Jumat malam.

Hari Kamis malam, setelah pengumuman duka para mantan anak didik itu berkumpul di bangku penonton Rake Field. Nat membawa boom-box lalu menyalakan rekaman kaset Buck Coffey menyiarkan pertandingan kejuaraan ’87. Kenangan komentar laga paling dramatis perebutan juara. Dari tertinggal jauh di separuh babak, lalu membalikkan keadaan dengan kejanggalan tak ada pelatih di bangku. Apa sejatinya yang terjadi di ruang ganti dibuka dengan dahsyat. Jadi ingat segala pertandingan sepak bola yang membalik di babak kedua: Manchester United tahun 99, Liverpool tahun 2005, atau semacam kejadian ajaib itulah.

Kita memakamkan penduduk kita yang paling terkenal. Neely lalu mengajak Cameron ke acara pemakaman itu. “Ada sesuatu yang ajaib di cinta pertama Cameron, sesuatu yang kurindukan selamanya.” Cinta pertamanya yang terluka. Ia sudah menikah dan hidup bahagia dengan orang lain. Permintaan maaf Neely karena mencampakkannya, serta kehidupannya sebagai karyawan real estat yang berantakan, dan bagaimana pacar yang merebutnya kini sengsara di Hollywood, sebagai pemain film kelas B. Ahh… Menjadi pahlawan yang terlupakan tidaklah mudah.

Acara perpisahan dengan legenda, penghomatan terakhir Eddi Rake ditulis dengan gagah luar biasa menyentuh. Tidak ada yang tergesa-gesa, ini saat-saat yang akan dipuja dan dikenang oleh Messina. Neely duduk diantara Paul Curry dan Silo Mooney, bersama ketiga puluh anggota regu 1987 lainnya, dua di antara mereka telah meninggal, enam menghilang, dan sisanya tak bisa hadir. Ada tiga orang yang memberi semacam pidato, tiga bintang di tiga angkatan yang berbeda. Seorang pekerja di biro hukum yang pintar bicara di muka umum, lalu pendeta yang sudah biasa di mimbar. Dan seorang bintang yang menghilang. Ia mendapat pekerjaan itu karena tidak ada orang lain yang menginginkannya, ia melatih di sini selama tiga puluh empat tahun, memenangkan lebih dari empat ratus pertandingan, meraih tiga belas gelar negara bagian, dan kita mengetahui angka-nagka sisanya.

Prinsipnya sederhana, tetap berpegang pada hal-hal mendasar, dan bekerja tanpa henti hingga kau bisa melakukannya dengan sempurna. Kita bukan orang-orang hebat, kita mungkin orang-orang baik, jujur, adil, bekerja keras, setia, ramah, dermawan, dan sangat sopan, atau mungkin sebaliknya. Tapi kita tidak dianggap sebagai orang hebat. Kehebatan jarang muncul sehingga sewaktu melihatnya kita ingin menyentuhnya. Eddie Rake memungkinkan kita para pemain dan penggemar untuk menyentuh kehebatan. Walau sangat tangguh, ia luar biasa peka terhadap penderitaan orang lain.

Masa lalu akhirnya benar-benar berlalu sekarang, berlalu bersama Rake. Neely bosan dengan kenangan dan mimpi-mimpi yang gagal, menyerahlah, katanya pada diri sendiri. Kau tak akan pernah menjadi pahlawan lagi. Hari-hari itu telah berakhir sekarang. “Aku menyayangi Eddie Rake melebihi siapa pun dalam hidupku. Ia hadir dalam sidang ketika mereka memvonisku. Aku menghancurkan hidupku, dan aku malu. Aku menghancurkan hati kedua orang tuaku, dan aku merasa muak karenanya…” Jesse yang malang mengingat masa emas itu.

John Grisham tak pernah mengecewakan. Buku tipis ini juga sama dahsyatnya dengan buku lain. temanya bervariasi, dari pengadilan, kenangan masa kecil di perkebunan kapas, boikot natal, kumpulan cerita pendek di kotanya sampai sebuah memoar samar nan fiktif pelatih Rake ini. Sungguh luar biasa penulis ini, bagaimana memacu andrenalin pembaca menuju puncak malam pemakaman, semakin lembar menipis semakin membikin penasaran. Seperti kenyataan malam kejayaan 87 itu, ternyata ada tragedi pahit antara bintang utama dan pelatih. Dikuak dengan dramatis.

Lebih dahsyat Neely sebagai penutur narasi malah menjadi orang yang menutup sambutan kalimat perpisahan. Seperti yang disampaikan di mula, Neely membenci Rake karena sebab yang jelas, ia bintang utama sekaligus mata pisau paling tajam untuk menyampai kebencian. Pelatih Rake tidak mudah disayangi, dan saat kau bermain di sini, kau benar-benar tidak menyukai dia. Tetapi sesudah kau pergi, sesudah meninggalkan tempat ini, sesudah kau didepak beberapa kali di sana-sini, menghadapi tentangan, beberapa kegagalan, dikalahkan hidup, kau segera menyadari betapa pentingnya Pelatih Rake dulu dan sekarang… begitu kau jauh dari pelatih Rake, kau merindukannya. Bayangkan saja, lima belas tahun tak mau jumpa!

Rake memang jago dalam menyampaikan pesan terakhir. Rake memang jago memanipulasi para pemainnya untuk yang terakhir kalinya.

Keberhasilan bukanlah kebetulan.

Sang Pelatih | by John Grisham | Diterjemahkan dari Bleachers | Copyright 2003 | Alihbahasa B. Sendra Tanuwidjaja | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 04.007 | Cetakan pertama, Juli 2004 | 208 hlm.; 18 cm | ISBN 9789-22-0741-4 | Skor: 5/5

Untuk Ty, dan anak-anak luar biasa yang bermain football dengannya di SMU; pelatih mereka yang hebat; dan kenangan tentang dua gelar Negara bagian

Karawang, 180520 – 230520 – Bill Withers – Lovely Day & The Best You Can

Love Story by Erich Segal

Oliver: “Jenny, kita sudah sah menjadi suami istri.”

Jenny: “Yeah, mulai sekarang aku boleh bawel.”

Uang THR tahun ini, sebagian saya belikan buku, seperti biasa (ketimbang beli baju) melakukan enam kali transaksi beli buku. Transaksi kelima dan keenam, bingkisan kubuka (Ciprut yang #unboxing) malam minggu kemarin (160520) dari Bekasi (Raden Beben) dan Surabaya (Angga Adi) berisi total 16 buku. Kebetulan yang paling tipis buku ini, jadi gegas kubaca selepas nonton bola Bundesliga, ya ampun saya menurunkan kasta nonton live Dortmund versus Schalke, di pergantian hari buku berisi 160 halaman ini sudah selesai baca. Langsung kuulas sekalian, karena waktu melimpah di dini hari begadang ini. Inilah kisah cinta sejati, seperti pembukanya yang berkata pilu, endingnya luluh lantak dalam tangis. Bisa jadi cerita cinta pedih seperti ini sudah banyak dibuat saat ini, tapi buku pertama Erich Segal yang kubaca ini dituturkan dengan kelenturan kata yang menyeset emosi, dan lelaki mana yang tak menangis di lobi rumah sakit dalam pelukan ayah itu? Setegar Hercules-pun akan sesenggukan.

Kisahnya tentang pasangan muda yang tampak sungguh ideal. Oliver Barrett IV adalah mahasiswa Havard yang kaya, keturunan Barrett yang tersohor, jurusan ilmu sosial. Atilt hoki es yang menjadi andalan kampus. Sungguh gambaran pria sempurna untuk menjadi pasangan hidup. Jennifer Cavilleri adalah mahasiswi kere, anak penjual kue dari Cranston, Rhode Island, sebuah kota di selatan Boston, keturuan Italia. Kuliah musik di Radcliffe, berkaca mata, dan tentu saja cerdas. Ini kisah sedih, dan pembaca sudah dikasih tahu di kalimat pertama bahwa, Apa yang bisa kita ceritakan mengenai gadis dua puluh lima tahun yang telah tiada?

Perkenalan mereka tampak biasa tapi dibalut kalimat puitik, Oliver meminjam buku jelang ujian di perpustakaan, Jenny di sana memancing tanya, “Hey mana sopan santunmu preppie?” Dijawab “Kenapa kau begitu yakin aku dari prep school?” Ditimpali, “Tampangmu bodoh dan kaya.” Haha… dibalas lagi “Kau keliru sebenarnya aku cerdas dan miskin.” Dan kena jab, “Oh, jangan menfada-ada, aku cerdas dan msikin.” Justru dari saling sindir itulah hubungan berlanjut panjang.

Oliver anak orang kaya, keturuan keempat Barrett, hubungan dengan ayahnya Oliver Barrett III ga akrab. Memanggil Sir, nurut dalam tekanan dan beban piala, karena sudah tradisi keluarga akan prestasi, bukan sekadar akademi tapi juga olahraga. “Ada yang bisa dibantu?” Adalah keluarga jetset yang sepertinya tak peduli materi, karena melimpah. Keluarga kaya raya pada umumnya yang banyak menuntut sukses anak-anaknya. “Demi aku Oliver, aku belum pernah minta apa pun darimu, please.”

Sementara Jenny adalah keluarga biasa, kepulangan disambut mewah, dan betapa ia sungguh akrab sama ayahnya, karena ibunya sudah meninggal dunia dalam kecelakaan, hungan ayah-putri ini begitu erat dan kuat. Memanggil ayahnya dengan nama langsung, Phil. Menjadi kikuk Ollie akhirnya ketika mengikuti. “Ya, Phil, Sir.” Dan ketika ditegur, makin canggung dan tetap menjawab, “Baik, Phil, Sir.”

Bak cerita sinetron, hubungan ini tak dapat restu si keluarga kaya. Cinta sejati Ollie harus diperjuang, maka selepas lulus S1, mereka menikah. Karena keduanya beda keyakinan maka menikah di tengah-tengah kepercayaan, bangunan kuno Phillips Brokes House, di utara Harvard Yard, dengan pendeta Unitarian. Hidup pas-pasan di apartemen murah, Jenny mengajar, Ollie bekerja sambil lanjut S2 hukum. Kehidupan pasangan muda penuh perjuangan. Hubungan dengan ayahnya sudah putus, sehingga mereka benar-benar berusaha mandiri, berjuang bersama. Cinta mereka, saling menguatkan. Sungguh romantis.

Oliver lulus pasca sarjana hukum, bukan nomor satu tapi nomor tiga, tetap di Law Review. Namun rasa penasaran Jenny, akan siapa yang bisa mengalahkan suaminya menjadi lucu ketika diberitahukan di atas kapal dan ia yang kecewa malah melompat di laut. Ternyata nomor satunya adalah seorang pria kutu buku, introvert yang luar biasa pasif bersosial, dan yang kedua cewek cerdas dengan talenta tinggi. Sebuah kewajaran. Dengan ijazah barunya, ia memiliki peluang karier lebih luas, dengan berbagai pertimbangan dan tawaran yang masuk, Oliver setelah diskusi dengan istrinya mengambil kesempatan kerja di firma hukum Jonas and Marsh di New York dengan gaji tinggi 1.800 dollar. Ekomoni mereka lumayan mapan, Jenny mulai menata harap, dan Ollie ikut club elite. Bencana tiba secepat melesatnya karier mereka ketika program memiliki anak dilakukan. Berbagai percobaan sudah dilakukan, lalu konsultasi ke dokter kandungan. “Rasanya seperti jatuh dari tebing secara slow motion.”

Hasil yang diterima mencengangkan. Bukan hanya gagal memiliki anak, tapi ada masalah pelik yang sungguh berat harus disampaikan. Oliver sempat berujar, yang penting saling mencintai dan ikrar setia. Masalahnya ini menyangkut nyawa. Kesedihan membuncah, ia tak kuasa menyampaikan kepada orang terkasih. Rencana hidup yang tertunda sempat diapungkan, salah satunya harapan Jenny ke kota Romantis Paris, karena dulu sempat mau ambil kursus musik khusus ke sana, tapi gagal demi pernikahan dengannya. Dua tiket diambil, dan rasanya ia tak tega menyampaikan kabar duka itu, sampai akhirnya, fakta mau tak mau mengapung, dalam duka dan kepedihan yang teramat. Ini baru Love Story sejati. Menikam jantung dengan hujaman keras, tak hanya sekali, bertubi dalam duka dan segala kandungan di dalamnya. “Nomor berapa C Minor Piano Concerto? Dulu aku hapal.”

Harus diakui, kisahnya awal terasa klise. Pasangan beda kasta, tampan dan cerdas bersatu lalu mengarungi perjuangan bahtera pernikahan, lalu ekonomi membaik dan timbul benih cerahnya masa depan. Tikaman itu dari vonis dokter, sampai halaman berakhir adalah kesedihan akut. Ditulis dengan kenyamanan dan pemilihan (terjemahan) diksi yang bagus sehingga kita turut terkoyak. Jelas ini tak semanis yang dikira. “Seandainya aku tak berjanji pada Jenny untuk bersikap tabah.

Cerita bagus memang harus menjual konflik berat, lalu pemecahan yang pas. Semakin runyam masalah yang disodorkan semakin asyik diikuti. Love Story memunculkan masalah dengan tikaman yang dalam, bagi pecinta romcom ini alur yang umum. Adegan akhir menantu-mertua di ruang rokok solarium bisa jadi sangat menyedihkan, tapi kesedihan maksimal justru di kalimat-kalimat akhir di lobi. Saya turut menitikan air mata, walau kutahan-tahan juga karena itu sudah menghadapi lembar akhir. Drama cinta memang tak rumit, drama cinta memang harus alami. Dan kepedihan Oliver jelas terasa sangat mendalam, dan nyata. Pernah menangis di rumah sakit? Ya. pernah melelehkan air mata membuncah di pelukan orang tua? Ya. Oliver adalah gambaran duka yang sempurna.

Dan kemudian aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan di depan ayahku, apalagi di dalam pelukannya. Aku menangis.

Cinta berarti tak perlu minta maaf.

Kisah Cinta | by Erich Segal | Diterjemahkan dari Love Story | Copyright 1970 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 95 135 | Alih bahasa Hendarto Setiadi | Jakarta, Januari 1995 | Cetakan ketujuh, Juli 2001 | 160 hlm; 18 cm | ISBN 978-605-135-4 | Skor: 5/5

Untuk Sylvia Herscher dan John Flaxman

…namque… solebatis.

Meas esse aliquid putare nuqas

Karawang, 170520 – Patti Austin – Baby, Come to Me

#April2020 Baca

Apa pun yang terjadi aku takkan pernah mengingkari imanku…”

Enam buku pinjam dari Titus R. Pradita yang pamit akhir bulan April menjadi prioritas baca ulas (good luck and good bye). Yang lainnya melengkapi. Bulan yang sangat produktif.

#1. Ateisme FreudHan Kung
Bagaimana sang penemu Teori Psikoanalis bertumbuh, seorang pemeluk Yahudi dari kedua orang tua, lalu di sekolah kena bully-an karena mayoritas pemeluk Kristen, kuliah di kedokteran demi kemanusiaan, hingga penemuan tafsir mimpi yang legendaris itu. Kesimpulan ekstrem dalam penelitian, ketika menjadi seorang psikiater yang membuat kontroversi bahwa simbol-simbol dan ritual-ritual agama, dan tentunya juga pemeluk-pemeluknya, sama dengan perilaku pasien-pasien neurotisnya di rumah sakit jiwa. Agama adalah kegilaan, sebagaimana kegilaan yang diidap para penghuni rumah sakit jiwa di tempatnya bekerja. “Seperti yang Anda, saya membangun hubungan agung dengan cinta.”

#2. Dilarang Gondrong!Aria Wiratma Yudhistira
Kalau sampai petinggi Pemerintah yang mengeluarkan statemen berarti ada sesuatu yang memang harus diperhati lebih dalam. Dan itu terkait gaya rambut panjang. Terasa lucu, tapi dengan buku ini menjelma serius. Tanggal 1 Oktober 1973 Senin malam sebuah acara bincang-bincang di TVRI, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro berkata bahwa rambut gondrong membuat pemuda menjadi overschilling alias acuh tak acuh. Sebuah pernyataan kontroversi yang menjadi ancaman hingga boikot artis-artis yang tak mau nurut, bahkan pemain sepak bolapun turut dilarang. Maurice Gibbs beretoris, “Aneh, bagaimana mereka dapat mengundang kami, sedang mereka sendiri tidak rambut gondrong seperti kami.”

#3. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3!Ajahn Brahm
Seri ketiga ini ternyata bagus. Seolah pilihan kishanya bebas, lepas, melayang ku melayang jauh. Masih dengan pola lama, di mana Ajahn Brahm menukil beberapa pengalaman, kutipan orang tersohor, petuah klasik, sampai analisis keadaan. Dengan kover monyet, dan menjadi penutup kisah, Si Cacing pamit untuk meditasi. “Semua ungkapan terbaik, semua kata terbaik, semuanya sudah dipakai, tak seorang pun bisa menulis apa pun yang segar lagi.” – Juru Tulis Cendikia Mesir Kuno 4.000 tahun yang lalu.

#4. Ritus-Ritus PemakamanHannah Kent
Ditulis oleh seorang kelahiran Adelaide, Australia, awalnya kukira novel Islandia. Ternyata semasa sekolah Hannah pernah melakukan tukar-siswa ke sana, melakukan penelitian atas kasus Agnes dan menuangkannya dalam novel. Setiap awal bab kita akan disodori surat-surat yang disadur asli dari pihak berwenang. Dari surat pengadilan, surat kepolisian, korespondensi permohonan penangguhan, surat perintah pemindahan tempat penahanan, puisi-puisi penyair Rosa, lagu kematian, sampai surat yang menyatakan perang. Semua terasa nyata, dengan sebagian memakai bahasa asli, yang tampak eksotis. Tentang Agnes yang akan dihukum mati.

#5. AngelologiDanielle Trussoni
Angelologi adalah salah satu dari sekian cabang asli teologi, dikuasai oleh seseorang yang ahli angelologi, yang keahliannya meliputi baik penelitian teoritis atas sistem malaikat maupun perwujudan nubuat mereka sepanjang sejarah manusia. Protagonistnya adalah seorang suster muda, Evangeline yang dibagian pembuka diceritakan bertugas di perpustakaan biara St. Rose, Lembah Sungai Hudson, Milton, New York. Melawan kaum Nefilistik, yaitu kaum malaikat yang bersatu dengan manusia, mereka berebut alat musik yang diturunkan langsung dari surga, sebuah lira yang sakral. Petualangan enam ratus halaman yang melelahkan. “Kau makhluk paling cantik di sini, kau terlihat seperti malaikat.”

#6. Sang Golem dan Sang JinHelena Wecker
Debut yang melelahkan. Bayangkan, enam ratus halaman dan ceritanya hanya gitu. Untung pinjam. Kisahnya golem yang terlahir di kapal bernama Chava dan jin yang setelah ratusan tahun terkurung di guci, terlepas bernama Ahmad. Keduanya lalu bersinggungan, beradaptasi dengan masyarakat Amerika. Dan seteru dengan seorang penyihir abadi. “Berikan padanya rasa ingin tahu, dan kecerdasan. Aku takkan tahan menghadapi perempuan yang konyol, buat dia sopan, tidak cabul. Istri yang pantas untuk pria baik-baik.”

#7. Crystal StopperMaurice LeBlanc
Buku pertama sang pencuri Prancis yang legendaris Arsene Lupin yang kubaca. Tentang sumbat Kristal yang misterius, cenderung gaib. Penelusuran dan adu cerdik untuk memilikinya membawa petaka, ketika dalam perampokan yang gagal, Gilbert diancam dihukum mati. Lupin dan komplotan lalu berjuang menggagalkan eksekusi, tertebak pasti bisa tapi prosesnya sangat dramatis hingga jam-jam terakhir. Kejutan, sang penjahat utama bukan Daubrecq yang menyulitkan sepanjang cerita, ternyata seorang pejabat penting dan bagiaman seni mengelabuhi terus tersaji. ¼ akhir kisah menyelamatkan segalanya. “… Malam ini, cara apa pun yang akan aku gunakan, ia akan buka mulut.”

#8. Cadas TaniosAmin Maalouf
Luar biasa. Ini kisah cinta yang aneh, terlampau aneh. Tanios yang unik, terlahir dari seorang Cheikh? Adalah tanda tanya yang menguar sepanjang halaman, lalu riwayat cintanya pada Asma, anak mantan juru tulis yang bermasalah, sampai seteru agama dan jajahan. Di abad Sembilan belas di Kfaryabda, konflik kekuasaan, cinta, dan dendam meletus. Sebuah batu yang akhirnya diberi nama The Rock of Tanios menjadi saksi perubahan zaman. Termasuk misteri yang terkandung di dalamnya. “Kejadian nyata itu tidak tahan lama, percayalah, hanya dongeng yang tetap hidup, seperti minyak wangi setelah anak gadis yang memakainya lewat.”

#9. SilenceShusaku Endo
Kristiani dibawa ke Jepang oleh Francis Xavier, orang Basque yang mendarat di pantai Kagoshima pada tahun 1549 bersama dua rekan Yesuit dan seorang penerjemah Jepang. Tetapi arsitek sesungguhnya atas misi ini adalah Alessandro Valignano yeng berkebangsaan Italia. Dialah yang menggabungkan antusiame Xavier dengan rancangan masa depan yang brilian serta kegigihan yang mengagumkan. Kisah penyebaran agama Kristen di Jepang abad tujuh belas penuh derita dan lelehan air mata untuk mempertahankan keyakinan. Dan seperti laut itu, Tuhan tetap bungkam, tuhan masih tetap mempertahankan keheningannya. “Sungguh melelahkan jalan ceroboh menuju kehancuran, sungguh sepi rawa-rawa yang kita jalani..”

#10. Lengking Burung KasuariNunuk Y. Kusmiana
Keren. Keren adalah kata pertama yang kuucap setelah selesai baca. Kisah yang mengambil sudut pandang anak-anak, di Timur Indonesia. Asih yang tak paham kehidupan orang dewasa, lika-liku kehidupan militer ayahnya dan ibunya yang berdagang. Teman-temannya yang lebih variasi lagi. jelas ini ditulis dengan ingatan pengalaman pribadi. “Itu burung kasuari. Dia suka marah kalau melihat kita dekat-dekat denganya.”

#11. The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and the WardrobeC.S. Lewis
Saya baca ulang untuk Hermione jelang tidur, dua bab per malam. Saya sudah sangat akrab, tapi sensasinya beda dengan baca sendiri. Ini dongeng anak-anak dengan lemari ajaib yang dimasuki empat Pevensie bersaudara dengan makhluk-makhluk mitologi. Luar biasa antusiasme #Ciprut. Menjadi malam-malam indah memasuki imajinasi. Keputusan membacakan Narnia selepas dua seri Pooh tiba-tiba saja muncul ketika saya pulang kerja, ia sembunyi. Kucari-cari dengan memanggil ‘Ciprut… Ciprut… Ciprut…’ ga ketemu, istri bilang ada kok di kamar. Lha… kok ga ada, ternyata sembunyi dalam lemari. Lalu saya pun bilang, kalau masuk lemari harus ada celah di pintunya, dia nanya kenapa? Karena, ada sebuah dunia di lain dunia kita, dan gegaslah kubacakan seri pertama. Kisahnya sudah sangat terkenalkan, jadi ga perlu saya jelaskan.

#12. Pooh at the CornerA. A. Milne
Melanjutkan petualangan Pooh dkk di Hutan Seratus Ekar, kali ini ada karakter baru yang sangat disuka Tigger, hobinya membal-membal (bounching). Berisi 10 bab, sama dengan yang sebelumnya yang kubacakan dua bab per hari. Sebuah pengalaman mengagumkan bersama Hermione yang karena Pooh, saat ini mencita illustrator, biar seperti Ernest H. Shepard. Ulasan lengkap segera menyusul. “Kau beruang terbaik di seleuruh dunia.”

#13. Sepakbola Tidak Akan PulangMahfud Ikhwan
Ini buku tambahan saja, ga masuk target baca, tiba-tiba malam terakhir bertugas membeli kado Titus ke Gramaedia, iseng nonton buku nemu ini malah kubeli dan kubaca tuntas sehari dalam tiga kali duduk. Yo wes…

Ini semacam rangkuman cerita sepanjang musim 2018/2019 liga top Eropa: Belanda, Prancis, Spanyol, Italia, dan Inggris. Catatan tiap pekan yang dimuat di Geotimes lalu sama Shira Media dibukukan. Jangan tanya gizinya, jangan pula tanya seberapa gereget. Ini sekadar keluh kesah, dan untaian kata dari pengamat yang berceloteh tentang moment-moment unik pekan tersebut. Tak ada data dan statistik (syukurlah), hanya uneg-uneg. Lumayan menghibur, walau tak sampai tergelak. Mematik asa bikin catatan tanding dengan center: Lazio. “Tak ada yang lebih tabah dari pendukung Liverpool.”

Tiga belas buku dibaca sebulan dan mayoritas sudah diulas, luar biasa.

Belum pernah saya se-terbakar-ini.

Karawang, 050520 – 110520 – Bill Withers – Harlem

The High Mountains of Portugal: Cinta yang Amat Besar, dan Rasa Kehilangan yang Tak Terhingga

The High Mountains Portugal by Yann Martel

Apakah ada artinya? Dari mana jiwa berasal? Ada beragam jiwa yang diasingkan dari surga. Jiwa tetaplah jiwa yang harus diberkati dan dibawa kepada kasih Tuhan.”

Apalah arti kita tanpa orang-orang yang kita cintai? Apakah ia berhasil bangkit dari duka? Ketika dia menatap matanya di cermin saat bercukur, hanya relung-relung kosong yang tampak. Dan dia menjalani hari-harinya bagaikan hantu yang membayang-bayangi kehidupannya sendiri. Buku tentang duka yang terbagi dalam tiga bab panjang. Tanpa Rumah, Menuju Rumah, Rumah. Semua adalah kesedihan kehilangan orang terkasih. Menguras air mata, takdir yang pilu. Tanpa rumah adalah sebuah kehilangan yang sempurna: ayah, kekasih, anak tahun 1904. Menuju rumah adalah kehilangan pasangan hidup, dokter spesialis patologi yang kebahagiaannya terenggut tahun 1939. Rumah adalah perjalanan duka dari Kanada ke Puncak pegunungan Portugal, pencarian rumah tahun 1989.

Semua yang tersaji bisa saja sekadar kisah pilu para lelaki rapuh yang ditinggal mati istrinya, tapi setiap sisi terselip perjuangan dan pencarian makna hidup. “Aku berbicara dengannya di dalam kepalaku, ia hidup di situ sekarang.” Jangan menyerah, kerelaan, waktu yang menyembuhkan, rutinitas akan menjadi imun hidup, dan seterusnya. Ternyata di sini malah dibuat dengan benang indah – atau kalau mau lebih lembut, koneksi sejarah – ketiganya berpusat di puncak dan tanya itu diakhiri dengan sunyi. Tomas merasa bagikan kepingan es yang terhanyut di sungai. Ketergantungan ini menciptakan semacam kesetaraarn bukan?

Pertama tahun 1904, adalah Tomas yang miskin. Pamannya kaya, memiliki pembantu cantik bernama Dora, kisah cinta mereka yang langgeng, memiliki Gaspar yang menyenangkan, tiba-tiba dihantam duka. Ketiga orang terkasih meninggal berurutan hingga membuatnya murka akan takdir. Dia kerap meratap, terlampau kerap sejak malaikat maut memberinya tiga pukulan telak. Kenangan akan Gaspar, Dora, atau ayahnya sering menjadi sumber sekaligus inti kesedihannya, tetapi ada kalanya air matanya mengalir tanpa alasan yang sulit dipahaminya, datang seketika seperti bersin.

Ia berjalan mundur, ia terjatuh luruh. Yang tak dipahami pamannya adalah berjalan mundur, memunggungi dunia, memunggungi Tuhan, bukanlah cara Tomas untuk mengungkap duka. Ini adalah caranya mengajukan keberatan. Karena jika semua yang kaucintai dalam kehidupanmu telah diambil, apakah yang bisa kauperbuat selain mengajukan keberatan?

Menemukan sebuah surat/buku harian seorang pastor Bapa di Ulisses yang lalu menyeretnya dalam petualangan, hanya beberapa minggu setelah kehidupannya luluh lantak di Museum Nasional Karya Seni Kuno, tempatnya bekerja sebagai asisten kurator. Surat itu mengisah kehidupan sunyi, dan mengarah pada pencarian salib di pegunungan Portugal. Dengan mengendarai mobil Eropa pertama milik pamannya. Orang-orang akan berlama-lama melihatnya, mulut mereka akan ternganga, benda itu akan membuat hura-hura. Dengan benda itu, aku akan memberi Tuhan atas perbuatan-Nya kepada orang-orang yang kucintai. Keheningan yang menyelubunginya akibat pemusatan konsentrasi sekonyong-konyong meledak ke dalam derap kaki-kaki kuda yang menggelegar, keriat-keriut nyaring kereta pos. Kemudian mereka dan kedua kusir kereta saling bertukar umpatan dan isyarat marah.

Mobil di era itu memang belum banyak, awal-awal masa penemuan. Barang yang dibelinya sebagai bahan bakar, oleh mereka dijual sebagai pembasmi parasit. Tempat tinggal mungil beroda ini dengan potongan-potongan kecil ruang tamu, kamar mandi, dan perapian, adalah contoh mengenaskan bahwa kehidupan manusia tidak lebih dari ini: upaya untuk merasa seperti di rumah sendiri saat mengejar kenisbian. Seorang pria atau wanita, tak perlu bekerja sekeras itu untuk menunjang kehidupan, tetapi roda gigi di dalam sistem harus diputar tanpa henti.

Pada 2 Juni 1633, terdapat satu tempat nama baru Sao Tome, pulau koloni kecil di Teluk Guinea yang disebut sebagai ‘serpihan ketombe di kepala Afrika, berhari-hari perjalanan panjang di sepanjang pesisir lembap benua gersang ini’. Tertulis Isso e minha casa (Ini adalah Rumah). Bapa Ulisses rupanya terserang kerinduan mendalam pada kampung halaman. Ruang arsip Episkopal di Lisbon, setelah mengabaikan buku harian Bapa Ulisses selama lebih dari dua ratus lima puluh tahun, tidak akan merasakan kehilangan untuk ia ambil.

Perjalanan religi mencari gereja. Kesederhanaan arsitektur paling sesuai dengan bangunan religius. Apapun yang mewahadalah arogansi manusia yang disamarkan sebagai keimanan. Semua berada di tempat masing-masing, dan waktu bergerak dengan kecepatan yang sama. Gravitasi akan marah dan benda-benda akan melayang malas. Namun tidak, ladang-ladang tetap diam, jalan tetap membentang lurus, dan matahari pagi tetap bersinar terang.

Dia mengingat-ingat dan menghitung. Satu, dua, tiga, empat – empat malam. Empat malam dan lima hari cutinya dari cutinya yang sepuluh hari. Separuh jalan, tapi tempat tujunya belum terlihat. Di sana hujan terlampau sering turun, hingga menggaggu kewarasan. Menit-menit berlalu. Keheningan terbingkai oleh deris hujan, embik domba, dan salak anjing. Aku sedang mencari harta yang hilang.

Niat semula sepuluh hari cuti untuk menemukan benda kuno demi pemaknaan hidup, justru berakhir bencana karena tak sengaja menabrak seorang anak, tewas seketika. Batin Tomas berkemauk. Dia pernah menjadi korban pencurian, dan kini menjadi pelaku pencurian. Aku memasuki bui itu sebagai kristen. Aku keluar dari sana sebagai seorang prajurit Romawi. Kami tidak lebih baik dari binatang.

Dalam kisah ini, cara menanggapi kedukaan tampak sangat sentimental. Mengajukan keberatan akan takdir, melakukan perjalanan pemaknaan hidup, lalu dihantam musibah perih tak terkira. Ruang dan waktu menjadi tanya kembali, menjadi teka-teki sejati. Kembali ke individu, dan rumah yang dituju justru menggoreskan luka. Dia nyaris menangis lega. Menguarkan waktu dan memancarkan keterpencilan.

Ketika benda yang dicari akhirnya ketemu, lalu apa? Benda itu terpampang di sana, setelah melakukan perjalanan jauh dari Sao Tome. Oh betapa menakjubkan. Kemenangannya terusik oleh luapan emosi: kesedihan yang meluluhlantakkan jiwa. Muntah-muntah dengan raungan lantang.

Jika ia memprotes Tuhan, lalu ia malah mencipta protes manusia lain? Kapankah masa duka yang janggal ini berakhir? “Cukup! Cukup!” Dia berbisik. Apa makna nestapa bagi manusia? Apakah ini membuka dirinya? Apakah penderitaan ini membuatnya lebih mengerti? Mereka memang menderita, tapi aku juga. Jadi apa yang istimewa?

Kedua tahun 1939, di akhir tahun seorang dokter spesialis patologi melakukan otopsi mayat perempuan yang meninggal di dekat jembatan, pembunuhan atau bunuh diri? Dokter Eusebio Lozora yang sedang melakukan bedah dikunjungi istrinya, Maria Luisa Motaal Lozora yang menyukai kisah detektif. Buku-buku Agatha Christie dikoleksi dan dinikmati, malam itu istrinya berkisah panjang lebar tentang teori Tuhan, seperti Yesus yang mati misterius, Agatha juga mencipta kasus pembunuhan misterius. Autopsi, bagi mata awam bukanlah pemandangan yang enak dilihat. Tujuan tindakan ini adalah mencari abnormalitas fisiologis – penyakit atau kecelakaan – yang menyebabkan kematiannya.

Dokter spesialis patologi adalah detektif yang melakukan penyelidikan dan menggunakan sel-sel kelabunya untuk menerapkan aturan dan logika hingga kedok salah satu organ terbuka dan sifat aslinya, kejahatannya, akan bisa dibuktikan tanpa keraguan. Kesabarannya benar-benar menyentuh. “Kau mengerti bukan, bukan dia yang dibunuh.”

Malam itu setelah istrinya pulang meninggalkan novel terbaru Agatha Christie: Perjanjian Dengan Maut, sekuel Pembunuhan di Sungai Nil, datang lagi seorang ibu dengan koper. Namanya juga Maria, mengejutkan, koper itu berisi mayat suaminya, minta diotopsi segera, kisah cintanya yang vulgar dan menggairahkan, dan segala pilu kehilangan. Ibu Maria berasal dari Pegunungan Tinggi Portugal, perjalanan tiga hari ke Braganca, mencari rumah sakit untuk otopsi mayat suaminya. Cinta hadir dalam kehidupan saya dengan penyamaran tidak terduga. Seorang pria. Saya seterkejut bunga yang melihat lebah datang untuk pertama kalinya.

Setelah urusan raja selesai, kita berlaih ke ratunya yaitu kepala. Memeriksa otak dan batang otak…” Hasil otopsi mengejutkan, ada simpanse dan beruang, dan teka-teki itu meledak di ending yang mengejutkan. Saya sampai geleng-geleng, wow. Novel yang sempurna. Seperti itulah duka, ia makhluk yang memiliki banyak lengan tetapi hanya beberapa kaki, dan ia terhuyung-huyung mencari sandaran. Hati memiliki dua pilihan, menutup atau membuka diri. Tutur katanya kadang-kadang pedas, diamnya meresahkan.

Kisah ini nge-link dengan yang pertama. Kami mencintai putra kami, seperti laut yang mencintai pulau, selalu menyelingkupinya dengan pelukan, selalu menyentuh dan membelai pantainya dengan perhatian dan kasih sayang. Ketika dia pergi, hanya laut yang tertinggal, kedua lengan kami memeluk kehampaan. Kami menangis sepanjang waktu. Satu-satunya putra yang dicintai meninggal dunia, dan pelaku tabrak lagi itu adalah Tomas.

Namun sayang, bagian ketiga tahun 1989 justru agak merusak pola. Seorang senator Kanada Peter Tovy adalah pemilik sah seekor simpanse jantan, pan troglodytes, bernama Odo. Prosesnya panjang. Yang jelas ia baru saja kehilangan istri tercinta Clara. Dalam kedukaan, ia disarankan temannya menepi, ke Amerika dalam kunjungan, ia lalu ke kebun binatang, dan sekilat pintas membeli simpanse jantan dengan harga mahal. “Saya akan membayar Anda Lima belas ribu dolar.” Oh godaan bilangan bulat, itu jelas angka yang lebih mahal dari harga mobilnya.

Orang-orang berduka sebaiknya menunggu setidaknya satu tahun sebelum membuat perubahan penting dalam hidup. Perubahan pemandangan, bahkan perubahan udara – lembut dan lembab – terasa menenangkan.

Ia muak dengan pekerjaannya sebagai politikus. Pidato, pencitraan yang tiada habisnya, rencana busuk, ego yang ditelan mentah-mentah, ajudan arogan, media-media tak kenal ampun, tetek bengek yang merepotkan, birokrasi yang kaku, kemanusiaan yang tak kunjung membaik, dia memandang semua hal itu sebagai ciri khas demokrasi. Dengan gejolak kegembiraan yang meresahkan, dia bersiap-siap membuang semua rantai yang mengikatnya.

Segalanya bergerak cepat, Peter lalu melepas semua atribut duniawi dan memutuskan pulang. Ke rumah nenek-kakeknya di Portugal bersama Odo. Penenungan makna hidup, kehilangan, melepas, damai. Iman seharusnya diperlakukan secara radikal, dia menatap salib, penyeimbang keyakinan dan kegamangannya.

Melakukan perjalanan panjang, melakukan pencarian rumah. Dia masih ingat caranya bercinta, tapi sudah tidak mengingat alasannya. Kehilangan istri membuatnya merenung sepi. Selama sekitar satu jam, sambil duduk di puncak tangga, menyesap kopi, lelah, agak lega, agak khawatir, dia merenungkan titik itu. Apa yang akan dihadirkan kalimat selanjutnya?

Simpanse adalah kerabat terdekat di garis evolusi. Kita dan simpanse memiliki leluhur yang sama, dan baru berpisah jalan sekitar enam juta silam. Mempelajari simpanse sama juga mempelajari refleksi leluhur kita, dalam ekspresi wajah mereka. Masing-masing kera, kini dia mengerti, adalah sesuatu yang tidak pernah diduganya, individu dengan kepribadian unik.

Mungkin agak aneh, memilih simpanse sebagai teman perjalanan untuk menepi, tapi keputusan ini nantinya nge-link dengan hasil otopsi. Bianatang mengenal rasa bosan, tetapi apakah mereka mengenal rasa kesepian? sepertinya tidak. Bukan kesepian seperti ini yang mendera jiwa dan raga. Dia adalah spesies kesepian. Kalau masa lalu dan masa depan sudah tidak menarik, apa yang bisa mencegahnya dari duduk di lantai sambil merawat seekor simpanse dan mendapat perawatan balasan?

Tidak ada derajat yang membedakan tingkat ketakjuban.

Salah satu makna duka bisa jadi adalah sekarang. Simpanse Odo hampir sepanjang hari menikmati waktu, misalnya duduk di tepi sungai menyaksikan air mengalir. Ini ilmu yang sulit dikuasai, hanya duduk dan berada di sana. Kadang-kadang Odo bernapas dengan waktu, menarik dan melepasnya, menarik dan melepasnya. Binatang-binatang ini hidup dalam amnesia emosional yang berpusat di masa kini. Kesyahduan menjelma di sanubarinya, menenangkan bukan hanya masalah yang diderita tubuhnya, tetapi juga kerja keras otaknya.

Di dalam udara ada matahari dan gumpalan-gumpalan awan putih yang saling menggoda, cahaya yang melimpah tidak terkatakan keindahannya. Tidak ada suara di sekelilingnya, baik dari serangga, burung-burung, maupun angin. Yang tertangkap telinganya hanyalah bebunyian yang dihasilkannya sendiri. Tanpa keberadaan suara, lebih banyak yang dilihat oleh matanya, terutama bunga-bunga musim dingin cantik yang bermekaran menembus tanah berbatu-batu di sana-sini.

Rasa sakitnya datang bagaikan ombak, dan setiap gelombang membuatnya bisa merasakan setiap dinding perutnya. Setelah kisah panjang perjalanan ke puncak, lalu sebuah adegan panjang di ruang otopsi yang luar biasa, kisah ini ditutup dengan anti-klimaks di puncak. Memainkan duka, dan segala kandungan di dalamnya. The High Mountains memang menutup rapat akhirnya, tak ada yang menggantung, tapi perjalanan panjang Kanada ke Potugal dengan monyet terlampau mudah menemukan rumah. Bagaimana bisa Peter langsung menemukan rumah, di kesempatan pertama menginap di tanah asing? Ini kebetulan yang mengagumkan. Tuizelo, dari sanalah orangtuanya berasal, ia dan Odo akan menetap. Ini bingkisan mungil berisi rasa takut, tetapi tidak melukai ataupun merisaukan.

Buku kedua Yann Martel yang kubaca setelah Beatrice and Virgil yang absurd. buku ketiga Life of Pi sudah ada di rak, menjadi target berikutnya. Sepertinya memang genre Martel adalah filsafat yang merenung. Banyak tanya dan duka yang dipaparkan serta pencarian makna hidup. “Orang-orang tinggal sejenak, lalu satu per satu pergi, dan Anda diberi waktu untuk berduka, dan sesudahnya Anda diharapkan untuk kembali ke dunia, menjalani kehidupan lama Anda. Setelah pemakaman, pemakaman yang bagus, semua hal kehilangan makna dan kehidupan lama pun sirna. Kematian memakan kata-kata…”

Pegunungan Tinggi Portugal | by Yann Martel |Copyright 2016 | Diterjemahkan dari The High Mountain Portugal | GM 617186006 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Berliani M. Nugrahani | Editor Tanti Lesmana | Desain dan ilustrasi sampul Martin Dima | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-03-4638-0 | 416 hlm; 20 cm | Skor: 4.5/5

Untuk Alice, dan untuk Theo, Lola, Felix, dan Jasper: kisah hidupkau

Karawang, 090520 – Norman Brown – Don’t You Stay

Upaya Menangkap Kenangan Sepakbola

Sepakbola Tak Akan Pulang by Mahfud Ikhwan

Tak ada yang lebih tabah dari Pendukung Liverpool.”

Kumpulan artikel dari Geotimes dari awal musim 2018 sampai akhir musim 2019. Lumayan bagus juga ternyata, tulisan yang mencatat sejarahnya sendiri, semacam ringkasan kisah-kisah terpilih per minggu sehingga cocok buat menelisik kenangan. Saya pribadi menjadi lebih dalam tahu apa hal-hal menarik di pekan tersebut. Sejatinya tak istimewa tulisannya, tapi menanam memorinya lah yang mencipta kesan, sehingga buku seperti ini akan seperti buku kenangan sekolah. Semisal lima atau sepuluh tahun lagi ketika dibuka baca akan ketawa sendiri, oh dulu detailnya gini toh. Oh dulu terjadi drama yang konyol itu. Oh dulu pendapatku tentang pemain ini ternyata syahdu, dst. Ini bukan tentang kualitas tulisan, tapi bagaimana menangkap momen untuk disimpan. Terbakar!

Dari penulis Dawuk yang dahsyat itu, kita diajak mengenang musim kompetisi Eropa musim 2018/2019. Lha, baru kemarin? Iya. Tapi jelas ini ditulis dan diolah dengan kejelian pengamat. Sempat tercipta momen malesi di kepala, tapi setelah dalam tiga kali kesempatan duduk tuntas, ada kelegaan. Justru setelah membacanya saya terpatik, kenapa saya ga bikin tulisan sendiri semacam gini saja, toh ini kompetisi Eropa, yang tertutama lima liga terbaiknya yang tentu saja sudah akrab. Ketimbang bikin artikel Lazio seribu kata yang pembacanya segmented – kata William Loew – maka akan lebih lebar pangsa baca dengan menggores cerita lebih luas. Itu yang terpikir, yang jelas artikel Lazio sudah off semusim karena kzl ga naik-naik peringkat, tapi justru selama saya off nulis ulasan dan menepi dari hingar bingar Serie A, Lazio menggila.

Dibuka dengan tulisan yang dijadikan judul yang dibuat 14-07-18, masa ketika liga belum dimulai, Inggris yang menjadi sang penemu permainan malah diolok, sepak bola yang sulit dibawa pulang pialanya setelah sekian tahun berjibaku. “Itu salah salah Bapak menaruh bola.” Tulisan kedua yang justru bagus. bagaimana Juventus yang kita kenal, sebagai pecundang Champions League mencoba menaikkan harap dengan membeli pemain bekas berusia 33 tahun dengan banderol mahal bernama Ronaldo. Ketika isu ini berhembus, saya ingat sekali saya tertawa ngakak. Incaran Savic, kebanyakan nawar dan Lotito keukeh di angka 150 juta, justru mereka malah membawa pulang CR7, yang harus diakui terbaik di dunia, tapi udah kepala 3 woy. Masih ingat betapa frustasinya dibuat Radu? Dua kali beruntun kita babat 3-1.

Artikel ketiga tambah lucu dengan judul Yang Aneh, Yang Lumrah. Bagaimana Liverpool yang punya pertahanan buruk, dan kiper yang hobi blunder musim dimulai dengan gemilang. Tiga pertandinagn mereka di puncak, lumrah. Tiga pertandingan tanpa kebobolan, nah baru aneh. Harus diakui pembelian Virgil Van Dijk dan Alisson adalah sebuah langkah jitu. di Juventus Stadium, di depan kursi penuh sesak, di pertandingan keduanya Serie A Ronaldo mencetak assist pertamanya – sebuah bola liar yang gagal dimasukkannya ke gawang kosong. Ganjil? Sama sekali tidak, jika kalian cukup mengenal Liga Italia, dan sedikit paham soal betapa sulitnya menjadi striker di sana. Artikel keempat tentang Leeds United, tim yang kita kenal hebat di sebelum dan sesudah pergantian Milenium ini punya sejarah besar, dan menunjuk mantan Pelatih Lazio (dua hari yang absurd), Marcelo Bielsa demi mendongkrak kasta.

Selalu ada yang pertama adalah cerita kehebatan Parma, bagaimana bisa mereka terpuruk ke Serie D karena bangkrut lalu per musim naik terus, promosi tiga kali yang artinya sekarang sudah di kasta tertinggi lagi! Gilax. Sang kapten Lucarelli menjadi legenda karena itu, “Ini tak nyata.” Lalu pensiun. Jorge Mendes adalah tukang sulap di bisnis agen pemain/manager sepak bola, menjelajahi klub-klub dengan gelontor talenta, menjajahnya menjelma kekuatan tim. Bekas pemain sepakbola gagal, bekas pemain DJ klub malam, dan segala kiprahnya di Wolve dalam gelimang pemain Portugal. Pantas Rui Patricio gagal ke Lazio, di sana ternyata tercipta gurita. Liverpool dan penantian gelar juara EPL adalah minyak dan air yang sulit akur. 28 tahun tahun, dan masih berjalan. “Mungkin musim ini saatnya kalian (wartawan) menuntut mereka juara.” – Mou

Yang kekal, yang dikocok ulang. Jeda international memang malesi, semenarik apapun permainan timnas, tetap malesi ikuti. Dan terasa aneh ketika tahu spandung di Bernabeu, “Ronaldo tak lagi dibutuhkan.” Hantu Fergie yang membuat Moyes dipecat, Van Gaal jadi olok-olok, dan kita tahu Mourinho dipecat, kali ini terbukti Baby Face juga babak belur. Mou dan MU, keduanya saling menghancurkan. Emery dan Arsenal adalah lelucon, di artikel ke-10 ini, mencatat Unai pernah mencetak kemenangan beruntun yang luar biasa ternyata, oh iya saya ingat moment itu, fan Gunners melambung dan memujanya, ‘pilihan yang tepat’ katanya. Walau ketika dibaca sekarang, sungguh lucu menyebut Arsenal Baru.

Lopetegui dan Madrid adalah lawakan berikutnya. Drama Piala Dunia 2018 di timnas Spanyol, dan Madrid memecat seenaknya, ga ada yang aneh, justru lumrah di Bernabeu hal macam gini, sebuah rutinitas, yang bikin berang adalah Madrid tak pernah lupa menjadi juara. Dan itulah kenapa banyak orang tak pernah kehabisan alasan untuk membenci mereka. Ini adalah cerita sedih, tragedi helikopter di atas stadium Leicester City menjadi berita kabung. Vichay Srivaddhanaprabha adalah presiden klub paling bahagia ketika The Foxes mengejutkan dunia di musim 2016 karena sejarah juaranya, kali ini beliau kembali mengejutkan dunia atas kepergiaanya yang dramatis bersama putrinya.

Oh Milan itu tim semenjana toh, yang kata Bung Mahfud adalah tim yang hanya berebut posisi empat besar, atau justru tiket Liga Malam Jumat. Begitu juga MU sekarang. “Bersiap menghadapi kesemenjanaan atau biarkan Jose Mourinho merombak tim.”Jamie Jackson (Guardian). Menurut kamus, tim atau sesuatu yang biasa, rata-rata, di tengah, disebut medioker.

Chelsea dan Sarri yang tampak tak menemukan klik itu, berantakan di Wembley. Pelatih nirgelar yang tampak aneh dipilih Roman. Dan Bayern yang tampak kacau di tangan Niko Kovac. Bom, bir, babak belur menjadi tema yang sebenarnya hanya dikait-kait membentuk pola, bagaimana Jerman vs Inggris menjadi laga tak pernah tak seru. Akhir kisah Mou di MU, dalam big match memalukan. “Secara fisik, kami tak sanggup menandingi Liverpool. Aku bahkan ikut lelah hanya dengan melihat Andy Robertson (berlari).” – The Special G(one).

Ole Gunar Soljaer memberi harapan fan MU dengan kembali mencetak lima gol di debutnya sebagai pelatih magang. “Kami bermain dengan keasyikan melimpah…” Jesse Lingard. Arsenal kembali medioker setelah awal musim yang cerah, setelah unggul cepat dengan Pool, mereka digelontor lima gol. Itu Arsenal lama, Arsenal yang sama, itu-itu saja. Sementara City kembali ke kehebatannya lagi. Liverpool yang fokus ke Liga menurunkan pemain antah di FA Cup. Ada yang kenal Ki-Jana Hoever, siapa Rafael Camacho? Siapa pula Curtis Jones? Siapa yang ingat kalau Alberto Moreno masih di Pool? Dan mereka melaju.

Cerita Hudderfield Town dan David Wagner yang akhirnya berpisah setelah timnya jadi juru kunci, tak ada pemecatan karena memang dia adalah legenda. The Terriers mencapai ‘kesepakatan bersama’. “Ini hari yang menyedihkan.”Dean Hoyle. Dulu pernah menimang-nimang jersey Hudderfield untuk kubawa pulang ketika sang penjual salah mengambilkan jersey Brighton yang kupesan. Tapi ga jadi beli juga akhirnya, sekarang tim ini sudah tenggelam di divisi bawah, sayang sekali.

Di tulisan ke-20 ini, Si Gila Bielsa menguliahi tim dengan video bejibun. Dan Frank Lampard yang belajar melatih di Derby Country memberi harapan ke EPL. Sala adalah sebuah keanehan di dunia sepakbola yang sulit dijelaskan. Pemain Nantes yang dibeli mahal Cardiff City hingga memecahkan transfer klub itu hilang dalam perjalanan udara. Berharap membantu Cardiff keluar zona merah, ia tak pernah tiba. Sarriball adalah istilah permainan sepakbola ala Maurizio Sarri, di Chelsea performanya bak yoyo, berpendulum liar. Di bulan Februari 2019, mereka dihajar Bourne 4-0 lalu City 6-0, skor memalukan The Blues. “Sarriball telah gagal, aku tak melihat ada Plan B di sana.”Chris Sutton, mantan pemain Chelsea yang gagal. Saya ingat ini pemain posisi striker tapi malah jadi bek. Bisa juga lu ngeritik ye. Haha…

Dari Keppa untuk Pep, ini baru setahun lalu tapi ternyata ingatanku akan moment-moment penting sepakbola tak setajam dulu. Saya sempat lupa apa yang terjadi, oh ternyata ini drama final Carling Cup yang mana Keppa tak mau diganti jelang pinalti, padahal cedera, seolah dia adalah penentu starting line-up. Mau jadi pahlawan, justru malah gagal memberi gelar pertama Sarri. Padahal drama besar, tapi kenapa saya bisa melupakannya ya? dengan membaca artikel ini, goresan itu terlihat kembali. Benar-benar di usia ini, saya memang memilah mana kenang bagus yang bisa disimpan, mana kenang buruk yang harus dilepas, dan ternyata berhasil, sesaat. “Ini kejadian yang baru saya saksikan setelah sekian lama.” – komentator final.

Zidane pulang. Pas dengar ia resign setelah tiga gelar legendaris UCL, saya sudah yakin ia akan kembali. Tapi ga nyangka secepat ini. Babak belur dengan pelatih timnas Spanyol, lalu pelatih magang itu mencipta nirgelar musim ini, Zidane kembali ke Bernabeu. Sepakbola ‘kacau’ a la Zidane yang tenang dan mematikan. Penunjukannya adalah kelegaan besar yang mendekati kesempurnaan. Dan ‘debut’nya memang 2-0 vs Celta Vigo, Madrid yang normal. Virgil melakukan blunder yang jarang dilakukannya, lalu Ole yang ditunjuk menjadi pelatih tetap langsung terhempas dua kali.

Ternyata di April 2019, Juventus sudah mengunci gelar Serie A. Waduuh… separah itu ya musim lalu. Lazio sedang fokus Copa dengan gengsi sehingga terlalu banyak melepas laga, Atalanta menjelma kekuatan baru. Kalian bosan melihat Zebra juara, musim ini Lazio akan merebutnya. Siapkan sampanye terbaik kalian! Ronaldo yang dibeli untuk UCL, gagal di musim pertamanya di Italia.

Dan apakah senja tak jadi turun? Sehingga Liverpool, ia yang telah sekian lama menjalani puasanya, yang melintasi milenia dalam dahaga, dan masih terlarang menyentuh piala? Musim ini harus diakui Liverpool tak sekadar bagus, tapi menghebat di semua lini. Punya mental juara, punya poin tertinggi di era EPL dan ga juara, sungguh ironis. “Kami gagal juara bukan tak beruntung, kami gagal juara karena Manchester City.”Klopp. Berbagai kalimat perpisahan akhir musim, Robben – Riberry pamit dari Bayern, Barcelona juara tapi tak semeriah yang diharapkan, Valencia menjelma kekuatan baru karena menyodok zona Champions, jangan lupakan Atalanta yang akan melakukan debut di Liga Para Juara. Ada dua paragraf penuh tentang Lazio – akhirnya – hufh… saya ketik ulang sekaligus penutup ulasan ini. Ciao

Lazio, dibawah pelatih Simone Inzaghi, memenangi Copa Italia, tropi besar pertama mereka sejak 2013. Diperkuat pemain-pemain bekas macam Senad Lulic, Milan Badejl, Ciro Immobile, dan Lucas Leiva, atau pemain-pemain yang hanya menunggu waktu untuk pergi seperti Sergej Milankovic-Savic, dan Luiz Felipe, Lazio mengalahkan tim paling menarik dan paling banyak dibicarakan di Italia musim ini, Atalanta.

Gelar ini, juga kesanggupannya membuat Lazio stabil di klasemen liga membuat Simone Inzaghi masuk daftar pelatih baru Juventus. Ia bisa saja tetap di Lazio atau justru ke klub lain, AC Milan misalnya. Tapi sudah semakin jelas, di kepelatihan karier Simone tampaknya akan lebih cemerlang ketimbang Fillipo.

Dua paragraf ini membuatku teringat draf ulasan juara yang sudah kuketik panjang, ternyata sudah setahun dan belum jadi kupos. Bagaimana teriakan juara para Laziale Karawang membahana dalam peluk keceriaan di rumah Bung Adit – ketua Lazio Region Karawang. Mungkin bagi fan lain ini gelar minor, tapi bagi kami ini adalah catatan sejarah besar dekade 2010 menjadi dua kali Copa, sementara Roma nol besar. See…, setiap moment menjadi sangat berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda.

Setelah menyelesaikan baca dan ulas ke-30 tulisan ini, apakah saya ke web geotimes.com? nope. Saya kurang suka berita daring, ga nyaman. Mayoritas ya gitulah, malesi. Buku ini cukup jadi menaikkan pamor, tapi jelas tak cukup tergerakkan jari meng-klik-nya. Saya juga bisa nulis ngoceh sepakbola semacam ini, tentang Lazio di blog ini. Justru berkat Sepakbola Tak Akan Pulang, saya berniat bikin tulisan tandingan, seminggu sekali? Bisalah, apalagi bikin gerah Lazio di sini hanya disinggung sesekali. Bayangkan semusim, Lazio itu tim, maka menyedihkan Biancoceleste disebut tak lebih banyak dari pemain atau pelatih macam Ronaldo, atau Klopp. Mungkin akan kumulai ketika Serie A resmi dilanjutkan lagi bulan ini? #ForLazio #Scudetto

Sepakbola Tak Akan Pulang | by Mahfud Ikhwan | Copyright 2019 | Penyunting Aria Duta B | Tata Letak Werdiantoro | Ilustrasi Sampul Bambang Nurdiansyah | Rancang sampul Katalika Project | Cetakan pertama, 2019 | Penerbit Shira Media | ISBN 978-602-5868-88-7 | vi + 210 halaman | 13 x 19 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 030520 – Hanson – A Song to Sing (live and electric)