Fiksi Etnografis Sempurna: Lock for Best Prosa KSK 20

Orang-orang Oetimu by Felix K. Nesi

Ia suka membaca buku. Sekali ia duduk di depan buku, taka da yang bis abikin ia bangun. Saya yakin ia akan enggan naik ke surga bila dikubur bersama buku.”

===Catatan ini mungkin mengandul spoiler===

Oetimu, dulu ini adalah kerajaan Timu Un, sekarang sudah menjadi Kecamatan Makmur Sentosa. Ini kisah tentang masyarakat di sana, menyelimuti segala nasib manusia. Siapa bisa menjamin, jika besok atau lusa, karena perempuan itu juga, Oetimu tidak menuntut kemerdekaan dari Indonesia?

Keren adalah kata pertama yang kuucap setelah menuntaskan baca. Luar biasa, hikayat singkat orang-orang Oetimu dari zaman dahulu sampai tahun 1998, tahun genting peralihan Orde Baru ke Reformasi. Buku ini melibat banyak karakter, dan hampir semua yang ditelusur kisah hidupnya memberi peran signifikan. Membantu menggerakkan plot secara yahud, menjadikan penentu nasib tokoh lain, dan ini hebatnya Bung Felix K. Nesi tak segan-segan menewaskan karakter favorit! Tak ada yang baik konsisten, tak ada pula yang jahat terus, mayoritas sifatnya abu-abu, pas banget dengan kenyataan kehidupan yang fana ini. Eh, kecuali satu karakter yang dungu, nyebelin tak ketulungan. Namun nyatanya, orang bodoh pun dapat durian runtuh gadis jelita yang menjadi impian semua orang. Mengangkang siap diterkam, Hajindul! Asu!

Kisahnya dibuka dengan menyakinkan sekali, di Oetimu tahun 1998 malam final Piala Dunia di Prancis yang meluluhlantakkan Samba tiga gol itu menjadi kejadian menghantar kronik drama panjang ini. Tersebutlah Sersan Ipi yang menjemput Martin Katibi dengan motor bututnya untuk nonton bareng di pos polisi. Satu jam sebelum tragedi pembunuhan itu, mereka menyumpah Amerika, dituduh dalang kekacauan dunia. Ronaldo loyo, Amerika yang dihujat. Khas kaum kadrun.

Nobar itu menjadi petaka buat warga ketika Sang Sersan mengumumkan rencana pernikahannya dengan Nona Silvy, primadona kampung yang masih sekolah, siswa pindahan yang cerdas nan jelita. Dengan hasil separuh babak amburadul dua tandukan Zidane, sang tetua pulang lebih dini, para pembunuh sudah di rumahnya, menyekap anak istri. Mereka tak mengira, sepakbola 2 x 45 menit itu tak penuh, sang tuan rumah pulang cepat! Mendebarkan? Tentu saja, tapi untuk mengetahui nasib mereka kita diajak melalangbuana jauh ke belakang.

Di Lisbon tahun 1974, Julio Craveiro dos Santos akan dikirim ke Timor membantu Mario Lemos Pires dalam proses dekolonisasi Portugal. Rencana awal istrinya Lena dan anaknya 16 tahun Laura akan ditinggal, tapi ketika disampaikan Timor itu bukan Afrika, itu Negara kecil dekat Australia jadi relatif aman, tak bar bar seperti Afrika? Gundulmu! Maka diputuskan sekeluarga dibawa. Rencana dan perkiraan yang bagus itu menjelma bencana, Timor dalam gejolak politik. Ada tiga partai yang berdiri menjelang dekolonisasi: UDT yang menginginkan persatuan dengan Portugal, Fretelin yang menginginkan kemerdekaan penuh – sebelumnya bernama ASDT, dan Apodeti yang kecil dan ingin bersatu dengan Indonesia, Negara tetangga bekas jajahan Belanda. Walau Julio mencoba tak ikut-ikut suasana, mencoba netral tak memihak politik manapun, nasib malang menimpa, menjadikannya korban keganasan politik. Semua tidak baik-baik saja. Sadis sekali kisah hidup keluarga ini. Julio Craveiro dos Santos yang malang. Atas nama rakyat Maurebe, kalian adalah martir-martir pertama.

Legenda Am Siki mencipta kisah tersendiri, kembali ditarik lebih jauh ke belakang di era penjajahan. Am Siki menjadi masyur dan dihormati di seluruh negeri. Namanya harum mewangi dan dikenal ke pulau-pulau lain. Mereka sering menyebutnya pahlawan, yaitu ksatria yang membunuh untuk menyelamatkan bangsa dari cengkeraman Jepang. Ama Nemo Manas Manikin, leluhur salah satu pemimpin negeri. Konon hujan tak pernah membasahinya, angin hanya meniupnya jika mendapat izin, dan bila ia menunggang kuda di siang terik, awan akan berputar-putar di kepalanya, melindungi ia dari sengatan matahari. Segala yang tumbuh di atas tanah itu hanya milik leluhur semata, jika membutuhkan sesuatu, ambillah, tapi jangan untuk berperang. Am Siki turunan orang sakti itu, pohon lontar yang ajaib. Pohon lontar itu membacakan syair dalam uab Meto.

Bagaimana ia menjadi pahlawan sungguh kocak. Am Siki menyelamatkan kudanya yang diperkosa tentara Jepang, tapi ditafsir menyelamatkan bangsa sebab selain membantai Nippon ia juga membakar area romusha. Orang-orang bisa menyelamatkan diri. Lalu waktu menjelma dongeng legenda. Sejak Am Nu’an pendongeng dari Oetimu yang rabun terjun ke jurang yang disangkanya kolam ikan dan mati, orang meminta Am Siki untuk mendongeng. Ia adalah pencerita yang handal, yang bercerita dengan kata kerja yang gampang diimajinasikan dan beragam isyarat tubuh. “Tidak boleh dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Ingat? Tidak boleh diperkosa, sekalipun itu kuda…

Laura yang terlunta berhari-hari dalam keadaan hamil terdampar di Toko SUBUR: Berdiri Karena Sabar. Dikira penyihir saking kumalnya, dikira orang gila. Panggilkan Am Siki, tetua kampung. Maka Am Siki mengulurkan tangannya. Menyulap gadis dekil menjadi jelita. Laura melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Siprianus Portakes Oetimu atau yang kita kenal nantinya sebagai Sersan Ipi yang kita baca di bab pertama.

Ketika lulus SMA, sang kakek angkat mencarikan jalan hidup nyaman. Sebagai tetua adat, ia lalu menyambut pejabat. Am Siki memandang mereka dengan heran dan bertanya bagaimana bisa orang terhormat tidak memahami syair, padahal ia berkata dengan diksi dan metafora yang bisa dipahami oleh orang Timor paling tolol sekalipun. Ipi berangkat pendidikan kepolisian, dan peran sang legenda berakhir sudah.

Ia menjadi seorang polisi tunggal yang gagah, ditakuti anak-anak sekaligus dihormati sebagian kalangan. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia adalah aparat Negara yang berseragam, ia akan bertindak atas nama Negara, demi kebaikan daripada seluruh warga Negara. Dia menjaga keamanan wilayah, suatu hari dua siswa berkelahi karena permasalahan mimpi basah. Kalian boleh mimpi basah dengan siapa saja, dengan Nona Silvy, dengan istri A Teang, atau dengan Lady Diana sekalipun. Namun jangan berkelahi, demi Tuhan, kalian hanya bocah bodoh, kencing saja belum bisa bikin lubang tanah. Belum tahu dia, betapa jelitanya Nona Silvy ini. Maka ketika ia ke rumahnya yang sepi, ia gemetar jatuh hati. Bagian ini sampai melenguh lega adalah bagian terbaik, anjay kalau saya bilang. Pertama ketemu bercinta, dan saling mengikat. Menghamili adalah cara lain untuk melamar. Silvy yang cerdas memilih calon ayah bagi anaknya, Ipi yang lelah karena hobi nganu-nya menemukan sarang yang pas. Kalau ini adaptasi Disney, garongnya keok. Namun enggak, ini adalah hikayat orang sial.

Tersebut pula Atino yang membela Negara, memberantas radikalisme para pemberontak. Apes pula nasibnya sebab sebuah serbuan maut membunuh keluarganya. Dengan dendam kesumat, ia menjadi pasukan Petrus-nya Soeharto, sambil mencatat para pembunuh untuk balas dendam. Sampai di sini tentu saja kita tahu, di bab mula bahwa ia merencana balas dendam, dan Martin Katibi tentulah salah satu dalam daftar.

Untuk kembali ke benang putus bab satu, kita masih diajak muter ke sebuah kehidupan lain. SMA Santa Helena yang termasyur itu dituturkan dari mula sekali. Romo Yosef ditugaskan menjadi kepala sekolah bobrok pesisir karena hukuman. Ia sukses mengubah sekolah kumuh menjadi sekolah favorit, banyak trik. Orang-orang cepat jatuh hati pada kemiskinan dan selalu ingin menjadi pahlawan. Dari sumbangan dan kerja keras. Bagaimana ia di ditempatkan di sana memang misteri. Ada yang bilang ia melakukan pelanggaran, ada yang bilang ia naik pangkat setelah menjadi asisten pastor ia kini menjadi orang nomor satu, walau terkucil. Tenang, kita akan diberitahu detailnya, karena dari Maria Goreti Naleok-lah sumber itu. Masa muda Maria yang idealis di kampus bertemu calon pelayan Tuhan yang kalem. Untuk menutupi gerakan mahasiswa, mereka membentuk Kelompok Doa Mahasiswa Ora et Labora, dan laki-laki itu turut serta. Lelaki berilmu yang dingin kepala, akan betah bersama perempuan yang cerewet dan suka mengumpat. “Jika kita selalu menjadikan Tuhan sebagai pelita, sebagai penuntun jalan kita, maka kita pasti bisa menjalani setiap cobaan di dunia ini.” Mereka saling cinta, terjadi berkali-kali ciuman panas, Maria sudah menyatakan ketertarikannya, tapi Yosef sudah membulatkan tekad menjadi pastor. Maka melalui ciuman panas perpisahan, Mari melanjutkan hidup menikah dengan lelaki Rumah Sakit bernama Wildan. Keluarga ini sempurna ketika buah hatinya lahir. Bung Felix tertawa, sebuah kecelakaan menewaskan suami dan anaknya, dan Maria menjanda. Seorang cerdas ini mendapat nasib buruk.

Nah, janda ini melakukan ciuman dengan Romo Yosef, masih ada cinta di antara mereka. Adegan hot itu ketahuan sang kepala, maka ia harus angkat kaki. Nasib akhir Maria sendiri membuat merinding. Orang cerdas tak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan, banyak impiannya tak terkabul, cinta, karier, keluarga ini. Rapuh. Di pemakaman suami-anaknya ia mengumpat, umpatan yang fasih dan menggelegar di arena dukacita. “Kesatuan Negara? Kesatuan Negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya… Sangkamu kesatuan Negara lebih penting daripada… puih! Anjing!”

Kita kembali ke Silvy Hakuak Namepan yang lulus seleksi masuk SMA, Yunus Mafut Namepan menangis seperti gembala kehilangan sapi, bukan bahagia, tetapi ia menangis sebab terus-terus merasa gagal menjadi orang tua. Nasib Yunus sendiri mengambang. Setelah ditinggal istrinya Yanti yang kabur sama laki lain, ia mengalami degradasi mental. Guru yang terpuruk. Nah, Silvy putri tunggalnya ini cerdas, membuat heboh sekolah asrama ini. Sebab kerap ia menyela penjelasan mereka dan mengajukan argumen lain dengan sumber data yang jelas dan landasan berpikir yang kuat. Tak ada yang bisa membantahnya. Kecerdasan ini membuatnya diminta keluar kelas, diminta belajar mandiri dalam perpustakaan pribadi asrama. Kita tahu ada adegan mesum di dalamnya karena suatu ketika sang kepala sekolah pulang dalam keadaan demam, dan terjadilah apa yang yang menjadi penyebab Silvy ke Oetimu.

Satu tokoh lagi yang menjadi link adalah Linus Atoin Aloket. Dari enam ratus delapan puluh Sembilan orang sarjana laki-laki yang melamar, ia satu-satunya yang diterima sebagai guru SMA Santa Helena. Karakter bodoh yang aneh nan menjengkelkan. “Di dunia yang fana ini, uang bisa membeli kebahagiaan kalau kau tahu cara menggunakannya.” Menjadi guru sejarah tapi nggak nyambung masalah masa lalu. Apa pula gunanya berpikir? Ia hanya perlu bekerja. Kerja, kerja, dan kerja. Biarkan Romo Yosef yang berpikir. Tokoh paling menjijikkan ini menjadi kunci utama untuk menyambungkan adegan pembuka, mengapa Silvy pindah sekolah diantar Om Lamber dan Tanta Yuli.

Di Oetimu, segala yang ditata rapi itu berakhir berantakan. Saya suka sekali kisah hidup tragis, Bung Felix menyajikannya dengan melimpah ruah, suram adalah koentji. Orang-Orang Oetimu adalah novel lokal terbaik yang kubaca tahun ini. Serius!

Hajindul, keren banget! Sabtu malam kemarin (26/09/20) saya chat WA sama teman diskusi (buku, bola, film) – Bung Tak saya memanggilnya – bahwa pemenang KSK tahun ini adalah Orang-orang Oetimu, beliau punya podcast channel dan mau undang ngobrol. All hail mokondo channel! Beliau tanya, tahu dari mana? Pengalaman membaca banyak buku membentuk pola, otomatis feeling bagus/jeleknya bisa diperkira. Benar saja, esoknya di Minggu siang yang terik saya mendapat kabar lima besar dari Dunia Maya, dan buku ini melaju. Nah kan! Dari delapan buku KSK 20 yang sudah kubaca, ini satu-satunya yang berbintang lima. Masih dua buku lagi sore itu baru diterima via pos, tapi keduanya sudah gugur duluan. Jadi fix, bisa dipastikan juara Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 kategori prosa adalah novel ini.

Banyak sekali kritik sosial disampaikan. Korupsi, perilaku buruk masyarakat, sampai birokrasi yang ribet. Orang-orang itu telah korup sejak dalam pikirannya, sehingga satu pejabat korup hanya akan digantikan oleh kroninya yang juga korup, dilindungi oleh rezim yang juga korup, dipermudah oleh sistem yang juga korup, dan didukung oleh budaya tidak tahu malu yang menjijikan. Atau kritik kekerasan dalam pendidikan. Dalam asrama itu diperboleh. Tak apa jika mereka dibikin nyonyor dan berdarah-darah. Lebih baik berdarah di masa muda daripada hancur seluruh masa depannya…

Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 ini sepertinya akan berpesta di 15 Oktober nanti. Fiksi Etnografis Sempurna: Orang-Orang Oetimu is lock for best Prosa KSK 20. Wanna bet?

Orang-orang Oetimu | by Felix K. Nesi | Penerbit CV. Marjin Kiri | Juli 2019 | Cetakan ketiga, Februari 2020 | i – viii + 220 hlm, 14 x 20.3 cm | ISBN 978-979-1260-89-3 | Desain sampul TINTA Creative Production | Skor: 5/5

Karawang, 280920 – Jo Stafford – Autumn Leaves (1950)

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokopedia

Delapan sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Nasib Mang kAslan Kita yang Menentukan

Rab(b)i by Kedung Darma Romansha

Memang kadang dunia bekerja dengan tidak adil… Telembuk yang diludahi di muka umum, juga diludahi ketika di dalam kamar.”

Kalau ngomongin Kedung Darma Romansha, bukunya akan selalu berkutat di selakangan. Kelir Slindet sangat kental ke arah sana, Telembuk lebih ekstrem lagi. Maka apa yang kurasakan di tengah gempuran Rab(b)i sudah kukenali pola itu. Buku ketiga yang kunikmati, ngalir saja, ga perlu mikir aneh-aneh, ketawa sahaja. Seperti satu-dua yang butuh waktu lebih untuk ‘tune in’ sampai buka kamus arti ‘slindet’ atau arti ‘telembuk’ yang baru kutahu, tak heran sejak cerita pertama saja sudah bisa menebak, bagaimana enggak aneh? Istri jadi TKW, kasih modal suaminya di kampung buat niduri seratus pelacur! Selain dari judul yang dicoret, ada alasan poin penting yang akan diungkap di cerita ketiga.

Novel yang tiap bab bisa berdiri sendiri, dari sudut pandang banyak karakter, saling silang melengkapi. Sang Diva, tokoh utama di kisah sebelumnya, kini hanya cameo, sesekali saja muncul dan disebut.

#1. Kaji Darsan Rab(b)i

Hikayat orang kaya yang baik hati memberi pekerjaan kepada orang susah. Sampai akhirnya kita tahu, tak ada yang gratis di dunia ini. Kisahnya tentang suami tak tahu diri. Seorang pemimpi tak tahu diri, sebenar-benarnya pemimpi. Kerjanya hanya melamun dan berjudi.

Tentang Kartamin dan keluarganya yang bekerja di toko kelontong milik Kaji Darsan, padahal sejatinya ia dijanjikan jaga empang, di menit akhir diganti orang lain, kisah Dulatip akan dibeberkan di cerita berikutnya.
Namun kita akan mengenal lebih dekat sama putra sulungnya yang beruntung bernama Untung. Menikahi Wasti dengan adegan ketiaknya (jorok woy!). “… Kamu tahu, kalai bau ketiak laki-laki itu menyenangkan?” Menjadi istirnya, nantinya juga menjadi ATM-nya ketika memutuskan jadi TKW. Emang dasar Untung, malah rabi lagi sama Nurlaila yang suka peliharaan ayam. Drama itu menemui ujung udur dua istri. “Wah hebat kamu, suamiku perkasa!”

Pembuka yang mantab sekali. Ilustrasi cover-nya sangat pas, ayam jago santuy sementara dua babon padu. 20 juta tunai!

#2. Nar

Tentang Narka yang yang menjadi tukang parkir untuk dapat duit buat nyawer. “…Saweran adalah candu bagi setiap pemeluk dangdut garis keras. Kamu sendiri pemeluk teguh, tentu juga aku.” Bergoyang bersama Diva Fiesta adalah impian setiap pemuda untuk mencium aroma tubuhnya dan menatap aurat kecantikannya dari dekat.

Ini drama keluarga, urusan suami-istri yang bertengkar karena ekonomi. Namun suatu ketika Nar memiliki surpes, kejutan buat rabi-nya. Zaman sudah berubah, lakon sudah berubah, tapi masih menyukai cerita lama. Memang kadang cinta membuat seseorang bersikap tak wajar.

Jangan membantah suami, Dosa!” / “Membantah suami kalau kayak kamu ini dapat pahala.”

#3. Juragan Empang

Alibi dibalik kenapa Kartamin gagal mendapatkan pekerjaan urus empang ada di sini. Dengan sudut pandangnya yang menjadi karyawan Pak Kaji, dan istrinya yang ngambek. Kartamin merasa beruntung diberi pekerjaan oleh Kaji Darsan, pendapatannya yang labil sebagai buruh tani, buruh bangunan, atau serabutan lain selain nganggur, kini ia bisa bernapas lega. Ada yang aneh terkait istrinya yang semok berhari-hari ga mau rabi, bahkan saat diberi kejutan gelang emas di meja kamar. Sebab ngambeknya lalu dituturkan dengan santuy dan menghentak, lewat kamar yang sedikit terbuka, dan permintaan cerai!

Ia ingin membeli kesenangan setelah lama kami hidup serba pas-pasan.

#4. Ngarot

“…Ia juga punya istri mirip tukang pukul. Suka membentak, ia tersenyum hanay ketika melihat uang.aku berani bertaruh, siapapun laki-lakinya, hasrat seksualnya akan turun jika bertemu perempuan seperti dia…”

Ini mungkin cerita yang paling biasa. Bagaimana nasib pemuda-pemudi yang dipilih jadi ngarot. Ditemui typo juga, harusnya tiga bulan tapi malah tiga tahun. Rasmini yang terpilih dalam acara kasinoman dalam upacara Ngarot, muda-mudi dengan darah segar mendebarkan. Memilih laki-laki perjaka, dan gadis perawan. Indikasi bunga layu akan menunjukkan keasliannya sudah tak suci lagi.

Drama di tengah sawah dengan Mang Sukri. Duh! Pulung guna pulung sari. “Semua orang takut sama kakakmu, tapi rasa cintaku lebih besar dai rasa takutku.”

#5. Menjaring Bidadari

Nelayan yang diajak melawan pantangan, melaut di kala purnama. Kegiatan yang katanya membentuk kutuk sulit jodoh, menurut Kaki Bayong. Hanya di kampung ini Tuhan menurunkan bidadari di kala purnama. Bertiga melaut, memang benar-benar tak dapat ikan. Lalu acara sambatan pasar jodoh muda-mudi di malam itu menjadi pahit, karena Narka malah mendapat apa yang ia mau. Hiks,…

Selama ini yang mereka lakukan adalah kesia-siaan. Kasihan mereka, sudah hidup susah, malah disumpahi masuk neraka.

#6. Kang Sodikin

Kiai mbeling putra Kiai Soleh dari desa Rajasinga yang bergaul tanpa memisahkan kasta. Isi ceramahnya juga nyeleneh, lebih membumi. Gaul dengan siapa saja, tak peduli telembuk atau jelata yang membutuhkan siraman rohani. Kisah ini menemui titik akhir, bagaimana malam-malam ada perempuan menanyakan alamat Kang Sodikin, fitnah itu kejam. Maka Dorman dkk yang punya dendam lalu melancarkan isu negatif, menggelar demo ke rumahnya, walau peserta segelintir (tak lebih dari sepuluh). Jawabnya bikin geger, tapi bohong!

Sebuah misteri terjawab, Sang Diva disebut lagi. “Wujud nyata yang paling dekat dengan Tuhan di dunia ini adalah perempuan.”

#7. Lebar-an

Ini unik, walau bukan pola baru mengungkap sebuah kengerian pribadi yang meninggal. Bagaimana sebuah pos ronda menjadi tempat diskusi maksiat guna melancarkan aksi curi, tempat yang seharusnya menjadi titik kumpul penjaga keamannya malah menjelma ajang judi dan perencanaan merampok. Jelang lebaran, kebutuhan manusia turut meningkat, dan marak begal dan kriminal.

Dengan sudut pandang Aan yang merindu suasana kampung setelah kuliah keluar kota, momen lebaran memang jadi waktu lepas rindu keluarga dan sahabat lama, ada Casta dan Kartam yang saling curhat masalah keluarga. Menanti sobat lama Yusup alias Kriting apakah mudik tahun ini, ia merantau ke Jakarta (tepatnya Bekasi). Ketika sudut pandang berganti, tahulah kita apa yang terjadi. Rindu itu berat, biar aku saja. Baju baru, celana baru, jam tangan palsu baru…

Di tepi jalan ini kami biasanya membakar singkong tanah sambil membicarakan kerumitan hidup, perempuan, kelakar, dan omong kosong lainnya.

#8. Asbabul Wurud

Siapa yang sanggup menjawab rahasia mimpi-mimpi? Ustaz Karim, sebab orang takut mati adalah orang yang imannya lemah dan cinta dunia.

Banyak-banyaklah beribadah, jangan mau diperbudak dunia. Setelah meyakinkan untuk siap mati, beliau malah mengalami mimpi buruk, yang ia yakini datangnya dari setan. Namun sampai lima malam, ia bermimpi masuk neraka dengan adegan lain seorang telembuk masuk surga. Wajah ayu yang menghantuinya, lalu ia buka facebook-nya Mang Kaslan dan mengetahui siapa gerangan. Si Ratu Goyang yang rajin sedekah, Si Nadira Cantik alias Warjem. Masa lalu diungkap tentang sumbangan dari uang haram. Nah lo!

Pesantren yang sebenarnya ya sekarang, di tengah masyarakat.

#9. Jangan Tanya Dulu Bagaiamana Aku Mati

Kata ‘seandainya’ hanya akan membuatmu terpuruk dan lupa diri. Kamu akan menjadi orang yang tak waras dan akhirnya mengutuk ketidakmampuan diri sendiri. Ini kisah unik, kisah dari sudut pandang si korban pembunuhan, yang sudah baca Telembuk pasti tahu siapa germo Diva Fiesta, yang tewas dibacok orang tengah malam di tengah sawah. Kisah dituturkan runut dari masa lalu Mak Dayem, usia 12 tahun menjadi istri siri, menikah kedua kali kacau lagi, menikah ketiga kali sejatinya lebih tenteram, syarat tidak nelembuk malah dilanggarnya. Kalian tahu? Ialah ibu dari Warjem. Namun bukan itu kejutannya, ini adalah kisah mistis mediumisasi.

Kenyataan hidup telah mengubah cinta menjadi pembunuh yang paling mengerikan.

#10. Mang Kaslan

Jangan macam-macam dengan nama, karena nama adalah doa.” Mang Kaslan yang merasa jadi singa, karena namanya sempat menjadi Aslan (singa – bahasa Turki). Ia adalah karakter penting yang jadi penghubung, menjadi ojek Diva dan Warjem, yang menjadi rujukan Ustaz Karim dalam menelusur dunia maya, yang jadi penjawab tanya, Safitri atau Sapitri? Pipit atau Fitri? Nah, kali ini di tengah perjalanan satu setengah jam bersama motor tuanya, ia terjungkal. Dan nasibnya kita yang menentukan.
Marah pada diri sendiri dan tak sanggup menghadapi kenyataan yang sedemikian pahit.

#11. Mengenai Pengarang

Pernah nyaris kusingkirkan novelnya (walau sudah kubeli) karena ada unsur ‘Roma-nsha-nya’ di nama belakang, tapi urung setelah sosmed mencipta hubung, memastikan bukan Romanista. Penulis Indramayu yang pernah mondok di Yogya, dan kuliah jurusan Bahasa dan Sastra di UNY. Boleh jadi semua yang ditulis tentang tanah kelahirannya adalah fiksi, tapi bercerita tentang dunia sekitar adalah hal wajar dan tentu saja tampak sangat nyata, ga perlu telaah mendalam untuk bilang tokoh Aan adalah gambaran Kedung, walau nantinya keduanya berinteraksi. Makanya tampak perkasa dan baik hati, dan eeheemmm… soleh. Lulusan pesantren! Tahun 2017 Telembuk yang luar biasa, sangat tipis untuk meraih juara KSK, apes saja Dawuk muncul di tahun yang sama. Prediksiku, Rab(b)i akan melaju lagi ke lima besar, sejauh ini ada tiga yang berskor: 4.5 bintang. Mari kita lihat, sehebat apa mantra Kaji Darsan mewujudkan mimpi penciptanya, moga ga sampai keselek mlinjo.

Kalau boleh kasih saran, buku berikutnya sesekali mencoba jauh dari tema yang membentuk citranya sebagai penutur sekitar selakangan. Misalkan, bikin cerita genre fantasi imajinasi, perjalan ke galaksi Bima Sakti. Atau tentang kekayaan flora dan fauna laut, berjuang membantu Aquaman, misalkan ya ini. Jangan ketawa, kan sekadar contoh. Namun percuma juga sih, seandainya dibuat, tahunya astronot mesum ketemu alien nongkrong atau nelayan yang terperangkap putri duyung yang lagi cari mangsa. Duh! Nelembuk enak, setelah maninya muncrat, langsung gajian. Mudah, praktis, dan enak. Bayangkan di luar angkasa, atau di tengah laut. Maninya melayang.
Hehehe…

Tambahan dikit, ada nama Dea Anugrah di sini. Dua kali saya menemukan namanya disebut dalam novel. Pertama dalam Dekat dan Nyaring-nya Sabda, sekilas lewat cameo di akhir, kedua di sini, sebagai sahabat tobat. Asyik juga ya menyebut sobat Penulis dalam buku. Sungguh terasa istimewa Sang Bakat Menggonggong ini, apakah sebuah konsolidasi?

Rab(b)i | by Kedung Darma Romansha | Copyright 2020 | Penyunting Anis Mashlihatin | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Ilustrator sampul Hidayatul Azmi | Penata sampul dan isi M. Sadam Husaen | Cetakan pertama, Juli 2020 | Penerbit Buku Mojok | viii + 136 halaman | 14 x 21 cm | ISBN 978-623-7284-30-7 | Skor: 4.5/5

Karawang, 170920 – Yusuf Islam – Father and Son

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokped

Empat sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Realitas Merenggut Mimpi-Mimpinya

La Muli by Nunuk Y. Kusmiana

Tahukah kamu, Inah, nelayan sepertiku tidak bisa memilih-milih. Aku tidak benar-benar tahu ikan apa yang memakan umpanku. Cukup sering menangkap penyu dan terpaksa kulepaskan. Meski hati ini sedih mendapati mulutnya yang terluka karena kailku.”

Buku kedua dari Nunuk Y. Kusmiana yang kubaca setelah Lengking Burung Kasuari yang memukau itu, debut yang sukses berat. Kali ini temanya lebih variatif, mengambil sudut pandang penduduk asli Papua yang ditunjuk menjadi ketua RT, mencoba memecahkan masalah warga, menjadi penghubung pemerintah dan penduduk asli dan juga pendatang. Sebagai nelayan yang baik hati. Pondasi utama cerita ini adalah sebuah sumur yang terbuka yang coba dibuatkan dinding agar tak terjadi porno aksi, mereka dianggap melakukan mandi dengan porno sebab area terbuka, mengenakan sarung untuk dewasa dan telanjang bulat untuk anak-anak. “Masuk neraka saja komandan itu. Bikin susah semua orang, mentang-mentang dong tidak pernah mengalami susah air.”

Kali ini seolah tokoh-tokoh penting di Lengking menjadi tokoh pendukung saja. Bu Letnan adalah perwujudan ibunya Asih yang membuka toko kelontong. Kisahnya hanya berkutat di Papua, ujung Timur Indonesia yang bergabung dengan Indonesia 1969. La Muli adalah ketua RT yang terpilih, tak berpengalaman berorganisasi, warga asli kebanyakan yang tak terlalu mengenal birokrasi, mengalahkan La Ode Komarudin yang lebih kaya dan telah lama diakui berkuasa (walau tak sah). Istrinya Mutmainah (dipanggil Inah) adalah pribadi yang sederhana pula, berpikir praktis yang penting dapur ngebul, ada ikan yang dibawa pulang. Urusan dinding yang rumit, tak menghasilkan uang atau makanan membuatnya muak. Sejatinya hampir semua istri juga gitu-kan, “Cari duit kakak, bukan pangkat atau jabatan!”

Sebagai nelayan kecil, La Muli menjadi presensi nyata kehidupan warga kebanyakan. Tidur awal menjadi kemewahan tersendiri bagi nelayan seperti dia. Dibuka dengan masa kecilnya yang absurd bahwa ia akan menjadi orang penting yang disampaikan berkata-kata oleh kakek berambut putih yang dianggap gila, tapi ramalannya jitu. Ketua RT yang (mencoba) mengayomi, istrinya terlihat ngalir saja hidup. Pakai seragam? Enggak! Dapat gaji? Enggak! Apa pentingnya?! “Pekerjaan ini adalah kontribusi nyata warga bagi tertib administrasi.”

Suatu ketika dapat instruksi dari Komandan untuk membuat dinding di sumur umum agar tak menjadikan porno aksi, hal sederhana ini lalu memicu rentetan panjang masalah. Iuran warga per Kepala Keluarga (KK) dua puluh lima ribu rupiah, menjadi beban. Bukan macam gini, main buka mulut saja, macam uang tinggal ambil di pohon-pohon. Tak semua mau memberi, ada yang bayar tunai, ada yang bayar separuh, ada juga yang tak mau bayar. Pak RT mumet. Polemik pertama muncul dari pelacur berambur lurus, Sarita yang tinggal menyewa rumah La Rabaenga, belakang rumah Wa Ome. Ketika ditagih, malah menyampaikan kabar untuk menagih ke palanggannya yang utang, La Udin. Dalam rapat, walau La Muli tak menyampaikan langsung salah satu masalah penarikan iuran, hanya tersirat, tetap membuatnya marah. Suatu malam, La Udin melakukan tindak kekerasan yang berakibat Sarita harus dirawat di rumah sakit. Ada warga mendengar jerit sakitnya, tapi malah pasif sama ‘Bibi’, soalnya sudah terbiasa mendengar jeritnya. “Menantuku dengarkan ini, kalau ada kejahatan sedang terjadi dan kita diam saja, padahal kita mampu melakukan sesuatu, bukankah kita ikut berdosa?” Jangan bayangkan rumah sakit yang mewah dan mudah dijangkau, di sana urusan medis juga rumit dan sebagai ketua RT, ia harus mengantar. Waktu dan tenaganya tersita banyak.

Di sinilah seninya, urusan dinding sumur merembet ke yang lain. Bahkan eksekusi endingnya ketika dinding jadi-pun masalah bukannya selesai, malah melebar ke lain hal pula, karena dinding itu bermasalah (saya bocorin dikit, masalah cakar ayam!) lalu malah La Muli dituduh korupsi dana warga. Astaga… mau mandi nyaman dan aman saja ribetnya. “Mengapa ada orang yang tega mengurusi bagaimana caranya orang mandi?”

Buku ini juga terasa bervitamin, dengan menyodorkan fakta-fakta kecil yang asyik. seperti pola tidur nelayan yang menyesuaikan jadwal kerja. “La Muli masih tidur, kamu akan sulit membangunkannya, meskipun kamu meledakkan bom di telinganya. Beginilah nelayan sejatinya, atau kamu bisa kembali sedikit siang, ia akan bangun saat itu.”

Fakta permainan harga untuk komoditi ikan, saat bulan terang dan saat ada badai, harga ikan melambung tinggi seperti harga emas. Mirip dengan budaya pertanian yang mana, kala panen raya justru harganya terjun. Atau hal sepele tentang sopan santun berpakaian ketika menghadap orang penting, “baju diseterika membuat bapa kelihatan penting.”

Tentang tata cara berniaga ada yang bikin trenyuh, bagaimana ada yang jualan hasil kebun dari pulau seberang. Pulau Muna yang jauh, mengangkut hasil alam untuk dijual di sana, dengan mengarungi laut dua hari berperahu seadanya, bersama angin yang menggerakkan layar terkembang! Gilax, terdengar janggal tapi juga nyata. “Selamat datang, selamat berjuang di tanah rantau yang keras ini.”

Di Papua nuansa reliji juga kental. Sayangnya Allah kelewat sibuk bekerja, sampai-sampai aku mendapat ‘kembung-kembung’ yang tidak berharga ini, dan teri yang jauh tidak ada harganya di pasar. Rasanya aneh debat suami-istri ini, saling silang pendapat. Dua orang yang berdoa kan lebih kuat daripada hanya satu orang, “Kurasa kalau kau ikut berdoa, Allah akan menutup kupingnya, karena kamu selalu berdoa dengan berisik. Kalau kita berdoa untuk mendapatkan hanya ikan yang tidak kelewat besar. Mungkin Allah akan mendengar doamu dengan mendatangkan ikan-ikanyang tepat.”

Satu lagi fakta asyik. bagi kita ngopi bergelas-gelas dengan aneka rasa dan merek sudah biasa, dan setiap saat juga bisa. La Muli dan uring-uringan istrinya yang kekurangan dana, buat kopi manis saja jarang-jarang. Sebuah kejadian langka, ngopi manis dan nyaman dengan buku atau HP. Maka ketika bertamu ke Sarita meluruskan masalah dan mendapat suguhan kopi, bersama Letnan. Respon keduanya berseberangan. Pak Letnan yang berkecukupan, menganggap kopinya basa-basi yang tak menarik (bahkan tak diminum!), lain halnya Pak RT. Ia mencecap dan menikmati setiap seruputannya. La Muli membayangkan akan kenangan kopi manis di rumah Sarita. Mulutnya bahkan masih bisa mencecap rasa manis yang tertinggal di sana. Haha… bersyukurlah wahai umat santuy sekalian.

Tentu saja kita harus angkat topi untuk pemilihan diksi, dibawakan dengan meriah dan renyah. Mencipta nyaman para pembaca guna mengikuti alirannya. Bahkan dengan menatap pohon pisang dengan tanpa alasan yang jelas dan menanyai tentang jenisnya. Sebaris kalimat sederhana yang mumpuni. Atau penutup paragraf berujar: Senja lenyap seperti satu tiupan napas. Malam pun datang. Nah! Sastra yang asyik-kan, tak perlu kerut kening untuk dunia jauh, dituturkan dengan porsi adonan kata pas. “Dinding yang bagus, aku ikut membangunnya.”

Nilai minusnya, ada beberapa misal: terlampau sering menyebut ‘batok kepala’ sebagai ungkapan ada pemikiran yang akan atau tertahan untuk disampaikan. Sekali dua sih OK, tapi ini udah kebablasan. Tema sumur sempat akan membuat boring, konyol sekali, sampai sebegininya urusan air bersih. Untungnya temanya diperlebar ke lainnya, terutama ketika Inah memutuskan terjun ke laut saat ‘bertemu’ teman lama Zubaidah, teman Mutmaimah satu-satunya di perantauan mati bunuh diri. Kisah menjelma abu-abu, memudar dan melejit lagi dalam bayangan. “Jangan mengingini yang aneh-aneh Idah, tidak baik menyimpan pikiran macam itu.”

Tema kritik pemerintahan juga tersebar di banyak halaman, tank bekas Perang Dunia II di lepas pantai yang akan dibeli (oleh orang Jawa), menjadi polemik suku asli. Besi rongokan yang oleh kaca mata awam otomatis berpikir, buat apa? Dihargai oleh orang jauh, buat museum misalnya. Papua besarnya tiga setengah kali pulau Jawa luasnya. Lalu kritik terhadap birokrasi, “sering kukatakan kepada anak buahku harus menangani kampung kacau-balau ini dengan tegas, tapi tidak kasar.” Dan terutama sekali ketika Bapa Ondoafi dan anaknya menghadap Gubernur. Kelihatan sekali itu suara hati sebagian rakyat, orang-orang Pemerintah itu hanya mau menafsirkan hukum yang menguntungkan mereka saja. Tentang hak guna tanah, hak kelola dong tapi dimaksudkan jual beli. Dengan naskah kumal dan kuno sebagai bukti? Kritik nyata dalam sastra. Jadi kalau kalian membenci penjajah, atau merasa nenek-moyangnya didzolimi, sampai mengutuk keras Belanda atau Jepang atau segala penindasan yang melatari segala hubungan bilateral, pikir lagi! Sangat jelas, bangsa kita juga melakukannya hal serupa. “Sudah kuduga akan begini.”

Debat suami-istri ditampilkan tak hanya La Muli dan Inah. Pak Letnan dan istrinya yang menjaga kios juga sesekali muncul. Walaupun kita sudah banyak menikmatinya dalam drama Lengking Burung, di sini sisa-sisa sausana kehebatan Bu Yatmi masih terlihat. “Dia itu polisi, Bu. Aku tentara, beda urusan… Dia urusan sipil aku urusan perang, beda jurusannya.” Asyik. Sehat terus #Wildan!

Ditemukan beberapa kata tak baku, misal ‘hutang’, typo juga berkali-kali ditemukan contoh: ‘bagaiamana’, ‘istrtinya’. Bagian teknis yang bagus tentu saja ada di covernya yang keren. Suka sama ilustrasi sederhana gini. Urusan cetak kertas buram atau hvs bagiku tak terlalu pengaruh yang penting jilidnya OK. Kalau boleh saran, editingnya harus ditingkatkan, triple check kalau perlu. Proof reader itu penting, sangat dianjurkan! Ini adalah satu dari rangkaian paket KSK Daftar Panjang dari Basabasi, yang tahun ini mengirim empat wakil! Wow… untungnya #unboxing pertama ini, bagus. Jadi ada antusiame lebih guna melanjutkan. Prediksiku, dengan skor empat setengah bintang (skor yang sama kuberikan untuk Lengking Burung) rasanya sangat pantas masuk daftar pendek. Tema mirip dengan Burung Kayu yang kemarin selesai baca (suku pedalaman, ketua RT/Kepala Desa, sampai budaya lokal yang tergerus), tapi jelas pembawaan La Muli lebih mantab, lebih hidup, lebih asyik, lebih terasa lelehan nikmat di setiap halamannya, bisa jadi sebab Nunuk mengambil setting tempat ia tumbuh, sudah menghirup dalam-dalam bertahun latar yang dicerita, singkatnya tempat yang sudah ia sangat akrabi, jadi memang seolah mencerita pengalaman pribadi. Good!

Ketika laut mampu memberimu apa saja, mengapa mengais-aisnya di daratan? “Pendek saja doanya, Allah tahu bagaimana terdesaknya kita dengan waktu.”

La Muli | by Nunuk Y. Kusmiana | Editor Faisal Oddang | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Tata sampul Sukutangan | Tata letak Ieka | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, Maret 2020 | Penerbit Basabasi | 200 hlmn, 14 x 20 cm | ISBN 978-623-7290-78-0 | Skor: 4.5/5

Karawang, 160920 – Linkin Park – Plc 4 Mie Head

Thx to Basabasi Store, Titus Pradita, Shopee.
Tiga sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Legeumanai Sura’-Sabbeu

Burung Kayu by Nudiparas Erlang

Mengapa dendam dan pertikaian tak berkesudahan?”

Buku yang kental sekali budaya daerah Mentawai, di pedalaman Pulau Siberut, Sumatra. Banyak kata daerah disodorkan, butuh beberapa kali baca kata itu muncul dan diulang untuk paham, karena di sini tak ada bantuan/glosarium. Imajinasi naratif yang rada kebablasan. Temanya mempertahankan budaya asli di tengah gempuran modernitas, pemerintah pusat (Jawa) yang mencoba masuk, mendirikan perkampungan baru, memberi bantuan rutin, memberi opsi agama International, mencoba memberi napas pemikiran baru. Sementara kebiasaan lama dengan roh kepercayaan, seteru dengan suku sebelah, sampai kebiasaan-kebiasaan yang turun dari moyang perlahan kena gusur. Tema bisa juga lebih melebar dengan unsur memertahankan lingkungan asli, hutan yang sudah banyak dibabat itu harus dilawan. Namun tak, lebih ke drama keluarga. Seperti kata-kata di sampul belakang, ini tentang dendam yang terkorusi waktu dan keadaan. Mereka diikat kepentingan yang sama: menyelamatkan hutan dari penggundulan, menuntut ganti rugi atas ladang dan hutan yang akan dimanfaatkan perusahaan.

Kritik sosial juga tersaji dalam perselisihan surat serah terima tanah 36 hektar tanah kepada Dinas Sosial menjadi seluas 360 hektar. Jelas itu manipulasi data, korupsi khas Indonesia. Rasanya bikin geram, tapi nyatanya memang hal-hal semacam ini ada, menjamur subuh di era Orba. Maka sungguh jenaka ada karakter anjing bernama Sistem atau Pemerintah.

Kisah utamanya tentang Legeumanai, sosok yang kuat dan berdiri di antara budaya lama dan serbuan budaya nasional. Kerja sama dunia medis dan dunia roh yang mungkin bisa ditempuh tanpa mencederai keyakinan para penghuni lembah. Ia menjadi penghubung, pejabat yang ditunjuk mewakili suku sekaligus mulut pemerintahan Indonesia. Untuk sampai ke sana, kita diajak keliling ke masa lampau. Masa ketika berburu babi menjadi gengsi tinggi para uma/suku pedalaman.

Pertikaian-permusuhan antardua uma, sudah terjadi lama sekali sebelum masa Legeumanai. Sejarahnya tercatat (dan mungkin terbaca lucu), karena babi kabur bisa menjadi pemicu pembunuhan. Perselisihan uma satu dengan uma lain, dimulai dari seekor babi sigelag, babi besar yang dijadikan alat toga keluarga Babuisiboje untuk mengawinkan anak lelaki mereka dengan adik perempuan Baumanai. Naas, babi yang dipersembahkan itu kabur pulang, lantas dicari dan ditanyai, tapi enggan mengaku. Nah, si gadis membocorkan fakta. Dan dua pemuda yang naas dibunuh karena emosi. Permusuhan itu lalu turun temurun, karena para pembunuh kabur membuka lahan baru dan beranak pinak. Baumanai yang dikenal di sekujur lembah sebagai leluhur yang pernah membunuh keluarga Babuisiboje. Keturunan berharap kedua uma akan menjalani paabat.

Uma yang patut disegani di saentero lembah menjadi jargon utama. Membalas kekalahan berburu dengan menenggerkan burung enggang-kayu di puncak pohon katuka. Menjadi petaka ketika sang pemanjat tewas di depan anak dan istrinya. Awan hitam menggumpal-mengental di atas bubungan sapou-nya… hanya remang senja yang terlihat. Menjadi penutur bagaimana tragedy itu tercipta. Ah, siapa yang dapat mengira cuaca? Saengrekerei ke puncak pohon. Memasang burung enggang-kayu, dan wuzzz… wassalam.

Uma-uma atau suku-suku yang berkerabat dan yang bermusuhan – sebagaimana kisah-kisah yang kadang mengesankan, kadang memilukan, kadang membanggakan, yang didapatnya saban malam dari teuteu-nya. Mengurai-mengurut asal-usul uma, tak mungkin terhindar dari kisah mengenai pertengkaran dan perpecahan, kekecewaan dan kepergian, ketakcukupan dan keterpisahan. Ayam dan babi adalah pembayaran yang sangat berharga pada waktu itu

Kisah cinta sepasang remaja yang tengah menikmati rejana semesta. Mereka beda uma, mereka menyatukan atas nama asmara. Tampak romantis, berkencan dengan alam dan seekor ulat yang menyatu dalam ciuman. Cintanya tak pernah ikut mati atau menjadi sekadar kiretat di pohon durian dan di dinding uma. Keduanya melupa, melupa pada pantang-larang, pada tulou yang mengintai dan mengancam.

Keputusan Taksilitoni menikahi adik iparnya memang diliputi banyak alasan, tapi terasa masuk logika demi anak kesayangan Legeumanai. Pindah ke Dusun Muara, barasi baru buatan pemerintah untuk memajukan suku-suku di hulu. Saengrekerei sang kepala desa yang dihormati, ada bagian ketika bantuan dari pemerintah beras-beras berkarung itu akan didistribusikan dengan kapal, agar tak bolak-balik maka beberapa kapal mengangkut banyak, tapi tetap saja ada yang tak terangkut, sebagai kepala desa yang berpengalaman ia memutuskan yang tak terangkut disumbangkan ke daerah sekitar. Beres? Sementara…

Karena suatu ketika muncul desas-desus bahwa beras itu dikorupsi sang kepala desa, mengambil dan menyimpan untuk pribadi. Betapa marahnya ia, maka ia melakukan sumpah. Bernyali melakukan tippu sasa, melakukan kutukan bagi dirinya sendiri di hadapan banyak mata. Dan berdoa Ulaumanua melindungi anaknya. Jleb! Keren… Padi tak pernah tumbuh subuh di tanah gambut tanah lumpur tanah cadas.

Ada bagian setiap selip beberapa bab, tentang tarian mistis. Antara impian atau kenyataan, laku purba untuk memohon roh leluhur atas sebuah musibah atau permintaan yang rasanya sulit diwujudkan. Mimpi-mimpi tentang sirei muda yang menari di atas api unggun. Jangan biarkan jiwa-jiwa keluar dari kampung ini. Dan engkau roh-roh punen, terimalah roh-roh mereka, dan lindungilah mereka dari segala penyakit dan dari kejahatan. Persembahan yang rasanya akan dimusnahkan agama baru itu lantas kembali dilakukan demi keselamatan seorang terkasih. Legeumanai Sura’-Sabbeu. Ia dingin di dalam api…

Dalam remang purnama, semua yang hadir di uma itu bergeletakan; sebagian berbaring begitu saja di beranda, sebagian lainnya membentangkan kelambu-kelambu dan meringkuk di dalamnya. Pikirannya kusut-masai.
Budaya yang dipertahankan menjadi benteng kemajuan. Seekor babi telah disembelih, dimantari, dan dibaca juga gurat hatinya. Bukahkah jiwa-jiwa kami telah dipikat sedemikian rupa agar tetap betah di uma. Lucu juga agama baru yang diperkenalkan mendapat sambutan, walau banyak yang berganti-ganti sesuai selera. Semua orang mengaku sebagai simata saja, sebagai orang awam saja. Sebagian menanggalkan agama lama dan menggantinya dengan salah satu agama-baru-resmi-pula. Rada aneh rasanya, Menyanyikan lagu-lagu pujian kepada tuhan yang bukan roh leluhur. Babi bagi muslim haram, tapi di sana kan jadi kebanggan kekayaan. Sipuisilam, tak boleh makan babi. Nah!

Ini adalah kandidat pertama KSK yang kubaca pasca pengumuman daftar panjang. Lumayan bagus sebagai pembuka, bisa masuk daftar panjang saja sudah syukur, apalagi bisa melaju ke lima besar, yang jelas bukan jagoanku untuk juara. Buku pertama yang kubaca dari penerbit indi Teroka, yang ternyata masuk ke ‘Naskah yang Menarik Perhatian Juri’ Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019′. Temanya terlalu umum, sudah sangat banyak cerita tentang suku pedalaman yang diterjang modernitas, walau dengan bahasa yang unik, walau dengan narasi yang mendayu, walau dengan meliuk-liuk panjang, jelas kualitas adalah utama.

Telusur kata itu menemukan klik akhir yang menentrampakan, bahagia dan lega.

Puncak pohon katuka, sebuah uma, jajaran abagmanang, bakkat katsaila… Tampak luar biasa, magege.

Burung Kayu | by Nudiparas Erlang | Copyright 2020 | ISBN 978-623-93669-0-2 | Penerbit CV. Teroka Gaya Baru | Cetakan I: Juni 2020 | Penyunting Heru Joni Putra & Fariq Alfaruqi | Sampul Kevin William | Tata Isi Gerbera Timami | Skor: 3.5/5

Untuk para pemeluk teguh Arat Sabulungan

Karawang, 140920 – Protocol Harun – A Whiter Shade of Pale

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokped.
Dua sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

“Saya Sudah Mencoba Menjalani Hidupku Sebaik Mungkin…”

Kusala Sastra Khatulistiwa 20

Dari kisah buku panduan membunuh raja sampai dunia imaji Selma, dari negeri temaran senja sampai kisah perjuangan memertahankan kepercayaan yang dianggap sesat, dari kisah jagoan kampung yang buruk rupa menjadi suami si jelita sampai perjuangan Indonesia mengusir penjajah, dari orang-orang terusir di negerinya sendiri mencoba pulang sampai pangeran dan saudara-saudaranya bertempur ke negeri antah. Semua tersaji demi kalian pecinta sastra.

Di zaman yang serba digital, saringan karya itu sangat perlu. Dan berterima kasihlah pada ajang-ajang penghargaan yang memberi (walau tak semua) pilihan berkualitas. Seolah jadi panduan rekomendasi baca. Saya sudah mencoba menjalani hidupku sebaik mungkin…, melahap buku sebagus mungkin.

Dalam dua puluh tahun terakhir, sastra kita lebih semarak. Era Reformasi yang lebih bebas dan liar dalam menyampaikan pendapat. Hal-hal yang rasanya tabu di masa Orde Baru kini sudah merdeka. Tema yang variatif, terkadang vulgar, out of the box, perbaikan catatan sejarah, religi, beragam cerita daerah, semuanya berusaha berlomba mencipta unik. Dan muncullah penghargaan bergengsi Kusala Sastra Khatulistiwa (sebelumnya bernama Khatulistiwa Literary Award 2001-2013) yang digagas oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki.

Berikut para pemenang dari edisi pertama sampai 19:

2001
Puisi: Goenawan Mohamad, “Sajak-sajak Lengkap 1961-2001”

2002
Prosa: Remy Sylado, “Kerudung Merah Kirmizi”

2003
Prosa: Hamsad Rangkuti, “Bibir Dalam Pispot”

2004
Nonfiksi: Sapardi Djoko Damono, “Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan”
Fiksi: Linda Christanty, “Kuda Terbang Maria Pinto”; Seno Gumira Ajidarma, “Negeri Senja: Roman”

2005
Puisi: Joko Pinurbo, “Kekasihku
Prosa: Seno Gumira Ajidarma, “Kitab Omong Kosong”

2006
Prosa: Gde Aryantha Soethama, “Mandi Api”
Puisi: Dorothea Rosa Herliany, “Santa Rosa”

2007
Penulis Muda Berbakat: Farida Susanty, “Dan Hujan Pun Berhenti
Prosa: Gus ft Sakai, “Perantau
Puisi: Acep Zamzam Noor, “Menjadi Penyair Lagi”

2008
Puisi: Nirwan Dewanto, “Jantung Lebah Ratu”
Penulis Muda Berbakat: Wa Ode Wulan Ratna, “Cari Aku di Candi”
Prosa: Ayu Utami, “Bilangan Fu”

2009
Puisi: Sindu Putra, “Dongeng Anjing Api
Prosa: “F. Rahadi, “Lembata
Penulis Muda Berbakat: Ria N. Badaria, “Fortunata

2010
Puisi: H.U. Mardi, “Buwun”; Gunawan Maryanto, “Sejumlah Perkutu Buat Bapak.”
Fiksi: Linda Christanty, “Rahasia Selma”

2011
Fiksi: Arafat Nur, “Lampuki
Puisi: “Nirwan Dewanto, “Buli-Buli Lima Kaki”; Avianti Armand, “Perempuan yang Dihapus Namanya”

2012
Fiksi: “Okky Madasari, “Maryam
Puisi: Zeffry J. Alkatiri, “Post Kolonial dan Wisata Sejarah dalam Sajak”

2013
Prosa: Leila S. Chudori, “Pulang
Puisi: “Afrizal Malna, “Museum Penghancur Dokumen”

2014
Prosa: Iksaka Banu, “Semua Untuk Hindia”
Puisi: Oka Rusmini, “Saiban

2015
Prosa: Dorothea Rosa Herliany, “Isinga: Roman Papua”
Puisi: Joko Pinurbo, “Surat Kopi”

2016
Prosa: Yusi Avianto Pareanom, “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Puisi: F. Aziz Manna, “Playon

2017
Prosa: Mahfud Ikhwan, “Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu
Puisi: Kiki Sulistyo, “Di Amperan, apa Lagi yang Kau Cari?”
Karya Perdana atau Kedua: Nunuk W. Kusmiana, “Lengking Burung Kasuari

2018
Puisi: Avianti Armand, “Museum Masa Kecil”
Prosa: Azhari Aiyup, “Kura-kura Berjanggut
Karya Perdana atau Kedua: Rio Johan, “Ibu Susu

2019
Puisi: Irma Agryanti, “Anjing Gunung
Prosa: Iksana Banu, “Teh dan Penghianat

Iseng, menghitung berapa buku yang sudah kubaca dari daftar tersebut. Ada sepuluh buku, yah lumayan. Sedari dulu memang lebih sering baca buku terjemahan, buku klasik, buku-buku dengan nama besar pengarang. Nah, berkat penghargaan KSK (dan Dewan Kesenian Jakarta – DKJ) saya seolah dipilahkan, tinggal membuat anggaran belanja yang disodorkan ke May aja buat di-acc. Hehe…

Pada hari Sabtu, 5 September 2020 kemarin melalui twitter @richard0h mengumumkan daftar panjang kandidat KSK ke-20. Periode penjurian Juni 2019-Juli 2020, disusun berdasarkan abjad.

Prosa

#1. Arafat Nur, “Kawi Matin di Negeri Anjing (Basabasi, Maret 2020)
#2. Ben Sohib, “Kisah-kisah Perdagangan yang Gemilang (Banana, Februari 2020)
#3. Felix F. Nesi, “Orang-orang Oetimu” (Marjin Kiri, Juli 2020)
#4. Kedung Darma Romansha, “Rab(b)i (Mojok, Juli 2020)
#5. Maywin Dwi-Asmara, “Surat-surat Lenin Endrou (Basabasi, Juli 2019)
#6. Niduparas Erlang, “Burung Kayu” (Teroka Press, Juni 2019)
#7. Nunuk Y. Kusmiana, “La Muli (Basabasi, Maret 2020)
#8. Nurul Hanafi, “Makan Siang Okta, Sebuah Cerita Tiga Bagian” (Shira Media, September 2019)
#9. Samar Gantang, “Leak Tegal Sirah” (Indonesiatera, November 2019)
#10. Yetti A.KA, “Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi Kematian” (Basabasi, April 2020)

Puisi

#1. Beni Satryo, “Antarkota antarpuisi” (Banana, Agustus 2020)
#2. Binhad Nurrohmat, “Nisan Annemarie” (Diva Press, April 2020)
#3. Deddy Arsya, “Khotbah si Bisu” (Diva Press, Desember 2019)
#4.Esha Tegar Putra, “Setelah Gelanggang Itu” (Grasindo, Januari 2020)
#5. Gaudiffridus Sone Usna’at, “Mama Menganyam Noken” (Papua Cendikia, September 2019)
#6. Inggit Putria Marga, “Empedu Tanah” (Lampung Literatue, November 2019)
#7. Mutia Sukma, “Cinta dan Ingatan” (Diva Press, November 2019)
#8. Ratri Nindytia, “Rusunothing” (Gramedia, November 2019)
#9. Seno Joko Suryono, “Di Teater Dyonysos” (Anom Pustaka, April 2020)
#10. Triyanto Triwikromo, “Nabi Baru” (Diva Press, Juli 2020)

Kategori prosa seperti tahun-tahun sebelumnya akan kukejar baca-ulas sebelum pengumuman pemenang. Tahun ini, ketika nominasi diumumkan saya baru membaca satu buku: Kisah-kisah Perdagangan yang Gemilang, sudah saya prediksi bakalan masuk dengan menyebut ‘Goodluck for KSK 2020’ di akhir ulasan. Jadi masih sembilan lagi. Dan rasanya tahun ini lebih mudah dalam mengejarnya, sebab toko buku daring langganan setelah kujapri, semua buku ready stock! Sebelumnya harus berburu, mencari dari pedagang buku daring, dari seberang pulau, sampai pesan langsung ke penerbitnya. Kalau penerbit yang aktif di sosmed dan besar sih lebih nyaman, nah yang penerbit indie/daerah terkadang lama respon. Sudah dua kali sih aman, ini yang ketiga. Dan Wow, ga perlu berburu njelimet ke dunia maya.

Dari daftar , yang mengejutkan prosa, dari Penerbit Major Gramedia tak ada satupun. Dominasi ada di Penerbit Basa-Basi, perjuangan mereka mengadakan sayembaya novel dan diterbitkan sendiri harus diacungi jempol gede-gede. Mereka sedang menuai buahnya, ada empat bukunya muncul. Dan kabar baik ini direspon keren dengan menawarkan paket. Saya sendiri mengambil paket tiga bukunya, yang normalnya seharga 170 ribu menjadi 120 ribu. Lumayan.

Di kategori puisi dominasi ada pada Diva Press yang memborong empat nominasi, Gramedia Grup dua, dan Banana penerbit indie paling aduhai ini juga menempatkan satu bukunya. banyak nama asing (baru) yang kukenal, kecuali jelas yang disebutkan terakhir yang jago nulis ceria pendek, kali ini mencoba peruntungan di syair. Persis debut puisinya dalam Kitab Para Pencibir yang sukses, rasanya Nabi Baru laik dinikmati.

Sampai sekarang (11/09/20) tiga buku sudah mendarat, tiga buku sedang dalam perjalanan, dan tiga buku lagi akan dikirim akhir bulan. Jadi minimal sampai akhir bulan, saya harusnya sudah mereview enam buku. Lihat, betapa dunia literasi menyenangkan sekali!

Nantinya, dari sepuluh kandidat akan disaring menjadi lima. Dan puncak acara diumumkan di malam anugerah di Plaza Senayan Jakarta (waktu tba). Jadi siapa pemenang tahun ini? See ya… nantikan ulasan lengkapnya dan prediksi special dari LBP.

Karawang, 110920 – Roxette – Spending my Time

Kami Berjodoh

Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa by Andi Eriawan

“… Asalkan kamu berdamai dengan hatimu, kamu akan menemukan jawabannya di sana.” – Bundanya Pram

Ini novel membuatku takjub tahun 2000-an, bukunya Jemy K (teman sekamar di Ruanglain_31, Cikarang) yang turut ditaruh di rak kecilku, dipinjam teman lalu tak tentu arah, entah siapa yang pinjam dan tak kembali. Hiks… Generasi Dilan akan shock ketika tahu ada cerita cinta sejoli Bandung yang mengharu biru dengan belitan romansa jauh lebih berkualitas. Dua kali baca, dua kali pula mewek.

Kisahnya tentang Laila, gadis Bandung yang dicintai penuh tanpa syarat oleh Prameswara, jejaka Bandung pula yang istimewa. Mereka telah menjalin asmara selama Sembilan tahun, sebuah angka pacaran yang luar biasa, tapi pembukanya adalah sendu, karena Laila menerima paket pos berupa jam dari Pram di ulang tahunnya. Posisinya mereka sudah putus, dan Laila yang merasa tak enak hati, menelusur kenangan. “Kamu begitu sempurna dengan ketidaksempurnaanmu.”

Alur lalu dibuat acak, kembali ke masa sekolah pertama kali bertemu, Pram seperti Dilan merayu dengan gaya. Suka nulis puisi, cita-cita arsitek, jago gambar, penyendiri. Mencintai Laila yang cantik jelita, suka cubit, ceria, dan nggak suka kaun kol. Sudah saling cinta sejak sekolah, dan apapun yang terjadi sudah pula mendeklarasikan jodoh. Selamat datang di kehidupan dewasa, segala ujian waktu mencoba menggoyahkan.
Pram terlihat sangat dekat dengan orang tua, terutama Bundanya. Segala cinta dan keseruan dunia remaja dicurahkannya, Laila adalah pujaan yang diwujud lukis pajang di kamar, rumahnya yang jauh dari hiruk-pikuk kota, masih asri. Laila juga tampak baik-baik saja, keluarganya welcome, bata-bata kehidupan terus disusun. “Mencintai tidak butuh alasan, tapi menikahi seseorang membutuhkan alasan.”

Riak-riak itu dimunculkan dalam berbagai daya dari luar. Teman lama Laila semasa SMP datang lagi dalam kehidupannya, Bubung yang baik dan pernah menyatakan cinta. Ketika mendaftar ke ITB jurusan penerbangan, ketemu. Dan jadi kakak kelasnya. Laila adalah satu-satunya cewek di angkatan itu, tiga cowok kesemsem, Laila jelas mahasiswi tercantik. Pesonanya tak terbantah. Pasca lulus, Bubung dapat kerja sebagai engineer di Malaysia Airline, menjauhkannya sementara. Namun cinta Bubung memang kuat, berjanji akan merebut Laila dari Pram, memberi cincin nikah diamond mahal, walau saat itu ditolak, Bubung meminta balik nantinya pas nikah atau saat ketetapan hati sudah final. Memperlakukan Laila seolah ia adalah perempuan terakhir di dunia. Setiap jutaan hal kecil yang dilakukan terasa begitu istimewa.

Pram masih dengan dunia imajinya sendiri. Mengaku sebagai penjelajah waktu, gombal ala Dilan. Hidup di era Majapahit, era kemerdekaan, era Kasultanan Malaysia, jadi manusia lama di Siberia, dst. Mimpi itu tampak nyata dan sungguh kuat. Bualan itu hampir saja memberi percaya. Setidaknya buat Laila, bukti-bukti terpampang. Apalagi saat perjalanan ke Malaysia, ada tautan di sana. Nah, di Negara tetangga itu Bubung belum menyerah. Membantu Laila selama tinggal di sana sebagai tenaga bantu proyek kampus. Terharu, dan sungguh miris melihat perjuangan lelaki ini. Cintanya pada Laila sungguh gila, tapi jawaban yang tegas memang diperlukan dan sudah berkali-kali diucap. Finalnya, kami berjodoh. Takdir, siapa yang bisa melawan? Bahkan ketika manusia sudah sempurna merencana, takdir pula yang menghakimi.

Semua daya dan upaya memang menuju perwujudan dua karakter utama bersatu. Kisah manis bak sinetron yang tayang di jam utama. Namun seperti yang terbaca di pembuka, mereka akhirnya berpisah. Laila memutuskan hubungan, Pram stress dan murung sekali. Cita-citanya sebagai arsitek dilepas demi membuka kafe, hari itu kafe Laila tutup. Laila bermaksud menyampaikan permohonan maaf setelah di ulang tahunnya yang ke 24 mendapat kado jam tangan. Dari bundanya Pram kita tahu, ia mencoba berdamai dengan kenyataan. “… Bila ia memang bersikeras ingin berpisah, apalagi selain melupakannya.”

Menerima pinangan teman ayahnya kerja di Yogyakarta. Maka Laila menyusul ke sana, mencoba memberi kejutan tanpa memberitahukan kehadirannya, Laila shock ada lukisan dirinya di ruang khusus di hotel tempatnya menginap. Lebih shock lagi eksekusi endingnya, pembaca juga kaget. Hiks…

Entah kenapa novel ini belum diangkat ke layar lebar, padahal semua kriteria bagus untuk diperkenalkan ke khalayak lebih umum dalam balutan visual sudah ada. Dibanding Dilan yang terlampau lembek karakternya, Laila cerita remaja yang dalam masa transisi ke dewasa menampilkan realita menyentuh, puitik, drama, dan tentunya ending yang jleb. Membayangkan adegan payung dan jajan di kantin seberang sekolah, tahi lalat di pipi kiri, sampai adegan ‘terbang’. Lebih berkelas ketimbang di boks telpon, ‘rindu itu berat’. Tahun 2011 pas ke toko buku Cikarang, sempat lihat cetak ulang. Senang, akhirnya ada cetakan berikutnya. Namun karena segel saya ga tahu cetakan ke-berapa, yang jelas gaungnya tak sebesar yang kuharapkan.

Kata Always, Laila sendiri kita temukan setelah setengah perjalanan novel (halaman 121!), di akhir email. Dengan setting 2000-an, email dan sms begitu dominan untuk komunikasi jarak jauh. Tak ada WA, tak ada sosmed, tak ada kenarsisan yang menyinggung di dunia digital. Rahasia Laila, bahkan bisa bertahan beberapa bulan, berarti memang keluarga sudah kompak menahan informasinya.

Berkorban demi orang terkasih juga menjadi tema, Pram ‘mengalah’ akan ambisi, padahal ia jago gambar. Saling mengalah, guna pacar mendapat masa depan yang lebih cerah tercermin pada tindakan Laila yang memutuskan lamaran asyik di Laila’s Cafe, 26 Desember 2003, dan ia tahu kalau jujur Pram justru akan menguat dan setegar karang, sungguh tindakan yang masuk dinalar dan berat disampaikan. Dia memang yang terbaik. Dramatisasi ketika melihat Pram bahagia naik sepeda dengan kedua tangan terentang, menjadi ironi, menjadi bumbu drama bikin gereget, yah seperti itulah hidup, pahit. Ia pernah jatuh cinta dan terluka. Bila perempuan itu memang satu-satunya perempuan yang bisa ia cintai di antara milyaran lain, ia akan terus mencintainya. “Kamu memang lelaki terbaik yang pernah kutemui.” – Laila

Tampak sekali ini ditulis sebagian adalah pengalaman pribadi, memang fiksi tapi kesamaan pendidikan Andi Eriawan dengan setting kampus di ITB jurusan penerbangan jelas bukan sebuah kebetulan. Memang beda rasanya tulisan yang berdasar pengalaman dengan angan-angan, terasa sekali diketik dengan memetakan ingatan masa lalu. Salut! Kudoakan menjadi film bioskop, Mas. Saya akan nonton di hari pertama. Semoga…

 

Laila… nama yang cantik. Orangtuamu pandai memberi nama. Mungkin mereka tahu kau akan tumbuh secantik ni.

Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa | by Andi Eriawan | Penyunting Denny Indra | Desain sampul FN | Penata letak Jefri Fernando | Penerbit Gagas Media | Cetakan pertama, November 2004 | xii + 228 hlm.; 19 cm | ISBN 979-3600-38-1 | Skor: 4.5/5

Untuk Prameswari yang membenci daun kol

Karawang, 05-060820 – La Nina de los Peines – Al Gurugu (1946)

Thx to Lifian, Tangerang

The Partner adalah Novel Tukang Tipu yang Ditipu, Hingga Pembaca Turut Dikelabui

The Partner by John Grisham

“Tak ada masalah. Ini bukan pertama kalinya ia menggugat tergugat yang salah. Ini strategi. Sedikit simpati tidak akan merugikan.” – Patrick

Diburu dan memburu, polemik hati dan limpahan putar uang gede menyeret banyak kalangan guna adu cerdik, mengetuk Dinding Ego para pengacara. Ini kisah tentang pengacara Amerika yang memalsukan kematian, menyaksikan pemakamannya pada 11 Februari 1992, mencuri 90 juta dollar dari biro hukumnya, dan tertangkap empat tahun kemudian ketika menyepi hidup di Brasil. Uang tersebut sudah dalam perjalanan, sudah disetujui, dokumen-dokumen sudah ditandatangani, perintah-perintah sudah dimasukkan; mereka bisa melihatnya, mencium baunya, nyaris menyentuhnya ketika Patrick Lanigan yang mati menyerobot uang tersebut pada detik terakhir yang memungkinkan. Uangnya bergerak cepat dan sungguh merumitkan diri. Dari Washington ke Nasional Bank, sejam kemudian sampai di Nassau, lima belas menit sudah di United Bank, dan Sembilan menit berlalu tiba di Malta, dan akhirnya berpindah ke Panama. Novel setebal 500 halaman yang sangat memikat, mungkin salah satu cerita tentang pengadilan terbaik yang pernah kubaca. Desas-desus dikumpulkan, didengar, diciptakan. Rahasia menjadi hal langka di Coast. Harapan kian meninggi, sementara gosip didaur ulang. Tak ada komentar dari para pemain, tapi spekulasi liar dari reporter. Uang yang dicurinya terlalu banyak, seandainya jauh lebih sedikit korban-korbannya tidak akan begitu bertekad memburunya.

Pembukanya Patrick Lanigan ditangkap di Ponta Pora, kota kecil yang nyaman di Brasil, perbatasan dengan Paraguay oleh Biro penyelidik terkenal dari New Orleans, dipimpin oleh Stephano, mereka menginterogasinya. Cara memaksa minta informasi dengan penyiksaan brutal, dengan listrik dan darah di mana-mana malah menjadi boomerang. Patrick dengan uang haram 90 juta dollarnya menjadi sangat menarik.

Kisahnya ditarik mundur. Plotnya acak, beriringan, karena setiap keping jawab akan memenuhi lubang berikutnya. Bogan usia 49 tahun, ia yang tertua di antara berempat. Doug Vitrano, sang litigator yang mengusulkan Lanigan menjadi partner kelima menjadi: Bogan, Rapley, Vitrano, Havarac, dan Lanigan. Pengacara dan penasihat hukum. Dengan iklan besar “Spesialis dalam Bidang Kerugian Lepas Pantai”. Spesialis atau tidak, seperti kebanyakan biro hukum, mereka akan menerima apa saja bila uangnya besar. Biro hukum dengan begitu banyak kebencian. “Apakah kamu berpikir kita akan memperoleh uang itu, Charlie?”

Patrick lalu diminta dilepas oleh FBI, dibawa ke Amerika untuk ditangani. Karena lukanya mengerikan, ia tidak ditahan di penjara, ia dirawat khusus di rumah sakit. Di Biloxi, setting utama cerita ini langsung masuk headline, kasus pencurian yang yang besar menarik minat. Ancaman dikurung di Penjara Parchman mengerikan.

Kehidupan pribadi Patrick dikupas. Pernikahannya yang tak bahagia sama Trudy. Trudy adalah gambaran cantik impian masa kini, secara fisik. Badan ramping dibalut pakaian senam, berlumur keringat, berambut pirang diekor kuda dengan kencang. Tidak ada satu ons pun lemak di tubuhnya. Sekaligus berhati kejam, sangat sadis. Sudah tepat Patrick menciptanya menjadi mantan istri: wanita yang menyenangkan, tapi berubah jadi keji ketika langit runtuh. Anaknya Ashley Nicole bukan anak kandung Patrick, kemungkinan anak kandung Lance Maxa selingkuhannya. Tes DNA dan foto-foto telanjang itu bukti yang kuat. “Kuucapkan selamat, tak ada lagi yang terlibat.” Karena kita tak akan membahas urusan gugatan cerai berikutnya, kita sampaikan di sini saja. Trudy mendapat asuransi kematian Patrick sebesar 2.5 juta dollar. Dengan bangkitnya ia dari kubur, jelas ia kebakaran kaus senam, maka ia menuntut balik. Naas, segala bukti mengarah Trudy (dan Lance) salah, dan kalah telak. Namun karena ini masalah paling sepele di sini, oleh Grisham dieksekusi santuy, memuaskan banyak pihak. Bisa kubayangkan Pengacara Trudy, Si J. Murray Riddleton jumawa dan gede ndase, hahahaha… Kedengkian menjadi kecenderungan yang wajar.

Patrick terancam dituntut hukuman maksimal karena terindikasi pembunuhan berencana, sebab proses kaburnya terbukti ada mayat. Jadi ia melakukan ‘bunuh diri’ mobilnya kecelakaan tunggal, terguling, terbakar, dan ditemukan mayat yang kita semua kita itu dia, sekarang kita tahu mayat itu tokoh asing. Apa pun yang diberikan klien saya dijamin undang-undang dan rahasia, Anda tahu itu. Itu dinamakan produk kerja pengacara. Cutter membenci pengacara, karena mereka tidak mudah digertak.

Selama masa pemulihan tinggal di rumah sakit dengan penjagaan ketat. Kunjungan dibatasi, Hakim Karl adalah sahabat lama dan kisah ini banyak sekali melintas masa lalu dari tuturan mereka berdua, ia bersimpati dan jelas tak akan menjadi hakim di sidangnya. Kunjungan ke rumah sakit adalah kunjungan teman lama. Nama samaran Carl Hildebrand (untuk menghormati beliau), lalu menjadi Randy Austin. “Aku hakim, fakta-fakta penting bagiku.” Mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun, lama sesudah ia berlalu. Ada begitu banyak pertanyaan, begitu banyak untuk diucapkan. Ruangan itu berputar dengan berbagai kemungkinan dan skenario.

Kepada Hakim Karl, Patrick menumpahkan banyak sekali hal. Proses kecelakaan yang disengaja. Aku tak tahu bunyinya akan begitu ribut. Bunyi sirine itu begitu keras, tahulah aku aku berlari menuju kebebasan. Patrick sudah mati, dan membawa serta kehidupan buruk. Proses mengambilan mayat, dan siapa dia. Pembaca yang pening dan deg-degan malah tertipu, betapa mudahnya proses itu terasa. Cuma butuh sedikit pemikiran dan perencanaan.

Kasus ini menjadi besar dan semakin meluas dengan setiap fakta baru dibuka. Aku bergulat mati-matian untuk memecahkan satu teka-teki, dan sepuluh misteri lain menimpaku. Ada perkataan dari film lama, “Saat kau melakukan pembunuhan, kau melakukan dua puluh lima kesalahan. Bila bisa memikirkan lima belas di antaranya, kau jenius.”

Dalam prosesnya malah kita mendapati kebusukan birokrasi dan seluk beluk pengadilan. Orang tak bisa merampok bank, tertangkap, lalu menawarkan mengembalikan uang itu bila tuduhan dicabut. Keadilan bukan untuk diperjualbelikan. Para seniman pengadilan bekerja terstruktur. Kerjanya dalam sidang metodis, bebas dari gaya framboyan dan mematikan. Negara versus Patrick Laginan, sidang kasus nomor 96-1140. Jaksanya adalah T.L. Parish yang sudah sarat pengalaman, menjebloskan para penjahat. Duel pengadilan yang patut dinanti.

Seorang gadis yang menjadi penghubung kasus ini lalu diungkap. Nama aslinya Eva memakai nama samaran Leah. Kau tidak boleh panik ketika kau dalam pelarian, demikian berkali-kali Patrick berkata. Kau berpikir, kau mengamati, kau menyusun rencana. Patrick menyewa pengacara sahabat kuliahnya yang handal, Sandy. Seperti teman-teman kuliah, mereka begitu saja pergi menempuh jalan masing-masing. Negosiasinya sangat jago, tapi karena Patrick sendiri pengacara seolah Sandy adalah pion, otaku tama segala keputusan jelas sang tersangka. Sangat licin dan liat, waspadalah para pembaca kalian menuju terkelabui. Kalian para pengacara memang saling mengurus diri sendiri. Pengacara perusahaan asuransi selalu bepergian berpasangan. Tak peduli apa pun tugas yang harus ditangani, harus ada dua orang sebelum pekerjaan dimulai. Keduanya medengarkan, melihat, berbicara, mencatat, dan yang terpenting keduanya menagihkan uang jasa untuk pekerjaan yang sama.

Proses pencurian data selama Patrick menjadi partner malah tampak keren sekali. Membeli pelacak, pengintai, penyadap, sampai segala peralatan canggih di era 1990-an. Ruangan bernama Closet karena sempit. Ada meja kecil berbentuk persegi dengan satu kursi pada masing-masing sisi. Tanpa jendela, dengan langit-langit miring karena ada anak tangga di atasnya. Keluar dari Closet ada yang kesal, sambil mengumpat di setiap langkahnya. Menjadikan meja dan kursi itu saksi mati bagaimana nego para pengacara berengsek ini mencuri duit Negara, dan nama seorang tokoh politik terekam.

Aricia, Monach-Sierra, dan Northern Case Mutual. Perputaran uang yang melibatkan penyandang dana besar akan kebakaran jenggot kalau foto-foto penyiksaan itu disebar ke media. Rekaman, foto, sampai bukti transaksi menjadi barang sangat mahal. Jutaan dollar diputar dan dibahas agar tak ada yang merasa dirugikan. Sebab kalian semua di sini, sebab kalian semua mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan.

Akhir sidangnya sendiri datar, seolah terhenti karena para penuntut kelabakan. Patrick sang perencana ulung, sudah memegang kartu truf semuanya. Usulan aneh, Patrick bebas terasa mustahil di akhir, tapi menjadi sangat lumrah di akhir. Parrish sendiri tidak keberatan, ia memiliki jadwal delapan sidang lain dalam tiga minggu ke depan, sehingga melepas perkara Lanigan melegakan baginya. Tak ada pembebasan tanpa uang jaminan untuk ekstradisi. Tahun-tahun itu begitu jauh, suatu kehidupan lain. Selama bertahun-tahun barang-barangnya telah disingkirkan, barang-barang kenangan di masa kanak-kanak.

Luar biasa. Benar-benar buku yang menggigit, lumer basah sempurna. Menggelepar-gelepar. Menegangkan sejak awal, membelit rumit di tengah negosiasi, mengejutkan akhir. Kita diajak tur, menjelajah kehidupan para manusia elit di biro hukum, tangan-tangan kotor yang menyalurkan uang, memegang kendali, lobi panas, dan memang piramida itu memuncak pada tokoh politik. Nama baik adalah segalanya dalam sosialita demokrasi masa kini, tak bisa dibantah semua orang menghindari, tentu sejauh-jauhnya pencemaran nama baik. Bahkan pembalikan keadaan, hampir semua yang dilakukan Patrick Laginan adalah ancaman namanya rusak, bukti yang kuat membuat ketakutan para pemegang jabatan, nilai saham yang runtuh, sampai penegasan bahwa sejuta-dua juta dilepas untuk membungkam itu seolah tak terlalu masalah. Korupsi adalah efek buruk demokrasi yang menjerat leher mereka yang tak kuat iman. Dalam perjalanan menuju pertemuan penting, tetapi terperangkap kemacetan, dan aku memandang ke teluk. Di sana ada perahu layar kecil yang hampir tidak bergerak di cakrawala.

Impian liar Grisham untuk kabur dari realita yang menamatkan sudah dua kali ini kubaca. ”Semua orang ingin lari, Karl suatu saat dalam hidupnya. Semua orang berpikir untuk kabur. Hidup selalu lebih baik di pantai atau di pegunungan… Kau bangun bersama terbitnya matahari. Menjadi orang baru di dunia baru, segala kekhawatrian dan masalah kau tinggalkan.” Sebelumnnya di kumpulan cerpen Ford County juga ada. Hidup dalam pelarian memang petualangan sangat menggetarkan dan romantis, sampai kau tahu ada orang di belakang sana.. saya pribadi berkali-kali memimpikannya, menghilang dari bosan. Impian untuk pergi begitu saja, menghilang dalam kegelapan malam dan ketika matahari terbit kita jadi orang lain yang benar-benar baru. Orang-orang Brasil yang malang, semua pengacara curang berlari ke sana. Semua masalah tertinggal di belakang – kerja keras yang menjemukan, patah hati karena perkawainan yang buruk, tekanan untuk kaya…

Vonis bersalah berdasarkan sentimen publik perlu diwaspadai. Masih sangat segar diingatan bagaimana sebuah kasus di ibukota kita tercinta mencipta kegaduhan karena kasus yang abu-abu. Namun sentimen dan desakan publik ternyata menguat. Sedih sih, di sini keadilan terasa tegak, walau pada ujungnya sang protagonist kena batunya.

Patrick telah memberikan rahasia paling gelap, paling mematikan, dan Eva berjanji akan selalu melindunginya. Setelah bertaruh segalanya, melimpahkan tanggung jawab besar kepada kekasihnya ini, kita dibuat terperangah. Keadilan hanya kain lap, keadilan sekadar kata-kata. Endingnya benar-benar jleb!

Sang Partner | By John Grisham | Diterjemahkan dari The Partner | Copyright 1997 | Alih bahasa Hidayat Saleh | GM 402 97.668 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Juli, 1997 | 592 hlm.; 18 cm | ISBN 979-605-668-2 | Skor: 5/5

Untuk David Gernert: teman, editor, agen

Karawang, 270720 – None (tidak mendengarkan musik)

HP Mi Noted4-ku mati

Thx To Raden Beben, Bekasi

#Juni2020 Baca

Rekap baca bulan Juni, bulannya Sherina Munaf.

“Antara teologi dan ilmu pengetahuan terletak suatu wilayah tak bertuan. Wilayah itu diserang baik oleh teologi maupun oleh ilmu pengetahuan. Wilayah itu adalah filsafat.”Bernard Russel

Bulan Juni memang khusus untuk #30HariMenulis #ReviewBuku jadi bulan kelahiran Sherina Munaf ini kuantiti baca ga kugubris, dan mengimbas ke kualitas bukunya juga. Lebih banyak yang tipis, dan tak kusangka, semua 14 buku yang selesai kubaca berhasil kuulas di bulan yang sama! Menyenangkan sekali menghabiskan asupan buku melimpah, bersyukurnya kita hidup di era sekarang. Akses ke karya jadi mudah, dan terhubung instan.

#1. Cala Ibi Nukila Amal

Sebuah buku sebenarnya hanya terdiri dari beberapa kalimat utama. Sisanya adalah pengulangan, pemekaran, penjelasan, perumitan, bahkan pembingungan. Buku yang merumitkan diri sendiri. Memainkan pola acak, memilih diksi yang mencoba puitik – bisa juga kalian sebut aneh, menelusur kata seenaknya sendiri. Ini semacam puisi berbentuk prosa, atau bisa disebut puisi panjang tanpa penggalam rima, bagaimana bisa nyaris tak ada tanda kutip sekalipun itu kalimat langsung. Beberapa kalimat bagaikan mengingatku pada sesuatu, kadang terasa seperti remah roti dalam hutan menguatkan dugaan, menepis keraguan, menambah keraguan, bahkan membatalkannya. Maksdunya jelas, agar tampak syahdu, biar terlihat eksotis. Tindakan, tak ada yang lebih percuma daripada gagasan tanpa laku yang mengikuti, puisi yang dihidupi. Bayangkan, untuk bilang kipas angin/AC saja ia menulis: ‘Udara hasil manufaktur, dingin seperti marmer di dinding dan lantai.’ Haha… jan, sak enak dewe. Buku tanpa tanda kutip sehingga pembaca diminta menafsir mana kalimat langsung? Dalam sunyi, namun sarat bunyi.

#2. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat Dr. Harry Hamersma

Makin banyak manusia tahu, makin banyak pertanyaan timbul. Tentang asal usul dan tujuan, tentang dia sendiri, tentang nasibnya, tentang kebebasan, dan kemungkinan-kemungkinannya. Betapa beruntung saya bisa menikmati buku bermutu ini, kubeli dari Surabaya (Thx to Adi Angga, AFP) dalam rangkaian buku The Good Wives. Tipis sehingga bisa dinikmati singkat, tapi ilmunya jelas begitu tebal. Seperti judulnya, ini buku 50 halaman yang bisa jadi hanya di teras menyaksi sepintas ilmu dasar, tepat di depan pintu tuan rumah yang memiliki persoalan kompleks nan rumit, karena filsafat yang luas maka segala tanya itu harus didedah dan ditelusur. ‘Dalam sajak kuno, ada tanya besar yang hingga kini masih snagat relevan dan akan tetap revelan nantinya. ‘Aku datang – entah dari mana, aku ini – entah siapa, aku pergi – entah ke mana, aku akan mati – entah kapan, aku heran bahwa aku bergembira…’ – anom.

#3. The Devil Wears Prada Lauren Weisberger

Tentang gadis kosmopiltan di New York yang selepas lulus kuliah, melakukan kehendak bebas keliling dunia selama beberapa bulan sama pacarnya, lantas kembali ke Amerika guna menatap hidup, menata karier yang lebih serius. Dengan semburan energi baru, aku meneguk habis sisa kopiku, memanasakan lagi secangkir untuk Alex. Bercita-cita menjadi penulis di media keren The New Yorker, maka ketika ada peluang kerja di majalah mode, kontrak satu tahun diambilnya, idep-idep jadi batu loncatan, sebagai fresh graduate jelas membutuh pengalaman. Majalah runaway yang tersohor, bagi kalangan penikmat mode dan fashion. Baginya sesuatu yang baru, apalah itu, namanya majalah – satu gen dengan koran, konek ke literasi yang jadi impiannya. Dan siapa sangka, setahun di kantor itulah kenangan horror hidupnya terjadi. Bos paling kejam sedunia, yang tulunjuknya adalah perintah, yang perintahnya adalah sabda, yang sabdanya menjadi rujukan kerja, seolah SOP (standar Operational practice). Sungguh mendebarkan, sungguh mengasyikkan, diluardugaku, kisah chicklit ini sangat sangat menghibur. Bagaimana dunia perkantoran di kota sibuk, kota Apple di jantung Amerika itu berdetak. Thx to Raden Beben, Bekasi.

#4. The Mozart’s JourneyEduard Morike

Perjalanan sang maestro dari Wina ke Praha, mampir hotel lalu diminta menginap ke rumah bangsawan. Mencipta makan malam yang menakjubkan, diskusi seni melimpah, dan pamer keahlian memainkan musik. Sebuah kado istimewa dari dan untuk sang tuan rumah. Canda Tawa di Balik Karyanya. Sang istri yang seperti kehidupan khalayak umum, pusing memikirkan putaran uang, mendampingi seorang manusia besar. Thx to Afifah, Yogyakarta.

#5. Bulan KertasArafat Nur

Buku kedua bulan Juni yang kunikmati, sedang ingin bersantai memang makanya saya pilih yang roman modern dengan kerumitan kisah di level sedang. Cinta pertama memang selalu istimewa, cinta pertama di kala sekolah dari tanah Rencong, setting dari kelas tiga SMA sampai kuliah, mencintai adik kelas pindahan dari Medan, lalu ketika rasa itu bersambut ada sebuah halangan yang tak lazim. Iya, saya bilang tak lazim karena kendala itu dari dalam. Bukan internal dari kedua personal, tapi lebih dari sang gadis yang memimpikan dunia lain, dengan kesendirian, kesunyian, dan bulan kertas. “Di akhir zaman, orang yang menegakkan hukum agama, seperti memegang bara api dengan tangannya. Bila terus dipegang, tangan akan terbakar; bila dilepaskan bara akan padam.”

#6. Bukan Pasar MalamPramoedya Ananta Toer

Novel tanpa nama tokoh sama sekali. Dengan sudut pandang anak sulung, yang pulang kampung untuk menjenguk ayahnya yang sakit keras. Dengan setting Indonesia pasca merdeka di kota Blora yang sederhana. Keluarga ini memang sudah tidak utuh lagi. Si sulung yang pulang bersama istrinya yang baru setengah tahun dinikahi, penyampaian hidungnya yang dulu disukai, kini tidak lagi, heleh… bolak-balik rumah-rumahsakit, dan hari-hari terakhir penuh perenungan makna hidup sang ayah yang banyak jasanya kepada orang-orang sekitar. Drama keluarga 100 halaman yang lebih banyak merenung. “Hidup ini, Anakku, hidup ini tak ada harganya sama sekali. Tunggulah saatnya, dan kelak engkau akan berpikir, bahwa sia-sia saja Tuhan menciptakan di dunia ini.”

#7. Creative WritingA.S. Laksana

Banyak buku menyaji tips-tips menulis, saya baru baca 4-5 buku, termasuk ini. Sebelum menikmati, jargon Penulis Stephen King selalu kupegang, kuncinya satu: “Tulis, tulis, tulis.” Karena hanya mantra itu yang cocok untuk menjadi penulis. Action menulis adalah langkah utama yang tak bisa dibantah, setiap kali menikmati tata-cara entah namanya apa, termasuk saat menikmati Creative Writing. Lalu latiahn terus menerus yang akan mengasahnya. Seperti pemain bola yang pandai bikin gol, itu tak serta merta, itu butuh latihan yang keras, ditempa dengan darah dan keringat. Menurut William Blake, penyair Inggris hasrat saja tanpa ada tindakan akan membiakkan penyakit.  Oke, menulislah sekarang juga. Dan ‘menulislah yang buruk’. Beberapa tips usang, beberapa terasa baru. “Menulis cerita adalah seni merangkai adegan demi adegan, memusatkan penuturan dan memberi perhatian lebih pada bagian-bagian penting dan menurutkan secukupnya bagian-bagian kecil, tetap dengan cara yang menarik.”

#8. Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang Ben Sohib

Saya tak mengenal Ben Sohib, dari biodata di akhir buku ternyata pernah nulis dua buku: The Da Peci Code (2006), Rosid dan Delia (2008). Memang selalu ada yang pertama, dan buku ini cukup menjelaskan bagaimana beliau bercerita, gayanya absurd, diselingi komedi, lalu di akhir – kalau di Stand Up Comedy, muncul punch-line yang menohok. Beberapa cukup bikin tersenyum geram, beberapa belum tune-in sama alur, ujug-ujug sudah kelar, terlalu pendek. Ada dua dari sebelas yang sukses mencipta bahak, lalu berujar, “Ya ampuuun.” Sungguh aneh, sungguh menggelitik, dan hampir semua yang dikisahkan ada di sekitar kita, ada di sekeliling kita dengan budaya Betawi yang kental, khas ente, gue, serta segala akhiran ‘e’ yang termasyur itu. Nama-nama karakter unik atau dibuat merakyat disertai julukan, kehidupan kaum jelata dengan pemikiran terdalamnya guna bertahan hidup. “Lu pade demen ngajakin Apang pegi, bakal lucu-lucuan doang. Lu pade demen nanggepin apang, terusnye lu bayar pake duit recehan. Lu pade kagak pernah mikirin nasibnye!” Thx to Dema Buku, Jakarta.

#9. No ManyoonEndang Rukmana

Cerita plesetan New Moon-nya Stephanie Meyer. Dengan budaya betawi yang kental, lengkap dengan makanan tradisionalnya, bahkan mencantumkan resep masak. Cerita vampire versus manusia srigala jadi-jadian. Sungguh biasa, entah kenapa dulu saya membeli buku semacam ini. Dan bukan satu lagi, karena Toilet dari Twilight-pun juga kubeli. Sebelum ulas saya baca ulas singkat, sungguh mengecewakan.

#10. The Stranger Albert Camus

Terbitan Immortal tampak lebih sopan, bagian ketika Marie bercinta dengan sang protagonist hanya ditulis sepintas lewat tidur bersama, dan paginya dibangunkan. Atau untuk bilang bernafsu, Marina menulis ‘indraku terangsang’, tampak sungguh aman untuk Remaja, seolah para petinggi Lulus Sensor memantau ketat. Atau bisa dibilang pemilihan diksinya lebih pas dan nyaman. Unggul di banyak segi, dari sampul saja sudah terlihat istimewa. Kesempatan baca kedua ini, tetap asyik dan aneh. Terima kasih #MojokStore

#11. Martin Luther KingAnom Whani Wicaksana

Martin Luther King Jr. lahir pada 15 Januari 1929 di Atlanta, Georgia. Bernama asli Michael King Jr., ayahnya mengganti nama untuk menghormati tokoh Kristen Protestan Martin Luther. Anak ketiga dari empat bersaudara, terlahir dari keluarga berada. Saat berusia 10 tahun, menjadi penyanyi Gereja untuk  pemutaran perdana film Gone with the Wind. Pada bulan Mei 1941, neneknya meninggal dunia. Sempat membuat depresi hingga berniat bunuh diri. Semasa kecil hingga remaja dicekokin agama terus, justru membuatnya meragukan agama. “Keraguan saya mulai muncul tak henti-hentinya.” Namun bergeraknya waktu, ia menjadi relijius. Kekristenan adalah kekuatan potensial untuk perubahan sosial.

#12. Sepotong Senja Untuk PacarkuSeno Gumira Ajidarma

Menatap senja adalah suatu cara berdoa yang langsung menjelma, perubahannya dari saat ke saat meleburkan diri seseorang ke dalam peredaran semesta. Senja adalah janji sebuah perpisahan yang menyedihkan tapi layak dinanti karena pesona kesempurnaannya yang rapuh. Dunia senja yang sempurna bagi siapa pun yang memburu senja di pantai seperti memburu cinta yang selalu berubah setiap saat, meraih pesan-pesan dari kesementaraan terindah seantero semesta… kumpulan cerpen yang luar biasa dari sastrawan besar Indonesia yang masih hidup. Waktu meninggalkankan jejak, begitu pula saat-saat yang dilaluinya bersama dia. Segenap makna perjumpaannya meresap ke dalam hatinya dan ia tidak bisa melupakan dia. Thx to Fatihah Store, Yogyakarya.

#13. Cocktail for ThreeMadelaie Wickham (Sophie Kinsella)

Tentang tiga sahabat yang bekerja di majalah Londoner yang hobi menghabiskan malam di Manhattan Bar, kafe yang menyajikan koktail terlezat di kota London dengan jazz dan keriuhan pengunjung. Ngumpul sebulan sekali apapun aktivitas dan kesibukan yang mendera, menyempatkan waktu bergosip dan blak-blakan dengan konco kental. Roxanne: glamor, percaya diri, memiliki kekasih gelap dan berharap pria itu akan meninggalkan sang istri dan menikah dengannya. Maggie: ambisius dan mumpuni dalam pekerjaan, hingga menemukan satu hal yang tak dapat diatasinya, menjadi ibu. Candice: polos, baik hati, jujur hingga suatu ketika hantu masa lalu muncul mengacaukan hidupnya. “Aku berusaha menebus kesalahan. Aku berusaha membantu…”

#14. Aisya Putri: Operasi Milenia Asma Nadia

Asiyah Putri, anak bungsu dari single parent. Tinggal di Jalan Kemuning nomor satu. Ayahnya meninggal, dibesarkan dengan penuh cinta. Punya empat kakak: Vincent berkaca mata, tinggi tamvan. Kedua Harap, kuliah di IKJ dengan trendy aksesoris di banyak bagian, secara ga langsung calon seniman besar. Ketiga Hamka, gondrong dan kekar, olah raga adalah makanan sehari-hari. Keempat, Idwar kuliah di UI ambil Sastra. Semuanya memiliki kelebihan masing-masing, entah kekurangannya apa, tak tampak nyata. Put-Put eh Puput, panggilan sayangnya, kelas satu SMU 2000, nama beken SMU Mandiri. Diambil dari tarif ojek yang mengarah dan dari sekolah. Ada yang jago karakte, berguna banget ketika Putri dkk diganggung preman mendem. Ada yang jago puisi, merayu, gombal ala kadar. Ada yang rajin bersih-bersih kamar, cool. Ada yang hobi manjat gunung, mencintai alam. Hobi-hobi positif, dan catat! Mereka ga merokok semua. Sungguh sangat luar biasa, mendekati sempurna! “Burung dara nyangkut di kawat. Adinda cantik… nggak kuat.” Thx to Masa Laluku.

Ya, Juni 2020 tak ada catatan khusus tentang Sherina Munaf, tahun lalu sudah penuh sesak tiga ribu kata. Sampai jumpa di momen yang sama tahun depan.

Karawang, 170720 – Cry Johnnie Ray & The Four Lads (1951)

Cinta Rahasia by Anne Mather

Seorang gadis jatuh hati pada laki-laki beristri, dan memperjuangkan cinta itu demi apa pun. Gayung bersambut.

“Matt, aku cinta padamu dan aku tidak peduli dengan yang lainnya.” – Darrel

Duh! Hujan di hari pengantin, pertanda ga bagus untuk pasangan Susan dan Frank. Dan benar saja, pesawat yang menerbangkan mereka untuk berbulan madu mengalami kecelakaan yang menewaskan keduanya. Kecelakaan pesawat terbang di dekat Palma. Kematian selalu datang dengan tak disangka-sangka. Pembukanya bagus banget. Bagaimana masalah pelik mencipta sikap para anggota keluarga, dan seorang teman. Membelit dalam asmara menggelora di Sedgeley, Yorkshire Utara.

Kisahnya tentang Darrel Anderson yang galau. Seorang perawat rumah sakit, teman sekamarnya Susan menikah. Pesta pernikahan itu berlangsung meriah dan penuh ucapan selamat. Darrel yang sudah mengenal keluarga Lawford turut gembira sahabat baiknya telah menemukan jodoh. Karena kedekatan mereka, Darrel juga mengenal semua anggota keluarga Lawford terutama Nyonya Lawford, bahkan menjadi teman curhat seolah ibu kandung. Si sulung yang secara materi sukses, mencuri hatinya. Matthew Lawford, sudah menikah. Nah, kalau kisah ini dibawa di era sosmed, bisa jadi Darrel dihujat serentak sebagai seorang pelakor – perebut laki orang. Namun berhubung ia sebagai sudut pandang sekaligus protagonist, julukan kejam itu sirna dengan sendirinya. “Kalau begitu ceraikan Celine.” / “Kau sudah tahu bahwa aku tak dapat melakukan itu. Jangan meminta ku melakukannya.”

Pernikahan Matt dan Celine jelas tak bahagia. Bayangkan saja, di hari pernikahan adik ipar, ia gusar akan suasana desa, mengingin cepat balik ke kota London. “Teh teh terus itulah yang mereka pikirkan. Obat mujarab di seluruh dunia. Tapi tak mempan bagiku.” Bahkan beberapa hari kemudian kabar suka cita menjelma duka cita, ia bukannya turut di acara pemakaman, malah meminta izin balik! Sungguh terlalu. Menikah Sabtu, dan semingggu kemudian dimakamkan.

Darrel memang gadis idealis. Masih muda dan menggebu, prinsipnya Ia tak bisa menikah dengan pria tanpa membawa rasa cinta di hatinya. Karena ia jatuh hati sama Matt, maka ia perjuangkan. “Aku tak hanya mengira mencintainya, aku memang mencintainya.” Dengan asumsi umum, kita bisa saja menyebut suatu saat Darrel akan menikah dengan orang lain untuk melarikan diri dari rasa sepi yang begitu mencekam ini. Well, saya tak memprediksi gitu karena ini cerita roman picisan. Akan ada jalan keluar menyatukan kedua tokoh utama.

“Kalau begitu kita bertemu lagi besok, di pemakaman.” Kejadian utama cerita ini ada di pasca pemakaman akan berkutat di rumah Lawford dan kosan Darrel (di Inggris sebut saja flat), dan keputusan sesudahnya. Matt mengantar pulang dan pergi, Jeff adiknya muncul menggoda. Jelas ia juga kesemsem, tapi emang sang protagonist sudah memutuskan, cintanya hanya untuk Matt yang sudah nikah. Tentu saja ada beberapa adegan panas, dua anak manusia berlainan jenis saling mencinta, walau itu buah terlarang. Laki-perempuan di kamar, jelas bukan hanya main monopoli. “Kita harus bersikap seperti orang yang berakal sehat. Kita tidak akan dapat terus saling bertemu kalau keadaannya selalu begini. Kau memang pantas waspada terhadapku Darrel, aku terbukti amoral seperti yang kau sangka.” Nafsu dan cinta terlarang.

Bagi Matt yang sudah menikah. “Keadaan itu bisa saja baru bagiku, tetapi kebutuhan itu bukan baru bagiku.” Dan kenyataan bahwa Darrel masih gadis menjadi gunjingan di luar. Semuanya tidak dipersiapkan atau direncanakan terlebih dahulu.

Benarkah perkawinan Matt tak bahagia? Tak harmonis? Untuk membalas sikap Celine ataukah karena kehidupan perkawinan mereka yang sudah sedemikian tidak harmonis? Matthew bilang ia tidak pernah tidak setia pada istrinya. Maka benar saja, suatu ketika Darrel dan Barry, sahabat lamanya sedang makan malam bertemu dengan Celine yang menggandeng lelaki lagi. Ternyata sudah taka da kecocokan. “Dunia yang sempit bukan?” Terdengar gombal tiap Matt merayu. Aku tidak tahu apakah cinta yang terlihat olehku – atau terasa olehku, perasaan padamu belum pernah kurasakan kepada wanita lain. Aku sudah hidup lebih lama darimu, aku bukanlah seorang idealis macam dirimu, dan seperti katamu, aku sinis.

Lalu pecahlah adegan saling tuduh. Mengingat peristiwa di Lanmark Square, membuat tubuhnya menggigil sampai ke tulang sumsum. Jadi Matt menjanji Darrel untuk kehidupan baru ke tanah Amerika, tampaknya dunia yang menunggunya sungguh fantastis, sungguh indah memesona. Tubuhnya gemetar, semua itu rasanya bagaikan impian yang indah. “Jadi apa sesungguhnya kebenaran itu? Kau katakan kau mencintaiku, apa artinya? Maukah kau meninggalkan duniamu yang kecil demi aku? Maukah kau ikut bersamaku, hidup bersamaku, sekalipun itu berarti mengelilingi separuh bola dunia tanpa cincin di jarimu?” Berdua jalan ke pantai, menyusun masa depan yang indah-indah, seolah Matt lupa sudah punya istri di rumah. Nah, pas pulang untuk ganti baju demi makan malam romantis, istrinya ada di rumah. Terjadilah cek cok panas. Darrel memutuskan menjauh, melepas segalanya ketika Celine bilang ia sedang hamil. Betapa kejamnya suami yang berbohong, merayu gadis kala istrinya sedang mengandung. Apa pun itu, ia pergi. Menjauh dari segalanya.

Matron (kepala perawat) mengira ia sakit efek meninggalnya sobat kental, maka diminta cuti dua minggu. Ia mudik di kota Upminster, tempat ibunya Edwina Anderson tinggal sendiri setelah bercerai. Suaminya menikah lagi dengan wanita lain bernama Delia. Menyepi di kampung halaman, menyusun rencana lain. Termasuk kemungkinan menikahi Barry. “Dua orang tidak dapat menikah hanya karena kedua orang tuanya merasa cocok dengan calon menantu.” Kau dan aku tidak akan berhasil mencobanya, kita tidak sepaham. Sedih sih, cintanya tak menemukan klik. Keterangan Barry tentang Matthew menimbulkan semacam dugaan di hatinya, walau tak mengubah cintanya. Kini ia lebih banyak berpikir. Luar biasa, ini sih cinta buta.

Diperlukan waktu untuk menyembuhkan luka. Bersama ibunya liburan ke pantai, liburannya diperpanjang yang berarti ia mengundurkan diri sebagai perawat. Dari Dr. Morison kita tahu, dedikasi dan performa kerja Darrel sungguh baik, bahkan pintu masih terbuka lebar. “Tak seorangpun lelaki yang patut untuk diratapi, percayalah padaku.” Nasihat ibunya, mengingat ia juga dihianati. Darrel tetap bersikukuh pada feeling-nya sekalipun jelas lelaki itu tampak jahat.

Karena seolah menemui jalan buntu, Anne Mather mencipta bencana. Celine dikabarkan meninggal dunia keguguran, terjatuh pendarahan. Ini menjadi jalan pintas untuk menyatukan dua insan yang terpisah. Sejak dari adegan ini, semua tampak sungguh mengada-ada. Kebahagiaan menjadi keharusan, bersatunya dua protagonist adalah keniscayaan. “Ya Tuhan, putriku satu-satunya mau saja dibodohi lelaki yang sudah menikah.” Kata ibunya, tapi Anne mencipta solusi seenaknya sendiri. Keputusan akhir ketika diskusi sama meminta Robert keluar. Menyusul di dua bab akhir, ibunya, ayah Celine, dan Darrel sendiri, meminta Barry pulang. Sebuah mocil terparkir di Corrtney Road. Bertiga rembug menemukan segala tanya. Sir Paul Galbraith membawa potongan puzzle selama ini. Akhir yang sungguh sempurna (bagiku justru agak merusak) di Peternakan Moorfoot.

Buku kedua Anne Mather yang kubaca bulan ini. Genre-nya memang drama romantis dengan happy ending menyelingkupi. Dengan tokoh cantik tentunya karena Darrel menjadi magnet banyak pria. Di sini tercatat ada tiga laki-laki yang luluh lumer hatinya: Jeff dan Matthew, saudara teman kosnya. Barry, sahabat dari kampung halaman. Jeff bisa saja dicoret lebih dini karena memang sekadar terpesona, percobaan pedekate nya termasuk gagal. Barry yang kasihan, mencinta mengharap dapat menikahi setelah kedua orang tua sudah OK, ia bahkan mendapat Warisan rumah di Harrogate, hanya lima belas mil dari Sedgeley, tapi tetap tak bisa. Barry seolah menjadi teman curhat saja kala ia suntuk. Hanya berteman sahaja. Huhuhu…

Kegugupan karena ketegangan. Sama seperti Ricuhnya Hidup Bersama Adam, kisah Cinta Rahasia menjalin orang kaya dan berwajah rupawan menjalani kegalauan, asmara di lingkaran orang berada. Sarapan dengan kiju (keju) dan selai. Makan malam di restoran mewah. Dan perjalanan kerja siang ini di London, besoknya sudah di New York, lusa ada di Tokyo, minggu berikutnya meeting di Seoul. Cinta sudah cukup menjadi bahan pertimbangan. Dalam asmara. jangan bersikap ambisius, tak banyak gunanya.

Cinta Rahasia | by Anne Mather | Diterjemahkan dari Come Running | Alih bahasa Sofia N | Penerbit Indah Jaya, Bandung | Cetakan pertama, April 1980 | Skor: 3.5/5

Karawang, 220720 – None (tidak mendengarkan lagu)

HP Mi4ku rusak, huhuhu…

Thx to Anita Damayanti, tujuh dari Sembilan

#Mei2020 Baca

Bulan Mei 2020 dalam rekap bacaan.

“Aku tidak pernah memberitahu siapa pun hingga sekarang. Benar-benar bisnis kotor… setiap sekolah menawarkan uang tunai, Paul, jangan naïf. Itu bagian dari permainan.” – Neely

Bulan Mei 2020, rekapnya baru sempat kulakukan bulan Juli, setelah sebulan penuh ulas buku. Menyingkirkan banyak hal, menyita waktu melimpah karena harus fokus #30HariMenulis #ReviewBuku beberapa hari bahkan pulang kerja sampai Isya. Bulan Mei ternyata total baca 13 buku, sama dengan bulan sebelumnya. Baru sempat rekap. Yuhui…

#1. Little WomenLouisa May Alcott
Empat saudari March yang legendaris: Bejo MAy: Beth, Jo, Meg, Amy. Dengan latar Amerika abad 19, kesederhanaan keluarga demi kebersamaan menjadi tema utama. Ayah yang bertugas perang, ibu yang mengayomi. Karena betapa pun buruknya suasana hati mereka, kelebatan terakhir wajah keibuan itu pasti akan memengaruhi mereka seperti cahaya matahari. Inilah masa remaja dengan impian-impian yang ingin digapai. “Cita-citaku berada dalam sinar mentari nun jauh di sana. Mungkin aku tak dapat mencapaiknya, tetapi aku bisa mendongak dan melihat keindahannya, dan berusaha mengikuti ke mana ia pergi.”

#2. The High Mountains of Portugal Yann Martel
Dua bagian pertama luar biasa, bagian ketiga agak menurun tapi memang pada dasarnya novel berkelas. Apalah arti kita tanpa orang-orang yang kita cintai? Apakah ia berhasil bangkit dari duka? Ketika ia menatap matanya di cermin saat bercukur, hanya relung-relung kosong yang tampak. Semua tersaji dari jiwa laki-laki yang rapuh. “Aku berbicara dengannya di dalam kepalaku, ia hidup di situ sekarang.”

#3. The GatesJohn Connolly
Terlanjur beli tiga seri, jadi di buku ini sekadar bagus tetap harus dituntaskan. Ini kisah tentang malam Helloween yang janggal. Perjalanan antar dimensi, antara dua dunia. Novel aneh, teori lubang hitam dan terbentuknya semesta. Gerbang neraka dibuka, rajanya neraka menju bumi untuk menhancurkan, tapi dengan mudah digagalkan seorang bocah Samuel Johnson dan anjingnya, dibantu setan nyentrik yang bosan di padang pasir. “Bagaikan lalat di tangan anak-anak ceroboh, begitulah kita di mata para dewa, mereka membunuh kita untuk hiburan.”

#4. StardustNeil Gaiman
Tentang petualangan anak setengah manusia setengah peri yang menakjubkan. Untuk memulai perjalanan kita perlu mengenal desa asal, Desa Tembok di padang rumput Inggris yang tenang. Tak sembarangan yang bisa melintas, setiap Sembilan tahun sekali di seberang tembok yang bercelah ada bazar festival yang digelar dan desa itu menjadi penginapan mendadak. Syahdan, seorang pemuda rupawan Dunstan Thorn berusia delapan belas tahun mengalami malam sensasional. Terasa gigil dan gemetar di pusat alam. “Ini kuucapkan: kau telah mencuri pengetahuan yang tak layak kauperoleh, tetapi pengetahuan ini tak akan menguntungkanmu…”

#5. Love StoryErich Segal
Pasangan muda yang tampak ideal, mahasiswa Havard keturunan orang kaya dengan gadis cerdas dari keluarga sederhana. Oliver dan Jennifer yang menyenangkan dalam percintaan ini lantas mendapat musibah besar, berat sekali menghadapi kehilangan. Benar-benar kisah cinta yang menguras air mata. Cerita cinta memang harus berkonflik berat, ga penuh pelangi. “Cinta berarti tak perlu minta maaf.”

#6. BleachersJohn Grishman
Kisah love-hate pelatih hebat di kota kecil Messina. Eddie Rake adalah legenda, raihan gelar semasa ia melatih football memang luar biasa. Untuk menjadi pemenang memang harus kerja keras, latihan ekstra. Neely menjadi kapten dan bagian tim di masa puncak, perpisahan yang buruk mencipta jarak. Di akhir karier sang Pelatih ada noda besar. Kota terpecah. Dan ini tentang masa kabung, kematiannya menjadi duka sekaligus menggali masa lalu hitam yang tersembuyi. “Ayolah, hentikan. Nikmati saja kenangannya.”

#7. Corona Ujian TuhanQuraish Shihab
Buku yang sangat singkat, padat, dan dinikmati kilat di meja kerja. Sebuah ungkapan ‘Manusia mengenal kebaikan sejak manusia mengenal keburukan. Bagaimana mengenal indah kedamaian kalau dia tidak mengenal kekacauan? Manusia mengenal kebajikan sejak adanya keburukan. Dan mengenal keluhuran dan kesetiaan sejak adanya iblis.’ Keidupan manusia suka atau tidak, mengandung penderitaan, kesedihan, dan kegagalan di samping kegembiraan, prestasi, dan keberhasilan. Ujian adalah keniscayaan hidup. Tetap bersyukur dan tentu saja tetaplah waras, bersama keluarga. Firman Allah: “Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat dua kemudahan.” (QS. Asy-Syarh [94]: 5-6)

#8. Reportase-Reportase TerbaikErnest Hemingway
31 tulisan Ernest Hemingway semasa di Prancis sebagai wartawan era pasca Perang Dunia Pertama. Tulisan yang bersinggungan dengan politik, sosial, budaya. Lebih merakyat dari yang kita kira, Ernest tampak menyatu dengan kehidupan setempat sehingga hafal harga hotel-hotel setara Melati, harga makanan kelas warteg sampai gang-gang sempit untuk mencari jalan untuk memotong kemacetan. Lucu dan menghibur. “Aku tidak tahu Paris itu seperti ini. Aku kira meriah banyak cahaya, indah.”

#9. Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah MengeringHasan Aspahani
Suatu hal yang wajar yang tidak bisa dihalang-halangi oleh penyair yang konon memiliki lisensi puitik maupun lembaga yang diberi tugas ‘menjaga’ bahasa. Dan karena bahasa tidak lain adalah wadah dari ‘dongeng’, bahkan juga ‘dongeng’ itu sendiri, maka ia terus bergerak tanpa arah yang bisa ditebak. Kumpulan puisi @jurubaca pertama yang kubaca. Narasinya padat. Yang menyatukan bait-bait sajak itu bukan prinsip kausalitas, tetapi suasana. Benda dan konsep yang disebut dalam sajak itu saling mendukung terciptanya suatu suasana yang, kalau boleh meminjam larik Amir Hamzah, ‘bertukar tangkap dengan lepas’. Dalam sajak ini, kematian adalah suasana dan bukan makna.

#10. The Fault is Our Stars – John Green
Novel yang luar biasa menyedihkan. Ini bukan buku tentang kanker, karena buku tentang kanker itu payah. Air pilu laksana air bah yang menghantam deretan kata sejak mula hingga perasan titik kalimat akhir. Bayangkan, The Fault in Our Stars garis besarnya bercerita tentang pasangan remaja yang keduanya sekarat, satu bermasalah dengan paru satu lagi memakai satu kaki palsu. Sederhananya keduanya sakit kanker yang menggerogoti organ vital, dan berdua harus bertahan demi kasih. Saling mencinta, saling menjaga, sampai maut benar-benar memisahkan. “Sadarlah, berusaha menjaga jarak dariku tidak dapat mengurangi rasa sayangku padamu.”

#11. The Chronicles of Narnia: Prince Caspian – C.S. Lewis
Saya baca ulang untuk Hermione jelang tidur, dua bab per malam. Melanjutkan seri sebelumnya langsung, Caspian dalam perebuatan takhta melawan pamannya sendiri. Pevensie bersaudara dipanggil via terompet Susan. Ketika mereka sedang di stasiun bersiap berangkat sekolah, kereta melaju dan semesta dimensi berganti latar. Peter, Edmind, Susan, dan Lucy datang bak dewa penolong. Seribu tiga ratus tahun di Narnia bisa saja hanya setahun di dunia kita.

#12. Kata Pengantar: Anthony GiddensB. Herry – Priyono
Kajian utama ilmu sosial adalah praktik sosial yang per definisi adalah titik temu dari dualitas struktur dan pelaku. Ilmu-ilmu sosial (politik, ekonomi, sosiologi, antropologi, sejarah, psikologi, hukum) mulai dari apa yang sudah, sedang, atau mungkin akan dilakukan orang. Giddens menyebut tindakan dan praktik sosial itu sebagai ‘dunia yang sudah ditafsirkan’. Istilah-istilah teknis yang dirumuskan ilmu sosial sudah menjadi kamus sehari-hari khalayak, dan karena sudah menjadi bagian dari insting dan praktik sehari-hari maka orang jarang mempertanyakan lagi asal-usulnya. Inilah buku tentang pokok-pokok pemikiran teoritis Giddens dalam ringkas dan seringan mungkin. B. Herry-Priyono mencipta ulang pemikiran itu dalam upaya asyik tanpa bikin kerut kening. Meskipun sudah berusaha untuk tidak salah mengerti pemikiran dasar Anthony Giddens, saya tetap jauh dari keyakinan bahwa saya tidak keliru memahaminya yang begitu luas memang bagaikan mengejar kawanan gejala modernitas yang selalu berlarian tunggang-langgang.

#13. PersepolisMarjane Satrapi
Di Iran, segala kebijakan pemerintah di masa peralihan itu memicu pro-kontra, wajar sih segala yang baru memang mematik dua sisi. Sang shah yang lengser tahun 1979, lalu mengungsi. Inilah Persepolis, masa revolusi Islam dan segala pergeserannya. Berisi 19 judul cerita, semua bersudut pandang Marji yang polos, memahami hal-hal baru yang terjadi di negaranya, sampai ending yang menyentuh. Keputusan berat, tapi mau bagaimana lagi keselamatan yang utama. “Aku ingin menjadi keadilan, cinta kasih, sekaligus kemarahan Tuhan.”

Iya, iya… segera kubuat rekap Juni, semangat…

Karawang, 020720-160720 – Bill Withers – Use Me