Rasa Takut dan Akal Sehat Berebut Menemukan Jawaban

Kisah Pi by Yann Martel

Apa gunanya cerita?”

“Ceritaku tentang makanan.”

“Kata-kata tidak mengandung kalori.”

“Carilah makanan di mana bisa ditemukan.”

Fantasi atau fakta? Ada dua cerita, yang pertama bersama sesekoci sama macan yang tak bisa dilogika, yang kedua bersama pembunuh yang terbunuh. Endingnya udah dijelaskan, tapi tetap absurd. Begini seharusnya cerita sebuah perjalanan dibuat. Kalau kita, para warga negara, tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita, berarti kita telah mengorbankan imajinasi kita di altar realitas yang kejam, dan pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apa pun, dan mimpi-mimpi kita tidak lagi berarti. Jelas novel yang laik didiskusikan lanjut.

Terbagi dalam tiga bagian. Bagian Satu: Toronto dan Pondicherry, pengantar yang Ok banget. Laksmi artinya dewa kekayaan. Bagian dua: Samudra Pasifik, perjalanan. Berangkat tanggal 2 Juli 1977 dengan menumpang kapal Tsimtsum, kapal dagang Jepang berbendera Panama., bertahan selama 227 hari di samudra, mendarat di pantai Meksiko tanggal 14 Februari 1978. Waktu hanyalah ilusi yang membuat kita terengah-engah. Waktu menjadi jarak bagiku, seperti halnya bagi semua makhluk fana – kuarungi kehidupan ini. Bagian tiga: Rumah sakit Benito Juarez, Tomatlan, Meksiko. Segmen wawancara kocak sama dua orang Jepang yang khawatir makan siangnya disikat Pi. “Menang lotere sangat sedikit kemungkinan menang, tapi selalu ada yang menang.”

Kisahnya tentang Piscine Molitor Patel, 16 tahun yang terombang-ambing di samudra Pasifik. Hidup bahagia bersama kedua orang tuanya, dan kakaknya yang maniak kriket. Kebun Binatang Pondicherry merupakan sumber kesenangan sekaligus penyebab sakit kepala bagi Mr. Santosh Patel, pendiri, pemiliki, direktur, pimpinan staf berjumlah lima puluh tiga orang, sekaligus ayahku. Kehidupan binatang liar sangatlah sederhana, mulia, dan penuh makna, begitulah mereka bayangkan.

Aku bukan orang yang suka memproyeksikan sifat-sifat dan emosi-emosi manusia pada binatang. Sebab begitulah binatang: konservatif, malah bisa dikatakan reaksioner. Binatang punya sifat territorial. Itulah kunci untuk memahami mereka. Hanya di dalam teritorinya yang mereka kenal binatang bisa memenuhi dua keharusan yang tak bisa ditawar: keharusan menghindari musuh, dan keharusan memperoleh air dan makanan. Rumah merupakan teritori yang dipadatkan, di mana kebutuhan-kebutuhan dasar kita bisa dipenuhi dengan mudah dan aman. Begitu juga kebun binatang. Dalam batas-batas alami mereka, mereka menerima saja apa yang ada.

Sedari mula kita disuguhi tema teologi. Pi sendiri memeluk tiga agama. Aku tahu kebun binatang tidak mendapat tempat di hati orang, sama halnya dengan agama. Memercayai semuanya. Tuhan satu dan yang lain ia yakini, ibadahnya ia lakukan semua. Yesus, Maria, Muhammad, Wisnu. Menjadi penyelamat. Ada gurunya yang ateis, yang memercayakan kekuatan alam tapi bukan Tuhan. Rasa takut dan akal sehat berebut menemukan jawabannya. Begitulah Allah, cemerlang, perkasa, dan kuasa.

Tema utamanya adalah keyakinan, sebuah prinsip dasar eksistensi yakni kasih. Ingatan manusia bagai samudra, dan ia timbul-tenggelam naik-turun di permukaannya.

Ibu tampak cantik, berdandan layak sebab ia akan meninggalkan India yang panas dan berhujan, sawah-sawahnya, dan sungai Cauvery, garis-garis pantainya, dan kuil-kuilnya dari batu, gerobak-gerobak sapi dan truk-truk warna-warni, teman dan para pemilik toko yang sudah dikenalnya… Burung-burung camar menjerit-jerit di atas kepala, aku merasa begitu bergairah. Ternyata segala sesuatunya tak sesuai harapan, tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita mesti menerima apa-apa yang diberikan ini kepada kita, dan berusaha menjalaninya sebaik mungkin.

Kapal itu karam, semua luluh lantak, yang selamat hanya sebuah sekoci dengan Pi di sana bersama beberapa binatang dan alat darurat seadanya. Harimau sangat tergantung pada indra pengelihatan, mata mereka sangat tajam terutama dalam mendeteksi gerakan. Pendengaran bagus, penciuman biasa. Ketika senja semakin mendekat, kecemasanku pun bertambah. Aku selalu takut menghadapi penghujung hari. Di malam hari aku akan sulit dilihat oleh kapal yang mungkin lewat.

Oh betapa bahagianya bermandikan harapan. Harapan menghasilkan harapan.

Kalau nyawa kita terancam, kemampuan kita berempati menjadi tumpul oleh hasrat egois untuk bertahan hidup. Aku merasa iba, setelah itu ya sudah. Di hadapan predator paling superior, kita sama-sama berstatus mangsa. Membuat rakit dengan jarak Sembilan meter dari sekoci, jarak itu sudah untuk dua ketakutanku: takut terlalu dekat dengan Richard Parker, dan takut terlalu jauh dari sekoci.

Binatang yang terluka lebih berbahaya daripada binatang yang sehat.

Secercah harapan berkerlap-kerlip di hatiku, seperti cahaya lilin di malam hari. Aku punya rencana bagus. Kita sudah lupa pada faktor-faktor yang mestinya menjadi andalan terakhir, yaitu harapan dan keyakinan. Jangan sampai patah semangat, boleh merasa kecil hati tapi jangan menyerah. Ingat semangat sangat penting, melebihi lain-lainnya. Kalau Anda memiliki kemauan untuk hidup, Anda pasti bisa bertahan.

Makin lama makin berpengalaman sebagai pemburu. Aku makin berani dan lebih cekatan. Instingku berkembang, naluriku bekerja, dan aku tahu apa-apa yang harus dilakukan. Orang takkan mati karena mual, tapi rasa mual dapat menguras semangat hidup habis-habisan. Memadamkan rasa takut yang berkobar-kobar di hatiku.

Kehidupan di sekoci bukanlah seperti kehidupan. Rasanya seperti permainan catur yang hampir berakhir, menyisakan satu bidak, elemennya sangat sederhana. Kelangkaan air tawar menjadi kecemasan tersendiri. Ternyata aku tidak sinting, Richard Parker-lah yang berbicara denganku. Aku senang sekali bisa bercakap-cakap dengan harimau.

Ada dua rasa takut yang tidak bisa kita buang dalam diri kita: reaksi terkejut karena mendengar suara berisik yang tak disangka, dan vertigo. Kutambahkan satu lagi, rasa takut karena ada pembunuh yang mendekat dengan cepat tanpa tedeng aling-aling.

Bab paling menakjubkan ada di nomor 92. Tentang misteri pulau predator. Pulau ini bukan pulau biasa, bukan sebongkah daratan kecil yang menempel di dasar samudra. Melainkan merupakan organisme yang mengapung bebas, segumpal ganggang raksasa yang luar biasa besar. Mendapatkan kenyamanan fisik, tapi mati secara spiritual.

Akhirnya sudah pasti tahu, selamat. Namun setelah bersama selama berbulan-bulan tak ada pamitan yang layak. Sangat menyedihkan perpisahan tanpa ucapan selamat tinggal, aku orang yang menghargai tata cara dan keselarasan aturan. Sedapat mungkin kita harus memberi makna pada segala hal.

Saya sudah nonton filmnya, dan menang Oscar untuk sutradara terbaik. Tak perlu nonton dulu, sebenarnya pembaca akan tahu nasib Pi, sebab ada keterangan jelas di akhir Bagian I bahwa akhir kisah ini bahagia. Buku dibagi dalam tiga bagian, per bab-nya tak memakai lembar kosong, dilanjut di halaman yang sama di tiap pergantiannya. Ada 100 bab, sesuai keinginan Pi. Ada dua ‘Aku’ di sini, yang bergaris miring berarti Sang Penulis, yang ternyata sedang mencari ide tulisan, satu lagi Aku sang tokoh utama, Pi yang menuturkan kisah. Satu lagi adalah wawancara, kocak sekali duo orang Jepang sebagai pemilik kapal yang tenggelam mencari penyebab karamnya, lalu meminta logika di sekoci tanpa binatang.

Begini seharusnya kisah perjalanan dibuat, detail sekali di tempat mula, mendebarkan sangat di tengahnya, gejolak dan riak kesimpulan di tempat tujuan. Pembuka tahun yang luar biasa. Jadi ini fantasi atau fakta?

Kisah Pi | by Yann Martel | Diterjemahkan dari Life of Pi | Copyright 2001 | Penerjemah Tanti Lesmana | Design dan Ilustrasi sampul Martin Dima | 617186010 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | November 2004 | Cetakan kesembilan, Juli 2017 | 448 hlm.; 20 cm | ISBN 9789792289008 | Skor: 5/5

A mes parents et a mon frere

Karawang, 210121 – The Isley Brothers – Summer Breeze

Thx to Ari Naicher (Taman Baca Rindang), Klaten

Buku pertama yang selesai kubaca tahun ini, dari tanggal 8-18 Jan 2021, di sebuah masjid di Bogor sampai di ruang baca Greenvillage, Karawang.

Terbata Mengucap Cinta pada Timnas

Dari Kekalahan ke Kematian by Mahfud Ikhwan

Saya tak ingat betul kapan kita terakhir kalah sebanyak ini, Bung.” Kata Bung Towel. “Tanpa ragu saya katakan,” timpal Bung Tris dengan suara tercekat, “ini memalukan!”

Tipis. Mungil. Cepat sekali bacanya, di sela Pi dan Zarathursta yang bahkan sampai separuh bulan baru dapat separuh perjalanan. Ku #unboxing hari Minggu, 17 Januari kuselesikan baca dua hari kemudian. Buku ngomong ngalor ngidul dari hati Cak Mahfud untuk pecinta Tim Nasional Indonesia. Curhatan, makian, ratapan adalah bukti bahwa publik sepakbola Indonesia masih bernyawa.

Mahfud Ikhwan memang jaminan, salah satu penulis hebat di zaman kita. Ini buku kedua darinya tentang sepakbola yang kunikmati, jelas lebih baik ketimbang rangkuman review per pekan sepakbola Eropa dalam ‘Sepakbola Tak Akan Pulang’. Kali ini fokus ke cerita lokal, mayoritas diangkut dari blog-nya belakanggawang.blogspot.com yang diampu bersama Bung Darmanto Simaepa. Sobatnya tersebut, ternyata sobat kental beberapa kali disebut menjadi teman curhat dan nonton bareng. Setara Grandong yang jadi sobat misuhi Liverpool dengan kepleset Gerard-nya. Masih ingat review buku Tamasya Bola? Kata Pengantarnya keren sekali oleh Cak Mahfud, di Dari Kekalahan, dibalik. Pengantarnya oleh Darmanto, panjang meliuk-liuk liar, dan muatan isi bukunya segaris lurus. “Barangkali sepakbola unik karena ia bisa memberikan harapan berulang kali.”

Setengah abad menjadi pecundang menjadi pengantar panjang itu, bagaimana timnas kita seolah pendulum yang tak pernah menyentuh puncak lagi sejak tahun 1991. Berputar bak gasing di dasar dalam kebingungan, kekonyolan berulang, dan senyum busuk politikus. Kita bisa berjilid-jilid menulis makian ke PSSI dan segala kroni-nya. Berisi 16 tulisan, semuanya tentang sepakbola kita, mayoritas timnas, beberapa klub lokal. Hebat. Saya bisa bercerita sampai sisi dalam kulitnya pemain Biancoceleste, detail seolah papan iklan di Olimpico bisa diraba. Namun sulit menelusur sepakbola sendiri, debu-debu Mandala Krida lebih jarang kutemui di layar TV ketimbang gemerlap Nou Camp.

Lebih istimewa, catatan di sini tampak beda. Bukan ulasan pertandingan, pandangan laga sepanjang menit seolah teks tabloid Bola, atau terjemahan La Gazetta Dello Sport, bahasanya terasa bebas sekali, tulisan blog memang personal, bukan olahan berita yang formal. Makanya terbaca bagus sekali, dengan ke’saya’an melimpah Cak Mahfud bercerita pengalaman, sedari kecil, sedari mondok, sedari merantau. Seperti saya, diksi saya lebih terdengar hormat ketimbang aku. Patah hati berulang kali, mengucap cinta pada cewek cantik dah biasa, apapun balasannya hal lumrah sebab targetnya laik; mengucap sayang pada cewek jelex, ia terbata-bata. Hiks, sedih…

Tak banyak buku tentang sepakbola yang kubaca, dari sedikit itu rata-rata mengecewakan atau katakanlah biasa. Sulit memang menulis tentang bola yang bagus, ada yang muluk-muluk sampai bikin muntah sebab nyebut sains sesering Neymar kepleset. Ada yang bernarasi dari menit ke menit menjelaskan bola bergerak seolah kita tak tahu keyword guna searching di Youtube. Maka lebih bijak memang mengambil sudut pandang orang pertama, yang dikupas momen penting, sehingga tampilan kata-nya stabil asyik.

Seperti AFF 1997, bagaimana Sang Penulis bilang digebuki sarung sama ustaz-nya sebab nonton semifinal di jam ngaji bersamaan pula magrib, berbarengan dengan acara pondok. Ia bercerita, seolah dua momen itu penting. Kenapa? Kita jelas tahu Indonesia ke final, lalu luluh lantak, yang jelas kita tak tahu bagaimana ia menikmatinya, dan menyakitkannya. Uang makan melayang. Tjakep! Kisah semacam ini setara dengan narasi-ku ketika menonton final Copa Italia tahun 2013. Saya menjelujur kata bagaimana rencana nobar Lazio Indonesia ke Jakarta, kunci motorku diumpetin istri karena tak boleh keluyuran dini hari ke Ibukota, sempat ngambek kucari tumpangan ke Laziale lainnya, pada udah cabut, juga berbarengan pula rekan nonton dari Lazio Cikarang terjebak macet dalam perjalanan arus balik, dan bagaimana saya berteriak sendirian memandang Lu71c di layar TVRI di rumah. Narasi satu sudah diketahui banyak orang, narasi kedua bukan sekadar sisipan, tapi malah menjadikan info bagus kefanatikan. Walaupun Lazio menang, Indonesia kalah, jelas cara bernarasi saya kalah telak sama Cak Mahfud, ‘Kisah Tiga Pelanggaran dan Narasi Kekalahan’. Manusia semacam Pak Amrozi, Mayistri tersayang yang galaknya minta ampun kalau audit koleksi buku dan bola–, dan pengganggu-pengganggu cara menikmati kulit bundar selalu ada di sekeliling kita.

Seperti bagaimana proses Indonesia kalah menyakitkan tahun 2010, momen bangsat nomor seribu itu, kita sudah di puncak permainan ketika kaki menapaki garis final. Berlanjut antiklimaks Sea Games bercumbu lagi sama Malaysia, dan bagaimana kekalahan itu menewaskan dua supporter. Asyik cara nulisnya, dibagi dua babak laiknya sepakbola: sebelum kekalahan bercerita proses nonton dengan bantingan antena berulang kali, dan setelah kekalahan cuma sekalimat. Hahaha… kok kepikiran ya.

Seperti kisah-kisah dystopia kebanyakan yang fantastis, Sang Penulis memiliki angan-angan gila, mencipta tokoh seorang ilmuwan yang berhasil menciptakan alat pembunuh massal di Indonesia. Setiap manusia yang memiliki pikiran dalam kepala mengenai sepakbola, mati. Percobaan me-reset pola pikir dan olahraga asyik ini. Oh, ok. Endingnya? Diberi dua alternatif: Pertama, Sang sarjana biokimia mencipta benthik yang diajarkan ke anak-anak yang ia temui pertama. Yang kedua, semua tewas termasuk si ilmuwan gila ini sebab gagal cipta penangkal, semua orang-orang sepakbola tewas tak tersisa, kecuali orang-orang PSSI dan beberapa bos klub, kenapa? Sebab kata ‘sepakbola’ bahkan tak terbesit di kepala mereka. Hahahahahaha… jleb-jleb-jleb. Benar-benar kocak, fakta pula. Ini jelas kupilih terbaik ada di judul ‘Sepakbola Indonesia: Sebuah Cerita Distopia.’

Seperti iklan rokok yang kerap muncul bersama sepakbola, saya sepakat sekali. Saya tak merokok lagi setelah Muhammadyah mengharamkannya, saya melihat hal-hal yang ditulis dalam ‘Peringatan Saya: (Iklan) Rokok Bisa Menimbulkan Masyarakat yang Sehat, Bahagia, dan Penuh Harapan.’Tak seperti manipulasi-manipulasi lain yang saya sebut tadi, rasanya senang dan bahagia yang ditimbulkan oleh sepakbola tidak didirikan di atas sejenis moralitas, tidak dibangun dengan mengatasnamakan kebenaran. Itulah kenapa sepakbola jadi terasa menyenangkan dan membahagiakan… sayangnya dipersembahakn oleh iklan rokok.” Asem, musiknya Gloomy Sunday cuy. Saya lebih nyaman merenung libur bersama Bill Withers saja, Lean on Me.

Seperti ketika AFF edisi 2016, Sang Penulis ‘muak’ sama bola tapi ternyata timnas bisa melaju juga dari sergapan grup. Ini mengenai Riedl yang terharu, dengan skuat seadanya karena kompetisi sedang berjalan, setiap tim hanya boleh diambil dua pemain. Timnas bisa melaju, mengalahkan Singapura. Saya mengalami era ini, tapi kok saya lupa-lupa ingat ya? Saking bobroknya roda kompetisi, saya memang sempat ‘cuek’, dan hal yang sama juga dilakukan Sang Penulis. Ia baru tahu skornya justru dari ayahnya, bukan langsung menatap layar. Dengan judul ‘Kembali (Mencoba) Berharap’, memang harapan itu melayang bersama bom telur, meledak dalam kekonyolan, busuk dan buruk.

Seperti komentarnya tentang Nurdin Halim yang muncul di banyak layar, padahal suporter muak. Dan kata-kata Sang Penulis yang menyindir langsung betapa Johar Arifin lebih buruk dari pendahulunya, kalimat yang dikutip juga jleb, “Saya masih memberi kesempatan kepada klub-klub untuk kembali ke kompetisi yang resmi. Paling tidak sampai Senin ini. Ya, paling lambat Senin malamlah.” Lihat, betapa memuakkan boneka ini. Pengen muntah rasanya, dolanan bal dadi sembelit politik dan kekuasaan.

Dan seperti-seperti yang lain, jelas Cak Mahfud mewakili banyak hal. Mewakili uneg-uneg ratusan juta pecinta sepakbola, timnas pada khususnya. Dan seperti buku sebelumnya yang memicuku untuk nulis tentang bola, saya jadi terpicu lagi untuk turut nulis uneg-uneg.Sepakbola Tak Akan Pulang’ membuat gebu, walau nyatanya setelah sembilan bulan baru nulis satu artikel yang dipos ke fandom.id; niat ini memang harus dibakar terus. Baik, nanti saya coba lagi ke Fandom atau ke Pandit sekalian. Nulis bola memang butuh keuletan, butuh konsistensi tebal ketimbang review film, atau buku.

Mengenal bola, saya sedikit lebih baru. Baru klik sepakbola tahun 1998, kala Vieri join Lazio. Timnas momen paling menyakitkan bagiku ya tahun 2004 kala era Bejo Sugiantoro dkk kalah pinalti dan tahun 2010-11 dua kali dipecundangi tetangga. Muntab, patah hati berkali-kali, dan seperti kata Cak Mahfud, saya tetap juga mencintai tim rombeng ini.

Catatan penutup mengharukan sebab teruntuk Bapak, orang yang berjasa mengenalkan sepakbola, yang mencintainya dengan penuh, dari tim antah sampai tim elit dilibas, dari era radio sampai satelit, dari kekalahan satu ke kekecewaan lain. Jadi ingat almarhum Ayahku, mencintai Arsenal dengan Petit-nya. “Seng dikucir koyo jaran, mlayune kenceng tenan.”

Ok Cak, monggo cari solusi ideal timnas ini, bikin koalisi buat geruduk tahun 2024! Hehehe, ‘tuyo-tuyo kloyongan!’

Dari Kekalahan ke Kematian: Keluhan, Makian, Ratapan, alih-alih Catatan, Seorang Pencinta Sepakbola Indonesia yang Putus Asa | by Mahfud Ikhwan | EA Books. 2018 | Cetakan pertama, Mei 2018 | xxvi + 140 hlm., 12×19 cm | ISBN 978-602-50222-9-6 | Pemeriksa aksara Margareth Ratih Fernandez | Tata letak isi Mawaidi D. Mas | Desain sampul Azka Maula | Penerbit EA Books bekerja sama dengan Fandom.id | Skor: 4/5

Karawang, 210121 – Boyzone – Everyday I Love You

*) Thx to Dema Buku, Jakarta

**) Review khusus menyambut buku ‘Menumis itu Gampang’ yang baru saja terbit

Selongsong Waktu dalam Tenet

Begitu kecilnya ketidaksinambungan waktu, maka satu detik bisa diperbesar dan diurai menjadi seribu bagian, dan tiap bagian menjadi seribu keping lagi. Begitu kecilnya ketidaksinambungan waktu, maka jarak antarsegmen sama sekali tidak terlihat. Tiap kali waktu berputar, maka dunia baru tampak seperti yang lama.”Alan Lightman dalam ‘Mimpi-Mimpi Einstein’.

Komentar May: Bagian bandara, kok, kok pada mundur. Bagian kejar-kejaran mobil wow wow wow. Bagian bandara lagi, keren keren keren. Wooooow. Bagian strategi 10 menit, banyak tanda tanya dan spekulatif. Lalu warna merah dan biru dar der dor… yah, film apaan sih, ga jelas. Z z z z…

Komentar saya? Mari sedikit kupas, ===catatan ini mungkin mengandung spoiler===

Akhirnya saya menyerah juga, film yang paling ditunggu di bioskop ini kusaksikan di layar TV bersama orang terkasih, tetap di pergantian hari di malam libur jelang Derby Della Capitale. Kepastian di bioskop IMAX tak menemui titik temu setelah kasus corona kembali naik Desember lalu. Untuk baginda Nolan, menunggu memang worth it, tapi sabar itu disusupi banyak komentar bocor, dan di era digital luapan info banjir di banyak platform.

Kisahnya tentang penyelamatan dunia, tema kepahlawanan dalam balutan sains, seolah cerita spy yang sudah ada kurang ilmiah. Maka Nolan memasukkan teori-teori rumit itu dalam film aksi. Di Kiev, di sebuah gedung opera, konser baru saja dimulai, terjadi serangan teroris. Tim penyelamat tiba, ada penyusup dalam tim, salah satunya The Protagonist (John David Washington). Pasukan CIA berkejaran, lalu ada penyusup lain bertanda merah di lengan yang menyelamatkan jagoan, tanda tanya itu menggantung setelah misi selesai. Di sebuah lajur dua kereta, The Protagonist dan salah satu agen dicatut giginya guna memaksa membocorkan informasi, pil bunuh diri palsu, serta rangkaian penjelasan tak tuntas.

Pil itu ternyata hanya untuk mengetes loyalitas, ia lalu direkrut dalam Tim Tenet dan berkenalan sama agen Inggris Neil (Robert Pattison). Dalam misi ke India, melalui penyergapan penuh gaya, jumping dengan tali melompat dan mengayun di gedung-gedung bak Spiderman, mereka mendapatkan info penting dari Priya (Dimple Kapadia) bahwa ada teknologi Pembalik-Waktu yang dikuasai oleh seorang Rusia bernama Andrei Sator (Kenneth Branagh) yang bisa berkomunikasi sama manusia masa depan.

Dalam misinya, ia bertemu istri Sator, Kat (Elizabeth Debicki) yang menjelaskan ada lukisan di bandara yang dijaga dengan ketat lukisan yang mengaitkan dengan sang suami, untuk mendapatkannya berdua menyusup dan agen lainnya menabrakkan pesawat agar bisa leluasa ’10 detik’ dalam penjebolan. Tak dinyana, ada dua elit bermasker menyerang, menggunakan Pembalik-Waktu di mana retakan dan ruang yang ada sejatinya belum terjadi, dalam gerak mundur bergumul, interograsi dan niat membunuh musuh misterius itu tak terjadi.

Misi selanjutnya mengambil plutonium dalam mobil, tak biasa sebab mobil itu kejar-kejaran dalam laju mundur, ada penyusup dan rentetan tembak terjadi. Kat mencintai anaknya, jelas. Mengorbankan segalanya demi sang putra, jelas. Termasuk membunuh sang suami? Kenapa tidak?! Ketika ia terluka, parah dan harapan kecil untuk bertahan, maka berdua lalu pergi ke masa lalu untuk ‘mengubah’ sesuatu, melalui bandara Oslo lagi, dan terungkap identitas sebenarnya manusia bermasker. Ini memang wow, tapi bukan barang baru. Masih ingat adegan danau di Harry Potter and Prisoner of Azkaban? Rusa jelmaan itu bukan orang lain.

Tenet memiliki misi sejati menyelamatkan dunia, mulia sekali Nolan, ia mencoba mencegah kiamat. Bertiga merencana, rencananya sangat sederhana, pengaturan waktunya sempurna. Sepuluh menit itu dibagi dalam dua frame: di Siberia penuh ledakan guna membatalkan kiamat, dan di yatch dimana pembunuhan harus dilakukan setelah klik, Sator tak boleh mati sebelum dapat kode. Merah maju, biru mundur, catet! Seperti dalam lukisan yang baik, latar belakang merupakan bagian yang integral dari seluruh lukisan. Maka ledakan itu terasa hambar. Opini seni gambar harusnya dilakukan sedetail mungkin. Ini gambar gerak yang melibatkan Boeing-737, Booom! Happy ending. Hiburan ‘adegan perang’ dalam film menunjukkan ambivalensi pada pesta pora pembunuhan yang mencapai puncak.

Tidaklah mungkin bagi orang dalam profesi subjektif seperti Protagonist ini untuk merasa yakin tentang apapun juga. Samar memang menjadi bumbu kisah spionase, dan segala plot-sub-plot kegemaran Nolan. Senyum Neil di ending mungkin bikin cewek-cewek lunglai bahagia, tapi tak memberi makna banyak. Kehidupan nyata tidak serapi dan seteratur fiksi. Dalam kehidupan nyata, istri yang benci sama suami posesif bisa gegas kabur lalu menyusun kehidupan baru, dalam fiksi kemudahan dicerabut banyak. Aku mati, kamu juga. Aku cinta, kamu harus juga cinta. Yuk, oleskan krim di punggung. Jadi teringat The Invisibleman, obsesi suami gila menjadi rempah-rempah teknologi. Tenaga ahli sekarat ini mengorganisasi kejahatan, seolah gilda-gilda puisi!

Orang bisa saja menjelaskan maksud endingnya, yang kita dapatkan hanyalah sejumlah alternatif yang mana mutu permainan waktu kali ini terlihat sepertinya berbeda, mungkin karena naskah ditulis setelah konsultasi sama ilmuwan fisika, jadi tampak ilmiah, katanya teknologi ini tampak mungkin dicipta. Bos, kau bisa yakin banyak hal masalah permainan waktu, bercerita menjelaskan sampai berbuih-buih, dan kau tentu saja berpeluang begitu keliru banyak hal pula.

Masa depan adalah pola, penataan, kesatuan, sementara masa silam adalah acak, kebingungan, perpecahan, penghilangan. Beberapa orang mengatakan bahwa yang terbaik adalah tidak mendekati pusat waktu. Seperti kata Neil, yang terjadi ya tetaplah terjadi. Lantas rencana kiamat, dan pembatalan pembunuhan itu bagaimana?

Masa depan adalah masa lalu, masa lalu adalah satu-satunya alternatif nyata terhadap kemungkinan. Apapun tema cerita time-traveling, aturan logika sang penulis yang memiliki tanggung jawab. Pada kenyataannya waktu tidak berlalu, kita yang berlalu. Waktu sendiri merupakan sebuah varian. Waktu adalah waktu. Maka masa lalu dan masa depan bukanlah dua tempat yang terpisah seperti Karawang dan Bandung. Dan karena masa lalu bukan lokasi, kau tidak bisa bepergian ke sana. Laci Doraemon, Kalung Turning Time, Lemari Narnia, Mobil kena petir, dst… fantasi kita melimpah ruah.

Kata tenet aslinya dinukil dari sebuah mitologi. Kotak Sator-Rotas dengan center TeneT itu ungkapan latin Sajak yang bisa dibaca dengan beberapa cara, digunakan untuk menandakan pola. Bukanlah kode, tetapi simbol untuk memperingatkan para ahli bahwa bagan yang lebih besar telah diperoleh. Semacam teka-teki terdiri lima huruf dalam lima line: SATOR, AREPO, TENET, OPERA, dan ROTAS. Nolan jelas menggunakan kelimanya, walau sebagian seolah tempelan, tak memberi peran. Seperti Rotas, nama kantor sekuritinya. Atau nama antagonisnya Sator, ga relate sama teka-teki apapun. Seperti game Sudoku, semua angka memiliki peran, di film ini semua kata hanya tempelan. Saking asyiknya eksekusi waktu di ending, TEN maju dan TEN mundur menjadi TENET. Nah, kalian puas?

Yang mencuri perhatian tentu saja tokoh Kat, Elizabeth Debicki tergolong pemain baru ternyata. Berkarier sejak tahun 2011, CV-nya kutengok, baru kutonton satu filmnya The Great Gatsby, perannya tak signifikan. Di sini dominan, wanita cantik natural khas gadis Paris. Blonde menawan, cantik, langsing, dan bernyawa. Mungkin karena dialah, saya bisa bertahan lama tanpa menguap bosan.

Plato bilang bahwa seseorang harus membangun karakter melalui aneka bentuk penyangkalan diri, ketimbang melalui pe-manjaan diri. Kata ide sendiri datang dari dia – jadi, kalian boleh berkata bahwa ia menciptakan ide tentang ide. Oh Nolan, mencoba mencipta karya dengan nyanyian sihir berdengung. Bahwa seorang penulis naskah mahir seharusnya bekerja seperti seorang pemain bilyar ulung: meski mengincar bola biru, ia justru menyodok bola putih, yang lalu menumbuk bola hitam, yang kemudian menabrak bola merah, yang pada akhirnya bola menerjang target akhir: si bola biru. Boom! Gue kasih bocoran, si Protagonist dan Neil berhasil menyelamatkan dunia, (mana tepuk tangannya?) – hanya saja, caranya menumbuk warna bola di banyak ledakan.

Setiap orang memiliki kemampuan melawan kejahatan. Nolan memberi kita gambaran tema kepahlawanan. Terdengar seksi bukan? Untung skoring-nya bagus, saya benci happy ending.

Tenet | 2020 | Directed by Christopher Nolan | Screenplay Christopher Nolan | Cast Juhan Ulfsan, John David Washington, Robert Pattison, Dimple Kapadia, Michael Caine, Elizabeth Debicki, Kenneth Branagh | Skor: 4/5

Karawang, 190121 – Padi – Begitu Indah

Buku-buku yang Kubaca 2020

“Saya menulis apa yang saya tahu, saya pahami, dan saya kuasai.” Mahfud Ikhwan dalam Cerita, Bualan, Kebenaran.

129 buku kubaca dan kuulas, SEMUANYA! Tahun yang luar biasa sibuk. Makin matang, makin variatif bacaan. Kalau dulu saya fokus ke fiksi, sekarang sudah kukembangkan ke segala bacaan. Riliji, sastra, remaja, klasik, psikologi, filsafat, tasawuf, olahraga, sosial, detektif, sampai fantasi imaji, genre utama yang memang jadi acuan segalanya. Tahun ini buat daftar terbaik-terbaik dalam dua versi: Fiksi dan Non-Fiksi.

Baru tiga tahun ini bacaan saya rekap, dalam tiga tahun inilah rekap baca paling banyak. Tahun 2018 dan 2019 di angka 110. Tak ada target baca, tak ada event yang kuikuti oleh komunitas atau apalah, benar-benar ngalir saja. Kecuali momen #30HariMenulis #ReviewBuku yang memang sudah lama kulakoni tiap Juni.

Dunia memang sudah menggila; buku bagus, secangkir kopi, dan alunan jazz membuatku tetap waras.

#1. The Woman in BlackSusan Hill
Tentang keterpencilan dan hal-hal gaib di sana.

#2. A Fair Lady & Fine GentlemanJane Austen
Tentang kutipan-kutipan sang maestro roman klasik.

#3. ZiarahIwan Simatupang
Tentang ketakteraturan plot, karakter, diksi, segalanya.

#4. Agnes GreyAnne Bronte
Tentang cinta komitmen Agnes akan kebijaksanaan.

#5. RafilusBudi Darma
Tentang kematian dua kali manusia besi.

#6. FiestaErnest Hemingway
Tentang festival matador, semburan anggur, dan kafe-kafe nyaman.

#7. The Red-Haired WomanOrhan Pamuk
Tentang sumur, kenangan, dan dosa lama yang menghantui.

#8. Million Dollar BabyF.X. Toole
Tentang tinju dan segala keambyaran.

#9. Cacing dan Kotoran KesayangannyaAjahn Brahm

#10. Dunia SaminSoesilo Toer

Tentang kemasyarakatan yang ideal, kebersamaan.

#11. Closed CasketSophie Hannah
Tentang warisan dan pembunuhan, telaah kejahatan di tengah buku-buku perpustakaan pribadi.

#12. Monte Cristo Alexandre Dumas
Tentang dendam yang membara sekaligus kepahlawanan di era pasca Sang Kaisar.

#13. Segala-galanya AmbyarMark Manson | 1 | 2
Tentang harapan yang remuk redam, kesepian.

#14. Cinta Satu PennyAnne Hampson
Tentang keromantisan dalam sepeting penny.

#15. Babad Kopi ParahyanganEvi Sri Rejeki
Tentang metodelogi kopi di Bandung dan sekitarnya.

#16. Seorang Gembala Yang Tertidur Panjang di Akhir ZamanA. Mustofa
Tentang waria tobat dan segala yang menghalanginya.

#17. Kitab Para PencibirTriyanto Triwikromo
Tentang makhluk ciptaan-Nya yang menekur.

#18. The Book of MirrorE.O. Chirovici
Tentang kasus pembunuhan yang diungkap kembali setelah puluhan tahun tak terdeteksi.

#19. All the Bright PlacesJenniver Niven
Tentang jiwa remaja labil yang ingin bunuh diri.

#20. Ender’s GameOrson Scott Card
Tentang serangan bug di luar angkasa dan tata cara melawan dulu.

#21. Mengukir Masa DepanNidhoen Sriyanto
Tentang impian remaja di Ode Baru yang indah-indah.

#22. A Monster Calls – Patrick Ness
Tentang monster pohon yang muncul tiap jam 00:07 lalu berkisah.

#23. Winnie-the-Pooh – A. A. Milne
Tentang dunia binatang di hutan Seratus Ekar, serta Christopher Robin.

#24. Ateisme FreudHan Kung
Tentang Freud dan ideologinya.

#25. Dilarang Gondrong!Aria Wiratma Yudhistira
Tentang larangan berambut panjang di Orde Baru, bersinggungan dengan politik itu nggak enak.

#26. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3!Ajahn Brahm
Tentang petuah-petuah bijak menurut Buddha.

#27. Ritus-Ritus PemakamanHannah Kent
Tentang hukuman mati dan nurani terkoyak.

#28. AngelologiDanielle Trussoni
Tentang malaikat dalam relung sejarahnya, ada singgung mitosnya.

#29. Sang Golem dan Sang JinHelena Wecker
Tentang cinta makhluk ciptaan manusia yang mistik.

#30. Crystal Stopper Maurice LeBlanc
Tentang sumbat Kristal memicu hukuman mati pencuri pembunuhan.

#31. Cadas TaniosAmin Maalouf
Tentang cinta kandas remaja, pengorbanan ayah, politik dan agama di Lebanon.

#32. Silence Shusaku Endo
Tentang penyebaran agama Kristen di Jepang, akar tak bis atumbuh di bebatuan.

#33. Lengking Burung KasuariNunuk Y. Kusmiana
Tentang kehidupan Jayapura pasca integrasi dalam sudut pandang anak-anak.

#34. The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and the WardrobeC.S. Lewis
Tentang empat Pevensie yang masuk ke dunia ajaib lewat lemari.

#35. Pooh at the Corner A. A. Milne
Tentang dunia binatang di hutan Seratus Ekar, serta Christopher Robin, sertapula si menbal-menbal Tigger.

#36. Sepakbola Tidak Akan PulangMahfud Ikhwan
Tentang catatan sepakbola semusim di Eropa.

#37. Little WomenLouisa May Alcott
Tentang empat cewek bersaudara di Amerika di masa perang.

#38. The High Mountains of Portugal Yann Martel
Tentang waktu dan pengobatan kematian orang terkasih.

#39. The GatesJohn Connolly
Tentang serbuan makhluk neraka ke dunia, dalam konsumsi komedi.

#40. StardustNeil Gaiman
Tentang bintang jatuh di dunia ajaib berbatasan tipis dengan realita.

#41. Love Story Erich Segal
Tentang cinta sejati yang luluh lantak.

#42. BleachersJohn Grisman
Tentang pemakaman pelatih legendaris, memicu reuni hitam.

#43. Corona Ujian TuhanQuraish Shihab
Tentang sanggahan-sanggahan, penjelasan masuk akal, sampai hal-hal yang patut dilakukan di masa pandemi.

#44. Reportase-Reportase TerbaikErnest Hemingway
Tentang laporan Koran di Prancis tahun 1910-1920-an oleh Penulis fenomenal Amerika.

#45. Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah MengeringHasan Ashari
Tentang kematian dan sejenisnya dalam larik sajak.

#46. The Fault is Our StarsJohn Green
Romantika duka dua remaja, impian ke Amsterdam menyata, kematian juga.

#47. The Chronicles of Narnia: Prince CaspianC.S. Lewis
Tentang perebutan takhta, paman versus keponakan di dunia fantasi. Dibantu empat warga London.

#48. Suatu Pengantar: Anthony Giddens B. Herry – Priyono
Tentang sosialisme yang didaur ulang di sudut pandang Giddens.

#49. Persepolis Marjane Satrapi
Tentang kehidupan Timur Tengah, Iran v Irak tahun 1960-an dalam panel komik.

#50. Cala IbiNukila Amal
Tentang naga yang melintas di cakrawala katulistiwa.

#51. Pintu Masuk ke Dunia FilsafatDr. Harry Hamersma
Tentang filsafat dasarnya saja, di pintunya aku memandang.

#52. The Devil Wears PradaLauren Weisberger
Tentang tata kelola majalah fashion, begitu kejam.

#53. The Mozart’s JourneyEduard Morike
Tentang perjalanan sang maestro, mampir ke keluarga bangsawan.

#54. Bulan Kertas Arafat Nur
Tentang cinta remaja yang aneh, menemui titik temu duka.

#55. Bukan Pasar MalamPramoedya Ananta Toer
Tentang perjalanan mati, perjalanan religi untuk berdamai dengan orang-orang tersayang.

#56. Creative WritingA.S. Laksana
Tentang tips-tips menulis efektif, dan menulislah dengan jelek.

#57. Kisah-kisah Perdagangan Paling GemilangBen Sohib
Tentang perdaganagn gagal disertai kekonyolan setelahnya.

#58. No ManyoonEndang Rukmana
Tentang parody New Moon, tahan muntah.

#59. The Stranger Albert Camus
Tentang pembunuhan tak sengaja, hukuman mati, dan ketenangan jiwa menghadapi kenyataan.

#60. Martin Luther KingAnom Whani Wicaksana
Tentang perjalanan King menyamakan hak sipil.

#61. Sepotong Senja Untuk PacarkuSeno Gumira Ajidarma
Tentang surat Sukab ke Alina yang ganjil.

#62. Cocktail for ThreeMadelaie Wickham (Sophie Kinsella)
Tentang tiga wanita paruh baya galau menemukan cinta dan bualan.

#63. Aisya Putri: Operasi Milenia Asma Nadia
Tentang remaja Islami dalam aktivitas seharinya.

#64. The Partner John Grisman
Tentang uang besar dibawa kabur, tertangkap, dan polemik setelahnya.

#65. Menggapai Hati yang Rindu Violet Winspear
Tentang cinta mellow meratap.

#66. Cinta RahasiaAnne Mather
Tentang palakor yang diromantisisasi.

#67. Ricuhnya Hidup Bersama AdamAnne Mather
Tentang cinta kepada saudara sendiri yang membuncah.

#68. Suami-suami Hollywood 1Jackie Collins
Tentang glamour Hollywood, sisi gelap hubungan manusia.

#69. 21 Qualities of a LeaderJohn C. Maxwell
Tentang dasar-dasar kualitas pemimpin.

#70. Perempuan itu Bersama AnickTitie Said
Tentang narkorba dan genk jahat di Jakarta Utara.

#71. The Da Peci CodeBen Sohib
Tentang cinta beda agama dalam peci miring.

#72. Dosa TurunanAbdullah Harahap
Tentang drakulaku adalah istriku.

#73. Suami-suami Hollywood 2Jackie Collins
Tentang kesempatan kedua di gemerlang Hollywood.

#74. The Storied Life of A.J. FikryGabrielle Zevin
Tentang pecinta buku di pulau terpencil menemukan cinta.

#75. Perry Mason: Kasus Dendam MembaraErle Stanley Gardner
Tentang pembunuhan dini hari, diungkap jitu oleh Pengacara.

#76,5. Cinta Sepanjang AmazonMira W
Tentang mahasiswi kere menikah dengan mahasiswa kaya, remuk.

#76,5. Nada tanpa KataMira W.
Tentang fotografer handal yang tewas di Afrika, cinta ibu sepanjang masa, dan sebaliknya.

#77. Always Laila, Hanya Cinta yang BisaAndi Eriawan
Tentang ketakjuban laki-laki kepada teman sekolahnya, dan jodoh yang remuk redam.

#78. Teori KesusastraanRene Wellek & Austin Warren
Tentang dunia sastra, luas merentang dalam teori.

#79. Bagaimana Aku Menjadi PenulisGabriel Garcia Marquez
Tentang memoar legenda di proses karya.

#80. Bahasa dan Kegilaan – Umberto Eco
Tentang linguistik dari Adam hingga Marcopolo.

#81. Rahasia Selma Linda Christanty
Tentang puluhan kura-kura di taman dan rahasia yang tergantung di sebelah tembok.

#82. Membina Bahasa Indonesia Baku (seri 1)JS Badudu
Tentang Bahasa kita yang baku.

#83. SummerAlbert Camus
Tentang esai di Aljazair, peran sertanya dalam masyarakat.

#84. Buku dan PengarangJS Badudu
Tentang 14 sastra lama kita.

#85. Pengarang Tidak Mati Maman S. Mahayana
Tentang warisan penulis untuk kini dan masa yang akan datang.

#86. Buku Pintar Ejaan Bahasa IndonesiaTeguh Trianton & Septi Yulisetiani
Tentang pelajaran Bahasa Indonesia.

#87. Tentang Menulis Bernard Batubara
Tentang menulis, pengalaman menulis.

#88. Born to WinPromod Batra, MBA
Tentang sikap positif mengahadapi hidup.

#89. Burung KayuNiduparas Erlang
Tentang kebudayaan Mentawai digempur modernitas dari luar.

#90. Surat-Surat Lenin Endrou Maywin Dwi-Asmara
Tentang surat-surat pasien dan efeknya.

#91. La MuliNunuk Y. Kusmiana
Tentang dinding toilet, politik lokal dan lautan Papua.

#92. Rab(b)i Kedung Darma Romansha
Tentang dunia pelacuran, nama baik Pak Haji, dan selubung hubung sahabat.

#93. Kawi Matin di Negeri AnjingArafat Nur
Tentang nasib apes warga Negara Indonesia.

#94. Leak Tegal SirahI Gusti Putu Bawa Samar Gantang
Tentang dendam terbalas kepada eksekutor 1965/1966.

#95. Orang-orang OetimuFelix K. Nesi
Tentang final Piala Dunia 1998, dan sejarah panjang sejak zaman Belanda.

#96. Pandemik!Slavoj Zizek
Tentang Corona, efek, penanganan, harapan.

#97. Heart of Darkness Joseph Conrad
Tentang perjalanan kapan di sungai Afrika yang liar.

#98. Makan Siang OktaNurul Hanafi
Tentang cinta remaja yang tumbuh saat makan siang.

#99. Kiat Bermain Saham Surono Subekti
Tentang saham di era pasca Reformasi.

#100. Apa yang Harus Saya Lakukan?Drs. R.I. Suhartin
Tentang curhat dan tanggapan anak muda zaman dulu.

#101. …Oh FilmMisbach Yusa Biran
Tentang orang-orang Seni di Senen.

#102. Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi KematianYetti A. KA
Tentang dana duka yang dikumpulkan beserta gosip tetangga.

#103. Cerita, Bualan, KebenaranMahfud Ikhwan
Tentang hari-hari mencipta karya, isnpirasi tak bertepi.

#104. Koleksi Kasus Sherlock HolmesSir Arthur Conan Doyle
Tentang masa senja Sherlock Holmes.

#105. Bebas dari Militer Martin Shaw
Tentang dunia militer yang lunglai setelah Perang usai.

#106. Mimpi-Mimpi EinsteinAlan Lightman
Tentang dunia Einstein dalama kepala

#107. Teori Kepribadian Rollo MayIna Sastrowardoyo
Tentang eksistensi manusia dan tata kramanya.

#108. The Constant Gardener John le Carre
Tentang penyalahgunaan obat, pembunuhan aktivis, cinta terlarang.

#109. Obsesi Perempuan Berkumis Budi Darma dkk.
Tentang Budi Darma, dkk.

#110. The Bell Jar Sylvia Plath
Tentang obsesi dan khayal meliar sepasang kasih.

#111. The King of TortsJohn Grisman
Tentang tuntutan ganti rugi massal, uang melimpah dilibatkan.

#112. SheilaTorey Hayden
Tentang anak istimewa di sekolah luar biasa.

#113. Ya atau TidakSpencer Johnson, M.D
Tentang petualangan ke bukit di akhir pekan.

#114. Furin Kazan Yasushi Inoue
Tentang klan-klan yang berseteru di Jepang.

#115. NemesisAgatha Christie
Tentang Ratu Keadilan dalam pembunuhan tak terungkap.

#116. ContactCarl Sagan
Tentang kontak alien ke Bumi, kegegeran setelahnya.

#117. Diskursus & Metode Rene Descartes
Tentang akar pikiran manusia.

#118. ReplaySeplia
Tentang band mahasiswa yang kocak.

#119. Jenazah LazarusDorothy Scarborouh, Ph. D.
Tentang bangkit dari kematian, lunglai.

#120. Dasar-dasar Filsafat Moral KantHB Acton
Tentang moral kesetaraan hak makhluk Tuhan.

#121. The Chronicles of Narnia: The Voyage of Dawn Treader C.S. Lewis
Tentang pelayaran ke Timur.

#122. Mind and BodyWilliam Atkinson
Tentang keterkaitan pikiran dan tubuh.

#123. PenyuluhanE.A Munro, R.J. Manthel, J.J. Small
Tentang konseling, penyuluh dan klien.

#124. Merayakan SepakbolaFajar Junaedi
Tentang metodologi sepakbola kita.

#125. Pengakuan Orang IklanDavid Ogilvy
Tentang iklan yang tumbuh dan pupuk yang pas.

#126. Metodologi Penelitian SastraSuwardi Indraswara
Tentang sastra, seluk beluknya.

#127. Perry Mason: Kasus Gadis KembarErle Stanley Gardner
Tentang pagi aneh bersama roti panggang.

#128. Dunia Mistik dalam IslamAnnemarie Schimmel
Tentang sufi dan segala kata-katanya dalam diam.

#129. Kumpulan Puisi: Senja dalam MasaAndri VB
Tentang senja yang digores sajak.

Sepertinya tahun 2020 adalah tahun paling banyak membaca buku, dan mengulasnya. Juga tahun paling banyak belanja buku. Sampai tanggal 18 ini saya belum menyelesaikan baca satu buku pun, sebab permulaan adalah buku berat 400 halaman. Tak muluk-muluk tahun ini, ngalir saja. Dan memang selalu begitu sih…

Kututup ringkas baca ini dengan nasihat seorang Sufi, Hujwiri yang menyimpulkan sikap awal sufi terhadap ilmu dan teologi dalam pengamatan tajam: “Pengetahuan itu luas, tetapi hidup singkat: oleh karenaya tidaklah wajib mempelajari semua ilmu… cukup yang ada hubungannya dengan hukum agama.” Bukankah Tuhan mengutuk ilmu yang tak ada gunanya?

Karawang, 170121 – Steve Goodman – The Dutchman

Dantes: Fitnah, Dengki, Dendam, Dermawan, Pahlawan

Conte Cristo by Alexandre Dumas

Villefort: “Aku seorang penganut kerajaan dan namaku Villefort. Biarkan getah-getah revolusi itu mongering dan mati bersama batang pohonnya yang telah menua, Nyonya, dan lebih baik kita memperhatikan tunas-tunas muda yang tumbuh terpisah, tetapi tidak mempunyai daya bahkan keinginan untuk melepaskan diri sepenuhnya dari induk.”

Mari kita buktikan bahwa kita cukup berharga untuk disayangi orang. Book of the year untuk karya fiksi. Keinginan membacanya sudah sangat lama, baru kesampaian tahun lalu setelah melihat pos jualan. Keinginan baca Sastra Dunia ini setara dengan Anna Karenina yang tebal, dua jilid yang sampai sekarang belum kesampaian. Sastra klasik memang jaminan kualitas, sebab waktu sudah menyaringnya.

Kisahnya tentang Edmond Dantes, pemuda 19 tahun yang menjadi awak kapal Le Pharon yang dimiliki oleh Tuan Morrel. Memiliki kekasih cantik pujaan hati, rencananya setelah mendarat ia akan mendapatkan promosi jabatan kapten, dan menikahi Mercedes. Rencana indah pria baik hati dan tak sombong ini begitu sempurna, sehingga semesta pasti tersenyum pada nasibnya. “Aku tidak angkuh, tetapi aku berbahagia, dan kukira kebahagiaan dapat membuat seseorang menjadi lebih buta daripada angkuh.” Namun bersamaan dengan niat baik, ada iri hati yang menyertai. Takdirnya berbalik 180 derajat berkat orang-orang jahat yang ada di sekelilingnya, dan situasi politik yang memanas kala itu, awal abad 19 Prancis dalam gejolak kekalahan Napoleon Bonaparte. Peribahasa terkenal dalam politik bahwa orang tidak boleh mempercayai kesan pertama. Ia menerapkan peribahasa itu dan mematikan kesan baik yang baru diperolehnya.

Segala sesuatu itu nisbi. Dantes akan diangkat jadi kapten, ya. Akan menikah dengan gadis cantik, ya… lalu segala-galanya ambyar.

Nasib orang polos, benar-benar dimainkan tangan-tangan kotor. Pertama Danglars yang iri sama rencana promosi jabatannya, seorang akuntan korupsi ini lalu menjerumuskannya dalam isu jahat, yang membuat sang pemilik perkapalan ragu. Permintaan seseorang yang berada di ambang kematian selalu bersifat suci, tetapi bagi seorang pelaut permintaan atasannya merupakan perintah yang harus dilaksanakan. “Kalau begitu berangkatlah anak muda, tugas lebih penting dari kami. Penuhi ke mana saja tugas Raja memanggilmu.” Kata Marquis.

Kedua Fernand yang mencinta Mercedes, keinginan merebutnya dari Dantes dengan mengagalkan perkawinannya, mencipta situasi hitam. Dan juga Caderousse yang mengatur siasat jahat. Pandangan hidupku hanya terbatas sampai kepada perasaan-perasaan ini: aku menyayangi Ayah, aku menghargai Tuan Morrel, dan aku mencintai Mercedes…

Ketiga Villefort, seorang wakil jaksa penuntut umum jua politikus yang menjadikan Dantes kambing hitam. Menfitnahnya, menuduhnya menjadi kaki tangan Napoleon dengan alibi pelayaran mampir ke Pulau Elba menemui Sang Kaisar, jadi posisi Dantes langsung berat. Dituduh menghianati Negara, menjadi tahanan politik di Pulau If yang terpencil. Dantes yang tak tahu apa-apa, benar-benar tak belum paham situasi. “Hidupmu, anak muda, masih terlalu pendek untuk dapat mengandung sesuatu yang sangat berarti.”

Di penjara dia hanya dikenal dengan nomor 34, selama beberapa hari ia masih linglung dan tak paham situasi. Kita seandainya di posisi yang sama paling juga blank. Sebagai pembaca kita bisa melihat dari atas, rasa kasihan dan geram menyelimuti kita. Jahat banget. Ia baru sadar setelah berjuang, bertahan, dan akhirnya lewat kerja keras berhasil menghubungkan ruang penjara sebelah dan berkenalan dengan penghuninya yang tua dan cerdas. Padri Faria: “Kalau ingin mengetahui siapa pelakunya, temukan dahulu siapa yang beruntung dari kejahatan itu… Siapa yang beruntung dengan hilangmu dari masyarakat.”

Dia belajar sama penghuni lama yang luar biasa hebat. Untuk melakukan hal itu, diperlukan lebih banyak keberanian daripada kemurahan hati semata karena menolong ayah seorang Bonapartis yang berbahaya seperti Dantes, sekalipun di ranjang kematian, ketika itu dianggap sebagai suatu kejahatan. Belajar kehidupan, setelah menguras habis daya kemanusiaan, barulah ia berpaling kepada Tuhan. Untuk orang yang berada dalam kesenangan, doa hanyalah merupakan rangkaian kata tanpa makna, sampai pada suatu saat kesedihan dan kepedihan datang menerangkan makna kata-kata agung yang ditunjukkan kepada Tuhan.

Aku ini Padri Faria, aku berada di penjara If sejak tahun 1811, tapi sebelumnya aku dipenjara di Benteng Fenestrella selama tiga tahun. Sebab dipenjara tahun 1807 melontarkan gagasan yang ternyata dicoba oleh Napoleon. Seperti kata Machiavelli, aku cenderung memandang kekaisaran sebagai suatu yang agung dan berwibawa.

Keakraban dan kepercayaan itu tumbuh dalam rasa senasib dan sepenanggungan. Selama itu, Sang Padri menulis buku penelitian berjudul ‘Uraian tentang Kemungkinan Sebuah Kerajaan Tunggal di Italia’. Orang ini begitu cerdas, begitu terampil, begitu mendalam, bahkan sanggup menembus kegelapan rahasia nasib buruknya sendiri. Dantes sendiri tak pernah memahaminya. Selama berdiam diri seperti bersemedi yang seakan-akan hanya berlangsung beberapa detik itu, ia telah membuat keputusan yang mengerikan dan sumpah yang menakutkan.

Salah satu kunci kesuksesan kisah ini ada di kalimat ini, “Sekarang, engkau telah mengetahui rahasia ini sebanyak pengetahuanku sendiri. Kalau kita berhasil melarikan diri, setengah dari kekayaan itu adalah milikmu; apabila aku mati di sini dan engkau berhasil lari, semuanya menjadi milikmu… engkau adalah anakku, engkaulah anakku yang lahir dari pengasinganku… ternyata Tuhan mengirimkan engkau kepadaku sebagai satu-satunya penghibur dalam menjalani kehidupan yang hancur ini…” kata Faria. Dan seolah memberi cahaya ke masa depan. Aku mesti menghukum musuh-musuhku dulu sebelum mati, dan aku pun perlu membalas budi sahabat-sahabatku…

Kematian adalah satu-satunya hal penting dalam hidup kita ini yang patut menjadi bahan renungan. Kematian Faria justru memberi opsi kemungkinan kabur, dengan sangat elegan dan berkelas kematiannya mencipta Dantes lulus dari penjara, caranya mungkin sudah kalian lihat dalam salah satu serial Prison Break, dan betapa leganya… “Karena dengan itu aku telah menanamkan dalam hatiku sebuah perasaan yang tidak pernah ada sebelumnya: pembalasan!”

Ia menekan kepalanya dengan kedua belah tangan, seakan-akan ingin mencegah jangan sampai pikiran warasnya menghilang dari kepalanya… kemudian mengucap doa syukur yang hanya akan dipahami oleh Tuhan sendiri. “Ya, aku suka sekali mempelajari watak-watak setiap manusia dan berpendapat bahwa akan lebih mudah mempelajari dahulu watak manusia secara umum lalu menjurus kepada watak perorangan dibanding dengan sebaliknya.”

Empat belas tahun sudah sejak Dantes ditangkap, ia baru berusia Sembilan belas tahun, sekarang tiga puluh tiga tahun umurnya… sekarang tahun 1829… Dantes menjelma sosok baru, dengan harta melimpah, dan rencana-rencana. Segalanya lalu disusun dengan matang dan menakjubkan. Monte Cristo adalah nama sebuah pulau kecil yang sering aku dengan dalam percakapan-percakapan awak kapal. Sebuah pulau pasir di tengah-tengah kepulauan Mediterania. Maka ia menjadi Comte Monte Cristo yang kembali ke Paris dengan runutan dendam. Sumpah vendetta yang berarti sumpah membalas dendam. Kebencian adalah buta, amarah membuat kita dungu, dan barang siapa melampiaskan nafsu balas dendamnya, akan menghadapi bahaya menelan pil yang lebih pahit.

Empat belas tahun, tentu banyak perubahan. “Terima kasih ya Tuhan, setidak-tidaknya Engkau tidak memukul yang lain selain aku.” Kata Morrel, mantan bosnya kini terlilit urtang dan masalah. Ia bantu dengan tanpa menyebut nama lamanya, Dantes sudah dianggap mati oleh orang-orang terdekatnya. Ia juga menjelma saudagar, Orang-orang Timur hanya menghargai dua perkara dalam dunia ini, keindahan kuda dan kecantikan wanita. “Karena hatiku penuh dengan racun kebencian, sekarang aku memerlukan penawarnya.

Prinsip hidupnya: Aku hanya memiliki tiga macam lawan, yang pertama dan kedua adalah jarak dan waktu. Tetapi dengan kegigihan dan ketekunan, aku dapat mengatasi keduanya. Yang ketiga adalah yang paling mengerikan, yaitu bahwa aku tidak kekal. Hanya itu yang bisa menghentikanku sebelum mencapai tujuan. “Aku menjaga dan mempertahankan kehormatanku terhadap manusia mana pun juga, tetapi melepaskannya di hadapan Tuhan yang telah menjadikanku dari tiada menjadi seperti sekarang.”

Rekan kerjanya yang menjerumuskan, hidup lebih baik, tapi tetap materi menjadi tujuan. “Aku pernah akan menjadi gila, dan Tuan tentu mengenal dalil ‘non bis in idem’ dalam ilmu hukum yang berarti sebuah perkara tidak boleh diadili dua kali, jadi aku tidak akan menjadi gila dua kali.” Maka mutiara/permata menjadi daya tariknya sebagai umpan.

Termasuk nasib akhirnya yang dibuat sungguh aduhai. Seorang kapitalis yang risau sama dengan sebuah bintang berekor. Ia memberikan pertanda akan datangnya suatu malapetaka. “Seperti Tuan ketahui, seorang bankir tidak percaya sesuatu yang tidak tertulis.”

Yang paling kucintai setelah dirimu, Mercedes, adalah diriku sendiri. “Maafkan aku, Edmond, maafkan demi Mercedes yang masih mencintaimu!” Ya bagian kekasihnya yang menikah dengan orang lain, lalu anaknya yang mengajak duel dan sang mantan meminta maaf dan tolong itu benar-benar bagian paling sulit diterima akal sehat. Sedih sekali, sakit sekali. “Banyak orang yang bersedia menderita dan menelan air matanya dengan ringan hati dan mengharapkan Tuhan menghiburnya di surga nanti. Tetapi mereka yang berkemauan keras berjuang membalas pukulan takdir itu.”

Menurut hukum, surat wasiat akan sah bila dibaca di hadapan tujuh orang saksi, disetujui isinya oleh pemberi wasiat, lalu disegel oleh notaris di hadapan semua. Lalu diperkuat untuk kemudian hari tidak menggugat. “Janganlah kita terlalu memperturutkan kebiasaan yang selalu menghambat si lemah membangun masa depan yang kokoh.”

Apa yang dicari keluargaku dari perkawinan ini adalah kehormatan, yang kucari adalah kebahagiaan. Engkau tidak percaya kepada Tuhan, padahal yang Tuhan harapkan darimu hanyalah sebuah doa, sepatah dia, atau setitik air mata penyesalan agar engkau diampuni. Kata Albert, “Tuan mungkin tidak akan mengerti mengapa beberapa kalimat dalam sebuah surat kabar dapat mengantarkan seseorang kepada keputusasaan. Bacalah ini, Tuan. Tetapi harap setelah aku pergi.”

Kami tidak dapat membiarkannya lepas dari tangan kami. Sekarang, setelah tembakan dilepaskan, gemanya akan menggaung di seluruh Eropa. Orang-orang memang berwatak baik senantiasa siap untuk memberikan rasa simpatinya kalau kecelakaan yang menimpa musuhnya itu sudah melampaui batas kebencian. Aku tinggal terasing dari masyarakat di rumah pelindungku yang mulia, Aku hidup secara demikian karena kau menyenangi keheningan dan kesunyian yang dapat memberiku kesempatan berpikir dan mengenang masa lampau.

Ia mengarahkan mata ke langit-langit, lalu secara cepat menurunkannya kembali, seakan-akan ia merasa takut langit-langit akan terbelah lalu pandangannya akan beradu dengan Hakim yang Mahaadil. Seandainya engkau masih merasa bersahabat, seperti yang engkau katakana, tolonglah aku menemukan tangan yang menghantamkan pukulan ini. “Apabila seseorang bermaksud menikahkan anak perempuannya, aku rasa ia mempunyai hak untuk menyelidiki latar belakang keluarga calon menantunya, bahkan bukan hanya merupakan hak, melainkan kewajiban.”

Terbitan KPG untuk seri #SastraDunia banyak ditemukan typo, salah ketik. Untuk buku setebal 700 halaman, typonya ada puluhan. Seri sastra dengan kover polos, dengan warna biasa, judul lebih besar ketimbang penulisnya, dulu pas pertama muncul rangkaian KPG ini, sudah mematik hati untuk mengoleksi. Terutama tentu yang belum baca versi lain. Sudah punya belasan, dan sejauh ini buku ini yang terbaik.

Novel ini jelas memengaruhi banyak generasi berikutnya. Beberapa yang terbesit adalah, film The Shawsank Redemption yang menjadikan penghuni penjara Andy Dufresne berhasil kabur setelah perjuangan ekstra kerasnya membuahkan hasil. Ikonik sekali ekspresinya ketika ia menengadah di bawah guyuran hujan dalam keadaan bebas. Kedua, novel Kura-Kura Berjanggut, novel lokal tahun 2018 yang memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa ini ada bagian panjang, bagaimana sang raja Lamuri berjuang kabur dari penjara, belajar sama ahlinya yang terkurung lama dan gila. Ketiga, saya harus menyebut The Next Three Day, film balas dendam dengan alur harus keluar dari penjara dulu, berkelas jua.

Ada sebuah sajak yang cocok menggambarkan kehidupan yang hilang selama belasan tahun Dantes, yaitu Sajak Pindar:

Remaja adalah bunga

Berubah menjadi buah,

Cinta.

Bahagia ia yang memelihara,

Dan memetiknya ketika masanya tiba.”

Buku yang menguras air mata, sebab kehidupan indahnya direnggut oleh tangan-tangan kotor dan ia yang polos terlambat sadar. Untuk setiap kejahatan ada dua macam obat: waktu dan diam. ‘Oh Tuhan, lindungilah ingatanku.’

Kekayaan merupakan amanat suci dari Tuhan. Uang akan kita tinggal pula, gunakan dengan bijak. Tak memegang erat, tak pula menentengnya dengan angin. Untuk beberapa orang tertentu, bekerja merupakan obat yang mujarab untuk menghilangkan kesedihan. Apa pun kata orang-orang bijaksana, uang selalu merupakan hiburan yang utama. “Tabahkanlah hati dan berusaha tetap hidup, karena akan datang suatu hari di mana engkau akan merasa berbahagia dan menghargai hidup.”

Bertindaklah menurut kemauanmu, anakku, dan aku akan menyerahkan diri kepada keinginan Tuhan.”

Conte Cristo | by Alexandre Dumas | Judul asli Le Comte de Monte-Cristo | KPG 59 16 01235 | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) | Cetakan pertama, Agustus 2016 | Sebelumnya pernah diterbitkan oleh PT. Dunia Pustaka Jaya | Cetakan pertama, 1980; cetakan kedua, 1992 | Penerjemah Ermas | Perancang sampul Deborah Amadis Mawa, Teguh Tri Erdyan | Penataletak Landi A. Handwiko | iv + 754 hlm.; 14 x 12 cm | ISBN 978-602-424-116-2 | Skor: 5/5

Karawang, 140121 – Ella Fitzgerald – Ev’ry Time We Say Goodbye

Thx to Fatihah Book Store, Yogya

Pelayaran ke Ujung Akhir Dunia

Petualangan Dawn Treader by C.S. Lewis

Lucy: “Sejak kita mendarat di pulau ini, aku langsung merasa pulau ini penuh sihir. Oh! Apakah menurut kalian kita telah datang ke sini untuk mematahkannya?”

Seri ketiga petualangan Narnia, perjalanan ke Timur jauh dengan kapal Dawn Treader. Raja Caspian mendapatkan bantuan dari London, kali ini Edmund dan Lucy, serta Eustace Scrub, saudara Pevensie. Melalui lukisan kapal di dinding, mereka turut serta dalam pelayaran yang mendebarkan untuk menjelajahi nasib para Lord. Dari danau emas, setiap yang dicelup menjadi emas sampai pulau perbudakan. Dari naga perwujudan manusia sampai buku mantra di pulau para kurcaci. Dari meja makan penuh mistik, dipenuhi nyanyian jazz dan tiga Lord terlelap sampai ke jawaban bahwa bumi itu bulat?

Eustace Clerence Scrubb anak nakal, tidak menyukai sepupu-sepupunya empat Pevensie. Namun saat tahu Lucy dan Edmund datang untuk menginap, ia lega sebab akan dapat ‘anak buah’, sifatnya yang suka memerintah dan semena-mena dapat tersalurkan. Lucy dan Edmund tak suka menginap di rumah bibi Alberta dan Paman Harold selama ayahnya bekerja ke Amerika mengajar selama enam belas minggu di musim panas, ibunya untuk berlibur sebab sudah sepuluh tahun tak liburan jauh. Peter harus belajar untuk mengikuti ujian, belajar sama Profesor Kirke, jadi hanya Susan yang ikut ke seberang, biar lebih hemat.

Suatu sore, saat Edmund dan Lucy ngobrol sembunyi-sembunyi tentang Narnia dan kerinduan untuk kembali berpetualang, Eustace mendengar dan mengejek. Dasar orang aneh! Di kamar Lucy, memandang lukisan kapal yang sedang berlayar, dan lukisan itu lama-kelamaan terasa bergerak, ombak lautan turut bergelombang, lalu semakin lama semakin gemuruh. Eustace merasa ada sihir dan berteriak, “Hentikan ini! Ini pasti tipuan konyol kalian, hentikan atau aku beritahu pada Alberta…” terlambat sobat, air tumpah dan cipratan air asin dan dingin itu membuncah ke penjuru kamar. Dan wuuuzzzz…. Mereka masuk ke Narnia.

Mereka diangkat ke kapal Raja Caspian. Lucy dan Edmund tentu saja sudah familiar, dan menanti petualangan apalagi kali ini, bertemu kembali sobat lamanya dari Drinian, tikus pemberani Reepicheep, Rynelf, dkk. Nah, anggota baru Eustace gemetaran, takut, dan menyebut pulang mulu. Mengancam akan melaporkan kepada ibunya, akan melaporkan ke Pemerintahan Inggris. Sampai segala takut menghadapi dunia asing, bagaimana bisa manusia berkepala manusia menyapanya, pingsan. Dan tikus yang gesit nan humble yang cerewet. Hahaha… ia lalu sering menyendiri di dek pojok, menulis kisah ini di buku hariannya.

Misi kali ini adalah ke Timur, menemukan nasib teman-teman ayahnya Caspian. Ketujuh Lord: Revillian, Bern, Argoz, Mavramorn, Octesian, Restimar, dan Lord Rhoop. Peralatan dan senjata mereka berdua kembali diberikan, ibat dan belati untuk Lucy, dan Edmund mendapatkan pedang Peter. Wow, impian ini. Selama di Narnia ia menjadi bayangan kakaknya kini ia mendapatkan pedang raja itu.

Pelayaran ini menemukan daratan pertama di Lone Island. Di pulau ini terjadi perbudakan, mereka turut ditangkap dan dijual, di penjara malah ketemu salah satu Lord. Bagaimana petualangan mereka, dan akhirnya membebaskan rakyat dari raja yang lalim. “Narnia! Narnia! Panjang umur Narnia!”

Melanjutkan pelayaran, badai berkecamuk, angin meniup ke Timur dalam dayung dan misi panjang. Melalui tulisan tangan Eustace kita menjadi saksi alam liar lautan. Selanjutnya mendarat di pulau gersang, Scrubb yang muak kabur, ngumpet di balik bukit, menemukan emas dan piala dan segala yang berkilau. Gelang, kalung, cincin, luar biasa. Ia mengambil satu gelang dan memakainya, limpahan harta karun ini menjadikannya buta dan bila dibawa ke London sungguh jadi sultan mendadak. Dekat danau, ada gua, ada naga! Dalam gemetar, ia bersembunyi, masuk ke gua. Itulah mula bagaimana justru ia kena kutuk, Eustace menjadi naga! Menyelingkupi pula segala sifatnya, napasnya mendengus, semburan api, bisa terbang, maka saat bertemu pasukan Caspian ia kabur karena ditembak panah dan pedang terhunus. Sedih…

Di sinilah, Eustace merasa sepi dan takut, dan terlihat ia cerdas. Karena ia memberi kode, ia bisa mendengar semua kata-kata teman-temannya, ia hanya tak bisa bicara. Dikira mula sang Lord, bukan. Kau makan bangsawan Narnia, bukan. Kau Eustace? Sang naga mengangguk-angguk. Wow… dari sinilah sikap dan perilakunya terlihat berubah. Tak sombong lagi membaur, dan siap membantu petualangan. Ia menjadi sangat bersahabat. Di Pulau Naga itulah, Caspian lalu menuliskan kekuasaannya. Pelayaran terus ke timur…. Dst

Mereka ke pulau yang airnya menjadikan segala yang tersentuh menjadi emas. Semuanya! Kau celupkan kayu, kayu itu jadi emas, kau celupkan pedang, pedang itu jadi emas! Awalnya mau jadi Pulau Emas, tapi melihat patung emas sang Lord di dasar danau justru pulau ini dijuluki pulau Kematian.
Lalu ke pulau bisikan-bisikan, mereka tak melihat orang-orang, tapi jelas ada suara-suara. Ada makhluk membal-membal yang mengancam? Di sebuah gedung ada jamuan makan, lalu kita tahu bahwa ada penyihir yang menjadikan mereka tak terlihat, sihir akan musnah bila ada seorang cewek membacakan mantranya, dan karena Lucy satu-satunya maka ialah yang ke lantai atas, membaca mantra tolak samar. Segala yang tak terlihat akan terlihat, lalu muncullah Aslan. Ia mematuhi apa yang menjadi aturan, dipeluknya. Lucy sempat kepincut sama mantra cantik, ia ingin seperti Susan yang anggun dan jelita. Sempat pula disobeknya lembar mantra itu, yah kita tahu: nasihat bijak selalu sama, jadilah diri sendiri. Pengelihatan dua teman sekolahnya menyadarkannya.

Di pulau ada meja makan dengan tiga Lord mematung, ada Ramandu, mantan bintang jatuh, dan putrinya yang jelita, ada nyanyian surga yang menyelingkupi, setelah Pulau Ramandu, ke timur lagi dengan perahu kecil dan pamit sama Caspian dan pasukan, ketiga warga Inggris bersama si Tikus sampaikan mereka di ujung Timur. Kapal Dawn Treader memenuhi misi, sampai ke Ujung Akhir Dunia. Bulat? Oh tentu tidak… Narnia bukan bumi yang berputar mengelilingi matahari, Narnia memiliki aturannya sendiri. Menembus horizon, menyentuh cakrawala, Aslan bersabda.

Ini akhir petualangan Pevensie, kalian terlalu tua. Eustace sebagai penerus kisah akan kembali ke Narnia, sang domba sudah memberi spoiler untuk ‘Kursi Perak’, lalu dalam sekejap sudah di Cambrigde. “Kau tidak akan pernah mengenalinya sebagai anak lelaki yang sama lagi.”

Sebagai novel terpanjang, kisah yang ditawarkan yang paling tak mendebarkan. Kita pasti sudah dapat meramalkan tujuan pelayaran ini bakalan selamat semua, menemukan para Lord dan karena ketiga warga London ini dipanggil, perannya tak sekrusial dalam pertempuran. Dalam dua seri sebelumnya kita bisa lihat, mereka bertarung dengan sangat mendebarkan. Di sini tak ada, dan karena Pevensie pamit, terutama Lucy maka ia mendapat porsi sangat banyak.
Dalam film, ada teriakan ibunya Eustace bahwa Jill Pole menunggu di depan. Sebuah titik kecil untuk buku keempat. Sayangnya setelah sepuluh tahun lebih, tak ada kabar. Justru muncul di serial Netflix yang akan tayang tahun ini… saying sekali. Padahal acting Will Poulter keren sekali.

Buku ini kubacakan untuk Hermione yang antusias tinggi, saat ini sudah dapat dua bab mula lanjutannya. Yah, pasti ketujuhnya akan selesai baca tahun ini. Sudah jadi kebiasaan, setelah baca bukunya nonton filmnya, sudah tiga kali. Lalu bagaimana nantinya setelah selesai kubacakan Kursi Perak, filmnya menggantung.

Selalu menyenangkan menghabiskan waktu baca dongeng jelang tidur bersama anak. Huge, huge…

The Chronicles of Narnia: Petualangan Dawn Treader | by C.S. Lewis | Diterjemahkan dari The Chronicles of Narnia #5: The Voyage of the Dawn Treader | Copyright © CS Lewis Pte Ltd. 1950-an | Cover art Cliff Nielsen | Inside illustrations Pauline Baines | Alih bahasa Indah S. Pratidina | GM 106 05.016 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desember 2005 | Cetakan ketiga: Maret 2006 | 344 hlm, ilustrasi, 18 cm | ISBN 979-22-1748-7 | Skor: 4.5/5

Untuk Geoffrey Barfield

Karawang, 130121 – ABC – The Look of Love

*) Dibeli di Mal Lippo Cikarang, – : Hasrat utk tidak bertahan, Chelsea 3-2 Liverpool

**) Dibaca ulang sebagai dongeng jelang tidur untuk Hermione Budiyanto, tiap malam dua bab.

Master of Arts, Pengajar Privat

The Crystal Stopper by Maurice LeBlanc

Lupin: “Untuk itu, aku berniat melakukan tindakan kasar itu hanya sebagai jalan terakhir dan kalau rencanaku yang lain tak dapat dilakukan.”

Keren. Alhamdulilah buku pertama yang kubaca kisah Lupin berakhir memuaskan. Hidup adalah sebuah penderitaan, dan penderitaan itu semakin besar saat pecahnya badai politik yang membuat orang terkasih menemui ajalnya. Butuh dua kali percobaan baca untuk menuntaskan kisah pencuri legendaris Prancis ini. tahun 2017, kubeli beberapa serinya, tak satupun dapat kuselesaikan baca. Saya pilih acak saja, kebetulan seri ini, sudah dapat separuhnya. Mandek. Akhirnya tahun lalu kupaksakan kelar satu, tahun satu (minimal), tahun depan satu lagi. buku yang sudah kubeli harus kuselesaikan. Lega juga akhirnya selesai baca. Hufh… Betapa suara yang terkecil sekalipun menggema dalam kesunyian!

Awalnya sungguh membosankan, kukira ada hal gaib yang coba diangkat sebab crystalnya hilang tak tersentuh siapapun, memainkan waktu kusangka, ternyata bukan. Segalanya bisa dijelaskan, dan karena ini pengalaman pertamaku menuntaskan serial Lupin, saya langsung angkat topi di dua bab akhir. kita tahu, sang terhukum mati akan selamat, jelas. Kemahsyuran sang pencuri agung akan berhasil membebaskannya, tapi caranya mengejutkanku, elegan.

Kisahnya tentang Arsene Lupin, mencuri sudah jadi pekerjaannya. Naas, debut bacaku ini. petualangannya kepergok, dalam proyek rampok di Vila Marie-There, gerombolannya tertangkap, tertuduh membunuh saksi pencurian malam itu, dan diancam hukuman mati. Saat posisi terkepung polisi, Lupin berpikir cepat. “… Aku akan mengeluarkan kalian berdua dari penjara… namun, aku hanya dapat melakukannya jika aku bebas.” Maka ia berpura-pura menjadi pihak yang menangkap para pencuri, keduanya diserahkan dan Lupin lalu pura-pura sibuk, lanjut kabur. “Di sini! Aku berhasil menangkap mereka, Tolong!” Teriak Lupin.

Lupin yang bebas, menyusun siasat untuk menyelamatkan Gilbert dan Vaucheray dari hukuman. Percobaannya mendapat pertentangan keras lawan berat. Bangsawan Daubrecq memainkan andil agar sang pemuda tetap dieksekusi, adu cerdik, adu kekuasaan dan pengaruh. Sebagai deputi jaringan sosialnya luas. Lupin mendapat desakan pula dari ibunda Gilbert, Clarisse yang masa lalunya rumit dan merentang menjadi pematik lain. Maka beberapa pencurian dilakukan lagi, barang utama itu adalah Crystal Stopper, benda segenggaman sejenis sumbat yang konon bisa memainkan masa.

Anehnya, setelah Lupin berhasil memilikinya, ia hilang, sudah ada di genggaman Daubrecq lagi. rasa penasaran dan strategi lain disusun, harus gegas sebab Gilbert dan Vaucheray didakwa hukuman mati atas kejahatan pencurian yang berakibat kematian pelayan tuan rumah. Apa yang bisa dilakukan melawan musuh yang seperti itu, sangat kuat, sangat cerdas, yang telah mempersiapkan segalanya, sehingga ke perincian terkecil, dan yang mempermainkan lawan-lawannya dengan sangat mudah? Semakin mendekati hari H semakin memuncak tensinya, dan tanpa perlu telaah lebih, kita sudah dapat mengandalkan Arsene Lupin untuk mendedah segala kerumitan ini. “Sebuah gambaran kiasan! Sang malaikat pemberani menghancurkan ulat yang jahat.”

Lupin memiliki banyak nama panggilan, mayoritas termasyur. Di sini ia sering dipanggil Gubernur oleh anak buahnya. Terasa hebat, bisa jadi setara Sherlock Holmes? Saya punya bukunya, mereka Vs. lho… patut dinanti, patut kunikmati seberapa gila pertarungan Holmes vs Lupin. Inggris vs Prancis? “Gila? Mengapa? Apa yang orang lain bisa lakukan aku juga bisa melakukannya.”

Cetakan tata letaknya kurang OK, pengaturan spasi dan paragaraf juga tak rapi. Ada halaman dobel, beberapa paragraf dicetak lagi di halaman beberapa di depannya, makanya pas baca pertama agak bingung, sampai akhirnya terasa familiar, kata ulangan ternyata setelah kulihat detailnya. Mungkin editingnya ngantuk, copy/cut paste kalimatnya kena block beberapa. Untungnya dobel, coba kalau kurang, maka jadi terpenggal kisahnya. Selalu melihat sisi positif dari hal-hal minor. Hohoho…

Pengungkapan penjahat utama juga bikin terhenyak, sebab sepanjang kisah kita disodori nama Daubrecq yang luar biasa hebat, seolah main villain. Sampai akhirnya nama-nama orang kondang disebut, daftarnya dibuka, dan jreng jreng… dia cuma pion. Dua puluh tujuh nama yang terkenal: Langeroux, Dechamount, Vorengdale, d’Albufex, Victorien Mergy, dan lainnya… di bawahnya terdapat tanda tangan pimpinan Two Seas Canal Company, tanda tangan yang ditulis menggunakan darah. Hahaha, politik memang kejam. Jadi ingat Mary Jane beberapa tahun lalu akan dihukum mati oleh Indonesia sebab kasus Bandar narkoba drai Filipina, dengan mendadak hukuman mati yang harusnya dieksekusi beberapa Bandar, satu nama ini ditunda, entah lobi apa yang ada di belakangnya, yang jelas sampai sekarang Mary Jane masih hidup dalam penjara.

Cara pengungkapan semacam ini banyak ditiru Hollywood. Semakin kita mempelajari situasinya semakin buruk situasi yang tampak oleh karakter utama. Di setiap sisi, dia dihadapkan dengan ketidakpastian, kegelapan, kebingungan, ketidakberdayaan. Semakin berat konfliksnya semakin bagus kisahnya. Di sini pembaca ditipu, bahwa seorang yang tampak digdaya ternyata tak sehebat yang ditampilkan, karena ada tangan lain yang menggerakkannya. Beberapa kusebut di sini: Fast and Furious 4, penjahat utamanya malah orang yang selama ini sudah dekat, nama anonym itu tak seantah yang dikira. Bane memberi kejutan besar dalam The Dark Knight Rises, setelah jumawa kokoh sepanjang menit, ia malah bak kucing imut di hadapan sang Batman di akhir. jangan lupakan pula The Mandarin di Iron-Man 3, ya ampun semua penonton tertipu. Sudah menjadi tugasnya untuk mematuhi suratan takdir. Sang Gentlemen of Thief!

Kita tidak lagi berperan dalam sebuah tragedi. Beberapa menit berlalu dalam kesunyian yang pekat. Lalu sang Marquiz memberi perintah. “Bagian tersulit dari sebuah bisnis, bukanlah akhirnya, melainkan permulaannya.”

The Crystal Stopper | by Maurice LeBlanc | The Project Gutenberg EBook The Crystal Stopper | Release date: August 16, 2008 [Ebook #1563] | Penerjemah Airin Kusumawardani | Editor Dewi Fita | Proof Reader Widyawati Oktavia | Penata letak Yahya | Desainer Sampul Gita Mariana | Penerbit Bukune | Cetakan pertama, April 2012 | ii + 366 hlm; 14 x 20 cm | ISBN 602-220-046-6 | Skor: 4/5

Karawang, 140121 – Kate Bush – The Man I Love

Buku ini kubeli di Gramedia World Karawang, 260517 bersama Meyka dan Hermione

#Desember2020 Baca

Takut adalah unsur jantan, harap adalah unsur betina, keduanya sama-sama menumbuhkan realitas keimanan yang sedalam-dalamnya.” – Sahl dalam buku ‘Dimensi Mistik dalam Islam’.

Desember 2020 terasa lamaaa sekali. Menikmati dunia mistik yang luar biasa. Dan rencana baca santai di akhir tahun gagal, sebab ada huru-hara hati ketika menemukan bacaan bagus. Desember penuh warna. Kumpulan puisi, kumpulan cerpen, filsafat, tasawuf, novel, novel klasik, self improvement, sastra, sampai teorinya. Paket komplit!

#1. Jenazah LazarusDorothy Scarborouh, Ph. D.

Kompilasi kisah misteri dari berbagai penulis terkemuka dunia. Para hantu adalah makhluk abadi sejati, di mana yang mati ‘dihidupkan’ sepanjang masa. Hantu-hantu memiliki vitalitas yang lebih besar pada masa kini daripada sebelumnya. Semakin hari semakin banyak, semakin variatif bentuknya. Para hantu yang menyatroni kesusastraan, dan akan selalu seperti itu. Seolah para hantu tak pernah habis atau mati.

Semakin manusia mengenal hukum alam, semakin tekunlah manusia mencari tahu masalah supranatural. Bisa saja mengklaim tak percaya takhayul, tapi tak benar-benar meninggalkannya. Sekalipun telah meninggalkan dunia sihir dan alkimia, ia masih memiliki waktu yang melimpah dalam penelitian yang bersifat psikis. Bahkan hantu orang yang begitu lama terlupakan menguap, merenggangkan tulang belulang, dan pergi dari kuburnya untuk menakuti.

Dalam hidup ini ada kehidupan dan keindahan; di luarnya,… kematian, yang merupakan teka-teki.”

#2. Dasar-dasar Filsafat Moral KantHB Acton

Nama Kant memang sudah jadi legenda, seorang yang kaku dan ikuti kata hati. Kant adalah orang yang kaku (regoris) karena ia berpikir bahwa klaim atas kewajiban selalu bersifat mutlak berlawanan dengan kecenderungan-kecenderungan dan berlawanan dengan ideal-ideal yang melanggar Hukum Moral. Dia kaku juga di bagian aturan tidak ada pengecualian apa pun pada aturan-aturan moral dasar. Tak memberikan bobot yang seharusnya pada situasi, misalnya.

Sebelum baca ini, saya hanya baca beberapa kutipan dari buku lain atau sosmed. Otak Pemikir Kant adalah Mr. Olympia dalam semesta para intelektual. Seorang yang berpendapat bahwa cuma kitalah (sejauh yang kita tahu) yang sungguh mampu menyetir kehidupan. Baik Tuhan maupun jiwa yang tak berwujud tak bisa kita ketahui secara ilmiah, tetapi keduanya merupakan kemungkinan-kemungkinan.

Hukum Moral berlaku bagi siapa pun, setiap tempat dan waktu. Semoga kita semua dalam jiwa yang merdeka. Allahu akbar!

#3. The Chronicles of Narnia: The Voyage of Dawn TreaderC.S. Lewis

Seri ketiga petualangan Narnia, perjalanan ke Timur jauh dengan kapal Dawn Treader. Raja Caspian mendapatkan bantuan dari London, kali ini Edmund dan Lucy, serta Eustace Scrub, saudara Pevensie. Melalui lukisan kapal di dinding, mereka turut serta dalam pelayaran yang mendebarkan untuk menjelajahi nasib para Lord. Dari danau emas, setiap yang dicelup menjadi emas sampai pulau perbudakan. Dari naga perwujudan manusia sampai buku mantra di pulau para kurcaci. Dari meja makan penuh mistik, dipenuhi nyanyian jazz dan tiga Lord terlelap sampai ke jawaban bahwa bumi itu bulat?

#4. Mind and BodyWilliam Atkinson

Buku yang berisi cara-cara penyembuhan dengan pikiran, optimism dan segala hal pemainan mindset. Dari sejarah panjang pengobatan tradisional, benda-benda yang dijadikan perantara menyakinkan pasien, sampai adegan mistis di era modern yang tetap dimanfaatkan. Tubuh dan pikiran ada keterkaitan, itu jelas, tapi pengobatan dengan membuat pasien meyakini bahwa penyakitnya bisa disikat dengan kata-kata, terdengar aduhai. Terapi, konseling, coaching, sampai hal remeh temeh ngobrol curhat, bisa dilaksanakan. Segalanya mungkin, dan perlu mengeluarkan uneg-uneg. Teori muncul dan lenyap, tetapi fakta-fakta akan selalu ada.

Dr F. W. Southworth mengatakan, “Ketakutan adalah penyakit menular dan kadang-kadang memantul dari pikiran ke pikiran yang lain dengan kecepatan tinggi…”

#5. PenyuluhanE.A Munro, R.J. Manthel, J.J. Small

Jika ada orang berbicara kepada Anda, dengarkanlah. Sedang mencoba membaca dan memelajari buku-buku manajemen penunjang kerja. Ini salah satunya, selain leadership, komunikasi sampai psikologi, konseling menjadi konsen saja sebab dalam jobdesk saya diwajibkan melakukannya. Buku meliputi teknik dan metode yang dapat digunakan dalam membantu klien memahami dirinya sendiri secara lebih baik dan lebih efektif. Teknik-teknik hubungan tatap muka antardua orang, yaitu penyuluh dan klien. Di buku ini lebih ke umum, artinya ga fokus ke karyawan. Beberapa bahkan untuk pelajar.

Merumuskan tujuan ialah mendorongnya untuk memikirkan beberapa kemungkinan cara bertindak atau bertingkah laku. Hal ini mengajak klien untuk berpikir praktis. Contoh, pertanyaan, “Apakah yang ingin Anda lakukan jika Anda ingin mengubah tingkah laku?”

#6. Merayakan SepakbolaFajar Junaedi

Sulit memang menulis tentang sepakbola yang memikat. Beberapa buku analisis yang kubaca rerata biasa, kalau tak mau kubilang mengecewakan. Sebab pembaca sekaligus fans sudah tahu banyak seluk beluk dunia bola, mencerita hal-hal yang sudah diketahui khalayak untuk memikat memang sulit, kaliber Cak Mahfud saja bukunya sekadar bagus. Maka Merayakan Sepakbola sama saja, tak sampai meluap, melimpah dalam pujian. Apa yang disajikan malah terkesan membosankan, sebuah penelitian perilaku sosial yang umum dan tak banyak yang mengejutkan. Bagaimana sebuah Koran didistrubusikan sampai ke tangan pembaca, gambaran besarnya kita tahu. Media meliput kerusuhan suporter, bagian-bagian utama yang terlihat juga sudah diketahui, kebobrokan PSSI, menulisnya bisa sampai berjilid-jilid, dari yang professional sampai makian akar rumput juga sudah ada. Lantas apa yang bisa diharapkan dari tulisan tentang bola sepak ini? Well, masih kucari…

“… mendapatkan pemberitaan Koran sebagai ‘iklan gratis’ untuk membuktikan keperkasaannya sekaligus untuk membuktikan bahwa mereka mampu mengalahkan supporter lawan.” (Williams, Dunning dan Murphy, 1986: 363)

#7. Pengakuan Orang IklanDavid Ogilvy

Selama ini kita dijejali iklan di berbagai sudut ruang dan platform, kita tak tahu bagaimana detail iklan itu dicipta. Di sini banyak hal dikupas, dari negosiasi, tata kelolanya, sampai iklan itu tampil. Dibuat oleh orang yang sangat kompeten, Pengakuan Orang Iklan jelas disampaikan berdasarkan pengalaman pahit manisnya. Lebih seperti memoar, tapi lebih banyak menyorot profesinya, sungguh beruntung saya mendapatkan buku ini di masa yang tepat. Ketika saya menulisnya, orang-orang periklanan masih berkiblat pada Madison Avenue sebagaimana kaum muslim berkiblat ke Mekkah. Sekarang banyak agen-agen periklanan Amerika berkiblat ke London.

Kutipan puisi syahdu sekali. Cara terbaik untuk menjaga perdamaian adalah berterus terang, ingatlah Blake:

Saya marah dengan teman saya;

Saya ungkapkan kemarahan itu;

Kemarahan saya berhenti.

Saya marah terhadap musuh saya;

Saya tidak mengatakan kepadanya,

Kemarahan saya tumbuh.

#8. Metodologi Penelitian Sastra Suwardi Indraswara

Memang belum ada pedoman khusus penulisan resensi sastra dengan baik. Segala reviewku di blog ini adalah otodidak, pengalaman membaca segala rupa. Esai sastra sebenarnya juga bagian dari kritik sastra, kelasnya di atas resensi dan biasanya lebih panjang sedikit, esai sastra biasanya dibumbui dengan sensasi sebagai hasil laporan pembacaan karya sastra.

Ada banyak banget jenis penelitian sastra. Teeuw (Satoto, 1986: 1-2) mengemukan bahwa mempelajari sastra itu ibarat memasuki hutan, makin ke dalam makin lebat, makin belantara. Dan di dalam ketersesatan itu ia akan memperoleh kenikmatannya. Sastra merupakan fenomena kemanusiaan yang kompleks dan dalam, di dalamnya penuh makna yang harus digali melalui penelitian mendalam, dan disinilah buku ini hadir sebagai apresiasi, studi, kajian, telaah, dan sejenisnya.

#9. Perry Mason: Kasus Gadis Kembar Erle Stanley Gardner

Seorang pengacara harus selalu berhati-hati dalam menyelidiki calon-calon kliennya untuk memastikan ia tidak punya maksud yang bertentangan. Buku kedua serial Perry Mason yang kubaca. Pengalaman pertama Kasus Dendam Membara memuaskan, maka langsung beli empat buku Erle Stanley Gardner lainnya. Dan sebagai buku akhir tahun, kisah yang disaji kembali memuaskan, lebih bagus dari yang pertama. Tensinya lebih tinggi, sebab pembunuh utama tampak tak terdeteksi, lebih dramatis sebab bukti shahih baru tiba di kantor pengadilan tinggal hitungan menit! Lebih membingungkan, sebab sang tersangka malah defensif tak mau menjadikan orang-orang dalam lingkaran keluarga terseret. Yang mungkin patut disayangkan justru judulnya, spoiler sebab kata ‘kembar’ menjadi kunci pengungkapan.

Dunia hukum memang sepenuhnya terbalik. Mereka membuka borgol pada penjahat dan memasangnya pada pergelangan tangan petugas hukum.”

#9,5. Nada tanpa Kata Mira W

Mira W. adalah nama besar di kancah literasi Nasional. Dua ceritanya yang kubaca ini cukup mengecewakan, saya udah beli lima buku. Pembuka yang buruk. Ini adalah bundel menyambut 40 Tahun Menulis. Total karyanya sampai 2015, ada 82 buah, terdiri dari 75 novel dan 7 kumpulan novelet dan kumpulan cerpen. Sebagian besar sudah difilmkan. Sejak tahun 1975, tulisan pertama Mira W. cerpen berjudul ‘Benteng Kasih’ yang dimuat di majalah Femina, karyanya bertebaran di media. Well, mungkin ini selera saja. Kisah cinta semacam ini kurang menarik minatku, atau mungkin di buku kedua nanti bisa lebih memukau?

Dunia terasing yang membuatnya nyaman, dunia yang sepi tanpa gangguan.

#10,5. Dunia Mistik dalam IslamAnnemarie Schimmel

Book of the year. Selesai baca tepat di tanggal 31 Desember 2020, penutup tahun yang luar biasa. Saya tak mengenal tasawuf, jelas ini barang baru. Saya tak mengenal Annemarie Schimmel, sebelum memutuskan beli, saya sudah tanya ke grup buku dan serentak sepakat orang hebat dari Jerman, maka ini pengalaman pertamanya yang menakjubkan, akan ada buku-buku beliau yang akan kubaca. Sudah antri.

Seseorang bertanya kepada Abu Hafs: “Siapakah sufi?” Ia menjawab: “Seorang sufi tidak bertanya siapa sufi.”

#11,5. Kumpulan Puisi: Senja dalam MasaAndri VB

Buku penutup tahun. Saya sedang mendalami syair-syair, sedang menikmati irama rima syahdu. Demi Tuhan, Lancarkanlah! Dalam halaman tentang penulis dijabarkan buku ini mencerita seseorang yang berada dalam relung perjalanan, di suatu masa menyadari bahwa masa dapat dan telah mengubah banyak hal, masa meluruhkan apa yang ada menjadi tiada dan yang tiada menjadi ada namun masa pula yang dapat membuktikan bahwa cinta dapat bertahan sepanjang masa.

Waktu tak pernah menunggu / bergulir dan melaju / waktu tak pernah berseteru / berjalan saja seperti tak mau tahu / siapa yang bisa berhentikan waktu / siapa yang mampu tunda waktu / kebahagiaan begitu saja berlalu / kepedihan seperti tak mau berlalu

Tahun ini saya total membacakan dua novel Pooh, tiga novel Narnia ke Hermione. Beberapa cerita receh, semisal kisah-kisah binatang atau nukilan majalah juga lumayan banyak. Tapi secara garis besar di tahun peralihan usia 5 ke 6, dari TK ke SD, ia mendapat asupan lima buku keren. Tahun ini optimis lebih dari 5 buku, sebab selain antusiame, Hermione sudah lancar baca tulis.

Rekap baca, dalam proses hitung…

Karawang, 110121 – Beach Boys – Wouldn’t It Be Nice

Buku Istimewa tentang Tasawuf

Dimensi Mistik dalam Islam by Annemarie Schimmel

Pertama-tama kutulis buku-buku dengan seksama – akhirnya kupatahkan penaku dalam kebingungan.”Ghaznawid.

Book of the year. Selesai baca tepat di tanggal 31 Desember 2020, buku penutup tahun yang luar biasa. Saya tak mengenal tasawuf, jelas ini barang baru. Saya tak mengenal Annemarie Schimmel, sebelum memutuskan beli, saya sudah tanya ke grup buku dan serentak sepakat orang hebat dari Jerman, maka ini pengalaman pertamaku yang menakjubkan, akan ada buku-buku beliau yang akan kubaca. Sudah antri, salah satunya berjudul: ‘Rahasia Nama-Nama Islam’. Dan ternyata beliau memang konsen ke area sufisme, di makamnya bahkan tertulis, “Sesungguhnya manusia itu tertidur, dan ketika mereka mati, maka mereka terbangun.” Yang diambil dari Maqolah Ali bin Abi Thalib.

Dibuka dengan dua kutipan yang mewakili isi:

Seseorang bertanya kepada Abu Hafs: “Siapakah sufi?” Ia menjawab: “Seorang sufi tidak bertanya siapa sufi.”

Akbarlah Tuhan Yang tidak bersedia memberikan kepada makhluk-Nya cara-cara untuk mendapatkan pengetahuan tentang-Nya kecuali lewat ketidakmampuan untuk mencapai pengetahuan tentang-Nya.

Butuh perjuangan ekstra untuk menyelesaikannya, fokus tak banyak gangguan baca buku lain, dan kubaca di banyak tempat. Mulai kubaca tanggal 12 Desember, dan sulit lepas walau tetap sesekali baca bareng buku lain saat butuh selingan ringan. Selalu ada di tas walaupun buku berat. Kubaca di ruang meeting sepulang kerja, kunikmati pagi-pagi selepas subuh, kubaca di rumah nenek di lantai satu, kulahap di ruang tunggu kala mengantar istri, kujelajahi di sebuah mushola saat mengantar keluarga ada arisan. Dan dengan kualitas se-wah ini jelas perjuangan itu sebanding. Pengalaman mistik itu sendiri tidak mungkin dianalisis sebab kata-kata tak akan bisa mengukur kedalaman pengalaman tersebut. Tholuck – seorang Protestan yang baik karena tidak mempunyai kecenderungan ke mistik – beranggapan bahwa ‘dokrin sufi dibangkitkan dan harus dijelaskan di laur mistik Muhammad sendiri.’ Dan Tholuck menguasai bermacam-macam manuskrip dan buku sufi.

Persoalan pengaruh menjadi semakin sulit apabila kita memikirkan hubungannya dengan tradisi-tradisi agama di luar Dunia Timur Dekat. Para ahli sufi suka memberikan jawaban-jawaban yang sama. “Paradoks yang disengaja” dan “Kata-kata muluk yang saleh.” Ini mungkin “Dimaksukan untuk membuat tubuh mereka sedikit merinding demi kesehatan mereka.”W.H. Temple Gairner. Bahasa mereka tampil seakan ilmiah, nyatanya bersifat puitis-retoris.

Saya punya tiga buku Rumi, dan satu buku tentang Rumi. Sudah empat tahun, tak tersentuh tuntas. Menyukai rima dan pola-pola irama yang sangat teratur. Memang ada baiknya mendalami teori dan seluk beluknya dulu. Apakah tasawuf itu? Hujwiri pada abad ke-11 menyimpulan, “Beberapa beranggapan bahwa sufi disebut demikian karena ia mengenakan jubah wol (jama-I suf), yang lain mengatakan karena sufi berada di larik depan (saff-I awwal), yang lain mengatakan karena sufi menganggap dirinya termasuk dalam ashab-I Suffa (orang-orang yang duduk di bangku di sekeliling masjib Nabi). Dan yang lain beranggapan bahwa sufi berasal dari safa (kemurnian).”

Tasawuf didasarkan pada delapan sifat yang dicontohkan oleh delapan rosul: kedermawanan Ibrahim yang mengorbankan putranya; kepasrahan Ismail yang menyerahkan diri pada perintah Tuhan dan menyerahkan hidupnya; kesabaran Ayub yang dengan sabar menahan penderitaan penyakit gatal dan kecemburuan Yang Maha Pemurah; perlambangan Zakaria yang menerima sabda Tuhan, “Kau tak akan berbicara dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan mempergunakan lambang-lambang.” (Surah 3: 36) dan juga “Tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara lembut” (surah 19:2); keasingan Yunus yang merupakan orang asing di negerinya sendiri dan terasing di tengah-tengah kaumnya sendiri; sifat penziarah Isa yang begitu melepaskan keduniawian sehingga hanya menyimpan sebuah mangkuk dan sebuah sisir – mangkuk itu pun dibuangnya ketika ia melihat seseorang minum dari telapak tangannya, dan juga sisirnya ketika melihat seseorang menyisir rambut dengan jari-jarinya; pemakaian jubah wol oleh Musa; dan kemelaratan Muhammad, yang dianugerahi kunci segala harta yang ada di muka bumi oleh Tuhan, sabda-Nya, “Jangan menyusahkan diri sendiri, tapi nikmati setiap kemewahan dengan harga ini,” namun jawabannya, “Ya Allah, hamba tidak menghendakinya biarlah hamba sehari kenyang sehari lapar.”

Kaum sufi adalah orang-orang yang lebih suka kepada Tuhan daripada apa pun dan Tuhan lebih suka kepada mereka daripada apapun. Junayd dan Nuri menyatakan bahwa tasawuf tidak tersusun dari praktek dan imu, tetapi merupakan akhlak. Dan siapapun yang melebihimu dalam nilai akhlak, berarti melebihimu dalam tasawuf.

Hujwiri menyimpulkan sikap awal sufi terhadap ilmu dan teologi dalam pengamatan tajam: “Pengetahuan itu luas, tetapi hidup singkat: oleh karenaya tidaklah wajib mempelajari semua ilmu… cukup yang ada hubungannya dengan hukum agama.” Bukankah Tuhan mengutuk ilmu yang tak ada gunanya?

Kearifan sejati yakni kearifan Yang Tunggal tidak bisa dicapai lewat buku-buku. “Buku, kau memang pandu utama, tetapi konyol sekali kalau masih merepotkan diri dengan pandu kalau tujuan sudah tercapai.” Para sufi menyatakan bahwa seluruh kearifan tercantum dalam huruf alif, huruf pertama dalam abjad dan lambang Allah.

Justru saya sudah membaca banyak buku filsafat. Jenis dan detailnya banyak sekali. Betapa terkejutnya saya pas membaca bagian ini: Sasaran kritik utama sufi adalah filsafat, yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani, “Tak ada yang lebih jauh dari hukum rasul Hasyimit tinimbang seorang filsuf.” Wah mereka dua besi sembrani sama kutub! Seluruh ‘Nalar Semesta’ tak ada apa-apanya di hadapan sabda Ilahi yang tunggal.

Yahya Ibn Mu’adh dari Parsi memperingatkan rekan-rekannya, “Hindari bergaul dengan tiga golongan ini – sarjana yang tak pedulian, pembaca Al-Quran yang munafik, dan mereka yang pura-pura terhadap tasawuf.”

Ilmunya sendiri memang butuh telaah lebih dalam. Sama seperti filsafat yang ragamnya juga lebar. Doa menjadi senjata utama, sementara makanan menjadi dasar utama yang lainnya. Tentunya lebih mudah mengemis makanan di depan pintu orang kaya dengan imbalan doa daripada mencari mata pencaharian dengan bekerja.

Siapapun yang memahami Al Quran, boleh dikatakan berada dalam Kebangkitan. Sejarah tasawuf, luarnya merupakan sejarah gerakan-gerakan rohani, teologi, dan sastra dalam Islam. Al Quran merupakan ‘leksikon unik’, ‘buku teks inti bagi segala ilmu, kunci ke arah Weltanshauung’ bagi setiap muslim, terutama kaum mistik. – Louis Massignon.

Muhammad merupakan mata rantai pertama dalam rangkaian rohani tasawuf, dan mikroj-nya lewat berlapis-lapis langit ke hadapan Ilahi. Kata Aisyah, “Kalau matanya tertidur, hatinya terjaga.” Pedoman klasik tasawuf mengandung sejumlah besar ucapan Nabi yang mendesak orang-orang salah agar setiap saat dalam hidupnya berdoa dan mengingat Tuhan.

Dasarnya jelas, ada tiga sikap sufi: islam, iman, ihsan. Ihsan berarti kau menyembah Allah seakan-akan kau melihatNya, sebab meskipun manusia tidak dapat melihat Allah, Allah senantiasa melihat manusia. Sufi: “Kadang-kadang kebenaran mengetuk hatiku selama empat puluh hari, tetapi aku tidak mengizinkannya masuk kecuali kalau ia membawa dua saksi. Quran dan hadis Nabi.”

Buku ini banyak mengutip dan menjelaskan para sufi, dari era pasca Nabi SAW sampai abad 20. Darani pernah bilang, “Kenikmatan pujian dan kepasrahan hati yang bisa dirasakan bujangan tidak akan bisa dihayati orang yang kawin.” Ibrahim ibn Adham mengungkapkan hal serupa, “Ketika seorang lelaki kawin, ia naik perahu; kalau anaknya lahir, perahu itu karam.Dhun-Nun percaya bahwa penderitaan sangat diperlukan bagi perkembangan rohani manusia; ia merupakan ‘garam bagi orang yang beriman dan juga garam berkurang, orang beriman itu pun membusuk’.

Sayangnya jelajah arah, dari Timur Tengah dan Eropa Timur, detail itu terhenti di India-Pakistan, tak sampai Indonesia. Padahal sudah kutunggu, setelah itu ke arah Melayu: Indonesia – Malaysia. Ternyata buku ditutup di Indo-Pakistan. Niffari pernah berkata, “Pikiran terkandung dalam huruf-huruf, dan khayalan terkandung dalam pikiran; ingatan yang tulus kepada-Ku tidak terjangkau oleh pikiran dan huruf, dan Nama-Ku berada di luar jangkauan ingatan. Jangan bicara, sebab ia berusaha mencapai-Ku tidaklah berbicara”

Banyak kehebatan para sufi yang dijabarkan. Muhasibi menyatakan bahwa ia memiliki saraf di ujung jarinya yang memberinya peringatan apabila makanan yang dihidangkan haram. Junayd memuji kemiskinan, faqr yang merupakan ‘samudra penderitaan, namun penderitaannya merupakan kejayaan sempurna.’ Berbahaya untuk membicarakan secara terbuka mengenai rahasia terdalam iman di hadapan orang-orang awam. Ahli teolog Protestan dari Jerman F.A.D. Tholuck; sarjana itu menyebut Hallajsufi paling terkenal karena ketenaran dan nasibnya.’ Pada tanggal 26 Maret 922, Sufi Hallaj dihukum mati sebab disebut menyebar bi’ah. Dalam ungkapan, “Mawar yang dilemparkan oleh sahabatnya terasa lebih menyakitkan daripada batu yang mana pun.” Yang lalu menjadi peribahasa Turki. Kata-kata terakhirnya, ‘hasb al-wajid ifrad al-wahid lahu’ yang artinya keberadaanya harus disingkirkan daro jalan cinta.

Siapapun yang mempelajari puisi Parsi akan mengetahui bahwa para penyair telah memilih kisah serangga dan api sebagai kiasan kesukaan mereka untuk mengungkapkan nasib pecinta sejati. Doa-doa Kharaqani membara dengan cinta dan damba yang mendalam, terbukti ketika ia bersumpah tidak akan menyerahkan jiwanya ke malaikat maut, karena ia menerimanya dari Tuhan dan ia akan mengembalikannya kepada-Nya.

Sebab ia harus merasa bahwa setiap saat ia berada di hadirat Tuhan, meskipun ketika sedang melakukan kegiatan yang paling duniawi sekalipun, dan ia harus siap selalu menemui Tuhan setiap saat. Pembagian tiga dalam agama Kristen menjadi via purgative, via comtemplativa, dan via illuminative dalam arti tertentu sama dengan batasan dalam agama Islam menjadi syariat, tarekat, dan hakikat.

Para sufi sepakat, ‘Bila seseorang tak punya guru, maka Iblis-lah gurunya.’ Tasawuf modern sepakat pula, ‘Dunia ini adalah pembibitan untuk akhirat.’ Karena kekuatan Ilahi mencakup segalanya, manusia harus percaya penuh kepada kekuatan-Nya. Kesimpulan sama akan dicapai kalau masalahnya didekati dari sudut takdir.

Ada kritik sosial, bagaimana penguasa adalah orang-orang yang harus dihindari, karena kekuasaan jelas mengandung unsur duniawi. Makanan atau apa saja yang merupakan milik atau berasal dari golongan yang berkuasa dipandang sebagai tak dapat dipercaya. Cara-cara utama untuk menjinakkan dan melatih nafsu dari dulu hingga kini adalah puasa dan tidak tidur. Malam hari sembahyang dengan berdiri, siang hari menjalankan puasa terus menerus. “Di mana pun rezekimu, kamu akan mendapatkannya dan rezeki itu akan mendapatkanmu.”

Junayd berkata, “Cara mencari nafkah yang betul ialah dengan berkarya di bidang yang mendekatkan kita kepada Tuhan, dan melaksanakannya dengan sikap kejiwaan seakan kita mengerjakan hal yang meningkatkan batin kita, bukan dengan pikiran, bahwa itu untuk mencari makan atau keuntungan.”

Tikar pandang yang menjadi tempat tidur sufi sering merupakan satu-satunya harta miliki dunianya, dalam puisi Persia zaman kemudian menjadi lambang kekayaan rohani. Meminta berarti menggantungkan diri pada suatu makhluk dan menerima berarti membebani jiwa dengan rasa terima kasih terhadap pemberi, beban yang berat dan merepotkan. Bagi attar kemiskinan dan peleburan merupakan lembah yang ketujuh dan terakhir dalam Jalan menuju Tuhan setelah pengembara menjelajahi lembah penyidikan, cinta, kearifan, kemandirian, tauhid, dan kebingungan.

Tempat utama yang diberikan kepada kebahagiaan dalam kemiskinan di antara sufi yang merupakan nihil habentes, Omnia persedentes, yang artinya tidak mempunyai apa-apa tetapi memiliki semuanya. Sabar adalah ketika kita tetap tenang di bawah pukulan-pukulan takdir. “Bersabar di hadapan perintah Tuhan adalah lebih utama daripada puasa dan salat.”

Takut dan harap adalah dua sayap penggerak; tanpa itu terbang mustahil dilakukan.” Atau menurut pandangan Sahl: takut adalah unsur jantan, harap adalah unsur betina, keduanya sama-sama menumbuhkan realitas keimanan yang sedalam-dalamnya. Berpikir baik tentang Tuhan artinya percaya pada janji-Nya akan mengampuni orang yang berdosa.

Para ahli mistik suka sekali menyepakatkan dua keadaan yang bertentangan.

Kepatuhan dalam makna sufi adalah penyerahan diri sepenuhnya – menerima kehendak sang kekasih baik dalam bentuk keramahan maupun kemarahan. Cinta tak berkurang karena kekejaman dan tak bertambah karena keramahan. Cinta yang mereka alami bukanlah hasil usaha mereka sendiri, melainkan diciptakan oleh aktifitas Tuhan. Cinta adalah anugerah, bukan suatu hasil usaha, cinta berasal dari Tuhan.

Hujwiri melukiskan berbagai tipe sufi menurut sikap mereka mengenai salat: ada yang menganggapnya suatu jalan untuk mengundang kehadirat Tuhan; ada pula yang menganggapnya sebagai jalan untuk mencapai ketiadaan.

Intisari doa mistik ialah tidak meminta dan tidak menuntut: intisarinya ialah puji dan puja sepanjang waktu. Daqqaq, guru Qushayri menggolongkan doa menjadi tiga: meminta, mendoa, dan memuji. Doa Nabi Musa: “Ya Allah, Engkau memerintahkan agar aku bersyukur atas rahmat-Mu, dan bersyukurku sendiri adalah rahmat-Mu.”

Dzikir merupakan pedang untuk menakuti musuhnya dan Tuhan akan melindungi siapa pun yang ingat akan Dia pada saat dalam kesusahan dan bahaya. Dzikir adalah makanan spiritual ahli sufi.

Dzikir dibagi dua cabang: dzikir dengan lidah (dhikr jail, jahri, ‘analiya, lisan) dan dzikir dalam hati (dhikr khafi, qalbi), yang kedua lebih utama, bahkan ada hadis yang menekankan nilainya lebih tinggi. Shibli bilang, “Dzikir sejati ialah bila kau melupakan dzikirmu.” Karena kata atau pikiran “Ya Allah” pun mengandung arti bahwa subjek atau objek memiliki kesadaran; maka rahasia terakhir daripada dzikir adalah sunyi sempurna.

Malafalkan syahadah sebanyak 7.000 kali dapat menyelamatkan siapa pun dari neraka.

Sebuah hadis qudsi menegaskan, “Aku bersama dengan mereka yang patah hatinya demi Aku.” Pernyataan Junayd bahwa, “Tuhan dinyatakan terutama dengan Tiada daripada Ada.” Patah itu perlu untuk suatu permulaan baru. Kemurkaan Tuhan adalah kemurahan di balik malapetaka dan bahwa kesaktian dan hukuman yang Ia kenakan kepada mereka yang mencintai-Nya berguna bagi perkembangan jiwa mereka – seperti halnya obat yang pahit rasanya berguna bagi si sakit.

Salah satu ciri-ciri karya hagiografi sufi ialah mereka berbicara tentang firasa ‘kardiognosia’ (membaca batin) seorang guru. “Hati-hatilah terhadap firasat (kearifan) seorang yang beriman”. Dikatakan, “Karena ia melihat dengan penerangan Tuhan.”

Guru-guru umum menganggap keajaiban-keajaiban sebagai godaan-godaan dalam menuju tuhan. Ketika Nabi melihat sekuntum mawar ia menciumnya dan ditempelkannya di matanya dan berkata, “Bunga mawar merah adalah bagian dari keagungan Tuhan.”

Dalam hubungan sosial, sufi berpedoman dengan hadis Nabi: “Orang-orang mukmin adalah cermin bagi sesamanya.” Jika kamu tidak dapat melayani kaummu sebagaimana mestinya, bagaimana kamu dapat melayani Tuhan? Segala sesuatu itu memiliki abdi, dan perilaku benar adalah abdi agama. Yang dinamakan wali adalah mereka yang membaur dengan penduduk, makan, tidur bersama mereka, jual beli di pasar, berperan serta di dalam hubungan masyarakat, dan tak pernah lupa kepada Tuhan sejenak pun.

Abdu’l Qadir al-Gilani (1088-1166) dari laut Kaspia, mungkin ia adalah wali yang paling terkenal di dunia Islam, namanya diliputi legenda. Hikam adalah kumpulan pepatah sejumlah 262, sebuah jenis yang tak asing di dunia tasawuf abad ke-12 dan 13, diikuti oleh perjanjian-perjanjian pendek dan beberapa doa. Bahkan jika mereka diperkenankan membaca ayat dari selain Quran di dalam salat, pasti mereka membaca Hikam.

Ahli mistik gemar akan keadaan qabd, sikat menahan diri terhadap segala sesuatu. Qabd dianggap lebih tinggi dari bast karena manusia sama sekali pasif, menanggalkan kemauannya sendiri dan bertindak hanya sejauh yang Tuhan kehendaki. Mengucapkan terima kasih dalam setiap tarikan napasnya untuk kebaikan-Nya.

Perenungan berpusat di sekitar hadis yang berbunyi, “Tuhan telah membuatku mencintai tiga hal: wangi-wangian dan wanita, hiburan hatiku ada di dalam doa.” Memasukkan manusia sebagai objek kasih akan membawa ke konsekuensi yang tak dapat diterima dan bahwa mengancam akan mengotori kemurnian perasaan.

Tiga benda yang menyenangkan untuk dipandang: tetumbuhan yang hijau segar, wajah yang elok, dan air yang mengalir. Dalam hadis lain mengatakan, Muhammad membuktikan. “Saya melihat Tuhanku dalam wujud seorang pemuda rupawan, dengan tutup kepalanya miring.”

Keindahan, dasarnya konsep statis. Tidak mempunyai arti penuh tanpa kekaguman dan kasih, dan yang dikasih membutuhkan kekasih untuk kesempurnaanya sendiri. Untuk memperoleh ilmu kebatinan, alat-alatnya adalah kepatuhan yang sungguh-sungguh dan tetap, dan selalu mengingat-ingat Tuhan dan ‘pemimpin batin’. Sedikit makan, sedikit tidur, sedikit bicara, menghindari manusia…

Fariduddin menjalani laku tapabrata yang amat berat, chilla ma’kusa, menggantung diri secara terbalik di dalam sumur selama empat puluh hari sambil membaca doa-doa dan hapalan-hapalan lain yang sudah ditentukan.

Naqshabandiyya memulai perjalanan rohani yang dikenal dengan, “Masuknya bagian akhir ke dalam bagian awal.” Rumi pernah bilang, “Kejatuhanku yang pertama dan terakhir adalah gara-gara wanita.” Bagi Rumi sama’ merupakan makanan rohani.

Ad-din nasiha artinya agama adalah nasihat yang baik, sesuai hadis Nabi. Saking tebalnya, ada 28 lembar daftar pustaka dan index. Ingatan terbaik adalah melupakan ingatan dalam bayangan. Kebesaran Tuhan yang melimpah ruah, mengajak manusia untuk berdoa.

Doa sejati adalah terus menerus, tak dapat dibatasi dalam sejumlah rakaat dan ayat Quran, melainkan ia meresap dalam segenap jiwa manusia. Sang sufi harus mendoakan orang tua, orang yang dicintai, dan mereka yang dengan sadar atau tidak, telah membantu dia dalam perjalannya menuju kesempurnaan.

Jelas ini adalah dunia yang asing bagiku. Luar biasa indah, sebab manusia ini dari mana dan mau ke mana masih menjadi misteri. Dunia tasawuf memberi alternatif yang masuk akal. Segala yang gaib pantas direnungkan, segala yang mistik perlu dikaji lebih dalam. Ini adalah buku tasawuf pertama yang kubaca dan langsung terkesan, kumasukkan sebagai buku terbaik non-fiksi yang kubaca tahun 2020. Kejutan kecil, penerjemahnya adalah almarhum penyair Sapardi Djoko Damono. Luar biasa, sang idola besar ini ternyata sudah mengalihbahasakan buku indah bersama rekan-rekannya. Saya sah jadi penggemar Annemarie Schimmel. Allahu Akbar!

Kasih adalah api, ia membakar segala sesuatu. Pertama-tama api membakar tahap kesabaran.

Dimensi Mistik dalam Islam | by Annemarie Schimmel | Diterjemahkan dari Mystical Dimension of Islam | The University of North Carolina Press, Chapel Hill 1975 | Penerbit Pustaka Firdaus | Penerjemah Sapardi Djoko Damono, Achadiati Ikram, Siti Chasanah Buchari, Mitia Muzhar | Editor Sapardi Djoko Damono | ISBN 979-541-137-3 | Pustaka Firdaus, 2000 | Pendesain kulit muka: Susthanto | Cetakan keempat: Agustus 2018 | Skor: 5/5

Kepada Para Wali di Shiraz

Karawang, 070121 – 110121 – Fred Astaire – They Can’t Take Away

Thx to Latifah, Yogyakarta

Pagi yang Membingungkan

Perry Mason: Kasus Gadis Kembar by Erle Stanley Gardner

Seorang ayah yang pergi tanpa pamit pada putrinya selagi sarapan?” Tanya Della Street

Seorang pengacara harus selalu berhati-hati dalam menyelidiki calon-calon kliennya untuk memastikan ia tidak punya maksud yang bertentangan. Buku kedua serial Perry Mason yang kubaca. Pengalaman pertama Kasus Dendam Membara memuaskan, maka langsung beli empat buku Erle Stanley Gardner lainnya. Dan sebagai buku akhir tahun, kisah yang disaji kembali memuaskan, lebih bagus dari yang pertama. Tensinya lebih tinggi, sebab pembunuh utama tampak tak terdeteksi, lebih dramatis sebab bukti shahih baru tiba di kantor pengadilan tinggal hitungan menit! Lebih membingungkan, sebab sang tersangka malah defensif tak mau menjadikan orang-orang dalam lingkaran keluarga terseret. Yang mungkin patut disayangkan justru judulnya, spoiler sebab kata ‘kembar’ menjadi kunci pengungkapan.

Di Rumah daerah Vauxman Avenue. Pagi itu Carter Gilman meminta anaknya untuk membuatkan sarapan tambah. Muriell Gilman tanpa curiga ke dapur membuat roti panggang, tapi saat kembali ke meja makan ayahnya menghilang. Menanyakan ke saudara tirinya Glamis Barlow di lantai atas, tak tahu. Ke ibu tirinya Nancy Gilman masih tidur. Di ruang kerja bapaknya terdapat duit berserakan, serpihan kayu yang gompal, dan beberapa berkas berhamburan. Dalam keadaan panik, ia mendapat petunjuk. Sebuah kertas mencatat bila ada yang janggal hubungan pengacara Perry Mason. Catatan berbunyi: “Jika terjadi keadaan darurat, segera hubungi Perry Mason, pengacara. Hubungi dia saja.”

Sang pengacara yang mendapati laporan itu gegas menuju TKP, menyelidik bersama detektif sobatnya Paul Drake. Banyak kejanggalan, sebab jam 11 siang itu sang tamu sudah buat janji sebelumnya, sekaligus adalah kliennya dengan nama alias. Sempat ragu akan datang tidaknya. Carter akhirnya bisa menyampaikan alasan kenapa ia menghilang. Pertemuan itu sekaligus menjadi kesepakatan bahwa Mason disewa menjadi pembelanya, atas kasus apa? Laporan yang masuk adalah istrinya, istri barunya mengalami pemerasan yang dilakukan detektif swasta yang terkenal akan kejeliannya, detektif Vera M. Martel. Jadi ia meminta perlindungan dalam konstitusi. Karena ini tak biasa, maka Mason memberi jawaban yang juga tidak biasa. Meminta uang muka tujuh ratus lima puluh dolar!

Tampaknya Perry lebih tenang, sebab kasusnya tak sebesar yang dikira, tapi ia selalu waspada. Keluarga ini semua tampak mencurigakan. Anaknya memberi laporan setengah-setengah, kliennya melakukan kebohongan, sebab keesokan harinya Perry mendapat telepon dari Vera, yang ketika diselidiki adalah asisten Carter. Anak tiri Glamis yang cuek, seksi, dan tampak bebas ini perlu dicurigai pula sebab malam itu ia mengajak pacarnya Hartley Elliot menginap. Ia gadis yang impulsif, ia melakukan segala sesuatu menurut dorongan hati. Alasannya aki mobilnya ngadat sepulang dari dugem, makanya esoknya mau diperbaiki. Dan hari itu ia melenggang ke Vegas untuk berjudi, yang kebetulan adalah kantor detektif Vera. Ada pertemuan dan konspirasi apa di sana? Kita kan hidup dalam era yang segalanya berlangsung serba kilat. ‘Sidik jari Anda sudah menutupi sidik jari orang yang ingin Anda lindungi.’ Ketika ada kekhawatiran , “Oh, tentu, jika saya tidak mau orang lain tahu, mereka tidak akan tahu. percayalah.”

Kasus benar-benar menjadi liar setelah hari berikutnya ditemukan mayat detektif Vera di sebuah jurang. Tanda-tanda pembunuhan sudah jelas, ia mati tercekik, mobilnya sengaja dijerumuskan seolah-olah kecelakaan. Perry Mason jelas pening, sebab semua tampak benang kusut. Gerak cepat menanyai semua anggota keluarga, termasuk istrinya Nancy atas keterlibatannya. “Nancy Gilman seorang wanita bohemian yang berpandangan bebas, jika muncul skandal mengenai putrinya, hal itu akan berakibat buruk pada transaksi ini.” Masa lalunya yang hitam, menikah dengan orang lain, tapi ternyata hamil duluan dan dicurigai bukan anak dalam pernikahan. Ujungnya tampak ia memiliki catatan aib yang disembunyikan. Ada dua anak gadis yang tampaknya misterius. “Sekarang saya meminta kalian bertiga memberi saya semua kuasa, hak, dan kepentingan atas semua barang dan uang yang berada di ruang kerja kemarin.”

Benar saja, pihak polisi langsung menetapkan Carter sebagai tersangka. Carter tak akan membunuh seekor lalatpun, dan Glamis tidak lebih tahu apa yang terjadi. Kasus menyeret ke partner bisnisnya Gilman Associates Investment Pool dengan manager Roger C. Calhoun. Gerak Mason dibatasi sebab ia tampak mencoba menyembunyikan barang bukti, dan dalam hitungan hari saja, persidangan kasus pembunuhan dilakukan. Selanjutnya kita menikmati sajian bagus persidangan, mungkin salah satu novel sidang yang baik yang kunikmati. Mason melawan jaksa kota yang terkenal kejam Hamilton Burger. Dihakimi oleh Hakim Alvord yang tegas dan keras. Dramatis sampai jelang ketuk palu. Jadi siapa pembunuh Vera? Nancy Gilman, Carter Gilman, Muriell Gilman, dan Glamis Barlow, atau malah sang tamu?

Sejatinya saya sudah bisa menebak pembunuhnya ketika pagi yang membingungkan itu ditutup. Hanya empat kemungkinan pelaku: Nancy sang istri yang mendekam di kamar, Murriel yang melaporkan ke Mason, Glamis yang cuek dan suka tampil seksi, dan Elliot sang tamu yang ketika diminta jadi saksi malah mencoba kabur. “… Anda tidak akan mendapat hukuman ringan. Ini masalah penting, kasus pembunuhan. Kesaksian Anda sangat penting, Mr. Elliot.” Saya berani mencoret sang tersangka utama, kenapa? Jelas sekali ia bilang melindungi orang-orang tersayang, jadi rela dikorbankan atas kasus ini, yang secara otomatis bisa dibilang tak melakukan. Walaupun terancam kasus pembunuhan tingkat pertama? Ya… dan ketika twist diungkap, betapa apa yang tampak di permukaan tak sama dengan kenyataan keseluruhan.

Della Street, sekretaris pribadi Mr. Mason memainkan peran penting di dua seri ini, jelas ada sesuatu di antara mereka. Makan malam, teman curhat, sampai partner kerja. Mengungkap banyak kasus, menyelesaikan dengan brilian. Sidekick sempurna andai ada cinta di antara mereka. “Oo. Kata Della. “Berarti ada yang sedikit tidak beres.” / “Banyak yang tidak beres,” kata Mason. “Tapi aku belum tahu sumbernya, aku ingin bertindak hati-hati agar jari-jariku tidak terbakar.”

Patut dicermati, pengacara menanyakan kliennya dengan jeli dan menekannya dengan tatapan tajam. “Aku hanya ingin katakana bahwa aku sudah sering memeriksa saksi. Telingaku sudah terlatih dan dapat segera mengenali nada suara yang salah…”. Termasuk ketika Bu Nancy diminta tes kejujuran. Manson langsung meminta Drake mencari, siapa penguji poligraf terbaik negeri ini? Tes uji kebohongan. Kita panggil Cartman Jasper. Alat canggih yang mencatat rekaman darah, respirasi, dan daya tahan kulit terhadap listrik. Ternyata memang beberapa poin penting jujur, justru ketika ditanyakan tentang anaknya alat itu mendeteksi kemungkinan ada yang tak beres, dan karena judul buku ini maka pasti kalian tahu ada masalah di masa lalunya.

Cara interogasinya memikat. Cara menasehati klien atau saksi juga diarahkan dan diyakinkan. Jangan bicara apa-apa mengenai cuaca, jangan beri peluang kepada siapa pun. Saya akan ke sana secepatnya! “Ingat apa yang saya katakan. Katakan yang sebenarnya atau tutup mulut, jangan berikan informasi apa-apa, jawab pertanyaan seperlunya.”

Drama pengadilan juga sangat seru. Adu taktik penuntut umum dan pengacara dalam menanyai saksi menjadi tekanan dan perlu kejelian, sebab setiap kata yang disampaikan seolah penting semua. Seringkali keduanya melempar keberatan, “Keberatan karena tidak kompeten, tidak materiil…” Dan karena jagoan kita adalah sang pengacara maka kalian tentunya bisa menebak siapa yang bakal keluar dari gedung pengadilan dengan senyuman. “Aku berlomba melawan waktu dan kesulitan besar sekaligus bukti yang menakjubkan. Jika pengacara dihadapkan pada posisi seperti itu, satu-satunya yang dapat dilakukan adalah mengambil inisiatif dan terus maju. Mari kita ke sana.”

Ada satu kalimat yang patut dicatat. Surat permohonan habeas corpus, ilmu baru nih. Apa itu suratnya? Ketika terdesak Mason memberi wejangan ke sekretarisnya, seolah ini wasit. Ok, nanti kucari tahu.

Senjata terakhir. Kita sudah terus mendapat kabar buruk, tentunya ini kabar baik. Biasanya jika kita terdesak, semuanya tampak tidak memihak kita Kejadian-kejadian hari ini misterius. Dan pagi yang membingungkan berakhir dengan memukau jitu. Seorang detektif baik, tidak akan buru-buru mengambil kesimpulan. Mari kita nikmati tiga buku berikutnya. Cerita detektif memang selalu memikat untuk diikuti. Terasa terbakar!

Dunia hukum memang sepenuhnya terbalik. Mereka membuka borgol pada penjahat dan memasangnya pada pergelangan tangan petugas hukum.”

Perry Mason: Kasus Gadis Kembar | by Erle Stanley Gardner | Copyright 1993 | Judul asli The Case of the Duplicate Daughter | Alih bahasa Ivonne S. | dari Penerbit Thayer Hobson | Penerbit Alice Saputra Communications Co. | Cetakan pertama 1995 | Skor: 4.5/5

Karawang, 080121 – Louis Prima & Keely Smith – That Old Black Magic

Thx to Lifian, Jkt