14 Best Books 2021 – Fiksi/Lokal


“Aduh, Nak kau masih muda, masih belum matang mengenyam hidup di dunia ini. Bagimu, atau bagi orang-orang muda seperti kau, apa yang tampak itu sajalah yang ada. Apa yang tersirat tak pernah kau baca…” – Menentang Sejuta Matahari, Abdullah Harahap.

Tidak ada Kusala Sastra (KSK) 2022 membuat daftar bacaan fiksi lokal-ku terjerebab. Menurun drastis, makanya Desember kemarin kukejar bagian itu. Dari yang hanya 20-an menjadi 34 totalnya. Minimal cukup untuk mencipta daftar ini, 50%+1. Let’s go.

Dari drama cinta muda-mudi yang ditentang keluarga sampai perjalanan antar kota icip-icip kuliner di tengah kerja. Dari pendekar menua dan terkulai sampai hikayat kota fiktif. Dari diskusi kontraversi kehidupan modern sampai sejarah bengkoang di sebuah desa Jawa Timur. Dari konspirasi di Jerman sampai ungkapan syair dalam celana. Dari tukar penghuni penjara sampai pertentangan adat di Minangkabau. Dari memoar penulis luka hingga cinta bergolak di tanah pesisir. Setelah diperas dengan ikatan keras, inilah dia.

Berikut daftar buku fiksi lokal terbaik yang kubaca tahun 2022 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. Menentang Sejuta Matahari by Abdullah Harahap (Sinar Pelangi) – 1980-an

Mungkin tampak klise. Namun ternyata tak seklise itu. Pengelolaan cerita mengalir nyaman, cerita para remaja tentang kasih tak sampai, cinta segitiga mencipta bencana, karena status sosial, si miskin yang merindukan damba pasangan kaya. Orang tampan yang mengingin cinta gadis cantik. Hingga berantem marah akibat cemburu. Sebuah tusukan maut, mengacaukan tatanan kehidupan para muda-mudi ini. Liar, penuh amarah, jantan.

“Namaku, Siska? Bramandita. Panggil saja Bram…”

#13. Rumah Kawin by Zen Hae (Katakita) – 2004

Bagus. Kumpulan cerita yang menyenangkan. Memainkan kata-kata dengan indah, plotnya berjalan dengan sangat rapi nyaman sehingga tak terasa selesai. Ini buku pertama Zen H?ae yang kubaca, dikumpulkan dari cerpen-cerpen yang sudah terbit di Koran Nasional. Dan seperti biasa, kalau sudah muncul di Koran Nasional, seolah jaminan. Sudah melalui kurasi, sudah dipilah dan dipilih orang-orang kmpeten, maka Rumah Kawin benar-benar mengalir bebas, asyik, dan berkelok-kelok syahdu.

“Pertanyananya tentang perempuan itu terus bergulung. Memintal-mintal hasratnya menjadi benang yang tak putus-putus. Makin panjang makin kuat.”

#12. Logika Falus by Tomy F Awuy (Metafor) – 2001

Kumpulan cerpen dari penebit Metafor yang legendaris. Temanya lebih banyak menelusup di area psikologi. Dari hubungan lesbi, pemikiran liar para lelaki, hingga kehidupan malam para Jakartan. Sebagai cerpen yang diambil judul, Logika Falus justru malah yang paling biasa, di mana dua pria mendebat seorang penyanyi kafe yang elok. Lalu berjudi, dan bagaimana diakhiri dengan antiklimaks.

“Tidak ada alasan yang tepat bagi aku untuk menikah. Untuk punya anak? Aku tak mau. Untuk seks? Aku tak butuh. Untuk kasih sayang? Aku tak butuh. Pendek kata aku tak mau menikah. Titik.”

#11. Desis Kata Kata by Heni Hendrayani (Komunitas SLS) – 2013

Menyentil banyak profesi dari pelacur, pemain film, hingga pelayan klub malam. Ingatlah selalu perjuangan para pahlawan eahai kaum hawa. Dibawakan dengan banyak simbolis. Jelas, ini lebih baik dari Jari Tengah yang kemarin saya tuntaskan. Enak dibaca, tak vulgar sekalipun beberapa yang dikupas adalah nafsu.

Celanamu: “Maaf sayang, terpaksa aku rogoh / saku celanamu, biarkan tanganku menari / di dalamnya, sebab tak ada beras / untuk ditanak. Tak ada ongkos sekolah anak. / bah! Tak ada pula uang di sana. Bagaimana / kalau aku gadaikan saja isi celanamu?” – 2011

#10. Tuan Gendrik by Pamusuk Eneste (Puspa Swara) – 1993

Semua cerpen memakai judul karakter utama. Semuanya pendek, belum ‘in’ sama cerita sudah selesai. Namun hebatnya, semua ending menggantung. Keputusan akhir diserahkan ke pembaca. Dari kepala media yang diminta ceramah kepahlawanan, tak tahu ngomong apa. Karyawan yang diancam, diperas duit sebab istrinya diculik, dan kita tak tahu apakah ia melapor polisi atau memenuhi tuntutan dengan uang pinjaman. Lalu Tuan Gendrik, bos kantor yang baik hati dan tak sombong, yang suatu hari kehilangan semua karyawannya, misterius. Hingga warga baik-baik yang dituntut untuk menikahi perempuan yang tiba-tiba mampir ke apartemennya, lalu menyatakan hamil anaknya. Semua diramu dengan tanda tanya di akhir. Begitulah, sederhana nan memikat. Tak sampai meledak-ledak, tapi sungguh efektif meluluhkan hati pembaca.

“Jangan coba-coba menelepon siapapun juga dalam urusan ini.”

#9. Ketika Lampu Berwarna Merah by Hamsad Rangkuti (GPU) – 2003

Transmigrasi jadi tempelan cerita. Waduk Gajah Mungkur di Desa Karanglo, Wonogiri, bagaimana terbentuknya. Di tempat pertemuan kedua sungai itu akan dibangun waduk raksasa Gajah Mungkur. Air akan melenyapkan semua kenangan mereka. Jelas ini sejarah, diselipkan dalam kisah kepiluan warga Jakarta yang terpinggirkan di gubuk-gubuk kumuh sepanjang rel kereta api. Lalu dikemas drama keluarga. Jadilah Ketika Lampu Berwarna Merah. Saat mobil berhenti, mungkin membuat kesal karena perjalanan tertunda. Tetapi bagi anak-anak, ketika lampu berwarna merah satu harapan baru telah tiba. Dengan bekal kasihan, pengemis melakukan pekerjaannya. Meminta-minta di sepanjang jalan saat warna rambu lalu lintas berwarna merah. Dengan pusat kasihan anak lelaki berkaki buntung. Menggendongnya, mengetuk hati para sopir. minta-minta

“Itu sekolah yang dapat dari kebiasaan kita. Kita tidak akan bisa pergi dari situ. Dunia kita adalah dunia orang minta-minta.”

#8. Sepotong Hati di Sudut Kamar by Pipiet Senja (Sinar Harapan) – 1981

Buku harian yang jadi buku. Luar biasa. Kita tahu kehidupan pribadi Pipiet Senja yang menderita leukemia. Namun detail bagaimana kehidupannya dari kecil, remaja, hingga awal mula meraih impian membuat buku, jelas tak banyak yang tahu, kecuali lingkar pertemanan/saudaranya. Nah, dari buku inilah kalian akan menemukan banyak hal pribadi beliau. Kehidupan keluarga, percintaan awal, hingga perkenalan dalam dunia teater, sandiwara nulis novel, dst. Di era Orde Baru yang minimalis, konvesional, di mana karya ditulis tangan atau diketik di mesin ketik, perjuangan seorang penderita leukemia menjadi penulis sungguh sangat inspiratif.

“Hujan sudah reda. Kita jalan lagi? ya, hujan sudah reda. Betapapun hujan akan datang lagi, hujan yang baru…”

#7. Projo & Brojo by Arswendo Atmowiloto (GPU) – 1994

Novel unik. Tukar orang yang dipenjara, dan katanya buku ini merupakan terinspirasi dari pengalaman Arswendo selama dipenjara? Apakah beliau pernah melakukan tukar posisi seperti ini? Ataukah ini pure imajinasi, seandainya punya jabatan penting, bisa seenaknya saja kabur secara tersirat dari jeruji besi? Menarik, walau ditemukan beberapa kejanggalan. Seperti, bagaimana bisa istri tak mengenali suami yang menyamar? Atau perubahan sifat karakter secara tiba-tiba akibat kepergok, seolah materi tak penting? Seakan di otaknya dipasangi rem yang kelewat pakem. Atau bagian, kepolosan perempuan desa yang luar biasa sederhana, polos. apa adanya, dan begitu sabar. Mungkin ada orang-orang seperti itu, di sini diumbar dengan pesonanya sendiri.

“Aku bahkan curiga dengan bayanganku sendiri.”

#6. Aliansi Monyet Putih by Ramadya Akmal (GPU) – 2002

Bagus. Cerpen yang bagus itu, memberi efek kejut di akhir. dengan keterbatasan kata-kata, prosedur cerita kudu dicipta. Karena saya sudah membaca buku Franz Kafka hingga Jack Kerouac, standar cerpen naik. Dan sebagian cerpen di sini memenuhi, saya bilang sebagian sebab hanya beberapa saja yang laik disandingkan. Cerita Tuan yang Paling Mulia misalkan, kita baru tahu motif Pak Joachim dengan anjingnya pada halaman terakhir, setelah diajak berputar panjang kali lebar, ternyata itu to maksudnya. Cerita utama, Aliansi Monnyet Putih juga menyimpan kejutnya, bagaimana kekecewaan dan harapan disandingkan, lalu mengapa seorang WNI yang migrasi itu berada di sana, bagus.

“Tetapi Natalie pendiam itu tampak selalu mengamati, lho. Matanya seperti rubah yang menelisik ayam-ayam.”

#5. Aruna dan Lidahnya by Laksmi Pamuntjak (GPU) – 2014

Secara cerita mungkin agak kurang, kalangan atas sedang kerja dan makan-makan, motif dan pengembangannya yang kurang relate sama kebanyakan kita, atau kurang pas sama jelata. Pejabat pemerintah, dan lingkarannya melakukan kejahatan, Aruna terseret pusaran, dan begitulah ia mengikuti decak kenikmatan makanan dari kota ke kota. Keistimewaan buku ini jelas, cara penyampaiannya yang luar biasa. Lezat di tiap lembarnya. Memang ini hidangan istimewa, nikmatnya berlapis-lapis.

“Selalu ada tradisi makanan yang tak diketahui orang.”

#4. Persiden by Wisran Hadi (Bentang Pustaka) – 2010

Luar biasa. Menggetarkan. Butuh waktu lama untuk loading masuk ke cerita sebab awal mulanya agak boring. Mencerita keadaan Persiden dan sekitar. Pengantar yang nyaris membuat pesimis. Untuk kubaca cepat, tiga hari 3, 4, 5 Dec 2022 selesai. Jadi mood untuk terus berada di pusaran kisah terjaga. Konfliks keluarga, sebuah keluarga ternama menemui titik kehancuran sebab antar saudara terjadi gap. Empat lelaki dan satu perempuan, saat salah satunya punya anak, semuanya seharusnya memiliki rasa kuat saudara, saling mengingatkan, saling melindungi, sebab otomatis keempatnya jadi paman. Namun sayang, keponakan tersayang terlahir dari perbuatan zina. Malati, anak solehan yang jadi juara pertama mengaji itu hamil di luar nikah, kasih terlarang dengan guru ngajinya. Melahirkan tersembunyi, lalu keluarga ini ribut. Persoalan Malati telah melanggar dua hal penting, adat dan agama.
“Globalisasi hanya boleh berlaku dalam dunia ekonomi dan politik, tapi tidak dalam budaya dan agama.”

#3. Wasripin & Satinah by Kuntowijoyo (Kompas) – 2003

Tak menyangka arah buku ini akan ke sana. Ini adalah novel kedua Kuntowijoyo yang kubaca, setelah Pasar yang fenomenal itu. Yang ini tampak lebih kompleks dengan ending yang lebih berani. Kritik politik dari arus bawah hingga pusaran pusat yang njelimet. Pasangan yang saling mencinta, dengan segala kekurangan dan segala kehebatan masing-masing, di puncak ketenaran dan kegemilangan, segalanya berbalik. Wasripin yang bak nabi, dan Satinah yang secantik merak, akhir yang tak terduga. Benar-benar dibawakan dengan sangat bagus, mengalir dengan sangat nyaman dan begitu rapinya. Ah, rasa itu, kenapa terlambat disampaikan, dalam lamaran aneh dengan hasil pancing di pantai sepi ikan, dan jelmaan indah, lantas dihempaskan.perahu

“Ah, pasti kura-kura dalam perahu.”

#2. Cantik itu Luka by Eka Kurniawan (GPU) – 2002

Riwayat Halimunda. Kalau saya menulis ulasan novel-nya Jorge AmadoGabriela, Cengkih, dna Kayu Manis dengan kalimat: “The Chronicles of Ilheus,” maka saya membuka ulasan Cantik Itu Luka dengan kalimat itu. Di kota fiksi inilah, kita diajak bersafari dari sebelum, saat, dan setelah Indonesia merdeka. Memiliki tanggal cantik sendiri untuk dirayakan sendiri, 23 September sebab informasi proklamasi terlambat sampai, kebusukan moral polisi penjahat di setiap sudutnya, hingga tokoh fiksi yang sejajar Jenderal Sudirman. Fakta dikaburkan imaji, dibubuhi segala penyedap kegemparan masa itu, dan taa-daa… jadilah novel liar.

“Menanti Pangeranku datang, untuk membebaskanku dari kutukan wajah buruk rupa.”

#1. Ulid, Tak Mau Ke Malaysia by Mahfud Ikhwan (JBS) – 2009

Menyenangkan menikmati perjalanan seseorang yang realistis. Megedepankan sisi humanis. Terlahir di desa yang sederhana, dengan kepentingan sederhana, lantas keinginan sederhana: tak ingin ke Malaysia. Kerasnya hidup, di tengah kekurangan materi. Dan begitulah, semuanya akan kena arus. Siapa yang bisa bertahan dari gerusan air gelombang itu? Daya tariknya banyak. Sangat banyak. Dari teknologi masuk desa, dikupas perlahan-lahan seolah mengupas bengkoang. Mulai dari kepemilikan radio, teman nongkrong dengar sandiwara, tv-tv tetangga yang menyatukan tetangga, hingga akhirnya kedewasaan memaksa kita menginjak bumi. Realitas, seorang lelaki (apalagi sulung) harus kerja. Begitulah, sederhana dan sangaaat nyaman. Menjadikannya buku terbaik 2022 lokal fiksi yang kubaca. Amat layak.

“Kamu juga pingin sepeda, Lid?” / “Ah, nanti sajalah.” / “Kalau kambing bagaimana?” / “Kambing?”

Karawang, 030123 – Christina Bjordal – Blame the World

Menanamkan Keikhlasan dalam Ibadah


Jejak Sufi Modern by Abu Jafar Alqalami

“Jika orang sudah mempercayakan nasibnya kepada Allah, yakin kalau Allah mengurusi hidupnya dan yakin Allah akan menerima amal perbuatannya, maka itulah yang disebut tawakaltu alallah.” – Kiai Badrun

Lucu. Mungkin tak seberat buku-buku sufi kebanyakan, mungkin pula dan sak-klek sama aturan Islam yang kaku. Ini malah jadi sejenis diskusi, seorang awam agama, bertanya kepada pendiri pondok pesantren. Rasanya tepat, sebab biar ahlinya yang menjawab. Maka kiai Badrun memberi petuah-petuah hidup, yang mungkin bagi kita sudah umum (atau malah usang). Dasar agama, tuntunannya, hingga rasa syukur. Yang menarik, diskusi itu mengalir nyaman, dan apa adanya. “Hujan sudah reda, kita jalan lagi.”

Lasirun merasakan kehampaan hidup, dan melalui Kiai salaf, kiai Badrun mereka berdiskusi masalah kehidupan. Panjang kali lebar. Menemukan kedamaian, menemukan banyak jawaban. Dan Lasirun lantas memutuskan ingin jadi sufi.

Sayangnya, salah kaprah sebab menolak duniawi. Istrinya sampai frustasi, sebab Lasirun tak mau bekerja. Tak mau menghidupi keluarga. Isinya hanya ibadah saja. Bahkan, setelah menelantarkan keluarga, dapat pengembalian utang dari teman, dibelikan kambing lantas ia sumbangkan demi umat. Bayangkan, keluarga berhari-hari tak dikasih makan, saat ada rejeki mendadak, disumbangkan semuanya. Istrinya yang gedek, lalu melaporkan pada sang kiai.

Terjadilah diskusi lagi, Lasirun yang memang madep manteb ikut kata kiai akhirnya bisa dicerahkan. Namun beberapa hari kemudian, salah gaul lagi. Temannya yang juga suka ngaji, mengajak Sandrimo dan nantinya beberapa teman lain untuk diskusi dengan Kiai. Polanya berulang, galau, bimbang, lantas mencari jawab sama ahlinya.

Dan begitulah, buku ini akan terus berkutat dalam dialog-dialog sederhana tapi begitu jitu mengena. Dibawakan dengan santai, sehingga nyaman untuk kalangan umum. Catatan di bawah ini adalah kutipan langsung, sebagian besar dari buku. Karena bagus dan laik dibagikan, saya ketik ulang. Semoga bermanfaat.

Banyak aliran sufi, tapi tetap harus mengacu pada dua hal. Apapun itu. Contoh tarikat Syaziliyah, Samaniyah, dan tarikat Haji Paloppo dari Bugis. Sebenarnya tasawuf itu tidak mempunyai aturan tertentu selain ibadah berdasarkan al Quran dan Hadis. Sekali lagi saya katakan bahwa tasawuf itu semacam filsafat Islam. “…tarikat itu merupakan jalan untuk mengalamkan ilmu syariat…”

Ilmu hakikat berarti ilmu yang digunakan untuk mencari suatu kebenaran. Hakikat adalah suasana kejiwaan seorang saalik (sufi) ketika mencapai suatu tujuan hatinya. Salat secara tak langsung adalah dialog dengan Tuhan, tapi jangan disalah-artikan. Yang dimaksud adalah dialog batin, seolah-oalh hati kita berdialog denganNya.

Ia bagaikan orang haus yang minum air laut, semakin banyak kitab salaf dibaca, ia merasa semakin kerdil dan semakin dungu. Ia baru menyadari, betapa ilmu itu tiada habisnya jika dipelajari. Apalagi ilmu agama, terus digali, sekain dalam, semakin tak ada habis-habisnya. Zuhud adalah sikap menjauhi kemewahan duniawi. “Kalau semua orang membenci dunia, apa jadinya Islam. Nabi dulu tidak begitu. Tidak benci harta, tetapi juga tidak tergila. Sekadar secukupnya saja. Nabi tidak meninggalkan perkawinan, tidak membenci wanita, tidak mengabaikan kewajiban sebagai suami.”

Menjadi sufi yang modern artinya menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Jika saat rejeki sempit tidak mengeluh, jika dalam keadaan kaya tidak lupa diri. Uang bagaikan madu lebah, segala macam semut dan kumbang datang menghirup manisnya. “Semua anak Adam memang mendambakan bahagia, Cak.”

Dalam sebuah kisah, seseorang bertanya kepada Yahya bin Khalid al Barmaksy tentang bahagia. Bahwa bahagia itu adalah sentosa perangainya, kuat ingatan, bijaksana akal, tenang dan sabar dalam menempuh cita-cita, maksud dan tujuan. Kalau menurut Ibnu Khaldun, bahagia itu tunduk dan patuh mengikuti garis ketentuan Allah dan perikemanusiaan. Menurut imam Ghazali bahagia dan kenikmati sejati adalah jika bisa mengingat Allah.

Allah membagi akal dalam tiga bagian, pertama ialah ma’rifatnya dengan Allah, kedua taatnya bagi Allah dan ketiga baik pula kesabarannya dalam menghadapi dan menerima takdir Allah. Sebab mengingat Allah itu mencakup keseluruhan kepentingan. Sebab mengingat Allah itu mencakup keseluruhan kepentingan.

Hawa nafsu cenderung memerintahkan kita untuk melamun dan panjang angan-angan. Sedangkan akal memerintahkan kita untuk berpikir dan mempertimbangkan. “Nafsu itu jangan kau bunuh, sebab jika dibunuh, ya kita tidak punya iradah. Tidak punya kemauan beribadah. Hanya saja, nafsu itu harus dijinakkan. Jangan dibiarkan.

Cara yang dapat dipaksa untuk menjinakkan hawa nafsu ada tiga. Pertama, mengekang keinginan. Kuda Binal akan menjadi lemah jika dikurangi makanannya. Kedua dibebani dengan beribadah. Sebab kuda pun jika ditambah bebannya dan dikurangi makannya akan tunduk dan menurut. Lalu ketiga, berdoa dan memohon pertolongan Allah.

Karena wasiat Allah hanya diberikan kepada orang-orang takwa. Takwa out merupakan tujuan akhir.

Takwa mengandung tiga pengertian:

#1. Dan hanya kepada Allah kamu harus bertakwa. (QS. Al Baqarah 41).

#2. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari saat itu kamu sekalian dikembalikan kepada Allah (QS Al Baqarah 281).

#3. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepadaNya… (QS Ali Imron 103).

Takwa juga mengandung makna taat dan takut. Menurut al Ghazali, takwa adalah menjauhi segala yang halal secara berlebihan. Bertakwa kepada Allah hendaknya mampu menjaga lima anggota tubuh, mata, telinga, hati, lidah, dan perut. Agar anggota tubuh tidak melakukan perbuatan mudharat. Agar tidak selalu ingin berbuat maksiat.

Yang dikhawatirkan mendatangkan mudharat agama itu dua macam. Pertama, perbuatan maksiat dan seuatu yang nyata haram. Kedua sesuatu yang dihalalkan tetapi melampaui batas. Berlebih-lebihan. Perbuatan yang seperti ini akan menyeret seseorang kepada sesuatu yang haram dan maksiat. Sebab ada dorongan nafsu yang kuat. “… Jika kalian mendengar orang misuh, lalu kok asyik didengarkan, maka kalian juga dianggap berbuat misuh.” Pilihlah jalan tengah di antara jalan-jalan yang ada, dan jauhi simpangan-simpangan meragukan.

Dari sekian anggota tubuh yang paling usil dan paling banyak menimbulkan kerusakan adalah mulut. Tapi, bagiku sangat sulit meninggalkan sepatah kata yang tidak perlu. “Wahai lisan, jika engkau berbuat baik, maka kami pun menjadi baik. Jika engkau berbuat jahat, kamipun terpaksa berbuat jahat pula…”

Syair Ibnu Mubarak Ra. Berbunti demikian, “Ingatlah! Jaga mulutmu, sesungguhnya mulut itu mempercepat kematian. Dan lisan merupakan cermin hati seseorang yang bisa menunjukkan kadar akalnya.”

Seseorang tidak dapat terlepas dari dua hal dalam berbicara, ucapan yang diharamkan dan yang mubah, keduanya mengandung keburukan. Hati dan kalbu itu pusat segala-galanya. Sabda Nabi, Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan kulitmu, melainkan melihat batinmu.” Bukan pusat perhatian, tapi pusat penilaian.

Sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya dalam jasad manusia terdapat segumpal darah yang jika keadaannya baik, maka baik pula seluruh anggotanya. Jika keadaannya rusak, maka rusak pula seluruh anggota badannya.”

Hati merupakan objek bisikan dan desas-desus yang sukar ditahan. Sukar pula dijaga. Setiap detik hati berjalan dengan segala rencananya. Sedangkan hawa nafsu cepat sekali menyambut dan menurutinya.

Malaikat mendorong untuk berbuat baik, sedang setan selalu menghalang-halanginya dan mengajak keburukan. Mereka saling membisikkan kepentingan masing-masing.

Perut itu ibarat mata air dan merupakan sumber tenaga bagi seluruh tubuh. Allah tidak akan menerima ibadah salat seseorang yang di dalam perutnya penuh makanan haram.

Dampak buruk dari makanan dan minuman secara berlebihan ialah dapat menimbulkan kebimbangan. Daruquthni berkata, “Jika engkau menginginkan di antara kebutuhan dunia dan akhirat, jangan makan dulu sebelum tercapai maksud itu. Sebab, makan menjadi pikiran lesu.”

Ada empat keburukan yang berpangkal dari hati: khayalan, seakan-akan panjang usia. Kedua, serba terburu-buru tanpa pertimbangan. Ketiga iri dan dengki pada orang lain, keempat, tekabur atau sombong.

Serendah-rendahnya penyakit hati, seremeh-remehnya penyakit hati ialah hati yang keras, yaitu yang tidak mau menerima nasihat. Sedangkan penyakit hati yang besar dan buruk adalah kufur. Ingat, iblis dilaknat Allah karena takabut, enggan menghormati Adam AS.

Pokok dari ibadah itu wara’ yang artinya teliti dan hati-hati dalam segala sesuatu, setiap kepentingan dilakukan dengan secukupnya: tidak berkurang dan tak berlebih-lebihan. Hadis Qudsi tentang kebesaran dan keagungan adalah kain Allah. Artinya kebesaran dan keagungan merupakan sifat tertentu yang hanya dimiliki Allah. Tidak brhak manusia memilikinya. Artinya, manusia tidak berhak untuk sombong.

Rejeki ada empat macam: rejeki yang dijamin, rejeki yang dibagi, rejeki yang dimiliki, dan rejeki yang dijanjikan Allah. Memang manusia tidak ada jalan (asal) yang tetap dalam mencari rejeki. Karena manusia tidak tahu jalan atau asal rejekinya, manusia hanya mampu melaksanakan ikhtiar (usaha), manusia tak tahu bentuk rejeki yang didapatkan.

Tawakal berarti percaya kepada Allah, dan hanya kepadaNya kita mengharap sesuatu. Tawakal memelihara hati nyang hanya ditujukan kepada Allah. Karena itu menentukan sesuatu yang buruk dan yang baik hendaknya bergantung padaNya. Bahagia yang langgeng itu ada, tetapi ibarat mutiara. Cara mendapatkan mutiara yang baik harus menyelam ke dasar laut. Kalau sudah mendapatkan kerang, lalu dibuka dan didalamnya mutiara, begitulah mendapat bahagia yang langgeng, dan itu susah.

Iman, Islam, ihsan adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Jadi mengimani saja tanpa berbuat atau mengerjakan amalan-amalan, ya tidak boleh. Kalau begitu untuk apa agama. Lagipula, tak mungkin orang menemukan tuhannya tanpa agama. “Hidup bahagia dan tidak terlalu banyak menanggung bahaya adalah hidup yang mempunyai prasangka baik, artinya mempunyai pengharapan baik, cita-cita baik, angan-angan teguh, jangan memikirkan sesuatu sebelum terjadi…”

Puisi ciptaan Al Kathal, penyair Nasrani di zama Khilafah Bani Umaiyah: “Manusia itu semuanya cinta umur panjang / Padahal tidaklah kulihat umur panjang hanya menambah tolol belaka / Kalau engkau hendak membanggakan harta benda / tidaklah ada harta benda yang melebihi amal shalih.”

Yang dimaksud membaca adalah berpikir, mengkaji, menyelidiki terus-menerus ayat-ayat . adapun ayat Allah bukan hanya Al Quran, tapi juga tanda-tanda di sekitar ini. termasuk diri kita sendiri.

Pada akhirnya, ujung cerita adalah membahas mati. Kematian iradat adalah kematian kemauan dari dunia yang tak berguna. Yaitu mengambil yang perlu saja. Siapa yang takut menghadapi kematian berarti takut menempuh kesempurnaan. Maka banyak kiai salaf bilang, mati adalah kesempurnaan hidup. Dengan mati, orang akan sampai puncak ketinggiannya.

Mengingat kematian menurut ulama salaf justru melapangkan pikiran. Di saat sempit, di saat sedih, jika ingat mati maka hati jadi lapamh. Kehidupan ini hanyalah palsu saja, hakekat hidup yang sebenarnya adalah kematian. Kematian selamanya tetap menjadi suatu misteri.

Ada tiga jenis manusia ketika mati. Pertama, memikirkan bahwa kematian seperti suatu zaman bahagia, hidup ini pelepasan perbudakan, menganggap hidup hanya sejekap. Kedua, mereka yang sempit pandangannya. Perjalanan hidup penuh kedengkian, kotor, yang telah tenggelam duniai. Ketiga, golongan yang di antara keduanya. Orang yang tahu tipu daya duniawi, tapi masih suka duniawi. Tak mampu menahan hawa nafsu.

Kata ‘shufi’ di seluruh buku sudah saya sesuai jadi ‘sufi’ dan ‘tasauf’ menjadi ‘tasawuf’ di catatan ini. Sayangnya, banyak typo. Mungkin karena dicetak indie, tapi tetap saja editor dan prof-reader harus ada. Saking banyaknya, bisa jadi tiap lembar ketemu. Termasuk salah cetak, ada dua halaman penuh isinya dua layer saling timpa sehingga dobel tulisan.

Buku sufi yang santuy, sederhana, tapi dikemas meriah. Saya suka.

Jejak Sufi Modern | by Abu Jafar Alqalami | Editor Drs. Bambang Marhiyanto | Setting dan Lay out Fajar Jaya Mitra Pressindo | Desain sampul Wawan Kurniawan | Pencetak dan Penerbit Jawara Surabaya | Cetakan 1, 2000 | Skor: 4/5

Karawang, 121222 – 231222 – Barry Manilow – Can’t Smile Without You

Thx to Ade Buku, Bandung

Desis Kata Kata

Seekor ular berdesis desis di kepala / Membisikkan sebaris kata kata / PAda sepasang telinga yang terkulai / Dan mata berat terkantuk kantuk / Was wis wus, was wis wus.” – 5 Desember 2012

Salah satu hal yg kusuka adalah membaca karya acak tak kukenal. Dan Paling senang menemukan hal keren tak terduga, ini salah satu buku puisi yg menyenangkan itu.
Nyaman di tiap belitannya.

Buku puisi lagi, beruntun saya ulas buku puisi. Sebuah kebetulan saja. Buku puisi cepat selesai dibaca, sebab tak ada kesinambungan narasi dari awal tengah akhir. Sepenggalan saja sehingga cepat dicerna, cepat pula dilupa. Tema utama sejatinya adalah perjuangan perempuan, bagaimana dahulu kala Kartini, Dewi Sartika, dan pahlawan perempuan lain mengabdikan diri dalam perjuangan persamaan hak. Menyinggung pula cara berpakaian. Zaman berubah tapi kelakuan purba sama. Lantas di zaman millennium ini, banyak perempuan yang menggadaikan kemerdekaannya demi materi.

Menyentil banyak profesi dari pelacur, pemain film, hingga pelayan klub malam. Ingatlah selalu perjuangan para pahlawan eahai kaum hawa. Dibawakan dengan banyak simbolis. Jelas, ini lebih baik dari Jari Tengah yang kemarin saya tuntaskan. Enak dibaca, tak vulgar sekalipun beberapa yang dikupas adalah nafsu.

PSK: “Di taman kota / Dua tubuh berpagut / Berbagi pesing” – 2011

Ditulis rentang waktu dua tahun 2011 – 2012 dan terbit tahun berikutnya. Tahun di mana saya menapaki perjalanan langkah baru kehidupan. Langkah menembuh jenjang perkawinan. Dari penilaian saya yang awam syair, beberapa memang tampak biasa, atau terlampau biasa.

Hujan Pagi Hari: “ SapaMu lembut / lewat hujan yang tercurah / sepagi ini. sejuk menyelusup / dis etiap ruang rumahku / di ruang batinku // Tuhan / terkantuk-kantuk aku / mengeja pesanMu – Februari 2012

Ini yang lumayan Ok.

Bulan di Permukaan Kolam: “BErkaca bersama bayang bulan / Yang jatuh di permukaan kolam / Sebentar goyang / Dimainkan riak air / Lalu diam” – 5 Desember 2012

Susah memang mencipta puisi berkualitas konsisten. Yang hebat, buku 70 halaman ini dibuka dua pengantar, bukan sembarangan orang, dan satu kata penutup. Entah apakah mentor komunitas atau teman, atau mungkin lingkar pertautan sastra, yang jelas tak sembarangan, kumpulan puisi bisa mendatangkan esai pakar.

Kata pengantar oleh dua orang, pertama dari Tandi Skober. Mengupas isi puisi dari sisi feminism dan ingatan yang tertanam abadi. “Saya sependapat dengan diri saya bahwa sajak kudu memberi sesuatu, memetaforaisme dab bersifat heriditas fungsional.” Hani meyakini bahwa kumpulan ingatan adalah harta waktu tak berbentuk.

Kedua dari Maman S Mahayani, tentang suara hati. Mengutip Arminj Pane dan bagaimana Puisi adalah kata hati yang terdalam, suara jiwa dari sukma nun jauh di sana. Semecam ejawantah zaman Romantisme Eropa, “Puisi adalah limpahan perasaan yang meluap yang timbul dari renungan dalam ketenangan…”

Kata penutup oleh Dr. Asep Salahudin, MA tampak menggebu. Sebuah esai yang bernas, saya kutip salah satu paragrafnya, “Bukankah “keasadaran”, sejatinya merupakan tema yang mendominasi risalah kenabian, ilham para penyair, menjadi perhatian utama dalam refelski kaum filsuf dan sesuatu dicari peziarah ruhani (suluk) yang tanpa tepi. Kesadaran yang dijangkarkan dalam haluan ketuhanan (Nabi), akal budi (Descartes), moralitas (Kant), “ada” (Heideger), cinta kasih (Levinas), kuasa (Nietzsche), kebersamaan (Martin Buber), keterlemparan (Sartre), perbuatan nyata (Marx), absurditas (Camus), kemenyatuan Ilahiah (Ibnu Arabi), hulul (al-Hallaj), mabuk asmara (Adawiyah), marifat (Dzun Nur al-Mishri), atau manunggaling Kaulo Gusti (Syekh Siti Jenar).”

Yang jelas, dari pandangan ketiga pakar puisi tersebut, sepakat bahwa puisi pembuka Celanamu adalah yang terbaik. Saya kutip penuh:

Celanamu: “Maaf sayang, terpaksa aku rogoh / saku celanamu, biarkan tanganku menari / di dalamnya, sebab tak ada beras / untuk ditanak. Tak ada ongkos sekolah anak. / bah! Tak ada pula uang di sana. Bagaimana / kalau aku gadaikan saja isi celanamu?” – 2011

Tampak nakal, tampak simbolis. Mencari uang, menemukan ketiadaan, dan karena tak menemukan yang dicari, maka berniat menggadaikan isinya. Ironi, lucu, memikat. Buku kesekian fiksi lokal yang berhasil saya tamatkan di bulan ini demi 14 besar terbaik.

Buku kumpulan puisi memang layak dipajang di rak perpus keluarga, sebab suatu saat bila ingin mengenang bacaan, dengan mudah dibuka dan dinikmati kembali, termasuk Desis Kata Kata. Well, sungguh jarang saya menikmati penyair perempuan. Heni, bisa jadi pembuka kran itu. Moga diberi umur panjang, agar bisa mencipta karya-karya lainnya. Dan moga diberi umur panjang untuk bisa menikmati buku-buku puisi penyair perempuan.

Mendesiskan kata-kata.

Desis Kata Kata, Sepilihan Sajak 2011-2012 | by Heni Hendrayani | Komunitas SLS | Komunitas Sastra Lingkar Selatan, Bandung | Gambar kulit muka Foto Iqlima Diwanti Attarian | Desain sampul dan tata letak Irman Nugraha | Nomor: 02/KSLS-P/2013 | Cetakan pertama: 17 Februari 2013 | Skor: 4/5

Karawang, 16122 – Benny Goodman & His Orchestra – King Porter Stomp

Thx to Ade Buku, Bandung

Pak Janggut

“Akan jadi sarang kutu saja janggut itu, menambah-nambah kerja awak.”

Suka sama kesedehanaannya. Suka sama polanya yang mengalir lancar, beberapa mengundang tawa, beberapa getir. Bagaimana manusia zaman dulu mendapati nama panggilan. Orang berjanggut panjang, Pak Janggut. Orang berbadan kurus, Si Kerempeng. Orang berbadan gemuk, Bu Pan. Orang suka ceramah, Pak Ustadz, dst. Nama-nama yang didapat dari orang-orang sekitar, dari pergaulan, dari dampak sosial. Umum, dan sangat membumi. Untuk itulah, saya suka. Seri satra Nostalgia.

Nama aslinya Pak Daud, perantau sejak muda, dan saat senja ia menepi ke kampung halaman. Awalnya tak memiliki janggut, tapi karena tiap kenduri melihat orang-orang berjanggut diperlakukan istimewa sama tuan rumah, karena dituakan, karena dihormati, ia pun memeliharanya. Malahan jadi ikon, janggutnya lebar dan panjang. Dan begitulah, akhirnya warga memanggilnya Pak Janggut.
Istrinya Nyonya Fatimah menemani di hari tua, dipanggil Bu Rubu, saat makin tua jadi Nek Rubu. Sebab suatu ketika ada gerhana matahari yang menghebohkan warga, semua teriak dan kabur, dan berhamburan keluar rumah. Hanya rumah Pak Janggut gemetar ketakutan di dalam, Bu Fatimah yang panik kabur keluar rumah, berhamburan. Beberapa orang di jalan diseruduk, ia merubu hilir merubu mudik, ke mana ia akan lari, ia tak tahu. Kabar itu menyebar, dan sejak itulah ia dipanggil Bu Rubu.

Kisah sesungguhnya trejadi pada suatu siang, saat keduanya sedang menikmati hari, Pak Janggut yang giginya tinggal sebiji disuguhi sayur petai. Komplainlah ia, sebab gmana makannya. Komplain itu ditanggapi dengan gurau marah, zaman muda ia suka petai. Ih sekarang beda soal Rubu. Pak Janggut lantas pergi ke sawah, dan di sinilah petaka datang.
Ia jalan terus sampai ke tengah sawah, dan mendengar kodok-kodok bernyanyi. Karena masih marah, suara itu dianggap menyinggung. Dianggap mengejek, diambilnya batu, dilemparinya kodok-kodok jahanam itu. Apes, ia malah kena kencing segingga terjerebab sehingga basah sudah pakaiannya. Karena basah dan kena lumpur, ia pun berinisiatif melepas pakaian, hanya tinggal celana dalamnya. Lantas menjemur, sembari menanti kering, ia membakar api. Sejenis api unggun biar selain kena angin juga dipanasi, sekalian menghangatkan badan.

Di dangau-dangau itulah, api yang semula kecil, membesar, janggutnya terbakar. Kesal, dan lapar, ia tetap memutuskan melanjutkan ngambeknya. Lantas ia santuy dekat api, rebahan yang melalaikan. Saat tertidur itulah api menyambar pula ranting dan benda kering lainnya, mencipta api besar, kebakaran. Haha, apes.

Sementara itu dari pusat desa melihat api berkobar di dangau, heboh. Bergegas datang, warga berbondong-bondong memadamkannya. Yang tersisa dari kebakaran itu adalah pakaian Pak Janggut, dan salah satu warga mengetahui identitasnya. Mereka mengira Pak Janggut adalah korban, binasa oleh api, sehingga mereka menuju ke rumahnya, Nek Rubu yang tak tahu apa-apa heran, banyak orang ke rumah, dan setelah mendengar penjelasan kemungkinan Pak Janggut tewas dilalap api.

Padahal Pak Janggut yang terbangun, saat ramai menyaksi warga memadamkan api, sembunyi. Takut di-massa. Ia lantas mengendap-endap pergi, karena hanya memakai cangcut, ia lalu berinisiatif ke rumah saudaranya untuk pinjam baju.
Naas, di situ dikira maling. Gelap-gelap, mengendap. Kentongan segera dipukul bertalu, dan warga kembali mengerumun menangkapnya. Menggelandangnya, dan butuh waktu untuk kembali menjelaskan duduk masalah. Saat semua dijelaskan, tertawalah semuanya. Ini berpangkal dari sayur petai! Hehe…

Ini jelas masuk cerita komedi. Setelah kejadian itu, ada kasus unik lainnya, misal gigi tunggal-nya yang mencoba memecah petai lantas tanggal, sementara ada maling bernama tunggal yang sembunyi di balai, mengira ia ketahuan. Lantas kabur, dan Pak Janggut heran.

Begitulah, cerita rakyat dengan kearifan loka. Diterbitkan di masa Kolonial dengan segala kesederhanaan. Kentongan misalnya, untuk memanggil warga dan memberitahu ada bencana. Atau ketika Pak Janggut memutuskan memelihara janggut agar tampak bijaksana demi makanan, dst. Di zaman now jelas hal-hal itu tak ada, serba instan.

Ini adalah terbitan Balai Pustaka, jadul. Bagus untuk nostalgia, bacaan tipis dan memberi petuah tanpa menggurui. Membumi, dan jenis buku-buku yang dipajang di rak perpustakaan sekolah. Dibaca cepat, diselesaian instan. Tak masalah, saya akan membacai semua jenis buku, dan beberapa bacaan sejenis terbitan BP sudah tersedia. Pak Janggut yang malang, Pak Janggut yang kocak.

Aman Datuk Majoindo lahir di Supayang, Solok, Sumatra Barat. Lulusan Sekolah Raja di Bukittinggi, HIS di Solok dan mendapat diploma Klien Ambtenaar. Tahun 1919 menjadi guru di Padang, dan tahun 1920 – 1932 bekerja di Balai Pustaka. Meninggal di Sirukan, Solok, Sumatra Barat.

Pak Janggut | by Aman Dt. Majoindo | Penerbit Balai Pustaka | BP No. 1310 | Cetakan pertama – 1938 | Cetakan ketujuh – 2007 | viii, 68 hlm., 21 cm: Seri BP No. 1310 | ISBN 979-666-202-7 | Tat letak Sakun | Desain sampul Arditya | Skor: 3.5/5

Karawang, 201222 – Andre Previn, Herb Ellis, Ray Brown, Shelly Manne – I Know Oh So Well

Thx to Ade Buku, Bdg

Egoisme Bertopeng Adat, Budaya, Hukum, Agama, dan Semua yang Muluk Lainnya

Persiden by Wisran Hadi

“Sepertinya pada setiap pojok kehidupan kita ada misteri. Dan kita tidak dapat memecahkannya sendiri-sendiri. Kukira itulah sebabnya Rangkayo tidak dapat menjawab secara pasti apa yang kau tanyakan.”

Macam-macam cara orang mencoba mencari jalan keluar dari hukum dan peraturan. Kenapa kesalahan orang lain tampak begitu besarnya, sedang kesalahan sendiri selalu ditutup-tutupi? Kenapa mereka tak menyalahkan diri sendiri, bahwa semua itu akibat orang-orang tua membuat jarak dengan orang muda.

Persiden adalah tempat segalanya. Dan dimula kita disuguhi sudut-sudut lain tempat itu. Seperti rumah warisan yang tua yang juga pusat segalanya (bagi keluarga), persiden menua dihajar perkembangan zaman, dan juga semua penghuninya. Antara Saraung dan Persiden seperti kehidupan hitam putih. Selalu berkerlap-kerlip dalam diri orang-orang muda di sana. Satunya surau penuh pengajian, satunya tempat dugem. Sarauang adalah benteng kedua setelah Rumah Bagonjong. Hitam putih yang jelas bukan? Namun bagaimana kalau dari surau itulah muncul kasih terlarang?

Luar biasa. Menggetarkan. Butuh waktu lama untuk loading masuk ke cerita sebab awal mulanya agak boring. Mencerita keadaan Persiden dan sekitar. Pengantar yang nyaris membuat pesimis. Untuk kubaca cepat, tiga hari 3, 4, 5 Dec 2022 selesai. Jadi mood untuk terus berada di pusaran kisah terjaga. Konfliks keluarga, sebuah keluarga ternama menemui titik kehancuran sebab antar saudara terjadi gap. Empat lelaki dan satu perempuan, saat salah satunya punya anak, semuanya seharusnya memiliki rasa kuat saudara, saling mengingatkan, saling melindungi, sebab otomatis keempatnya jadi paman. Namun sayang, keponakan tersayang terlahir dari perbuatan zina. Malati, anak solehan yang jadi juara pertama mengaji itu hamil di luar nikah, kasih terlarang dengan guru ngajinya. Melahirkan tersembunyi, lalu keluarga ini ribut. Persoalan Malati telah melanggar dua hal penting, adat dan agama. “Globalisasi hanya boleh berlaku dalam dunia ekonomi dan politik, tapi tidak dalam budaya dan agama.”

Begitu pula endingnya, butuh loading lagi untuk masuk ke pengandaian yang acap kali disampaikan, tak sekali dua kali tapi berulang. Ibarat lubang cacing, tindakan apa yang mungkin kita ambil ke masa depan, kita tak bisa memilih lebih dari satu, jadi pengandaian. Umpamanya mengambil keputusan ini, akibatnya ini. jika memutuskan itu maka konsekuensinya itu, dst. Bikin kzl, tapi memang kehidupan kan seperti itu. Selalu bisa mengandai.

Mereka hanya kakak beradik lima orang. Empat laki-laki dan seorang perempuan. Keempat laki-laki begitu akrab, bercanda, berdebat, dan berdiskusi tentang persoalan. Namun keempatnya tidak bisa berbuat apa-apa di Rumah Bagonjong beserta segala persoalan yang terjadi di sana.

Banyak hal lantas dikupas. Bagaimana kehidupan dan masalah masing-masing orang. Si sulung Pa Tandang yang gagal mengkoordinasi adik-adiknya. Seorang realistis, tak percaya hal-hal gaib, pikiran selalu mencoba rasional. Kenapa agenda yang dibuat Pa Tandang menjadi begitu luas, rumit, dan sulit untuk dilaksanakan? “Bagiku, saudaraku adalah mereka yang mau seia sekata denganku. Yang mematuhi ketentuan yang kita sepakati bersama…”

Pa Rarau yang merantau, coba melupakan keruwetan di kampung halaman. Pulang sesekali untuk ikut rembug, berkali-kali pula tak membuahkan hasil. Ia dipanggil, diajak diksusi, lantas tindakan apa yang pantas diambil. Namun sayang, masa-masa mudik yang seharusnya berharga untuk nostalgia, malah dibumbui masalah pelik. Pa Minke yang galau akibat keuangan yang kurang Pa Ragih yang juga galu akibat pilihan dan beban hidup yang meningkat.

Dan pusatnya ada di Ci Inah yang menggadaikan rumah warisan demi menjadi anggota DPRD. Memiliki anak perempuan satu-satunya, yang cerdas tapi melakukan kesalahan sehingga memiliki anak di luar nikah. Dan segalanya meliar, seolah semua ingin memberi jalan yang baik dan bijak.

Dengan budaya Minangkabau yang kental, sisi adat sejatinya paling kental. Sekalipun, sindiran terhadap pemerintah juga sesekali muncul. Kalau mau jadi pegawai negeri yang penting adalah ketrampilan, bukan ijazah. Tidak sulit untuk jadi pegawai negeri. Menjadi orang yang dapat bekerja sendiri, mandiri, dan tidak bergantung pada orang lain, itu yang sulit.

Dan juga agama, Islam sebagai kepercayaan mayoritas melarang zina. Agama mengajarkan bahwa seorang ayah bertanggung jawab kepada anak-anak dan istrinya sampai ke akhirat, tetapi bukan kepada dik atau kakak. Maka, saat perselisihan dengan saudara, ada sisi ajar, tak perlulah terlalu dalam. Yang utama dalam kepelikan ini adalah anak istri.

Kisahnya sendiri berlarut, pencarian Malati, pencarian anak Malati, pencarian suaminya (kalau sudah nikah siri), dan pencarian lainnya. Seolah melawan tembok, hampa. Seperti yang telah disepakati, semua persoalan ini ditutup. “Kita bisa jadi gila dengan main kucing-kucingan seperti ini.”

Ada bagian yang begitu menyentuh, sekaligus bikin geger dan geram. Bagaimana ada anak ngaji yang cantik, menjadi pacar seorang anak Persiden. Remaja alim yang naas, meninggal dunia tertabrak kendaraan. Saat di kamar mayat, geger sebab dia memakai kalung salib! Pihak keluarga ingin memakamkan dengn tata cara Islam, sementara jamaat Kristen yang mengklaim bahwa ia adalah umatnya meminta dikremasi di Gereja. Mungin pertikaian di depan pintu kamar mayat itu akan merebak menjadi pertikaian antaragama, pertikaian yang sangat sensitive, rawan, dan sulit untuk diredam dalam waktu yang singkat.

Kritik sosial juga diapungkan, bagaimana zaman sekarang tayangan tv banyak merusak. Cerita sinetron hanya impian-impian orang miskin terhadap kehidupan yang mewah dan kaya. Kehidupan orang-orang superkaya yang sudah kalau balau rujukan adat, agama, dan budayanya. Cerita sinetron secara perlahan dan pasti adalah cerita yang membakar-bakar nafsu agar orang berbuat zina.

Pertentangan antar golongan tampak dengan jelasnya. Anak-anak Persiden berbadan kurun karena kurang makan, anak Pila kurus karena kecanduan obat terlarang. Anak-anak Persiden berani dan suka berkelahi, anak Pila tidak mau bertarung. Mereka lebih suka membayar anak-anak Persiden untuk keamanan dirinya. “Dosa? Abang, abang. Dimana-mana dosa tersedia. Tinggal lagi pada orangnya. Sekarang semua orang bebas memilih. Juga memilih mau berdosa atau tidak. Ah, itu, kan, bahasa kita sewaktu mengaji di surau.”

Dibuat dengan pola unik, dimana berulang kali pencerita menyebut Bung seolah pambaca adalah pendengar. Ia bercerita, mengurai masalah, bernarasi panjang lebar, dan kita diposisikan sebagai pengdengar, pengamat, serta penganalisis. Padahal ini adalah media buku, kita hanyalah pembaca. Namun tidak, kalian tak akan turut pusing, duduk dan simaklah. Sekalipun pilihan-pilihannya sulit, sejatinya semuanya ini menggelinding nyaman, seperti kehidupan ini, waktu akan terus bergerak, suka tak suka, pahit manis, segalanya dilintas sang waktu.

Jadi sejatinya, mengapa mereka getol menolong Malati? Apakah demi adat? Ataukah agama? Kedua pertanyaan itu juga sulit untuk tidak ditanyakan karena kebenaran yang mereka pertahankan punya kepentingan sendiri-sendiri.

Pada akhirnya semua kembali ke pribadi masing-masing. Apakah sejatinya tujuan hidup ini. mengapa begitu egois memertahankan pendirian, sementara sisi luar begitu keras menentang. “Rakus, kita berantakan karena masing-masing kita rakus, rakus dengan segalanya.”

Sebagai novel unggulan DKJ 2010, Persiden kurasa sangat pantas. Menghibur, sangat menyenangkan. Dan novel menyenangkan, perlu mikir. Kita disuguhi banyak sekali masalah sekalipun kutatnya jelas konfliks keluarga, tapi jalan keluar itu sungguh-sungguh rumit. Buku pertama beliau yang kubaca, dan jelas masuk daftar penulis yang buku-bukunya wajib antisipasi.

Persiden | by Wisran Hadi | Cetakan pertama, Mei 2013 | Penyunting Dhewiberta | Perancang sampul Fahmi Ilmansyah | Pemeriksa aksara Intan Ren, Neneng | Penata aksara Supardi | Penerbit Bentang | xvi + 380 hlm; 20.5 cm | ISBN 978-602-8811-39-2 | Skor: 4.5/5

Karawang, 201222 – Dee – Firasat

Thx to Anita Damayanti, Jkt

Z z z

Avatar: The Way of Water by James Cameron

“Ini bukan skuat, ini keluarga.”

Sesudah segala prestasi yang Avatar capai, sejatinya mereka perlu arah baru. Teknologi berkaitan dengan fakta-fakta, sedangkan moralitas menyangkut nilai-nilai. Kedua hal itu tidak sama, dan tidak tumbuh bersama. Tapi ya bukan seperti ini Om Cameron, bukan menggunakan pengulangan formula simbah yang usang.

Ya ampun Avatar. Z z z… tiga belas tahun menanti dan hanya menghasilkan cerita buruk. Buruk sekali. Selama ini ngapain aja? Fokus kembangin teknologi hingga lupa bahwa cerita itu nomor satu! Tiga jam yang sungguh-sungguh melelahkan. Terasa disiksa. Sebab telepon genggam saya sembunyikan dalam tas, agar fokus. Dan sedang tak memakai jam tangan, saya berulang-ulang tanya waktu sama Angga Em, temanku yang duduk di samping. Benar-benar terasa lama, plotnya lambat, sungguh tersiksa. Amburadul dari sisi cerita, terlalu sekali. Ini sudah sesi dekade ketiga abad 21, tema belas dendam masih saja dianut. Ditampilkan dengan begitu monoton, buruk, sampai-sampai ketika seorang karakter mati, tak ada rasa sedih. Sudah terlambat untuk menautkan emosi, jalinan kisahnya sungguh riskan, seperti tautan kepada hewan-hewan fantasi. Rapuh.

Kisah langsung berlanjut dari Avatar (2009), bagaimana Jake Sully (Sam Worthington) sebagai Avatar bertahan di planet Pandora, hidup bersama pasangan Neytiri (Zoe Saldana) dan memiliki 4 anak: Neteyam, Lo’ak, Tuk, dan putri angkat Kiri. Satu lagi anak manusia yang terlahir di Pandora ikut diasuh, Spider sehingga sepanjang film di tanah biru mengenakan topeng kaca. Ia dipanggil si Monyet, tampak tampil beda sendiri. Manusia di antara makhluk biru. Begitulah, makanya jadi manusia jangan rasis dah.

Kedamaian yang diimpikan tentu tak kan bertahan selamanya, dan saat mata menengadah ke langit menyaksikan cahaya datang, saat itu manusia langit datang untuk kembali melakukan invasi. Kali ini ada teknologi di mana avatar bisa dimplan jadi klona, ingatan manusia ditanam dalam kepala avatar, namanya Quaritch. Salah satu yang berhasil adalah musuh lama, Kolonel Miles (Stephen Lang) yang kembali, memiliki misi balas dendam. Pantang mundur sebelum misi tuntas. Mungkin salah satu adegan haru, saat ia meremas tengkoraknya sendiri.

Dikarenakan teknologi makin canggih, dan Spider yang tertangkap akan memberitahu keberadaan Jake, serta mengancam kaum Omaticaya maka keluarga Jake memutuskan hijrah. Hijrah ke terbang jauh, di negeri laut Metkayina yang ada di sisi Timur Pandora. Makhluk air berwarna hijau. Dan begitulah, orang hutan ini beradaptasi dengan lingkungan air. Yang pertama terbayang adalah, bangsa Eropa melakukan perjalanan jauh ke tanah Amerika. Dua kaum bertemu, dua ras bersatu. Pengandaian sejenis itulah.

Tinggal tunggu masa, pasukan Miles datang bersama misi perburuan otak ikan raksasa. Apakah kali ini Miles berhasil membalas? Ataukah Jake dan kawanan barunya mampu bertahan dari gempuran? Well, silakan buktikan sendiri kehebohannya. Saya sih nonton di 2D jadi sensasi nyolok mata, terjun ke laut tanpa basah, hingga magic sinema (katanya), tak terlalu berasa.

Saya sudah tidur dua jam sebelum kick-off agar dapat kesegaran, agar feel dapat, agar fresh menyelam. Nyatanya malah booring. Bikin kembali ngantuk. Sudah sengaja cuti demi menuntaskan misi penantian 13 tahun, biar nonton di hari pertama, nulis ulasan di mula rilis, hasilnya meh.

Beberapa yang patut disayangkan. === mungkin ada spoiler ===

#1. Tidak ada sentuhan humor. Apapun genre-nya sentuhan humor itu penting. Masa tiga jam, hambar sekali. Ada dua scene selipan lumayan, itu cuma bikin senyum dua detik masing-masing. Adegan si bungsu yang kembali ditangkap ikat (penonton lain sih yang ketawa), dan pertama kali mereka tiga di komuni laut, muncul cewek seksi yang menggoda (penonton lain juga sih yang terkikik).

#2. Misi utama balas dendam. Ya ampun, manusia sudah bisa klona, teknologi sudah secanggih itu, membuat pangkalan di planet lain, mencipta robot-robot tempur, pesawat melawan gravitasi, hingga kemampuan penaklukan. Masak misi utama film ini balas dendam, dengan duel satu versus satu di ujung. Alamak, basi sekali. Bisa ga sih lebih berbobot?

#3. Manusia jahat dan bodoh. Manusia di sini ini adalah bandit-bandit angkasa yang kasar dan bermulut besar, dan itu memberi aroganisme. Ok-lah banyak orang jahat di luar sana. Namun lihatlah para penakluk ini, manusia-manusia pilihan yang bisa menginvasi semesta, tapi logikanya bodoh. Ada kesempatan banyak sekali tembak mati makhluk baik biru atau hijau, tak dilakukan. Hello, kalian itu penjajah, bukan tamu apel malam Minggu. Sandera berulang kali dilakukan, mengancam, ngobrol dengan teriakan untuk negosiasi, hingga maaf – adegan buruk tangkap ulang lalu ikat itu. Konyol.

Mereka yang menobatkan diri sebagai makhluk unggul, yang mabuk dengan hiperbola makhluk kesadaran, terbius masalah kemajuan teknologi, keabadian, penemuan genetika dan teperdaya mitos, yang lantas menghidupkan mesin-mesin genosida, pemusnahan massal suatu makhluk, sekalipun di planet lain. Namun, menganalisis peluang saja masih kalah lebih pintar Danny Siregar menebak pertandingan bola.

#4. Spider dimunculkan, ditangkap, takluk. Memberi bantuan untuk ayahnya, guna membalas dendam lagi seri tiga? Mungkin. Sebagai ‘anak pengganti’ dan si pembeda. Namun fungsi membantu penelusuran tampak useless. Misi mencari Jake, ya ampun.

#5. Pengulangan. Ok-lah Avatar pertama tuh bagus dari banyak sisi. Termasuk cerita. Ada misi baik di sana, menyampaikan dampak buruk perang. Bahwa kolonialisme itu buruk, perang itu tak patut terjadi, hingga pidato perdamaian, kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa. Dan itu diulang + balas dendam itu tadi.

#6. Tak ada epic war. Film perang tapi tak war yang menarik. Yang datang kapal penangkap ikan, yang dilawan sepasukan kaum pribumi. Yang perang? Sekeluarga Jake versus sebagian kecil karakter. Yang jadi pertanyaan, kemana perginya kaum hijau? Dimula keputusan perang padahal menggelora, rajanya teriak lawan! Ini bukan skuat, ini keluarga. Lantas saat perang, senyap. Yang ada hanya keluarga Jake dan drama konyol penyanderaan. Dua kali. Setelah sedekade ini kita disuguhi film perang superhero berkelas dari Marvel, lihat pertarungan akhir film seperti lihat cekcok dua teman lama saling pukul manja. Blas ga ada serunya.

#7. Template remaja yang sahabatan, dihianati, lalu dengan bijak melakukan pembelaan terhadap pelaku bully seolah tak masalah berarti. Alamak, itu plot klise jadul sekali. Mungkin karena Cameron sudah tua, sehingga alur sejenis masih dipakai. Sungguh usang, bagaimana Neteyam yang dijorokin ke masalah lantas menganggap itu kejadian biasa. Dia masih remaja, tmpak angkuh dan keras kepala, dan fakta bahwa ayahnya pemimpin pasukan, status yang membuat tuan rumah sekalipun terpaksa menghormatinya. Namun seketika luruh dan merendah hati. Dasar sutradara tua.

Masih banyak hal yang bisa dijabarkan sisi negatif film ini, tapi tujuh kurasa cukup untuk semua saga, raksasa film belasan tahun penantian.

Biar imbang saya tulis sisi positifnya juga, mungkin yang utama adalah memanjakan mata saat pergulatan dalam air. Bahkan air laut sekalipun lebih tembus pandang daripada udara di tempat lain mana pun. Orang bisa terapung di air dan memandangi dasarnya yang jauh, dan dengan jelas melihat ikan-ikan antah, yang entah mengapa selalu disertai ikan-ikan flasfish mungil. Bercahaya, berbaris, bercanda.

Makhluk Pandora yang fantastis, hingga penuturan bak dongeng anak-anak. Bila Angkatan Perang wakil Bumi merupakan ujung tombak Kolonialisme, dan mengambil otak ikan sebagai berlian adalah misinya, maka makhluk-makhluk Pandora adalah bentuk imajinasinya. Melalangbuana, berdesis menggelitik mata. Kamu tidak bisa membuat telur dadar tanpa memecah kulit telurnya maka kamu tak bisa mengambil otak ikan tanpa membunuhnya. Ah, kejam nan satir.

Kiri. Cantek dan pencuri hati. Dia tahu dirinya cantik dan bahwa penonton pasti menganggapnya cantik. Maka pembuat film-pun sejatinya juga menempatkannya di posisi cantik. Sayang sekali, keistimewaan dalam air itu tak tereksplore maksimal. Dirinya adalah anomali, maka semua penonton menebak mau dibawa ke arah mana kekuatan istimewa itu. Sayang, malah sekadar penyelamat di ujung kisah. Tak meledak, tak berteriak. Melayang, terbang dalam air, itu saja.

Penamaan karakter yang unik bisa jadi nilai lebih lainnya, sampai hal-hal imaji menggelitik, seolah kita mendengarkan kakek bercerita. Sah-sah saja, dan itu menjadi salah satu daya dorong yang Ok. Kurasa Avatar 2 tak akan bisa melebihi angka penjualan tiket Avatar 1. Ingat, sebagus apapun promosi, kualitas film sangat menentukan jua. Promosi rekomendasi dari tulisan ke tulisan, mulut ke mulut, teman ke teman sangat efektif. Dan itu begitu menentukan angka akhir box office. Sangat disayangkan.

Terakhir, memang penilaian akhir setiap orang berbeda-beda tergantung banyak faktor. Bisa selera (saya punya teman, asal film ada ledakan akan dinilai bagus), bisa genre (saya punya teman asal filmnya merenung akan dibilang wow), bisa pula hal remeh temeh seperti pemandangan indah sekali (kasih dia 11 bintang dari 10, Stephen!), walaupun dari segi cerita ambyar berkeping. Maka dari itulah, saya tak akan menganggap pemuja pemandangan eksotik sinema menyambut Avatar 2 dengan pujian lebai seperti anjing yang melompat kegirangan menyambar makanan. Oh, dan ekornya bergoyang.

Avatar: The Way of Water | 2022 | USA | Directed by James Cameron | Screenplay James Cameron, Josh Friedman, Amanda Silver, Shane Salerno, Rick Jaffa | Cast Sam Worthington, Zoe Saldana, Sigourney Weaver, Kate Winslet, Stephen Lang, Vin Diesel, Michelle Yeoh | Skor: 3/5

Karawang, 161222 – Cab Calloway & His Cotton Club Orchestra – Minnie the Moocher

Kutonton dengan teman kerja 14.12.22. Thx to Rani. Skom, Abay Maulana, Icha Rechiana, Leni Cantik, dan Angga Em.

Malam yang Gerimis dan Sedikit Dingin


Jari Tengah by Alfian Dippahatang


“Kamis yang manis / di tengah gerimis malam, / tubuh ini masih pelan kau patuk. // aku sudah jadi mangsa / untukmu hilangkan lapar. // tetapi kau, // ular yang lamban / membuatku meringis di puncak // bisamu agak bening // – kukeluarkan dengan / jari tengah dari // lubang hidupku / tempatmu mencicipi harta / melebihi emas, // tertimbun / ribuan tahun dalam tanah. – Jari Tengah

Cuma kumpulan puisi berisi 50 halaman yang so so. Apa yang bisa diharapkan dari liukan kata yang mendeiskripsikan hubungan badan? Di kamar, berdua telanjang, bercumbu, bercinta, dan jalinan asmara samar dan ragu para pemuda. Walaupun dibalut dengan kata-kata manis dan bumbu penyedap yang mengulali, tetap saja isinya zina. Mau dibungkus dengan mahligai puitik yang coba mengadu harapan dan kecemasan, tetap saja hubungan ini tak serta merta dibenarkan. Tepat rasanya, siapa yang pernah bilang dulu, bahwa sastra memang mendewasa dengan iringan usia. Pengalaman akan menempa, pergolakan batik yang tua akan lebih terasa mengena. Saya merasakan, ini pengalaman cinta Penyair yang hijau sehingga cinta cumbu terasa nikmat seolah petuah mantra, “nih, aku bisa berzina, nih aku bisa menaklukan seorang perempuan.” Yang jadi tanya, siapakah dia? Kekasih? Teman tapi mesra? Pelacur? Ataukah wanita cinta satu malam? Atau lainnya? Tak disebutkan. Bahwa ia berhasil menggaet celana dalam perempuan, memasukkan jarinya ke vagina. Bahwa ia berhasil melepas kait HB dan mencucup isinya. Bahwa ia berhasil menidurinya di kamar hotel. Adalah fakta di buku tipis ini.

Buku setipis ini, dibaca cepat dan gegas. Tak berasa. Mungkin karena memang puisi bukan genre saya, dan kelemahan umum puisi adalah narasinya kurang. Belum dibangun bentuknya, terlanjur tutup. Jangan salah, beberapa maestro puisi yang pernah kubaca, bangunan narasinya baguuss baguuuuus. Beberapa bikin takjub. Nah, feel itu tidak kudapatkan. Narasinya malah vulgar, walaupun tak semuanya. Kubaca lirih dan kencang pun rasanya sama. Memang biasa saja.

Yah, maklumi saja. Masih labil usianya. Masih menggebu merintis sensasi pengalaman seks.

Jari Tengah II pembuka contohnya: “Kau nikmati / dada erika yang menonjol / seperti menyeruput air kelapa muda // di siang terik…”

Renung: “tanganmu pernah berkelana ke celana dalamnya. / kau bangkitkan raksasa yang mampu merusak / dan memperbaiki dunia…”

Siaga: “… di kamar yang pernah membuatmu sama-sama telanjang / saat rembang petang, kini membangun kesunyianmu…”

Seumpama Buah: “… kau labuhkan bibirmu / ke lehernya. / kau menggigit tubuhnya seumpama buah. // kau raba dan menusuk / kelaminnya dengan hari tengah…”

Dan seterusnya. Masih banyak dan dominan. Apakah hal seperti ini dilarang? Oh tentu tidak. Sah dan bebas. Hanya tak nyaman saja. Hanya tak bagus saja. Belajar dari penyair besar, Joko Pinurbo contohnya, dalam satu satu bukunya “Malam ini Aku Tidur di Matamu”, di puisi berjudul “Gadis Malam di Tembok Kota”, saya kutip sebagian: “Ini musim behari. Kupu-kupu berhamburan liar / mencecar bunga-bunga layu yang bersolek / di bawah cahaya merkuri. Dan bila situasi politik / memungkinkan, tentu akan semakin banyak / yang gencar bercinta tanpa merasa perlu was-was / akan ditahan dan diamankan // “Merapatlah ke gigil tubuhku, Penyair. / Ledakkan puisimu di nyeri dadaku.” / “Tapi aku ini bukan binatang jalang, Kitty. / Aku tak pandai meradang, menerjang.”

Lihat, eksotik sekali bukan. Sama-sama menggambarkan percintaan, tapi jelas jauh sekali gap kualitas penyampaiannya. Memang butuh jam terbang untuk ‘bercinta’. Dan Jari Tengah hanya bermain aman.

Kubeli buku ini karena masuk nominasi Kusala Satra Khatulistiwa (KSK) 2021 saja. Beli paket Basa Basi dapat tiga buku. Revolusi Nuklir, kumpulan cerpen lumayan bagus. Enak dan nyaman. Jalan Malam, kumpulan puisi bagus banget. Apalagi narasinya baik, dalam artian reliji menggetarkan. Perenungan hidup, hingga filsafat. Benar-benar bermakna. Jelas dari ketiganya Jari Tengah kalah segalanya.

Tak mengapa, memang paket ini membonuskan diri. Hadiah kerja.

Jari Tengah, kumpualn puisi | by Alfian Dippahatang | Editor Arco Transept | Pemeriksa aksara Daruz Armedian | Tata sampul Mita | Tata isi @kulikata_ | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, Juli 2020 | Penerbit Basabasi | x + 52 halaman, 12 x 19 cm | ISBN 978-623-7290-89-6 | Skor: 2.5/5

Karawang, 131222 – Dee – Cicak di Dinding

Thx to Intan CP & Basabasi Store

Laut Sudah Tidak Kelihatan Lagi


1Q84 Jilid 2 by Haruki Murakami

“Baiklah kalau begitu, sampai jumpa entah di mana.” ucap Tamaru. / “Sampai jumpa entah dimana…” ulang Aomame secara refleks.

Dunia nyata yang menuh robekan, ketidaksesuaian, dan antiklimaks. Karena ini buku 2, endingnya masih menggantung. Masih tanda tanya besar. Seperti buku satu yang bernarasi dengan sudut bergantian: Tengo dan Aomame, di 1Q84 jilid 2 kita diajak berpetualang langsung lanjut, bulannya maju ke xx. Keputusan besar Aomame yang mendapat tugas membunuh sang iman akhirnya dilakukan, Tengo yang krisis identitas, mencari jawab sejatinya apakah anak kandung, sehingga kunjungan ke bapaknya di wisma panti jompo, akhirnya menemui titik temu. Masalahnya, kedua kejadian besar itu dipenggal di akhir. Misteri kepompong udara yang muncul, serta pencarian lubang cacing di tangga darurat di tol Metropolitan menjadi kejutan fantastis. Aomame si keren seperti biasa. “1Q84, aku sedang hidup pada tahun yang disebut 1Q84, bukan tahun 1984 yang sesungguhnya.”

Sebenarnya polanya masih sama, atau bisa dibilang miriplah. Sudut pandang bergantian. Lalu tingkah dan pemikiran mereka dikupas seluas-luasnya. Karena ini lanjutan, apa yang didapat tak banyak kejutan, kecuali tiga hal. Pertama, membuka misteri identitas Orang Kecil. Dohta lahir dari kepompong udara, dan rembulan bertambah menjadi dua. Dan 1984 berubah menjadi 1Q84. Dunia lama telah sirna, tak bisa kembali ke situ lagi. “Itu Dohta-mu. Dan kamu disebut Maza. Dohta bertugas sebagai wakil Maza.”

Dengan keren, disertai halilintar yang merobek langit, kita jadi tahu bagaimana proses kepompong udara bermetamorfosis. Kalau halilintar menggelegar terus seperti ini, tidakkah langit koyak-monyak? Bukankah koyakkan itu tidak bisa lagi diperbaiki oleh siapa pun?

Kedua, perjalanan ke panti jompo dengan lanskap cerita ‘mampir’ ke kota Kucing. Tak lama setelah masuk panti jompo khusus untuk penderita demensia di Chikura. Hanya dua kali Tengo pernah menjenguk ayahnya. Dan perjalanan itu Luar biasa, menakutkan, begidik. Sensasi tersesat seorang pejalan di dunia mistik. Walau itu merupakan cerita Penulis Jerman, Tengo dengan memposisikan perjalanan kereta seolah simpang lintas masa. Saya hanya dibuat merasa aneh-aneh oleh rasa takut.

Sebuah perjalanan reliji, pamit sama ayahnya yang sudah renta. Saya pernah membaca cerpen ini di buku ‘Kota Kucing’ dari penerbit Indie. Ternyata dinukil dari Novel ini. dan sempat pula kubacakan di kantor saat Inspirasi Pagi. “Sini peluk aku. Kita berdua harus ke kota kucing sekali lagi.”

Ketiga, penelusuran Aomame ke jalan tol di tangga darurat. Sebagai adegan pembuka, jadi ending yang sungguh-sungguh mengejutkan. Tak menyangka, setelah lari dari kejaran para palayan Orang Besar, menginap di hotel, menyepi, lantas merenungi kehidupan, sisian dunia antara. Ia melakukan tindakan radikal di tempat segalanya bermula. Shock, sungguh terkejut saya atas pilihan tindakan itu.

Ingat di tengah kisah Murakami membuat paragraf panjang ini, “Tidak seperti dalam film. Dalam film, orang bunuh diri begitu saja. Tanpa kesakitan. Mati dengan gampang. Tapi dalam kenyataan, tidak seperti itu. Gagal mati, berbaring terus di tempat tidur sambil ngompol dan sebagainya selama 10 tahun.”

Suka sekali, akhirnya hubungan Fuka-Eri dan Tengo berlanjut. Tindakan malam menggelegar itu patut dimaklumi, udara dingin dan suasana panas. Apalagi ternyata Fuka-Eri bukanlah sosok sembarangan. Tengo dan Fuka-Eri seperti Sonny dan Cher, duo tanpa tanding. The beat goes on. “Uang tak masalah,” kata Fuka-Eri. / “Lalu apa masalahnya?” Tengo mencoba bertanya.

Begitupula keputusan kepergian pacar Tengo, sangat natural. Istri orang dan seolah menemukan tombol klik tobat, pergi menatap masa depan yang lebih pasti. Sah-sah saja. Orang-orang yang hidup di dunia itu, dan waktu yang mengalir di sana.

Yang disayangkan adalah adegan di taman malam yang harusnya menjadi pertemuan membuncah, setelah perpisahan 20 tahun. Sayang sekali, menyedihkan akhirnya. Jadi ingat video klip lagu ‘Jika’ di mana Melly Goeslow dan Ari Lasso berdendang sepanjang lagu, dan akhirnya tak bertatap muka. Gemas, sedih, sangat menyedihkan. Ada yang mengucapkan salam perpisahan sebelum pergi, ada yang tiba-tiba lenyap pada suatu hari tanpa pamit. Huhuhu… (nangis). Selama 20 tahun ini, Tengo hidup bersama kenangan tentang sentuhan tangan gadis itu. Dia pasti bisa melanjutkan hidup bersama kehangatan ini.

Sebenarnya rasa simpati kita pada Aomame memang perlu dipertanya, ia adalah penjahat yang kebetulan diambil sudut pandangnya. Meski Aomame membunuh orang demi kebaikan dan keyakinan, pembunuhan tetaplah pembunuhan. Menurut hukum, tak perlu dipertanyakan lagi, Aomame adalah penjahat. Aomame berada di pihak yang ditangkap, sedangkan Ayumi berada di pihak yang menangkap. Keadaan seperti itu membingungkan Aomame, dan kebingungan bukan hal yang diinginkannya. “Saat senjata api diurus, diserahterimakan atau dibawa. Pada dasarnya harus dilakukan tanpa diisi sebutir peluru pun, kecuali dalam keadaan darurat… senjata api dibuat dengan tujuan membunuh atau melukai orang. Harus hati-hati lebih dari apa pun. Tidak ada kata yang terlalu hati-hati untuk senjata api…”

Carl Jung pernah bilang begini dalam salah satu bukunya, “Sejauh mana kita adalah entitas yang positif, sejah itulah menjadi manusia yang baik, berkemampuan tinggi, dan sempurna, semakin jelas kehendak bayangan untuk menjadi gelap, jahat, dan menghancurkan. Saat manusia hendak menjadi sempurna melebihi kepasitas dirinya sendiri, bayangan turun ke neraka dan menjadi setan. Karena bagi manusia, menjadi sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri sama berdosanya dengan menjadi sesuatu yang lebih rendah daripada dirinya sendiri.”

Bahaya imaji, melamun di tengah kegalauan memang berbahaya. “Berarti aku sedang berada dalam cerita yang digulirkan Tengo, batin Aomame. Bisa juga ditafsirkan aku berada di dalam tubuhnya. Aomame menyadari itu. Bisa dikatakan aku sedang berada di dalam tempat suci itu.”

Oh satu lagi. Keempat, bulan terbelah menjadi dua di tahun 1Q84. Mengingatkan pada kisah Nabi Muhammad yang termakjub dalam Quran.  Alqamar ayat 1: “Saat (hari kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah.” Di negeri imaji Murakami, bulan menjadi dua.

Mulai dibaca 14.04.22 jam 23:15, selesai baca 29.10.22 jam 13:20. Memang dibaca santuy. Pernah kubaca di Masjid Depok saat jadi sopir. Pernah kubaca di Blok H, pernah pula kubaca saat istirahat kerja. Paling dominan memang di rumah, depan perpus keluarga dengan kopi dan jazz merajalela.

Tak sabar menikmati buku 3. Januari depan? Gass…!

1Q84 Jilid 2 | by Haruki Murakami | Diterjemahkan dari 1Q84 Book 2 | Copyright 2009 | Originally published in Japan by Shinchosha Publishing Co., Ltd., Tokyo | KPG 59 16 01183 | Penerbit KPG, Mei 2013 | Cetakan kelima, Juli 2019 | Penerjemah Ribeka Ota | Penyunting Arif Bagus Prasetyo | Perancang sampul Andrey Pratama | Penataletak Dadang Kusmana | vi + 452 hlm.; 13.5 cm x 20 cm | ISBN 978-602-424-006-6 | Skor: 5/5

Karawang, 091222 – Gerry Mulligan – Capricious

Thx to Gramedia World Karawang

Cahaya Benar-benar Mengalahkan Kegelapan

Poison by Sara Poole
“Apakah keadian yang kaucari… atau pembalasan dendam?” – Rocco

“Apakah keadian yang kaucari… atau pembalasan dendam?” – Rocco

Santo Agustinus yang agung mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak bebas sebagai hadiah dari Tuhan. Tetapi juga mengajarkan bahwa Tuhan tahu tentang nasib kami sejak awal. Bagaimana bisa apa yang sudah diketahui ilahi menjadi subjek pilihan manusia? Tetapi jika tidak ada pilihan, bagaimana kita bertanggung jawab secara adil untuk dosa-dosa kita?

Novel renaisans di Italia. Tentang hari-hari menuju penunjukan Paus baru. Ini bisa jadi fiksi di sisian sejarah. Paus lama, yang sudah tua dan sakit-sakitan segera mengeluarkan dekrit yang sama dengan perintah dari Spanyol bahwa warga Yahudi akan dimusnahkan, atau diusir dari negerinya, tapi sebelum dektrit itu dirilis, drama terjadi di dalam istana. Racun menjadi alat bunuh yang umum, dan begitulah Francesca Giordano, ahli racun itu melaksanakan tugasnya. Di Roma yang panas, dan sejarah mencatat Rodrigo Borgia menapaki puncak kekuasaan. “Vengeance is mine, sayeth the Lord” – Pembalasan adalah milikku, sabda Tuhan.

Bukunya tebal, tapi sebenarnya kutat cerita tak banyak beranjak. Hanya melulu di katedral dan sekitarnya. Balas dendam, motif pembunuhan Paus yang tua dan sakit-sakitan tanpa diketahui khalayak sebagai pembunuhan (arsenik adalah favorit lama, tentu saja, dan gejala-gejalanya bisa disalahtafsirkan dengan gejala malaria). “Jika tujuannya hanya sekadar untuk membunuh, tak ada terhitung cara untuk melakukannya. Tetapi untuk membunuh tanpa menimbulkan kecurigaan adalah masalah yang sepenuhnya berbeda.”

Cinta yang tumbuh di antara pelaku misi, keinginan di tampuk puncak pimpiman, hingga tujuan mulia menyelamatkan umat manusia (baca kaum Yahudi) dari teror tragedi pengusiran. Sejatinya pergolakan yang ditawarkan melimpah dan benar-benar seseruan, yang disayangkan, kutat itu melingkar, terus-menerus sang protagonist dibelenggu impian dan harapan. Dan sayangnya, happy ending. Mungkin karena buku pertama sehingga kelanjutan kisah, nasib tokoh harus dipertahankan.

Fransesca adalah putri sang ahli racun yang baru saja dibunuh. Ahli racun dari Spanyol didatangkan guna menggantikan, tapi oleh Fransesca dibunuh dengan racun. Sejatinya ia diujung tanduk untuk dihukum mati, tapi dengan penjelaskan mengagumkan, bahwa bukti bahwa putri ahli racun bisa melakukan tugas dengan bagus, dan siap mengambil pada Borgia, malah menjadikannya sebagai anak buah. Fransesca, seorang ahli racun profesional yang menghargai kehidupan jauh lebih baik daripada orang lain, yang akan melemparkanmu ke dalam lubang Neraka tanpa berpikir panjang. “Aku akan mengatakan bahwa cara paling sederhana untuk memasukkan racun adalah dengan menyembunyikannya di dalam hidangan pedas – rebusan misalnya, atau hidangan lain yang diharapkan memiliki rasa yang kaya dan rumit.”

Memasukkannya dalam tim untuk mengantarkannya menjadi Paus. Sebuah sarana untuk melibatkannya dalam pembunuhan berencana seorang Paus. Saat resmi direkrut, “Aku menandatanganinya dan merasa senang karena tanganku tidak gemetar.”

Ia dibantu oleh pasukan kardinal, misinya besar. Membunuh Paus dan menempatkan bosnya sebagai pengganti, untuk itu prosesnya melingkar jauh dan rumit. “Apakah kauyakin ingin melakukan semua ini?”

Spanyol sudah mengeluarkan dekrit pengusiran kaum Yahudi. Dan Italia gegas mengikuti, nah sebelum dekrit itu ditandatangai Paus, Fransesca harus membunuhnya. Ada rencana yang sedang dipersiapkan untuk mengeluarkan dekrit kepausan untuk mengusir semua orang Yahudi dari dunia Kristen. Innosensius belum menandatanganinya tapi dia akan melakukannya.

Dan Borgia setuju, bila ia berhasil menjadi Paus untuk syarat menolak dekrit. “Kardinal melambaikan tangan dan, bagaikan sihir, mereka semua pun lenyap. Mereka mungkin juga sudah menguap seperti yang terjadi pada hujan di atas batu panas, begitu cepatnya mereka pergi.”

Fransesca harus mencari tahu masa lalu ayahnya, bahwa ternyata ayahnya adalah Conversi, orang Yahudi yang beralih agama Kristen untuk menghindari pengusiran. Mereka adalah orang-orang pertama yang akan dinyatakan sebagai bidat dan yang pertama akan dibakar. “Ayahmu converso, apakah kau tidak tahu itu?”

Dari perkampungan Yahudi, ia lantas tahu, cara mencipta racun dari darah. Darah yang sudah terkontaminasi bisa menjadi barang mematikan buat yang mengkonsumsinya. Nah, Paus yang kini menjabat Innosensius desusnya meminum darah orang-orang muda untuk bertahan hidup. Klop.

Maka, iapun memasukkan agenda, mengganti darah yang siap saji buat Paus untuk diganti dengan darah kontaminasi racun. Untuk bisa masuk ke lingkaran vatikan, ia harus menyamar sebagai lelaki, mengelabui penjaga, hingga – seolah film action – kejar-kejaran kabur dengan dramatis kudu masuk terowongan sapitenk!

Berhasilkah ia membunuh paus dan mengantar Borgia sebagai Paus berikutnya?

Banyak hal filosofis ditampilkan, santo Agustinus paling sering. “Lebah adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling mengagumkan, jauh mengangumkan dari Manusia itu sendiri. Mereka bekerja dengan rajin dan tak memikirkan diri sendiri untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan…”

Endingnya sendiri menggantung. Sebab misi balas dendam itu tak tuntas. “Lelaki yang kutahu menjadi arsitek sesungguhnya dalam membunuh ayahku masih bebas berkeliaran, kemungkinan besar masih berada di dalam lingkungan Vatikan.”

Poison adalah permulaan seri Fransesca Giordano dan keterlibanatannya dengan keluarga Borgia, buku kedua, Serpent dan seri ketiga Malice.

Ini adalah kisah fiksi sejarah. Bagaimana Borgia naik ke puncak detail-detailnya fiksi, tapi fakta ia melakukan dengan korup dan licik. Kombinasi antara ambisi yang lalim, kecerdasan yang brilian, dan sensualitas tak terkekang yang mereka wujudkan sangat menawan dari sudut pandang seorang penulis. Fiksi sejarah dikategorikan sebagai ‘infotainment’ dan memang benar adanya. Maka fun saja, tak perlu ambil pusing, yang jelas memang kisahnya menegangkan. Menulis fiksi sejarah adalah jalinan kenyataan dan imajinasi ke dalam sbeuah kisah yang masuk akal dengan satu harapan, memikat.

Ide cerita sendiri sebenarnya ada di sekeliling kita. Sara mengaku, “Beberapa tahun lalu saya tertarik berbagai tumbuhan liar di dekat ambang pintu rumah saya,yang dalam hal tertentu beracun.” Lihat, dari pemikiran ada racun di sekitar kita, ditautkan sejarah Paus abad 15, jadilah buku setebal 500 halaman.

Mungkin bukan novel lima bintang penuh puja-puji, mungkin juga bukan cerita sastra dengan bahasa indah. Namun jelas ini buku seru, memikat cara menyampaikannya. Kegalauan Fransesca yang masih muda, dan mengemban misi besar, menyelamatkan umat (walau jelas ada misi dendam), sejatinya alur cerita usang, ditambah bumbu cinta berbahaya. Yah, jangan terlalu muluk berharap memang, anggap saja ini cerita fun dengan perjalanan berliku panjang. Kalau ada kesempatan melanjutkan lahap seri lain, atau buku lain Sara Poole, jelas saya sangat antusias.

Poison, Sebuah Novel Renaisans | by Sara Poole | diterjemahkan dari Poison, a Novel of the Renaissance | Copyright 2010 | Terjemahan Indonesia copyright Penerbit Tiga Serangkai | Penerjemah Dina Begum | Editor A. Mellyora | Desain sampul da nisi Rendra T.H. | Penata letak isi Prasetyo Santoso | Cetakan pertama, November 2011 | Edisi pertama Indonesia diterbitkan oleh Metamind, Creative Imprint of Tiga Serangkai | Cetakan I, Solo | November 2011 | vii, 568 hlm.; 20 cm | ISBN 978-602-9251-07-4 | Skor: 4/5

Karawang, 081122 – Sheila on 7 – Dan

Thx to Erii, Jakarta

Tetapi Kemudian Kawanan Tersebut Terus Berkembang, Terus Berevolusi

Prey by Michael Crichton

“Kenapa kawanannya berperilaku seperti itu? Untuk meniru mangsa?” – Mae

Keren banget. Partikel dan bakteri dicipta, dengan kamera berukuran nano, dan jadilah penemuan dahsyat. Awalnya jinak, lalu lepas, dan pada akhirnya mereka dengan cepat beradaptasi, menjadi makhluk hidup yang menuntut eksistensi. Di sebuah lab di tengah gurun, Jack sang perancang program, seorang IT expert itu tercengang sebab kode yang ia cipta kini menjadi liar dan mengancam umat manusia. Ternyata penyebabnya justru istrinya sendiri yang juga seorang penemu, Julia yang beberapa hari tak waras. Pasangan ini saling silang, dan sebelum makhluk itu membunuh orang lebih banyak, harus dimatikan, harus dimusnahkan.

Buku dibuka dengan dua kutipan yang sangat bagus tentang masa depan yang mungkin dari eksistensi makhluk ciptaan manusia, salah satunya ini:

Banyak orang, termasuk saya sendiri, agak was-was ketika membayangkan konsekuensi teknologi ini terhadap masa depan. – K. Eric Drexler, 1992

Lalu pengantarnya yang luar biasa, memberi ilmu baru. Kata pengantar idealnya seprti ini, bukan basa-basi busuk yang sederhana. Salah satu paragraph penting saya kutip, “Kita adalah satu dari hanya tiga spesies di planet in yang dapat dikatakan sadar diri (makhluk hidup yang secara meyakinkan telah terbukti memiliki kesadaran diri hanyalah manusia, simpanse, dan orang utan. Berlawanan dengan pendapat umum, lumba-lumba dan monyet tidak termasuk dalam kelompok ini), tetapi kebiasaan untuk mengelabui diri sendiri mungkin ciri kita yang lebih signifikan.”

Jack yang galau sebab baru saja dipecat, ia seorang pemrogram yang kini menganggur. Menjadi bapak rumah tangga, merawat anak-anak, memasak, berbelanja. Sementara istrinya seorang wanita karier, Julia adalah peneliti. Perusahaan yang ia dirikan kini sedang mengembangkan penemuan. Mencipta makhluk berukuran nano, dengan banyak kamera. Nanoteknologi adakah upaya membuat mesin-mesin berukuran sangat kecil, dengan besaran seperti itu seribu kali lebih kecil daripada garis tengah rambut manusia. Kini telah dicapai berbagai kemajuan praktis, dan pendanaan pun meningkat pesat. Tetapi begitulah, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Perusahaan Xymos Fabrication Facility terbut merger dengan Perusahaan IT, eks tempat Jack bekerja.

Perusahaan-perusahaan di Silicon Valley adalah yang paling kompetitif dalams ejarah planet kita. Semua orang bekerja seratus jam per minggu. Semua orang berpacu dengan waktu. Apakah sebuah program dapat mempunyai kesadaran diri? Sebagian besar pembuat program menganggap hal itu mustahil. Ada yang mencobanya tapi gagal.

Kejanggalan-kejanggalan muncul. Julia yang pulang larut, sering kali menginap di kantor, melupakan makan malam keluarga, patut dicurigai selingkuh. Apalagi, kebiasaan setiap pulang kerja ia tak pernah mandi, kini ia selalu mandi. Sesama laki-laki takkan terus terang seandaianya mereka mengetahui sesuatu mengenai istri temannya, tetapi kaum perempuan pasti berbagi cerita jika mengetahui perselingkuhan seorang suami.

Kasus berat pertama muncul, sang bayi sakit, kulitnya muncul bintik-bintik banyak, dibawa ke UGD, dirawat inap, dan penyakitnya tak diketahui, lalu saat dilakukan di CT scan, bintik dan penyakitnya mendadak lenyap. Aneh sekali. Klu pertama.

Setelah lama menganggur, akhirnya Jack dihubungi mantan bosnya, diminta kembali bergabung sebab program yang ia buat kini sedang dalam masalah. Kode program harus diperbaiki, dan karena Jack yang buat, ia pula yang harus menanganinya.

Laboratoriumnya ada di tengah gurun. Jack diantar dengan helicopter, lalu ditinggal landas. Dalam lab, orang-orang sudah mengenalnya, teman-teman kerja lamanya. Lalu identifikasi masalah dilakukan.

Ternyata pelik, program yang ia cipta, kini merger dengan teknologi nano. Di mana kamera kecil itu bersatu, dan kemudian, membentuk kawanan, lepas kendali keluar lab.

Di siang yang terik, mereka tahu, kawanan datang, mendekat ke pintu, mencoba masuk. Lab berpengaman ketat, mereka gagal. Menurut Ricky, kepala lab, kejadian itu berulang-ulang. Kawanan datang secara kontinu, dan setiap hari bertambah banyak. Bahkan lewat CCTV terlihat, seekor kelinci tewas disergap. Mengerikan, makhluk buatan itu membunuh hewan. Kawanan ini akan pergi bila terkena terpaan angin. Mereka mengisi energi lewat sinar mentari, jadi berbahay hanya di siang dan di kala cuaca teduh.

Kawanan itu hidup! Wow… Setiap tonjolan adalah mesin, mesin itu bermanuver dengan mendaki viskositas udara. Para pemrogram membuat program yang meniru perilaku serangga. Algoritma kecerdasan-kerumun telah menjadi alat penting dalam pemrograman komputer. PREDPREY ternyata berfungsi sempurna. PREDPREY hanyalah analogi biologi. Pemangsa sungguhan, tentu saja akan memangsa mangsanya, tapi tidak ada perilaku analog untuk kawanan mikrorobot. “Ini kawanan nanorobot yang lepas kendali. Dan entah karena ulah siapa. Kawanan ini sepenuhnya mandiri dan tidak bergantung pada sumber energy eksternal.”

Untuk mengetahui penyebabnya, mereka keluar. Sungguh riskan, sebab kalau hewan dengan mudah dibunuh, tak menutup kemungkinan manusia jua, tapi Jack nekat. Ia harus melakukan otopsi, mengetahu sejatinya penyebab kematian apa. Dari semua ilmuwan, hanya Mae yang percaya, dan bersedia menemai. Mae ahli dibidang botani, seorang ilmuwan yang terbiasa pula otopsi mayat. Sebagai peneliti lapangan, ia memang lebih terlatih mengira-ira risiko di dunia nyata dibandingkan rekan-rekannya.

Apes, saat otopsi melakukan pembedahan, alat swab ketinggalan, Mae masuk. Jack masih diluar, dan angin tiba-tiba mereda. Jack belum sempat masuk pintu, kawanan mencegatnya. Dengan cerdik, ia melakukan perlawanan. Dan untung selamat, terluka berat, tenggorokannya tersumbat, nyaris sesak, benar-benar mencekam. Sementar Ricky terus berkeras mereka tak boleh dimusnahkan. Proyek mahal ini belum mau ditutup! “Begini. Kita menghadapi kawanan lepas kendali yang tampaknya mematikan. Ini tidak bisa dianggap main-main.”

Manusia memang bisa dipandang sebagai suatu kawanan besar. Atau lebih tepatnya , kawanan yang terdiri atas berbagai kawanan, sebab setiap organ – darah, hati, ginjal – merupakan kawanan tersendiri. Apa yang kita sebut ‘tubuh’ sebenarnya kombinasi dari semua kawanan organ tersebut.

Pengendalian perilaku kita tidak terpusat pada otak, melainkan di seluruh tubuh. Jadi dapat dikatakan manusia pun diatur oleh “Kecerdasan kawanan”. Keseimbangan diatur kawasan otak, dan jarang kita sadari. Seluruh struktur kesadaran, serta kemampuan pengendalian diri dan perilaku bertujuan yangkita anggap sebagai ciri manusia, hanya ilusi. Kita tidak dapat mengendalikan diri secara sadar. Kita hanya beranggapan seperti itu.

Nah, antisipasi harus dilakukan. Alat-alat di gudang harus diambil, salah satunya adalah peledak. Makhluk kawanan ini harus dimusnahkan. Harus dilakukan segera, sore itu terjadi bencana. Saat di gudang, kawanan mengepung, dan begitulah, dua ilmuwan tewas. “Gawat.” Charley bergugam, “Ini benar-benar gawat.”

Lynn Margulies terkenal karena menunjukkan bahwa bakteri pertama kali mengembangkan inti sel dengan cara menelan bakteri lain. Ini sudah di level darurat tingkat tinggi. Jack terus bertanya, tapi Ricky terlihat jelas menutup-nutupi poin-poin penting. Aku semakin yakin ada yang tidak beres . Aku serasa menjadi bagian dari sebuah sandiwara, di mana setiap orang memainkan peran masing-masing. Aku tahu ada sesuatu, aku hanya belum tahu siapa… maksudnya… biarpun aku sudah curiga, aku tetap saja terpukul. “Sebenarnya aku tidak mau mencari perkara, Ricky, tetapi tingkahmu selalu membuatku kesal.”

Mengerikan, mereka melawan makhluk buatan manusia, yang berevolusi dengan cepat. Berkembang biar instan, serta perlahan memiki jiwa dan kesadaran. Ini harus dihentikan, ini benar-benar kondisi darurat, sebelum menjadi bencana dunia, sebelum manusia tersingkirkan. Prey menjadi buku misi penyelamatan dunia, dan begitulah, hal-hal mendesak harus dilakukan sebelum terlambat. Berhasilkah?

Ini buku ketiga Crichton yang say abaca setelah Disclosure dan Timeline, ketiganya saya rating sempurna. Alhamdulillah, saya kembali menemukan penulis hebat. Temanya selalu teknologi yang mencekam, manusia melawan dirinya sendiri. Seperti mesin waktu yang rasanya seram. Rencana itu hanya setengah matang, penuh improvisasi, dan dipersiapkan dengan terburu-buru untuk mengatasi masalah sesaat, tanpa memikirkan masa depan. Di sini, makhluk-makhluk buatan yang berpikir.

Para pengamat meramalkan rekayasa genetik, pemograman komputer dan nanoteknologi akhirnya menyatu. Sudah banyak buku yang mengupasnya, kemungkinan-kemungkinan mesin atau kloning yang bisa berpikir, memiliki jiwa. Semuanya melibatkan kegiatan serupa – dan saling terkait.

Kembali lagi. Teknologi merupakan bentuk pengetahuan, dan seperti semua pengetahuan lainnya, teknologi pun tumbuh, berkembang, menjadi matang. Masa depan yang misterius, kekhawatiran itu bukan serangan dari luar angkasa, atau serbuan makhluk asing, kekhawatiran itu justru dari dalam. Manusia mencipta komputer super canggih yang bisa melawan manusia, bahkan mungkin merusak eksistensi manusia. Manusia, malah jadi mangsa?

Mangsa | by Michael Crichton | Copyright 2002 | Judul asli Prey | Alih bahasa Hendarto Setiadi | GM 402 03.023 | Sampul dikerjakan oleh Marcel A.W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Jakarta, Agustus 2003 | 608 hlm, 18 cm | ISBN 979-22-0449-0 | Skor: 5/5

Karawang, 071222 – Garasi Band – Hilang

Thx to Ade Buku, Bandung