#Agustus2020Baca

Georgo Plekhanov berpendapat bahwa dokrin ‘seni untuk seni’ berkembang jika satrawan merasakan: “Suatu kontradiksi yang sangat parah antara tujuan mereka dengan tujuan masyarakat. Seniman pasti bersikap bermusuhan terhadap masyarakatnya dan merasa tidak mungkin dapat mengubahnya.”

Bulan Agustus memang bulan santuy, hanya bacaan jelang Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Tercatat hanya delapan buku yang berhasil dituntaskan, hanya satu yang diulas, dua – satu lagi bulan berikutnya. Memang tak ada target, bulan September baru tancap gas. Maka sedemikian nyaman kegiatan baca tulis di era serba mudah ini. Bersyukurlah kita hidup di era digital.

Paling sulit memang menyelesaikan baca nomor dua, teori Sastra yang njelimet dan panjang sekali penuturannya. Buku terbaik bulan Agustus.

#1. Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa Andi Eriawan

Buku lama milik teman se-kos Ruanglain_31, Jemy K yang hilang dipinjam teman. Saya baca ulang dengan kilat dan ulas. Buku ini memang sangat membekas kala itu, kisah sepasang kekasih yang mendayu-dayu dalam puisi kehidupan. Nuansa romantis membalut nasib mereka, sampai akhirnya petaka tiba. Generasi Dilan akan shock ketika tahu ada cerita cinta sejoli Bandung yang mengharu biru dengan belitan romansa berkualitas – jauh lebih berkualitas. Dua kali baca, dua kali pula mewek. “Laila… nama yang cantik. Orangtuamu pandai memberi nama. Mungkin mereka tahu kau akan tumbuh secantik ini.”

#2. Teori Kesusastraan Rene Wellek & Austin

Buku teori sastra luar biasa. Butuh waktu ekstra untuk menuntaskannya, tebal nan padat ilmu. Begini seharusnya buku pengantar ditulis, detailnya mengagumkan. Bagi orang awam seperti saya yang tak sekolah sastra, apa yang disampaikan menjadi pijakan menikmati sastra. Telusur kata, sejarah masa lalu orang-orang hebat sampai hal basic apa itu seni dan turunannya. Ini sih bukan hanya bacaan biasa yang selesai lahap diletakkan, akan sering dibuka ulang untuk menjadi referensi, menjadi tolok ukur bagaimana kualitas sastra sebuah karya tulis.

Tokoh novel muncul dari kalimat-kalimat yang mendeskripsikannya, dan kata-kata yang diletakkan di bibirnya oleh sang pengarang, di luar itu tokoh tidak memiliki masa lalu, masa depan, atau kontinuitas kehidupan. Keren banget ya deskripsinya. Mungkin hal yang wajar, hal biasa tapi kalau ditulis gini jadi terasa wow. Benar juga, tokoh dalam buku itu ya masa-nya di dalam buku. Meskipun ada karya sastra yang erat kaitannya dengan kehidupan pengarangnya, ini bukti bahwa karya sastra merupakan fotokopi kehidupan. Well, yang namanya fotokopi sebagus dan realistis apapun, tetap saja palsu.

#3. Bagaimana Aku Menjadi Penulis Gabriel Garcia Marquez

Ini adalah kumpulan esai penulis nomor satu di daftar novel terbaik LBP. Seru sekali membaca curhatan Penulis favorit, seperti saat pertama kalinya melihat dan menyapa dari jarak jauh penulis idola beliau: Ernest Hemingway di Paris. Sekadar teriak woooy… dibalas lambaian tangan saja, sudah bikin hepi.

Bayangkan, ketemu Seno Gumira Ajidarma lalu diacungi jempol. Hahaha… sedemikian bagus sampai-sampai hal biasa tampak menyenangkan. Atau cerita beliau ketika melakukan wawancara di udara, terdengar menarik sekali, sang narasumber punya waktu sempit, penulis harus menyesuaikan. Terutama sekali cerita beliau saat proses menulis buku paling fenomenalnya, ‘Seratus Tahun Kesunyian’. Mematikan karakter favorit membuatnya menangis tersedu-sedu dalam pelukan istri, betapa mendalam perasaan sang Penulis terhadap tokoh rekaannya. Dan fakta bahwa ia tak suka fantasi karena segala yang ‘ngawang-awang’ terasa palsu. Jadi semua buku beliau berdasar semacam rekontruksi kehidupan, tak ada unsur fantasi? Yup, termasuk adegan dramatis ruh yang terbang? Ya. Itu berdasarkan mimpi, ia mengelola sebuah mimpi menjadi adegan yang terlihat nyata. Hhhmmm… menariq.

#4. Bahasa dan Kegilaan – Umberto Eco

Wow. Membahas linguistik dengan sangat keren. Buku tipis yang padat informasi. Dari zaman Adam yang mempertanyakan, bagaimana Tuhan berdialog dengan manusia pertama, sampai zaman Romawi dan tentu saja masa kini. Tidak diberitahukan kepada kita dalam bahasa apa Tuhan berbicara pada Adam. Kata pertama yang diucapkan Adam pastilah nama Tuhan, El. Lucu, bagaimana kesalahan malah mencipta jalan keluar yang lain. Kesalahan – tidak selalu dalam kebohongan, tetapi pasti kekeliruan – telah memotivasi kejadian sejarah. Saya harus bersandar pada kriterium kebenaran. Vernacular adalah bahasa pertama manusia, “meskipun terbagi-bagi oleh kata-kata dan aksen-aksen yang berbeda.”

Saya kutip penuh salah satu bagian bagus. Santo Thomas dalam Queaestio quodlibet alis XII, 14 menyatakan ‘utrum veritas sit fortiori inter vinum et regem et mulierem’ yang memunculkan pertanyaan mengenai mana yang lebih kuat, lebih meyakinkan, dan lebih membatasi: kekuasaan raja, pengaruh anggur, pesona wanita, atau kekuatan kebenaran? Jawaban Aquinas halus dan fasih: anggur, raja, wanita, dan kebenaran tidak dapat dibandingkan mereka tidak dalam kategori yang sama. Semuanya dapat menggerakkan hati manusia untuk melakukan tindakan tertentu.

#5. Rahasia Selma – Linda Christanty

Pemenang Sastra Khatulistiwa 2011 bagian prosa yang lumayan bagus. Memainkan kata untuk menjelajah dunia antah dengan banyak metafora dan pamer keindahan fatamorgana diksi. Terdiri 11 cerpen, hampir semua mengambil sudut pandang perempuan, anak-anak dan dewasa. Dari korban pelecehan seksual, saksi mata perzinaan, sampai seorang istri yang selingkuh menuturkan kenyataan pahitnya. Rangkaian kehidupan yang umum dan begitu nyata, disampaikan dengan berbagai perumpamaan. “Jangan terlalu akrab dengan siapa pun. Jangan bawa teman ke rumah. Ibu-ibu semua penggosip.”

#6. Membina Bahasa Indonesia Baku (seri 1) JS Badudu

Asyik sekali menikmati tata bahasa baku yang disodorkan beliau. Di awal EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) tahun 1970-an buku ini menerangkan banyak hal yang dirasa umum dalam berbahasa di masyarakat, ternyata banyak yang salah, atau pas disebut: belum tepat. Kembali ke dasar, sungguh bermanfaat berselancar Bahasa Indonesia. Sayangnya ini seri satu, jadi untuk melanjutkan harus kembali berburu seri berikutnya.

Beberapa mungkin sudah sangat kita kenal, seperti penggunaan kata ‘para’ artinya jamak, maka tak boleh menggunakannya untuk banyak orang seperti ‘para orang-orang’. Atau penggunaan kalimat dalam surat resmi, yang benar itu bagaimana. Hal yang mengejutkan adalah, penutup surat yang biasanya berbunyi, “Demikian surat ini saya buat, untuk digunakan sebagaimana mestinya.” Adalah mubazir kata-kata. Sebab, jelas surat dibuat ya memang untuk digunakan sesuai fungsinya! Nah lo!

#7. SummerAlbert Camus

Baca ulang kumpulan esai Albert Camus. Dulu banyak bagian yang bingung, istilah kata dan aliran maknanya memang banyak yang memuat ambiguitas, setelah baca lagi ternyata tetap rancu. Haha… tapi sekarang lebih bisa masuk karena sudah beberapa novel beliau yang kulahap sehingga alur yang dimaksud setidaknya bisa mengikuti. Sebagai Penulis Prancis kelahiran Aljazair, kumpulan esai ini memang banyak mencerita kehidupan kesehariaan di sana. Dari terik matahari yang menyengat sampai pilihan hidup yang bagai tookoh sisipus, banyak kesiaan.

#8. Ringkasan NovelJS Badudu

Ini adalah buku yang meringkas novel. Sastra klasik Indonesia dari zaman Sitti Nurbaya sampai Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Semua diringkas dalam bahasa populer. Nyaman, sebagian sudah baca, sebagian masuk daftar incar, walau nggak masuk dalam ring satu. Lumayan juga, review buku berisi pendapat, ternyata bisa dibukukan ya. Dengan sudut pandang dan penilaian JS Badudu yang mencoba objektif. Ini bukan buku-buku rekomendasi, karena otomatis semua bagus, ini garis besar kisah dan penilaian darinya bahwa Sastra kita bergeliat jauh di masa sebelum Indonesia berdiri. Sebagian besar jelas sudah kita ketahui dalam pelajaran Bahasa Indonesia semasa sekolah dulu. Ini detailnya walau hanya sebagian saja.

Delapan buku yang bagus semua. Menyenangkan sekali menikmati buku bagus, baik fiksi atau non-fiksi. Sungguh waktu yang kita luangkan bersama lembaran bervitamin itu terasa menggugah. Terasa tak ada yang sia-sia, gizi buku bagus yang banyak membuat hidup menjadi lebih hidup. Cara mengidentifikasinya yang benar-benar khayali.

Karawang, 090920-011020 – Bill Withers – Lovely Day

Dunia Selma

Rahasia Selma by Linda Christanty

Kamu bikin Ibu mual, Selma! Kita masih punya banyak makanan. Makan daging sesama itu kanibal namanya. Kejam!”

#1. Pohon Kersen

Pohon kersen yang tumbuh di dekat rumah yang kesehariannya terdengar debur ombak pantai. Dengan sudut pandang anak-anak yang diajak kakeknya menikmati hari. Bagaimana pemisahan uang, kertas ke amplop belanja bulanan, dan keping masuk dalam celengan berwujud gajah tembikar. Pohon kersen yang bila musim ulat bikin orang jijik itu hampir ditebang, tapi aku tak setuju karena akan membuat rumah pohon di atasnya. Aku berkhayal tidur malam di situ.

Kebaikan kakek yang membeli ikan dari pedagang sayur keliling di hari Minggu, dan membagi beras kepada yang tak mampu. Sebuah rutinitas kedatangan penjual ikan itu suatu hari terhenti tanpa ada keterangan. Lalu muncul kabar berikut, Bang Husni yang tinggal di sana, disekolahkan, diberi makan, dibelikan kain baju, malah lari, menghilang. Ada hal buruk terjadi, tapi hidup terus berjalan. Aku dan impian rumah kayu di pohon kersen. Kenang-kenangan selalu kembali, “Dasar hantu pohon kersen!”

#2. Menunggu Ibu

Mengambil sudut pandang anak-anak, ibunya yang aneh dan tetangga pemilik bengkel mobil NANA yang memberi anjing pudel bernama Olio. Hubungan dengan paman dan saudara-saudaranya yang terlihat janggal. Punya saudara bernama Ena yang pernah tinggal bersama, lantas ia ikut pamannya, walau Ena bercerita sering kena marah dan ingin pulang, keputusan tetap sama. Paman yang kaya, tak perlu membawa bingkisan ketika berkunjung. Lalu keadaan gawat, ibunya hilang dua hari, masuk DPO lalu pulang awut-awutan. Makin ke sini makin bermasalah, sampai akhirnya harus diungsikan ke tempat rahasia. Dan Olio berakhir menyedihkan. Hiks,…

Pernah juga aku cuma berdiri di tengah kebun tanpa memikirkan apa-apa, berpikir membuatku lelah. Orang cepat tua, karena banyak berpikir. Jadi aku suka bertindak.

#3. Kupu-kupu Merah Jambu

Semua kupu-kupu di tempat itu bersayap merah jambu. Lelaki pemilik tempat itu bernama Juan, katanya bernama asli Jumadi. Di sini tak ada yang memakai nama asli, semua samaran. Ada ular dengan desisnya. Kehidupan berjalan, semua memiliki peran masing-masing. Hukuman, masalah, keseharian, bertahan hidup. Tapi ia hanya menyelamatkan diri. Ia hanya seekor kupu-kupu kecil, tapi kini ia bukan kupu-kupu. Ia tak punya sayap.

#4. Mercusuar

Sebuah kunjungan ke mercusuar, sang aku yang suka berjalan di pantai. Mercusuar tua yang kokoh, bagai menanti kekasih. Aku Hana, bukan Lona. Dan Naida yang menemani, dikira penjaga Mercu, kita kakak-beradik. Dan acara jalan-jalan itu berakhir di ranjang. Bukan seks biasa, karena melibatkan adegan X dengan tangan dan kaki terentang. Sang aku lalu berpisah dengan Chen, setelah bertemu Naida. Hubungan seperti bulu burung, mudah terhempas.

Ternyata kisah traumatis, setiap Mei datang ia menjerit-jerit.

#5. Rahasia Selma

Selma dan ribuan kura-kura di halaman rumah. Tante Bona yang menulis status facebook, ibu yang uring-uringan karena status itu berisi sampah, sebuah prediksi buruk masa depan: gelandangan. Ayah Selma yang buaya, dan gosip menguar di udara dengan konotasi negatif. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, edisi mengarang Selma mendapat pujian. Lalu kabar ayahnya meninggal, ia tak menangis. Semakin dewasa seseorang, semakin jarang menangis di muka umum.

Lalu di gerbang belakang, larangan membukanya dilanggar. Kura-kura yang hilang, dicari Selma. Di lembah itulah ia melihat sebuah fakta yang mengejutkan. Sebuah pergumulan yang membuatnya pingsan, sebuah rahasia yang diabadikan dalam lukisan.

Jangan terlalu akrab dengan siapa pun. Jangan bawa teman ke rumah. Ibu-ibu semua penggosip.”

#6. Kesedihan

Menikmati suasana pantai sungguh mengasyikkan. Dia yang dicinta, tak menyukai perempuan menghabiskan waktu di dapur. Dia mengaku ke orang-orang bahwa saku adalah keponakan. Dia yang memenuhi hati setiap waktu. Mendua menjadi kesedihan, dan ketika aku mencuci dia menanyakan, aku masuk ke kamar. Permintaan maaf dalam pelukan, sementara di luar ada yang mencuci piring, melanjutkan.

Apa sih yang kamu kerjakan sepagi ini?”

#7. Drama

Lima ratus. Angka genap terkesan palsu. Ganjil justru meyakinkan. Lima ratus orang kaya melakukan pertemuan membahas ‘penjajahan’ Dunia Ketiga. Di luar terjadi demo, dengan gaya dan peserta membara. Ada yang pakai topeng Joker dong.

Suzanne benci politik, sebagaimana benci agama. Seperti kata guru ngajinya, Bang Satar, jangan nakal nanti masuk neraka. Disuruh makan buah zarkum, rasanya tidak enak. Hanya orang kafir yang memakannya. Tahu dari mana nggak enak? Pokoknya, begitulah. Buah itu hanya ada di neraka.

Tukang obat di pengungsian, menjadi juru runding jempolan. Seorang pembual dalam menjual mutu yang meragu tapi bisa menyakinkan pembeli. Dengan setelan jas dan kaca mata ia melaju ke hotel. Dua minggu kemudian ia muncul di tv: “Saya menyerahkan diri secara sukarela dan mengaku apa yang saya lakukan salah.” Ahhh…. Drama kepolisian dan tentara dan politik, dan pemberantasan pemberontak to.

#8. Para Pencerita

Hasril si sulung yang merantau. Dengan sudut pandang anak keempat yang mencerita kehidupan keluarga ini, si Fahmi. Dikiranya abangnya nggak akan pulang, delapan tahun di Amerika, dan kini ada kabar ia mudik. Kampung bergosip, si anak hilang akan tiba. Namun tak lama, tiga haris setelah menikah ia pergi lagi. Fahmi yang tak akrab sama kakaknya, banyak menyimpan tanya.

Lalu kita diajak mengenal keadaan keluarga ini. Ayahnya kabur, menikah lagi dengan wanita lain. Ibunya menangis sepanjang hari, lalu orang tua mereka cerai. Perundingan siapa yang akan ikut ayah atau ibu terjadi. Cut Nas dan jodohnya, cinta pertama yang kandas, dan prahara pernikahan paksa. Sementara Cut Rum merantau ke Jakarta bersama suaminya jualan mi. Ahh…. Inilah kehidupan, ini cerita-cerita tetangga dan saudara tumpang tindih dalam fakta dan maya. “Hei hei Fahmi, jangan dekat-dekat api.”

#9. Jazirah di Utara

Dan dia menyukai tanda-tanda, seperti permainan, seperti teka-teki. Lelaki yang mengelana ke Utara, di mana perang dan cinta diperingati tiada henti. Diselimuti doa-doa yang sudah berumur ribuan tahun, yang mengitari dan melindungi bagai kabur abadi. Tak seorang pun bisa menyentuhnya. Dimuliakan atau dinista ternyata sama-sama memberi sedih. “Setelah ini saya akan menulis sebentar, boleh?”

#10. Ingatan

Ingatanku akan musnah seperti ingatan siapa pun yang ada di sini. Di sini burung-burung tak pernah makan atau hinggap di dahan-dahan pohon. Mereka selalu terbang. Mereka tak pernah lapar.
Perlahan-lahan aku akan meninggalkan perasaan manusia, sebagaimana ingatanku perlahan-lahan musnah. Tapi aku masih ingat alasan aku pergi dari rumah. Aku tidak ingin terbang, tetapi semua yang di sini akhirnya akan terbang, seperti burung-burung.

#11. Babe

Piala Dunia Afrika 2010 yang sesak antusiasme dan fanatisme. Kota Durban menjadi seolah sakral karena di sana sang Aku dan Babe menemukan momentum. Sang aku ditanya apakah selingkuh selama tak ada dia? Dijawab jujur, iya ada empat: Gitaris Rock tahun 60-an. Penjaga rumah tua dan dua ekor kuda di pinggir kota. Anak buah kapal pesiar. Dan direktur lembaga lingkungan hidup.

Aku sang Penulis mencerita lika-liku kehidupan keluarga yang tampak aneh, dan kini ia bersiap merias diri guna perilisan buku barunya. Nama aslimu tak mungkin Singa Laut bukan?

Sebagai buku pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) tahun 2010, bukunya memang bagus, walau engga sampai wow, engga menyentuh kasta istimewa. Namun tetap bagus dalam narasi panjang berliku. Kumpulan cerita pendek tema umum, kita temui di banyak kisah keseharian. Mungkin karena agak unik dalam menyajikan, meliar dalam fantasi dan imaji anak-anak, sebagian besar. Mbak Linda dengan jeli menyimpan beberapa fakta, menyuguhi pembaca narasi panjang menghanyutkan, lalu sebagian darinya dibiarkan mengambang, menggantung terserah pembaca menafsirkan.

Saya sedang merunut mundur para pemenang Prosa KSK, dekade 2010-an masih ada tiga yang belum kunikmati: Lampuki, Semua Untuk Hindia, dan Isinga: Roman Papua, yang sudah baca tinggal Maryam yang belum kuulas. Soon! Sementara, untuk dekade 2000-an belum semuanya. Alon-alon wae, yang penting happy. Menikmati waktu, menikmati hari.

Rahasia Selma adalah buku pertama Linda Christanty yang kubaca, bagus. Buku lainnya boleh mengantri, termasuk Kuda Terbang Maria Pinto yang terkenal itu…

Rahasia Selma | by Linda Christanty | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 201 01 10 0010 | Cetakan pertama, April 2010 | Desain sampul Mirna Yulistianti | foto dari Shutterstock | Setting Malikas | ISBN 978-979-22-5656-7 | Skor: 4/5

Buat adik saya, Budhi dan teman masa kecil kami, Aldes. Buat Fahmi dan Dik Nur. Buat Edward dan Spaghet

Karawang, 180820 – 290920 – Bill Withers – My Imagination

Thx to Anita Damayanti

Fiksi Etnografis Sempurna: Lock for Best Prosa KSK 20

Orang-orang Oetimu by Felix K. Nesi

Ia suka membaca buku. Sekali ia duduk di depan buku, taka da yang bis abikin ia bangun. Saya yakin ia akan enggan naik ke surga bila dikubur bersama buku.”

===Catatan ini mungkin mengandul spoiler===

Oetimu, dulu ini adalah kerajaan Timu Un, sekarang sudah menjadi Kecamatan Makmur Sentosa. Ini kisah tentang masyarakat di sana, menyelimuti segala nasib manusia. Siapa bisa menjamin, jika besok atau lusa, karena perempuan itu juga, Oetimu tidak menuntut kemerdekaan dari Indonesia?

Keren adalah kata pertama yang kuucap setelah menuntaskan baca. Luar biasa, hikayat singkat orang-orang Oetimu dari zaman dahulu sampai tahun 1998, tahun genting peralihan Orde Baru ke Reformasi. Buku ini melibat banyak karakter, dan hampir semua yang ditelusur kisah hidupnya memberi peran signifikan. Membantu menggerakkan plot secara yahud, menjadikan penentu nasib tokoh lain, dan ini hebatnya Bung Felix K. Nesi tak segan-segan menewaskan karakter favorit! Tak ada yang baik konsisten, tak ada pula yang jahat terus, mayoritas sifatnya abu-abu, pas banget dengan kenyataan kehidupan yang fana ini. Eh, kecuali satu karakter yang dungu, nyebelin tak ketulungan. Namun nyatanya, orang bodoh pun dapat durian runtuh gadis jelita yang menjadi impian semua orang. Mengangkang siap diterkam, Hajindul! Asu!

Kisahnya dibuka dengan menyakinkan sekali, di Oetimu tahun 1998 malam final Piala Dunia di Prancis yang meluluhlantakkan Samba tiga gol itu menjadi kejadian menghantar kronik drama panjang ini. Tersebutlah Sersan Ipi yang menjemput Martin Katibi dengan motor bututnya untuk nonton bareng di pos polisi. Satu jam sebelum tragedi pembunuhan itu, mereka menyumpah Amerika, dituduh dalang kekacauan dunia. Ronaldo loyo, Amerika yang dihujat. Khas kaum kadrun.

Nobar itu menjadi petaka buat warga ketika Sang Sersan mengumumkan rencana pernikahannya dengan Nona Silvy, primadona kampung yang masih sekolah, siswa pindahan yang cerdas nan jelita. Dengan hasil separuh babak amburadul dua tandukan Zidane, sang tetua pulang lebih dini, para pembunuh sudah di rumahnya, menyekap anak istri. Mereka tak mengira, sepakbola 2 x 45 menit itu tak penuh, sang tuan rumah pulang cepat! Mendebarkan? Tentu saja, tapi untuk mengetahui nasib mereka kita diajak melalangbuana jauh ke belakang.

Di Lisbon tahun 1974, Julio Craveiro dos Santos akan dikirim ke Timor membantu Mario Lemos Pires dalam proses dekolonisasi Portugal. Rencana awal istrinya Lena dan anaknya 16 tahun Laura akan ditinggal, tapi ketika disampaikan Timor itu bukan Afrika, itu Negara kecil dekat Australia jadi relatif aman, tak bar bar seperti Afrika? Gundulmu! Maka diputuskan sekeluarga dibawa. Rencana dan perkiraan yang bagus itu menjelma bencana, Timor dalam gejolak politik. Ada tiga partai yang berdiri menjelang dekolonisasi: UDT yang menginginkan persatuan dengan Portugal, Fretelin yang menginginkan kemerdekaan penuh – sebelumnya bernama ASDT, dan Apodeti yang kecil dan ingin bersatu dengan Indonesia, Negara tetangga bekas jajahan Belanda. Walau Julio mencoba tak ikut-ikut suasana, mencoba netral tak memihak politik manapun, nasib malang menimpa, menjadikannya korban keganasan politik. Semua tidak baik-baik saja. Sadis sekali kisah hidup keluarga ini. Julio Craveiro dos Santos yang malang. Atas nama rakyat Maurebe, kalian adalah martir-martir pertama.

Legenda Am Siki mencipta kisah tersendiri, kembali ditarik lebih jauh ke belakang di era penjajahan. Am Siki menjadi masyur dan dihormati di seluruh negeri. Namanya harum mewangi dan dikenal ke pulau-pulau lain. Mereka sering menyebutnya pahlawan, yaitu ksatria yang membunuh untuk menyelamatkan bangsa dari cengkeraman Jepang. Ama Nemo Manas Manikin, leluhur salah satu pemimpin negeri. Konon hujan tak pernah membasahinya, angin hanya meniupnya jika mendapat izin, dan bila ia menunggang kuda di siang terik, awan akan berputar-putar di kepalanya, melindungi ia dari sengatan matahari. Segala yang tumbuh di atas tanah itu hanya milik leluhur semata, jika membutuhkan sesuatu, ambillah, tapi jangan untuk berperang. Am Siki turunan orang sakti itu, pohon lontar yang ajaib. Pohon lontar itu membacakan syair dalam uab Meto.

Bagaimana ia menjadi pahlawan sungguh kocak. Am Siki menyelamatkan kudanya yang diperkosa tentara Jepang, tapi ditafsir menyelamatkan bangsa sebab selain membantai Nippon ia juga membakar area romusha. Orang-orang bisa menyelamatkan diri. Lalu waktu menjelma dongeng legenda. Sejak Am Nu’an pendongeng dari Oetimu yang rabun terjun ke jurang yang disangkanya kolam ikan dan mati, orang meminta Am Siki untuk mendongeng. Ia adalah pencerita yang handal, yang bercerita dengan kata kerja yang gampang diimajinasikan dan beragam isyarat tubuh. “Tidak boleh dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Ingat? Tidak boleh diperkosa, sekalipun itu kuda…

Laura yang terlunta berhari-hari dalam keadaan hamil terdampar di Toko SUBUR: Berdiri Karena Sabar. Dikira penyihir saking kumalnya, dikira orang gila. Panggilkan Am Siki, tetua kampung. Maka Am Siki mengulurkan tangannya. Menyulap gadis dekil menjadi jelita. Laura melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Siprianus Portakes Oetimu atau yang kita kenal nantinya sebagai Sersan Ipi yang kita baca di bab pertama.

Ketika lulus SMA, sang kakek angkat mencarikan jalan hidup nyaman. Sebagai tetua adat, ia lalu menyambut pejabat. Am Siki memandang mereka dengan heran dan bertanya bagaimana bisa orang terhormat tidak memahami syair, padahal ia berkata dengan diksi dan metafora yang bisa dipahami oleh orang Timor paling tolol sekalipun. Ipi berangkat pendidikan kepolisian, dan peran sang legenda berakhir sudah.

Ia menjadi seorang polisi tunggal yang gagah, ditakuti anak-anak sekaligus dihormati sebagian kalangan. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia adalah aparat Negara yang berseragam, ia akan bertindak atas nama Negara, demi kebaikan daripada seluruh warga Negara. Dia menjaga keamanan wilayah, suatu hari dua siswa berkelahi karena permasalahan mimpi basah. Kalian boleh mimpi basah dengan siapa saja, dengan Nona Silvy, dengan istri A Teang, atau dengan Lady Diana sekalipun. Namun jangan berkelahi, demi Tuhan, kalian hanya bocah bodoh, kencing saja belum bisa bikin lubang tanah. Belum tahu dia, betapa jelitanya Nona Silvy ini. Maka ketika ia ke rumahnya yang sepi, ia gemetar jatuh hati. Bagian ini sampai melenguh lega adalah bagian terbaik, anjay kalau saya bilang. Pertama ketemu bercinta, dan saling mengikat. Menghamili adalah cara lain untuk melamar. Silvy yang cerdas memilih calon ayah bagi anaknya, Ipi yang lelah karena hobi nganu-nya menemukan sarang yang pas. Kalau ini adaptasi Disney, garongnya keok. Namun enggak, ini adalah hikayat orang sial.

Tersebut pula Atino yang membela Negara, memberantas radikalisme para pemberontak. Apes pula nasibnya sebab sebuah serbuan maut membunuh keluarganya. Dengan dendam kesumat, ia menjadi pasukan Petrus-nya Soeharto, sambil mencatat para pembunuh untuk balas dendam. Sampai di sini tentu saja kita tahu, di bab mula bahwa ia merencana balas dendam, dan Martin Katibi tentulah salah satu dalam daftar.

Untuk kembali ke benang putus bab satu, kita masih diajak muter ke sebuah kehidupan lain. SMA Santa Helena yang termasyur itu dituturkan dari mula sekali. Romo Yosef ditugaskan menjadi kepala sekolah bobrok pesisir karena hukuman. Ia sukses mengubah sekolah kumuh menjadi sekolah favorit, banyak trik. Orang-orang cepat jatuh hati pada kemiskinan dan selalu ingin menjadi pahlawan. Dari sumbangan dan kerja keras. Bagaimana ia di ditempatkan di sana memang misteri. Ada yang bilang ia melakukan pelanggaran, ada yang bilang ia naik pangkat setelah menjadi asisten pastor ia kini menjadi orang nomor satu, walau terkucil. Tenang, kita akan diberitahu detailnya, karena dari Maria Goreti Naleok-lah sumber itu. Masa muda Maria yang idealis di kampus bertemu calon pelayan Tuhan yang kalem. Untuk menutupi gerakan mahasiswa, mereka membentuk Kelompok Doa Mahasiswa Ora et Labora, dan laki-laki itu turut serta. Lelaki berilmu yang dingin kepala, akan betah bersama perempuan yang cerewet dan suka mengumpat. “Jika kita selalu menjadikan Tuhan sebagai pelita, sebagai penuntun jalan kita, maka kita pasti bisa menjalani setiap cobaan di dunia ini.” Mereka saling cinta, terjadi berkali-kali ciuman panas, Maria sudah menyatakan ketertarikannya, tapi Yosef sudah membulatkan tekad menjadi pastor. Maka melalui ciuman panas perpisahan, Mari melanjutkan hidup menikah dengan lelaki Rumah Sakit bernama Wildan. Keluarga ini sempurna ketika buah hatinya lahir. Bung Felix tertawa, sebuah kecelakaan menewaskan suami dan anaknya, dan Maria menjanda. Seorang cerdas ini mendapat nasib buruk.

Nah, janda ini melakukan ciuman dengan Romo Yosef, masih ada cinta di antara mereka. Adegan hot itu ketahuan sang kepala, maka ia harus angkat kaki. Nasib akhir Maria sendiri membuat merinding. Orang cerdas tak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan, banyak impiannya tak terkabul, cinta, karier, keluarga ini. Rapuh. Di pemakaman suami-anaknya ia mengumpat, umpatan yang fasih dan menggelegar di arena dukacita. “Kesatuan Negara? Kesatuan Negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya… Sangkamu kesatuan Negara lebih penting daripada… puih! Anjing!”

Kita kembali ke Silvy Hakuak Namepan yang lulus seleksi masuk SMA, Yunus Mafut Namepan menangis seperti gembala kehilangan sapi, bukan bahagia, tetapi ia menangis sebab terus-terus merasa gagal menjadi orang tua. Nasib Yunus sendiri mengambang. Setelah ditinggal istrinya Yanti yang kabur sama laki lain, ia mengalami degradasi mental. Guru yang terpuruk. Nah, Silvy putri tunggalnya ini cerdas, membuat heboh sekolah asrama ini. Sebab kerap ia menyela penjelasan mereka dan mengajukan argumen lain dengan sumber data yang jelas dan landasan berpikir yang kuat. Tak ada yang bisa membantahnya. Kecerdasan ini membuatnya diminta keluar kelas, diminta belajar mandiri dalam perpustakaan pribadi asrama. Kita tahu ada adegan mesum di dalamnya karena suatu ketika sang kepala sekolah pulang dalam keadaan demam, dan terjadilah apa yang yang menjadi penyebab Silvy ke Oetimu.

Satu tokoh lagi yang menjadi link adalah Linus Atoin Aloket. Dari enam ratus delapan puluh Sembilan orang sarjana laki-laki yang melamar, ia satu-satunya yang diterima sebagai guru SMA Santa Helena. Karakter bodoh yang aneh nan menjengkelkan. “Di dunia yang fana ini, uang bisa membeli kebahagiaan kalau kau tahu cara menggunakannya.” Menjadi guru sejarah tapi nggak nyambung masalah masa lalu. Apa pula gunanya berpikir? Ia hanya perlu bekerja. Kerja, kerja, dan kerja. Biarkan Romo Yosef yang berpikir. Tokoh paling menjijikkan ini menjadi kunci utama untuk menyambungkan adegan pembuka, mengapa Silvy pindah sekolah diantar Om Lamber dan Tanta Yuli.

Di Oetimu, segala yang ditata rapi itu berakhir berantakan. Saya suka sekali kisah hidup tragis, Bung Felix menyajikannya dengan melimpah ruah, suram adalah koentji. Orang-Orang Oetimu adalah novel lokal terbaik yang kubaca tahun ini. Serius!

Hajindul, keren banget! Sabtu malam kemarin (26/09/20) saya chat WA sama teman diskusi (buku, bola, film) – Bung Tak saya memanggilnya – bahwa pemenang KSK tahun ini adalah Orang-orang Oetimu, beliau punya podcast channel dan mau undang ngobrol. All hail mokondo channel! Beliau tanya, tahu dari mana? Pengalaman membaca banyak buku membentuk pola, otomatis feeling bagus/jeleknya bisa diperkira. Benar saja, esoknya di Minggu siang yang terik saya mendapat kabar lima besar dari Dunia Maya, dan buku ini melaju. Nah kan! Dari delapan buku KSK 20 yang sudah kubaca, ini satu-satunya yang berbintang lima. Masih dua buku lagi sore itu baru diterima via pos, tapi keduanya sudah gugur duluan. Jadi fix, bisa dipastikan juara Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 kategori prosa adalah novel ini.

Banyak sekali kritik sosial disampaikan. Korupsi, perilaku buruk masyarakat, sampai birokrasi yang ribet. Orang-orang itu telah korup sejak dalam pikirannya, sehingga satu pejabat korup hanya akan digantikan oleh kroninya yang juga korup, dilindungi oleh rezim yang juga korup, dipermudah oleh sistem yang juga korup, dan didukung oleh budaya tidak tahu malu yang menjijikan. Atau kritik kekerasan dalam pendidikan. Dalam asrama itu diperboleh. Tak apa jika mereka dibikin nyonyor dan berdarah-darah. Lebih baik berdarah di masa muda daripada hancur seluruh masa depannya…

Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 ini sepertinya akan berpesta di 15 Oktober nanti. Fiksi Etnografis Sempurna: Orang-Orang Oetimu is lock for best Prosa KSK 20. Wanna bet?

Orang-orang Oetimu | by Felix K. Nesi | Penerbit CV. Marjin Kiri | Juli 2019 | Cetakan ketiga, Februari 2020 | i – viii + 220 hlm, 14 x 20.3 cm | ISBN 978-979-1260-89-3 | Desain sampul TINTA Creative Production | Skor: 5/5

Karawang, 280920 – Jo Stafford – Autumn Leaves (1950)

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokopedia

Delapan sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Dalih Pembunuhan Massal di Bali

Leak Tegal Sirah by I Gusti Putu Bawa Samar Gantang

Anda melambaikan tangan kepada saya?” / “Kepada kabut yang mengganggu suami saya.”

Dinding rumah punya mata dan telinga, fitnah bagai cendawan di musim kematian. Novel yang menyeramkan. Memenggal kepala menjadi lumrah. Kisahnya berkutat di tahun 1965 dan 1966, pembunuhan massal para kaum Partai Komunis Indonesia (PKI) oleh pemerintah, di sini lebih sering disebut dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Dari awal sampai akhir, setting di Bali, lebih tepatnya di banjar Tegal Sirah dan sekitarnya. Poin utamanya adalah pembunuhan dilakukan dengan membabi buta oleh para tameng (algojo), dan memberi efek ke semua orang, termasuk kematian para algojo yang semacam kena kutuk. Kabut hitam di Bali diawali kedatangan Kolonel Sarwo Edi Wibowo, selaku komandan resimen pasukan komando angkatan darat. Tiba bulan November 1965 untuk membersihkan PKI. Operasi ini terencana dan terstruktur. Rapat-rapat operasi dilakukan di Kodim. Semua diatur di Kodim.

Bali dengan segala mistis relijiusnya. Magis menghanyutkan. Dari judulnya sudah seram, memakai kata leak dalam judul, lalu kat tegal sirah adalah Banjar Tegal Sirah unik dan spesifik. Mistik yang terletak di Desa Dauh Pasar. Cerita dituturkan dengan santai, tapi malah mencekam karena dalam kata-kata sederhana terdapat horror super teror terjadi setiap malam. Mereka yang dicap komunis dibantai seperti anjing rabies. Karma terbiasa melihat rumah terbakar layaknya membakar batu bata. Nunjel citak, istilah orang kampung untuk bakar rumah dengan batu bata. Manusia dibantai liar, layaknya membantai binatang saja.

Kisahnya dibuka dengan sebuah surat di hari Jumat Legi, 10 Desember 1965 tengah hari, truk super wagon yang berhenti di halaman sekolah. Mengangkut warga PKI atau simpatisan PKI, yang netral, atau tanpa partai, nasib mereka ada di ujung tanduk. Tersebutlah guru non formal di bale Banjar Tegal Sirah, I Gede Jobrog atau sehari-hari dipanggil Pan Jobrog dulu berpesan, “Ya, kalian harus belajar. Harus sekolah kalau ingin pintar.” Hari itu, hampir setengah dari jumlah keseluruhan murid masuk dalam daftar. Kesepuluh yang diciduk semua masih remaja, berusia rata-rata 17 tahun, masih lajang. Mereka yang non-PKI ini masuk dalam golongan jatah merah.

Sudah menjadi rahasia umum mereka yang diciduk siang, malamnya dieksekusi oleh tameng di setra (kuburan). Tameng adalah algojo dari PNI (Partai Nasional Indonesia). Ada yang diserahkan ke Kodim, mereka diserahkan kepada tameng, tentara hanya mengawasi saja. Bab pembuka yang serem sekali, tapi memang ini bukan rahasia, sudah banyak buku yang mengupas tragedi ini. Maka perjalanan dilanjutkan, detail dalam setiap prosesnya. Suasana malam terasa khusuk.

Koran lokal lalu menulis tentang leak tegal sirah gentayangan, dua puluh arwah penampakan tanpa kepala yang menenteng kepala sendiri. Menuntut balas dan mengejar para pendosa. Hidup ini tidak lepas dari sebab akibat. Suasana sekarang seperti di hutan rimba. Kita harus selalu ingat dan sadar hukum karma phala. Perbuatan baik akan menghasilkan hal baik, perbuatan buruk hasilnya pasti buruk.

Berbagai hantu disebut. Pangpang, makhluk jadi-jadian atau celuluk atau kuplak-kaplik, leak botak seksi dan lucu sekaligus bikin mual. Beberapa adegan digambarkan seram, tapi warga seolah biasa melihat penampakan. Linting adalah penerangan seperti sentir atau lampu teplok yang bahannya dari kapas yang digulung, selaku sumbu, beralas jembung atau mangkok yang berisi minyak kelapa dicampur beras. Dengan cahaya remang, di kebun melihat penampakan-penampakan. Melihat kera jadi-jadian atau leak berwujud kera. Para wanita korban menjadi leak jegeg. “Menurut kepercayaan leluhur kita, suara gagak tunggal itu pertanda…”

Ciri-ciri orang bisa jadi leak adalah orangnya pemalu, murah senyum, ramah, siku tangan dan kakinya bulbul atau berbuku-buku, menghindar untuk beradu pandang dengan orang lain. Jika ada suatu keluarga yang bisa ngeleak, maka cenderung terjadi anak pertama meninggal dunia, keluarga sulit punya keturuanan atau anak cenderung lahir adalah perempuan.

Dalam Sastra Makutama disebutkan bahwa pengleakan itu ada 12 tingkat. Tingkat pertama orang meleak bisa menjadi kera, itik, ayam, kambing. Tingkat kesebelas bisa menjasi aji rim rim. Tingkat kedua belas bisa menjadi aji sumedang. Dua tingkat terakhir ini adalah ilmu putih yang harus dimiliki oleh pendeta. Leak tingkat terakhir ini bisa untuk menangkal leak.

Ada bintang kukus atau bintang berekor, ekornya menghadap tenggara. Itu pertanda tidak baik, akan ada bencana. Itu sipta durmanggala karipubaya atau aruh hari hara. Rumah yang jadi sasaran dapat diketahui kalau pintu kori pekarangan rumahnya tidak dipasang nyiru bergambar kepala banteng segitiga. Bila terdengar siualan panjang, disusul suara burung hantu, itu pertanda operasi lempar bakar rumah dimulai, begitu juga mengakhiri. “O, jadi keluarga kita mewarisi tanah leluhur begitu banyak sebagai pewaris kerajaan?”

Untuk menguburkan mayat juga ada hitungannya. Hari yang baik untuk mengubur mayat. Menjagongan adalah melayat. “Idadane (saudara), ikhlaskan kepergiannya. Jangan ada air mata jatuh mengenai mayat. Kalau sampai jenazah kena air mata, roh almarhum akan ragu dan bimbang dalam perjalanan ke niskala (alam barzah).”

Para tameng, algojo sekali membunuh ketagihan. Haus anyir darah. Dibumbui rasa bangga, setia pada Pancasila dan NKRI. Seperti melihat koboi, ada perasaan gagah seorang jagoan mengalahkan penjahat. Seperti kesetiaan anjing kampung Bali dengan pemiliknya.

Buku-buku yang dilarang adalah buku-buku yang isinya mengandung darah, penuh kebencian dan balas dendam. Salah satunya semua buku terbitan Gema Solo yang ilustrasinya Oen Tiong Ho. Tradisi lama yang berlangsung tentram itu rusak akibat masuknya partai, masuknya politik dalam kampung. Memang kelian banjar menyerukan membuat WC dan kamar mandi, tapi yang menyerukan tak membuat.

Ada bagian yang mencipta gidik, Nang Cireng seorang kawehan dapat melihat penampakan drai makhluk-makhluk astral, memiliki indra keenam. Lalu dua rekannya yang penasaran dibukakan matanya, “Seperti ada seribu mata memandang.”

Lalu adegan seru dalam duel maut di kuburan antara De Gedeg versus Aji Pagag. Dua jagoan yang beradu di lihat para suporternya, terlihat sangat menghibur dan ajian yang ditampilkan bagus, sayangnya tak banyak, musuh keburu ditekuk. De Gedeg (warga Banjar Tuakang yang Sembilan puluh persen PKI) sendiri melakukan pembunuhan dengan brutal kepada rekan-rekan satu partainya dengan imingan ia dan keluarga selamat. Ia mendapat kekebalan dari Pan Lepig. Gurunya meninggal dengan pilu, kebal senjata tapi musuh menyandera keluarga sehingga ia berkorban, dan memberitahukan cara membunuhnya. Ambil iyip atau sembilu di batang pohon dadap yang dirambatai daun sirih di belakang rumah, sentuh leher dengan iyip tanpa darah, matilah ia. Pan Lepig PNI tapi ia memberi ilmunya pada semua orang termasuk PKI sehingga dilenyapkan juga. Hanya salah bicara bisa mati, walau ia PNI, sebab sentimen pribadi bermain di sini.

Adegan di Café Jegeg juga lumayan menghibur, bagian-bagian karma yang berlangsung. Para tameng: Aji Jenar, Aji Grodog, Nang Mung, Nang Njin, I Wayan Rekas (Nang Kok), Nang Neng, Mas Asih. Mati satu per satu, adegan café tiga tameng menemui delapan wanita cantik dan bercinta di alam terbuka itu berakhir tragis, karena para wanita itu adalah leak.

Adegan biadap disajikan dalam pelecehan seksual, para wanita diperkosa sebelum dilenyapkan, anggota Gerwani atau turunannya habis oleh tentara atau tameng setan. Salah duanya Si kembar Siluh Jabrig dan Siluh Jabrug. Sungguh pilu. Dari semua itu yang paling berengsek adalah murid yang mengeksekusi gurunya, meminta pesan terakhir lalu memenggalnya. Keterlaluan kalian kalau sampai tak menitikan air mata.

Makanya ketika satu per satu tewas para algojo ini, ada rasa lega. Salah satunya Nang Kok meninggal di Pura Dalem bersama Siluh Arum. Melakukan percintaan di tempat suci. Tiga pesan orang tua: pertama tidak boleh membunuh orang yang tak berdaya walau musuh kita, kedua tidak boleh merampas barang lawan. Ketiga tidak boleh memerkosa.

Buku ceritanya tidak sampai 200 halaman, menghabiskan enam glosarium nama dan enam belas glosarium istilah (dan tidak alfabet lagi, hiks…), plus tiga halaman data penulis. Untuk buku setipis ini sungguh mahal, dibanderol seratus ribu, buku paling mahal dari semua kandidat. Sejujurnya, walau cerita lumayan OK, buku seharga segitu harusnya bisa lebih tebal. Padahal saya lagi mengincar Tafsir Mimpi (Sigmund Freud), dengan harga sebanding. Puluhan buku yang kubeli hari ini, tetap tak mencantumkannya.

Buku ini juga lumayan bervitamin, karena masih awam budaya Bali yang mistis seperti pembagian leak atau ngaben yang terkenal itu. Lalu catatan sejarah kita tentang landeform yang merupakan Undang-Undang Pokok Agraria yang ditetapkan tahun 1962 dan dilaksanakan tahun 1963. Menerangkan barang siapa yang memiliki tanah berupa sawah atau tanah basah lebih dari 7.5 hektar, maka tanah lebih tersebut diberikan kepada Juru Tandu atau penggarap sawah. Jika berupa tanah kering atau tegalan lebih dari 9.5 hektar, maka tanah lebih diberikan kepada penggarap yang tidak punya tanah. Itu berlaku dalam satu kecamatan. Jelas aturan ini merugikan tuan tanah, petani gurem seolah mendapat durian runtuh.

I Gusti Putu Bawa Samar Gantang adalah seniman senior lahir di Bali tanggal 27 September 1949, makanya buku ini terasa memoar. Tahun 1965 berarti beliau berusia 16 tahun, masa remaja yang menancapkan ingatan kuat ke dalam benak. Kalau diamati lebih lagi, sang penulis ada di karakter Ti Jabrag, karena bisa mencerita detail kasihnya pada Bu Guru, masa cekam yang dilalui dalam kemelut politik itu disarikan dalam tiga tahap (dekade) 1999, 2009, 2019. Proses yang sangat panjang.

Prediksiku, sepertinya berlanjut ke daftar pendek.

Leak Tegal Sirah | by I Gusti Putu Bawa Samar Gantang | Copyright 2019 | Penerbit Indonesia Tera | Cetakan Pertama, November 2019 | Penyunting Dorothea Rosa Herliany | Desain sampul Sabina Kencana | Penata letak Artha Sasmita | vi + 202 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 978-979-775-310-8 | Skor: 4/5

Karawang, 250920 – Manthous – Potretmu (Dasa Studio)

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokopedia

Tujuh sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Setan yang Menyuruhku Tertawa

Surat-Surat Lenin Endrou by Maywin Dwi-Asmara

Kadang kita tak bisa begitu saja memercayai mata kita, karena terkadang mereka melihat kebohongan.

Kumpulan cerita pendek yang dibagi dalam dua bagian. Rasanya sama saja, hanya jumlah kata yang pertama lebih banyak. Lenin mengeja nama wanita itu bagaikan membaca sebaris ayat suci, dengan lembut dan penuh rasa haru. Ah sudahlah… mari kita ulik bentar.

Bagian I

#1. Surat-surat Lenin Endrou

Sebagai pembuka cerita, bisa jadi ini adalah yang terbaik. Kisahnya agak absurd, seorang lelaki mendapati hidup yang bahagia bersama Veronica yang bangun lebih awal dan berangkat kerja naik kendaraan umum. Dengan aroma kopi yang menguar, aku mendapati ruang kerja Veronica dan mendapati surat-surat Lenin Endrou yang mendayu, bernarasi kehidupan dan merindu. Lenin adalah pasien rumah sakit, yang di ujung kisah sudah tak ada.

#2. Asomatognosis

Pasien yang mengalami semacam halusinasi, dia bukanlah dia. Sang aku merawatnya, merasa kasihan dan membuat catatan perkembangan penyembuhan. Ada nada bohong karena obat yang selama ini seharusnya diberikan, tertahan.

#3. Eustasius

Semenjak mendapat gagasan untuk menulis dengan cara yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, Lenin mulai mendengar suara-suara khayalan – seakan suara itu keluar dari otaknya dan masuk lagi melalui lubang telinga, merambat menghantarkan getar lewat eustasius… Apa saja berarti kemungkinan sesuatu yang menggairahkan. “Betapa menyenangkan melihat kau menikmati makananmu.” Lalu soundtrack Taxi Driver mengalun, menggema.

#4. Jurnal Mimpi

Kau terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran luas tak terbatas. Kover buku bisa saja diambil dari cerita ini, dengan hiperbolis bilang ribuan merpati di langit senja, walau eksekusinya ditunjukkan pada elang. Layaknya seorang pengelana mimpi, ia memiliki jurnal mimpi yang secara rutin diisi terus menerus. Lenin Endrou adalah dokter hewan yang memberi penghakiman pada pasiennya, “Kematian akan mengobati semua lukamu.”

#5. Gangguan Tidur

Ada pancaran kegilaan pada mata gadis itu. Senyumannya yang ganjil sering tersungging dengan cara yang aneh. Hidup sendiri dalam rumah besar mengalami gangguan tidur, halusinasi dan pikiran melalang, serangga yang memintal jebak.

Kebetulan beberapa waktu yang lalu ada teman, mengalami gangguan tidur dan imsonia curhat, dengan pede-nya kunasehati: coba ngobrol sama tembok sampai lelah.

#6. Organisme Super

Semut-semut perkasa yang memiliki kehidupan dalam tanah dalam koloni-koloni, dengan ratu yang mengatur. Dari narator tayangan televisi yang menjelaskan kehidupan semut di belantara gurun Arizona. Tahukah kalian dalam satu koloni semut ada lebih dari satu ratu? Wah info penting banget! Hehehehe…

#7. Rencana Akhir Pekan

Jumat petang adalah dambaan semua orang, ada me time di akhir pekan. Sang aku berjumpa dengan teman kantor di lift yang lupa namanya, iseng nanya lebih suka opera atau pertunjukan lain? Lenin yang merasa kekosongan, bercerita pada Veronica yang dijawab dengan kekosongan.

#8. ‘La Vita e Viaggio’

Arti judulnya, ‘Hidup hanyalah perjalanan’. Tetapi apakah kesopanan dan perilaku santun pantas menjadi alasan seseorang untuk curiga? Mungkin kecurigaan bisa menjadi jalan untuk bersinggungan dengan orang yang jauh dan bahkan tak tersentuh itu. “Dalam cerita ini apa Anda ingat, ada seorang suami yang sengaja ingin menggantikan dirinya dengan sebuah mesin?” Ia sering berteriak ketakutan karena ketakutannya sendiri. Aku memang tak seharusnya memaksakan untuk menato semua kejadian dalam hidupku dengan puisi.

#9. Di Pertengahan Bulan April

Ia lebih suka mempelajari kehidupan manusia dari makhluk lain, dari situlah ia benar-benar melihat manusia, tak jarang ia meletakkan hal-hal gaib di luar nalar manusia, seperti hubungan setan dengan manusia. Tragedi kecelakaan pesawat yang menewaskan hampir 150 penumpang, dengan sudut si A yang tahu tentang terapi, si B yang memberi terapi, si C putri sang pilot, dan sang pilot yang merasakan ada kejanggalan.

#10. Codex Kematian Veronica

Salah satu narasi yang kusuka ada di sini: ‘Kudengar suara daun yang gemerisik disisir angin, cahaya bulan telah menggaris deretan besi ventilasi berukuran tak lebih dari 10 cm…’ Pengandaian antar benda mati yang saling singgung. Kisahnya dibuat dalam pecahan dialog dan narasi tiga orang: D., M., I.. Kau cantik lebih dari burung-burung itu, pita merah jambu masih terikat pada belaian rambut lembutmu…

Kau telah terbakar bersama topeng-topeng dan bunga mawar merahmu di apartemen kita.

Bagian II

#11. Tiga Fragmen Sebelum Hujan

Tiga penggambaran, mayoritas tentang alam, cuaca, kejadian natural bagaimana burung-burung berceloteh, bunga kuncup, sampai sinar mentari yang hangat. Fragmen ketiga sebelum hujan, ada korban jiwa di jalan beraspal.

#12. Pabrik Roti

Alkisah ibu yang pernah bekerja di pabrik roti, seturut bisa membuat roti yang enak sekali. Walau endingnya lumayan OK dengan menyodorkan fakta baru, nasib duka cita Linda dan nasib suka cita bibi Linda.

#13. Pengantin Lumpur

Pernikahan Grace dan Ronald, di altar yang aneh dan menggelisahkan. Lumpur dan rambatan tanah memenuhi Grace, tanah rawa yang menjalar sepenuhnya. Ada duka di dalamnya, ada dan tiada.

#14. Boneka Ventriloquist

Don yang malas percaya bahwa apa yang ia dapatkan tidak akan pernah ada hubungannya dengan seberapa cepat ia bangun untuk memulai hari, rejekinya ntar dipatuk ayam. Haha… boneka ventriloquist dari kayu oak, menyalakan api di boneka jerami. No Mercy!

#15. Pisau Rob

Setan yang menyuruhku tertawa.” Pembunuhan dengan dalih bisikan setan. Tuan Robi dan kematian Veronica, bukti kuat mantel, kemeja, beserta pisau dengan bercak darah di apartemen.

#16. Alisia dan Bayangan Kematian

Cerita Alisia tentang lelaki yang berjalan bersama anjing, mengintai dan tampak menakutkan. Memang setelah dituturkan dengan tak menarik (buatku), ternyata ia hanya bayangan gelap besar, dan sayangnya juga menyeramkan.

#17. Di Mana Kau Berada pada Pukul Tiga Pagi?

Pembunuhan yang diperkira kematian korban jam tiga pagi. Hikayat Jack The Ripper dari Inggris. Para saksi dan yang mengetahui ada mayar lalu dicerita bersisian, musisi yang memainkan lagu sendu, orang-orang yang menganalisis bak Sherlock Holmes.

#18. Anjing

Aku melihat anjing dalam mimpiku.” Wanita berambut merah. Beberapa laki-laki yang melakukan aktivitas biasa, membuka jendela misalkan. Mimpi-mimpi aneh yang membuatku berdoa pada tuhan akan keselamatan. Sampai akhirnya ia melihat anjing itu melumat.

#19. Matahari Telah Mati

Isinya narasi panjang berbelit, seperti; ‘Aku teruskan perjalananku kembali ke tempatku sembari berpikir “apa saja yang bisa dilakukan doa-doa itu kepadanya”’. Suara-suara dalam kepala yang melengkingkan banyak tanda tanya.

#20. Jalan Menuju Roma

Mungkin buah mangga ini adalah salah satu buah yang selamat dari kemarahan alam dan menemukan jalannya menuju Roma. Roma, Italia adalah destini kota yang menjadi ikon perjuangan perjalanan. Kali ini bukan kiasan, cerita amat pendek ini ditulis di sana. Lolita dalam imaji dia. Kenyataannya aku telah berjalan di sana, di jalan Raya kota Roma. Well, sekalian teriak; #ForzaLazio dong.

Berisi dua puluh cerpen dengan jumlah halaman hanya seratus lima puluhan, sungguh cerita amat pendek. Mau disebut fiksi mini, tapi ya engga mini, mau di sebut cerpen standar Koran Nasional di Minggu Pagi tapi masih terlalu sedikit, terutama sekali bagian dua, hanya dua tiga lembar. Isinya menukik, ibarat naik sepeda, Surat Lenin sudah starter di atas serasa sejuk dan menyenangkan, dan kayuhannya menurun landai sampai akhirnya Menuju Roma terjerebab. Kebanyakan memainkan narasi, pertama masuk sih masih ok, di tengah masih bisa menikmati, ternyata gaya bertutur ini bertahan sampai akhir. Lenin mati di awal, Veronica mati di tengah, dan bertebaran kasus pembunuhan sepanjang halaman. Tema mencoba dibuat beragam, penuturannya dibuat lain, tapi cerita ya gitu-gitu aja. Kalau dalam satu kata, cara berceritanya sungguh monoton. Kamu boleh saja bermain-main kata, melalangbuana menjelajah semesta lingustik, tapi tetap yang utama cerita harus bagus.

Gaya-gayanya mengingatkanku pada gaya Haruki Murakami yang surealis, gayanya doang, ceritanya jauh. Ini versi sederhananya, versi mini, karena butuh kerja ekstra untuk membaca benar-benar masuk, Surat Lenin teramat sederhana karena fantasi nanggung dengan cerita tak kuat. Kamu engga otomatis hebat dengan mengetik lirik lagu musisi hebat, kamu engga otomatis penulis jagoan dengan pamer kosakata unik, kamu juga engga otomatis tukang sulap bila membingungkan pemirsa. First thing first, cerita! Surat Lenin sekadar bagus, sedikit di atas rata-rata yang dengan mudah kuprediksi Tak Akan Juara KSK 20.

Kau akan menatapku dan mulai menangis, kau mengutukku karena kebaikan hati yang kumiliki.

Surat-Surat Lenin Endrou | By Maywin Dwi-Asmara | Editor Kiki Sulistyo | Pemeriksa aksara Daruz Armedian | Tata sampul Sukutangan | Tata isi Vitrya | Pracetak Kiki | Penerbit Basabasi | Cetakan Pertama, Juli 2019 | 156hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-623-7900-06-3 | Skor: 3/5

Karawang, 220920 – Billie Holiday – God Bless the Child (1941)

Thx to Basabasi, Titus Pradita, Shopee

Enam sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Hikayat Orang Apes

Kawi Matin di Negeri Anjing by Arafat Nur

Negeri ini negeri anjing, jika aku tidak diterima menjadi orang baik, aku akan menjadi orang jahat.”

Novel pilu, karakternya apes dari halaman pertama sampai akhir. Pokoknya sial terus. Ga ada karakter abu-abu, yang jahat bener-benar jahat (seluruh tentara adalah penjahat), yang baik terus memupuk kebaikan (Syakban contohnya, baik banget kau Pakcik), dan yang apes seolah tak mengenal kata bahagia (karakter utama). Padahal manusia adalah gudangnya keraguan. Kata Ernest Renan, keragu-raguan adalah bentuk penghormatan terhadap kebenaran. Takdir, rejeki, jodoh sudah ada yang atur, dalam novel jelas sang pengatur itu adalah Penulis. Maka tokoh utama dalam Kawi Matin di Negeri Anjing mengalami segala hal buruk yang bisa ditimpakan kepadanya adalah rekaan. Novel yang mengetengahkan nasib daerah ujung Barat Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir. Memang menjual kritik tapi tak harus memilu paksa gini juga. Sebagaimana sejarah komunis di negeri ini, pemberontak Aceh pun harus ditumpas habis sampai ke akar-akarnya.

Ayahnya meninggal dibunuh pasukan penjaga perdamaian atau sebagian di mata orang sana menyebutnya penjajah, setelah sempat kehilangan ingatan atau bisa dikata error. Ibunya sakit-sakitan, sepanjang halaman bengeknya ga sembuh, makan pelepah pisang yang direbus dan kekurangan beras menjadi rutinitas, kakaknya meninggal karena keganasan peliharaan sendiri, ditanduk karena memberi kasih, dan adiknya yang jelita menjadi korban pelecehan, kamu enggak akan pernah tahu tetangga mana yang harus diwaspadai. Ditambah, kekasihnya memiliki anak dari tindak pemerkosaan. Sekalipun Kawi tahu Baidah telah memiliki bayi, perasaan kepada perempuan itu tetap sama. Tidak akan berubah, sekali cinta tetap cinta. Luar biasa memang jagoan kita ini. Kuat fisik dan mentalnya. Ramlah, ibu Baidah turut terenyuh. “Aku belum pernah dengar nama seaneh itu.” Kawi yang terlahir kekurangan fisik di sebelah kakinya, mengangkat senjata melawan ketidakadilan kehidupan.

Kawi Matin adalah anak kedua dari pasangan Rahman dan Saudah dari Aceh, kakaknya Kadir, begitu rupawan, dan adiknya Neung Peung juga sama manisnya. Kakaknya menjadi penjaga, pembelanya ketika ada yang berkata kasar, menghajar begundal yang berani menganiaya, makanya dimatikan. Ayahnya memberi nama Kawi Matin, berharap anak itu menjadi seorang lelaki kuat dan kukuh dalam menghadapi berbagai takdir dan nasib buruk yang menyertainya kelak. Kawi berarti kuat, matin berarti kukuh. Terlahir tahun 1983, dengan kondisi sebelah kakinya tak memiliki ruas tapak sama sekali.

Keluarga miskin yang bertani dengan tanah sepetak, kadang menyewa lahan tetangga atau beternak ayam. Kehidupan khas pedesaan, untuk memperbaiki taraf hidup, ayahnya menabung guna membeli lembu betina dengan niat mengikuti tetangganya yang sukses beternak Leman yang berawal satu lembu, menjelma puluhan. Apes memang menjadi nama tengah Kawi Matin. Lembu yang diharapkan menjadi kebanggaan keluarga itu malah membunuh Kadir, setelah bayi lembu yang suka dielusnya membuat marah binatang itu dan menanduk kakaknya. “Lembu tidak bisa berpikir.” Malah dijawab, “tapi ia punya perasaan…”

Rahman dengan amarah membuncah, mengikat lembu di pohon dan menghakiminya. Seminggu kemudian, lembu kurus yang sekarat itu dijadikan santap lauk buat semacam ‘hajatan tujuh harian’ kematian Kadir. Orang miskin yang mengadakan tahlilan dengan mewah. Nah, polemik utama buku ini bukan drama keluarga, tapi kritik sosial atas pendudukan Indonesia di sana. Karena ada pemberontakan Aceh Merdeka, yang dipimpin oleh Suman, yang ternyata memang tetangganya. Pasukan dari Jawa menjaga, mengontrol daerah itu. Kisah berkutat di sana sampai akhir, memberhangus orang-orang yang ingin merdeka. Orang-orang Pasar Kareung dianggap berkomplot dengan pembangkang.

Rahman yang apes, suatu ketika dipukuli hingga koma karena terlambat jaga ronda, operasi otak dengan menjual tanah yang tak seberapa memang menyelamatkan nyawanya, tapi tidak dengan cara berpikirnya. Rahman, pukulan serdadu di kepalanya itu telah membuatnya menjadi manusia tidak terlalu berguna. Sejak itu, Kawi menjadi dewasa lebih cepat karena menjadi tulang punggung. Dia bekerja dengan sangat gigih, melebihi kesanggupan petani mana pun di Kareung. Keluar sekolah, berladang, menjadi buruh, dan pekerjaan keras di usia remaja itu membentuk fisiknya yang lebih tangguh nan prima.

Ada tetangganya, teman sekolah bernama Darwin yang suka mem-bully-nya memanggil Si Pincang, ternyata nantinya juga menjadi ‘musuh’ yang harus dilenyapkan. Dengan ekonomi pas-pasan, dengan segala kekurangan yang ada. Nasib buruk malah menimpa adiknya, menjadi korban pelecehan seksual. Hukum menjadi tumpul, karena sang pelaku lepas, membakar dendam Kawi. Banyak sudah ketidakadilan di dunia ini, dunia memang bukan tempat yang adil. Suman membakar emosinya, “… Kelakuan jahat tentara yang sudah membunuh ayahmu, membunuh orang-orang kampung, dan menjajah kita, apakah hatimu tidak tergerak, apakah hatimu tidak marah?

Dewasa lebih cepat itu mengarah kepada Suman, sang pemimpin pemberontakan. Awalnya hanya ditugaskan menjadi penghubung komunikasi dengan HT yang disembunyikan di bawah pohon nangka, seolah memang diuji kesediaanya, lalu naik pangkat menembak, walau hanya senjata pistol jarak dekat, ya ampun diberi contoh menembak pantat tentara yang sedang buang hajat! Kawi, dibaiat menjadi pejuang bersentara, bersama dua belas prajurit di bawah komandan Suman. Dan endingnya akan mengangkat senjata AK-47, M-16, atau AK-56. Hanya butuh sepucuk pistol penuh pekuru. Justru peristiwa yang mengubrak-abrik hidup Kawi itu terjadi di saat perang sudah berakhir. “Berjuang untuk kemerdekaan atau berperang untuk balas dendam, apa bedanya?”

Novel kedua Bung Arafat Nur yang kubaca setelah Bulan Kertas yang bertema cinta remaja. Kuras atak terlalu jauh beda, penampilan dan tata cara bertutur juga segaris lurus, tergesa dengan detail yang sering diabai. Hanya temanya sekarang lebih besar karena menyangkut Aceh, bukan jiwa remaja labil.

Hukum bisa dibeli, asal ada uang. Apapun tidak ada masalah di negeri yang berazaskan keadilan sosial ini. Karena miskin, merana, dan tidak memiliki uang, maka Kawi tidak berkutik di hadapan hukum negeri ini. Ada empat orang yang menjadi target tembak, sang gubernur yang berbelit birokrasi, sang peternak lembu yang menjerumuskan, sang tetangga yang bejat dan kepala kampung yang juga belibet. Ini bukan spoilert, tapi memang awal untuk akhir. Kalau boleh menambahkan, Bidin juga tembak tuh, rekan seperjuangan? Meh!

Benar-benar lenyap dan sunyi sekali. Bagaimana peluangnya di KSK 20? Kurasa sangat tipis, cara bercerita yang menurutku sangat umum. Engga banyak liukan kata, diksinya ga dijelajah jauh, detailnya banyak abai, dibaca di kerumuman juga masih bisa, engga perlu konsentrasi berlebih. Mungkin temanya bagus, mungkin pula maksudnya memberi kritik Pemerintah, tapi masih jauh lebih bagus, misalnya Azhari Aiyup yang mengukir hampir seribu kata dengan mengambil sisi lain, lebih indah dan mengena.

Seperti kata Baidah, “Kau terlalu memaksakan diri.” Hidup ini memang keras, tapi segala nasib – kata para motivator yang tayang di jam utama di tv, tergantung dari respon. Nah respon Kawi memang sudah bulat, “Aku juga akan menjadi anjing.” Kecewa Luka batin serdadu di negeri anjing.

Kawi Matin di Negeri Anjing | by Arafat Nur | Editor Eva Sri Rahayu | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Tata sampul HOOK STUDIO | Tata isi @kilikata_ | Pracetak Kiki | Penerbit Basabasi | Cetakan pertama, Maret 2020 | viii + 172 hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-623-7290-68-1 | Skor: 3.5/5

Hidup ini jalan pendek banyak liku. Jalur lurusnya lebih panjang, berakhir buntu.

Karawang, 210920 – Sherina Munaf – Lihatlah Lebih Dekat

Thx to Basabasi, Titus Pradita, Shopee

Lima sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Nasib Mang kAslan Kita yang Menentukan

Rab(b)i by Kedung Darma Romansha

Memang kadang dunia bekerja dengan tidak adil… Telembuk yang diludahi di muka umum, juga diludahi ketika di dalam kamar.”

Kalau ngomongin Kedung Darma Romansha, bukunya akan selalu berkutat di selakangan. Kelir Slindet sangat kental ke arah sana, Telembuk lebih ekstrem lagi. Maka apa yang kurasakan di tengah gempuran Rab(b)i sudah kukenali pola itu. Buku ketiga yang kunikmati, ngalir saja, ga perlu mikir aneh-aneh, ketawa sahaja. Seperti satu-dua yang butuh waktu lebih untuk ‘tune in’ sampai buka kamus arti ‘slindet’ atau arti ‘telembuk’ yang baru kutahu, tak heran sejak cerita pertama saja sudah bisa menebak, bagaimana enggak aneh? Istri jadi TKW, kasih modal suaminya di kampung buat niduri seratus pelacur! Selain dari judul yang dicoret, ada alasan poin penting yang akan diungkap di cerita ketiga.

Novel yang tiap bab bisa berdiri sendiri, dari sudut pandang banyak karakter, saling silang melengkapi. Sang Diva, tokoh utama di kisah sebelumnya, kini hanya cameo, sesekali saja muncul dan disebut.

#1. Kaji Darsan Rab(b)i

Hikayat orang kaya yang baik hati memberi pekerjaan kepada orang susah. Sampai akhirnya kita tahu, tak ada yang gratis di dunia ini. Kisahnya tentang suami tak tahu diri. Seorang pemimpi tak tahu diri, sebenar-benarnya pemimpi. Kerjanya hanya melamun dan berjudi.

Tentang Kartamin dan keluarganya yang bekerja di toko kelontong milik Kaji Darsan, padahal sejatinya ia dijanjikan jaga empang, di menit akhir diganti orang lain, kisah Dulatip akan dibeberkan di cerita berikutnya.
Namun kita akan mengenal lebih dekat sama putra sulungnya yang beruntung bernama Untung. Menikahi Wasti dengan adegan ketiaknya (jorok woy!). “… Kamu tahu, kalai bau ketiak laki-laki itu menyenangkan?” Menjadi istirnya, nantinya juga menjadi ATM-nya ketika memutuskan jadi TKW. Emang dasar Untung, malah rabi lagi sama Nurlaila yang suka peliharaan ayam. Drama itu menemui ujung udur dua istri. “Wah hebat kamu, suamiku perkasa!”

Pembuka yang mantab sekali. Ilustrasi cover-nya sangat pas, ayam jago santuy sementara dua babon padu. 20 juta tunai!

#2. Nar

Tentang Narka yang yang menjadi tukang parkir untuk dapat duit buat nyawer. “…Saweran adalah candu bagi setiap pemeluk dangdut garis keras. Kamu sendiri pemeluk teguh, tentu juga aku.” Bergoyang bersama Diva Fiesta adalah impian setiap pemuda untuk mencium aroma tubuhnya dan menatap aurat kecantikannya dari dekat.

Ini drama keluarga, urusan suami-istri yang bertengkar karena ekonomi. Namun suatu ketika Nar memiliki surpes, kejutan buat rabi-nya. Zaman sudah berubah, lakon sudah berubah, tapi masih menyukai cerita lama. Memang kadang cinta membuat seseorang bersikap tak wajar.

Jangan membantah suami, Dosa!” / “Membantah suami kalau kayak kamu ini dapat pahala.”

#3. Juragan Empang

Alibi dibalik kenapa Kartamin gagal mendapatkan pekerjaan urus empang ada di sini. Dengan sudut pandangnya yang menjadi karyawan Pak Kaji, dan istrinya yang ngambek. Kartamin merasa beruntung diberi pekerjaan oleh Kaji Darsan, pendapatannya yang labil sebagai buruh tani, buruh bangunan, atau serabutan lain selain nganggur, kini ia bisa bernapas lega. Ada yang aneh terkait istrinya yang semok berhari-hari ga mau rabi, bahkan saat diberi kejutan gelang emas di meja kamar. Sebab ngambeknya lalu dituturkan dengan santuy dan menghentak, lewat kamar yang sedikit terbuka, dan permintaan cerai!

Ia ingin membeli kesenangan setelah lama kami hidup serba pas-pasan.

#4. Ngarot

“…Ia juga punya istri mirip tukang pukul. Suka membentak, ia tersenyum hanay ketika melihat uang.aku berani bertaruh, siapapun laki-lakinya, hasrat seksualnya akan turun jika bertemu perempuan seperti dia…”

Ini mungkin cerita yang paling biasa. Bagaimana nasib pemuda-pemudi yang dipilih jadi ngarot. Ditemui typo juga, harusnya tiga bulan tapi malah tiga tahun. Rasmini yang terpilih dalam acara kasinoman dalam upacara Ngarot, muda-mudi dengan darah segar mendebarkan. Memilih laki-laki perjaka, dan gadis perawan. Indikasi bunga layu akan menunjukkan keasliannya sudah tak suci lagi.

Drama di tengah sawah dengan Mang Sukri. Duh! Pulung guna pulung sari. “Semua orang takut sama kakakmu, tapi rasa cintaku lebih besar dai rasa takutku.”

#5. Menjaring Bidadari

Nelayan yang diajak melawan pantangan, melaut di kala purnama. Kegiatan yang katanya membentuk kutuk sulit jodoh, menurut Kaki Bayong. Hanya di kampung ini Tuhan menurunkan bidadari di kala purnama. Bertiga melaut, memang benar-benar tak dapat ikan. Lalu acara sambatan pasar jodoh muda-mudi di malam itu menjadi pahit, karena Narka malah mendapat apa yang ia mau. Hiks,…

Selama ini yang mereka lakukan adalah kesia-siaan. Kasihan mereka, sudah hidup susah, malah disumpahi masuk neraka.

#6. Kang Sodikin

Kiai mbeling putra Kiai Soleh dari desa Rajasinga yang bergaul tanpa memisahkan kasta. Isi ceramahnya juga nyeleneh, lebih membumi. Gaul dengan siapa saja, tak peduli telembuk atau jelata yang membutuhkan siraman rohani. Kisah ini menemui titik akhir, bagaimana malam-malam ada perempuan menanyakan alamat Kang Sodikin, fitnah itu kejam. Maka Dorman dkk yang punya dendam lalu melancarkan isu negatif, menggelar demo ke rumahnya, walau peserta segelintir (tak lebih dari sepuluh). Jawabnya bikin geger, tapi bohong!

Sebuah misteri terjawab, Sang Diva disebut lagi. “Wujud nyata yang paling dekat dengan Tuhan di dunia ini adalah perempuan.”

#7. Lebar-an

Ini unik, walau bukan pola baru mengungkap sebuah kengerian pribadi yang meninggal. Bagaimana sebuah pos ronda menjadi tempat diskusi maksiat guna melancarkan aksi curi, tempat yang seharusnya menjadi titik kumpul penjaga keamannya malah menjelma ajang judi dan perencanaan merampok. Jelang lebaran, kebutuhan manusia turut meningkat, dan marak begal dan kriminal.

Dengan sudut pandang Aan yang merindu suasana kampung setelah kuliah keluar kota, momen lebaran memang jadi waktu lepas rindu keluarga dan sahabat lama, ada Casta dan Kartam yang saling curhat masalah keluarga. Menanti sobat lama Yusup alias Kriting apakah mudik tahun ini, ia merantau ke Jakarta (tepatnya Bekasi). Ketika sudut pandang berganti, tahulah kita apa yang terjadi. Rindu itu berat, biar aku saja. Baju baru, celana baru, jam tangan palsu baru…

Di tepi jalan ini kami biasanya membakar singkong tanah sambil membicarakan kerumitan hidup, perempuan, kelakar, dan omong kosong lainnya.

#8. Asbabul Wurud

Siapa yang sanggup menjawab rahasia mimpi-mimpi? Ustaz Karim, sebab orang takut mati adalah orang yang imannya lemah dan cinta dunia.

Banyak-banyaklah beribadah, jangan mau diperbudak dunia. Setelah meyakinkan untuk siap mati, beliau malah mengalami mimpi buruk, yang ia yakini datangnya dari setan. Namun sampai lima malam, ia bermimpi masuk neraka dengan adegan lain seorang telembuk masuk surga. Wajah ayu yang menghantuinya, lalu ia buka facebook-nya Mang Kaslan dan mengetahui siapa gerangan. Si Ratu Goyang yang rajin sedekah, Si Nadira Cantik alias Warjem. Masa lalu diungkap tentang sumbangan dari uang haram. Nah lo!

Pesantren yang sebenarnya ya sekarang, di tengah masyarakat.

#9. Jangan Tanya Dulu Bagaiamana Aku Mati

Kata ‘seandainya’ hanya akan membuatmu terpuruk dan lupa diri. Kamu akan menjadi orang yang tak waras dan akhirnya mengutuk ketidakmampuan diri sendiri. Ini kisah unik, kisah dari sudut pandang si korban pembunuhan, yang sudah baca Telembuk pasti tahu siapa germo Diva Fiesta, yang tewas dibacok orang tengah malam di tengah sawah. Kisah dituturkan runut dari masa lalu Mak Dayem, usia 12 tahun menjadi istri siri, menikah kedua kali kacau lagi, menikah ketiga kali sejatinya lebih tenteram, syarat tidak nelembuk malah dilanggarnya. Kalian tahu? Ialah ibu dari Warjem. Namun bukan itu kejutannya, ini adalah kisah mistis mediumisasi.

Kenyataan hidup telah mengubah cinta menjadi pembunuh yang paling mengerikan.

#10. Mang Kaslan

Jangan macam-macam dengan nama, karena nama adalah doa.” Mang Kaslan yang merasa jadi singa, karena namanya sempat menjadi Aslan (singa – bahasa Turki). Ia adalah karakter penting yang jadi penghubung, menjadi ojek Diva dan Warjem, yang menjadi rujukan Ustaz Karim dalam menelusur dunia maya, yang jadi penjawab tanya, Safitri atau Sapitri? Pipit atau Fitri? Nah, kali ini di tengah perjalanan satu setengah jam bersama motor tuanya, ia terjungkal. Dan nasibnya kita yang menentukan.
Marah pada diri sendiri dan tak sanggup menghadapi kenyataan yang sedemikian pahit.

#11. Mengenai Pengarang

Pernah nyaris kusingkirkan novelnya (walau sudah kubeli) karena ada unsur ‘Roma-nsha-nya’ di nama belakang, tapi urung setelah sosmed mencipta hubung, memastikan bukan Romanista. Penulis Indramayu yang pernah mondok di Yogya, dan kuliah jurusan Bahasa dan Sastra di UNY. Boleh jadi semua yang ditulis tentang tanah kelahirannya adalah fiksi, tapi bercerita tentang dunia sekitar adalah hal wajar dan tentu saja tampak sangat nyata, ga perlu telaah mendalam untuk bilang tokoh Aan adalah gambaran Kedung, walau nantinya keduanya berinteraksi. Makanya tampak perkasa dan baik hati, dan eeheemmm… soleh. Lulusan pesantren! Tahun 2017 Telembuk yang luar biasa, sangat tipis untuk meraih juara KSK, apes saja Dawuk muncul di tahun yang sama. Prediksiku, Rab(b)i akan melaju lagi ke lima besar, sejauh ini ada tiga yang berskor: 4.5 bintang. Mari kita lihat, sehebat apa mantra Kaji Darsan mewujudkan mimpi penciptanya, moga ga sampai keselek mlinjo.

Kalau boleh kasih saran, buku berikutnya sesekali mencoba jauh dari tema yang membentuk citranya sebagai penutur sekitar selakangan. Misalkan, bikin cerita genre fantasi imajinasi, perjalan ke galaksi Bima Sakti. Atau tentang kekayaan flora dan fauna laut, berjuang membantu Aquaman, misalkan ya ini. Jangan ketawa, kan sekadar contoh. Namun percuma juga sih, seandainya dibuat, tahunya astronot mesum ketemu alien nongkrong atau nelayan yang terperangkap putri duyung yang lagi cari mangsa. Duh! Nelembuk enak, setelah maninya muncrat, langsung gajian. Mudah, praktis, dan enak. Bayangkan di luar angkasa, atau di tengah laut. Maninya melayang.
Hehehe…

Tambahan dikit, ada nama Dea Anugrah di sini. Dua kali saya menemukan namanya disebut dalam novel. Pertama dalam Dekat dan Nyaring-nya Sabda, sekilas lewat cameo di akhir, kedua di sini, sebagai sahabat tobat. Asyik juga ya menyebut sobat Penulis dalam buku. Sungguh terasa istimewa Sang Bakat Menggonggong ini, apakah sebuah konsolidasi?

Rab(b)i | by Kedung Darma Romansha | Copyright 2020 | Penyunting Anis Mashlihatin | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Ilustrator sampul Hidayatul Azmi | Penata sampul dan isi M. Sadam Husaen | Cetakan pertama, Juli 2020 | Penerbit Buku Mojok | viii + 136 halaman | 14 x 21 cm | ISBN 978-623-7284-30-7 | Skor: 4.5/5

Karawang, 170920 – Yusuf Islam – Father and Son

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokped

Empat sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Realitas Merenggut Mimpi-Mimpinya

La Muli by Nunuk Y. Kusmiana

Tahukah kamu, Inah, nelayan sepertiku tidak bisa memilih-milih. Aku tidak benar-benar tahu ikan apa yang memakan umpanku. Cukup sering menangkap penyu dan terpaksa kulepaskan. Meski hati ini sedih mendapati mulutnya yang terluka karena kailku.”

Buku kedua dari Nunuk Y. Kusmiana yang kubaca setelah Lengking Burung Kasuari yang memukau itu, debut yang sukses berat. Kali ini temanya lebih variatif, mengambil sudut pandang penduduk asli Papua yang ditunjuk menjadi ketua RT, mencoba memecahkan masalah warga, menjadi penghubung pemerintah dan penduduk asli dan juga pendatang. Sebagai nelayan yang baik hati. Pondasi utama cerita ini adalah sebuah sumur yang terbuka yang coba dibuatkan dinding agar tak terjadi porno aksi, mereka dianggap melakukan mandi dengan porno sebab area terbuka, mengenakan sarung untuk dewasa dan telanjang bulat untuk anak-anak. “Masuk neraka saja komandan itu. Bikin susah semua orang, mentang-mentang dong tidak pernah mengalami susah air.”

Kali ini seolah tokoh-tokoh penting di Lengking menjadi tokoh pendukung saja. Bu Letnan adalah perwujudan ibunya Asih yang membuka toko kelontong. Kisahnya hanya berkutat di Papua, ujung Timur Indonesia yang bergabung dengan Indonesia 1969. La Muli adalah ketua RT yang terpilih, tak berpengalaman berorganisasi, warga asli kebanyakan yang tak terlalu mengenal birokrasi, mengalahkan La Ode Komarudin yang lebih kaya dan telah lama diakui berkuasa (walau tak sah). Istrinya Mutmainah (dipanggil Inah) adalah pribadi yang sederhana pula, berpikir praktis yang penting dapur ngebul, ada ikan yang dibawa pulang. Urusan dinding yang rumit, tak menghasilkan uang atau makanan membuatnya muak. Sejatinya hampir semua istri juga gitu-kan, “Cari duit kakak, bukan pangkat atau jabatan!”

Sebagai nelayan kecil, La Muli menjadi presensi nyata kehidupan warga kebanyakan. Tidur awal menjadi kemewahan tersendiri bagi nelayan seperti dia. Dibuka dengan masa kecilnya yang absurd bahwa ia akan menjadi orang penting yang disampaikan berkata-kata oleh kakek berambut putih yang dianggap gila, tapi ramalannya jitu. Ketua RT yang (mencoba) mengayomi, istrinya terlihat ngalir saja hidup. Pakai seragam? Enggak! Dapat gaji? Enggak! Apa pentingnya?! “Pekerjaan ini adalah kontribusi nyata warga bagi tertib administrasi.”

Suatu ketika dapat instruksi dari Komandan untuk membuat dinding di sumur umum agar tak menjadikan porno aksi, hal sederhana ini lalu memicu rentetan panjang masalah. Iuran warga per Kepala Keluarga (KK) dua puluh lima ribu rupiah, menjadi beban. Bukan macam gini, main buka mulut saja, macam uang tinggal ambil di pohon-pohon. Tak semua mau memberi, ada yang bayar tunai, ada yang bayar separuh, ada juga yang tak mau bayar. Pak RT mumet. Polemik pertama muncul dari pelacur berambur lurus, Sarita yang tinggal menyewa rumah La Rabaenga, belakang rumah Wa Ome. Ketika ditagih, malah menyampaikan kabar untuk menagih ke palanggannya yang utang, La Udin. Dalam rapat, walau La Muli tak menyampaikan langsung salah satu masalah penarikan iuran, hanya tersirat, tetap membuatnya marah. Suatu malam, La Udin melakukan tindak kekerasan yang berakibat Sarita harus dirawat di rumah sakit. Ada warga mendengar jerit sakitnya, tapi malah pasif sama ‘Bibi’, soalnya sudah terbiasa mendengar jeritnya. “Menantuku dengarkan ini, kalau ada kejahatan sedang terjadi dan kita diam saja, padahal kita mampu melakukan sesuatu, bukankah kita ikut berdosa?” Jangan bayangkan rumah sakit yang mewah dan mudah dijangkau, di sana urusan medis juga rumit dan sebagai ketua RT, ia harus mengantar. Waktu dan tenaganya tersita banyak.

Di sinilah seninya, urusan dinding sumur merembet ke yang lain. Bahkan eksekusi endingnya ketika dinding jadi-pun masalah bukannya selesai, malah melebar ke lain hal pula, karena dinding itu bermasalah (saya bocorin dikit, masalah cakar ayam!) lalu malah La Muli dituduh korupsi dana warga. Astaga… mau mandi nyaman dan aman saja ribetnya. “Mengapa ada orang yang tega mengurusi bagaimana caranya orang mandi?”

Buku ini juga terasa bervitamin, dengan menyodorkan fakta-fakta kecil yang asyik. seperti pola tidur nelayan yang menyesuaikan jadwal kerja. “La Muli masih tidur, kamu akan sulit membangunkannya, meskipun kamu meledakkan bom di telinganya. Beginilah nelayan sejatinya, atau kamu bisa kembali sedikit siang, ia akan bangun saat itu.”

Fakta permainan harga untuk komoditi ikan, saat bulan terang dan saat ada badai, harga ikan melambung tinggi seperti harga emas. Mirip dengan budaya pertanian yang mana, kala panen raya justru harganya terjun. Atau hal sepele tentang sopan santun berpakaian ketika menghadap orang penting, “baju diseterika membuat bapa kelihatan penting.”

Tentang tata cara berniaga ada yang bikin trenyuh, bagaimana ada yang jualan hasil kebun dari pulau seberang. Pulau Muna yang jauh, mengangkut hasil alam untuk dijual di sana, dengan mengarungi laut dua hari berperahu seadanya, bersama angin yang menggerakkan layar terkembang! Gilax, terdengar janggal tapi juga nyata. “Selamat datang, selamat berjuang di tanah rantau yang keras ini.”

Di Papua nuansa reliji juga kental. Sayangnya Allah kelewat sibuk bekerja, sampai-sampai aku mendapat ‘kembung-kembung’ yang tidak berharga ini, dan teri yang jauh tidak ada harganya di pasar. Rasanya aneh debat suami-istri ini, saling silang pendapat. Dua orang yang berdoa kan lebih kuat daripada hanya satu orang, “Kurasa kalau kau ikut berdoa, Allah akan menutup kupingnya, karena kamu selalu berdoa dengan berisik. Kalau kita berdoa untuk mendapatkan hanya ikan yang tidak kelewat besar. Mungkin Allah akan mendengar doamu dengan mendatangkan ikan-ikanyang tepat.”

Satu lagi fakta asyik. bagi kita ngopi bergelas-gelas dengan aneka rasa dan merek sudah biasa, dan setiap saat juga bisa. La Muli dan uring-uringan istrinya yang kekurangan dana, buat kopi manis saja jarang-jarang. Sebuah kejadian langka, ngopi manis dan nyaman dengan buku atau HP. Maka ketika bertamu ke Sarita meluruskan masalah dan mendapat suguhan kopi, bersama Letnan. Respon keduanya berseberangan. Pak Letnan yang berkecukupan, menganggap kopinya basa-basi yang tak menarik (bahkan tak diminum!), lain halnya Pak RT. Ia mencecap dan menikmati setiap seruputannya. La Muli membayangkan akan kenangan kopi manis di rumah Sarita. Mulutnya bahkan masih bisa mencecap rasa manis yang tertinggal di sana. Haha… bersyukurlah wahai umat santuy sekalian.

Tentu saja kita harus angkat topi untuk pemilihan diksi, dibawakan dengan meriah dan renyah. Mencipta nyaman para pembaca guna mengikuti alirannya. Bahkan dengan menatap pohon pisang dengan tanpa alasan yang jelas dan menanyai tentang jenisnya. Sebaris kalimat sederhana yang mumpuni. Atau penutup paragraf berujar: Senja lenyap seperti satu tiupan napas. Malam pun datang. Nah! Sastra yang asyik-kan, tak perlu kerut kening untuk dunia jauh, dituturkan dengan porsi adonan kata pas. “Dinding yang bagus, aku ikut membangunnya.”

Nilai minusnya, ada beberapa misal: terlampau sering menyebut ‘batok kepala’ sebagai ungkapan ada pemikiran yang akan atau tertahan untuk disampaikan. Sekali dua sih OK, tapi ini udah kebablasan. Tema sumur sempat akan membuat boring, konyol sekali, sampai sebegininya urusan air bersih. Untungnya temanya diperlebar ke lainnya, terutama ketika Inah memutuskan terjun ke laut saat ‘bertemu’ teman lama Zubaidah, teman Mutmaimah satu-satunya di perantauan mati bunuh diri. Kisah menjelma abu-abu, memudar dan melejit lagi dalam bayangan. “Jangan mengingini yang aneh-aneh Idah, tidak baik menyimpan pikiran macam itu.”

Tema kritik pemerintahan juga tersebar di banyak halaman, tank bekas Perang Dunia II di lepas pantai yang akan dibeli (oleh orang Jawa), menjadi polemik suku asli. Besi rongokan yang oleh kaca mata awam otomatis berpikir, buat apa? Dihargai oleh orang jauh, buat museum misalnya. Papua besarnya tiga setengah kali pulau Jawa luasnya. Lalu kritik terhadap birokrasi, “sering kukatakan kepada anak buahku harus menangani kampung kacau-balau ini dengan tegas, tapi tidak kasar.” Dan terutama sekali ketika Bapa Ondoafi dan anaknya menghadap Gubernur. Kelihatan sekali itu suara hati sebagian rakyat, orang-orang Pemerintah itu hanya mau menafsirkan hukum yang menguntungkan mereka saja. Tentang hak guna tanah, hak kelola dong tapi dimaksudkan jual beli. Dengan naskah kumal dan kuno sebagai bukti? Kritik nyata dalam sastra. Jadi kalau kalian membenci penjajah, atau merasa nenek-moyangnya didzolimi, sampai mengutuk keras Belanda atau Jepang atau segala penindasan yang melatari segala hubungan bilateral, pikir lagi! Sangat jelas, bangsa kita juga melakukannya hal serupa. “Sudah kuduga akan begini.”

Debat suami-istri ditampilkan tak hanya La Muli dan Inah. Pak Letnan dan istrinya yang menjaga kios juga sesekali muncul. Walaupun kita sudah banyak menikmatinya dalam drama Lengking Burung, di sini sisa-sisa sausana kehebatan Bu Yatmi masih terlihat. “Dia itu polisi, Bu. Aku tentara, beda urusan… Dia urusan sipil aku urusan perang, beda jurusannya.” Asyik. Sehat terus #Wildan!

Ditemukan beberapa kata tak baku, misal ‘hutang’, typo juga berkali-kali ditemukan contoh: ‘bagaiamana’, ‘istrtinya’. Bagian teknis yang bagus tentu saja ada di covernya yang keren. Suka sama ilustrasi sederhana gini. Urusan cetak kertas buram atau hvs bagiku tak terlalu pengaruh yang penting jilidnya OK. Kalau boleh saran, editingnya harus ditingkatkan, triple check kalau perlu. Proof reader itu penting, sangat dianjurkan! Ini adalah satu dari rangkaian paket KSK Daftar Panjang dari Basabasi, yang tahun ini mengirim empat wakil! Wow… untungnya #unboxing pertama ini, bagus. Jadi ada antusiame lebih guna melanjutkan. Prediksiku, dengan skor empat setengah bintang (skor yang sama kuberikan untuk Lengking Burung) rasanya sangat pantas masuk daftar pendek. Tema mirip dengan Burung Kayu yang kemarin selesai baca (suku pedalaman, ketua RT/Kepala Desa, sampai budaya lokal yang tergerus), tapi jelas pembawaan La Muli lebih mantab, lebih hidup, lebih asyik, lebih terasa lelehan nikmat di setiap halamannya, bisa jadi sebab Nunuk mengambil setting tempat ia tumbuh, sudah menghirup dalam-dalam bertahun latar yang dicerita, singkatnya tempat yang sudah ia sangat akrabi, jadi memang seolah mencerita pengalaman pribadi. Good!

Ketika laut mampu memberimu apa saja, mengapa mengais-aisnya di daratan? “Pendek saja doanya, Allah tahu bagaimana terdesaknya kita dengan waktu.”

La Muli | by Nunuk Y. Kusmiana | Editor Faisal Oddang | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Tata sampul Sukutangan | Tata letak Ieka | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, Maret 2020 | Penerbit Basabasi | 200 hlmn, 14 x 20 cm | ISBN 978-623-7290-78-0 | Skor: 4.5/5

Karawang, 160920 – Linkin Park – Plc 4 Mie Head

Thx to Basabasi Store, Titus Pradita, Shopee.
Tiga sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Legeumanai Sura’-Sabbeu

Burung Kayu by Nudiparas Erlang

Mengapa dendam dan pertikaian tak berkesudahan?”

Buku yang kental sekali budaya daerah Mentawai, di pedalaman Pulau Siberut, Sumatra. Banyak kata daerah disodorkan, butuh beberapa kali baca kata itu muncul dan diulang untuk paham, karena di sini tak ada bantuan/glosarium. Imajinasi naratif yang rada kebablasan. Temanya mempertahankan budaya asli di tengah gempuran modernitas, pemerintah pusat (Jawa) yang mencoba masuk, mendirikan perkampungan baru, memberi bantuan rutin, memberi opsi agama International, mencoba memberi napas pemikiran baru. Sementara kebiasaan lama dengan roh kepercayaan, seteru dengan suku sebelah, sampai kebiasaan-kebiasaan yang turun dari moyang perlahan kena gusur. Tema bisa juga lebih melebar dengan unsur memertahankan lingkungan asli, hutan yang sudah banyak dibabat itu harus dilawan. Namun tak, lebih ke drama keluarga. Seperti kata-kata di sampul belakang, ini tentang dendam yang terkorusi waktu dan keadaan. Mereka diikat kepentingan yang sama: menyelamatkan hutan dari penggundulan, menuntut ganti rugi atas ladang dan hutan yang akan dimanfaatkan perusahaan.

Kritik sosial juga tersaji dalam perselisihan surat serah terima tanah 36 hektar tanah kepada Dinas Sosial menjadi seluas 360 hektar. Jelas itu manipulasi data, korupsi khas Indonesia. Rasanya bikin geram, tapi nyatanya memang hal-hal semacam ini ada, menjamur subuh di era Orba. Maka sungguh jenaka ada karakter anjing bernama Sistem atau Pemerintah.

Kisah utamanya tentang Legeumanai, sosok yang kuat dan berdiri di antara budaya lama dan serbuan budaya nasional. Kerja sama dunia medis dan dunia roh yang mungkin bisa ditempuh tanpa mencederai keyakinan para penghuni lembah. Ia menjadi penghubung, pejabat yang ditunjuk mewakili suku sekaligus mulut pemerintahan Indonesia. Untuk sampai ke sana, kita diajak keliling ke masa lampau. Masa ketika berburu babi menjadi gengsi tinggi para uma/suku pedalaman.

Pertikaian-permusuhan antardua uma, sudah terjadi lama sekali sebelum masa Legeumanai. Sejarahnya tercatat (dan mungkin terbaca lucu), karena babi kabur bisa menjadi pemicu pembunuhan. Perselisihan uma satu dengan uma lain, dimulai dari seekor babi sigelag, babi besar yang dijadikan alat toga keluarga Babuisiboje untuk mengawinkan anak lelaki mereka dengan adik perempuan Baumanai. Naas, babi yang dipersembahkan itu kabur pulang, lantas dicari dan ditanyai, tapi enggan mengaku. Nah, si gadis membocorkan fakta. Dan dua pemuda yang naas dibunuh karena emosi. Permusuhan itu lalu turun temurun, karena para pembunuh kabur membuka lahan baru dan beranak pinak. Baumanai yang dikenal di sekujur lembah sebagai leluhur yang pernah membunuh keluarga Babuisiboje. Keturunan berharap kedua uma akan menjalani paabat.

Uma yang patut disegani di saentero lembah menjadi jargon utama. Membalas kekalahan berburu dengan menenggerkan burung enggang-kayu di puncak pohon katuka. Menjadi petaka ketika sang pemanjat tewas di depan anak dan istrinya. Awan hitam menggumpal-mengental di atas bubungan sapou-nya… hanya remang senja yang terlihat. Menjadi penutur bagaimana tragedy itu tercipta. Ah, siapa yang dapat mengira cuaca? Saengrekerei ke puncak pohon. Memasang burung enggang-kayu, dan wuzzz… wassalam.

Uma-uma atau suku-suku yang berkerabat dan yang bermusuhan – sebagaimana kisah-kisah yang kadang mengesankan, kadang memilukan, kadang membanggakan, yang didapatnya saban malam dari teuteu-nya. Mengurai-mengurut asal-usul uma, tak mungkin terhindar dari kisah mengenai pertengkaran dan perpecahan, kekecewaan dan kepergian, ketakcukupan dan keterpisahan. Ayam dan babi adalah pembayaran yang sangat berharga pada waktu itu

Kisah cinta sepasang remaja yang tengah menikmati rejana semesta. Mereka beda uma, mereka menyatukan atas nama asmara. Tampak romantis, berkencan dengan alam dan seekor ulat yang menyatu dalam ciuman. Cintanya tak pernah ikut mati atau menjadi sekadar kiretat di pohon durian dan di dinding uma. Keduanya melupa, melupa pada pantang-larang, pada tulou yang mengintai dan mengancam.

Keputusan Taksilitoni menikahi adik iparnya memang diliputi banyak alasan, tapi terasa masuk logika demi anak kesayangan Legeumanai. Pindah ke Dusun Muara, barasi baru buatan pemerintah untuk memajukan suku-suku di hulu. Saengrekerei sang kepala desa yang dihormati, ada bagian ketika bantuan dari pemerintah beras-beras berkarung itu akan didistribusikan dengan kapal, agar tak bolak-balik maka beberapa kapal mengangkut banyak, tapi tetap saja ada yang tak terangkut, sebagai kepala desa yang berpengalaman ia memutuskan yang tak terangkut disumbangkan ke daerah sekitar. Beres? Sementara…

Karena suatu ketika muncul desas-desus bahwa beras itu dikorupsi sang kepala desa, mengambil dan menyimpan untuk pribadi. Betapa marahnya ia, maka ia melakukan sumpah. Bernyali melakukan tippu sasa, melakukan kutukan bagi dirinya sendiri di hadapan banyak mata. Dan berdoa Ulaumanua melindungi anaknya. Jleb! Keren… Padi tak pernah tumbuh subuh di tanah gambut tanah lumpur tanah cadas.

Ada bagian setiap selip beberapa bab, tentang tarian mistis. Antara impian atau kenyataan, laku purba untuk memohon roh leluhur atas sebuah musibah atau permintaan yang rasanya sulit diwujudkan. Mimpi-mimpi tentang sirei muda yang menari di atas api unggun. Jangan biarkan jiwa-jiwa keluar dari kampung ini. Dan engkau roh-roh punen, terimalah roh-roh mereka, dan lindungilah mereka dari segala penyakit dan dari kejahatan. Persembahan yang rasanya akan dimusnahkan agama baru itu lantas kembali dilakukan demi keselamatan seorang terkasih. Legeumanai Sura’-Sabbeu. Ia dingin di dalam api…

Dalam remang purnama, semua yang hadir di uma itu bergeletakan; sebagian berbaring begitu saja di beranda, sebagian lainnya membentangkan kelambu-kelambu dan meringkuk di dalamnya. Pikirannya kusut-masai.
Budaya yang dipertahankan menjadi benteng kemajuan. Seekor babi telah disembelih, dimantari, dan dibaca juga gurat hatinya. Bukahkah jiwa-jiwa kami telah dipikat sedemikian rupa agar tetap betah di uma. Lucu juga agama baru yang diperkenalkan mendapat sambutan, walau banyak yang berganti-ganti sesuai selera. Semua orang mengaku sebagai simata saja, sebagai orang awam saja. Sebagian menanggalkan agama lama dan menggantinya dengan salah satu agama-baru-resmi-pula. Rada aneh rasanya, Menyanyikan lagu-lagu pujian kepada tuhan yang bukan roh leluhur. Babi bagi muslim haram, tapi di sana kan jadi kebanggan kekayaan. Sipuisilam, tak boleh makan babi. Nah!

Ini adalah kandidat pertama KSK yang kubaca pasca pengumuman daftar panjang. Lumayan bagus sebagai pembuka, bisa masuk daftar panjang saja sudah syukur, apalagi bisa melaju ke lima besar, yang jelas bukan jagoanku untuk juara. Buku pertama yang kubaca dari penerbit indi Teroka, yang ternyata masuk ke ‘Naskah yang Menarik Perhatian Juri’ Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019′. Temanya terlalu umum, sudah sangat banyak cerita tentang suku pedalaman yang diterjang modernitas, walau dengan bahasa yang unik, walau dengan narasi yang mendayu, walau dengan meliuk-liuk panjang, jelas kualitas adalah utama.

Telusur kata itu menemukan klik akhir yang menentrampakan, bahagia dan lega.

Puncak pohon katuka, sebuah uma, jajaran abagmanang, bakkat katsaila… Tampak luar biasa, magege.

Burung Kayu | by Nudiparas Erlang | Copyright 2020 | ISBN 978-623-93669-0-2 | Penerbit CV. Teroka Gaya Baru | Cetakan I: Juni 2020 | Penyunting Heru Joni Putra & Fariq Alfaruqi | Sampul Kevin William | Tata Isi Gerbera Timami | Skor: 3.5/5

Untuk para pemeluk teguh Arat Sabulungan

Karawang, 140920 – Protocol Harun – A Whiter Shade of Pale

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokped.
Dua sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

“Saya Sudah Mencoba Menjalani Hidupku Sebaik Mungkin…”

Kusala Sastra Khatulistiwa 20

Dari kisah buku panduan membunuh raja sampai dunia imaji Selma, dari negeri temaran senja sampai kisah perjuangan memertahankan kepercayaan yang dianggap sesat, dari kisah jagoan kampung yang buruk rupa menjadi suami si jelita sampai perjuangan Indonesia mengusir penjajah, dari orang-orang terusir di negerinya sendiri mencoba pulang sampai pangeran dan saudara-saudaranya bertempur ke negeri antah. Semua tersaji demi kalian pecinta sastra.

Di zaman yang serba digital, saringan karya itu sangat perlu. Dan berterima kasihlah pada ajang-ajang penghargaan yang memberi (walau tak semua) pilihan berkualitas. Seolah jadi panduan rekomendasi baca. Saya sudah mencoba menjalani hidupku sebaik mungkin…, melahap buku sebagus mungkin.

Dalam dua puluh tahun terakhir, sastra kita lebih semarak. Era Reformasi yang lebih bebas dan liar dalam menyampaikan pendapat. Hal-hal yang rasanya tabu di masa Orde Baru kini sudah merdeka. Tema yang variatif, terkadang vulgar, out of the box, perbaikan catatan sejarah, religi, beragam cerita daerah, semuanya berusaha berlomba mencipta unik. Dan muncullah penghargaan bergengsi Kusala Sastra Khatulistiwa (sebelumnya bernama Khatulistiwa Literary Award 2001-2013) yang digagas oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki.

Berikut para pemenang dari edisi pertama sampai 19:

2001
Puisi: Goenawan Mohamad, “Sajak-sajak Lengkap 1961-2001”

2002
Prosa: Remy Sylado, “Kerudung Merah Kirmizi”

2003
Prosa: Hamsad Rangkuti, “Bibir Dalam Pispot”

2004
Nonfiksi: Sapardi Djoko Damono, “Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan”
Fiksi: Linda Christanty, “Kuda Terbang Maria Pinto”; Seno Gumira Ajidarma, “Negeri Senja: Roman”

2005
Puisi: Joko Pinurbo, “Kekasihku
Prosa: Seno Gumira Ajidarma, “Kitab Omong Kosong”

2006
Prosa: Gde Aryantha Soethama, “Mandi Api”
Puisi: Dorothea Rosa Herliany, “Santa Rosa”

2007
Penulis Muda Berbakat: Farida Susanty, “Dan Hujan Pun Berhenti
Prosa: Gus ft Sakai, “Perantau
Puisi: Acep Zamzam Noor, “Menjadi Penyair Lagi”

2008
Puisi: Nirwan Dewanto, “Jantung Lebah Ratu”
Penulis Muda Berbakat: Wa Ode Wulan Ratna, “Cari Aku di Candi”
Prosa: Ayu Utami, “Bilangan Fu”

2009
Puisi: Sindu Putra, “Dongeng Anjing Api
Prosa: “F. Rahadi, “Lembata
Penulis Muda Berbakat: Ria N. Badaria, “Fortunata

2010
Puisi: H.U. Mardi, “Buwun”; Gunawan Maryanto, “Sejumlah Perkutu Buat Bapak.”
Fiksi: Linda Christanty, “Rahasia Selma”

2011
Fiksi: Arafat Nur, “Lampuki
Puisi: “Nirwan Dewanto, “Buli-Buli Lima Kaki”; Avianti Armand, “Perempuan yang Dihapus Namanya”

2012
Fiksi: “Okky Madasari, “Maryam
Puisi: Zeffry J. Alkatiri, “Post Kolonial dan Wisata Sejarah dalam Sajak”

2013
Prosa: Leila S. Chudori, “Pulang
Puisi: “Afrizal Malna, “Museum Penghancur Dokumen”

2014
Prosa: Iksaka Banu, “Semua Untuk Hindia”
Puisi: Oka Rusmini, “Saiban

2015
Prosa: Dorothea Rosa Herliany, “Isinga: Roman Papua”
Puisi: Joko Pinurbo, “Surat Kopi”

2016
Prosa: Yusi Avianto Pareanom, “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Puisi: F. Aziz Manna, “Playon

2017
Prosa: Mahfud Ikhwan, “Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu
Puisi: Kiki Sulistyo, “Di Amperan, apa Lagi yang Kau Cari?”
Karya Perdana atau Kedua: Nunuk W. Kusmiana, “Lengking Burung Kasuari

2018
Puisi: Avianti Armand, “Museum Masa Kecil”
Prosa: Azhari Aiyup, “Kura-kura Berjanggut
Karya Perdana atau Kedua: Rio Johan, “Ibu Susu

2019
Puisi: Irma Agryanti, “Anjing Gunung
Prosa: Iksana Banu, “Teh dan Penghianat

Iseng, menghitung berapa buku yang sudah kubaca dari daftar tersebut. Ada sepuluh buku, yah lumayan. Sedari dulu memang lebih sering baca buku terjemahan, buku klasik, buku-buku dengan nama besar pengarang. Nah, berkat penghargaan KSK (dan Dewan Kesenian Jakarta – DKJ) saya seolah dipilahkan, tinggal membuat anggaran belanja yang disodorkan ke May aja buat di-acc. Hehe…

Pada hari Sabtu, 5 September 2020 kemarin melalui twitter @richard0h mengumumkan daftar panjang kandidat KSK ke-20. Periode penjurian Juni 2019-Juli 2020, disusun berdasarkan abjad.

Prosa

#1. Arafat Nur, “Kawi Matin di Negeri Anjing (Basabasi, Maret 2020)
#2. Ben Sohib, “Kisah-kisah Perdagangan yang Gemilang (Banana, Februari 2020)
#3. Felix F. Nesi, “Orang-orang Oetimu” (Marjin Kiri, Juli 2020)
#4. Kedung Darma Romansha, “Rab(b)i (Mojok, Juli 2020)
#5. Maywin Dwi-Asmara, “Surat-surat Lenin Endrou (Basabasi, Juli 2019)
#6. Niduparas Erlang, “Burung Kayu” (Teroka Press, Juni 2019)
#7. Nunuk Y. Kusmiana, “La Muli (Basabasi, Maret 2020)
#8. Nurul Hanafi, “Makan Siang Okta, Sebuah Cerita Tiga Bagian” (Shira Media, September 2019)
#9. Samar Gantang, “Leak Tegal Sirah” (Indonesiatera, November 2019)
#10. Yetti A.KA, “Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi Kematian” (Basabasi, April 2020)

Puisi

#1. Beni Satryo, “Antarkota antarpuisi” (Banana, Agustus 2020)
#2. Binhad Nurrohmat, “Nisan Annemarie” (Diva Press, April 2020)
#3. Deddy Arsya, “Khotbah si Bisu” (Diva Press, Desember 2019)
#4.Esha Tegar Putra, “Setelah Gelanggang Itu” (Grasindo, Januari 2020)
#5. Gaudiffridus Sone Usna’at, “Mama Menganyam Noken” (Papua Cendikia, September 2019)
#6. Inggit Putria Marga, “Empedu Tanah” (Lampung Literatue, November 2019)
#7. Mutia Sukma, “Cinta dan Ingatan” (Diva Press, November 2019)
#8. Ratri Nindytia, “Rusunothing” (Gramedia, November 2019)
#9. Seno Joko Suryono, “Di Teater Dyonysos” (Anom Pustaka, April 2020)
#10. Triyanto Triwikromo, “Nabi Baru” (Diva Press, Juli 2020)

Kategori prosa seperti tahun-tahun sebelumnya akan kukejar baca-ulas sebelum pengumuman pemenang. Tahun ini, ketika nominasi diumumkan saya baru membaca satu buku: Kisah-kisah Perdagangan yang Gemilang, sudah saya prediksi bakalan masuk dengan menyebut ‘Goodluck for KSK 2020’ di akhir ulasan. Jadi masih sembilan lagi. Dan rasanya tahun ini lebih mudah dalam mengejarnya, sebab toko buku daring langganan setelah kujapri, semua buku ready stock! Sebelumnya harus berburu, mencari dari pedagang buku daring, dari seberang pulau, sampai pesan langsung ke penerbitnya. Kalau penerbit yang aktif di sosmed dan besar sih lebih nyaman, nah yang penerbit indie/daerah terkadang lama respon. Sudah dua kali sih aman, ini yang ketiga. Dan Wow, ga perlu berburu njelimet ke dunia maya.

Dari daftar , yang mengejutkan prosa, dari Penerbit Major Gramedia tak ada satupun. Dominasi ada di Penerbit Basa-Basi, perjuangan mereka mengadakan sayembaya novel dan diterbitkan sendiri harus diacungi jempol gede-gede. Mereka sedang menuai buahnya, ada empat bukunya muncul. Dan kabar baik ini direspon keren dengan menawarkan paket. Saya sendiri mengambil paket tiga bukunya, yang normalnya seharga 170 ribu menjadi 120 ribu. Lumayan.

Di kategori puisi dominasi ada pada Diva Press yang memborong empat nominasi, Gramedia Grup dua, dan Banana penerbit indie paling aduhai ini juga menempatkan satu bukunya. banyak nama asing (baru) yang kukenal, kecuali jelas yang disebutkan terakhir yang jago nulis ceria pendek, kali ini mencoba peruntungan di syair. Persis debut puisinya dalam Kitab Para Pencibir yang sukses, rasanya Nabi Baru laik dinikmati.

Sampai sekarang (11/09/20) tiga buku sudah mendarat, tiga buku sedang dalam perjalanan, dan tiga buku lagi akan dikirim akhir bulan. Jadi minimal sampai akhir bulan, saya harusnya sudah mereview enam buku. Lihat, betapa dunia literasi menyenangkan sekali!

Nantinya, dari sepuluh kandidat akan disaring menjadi lima. Dan puncak acara diumumkan di malam anugerah di Plaza Senayan Jakarta (waktu tba). Jadi siapa pemenang tahun ini? See ya… nantikan ulasan lengkapnya dan prediksi special dari LBP.

Karawang, 110920 – Roxette – Spending my Time