Tragis hingga Tetes Pedih Terakhir

Hidup by Yu Hua

“Dulu kala nenek moyang keluarga Xu cuma pelihara seekor ayam, ayamnya besar jadi angsa, angsanya besar jadi kambing, kambing dipiara terus sampai besar jadi sapi. Beginilah keluarga Xu hingga menjadi kaya.” – Ayah Fugui

===catatan ini mungkin mengandung spoiler===

Tragis. Ini adalah cerita kehidupan warga biasa di China di abad 20. Dari keturunan kaya raya, miskin karena judi, lalu bertahan hidup menjadi petani. Dan ditengah gempuran zaman, mereka dibantai kekejaman kehidupan. Satu demi satu tempaan cobaan disajikan, hingga sisa-sisa akhir. saya yang biasanya suka cerita dengan akhir yang kelam, bahkan sampai berharap, harapan terakhir Kugen, tak sampai dimatikan. Mengerikan memang, era China yang bergolak, pantas bukunya dilarang terbit. Mungkin seperti buku-buku Indonesia era Orde Baru yang membredel buku-buku yang menyerang Pemerintahan. Atas nama kestabilan, banyak sekali pengorbanan diapungkan.

Kisahnya tentang Xu Fugui, yang menceritakan kepahitan hidup kepada Aku, sang pencerita yang seorang pejabat yang mendapat tugas mengumpulkan lagu rakyat dari desa ke desa. Karena singgung dengan warga setiap hari, dan sering maka banyak keakraban tersaji. Dari sekian banyak cerita, kehidupan Fugui-lah yang terasa istimewa, maka plot pun bergulir.

Fugui terlahir kaya, hobinya main ke pelacuran Wisma Hijau dan main judi sampai pagi. Dipanggil Tuan Muda oleh para warga yang menghormati. Saat judi, seolah mengalami trance, ia melakukan banyak hal seolah tanpa sadar. Karena reputasinya, ia sampai diperboleh mengutang bila uangnya habis.

Tersebuatlah pejudi tak terkalahkan Tuan Shen. Setelah bertahun-tahun menghebat, suatu malam datanglah Long Er yang dengan misterius berhasil menyingkirkannya dari Shen. Dan begitulah, kekuasaan meja judi beralih. Long memang sesekali kalah, tapi saat taruhan besar tak pernah. Maka setelah sekian kali melawan Fugui, dan di puncak kekalahan mengutang, Fugui menghabiskan tanah warisan 100 mu (1 mu sekitar 0.0667 hektar) yang terakhir dari keturuan Xu. Malam itu, padahal istrinya Jianzhen yang sedang hamil tua anak kedua sudah memohon agar Fugui pulang, malah diusir. Sang istri padajal dari anak orang kaya pula, gadis Tuan Chen si Juragan beras.

Mereka lantas jatuh miskin seketika. Ayahnya sudah menghilangkan 100 mu dulu, kini ia juga. Utang harus dilunasi, maka gegas segala urusan diselesaikan. Lantas mereka tinggal di gubuk reot pinggir sawah. Fugui meminjam 5 mu kepada Long Er tuan tanah baru, dan begitulah kehidupan miskin akhirnya harus dijalani. Tinggal di dusun, jauh dari hingar bingar kota.

Ayahnya meninggal di hari kepindahan, ibunya yang sakit-sakitan tetap sayang. Istrinya dibawa pulang mertuanya, maka di gubuk itu tinggal bertiga sama anak pertama Fengxia Xu. Kehidupan keras, berangkat pagi ke sawah, pulang malam. Setelah beberapa bulan, istrinya datang. Anak kedua, diberi nama Youqing Xu. Istrinya memilih mengabdi padanya, sampai kapanpun ia adalah istri Fugui, mau susah atau senang, dilewati bersama. Membuat Fugui mengharu.

Apes tak dapat ditolak, saat ibunya sakit, Fufgui dengan bekal uang yang ada dari istrinya, ke kota untuk memanggil tabib. Dan agar tak melewati rumah mertuanya, mengambil jalan memutar. Saat itu, ada anak kecil iseng memencet bel di sebuah rumah orang kaya. Dikira tangannya tak sampai, dibantunya. Saat tuan rumah, maksudnya pembantunya keluar, anak tersebut lari. Fugui termangu, kena omel. Berdua berantem, saat itulah sebuah konvoi pasukan perang lewat, dan membawa serta mereka. Dengan ancaman tembak di tempat bila lari, Fugui terpaksa mengikuti arus pasukan ke jauh Utara melawan pasukan komunis.

Dalam sekejab, dua tahun sudah Fugui ikut berperang. Berkawan dengan sesepuh yang sudah banyak ikut perang Quan Tua dan Chungsen yang kelak jadi Camat di kota. Bertahan hidup demi melihat anak istri, kematian begitu dekat, setiap saat tembakan dan bom bisa mengenai. Makan seadanya, benar-benar gambaran mengerikan perang.

Saat pasukan komunis menang, dan memporakporandakan pasukan. Fugui diberi kebebasan, kembali ikut perang atau pulang dengan uang pesangon. Sempat khawatir, ambil pilihan kedua, nanti ditembak, tapi saat ada prajurit mengambilnya, dan dibiarkan selamat, ia tentu saja memilih pulang.

Dua tahun itu waktu yang lama, sesampainya di rumah barulah ia tahu, ibunya meninggal beberapa waktu setelah ia menghilang. Anak pertamanya, pernah sakit panas dan merenggut indera dengarnya. Youqing sudah di usia sekolah. Namun karena jarang bertemu, masih malu-malu. Dan begitulah kehidupan bergulir kembali mereka bersatu. Tampak keluarga kecil ideal, dengan istri setia, dua anak laki dan perempuan, dan walaupun miskin, mereka bisa menghadapinya dengan bahagia.

Takdir sayangnya berkata lain. Fengxia membantu ke sawah, Youqing mulai sekolah dan di tengah rutinitas belajar, memelihara dua kambing. Pagi sebelum sekolah mencarikan makan, siang sepulang sekolah mencarikan makan. Betapa ada ikatan batin yang kuat di sana. Tragis plot mulai dari sini. komune rakyat memaksa semua orang yang membagi sama rasa sama rata. Tuan tanah dihukum mati, Long ditembak di lapangan. Tanahnya dibagi. 5 mu-nya sah digarap keluarga Xu. Lalu semua orang tak boleh memasak. Panci dan peralatan masak disita komune, semua orang makan di warus yang disiapkan komune, gratis tinggal ambil. Menu komplit, sayur, daging, semua melimpah. Tampak hebat bukan? Namun tak lama.

Mendirikan pabrik pelemburan logam, untuk perang. Makanan untuk semua warga sampai kapan? Hingga akhirnya, tragedi keluarga itu disajikan. Si bungu yang jago lari, sebab terbiasa melakukannya, suatu hari mendonorkan darah. Apes. Si sulung yang tuna rungu, sudah saatnya menikah tapi belum juga ada yang lamar. Akhirnya seolah sedapatnya saja, minta tolong sama Pak Wakil. Ditambah, istrinya kini sakit-sakitan. Divonis sakit berat. Hingga di ujung kepedihan, kepiluan itu diceritakan semua-muanya kepada sang Aku. Termasuk menantunya yang apes, cucunya yang apes, terakhir sapinya yang tua dan merana, berbagi penderitaan ditumplek blek. Fugui dihajar perihnya hidup: dari perang saudara, Revolusi Kebudayaan, hingga bencana kelaparan. Tragis hingga tetes pedih terakhir.

Pertama, saya jelas menangkap ini bukan cerita yang blink-blink bahagia. Ini penuh dengan derita, setiap lembarnya berisi derai air mata. Maka wajar buku ini dilarang terbit. Sebab banyak bagian yang mengkritik pemerintah. Kegagalan mensejahterakan rakyat. Masa Mao diceritakan dengan begitu mengerikan, kematian setiap hari terjadi, Revolusi Kebudayaan itu merenggut siapapun yang tak sepaham. Mirip masa pemberantasan PKI di Indonesia.

Bagi yang mengagungkan sosialis, kalian juga bisa melihat kekejamannya di sini. Sama rasa sama rata-pun tak bisa berhasil juga. Jadi sejatinya sistem pemerintahan seperti apa yang paling bagus di dunia? Kalau kata Mark Manson di bukunya Segala-galanya Ambyar, “Tidak ada Negara yang sepenuhnya adil dan aman. Tidak ada filsafat politik yang mampu mengatasi masalah setiap orang dalam sepanjang waktu.” Mau pakai apapun bakalan ada benturan. Republik, demokrasi, kapitalis, sosialis, komunis, khilafah, dst. Semuanya ada sisi minusnya. Makin besar janjinya makin tak masuk akal. Makanya saat ada politisi bilang bakal memberantas kemiskinan, jangan pernah percaya. Kemiskian selalu ada di Negara manapun.

Kedua, ini buku pertama Yu Hua yang kubaca, kuselesaikan baca hanya dalam satu hari tepat pas libur 17 Agustus 2022 kemarin, dari pagi, disela-sela lomba 17-an, hingga tengah malam selepas main futsal di kampung. Badan lelah, tapi kupaksakan baca lewat tengah malam. Memang buku bagus banget, luar biasa. Benar-benar mantab sekaligus mengerikan. Beliau adalah orang China pertama yang memenangkan piala bergengsi James Joyce Foundation Award dan  buku ini memenangkan Premio Grinzane Cavour dari Italia 1998. Hebat, ada dua buku lainnya yang sudah diterjemahkan Agustinus Wibowo, rasanya tinggal kukejar Brothers dan Chronicles of a Blood Merchant.

Ketiga, buku ini takkan ada di rakku besok. Sebab kukirim-barter ke Yogya demi Red Queen.

Terima kasih.

Hidup | by Yu Hua | Diterjemahkan dari To Live | Copyright 1993 | GM 402 01 15 0027 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Agustinus Wibowo | Desain sampul Eduard Iwan Mangopang | Jakarta, 2015 | ISBN 978-602-03-1382-5 | 224 hlm; 20 cm | Skor: 5/5

Karawang, 190822 – Peterpan – Sally Sendiri

Thx to Gramedia World Karawang.

Salah satu buku yang dibarter ke Dhika, Yogya.

Hidup, Dekut Burung Kukuk, dan Salju (+ John Grisham) dengan Red Queen dan sekuel.

Manusia Indonesia #5

“… manusia Indonesia itu berjiwa feodal. Meskipun salah satu tujuan kemerdekaan ialah juga membebaskan jiwa dari feodalisme, tapi muncul bentuk-bentuk baru feodalisme dan makin berkembang dalam diri dan masyarakat Indonesia…”

Sebuah ceramah pada tanggal 6 April 1977, dan buku ini abadi. Menyentuh cetakan kesepuluh (yang saya nikmati ini), dan hingga kini terus dicetak. Beberapa kali melihat cetakan baru terbitan Yayasan Obor, dan tak menutup kemungkinan terus dibuat. benar-benar buku yang berhasil. Pertama baca tentang manusia Indonesia tahun 2018 di buku Humanisme-nya Romo Mangun. Buku persehaman untuk Romo Mangun. Wah, berani sekali memberi gambaran warga kita dengan banyak detail minor. Dan benar saja, setelah membaca lengkapnya di sini, ternyata di tahun itu dan setelahnya menimbulkan polemik. Membayangkan polemik di tahun 1970-an, dengan surat-surat balasan di mesia massa sungguh aduhai. Surat demi surat di koran, kolom sastra, surat pembaca, sanggahan, hingga balasan kritik. Membutuhkan berminggu-minggu untuk menikmatinya, membutuhkan uang tunai untuk membeli koran, membutuhkan kesabaran. Klasik sekali, tak seperti sekarang segala informasi yang secara instan di dunia digital bisa menyebar bak virus. Cepat sampai, tapi juga cepat terlupakan. Mengutip kata-kata sobat saya Sahala, membaca tabloid Bola semua artikel dilahap, dan ingatannya permanen, tak seperti sekarang, kita membaca berita atas apa yang hanya kita inginkan, Google telah merusak memori?

Ada enam ciri dan lain-lain, serta gambaran masa kini yang menampilkan kenapa argumentasi itu perlu. Salah satunya ciri yang bisa kita terima secara umum adalah, “Orang tambah pandai menyembunyikan kata hatinya yang sebenarnya, perasaan yang sebenarnya, pikiran yang sebenarnya, dan malahan keyakinannya yang seungguhnya.” Tak perlu berkecil hati, lihatlah sinetron kita. Kata-kata dalam hati dinarasikan dengan nyaring!

Semantics yang sebenarnya bukanlah mencari makna kata-kata yang dijelaskan lagi oleh kata-kata lainnya, tetapi seperti yang ditulis oleh Pemenang Hadiah Nobel Bridgeman, seorang ahli nuklir, “Makna sebenarnya dari sesuatu kata hanya dapat ditemukan dengan meneliti apa yang dilakukan seseorang dengannya, dan bukan dengan apa yang dikatakannya dengan kata tersebut.”

Berikutnya yang juga bisa tampak nyata adalah, manusia Indonesia masih lemah dalam mengaitkan sebab dan akibat. Ditambah pula dengan sikap nrima, percaya pada takdir, pada ksimet, semua ini sudah bergitu ditakdirkan Tuhan, maka makin kendorlah proses logikanya. Kita mudah menerima hal-hal yang serba bertetangan (paradoks), dan maknnya bisa bermacam (ambigu), karena kita enggan melihat ciri-ciri yang saling bertentangan, dan kita cenderung mencari ciri-ciri yang saling komplementer. Bukankah hal-hal seperti ini sudah sering kita lihat di kehidupan sehari-hari?

Umpamanya kita mengatakan kita menegakkan hukum, tetapi pada waktu yang sama kita juga dengan senang memperkosa hukum. Atau yang lebih umum lagi, hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas, itu tak serta merta omong kosong. Apa yang disampaikan tak seperti apa yang diharapkan, tak seperti apa yang terjadi, tak seperti kenyataan! Bingung? Yah, seperti itulah apa adanya.

Mengganti nama tanpa perombakan sesungguhnya instansi juga sering kali kita lihat. Karena kita hanya menukar nama, tetapi tidak berbuat sesuatu apa untuk mengisi nama baru itu sengan kebijaksanaan-kebijaksanaan baru. Namanya bertukar, semboyannya berubah, pada hakikatnya tidak banyak berubah. Kita masih dibelenggu oleh belenggu lama juga, hanya dengan merek baru.

Idealnya somboyan Jawa ini sepi ing pamrih, rame ing gawe, amemayu ayuning bawana (tanpa pamrih, kerja keras, memajukan dunia). Contoh Jamsostek, berganti nama BPJS, apakah pelayaan berubah? Apakah birokasinya berbenah? Mungkin hanya sedikit. Terus terang saja, warga tentunya lebih memilih pakai asuransi ke Rumah Sakit bila sakit dan bila punya, ketimbang BPJS yang diwajibkan, apakah itu karena pelayanan BPJS kurang Ok? Jelas dong.

Begitu pula. Bagaimana kita dapat menyelamatkan bahasa Indonesia dari segala rupa jargon, semboyan, kehampaan, kebasian, impresisi, keburukan dan kacau balau semantik? Bahasa asing menyerbu adalah keniscayaan. Kita tak punya konsepsi tentang waktu, bahwa waktu itu mengalir pergi dan setelah lewat dia tak lagi dapat ditarik kembali. Di buku ini seringkali disebut tahun 2000 yang akan datang, masa depan yang diprediksi, akan begini akan begitu. Kita sebagai generasi yang diramal itu, merasakan banyak kebenaran kata-kata sang Penulis. Ketika Bacon mengatakan bahwa tujuan manusia dengan pengetahuan ialah untuk “menganugerahkan hidup manusia dengan penemuan baru dan kekayaan.” Dan dia menganjurkan agar manusia… membina dan meluaskan kekuasaan dan penguasaan umat manusia terhadap jagat raya.

Ilmu adalah kekuasaan, dan kekuasaan tidak pernah netral. Siapapun yang memenagnya akan sulit untuk objektif. Dan agama di sini sungguh kental, Tujuan terakhir manusia adalah untuk mengabdi pada Tuhan. Namun banyak yang munafik, dengan tetap mementingkan materialistik ketimbang rohani. Kebutuhan akan mitos dan mistik memang merupakan kebutuhan hakiki manusiawi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman.

Banyak orang kini percaya bahwa teknologi itu satu sisi yang lain dari mata uang yang dinamakan modernisasi.

Tangapan-tanggapan. Pertama oleh Sarlito Wirawan Sarwono (Fakultas psikologi UI). Keras dan sangat menghantam. Bagaimana ia menyanggah segala hal negatif yang disampaikan. Poin pentingnya, ialah tidak semua argumentasi, termasuk argumentasi ilmiah, harus didasari oleh data penetian. Pengamatan subjektif dilakukan asal cukup tajam dan kritis seringkali sudah cukup memadai untuk menyusun analisis. Dan dengan dalil, “Saya hanya ingin mendudukkan masalah pada proposi yang sebenarnya, dengan meluruskan kepribadian Indonesia.”

Profil kepribadian manusia Indonesia yang digambarkan bukanlah tidak benar sama sekali, hal-hal yang dikemukakan banyak benarnya dan fakta yang tak terbantah.

Lalu ditanggapi dengan keras pula oleh Muchtar Lubis. Dalam memberikan gambaran secara umum tantang sesuatu soal, patut dipahami secara implinsit, bahwa selalu ada pengecualian. Jadi beliau memberikan gambaran umum saja, sifat-sifat ini tak serta merta seluruhnya. Contoh, ia bilang manusia Indonesia hipokritis alias munafik. Ya jangan langsung ngegas, tak semuanya. Kalau kamu manusia Indonesia dan tak munafik ya jangan tersinggung. Selalu ada pengecualian. Selow, ini sebagai referensi kak.

Kedua tanggapan dari Margono Djojohadikusumo, dan makin panas, sebab sampai bilang agak terlika sehingga mencoba menyingkirkan perasaan tersinggungnya. Ia mencerita bagaimana keluarganya mengabdi pada NKRI, berjuang untuk negeri sehingga sifat-sifat itu terbaca berat. Ditanggapi pula oleh sang penulis, lebih keras? Enggak, malah lebih selow kubaca.

Tanggapan ketiga oleh Wildan Yatim. Ini lebih condong pro, bagaimana Pertamina busuk di dalam, dan satelit Palapa boros sekali, menghabiskan dana milyaran padahal fungsinya sebentar saja, mending dialihkan ke dana pendidikan negeri, misalnya. Dan seterusnya, kukira ini tanggapan yang manusiawi dan lebih bagus dalam merespons masalah.

Dan terakhir dari Dr. Abu Hanifah lebih ke sifat umum, menilik sejarah perjuangan kemerdekaan, hingga suku-suku kita yang beragam sehingga ciri mencolok itu tentunya ada, dan sekali lagi ini sifat umum. Sifat orang Jawa contohnya yang terkenal santai, atau Batak yang keras, dst.

Ingat, Italia pernah punya penulis keren nan sinis terhadap manusia, Machiavelli yang bilang “Siapa yang akan mendirikan suatu negara yang teratur, harus mulai dengan asusmi, bahwa semua manusia itu pada hakikatnya jahat, dan pada waktu tertentu sedia memperlihatkan sifat jahatnya, di mana saja ia mendapat kesempatan.”

Dan ditutup dengan tanggapan sang penulis, langsung dua. Well, apapun itu saya senang saja mendapati pendapat dan sanggahan disampaikan dengan seru seperti ini. Saya tak mencantumkan secara keseluruhan sifat manusia Indonesia di sini, agar kalian mencari dan menikmati bukunya. Jelas recomended!

Manusia Indonesia: (sebuah pertanggungjawaban) | by Mochtar Lubis | Jakarta, 1977 | Cet 10, Jakarta: Haji Masagung, 1993 | iv, 134 hlm.: 21 cm. | ISBN 979-435-000-1 | Penerbit CV. HAJI MASAGUNG (eks Penerbit Gunung Agung, Penerbit PT Inti Idayu Press, dan Penerbit Yayasan Masagung) | Gambar sampul G.M. Sudarta, Kompas, Jakarta | Skor: 4.5/5

Karawang, 050522 – Adele – Hello
Thx to Der Son, Jakarta

#5 #Juni2022 #30HariMenulis #ReviewBuku

Menjalankan Wejangan Ray Bradbury #72

Liburan dan masih mengejar komitmen, saat santuy tetap menjalankan wejangan. Berat, selama di kampung halaman seminggu penuh, menyediakan waktu barang 15-20 menit. Membawa tiga buku untuk menjadi teman. Makanya dominan tiga penulis untuk catatan ini sebab dibaca dari buku yang sama, rekapnya sih setelah sampai kembali di Karawang. Hanya memastikan kepada kalian, saya masih bertahan program ini. Seribu hari masih sangat jauh, tetap semangat…

Hari 61

#1. Cerpen: Tak Kunjung Kembali (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Hanya Penulis (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Ode untuk Kota Kelahiran (Yopi Setia Umbara)

Hari 62

#1. Cerpen: Tak Ada Ular di Irlandia (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Penulis? Oh, yang di Percetakan (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Ode untuk Terminal dalam Hujan (Yopi Setia Umbara)

Hari 63

#1. Cerpen: Sang Kaisar (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Alasan untuk Tidak Menulis (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Ode untuk Stasiun Kereta Kelas Tiga (Yopi Setia Umbara)

Hari 64

#1. Cerpen: Ada Hari-hari… (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Pengarang dan Kemelut (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Ode untuk Sebotol Bir (Yopi Setia Umbara)

Hari 65

#1. Cerpen: Uang Pemerasan (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Bahasa Indonesia dan Persoalannya – bagi Seorang Pengarang Jawa (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Ode untuk Sebuah Kursi (Yopi Setia Umbara)

Hari 66

#1. Cerpen: Dipergunakan sebagai Bukti (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Pulang, Pola, Mood (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Ode untuk Secangkir Kopi (Yopi Setia Umbara)

Hari 67

#1. Cerpen: Hak Istimewa (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Buku Baru (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Di Astana Gede (Yopi Setia Umbara)

Hari 68

#1 Cerpen: Tugas (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Melihat Pengarang tidak Bekerja (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Di Sungai Cikaengan (Yopi Setia Umbara)

Hari 69

#1. Cerpen: Seorang yang Hati-hati (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Tentang Menulis Populer (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Sepasang Ciuman dalam Hujan (Yopi Setia Umbara)

Hari 70

#1. Cerpen: Praktek Lancung (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Penulis dan Tidurnya (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Di Bordes Harina (Yopi Setia Umbara)

Hari 71

#1. Cerpen: Corrie (Alice Munro)

#2. Esai: Sastra adalah.. Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan? (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Di Teluk Batukaras (Yopi Setia Umbara)

Hari 72

#1. Cerpen: Kereta (Alice Munro)

#2. Esai: Duaribu Duapuluh (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Di Lembah Lembang (Yopi Setia Umbara)

Karawang, 110522 – Billie Holiday – Me, My Self, and I

Menjalankan Wejangan Ray Bradbury #60

10 hari terakhir Ramadan, membuat fokusnya lepas. Mencatat dan menyimpannya di HP dan excel komputer. Tenang, event ini terus melaju kawan… ada perubahan, khusus untuk additional kata sementara off dulu. Agak kewalahan, jadinya kembali ke tenplate utama event ini, tiga item yang dinikmati tiap malam.

Hari 46

#1. Cerpen: Kembalinya Si Tuan Kecil (Rabindranath Tagore)

#2. Esai: Reinkarnasi bab Lama Sang Tokoh (Vicki Mackenzie)

#3. Puisi: Tugu (Rivai Apin)

Hari 47

#1. Cerpen: Perpecahan (Rabindranath Tagore)

#2. Esai: Etika Dasar bab Etika Normatif (Franz Magnis-suseno)

#3. Puisi: Sebagai Kenangan kepada Amir Hamzah Penyair yang Terbunuh (Asrul Sani)

Hari 48

#1. Cerpen: Popularitas Taraprasanna (Rabindranath Tagore)

#2. Esai: Diaspora Nimatullah (Leonard Lewisohn)

#3. Puisi: Melalui Siang Menembus Malam (Rivai Apin)

Hari 49

#1. Cerpen: Martir (Ngugi Wa Thiong’o)

#2. Esai: Buku Cerita Anak Indonesia di Prancis (Jafar Suryomenggolo)

#3. Puisi: Doa (Chairil Anwar)

Hari 50

#1. Cerpen: Di Dermaga Kota Smyra (Ernest Hemingway)

#2. Esai: Evolusi Naqsyabandi-Mujaddidi (Gerdien Jonker)

#3. Puisi: Gumamku ya Allah (W.S. Rendra)

Hari 51

#1. Cerpen: Yang Menjadikan Mereka Bersaudar (O. Henry)

#2. Esai: Suara Kassandra (Alberto Manguel)

#3. Puisi: Jadi (Sutardji Calzoum Bachri)

Hari 52

#1. Cerpen: Perkemahan Orang-orang Indian (Ernest Hemingway)

#2. Esai: Tarekat Bawa Muhaiyyaddeen di Amerika (Gisela Webb)

#3. Puisi: Celana (Joko Pinurbo)

Hari 53

#1 Cerpen: Dokter dan Istrinya (Ernest Hemingway)

#2. Esai: Reinkarnasi bab Visi (Vicki Mackenzie)

#3. Puisi: Nabi di Kebun Pisang (Triyanto Triwikromo)

Hari 54

#1. Cerpen: Adam-Hawa, Iblis, dan Eksperimen Ali Mugeni (Ken Hanggara)

#2. Esai: Sufisme Transnasional Haqqaniyah (Jorgen S. Nielsen, Mustafa Drapper, Galina Yemelianova)

#3. Puisi: Sendiri (Triyanto Triwikromo)

Hari 55

#1. Cerpen: Topeng (Yokomitsu Riichi)

#2. Esai: Ragam Cara Menjadi Sufi di Inggris (Pnina Werbner)

#3. Puisi: Diponegoro (Chairil Anwar)

Hari 56

#1. Cerpen: Kram (Etgar Keret)

#2. Esai: Serangan Balik Sufi atas Neo-revoalis dan Wahabi di Inggris (Ron Graves)

#3. Puisi: Atas Kemerdekaan (Sapardi Djoko Damono)

Hari 57

#1. Cerpen: Benci (Parwin Faiz Zadah Malal)

#2. Esai: Islam Populer di Pakistan Utara dan Rekonstruksinya di Perkotaan Inggris (Roger Ballard)

#3. Puisi: Jakarta 17 Agustus 45 Dinihari (Sitor Situmorang)

Hari 58

#1. Cerpen: Anjing dan Titwal (Saadat Hasan Manto)

#2. Esai: Reinkarnasi bab Kembali ke Kopan (Vicki Mackenzie)

#3. Puisi: Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu (Widji Thukul)

Hari 59

#1. Cerpen: Di Bawah Pohon Beringin (R.K. Narayan)

#2. Esai: Reinkarnasi bab Akhir Hidup Lama Yeshe (Vicki Mackenzie)

#3. Puisi: Musium Perjuangan (Kuntowijoyo)

Hari 60

#1. Cerpen: Pembalasan (Taslima Nasrin)

#2. Esai: Reinkarnasi bab Kelahiran dan Kematian Kembali (Vicki Mackenzie)

#3. Puisi: Kepada Bunda (Sanusi Pane)

Karawang, 290422 – Alternative Rock Hits

Catatan Inkspell

#Prolog

Andai kutahu, dari mana asal puisi, Ke sanalah aku akan pergi.

(Michael Longley)

#1. Kata-kata yang Tepat

Bait demi bait / Padang pasirku sendiri / Bait demi bait / Surgaku

(Marie Luis Kaschnitz, Ein Gedicht)

#2. Emas Palsu

Seorang bajiangan seperti Joe – bagi mereka itu sudah sangat jelas – pasti mengabdi pada iblis dan akan terlalu berbahaya untuk melibatkan diri dalam sebuah pertempuran melasan kekuatan seperti itu.

(Mark Twain, Petualangan Tom Sawyer)

#3. Kepulangan Staubfinger

“Apa itu?” kata si Matan Tutul, “yang begitu gelap tapi sekaligus penuh bagian-bagian kecil bercahaya.”

(Rudyard Kipling, Bagaiamana Macan Tutul Mendapatkan bintik-bintiknya)

#4. Putri Lidah Ajaib

Apakah sebenarnya hanya ada satu dunia, yang menghabiskan waktunya dengan memimpikan dunia-dunia lain?

(Phillip Pullman, Pisau Gaib)

#5. Farid

“Dia keras kepala bagaikan bagal, pintar seperti monyet, dan gesit seperti kelinci.”

(Louis Pergaurd, Perang Kancing)

#6. Penginapa Seniman Pengelana

“Terima kasih,” kata Lucy, membuka kotak korek api dan mengeluarkan sebatang korek api. “Perhatikan semuanya!” dia berteriak. Suaranya menggema nyaring. “PERHATIKAN! SELAMAT TINGGAL KENANG-KENANGAN BURUK!”

(Philip Ridley, Dakota Pink)

#7. Keputusan Maggie

Ide itu melayang-layang dalam getaran lembut yang berkilauan bagai gelembung sabun dan Lyra tak berani menatapnya langsung karena takut melihat gelembung itu pecah. Tetapi, ia telah terbiasa menghadapi ide-ide semacam itu, maka ia pun membiarkannya tetap berkilauan, mencoba mengalihkan pikirannya pada hal lain.

(Phillip Pullman, Kompas Emas)

#8. Sang Biduanita Pengelana

Tetap seorang seniman adalah jalanan, Begitulah kebiasaan lama, Maka selapis kesedihan. Selalu menyelimuti lagu-lagunya. Apakah suatu hari nanti aku ‘kan kembali? Oh sayang, aku pun tak tahu. tangan berat sang Kematian, menghancurkan banyak kuncup mawar yang bermekaran.

(Elimar von Monsterberg, Der Spielmann)

#9. Meggie Membaca

Setiap buku memiliki jiwa. Jiwa orang yang telah menulisnya serta jiwa mereka yang telah membaca dan menikmatinya dan memipikannya.

(Carlos Ruiz Zafon, Bayangan Angin)

#10. Tintewelt

Dalam ketakutan mereka bertiga dapat merasakan betapa drastic perbedaan antara sebuah pulau yang ada dalam bayangan dengan sebuah pulai dalam kenyataan.

(Kames M. Barrie, Peter Pan)

#11. Meggie Telah PErgi

“aku bangun dan tahu, dia telah pergi. Aku langsung tahu, dia telah pergi. Kalau kau mencintai seseorang, kau bisa tahu hal-hal semacam itu.”

(David Almond, Zeit Des Mondes)

#12. Tamu Tak Diundang

“Kalian memiliki hati,” katanya pada suatu ketika, “yang membimbing kalian agar tidak melakukan hal-hal buruk. Aku hidup tanpa hati, karena itulah aku harus bersungguh-sungguh mengawasi diriku sendiri.”

(L. Frank Baum, The Wizard of Oz)

#13. Fenoglio

“Aku melatih diriku mengingat, Nain,” kataku. “Menulis, membaca, dan mengingat.”

“Memang itu yang harus kaulakukan,” balas Nain tajam. “Kau tahu apa yang terjadi setiap kali kau menulis tentang sesuatu? Setiap kali kau memberi nama pada suatu benda? Kau mengambil kekuatannya.”

(Kevin Crossley-Holland, The Seeing Stone)

#14. Pangeran Hitam

“Jadi beruang-beruang bisa membuat sendiri jiwa mereka…” kata Lyra. Begitu banyak hal di dunia ini yang tidak diketahuinya.

(Phillip Pullman, Kompas Emas)

#15. Suara-suara Asing di Malam yang Asing

Betapa dunia begitu sunyi / Dalam dekapnya senja / Teramat manis dan menyenangkan! / Bagai sebuah ruang sepi / Tempat keluhan hari ini / Kauabaikan dan lupakan

(Mathhias Claudius, Abendlied)

#16. Hanya Sebuah Dusta

Selimut itu ada di sana, namun pelukan pemuda itulah yang menyelimuti dan menghangatkannya.

(Jerry Spinelli, Maniac Magee)

#17. Hadiah untuk Capricorn

“Kalau dia bermusuhan dengan ayahku, aku lebih tidak percaya lagi padanya!” teriak gadus itu benar-benar terkejut. “Maukah Anda bicara dengannya, Mayor Heyward, agar aku bisa mendengar suaranya? Mungkin menurutmu ini konyol, tapi barangkali kau sering mendengar betapa aku percaya bahwa suara setiap orang memiliki makna.”

(James Fenimore Cooper, The Last of the Mochicans)

#18. Dendam Mortola

Aku tak berani, Tak berani kumenulis. Jika kau mati.

(Pablo Neruda, The Dead Women)

#19. Pagi di Hari Ulang Tahun

“Tidak, tidak akan kutinggalkan kota ini tanpa sebuah luka dalam jiwa… begitu banyak belahan jiwaku bertebaran di jalan-jalan dan begitu banyak anak kerinduanku berjalan telanjang di bukit-bukit.”

(Khalil Gibran, Sang Nabi)

#20. Tamu dari Bagian Hutan yang Jahat

“Kegelapan selalu memiliki peranan. Tanpanya, bagaimana kita tahu bahwa kita sedang menuju cahaya? Namun ketika, ambisinya menjadi terlalu besar, ia harus dilawan, diatur, kadang – jika perlu – dilenyapkan untuk sementara. Lalu dia akankembali lagi, seperti seharusnya.”

(Clive Barker, Abarat)

#21. Paduka Nestapa

“Aku tidak mau,” mustahil dikatakannya pada sang raja karena bagaimana nanti dia akan mencari nafkah?

(Raja dalam Keranjang, Cerita Rakyat Italia)

#22. Sepuluh Tahun

Waktu adalah kuda yang berlari di dalam hati, kuda / Tanpa kesatria di tengah jalan pada suatu malam. / Akal duduk terdiam, dengan saksama, mendengarkannya berlalu.

(Wallace Stevens, All the Preludes to Felicity)

#23. Dingin dan Putih

 Aku bagai seorang pandai emas yang siang-malam menempa / Hanya dengan cara itulah dapat kuubah derita / Menjadi hiasan emas, lembut bagai sayap seekor jangkrik.

(Xi Murong, Poetry’s Value)

#24. Di Gudang Bawah Tanaj Elinor

Rak buku tinggi itu melendut / Menopang ribuan jiw ayang terlelap / Sunyi, penuh harap –  / Setiap kali aku membuka sebuah buku, satu jiwa terbangun.

(Xi Chuan, Books)

#25. Perkemahan di Hutan

Aku pikir ia mengatakannya setiap saat: aku sangat penat, sangat penat, sangat penat; O kematian, datanglah cepat, datanglah cepat, datanglah cepat.

(Frances Cornford, The Watch)

#26. Rencana Fenoglio

Yang kubutuhkan hanya selembar kertas serta alat tulis, dan aku akan mengguncang dunia.

(Frederich Nietzsche)

#27. Violante

Keesokan harinya nenek mulai bercerita untukku. Dia pasti ingin menghibur kami berdua dari kesedihan kami yang sangat dalam.

(Roald Dahl, The Witches)

#28. Kata-kata yang Salah

Jika yang kaumiliki dariku hanyalah rambut merahmu serta tawamku yang sepenuh hati / maka hal lain dalam diriku bisa bagus atau buruk / bagaikan bunga-bunga pudar yang hanyut di air.

(The Ballad of Little Florestan)

#29. Penguasa Baru

Para tiran tersenyum saat mengembuskan napas terakhir. Karena mereka tahu bahwa dalam kematian mereka, Tirani hanya beralih ke tangan lain, kekuasaan tetap bertahan di tanah-tanah mereka.

(Heinrich Heine, King David)

#30. Cosimo

“Ya,” kata Abhorsen. “Aku ahli nekromansi, tapi bukan nekromansi sembarangan. Bila yang lain-lain membangkitkan orang mati, aku mengistirahatkan mereka kembali…”

(Garth Nix, Sabriel)

#31. Elinor

Di luar sana tidak banyak yang terjadi. Tapi di malam yang istimewa ini, di negeri bertembok kertas dan kulit, segalanya mungkin terjadi, selalu begitu.
(Ray Bradbury, Something Wicked This Way Comes)

#32. Salah Orang

Maka ia pun meletakkan tanaman obat yang bisa menyembuhkan itu / Ke dalam mulut lelaki itu – dan dia pun langsung tertidur. / Diselimutinya lelaki itu dengan sangat hati-hati. / Dia terus saja tidur sepanjang hari.

(Wolfram von Eschenbach, Parsifal)

#33. Dongeng Kematian

Angin mala mini, begitu kuat berembus / Terdengar bagaikan mata pisau yang dikibaskan orang – Di batang-batang pepohonan yang rimbum…

(Montale, Poems)

#34. Pesan Si Kaki Awan

Ya, kasihku, Dunia kita berdarah. Dengan kepedihan yang lebih besar daripada kepedihan cinta.

(Faiz Ahmed Faiz, The Love I Gave you Once,)

#35. Obat-Tinta

Kenangan akan ayahku terbungkus dalam / Kertas putih, bagaikan sandwich yang hendak dibawa ke tempat kerja. / Seperti pesulap mengeluarkan aneka benda dan kelinci / Dari dalam topinya, ia mengeluarkan cinta dari tubuhnya yang kecil.

(Yehuda Amichai, My Father)

#36. Jetitan-jeritan

Aku ingin melihat dahaga / Dalam silabel, / Menyentuh api / Dalam suara; / Merasakan dalam kegelapan / Jeritan itu.

(Pablo Neruda, Word)

#37. Jerami Bercak Darah

Goblin yang terkubur dalam tanah, peri yang mendendangkan lagu di pepohonan; semua itu merupakan keajaiban dari membaca, namun di baliknya tersimpan keajaiban mendasar bahwa, dalam dongeng, kata-kata dapat memerintahkan terjadinya sesuatu.

(Francis Spufford, The Child That Books Built)

#38 Penonton untuk Fenoglio

“Lady Cora,” katanya, “Terkadang orang harus melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan. Ketika persoalan besar melanda, orang tidak bisa mempermainkan keadaan dengan sarung tangan sutra. Tidak. Kita sedang membuat sejarah.”

(Mervyn Peake, Titan Groan)

#39. Pesuruh Lain

Ingatan yang paling kuat lebih lemah daripada tinta yang paling pucat.

(Pepatah Cina)

#40. Tanpa Harapan

Si Panci monster berdiri dan berjalan menghampiri piringnya dengan kaki-kaki perak kurus yang terseok-seok seperti kaki burung hantu… “Oh, aku suka sekali panci monster!” oekik si Kutik. “Dari mana kau mendapatkannya?”

(T.H. White, The Sword in the Stone)

#41. Para Tawanan

“Kalau begitu menurutmu dia belum mati?” Ia mengenakan topinya. “Bisa jadi aku keliru, tentu saja, tapi menurutku dia masih segar bugar. Semua gejalanya menunjukkan hal itu. Tengoklah dia, dan saat aku kembali kita akan bertemu dan memutuskannya.”

(Harper Lee, To Kill a Mockingbird)

#42. Wajah yang Tak Asing Lagi

Percayalah padaku. Terkadang saat hidup kelihatannya berada di titik tergelap, ada terang tersembunyi di tengah semua itu.

(Clive Barker, Abarat)

#43. Kertas dan Api

“Bagus, well, kalau itu sudah diputuskan,: terdengar suara dari ujung sel yang gelap dan lembab. Suara si gnokgoblin, masih dirantai dan terlupakan. “Kalau begitu, tolong lepaskan aku.”

(Paul Stewart, Midnight Over Sanctaphrax)

#44. Pohon yang Terbakar

Apakah kau melihat lidah-lidah api / Melesat, menjilat semkain lama semakin tinggi? / Apakah kau melihat nyala api menari-nari, / Membakar, menyapi kayu kering?

(James Kruss, Fire)

#45. Kasihan Meggie

“Halo,” sapa suara lembut nan merdu, dan Leonardo pun mendongak. Di hadapannya berdiri gadis muda paling cantik yang pernah ia lihat, gadis yang mungkin akan membuatnya takut kalau bukan karena ekspresi sedih di matanya yang biru. Leonardo tahu tentang kesedihannya.

(Eva Ibbotson, Misteri Penyihir Ketujuh)

#46. Ketukan di Pintu

Lancelot mengamati cawannya. “Ia bukan manusia,” akhirnya ia berkata. “Tapi mengapa dia harus menjadi manusia? Apakah malaikat harus menjadi manusia?”

(T.H. White, The Ill-Made Knight)

#47. Roxane

Mata baginda putri tidaklah seumpana mentari; Batu koral masih jauh lebih merah daripada merah bibirnya. Bila salju berwarna putih, lantas mengapa dadanya kecokelatan; bila rambut laksana kawat, kawat-kawat hitam tumbuh di kepalanya.

(William Shakespeare, Soneta)

#48. Kastel di Tepi Laut

Selembar halaman yang ia temukan dalam buku pedoman tentang patah hati.

(Wallace Stephens, “Madame la Fleurie”, Kumpulan Puisi)

#49. Penggilingan

Kami berkuda dan terus berkuda dan tidak terjadi apa-apa. Ke mana pun kami pergi, semua tenang, damai, dan indah. Anggap saja seperti malam yang tenang di pegunungan, pikirku, walaupun itu sama sekali tidak benar.

(Astrid Lindgren, Kakak-Beradik Hati Singa)

#50. Malam Terbaik

“Makan,” kata Merlot.

“Tidak mungkin bisa,” jawab Despereaux, mundur menjauhi buku.

“Mengapa?”

“Eh,” jawab Despereaux, “itu akan merusak ceritanya.”

(Kate DiCamillo, The Tale of Despereaux)

#51. Kata-kata yang Tepat

Taka da hal buruk berdiam di kuil semegah itu. Bila roh jahat memiliki kediaman seindah itu, Hal-hal baik harus berjuang keras untuk dapat berdiam besamanya.

(William Shakepeare, The Tempest)

#52. Kemarahan Orpheus

Semua kata ditulis dengan tinta yang sama, “bunga” dan “kuasa”, misalnya, sama saja, dan walaupun aku mungkin menulis “darah, darah, darah” memenuhi halaman, kertasnya tidak akan ternoda dan aku juga tidak akan berdarah.

(Phillipe Jacottet, Parlet)

#53. Burung Lumbung

Dan setiap dokter pasti tahu Tuhan telah menempatkan misteri yang besar dalam banyak tumbuhan, bila karena roh-roh dan hal-hal liar membuat manuisa merana, dan pertolongan ini datang bukan dari iblis tapi dari Alam.

(Paracelsus, Works)

#54. Di Penjara Bawah Tanah Kastel Kegepalan

Mereka berkata: Bicaralah untuk kami (kepada siapa?). Sebagian berkata: Balaskan dendam kami (terhadap siapa?). Sebagian berkata: Gantikan tempat kami. Sebagian berkata: Saksi mata. Yang lain-lain berkata (dan mereka ini wanita): Berbahagialah untuk kami.

(Margaret Atwood, “Down”, Eating Fire)

#52. Surat dari Feniglio

Kalau begitu adakah dunia. Tempat aku berkuasa sepenuhnya atas takdir? Waktu yang bisa kuikat dengan rantai pertanda? Keberadaan yang tak kunjung berakhir sebagaimana yang kuperintahkan?

(Wislawa Szynborska, “The Joy of writing”, View with a Grain of Sand)

#53. Mencuri Dengar

Lagu terbaring tidur dalam segala hal. Yang bermimpi siang dan malam. Dan seluruh dunia sendiri bernyayi. Bila kata ajaib yang kauucapkan.

(Joseph von Eichendorff, The Divining Rod)

#54. Api dna Air

Dan apa arti pengetahuan kata selain bayangan dari pengetahuan tanpa kata?

(Khalil Gibran, Sang Nabi)

#55. Tak Terlihat Seperti Angin

“Maaf sekali, Yang Berdarah, Mr Baron, Sir,” katanya menjilat. “Salahku, salahku – aku tidak melihatmu – tentu saja tidak, kau tidak kelihatan – maafkan gurauan kecil Peevsie, Sir.”

(J.K. Rowling, Harry Pooter dan Batu Bertuah)

#56. Nattenkopf

Pikiran-pikiran tentang kematian / Mengganggu kebahagiaanku / Bagaikan awan-awan hitam / Menutupi semburat perak cahaya bulan.

(Sterling A. Brown, Thoughts of Death)

#57. Api di Dinding

Lihat, putihnya dinding, perhatikan, muncul sebentuk tangan manusia, Yang menulis dan menulis, dalam huruf-huruf indah, Pesan berapi-api untuk negeri ini.

(Heinrich Heine, Belsazar)

#58. Di Menara Kastel Kegelapan

Kau tidak pernah keluar dalam keadaan seperti waktu kamu masuk.

(Francis Spufford, The Child that Books Built)

#59. Ke Mana

Aku memimpikan buku yang tak berbatas, / Buku yang tak berjilid, / Halaman-halamannya berserakan dalam kelimpahan / Si setiap barisnya tergambar cakrawala baru / Surga-surga baru dibukakan; / Negeri-negeri baru, jiwa-jiwa baru.

(Clive Barker, Abarat)

#60. Sarang Musang

“Oh, Sara. Seperti dongeng saja.”

“Ini memang dongeng… semua adalah dongeng. Kau adalah dongeng – Aku adalah dongeng. Miss Minchin adalah dongeng.”

(Francis Hodgson Burnett, The Little Princess)

#61. Habis Sudah

Ini perang! Ini perang! Malaikat Tuhan menyertaiku / Dan membimbing tanganmu. / Perang ini, aduh, dan aku tak bersalah / Atas apa yang melanda negeri ini.

(Matthias Claudius, War Song)

#62. Penguasa Cerita

Help besi tak akan mampu menyelamatkan / Bahkan para pahlawan dari liang kubur. / Darah orang-orang baik akan tercurah / Sementara mereka yang lalim Berjaya.

(Heinrich Heine, Valkyries)

#63. Kertas Kosong

Demi kau kami membuat hal-hal seperti berdiri tegak. Selama berabad-abad halaman-halaman ini akan bertahan selamanya. Di atas kertas kosong mesin cetak menerakan apa yang terdengar. Menghidupkan sesuatu dengan kekuatan kata.

(Michael Kongehl, Die Weisse und die Schwarze Kunst)

#64. Kebaikan dan Belas Kasihan

Di sinilah kami tergantung, / Daging kami yang terlalu banyak makan, / Sedikit demi sedikit disantap dan membusuk, terkoyak dan tercabik, / Dan tulang kami melebur menjadi debu.

(Froncois Villon, Ballade of the Hanged Man)

#65. Kunjungan

“Jika aku tidak bisa keluar dari rumah ini,” pikirnya, “matilah aku!”

Robert L. Stevenson, The Black Arrow

#66. Malam Sebelumnya

Benar, aku berbicara tentang mimpi-mimpi, / Yang merupakan anak-anak dari otak yang menganggur / Tak menghasilkan apa-apa kecuali khayalan sia-sia, / Yang maknanya hanyalah setipis udara.

(William Shakespeare, Romeo and Juliet)

#67. Pena dan Pedang

“Tentu saja tidak,” kata Hermione. “Semua yang kita butuhkan ada di kertas ini.”

(J.K. Rowling, Harry Potter dan Batu Bertuah)

#68. Hanya Mimpi

Suatu hari seorang pemuda berkata, “Aku tidak suka cerita yang di dalamnya banyak orang mati. Aku akan pergi mencari negeri tempat tidak seorang pun pernah mati.”

(Negeri Tempat Tidak Seorang Pun Pernah Mati, Cerita Rakyat Italia)

#69. Pertukaran

Biru mataku telah padam malam ini / Merah emasnya hatiku.

(Geord Trakl, “By Night”, Poems)

#70. Gagak Biru

Dunia ada untuk dibaca. Dan aku membacanya.

(Lynn Sharon Schwartz, Ruined by Reading)

#71. Harapan Farid

Dan sekarang ia sudah mati, jiwanya melayang ke Negeri Tanpa Matahari dan tubuhnya terbaring dingin di lumpur dingin, di suatu tempat di tengah keramaian kota ini.

(Philip Reeve, Mortal Engines)

#72. Sendiri lagi

Harapan adalah sesuatu yang berbulu.

(Emily Dickinson, Hope)

#73. Penyair Baru

Kegembiraan menulis / Kuasa untuk mengabadikan, / Pembalasan dendam tanganyang fana.

(Wislawa Szymborska, The Joy of Writing)

#74. Ke Mana Sekarang

Raksasa itu menyandarkan punggungnya ke kursi, “Ada beberapa cerita yang masih tersisa,” katanya. “Aku bisa menciumnya di kulitmu.”

(Brian Patten, The Story Giant)

Karawang, 270422

Karawang, 270422

Menjalankan Wejangan Ray Bradbury #45

Idealnya memang dicatat per lima hari seperti ini, jadi tak terlalu menumpuk. Namun sekali lagi, ini catatan buat memantau perkembangan program sahaja, dibuat nyaman, dibikin santuy.

Hari 41

#1. Cerpen: Malam Hening, Kasih Bening (Ike Soepomo)

Konfliks yang disampaikan berat, penyelesaiannya yang ringan. Pasangan suami istri yang secara ekonomi mapan mengadopsi anak dari dokter sahabatnya yang menangani kelahiran ibu yang miskin dan sudah cerai. Namun setelah tiga tahun, sang ibu menuntut haknya. Ia mencoba merebut anak kandungnya. Inilah pentingnya surat adopsi resmi, maka melalui pengadilan, dan negosiasi alot, mereka dengan berat hati merelakan. Endingnya sedikit dimodifikasi.

#2. Esai: Manusia Indonesia bab Tanggapan-Tanggapan (Mochtar Lubis)

Setelah menikmati bacaan ceramah 82 halaman Mochtar Lubis, muncul berbagai tanggapan di Koran nasional. Ada yang sangat keras menentang menyebutkan sifat-sifat manusia, yang rerata memang negatif. Dibantah langsung oleh yang penulis, lalu tanggapan lain muncul, dibantah lagi, dan diluruskan. Seru sekali, Koran tahun 1970-an ini menyanggah tulisan dan mengkirtisinya.

Luar biasa, tulisan bagus dari ceramah itu memunculkan pro-kontra. Memang pahit mengetahui keburukan sifat mayoritas warga kita, fakta pahit itu diungkap dan wajar saja muncul tanggapan-tanggapan. Di Koran nasional tahun 1970-an ada yang menyanggahnya, lalu disanggah balik, ada yang sepakat, tapi kritis, ada pula yang memberi contoh sifat-sifat kontra yang ada. Seru sekali, buku yang bagus.

#3. Puisi: Kancing Baju Tanggal Seluruhnya (Deddy Arsya)

Dalam topi lakenmu yang bundar / cakrawala tiba-tiba pudar / bukit-bukit baru tumbuh dari balik kabut seperti payudara / anak gadis tiga belas tahun / ladam kuda memercikkan api di jalan raya, dulu para rodi / bergelimang mati di situ / tetapi sebentar lagi lampu-lampu toko menyala di / seberangnya menerbarkan harum / sabun yang tercium dari leher gadis-gadis baru pulang dari / pemandian air panas

#4. Kata: Indonesia

capai: raih, sampai; lelah, letih

Hari 42

#1. Cerpen: Permata Lembah Hijau (Ike Soepomo)

Keluarga yang sejatinya mapan, dengan tiga anak manis. Lalu musibah dicipta, sang suami kecelakaan kerja yang mengakibat kakinya harus diamputasi agar infeksi tak menjalar. Keruntuhan dimulai, suaminya yang insinyur emosi, banyak hal dipertanya, istrinya ditampar, anak-anaknya menjauh, dan begitulah, butuh ketenangan hati untuk memutuskan nasib ke depan. Inilah keluarga.

#2. Esai: Resistansi Bahasa Daerah di Era“Westernisasi” (Komang Budi Mudita)

Upaya menahan gempuran bahasa asing dengan melokalisasikan bahasa daerah. Bahasa daerah yang terancam punah harus dilindungi, dan penggunaan sehari-hari tentu sangat efektif, sebab langsung dipraktekkan. Salah satu yang menonjol adalah bahasa Ngalam, orang-orang Malang yang membalik kata dan ditulis ulas di koran lokal. Patut diapresiasi.

#3. Puisi: Sajadah Panjang (Taufiq Ismail)

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau
Sepenuhnya.

#4. Kata: Indonesia

cecak: binatang merayap, biasa hidup di dinding atau langit-langit rumah

Hari 43

#1. Cerpen: Untung dan Rugi (Rabindranath Tagore)

Di India pernikahan zaman dulu memang tampak aneh di mata kita. Keluarga perempuan memberi uang besar kepada keluarga laki-laki, sebab pengantin perempuan pindah rumah ikut suami, yang berarti tinggal sama mertua. Maka kalau suami adalah keluarga kaya, atau bangsawan maka maharnya minta besar. Keluarga perempuan mendapat mantu kaya tentu saja bangga, tapi jua kudu berkorban banyak uang. Pernikahan yang sejatinya menyatukan dua kelurag malah jadi petaka, perkara uang mahar.

#2. Esai: Literatur Gerakan Sufi Barat (Marcia Hermansen)

Bagus banget. Tasawuf di Eropa dan Amerika, di bumi Barat mengalami kebangkita abad 20. Gerakan itu mencipta gelombang Islamisasi, justru setelah kejadian 9/11 banyak yang bertanya-tanya tentang Islam, dan di sini sufisme naik daun.

#3. Puisi: Elang Laut (Asrul Sani)

Ada elang laut terbang / senja hari / antara jingga dan merah / surya hendak turun, / pergi ke sarangnya.

Apakah ia tahu juga, / bahwa panggilan cinta / ada ditahan kabut / yang menguap pagi hari?

Bunyinya menguak suram / lambat-lambat / mendekat, ke atas runjam / karang putih, / makin nyata,

#4. Kata: Indonesia

cendekia: tajam pikiran; cepat mengerti dan pandai mencari jalan keluar; terpelajar, cerdik pandai

Hari 44

#1. Cerpen: Kulit (Roald Dahl)

Mengerikan. Rasanya sulit dipercaya, penulis cerita anak ini memiliki cerpen dewasa yang keras dan sangat kejam, bila dibayangkan. Sebuah pesta mabuk pelukis dan istri dan tentara dari desa yang sama membuat ide gila, menulis di punggung. Lukisan tato itu menggemparkan di masa kini, dan ditawar sangat mahal. Lalu bagaimana menjualnya? Kulit itu dikupas?

#2. Esai: Siasat Struktur “Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi” (Marcelus Ungkang)

Novel pemenang KSK ini dikupas dengan gaya yang berbeda. Atau dalam bahasa literature, ditelisik dengan baik dalam kritik sastra. Walau tetap saja memusingkan menyikapi tata kelola kupasannya, sejatinya tetap asyik. Malah membuatku penasaran dan tertantang menulis kritik sastra yang bagus seperti ini.

#3. Puisi: Keluhan (Mustofa Bisri)

Tuhan, kami sangat sibuk.

#4. Kata: Indonesia

cengkerama: percakapan untuk menyenangkan hati; senda gurau; perjalanan untuk bersenang-senang

Hari 45

#1. Cerpen: Sang Nyonya Rumah (Rabindranath Tagore)

Tentang bullying, dari guru ke murid, dari murid ke murid. Memberi nama aneh kepada murid-murid, seorang anak manja yang sering dikirim gula-gula dan makanan oleh pelayannya di jam makan siang dijuluki Sang Nynoya Rumah.

#2. Esai: Untaian Hikmah bab Tiga Perkara (Ibnu Hajar al-‘Asqalani)

Bab dua ini intinya sama dengan bab satu, berisi hadis dan nasehat agama tentang segala hal berhubungan tiga perkara. Beruntun indah, tapi menyusun kutipan-kutipan seperti ini kurang membekas.

#3. Puisi: Kamar (Sapardi Djoko Damono)

ketika kumasuki kamar ini
pasti dikenalnya kembali aku
suara langkahku, nafasku
dan ujung-ujung jari yang dulu menyentuhnya
dan kali ini – pertemuan ini
tanpa jam dinding
begitu saja di suatu sore hari
sewaktu percakapan tak diperlukan lagi
tanpa engahan-engahan pendek
tanpa “malam begitu cepat lalu!”
dan kulihat bibir-bibirnya sembilu
menoreh kenanganku

#4. Kata: Indonesia

cengkih: tanaman industri untuk rempah-rempah; bunga cengkih

Karawang, 140422 – Barry Manilow – Can’t Smile Without You

Menjalankan Wejangan Ray Bradbury #40

Puasa sudah seminggu, dan wejangan ini menyentuh kepala empat. So far masih semangat, walau tak setegar di awal. Perjalanan masih sangat panjang…
Hari 36

#1. Cerpen: Program Pembaca Nasib (Muhammad Aan)

Memainkan weton Jawa untuk disatukan dengan teknologi, peramal menghitungnya. Pasangan yang ragu datang, menganalisisnya. Bukan sesuatu yang baru, sudah sangat umum bagi masyarakat Jawa menghitung neptu.

#2. Esai: Numpang Parkir (Andina Dwifatma)

Tetangga dan segala aktivitasnya, termasuk parkir di depan rumahnya. Kalau sebentar, kalau pas ada hajat, kalau pas ada tamu, kalau sesekali sih tak mengapa, yang jadi masalah malah rutin dan seolah jadi pemakluman, tentu tak nyaman. Dan ini potensi konfliks, mari hormati tetangga kalian, seperti kamu menghormati hak-hakmu sendiri sebagai tetangga lainnya.

#3. Puisi: Garis (Sapardi Djoko Damono)

menyayat garis-garis hitam
atas warna keemasan; di musim apa
kita mesti berpisah tanpa
membungkukkan selamat jalan?
sewaktu cahaya tertoreh
ruang hening oleh bisik pisau; Dikau-kah
debu, bianglala itu,
kabut diriku?
dan garis-garis tajam (berulang
kembali, berulang
ditolakkan) atas latar keemasan
pertanda aku pun hamil. kau-tinggalkan

#4. Kata: Indonesia

balig: cukup umur, akil balig
Hari 37

#1. Cerpen: Sembilan yang Kedelapan (Asmi)

Anniversary penikahan yang berantakan, bukan di pesta makan malamnya, ini adalah pertemuan absurd sebab keduanya sudah sepakat pisah. Ketemu di tempat makan pertama mereka bertemu, mencoba mengakrabkan diri. Jadi bagaimana bisa dua hati yang retak itu coba didekatkan?

#2. Esai: Untaian Hikmah bab Dua Perkara (Ibnu Hajar al-‘Asqalani)

Berisi hadist-hadist pilihan tentang dunia yang fana. Dari perintah salat hingga kewajiban sedekah.

#3. Puisi: Percakapan (Sapardi Djoko Damono)

lalu ke mana lagi percakapan kita (desah jam
menggigilkan ruangan, kata-kata yang sudah
dikosongkan. Semakin hijau pohonan di luar
sehabis hujan semalaman; semakin merah
bunga-bunga ros di bawah jendela; dan kabut,
dan kabut yang selalu membuat kita lupa)
sehabis hujan, sewaktu masing-masing mencoba
mengingat-ingat nama, jam semakin putih tik-toknya

#4. Kata: Indonesia

balsam: minyak kental untuk pereda sakit kepala, masuk angin, dll; bahan pengawet mayat
Hari 38

#1. Cerpen: Tentang Berjumpa dengan Seorang Gadis yang Seratus Persen Sempurna pada Satu Pagi yang Indah di Bulan April (Haruki Murakami)

Di usia matang sepasang manusia yang pernah berjanji untuk bersama, hanya berpapasan di jalan. Padahal dulu ikrarnya mereka akan mencinta. Kriteria cocok seratus persen tak melulu fisik yang cantik atau bentuk tubuh ideal. Ini tentang ketertarikan.

#2. Esai: Kemesorotan Ummat Islam dan Upaya Pembangkitannya (Abul A’la Maududi)

Ditulis di Pakistam yang moralnya merosot, dikaji bagaimana bisa dunia Islam yang baik dan hebat itu kini ambyar. Ditarik mundur dari era penjajahan Barat, kemunafikan, hingga sistem yang salah: sekuler, nasional, demokrasi. Apalagi setelah merdeka, orang-orang dalamlah yang dilawan.

#3. Puisi: Malam Minggu (Joko Pinurbo)

Malam minggu malam para jomblo, malam para penunggu
Pengembara muda duduk gelisah di beranda / menunggu pacarnya tak kunjung tiba. / rindu yang ditabungnya sudah jadi racun; / bahayanya sudah sampai di ubun-ubun.
Ada orang linglung berjalan limbung di depan rumah / matanya bingung melihat zaman sudah berubah / mau belok ke kiri, ia gamang dan ragu / mau belok kanan, takut terjebak di gang buntu

#4. Kata: Indonesia

bujet: anggaran belanja, anggaran pemasukan dan pengeluaran uang; rencana anggaran terinci
Hari 39

#1. Cerpen: Perihal Mesin dan Peristiwa (Galeh Pranudianto)

Isinya hanya tentang sektor-sektor yang dikembangkan, lalu para robot itu membantu manusia untuk bahagia. Segalanya dihitung dan dikaji, tak ada yang meleset. Benarkah?

#2. Esai: BMW (Bomb of Millenial’s WAQD): Konsep Berwakaf ala Millenial Masa Kini (Reskia Ekasari)

Mahasiswa menjadi pengusaha? Kebanyakan gagal terkait modal, bagaimana kalau modal dari waqaf? Dengan pengandaian setiap orang menanamkan 10 ribu, nilainya sangat luar biasa, sebulan bisa 1,5 milar, setahun bisa 18 milar. Esai tentang ‘sedekah’ tampak bombastis, tak sampai untuk otak tua sepertiku.

#3. Puisi: Sepasang Lampu Baca (Sapardi Djoko Damono)

untuk Isma Sawitri
ada sepasang lampu beca bernyanyi lirih di muara gang
tengah malam sementara si abang sudah tertidur sebelum
gerimis reda
mereka harus tetap bernyanyi sebab kalau sunyi tibatiba sempurna bunga yang tadi siang tanggal dari keranda
lewat itu akan mendadak semerbak dan menyusup ke dalam
pori-pori si abang beca lalu mengalir di sela-sela darahnya
sehingga ia merasa sedang bertapa dalam sebuah gua
digoda oleh seribu bidadari yang menjemputnya ke suralaya
dan hai selamat tinggal dunia

#4. Kata: Indonesia

boling: permainan menggelindingkan bola untuk merobohkan pin
Hari 40

#1. Cerpen: Bagaimana Kita Menulis Cerita Pendek 20 Tahun dari Sekarang (Ardy Kresna Crenata)

Tahun 2018 cerpen ini dibuat, 20 tahun lalu mencipta cerpen dengan motivasi sepele dan memalukan, bagaimana dengan 20 tahun lagi? Artinya 2038, usianya sudah senja. Setiap masa ada lingkaran ketertarikannya masing-masing.

#2. Esai: Toa dan Budaya (Massa) (Mahfud Ikhwan)

Toa yang kini jadi polemik umum, dijelaskan secara runut perannya di era puncak Orde Baru tahun 1980 hingga 1990-an. Toa padahal tak melulu tentang agama, itu bisa jadi sarana untuk mengumpulkan massa. Untuk hajatan yang bisa tiga hari penuh berdentum, hanya off saat azan. Lain dulu lain sekarang memang…

#3. Puisi: Pagi (Sapardi Djoko Damono)

ketika angin pagi tiba kita seketika tak ada
di mana saja. Di mana saja bayang-bayang gema
cinta kita
yang semalam sibuk menerka-nerka
di antara meja, kursi, dan jendela? kamar
berkabut setiap saat kita berada,
jam-jam terdiam
sampai kita gaib begitu saja. ketika angin
pagi tiba tak terdengar “Di mana kita?” —
masing-masing mulai kembali berkelana
cinta yang menyusur jejak Cinta
yang pada kita tak habis-habisnya menerka

#4. Kata: Indonesia

cabai: tanaman perdu, lombok
Karawang, 090422 – Limp Bizkit – My Way

Menjalankan Wejangan Ray Bradbury #35

Mulai agak malesi, beberapa kubaca di paginya, bahkan pernah siang hari berikutnya. Namun tak mengapa, saya terus berusaha melanjutkan komitmen ini, seribu itu banyak, dan ini baru 3.5% perjalanan, masih sangat panjang…

Hari 26

#1. Cerpen: Kepala Kantor Pos (Rabindranath Tagore)

Seorang petugas pos dikirim ke kantor cabang di pelosok untuk jadi kepala kantor pos. Desa yang sederhana ini memberi cerita mengharukan.

#2. Esai: How the World Work Bab Yang Kaya Sedikit dan Yang Gelisah Banyak (Noam Chomsky)

Amerika yang digdaya pasca Perang Dunia Kedua melakukan banyak invasi, menjaga harga minyak untuk menyuplai warganya. Bersekutu dengan Negara-negara ketiga, atau membumihanguskannya.

#3. Puisi: Ingin Menghilang (Triyanto Triwikromo)

Jauhilah Aku sesaat agar kau tahu betapa kita / begitu dekat. Aku ingin sendiri. Aku tak ingin kausentih / dengan cinta dan doa paling lembut sekalipun. Aku / ingin menghilang…

#4. Kata: Indonesia

Afdal: lebih baik, lebih utama; lengkap, komplet

Hari 27

#1. Cerpen: Ule Sondok So-Len (Al El Afif)

Cerpen buruk, entah kumpulan cerpen di sini makin tak jelas.

#2. Esai: Etika Dasar bab Suara Hati (Franz Magnis-suseno)

Ketika bermsyarakat kita sering memertanyakan kebebasan, tapi tak bisa seenaknya sendiri juga. Ada batasan, dan suara dalam hati berfungsi menjaganya.

#3. Puisi: Jika Kau Rupa Stasiun (Yopi Setia Umbara)

:Widzar Al-Ghifary

Jika kau serupa stasiun / merasa senantiasa ditinggalkan / lalu bagaimana dengan mereka / yang silih berganti datang / bawa wajah-wajah kisah / bukankah keberangkatan dan kedatangan / adalah rel melintang / pada dadamu / seperti garis takdirmu / terjaga dalam sunyi / jam menempel pada dinding hatimu / mencatat pada mereka yang datang dan pergi / bersama pilihannya / dalam risalah hidupmu / sebagai stasiun / kau layak menyediakan lobi sunyi / bagi segara keriuhan kisah / yang mereka bawa / juga mereka / tinggalkan padamu – 2007

#4. Kata: Indonesia

ambulans: kendaraan yang dilengkapi peralatan medis untuk orang sakit, korban kecelakaan, dll

Hari 28

#1. Cerpen: Budayut (Tony Lesmana)

Bunuh diri, gundul, masa depan yang aneh.

#2. Esai: Membangun Koperasi (Moh. Hatta)

Ceramah sang proklamator untuk kesekian kalinya untuk membangun ekonomi rakyat, membangun koperasi, dasarnya kuat.

#3. Puisi: Sang Guru (Yopi Setia Umbara)

:Riski Lesmana

Dan kau ucapkan selamat tinggal / pada keremajaan jalan / di sepanjang cekungan / yang tercipta dari kisah para hyang

di bawah garis merah lembayung / pada langit matamu / kau berjalan menuju sunyi satu kota / di mana hujan selalu turun lebih deras

mungkin di sana / namamu akan mengenang / pada tanah merah serupa tujuan hujan / yang resap ke dalam hati ibu bumi – 2007

#4. Kata: Indonesia

amendemen: usul perubahan undang-undang; penambahan pada bagian yang sudah ada

Hari 29

#1. Cerpen: Obat Mujarab (Mo Yan)

Seram. Hukuman mati dilakukan di atas jembatan di fajar yang baru merekah, satu keluarga ditembak algojo dan mayatnya dilempar di kolong jemabatan. Bapak anak menunggu di sana, untuk mencari obat mujarab.

#2. Esai: Apakah Kita Masih Perlu Ngantor? (Andina Dwifatma)

Selama pandemi kita dihadapkan nama baru: Work From Home (WFH). Banyak kantor melakukannya, juga sekolah online. Banyak keuntungannya, tanpa mandi, tanpa perlu make-up, bahkan 15 menit sebelum jam masuk kita masih bisa rebahan! Nantinya kalau sudah enddemi, apakah masih dilakukan?

#3. Puisi: Catatan Masa Kecil, 4 (Sapardi Djoko Damono)

Ia tak pernah sempat bertanya kenapa dua kali dua hasilnya sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar dari tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol. Dan setiap kali ia menghitung dua tambah tiga kali empat kurang dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam ketika ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhum nenek dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar mandi yang dekat sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.

Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.  

#4. Kata: Indonesia

amonia: gas tak berwarna, baunya menusuk, terdiri atas unsur nitrogen dan hidrogen, mudah larut dalam air, dll

Hari 30

#1. Cerpen: Lelaki Tua di Jembatan (Ernest Hemingway)

Lelaki tua yang mendaku sebagai penggembala, pemelihara binatang. Ia diminta segera pergi sebab akan ada serangan, tenang saja binatang-binatang itu akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri, apalagi kucing. Benarkah?

#2. Esai: Filsafat Administrasi bab Planning (Dr.S.P. Siagiam, MPA)

Rencana adalah separuh keberhasilan.

#3. Puisi: Jarak (Triyanto Triwikromo)

Aku sudah di balkon. Kau masih di tanah becek. / Aku sudah jadi semacam burung. Kau masih jadi / semacam kecoa. Aku sudah asap. Kau masih api. Aku / hujan. Kau awan. Aku lima kaki. Kau dua kaki. Aku / topeng. Kau wajah busuk. Aku meninggalkan neraka / lima hari lagi. kau berjalan tertatih-tatih ke neraka / hingga tujuh hari. Aku sedih. Kau menari-nari.

#4. Kata: Indonesia

andal: dapat dipercaya, memberi hasil yang sama pada ujian atau percobaan berulang

Hari 31

#1. Cerpen: Kejadian di Michigan (Ernest Hemingway)

Cinta buta. Jill Gilmore dicintai Liz dengan membabibuta di pedesaan yang lengang, hanya lima rumah di sana. Liz tak bisa tidur saat Jill dan para lelaki berburu di hutan, dan saat kembali, terjadilah apa yang selama ini diidamkan Liz, tapi tak sepenuhnya sama.

#2. Esai: Filsafat Administrasi bab Organizing (Dr.S.P. Siagiam, MPA)

Atasan dan bawahan diatur dalam organisasi yang tepat, saling menghargai dan menjalankan tugas sesuai perannya.

#3. Puisi: Kurang Ajar (Triyanto Triwikromo)

Ada makhluk-makhluk yang kurang ajar pada-Ku. / Di laut penuh hantu, ada seekor paus yang selalu / menganngap aku hanyalah beruang kutup. Galak. / Berjalan sendirian. Di langit penuh merpati, ada seekor / rajawali yang menganggap Aku hanyalah cacing / di tanah gembur. Rapuh. Diabaikan oleh siapa pun.

“Kau hendak menghukum makhluk-makhluk itu? Katamu

#4. Kata: Indonesia

antre: berdiri berderet-deret di belakang menunggu giliran, antrean

Hari 32

#1. Cerpen: Meninggalkan Maverley (Alice Munro)

Gadis tukang sobek tiket bioskop yang lucu menghilang. Dibawa pemain musik, yang mencipta geger kota kecil Maverley. Waktu terus bergulir dan kabar itu tertimpa kabar-kabar lainnya. Namun saya tak kan melupakannya.

#2. Esai: Perkara Nama (Andina Dwifatma)

Nama anak zaman sekarang memang unik dan panjang-panjang. Saya mau complain, tapi kok ya anakku juga sebelas dua belas. Wajar, nama adalah doa. Justru yang mengagetkanku motifnya. Tak ada keinginan untuk mencipta web dengan nama anak.

#3. Puisi: Sunyi yang Lebat (Sapardi Djoko Damono)

Sunyi yang lebat: ujung-ujung jari / sunyi yang lebat: bola mata dan gendang telinga / sunyi yang lebat: lidah dan lubang hidung / sunyi yang dikenal sebagai hutan: pohon-pohon roboh, / margasatwa membusuk di tepi sungai kering, para / pemburu mencari jejak pencaindra…

#4. Kata: Indonesia

asas: dasar, dasar cita-cita, hukum dasar

Hari 33

#1. Cerpen: Kerikil (Alice Munro)

Bekas tambang di samping rumah yang kini menjelam danau sebab ditempa hujan. Keluarga ini pindah ke sana, kehidupan baru yang lebih berat. Dan tragedy dicipta dengan penuh intimidasi.

#2. Esai: Manusia Indonesia Bab Dunia Kini (Mochtar Lubis)

Modernitas yang rumit. Indonesia ingin seperti dunia barat, tapi orang-orang Eropa malah mengingin hidup sederhana seperti orang timur.

#3. Puisi: Membangun Kata (Deddy Arsya)

Memang ada kota yang didirikan dari gerutu / dari derap omong-kosong rak sudah-sudah!

Lalu mereka berkata: kita mesti atur itu siasat / masa depan hanya dapat diraih dengan gelegak hasrat / harus kau pilih jembatan antar selat atau kapal pengankut segala / pesawat-pesawat semakin sering jatuh dan orang-orang takut terbang / padahal kelak ato dan sepit akan diberi sayap / “tapi maaf, ya, penyair partikelir seperti Anda susah dibawa serta!”

Penyair-penyair mabuk menguping dari biliknya yang pengap / sebab tak punya bini, hanya bisa menggerutu pada diri sendiri. / mereka kira kata-kata seperti sak-sak semen / dan setumpuk batu-bata yang bisa bangun gedong bersusun / mereka kira puisi bisa menyelamatkan kita dari amok-murka?

Memang ada kota yang dibangun dari lentingan kata-kata?

#4. Kata: Indonesia

astronaut: antariksawan, kosmonaut

Hari 34

#1. Cerpen: Surga (Alice Munro)

Perbedaan pandangan kepercayaan, mencipta perdebatan antar keluarga. Sang dokter tak ingin mengenal kakaknya yang musisi, dan istrinya begitu taatnya.

#2. Esai: Jalan Pintas Menuju Cinta (Andina Dwifatma)

Sudah nonton film The Tinder Swindler yang menegangkan itu, dan sepakat sama tulisan di sini betapa manusia memang menyukai yang instan, bahkan cinta.

#3. Puisi: Di Radio Lokal (Deddy Arsya)

Di radio lokal / ia menunggu / menjelang akhir lagu / hujan dan waktu

Ke langit lengang ia bersuara / Kapan kau akan segera tiba?

Serupa kilau / mata kucing / hatinya nyala

Di radio lokal / Ia menunggu / menjelang datang sepi / dan mendesak ragu

Kau entah di mana berada

#4. Kata: Indonesia

autentik: dapat dipercaya; asli, tulen; sah

Hari 35

#1. Cerpen: Harga Diri (Alice Munro)

Riwayat hidup gadis bernama unik. Melewati masa perang dunia dan mencoba bertahan hidup, menjadi piatu saat remaja, kini ia yatim piatu. Dan sang aku melewatkan hari bersama, saling mengisi.

#2. Esai: Hidup yang Saling Bersinggungan (Andina Dwifatma)

Cerita burung nuri yang akan dicuri tetangga. Triknya lucu, dan seperti itulah hidup, terkadang lucu. Tetangga menjadi orang terdekat yang bersinggungan dengan kita.

#3. Puisi: Surat dari Ibu (Asrul Sani)

Pergi ke dunia luas, anakku sayang / pergi ke hidup bebas! / Selama angin masih angina buritan / dan matahari pagi menyinar daun-daunan / dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku sayang / pergi ke alam bebas! / selama hari belum petang / warnasenja belum kemerah-merahan / menutup pintu waktu lampau

Jika bayang telah pudar / dan elang laut pulang ke sarang / angina bertiup ke benua / Tiang-tiang akan kering sendiri .  dan nahkoda sudah tak pedoman, / boleh engkau dayang padaku

#4. Kata: Indonesia

azan: seruan mengajak untuk salat berjemaah

Karawang, 040422 – M2M – The Day You Went Away

Maret2022 Baca

Maret yang tak satupun kuulas. Benar-benar fokus kejar film-film Oscars. Tak mengapa, nanti kita kupas satu per satu di bulan Ramadan.1. Yes to Life by Viktor E. Frankl

#1. Yes to Life by Viktor E. Frankl

Motivasi hidup, tak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Kita lebih hargai setiap menitnya, bagi seorang yang pernah begitu dengan maut, hal-hal yang esensi seperti melanjutkan hidup penuh syukur jelas lebih bermakna. Ditulis setelah Perang Dunia Kedua selesai, Victor Frankl yang selamat bercerita kehidupan beratnya di kamp konsentrasi, dan optimism menjadi begitu penting sebab realita sering kali bermula dari pikiran.2. Paradise by Abdulrazak Guranh

#2. Paradise by Abdulrazak Guranh

Yusuf yang tampan di usia belia dipaksa menjadi pelayan toko oleh pamannya yang bukan paman. Ayahnya berhutang, dan sebagai bayarannya ia direkrut ke kota. Tak hanya itu, ia lantas melalangbuana ke negeri-negeri jauh, membantu pamannya berjualan. Sebagai saudagar yang dihormati, sang paman seolah menurunkan ilmunya. Dan karena ketampanannya, banyak cewek-cewek terpesona, jadi nilai tambah. Bahkan istri paman yang sakit keras, malah memintanya memberi sejenis safaat untuk kesembuhannya. Lihat, orang tampan dipermudah urusannya.3. Cell by Stephen King

#3. Cell by Stephen King

Gelombang telepon mencipta penggunanya jadi zombie. Mereka kehilangan kesadaran, makan apa saja yang ada, membunuh sesama. Hanya orang berpikiran jadul tanpa seluler yang selamat. Lantas mereka melakukan perjalanan ke area yang dijanjikan. Dengan motivasi berbeda, ada yang mencari selamat, ada yang mencari anaknya, ada yang mencoba memecahkan misteri gelombang. Tebal sekali bukunya, butuh kesabaran ekstra untuk cerita perjalanan yang sejatinya bisa lebih diringkas.4. Sunah, Bukan Bidah by Drs. Ahmad Seadie, MA

#4. Sunah, Bukan Bidah by Drs. Ahmad Seadie, MA

Pertama, salat tarawih berjamaah itu taka da di zaman Nabi. Baru ada setelah beliau wafat. Sebab dikhawatirkan tawarih dianggap wajib, maka Nabi Muhammad SAW salat di rumah. Pertanyaannya, apakah ini bidah? Keputusan jamaah, sesuatu yang diada-adakan, bukan? Nah, kalian akan mempelajari banyak hal yang tabu dan simpang siur di tengah masyarakat. Tahlil, perayaan Isra’ Miraj hingga tawasul. Buku yang begitu mencerahkan.5. Ingatan “Tidak” Mati by Jose Saramago, dkk

#5. Ingatan “Tidak” Mati by Jose Saramago, dkk

Luar biasa, buku-buku terbitan Metafor dengan tema satra ditulis keroyokan, sebagian malah hasil terjemahan. Ini edisi perdana, dan sudah sangat bagus. Buku kedua yang kubaca, bagus semua. Kenapa buku sebagus ini tak dilanjutkan terbit ya? Tahun 2000-an saya belum paham sastra, sekarang melahap banyak sekali sastra, dan saya respect sama buku-buku Metafor.6. Diary si Bocah Tengil by Jeff Kinney

#6. Diary si Bocah Tengil by Jeff Kinney

Ini buku baca ulang, dulu saya beli dan baca sekali duduk pas mudik ke Solo naik bus. Kali ini saya baca lagi untuk diulas. Seperti pengalaman pertama yang terhibur, kali ini sama kocak dan serunya. Cerita Jeff tentang siswa SMP yang galau, dijepit di rutinitas yang membosankan, menuangkannya di buku dalam bentuk gambar dan tulisan. Buku ringan yang cocok dibaca untuk melepas penat.7. Parzival Katherine Paterson

#7. Parzival Katherine Paterson

Red Knight. Saya baru tahu kalau ini justru nge-link sama The Green Knight, film renungan yang rilis tahun lalu. Cerita anak raja yang dibesarkan di lingkungan terpencil agar tak mengenal takhta. Lantas Parzival memenuhi takdirnya untuk menjadi kesatria cawan suci. Tipis dan langsung ke poin-poin utama.8. Filsafat Administrasi by Dr. s. P. Siagian, MPA

#8. Filsafat Administrasi by Dr. s. P. Siagian, MPA

Bagus. Kaget juga, untuk sebuah organisasi yang sudah umum itu ada ilmu khususnya. Yang paling mengena bagiku adalah bagian inti organisasi. Ada empat unsur: anggota, apa mau anggota? Pengurus, apa yang jadi sasaran pengurus yang ada dalam organisasi. Sinkron enggaknya tujuan anggota dan pengurus. Terakhir, kalau tidak sinkron apa yang harus dilakukan. Keempat unsur yang pas banget diterapkan di dunia yang hingar bingar perlu ditata. Terasa pas karena sekarang sedang mendapat mandat di koperasi, dan keempat unsur organisasi itu patut diterapkan.

Karawang, 020422 – Eliane Elias – Jammin’