Pekan Ke 20: Spal 2013 Vs Lazio

Pekan Ke 20: SPAL 2013 Vs Lazio 

LBP
0-3
Tahun baru semangat baru. Kita permak Spalnisti. Nge John Wick dulu lah.
Damar IRR
Spal 1-4 SS Lazio, Immobile
Lazio akan dijamu Spal, sampai padunya Immo dan LA menjadi andalan Lazio, Nani mungkin akan starter melihat performa yang membaik, grande Lazio.
Imoenk
Spal 1-3 Lazio, Immobile
Spal, Hahahaaaaa. Opooooo kui. Gak ada lawan yang lebih keren gitu? Lawan Spal, cadangan juga pasti menang.
Deni
Spal 0-2 Lazio, Immobile
Lajio main tandang. Lajiomain menyerang. Lajio akhirnya menang. Pelatih & fans pun ikut senang.
Arief
SPAL v LAZIO 0-1
Immobile
SPAL jelas bukan lawan sepadan bagi lazio. Lazio tim yang suka main tandang mengingat poin mereka lebih banyak di luar olimpico. Lazio tim tandang tertajam kedua setelah Juventus.
SiapSableng
SPAL 1-2 Lazio
Immobile
Lazio akan menang. Lazio wajib menang. Lazio pasti menang.
Widyanto
SPAL 0-4 Lazio, Immobile
Lazio kembali galak. Lazio tukang palak. SPAL siap mangkrak.
Emily Blunt Prayitno
Spal 2-4 Lazio, Immobile
Jadi mas Sugianto ini asli Sumatera Utara? asli Jawa tapi sejak kecil sudah tinggal di Sumut. Oh gitu… terus ikut casting mirip Sule ini dimana mas? Waktu itu ikut di Cianjur. Oh jadi gitu jauh-jauh dari Sumut hanya demi ikut acara ini ya. Baik-baik, oke pemirsa jangan kemana-mana, tetap di spal! asli atau palsu..u..u..u 🖐🏼
Takdir
Spal 2013 1-3 Lazio
Gol Savic
Paruh musim Lazio kehilangan tujuh poin berkat VAR. Coba hitung seandainya sistem bantuan itu tak ada  kini mereka hanya kalah posisi dari Napoli. Bagaimana separuh kedua? Lini belakang adalah bagian terlemah. Isu De Vrij tak kunjung padam, Radu sudah lambat, dan Bastos – Wallace terlalu sembrono. Caceres bisa jadi opsi terbaik untuk sulam sementara, tapi Inzaghi sudah selayaknya memberikan Felipe Ramos menit bermain. Kalau departemen defensif bisa diperbaiki, percayalah akan ada pemecah dominasi Juventus.
DC
SPAL 1-1 Lazio
Immo
Main kandang , SPAL akan bermain bagus. Lazio bakal kesulitan merebut 3 poin. Hasil imbang adalah hasil akhir
Emas
Spal 2 – 1 lasiyo
Luiz Alberto
Aku tak sing ngalah.
Trimo mundur, timbang loro ati.
Tak oyako, wong kowe wis lali.
Ora bakal bali.
Bgs
Spal 2 – 3 Lazio, Immooo
Semoga immobile legend hetrik biar poin fpl sehat, forza Lazio, Laziomenang om Bud senang.
Indah Santika
SPAL v Lazio 0-2
Luis Alberto
Lazio sedang panas. Lazio lebih suka main tandang. Waspadalah, SPAL


Karawang, 060118

Iklan

Samudra di Ujung Jalan Setapak – Neil Gaiman

Samudra di Ujung Jalan Setapak – Neil Gaiman

“Aku ingat masa kecilku, ingat sangat jelas… aku tahu banyak hal mengerikan. Tapi aku tahu, jangan sampai orang-orang dewasa tahu bahwa aku tahu. Bisa-bisa mereka ketakutan.” – Maurice Sendak, dalam percakapan dengan Art Spiegelman – The New Yorker, 27 September 1993

Buku pertama yang selesai saya baca di tahun 2018 di tanggal satu. Gaiman memang jaminan kualitas. Masternya cerita fantasi imajinasi. Tak serumit Interworld namun juga tak sesederhana Unfortunately Milk. Sepusing The Silver Dream, walau tak semegah The Good Omens. Eksekusi ending-nya wow, sedih sekali. Kematian terjadi pada kita semua. Seakan terbangun dari mimpi buruk, tapi mimpi itu memang terjadi (dalam bayang mengancam), tampak menakutkan walau-pun kamu tahu itu hanya sekelebat dimensi lain. Hebat. Hebat adalah kata pertama yang kulontarkan seusia mengikuti petualangan Aku di gemerlap samudra di kolam bebek. “Kau hanya perlu tumbuh dewasa dan berusaha untuk layak. Hidup ini memang tidak adil.” Orang-orang dewasa dan monster tidak takut pada apapun.

Kisahnya beralur mundur. Pembukanya adalah ending, jadi kalian pasti tahu sang tokoh utama masih bertahan hidup sekalipun nantinya ia akan terpepet, terjebak dan nyaris koit. Jelas ia akan selamat, catat! Prolog sebanyak delapan halaman itu menjelaskan Lettie Hempstock menganggap kolam bebek di ujung jalan setapak itu adalah sebuah samudra – kalian boleh mencibir, tapi nantinya kalian tahu ternyata airnya memang asin, kini ia merantau jauh ke Australia. Sang Pencerita – menggunakan sudut pandang orang pertama – sang aku ini kini sudah dewasa berumur empat puluhan. Ia mengunjungi rumah masa kecilnya, rumah penuh kenangan itu sudah dijual,  dirobohkan dan sudah dibangun rumah petak lebih modern, maka ia pergi ke rumah tetangga, keluarga petani Hempstock yang istimewa. Aku disambut Nyonya Hempstock tua dengan logat Sussex yang lembut, menawarinya teh panas. Sembari menunggu, Aku berjalan menuju kolam bebek di ujung jalan, duduk menanti senja dan begitulah, kisah ini ditarik jauh ke belakang. Ke masa empat puluh tahun yang lalu saat Aku berusia tujuh tahun. 

Aku merayakan ulang tahunnya dengan hampa, tak ada yang datang. Adiknya yang ceriwis dan akan selalu begitu sampai akhir, mencibirnya tak punya teman. Kursi pesta kosong, tak ada kemeriahan pesta walau kue sudah disiapkan. Aku memang aneh, seorang introvert yang gemar menyendiri, ditemani buku dan mainan segala imaji. Buku-buku adalah para guru dan penasihatku. Di buku-buku anak lelaki biasanya memanjat pohon, jadi aku juga memanjat pohon, kadang-kadang tinggi sekali, selalu takut jatuh. Ketika keuangan keluarga sedang tak baik, Aku yang kamarnya di lantai atas akhirnya mengalah pindah sekamar dengan adiknya. Debat saat tidur pintu harus dibuka atau ditutup, tirai jendela harus disibak atau rapat? Sederhana tapi sungguh menggugah. Kelahi seru kakak-adik bagai dua kutub berujung sama. Kamar atas disewakan kepada seorang penambang opal berlogat Afrika Selatan, memang orang Afrika Selatan. Kedatangannya membuat kasus, kucing imut hadiah ulang tahunnya Fluffy tewas tertabrak di hari pertama tiba dan ia bertanggung jawab menggantinya dengan membawa kucing liar yang kemudian diberi nama Monster. Bukankah nyawa tak bisa ditukar? Sedih, namun waktu lurus ke depan, semarah apapun sesedih apapun Fluffy tidak bisa kembali. “Aku ingin mengingat, sebab aku mengalaminya. Dan aku masih tetap aku.”

Suatu pagi, saat Aku sedang menanti hadiah komik dari ayahnya untuk menyambut libur sekolah di Sabtu mendung. Komik itu seharusnya ada di mobil depan rumah, tapi kosong. Mobil Rover hitam tak ada ditempatnya, mereka baru tahu bahwa mobil itu dibawa kabur pencuri dari telpon polisi yang memberitahukan kendaraan mereka ada di ujung jalan, dengan mayat penambang opal di dalamnya. Terindikasi bunuh diri karena kalah judi, ahh materi. Nah dari sinilah segalanya bermula, di ujung jalan Aku berkenalan dengan Lettie Hepmstock. Gadis sebelas tahun yang istimewa, sangat istimewa. Keluarga ini terdiri dari tiga orang: Lettie, Nyonya Winnie Hempstrock muda dan Nyonya Hempstock tua. “Aku ingat waktu bulan baru diciptakan. Ketika bulan baru muncul. Kami menengadah ke langit, waktu itu semuanya berwarna cokelat keruh dan kelabu jelaga di sini, bukan hijau dan biru…” Aku akrab dengan Lettie karena suatu ketika aku diajak menjelajah dimensi lain melalui gerumbulan pohon hazel di samping jalanan lama. Lettie mematahkan sepotong cabang yang kurus, menguliti cabang itu dengan pisaunya, seperti sudah puluhan ribu kali melakukannya, kemudian dipotongnya lagi sehingga kini menyerupai huruf Y dan memegang cabang pada kedua ujungnya. “Aku memakai ini sebagai penuntun saja, kita akan mencari botol biru…” Lalu menelusur benda, sifat, zat dan lainnya: kain, badai, segala bentuk sebagai pintu, sebagai portkey. Kubayangkan bunga narsisus tentunya bunga tercantik di dunia. Aku kecewa ketika tahu bunga itu mirip bunga dafodil, namun tidak terlalu mengesankan. Dan tanganku tak boleh dilepas selama petualangan. Namun dalam perjalanannya sebuah hentakan dan ada benda yang dilempar ke arahku membuat reflek melepas. Dan di sinilah segala bencana bermula. Sekembali ke dunia fana, Aku mendapai luka di kaki, lubang luka itu menjadi tempat sembunyi cacing yang walau sudah ditarik keluar, dibuang ke saluran air namun ia sudah hadir di dunia kita. Kularikan anganku ke dalam buku, ke sanalah aku pergi kalau kehidupan nyata terasa sangat berat, atau tidak fleksibel. Lettie dan keluarga Hempstock awalnya tetap bersikap biasa, mencari jalan keluar. “Itu adalah pekerjaan menggunting dan menjahit yang sangat rapi, kalau kau tanya padaku. Ini malam harimu, kau bisa menyimpannya kalau mau. Tapi kalau aku jadi kau, aku akan membuangnya.”

Cacing itu, kutu atau kini berwujud gadis cantik bernama Ursula Monkton. Nenek selalu menyebut jenismu kutu, Skarthach dari antara yang lain. Maksudku, dia bisa menyebutmu apa saja. Ia menjelma sebagai pengurus rumah tangga, kembali mengisi kamar kosong Aku di lantai atas. Ibuku bekerja, sehingga kini Aku dan adik dalam kendalinya. Aku tahu, Ursula adalah makhluk antah sehingga aku selalu dilarang keluar pekarangan rumah. Ursula digambarkan sebagai gadis penggoda yang sanggup meruntuhkan iman – iman orang dewasa. Dia adalah badai. Dia adalah halilintar. Dia adalah dunia orang dewasa dengan semua kekuasaannya, rahasia-rahasianya dan kekejamannya yang bodoh dan dianggap angin lalu, dia mengedipkan mata kepadaku. Sampai akhirnya suatu malam aku berhasil kabur ke pertanian Hempstock untuk minta bantuan. Aku hanya tahu pertanian Hempstock terletak di ujung jalan setapakku, namun aku tersesat di sebuah ladang gelap, dan awan-awan guruh sudah semakin rendah, malam begitu kelam, dan hujan terus saja turun, walaupun belum turun hujan deras, dan sekarang imajinasiku mengisi kegelapan itu dengan serigala dan hantu-hantu. Aku ingin berhenti membayangkan, berhenti berfikir, namun tak kuasa. Setelah dibawa ke rumah dan bermalam di sana. Lettie kembali ke dimensi lain, kali ini sendiri, ia mengambil benda-benda untuk dijadikan pintu, untuk memulangkan kutu. Ursula menolak, Lettie mengancam dan akan membawakan pemangsa ke hadapannya, disinilah keadaan segalanya menjadi kacau karena ketika Para Pemangsa pun hadir, mereka juga ga mau ke dimensi mereka, tak mau pulang, dunia kita indah, bumi ini gemerlap. Perang rumit itu membawa tragedi, meruntuhkan tatanan fantasi imajinasi.

Aku tidak tahu meski bagaimana kalau ada orang dewasa menangis. Orang-orang dewasa tidak seharusnya menangis, aku tahu. Mereka tidak punya ibu yang bisa menghibur mereka.

Hebat juga terjemahan sekarang. Pertama terbit di Inggris tahun 2013, langsung dialihbahasakan di tahun itu juga. Dan kasus macam gini sekarang sudah banyak, terutama untuk novel baru dari para Penulis Besar. Contoh terbaru, The Origin-nya Dan Brown rilis tengah tahun 2017, tak butuh setengah tahun terbitan Bahasa sudah tersedia di toko buku. Ikut senang dengan pola ini, walaupun otomatis berharga mahal tapi sangat sepadan. Sangat patut dinanti. Kita tak terlalu ketinggalan jauh, kita bisa menikmati karya luar dengan jarak hanya hitungan bulan. Maka sewajarnya buku-buku baru terbitan lokal-pun kini jua banyak yang bagus.

Bagian saat aku di sebuah wilayah ‘cicin peri’ itu keren sekali. Aku tak boleh keluar lingkaran APAPUN alasannya, siapapun yang menggoda. Dari kemunculan lagi arwah penambang opal, kutu jelmaan. Anak kucingku, dan penambang opal hanya akan mengambil tubuh baru dan akan kembali ke dunia, tak lama lagi. Entah, itu benar atau tidak aku tidak tahu. Aku hanya tahu aku sudah terbiasa menjadi diriku, aku menyukai buku-bukuku, nenek-kakekku, dan Lettie Hampstock. Dan kematian akan mengambil semua itu dariku. Maka saat ayahnya datang ia ragu, asli apa makhluk jadian? Ayahnya yang marah memintaku pulang karena makan malam sudah siap. Bahkan aku membentaknya, sebagai kode untuk membiarkannya tetap tinggal. “Apakah kau jadi merasa hebat kalau bisa membuat anak kecil menangis?” Solusi akhir pun jua keren karena Lettie membawa ember berisi air samudra memintanya masuk dan bayangkan saat kemudian kamu muncul dari ember kepala menyembul dahulu, absurd – imaji membumbung tinggi. Fantasi kelas berat. Aku berfikir, orang bisa bernafas dalam air ini. Aku pikir, barangkali ada rahasianya untuk bernafas dalam air, rahasia sederhana yang bisa dilakukan siapa saja, asalkan tahu caranya.

Kisah Samudra di Ujung mengingatkanku pada kisah fantasi murni bersama penciptaan semesta dengan segala keampuhannya. Menggugah, menakutkan dan puitis. Aku memahaminya seperti aku memahami materi kegelapan, materi alam semesta yang menciptakan segala sesuatu yang pasti ada namun tak bisa kita temukan. Mantra kuno yang rumit, gaya yang bebas, plotnya sangat rapi dan logika pembentuk yang sangat bisa diterima. Keganjilan dunia antah yang dengan hebat dirajut dengan sangat menawan. 10, 15 tahun lalu kisah-kisah bak Penyihir abadi macam gini adalah favoritku, genre utamaku sebelum digilas sastra dan buku penuh petuah filsafat. Tapi tetap, saya selalu suka akar dunia berlapis, yang cara masuk dimensi punya aturan tersendiri. Di sini, kita diajak mengikuti ranting kering yang dibentuk bercabang dengan pisau lalu kita dituntun masuk dunia lain, menempatkan Aku untuk tak melepas pegangan tangan yang dengan brilian diserang makhluk tak kasat mata yang melempar benda tiba-tiba sehingga pegangan terlepas. Aturan baku yang bengkok itu menuntun konsekuensi bencana, dan bencana tentu saja adalah batang utama konflik yang selalu dinanti pecinta cerita. Sungguh hebat, konsep ruang dan waktu yang dituturkan Neil. Salut. Saat akhirnya epilog kunikmati, seakan saya usai melahap puding-dan-pai-yang-manis, kau dalam masalah besar. Damn it! Saya jatuh hati sama karakter Lettie Hempstock.

Samudra di Ujung Jalan Setapak | by Neil Gaiman | diterjemahkan dari The Ocean at the End of the Lane | copyright 2013 | published by arrangement with Writers House, LLC and Maxima Creative Agency | GM 402 0113 0093 | alih bahasa Tanti Lesmana | desain sampul Eduard Iwan Mangopang | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Juli 2013 | 264 hlm., 20 cm | ISBN 978-979-22-9768-3 | Skor: 5/5

Untuk Amanda, yang ingin tahu.

Karawang, 020118 – Sherina Munaf – Sendiri

Dawuk – Mahfud Ikhwan

Dawuk – Mahfud Ikhwan

Catatan akhir tahun.

Seakan sebuah pengulangan. Tepat akhir tahun lalu saya menulis ulasan Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2016, Raden Mandasia. Waktu itu saya tak tahu kalau Raden menang, maklumlah HP ku soak dan kudet. Hari ini saya menyelesaikan baca Dawuk, kali ini sudah ada stempel jawara di sampulnya, buku yang sangat bagus. Teramat bagus, karena kisah berlapisnya dinarasikan dengan indah. Bak dongeng yang dituturkan oleh peramu cerita handal. Kebetulan saja sih, bisa tepat akhir tahun. Karena beli Dawuk pas nunggu bonus akhir tahun, dan beli daring PaperbookPlane mendadak karena daftar yang disodorkan tersangkur budget. Kebetulan pula bukunya tak setebal al kitab, sehingga saya selesaikan baca dalam semalam. Diantara laga penutup tahun: Inter 0-0 Lazio. Dari bada Isya sampai Subuh, dengan jeda streaming Serie A dan tidur ayam.

Dawuk: “Kalau anak di perutmu tidak mampu menjagamu, mungkin aku juga tidak bisa menjaga janjiku padamu.”

Kisahnya berlapis walau tak serumit narasi Tarantino, tapi tetap lapisannya sungguh nikmat. Kita disodori sekelumit fakta demi fakta, dibuka lapis bawang demi lapis bawang dengan cara yang unik. Dari pembuka tentang Warto Kemplung yang membual di warung kopi Mbak Siti. Tentang bagaimana ia mendapat julukan si Pembual, alumni rantau Malaysia yang konon dekat sama mantan Perdana Menteri Anwar Ibrahim, sampai kehebatannya berhikayat sejarah desa mereka Rumbuk Randu. Ia adalah tukang bual nomor satu, penghutang di warung kopi yang menderet daftarnya. Dengan modal bualannya, ia menikmati bercangkir-cangkir kopi gratis dan merokok bak lokomotif cuma-Cuma dari para pengunjung yang sembrono menaruh rokok dan korek sembarangan. Ngepul, sekelebat terlihat mantab.

Warno – dijadikan narator utama kisah ini – menarik perhatian seisi pengunjung warung kopi dengan kisah-kisahnya. Ia membukanya dengan adegan pengepungan yang baru terjadi beberapa jam sebelumnya di sebuah rumah kandang dekat hutan, tentang Mat Dawuk – sang protagonis buku ini. Sakti madraguna. Awalnya tak banyak yang memperhatikan, yang main catur tetap bergeming mikir bidak kayu, yang main gaple terus melempar kartunya dengan semangat nampol, yang ngopi santai cuek. Tapi saat jerat kena, ia pun bertutur. Damn you Warto Kemplung! Sialan, aku jatuh hati sejak pembuka cerita. “Hanya setembakan mitraliur dari sini, penyerbuan paling gawat sejak pengepungan tentara Nippon ke Pesantren Kawak baru beberapa jam lalu terjadi, dan warung ini begini senyap? Tak seorang pun membicarakannya? Bah!”

Tentang Mat Dawuk, si buruk rupa yang menikahi primadona desa Inayatul. Nama asli Dawuk adalah Muhammad Dawud, indah sekali bukan? Ia lahir dengan keadaan piatu, ibunya tiada ketika ia hadir di dunia. Bapaknya mati konyol dengan tuak, disambar mobil lewat. Hidup bersama kakeknya Duwali, yang di usianya kelima menghilang. Sebatang kara, ia menggelandang di desa. Tidur di emperan masjid, di kuburan, di tegalan, wajahnya yang buruk rupa makin menjadi-jadi dengan perangainya yang keras. Apa yang lebih buruk dari mukanya? Nasibnya! Hingga suatu ketika ia menghilang. Menjadi Hitman, pembunuh bayaran. Tapi ia membunuh bukan tanpa alasan, ia membunuh para cecunguk yang pantas dibinasakan. Para selingkuh, para bajingan, para koruptor. Dengan ruyung kecil itulah ia melalangbuasa, nasib menghantarnya merantau ke Malaysia.

Inayatul, terlahir dengan kasih sayang keluarga. Bayi menggemaskan, yang jadi idaman ibu-ibu. Sehat, cantik, dan pintar. Sayangnya salah asuh, atau memang gen-nya emang nakal. Nantinya kita tahu, ada kutukan terurun yang mengaris kisah tragis ini. Sehingga saat beranjak remaja ia mendugal, genit dan sungguh celaka: hobi main senggama. Maka setamat sekolah agama, ayahnya Pak Imam rencana mau mengirimnya melanjut ke pesantren, namun Ina menolak. Ia lebih memilih menjauh – lebih jauh, seperti muda-mudi desa, ia merajut mimpi ke Malaysia. Belum cukup umur, ia sudah menikah. Di tanah rantau, ia nikah siri, tak tanggung-tanggung: empat kali. Celakanya, keempatnya tak bener. Pertama bos TKI yang memberangkatkannya, kaya. Punya banyak rumah, banyak mobil dan selurus – punya banyak istri. Ina yang ranum, tak kuasa menahan gejolak. Suami kedua nyaris dipilih secara acak, lelaki rantau yang sebenarnya punya anak-istri di kampung. Penghasilan pas-pasan, belum lagi dikirim sebagian ke keluarga asli, maka tentu saja tak akan bisa membahagiakan jiwa muda Ina. Suami ketiga tak seperti sebelumnya, menikah hanya untuk jaga nama karena seorang homo yang hobi menjamu pemuda tanggung. Hidup dengan harta menimpah, tanpa cinta. Pada akhirnya ia kabur sama salah satu pemuda kelon, yang akhirnya menjelma suami keempat. Yang ini lebih parah, tinggal dengan pemuda kekanakan yang membuat Ina luka fisik, maka ia kabur lagi.

Nasib menggariskan mereka berjumpa, di sebuah stasiun kereta bak adegan film sendu, Mat Dawuk menyelamatkan Ina dari suami wandunya. Mengajaknya tinggal, awalnya berniat sementara tapi nyatanya malah menjadikan mereka pasangan rumah tangga. Yap, inilah Beauty and the Beast versi Jawa. Mereka memutuskan pulang kampung, memadu kasih di tanah kelahiran, meminta restu orang tua yang jelas tak merestui, tinggal di bekas kandang sapi pinggir hutan. Ya, inilah kebahagiaan. Seperti kopi, cepat atau lambat akan habis. Semakin enak, maka semakin cepat habis. Ya, ya, kita kadang ingin berlama-lama menikmatinya, menghirupnya sedikit demi sedikit, mencecapnya lama di lidah, memainkan lama-lama di langit-langit, mengumurnya pelan-pelan, berlama-lama tak ingin buru-buru menelan. Tapi, mak beduduk, tahu-tahu begitu longok ke dasar cangkir, yang tersisa tinggal ampas.

Bagian ketika mereka bahagia sayang ya tak banyak, karena syarat buku bagus harus mencipa tragedi maka kisah kelabu dituturkan satu bab berselang. Dengan analogi sengatan kalajengking di kelobot jagung dan patukan ular gadung hijau di lanjaran kacang panjang, kisah ini menemui jalur liku yang trenyuh, seru dan pastinya sangat kompleks. Hebat ya, penyampaian pertanda buruk itu bisa tersalur rapi. Sebagian ending-nya sudah kita ketahui di prolog-nya yang seperti kata Kemplung, terjadi penyerbuan maut. Tapi tetap kalian akan terus terpaku – dan penasaran, sampai halaman akhir dalam tanya. Yup, “Aku Mat!” Ia bahkan merasa sudah tak punya urusan dengan dunia secara keseluruhan. Ia tak punya rencana dengan sisa hidupnya.

Bagaimana bisa sebuah film cult macam Machete karya Robert Rodriguez yang rilis tahun 2010 bisa menginspirasi sedemikian rupa untuk memberi kisah panjang jagoan lokal dengan iringan sejajar sejarah, legenda, hikayat, apalah segala kearifan lokal dari sebuah daerah di daerah Jawa yang jauh dari pesisir pantai, jauh pula dari daratan sepanjang bantaran Bengawan Solo. Butuh waktu tujuh tahun untuk terwujud, lama juga untuk buku yang tak ada dua ratus halaman. Tapi karya bagus memang harus ditempa waktu, dan Dawuk lahir di waktu yang tepat.

Drama cinta. Adu silat. Adat Jawa. Peraduan agama. Nasib para TKI Malaysia. Lagu-lagu India (bagian ini saya tak paham sama sekali, sumpah saya tak ikuti Bollywood dari zaman old sampai now). Dendam turun temurun. Sejarah Indonesia dari zaman Belanda, Nippon hingga Merdeka dengan seteru lokal PKI sampai kisah-kisah legendaris yang sulit sekali untuk ditolak. Pendekar atauakh pahlawan. Paket komplit yang luar biasa. Amat pantas menang buku ini. Salut. Mahfud dengan jeli meramunya dengan menyentil budaya arif Timur tanpa menggurui. Dengan setting rumpian di warung kopi, sehingga begitu dekat dengan kita. Pemenang sastra yang ditampilkan tak serumit laiknya buku sastra. Ini jelas buku untuk semua orang, harusnya bisa dinikmati semua kalangan.

Kisah kelabu dari Rumbuk Randu. Dalam tiga hari terkahir ini saya merampungkan baca tiga buku berkualitas. Jumat: Therese Desqueyroux dari Perancis, Sabtu: Perempuan Di titik Nol dari Mesir dan Ahad: Dawuk, tulisan lokal. Hebat. Hebat sekali, buku lokal sekarang bagus-bagus ya. Saya terkesima sama Mat Dawuk. Masuk dalam daftar Best 100 Novels ketiganya. Penutup tahun yang sempurna.

Dawuk: Kisah kelabu dari Rumbuk Randu | oleh Mahfud Ikhwan | copyright 2017 | cetakan kedua, November 2017 | vi + 182 hlm, 14 x 20,3 cm | ISBN 978-979-1260-69-5 | Penerbit CV. Marjin Kiri | desain sampul Tinta Creative Production | Skor: 5/5

Karawang, 311217 – Sherina Munaf – Tak Usah Cemburu

Festival Akhir Tahun

Festival Akhir Tahun

Desember 2017 segera berakhir, banyak diskon akhir tahun di mana-mana, termasuk buku. Di Karawang ada pameran buku di Gedung Wanita, dekat GOR. Di Carefour juga drop harga. Di Gramedia Karawang lantai dasar ada tumpukan buku murah, walau mayoritas buku lama. Ditambah kemarin sekeluarga main ke Revo Square, Bekasi ada Gudang Buku Bekas yang jual buku harga miring. Sebuah mal ganti nama yang sebelumnya Bekasi Square, sehingga saat saya ikuti Waze petunjuknya salah, nyasar justru mengarah ke Alun-alun Bekasi (Alun-alun – Kotak?). Serangkai itu ditambah beli daring dan pinjam-tukar maka inilah buku-buku yang menemaniku sepanjang akhir tahun.

Beli Daring dari Toko Buku Paperplane Bookstore: 4 –pertama kali beli di sini, puas. Rekomended.

#1. Perempuan Di Titik Nol – Nawal El-Saadawi

Saya baca kilat dua jam di Sabtu pagi yang mendung. Karena buku ini, saya berencana merevisi tiap tahun daftar Best 100 Novels yang kususun tanggal 11-11 lalu. Jelas ini buku istimewa, absurd dan berkelas. Tentang Firdaus, wanita yang menanti hukuman gantung di Mesir. Negara Afrika yang maju itu masih begitu diskriminasi terhadap kaum perempuan. Keras, pedas dan sangat hidup. Penuturan dengan gaya orang pertama ‘Saya’ yang wajib dinikmati para pecinta sastra.

#2. Rumah Kertas – Carlos Maria Dominguez

Legendaris. Buku tipis ini selalu masuk dalam jajaran buku berkualitas. Sempat mau saya beli beberapa bulan lalu, tapi agak susah carinya. Maka saat ada kesempatan di Paperplane langsung saya masukkan daftar. Menahan baca, menanti waktu yang tepat untuk merangkulnya. Ini ini bisa baca sekali duduk, tak lebih dari 100 halaman.

#3. Ontologi: Sebuah Penuturan Sederhana – Tony Doludea

Kiranya buku terjemahan, ternyata terbitan lokal. Jadi buku pertama terbitan Quark Books, dari CTI – Cak Tarna Institute. Buku yang berusaha menyampaikan filsafat dengan gaya lancar dan sederhana. Ontologi adalah cabang filsafat yang membahas hakikat keberadaan manusia dan dunianya.

#4. Dawuk – Mahfud Ikhwan

Akhirnya buku pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 kumiliki. Buku Marjin Kiri yang menyabet penghargaan tertinggi lokal tahun ini. Ternyata tak tebal. Tak setebal Raden Mandasia tahun lalu yang padat. Tentang Warto Kemplung di warung kopi yang bertutur masalah cinta Mat Dawuk dan Inayatun.

Beli dari dari Toko Buku Taman Baca Rindang: 2

#5. The Dinner – Herman Koch

Tentang makan malam yang tak biasa, dua keluarga kakak-adik yang berakhir bencana. Sang kakak politikus yang senurut polling adalah kandidat kuat Perdana Menteri Belanda, sang adik adalah mantan guru yang bermasalah jiwanya. Makan malam istimewa di restoran mahal yang sejatinya jadi malam santai berujung debat kusir dan panas setelah kasus masa lalu tentang anak mereka yang bermasalah diungkap. Sebuah buku psikologi yang padat dan krusial.

#6. The Leap – Jonathan Stroud

Dari Penulis The Bartimaeus Trilogy. Buku-buku Stroud sangat bagus kala menyentuh genre fantasi, indah dan sangat menyenangkan memasuki dunia antah yang melalangbuana. Namun ketika beliau banting stir ke versi remaja di dunia asli, terjatuh. The Last Seige yang standar. Nah, buku ini seharusnya terus berpijak di dunia imaji, sayangnya Festival Raya malah memainkan psikologi Charlie yang kehilangan Max, sahabatnya yang tenggelam di danau. Saya baca santai dan berakhir santai, sayang juga endingnya dijelaskan gamblang. Coba bikin gantung pasti akan lebih bikin greget.

Beli di Carefour Karawang: 3

#7. The Ocean at the End of the Lane – Neil Gaiman

Saya tak pernah kecewa baca buku-buku Gaiman. Tak akan jauh dari fantasi imaji, bakal jadi buku keenamnya yang kulahap. Sebuah fabel pembentukan ulang kisah fantasi modern. Kuasa jahat yang terlepas, di dalam keluarga dari kekuatan yang bersatu untuk menghancurkan.

#8. Equal Rites – Terry Pratchett

Buku pertama Terry yang akan kubaca. Ulasan yang kubaca mayoritas positif, Penulis besar di ranah fantasi. Sayangnya saya dapat seri ketiga dari trilogi. Hal terakhir yang dilakukan oleh sang wizard Drum Billet sebelum dewa kematian meletakkan tangan bertulangnya di lehernya adalah meneruskan kekuatan tongkat sihirnya kepada anak laki-laki ke delapan dari seorang anak laki-laki kedelapan.

#9. The Angel At No. 33 – Polly Williams

Ketipu saya. Kukira bakal jadi buku perenungan tapi ternyata jatuhnya malah kisah cinta. “Apakah aku sudah mati? Rasanya sih tidak mati…” Pada suatu malam, Sophie ditabrak bus. Tapi, ia tidak bisa – belum bisa – meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Suaminya Ollie, akan berantakan tanpa dia. Freddie, putra mereka masih terlalu kecil. dan sahabatnya, Jenny? Jenny harus mengetahui sesuatu sebelum segalanya terlambat… kisah duda yang mencoba bertahan ditengah malapetaka. Selesai baca seminggu, berat juga euy baca kisah cinta yang aneh gini. Benar-benar buku tipuan. Haha…

Beli di Pameran Buku di Gedung Wanita, GOR Karawang: 2

#10. Cinta Semanis Racun: 99 Cerita dari 9 Penjuru Dunia – Anton Kurnia

Wow, harga aslinya 155 ribu di Pameran kena 85 ribu. Jelas ini masuk kolektor edition. Buku tebal bak al Kitab yang memuat 99 cerpen di seluruh dunia yang dikumpulkan dari berbagai sumber. Sehimpun cerpen terbaik dunia sepanjang masa. “Cinta itu racun. Racun yang manis memang. Tapi tetap saja bakal membunuhmu.” – George R.R. Martin

#11. Comedy Apparition – Ginger Elyse Shelley

Buku yang tertunda. Beberapa tahun lalu nyaris kubeli, sudah kutimang-timang di toko buku untuk kubawa pulang. Tapi malah beralih ke buku Deru Gunung. Ternyata ini adalah buku lokal, tentang penyihir, tentang keluarga penyihir yang beranak-pinak yang unik, aneh dan penuh rahasia. Bagaimana Stephen Haegel masuk dalam lingkaran tak lazim ini?

Beli di Gudang Buku, Revo Square Bekasi: 2

#12. The Secret #2 – R.L. Stine

Ini adalah buku incaran sejak zaman Sekolah! Wow, sampai tak coba kuingat karena perseteruan keluarga Fier dan Goode yang penuh api di seri pertama The Betrayal. Jeda bacanya satu setengah dekade, maka saat tahu ada buku ini tak perlu dua kali pikir untuk kubawa pulang. Ada dua versi di Gudang Buku, English yang kutinggal.

#13. The Burning #3 – R.L. Stine

Akhir dari trilogi. Asal mula Fear Street itu sudah dalam genggaman. 

Beli di Gramedia Karawang: 2

#14. Therese Desqueyroux – Francois Charles Mauriac

Buku pemenang nobel sastra lagi. Saya selesaikan baca hanya di sela-sela kerja seminggu ini: pagi sebelum aktivitas, istirahat pasca makan siang dan satu jam setelah pulang menunggu Magrib. Luar biasa. Sangat menyentuh, memainkan emosi dengan brilian.

#15. 3 Tahun – Anton Chekov

3 Tahun yang kubaca kilat tak lebih dari 3 jam. Buku kedua Chekov yang kulahap. Dari Penerjemah Sapardi Djoko Damono, kisah cinta dari Rusia yang menyorot perkembangan masyarakat di masa 1880an. Dinamika relasi antar manusia.

Dari diskon Telkomsel 50 ribu Intano – Bandung: 1

#16. Kumpulan Cerita Pendek Terbaik – Leo Tolstoy

Intano, rekan kerja yang sedang berbaik hati membagi poin provider selulernya untuk sebuah buku, untukku. Uuhh.. makacih. Melalui chat WA serba instan untuk memilih dan memiliah buku mana yang akan dibawa pulang, saya menetapkan harus Sastra. Bukan fantasi remaja, apalagi Ika Natasha. Dan ini bakal jadi buku pertama Leo yang akan saya lahap.

Pinjaman dari sahabat kantor Widy Satiti: 2

#17. Trologi Soekram – Sapardi Djoko Damono

Dibaca kilat dalam tiga babak. Tentang Soekram, seorang tokoh fiksi yang menjelma hidup menuntut pilihan kenyamanan. Babak pertama sangat hebat di era Reformasi, babak kedua bagus banget di zaman Orde Lama, babak tiga keok. Terjatuh, tersungkur di masa Siti Nurbaya. Marah Rusli berhak marah.

#18. Cuckoo’s Calling – Robert Galbraith

Alhamdulilah. Sempalan buku pertama JK Rowling sukses. Setelah tak berkesan dalam Kursi Kosong, JKR memakai nama lain dalam sampul – dan sukses. Beberapa bagian memberi kejut, banyak bagian biasa. Tapi pemilihan genre detektif modern patut dikasih jempol. Apalagi Cormoran Strike yang ternyata sakit fisik – veteran perang yang juga sakit batin. Novel berkelas yang layak dinikmati kelanjutannya. Makacih Mbak Widy, ditunggu Ulat Sutra dan selanjutnya.

Selamat tinggal tahun penuh buku dan kenangan, 2017 yang berwarna.

Karawang, 301217 – Richard Marx – Until I Find You Again

Pekan Ke 19: Inter Vs Lazio 

Pekan Ke 19: Inter Milan Vs Lazio

PROBABILE FORMAZIONE (3-5-1-1): Strakosha;
Wallace, de Vrij, Radu;
Marusic, Parolo, Leiva, Milinkovic, Lulic;
Luis Alberto;
Immobile.
LBP
0-3
Immobile
Laga akhir tahun yang tenang karena Inter tak banyak konflik. Ini lebih kepada siapa striker terbaik Serie A saat ini. Hanya berharap laga berlangsung seru. Immobile dong yang cetak gol. Forza Lazio.
Damar irr
0-2
Immobile
lini depan Lazio akan selalu menakutkan,  ditambah gelandang yang padu menjadi daya topang buat mereka, hanya DI yang sedikit memprihatinkan, jual De Vrij beli Lukaku akan menjadi salah satu solusinya.
Immobile only.
Emas calciopoli
Inter 2 – 1 lazio
Icardi
2 motivasi berbeda dari hasil piala italia. Sayang the great NANI belum bisa diturunkan. Ini faktor utama kekalahan emprit ibukota.
Ikardi doang yg bikin gol
Widi-nya Widi
Inter vs Lazio : 3-2, Icardi
Inter sedang terluka. Inter butuh mangsa. Lazio akan binasa.
Keduanya akan cetak gol.
Arief
Inter v lazio 1-0
Icardi
Inter sudah 2x kalah beruntun. Inter kembali mengalami kolaps  di akhir tahun. Inter harus bangkit
Yang bikin gol: Icardi
Siska
Inter 1-1 Lazio
Icardi
Performa Inter sedang menurun, sedang Lazio kebalikannya. Bermain di kandang tidak menjadi jaminan. Apalagi jika melihat head to head yang saling mengalahkan.
Keduanya (Icardi dan Immo) cetak gol.
Takdir
Inter 1-3 Lazio
Immobile
Analisis: Gamelagio. Soton primavera Liverpool. Dortmund primavera Muechen. Lazio primavera Inter. Inilah duel para pengharap juara Serie A musim ini. Diantaranya Napoli dan Roma, lebih meyakinkan Lazio-Inter untuk melengser Juventus. Jadi adilnya seri, tapi hidup tak pernah adil.
Striker TOP: Immobile
Giana Jun Prayitno
Inter 1-2 lazio; Immo
Inter lagi loyo. Mojonya telah habis. Sebaliknya degrit kembali menguat. Immobile baru saja terpapar kuku bima. kesaktiannya sulit dihadang.
bonus: hanya Immobile yang golin, Icardi mah cuman assis doang.
DC
Inter 1-1 Lazio
Immobile
Walo Inter  main kandang. Hasil imbang pas untuk partai ini. 2 tim yang tidak terlalu superior kali ditandingkan.
Hanya Immo yang golin
Indah Santika
Inter v Lazio 2-0
Icardi
Inter jadi sulit menang. Periode kolaps ini sering terjadi di Desember. Bila Inter kalah lagi, jangan harap bisa finis di 4 besar.
yang bikin gol: Icardi
Jj
Inter 3-1 Lajio
Ikardi
Gini ya, walo Inter lagi apes, tak menyurutkan fahri untuk tetap menjadi malaikat. Apalagi ditambah Tatjana Saphira yang ngintili Fahri udah kayak Icardi ketemu perisik. Simpan argumenmu.
Bagas
Inter 2 – 2 Lazio, Immmo
Laga Inter vs Lazio ini pun bakal menarik dengan adu ketajaman dua mesin gol andalan masing-masing kubu. Mauro Icardi kontra Ciro Immobile. Dan keduanya akan cetak gol
JK 🇮🇹
Inter 3-0 Lazio
Icardi
Duel dua club ini sering dinamakan GEMMELAGIO. Bagi Boys San maupun Irriducibilli selayaknya dua sodara kembar jauh yg berjumpa. Yang tak terlupakan ketika Inter cukup menang vs Lazio di laga akhir agar bisa jegal Juve.
Suporter Lazio pun teriak-teriak dukung Inter.
Tapi payah, Inter malah grogi meski Lazio main asal-asalan.
Imoenk
Inter 2-3 lazio, Immobile
Gini ya, inter kemaren kalah sama tetangga. Ahhh mereka susah move on kok. Bakalan lama mereka move on. Kalahnya juga bakalan lama. Pokoknya Immobile bikin gol. Titik gak pake koma, yang lain gak boleh ngeyel, gak boleh protes, dan gak boleh udur.
Jabo
Inter 0-1 Lazio, Immobile
Seperti biasa aku menjagokan Lazio yang menang karena mereka adalah “de grit”. Seperti biasa pula Immobile yang akan bikin gol. Dan seperti biasa seseorang akan senang membacanya.
Karawang, 301217

Pekan Ke 18: Lazio Vs Crotone

Prakiraan Skuat 

LAZIO (3-4-2-1):
Strakosha;
Patric, de Vrij, Wallace;
Marusic, Murgia, Parolo, Lukaku;
Luis Alberto, Milinkovic;
Immobile.
LBP 3-0
Amarah The Great akan tumpah di sini. Hanya tiga poin yang bisa menyelamatkan persaingan Scudetto. Seraaaaang!
AW
Lazio 4-0 Crotone, Immobile
Immobile is back! Felipe Bale is Back! Lazio strikes again!
DC
Lazio 2-0 Crotone
Immobile
Lawan tim yang lebih lemah. Menang lagi setelah imbang. Dan Immobile​ golin.
bgs
Lazio 3 – 1 Croto, Immobile
Lawan tim antah harusnya tidak jadi masalah buat lazio, apalagi juru gedor udah kembali, yakin Immobile hetrik… Forza lazio
Nikita Willy Prayitno
lazio 2-1 Crotone, Immobile
Inilah statusku tahun lalu. Njir sama persis gak ada yang berubah. Lazio menang tipis dan yang nonton 5 orang ya sama persis orangnya itu itu juga. Ini seharusnya dah kelipatan ke 7 tapi bandar bilang 6 ya apa boleh buat. Ini namanya rezeki yy terpancur.
Arief
Lazio v Crotone 2-0
Luis Alberto
Immobile kembali. Lazio harus menang. Crotone buruk di tandang
Jj
Lajio 2-2 kroton Imobille
Gini ya. Lajio nga mungkin menang. Simpan argumenmu.
Imoenk fans indah
Lazio 5-0 Crotone, Immobile
King Immo wis siap mbedal meneh. Pelipe bale bale yo wis siap pancal.
Lucas senggol bacok yo lagi apik2e. Trus opo meneh alesan gak ndukung Lazio?
Sudahlah, simpan argumenmu kawan.
Jabo
Lazio 4-1 Crotone
Gol : Immobile
Lazio pasti menang.  Pasti menang. Menang.
Arifin
Lazio 1-0 Crotone
Gol: Immobile
Lazio menang.  Crotone tumbang. Om Budy girang. Pulsa pun datang.
Takdir
Lazio 4-1 Crotone, Immobile
Analisis Apa jadinya sebuah tim memiliki Pencetak gol mumpuni dibarengi bek begundal? Miris. Tim juara adalah tim yang punya pertahanan sekokoh semen tiga roda, Yunani sudah kasih bukti. Mending menang menang tipis ala Mou ketimbang di satu partai menang besar di banyak partai gagal karena defennya bobrok. Tim produktif Serie A musim ini kedua adalah The Great dengan 39 gol. Bandingkan dengan Inter yang baru 34, atau Napoli, apalagi Roma. Perlu dicatat juga, jumlah laga Lazio masih 16, menyimpan satu pertandingan ke Udine. Bastos, Wallace, Radu dkk lah yang mengirim Biancoceleste gagal Capolista. Musim lalu Lazio SELALU membabat semua tim semenjana, Crotone adalah anomali berkat kekonyolan Balde dan Lombardi, keduanya berakhir di meja transfer. Kalau Inzaghi berani bertaruh dengan Luiz Felipe Ramos harusnya mulai diberi menit. Anak muda yang lebih menjanji ketimbang Patric, misalkan. Atau Radu yang jelas sudah ngos ngosan fisiknya. Kembalinya Immobile adalah jaminan gol, fitnya Felipe Bale adalah jaminan suplai melimpah ke depan gawang. Isu De Vrij hengkang jaminan panik Laziale. Kalau kalian masih ingin melihat pos foto foto exclusive Lazio di FOC dalam euforia Budy di papan atas, berdoalah Bek bek The Great tak berjamaah me-Lorven-kan-diri. Fandom sejak Jaap Stam tahu bagaimana membentengi diri. Simpan argumenmu!
Emas calciopoli
Lazio 1 – 1 Crotone
Gol Alberto
Biar bagaimanapun absennya Nani sangat berpengaruh buat tim. Kembalinya Felipe Bale tidak banyak membuat perubahan.Satu poin dikandang cukup membahagiakan Laziale.
Damar
Lazio 4-1 kroto
Gol Alberto
Pertahanan yang kurang baik masih menjadi kendala, lini tengah masih menjadi andalan dan sms, Luiz Alberto, Immobile masih menjadi trio yang menakutkan. non mollare mai.
Wao
Lazio 2-2 Crotone, Immobile
Lazio is back. Maen laga home diyakini mudah. Ternyata draw 2-2. *AM*

Lazio 5-1 Crotone, Immo

Waktunya lazio kembali menang dgn meyakinkan. Lazio bisa. Lazio hebat.

Karawang, 231217

Trilogi Soekram – Sapardi Djoko Damono

Trilogi Soekram – Sapardi Djoko Damono

Di padang pasir, tidak ada larangan untuk memakan pasir. Kemerdekaan adalah laut semua suara, bawalah aku kepadanya. Petani itu tersungkur, darah di dadanya. Matanya masih menyala juga. Tidak akan kumaafkan setan-setan ini. tidak boleh berkeliaran setan-setan ini.

Sayang sekali, setelah terpukau di seri satu, meningkat keren di bagian kedua, buku ini ambyar di akhir. Benar-benar berkeping, luluh lantak. Kisahnya amburadul di seri penutup. Padahal susunan kalimat puitis dan narasi padat yang nyaman disajikan dalam kelezatan bak sereal nikmat di pagi hari. Makan siang istimewa yang mengenyangkan, dan seribu kali sayang makan malamnya memuakkan. Soekram yang diceritakan seorang dosen, lulusan luar negeri itu begitu meyakinkan sekali dalam menjalani masa-masa genting ’98. Soekram yang kisahnya ditarik mundur dalam masa kuliah dan penggambaran masa genting menuju ’65 itu begitu seru dan mendebarkan. Dan entah kenapa tiba-tiba bak sebuah piring yang dihempaskan ke lantai, bagian ketiga berkeping-keping. Ambyar. Buruk. Penutup yang sangat buruk, di mana saat pembaca digiring ke imaji liar gejolak cinta yang semi malah kita diajak berwisata ke masa antah di negeri dongeng Siti Nurbaya. Anti klimak. Padahal saya sudah meletup-letup mau bilang salah satu buku lokal yang keren, tapi saat pena Soekram yang memilih jalan sendiri semua rusak.

Sebenarnya ekspektasiku juga ga tinggi apalagi pasca menyusun best 100 novels jadi sedang ingin santai, dan cerita sangat bagus sedari awal sampai tengah. Trilogi ini memuat kisah panjang Soekram yang galau, tentang cinta dan selingkuh dan perjuangan hampa meraih sesuatu yang (rasanya) menjadi tak terlalu penting untuk umat, baca bagian akhir. Sebenarnya ia ke Sumatra untuk apa dan akhirnya menjadi apa. Karakter yang begitu bagus bagian satu-dua mendadak konyol di ending. Punya Ida yang mencinta, ada Rosa yang menakjub, ada Menuk yang menunggu di rumah. Lalu ada Maria yang memanja, ada Nengah yang berbakat. Dan pada akhirnya Siti Nurbaya merobohkan susunan bata cerita yang Indah itu.

Bagian pertama Pengarang Telah Mati. Jadi penulis kisah Soekram ini sudah meninggal, karyanya masih terbengkelai. Istri atau ahli warisnya menemui editor untuk mengotak-atiknya untuk dijual yah, klasik karena alasan ekonomi, dan Soekram inilah karakter fiksi yang menggugat. Seorang lulusan Amerika yang selingkuh dengan Ida, mahasiswi lokal yang jua menimba ilmu di negeri Paman Sam, punya istri pasif Menuk dan seorang anak. Kisah keluarganya tak digali bahkan saat anaknya sakit, Soekram tak nampak benar-benar khawatir di saat punya pilihan: keluarga atau karir? Dibiarkan datar karena kita diajak merongrong isi kepala Soekram ke masa lalu, ke orang-orang sekitar di kampus. Rosa adalah salah satu yang melonjakkan imaji. Sering mengantar pulang dengan VW Kodok Merah dan sesekali makan bareng. Dengan setting Jakarta di gejolak Indonesia 1998 di mana demo besar menggulingkan kekuasaan, kita benar-benar diajak berwisata menikmati indahnya nuansa sisi lain menuju peralihan pemerintahan. Kampus, rumah tangga, hubungan-hunungan Soekram dan sitrinya. Soekram – Ida. Soekram – Rosa. Minuk dan Yatno (sayang tak berkembang lebih jauh). Dan cinta iseng Ida menjadi puncak kisah ini dengan surat kasih, bukan email tapi surat tertulis dari seberang jauh. Jika cinta mengajakmu, ikutilah saja. Meskipun jalannya sulit dan curam.

Bagian kedua Pengarang Belum Mati. Soekram menghidup, setting ditarik jauh ke belakang. Di era ia kuliah di Yogyakarta, di mana proses membentuknya menjadi manusia yang open minded. Di zaman pergolakan menuju akhir era Orde Lama, bagaimana Nasakom mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat. Pilihan politik yang memandu konsekuensi, mau jadi apa kamu nantinya? Adiknya yang kiri, ayahnya yang nasionalis, orang-orang sosialis kanan, teman-temannya yang berbeda keyakinan. Soekram sendiri muslim, atas ‘perintah’ neneknya. Walau Sholat lima waktu bolong, mentok hafal Qulhu, dan sekedar meraya setiap Jumat Berkah. Kan orang harus punya pegangan. Gejolak politik, darah muda yang gemuruh. Dan hiruk pikuk, apa yang harus dikejar setelah studi selesai. Sangat bagus, sangat indah menikmati percabangan pikiran dan keraguan mewujud harapan mana yang akan direalisasikan, sampai akhirnya terpekur dalam goa sakral. Sayangnya tak tuntas. Kenapa Maria tidak hadir waktu aku wisuda? Jangan kunyah pasir itu Soekram, jangaaaan…! 

Bagian ketiga Pengarang Tak Pernah Mati, nah inilah bagian yang saya sangat sayangkan. Susunan apik itu menjadi kacau gara-gara kita diajak meluncur ke masa Siti Nurbaya. Kisah abadi karangan Marah Rusli itu diacak-acak, dimodifikasi, disusupi Soekram dan menjadi amburadul seakan sentuhan tinta masterpiece itu harus merevisi. Niatnya bagus, out of the box. Tokoh fiktif masuk ke dunia imajiner karangan Penulis besar lain, berdiskusi, menyapa dan mengilhami gerakan melawan penjajah. Sayangnya, boomerang. Soekram yang kita kenal cerdas dalam dua bagian itu menjadi konyol. Mencinta Siti Nurbaya, mengikut ragu di masa Indonesia belum merdeka. Menjadi bimbang, awalnya ikut trenyuh tapi di bagian ini muak. Why oh why? Biarkan Datuk Meringgih, Samsul, Hanafi dkk memiliki kehidupannya sendiri. “Datuk telah membohongimu Kram.”

Bagian pertama dan kedua masih related. Karena seorang dosen tahun 1998, di era 1960an mahasiswa bisa diterima. Apalagi ia dosen senior, melanjut studi luar dan menjadi idola kalangan pelajar yang berarti ia sudah mengabdi, memberi banyak contoh baik kehidupan dan makan asam garam. Bagian kedua masih bisalah disambungkan, masa perjuangan masa muda. Cinta itu mau dibawa ke arah mana. Perjuangan kehidupan. Bagian ketiga seharusnya kalau mau related Soekram masih balita, atau setidaknya anak-anak di era Pra-Kemerdekaan atau masa-masa Perang Soerabaya. Sayangnya, era ditarik terlalu jauh ke belakang dan Soekram posisinya sudah dewasa. Bisa saja itu era bayangan, era mimpi, era fiktif tapi secara logika tetap saja tak masuk akal. Sekalipun ini kisah palsu, tapi tetap nalar harus tetap dipegang. Apalagi merusak karya Penulis besar kita. Sayang sekali anti-klimak. Entahlah…

Siapa yang bisa menghalangi lebah bergantung di tubir bunga? Siapa yang bisa menghalangi capung berkeliaran di udara? Siapa yang bisa menghalangi siput merambat di tepi sungai dengan beban waktu di cangkangnya? Siapa yang berani bertanya kenapa waktu seperti tak peduli bertengger di ujung cangkangnya? Siapa pula berani berkata, Sudahlah Datuk, segalanya sia-sia? Siapa gerangan yang berani mengatakan bahwa ada yang bisa sia-sia?

Siapa yang berani bertanya, kenapa bagian ketiga amburadul?

Ping-pong-ping-pong-ping-pong-ping-pong… harus berakhir di tiang gantungan bahwa revolusi mulai merasa mual bahwa revolusi telah meludah di sembarang tempat. Bahwa di negeri ini memang tidak disediakan tempat istimewa untuk meludah. Juga tidak untuk ;ing-pong. Juga Maria. Juga.

Trilogi Soekram | oleh Sapardi Djoko Damono | copyright 2015 | GM 201 01 15 0014 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan keempat Juni 2016 | editor Mirna Yulistianti | desain sampul Suprianto | setter Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-1478-5 | skor: 3/5

Karawang, 13-171217 – Sherina Munaf – Simfoni Hitam