Le Bal Des Folles: Alangkah Hebatnya Mereka yang Berani Bermimpi, dan yang Berani Berbuat

“Orang mendatangiku dengan kepercayaan dan melimpahiku cinta setiap hari. Kubayangkan kau duduk dan membaca, tetapi aku tak biarkan kau memutuskan. Kita berjalan sebentar. Anginnya segar dan asin. Cakrawala begitu jauh. Kau bisa merasakan? Jiwa kita menari di laut dan rasa sakit kita pergi, berputar dan menghilang dalam awan.kita terus-menerus menari…” – Surat Eugene kepada Genevieve

Bagaimana mengelola cerita orang gila yang bisa melihat arwah? Dipadukan dengan klenik perempuan penyihir dan impian kabur dari kekangan, kisah digulirkan dengan tenang. Yang menonjol dalam Le Bal Des Folles justru iringan musiknya, skoring yang menyayat dengan gesek biola memadukan dari adegan pahit satu ke berikutnya. Ini kisah getir, ini cerita kehilangan anggota keluarga yang terpaksa dikirim ke rumah sakit jiwa, ini tentang merespon keadaan buruk. Dan saat muncul impian disertai rencana matang dan perbuatan baik, semua berkolaborasi, para perempuan itu mewujudkan harap: pesta menari para wanita gila di ujung kisah.

Kisahnya tentang Eugenie Clery (Lou de Laage), gadis ningrat yang memiliki masa depan cerah. Seorang cantik dan keras kepala, dua ciri yang biasanya selalu bertautan. Diperkenalkan dengan para bangsawan, ia memiliki kecenderungan bebas. Aturan kaku kalangan atas sering didobrak, itulah yang membuat orangtuanya marah, gampangnya bapaknya bilang, ‘Jaga sopan santunmu, Nak.’. Pembicaraan di meja makan dalam jamuan sering kali merupakan lobi, perbincangan sambil lalu saat pesta kebun dengan lingkaran pejabat adalah kekuatan nyata untuk diskusi bisnis yang pas. 

Grand-Mere Clery (Martine Chevallier), sebagai kakak yang baik sering kali menasehati. Namun emang dasarnya gitu, dalam perjalanan kereta kuda ke kelas debat, Eugenie nebeng kabur dari rumah demi ke perpustakaan kota, untuk baca buku dan merokok. Duh, rasanya meleleh hati abang lihat cewek cantik khusyu’ wal khudu’ baca buku. Ah hampir saja film ini menjadi ajang romantisme saat pria di seberang meja menghampiri, menyapa dengan kutipan puisi, mencoba mendekati. Namun Eugenie malah menjawab, ia tak memperhatikannya. Ia melihat bukunya. Maka ia dipinjami, judulnya The Book of Spirits. Mengagumkan, komentar kakaknya. Sampai sini kukira bakal jadi film cemen, di mana ia jatuh hati sama warga biasa, kakaknya mendukung, dan orangtua memaksa. Bukankah kisah-kisah zaman itu tipikal sejenis? Oh bukan, ini film tentang tarian orang gila.

Bergulirnya waktu, Eugenie sering melihat penampakan. Arwah-arwah orang yang sudah meninggal, menghampirinya, menyapa dan mengajak berdialog. Keadaan ini makin mencemaskan keluarga. Dan akhirnya terpaksa mengirimnya ke rumah sakit jiwa Paris. Semuda itu, secantik itu, segila itu.

Di sana ia mencoba beradaptasi, berkenalan dengan para pasien, mengakrabkan diri dengan para perawat. Dan dengan gamblang kita menyaksi proses pengobatan yang mengerikan. Salah satunya sember penuh air es, pasien dipaksa masuk telanjang, ditutup rapat hanya kepalanya menyembul, manyaksi dinginnya keadaan. Pengobatan karya Prof Charcot yang sungguh termasyur di kala itu.

Salah seorang perawat Genevieve Glaizes (Melanie Laurent) akhirnya memiliki tautan dengannya. Secara tiba-tiba ia melihat almarhum ibunya Gene, meminta segera pulang sebab ayahnya sakit, ada kecelakaan di dapur. Gene yang diambang percaya tak percaya, gegas pulang, berlari ngos-ngosan. Dan benar saja, ayahnya terluka. Keadaan yang sulit untuk dicerna akal sehat, saat bapaknya terbaring diobati dan diceritakan ke bapaknya, eh ia malah marah. Di era modern, sihir dan segala gaib sudah terasa urang. Hal-hal yang tak bisa dijangkau mata. Ini zaman kemajuan dengan obat dan logika. Nah, faktanya masih ada yang bisa melihat arwah ‘kan?

Akibat kejadian itu, tercipta hubungan baik. Maka saat Eugenie makin parah dan berulah, dikucilkan dalam ruang terpisah di gedung belakang, ada rasa simpati. Ada rasa ingin membantu, dan ketertarikan berkomunikasi dengan arwah ibunya dilanjutkan telaah. Bagaimana ia pernah menghuni rumah sakit yang sama, kamar yang sama, dan Gene juga yang merawatnya. Bagaimana koneksi itu terjalin dan saling melengkapi. Keinginan Eugenie untuk bebas, kabur akhirnya dibantu dalam sebuah pesta dansa dengan topeng dan segala gaya bak opera Phantom, berhasilkah? Musiknya yang berhasil menghibur.

Terasa dipanjang-panjangkan. Dua kali tertidur akibat plotnya yang terasa lambat dan kurang menarik. Akting gilanya juga tak natural, terlihat mereka hanya bergaya, mengikuti naskah. Yang juara memang skoringnya, kisah para orang gila yang mendamba kebebasan juga bukan barang baru. Hanya di sini terlihat klasik dan feminism sebab di era Victor Hugo akhir abad ke-19 dan yang bermasalah mentalnya adalah sekumpulan perempuan, cantik.

Ide untuk berwisata ke pesta dansa bagi orang gila, untuk merekam dan menyajikan keceriaan asli sekaligus kelembutan di tengah kepeningan keadaan– ini terdengar liar. Maka diciptalah adegan panas yang mengelabui, untuk memancing para penjaga dan perawat. Demi kebebasan, apa saja akan dilakukan. Pernah baca di mana sebuah pepatah yang bilang, “Kita bisa memiliki apa yang kita inginkan, tapi kita harus memperjuangkannya agar bisa menikmati dengan layak.” Sangat cocok untuk hikmah film ini.

Di tengah perjalanan hidup, ia terbangun di sebuah hutan lebat, mendapati bahwa hidupnya berjalan di jalur yang salah, dan memang selayaknya diluruskan. Kita semua memasuki hutan lebat itu dua kali. Sekali dalam hidup kita, dan kemudian sekali lagi ketika kita menoleh ke belakang melihat masa lalu. Puisi di akhir kisah di pantai yang tenang dan nyaman itu, tak kurang daripada pencariannya akan makna kebebasan. Alangkah hebatnya mereka yang berani bermimpi, dan yang berani berbuat. Oh betapa dahsyatnya puisi ini.

Le Bal Des Folles | Year 2021 | The Mad Woman’s Bal | based on novel Le Bal Des Folles  by Victoria Mas | France | Directed by Melanie Laurent | Screenplay Melanie Laurent , Julien Decoin, Christopher Deslandes | Cast Lou de Laage, Melanie Laurent, Emmanuelle Bercot | Skor: 3/5

Karawang, 200921 – Michael Fanks – Now That the Summer’s Here

Le Bal Des Folles tayang di TIFF dan tersedia streaming di Amazon Studio

After Love: Kami Merindukanmu bak Halilintar

“Bersamaku membuatnya merasa menjadi suami yang baik untuk orang lain. Ini membuatku sedih” – G

Kesedihan terdalam adalah mengingat kebahagiaan masa lalu. Cerita cinta yang hilang dan respon menghadapinya. Drama dengan kekuatan akting dikedepankan, karena ceritanya sederhana, kalau dibagi dalam babak ada tiga: kehilangan, pencarian dan penemuan fakta, legowo. Dunia duka dengan segala isinya. Kematian mendadak orang terkasih memicu tanya beruntun saat menemukan isi chat mesra di HP almarhum. Menemukan sebuah kartu identitas wanita lain diselipkan dalam dompet, dan inilah inti dari After Love, perjalanan menemukan jawaban kehidupan lain sang suami. Ini kisah tentang tautan dua wanita dalam satu hati lelaki.

Kisahnya dibuka dengan tenang, Mary (Joanna Scanlan) seorang muslim keturunan Pakistan dan suaminya Ahmed (Nasser Memarzia_ menyatakan diri kepada istrinya dengan identitas: Love), kapten kapal feri jalur Dover – Calais. Mereka tinggal di Dover, Inggris. Mereka pulang dari kondangan. Sang istri melepas hijab, memanaskan air untuk ngopi, mencuci gelas untuk persiapan. Membuka berkat, “apakah isinya ada daging?” oh tidak ada hanya lauk dan sayur. Sang suami duduk santai di ruang tamu, sembari nunggu untuk kopi disajikan, ia membuka HP dan bicara sambil lalu.

Lalu tiba-tiba ia meninggal dunia. Jangankan yang mendadak, orang sakit keras bertahun-tahun saja masih banyak yang tak siap menghadapi kematian. Adegan berikutnya menyaksi penyajian doa bersama yaa siin-an dan hulu ledak tangis dalam duka.

Barang-barang almarhum dirapikan, lantas menemukan kejanggalan. Chat tak selesai dengan wanita bernama Genevieve (Nathalie Richard), di kontak diberi nama ‘G’. Kartu identitasnya ada dalam dompet. Jadi selama ini suaminya selingkuh dengan wanita Prancis hingga memiliki anak. Mary yang kini sendirian lantas menyelidiki sisi lain hidup belahan hatinya. Berkendara jauh ke apartemen Gene, mengikuti rute feri tempat kerja almarhum, lantas menjelma tukang bersih-bersih, tenaga bantu, Sabtu ini mereka akan pindahan.

Hubungan mereka menghasilkan seorang anak lelaki Solomon (Talid Ariss) yang suka memberontak, di usia remaja dengan pikiran liarnya. Betapa ia merindukan kasih sayang seorang ayah. Ia pernah kabur dari study tour ke Dover untuk bertemu ayahnya. Setelah berhari-hari menjadi pendengar dan pengamat keluarga, mereka belum  juga mengetahui identitas asli Mary. Karena memang Mary-lah yang mengorek kehidupan. Hal-hal tabu diungkap, suaminya minum minuman keras tampak saat video kenangan diputar di tv, ideologi Gene bahwa ia memang jadi WIL, tapi semua ga papa kok. Setelah itu, perhatikan gesture Mary, menggeleng dan ekspresi tak percaya! Terdeteksi getar halus rasa sedih dan marah dalam nada suaranya. Benaknya kosong dari pikiran apa pun, seakan-akan berpikir adalah sebuah kemewahan.

Gene dan Ahmed tak menikah, walau dalam Islam diperbolehkan poligami. Gene tak mempersalahkan berbagi suami, jelas muncul tekanan di sana tapi ya ngalir aja, menyadari status ia pacaran sama suami orang. Ya Mary sedih, tapi rasa sedih itu menjadi sangat saat menemukan fakta bahwa Solomon menjalin kasih sesama jenis, ini jelas menghancurkan hati setiap ibu. Ia yang memimpikan seorang anak, menemukan anak suaminya memiliki penyimpangan seksual sungguh mencipta pilu.

Semakin hari, Mary semakin mengerti mengapa suaminya memiliki sisi lain. Mereka tak punya anak, ia gendut, ia kurang cantik; ditampilkan dengan galau dalam cermin tatapan pasrah, ditampilkan pula dalam pembaringan pasir dicium ombak bak paus terdampar. Ia tak lugas dalam diskusi ilmu, ia memang taat ibadah dan selalu salat, bahkan menangis dalam sujudnya. Namun ia juga menyadari penampilan dan kepribadian wanita lain yang lugas dan terbuka, hingga fakta-fakta kecil bahwa kekurangan yang ada di dirinya bisa ditemukan dalam selingkuhannya. Singkatnya mereka melengkapi.

Hingga akhirnya, Mary mengakui statusnya, nama Islamnya Fatima, identitas yang diketahui Gene, lantas ledakan amarah tersaji, keduanya marah, keduanya kesal. Mary menyampaikan kematian mendadak Ahmed, mereka tak siap, HP-nya ditelpon, ada dalam tasnya, dan kekalutan itu wajar, memang pantas membuncah, waktu juga yang mengantar mereka kembali membumi karena dunia terus berjalan, dan setelah kepergian Cinta, ada hal-hal yang laik diperjuangkan, diperbaiki. Fakta mengembuskan napas kekhawatiran dan juga kelemahan, yang dapat membelenggu dan juga membebaskan.

Ini drama sentimental, Mary bercerita masa pacaran pada ‘anaknya’ bahwa zaman dulu komunikasi pakai surat, membuat rekaman kaset pita untuk dikirim dan diperdengarkan bila rindu melanda. Klasik. Tak seperti sekarang, dengan HP kendala rindu menjadi sederhana untuk disampaikan. Nah, berkali-kali kita menjadi Mary untuk mendengarkan rekaman voice mail dari Love. Pesan-pesan sederhana sehari-hari, Mary menikmatinya sebagai kenangan yang sungguh bernilai, sedikit mengobati rindu. Ini jadi adegan touching sekali, saat pesan suara itu hangus. Fufufu… begitu juga saat menemukan pakaian-pakaian almarhum, diciumi, dipeluk. Hal-hal sentimental yang rasanya tak bisa dengan mudah dilepas, termasuk bau khas baju tersebut. Rasanya sayang, karena setelah dicuci arti jejak itu hilang, menguap. Kami merindukanmu bak halilintar.

Sempat memunculkan tanya, “Kapan terakhir kali kalian salat hingga sesenggukan meneteskan air mata?” Lupa saking jarangnya? Banyak alasan untuk menangis, banyak cara mendekatkan diri dengan Yang Mahakuasa, betapa lemah dan rapuhnya manusia.

Banyak sekali pengambilan gambar alam disajikan. Lautan dengan ombaknya, pohon-pohon hijau yang berkejaran saat naik bus, angin berdesir menyapu ombak, dengan sang protagonist tiduran di pasir pantai, dibelai ombak, diraba hembusan. Langit cerah yang menawarkan obat duka, hingga rentetan butir debu berterbangan jatuh dari langit-langit. Semua ditampilkan dengan lembut seolah penting, seolah hal-hal kecil yang ada di sekitar kita menyokong kehidupan fana ini. Mary duduk di kursi depan rumah, melihat kegiatan di sekitar dengan HP di tangan saja sudah tampak menarik, sebab kamera sesekali mengambil dari depan yang artinya Mary menonton penonton, menampilkan kerutan kening kesedihan di wajahnya. 

Walau disesaki kisah duka, pada akhirnya ceritanya selesai dengan bahagia, semua berdamai dengan keadaan, berziarah, mendoakan, memaklumkan. Ini berkebalikan dengan awal mula saat fakta-fakta pahit diungkap, saling marah saling tampar, saling teriak. Alih-alih berusaha mengubah riak-riak konfliks dari sesuatu yang asing dan artifial, After Love membiarkan adegannya mengalir sendiri dari dalam pikiran, lantas kamera menyorot mereka bertiga di tepi pantai, menjauh perlahan seolah mengucap ‘Goodbye‘ guna menutup film.

Mereka akhirnya menyerahkan diri pada ketiadaan beban.

After Love | Tahun 2020 | Inggris | Directed by Allem Khan | Screenplay Allem Khan | Cast Joanna Scanlan, Nathalie Richard, Talid Ariss, Nasser Memarzia | Skor: 4/5

Karawang, 150921 – Shirley Horn – I Got Lost in his Arms

Rekomendasi Lee, Thx.

The Hunt: Maka Marilah Merenungkan dengan Jernih Perasaan Setiap Orang

Lucas: “Tatap aku! Apa yang kau lihat? Apa yang kau lihat? Tak ada apa-apa. Apapun. Jangan ganggu aku.”

Di tengah-tengah perjalanan hidup ini, aku mendapati diriku di sebuah hutan lebat; aku tersesat. The Hunt adalah film untuk para penyabar dan para simpatisan kasih sayang. Ini tentang guru Taman Kanak-kanak yang kena fitnah pelecehan seksual anak. Seorang pemburu yang kena apes bertubi, sebab ia memang tak melakukannya. Senapannya menyalak balik dengan sungguh keras. Ia kena penghakiman warga. Kasus pencabulan anak jelas kasus kelas berat. Ia dikucilkan, dihujat, dihajar (dalam arti nyata), diredam lumpur terdalam. Bak pendosa dalam lapis paling hitam. Bahkan anjing keluarga bernama Fanny, teman berburunya dibunuh. Begitulah, tak di Indonesia tak di Eropa, apalagi Zimbabwe; fitnah memang luar biasa kejam gemanya.

Kisahnya bermula di bulan November yang dingin, bapak-bapak sedang lompa terjun ke danau demi kesenangan dan uang taruhan. Lucas (Mads Mikkelsen) tampak menikmati har-hari, ia duda anak satu. Anaknya Marcus (Lesse Fogelstrom)  tinggal bergantian sama mantan istrinya, ada kedekatan di antara anak-ayah ini; dalam sebuah adegan yang bisa mencipta anak sungai air mata, Marcus membela dengan membabi buta atas keyakinannya. Seorang guru TK yang dekat sama anak-anak, wajar juga dekat dengan segala lapisan warga. Apalagi ia tampan, dan hidup terasa sempurna bersama orang-orang dalam kasih, dalam rutinitas. Pedesaan Taastrup di Denmark yang tenang nan menghanyutkan. Kesenyapan jalanan di Gereja Hoje Taastrup yang dipagari pohon-pohon elm menuli. Ini rutinitas yang jamak untuk hati yang tenteram, tak heran Lucas dengan kekuatan supernya bersikukuh tetap tinggal.

Hingga suatu hari, seorang anak didik Klara (Annika Wedderkopp) bercerita kepada gurunya bahwa alat kelamin Lucas keras dan pernah memperlihatkan padanya dibeberkan. Satu klik yang mencipta gelombang kolektif, sebab dari menit inilah Hunt menjadi liar. Kasus ini menjadi besar dan semakin meluas bak api kena daun kering. Menjejakkan langkah pertama ke adegan pengungkapan, mencipta gemetar dan gelisah.

Guru-gurunya melakukan rapat, para orangtua/wali murid diajak urun rembug untuk memutuskan bahwa ini harus dibawa ke ranah hukum. Orangtua Klara, Theo (Thomas Bo Larsen) yang merupakan sahabat dekat Lucas melakukan apa-apa yang memang harus dilakukan untuk melindungi putrinya.

Marcus turut menjadi korban, ia juga dikucilkan warga akibat fitnah dosa ayahnya. Bahkan di sebuah swalayan, ia mendapat ancaman untuk disampaikan ke ayahnya agar tak berbelanja di situ lagi. nantinya Lucas kena hajar akibat nekad, tapi ia memang punya harga diri. Kaca mata boleh pecah, muka boleh berdarah, yang jelas ia wajib meninggalkan toko dengan berdiri tegak.

Lucas lalu diamankan polisi, interogasi yang menentukan besok untuk bebas atau ditahan sementara. Marcus komplain ke rumah Klara, malah dapat bogem mentah karena merasa mengintimidasi. Keadaan rumit dan runcing, pada sumbu pendek semua. Marcus mengumpat balik dengan keras, walau ekpresinya mengangguk sedih, tetapi jelas keyakinan di wajahnya tidak menghilang: ayahnya tak bersalah. Benar saja, saat kepolisian memutuskan bebas, intimidasi tak berhenti.

Fanny dibunuh setelah jendela rumahnya dilempar batu. Marcus dipindahkan ke rumah ibunya. Lucas menghadapi pengadilan sosial langsung oleh tetangga, sahabat-sahabatnya, rekan kerja, dst padahal sudah dilepas merdeka dan tak bersalah. Hingga suatu malam Natal, di Gereja Lucas nekad datang dalam misa, terjadi rusuh akibat kemarahan yang lama dipendam. Darah dan kata-kata meluap bersamaan.

Harus ada yang bertindak, harus ada yang meluruskan. Kita harus mengambil tindakan agar tidak menyesal kelak di kemudian hari, demi persahabatan, demi keadilan. Tak lain, yang berdiri tegak itu adalah ayah Klara, setelah kena damprat, ia datang langsung ke rumah Lucas, membawa makanan dan sebotol bir, dan menyajikan kata-kata maaf yang tertunda sekian lama. Saat waktu direntang setahun, kita tahu keadilan orang baik itu masih ada, setidaknya masih ada harapan. Hingga akhirnya dalam perayaan usia dewasa Marcus, ia mendapat senapan berburu dari bapaknya, senapan yang juga dari kakeknya, dan kakek buyutnya, kini ia diwarisi tradisi itu. Perasaan lega kolektif. Namun sekali lagi, benarkah hal-hal yang abu-abu itu sudah diputihkan? Setidaknya kunjungan Theo ini perlu dirayakan. Laiknya mengocok botol-botol anggur paling langka dan keras.

Apa yang bisa aku ulas? Tak banyak, tonton saja dan buktikan. Ceritanya hanya berkutat di desa asri dengan orang-orang yang semestinya damai dan saling menghormati. Pace-nya lambat, sungguh lambat, setrika bolak-balikku bahkan terasa lebih cepat dan ritmis. Menit digulirkan dengan tenang seolah aliran air dalam selokan dalam. Gaya filmnya menjulang seturut temanya, dan mengembang laiknya air pasang dan alurnya yang berpanjang-panjang menggugah penonton, mengalirkan keraguan dan kekhawatiran. Kehidupan warga yang damai, hanya sesekali muncul meriah festival: adegan di toko, adegan di Gereja, adegan di rumah Theo, adegan ‘door!’ di ujung. Apalah arti empat adegan ini jika dibanding dua jam duduk melotot. Bahkan setrika bajuku, jauh lebih panas ketimbang baku hantam yang ditawarkan. Insiden fantasi Klara sejatinya adalah picu, dan seharusnya bisa diredam saat putusan sudah dipalu. Namun itulah manusia, hukum sosial memang berbuntut panjang dan sangat keras. Ada kekesalan, ada kemarahan kolektif, bahkan setelah setahun berselang. Padahal sepanjang film kita tahu, dan yakin Lucas tak salah. Mungkin di tengah film kalian masih ragu, tapi jelas aku dengan percaya diri bilang dia orang baik. Apa buktinya? Banyak sekali, bertebaran sepanjang film. Kalau orang normal saat dipojokkan, dihujat, bahkan dipukuli para tetangga, paling mengepalkan tangan balik dan ujung bisa jadi paling pindah; atau yang keras bisa malah membalas brutal atas perlakuan tak menyenangkan. Namun tidak, Lucas adalah sosok istrimewa. Ia memperjuangkan haknya, ia meyakini bahwa apa yang benar harus dijunjung. Sebuah fakta sederhana: hidup adalah pertaruhan.

Sempat terbesit pula dalam pikiranku, andai Lucas habis sabar apakah ia akan mengangkat senjata membalas orang-orang yang menyakitinya. Sebab tampang Mads Mikkelsen memang cocok jadi penjahat, image villain Bond dalam Casino Royale selalu membekas di otakku, atau jadi pemimpin penjahat dalam Dr. Strange yang itu. Namun balik lagi, di sini ia jadi guru TK yang baik hati dan tidak sombong. Hunt mengangkat tema umat manusia, bukan seorang manusia. Bisa jadi ini kisah hidup Lucas, tapi jelas ini tentang kehidupan manusia yang beragam.

Satu klu istimewa kenapa Klara menyampai kebohongan kecil itu, kita bisa tarik kesimpulan ia jatuh hati sama Pak Lucas. Lihat, ia lebih suka diajak jalan pas pulang sekolah sama dia ketimbang misal dijemput ibunya, atau saat ia dengan hati berbunga berkunjung mengajak Fanny jalan sore, ia bahkan meyakini sosok Lucas adalah ayah ideal. Maka akibat, fatamorgana kecil saat di laut perasaan, ia tergelincir.

Bohong kalau kalian tak merasakan simpati. Kita dihadapkan keadaan sesak nan memilukan. Seandainya aku memiliki seribu lidah, aku takkan mampu melukiskan penderitaan fitnah yang luar biasa ini. Gambaran utama Lucas yang teguh, melawan balik kepahitan hidup, dan sosok anaknya yang terus meyakini ayahnya tak bersalah, membela hingga titik maksimal. Dunia Hunt adalah dunia yang mungkin kurang ideal, tapi tetap mencoba adil. Endingnya membuktikan bahwa, sehebat apapun kamu mencoba membersihkan luka-luka keadaan, kamu tak kan bisa. Ada saja orang yang akan membencimu, bahkan sekalipun kamu suci bak malaikat. Inilah strukturasi gejala sosial, ekonomi, kultural, dan politik yang kemudian membentuk kondisi modernitas dunia kita. Dengki adalah anak kandung fitnah yang kadang bertanya, “dapatkah kita hidup di suatu dunia di mana tak ada apa pun juga yang kita anggap menghakimi?” Kalian yang semestinya menjawab.

The Hunt yang luar biasa, dapat kita simpulkan bahwa simpati adalah sebuah hadiah, maka marilah merenungkan dengan jernih perasaan setiap orang.

The Hunt | Tahun 2012 | Judul asli Jagten | Denmark | Directed by Thomas Vinterberg | Screenplay Tobias Lindholm, Thomas Vinterberg | Cast Mads Mikkelsen, Alexandra Rapaport, Thomas Bo Larsen, Annika Wedderkopp | Skor: 5/5

Karawang, 140921 – Cassandra Wilson – I’ve Grown Accustomed to his Face

The Hunt masterpiece, Terima kasih referensinya Om Lee

– Buds –

Prediksiku Di Oscar 2018: #SacramentoProud

Pertama kalinya saya bisa menuntaskan tonton seluruh kandidat best picture. Pertama kalinya pula saya tak beli dvd bjgbye bye DVD player yang barusan saya service solder, karena sudah ganti HP dan unduh di LK21.org yang nyaris semua film dikejar dari sana. Thx to Rani Wulan S.Kom. Tahun ini saya akan nonton live untuk yang ke sembilan tahun beruntun. Izin cuti besok sudah kukantongi. Setelah mendapat hasil buruk hari ini, Lazioku kalah menit ke 92 dan Roma menang meyakinkan ke Naples, semoga Senin akan lebih cerah. Berikut 14 tebakanku.

#14. Animated feature filmCoco

Alasan: Tema kartun yang hebat, kehidupan setelah kematian.

Saya hanya nonton satu film dan sudah cukup yakin Pixar menang lagi. Bagian animasi memang paling mudah ditebak, dari dulu tipikal ceria anak-anak dengan tema cerita tak lazim masih sangat disukai juri Oscar.

#13. Actor in a supporting role – Woody Harrelson (Three Billboards Outside Ebbing, Missouri)

Alasan: Dengan dua wakil dari Three Billboards, rasanya kategori ini hanya untuk Woody atau Sam.

Sayang saja Ray Ramona-nya Big Sick tak masuk. Bagian saat pembacaan surat perpisahan di depan kandang kuda itu sangat menyentuh, tema kematian tapi dibawakan dengan komedi satir. Aneh sekali lima menit lalu saya ketik Sam lho, ga tahu kenapa saya malah backspace dan ganti Woody. Juri selalu suka orang-orang yang bernasib tragis. Luka bakar masih bisa diobati, tapi kematian adalah akhir dari perjalanan fana.

#12. Actor in a leading role – Gary Oldman (Darkest Hour)

Alasan: Pidato ending yang luar biasa, perubahan dratis Oldman dengan prostetik make up

Timothee Chalamet bisa langsung kita coret karena tema gay berciuman sudah tak menarik. Day-Lewis seperti sebelum-sebelumnya yang kharismatik, perpisahan manis. Denzel terlepas. Kaluuya yang pendatang baru justru tampil manis dengan senyum dan air mata di ruang karam. Namun jelas, tak terbantahkan sejarah mencatat perubahan tampilan fisik sudah sangat sering dicatat juara. Tahun ini hanya bencana besar yang bisa mengalahkan Sirius Black.

#11. Actress in a supporting rose – Laurie Metcalf (Lady Bird)

Alasan: Boyhood versi cewek, Patricia Arquette-nya tahun ini.

Senang sekali lihat Laurie mengatur Saoirse. Khas hubungan ibu-anak dimana saat dekat saling marahan, saat jauh rindu. Apalagi saat anak remaja yang beranjak dewasa, di mana banyak pilihan masa depan terbentang, sang ibu hanya menuntun. Sedih, senang, sendu, sayang.

#10. Actress in a leading role – Saoirse Ronan (Lady Bird)

Alasan: Penampilan terbaik Saoirse Ronan, kesempatan ketiga, wajib diganjar piala.

Pesaing sejatinya hanya Frances McDormand yang membara dan luar biasa. Kalau bukan fanatisme, rasanya sang ibu yang melempari kantor polisi dengan api akan menang. Namun Saoirse juga luar biasa hebat menghadapi ibu yang posesif dan ayah yang defensif. Bagian saat ia meminta nominal uang asuh itu absurd, sakit memang sekaligus menyentuh hati terdalam.

#9. Music (original song) – “This is Me” (The Greatest Showman)

Alasan: Saya sudah nonton kandidat lain, terasa biasa.

Saya belum menonton The Greatest Showman, tapi melihat pesaing lain yang biasa rasanya mending menjagokan filmnya Jackman. Apalagi film musikal punya sejarah dominan menang bagian ini. Kenapa Never Forget-nya Michelle Pfeiffer ga masuk ya?

#8. Makeup and hairstyling – Darkest Hour

Alasan: Oldman jadi ga kayak Oldman, sangat berbeda dari Black yang saya kenal

Kalau ga tahu cast sebelum menonton kalian pasti pangling. Sama seperti saat Tom Cruise ambil bagian di Tropic Thunder yang dance aneh itu. Saya terkejut saat di credit title muncul namanya. Sampai butuh tiga jam hanya untuk mendandani satu aktor? Ini gila.

#7. Visual effects – Guardians Of The Galaxy Vol. 2

Alasan: I am Groot! Hahaha.. sinar di mana-mana

Saya baru lihat Guardians dan War For. Banyaknya review negatif film sama tinggi dengan ulasan negatfi-nya. Namun kita sepakat, film ini memiliki efek visual luar biasa. Perang antar galaxy yang melelahkan, untung Mantis punya antena.

#6. Music (original score)Dunkirk

Alasan: Skor film bahkan jauh lebih bagus ketimbang ceritanya.

Sudah saya plot musim panas tahun lalu. Sudah saya prediksi, minimal masuk nominasi – terbukti ‘kan. Iringan musiknya berkejaran beriringan lari pasukan Inggris yang terdesak serangan Jerman dari udara, laut dan darat. Saingan utama The Shape of yang memang bagus menyertai makhluk air, tapi tetap komitmen jago – apakah juga terbukti?

#5. Cinematography – Blade Runner 2049

Alasan: Angka 14 adalah angka istimewa.

Sebenarnya tadi sudah ketik Mudbound, tapi berubah pikiran berkat teringat angka 14, angka spesial. Henry, Keita, Simone, dkk. Angka yang menjadi jimat Roger Deakins untuk pecah telur. Come on doa penggemar King of Highbury menyertaimu.

#4. Writing (adapted screenplay) – Mudbound

Alasan: Narasi yang hebat

Adaptasi novel memang harus seperti ini. Kenikmatan membaca berhasil dialihkan ke pendengaran. Narasinya juara, seperti menikmati novel audio. Sebenarnya suka sekali Logan, tapi sayang sekali kesempatan langka superhero masuk kategori bergengsi ini bersamaan dengan kegemaranku di seni tulis. Dosa besar kalau saya tak menjago takdir yang menyertai dalam lumpur.

#3. Writing (original screenplay) – Lady Bird

Alasan: diary, screenplay, moving picture

Ini kategori favoritku. The Big Sick bisa dicoret. The Shape yang biasa saja juga yakin bisa dihilangkan. Lady Bird yang memang jadi film istimewaku, tak mungkin tak kujago. Terlihat sekali ini adalah pengalaman hidup Greta Gerwig yang sukses diaplikasikan di layar. Three Billboards yang menang menghentak bisa saja, tapi saya akan histeris andai yang menang Get Out.

#2. Directing – Greta Gerwig (Lady Bird)

Alasan: Look like a memory, kita satu angkatan Bu.

Satu-satunya kandidat wanita, keputusan tepat memilih Saoirse di mana kisah penunjukan cast-nya berturut dengan Brooklyn. Hebat sekali, bisa menulis cerita pribadi, menuliskan naskah dan memfilmkan, serta hasilnya qualify. Ganjaran piala akan menyempurnakan itu.

#1. Best picture – Lady Bird

Alasan: For Saoirse. For Gerwig. For Sacramento

Saya akan ulasan sepintas semuanya. Skor, satu kalimat, dan pendapat singkat:

* Call Me By Your Name – 2/5 cheesy, hebat kalau kalian bisa menuntaskan tonton tanpa mengantuk. Tema homo, coming of age yang berat, dan orang asing yang berhasil mencuri hati. Jelas peluangnya paling kecil.

* Darkest Hour – 4,5/5 powerful speech, Film biografi tahun ini. Sungguh memikat, selama ini saya hanya tahu Churchill dari buku-buku – pemenang Nobel Sastra Bro, ini adalah film tentang dirinya pertama yang kutonton dan langsung memikat. Film ini lebih pada aksi tunggal Oldman, bukan milik Joe Wright.

* Dunkirk – 4/5 technical masterpiece, kejutan musim panas. Secara kulitas cerita biasa, Nolan kalau sampai menang justru ironis karena beliau terkenal sebagai master twist ending, masak di puncak pas pamer skill teknik? Lelucon tak lucu

* Get Out – 5/5 sunken place, saya akan kasih aplaus khusus kalau sampai juri Oscar berani memenangkannya. Ini jelas film yang melawan arus, ide brilian memasuki pikiran manusia dengan meletakkan penghuninya di ruang karam. Hebat, canggih, gila.

* Lady Bird – 5/5 Sayangku Saoirse, sesubjektif saya, saya tak pegang Broonklyn dua tahun lalu. Walau film itu sangat personal tapi jelas posisinya tentang cinta yang jauh akan sulit menang. Kali ini Lady Bird sangat layak, sangat pantas. Sebuah kesuksesan tersendiri biografi tak resmi diri sendiri bisa menang di piala tertinggi. #PalurProud

* Phantom Thread – 4/5 ini film Daniel Day-Lewis, bukan Paul Thomas Anderson. Mau dipegang Paul Thomas ataupun Paul Rudd tetap saja akan bagus kalau punya cast semewah Lewis. Film ngegoliam perang batin dua jam yang hanya disukai kaum snob. Jiah, saya nilai 4 bintang shob juga nih? Hiks…

* The Post – 3.5/5 Newspaper Power, sudah sangat banyak film tentang Perang Vietnam, sudah sangat banyak pula film tentang media cetak yang mengungkap fakta rahasia, tapi jelas The Post bukan yang terbaik.

* The Shape Of Water – 3/5 Beauty and the Beast in Nude Mode, 13 nominasi untuk film macam gini? Bah! Del Toro punya masterpiece Pan’s Labyrinth, jadi ini bukannya grafik naik malah drop. Cerita, akting, teknikal, semua biasa. Ampun deh, jangan hilangkan kepercayaan kami, please bapak ibu juri.

* Three Billboards Outside Ebbing, Missouri – 4/5 Membara Berkobar Terbakar, inilah favorit juri sesungguhnya. Kalau kalian jagoin film ini kalian ikuti arus aman laiknya La La Land, Spotlight, Birdman, 12 Years A Slave, Argo, The Artist, dst. Hidup tak seru da menarik kalau tak ada kejutan, dalam delapan tahun terakhir Best Picture Academy Award yang kusaksikan para juri hanya punya keberanian memilih keluar jalur rel kereta tahun lalu. Bagaimana tahun ini?

Karawang, 050318 – Sherina Munaf – Singing Pixie

Catatan tambahan: Saya ketik prediksi ini tanpa browsing, tanpa buka referensi, tanpa pembanding siapapun dari media sosial ataupun copas pendapat orang lain. Murni penilaianku dari menonton yang mungkin terdengar subjektif. Baiklah, Baby Driver ternyata belum kusebut, perkiraanku bakal menang minimal satu piala, tapi bagian editing tak kucantumkan karena mulai tahun ini saya hanya akan memilih 14 kategori.

Black Or White: A Doll Boring Movie

Elliot Anderson: I couldn’t have been a worse witness if I tried

Ketika kita memutuskan untuk menikmati sebuah karya, apa sajakah pertimbangannya? Ada yang karena sutradara. “Pokoknya kalau yang bikin Nolan saya pasti nonton di bioskop, wajib IMAX 3D.” Saya pernah mendengar teman berkomentar seperti itu. Ada yang karena genre-nya. “Setiap tengah tahun saya akan semakin rutin nonton ke bioskop, karena saat itu film action bertebaran.” Ada yang karena adaptasi buku yang sudah dibaca. “Wah novel Breaking Dawn romantis sekali, jadi penasaran sama filmnya.” Ada juga yang berdasarkan aktornya, “Oh ganteng banget sih Brad Pitt, jadi pengen nonton Fury.” Nah, macam-macam alasan seseorang sampai mau meluangkan waktu buat duduk manis nonton layar. Untuk kasus Hitam Atau Putih, saya menggunakan alasan yang terakhir. Film ini dibintangi Kevin Costner, bintang besar yang kini lebih sering bermain drama. Yaiyalah, udah tua. Ga mungkin kan dia berkuda lagi jadi koboi, encoknya kambuh ntar. Layak disimak aktor yang pernah memerankan Robin Hood dan Lieutenant Dunbar ini.

Tanpa mengetahui review dan betapa bagus atau buruknya, saya menonton Black Or White tanpa ekspektasi. Film dibuka dengan kabar pilu, Elliot Anderson (Kevin Costner) baru saja ditinggal mati istrinya, Carol (Jennifer Ehle) karena kecelakaan. Tabrakannya sendiri tak ditampilkan, hanya efeknya yang disuguhkan. Sepeninggal Carol, Elliot kini harus mengasuh cucunya yang berkulit hitam, Eloise Anderson (Jillian Estell). Anak dari putrinya yang meninggal sejak lahir. Dari bangun tidur, menyisir rambutnya yang kribo, mengantar sekolah sampai belajar. Kewalahan, Elliot menyewa pengajar sekaligus sopir pribadi, yang juga berkulit hitam Duvan Araga (Mpho Koaho). Semakin ke sini semakin rumit, apalagi dirinya alkoholik. Segala masalah diakhiri dengan minum minuman keras. Cara mengasuhnya ditampilkan dengan aneh, masak orang secerdas Elliot bisa dengan buruknya menerima nasehat guru privat cucunya untuk mengurangi nonton tv atau main game.

Konflik baru digulirkan ketika bibi dari ayahnya meminta hak asuh. Rowena Jeffers (Octavia Spencer) merasa berhak mengasuh keponakannya, apalagi sepeninggal Carol dikhawatirkan dia tak terawat. Elliot bergeming, dirinya berniat mengasuh dengan cinta. Lalu muncullah ayah kandung Eloise, Reggie Davis (Andre Holland) yang begitu menyebalkan. Janji sesekali main untuk menengok anaknya untuk sekedar makan malam, eh ga datang. Kerjanya minta duit dan nge-drug. Kisah ini akhirnya di bawa ke pangadilan untuk menentukan ke mana Eloise akan berlabuh. Apakah berlanjut ataukah berpindah tangan. Sangat sederhana bukan? Namun setiap ngomongin anak-anak, apalagi sampai menyinggung perbedaan warna kulit, hal itu jelas tak jadi sederhana. Karena akan ada banyak hal yang diungkap. Seberapa berani film ini ‘memerangi’ rasis?

Well, Film yang biasa. Kalau tak mau dibilang mengecewakan. Satu-satunya adegan menarik terjadi saat adu argumen di pengadilan. Saling singgung warna, saling serang kekurangan. Namun itu bukan hal baru, perang kata-kata di pengadilan sudah banyak ditampilkan dan jauh lebih berkelas (rekomendasi dariku: The Judge). Jelas Black Or White tak ada apa-apanya. Kevin Costner tampil bagus, dan hanya dia yang menonjol. Mungkin karena dia produser-nya sehingga punya hak istimewa. Berdasarkan kisah nyata, apa yang ditampilkan tak semenarik yang dibayangkan. Akting yang buruk dari banyak cast terutama sekali Jillian Estell. Sebagai pusat cerita dirinya kaku, bermain film tanpa ekspresi, duh! Plot hole dimana-mana sehingga mudah ditebak, saat Elliot mendatangi perumahan warga kulit hitam untuk menyatakan hak-nya saya sudah bisa memprediksi bakalan menang apa kalah nantinya. Drama yang kurang dramatis, sekali tonton dan lupakan.

Black Or White | Director Mike Binder | Screenplay Mike Binder | Cast Kevin Costner, Octavia Spencer, Jillian Estell | Skor: 2/5

Karawang, 081015

(review) Big Eyes: Big Movie

Ruben: Why are their eyes so big? | Walter: Eyes are the windows to the souls!

Sebenarnya saya sudah hopeless sama film-film Tim Burton. Tiga film sebelumnya yang mengecewakan, Alice In Wonderland, Dark shadows dan Frankenweenie membuat ekspektasi ku merosot. Kaset film sudah ada di rak bulan lalu, numpuk antri untuk ditonton. Setelah Oscar baru saya pilah-pilih. Kata penjual dvd sih ini film bagus, namun tetap saya set harapan serendah mungkin. Semalam akhirnya kelahap juga.

Film dibuka dengan sebuah mesin cetak menelurkan gambar seorang gadis berbaju biru, dengan mata besar sedang bersedih, gambar dengan identitas Keane. Lalu sebuah narasi oleh Dick Nolan (Danny Huston) mengantar kita ke sebuah kota Tennesse, setting tahun 1950-an seorang pelukis Margaret (Amy Adams) dan putrinya Jane (Delaney Raye) sedang mengepak pakaian dengan tergesa untuk keluar kota. Mereka berdua kabur ke San Fransisco setelah Margaret bercerai. Margaret bertemu teman lama, DeeAnn (Krysten Ritter) untuk mendiskusikan masa depannya. Bermodal keahlian menggambar, dia melamar ke Perusahaan furniture. Di Minggu siang, Margaret jualan lukisan di taman kota. Di situlah dia berkenalan Walter Keane (Christoph Waltz) yang juga memajang lukisan. Walter berpendapat, Margaret terlalu murah menjajakan seni lukis. Walter memperkenalkan dirinya sebagai seorang bisnisman di bidang property dan melukis di hari Minngu. Lukisan jalanan kota Paris yang sebenarnya bagus, namun terlihat ada yang aneh (akan diungkap di akhir film sebagai salah satu kejutan besar).  Dari situ mereka lanjut kencan.

Pada suatu hari, Margaret mendapat telpon dari mantan suaminya untuk menjemput Jane, meminta hak asuh karena sebagai single parent dia dianggap ga akan mampu. Di situlah Walter langsung melamar. Baru kenal langsung ke pelaminan, honey moon ke Hawaii. Sejujurnya sampai di scene ini saya curiga, Walter menyembunyikan sesuatu. Hal yang dengan brilian akan diungkap di akhir film. DeeAnn berpendapat Margaret terlalu cepat mengambil keputusan, namun dia bergeming karena Walter adalah ayah yang baik dan berkecukupan karena daya sales nya bagus.

Benar saja, setiap kesempatan bisa dijadikan duit oleh Walter. Dirinya terusir dari gallery pelukis milik Ruben (Jason Schwartzman) karena menganggap lukisan jalan Paris sudah ga ada yang minat “sweep the gutters before the taste police arrive”. Perhatikan kata-kata Ruben saat mengusirnya, ada yang janggalkan? Lalu dia pun mencari tempat untuk memajang lukisan, di sebuah pub dia menyewa dindingnya. Awalnya sulit menjual seni di tempat para pemabuk. Namun saat sepertinya segalanya berjalan buruk, datanglah selebritis lokal Enrico Banducci (Jon Polito) yang berkelahi dengan Walter, perkelahian yang berujung sebuah lukisan dipukulkan ke kepala Enrico yang kebetulan ada wartawan. Esoknya masuk berita, yang membuat Walter mulai dikenal. Pelan tapi pasti, lukisan anak kecil dengan mata besar diminati publik. Lukisan dengan identitas Keane, padahal dilukis oleh Margaret. Dari dinding pub kini mereka bisa membuka galeri sendiri, menjual poster dengan tanda tangan Walter sampai bisa membeli rumah besar yang dilengkapi kolam renang. See folks, don’t care if it’s a copy. Mau dong satu copy aja!

Margaret melukis, Walter menjual. Publik tahunya itu karya Walter, sampai akhirnya mereka melukis anak-anak dengan berbagai ras dan warna untuk dipamerkan Unicef. Sayangnya lukisan itu dikritik buruk di Time. Inikah awal kehancuran karir Walter Keane? Sampai rumah tangga mereka pun terancam bubar kerena Margaret lama-lama kesal juga lukisan yang dibuat dengan sepenuh hati itu diklaim. Jane (Madeleine Arthur) yang kini beranjak dewasa juga memberontak dan ga setuju dengan kondisi seperti ini. DeeAnn yang tahu rahasia Margaret kesal sahabatnya berubah. Berhasilkah mereka keluar dari bayang-bayang kesuksesan lukisan Big Eyes?

Well, saya terkejut. Tim Burton membuat film jadi lebih hidup. Berdasarkan kisah nyata, cerita mengalir dengan bagus karena kita akan selalu dibuat tanya, berikutnya apa yang terjadi. Waltz seperti biasa, tampil memukau – layak Oscar, apalagi dialog di pengadilan yang lucu sekaligus sedih. Akting dia memang tiada duanya, sebagai seorang penipu yang lihai dengan kata-kata lamis-nya. Amy Adams tampil cantik sebagai seorang ibu yang mencintai putrinya sepenuh hati dan mencoba melindunginya. Dari awal pun kita tahu, lukisan anak dengan mata besar itu adalah Jane. Saya jadi pengen memajang posternya di dinding kamar. Ada yang jual ga ya? Oh saya akan cari!

Big Eyes | Director: Tim Burton | Screenplay: Scott Alexander, Larry Karaszewski | Cast: Amy Adams, Christoph Waltz, Krysten Ritten | Skor: 4/5

Karawang, 040315