Kekuatan Ngobrol

Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan – Umar Kayam

Tapi Marno, bukankah aku harus berbicara? Apalagi yang bisa kukerjakan kalau aku berhenti bicara? Aku kira Manhattan tinggal lagi kau dan aku yang punya. Apalah jadinya kalau sudah salah seorang pemilik pulau ini jadi capek berbicara? Kalau dua orang terdampar satu pulau, mereka akan terus berbicara sampai kapal tiba, bukan?”

Saya langsung teringat buku self improvement yang kubaca tahun 2000an karya Dorothy Sarnoff berjudul: ‘Bicara Dapat Mengubah Hidup Anda’. Salah satu paragraf favoritku adalah ini: “Anda berkewajiban bicara dengan orang lain sedemikian rupa sehingga Anda tidak hanya menarik perhatian namun juga merangsang mereka untuk berpartisipasi. Apakah Anda seperti mendempul kepercayaan diri atau menenggelamkan mereka? Apakah Anda menawarkan pembukaan untuk membuat sesuatu dengan cara pandang mereka sendiri atau mengunci mereka? Di atas itu semua, apakah Anda memperlihatkan minat pada mereka atau hanya pada diri sendiri. Percakapan, seperti permainan lempar-tangkap, tidak dapat hanya satu pihak. Jika seseorang melambungkan, ada satu kesunyian yang mendebarkan sampai bola tadi ditangkap dan dilemparkan kembali.” Ya, percakapan alias ngobrol bisa menjadi seru atau menjemukan, seolah permainan lempar tangkap bola. Umar Kayam mencipta komunikasi itu dengan menakjubkan.

Makanlah ketika lapar, berhentilah makan sebelum kenyang’. Hal awal yang terlintas setelah baca buku ini selain kekuatan ngobrol adalah kutipan dari Nabi. Buku ini sungguh minimalis. Saya pernah menanyakan beberapa kali ke teman-teman penjual daring buku-buku Umar Kayam setelah terpesona Para Priyayi. Semua bilang kosong, terbitan Grafiti jelas sudah jadi cult sekarang. Masuk edisi kolektor. Maka keinginan itu terpendam lama. Sampai akhirnya diterbitkan lagi sama Pojok Cerpen. Maka saat kesempatan itu datang, saya bener-bener melepas dahaga lapar. Sayangnya buku ini sungguh tipis, saya baca hanya dalam tempo sesingkat-singkatnya, sekali duduk dengan kopi mengepul yang bahkan belum tandas sepenuhnya. Well, saya belum kenyang. Saya masih ingin menikmati karya-karya Kayam… waduh. Hanya dengan percakapan. Dengan berbicara! Dengan membicarakan satu kejadian tertentu, atau satu orang tertentu, atau satu hari tertentu, berulang kali, hal-hal yang amat detail pasti timbul.

#Kata Pengantar: Eka Kurniawan
Kebanyakan kata ‘bahkan’ dan ‘bahwa’ (saya hitung ada 13 bahkan, 7 bahwa), bahkan kata pengantarnya lebih panjang dari cerpen yang terpanjang sekalipun dari buku ini. Sempat memboring diputer-puter, poin utama sih sebenarnya sepakat bahwa Umar Kayam jago banget menciptakan nuansa obrolan yang sungguh mengasyikkan. Kekuatan ngerumpi, hal-hal yang tampak sederhana di mata umum, di Indonesia yang lumrah kita jumpai di sekitar kita tentang aktivitas komunikasi itu di sebuah gedung apartemen New York, aktivitas itu menjelma barang mahal. Menjadi komoditas utama cerpen-cerpen Umar Kayam. Kalau mau dipadatkan lagi dalam satu kalimat, ‘buku ini sukses karena karakternya hidup!’ “Kata kata, Mademoiselle, hanyalah kulit luar sebuah gagasan.” Kata Hercule Poirot dalam novel Pembunuhan ABC

#1. Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan
Pembuka yang keren. Minimalis adegan banyakin ngoceh, minimalis setting tempat, minimal karakter. Hanya dalam beberapa menit, dalam ruangan terjadi percakapan sepasang kekasih. Jane adalah janda yang butuh perhatian, Marno adalah suami selingkuh, orang Indonesia yang menatap keluar kaca gedung, memperhatikan kunang-kunang. Mereka cuma ngobrol dari awal sampai akhir, ditemani minuman martini dicampur gin dan vermouth atau bourbon, Pembaca dibiarkan mengimajikannya, dibuat gemas sendiri. Cerita dalam satu ruang ini jelas sangat elok untuk diadaptasi dalam sandiwara atau sekedar teater mini. Kekuatan ada di dialog, mengingatkanku pada naskah film-film Quentin Tarantino.

Sudahkah aku ceritakan hal ini padamu?”

#2. Istriku, Madame Schlitz, & Sang Raksasa
New York adalah satu raksasa pemakan manusia. Mulutnya terus menganga dan terus menelan manusia tanpa pilih-pilih. Cerita pendek kedua juga mengedepankan kekuatan ngobrol. Temanya adalah kesepian. Kalau yang pertama seorang wanita kesepian yang pengen ngerumpi dengan kekasih, kali ini seorang istri yang kesepian siang harinya sang suami kuliah, dan bersama anaknya yang masih bayi terkurung dalam ruang. Tetangga yang cuek khas kota besar, tapi akhirnya ia pun memberanikan diri memperkenalkan diri ke semua tetangga, salah satu yang ‘terjerat’ adalah Madame Schlitz. Terdengar seperti seorang bangsawan Jerman atau Austria? Ya, kemudian hal-hal aneh terjadi.

Dan aku, aku salah satu yang tertelan itu. Bukankah itu mengerikan?”

#3. Sybil
Pinternya mengolah plot. Kasus orang cuek dengan latar tak biasa. Sybil adalah gadis yang kesepian di liburan musim panas, ibunya yang single parent sering mengajak Tuan Robertson, lelaki asing untuk tidur di tempat mereka. Sybil yang bosan diberi uang satu dollar untuk kelayapan, ketemu tetangga yang akan pergi keluar rumah dengan entengnya menitipkan anaknya berusia 6 tahun, Susan kepadanya sampai sore ini. Sybil belum mengiyakan, tapi uang diterima. Maka mereka naik bus ke park, menikmati suasana pantai. Susan yang ceriwis, mengajak Mr. Todd boneka kesayangan. Ada tindakan tak terduga Sybil pada akhirnya. Dan dengan aneh, kisah ditutup wow.

Kau memang suka kalau aku pening kepala pagi-pagi gini.”

#4. Secangkir Kopi & Sepotong Donat
Ini tentang pelayan kafe yang diperlakukan istimewa sama pelanggan, sama beberapa pelanggan, sama salah seorang pelanggan. Narasinya berkutat terus dalam suasana tempat makan. Salah satu pelanggan Pemuda kakaktua memainkan kertas tisu untuk saling bertukar pesan sama Peggy. Kenapa ajakan kemarin ga datang? Kenapa kamu berbeda? Deretan kecemasan ala kadar itu memang tak sampai membuat kursi baca terjungkal, tapi jelas ini jenis ngobrol yang tak lazim.
Lagi-lagi komunikasi adalah kunci, kali ini lewat secarik kertas dan memang benar, kuncinya adalah timing. Cring cring cring, thank you.

Bapak mabuk lagi semalam, ibu dipukuli. Now get out get out!”

#5. Chief Sitting Bull
Unik, aneh, dan manakjubkan. Sederhana, tapi justru dari hal sederhana inilah kekuatan kisah ini. Seorang kakek Charlie yang menjalani rutinitas di hari tuanya, agak terganggu dengan ulah menantunya Mary. Ia biasa naik kuda hitam atau putih dalam carousel, siang itu ia terlambat sehingga kuda itu sudah dinaiki seorang anak. Tak mau menunda sampai putaran berikutnya, Charlie membujuk anak kecil itu dengan santun dan penuh gaya. Berperan sebagai Buffalo Bill dan Chief Sitting Bull. Dah yah, berhasil. Kegiatan rutin sampai sore pun terlihat wajar, dengan sekumpualn burung dara, dan pertemuan dengan lansia lain, dst.

Namaku bukan Bill.”

#6. There Goes Tatum
Ketika usai baca cerpen ini dan juga sekaligus buku ini. Saya langsung berujar, wah pengalaman pribadi? Tampak nyata, senyata ancaman belati si bocah negro. Dua tokohnya hidup. Cerpen penutupnya juga sederhana, sekilas lewat, sekilas wuuzzz… seperti judulnya. Namun sangat mengena, tampak santai tapi mengintimidasi. Di Riverside Park yang tampak lengang, seorang anak negro mengemis 50 sen. Dengan rintik gerimis, sesaat ada pencopetan, sekilas lalu dan sebuah aksesoris tangan pun berpindah tangan.

Made in Switzerland.”

Ini adalah buku kedua Umar Kayam yang saya nikmati setelah Para Priyayi yang keren itu. Masuk ke dalam best novels sepanjang masa versiku. Seribu Kunang adalah buku debut yang pertama terbit tahun 1972, menyabet cerpen terbaik Majalah Horison tahun 1968. Kelihatan sekali beliau memahami lanskap tempat bercerita. Beliau memang lulusan M.A. dari Universitas New York tahun 1963 dan meraih gelar Ph. D tahun 165 di Universitas Cornell. Saya sudah ngefan beliau sejak baca Priyayi, jadi buku ini dan berikutnya hanya penegasan. Ia tidak ingin menaklukkan apa pun, melainkan hanyalah menjelajah kemungkinan-kemungkinan.

Bukunya mungil, ga nyampai seratus halaman. Dulu pas baca Para Priyayi, setahuku terbitan Pustaka Utama Graviti, sekarang ternyata diterbitkan lagi oleh Pojok Cerpen. Dan baru tahu juga, ini penerbit baru, Seribu Kunang adalah debut mereka! Wow, good luck. Ditunggu kumpulan cerpen berikutnya, kalau boleh usul terjemahkan buku Kate Chopin, saya terpesona sama Kisah Dalam Satu Jam dan menjadi penasaran dengan cerita lain beliau. Tapi sebelum yang lain, rasanya Pojok Cerpen berkewajiban untuk menuntaskan untuk menerbitkan kumpulan cerpen Umar Kayam lainnya, karena cerpen yang harusnya sepuluh kini hanya muncul enam. Why?

Nonton tv bersama Mr. Todd.”

Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan | Oleh Umar Kayam | Cetakan pertama, Agustus 2018 | Pernah diterbitkan oleh Pustaka Jaya (1972) dan Pustaka Utama Grafiti (2003) | xxvii + 92 hlm., 12 x 18 cm | ISBN 978-602-52260-6-9 | Ilustrasi sampul Nurari Pertiwi | Perancang sampul Antonius Riva Setiawan | Penata letak isi Aziz Dharma | Pemeriksa aksara Isma Swastiningrum | Penerbit Pojok Cerpen | Skor: 4/5

Karawang, 141218 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

Thx to Iyul, pas satu minggu kelar baca ulasnya.

Surga Kecil Di Atas Awan – Kirana Kejora

image

“Akan tersaji keelokan istana dengan taman agungnya di langit kuasa bagi mereka yang meniti hidup tanpa keputusan.”

Buku kedua terbitan Euthenia yang kubaca. Hasilnya sama saja, datar. Isinya hanya berputar tentang seorang anak cerdas kelas 3 SMP dengan pelbagai probematikanya. Dituturkan dengan monoton, tanpa konflik, tanpa membuat penasaran Pembaca. Benar-benar cerita sederhana.

Jamus, sebuah nama bukit. Memiliki arti yang tersirat penuh ‘kawruh’ atau pengertian suci akan makna hidup, untuk dibaca setiap hamba dengan baik agar tak ‘kemeruh’ atau tidak merasa tahu.

Awan adalah anak tunggal, asli Ngawi, Jawa Timur. Ayahnya pekerja buruh dengan penghasilan pas-pasan. Ibunya seorang guru yang kakinya sakit sampai harus beberapa kali operasi. Mereka dari keluarga sederhana. Awan diceritakan sangat cerdas, dapat rangking satu terus. Berotak encer. Yanu, teman akrabnya berkebalikan. Ia selalu dapat nilai rendah dalam akademik. Ayahnya minggat. Ibunya mengadu nasib jadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Malaysia. Ia tinggal sama neneknya. Dengan kesederhanaan wong ndeso, kita diajak mengenal seluk beluk Ngawi, sebuah lereng Selatan Gunung Lawu yang legendaris itu.

Seperti yang saya sampaikan di awal, ceritanya datar. Sangat monoton, mungkin karena penututurannya yang biasa jadi pembaca tidak diajak terlibat. Kita hanya seperti baca selebaran iklan kota Ngawi dengan keramahannya. Padahal ini kan sebuah buku cerita, tertulisnya novel lho bukan pamflet.

Seperti asal mula nama kota Ngawi. Itu entah karena penuturannya yang ga bagus atau memang susunan sajinya ga oke? Padahal itu jadi potensi tambahan vitamin ilmu buat pembaca. Saya sendiri baru tahu. Yah walaupun ketika kita googling akan dengan mudah menemukan banyak jawab.

Ngawi, berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu awi yang berarti bambu lalu mendapat tambahan huruf sengau, yaitu ‘ng’ sehingga jadi Ngawi. Bambu yang banyak tumbuh di sekitar sungai Bengawan Solo. Bambu bagi masyarakat desa mempunyai peranan penting, apalagi dalam masa sekarang. Banyak orang butuh bambu.

Ada juga yang bilang Ngawi dari kata ‘ngawiwiti’ artinya memulai. Semua hal memang selalu ada permulaan, disitulah awal semua perjuangan kehidupan. Ada juga yang bilang ‘ngawiyat’ yang berarti tempat yang tinggi. Kita berada di tempat yang tinggi, bahkan ditinggikan pada saatnya nanti sama Gusti Allah.

Pada suatu Minggu pagi, duo ini Awan dan Yanu ingin ke Museum Trinil dengan nebeng paklik Darmo. Setelah di-drop di jalan mereka melanjutkan perjalan dengan jalan kaki. 3 Km bro. Dibuatlah skenario itu, Yanu diserempet mobil VW (Volks Wagen) Beetle. Namanya juga cerita, mereka berdua pun diajak sekalian naik itu mobil mewah karena ternyata dua bule Londo itu juga mau ke museum. Arga yang mengendari, Berg dan Alva duo bule. Setelah dari museum Trinil mereka lanjut ke Benteng Pendem dan kebetulan lagi Awan dan Yanu juga ingin ke sana. Udah gitu ditraktir pecel, dikasih uang transport buat pulang. Boleh sih bercerita tentang keberuntung yang terus menghampiri gitu, asal dituturkan dengan seru. Sayang sekali di sini tidak.

Sesampai di rumah, mereka dapat kabar duka. Sang ayah kecelakaan sampai akhirnya meninggal dunia. Kronologinya, beliau ingin membeli gitar KW 2 untuk kado prestasi Awan dapat rangking kelas. Dengan menggadaikan motor bututnya, ia pun beli alat musik itu. Sayang sekali, terjadi insiden. Kehilangan orang yang dicinta tentu saja penuh duka. Seminggu penuh mereka terpuruk. Kehidupan harus terus berjalan. Kini ibu-anak itu mengarungi kerasnya hidup. Dengan penghasilan yang pas-pasan sebagai guru berhasilkah Awan Rojo Panemu menyelesaikan pendidikannya?

Mendaki bukit selalu berawal dari lereng sini untuk bisa mencapai puncaknya. Buku itu bukan hanya jadi jendela dunia, namun juga akan jadi sayapmu untuk terbang mengangkasa, menjelajah dunia.

Buku seperti dengan cepat akan terlupakan. Sekali cetak, menghilang. Lebih layak disebut novelet karena tipis. Sekali baca, lupakan. Nyaris semua pengetahuan (yang mungkin jadi tujuan ditulisnya buku ini) yang disampaikan dengan mudah ditemukan di internet. Asal usul kota Ngawi. Sejarah museum Trinil, Sangiran, Benteng Pendem, arti lambang kota Ngawi. Wait, arti lambang kota Ngawi dituturkan juga? Yup, kalian sedang belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bukan?

Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman. Urip iku urup.

 

Surga Kecil Di atas Awan | oleh Kirana Kejora | editor Cahyaning | Penerbit Euthenia | Cetakan I, 2015 | III, 184 hlm | 13×19 cm | ISBN 978-602-1010-45-7 | Skor: 1,5/5
Karawang, 200416 # TheAdams – Gelisah

Alice Di Negeri Ajaib #14

image

Kisah klasik lagi. Kisah yang sudah familiar tentunya bagi pecinta dongeng anak-anak. Di tahun 2007 saat tumpukan buku belum sebanyak sekarang, rasanya kisah Alice adalah yang terbaik. Awalnya kukira ini cerita untuk anak-anak, seperti yang kalian tahu juga kan. Namun setelah selesai baca, coba renungkan. Saya malah kurang setuju. Cerita yang dijabarkan Sir Lewis ga lazim. Anak-anak ga akan langsung paham petualangan yang dijalani Alice. Maaf, orang dewasa juga belum tentu tahu maksudnya. Penafsirannya terlampau luas, terlalu banyak. Dan sepertinya tak akan ada habisnya diperdebatkan sampai 7 generasi ke depan. Alice In Wonderland tentu saja salah satu buku paling berpengaruh di dunia. Lupakan nihilitas, ini kisah abadi.
Alice bosan saat menemani kakaknya yang sedang membaca buku tanpa gambar di bawah pohon. Alice lalu melihat seekor kelinci putih memakai mantel dan membawa jam. “Aku sudah terlambat”, tuturnya lalu masuk ke lubang tanah. Alice yang penasaran mengikuti, dia terjatuh ke lubang yang seakan tanpa dasar. Rasanya sudah lama sekali dia jatuh, berkilo-kilo. Jatuhnya lalu melambat, membuat Alice bisa berifikir, bagaimana dasar sumur ini? Sempat pula dia mengkhawatirkan Dinah, kucingnya di rumah. Semoga tak ada yang lupa memberinya susu di acara minum teh nanti.
Sampai akhirnya Alice terhenti dari gravitasi. Dia bertemu lagi dengan Kelinci Putih, yang berujar “Oh demi telinga dan janggutku. Aku sudah sangat terlambat.” Diikutinya kelinci itu di kelokan demi kelokan sampai pada ruangan yang banyak pintu, semuanya terkunci. Ada meja berkaki tiga dengan kunci emas. Namun saat kunci tersebut berhasil membuka salah satu pintu, alice tak bisa masuk. Terlalu kecil, kemudian dia-pun kembali ke meja tadi dan menemukan sebotol minuman dengan tulisan: “MINUMLAH”  dan Alice pun mengecil sayangnya dia lupa sama kunci yang di atas meja sehingga saat inci demi inci tubuhnya menyusut dia ga bisa masuk ke pintunya. Dia menangis di bawah meja, saat menangis itulah ada kue kecil dalam bok dengan tulisan “MAKANLAH AKU” dengan huruf besar dan indah. Tubuh Alice membesar dan kembali menangis sampai airnya menganak sungai. Lalu sayup-sayup terdengar suara kelinci berjalan mendekat dan berkata, “Oh Permaisuri, permaisuri! Oh pasti dia akan marah karena menungguku terlalu lama.” Namun air mata kini sudah memenuhi ruangan. Banjir melanda, Alice lalu berenang. Ditemukannya tikus, bebek, merpati, elang, angsa serta binatang aneh lainnya. Bersama-sama mereka berenang ke tepian.
Sesampainya di tempat kering mereka bicara seolah adalah teman lama, sudah akrab. Mereka saling cerita, ngelantur ke mana-mana sampai menunggu tubuh kering. Namun ada yang mengusulkan, “cara terbaik untuk mengeringkan tubuh adalah dengan balapan antar peserta pertemuan.”
“Ah, cara terbaik untuk menjelaskan adalah dengan melakukannya.” Balapan pun digelar. Kalau ada lomba harus ada hadiahnya. Jadi siapa yang akan memberi hadiah? Kisah ini akan terus berputar membingungkan. Setelah rapat dengan binatang-binatang Alice dihadapkan dengan banyak hal aneh lainnya. Bertemu kadal, ulat yang bijak, babi, Dormouse, kucing Chesire, dan tentu saja March Hare yang terkenal itu. Semua petualangan memberi pelajaran baru buat Alice (dan pembaca). Dan kisah ini menghantarnya pada Ratu kejam yang gemar berteriak, “penggal kepalanya!”
Dari semua petualangan aneh itu, akankah Alice bisa kembali ke rumah? Bisakan dia keluar dari negeri ajaib tersebut? Semuanya tersaji dengan seru sekaligus membingungkan. Dulu di forum buku sempat ada yang mendebat, “harusnya Alice curiga saat melihat kelinci bicara, apalagi kemudian dia bicara dengan binatang-binatang lain” Dijawab, “dunia ajaib ini tak bisa dilogika. Sama seperti saat kita mimpi. Apakah kita bisa dengan sengaja keluar dari mimpi aneh? Dalam mimpi kita bisa melakukan apa saja, bisa menjadi apa saja, bisa berubah jadi siapa saja.” Lalu didebat lagi, “jadi cerita Alice ini dunia mimpi?”. Nah ini yang jadi inti segala kisah. Imajinasi Sir Lewis memang luar biasa, ada yang bilang iya. Ada yang bilang tidak. Ada juga yang keukeh bahwa dalam fiksi sekalipun, logika harus tetap ada. Well, semuanya mungkin. Yang pasti, ini kisah tak biasa yang ditulis di abad 19, waktu yang jauh ke belakang dari sekarang. Waktu yang dengan segala keterbatasannya bisa menyajikan cerita seperti ini tentu saja istimewa. Dan abadi. Serta tak ternilai. Jelas sebagai pecinta fabel, saya memasukkan dalam buku-buku terbaik sepanjang masa.
Alice Di Negeri Ajaib | by Lewis Carol | ilustrasi oleh Sir John Tanniel | first published 1865 | alih bahasa Isnadi | Penerbit Liliput | cetakan pertama, Juni 2005 | 170 hlm; 19 cm | ISBN 979-38131-5-6 | Skor: 5/5
Karawang, 140615 – wonderful tonight
#14 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Menanti Lawan Madrid di Final UCL 2014

Gambar
Mengejutkan, secara mengejutkan Bayern Muenchen sang juara bertahan Liga Champions 2013 tersingkir dengan skor agg. telak 5-0 di tangan Real Madrid. Setelah bermain 1-0 di stadion Bernabeu seminggu lalu, pagi dini hari tadi Madrid dengan perkasa mendepak juara Bundesliga 2014 tersebut. Laga sudah panas saat 15 menit berjalan Ramos sudah mencetak gol melalui sundulan kepala. Lima menit berselang Ramos lagi-lagi menambah golnya melalui kepala, kali ini mendapat umpan matang Di Maria lewat tending bebas.
Bayern makin terbenam saat melalui serangan balik cepat Modric, Bale, Benzema, dan terakhir CR7 menceploskan bola menjadikan skor turun minum 3 gol tanpa balas. Butuh 5 gol untuk lolos, harapan Bayern makin menipis dengan ditariknya Mario Marjuki diganti Martinez. Sebuah indikasi bahwa Pep sudah menyerah dengan mengurangi seorang striker. Walau usaha menahan serangan Madrid memang berhasil, namun saat menit terakhir mereka kembali dibobol Ronaldo menjadikan skor agg. 5-0. Langkah luar biasa dari Don Carlo guna mewujudkan La Decima Madrid.
Ronaldo memecahkan rekor dalam semusim bisa mencetak 16 gol di Liga Champions. Rekor hebat yang mungkin butuh 5-10 tahun lagi untuk kembali dipecahkan. Setelah se-dekade, Madrid kembali ke final dan selangkah lagi meraih gelar La Decima mereka. Tinggal menunggu lawannya Antara Chelsea atau Atletico yang akan bertanding malam ini. Jangan lewatkan di SCTV jam 2, sehari ini kerja dipastikan bakal ga konsen kerja karena menantinya. KtBFFH!
Karawang, 300414

(review) Negeri Para Bedebah: Manusia Di Atas Perahu Bocor

Gambar
Kemarin saat nonton film The Raid 2: Berandal bersama May dan teman kuliahnya, saya mampir sebentar di toko buku Salemba di Mal Lippo Cikarang. Baru kali ini saya masuk toko buku dengan kondisi AC mati, siang yang gerah. Karena cuaca di luar saat ini panas, maka kunjungan lihat-lihat buku tak senyaman seperti biasanya. Paling 10 menit saya langsung ke rak novel dan mencari buku, yang siapa tahu ada yang diincar. Di rak novel baru ternyata dipenuhi buku remaja, gila dua rak panjang isinya mayoritas novel teenlit lokal. Beneran, dunia literasi kita makin bergairah. Perkembangan yang menarik, walau saya tak tertarik membelinya. Akhirnya teman-teman yang kepanasan menyerah keluar toko duluan menunggu di kursi mal di luar. Saya yang ga enak berlama-lama segera menyusul, tapi saat akan melewati pintu keluar ada tumpukan cetakan baru novel best seller. Iseng lihat bentar, dan ternyata ada novel karya Tere-Liye bejibun. Semua cetakan baru dengan design sampul baru. Incaran lama saya, Negeri Para Bedebah dan Negeri Di Ujung Tanduk ada di sana. Tanpa pikir panjang saya comot keduanya. Namun saat konfirm ke istri untuk belfi dua buku, dia malah manyun yang itu berarti berkata, ‘hemat, beib hemat!’. Apalagi saat ini saya jobless sehingga rasanya egois sekali kalau langsung beli dua buku tebal. Akhirnya mengalah mengambil yang seri pertama, 60 ribu rupiah. Masuk ke antrian kasir yang panjang, yang ternyata gara-gara komputernya mati sehingga belanjaan ditulis manual dengan nota, macam kuitansi pasar loak.
Malamnya saat lelah karena perjalanan Cikarang-Karawang, si May bahkan sudah tidur sebelum Isya’ saya sempatkan baca Negeri Para Bedebah. Ini buku sudah saya incar lama setelah baca review dari teman-teman yang rata-rata bilang buku bagus. Buku yang saya pegang adalah cetakan ke-6 di Desember 2013. 3-4 bulan sekali ini buku cetak ulang, betapa hebatnya sang Penulis selain produktif bukunya banyak yang cetak ulang. Yang pertama kubaca jelas, backcover-nya: Di Negeri Para Bedebah, kisah fiksi kalah seru disbanding kisah nyata. Di Negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah. Tetapi setidaknya kawan, di Negeri para bedebah petarung sejati tidak akan berhianat. Kalimat-kalimat yang bagus yang akan membuat calon pembeli tertarik.
Sebelum masuk ke daftar isi, kita sudah diperingatkan bahwa cerita yang akan saya baca ini hanya fiktif jadi apabila ada kesamaan nama tokoh atau kisah itu hanya kebetulan belaka. Sepertinya Tere akan bermain api dengan cerita yang akan tersaji. Bab pertama, di sini ditulisnya episode 1 berjudul ‘krisis dunia’ pun saya lahap dengan cepat. Kisah dibuka dengan sebuah wawancara seorang konsultan keuangan bernama Thomas bersama wartawan majalah ekonomi mingguan bernama Julia. Wawancara terpaksa dilakukan di atas pesawat karena kesibukan Thom yang luar biasa, bahkan kesibukannya mengalahkan sang presiden. Sindiran ini akan terbukti dalam rentang tiga hari ke depan dia akan luar biasa sibuk. Perjalanan dari London ke Singapura ini menjadi pengalaman yang pertama buat Julia wawancara di atas pesawat kelas eksekutif: “Anda tahu, terus terang saya sedikit gugup. Bukan untuk wawancaranya tapi saya begitu antusias. Ya Tuhan, saya baru pertama kali menumpang pesawat besar. Ini mengagumkan, ini lebih besar dibanding dengan foto-foto rilis pertamanya. Berapa ukurannya? Paling besar di dunia? Tiga kali lebih pesawat biasa, dan saya menumpang di kelas eksekutif. Teman-teman wartawan pasti iri kalau tahu redaksi kami menghabiskan banyak uang untuk membelikan selembar tiket agar saya satu pesawat dengan Anda.”
Permulaan wawancara yang buruk, permulaan perkenalan yang kurang bagus antara dua karakter yang nantinya akan terus bersinggungan. Lalu saat Thomas sampai di Jakarta di akhir pekan, dia disibukkan dengan jadwal yang padat. Jumat malam ini, dia yang seorang petarung di klub petarung. Semacam klub berkelahi di buku ‘Fight Club’ nya Chuck Palahniuk. Premisnya sama, di mana mereka professional berkelahi hanya untuk kesenangan. Lupakan pangkat, lupakan derajat di rutinitas. Siapa saja yang bergabung di klub akan berkelahi di atas lingkarang merah, selesai tanding semua lupakan, tak ada dendam tak ada kemarahan. Benar, aturannya sama dengan fight club, rekrutnya rahasia hanya teman-teman dekat. Bedanya tak ada twist, dua karakter satu tubuh di sini. Saya jadi bertanya, apakah Tere harus meminta izin kepada Chuck untuk mencantumkan sebagian aturan kisahnya ke dalam buku ini.
Dari klub petarung, Thomas berkenalan dengan Rudi sang polisi, Randy sang petugas imigrasi, dan Erik seorang perekayasa data yang ulung. Tiga karakter yang akan sangat membantu menggerakkan cerita. Lalu ada kadek yatch Pasifik, kapal milik keluarga yang cerdas dan setia. Ada Ram, orang kepercayaan keluarga yang mengurus bermacam bisnis. Ada sektetaris cantik yang selalu jadi andalan, Maggie. Antagonisnya, dua orang yang mempunyai dendam masa lalu. Sang jaksa dan seorang polisi bintang tiga. Sementara karakter dalam keluarga ada om Liem yang memimpin bank Semesta di ambang pailit. Opa, yang di usia senjanya menjadi penasehat bijak dengan cerita masa lalunya tentang perjalanan dari Cina daratan menuju tanah yang dijanjikan, Indonesia. Perjalanan laut di atas perahu bocor yang dituturkan berulang kali bagai kaset rusak. Ada sahabat lama dalam bisnis keluarga tuan Shinpei, orang yang dulu bersama saat berjuang di zaman susah dalam memasok bisnis tepung terigu. Semua dirajut dalam cerita tentang kebobrokan Negara ini, plot utamanya adalah penyelamatan bank Semesta dari lukuidasi dengan dana talangan bail out dari pemerintah. Intrik itulah yang membuat Thomas selama tiga hari harus tunggang-langgang dari kebisingan ibu kota sampai ke Yogya dan Bali.
Kisah panjang 48 episode ini dimulai dengan dering telepon tengah malam, Sabtu dini hari di bab 4. Saat itu Thomas sedang istirahat di hotel, pasca bertarung dengan Rudi. Telepon yang menggangu itu, rasanya ingin tak diangkatnya. Namun ternyata telepon sedini ini datang dari keluarganya. Ram, sang pengurus bisnis keluarga memberitahu bahwa tantenya sakit keras, karena om Liem tersangkut kasus. Terpaksa dia bangun dan bergegas ke rumah om-nya yang tak pernah dijumpainya selama 20 tahun. Dari adegan ini sampai dengan titik kalimat terakhir, kalian akan disuguhkan adegan action non-stop. Pelarian ke bandara, lalu ke tempat persembunyian, tertangkap namun bisa kabur lagi. Berlayar tak tentu arah, meeting dengan orang-orang penting di pesawat. Adegan baku tembak, kabur lagi. Suap kepada sipir penjara, tipu-menipu demi kepentingan pribadi. Berlagak jadi kader partai berwarna lembayung, sandera yang berharga sampai akhirnya sebuah ending yang mengapung di atas laut haru-biru. Bak mimpi yang terlihat samar namun terasa nyata, dalam tiga hari itu Thomas terus berlari bagai dikejar monster tak berwujud. Ketika akhirnya dalang dan penghianat ditemukan, ternyata itu hanya ikan teri. Penghianat kelas kakapnya terlepas dari tangkapan, dan buku ini ditutup dengan dendam menuju target utama.
Manarik? Jelas, sungguh bagus ada buku karya anak bangsa sedinamis ini. Walaupun yah harus diakui, Tere tak menyajikan cerita original. Harus diakui pula di dunia ini tak ada yang original, semua pakai teori ATM-Amati, Tiru, Modifikasi. Coba tonton film Fight Club, 21, The Beautiful Mind, The Wallstreet, The Coruptor sampai Crash. Semua dinukil dan dirajut dengan cerita panas korupsi bank nasional yang bail out –nya mewarnai berita selama 5 tahun terakhir. Bahkan terang-terangan Tere menyebut ibu menteri, orang yang ditemuinya bersama Julia yang akan mengubah keputusannya. Juga angka talangannya 7T, walau akhirnya angka itu dimodifikasi Erik jadi hanya 1,5T. Tere bermain-main dengan fakta, dan di sinilah hebatnya dia. Luar biasa, salute bro!
Secara keseluruhan saya sepakat dengan beberapa review bahwa buku ini recommended buat dilahap. Saya membacanya dengan perseneling penuh, cepat sekali. Hanya dua hari di sela kesibukan semu di rumah. Saya bahkan meletakkan sejenak buku The Man Who Loved Book Too Much yang sudah kebaca separo, demi kenikmatannya. Dan sepertinya menyenangkan sekali mempunyai seorang kakek pencerita yang hebat, walau kisah yang dituturkan berulang kali sama layaknya kaset rusak. Di situ selalu ada hikmah. Seperti Opa yang terombang-ambing di atas perahu bocor dengan ketidakpastian, kita semua kini hidup di negeri para bedebah. Kita semua berjudi dengan masa depan. Tahun pemilu dengan segala janji manisnya? Bah!
Karawang, 020414

Di Belakang Layar

Gambar

Saya termasuk orang yang lebih senang di belakang layar daripada tampil dalam sorotan dan menebar senyum terhadap khalayak. Lebih suka berfikir mencari solusi dalam satu meja daripada berdiri gagah di depan mimbar. Jadi jangan harap saya berorasi membakar semangat kalian. Saya lebih suka menggunakan kekuatan ngobrol dalam santai untuk mengambil keputusan ketimbang debat panjang dengan adu kuat argument. Slow down, santai saja Belanda masih jauh bung.

Beberapa teman sering meminta saya untuk membuat draft pengumuman yang akan dipajang di dinding. Atau minta untuk re-check pengumumannya sebelum disebarkan. Baik cek susunan kalimat atau ejaan. Lalu setelah final, dalam pengumuman itu jelas tak akan ada nama saya di kotak: ‘dibuat’, ‘diperiksa’, dan ‘disetujui oleh’. Saya tak peduli, saya ikut senang setidaknya ketikan saya masih dipakai.

Bukan hanya dalam pengumuman, untuk pemilihan kata ketika membalas surat penawaran, menyusun kalimat untuk Memorandum of Understand (MOU), membuat presentasi untuk bos agar lebih rapi sampai surat perjanjian dengan pihak ketiga pun saya dengan senang hati. Lebih parah lagi, beberapa teman ada yang minta untuk dibuatkan kartu ucapan pernikahan, kartu ulang tahun, sampai hal-hal sepele susunan kalimat yang akan dibaca saat paging atau pengumuman suara oleh front office. Santai bisa, resmi siap!

Dalam film jelas saya lebih mengagumi sang script writer daripada actor utama. Faktor terbesar yang menentukan bagus tidaknya sebuah film menurut saya adalah cerita. First thing first: story! Makanya setiap tahun saya selalu menaruh minat besar prediksi naskah original terbaik dan naskah adaptasi terbaik. Dan saya salut sama orang yang bisa menjadi sutradara sekaligus penulis naskah. Manusia di balik layar jauh lebih mempesona.

Jadi jangan harap saya jadi motivator layaknya Mario Teguh apalagi sang penceramah berlabel ustadz, ga bakat!

Karawang, 301013

Di Pantai Tanjung Pura

Gambar

* Mataharinya keren ya.

Gambar

* teman-temannya istriku lagi cari kepiting

 

Gambar

* si Mey yang nulis, bukan saya

 

Gambar

* berpose

Note: Gambar ini diambil ketika ada teman kuliah istri yang menikah di Indramayu. Setelah menginap semalam, paginya kita jalan-jalan ke pantai yang dekat rumahnya. Nama pantainya Tanjung Pura. Seperti kebanyakan pantai utara Jawa. Tempatnya bagus, asri. bagus untuk bersantai sambil minum kopi. Namun ya gitu, banyak sampah berserakan.