Bertarung Dalam Sarung – Alfian Dippahatang

Aku mati dibunuh.” // “Dibunuh karena puisi.

Ceritanya hanya berputar di drama keluarga. Dalam masyarakat Bugis memang harga diri sangat penting dalam keluarga. Semua cerpen di sini berkutat di sana. Perseteruan dengan orang tua, adat yang harus ditegakkan, asal usul yang ditentang, jodoh warisan bapak, riwayat tarung Indonesia Timur dalam kemerdekaan sampai agama daerah yang dijunjung, semuanya ngulik di hubungan darah yang mendrama. Saling silang tunjuk mana yang batil dan enggak. Mengangkat isu sosial dan budaya Toraja dan Makassar. Seperti ucapan persembahan, memang sang Penulis menyatakan keluarga adalah pustaka hidup.

#1. Ustaz To Balo
Tentang keunikan seorang yang memiliki bercak aneh berwarna putih berbentuk segitiga yang harus terbuang. Mati atau dilepas di hutan untuk jadi santapan binatang buas. Nyatanya ia bertahan, menemukan seorang pemuka agama, menjalani hidup dalam kebatinan. Saat akhirnya merasa beruntung dapat menikahi putri sang pemuka, anaknya juga memiliki khas bercak itu dan sang istri meminta cerai karena menanngung malu. “Mengapa kau hendak menceraikan Ranti, Nak?”

#2. Nenek Menerawang dan Ibu Memburu
Ibunya kabur, memilih suami baru dan sang anak dalam tangis tak berkesudahan. Pergi kala terlelap sehingga tak diberi waktu pamit. Sang Nenek adalah dukun atau orang pintar yang kali ini kedatangan Tanta Halidang, dimandikan untuk apa? “Dimandikan agar suaminya tidak ke mana-mana, Nak.

#3. Jangan Keluar Rumah Saat Magrib
Kisah selingkuh yang menyakitkan. Dengan sudut pandang sang calon bayi hasil berzina dengan pelaut, sang ibu malah menikah dnegan Basri sang polisi yang juga turut berzina. Sang ibu yang sejatinya lebih mencintai pelaut yang sedang ke Maluku mencoba mengugurkannya dengan keluar magrib agar roh halus memainkan peran. “Jangan keluar saat Magrib, Anri.”

#4. Kelong Paluserang dan Kebohongan Masa Kecil
Ini adalah cerita bohong yang ditanamkan orang dewasa pada anak bahwa ibunya pergi ke Malaysia cari duit. Ayah dan tantenya memberi harap agar ia tetap menjalani kehidupan kecil dengan tanpa beban. Nyatanya ia terus kena bully, Samri lalu meluruskan hal ini kepada anaknya. “Tiga bulan lagi, Nak.

#5. Bukan Sayid
Kisah kasih tak sampai. Keturunan Sayid Opu yang digadang adalah keturunan Nabi Muhammad tak boleh menjalin hubung dengan keturunan lain. Tradisi kafa’ah di Cikoang, ini coba dimentahkan sang aku, Syarifah Atkah Bintang yang menjalin cinta dengan lelaki Sayid Karaeng, Habri. Dianggap kafir bila melanggar tabu. Bintang membujuk Habri membawanya kabur, tapi tak semudah itu ferguso. “Kau percaya cinta?”

#6. Mayat Hidup dan Bertobat Tak Seperti Mengedipkan Mata
Ini adalah cerpen terbaik. Paling panjang, paling kompleks, paling vulgar. Jelas buku ini kena label 21+ karena kisah Mayat Hidup. Dengan sudut pandang dua orang, ibu dan anak yang terus melakukan komunikasi setelah ibu meninggal, mereka masih bisa komunikasi karena Rungka yang istimewa. Dari sudut Rungka kita tahu, cintanya pada ibu tak terbatas. Ibu selalu melindunginya saat ayahnya Puto marah karena lelaki ga boleh gemulai. Lalu saat sudut berganti ke almarhum, kita tahu ia selingkuh dengan saudara suaminya demi keturunan, seorang pemuka agama Tamrin. Tobat lombok. Sampai akhirnya Rungka menggali kubur ibunya agar bangkit. “Wajahmu terlihat bingung, kau kenapa, Nak?

#7. Ayahku Memang Setan
Mencari cara untuk balas dendam agar tak diketahui orang. Sakir yang suka bully sang aku, tewas akhirnya saat di pinggir sungai kesempatan memarangnya muncul. Ayahnya pergi berjuang untuk tanah air, berperang bak setan sehingga ia disebut anak setan. Hidup memang pilihan, tapi pilihan macam apa yang tersedia sebagai anak tanpa ayah yang menemani masa kecil? Damai? “Kita berharap begitu, Nak.”

#8. Tangan Kanan Orang Toraja
Serabut kisah tentang Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) di tanah Sulawesi Selatan. Pengorbanan, cinta, dan penghiatanan dalam masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia Timur. Perang yang menjadi pilihannya menjadi konsekuensi pahit. “Pergilah, Nak!”

#9. Prajurit Yang Sakit Hati
Setelah beberapa kali dibujuk bergabung akhirnya ia sepakat. Menyatakan persetujuan adalah ledakan, membuka gerbang kehancuran. Mungkin bisa bebas menghirup udara lepas, tapi tak akan leluasa bertindak. Kalimat ayah adalah kekhawatiran sekaligus pengharapan. Ah, pengasingan terjadi juga. “Kau dinanti untuk membungkam segalanya.”

#10. Aku Tak Kemayu Lagi
Hikayat Gerakan Muda Bajeng (GMB) yang dibentuk, dikembangkan lalu membubarkan diri membaung dengan organisasi lain. Ayahnya yang marah karena gemulai, “Kau ini lelaki. Kau ini pejantan.” Menempanya, membangungkan tidurnya untuk bergabung ke dalam pasukan. Selalu ada jalan untuk melihat Polongbangkeng berhenti diinjak-injak.

#11. Mayat yang Menceritakan Kematiannya
Riwayat Anda Ruapandewi, penyair yang tewas dibunuh. Dalam alam kuburnya ia dikagumi mayat lain, yang juga menulis puisi, tapi sekadar iseng. Ah syair…, bahasanya sederhana pun selalu butuh tafsir. Dengan kesenangan akan makanan coto, dengan pengagum yang setia bersama. Ada sesuatu di baliknya, sama-sama mati dibunuh tapi ada kaitan. “… kau akan dikenang dengan desas-desus yang tak mengenakan.” Mungkin ini cerpen yang paling ga OK di daftar ini.

#12. Cahaya Gaib
Cerita istri yang tak bisa menghasilkan keturunan, lagi. Kali ini istri kedua, ia lalu berkeluh kesah pada Nenek-nya. Langkah meminta cerai, meminta tolong karena suaminya kembali ke istri pertamanya yang hamil lagi. Lalu datanglah sebuah mobil yang selalu menawar beli kebun Nenek, tetap ditolak hingga jalan keluar itu ia malah melamar anaknya yang masih dalam proses cerai. Well, di sini Nenek adalah orang tua laki-laki di masyarakat Konjo. Sempat membuat bingung karena, Nenek kok disapa Pak. “Yang namanya manusia, tidak pernah puas memiliki satu barang, Nak.”

#13. Orang-orang Dalam Menggelar Upacara
Di Kajang, kauserap pasang – petuah nenek moyang, hutan adalah sakral. Tak boleh ada yang menebang sembarangan. Harus ada ritual, harus ada izin, harus ada pengganti. Sang aku mendapat wejangan. Bila ada pohon yang ditebang sembarangan maka ada adat upacara yang harus dilaku untuk mencari pelaku dengan ujung linggis yang membara diinjak, yang bukan pelaku tak akan mempan. Ketika beberapa orang sudah dilakukan aman, tiba giliranmu. Dadamu sudah berhenti bergemuruh. “Kita bergantung dari hutan. Manfaatnya begitu besar untuk kehidupan, sekaligus penting merawat segala isinya.”

#14. Takdir Mala
Saling silang keluarga menentukan jodoh Mala. Orang tua cerai, menikah lagi dengan janda beranak sehingga tampak saling mengisi. Hingga masa dewasa jodoh ditentukan. Ibu tiri, dan kemarahannya. “Ini musibah, Nak.

#15. Bertarung dalam Sarung
Akhirnya sampai juga di judul buku. Adat tarung dalam sarung yang mematikan, dua laki-laki bersenjata Kawali dalam satu sarung, duel lelaki Bugis atas nama kesetiaan, atas nama harga diri keluarga. Tarung dan Bombang dan segala kekuatan yang tersisa. “Nak, aku paham hatimu mungkin berkata, Bugisku sudah rontok…”

#16. Bissu Muda
Untuk menjadi bissu orang harus mengalami mimpi gaib ditemui Dewata. Tak semua lelaki yang berlagak keperempuan bisa diangkat menjadi bissu, pendeta agama Bugis Kuno. Menjadi bissu memang bukan cita-cita, tapi panggilan hati petunjuk Dewata. Kali ini kita mendapati pemuda, sudah lama anak muda tak menjadi bissu. “Orangtuaku menolak keras. Aku dianggap keperempuanan jika jadi bissu.”

#17. Panggilan Gaib
Dua lelaki melambai bersahabat, saat salah satu diangkat jadi bissu yang satunya lagi curiga mimpi dan panggilan gaib itu hanya omong kosong, kebohongan dan akting saja. Ada dendam dan kasih lama yang menguar. “Apa belum jelas? Kau bissu dan aku calabai biasa.”

Kubaca dalam dua kali kesempatan duduk. Semalam saat pergantian hari ketika mati listrik dan pagi ini di libur Sabtu cerah dengan kopi dan musik The Legacy of Jazz. Kesan pertamaku selepas menyelesaikan baca adalah, ini kuda hitam Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini. Banyak hal yang mirip dengan Tiba Sebelum Berangkat-nya Faisal Oddang yang tahun lalu kuperkira rontok di daftar panjang, nyatanya masuk final. Namun jelas, Tiba Sebelum jauh lebih nyaman, lebih bagus dan mendalam. Bertarung Dalam temanya terlalu pendek, pengembangan kisah ga ada. Urusan keluarga mulu, pertentangan dengan ayahnya, padu dengan istri, ketidakharmonisan dengan anak. Bahkan kisah satu dengan yang lain mirip, beberapa pengulangan dalam lingkup sama padahal ini kan tak bersangkut, cerpen terpisah. Coba hitung berapa kata ‘Nak’ yang diujar? Andai ga ditutur dengan baik, malah seperti cerita sinetron, untungnya tata bahasa dan pilihan diksi bagus sehingga tak perlu menjadi suku Bugis untuk bisa menikmati alur.

Prediksi: rasanya buku ini masuk ke daftar prosa terpilih saja sudah prestasi, tak akan juara. Mustahil menjadi nomor satu. Tiba Sebelum yang terasa utuh dan menghebat di tengah pergolakan bissu saja kalah, apalagi ini. Masuk daftar pendek kalau terjadi, hanya keberuntungan.

Bertarung Dalam Sarung | Oleh Alfian Dippahatang | KPG 59 19 01604 | Cetakan pertama, Maret 2019 | Penyunting Udji Kayang | Perancang sampul Harits Farhan | Penataletak Teguh Tri Erdyan | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | ISBN 978-602-481-100-6 | viii + 151; 13.5 cm x 20 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 210919 – Matchbox Twenty – Unwell

Iklan

A Simple Favor: Gone Girl Yang Jenaka

Stephanie: “Five days ago. Emily went missing.”

Film dengan ending mengecewakan. Dari mula sampai pertengahan sungguh seru. Keren sekali, seksi dan merumit dalam bermain pikiran. Namun semenjak setelah pengungkapan bahwa sang istri tidak mati, tapi menghilang, bah alur langsung melemah dan rontok tak terkendali. Sempat digadang-gadang sebagus Searching yang sama-sama mencoba mengungkap sebuah kasus hilang/matinya seseorang, Searching berhasil menjaga tempo, bermain serius, dan memiliki twist yang bagus. A Simple Favor gagal mempertahankan gairah itu. Malah, adegan segitiga yang dinanti-nanti itu jatuhnya kayak sinetron klise yang tayang tiap malam di SCTV atau RCTI, ah sama saja buruknya. Astaga, saling silang tunjuk ujung pistol, tembak dan ah cuma bercanda, lalu sebuah mobil menghancurkan segala plot itu. Sayang sekali film dengan bintang besar Blake Lively dan Anna Kendrick berantakan. Gone Girl yang jenaka.

Sebelum memutuskan tonton, saya kena sedikit spoiler bahwa dua bintang utama akan ciuman. Catat. Saya juga kena bocoran bahwa film akan laiknya detektif, pencarian orang hilang. Catat. Selebihnya ngalir. Kisah dibuka dengan menyenangkan, bahwa Stephanie Smothers (Anna Kendrick) yang seorang Vlogger tentang cara memasak ala ibu-ibu kosmopolitan. Ia adalah orang tua tunggal dari putra semata wayang Miles Smothers (Joshua Satine). Kegiatan rutin menjemput si buah hati suatu hari berubah ketika teman main Miles, Nicky Nelson (Ian Ho) mengajak dolanan sepulang sekolah dan sang ibu yang seksi bak model Emily Nelson (Blake Lively), mengizinkan. Adegan kala Lively turun dari mobil, gerimis mengundang, dengan desiran angin disertai musik riuh benar-benar menggambarkan betapa ia istimewa. Betapa nyata eksplorasi kecantikan sang megabintang.

Di rumah Emily yang megah dengan dinding kaca lantai atas dengan view menawan jelas mereka dari keluarga terpandang, lalu mereka saling mengenal dan bergosip. Stephanie yang polos, mengungkap beberapa rahasia. Suaminya tewas kecelakaan mobil bersama saudaranya, ia pernah melakukan zina dengan saudaranya, ketika ayahnya meninggal sang ipar yang tampak reinkarnasi sang ayah membuat jatuh hati. Nantinya ini jadi kejutan pengungkapan fakta. Sementara Emily mengungkap rahasia, pernah main threesome. Wait. MML? Nope, MFF. Waduh… dan sang suami Sean Townsend (Henry Golding) ternyata adalah penulis buku Catenbury Tales, buku yang istimewa di mata Stephanie karena pernah dibacakan di klub buku, menjadi bahan skripsi dan dibedah khusus dalam diskusi. Pasangan ini bahkan tampak mesra, berciuman mulut di depan tamu! Betapa gairah dan norma menjadi samar. Stephanie memandang dengan tatapan damba. Asem.

Alur menjadi sesuai prediksi, ketika Emily meminta Stephanie untuk menjemput anaknya karena ia ada perlu, yang ternyata terdata ke Miami. Menjadi pengasuh sementara, saling bantu teman, sementara sang suami Sean sedang ke London menemani ibunya yang sakit. Dan misteri pertama dilemparkan ke penonton. Setelah beberapa hari, Emily dinyatakan hilang. Melalui vlog-nya Stephanie mengungkapkan kesedihan. Laporan ke polisi, melacak keberadaan yang memungkinkan Emily kunjungi. Bahkan sang protagonist lalu menjelma bak detektif ketika masuk ke kantor tempat kerja Emily, mencuri berkas, membuka fakta kecil yang tak disangka. Dan ketika penyelidikan seolah menemui jalan buntu, sebuah temuan menyedihkan diungkap. Emily ditemukan tewas di danau, mobil sewa tunai ditarik, mayatnya diotopsi, sakaw gara-gara heroin, dan tiket perjalanan itu palsu. Di sini jelas, arah pikiran penonton pasti sama. Sang ibu tunggal, penggemar bukunya Sean yang kini jadi ayah tunggal. Berhari-hari menjadi pasangan saling melengkapi. Sean bekerja sebagai dosen, Emily menjelma ibu rumah tangga idaman dengan masakan istimewa. Dan kalau mereka akhirnya tinggal seatap, mencoba membangun hubungan adalah keniscayaan. Happily ever after? Nope! Ini film thriller, eh film yang mencoba thriller gan.

Pesan-pesan rahasia Emily disampaikan seolah ia menjadi arwah gentayangan. Memberi sang anak Nicky sebuah amplop berisi gambar saling silang dengan tulisan Brotherf*ker. Mencoba mengirim sinyal keberadaan. Bahkan suatu saat Stephanie mendapat telpon langsung dari almarhum. Wow, kamu mulai menggila! Kamu sudah stress tingkat atas, orang mati menelpon! Film ini mau ke film horror? Tak terima dikatakan gilax, Emily lalu menelusuri kehidupan masa lalu ‘sang arwah’. Saya sudah bilang dari awal bahwa Emily ternyata tak mati, kok bisa? Padahal kita sudah melihat dengan gamblang mayatnya dikebumikan. Yup, sampai disini cerita memang bagus banget. Tapi penelusuran lebih lanjut terhadap identitas almarhum menjadi plot jenaka. Silakan ketawa.

Seperti Baby Driver yang hebat dari awal sampai pertengahan, A Simple juga luar biasa mengesankan. Baby menjadi luluhlantak berkat, eksekusi konyol betapa mudah senjata diangkat dan dar der dor dalam adegan balap bak fast and furious. A Simple terjun bebas ketika kemunculan plot lain yang lalu sampailah adegan segitiga itu. Apalagi motifnya cuma itu. Duh, maaf sekali. Duet perdana dua aktris istimewa sebagai dua peran utama Lively dan Kendrick berakhir bencana. “Anna and Blake are forces to be reckoned with.” Moga ada lagi film mereka berdua sebagai pasangan utama. Jangan kapok yes.

Sisi positifnya adalah, cerita detektif akan memudahkan plot dengan menemukan mobil yang diperosokan ke danau, catat jua dengan sengaja. Searching juga gitu. Bahkan ini kejadian nyata, sang ratu cerita criminal Agatha Christie kita tahu, beliau memainkan peran nyata sandiwara hilangnya demi meraih simpati, atau lebih tepatnya meraih perhatian dari kekasih tercinta karena kekecewaan hidup. Jadi kalau mau bikin cerita penyelidikan, coba taruhlah mobil dalam danau, pastinya menarik perhatian pembaca, pers dan sel-sel kelabu.

Cerita ditutup bak sebuah kasha nyata dengan menampilkan tilisan singkat nasib para karakter utama. Credit title-nya kreatif sekali, layak dinikmati sampai ujung walau tak ada adegan apapun. Selama tulisan berjalan ke atas, potongan adegan, foto-foto karakter sampai sekelumit gambar warna-warni ditampilkan dengan gaya slash miring dan potongan garis yang indah. Siapa yang bisa menolak keseksian Lively? Siapa yang ga penasaran selipan foto-fotonya? Coba kalau credit title film-film dibuat gini, pastinya banyak yang bertahan hibngga detik akhir. Ditambah soundtrack-nya bagus-bagus. Dari Mambo #5 (A Little Bit of…) dari Lou Bega, Les Passants nya Zaz sampai Bonnie and Clyde nya Brigitte Bardot dan Serge Gainsbourg. Meriah.

Berdasarkan novel karya Darcey Bell dengan judul yang sama yang merupakan novel debut, bukunya belum rilis saat film sudah sepakat dibuat. Walau akhirnya beberapa hal diubah, seperti Sean yang sebenarnya kerja di Wallstreet di film menjadi dosen. Atau untuk penyederhanaan, dalam novel Stephanie bukan Vlogger tapi Blogger, dst. Salah satu konsep uniknya adalah pembuatan martini, Blake Lively bahkan berlajar langsung dan mendemonya saat CinemaCon.

Mungkin agak terselamatkan di ujung sekali ending, kala vlog-nya Stephanie menyentuh view sejuta. Sungguh bahagia, menyampaikan cerita yang bisa dinikmati banyak kalangan, apalagi ini hanya dari seorang ibu rumah tangga. Hati-hati saat sobat kamu nanya, apa hal paling gila yang pernah kamu lakukan, rahasia biarkan tetap menjadi rahasia. Ssstttcan You keep A Secret?

Well decent, until it wasn’t. The movie was quite enjoyable for the longest time. Well and tricky. Then the conclusion happened. Drop till the end, so disappointed. Is it a joke baby? Hufh… gone girl gone bad. Nah… nah… nah…

A Simple Favor | Year 2018 | Directed by Paul Feig | Screenplay Jesicca Sharzer | Cast Anne Kendrick, Blake Lively, Henry Golding, Ian Ho, Joshua Satine | Skor: 3.5/5
Karawang, 170419 – Nikita Willy – Ku Akan Menanti – 190419 – Andre Previn, Herb Ellis, Ray Brown, Shelly Mann – I Know You So Well

#PemiluDay #TheGoodFriday

A Man Called Ove – Fredrik Backman

Orang dinilai dari yang mereka lakukan. Bukan dari yang mereka katakan.” Parvaneh dalam bahasa Farsi artinya apa ya?

Cinta sejati takkan mati. Cinta Ove kepada Sonja sungguh sederhana, sekaligus sungguh romantis. Detail ini bikin kesal mungkin, tapi benar juga. Ketika Sonja memotong rambut, Ove akan jengkel terhadap istrinya selama berhari-hari karena Sonja tidak tampak sama. Itulah yang paling dirindukan Ove, mendapati segala sesuatu sama seperti biasanya. Frederick Backman adalah blogger dan kolomnis Swedia. Tokoh Ove pertama muncul di blog-nya dan para pembaca mendorong untuk dikembangkan guna dibukukan. Senangnya ada blogger sukses gini, memotivasi kita para pemula untuk terus lebih giat mengetik kata demi kata. “Jika kau tidak bisa mengandalkan seseorang agar tepat waktu, kau juga tidak bisa mempercayakan sesuatu yang lebih penting padanya.”

Setiap manusia harus tahu apa yang diperjuangkannya. Itulah kata mereka. Dan Sonja memperjuangkan apa yang baik. Demi anak-anak yang tidak pernah dimiliknya. Dan Ove berjuang untuk Sonja. Ini adalah buku si tua penggerutu yang kocak, awalnya ikut sebal dan merasakan apa yang Ove rasakan lantas teriak lantang, “Benar juga” karena Negara Swedia yang makmur itu ternyata juga jiwa sosialnya ga jauh beda dengan lingkungan kita sekitar, sebagian kecil sih dari sudut pandang kakek-kakek. Bagaimana warga yang suka langgar rambu lalu lintas, mereka memasang beberapa polisi tidur dan sejumlah plang besar, “Banyak Anak Kecil” di kawasan rumah-rumah mereka sendiri. Tapi ketika sedang menyetir melewati rumah orang lain, semuanya itu sekan kurang penting. Terobos aturan sederhana terkait mobil yang tak boleh lewat. “Menakjubkan betapa terburu-burunya kita.” Sampai orang-orang masa kini yang awam mesin dan bangunan yang menurut generasi old adalah sesuatu yang basic tapi bagi kita seakan rumit!

Mengingatkanku pada bapak, bahwa isi token listrik saja beliau tak bisa, sementara saya disuruh benerin kipas saja gagal, bahkan kipas yang masih putar yang sejatinya cuma rusak gara-gara ada bunyi ‘krik krik krik’ kini setelah saya otak-atik malah rusak total. Mantab! Maafkan aku. “Seluruh jalan berubah menjadi rumah sakit jiwa. Kekacauan total. Sekarang ini, kau bahkan harus keluar dan memundurkan caravan mereka. Dan bahkan kau tidak bisa memasang pengait dengan benar.” Hiks. Gap generation.

Saya mulai baca di Minggu pagi saat mengantar istri ambil raport Play Group Hermione di ruang tunggu sampai akhir pekan lalu. Pas seminggu, ketawa ngakak ga jelas bagian awal kisah sungguh lucu. Orang tua yang mengeluhkan segalanya. Mengeluh adalah sesuatu hal yang sangat dikuasainya. Hemat (atau bisa juga dibilang pelit), mobil menggunakan lebih sedikit bahan bakar jika terus bergerak, dibandingkan yang berhenti sepanjang waktu. ‘Setidaknya dia menghemat bensin.’ Bukannya Ove bermaksud membeli ham dalam tawaran khusus itu. Namun mengamati harga-harga selalu patut dilakukan. Jika ada salah satu yang tidak disukai Ove di dunia ini, adalah saat seseorang berupaya menipunya. Istriku juga ga terlalu peduli harga di Indomart atau Alfamart, sayalah yang memperhatikan kenaikan harga, sayalah yang memilah beli, saya juga yang menetapkan barang, ‘sedang ada diskon’ atau normal. Duh, sepintas lalu, Ove banget ternyata saya ini. Juga orang tua yang tak banyak bicara, lebih suka di belakang layar. Inilah yang dipelajari Ove, jika seseorang tidak punya sesuatu untuk dikatakan, dia harus mencari sesuatu untuk ditanyakan. Ove sangat meyakini beberapa hal: keadilan, kesetaraan, kerja keras dan dunia yang menganggap kebenaran adalah kebenaran. Bukan karena ingin medali, diploma atau tepukan tangan di panggung, tapi hanya karena memang begitulah seharusnya. Pengenalan karakter yang nyeleneh, beli ipad atau komputer yang bukan komputer, nantinya jadi adegan penting di akhir. Kau adalah sebagaimana adanya dirimu. Kau melakukan apa yang kau lakukan, dan itu sudah cukup bagi Ove. Yah, kita dibenturkan keadaan pria tua kesepian apa adanya. Sampai akhirnya kita tahu sebuah kabar duka. Kematian istrinya, Sonja yang bikin nangis pembaca, membuatku menangis. Nasib memang tak ada yang bisa tebak. Prinsip yang diemban sama dengan ayahnya. “Aku punya istri. Saat ini, hanya saja sedang tidak ada di rumah.” Secara naluriah Ove meragukan semua orang yang tingginya melebihi seratus delapan puluh sentimeter; darah pasti tidak bisa mengalir sejauh itu hingga otak. Mengirim bunga, dua ikat setiap hari (cara belinya, hahahaha). Curhat di depan nisan, sunyi menghadapi kehidupan yang ditikam sendiri.

Besok sama baiknya dengan hari ini untuk bunuh diri. Lalu kita sampai pada titik nol, niatan Ove untuk mengakhir hidupnya. Ketika percobaan pertama gagal, jelas saya bisa menebak ke arah mana kisah ini. Dengan tali gantung, dengan asap mengepul, dengan menghadapi laju kereta api, dan seterusnya. Dengan tenang, ia dicipta gagal. Selalu, ya selalu, ada yang menggagalkan. Salah satu yang sering dikirim malaikat untuk mencegahnya adalah tetangga baru yang memiliki kombinasi anggota keluarga aneh. Sang kepala keluarga, Patrik adalah konsultan IT yang awam pekerjaan tangan, menyetir mobil dengan gegara,parkir saja miring dan suatu saat jatuh dari tangga. Seberapa sulit menetapkan kanan dan kiri lalu melakukan sebaliknya? Bagaimana orang seperti itu bisa bertahan hidup. Bagaimana mungkin seseorang bisa menghabiskan hidupnya merindukan hari ketika dia menjadi tak berguna? Lalu istrinya dengan nama aneh, keturunan Iran seorang imigran Parvaneh yang kini sedang hamil tua. Saya jatuh hati sama karakter ini, nama Parvaneh rasanya ok juga buat anak ketigaku. Ntar, coba diskusi sama istri ah. Lalu ada dua anaknya yang lucu, berusia tujuh tahun dan tiga tahun. Yang selalu mengingatkan Ove untuk tidak berkata kasar. “Tidak! Sialan! Tidak ada yang oke di sekitar sini.” Keluarga Patrik menghiasai mayoritas kisah karena akan bersinggungan terus.

Lalu perseteruan dengan si tua Rune yang akan dikirim ke panti jompo setelah perjuangan berlarut dua tahun yang gagal, oleh istrinya Anita menyerah? Sulit bagi seseorang untuk mengakui kesalahannya sendiri. Terutama ketika orang itu telah keliru selama waktu yang sangat lama. Masa lalu terkuak, ada dendam, ada hawa panas menguar yang membuat Ove dan Rune, sahabat lama yang kini bermusuhan. Seperti orang waras manapun, Ove berpendapat hanya orang sok pamer yang mengenakan setelan terbaik pada hari kerja.

Ada pemuda yang mencintai gadis tetangga, dengan meminta Ove membetulkan sepeda. Murid masa lalu Sonja, pecinta William Shakepeare. Yang uniknya malah jadi penggerak segala kelucuan di kafe. Ove bukan jenis orang yang suka basa-basi, dia menyadari setidaknya belakangan ini, bahwa itu cacat karakter serius. Langsung to the point. Kau merindukan hal-hal aneh ketika kehilangan seseorang. Hal-hal sepele. Senyuman. Cara perempuan berbalik ketika tidur. Kau bahkan rindu mengecat ulang ruangan untuknya.

Kisah menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga kita merasa dekat dengan sang protagonist. Dengan alur satu bab maju, satu bab mundur lalu dipertemukan jelang akhir, kita menemui banyak sekali drama dan keterkaitan orang sekeliling Ove. Bagaimana ia piatu, dan akhirnya menjadi yatim piatu karena sang ayah meninggal tertabrak kereta. Ove melanjutkan pekerjaan ayahnya, drop out sekolah dengan kerja keras menghidupi kebutuhan. “Itu pekerjaan jujur dan layak dilakukan.” Dia bukan lelaki yang merenungkan hal-hal semacam itu. Akan tiba saatnya dalam kehidupan semua laki-laki, ketika mereka harus memutuskan akan menjadi jenis lelaki macam apa. Apakah menjadi jenis lelaki yang membiarkan orang lain menguasai mereka atau tidak. Dia cukup puas dengan mengingat, pada hari itu dia memutuskan untuk menjadi semirip mungkin dengan ayahnya. Ya, panutannya adalah orang tuanya sendiri. Salah satu yang bagus sekali terkait penemuan tas di kereta. “Saya bukan jenis orang yang mengadukan perbuatan orang lain.” Ia tahu siapa yang mengambil, tapi ga banyak omong hanya mengembalikan dompet yang berhasil direbut. “Ketika seseorang tidak bicara terlalu banyak, mereka tidak bicara omong kosong juga.”

Kekuatan utama kisah ini adalah cinta sejati. Cinta Ove kepada Sonja yang tak bertepi. Masa kematian ayahnya hingga ketemu Sonja menjadi masa hampa. Dia tidak pernah bisa menjelaskan dengan baik hal yang terjadi kepadanya hari itu. Namun dia berhasil berhenti menjadi bahagia. Dia tak bahagia selama beberapa tahun setelah itu. “Kau hanya perlu seberkas cahaya untuk mengusir semua bayang-bayang.” Dia membuat lemari buku untuk istrinya dan istrinya mengisi lemari dengan buku-buku karya orang yang menuliskan perasaan mereka hingga berlembar-lembar. Orang mengatakan Ove melihat dunia dalam warna hitam putih. Namun perempuan itu berwarna-warni. Seluruh warna yang dimiliki Ove. Cinta melimpah ruah yang diberikan kepada seorang special, benar-benar suami ideal. Awal perkenalan mereka juga sangat unik, Ove jatuh hati pada pandangan pertama. Hari-hari yang kelabu tiba-tiba tampak berkilau. Bayangkan, Ove rela mengikuti naik kereta api saat Sonja pulang padahal lawan arah, demi duduk bersama, yah walaupun ia lebih banyak diam dan Sonjalah yang ngoceh. Beberapa bulan kemudian, Ove akan berjalan menyusuri peron itu bersama perempuan yang ditakdirkan untuk dinikahinya. Namun tentu saja pada saat itu dia tidak sama sekali mengetahui. Sungguh kisah yang romantis tanpa bumbu pemanis berlebih. Sonja tertawa dan tertawa dan tertawa hingga huruf vokal menggelinding melintasi dinding dan lantai seakan tidak mau menghiraukan hukum waktu dan ruang. Bagian saat Ove menyatakan kasih sayangnya sungguh indah, mendeklamasikan bahwa lelaki hanya memerlukan beberapa hal sederhana dalam kehidupan: atap di atas kepala, jalanan lengang, merek mobil yang tepat dan perempuan untuk dianugerahi kesetiaannya.

Setiap orang harus tahu apa yang diperjuangkan. Aku akan belajar sambil membaca.” Pasangan ini tampak cocok, seorang guru yang ceria dengan banyak buku dan pria pekerja keras yang pendiam yang memiliki cinta membuncah. Saling mengisi, saling mencinta. Istrinya memang tidak pintar memahami masalah prinsip. Namun kisah keluarga kecil ini tak lama cerianya, kita dibenturkan kenyataan pahit saat mereka berlibur ke Spanyol dengan naik bus. Istrinya sering berkata, “Semua jalanan menuju pada sesuatu yang sudah ditakdirkan untukmu.” Bagian paling menyedihkan, saya nangis. Serius. Ga tega, ga rela. “Aku merasakan kehilangan yang begitu besar Ove, begitu kehilangan seakan jantungku berdetak di luar tubuh.” Tuhan berencana, manusia yang menentukan. “Semua orang bilang begitu. Namun mayoritas tidak selalu benar.”

Ada bagian yang mengusik kita, interaksi Ove dengan mobil Saab-nya. Ya Saab-nya adalah cinta kedua Ove setelah Sonja ketiganya rumah, mungkin. Ada yang orang yang begitu obsesif dengan kendaraan. Salah satunya rutinitas pagi. Dia duduk di kursi pengemudi dan memutar tombol pencari stasiun radio setengah putaran ke depan lalu setengah putaran ke belakang, sebelum membetulkan semua kaca spion. Seperti yang dilakukannya setiap kali memasuki mobil Saab-nya. Seakan seseorang telah secara rutin memasuki Saab itu dan iseng mengubah semua kaca spion dan stasiun radio Ove. Wkwkwkqq… aneh. Bahkan nantinya si Saab ini jadi trivia menyenangkan di eksekusi ending. Ove mencintai Saab, jelas tapi ada orang yang setia dan benar-benar ga mau ganti merek lain, ga mau berpaling dengan yang lebih modern sekalipun kendaraan baru itu baru luar biasa. Hebat. Salut. Keren. Totalitas tanpa batas, #ForzaLazio. Mobilku Toyota, dan ga menutup kemungkinan suatu hari pindah ke Honda atau Daihatsu bahkan ke Mercedes (hehe ngimpi), sah-sah saja. “Mengapa pula aku mengucapkan sesuatu. Kau ingin membeli mobil Prancis. Jangan terlalu mengkhawatirkan orang lain, kau sendiri sudah cukup banyak masalah.”

Ove walaupun freak tapi tetap mencoba menjadi bagian dari masyarakat, bahkan menjadi ketua asosiasi warga. Salah satu aktivitasnya adalah inspeksi warga pagi hari, memastikan segalanya aman. Bangun pagi cek sampah, cek kendaraan warga, cek jalanan, cek remeh temeh kala subuh, gilax. Dia tak pernah mencoba narkoba dan nyaris tak pernah berada di bawah pengaruh alkohol. Hanya orang tolol yang menganggap kehilangan kendali adalah keadaan yang patut diburu. Ada plang di area pemukiman, kendaraan dilarang melintas. Bikin rusuh. Prinsip anehnya, dia mencoba memberitahu Sonja agar tidak memberi uang pada pengemis di jalanan karena mereka hanya akan membeli minuman keras dengan uang itu. Namun sedikit banyak ada benarnya. Mungkin terdengar pelit, yah wanti-wanti wajar sih. Dan Sonja bilang, “ketika seseorang memberi sesuatu pada orang lain, bukan hanya si pengemis yang diberkati tapi juag si pemberi.

Kedukaan adalah hal ganjil. Cinta adalah sesuatu yang ganjil. Kehidupan adalah sesuatu yang ganjil. Endingnya sudah sangat pas, mungkin ketebak karena tiap mau bunuh diri gagal, Ove jelas mendapat pencerahan. Tetangganya yang unik Parvaneh (sekali lagi, catet yes!) jelas menjadi kunci utama, belajar menyetir, minta tolong memperbaiki rumah, sampai kedua anaknya kini dekat, “Badot!”. Waktu, kedukaan, dan kemarahan mengalir serempak dalam kegelapan pekat berkepanjangan, dan keluarga Patrik memberi warna baru pasca kematian Sonja. Kita merasa gentar terhadap kematian, tapi sebagian besar dari kita merasa paling takut jika kematian itu membawa pergi orang lain. Tul banget!

Swedia Berjaya. Setelah terpesona dengan Johas Jonasson dalam The 100-Years-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared, kini saya juga tertakjub sama –lagi-lagi- seorang kekek bernama Ove. Sungguh hebat, karakter utama orang tua extraordinary, novel-novel Swedia jelas wajib antisipasi berikutnya. Mungkin target berikutnya novel tetralogy Gadis Bertato Naga, rasanya hanya tinggal tunggu waktu tepat untuk dinikmati. See

Jadi Ove melawan seluruh dunia, kamu tak sendirian. Ove and me againt the world! Dan saya sepakat. “Semua orang ingin menjalani kehidupan yang bermartabat, tapi arti bermatabat berbeda bagi orang yang berbeda.”

A Man Called Ove | By Fredrik Backman | Terbitan Sceptre, imprint of Hodder & Stroughton – an Hachette UK Company | Ditrtjemahkan dari En man som heter Ove | copyright 2014, Published by arrangement with Partners in Stories Stockholm AB, Sweden | Penerjemah Ingrid Nimpoeno | Penyunting Jia Effendi | Penata letak CDDC | Perancang sampul Muhammad Usman | Cetakn I, Januari 2016 | ISBN 978-602-385-023-5 | Penerbit Noura Books| Skor: 4/5

Karawang, 23-241218 – Tasya – Ketupat Lebaran
#PrayForBanten

A Game Of Thrones: Perebutan Takhta #29

image

“Atas nama Raja Robert dan dewa-dewa yang kalian sembah, aku meminta kalian menangkap lelaki ini dan membantuku mengembalikannya ke Winterfell untuk menunggu hukuman raja”
Sampai dengan akhir bulan Juni, dialog tersebut adalah yang terbaik dari semua buku yang saya baca tahun 2015. Sepertinya sederhana, namun dibalik itu semua. Segalanya (mulai) menjadi kacau. Karena setelahnya, tertulis, ‘Catelyn tak tahu mana yang lebih memuaskan: bunyi puluhan pedang yang dihunus bersamaan atau ekspresi di wajah Tyrion Lannister’.
Saya menerima novel tebal ini pada hari Jumat, 13 Maret 2015 saat pulang kerja. Terkejut, novelnya datang lebih cepat dari yang saya kira. Targetnya seminggu setelah terima akan saya review, namun sayang aktualnya tak sesuai. Sabtu – Minggu lembur, persiapan audit, pulang malam, lalu closing payroll membuatku sedikit susah mengatur jadwal baca. Semua buku saya singkirkan dulu, Jungle Book, 1984, The Screwtape Letters sampai The Sound and the Fury. Semua saya sisihkan demi buku ini. Saat akhirnya saya selesai baca saya malah sakit kemudian buku ini terletak begitu saja di rak. Satu hal yang pasti, kecepatan baca saya sudah ga seperti saat lajang. Sekarang saya tiap hari pastinya disibukkan Hermione yang kini sudah berumur 10 bulan. Saya hanya menikmati kesendirian dengan buku saat dia terlelap dan itu pastinya di tengah malam sampai subuh. Saat anak-istri sudah tidau dan tengah malam saya sendirian dengan buku adalah waktu yang sangat berharga. Dengan segala persiapan untuk mendapatkan kepuasan maksimal dalam membaca ‘GoT’ saya rasa setimpal yang saya dapat. Sebelumnya perlu diketahui, saya menutup segala informasi GoT dari segala sumber agar tak ada bocoran yang hinggap di kepala, ini sungguh sangat menyiksa. Saya hanya tahu GoT sukses besar di HBO. Dengan kesabaran tingkat tinggi, akhirnya penasaran itu terbayar sudah dengan terjemahan ini. Yah, walau tentu saja belum lunas karena bersambung. Berikut review saya:
A Game of Thrones (GoT): A Song of Ice and Fire #1, Perebutan Takhta. Cerita diambil dari sudut pandang beberapa karakter. Cerita dibuka dengan sebuah prolog, sebuah pengejaran Garda Malam terhadap orang-orang wilding. Tragedi terjadi, pengejaran gagal dan berujung petaka. Petaka yang disimpan sampai akhir cerita buku #1 ini. Karena setelahnya kita akan fokus pada konflik antar klan. Ada 5 klan utama yang memainkan peran:
1. Klan Baratheon, simbol: Rusa jantan, latar: emas. Semboyan: “Yang kami miliki adalah amarah”
2. Klan Stark, simbol: direwolf, latar: putis es. Semboyan: “Musim dingin akan datang”
3. Klan Lannister, simbol: singa emas, latar: merah tua. Semboyan: “Dengar Raunganku”
4. Klan Tully, simbol: ikan trout melompat, latar: perak. Semboyan: “Keluarga, Kewajiban, Kehormatan yang dijunjung tinggi”
5. Klan Targaryen, simbol: naga kepala tiga, latar: hitam. semboyan: “api dan darah”
Buku pertama ini menggunakan simbol kepala direwolf yang terpenggal. Dengan warna latar merah menyala dan tulisan putih khas salju. Bukan gambar sembarangan. Entah kalian memihak siapa, ‘Perebutan Takhta’ kurasa lebih condong ke klan Stark. Memberi daya kejut yang luar biasa di akhir yang pilu. Buku dimulai dengan sudut pandang Bran Stark, bersama saudara-saudaranya diajak melihat hukuman mati. “Kalau hendak mencabut nyawa orang, kita memiliki kewajiban moral untuk menatap matanya dan mendengar kata-kata terakhirnya. Dan kalau kita tak sanggup, barangkali orang itu tak pantas mati.” Sepulang dari eksekusi, mereka menemukan sukumpulan anak direwolf yang terlantar di dekat jembatan. Hewan yang awalnya dikira mitos tersebut diambil dan dipelihara oleh masing-masing anak Stark.
Lalu cerita fokus ke keluarga Stark. Eddard sang ayah adalah karakter berwibawa yang memimpin klan dengan bijak. Catelyn adalah istri yang selalu menyeimbangkan kebijakan klan. Anak-anak Stark: Bran yang pemberani yang hobi manjat. Jon Snow si anak haram. Robb si sulung yang mulai diajarkan berperang, Arya yang juga pemberani dan the lady Sansa. Semuanya memberikan kontribusi cerita yang pas. Saat sepertinya ini adalah keluarga yang sempurna, tragedi dimulai.
Raja Robert meminta Ned ke selatan untuk menjadi Tangan Kanan raja. Tentu saja Ed menolak ajakan teman lama tersebut, namun karena ini perintah raja mau ga mau Ed harus berangkat. Sebelum berangkat nasib sial menghampiri, Bran yang tak pernah jatuh dari hobi manjatnya malah ‘jatuh’. Kita tahu sebab jatuhnya karena saat kejadian diceritakan dari sudut pandang Bran. Namun siapa yang mendorong-nya disimpan rapat sampai pertengahan. Sebagai ibu, Catelyn larut dalam duka yang mendalam. Setelah Ed berangkat ke selatan, Jon bergabung dengan Garda Malam ke benteng utara, klan Stark dipimpin Robb yang masih sangat muda.
Keseruan dimulai. Raja Robert pamit. Takhta goyah. Seluruh klan berlomba merebutnya. Kepada siapa jabatan tertinggi tersebut dipegang tak akan kalian temukan. Karena buku setebal nyaris seribu ini hanya permulaan. Bayangkan, tulisan kecil-kecil, tebal ini hanya permulaan kisah. Hebat sekali Sir George RR Martin ini. Salah satu penulis besar abad ini!
“aku berani bersumpah, menduduki takhta ternyata seribu kali lebih berat daripada merebutnya” – Raja Robert. (halaman 40)
“kematian adalah akhir dari segalanya, sementara kehidupan penuh dengan kemungkinan”  – Tyrion Lannister (halaman 90)
“kebanyakan orang lebih suka menyangkal kebenaran yang menyakitkan daripada menghadapinya” – Tyrion Lannister. (halaman 129)
“Kenapa kau ingin menunggang kuda tua yang bau sampai badanmu sakit dan bersimbah keringat, padahal kau bisa duduk santai beralas bantal-bantal bulu dan makan kue bersama Ratu” – Sansa Stark (halaman 148)
“Perkataanmu melukaiku. Aku pribadi sejak dulu menganggap keluarga Star menjemukan, tapi Cat sepertinya sudah terpikat padamu, untuk alasan yang tak dapat kupahami. Aku akan mencoba menjagamu tetap hidup demi dia. Tugas yang konyol, terus terang saja, tapi aku tak pernah menolak permintaan istrimu. – Littlefinger (halaman 214)
“Rakyat bedoa untuk hujan, anak-anak yang sehat dan musim panas yang tak pernah berakhir. Mereka tidak peduli jika para bangsawan sibuk berebut takhta, selama mereka dibiarkan hidup tenang” – Ser Jorah (halaman 252)
“Cerita bisa menunggu tuan muda, kapan pun kau kembali kepada mereka, mereka selalu ada di sana. Tamu tak sesabar itu, dan kerap kali mereka membawa cerita mereka sendiri.” – Nan Tua (halaman 262)
“Kau belum juga paham, Lord Eddard. Tidak mempercayaiku adalah hal yang paling bijaksana yang kau lakukan sejak turun dari kuda” – Littlefinger (halaman 280)
“Para septon berkhotbah tentang tujuh neraka. Mereka tahu apa? Hanya orang yang pernah terbakar yang tahu seperti apa rasanya neraka” – Gregor (halaman 331)
“Mereka bilang keindahan malam memudar saat fajar, dan pikiran kala mabuk sering kali terlupakan ketika pagi datang.” – Ser Barristan (halaman 335)
“Semua lorong mengarah ke suatu tempat. Jika ada jalan masuk pasti ada jalan keluar. Rasa takut mengiris lebih dalam ketimbang pedang” – Arya stark (halaman 377)
Dan setelah kau mengetahuinya, lalu apa? Beberapa rahasia lebih aman jika tetap tersembunyi. Beberapa rahasia terlalu berbahaya untuk dibagi, bahkan dengan orang-orang yang kau cintai dan kau percaya – Ned Stark (halamana 394)
“Kebodohan dan keputusasaan sering kali sulit dibedakan” – Maester Luwin (halaman 453)
“Sebagian orang buta huruf meremehkan tulisan, sebagian lagi punya keyakinan takhayul terhadap kata yang tertulis seakan-akan itu semacam sihir” – Mord (halaman 464)
“Semakin tua kebutuhan tidurku semakin sedikit, dan aku sudah sangat tua. Aku sering melewatkan setengah malam bersama hantu-hantu, mengenang masa 50 tahun yang lalu seakan-akan baru terjadi kemarin.” – Maester Aemon (halaman 501)
“saat memainkan perebutan takhta pilihannya adalah menang atau mati, tak bisa setengah-setengah.” Cersei (halaman 545)
Dia berpura-pura sedang mengejar kucing hanya saja dia kucingnya sekarang. Dan jika tertangkap mereka akn membunuhnya. – Arya Stark (halaman 600)
Saat tidur dia bermimpi: mimpi gelap dan meresahkan tentang darah dan janji yang tak ditepati. Saat terjaga tak ada yang dapat dilakukannya selain berfikir. Dan pikirannya saat terjaga lebih mengerikan dibanding mimpi buruk. – Eddard stark (halamn 705)
Lelaki ini membawakun ke bawah bintang-bintang dan memberi nyawa pada anak di dalam tubuhku. Aku tak akan emninggalkannya.” – Dany (halaman 801)
“Hodor!” – Hodor (Amazing Tale all of time)
A Game of Thrones: Perebutan Takhta | by George RR Martin | copyright 1996 | Penerbit Fantasious | penerjemah Barokah Ruziati | cetakan pertama, Maret 2015 | XVI + 948 hlm; 13×20,5 cm | ISBN 978-602-0900-29-2 | yang satu ini untuk Melinda | Skor: 5/5
Karawang, 300615 – bukber NICI di KB
#29 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

A Painted House #10

Featured image

Pengalaman pertama saya dengan John Grisham berakhir menyenangkan. Kurang lebih 5 tahun lalu saya memiliki salah satu bukunya, beruntung sekali saya menemukan di tumpukkan buku murah, Rumah Bercat Putih sungguh seru. Ceritanya dituturkan dengan runut dan enak dibaca, mengalir dengan detail-detail mengagumkan. Gara-gara ini buku di pikiran sempat terbesit, bahwa untuk membuat plot seru tidak harus dengan kata-kata bombastis. Taruh detail-detail yang menggelitik dengan logika yang bisa dijangkau imajinasi lalu biarkan karakter memecahkan konflik yang dicipta. A Painted House mengajarkan bahwa sekuat apapun usaha kita melawan nasib sial, takdir juaranya. Speechless.

Dengan setting tahun 1950-an di Amerika, cerita dimulai di hari Rabu awal September 1952. Di hari itulah orang-orang pegunungan dan orang-orang Meksiko tiba di rumah kami. Mereka adalah buruh tani yang kami sewa untuk memanen kapas yang kini menjulang sepinggang ayah atau hampir melampaui kepalaku. Yup, cerita ini dari sudut pandang seorang anak yang jago mengamati sekeliling. Bercita-cita menjadi pemain bisbol untuk Cardinals. Luke, berumur 7 tahun. Seorang yang periang dan ramah. Sebagai anak petani, dirinya termasuk beruntung karena ekonominya berkecukupan, awalnya. Sampai akhirnya keputusan penting harus diambil.

Namun tahun itu ternyata hasil panen tak seperti kelihatannya. Konflik utama digulirkan dengan halus oleh John melalui para buruh. Ada yang hamil diluar nikah. Ada seteru yang mengakibatkan hilangnya seseorang. Ada perkelahian yang dituturkan dengan mendebarkan. Hebatnya Luke yang belum terlalu paham, diam-diam jadi saksi. Mungkin beberapa bagian tertebak, namun tetap konflik dan penyelesaiannya dieksekusi rapi. Jelas sekali dari pencerita yang handal dan berpengalaman. Saya meyakini buku ini terinspirasi dari masa kecil John, tentunya dengan dibubuhi imajinasi.

Sampai pada suatu hari Luke mengusulkan rumah mereka untuk dicat. Cat yang mahal ditengah krisis keuangan. Cat mahal seharga 14 Dollar 80 sen tersebut seakan jadi antidot kejadian-kejadian di sekelilingnya. Cat ternyata kurang, namun sesuatu yang dimulai harus diselesaikan. Dan bagian ini benar-benar menyedihkan:

Niatku baik, pikirku jadi mengapa aku merasa gundah? Aku mengambil kuas, membuka satu kaleng dan memulai tahap terakhir pekerjaan itu. Perlahan-lahan kusapukan kuas dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku menyeka air mata. (hal 519)

Buku ini dicetak dengan sederhana, terasa klasik. Tanpa testimoni pembaca sama sekali. Tanpa judul per bab yang otomatis tanpa tulisan daftar isi. Tanpa ucapan dedikasi yang menghabiskan satu halaman, kecuali se-kalimat: Untuk orangtuaku, Weez dan Big John, dengan penuh cinta kekaguman. Tanpa profil penulis. Tanpa banyak kata-kata pujian. Saya suka kesederhanaannya. Harusnya buku memang seperti ini. Seperti paragraf endingnya, saya juga tersenyum puas. Saya kecup bukunya dan berujar, “John, you are awesome…”

Setelah puas melihat pemandangan di luar, aku memandang ibuku. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi. Matanya terpejam, dan seulas senyum perlahan-lahan terkembang di sudut-sudut bibirnya.

A Painted House | by John Grisham | copyright 2000, 2001 by Belfry Holdings, inc | Alih bahasa: Hidayat Saleh | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Agustus 2001 | 560 hlm; 18 cm | ISBN 979-686-569-X | Skor: 4.5/5

Karawang, 100615 – Mirror Mirror

#10 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Boy Next Door: A Complete Mess

Noah: A woman like you should be cherished

Siapa yang sudah menonton The Girl Next Door pasti kecewa setelah menonton lelaki ABG sebelah rumah. Melihat teaser poster yang menggoda, sinopsis back-cover yang menggiurkan rasanya wajar saya berharap The Boy akan se-menggairah-kan The Girl. Sayangnya semua serba nanggung. Thriller nanggung, romance nanggung, drama apalagi. Karena serba nanggung itulah The Boy rasanya hambar.

Film dibuka dengan adegan yang menjanjikan. Claire Peterson (Jenifer Lopez) berlari sore hari dengan pakaian seksi, sesuai ciri film ini. Mengenakan pakaian tanpa lengan dan ear-phone terpasang, dia berkeringat. Tubuh seksinya masih (seolah) menjual. Sepintas diceritakan akibat pisah ranjang dengan suaminya, Garret Peterson (John Corbett). Tinggal dengan putra satu-satunya, Kevin (Ian Nelson). Suatu pagi saat Claire sedang mengeluarkan mobil dari garasi, tiba-tiba muncul remaja tanggung nan tangguh Noah (Ryan Guzman) yang membantu memperbaiki pintu garasi yang macet. Noah adalah tetangga barunya, yang membantu menjaga pamannya saat sakit. Dari perkenalan itulah muncul percikan asmara. Tatapan Noah terhadap tante-tante yang mengisyaratkan nafsu. Noah akhir belasan tahun, Claire sudah beranak satu.

Waktu bergulir, suatu akhir pekan saat suaminya sedang mengajak Kevin untuk berlibur panjang guna merayakan ulang tahunnya. Noah mengundang Claire untuk ke rumahnya, membantu memasak kue. Claire yang sedang mabuk setelah acara makan malam yang kacau datang. Terjadilah apa yang terlihat di trailer, menambah gelora dibumbui hujan rintik. Adegannya masih soft, tak ada gelora nafsu yang diperlihatkan secara vulgar. Wajar saja, Lopez ternyata adalah salah satu produser-nya jadi masih punya hak untuk ‘menjaga’ tubuhnya yang polos dari sorotan kamera. Saat pagi menjelang dan Claire sudah sadar sepenuhnya, dia sadar bahwa hubungan ini terlarang dan seharusnya tak terjadi. Namun Noah tak peduli, dia terlanjur cinta. Cinta mati penuh obsesi.

Cinta sebelah tangan ini akhirnya berbuntut panjang. Noah mengancam akan menyebarkan video panas mereka, yang ternyata di kamarnya dipasang cctv. Menyebarkan foto mesum di sekolah tempat Claire mengajar, dan ancaman mengerikan untuk membunuh bagi siapa yang menghalangi hubungan mereka. Rumit, psikopat, naif, sayangnya nanggung. Berhasilkah Claire menyelamatkan karir dan keluarganya dari ancaman ABG stress ini?

Secara keseluruhan The Boy jauh sekali kualitasnya dari The Girl. Setelah selesai menonton saya sempatkan diri menonton trailer-nya secara utuh. Dua menit yang sebenarnya sudah membuka benang merah cerita. Sayangnya film ini tak berani membunuh karakter utama, tak berani menampilkan sad ending, tak berani menampilkan bahwa fakta hidup dalam bayang-bayang nafsu itu pahit. Untuk sebuah film psikopat, kurang mencekam. Untuk film adult, jauh dari kata menggelora. Untuk film drama, tak ada sisi yang menyentuh. Akting Lopez tak bagus, akting Guzman kaku dan kurang mengintimidasi. Dan kita takkan pernah mendapatkan klimak (cerita) itu.

The Boy Next Door | Directed by: Rob Cohen | Written: Barbara Curry | Cast: Jenifer Lopez, Ryan Guzman, Ian Nelson, John Corbett | Skor: 2/5

Karawang, 120515

(review) Nighclawler: A Darkly Video Treat

“Aku tidak bisa membahayakan kesuksesan Perusahaan aku untuk mempertahankan seorang karyawan yang tak bisa dipercaya”

Wow, just wow. Film yang bagus, cerita yang disuguhkan sangat berkelas. Film dibuka di sebuah kota Los Angeles, Louis Bloom (Jake Gyllenhaal) di malam hari sedang mencoba mencuri pagar besi, kepergok petugas. Berpura-pura tersesat, Lou yang melihat petugas mengenakan jam tangan keren malah merampoknya. Pagar tersebut dijualnya kepada penadah, kepada penadah dia bilang butuh kerjaan. Dia pekerja keras, loyalitas, dan semangat tinggi. Dia meminta tolong untuk dimasukkan kerja, bahkan sebagai magang sekalipun. Namun dengan entengnya dia ditolak, “kami tak mempekerjakan seorang pencuri”.

Dari adegan pembuka kita sudah diberitahu bahwa Lou bukan orang baik-baik. Catat itu dengan benar, karena akan jadi pegangan kita sampai akhir film. Lalu saat dia mengendarai mobil menelusuri kota dia melihat ada kecelakaan lalu lintas, dia melihat dari dekat. Ada beberapa petugas sedang mencoba menolong korban, lalu ada pencari berita sedang mengambil gambar. Diperhatikannya dengan seksama, setelah dengar tawar menawar dengan sebuah stasiun televisi bahwa dia punya gambar berita kecelakaan kerja via telepon, harga video sang kameramen sungguh pantas. Tiga ratus dollar untuk sebuah rekaman sesaat. Dia pun mendekati kameramen, untuk meminta kerjaan namun ditolak mentah-mentah. Lou pun menyusun strategi untuk menjadi kameramen.

Dicurinya sebuah sepeda di pantai, lalu dijual dan duitnya buat beli kamera kecil, lalu dia search di internet untuk mempelajari kode panggilan darurat polisi, radio pemancar sampai menggunakan GPS mobil. Akhirnya momen yang ditunggu datang juga, dia berhasil mendapatkan gambar video bagus untuk dijual ke Tv-news, bertemu Nina Romina (Rene Russo) sang pimpinan berita pagi dia menjual seribu dollar, namun laku 250 dollar. Padahal dia tahu pasarannya bukan seribu dollar. Dari situ kita tahu, Lou adalah seorang business-man. Catat itu baik-baik, karena akan jadi pegangan kita sampai akhir film. Lou menabrak aturan jurnalistik, dan moral. Video yang dihasilkannya vulgar dan ekplisit.

Lalu dia pun buka lowongan untuk pekerja magang sebagai partnernya. Didapatnya seorang pemuda dengan latar belakang ga jelas, kerja serabutan, tempat tinggal ga nentu sampai pendidikan yang kurang. Debat di restoran saat interview ditampilkan dengan bagus, “sell your self!”. Tawar-menawar gaji, sampai akting gugup Rick (Riz Ahmed) yang menyakinkan. Dimulailah petualangan mencari video yang layak jual ke tv. Mulai dari kecelakaan lalu lintas, perampokan, kekerasan jalanan sampai pembunuhan semuanya terjadi di malam hari. Salah satu momen Lou mendapati kecelakaan lalu lintas, sang korban tergeletak diambilnya gambar tersebut. Namun karena angel-nya ga bagus, sang korban diseret di tengah untuk mendapatkan pencayahaan yang pas. Dari situ kita tahu, Lou orang yang licik, catat itu dengan baik-baik, karena akan jadi pegangan kita sampai akhir film.

Dalam sbuah scene dia menjelaskan untuk menjadi sukses, orang harus mengetahui potensi diri sendiri. Lalu mengetahui kelebihan dan kekurangannya, kelebihan itulah yang digali terus dan dikembangkan akan menjadi apa kamu kelak. Menjadi kameramen adalah pilihan karirnya dan dia yakin akan sukses di situ. Dari sini kita tahu Lou adalah orang yang cerdas. catat itu dengan baik-baik, karena akan jadi pegangan kita sampai akhir film.

Sampai akhirnya dia mendapatkan sebuah berita besar. Sebuah perampokan disertai pembunuhan terjadi, dia berhasil mendapat gambar sebelum polisi datang. Bahkan bisa merekam sepintas dua penjahatnya sebelum kabur, lalu direkamnya TKP pembunuhan di rumah besar tersebut beserta tiga korban penuh darah. Sampai detail ke dalam rumah. Ini akan jadi sebuah video dengan harga mahal, karena eksklusif. Benar saja Nina berani bayar 15.000 Dollar plus gratis gambar kecelaakn lalu lintas seorang kru kameremen. Bahkan Lou meminta dalam berita, nama production house (dadakan) dicantumkan dengan presiden-nya Lou. Sebuah lompatan karir. Rick dijadikan assisten / wakil presiden dengan kenaikan gaji dari 30 dollar semalam menjadi 75 dollar.

Puncak cerita, Lou mengetahui plat mobil pembunuh. Dari internet, dia berhasil menemukan alamat rumah lalu membuntutinya sampai di sebuah resto. Lalu dia menghubungi 911 bahwa dia melihat duo pembunuh. Lalu disiapkannya kamera untuk merekam penangkapan. Tahu bahwa ini akan jadi sebuah video ekslusif Rick meminta bonus. Sempat terdiam sesaat, Lou menyetujuinya. Sebuah pengambilan video berbahaya, berhasilkah?

Well, saya terpukau. Sebuah cerita yang sangaaaat bagus. Pantas sekali masuk best original screenplay. Seandainya menang, ya emang pantas walau jagoankua karya Wes Anderson. Akting Jake sangat keren, heran ga masuk nominasi best actor. Lebih bagus dia ketimbang Cooper. jadi benarkah cahaya akan lebih terang terlihat di malam hari?

Nightclawler | Director: Dan Gilroy |Screenplay: Dan Gilroy | Cast: Jake Gylenhaal, Michael Papajohn, Marco Rodriguez | Skor: 4.5/5

Karawang, 210215