Rekayasa Buah: Mengapa Aku Bilang Buku ini Jeleq

Rekayasa Buah oleh Rio Johan

“Oh, ini mah buah lupu.” / “Buah apa buah lupu ini?” / “Buah yang mahal, susah didapat di sembarang toko.”

Entah apa yang menjadi dasar pemilihan buku ini masuk ke 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2021. Buku ini jeleq. Aku sudah baca Aksara Amananunna yang menjadi buku pilihan Tempo 2014, jeleq. Aku juga sudah menyelesaikan baca Ibu Susu yang menang KSK 2018 untuk karya pertama kedua, jeleq. Sejatinya satu buku jeleq tak akan merentang buku lainnya, ingat prinsipku; first impress itu penting banget. Pengalaman membaca buku pertama seorang penulis akan sangat menentukan buku karya-karya lainnya apakah akan kunikmati atau skip maksimal, kecuali masuk daftar penghargaan Sastra. Nah, salahnya di sini, memberi pengecualian. Sejak tahun 2018 kuikuti KSK dan kubaca semua Prosanya. Dari ‘kecuali’ ini, keterpaksaan menghasilkan Ibu Susu dan Rekayasa Buah, dan terbukti, jeleq jeleq.

Kalau kubeli buku antah, tanpa embel-embel apapun, dari penulis tak dikenal, atau dengan genre diluar favoritku, atau iseng sahaja tetiba pengen berkelana, kalau jeleq atau kurang puas ya wajar dan tak akan terlalu komplain. Baca buku remaja, misalnya ekspektasiku juga dunia remaja dengan hingar bingar darah muda. Pas kubaca buku fantasi, Neil Gaiman misalkan, atau Jonathan Stroud yang kuharap tentu saja sebuah imaji. Buku-buku John Grisham tentang gugat menggugat di ranah hukum sebab keseharian sang penulis memang di bidang itu. Pengalaman membaca ribuan buku menciptaku untuk bisa menempatkan diri dan ekspektasi. Contoh kasus, pernah baca buku Ika Natasha, Divortiare jeleq karena ceritanya hedon dan tak terjangkau pemikiran jelata, bayangkan konfliks yang ditawarkan adalah memilih cowok, yang satu tampan yang satu kaya. Kata temanku Harsoyo Lee, itu sih tinggal milih merem. Dan saat baca-baca buku lainnya, sama saja. Maka berikutnya, tak kubaca lagi, atau tak akan kubeli lagi pas rilis buku baru. Memang sudah jadi pijakannya. Lantas pengalaman baca pula buku-buku Tere Liye (tahun 2015 pas ulang tahun dibelikan istri sepaket), jeleq juga sebab banyak jiplakan, dulu kukira sistem seperti ini adalah metode ATM, amati tiru modifikasi; tapi setelah kutelaah, kudalami lagi jelas buku si Liye ini banyak sekali mencuri ide penulis lain. Mencuri itu haram di bidang manapun. Sampling, dua buku saja, Rembulan Tenggelam di Wajahmu itu idenya Mitch Albom, lalu Negeri Para Bedebah ada klub duel bawah tanah, jelas sekali aturan mainnya mengambil dengan tanpa izin aturan baku Fight Club-nya Chuck Palahniuk. Dengan pengalaman itu, tak kubacai lagi keduanya. Seharusnya Rio juga.

Yang membedakan adalah, Rio dapat ‘amanat’ di daftar KSK, dan itu malah makin bikin jengkel. Ibarat film jeleq muncul di Oscar. Bah!

Rekayasa Buah mencipta banyak sekali varian kata baru yang bikin kzl, seolah turut merasakan buah busuk dilahap, pengen muntah. Contoh buah mangga dimofikasi untuk tujuan tertentu, bisa bikin wajah glowing, buat jadi obat kuat, diblender jus sehat, untuk obat kutu air, dst lantas dibuat nama baru dan diadakan dalam perdebatan para peneliti. Sejujurnya mau milih nama jadi manggoooooooo, atau mang amang-beego, e-mango, mang jago, terserah dan tak memengaruhi cerita. Cuma kreatifitas tak jelas aja ini sih. Dikira membuat kata baru itu terlihat keren, bah! Enggak bro. sama seperti orang-orang yang suka mengutip kata-kata Pram atau Eka Kurniawan atau Ayu Utami, tak lantas otomatis jadi keren. Esensi membaca buku kan cerita, esensi keren bukan dengan menyebut kata sulit, sampai-sampai memodifikasi jenis hurufnya. Bukan begitu caranya, Vicky Prasetyo akan tertawa ngakak mendengarnya. Mencipta kata baru kalau ada sangkut paut kisah masih sah-sah saja, misal Lord Voldemort yang tampak unik dan aneh, ternyata di buku dua dijelaskan sebuah anagram. Itu baru kelas. Ada alasan mengapa memilih nama itu. Dalam buku ini, ada nama dengan semua konsonan semua: ‘Symphymphymm’, atau nama buah ‘snollygosterslang-whangersnickersneeberi’ hahaha, kata Bung Takdir temanku, “Biasalah masih ada yang anggap karya bagus itu kalau kosakatanya aneh aneh.”

Rekaysa terdiri atas sepuluh cerpen, saling silang beberapa cerita seperti Korporasi Hayati yang mewadahi penelitian, muncul di banyak paragraf. Kesemuannya enggak jelas, mencoba revolusioner dengan melihat masa depan, jauh di dunia antah dengan nama-nama kota modifikasi sendiri, sayang dibarengi plot cemen. Contoh, seorang bintang iklan buah yang tersingkir, dikagumi oleh kakek tua yang meninggalkan warisan melimpah untuknya. ‘Orang asing’ yang beruntung, yang material-oriented. Itu template di abad sekarang juga bisa, iklan kosmetik misal dengan mal-praktik dokter yang mengacaukan wajah bintangnya. 

Atau dalam Buah untuk Diktator Terakhir di Muka Bumi, seorang peneliti mempersembahkan buah untuk pernikahan kesekian-sekian-sekian, sekadar kudeta dengan buah sebagai pelurunya. Dalam Misteri Visiceri ada abtraksi dan kode-kode gaul dengan tulisan di kanan-kiri, dibolak-balik, bah tak ada esensi. Blink-blink kek Smash Blast. First thing first story! Gaya taruh di belakang aja. Ini memenuhi halaman, aku baca sambil nguap dan malesi tenan.

Dalam cerita Beri-beri Berlipat Ganda, perhatikan halaman 51 dalam memberi nama bisa sehalaman penuh/dua tiga halaman lainnya membahas penamaan juga, dan tak terlalu menautkan kepentingan dalam kisah, mau namain cerybel, cerytel, cerybah, ceryoletel, ceryceryjingan anggak krusial, nggak ngaruh, nggak ada eksotik-eksotiknya, kalian muak ga sih? Bayangkan ada 70-100 nama baru tiap tahun, syukur saja sih bukunya tak muncul tiap tahun. Simpan uang kalian, selamatkan waktu kalian, nikmatilah karya yang lebih bermutu. Inilah fungsi blog ini, inilah manfaat rekomendasi.

Dengan komposisi ini, satu buku lainnya Buanglah Hajat Pada Tempatnya jelas skip keras. Aksara Amananunna adalah buku debut kuberi skor 2 dari 5, Ibu Susu sama saja, permainan kata dengan plot nggak jelas, dan karena aku terjatuh di lubang yang sama, skor sejatinya bisa identik, tapi aku drop jadi 1.5. Satu utas yang menghubungkan ketiganya adalah, Rio suka sekali mencipta kata baru, dikira keren kali ya. Cerita ngawang-awang, padahal cerita bagus harusnya bisa ‘in’ dengan pembaca, kata Penulis favoritku Cak Mahfud, nulis cerita tuh tak perlu rumit dan tak perlu ndakik-ndakik.

Ketika membaca apapun genre dan jenisnya ekspektasiku juga mengikuti kok. Memang sulit mencerita masa depan. Akan salah bila aku mengharap sehebat Brave New World yang melihat masa depan gemilang. Atau Do Adroids Dream of Electric Sheep yang melihat dunia replikan menjadikan nyata/maya jadi abu-abu. Enggak. Kalau ada yang komplain, membandingkan buku klasik, baik aku aku kasih contoh sastra modern yang terbit tahun 2010-an. Baca buku-buku Yusi Avianto Pareanom, semuanya gemilang. Raden Mandasia bisa jadi adalah masterpiecenya. Atau Mahfud  Ikhwan dengan Dawuk-nya (aku nyebut dia lagi ya), itu kisah tanpa kerut kening juga bisa langsung ‘masuk’. Kebetulan dua itu menang KSK. Kalau usia dijadikan patokan, baik penulis muda yang mencipta buku bagus yang pernah kubaca juga ada, semisal Faisal Oddang dalam Tiba Sebelum Berangkat; atau Sabda Armandio Alif dalam 24 Jam Bersama Gaspar. Lihat dan rasakan kualitasnya.

Pasca membaca Rekayasa, aku butuh netralisir keadaan kalau tak ingin muntah. Untungnya ada Haruki Murakami, Kronik Burung Pegas seratus halaman langsung kulahap, dan benar-benar nyaman sekali. Lihat, seorang Haruki saja bercerita tentang keadaan sehari-hari. Pria kesepian ditinggal pergi istrinya, yang lantas merespon keadaan dengan apa adanya. Dan buku Looking For Alaska-nya John Green tentang remaja yang menempati sekolah asrama lantas jatuh hati. Sederhana ‘kan. Dan dibawakan dengan indah pula! 

Cerita bagus memang harusnya aktual, dan masa lalu selalu aktual. Mencerita masa depan, hanya berandai, mengangan, mengumpamakan; tahun 2050 mobil udah bisa terbang, tahun 2060 manusia bisa makan pil sebagai pengenyang, tahun 2070 ilmu bisa diinjeksi, tahun 2080 lorong teleport sudah dirancang, tahun 2090 buah direkayasa dari batu, tapi boong! Beda sama bercerita tahun 1945 terjadi Perang Dunia Kedua, dan kakekku turut memanggul senjata, terdampar di parit saat pasukan Jepang melakukan pembersihan, sebutir peluru melukai kakinya sehingga ia harus terpincang-pincang saat menyelamatkan diri, andai raganya tak kuat, bisa jadi aku takkan lahir, dst. Kita bisa langsung ‘in’ serta pembaca diajak bersafari di alam fantasi, dalam sisipan sejarah ada, dan logikanya bisa di-pas-kan. Buku yang berhasil adalah buku yang bisa melibatkan pembaca secara emosi.

Rasanya tak ada habisanya mengupas buku ini, seperti buku bagus, aku mengetik dengan semangat, begitu juga buku jeleq, aku mengetik ini dengan semangat mencerahkan. Aku tutup saja cerita curhat sore ini, habis lari sore bau keringat, kututup dengan kutipan dari penulis favoritku (wah favoritnya banyak ya), Gabriel Garcia Marquez bilang, “Tugas seorang penulis adalah menulis dengan sebaik-baiknya.” Mau ditulis di tanah kelahiran atau di tanah seberang atau di dunia jauh, mau ditulis di mana saja, tujuannya adalah agar penulis berbakti pada bangsanya.

Salam hangat dari korporasi haryati. Istighfar Bud.

Rekayasa Buah | Oleh Rio Johan | GM 621202011 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Teguh Afandi | Ilustrasi isi dan sampul Martin Demonchuax | Desain sampul Isran Febrianto | Desai nisi Ayu Lestari | Cetakan pertama, Juni 2021 | ISBN 978-602-06-5332-7 | ISBN Digital 978-602-06-5333-4 | Skor: 1.5/5

Karawang, 131021 – Billie Holiday – Me, My Self, and I

Empat sudah, tersisa enam.

Thx to Dojo Buku, Jakarta Barat. Thx to Titus Pradita, Karawang. Thx to Richard Oh, atas rekomendasinya.

Zaman Meleset; Melaju Kencang

Penyair Revolusioner by Deddy Arsya

… aku membujukmu dengan bibir entah milik siapa: / “di sini, kami sama-sama sedang berbahagia!”… – Doa Para Pasien

Alurnya agak lambat, untung di tengah sampai akhir langsung kebut seru. Bagus banget saat halaman mulai di 50-an. Hufh… lega. Dimula dengan Jembatan Ambruk, meninggi dalam Sapi dari dalam Kitab Suci, lalu meledak bungah dalam Revolusi angsa Putih. Saya memang masih sulit menikmati puisi, tapi setidaknya di Penyair Revolusioner mendapat hikmat dan cumpuan asyik. baca baik-baik ini, “Hidup kadang-kadang saja lembut maka senjatamu teruslah asah, aku berdiam pada gagangnya!” 

Seperti sebelumnya saat ulas puisi, saya ambil beberapa yang memikat. Saya kutip sebagian dan kuselingi komentar. Satu kutipan, satu paragraf komentar. Enjoy it!

Musa di Sinai: Kami telah lewati / badai-badai kecil / diaku pendek saja: / Tuhan, kami ini hendak apakan?

Mungkin yang menjadi saran atau kritik adalah, dalam penyampaian kalimat langsung, sering kali ditutup dengan tanda perintah (!) seolah marah atau meminta perhatian, itu sah-sah saja tapi ya agak mengganggu kalau keseringan. Kutemui, banyak sekali. Seperti penulis mula yang sering menggunakan tiga tanda perintah (!!!), awalnya mungkin biasa, tapi jelas itu kurang nyaman.

Kota yang Terkunci dari Dalam: Pintu-pintu dari baja / engsel-engsel besar / dan kunci dengan gembok berkarat / dinding-dinding berwarna cokelat / lumut-lumut yang menjalar / dipisahkan oleh gang-gang / sunyi seketika menyergap / suara Anda lama bersipongang / seakan sedang berada dalam gua – atau gulag? / ketika melihat keluar, betapa hidup terasa terpisah dari keriuhan…

Janji, sumpah, maklumat. Sering kali kita temui dalam puisi. Cerita yang diberikan adalah sebuah kalimat terlontar yang dipegang, memegang angin? Seolah kata-kata bisa diperas, kali ini terlambat.

Nubuat yang Datang Terlambat: … “Aku bersumpah demi awan gelap ini / yang turun setelah petang hari / Aku sama sekali tidak benci padamu / aku berkata begini agar hatimu senang / tapi Aku mesti menyingkir / tapi bukan pertanda mangkir!”…

Paling suka puisi yang bercerita, maka narasi bagiku penting. Setiap bait yang diketik, memberi aura, bukan sekadar pilihan diksi. Maka saya suka puisi ini:

Membangun Kota: Memang ada kota yang didirikan dari gerutu / dari derap omong-kosong tak sudah-sudah! / Lalu mereka berkata: kita mesti atur itu siasat, / masa depan hanya diraih dengan gelegak hasrat / harus kau pilih jembatan antar selat atau kapal pengangkut / segala / pesawat-pesawat semakin sering jatuh dan orang-orang / takut terbang / padahal kelak oto dan sepur akan diberi sayap / “tapi maaf, ya, penyair partikelir seperti anda susah dibawa serta!”

Karya sastra lama juga disenggol, sudah sangat sering kusaksi dan nikmati. Kali ini dari Marah Rusli yang dikomplain oleh tokohnya.

Sitti Nurbaya di Pasar Gadang:Aku bayangkan ruh Nurbaya berkata: / pengarang celaka telah mendorongku ke jurang neraka!…

Beberapa terasa pengulangan, seperti sapi betina yang ada di kitab. Awalnya wah, ayat suci dikutip, tapi terulang di belakang, dan lagi.

Sapi dari dalam Kitab Suci: … Sapi betina yang luka pada pantat / menggoyang-goyangkan telinganya / yang kempis-kembang bagai hasrat pada kerampang / dia terpancang pada tambang / hingga larut malam / di padang-padang kuning / dikebat gelap begini lindap / kau tinggikan obormu ingin menangkap / “wujud, wujudmu, kami hendak!”

Ini yang bagiku ironi, jam 12 tutup saat adzan dhuhur, lantas kegiatan lanjut sampai adzan asar? Bagiku, bait terakhir adalah asar sebab dua adzan disandingkan di tengah hari.

Bank Tutup Jam 12 Siang: Bank tutup jam 12 siang, suara azan bagai bunyi perut lapar, / (banyak kejadian tertuang; puisi ditutup dengan begini) / suara azan terdengar lagi bagai suara kentut yang tertahan

Ini tentang fantasi, tukang bakso yang dikerumun pembeli, merdu sekali gema gentanya.

Gunung Api Fantasi: Ada tukang bakso lewat setiap sore / membunyikan genta sebagai tanda, aku mengira yang lewat / gerombolan sapi, orang-orang memburunya bagai arak- / arakan ke kuburan. Tia ada di antara / riuh karnaval itu, para pembeli berbicara dengan ibu / sambil menutup kedua telinga,…

Nah, narasi itu penting. Tak hanya di puisi, dalam prosa penyampaian yang tepat dan nyaman juga menjadi nilai lebih. Ini juga bagus sekali, bagaimana mudik menjadi petaka. Lantas diakhiri dengan semacam pemakluman kata ‘jihad’, padahal ia melontarkan sendiri dari kereta yang bergerak.

Kereta Lebaran: Dari atas kereta yang lewat malam / seorang pemudik yang penat berdesak-desakan / memutuskan / lompat kea tap rumah, melesat, bagai batu dilontarkan / orang-orang dalam rumah terpekik, ‘sialan!’, ‘anjing hutan!’ / mereka mengira sedang terjadi kerusuhan antarsuporter / sepakbola / mereka mulai menghitung-hitung berapa nilai kerugian / harus mengganti plafond an genteng-genteng yang rusak / sementara ‘si batu’ yang terlontar itu berguling-guling ke tepi / rel / persis batu, beradu dengan batu lain yang lebih besar / nun di kampung, keluarga yang mati berkata: / Dia wafat dalam berjihad!

Kutemui kata baru ‘aur’, belum kubuka kamus, dari web google artinya emas (bahasa Rumania). Namun dari web sinomim artinya: bambu/buluh. Mungkin pulang kerja nanti saya buka KBBI kertas sahaja.

Kau Tebing Aku Aur: … tetap tak bisa ia dilerai / katanya kau tebing aku aur / tiap runtuh padamu / riuh rusuh padaku…

Kenapa saya pilih kutip ini, sebab pagi disiram mentari itu nyaman dan segar sekali. Bahagia itu sederhana walaupun masih ngontrak.

Cinta Musim Panas (1): Kau boleh mencintaiku dengan rasa jijik / yang terus-menerus naik ke kerongkonganmu / tapi aku akan tetap membajak luas sawahmu, menjadi sapi, atau kerbau untukmu… / Kita akan bahagia disiram cahaya matahari jam tujuh pagi, / kita akan bahagia memiliki rumah /  yang bukan milik pribadi…

Sederhana tapi pas, cinta yang dimetamor dalam salak aning malam.

Cinta Musim Panas (2): … Cintaku adalah kasmaran sepanjang waktu. / Cintaku semata salak anjing dalam kegelapan!

Pemilihan kata beriak, lalu berdebur, lalu melipur. Enak didengar bukan?

Selesai ke Laut: … yang aku kira lebih ganas dari ombak memukul / Rasanya tak kutinggalkan engkau / yang beriak, yang berdebur, lebih melipur

Ini lebih ke realistis, ayolah kita hidup di kerasnya keadaan. Omong kosong lebih pas ketimbang angan-angan.

Pulang Malam: … Aku tak percaya pada impian yang menggebu-gebu. / Kita sebaiknya memelihara omong-kosong untuk bisa / berbahagia / aku tidak bisa menangkapmu lebih jauh lagi.

Demikian pengamatan dan komentar penikmat puisi amatir. Semoga berkenan. Seperti biasa pula, setiap buku debut baca kuketik ulang profil penulis/penyairnya.

Deddy Arsya lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera, 15 Desember 1987. Banyak tulisannya di media massa: esai, puisi, cerpen, tinjauan buku dan film. Buku pertamanya kumpulan puisi Odong-odong Fort de Kock (Padang, Kabarita, 2013) merupakan lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2013, dan merupakan Buku Satra Terbaik 2013 versi Majalah Tempo. Bukunya yang lain, Mendisiplinkan Kawula Jajahan (Yogyakarta, Basabasi, 2017), Rajab Syamsuddin si Penabuh Dulang (Yogyakarta, Divapress, 2017). Ini buku pertama bung Deddy yang saya baca, dan rasanya laik dinanti buku-buku berikutnya.

Tahun ini target melahap 12 buku puisi, masih empat bulan lagi, dan percayalah, akan kukejar walau para ‘Penyair Revolusioner.’

Penyair Revolusioner | Kumpulan Puisi | by Deddy Arsya | 57.17.1.0037 | Penyunting Septi Ws | Desainer sampul Studio Broccoli | Penerbit Grasindo, 2017 | ISBN 978-602-375-961-3 | Cetakan pertama, Juni 2017 | Skor: 4/5

Karawang, 310821 – David Sanborn – The Dream

Thx to Dea (GK)

The March: Rumit sejak Bab Pertama

Kau tidak boleh mereduksi kehidupan menjadi sentimen-sentimen saja, Emily.

Perang saudara di Amerika abad 19 yang menelan banyak korban dari tahun 1861 sampai 1865 antara Utara versus Selatan. Utara menuntut penyatuan disebut Union, Selatan meminta kemerdekaan dari Amerika Serikat yang membentuk Konfederasi. Tuntutan tentang perbudakan yang lanjut atau dihapus menjadi isu penting nan krusial. Ada kekayaan begitu melimpah yang dapat diperas dari tenaga budak; karena itu, tidak heran bahwa orang-orang ini mau berjuang sampai mati. The March ada di masa itu, seperti perang itu sendiri yang rumit, penceritaannya juga mencipta pusing sebab tak ada tanda kutip untuk kalimat langsung.

Perang ini bisa juga disebut mempertahankan kehormatan. Para wanita tidak menciptakan perang – mereka tidak menaiki kuda sambil mengayun-ayunkan pedang dan berteriak-teriak tentang kehormatan dan kemerdekaan.

Terbagi dalam tiga kota: Georgia, Carolina Selatan, Carolina Utara. Tiga tempat ini adalah Wilayah selatan jadi perang dalam March semua settingnya di sana. Total ada sebelas negera bagian, empat yang lain: Mississippi, Florida, Alabama, Louisiana. Lalu Virginia, Arkansas, Tennessee. Tokoh asli dalam sejarah Jenderal William Tecumseh Sherman menjadi sentral kisah ini, walau mengambil sudut pandang yang lain, dan tak ada yang dominan, tetap saja pemimpin ini yang menjadi acuan kisah, termasuk percobaan pembunuhan terhadapnya.

Mereka meninggalkan tempat itu, rombongan kulit putih dan hitam, mengikuti garis debu sinar matahari yang akan membawa mereka ke arah tenggara langit Georgia.

Semuanya ada sebelas jenderal. Dan kisahnya panjang berliku. Ada Pearl, Pearl, laki-laki aneh ini, pada kenyataannya adalah gadis. Dalam perang, walaupun ia berkulit putih, dia pastilah seorang negro. Seorang budak wanita di Selatan yang bimbang akan nasibnya, akankah mengikuti saran teman-temannya atau menyongsing impiannya, merdeka dan menikahi lelaki idamannya yang berkulit putih.

Ada Kolonel Wrede Sartorius seorang dokter bedah lulusan Jerman yang menjadi petugas lapangan. Ia menjadi saksi keganasan perang, banyak individu mati di tangannya akibat kegagalan penanganan, begitu banyak pula yang selamat, tapi harus cacat permanen. Ia membawa perlengkapan operasi dalam tasnya, termasuk gergaji dan palu.

Lalu ada dua tentara Konfederasi Arly dan Will, ini bagian paling menarik. Sedih sekali di adegan meminta kuda, lalu salah satunya tewas sebab yang sederhana. Mereka adalah pasukan biasa, maka kalian akan menemui banyak kekonyolan. Saling canda, saling tawa, ke rumah pelacuran, hingga perampokan gereja. Pada akhirnya membelot ke Union.

Dalam perang antar Negara bagian ini, mengapa alasan untuk bertempur harus punya arti? Karena jika kematian tidak penting, mengapa kehidupan itu penting? Kata Arly: jika ada suatu alasan yang bagus untuk perang, itu bukanlah untuk menyelamatkan Union, dan tentu saja bukan untuk membebaskan orang-orang negro, tidak ada hubungannya dengan apa pun kecuali untuk mendapatkan seseorang perempuan milikmu sendiri, atau bahkan milik orang lain, di tempat tidur bersamamu saat kamu mau.

Emily Thompson, anak hakim yang berduka. Setelah kehilangan ayahnya, ia linglung, ia adalah orang kaya, bangsawan yang tak siap menjadi kere. Ia menjadi perawat dalam tenda perang, kekasih Kolonel Sartorius. Meradang akan situasi ini. Ketika perang dimulai, Emily belum mengerti arti perang. Perang berarti kematian setiap orang dalam keluarganya. Perang berarti kematian keluarga Thompson. Tetapi kemudian anak itu ragu-ragu.

Semuanya digulirkan secara bergantian, ada penjarahan kota di mana saat kota sudah ditaklukkan maka semua harta yang tertinggal berhak diambil. Milledgville hancur – jendela-jendela pecah, kebun-kebun terinjak-injak, barang-barang di toko-toko dijarah. Setelah itu dibakar, bersama angin yang melaju di atasnya, semarak letusan tembak malah menambah kesedihan.

Ada kepiluan saat korban perang adalah para pemuda, mati muda. Pada pagi hari dia mengetahui bahwa Willie Hardee, anak laki-laki berusia enam belas tahun putra Jenderal Konfederasi Hardee, telah meninggal dalam pertempuran di Bentonville, Sherman kembali ke kamarnya dan menangis. Mungkin penderitaannya yang terbesar adalah ketika kehidupannya sebaga tokoh publik dan kehidupan pribadinya berbenturan.

Sungguh tak wajar dalam usia seperti itu karena, bertentangan dengan rencana aung Tuhan, anak muda lebih dulu kehilangan nyawanya sebelum yang tua. Disebutkan dalam al kitab Perjanjian Lama (seingatku), “Saat dedaunan jatuh yang lainnya akan tumbuh, demikian juga yang terjadi pada keturnan daging dan darah (manusia), saat satu mati yang lainnya akan lahir.”

Perang di abad 19 tampak klasik dengan kuda, strategi parit, senjata bedil seadanya, hingga komunikasi terbatas. Kuda-kuda diikat ke tiang-tiang lampu. Dia mendengar suara musik aneh, dan saat memasuki Capitol Square dia melihat sebuah tarian yang berlangsung di bawah cahaya obor. Dia tidak sedang berpikir, hanya mencoba untuk mengendalikan kudanya yang panik yang mendompak dengan satu tangan sementara. Tetapi kudanya menginjak-injak mayat dan kemudian barisan kuda-kuda dan para penunggangnya berdiri di sekelilingnya.

Untungnya jelang akhir kisah, buku ini meledak. Sebuah Studio fotografi Josiah Culp mendapat kehormatan untuk mengabadikan momen para jenderal berpose. Di sana ada penipuan, ada teror, bahwa Culp bukanlah Culp, ada penghianat yang siap mengacaukan keadaan. Akhirnya memang ketebak, di mana novel berakhir di sejarah terbunuhnya Presiden Linconl 14 April 1865. Di sini, ujung kisah itu menjadi pelajara berharga, betapa harapan selalu ada, optimisme wajib dipupuk. Seperti sejarah perang saudara itu sendiri, di mana perbudakan diakhiri, kisah The March meninggalkan duka mendalam lalu menyongsong hari esok yang lebih menjanjikan.

Ditulis dengan narasi panjang nan puitis. Tetapi kalau kau dengar paduan suara lolongan artinya cuma satu: kau berada di Neraka. Bagaimana seandainya orang-orang yang tewas itu bermimpi sebagaimana orang yang tertidur bermimpi? Bagaimana kita akan mengetahui bahwa tidak ada pikiran setelah kematian? Atau bahwa kematian bukanlah suatu keadaan bermimpi yang dari situ mereka tewas tidak dapat bangun? Dan mereka terjebak di dalam alam yang mengerikan dari teror-teror yang samar-samar seperti yang kuketahui dalam mimpi-mimpi burukku.

Selain fotografi yang merupakan barang baru, menjadi penggerak alur. Ada jurnalis yang mencatat kisah-kisah ini. Hugh Pryce, wartawan dari times London. Ia memberi makna di setiap kejadian, netral? Tampaknya, tapi di dunia ini setiap individu selalu ada kecenderungan. Kemuliaan sejati adalah kebahagiaan yang tak pernah bisa diungkapkan saat melakukan perintah Tuhan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada rasairi di sana, tidak ada sanjungan yang akan meledak di wajahmu.

Api juga bisa mati, seperti manusia saja. Pikir Stephen. Ketika hidup menyala-nyala, sedangkan kematiannya begitu dramatis. Seakan-akan dia berkata: aku sudah berakhir, kalah, kau sedang melihat kematianku. Jenderal Konfederasi, Hampton ketika mundur adalah orang yang memerintahkan pembakaran kapas. Dibantu angin, pasukan pemberontak sendirilah yang membakar Columbia.

Sherman yang legendaris, dipuja bak dewa. Padahal pemujaan terhadap Sherman ini adalah penghujatan, sebab ia bukan Tuhan kalian. Perdagangan budak telah berakhir, apa kamu tidak dengar? Tidak bisa membeli atau menjual orang lagi. Merasakan kekaguman mereka ketika dia mengungkapkan penghargaan pada mereka dengan caranya yang aneh, melalui gerutuan dan anggukan.

Dia sedang melihat refleksinya dalam cahaya yang lembut dari lampu gas. Apakah kita tidak punya jiwa? Lalu apakah yang kudengar ini kalau bukan jiwa yang tercurah dalam musik? Aku sedang mendengar ungkapan jiwa…

Stephen pernah menyaksikan sendiri kengerian dalam pertempuran, dia tetap tak sanggup melihat prosedur pembedahan, dan jatuh mentalnya mendengar suara-suara kesakitan di mana-mana, dan menyaksikan betapa banyaknya penyakit yang dapat menimpa begitu banyak umat manusia…

Ini adalah buku pertama E. L. Doctorow yang kubaca, rumit tapi nagih maka buku lainnya kalau ada kesempatan baca, akan turut kulibas. Menang PEN/Faulkner award, dan finalist Pulitzer Prize 2006, serta finalist 2005 National Book Award. Selain ini beberapa novel terkenalnya, City of God, Welcome to Hard Times, The Bookof Daniel, Ragtime, Loon Lake, Lives of the Poets, World’s Fair, Billy Billgate, dan The Waterworks. Ia tinggal di New York.

Dunia dalam perang membuat hatinya bersedih. Bahasa adalah peperangan dalam bentuk lain. Dan takdir? Dalam perang, takdir adalah suatu kebetulan. Waktu berlalu, segala sesuatu berubah dari waktu ke waktu, hanya foto yang tersisa dari masa lalu itu.

The March | by E.L, Doctorow | Copyright, Random House Publishing, 2005 | Penerjemah Rahmani Astuti | Penyunting M.S. Nasrullah | Cetakan I, Januari 2007 | Penerbit Q-Press | Desain sampul gBALLON | Tata letak Tito F. Hodayat | Montase Ruslan Abdulgani | ISBN 979-1174-05-9 | Skor: 4.5/5

Helen

Karawang, 250821 – Ella Fitzgerald feat. Louis Armstrong – April in Paris

Thx to Buku Vide, Yogyakarta  

Di Kota Kucing, Manusia adalah Pengunjung

“Aku sangat menyukainya. Dia memiliki kebanyakan kualitas yang luar biasa. Tetapi terkadang sulit bagiku untuk mengikuti cara berpikirnya yang ekstrem…”

Memang jaminan mutu, penulis idola, pengarang terbaik modern yang masih hidup hingga saat ini. Setiap tahun kujago menang Nobel Sastra, maka semua buku terjemahannya coba saya nikmati. Kota Kucing dan Kisah-kisah Lainnya diterjemahkan entah dari mana, sebab di identitas tidak dicantumkan. Diambil dari berbagai sumber? Ya sepertinya, satu cerita adalah nukilan novel 1Q84, awalnya sudah familier. Kisah Tengo terbaca alurnya bahkan di halaman pertama. Saya baru baca books one, belum finish di seri tiga, tapi pijakannya sama. Apakah ini sejenis cerpen yang dikembangkan menjadi novel? Atau kumpulan cerpen ini adalah versi padat sebuah buku besar? Kreatif sekali kalian, kalau segitunya. Hanya kalian yang sudah baca riwayat Tengo, atau orang dibalik Penerbit Odyssee yang tahu.

Ada enam cerita, dan semuanya keren.

#1. Samsa Jatuh Cinta

Dia terbangun dan menemukan dirinya telah bermetamorfosis menjadi Gregor Samsa. Pembuka kisah yang to the point. Pijakannya jelas dari novelet Franz Kafka dimana Samsa terbangun suatu pagi menjadi seekor kecoa. Kali ini dibalik, seekor kecoa menjadi manusia. Kok bisa? Biasanya saya kurang suka cerita terkenal yang sudah menjadi ikon, lalu diburai dan dikembangkan oleh penulis lain. Namun kali ini jelas pengecualian, sebab jadinya malah terlena, terbuai akan nasib Samsa.

Samsa terbangun dalam kebingungan, dan memertanya kenapa jadi manusia? Dia tidak berubah menjadi ikan saja? Atau bunga matahari? Setidaknya, menjadi ikan atau bunga matahari lebih masuk akal daripada menjadi manusia – menjadi Gregor Samsa. Seandainya aku berubah menjadi ikan atau bunga matahari, aku bisa menjalani hidupku dengan damai, tanpa harus berjuang untuk naik atau turun tangga seperti ini. dalam keadaan lapar, ia turun ke halaman rumah yang terbentang meja penuh makanan. Saking laparnya, dia tidak peduli dengan ras. Hambar atau lezat, pedas atau asam, baginya semua rasa sama.

Samsa tidak tahu dari mana pengetahuan berasal. Mungkin terkait dengan ingatan berputar yang ia miliki. Setelah kenyang ia lalu menyusun kepingan info. Saat itulah muncul gadis panggilan, yang bertugas membetulkan kaca. “Gregor Samsa, kamu adalah orang yang menyenangkan untuk diajak bicara. Kosa katamu kaya, dan selalu sampai ke intinya…”

Mereka ada di masa perang, era asli kisah ini. Praha yang bergolak, di mana-mana banyak tentara yang berjaga. Penjelasan sang gadis, untuk sampai rumahnya butuh perjuangan ekstra. Ia bukan ahli kunci, tetapi sebagai tenaga pengganti sementara. “Segalanya berantakan akibat bom di sekitar kita, tetapi masih ada yang peduli dengan lubang kunci yang rusak… mungkin mengerjakan hal-hal kecil dengan patuh dan jujur adalah cara untuk menjaga kewarasan di tengah dunia yang sedang kacau.”

Lubang kunci yang rusak ada di lantai atas, dan setelah banyak kecanggungan, basa-basi, sampai fakta aneh bahwa di masa itu, masih ada yang peduli kunci yang rusak terdengar janggal. Yang pasti Samsa jatuh hati padanya. “Jika kamu memikirkan seseorang dengan sungguh-sungguh, kamu akan bertemu dengannya lagi.”

Segalanya gelap: masa depan, saat ini, dan masa lalu. Mana yang benar dan mana yang salah? Samsa yang baru saja jadi manusia, memertanya banyak hal. Dunia sedang menunggu untuk dipelajari. “Aku tidak bermaksud kasar. Aku tidak sehat, ada banyak hal yang tidak kumengerti.”

#2. Pisau Berburu

Waktu berlalu dalam diam. Mungkin yang paling lemah sebab endingnya paling biasa, kalau tak mau dibilang datar. Narasinya panjang nan berbelit. Jadi suami istri yang sedang melakukan liburan, menginap di hotel dekat pantai, memperhatikan sekitar. Termasuk tetangga mereka yang unik.

Rutinitas sebagai sesama tamu, walau tanpa saling sapa mencipta keakraban tanggung. Dan di hari terakhir sebelum check-out, ia bertemu dengan sang pemuda Amerika tersebut. Di dini hari yang sunyi di dekat kolam hotel. Terjadi diskusi menarik. “Ketika Debussy tidak mendapatkan tempat di dalam opera yang ia susun, dia mengatakan ini: ‘Aku menghabiskan hari-hariku untuk mengejar ketiadaan yang tercipta – rien.’ Tugasku adalah menciptakan kekosoangan itu, rien-ku.”

Pisau berburu yang tajam yang berbahaya untuk seorang yang sakit fisik. Apakah itu semua hanya ilusi? Atau, aku adalah ilusi itu sendiri? Mungkin itu bukan masalah. Datanglah besok, dan aku tidak lagi ada di sini.

#3. Kota Kucing

Ini yang saya maksud nukilan novel 1Q84. Tengo yang unik, karakter istimewa ini mengunjungi ayahnya yang sudah tua di sebuah panti jompo, naik kereta dan menikmati sebuah buku dari Jerman tentang kota kucing, di mana seorang pemuda turun di sebuah stasiun, tak ada penghuni manusia, adanya kucing, banyak kucing, banyak sekali. Di sebuah menara, ia mendengar bahwa para kucing curiga ada manusia di kota ini, dan ia diburu. Saat ia kembali ke stasiun, kereta tak mau berhenti, maka ia kembali bersembunyi di menara lonceng. Stack, takut, prihatin dalam sepi. Fantasinya semakin jauh dan kompleks. Mereka mengikuti satu pola, tetapi variasinya tak terbatas.

Tengo, bernarasi selama perjalanan tentang masa kecilnya yang menjadi teman menarik iuran TV stasiun NHK, oleh ayahnya. Kabarnya ibunya meninggal saat kecil dan menghabiskan masa kecilnya menjadi teman jalan ayahnya tiap hari Minggu yang seharusnya merupakan hari libur.

Menyebalkan, dan sungguh ia muak. Maka hubungan ayah-anak ini jadi renggang dan janggal. Mereka adalah dua manusia terpisah yang berasal dari – dan sedang menuju –  tempat yang sepenuhnya berbeda. Bahkan memori masa kecilnya, melihat ibunya berselingkuh dengan lelaki lain menjadi alibi bagus untuk menanyakan, apakah ia anak kandung? Apakah ibunya masih hidup? Dst. Kalian takkan menemukan jawabnya, sebab khas Murakami, banyak hal menggantung, semakin banyak semakin penasaran, semakin bagus. Jika hidup dapat diukur dengan warna dan ragam episodenya, kehidupan ayah ayah Tengo begitu kaya dengan caranya sendiri, mungkin.

Aku tidak selalu ingin tahu akan kebenaran tentang siapa diriku dan dari mana aku berasal. Termasuk saat di masa tuanya, Tengo kembali menanyakannya, walaupun ujungnya tak ketemu juga.

Pengetahuan adalah modal sosial berharga. Itu adalah modal yang harus dikumpulkan hingga berlimpah dan digunakan kepada generasi berikutnya dengan sangat hati-hati. Itu juga harus diwarsikan kepada generasi berikutnya dalam bentuk yang bermanfaat…”

#4. Kino

Luar biasa. Tentang suami yang dikhianati dan bagaimana menghadapi kenyataan pahit. Saat kenyataan menghantam keras padamu, maka hantamlah dengan keras sebagai balasan. Seperti tanah kering yang menyambut hujan, ia membiarkan kesendirian, kesunyian, dan kesepian meresap dalam. Kino adalah pekerja kantor biasa, memiliki istri dan belum punya anak. Suatu hari saat ia ditugaskan keluar kota, dan balik tanpa info lebih cepat sehari sebelum jadwal, ia menemukan istrinya selingkuh. Ia marah, pergi tanpa menengok ke belakang. Tanpa membawa apapun, ia membangun ulang kehidupan. Ada yang salah di antara mereka sejak awal, seolah mereka telah menekan tombol yang salah. Aku harus belajar bukan hanya melupakan tetapi memaafkan. “Aku harus belajar bukan hanya melupakan tetapi memaafkan.”

Membuka bar dengan jazz dan arsesoris aduhai. “Mendengarnya, membawa kembali begitu banyak kenangan.” Bar milik bibinya yang kini sudah ia sulap menjadi tempat nongkrong yang menyenangkan. Ia bayar per bulan, ia sanggupi syarat itu. Berjuang dari awal lagi, mencipta idealismenya sendiri. Lalu seorang pengunjung aneh bernama Kamita, yang tiba setelah Magrib dengan buku tebal dan pesanan yang sama membuatnya penasaran. “Maksudmu beberapa masalah serius telah terjadi, bukan karena aku melakukan kesalahan, tetapi karena aku tidak melakukan hal benar? Ada masalah dengan bar ini, atau aku?”

Dari situ pula kita tahu, ada sesuatu yang aneh di kedai itu. Sesuatu yang janggal, ia bukan pengunjung biasa. Kino biasanya selalu berhati-hati dan menjaga jarak dari segala macam keterikatan. Tidak ada yang lebih buruk dari kecemburuan dan kebanggaan, dan Kino memilki sejumlah pengalaman yang mengerikan karena keduanya.

Sementara hujan tak kunjung reda, membasahi dunia dalam dingin yang menggigil.

#5. U.F.O. di Kushiro

Ini juga tentang suami yang kehilangan istrinya, Komura ditinggal istrinya setelah gempa yang menimpa Kobe. Semua akibat dari gempa itu seperti gema monoton yang jauh darinya. Menjelaskan secara sederhana tetapi jelas mengapa dia tidak ingin hidup dengan Komura lagi. Tanpa kejelasan kenapa ia cabut, teman sekerjanya Sasaki lalu menyarankan liburan ke Hokkaido. Sekalian menitipkan benda aneh untuk diberikan kepada adiknya.

Di bandara, ia disambut Keiko Sasaki dan temannya, Shimao. Dari sana mereka mengakrabkan diri, dan khas Murakami persahabatan sesaat ini menjelma liar. Cerita mereka berhenti pada titik itu. Dia berhenti sejenak untuk membiarkan ceritanya meresap. Dan yang terjadi, terjadilah. Shimao menggambarkan suatu pola rumit di dada Komura dengan ujung jarinya, seolah sedang melemparkan mantar sihir.

#6. Kemarin

Pikiranku seperti diselimuti kabut. Ini yang terbaik, sangat bagus. Di tempatkan di paling akhir pula. Tanimura memiliki teman aneh bernama Kitaru, orang Tokyo yang belajar dialek Kansai dan mempraktekkannya. Bukan hanya mempraktekkan, juga mendalami dan benar-benar menjelma orang Kansai. Hajar mereka tepat di depan dengan memberikan fakta bahwa aku berasal dari De-nen-cho-fu. Bayangkan, ada orang Jakarte, belajar logat Tegal dan benar-benar menyusupinya dengan sungguh. Mereka berkawan di kedai kopi dekat gerbang Universitas. Sama-sama aneh memang, tapi Kitaru terlampau kreatif. Tes masuk perguruan tinggi Waseda (tempat kuliah Murakami) dua kali gagal, sementara Tanimura langsung kuliah. Jika kamu tidak tahu apa yang kamu cari, akan sulit untuk menemukannya.

Maka saat ia berkunjung ke kampung halaman di Denenchofu, berceritalah ia bahwa ia memiliki pacar sejak sejak sekolah. Teman akrab sejak kecil, Erika yang cantik sekali. Mereka terlihat cocok, dan saling melengkapi, tapi memang Aki (panggilan sayang Kitaru) lebih ekstrem. Muncul ide gila, bahwa Tanimura diminta kencan sama pacarnya. Awalnya ga mau, tapi karena Tanimura sahabatnya sendiri, dan percaya sekali, maka kencan itu terwujud. “Tetapi, pengalaman yang sulit dan rasa kesepian, adalah sesuatu yang kamu perlukan ketika masih muda. Bagian dari proses kedewasaan.”

Diskusi suatu akhir pekan itu di Shibuya dan menonton film Woody Allen, menjadi kejadian yang absurd untuk dikenang. Menjadi penghubung banyak hal, sebab setting cerita lalu dilempar ke masa depan dengan nasib berbeda untuk ketiganya. Dia menelusuri halaman-halaman buku ingatannya. Merenungi bagaimana hal-hal pada akhirnya berakhir – setelah semuanya telah diputuskan – adalah masalah kronis lainnya. Kimura di Amerika, Tanimura yang sudah menikah tanpa anak, dan Erika yang menjadi sales juga belum menikah. “Kamu terlalu cantik untuknya.”

Pertemuan tak sengaja di hotel itu mengungkap hal-hal masa lalu yang terpendam. Betapa kemarin, walau sudah lewat masihlah sangat berharga. Yang bisa kita lakukan supaya kedua mataku tetap terbuka ketika angina yang kuat menerjang adalah menarik napas, dan terus maju.

Lakukan apa yang kamu inginkan dan lupakan apa yang orang lain pikirkan. Aku terkesan denganya. Yang masih tersisa dalam ingatanku hanyalah fragmen-fragmen, yang bahkan aku tidak yakin apa benar begitu yang dinyanyikan Kitaru. Seiring berjalannya waktu, ingatan, tanpa bisa dihindari, menyusun kembali dirinya sendiri.

Memang istimewa penulis yang satu ini, segala pujian rasanya tak akan selesai dikumandangkan untuk cara bercerita yang keren. Kota Kucing adalah kumpulan cerpen pertama yang kubaca, setelah novel-novelnya dan memoar asyik tentang lari. Dan jelas buku-buku keren lainnya pasti kususul baca. Kucing, jazz, absurditas narasi, cinta yang tenggelam, lari… inilah semesta Murakami.

Kota Kucing dan Kisah-kisah Lainnya | by Haruki Murakami | Copyright Odyssee Publishing, 2019 | Cetakan pertama, Mei 2019 | Alih bahasa Dewi Martina | Penyunting A.D. Saputra | Tata letak The Naked! Lab | Perancang sampul The Naked! Lab | Ilustrasi sampul Louis Wain Paintings, 1886 – 1936 | Skor: 5/5

Karawang, 240821 – Louis Armstrong feat. Ella Fitzgelard – Isn’t This a Lovely Day (To Be Caught in the Rain)

Thx to Sentaro books, Bekasi

The Summons: Keserakahan adalah Binatang yang Sangat Aneh

“Berpikirlah seperti bajingan, Ray. Berpikirlah seperti penjahat.”

Hakim Atlee adalah orang besar di sebuah kota kecil. Buku ini ada tautan dengan The King of Torts, di mana seorang raja ganti rugi menjadi sisipan kisah. Sebuah panggilan dari orang tua, kedua anaknya diminta datang ke kampung halaman sebab sang ayah kini sudah tua dan sekarat. Panggilan yang dikira sederhana, untuk menjadikan pertemuan terakhir dan mungkin pembacaan warisan itu menjadi cerita liar dan panjang. Sebab saat sang sulung sudah sampai, ayahnya keburu meninggal. Terlambat, waktu tak bisa ditarik mundur. Lebih runyam lagi, ada berkantong-kantong uang di dalam lemari. Tiga juta dollar lebih, menarik sekali idenya. Sang hakim yang lurus dan penuh dedikasi, terkenal loyal dan baik hati, dambaan semua warga, tampak sederhana, ternyata memiliki kekayaan melimpah. Korupsi? Uang jatuh dari langit? Nah itulah inti kisah Panggilan, penyelidikan uang apa gerangan.

Kisahnya tentang Ray Atlee, mengambil sudut pandang orang pertama. Ayahnya Reuben V. Atlee adalah hakim terkenal di Clanton. Ray adalah dosen di Universitas Virginia, lulusan hukum yang awalnya menjadi tumpuan harap sang ayah, tapi ia malah merantau. Kehidupan mapan itu, retak sebab ia cerai dengan Vicki yang telah menikah lagi dengan konglomerat tua nan kaya. Ray menjalani hidup untuk dirinya sendiri, bukan untuk ayahnya atau kemegahan masa lalu keluarga. Ia hadir di Clanton hanya untuk menghadiri pemakaman. Adiknya, Forrest Atlee sangat kontras, pria bermasalah di banyak hal. Forrest adalah seperangkat persoalan dan masalah lain, jauh lebih rumit daripada ayah tua yang penyendiri.

Hakim Chanvellor Reuben V. Atlee tinggal di Mapple Run, rumah tua itu berdiri di sana tahun demi tahun, dekade demi dekade, menerima berbagai serangan tapi tak pernah roboh. Baginya jadi hakim adalah panggilan hidup. Impian Hakim Reuben Atlee dulu adalah anak-anaknya menyelesaikan sekolah hukum dan kembali ke Clanton. Ia pensiun dari jabatan hakim, dan bersama-sama mereka membuka kantor hukum di alun-alun. Di sana mereka akan mengikuti panggilan mulia dan ia akan mengajari mereka bagaimana menjadi ahli hukum – ahli hukum terhormat, pengacara daerah pedesaan.

Bandara itu terletak di utara kota, lima belas menit perjalanan dengan mobil dari kampus sekolah hukum. Meninggalkan Charlottesville menuju Clanton, Ray selama perjalanan mengenang masa lalu. Melihat banyak hal berubah di kampung halamannya. Mampir di kedai kopi, menyapa teman lama, di sana mereka meneguk bergalon-galon kopi sambil menuturkan kisah-kisah penerbangan serta bualan yang makin lama makin hebat.

Kota ini telah berubah, tetapi sebetulnya tidak juga. Seperti hampir semua hal, baik ataupun buruk, pornografi datang terlambat ke Missisippi. Kota kecil yang beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di sinilah snag hakim mengabdi. Preseden hukum harus diikuti, tak peduli apa pun pandangan atau pendapat pribadi, dan hakim yang baik tentu mengikuti hukum. Hakim yang lemah mengikuti kehendak khayalan, hakim lemah bermain untuk mengantongi suara dan kemudian ikut mencela saat putusan mereka yang pengecut diajukan ke pengadilan yang lebih tinggi. Hakim adalah orang besar dan sangat peduli dengan bagaimana ia harus dikenang. “Sebut saya apa saja sekehendak Anda sekalian, tapi saya bukan pengecut.”

Saat Ray sampai di sana, hari sudah sore dan cuaca cerah. Saat masuk rumah, tampak sepi seperti biasanya. Rumah tak dikunci, dan ia masuk saja. Setelah menyapa tanpa jawaban, ia masuk ke kamar sang ayah yang tertidur. Namun ternyata bukan tidur, ayahnya sudha mangkat. Ia lalu melakukan beberapa prosedur umum, memastikan keadaan lalu saat melihat sekeliling, betapa terkejutnya Ray, ia menemukan berkantong-kantong uang.

Adiknya belum tiba. Adiknya seumur hidup tak pernah tepat waktu, ia menolak memakai arloji dan mengatakan tak pernah tahu hari, dan kebanyakan orang mempercayainya. Ia dengan cepat menganalisa situasi. Ketika rasa shock mulai memudar, berbagai pertanyaan muncul. Perasaan terguncang atas kematian sang ayah sudah cukup untuk sehari. Guncangan karena uang itu membuatnya terus gemetar. Apa dan bagaimana menanggapi keterkejutan ini.

Ia langsung mengamankan uangnya, gegas memasukkannya ke dalam lemari sapu. Ia sangat was-was dengan simpanan yang sudah berada dalam lemari sapu. Berapa banyakkah jumlahnya di sana? Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menghitungnya? Apakah it asli atau paslu? Dari manakah asalnya? Apakah yang harus dilakukan dengannya? Ke manakah harus dibawa? Siapakah yang harus diberitahu? Ia butuh seorang diri untuk berpikir, mengatur berbagai hal, dan menyusun rencana.

Melihat surat wasiat yang sudah ditandatangani, menyatakan Ray sebagai eksekutor warisan sebab ia si sulung. Berkonsultasi dengan pengacara yang sudah menjadi sahabatnya, dan memutuskan melakukan penghormatan terakhir di pengadilan sehingga taka da banyak orang di rumah, yang sekaligus mengamankan lemari sapu. Si pendeta jauh lebih emosional daripada si anak. Ia menyayangi sang hakim dan menyatakan dirinya sebagai sahabat karib. Adiknya hanya datang sebentar, lalu menyerahkan segalanya kepada Ray.

Lalu Ray menata situasi. Hidup tanpa ayahnya takkan berbeda jauh dari hidup terpisah jauh darinya. Pengabdian sepenuh hati, selama 32 tahun sebagai hakim, catatannya tak tercela. Uang itu jelas tak pantas disebut uang panas, tapi dari mana? Berapa kali dalam hidupnya ia punya kesempatan memandangi tiga juta dolar? Berapa orang punya kesempatan seperti ini? Tidak mau hidup seperti mangsa yang terluka.

Ia lalu mencoba memindahkannya, ke sebuah jasa keamanan, menyewa loker. Chaney’s adalah temapt aman, sementara ia menaruh uangnya di sana, Ray mencoba memastikan uangnya asli.  Memastikan uang itu tidak palsu, tidak tertandai, tidak terlacak dengan cara apapun. Ia terbang ke berbagai kasino, main jdui. Perjudian paling dasar adalah datang-pasang taruhan, dan setelah berhasil mengerahkan keberanian, ia mendesak maju di antara dua pejudi lain dan menempatkan sepuluh chip tersisa. Ia akan membawa lebih banyak uang tunai, mencucinya dalam sistem. “Penjudi profesional tidak pernah minum saat berjudi.”

Berjalannya waktu, tak ada kecurigaan baik dari Bandar atau orang-orang yang mungkin berurusan dengan uang itu. Kehatihatian, sebab itulah yang didapat setiap wanita darinya. Kehati-hatian, sebab ia merasa  melihat potensi pada yang itu.

Namun teror akhirnya muncul. Drai orang tak dikenal yang mengejar uang itu untuk diserahkan. Bahkan malam hari mengusiknya, melempar benda hingga kaca rumah pecah, mencongkel pintu apartemennya, mengirim surat ancaman, dst. Dengan situasi terbaru itu, Ray Atlee akhirnya mengakui betapa penting arti uang itu sekarang. Sempat pula terbesit rencana lain. Tentang bagaimana uang itu bisa berkembang bila diinvestasikan secara konservatif atau agresif.

Sebagai eksekutor warisan, ia punya waktu satu tahun sejak tanggal kematian untuk mengirimkan surat pemberitahuan pajak terakhir, dan menurut akuntannya, perpanjangan waktu dapat dengan mudah didapatkannya. Ia memastikan, uang itu tak akan dimasukkan ke daftar warisan sebab akan habis dihisap pajak. Mungkin bukan langkah yang paling cerdik hingga sejauh ini.

Ray memutuskan berkeliling, dengan uang di bagasi mobil, mencari kebenaran. Kalau kau kabur membawa banyak harta, seperti pembunuh dengan korbannya di bagasi, maka banyak wajah tampak familier dan berbahaya. Setiap orang yang ia temui tampak mencurigakan. Kau tidak mungkin bisa batuk di sana tanpa membuat tiga orang lain tertular Apakah semua orang gila, atau cuma aku?

Sementara adiknya yang terjerat narkoba tinggal di rehabilitasi. Sesekali ia kunjungi. Hidup tidak akan jadi sederhana dengan mengunjungi adiknya, tapi ia sudah berjanji.

Petualangan pencarian Ray mengarah ke Hancock County dinamai menurut nama John Hancock, salah satu penandatangan Deklarasi Kemerdekaan. Lalu menuju seorang pengacara jumawa nan kaya raya. Patton French adalah orang yang amat sangat pongah. Setelah berusaha dengan keras menemui, dan bilang ia anak sang hakim, ia akhirnya berhasil bertemu. Di atas pesiar mewah yang tenang, segalanya akhirnya terang.

Semua bermula dari Berkas perkara Gibson v. Miyer-Brack. Hakim percaya akan kerja keras, dan tanpa juri yang harus dimanjakan, ia bertindak brutal. Patton yang cerdik dan menjadi seorang penggugat massal mencari celah, dan menemukan nama sang hakim. Keputusan-keputusan itu tegas, sangat lugas, dan bertujuan untuk meresahkan para pengacara tergugat. Setelah berhari-hari mengumpulkan banyak korban obat gagal, ia maju menggugat pabrikan. Mr. Patton French berhasil mengunci Miyer-Brack hingga terlentang tak berdaya di atas matras. Dan akhirnya ganti rugi dengan jutaan dollar tersaji.

Kalau mau tahu detail cerita tata cara menggugat bisa dibaca di novel King of Torts, raja ganti rugi. Kebenaran kini mengalir deras, dan ia menginginkan seluruhnya. Keserakahan adalah binatang yang sangat aneh, Ray. Dan setelah kebenaran terungkap, lantas mau diapakan uang sebesar itu? Kembali lagi, keadaan sehat, tenteram, dan bisa menjalani kehidupan wajar adalah impian, bahkan dibanding dengan uang besar yang mengancam keselamatan.

Endingnya datar. Setelah aksi penuh ketegangan, pertarungan kesabaran dan segala kemungkinan baku tembak dan ledakan, John Grisham malah mengambil jalan tenang. Mungkin agak mengejutkan, beberapa fakta disimpan lalu diungkap hingga bab terakhir. Namun tetap, tak terlalu mengejutkan. Sangat tenang, dan juga menggantung.

Bagaimanapun, karya Grisham tak pernah mengecewakan. The Summons jelas memenuhi itu, hanya saja harapan itu terlampau tinggi. Beda dengan The Partner yang meledak di akhir atau Bleachers yang memukau dalam nostalgia, atau The Last Juror yang walau akhirnya tenang, sungguh heroik. Well, susunan Grisham mungkin sudah kukenali dan nikmat plotnya walau familier tetap terasa menawan. Masih banyak bukunya di rak yang belum kubaca, dan akan terus kubaca. Semoga.

Panggilan | by John Grisham | Diterjemahkan dari The Summons | Copyright 2002 by Belfray Holding, Inc |  Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 02.023 | Desain cover Amy C. King | Sampul dikerjakan oleh Eduard Iwan Mangopang | cetakan pertama, September 2002 | 432 hlm; 18 cm | ISBN 979-686-116-x | Skor: 4/5

Karawang, 230821 – Ida Laila & Mus Mulyadi – Setelah Jumpa Pertama

Thx to Mahina Kamila, Jkt

Kami Berjodoh

Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa by Andi Eriawan

“… Asalkan kamu berdamai dengan hatimu, kamu akan menemukan jawabannya di sana.” – Bundanya Pram

Ini novel membuatku takjub tahun 2000-an, bukunya Jemy K (teman sekamar di Ruanglain_31, Cikarang) yang turut ditaruh di rak kecilku, dipinjam teman lalu tak tentu arah, entah siapa yang pinjam dan tak kembali. Hiks… Generasi Dilan akan shock ketika tahu ada cerita cinta sejoli Bandung yang mengharu biru dengan belitan romansa jauh lebih berkualitas. Dua kali baca, dua kali pula mewek.

Kisahnya tentang Laila, gadis Bandung yang dicintai penuh tanpa syarat oleh Prameswara, jejaka Bandung pula yang istimewa. Mereka telah menjalin asmara selama Sembilan tahun, sebuah angka pacaran yang luar biasa, tapi pembukanya adalah sendu, karena Laila menerima paket pos berupa jam dari Pram di ulang tahunnya. Posisinya mereka sudah putus, dan Laila yang merasa tak enak hati, menelusur kenangan. “Kamu begitu sempurna dengan ketidaksempurnaanmu.”

Alur lalu dibuat acak, kembali ke masa sekolah pertama kali bertemu, Pram seperti Dilan merayu dengan gaya. Suka nulis puisi, cita-cita arsitek, jago gambar, penyendiri. Mencintai Laila yang cantik jelita, suka cubit, ceria, dan nggak suka kaun kol. Sudah saling cinta sejak sekolah, dan apapun yang terjadi sudah pula mendeklarasikan jodoh. Selamat datang di kehidupan dewasa, segala ujian waktu mencoba menggoyahkan.
Pram terlihat sangat dekat dengan orang tua, terutama Bundanya. Segala cinta dan keseruan dunia remaja dicurahkannya, Laila adalah pujaan yang diwujud lukis pajang di kamar, rumahnya yang jauh dari hiruk-pikuk kota, masih asri. Laila juga tampak baik-baik saja, keluarganya welcome, bata-bata kehidupan terus disusun. “Mencintai tidak butuh alasan, tapi menikahi seseorang membutuhkan alasan.”

Riak-riak itu dimunculkan dalam berbagai daya dari luar. Teman lama Laila semasa SMP datang lagi dalam kehidupannya, Bubung yang baik dan pernah menyatakan cinta. Ketika mendaftar ke ITB jurusan penerbangan, ketemu. Dan jadi kakak kelasnya. Laila adalah satu-satunya cewek di angkatan itu, tiga cowok kesemsem, Laila jelas mahasiswi tercantik. Pesonanya tak terbantah. Pasca lulus, Bubung dapat kerja sebagai engineer di Malaysia Airline, menjauhkannya sementara. Namun cinta Bubung memang kuat, berjanji akan merebut Laila dari Pram, memberi cincin nikah diamond mahal, walau saat itu ditolak, Bubung meminta balik nantinya pas nikah atau saat ketetapan hati sudah final. Memperlakukan Laila seolah ia adalah perempuan terakhir di dunia. Setiap jutaan hal kecil yang dilakukan terasa begitu istimewa.

Pram masih dengan dunia imajinya sendiri. Mengaku sebagai penjelajah waktu, gombal ala Dilan. Hidup di era Majapahit, era kemerdekaan, era Kasultanan Malaysia, jadi manusia lama di Siberia, dst. Mimpi itu tampak nyata dan sungguh kuat. Bualan itu hampir saja memberi percaya. Setidaknya buat Laila, bukti-bukti terpampang. Apalagi saat perjalanan ke Malaysia, ada tautan di sana. Nah, di Negara tetangga itu Bubung belum menyerah. Membantu Laila selama tinggal di sana sebagai tenaga bantu proyek kampus. Terharu, dan sungguh miris melihat perjuangan lelaki ini. Cintanya pada Laila sungguh gila, tapi jawaban yang tegas memang diperlukan dan sudah berkali-kali diucap. Finalnya, kami berjodoh. Takdir, siapa yang bisa melawan? Bahkan ketika manusia sudah sempurna merencana, takdir pula yang menghakimi.

Semua daya dan upaya memang menuju perwujudan dua karakter utama bersatu. Kisah manis bak sinetron yang tayang di jam utama. Namun seperti yang terbaca di pembuka, mereka akhirnya berpisah. Laila memutuskan hubungan, Pram stress dan murung sekali. Cita-citanya sebagai arsitek dilepas demi membuka kafe, hari itu kafe Laila tutup. Laila bermaksud menyampaikan permohonan maaf setelah di ulang tahunnya yang ke 24 mendapat kado jam tangan. Dari bundanya Pram kita tahu, ia mencoba berdamai dengan kenyataan. “… Bila ia memang bersikeras ingin berpisah, apalagi selain melupakannya.”

Menerima pinangan teman ayahnya kerja di Yogyakarta. Maka Laila menyusul ke sana, mencoba memberi kejutan tanpa memberitahukan kehadirannya, Laila shock ada lukisan dirinya di ruang khusus di hotel tempatnya menginap. Lebih shock lagi eksekusi endingnya, pembaca juga kaget. Hiks…

Entah kenapa novel ini belum diangkat ke layar lebar, padahal semua kriteria bagus untuk diperkenalkan ke khalayak lebih umum dalam balutan visual sudah ada. Dibanding Dilan yang terlampau lembek karakternya, Laila cerita remaja yang dalam masa transisi ke dewasa menampilkan realita menyentuh, puitik, drama, dan tentunya ending yang jleb. Membayangkan adegan payung dan jajan di kantin seberang sekolah, tahi lalat di pipi kiri, sampai adegan ‘terbang’. Lebih berkelas ketimbang di boks telpon, ‘rindu itu berat’. Tahun 2011 pas ke toko buku Cikarang, sempat lihat cetak ulang. Senang, akhirnya ada cetakan berikutnya. Namun karena segel saya ga tahu cetakan ke-berapa, yang jelas gaungnya tak sebesar yang kuharapkan.

Kata Always, Laila sendiri kita temukan setelah setengah perjalanan novel (halaman 121!), di akhir email. Dengan setting 2000-an, email dan sms begitu dominan untuk komunikasi jarak jauh. Tak ada WA, tak ada sosmed, tak ada kenarsisan yang menyinggung di dunia digital. Rahasia Laila, bahkan bisa bertahan beberapa bulan, berarti memang keluarga sudah kompak menahan informasinya.

Berkorban demi orang terkasih juga menjadi tema, Pram ‘mengalah’ akan ambisi, padahal ia jago gambar. Saling mengalah, guna pacar mendapat masa depan yang lebih cerah tercermin pada tindakan Laila yang memutuskan lamaran asyik di Laila’s Cafe, 26 Desember 2003, dan ia tahu kalau jujur Pram justru akan menguat dan setegar karang, sungguh tindakan yang masuk dinalar dan berat disampaikan. Dia memang yang terbaik. Dramatisasi ketika melihat Pram bahagia naik sepeda dengan kedua tangan terentang, menjadi ironi, menjadi bumbu drama bikin gereget, yah seperti itulah hidup, pahit. Ia pernah jatuh cinta dan terluka. Bila perempuan itu memang satu-satunya perempuan yang bisa ia cintai di antara milyaran lain, ia akan terus mencintainya. “Kamu memang lelaki terbaik yang pernah kutemui.” – Laila

Tampak sekali ini ditulis sebagian adalah pengalaman pribadi, memang fiksi tapi kesamaan pendidikan Andi Eriawan dengan setting kampus di ITB jurusan penerbangan jelas bukan sebuah kebetulan. Memang beda rasanya tulisan yang berdasar pengalaman dengan angan-angan, terasa sekali diketik dengan memetakan ingatan masa lalu. Salut! Kudoakan menjadi film bioskop, Mas. Saya akan nonton di hari pertama. Semoga…

 

Laila… nama yang cantik. Orangtuamu pandai memberi nama. Mungkin mereka tahu kau akan tumbuh secantik ni.

Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa | by Andi Eriawan | Penyunting Denny Indra | Desain sampul FN | Penata letak Jefri Fernando | Penerbit Gagas Media | Cetakan pertama, November 2004 | xii + 228 hlm.; 19 cm | ISBN 979-3600-38-1 | Skor: 4.5/5

Untuk Prameswari yang membenci daun kol

Karawang, 05-060820 – La Nina de los Peines – Al Gurugu (1946)

Thx to Lifian, Tangerang

Ricuhnya Hidup Bersama Adam by Anne Mather

From London with Love

Saya cuma hendak membuktikan diri sendiri, bahwa saya ini tidak terikat.” – Maria

Tema utama memang mencari jati diri, gadis remaja 18 tahun yang ingin bebas, lepas, ingin membuktikan ia bisa bertahan jauh dari ayahnya. Kuakui kenyataan bahwa kamu menginginkan kebebasan yang agak lebih luas. Tapi tidak semua yang bagus mengandung kehangatan dan berisi.

Cerita cinta yang simpel, tapi menjadi elok bila dibawakan dengan bagus. Kisah klasik percintaan di tanah Inggris. Beberapa tampak tabu dibicarakan, bahkan di dunia Barat tahun 1970an, seperti cara berpakaian Maria yang hanya berbikini berjemur di kebun belakang, laiknya pakaian renang yang hanya harus dikenakan di pantai, bukan di sebuah perumahan elit. “Kecuali itu, aku tidak punya pakaian untuknya.” Beberapa terjemahan terbaca eksotis, karena baku jadul, atau culture di tanah air saat itu. “Masya Allah, Maria kau kira aku ini apa?”

Saya sudah bisa menebak akhirnya, walaupun keputusan hidup bersama adik tiri terasa janggal, atau segala pertentangan yang muncul kemudian, jelas hati yang tertaut karena cinta lebih kuat dan abadi, ketimbang menikah karena materi, profesi, atau sebuah prestise di mata umum. “Meskipun begitu, kedatangan Anda untuk tinggal bersama abang tiri Anda, rasanya agak – bagaimana ya – rasanya agak tak lazim.”

Kisahnya mengambil sudut pandang gadis lulus SMA dari Kilcarney, Irlandia yang memutuskan ikut abang tirinya ke London untuk kursus sekretaris atau perkantoran. Maria yang beranjak dewasa, menuntut kebebasan, ingin merantau jauh dari ayahnya Patrick Sheridan yang kolot, untungnya ibu tirinya Giraldine Massey, ibu Adam mendukung rencana itu. Orangnya memang sangat praktis pada umumnya, lebih mementingkan kegunaan ketimbang segi keindahan. Betapa picik kehidupan, orang-orang cuma tahu nikah, punya anak dan membesarkannya. Lain tidak. Ayahnya menjodohkan sama anak tetangga yang punya banyak lahan, sehingga dari pernikahan akan menyatukan kedua juragan pertanian ini. Maria memilih kabur, maka Adam, abang tirinya di London diminta menampung. Kau yang mula-mulanya bosan terkukung oleh empat tembok sempit. London ini, tidak cuma terdiri dari hal yang indah, megah, dan mulia.

Dr. Adam Massey, titel dokter diperolah di Cambridge untuk dokter umum dan bedah, temannya meninggal karena leukemia, sejak itu ia memutuskan membuka praktek umum. Adam idealis, ia melakukan segalanya untuk membantu kalangan kurang mampu. Di sini sang abang memang tampak sempurna, eh nyaris sempurna saking hebat dan baiknya. Contoh kasus, ia merawat Nyoya Ainsley, sebatang kara setelah satu-satunya putri merantau ke Australia. Atau keputusannya yang hebat. Praktik di kawasan Islington yang umum, ketimbang Kawasan mewah West End bergabung dengan klinik praktek dokter di Harley Street. Prinsip, di mana tenaganya dibutuhkan. Perkampungan kumuh, bangunan lembab, merupakan sumber penyakit. Di sana banyak penduduknya yang sudah tua. Adam ingin bekerja, menolong orang, mestinya ada kepuasan, membantu orang yang tak mampu. Luar biasa! “Karena selalu ada saja orang yang nantinya akan menyalahgunakan kebaikan hati.”

Ketika menerima surat rencana kedatangan Maria, jelas ia menolak keberatan. Namun sebelum membalas atau memberitahukan keluarga, Maria keesokan harinya sudah tiba di rumahnya. Tunangan Adam, seorang artis Miss Loren Griffiths, sebagai manusia terkenal dengan kesibukan luar biasa. Di hari pertamanya di London, langsung menancapkan permusuhan. Maria merasa tak kenal sang artis, sang artis merasa kedatangan adik tiri akan membuat gaduh. Rasa tidak senang pada Loren yang memang sudah ada, semakin bertambah saja melihat ketimangan hubungan Adam dengan sang artis, bahwa rasa tidak senang itu untuk sebagian disebabkan karena cemburu?

Ya karena sudah di rumah abangnya, maka Maria menyibukkan diri sebelum daftar kursus. Ada pelayan Alice Lacey, yang ikut sejak Adam kecil, rencana mundur setelah Adam menikah, sampai sekarang bertahan. Drama ini akan berkutat di sini. Keseharian Maria yang labil, maklumlah masa peralihan. Masa remaja yang mencari jati diri. Ricuh terus. Mau aktif ke sekitar, salah. Karena pernah jalan-jalan di Hyde Park, kejauhan semacam tersesat, padahal ingin santai menyaksi Pemandangan London di kala senja yang menarik, jalan-jalan penuh wisatawan dari pelbagai bangsa. Mau berdiam diri di rumah juga serba salah karena Adam sudah punya pelayan, maka ngapain coba? Malah pernah berjemur di kebun belakang pakai bikini bikin geger orang-orang. Salah satunya teman Adam yang datang berkunjung, menyaksi keseksiannya. Larry Hadley malah lalu menelpon dan mengajak jalan. Kena omel juga karena ia orang ga benar. Berkenalan dengan David Hallam, anak sang pengacara umum Victor Hallam. Juga serba salah, sebab Adam malah melarang kluyuran. Keremajaan dan keringannya memikat para anggota pria. Bikin repot. Menekankan bibir, menekuri ufuk. Manikmati tetirah di pantai.

Apalagi ketika kursus ternyata sudah berjalan sebulan, jadi opsinya mau tetap masuk berarti menyusul ketinggalan atau menunggu gelombang berikutnya sekitar dua bulan lagi? Memutuskan sekarang sahaja join, ketimbang makin lama manyun. Maka minimal ia sudah ada aktivitas. Hubungan yang buruk dengan sang artis, dan waktu sempit Adam sebagai dokter menjadi keseharian. Kesibukan seorang dokter tidak mungkin dapat diatur terlebih dulu. Selalu tergantung dari para pasien. Bersama mobil Rover-nya Adam bertugas di lalu lintas London yang padat. Mereka terlalu sibuk mencari nafkah, agar dapat menyangingi tetangga. Mereka tidak sadar, pada suatu waktu mereka juga tua.

Dan muncullah benih cinta. Orang biasanya mengenang hal-hal yang dulu-dulu saja, tanpa mempertimbangkan proses kematanganya yang sewajarnya menyusul. Adam mungkin mengagap Mari masih kecil, tapi ia bisa buktikan sudah dewasa. Berjalannya waktu untuk pertama kalinya ia bertanya pada diri sendiri, apakah kepergiaannya ke London merupakan dorongan keinginan membebaskan diri dari kesempitan Kilcarney, atau mungkin secara tak sadar karena kerinduan kepada Adam?

Ada rasa lima tahun sebelumnya saat abangnya ke Irlandia, waktu itu jelas Maria masih anak sekolah yang manja. Ada semacam percikan cinta di remaja 12 tahun itu kepada abang tirinya. Rasa itu ternyata malah menghebat. Ia mengkhawatirkan datangnya saat, apabila Adam menyadari kehadirannya, bukan sebagai adik tiri melainkan sebagai wanita. Maria selalu kikuk saat ada Adam di dekatnya. Menggigil karena udara yang agak dingin di luar, tetapi juga disebabkan oleh bakaran semangat. Dengan tiba-tiba saja kehidupan menjadi menarik. Semakin lama ia tinggal di Inggris dan hidup di rumah Adam, semakin terlibat pula dalam jeratan perasaan. Ia tak boleh memberikan dorongan terhadap perasaan yang ada pada dirinya.

Novel menemui titik akhir di pesta malam di rumah Miss Loren Griffiths. Malam itu Adam berangkat bersama Maria, pesta kalangan elit itu awalnya dikira bakal membosankan. Justru Maria bertemu dengan Victor Hallam, pengacara tua itu menjadi teman ngobrol asyik. Dan Adam yang diam-diam bertengkar dengan tuan rumah. Malam jelang tengah malam, terjadi sebuah ciuman terlarang. Hubungan kakak-adik tiri ini menjadi dramatis ketika sang ibu datang ke London memergoki. Kalutlah segala suasana. Bagi sebagian orang tertentu, bergunjing merupakan kesibukan yang asyik.

Esoknya, harus diputuskan ke arah mana semua ini? Sang tunangan yang mendesak Maria untuk pergi? Yang penting, kau sendiri merasa bahagia denganya. Adam yang mencinta memilih siapa? Aku cukup angkuh untuk menuntut kesucian dari wanita yang tidak akan menjadi istriku, juga aku sendiri tidak begitu. Bab terakhir menjadi eksekusi manis menutup ‘Ricuhnya Hidup Bersama Adam’. Aku senang mendengar kebenaran, daripada pemutarbalikan persoalan.

Kisah semacam ini mungkin ketika dibaca sekarang tampak sangat klise, terasa klasik cinta dari London. Menurutku masih sangat nyaman melahap masa buku-buku seperti ini. Bulan Juli 2020 kucanangkan menuntaskan baca-ulas jadul. Kovernya bagus banget. Dengan warna orange kelabu, yang duduk jelas Adam. Stylist berkaca mata dengan ‘v-neck’ nya, sementara Maria berpose kalem bersama segelas wine. Keremajaannya dipulas tjakep. Buku kedua ini jelas lebih bagus.

Maria pergi untuk sementara waktu, ia berhasil melarikan diri dari realitas.

Ricuhnya Hidup Bersama Adam | by Anne Mather | Diterjemahkan dari Living with Adam | Copyright Mills & Boon Ltd., Anne Mather 1972 | Alih bahasa A. Setiadi | Penerbit PT Gramedia | GM 77 109 | Pertama terbit 1977 | Desain sampul Sriyanto | Skor: 3.5/5

Karawang, 090720 – Louis Armstrong & His Hot Five – St. James Infirmary Blues (1929)

Thx to Anita Damayanti, dua dari Sembilan.

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami #7

“Ia memang laki-laki aneh. Hampir seharian ia sendirian di taman kota ini. Sebentar bediri, duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Pandangannya tajam selalu menatap ke arah depan seperti tidak peduli pada orang di sekitar. Dan tiba-tiba mereka hanya mendnegar tubuhnya ambruk.”

Buku kedua bulan Juni tahun ini sengaja saya membaca buku non mainstream, mencari dari terbitan kecil, setelah lelah dari lebaran, mudik dan rangkaian panjang libur, pengen santai. Ada beberapa pilihan yang ada di rak, beberapa terjemahan, malah ketemu yang penulis lokal. Bacaan terjemahan penulis Dunia sudah sangat banyak, maka buku tipis ini saya pilih. Dua hari selesai, dibaca santai di kala setelah subuh, jelang tidur atau jeda istirahat kerja. Yang paling unik kubaca di teras rumah kala tidak dibukakan pintu di malam Sherina ulang tahun. Tema-tema yang ditawarkan sederhana, sebagai lulusan pesantren sang penulis memang banyak mengambil tema reliji, walau ga semilitan jadi buku agama, cerpen yang lumayan seru. 14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek.

#1. Lelaki Izrail
Tentang Pak Ulak Ulu, lelaki yang bisa (secara tak mengaja) meramalkan kematian. Awalnya njeplak otomatis, menasehati seseorang agar lebih banyak beramal, banyak ibadah karena usia tak ada yang tahu. Ternyata esoknya beneran tewas. Kejadian yang dikira hanya kebetulan itu, terulang lagi, dan lagi sehingga diapun didapuk lelaki peramal kematian.

#2. Matilda
Perempuan hebat di bawah lima tahun, pembaca sastra dunia, rakus melahap buku dan tampak aneh. Tentu saja otomatis kita akan menyebut Matilda, karakter terkenal karya Roald Dahl yang punya daya telekinetis menggerakkan benda ala Profesor X. Di sini lebih sederhana, sebuah keluarga mendapat kunjungan anak asing bernama Picataka setiap Senin-Jumat sore hari untuk numpang baca. Buku-buku tebal dilibas, remaja putri empat tahun yang aneh itu ternyata tak senyata yang terlihat karena suatu hari iseng diikuti, rumah tempatnya tinggal adalah rumah kosong. Lho?

#3. Percintaan Firdaus dan Janneti
Asmara anak pesantren. Sang aku adalah semacam pujangga pondok ‘Raja Kata-kata’, menuliskan surat cinta dengan biaya traktir. Maka Firdaus yang siswa senior suatu hari jatuh hati dengan siswa pondok sebelah ketika beli sayuran. Janneti yang dikirimi surat ‘cinta’ oleh Firdaus menjawab dengan berbunga. Maka disepakati hari untuk bertemu, untuk mengklaim kakak-adik. Sang aku ikut senang, surat buatannya bisa membantu mewujud kisah cinta cinta itu, hingga hari H yang harusnya berbunga menjelma petaka.

#4. Migrasi Para Hantu
Kisah hantu turun temurun dari ayah sang pencerita lalu dituturkan ke anaknya. Kisah hantu yang sudah umum, lazim di kampung halaman dikisah ulang kepada anaknya. Bagaimana hantu-hantu masa silam suka iseng menampakkan diri. Sang anak diluar duga malah antusias, dan meminta izin untuk ke kampung halaman. Untuk mencari bukti? Yah, anak muda zaman sekarang, ajak teman-teman mereka berencana jadi semacam ghost buster. Duh!

#5. Seorang Perempuan di Masjid Kami
Perempuan aneh yang menginap di masjid kita. Tanpa banyak tanya, tanpa basa-basi. Agamanya yang bagus, tingkahnya yang baik membuat warga menerima dengan terbuka. Musafir yang bijak, mengikuti kajian, ibadah bagus, membantu sesama. Lama-lama membuat tanya identitas sesungguhnya. Siapa gerangan yang menebar ilmu dengan teladan ini?

#6. Pa’aliran Caran
Cerita tentang pawang buaya yang legendaris. Adalah Caran yang menjadi penakluk buaya, bisa bertahan berjam di dalam air, bisa mencari hal gaib di air. Sebagai pawang buaya senior, suatu hari ada anak tenggelam gara-gara acara mancing yang awalnya dilarang. Sudah lama Caran tak melakukannya, dan iapun kembali menyelam mencari kebenaran di dasar sungai.

#7. Libur ‘Aisya
Cerita mencari tempat liburan yang tak biasa. ‘Aisyah yang anak kota akan liburan musim panas, beberapa opsi disodorkan. Dari yang umum dari buku panduan wisata sampai kampung desa yang ada di pelosok, tapi apa istimewanya? Maka sang aku pun menawarkan liburan di pesantren, belajar agama? Wuihh… ide bagus. sebulan dua bulan ‘nebeng’ belajar agama, apa respon ‘Aisya?

#8. Perempuan Pembunuh Terang
Tentang perempuan sakti yang mematikan semua cahaya malam, lampu-lampu ditembak, semua cahaya dimatika. Dengan kuda laiknya seorang pengelana, jagoan yang meminta kembali menjaga kekhusukan malam. Warga yang takut bergegas mematikan lampu, dan derap kuda yang menakutkan itu selalu terdengar bagi mereka yang berani menyalakan cahaya. Hingga akhirnya usul menembak bulan agar pekat tercipta itu mewujud.

#9. Oleh-oleh
Seorang cucu yang galau liburan ke Bali, pertentangan reliji. Terlahir dari pasangan agama Islam dan seniman, sang aku tampak bimbang mau ke arah mana kehidupannya. Darah seni menciptanya ingin melukis, Bali jadi detinasi, dapat pertentangan dari kakeknya yang kolot. Hingga akhirnya oleh-oleh baju khas agama Hindu itu diberikan, menjelma baju koko untuk ibadah ke masjid. Lega?!

#10. Teratai Kota
Ini mungkin kisah terbaik, tentang perenungan lelaki yang menyendiri di taman kota. Melihat, terpana, dan berdiskusi dengan bunga teratai kota. Bunga yang tumbuh liar, sebuah anugrah dari Tuhan ataukah makhluk buangan? Hingga kahirnya ia ditemukan di sebuah kamar rumah sakit. Nasehat aneh dari penjual madu.

#11. Rumah di Samping Kuburan
Membangun rumah di samping kuburan. Tentu banyak pertimbangan. Tentu saja ekonomi jadi alasan utama, sang Aku yang masih lajang awalnya ditentang keluarga, tapi ia keukeh membangun rumah dengan jendela menghadap kuburan. Tiap ada prosesi pemakaman, ia menyapa, tiap ada yang ziarah ia ikut berdialog. Hingga suatu hari ia melihat penampakan yang menjadi pertanda. Serigala kenapa tampak jadi ikon korupsi ya?

#12. Perempuan Kafe Senja
Perempuan dengan empat kekasih, kekasih di hari kerja, kekasih di akhir pekan, kekasih di malam hari dan yang satu entahlah. Perempuan tanpa nama itu sering kali nongkrong di kafe sepulang kerja, hingga sang aku menyapa dan memulai menjalin kenangan.

#13. Kubur Penuh Cahaya
Agak aneh bagaimana bisa kubur warga biasa, penjual minyak luar kota bisa memancarkan cahaya? Desa yang awalnya biasa menjelma riuh. Jadi keramat, jadi tempat ziarah, jadi sakral. Mencipta hal-hal gaib, cahayanya memang tak muncul terus, hanya sesekali, tanpa teknologi ya. sampai kapan?

#14. Hidup Memang Tak Mudah, Pak Atin!
Tentang penangkapan terduga teroris. Pak Atin kena ciduk juga, padahal beliau terkenal sebagai orang alim yang tak neko-neko. Maka kisah dirunut bagaimana bisa. Ternyata bermula dari tiga pemuda yang menitipkan jual buku, buku-buku aliran radikal yang menyeret pak Atin jua. Walaupun dalam prosesnya ia kembali bebas, setidaknya benar adanya hidup itu tak mudah.

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami | Oleh Hairus Salim HS | Desain sampul Rahman | Tata letak Gapura Omah Desain | Ilustrasi Rahman | Penerbit Gading | Cetakan satu, September 2012 | x + 130 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 978-979-16776-1-5 | Skor: 3.5/5

Karawang, 130619 – James Ingram – I Dont Have The Heart

#Day7 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Kumpulan Budak Setan

Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?

Saya mengenal Abdullah Harahap belum lama, tiga tahun lalu lewat novel mistik Kolam Darah. Cerita peseteruan keluarga terkait warisan dan keturunan yang dibalut kengerian saling serang sihir dan lempar tuah. Andai ga baca tulisan kover belakang yang mengandung inti cerita bisa jadi ceritanya akan lebih resep. Mitisme lokal dengan jimat, dendam, hingga jualan kengerian darah yang membuncah. Status genre horror yang identik dengan estetika rendah dan karenanya berada di luar khasanah sastra. Edisi kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan ini ternyata dipersebahkan untuk beliau. Berisi dua belas cerita, ditulis tiga Pengarang handal tanah air dari komunikasi tiga kota. Eka dan Intan sudah mengenal beberapa karyanya, untuk Ugoran, ini adalah buku pertama beliau yang kunikmati. Saya berstrategi membacanya ga berututan dari halaman satu beriring runut terus sampai akhir buku, tapi satu cerita dari satu penulis, lalu cerpen berikutnya ganti penulis lain, lanjut lagi dan kembali muter. Jadinya gaya bercerita yang kukhawatirkan monoton karena dari tangan yang sama dapat dihindari, dan alhasil sukses. Sungguh bagus kisah-kisah di buku ini. Tema variasi, tapi tetap hal-hal gaib menyelingkupi semuanya.

(1).Eka Kurniawan
#1. Penjaga Malam
Kisah para peronda yang ditikam kesunyian pekat. Bagaimana mereka menjaga kampung, mengawasi segala yang potensial membahayakan warga, badai menambah menakutkan diseling mati listrik dan sesekali mengerjap. Lalu satu per satu menghilang. Sebuah tindakan beresiko yang mengabai keselamatan. Pace-nya memang lambat tapi nikmat diikuti karena memang kekuatan utama ketenangan malam yang disaji. Gelap pekat membuat kita serasa dikubur hidup-hidup.

#2. Taman Patah Hati
Untuk memutuskan kekasih harus sampai ke Jepang. Memang sulit untuk mengakhiri hubungan, lebih mudah memulai. Keputusan berat yang terpaksa diambil itu melibatkan keberanian, mitos dan pengorbanan yang tak sedikit. Kita bertemu lagi dengan karakter bernama Ajo Kawir, tokoh penting di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas. Mia Mia yang dan danau di taman Inokashira.

#3. Riwayat Kesendirian
Salah satu yang terbaik. Seorang ilustrator yang sudah memiliki pacar, mendapat tugas menjaga temannya teman, dititipi untuk numpang tidur di apartemen. Awalnya tak ada rasa, tapi riwayat kesendirian mencipta drama saat kedua insan terpisah. Sang gadis bernama Ina Mia, dari nama perempuan Chairil Anwar, ia dipaksa kawin sama pilihan orang tuanya, dan sebuah telpon untuk janji temu meluluhlantakan bata lego yang disusun. “Bolehkah aku bertemu denganmu?”

#4. Jimat Sero
Menurutku ini yang paling bagus. Pembukanya mengupas kulit bawang paling luar, lalu kupasannya perlahan sekali, menarik minat pembaca sampai akhirnya saat sampai di inti, ternyata kupasan terbaik ada di permukaan! Ga nyangka. Seorang penakut yang kena perisak di sekolah, dibantu Rohmat, seorang anak yang istimewa, siapa saja yang memukulnya akan kena damprat. Sekembali dari kampung melanjutkan hidup, segala takdir berubah lurus dan nyaman berkat jimat sero. “Tak ada yang perlu kamu risaukan.” Benarkah?

(2). Intan Paramaditha
#5. Goyang Penasaran
Tak pernah mabuk judi atau mabuk minuman, tetapi mabuk janda ternyata lebih berbahaya. Kisah yang keras dan berdarah-darah. Jelas kover buku diambil dari cerita ini. Penyanyi dangdut yang mencoba insyaf, terusir dari kampung dan saat kembali sudah mengenakan hijab. Sebuah taktik dendam disusun, kepala desa yang baru sang pengagum itu dituntun dalam goyang penasaran di tepi jalan. Keras. Sadis. Mencekam. Hal hal remeh cenderung meruap dari ingatan. Zina yang sering tak kita sadari wahai kaum muslimin dan muslimat adalah zina mata.

#6. Apel dan Pisau
Kisah nabi jelita Yusuf yang membuat para wanita menggoresi tangan mereka dengan pisau. Pesona gossip, arisan keluarga dan ketamvanan yang haqiqi. Apel yang matang, perempuan-perempuan yang matang, dan Yusuf yang memukau. Sinisme kaum hawa yang pandai bergosip laiknya kena batu. Cik Juli dan magnet sihirnya. “Apelnya memang enak.”

#7. Pintu
Keluarga terpandang, kaya, dan kematian tragis dalam sebuah mobil kutukan, Mercy Tiger merah metalik tahun 1982. Cerita tragis sebuah keluarga pasangan Bambang dan Ratri mencoba kembali menurut fakta saling silang selingkuh. Namun ternyata asmara dan dendam arwah menghantar pada kepahitan lain. “Mari, temani aku jalan-jalan.”

#8. Si Manis dan Lelaki Ketujuh
Ini yang paling aneh. Wanita buruk rupa sedang mencari mangsa, lelaki yang diperbudak seks dengan imingan gaji menggiurkan. Seorang penganggur yang sudah berkeluarga dengan berat hati menerima tawaran, gaya bercinta ala kisah sang putri salju dan tujuh kurcaci di mana drama sandiwara penculikan dicipta, scenario itu berantakan saat titik didih sudah di puncak. “Karena aku menyukai eksperimen.”

(3). Ugoran Prasad
#9. Penjaga Bioskop
Cerita hantu di bioskop yang angker, sang penjaga bioskop Rusdi yang menjadi saksi dari awal sekali gedung dibuat smampai akhirnya esok dirobohkan. Saat film terakhir selesai diputar, sang penjaga mengenakan pakaian terbaiknya dan mengucapkan salam perpisahan. Ternyata tak seperti yang tampak di permukaan. Sebuah rekaman suara memberi kengerian di balik kabar angin kesereman gedung. “Aku datang. Aku di sini terus. Aku menemanimu terus.”

#10. Hantu Nancy
Cerita balas dendam yang tak biasa. Pembunuhan sang gadis salon yang merentet kematian demi kematian semua orang yang terlibat. Hikayat hantu di kampung Kebon Sawah yang menguar kengerian di udara. Zulfikar dan bau rambut terbakar. “Aku mimpi ketemu Nancy. Dia bilang mau balas dendam.”

#11. Topeng Darah
Level kekerasan kelas satu, satu tingkat di atas Goyang Penasaran. Sadis, tragis, dan tak berperi. Sebuah iklan aneh yang menjual barang langka, sebuah topeng abad 19 dengan harga tak masuk akal, Iskandar iseng, berbuntut panjang dan penyesalan. Percobaan demi percobaan itu seperti candu.

#12. Hidung Iblis
Sang lelaki belang yang membantai lelaki belang dengan pemacing hasrat istrinya sendiri, Mirna yang jelita. Berkelit masalah ekonomi, petualang cinta, setia kawan atau pengianat, sampai drama saling ancam dalam penyelesaian proses kriminal. Endingnya twist. “Seberapa sering kamu mengajukan pertanyaan-pertanyaan metafisika?”

Sejatinya semua ini bermula dari Gentayangan. Novel pertama Intan Paramaditha yang masuk lima besar Kusala Sastra 2018 ini membuatku penasaran karya lain, Sihir Perempuan menjadi buku ke 100 yang kubaca tahun lalu. Dan dari komentar teman di sosmed bahwa ada kumpulan cerpen Intan kolaboratif, bilang cerpennya yang paling menawarkan kengerian, maka jadilah kunikmati juga buku ini. Eka Kurniawan jelas adalah salah satu Penulis besar yang masih hidup saat ini. Penghanggaan demi penghargaan internasional adalah bukti, ia memang Penulis jempolan. Terbukti lagi, di sini. Empat cerpennya kurasa yang terbaik. Ketenangan bernarasi menjadi kekuatan utama, menyimpan rapat kejutan masih menjadi andalan, hingga fakta itu dibuka di penghujung. Riwayat Kesendirian itu luar biasa lho, tak ubahnya sebuah lipatan origami yang menghasilkan angsa terbaik. Ina Mia dan kesedihan takdir yang tercipta. Ugoran ternyata jua penulis hebat, empat cerpennya sudah cukup untuk bekal mengarungi cerita-cerita lain beliau.

Kuhirup udara seolah-olah aku ingin memasukkan seluruh udara di dalam ruangan ke dalam tubuhku, dan siapa pun yang bersembunyi di balik udara, akan tersirap dan mendekat ke arahku. Dan sebagaimana budak sejati, kami juga berada di tengah-tengah: antara keinginan untuk merdeka dan kesetiaan yang tak terjelaskan.

Kumpulan Budak Setan | Oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad | GM 616202044 | Desain sampul eMTe | Setting Sukoco | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, 2016 | ISBN 978-602-03-3364-9 | Skor: 5/5

Untuk Abdullah Harahap

Karawang, 070319 – 160319 – Ronan Keating – I Hope You Dance

Nyepi Day – Undian 8 besar UCL – Liga Sparing

The Dinner #3

The Dinner #3

“… Hidangan utamanya baru saja datang…”

Buku pertama yang kubaca pasca menyusun Best 100 Novels. Mereview-nya ketunda mulu, sampai tiga kali kesempatan duduk depan laptop guna menuntaskannya. Memang butuh perjuangan lebih keras untuk melakukan sesuatu sekalipun kita mencintainya. Semakin ke sini, dunia digital makin rumit dan menggeser segala yang manual. Saya merasakan semakin canggih HP yang kupunya malah makin menjauhi intelektual waktu berharga. Aneh sekali. Nah The Dinner ini jua absurd, bagaimana teknologi menjadi pengungkap semua kasus pembunuhan yang tak terencana yang meneror banyak aspek. Bagaimana kehidupan orang terkasih justru bisa menjadi mata pisau tajam yang mengancam. Novel psokologis yang sejatinya bagus sekali sedari awal sampai pertengahan. Sayangnya tensinya tak terjaga aman, setelah makan malam usai kisah malah menuai anti-klimak. Dengan label lingkaran merah ‘SEGERA Difilmkan’ saya yakin sekali ini bakal jadi film indi ataulah masuk film-film festival yang gaungnya hanya terdengar antar movie freak nan snob, tak akan sampai blockbuster. Hanya kejutan besar yang akan menjadikannya jadi perbincangan banyak khalayak.

Buku ini saya baca tahun lalu saat santai, awalnya mau kejar kandidat untuk 100 novel terbaik tapi ga sampai, dan memang pada akhirnya tak masuk. Kisahnya tentang keluarga calon Perdana Menteri Belanda yang makan malam keluarga. Awalnya memang tenang, makan bersama antar kakak adik terpandang bersama para istri. Berempat, menikmati restoran mahal. Aku ingin melakukan ini semua sebagai keluarga. Jika aku harus memberikan definisi kebahagiaan, akan kukatakan, kebahagiaan tidak membutuhkan apa pun kecuali kebahagiaan itu sendiri, kebahagiaan tidak membutuhkan pembenaran. Saat akhirnya sebuah kasus dibuka, kasus pembunuhan yang melibat anak mereka, segalanya bak angin ribut yang menodongkan belati tajam ke arah mereka.
Aku akan mengendalikan diriku seperti dirimu menahan nafas di dalam air, dan aku akan bersikap seolah-olah tidak ada yang aneh sama sekali dengan tangan orang asing yang melambai ke makanan di atas piringku. Tentu aku menyadari, di restoran yang lebih mahal, kualitas dianggap lebih penting ketimbang kuantitas, tetapi akan ada ruang kosong dan kehampaan. Pilihan makin sulit, saat fakta demi fakta dibuka. Melalui rekaman cctv mesin ATM bagaimana suatu malam seorang gelandangan terbunuh tak sengaja oleh dua anak remaja.

Seperti sepucuk pistol di atas panggung pementasan, ketika seseorang mengacung-acungkan pistol selama babak pertama, kau bisa memastikan bahwa akan ada yang ditembak dengan pistol itu sebelum tirai diturunkan. Itu adalah aturan drama pertunjukkan. Aturannya menyebutkan bahwa pistol tidak akan muncul di panggung bila tidak ada yang menembaknya. Sang calon perdana menteri makin kalut, bagaiman jika terus maju dan menang karena elektabilitas memang tinggi, dan mengetahu anak mereka adalah pembunuh. Apakah berani menjatuhi hukuman berat itu?
Itulah sebabnya ia memilih berlari.

Katanya kau dapat melakukannya sendiri di tengah udara segar dan dia bertingkah seolah gagasan itu datang dari dirinya sendiri. Dia sudah lupa bahwa aku sudha mulai berlari beberapa tahu lalu dan tak sekalipun melewatkan kesempatan melayangkan komentar sinis tentang ‘adiknya yang berlari-lari kecil.’ Karena di Belanda yang maju, masyarakatnya yang modern di mana setiap orang dewasa katanya jaminan makmur secara ekonomi maka kasus ini tergolong riskan.

Seperti ketika kau tidak membuang buku buruk ketika sudah membacanya setengah bagia, kau akan tetap menyelesaikannya dnegan enggan, begitulah ia bertahan hidup bersama Serge – mungkin bagian akhirnya akan memperbaiki sebagian hubungannya. Daddy dan mommy ingin berbicara denganku. Daddy dan mommy mencintaiku lebih dari apa pun di dunia. Ya, keluarga menjadi tumpuan. Keluarga adalah segalanya. Sepakat. Jabatan bisa jadi sebuah jaminan karir, tapi keluarga adalah kata istimewa yang tak boleh goyah oleh apapun.

Ya, bersikap polos adalah cara terbaik melakukannya, pasti tak terlalu sulit bagiku memainkan ayah polos. Lagi pula, seperti itulah diriku, naif. Kau tidak berbuat salah, kau hanya menendang bola ke jendela. Itu hanya sebuah kecelakaan. Kecelakaan bisa terjadi kapan saja, tetapi itu tidka bisa menjadi alasan untuk mengataimu seperti itu. menenangkan sang anak, termasuk anak angkat yang mulai terkuak menyimpang? Sungguh mulia. Bila kau merusak sesuatu meskipun tak disengaja, kau harus membayar kerusakannya.

Memperbaiki segalanya harus dengan konsekuen bersama. Pengorbanan demi orang terkasih, lebih mulia ketimbang takhta yang menjanji.

Di Belanda kau memiliki jaringan keselamatan sosial. Seharusnya tidak ada yang terpaksa menggelandang dan tidur di bilik ATM. “Kau tahu apa yang sebaiknya dalam hal ini? Lupakan sejenak, selama tidak ada yang terjadi maka tidak akan ada yang terjadi.” Satu sepatu tenis dapat merujuk pada puluhan ribu pemakai sepatu tenis, tetapi sebaliknya puluhan ribu sepatu tenis sulit untuk ditelusuri ke astu pemilik yang spesifik.

Perang sebaiknya meletus di luar sana, atau serangan teroris akan lebih baik dengan banyak korban jiwa warga sipil yang akan membuat orang-orang menggeleng-geleng khawatir. Ambulan datang dan pergi, kereta api atau kereta bawah tanah yang terguling, bagian depan gedung berlantai sepuluh yang terbakar – hanya itu cara agar wanita tunawisma di bilik ATM dapat menghilang di belakang layar, menjadi peristiwa kecil di antara peristiwa-peristiwa besar. Benar luka itu akan tetap ada, tetapi sebuah luka tidka harus menghalangi kebahagiaan. Selama waktu berjalan, aku akan bersikap senormal mungkin.

Ini bukan sekadar tentang pesta, ini tentang masa depanmu…” Salah satu istilah abstrak, masa depan. Masa depan anak tercinta, setiap pengorbanannya sangat pantas. Abad pertengahan, kalau kau renungkan lagi, adalah zaman yang membosankan, kecuali beberapa pemberontakan keji, sangat sedikit yang terjadi pada saat itu.

Aku juga akan menangis jika sebodoh itu.”

Kau mengatakan sesuatu yang setajam pisau kepada seseorang agar dia terus mengingatnya seumur hidup. Terkadang pembicaraan menemui jalan buntu. Demi Michel. Demi Michel. Aku akan menahan diriku bertindak. Tentu saja itu mengerikan, kita semua telah diajarkan untuk mengatakan bahwa itu mengerikan, tetapi dunia tanpa bencana dan kekerasan – bencana alam maupun kekerasan otot dan darah – akan sangat membosankan.

Aku memikirkan tentang waktu, waktu yang berlalu tepatnya, betapa satu jam dapat terasa sangat lama, tiada akhir juga terasa gelap, panjang, dan kosong. Siapapun akan berfikir seperti itu, tidak perlu memikirkan tentang ruang dan waktu yang btidka terbatas.

Bila itu yang terjadi maka situasiku menjadi lebih menyedihkan daripada yang kukira.

Tetapi kita harus tetap objektif, ini sebuah kecelakaan. Kecelakaan yang dapat memberikan dampak sangat besar pada kehidupan anak-anak kita, pada masa depan mereka. “Demi kepentingan terbaik anakku, dan juga demi negeri ini, aku akan menarik pencalonanku.

Masa depan itu akan hancur jika kau berhenti mengikuti keinginanmu untuk memerankan politisi mulia. Hanya karena kau tak sanggup menjalani hidup dengan menanggung sesuatu, kau menganggap bahwa hal ini juga berlaku pada anakku.

Apakah aku perlu mengetahui ini? Apakah aku ingin mengetahui soal ini? Apakah ini akan membuat kami lebih bahagia sebagai keluarga?

The Dinner | by Herman Koch | diterjemahkan dari The Dinner | terbitan Ambo | Anthos Uitgevers, Amsterdam, 2009 | original published Het Diner | copyright 2009 | Penerbit Bentang | penerjemah Yunita Chandra | penyunting Ade Kumalasari | perancang sampul Fahmi Ilmansyah | pemeriksa aksara Intan Puspa | penata aksara Martin Buczer | cetakan pertama, April 2017 | vi + 350 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-291-240-8 | Skor: 3,5/5

Nice Guy Eddie: Ayolah, beri saja satu dolar. | Mr Pink: hm-mh. Aku tidak memberi tip. | Nice Guy Eddie: Apa maksudmu, kau tidak memberi tip? | Mr Pink: Aku tidak setuju soal tip. – Quentin Tarantino, Reservoir Dogs

Karawang, 02-171217 030618 – Angela – Yesterday Once More # Sevendust – Forever Dead

#3 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku