Heroes Of The Valley #2

Gara-gara keseruan trilogi Bartimaeus, saya memburu buku-buku Jonathan. Sang Pahlawan adalah buku pertama yang saya baca setelah petualang sang jin. Hasilnya adalah ketakjuban yang semakin menjadi. Jonathan jelas telah menjadi salah satu penulis besar dekade ini. Dengan detail yang mengagumkan, sang Pahlawan membuat negeri imajinasi-nya sendiri. Sebuah genre favorit saya.
Halli sangat suka mendengarkan kisah-kisah pertempuran lama, ketika lembah masih merupakan tempat liar, dikepung monster-monster Trow yang haus darah. Halli kecewa sekarang semua orang hanya sibuk bertani. Tapi ketika perseteruan lama kembali berkobar, ia melihat kesempatan untuk beraksi bagai sang Pahlawan pujaannya. Bersama Aud, gadis ceroboh dan keras kepala seperti Halli yang ternyata malah menemukan kebenaran legenda, lembah dan diri mereka sendiri.
Dunia imajinasi milik Jonathan bernama Valley (lembah) yang dihuni oleh 12 klan. Mengingatkanku pada kisah Game of Thrones dengan skala kecil. Di sang Pahlawan nantinya memang ada pertempuran perebutan kedaulatan. Namum memang skala macam berkelahi antar kampung. 12 klan dengan segala petanya dibuat dengan bagus sehingga ada tuntunan dalam membayangkan arah cerita. Dengan sudut pandang Halli Sveinsson yang begitu memuja Pahlawan penetap Svein bersama 11 ketua klan lainnya dahulu kala berhasil mengusir monster Trow keluar dari lembah. Halli begitu memujanya, cerita turun-temurun itu ternyata banyak modifkasi karena setiap klan berkisah ketua klan merekalah yang memimpin pertempuran. Awalnya, biarlah kesalahpahaman masa lalu disingkirkan dan dikubur bersama nenek moyang di bukit.
Konflik dimulai saat seluruh klan berkumpul untuk mengajakan jamuan, Svein menjadi tuan rumah. Paman Halli, Brodir Sveinsson terbunuh. Halli yang menyaksikan kejadian tersebut murka, terlebih ia sangat mengagumi pamannya yang sangat imajinatif. Olaf Hakonsson kabur, jamuan tersebut menjadi tragedi yang bisa jadi akan membuat peperangan. Arnkel Sveinsson, ayah Halli tak bisa berbuat banyak. Pembunuhan itu dalam pengadilan hanya menghukun klan Hakonsson memberikan tanah kepada klan Svein. “Tanah bukan hal tak bisa diremehkan Nak, dari situlah kekayaanmu bersumber.” Halli tak terima, nyawa harus dibalas dengan nyawa. Halli yang bertubuh kecil, suka berkhayal, dan sangat ingin menjadi seperti Svein the Great bertekad membalas. Ia berangkat untuk membunuh keluarga Hakonsson di barat seorang diri.
Perjalanan panjang nan berliku. Dari peta kita tahu, klan Hakonsson ada di ujung barat dekat klan Orm dan Arne dan berbatasan langsung dengan laut. Perjalanan yang akan dikenang di masa depan atas keberanian untuk menegakkan kebenaran. Saya sendiri takjub atas tekad dan semangat pemuda kerdil tersebut. Sebuah misi mustahil tersebut menemui titik-titik keberuntungan yang membuat Halli terus selamat dan ternyata bisa menjungkirkan klan Hakon, membakar rumah mereka dan lalu kabur dengan senyum kemenangan. Tentu saja, klan Hakon murka sehingga tak peduli bagaimana caranya akan membalas Svein. Halli yang kabur, secara tak sengaja ketemu Aud temannya dari klan Orm. Berdua mereka menyusun strategi bertahan sampai akhirnya perang besar tak dihindarkan. Pertarungan besar antara klan Svein dan Hakon tersebut menyeret klan lainnya untuk menentukan pilihan kemana mereka berpihak. Pertempuran dahsyat yang membuka luka lama.
Heroes Of The Valley | Sang Pahlawan | By Jonathan Stroud | Copyright 2009 | Alih bahasa Popy Damayanti Chusfani | GM 322 01 11 0007 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan I, April 2011 | 488 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-6959-9 | Untuk Jill dan John, dengan penuh cinta | Skor: 4/5
Karawang, 020915 – Pening never ending
#30HariMenulis #ReviewBuku #September2015

Iklan

Pulau Dokter Moreau #1

image

Dari orang yang memukau kita lewat Jurasic Park, H.G Wells kembali membuatku terpesona. Sesaat setelah selesai membaca Pulau, saya tertidur dan mimpi buruk. Manusia-Binatang tersebut mengacaukan pikiran teman-teman kerja. Di kantor rusuh, kelakuannya mirip yang digambarkan Wells. Meja dilempar, kursi dibanting, kertas berhamburan, saling pukul, saling hujat, seram. Semua terlihat di CCTV, saat diintrogasi sebuah nama disebut dan dirinya seakan linglung di hadapan petugas.  Seperti Manusia-Binatang yang malu-malu mengucapkan hukum, terdakwa terbata-bata mengakui tindakannya. Saat terbangun saya begidik ngeri, membayangkan pikiran Prendick yang diombang-ambing nasib sendiri di sebuah kapal di tengah samudra. Aneh bin ajaib, nama seseorang yang dipanggil di mimpi tersebut, hari itu dipanggil HRD lalu dikeluarkan dari Perusahaan karena sebuah kasus. Wells effect…
Cerita dibuka dengan sebuah pengantar yang menyebutkan pengakuan Charles Edward Prendick melalui surat. Sang keponakan membeberkan narasi panjang tentang pamannya yang hilang selama 11 bulan di laut. Menumpang kapal Lady Vine yang hancur berkeping karena bertabrakan dengan kapal tak berawak. Setelah terombang-ambing di laut lepas tanpa harapan, Predick diselamatkan kapal Ipecacuanha yang membawa dua dokter ahli bedah anatomi dan manusia-manusia aneh mengerikan. Lalu kapal tersebut menurunkannya di sebuah pulau tak bernama, di sanalah kisah ini bermula. Dua dokter gila ekperimen mencipta monster-monster untuk dididik.
Prendick bersama dokter Moreau dan dokter Montgomery hidup bersama Manusia-Binatang. Mahkluk yang dicipta melalui penggabungan berbagai jenis binatang. Mereka dilatih dan diajarkan layaknya manusia. Moreau sendiri adalah ‘Tuhan’ bagi Manusia-Binatang. Mereka harus berjalan dengan dua kaki. Dilarang makan daging mentah, dilarang minum langsung ke sumber air, dan dididik ritus-ritus agama. Membayangkannya saja sudah mengerikan. Namun seperti yang kuduga, bencana terjadi. Insting buas kebinatangan itu kembali. Pemberontakan muncul sampai ada yang meninggal. Lalu mereka kembali mempertanyakan hukum kebenaran manusia. Predick terjepit di dua pilihan sulit. Bertahan di pulau itu dengan konsekuensi gila dan terbunuh atau nekat kembali ke lautan lepas dengan bekal sekedarnya?
Pulau Dokter Moreau | by H.G Wells | Penerjemah Aryo Swastika | Penerbit Quills Book Publisher Indonesia | cetakan 1, Agustus 2005 | ISBN 979-999-850-6 | 264; 120 x 180 mm | Skor: 5/5
Karawang, 010915 – Cuci baju yang banyak
#30HariMenulis #ReviewBuku #September2015

The Catcher In The Rye #30

Featured image

‘Mengapa buku ini disukai para pembunuh?’ adalah kalimat yang ada di back-cover. Entah apa maksud sesungguhnya, biasanya sampul belakang isinya sinopsis cerita yang akan dijual, namun di novel bersampul putih ini hanya berisi satu kalimat yang membuat penasaran. Inilah catatan ke 30 dari 30 review buku yang saya sajikan di bulan Juni 2015 ini. Tak terasa, 30 buku rasanya sangat kecil, ratusan masih ngantri. Dan kebetulan buku ke 30 ini baru saja saya baca, fresh from the oven! Bukunya cetakan ketiga bulan Juni dibacanya bulan Juni 2015. Cepat betul. Sungguh!

Apa yang bisa saya sampaikan tentang Holden Vitamin Coulfield? Kalian harus membaca sendiri untuk menyelami isi kepala si orang aneh ini. Cerita dibuka dengan sedih, si Holden ini dikeluarkan dari sekolah untuk ketiga kalinya. Untuk orang normal, tentunya itu nasib malang, namun bagi Holden itu biasa saja. Kisah digulirkan tanpa bab, hanya dipecah per Angka. Tanpa daftar isi, tanpa pengantar. Membuktikan bahwa JD Salinger memang tak mau pusing-pusing aturan baku. Sepanjang nyaris 300 halaman kita akan mengikuti perjalanan Holden menjelang Natal di hari Rabu. Dari sudut pandang orang pertama, kita akan dijejali Ke-AKU-an-ku. Menganggap semua orang di kota sinting, kecuali dirinya. Stress betul. Sungguh.

Di sekolah Spencer Holden menganggap, “semakin mahal uang bayaran satu sekolah semakin penuh pula sekolah itu dengan maling – serius aku tidak bercanda.” Ini jelas hanya pemikiran Holden yang memandang sinis dunia. Memang seakan Holden ini pembawa petaka. Tim anggar Spencer gagal bertanding karena peralatannya ketinggalan. Dari 5 mata pelajaran, Holden hanya lulus satu di Bahasa Inggris. Sisanya busuk, dia juga ga niat remidi. Seenak udele dewe. Sebelum pergi dari sekolah terkutuk itu, Holden ingin pamit ke guru Sejarahnya yang sudah tua. Lalu bermasalah dengan teman sekamarnya. Pergi dengan luka. Selanjutnya dari malam Minggu sampai menjelang Natal itu dia menggelandang dari satu hotel ke klab malam, ke gedung broadway untuk nge-date dengan Sally, ke kedai roti, ke stasiun, ke kebun binatang, ke museum, ke mana saja termasuk pulang untuk menemui si bungsu Phoebe.

Buku aneh betul ini ya. Sungguh. Menakutkan sekaligus mencengangkan. Segala luka berdarah dan sebagainya membuat aku kelihatan jantan. Semua orang tolol benci dipanggil tolol. Holden baru enam belas tahun, coba pesan minuman keras. – aku mengucapkan pesananku secepat-cepatnya, karena kalau kita terbata-bata dan salah-salah kata, mereka langsung berfikir bahwa kita masih di bawah dua puluh satu tahun.

Kisahnya sendiri tak tuntas, apa yang terjadi berikutnya masih tanda tanya. Holden ini tipikal orang yang suka complain, suka ngeluh, suka marah (dalam kepala) namun ternyata pecundang sejati. Satu lagi, dia cinta anak kecil. Allie adiknya yang sudah meninggal selalu diagung-agungkan sebagi satu-satunya orang normal. Lalu cintanya pada si Phoebe sungguh besar. Adegan saat dia menangis ketika menerima uang itu salah satu adegan paling menyentuh sepanjang hari. Walaupun begitu tetap saja Holden iki hanya lantang di kepala. Seperti pas adegan dia ingin keluar dari kamar lalu turun dari lift ketemu sang penjaga lalu menembaki sampai mampus. Cih, hanya angan kosong seorang pecundang. Ada lagi bagian yang bikin kesal, saat dia tanya kemana perginya bebek-bebek di kolam taman saat danau membeku. Dimana ikannya kalau air di sana menjadi es. Itu bagian yang bikin gregetan. Setuju sekali sama supir taksinya. Holden memang perlu dilabrak.

Novel ini menawarkan nihilitas. Lagi-lagi nihilitas yang berkualitas. Catat teman-teman ya, sebuah novel kosong tanpa menggurui ternyata banyak yang bagus. Intinya disajikan dengan renyah sehingga pembaca dipaksa terpaku melahap terus. The Catcher sendiri saya baca sehari kelar, menabrak jam malam saat liburan akhir pekan. Namun saat selesai saya masih bertanya juga, kenapa buku ini disukai pembunuh? Apa karena isi kepala Holden yang melalangbuana ga jelas itu? Apa karena rebel with a cause nya? Ngajak berfikir out of the box? Entahlah.

Satu lagi catatan menarik, editor novel terjemahan ini adalah bung Yusi Avianto Pareanom, orang yang menelurkan kumpulan cerpen yang unik yang beberapa bulan lalu kubaca. Setelah kuamati gaya bahasanya mirip JD Salinger. Edan betul. Sungguh!

The Catcher In The Rye | by J.D Salinger | copyright 1945, 1946, 1951 renewed 1973, 1974, 1979 | Penerbit Banana | alih Bahasa Gita Widya Laksmini | Cetakan ke 3, Juni 2015 | 14 x 21 cm, iv + 296 hlm | ISBN 979-99986-0-3 | Skor: 5/5

Karawang, 300615 – SIM day

#30 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

A Game Of Thrones: Perebutan Takhta #29

image

“Atas nama Raja Robert dan dewa-dewa yang kalian sembah, aku meminta kalian menangkap lelaki ini dan membantuku mengembalikannya ke Winterfell untuk menunggu hukuman raja”
Sampai dengan akhir bulan Juni, dialog tersebut adalah yang terbaik dari semua buku yang saya baca tahun 2015. Sepertinya sederhana, namun dibalik itu semua. Segalanya (mulai) menjadi kacau. Karena setelahnya, tertulis, ‘Catelyn tak tahu mana yang lebih memuaskan: bunyi puluhan pedang yang dihunus bersamaan atau ekspresi di wajah Tyrion Lannister’.
Saya menerima novel tebal ini pada hari Jumat, 13 Maret 2015 saat pulang kerja. Terkejut, novelnya datang lebih cepat dari yang saya kira. Targetnya seminggu setelah terima akan saya review, namun sayang aktualnya tak sesuai. Sabtu – Minggu lembur, persiapan audit, pulang malam, lalu closing payroll membuatku sedikit susah mengatur jadwal baca. Semua buku saya singkirkan dulu, Jungle Book, 1984, The Screwtape Letters sampai The Sound and the Fury. Semua saya sisihkan demi buku ini. Saat akhirnya saya selesai baca saya malah sakit kemudian buku ini terletak begitu saja di rak. Satu hal yang pasti, kecepatan baca saya sudah ga seperti saat lajang. Sekarang saya tiap hari pastinya disibukkan Hermione yang kini sudah berumur 10 bulan. Saya hanya menikmati kesendirian dengan buku saat dia terlelap dan itu pastinya di tengah malam sampai subuh. Saat anak-istri sudah tidau dan tengah malam saya sendirian dengan buku adalah waktu yang sangat berharga. Dengan segala persiapan untuk mendapatkan kepuasan maksimal dalam membaca ‘GoT’ saya rasa setimpal yang saya dapat. Sebelumnya perlu diketahui, saya menutup segala informasi GoT dari segala sumber agar tak ada bocoran yang hinggap di kepala, ini sungguh sangat menyiksa. Saya hanya tahu GoT sukses besar di HBO. Dengan kesabaran tingkat tinggi, akhirnya penasaran itu terbayar sudah dengan terjemahan ini. Yah, walau tentu saja belum lunas karena bersambung. Berikut review saya:
A Game of Thrones (GoT): A Song of Ice and Fire #1, Perebutan Takhta. Cerita diambil dari sudut pandang beberapa karakter. Cerita dibuka dengan sebuah prolog, sebuah pengejaran Garda Malam terhadap orang-orang wilding. Tragedi terjadi, pengejaran gagal dan berujung petaka. Petaka yang disimpan sampai akhir cerita buku #1 ini. Karena setelahnya kita akan fokus pada konflik antar klan. Ada 5 klan utama yang memainkan peran:
1. Klan Baratheon, simbol: Rusa jantan, latar: emas. Semboyan: “Yang kami miliki adalah amarah”
2. Klan Stark, simbol: direwolf, latar: putis es. Semboyan: “Musim dingin akan datang”
3. Klan Lannister, simbol: singa emas, latar: merah tua. Semboyan: “Dengar Raunganku”
4. Klan Tully, simbol: ikan trout melompat, latar: perak. Semboyan: “Keluarga, Kewajiban, Kehormatan yang dijunjung tinggi”
5. Klan Targaryen, simbol: naga kepala tiga, latar: hitam. semboyan: “api dan darah”
Buku pertama ini menggunakan simbol kepala direwolf yang terpenggal. Dengan warna latar merah menyala dan tulisan putih khas salju. Bukan gambar sembarangan. Entah kalian memihak siapa, ‘Perebutan Takhta’ kurasa lebih condong ke klan Stark. Memberi daya kejut yang luar biasa di akhir yang pilu. Buku dimulai dengan sudut pandang Bran Stark, bersama saudara-saudaranya diajak melihat hukuman mati. “Kalau hendak mencabut nyawa orang, kita memiliki kewajiban moral untuk menatap matanya dan mendengar kata-kata terakhirnya. Dan kalau kita tak sanggup, barangkali orang itu tak pantas mati.” Sepulang dari eksekusi, mereka menemukan sukumpulan anak direwolf yang terlantar di dekat jembatan. Hewan yang awalnya dikira mitos tersebut diambil dan dipelihara oleh masing-masing anak Stark.
Lalu cerita fokus ke keluarga Stark. Eddard sang ayah adalah karakter berwibawa yang memimpin klan dengan bijak. Catelyn adalah istri yang selalu menyeimbangkan kebijakan klan. Anak-anak Stark: Bran yang pemberani yang hobi manjat. Jon Snow si anak haram. Robb si sulung yang mulai diajarkan berperang, Arya yang juga pemberani dan the lady Sansa. Semuanya memberikan kontribusi cerita yang pas. Saat sepertinya ini adalah keluarga yang sempurna, tragedi dimulai.
Raja Robert meminta Ned ke selatan untuk menjadi Tangan Kanan raja. Tentu saja Ed menolak ajakan teman lama tersebut, namun karena ini perintah raja mau ga mau Ed harus berangkat. Sebelum berangkat nasib sial menghampiri, Bran yang tak pernah jatuh dari hobi manjatnya malah ‘jatuh’. Kita tahu sebab jatuhnya karena saat kejadian diceritakan dari sudut pandang Bran. Namun siapa yang mendorong-nya disimpan rapat sampai pertengahan. Sebagai ibu, Catelyn larut dalam duka yang mendalam. Setelah Ed berangkat ke selatan, Jon bergabung dengan Garda Malam ke benteng utara, klan Stark dipimpin Robb yang masih sangat muda.
Keseruan dimulai. Raja Robert pamit. Takhta goyah. Seluruh klan berlomba merebutnya. Kepada siapa jabatan tertinggi tersebut dipegang tak akan kalian temukan. Karena buku setebal nyaris seribu ini hanya permulaan. Bayangkan, tulisan kecil-kecil, tebal ini hanya permulaan kisah. Hebat sekali Sir George RR Martin ini. Salah satu penulis besar abad ini!
“aku berani bersumpah, menduduki takhta ternyata seribu kali lebih berat daripada merebutnya” – Raja Robert. (halaman 40)
“kematian adalah akhir dari segalanya, sementara kehidupan penuh dengan kemungkinan”  – Tyrion Lannister (halaman 90)
“kebanyakan orang lebih suka menyangkal kebenaran yang menyakitkan daripada menghadapinya” – Tyrion Lannister. (halaman 129)
“Kenapa kau ingin menunggang kuda tua yang bau sampai badanmu sakit dan bersimbah keringat, padahal kau bisa duduk santai beralas bantal-bantal bulu dan makan kue bersama Ratu” – Sansa Stark (halaman 148)
“Perkataanmu melukaiku. Aku pribadi sejak dulu menganggap keluarga Star menjemukan, tapi Cat sepertinya sudah terpikat padamu, untuk alasan yang tak dapat kupahami. Aku akan mencoba menjagamu tetap hidup demi dia. Tugas yang konyol, terus terang saja, tapi aku tak pernah menolak permintaan istrimu. – Littlefinger (halaman 214)
“Rakyat bedoa untuk hujan, anak-anak yang sehat dan musim panas yang tak pernah berakhir. Mereka tidak peduli jika para bangsawan sibuk berebut takhta, selama mereka dibiarkan hidup tenang” – Ser Jorah (halaman 252)
“Cerita bisa menunggu tuan muda, kapan pun kau kembali kepada mereka, mereka selalu ada di sana. Tamu tak sesabar itu, dan kerap kali mereka membawa cerita mereka sendiri.” – Nan Tua (halaman 262)
“Kau belum juga paham, Lord Eddard. Tidak mempercayaiku adalah hal yang paling bijaksana yang kau lakukan sejak turun dari kuda” – Littlefinger (halaman 280)
“Para septon berkhotbah tentang tujuh neraka. Mereka tahu apa? Hanya orang yang pernah terbakar yang tahu seperti apa rasanya neraka” – Gregor (halaman 331)
“Mereka bilang keindahan malam memudar saat fajar, dan pikiran kala mabuk sering kali terlupakan ketika pagi datang.” – Ser Barristan (halaman 335)
“Semua lorong mengarah ke suatu tempat. Jika ada jalan masuk pasti ada jalan keluar. Rasa takut mengiris lebih dalam ketimbang pedang” – Arya stark (halaman 377)
Dan setelah kau mengetahuinya, lalu apa? Beberapa rahasia lebih aman jika tetap tersembunyi. Beberapa rahasia terlalu berbahaya untuk dibagi, bahkan dengan orang-orang yang kau cintai dan kau percaya – Ned Stark (halamana 394)
“Kebodohan dan keputusasaan sering kali sulit dibedakan” – Maester Luwin (halaman 453)
“Sebagian orang buta huruf meremehkan tulisan, sebagian lagi punya keyakinan takhayul terhadap kata yang tertulis seakan-akan itu semacam sihir” – Mord (halaman 464)
“Semakin tua kebutuhan tidurku semakin sedikit, dan aku sudah sangat tua. Aku sering melewatkan setengah malam bersama hantu-hantu, mengenang masa 50 tahun yang lalu seakan-akan baru terjadi kemarin.” – Maester Aemon (halaman 501)
“saat memainkan perebutan takhta pilihannya adalah menang atau mati, tak bisa setengah-setengah.” Cersei (halaman 545)
Dia berpura-pura sedang mengejar kucing hanya saja dia kucingnya sekarang. Dan jika tertangkap mereka akn membunuhnya. – Arya Stark (halaman 600)
Saat tidur dia bermimpi: mimpi gelap dan meresahkan tentang darah dan janji yang tak ditepati. Saat terjaga tak ada yang dapat dilakukannya selain berfikir. Dan pikirannya saat terjaga lebih mengerikan dibanding mimpi buruk. – Eddard stark (halamn 705)
Lelaki ini membawakun ke bawah bintang-bintang dan memberi nyawa pada anak di dalam tubuhku. Aku tak akan emninggalkannya.” – Dany (halaman 801)
“Hodor!” – Hodor (Amazing Tale all of time)
A Game of Thrones: Perebutan Takhta | by George RR Martin | copyright 1996 | Penerbit Fantasious | penerjemah Barokah Ruziati | cetakan pertama, Maret 2015 | XVI + 948 hlm; 13×20,5 cm | ISBN 978-602-0900-29-2 | yang satu ini untuk Melinda | Skor: 5/5
Karawang, 300615 – bukber NICI di KB
#29 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Divortiare #25

Novel kedua Ika yang saya baca setelah ‘A Very Yuppy Wedding’.  Ada penurunan kualitas dari yang pertama. Kalau yang pertama kelemahan ada di judul, karena ya memang akan jadi pernikahan bahagia, yang kedua ini kelemahan utama ada di cerita. Pertengahan sampai akhir kurasa kurang greget. Ketebak dan sepertinya Ika kurang berani mengambil resiko ‘Bad Ending’. Dibaca 6 tahun lalu saat jomblo dan jobless, tertanda di sampulnya: Sunday – 310808 @ MLC Book Store: Kawan datang dan berlalu. Saat lagu-lagu Sherina Munaf masih sering berkumandang di kos Ruanglain_31. Ditinggalkan kenangan…

Diceritakan Alexandra telah bercerai dengan Beno Wicaksono. Alex ini workaholic, wanita karir sebagai seorang banker, sedang Beno adalah dokter bedah jantung. Pernikahan mereka hanya seumur jagung. Hanya keegoisan Alex dan kecuekan Beno-lah penyebab utama mereka pisah. Beno is a fool for letting me go? Padahal kalau dilihat dari segi kecocokan, ekomoni (yang biasanya menjadi kendala utama) dan cinta mereka tak ada masalah. Sungguh skenario yang kurang bagus, konflik yang disajikan jelas kurang menarik. Walau sudah cerai mereka masih sering kontak, karena Beno telah menyelamatkan ibu Alex, keadaan mereka berdua membaik. Dalam kisah ini kita disajikan dari sudut pandang Alex yang berusaha melupakan mantan suami. Lika-liku wanita karir yang benar-benar mencoba mandiri.

Dalam perjalanannya, Alex yang gagal move on namun akhirnya mendapat kenalan cowok keren bernama Denny. Pria tajir dan mapan ini mencintai janda Alex, mengajaknya melangkah lebih jauh. Sementara hubungannya dengan mantan suami mulai membaik. Pilihan kini ada di Alex, rujuk apa memulai kehidupan baru dengan Denny ke New York? Kisah klise, toh mau pilih siapapun Alex dapat pria mapan. Kecuali pilihannya seorang penganggur atau tampang pas-pasan baru pening. Jelas sekali Divortiare bukan novel di genre saya.

Aku ingat dulu Ryan pernah bilang, “Nadine pakai daster tetaplah Nadine. Kate Beckinsale pakai sarung tetaplah KateBeckinsale. Omas pakai Victoria’s secret juga ga berubah jadi Heidi Klum, kan? (halaman 88)

“Alexandra, I hate to sound like cheesy romantic novels, just because he hurt you, doesn’t mean it’s gonna happen again when you open your heart again to the next gu, right?” (halaman 79)

It was a good day in our marriage, salah satu hari baik dari sekian ratus hari yang penuh dengan pertengkaran. We laughed, we talked, we kissed, and then we fought again. (halaman 147)

Masih mending A very yang lebih mengena konfliknya. Sebagai anak kos – dulunya – novel-novel Ika tak cocok dilahap saat kantong kosong nunggu gajian, dia jelas kelas atas sedang saya jelata yang jangankan memikirkan fashion, besok bisa makan di Warteg tanpa hutang saja sudah Alhamdulillah. Fakta lho, dulu pas kos saya pernah bon makan saking kere-nya. Bandingkan dengan novel Jombless yang beberapa hari lalu saya review, jauh banget. Bagian positif Divortiare adalah kisahnya ditulis dengan baik sehingga masih enak diikuti, lalu kutipan dari luar yang menambah wawasan dan English-nya enak dinukil. Sisanya lupakan! – or tattooed on your mind!

Divortiare | oleh Ika Natassa | GM 401 08.016 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Jakarta, Juni 2008 | 288 hlm; 20 cm | ISBN-10: 979-22-3846-8 | ISBN-13: 978-979-22-3846-4 | Skor: 2.5/5

Karawang, 260615 – Gajian day

#25 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Fahrenheit 451 #24

Featured image

Pertama kali dengar novel ini saat baca novel Inkheart. Di tiap bab-nya ada nukilan dari buku-buku yang berpengaruh dan ada kaitannya dengan cerita. Kutipan yang diambil adalah saat Faber ketemu Montag dan berujar, “apakah kau tahu bahwa buku-buku ini berbau biji pala atau beberapa rempah-rempahdari negeri asing? Aku suka mencium baunya ketika aku masih kecil.” Sejak saat itulah Farenheit masuk daftar buru. Syukurlah dua bulan lalu masuk rak, dan ini adalah novel yang baruuuu saja selesai baca. Semalam sesaat sebelum Taraweh saya merampungkan bagian wawancara Ray.

Fahrenheit 451 | a shorter version of “Fahrenheit 451” appeared in Galaxy Science Fiction, under the title “The Fireman” | copyright 1950 by World Edition, Inc | copyright renewd 1987 by Ray Bradbury | copyright 1953 by Ray Radbury | Copyright renewed 1981 | Coda copyright 1979 | Alih bahasa: Cecilia Ros | 188131028 | Penerbit PT Elex Media  Komputindo | ISBN 978-602-02-1320-0 | Dengan penuh rasa syukur, teruntuk Don Congdon | Skor: 4,5/5

Karawang, 250615 – begadang jangan begadang

#24 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

My Best Friend Forever #23

image

Ketika mendengar kata best friend forever (BFF) hal pertama yang terlintas dalam benakku adalah persahabatan Spongebob dan Patrick. Dalam sebuah seri, Spongebob berangkat kerja ke Krasty Krab, ketemu Patrick di jalan dan ditanya, “apa yang kamu lakukan saat aku bekerja?”, Patrick dengan polos menjawab, “menunggumu pulang….”
Buku ke 23 yang akan saya review ga ada sangkut paut-nya dengan serial di dasar laut tersebut. Adalah novel ke-2 Sherina Salsabila, buku keluaran Paci (Penulis Anak Cerdas Indonesia). Saya menjadi first reader di awal tahun 2013. Sempat berjanji pada Sher akan membuat ulasannya, namun saat itu saya lagi down sehingga rencana me-review-nya nyaris terlupa. Kemarin saat membuka-buka rak, saya teringat lagi. Saat ini beberapa kali masih kontak dengan Sher yang kini memasuki bangku SMU. Betapa waktu berjalan cepat.
Di cover pembuka ada tulisan pink “To: Om Budi & Bunda Mey, semoga senang membaca karyaku 🙂 – Sherina”. Sebuah tanda tangan tertanggal 10 Februari 2013, sabaris kalimat yang sejatinya memberi semangat kepadaku, bukan sebaliknya. Di kata pengantar nama saya juga kembali disebut, kini dalam cetakan: “… juga buat Om Lazione Budiyanto yang suatu hari nanti ingin punya akan perempuan kecil seperti aku, yang selalu memberi motivasi terbaik untukku.” Sejujurnya Sher, bukan saya yang memberi motivasi ke kamu, tapi saya-lah yang kamu beri motivasi yang saat itu kami dalam posisi terpuruk. Dan kini dua tahun lebih berselang, putri keduaku bernama Hermione, kelak mudah-mudahan doa itu terkabul, bisa secantik dan secerdas Sher. Ke depannya Sher, kalau boleh minta tolong ‘selipkan kalimat penyemangat buat Hermione – Sherina Kecilku’ di buku terbarumu.
Kisah dimulai langsung tanpa daftar isi, namun tiap bab-nya ada judul. Di pembuka Sepucuk Surat Untuk Fatia. Pagi yang mendung, Fatia mendapat surat tanpa nama pengirim di amplop. Segera dibuka dan dibacanya, ternyata dari Kenzia sahabatnya yang kini di Belanda. Menanyakan kabar dan kesibukan. Dari sepucuk surat itulah cerita ini akan digulirkan, ditarik mundur. Kenangan-kenangan semasa mereka bersama di sekolah Cendrawasih.
Tokoh utama Fatia, panggilannya Fat – duh gemuk dong – orangnya supel dan (sepertinya) yang paling cerdas. Kedua Kenzia, anak orang kaya. Anak tunggal, ayahnya kerja di bank swasta ibunya lawyer, liburan kemarin dia ke Bali. Ketiga Shania, anak baru pindahan dari Sumatra. Dirinya terpaksa pindah sekolah gara-gara orang tuanya mendapat tugas di ibu kota. Keempat, Misca teman sebangku Shania. Mereka berempat mendapat julukan ‘4 Sekawan’. Kisah novel ini menceritakan hiruk-pikuk mereka di SMP Cendrawasih. Begitulah hari-hari indah di sekolah. Masa paling indah bersama teman-teman terbaik. Ada audisi penulis, ada kegiatan Osis, ada kegiatan baksi sosial dan seterusnya.
Konflik itu muncul juga, saat pemilihan ketua Osis ada yang pingsan. Kenzia tak sadarkan diri, segera dibawa ke ruang UKS – ada yang masih ingat kepanjangannya apa? – mulai saat itu Kenzia sering sakit. Teman-temannya ikut sedih. Namun ternyata ada yang tak beres, saat Fatia secara tak sengaja membaca buku bersampul hitam sebuah fakta menarik terbongkar. Fatia yang terkejut menceritakan pada kak Farah, kakaknya yang kini kuliah. Fakta apakah gerangan? Akankah persahabatan mereka tetap utuh saat satu demi satu kenyataan buruk menghampiri. Sisi negatif tiap karakter terkuak, dan Sherina dengan sukses bisa membuat pembaca tetap terpaku sampai halaman terakhir.
Secara keseluruhan, masa itu udah lewat. Saya membacanya dari sisi seorang anak sekolah dengan segala keceriaan mereka. Hebat ya anak zaman sekarang, SD-SMP udah punya karya. Saya dulu saat seusia Sher, yang ada dalam benak ketika pulang sekolah hanya mengejar layang-layang putus, memancing di sungai, berburu burung di sawah, atau sekedar main kelereng di halaman belakang rumah. Apalagi Sher udah bisa bikin plot yang baik, konflik yang bagus, menyimpan kejutan dan eksekusi ending yang pas. Di usia 12 tahun sudah bisa membuat cerita tentang histrionic personality disorder. Ckckck… seusia itu tahuku malah brambang goreng. Sampai saat ini saya belum bertanya lagi ke Sher udah berapa buku yang ditulis. Namun novel keduanya ini termasuk sukses menghantarkan saya menikmati lembar-demi-lembar mengarungi dunia anak. Saya yakin dalam 5 atau 10 tahun lagi, nama Sherina Salsabila akan tercetak di sampul buku yang dibicarakan banyak orang karena ceritanya yang istimewa. Or is it just me?
My Best Friend Forever | oleh Sherina Salsabila | Penerbit Zettu | PACI: Penulis Anak Cerdas Indonesia | Cetakan I, 2013, 14×21 cm: 120 halaman | ISBN: 978-602-7735-45-3 | Skor: 3/5
Karawang, 230615 – Midnight midweek
#23 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku