Satu Hari Bersamamu – Mitch Albom

Aku tidak mau menjadi biasa-biasa saja. Orang yang bisa terlupakan begitu saja.”

Ada begitu banyak hal dalam hidupku yang ingin kuperbaiki. Begitu banyak peristiwa yang ingin kuulang. Poin utama novel ini mungkin adalah kesempatan. Pernahkah kau kehilangan seseorang yang kau sayangi dan kau ingin bisa bercakap-cakap dengannya sekali lagi, mendapatkan satu lagi kesempatan untuk menggantikan waktu-waktu ketika kau mengganggap mereka akan ada selamanya? Bagaimana kalau kau bisa mendapatkan kembali satu hari itu? Menakjubkan bagaimana otak bisa berfantasi demikian jauh. Satu hari bersamamu, ibu.

Kisahnya agak klise, ketebak, dan ini (mungkin karena) bukan buku pertama Mitch Albom yang saya baca maka seolah ini adalah pengulangan. Bagaimana manusia yang menerungi kehidupan di dunia antara, di dunia lain, lalu kita ambil hikmah kehidupan, betapa hidup kita adalah anugerah, syukuri saat ini. SEKARANG. Jadi yah, ga mengejutkan, kisah ini manjadi familiar. Pertama wow, kelima masih Ok deh, kesepuluh dah bosan. Berikutnya standar. Menjadi rata-rata telah dianggap sebagai sebuah standar kegagalan.

Aku ingin memperbaiki banyak hal dengan orang yang kucintai.
Sesuai judulnya, buku ini bercerita dalam satu hari. Dibuka tengah malam, siang, sore dan ditutup malam harinya. Runut, dengan sesekali memainkan pola flash back. Ibuku mengisi penuh hidupku semasa kanak-kanak – memberi saran, mengkritik, segala hal yang biasa dilakukan seorang ibu. Kadang aku bahkan berharap dia tidak merecoki aku.

Awalnya kita diajak sebagai sang Penulis (sudut Albom tentunya), ia sedang menunggu, menghabiskan waktu sendiri di tempat duduk bersama kertas dan alat tulis. Lalu ada seseorang yang nyamperin, menawarkan kisah bahwa ada seorang mantan atlit yang pernah ke World Series, pernah mencoba bunuh diri. Charles ‘Chick’ Benetto mempunyai hidup yang laik untuk diceritakan, maka sang Penulis pun menemuinya. “Biar kutebak. Kau ingin tahu kenapa aku mencoba bunuh diri.” Dengan berbekal ingatan akan kenangan ibunya dan segala masa lalu yang mengharu, kita pun memasuki babak sesungguhnya. Masa lalu tidak seharunya menghilang seperti itu.

Maka kitapun mendapat sajian cerita kenangan, mulai dari sangat awal. Sudut pandang berganti ke sang mantan atlit. Terlahir dari keluarga bahagia, Chick sangat mencintai ibunya, ayahnya selalu mendorong untuk menjadikannya atlit softball – impian ayahnya yang dilanjutkan ke anak. Sedari kecil para ibu membangun ilusi tertentu tentang anak-anaknya, dan salah satu ilusiku adalah aku menyukai diriku sendiri, karena ibuku menyukaiku. Ketika dia meninggal, pemikiran itu ikut menghilang. Dan begitulah yang terjadi saat orangtuamu meninggal, kau serasa berangkat berperang seorang diri, setiap kali, tak ada lagi yang mendukungmu. “Pohon menghabiskan harinya memandangi Tuhan.”

Chick memiliki seorang adik yang sangat penurut dan seolah bisa dibentuk sesuai kehendak orang tua. Keluarga ini seolah tiba-tiba berantakan – padahal beneran berantakan, tapi karena dari sudut pandang anak kecil, kita tak tahu sejatinya apa yang terjadi, awalnya. Ketika suatu malam ayah Chick pergi dan tak kembali kecuali saat-saat akhir pekan sesuai jadwal kunjungan. Anak sekecil itu tak tahu bahwa orang tua mereka cerai. Kenapanya akan terjawab di akhir kisah, sejatinya ini akan jadi kejutan utama cerita ini. Tapi jelas, saya tak terkejut karena memang tertebak. Cerai, palingan ada orang ketiga dan yah, selurus. Nah hari-hari berikutnya sungguh perjuangan. Ibunya yang janda menjadi gunjingan. Dan yang lebih parah, ibu masih muda dan cantik. Maka bagi para wanita dia adalah ancaman, bagi para pria dia adalah kesempatan, dan bagi anak-anak keanehan. Kalau kupikirkan lagi, tidak satu pun pilihan bagus.

Sebagai single parent dari keluarga menengah ke bawah, jelas masalah ekonomi pada akhirnya muncul. Aku percaya itu. Perceraian mengubahmu, membawamu pergi dari segala sesuatu yang kaupikir kau tahu dan segala sesuatu yang kaupikir kauinginkan, dan mengantarmu ke dalam berbagai macam hal yang lain, seperti diskusi tentang korset ibumu dan apakah dia seharusnya menikah lagi dengan orang lain. Ibunya memilih membesarkan buah hatinya sendiri, mulia tanpa dibagi dengan pasangan baru. Dengan kasih sayang sepanjang masa. Dia menyayangiku saat datang dan pergi, pada saat-saat terburuk dan terbaik. Dia memiliki sumur rasa sayang yang tak berdasar buatku. Ibuku beranggapan mengklakson orang adalah tindakan tidak sopan; pada tahun-tahun sesudahnya dia selalu mengingatkan adikku bahwa anak laki-laki yang tidak mau datang mengetuk pintu depan rumah tidak pantas menjadi pria yang dikencani.

Yang terjadi saat impianmu menjadi nyata adalah kesadaran yang perlahan luruh bahwa impianmu tidaklah seperti yang kaubayangkan. Impian Chick untuk menjadi atlit pro akhirnya terwujud, namun ada efek yang sungguh menyakitkan. “Charley, aku sangat bangga padamu.” Itu adalah titik tertinggiku. Aku berhenti kuliah, setahun kemudian. Itu adalah titik terendahku. Siapa yang pantas disalahkan? Uang kuliah yang diperjuangan ibunya seakan menguap percuma demi ambisinya menjadi olahragawan, yang pada akhirnya juga sungguh biadap, ternyata dia tak setangguh pemain pro yang diharapkan, segala usahanya menembus pemain hebat gagal bertahan lama, ia tak maksimal. Dan menjadi tak terdengar adalah dasar bagi seseorang untuk menyerah, dan menyerah adalah titik awalmu melepaskan diri. Sedih bagian ini, ibunya bekerja dobel shift, menjadi pembantu, menjadi penjaga toko menjadi apa saja asal halal demi pendidikan sang buah hati, namun semua terhempas seketika saat Chick memutuskan mengundurkan diri dari kuliah demia karir olahraganya, tanpa minta pertimbangan, tanpa kabar lebih lanjut. Sedih sekali. Hal yang manjdai karma, balasan saat putri Chick menikah tanpa minta restu. Hiks, tak diundang di acara pernikahan anak, hanya dikasih tahu dia sudah menikah. Huhuhuhu…

Anak yang merasa malu karena ibunya, hanya anak yang belum terlalu lama menjalani hidup.”
Dalam berkeluarga, Chick juga akhirnya berantakan. Perceraian, bahkan anaknya pun berontak, dia biasa lari ke arahku setiap kali aku pulang kerja, dengan lengan terulur, berseru “Ayah, gendong aku.” Sekali ini, putri kecilku tak akan meraih tanganku dan menenangkanku, dia milik orang lain sekarang. Ironi kehidupan ataukah memang hal semacam ini garis hidup yang biasa dalam keluarga berantakan? Aku tidak ditanyai. Aku hanya dikabari. Kesepian dan alkohol menjadi pelarian. Walau kau ingin mati, kau terselamatkan. Siapa yang bisa menjelaskan itu?

Dia bilang aku pintar dan bahwa pintar itu berkat, dan dia berkeras supaya aku membaca satu buku seminggu, dan mengantarku ke perpustakaan untuk memastikannya. Mereka melihat diri sendiri sebagai beban dan bukan sebagai jawaban doa.

Nasehat ibunya selalu terpatri. Kau harus mengusahakan bersama-sama, dan kau harus mencintai tiga hal: 1). Satu sama lain 2). Anak-anakmu (kalau kau sudah punya! Tahu maksudku, kan?). 3). Pernikahanmu. Sebuah pengalaman pahit itu, sayangnya bukannya terhindar malah terulang. “Kembali menjalani yang pernah kautinggalkan itu lebih sulit daripada yang kaukira.”

Saat turun, karena saat kau mendaki memusatkan perhatian sepenuhnya untuk mencapai puncak, kau menghindari semua kesalahan. “Punggung sebuah gunung adalah peperangan melawan tabiat manusia. Kau harus hati-hati dengan hidupmu saat menuruninya, sama saat kau menaikinya.” Maka suatu hari saat ia menjalani rutinitas kerja yang tak ideal itu, ayahnya menghubunginya bahwa ada pertandingan amal, pertandingan eksebisi para mantan pemain pro dan kebetulan salah seorang tak bisa hadir. “Kalau kau tak berani menanam uang, kau tidak akan mendapatkan uang.” Ayahnya mengusahakan, mendorong Chick untuk ambil bagian, mencoba kembali eksis, diminta mendekati orang-orang itu, carilah koneksi! Mencoba segala cara agar sang putra tetap ada dalam lingkup olahraga. Padahal saat itu hari Minggu, Chick punya acara lebih penting dengan keluarga dan ibunya. Dia punya pilihan dan harus memutuskan. “Menyia-nyiakan waktu itu sungguh memalukan, kita selalu berfikir kita punya terlalu banyak waktu.”

Aku menyadari, betapa sifat orangtuamu diteruskan melewati dirimu kepada anak-anakmu, entah kau menyukainya atau tidak. “Aku melakukan apa yang penting bagiku, aku menjadi seorang ibu.” Pilihan hidup terkadang terlihat salah, Chick pastinya menyesali pilihan itu, tapi bisa apa? Dia menunduk. Aku menghembuskan napas. Semakin kau membela kebohongan, semakin marah kau jadinya. Kau punya satu keluarga, kau tak boleh menukarnya. Tidak boleh mendustainya. Kau tidak bisa menjalani dua dalam waktu bersamaan. Berpindah-pindah dari satu ke yang lain. Waktu tak bisa diulang?!

Percaya, kerja keras, cinta – kalau kau punya hal-hal ini, kau bisa melakukan hal apapun.” Banyak hal berubah saat kau tak lagi dalam bahaya. Dan kesampatan satu hari yang Chick peroleh menghabiskan hari bersama ibunya, tampak nyata, tampak benar-benar bisa menemui orang terkasih yang sudah meninggal, bisa menyampaikan banyak hal yang tertunda. Bercerita dalam tawa, berbagi. Nostalgia. Tapi akhirnya apa? Dunia antara, dunia yang ditawarkan malaikat itu semu. Hal-hal yang sudah terjadi tak bisa diubah, waktu terus meluncur linier, Chick hanya bisa mengubah masa depannya. Termasuk kita – pembaca.

Rahasia-rahasia, hal itu akan menghancurkanmu.”

Satu Hari Bersamamu | By Mitch Albom | Copyright 2006 | Diterjemahkan dari For One More Day | 6 16 1 86 013 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Olivia Gerungan | Sampul Orkha Creative | Cetakan kelima, September 2016 | 248 hlm; 20 cm | Skor: 3/5

Karawang, 111218 – Nikita Willy – Pernikahan Dini


Kubaca dalam dua kali kesempatan duduk. Minggu pagi mudik 4-Nov-18 di Palur saat mudik dengan kopi mengepul dan Pulang kerja di Rabu malam seusai lari sore sembari menunggu hujan reda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s