The Summons: Keserakahan adalah Binatang yang Sangat Aneh

“Berpikirlah seperti bajingan, Ray. Berpikirlah seperti penjahat.”

Hakim Atlee adalah orang besar di sebuah kota kecil. Buku ini ada tautan dengan The King of Torts, di mana seorang raja ganti rugi menjadi sisipan kisah. Sebuah panggilan dari orang tua, kedua anaknya diminta datang ke kampung halaman sebab sang ayah kini sudah tua dan sekarat. Panggilan yang dikira sederhana, untuk menjadikan pertemuan terakhir dan mungkin pembacaan warisan itu menjadi cerita liar dan panjang. Sebab saat sang sulung sudah sampai, ayahnya keburu meninggal. Terlambat, waktu tak bisa ditarik mundur. Lebih runyam lagi, ada berkantong-kantong uang di dalam lemari. Tiga juta dollar lebih, menarik sekali idenya. Sang hakim yang lurus dan penuh dedikasi, terkenal loyal dan baik hati, dambaan semua warga, tampak sederhana, ternyata memiliki kekayaan melimpah. Korupsi? Uang jatuh dari langit? Nah itulah inti kisah Panggilan, penyelidikan uang apa gerangan.

Kisahnya tentang Ray Atlee, mengambil sudut pandang orang pertama. Ayahnya Reuben V. Atlee adalah hakim terkenal di Clanton. Ray adalah dosen di Universitas Virginia, lulusan hukum yang awalnya menjadi tumpuan harap sang ayah, tapi ia malah merantau. Kehidupan mapan itu, retak sebab ia cerai dengan Vicki yang telah menikah lagi dengan konglomerat tua nan kaya. Ray menjalani hidup untuk dirinya sendiri, bukan untuk ayahnya atau kemegahan masa lalu keluarga. Ia hadir di Clanton hanya untuk menghadiri pemakaman. Adiknya, Forrest Atlee sangat kontras, pria bermasalah di banyak hal. Forrest adalah seperangkat persoalan dan masalah lain, jauh lebih rumit daripada ayah tua yang penyendiri.

Hakim Chanvellor Reuben V. Atlee tinggal di Mapple Run, rumah tua itu berdiri di sana tahun demi tahun, dekade demi dekade, menerima berbagai serangan tapi tak pernah roboh. Baginya jadi hakim adalah panggilan hidup. Impian Hakim Reuben Atlee dulu adalah anak-anaknya menyelesaikan sekolah hukum dan kembali ke Clanton. Ia pensiun dari jabatan hakim, dan bersama-sama mereka membuka kantor hukum di alun-alun. Di sana mereka akan mengikuti panggilan mulia dan ia akan mengajari mereka bagaimana menjadi ahli hukum – ahli hukum terhormat, pengacara daerah pedesaan.

Bandara itu terletak di utara kota, lima belas menit perjalanan dengan mobil dari kampus sekolah hukum. Meninggalkan Charlottesville menuju Clanton, Ray selama perjalanan mengenang masa lalu. Melihat banyak hal berubah di kampung halamannya. Mampir di kedai kopi, menyapa teman lama, di sana mereka meneguk bergalon-galon kopi sambil menuturkan kisah-kisah penerbangan serta bualan yang makin lama makin hebat.

Kota ini telah berubah, tetapi sebetulnya tidak juga. Seperti hampir semua hal, baik ataupun buruk, pornografi datang terlambat ke Missisippi. Kota kecil yang beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di sinilah snag hakim mengabdi. Preseden hukum harus diikuti, tak peduli apa pun pandangan atau pendapat pribadi, dan hakim yang baik tentu mengikuti hukum. Hakim yang lemah mengikuti kehendak khayalan, hakim lemah bermain untuk mengantongi suara dan kemudian ikut mencela saat putusan mereka yang pengecut diajukan ke pengadilan yang lebih tinggi. Hakim adalah orang besar dan sangat peduli dengan bagaimana ia harus dikenang. “Sebut saya apa saja sekehendak Anda sekalian, tapi saya bukan pengecut.”

Saat Ray sampai di sana, hari sudah sore dan cuaca cerah. Saat masuk rumah, tampak sepi seperti biasanya. Rumah tak dikunci, dan ia masuk saja. Setelah menyapa tanpa jawaban, ia masuk ke kamar sang ayah yang tertidur. Namun ternyata bukan tidur, ayahnya sudha mangkat. Ia lalu melakukan beberapa prosedur umum, memastikan keadaan lalu saat melihat sekeliling, betapa terkejutnya Ray, ia menemukan berkantong-kantong uang.

Adiknya belum tiba. Adiknya seumur hidup tak pernah tepat waktu, ia menolak memakai arloji dan mengatakan tak pernah tahu hari, dan kebanyakan orang mempercayainya. Ia dengan cepat menganalisa situasi. Ketika rasa shock mulai memudar, berbagai pertanyaan muncul. Perasaan terguncang atas kematian sang ayah sudah cukup untuk sehari. Guncangan karena uang itu membuatnya terus gemetar. Apa dan bagaimana menanggapi keterkejutan ini.

Ia langsung mengamankan uangnya, gegas memasukkannya ke dalam lemari sapu. Ia sangat was-was dengan simpanan yang sudah berada dalam lemari sapu. Berapa banyakkah jumlahnya di sana? Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menghitungnya? Apakah it asli atau paslu? Dari manakah asalnya? Apakah yang harus dilakukan dengannya? Ke manakah harus dibawa? Siapakah yang harus diberitahu? Ia butuh seorang diri untuk berpikir, mengatur berbagai hal, dan menyusun rencana.

Melihat surat wasiat yang sudah ditandatangani, menyatakan Ray sebagai eksekutor warisan sebab ia si sulung. Berkonsultasi dengan pengacara yang sudah menjadi sahabatnya, dan memutuskan melakukan penghormatan terakhir di pengadilan sehingga taka da banyak orang di rumah, yang sekaligus mengamankan lemari sapu. Si pendeta jauh lebih emosional daripada si anak. Ia menyayangi sang hakim dan menyatakan dirinya sebagai sahabat karib. Adiknya hanya datang sebentar, lalu menyerahkan segalanya kepada Ray.

Lalu Ray menata situasi. Hidup tanpa ayahnya takkan berbeda jauh dari hidup terpisah jauh darinya. Pengabdian sepenuh hati, selama 32 tahun sebagai hakim, catatannya tak tercela. Uang itu jelas tak pantas disebut uang panas, tapi dari mana? Berapa kali dalam hidupnya ia punya kesempatan memandangi tiga juta dolar? Berapa orang punya kesempatan seperti ini? Tidak mau hidup seperti mangsa yang terluka.

Ia lalu mencoba memindahkannya, ke sebuah jasa keamanan, menyewa loker. Chaney’s adalah temapt aman, sementara ia menaruh uangnya di sana, Ray mencoba memastikan uangnya asli.  Memastikan uang itu tidak palsu, tidak tertandai, tidak terlacak dengan cara apapun. Ia terbang ke berbagai kasino, main jdui. Perjudian paling dasar adalah datang-pasang taruhan, dan setelah berhasil mengerahkan keberanian, ia mendesak maju di antara dua pejudi lain dan menempatkan sepuluh chip tersisa. Ia akan membawa lebih banyak uang tunai, mencucinya dalam sistem. “Penjudi profesional tidak pernah minum saat berjudi.”

Berjalannya waktu, tak ada kecurigaan baik dari Bandar atau orang-orang yang mungkin berurusan dengan uang itu. Kehatihatian, sebab itulah yang didapat setiap wanita darinya. Kehati-hatian, sebab ia merasa  melihat potensi pada yang itu.

Namun teror akhirnya muncul. Drai orang tak dikenal yang mengejar uang itu untuk diserahkan. Bahkan malam hari mengusiknya, melempar benda hingga kaca rumah pecah, mencongkel pintu apartemennya, mengirim surat ancaman, dst. Dengan situasi terbaru itu, Ray Atlee akhirnya mengakui betapa penting arti uang itu sekarang. Sempat pula terbesit rencana lain. Tentang bagaimana uang itu bisa berkembang bila diinvestasikan secara konservatif atau agresif.

Sebagai eksekutor warisan, ia punya waktu satu tahun sejak tanggal kematian untuk mengirimkan surat pemberitahuan pajak terakhir, dan menurut akuntannya, perpanjangan waktu dapat dengan mudah didapatkannya. Ia memastikan, uang itu tak akan dimasukkan ke daftar warisan sebab akan habis dihisap pajak. Mungkin bukan langkah yang paling cerdik hingga sejauh ini.

Ray memutuskan berkeliling, dengan uang di bagasi mobil, mencari kebenaran. Kalau kau kabur membawa banyak harta, seperti pembunuh dengan korbannya di bagasi, maka banyak wajah tampak familier dan berbahaya. Setiap orang yang ia temui tampak mencurigakan. Kau tidak mungkin bisa batuk di sana tanpa membuat tiga orang lain tertular Apakah semua orang gila, atau cuma aku?

Sementara adiknya yang terjerat narkoba tinggal di rehabilitasi. Sesekali ia kunjungi. Hidup tidak akan jadi sederhana dengan mengunjungi adiknya, tapi ia sudah berjanji.

Petualangan pencarian Ray mengarah ke Hancock County dinamai menurut nama John Hancock, salah satu penandatangan Deklarasi Kemerdekaan. Lalu menuju seorang pengacara jumawa nan kaya raya. Patton French adalah orang yang amat sangat pongah. Setelah berusaha dengan keras menemui, dan bilang ia anak sang hakim, ia akhirnya berhasil bertemu. Di atas pesiar mewah yang tenang, segalanya akhirnya terang.

Semua bermula dari Berkas perkara Gibson v. Miyer-Brack. Hakim percaya akan kerja keras, dan tanpa juri yang harus dimanjakan, ia bertindak brutal. Patton yang cerdik dan menjadi seorang penggugat massal mencari celah, dan menemukan nama sang hakim. Keputusan-keputusan itu tegas, sangat lugas, dan bertujuan untuk meresahkan para pengacara tergugat. Setelah berhari-hari mengumpulkan banyak korban obat gagal, ia maju menggugat pabrikan. Mr. Patton French berhasil mengunci Miyer-Brack hingga terlentang tak berdaya di atas matras. Dan akhirnya ganti rugi dengan jutaan dollar tersaji.

Kalau mau tahu detail cerita tata cara menggugat bisa dibaca di novel King of Torts, raja ganti rugi. Kebenaran kini mengalir deras, dan ia menginginkan seluruhnya. Keserakahan adalah binatang yang sangat aneh, Ray. Dan setelah kebenaran terungkap, lantas mau diapakan uang sebesar itu? Kembali lagi, keadaan sehat, tenteram, dan bisa menjalani kehidupan wajar adalah impian, bahkan dibanding dengan uang besar yang mengancam keselamatan.

Endingnya datar. Setelah aksi penuh ketegangan, pertarungan kesabaran dan segala kemungkinan baku tembak dan ledakan, John Grisham malah mengambil jalan tenang. Mungkin agak mengejutkan, beberapa fakta disimpan lalu diungkap hingga bab terakhir. Namun tetap, tak terlalu mengejutkan. Sangat tenang, dan juga menggantung.

Bagaimanapun, karya Grisham tak pernah mengecewakan. The Summons jelas memenuhi itu, hanya saja harapan itu terlampau tinggi. Beda dengan The Partner yang meledak di akhir atau Bleachers yang memukau dalam nostalgia, atau The Last Juror yang walau akhirnya tenang, sungguh heroik. Well, susunan Grisham mungkin sudah kukenali dan nikmat plotnya walau familier tetap terasa menawan. Masih banyak bukunya di rak yang belum kubaca, dan akan terus kubaca. Semoga.

Panggilan | by John Grisham | Diterjemahkan dari The Summons | Copyright 2002 by Belfray Holding, Inc |  Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 02.023 | Desain cover Amy C. King | Sampul dikerjakan oleh Eduard Iwan Mangopang | cetakan pertama, September 2002 | 432 hlm; 18 cm | ISBN 979-686-116-x | Skor: 4/5

Karawang, 230821 – Ida Laila & Mus Mulyadi – Setelah Jumpa Pertama

Thx to Mahina Kamila, Jkt

Reuni Hitam di Pemakaman Sang Pelatih

Bleachers by John Grisham

Bagaimana kau bisa tidak merindukan Rake begitu kau bermain untuknya? Aku melihat wajahnya setiap hari, aku mendengar suaranya. Aku bisa mencium bau keringatnya. Aku bisa merasakan dia menghantamku, tanpa bantalan. Aku bisa menirukan geramannya, gerutuannya, omelannya. Aku ingat cerita-ceritanya, ceramah-ceramahnya, pelajaran-pelajarannya. Aku ingat keempat puluh permainan dan ketiga puluh delapan permainan yang kujalani sewaktu masih mengenakan seragam. Ayahku meninggal empat tahun yang lalu dan aku sangat menyayanginya, tapi, dan ini sulit dikatakan, Eddie Rake lebih berpengaruh bagiku daripada ayahku sendiri.” – Nat

Tidak ada yang menyayangi Rake seperti Silo. Apa yang terlitas pertama kali saat selesai menikmati Bleachers? Sir Alex Ferguson. Seorang pelatih kenamaan yang bertahan lama di Manchester United dalam liga paling keras sedunia English Premier League, metode pelatihnya yang keras sehingga menimbulkan banyak konfliks dalam tim. Hubungan dengan Roy Keane yang buruk, bisa sangat mirip dengan bintang lapangan Neely. Yah, karena saya tak mengenal football Amerika, dan sangat akrab dengan football maka pembandingnya sepak bola saja.

Kisahnya mengambil sudut pandang Neely, mantan kapten football Amerika yang sudah lima belas tahun tak kembali ke Messina. Hari Selasa ia menelusuri lapangan yang membesarkan namanya. Kabar sang pelatih terhebat Eddie Rake sekarat telah mengetuk hatinya, dan sebagian mantan anak asuh untuk pulang. “Lima belas tahun, Pal…” Jadilah ini seperti reuni hitam, dibuka dengan hari Selasa, ditutup pada hari Jumat, hari pemakaman. Selain setting waktu yang minim hanya empat hari, setting tempat juga minim: bangku penonton, kafe, pemakaman, mobil, dst. Novel ini mengandalkan kekuatan dialog dan narasi sehingga hujaman kata harus benar-benar memikat untuk terus bertahan sepanjang 200 halaman. Kubaca kilat dalam dua hari Minggu malam setelah tarawih, kutuntaskan Senin sore sepulang kerja (100520). Tipis, dengan pacu kata kencang.

Neely Crenshaw bertemu dahulu dengan Paul Curry di bangku penonton Rake Field mengenang kenang. Mereka duduk terpisah sejauh tiga kaki, keduanya menatap ke kejauhan, bercakap-cakap tapi sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu pembaca diantar memutar memori itu. Di kelas Sembilan Rake sendiri mengawasi latihan kita dan kita hafal keempat puluh play yang ada di bukunya. Bahkan dalam tidur. Hari-hari jaya kita hilang dalam sekejap mata. “Ayolah, hentikan. Nikmati saja kenangannya.”

Mereka juga membuka kelabu masa lalu tentang pilihan kuliah pasca kelulusan. “Aku tidak pernah memberitahu siapa pun hingga sekarang. Benar-benar bisnis kotor… setiap sekolah menawarkan uang tunai, Paul, jangan naïf. Itu bagian dari permainan.” Bagaimana pilihan Neely ke kampus Tech melukai beberapa pihak. Ternyata dibalik itu, ada uang tunai yang terselip. “Kenapa menabung kalau kau berada dalam daftar gaji?” Anak muda yang lulus tahun 1987 dengan uang melimpah. Sapaan saling dilontarkan, penghinaan dibalas. Begitu banyak yang tertinggal di antara mereka berdua hingga tidak satu pun ingin memulainya.

Lalu muncul alumni lain yang lebih muda, bintang terakhir arahan Rake. Randy Jaeger, “Kapan kau selesai? Tanya Neely. / “Sembilan puluh tiga.” / “Dan mereka memecatnya tahun__?” / “Sembilan puluh dua, tahun seniorku. Aku salah satu kapten.” Beda angkatan ini lalu mengupas apa saja waktu-waktu kenang sang pelatih. Bahas apa saja. Musim pertandingan tanpa kebobolan gawang satu kali membutuhkan waktu semenit untuk dicerna, tahun-tahun yang lebih mula diapungkan. Dan di akhir karier kepelatihan koran-koran mencetak berita besar di headline. “… Selama tiga puluh empat tahun ia melatih tujuh ratus empat belas pemain. Itu judul artikelnya – Eddie Rake dan Ketujuh Ratus Spartan.”

Muncul pula angkatan yang lebih tua, seorang polisi Mal, seangkatan lainnya bankir Curry dan sebagainya. Neely mengetahui legendanya, bukan orangnya. Bangku lapangan itu di malam Rake sekarat karena kanker menjadi malam nostalgia. Bagaimana Rake, selalu merupakan pakar motivator, menggunakan penundaan itu untuk memicu semangat pasukannya. Rake memiliki masalah dengan bintang. Kita semua mengetahuinya. Kalau kau memenangkan terlalu banyak piala, membuat rekor terlalu banyak, Rake iri. Sesederhana itu. Ia melatih kita seperti anjing dan ingin setiap orang dari kita menjadi pemain hebat. “Rasanya seperti baru kemarin, tapi kalau dipikir lagi rasanya seperti mimpi.”

Messina memiliki para pahlawannya, dan mereka diharapkan menikmati nostalgianya. “Hak untuk membual, apalagi yang bisa mereka bualkan?” Setiap Jumat malam menjadi altar pemujaan sekaligus hujatan di lapangan football yang keras. Di kota seukuran Messina, bakat datang berdasarkan siklus. Saat-saat puncak dengan Neely, Silo, Paul, Alonzo Taylor, dan empat penebang kayu yang brutal. Skornya sangat bagus. “Aku tak ingin membicarakan football, oke? Aku tak ingin membicarakan betapa hebatnya diriku dulu.”

Sejatinya ada apa dengan pelatih legendaris ini sehingga dipecat secara tak hormat? Kita tahu dalam kupasan lembar hari berikutnya. Neely ngopi di kafe yang memajang posternya di atas kasir. “Tidak ada yang membencimu Neely, kau jagoan Amerika.” Pada waktu itu ia telah melatih Spartan selama lebih dari tiga dekade dan sudah melihat segalanya. Gelar terakhirnya yang ketiga belas, diraihnya tahun 1987. Rake terkenal akan gerutuannya, yang selalu bisa didengar. Tahun 1992, di akhir musim yang berakhir buruk Rake melakukan training yang lebih keras di hari Minggu pagi, hari suci yang harusnya di gereja itu malah berakhir bencana karena seorang pemain tewas kala latihan. Kota terpecah, situasi memburuk. Menyedihkan untuk Scotty, dan menyedihkan karena era Rake tampaknya telah berakhir.

Era akhir itu pilu, Rake dipuja dan dibenci. Waktu berjalan, pertandingan tetap ada. Dan menang adalah segalanya. Situasi tampaknya bisa oke ketika kita menang, tapi satu kekalahan itu telah memecah belah kota hingga bertahun-tahun. “Isu selalu bisa dipercaya di sini, terutama tentang Rake.”

Rake lalu menepi, jarang muncul di keramaian, lebih dekat dengan keluarga. Dan salah satu mantan anak didik Nat yang membuka toko buku di Messina membuka pintu khusus buatnya. Ngopi dan baca buku. Buku-buku bacaan karya Raymond Chandler, Dashiell Hammett, Elmore Leonard. Menjadi bahan diskusi, menghabiskan masa tua. Tersisih, tapi tetap dikenang.

Di toko buku itulah Neely lalu datang di hari berikutnya. Bertemu rekan setim Nat yang antusias menyambut pahlawan yang pulang. Semangat itu perlu kawan, usia tua adalah keniscayaan. Ada pelanggan seratus sepuluh tahun usianya, dan ia menyukai novel koboi erotis. Pikirkanlah. Kita belum separuhnya, jangan muram. Pameran itu merupakan penghargaan bagi pelatih yang cemerlang dan pemain yang berdedikasi, dan pengingat yang menyedihkan mengenai keadaan yang menyedihkan dulu.

Waktu berjalan, hal-hal biasa bisa saja berubah. Football adalah raja dan ini tidak berubah. Football membawa kemegahan dan membayar tagihan-taguhan dan hanya itu. Kariermu yang meriah hanya akan menjadi catatan kaki, semua gadis kecil yang manis akan menjadi ibu-ibu. Barang SMU, barang anak-anak. Hanya sedikit yang berubah. Pelatih-pelatih yang berbeda, pemain-pemain yang berbeda, bocah-bocah yang berbeda dalam band, tetapi mereka masih tetap Spartan di Rake Field dengan Rabbit di atas mesin pemotong rumput dan kegugupan menghadapi Jumat malam.

Hari Kamis malam, setelah pengumuman duka para mantan anak didik itu berkumpul di bangku penonton Rake Field. Nat membawa boom-box lalu menyalakan rekaman kaset Buck Coffey menyiarkan pertandingan kejuaraan ’87. Kenangan komentar laga paling dramatis perebutan juara. Dari tertinggal jauh di separuh babak, lalu membalikkan keadaan dengan kejanggalan tak ada pelatih di bangku. Apa sejatinya yang terjadi di ruang ganti dibuka dengan dahsyat. Jadi ingat segala pertandingan sepak bola yang membalik di babak kedua: Manchester United tahun 99, Liverpool tahun 2005, atau semacam kejadian ajaib itulah.

Kita memakamkan penduduk kita yang paling terkenal. Neely lalu mengajak Cameron ke acara pemakaman itu. “Ada sesuatu yang ajaib di cinta pertama Cameron, sesuatu yang kurindukan selamanya.” Cinta pertamanya yang terluka. Ia sudah menikah dan hidup bahagia dengan orang lain. Permintaan maaf Neely karena mencampakkannya, serta kehidupannya sebagai karyawan real estat yang berantakan, dan bagaimana pacar yang merebutnya kini sengsara di Hollywood, sebagai pemain film kelas B. Ahh… Menjadi pahlawan yang terlupakan tidaklah mudah.

Acara perpisahan dengan legenda, penghomatan terakhir Eddi Rake ditulis dengan gagah luar biasa menyentuh. Tidak ada yang tergesa-gesa, ini saat-saat yang akan dipuja dan dikenang oleh Messina. Neely duduk diantara Paul Curry dan Silo Mooney, bersama ketiga puluh anggota regu 1987 lainnya, dua di antara mereka telah meninggal, enam menghilang, dan sisanya tak bisa hadir. Ada tiga orang yang memberi semacam pidato, tiga bintang di tiga angkatan yang berbeda. Seorang pekerja di biro hukum yang pintar bicara di muka umum, lalu pendeta yang sudah biasa di mimbar. Dan seorang bintang yang menghilang. Ia mendapat pekerjaan itu karena tidak ada orang lain yang menginginkannya, ia melatih di sini selama tiga puluh empat tahun, memenangkan lebih dari empat ratus pertandingan, meraih tiga belas gelar negara bagian, dan kita mengetahui angka-nagka sisanya.

Prinsipnya sederhana, tetap berpegang pada hal-hal mendasar, dan bekerja tanpa henti hingga kau bisa melakukannya dengan sempurna. Kita bukan orang-orang hebat, kita mungkin orang-orang baik, jujur, adil, bekerja keras, setia, ramah, dermawan, dan sangat sopan, atau mungkin sebaliknya. Tapi kita tidak dianggap sebagai orang hebat. Kehebatan jarang muncul sehingga sewaktu melihatnya kita ingin menyentuhnya. Eddie Rake memungkinkan kita para pemain dan penggemar untuk menyentuh kehebatan. Walau sangat tangguh, ia luar biasa peka terhadap penderitaan orang lain.

Masa lalu akhirnya benar-benar berlalu sekarang, berlalu bersama Rake. Neely bosan dengan kenangan dan mimpi-mimpi yang gagal, menyerahlah, katanya pada diri sendiri. Kau tak akan pernah menjadi pahlawan lagi. Hari-hari itu telah berakhir sekarang. “Aku menyayangi Eddie Rake melebihi siapa pun dalam hidupku. Ia hadir dalam sidang ketika mereka memvonisku. Aku menghancurkan hidupku, dan aku malu. Aku menghancurkan hati kedua orang tuaku, dan aku merasa muak karenanya…” Jesse yang malang mengingat masa emas itu.

John Grisham tak pernah mengecewakan. Buku tipis ini juga sama dahsyatnya dengan buku lain. temanya bervariasi, dari pengadilan, kenangan masa kecil di perkebunan kapas, boikot natal, kumpulan cerita pendek di kotanya sampai sebuah memoar samar nan fiktif pelatih Rake ini. Sungguh luar biasa penulis ini, bagaimana memacu andrenalin pembaca menuju puncak malam pemakaman, semakin lembar menipis semakin membikin penasaran. Seperti kenyataan malam kejayaan 87 itu, ternyata ada tragedi pahit antara bintang utama dan pelatih. Dikuak dengan dramatis.

Lebih dahsyat Neely sebagai penutur narasi malah menjadi orang yang menutup sambutan kalimat perpisahan. Seperti yang disampaikan di mula, Neely membenci Rake karena sebab yang jelas, ia bintang utama sekaligus mata pisau paling tajam untuk menyampai kebencian. Pelatih Rake tidak mudah disayangi, dan saat kau bermain di sini, kau benar-benar tidak menyukai dia. Tetapi sesudah kau pergi, sesudah meninggalkan tempat ini, sesudah kau didepak beberapa kali di sana-sini, menghadapi tentangan, beberapa kegagalan, dikalahkan hidup, kau segera menyadari betapa pentingnya Pelatih Rake dulu dan sekarang… begitu kau jauh dari pelatih Rake, kau merindukannya. Bayangkan saja, lima belas tahun tak mau jumpa!

Rake memang jago dalam menyampaikan pesan terakhir. Rake memang jago memanipulasi para pemainnya untuk yang terakhir kalinya.

Keberhasilan bukanlah kebetulan.

Sang Pelatih | by John Grisham | Diterjemahkan dari Bleachers | Copyright 2003 | Alihbahasa B. Sendra Tanuwidjaja | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 04.007 | Cetakan pertama, Juli 2004 | 208 hlm.; 18 cm | ISBN 9789-22-0741-4 | Skor: 5/5

Untuk Ty, dan anak-anak luar biasa yang bermain football dengannya di SMU; pelatih mereka yang hebat; dan kenangan tentang dua gelar Negara bagian

Karawang, 180520 – 230520 – Bill Withers – Lovely Day & The Best You Can

Kamis Yang Manis #30

Orang-orang berubah, digantikan dengan orang baru. Dan Tuhan mengetuk-etuk diriNya dalam banyak cara.” Mack

Kau bisa menilai banyak hal dari cara berjalan. Akhirnya event #30HariMenulis #ReviewBuku ada di penghujung juga. 30 buku, 15 dari Penulis lokal dan 15 terjemahan selesai kuulas dalam 30 hari selama bulan Juni. Ini adalah perayaan kelima sejak 2015. Konsisten, dan terus diperbarui. Sebenarnya malah sangat banyak yang pengen kukejar menuntaskan ulas buku, tapi tetap di bulan ini sesuai target. Hufh… #HBSherinaMunaf #HBDNikitaWilly

Siapa yang tahu apa yang tertidur di kedalaman pikiran seseorang? Siapa yang tahu apa yang diinginkan seseorang?”

Fresh from the oven. Ini tidak baru. Setan gunakan matamu.

Buku ini terbit bulan Maret, dan saya selesaikan baca di bulan April 2019. Sempat mau langsung kuulas, tapi ternyata kegilas buku lain. Bulan puasa tiba dan akhirnya terendam. Ekspektasiku terhadap John Steinbeck ketinggian, memang laik tinggi sih, buku ini happy ending dengan terlalu manis, kebanyakan gula, makanya kurang sreg bagiku mengingat beberapa buku lain yang sudah kubaca. Tak ada di dunia ini yang seperti Suzy. The Pearl, Of Mice and Men yang memberi akhir sangat mengejutkan. Ini adalah buku sekuel, saya sendiri belum membaca seri satu, Cannery Row. Namun ga masalah dah biasa saya diterjunkan langsung di tengah permasalahan. “Aku mungkin akan menghilang. Aku menyimpan kegelisahan dalam diriku, aku mungkin akan menghilang.

Ceritanya tentang orang-orang di daerah Cannery Row dengan kegalauan masing-masing. Fokus utama sejatinya ada di Doc yang seorang ilmuwan nyentrik yang jomblo akut, yang ada di pemikirannya adalah ilmu pengetahuan, percobaan penemuan tentang fauna laut, dan hobinya nongkrong di laboratorium itu menyita banyak sekali daya dan waktu. Perubahan bisa jadi diberitahukan oleh sedikit rasa sakit, sehingga kau sedang terserang flu. Mengorbankan banyak hal. Maka dimunculkan karakter cantik yang mencoba mendobrak kerasnya hati. Suzy. Misalnya Doc mengatakan sesuatu dan kau tidak tahu apa artinya. Tanyalah! Hal paling baik di dunia yang bisa kau lakukan untuk sembarang orang adalah membiarkannya membantumu. Suzy sebagai pendatang memberi angin segar, dan diciptalah konspirasi ‘comblang’. Sendiri dia merenung, bukan tentang kelemahan Doc, tetapi tentang penghianatan teman-teman Doc yang mempertanyakannya, siapa yang berani mempertanyakannya. Sepanjang 400 halaman kalian akan disuguhi cinta mereka, dengan banyak kalimat filosofis. “Aku mencintai kebenaran, bahkan jika kebenaran itu menyakitkan. Bukankah lebih baik mengetahui kebenaran tentang seseorang.” Cinta monyet untuk para senior. Suzy yang diletakkan dalam posisi kasih. Jika seorang laki-laki mengatakan sesuatu yang menarik perhatianmu, maka jangan menyembunyikan itu darinya. Semacam mencoba untuk membayangkan apa yang sedang dia pikirkan alih-alih kau akan menjawabnya.

Dan seperti judulnya yang manis, endingnya juga sangat manis. Jika aku tak bisa mendapat keberanian dari keagungannya, dia berpikir, aku sebaiknya menyerah. Tak seperti dua buku Steinbeck sebelumnya yang sudah kubaca, jelas ini keluar jalur. Tak seperti harapanku. Sebuah kejadian tidak perlu merupakan kebohongan jika ia tidak perlu terjadi.

Apakah aku sudah cukup kerja? (1) Apakah aku sudah cukup makan? (2) Apakah aku sudah dicinta? (3) Adalah tagline di kover warna orange ini. Cukup mewakili hati yang terasing yang mendamba kenyamanan, cukup untuk menampar jiwa yang egois. Pernahkah kau tahu orang-orang yang sangat sibuk dengan kepandaian mereka sampai tidak punya waktu untuk melakukan hal yang lain?

Kisahnya tentang persahabatan Mack dan Doc, ini kisah antara, ini kisah yang menghubungkan nasib orang-orang di sekeliling mereka. Jangan berbangga diri dan mengatakan bahwa kau tidak membutuhkannya atau menginginkannya. Itu adalah tamparan ke pipi. Hal yang disukai orang di dunia adalah memberimu sesuatu dan melihatmu menyukai dan membutuhkannya. Itu bukan sifat rendahan.

Suka banget dengan kalimat ini. “Salah satu penyakit di zaman kita adalah mendakwahkan bahaya pada orang-orang sepertimu yang khawatir dan tergesa-gesa. Orang yang tidak berpikir bahwa dunia akan berakhir adalah orang yang berbahaya.” Menampar kita, cocok untuk semua era sebenarnya, tapi sangat pas di saat ini. Waktu esok seolah sangat panjang, well tak ada yang tahu kan?! Lalu kalimat ini juga cukup keras memukul kita. “Orang-orang tidak mengetahui apa yang mereka inginkan. Mereka harus didorong. Ada orang yang dalam pikirannya tidak ingin menikah, tapi menikah juga.” Banyak temanku yang di usia sangat matang, belum menikah karena menikmati masa lajang. Banyak pula yang sudah menikah tapi malah mendamba masa lajang, mengingat waktu lalu yang sudah lewat. Ironi kehidupan. Itu hanya akan menjadi jalan palsu lainnya sebuah rasa frustasi baru. Lalu kalimat “Aku ingin menyumbang pada ilmu pengetahuan. Mungkin itu adalah pengganti bagi keinginan untuk menjadi ayah buat seorang anak. Sekarang, sumbanganku bahkan jika ia keluar, sepertinya masih lemah.” Ini juga menjadi pertanyaan semua umat manusia, hidup ini apa? Berguna bagi orang lain? melakukan penemuan-penemuan untuk kenyamaan umat masa depan? Lalu apa? Pahit, kawan! Lihatlah setiap kekacauan yang pernah kau dapatkan dan kau akan menemukan bahwa lidahmulah yang memulai.

Tahun 2019 ini saya mulai menikmati musim Jazz, indah banget ternyata aliran musik ini. Maka pas bagian ketika salah satu karakter mendengarkan ‘Stormy weather’ by Cacahuete saya langsung menyalakan musiknya, teduh dalam badai, saya tahunya lagu jazz ini dinyanyikan oleh Lena Horne dengan instrumen terompet yang dominan. Dari musik tidakkah keinginan-keinginan dan kenangan-kenangan terbentuk?

Saya belum sempat browsing, apakah benar ada novel berjudul ‘Akar Pi Oedipus’? Rasanya memberi tautan untuk turut menikmatinya. Ujaran tentang ledakan penduduk, banyak anak banyak rejeki tapi intaian kemiskinan ada. Sudah banyak yang mengulas, tapi masih tetap keren ketika Steinbeck yang menulis. Populasi meningkat dan produktivitas bumi menurun. Dan pada masa depan yang teramalkan kita akan tercekik oleh jumlah kita sendiri. Hanya pengendalian kelahiran yang bisa menyelamatkan kita, dan itu adalah satu hal tak akan pernah dipraktikkan umat manusia.

Kutipan indah tentang sabar muncul pula kala ada kegaduhan. “Cara terbaik di seluruh dunia untuk membela dirimu adalah dengan menjaga tinjumu tetap di bawah.” Atau yang ini “Untuk rasa sakit atau frustasi manusia punya banyak obat, tapi tak satupun obat itu adalah amarah.” Karena semua orang tahu kau hanya membodohi dirimu sendiri. Kau tidak akan menulis makalah itu karena kau tidak bisa menulisnya. Kau hanya duduk di sini seperti seorang anak kecil yang bermain-main dengan harapan.

Aku sepertinya takut. Sesuatu semacam teror mendatangiku ketika aku memulai. Sejatinya Doc memang dikelilingi orang-orang yang penuh kasih. Saling membantu, saling mengisi, Minggu ke gereja, malam ngopi di kafe, hari kerja yang riang, dan kenyamanan di laboratorium yang tak terperikan. Mitosnya adalah laut, angin dan ombak pasang dan dia menghubungkan mereka semua dengan mengumpulkan binatang. Dia membawa harta karunnya ke dalam laboratorium. Bersikap tenang untuk diri sendiri membuatnya tenang dalam menghadapi dunia. Lalu apa masalahnya? Bukankah ini adalah akhir yang bahagia? Ya, sejatinya sudahlah ditutp saja. Ratusan halaman kalian akan disuguhi cerita yang indah-indah, sementara syarat buku yang bagus salah satunya harus ada konfliks berat. Enggak ada di sini. Doc yang menghadapi hari-hari ceria di tengah masyarakat yang ideal. Ternyata, konfliks yang diharap itu adalah cinta. Ahhh… dari Pemenang Nobel Sastra, kita diajak bercinta. Memang bukan sembarang cinta karena karakter utama sudah tak muda lagi. Doc dicomblangkan, didesak, dan bahkan sampai dipertaruhkan dengan Suzy agar coba bersama. Dan yah, sweet thursday itu mewujud nyata. Walau sesekali ada masalah, poinnya adalah happily ever after. Doc menemukan belahan jiwanya. Cukup. Siap jadi presiden?

Kelebihan utama buku ini bukan pada cerita, tapi kedua hal: pertama sifat para karakter yang unik. Selain penamaan yang aneh, mereka juga memiliki kebiasaan tak lazim. Sungguh bagus memberi kegiatan para tokoh dengan tindakan tak wajar. Semua karakter yang dicipta bagus banget membawakan perannya. Kedua, sekalipun ini buku cinta yang terlambat, pembawannya tak cemen. Tak melow, tak mendrama berlebihan. Kisah cinta yang dituliskan dengan rasa dewasa. Kapan lagi kalian baca buku cinta yang menawarkan alur berliku? “Aku membutuhkanmu, aku akan tersesat tanpamu.” Ehem… Sekalipun tujuan utama pada akhirnya bisa disentuh, liku labirin itu sangat seru. Dan kalian pasti ikut bahagia atas kebahagiaan tokoh favorit. Nama-nama yang bagus: Mack, Doc, Hazel, Joseph and Mary (satu orang), Lee Chong, Suzy, Fauna, Whitney No. 2, Old Jingeballicks, dan seterusnya.

Terjemahan Basa Basi bagus banget. Beberapa istilah yang masih rumit diberikan catatan kaki, semisal. “Ini semisal ‘whatcha-macallit’ yang artinya ‘pembicaraan tentang orang yang namanya tak bisa diingat.’ Atau “Veritas in vino” adalah idiom Latin yang artinya ‘kejujuran dalam anggur’ yang bermaksud orang akan jujur ketika mabuk. Hal-hal yang sangat membantu mengimaji tanya. Beberapa masih ketemu typo, tapi dalam 400 halaman rasanya salah ketik tak lebih dari sepuluh kata adalah lumrah. Sebagai terjemahan Bahasa Indonesia pertama ‘Sweet ThursdayBasa Basi termasuk sukses menghantarkan kisah Doc. Salute!

Aku benci hukum yang menahan kemurahan hati dan menjadikan amal sebagai ladang bisnis.Dia sedang mengalami perubahan yang sangat mendalam sampai dia sendiri tidak menyadari perubahan itu sedang terjadi.

Di antara semua angan-angan muram kita, perasaan bersalah adalah yang paling penuh liku, paling jenaka dan paling menyakitkan. Ah penyataan yang manis, “Aku tak utuh tanpanya. Aku tak hidup tanpanya. Ketika dia bersamaku aku merasa lebih hidup dibanding sebelumnya, dan tak hanya ketika dia merasa senang saja.” Suzy yang bahagia, Pembaca yang bahagia, penduduk Cannery Row yang suka cita. Mencoba untuk melepas dari proses berpikir meskipun berpikir adalah pekerjaan manusia yang paling bermanfaat.

Dia pernah kuliah – dia sudah membaca begitu banyak buku sampai aku tidak bisa menyacah mereka – dan bukan komik juga. “Ketika kau membuat rencana, langit runtuh ke ekormu.” Henry Penny. Ah hidup ini… Seseorang berteriak untuk mendapatkan perhatian di dalam dunia yang tak terpersepsi atau mungkinkah bahwa kebahagiaan pamungkas manusia justru adalah rasa sakit? Mari ngopi.

Kamis Yang Manis | By John Steinbeck | Diterjemahkan dari Sweet Thursday (renewed edition) | Terbitan Penguins Books, New York, 1982 | Penerjemah Hari Taqwan Santoso | Editor Tia Setiadi | Pemeriksa aksara Daruz Armedian | Tata sampul Sukutangan | Tata isi Rania | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, Maret 2019 | Penerbit Basa Basi | 400 hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-5783-82-1 | Skor: 4/5

Karawang, 130419 – Michael Jackson – One Day in Your Life || 300619 – Melody Gardot – Worrisome Heart

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day30 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

A Painted House #10

Featured image

Pengalaman pertama saya dengan John Grisham berakhir menyenangkan. Kurang lebih 5 tahun lalu saya memiliki salah satu bukunya, beruntung sekali saya menemukan di tumpukkan buku murah, Rumah Bercat Putih sungguh seru. Ceritanya dituturkan dengan runut dan enak dibaca, mengalir dengan detail-detail mengagumkan. Gara-gara ini buku di pikiran sempat terbesit, bahwa untuk membuat plot seru tidak harus dengan kata-kata bombastis. Taruh detail-detail yang menggelitik dengan logika yang bisa dijangkau imajinasi lalu biarkan karakter memecahkan konflik yang dicipta. A Painted House mengajarkan bahwa sekuat apapun usaha kita melawan nasib sial, takdir juaranya. Speechless.

Dengan setting tahun 1950-an di Amerika, cerita dimulai di hari Rabu awal September 1952. Di hari itulah orang-orang pegunungan dan orang-orang Meksiko tiba di rumah kami. Mereka adalah buruh tani yang kami sewa untuk memanen kapas yang kini menjulang sepinggang ayah atau hampir melampaui kepalaku. Yup, cerita ini dari sudut pandang seorang anak yang jago mengamati sekeliling. Bercita-cita menjadi pemain bisbol untuk Cardinals. Luke, berumur 7 tahun. Seorang yang periang dan ramah. Sebagai anak petani, dirinya termasuk beruntung karena ekonominya berkecukupan, awalnya. Sampai akhirnya keputusan penting harus diambil.

Namun tahun itu ternyata hasil panen tak seperti kelihatannya. Konflik utama digulirkan dengan halus oleh John melalui para buruh. Ada yang hamil diluar nikah. Ada seteru yang mengakibatkan hilangnya seseorang. Ada perkelahian yang dituturkan dengan mendebarkan. Hebatnya Luke yang belum terlalu paham, diam-diam jadi saksi. Mungkin beberapa bagian tertebak, namun tetap konflik dan penyelesaiannya dieksekusi rapi. Jelas sekali dari pencerita yang handal dan berpengalaman. Saya meyakini buku ini terinspirasi dari masa kecil John, tentunya dengan dibubuhi imajinasi.

Sampai pada suatu hari Luke mengusulkan rumah mereka untuk dicat. Cat yang mahal ditengah krisis keuangan. Cat mahal seharga 14 Dollar 80 sen tersebut seakan jadi antidot kejadian-kejadian di sekelilingnya. Cat ternyata kurang, namun sesuatu yang dimulai harus diselesaikan. Dan bagian ini benar-benar menyedihkan:

Niatku baik, pikirku jadi mengapa aku merasa gundah? Aku mengambil kuas, membuka satu kaleng dan memulai tahap terakhir pekerjaan itu. Perlahan-lahan kusapukan kuas dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku menyeka air mata. (hal 519)

Buku ini dicetak dengan sederhana, terasa klasik. Tanpa testimoni pembaca sama sekali. Tanpa judul per bab yang otomatis tanpa tulisan daftar isi. Tanpa ucapan dedikasi yang menghabiskan satu halaman, kecuali se-kalimat: Untuk orangtuaku, Weez dan Big John, dengan penuh cinta kekaguman. Tanpa profil penulis. Tanpa banyak kata-kata pujian. Saya suka kesederhanaannya. Harusnya buku memang seperti ini. Seperti paragraf endingnya, saya juga tersenyum puas. Saya kecup bukunya dan berujar, “John, you are awesome…”

Setelah puas melihat pemandangan di luar, aku memandang ibuku. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi. Matanya terpejam, dan seulas senyum perlahan-lahan terkembang di sudut-sudut bibirnya.

A Painted House | by John Grisham | copyright 2000, 2001 by Belfry Holdings, inc | Alih bahasa: Hidayat Saleh | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Agustus 2001 | 560 hlm; 18 cm | ISBN 979-686-569-X | Skor: 4.5/5

Karawang, 100615 – Mirror Mirror

#10 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku