Everything Everywhere All at Once: Adegan Batu, Diakui Kasih Segala-galanya tentang Segala-galanya

“Just be a rock.”

Ya ampun, ga jelas. Gegayaan. Dengan kostum bervariasi, dimensi berbagai lorong, sampai monster-monsteran. Tak ada nada khawatir di sana. Tautan emosi penonton lepas. Hype-nya ketinggian. Terasa biasa saja, apalagi endingnya, yah gitu doang. Happily ever after, setelah porak poranda penuh intrik dan ketegangan, akhirnya hanya adegan bahagia di hari cerah dan mereka-pun berciuman. Meh. Template kisah fantasi sejenis ini sudah sangat banyak dicipta, sudah bosan. Hanya satu adegan yang benar-benar membuatku histeris, dialog diam dua batu dengan jurang menganga di bawahnya, matahari menyinari mereka, memoles kebimbangan, dan dalam diam mereka cerewet. Namun, sayangnya, itupun dirusak. Saat akhirnya mereka bergerak, bukan digerakkan. Hukum Newton ditentang. Hufh…

Kisahnya tentang keluarga China yang hidup di Amerika, pasangan Evelyn Wang (Michelle Yeoh) dan Waymond Wang (Ke Huy Quan) sedang mempersiapkan pesta tahun baru Imlek, semua pelanggan usaha penatu mereka undang. Sebelum pesta mereka bersama sang ayah Gong Gong (James Hong) di atas kursi roda ke kantor pajak Internal Revenue Service (IRS), guna pelaporan keuangan. Oleh auditornya Deirdre Beaubeirdre (Jamie Lee Curtis) mengindikasikan ada dana menyeleweng, sekalipun kecil, seperti karaoke atau hobi biasa yang menguntungkan. Kertas-kertas itu bagi auditor bisa bermakna dan sungguh bersuara. Maka mereka tetap harus mempertanggungjawabkan.

Gong Gong yang sangat tradisional, merasa keluarga ini terlalu bebas. Sering mengeluhkan banyak hal, dan saat kita diajak ke masa lalu, tahulah bahwa dulu Waymond pernah ditolak olehnya, disepelekan. Namun Evelyn tetap memilihnya sebagai pasangan. Naasnya, pergaulan anaknya sudah terpengaruh gaya Barat, putri satu-satunya Joy Wang (Stephanie Hsu) malah berpenampilan radikal dengan memilih pasangan lesbi Becky. Fakta ini tentu saja coba disembunyikan, agar Gong Gong tak shock.

Kembali ke kantor pajak, saat mereka di lift berangkat, Raymond menjelma seolah agen Men in Black. Dengan gerak cepat, cctv ditutup payung, ia memberi pesan intruksi, membisikannya pada sang istri. Perintah aneh, dengan earphone portable, dan selembar kertas tentang potensi segala dunia lain. Lalu saat akan pulang, aksi sesungguhnya terjadi. Dengan tas pinggang, Raymond mencipta kegaduhan, para pengaman gedung dibantai. Dalam keterdesakan, perintah Raymond malah terasa masuk akal. Everlyn dimintai tolong untuk memasuki dimensi antah, melihat potensi opsi hidup dirinya di masa lain, dirinya yang lain terbentang, lalu ia bisa menjelma, ia diminta menyelamatkan semesta dari kebengisan Jobu Tupaki. Sejenak timbul jeda yang tidak nyaman, tapi tindakan harus diambil. Mulai dari menit itulah, segalnya menggila. Amburadul, babak belur, porak poranda, hhmm… apa lagi ya untuk menggambarkannya. Intinya, layar dipenuhi segala hal tak teratur. Kita dijejali, potongan adegan seolah memasuki lorong, menjadi Evelyn yang lain, Raymond yang kain, Joy yang lain, dst. Segala-galanya ambyar.  

Apakah saya sudah bosan sama action gegayaan seperti itu? Yang utama selalu, bagiku adalah cerita. Buat apa film penuh gaya, pakai alat bantu tarung berlebih, berbaju badut, hingga mata palsu ketiga, kalau ujungnya cuma untuk berkunjung damai, dan segalanya baik-baik saja. Semuanya tak masalah. Template sejenis ini, di mana sang tokoh diajak menjelajah ke dimensi tak berbatas, berpetualang penuh nafsu fantasi, lalu pulang, dan tak apa-apa. Seolah kita terbangun dari mimpi. Mimpi sereal apapun, oh itu  hanya imaji.

Ada ironi saat Evelyn merasakan getar gairah mengaliri punggungnya, tahu kemungkinan lain di semesta lain, ia bisa jadi apa saja. Ia tersenyum, dan juga sedih. Sama saja, saya membayangkan, andai dulu saya mengejar Sherina Munaf membabi buta, salah satu jiwa saya di semesta lain, ada yang nyangkut sukses menjadikannya pasangan. Liar? Tidak juga. Sudah umum. Apakah ini ide baru? Jelas tidak. Malah terlihat klise dan usang. Modifikasi gentayangan di universe kalau ujung-ujungnya kosong, kurang menarik.

Untuk berpindah semesta, syaratnya terlampau sederhana, dan bisa dilakukan tergesa. Kurang renungan, dan terlalu mudah. Tak ada adegan moksa yang syahdu, tapa brata dengan lapis adegan jiwa terbelas misalnya. Atau aturan garis singgung yang mencipta khawatir. Di sini tak ada, A24 malah mencipta action dengan konveti ditebar sepanjang menit. Dengan alat, konsentrasi, klik, memasuki lorong, wuuuuzz… seolah film sci-fi. Tidak, saya tak terlalu nyaman melompat-lompat secepat itu. Berkali-kali saya menguap mengintip HP guna lihat jam, terasa sangat lama. Begitu pula, kakek-kakek di sampingku. Main HP mulu saking bosannya, dan bahkan dia pergi sebelum film berakhir. Permainan dimensi lain itu identik yang gelap-gelap, malah kita tak disuguhi deraan pikiran-pikiran gelap.

Kita maklumi betapa Evelyn khawatir, saat di kantor pajak suaminya akan merusak dengan melawan. Sayangnya emosi Evelyn tak berhasil menautkannya ke penonton. Memang orang harus hidup tenang dan stabil, membahayakan nyawa dengan main pukul tidak akan menyelesaikan masalah. Namun, saat segalanya berantakan, dan harus ada yang membereskan. Ia juga bisa silat, mencuri ilmu Evelyn yang lain. Hufh, ending saat meminta tas pinggang, itu jelas kita maklumi, tapi tak melegakan.

Adegan batu yang sunyi itu sejatinya sangat menghibur. Dua manusia potensi jadi benda mati, dan saling menasehati. Diakui kasih segala-galanya tentang segala-galanya. Krik… krik… krik… Beberapa detik membuatku menganga melihatnya, lain-lainnya terlupakan. Secara fisik dan temporal di dalam enklave-enklave dimensi seperti inilah, yang amat sangat keren. Sayangnya tak lama, sebab kita kembali ke hingar bingar taburan konveti.

Kusaksikan senin malam 4 Juli 2022 bersama May, yang saat akan mulai kujanjikan, kubisikkan “Ini film bagus, Bersiaplah.” Ternyata setelah usai komen kita tooossss, dia juga tak suka. Harapannya ketinggian, komennya: drama keluarga biasa, malah muter-muter dan akhirnya bahagia. Biasa banget. So, lihatlah. Ini dari kacamata awam, istriku bukan movie freak. Hanya nonton saat diajak, dan sepakat film so so. Hufh… jadinya nyesel ‘kan skip Broker.

Suddenly, everything. Sempat digadang-gadang jadi madness sesungguhnya ketimbang film Madness in Universe lainnya. Ternyata sama saja, gegayaan doang.

Everything Everywhere All at Once | 2022 | Directed by Daniel Scheinert, Dan Kwan | Screenplay Daniel Scheinert, Dan Kwan | Cast Michelle Yeoh, Stephanie Hsu, James Hong, Ke Huy Quan, Kamie Lee Curtis | Skor: 3/5

Karawang, 270722 – Etta James – At Last

Decision to Leave: Dalam Diam, Suara-Suara itu Meraung dan Bahasa Cinta Melolong

Di sebuah kota yang selalu diselimuti kabut…

Kalau saya membuka ulasan The Batman dengan kalimat, “Di sebuah kota yang selalu ditempa hujan…” Maka Decision to Leave kubuka dengan kalimat yang hampir serupa. Sesedikit mungkin tahu alurnya, semakin aduhai. Sedikitnya ada sepuluh kali saya bilang, “anjir keren keren, anjir keren keren, anjir keren keren.” Diolah berulang seolah mantra. Rumit, benangnya membelit hati.

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Jelas ini drama berkelas. Suka sekali adegan berlapis saat pengungkapan. Suka sekali bagaimana penjelasan bahasa cinta, tanpa kata cinta. Meskipun belum pernah cinta disebut-sebut di antara mereka. Tetapi keputusan melindungi itu seakan melemaskan lidah mereka. Suka sekali sama kegugupan diramu bahagia, saat ketemu tak sengaja di pasar ikan. Memandangi mereka secara bergantian sementara mereka berbicara, seakan mendengarkan dengan matanya. Saling tersenyum dan berbicara selagi masing-masing bersaing mengulur basa-basi normal sebab pasangan mereka ada di samping, sebelum akhirnya mengedip kode manja. Suka sekali bagaimana sang nenek memanggil Siri untuk menyenandungkan Kabut. Ah kabut, aduh kabut. Sejatinya apa sih warna kabut? Dan seribu satu kata suka sekali lainnya. Jelas, Decision adalah film terbaik 2022, sejauh ini.

Seorang pria ditemukan mati di hutan, polisi detektif Hae-jun (Park Hae-il) ditugaskan menyelidiki langsung. Di TKP, tampak meyakinkan ini bunuh diri, seorang hobi mendaki gunung, menjatuhkan diri dari bukit, apalagi ditemukan surat wasiat pamitnya. Sang istri korban Seo-rae (Tang Wei), seorang perawat saat kejadian secara meyakinkan di jam kematian sedang bertugas merawat lansia di panti jompo. Lapisan pertama tata cara deduksi, jelas tak mungkin manusia ada di dua tempat berbeda. Ia adalah warga China yang bermigrasi ke Korea. Izin tinggal sempat bermasalah. Namun berkat kejelian, ia berhasil bertahan.

Tersebab ia-lah orang terdekat korban. Ia dipanggil dan interogasi tertutup dilakukan, dengan kata-kata saling lempar, yang kita tahu ada aura saling jaga. Makanan mewah disajikan, dan es krim meleleh. Jangankan es krim, batu saja akan meleleh di dalam mulut perempuan secantik itu. Lalu terungkap ada masalah di keluarga ini, ada KDRT maka kita semua jadi perlu tahu seberapa parah luka di pahanya. Perlu memanggil polisi perempuan untuk mengecek? Oh tak perlu. Berikutnya keduanya diam lagi, saling tatap di kursi masing-masing. Dalam diam, suara-suara itu meraung dan bahasa cinta melolong. Betapa singgung kedekatan bisa menimbulkan asmara. Karena sering bertemu, ada riak di sana. Terlalu riskan, polisi berselingkuh dengan tersangka utama pembunuhan. Padahal Hae-jun memiliki kehidupan keluarga harmonis. Istri cantik yang se-frekuensi. “Harus tetap bercinta rutin, bahkan saat saling ngambek.” Perselingkuhan itu, jelas memberi pengaruh kuat keputusan akhir, dan juga riskan untuk kehidupan utama sang detektif. Terlalu besar pertaruhannya.

Pantas sekali menang Best Director di Cannes, yang mencipta decak kagum tentu saja adegan lapis kayak wafer, tempel-tempelan. Tak hanya sekali, beberapa kali muncul tumpang tindih. Sang pria, seorang suami yang tampak setia dan bersahaja, mencintai perempuan lain dengan penuh pengorbanan, bagaimana saat di puncak bukit melihat tindakan bayang, dorongan maut penuh kengerian. Setelah Hae-jun membaca sekilas-sekilas isi HP temuan itu lantas memahami semuanya, dia duduk gemetaran, tidak berani menyentuh bayangan surealis yang muncul karena takut melihatnya akan meledak di depan wajahnya, seperti bom rakitan sendiri. Angka di HP tercetak menjadi realita, mencipta pengungkapan tak terbantahkan. Terasa kabur fakta pahit itu, mencipta aroma kebingungan oh mengapa, seolah tak mampu meresapi lingkungan sekeliling.

Kukira saat tahu kebenaran akan mengambil sikap tegas, nyatanya logika kalah sama perasaan cinta. Saat perpisahan, dan ciuman di tengah dinginnya salju, ada getar gairah mengaliri, dan itu sungguh keputusan sulit. Usaha melindungi membutuhkan usaha yang cakap. Begitulah bila manusia mengecap kenikmatan terlarang. Dia membela tersangka habis-habisan sampai ke titik liur terakhir, tetapi sekaligus mengakui dia sangat mencintai istrinya.

Kata kabut disebut berulang, baik dalam bentuk puisi atau syair lagu. Lagu utama kisah ini, menjadi lagu wajib sang nenek yang ditanamkan Seo-rae. Banyak adegan kelabu memang di kota berkabut. Kabut tipis yang datang dan seolah tak mau pergi. Malam, saat menampilkan lanskap kota yang kosong diselimuti warna kelabu melankolis, bertabur titik-titik lampu kuning yang mengambang di udara seperti air mata. Kelabu seperi malam tak berawan. Jadi benarkan warna kabut itu kelabu?

Karena ini drama percintaan, adegan romantis melimpah ruah. Sekalipun thriller juga dominan, sejatinya ini tentang asmara hitam. Salah satu adegan bagus tersaji saat hujan, sepayung berdua, saling tatap di tepian gong, menyampaikan pendapat secara tersirat. Menikmati keheningan sarat rasa malu yang diperpanjang oleh raut senyum saling silang. Hanya selingan suara hantaman air hujan yang mengiringi. Sungguh ironi, adegan romantis sama pasangan resmi, di tengah-tengah kebahagiaan bagaimana suami-istri ini mengakali penuaan dengan daging kura-kura dan ikan, yang meranum setelah dipelihara begitu cermat. Dibaliknya, ada perempuan lain yang tak kalah intens. Hal-hal seperti itu meresahkan. Menclok sana-sini.

Mereka mengecap ribuan kesenangan yang menggoda, menemukan dunia alter baginya, dan menyelaminya dengan nikmat, seperti ikan tua berenang-renang di tengah cahaya matahari. Maka setelah memutuskan jaga jarak, lantas bertemu kembali, ada nuansa kenang. Hingga akhirnya kata ‘sebuah kebetulan’ yang janggal disampaikan, bagaimana sekali lagi kematian mengenaskan terjadi. Kejahatan kedua, menimbulkan kebimbangan lagi, dan ibaratnya, saat itu situasinya seperti tupai yang tersesat di hutan besi. Fatal, bingung, serba salah, dan kali ini keputusan berat kudu diambil. Hae-jun gemetar saking marah. Seo-rae gemetar saking syahdunya.

Ada kutipan menarik dari Konfusius, Orang baik memilih gunung, orang jahat memilih pantai. Seolah hanya selingan, maknanya benar-benar diterapkan. Pantai pun menjadi kata yang ditakuti di antara mereka, sayangnya dia suka pantai. Sebuah tanda kematian, dan mereka pun coba berpaling ke perbukitan. Namun tak semudah itu. Bunuh diri, gunung, pantai, dan mengapa memilih menikah sama orang yang penuh masalah. Manusia dari zaman batu sampai era modern selalu butuh pengakuan. Maka jawaban bahwa orang berbudi sepertimu sulit dijangkau malah menambah sesak di dada. Ahh… pantai. Terasa ngeri saat airnya menggeluguk di kaki berselimut pasir, dan perlahan tapi pasti semakin naik.

Sebenarnya tata kelola Decision bukan barang baru, film detektif dengan pengungkapan bagus seperti ini pernah kujumpai di Sherlock Holmes-nya Robert Downey Jr., ada slow-mo penuh penjelasan deduksi. Bukan barang baru juga, kebimbangan keputusan selingkuh orang kuasa sama orang lemah, yang bukan korban tapi malah penjahatnya. Soundtrack keren, juga banyak kita temui di film-film daun yang lebih aduhai. Namun mengapa, saya tetap terpesona saat hal-hal yang umum itu dirajut dan ditampilkan di layar? Bisa jadi kita haus film festival tayang di layar lebar, film bagus di tengah kemonotonan, sudah jenuh sama deretan film mainstream yang mengalir tiada henti. Ya gitu-gitu saja, ya biasa-biasa saja. Makanya, saat tahu bakal tayang di CGV langsung kuantisipasi, film festival Eropa muncul di Karawang lho. Langka. Dan benar saja, cuma seminggu tepat tayang, hari ini sudah turun layar.

Memutuskan cuti untuk Memutuskan Pergi. Kutonton Senin (18.07.22) di show pertama jam 11:15, jalan kaki dari rumah. Nonton sendirian, tak ada kawan sama sekali di bioskop. Kedua kalinya saya nonton sendiri seolah bioskop pribadi, yang pertama The Green Book. Sempat kukira batal, sebab sampai jam 11:30 belum juga nyala layarnya sekadar trailer atau iklan-iklan. Keluar lagi, minta tolong Pak Satpam, dan setelah kembali masuk, menanti lagi jam 11:45 akhirnya proyektor menyala. Terlambat 30 menit hufh…, tak mengapa, daripada batal. Resiko film daun di kota penuh daging. Cuti untuk merenung di bioskop itu, terbayar lunas.

Orang baik punya bakat alami untuk tahu bagaimana melaksanakan hal yang benar. Namun baik saja tak cukup di kota kabut, mungkin di kota kita juga. Sehebat apapun, manusia memang tempatnya berbuat salah. Dan saat kita menyadarinya, waktu sudah pudar seperti segenggam daun-daun layu.

Decision to Leave | Year 2022 | Directed by Park Chan-wook | Screenplay Park Chan-wook, Seo kyeong Jeong | Cast Tang Wei, Park Hae-il, Go Kyung-Pyo | Skor: 5/5

Karawang, 220722 – Jo Stafford – You Belong to Me

Sandra saab tood: Jenius Merenung

“Saya telah melakukan segalanya dengan benar sepanjang hidupku. Sudah bagus, melakukan apa yang harus dilakukan, tapi nyatanya saya tak mendapat timbal balik sepadan.” – Sandra

Seorang jenius pendiam yang perperangkap di dunia kemunafikan. Di dunia ini tak ada yang idealis, segalanya rata-rata, di tengah-tengah, harus dinegosiasikan, kudu menyesuaikan keadaan. Apapun sistem yang dipakai, kamu tak kan bisa puas, selalu akan ada rongga yang perlu ditambal, selalu akan menemukan sebuah bentuk yang lebih baik lagi dari apa yang kamu capai. Pengaruh memengaruhi dunia dan sekelilingnya. Seluruh penggambaran, apersepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi tadi merupakan unsur-unsur pengetahuan, seorang individu yang sadar.  Sandra jelas memahami ini, tapi ia juga tak bisa mensejajarkan diri akan kehidupan sekelilingnya. Menemukan banyak hal tak sesuai harap, ditambah tekanan bahwa orangtuanya kaya dan sukses, ia justru seperti jadi beban keluarga. Rasanya ia dingin, sekaligus panas.

Sandra Mets (Mari Abel) seorang doktor fisika muda, ia mendapat kejutan di puncak acara kantornya dalam pesta keberhasilan proyek penelitian, ia justru dipanggil bosnya, diberitahu bahwa diberhentikan (bahasa sopan, kamu dipecat!) karena perusahaan perlu efektifitas kelola sumber daya manusia (SDM). Berita ini mengempiskan semangat. Tanpa banyak tanya, tanpa banyak komentar ia langsung mengemasi barang-barangnya, lantas pulang meninggalkan pesta. Sempat coba dicegah bosnya, coba diminta balik ke pesta, ia geming. Sebuah pembuka yang kontradiksi dari judulnya, Sandra Kehilangan Pekerjaan. Pergi dengan gaya.

Ia adalah seorang jenius, dari langkahnya sudah menunjukkan kecerdasan yang menyingkapkan derajat intelegensia bawaan yang tinggi, otaknya encer, rekomendasi pekerjaan banyak, tawaran wawancara ada, tes kerja antri. Ia memiliki seorang anak, yang keseharian dititipkan ke ibunya. Ayahnya seorang ilmuwan sukses, secara finansial orangtuanya aman, maka selama menganggur ia meminjam uang.

Dalam tes kerja, ia dengan mudah melibasnya. Tertulis lancar, wawancara tak jauh beda. Tawaran kerja juga mengantri, tapi memang tak ada yang bisa sreg, klik dengan hatinya. Tak mudah beradaptasi, tak mudah bergaul sama rekan kerja. Saat akhirnya ia mengambil salah satunya, sebuah perusahaan start-up yang mencipta chip. Saat mendapat apresiasi, ia diajak pesta nyanyi, tapi malah dengan galak membalas tak bisa nyanyi. Dasar jenius murung. Ia juga tampak egois, walaupun setelah bermenit-menit kita tahu, Sandra-nya yang defense, tampak sombong tapi bukan sombong, rasanya ia sangat logis. Diamnya adalah misteri yang tak terpecahkan. Saat-saat di puncak kemuakan, seolah kita bisa dengar ia berteriak, “Biarkan saya  sendiri dengan serdaduku, jangan ganggu, agar gengsiku terpuaskan!”

Dalam proyek yang potensial bagus, idenya dari Sandra, yang membuat file presentasi dia juga, yang memaparkan proyek ke calon investor dia juga, dan jelas bagus banget. Sayangnya, Sandra yang memang tipikal serius dan logis malah merusaknya.

Begitulah, film ini bergulir lambat dan tenang, tak ada tawa, tak ada teriakan, semua seolah dialog umum antar orang asing, formal dan apa adanya. Selain konfiks dalam pekerjaan yang monoton, ia juga bertentangan dengan ibunya yang banyak memberi nasihat, juga bapaknya yang mengajak kerjasama malah ditolak. Memang susah bergaul sama orang jenius, sampai akhirnya di titik yang tak bisa dijelaskan, ia mencoba melepas beban, dunia ini memang tak adil, tak pernah adil, dan tak akan pernah jadi adil.

Makanya sebagai manusia sosial kit harus bisa menempatkan diri, saat perlu ngumpul sama teman-teman ya santuy saja suasana, tak perlu serius. Saat meeting sama bos atau ketemu klien, baru serius. Hal-hal yang tak termaktub dalam aturan baku, manusia memenuhi etika. Saat menemukan ketidaksesuaian dengan hati, selama tak main fisik atau mencederai hati terdalam tak perlulah mencela-celanya secara destruktif. Tak banyak yang bisa kita perbuat untuk umum, kita hanya bisa mengubah dan menundukkan diri kita sendiri. Emile Durkheim, sosiolog Prancis yang terkenal, memperhatikan aspek solidaritas hubungan antara individu dalam kelompok dan dalam perkumpulan, dan membedakan mekanisme solidaritas yang menjiwai kelompok, dan organisasi solidaritas yang menjiwai perkumpulan.

Pekerjaan merupakan tumpuan tiap individu untuk bertahan hidup di kerasnya dunia. Memaksa kita untuk tetap waras, dipaksa melakukan hal-hal yang tak disukai, dipaksa melaksanakan rutinitas yang membosankan, mau tak mau mengikuti alur. Kita hidup dalam lingkaran yang menghubungkan orang satu ke orang lain, kita makhluk sosial yang saling membutuhkan.

Suka sama ending-nya. Setelah bermenit-menit murung, bermenit-menit merenung, kibasan merdeka itu terjadi. Perasaan lega atas segala-gala-gala-galanya. Mencipta sungging senyum penonton.

Sandra Gets a Job | Judul Asli Sandra saab tood | Year 2021 | Estonia | Directed by Kaupo Kruusiauk | Screenplay Kaupo Kruusiauk | Cast Mari Abel, Henrik Kalmet, Helen Klasman, Alo Korve | Skor: 4/5

Karawang, 120422 – Bruno Mars – Just The Way You Are

In Front of Your Face: Aneka Warna Tingkah Laku Manusia

In front of your face film.jpg
Produksi: Jeonwonsa Film Co.

“Aku percaya surga bersembunyi di depan wajah kita.” – Sangok

Komunikasi timbul setelah kontak terjadi. Saya menemui si A maka terjalin perbicaraan. Saya menghubungi si B, maka komunikasi tercipta. Saya diajak ngopi sama si C, maka terjadi interaksi. Ini jenis film ngegoliam, di mana kata-kata lebih dikedepankan. Kekuatan ngobrol, keseruan dialog. Dan bobotnya, makin berat konfliks yang dibahas, maka makin menentukan kualitas cerita. Cerita sejatinya sangat sederhana, dan karena kesederhanaan itulah, tampilannya justru menarik. Minim pemain, minim lokasi, jelas minim bujet. Seorang artis yang mudik ke Seoul, tinggal sama saudarinya, menekuri hari-hari yang cerah, minum kopi, sarapan roti, melihat-lihat taman penuh bunga, makan di resto, lalu siangnya ada janji temu sama seorang sutradara muda. Janji tengah hari itu ditunda sore, maka sang artis memutuskan membelokkan taksinya ke tempat ia lahir dan tumbuh, rumah masa lalunya sudah direnovasi dan ditempati orang lain. Merokok jadi kebiasaan, guna mengakrabi kenalan. Sorenya ketika ketemu di bar sama sang sutradara, ia mendapat tawaran main film layar lebar. Ia mengaguminya, ia siap menyesuaikan jadwal syuting, dan saat naskah dikerjakan, Sang artis diperbolehkan balik ke Amerika barang setengah tahun atau lebih, nanti dikabari saat siap. Dan jawaban kejutan yang didapat. Tawaran-tawaran lain disampaikan, dan alkohol diedarkan. Siang terik, sore hujan deras ditemani petir, dan segalanya tersapu badai…

Jelas ini bukan film untuk semua orang. Isinya cuma ngobrol dari satu meja ke meja lain, dari jalan kaki menikmati pemandangan taman penuh bunga hingga merokok di bawah jembatan menikmati aliran air, percikannya menenangkan, menjadi backsound lembut seolah di taman firdaus. Dari pertemuan di resto ke pertemuan di bar, dan begitulah, seolah memang dipamerkan keindahan lanskap kota. Hiruk pikuknya jadi semacam latar, dan kata-kata bergulir semarak, keputusan-keputusan harus diambil, waktu terus berjalan, waktu berjalan linier, kita dilindasnya. Hidup, begitulah, tak pernah ada yang tahu masa depan.

Korea Selatan adalah Negara maju, ekspansi produknya sudah mengglobal. Dari Samsung hingga Hyundai, dari K-Pop sampai Drakor. Budaya baik ditampilkan di banyak adegan, misal menghormati yang lebih tua, salam sapa dengan saudara, pelukan hangat sebagai tanda kasih sayang, hingga menawarkan makanan bagi teman yang absen makan siang. Manusia harus mempelajari kebudayaan sejak ia lahir, selama seluruh jangka waktu hidupnya, hingga saatnya ia mati, semuanya dengan jerih payah, dan faktor kebiasaan jadi faktor paling dominan pembentuknya. Sistemnya sudah ada, tinggal eksekusinya. Kita misalkan, terbiasa makan dengan hanya menggunakan tangan kanan, berdoa sebelum makan, dan sedikit berbincang di atas meja. Hal itu tak serta merta, ada proses dan tempaan. Akan sangat sulit mengubahnya, faktor lingkungan memang sangat berpengaruh. Kita mungkin terbiasa melihat orang buang sampah sembarangan, atau pengendara menerobos lampu merah. Anehnya, warga kita, orang yang sama tersebut melancong ke Korea, akan otomatis mengikuti aturan yang ada. Orang Indonesia di Korea akan membuang sampah pada tempatnya, akan mengikuti antrian, dst. Lantas kemana sifat melanggar aturan itu menghilang? Unsur-unsur terkandung dalam watak itu tadi tentu saja tidak hilang lenyap begitu saja, melainkan hanya terdesak masuk ke dalam bagian dari jiwa manusia, hanya diredam, prinsip di mana bumi dipijak langit dijunjung secara naluriah aktif. Aneka warna tingkah laku manusia memang karena kolektif di mana manusia itu bergaul dan berinteraksi.

Endingnya sendiri sangat bagus. Menertawakan kekonyolan? Tersenyum masam atas keputusan sambil lalu, ataukah ada penyesalan yang terkandung di dalamnya. Yang jelas itu tawa getir, saat tahu dunia yang kamu tinggali akan kamu tinggalkan, lalu memaksimalkan masa yang ada dengan segala kekreatifannya, itu seolah tak bermakna. Apa yang dikejar, dunai fana, waktu fana, tubuh ini fana. Seribu tahun lagi kita semua dilupakan, mungkin Seoul masih ada, mungkin pula bumi masih baik-baik saja, hanya individunya yang berganti, lantas apa yang dikhawatirkan atas pembatalan janji temu?

Menurut Profesor Clyde Kluckhohn kelima masalah dasar dalam kehidupan manusia yang menjadi landasan bagi kerangka variasi sistem nilai budaya: (1) Masalah mengenai hakekat hidup manusia, (2) dari karya manusia, (3) dari kedudukan manusia dalam ruang waktu, (4) dari hubungan manusia dengan alam sekitar, (5) dari hubungan manusia dengan sesamanya. Kelima ada di film ini. kalau diperhatikan Sangok begitu bimbang, di mana opening adalah ending, dan ending adalah penafsir perjalanan manusia. Ia seperti terperangkap di sekitar, ia begitu mencoba menikmati hal-hal yang ada. Rokok, kopi, roti, pelukan, hingga warna-warni bunga. Rasa cukup menjadi titik utama, syukur, sabar, merdeka.

Bersikap dan berbuatlah seolah-olah kamu sangat bahagia. Maka ini akan membuat kamu betul-betul berbahagia. Seperti kata Sangok, surga tuh tersembunyi di depan wajahmu. Jadi kebahagiaanmu, hanya tergantung kepada apa yang kamu pikirkan.

Film sederhana yang bagus. Cerdas, sangat menggugah, dan juga diplomatis.

In Front of Your Face | Tahun 2021 | Korea Selatan | Sutradara Hong Sang-soo | Cerita Hong Sang-soo | Pemain Yunhee Cho, Lee Hye-yeong, Hae-hyo Kwon | Skor: 4/5

Karawang, 070422 – Eagles – Hotel California

The Batman: Deklamasi Sinema

“Ketakutan adalah alat. Saat cahaya itu menerpa langit, itu bukan sekadar panggilan. Itu peringatan.”

Di sebuah kota yang selalu ditempa hujan… Darah dan kata-kata pasti meluap bersamaan. Gotham yang basah dalam berkah limpahan kata-kata sang superhero seolah penyair pelamun, ia murung dan lelah. Apakah perlu kita menghitung air hujan yang diguyur langit, yang umlahnya tak terhingga, seperti penderitaan yang harus Batman pikul. Jalan yang harus ditapaki seorang pahlawan tidaklah semulus yang kita bayangkan: berliku-liku dan melewati kerasnya gunung pengorbanan.

Ini adalah deklamasi sinema, drama panggung dengan syair meluap. Saya tidak pernah dengan sengaja berniat menghafal puisi Batman, tetapi puisi ini masuk ke pikiranku seperti wahyu tuhan turun kepada para nabi. Gelap dan semakin gelap. Penonton dijejali bergalon-galon kata sambil mencoba menautkan klu, serta bualan itu yang makin lama makin ngelatur. Puisi itu seolah filosofis, samar-samar mencoba membentuk benak para penonton, kata-kata melayang di baris subtitle yang menggugah, bermakna, bermanfaat, dan sepertinya siap dipraktikkan. “Mereka pikir saya bersembuyi di balik bayangan, tapi akulah bayangannya.” Cocok dikutip, dibagikan di sosial media, dijadikan status motivasi ala ala Arnold P. Bolang. Ini jelas Batman yang beda, maka lebih tepatnya, saat topeng dibuka ternyata Bruce Wayne adalah alter ego Widji Thukul.

Mendendam dan saat pembunuhan orang-orang penting terjadi tiap malam jelang pilihan umum walikota, Batman menemukan tautan penting ke arahnya. Titik-titik hubung itu mengarah padanya, surat cinta berisi klu ‘To The Batman’, pembunuh serial ini gila, walaupun dasarnya pembaruan kota, pembersihan atas para pejabat yang salah menggunakan wewenang, pembunuhan ini harus dihentikan, bersama sahabat malamnya Catwoman, Gotham butuh pahlawan, sebelum meledak.

Bruce Wayne (Robert Pattinson) anak yatim piatu dengan kekayaan besar diasuh oleh Alfred (Andy Serkis), hobinya berkenala malam hari, dengan penanda Batman di langit. Saat senjakala jatuh di kota yang ramai dan sibuk ini, kereta malam menderu membelah keriuhan, kejahatan-kejahatan terjadi. Matahari terbenam menyorotkan jubah hitamnya di atas gedung. Di Gotham Batman belum dikenal, di malam Helloween gerombolan, berandal yang akan menghajar orang asing malah bertanya, “siapa kau”. Secara bersamaan terjadi pembunuhan wali kota, kematian tokoh besar mencipta sensasi. Batman turut serta ke TKP untuk menyelidiki atas ajakan sobatnya di kepolisian Gordon (Jeffrey Wright). Banyak klu, tapi pesan terpenting adalah amplop untuknya. Malam kedua pembunuhan terjadi lagi, Komisaris Pete Savage (Alex Ferns). Klu kembali ditebar dan mengarah pada mobil korban, ada file di sana. Sudah mulai terlihat di sini, target korban adalah orang-orang penting yang menyalahgunakan jabatan.

Penyelidikan lanjut ke bar tertutup milik Penguins (Colin Farrell). Bar penuh orang-orang penting, separuh kejari ada di sana. Mabuk dan terbang sama pil koplo The Drop. Di sana ia mendapati pramusaji Selina Kyle (Zoe Kravitz) yang setelah diikuti ternyata memiliki hobi yang sama. Kucing berkelana di malam hari. Keduanya kini satu arah memburu pelaku, walau tujuan utama jelas beda. Batman ingin memecahkan kasus, Selina ingin menyelamatkan teman sekos Annika. Yang ternyata adalah gadis di foto walikota.

Malam ketiga korbannya adalah Pengacara Colson (Peter Sarsgaard), ia dijerat di mobilnya. Esoknya saat hari pemakanan wali kota, gempar mobil menerjang masuk masuk di pelataran duka, dengan Colson di sana, leher terikat, bom ditanam, dan sebuah panggilan telepon dari Riddler (Paul Dano) yang memberi teka-teki, dua pertama dibantu jawab Batman, tapi pertanyaan ketiga siapa sang informan, tak mau, dan yang akhirnya menewaskannya.

Begitulah, film terus bergulir menuju hari pemilihan umum. Kedok Riddle dan kroninya baru terungkap saat informan ditangkap, dan itu juga belum usai sebab semuanya malah kembali ke Batman, dan sekalipun otak kejahatan sudah diamankan di Arkham. Motifnya lebih besar, Gotham dirudung ancaman lebih dahsyat. Siapa berani memberantas lingkaran KKN di pemerintahan?

Durasinya terlampau lama, entah kenapa seolah dipanjang-panjangkan. Pembacaan puisi bagus, tapi kalau terus dilakukan, malah mencipta kantuk. Dalam deklamasi, pembaca yang memakai baju hitam artinya puisi duka. Batman yang ini sedihnya kebangetan. Bersuara parau dan gemar menyanyikan lagu tentang ketidakadilan, kejadian lampau yang mengecewakan, tentang rasa yang ditinggalkan, dan neraka. Mencoba gelap, ada satu adegan layar benar-benar gelap. Hanya sesekali muncul cahaya dari salakan tembakan, di lorong Batman sedang menghajar mush-musuhnya.

Setalah berpanjang-panjang, inti cerita ternyata hanya mengarah pada pembaruan kota, dibersihkan dari sampah masyarakat, orang-orang yang menyalahgunakan wewenang dibunuh satu per satu, sampai akhirnya arah senjata ke Batman, masa lalu ayahnya yang pernah mencalonkan diri jadi pejabat. Klu-klu itu menarik? Biasa saja. Jaring mereka makin merapat menit demi menit. Semua petunjuk sudah digaris, titik-titik disambungkan. Ternyata tak ada twist, kalau boleh bilang, dua setengah jam lebih lalu bilang, ‘hah, gitu aja?’

Ada tiga adegan yang cukup menghibur, seolah menjadi obat lelah dan ngantuk dalam penantian. Pertama jelas adegan kejar-kejaran versus Oz. mobil keren yang dinanti-nanti itu akhirnya keluar garansi. War-biasa aksinya, melawan arah, kebut sampai gaaasnya mentok, dan akhirnya ledakan dengan dramatis mobil Bat terbang. Dan kamera yang dibalik dengan gaya. Nah begitulah adegan film action dibuat, keseruan nampak dan bergetar.

Kedua saat teka-teki kematian, bagaimana bisa infomasi sang informan tetap ditahan saat nyawa terancam, hitungan detik dan dramatis, betapa berat menyangga rahasia gelap dan berisiko. Saya sudah prediksi bakalan tetap mati sih, sebab temanya pembunuhan berantai, jadi begitu tahu korban nomor tiga masih hidup, hanya tinggal eksekusinya saja.

Ketiga, saat Batman berciuman dengan latar cahaya mentari subuh yang masih asri, warna oranye dominan bersemburat. Saya tak tahu di komiknya bagaimana, apakah ada asmara di antara kucing dan kelelawar, tapi romansa mereka tampak saling melengkapi. Jadi sejatinya sudah cocok, walau adegan cheezy Batman diselamatkan dramatis tampak malah merusak mood, dan perpisahan sendu di ujung dengan arah berlawannya, dengan iringan skoring ciamik, jelas keduanya bisa akur memburu penjahat. Sebagaimana kucing dan kelelawar, binatang malam yang selalu lebih senang bergaul dengan benda-benda mati daripada makhluk hidup. Batman tetap tenang dan diam lama setelah menawarkan kebersamaan, tetapi ekspresi keyakinan di wajahnya tidak menghilang. Percayalah, kucing ini akan balik. Dengan catatan kontraknya Zoe diperpanjang.

Harus diacungi jempol usaha reboot kali ini, pembaruan itu bukan Gotham sejatinya tapi Batmannya sendiri, sangat manusiawi. Ini jelas jauh lebih baik dari Batman encok. Pattinson sangat pantas, ia masih sangat muda, dan sebagai orang yang memproklamirkan diri sendiri berjiwa merdeka, ia sudah selalu berusaha tampil hebat, beda, avant-garde, canggih. Dan sekaligus pemurung. Dalam wawancara dengan the Hollywood Reporter yang muncul di beranda sosmed, ia mendeskripsikan dalam tiga kata: crazy, sexy, cool. Sepakat?

Seperti kebanyakan orang Indonesia yang muak akan kelakuan warganya yang tak disiplin, mudah marah, bermuka dua, pejabat yang bloon, hingga berhianat, pada dasarnya tetap saja mencintai kota kelahiran, kota tempat dibesarkan, kota berpijak mengais harta. Begitulah, sebobrok apapun, Batman mencintai Gotham dan akan selalu menjaganya. Kota ini adalah perkuburan, mengapa aku harus tetap di sini? Apa yang harus tetap membuatku di sini? Puisi Batman tak kurang daripada pencarian makna hidup dan kecintaan akan tempat ia dibesarkan. Apakah tindakan Riddler dapat dibenarkan? Menyingkirkan orang-orang jahat di pemerintahan lalu menenggelamkan kota demi pembaruan? Tentu saja tidak, kita harus bersepakat, seburuk apapun kota dan penghuninya, kekerasan dan pembersihan massal tak bisa diterima. Sama seperti Real Madrid yang muak sama panitia Liga Champions yang korup, lalu mencipta Liganya sendiri. Jelas itu salah. Atau para radikal yang tiap hari mengumbar kata-kata kasar semua kebijakan tak bijak pemerintahan, lalu esoknya antri paling depan subsidi beras. Tidak, tidak, sistemnya sudah salah, butuh waktu bertahun-tahun untuk revolusi, memotong generasi lama tak bisa dengan seketika memutus rantai pemerintahan. Pejabat korup tumbang, pajabat korup lainnya akan naik. Di manapun berada, ada. Hanya levelnya saja yang beda, paling tidak mengikisnya, memperbaiki sistem dengan teknologi terbaru, aturan win-win solution, hingga menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat. Dus, gue nulis apa ini bro… maaf ngelantur.

Dunia ini sepanjang masa akan seperti ini; kita boleh mengejeknya, mengkritisinya kalau perlu, ketika kepentingan seseorang menjadi terlalu dominan, tak ada yang patut diperjuangkan. Banyak hal tak bisa kita rubah, kita di luar lingkaran itu. Maka, mengubah diri sendiri lebih masuk akal ketimbang mengubah mindset warga twitter. Para legistalif yang mencari uang dengan menyalahgunakan kedudukan apakah bisa kita rubah langsung? Apakah tetangga kamu yang ngeselin motong keramik di hari Minggu bisa kamu hentikan langsung? Apakah chat ngeselin dari grup WA bisa kamu kendalikan dan atur seketika untuk jadi memihakmu? Banyak hal tak bisa kita modifikasi, peran kita di dunia ini kecil. Peran kita dalam keluargalah yang utama, dan berpengaruh, dan masih dalam kendali. Bangsat! Gue nulis apa lagi ini…

Siapapun yang bisa bertahan dari rasa lelah akan keluar dari perburuan ini dengan penuh kemenangan. Selamat, The Batman berhasil memesonaku.

The Batman | 2022 | USA | Directed by Matt Reeves | Screenplay Matt Reeves, Peter Craig | Cast Robert Pattison, Zoe Kravitz, Jeffrey Wright, Collin Ferrell, Paul Dano, Andy Serkis, Peter Sarsgaards | Skor: 4/5

Karawang, 010422 – Billie Holyday

Thx to Rubay. One down, Four to go.

Best Films 2021

“Santai saja tak usah teriak-teriak” – Quote of the year dari Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas by Edwin

Dari perang antar genk hingga burung yang tertidur, dari bu-ibu vakansi mengenang masa lalu hingga kesatria merenung, dari remaja melawan tradisi hingga pahit manis asmara, dari wanita labil pencarian jati diri hingga perjalanan kapsul ke angkasa, dari istri yang kesepian ditinggal mati mendadak suami hingga perjalanan suami yang kehilangan istri yang amat dicintainya. Tahun 2021 yang merentang panjang.

Ini adalah tahun keenam saya buat daftar 14 film terbaik. Masih nyaman dan konsisten. Tahun 2021 menonton 101 film, 2022 so far 24. Total film tahun 2021 yang selesai kutonton 55.

Inilah film-film terbaik 2021 versi LBP (Lazione Budy Poncowirejo):

#14. The Green KnightDavid Lowery                                                  

Ini tak seperti yang kita kira, pace-nya lambat dengan iringan musik sendu. Tentang pangerang yang melalangbuana memenuhi takdirnya. Dengan banyak simbolisasi, bait-bait puisi, fantasi dengan mantra di setiap benang rajutan kain pelindung, danau tak berbatas, hantu jelmaan, raksasa melintas, hingga metafora masa. Waktu bisa dilipat hingga ribuan tahun dalam sekejap. Pemenggalan kepala jadi sejenis ritual penting, keampuhan sihir dipertaruhkan. Drama fantasi sejati. Rapalan sihirnya sangat akurat, puitik, dan eksak, hanya mengizinkan pemegang kekuatan yang layak menerima, tidak lebih sedikitpun.

“Aku hanya pengelana tersesat. Mencari tempat istirahat malam ini.”

#13. The Lost DaughterMaggie Gyllenhall

Bagus banget. Alurnya sangat lambat, tapi sangat patut dinanti hingga tikungan terakhir. Meskipun banyak dialog sampingan yang melenceng dari inti film, kita tahu ini film Oscar, kita harus menyimak dan mengayaknya untuk memperoleh butir-butir fakta yang bisa mengungkap benang cerita. Kesabaran itu terbayarkan. Iya, Jessie Buckley sangat cantik, tapi hiks, ia juga jahat. Olivia Colman memang sudah kelas aktingnya, udah level tinggi. Cuma senyum kecut, atau meringis pamer gigi kelinci aja bisa bikin meleleh. Mereka jadi duo Leda, keduanya sangat pas dan memukau. Namun Sang juara bagiku adalah Maggie Gyllenhaal. Adaptasi cerita ini berhasil bermain-main dengan konteksnya. Suatu hari ia bakalan dapat piala Oscar untuk bidang sutradara. Catet ya. Mencipta film alur lambat penuh pesan moral, dengan permainan tempo yang ciamik seperti ini, sangat sulit. Rasanya The Lost Daughter laik dapat lebih dari tiga nominasi.

“Saya adalah bunda yang tak wajar.”

#12. After Love Allem Khan

Kesedihan terdalam adalah mengingat kebahagiaan masa lalu. Cerita cinta yang hilang dan respon menghadapinya. Drama dengan kekuatan akting dikedepankan, karena ceritanya sederhana, kalau dibagi dalam babak ada tiga: kehilangan, pencarian dan penemuan fakta, legowo. Dunia duka dengan segala isinya. Kematian mendadak orang terkasih memicu tanya beruntun saat menemukan isi chat mesra di HP almarhum. Menemukan sebuah kartu identitas wanita lain diselipkan dalam dompet, dan inilah inti dari After Love, perjalanan menemukan jawaban kehidupan lain sang suami. Ini kisah tentang tautan dua wanita dalam satu hati lelaki.

“Bersamaku membuatnya merasa menjadi suami yang baik untuk orang lain. Ini membuatku sedih”

#11. West Side StorySteven Spielberg

Tawuran pemuda. Pertama yang terlintas saat adu pukul di cat tembok itu bukan seni musiknya, bukan pula pamer tari di jalan, tapi malah gerombolan Pemuda Pancasila (PP), GMBI, Gibas Betawi Rempug dan sejenisnya. Tawuran dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) adalah seperangkat persoalan dan efek samping idealisme salah kaprah, persoalan ini jauh lebih rumit daripada narasi asmara yang dibawakan. Kalian kira seusai para korban berjatuhan, mereka akan merenungkannya mendalam, lantas esok berdamai? Oh tidak, ini adalah tradisi, kebiasaan, harga diri, (maaf) uang, dan tak peduli ada di dunia Barat atau di kota-kota Jabar, tawuran akan selalu ada. Kau tidak mungkin bisa batuk di sana tanpa membuat tiga orang lain tertular. Akar tradisi ini sungguh kuat.

“Di kota ini penuh dengan keburukan, binatang-binatang malang seperti kalian?”

#10. Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar TuntasEdwin

Semua hal bisa dibuat menjadi dongeng. Ini salah satunya. Mencerita masa lalu, selalu nyaman. Kita bisa menelusuri masa itu di kepala dan mempelajarinya seperti di galeri seni yang penuh dengan instalasi video. Memutar memori, menuangkan dalam tulisan dengan berbagai modifikasi diaduk fantasi, lantas menjelma film. Ini adalah kisah tentang cinta, kerinduan, dan dendam serta burung yang tertidur terlalu lama. Cerita keren adalah cerita yang mampu bolak-balik menyeberangi batas antara keremehtemehan dan kekacauan, antara hal gila dengan hal biasa.

#9. OxygeneAlexandre Aja

Film berpenampilan satu orang, yang suka film mikir harusnya suka. 1,5 jam menonton cewek rebahan pening pecahkan teka-teki dengan oksigen terbatas. Mengambil setting hanya satu tempat memanfaatkan ruang gerak sempit hanya dalam tabung, jelas mengingatkan Buried. Perjalanan nun jauh ke atas sana lalu kerusakan terjadi, jelas menautkannya pada Passenger. Scifi dengan klona demi menyelamatkan umat manusia di luar angkasa, jelas sekali terinspirasi Moon, mati satu tumbuh seribu. Ini adalah kisah fantasi, menanam ingatan mengembangbiakkan makhluk terancam segera punah, dan sesak napas tak terkira. Segala sesuatu yang tampak begitu infantil, begitu jauh dari realita.

“Aku adalah kau. Aku adalah kau di dalam bahaya.”

#8. Sweet and SourKae-Byeok Lee

Setiap bentuk rasa frustasi, setiap akibat dari kepuasan naluriah yang dihalangi, atau yang mungkin diakibatkan, adalah berada dalam pemuncakan rasa bersalah. Waktu tak bisa diputar balik, tapi cerita bisa kan? Penyesalan selalu di akhir, kesalahan demi kesalahan diberbuat manusia, yang terlindas waktu tak bisa diubah. Bertabrakan menjadi sangat aduhai jika terjadi di bandara, dalam posisi lari mengejar wanita yang sama. Ini masa lalu, ini masa kini. Lantas masa depan apa yang lebih menawan untuk dijalani? Harga yang mesti dibayar demi kemajuan peradaban kita adalah hilangnya kebahagiaan melalui pemuncakan rasa bersalah.

“Jika tertinggal taksi, kau bisa menunggu yang berikutnya. Tapi jika kehilangan seseorang, maka sampai situ aja. Aku akan merindukanmu…”

#7. Yuni Kamila Andini

Menyenangkan menyimak puisi dalam bentuk visual audio. Puisi itu menjelma filosofi yang samar-samar dalam benak semua orang jadi beberapa baris kalimat ringkas yang bermakna, bermanfaat, dan siap dipraktikkan. Film ini, dalam pengandaianku seolah menggambar menggunakan angka-angka, rumit sekaligus seru. Pridom abis!

“Perempuan harus mahir di dapur, di kasur, dan pakai pupur…”

#6. Last Night in SohoEdgar Wright

Tentang gadis desa Cornwall yang melanjutkan sekolah design ke kota London untuk meraih impian. Memiliki masalah mental sering melihat penampakan, ditinggal ibunya bunuh diri sejak usia tujuh tahun. Dibesarkan dengan kasih sayang nenek. Dengan sering wanti-wanti untuk jaga diri, waspada di kota besar banyak setannya, selalu menghubungi rutin, dst. Terdengar klasik? Ya, tapi film menjelma gila saat hantu-hantu manusia tanpa wajah tahun 1960-an bermunculan, dan penyelidikan membuahkan kejutan.  

“A murder in the past. A mystery in the future.”

#5. EternalsChloe Zhao

Dengan segala hormat, kali ini Marvel benar-benar menaikkan tensi ke area dimensi tak berbatas. Melintas semesta, jangkauannya sudah bukan New York lagi, dramanya bukan sekadar Bumi dengan segala isinya, kali ini menantang Sang Pencipta. Hitungannya bukan tahun, atau bulan, tapi sudah abad. Itupun ribuan abad lampau. Para penjaga bumi mendapati tugas berat setelah tahu bahwa misinya kini malah tak memihak penghuninya. Dilema kesetiaan pada sang pencipta, ataukah melawan tangguh untuk kelangsungan umat?

“Jika kau mencintai sesuatu, kau melindunginya. Itu hal yang paling alami di dunia.”

#4. The Power of the DogJane Campion

Luar biasa. Jangan remehkan orang yang terlihat lemah. Kita tak tahu apa potensi yang bisa dikembangkan, air yang tenang lebih berbahaya ketimbang riak alir berisik. Ini film keluarga, bagaimana bertahan hidup di tengah teriknya mentari di rumah peternakan. Isu-isu berkembang lewat hembusan angin. Pohon-pohon jadi saksi perbuatanmu. Beberapa hal mungkin perlu disangkal, tapi buat apa.

“Selamatkan jiwaku dari pedang, dari cengkeraman anjing-anjing.”

#3. King RichardReinaldo Marcus Green

Ayah selalu mencintai anak perempuannya lebih daripada ibunya. Bikin film biografi tuh seperti ini, sodorkan hal-hal yang tak diketahui khalayak umum. Aduk emosi penonton dengan curang. Kalau diberi buku tulis, jangan menulis mengikuti garis, bikinlah tulisan miring, kalau perlu bukunya dibalik, kertanya disobek-sobek, lalu tulisannya dipecah, sehingga pembaca tak langsung paham. King Richard benar-benar mengaduk-aduk emosi. Salut. Bisa-bisanya Will Smith menemukan naskah cerita sekeren ini.

“Kau akan menjadi yang terhebat sepanjang masa. Bagaimana ayah tahu? Karena ayah sudah merencanakannya.”

#2. The Worst Person in the World Joachim Trier

Ini jelas bukan film yang sekadar Oke, ini film adalah luar biasa. Seusai nonton seperti ada rasa yang mengganjal, ada yang meresahkan, tapi yang meresahkan itu memang sudah berlalu. Ya seperti waktu, kita sudah menjalani, lantas kita merasa ada yang salah di masa lalu, keputusan-keputusan dan tindakan kita salah, seperti kejahatan atau perbuatan yang menyakitkan orang lain yang terlanjur dilakukan. Namun rasa itu terdistorsi, seolah gumam, “ya mau gmana lagi? Setiap perbuatan ada konsekuensinya.” Nah seperti itulah perasaan saat credit title muncul, ada efek yang menggelenyar setelahnya, penonton tak dibiarkan tenang, penonton bahkan kena beban, seolah merasa kasih andil kesalahan, feminism kebablasan? Ataukah egoism yang membuncah? Film ditutup menimbulkan perasaan kacau, saya merasa seolah-olah turut melakukan kejahatan.

“Aku benci mendengarnya, tapi bisakah kau bilang bahwa aku akan menjadi ibu yang baik?”

#1. Drive My CarRyusuke Hamaguchi

Perbuatan selalu lebih banyak pengaruhnya daripada kata-kata, tapi bagaimana kalau kata-kata itu dialirkan dalam rengkuhan penuh cinta seolah langsung ditancapkan ke dalam pikiran? Kebenaran itu mengalir deras, dan ia menginginkan seluruhnya. Pengaruhnya tentu begitu tinggi, hingga hak-hak kita diabaikan dengan sukarela. Drive my Car adalah film dengan penerungan mendalam. Kata-kata dipilah dan dipilih sehingga penuh intimidasi tersirat. kata-kata membuncah, digurat dengan pena tajam, dipikirkan dengan sungguh-sungguh. Disajikan dalam mangkuk emas, citarasa sinema tiada dua.

“Jika aku hidup normal, mungkin aku akan jadi Schopenhauer atau Dostoevsky yang lain.”

Karawang, 310321 – Eagles – Hotel California

Happy Birthday Winda Luthfi Isnaini 16 tahun.

The Eyes of Tammy Faye: Keserakahan adalah Binatang yang Sangat Aneh

“Ini belum berakhir, sampai semuanya berakhir.” – Tammy Faye

Luar biasa. Riwayat hidup manusia dibuat dengan memesona, beginilah sebuah biografi seharusnya disajikan. Runut dan enak dilihat. Seorang pengabar Injil, bersama suaminya mengumpulkan banyak dana, lantas disalahgunakan, dihukum, semua haknya dilucuti. Di titik terendah, ia tetap percaya Tuhan masih bersamanya. Seperti kutipan di atas, semuanya baru berakhir kalau benar-benar sudah berakhir. Dan Jessica Chastain amat sangat layak menang Best Actress. Piala yang sudah dinanti-nantinya itu akhirnya tergapai juga.

Tammy Faye kecil (Chandler Head) dididik secara Kristen taat sejak kecil. Ibunya (Cherry Jones) adalah tim penyanyi gereja. Ia sudah tertarik terlibat dalam naungan keagamaan, ia bisa bernyanyi bagus, dan dengan ketekunan orangtua, ia berhasil meujudkan mimpinya.

Perkenalan dengan pelayan restoran Jim Baker (Andrew Garfield) saat ia bekerja di butik mencipta keserasian. Setahun setelah menikah mereka pindah kota dan mulai misi penyebaran iniil. Keduanya lantas merintis pertunjukkan talkshow PLT Club yang sukses luar biasa. Bagi mereka jadi pendakwah adalah panggilan hidup. Mereka juga mengumpulkan dana jamaah untuk digunakan sebagai dana amal. Lihat betapa mudahnya umat dengan mudah memberikan uangnya atas nama agama. Kesuksesan pengumpulan dana di awal itu memberi konsekuensi lain. Sesudahnya uang datang bagaikan gelombang pasang, meminta jamaah melipatgandakan, meminta jamaah sedekah sebanyak mungkin. Nah, di sinilah mereka terpeleset. Godaan uang besar, keserakahan adalah binatang yang sangat aneh.

Pendeta senior Jerry Falwell (Vincent D’onofrio) yang tahu banyak hal membocorkan penyalahgunaan dana amal. Seorang reporter diminta bungkam atas sebuah kasus miring Jim. Dan puncaknya, dakwaan berat menimpa suaminya sehingga memaksa masuk bui. Runtuh sudah tatanan bangun kehidupan agamis mereka.

Lantas saat sudah dititik terendah, bagaimana bisa Tammy masih bisa meyakini hal-hal esensial menyangkut kepercayaan? Bagaimana ia bangkit? Selembar foto mengatakan, kau bahagia, dan ingin orang lain menangkap momen itu. Selembar foto mengatakan, kau tampak cemerlang sehingga orang lain bisa melihat segalanya agar bisa datang dan menikmati penampilan. Tammy Faye menutup layar dengan sempurna, ditolak program acara tv tak serta merta menutup peluang lain. Selembar foto closed-up itu, ah masih ada yang membutuhkannya. Suara telepon yang bilang, dulu kamu baik dan ia berniat menggandengnya lagi, adalah suara malaikat putih. Kebaikan yang ditanamnya di masa lalu, kini bergema untuknya.

Pertama yang terlintas di pikiranku justru adalah penceramah lokal yang gemar berinvestasi dengan kedok sedekah. Yusuf Mansur berhasil menjaring uang umat bernominal besar, dilaporkan berkali-kali ke kepolisian, coba diseret atas tuduhan penyalahgunaan dana, hingga kedok investasi bodong yang terkuak. Nyatanya, ia tak pernah tinggal di jeruji besi. Entah ilmu apa yang dipakai, ia benar-benar tangguh dan selalu lolos. Entah budaya kita yang mudah memaafkan, ataukah benar-benar ia bersih? Yang jelas kehidupan Amerika yang liberal berhasil menyeret pria agamis Jim lima tahu penjara. Jim adalah orang besar dan sangat peduli dengan bagaimana ia harus dikenang. Tulisan di akhir film makin mengukuhkannya. Dosa-dosanya sudah ditebus di bui.

Kedua, saya langsung browsing Wikipedia kehidupan Tammy Faye. Ternyata ia orang besar, menulis biografinya, penyanyi dengan 16 album! Musik rejili yang mungkin saja pernah muncul dan terlintas akhir pekan di televisi tahun 1990-an di RCTI selepas acara Planet Football. Nyanyian kristiani yang pernah sesekali tak sengaja kulihat.

Ketiga tentang kehidupan glamor selebrita. Saat kamera menyorot mereka tampak tetap optimis, menyampaikan terima kasih sama orang-orang yang tetap percaya pada mereka, meminta maaf bila terjadi kesalahan, dan mencoba tetap tegak. Lalu saat kamera mati, tampaklah aslinya, berdua sedang dirundung kepanikan, kalut kesalahan yang terlanjur dilakukan, konsekuensi dihukum. Bersikap wajar adalah sesuatu yang mereka lakukan saat dalam sorotan, namun gesture dan gerakannya sama sekali tak wajar hanya sekian detik setelah off. Ya, ketakutan terbesar adalah apa yang mungkin mereka alami esok hari. Mereka tampak begitu menyesal sampai-sampai penonton merasa kasihan.

Apakah hal-hal seperti ini juga terjadi di kehidupan nyata? Apakah artis-artis yang tampak ceria dan bahagia di tv itu juga menampakkan kesedihan saat tak ada sorotan kamera? Orang-orang yang tiap hari kita tonton di layar, jugalah warga biasa yang pusing akan rutinitas.

Tammy Faye tersenyum dengan kombinasi emosional melankolis. Sesekali tertawa masam, riasannya tampak berlebihan, ia bisa memainkan suara berbeda: berat dan riang bergantian, dan setelah lama vakum benyanyi ia kembali. Terlihat gugup, dan ia mengakui. Penonton tak merespons, tetap diam seolah bertanya ‘bisa apa dia di atas panggung?’ Sebuah akhir yang manis dan pantas disampaikan. Tepuk tangan yang paling meriah untuk Jessica.

The Eyes of Tammy Faye | 2021 | USA | Directed by Michael Showalter | Screenplay Abe Sylvia | Cast Jessica Chastain, Andrew Garfield, Cherry Jones, Vincent D’onofrio, Chandler Head | Skor: 4/5

Karawang, 300322 – Image Dragon – Believer

Prediksi Oscars 2022: Nyupir

Izin cuti besok sudah kukantongi. Ini akan jadi Oscar ke-13 yang kutonton secara beruntun. Live di Disney +. Seperti biasa saya akan menebak 14 kategori, kategorinya bebas sesukaku. Tahun ini saya berhasil melahap 21 film Oscars sebelum pengumuman. Angka yang sangat tinggi walaupun di antaranya kukebut dalam dua minggu terakhir. Penurunan satu film dari tahun lalu. Sudah dua per tiga, jadi angka yang cukup untuk memainkan ramalam. Mari kita lihat…4. Animated feature film – Encanto

#14. Animated feature filmEncanto

Alasan: Raya bagiku film ngantuk, Flee tak cukup kuat.

Tiga film yang kunikmati, Encanto menawarkan hiburan yang sesungguhnya. Secara cerita mungkin biasa, tapi secara hiburan benar-benar fresh. Kebetulan timing-nya pas, Minggu sore, menit-menit akhir masa liburan.3. Actor in a supporting role – Kodi Smit-McPhee (The Power of the Dog)

#13. Actor in a supporting role – Kodi Smit-McPhee (The Power of the Dog)

Alasan: Transformasi singkat yang mengagumkan.

Semua mata tertuju pada Troy, tapi bagiku lebih memesona akting pemuda lugu yang berubah ditempa lingkungan, dan seorang guru yang awalnya melecehkan. Lelaki lembut berkekuatan dahsyat.2. Actor in a leading role – Andrew Garfield (tikc, tick… BOOM!)

#12. Actor in a leading role – Andrew Garfield (tick, tick… BOOM!)

Alasan: Musisi yang terluka, ditampar kerasnya kehidupan

Antara dia dan Will Smith, tapi saya lebih suka sang komposer musik yang gagap, gemulai, marah akan kehidupan. Film yang berhasil diangkat oleh satu aktor. Belum lihat Denzel, yang jelas bukan Javier Bardem.

#11. Actress in a supporting role – Ariana Debose (West Side Story)

Alasan: Ini sih locked. Terlalu unggul.

Ada dua adegan yang bernilai piala. Pertama saat suaminya dipastikan terbujur di kamar mayat, kedua saat ia menantang di kandang macan. Ia memberi ultimatum, bukan pemberitahuan kosong bagaimana nantinya adik ipar akan menyusul. Dan boom!

#10. Actress in a leading role – Jessica Chastain (The Eyes of Tammy Faye)

Alasan: Penyebar agama yang dikelilingi materi dunia.

Belum lihat Kristen Stewart yang katanya bagus, awalnya pegang Kidman, tapi film terakhir tadi pagi malah membelokkan tebakan. Pasangan pemuka Kristiani yang dililit materi dunia, melawan media, Membantah/mendukung ibunya, melawan sangkaan, melawan pahitnya cercaan. Bagian saat ia disebut badut oleh suaminya, sedih banget. Padahal datang dengan senyuman…. International Feature Film – Drive My Car (Japan)

#9. International Feature FilmDrive My Car (Japan)

Alasan: Sudahlah, pasti menang.

Oscar tahun ini bagiku berpusat pada film ini, tak peduli segala omongan orang dan cibiran nyupir selow 20 km/jam, bikin ngantuk, hingga tak logis ada suami seperti itu. Sebagai pembaca setia Murakami, apa yang ditampilkan sungguh seolah hadiah literasi. Lebih panas dari Burning.8. Film Editing – tick, tick… BOOM!

#8. Film Editingtick, tick… BOOM!

Alasan: Suaraku untuk para pencipta karya yang tak mau menyerah dimakan usia.

Tak banyak film musikal yang berhasil membuatku takjub akan kegigihan musisi ditampilkan di layar. Sungguh menginspirasi.. Visual effects – Spider-man: No Way Home

#7. Visual effectsSpider-man: No Way Home

Alasan: Adegan kereta api meluncur di langit…

Yang jelas bukan Shang-Chi dengan naganya yang cupu. Atau planet ngantuk dalam Dune. Keunggulan Spdey memang di teknis, yang sukses membuat geram bagaimana Dr. Strange dikalahkan di rumahnya oleh matematika? Kereta api tut tut tut… menembus udara dan segala yang mengikat dalam jaring.. Original Scoring – The Power of the Dog

#6. Original ScoringThe Power of the Dog

Alasan: Suara-suara nyata di peternakaan kuda meringkik.

Bisa jadi Dune lagi, tapi Kekuatan Anjing lebih memikat.. Cinematography – Dune

#5. CinematographyDune

Alasan: Pohon kurma di planet antah surantah.

Ini kategori tersulit, sebab bagus semua. Kecuali Macbeth yang belum kulihat, empat film lainnya secara teknis bagus. Pengambilan gambar, pencahayaan, dan rasanya keunggulan Dune ya di teknis ini.. Writing (adapted screenplay) – Drive My Car

#4. Writing (adapted screenplay) Drive My Car

Alasan: Sukses menterjemahkan Murakami ke sinema kudu diganjar piala.

Suka sekali sama cerita The Lost Daughter, tapi Nyupir terlalu digdaya. Tak akan berani seorang pembaca loyal melawan penulis panutannya.. Writing (original screenplay) – Don’t Look Up

#3. Writing (original screenplay)Don’t Look Up

Alasan: Komedia dunia kiamat, kurang ajar kau Adam!

Pengen pilih The Worst Person yang gilax itu, tapi cerita tema kiamat ini patut diapresiasi lebih. Asal jangan Coda aja, apalagi Belfast z z z z…. Directing –Steven Spielberg (West Side Story)

#2. Directing –Steven Spielberg (West Side Story)

Alasan: Seremonial tragedi itu, khidmat.

Sudah tebak Hamaguchi jauh hari, tapi setelah nonton West Side, sisi lainku tergerak. Sudah pernah dapat tuan Spielberg, ya ga masalah dapat lagi.. Best picture – Drive My Car

#1. Best pictureDrive My Car

Alasan: Film terbaik Oscars tahun ini.

Piala tertinggi untuk film terbaik.

Karawang, 270322 – Billie Eilish – Happier than Ever: A Love Letter to Los Angeles

#1. Rencana nonton besok sambil servis mobil di Auto 2000, mau mudik si Biru didandani, sekalian saja pas cuti.

#2. Oscar live di Disney Plus mulai jam 7 pagi.

West Side Story: Seremonial Tragedi

Di kota ini penuh dengan keburukan, binatang-binatang malang seperti kalian?”

Tawuran pemuda. Pertama yang terlintas saat adu pukul di cat tembok itu bukan seni musiknya, bukan pula pamer tari di jalan, tapi malah gerombolan Pemuda Pancasila (PP), GMBI, Gibas Betawi Rempug dan sejenisnya. Tawuran dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) adalah seperangkat persoalan dan efek samping idealisme salah kaprah, persoalan ini jauh lebih rumit daripada narasi asmara yang dibawakan. Kalian kira seusai para korban berjatuhan, mereka akan merenungkannya mendalam, lantas esok berdamai? Oh tidak, ini adalah tradisi, kebiasaan, harga diri, (maaf) uang, dan tak peduli ada di dunia Barat atau di kota-kota Jabar, tawuran akan selalu ada. Kau tidak mungkin bisa batuk di sana tanpa membuat tiga orang lain tertular. Akar tradisi ini sungguh kuat.

Film musikal memang sulit dinikmati, bayangkan kita lagi sedih kehilangan saudara, lantas dilantunkan lagu-lagu penghiburan. Tak hanya itu, ada pula koreografi narinya, saat kita berantem. Bak sebuah aksi silat dengan balutan balet. Film musikal hanya satu tingkat lebih baik ketimbang horror, tetap bukan genre yang akan saya ikuti. Menuntaskannya hanya karena masuk jajaran Oscar. Nah, diluarduga West Side Story bagus. Tragedi bak Romeo + Juliet, kita dijejali haru biru sepasang kekasih yang hubungannya timbul tenggelam lantara dua kubu genk kota saling kelahi, lantas terjadi pembunuhan. Nah gitu dong, film Oscar harus ada tragedy, dan film ini memenuhi harap. Walaupun hanya di setengah jam akhir, setidaknya ditutup dengan haru biru, bukan gula-gula manis.

Kisahnya tentang tawuran antar genk di New York tahun 1950-an. Dua kubu, Jets dan Warga keturunan Puerto Rico, Shanks selama bertahun-tahun selalu ribut. Tradisi kelahi ini membuat kepolisian keteter, Krupke (Brian d’Arcy James) dan Letnan Schrank (Corey Stoll) sampai muak capek menasihati. Genk Jets dipimpin oleh Riff (Mike Faist), sedang Shanks ada Bernando (David Alvarez).

Di sebuah pesta dansa, Maria (Rachel Zegler) adik Bernando datang dengan Chino (Josh Andres Rivera). Dansa yang menyatukan dan ceria itu tampak sepintas lalu mendamaikan kedua kubu, sebab muda-mudi ini berhasil membaur. Nah di sinilah mula awal konfliks dicipta. Maria melihat pemuda tamvan yang apesnya dari kubu musuh. Tony (Ansel Elgort) juga jatuh hati pada pandangan pertama, keduanya, diiringi lagu-lagu sebagai backsound lantas bertemu di balik dinding, dan berciuman. War-biasa, temu, kecup, jadian. Betapa mudahnya mendapat kekasih bila wajahmu mulus.

Sang kakak yang tahu, lalu memisahkan mereka. Namun cinta yang kuat membuat mereka nekda, bahkan malam itu Tony dengan norak berteriak-teriak di jalan menyebut nama ‘Maria’. Setelah para tetangga dan orang-orang complain dan terganggung sebuah jendela membuka, muncullah yang dicari. Maria yang meminta diam, dan pulang tapi Tony nekad ke atas dan dengan tangga darurat mengecup sang kekasih. Keduanya lantas berjanji besok sore ketemu.

Tony sampai belajar bahasa Spanyol sama Valentina (Rita Moreno), untuk merayu sang kekasih. Dengan tulisan tangan di kertas, kata-kata puitik digurat lantas dinyanyikan. Maria sempat dicegah untuk melangkah lebih jauh sama sang kakak ipar Anita (Ariana Debose). Namun memang, cinta memang buta, cinta memang gila. Misteri dari generasi ke generasi, panganan opo cinta itu?

Sementara kedua kepala genk menyepakati duel tengah malam di toilet. Dengan berbagai syarat dan ketentuan, dari senjata hingga peserta kelahi. Kabar itu berhembus ke segala penjuru kota, hanya tempatnya yang rahasia sehingga polisi tak tahu. Tony diminta Maria untuk mencegahnya, setidaknya mengambil pistol agar tak ada korban.

Sepasang kekasih itu benar-benar dalam dilema besar. Keputusan maju terus, janji setia sudah diikarkan. Kehati-hatian, sebab itulah yang didapat setiap wanita dari kehidupan yang keras ini. Kehati-hatian, sebab ia merasa melihat potensi itu. Latar belakang saja yang kudu diluruskan, bahkan niat baik dengan bersatunya mereka agar tradisi kelahi antar genk bisa berakhir sempat muncul pula. Namun segalanya-galanya ambyar. Tengah malam itu mengubah banyak hal, seperti kata orang bijak: dalam perang taka da pemenang. Semuanya terluka, semuanya kalah.

Serenade menghentak, lirik-lirik penghormatan muncul, isi lagu berisi narasi, dan begitulah, saya berkali-kali z z z z. sempat khawatir akan menjadi Coda berikutnya yang happy ending, ternyata tidak. Film mengubah haluan dengan luar biasa cepat saat waktu-waktu jelang berantem. Was-was dan kaget saat sebuah tikaman dilakukan, dibalas dengan tikaman lain. Langsung prediksi mengarah ke buku Shakespeare yang dramatis. Bahkan sekalipun sudah memerkira ke sana, saat Anita menjelaskan dan mencoba membersihkan noda-noda, saya tetap kaget ketika pertemuan ending itu dirajut di layar. War-biasa, bagaimana bisa eksekusi yang tak lebih dari sepuluh menit itu mengubah keseluruhan penilaian.

Ada nada kesal saat anggota keluarga mati, dia malah memihak sang pembunuh. Adegan saat kepergok itu memunculkan dua sisi marah dan kasihan secara bersamaan, seketika. Lebih jleb lagi yang memergoki. Perasaan terguncang atas kematian orang terkasih sudah cukup menyakitkan untuk malam itu. Guncangan karena sang adik ipar memilih jalan cinta membuatnya terus gemetar. Tamparan yang layak.

Yang membuat optimis adalah ini ditangani oleh sutradara kawakan. Yang menguatkan mata adalah masuk nominasi best picture. Yang meyakinkan adalah, ini rekomendasi Bung Tak, bisa yok bisa. Yang akhirnya sebagai film penutup Oscar, saya meyakini minimal tiga piala. Yang kutaruh di Ariana Debose, Spielberg, dan antara kostum atau desain produksi.

Bagian ujung itu kelihatan sekali dibuat seperti serenomial, mayat diangkat, seolah gerak lambat menuju tempat penghormatan terakhir. Bagaimana dukacita dibawakan dengan pas dan sendu. Tak peduli betapa mengantuknya kalian bermenit-menit sebelumnya, eksekusi akhir itu sangat berhasil menyentuh hati, bahkan para penonton jauh lebih emosional daripada para aktornya. Kita terlanjur menyayangi Sang korban, dan menyatakan diri sebagai pendukung perdamaian.

Berapa kali dalam hidup kita punya kesempatan menyaksikan seremonial tragedi di ujung film dengan khidmat? West Side benar-benar cerdas cara memukaunya, penonton masih melelehkan air mata, dan layar gegas ditutup. Tepuk tangan untuk itu, Spielberg pantas menang best director, sesuatu yang bisa Juri Oscars lakukan segampang membalik halaman kalender ke bulan berikutnya.

West Side Story | 2021 | USA | Directed by Steven Spielberg | Screenplay Tony Kushner | Cast Ansel Elgort, Rachel Zegler, Ariana Debose, David Alvarez, Rita Moreno, Brian d’Arcy James, Corey Stroll, Mike Faist, Josh Andres Rivera | Skor: 4/5

Karawang, 250322 – Peterpan – Mungkin Nanti

Drive My Car: Memikirkan Kata-kata

“Jika aku hidup normal, mungkin aku akan jadi Schopenhauer atau Dostoevsky yang lain.”

Perbuatan selalu lebih banyak pengaruhnya daripada kata-kata, tapi bagaimana kalau kata-kata itu dialirkan dalam rengkuhan penuh cinta seolah langsung ditancapkan ke dalam pikiran? Kebenaran itu mengalir deras, dan ia menginginkan seluruhnya. Pengaruhnya tentu begitu tinggi, hingga hak-hak kita diabaikan dengan sukarela. Drive my Car adalah film dengan penerungan mendalam. Kata-kata dipilah dan dipilih sehingga penuh intimidasi tersirat. kata-kata membuncah, digurat dengan pena tajam, dipikirkan dengan sungguh-sungguh. Disajikan dalam mangkuk emas, citarasa sinema tiada dua.

Sebelum filmnya dirilis saya udah plot skor sempurna, ini adalah adaptasi dari cerita pendek Penulis favorit sedunia Haruki Murakami. Saat menonton, sepanjang menit bilang wow wow wow. Saat usai, rasanya tak ingin usai. Setelah menonton, seolah mabuk cinta. Jelas sangat memenuhi ekspektasi, makin menggelora setelah pengumuman nominasi Oscar, masuk jajaran best picture! War-biasa, doa-doa kelas berat diuntaikan menjadi the-next-Parasite. Secara sah, bahkan sebelum menuntaskan film-film 2021 lainnya, sudah ada di puncak pilihan film terbaik. Kini setelah tiga bulan, tetap tak tergoyahkan.

Ini tentang cinta dan kesetian, ini tentang komitmen melanjutkan hidup sekalipun fakta-fakta pahit menampar, ini tentang belas kasih dan kesedihan membuncah, diredam dalam balutan sandiwara, lantas diumbar di jalan-jalan. Ini adalah sepenggal kisah hidup Yusuke Kafuku (Hidetoshi Nishijima), seorang guru dan pemain panggung senior. Tampak di permukaan ia adalah seorang suami yang ideal. Namun baru beberapa menit, kita langsung ditampar kejutan pahit.

Istrinya Oto Kafuku (Reika Kirishima) saat ditinggal keluar kota malah selingkuh. Ia tahu dengan cara dramatis, setelah pamit berangkat untuk terbang, sampai di bandara penerbangan dibatalkan, tanpa memberitahu istrinya, ia kembali pulang. Ia mendapati istrinya bercinta dengan orang asing, tindakannya yang membuat shock, bukan hanya dia, tapi juga penonton, sungguh diluar duga. Yusuke malah kembali menutup pintu, keluar rumah dengan kesedihan membuncah, lantas menginap di hotel. Bahkan setelahnya melepon, tetap dengan nada yang riang. Bagaimana bisa ada seorang suami tak mendamprat istrinya yang terang-terangan selingkuh di rumah? Wait, bagi pembaca buku-buku Murakami kalian pasti sudha akrab dengan pola sejenis ini. Dan tahu alasannya. Namun kita simpan saja, yang jelas Yusuke sudah memutuskan meredamnya.

Waktu terus bergerak, dan kabar duka tiba. Setelah masa berkabung dua tahun, Yusuke menerima tawaran mengajar dan mengarahkan sebuah drama panggung Paman Vanya di Hiroshima. Baginya berkutat di panggung sandiwara adalah panggilan hidup. Ia menjadi mentor latihan yang dihormati. Segala akomodasi ditanggung panitia, tinggal di pinggir danau, reservasi makanan berkualitas, hingga antar jemput dari dan ke tempat penginapan – kantornya. Nah yang terakhir ini memunculkan dilema, sebab Yusuke sudah punya mobil pribadi warna merah marun Saab 900. Ia tak ingin orang lain menyupiri, ia begitu mencintai kendaraannya, merawatnya dengan baik. Namun panitia tak mau ambil resiko, Tuan Yusuke tetap duduk di kursi penunpang.

Misaki Watari (Toko Miura) adalah sopir profesional. Gadis mungil pendiam ini akhirnya diperbolehkan menjadi sopirnya. Mereka tidak sepakat untuk sepakat. Meskipun masing-masing tahu yang sebenarnya untuk keselamatan bersama. Setidaknya coba dulu, dan benar saja, cara berkendaranya halus, nyaman, dan sesuai harapan. Begitulah, film akan berkutat hingga akhir di sekitar itu. Misaki nyupir, Yusuke melatih sandiwara. Lantas di sebuah malam tragedi terjadi. Pementasaan yang menyisakan hari, dipertanyakan akankah tetap berlangsung? Fakta-fakta lebih pahit diungkap, semuanya menundukkan kepala. Tenang, tenanglah di surga.

Sebaiknya daripada menghukum, hendaknya kita mencoba memahami mereka. Yusuke dengan legowo menerima perlakuan menyeleweng istrinya, cinta buta yang kalau dilihat dari kacamata awam, terlihat aneh sekali. Setidaknya marah kek, komplain kek, ancam cerai kek, dst. Apakah dengan rasa cinta meluap-luap, lantas memaafkan? Jawabannya ada di tengah film, saat Sang istri mengajak bicara serius sepulang kerja nanti, dan hasilnya mengejutkan. Takut kehilangannya sudah level dewa gan, cinta yang secinta-cintanya, sayang yang sesayang-sayangnya, tanpa banyak cingcong dan embel-embel syarat. Benar-benar war-biasa. Bukankah mengetahui semua berarti memaafkan semua?

Jawaban berikutnya, lebih menghentak, bagaimana masa lalu pahit keluarga ini diungkap. Rasa kehilangan orang terkasih, memang itulah yang menyatukan dengan sangat erat, makanya rasanya sudah tak umum, perlakuan membiarkan pasangan selingkuh.

Kembali lagi ke atas, kebanyakan novel-novel Murakami memang tak lazim, dan tema suami yang membiarkan air mengalir, menatap hari-hari dengan pasif, tatapannya tak bisa ditebak, arah pikirnya melalangbuana, hingga ide aneh tak terkira. Saya sudah akrab, dan Drive My Car makin mengukuhkannya, promo literasi yang amat pantas. Saya baca buku-buku Murakami seolah-olah datang dari sebuah bintang di langit, bukan dari dunia ini. Nikmat sekali, liar sekali, antusias sekali.

Saya terlalu takut. Sulit untuk mengakui hal ini. Terlalu takut untuk melempar dadu. Namun mari tetap dilanjutkan, saya pernah dengar sebuah cerita, yang awalnya kusangka suatu mimpi yang tak keruan. Dan mimpi itu menghantui hingga di kehidupan nyata. Lantas saya terbangun lagi, itu bukan mimpi, itu adalah narasi yang disampaikan kekasih saat di puncak kenikmatan dunia, lantas setiap narasi memasuki area kebeningan air, senyap lantas beriak, lalu semua seolah dihentikan tiba-tiba. Saya ingat suara di kepalaku. Itu bukan suaraku yang sedang berpikir, melainkan hanya raungan dalam kesunyian. Jutaan hal muncul dalam sekejap, istriku terlalu baik, saya amat mencintainya, sehingga tidak sepantasnya dituduh macam-macam, ia terlalu pintar, terlalu berbelas kasihan dan terlalu-terlalu lainnya. Potongan adegan riak air itu menampar kesadaran seperti orang terbangun dari tidur. Cerita itu terhenti di situ, dan saya tak tahu kelangsungannya. Lantas bagaimana bisa saya mendengar kelanjutannya dari lelaki asing, manusia lain yang justru malah bisa menembus garis finish? Rasanya, ketakutan terbesar adalah apa yang mungkin ia temukan. Begitulah, orang-orang yang kita kira dekat, tak selalu berhasil mengungkapkan isi hatinya dengan lepas. Rahasia-rahasia gelap disisihkan ke relung hati, bersemanyam di sana, akan mengaum di waktu yang tepat. Auman itu sayangnya, ia lewatkan sebab ia tak siap. Yang namanya siap dan tepat sering kali bagai dua kutup yang sama, selalu menolak dan menjauh. Manusia berencana, sebaik mungkin, esok yang terjadi jauh panggang dari api. Lalu lintas ingatan itu masuk ke dalam bundaran di kepala kita, lalu berputar-putar sesaat dan lama kemudian, imajinasi pun mulai bekerja menyatukan lalu lintas ingatan itu dan mengarahkannya ke ribuan jalan yang berbeda. Tafsir yang beragam. Selama bertahun-tahun, saya terus dibebani ingatan ini, merasakan penasaran, sambil mencoba melupakannya. Jadi mengingatnya kembali dan menuliskan semua faktanya di ingatan jangka panjang, saya berharap dapat mengurangi paling tidak sebagian dari tekanan itu terhadap mimpiku. Fantasi itu lantas membumbung tinggi menerawang langit. Saya, di sini tentu saja perwakilan uneg-uneg Sang Duda kesepian. Menjelma seperti sang perisau, seorang pelamun.

Saya nulis ini sebenarnya kurang lega, pengen nonton ulang, pengen baca Buku-buku sandiwara, pengen baca sastra Jepang, masih pengen nulis seribu kata lagi. Namun waktu Oscar tinggal 3 hari. Yo wes apa adanya. Drive My Car awalnya mau saya ulas terakhir sebelum menebak para jawara, tapi karena menipisnya waktu dan acara kejar tonton ulas sepertinya mustahil tuntas, di mana film yang sudah ketonton langsung ulas bergantian, ternyata H-3 ini masih begitu banyak. Film ini bahkan bukan film best picture terakhir yang kuulas, masih ada West Side Story. Padahal rencanaya mau tonton ulang, mau baca buku-buku naskah sandiwara: Three Sisters dan Menunggu Godot, hanya satu yang terkejar. Yo wes, ngalir saja. Drive My Car sudah mengunci Bahasa Asing, yang menarik tentu nominasi lain yang lebih bergengsi. Naskah adaptasi jelas saya jagokan pula. Sutradara akan satu rel sama Film terbaik, ini sulit dan hanya pernah terjadi sekali di mana Bahasa asing bersanding pula. Berpediksi itu sulit, tapi tetap saya akan menempatkan yang menurutku laik. Empat piala sapu bersih? Berat, tapi masih ada harapan, selalu ada harapan.

Memikirkan kata-kata, lalu memberinya nyawa di atas panggung. Semua petunjuk sudah dikaitkan, semua titik dihubungkan. Perjalanan telah usai. Terima kasih untuk segalanya, lantas kunci mobil berpindah tangan. Ketiadaan tidak lagi ada dalam genggaman kita seperti halnya kemutlakan. Goodluck Murakami.

Drive My Car | 2021 | Jepang | Directed by Ryusuke Hamaguchi | Screenplay Ryusuke Hamaguchi, Takamasa Oe | Cast Hidetoshi Nishijima, Toko Miura, Reika Kirishima | Skor: 5/5

Karawang, 240322 – Rob Thomas – The Man to Hold the Water