A Simple Favor: Gone Girl Yang Jenaka

Stephanie: “Five days ago. Emily went missing.”

Film dengan ending mengecewakan. Dari mula sampai pertengahan sungguh seru. Keren sekali, seksi dan merumit dalam bermain pikiran. Namun semenjak setelah pengungkapan bahwa sang istri tidak mati, tapi menghilang, bah alur langsung melemah dan rontok tak terkendali. Sempat digadang-gadang sebagus Searching yang sama-sama mencoba mengungkap sebuah kasus hilang/matinya seseorang, Searching berhasil menjaga tempo, bermain serius, dan memiliki twist yang bagus. A Simple Favor gagal mempertahankan gairah itu. Malah, adegan segitiga yang dinanti-nanti itu jatuhnya kayak sinetron klise yang tayang tiap malam di SCTV atau RCTI, ah sama saja buruknya. Astaga, saling silang tunjuk ujung pistol, tembak dan ah cuma bercanda, lalu sebuah mobil menghancurkan segala plot itu. Sayang sekali film dengan bintang besar Blake Lively dan Anna Kendrick berantakan. Gone Girl yang jenaka.

Sebelum memutuskan tonton, saya kena sedikit spoiler bahwa dua bintang utama akan ciuman. Catat. Saya juga kena bocoran bahwa film akan laiknya detektif, pencarian orang hilang. Catat. Selebihnya ngalir. Kisah dibuka dengan menyenangkan, bahwa Stephanie Smothers (Anna Kendrick) yang seorang Vlogger tentang cara memasak ala ibu-ibu kosmopolitan. Ia adalah orang tua tunggal dari putra semata wayang Miles Smothers (Joshua Satine). Kegiatan rutin menjemput si buah hati suatu hari berubah ketika teman main Miles, Nicky Nelson (Ian Ho) mengajak dolanan sepulang sekolah dan sang ibu yang seksi bak model Emily Nelson (Blake Lively), mengizinkan. Adegan kala Lively turun dari mobil, gerimis mengundang, dengan desiran angin disertai musik riuh benar-benar menggambarkan betapa ia istimewa. Betapa nyata eksplorasi kecantikan sang megabintang.

Di rumah Emily yang megah dengan dinding kaca lantai atas dengan view menawan jelas mereka dari keluarga terpandang, lalu mereka saling mengenal dan bergosip. Stephanie yang polos, mengungkap beberapa rahasia. Suaminya tewas kecelakaan mobil bersama saudaranya, ia pernah melakukan zina dengan saudaranya, ketika ayahnya meninggal sang ipar yang tampak reinkarnasi sang ayah membuat jatuh hati. Nantinya ini jadi kejutan pengungkapan fakta. Sementara Emily mengungkap rahasia, pernah main threesome. Wait. MML? Nope, MFF. Waduh… dan sang suami Sean Townsend (Henry Golding) ternyata adalah penulis buku Catenbury Tales, buku yang istimewa di mata Stephanie karena pernah dibacakan di klub buku, menjadi bahan skripsi dan dibedah khusus dalam diskusi. Pasangan ini bahkan tampak mesra, berciuman mulut di depan tamu! Betapa gairah dan norma menjadi samar. Stephanie memandang dengan tatapan damba. Asem.

Alur menjadi sesuai prediksi, ketika Emily meminta Stephanie untuk menjemput anaknya karena ia ada perlu, yang ternyata terdata ke Miami. Menjadi pengasuh sementara, saling bantu teman, sementara sang suami Sean sedang ke London menemani ibunya yang sakit. Dan misteri pertama dilemparkan ke penonton. Setelah beberapa hari, Emily dinyatakan hilang. Melalui vlog-nya Stephanie mengungkapkan kesedihan. Laporan ke polisi, melacak keberadaan yang memungkinkan Emily kunjungi. Bahkan sang protagonist lalu menjelma bak detektif ketika masuk ke kantor tempat kerja Emily, mencuri berkas, membuka fakta kecil yang tak disangka. Dan ketika penyelidikan seolah menemui jalan buntu, sebuah temuan menyedihkan diungkap. Emily ditemukan tewas di danau, mobil sewa tunai ditarik, mayatnya diotopsi, sakaw gara-gara heroin, dan tiket perjalanan itu palsu. Di sini jelas, arah pikiran penonton pasti sama. Sang ibu tunggal, penggemar bukunya Sean yang kini jadi ayah tunggal. Berhari-hari menjadi pasangan saling melengkapi. Sean bekerja sebagai dosen, Emily menjelma ibu rumah tangga idaman dengan masakan istimewa. Dan kalau mereka akhirnya tinggal seatap, mencoba membangun hubungan adalah keniscayaan. Happily ever after? Nope! Ini film thriller, eh film yang mencoba thriller gan.

Pesan-pesan rahasia Emily disampaikan seolah ia menjadi arwah gentayangan. Memberi sang anak Nicky sebuah amplop berisi gambar saling silang dengan tulisan Brotherf*ker. Mencoba mengirim sinyal keberadaan. Bahkan suatu saat Stephanie mendapat telpon langsung dari almarhum. Wow, kamu mulai menggila! Kamu sudah stress tingkat atas, orang mati menelpon! Film ini mau ke film horror? Tak terima dikatakan gilax, Emily lalu menelusuri kehidupan masa lalu ‘sang arwah’. Saya sudah bilang dari awal bahwa Emily ternyata tak mati, kok bisa? Padahal kita sudah melihat dengan gamblang mayatnya dikebumikan. Yup, sampai disini cerita memang bagus banget. Tapi penelusuran lebih lanjut terhadap identitas almarhum menjadi plot jenaka. Silakan ketawa.

Seperti Baby Driver yang hebat dari awal sampai pertengahan, A Simple juga luar biasa mengesankan. Baby menjadi luluhlantak berkat, eksekusi konyol betapa mudah senjata diangkat dan dar der dor dalam adegan balap bak fast and furious. A Simple terjun bebas ketika kemunculan plot lain yang lalu sampailah adegan segitiga itu. Apalagi motifnya cuma itu. Duh, maaf sekali. Duet perdana dua aktris istimewa sebagai dua peran utama Lively dan Kendrick berakhir bencana. “Anna and Blake are forces to be reckoned with.” Moga ada lagi film mereka berdua sebagai pasangan utama. Jangan kapok yes.

Sisi positifnya adalah, cerita detektif akan memudahkan plot dengan menemukan mobil yang diperosokan ke danau, catat jua dengan sengaja. Searching juga gitu. Bahkan ini kejadian nyata, sang ratu cerita criminal Agatha Christie kita tahu, beliau memainkan peran nyata sandiwara hilangnya demi meraih simpati, atau lebih tepatnya meraih perhatian dari kekasih tercinta karena kekecewaan hidup. Jadi kalau mau bikin cerita penyelidikan, coba taruhlah mobil dalam danau, pastinya menarik perhatian pembaca, pers dan sel-sel kelabu.

Cerita ditutup bak sebuah kasha nyata dengan menampilkan tilisan singkat nasib para karakter utama. Credit title-nya kreatif sekali, layak dinikmati sampai ujung walau tak ada adegan apapun. Selama tulisan berjalan ke atas, potongan adegan, foto-foto karakter sampai sekelumit gambar warna-warni ditampilkan dengan gaya slash miring dan potongan garis yang indah. Siapa yang bisa menolak keseksian Lively? Siapa yang ga penasaran selipan foto-fotonya? Coba kalau credit title film-film dibuat gini, pastinya banyak yang bertahan hibngga detik akhir. Ditambah soundtrack-nya bagus-bagus. Dari Mambo #5 (A Little Bit of…) dari Lou Bega, Les Passants nya Zaz sampai Bonnie and Clyde nya Brigitte Bardot dan Serge Gainsbourg. Meriah.

Berdasarkan novel karya Darcey Bell dengan judul yang sama yang merupakan novel debut, bukunya belum rilis saat film sudah sepakat dibuat. Walau akhirnya beberapa hal diubah, seperti Sean yang sebenarnya kerja di Wallstreet di film menjadi dosen. Atau untuk penyederhanaan, dalam novel Stephanie bukan Vlogger tapi Blogger, dst. Salah satu konsep uniknya adalah pembuatan martini, Blake Lively bahkan berlajar langsung dan mendemonya saat CinemaCon.

Mungkin agak terselamatkan di ujung sekali ending, kala vlog-nya Stephanie menyentuh view sejuta. Sungguh bahagia, menyampaikan cerita yang bisa dinikmati banyak kalangan, apalagi ini hanya dari seorang ibu rumah tangga. Hati-hati saat sobat kamu nanya, apa hal paling gila yang pernah kamu lakukan, rahasia biarkan tetap menjadi rahasia. Ssstttcan You keep A Secret?

Well decent, until it wasn’t. The movie was quite enjoyable for the longest time. Well and tricky. Then the conclusion happened. Drop till the end, so disappointed. Is it a joke baby? Hufh… gone girl gone bad. Nah… nah… nah…

A Simple Favor | Year 2018 | Directed by Paul Feig | Screenplay Jesicca Sharzer | Cast Anne Kendrick, Blake Lively, Henry Golding, Ian Ho, Joshua Satine | Skor: 3.5/5
Karawang, 170419 – Nikita Willy – Ku Akan Menanti – 190419 – Andre Previn, Herb Ellis, Ray Brown, Shelly Mann – I Know You So Well

#PemiluDay #TheGoodFriday

Happy Birthday Saoirseku

Be the person I’m playing. That’s what acting is. You’re pretending to be someone else.”

Dari 29 film Saoirse Una Ronan yang sudah mainkan termasuk animasi, tv series sampai video short, ternyata saya baru nonton 9 film, semuanya film layar lebar karena memang film sekali tonton yang paling nyaman dinikmati di era digital gini. Sebagai penggemar berat sang aktris Irlandia saya sejatinya selalu menanti tiap tahun, tapi ya ga kekejar semua. Contoh tahun lalu, ada dua film besarnya keduanya sudah siap tonton tapi hanya sempat kunikmati satu, waktu benar-benar jadi hal mahal. Terakhir lihat Mary Queen of Scots yang tragis, film ini hanya menarik juri Oscar di bagian teknik bukan di kategori utama. Sejak kapan saya mencintai Saoirse Ronan? Sejak tahun 2007 dalam film Atonement. Jadi remaja Briony Tallis yang nyebelin, menjadi saksi meragu yang mengubah nasib seseorang, yang kemudian membayar takdir dengan ‘mengubah’ nasibnya lagi dalam cara lain. Langsung saya tandai sang artis istimewa.

Namanya memang agak sulit dilafalkan, makanya ia mempunyai nick name Sersh, Saoirse cara bacanya adalah ‘seer-sha’ untuk Irlandia, untuk Amerika Utara bacanya ‘sur-shuh’, untuk British malah jadi ‘sair-sha’. Unik ya, saya baca logat Jawa menjadi ‘sur-sur’. Lahir di The Bronx, New York sebagai anak tunggal tanggal 12 April 1994 dari pasangan aktor Paul Ronan dan Monica Ronan. Saoirse artinya adalah freedom sedang Una nama tengahnya berarti unity. Dan Ronan dalam Irish artinya little seal. Sempat diisukan masuk jajaran Potter sebagai Luna Lovegood, sayangnya terlepas. Bayangkan, novel favorit diperankan artis favorit! Tahun 2018 ditunjuk sebagai duta UNICEF untuk world Barber Day campaign. Siapa sutradara favoritnya? David Lynch! Nah, film-film mumet yang nonton harus mikir semua. Haha…

Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 25 yang jatuh kemarin, saya akan merekap film-film Saoirseku, yang sudah kutonton tentunya.

#1. Atonement (2007) as Briony Tallis
If I fell in the river, would you save me?”
Kisah cinta yang berujung bencana. Saoirse memerankan gadis labil Briony Tallis yang suatu saat secara tak sengaja melihat sebuah kasus pelecehan seksual yang menyeret orang-orang sekitar. Delusi? Imaji? Fantasi? Ataukah perkiraan saja? Bagaimana bisa keraguan itu mengakibat nasib seorang protagonist berubah. Kutonton sore hari lewat vcd sambil ngopi di kos Ruanglian_31.

#2. The Host (2013) as Melanie Stryder/Wanda
Don’t you want to be with Jared… and Jamie?”

Cerita alien yang cheesy seperti novelnya, pasca gegap gempita Twilight karya Stepanie Meyer. Tetapi ternyata ketika diadaptasi jadi begitu bagus. Bagaimana alien/makhluk angkasa yang merasuk ke manusia, menjadikannya inang yang malah menjadi kisah romansa remaja? Saoirseku memerankan tokoh sentral yang menjadi rebutan dua cowok tampan, Melanie Stryder yang ketika berciuman bisa menjadi juga Wanda. Kutonton lewat dvd pinjaman RanieWul.

#3. Hanna (2011) as Hanna
I just missed your heart.”
Keras, ganas, luar biasa menghentak. Dirilis pasca kehebohan Hit Girl-nya Kick Ass, Hanna mengambil set lebih mandiri. Remaja yang dibentuk menjadi mesin pembunuh tak terkalahkan. Memerankan Hanna sang tokoh utama, Saoirse memberi bukti bahwa ia bisa tampil dalam action penuh darah, bukan sekadar remaja cantik yang mempesona kalangan jetset. Kutonotn di laptop lewat unduhan teman, cuma file copas.

#4. The Grand Budapest Hotel (2014) as Agatha
Whence came these two radiant celestial brothers, united for an instant, as they croosed the upper stratosphere of our starry window, one from the east and one from the west.”
Ditangani sutradara hebat Wes Anderson, Saoirseku memerankan love interest yang hotel boy Zero. Perannya memang tak signifikan tapi secara keseluruhan filmnya sungguh indah, tentang pemilik hotel yang di masa jayanya di waktu yang tak tepat karena perang sedang bergolak. Dengan dedikasi dan kecintaan, film terbaik Oscar 2015 sayangnya menang empat piala hanya di kategori kelas dua.

#5. Brooklyn (2015) as Ellis
I wish that I could stop feeling that I want to be an Irish girl in Ireland.”
Romansa remaja perantau, dari Irlandia ke Amerika. Take and give, Saoirseku memerankan gadis galau yang berjuang demi masa depan yang lebih baik. Di tanah rantau, ditempa kerasnya hidup dan lika-liku asmara ia ada di persimpang jalan ketika saudaranya meninggal dunia dan dipaksa mudik. Pilihan sulit, kembali ke Amerika untuk cinta yang sudah didamba atau hidup kembali di kampung halaman yang jua sungguh menjanjikan. Kutonotn jelang penghanggan Oscar di laptopnya May.

#6. Lady Bird (2017) as Lady Bird McPherson
Just because something looks ugly doesn’t mean that it’s morally wrong?”
Film terbaik Saoirseku yang memerankan remaja di persimpangan jalan di tahun aneh 2002, palindrome, tahun yang hanya menarik saat dibalik tetap 2002. Lulus tahun 2003, ini semacam memoar sang sutradara Greta Gerwig. Membuat #SacramentoProud dan menasbihkan Saoirse dalam skala tinggi. Sayangnya segala nominasi bergengsi di Oscar berakhir tangan hampa. Di sini Saoirse benar-benar all out. Peran sentral yang menakjubkan.

#7. Mary Queen of Scots (2018) as Mary Stuart
Should you murder me, remember you murder your sister, and you murder your queen.”
Menjadi ratu Skotlandia yang sedang seteru/sayang dengan Inggris. Bagaimana tarik ulur agama, status social dan perang menjadi begitu menyentuh. Kasih nyata rakyat Skotlandia di era Elizabeth, Britania panas untuk angkat senjata. Endingnya… duh, sedih. Kutonton pasca Oscar 2019 di HP. Cerita bisa saja biasa, tapi akting Saoirse dan Margot luar biasa.

#8. City Of Ember (2008) as Lina Mayfleet
Why would he risk being thrown in jail, when everyone knows it’s againt the law to go out there?”
Buku dan filmnya keren. Sudah baca bukunya, sudah nonton di bioskop, sudah beli vcdnya, sudah beli dvdnya. Sebuah kota bawha tanah yang hidup dari cahaya buatan, kota yang terancam runtuh dan perjalanan ke atas yang mempesona. Kutonton pertama kali di bioskop, kutonton ulang lagi dan lagi di komputer kos juga masih seru. Efek jatuh hati di awal kesukaan jadinya membabi buta.

#9. The Lovely Bones (2009) as Susie Salmon
I wasn’t lost, or frozen, or gone… I was alive. I was alive in my own perfect world.”
Cerita tragis pembunuhan remaja oleh tetangganya yang freak. Memerankan sang korban, mengambil sudut pandang dunia antara kematian dan bisa memandang kehidupan bagaimana orang-orang terkasih yang sedih dan mencoba kembali menata hidup. Kutonton di dvd bajagan, menanti bioskop Lippo Cikarang kelamaan dan akhirnya lupa. Novelnya bagus banget, buku renungan kelas satu.

Berkali-kali masuk nominasi Oscar, sampai sekarang belum juga menang. Dengan sabar, tiap tahun kunanti, tiap tahun kujago. Oscar depan bisa optimis nih, Little Women ditangani Greta Gerwig lagi. Yakin sekali dia akan jadi besar pas lihat Atonement, dua belas tahun kemudian saya tetap yakin. Keyakinanku, kecintaanku. Anak pertamaku, kuberi nama Najwa Saoirse Budiyanto. Najwa dari Najwa Shihab, Saoirse dari Saoirse Una Ronan. My sur-Sur. Al fatihah.

Karawang, 130419 – Chet Baker – I’m Thru With Love

HBD juga temanku: Wahid C dan Fariz RP, wish you all the Best.

Bleach: Ketika Monster Raksasa Meluluhlantakkan Kota Muncullah Sang Petarung

Ichigo: “I am not so noble to risk my life for strangers or so low to desert people in trouble.”

Cerita penjaga perdamaian kota, menghantar arwah-arwah penasaran untuk ke soul society, dan memburu para hollow (monster) agar dunia kembali tenang. Fantasi yang menggairahkan.

Dibuka dengan tragedi di mana ada ibu dan seorang anak yang mencoba memberi payung pada gadis yang menangis di pinggir danau yang ternyata adalah jelmaan, menewaskan Masaki Kurosaki (Masami Nagasawa). Tahun melompat dan kini Ichigo Kurasaki (Sota Fukushi) adalah seorang pelajar, ia bisa melihat hantu. Keistimewaan itu suatu hari memberinya kesempatan menjadi petarung. Di kamarnya tiba-tiba muncul seorang cewek berkimono dengan pedang dan kecurigaan menatap sekeliling, Rukia Kuchiki (Hana Sugisaki) adalah seorang shinigami yang tugasnya berburu hollow, si Rukia yang terkejut bahwa keberadaanya diketahui manusia yang kemudian malah menjadi manusia karena kekuatannya secara tak sengaja tersalur ke Ichigo. Dalam sebuah kesempatan langka yang mendesak, ia sepenuhnya mentransfer tenaga dalamnya. Rukia terjebak, yang lalu menyamar sebagai murid baru pindahan, mengambil tubuh gigai (tiruan). Ichigo yang bisa melihat hantu ternyata memiliki kekuatan spiritual besar.

Kota Karakura yang butuh seorang shinigami untuk menjaganya dari serangan hollow, memaksa Rukia melatih Ichigo. Ia tinggal di kamar Ichigo, dan menjadi bagian kehidupan manusia. Secara keseluruhan sejatinya Bleach memang menceritakan hubungan mereka berdua. Fokus yang tepat. Bermain pedang, ditembaki bola tenis, mengangkat beban, ketahanan fisik. Tumbuh benih cinta, wajar. Rukia yang seorang shinigami yang menyamar menjadi menusia malah jatuh hati dalam keseharian, dan ini adalah dosa. Kesalahan. Ichigo yang memiliki love interest Orihime Inoue (Erina Mano), terlihat cemburu tapi Bleach ga jatuh dalam roman drama remaja, hanya kisah sempilan. Seorang murid freak, Uryu Ishida (Ryo Ishizawa) menambah rumit keadaan karena dengan panah saktinya ia ternyata adalah seorang Quincy. Quincy adalah makhluk langka yang memiliki dendam terhadap shinigami, maka hubungan Uryu dan Ichigo menjadi lawan-teman. Dan jadilah Ichigo seorang shinigami pengganti.

Sementara dari seberang, sepasang shinigami kakap Renji Abarai (Taichi Saotome) dan Byakuya Kuchiki (Miyavi) dari dunia 6 meminta Rukia untuk kembali, ia terlalu lama menjadi manusia. Renji adalah teman masa kecilnya, dan Byakuya adalah kakaknya! Di sini jelas Byakuya tampak sangat keren, semua kalimat yang diucapkan tenang tapi menohok, khas seorang antagonis bengis yang seolah tak terkalahkan. Mereka meminta Rukia membunuh Ichigo agar kekuatannya kembali, Rukia yang jatuh hati tentu saja menolak. Bahkan sampai diultimatum bila tak segera mengeksekusinya, keduanya akan dibunuh. Ichigo meminta kesempatan, ia akan berlatih lebih keras guna membasmi The Grand Fisher, hollow raksasa paling dicari yang digambarkan mengerikan dengan wajah bak topeng badut keji dan banyak lengan panjang berburu (bayangkan!). Seolah monster-monster Ultraman adalah barbie. Maka dalam adegan puncak, kota Karakura luluh lantak diterjang monster, Ichigo menjadi shinigami guna bertarung menumpasnya, sang Quincy membantu dengan panah, dan sajian dahsyat makhluk raksasa menjelma tornado tersaji epik. Mungkin kelemahannya hanya kurang lama adegan pertaruhannya, ga sampai berdarah-darah, adu kuat itu malah menjadi rentan. Jadi siapa yang akhirnya menyerah? Rukia yang meminta kekuatannya kembali? The Grand Fisher yang ternyata adalah pembunuh ibunya akankah bisa dimusnahkan? Uryu yang menaruh dendam kesumat kepada shinigami? Ataukah akhirnya Byakuya yang tampak amortal membumihanguskan semuanya? Rekomendasi tonton!

Skoringnya sangat pas, musik rock yang menghentak ketika mengiringi pertarungan, wow keren, gitar eletrik yang menyayat-nyayat hati ala Mad Max. Lagu “News From the Front”dari Bad Religion diselipkan di tempat yang semestinya, bukan sekadar iringan tapi juga menampilkannya dalam poster kamar. Panel manga dipindahkan dalam live action, mencoba sesetia mungkin, dalam sebuah mega adu pedang yang rupawan, bahkan ada adegan duel di atas dua bis di mana pedang bisa memanjang dan mebelit bak ikat tali. Tambal sulam beberapa bagian wajar, tapi secara keseluruhan sudah dalam arah yang tepat. Ceritanya mudah dipahami, untuk penonton awam sekalipun langsung klik sedari awal pengantar dunia Soul Society. Eksekusi ending, cerita jagoan dengan pedang besar menjadi sangat logis, sangat pas sekali. Rasanya sekuel hanya menanti waktu. Adaptasi sesukses ini jelas menuntut kelanjutan.

Tak perlu jadi pengikut manga-nya (termasuk saya) untuk bisa menikmati sajian live action yang seru ini, apalagi fan beratnya pasti jingkrak-jingkrak. Seperti inilah seharusnya anime menjelma nyata, sedih sekali menyaksikan Dragon Ball di-evolution-kan Amerika sepuluh tahun lalu. Luluh lantak, Bleach jelas di jalur yang sangat tepat. Poin pentingnya jelas, melibatkan kreator aslinya Tite Kubo dalam proses film. Kesuksesan ini jelas memicu anime lain untuk mewujud nyata, Naruto menjadi sangat mungkin, One Piece? Sherina Munaf pastinya gemetar menanti. Tak perlu warna-warni berlebih laiknya kartun, tak perlu efek sangat berlebih untuk menyuplai cerita, Bleach justru tampak seakan lebih sederhana, monsternya ga seglamor hollywood, efek CGInya ga senyata IMAX, tapi justru inilah nilai lebihnya. Kuat dalam bercerita, melaju dalam kecepatan konstan, dan aksi perang dengan porsi yang imbang. Banyak karakter, seolah tancap gas di opening, wajar. Anime memang selalu memberi banyak sekali tokoh dengan keistimewaan masing-masing, Bleach dengan cerdik menyajikan pengenalan itu dengan tulisan singkat dan durasi tepat. Bahkan ada sebentar adegan penjelasan dunia fantasi yang terpecah dua dengan title card kartun, bagaimana hollow harus diburu dan roh-roh gentayangan harus dikembalikan ke masyarakat jiwa. Jagoan kita berambut orange dengan model anak milenial, tampak nyentrik dan gaul. Karakter Yasutora ‘Chad’ Sado adalah contoh bagus, bagaimana muncul seketika, menitnya tak signifikan tapi bisa memberitahukan penonton bahwa ia adalah teman dekat sekaligus partner sang protagonis, bahkan di adegan yang tak lebih dari tiga menit di pertempuran saat di restoran, ia bisa menghalau lemparan benda padat dengan satu tangan, jelas ia punya keistimewaan juga bisa melihat kehadiran arwah tapi memang sengaja tak terfokus. Mustahillah berjilid-jilid series itu dipadatkan semua dalam durasi movie. Mungkin kahadiran Kisuke Uraha yang kurang eksplore, tapi tetap Ok. Mungkin untuk kelanjutan akan lebih detail. Kita semua tahu adaptasi manga dan anime mayoritas menjadi hancur, hampir semuanya: Dragon Ball, Full Metal Alchemist, Attact on Titan, Ghost in the Shell, Death Note, dst. Bleach kembali menaruh harapan itu.

Film rekomendasi Huang, teman grup Bank Movie, yang kilat kuunduh, kutonton langsung tuntas dalam gerimis malam libur, dan puas. Rasanya wajib kumasukkan dalam daftar film terbaik 2018 yang besok kudata. Apakah kesuksesan ini akan menghantarku (kembali) menjadi penikmat anime? Enggak, waktu menjadi kendala utama. Kecuali mini seri, rasanya film berpuluh-puluh bagian dengan ratusan karakter kayak gini sudah ga cocok kunikmati. Cukuplah sekali tonton selesai. Cukuplah saya tahu Dragon Ball, Naruto, One Piece, Crayon Shincan dan segelitir panel manga. Bleach yang mempesona datang terlambat, para hollow sudah menyebar dan memporakporandakan kota. Dan saya tetap duduk tenang membaca novel.

Bleach always be bleach

Bleach | Year 2018 | Directed by Shinsuke Sato | Screenplay Tite Kubo (Manga), Ardwight Cahmberlain, Shinsuke Sato, Daisuke Habara | Cast Sota Fukushi, Hana Sugisaki, Ryo Yoshizawa, Miyavi, Taichi Saotome, Erina Mano, Yu Koyanagi, Seiichi Tanabe, Yusoke Eguchi, Masami Nagasawa | Skor: 4/5

Karawang, 300319 – Sheila on 7 – Tunjuk Satu Bintang

I, Tonya: A Triple Axel Skating Movie

I, Tonya: A Triple Axel Skating Movie

Tonya Harding: America. They want someone to love, they want someone to hate.

Karena saya tak akrab sama olahraga skating, apalagi di Amerika sana. Drama bersaingan yang disajikan sungguh mendebarkan. Wow, ini kisah nyata. Sebuah sabotase, kecurangan dan upaya jahat untuk menjatuhkan lawan satu Negara demi sebuah medali di Olimpiade Skating. Ending-nya juga mengejutkan, bagaimana sifat kasar orang tua menurun sehingga coba dipoles sedemikian rupa menjadi anggun pun tak sesukses yang diharap maka jalan keras jua yang terpaksa diambil. Luar biasanya si Margor Robie yang biasanya tampil cantik dan seksi di sini dirubah menjadi kasar dan skeptis menghadapi hari. Namun tetap aktingnya masih di bawah McD dan Saoirseku tentunya.

Kisahnya dituturkan dengan cara yang sedikit unik. Bagaimana film biografi olahragawati es skater Tonya Harding (diperankan dengan keren oleh Margot Robie) dibuat bak sebuah wawancara diperankan aktor lalu narasi itu membawa kita mengikuti alur kehidupan. Tonya terlahir dari keluarga broken home, ayahnya kabur, hidup dengan ibunya Lavona (Allison Janney) yang keras, bekerja sebagai pelayan restoran. Tiap scene wawancara, si ibu pakai semacam selang oksigen yang menjuntai. Hobi minuman keras dan tak hentinya merokok, jelas ada masalah kesehatan, kebiasaan buruk, sifat yang menurun. Setiap sen yang dikeluarkan dihitung, mempertaruhkan segalanya demi masa depan sang buah hati. Mendaftarkan sekolah skating dalam keadaan ekonomi yang memprihatinkan. Hidup memang sebuah perjudian ‘kan? Tonya adalah anak ke-5 dari suami ke-4. Wuih… pernah punya 6 suami!

[[Based on irony free, wildly contradictory. Totally true interviews with Tonya Harding and Jeff Gillooly]]

Dengan setting utama di Portland, Oregon. Tonya begitu berbakat. Melakukan putaran yang sulit dan memukau penonton. Di rumah ia dibesarkan dengan disiplin, makian, sinisme dan keras. Bahkan dalam sebuah adegan Tonya dilempar pisau yang melukai tangan, dan hatinya! Sehingga memutuskan kabur. Hidup dan menikahi pacarnya Jeff Gilloony (Sebastian Stan), ia seorang montir yang awam olahraga yang digeluti pasangannya, tapi memberi dukungan penuh. Namun lepas dari ibunya yang keras, ternyata sang suami juga melakukan KDRT – kekerasan dalam rumah tangga. Semakinlah Tonya menampakkan sifat melawannya. Hubungan keluarga ini memang tak harmonis dalam segala segi. Sama ibunya retak, sama suami remuk. Padahal karir olahraganya menanjak. Tonya tampil bagus saat ada penonton mencehooh, ibunya kasih duit si peneriak. Jiah! Tonya makin sayang suami, dan hot setelah pertengkaran. Emang stress.

Dalam ranking tahun 1991 ia menjadi nomor satu di USA dan runner up international, posisi ketiga di Orlando. Di kejuaraan Albertvill, Perancis ia dikenang dalam gerakan sulit Triple Axel, menegangkan, berdebar. Dan gagal. Ia menempati urutan keempat. Tonya menyalahkan sepatu yang rusak dan diperbaiki bilahnya seada, tapi selalu ada kesempatan kedua dalam kompetisi bila kita terus bekerja keras. Namun tidak untuk hubungan rumah tangga. Ibunya memprediksi Tonya salah pilih suami, sang suami yang sebenarnya sayang juga akhirnya melakukan kesalahan fatal yang menjadikan hubungan di ujung jarum. Puncaknya pada tahun 1994 jelang kejuaraan international Olimpiade Winter 1994 di Lillehammer, Norwegia di mana seleksi ice skating yang panas antara Nancy Kerrigan (Caitlin Carver) dan Tonya. Sebuah konspirasi untuk mengintimidasi lawan sekaligus rekan senegara, konfrontasi itu menghasilkan sebuah kekerasan. Rencana hanya meneror justru menjadi tak terkendali saat sang bodyguard gendut yang gila Shawn Eckhardt (Paul Walter Hauser) melakukan melampaui imaji. Ngeri, wew dan jelas melukai sportivitas. Mereka menyebutkan ‘the incident’. Lalu bagaimana hasil olimpiade kejuaraan akbar itu? Sekali lagi, dalam olahraga ini, akankah ada kesempatan kedua?

Dengan segala hype yang ada, Margot memang masih dibawah McD. Sepakat. Ini adalah nominasi Oscar pertamanya, rasanya ia melakukan lonjakan karir yang bagus. I, Tonya adalah kandidat satu-satunya yang kirim kandidat best actress tapi ga masuk best picture. Bukan hanya menggambil peran gadis manis dan panas, Margot memberi bukti bahwa ia bisa mengubah image. Jelas suatu hari ia akan muncul lagi dalam daftar Oscar, dan menang! Suatu hari nanti…

Untuk Allison Janney yang menang Oscar supporting actress, saya kurang setuju. Aksi Laurie Metcalf sebagai ibu Saoirse lebih bagus dan meyakinkan. Keras itu tak perlu sampai melempar pisau, mendidik anak akan lebih mencekam dengan memberi aturan main yang diluar jangkau pikiran remaja ketimbang adegan tabok-tabokan. Sama-sama dari kelurga sederhana, sama-sama memerankan ibu yang kolot mencoba mengatur masa depan anaknya, keduanya memang layak dinominasikan, tapi tetap Laurie lebih memberi nyawa dan pas banget. Sayang sekali antipasti juri terhadap Lady Bird memberi 0 piala termasuk yang paling kurang prestise sekalipun. Hiks,…

Akhir kisah juga sadis, hukuman yang dijatuhkan pada Tonya membuatnya kecewa. Dan mengakhiri segalanya. Efek salah penanganan dan tekanan berlebih memang serem. Tonya yang berbakat sejatinya bisa jauh lebih hebat andai dalam jalur yang benar. Sayang sekali, keputusan-keputusan hidup yang mendorongnya menuju lorong hitam. Kalimat umpatan di ending “That’s the fucking truth” dirasa seperti sebuah kekesalan atas segala keputusan salah di masa lalu. Credit akhir yang memunculkan Tonya asli bermain es skating di kejuaran 1991, cukup memberi gambaran betapa hebatnya dia. Putaran sulit, bermain percaya diri, memukau penonton, berjoget penuh gaya. Luar biasa Indah. Diakhiri dengan standing applaus dan keceriaan bersahaja.

You skated like a graceless bull dyke. I was embarrassed for you. Sial!

I, Tonya | Year 2017 | Directed by Craig Gillespie | Screenplay Steve Rogers | Cast Margot Robbie, Sebastian Stan, Allison Janney, Julianne Nicholson, Paul Walter Hauser, Mckenna Grace | Skor: 4/5

Karawang, 180418 – Sherina Munaf – Sahabat Sepanjang Masa

Darkest Hour: Oldman Triumph

Winston Churchill: Nations which go down fighting rise again, and those that surrender tamely are finished.

Wow. Powerful Speech. Tak ada keraguan, Gary Oldman pasti menang best actor. Berkat Darkest Hour saya akan jagokan England juara Piala Dunia 2018. Simpati, doa, dukungan, harapan. Orator ulung, kalimat-kalimat akhir film ini sungguh menggugah. Mak jleb!

Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain (Ronald Pickup) mundur di bulan Mei 1940 karena kehilangan kepercayaan dalam menghadapi krisis, dan parlemen segera mencari pengganti. Krisis yang dimaksud adalah Jerman dengan Hitler-nya sedang meruntuhkan negara-negara tetangga, saat ini sedang di perbatasan Belgia dan segera merembet Perancis yang tentu saja Inggris dalam posisi tak nyaman. Welcome to War World II film! Housepainter.

Ini adalah salah satu film sejarah/biografi terbaik yang pernah dibuat. Benar-benar menghentak, memotivasi, memberikan semangat meluap. Saya jadi membayangkan suatu saat sang Proklamator Ir. Soekarno di film-kan Hollywood, pasti akan sangat heboh. Orator ulung yang tak kalah glamor dalam memicu nasionalis warga. Ataukah sudah ada yang buat?

Juru ketik cantik Elizabeth Layton (Lily James – film kedua Oscar yang kutonton setelah menggoda Baby Driver) direkrut menjadi sekretaris Winston Churchill (diperankan dengan gagah oleh Gary Oldman). Diperkenalan awal, tak berjalan lancar. Salah ketik, salah dengar, salah komunikasi ‘banyak banyak banyak…, ada berapa banyak?’ Istrinya Clemmie (Kristin Scott Thomas) menasehatinya, ‘ojo kasar-kasar lah dadi uwong. Dah tua. ‘Yes I am afraid you are.’ Telegram yang menjadikannya Perdana Menteri diterima Layton saat ia akan kabur, seorang pengantar pesan memberinya dengan cuek. Ragu, lantas berbalik, dan siap melanjutkan pekerjaan.

Sang Raja George VI (Ben Mendelsohn) mengundang Churchill ke Buckingham Palace, setelah menerima pengunduran diri Chamberlain ia menyambut dengan absurd. ‘Well even a stopped clock is right twice a day.’ Memang kalau menerima perintah Raja dan tunduk gitu harus cium tangan ya? Churchill ternyata tak sepenuhnya didukung banyak pihak, ia memang jadi pengambil kebijakan utama, tapi banyak suara sumbang dan penentang di sekitar parlemen. Di film ini jelas sekali ditunjukkan ada pertemuan tatap muka rahasia antara mantan Pendana Menteri dan sekjen luar negeri Lord Halifax (Stephen Dillane). Halifax digambarkan tak suka Churchill, menginginkan perdamaian dengan pihak Jerman, sering minta perantara Italia. Ia terus menekan Churchill, ayo bos kita gencatan senjata, tersamar tapi jelas ada aura ketakutan yang menggantung di udara. ‘Will you stop interrupting me while I am interrupting you!’ Chamberlian ternyata sakit kanker dan mengkhawatirkan akan menyaksikan Inggris jatuh di sisa hidupnya. Nantinya ia justru mendesak sang raja kembali mencopot Churchill yang dirasa tak klasify. Konflik yang memang sangat dibutuhkan film berkualitas, sampai di sini mulai bercabang rumit. Antara pendapat pribadi para oposisi, keluarga sang pejabat dan tentu saja kepentingan utama Negara yang terus terancam, didesak waktu.

Keputusan berat pertama harus diambil sang Perdana Menteri, saat ada 300,000 pasukan yang terdampar di Dunkirk dan dalam gempuran Jerman, apakah perlu mengirim pasukan penyelamat atau segera membantu negara tetangga Perancis yang mulai goyah. Rencana penyelamatan dirahasiakan, ia menuju Perancis dulu untuk diskusi kebijakan darurat. Bagian ketika ia mencoba berbicara dengan Pihak France terlihat lucux, Oldman yang coba merebut simpati terasa berlebihan. ‘Negara sahabat, kita pasti bisa melewati masa ini seperti yang sudah-sudah, apa serangan balik yang dipersiapkan, jadi apa rencanamu?’ Well, tak ada rencana! Wew pasrah gan.

Melalui siaran radio, Churchill menghimbau agar warga siap mengeratkan tangan dan siap melawan. Pertemuan dengan Perancis ada kemajuan, maka kita harus berani hadapi tirani gelap ini, bersiaplah perang demi kemenangan kita! Dengan background wilayah-wilayah runtuh dalam serangan Jerman, sungguh kalimat menggugah itu adalah ironi. Suatu ketika ia berfoto dengan dua jari membentuk V yang berarti Victory. Namun sang sekretaris menjelaskan V bisa artinya ‘up your bum’, makna negatif dan positif. Sampai sejauh mana Inggris Piala Dunia nanti?

Di Dunkirk yang darurat, butuh pertolongan, Churchill berencana mengirim 4,000 pasukan untuk melakukan evakuasi, ide itu ditentang para Lord karena seperti misi bunuh diri. Frustasi, ia meminta bantuan Amerika untuk mengirim 40 mesin penghancur. Melalui sambungan telpon jarak jauh Presiden Franklin Roosevelt tak langsung bilang tidak. Secara halus menolak karena kena aturan perang, bisa saja ia mengirim bantuan pasukan berkuda , pasukan tanpa mesin. Bah! Ngeledek ini. Ekspresi Churchill yang berang tapi tetap berkata halus sungguh mengaharu.

Sementara para Lord mendesak meminta Churchill untuk segera berunding damai saja sebelum Herr Hitler menyerang pelosok negeri. Desakan yang makin membuatnya pening, apalagi Halifax malah mengancam 24 jam lagi ia mundur kalau negosiasi tak segera diapungkan. Situasi mendesak itu mengakibat, rencana pengiriman pasukan bantuan diurungkan. ‘He mobilized the English language and send it into battle.’ Dan Churchill justru menjawabnya dengan membentuk Operasi Dinamo dengan melibatkan warga sipil dengan meminta mengirim perahu/kapal ke Dunkirk, ralat ini bukan permintaan, ini perintah! Ide yang terdengar aneh, sipil dilibatkan militer, tapi tidak. Ini jelas ide brilian. Hebat! Apa yang terjadi berikutnya kalian bisa lihat di film karya Nolan yang teknikal unsurnya luar biasa, yang entah kebetulan atau sengaja rilis bersamaan di tahun Oscar.

Belgia akhirnya menyerah. Perancis segera menyusul. Inggris ketar-ketir. Lukaku mejan, Pogba mandul, Rooney pindah. Churchill yang punya opsi menyerah atau berani melawan digdaya Jerman akhirnya menemukan jawab dari kaum jelata. ‘You can not reason with a Tiger when your head is in its mouth.’ Saat di West End, London lalu lintas macet, dan mobil terhenti, ia memutuskan kabur. Naik kereta bawah tanah, membaur dengan warga. Berdiskusi langsung. Meminta api buat rokoknya, warga yang shock karena ada orang penting di kursi kereta pada terdiam dan manut. Ia berdiri, penumpang ikut berdiri. Ia duduk, semua menunduk. Hormat. Sang Perdana Menteri menanyakan, meminta saran dan memastikan apa yang harus kalian lakukan saat ini? Tunduk ke Jerman atau terus melawan? Luar biasa, suara bulat: Lawan! Saya lebih baik mati tercekik darah di tanah merdeka ketimbang menjadi budak. Wow, para warga biasa ternyata punya jiwa ksatria ketimbang para pejabat yang kecut.

Maka saat kereta berhenti di Westminster ia berjalan ke gedung dengan kepala tegak penuh percaya diri. Mengutarkan suara rakyat, mereka para pemberani yang tak takut berperang. Maka jadilah final act, pidato beliau yang terkenal itu. Adegan akhirnya luar biasa menggugah, parlemen mengibarkan, menggelombangkan sapu tangan dan kertas-kertas bertaburan yang tentu saja sepakat bulat, Lawan!

Saya sudah prediksi pasti pidato itu akan dijadikan boom, gong penutup film. Kenapa? Ya karena saat penonton mengakhirinya aura membuncah masih sangat menempel, akan terkenang. Hebat! Joe Wright memenuhi harapan itu. sempat bilang Darkest Hour is movie of the year, sesaat setelah tulisan credit berjalan. Namun kini saya ralat, Orient Express tetap yang terbaik, sejauh ini. Hehe…

Succes is not final. Failure is not fatal. It is the courage to continue that counts.’

Epilog text kurasa tak perlu karena jelas ini film historikal yang kisahnya ada di banyak buku sejarah. Bisa jadi Dunkirk-nya Nolan adalah sekuel Darkest Hour versi popcorn. Atau The Darkest Hour adalah prekuelnya? Hahaha…

V for Victory. Koran-koran jadul yang menunjukkan keklasikannya dimunculkan, salah satunya sebuah koran terbitan Daily Express yang memuat headline ‘Change must be made quickly’. Jadi membayangkan zaman itu betapa mencekam.

Sepanjang film, raut Oldman yang kharismatik ditutupi. Ia menjadi tambun, gugup dan tertekan. Dengan cerutu dan minuman berwarna, segala yang diperbuatnya seolah menjadi sabda. Oldman mempelajari setahun terakhir sebelum mengambil peran ini. Ganjaran yang pas. Saat dia dianugerahi dalam Golden Globe, ia mengucapkan terima kasih untuk istri Gisele yang telah menjadikannya keren, serta ironi ‘I go to bed with Winston Churchilland wake up with Gary Oldman.’ Patut dinanti apa yang diucapnya Senin nanti. Komisaris Gordon, Sirius Black, George Smiley, Vladislav Dukhovich, Winston Churchill. Puncak Oldman, akhirnya Oscar!

Sepintas mengenai Churchill. Karena saya pengikut Nobel Sastra, maka beliau tentu saja akan selalu dikenang berkat kemenangannya di tahun 1953. Churchil adalah anggota partai Konservatif sebelum akhirnya pindah ke Partai Liberal. Di tahun 1931 saat partainya menang Pemilu ia tak dilibatkan Ramsay MacDonald dalam kabinet, menjadikan titik terendah karir politiknya. Ia lalu malah menulis buku History of the English Speaking Peoples, yang diterbitkan setelah Perang Dunia II. Beliau adalah penentang utama Chamberlain yang menjadi penggembira Hitler, maka ketika ia menjadi Perdana Menteri tahun 1940 ia melawan, memperkuat persenjataan. Pidato awal setelah dilantik sangat terkenal memang inspiratif, ‘Saya tidak mempunyai apa-apa untuk ditawarkan kecuali darah, kerja kuat, air mata dan peluh.’

Karena kenekadnya menentang arus, ia banyak musuh di parlemen maka tak heran kalah telak pasca perang dari Partai Buruh. Barulah tahun 1951 Churchill kembali menjadi Perdana Menteri, dua tahun berselang dapat gelar Sir dan menang Nobel Sastra. Kalimat paling fenomenalnya, yang menjadi final speech film ini akan selalu dikenang generasi ke generasi berikutnya.

Kita akan mempertahankan pulau kita, walau apapun harganya, kita akan bertempur di pantai, kita akan bertempur di tempat pendaratan, kita akan bertempur di padang dan di jalan, kita akan bertempur di bukit, kita tidak akan sekali-kali menyerah!

Darkest Hour | Year 2017 | Directed by Joe Wright | Screenplay Anthony McCarten | Cast Gary Oldman, Kristin Scott Thomas, Ben Mendelsohn, Lily James, Ronald Pickup, Joe Armstrong, Stephen Dillane | Skor: 4.5/5

Karawang, 030318 – Sherina Munaf – Lari Dari Realita

The Legend Of Tarzan: A Wild And Romantic Struggle For Life And Liberty And Dignity

image

George Washington Williams: You are the Lord of the Apes, king of the jungle. Tarzan. Tarzan.

Malam Minggu lalu saya berkesempatan menemani nonton film bersama kedua ponakan: Melly and Wildan. Ketika cek jadwal putar, hanya menyisakan film luar Tarzan, sisanya lokal semua. Hebat betul ya, Lebaran kita dihajar film buatan sendiri. Sayangnya tak ada yang menarik minatku. Ada sih film impor selain Tarzan, sayangnya Finding Dory hanya tayang 3 kali siang semua. Sehingga pilihan itu terpaksa pada sang raja hutan. Keterpaksaan itu diluarduga berbuah manis. Filmnya sungguh asyik diikuti. Karena ekspektasi sedari awal rendah, paling template jadul dipoles: seorang bayi dipelihara kawanan monyet, tumbuh kembang menjadi bagian dari hutan, lalu jatuh hati sama wanita yang tersesat di hutan bernama Jane dan datanglah para perusak, tarung lalu bubar. Begitulah aturan main yang sudah-sudah, sehingga ketika duduk nyaman dengan popcorn di kiri dan air mineral di kanan saya terhenyak sedari adegan pembuka.

What a surprisingly movie. Siapa yang tak kenal karakter rekaan Edgar Rice Burroughs yang pertama terbit tahun 1912 ini? Saya baru membaca buku Burroughs yang perjalanan ke pusat bumi. Namun jelas semua juga tahu siapa sang raja hutan. Tarzan versi David Yates (orang yang bertanggung jawab menutup saga Harry Potter) dirombak. Sebelum judul utama muncul kita diajak berkenalan dengan kapten Leon Rom (dimainkan dengan istimewa oleh Christoph Waltz), seorang korup yang sedang menelusuri pedalaman Kongo, Afrika. Dengan misi mencari berlian, Rom dan pasukan dibantai masyarakat asli yang dipimpin oleh Chief Mbonga (Djimon Hounsou). Namun Rom yang hebat bersilat lidah berhasil keluar dari rimba dengan separuh berlian di tangan, Mbonga meminta mendatangkan seseorang ke Kongo. Dengan senyum khasnya Waltz memberi harapan tinggi kepada penonton bahwa ini akan jadi film yang menjanjikan.

Tarzan (diperankan dengan gagah oleh Alexander Skarsgard) kini memakai nama aslinya John Clayton III berbaju nejis, bergelimang harta sebagai keturunan Lord Greystoke, bangsawan Inggris. Kini ia beristri Jane Porter (dimainkan dengan panas – seperti biasa – oleh Margot Robbie), pasangan legendaris ini belum dikaruniai bayi. Dalam presentasi ‘ekspedisi Boma’ oleh agen Amerika, George Washington William (akting istimewa Samuel L. Jackson) meminta Clayton ke Kongo sebagai tamu kehormatan. Awalnya menolak, dengan kegigihan dan rayuan gombal karena punya motif lain, luluh juga. Di bagian ini saya sempat terkecoh, apakah ada apa-apa si William ini? Aktor sebesar L. Jackson tentunya tak akan memainkan peran sepele-kan? Orang-orang itu membangun rel kerata api, membuat insfrastruktur maju apakah cuma-cuma dan ingin dianggap pahlawan? Bukan! Ini adalah perbudakan. Sebuah informasi yang tentu saja menjadi tanya Clayton.

Perjalanan kembali ke hutan yang sebenarnya direncana oleh Rom ini berjalan diluarduga Clayton. Warga asli dibantai, ribuan pasukan disewa dan dikirim. Kepala suku ditembak dengan mimik dan akting khas Waltz. Tarzan diculik, namun dalam prosesnya justru Jane yang disandera. Dalam kepanikan dan adu cerdik Rom ‘mengantar’ Tarzan kepada pasukan Mbonga. Adegan menuju ke sana sendiri ditampilkan dengan saaaaangat bagus. Khas Tarzan yang berayun dari akar ke akar lain, melompat dari satu pohon ke pohon lain, pertarungan sahabat dengan monyet yang seru. Tapi jangan menunggu Alex memukul dada bertubi sambil teriak ‘aooouuu….’, bagian itu dihilangkan. Mungkin Yates takut terlihat norak karena sudah terlanjur memilih tone gelap. Bagian paling segar jelas setiap William mencoba mengejar Tarzan dan rombongan. Lucu, seru, dan natural. Dengan komposisi Tarzan beserta teman-teman rimbanya melawan penduduk asli yang mempunyai dendam membara, berhasilkah Jane selamat? Dendam apa yang membuat Chief Mbonga begitu mengharap kematian Tarzan? Berhasilkah Rom membawa pulang sisa berlian?

Well, diluardugaku. Tarzan kali ini dibuat lebih serius, lebih natural. Mengikuti perkembangan era film-film abad 21 yang gelap dan membumi, Tarzan tidaklah unbeaten bak dewa. Ia terluka, galau, merenung dan dilanda cemas. Betapa template-tempalte usang itu sekedar flash back sebagai syarat ini adalah film Tarzan. Bagus, enak dilihat. Kisahnya tidak menye-menye, lebih gelap. Walau ada adegan romantis dan fun, namun sesungguhnya temanya berat. Mengangkat isu perbudakan, kolonialisme sampai perlindungan alam. Dengan latar belakang sejarah ketika raja Belgia, Leopold II (1835-1909), menjajah Kongo dan dijadikan koloni tahun 1880an dan tragedi genosida. Benar-benar cerita yang berbeda. Bukan versi modern, bukan sebuah penafsiran ulang. Ini adalah Tarzan yang sedikit dipolitisi mengikuti konteks sosial  dan sejarah. Pilihan yang bijak.

Kelebihan The Legend of Tarzan ada tiga. Pertama jelas pemilihan aktor yang pas. Chemistry Alex dan Margot perlu diacungi jempol. Alex membentuk sixpack badannya bukan untuk pamer yang akan membuat cewek klepek-klepek. Training intensif empat bulannya membuahkan hasil. Margot emang cantik natural. Siapa laki yang tak takjub keseksian Margot? Ora normal kalau sampai ga setuju. Enak dilihat, penyegar keganasan rimba. Tak sia-sia ia melepas kesempatan di film A Bigger Splash. Ini seperti pemanasan Margot menjelang film besar bulan depan Suicide Squad. Patut ditunggu. Sangat patut dinanti. Sayangnya banyak sensor dengan editing buruk. Hadeeeh…, LSI memotong adegan mbok ya yang rapi. Potong-potongnya kasar sekali di bioskop. Penampilan memikat Tarzan and Jane diimbangi Waltz yang tak diragukan lagi, sangat keren. Walau aksinya nyaris sama dengan berbagai peran yang sudah-sudah, Waltz tetaplah Waltz yang hebat. Karakter yang diperankannya adalah tokoh asli bernama Leon Auguste Theophile Rom, seorang tentara Belgia yang bertugas di Kongo di abad ke 19. Dan inilah bintang sesuangguhnya: Samuel L. Jackson, walau sebagai sidekick dia adalah pencuri perhatian sesungguhnya. Tak kusangka perannya di sini begitu kocak, aneh dan sangaaaat menyenangkan.

Kedua, kisah usang sang legenda ditampilkan dengan sepintas jadi porsinya pas. Tak perlu bertutur panjang lebar awal mula karena kita semua tentunya tahu bagaimana latar sesungguhnya. Hanya ditampilkan sepintas lalu sepintas datang, kurasa sudah jitu apa yang diputuskan Yates.

Dan yang ketiga, CGI yang halus. Pemandangan hutannya begitu indah bak sebuah potret kartu pos. Teknologi saat ini memang sudah sangat maju. Namun di Tarzan kali ini binatang-binatang itu tampak nyata dan mengancam. Tarzan berguling dengan singa. Menggiring ratusan bison. Menyapa gajah. Dan bagaimana para kera bertarung, bagaimana gajah-gajah itu berkongsi dan terutama sekali adegan epic endingnya yang menggelegar. Beberapa bagian terlihat blur namun tak ketara. Saya nonton di 2D saja takjub bagaimana dengan 3Dnya? Yah, walau CGInya masih sedikit dibawah The Jungle Book, terutama bagian Baloo, namun tetap secara keseluruhan sebagian besar budget yang digelontorkan ke bagian efek terpakai dengan maksimal.

Terakhir, walau sempat membuatku geram David Yates terus ada kemajuan. Harry Potter and the Orde Phoenix dan A Half-Blood Prince yang sedikit rusak olehnya dibayar lunas epic Deathly Hallow. Ini adalah film beliau pertama yang kutonton pasca Potter. Proyek apa yang akan dia pegang selanjutnya patut ditunggu. Dan tetaplah mengauuum…

Ketika film selesai saya adalah satu-satunya penonton yang bertahan sampai detik terakhir layar kredit title habis. This film is dedicated to the memory of Jery Weintraub, who died of a heart attact on July 6, 2015. This was his last film.

The Legend of Tarzan | Year 2016 | Director David Yates | Screenplay Adam Cozad, Craig Brewer | Cast Alexander Skarsgard, Margot Robbie, Christoph Waltz, Samuel L. Jackson, Djimon Hounsou | Skor: 4/5
Karawang, 160716 – Halal bi halal NICI – Train – Marry me