Aftersun: Separo Kenangan, Separo Ilusi


“Saat kamu berusia 11 tahun, menurutmu apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

Apakah arti semua itu? Apakah perjalanan film berakhir dalam paradoks? Tak terjelaskan makna berikutnya, setelah Calum berbalik, keluar dari pintu itu. Biar penonton sendiri yang menerka apa yang terjadi. Kemungkinan-kemungkinan apa sajakah yang dimiliki manusia ketika terjebak dalam dunia yang telah ada ini?

Ya ampun cantik sekali Aftersun. Salah satu terfavorit tahun ini. Hubungan ayah anak yang hangat. Liburan berdua bersama ayah, manjadikan mereka makin dekat. Ayah yang frustasi, mempelajari Tai Chi, mencoba refreshing dengan anaknya. Ayah depresi yang tak menyangka menyentuh usia 30 tahun. Anak, yang cerdas, kritis, mencoba menikmati hari, sementara waktu jauh dari ibunya. Ini adalah momen indah di ulang tahun ayahnya, jadi harus dimanfaatkan dengan baik. Jadikan kesenangan adalah motor serta norma dari seluruh acara ini, itulah kehidupan kita. Liburannya jauh, mencapai Turki di sebuah resort sederhana. Dan begitulah, hubungan hangat anak-ayah ini dikupas mendalam. Indah, dan seperti kenangan indah lainnya, akan mengulik otak kita di kemudian hari.

Sophie Peterson (diperankan dengan imut sekali oleh Frankie Corio), berusia 11 tahun. Melakukan rekaman di kamar hotel saat liburan bersama ayahnya, Calum Peterson (diperankan dengan hebat oleh Paul Mescal) yang ditanya, ‘apa yang akan dilakukan ayah saat berusia 11 tahun?’. Lalu adegan ditarik ke awal.

Pembuka cerita yang wow. Sophie dengan kameranya. Saat mengintip lewat televisi yang menayangkannya, kita merasa seakan kita telah menemukan area abu-abu kenangan berselimut kabut, separo kenangan, separo ilusi.

Dalam perjalanan bus, seorang pemandu wisata mengumumkan dengan mik yang mendengking. Kota diplesetkan Calum dan ditertawakan Sophie, sebuah permulaan manis. Namun saat sampai hotel di Turki, ternyata pesan kamar dobel bed yang didapat single bed. Calum meminta tambahan, kasur kecil disediakan di sampingnya. Hotel murah yang mengganggu, termasuk saat ada perbaikan bangunan yang sungguh tak nyaman, suara denging palu para tukang.

Dari sinilah mereka lantas saling mengisi. Calum mencoba menyenangkan anaknya. Sophie mencoba menyenangkan ayahnya. Ini momen mereka, yang kelak akan dikenang. Banyak hal lantas bersinggungan. Misal, kacamata mahal untuk menyelam Sophie jatuh. Ayahnya dengan gesture diam sebenarnya marah, itu kacamata mahal. Sophie-pun tahu, ia ga enak ati. Menempatkan diri juga penting baginya.

Lalu saat melihat para remaja kasmaran, berciuman di kolam, mabuk, kebebasan. Bahkan gelang kuning yang dipakai orang lain, sebuah privilege. Karena mereka menyalakan musik terlalu nyaring dan tertawa-tawa terlalu sering. Menimbulkan gejolak Sophie, ia menjadi penasaran, dan mengamati. Sebuah pengalaman baru untuk anak seusia itu. Kesempatan itu muncul saat remaja cowok main gim arcade balap, lalu Sophie join in. Michael mengakrabkan diri, dan akhirnya mereka menjalin komunikasi lebih lanjut.

Gaya rambut dikucir kelabang satu ekor itu sungguh memikat. Cantik, cantik sekali. Dalam sebuah adegan sendu, malam ayahnya membelai rambutnya. Sophie tiduran di pahanya, mereka bercerita tentang rumah. Sophie merasa bahagia di Skotlandia, itu untuk saat ini. nanti, kelak suatu hari kamu akan memiliki kesempatan lain. Mau ke manapun yang kamu mau, mau sama siapapun yang kamu suka. Ditutup dengan kecupan hangat seorang ayah ke pipi putrinya. Hiks, sedih. Mereka mengobrol hal-hal sepele, tapi rasanya mereka mengobrol topik penting.

Ini bisa berarti Aftersun bukan mempelajari realitas melainkan eksistensi. Dan eksistensi bukan apa yang terjadi, eksistensi adalah dunia kemungkinan-kemungkinan manusia, manusia bisa jadi apa saja, ia mampu melakukan apapun yang ia inginkan.

Atau saat acara karaoke malam, sejatinya Sophie ingin mereka duet ke panggung bernyanyi bersama. Namun ayahnya tak setuju, maka Sophie menyanyi lagu Losing my Religion-nya R.E.M sendiri, yang terdengar kacau. Makin kacau, seusai nyanyi ayahnya bilang, ‘kalau mau les nyanyi aku bayari’, yang wajar sekali dijawab ketus. ‘suaraku jelex ya?’. Engga, maksudnya semua orang bisa belajar. Weleh, kamu miskin! Momen sedih, yang menampar kita. Refleksi mengubah esensinya, yang secara esensial mengandung pertanyaan, ia bersifat hipotesis.

Momen penting lainnya saat mereka ke toko karpet. Harganya sungguh sangat mahal, rasanya tak worth it untuk dibeli. Lihat ekspresi Calum saat mendengar nominal, weleh-weleh, cuma bisa bilang thanks. Namun harus kita maklumi, mengapa ia akhirnya kembali ke sana sendirian, membelinya. Sambil terduduk lemas menyandarkan diri. Terpuruk dalam ketidakberdayaan, demi putrinya, demi harga dirinya. Lantas meniduri karpetnya dengan helaan napas lega. Sesuatu yang tak terjangkau, tapi dijangkau. Karpet itu memberi tanda gairah, sesuatu tak dimilikinya. Setiap karpet memiliki ceritanya masing-masing. Hidup ini singkat, makanya tak perlulah merindukan sesuatu yang tak dimiliki. Sungguh pas ia berkorban, nekat membelikannya untuk Sophie. Karpet itu kelak akan menyelimutinya. Bahwa mereka pernah melakukan liburan bersama, masa-masa istimewa. Kalau kalian jeli, karpetnya sendiri ada di eksekusi jelang ending jadi tampak sungguh penting sebab saat Sophie dewasa (Celia Rowlson-Hall), karpet itu tersedia, dan terasa hampa memenuhi relung kamar Sophie tanpa kehadiran ayahnya. Benda khusus dan kontingen. Kontingen adalah lawan untuk niscaya atau mutlak perlu. Berarti bisa ada tapi bisa juga tidak ada. Di sini ia menjadi saksi, dan itu bagus.

Lalu adegan saat layar dipecah dua, dipisahkan tembok. Ayahnya membuka perban tangan kanannya, Sophie membaca buku di kamar lain. Terjadi dialog panjang. Dan ayahnya menjelaskan beberapa hal bagi anak-anak susah dimengerti.

Satu lagi yang menurutku brilian, yang terbaik malah menurutku, adalah adegan endingnya. “I don’t dance” itu memenuhi ekspektasi secara keseluruhan. Berlarian bersama, masuk ke ruang dansa, dank arena mala mini malam terakhir, Calum mengekspresikan segalanya. Berjoget lepas, Sophie sendiri awalnya canggung, lantas mengikuti setelah ditarik, dan dalam hiruk pikuk suara musik, Sophie memeluk ayahnya dengan erat dan hangat. Saat itulah kita dilempar ke perpisahan di bandara, “I love you”, dan begitulah Sophie melambaikan tangan perpisahan dan tersenyum, semua kekhawatiran kita pun sirna (sesaat). Calum meninggalkan liburan, meninggalkan kehampaan, kesedihan mendalam. Ia kembali memeluk keterasingan.

Kusaksikan tiga kali saking istimewanya. Terakhir malam minggu kemarin, kita nonton ulang. Ciprut makin suka. Hanya sayangnya, rating remaja. Ada tiga adegan ciuman, karena Ciprut masih 8 tahun, setiap di adegan itu aku tutup layarnya. Ketika kutanya adegan favoritnya, ia menjawab saat di atas kapal seusai melakukan penyelaman, ia melakukan rekaman, dan berbicara pada kamera sendiri. Betapa serunya menyelam. Ada gurita di atas rambutku! Dan ditutup dengan sorotan kamera ke lautan, ombaknya mengelabui. Tempo-tempo yang kontras begitu seolah tak penting dalam semua keremehtemehannya yang dahsyat.

Saat pertama nobar, Ciprut nanya mulu. “Itu ngapain Yah?” / “Makan.” / “Kok makan aja adegannya lama.” / “Ya seperti itulah.”

Berikutnya, “Itu apa sih Yah?” /” Langit.” / “Ngapain lihat langit?” / “Menikmati hidup.”

Dan berikutnya, “Mereka ngapain Yah?” / “duduk-duduk saja di pantai.” / “Menikmati suasana.”

Yang tiga kali nonton, dan tiga kali komen sama adalah saat akan tidur, saat adegan kamera menjauh perlahan dari pintu hotel, pelan sekali, dan komennya sama, “Itu adegan apa sih, pintu kamar saja disorot lama sekali.”

Begitulah, anak kecil masih awam. Polos sekali celetukannya. Selesai nonton bareng, bilang ke ibunya. “Bunda, aku pengen liburan sekolah nanti jalan-jalan sama ayah. Ke hotel, ke kolam renang, ke pantai.” Hehehe… aku langsung mengiyakan dari kamar seberang. Nanti libur sekolah kita jalan-jalan, motivasi utamaku adalah rasa takut akan penyesalan. Aku khawatir bila aku tidak melakukannya, suatu hari kelak aku akan menolah ke belakang dan bertanya-tanya, Bagaimana seandainya aku tak benar-benar melakukan vakansi berdua sama anak? Minggu lalu memang ada acara 1 hari bersama ayah dari sekolah, tapi malah berakhir apes. Satu plastik baju yang buat renang + sabun mandi tertinggal di aula. Sudah hubungi panitia dan wahana renang, tidak ditemukan. Momen ini akan tersimpan lama di kepala Ciprut, dan aku. Aku Cuma bilang ke dia, “Ambil kenangannya, ambil pelajarannya. Benda bisa dibeli, tapi waktu bersama tidak.” Hiks, hari ini, lima puluh tahun kemudian pernyataanku akankan terkenang? Atau sekadar ilusi?

Begitulah. Jelas ini film istimewa. Setelah nonton aku juga berpesan pada Ciprut, bila nanti kamu dewasa dan ingin bercerita apapun padaku, aku dengan senang hati akan menyediakan waktu. Apapun. Seperti yang dibilang Sophie, tidak akan narkoba, mabuk, atau nakal. Nah, kita tak tahu masa depan seperti apa, andai kamu nanti butuh teman, dan perlu tempat berbicara, ayah dengan senang hati mendengarkan. Ciprut memberikan jawaban ‘hhhmmm…’ yang bermakna ganda. Kamu harus menjaga pintumu tetap terbuka agar aku bisa masuk. Tapi, itu berarti kamu juga bisa membiarkan aku pergi.

Mungkin film ini timing nontonnya pas jadi begitu personal. Contoh lainnya lagi, Ciprut setelah tahu Calum ulangtahun usia 11 tahun malah dimarahi ibunya, lalu saat bilang ke ayahnya, malah diajak ke toko mainan. Langsung ia bertanya ke aku, well, apa ya? Karena jika aku bisa menjalani kehidupanku lagi, aku akan melakukan berbagai hal dengan cara berbeda. 11 tahun, itu berarti tahun 1994, masa Piala Dunia Amerika, di mana ulanthaunku saat berumur sebelas tahun? Angka-angkanya takkan berkedip-kedip di depan mataku. Aku lupa, hanya saat piala dunia, aku nonton tv di rumah tetangga ramai-ramai. Atau masa cinta monyet di SD. Menoleh ke belakang sana, aku bisa melihat betapa dungunya diriku karena tergila sama teman sekolah sampai namanya kutulis di buku tulis. Tetapi ketika itu aku masih kecil, dan tergila-gila setengah mati kurasa wajar.

Lewat tengah malam Minggu, pas nobar Aftersun

Ini adalah film dan naskah debut Wells, sangat bagus. Catat saja, bakalan kuikuti. Mengingatkanku pada Get Out yang juga debut, langsung menghentak. Sayang di Oscars hanya satu kategori. Wells menulis dan membuat film dengan semangat merayakan kesenduan, dengan sukses mengeksplorasi eksistensi.

Aftersun | 2022 | Skotlandia | Directed by Charlotte Wells | Screenplay Charlotte Wells | Cast Paul Mercal, Frankie Corio, Celia Rowlson-Hall | Skor: 5/5

Karawang, 300123 – Blur – Tender

Film pembuka Oscars yang powerfull. Aftersun mengirim Paul Mercal ke Oscars. Peluangnya mungkin kecil untuk menang best actor. Namun aku menyakini, Aftersun akan Berjaya di BAFTA.

Nominasi Oscars 2023: Everything Memimpin, Women Talking Kuda Hitam


Semalam saya turut serta memeriahkan pengumuman nominasi Oscars ke 95, live di Youtube. Dibawakan Riz Ahmed dan Allison Williams di Beverly Hills, California, AS. Saya hitung mundur dari 3 jam-an, yang berarti sebelum Magrib. Pulang kerja sampai rumah, tinggal 2 jam-an, pas salat Isya 1 jam-an. Dan setelah makan malam, 30 menit. 15 menit. Dan tepat pukul 20:30 kick-off.

Alhamdulillah diberi umur panjang bisa dapat rekomendasi film-film bermutu. Oscars pada film, dan KSK untuk buku adalah panduan menonton dan membaca bagiku. Setiap tahun kuikuti. Baru nonton 5, baru ulas 3. Ada 34 film yang dikejar, dapat berapa? Biasanya hanya separuh.

Here we go:

Best Picture
All Quiet on the Western Front
Avatar The Way of Water
The Banshees of Inisherin
Elvis
Everything Everywhere All At Once
The Fabelmans
Tar
Top Gun Maverick
Triangle of Sadness
Women Talking

Best Director
Martin McDonagh – The Banshees of Inisherin
Daniel Kwan dan Daniel Scheinert – Everything Everywhere All At Once
Steven Spielberg – The Fabelmans
Todd Field – Tar
Ruben – Triangle of Sadness

Best Actor
Austin Butler – Elvis
Colin Farrell – The Banshees of Inisherin
Brendan Fraser – The Whale
Paul Mescal – Aftersun
Bill Nighy – Living

Best Actress
Cate Blanchett – Tar
Ana De Armas – Blonde
Andrea Riseborough – To Leslie
MIchelle Williams – The Fabelmans
Michelle Yeoh – Everything Everywhere All At Once

Best Supporting Actor
Brendan Gleeson – The Banshees of Inisherin
Brian Tyree Henry – Causeway
Judd Hirsch – The Fabelmans
Barry Keoghan – The Banshees of Inisherin
Ke Huy Quan – Everything Everywhere All At Once

Best Supporting Actress
Angela Bassett – Black Panther Wakanda Forever
Hong Chau – The Whale
Kerry Condon – The Banshees of Inisherin
Jamie Lee Curtis – Everything Everywhere All At Once
Stephanie Hsu – Everything Everywhere All At Once

Best Adapted Screenplay
All Quiet on the Western Front
Glass Onion A Knives Out Mystery
Living
Top Gun Maverick
Women Talking

Best Original Screenplay
The Banshees of inisherin
Everything Everywhere All At Once
The Fabelmans
Tar
Triangle of Sadness

Best Original Score
All Quiet on the Western Front
Babylon
The Banshees of Inisherin
Everything Everywhere
The Fabelmans

Best Original Song
Applause – Tell It Like a Woman
Hold My Hand – Top Gun: Maverick
Lift Me Up – Black Panther Wakanda Foreve
Naatu Naatu – RRR
This Is A Life – Everything Everywhere All at Once

Best Sound
All Quiet on the Western Front
Avatar The Way of Water
The Batman
Elvis
Top Gun Maverick

Best Costume Design
Babylon
Black Panther Wakanda Forever
Elvis
Everything Everywhere All at Once
Mrs Harris Goes to Parris

Best Animated Feature Film
Guillermo Del Toro’ Pinocchio
Marcel the Shell with Shoes On
Puss in Boots: The Last Wish
The Sea Beast
Turning Red

Best Cinematography
All Quiet on the Western Front
Bardo, False Chronicle of a Handful of Truths
Elvis
Empire of Light
Tar

Best Documentary Feature Film
All That Breathes
All the Beauty and the Bloodshed
Fire of Love
A House Made of Splinters
Navalny

Best Documentary Short Film
The Elephant Whisperers
Haulout
How Do You Measure A Year
The Martha Mitchell Effect
Stranger At The Gate

Best Film Editing
The Banshees of Inisherin
Elvis
Everything Everywhere All at Once
Tar
Top Gun Maverick

Best International Feature Film
All Quiet on the Western Front – Jerman
Argentina, 1985 – Argentina
Close – Belgia
EO – Polandia
The Quiet Girl – Irlandia

Best Makeup and Hairstyling
All Quiet on the Western Front
The Batman
Black Panther Wakanda Forever
Elvis
The Whale

Best Production Design
All Quiet on the Western Front
Avatar The Way of Water
Babylon
Elvis
The Fabelmans

Best Live Action Short Film
An Irish Goodbye
Ivalu
Le Pupille
Night Ride
The Red Suitcase

Best Visual Effects
All Quiet on the Western Front
Avatar The Way of Water
The Batman
Black Panther Wakanda Forever
Top Gun Maverick

Best Animated Short Film
The Boy, the Mole, the Fox, and the Horse
The Flying Sailor
Ice Merchants
My Year of Dicks
An Ostrich Told Me the World Is Fake and I Think I Believe It

Sumber: Oscars.org

Karawang, 250123 – Rosey – Who Am I

A Short Story: Ini Murakami Banget


“Hello, goodbye.”

Kucing hitam bertemu dengan Orang-orangan sawah, bertegur sapa, dan saling meminta tolong, dan perjalanan sang pengelana dimulai, pencarian makna hidup atau ghal-hal bersifat filosofis. Film pendek absurd. Melibat pesan-pesan tersirat, fabel singkat nan meriah. Penonton diajak menemui orang-orang aneh, ditanyai apakah yang paling berharga dalam hidup? Dan begitulah, setiap individu itu unik, jawabannya tentu juga berbeda-beda. Yang menarik, sang kucing pada akhirnya kembali di awal. Dengan metafora topi terbang melayang, terhembus ke sawah sehingga seolah reinkarnasi, pertanyaan itu melingkar. Banyak hal bisa dikupas, jadi mari kita dedah.

===catatan ini mengandung spoiler===

Mengambil sudut pandang Pupil yang kena zoom memenuhi layar. Pupilnya aneh, melintang ke atas, bukan ke kanan-kiri. Kalau dipikir lagi, menakutkan. Sepanjang film sang narrator, adalah sang protagonis, otomatis adalah para penonton tetapi sekaligus sang pembawa pesan. Semacam alternatif jiwa seseorang.

Kucing hitam memang hewan mistis. Dan kini ia ada di sawah, dimintai tolong Orang-orangan sawah agar membakarnya. Ia sudah ingin terbang ke surga, bertemu teman-temannya. “Kehidupan” di dunia terlalu monoton dan sangat membosankan. Ya iyalah, tugasnya mengusir burung tapi tak bergerak. Menjadikannya makhluk diam, sendiri di tengah keheningan. Sebelum api tersulut, Sang Kucing bertanya, “Apakah benda yang paling berharga dalam hidup ini?” dijawab, ia tak bisa menjawab. Namun memberi rekomendasi untuk bertemu tiga orang aneh: Robot, Wanita, dan Demon. Maka dengan latar asap api mengepul, sang kucing mengenakan pakaian orang-orangan sawah, melanjutkan petualangan. Inilah perjalanan hidup yang ia cari, perjalanan untuk makhluk bijak. Melalui pupil yang kucing, kita menjalankan tur singkat ini.

Seorang kucing yang mencari sesuatu dan pada akhirnya ia menemukannya, tetapi yang ia temukan justru sesuatu yang tidak ia harapkan. Seperti itulah strukturnya. Ini bukan film fiksi ilmiah, cerita film dengan menggunakan struktur fiksi ilmiah.

Pertama, Rob yang ada di panti asuhan. Ia menemuinya di ruang remang, banyak lapisan plastik menjuntai. Dengan pecahan cermin di sekeliling, dengan kemuraman yang ditawarkan, Sang Kucing mencari jawab. Rob sendiri tertidur sebab baterai-nya telah mati. Maka dengan kilau mentari yang masuk ke ruangan, sang kucing memantulkan cahayanya mengenai Rob. Ada pergerakan di sana, jemarinya bergerak hidup, lalu dengan sikap tanpa ekspresi, sang Rob memberikan benda berharga itu.

Kucing tentu saja tak suka makanan manis, tentu saja bingung. Ia adalah pemakan daging, buat apa permen? Gula hitam hanya untuk anak-anak. Dan begitulah, secara simbolik kita diajak mengarungi kehidupan. Inilah mulanya, masa kanak-kanak, manis tak terperi. Adanya main saja. Lalu, pahitnya dimana? Saat masa kecil itu berakhir. Menuju gerbang kedewasaan. Yah, selamat datang di kehidupan yang sesungguhnya.

Perjalanan berlanjut, orang kedua adalah wanita dengan ingatan pendek. Makan mie, dengan tampang polos, faceless seolah ditimpa beban berat, tanpa tahu solusinya apa. Ia berada di ruang remang, yang lantas saat pintu dibuka ternyata kita ada di dalam gebong kereta api. Mereka dalam perjalanan, dengan latar pemandangan dari kursi penumpang, kita menyaksi waktu terus berjalan, tak peduli apapun yang terjadi, apapun yang dilakukan. Inilah masa remaja beranjak dewasa. Masa galau menentukan arah hidup.

Ini semacam pendewasaan, banyak kesalahan dilakukan. Banyak pertimbangan, dan tentu saja penetapan pasangan hidup, cinta berganti-ganti hingga akhirnya menemukan pasangan sejati. Sedih yang diaduk, pada akhirnya akan terhenti di stasiun (rumah). Sang kucing tetap tak puas, akan jawaban yang lantas turun gerbong melanjutkan perjalanan.

Ketiga adalah Demon. Dengan narasi dunia tercemar, perubahan iklim meningkat, ancaman global warning, dan seterusnya, tapi impian seseorang akan terus bermekar. Harapan selalu ada. Bunga satu layu, tumbuh seribu bunga lainnya. Dengan atraksi semacam panggung sandiwara, ia pesulap yang sudah bosan sama trik. Butuh aksi nyata. Demon bangun tidur, mengenakan pakaian dengan gaya, baju melayang, celana melayang mendekat, dikenakan. Dalam surealis melakukan trik-trik sulap, hingga akhirnya mendekat dan membulatkan segumpal jiwa. Ternyata kita yang di kursi penonton di atas panggung, bukan di bawah. Panggung merekah.

Kalau diperhatikan, asap rokok itu bukan keluar dari mulut. Tapi asapnya malah masuk ke mulut. Sang kucing ketakutan dan ia berlari, berlalu setelah sadar ia dipermainkan. Sebab segalanya buruk.

Dan hari ini ia menyaksi ulang tahun anak kecil dalam lanskap cembung di pupilnya. Menari dalam keceriaan. Mereka bersahabat. Buruknya, Sang Kucing yang menyayangi Gadis kecil malah mengacaunya dengan memberinya bangkai burung, tikus mati, bahkan ular yang sudah dingin. Kacau! Kini malah berbalik, Sang Gadis menuduh Kucing Hitam adalah makhluk jahat, jelmaan iblis.


Singkat kata, mereka bertemu lagi di tempat lain, di ujung teratas tangga berjalan. Dan akhirnya dengan sekuntum bunga di balik topi, seorang teman menitipkannya untuk sang Gadis. Cerita mereka berhenti pada titik itu. Adegan berhenti seolah kena tombol pause, sejenak untuk membiarkan penonton tergugah, membiarkan ceritanya meresap.

Perjalanan hidup sang pencari bijak selesai, kita kembali ke titik mula di sawah, topi melayang dalam balutan musik pengiring, yang tentu saja topi itu mengarah ke Orang-orangan Sawah. Kembali ke area kosong. Sebidang tanah kering berkabut, membiarkan kesendirian, kesunyian, dan kesepian meresap dalam.

Ini jelas film dengan tafsir bebas. Saya lebih melihatnya sebagai perjalanan manusia yang mencoba memberi makna kehidupan di setiap tahapnya. Mencoba menjadi sebijak filsuf seagamis sufi, sekaligus kemerdekaan pikir anak-anak. Ini cerita pendek yang bisa diurai lebih dalam, tak akan pendek.

Ini Murakami banget. Ciri itu tersebar di banyak adegan. Kucing hitam sebagai tokoh utama. Seorang wanita misterius. Sesuatu menghilang. Sebagai penonton kita mengikuti jejak sang kucing dalam berkelana. Kekuatan suoernatural. Kereta api sebagai latar. Ngobrol sama kucing. Pararel pikiran. Suasana muram, hingga karakter dengan wajah faceless. Semua bisa ditemukan dalam tempo sesingakt-singkatnya. Murakami pernah menyebut bahwa kisah-kisahnya sebagai ‘misteri tanpa solusi’, yang bisa kita baca sebagai metafora dari kehidupan itu sendiri. Makanya bebas tafsir sebab sejatinya tidak ada jawaban di dalam Murakami, tetapi di sana ada kebaikan.

Makanya kenapa benda berharganya itu, agak klise dan penuh pesan moral.

Film pendek, seperti cerita pendek, ruangnya terbatas. Dalam tempo belasan menit harus bisa merangkai plot. A Short tentu saja berhasil, fabel muram tak banyak warna. Fantasinya berjalan jauh dan beberapa bagian terasa kompleks, terutama orang ketiga. Dengan hanya duduk dan meramu dan rokok yang terbalik. Mereka mengikuti satu pola, tetapi variasinya tak terbatas. Well, linier tapi terasa tak linier.

Dan begitulah, Dunia sedang menunggu untuk dipelajari.

A Short Story | 2022 | China | Short Movie (15 min) | Directed by Bi Gan | Story Bi Gan | Skor: 4/5

Karawang, 050123 – Room Eleven – One of These Day

Love Will Tear Us Apart: Bersakit-sakit Dahulu, Malah Mati Kemudian


“Sejak kita berpisah dua jam yang lalu, aku sudah merindukanmu.”

===Catatan ini mengandung spoiler berat===

Judul film jelas spoiler, maka judul catatan ini juga spoiler. Ini kisah sedih, cinta remaja membuncah, diperjuang selepas lulus, rintangan membelit di banyak sudut, tapi tak peduli apapun jua, cinta ini harus dipertahankan. Merentang sepuluh tahun. Tak peduli badai, tak peduli terjangan ombak dahsyat, tak peduli bencana masif menatap di depan. Bucin tiada tanding, cinta tanpa syarat macama-macam, cinta ini layak dijunjung tinggi. Yang terjadi di antara mereka adalah cinta yang seluas dan seteguh langit.

Dan seperti judul filmnya, cinta ini justru memisahkan. Wah, kok bisa. Seperti judul catatan, mati. Segalanya ambyar, dihempaskan, hancur berkeping-keping. Fakta pahit yang tak remaja sadari, cinta butuh uang. Kehidupan sehingar bingar apapun, butuh materi untuk menyelingkupi. Kenyataan itu muncul sebelum penjelasannya. Cinta terhalang materi memang keparat, tak diragukan lagi.

Kisahnya tentang cinta yang bersemi dan janji akan dituai bunganya kelak di kemudian hari. Dibuka dengan catatan hari ke 3650, Lu Qin Yang (Qu Chu Xiao) jatuh hati pada Ling Yi Yao (diperankan cantiiiik sekali oleh Zhang Jing Yi). Ia sedang di tengah badai salju mengukur jarak mengukur waktu, sebuah perbatasan tanah nasional. Lantas terlempar ke adegan surealis di sebuah acara pernikahan segera digelar, dan pesta yang meriah di balik tembok mendadak sedih, sang pengantin pria panik ia terkunci, ia dicari, saat pintu coba dibuka tak bisa, kekhawatiran yang ditimbulkan menuai tanya. Saat akhirnya bisa dibuka, kita dibentangkan kembali ke tengah salju.

Kembali ke masa silam, pada hari Qin jatuh hati pertama kalinya. Hari 1, pola yang mengingatkanku pada (500) Days of Summer. Qin remaja sedang mencari barang bersama temannya di ruang sekolah, dan menemukan sebuah Walkman tergeletak di meja di atas catatan ujian, dengan musik riuh rendah masih berderak. Yiyao, nantinya panggilan sayangnya “Yaoyao”. bersembunyi di balik tirai, saling pandang dengan kain sebagai selubung, dan begitulah. Mereka saling jatuh hati pada pandangan pertama.

Selama sekolah, mereka pacaran. Teman-teman dan guru sudah paham dan maklum, walau ada adegan dihukum sebab mengirim surat cinta, walaupun ditegur sebab menjadikan tak fokus belajar. Yah, begitulah masa muda yang merdeka. Sebuah jalan pasti mereka akan menikah kelak. Qin yang badung, tampak sangat setia. Yiyao yang cantek sekale, tampak setia. Lalu apa masalahnya? Andai kamu gagal mendapatkan apartemen-pun kamu akan tetap dapat menikahinya, sebab kamu mendapatkan orang yang tepat.

Pertama dan utamanya, keluarga. Yiyao kuliah dan karena memiliki pendidikan tinggi, rasanya pantas mendapat pasangan sepadan. Ibunya sewot, dan tak setuju ia pacaran dengan jagoan kita. Adegan makan malam yang menyedihkan digelar. Qin bercerita bagaimana pertama kalinya mereka bertemu, “Kaset itu Mak, diganti dengan kaset bahasa Inggris! hahaha” tertawa terdeam, yang lalu disumpal makanan oleh Yaoyao. Sayang, fokus ibunya bukan itu. Ia mendamba menantu mapan. Cinta itu kuat, bodo amat. Yiyao melawan, dan tetap mengasihi sang kekasih yang hanya bekerja sebagai kontraktor apartemen. Ekonomi sulit, gmana mau menikahi gadis pujaan, buat memenuhi kebutuhan dasar: sandang, pangan, dan terutama papan yang layak saja belum bisa.

Yiyao benar-benar tak mengapa, ia tetap setia. Cinta ini justru akan semakin menguatkan, tak peduli miskin dan butuh kerja berat. Makanya, saat ibunya sakit, ditempatkan di antrian panjang cari kamar sebab pakai BPJS, Qin sedih tak dapat membantu. Pontang-panting cari solusi, bisa dari mengutang misalkan. Namun tiba-tiba pas Qin ke rumah sakit, calon mertua sudah dipindahkan ke kamar elit, kaget. Oh ternyata, ada pahlawan idaman ibu. Cowok ganteng lulusan Aussie dengan mobil jaguar. Menampar abis.

Sekali lagi, si cantik tak peduli. Cintanya tetap pada belahan hati, selama cinta ini diperjuang bersama, ia tak peduli suara apapun yang bergaung di luar. Malah, Qin yang apes. Di kerjaan kena gebuk aliansi pejabat jahat. Sebagai supervisor lapangan, ia mementukan pengecoran bangunan, harus sesuai standar kualitas, harus bagus sesuai audit. Nyatanya di lapangan ia kena perlakuakn buruk. Susah memang, jadi orang baik di kumpulan pekerja tamak. Bahkan, suatu malam ia mendapati sogokan, seamplop uang tunai di loker. Sempat bimbang, sempat penuh tanya. Ia lagi butuh yang jika diterima bisa membereskan banyak hal, ia ingin beli rumah yang layak untuk kekasihnya, dengan uang itu, ia bisa menuntaskan hasrat. Namun tidak, ia pekerja yang jujur dan berintegritas (malaikat baik bertepuk tangan). Ia kembalikan uang itu, dan kukuh sama pendirian. Ia berdiri dengan kebanggaan, dan menatap masa dengan angkuh. Dasar jiwa muda.

Dan dari situ pula segalanya mulai runtuh. Ada lobi-lobi jahat yang menjatuhkannya. Ada kesalahan temannya menggunakan uang simpanan, ada kesalahan investasi, dst. Intinya ia terpuruk dan terlilit utang. Sementara Yiyao tetap kasih dukungan, menolak perjodohan dengan lelaki lain yang kaya dan mapan. Kenyataan yang makin membuat Qin terpojok dalam kegalauan akut. Maka saat ada kesempatan untuk menuai hapus kesalahan, menuai kembali uang untuk masa depan, ia ambillah itu. Kesempatan itu ternyata menjauhkan sepasang kekasih ini, sebab pekerjaan itu ada di ujung dunia. Membentang ratusan kilometer, tak ada sinyal, tak komunikasi, terpenjara lautan salju. Di tempat yang begitu dingin, jauh, dan liar, hampir seperti negeri asing.

Dengan dramatis Qin pergi, meninggalkan tanah impian. Dalam adegan, bahkan dibuat dengan begitu mendayu, tanpa pamit bertemu langsung, hanya via surat, via HP. Lalu kereta api gegas berangkat, Yiyao menangis tersedu di jembatan atas menyaksi ular besi pergi. Dan dengan demikian terputus sudah jarak. Begitu juga, mereka otomatis menggantungkan tali kesempatan menikah di area rawan, hingga adegan kembali di pembuka. Hari ke 3650, bergerak sehari lagi janji temu di stasiun. Byar… ambyar semuanya.

Ada tiga bagian adegan yang laik dikenang. Pertama, saat pertama kali pindahan ke tempat baru. Mereka memimpikan benda-benda yang akan ditempatkan di tiap sudutnya. Yiyao membayangkan di sini lemari, di sini meja, di situ tv, di area situ nanti ada foto-foto pernikahan yang dipajang, dst. Sungguh manis. Lalu berbelanja barang-barang dengan misi tak boleh melebihi anggaran. Mengingatkanku pada masa awal ke rumah baru. Memang pada dasarnya perempuan lebih ceriwis, lebih imajinatif ke depannya bagaimana. Apalagi pesona Zhang Jing, seorang model yang cantek, suka sekali ia menunjuk-nunjuk tembok dan sekitar. Menghempaskan ke kasur, lelah tapi puas. Gemesin. Cewek bucin abis, yang akan memberi segala-galanya pada kekasih. Perempuan langka.

Kedua, semua adegan saat kamera yang menyorot leher Zhang Jing secara close up, dan itu banyak. Dengan rambut dikucir kuda. Ya ampun, meleleh. Kenapa? Sebab saya jatuh cinta pertama pada teman sekolah doeloe gaya rambutnya model itu! Entah kenapa, menyaksi cewek gaya kucir tampak tambah cantik. Menggairahkan. Sedap dipandang. Makanya, kameraman dengan cerdas mengexplore potongan adegan seperti itu. Kamera adalah mata jenis lain, yang mampu merlihat sejuta partikel perak mewakili penonton. Pesona utama film ini, jelas sang model. Yang berhasil memaksaku duduk anteng, sekali tonton tuntas. No jeda-jeda.

Ketiga, adegan pas di rumah sakit. Qinyang yang sedih, Qinyang yang malang. Saat kembali ke rumah sakit untuk menindaklanjuti calon mertua pindah kamar rawat inap, mendapati sudah pindah ke kelas eksekutif, dibayari calon mantu ideal. Ia dengan sedih pergi, duduk di tangga sesenggukan. Yao mencarinya, dengan kamera menyosot dari belakang (lagi-lagi close up leher jenjang dengan kucir kuda bergoyang). Memainkan rambutnya, mencari di mana kekasih bersembunyi. Saat menemuinya di ujung tangga, makan snack dengan lelehan air mata, Yao memainkan perannya dengan sempurna. Menyandarkan kepalanya, mengusel-uselkannya, memberi support. Perbuatan selalu lebih banyak pengaruhnya daripada kata-kata. Sedih, sekali. Tanpa kata-kata, menuai kepahitan hidup. Memicu banyak hal. Buat apa Yao menderita selama dengannya? Huhuhu… Suaranya terdengar majal, mirip lonceng yang dipukul tapi tidak berdentang. “Yaoyao, sabarlah. Tunggulah aku sebentar ya, aku akan kerja keras untuk memberimu kehidupan yang layak. Akan kubuat semua orang iri padamu!” Menangis adalah kemewahan manusia lemah.

Ketiganya ternyata malah terfokus pada Zhang Jing. Benar-benar elok dan jelita. Artis yang satu ini menyenangkan, istimewa. Layak ditandai.

Kutonton selama selepas nonton Timnas sama May di tengah cuaca Karawang yang dingin. Film sejenis ini sudah banyak diproduksi. Dan akan terus dibuat. Walaupun suka sama endingnya yang tragis, sayangnya klise. Entah karena timing, atau tersebab benar-benar gagal menautkan emosi. Ketika akhirnya catatan harian yang tergeletak itu disorot dekat, saya sudah terlanjur kuat. Tak ada air mata. Murakami banget gmana Bung Tak? Tak ada kucing hitam, tak ada gagak, tak ada sumur, tak ada perselingkuhannya.

Love Will Tear Us Apart | 2021 | China | Directed by Mo Sha | Screenplay Wang Zhi | Cast Qu Chu Xiao, Zhang Jing Yi | Skor: 3.5/5

Karawang, 030123 – Hoobastank – The Reason

Thx to Bung Takdir atas rekomendasinya

Holy Spider: Keyakinan Moral dapat Menulikan Orang dari Kebenaran

“Setiap orang akan bertemu dengan apa yang ingin ia hindari.”

Luar biasa. Menyeramkan. Film ini banyak membahas iman dan prahara, dan efek salah langkah memilih jalan keimanan. Serial killer berdasarkan kisah nyata tahun 2000 s.d. 2001. Apapun alasannya, bagiku membunuh orang lain adalah salah. Apalagi ini di era millennium, di mana era keterbukaan, ada hukum yang mengatur, yang sejatinya manusia juga harus bisa berpikir terbuka, tidak berpandangan sempit. Keyakinan moral dapat menulikan orang dari kebenaran selain kebenarannya sendiri. Melakukan tindak kejahatan, sekalipun massa mendukung, sekalipun lingkungan meneriakan semangat, tetap saja salah, dan penjahat harus dihukum. Jihad bisa dilakukan dengan cara tak seperti itu. Kamu bukan Tuhan, kamu tidak bisa menentukan hasil suatu kejadian. Yang penting jalan itu bukan cara melenyapkan nyawa seseorang. Masih banyak ladang pahala yang bisa dilakukan. Ketika membunuh sebagai pembenaran untuk menghilangkan perilaku amoral masyarakat, jelas ada lubang dalam argumen ini.

Guncangan demi guncangan kisah ini memberi efek ngeri dan ngilu. Kenapa cerita pembunuhan selalu menarik dalam sinema? Karena kita dibuat penasaran kelanjutannya. Ada rasa tanya yang menggelitik. Tiada yang lebih nikmat ketimbang menyelam ke dalam tokoh ganda yang dipermukaan tampak seperti wujud tunggal. Ini bukan cerita detektif, di mana sang jagoan mencari penjahat (dengan identitas tersembunyi). Bukan, sang penjahat sudah ditampakkan di layar sedari mula, kita hanya penasaran apakah kejahatannya akan dibalas setimpal, ataukah sang protagonist akhirnya terjerebab pula? Dan bagaimana konspirasi hukuman maksimal coba diapungkan. Semua termakjub dalam rangkaian panjang dalam semarak debu malam di jalanan kota suci Mashhad.

Dibuka dengan adegan perempuan yang sudah berkeluarga, meninggalkan anaknya di rumah di malam hari untuk cari uang dengan mejeng di jalanan menjajakan diri. Datang pria hidung belang menyewanya beberapa jam, wik wik hingga usai, lalu kembali mejeng. Disewa lagi, melakukan asusila di mobil, dibayar separo, mejeng lagi. Lantas, muncul konsumen bermotor (tanpa helm) yang berniat menyewanya. Sempat terjadi komunikasi, ada uangnya tidak? Lalu dengan keraguan ikut, dan deeees… terjadilah pembunuhan pertama.

Dengan cerdas karakter mula (seolah karakter utama), ditampilkan dengan penuh simpati, ibu-ibu ekonomi bawah, bertahan hidup dengan menjajakan diri, lalu gegas dimatikan. Rasa sedih sudah berhasil dibangun bahkan sebelum sepuluh menit film berjalan. Selanjutnya kita berfokus pada sang pembunuh. Pria pekerja bangunan Saeed (Mehdi Bajestani), tukang batu yang pernah menjalankan wajib militer di masa perang Iran. Pria tampak soleh dengan ibadah agama kuat yang sudah punya istri Fatima (Forouzan Jamshidnejad) dan tiga orang anak, pria sulungnya akan menjadi sorotan, terutama di akhir. Betapa pengaruh ayah begitu besar. Saeed berdalih bahwa ia memiliki kewajiban membersihkan jalanan kota suci. Demi junjungan kenegaraan Iran Mohammad Reza Pahlavi Arymehr, demi menegakkan kalimat Allah.

Korban terus berjatuhan, polanya sama. Menjemput wanita penjaja seks, mengajaknya ke rumah yang sedang kosong di lantai atas, mengunci pintunya, lalu saat sang korban lengah bersiap melayani, Saeed membunuhnya. Bisa dengan jerat, cekik langsung, tusukan pisau, hingga martil. Mengerikan, sungguh mengerikan. Membunuh itu mudah, durasi semuanya tak lebih dari dua jam sampai mayat korban dibuang.

Sementara itu, seorang jurnalis senior, wanita pemberani Rahimi (Zar Amir Ebrahimi) tiba di kota. Ia mendapat beberapa perilaku diskiminasi, seperti menginap sendiri di hotel hampir ditolak sebab wanita sendiri tak etis. Tak memakai jilbab, apalagi ia merokok, dan berani melawan, persamaan gender diperjuang. Ia sedang melakukan riset untuk tulisan, menemui polisi, dan dengan entengnya polisi bilang, pembunuh akan melakukan kesalahan suatu hari, santai saja. Tak di Iran, tak di Zimbabwe, tak di Wakanda, polisi tampak menyebalkan. Ia sempat ditelepon keluarga untuk tak bertindak melebihi batas, keselamatannya yang utama.

Titik terang penyelidikan, akhirnya terlihat saat ia menemui kepala redaksi Sharifi (Arash Ashtiani), yang bilang bahwa sang pembunuh selalu meneleponnya setelah melakukan aksi. Menjabarkan detail lokasi mayat, dan menyatakan perang melawan budaya amoral. Membersihkan jalanan dari penyakit masyarakat. Apakah sudah lapor polisi? Untuk apa? Polisi justru berterima kasih, penyakit masyarakat diberantas. Korannya laris, dan upaya pencegahan belum maksimal, sementara berita pembunuhan itu ternyata setiap hari dinikmati sang pembunuh.

Seolah tanpa banyak tindakan dari penegak hukum, korban terus bergelimpangan. Tidak, meninggalkan kota itu tanpa solusi tindakan solutif adalah bodoh, tetapi tinggal di situpun tanpa ketegasan juga tidak bijak. Untuk kematian-kematian lain yang dia anggap seharusnya bisa dia dicegah. Rahimi harus melakukan tindakan. Tindakan ekstrem dengan berpura menjajakan diri di pinggir jalan, memancing pelaku, demi mengetahui identitas diri, melacaknya. Pertaruhan yang luar biasa berani, menantang maut, tensi film menuju puncak, menegangkan sekali, melalui deru samudera darah yang berdebur, dan akhirnya ombak itu meledak di akhir.

Kebetulan kemarin film ini masuk 15 besar Oscars film asing, bersanding dengan Decision to Leave dan Joyland. Amat pantas. Cuma yang agak mengherankan, film ini mewakili Denmark. Bukan Iran sebagai setting utama cerita, atau area Timur Tengah dengan bahasa ibu Persia. Kemungkinan menang mungkin jauh, tapi seandainya masuk lima besar sudah sangat amat keren. Yah, setidaknya saya dapat satu cicilan tonton ulas.

Selama di penjara, rasanya jengah melihat sang pembunuh ditampilkan bak pahlawan. Pongah seperti ayam jago seraya melintasi pekarangan menuju rumah. Narapidana lain mendukungnya, demo massal meneriakan yel-yel dukungan, sampai Pak Haji yang melakukan kunjungan khusus, mencoba melakukan lobi. Oalah, Pak Haji tampaknya tidak membayangkan sama sekali kecamuk yang diciptakan kata-katanya. Seolah-olah penting. Apalagi saat sidang muncul ide gila, ada keheningan sesudah si pengacara berhenti bicara alibi kegilaan.

Hati-hati. Dukungan meluas dengan berjalannya waktu. Tindakan berlebih warga terhadap keluarga, anak dan istri sah-sah saja, memberi makan, memberi buah-buahan, mendukung secara moril keluarga ini, ingat mereka tak tahu menahu ayah/suami mereka pembunuh. Namun saya tak yakin semua itu demi kemanusiaan, jelas di layar tergambar, semua demi mendukung tindakan ‘kepahlawanan’ Saeed. Sedih, tapi itulah kenyataannya.

Dan yang paling mengerikan, ini kisah nyata. Bagaimana bisa pembunuh serial bisa didukung oleh massa? Total 16 orang korban, sungguh mencengangkan, perburuan itu berlarut. Sebagai veteran perang, yang bisa jadi, merindu kekerasan, iri sama pasukan yang pulang dengan cacat fisik atau masuk dalam kotak peti, mengambil jalan membunuh orang bermoral buruk tetaplah salah, ini negeri hukum. Bagaimana ia ingin berjihad, bagaimana ia ingin menegakkan kalimat Tuhan. Tidak, bukan dengan jalan seperti ini. Masih banyak sekali jalan jihad yang lurus terbentang, bukan dengan sekalian melakukan kejahatan kemanusiaan. Kamu berbakti pada orang tua, ibadah rutin dan rajin pada Allah, menuntut ilmu, sedikit contoh di antara jihad zaman modern. Saat kebimbangan muncul, seharusnya tepekur dan belajar pada orang bijak, guru yang benar. Pilihlah jalan tengah di antara jalan-jalan yang ada, dan jauhi simpangan-simpangan meragukan.

Hidup merupakan sesuatu yang serius, padu, dan berat. Saeed cuma monster, dia bisa dikalahkan, bisa dimatikan, tapi pikiran pembenaran jalan sesat itu, membunuh orang dengan sadisnya, sangat menakutkan.

Harapan berjaya, lantas seketika lunglai. Maka adegan jelang ending itu melegakan. Damba dan ngeri bertabrakan begitu dahsyat. Hang on!

Holy Spider | 2022 | Denmark | Directed by Ali Abbasi | Screenplay Ali Abbasi | Cast Zar amir Ebrahimi, Mehdi Bajestani, Forouzan Jamshidnejad, Sara Fazliat | Skor: 4.5/5

Karawang, 271222 – Rossana Casale – Just Friends

Thx recomendasi Lee

Everything Everywhere All at Once: Adegan Batu, Diakui Kasih Segala-galanya tentang Segala-galanya

“Just be a rock.”

Ya ampun, ga jelas. Gegayaan. Dengan kostum bervariasi, dimensi berbagai lorong, sampai monster-monsteran. Tak ada nada khawatir di sana. Tautan emosi penonton lepas. Hype-nya ketinggian. Terasa biasa saja, apalagi endingnya, yah gitu doang. Happily ever after, setelah porak poranda penuh intrik dan ketegangan, akhirnya hanya adegan bahagia di hari cerah dan mereka-pun berciuman. Meh. Template kisah fantasi sejenis ini sudah sangat banyak dicipta, sudah bosan. Hanya satu adegan yang benar-benar membuatku histeris, dialog diam dua batu dengan jurang menganga di bawahnya, matahari menyinari mereka, memoles kebimbangan, dan dalam diam mereka cerewet. Namun, sayangnya, itupun dirusak. Saat akhirnya mereka bergerak, bukan digerakkan. Hukum Newton ditentang. Hufh…

Kisahnya tentang keluarga China yang hidup di Amerika, pasangan Evelyn Wang (Michelle Yeoh) dan Waymond Wang (Ke Huy Quan) sedang mempersiapkan pesta tahun baru Imlek, semua pelanggan usaha penatu mereka undang. Sebelum pesta mereka bersama sang ayah Gong Gong (James Hong) di atas kursi roda ke kantor pajak Internal Revenue Service (IRS), guna pelaporan keuangan. Oleh auditornya Deirdre Beaubeirdre (Jamie Lee Curtis) mengindikasikan ada dana menyeleweng, sekalipun kecil, seperti karaoke atau hobi biasa yang menguntungkan. Kertas-kertas itu bagi auditor bisa bermakna dan sungguh bersuara. Maka mereka tetap harus mempertanggungjawabkan.

Gong Gong yang sangat tradisional, merasa keluarga ini terlalu bebas. Sering mengeluhkan banyak hal, dan saat kita diajak ke masa lalu, tahulah bahwa dulu Waymond pernah ditolak olehnya, disepelekan. Namun Evelyn tetap memilihnya sebagai pasangan. Naasnya, pergaulan anaknya sudah terpengaruh gaya Barat, putri satu-satunya Joy Wang (Stephanie Hsu) malah berpenampilan radikal dengan memilih pasangan lesbi Becky. Fakta ini tentu saja coba disembunyikan, agar Gong Gong tak shock.

Kembali ke kantor pajak, saat mereka di lift berangkat, Raymond menjelma seolah agen Men in Black. Dengan gerak cepat, cctv ditutup payung, ia memberi pesan intruksi, membisikannya pada sang istri. Perintah aneh, dengan earphone portable, dan selembar kertas tentang potensi segala dunia lain. Lalu saat akan pulang, aksi sesungguhnya terjadi. Dengan tas pinggang, Raymond mencipta kegaduhan, para pengaman gedung dibantai. Dalam keterdesakan, perintah Raymond malah terasa masuk akal. Everlyn dimintai tolong untuk memasuki dimensi antah, melihat potensi opsi hidup dirinya di masa lain, dirinya yang lain terbentang, lalu ia bisa menjelma, ia diminta menyelamatkan semesta dari kebengisan Jobu Tupaki. Sejenak timbul jeda yang tidak nyaman, tapi tindakan harus diambil. Mulai dari menit itulah, segalnya menggila. Amburadul, babak belur, porak poranda, hhmm… apa lagi ya untuk menggambarkannya. Intinya, layar dipenuhi segala hal tak teratur. Kita dijejali, potongan adegan seolah memasuki lorong, menjadi Evelyn yang lain, Raymond yang kain, Joy yang lain, dst. Segala-galanya ambyar.  

Apakah saya sudah bosan sama action gegayaan seperti itu? Yang utama selalu, bagiku adalah cerita. Buat apa film penuh gaya, pakai alat bantu tarung berlebih, berbaju badut, hingga mata palsu ketiga, kalau ujungnya cuma untuk berkunjung damai, dan segalanya baik-baik saja. Semuanya tak masalah. Template sejenis ini, di mana sang tokoh diajak menjelajah ke dimensi tak berbatas, berpetualang penuh nafsu fantasi, lalu pulang, dan tak apa-apa. Seolah kita terbangun dari mimpi. Mimpi sereal apapun, oh itu  hanya imaji.

Ada ironi saat Evelyn merasakan getar gairah mengaliri punggungnya, tahu kemungkinan lain di semesta lain, ia bisa jadi apa saja. Ia tersenyum, dan juga sedih. Sama saja, saya membayangkan, andai dulu saya mengejar Sherina Munaf membabi buta, salah satu jiwa saya di semesta lain, ada yang nyangkut sukses menjadikannya pasangan. Liar? Tidak juga. Sudah umum. Apakah ini ide baru? Jelas tidak. Malah terlihat klise dan usang. Modifikasi gentayangan di universe kalau ujung-ujungnya kosong, kurang menarik.

Untuk berpindah semesta, syaratnya terlampau sederhana, dan bisa dilakukan tergesa. Kurang renungan, dan terlalu mudah. Tak ada adegan moksa yang syahdu, tapa brata dengan lapis adegan jiwa terbelas misalnya. Atau aturan garis singgung yang mencipta khawatir. Di sini tak ada, A24 malah mencipta action dengan konveti ditebar sepanjang menit. Dengan alat, konsentrasi, klik, memasuki lorong, wuuuuzz… seolah film sci-fi. Tidak, saya tak terlalu nyaman melompat-lompat secepat itu. Berkali-kali saya menguap mengintip HP guna lihat jam, terasa sangat lama. Begitu pula, kakek-kakek di sampingku. Main HP mulu saking bosannya, dan bahkan dia pergi sebelum film berakhir. Permainan dimensi lain itu identik yang gelap-gelap, malah kita tak disuguhi deraan pikiran-pikiran gelap.

Kita maklumi betapa Evelyn khawatir, saat di kantor pajak suaminya akan merusak dengan melawan. Sayangnya emosi Evelyn tak berhasil menautkannya ke penonton. Memang orang harus hidup tenang dan stabil, membahayakan nyawa dengan main pukul tidak akan menyelesaikan masalah. Namun, saat segalanya berantakan, dan harus ada yang membereskan. Ia juga bisa silat, mencuri ilmu Evelyn yang lain. Hufh, ending saat meminta tas pinggang, itu jelas kita maklumi, tapi tak melegakan.

Adegan batu yang sunyi itu sejatinya sangat menghibur. Dua manusia potensi jadi benda mati, dan saling menasehati. Diakui kasih segala-galanya tentang segala-galanya. Krik… krik… krik… Beberapa detik membuatku menganga melihatnya, lain-lainnya terlupakan. Secara fisik dan temporal di dalam enklave-enklave dimensi seperti inilah, yang amat sangat keren. Sayangnya tak lama, sebab kita kembali ke hingar bingar taburan konveti.

Kusaksikan senin malam 4 Juli 2022 bersama May, yang saat akan mulai kujanjikan, kubisikkan “Ini film bagus, Bersiaplah.” Ternyata setelah usai komen kita tooossss, dia juga tak suka. Harapannya ketinggian, komennya: drama keluarga biasa, malah muter-muter dan akhirnya bahagia. Biasa banget. So, lihatlah. Ini dari kacamata awam, istriku bukan movie freak. Hanya nonton saat diajak, dan sepakat film so so. Hufh… jadinya nyesel ‘kan skip Broker.

Suddenly, everything. Sempat digadang-gadang jadi madness sesungguhnya ketimbang film Madness in Universe lainnya. Ternyata sama saja, gegayaan doang.

Everything Everywhere All at Once | 2022 | Directed by Daniel Scheinert, Dan Kwan | Screenplay Daniel Scheinert, Dan Kwan | Cast Michelle Yeoh, Stephanie Hsu, James Hong, Ke Huy Quan, Kamie Lee Curtis | Skor: 3/5

Karawang, 270722 – Etta James – At Last

Decision to Leave: Dalam Diam, Suara-Suara itu Meraung dan Bahasa Cinta Melolong

Di sebuah kota yang selalu diselimuti kabut…

Kalau saya membuka ulasan The Batman dengan kalimat, “Di sebuah kota yang selalu ditempa hujan…” Maka Decision to Leave kubuka dengan kalimat yang hampir serupa. Sesedikit mungkin tahu alurnya, semakin aduhai. Sedikitnya ada sepuluh kali saya bilang, “anjir keren keren, anjir keren keren, anjir keren keren.” Diolah berulang seolah mantra. Rumit, benangnya membelit hati.

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Jelas ini drama berkelas. Suka sekali adegan berlapis saat pengungkapan. Suka sekali bagaimana penjelasan bahasa cinta, tanpa kata cinta. Meskipun belum pernah cinta disebut-sebut di antara mereka. Tetapi keputusan melindungi itu seakan melemaskan lidah mereka. Suka sekali sama kegugupan diramu bahagia, saat ketemu tak sengaja di pasar ikan. Memandangi mereka secara bergantian sementara mereka berbicara, seakan mendengarkan dengan matanya. Saling tersenyum dan berbicara selagi masing-masing bersaing mengulur basa-basi normal sebab pasangan mereka ada di samping, sebelum akhirnya mengedip kode manja. Suka sekali bagaimana sang nenek memanggil Siri untuk menyenandungkan Kabut. Ah kabut, aduh kabut. Sejatinya apa sih warna kabut? Dan seribu satu kata suka sekali lainnya. Jelas, Decision adalah film terbaik 2022, sejauh ini.

Seorang pria ditemukan mati di hutan, polisi detektif Hae-jun (Park Hae-il) ditugaskan menyelidiki langsung. Di TKP, tampak meyakinkan ini bunuh diri, seorang hobi mendaki gunung, menjatuhkan diri dari bukit, apalagi ditemukan surat wasiat pamitnya. Sang istri korban Seo-rae (Tang Wei), seorang perawat saat kejadian secara meyakinkan di jam kematian sedang bertugas merawat lansia di panti jompo. Lapisan pertama tata cara deduksi, jelas tak mungkin manusia ada di dua tempat berbeda. Ia adalah warga China yang bermigrasi ke Korea. Izin tinggal sempat bermasalah. Namun berkat kejelian, ia berhasil bertahan.

Tersebab ia-lah orang terdekat korban. Ia dipanggil dan interogasi tertutup dilakukan, dengan kata-kata saling lempar, yang kita tahu ada aura saling jaga. Makanan mewah disajikan, dan es krim meleleh. Jangankan es krim, batu saja akan meleleh di dalam mulut perempuan secantik itu. Lalu terungkap ada masalah di keluarga ini, ada KDRT maka kita semua jadi perlu tahu seberapa parah luka di pahanya. Perlu memanggil polisi perempuan untuk mengecek? Oh tak perlu. Berikutnya keduanya diam lagi, saling tatap di kursi masing-masing. Dalam diam, suara-suara itu meraung dan bahasa cinta melolong. Betapa singgung kedekatan bisa menimbulkan asmara. Karena sering bertemu, ada riak di sana. Terlalu riskan, polisi berselingkuh dengan tersangka utama pembunuhan. Padahal Hae-jun memiliki kehidupan keluarga harmonis. Istri cantik yang se-frekuensi. “Harus tetap bercinta rutin, bahkan saat saling ngambek.” Perselingkuhan itu, jelas memberi pengaruh kuat keputusan akhir, dan juga riskan untuk kehidupan utama sang detektif. Terlalu besar pertaruhannya.

Pantas sekali menang Best Director di Cannes, yang mencipta decak kagum tentu saja adegan lapis kayak wafer, tempel-tempelan. Tak hanya sekali, beberapa kali muncul tumpang tindih. Sang pria, seorang suami yang tampak setia dan bersahaja, mencintai perempuan lain dengan penuh pengorbanan, bagaimana saat di puncak bukit melihat tindakan bayang, dorongan maut penuh kengerian. Setelah Hae-jun membaca sekilas-sekilas isi HP temuan itu lantas memahami semuanya, dia duduk gemetaran, tidak berani menyentuh bayangan surealis yang muncul karena takut melihatnya akan meledak di depan wajahnya, seperti bom rakitan sendiri. Angka di HP tercetak menjadi realita, mencipta pengungkapan tak terbantahkan. Terasa kabur fakta pahit itu, mencipta aroma kebingungan oh mengapa, seolah tak mampu meresapi lingkungan sekeliling.

Kukira saat tahu kebenaran akan mengambil sikap tegas, nyatanya logika kalah sama perasaan cinta. Saat perpisahan, dan ciuman di tengah dinginnya salju, ada getar gairah mengaliri, dan itu sungguh keputusan sulit. Usaha melindungi membutuhkan usaha yang cakap. Begitulah bila manusia mengecap kenikmatan terlarang. Dia membela tersangka habis-habisan sampai ke titik liur terakhir, tetapi sekaligus mengakui dia sangat mencintai istrinya.

Kata kabut disebut berulang, baik dalam bentuk puisi atau syair lagu. Lagu utama kisah ini, menjadi lagu wajib sang nenek yang ditanamkan Seo-rae. Banyak adegan kelabu memang di kota berkabut. Kabut tipis yang datang dan seolah tak mau pergi. Malam, saat menampilkan lanskap kota yang kosong diselimuti warna kelabu melankolis, bertabur titik-titik lampu kuning yang mengambang di udara seperti air mata. Kelabu seperi malam tak berawan. Jadi benarkan warna kabut itu kelabu?

Karena ini drama percintaan, adegan romantis melimpah ruah. Sekalipun thriller juga dominan, sejatinya ini tentang asmara hitam. Salah satu adegan bagus tersaji saat hujan, sepayung berdua, saling tatap di tepian gong, menyampaikan pendapat secara tersirat. Menikmati keheningan sarat rasa malu yang diperpanjang oleh raut senyum saling silang. Hanya selingan suara hantaman air hujan yang mengiringi. Sungguh ironi, adegan romantis sama pasangan resmi, di tengah-tengah kebahagiaan bagaimana suami-istri ini mengakali penuaan dengan daging kura-kura dan ikan, yang meranum setelah dipelihara begitu cermat. Dibaliknya, ada perempuan lain yang tak kalah intens. Hal-hal seperti itu meresahkan. Menclok sana-sini.

Mereka mengecap ribuan kesenangan yang menggoda, menemukan dunia alter baginya, dan menyelaminya dengan nikmat, seperti ikan tua berenang-renang di tengah cahaya matahari. Maka setelah memutuskan jaga jarak, lantas bertemu kembali, ada nuansa kenang. Hingga akhirnya kata ‘sebuah kebetulan’ yang janggal disampaikan, bagaimana sekali lagi kematian mengenaskan terjadi. Kejahatan kedua, menimbulkan kebimbangan lagi, dan ibaratnya, saat itu situasinya seperti tupai yang tersesat di hutan besi. Fatal, bingung, serba salah, dan kali ini keputusan berat kudu diambil. Hae-jun gemetar saking marah. Seo-rae gemetar saking syahdunya.

Ada kutipan menarik dari Konfusius, Orang baik memilih gunung, orang jahat memilih pantai. Seolah hanya selingan, maknanya benar-benar diterapkan. Pantai pun menjadi kata yang ditakuti di antara mereka, sayangnya dia suka pantai. Sebuah tanda kematian, dan mereka pun coba berpaling ke perbukitan. Namun tak semudah itu. Bunuh diri, gunung, pantai, dan mengapa memilih menikah sama orang yang penuh masalah. Manusia dari zaman batu sampai era modern selalu butuh pengakuan. Maka jawaban bahwa orang berbudi sepertimu sulit dijangkau malah menambah sesak di dada. Ahh… pantai. Terasa ngeri saat airnya menggeluguk di kaki berselimut pasir, dan perlahan tapi pasti semakin naik.

Sebenarnya tata kelola Decision bukan barang baru, film detektif dengan pengungkapan bagus seperti ini pernah kujumpai di Sherlock Holmes-nya Robert Downey Jr., ada slow-mo penuh penjelasan deduksi. Bukan barang baru juga, kebimbangan keputusan selingkuh orang kuasa sama orang lemah, yang bukan korban tapi malah penjahatnya. Soundtrack keren, juga banyak kita temui di film-film daun yang lebih aduhai. Namun mengapa, saya tetap terpesona saat hal-hal yang umum itu dirajut dan ditampilkan di layar? Bisa jadi kita haus film festival tayang di layar lebar, film bagus di tengah kemonotonan, sudah jenuh sama deretan film mainstream yang mengalir tiada henti. Ya gitu-gitu saja, ya biasa-biasa saja. Makanya, saat tahu bakal tayang di CGV langsung kuantisipasi, film festival Eropa muncul di Karawang lho. Langka. Dan benar saja, cuma seminggu tepat tayang, hari ini sudah turun layar.

Memutuskan cuti untuk Memutuskan Pergi. Kutonton Senin (18.07.22) di show pertama jam 11:15, jalan kaki dari rumah. Nonton sendirian, tak ada kawan sama sekali di bioskop. Kedua kalinya saya nonton sendiri seolah bioskop pribadi, yang pertama The Green Book. Sempat kukira batal, sebab sampai jam 11:30 belum juga nyala layarnya sekadar trailer atau iklan-iklan. Keluar lagi, minta tolong Pak Satpam, dan setelah kembali masuk, menanti lagi jam 11:45 akhirnya proyektor menyala. Terlambat 30 menit hufh…, tak mengapa, daripada batal. Resiko film daun di kota penuh daging. Cuti untuk merenung di bioskop itu, terbayar lunas.

Orang baik punya bakat alami untuk tahu bagaimana melaksanakan hal yang benar. Namun baik saja tak cukup di kota kabut, mungkin di kota kita juga. Sehebat apapun, manusia memang tempatnya berbuat salah. Dan saat kita menyadarinya, waktu sudah pudar seperti segenggam daun-daun layu.

Decision to Leave | Year 2022 | Directed by Park Chan-wook | Screenplay Park Chan-wook, Seo kyeong Jeong | Cast Tang Wei, Park Hae-il, Go Kyung-Pyo | Skor: 5/5

Karawang, 220722 – Jo Stafford – You Belong to Me

Sandra saab tood: Jenius Merenung

“Saya telah melakukan segalanya dengan benar sepanjang hidupku. Sudah bagus, melakukan apa yang harus dilakukan, tapi nyatanya saya tak mendapat timbal balik sepadan.” – Sandra

Seorang jenius pendiam yang perperangkap di dunia kemunafikan. Di dunia ini tak ada yang idealis, segalanya rata-rata, di tengah-tengah, harus dinegosiasikan, kudu menyesuaikan keadaan. Apapun sistem yang dipakai, kamu tak kan bisa puas, selalu akan ada rongga yang perlu ditambal, selalu akan menemukan sebuah bentuk yang lebih baik lagi dari apa yang kamu capai. Pengaruh memengaruhi dunia dan sekelilingnya. Seluruh penggambaran, apersepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi tadi merupakan unsur-unsur pengetahuan, seorang individu yang sadar.  Sandra jelas memahami ini, tapi ia juga tak bisa mensejajarkan diri akan kehidupan sekelilingnya. Menemukan banyak hal tak sesuai harap, ditambah tekanan bahwa orangtuanya kaya dan sukses, ia justru seperti jadi beban keluarga. Rasanya ia dingin, sekaligus panas.

Sandra Mets (Mari Abel) seorang doktor fisika muda, ia mendapat kejutan di puncak acara kantornya dalam pesta keberhasilan proyek penelitian, ia justru dipanggil bosnya, diberitahu bahwa diberhentikan (bahasa sopan, kamu dipecat!) karena perusahaan perlu efektifitas kelola sumber daya manusia (SDM). Berita ini mengempiskan semangat. Tanpa banyak tanya, tanpa banyak komentar ia langsung mengemasi barang-barangnya, lantas pulang meninggalkan pesta. Sempat coba dicegah bosnya, coba diminta balik ke pesta, ia geming. Sebuah pembuka yang kontradiksi dari judulnya, Sandra Kehilangan Pekerjaan. Pergi dengan gaya.

Ia adalah seorang jenius, dari langkahnya sudah menunjukkan kecerdasan yang menyingkapkan derajat intelegensia bawaan yang tinggi, otaknya encer, rekomendasi pekerjaan banyak, tawaran wawancara ada, tes kerja antri. Ia memiliki seorang anak, yang keseharian dititipkan ke ibunya. Ayahnya seorang ilmuwan sukses, secara finansial orangtuanya aman, maka selama menganggur ia meminjam uang.

Dalam tes kerja, ia dengan mudah melibasnya. Tertulis lancar, wawancara tak jauh beda. Tawaran kerja juga mengantri, tapi memang tak ada yang bisa sreg, klik dengan hatinya. Tak mudah beradaptasi, tak mudah bergaul sama rekan kerja. Saat akhirnya ia mengambil salah satunya, sebuah perusahaan start-up yang mencipta chip. Saat mendapat apresiasi, ia diajak pesta nyanyi, tapi malah dengan galak membalas tak bisa nyanyi. Dasar jenius murung. Ia juga tampak egois, walaupun setelah bermenit-menit kita tahu, Sandra-nya yang defense, tampak sombong tapi bukan sombong, rasanya ia sangat logis. Diamnya adalah misteri yang tak terpecahkan. Saat-saat di puncak kemuakan, seolah kita bisa dengar ia berteriak, “Biarkan saya  sendiri dengan serdaduku, jangan ganggu, agar gengsiku terpuaskan!”

Dalam proyek yang potensial bagus, idenya dari Sandra, yang membuat file presentasi dia juga, yang memaparkan proyek ke calon investor dia juga, dan jelas bagus banget. Sayangnya, Sandra yang memang tipikal serius dan logis malah merusaknya.

Begitulah, film ini bergulir lambat dan tenang, tak ada tawa, tak ada teriakan, semua seolah dialog umum antar orang asing, formal dan apa adanya. Selain konfiks dalam pekerjaan yang monoton, ia juga bertentangan dengan ibunya yang banyak memberi nasihat, juga bapaknya yang mengajak kerjasama malah ditolak. Memang susah bergaul sama orang jenius, sampai akhirnya di titik yang tak bisa dijelaskan, ia mencoba melepas beban, dunia ini memang tak adil, tak pernah adil, dan tak akan pernah jadi adil.

Makanya sebagai manusia sosial kit harus bisa menempatkan diri, saat perlu ngumpul sama teman-teman ya santuy saja suasana, tak perlu serius. Saat meeting sama bos atau ketemu klien, baru serius. Hal-hal yang tak termaktub dalam aturan baku, manusia memenuhi etika. Saat menemukan ketidaksesuaian dengan hati, selama tak main fisik atau mencederai hati terdalam tak perlulah mencela-celanya secara destruktif. Tak banyak yang bisa kita perbuat untuk umum, kita hanya bisa mengubah dan menundukkan diri kita sendiri. Emile Durkheim, sosiolog Prancis yang terkenal, memperhatikan aspek solidaritas hubungan antara individu dalam kelompok dan dalam perkumpulan, dan membedakan mekanisme solidaritas yang menjiwai kelompok, dan organisasi solidaritas yang menjiwai perkumpulan.

Pekerjaan merupakan tumpuan tiap individu untuk bertahan hidup di kerasnya dunia. Memaksa kita untuk tetap waras, dipaksa melakukan hal-hal yang tak disukai, dipaksa melaksanakan rutinitas yang membosankan, mau tak mau mengikuti alur. Kita hidup dalam lingkaran yang menghubungkan orang satu ke orang lain, kita makhluk sosial yang saling membutuhkan.

Suka sama ending-nya. Setelah bermenit-menit murung, bermenit-menit merenung, kibasan merdeka itu terjadi. Perasaan lega atas segala-gala-gala-galanya. Mencipta sungging senyum penonton.

Sandra Gets a Job | Judul Asli Sandra saab tood | Year 2021 | Estonia | Directed by Kaupo Kruusiauk | Screenplay Kaupo Kruusiauk | Cast Mari Abel, Henrik Kalmet, Helen Klasman, Alo Korve | Skor: 4/5

Karawang, 120422 – Bruno Mars – Just The Way You Are

In Front of Your Face: Aneka Warna Tingkah Laku Manusia

In front of your face film.jpg
Produksi: Jeonwonsa Film Co.

“Aku percaya surga bersembunyi di depan wajah kita.” – Sangok

Komunikasi timbul setelah kontak terjadi. Saya menemui si A maka terjalin perbicaraan. Saya menghubungi si B, maka komunikasi tercipta. Saya diajak ngopi sama si C, maka terjadi interaksi. Ini jenis film ngegoliam, di mana kata-kata lebih dikedepankan. Kekuatan ngobrol, keseruan dialog. Dan bobotnya, makin berat konfliks yang dibahas, maka makin menentukan kualitas cerita. Cerita sejatinya sangat sederhana, dan karena kesederhanaan itulah, tampilannya justru menarik. Minim pemain, minim lokasi, jelas minim bujet. Seorang artis yang mudik ke Seoul, tinggal sama saudarinya, menekuri hari-hari yang cerah, minum kopi, sarapan roti, melihat-lihat taman penuh bunga, makan di resto, lalu siangnya ada janji temu sama seorang sutradara muda. Janji tengah hari itu ditunda sore, maka sang artis memutuskan membelokkan taksinya ke tempat ia lahir dan tumbuh, rumah masa lalunya sudah direnovasi dan ditempati orang lain. Merokok jadi kebiasaan, guna mengakrabi kenalan. Sorenya ketika ketemu di bar sama sang sutradara, ia mendapat tawaran main film layar lebar. Ia mengaguminya, ia siap menyesuaikan jadwal syuting, dan saat naskah dikerjakan, Sang artis diperbolehkan balik ke Amerika barang setengah tahun atau lebih, nanti dikabari saat siap. Dan jawaban kejutan yang didapat. Tawaran-tawaran lain disampaikan, dan alkohol diedarkan. Siang terik, sore hujan deras ditemani petir, dan segalanya tersapu badai…

Jelas ini bukan film untuk semua orang. Isinya cuma ngobrol dari satu meja ke meja lain, dari jalan kaki menikmati pemandangan taman penuh bunga hingga merokok di bawah jembatan menikmati aliran air, percikannya menenangkan, menjadi backsound lembut seolah di taman firdaus. Dari pertemuan di resto ke pertemuan di bar, dan begitulah, seolah memang dipamerkan keindahan lanskap kota. Hiruk pikuknya jadi semacam latar, dan kata-kata bergulir semarak, keputusan-keputusan harus diambil, waktu terus berjalan, waktu berjalan linier, kita dilindasnya. Hidup, begitulah, tak pernah ada yang tahu masa depan.

Korea Selatan adalah Negara maju, ekspansi produknya sudah mengglobal. Dari Samsung hingga Hyundai, dari K-Pop sampai Drakor. Budaya baik ditampilkan di banyak adegan, misal menghormati yang lebih tua, salam sapa dengan saudara, pelukan hangat sebagai tanda kasih sayang, hingga menawarkan makanan bagi teman yang absen makan siang. Manusia harus mempelajari kebudayaan sejak ia lahir, selama seluruh jangka waktu hidupnya, hingga saatnya ia mati, semuanya dengan jerih payah, dan faktor kebiasaan jadi faktor paling dominan pembentuknya. Sistemnya sudah ada, tinggal eksekusinya. Kita misalkan, terbiasa makan dengan hanya menggunakan tangan kanan, berdoa sebelum makan, dan sedikit berbincang di atas meja. Hal itu tak serta merta, ada proses dan tempaan. Akan sangat sulit mengubahnya, faktor lingkungan memang sangat berpengaruh. Kita mungkin terbiasa melihat orang buang sampah sembarangan, atau pengendara menerobos lampu merah. Anehnya, warga kita, orang yang sama tersebut melancong ke Korea, akan otomatis mengikuti aturan yang ada. Orang Indonesia di Korea akan membuang sampah pada tempatnya, akan mengikuti antrian, dst. Lantas kemana sifat melanggar aturan itu menghilang? Unsur-unsur terkandung dalam watak itu tadi tentu saja tidak hilang lenyap begitu saja, melainkan hanya terdesak masuk ke dalam bagian dari jiwa manusia, hanya diredam, prinsip di mana bumi dipijak langit dijunjung secara naluriah aktif. Aneka warna tingkah laku manusia memang karena kolektif di mana manusia itu bergaul dan berinteraksi.

Endingnya sendiri sangat bagus. Menertawakan kekonyolan? Tersenyum masam atas keputusan sambil lalu, ataukah ada penyesalan yang terkandung di dalamnya. Yang jelas itu tawa getir, saat tahu dunia yang kamu tinggali akan kamu tinggalkan, lalu memaksimalkan masa yang ada dengan segala kekreatifannya, itu seolah tak bermakna. Apa yang dikejar, dunai fana, waktu fana, tubuh ini fana. Seribu tahun lagi kita semua dilupakan, mungkin Seoul masih ada, mungkin pula bumi masih baik-baik saja, hanya individunya yang berganti, lantas apa yang dikhawatirkan atas pembatalan janji temu?

Menurut Profesor Clyde Kluckhohn kelima masalah dasar dalam kehidupan manusia yang menjadi landasan bagi kerangka variasi sistem nilai budaya: (1) Masalah mengenai hakekat hidup manusia, (2) dari karya manusia, (3) dari kedudukan manusia dalam ruang waktu, (4) dari hubungan manusia dengan alam sekitar, (5) dari hubungan manusia dengan sesamanya. Kelima ada di film ini. kalau diperhatikan Sangok begitu bimbang, di mana opening adalah ending, dan ending adalah penafsir perjalanan manusia. Ia seperti terperangkap di sekitar, ia begitu mencoba menikmati hal-hal yang ada. Rokok, kopi, roti, pelukan, hingga warna-warni bunga. Rasa cukup menjadi titik utama, syukur, sabar, merdeka.

Bersikap dan berbuatlah seolah-olah kamu sangat bahagia. Maka ini akan membuat kamu betul-betul berbahagia. Seperti kata Sangok, surga tuh tersembunyi di depan wajahmu. Jadi kebahagiaanmu, hanya tergantung kepada apa yang kamu pikirkan.

Film sederhana yang bagus. Cerdas, sangat menggugah, dan juga diplomatis.

In Front of Your Face | Tahun 2021 | Korea Selatan | Sutradara Hong Sang-soo | Cerita Hong Sang-soo | Pemain Yunhee Cho, Lee Hye-yeong, Hae-hyo Kwon | Skor: 4/5

Karawang, 070422 – Eagles – Hotel California

The Batman: Deklamasi Sinema

“Ketakutan adalah alat. Saat cahaya itu menerpa langit, itu bukan sekadar panggilan. Itu peringatan.”

Di sebuah kota yang selalu ditempa hujan… Darah dan kata-kata pasti meluap bersamaan. Gotham yang basah dalam berkah limpahan kata-kata sang superhero seolah penyair pelamun, ia murung dan lelah. Apakah perlu kita menghitung air hujan yang diguyur langit, yang umlahnya tak terhingga, seperti penderitaan yang harus Batman pikul. Jalan yang harus ditapaki seorang pahlawan tidaklah semulus yang kita bayangkan: berliku-liku dan melewati kerasnya gunung pengorbanan.

Ini adalah deklamasi sinema, drama panggung dengan syair meluap. Saya tidak pernah dengan sengaja berniat menghafal puisi Batman, tetapi puisi ini masuk ke pikiranku seperti wahyu tuhan turun kepada para nabi. Gelap dan semakin gelap. Penonton dijejali bergalon-galon kata sambil mencoba menautkan klu, serta bualan itu yang makin lama makin ngelatur. Puisi itu seolah filosofis, samar-samar mencoba membentuk benak para penonton, kata-kata melayang di baris subtitle yang menggugah, bermakna, bermanfaat, dan sepertinya siap dipraktikkan. “Mereka pikir saya bersembuyi di balik bayangan, tapi akulah bayangannya.” Cocok dikutip, dibagikan di sosial media, dijadikan status motivasi ala ala Arnold P. Bolang. Ini jelas Batman yang beda, maka lebih tepatnya, saat topeng dibuka ternyata Bruce Wayne adalah alter ego Widji Thukul.

Mendendam dan saat pembunuhan orang-orang penting terjadi tiap malam jelang pilihan umum walikota, Batman menemukan tautan penting ke arahnya. Titik-titik hubung itu mengarah padanya, surat cinta berisi klu ‘To The Batman’, pembunuh serial ini gila, walaupun dasarnya pembaruan kota, pembersihan atas para pejabat yang salah menggunakan wewenang, pembunuhan ini harus dihentikan, bersama sahabat malamnya Catwoman, Gotham butuh pahlawan, sebelum meledak.

Bruce Wayne (Robert Pattinson) anak yatim piatu dengan kekayaan besar diasuh oleh Alfred (Andy Serkis), hobinya berkenala malam hari, dengan penanda Batman di langit. Saat senjakala jatuh di kota yang ramai dan sibuk ini, kereta malam menderu membelah keriuhan, kejahatan-kejahatan terjadi. Matahari terbenam menyorotkan jubah hitamnya di atas gedung. Di Gotham Batman belum dikenal, di malam Helloween gerombolan, berandal yang akan menghajar orang asing malah bertanya, “siapa kau”. Secara bersamaan terjadi pembunuhan wali kota, kematian tokoh besar mencipta sensasi. Batman turut serta ke TKP untuk menyelidiki atas ajakan sobatnya di kepolisian Gordon (Jeffrey Wright). Banyak klu, tapi pesan terpenting adalah amplop untuknya. Malam kedua pembunuhan terjadi lagi, Komisaris Pete Savage (Alex Ferns). Klu kembali ditebar dan mengarah pada mobil korban, ada file di sana. Sudah mulai terlihat di sini, target korban adalah orang-orang penting yang menyalahgunakan jabatan.

Penyelidikan lanjut ke bar tertutup milik Penguins (Colin Farrell). Bar penuh orang-orang penting, separuh kejari ada di sana. Mabuk dan terbang sama pil koplo The Drop. Di sana ia mendapati pramusaji Selina Kyle (Zoe Kravitz) yang setelah diikuti ternyata memiliki hobi yang sama. Kucing berkelana di malam hari. Keduanya kini satu arah memburu pelaku, walau tujuan utama jelas beda. Batman ingin memecahkan kasus, Selina ingin menyelamatkan teman sekos Annika. Yang ternyata adalah gadis di foto walikota.

Malam ketiga korbannya adalah Pengacara Colson (Peter Sarsgaard), ia dijerat di mobilnya. Esoknya saat hari pemakanan wali kota, gempar mobil menerjang masuk masuk di pelataran duka, dengan Colson di sana, leher terikat, bom ditanam, dan sebuah panggilan telepon dari Riddler (Paul Dano) yang memberi teka-teki, dua pertama dibantu jawab Batman, tapi pertanyaan ketiga siapa sang informan, tak mau, dan yang akhirnya menewaskannya.

Begitulah, film terus bergulir menuju hari pemilihan umum. Kedok Riddle dan kroninya baru terungkap saat informan ditangkap, dan itu juga belum usai sebab semuanya malah kembali ke Batman, dan sekalipun otak kejahatan sudah diamankan di Arkham. Motifnya lebih besar, Gotham dirudung ancaman lebih dahsyat. Siapa berani memberantas lingkaran KKN di pemerintahan?

Durasinya terlampau lama, entah kenapa seolah dipanjang-panjangkan. Pembacaan puisi bagus, tapi kalau terus dilakukan, malah mencipta kantuk. Dalam deklamasi, pembaca yang memakai baju hitam artinya puisi duka. Batman yang ini sedihnya kebangetan. Bersuara parau dan gemar menyanyikan lagu tentang ketidakadilan, kejadian lampau yang mengecewakan, tentang rasa yang ditinggalkan, dan neraka. Mencoba gelap, ada satu adegan layar benar-benar gelap. Hanya sesekali muncul cahaya dari salakan tembakan, di lorong Batman sedang menghajar mush-musuhnya.

Setalah berpanjang-panjang, inti cerita ternyata hanya mengarah pada pembaruan kota, dibersihkan dari sampah masyarakat, orang-orang yang menyalahgunakan wewenang dibunuh satu per satu, sampai akhirnya arah senjata ke Batman, masa lalu ayahnya yang pernah mencalonkan diri jadi pejabat. Klu-klu itu menarik? Biasa saja. Jaring mereka makin merapat menit demi menit. Semua petunjuk sudah digaris, titik-titik disambungkan. Ternyata tak ada twist, kalau boleh bilang, dua setengah jam lebih lalu bilang, ‘hah, gitu aja?’

Ada tiga adegan yang cukup menghibur, seolah menjadi obat lelah dan ngantuk dalam penantian. Pertama jelas adegan kejar-kejaran versus Oz. mobil keren yang dinanti-nanti itu akhirnya keluar garansi. War-biasa aksinya, melawan arah, kebut sampai gaaasnya mentok, dan akhirnya ledakan dengan dramatis mobil Bat terbang. Dan kamera yang dibalik dengan gaya. Nah begitulah adegan film action dibuat, keseruan nampak dan bergetar.

Kedua saat teka-teki kematian, bagaimana bisa infomasi sang informan tetap ditahan saat nyawa terancam, hitungan detik dan dramatis, betapa berat menyangga rahasia gelap dan berisiko. Saya sudah prediksi bakalan tetap mati sih, sebab temanya pembunuhan berantai, jadi begitu tahu korban nomor tiga masih hidup, hanya tinggal eksekusinya saja.

Ketiga, saat Batman berciuman dengan latar cahaya mentari subuh yang masih asri, warna oranye dominan bersemburat. Saya tak tahu di komiknya bagaimana, apakah ada asmara di antara kucing dan kelelawar, tapi romansa mereka tampak saling melengkapi. Jadi sejatinya sudah cocok, walau adegan cheezy Batman diselamatkan dramatis tampak malah merusak mood, dan perpisahan sendu di ujung dengan arah berlawannya, dengan iringan skoring ciamik, jelas keduanya bisa akur memburu penjahat. Sebagaimana kucing dan kelelawar, binatang malam yang selalu lebih senang bergaul dengan benda-benda mati daripada makhluk hidup. Batman tetap tenang dan diam lama setelah menawarkan kebersamaan, tetapi ekspresi keyakinan di wajahnya tidak menghilang. Percayalah, kucing ini akan balik. Dengan catatan kontraknya Zoe diperpanjang.

Harus diacungi jempol usaha reboot kali ini, pembaruan itu bukan Gotham sejatinya tapi Batmannya sendiri, sangat manusiawi. Ini jelas jauh lebih baik dari Batman encok. Pattinson sangat pantas, ia masih sangat muda, dan sebagai orang yang memproklamirkan diri sendiri berjiwa merdeka, ia sudah selalu berusaha tampil hebat, beda, avant-garde, canggih. Dan sekaligus pemurung. Dalam wawancara dengan the Hollywood Reporter yang muncul di beranda sosmed, ia mendeskripsikan dalam tiga kata: crazy, sexy, cool. Sepakat?

Seperti kebanyakan orang Indonesia yang muak akan kelakuan warganya yang tak disiplin, mudah marah, bermuka dua, pejabat yang bloon, hingga berhianat, pada dasarnya tetap saja mencintai kota kelahiran, kota tempat dibesarkan, kota berpijak mengais harta. Begitulah, sebobrok apapun, Batman mencintai Gotham dan akan selalu menjaganya. Kota ini adalah perkuburan, mengapa aku harus tetap di sini? Apa yang harus tetap membuatku di sini? Puisi Batman tak kurang daripada pencarian makna hidup dan kecintaan akan tempat ia dibesarkan. Apakah tindakan Riddler dapat dibenarkan? Menyingkirkan orang-orang jahat di pemerintahan lalu menenggelamkan kota demi pembaruan? Tentu saja tidak, kita harus bersepakat, seburuk apapun kota dan penghuninya, kekerasan dan pembersihan massal tak bisa diterima. Sama seperti Real Madrid yang muak sama panitia Liga Champions yang korup, lalu mencipta Liganya sendiri. Jelas itu salah. Atau para radikal yang tiap hari mengumbar kata-kata kasar semua kebijakan tak bijak pemerintahan, lalu esoknya antri paling depan subsidi beras. Tidak, tidak, sistemnya sudah salah, butuh waktu bertahun-tahun untuk revolusi, memotong generasi lama tak bisa dengan seketika memutus rantai pemerintahan. Pejabat korup tumbang, pajabat korup lainnya akan naik. Di manapun berada, ada. Hanya levelnya saja yang beda, paling tidak mengikisnya, memperbaiki sistem dengan teknologi terbaru, aturan win-win solution, hingga menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat. Dus, gue nulis apa ini bro… maaf ngelantur.

Dunia ini sepanjang masa akan seperti ini; kita boleh mengejeknya, mengkritisinya kalau perlu, ketika kepentingan seseorang menjadi terlalu dominan, tak ada yang patut diperjuangkan. Banyak hal tak bisa kita rubah, kita di luar lingkaran itu. Maka, mengubah diri sendiri lebih masuk akal ketimbang mengubah mindset warga twitter. Para legistalif yang mencari uang dengan menyalahgunakan kedudukan apakah bisa kita rubah langsung? Apakah tetangga kamu yang ngeselin motong keramik di hari Minggu bisa kamu hentikan langsung? Apakah chat ngeselin dari grup WA bisa kamu kendalikan dan atur seketika untuk jadi memihakmu? Banyak hal tak bisa kita modifikasi, peran kita di dunia ini kecil. Peran kita dalam keluargalah yang utama, dan berpengaruh, dan masih dalam kendali. Bangsat! Gue nulis apa lagi ini…

Siapapun yang bisa bertahan dari rasa lelah akan keluar dari perburuan ini dengan penuh kemenangan. Selamat, The Batman berhasil memesonaku.

The Batman | 2022 | USA | Directed by Matt Reeves | Screenplay Matt Reeves, Peter Craig | Cast Robert Pattison, Zoe Kravitz, Jeffrey Wright, Collin Ferrell, Paul Dano, Andy Serkis, Peter Sarsgaards | Skor: 4/5

Karawang, 010422 – Billie Holyday

Thx to Rubay. One down, Four to go.