Corona Ujian Tuhan by M. Quraish Shihab

Allah tidak menurunkan satu penyakit, kecuali menurunkan juga penyebab kesembuhannya, maka bertobatlah.”HR. Bukhari

Buku yang sangat singkat, padat, dan dinikmati kilat di meja kerja. Sejatinya saya sangat jarang membaca buku-buku reliji baik fiksi ataupun non fiksi, baik berdasar Al Quran dan Hadis maupun agama yang lain. Buku bentuk pdf ini muncul di grup WA – Bank Buku dan karena tipis dan bisa dibaca sambil lalu di waktu kerja, serta temanya yang umum dan aktual, jadinya cepat dilahap. Lumayan bergizi, ketimbang baca berita daring mending baca buku yang lebih kredibel dan nyaman.

Sebuah ungkapan ‘Manusia mengenal kebaikan sejak manusia mengenal keburukan. Bagaimana mengenal indah kedamaian kalau dia tidak mengenal kekacauan? Manusia mengenal kebajikan sejak adanya keburukan. Dan mengenal keluhuran dan kesetiaan sejak adanya iblis.’

Setiap muslim wajib percaya ‘Qada’ yakni ilmu Allah menyangkut segala sesuatu sebelum terjadinya dan ‘Qadar’ yakni terjadinya sesuatu dalam kenyataan sesuai dengan ilmu-Nya itu dan sesuai kehendak dan ukuran yang ditetapkan Allah baik kecil atau besar. Manusia kendati ditetapkan juga takdirnya, tetapi ia diberi pilihan dan memiliki kebebasan dalam ‘ruang takdir’ yang ditetapkan Allah itu. Manusia bisa menghindar takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Sayyidina Umar r.a. pernah berkata, “Kita menghindari takdir Allah, menuju takdir Allah yang lain.”

Seorang ahli bedah Prancis A. Carrel (1873-1941 M) peraih nobel kedokteran menulis dalam bukunya Pray (doa) tentang pengalamannya mengobati pasien. “Banyak di antara mereka mendapat kesembuhan melalui doa. Doa adalah suatu kejala keagamaan yang paling agung bagi manusia karena pada saat itu jiwa manusia terbang menuju Tuhannya.” Pentingnya power of belief (kekuatan kepercayaan).

Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Al Baqarah [2]: 2016). Jadi demikian jangan menggerutu atau protes pada Tuhan akibat bencana ini, mari cari hikmah di baliknya dan tetap bersyukur padaNya, karena Allah tak pernah berbuat zalim pada hamba-hamba-Nya sambil memahami dan memerhatikan tuntunan agama yang disampaikan oleh para ahli serta pengalaman mengalami situasinya.

Senang ada tanggapan bahwa corona itu tentara Allah, langsung disanggah salah. Bahwa Allah berfirman: “Tidak ada yang mengetahui tentara-tentara Tuhan-Mu kecuali Dia.” (QS. Al Muddaststir [74]: 31). Haha… masih ingat kan awal mula kemunduran corona, berita itu digaungkan seorang penceramah. Tak ada yang mengetahui jenis, hakikat, jumlah dan kekuatannya kecuali Allah.

Tahun 1720 terjadi wabah Tha’un yang membuat 100.000 orang meninggal di Marseille. Tahun 1820 terjadi di Indonesia, Thailand, dan Filipina yang mewafatkan puluhan ribu. 1920 ada flu Spanyol yang konon memakan korban jutaan orang. Jadi sekarang corona, sejauh ini sudah terdata 320.173 orang meninggal (Karawang, 19/05/20 jam 10:00 dari situs worldmeters.info/coronavirus/) dan akan terus bertambah. Di sisi lain, Allah Mahabaik, tentara Allah melakukan hal-hal yang baik, bukan buruk. Penyakit adalah buruk, jadi jelas ini bukan tentara Tuhan. “Siapa yang hendak beriman silakan, siapa yang hendak kufur silakan juga.”

Sungguh dalam menafsirkan sunnah, banyak ditemukan dan semestinya dihindari adalah menampilkan hadis-hadis yang yang belum tentu kesahihannya lalu memberi penafsiran yang menakutkan. Rasul SAW berpesan, “Menyampaikan yang menggembirakan bukan yang menakutkan, yang mempermudah bukan yang memberatkan, yang mendekatkan Allah bukan yang menjauhkan.”

Memang pembaruan pemikiran agama – menyangkut rinciannya – harus terus dilakukan karena agama Islam menyatakan bahwa ajarannya selalu selaras dengan setiap waktu dan tempat. Teks-teks agama (AL Quran dan hadis) terbatas jumlahnya dan tak berkembang lagi, sedang kasus-kasus yang terjadi dan dihadapi manusia demikian banyak dan terus bertambah. Diperlukan apa yang namanya ijtihad yakni upaya pemikiran sungguh-sungguh untuk menemukan tuntunan dengan memerhatikan teks keagamaan dan kaidah-kaidah umum yang telah dirumuskan para ahli. Bukan sekadar tanya Google yang terlalu liar. Terutama betapa bahaya informasi yang disampaikan oleh orang yang disebut ustaz atau mubalig yang sekadar mengandalkan internet atau satu dua kitab lama. Contoh paling aktual, penangguhan sholat Jumat.

Ketetapan ini jelas sudah dikaji dan telaah mendalam, serta dikeluarkan langsung oleh Mejelis Ulama Indonesia (MUI). Kaidah ini berdasar yang dinamai maqashid asy-syariah yang mengandung penjelasan tentang maksud dan kehadiran agama. Ada lima ketentuan pokok agama yang hadir untuk memelihara: agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Semua yang mendukung tujuan tersebut diperintahkan dan didukung oleh agama dalam berbagai tingkat dukungan dan semua yang mengakibatkan terabaikannya salah satu dari tujuan tersebut terlarang oleh agama dalam berbagai tingkat larangan. Karena para ahli sudah merumuskan larangan berkumpulnya jumlah besar di satu tempat, sehingga timbul potensi tertular Covid-19 yang mengakibat kematian, maka semua perhimpunan yang mengarah kepada dugaan kematian harus dilarang agama. Di zaman Nabi SAW pernah ada hujan lebat yang mengakibat jalan becek menuju masjid maka muazin diperintahkan mengganti redaksi ajakan ke masjid dari ‘hayya ‘ala ash-shalat’ diganti dengan ‘shallu fi buyutikum’ (shalatlah di rumah masing-masing). Jadi bagaimana hukumnya meninggalkan salat Jumat tiga kali berturut? Jawabannya ancaman ditutup hatinya adalah yang meninggalkan tanpa uzur, sedangkan yang beruzur diperbolehkan selama uzur masih melekat pada dirinya. Wallahu a’lam.

Virus Covid-19 yang melanda dunia harusnya lebih memperkokoh hubungan kemanusiaan kita, karena kita semua adalah manusia yang dari satu turunan Adam dan Hawa. Saling membantu dan mengasihi. Udah pada bayar zakat belum? Tinggal empat hari nih, monggo gegas. Zakat merupakan kewajiban karena apa yang dihasilkan seseorang bukan merupakan usaha sendiri, ada pihak lain yang mendukung. Manusia hanya mengelolanya, bantuan yang diberi bukan terbatas materi, tapi juga mencakup tenaga dan pikiran serta dukungan moral, bisa dalam bentuk mengabarkan semangat optimism serta informasi yang menguatkan ketegaran menghadapi bencana. Betapa pun sulitnya keadaan, kita harus yakin ada hikmah sekaligus jalan keluar. Firman Allah: “Sesungguhnya bersma kesulitan terdapat dua kemudahan.” (QS. Asy-Syarh [94]: 5-6)

Jangan menakut-nakuti umat. Contoh bentar lagi kiamat, akibat virus ini ibadah Umrah dan (terancam) Haji ditutup, well ini bukan yang pertama. Dalam catatan resmi Kerajaan Arab Saudi, pernah 40 kali ibadah haji dibatalkan karena satu dan sebab lain. Serangan kelompok Qaramithah ke Mekkah yang membunuh siapa pun yang melakukan tawaf, serta mencuri Hajar Aswad. Yaitu tahun 317 H dan terhenti beberapa tahun kemudian. Lalu tahun 357 H ada wabah yang menyerang Mekkah, tahun 419 H karena biaya yang tinggi, lalu perang yang terjadi antara tahun 654-658 H. Tahun 1213 H, ada ekspedisi militer Prancis. Bukti bahwa kewajiban itu bersyarat dengan kemampuan melaksanakannya. QS. Ali Imran [3]: 97.

Pandemik corona mengubah banyak hal dalam budaya seperti pakai masker, sering cuci tangan, tak bersentuhan dengan orang lain, jaga jarak, salat tarawih, iktikaf, silaturahmi mudik, dst. Harus diakui bulan Puasa tahun ini sangat berbeda, tak pernah kusangka kita akan mengalami era wabah yang dulu hanya bisa kita baca di buku sejarah. Tahun 2020 akan dibaca anak-cucu-cicit kita, jangan konyol. Bagi kalian yang masih bisa membaca ulasan blog ini, selamat kalian masih selamat dari maut corona. Tetap pertahankan, tetap jaga kesehatan dan keselamatan. Ikuti anjuran positif, kurang dari seminggu Lebaran. #DiRumahAja #JanganMudik dan tetap #Ngopi

Kehidupan manusia suka atau tidak, mengandung penderitaan, kesedihan, dan kegagalan di samping kegembiraan, prestasi, dan keberhasilan. Ujian adalah keniscayaan hidup. Tetap bersyukur dan tentu saja tetaplah waras, bersama keluarga.

Corona Ujian Tuhan: Sikap Muslim Menghadapinya | by M. Quraish Shihab | Terbit Pertama, April 2020 | Penerbit Lentera Hati | Penyunting Mutimmatun Nadhifah | Pewajah isi @nurhasanahridwan12 | Perancang sampul @nurhasanahridwan12 | 136 hlm.; 10 x 14.5 cm | ISBN 978-623-7713-26-5 (pdf) | Skor: 3/5

Karawang, 190520 – Bill Withers – Friend of Mine (live)

Teman terbaik sepanjang waktu adalah buku

File bisa diunduh di sini https://play.google.com/store/books/details?id=siXfDwAAQBAJ

Tanah Air Imajiner – Salman Rushdie

“… Keterpisahan fisik kami dengan India pastilah menjadikan kami tidak mampu merengkuh secara penuh seluruh hal yang telah hilang; karenanya kami menciptakan sederetan fisik, kami tidak menyuguhkan kota-kota atau kampung-kampung yang nyata, melainkan kota atau kampung gaib, sebuah tanah air imajiner, sebuah India khayali.”

Buku ini kubaca kilat ketika mudik ke Solo akhir bulan September lalu (28-30/09/19). Kubaca di sela jalan-jalan, nengok saudara ke RS Muhammadyah Karangananyar, ketemu Winda di Pesantren Beqi Sragen, dan akhirnya kutuntaskan di pagi hari terakhir sebelum kembali ke Karawang. Renyah, wow dan sungguh bergizi, saya suka kumpulan esai dibalik proses kreatif sebuah karya. Mungkin salah satu kumpulan esai terbaik yang kubaca, nikmat sekali melahap uneg-uneg penulis kelahiran India yang kini menjadi warga Negara Inggris ini. Pengalaman beliau dalam menjadi juri kontes novel, bagaimana proses kreatif penulisan tercipta, betapa kangennya ia sama kampung halaman, sampai beberapa pembelaan kerkait kontroversi yang tercipta.

Berisi lima tulisan cemerlang tentang dunia literasi.

#1. Pengaruh
Ini semacam nasihat bahwa ketika menulis karya yang masih dalam proses, ga perlu koar-koar. Karena kita hanya akan membicarakan hal yang sudah jadi. Tutup mulut rapat-rapat, biarkan jari jemari yang menari. ‘Sejenak izinkan saya untuk meninggalkan metafora kesusastraan sebagai zat cair, buku-buku mudah mewujud karena spora yang mengawang-awang di udara sebagaimana ia mewujud karena akar budaya dan kekhasan penulis.’ (halaman 4). Karena ini membahas pengaruh dan proses kreatif setelahnya, kita akan memasuki dunia yang abu. Karena pengaruh adalah hal yang tak terhindarkan dalam kesusastraan, maka seseorang mestinya perlu memahami bahwa pengaruh bukanlah hal utama yang menentukan kualitas sebuah karya.

Batas antara pengaruh dan peniruan, bahkan antara pengaruh dan penjiplakan, masih agak kabur.

Setiap Penulis punya kelasnya masing-masing. Pengaruh bisa saja kuat, tapi mencipta ciri juga perlu. ‘Kejelasanan, kecergasan, ketepatan, visibilitas, dan multiplisitas. Nilai-nilai ini memenuhi pikiran saya saat memulai menulis Harun dan Cerita Laut.’ (h. 10). Saya sudah punya buku Harun, belum kubaca sih. Menanti waktu yang tepat saja.

Seperti kebanyakan Penulis yang menggali pengalaman pribadi, lalu dibumbui fantasi dan imaji, Rushdie sering menuainya dari masa lampaunya. ‘Saya belajar mengolah bahan-bahan berharga yang berasal dari masa kanak, mengolah bahan dari kehidupan pribadi menjadi sesuatu yang bernilai seni dan mitos.’ (h. 14).

#2. Para Novelis Muda Terbaik Inggris
Pengalaman Rushdie menjadi juri kontes menulis, tahun 1983 menyaring 20 Penulis Muda Inggris. Muncul pro dan kontra, tapi waktu jua yang menjawab. Yang paling menonjol, tentu saja akhirnya kita tahu Kazuo Ishiguro yang menang Nobel Sastra dua tahun lalu. Sepuluh tahun kemudian dilakukan hal serupa, dan nama Ishiguro muncul lagi. Jelas, ini kompetisi yang hebat.

Ini juga semacam pembelaan sih, betapa melelahkan menyeksi naskah. ‘Kalau Anda sudah membaca dua ratus novel lebih, Anda pun mulai memerhatikan beberapa tren dan tema yang umum.’ (h. 21). Beberapa mungkin biasa, bahkan cenderung buruk, tapu jelas nada optimis harus tetap diapungkan. ‘Teranglah sudah bahwa terlalu banyak buku diterbitkan; terlalu banyak penulis yang bukunya terbit tanpa alasan jelas; dan terlalu banyak penerbit yang serampangan, kebijakan penerbit yang menerbitkan begitu banyak buku secara asal-asalan demi keuntungan semata dan berharap salah satu buku yang mereka terbitkan laris… Karena saya ingin mencari tahu bahwa karya-karya bagus benar-benar ada, dan menurut saya, inilah karya-karya bagus itu.’ (h. 23).

Saya merasakan semacam keputusasaan ihwal budaya memfitnah dalam kehidupan kita.

#3. Tanah Air Imajiner
Yang saya tulis adalah sebuah novel tentang kenangan. Menjadi judul buku, ternyata memang inilah tulisan uneg-uneg terbaik di buku ini. ‘Masa silam adalah negeri asing’ begitu kalimat pembuka terkenal novel berjudul The Go-Between karya L.P. Hartley, ‘di sana segalanya berbeda’. Namun potret itu memberitahuku hal lain. Masa kini adalah negeri asing sedang masa silam adalah kampung halaman. Meskipun kampung halaman hilang di sebuah kota yang hilang dalam kabut waktu yang juga hilang.’ (h.25).

Curhat, setelah melakukan pindahan dari tempatnya terlahir. India menjadi asing setelah sekian puluh tahun. Rasanya seperti ada yang memberi tahu kalau kehidupan di luar negeri adalah ilusi, dan bahwa hal yang saya rasakan saat ini merupakan kenyataan. Mewedarkan narasi yang tidak bisa dipercaya. Dalam Midnight’s Children yang fenomenal itu, tampak sekali alur yang disaji adalah olahan banyak kejadian nyata, dibalut angan liar fiksi. Sebuah kebenaran khayali meskipun tampak jujur tetaplah menundang kecurigaan pada saat yang bersamaan, yang beberapa serpihannya hilang dan mustahil ditemukan.

‘Pemahaman kita adalah bangunan besar goyah yang dibangun banyak sobekan, dari dogma, dari trauma masa kecil, artikel di surat kabar, peluang yang terlintas, film lawas, kemenangan-kemenagan kecil, orang-orang yang dibenci, orang-orang yang kita cintai.’ (h. 31). Karena lamanya pergi dari India, seolah tempat kelahirannya ini sebuah tanah air imajiner. Fantasi, atau pembauran antara fantasi dan kenyataan adalah cara menangani masalah.

Demikianlah sastra bisa dan mungkin harus menciptakan kebohongan atas fakta-fakta resmi.

‘Orang Amerika kulit putih maupun kulit hitam terlibat perang melawan realitas. Deskripsi yang mereka buat saling bertentangan. Jadi jelaslah sudah bahwa menggambarkan ulang dunia merupakan langkah awal yang sangat penting sebelum mengubahnya.’ Hal ini terlihat seperti tips menulis cerita yang kuat. Fiksi yang tak sepenuhnya fiksi. Fiksi yang masih bisa dikhayalkan, ada korelasi, ada pijakan yang masuk akal. ‘Maka penciptaan realitas alternative yang artistic, termasuk di dalamnya novel tentang kenangan, menjadi politis. Milan Kundera pernah menulis, ‘Perjuangan seseorang melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.’ (h. 33).

Upaya menaklukkan bahasa Inggris barangkali bisa menjadi proses pembebasan bagi diri kita.

Translation (penerjemahan) secara etimologis berasal dari bahasa Latin berarti ‘melintasi’. Hal yang lumrah jika selalu ada yang luput dalam proses penerjemahan. Namun aku berpegang pada gagasan bahwa memang ada yang hilang tapi ada juga sesuatu lain yang bisa didapatkan. Salah satu kebebasan yang menyenangkan bagi kesusastraan migran adalah kebebasan untuk memilih sendiri leluhur kesusastraannya. (h. 45).

#4. Tentang Penulis dan Kebangsaan
Ini sejenis esai lanjutan. Lebih mendetail. Ketika gairah mematik imajinasi, maka ia dapat merasakan kegelapan sebagaimana ia merasakan suasana terang benderang. Sebuah bangsa membutuhkan lagu kebangsaan dan bendera. Sedang si penyair justru menyodorkan kekacauan. (h. 48). Seperti nasihat Seno Gumilar Ajidarma bahwa, ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Di masa yang sarat dengan kesyakwasangkaan, di bumi yang hina ini, dalam kubangan air berlumpur ini, kesusastraan perlu mengambil peran. Mereka bisa mengerti bahwa bangsa yang tak berbatas bukanlah hanya ada dalam khayalan.

Para Behalfis membenci sisi tragis kehidupan. Mereka memandang kesusastraan semata politis, mereka menukar nilai-nilai politis dengan nilai-nilai kesusastraan. Sebuah pembunuhan atas pikiran, maka waspadalah. (h. 50). Nasionalisme menjadi ‘laku pemberontakan terhadap sejarah’, nasionalisme yang berkeras menutup apa yang tidak bisa lagi ditutup, nasionalisme yang mendirikan garis batas pada sesuatu yang semestinya tidak memiliki batas.

#5. Membela Novel
‘Wacana basi yang oleh Profesor Steiner ditambahi embel-embel yang ditakar sevcara pas, embel-embel tentang matinya pembaca (atau setidaknya perubahan radikal pembaca), para pembaca yang berubah menjadi sejenis orang jenius aneh; juga tentang matinya buku cetak menjadi buku elektronik.’ (h. 56).

Kita mesti menundukkan kepala di hadapan sosok ini. Sosok itu, tak lain dan bukan adalah Sang Kritikus. “Tak perlu diragukan lagi bahwa kini nilai prestis novel sudah sangat turun. Belasan tahun lalu ungkapan semacam ini, ‘saya belum pernah membaca novel’ disampaikan dengan sedikit nada menyesal, namun kini ungkapan demikian disampaikan selalu dengan nada bangga.” (h. 57).

Hal yang disampaikan oleh Profesor Steiner bahwa sastra tidak memiliki masa depan. Illiad dan Odyssey awalnya bahkan mendapatkan ulasan buruk. Tulisan-tulisan bagus tidak pernah lolos dari serangan, utamanya serangan dari para penulis yang juga menghasilkan karya-karya bagus. Selayang pandang sejarah kesusastraan menunjukkan bahwa taka da satu pun mahakarya yang selamat dari cercaan saat pertama kali diterbitkan. Setiap penulis akan dijelek-jelekan oleh penulis lain sezamannya. (h. 57-58).

Cara pandang kesusastraan seperti memandang bumi sebagai permukaan datar ini, begitu sudah dipahami. Sesungguhnya tidak banyak terjadi ‘kematian’ pembaca, melainkan hanya ‘kebingungan’ pembaca. Banyak novel yang membuat kapok pembaca. Saya masih ingat, bagaimana kecewanya buku Leila S. Chudori, Laut Bercerita. Novel jelek tentang sejarah reformasi Indonesia itu begitu monoton. Maka wajar saya ga minat membaca karya beliau lain. Kesempatan menikmati karya beliau lainnya, Pulang muncul hanya karena pinjam, baca free. Namun sekali lagi mengecewakan, maka sangat wajar saya ga akan mengeluarkan duit untuk membaca buku Leila apapun setelah itu.

Seni novel niscaya tetap bertahan tanpa keberadaan dirinya. Apakah saya perlu minta maaf karena mencerca buku pemenang penghargaan Sastra Nasional prestis? Nope. Kurasa setiap penikmat karya punya sudut masing-masing. Dan kasus Leila, sejatinya sangat banyak.

Menulis adalah proses validasi diri. Maka bisa dikatakan bahwa sebuah buku tidak bisa dinilai karena individu yang menulisnya, melainkan karena kualitas tulisannya. Memang puja-puji yang dilontarkan dalam suasana tenang tidak cocok bagi kesusastraan, sebuah mahakarya akan membuat gaduh jiwa dan pikiran. Buku-buku yang berkualitas adalah buku yang menjangkau tepi dan mengambil resiko untuk terjungkal dari tepi itu. Atau mungkin, karya sastra yang baik memang sejak dulu hanya diminati oleh segelintir orang. Buku yang membahayakan penulisnya karena beragam hal, buku yang menantang artistik. Salman Rushdie, jelas melakukannya. Dengan gemilang!

Tanah Air Imajiner, Kumpulan Esai | By Salman Rushdie | Diterjemahkan dari Imaginary Homeland dan Step Across This Lane | Penerjemah Rozi Kembara | Penyunting Olive Hateem | Perancang sampul & Isi Agus Teriyana | vi + 74 hlm.; 13 x 19 cm | Cetaka pertama, Agustus 2019 | ISBN 978-623-90721-8-6 | Penerbit Circa | Skor: 4.5/5

Karawang, 051119 – Maddi Jane – Dark Horse

Originals #28

Saya bangun pagi dan terbelah antara keinginan untuk memperbaiki dunia atau menikmati dunia. Ini menyulitkanku membuat rencana hari ini.”E.B. White

Para psikolog menemukan ada dua jalan menuju keberhasilan: konformitas dan originalitas. Konformitas artinya mengikuti orang kebanyakan di jalur konvensional dan menjaga status quo. Originalitas memilih jalur yang jarang dilalui, memperjuangkan ide baru yang melawan arus, tetapi akhirnya membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Tentu saja dari judulnya kita sudah tahu, buku ini mengupas banyak sekali hal di poin kedua.

Buku yang sangat bervitamin. Untuk menjadi original ternyata justru diminta untuk lebih berpikir sederhana, ga usah muluk-muluk. “Dalam hal gaya, ikutilah arus. Dalam hal prinsip teguhlah sekukuh karang.” Banyak ide fresh di antara kita, di sekeliling kita. Saya baca buku ini akhir tahun lalu, sebagai buku penutup rangkaian #2018lazionebudybaca, iseng menghitung, saya terhenti di angka 110. Sempat pula kumau ulas, ketik panjang lebar, tapi malah awal tahun ada tragedi yang membuatku pilu dan istirahat dari banyak hal. Nah, baru sempat lagi lanjut ketik ulas di momen #30HariMenulis ini. Mendekati akhir. Kebiasaan, aturan agama, dan hukum itu sebenarnya dibuat oleh manusia dan karenanya bisa dirubah. “Mari kita jadikan tahun mendatang berarti. Terasa energi yang tak mungkin diciptakan oleh band rock. Setiap orang ada tugas penting yang harus dilaksanakan.

Ciri khas originalitas adalah menolak status qou dan mencari jalan pilihan yang lebih baik. Titik awalnya adalah keingintahuan: memikirkan secara mendalam mengapa sesuatu yang default itu ada pada mulanya. Kita terdorong mempertanyakan hal yang default saat mengalamai vuja de, kebalikan dari de javu. Déjà vu terjadi saat kita menemui sesuatu yang baru, tapi rasanya kita pernah melihatnya sebelumnya. Vuja de, kita menghadapi sesuatu yang familier tetapi kita melihatnya dengan sudut pandang baru yang membuat kita mendapatkan wawasan baru untuk masalah lama. Sudah lama para ilmuwan sosial tahu bahwa kita cenderung terlalu percaya diri saat menilai diri sendiri. Banyak orang gagal menciptakan originalitas karena mereka menghasilkan sedikit ide dan kemudian terobsesi untuk mengasahnya agar sempurna.

Ia akan mencerahkan, menginspirasi, dan sekaligus mendukung Anda. Banyak contoh dipaparkan dalam buku ini, beberapa yang sudah sangat terkenal. Contohnya sejarah Google yang dibuat Larry Page dan Sergey Brin, aplikasi paling terkenal di dunia digital ini awalnya juga terdengar biasa. “Kami hampir tak mendirikan Google, terlalu khawatir kalau berhenti dari program doctoral kami.” Kata Larry Page. Mereka orang-orang besar yang ketika merancang sejarah, juga memiliki kekhawatiran gagal sehingga mencari pijakan di bagian lain. Jadi walaupun sedang mencipta hal besar, mereka tetap melanjutkan studi, ibarat rencana cadangan masih dalam jalur. Mereka bermain aman dengan mengikuti jalur sukses konvensional. Dapatkah penemu menilai idenya sendiri secara objektif? Yakni seni memperkirakan keberhasilan ide? Poinnya adalah, jangan serta merta melepas yang ‘pasti’ kecuali yang utama sudah mapan. Pengusaha yang melindungi diri dengan memulai usaha sembari tetap bekerja kantoran jauh lebih anti risiko dan tak percaya diri.

Banyak usahawan mengambil banyak risiko-tetapi mereka biasanya gagal, bukan sukses.” Kata Malcolm Gladwell. Setiap usaha memang memiliki resiko, tapi tetap harus menghitung jalur kemungkinan. Semakin sedikit jalur jatuh, semakin bisa ditekan minim tentunya semakin besar potensi berhasilnya. Saat menghadapi situasi yang tidak disukai, mereka memperbaikinya. Dengan berinisiatif memperbaiki keadaan, hasilnya tidak banyak alasan untuk berhenti bekerja. Mereka menciptakan pekerjaan yang mereka inginkan. Jargon berbahaya yang sering kita temui adalah: “Jika ide itu memang bagus, pasti sudah ada yang mengerjakannya.” Kalau kayak gini ga akan maju, ga akan mulai-mulai. Buku ini jelas mengajak tabrak aturan! Kita mulai menyadari bahwa sebagian besar keadaan itu punya asal-usul sosial: aturan dan sistem itu diciptakan oleh orang. “Peluang menghasilkan ide berpengaruh atau sukses adalah fungsi positif dari jumlah total ide yang dihasilkan.

Cara menjadi berkuasa bukanlah dengan menentang kemapanan, tetapi pertama-tama tempatkan diri di dalamnya dan kemudian tantang dan khianati kemapanan itu. Dalam politik, banyak hal yang perlu dibuat unik. Ahli politik mengevaluasi presiden Amerika, mereka menetapkan bahwa pemimpin yang paling tak efektif adalah yang mengikuti kehendak rakyat dan hal-hal yang telah ditetapkan presiden sebelumnya. Presiden terhebat adalah yang menentang status quo dan mewujudkan perubahan di seluruh negeri. Apapun ideologi politiknya, orang akan lebih menyukai calon yang tampak ditakdirkan akan menang. Saat peluangnya turun, orang jadi kurang menyukainya. Indonesia kini dalam situasi politik, ujung Pilpres sudah kita ketahui, hasil akhirnya Pertahana melanjutkan program kerja. Berani melawan arus demi sebuah adil makmur? Seperti kata Ira Glass, “Sesuatu yang mungkin paling penting yang bisa dilakukan adalah banyak bekerja. Hasilkan banyak karya.” Jadi mari kerja kerja kerja. Bangsa besar ini… akan berhasil dan sejahtera… satu hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri.

Sekutu terbaik Anda adalah orang-orang dengan jejak rekam yang tangguh dan menyelesaikan masalah dengan cara yang mirip dengan cara Anda. Layaknya sebuah tuah, kalau kamu ingin tahu sifat seseorang, lihatlah kawan dekatnya. Maka kalau ingin sukses ya harus berkawan, kolaborasi, bareng orang sukses pula. Sahabat adalah seseorang yang melihat lebih banyak potensi dalam diri Anda ketimbang yang Anda lihat sendiri. Saya melihat kesuksesan biasanya tak dapat diubah mendahului yang lain, tetapi menunggu dengan sabar saat yang tepat untuk bertindak. Dan ingat, sukses itu tergantung cara pandang. Sukses satu orang jelas beda dengan sukse orang lain. Saya berhasil menyelesaikan program tulis bulan Juni 30 ulasan, jelas bagiku sukses yang mungkin bagi orang lain sepele. “Yang terpenting bukan gagasannya, tetapi eksekusinya.” Mengapa musuh bisa menjadi sekutu yang lebih baik dibanding orang yang pura-pura mejadi teman, dan mengapa nilai bersama bisa memecah-belah bukan menyatukan. “Jika Anda ingin membuat koneksi yang inovatif, Anda tak boleh mempunyai serangkaian pengalaman yang sama dengan orang lain.”

Dalam teori sukses, saya pernah dengar tiga rumus: jadilah yang pertama, atau jadilah berbeda, atau jadilah yang terbaik. Kalimat ini sudah sangat sering saya dengar di banyak diskusi, nyatanya memang harus usaha ekstra. Ketika Anda semakin menghargai prestasi, Anda akan semakin takut gagal. Alih-alih mengincar prestasi unik, dorongan kuat untuk sukses membawa kita ke arah yang dijamin sukses. Menjadi orisinal bukanlah jalur termudah untuk mengejar kebahagiaan, tetapi cara ini memberikan kebahagiaan dalam rangka pengejaran tersebut. Berdasarkan kata-kata Penulis William Deresiewicz, mereka menjadi domba-domba terbaik dunia.

Di dunia kerja, saya sebagai HR dalam wawancara karyawan keluar mencantumkan penilaian selama kerja di sini. Ternyata menurut buku ini, kurang efektif. Justru dibalik. Alih-alih meminta ide pada karyawan yang akan keluar, mulailah meminta pandangan saat pertama kali mereka masuk. Semakin ahli dan pengalaman seseorang, cara pandang mereka terhadap dunia semakin sulit dirubah. Menurut Adam, orang-orang yang baru masuk memiliki pikiran yang fresh, semangat membuncah, dan tentu saja ide yang tak lazim karena mereka belum mengalami kerja di sini! Well, benar juga ya. “Tak seorang pun yang datang ke sini membawa ide yang mereka anggap jelak.” Orang yang sering berpindah pekerjaan akan lebih cepat berhenti bekerja, tetapi ternyata tidak: peluang orang yang telah lima kali pindah kerja dalam lima tahun terakhir akan berhenti dibanding dengan orang yang bertahan di tempat kerjanya selama lima tahun tidaklah berbeda. Rumus HR dalam melawan dead wood adalah mencipta situasi. Untuk mengeluarkan orang dari zona nyaman, Anda harus menumbuhkan ketidakpuasan, rasa frustasi, atau kemarahan pada keadaan sekarang dan menjadikan sebagai kegagalan pasti. Jika Anda mendapat waktu untuk berpikir, pola umum mudah lenyap dalam detail. Saya juga terpikat oleh keamanan kedudukan mapan.

Warby Parker adalah gabungan dua nama tokoh ciptaan novelis Jack Kerouac, semangat pemberontak dimasukkan ke dalam budaya mereka, dan cara itu berhasil. Saya ga terlalu mengenal sang penemu jualan daring kaca mata ini, di buku ini ia disebut berulang kali seolah menemukan emas di tanah kosong. Seperti semua pencipta, inovator, dan agen perubahan besar, empat sekawan Warby Parker mengubah dunia karena mereka mau melakukan sesuatu yang belum jelas hasilnya. Salut atas keberanian bertindak, keberanian mengambil jalan berbeda. Seolah menebas jalur hutan perawan, membuat batu setapak menuju puncak. “Periode ditemukannya produk paling minor cenderung sama dnegan periode dihasilkannya karya besar.” Luxottica lahir di masa yang sangat pas, era internet yang sedang mewabah dan kebutuhan kaca mata yang banyak dengan pembelian garansi. Mereka tidak mampu mengubah dunia adalah karena mereka tek belajar untuk berpikir original. Mereka memusatkan energi untuk melahap pengetahuan ilmiah yang ada, tetapi tak menghasilkan pengetahuan baru.

Wabah sinetron di televisi lokal di jam utama sungguh memprihatinkan. Kita mayoritas sepakat tentunya sinetron merusak moral, membuat candu buruk bagi generasi berikutnya. Nyatanya produk itu laku. Kita tahu mematikan televisi saja tak cukup menunjukkan pada para produser sinetron bahwa rakyat siap berdiri memrotes. Tapi seberapa banyak? Masalahnya produk itu laku, dijejali iklan melimpah, dan semacam jaminan finansial sehat. Ketika kita sedang berusaha memengaruhi orang lain dan mendapati mereka tak menghormati kita, keadaan ini menciptakan siklus kekesalan yang tak berujung pangkal. Jika Anda ingin mengubah perilakunya, pakai lebih baik menyoroti manfaat perubahan atau kerugian akibat perubahan? Penerima yang marah secara acak diminta memberikan satu dari tiga respons berikut: malampiaskan, mengalihkan, atau mengontrol. Bagaimana respon Anda terhadap produk sinetron kita kawan?

Model ATM – Amati, Tiru, Modifikasi sudah jadi kewajaran di era ini. Tentu saja tak ada yang benar-benar original, dalam arti bahwa semua ide kita dipengaruhi oleh hal-hal yang pernah kita pelajari dari dunia sekitar. Kita selalu meminjam pemikiran-pemikiran, baik secara sengaja atau tidak. Kita rentan terhadap ‘kleptomnesia’ – secara tidak sengaja mengingat ide-ide orang lain sebagai ide kita sendiri. Originalitas termasuk memperkenalkan dan mengembangkan sebuah ide yang relatif tidak umum di dalam sebuah domain tertentu, dan berpotensi memperbaiki domain tersebut.

Di dunia musik, kita tahu banyak sekali genre dan tergantung sudut pandang siapa yang terbaik, siapa yang biasa. Tergantung selera, tergantung obsesi. Beethoven dikenal sebagai pengkritik karya sendiri yang baik. Sesuatu yang istimewa, tahu karyanya laik enggaknya. Jadi ingat Sherina Munaf di twitter lalu bilang, sebulan stuck ide nulis lagu, butuh tambahan waktu. Kita harus segera membangkitkan ide sendiri sebelum menyaring pendapat orang lain. Dan cara ini ternyata membantu menjelaskan mengapa akhirnya lagu berhasil rilis. “Saya dianugerahi selera musik yang kuat. Terkadang tulang saya menggigil.” Kata Darwin.

Ia menghabiskan empat puluh tahun berikutnya bekerja di sebuah penerbit demi stabilitas hidup dan menulis puisi di sela-sela waktu. Seperti komentar pendiri Polaroid, Edwin Land, “Tak seorang pun benar-benar orisinal di satu bidang, kecuali ia telah memiliki stabilitas emosi dan sosial yang berasal dari sikap yang tetap di semua bidang lainnya di luar bidang tempat ia menjadi orisinal.

Ketika kita meratapi originalitas di dunia, kita menyalahkan ketiadaan kreativitas. Untuk menjadi orisinal, orang dewasa harus lebih jarang belajar dan lebih sering tak belajar. Dan mereka menginspirasi saya agar tak terlalu mengikuti harapan menciptakan dunia yang lebih baik bagi mereka. “Keyakinan pada ide sendiri itu berbahaya, bukan hanya karena membuat kita rentan terhadap ide positif salah, tetapi juga membuat kita berhenti menghasilkan variasi yang membutuhkan untuk meraih potensi kreatif kita.”

I have a dream” King, 1963

Originals “Tabrak Aturan”, Jadilah Pemenang | By Adam Grant | Copyright 2016 | Diterjemahkan dari Originals | Terbitan Viking, an imprint of Penguin Random House LLC 375 Hudson Street, New York 10014 | Penerbit Noura | Penerjemah Mursid Wijanarko | Penyunting Aswita Fitriani | Penyelaras aksara Lian Kagura, Sheilla | Penata aksara Aniza Pujiati | Perancang sampul Artgensi | Cetakan pertama, April 2017 | 348 hlm.; 15 x 23 cm | ISBN 978-602-385-277-2 | Skor: 4/5

Untuk Allison

Karawang, 311218 – The Vure – Mint Car // 280619 – Christina Aguilera – Beautiful

Thank a lot Noura. Bless you.

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day28 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Humanisme Y.B. Mangunwijaya #26

Pancasila adalah hasil finalnya, di mana “humanisme” terumuskan dalam sila pertama, secara de facto di Negara kita bersifat pluralis ini, tidak hanya dalam konteks “agama” dalam arti formal, melainkan juga keyakinan dan kepercayaan dalam arti kultural.

Saya seorang muslim, dan saya penikmat segala bacaan. Saya sepintas mengenal Yusuf Bilyarta (Y.B.) Mangunwijaya atau yang lebih akrab dengan sebutan Romo Mangun lewat novel Burung-Burung Rantau. Novel tersebut masih kusimpan, belum sempat kubaca. Namanya sering muncul di beranda sosmed sebagai sastrawan yang ternyata setelah membaca ini malah makin kagum karena profesinya yang banyak. Justru buku ini duluan yang kubaca, kubeli sewaktu liburan Lebaran lalu di Gramedia Slamet Riyadi, Solo. Kubaca kilat bulan ini, dan luar biasa. Ternyata beliau adalah sosok besar. Romo Mangun adalah seorang humanis religius yang mencurahkan seluruh hidup dan karyanya untuk terwujudnya humanisme. Dan humanisme tidak pernah selesai diperjuangkan karena menuntut pembaruan terus-menerus untuk menjadi manusiawi dan menghargai kemanusiaan. Sebelum menjadi profesi apapun ia harus menjadi manusiawi terlebih dulu sehingga bisa menghargai kemanusiaan yang ditandai dengan sikap terbuka, lugas, nguwongke, dan menghargai sesama.

Buku ini adalah kolaborasi Forum Mangunwijaya IX yang ditulis oleh orang-orang hebat, total ada delapan kontributor: A. Sudiarja, Sj, Ferry T. Indratno, Bakdi Soemanto (alm.), Bandung Mawardi, B. Rahmanto, Erwinthon Napitupulu, Musdah Mulia, dan St. Sularto. Kedelapannya menampilkan esai yang mewah, renyah dibaca, nikmat diikuti. Cara review, menuturkan pandangan hidup, sampai ketertarikan karya-karya beliau yang ditelusur. Banyak hal yang patut dipelajari. Romo Mangun sepaham dengan pandangan Rudolf Otto (The Idea of the Holy) bahwa manusia adalah makhluk religius (homo religious), demikian setiap manusia serta merta bersifat religius; ada sifat yang disebut ‘suci’ dalam arti moral. Religius di sini tidak harus berarti sebagai pemeluk agama tertentu, melainkan adanya kecenderungan dan kesadaran akan yang ilahi, yang mengatasi kekecilan manusia atau rasa kemakhlukan (creature-feeling) atau rasa ketergantungan (feeling of dependence) pada suatu lain. Saking banyaknya tema yang mau disampaikan karena beliau memang multi-karya, salah satunya arsitekur. Bidang arsitektur melakukan pendekatan konsep ‘guna’ dan ‘citra’.

Lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929 sebagai sulung 12 bersaudara, meninggal dalam tugas pada 10 Februari 1999 di tengah seminar di Jakarta. Romo Mangun menerapkan paradigma berpikir nggiwar dalam setiap langkah memperjuangkan humanisme. Konon, Romo Mangun menjadi pastor karena terharu pada partisipasi rakyat dalam gerilya, dan untuk ‘membayar utang kepada rakyat’. Maka pelayanannya bukan sebatas pelayanan gerejani, paroki, melainkan pada sosialitas umum, pembelaan kaum miskin dan melebar untuk kerja sama dengan agama lain.

Banyak sekali pemikiran yang disampaikan dalam buku tipis ini. Seperti kala Romo banyak mengkritik pemerintah yang bersifat penyeragaman, brainwash, formal, dan birokratis dan kurang memberi ruang bagi kreativitas anak didik dan menekankan kreativitas, eksplorasi, penyadaran, dan pengaturan diri.

Sebagai penikmat buku, jelas saya sangat tertarik di bagian sastra. Ada satu bagian yang mengulas detail sekali salah satu karya beliau berjudul Balada Becak (1985) bagaimana kisah benar-benar membumi, ada di antara kita. Kisah cinta wong cilik di mana angan dan kenyataan tak sejalan. Sastra, berbeda dengan teater, hadir secara personal ke dalam batin pembaca di saat tenang, sunyi, tranquil, sehingga terjadi dialog antara pembaca dan novel pada satu pihak, pada pihak lain, seperti Bima Suci, bacaan mengantar pembaca berdialog dengan batin sendiri. Menjadikanku ingin segera menikmati novel beliau, Manusia Indonesia yang humanisme religius dan nasionalisme yang terbuka. Dua kerangka besar inilah Indonesia bisa ikut menyumbang pemikiran dalam pergaulan dunia yang luas.

Bagian akhir tentang arsitek saya yang awam turut kagum, ada sekitar 84 karya beliau. Beberapa kontroversial. Pemikiran tetang ‘Gereja Diaspora’ yang dalam teologi katolik pasti menjadi sesuatu yang kontroversial atau inkonvensional. Mengidealkan gereja sebagai “jaringan titik-titik simpul organik.. yang berpijak pada realitas serba heterogen… tidak beranggotakan orang-orang berdasarkan daerah, tapi berdasakan fungsi atau lapangan kerja… titik-titik simpul bisa berupa lone rangers seperti gerilya yang sendirian…, namun lincah ke mana-mana.” Beberapa sudah dipugar, yang sayang sekali sebagian itu menghilangkan identitas awal.

Menurut Mochtar Lubis ciri-ciri manusia Indonesia, pertama hipokritis atau munafik. Berpura-pura, lain di muka lain di belakang, merupakan suatu ciri utama manusia Indonesia sejak lama. Sejak mereka dipaksa menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan atau dipikirkan atau sebenarnya dikehendaki oleh kekuatan-kekuatan dari luar karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana baginya. Kedua segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, tetapi kalau sukses manusia Indonesia tidak segan-segan untuk tampil ke depan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Ketiga memiliki sifat feodal yang tinggi, ABS (asal bapak senang). Keempat percaya takhayul. Kelima berkarakter lemah. Keenam bukan economic animals, sehingga boros. Ketujuh, cepat cemburu dan dengki pada orang lain yang lebih maju.

Sementara sifat positifnya, pertama memiliki sifat artistik yang tinggi sehingga mampu menghasilkan kerajinan seni. Kedua suka menolong dan gotong royong. Ketiga berhati lembut, suka damai, memiliki selera humor dan memiliki kesabaran hati. Keempat adanya ikatan kekeluargaan yang mesra dan memiliki kecerdasan yang cukup baik terutama di bidang ketrampilan.

Pandangannya tentang pendidikan juga sangat bagus. Pendidikan sebagai sosialisasi tidak melihat anak memiliki nilai tersendiri, berkepribadian unik dengan status bermartabat sebagai manusia yang harus dihormati, anak hanyalah bersifat sekunder, yang primer ialah kedudukan, kepentingan dan penghidupan kolektivitas. Maka, sosialisasi berikhtiar menggiring warganya untuk tahu diri dalam sistem pahala dan status. “Setiap sistem pendidikan ditentukan oleh filsafat tentang manusia dan cita-manusianya yang dianut, sehingga tidak netral.” Tujuan pendidikan adalah mengantar dan menolong anak untuk mengenal dan mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadi manusia mandiri, dewasa, utuh, merdeka, biajksana, humanis, dan menjadi sosok manusia Pasca-Indonesia dan Pasca-Einstein. Kata post merujuk pada sesudah, belum menyatakan kontinuitas maupun diskontinuitas. Seorang pascasarjana bukan seorang yang sesudah menjadi bukan sarjana. Dia tetap sarjana. Tetapi lebih luas pandangannya, lebih banyak dimensianya, lebih dalam visinya, lebih dewasa.

Sebagai orang Jawa, beberapa pemikirannya jelas terinspirasi sejarah Jawa. Citra manusia Jawa yang hakikatnya adalah citra wayang belaka pada kelir jagad cilik (mikro-kosmos), jadi manusia hanya bayangan saja, tidak sejati. Sejajar dengan ajaran Plato, segala peristiwa kehidupan manusia ‘wus dhasar pinasthu karsaning dewa’ (sudah diniscayakan oleh kehendak para dewa). Bahwa yang menciptakan adalah dewa, yang melahirkan adalah orang tua, yang membuat bahagia itu guru, yang membuat kaya kuasa itu raja, yang membuat gembira adalah mertua. Kelima-limanya itu bila tidak dipatuhi akan membawa celaka. (Serat Paramayoga/Pustakaraja).
Manusia Indonesia yang ideal adalah sesuai pedoman Pancasila, manusia yang menghayati dan membuat dasar dan pedoman hidupnya, dasar tingkah laku dan budi pekerti berdasar kelima dasar Pancasila.

Komunisme sudah hancur oleh perkembangan ‘masyarakat warga’ (civil society), pembaruan politik ada di mana-mana, perestroika di Rusia dan demokrasi di Barat, namun menurut Fukuyama, sejarah berakhir dengan bentuk demokrasi liberal dan ekonomi kapitalis.
Arief Budiman menyatakan bahwa manusia Indonesia seutuhnya merupakan konsep sosiologi. Sudah sangat umum ada empat kebebasan: kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, kebebasan untuk berkeinginan, kebebasan dari rasa takut. Lalu menurut Hussein Nars, ilmuwan Iran kebebasan beragama ada dua jenis: kebebasan untuk menjadi (freedom to be) dan kebebasan bertindak (freedom to act), yang pertama sifatnya tanpa batas, yang kedua dapat dibatasi oleh aturan.

Dari semua pemikiran beliau yang sangat saya kagumi, jelas tentang saling menghormati, baginya agama lain bukan saingan, apalagi musuh, melainkan teman kerja, kolega di dalam membangun kemanusiaan, khususnya melayani masyarakat yang miskin. Kita tahu, saat ini Indonesia sedang panas-panasnya politik, agama menjadi tunggangan, agama menjadi alat untuk mencapai kekuasaan. Pluralisme beragama adalah lawan dari eksklusivisme agama. Artinya filsafat pluralisme mengakui semua agama dengan cara pemeluknya memiliki hak yang sama untuk eksis dan berkembang.

Keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan kepada kebenaran.” – Ernest Renan dalam Qu’est ce qu’une nation? (1882).

Humanisme Y.B. Mangunwijaya | By Forum Mangunwijaya IX | Copyright Kompas Media Nusantara | Penerbit Buku Kompas, 2015 | KMN: 20305150074 | Editor Ferry T. Indratno | Perancang sampul A Novi Rahmawanta | Ilustrasi sampul Dok. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko | xvi + 144 hlm.; 24 cm x 21 cm | ISBN 978-979-709-938-1 | Skor: 4.5/5

Karawang, 270619 – Sherina Munaf – Primadona

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day26 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

14 Buku Terbaik 2018

Musik ini bukan untuk Anda, ini untuk zaman mendatang.” – Beethoven

Tahun ini saya menyelesaikan baca 110 buku. Fiksi masih sangat mendominasi, novel masih menjadi golongan terdepan. Setelah beberapa tahun terakhir saya tak membuat daftar buku terbaik, maka inilah saatnya saya kembali menyusunnya. Aturan sederhana, bila ada Penulis yang tercantum lebih dari satu karya maka akan diambil satu saja yang terbaik, tak ada batasan tahun terbit, tak ada garis fiksi-non-fiksi serta hilangkan garis Penulis lokal atau terjemahan. Awalnya ketika saya sarikan muncul 27 buku, maka terpaksa saya pangkas, pangkas, pangkas, padat. Dari Summer, Kass, Never Let Me Go, The English Patient, Misteri Dian Yang Padam, Lacasa de Papel, Gentayangan, sampai Fathers and Sons dengan segala hormat kena coret satu senti garis finish hingga di daftar pendek. Tahun ini benar-benar banyak buku lima bintang – sempurna, maka daftar ini adalah jaminan puas menikmati. Berikut susunan 14 buku terbaik yang kubaca selama tahun 2018:

#14. A Man Called Ove – Fredrik Backman | Penerbit Noura | Tahun Terbit 2016

Buku si tua penggerutu yang kocak, awalnya ikut sebal dan merasakan apa yang Ove rasakan lantas teriak lantang, “Benar juga” karena Negara Swedia yang makmur itu juga jiwa sosialnya ga jauh beda dengan lingkungan kita sekitar, sebagian kecil tentunya dari sudut pandang seorang kakek. Kisah menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga kita merasa dekat dengan sang protagonis. Dengan alur satu bab maju, satu bab mundur lalu dipertemukan jelang akhir, kita menemui banyak sekali drama dan keterkaitan orang sekeliling Ove. “Semua orang bilang begitu. Namun mayoritas tidak selalu benar.

#13. Harimau Harimau – Mochtar Lubis | Yayasan Obor | 1975

Penebusan dosa, pengakuan rasa bersalah. Sekumpulan pencari damar terjebak di hutan, di mana ada harimau lapar yang mengintai. Saat salah seorang diterkam dan sang harimau mengejar, semua diminta meminta maaf pada Tuhan atas dosa mereka. Rahasia-rahasia dibongkar, dan semua cuit nyali saat kematian begitu dekat.

#12. Ratu Sekop – Iksaka Banu | Marjin Kiri | 2017

Kumpulan cerita pendek yang bergizi. Bagus sekali, padat, satir dan menggugah. Total 13 cerita dengan tiga varian baru. Cetakan mungil, dengan kover aneh sang Ratu Sekop. Film Noir sebagai pembuka sudah membawa Pembaca ke dunia fantasi, plot tak lazim bagaimana pembunuhan adalah seni takdir. Kemana perginya superstar setelah meninggal?

#11. Kura-Kura Berjanggut – Azhari Aiyup | Banana | 2018

Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa tahun ini. Ketebalannya menantang kesabaran. Kisahnya dibagi tiga bagian, merentang jauh ke abad 17 di Bandar Lamuri, ujung Barat Indonesia hingga era kolonial di pergantian abad ke 20. Kura-kura Berjanggut adalah buku panduan membunuh sang sultan. “Kalau kalian tidak bisa membunuhku hari ini, kalian tidak akan pernah bisa membunuhku selamanya.”

#10. Timeline – Michael Crichton | Gramedia Pustaka Utama | 1999

Sekumpulan mahasiswa 1990an yang mendapatkan kesempatan untuk melintasi waktu kembali ke abad 14 di Prancis yang keras karena sedang bertempur dengan Inggris. Hanya punya waktu terbatas untuk menolong sang profesor yang tersesat. Kejar-kejaran, pamer teknologi, serta kemungkinan manusia bisa melakukan teleport. 150 tahun lalu ada orang bilang, suatu saat orang bisa bicara dengan benda tanpa kabel di seberang benua, pasti pada ketawa dikira orang gila. Sekarang? Lihatlah! Bagaimana kalau saat ini kita bilang bahwa manusia akan bisa dikirim ke masa lalu? Apakah kalian masih akan tertawa?

#9. Big Little Lies – Liane Moriarty | Gramedia Pustaka Utama | 2014

Gosip yang memakan korban. Dusta-dusta kecil yang menguar di udara oleh para orang tua itu menyeset kepekaan dan harga diri para pengantar anak-anak sekolah. Twist, bagaimana bisa sang pelaku kekerasan seksual yang sudah digaris itu ternyata tak seperti yang kita kira, mengingatkanku pada film Posesif yang rilis tahun lalu. “Biar kuperjelas. Ini bukan sirkus. Ini penyelidikan kasus pembunuhan.”

#8. Muslihat Musang Emas – Yusi Avianto Pareanom | Banana | 2017

Kumpulan cerpen dengan kover yang sedap dipandang, warna kuning sebagai latar dengan seekor musang di dalam cangkir di antara dua lainnya. Kover bak poster film art, film festival. Catchy nan mewah. Kisahnya ada di sekeliling kita, banyak mengambil setting warung kopi (atau agar lebih kelihatan mewah kita sebut saja kafe) sehingga menyeret kita dalam obrolan santai sekaligus menegangkan. “Ketimbang bikin agama baru, bikin Komunitas Hati Remuk Karena Sebab-Sebab Tak Tertangguhkan saja, Mas.”

#7. Matinya Penulis Besar – Mario Vargas Llosa | Immotal Publising dan Octopus | 2018

Kumpulan esai yang luar biasa indah. Menghantam nalar, menggelitik pikiran. Proses kreatif tulisan yang rumit. Andai banyak kumpulan pemikiran bisa semegah ini, saya akan lebih sering membaca esai. Pada dasarnya saya menyukai proses kreatif di balik karya. Llosa melimpahruahkannya dengan tikaman tanpa henti. Dalam Benarnya Kebohongan (1989), kalian akan terpukul bahwasanya cerita-cerita based on true story itu omong kosong. “Keadaan adalah bukan seperti apa kita melihatnya, tetapi seperti apa kita mengingatnya.”

#6. Ford County – John Grisham | Gramedia Pustaka Utama | 2012

A Short Story yang seperti kumpulan novelet. Cerita pendek namun sungguh panjang. Semua kisah bermuara di daerah Ford County, dan seperti biasa Grisham membumbui cerita bersinggungan dengan kebusukan pengadilan. Yang paling hebat adalah Kamar Michael, di mana seorang pengacara diadili di rumah kosong dengan intensitas ketegangan tinggi. “Wah, pekerjaanmu busuk Wade, karena melibatkan berbohong, menggertak, mengganggu, menutup-nutupi, tidak menunjukkan belas kasihan sedikitpun untuk orang yang terluka. Aku membenci pekerjaanmu Wade, hampir sebanyak kebencianku padamu.”

#5. 1Q84 Book 1 – Haruki Murakami | Kepustakaan Populer Gramedia | 2013

Kisahnya tak tuntas karena ini jilid pertama dari tiga. Khas Murakami yang memang jagonya meramu bualan imajiner. Dua karakter utama: Aomame dan Tengo, keduanya hidup di tahun pararelnya 1984. Seorang pembunuh berdarah dingin dengan jarum suntik dan satunya editor buku yang melakukan kejahatan terstruktur atas buku remaja: Kepompong Udara yang fenomenal. “Dalam rahasia ada satu prinsip penting. Yaitu semakin sedikit orang yang mengetahui rahasia itu, semakin baik. Sejauh ini di dunia hanya kita bertiga yang tahu rencana ini. Kamu, aku dan Fuka-Eri. Kalau bisa, aku tidak ingin menambah jumlah itu.”

#4. The 100: A Ranking of the Influential Persons in History – Michael H. Hart | Noura | 2012 | Catatan 3 | Catatan 1 | Catatan 2

Buku non-fiksi terbaik tahun ini. “Bila kita membandingkan matematika dari awal dunia ini sampai masa ketika Newton hidup, apa yang dia lakukan jauh lebih baik.” Berisi 100 manusia hebat yang pernah ada, ditambah 10 lagi di edisi revisi dengan 90 nama tercantum berikutnya. Nomor satu jelas Nabi Muhammad SAW. “Maka kita lihat, betapa monumen-monemun akal dan pembelajaran jauh lebih bertahan daripada monumen-monumen kekuatan atau karya tangan. Karena bukankah bait-bait Homer bertahan dua ribu lima ratus tahun atau lebih, tanpa kehilangan satu patah kata atau huruf pun. Dalam kurun waktu itu tak terkira banyaknya istana, kuil, benteng, kota yang telah membusuk dan hancur.” Yang mengejutkan, Penulis fiksi hanya satu, ada yang bisa menebak?

#3. Trilogi Insiden – Seno Gumira Ajidarma | Bentang | 2010

Tiga buku dalam satu bundel. #1. Saksi Mata, kumpulan cerpen. #2. Jazz, Parfum dan Insiden, novel dan #3. Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, kumpulan esai. Satu benang yang menyatukannya adalah tragedi di Dili tahun 1990an. Keberanian Bung Seno menulis kisah ini memberi konsekuensi berat karena di era Orde Baru, banyak fakta disulap seolah dongeng. “Kemerdekaan adalah impian terkutuk.”

#2. The Ocean at the End of the Lane – Neil Gaiman | Gramedia Pustaka Utama | 2013

Tahun ini saya membaca dua buku Gaiman, American Gods juga sangat bagus sayangnya terlampau mewah, dan menurutku kisah klasik sederhana yang bersetting di Inggris ini lebih berkelas. Sihir yang tak terduga, bagaimana ranting bisa menjadi kompas dan batasan-batasan dunia lain begitu nyata terlihat. Sungguh hebat, konsep ruang dan waktu yang dituturkan Neil. Salut. Saat akhirnya epilog kunikmati, seakan saya usai melahap puding-dan-pai-yang-manis, kau dalam masalah besar. Damn it! Saya jatuh hati sama karakter Lettie Hempstock. “Kau hanya perlu tumbuh dewasa dan berusaha untuk layak. Hidup ini memang tidak adil.”

#1. The Trial – Franz Kafka | Gramedia Pustaka Utama | 2016

Book of the year kita adalah karya lawas yang menghantui, diterjemahkan langsung dari Der Prozes. Bagaimana seorang pekerja dengan rutinitas kerja normal, yang menganggap dunia ini ya dinikmati suatu hari tiba-tiba ditahan polisi karena alasan tak jelas. Merasa tak bersalah, Joseph K dengan sabar dan tenang mengikuti persidangan demi persidangan hingga akhirnya kita tahu, masalahnya tak sesederhana yang kita kira. Kita seolah menaiki rollercoaster yang memusingkan, dan proses itu berujung sebuah tragedi. “Anda semua ternyata pegawai, sekarang saya tahu, Anda semua gerombolan tukang korup yang tadi saya bicarakan, Anda semua di sini berdesak-desakan sebagai pendengar dan pengintai, Anda semua berpura-pura tergabung dalam kelompok-kelompok, dan tampaknya tepuk tangan tadi dimaksudkan untuk menguji saya; rupanya Anda semua belajar cara menyesatkan dan membodohi orang yang tidak bersalah!”

Bagaimana dengan tahun 2019? See ya…

Karawang, 31 Desember 2018 – Sherina Munaf – Better Than Love

Matinya Seorang Penulis Besar – Mario Vargas Llosa

Hiburan saya adalah membaca, membaca buku-buku bagus, berlindung dalam dunia di mana hidup ini penuh gelora, intens, satu petualangan disusul lainnya, di mana saya bisa kembali merasa bebas dan bahagia. Dan itu ditulis diam-diam, bak seseorang yang menyerahkan diri pada kejahatan tak terkatakan, luapan hasrat terlarang. “Lima puluh tahun silam di Amerika, barangkali Edmund Wilsonlah melalui artikel-artikelnya id New Yorker atau The New Republic yang memutuskan gagal atau berhasil sebuah novel, esai dan puisi. Hari ini penentunya adalah acara TV Oprah Winfrey. Saya tidak bilang ini buruk, semata-mata demikianlah adanya sekarang.”

Sastra adalah pemberontakan permanen dan tidak bisa menerima jaket pengekang. Banyak cara untuk jatuh hati sama karya tulis, dari baca baca novel panjang penuh lika-liku, dari cerpen sederhana yang nge-twist, dari membaca pandangan hidup dan menuangkannnya dalam kumpulan esai. Untuk kali ini saya terpesona cara yang terkahir. Saya langsung jatuh cinta sama Mario Vargas Llosa berkat kumpulan esai ini. Dari ratusan karya tulisnya, saya belum membaca karya fiksi beliau satupun. Namun sudah jelas sangat kelihatan di sini bagaimana beliau berhasil membuka wawasan, mendobrak batas. Bagaimana efektif dan menakjubkannya pemikirannya, pandangan hidup, norma dan prinsip yang dijalani. Matinya Seorang Penulis Besar adalah kumpulan esai dari berbagai sumber. Sang penerjemah menyarikan yang terbaik terbaik, dan ini memang salah satu buku non fiksi terbaik yang pernah kubaca. Lha bagus semua euy, edun! Sebab Penulis, seperti anda ketahui adalah tukang recok abadi. Jos gandos. Menerbitkan buku yang mencoba memulihkan kebenaran yang telah diubah oleh fiksi.

Berisi 10 tulisan dari tahun 1960an sampai 2012, yang digores berdasarkan pengalamannya sendiri. Yang paling menyentuh saat beliau ke London dan menelusur jejak Penulis besar yang terasing di masa tuanya, kata-kata Marx bahwa “Penulis boleh menghasilkan uang untuk bisa hidup dan menulis tetapi tidak sedikitpun ia boleh hidup dan menulis untuk menghasilkan uang. Tidak sedikitpun penulis boleh menganggap karyanya sebagai harta. Baginya, karyanya adalah tujuan dalam dirinya sendiri.” Tulisan dalam Menjenguk Karl Marx (1966), Penulis Manifesto Komunis ini menghabiskan masa tua dalam kemiskinan. Ironis finansialnya sampai dibantu temannya Engels yang miris berujar, “Aku telah mengalami segala jenis permusuhan, tapi kini untuk pertama kalinya aku tahu apa arti kemalangan.”

Umumnya, Penulis Amerika Latin hidup dan menulis dalam lingkungan yang sungguh sulit, sebab masyarakat kita telah memapankan mekanisme membekukan yang hampir sempurna untuk menjegal dan mematikan panggilan hidup. Satu tulisan saat menerima penghargaan Nobel Sastra tahun 2010 di Stockholm juga dipilih dalamjudul Pujian Untuk Membaca dan Karya Fiksi (2010). Keren, menginspirasi untuk mengumpulkan semua pidato pemenang lain pas nerima penghargaan ini. Ayo dong, disusun dan diterbitkan, pasti laku. Lucu dan mengingat pengalamanku suatu malam saat menonton buku di toko buku di Lippo Cikarang yang kini sudah punah. Jadi saya pergi tanpa apa-apa, sesuatu yang jarang terjadi pada saya di toko buku. Sungguh kita akan punah, hanya masalah waktu. Peristiwa-peristiwa ini berlangsung tak lebih lama dari sekejap saat mereka disampaikan, lantas lenyap, tersapu dengan yang lainnya yang pada gilirannya juga akan dihabisi oleh yang lebih baru. Dan bagaimana imajinasi sejatinya memenuhi segala aspek kehidupan. Ibarat orang arif dalam salah satu fantasi indah Borgesian, berpura-pura menanamkan spekulatif dan impian-impian fiktif dalam kehidupan nyata.

Apakah novel ini benar atau bohong bagi sebagian orang sama pentingnya dengan apakah novel itu baik atau buruk, dan banyak pembaca – dengan sadar atau tidak sadar – menilai yang belakangan ini dari yang pertama tadi. Tulisan paling keren ada di bagian Benarnya Kebohongan (1989). Nyentil, unik, nyeleneh, bikin kzl tapi emang faktanya hampir semua buku yang berembel-embel based on true story itu dibumbui dramatisasi yang seringnya malah membuat lenceng cerita parah. Sebetulnya, novel memang berbohong, bahwa dengan berbohong, mereka menyatakan kebenaran ganjil yang hanya bisa diungkap dengan gaya sembunyi dan terselubung, tersamar sebagai sesuatu yang tidak seperti adanya. Pastinya selalu ada modifikasi, improvisasi sang Penulis sangat dibutuhkan. Orang tidak menulis novel untuk mengisahkan ulang kehidupan tetapi lebih untuk mengubahnya dengan menambahi sesuatu. Dengan cara yang kurang kasar dan kurang eksplisit, dan juga kurang sadar, semua novel membentuk ulang realitas.

Kehidupan fiksional adalah sebuah simulakra di mana ketidakteraturan yang memusingkan menjadi keteraturan: organisasi, sebab akibat, awal dan akhir. Sudah baca The Sound and The Fury? Novel karya William Faulkner itu tampak indah karena keberhasilan mencipta sebuah labirin di masa lalu, masa kini dan masa depan hidup berdampingan dan saling meniadakan. Kadang secara halus, kadang secara kasar, fiksi menghianati kehidupan, membungkusnya dalam jalinan kata-kata yang mereduksi skalanya dan membuatnya dapat digapai pembaca. Saya ingat membacanya di sebuah masjid di Depok, butuh lebih dari empat minggu, butuh konsentrasi berlebih karena memang kita ditenggelamkan dalam air sampai megap-megap. Fiksi bisa menjadi terlihat seperti kreasi serampangan, trik memperdaya pikiran yang sekenanya saja. Fiksi adalah pengganti sementara kehidupan. Kembali pada realitas selalu menjadi pemiskinan brutal. Manusia tidak puas dengan nasibnya dan nyaris semuanya – kaya atau miskin, cemerlang atau biasa-biasa aja, termasyur atau tidak – menginginkan hidup berbeda dari yang sedang mereka lakoni. Untuk meredakan – meski dengan cara yang menyimpang – rasa lapar tersebut, lahirlah karya fiksi.

Dalam Sastra Itu Api (1967), Mario Llosa bercerita proses panjang mencipta karya. Ingatkan mereka bahwa sastra itu api, yang berarti perbedaan pendapat dan pemberontakan, bahwa alasan keberadaan seorang Penulis adalah protes, konfrontasi serta kritik. Beliau berujar, “Venezuela telah membuat saya terbenam utang berlimpah ruah. Satu-satunya cara saya bisa membayar balik utang ini adalah dengan menjadi dalam batas-batas kekuatan saya, kian teguh dan kian setia pada panggilan untuk menulis ini, yang tak pernah saya sangka akan memberi kepuasan yang saya rasakan ini hari.” Nah, hasil yang baik selalu ada pemicu. Penting bagi tiap orang untuk memahami soal ini sekaligus: makin kritis tulisan-tulisan seorang Penulis menentang negeranya, makin intens gairah yang mengikat dia ke Negara tersebut. Sebab dalam ranah sastra, kekerasan adalah bukti cinta. Setuju sekali kan kalau kubilang Pram jadi hebat karena memang keterbatasan, kungkungan, pengasingan itu membuatnya melawan dan menulis jadi semacam perjuangan. Seperti kata Valle Inclan, “Keadaan adalah bukan seperti apa kita melihatnya, tetapi seperti apa kita mengingatnya.” Mencintai Negara tempat seseorang dilahirkan tidak bisa menjadi suatu kewajiban, tetapi seperti cinta lainnya haruslah sebuah laku spontan yang keluar dari hati seperti cinta yang menyatukan sepasang kekasih, orang tua dan anak serta teman-teman.

Sentilan paling ngena ada di Peradaban Tontonan (2012). Mungkin karena tulisan paling fresh, diketik tahun 2010an pasca menerima gelar tertinggi maka sungguh actual kata-katanya dengan era sekarang. Apa yang kita maksud terhadap perabadan tontonan? Yakni adalah dunia di mana tempat teratas dalam skala nilainya diisi oleh hiburan, di mana bersenang-senang, lari dari kesuntukan, menjadi hasrat universal. Relevan dengan dunia sosmed kita, bagaimana ada begitu banyak tunggangan untuk aktualisasi diri. Dan – maaf sebelumnya, bila ada yang tersinggung – agama dianut sebagai basa-basi sosial, sementara sebagian besar hidup mereka sesungguhnya tak terjamah agama.

Dalam ending tulisan ini sungguh mengeri karena menurut Llosa: media audiovisual, film, televisi, dan kini internet menyisihkan buku-buku, dan bila prediksi pesimisme George Streiner benar terjadi, maka dalam waktu dekat buku-buku akan terbuang ke katakombe. Rasanya tak rela, kalau koran, majalah dan sejenisnya yang mengejar harian berita bisa saja digerus tapi untuk buku-buku semoga tak dalam waktu dekat. Minimal please, generasi setelah Hermione. Internet kita tak sehat. Di bidang informasi tanpa disadari prioritaspun terjungkir balik: berita menjadi penting atau tidak penting bukan karena muatan ekonomi, politik, kultural atau sosial. Tetapi terutama dan kadang semata-mata karena ia baru, mengejutkan, menggemparkan dan spektakuler. Saya mencoba membatasi diri untuk dapat berita di internet, tapi sosmed pertemanan kan kita tak bisa menghalangi semua rekan untuk berbagi berita, malangya paling sebal kalau ada yang sher berita negative, lebih bikil kzl berita negative terkait politik. Alamak! Pertarungan Pemilu ini rasanya muak, dan ingin segera terlewati. Namun, baik si perempuan maupun tokoh-tokoh yang menyaksikan polahnya tidak tertawa karena bagi mereka tangis itu sendiri bentuk murninya bersinomin dengan kesedihan. Tak ada cara lain untuk bersedih kecuali menangis, “Meneteskan air mata yang hidup” kata sebuah novel, karena di dunia ini bentuklah yang penting, isi dari segala tindakan menginduk pada bentuk. Keremeh-temehan dunia, main-main, lagak, hiburan. Selain ‘benar-benar berteman’ dengan teman dan keluarga, saya (seolah) harus bentengi diri untuk berteman dengan komunitas film, para kutu buku dan tentu saja Laziale. #ForzaLazio Keberlebihan selalu lumrah, tak pernah menjadi perkecualian.

Sering dibilang bahwa istilah ‘intelektual’ baru lahir pada abad 19 di Prancis selama kasus Dreyfus dalam polemik yang ditimbulkan oleh artikel terkenal Emile Zola. “J’accuse”.

Tulisan paling standar mungkin di bagian Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan (1997) tentang petualangannya ‘jalan-jalan’ di London. Tak seperti bagian menjenguk sang filsuf, bagian ini lebih umum mengumbar pandangan, betapa ia bahagia ke sana. Kepindahan ini sebuah metamorphosis: selubung menyesakan dari kehidupan nyata kita tersibak dan kita meninggalkannya untuk jadi orang lain, menjalani perjalanan-perjalanan akrab yang dibikin seperti pengalaman kita sendiri di novel.

Sebagai Tulisan yang dinukil sebagai judul buku Matinya Penulis Besar (1994), bagaimana ia nyentil sampah karya. Dalam masyarakat macam ini bisa jadi buku-buku tetap ada, tetapi sastra mati sudah. Menurutku karya kurang mutu itu juga perlu ada kok, menjadi besar butuh proses dan menuju ke sana banyak kritik karya terbebaran, saya lebih suka menyebut buku yang mengecewakan sebagai sebutan ‘Bukan Selera Saya.’ Banalisasi yang dihasilkan oleh pusaran ini adalah tak ada buku yang permanen, semua lewat dan tak ada yang kembali sebab sastra kini hanya bermakna sebagai produk bagi konsumsi jangka pendek, hiburan sejenak atau sumber informasi yang kadaluwarsa secepat kemunculannya. Saya menganggap karya yang menurutku buruk, berarti memang buku itu dicipta bukan untukku dan mungkin untuk orang lain yang lebih pas, yang sesuai genre-nya. Seperti buku-buku Tere Liye, jelas itu sampah bagiku tapi nyatanya setiap tahun bukunya muncul di rak best seller! Merupakan hak prerogatif masyarakat terbuka. Dalam masyarakat ini keduanya hidup berdampingan, merdeka, dan berdaulat meskipun saling melengkapi dalam hasrat utopisnya untuk mengikutsertakan seluruh masyarakat. Berkat demokrasi dan pasar begitu banyak manusia bisa membaca dan mampu membeli buku, sesuatu yang tidak pernah terjadi di masa lampau ketika sastra adalah agama dan penulis adalah sesosok dewa kecil yang diberi penghormatan dan puja-puja oleh ‘minoritas kebanyakan.’ Lihatlah di rak-rak toko buku, remaja yang bahkan masih minta uang jajan sama orang tua kini bisa menulis cerita dewasa, era digital, globalisasi, internet mengubah banyak sekali hal dan kebiasaan. Jadi jarak Penulis dan Pembaca kini setipis gawai di tangan. Karena sesungguhnya seseorang yang berbakat dalam karya-cipta sastra dan sanggup menulis novel bagus atau sajak indah tidak serta-merta waskita secara umum. Maka genre KKPK misalkan, itu adalah sebuah hal positif untuk literasi kita. Ditulis oleh anak-anak dikonsumsi anak-anak, ibarat tabungan generasi yang saya yakini mereka-mereka nantinya menjadi penerus kutu buku berkualitas karena pengalaman hidup mutlak diperlukan. Hampir bagi setiap penulis, kenangan adalah titik mula fantasi, landasan yang meluncurkan imajinasi menuju fiksi dalam arah terbangnya yang tidak bisa terprediksi.

Kita kembali ke awal, esai pembuka buku ini adalah Nona Dari Somerset (1983) tentang kebaikan yang ditularkan, apa yang ditanam itulah yang dituai. Surat wasiatnya sesungguhnya adalah penghakiman tegas atas dunia menjijikan tempatnya dilahirkan, yang ia upayakan dengan keras untuk tidak ia hidupi. Walau materi tetaplah perlu, sejatinya semua akan digerus waktu. Sebagai anak-anak saya punya mimpi suatu hari ke Paris karena silau oleh sastra Prancis, saya yakin bahwa tinggal di sana dan menghirup udara yang dihirup oleh Balzac, Stendhal, Baudelaire dan Proust akan turut mengubah saya menjadi Penulis sungguhan. Atas alasan itulah sastra adalah ranah sempurna bagi ambiguitas.

Semakin dekat satu sama yang lain, makin benarlah ia; semakin jauh, semakin menipu. Menyebut sejarah Revolusi Prancis karya Michelet atau sejarah penaklukan Peru karya Prescott itu ‘novelistik’ berarti menghina mereka, mencibir mereka kurang serius. Atau malah justru karena itulah, sastra mengisahkan ulang sejarah yang tidak bisa atau tidak sanggup ditulis oleh sejarah tulisan sejarawan.

Mereka mengomunikasikan pada kita kebenaran-kebenaran yang numpang lewat dan mudah menguap yang selalu luput dari deskripsi saintifik atau realitas. Manakala kita membuka sebuah buku fiksi, kita setel diri kita untuk menjadi saksi representasi, di mana kita tahu betul bahwa air mata atau kuap kantuk kita tergantung sepenuhnya pada baik buruknya guna-guna yang dimantrakan snag narator pada kita agar menghayati kebohongannya sebagai kenyataan. Dalam masyarakat tertutup, cepat atau lambat masa lalu akan menjadi subjek manipulasi dengan sebuah pandangan untuk membenarkan masa kini.

Tokoh-tokoh protagonis yang timbul tenggelam tanpa jejak tergantung apakah mereka sedang dijunjung atau dienyahkan oleh kekuasaan yang ada.
Membaca mengubah mimpi menjadi hidup dan hidup menjadi mimpi dan menempatkan semesta sastra dalam jangkauan anak kecil seperti saya dulu. Untungnya ada para maestro untuk dipelajari dan teladan-teladan untuk diikuti. Flaubert mengajari saya bahwa bakat adalah disiplin yang ulet dan kesabaran panjang. Faulkner bahwa bentuk – penulisan dan struktur – mangangkat atau memiskinkan tema. Martorell, Cervantes, Dickens, Balzac, Tolstoy, Conrad, Thomas Mann bahwa besaran dan ambisi sama pentingnya dalam sebuah novel sebagaimana ketangkasan stilistik dan strategi narasi. Sartre bahwa kata-kata adalah aksi bahwa novel, drama atau esai yang bergulat dengan aktualitas dan pilihan-pilihan yang baik bisa mengubah jalan sejarah. Orwell dan Camus bahwa sastra yang dilucuti dari moralitas itu tidak manusiawi. Dan Malraux bahwa horeisme dan tindakan epic masih mungkin pada zaman ini sebagaimana zaman Argonaut, Odisea dan Illiad.

Llosa di bagian akhir bilang bahwa “Keraguan ini tak pernah mematahkan panggilan saya dan saya pun terus menulis, bahkan ketika masa-masa mencari nafkah menyita sebagian besar waktu saya. Saya yakin akan apa yang saya lakukan ini benar karena agar sastra bisa berkembang sebuah masyarakat pertama-tama perlu untuk mencapai kebudayaan tinggi. Ibarat menulis, membaca adalah protes terhadap tidak memadai hidup.

Kita mengarang fiksi agar bisa menjalani banyak hidup yang ingin kita lakoni padahal kita sendiri Cuma punya satu kehidupan yang tersedia. Llosa yang menjelajah menjadi warga dunia dan berujar saya tak merasa menjadi orang asing di Eropa, atau sejujurnya di manapun. Di semua tempat yang peranh kutinggali, saya merasa betah. Kediktatoran menghasilkan kedurjanaan absolut untuk sebuah negeri, sumber brutalitas dan korupsi serta luka-luka mendalam yang butuh waktu lama untuk menutup, meracuni masa depan bangsa, dan membentuk kebiasaan dan praktik-praktik mudarat yang bertahan selama sekian keturunan dan menghalangi rekonstruksi demokratis. “Yang memalukan kehidupan di zaman kita bukanlah serangan terhadap nilai-nilai moral, melainkan terhadap prinsip realitas.

Untuk kesekian kalinya saya baca terjemahan Bung Ronny Agustinus, hebat sekali penerjemah yang satu ini. Bukunya tersebar di mana-mana, dari berbagai penerbit. Salut! Kualitas OK, mudah dipahami, sangat nyaman dibaca, serta mengalir mengikuti genre setiap Penulis aslinya. Mantab soul! Bung Ronny seolah hanya penyaluran ke penerbit. Tanpa penerbit, tanpa pembaca tanpa budaya yang merangsang, menuntutnya, Penulis Amerika Latin adalah orang yang berangkat perang dengan tahu sejak awal bahwa dia akan kalah. Amerika Latin tiga puluh tahun lalu, mirip dengan Indonesia saat ini. Budaya baca masyarakat kita masih rendah.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip ini, “Budaya-budaya religius menghasilkan puisi dan teater, tetapi jarang-jarang sebuah novel besar. Karya fiksi adalah seni suatu masyarakat yang imannya sedang menghadapi krisis tertentu, di mana orang percaya pada sesuatu, di mana visi yang satu, absolut dan terpercaya digantikan visi yang retak serta ketidakpastian tentang dunia yang ditinggali seseorang beserta akhiratnya.” Jadi sekarang kita bisa tempelkan sebuah pengumuman di setiap atap tv masyarakat, ‘Dicari JK Rowling-nya Indonesia!’

Matinya Seorang Penulis Besar |oleh Mario Vargas Llosa | Diterjemahkan (terpilih) dari empat buku Contra Viento y Marea, La Verdad de la Mentiras, El Lenguaje de la Pasion, dan La Civilizacion del Espectaculo + Pidato penerimaan Nobel Sastra | Penerjemah Ronny Agustinus | Penyunting Adhe | Tata Letak Wediantoro | Penyelaras akhir Ipank Pamungkas | Desain sampul Sukutangan | Cetakan Kesatu, 2018 | ISBN 978-602-6657-94-7 | x + 142 Hlm; 13 x 19 cm | Penerbit Immotal Publising dan Octopus | ig @shiramedia | Skor: 5/5

Karawang, 2510 – 171218 – Sherina Munaf – Menikmati Hari