The Naked Face – Sidney Sheldon #2

image

Buku kedua Sheldon yang selesai kubaca di bulan ini. Setelah kurang menghentak di A Stranger in the Mirror buku kedua ini ternyata sama datarnya. Apakah ekspektasiku yang ketinggian? Dengan nada bombastis: Jago Cerita kelas dunia, lebih dari 200 juta eksemplar bukunya sudah beredar di pasaran dan diterbitkan dalam 73 bahasa di 100 negara, sebenarnya harapan tinggi yang kucanangkan seharusnya wajar.
Tentang dekektif. Mendengarnya saja sudah senang, saya suka semua buku Agatha Christie terlebih Sir Arthur Conan Doyle. Kisah-kisah detektif tiada duanya. Maka ketika di adegan pembuka, disebutkan sesorang dibunuh di tengah kerumunan lalu dua detektif menyelidikinya, saya langsung sumringah. Ada benang tipis yang menggelitik setiap baca kisah tebak sana-sini. Sayangnya untuk Wajah Sang Pembunuh, saya bisa menebak dan ternyata sampai halaman terakhirnya tebakan saya tepat. Sheldon kurang jeli menyembunyikan pelaku. Terutama sekali adegan di pemasangan bom di mobil korban, jelas itu blunder. Walaupun tebakan saya sudah tepat sejak awal, namun pas temuan bom mobil itu penegasan.
Kisahnya maju terus tanpa menengok ke belakang. Tentang seorang psikoanalis, Judd Stevens yang diburu. Dua orang dekatnya tewas dibunuh dengan sadis. John Hanson, pasiennya yang homoseksual suatu pagi ditusuk di punggungnya di tengah jalan yang ramai. Di bulan Desember yang dingin jelang Natal, John yang pulang dari terapi dengan Dokter Judd menyisakan tanya apakah motif sang pelaku? Hari itu juga datang dua detektif dari kepolisian setempat, McGready dan Angeli. Keduanya membawa jas hujan sang korban yang ternyata milik dokter. Judd bilang pagi itu jas hujannya dipinjam Hanson. Korban kedua muncul petang harinya, Carol Roberts sekretaris Dokter Judd dibunuh dengan keji di kantor saat dirinya sedang memberitahu keluarga Hanson. Saya justru mengapresiasi cara bercerita Sidney tentang latar belakang Carol yang runut enak dibaca. Carol adalah ramaja kulit hitam, seorang pelacur 16 tahun yang diselamatkan hidupnya. Disekolahkan, dididik untuk menata kesempatan kedua. Malam itu, akhirnya muncul kesimpulan bahwa target sesungguhnya adalah Dokter Judd. Hanson dan Carol adalah korban pembuka dan salah sasaran.
Paginya semua surat kabar memberitakan kasus ini. Lalu Judd menganalisis kemungkinan-kemungkinan pelaku. Dimulai dari para pasien. Pertama, Teri Washburn seorang wanita yang haus seks. Menikah berkali-kali, melakukan terapi untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Mantan bintang Hollywood yang pernah membunuh selingkuhannya karena selingkuh itu selalu menggoda Judd. Kedua Harrison Burke, pasien yang mengalami paranoid. Seorang wakil presiden sebuah Perusahaan besar yang merasa bahwa orang-orang di sekitar selalu mencoba membunuhnya. Dia selalu takut setiap interaksi dengan karyawan, kalut kalau-kalau ada orang akan menembaknya. Dia merasa dijegal sehingga ga bisa promosi jadi nomor satu. Ketiga  Anne Blake, pasien yang cantik. Judd jatuh hati pada istri orang. Suaminya seorang pengusaha kontruksi yang sukses, baru menikah 6 bulan. Setiap kebutuhan materi Anne terpenuhi, namun keadaan jadi janggal karena Anne yang datang ke kantor Judd tanpa buat janji, tanpa tahu masalahnya, tanpa detail profil dan selalu membayar cash setelah berobat. Bayar tunai yang memunculkan dugaan agar tak terlacak identitasnya? Masuk akal kan. Keempat Skeet Gibson, pelawak yang dicintai Hollywood. Pernah ke rumah sakit jiwa, hobinya berkelahi di bar-bar karena dia bekas petinju.
Melalui rekaman-rekaman percakapan pasien, Judd mencoba menelaah semuanya. Namun selain mereka muncul dugaan lain, bisa jadi detektif McGready sendiri yang melakukannya. Bisa jadi dia punya motif balas dendam karena pernah mengirim Ziffren ke rumah sakit jiwa. Ziffren adalah pembunuh partner McGready beberapa tahun lalu. Padahal bisa saja Ziffren dihukum mati, hal ini membuat marah McGready. Angeli juga perlu dicurigai, sebagai partner baru McGready tingkah lakunya ganjil. Sakit flu, izin ga dinas tapi ternyata keluyuran. Selain nama-nama itu, Dokter Peter bisa juga masuk pusaran, sebagai sahabat terbaik tentunya tahu seluk beluk dokter Judd. Peter dan istrinya selalu mencomblangkan Judd dengan gadis-gadis cantik agar Judd menikah lagi. Semua karakter bisa jadi tersangka. Kepada siapa Sheldon akhirnya menjatuhkan antagonis sesungguhnya?
Well, separuh awal kisah digulirkan dengan enak sekali. Detail-detail yang memanjakan mata, pengenalan karakter yang membuka imaji, sampai tatanan ruang kejadian yang asyik diikuti. Sayang sekali Sheldon terpeleset, sebuah kisah detektif akan jadi seru kalau bisa mengecoh pembaca. Kenapa Sherlock begitu memukau? Karena pola pikirnya yang out the box tak bisa diikuti kebanyakn orang. Dengan brilian diceritakan partner-nya dokter Watson, pembaca nyaris selalu berhasil ditipu. Di kisah Wajah Sang Pembunuh, Sheldon memaparkan kemungkinan-kemungkinan motif daftar karakter yang sayangnya tak ada back-up kemungkinan kedua sehingga pembaca dengan leluasa menebak tersangka dengan mudah. Lubang plot paling besar adalah mematikan karakter detektif Moody yang sebenarnya masih bisa berkembang, Sheldon dengan gegabah menceritakan rencana liburan Judd kemudian membatalkannya dengan gamblang seolah-olah menunjuk ini dia pelakunya.
Ending-nya sendiri akan lebih menarik seandainya dibuat sedih. Dokter Judd diburu sekaligus dirinya memburu, setiap detik berharga. Ketika akhirnya diungkap pelakunya lalu menuju klimak cerita, sayang sekali pelaku utama yang terdengar bengis dan cerdik justru berlaku konyol. Cara mengakhiri orang ketika ada pistol di tangan adalah tembak kepalanya dalam jarak dekat. Bukan malah ngerumpi seolah-olah ketemu teman lama yang ngajak ngopi. Keputusan Anne di kala genting juga penting untuk menentukan hasil akhir. Sangat disayangkan ini kisah happy ending.
Namun Sidney tetaplah Sidney. Bagian pengungkapan Don Vinton itu ide cemerlang, tak terpikirkan akan dipecahkan dengan unik sambil lalu. Lalu karakter paranoid Harrison Burke itu mantab. Suka dengan orang yang menganggap dirinya istimewa, over confident, nyeleneh. Walau tampil sepintas, jelas sifat Judd akhirnya terduplikat darinya. Judd Stevens harus bisa menanggalkan topeng wajah tak berdosa yang dikenakannya dan menelanjangi gejolak-gejolak emaosinya yang paling dalam, ketakutan dan kengerian, dambaan, nafsu dan dengan demikian menampilkan wajah sang pembunuh. Berhasilkah?
Wajah Sang Pembunuh | diterjemahkan dari The Naked Face | copyright 1970 by Sidney Sheldon | alih bahasa Anton Adiwiyoto | GM 402 96.034 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kesembilan, Oktober 1996 | 328 hlm; 18 cm | ISBN 979-403-034 | Untuk wanita-wanita dalam hidupku: Jorja, Mary dan Natalie | Skor: 3/5
#2/14 #SidneySheldon Next: Master of the Game, pencarian berlian di Afrika Selatan. Cover hitam yang terlihat cantik, tebalnya 764 halaman. Semoga seru.
Karawang, 221015 – Guardate che ha fatto il don vinton
E molto bene di ritornare a casa | Si, d’accordo | Signore, per piacere, guardatemi | Tutto va bene | Si, ma… | Dio mio, dove sono i miei biglietti? | Cretino, hai perduto i biglietti | ah, eccoli

The Lovely Bones #16

image

Namaku Salmon, seperti ikan, dan nama depanku Susie. Umurku empat belas tahun saat aku dibunuh pada tanggal 6 Desember 1973.
Kalimat pembukanya langsung pada inti. Tanpa ba-bi-bu kita langsung dihadapkan pada fakta pahit bahwa ini bukan buku yang bisa kita nikmati sambil tiduran atau minum susu manis. Ini buku tentang kehilangan seseorang yang dicinta. Lika-liku menghadapi fakta tersebut dan waktu terus berjalan, apapun terjadi. Saya membacanya beberapa bulan sebelum adaptasi film dibuat. Masih menggunakan cover asli bukan dengan wajah Saoirse Ronan. Membacanya butuh kesabaran, banyak temanku bilang mereka bosan, tak sedikit yang berguguran di tengah jalan tanpa tahu kapan selesai. Saya sendiri membutuhkan waktu lebih dari seminggu untuk menuntaskan. Karena untuk mendapatkan buku saya harus mengeluarkan uang maka harus dilahap habis. Saat kita menemui titik membingungkan atau mungkin jemu, jangan berhenti. Paksa terus sampai selesai, kalau ga gitu maka buku ini akan ditelan kegiatan lain lalu terlupakan. Tulang-tulang Yang Cantik disusun dengan hati-hati dan penuh pertimbangan, begitu juga saat membacanya. Nikmati tiap lembarnya dengan pelan dan khidmat dan kau akan menemukan ‘kesenangan’ di kasus hilangnya remaja Susie Salmon.
Ini bukan tentang teka-teki siapa pembunuh Susie karena sudah dijelaskan sedari awal cerita, Mr. Harvey tetangga yang aneh-lah pelakunya. Dia membangun ruang bawah tanah, tempat persembunyian, tempat untuk menjebak korban. Saat awal Desember itulah Susie menemui ajal. Susie bertemu Holly, seorang remaja yang juga sudah meninggal di alam baka In-Between (antara). Di sana, tempat itu bagai impian. Segala yang diinginkan bisa langsung diperoleh – kecuali hal yang paling diinginkannya: kembali ke bumi. Pulang ke pelukan orang-orang yang dicintai. Cerita selanjutnya sampai akhir akan berkutat dari usaha pencarian Susie, usaha kabur sang pembunuh, kesedihan teman-teman, dan fokus utama ke keluarga yang terkoyak menghadapi kenyataan pahit tersebut. Disajikan dengan tempo pelan dengan plot yang disusun agar kedukaan itu tak terlalu tajam melukai pembaca.
Mr. Harvey menyusun strategi kabur saat orang-orang mulai curiga. Saat dugaan kuat mengarah padanya dia mengambil tindakan nekat. Akankah dia berhasil ditangkap? Poster hilangnya Susie ada di mana-mana, beritanya ada di koran. “Hilang, diduga akibat tindak kriminal; siku lengan ditemukan anjing tetangga; gadis 14 tahun, diduga dibunuh di ladang jagung Stolfuz; peringatan bagi wanita-wanita muda lain; dinas tata kota akan mengatur kembali bidang-bidang tanah di samping SMA; Lindsey Salmon, adik gadis yang meninggal itu, menyampaikan pidato perpisahan.” Lalu akankah mayat Susie ditemukan? Dalam satu adegan yang membuat saya merinding, ayahnya bersama pembunuh membangun tenda bersama, ngobrol santai seakan tidak ada apa-apa. Itu ironi yang menyayat hati.
Sementara fakta baru yang menyakitkan terbuka. Ibunya mengalami depresi berat sampai memutuskan untuk menyendiri. Adik bungsu, Buckley masih berusaha memahami arti kata ‘ meninggal’. Sesekali menanyakan dimana Susie? Dimana kakak? Ia berusaha memahami arti kata terluka dan mencoba membiasakan tahu siapa yang tak ada di rumah selamanya. Granma Lynn datang ke rumah untuk memberi dorongan agar tabah atas musibah tersebut. Keluarga yang awalnya sempurna penuh keceriaan itu menjadi berantakan dalam kesedihan panjang nan berlarut-larut. Namun seiring berjalannya waktu, Susie melihat dengan kerinduan dan pemahaman yang makin bertambah bagaimana orang-orang yang dikasihinya melanjutkan hidup dengan mengarungi duka yang makin lama makin terobati.
Sebuah buku renungan, butuh keberanian untuk menuntaskan 400 halaman. Pujangga Spanyol, Juan Ramon Jimenez pernah bilang: “Kalau mereka memberimu kertas bergaris, menulislah tanpa mengikuti arah garis.” Buku ini ditutup dengan harapan bertuliskan: ‘Kudoakan kalian semua panjang umur dan hidup bahagia’.
The Lovely Bones | by Alice Sebold | copyright 2002 | Tulang Tulang Yang Cantik | alih bahasa Gita Yuliani K | GM 402 08.024 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, April 2008 | 440 hlm;20 cm | ISBN-10: 979-22-3656-2 | ISBN-13: 978-979-22-3656-9 | Glen, Selamanya | Skor: 4/5
Karawang, 160615 – toxic
#16 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Boy In The Striped Pyjamas #12

Featured image

Selesai membaca buku ini saya merinding. Sebuah buku tentang anak-anak yang ‘terjebak’ di tempat yang salah, namun buku ini jelas bukan untuk anak-anak. Kisahnya mengalir dengan tenang, sesekali ada kemarahan mencuat sampai akhirnya aliran itu tiba pada tebing curam yang mengakibatkan pembaca trenyuh. Mungkin ini salah satu novel terbaik tentang Perang dunia Kedua yang pernah kubaca. Tanpa banyak nasehat betapa perang itu kejam, tanpa ribuan senjata mengacung, tanpa adegan bombastis di medan laga. Dari sudut pandang Bruno, anak SD yang belum paham maksud kejadian di sekelilingnya. Kita diajak berpetualang di kam konsentrasi NAZI.

Cerita dibuka dengan perpisahan. Bruno kaget ketika pulang sekolah, kamarnya diacak-acak. Barang dan mainannya sudah dipak rapi. Ibunya lalu bertutur bahwa mereka akan pindahan. Ayahnya mendapat ‘promosi’ jabatan sehingga mengharuskan mereka pindah dari kota Berlin.

“Seberapa jauh tempat itu?” Tanyanya. “Pekerjaan baru itu maksudku. Apa lebih jauh dari dua kilometer? Lalu bagaimana dengan Karl, Daniel, dan Martin? Bagaimana mereka bisa tahu di mana aku tinggal kalua kami ingin melakukan sesuatu bersama?” (halaman 15).

Betapa polosnya anak-anak. Bruno yang betah di Berlin tentu saja kecewa berat mereka harus pindah. Teman-teman akrab, suasana yang menyenangkan, dan rencana-rencana besar mereka berantakan. Bahkan Bruno tak sempat berpamitan dengan mereka. Keadaan makin tak menyenangkan saat mereka tiba di rumah baru. Sempit, terpencil dan tentu saja asing. “kupikir ini ide yang salah.” Namun keputusan sudah diambil.

Bruno lalu curhat sama pelayan Maria yang selalu memanggil Master Bruno. Namun dia bisa apa. Tempat baru bernama Out-With tersebut benar-benar payah. Bruno yang suka petualangan merasa kesepian. Gretel, kakaknya walau mengeluhkan juga, mencoba berfikir positif. Walau dia awalnya juga sebal. Out-With berarti muak. Kelak kita tahu, maksud dari pembicaraan Bruno dan Gretel di halaman terakhir.

Bab 7 Ibu Ingin Dipuji atas Sesuatu yang Tidak Dilakukannya adalah bagian terbaik dari novel ini. Betapa talenta-talenta besar disia-siakan. Betapa lemah kita menghadapi kenyataan. Betapa pengecutnya kita menatap kebenaran. Bagian ini sempat membuatku menitikan air mata, dan makin deras saat adegan klimak. Kejutannya disimpan sampai benar-benar terakhir. Saya sendiri awalnya tak terlalu paham, arah plot ini. Namun di awal bab Rencana Petualangan Terakhir saya langsung curiga. Wah, jangan-jangan… Dan benar saja, ini bukan buku untuk anak-anak. Seperti yang disampaikan di back-cover yang biasanya berisi sinopsis di buku ini tidak ada. John malah memberi kita kata-kata tanpa arti.

“Membosankan? Putraku menganggap pelajaran sejarah membosankan? Biar kuberitahu, Bruno.  Sejarahlah yang telah membawa kita sampai ke saat sekarang ini. Kalau bukan karena sejarah, tak satupun dari kita akan duduk di depan meja ini sekarang. Kita pasti akan duduk-duduk nyaman di depan meja makan rumah kita di Berlin. Di sini kita sedang mengoreksi sejarah.”

Sejarah. Oh perjalanan kelam abad 20 itu mudah-mudahan takkan terulang lagi di belahan bumi manapun.

The Boy In The Striped Pyjamas | by John Boyne | copyright 2006 | alih bahasa: Rosemary Kesauli | GM 402 07.047 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Juli 2007 | ISBN-10: 979-22-2982-5 | ISBN-13: 978-979-22-2982-0 | Skor: 4/5

Karawang, 120615 – sometimes…

#12 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Homework Machine #11

Featured image

Well, tak terasa event #30HariMenulis sudah memasuki paruh kedua. 10 hari pertama sejauh ini lancar, walau sesekali (kemalasan) sinyal jadi kendala. Sebenarnya tahun ini teman-teman membuat tema, di mana tulisannya harus sesuai apa yang jadi patokan, namun saya malah keluar jalur ke buku. Karena sudah jarang update facebook terpaksa catatan migrasi ke sini. Toh intinya sama, bikin tulisan 30 buah. Di hari ke 11 ini saya ingin mengulas buku yang saya beli pada tanggal 10-10-10 di hari Minggu di Senayan, Jakarta itulah kedua kalinya saya kopi darat sama komunitas Gila Film. Waktu itu saya belanja buku lumayan banyak, maklum masih lajang. Kebanyakan buku terbitan Atria. Dan Mesin PR (pekerjaan rumah) ini adalah salah satunya.

Dibaca hanya dalam satu hari, buku tipis 163 halaman ini sungguh unik. Ditulis dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Dan mendedikasikan buku ini untuk anak-anak yang membnci PR, tetapi tetap mengerjakannya. Cerita dibuka dengan sudut pandang Komandan Polisi Rebecca Fish yang memberi pengakuan bahwa ini kasus langka. Dalam 10 tahun tugasnya ini adalah kasus paling nyeleneh yang pernah ia tangani. Ber-setting di Negara bagian Arizona, sebuah SD Grand Canyon (ya, dekat ngarai yang terkenal itu) gempar. Beberapa siswa diintrogasi di kantor polisi karena ‘kejahatan’ mereka. Awalnya gugup dan ngelantur saling menyalahkan, namun mereka lalu dapat mengendalikan emosi, dan cerita-pun ditarik dari awal. Di bulan September, awal semester cerita ini dimulai.

Semua ini gara-gara Brenton Damagatchi, seorang anak SD yang istimewa. Dari kecil dirinya sudah terlihat berbeda, jarang menangis, sering menyendiri, hobinya main catur melawan dirinya sendiri dan belajat autodidak piano saat baru bisa belajar jalan. Bicaranya tentang orang-orang besar, dari Presiden Abraham Lincoln yang pernah berpidato dan bilang, “this is cool”. Bercita-cita lebih kaya dari Bill Gates. Ngomongin musik klasik. Sampai penelurusan kenapa Thomas Alva Edison ga lulus sekolah. Edison tak pernah mengerjakan PR, dan itu sungguh inspirasi untuk ‘ditiru’ oleh Brenton.

Menurut Brenton: Ide membuat mesin yang bisa menyelesaikan PR sebenarnya dari hal yang sederhana. Scanner memindai lembar kerja dan menyalurkan ke computer. Itu bukan masalah besar, aku lalu memodifikasi perangkat lunak yang mengenal pola sehingga bisa mengartikan kata-kata dan angka, untuk mengetahui apa yang ditanyakan. Jika informasi itu sudah ada di dalam computer, seperti jumlah dua tambah dua, computer akan memuntahkan jawaban begitu saja, dan printer akan mencetak sehelai duplikat lembar kerja dengan jawaban-jawabannya. Jika pertanyaannya tak ada dalam computer, seperti diameter bumi, secara otomatis computer akan mencari di internet, tempat semua pengetahuan virtual tentang dunia tersimpan dalam bentuk digital. Computer akan mencari jawaban dari situs web yang paling terpercaya, memeriksa kebenarannya di situs web lainnya dan printer akan mencetaknya. Bagian yang paling sulit adalah merancang perangkat lunak untuk mencetak jawaban dengan suatu jenis huruf yang tampak seperti tulisan sendiri. Ini bukan fiksi sains. Ini adalah hal yang cukup mendasar, sebenarnya. Aku terkejut karena tidak ada orang lain yang memikirkannya sebelum aku. (halaman 44-45)

Mesin PR yang diberi nama Belch – sendawa – itu awalnya ga terlalu bermasalah bisa membantu Brenton, snik, Judy dan Kelsey. Namun perlahan-lahan bu guru curiga karena nilai mereka selalu bagus dan sama. Keadaan lalu menjadi kacau saat mulai ada teror telpon dari laki-laki yang mengaku bernama Milner. Saat terdesak, Judy makin membuat keadaan sulit.

Aku tak pernah berbohong. Beberapa orang bisa menatap matamu begitu saja dan mengatakan bahwa kau adalah pembohong besar, dank au tidak akan pernah mengetahuinya. Saat aku berbohong, aku menjadi gelisah dan mulai berkeringat serta tergagap, dan aku tidak bisa menatap wajah orang yang mengajakku bicara. Aku sama sekali tidak ahli. Aku lebih memilih untuk mengungkapkan kebenaran, sejujurnya. Namun kadang-kadang, kita tidak bisa melakukannya. (halaman 90)

Jika aku tidak memiliki sesuatu yang menyenangkan untuk dikatakan kepada seseorang, sebaiknya aku tidak mengucapkan apa-apa. Namun aku berbohong dan berkata kepada Kelsey bahwa anting-anting di pusarnya itu keren. Aku tidak ingin melukai perasaannya. (halaman 97)

Sehebat-hebatnya mereka menutupi, akhirnya terjatuh juga. Belch yang makin hari disempurnakan makin terlihat menakutkan karena Belch sepertinya mulai bisa berfikir sendiri. Telpon terror makin membuat mereka harus melakukan sesuatu yang diluar batas anak-anak SD. Bagaimana nasib Belch? Post-it sempurna karena memiliki kegagalan. Dan buku ini sungguh menyenangkan diikuti. Nostalgia masa kecil, dimana hal yang paling memberatkan kita hanya PR. Sisanya, bersenang-senanglah…

The Homework Machine | by Dan Gutman | copyright 2006 | Penerjemah: Maria M Lubis | Penerbit Atria | Cetakan I: Juni 2010 | ISBN 978-979-024-452-8 | Skor: 4/5

Karawang, 110615 – Everybody (Backstreet’s Back)

#11 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Railway Children #9

Featured image

Seri klasik adalah jaminan mutu. Setiap melihat novel dengan embel-embel ‘seri klasik’ biasanya ga perlu mikir dua kali untuk membelinya. Layaknya stempel pemenang nobel, rasanya tak akan mengecewakan. Anak-anak Kereta Api adalah buku incaran lama dan baru terwujud bulan lalu. Cerita tentang ketulusan, persahabatan, kesabaran dan ketabahan menghadapi perubahan yang luar biasa disajikan dengan indah. Di akhir membaca saya sampai terkagum-kagum, adakah sifat manusia legowo itu di diri anak-anak? Dituturkan dalam 14 bab, mengalir tanpa henti yang berarti saya membacanya dalam sehari saat liburan. Buku yang bagus adalah selalu memberi kita rasa tanya penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, kisah kereta api ini memberikannya.

Cerita dibuka dengan kesedihan, dari puncak mereka turun. Ayah pergi dan tak tahu kapan kembali. Mereka pindah dari pusat kota dengan rumah bagus dan pelayan yang melayani menuju daerah pinggir kota dengan sawah mengelilinginya. Tinggal di dekat stasiun kereta kecil yang kadang singgah, kereta api ibaratnya adalah penghubung mereka dengan dunia luar. Hebatnya mereka tak berlarut sedih, mencoba menikmati dunia baru dan ini yang paling luar biasa: Selalu Berfikir Positif. Misteri kepergian ayah mereka disimpan rapat sampai akhir cerita, seperti yang ada dalam pikiran mereka bertiga, pembaca akan dibiarkan menebak-nebak ada  apa gerangan?

Mereka adalah tiga bersaudara: Roberta yang dipanggil Bobbie si sulung, Peter yang banyak akal dan Phyllis yang ceria. Ibu mereka yang menjadi tulang punggung keluarga selalu mencoba tampak senyum di depan. Setiap hari kerjanya di depan mesin tik, membuat cerita, puisi untuk dikirim ke meja redaksi. Penulis yang bertahan hidup. Puisi-puisi yang lucu.

Dia punya lokomotif kesayangan | Yang disayanginya sepenuh hati | Satu-satunya yang dinginkannya | Jangan-jangan rusak si Lokomotif | Suatu hari Kawan, nasibnya sial | Sial sungguh sial | Satu sekrupnya terlepas | Dan meledaklah ketel uapnya! | Dengan tampang muram | Dipungutnya si Lokomotif | Ditunjukkannya pada ibunya | Bu, bu bisakah ibu memberi ganti? | Wah, wah bagaimana ya? | Peter sepertinya tak peduli | Baginya, yang penting tetap si Lokomotif | Bukan Ayah, bukan Ibu, apalagi Adik atau Kakak | Kini tahulah aku apa sebabnya | Peter terserang salesma | Obatnya gampang, pie burung dara | Dilahapnya habis, tak tersisa | Ia membungkus diri dengan selimut | Lalu tidur, tidur dan tidur | Rupanya Peter ingin melupakan | Nasib sial yang ditanggungnya | Dan jika matanya agak merah | Pasti salesma menjadi alasan | Tapi jika ada pie burung dara | Pasti ia takkan menolak

Ayah sayang, umurku baru empat | Dan aku tak mau jadi tua | Paling asyik umur empat | Dua tambah dua atau satu tambah tiga | Aku pilih dua tambah dua | Ibu, Peter, Phil dan ayah | Yang ayah cintai satu dan tiga | Ibu, Peter, Phil dan Roberta

Awal kehadiran mereka di rumah dengan cerobong asap di desa rasanya berat, namun mereka mencoba berdamai dengan kenyataan. Adaptasi dengan cepat, berteman dengan orang-orang stasiun: Pak Perks sang portir, kepala stasiun, kakek misterius sampai seorang buron yang tersesat. Semua diceritakan dengan renyah nyaris tanpa cela.

Hari yang luar biasa. Hari yang penuh kenangan yang jarang sekali singgah dalam hidup kita, atau bahkan kebanyakan dari kita takkan mengalaminya. Banyak hal lain harus kupikirkan, selain hari ulang tahunku. Meskipun kita sendiri sudah punya banyak, bunga bagus juga sebagai hadiah ulang tahun. Ternyata tidak mudah meminta kepada orang lain, meskipun itu bukan untuk diri kita sendiri. Orang-orang miskin biasanya punya harga diri tinggi, kalian harus tahu itu. Nah, saya kapok, saya takkan pernah berbuat baik lagi pada orang lain, seumur hidup. Tidak, takkan pernah lagi. Karena kalau laki-laki tak bisa menghargai dirinya sendiri, orang lain pun takkan menghargainya. Yang direncanakan haruslah sama dengan yang dimaksud, begitu seharusnya. Tapi susah benar jadi anak baik-baik, ketika kita justru telah berusaha sebaik-baiknya. Rok dalam flanel ternyata banyak gunanya, seharusnya orang membuat patung penemunya untuk menghormati dan memperingatinya. Kalau kita berbuat dan bersikap baik terus-menerus, suatu saat tiba-tiba muncul keinginan untuk berbuat iseng— bahkan berbuat jahat. Seorang lelaki sejati harus mampu mengerjakan sesuatu yang berguna tanpa merasa takut. Makin lembut dan perasa hati seorang wanita makin tegar dan tabah dia melakukan apa yang dipikirnya harus dilakukan. Dan terakhir, kurasa setiap orang mau berkawan dengan kita jika kita bersikap bersahabat.

Saya akan mendoakan Anda dua kali sehari, seumur hidup saya kalau saja Anda bersedia – bersedia membantu kami. Akhirnya alangkah asyiknya kalau kita semua hidup seperti di dalam buku-buku cerita, dan ibu yang mengarangnya. Tapi kalau Tuhan yang jadi sang Pengarang, Tuhan tahu bagaimana mengakhiri sebuah cerita dengan sebaik-baiknya— yang terbaik bagi kita semua.

Ada anak baru di kelas | Parr namanya | Parr suka membual | Membuat orang jadi kesal | “ayahku pemburu beruang, ibuku bisa menghitung bintang” | Parr, Parr jangan membual | Tukang bual nasibnya sial | Parr sebenarnya pengecut | Parr sebenarnya penakut | Lututnya goyah dan gemetar  | Bila disuruh naik perahu layar | Bodoh, konyol, tapi sombong | Itulah Parr si tukang bohong | Jika digoda langsung menangis | Meski sebenarnya ia cukup manis | Wigsby Minor berkata arif | Parr seperi umumnya anak baru | Tidak mudah menyesuaikan diri | Dengan lingkungan yang serbabaru

The Railway Children | oleh Edith Nesbit | penerjemah Widya Kirana | GM 402-01-10.0034 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, Juni 1990 | 312 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-5257-6 | Skor: 5/5

Karawang, 090615 – so little time

#9 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Sitter: Unfunny and Drama Unwelcome

Noah: I know you’re a little kid, and I know I’m not supposed to say this kind of stuff to you, but f**k you. F**k you so much. You’re a douche.

Gara-gara salah bajak nih, saya salah nonton film. Di sampul dvd bajag-an tertulis ‘The sisters’ dengan embel-embel berdasarkan buku karya Anton Chekov. Saya langsung minat untuk nonton filmnya karena beberapa hari yang lalu saya baru saja menyelesaikan baca salah satu buku Anton. Eh pas diputar, adegan pembuka isinya Jonah Hill sedang merayu cewek. Tapi karena sudah klik ‘play’ ya lanjut terus. Tagline-nya unik dengan tulisan ‘Need a sitter?’ dengan poster pose kepala Jonah Hill menatap hampa.

The Sitter (pengasuh) mengenai Noah Griffith (Jonah Hill) yang terpaksa mengasuh tiga anak yang ditinggal orang tuanya ke pesta. Noah adalah pemuda hopeless, anak kuliahan yang klontang-klantung. Suatu hari dia diminta menjadi baby sitter tetangganya, menjaga Slater Pedulla (Max records), Blitte Pedulla (Landry Bender) dan Rodrigo (Keven Hernandez). Ketiganya tampak aneh. Satu gay bermasalah dengan teman sekolahnya, satu anak adopsi dari Spanyol yang suka mainin bom. Beneran bom, hobinya meledakkan toilet. Satu lagi cewek centil yang dewasa lebih cepat, hobinya berdandan dan menari. Dari awal saja segalanya tampak rusuh. Dan malam itu seakan dunia berkonspirasi melawan Noah.

Berawal dari telpon Marisa Lewis (Ari Graynor), cewek nakal yang meminta narkoba dari Noah dengan iming-iming diajak bercinta, Noah yang awalnya bergeming berubah pikiran. Noah diminta menemui Karl (Sam Rockwell) untuk bertransaksi. Karena sedang mengasuh, jadinya Noah mengajak ketiganya memulai petualangan malam yang panjang. Traksaksi narkoba yang seharusnya hanya sebentar berubah jadi kacau saat Rodrigo mengambil ‘telur naga’ yang berisi bubuk narkoba. Bubuk istimewa tersebut malah berhamburan ketika diminta Noah, dan telpon dari Karl untuk mengembalikannya segera atau mengganti uang membuat makin rumit. Petualangan yang seru, mulai dari mobilnya dicuri, minta tolong kepada ayahnya yang sudah menikah lagi, bertemu teman lama yang dulu bermusuhan, sampai kejar-kejaran menghindar polisi. Malam yang runyam itu, berhasilkah Noah dan anak asuhnya selamat?

Well, kisahnya klise. Ketebak. Ga lucu, menjurus ke kasar. Tokohnya memang anak-anak namun ga bagus ditonton anak-anak. Film ini khas banget Jonah Hill, typecast dari karakter-karakter sebelumnya yang pernah ia perankan. Tak ada kejutan berarti, banyak plot hole, dan yah ga bisa diteima logika. Film ini memang untuk fun, sekali tonton segera dilupakan.

The Sitter | Director: David Gordon Green | Screenplay: Brian Gatewood, Alessandro Tanaka | Cast: Jonah Hill, Ari Graynor, Sam Rockwell, JB Smoove | Year: 2011 | Skor: 2/5

Karawang, 050615

The Vow: Weak Take And Just So So

Leo: How do you look at the woman you love, and tell yourself that its time to walk away? 

Menikmati film drama cinta-cintaan itu gampang-gampang susah. Banyak faktor, salah satunya mood saat menonton. Berawal dari rekomendasi teman kerja yang bilang ini film superb sekali saya ‘dipaksa’ menontonnya. Karena ini film (katanya) romantis maka saya ajak si May nonton bareng. Ceritanya sederhana, namun ternyata berdasarkan kisah nyata jadinya ikut terharu atas apa yang menimpa sang tokoh.

Cerita dibuka dengan naratif Leo (Channing Tatum) tentang sebuah teori yang seakan bilang ‘aku ini nasibnya apes tenan’. Mereka mengalami kecelakaan di saat salju turun. Naas, sang istri Paige (Rachel McAdams) kepalanya terbentur kaca sehingga sakitnya lebih parah. Leo sudah sepenuhnya sembuh, namun Paige tidak. Benturan di kepala membuat dia menderita hilang ingatan. Memori sebelum kecelakaan terhapus. Saat suami menjenguknya, dia ga mengenali. Keadaan bertambah runyam saat orang tuanya datang dan mereka tak saling mengenal. Paige ragu, siapa yang dipercaya? Seseorang yang mengatasnamakan suaminya atau kedua orang yang mengklaim ayah-ibunya.

Paige mencoba berdamai dengan kenyataan, dia lalu memilih tinggal di rumah Leo. Pendalaman karakter, Leo mencoba kembali menyusun kepingan demi kepingan masa lalu istrinya. Namun bukannya makin percaya Paige malah meragukan atas masa lalunya. Ada tato di punggung. Bukannya kuliah hokum seperti yang dia harapkan malah ke kuliah seni. Studio Leo yang berantakan. Kemudian orang tuanya menawarkan kembali pulang. Pelan tapi pasti terungkap juga akhirnya tanda tanya tersebut. Apa alasan dia pergi dari rumah. Alasan kenapa dia drop out kuliah hukum dan memilih kuliah seni. Alasan kenapa dia menikahi Leo. Alasan kenapa dia bermasalah dengan temannya. Namun semua terlambat, keputusan penting terlanjur sudah diambil dan adakah jalan kembali?

Secara keseluruhan the Vow biasa saja. Tema pasangan yang kehilangan ingatan lalu coba dibuka kembali memorinya, itu bukan barang baru. The Notebook mungkin yang paling keren (bagiku) karena emang yang pertama kutonton. 50 First Dates lebih mengena. Setelahnya biasa. Kelebihan the Vow mungkin adalah ini kisah nyata sehingga lebih terasa menyentuh. Jadi ingat dulu pernah ada tetangga yang mengalami hilang ingatan setelah kecelakaan, orang tersebut bisa pulih setelah diajari dari awal segalanya. Dikenalkan benda-benda. Saudara yang menjenguk coba membantu mengingat Walau ga sepenuhnya ingat namun dia bisa kembali tahu siapa pasangannya, siapa anak-anaknya.

Akting Rachel biasa, Tatum juga biasa. Plot, setting, dan cerita biasa. Semuanya biasa saja. So so.. film ini mudah diingat begitu juga mudah dilupakan. Atau mungkin karena saya nya yang kurang romantis ya?

The Vow | Director: Michael Suscy| Screenplay: Jason Katims, Abby Kohl| Cast: Rachel McAdams, Channing Tatum, Sam Neill | Tahun Rilis: 2012 | Skor: 2.5/5

Karawang, 290515 – Lazio goes to Champion League