Perang Memperebutkan Sarden Suci; Lincah dan Seru

Cat and the Stinkwater War by Kate Saunders

“Di mana ada kucing menuntun, di situ manusia mengikuti. Lihatlah keduanya, di Pofton Hall, itu kau dan Emily.”

Keren, tak kusangka ada kejutan di akhir. Perang klan antar kucing terjadi di perumahan, memperebutkan Sarden Suci. Pengakuan kekuasaan, saling sandera, saling ancam, hingga akhirnya bak roman Shakespeare, ada cinta terlarang di antara mereka. Mungkin tata kelola perubahan manusia menjadi kucing dan sebaliknya yang dirasa janggal dan kurang, dan terlampau instan serta mudah. Namun nikmati saja, ini buku anak yang fun. Ending-nya yang keren sebab setelah pengungkapan scenario tersembunyi, ada kejutan lain yang mewah, dan menurutku filosofis di mana kehidupan, sejatinya bak air mengalir, pilihan, hingga kembali ke dasar, sebuah kenyamanan itu sangat didambakan, tak peduli itu manusia, kera, kutu, hingga kucing.

Kisahnya unik, walau sederhana dilihat dari sudut pandang manusia, remaja yang galau dan memimpikan kehidupan kucingnya yang tampak damai. Namun tentu saja tidak, kehidupan kucing perumahan tersebut ternyata tak sedamai kelihatannya. Mereka terpisah garis rumah, terdiri beberapa klan, dan secara turun termurun saling sikut dan saat memanas terjadi perang.

Dibuka dengan kepiluan, bahwa ayah Catherine berduka sebab gurunya, Profesor Katzenberg yang sedang meneliti di Mesir dinyatakan tewas akibat dimakan buaya. Ia mengirim sejenis warisan, surat dan segala hal-hal yang dipelajarinya. Terdapat legenda dewa Pahnkh di kota Thebes Kuno, ada harta karun tertinggal di sana. Dan hebatnya, Pahnkh bukan manusia, dia kucing. Dalam amplop itu ada batu temuan aneh, yang oleh ayahnya boleh buat Cat.

Di sinilah keganjilan timbul. Cat yang memiliki kucing bernama Eric, sempat berharap mengingin kehidupan peliharaannya. Cat benci les balet, dan tetangga teman sekelasnya yang menyebalkan Emily. Setelah Emily and the genk melakukan bullying di kelas, Cat yang kzl menyendiri dan bericara ngelantur, “Dengan kekuatan dari Kuil, aku berharap aku pengabdi Pahnkh!” Dan wuuuuzzz… kekuatan batu itu menciptanya jadi kucing orange yang menggemaskan. Baju senamnya mengendur, ia menyusut, tumbuh telinga, pendengaran peka. Kekuatan ajaib itu bekerja.

Begitulah, Cat harus menyentuh batu lagi agar bisa kembali menjadi manusia. Ia lantas berteman dengan Eric, kucingnya, yang bernama asli Jenderal Nigmo Biffi. Bayangkan, kamu berteman dengan kucing peliharaanmu. Hebat. Dari Biffy kita tahu, sedang ada perang klan: Cockleduster melawan Stinkwater. Karena sebagai manusia, Cat tak bisa bahasa kucing, maka untuk komunikasi, ia kudu jadi kucing. Begitu juga sebaliknya, saat jadi kucing, ia bisa memahami bahasa manusia, tapi hanya suara meow yang keluar. Cat sendiri diangkat Kapten Cat, dan berada di buku yang sama dengan Biffy.

Klan Stinkwater dipimpin oleh Darson, istinya Sleeza tampak bengis. Dan anak perempuannya yang manis Vartha, serta anak lelakinya Pokesley yang nantinya menyeberang kubu. Sementara Cockduster dipimpin raja kesembilan, pangeran Crasho, pendeta Everlasting Predergast. hingga Donk bersaudara. Sementara ada wilayang di luar mereka, area liar dengan penghuni Spikeletta sebagai ratu, Swugg salah satu anaknya, serta seekor kucing misterius Wizewun.

Perangnya bagaimana? “Kita tidak bisa lagi menghindari perang dengan klan Stinkwater. Mereka mencuri sarden suci.” Mungkin tampak konyol dilihat di mata manusia, tapi begitulah kehidupan kucing. Kalau kalian sesekali mendengar teriakan kucing saling jerit di tengah malam, atau dini hari, itu berarti mereka sedang bertarung. Memperebutkan Sarden suci, yang saat ini diklaim milik Stinkwater, tapi keberadaannya misterius, saling menyalahkan. Lucunya, saat ada tawanan, ditempatkan di antara kaleng atau pot, lalu meminta tebusan makanan kucing! Hehe, tampak sepele ya. “Manusia yang berakal sehat, ketika semua di sekitarmu terguncang kesedihan. Kau benar sekali, yang perlu kaulakukan hanya membuka sekaleng ikan tuna (dalam minyak, bukan air garam), dan meletakkannya di tempat yang telah disepakati…”

Kedua kubu, romansa bak Romeo + Juliet. Vartha dan Crasho bisa jadi juru damai, atau malah jadi pemicu perang makin besar. “Pangeran kami, dan putri musuh besar kami. Ini aib!” Ada juga yang pindah kubu karena diiming-imingi makanan terjamin, atau ada penghianat. Sebab ada kucing lawan/ kawan yang tahu bagaimana Cat mengubah diri, menemui Eric di mana, hingga jebakan yang dicipta demi harga diri.

Cat sendiri akhirnya malah berteman dengan teman sekelas yang aneh, Lucy. Sama-sama punya kucing, dan Cat yang lalu butuh teman curhat memilihnya. “Tiba-tiba saja ia merasa harus mengungkapkan rahasianya sebelum meledak dari tubuhnya seperti kembang api.” Pilihan bagus, sebab mereka langsung akrab, yang menimbulkan curiga kedua orang tuanya. Jarang ngobrol, tahu-tahu akrab, di kamar seharian, main bareng, kehidupan putrinya jadi penuh warna. Orangtua tentu saja senang, akhirnya putrinya punya sahabat sejati.

Oiya, jangan lupakan peran para pemilik kucing. Kisah dibuat sedemikian rupa, agar manusia itu hanya melihat para kucing bertingkah aneh saat perang. Kucing si A bernama ini, di dunia kucing mereka punya nama tersendiri. Begitu pula, saat di puncak perang. Luar biasa seru, kucing-kucing menyerbu, membuat pesta ulang tahun yang sejatinya meriah jadi kacau balau. Ada korban dan itu wajar, Sarden Suci juga sudah sangat pas eksekusinya, termasuk saat gencatan senjata dilakukan untuk menemui titik damai.

Pilihan pemakaian kata ‘Pedesaan’ di mana, kucing-kucing yang mati dikirim ke sana. Sebuah penggambaran manis, bahwa arwah kucing itu damai di desa, dunia seberang, area antah, yang sama seperti kehidupan manusia, mereka ke surga yang damai.

Ini jelas fiksi, hanya fantasi impian Kate yang memiliki tiga kucing di rumah. “Rasanya menakjubkan, berapa banyak manusia yang mendapatkan kesempatan berlibur dari tubuhnya sendiri, dan bisa melakukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan dapat dilakukan tangan dan kaki mereka yang membosankan?” Kata-kata Cat tentu saja mewakili isi hatinya, dan juga isi hati para pecinta kucing.

Pilihan hidup para tokoh juga sangat makhruf. Ini bisa jadi pikiran menakutkan dan mengerikan. Kucing kawin berkali-kali, memiliki anak banyak. Satu tahun kehidupan manusia sama dengan enam tahun kucing. Ide-ide liarnya semacam halusinasi, bisa mengubah ilmu Egiptologi, sebab menyenangkan sekali menjalani kehidupan kucing. Yang anehnya, ada niat mengajari kucing, kehidupan yang lebih beradab, mengajari main catur! Berhasilkah?

Ini adalah buku pertama Kate Saunders yang kubaca. Kubaca cepat dari 16 Sep libur pagi kemarin, selesai tadi siang 22 Sep 2022 pas istirahat kerja. CVnya banyak, Sampai ada yang sudah diadaptasi di BBC TV. Seorang wartawan Inggris yang produktif. Buku pertama yang sukses, buku anak sering kali mencipta fantasi liar menakjubkan. Kalau ada buku Kate lain yang sudah diterjemahkan, tentu saja dengan antusiasme tinggi bakal kusikat juga. “Astaga, ia berubah jadi kucing!

Cat dan Perang Stinkwater | by Kate Saunders | Diterjemahkan dari Cat and The Stinkwater War | Copyright 2003 | edition published by Macmilan Children’s Books, London, UK | Alih bahasa Fanny Yuanita | Editor Poppy Damayanti Chusfani | GM 106 01 09 006 | Desain dan ilustrasi sampul Martin Dima (martin_twenty1@yahoo.co.id) | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | April 2009 | 256 hlm; 20 cm | ISBN-10: 979-22-4513-8 | ISBN-13: 978-979-22-4513-4 | Skor: 4/5

Untuk anak lelakiku, Felix dan kucing-kucing kami, Trumble, Bing, dan Boomerang

Karawang, 220922 – Billy Holiday – I’m a Fool to Want You

Thx to Ade Buku, Bdg

Dua Drama Mendebarkan di Atas Kapal

“Aku memahami pokok-pokok, bahaya dan kerasnya serangan dan pertahanan, teknik berpikir bergerak ke depan, perencanaan, dan serangan balik. Dan aku mampu mengenali kepribadian dan gaya masing-masing…”

Menakjubkan. Bagaimana bisa dua buah cerita pendek, tapi tak terlalu pendek, bernarasi di atas kapal. Polanya sama, bertemu orang asing, lalu bercerita. Dua drama yang menakjubkan. Untuk buku ini, kekuatan cerita yang utama. Menegangkan, bahkan hanya dari dua orang duduk ngobrol kita turut khawatir dan ketakutan. Yang pertama, curhat dokter yang ketakutan sebab menyimpan rahasia gelap. Kedua, curhat mantan tahanan Nazi yang jenius aneh, sebab dalam penjara secara tak sengaja menanamkan buku catur di otaknya. Keduanya sungguh brilian cara penyampaiannya, cara menyelesaikan masalahnya, cara mengakhiri cerita.

Amok secara hebat menelusur masa lalu sang dokter yang terasing, bagaimana masa lalu menciptanya jadi segila saat ini. The Royal Game juga sama, secara hebat menelusur sang dojter yang terasing, bagaimana masa lalu menciptanya jadi sejenius saat ini. Keduanya ditempa kesepian, keterasingan, dipaksa keadaan. Dan keduanya menjadi tokoh sentral yang bercerita pada sang aku, sang aku menjadi pendengar yang sangat baik, lantas menjadi penulis kisah yang brilian.

#1. Amok

Dinarasikan oleh penumpang tak bernama, sang penulis yang naik kapal dari India. Tiket sudah habis, tapi kalau ada kapal dari Hindia Timur nanti dikabari. Dan benar saja, ada tiket murah menuju Eropa, seadanya. Ga masalah, sebab ia memang ingin gegas mudik. Selama perjalanan kapal India ke Eropa itulah ia berkenalan dengan orang aneh di dek gelap.

Setiap tengah malam, ia ngopi menikmati kesunyian, memandang cakrawala. Lalu secara tak sengaja bersinggungan dengan orang aneh, yang mabuk dan waspada. Kesamaan sepi dan nasib menyatukan mereka, lalu ia pun menjadi pendengar kisah menakjubkan tentang cinta yang kandas dan rahasia besar.

Seorang dokter Belanda yang ditugaskan di Pulau Jawa, keterasingan dan beban hidup yang ditimpakan membuatnya kesepian. “Dalam keterasingan yang bagai neraka ini. Ah, hutan, keterasingan, ketenangan, saya bermimpi!” Keseharian melayani masyarakat, pernah membantu anak walikota yang kakinya terluka, terkenal baik hati dan suka menolong. Hingga pada suatu hari muncullah tamu agung, seorang istri pejabat Belanda yang galau. Awalnya ngaku sakit kecil, “Bukan hal serius, hanya hal-hal kecil, masalah perempuan… pusing-pusing, pingsan.”

Keluhan sakitnya, tak secara langsung disampaikan. Secara tersirat meminta tolong, tapi sang dokter memberi bayaran berat, yang ditolak, tarik ulur itu menghasilkan putusan memalukan. “Ada percikan hasrat dalam diriku mengatakan: jangan terlalu cepat! Ciptakan kesulitan. Buatlah dia mengemis!”

Sang dokter yang kesepian, hasrat seks-nya yang selama ini tersalur dengan penduduk lokal yang pasrah dan dingin, kini mengingin perlawanan. Dan cintanya terhalang tembok besar. “Saya sangat lemah terhadap wanita dengan sikap dingin dan angkuh.”

Suami pejabat itu akan turun dari kapal hari Sabtu, maka mereka yang kembali bertemu di pesta jamuan malam tampak canggung, dan sayangnya takdir yang menyentuh mereka adalah putusan hitam. “Bila Anda telah kehilangan segalanya, Anda berjuang mati-matian untuk yang terakhir yang tersisa, dan yang terakhir adalah warisannya kepada saya, kewajiban saya untuk menjaga rahasianya.”

Dan di sinilah, di atas kapal perjalanan jauh ini sang dokter memiliki misi menjaga warisan rahasia itu. Di Napoli, segalanyanya ditutup. Pilu, sedih, tragis.

#2. The Royal Game

Bertema catur, duo jenius beradu di atas kapal. Yang pertama adalah juara dunia yang ditemukan secara tak sengaja oleh bapak pendeta di Yugoslavia. Anak yatim piatu bernama Mirko Czentovic yang tinggal di gereja menjadi anak asuh. Tumbuh buta huruf, tak mengenal sekolah, seolah tanpa harapan. Namun suatu malam saat sang pendeta main catur melawan si polisi, ada panggilan tugas mendadak yang memaksa permainan dihentikan. Pak polisi yang mengamati bocah yang penasaran melihat papan catur, mengajaknya melanjutkan main, dan si bocah menang. Menantang berulang, menang terus, besoknya bapak angkatnya penasaran dan saat bertanding si bocah menang berulang kali. Hingga akhirnya mencipta kegemparan, jenius catur ditemukan. Hingga ia mendapat gelar juara dunia. Yang kedua adalah penumpang asing, yang secara tak sengaja turut serta pusaran permainan.

Nah, dalam perjalanan kapal uap dari New York ke Buenos Aires. Si aku (lagi-lagi mengambil sudut pandang penulis) penasaran, sebab di kapal ada juara catur, ia coba memancingnya. Menantang main catur sama sobatnya McConnor di area merokok, lalu menggoda temannya untuk menantang sang juara dunia. Promotornya memiliki banyak syarat, salah satunya ada uang yang dipertaruhkan, dua ratus lima puluh dollar dalam satu permainan. Tak masalah, Czentovic melawan semua penonton, artinya boleh membantu memberi saran, dan pertandingan dilakukan jam 3 sore.

Seperti dugaan, McConnor kalah. Dan menantang tanding ulang, dan saat di tengah permainan, McConnor diberi nasehat orang asing. Penonton di belakangnya nyeletuk, kasih nasehat, beri saran tiap langkah, dan hasil seri sepertinya sudah cukup. Benar saja, semua intruksi diikuti, sampai membuat jenius kita kewalahan, hingga meminta seri. Pikirannya yang cepat harus menghitung semua pergerakan lawannya mungkin terlebih dahulu.

Besok, juara dunia yang penasaran malah gantian meminta tanding lagi. Di jam yang sama, dan kali ini sang aku meminta bantuan orang asing tersebut, dan tahulah kita semua masa lalu Dr. B. Bagaimana ia mendapat ilham catur, di penjara, introgasi, frustasi, dan dalam keterasingan, ia mendapat ilham. “Dan dengan empat atau lima benda-benda yang bisu: meja, tempat tidur, jendela, wastafel. Kauhidup seperti penyelam di lautan hitam dalam keheningan… ketiadaan di mana-mana.”

Buku yang diambilnya, diselundupkannya adalah buku catur, dank arena dalam penjara tak bisa ngapa-ngapain, ia lalu memelajari catur dengan luar biasa intens, menciptanya jadi manusia super. “Aku bermain ‘buta’ menggunakan istilah teknis. Catur memiliki efek mengagumkan karena energi intelektual yang dikumpulkan dalam bidang sempit yang dibatasi. Aku memikirkan kemustahilan yang aneh: ingin bermain catur melawan diriku sendiri.”

Singkat cerita, besoknya ia maju dan meminta jangan terlalu berharap banyak, ia mengingatkan sang aku untuk menegurnya, bila meminta tanding ulang, ingat ini hanya satu laga. Duo jenius berhadapan, siapa menang?

“’Kau bermimpi’, aku berkata pada diriku sendiri. ‘Kau bermimpi’ apapun yang kau lakukan, jangan buka matamu! Membiarkannya pergi, mimpi ini. atau kau akan melihat kamar yang terkutuk di sekitarmu lagi: kursi, wastafel, meja, dan wallpaper dengan pola selalu sama. Kau bermimpi, pergilah dari mimpi!”

Ini adalah buku Stefan Zweig pertama yang kubaca. Bagus banget, dua cerpen (atau bisa disebut juga novela) yang kusikat dalam dua kali kesempatan duduk. Malam Minggu (09/07/22) dan Minggu paginya di suasana Adha. Ada biografi singkat sang penulis di halaman belakang, perjalanan hidupnya yang membenci Nazi, dan bagaimana ia mengungsi ke Inggris lantas ke benua Amerika dan memutuskan bunuh diri, bergitu juga istrinya. The Royal Game adalah karya terakhirnya, dan malah menjadi buku perdananya yang kulahap. Di rak ada buku satu lagi karya beliau. Tak sabar rasanya, apa kekejar bulan Juli ini juga?

The Royal Game and other stories | by Stefan Zweig | Penerjemah Maria Vregina & Aprilla Rizqi Parwidanti | Editor Wayan Darmaputra | Penyelaras akhir Naufil Istikhari KR & Wahyudi Kaha | Perancang sampul dan lukisan Anzi Matta | Penata letak Mawaidi D. Mas | Penebit Papyrus, 2017 | Cetakan pertama, 2017 | vii + 239 hal; 13 x 19 cm | ISBN 979-602-19513-9-2 | Skor: 5/5

Karawang, 110722 – Caro Emerald – Back it Up

Thx to Warung Sastra

The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring #24

“Begitukah?” tawa Gildor. “Kaum Peri jarang memberikan nasihat begitu saja, karena nasihat adalah pemberian berbahaya, walau datangnya dari yang bijak dan untuk yang bijak pula, salah-salah segala sesuatunya bisa berakibat buruk…”

Akhirnya salah satu novel yang sangat ingin kubaca ini terkabul juga, di rak sudah komplit tiga seri. Sudah punya sejak September 2020, baru kubaca tahun lalu dan butuh waktu setengah tahun untuk menuntaskan. Memang tak muda, sebab fantasinya kompleks. Kalau dibanding Narnia yang lebih santai dan tipis, atau Harry Potter yang walau tebal tapi kocak, dan genrenya remaja. The Lord of the Rings sungguh berat. Banyak kosotaka baru, perlu settle dulu memulai pengembaraan. Dan jelas, ini salah satu novel fantasi terbaik yang pernah ada, atau malah yang terbaik?

Kisahnya tentu sudah tak asing. Sudah diadaptasi film dan menang banyak piala Oscar. Namun tak mengapa, saya ringkas sepintas, setiap orang punya versinya masing-masing untuk bertutur pasca melahap buku, ini tentang Frodo Baggins, menerima cincin hebat dari pamannya Bilbo Baggins, (agar nyaman, idealnya baca The Hobbit dulu). Hobbit dibagi dalam tiga jenis: Harfoor, Stoor, dan Fallohide. Cincin berkekuatan besar itu merupakan cincin utama, menjadikan yang memakainya bisa menghilang, digdaya. “Bilbo pergi untuk menemukan harta, lalu kembali tapi aku pergi untuk membuang harta, dan tidak kembali, sejauh yang kupahami.”

Dengan kekuatan besar, maka mengundang para musuh yang besar. Banyak orang menginginkannya. Gandalf sebagai sesepuh, penyihir yang menautkan perjalanan Bilbo, kini kembali tutun tangan, memandu penghancurannya. Mereka melaju pergi, cemas dan patah hati, di bawah tatapan kerumunan orang. Frodo memakai nama samaran, “Pergilan dengan nama Mr. Underhill.”

etelah memberi nasihat dan petunjuk, ia berangkat dulu memastikan keadaan. Frodo lalu ditemani tiga hobbit: Samwise Gamgee sahabat baiknya, Peregrin Took (dipanggil Pippin), dan Merry Brandybuck (nama sebenarnya Meriadoc, tapi jarang diingat orang). Memulai petualangan. Meninggalkan Shire, kampung mereka yang nyaman. “Aku tidak tahu alasan Musuh mengejarmu,” jawab Gildor, “tapi aku merasa memang itulah yang terjadi – meski ini terasa aneh bagiku. Aku ingin memperingatkanmu bahwa bahaya ada di depan maupun di belakangmu, dan di kedua sisi”

Inilah inti kisah The Lord, perjalanan menghancurkan cincin. Dibagi dalam tiga buku. Buku satu terdiri dua buku, perjalanan pertama menuju ke gunung api, bertemu Aragorn putra Arathorn alias Strider yang sangat banyak membantunya, yang ternyata adalah utusan Gandalf.

Lalu buku dua melakukan rapat akbar, ada Bilbo yang tua. Para makhluk penting menyampaikan usul dan keberatan. Bagian sangat keren, rapat itu mencapai empat puluh halaman, dan sangat amat seru. Salah satu bagian terbaik, ada bagian Gandalf yang mendatangi Sauron, malah dihianati, atau lebih pasnya tidak menemui titik sepakat, ada sejarah cincin, ada cerita hebat masa lalu tiap negeri. Mengapa Cincin ini harus dihancurkan, selama Cincin ini berada di dunia, dia akan selalu menjadi bahatya, bagi kaum bijak sekalipun. Cincin itu milik Sauron, dibuat sendiri olehnya, dan benar-benar jahat. “Para pembawa Cincin akan berjumlah Sembilan, dan Sembilan Pejalan ini akan membawa Sembilan Penunggang yang jahat. Bersamamu dan pelayanmu yang setia, Gandalf akan ikut; karena ini akan jadi tugas besarnya, dan mungkin akhir dari pekerjaannya.”

Yang jelas, keputusan bulat sudah diambil, Frodo sebagai pembaca cincin melanjutkan perjalanan, kali ini ditemani Sembilan orang: empat hobbits, Aragorn, Legolas, Gimli, Boromir, dan termasuk Gandalf. Perjalanan ini semakin jauh semakin berbahaya. “… tapi aku merasa sangat kecil dan terasing, dan yah… putus asa. Musuh sangat kuat dan mengerikan.”

Ada bagian saat dalam gua Moria, sangat amat keren, saat mereka dikejar bayang, pasukan Orc melaju, dan di jembatan yang sudah sangat dekat pintu keluar terjadi tragedy. “Lari, kalian bodoh!”

Perjalanan itu menyisa delapan, dan memasuki dunia Peri yang indah sekaligus mengerikan. Dan begitulah, kisah ditutup setelah mereka naik tiga perahu, sampai di titik puncak, terjadi perpecahan. Rasanya berat sekali beban ini, rasanya petualangan ini terlalu berbahaya untuk makhluk mungil seperti Hobbit. Tak sabar melanjutkan laju The Two Towers. Berjalan menuju bahaya – ke Mordor. Kita harus mengirim Cincin itu ke Api, berhasilkah?

Sedari pembuka kita diajak mengenal para karakter, kebiasaan, jenisnya, hingga peta lokasi Shire. Hobbit yang tak suka buang barang contohnya, sebab segala sesuatu yang dianggap tidak bermanfaat oleh para hobbit tapi tidak mau mereka buang, mereka sebut mathom. Lalu ketakutan laut, laut pun menjadi kata yang ditakuti di antara mereka, sebuah tanda kematian, dan mereka pun berpaling dari perbukitan di barat. Hobbit suka cerita, mereka senang mengisi buku-buku dengan ha-hal yang sudah mereka ketahui, yang dipaparkan apa adanya, tanpa kontradiksi. Juga kebiasaan merokok, menghirup asap dedunan obat yang dibakar, yang mereka sebut rumput pipa atau daun. “Hobbit tidak akan pernah tergila-gila pada musik, puisi, dan dongeng, seperti kaum Peri. Bagi mereka, ketiga hal itu sudah seperti makanan, atau bahkan lebih…”

Karena ini misi sulit, wajar kekhawatiran sering kali muncul. Tapi harapannya segera berubah menjadi kebingungan dan kekhawatiran. Frodo malah berulang kali minta teman-temannya pergi ketimbang membahayakan nyawa mereka. “Masalah datang susul-menyusul!” kata Frodo. Namun tidak, mereka mencoba sebisa mengkin menjaga snag pembawa cincin. Terumata sobat kentalnya, Sam. Ia siap mendampingi, apa pun resikonya. Akhirnya Frodo merasa hatinya terharu, dipenuhi kebahagiaan yang tidak dipahaminya. Ada benih keberanian tersembunyi.

Suka sekali sama tokoh Strider, terutama awal mula muncul. Sebagai penyelamat di penginapan, jagoan sejati. “Pelajaran tentang kewaspadaan sudah kalian pelajari dengan baik,” kata Strider dengan senyum muram. “Tapi kewaspadaan dan keraguan adalah dua hal yang berbeda…”

Penggambaran musuhnya juga sesuai, Penunggang Hitam contohnya, sudah mencipta ngeri dari kata-kata. “Karena para Penunggang Hitam itu adalah Hantu-Hantu Cincin, Sembilan Pelayan dari Penguasa Cincin.”

Banyak tempat eksotik, alhamdulliah visual filmnya memukau. Mewakili keindahan kata-kata yang disajikan. “Tampaknya ia takkan pernah lagi mendengar air terjun yang begitu indah, senantiasa membaurkan nada-nadanya yang tak terhitung ke dalam musik yang selalu berubah-ubah tak terhingga.”

Mulai dibaca 20.11.21 sore saat hujan dengan kopi dan jazz. Selesai baca 18.06.22, sore jelang malam Minggu yang biasa. Selama itu sejatinya bukan karena dibaca terus, lalu tersendat. Buku ini sering kuletakkan, tergoda baca buku lain. Lalu lupa tak lanjut, ingat saat memilah buku bacaan, lalu terlupa lagi setelah dapat beberapa bab. Memang buku yang kudu dipaksa baca, harus tuntas, bukan bacaan nyaman, fantasinya serius dan liar. Yang paling membantu, jelas adaptasinya sangat mirip, sampai ke kata-kata dan detailnya. Yang di jembatan itu terutama, kukira itu adalah modifikasi timnya Peter Jackson, ternyata malah plek. Bagaimana Gandalf jatuh dan berteriak, luar biasa. Salut. Jadi sudah menemukan novel fantasi terbaik? Mari dituntaskan dulu, perjalan masih sangat panjang…

Sembilan Pembawa Cincin | by J.R.R. Tolkien | Diterjemahkan dari The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring | Alih bahasa Gita Yuliani K. | GM 402 02.007 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Februari 2002 | Cetakan kedua, Maret 2002 | 512 hlm.; 23 cm | ISBN 979-686-693-5 | Skor: 5/5

Karawang, 240622 – Johnny Hartman – Lush Life

Thx to Dewi Sri, Bandung

30HariMenulis #ReviewBuku #24 #Juni2022

The Parable of the Pipeline #8

Gary Hamel bilang di dunia yang berteknologi tinggi, “Hanya perusahaan-perusahaan yang mampu menciptakan revolusi dalam sector industri yang akan maju di Zaman Ekonomi Baru ini.”

Tertarik membelinya karena ini tentang investasi, tentang rencana financial freedom. Pernah dengar cerita di inspirasi pagi, bagaimana menangani pekerjaan memindahkan air. Dua orang sebut sama Bruno dan Pablo, dengan start yang sama, satu dengan ember dengan penghasilan tetap, berdasarkan ember yang ia angkut dipindahkan. Satu lagi dengan pipa, butuh waktu lama untuk menuai hasil, tapi worth it dilakukan. Dan setelah digerus waktu, yang pakai ember kena encok, dan makin menua, Jebakan barter waktu dan uang, sebanyak apapun ember yang dihasilkan, tetap saja Anda membarter antara satuan waktu dengan satuan uang. Sementara yang pakai pipa tinggal leha-leha, uang mengalir. Umum bukan? Di sini dijelaskan lebih detail, dan seperti buku self-improvement lainnya, praktek yang paling utama.

Saluran-saluran pipa merupakan saluran-saluran kehidupan, karena saluran-saluran ini mampu memasok diri sendiri. Saluran itu memang perlu diperbaiki dan dirawat sewaktu-waktu, bahkan kadang perlu membangun kembali, tapi jelas saluran-saluran pipa mampu memompa keuntungan terus-menerus, dari tahun ke tahun.

Sejatinya isinya standar. Nasehat-nasehat umum, bagaimana menyelamatkan uang. Penghasilan harus dikelola, ada tiga kotak: keperluan sehari-hari, tabungan, dna investasi. Yang terakhir inilah kuncinya, digedein. Dan kalau kalian bilang belum saatnya tepat, sebenarnya tak ada waktu yang benar-benar tepat. Investasi yang paling benar ya sekarang, saat ini berapapun, disisihkan.

Ada dua kisah yang menggugah. Seorang pemain baseball berpenghasilan 100 juta dollar jadi bangkrut karena salah urus. Uangnya untuk foya-foya, untuk kemewahan, sehingga saat usia 38 tahun, saat usia pensiun jadi pemain tiba, ia kolaps. Namanya Darryl Strawberry. Saya belum browsing, tapi kisah olahragawan bangkut setelah masa edar sudah banyak kita jumpai di kolom gosip. Kisah kedua adalah guru lokal yang bisa menyisihkan gajinya, nilainya sungguh kecil. Gajinya sekitar 8.500 dollar setahun, dan di usia senjanya bisa menyumbang 2 juta dollar! Hebat ya. Nama gurunya Margaret O’Donnel, dan sama saya belum browsing, tapi keajaiban ini nyata. Banyak sekali kita jumpai, seorang guru bisa makmur karena memperlakukan penghasilan dengan bijak.

Masih banyak kisah lainnya, tapi laiknya kalian baca sendiri. Saya ingin menarik, kesimpulannya saja. Pertama memandang hidup dengan lebih menarik. Bagaimana kita memperlakukan waktu yang terbatas ini dengan baik. Semua orang diberi waktu 24 jam sehari, tak memilah kaya miskin, jutawan jelata, semuanya sama. Lantas waktu yang terbatas ini, dipecah lagi per jam, per menit, per detik. Dan betapa mencengangkan, rata-rata waktu yang kita habiskan seumur hidup, misalkan makan. Kegiatan yang rerata dilakukan sehari 3 kali ini, bisa jadi sekitar enam tahun sepanjang hiudp. Itu dihasilkan dari rerata makan 10 sampai 15 menit, diakumulasikan, dan dari menit-menit kecil itu jadi sangat banyak! Contoh lainnya, rerata kegiatan membersihkan rumah yang jarang-jarang dan sesekali itu kalau diakumulasikan sepanjang hidup ternyata bisa mencapai empat tahun! Nah, kita andaikan saja investasi waktu tiap hari dengan sistem cicil. Terserah mau investasi apa, bisa menyalurkan hobi yang menghasilkan, atau membuat sesuatu di sela kesibukan. Terserah, cicilan investasi waktu ini bisa kembali kepad aindivisu masing-masing. Kita bisa sisihkan sejam pagi sebelum kerja dan sejam setelah pulang kerja, misalkan. Itu sudah dua jam per hari, dikali lima hari kerja sudah 10 jam seminggu, belum lagi weekend. Jadinya akumulasi banyak. Bayangkan saja, misalkan mengetik sehari seribu kata. Seminggu lima ribu kata, sebulan sudah layak jadi buku. Bayangkan saja, ini hanya contoh.

Kembali ke memanfaatkan waktu, kalau dipikir-pikir ini bisa jalan. Bisa dipraktekkan, tinggal mulainya saja. Setiap orang beda-beda memanfaatkan waktu. Saya contohnya, tiap hari menyisihkan waktu baca, bisa melimpah ruah daftar bacaannya yak arena niat dan lakukan. sayangnya belum menghasilkan, butuh rutin dan kerja cerdas, ibaratnya di buku ini: me-maintain pipa-pipanya.

Lalu bahasan tentang internet, di tahun 2002 saat buku ini rilis, internet belum semeriah sekarang. John Naisbitt bilang, “Semakin banyak kita menggunakan teknologi canggih semakin perlu pula kita mengembangkan sentuhan kemanusiaan.” Sebagian jelas sekadar prediksi, sebagian menjadi nyata. Namun saya tak sependapat tentang sistem marketing yang sejenis mlm, di buku ini Burke bilang, semudah itu membuat jaringan. Oh, tak bisa. Mencipta jaringan itu sulit. Meyakinkan orang untuk mengeluarkan uang, demi ‘barang dagangan’ kita, tak bisa serta merta. Sehingga dua puluh tahun setelah buku ini ditulis, mlm masih jadi momok buat calon korban. Dan balik lagi, trust! Manusia itu pada dasarnya senang berhubungan dengan manusia lainnya. Ya ampun, mau zaman kapanpun kepercayaan itu nomor satu.

Banyak catatan yang ingin saya sampaikan, tapi keterbatasan waktu dan ketikan blog ini. saya menyimpulkan, buku ini sebagian bisa dipraktekkan. Terutama untuk investasi saham. Saya sudah mulai terjun tahun 2018, dan setelah belajar sambil nyemplung di bursa, ini sistem ajaib. Kudu berani ambil sebagian penghasilan untuk ditaruh di sana. Sabar, tanam di blue chip, dan aliran air uang akan otomatis. Saya sepakat, dan saat ini sedang membangun pipa-pipa itu. Berinvestasi di bursa saham tetap merupakan jalan termudah dan pasti dalam membangun slauran pipa yang memompa keuntungan.

Kedua, yang saya sepakati adalah sistem penggandaan. Seperti kata Einsten bahwa bunga berbunga atau penggandaan adalah keajaiban dunia kedelapan. Bagaimana sistem ini bekerja masih sulit dicerna, sulit dipercaya bisa bikin kaya, tapi nyata. Efisiensi merupakan konsep yang dahsyat. Konsep ini bakal mampu mengubah kebudayaan.

Terkahir, buku-buku self-improvement sejenis ini sebenarnya kita sudah memahami sebab kita juga pelaksana. Pengalaman jelas guru yang bijak, dan belajar darinya sudah tepat. Hanya teori-teori dan pedomannya, memang kudu ditelaah lagi, salah satunya lewat buku. Maka, ke depannya akan banyak buku-buku non fiksi kubaca dan ulas. Moga tak bosan.

Untuk jadi kaya, bisa dengan rencana pembangunan pipa jangka lima tahun, dan di era sekarang terasa bisa. Beda sama awal abad 20 di mana rerata untuk jadi kaya bisa puluhan tahun. Saya dalam perjalanan membangun pipa ini, boleh lima tahun dari sekarang kalian mengingatkan, apakah pipa-pipa saham saya sudah bisa mengucurkan uang. Bismillah…

Perumpamaan Saluran Pipa | by Burke Hedges | Diterjemahkan dari The Parable of the Pipeline | Copyright 2001-2002 | Originally published in English by INTI Publishing USA | Dicetak di Indonesia, cetakan pertama Juni 2002 | Penerbit Network TwentyOne Indonesia | Penerjemah Danny Susanto, MA. | Cover design Cherry Design | Layout Bayou Graphics | Skor: 3.5/5

Karawang, 080622 – Alicia Keys – If I Ain’t Got You

Thx to Su Mur Buku, Kebumen

#30HariMenulis #ReviewBuku #8 #Juni2022

The Buried Giant

“Master Wistan, aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kau dan Lord Brennus, tapi misimu membinasakan Querig si naga buas, aku mohon, jangan biarkan perhatianmu teralihkan dari tugas itu. Ada waktu untuk membalas dendam nanti.” – Beatrice

Buku pembunuh naga dimana naganya tidak muncul-muncul bahkan hingga halaman 400 hari 480! Ada tiga konfliks utama sejatinya, dijabarkan dengan sabar dan telaten. Buku bagus memang harus sabar, tak tergesa. Pertama, pasangan tua yang ingin mengunjungi anak mereka di desa seberang, untuk bisa mencapainya butuh waktu lama, tak memiliki kuda, hanya jalan kaki. Warga Briton yang sudah damai dengan warga tetangga. Kedua, seorang kesatria yang diberi mandat membunuh naga betina tua, ia adalah seorang Saxon. Kedua desa sejatinya sudah berdamai tapi percikan amarah masih kadang muncul. Dan ketiga kesatria tua yang menjadi kepercayaan Raja Arthur yang juga mendapat tugas membunuh naga yang sama. Karena ini buku sastra, jangan harap mudah dicerna, bahasanya berpanjang-panjang, meluik-liuk tak tentu arah, sampai akhirnya setiap karakter menemukan titik akhir takdir cerita.

Kisahnya bersetting era setelah Raja Arthur, ada naga betina Querig yang menyebarkan kabut menyebab kenangan-kenangan manusia terenggut. Memori manusia menjadi jangka pendek, banyak hal terlupa. Pasangan tua Axl dan Betrice sepertinya dulu punya anak yang ada di seberang desa, maka mereka berinisiatif mengunjunginya. “Setidaknya kau melihatnya, Putri, sekalipun itu di dalam mimpi. Seperti apa rupanya?” Seorang pengelana di masa itu, seringkali menyadari ia berada di lanskap tanpa penanda, pemandangannya nyaris identik ke arah mana pun ia berpaling.

Untuk berkunjung dari desa ke desa mereka banyak berkorban, mereka jalan kaki, naiki gunung turuni lembah, menghadang bahaya. Rencananya mampir ke dua desa dulu, untuk bermalam dan sekalian menyapa teman, berobat. Beatrice yang sudah tua, sering sakit. Axl, tampak sangat mencinta sang istri, menjaga membantu banyak hal, memanggilnya dengan sebutan Putri. “Kami hanya dua pengelana yang tersesat, kedinginan dan lelah, pakaian kami basa karena air dungai tempat kami diserang baru saja oleh peri-peri yang bisa…”

Di perjalanan saat hujan, ada sebuah kuil tua, reruntuhan terbengkalai. Niat berteduh, malah bertemu dengan ibu tua yang membawa kelinci dengan pisau ditempatkan di leher. Satu lagi seorang lelaki yang bercerita, ia adalah tukang perahu yang menyeberangkan para pengelana. Dalam tradisi, bila ada penyeberang berpasangan, setiap pasangan sebelum diseberangkan akan ditanya terpisah terkait masa paling indah selama bersama. Bila jawaban tak sama, diberangkatkan terpisah, dan ternyata ibu itu adalah ‘salah satu korban’, ia mengganggu kehidupan tukang perahu yang lagi berlibur. Absurd? Ya, dan ini baru permulaan. Nantinya malah jadi eksekusi kunci.

Di desa pertama, sedang ada kekacauan. Makhluk orge sedang menyerang, ada yang tewas, ada yang terluka parah. Kesatria bernama Winstan menjadi penyelamat, dan remaja bernama Edwin yang terluka berhasil diselamatkan. Malam yang aneh itu menghasilkan kesepatakan, mereka berdua akan berangkat bersama melanjutkan perjalanan, setidaknya hingga desa setengah hari perjalanan.

Di jembatan yang dijaga pasukan Briton yang mengabdi pada Lord Brennus, mereka bersepakat bersandiwara agar identitas kesatria tak diketahui. Pasangan itu mengaku sebagai petani biasa, dua orang itu adalah kakak beradik yang dijaminkan seorang penghutang, mereka gagap dan bisu. Awalnya curiga, dan tampak aneh. Para penjaga sedang menanti kesatria berbahaya. Namun mereka lolos juga. Tentang identitas asli Master Wistan sebagai kesatria Saxon dari timur?

Di tengah jalan ketemu kesatria tua Sir Gawain dan kudanya Horace, saling sapa dan betapa terkejutnya Gawain bahwa kesatria Winstan sejatinya mendapat tugas membunuh naga. Padahal tugas itu adalah miliknya, perintahnya langsung dari pamannya Raja Arthur yang termasyur. Maka disepakati mereka berangkat bareng.

Celakanya, ada prajurit Briton yang curiga saat di jembatan menyusul dan menemuinya. Pertarungan terjadi, dan segalanya dengan mudah ditebak. Seorang kesatria melawan prajurit kecil. Di pertempuran tidak ada waktu untuk bertukar informasi dengan cermat. Setelahnya mereka berpecah jalan, tapi akhirnya takdir menemukan akhir yang pilu di ujung bukit, bagiamana segala yang mengalir dalam waktu, tak bisa dihentikan. Bagaimana ingatan yang kembali, tak selalu baik untuk semua orang. “Bukankah kau sendiri yang mengatakannya, Putri? Kehidupan kita bersama itu seperti dongeng dengan akhir yang bahagia, tidak peduli ke mana cerita itu akan berbelok sebelumnya.”

The Buried Gaint, yang terkubur. Kata itu muncul saat pasangan tua baru memulai perjalan. “Itu jalan setapak melewati tempat di raksasa dikubur. Untuk orang yang tidak mengetahuinya, itu hanya bukit biasa, tapi aku akan memberimu tanda, dan ketika kau melihatku, kau harus keluar dari jalan setapak itu dan memutari ujung bukit sampai kita bertemu di jalan setapak yang sama keluar dari tempat itu.” Tak dijelaskan kuburan siapa, dan mengapa menjadi ikonik.

Napas Querig-lah yang memenuhi negeri ini dan merampas ingatan. Pas tahu sang naga merenggut ingatan, dan nantinya bila nagnya dibunuh ingatan akan kembali, saya bisa menyimpulkan dua hal. Pertama, jelas naga akan mati. Kedua, efeknya. Dan karena ini buku sastra, efeknya akan buruk. Ingat, sifat ingatan yang liar tak serta merta positif. Banyak kenangan buruk yang juga bakal kembali, atau kenangan pahit yang menyasar pasangan, atau kenangan tentang keluarga yang sejatinya lebih pantas dilupa, malah justru pertama hadir. Dengan kabut ini mengadang kita, kenangan apa pun adalah harta berharga dan kita sebaiknya menyimpannya dengan baik. Apakah terbukti? Kalian harus baca sendiri! Ketika pengelana membicarakan kenangan mereka yang paling berharga, tidak mungkin bagi mereka untuk menutupi kebenaran. “Jika naga betina itu benar-benar dibinasakan, dan kabut ini mulai memudar, Axl, apakah kau pernah takut pada apa yang kemudian akan terungkap untuk kita?”

Ini adalah novel ketiga Pemenang Nobel Sastra 2017 ini setelah Never Let Me Go yang luar biasa (membingungkan tentang klona), dan An Artist yang hebat sekali. Ketiganya bagus, bagus banget. Jelas menjadi penulis favorit. Makanya pas tahu buku ini diskon, langsung kuangkut. Buku apapun dari Kazuo Ishiguro, apalagi pasca menang Nobel Sastra, bakalan laku. Diburu, dan layak koleksi. Tiga buku terlalu sedikit, yakinlah bakal banyak buntutnya. Saya menyelesaikan baca buku ini secara kilat, saat libur lima hari. 12-13 Mei cuti, melahap The Belly of Paris (Emile Zola), Mrs Dalloway (Virginia Woolf) dan dari 14 sampai 16 Mei baca ini. Lima hari, tiga buku bagus. Alhamdulillah…

Dan berdolah kawan-kawan. “… Jika kita berdoa pada-Nya, berdoalah dan meminta pada-Nya untuk mengingat setidaknya beberapa hal yang paling berharga untuk kita, siapa tahu, Dia mungkin mendengar dan mengambulkan keinginan kita.”

Yang Terkubur | by Kazuo Ishiguro | Diterjemahkan dari The Buried Giant | Copyright 2014 | GM 619186019 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Ariyantri E. Tarman | Editor Primadonna Angela | Desain sampul R. Hakim | Cetakan pertama, September 2019 | ISBN 9786020630557 | ISBN DIGITAL 9786020630564 | 482 hlm: 20 cm | Skor: 5/5

Deborah Rogers: 1938 – 2014

Karawang, 180522 – Eagles – Hotel California

Thx to Haritson, Yogyakarta

The Road

Kau sudah tahu semua cerita tentang aku. Kau ada di sana. // Kau punya cerita yang di dalamnya aku tak tahu. // Maksudmu seperti mimpi-mimpi? // Seperti mimpi-mimpi. Atau cuma hal-hal yang kaupikirkan.

Bagaimana yang tidak akan pernah ada berbeda dari tidak pernah ada? Buku tanpa tanda petik. Semua, baik kalimat langsung atau sebuah kata yang perlu kutip, tak ada tanda petiknya. Benar-benar ya, mana ceritanya juga antah pula. Sejatinya, setelah menyelesaikan baca, inti kisah tak rumit amat. Duo ayah anak yang melakukan perjalanan dari kota ke kota, bergerak terus untuk mencari perlindungan berujung di pantai di zaman masa depan yang kelam. Itu saja, dari awal sampai akhirnya terjadi tragedi itu, segalanya dicerita datar. Tak ada yang perlu diperdebat lebih, selain kenapa ini terjadi. Jadi pertanyaan filosofisnya, mengapa bumi bisa sedemikian mengerikan. Ini jelas penggambaran hitam, mengerikan kurang pas, hhmm… porak poranda mungkin lebih pas. Sebuah masa suram dunia yang kita tinggali.

Nasihat-nasihat secara tak langsung juga sejatinya disampaikan. Secara tersirat, seperti kata Papanya, Ingat, hal-hal yang kaumasukkan ke dalam kepalamu tersimpan di sana selamanya. Bukankah manusia adalah gudangnya kenangan? Bukankah memori adalah hal yang begitu berharga, di manapun, di masa kapanpun. Atau Kau lupa apa yang ingin kauingat dan kau ingat apa yang ingin kaulupakan. Ya, dasarnya ingatan itu abstrak, tapi masih bisa diolah. Dialog ini disampaikan sambil lalu, saat di depan api unggun atau saat dalam perjalanan mendorong kereta belanja atau saat dalam bungker kegelapan. Sang Papa mencoba berpikir tapi pikirannya kacau. Ada saat-saat ketika ia duduk memperhatikan anak itu tidur yang membuatnya mulai terisak tak terkendali.

Di sini tak ada nama karakter, hanya dipanggil Papa dan Anak. Mereka adalah pengelana, dengan kereta dorong belanja yang ada di supermarket yang menampung peralatan ala kadar, makanan dan minuman yang ala kadar pula, menjelajah kota-kota, menghindari manusia lain, bersembunyi dari kawanan lain, sebab bakal dijarah, atau direbut apa yang mereka bawa. Tak ada kata egois di sini, kalau mau bertahan hidup, tanggungjawab ada di diri kalian sendiri. Sayangnya, manusia dalam keadaan mendesak seperti ini, segala hal bakal dilakukan demi sesuap nasi. Menjadi brutal, menjadi menusia seutuhnya.

Mereka berjalan menuju Selatan, menuju pantai. Berpacu dengan kegelapan. Dari satu tempat ke tempat lain, tiap bertemu dengan orang lain, waspada. Bertemu dengan orang lapar sungguh berbahaya bukan? Nekad! Membayangkan melihat manusia lain, berdiri dengan pakaian compang-camping, hilang pada matahari acuh tak acuh yang sama. Waspada? Dan alasan waspada ini nantinya sungguh sangat beralasan. Sepeti kata Papanya, Kita harus terus berpindah-pindah. Kita harus terus mengarah ke selatan. Menemukan bukit, membuat api unggun, membuat tenda darurat, menemukan  rumah kosong, menemukan bensin, api, makanan sisa, hingga hal-hal pokok cara survive di kejamnya dunia. Tidur sedikit dan tidak lelap. Bermimpi berjalan di hutan berbunga tempat burung-burung terbang di depan mereka. Matahari yang menyengat, hujan yang mendera, salju yang ganas di dinginnya cuaca. Hidup di alam liar.

Kita tak diberitahu mengapa bumi bisa sehancur itu, apakah karena perang? Wabah? Sebuah serangan zombie? Invasi alien? Entah, tak dicerita. Hanya tahu, keduanya sudah di sana, masa-masa awal bencana tak dikisah. Judulnya udah pas, ini memang novel Jalan, sebab ya kisahnya di jalanan. Ada masa mereka menemukan bungker berisi banyak makanan, minuman, kotak P3K, hingga segala alat untuk bertahan, tapi mereka harus bergerak, dan ini sungguh sulit. Yah, kembali ke jalanan.

Tema kesepian, kesunyian, dan keterasingan menjadi bumbu utama. Hari-hari terlepas tak dihitung dan tak berkalender. Jelas, manusia adalah makhluk sosial yang perlu bersinggungan dengan orang lain, di sini menjadi sangat nyata dan betapa pentingnya mengenal tetangga. Menjadi sulit saat, segalanya tak berjalan mulus, kendala mengapung, hingga hal-hal dasar kebutuhan manusia disampaikan. Makan, tempat tinggal, pakaian. Dan dimana peran agama?

Pertanyaannya, bila kalian ada di posisi itu apakah kalain tetap orang baik-baik? Kebaikan akan menemukan  anak kecil itu. Senantiasa begitu. Akan terjadi lagi. Percaya saja sama ilmu tabur-tuai, sebab kalimat ini menjelma nyata, siapa yang akan menemukannya kalau ia tersesat? Siapa yang menemukan anak kecil itu? Pada akhirnya menjadi boomerang, segala tindakan dan ucapan kita berbalik ke kita.

Ini adalah novel kedua Cormac McCarthy yang kubaca, ketakjuban dalam No Country for Old Men berlanjut. Namun bagiku novel berkover orange itu jauh lebih bagus, lebih kuat, dan ceritanya lebih mudah masuk. Konfliks juga jelas, penyelesaian lebih ciamik. Dalam The Road, kita disuguhi berbagai macam pengandaian, hal-hal yang masih abu-abu, seolah puisi yang perlu tafsir lebih lanjut.

Kututup dengan kalimat panjang sang Papa yang memberi petuah ke anaknya, dan rasanya pantas kubagikan ke semua pembaca, bahwa ketika mimpi-mimpimu adalah dunia yang tak pernah ada atau dunia yang tidak akan pernah ada dan kau gembira lagi, maka kau akan menyerah. Paham? Dan kau tidak boleh menyerah. Takkan kubiarkan.

Jadi, katakan kepada kami, menuju ke mana dunia ini?

Jalan | by Cormac McCarthy | Diterjemahkan dari The Road | Copyright M-71, Ltd.2006 | Alih bahasa Sonya Sondakh | Ilustrasi dan desain sampul Satya Utama Jadi | GM 402 09.006 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Januari 2009 | 264 hlm; 20 cm | ISBN-10: 979-22-4316-X | ISBN-13: 978-979-22-4316-1 | Skor: 4.5/5

Buku ini dipersembahkan kepada John Francis McCarthy

Karawang, 250522 – The Best Vocal Jazz Relaxing Singing with Swing

Thx to William Loew, Medan

I and the Stupid Boy: Seorang yang Pikirannya Semrawut akan Melakukan Tindakan Secara Semrawut Pula

“Dalam hidup ini kita tidak akan berhasil, kalau kita tidak berani mengambil risiko.” Agatha Christie dalam Nemesis

Peradaban manusia sangat berutang pada ilmu dan teknologi. Teknologi selalu bermata dua, tajam menyayat kepedihan dan fungsi guna kemajuan. Di tangan para remaja bermasalah, yang mengedepankan penasaran dan pertalian sahabat, bisa memicu pornografi. Lihat saja, iklan aplikasi temu syahwat yang bersliweran di beranda sosmed, rerata menawarkan kemudahan kopi darat untuk mencari pasangan. Bisa dipilah apa saja bersadarkan kriteria, dari sekadar hobi, jual beli, pengembangan pergaulan, hingga cari pasangan. Namun sisi negatifnya, tersebab hati orang tak ada yang tahu, orang jahat juga bertebaran. I and The Stupid Boy menawarkan plot sejenis itu, efek buruk gadget yang dengan mudahnya pornografi tersaji. Apalagi kamu bersahabat dengan pemuda IQ jongkok. Waspadalah!

Kisahnya tentang Nora (Oulaya Amamra) siap kopi darat, ia berdandan, ia memiliki agenda bersama seorang pemuda yang tampak ideal. Ia mengirim banyak gambar ke orang asing, yang sayangnya beberapa menampakkan dirinya berpakaian minim atau bahkan bugil, kita tak tahu karena hanya mengetahuinya dari dialog. Setelah tampak rapi dan modis ia berangkat.

Di tengah jalan ketemu sahabatnya, mantan kekasih Kevin (Kaouther Ben Hania) yang menggoda. Berkomunikasi berbasa basi, lantas kepo sejatinya ketemu siapa sih? Saat ia membuka handphone-nya, apes Kevin langsung menyambar. Sambil petak umpet, kejar sana-sini, teriak meminta balik, dan jangan buka file ini itu, Kevin menemukan foto-foto yang di-sher. Ia tampak cemburu, kesal, sekaligus memanfaatkan moment. File-file itu diteruskan ke handphone-nya.

Ia memasuki gedung kosong, gelap, dan tampak menakutkan. Tak ada jalan lain, Nora harus meminta balik handphone tersebut. Banyak hal-hal pribadi dan sensitif. Semakin ke sini semakin mengesalkan tingkah sang lelaki, lantas karena sabarnya habis dan ia memiliki kesempatan menghajarnya. Ia terpaksa melakukan.

Kukira ia tewas, tapi hanya pingsan. HP-nya diambil balik, lantas Kevin difoto dalam keadaan berdarah dan limbung, kali ini sekaligus balas dendam, menggunakan HP pelaku, sembari diancam disebarkan ke semua kontak, Nora meminta Kevin meminta maaf. Ancaman itu tak digubris, dan saat klik dilakukan kehebohanlah yang terjadi. Baik kehebohan dari para penerima file maupun di gedung itu. Lihat, satu klik menimbulkan gema panjang mengerikan. Kalau sudah terjadi dan kacau, lantas apa yang kita banggakan?

Seorang yang pikirannya semrawut akan melakukan tindakan secara semrawut pula. Memang lebih baik jadi ‘penakut’ dalam arti berhati-hati daripada terlalu berani lalu lengah. Ada pepatah yang berbunyi ‘banyak lalat tertangkap dengan madu, daripada dengan asam.’ Kenyataannya banyak yang terperangkap dalam nafsu justru dengan madu ‘kan. Orang-orang asing di luar sana banyak yang bermental tempe, memanfaatkan situasi dan teknologi untuk kepentingan pribadi. Nafsu dikedepankan, logika disembunyikan, nurani hitam. Walaupun ini bukan hal baru, tapi teknologi digital telah menjadi ladang maksiat yang subur.

Pada umumnya pertumbuhan jasmani wanita lebih cepat daripada pria. Dan pertumbuhan ini tidak selalu disertai dengan kematangan pikiran. Kematangan pikiran akan tumbuh belakangan dan biasanya dipengaruhi oleh pendidikan, pergaulan, dan sebagainya. Wanita, secara naluriah akan memilih lelaki yang tahan uji, tekun, dan sabar. Maka masa remaja menuju dewasa menjadi sungguh krusial. I and the Stupid Boy menawarkan plot yang kurang lebih seperti itu. Lingkungan dan pergaulan yang baik akan membentuk karakter yang baik.

Seperti kata Voltaire, “Pemikiran seperti jenggot. Tidak tumbuh sebelum dewasa.”

I and The Stupid Boy | Year 2021 | Italy | Short Film 14m | Directed by Kaouther Ben Hania | Screenplay Kaouther Ben Hania | Cast Oulaya Amamra, Sandor Funtek | Skor: 3/5

Karawang, 220921 – Michael Fanks – The Camera Never Lies

Film ini diproduksi oleh Miu Miu, dan bisa dinikmati di Youtube

The Broken Circle Breakdown: Sumber dari Segala Keindahan adalah Kehidupan

Hidup membuatmu merasa dendam. Hidup mengambil semuanya darimu dan menertawaimu. Hidup menghianatimu.”

Pandangan keras ideologi baik politik, agama, sosial, atau apapun itu tak laik disampaikan ke khayalak pendengar heterogen karena potensi menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), apalagi ini di tengah konser yang hening dan syahdu. Lebih gila lagi, yang disampaikan menghujat agama mayoritas dengan pelik pekik menyatakan ateis. Luar biasa konyol bukan? Luar biasa gila!

Sedih maksimal. Kesedihan layar sinema yang ditawarkan sungguh menggerus hati, pahit getirnya kehidupan dalam rumah tangga, dijalin dan dililitkan dengan erat, mencekik megap-megap sesak napas dalam ketidakberdayaan menapaki kerasnya masalah yang didapat. Kalau ngomongin luka keluarga, jelas sungguh sulit diabaikan. Dunia fana ini, memberi kita keniscayaan bahwa orang terkasih nomor satu, dan sarinya jelas keluarga di urutan teratas. Maka saat plotnya tentang anggota kelurga sakit keras dan efek setelahnya, jelas ini menjadi suguhan tema berat. Disajikan dengan riak timbul tenggelam antara harapan dan keambyaran, The Broken Circle Breakdown adalah fakta betapa manusia selalu tak berdaya di hadapan takdir. Sekuat apapun, secerdas apapun, sesuper apapun.

Kisahnya tentang pasangan keren di Ghent, Belgia. Mereka tampak ideal di luar, tapi setelah berkeluarga dan kita turut serta menyaksikan kehidupan rutinitas, kita tahu ada masalah besar di antara mereka. Masalah yang bakalan meledak di masa depan. Didier  (Johan Heldenbergh) adalah musisi kenamaan, ia adalah lead vocal, seorang idealis. Musik yang dibawakan sama grup adalah jenis bluegrass, sering tampil di kafe, menjadi idola lokal. Nantinya makin besar dan berkembang hingga bisa tampil dalam konser. Seorang ateis murni dan radikal.

Dalam ensiklopedia dijelaskan bahwa ateis berasal dari bahasa Yunani, athos. Kata itu tidak mengacu pada orang-orang yang tidak memercayai Tuhan: kata itu mengacu pada orang-orang kesepian, orang-orang yang diabaikan oleh para dewa. Maka, ini membuktikan bahwa manusia tak pernah bisa benar-benar ateis. Karena, kalaupun kita ingin diabaikan oleh-Nya, Tuhan tidak akan mengabaikan kita di sini. Maka untuk menjadi seorang (hampir) ateis, pertama-tama harus menyendiri dan tak menikah. Didier banget, tapi sekali lagi ia hanya hampir ateis.

Elise (Veerle Baetens) adalah perempuan pencipta tato, sekujur tubuhnya dihiasi, nama-nama mantan kekasih diukir, tapi setelah putus dihapus. Ia seorang realis, menjalani hidup dengan dasar pijakan kepercayaan padaNya yang kuat. Lihat, pasangan musisi dan pembuat tato, tampak serasi bukan? Masalah agama/keyakinan-lah yang dirasa menjadi pijakan penting.

Awal mula bertemu adalah Didier mengunjungi toko tato, berkenalan, mengajak Elise menyaksikan konser lokal, dan malam itu kita tahu Elise jatuh hati. Adegan pembukanya adalah ini, lagu Will the Circle Be Unbroken? Apa yang menarik di dunia ini? Amerika. Musisi bluegrass terhebat siapa? Memang ada yang lebih hebat dari Musisi Amerika? Dst… dialog puitik dan keren yang laik dikenang dalam keromantisan akut. Hubungan mereka langsung klik dan panas. Berlanjut ke jenjang serius, dan saat Elise memberitahu bahwa ia hamil, Didier marah. Dalam rumah koboinya, ia langsung pergi dengan perasaan murka sebab ia malas berkomitmen.

Entah kenapa tiba-tiba saat pulang ia membawa bahan material bangunan, anak kita tak kan tidur di trailer yang secara tak langsung berteriak, ‘Ok kita berkeluarga’. Kehadiran buah hati Maybelle (Nell Cattysse) melengkapi keping kebahagiaan mereka. Tumbuh kembang dalam suasana indah hubungan. Namun tunggu saja, ini film berat, dan masalah pelik itu muncul juga, Tuhan mengirim penyakit kanker untuk Maybelle setelah ulang tahunnya yang keenam.

Film dibuka dengan adegan nyanyi mendayu, lalu di rumah sakit Maybelle diambil darahnya. Diagnose kanker, proses terapi, penyembuhan berlarut, rambutnya gundul, kemoterapi yang gagal, dan berakhir dengan kesedihan maksimal. Keluarga ini hancur, rumah yang ceria itu menjelma seketika kesunyian. Pedih sekali.

Endingnya sendiri menghentak, luar biasa. Saat tekanan hidup sungguh berat. Elise sendiri juga menjadi penyanyi, masuk ke dalam grup dan sukses berat sebab suaranya bagus. Saat keruntuhan itu terjadi ia kembali ke toko tato, dan mengganti namanya jadi Alabama. Termasuk alasan sentimental di baliknya, seperti dimula Didier yang mengagumi Amerika, di akhir menjadi boomerang kemarahan karena dalam siaran TV Presiden Bush yang menentang penelitian embio dan menolak gerakan aborsi. Begitulah, satu-satunya konsistensi adalah ketidakkonsistensian.

Adegan ujung di rumah sakit menampilkan jawaban makna kehidupan. Seperti disebutkan dalam kitab-kitab kuno, nyawa seseorang meninggalkan tubuhnya enam jam setelah ajal menjemputnya, menurut Suyuti pada saat itu jiwa seseorang menjadi suatu yang gaib dan dapat berpindah-pindah, dan ia harus tinggal di alam Barzakh hingga kiamat datang. Maka bergemalah nyanyian itu mengantar di titik akhir.

Didier bilang ke anaknya, tak ada kehidupan setelah kematian. Mati ya mati, hilang dari dunia, menuju ketiadaan. Sementara Alabama, percaya ada surga dan segala konsekuensi akhir. Maka saat Maybelle menyaksi kematian burung gagak yang menabrak teranda (tenda/beranda) ia bertanya kemana perginya jiwa si burung? Surga itu dimana? Surga adalah masa depan yang kita semua impikan, tapi bagi Didier, surga adalah tempat mimpi-mimpi dalam kenangan dilestarikan.

Tak aneh setelah kehilangan anaknya, Elise menempel stiker burung di teranda agar burung-burung lain selamat. Kegiatan sederhana ini memicu kemarahan sang suami dan begitulah, runtuh segalanya. Tak semua orang bisa sepakat denganmu, tak bisa dipaksakan keyakinan orang lain agar sama. Dunia yang berbeda adalah dunia yang universal, tak perlu merasuki isi kepala orang terdekat. Jadi lingkaran itu akan hancur juga kalau dipaksa belok ‘kan?!

Berkat The Broken, saya teringat kata-kata N.G. Cherneshebvski (1928-1889), seorang filsuf, sastrawan, kritikus serta perjuang revolusioner dari Uni Soviet. Beliau bilang, “Sumber segala keindahan adalah kehidupan. Kenyataan hidup dan keindahannya mendahului kesenian dan perasaan estetis tentang keindahan. Kesenian hanyalah reproduksi kehidupan, dan di dalam karya-karya kesenian kiranya tak ada hal yang tak terdapat di dalam kenyataan hidup. Keindahan tertinggi dan sebenar-benarnya adalah keindahan yang ditemukan di dalam dunia kehidupan.” Dengarkan kau, kehidupan bukan melulu soal prinsip, kehidupan adalah soal mencari keindahan.

Tokoh Elise/Alabama dimainkan oleh artis sekaligus penyanyi, maka lantunan lagunya terasa menghentak indah. Tokoh Didier juga terlihat nyata, sifat ateis dan komitmennya juga luar biasa. Pedonan utama ateis adalah ia tidak memedulikan apa pun, kecuali cinta dan kebahagiaan. Masalahnya seorang filsuf entah siapa saya lupa, pernah bilang, “… dan ingatlah ini: mereka yang mencari kebahagiaan justru tidak akan pernah menemuinya.”

Ini bisa juga disebut film musikal sebab banyak sekali selingan nyanyi, bagus-bagus lagi. saya lebih suka menyebut ini jenis film drama pilu. Tindakan-tindakan yang diambil seolah nyata, tragedinya juga pas banget, seolah para tokoh benar-benar memiliki opsi tindakan, bukan menurut skenario.

Polanya sendiri acak, kita diminta menyusun potongan-potongan adegan yang tersaji. Pembukanya adalah nyanyian awal mula mereka berkenalan, lalu di rumah sakit saat cek darah itu jelas Maybelle sudah enam tahun, makin ke tengah durasi justru makin mundur masanya, dan adegan penghujung adalah final masa kini. Pola macam ini bagus, dan membuat gelombang pikir. Lega sekali akhirnya tuntas, melelahkan mengharukan. Seperti di dalam mimpi buruk, semua orang merasa sendirian, dan kita tak menyadarinya itu hanyalah maya. Orang-orang yang membuat keputusan buruk dalam kehidupan mereka gara-gara gejolak kekeraskepalaan sesaat, dan kemudian seumur hidup patut menyesalinya.

Pada akhirnya, burung gagak di dalam dadaku akan hidup; ia akan mengepakkan sayangnya dan, tepat sebelum gerakannya menyesakkan dadaku, sebelum air mata ini menetes – ia sudah terbang bebas.

The Broken Circle Breakdown | Tahun 2012 | Negara Belgia | Directed by Felix van Groeningen | Screenplay Carl Joos | Story Johan Heldenbergh & Mieke Dobbels; Play The Broken Circle Breakdown featuring the Cover-Ups of Alabama | Cast Veerle Baeten, Johan Heldenbergh, Nell Cattrysse | Skor: 5/5

Karawang, 070821 – The Corrs – So Young

Thx to Lee, rekomendasi terbaiq.

The SpongeBob Movie: Sponge On the Run – Misi Menyelamatkan Gary

Tuan Krab: “Aku suka uang, uang, uang.”

Tak ada yang baru di sini. Ini film anak-anak, ngalir sahaja. Only for fans, dengan catatan. Kutonton semalam dengan Hermione (6 tahun) yang suka sekali kartun, penggemar Boboiboy, Omar Hana, Sopo Jarwo, Nussa, hingga Keluarga Somat. Sederet panjang kartun masa kini yang sudah dikuasai negeri tetangga. Spongebob jelas bukan di antaranya. Sudah punah dari peredaran tv? Sebab penguasa kartun saat ini bukan lagi GTV, tapi RTV. Sedari pagi hingga malam, Hermione hapal jam-jam tayangnya, mengikuti, menyaksi, menjalani masa kanak-kanaknya. Pantas saja ia bertanya, cewek peneliti itu siapa? Sandy. ‘Saya suka Sandy’. Yah, saya maklumi yang ia kenal Ruby, Aya, dll. Kuselesaikan tonton jelang tengah malam, dan sesuai dugaku ia sangat suka. Siapa yang bisa menolak pesona Si Kuning? Kubandingkan kartun-kartun yang kita tonton sebelum-sebelumnya, dan tanpa ragu bilang Spongebob terbaik. Alhamdulilah… misi menyebar virus Spongebob berhasil, setidaknya sementara…

Kisahnya tentang pencarian dan penyelamatan Gary Siput. Dibuka dengan rutinitas Bikini Bottom, Spongebob Squarepants (Disuarakan oleh Ade Kurniawan) berwisata bersama Gary Siput binatang peliharaannya. Menampilkan kebersamaan kebahagiaan yang hakiki. Besoknya berangkat kerja lebih dini biar persiapan matang. Menyapa sobatnya Patrick Star (Darmawan Suseno), berteriak-teriak gaje menggangu tetangga. Di Krasty Krabs kita mengenal Tuan Eugene Krabs (Dadang Hidayat) bos yang kikir dan kasir pemalas Squidward Tentacles (Jumali Prawirorejo). Rutinitas biasa, hingga tetangga mereka yang jahat muncul dengan teropongnya, Planton Sheldon (Salman Pranata) yang berniat balas dendam. Istri komputernya, Karen selalu menasehati. Masalahnya bukan Krabs-nya tapi Spongebob yang bodoh sekaligus jenius.

Kebetulan hari itu Sandy tupai peneliti sedang menawarkan robot bos, pekerja otomatis yang selalu bilang ‘Kau dipecat’. Awalnya Krabs tak tertarik, tapi melihat potensi saving uang, direkrutlah. Namun tak lama sebab kalimat annoying itu menimbulkan kesal, ditendang jauh ke tempat sampah Cum Bucket.

Robot itu lalu dimodifikasi jadi jahat. Sesuai saran Karen, Plankton menculik Siput untuk ditempatkan di Kota Atlantis yang hilang. Dipimpin oleh raja Poseidon yang membutuhkan perawatan wajah, membutuhkan liur siput buat peremajaan. Kebetulan stok habis, maka proses pencarian itu menemui titik temu Gary.

Spongebob yang kalut kehilangan Gary, Plankton sok baik memberi kendaraan dengan sopir sang robot. Maka ditemani Patrick dimulailah misi penyelamatan. Rencana Plankton berjalan sempurna, ralat: nyaris sempurna. Kraby Patty runtuh tanpa Spongebob, gulung tikar dan formula rahasia diserahkan dengan mudah. Bendera putih dikibar.

Dalam perjalanan bertemu makhluk aneh, semacam rumput gulung kena angin bernama Sage (dengan wajah Keanu Reeves), memberi nasehat serta memberi koin keberuntungan. Sekarang tiap lihat sarang burung, Hermione akan bilang ‘Yah, ada Sage‘. Awalnya kukira bernama Syeikh, para jutawan Arab. Bertemu pula Snoop Dogg, Monsa X yang bernyayi di kasino, malam yang meriah dengan lagu Livin La Vida Loca. Koin itu tak sengaja dipertaruhkan, eh sengaja juga tapi karena teler dan terbawa suasana terlepas. Intinya di kasino mereka terjebak suasana gayeng, makanan minuman melimpah, wahana main yang asyik. Teler.

Sage mengingatkan misi, dan mereka melanjutkan perjalanan. Sementara di Bikini Bottom yang suram, Plankton diluar duga malah menjadi baik, melakukan pengakuan ialah dalang utama menjauhkan Gary, yang lalu menjauhkan Spongebob. Ia malah membantu, menyediakan akomodasi dan para tokoh yang saya sebut di awal turut serta melakukan petualangan menyelamatkan Gary ke Atlantis.

Kisah ini terinspirasi episode Have You Seen This Snail? Gary dan percobaan penggantian binatang peliharaan, yang ternyata tentu saja tak tergantikan. Saya sangat menikmati Spongebob The Movie (2004), sudah kutonton berulang kali, plotnya mirip sekali dengan film ini. Spongebob dan Patrick melakukan petualangan keluar dari Bikini Bottom, kalau sebelumnya demi menyelamatkan Tuan Krab yang jadi patung guna ketemu King Neptunus untuk mahkota kini Gary-lah pemicunya melawan Raja Poseidon. Bukan karena lebih bagus yang pertama, sebab utamanya saya menonton di usia yang pas, di euphoria yang tinggi, dan minimnya kisah sejenis. On the Run, tetap bagus tapi karena feel-nya tak segemerlap sebelumnya, terasa fun saja. Selalu mengasyikkan nonton film keluarga bersama orang terkasih, saya lihat dalam dubbing Bahasa Indonesia produksi Iyuno Media Group. Bagus, sudah sesuai ekspektasi. Semuanya mengalir, semacam nostalgia setelah sangat lama tak menonton kartun ini. Seri kedua Spongebob Squarepants: Out of Water (2015) justru belum kutonton karena menunda mulu.

Ya, tak ada yang baru di sini. Semuanya plek dengan episode sebelumnya. Ini adalah film yang fun, tak perlu berpikir kerut kening, tak perlu mumet memikirkan dialog berat. Duduk dan nikmatilah. Spongebob pernah menjadi kartun terfavorit sepanjang masa, dan akan selalu menjadi yang terbaik bagiku sebab masa lalu tak akan kembali, semua menjadi kenangan yang enak diingat sebagai bentuk nostalgia. Mungkin sudah menjadi kebiasaan dalam film ada aktor tamu yang disertakan. Kali ini Keanu Reeves kuanggap sukses. Patut dinanti siapa selebriti yang akan diajak bergabung. Tom Holland?

In memoriam Stephen Hillenburg, sang kreator meninggal dunia pada 27 November 2018. Terima kasih banyak sudah menemai masa-masa sulit di perantauan dulu. Spongebob abadi, karyamau abadi. “Whooo…. Live in pineapple that under the sea…”

The SpongeBob Movie: Sponge On the Run | Tahun 2020 | Directed by Tim Hill | Screenplay Tim Hill | Cast (Edisi Indonesia): Ade Kurniawan, Darmawan Susanto, Jumali Prawirorejo, Jhoni Ringo, Dadang Hidayat, Salman Pranata, Miftahul Jannah | Skor: 3.5/5

Karawang, 200521 – Ida Laila – Sepiring Berdua

Reuni Hitam di Pemakaman Sang Pelatih

Bleachers by John Grisham

Bagaimana kau bisa tidak merindukan Rake begitu kau bermain untuknya? Aku melihat wajahnya setiap hari, aku mendengar suaranya. Aku bisa mencium bau keringatnya. Aku bisa merasakan dia menghantamku, tanpa bantalan. Aku bisa menirukan geramannya, gerutuannya, omelannya. Aku ingat cerita-ceritanya, ceramah-ceramahnya, pelajaran-pelajarannya. Aku ingat keempat puluh permainan dan ketiga puluh delapan permainan yang kujalani sewaktu masih mengenakan seragam. Ayahku meninggal empat tahun yang lalu dan aku sangat menyayanginya, tapi, dan ini sulit dikatakan, Eddie Rake lebih berpengaruh bagiku daripada ayahku sendiri.” – Nat

Tidak ada yang menyayangi Rake seperti Silo. Apa yang terlitas pertama kali saat selesai menikmati Bleachers? Sir Alex Ferguson. Seorang pelatih kenamaan yang bertahan lama di Manchester United dalam liga paling keras sedunia English Premier League, metode pelatihnya yang keras sehingga menimbulkan banyak konfliks dalam tim. Hubungan dengan Roy Keane yang buruk, bisa sangat mirip dengan bintang lapangan Neely. Yah, karena saya tak mengenal football Amerika, dan sangat akrab dengan football maka pembandingnya sepak bola saja.

Kisahnya mengambil sudut pandang Neely, mantan kapten football Amerika yang sudah lima belas tahun tak kembali ke Messina. Hari Selasa ia menelusuri lapangan yang membesarkan namanya. Kabar sang pelatih terhebat Eddie Rake sekarat telah mengetuk hatinya, dan sebagian mantan anak asuh untuk pulang. “Lima belas tahun, Pal…” Jadilah ini seperti reuni hitam, dibuka dengan hari Selasa, ditutup pada hari Jumat, hari pemakaman. Selain setting waktu yang minim hanya empat hari, setting tempat juga minim: bangku penonton, kafe, pemakaman, mobil, dst. Novel ini mengandalkan kekuatan dialog dan narasi sehingga hujaman kata harus benar-benar memikat untuk terus bertahan sepanjang 200 halaman. Kubaca kilat dalam dua hari Minggu malam setelah tarawih, kutuntaskan Senin sore sepulang kerja (100520). Tipis, dengan pacu kata kencang.

Neely Crenshaw bertemu dahulu dengan Paul Curry di bangku penonton Rake Field mengenang kenang. Mereka duduk terpisah sejauh tiga kaki, keduanya menatap ke kejauhan, bercakap-cakap tapi sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu pembaca diantar memutar memori itu. Di kelas Sembilan Rake sendiri mengawasi latihan kita dan kita hafal keempat puluh play yang ada di bukunya. Bahkan dalam tidur. Hari-hari jaya kita hilang dalam sekejap mata. “Ayolah, hentikan. Nikmati saja kenangannya.”

Mereka juga membuka kelabu masa lalu tentang pilihan kuliah pasca kelulusan. “Aku tidak pernah memberitahu siapa pun hingga sekarang. Benar-benar bisnis kotor… setiap sekolah menawarkan uang tunai, Paul, jangan naïf. Itu bagian dari permainan.” Bagaimana pilihan Neely ke kampus Tech melukai beberapa pihak. Ternyata dibalik itu, ada uang tunai yang terselip. “Kenapa menabung kalau kau berada dalam daftar gaji?” Anak muda yang lulus tahun 1987 dengan uang melimpah. Sapaan saling dilontarkan, penghinaan dibalas. Begitu banyak yang tertinggal di antara mereka berdua hingga tidak satu pun ingin memulainya.

Lalu muncul alumni lain yang lebih muda, bintang terakhir arahan Rake. Randy Jaeger, “Kapan kau selesai? Tanya Neely. / “Sembilan puluh tiga.” / “Dan mereka memecatnya tahun__?” / “Sembilan puluh dua, tahun seniorku. Aku salah satu kapten.” Beda angkatan ini lalu mengupas apa saja waktu-waktu kenang sang pelatih. Bahas apa saja. Musim pertandingan tanpa kebobolan gawang satu kali membutuhkan waktu semenit untuk dicerna, tahun-tahun yang lebih mula diapungkan. Dan di akhir karier kepelatihan koran-koran mencetak berita besar di headline. “… Selama tiga puluh empat tahun ia melatih tujuh ratus empat belas pemain. Itu judul artikelnya – Eddie Rake dan Ketujuh Ratus Spartan.”

Muncul pula angkatan yang lebih tua, seorang polisi Mal, seangkatan lainnya bankir Curry dan sebagainya. Neely mengetahui legendanya, bukan orangnya. Bangku lapangan itu di malam Rake sekarat karena kanker menjadi malam nostalgia. Bagaimana Rake, selalu merupakan pakar motivator, menggunakan penundaan itu untuk memicu semangat pasukannya. Rake memiliki masalah dengan bintang. Kita semua mengetahuinya. Kalau kau memenangkan terlalu banyak piala, membuat rekor terlalu banyak, Rake iri. Sesederhana itu. Ia melatih kita seperti anjing dan ingin setiap orang dari kita menjadi pemain hebat. “Rasanya seperti baru kemarin, tapi kalau dipikir lagi rasanya seperti mimpi.”

Messina memiliki para pahlawannya, dan mereka diharapkan menikmati nostalgianya. “Hak untuk membual, apalagi yang bisa mereka bualkan?” Setiap Jumat malam menjadi altar pemujaan sekaligus hujatan di lapangan football yang keras. Di kota seukuran Messina, bakat datang berdasarkan siklus. Saat-saat puncak dengan Neely, Silo, Paul, Alonzo Taylor, dan empat penebang kayu yang brutal. Skornya sangat bagus. “Aku tak ingin membicarakan football, oke? Aku tak ingin membicarakan betapa hebatnya diriku dulu.”

Sejatinya ada apa dengan pelatih legendaris ini sehingga dipecat secara tak hormat? Kita tahu dalam kupasan lembar hari berikutnya. Neely ngopi di kafe yang memajang posternya di atas kasir. “Tidak ada yang membencimu Neely, kau jagoan Amerika.” Pada waktu itu ia telah melatih Spartan selama lebih dari tiga dekade dan sudah melihat segalanya. Gelar terakhirnya yang ketiga belas, diraihnya tahun 1987. Rake terkenal akan gerutuannya, yang selalu bisa didengar. Tahun 1992, di akhir musim yang berakhir buruk Rake melakukan training yang lebih keras di hari Minggu pagi, hari suci yang harusnya di gereja itu malah berakhir bencana karena seorang pemain tewas kala latihan. Kota terpecah, situasi memburuk. Menyedihkan untuk Scotty, dan menyedihkan karena era Rake tampaknya telah berakhir.

Era akhir itu pilu, Rake dipuja dan dibenci. Waktu berjalan, pertandingan tetap ada. Dan menang adalah segalanya. Situasi tampaknya bisa oke ketika kita menang, tapi satu kekalahan itu telah memecah belah kota hingga bertahun-tahun. “Isu selalu bisa dipercaya di sini, terutama tentang Rake.”

Rake lalu menepi, jarang muncul di keramaian, lebih dekat dengan keluarga. Dan salah satu mantan anak didik Nat yang membuka toko buku di Messina membuka pintu khusus buatnya. Ngopi dan baca buku. Buku-buku bacaan karya Raymond Chandler, Dashiell Hammett, Elmore Leonard. Menjadi bahan diskusi, menghabiskan masa tua. Tersisih, tapi tetap dikenang.

Di toko buku itulah Neely lalu datang di hari berikutnya. Bertemu rekan setim Nat yang antusias menyambut pahlawan yang pulang. Semangat itu perlu kawan, usia tua adalah keniscayaan. Ada pelanggan seratus sepuluh tahun usianya, dan ia menyukai novel koboi erotis. Pikirkanlah. Kita belum separuhnya, jangan muram. Pameran itu merupakan penghargaan bagi pelatih yang cemerlang dan pemain yang berdedikasi, dan pengingat yang menyedihkan mengenai keadaan yang menyedihkan dulu.

Waktu berjalan, hal-hal biasa bisa saja berubah. Football adalah raja dan ini tidak berubah. Football membawa kemegahan dan membayar tagihan-taguhan dan hanya itu. Kariermu yang meriah hanya akan menjadi catatan kaki, semua gadis kecil yang manis akan menjadi ibu-ibu. Barang SMU, barang anak-anak. Hanya sedikit yang berubah. Pelatih-pelatih yang berbeda, pemain-pemain yang berbeda, bocah-bocah yang berbeda dalam band, tetapi mereka masih tetap Spartan di Rake Field dengan Rabbit di atas mesin pemotong rumput dan kegugupan menghadapi Jumat malam.

Hari Kamis malam, setelah pengumuman duka para mantan anak didik itu berkumpul di bangku penonton Rake Field. Nat membawa boom-box lalu menyalakan rekaman kaset Buck Coffey menyiarkan pertandingan kejuaraan ’87. Kenangan komentar laga paling dramatis perebutan juara. Dari tertinggal jauh di separuh babak, lalu membalikkan keadaan dengan kejanggalan tak ada pelatih di bangku. Apa sejatinya yang terjadi di ruang ganti dibuka dengan dahsyat. Jadi ingat segala pertandingan sepak bola yang membalik di babak kedua: Manchester United tahun 99, Liverpool tahun 2005, atau semacam kejadian ajaib itulah.

Kita memakamkan penduduk kita yang paling terkenal. Neely lalu mengajak Cameron ke acara pemakaman itu. “Ada sesuatu yang ajaib di cinta pertama Cameron, sesuatu yang kurindukan selamanya.” Cinta pertamanya yang terluka. Ia sudah menikah dan hidup bahagia dengan orang lain. Permintaan maaf Neely karena mencampakkannya, serta kehidupannya sebagai karyawan real estat yang berantakan, dan bagaimana pacar yang merebutnya kini sengsara di Hollywood, sebagai pemain film kelas B. Ahh… Menjadi pahlawan yang terlupakan tidaklah mudah.

Acara perpisahan dengan legenda, penghomatan terakhir Eddi Rake ditulis dengan gagah luar biasa menyentuh. Tidak ada yang tergesa-gesa, ini saat-saat yang akan dipuja dan dikenang oleh Messina. Neely duduk diantara Paul Curry dan Silo Mooney, bersama ketiga puluh anggota regu 1987 lainnya, dua di antara mereka telah meninggal, enam menghilang, dan sisanya tak bisa hadir. Ada tiga orang yang memberi semacam pidato, tiga bintang di tiga angkatan yang berbeda. Seorang pekerja di biro hukum yang pintar bicara di muka umum, lalu pendeta yang sudah biasa di mimbar. Dan seorang bintang yang menghilang. Ia mendapat pekerjaan itu karena tidak ada orang lain yang menginginkannya, ia melatih di sini selama tiga puluh empat tahun, memenangkan lebih dari empat ratus pertandingan, meraih tiga belas gelar negara bagian, dan kita mengetahui angka-nagka sisanya.

Prinsipnya sederhana, tetap berpegang pada hal-hal mendasar, dan bekerja tanpa henti hingga kau bisa melakukannya dengan sempurna. Kita bukan orang-orang hebat, kita mungkin orang-orang baik, jujur, adil, bekerja keras, setia, ramah, dermawan, dan sangat sopan, atau mungkin sebaliknya. Tapi kita tidak dianggap sebagai orang hebat. Kehebatan jarang muncul sehingga sewaktu melihatnya kita ingin menyentuhnya. Eddie Rake memungkinkan kita para pemain dan penggemar untuk menyentuh kehebatan. Walau sangat tangguh, ia luar biasa peka terhadap penderitaan orang lain.

Masa lalu akhirnya benar-benar berlalu sekarang, berlalu bersama Rake. Neely bosan dengan kenangan dan mimpi-mimpi yang gagal, menyerahlah, katanya pada diri sendiri. Kau tak akan pernah menjadi pahlawan lagi. Hari-hari itu telah berakhir sekarang. “Aku menyayangi Eddie Rake melebihi siapa pun dalam hidupku. Ia hadir dalam sidang ketika mereka memvonisku. Aku menghancurkan hidupku, dan aku malu. Aku menghancurkan hati kedua orang tuaku, dan aku merasa muak karenanya…” Jesse yang malang mengingat masa emas itu.

John Grisham tak pernah mengecewakan. Buku tipis ini juga sama dahsyatnya dengan buku lain. temanya bervariasi, dari pengadilan, kenangan masa kecil di perkebunan kapas, boikot natal, kumpulan cerita pendek di kotanya sampai sebuah memoar samar nan fiktif pelatih Rake ini. Sungguh luar biasa penulis ini, bagaimana memacu andrenalin pembaca menuju puncak malam pemakaman, semakin lembar menipis semakin membikin penasaran. Seperti kenyataan malam kejayaan 87 itu, ternyata ada tragedi pahit antara bintang utama dan pelatih. Dikuak dengan dramatis.

Lebih dahsyat Neely sebagai penutur narasi malah menjadi orang yang menutup sambutan kalimat perpisahan. Seperti yang disampaikan di mula, Neely membenci Rake karena sebab yang jelas, ia bintang utama sekaligus mata pisau paling tajam untuk menyampai kebencian. Pelatih Rake tidak mudah disayangi, dan saat kau bermain di sini, kau benar-benar tidak menyukai dia. Tetapi sesudah kau pergi, sesudah meninggalkan tempat ini, sesudah kau didepak beberapa kali di sana-sini, menghadapi tentangan, beberapa kegagalan, dikalahkan hidup, kau segera menyadari betapa pentingnya Pelatih Rake dulu dan sekarang… begitu kau jauh dari pelatih Rake, kau merindukannya. Bayangkan saja, lima belas tahun tak mau jumpa!

Rake memang jago dalam menyampaikan pesan terakhir. Rake memang jago memanipulasi para pemainnya untuk yang terakhir kalinya.

Keberhasilan bukanlah kebetulan.

Sang Pelatih | by John Grisham | Diterjemahkan dari Bleachers | Copyright 2003 | Alihbahasa B. Sendra Tanuwidjaja | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 04.007 | Cetakan pertama, Juli 2004 | 208 hlm.; 18 cm | ISBN 9789-22-0741-4 | Skor: 5/5

Untuk Ty, dan anak-anak luar biasa yang bermain football dengannya di SMU; pelatih mereka yang hebat; dan kenangan tentang dua gelar Negara bagian

Karawang, 180520 – 230520 – Bill Withers – Lovely Day & The Best You Can