Christ The Lord: Out Of Egypt – Anne Rice

Saat Tuhan menciptakan dunia, Pengetahuan Tertinggi ada di sana seperti tukang kayu yang ahli dan kalau Pengetahuan Tertinggi bukan Tuhan, apakah Pengetahuan Tertinggi itu? “Yerusalem, tempat Tuhan berdiam di Bait Allah.” Tuhan ada di mana-mana dan Tuhan ada di Bait Allah.

Ini adalah kesempatan pertama saya menikmati karya Anne Rice, saya sudah jadi penggemarnya semenjak Sherinaku bilang menyukai An Interview With Vampire di web sherina-online.com tahun 2006 (jangan dibuka ya, web wajib doeleo tiap buka kompuer di warnet). Buku yang bervitamin. Baca dengan kepala jernih dalam tiga hari ini, pada dasarnya saya adalah pembaca segala rupa. Tahun ini saya tahu sejarah Sidartha Gautama karya Herman Hesse yang mengejutkanku. Tahun lalu saya tahu sejarah Nabi, istri dan sahabat Nabi yang beberapa juga mengejutkanku. Hari ini saya selesai baca Yesus Muda, yang tentu saja banyak hal baru kuketahui, dan juga mengejutkanku. Yesus memiliki kekuatan supernatural di usia muda. Menghidupi dan mematikan, menyembuhkan orang buta hingga mencipta burung layang-layang dari tanah liat. Sedari awal ia tahu, seorang malaikat telah mendatangi ibunya. Malaikat. Yesus bukan putra Yusuf.

Kisahnya dibuka di Alexandria, Mesir. Yesus bin Yusuf berusia tujuh tahun. Saat bermain sama anak-anak sebaya, tak sengaja ia menewaskan temannya Eleazar, Yesus yang ketakutan karena tak tahu mengapa, dilindungi keluarga, massa merangsek dan marah-marah menuntut. Lalu dalam ketenangan yang membuncah, ia menghidupkan kembali temannya. Kejadian itu membuat geger warga, Filo dan para guru yang tahu Yesus punya sesuatu yang istimewa memintanya untuk bertahan di Mesir dan menjadi muridnya, tapi tidak. Yusuf sudah memutuskan, semua keluarga pulang kampung ke Nazaret. Ada sesuatu yang disembunyikan, maka dengan kapal mereka meninggalkan Mesir. Ibuku dan Yusuf melindungiku dari sesuatu, tapi aku tak mau dilindungi terus. Jangan pernah bicara ini pada orang lain. Kau tak boleh bicara tentang kita dari mana saja dan mengapa, dan simpanlah semua pertanyaanmu dalam hatimu, dan pada saat kau sudah cukup dewasa nanti, aku akan menceritakan apa yang seharusnya kamu ketahui. “Rumah kita di Nazaret, kau punya banyak sepupu di Nazaret. Sarah menunggu kita di sana, dan Yustus. Mereka kerabat kita. Kita akan pulang.”

Tak usah khawatir tentang rahasia. Kami menuju Yerusalem. Pada hari Sabat semua orang Yahudi menjadi filsuf dan orang terpelajar. Begitu juga di Nazaret. Perjalanan berhari-hari itu berlabuh di Dermaga Jamnia lalu melanjutkan naik keledai setelah bermalam di penginapan. Mereka menuju Yerusalem dulu untuk berdoa, “peziarah, semua orang menuju Yerusalem. Seluruh dunia”. Pada hari ketiga, untuk pertama kalinya kami bisa melihat Kota Suci dari lereng perbukitan tempat kami berada. Kami anak-anak melompat-lompat senang. Kami bisa melihat semuanya, tempat suci yang selalu ada dalam doa kami, hati kami, lagu-lagu kami sejak kami lahir. Di sana sedang dalam kondisi kacau karena raja lalim, tapi mengapa Herodes membakar hidup-hidup dua guru Taurat? “Karena mereka menurunkan patung elang emas yang dipasang Herodes di atas Bait Allah, itulah sebabnya. Kitab Taurat mengatakan bahwa tak boleh ada gambaran makhluk hidup di Bait Allah kita.” Setelah memanjatkan doa, mereka pun menuju kampung halaman. “Tak seorangpun kecuali Tuhan yang berhak memerintah kami! Katakan itu pada Herodes, katakan itu pada kaisar.”

Cerita bergolak Yesus muda yang bertanya-tanya banyak hal. Kegelisahannya, memikirkan keganjilan. Lebih baik aku tidur sebab semua orang tidur, lebih baik hanyut oleh rasa kantuk seperti mereka terhanyut kantuk mereka. Lebih baik percaya mereka percaya. Aku berhenti mencoba untuk tetap bangun dan memikirkan semua itu. Aku mengantuk, sangat mengantuk, sehingga aku tak bisa berpikir lagi. “Kau jauh lebih bijak dari usiamu.
Di Nazaret, Yesus menemukan hal-hal baru. “Semuanya mungkin dilakukan Tuhan. Tuhan menciptakan Adam dari debu, Adam bahkan tak punya ibu. Tuhan juga bisa menciptakan anak tanpa ayah.” Sekolah, belajar kepada tiga rabi: Rabi Berekhaiah bin Fineas, Rabi Sherebiah, Rabi Yasimis. Ketiganya memiliki keunggulan yang meletakkan dasar-dasar ajaran Taurat. Yohanes telah dipersembahkan pada Tuhan sejak lahir. Dia tidak akan pernah memotong rambutnya, dan tak akan pernah membagi anggur makan malam. “Ya Rabi, seorang tukang kayu akan membangun rumah sang Raja. Selalu ada seorang tukang kayu. Bahkan Tuhan sendiripun sekarang dan dulu adalah tukang kayu.

Orang-orang bilang begitu. Malaikat datang ke Nazaret? Apakah benar-benar terjadi?” | “Tidak, orang-orang tidak mengatakan itu, tapi aku tahu.” Tanya itu satu per satu terjawab, walau dengan cara tersembunyi. Pada usia dua belas tahun, anak sudah dianggap dewasa untuk bertanggung jawab menurut Taurat.

Bagian ketika di Yerusalem memang rawan diskusi, sebagai kota suci tiga agama semua mengklaim sebagai yang berhak. Baca dengan jernih, semua dalam kasih. Gadis-gadis itu dipilih untuk membuat cadar Bait Allah karena semua hal di Bait Allah harus dibuat oleh mereka yang berada dalam kondisi suci. Dan hanya gadis-gadis di bawah usia dua belas tahun yang benar-benar suci; mereka dipilih dibawah tradisi, dan keluarga ibuku adalah bagian dari tradisi itu. “Bukankah mereka juga keturunan Abraham? Bukankah mereka juga keturunan Daud, keturunan Harun, keturunan suku-suku Israel? Bukankah mereka juga orang-orang saleh? Taat pada Taurat. Kukatakan padamu, mereka akan membawanya ke pedalaman dan di sana mereka akan mendidiknya dan mengasuhnya. Dan dia anakku sendiri, memang menginginkan ini dan dia punya alasan.” Yesus selalu dilindungi dari pengetahuan luar yang mencoba disusupkan. “Tak seorangpun mencarimu di sini. Kau tersembunyi dan akan terus begitu.” Alasan keluar dari Mesir pun terungkap. “Malaikat mengatakan padaku bahwa kekuatan Tuhan akan melingkupiku, lalu bayangan Tuhan akan menghampiriku – aku merasakannya – kemudian pada saatnya muncullah kehidupan dalam diriku, dan itu adalah kau.”

Kau harus tumbuh seperti anak-anak lain ataukah Daud kecil kembali ke kaumnya hingga mereka memanggilnya? Jangan biarkan ibumu sedih. Ya, bagian Yesus harus tetap tumbuh seperti anak-anak lain terus disampaikan. Segala tanya kelak akan terjawab. “Simpan apa yang akan kukatakan ini dalam hatimu, akan tiba saat kaulah yang akan memberi jawabannya pada kami.” Yesus malah tambah penasaran, kenapa ia bertanya malah nantinya ia yang memberi jawab? Dia sendiri tak mengerti beberapa hal, dan saat orang tak mengerti, dia tak bisa menjelaskan. Aku belum merasa takut. Aku masih terpaku, mati rasa. Ketakutan baru akan datang kemudian.

Ini Bait Allah kami, dan ini Rumah Tuhan; sangat mengagumkan karena kami bisa memasukinya dan sangat dekat dengan keberadaan Tuhan. Selama masih ada orang Yahudi di dunia maka akan ada Paskah saat Paskah! Gejolak di sana memang sudah terjadi sangat lama. Seperti ada masyarakat yang menentang. “Mengapa orang itu melemparkan batu, padahal dia tahu tentara itu akan membunuhnya?” dan pertanyaan itu dijawab ibunya, “Itu saat yang bagus untuk mati. Mungkin itu saat yang sempurna untuknya untuk mati.” Terdengar familiar di era sekarang? Ya.

Kenapa hal itu terus terjadi hingga kini? “Kita diasingkan di tanah sendiri. Itulah kebenarannya, karena itulah kita melawan. Mereka ingin mengusir keluarga raja yang menyedihkan ini yang membangun kuil-kuil berhala dna hidup seperti tiran memuja berhala.” Dan dalam sebuah riwayat. “Tuhan menepati janjinya pada Israel tapi bagaimana dan kapan dan dengan cara apa kita tidak tahu.” Terdengar familiar lagi? Ya. Di satu sisi, perang berlangsung dan keluarga Yusuf menggangap. Kita sudah keluar dari Yerusalem, kita sudah keluar dari masalah. “Bagaimana kita bisa tahu? Ada orang Farisi, juga imam, juga Essene. Semua mengucapkan doa, ‘Dengarlah anak Israel, Anak Allah, kita adalah satu.’”

Di mana tanah Israel berawal dan berakhir? Di sana, di mana orang Yahudi berkumpul dan mentaati Taurat. Aku juga melihat transformasi dari dunia kuno karena kemandekan ekonomi dan pengaruh nilai-nilai monoteisme, nilai-nilai Yahudi yang melebur nilai-nilai Kristiani. Dan aku tahu para pria mandi dan memakai baju baru sesuai dengan hukum Taurat, dan mereka tak akan lebih bersih hingga matahari terbenam. Karena itulah mereka tak langsung pulang ke Nazaret hari ini. Mereka ingin bersih saat sampai di rumah.
Seperti kalian satu-satunya yang tinggal di Nazaret. Seluruh kota ini menjadi milik kalian, dan seluruh populasi kota ini berkumpul di halaman satu rumah. Bukankah itu bagus?” Nazaret digambarkan desa yang tenang. “Kita akan segera sampai di perbukitan, jauh dari semua ini. Kau bersama kami. Dan kita akan pergi ke tempat yang damai. Di sana tak ada perang.” Jalanan berbatu dan tak rata, tapi angin bertiup sejuk. Aku melihat pohon yang dipenuhi bunga, dan menara-menara kecil di ladang, tapi tak terlihat seorang pun. Tak ada orang di mana-mana. Tak ada domba yang merumput, tak ada ternak. Hobinya memang menyendiri, menyatu dengan alam, menyepi. Aku berdiri dan keluar, senja mulai turun dan menyusuri jalan menuju perbukitan, dan mendaki tempat yang rumputnya lembut tak terganggu. Ini tempat favoritku, tak jauh dari pepohonan yang sering kudatangi untuk istirahat. Rasanya damai saat Yesus merenungi hidup di bukit dalam kesunyiannya. Aku berbaring di rumput meraba bunga-bunga liar dengan tanganku. Aku memandang di sela-sela ranting pohon zaitun. Aku ingin seperti itu – melihat langit dalam kepingan. Aku bahagia.

Ingatlah jangan pernah mengangkat tanganmu untuk mempertahankan diri atau memukul. Bersabarlah. Kalau kau harus bicara, bicaralah sederhana.” Ajaran-ajaran tanpa kekerasan juga muncul di banyak bagian. Kalau manusia ingin berperang, mereka akan mudah mencari alasan. Tidak ada yang bekerja, semua orang menghormati Sabat, tapi mereka berjalan pelan. Kegelapan mencoba menelan cahaya, dan kegelapan tak pernah bisa menelan cahaya. Dalam setiap diri kita, ada kisah menyeluruh tentang siapa kita. Kita pernah tinggal di Mesir seperti bangsa kita dulu, dan seperti mereka kita akan pulang juga.
Bukan masjid, bukan pula gereja atau pura. Tempat ibadah mereka adalah sinagoga. Air suci ini dibuat dari abu sapi betina merah yang disembelih dan dibakar di Bait Allah sesuai aturan Taurat untuk diambil abunya, dicampur dengan air hidup dari sungai di dekat sinagoga di ujung desa. Diberkatilah semua yang takut pada Tuhan, mereka yang taat padaNya. Aku akan keluar ke dunia dan melakukan apa yang menjadi takdirku.

Ada bagian yang membuatku tersenyum saat sepintas lewat menyebut “Eli sang imam”, menelusur imajiku ke film The Book of Eli yang berkisah tentang perjalanan menyelamatkan buku (kitab) dibintangi Denzel Washington. “Malaikat datang di mana saja, ke mana saja, kapanpun mereka mau.” Film itu adalah misi penyelamatan Injil, dan twist-nya adalah bukan buku fisik yang dibawa, tapi si Eli sendiri! “Aku datang ke sini dan berpikir, dan pikiranku berubah menjadi doa.” Hebat. Saya sampai terkejut, saat Eli terluka tapi dia dengan damai mendikte kitab untuk diarungi agar tak punah. “Aku tak mau tidur, aku akan melihat mereka kalau bermimpi.” Hal terpenting yang dilakukan Imam Besar adalah memasuki Ruang Maha Kudus di Bait Allah, tempat Tuhan menunjukkan beberadaan-Nya; tempat yang hanya boleh dimasuki Imam Besar. Apakah ending kisah di perahu itu Eli ada di Timur Tengah?

Dan sebuah ramalan bahwa akan lahir raja baru di Betlehem membuat raja Herodes berang, maka orang-orang majusi yang melihat bintang turun. Raja memerintahkan mencari anak itu, tapi Yesus sudah diselamatkan, pergi jauh ke Afrika. Kaukira mukjizat-mukjizat kecilmu itu akan membantu orang-orang bodoh ini? Kukatakan padamu, kekacauanlah yang berkuasa. Dan aku adalah Pengeran Kekacauan. Raja berang dan melakukan tindakan biadab, sekitar dua ratus anak dibunuh dalam kegelapan malam menjelang fajar, anak-anak dibawah dua tahun. Demi mencegah ramalan terwujud. Seram, sadis, kejam. Sepertinya seluruh dunia memelukku. Mengapa aku pernah berpikir aku sendirian? Aku ada dalam pelukan bumi, pelukan mereka yang mencintaiku, tak peduli yang mereka pikirkan atau pahami, pelukan bintang-bintang. “Wahai Tuhan seluruh alam, pencipta anggur yang kami minum, pencipta gandum untuk roti yang kami makan. Kami bersyukur karena kami akhirnya tiba di rumah dengan selamat, dan jauhkan kami dari marahabaya. Amin.”

Bagian kilas balik cerita ibunya juga bagus sekali dituturkan. Kamar itu dipenuhi cahaya begitu saja, terjadi tanpa suara. Cahaya itu ada di mana-mana. Semua benda-benda di ruangan masih ada, tapi dipenuhi cahaya. Cahaya yang tidak menyakiti mataku, tapi sangat terang benderang. Kalau kau bisa membayangkan matahari dan matahari tak melukai matamu, maka kau bisa membayangkan cahaya itu. Dia mengirimkanmu kepada Yusuf bin Yakub, si tukang kayu dan tunangannya Maria dari keturunan suku Daud di Nazaret bersama kami.

Endingnya bagus sekali. Bab terakhir itu sungguh lezat diikuti, menjawab tanya Jesus memberi detail hari di mana ia lahir. Yah, walaupun mungkin untuk sebagian besar umat itu bukanlah hal baru. “Kota itu sangat penuh malam itu, Betlehem, dan kami tidak bisa menemukan tempat menginap – kami berempat, Kleopas, Yusuf, Yakobus, dan aku… dan akhirnya penjaga penginapan mengizinkan kami bermalam di kandang. Kandangnya berupa gua yang terletak di sebelah penginapan. Sangat nyaman menginap di sana, karena hangat dan Tuhan menurunkan salju.”

Seluruh tubuhku sakit – bahu, pinggang, lutut – tapi aku bisa tidur. Aku bermimpi. Untuk pertama kalinya bagiku, tidur seperti sebuah tempat yang bisa dituju. Dan dari mimpi-mimpi itulah terjadi komunikasi dengan malaikat. “Kau berdoa agar turun salju, nah kau punya salju sekarang. Berhati-hatilah akan apa yang kau inginkan.”

Anne Rice terinspirasi buku karya Fredsiksen yang dengan indah menggambarkan kembali suasana Yahudi tempat Yesus kemungkinan tumbuh di Nazaret, dan kemungkinan Yesus pergi merayakan Paskah ke Bait Allah di Yerusalem bersama keluarganya. Fredriksen menekankan bahwa Yesus adalah orang Yahudi. Maka kisah ini utamanya ya saat-saat Yesus muda di sana. Bagian Mesir cuma tiga bab awal, setelahnya kita terus disuguhi petualang di kampung halaman dan sesekali ke Yerusalem.

Di bagian akhir Anne Rice memberi catatan bagaimana buku ini terwujud. Beliau adalah Kristiani taat, di sekolahkan dengan ajaran agama yang ketat. Sampai usia 18 tahun di masa kuliah ia berubah. Dipenuhi orang-orang baik dan orang-orang yang membaca buku terlarang untukku. Aku membaca Kiekergaard, Sartre dan Camus. Menikah dengan ateis Stan Rice yang berpedoman tulisan kami adalah hidup kami. Menikah empat puluh satu tahun, terpisah karena maut tahun 2005. Stan mendorong Rice untuk menulis kisah ini setelah ia terserang tumor otak. Lalu di New Orleans tempat lahirnya, Anne Rice kembali menemukan jalan. Bahwa buku berikutnya adalah tentang Yesus, maka riset dilakukan dengan berbagai cara bertahun tahun. Bibliografi tak ada akhirnya, perdebatan kadang menimbulkan dendam. Aku tak menyarankan adanya sensor, tapi aku menyarankan adanya sensitivitas, terutama bagi mereka yang membaca buku-buku religi. Aku beruntung hidup dalam lingkupan kasih sayang mereka, aku benar-benar diberkati. Dan jadilah Chist The Lord yang kita nikmati.

Apa yang kudapat seusai menikmati Young Messiah ini? Dengan sepenuh hati, ayolah baca karya-karyanya. Masih ada jutaan halaman dari seluruh buku-buku karya para Penulis yang harus kubaca, dan kubaca lagi. Masih banyak sekali bahasan tentang Josephus, Filo, Tacikus, Cicerio, Santo Paulus sampai Julius Cesar yang harus kubaca. Dari dulu saya ingin memulai Sartre, hiks mungkin tahun 2019 terwujud. Banyak sekali pemenang Nobel Sastra yang belum kulahap, banyak sekali karya klasik yang seakan tiba-tiba mengantre untuk kukejar. Banyak sekali buku-buku agama lain yang juga pengen kupelajari. Sungguh dunia ini maha luas, ilmu pengetahuan begitu banyaknya, kita beruntung di era digital karena buku-buku itu kini lebih terjangkau.

Aku terus belajar, aku terus membaca siang dan malam. Aku membaca, membaca dan membaca. Kadang aku pikir aku sedang di Lembah Kematian, saat aku membaca. Tapi aku terus membaca, siap mempertaruhkan segalanya. Semakin saya banyak membaca buku, semakin merasa bodoh. Banyak sekali hal-hal di luar sana, buaaanyaaak sekali ilmu pengetahuan yang tersebar di semesta buku, kita hanya tinggal menikmatinya, memilahnya, melahapnya. 100 buku per tahun takkan cukup hingga usia 100 tahun!

Jadi, “berdoalah!”, mari mengangkat tangan dan berdoa untuk kemakmuran bangsa, untuk saling menghormati kemajemukan Indonesia dan selalu dalam lindunganNya.

Terima kasih Sherina Munaf yang telah merekomendasikan, Terima kasih Anne Rice atas segala yang dicurahkan dan terima kasih Gramedia Karawang yang memberiku kesempatan menikmati karya ini. Aku belajar sesuatu dari setiap buku yang aku baca.

Kristus Tuhan: Meninggalkan Mesir | By Anne Rice | Diterjemahkan dari Christ The Lord: Out Of Egypt | Copyright 2005 | 6 16 86 005 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2006 | Alih bahasa Esti Ayu Budihapsari | Desain sampul Satya | Cetakan kedua, April 2016 | ISBN 978-602-03-2732-7 | 392 hlm.; 20 cm | Skor: 3.5/5
Untuk Christopher

Karawang, 251218 – Nikita Willy – Surat Kecil Untuk Tuhan

Iklan

The Art Of Deception – Nora Roberts

Adam: “Kau tahu kebanyakan perempuan mengharapkan rayuan, tak peduli betapa gombalnya.” | Kirby: “Kebanyakn perempuan bukan Kirby Fairchild. Aku tak ingin membuatmu bosan dengan rayuan kuno.

Serial Harlequin terbaik yang kubaca sejauh ini. Setelah kecewa beberapa kali, akhirnya ada serial ini yang lumayan bagus. Memang endingnnya ketebak. Tetap isinya cinta-cintaan nafsu, tapi ada sisi art yang menunjang cerita. Bukan sekedar hajar bleh, ciuman, buka baju dan terjadilah, yang penting pembaca nefsu dan senang. Enggak. Kisah cintanya menjadi sedikit berbobot ketika kedua insan memiliki motif kuat untuk saling mengalahkan, ada semacam benang merah yang menghubungkan segala plot sederhana ini. Yah, setidaknya ga drop amat. Mungkin karena sebagian kisah berkutat pada gerak tipuan-tipuan dalam seni lukis, saling serang dalam permainan pikiran dan intimidasi serta menyinggung hubungan ayah-anak yang lumayan ngena sehingga ga rugi-rugi amat kutuntaskan baca. Selalu, chemistry antara ayah-anak ada di tempat hati. Hatiku mudah tersentuh bila menyinggung koneksi spesial itu.

Saya review segera karena sudah didesak Meyka untuk secepatnya mengembalikan tiga buku Harlequin pinjaman kepada temannya. Yang pertama sudah baca tahun lalu, terbengkelai kejar Best 100 Novels, buku ini awal tahun kunikmati dan satu lagi kini masih dalam progres baca. Akan segera kutuntaskan, karena memang buku pinjam selalu prioritas. Daftar buku beli di #Promo61 sementara hold dulu, dan beginilah kisah ‘Indahnya Dusta’.

Adam Haines adalah pemuda pelukis pemula yang dikirim ke rumah seniman kondang, rumah bak istana di dekat sungai Hudson, pinggiran kota New York. Seniman kaya raya itu mempekerjakan magang atau mengajari atau membagi ilmu kepada pemuda punya talenta, banyak berbagi kepada pemula. Seniman yang kalau beneran ada pasti akan membuat dunia gempar karena bisa meniru dan memalsukan lukisan legendaris dengan cermat dari Rembrandt, Van Gogh, Titian, Da Vinci, Picasso, Masaccio, Dali, dst. Sebut saja lukisan hebat Eropa tempo doeloe yang ada dalam kepalamu, ia bisa menciptanya. Hebat. Mr. Fairchild memiliki putri semata mayang yang cantik jelita Kirby Fairchild, yang di kisah ini menyambut Adam membukakan pintu yang dikira pelayan. Karena ini roman picisan maka dengan mudah kita bisa menebaknya, mereka pasti bersatu entah bagaimana caranya pasti happy ending dalam satu peluk indah. Well, kalau saya bilang iya apakah ini spoiler yang akan membuat kalian kecewa? Ga usah khawatir, gampang banget kok mengiranya karena di akhir bab pertama saja kita sudah tahu mereka saling menggoda. Bocoran sederhana untuk kisah sederhana.

Namun sebelum jauh menuju ke sana kita diajak mengenal lebih dekat profesi sesungguhnya Tuan Fairchild. Dalam ke-glamor-an pesta, bisnis seni yang menjanjikan dan hiruk pikuk kota besar Amerika ternyata ada banyak sekali singgung emosi antar pribadi yang katanya manusia beradab. Adam memang menjadi tokoh utama yang diambil sudut pandangnya, sehingga saat lapisan fakta satu per satu dikupas Pembaca dalam posisi sama-sama tak tahu. Ia dengan pelan mengamati segala hal keluarga ini. Dari hal sepele seperti kebiasan makan malam, waktu luang yang dihabiskan ke mana sampai teknik lukis yang rumit. Kirby pernah tunangan dengan Stuart, seorang pemuda yang awalnya terlihat bermasa depan cerah, tapi terputus oleh sebuah sebab yang sungguh berat. Masalah hati.

Kirby pernah slek dengan teman dekat Mellanie yang sudah dianggap saudara sendiri. Karena Kirby yang jelita selalu mengambil perhatian, merebut pacar, dan unggul segala hal. Dendam itu merekah dengan berjalannya waktu. Bahkan di kisah cinta-cintaan ini Melly nantinya berniat membunuh dan menghancurkan keluarga ini. Dengan pistol dan rencana ledakan gas? Luar biasa. Memang kisah harus mencipta konflik berat untuk menjadi keren. Namun tetap, tenang saja ini kisah cinta.

Sebelum ke sana kita akan diberitahu bahwa Tuan Fairchild ternyata seorang kriminal. Pencuri lukisan terkenal, mencipta ulang dan menjualnya kepada para kolektor gila yang berani membayar mahal. Jelas ini penipuan sehingga semirip apapun karya yang dicipta tetap saja lukisan yang dijual adalah palsu. Ia bersama rekan Phillip memiliki galeri yang sama-sama gila lukisan ternama memiliki kesepakatan memiliki bergantian. Namun jelas akan ada penghianatan. Akan ada riak dalam persahabatan.

Adam sendiri bak pion yang ditendang ke sana kemari mengikuti alur keras persaingan para pesohor. Walau karakter ini terlihat lemah, yang jelas beruntung sekali karena dalam kesehariannya ia dekat dengan Kirby. Bahu-membahu membantu Tuan Fairchild agar tak tertangkap, agar tidak kena bui, bahkan dalam satu malam yang menegangkan melakukan pencurian lukisan! Nah, pada akhirnya timbul benih-benih cinta. Mudah ditebak mereka akhirnya melepas dahaga cinta, di sini bagian ini di-eksplore lumayan banyak bahkan nyaris bikin muntah. Romantis ala ala ABG yang merayu, merajuk dan lebay. Apakah sebenarnya ini daya jualnya? Duh! Kirby: “Aku benci harus mengulang-ulang lagi, tapi aku cinta padamu.” | Adam: “Ulanglah terus sesering kau mau. Kau mencuri nafasku.

Saat pada akhirnya Kirby berhasil takluk mencinta penuh damba pada Adam ada sesuatu yang tak terduga diungkap. Saat Tuan Fairchild sudah menaruh banyak tanggung jawab dan kepercayaan pada Adam, ada sebuah kejutan yang bagiku sih ga kaget-kaget amat, tapi tetap saja ini memang sengaja disimpan untuk membuat lonjak girang Pembaca. Adam yang kita kenal sepanjang 200 halaman itu tak selugu yang dituturkan. Ia memiliki sebuah rahasia yang sejatinya ayah-putri ini tahu jelas tak akan menerima masuk istana mereka. Sebuah kejutan yang merusak segalanya. Apakah ada kesempatan kedua? Adam: “Aku datang mencari Rembrandt. Sewaktu aku masuk lewat pintu aku hanya punya satu tujuan, menemukan lukisan itu. Tapi aku belum mengenalmu ketika aku masuk ke sini. Aku belum jatuh cinta padamu.

Bagiku kisah seperti ini sudah tak terlalu memuaskan, klise dan sederhana. Namun Nora Roberts memberi senyawa kisah yang sejatinya bisa jadi begitu hidup. Yah, setidaknya dibanding Harlequin sebelum ini. Saya jadi penasaran apakah ada dalam serial ini yang mengangkat senjata dalam perang epik bacok-bacokan penuh darah?

Jualan cinta semacam ini memang menjadi komoditi utama dan akan masih terus digandrungi 20, 25 tahun lagi. Cerita cinta memang selalu ada tempat, generasi muda silih berganti. Seperti kita yang pernah muda, proses menuju dewasa selalu memberi daya deg-degan hanya sekedar memandang lawan jenis. Bandingkan saat usia sudah 30an atau malah 40an, hal yang membuat remaja belasan tahun itu tak ada artinya. Seperti itulah Harlequin walau cintanya norak akan selalu laku dijual.

Indahnya Dusta | by Nora Roberts | diterjemahkan dari The Art Of Deception | copyright 1986 | alih bahasa Marina Suksmono | GM 404 03.005 | Sampul Marcel A.W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Mei 2003 | 304 hlm.; 18 cm | ISBN 979-22-0319-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 220318 – Shontelle – Impossible

Thx to: Melly Potter, Meyka’s friend

The Naked Face – Sidney Sheldon #2

image

Buku kedua Sheldon yang selesai kubaca di bulan ini. Setelah kurang menghentak di A Stranger in the Mirror buku kedua ini ternyata sama datarnya. Apakah ekspektasiku yang ketinggian? Dengan nada bombastis: Jago Cerita kelas dunia, lebih dari 200 juta eksemplar bukunya sudah beredar di pasaran dan diterbitkan dalam 73 bahasa di 100 negara, sebenarnya harapan tinggi yang kucanangkan seharusnya wajar.
Tentang dekektif. Mendengarnya saja sudah senang, saya suka semua buku Agatha Christie terlebih Sir Arthur Conan Doyle. Kisah-kisah detektif tiada duanya. Maka ketika di adegan pembuka, disebutkan sesorang dibunuh di tengah kerumunan lalu dua detektif menyelidikinya, saya langsung sumringah. Ada benang tipis yang menggelitik setiap baca kisah tebak sana-sini. Sayangnya untuk Wajah Sang Pembunuh, saya bisa menebak dan ternyata sampai halaman terakhirnya tebakan saya tepat. Sheldon kurang jeli menyembunyikan pelaku. Terutama sekali adegan di pemasangan bom di mobil korban, jelas itu blunder. Walaupun tebakan saya sudah tepat sejak awal, namun pas temuan bom mobil itu penegasan.
Kisahnya maju terus tanpa menengok ke belakang. Tentang seorang psikoanalis, Judd Stevens yang diburu. Dua orang dekatnya tewas dibunuh dengan sadis. John Hanson, pasiennya yang homoseksual suatu pagi ditusuk di punggungnya di tengah jalan yang ramai. Di bulan Desember yang dingin jelang Natal, John yang pulang dari terapi dengan Dokter Judd menyisakan tanya apakah motif sang pelaku? Hari itu juga datang dua detektif dari kepolisian setempat, McGready dan Angeli. Keduanya membawa jas hujan sang korban yang ternyata milik dokter. Judd bilang pagi itu jas hujannya dipinjam Hanson. Korban kedua muncul petang harinya, Carol Roberts sekretaris Dokter Judd dibunuh dengan keji di kantor saat dirinya sedang memberitahu keluarga Hanson. Saya justru mengapresiasi cara bercerita Sidney tentang latar belakang Carol yang runut enak dibaca. Carol adalah ramaja kulit hitam, seorang pelacur 16 tahun yang diselamatkan hidupnya. Disekolahkan, dididik untuk menata kesempatan kedua. Malam itu, akhirnya muncul kesimpulan bahwa target sesungguhnya adalah Dokter Judd. Hanson dan Carol adalah korban pembuka dan salah sasaran.
Paginya semua surat kabar memberitakan kasus ini. Lalu Judd menganalisis kemungkinan-kemungkinan pelaku. Dimulai dari para pasien. Pertama, Teri Washburn seorang wanita yang haus seks. Menikah berkali-kali, melakukan terapi untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Mantan bintang Hollywood yang pernah membunuh selingkuhannya karena selingkuh itu selalu menggoda Judd. Kedua Harrison Burke, pasien yang mengalami paranoid. Seorang wakil presiden sebuah Perusahaan besar yang merasa bahwa orang-orang di sekitar selalu mencoba membunuhnya. Dia selalu takut setiap interaksi dengan karyawan, kalut kalau-kalau ada orang akan menembaknya. Dia merasa dijegal sehingga ga bisa promosi jadi nomor satu. Ketiga  Anne Blake, pasien yang cantik. Judd jatuh hati pada istri orang. Suaminya seorang pengusaha kontruksi yang sukses, baru menikah 6 bulan. Setiap kebutuhan materi Anne terpenuhi, namun keadaan jadi janggal karena Anne yang datang ke kantor Judd tanpa buat janji, tanpa tahu masalahnya, tanpa detail profil dan selalu membayar cash setelah berobat. Bayar tunai yang memunculkan dugaan agar tak terlacak identitasnya? Masuk akal kan. Keempat Skeet Gibson, pelawak yang dicintai Hollywood. Pernah ke rumah sakit jiwa, hobinya berkelahi di bar-bar karena dia bekas petinju.
Melalui rekaman-rekaman percakapan pasien, Judd mencoba menelaah semuanya. Namun selain mereka muncul dugaan lain, bisa jadi detektif McGready sendiri yang melakukannya. Bisa jadi dia punya motif balas dendam karena pernah mengirim Ziffren ke rumah sakit jiwa. Ziffren adalah pembunuh partner McGready beberapa tahun lalu. Padahal bisa saja Ziffren dihukum mati, hal ini membuat marah McGready. Angeli juga perlu dicurigai, sebagai partner baru McGready tingkah lakunya ganjil. Sakit flu, izin ga dinas tapi ternyata keluyuran. Selain nama-nama itu, Dokter Peter bisa juga masuk pusaran, sebagai sahabat terbaik tentunya tahu seluk beluk dokter Judd. Peter dan istrinya selalu mencomblangkan Judd dengan gadis-gadis cantik agar Judd menikah lagi. Semua karakter bisa jadi tersangka. Kepada siapa Sheldon akhirnya menjatuhkan antagonis sesungguhnya?
Well, separuh awal kisah digulirkan dengan enak sekali. Detail-detail yang memanjakan mata, pengenalan karakter yang membuka imaji, sampai tatanan ruang kejadian yang asyik diikuti. Sayang sekali Sheldon terpeleset, sebuah kisah detektif akan jadi seru kalau bisa mengecoh pembaca. Kenapa Sherlock begitu memukau? Karena pola pikirnya yang out the box tak bisa diikuti kebanyakn orang. Dengan brilian diceritakan partner-nya dokter Watson, pembaca nyaris selalu berhasil ditipu. Di kisah Wajah Sang Pembunuh, Sheldon memaparkan kemungkinan-kemungkinan motif daftar karakter yang sayangnya tak ada back-up kemungkinan kedua sehingga pembaca dengan leluasa menebak tersangka dengan mudah. Lubang plot paling besar adalah mematikan karakter detektif Moody yang sebenarnya masih bisa berkembang, Sheldon dengan gegabah menceritakan rencana liburan Judd kemudian membatalkannya dengan gamblang seolah-olah menunjuk ini dia pelakunya.
Ending-nya sendiri akan lebih menarik seandainya dibuat sedih. Dokter Judd diburu sekaligus dirinya memburu, setiap detik berharga. Ketika akhirnya diungkap pelakunya lalu menuju klimak cerita, sayang sekali pelaku utama yang terdengar bengis dan cerdik justru berlaku konyol. Cara mengakhiri orang ketika ada pistol di tangan adalah tembak kepalanya dalam jarak dekat. Bukan malah ngerumpi seolah-olah ketemu teman lama yang ngajak ngopi. Keputusan Anne di kala genting juga penting untuk menentukan hasil akhir. Sangat disayangkan ini kisah happy ending.
Namun Sidney tetaplah Sidney. Bagian pengungkapan Don Vinton itu ide cemerlang, tak terpikirkan akan dipecahkan dengan unik sambil lalu. Lalu karakter paranoid Harrison Burke itu mantab. Suka dengan orang yang menganggap dirinya istimewa, over confident, nyeleneh. Walau tampil sepintas, jelas sifat Judd akhirnya terduplikat darinya. Judd Stevens harus bisa menanggalkan topeng wajah tak berdosa yang dikenakannya dan menelanjangi gejolak-gejolak emaosinya yang paling dalam, ketakutan dan kengerian, dambaan, nafsu dan dengan demikian menampilkan wajah sang pembunuh. Berhasilkah?
Wajah Sang Pembunuh | diterjemahkan dari The Naked Face | copyright 1970 by Sidney Sheldon | alih bahasa Anton Adiwiyoto | GM 402 96.034 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kesembilan, Oktober 1996 | 328 hlm; 18 cm | ISBN 979-403-034 | Untuk wanita-wanita dalam hidupku: Jorja, Mary dan Natalie | Skor: 3/5
#2/14 #SidneySheldon Next: Master of the Game, pencarian berlian di Afrika Selatan. Cover hitam yang terlihat cantik, tebalnya 764 halaman. Semoga seru.
Karawang, 221015 – Guardate che ha fatto il don vinton
E molto bene di ritornare a casa | Si, d’accordo | Signore, per piacere, guardatemi | Tutto va bene | Si, ma… | Dio mio, dove sono i miei biglietti? | Cretino, hai perduto i biglietti | ah, eccoli

The Lovely Bones #16

image

Namaku Salmon, seperti ikan, dan nama depanku Susie. Umurku empat belas tahun saat aku dibunuh pada tanggal 6 Desember 1973.
Kalimat pembukanya langsung pada inti. Tanpa ba-bi-bu kita langsung dihadapkan pada fakta pahit bahwa ini bukan buku yang bisa kita nikmati sambil tiduran atau minum susu manis. Ini buku tentang kehilangan seseorang yang dicinta. Lika-liku menghadapi fakta tersebut dan waktu terus berjalan, apapun terjadi. Saya membacanya beberapa bulan sebelum adaptasi film dibuat. Masih menggunakan cover asli bukan dengan wajah Saoirse Ronan. Membacanya butuh kesabaran, banyak temanku bilang mereka bosan, tak sedikit yang berguguran di tengah jalan tanpa tahu kapan selesai. Saya sendiri membutuhkan waktu lebih dari seminggu untuk menuntaskan. Karena untuk mendapatkan buku saya harus mengeluarkan uang maka harus dilahap habis. Saat kita menemui titik membingungkan atau mungkin jemu, jangan berhenti. Paksa terus sampai selesai, kalau ga gitu maka buku ini akan ditelan kegiatan lain lalu terlupakan. Tulang-tulang Yang Cantik disusun dengan hati-hati dan penuh pertimbangan, begitu juga saat membacanya. Nikmati tiap lembarnya dengan pelan dan khidmat dan kau akan menemukan ‘kesenangan’ di kasus hilangnya remaja Susie Salmon.
Ini bukan tentang teka-teki siapa pembunuh Susie karena sudah dijelaskan sedari awal cerita, Mr. Harvey tetangga yang aneh-lah pelakunya. Dia membangun ruang bawah tanah, tempat persembunyian, tempat untuk menjebak korban. Saat awal Desember itulah Susie menemui ajal. Susie bertemu Holly, seorang remaja yang juga sudah meninggal di alam baka In-Between (antara). Di sana, tempat itu bagai impian. Segala yang diinginkan bisa langsung diperoleh – kecuali hal yang paling diinginkannya: kembali ke bumi. Pulang ke pelukan orang-orang yang dicintai. Cerita selanjutnya sampai akhir akan berkutat dari usaha pencarian Susie, usaha kabur sang pembunuh, kesedihan teman-teman, dan fokus utama ke keluarga yang terkoyak menghadapi kenyataan pahit tersebut. Disajikan dengan tempo pelan dengan plot yang disusun agar kedukaan itu tak terlalu tajam melukai pembaca.
Mr. Harvey menyusun strategi kabur saat orang-orang mulai curiga. Saat dugaan kuat mengarah padanya dia mengambil tindakan nekat. Akankah dia berhasil ditangkap? Poster hilangnya Susie ada di mana-mana, beritanya ada di koran. “Hilang, diduga akibat tindak kriminal; siku lengan ditemukan anjing tetangga; gadis 14 tahun, diduga dibunuh di ladang jagung Stolfuz; peringatan bagi wanita-wanita muda lain; dinas tata kota akan mengatur kembali bidang-bidang tanah di samping SMA; Lindsey Salmon, adik gadis yang meninggal itu, menyampaikan pidato perpisahan.” Lalu akankah mayat Susie ditemukan? Dalam satu adegan yang membuat saya merinding, ayahnya bersama pembunuh membangun tenda bersama, ngobrol santai seakan tidak ada apa-apa. Itu ironi yang menyayat hati.
Sementara fakta baru yang menyakitkan terbuka. Ibunya mengalami depresi berat sampai memutuskan untuk menyendiri. Adik bungsu, Buckley masih berusaha memahami arti kata ‘ meninggal’. Sesekali menanyakan dimana Susie? Dimana kakak? Ia berusaha memahami arti kata terluka dan mencoba membiasakan tahu siapa yang tak ada di rumah selamanya. Granma Lynn datang ke rumah untuk memberi dorongan agar tabah atas musibah tersebut. Keluarga yang awalnya sempurna penuh keceriaan itu menjadi berantakan dalam kesedihan panjang nan berlarut-larut. Namun seiring berjalannya waktu, Susie melihat dengan kerinduan dan pemahaman yang makin bertambah bagaimana orang-orang yang dikasihinya melanjutkan hidup dengan mengarungi duka yang makin lama makin terobati.
Sebuah buku renungan, butuh keberanian untuk menuntaskan 400 halaman. Pujangga Spanyol, Juan Ramon Jimenez pernah bilang: “Kalau mereka memberimu kertas bergaris, menulislah tanpa mengikuti arah garis.” Buku ini ditutup dengan harapan bertuliskan: ‘Kudoakan kalian semua panjang umur dan hidup bahagia’.
The Lovely Bones | by Alice Sebold | copyright 2002 | Tulang Tulang Yang Cantik | alih bahasa Gita Yuliani K | GM 402 08.024 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, April 2008 | 440 hlm;20 cm | ISBN-10: 979-22-3656-2 | ISBN-13: 978-979-22-3656-9 | Glen, Selamanya | Skor: 4/5
Karawang, 160615 – toxic
#16 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Boy In The Striped Pyjamas #12

Featured image

Selesai membaca buku ini saya merinding. Sebuah buku tentang anak-anak yang ‘terjebak’ di tempat yang salah, namun buku ini jelas bukan untuk anak-anak. Kisahnya mengalir dengan tenang, sesekali ada kemarahan mencuat sampai akhirnya aliran itu tiba pada tebing curam yang mengakibatkan pembaca trenyuh. Mungkin ini salah satu novel terbaik tentang Perang dunia Kedua yang pernah kubaca. Tanpa banyak nasehat betapa perang itu kejam, tanpa ribuan senjata mengacung, tanpa adegan bombastis di medan laga. Dari sudut pandang Bruno, anak SD yang belum paham maksud kejadian di sekelilingnya. Kita diajak berpetualang di kam konsentrasi NAZI.

Cerita dibuka dengan perpisahan. Bruno kaget ketika pulang sekolah, kamarnya diacak-acak. Barang dan mainannya sudah dipak rapi. Ibunya lalu bertutur bahwa mereka akan pindahan. Ayahnya mendapat ‘promosi’ jabatan sehingga mengharuskan mereka pindah dari kota Berlin.

“Seberapa jauh tempat itu?” Tanyanya. “Pekerjaan baru itu maksudku. Apa lebih jauh dari dua kilometer? Lalu bagaimana dengan Karl, Daniel, dan Martin? Bagaimana mereka bisa tahu di mana aku tinggal kalua kami ingin melakukan sesuatu bersama?” (halaman 15).

Betapa polosnya anak-anak. Bruno yang betah di Berlin tentu saja kecewa berat mereka harus pindah. Teman-teman akrab, suasana yang menyenangkan, dan rencana-rencana besar mereka berantakan. Bahkan Bruno tak sempat berpamitan dengan mereka. Keadaan makin tak menyenangkan saat mereka tiba di rumah baru. Sempit, terpencil dan tentu saja asing. “kupikir ini ide yang salah.” Namun keputusan sudah diambil.

Bruno lalu curhat sama pelayan Maria yang selalu memanggil Master Bruno. Namun dia bisa apa. Tempat baru bernama Out-With tersebut benar-benar payah. Bruno yang suka petualangan merasa kesepian. Gretel, kakaknya walau mengeluhkan juga, mencoba berfikir positif. Walau dia awalnya juga sebal. Out-With berarti muak. Kelak kita tahu, maksud dari pembicaraan Bruno dan Gretel di halaman terakhir.

Bab 7 Ibu Ingin Dipuji atas Sesuatu yang Tidak Dilakukannya adalah bagian terbaik dari novel ini. Betapa talenta-talenta besar disia-siakan. Betapa lemah kita menghadapi kenyataan. Betapa pengecutnya kita menatap kebenaran. Bagian ini sempat membuatku menitikan air mata, dan makin deras saat adegan klimak. Kejutannya disimpan sampai benar-benar terakhir. Saya sendiri awalnya tak terlalu paham, arah plot ini. Namun di awal bab Rencana Petualangan Terakhir saya langsung curiga. Wah, jangan-jangan… Dan benar saja, ini bukan buku untuk anak-anak. Seperti yang disampaikan di back-cover yang biasanya berisi sinopsis di buku ini tidak ada. John malah memberi kita kata-kata tanpa arti.

“Membosankan? Putraku menganggap pelajaran sejarah membosankan? Biar kuberitahu, Bruno.  Sejarahlah yang telah membawa kita sampai ke saat sekarang ini. Kalau bukan karena sejarah, tak satupun dari kita akan duduk di depan meja ini sekarang. Kita pasti akan duduk-duduk nyaman di depan meja makan rumah kita di Berlin. Di sini kita sedang mengoreksi sejarah.”

Sejarah. Oh perjalanan kelam abad 20 itu mudah-mudahan takkan terulang lagi di belahan bumi manapun.

The Boy In The Striped Pyjamas | by John Boyne | copyright 2006 | alih bahasa: Rosemary Kesauli | GM 402 07.047 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Juli 2007 | ISBN-10: 979-22-2982-5 | ISBN-13: 978-979-22-2982-0 | Skor: 4/5

Karawang, 120615 – sometimes…

#12 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Homework Machine #11

Featured image

Well, tak terasa event #30HariMenulis sudah memasuki paruh kedua. 10 hari pertama sejauh ini lancar, walau sesekali (kemalasan) sinyal jadi kendala. Sebenarnya tahun ini teman-teman membuat tema, di mana tulisannya harus sesuai apa yang jadi patokan, namun saya malah keluar jalur ke buku. Karena sudah jarang update facebook terpaksa catatan migrasi ke sini. Toh intinya sama, bikin tulisan 30 buah. Di hari ke 11 ini saya ingin mengulas buku yang saya beli pada tanggal 10-10-10 di hari Minggu di Senayan, Jakarta itulah kedua kalinya saya kopi darat sama komunitas Gila Film. Waktu itu saya belanja buku lumayan banyak, maklum masih lajang. Kebanyakan buku terbitan Atria. Dan Mesin PR (pekerjaan rumah) ini adalah salah satunya.

Dibaca hanya dalam satu hari, buku tipis 163 halaman ini sungguh unik. Ditulis dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Dan mendedikasikan buku ini untuk anak-anak yang membnci PR, tetapi tetap mengerjakannya. Cerita dibuka dengan sudut pandang Komandan Polisi Rebecca Fish yang memberi pengakuan bahwa ini kasus langka. Dalam 10 tahun tugasnya ini adalah kasus paling nyeleneh yang pernah ia tangani. Ber-setting di Negara bagian Arizona, sebuah SD Grand Canyon (ya, dekat ngarai yang terkenal itu) gempar. Beberapa siswa diintrogasi di kantor polisi karena ‘kejahatan’ mereka. Awalnya gugup dan ngelantur saling menyalahkan, namun mereka lalu dapat mengendalikan emosi, dan cerita-pun ditarik dari awal. Di bulan September, awal semester cerita ini dimulai.

Semua ini gara-gara Brenton Damagatchi, seorang anak SD yang istimewa. Dari kecil dirinya sudah terlihat berbeda, jarang menangis, sering menyendiri, hobinya main catur melawan dirinya sendiri dan belajat autodidak piano saat baru bisa belajar jalan. Bicaranya tentang orang-orang besar, dari Presiden Abraham Lincoln yang pernah berpidato dan bilang, “this is cool”. Bercita-cita lebih kaya dari Bill Gates. Ngomongin musik klasik. Sampai penelurusan kenapa Thomas Alva Edison ga lulus sekolah. Edison tak pernah mengerjakan PR, dan itu sungguh inspirasi untuk ‘ditiru’ oleh Brenton.

Menurut Brenton: Ide membuat mesin yang bisa menyelesaikan PR sebenarnya dari hal yang sederhana. Scanner memindai lembar kerja dan menyalurkan ke computer. Itu bukan masalah besar, aku lalu memodifikasi perangkat lunak yang mengenal pola sehingga bisa mengartikan kata-kata dan angka, untuk mengetahui apa yang ditanyakan. Jika informasi itu sudah ada di dalam computer, seperti jumlah dua tambah dua, computer akan memuntahkan jawaban begitu saja, dan printer akan mencetak sehelai duplikat lembar kerja dengan jawaban-jawabannya. Jika pertanyaannya tak ada dalam computer, seperti diameter bumi, secara otomatis computer akan mencari di internet, tempat semua pengetahuan virtual tentang dunia tersimpan dalam bentuk digital. Computer akan mencari jawaban dari situs web yang paling terpercaya, memeriksa kebenarannya di situs web lainnya dan printer akan mencetaknya. Bagian yang paling sulit adalah merancang perangkat lunak untuk mencetak jawaban dengan suatu jenis huruf yang tampak seperti tulisan sendiri. Ini bukan fiksi sains. Ini adalah hal yang cukup mendasar, sebenarnya. Aku terkejut karena tidak ada orang lain yang memikirkannya sebelum aku. (halaman 44-45)

Mesin PR yang diberi nama Belch – sendawa – itu awalnya ga terlalu bermasalah bisa membantu Brenton, snik, Judy dan Kelsey. Namun perlahan-lahan bu guru curiga karena nilai mereka selalu bagus dan sama. Keadaan lalu menjadi kacau saat mulai ada teror telpon dari laki-laki yang mengaku bernama Milner. Saat terdesak, Judy makin membuat keadaan sulit.

Aku tak pernah berbohong. Beberapa orang bisa menatap matamu begitu saja dan mengatakan bahwa kau adalah pembohong besar, dank au tidak akan pernah mengetahuinya. Saat aku berbohong, aku menjadi gelisah dan mulai berkeringat serta tergagap, dan aku tidak bisa menatap wajah orang yang mengajakku bicara. Aku sama sekali tidak ahli. Aku lebih memilih untuk mengungkapkan kebenaran, sejujurnya. Namun kadang-kadang, kita tidak bisa melakukannya. (halaman 90)

Jika aku tidak memiliki sesuatu yang menyenangkan untuk dikatakan kepada seseorang, sebaiknya aku tidak mengucapkan apa-apa. Namun aku berbohong dan berkata kepada Kelsey bahwa anting-anting di pusarnya itu keren. Aku tidak ingin melukai perasaannya. (halaman 97)

Sehebat-hebatnya mereka menutupi, akhirnya terjatuh juga. Belch yang makin hari disempurnakan makin terlihat menakutkan karena Belch sepertinya mulai bisa berfikir sendiri. Telpon terror makin membuat mereka harus melakukan sesuatu yang diluar batas anak-anak SD. Bagaimana nasib Belch? Post-it sempurna karena memiliki kegagalan. Dan buku ini sungguh menyenangkan diikuti. Nostalgia masa kecil, dimana hal yang paling memberatkan kita hanya PR. Sisanya, bersenang-senanglah…

The Homework Machine | by Dan Gutman | copyright 2006 | Penerjemah: Maria M Lubis | Penerbit Atria | Cetakan I: Juni 2010 | ISBN 978-979-024-452-8 | Skor: 4/5

Karawang, 110615 – Everybody (Backstreet’s Back)

#11 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Railway Children #9

Featured image

Seri klasik adalah jaminan mutu. Setiap melihat novel dengan embel-embel ‘seri klasik’ biasanya ga perlu mikir dua kali untuk membelinya. Layaknya stempel pemenang nobel, rasanya tak akan mengecewakan. Anak-anak Kereta Api adalah buku incaran lama dan baru terwujud bulan lalu. Cerita tentang ketulusan, persahabatan, kesabaran dan ketabahan menghadapi perubahan yang luar biasa disajikan dengan indah. Di akhir membaca saya sampai terkagum-kagum, adakah sifat manusia legowo itu di diri anak-anak? Dituturkan dalam 14 bab, mengalir tanpa henti yang berarti saya membacanya dalam sehari saat liburan. Buku yang bagus adalah selalu memberi kita rasa tanya penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, kisah kereta api ini memberikannya.

Cerita dibuka dengan kesedihan, dari puncak mereka turun. Ayah pergi dan tak tahu kapan kembali. Mereka pindah dari pusat kota dengan rumah bagus dan pelayan yang melayani menuju daerah pinggir kota dengan sawah mengelilinginya. Tinggal di dekat stasiun kereta kecil yang kadang singgah, kereta api ibaratnya adalah penghubung mereka dengan dunia luar. Hebatnya mereka tak berlarut sedih, mencoba menikmati dunia baru dan ini yang paling luar biasa: Selalu Berfikir Positif. Misteri kepergian ayah mereka disimpan rapat sampai akhir cerita, seperti yang ada dalam pikiran mereka bertiga, pembaca akan dibiarkan menebak-nebak ada  apa gerangan?

Mereka adalah tiga bersaudara: Roberta yang dipanggil Bobbie si sulung, Peter yang banyak akal dan Phyllis yang ceria. Ibu mereka yang menjadi tulang punggung keluarga selalu mencoba tampak senyum di depan. Setiap hari kerjanya di depan mesin tik, membuat cerita, puisi untuk dikirim ke meja redaksi. Penulis yang bertahan hidup. Puisi-puisi yang lucu.

Dia punya lokomotif kesayangan | Yang disayanginya sepenuh hati | Satu-satunya yang dinginkannya | Jangan-jangan rusak si Lokomotif | Suatu hari Kawan, nasibnya sial | Sial sungguh sial | Satu sekrupnya terlepas | Dan meledaklah ketel uapnya! | Dengan tampang muram | Dipungutnya si Lokomotif | Ditunjukkannya pada ibunya | Bu, bu bisakah ibu memberi ganti? | Wah, wah bagaimana ya? | Peter sepertinya tak peduli | Baginya, yang penting tetap si Lokomotif | Bukan Ayah, bukan Ibu, apalagi Adik atau Kakak | Kini tahulah aku apa sebabnya | Peter terserang salesma | Obatnya gampang, pie burung dara | Dilahapnya habis, tak tersisa | Ia membungkus diri dengan selimut | Lalu tidur, tidur dan tidur | Rupanya Peter ingin melupakan | Nasib sial yang ditanggungnya | Dan jika matanya agak merah | Pasti salesma menjadi alasan | Tapi jika ada pie burung dara | Pasti ia takkan menolak

Ayah sayang, umurku baru empat | Dan aku tak mau jadi tua | Paling asyik umur empat | Dua tambah dua atau satu tambah tiga | Aku pilih dua tambah dua | Ibu, Peter, Phil dan ayah | Yang ayah cintai satu dan tiga | Ibu, Peter, Phil dan Roberta

Awal kehadiran mereka di rumah dengan cerobong asap di desa rasanya berat, namun mereka mencoba berdamai dengan kenyataan. Adaptasi dengan cepat, berteman dengan orang-orang stasiun: Pak Perks sang portir, kepala stasiun, kakek misterius sampai seorang buron yang tersesat. Semua diceritakan dengan renyah nyaris tanpa cela.

Hari yang luar biasa. Hari yang penuh kenangan yang jarang sekali singgah dalam hidup kita, atau bahkan kebanyakan dari kita takkan mengalaminya. Banyak hal lain harus kupikirkan, selain hari ulang tahunku. Meskipun kita sendiri sudah punya banyak, bunga bagus juga sebagai hadiah ulang tahun. Ternyata tidak mudah meminta kepada orang lain, meskipun itu bukan untuk diri kita sendiri. Orang-orang miskin biasanya punya harga diri tinggi, kalian harus tahu itu. Nah, saya kapok, saya takkan pernah berbuat baik lagi pada orang lain, seumur hidup. Tidak, takkan pernah lagi. Karena kalau laki-laki tak bisa menghargai dirinya sendiri, orang lain pun takkan menghargainya. Yang direncanakan haruslah sama dengan yang dimaksud, begitu seharusnya. Tapi susah benar jadi anak baik-baik, ketika kita justru telah berusaha sebaik-baiknya. Rok dalam flanel ternyata banyak gunanya, seharusnya orang membuat patung penemunya untuk menghormati dan memperingatinya. Kalau kita berbuat dan bersikap baik terus-menerus, suatu saat tiba-tiba muncul keinginan untuk berbuat iseng— bahkan berbuat jahat. Seorang lelaki sejati harus mampu mengerjakan sesuatu yang berguna tanpa merasa takut. Makin lembut dan perasa hati seorang wanita makin tegar dan tabah dia melakukan apa yang dipikirnya harus dilakukan. Dan terakhir, kurasa setiap orang mau berkawan dengan kita jika kita bersikap bersahabat.

Saya akan mendoakan Anda dua kali sehari, seumur hidup saya kalau saja Anda bersedia – bersedia membantu kami. Akhirnya alangkah asyiknya kalau kita semua hidup seperti di dalam buku-buku cerita, dan ibu yang mengarangnya. Tapi kalau Tuhan yang jadi sang Pengarang, Tuhan tahu bagaimana mengakhiri sebuah cerita dengan sebaik-baiknya— yang terbaik bagi kita semua.

Ada anak baru di kelas | Parr namanya | Parr suka membual | Membuat orang jadi kesal | “ayahku pemburu beruang, ibuku bisa menghitung bintang” | Parr, Parr jangan membual | Tukang bual nasibnya sial | Parr sebenarnya pengecut | Parr sebenarnya penakut | Lututnya goyah dan gemetar  | Bila disuruh naik perahu layar | Bodoh, konyol, tapi sombong | Itulah Parr si tukang bohong | Jika digoda langsung menangis | Meski sebenarnya ia cukup manis | Wigsby Minor berkata arif | Parr seperi umumnya anak baru | Tidak mudah menyesuaikan diri | Dengan lingkungan yang serbabaru

The Railway Children | oleh Edith Nesbit | penerjemah Widya Kirana | GM 402-01-10.0034 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, Juni 1990 | 312 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-5257-6 | Skor: 5/5

Karawang, 090615 – so little time

#9 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku