Ricuhnya Hidup Bersama Adam by Anne Mather

From London with Love

Saya cuma hendak membuktikan diri sendiri, bahwa saya ini tidak terikat.” – Maria

Tema utama memang mencari jati diri, gadis remaja 18 tahun yang ingin bebas, lepas, ingin membuktikan ia bisa bertahan jauh dari ayahnya. Kuakui kenyataan bahwa kamu menginginkan kebebasan yang agak lebih luas. Tapi tidak semua yang bagus mengandung kehangatan dan berisi.

Cerita cinta yang simpel, tapi menjadi elok bila dibawakan dengan bagus. Kisah klasik percintaan di tanah Inggris. Beberapa tampak tabu dibicarakan, bahkan di dunia Barat tahun 1970an, seperti cara berpakaian Maria yang hanya berbikini berjemur di kebun belakang, laiknya pakaian renang yang hanya harus dikenakan di pantai, bukan di sebuah perumahan elit. “Kecuali itu, aku tidak punya pakaian untuknya.” Beberapa terjemahan terbaca eksotis, karena baku jadul, atau culture di tanah air saat itu. “Masya Allah, Maria kau kira aku ini apa?”

Saya sudah bisa menebak akhirnya, walaupun keputusan hidup bersama adik tiri terasa janggal, atau segala pertentangan yang muncul kemudian, jelas hati yang tertaut karena cinta lebih kuat dan abadi, ketimbang menikah karena materi, profesi, atau sebuah prestise di mata umum. “Meskipun begitu, kedatangan Anda untuk tinggal bersama abang tiri Anda, rasanya agak – bagaimana ya – rasanya agak tak lazim.”

Kisahnya mengambil sudut pandang gadis lulus SMA dari Kilcarney, Irlandia yang memutuskan ikut abang tirinya ke London untuk kursus sekretaris atau perkantoran. Maria yang beranjak dewasa, menuntut kebebasan, ingin merantau jauh dari ayahnya Patrick Sheridan yang kolot, untungnya ibu tirinya Giraldine Massey, ibu Adam mendukung rencana itu. Orangnya memang sangat praktis pada umumnya, lebih mementingkan kegunaan ketimbang segi keindahan. Betapa picik kehidupan, orang-orang cuma tahu nikah, punya anak dan membesarkannya. Lain tidak. Ayahnya menjodohkan sama anak tetangga yang punya banyak lahan, sehingga dari pernikahan akan menyatukan kedua juragan pertanian ini. Maria memilih kabur, maka Adam, abang tirinya di London diminta menampung. Kau yang mula-mulanya bosan terkukung oleh empat tembok sempit. London ini, tidak cuma terdiri dari hal yang indah, megah, dan mulia.

Dr. Adam Massey, titel dokter diperolah di Cambridge untuk dokter umum dan bedah, temannya meninggal karena leukemia, sejak itu ia memutuskan membuka praktek umum. Adam idealis, ia melakukan segalanya untuk membantu kalangan kurang mampu. Di sini sang abang memang tampak sempurna, eh nyaris sempurna saking hebat dan baiknya. Contoh kasus, ia merawat Nyoya Ainsley, sebatang kara setelah satu-satunya putri merantau ke Australia. Atau keputusannya yang hebat. Praktik di kawasan Islington yang umum, ketimbang Kawasan mewah West End bergabung dengan klinik praktek dokter di Harley Street. Prinsip, di mana tenaganya dibutuhkan. Perkampungan kumuh, bangunan lembab, merupakan sumber penyakit. Di sana banyak penduduknya yang sudah tua. Adam ingin bekerja, menolong orang, mestinya ada kepuasan, membantu orang yang tak mampu. Luar biasa! “Karena selalu ada saja orang yang nantinya akan menyalahgunakan kebaikan hati.”

Ketika menerima surat rencana kedatangan Maria, jelas ia menolak keberatan. Namun sebelum membalas atau memberitahukan keluarga, Maria keesokan harinya sudah tiba di rumahnya. Tunangan Adam, seorang artis Miss Loren Griffiths, sebagai manusia terkenal dengan kesibukan luar biasa. Di hari pertamanya di London, langsung menancapkan permusuhan. Maria merasa tak kenal sang artis, sang artis merasa kedatangan adik tiri akan membuat gaduh. Rasa tidak senang pada Loren yang memang sudah ada, semakin bertambah saja melihat ketimangan hubungan Adam dengan sang artis, bahwa rasa tidak senang itu untuk sebagian disebabkan karena cemburu?

Ya karena sudah di rumah abangnya, maka Maria menyibukkan diri sebelum daftar kursus. Ada pelayan Alice Lacey, yang ikut sejak Adam kecil, rencana mundur setelah Adam menikah, sampai sekarang bertahan. Drama ini akan berkutat di sini. Keseharian Maria yang labil, maklumlah masa peralihan. Masa remaja yang mencari jati diri. Ricuh terus. Mau aktif ke sekitar, salah. Karena pernah jalan-jalan di Hyde Park, kejauhan semacam tersesat, padahal ingin santai menyaksi Pemandangan London di kala senja yang menarik, jalan-jalan penuh wisatawan dari pelbagai bangsa. Mau berdiam diri di rumah juga serba salah karena Adam sudah punya pelayan, maka ngapain coba? Malah pernah berjemur di kebun belakang pakai bikini bikin geger orang-orang. Salah satunya teman Adam yang datang berkunjung, menyaksi keseksiannya. Larry Hadley malah lalu menelpon dan mengajak jalan. Kena omel juga karena ia orang ga benar. Berkenalan dengan David Hallam, anak sang pengacara umum Victor Hallam. Juga serba salah, sebab Adam malah melarang kluyuran. Keremajaan dan keringannya memikat para anggota pria. Bikin repot. Menekankan bibir, menekuri ufuk. Manikmati tetirah di pantai.

Apalagi ketika kursus ternyata sudah berjalan sebulan, jadi opsinya mau tetap masuk berarti menyusul ketinggalan atau menunggu gelombang berikutnya sekitar dua bulan lagi? Memutuskan sekarang sahaja join, ketimbang makin lama manyun. Maka minimal ia sudah ada aktivitas. Hubungan yang buruk dengan sang artis, dan waktu sempit Adam sebagai dokter menjadi keseharian. Kesibukan seorang dokter tidak mungkin dapat diatur terlebih dulu. Selalu tergantung dari para pasien. Bersama mobil Rover-nya Adam bertugas di lalu lintas London yang padat. Mereka terlalu sibuk mencari nafkah, agar dapat menyangingi tetangga. Mereka tidak sadar, pada suatu waktu mereka juga tua.

Dan muncullah benih cinta. Orang biasanya mengenang hal-hal yang dulu-dulu saja, tanpa mempertimbangkan proses kematanganya yang sewajarnya menyusul. Adam mungkin mengagap Mari masih kecil, tapi ia bisa buktikan sudah dewasa. Berjalannya waktu untuk pertama kalinya ia bertanya pada diri sendiri, apakah kepergiaannya ke London merupakan dorongan keinginan membebaskan diri dari kesempitan Kilcarney, atau mungkin secara tak sadar karena kerinduan kepada Adam?

Ada rasa lima tahun sebelumnya saat abangnya ke Irlandia, waktu itu jelas Maria masih anak sekolah yang manja. Ada semacam percikan cinta di remaja 12 tahun itu kepada abang tirinya. Rasa itu ternyata malah menghebat. Ia mengkhawatirkan datangnya saat, apabila Adam menyadari kehadirannya, bukan sebagai adik tiri melainkan sebagai wanita. Maria selalu kikuk saat ada Adam di dekatnya. Menggigil karena udara yang agak dingin di luar, tetapi juga disebabkan oleh bakaran semangat. Dengan tiba-tiba saja kehidupan menjadi menarik. Semakin lama ia tinggal di Inggris dan hidup di rumah Adam, semakin terlibat pula dalam jeratan perasaan. Ia tak boleh memberikan dorongan terhadap perasaan yang ada pada dirinya.

Novel menemui titik akhir di pesta malam di rumah Miss Loren Griffiths. Malam itu Adam berangkat bersama Maria, pesta kalangan elit itu awalnya dikira bakal membosankan. Justru Maria bertemu dengan Victor Hallam, pengacara tua itu menjadi teman ngobrol asyik. Dan Adam yang diam-diam bertengkar dengan tuan rumah. Malam jelang tengah malam, terjadi sebuah ciuman terlarang. Hubungan kakak-adik tiri ini menjadi dramatis ketika sang ibu datang ke London memergoki. Kalutlah segala suasana. Bagi sebagian orang tertentu, bergunjing merupakan kesibukan yang asyik.

Esoknya, harus diputuskan ke arah mana semua ini? Sang tunangan yang mendesak Maria untuk pergi? Yang penting, kau sendiri merasa bahagia denganya. Adam yang mencinta memilih siapa? Aku cukup angkuh untuk menuntut kesucian dari wanita yang tidak akan menjadi istriku, juga aku sendiri tidak begitu. Bab terakhir menjadi eksekusi manis menutup ‘Ricuhnya Hidup Bersama Adam’. Aku senang mendengar kebenaran, daripada pemutarbalikan persoalan.

Kisah semacam ini mungkin ketika dibaca sekarang tampak sangat klise, terasa klasik cinta dari London. Menurutku masih sangat nyaman melahap masa buku-buku seperti ini. Bulan Juli 2020 kucanangkan menuntaskan baca-ulas jadul. Kovernya bagus banget. Dengan warna orange kelabu, yang duduk jelas Adam. Stylist berkaca mata dengan ‘v-neck’ nya, sementara Maria berpose kalem bersama segelas wine. Keremajaannya dipulas tjakep. Buku kedua ini jelas lebih bagus.

Maria pergi untuk sementara waktu, ia berhasil melarikan diri dari realitas.

Ricuhnya Hidup Bersama Adam | by Anne Mather | Diterjemahkan dari Living with Adam | Copyright Mills & Boon Ltd., Anne Mather 1972 | Alih bahasa A. Setiadi | Penerbit PT Gramedia | GM 77 109 | Pertama terbit 1977 | Desain sampul Sriyanto | Skor: 3.5/5

Karawang, 090720 – Louis Armstrong & His Hot Five – St. James Infirmary Blues (1929)

Thx to Anita Damayanti, dua dari Sembilan.

The High Mountains of Portugal: Cinta yang Amat Besar, dan Rasa Kehilangan yang Tak Terhingga

The High Mountains Portugal by Yann Martel

Apakah ada artinya? Dari mana jiwa berasal? Ada beragam jiwa yang diasingkan dari surga. Jiwa tetaplah jiwa yang harus diberkati dan dibawa kepada kasih Tuhan.”

Apalah arti kita tanpa orang-orang yang kita cintai? Apakah ia berhasil bangkit dari duka? Ketika dia menatap matanya di cermin saat bercukur, hanya relung-relung kosong yang tampak. Dan dia menjalani hari-harinya bagaikan hantu yang membayang-bayangi kehidupannya sendiri. Buku tentang duka yang terbagi dalam tiga bab panjang. Tanpa Rumah, Menuju Rumah, Rumah. Semua adalah kesedihan kehilangan orang terkasih. Menguras air mata, takdir yang pilu. Tanpa rumah adalah sebuah kehilangan yang sempurna: ayah, kekasih, anak tahun 1904. Menuju rumah adalah kehilangan pasangan hidup, dokter spesialis patologi yang kebahagiaannya terenggut tahun 1939. Rumah adalah perjalanan duka dari Kanada ke Puncak pegunungan Portugal, pencarian rumah tahun 1989.

Semua yang tersaji bisa saja sekadar kisah pilu para lelaki rapuh yang ditinggal mati istrinya, tapi setiap sisi terselip perjuangan dan pencarian makna hidup. “Aku berbicara dengannya di dalam kepalaku, ia hidup di situ sekarang.” Jangan menyerah, kerelaan, waktu yang menyembuhkan, rutinitas akan menjadi imun hidup, dan seterusnya. Ternyata di sini malah dibuat dengan benang indah – atau kalau mau lebih lembut, koneksi sejarah – ketiganya berpusat di puncak dan tanya itu diakhiri dengan sunyi. Tomas merasa bagikan kepingan es yang terhanyut di sungai. Ketergantungan ini menciptakan semacam kesetaraarn bukan?

Pertama tahun 1904, adalah Tomas yang miskin. Pamannya kaya, memiliki pembantu cantik bernama Dora, kisah cinta mereka yang langgeng, memiliki Gaspar yang menyenangkan, tiba-tiba dihantam duka. Ketiga orang terkasih meninggal berurutan hingga membuatnya murka akan takdir. Dia kerap meratap, terlampau kerap sejak malaikat maut memberinya tiga pukulan telak. Kenangan akan Gaspar, Dora, atau ayahnya sering menjadi sumber sekaligus inti kesedihannya, tetapi ada kalanya air matanya mengalir tanpa alasan yang sulit dipahaminya, datang seketika seperti bersin.

Ia berjalan mundur, ia terjatuh luruh. Yang tak dipahami pamannya adalah berjalan mundur, memunggungi dunia, memunggungi Tuhan, bukanlah cara Tomas untuk mengungkap duka. Ini adalah caranya mengajukan keberatan. Karena jika semua yang kaucintai dalam kehidupanmu telah diambil, apakah yang bisa kauperbuat selain mengajukan keberatan?

Menemukan sebuah surat/buku harian seorang pastor Bapa di Ulisses yang lalu menyeretnya dalam petualangan, hanya beberapa minggu setelah kehidupannya luluh lantak di Museum Nasional Karya Seni Kuno, tempatnya bekerja sebagai asisten kurator. Surat itu mengisah kehidupan sunyi, dan mengarah pada pencarian salib di pegunungan Portugal. Dengan mengendarai mobil Eropa pertama milik pamannya. Orang-orang akan berlama-lama melihatnya, mulut mereka akan ternganga, benda itu akan membuat hura-hura. Dengan benda itu, aku akan memberi Tuhan atas perbuatan-Nya kepada orang-orang yang kucintai. Keheningan yang menyelubunginya akibat pemusatan konsentrasi sekonyong-konyong meledak ke dalam derap kaki-kaki kuda yang menggelegar, keriat-keriut nyaring kereta pos. Kemudian mereka dan kedua kusir kereta saling bertukar umpatan dan isyarat marah.

Mobil di era itu memang belum banyak, awal-awal masa penemuan. Barang yang dibelinya sebagai bahan bakar, oleh mereka dijual sebagai pembasmi parasit. Tempat tinggal mungil beroda ini dengan potongan-potongan kecil ruang tamu, kamar mandi, dan perapian, adalah contoh mengenaskan bahwa kehidupan manusia tidak lebih dari ini: upaya untuk merasa seperti di rumah sendiri saat mengejar kenisbian. Seorang pria atau wanita, tak perlu bekerja sekeras itu untuk menunjang kehidupan, tetapi roda gigi di dalam sistem harus diputar tanpa henti.

Pada 2 Juni 1633, terdapat satu tempat nama baru Sao Tome, pulau koloni kecil di Teluk Guinea yang disebut sebagai ‘serpihan ketombe di kepala Afrika, berhari-hari perjalanan panjang di sepanjang pesisir lembap benua gersang ini’. Tertulis Isso e minha casa (Ini adalah Rumah). Bapa Ulisses rupanya terserang kerinduan mendalam pada kampung halaman. Ruang arsip Episkopal di Lisbon, setelah mengabaikan buku harian Bapa Ulisses selama lebih dari dua ratus lima puluh tahun, tidak akan merasakan kehilangan untuk ia ambil.

Perjalanan religi mencari gereja. Kesederhanaan arsitektur paling sesuai dengan bangunan religius. Apapun yang mewahadalah arogansi manusia yang disamarkan sebagai keimanan. Semua berada di tempat masing-masing, dan waktu bergerak dengan kecepatan yang sama. Gravitasi akan marah dan benda-benda akan melayang malas. Namun tidak, ladang-ladang tetap diam, jalan tetap membentang lurus, dan matahari pagi tetap bersinar terang.

Dia mengingat-ingat dan menghitung. Satu, dua, tiga, empat – empat malam. Empat malam dan lima hari cutinya dari cutinya yang sepuluh hari. Separuh jalan, tapi tempat tujunya belum terlihat. Di sana hujan terlampau sering turun, hingga menggaggu kewarasan. Menit-menit berlalu. Keheningan terbingkai oleh deris hujan, embik domba, dan salak anjing. Aku sedang mencari harta yang hilang.

Niat semula sepuluh hari cuti untuk menemukan benda kuno demi pemaknaan hidup, justru berakhir bencana karena tak sengaja menabrak seorang anak, tewas seketika. Batin Tomas berkemauk. Dia pernah menjadi korban pencurian, dan kini menjadi pelaku pencurian. Aku memasuki bui itu sebagai kristen. Aku keluar dari sana sebagai seorang prajurit Romawi. Kami tidak lebih baik dari binatang.

Dalam kisah ini, cara menanggapi kedukaan tampak sangat sentimental. Mengajukan keberatan akan takdir, melakukan perjalanan pemaknaan hidup, lalu dihantam musibah perih tak terkira. Ruang dan waktu menjadi tanya kembali, menjadi teka-teki sejati. Kembali ke individu, dan rumah yang dituju justru menggoreskan luka. Dia nyaris menangis lega. Menguarkan waktu dan memancarkan keterpencilan.

Ketika benda yang dicari akhirnya ketemu, lalu apa? Benda itu terpampang di sana, setelah melakukan perjalanan jauh dari Sao Tome. Oh betapa menakjubkan. Kemenangannya terusik oleh luapan emosi: kesedihan yang meluluhlantakkan jiwa. Muntah-muntah dengan raungan lantang.

Jika ia memprotes Tuhan, lalu ia malah mencipta protes manusia lain? Kapankah masa duka yang janggal ini berakhir? “Cukup! Cukup!” Dia berbisik. Apa makna nestapa bagi manusia? Apakah ini membuka dirinya? Apakah penderitaan ini membuatnya lebih mengerti? Mereka memang menderita, tapi aku juga. Jadi apa yang istimewa?

Kedua tahun 1939, di akhir tahun seorang dokter spesialis patologi melakukan otopsi mayat perempuan yang meninggal di dekat jembatan, pembunuhan atau bunuh diri? Dokter Eusebio Lozora yang sedang melakukan bedah dikunjungi istrinya, Maria Luisa Motaal Lozora yang menyukai kisah detektif. Buku-buku Agatha Christie dikoleksi dan dinikmati, malam itu istrinya berkisah panjang lebar tentang teori Tuhan, seperti Yesus yang mati misterius, Agatha juga mencipta kasus pembunuhan misterius. Autopsi, bagi mata awam bukanlah pemandangan yang enak dilihat. Tujuan tindakan ini adalah mencari abnormalitas fisiologis – penyakit atau kecelakaan – yang menyebabkan kematiannya.

Dokter spesialis patologi adalah detektif yang melakukan penyelidikan dan menggunakan sel-sel kelabunya untuk menerapkan aturan dan logika hingga kedok salah satu organ terbuka dan sifat aslinya, kejahatannya, akan bisa dibuktikan tanpa keraguan. Kesabarannya benar-benar menyentuh. “Kau mengerti bukan, bukan dia yang dibunuh.”

Malam itu setelah istrinya pulang meninggalkan novel terbaru Agatha Christie: Perjanjian Dengan Maut, sekuel Pembunuhan di Sungai Nil, datang lagi seorang ibu dengan koper. Namanya juga Maria, mengejutkan, koper itu berisi mayat suaminya, minta diotopsi segera, kisah cintanya yang vulgar dan menggairahkan, dan segala pilu kehilangan. Ibu Maria berasal dari Pegunungan Tinggi Portugal, perjalanan tiga hari ke Braganca, mencari rumah sakit untuk otopsi mayat suaminya. Cinta hadir dalam kehidupan saya dengan penyamaran tidak terduga. Seorang pria. Saya seterkejut bunga yang melihat lebah datang untuk pertama kalinya.

Setelah urusan raja selesai, kita berlaih ke ratunya yaitu kepala. Memeriksa otak dan batang otak…” Hasil otopsi mengejutkan, ada simpanse dan beruang, dan teka-teki itu meledak di ending yang mengejutkan. Saya sampai geleng-geleng, wow. Novel yang sempurna. Seperti itulah duka, ia makhluk yang memiliki banyak lengan tetapi hanya beberapa kaki, dan ia terhuyung-huyung mencari sandaran. Hati memiliki dua pilihan, menutup atau membuka diri. Tutur katanya kadang-kadang pedas, diamnya meresahkan.

Kisah ini nge-link dengan yang pertama. Kami mencintai putra kami, seperti laut yang mencintai pulau, selalu menyelingkupinya dengan pelukan, selalu menyentuh dan membelai pantainya dengan perhatian dan kasih sayang. Ketika dia pergi, hanya laut yang tertinggal, kedua lengan kami memeluk kehampaan. Kami menangis sepanjang waktu. Satu-satunya putra yang dicintai meninggal dunia, dan pelaku tabrak lagi itu adalah Tomas.

Namun sayang, bagian ketiga tahun 1989 justru agak merusak pola. Seorang senator Kanada Peter Tovy adalah pemilik sah seekor simpanse jantan, pan troglodytes, bernama Odo. Prosesnya panjang. Yang jelas ia baru saja kehilangan istri tercinta Clara. Dalam kedukaan, ia disarankan temannya menepi, ke Amerika dalam kunjungan, ia lalu ke kebun binatang, dan sekilat pintas membeli simpanse jantan dengan harga mahal. “Saya akan membayar Anda Lima belas ribu dolar.” Oh godaan bilangan bulat, itu jelas angka yang lebih mahal dari harga mobilnya.

Orang-orang berduka sebaiknya menunggu setidaknya satu tahun sebelum membuat perubahan penting dalam hidup. Perubahan pemandangan, bahkan perubahan udara – lembut dan lembab – terasa menenangkan.

Ia muak dengan pekerjaannya sebagai politikus. Pidato, pencitraan yang tiada habisnya, rencana busuk, ego yang ditelan mentah-mentah, ajudan arogan, media-media tak kenal ampun, tetek bengek yang merepotkan, birokrasi yang kaku, kemanusiaan yang tak kunjung membaik, dia memandang semua hal itu sebagai ciri khas demokrasi. Dengan gejolak kegembiraan yang meresahkan, dia bersiap-siap membuang semua rantai yang mengikatnya.

Segalanya bergerak cepat, Peter lalu melepas semua atribut duniawi dan memutuskan pulang. Ke rumah nenek-kakeknya di Portugal bersama Odo. Penenungan makna hidup, kehilangan, melepas, damai. Iman seharusnya diperlakukan secara radikal, dia menatap salib, penyeimbang keyakinan dan kegamangannya.

Melakukan perjalanan panjang, melakukan pencarian rumah. Dia masih ingat caranya bercinta, tapi sudah tidak mengingat alasannya. Kehilangan istri membuatnya merenung sepi. Selama sekitar satu jam, sambil duduk di puncak tangga, menyesap kopi, lelah, agak lega, agak khawatir, dia merenungkan titik itu. Apa yang akan dihadirkan kalimat selanjutnya?

Simpanse adalah kerabat terdekat di garis evolusi. Kita dan simpanse memiliki leluhur yang sama, dan baru berpisah jalan sekitar enam juta silam. Mempelajari simpanse sama juga mempelajari refleksi leluhur kita, dalam ekspresi wajah mereka. Masing-masing kera, kini dia mengerti, adalah sesuatu yang tidak pernah diduganya, individu dengan kepribadian unik.

Mungkin agak aneh, memilih simpanse sebagai teman perjalanan untuk menepi, tapi keputusan ini nantinya nge-link dengan hasil otopsi. Bianatang mengenal rasa bosan, tetapi apakah mereka mengenal rasa kesepian? sepertinya tidak. Bukan kesepian seperti ini yang mendera jiwa dan raga. Dia adalah spesies kesepian. Kalau masa lalu dan masa depan sudah tidak menarik, apa yang bisa mencegahnya dari duduk di lantai sambil merawat seekor simpanse dan mendapat perawatan balasan?

Tidak ada derajat yang membedakan tingkat ketakjuban.

Salah satu makna duka bisa jadi adalah sekarang. Simpanse Odo hampir sepanjang hari menikmati waktu, misalnya duduk di tepi sungai menyaksikan air mengalir. Ini ilmu yang sulit dikuasai, hanya duduk dan berada di sana. Kadang-kadang Odo bernapas dengan waktu, menarik dan melepasnya, menarik dan melepasnya. Binatang-binatang ini hidup dalam amnesia emosional yang berpusat di masa kini. Kesyahduan menjelma di sanubarinya, menenangkan bukan hanya masalah yang diderita tubuhnya, tetapi juga kerja keras otaknya.

Di dalam udara ada matahari dan gumpalan-gumpalan awan putih yang saling menggoda, cahaya yang melimpah tidak terkatakan keindahannya. Tidak ada suara di sekelilingnya, baik dari serangga, burung-burung, maupun angin. Yang tertangkap telinganya hanyalah bebunyian yang dihasilkannya sendiri. Tanpa keberadaan suara, lebih banyak yang dilihat oleh matanya, terutama bunga-bunga musim dingin cantik yang bermekaran menembus tanah berbatu-batu di sana-sini.

Rasa sakitnya datang bagaikan ombak, dan setiap gelombang membuatnya bisa merasakan setiap dinding perutnya. Setelah kisah panjang perjalanan ke puncak, lalu sebuah adegan panjang di ruang otopsi yang luar biasa, kisah ini ditutup dengan anti-klimaks di puncak. Memainkan duka, dan segala kandungan di dalamnya. The High Mountains memang menutup rapat akhirnya, tak ada yang menggantung, tapi perjalanan panjang Kanada ke Potugal dengan monyet terlampau mudah menemukan rumah. Bagaimana bisa Peter langsung menemukan rumah, di kesempatan pertama menginap di tanah asing? Ini kebetulan yang mengagumkan. Tuizelo, dari sanalah orangtuanya berasal, ia dan Odo akan menetap. Ini bingkisan mungil berisi rasa takut, tetapi tidak melukai ataupun merisaukan.

Buku kedua Yann Martel yang kubaca setelah Beatrice and Virgil yang absurd. buku ketiga Life of Pi sudah ada di rak, menjadi target berikutnya. Sepertinya memang genre Martel adalah filsafat yang merenung. Banyak tanya dan duka yang dipaparkan serta pencarian makna hidup. “Orang-orang tinggal sejenak, lalu satu per satu pergi, dan Anda diberi waktu untuk berduka, dan sesudahnya Anda diharapkan untuk kembali ke dunia, menjalani kehidupan lama Anda. Setelah pemakaman, pemakaman yang bagus, semua hal kehilangan makna dan kehidupan lama pun sirna. Kematian memakan kata-kata…”

Pegunungan Tinggi Portugal | by Yann Martel |Copyright 2016 | Diterjemahkan dari The High Mountain Portugal | GM 617186006 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Berliani M. Nugrahani | Editor Tanti Lesmana | Desain dan ilustrasi sampul Martin Dima | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-03-4638-0 | 416 hlm; 20 cm | Skor: 4.5/5

Untuk Alice, dan untuk Theo, Lola, Felix, dan Jasper: kisah hidupkau

Karawang, 090520 – Norman Brown – Don’t You Stay