A Game Of Thrones: Perebutan Takhta #29

image

“Atas nama Raja Robert dan dewa-dewa yang kalian sembah, aku meminta kalian menangkap lelaki ini dan membantuku mengembalikannya ke Winterfell untuk menunggu hukuman raja”
Sampai dengan akhir bulan Juni, dialog tersebut adalah yang terbaik dari semua buku yang saya baca tahun 2015. Sepertinya sederhana, namun dibalik itu semua. Segalanya (mulai) menjadi kacau. Karena setelahnya, tertulis, ‘Catelyn tak tahu mana yang lebih memuaskan: bunyi puluhan pedang yang dihunus bersamaan atau ekspresi di wajah Tyrion Lannister’.
Saya menerima novel tebal ini pada hari Jumat, 13 Maret 2015 saat pulang kerja. Terkejut, novelnya datang lebih cepat dari yang saya kira. Targetnya seminggu setelah terima akan saya review, namun sayang aktualnya tak sesuai. Sabtu – Minggu lembur, persiapan audit, pulang malam, lalu closing payroll membuatku sedikit susah mengatur jadwal baca. Semua buku saya singkirkan dulu, Jungle Book, 1984, The Screwtape Letters sampai The Sound and the Fury. Semua saya sisihkan demi buku ini. Saat akhirnya saya selesai baca saya malah sakit kemudian buku ini terletak begitu saja di rak. Satu hal yang pasti, kecepatan baca saya sudah ga seperti saat lajang. Sekarang saya tiap hari pastinya disibukkan Hermione yang kini sudah berumur 10 bulan. Saya hanya menikmati kesendirian dengan buku saat dia terlelap dan itu pastinya di tengah malam sampai subuh. Saat anak-istri sudah tidau dan tengah malam saya sendirian dengan buku adalah waktu yang sangat berharga. Dengan segala persiapan untuk mendapatkan kepuasan maksimal dalam membaca ‘GoT’ saya rasa setimpal yang saya dapat. Sebelumnya perlu diketahui, saya menutup segala informasi GoT dari segala sumber agar tak ada bocoran yang hinggap di kepala, ini sungguh sangat menyiksa. Saya hanya tahu GoT sukses besar di HBO. Dengan kesabaran tingkat tinggi, akhirnya penasaran itu terbayar sudah dengan terjemahan ini. Yah, walau tentu saja belum lunas karena bersambung. Berikut review saya:
A Game of Thrones (GoT): A Song of Ice and Fire #1, Perebutan Takhta. Cerita diambil dari sudut pandang beberapa karakter. Cerita dibuka dengan sebuah prolog, sebuah pengejaran Garda Malam terhadap orang-orang wilding. Tragedi terjadi, pengejaran gagal dan berujung petaka. Petaka yang disimpan sampai akhir cerita buku #1 ini. Karena setelahnya kita akan fokus pada konflik antar klan. Ada 5 klan utama yang memainkan peran:
1. Klan Baratheon, simbol: Rusa jantan, latar: emas. Semboyan: “Yang kami miliki adalah amarah”
2. Klan Stark, simbol: direwolf, latar: putis es. Semboyan: “Musim dingin akan datang”
3. Klan Lannister, simbol: singa emas, latar: merah tua. Semboyan: “Dengar Raunganku”
4. Klan Tully, simbol: ikan trout melompat, latar: perak. Semboyan: “Keluarga, Kewajiban, Kehormatan yang dijunjung tinggi”
5. Klan Targaryen, simbol: naga kepala tiga, latar: hitam. semboyan: “api dan darah”
Buku pertama ini menggunakan simbol kepala direwolf yang terpenggal. Dengan warna latar merah menyala dan tulisan putih khas salju. Bukan gambar sembarangan. Entah kalian memihak siapa, ‘Perebutan Takhta’ kurasa lebih condong ke klan Stark. Memberi daya kejut yang luar biasa di akhir yang pilu. Buku dimulai dengan sudut pandang Bran Stark, bersama saudara-saudaranya diajak melihat hukuman mati. “Kalau hendak mencabut nyawa orang, kita memiliki kewajiban moral untuk menatap matanya dan mendengar kata-kata terakhirnya. Dan kalau kita tak sanggup, barangkali orang itu tak pantas mati.” Sepulang dari eksekusi, mereka menemukan sukumpulan anak direwolf yang terlantar di dekat jembatan. Hewan yang awalnya dikira mitos tersebut diambil dan dipelihara oleh masing-masing anak Stark.
Lalu cerita fokus ke keluarga Stark. Eddard sang ayah adalah karakter berwibawa yang memimpin klan dengan bijak. Catelyn adalah istri yang selalu menyeimbangkan kebijakan klan. Anak-anak Stark: Bran yang pemberani yang hobi manjat. Jon Snow si anak haram. Robb si sulung yang mulai diajarkan berperang, Arya yang juga pemberani dan the lady Sansa. Semuanya memberikan kontribusi cerita yang pas. Saat sepertinya ini adalah keluarga yang sempurna, tragedi dimulai.
Raja Robert meminta Ned ke selatan untuk menjadi Tangan Kanan raja. Tentu saja Ed menolak ajakan teman lama tersebut, namun karena ini perintah raja mau ga mau Ed harus berangkat. Sebelum berangkat nasib sial menghampiri, Bran yang tak pernah jatuh dari hobi manjatnya malah ‘jatuh’. Kita tahu sebab jatuhnya karena saat kejadian diceritakan dari sudut pandang Bran. Namun siapa yang mendorong-nya disimpan rapat sampai pertengahan. Sebagai ibu, Catelyn larut dalam duka yang mendalam. Setelah Ed berangkat ke selatan, Jon bergabung dengan Garda Malam ke benteng utara, klan Stark dipimpin Robb yang masih sangat muda.
Keseruan dimulai. Raja Robert pamit. Takhta goyah. Seluruh klan berlomba merebutnya. Kepada siapa jabatan tertinggi tersebut dipegang tak akan kalian temukan. Karena buku setebal nyaris seribu ini hanya permulaan. Bayangkan, tulisan kecil-kecil, tebal ini hanya permulaan kisah. Hebat sekali Sir George RR Martin ini. Salah satu penulis besar abad ini!
“aku berani bersumpah, menduduki takhta ternyata seribu kali lebih berat daripada merebutnya” – Raja Robert. (halaman 40)
“kematian adalah akhir dari segalanya, sementara kehidupan penuh dengan kemungkinan”  – Tyrion Lannister (halaman 90)
“kebanyakan orang lebih suka menyangkal kebenaran yang menyakitkan daripada menghadapinya” – Tyrion Lannister. (halaman 129)
“Kenapa kau ingin menunggang kuda tua yang bau sampai badanmu sakit dan bersimbah keringat, padahal kau bisa duduk santai beralas bantal-bantal bulu dan makan kue bersama Ratu” – Sansa Stark (halaman 148)
“Perkataanmu melukaiku. Aku pribadi sejak dulu menganggap keluarga Star menjemukan, tapi Cat sepertinya sudah terpikat padamu, untuk alasan yang tak dapat kupahami. Aku akan mencoba menjagamu tetap hidup demi dia. Tugas yang konyol, terus terang saja, tapi aku tak pernah menolak permintaan istrimu. – Littlefinger (halaman 214)
“Rakyat bedoa untuk hujan, anak-anak yang sehat dan musim panas yang tak pernah berakhir. Mereka tidak peduli jika para bangsawan sibuk berebut takhta, selama mereka dibiarkan hidup tenang” – Ser Jorah (halaman 252)
“Cerita bisa menunggu tuan muda, kapan pun kau kembali kepada mereka, mereka selalu ada di sana. Tamu tak sesabar itu, dan kerap kali mereka membawa cerita mereka sendiri.” – Nan Tua (halaman 262)
“Kau belum juga paham, Lord Eddard. Tidak mempercayaiku adalah hal yang paling bijaksana yang kau lakukan sejak turun dari kuda” – Littlefinger (halaman 280)
“Para septon berkhotbah tentang tujuh neraka. Mereka tahu apa? Hanya orang yang pernah terbakar yang tahu seperti apa rasanya neraka” – Gregor (halaman 331)
“Mereka bilang keindahan malam memudar saat fajar, dan pikiran kala mabuk sering kali terlupakan ketika pagi datang.” – Ser Barristan (halaman 335)
“Semua lorong mengarah ke suatu tempat. Jika ada jalan masuk pasti ada jalan keluar. Rasa takut mengiris lebih dalam ketimbang pedang” – Arya stark (halaman 377)
Dan setelah kau mengetahuinya, lalu apa? Beberapa rahasia lebih aman jika tetap tersembunyi. Beberapa rahasia terlalu berbahaya untuk dibagi, bahkan dengan orang-orang yang kau cintai dan kau percaya – Ned Stark (halamana 394)
“Kebodohan dan keputusasaan sering kali sulit dibedakan” – Maester Luwin (halaman 453)
“Sebagian orang buta huruf meremehkan tulisan, sebagian lagi punya keyakinan takhayul terhadap kata yang tertulis seakan-akan itu semacam sihir” – Mord (halaman 464)
“Semakin tua kebutuhan tidurku semakin sedikit, dan aku sudah sangat tua. Aku sering melewatkan setengah malam bersama hantu-hantu, mengenang masa 50 tahun yang lalu seakan-akan baru terjadi kemarin.” – Maester Aemon (halaman 501)
“saat memainkan perebutan takhta pilihannya adalah menang atau mati, tak bisa setengah-setengah.” Cersei (halaman 545)
Dia berpura-pura sedang mengejar kucing hanya saja dia kucingnya sekarang. Dan jika tertangkap mereka akn membunuhnya. – Arya Stark (halaman 600)
Saat tidur dia bermimpi: mimpi gelap dan meresahkan tentang darah dan janji yang tak ditepati. Saat terjaga tak ada yang dapat dilakukannya selain berfikir. Dan pikirannya saat terjaga lebih mengerikan dibanding mimpi buruk. – Eddard stark (halamn 705)
Lelaki ini membawakun ke bawah bintang-bintang dan memberi nyawa pada anak di dalam tubuhku. Aku tak akan emninggalkannya.” – Dany (halaman 801)
“Hodor!” – Hodor (Amazing Tale all of time)
A Game of Thrones: Perebutan Takhta | by George RR Martin | copyright 1996 | Penerbit Fantasious | penerjemah Barokah Ruziati | cetakan pertama, Maret 2015 | XVI + 948 hlm; 13×20,5 cm | ISBN 978-602-0900-29-2 | yang satu ini untuk Melinda | Skor: 5/5
Karawang, 300615 – bukber NICI di KB
#29 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Of Mice And Men #20

Featured image
Akhirnya kesampaian juga. Salah satu buku yang paling saya buru itu akhirnya di rak saya tahun lalu. Saya beli online dari teman di Klaten, buku klasik dari Amerika ini selesai baca dalam semalam. Kisahnya sederhana, namun tak sesederhana kelihatannya. Kekuatan buku ini ada tiga, pemilihan diksi yang tepat sehingga kisah digulirkan dengan runut, dua karakter yang berlawanan yang disajikan dengan indah, dan ending yang berani. Poin ketiga adalah poin terpenting yang membuat Amerika bahkan melarang novel ini dibacakan untuk anak-anak. Poin utama yang membuat keseluruhan isi jadi mencengangkan. Saya tak membaca bocoran apapun dari forum diskusi buku dan film, jadi feel mengejutkan itu benar-benar terasa banget. Beruntung sekali kan. Makanya karena saya merasa beruntung tak kena bocoran, setiap saya menulis review inti cerita tak kan pernah saya beberkan.
Kisahnya abadi. Dua orang beda karakter dipersatukan oleh Steinbeck. Dengan cerdas kisah langsung ditaruh di tengah konflik. Lennie adalah lelaki berbadan besar, namun mempunyai sifat kekanak-kanakan. Pelupa, dungu, polos, yang ada di pikirannya adalah hewan ternak yang akan dipeliharanya. Kelinci-kelinci masa depan. Di sakunya ada tikus mati yang selalu dibelainya. Sementara George adalah lelaki kurus yang membantu Lennie keluar dari masalah satu ke masalah yang lain. Otaknya encer, dirinya selalu melindungi Lennie dan selalu menasehatinya untuk selalu pasif dan berkata, “aku tidak akan bilang apa-apa, aku tidak akan bilang apa-apa, aku tidak akan bilang apa-apa…”
Mereka baru saja melarikan diri dari masalah yang dibuat Lennie. Sampai di sebuah sungai yang airnya mengalir tenang. Sunga Salinas yang menjadi titik utama awal dan akhir cerita ini, kelak akan jadi saksi bisu sebuah twist. Mereka dalam perjalanan menuju peternakan di Soledad, tempat kerja baru. “tetapi kita tidak seperti itu! Mengapa begitu. Karena aku punya kau yang selalu menjagaku, dan kau punya kau yang juga selalu menjagamu, yah itu sebabnya. Kita akan mendapatkan uang, memiliki sebuah rumah kecil, beberapa area tanah, seekor sapi, beberapa ekor ayam, dan hidup dari tanah yang subur itu. Dan punya kelinci-kelinci…”
Belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya, George berwasiat kalau nantinya di peternakan Lennie bermasalah lagi. Dirinya diminta untuk sembunyi di semak-semak sungai ini dan menantinya datang menjemput. Dan saat esok menjelang, mereka sudah bekerja di rumah peternakan. Bersama pekerja lain, awalnya Lennie tak banyak membuat masalah. Namun karena dirinya yang gugup, tak bisa menjawab apapun saat ditanya, orang-orang mulai curiga, ada yang tak beres. Termasuk anak juragan, Curley yang katanya jago tinju di atas ring. Curley yang bertubuh kecil merasa kesal karena Lennie yang tubuhnya besar hanya plonga-plongo saat ditanya. Inilah awal mula segala masalah. Lennie memang sumber masalah, dan kali ini masalah yang dibuatnya sungguh besar. Akankah George berhasil lagi menyelamatkan Lennie? Dua pengelana yang tak punya apa-apa selain diri mereka dan impian-impian kelinci itu akankah digerus kenyataan? Bagaimana akhir petualangan mereka, akankah mereka berpisah? John Steinbeck dengan brilian membuat cerita sederhana ini menjadi luar biasa memikat.
“Untuk apa berandai-andai, tidak ada yang boleh berandai-andai George terluka” (halaman 156)
“Aku suka membelai-belai sesuatu yang manis, tetapi tidak jika aku bisa mendapatkan yang lebih baik.” (halaman 193)
Curley dan Carlson menatap kepergian mereka. Lalu Carlson berkata, “sekarang kau pikir apa yang terjadi pada kedua orang itu?” (halaman 233)
Of Mice And Men | by John Steinbeck | copyright 1937, renewed 1965 | Penerjemah Isma B Koesalamwardi | Penerbit Ufuk Press | cetakan I: Desember 2009 | ISBN 978-602-8224-72-7 | skor: 4.5/5
Karawang, 210615 – Sponge out of water
#20 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

Biutiful: The Ugly Beauty Of Life

Uxbal: Look in my eyes, look at my face. Remember me, please. Don’t forget me, Anna. Don’t forget my my love, please.  

Film nominasi Oscar 3 tahun lalu ini akhirnya ketonton juga. Ternyata filmnya dark, ga ada cantik-cantiknya. Beberapa scene bahkan menakutkan, jadi ngeri lihat cermin di malam hari. Dengan menggunakan Bahasa Spanyol, film ini ngalir dengan lancar. Opening scene adalah ending-nya. Tenang ini bukan spoiler, kerahasiaan cerita tetap terjaga.

Tentang seorang duda frustasi yang divonis penyakit kanker, hidupnya hanya tinggal beberapa bulan. Uxbal (Javier Bardem) memiliki dua orang anak, Ana (Hanaa Bouchaib) yang penurut dan memimpikan keharmonisan keluarga dan Mateo (Guilermo Estralle) yang masih sering ngompol. Kehidupan Uxbal sudah rumit sedari awal. Bekerja sama dengan pengedar narkoba dari warga Afrika, yang akhirnya dideportasi sampai menerima suap untuk sebuah usaha jahit warga Tionghoa yang diserahkan ke polisi. Namun berakhir tragis.

Sembari bertahan hidup, Uxbal juga sering berselisih paham dengan mantan istrinya Marambra (Maricel Alvarez) yang frustasi kesulitan keuangan. Adik Uxbal semakin memperuncing masalah. Konflik yang dihadirkan sungguh komplek, kumpulan orang-orang frustasi. Eksekusinya pas. Uxbal sendiri akhirnya menerima kenyataan takdir, hanya kedua anaknya yang jadi prioritas seandainya dia pergi selamanya. Sampai kapan Uxbal bertahan hidup?

Kalau Anda memimpikan bakal melihat gambar-gambar yang cantik penuh warna, salah besar. Tak ada indah-indahnya yang ditampilkan, suram dari awal sampai akhir. Kata biutiful yang dijadikan judul sendiri muncul saat Anna menanyakan kepada ayahnya cara mengeja ‘beautiful’. Lalu dijawab, “Like that, like it sounds.” Yang saya maksud serem saat lihat cermin adalah, Uxbal ternyata bisa indra keenam. Bisa melihat orang yang meninggal yang ‘masih’ tinggal di bumi. Beberapa scene tampak menyeramkan, terutama saat bayangan cermin memperlihatkan penampakan wajah tanpa ekspresi.

Judulnya sendiri sangat pas. Dibuat ambigu atas fakta pahit, lalu muncul harapan. Apakah worth it to watch? Jelas. Dua jam lebih yang menghibur. Dari orang yang sudah memukau kita lewat Babel, 21 Grams dan kemudian Birdman yang Februari lalu menang Oscar. Inarritu adalah salah satu sutradara terbaik saat ini. Film-filmnya selalu nyeleh. Bermain-main dengan kematian. Sehingga tak heran akhirnya beliau menang Oscar. Hanya tinggal tunggu waktu. If I’m depressed because I’m depressed. Hurt but true. Bravo Javier!

Biutiful | Directed by: Alejandro Gonzalez Innaritu | Screenplay: Alejandro Gonzalez Innaritu | Star: Javier Bardem, Maricel Alvarez, Hanaa Bouchilab | Skor: 4/5

Karawang, 21042015

(Review) The Theory of Everything: Oscar Worthy Performance Eddie Redmayde

Featured image

Teori Lubang Hitam dalam sistem astronomi yaitu daerah dalam alam semesta di mana materi, foton, atau partikel dasar maupun isyarat apapun tak dapat lolos ke luar. Demikian pula foton dan materi luar yang bergerak terlalu dekat dengan daerah ini akan tersedot ke dalamnya dan tidak akan dapat lolos lagi. Bagaimana proses Lubang Hitam terbentuk? Lubang hitam muncul ketika sebuah bintang yang besar dan padat di sebuah supernova meredup dan mati dengan membakar seluruh tenaga nuklirnya. Gaya gravitasi menarik berat mahabesar dari lapisan-lapisan luar bintang itu untuk ikut meluruh ke arah inti ataukah Permukaan dari sebuah lubang hitam disebut dengan sebuah event horizon. Hancurnya gaya gravitasi menjadikan hampir seluruh cahaya tidak dapat melepaskan diri dan tidak ada satu pun informasi dari permukaan itu yang berhasil lolos.

Ga usah pusing-pusing ketika menonton film The Theory of Everything, karena kisah akan lebih fokus ke drama kehidupan sang penemu Teori Lubang Hitam, Teori Kosmologi, Gravitasi Kuantum, dan Radiasi Hawking. Berdasarkan buku yang ditulis istrinya: Travelling to Infinity: My Life With Stephen. Film dibuka di tahun 1963 di masa kuliah Stephen (Eddie Redmayde) yang satu kamar dengan Brian (Harry Llyod) sedang di pesta. Stephen lalu berkenalan dengan Jane (Felicity Jones). Sempat tampak canggung, namun Jane lalu meninggalkan nomor HP. Dari perkenalan singkat itu, mereka jalan. Walau ada perbedaan pandangan keyakinan, Stephen atheis, Jane seorang yang taat ke Gereja namun akhirnya kedekatan mereka berlanjut. Suatu hari Stephen terjatuh saat berlari di kampus, sebenarnya beberapa hari sebelumnya dia sudah merasa sakit kaki. Dari hasil rekam medis, Stephen divonis tetraplegia (kelumpuhakn motorik) karena sklerosis lateral amiotrofik. Awalnya dia mau menjauh dari Jane karena cacat, namun Jane malah memberi dukungan dan menyatakan cinta. Akhirnya dengan memakai tongkat, Stephen dan Jane menikah.

Setelah menikah karir ilmiahnya meningkat. Buku-buku yang dirilisnya ke publik membuatnya terkenal karena best seller dan menjadi seleb kampus. Semakin hari kelumpuhannya semakin parah, Jane dan kedua anaknya lalu memberi kursi roda. Dari situ keadaan kelurga mulai goyah, Stephen yang masih saja menganggap keluarga masih normal sementara sebagai seorang istri Jane mulai kelelahan mengurus anak dan suami. Dalam kepenatan, Jane memutuskan ikut paduan suara penyanyi Gereja, berkenalan dengan seorang duda Jonathan Hellyer Jones (Charlie Cox). Semakin hari tumbuh benih-benih cinta diantara mereka. Jonathan sendiri mendekatkan diri dengan keluarga Hawking, termasuk kedua anaknya. Terlihat di beberapa scene, mereka berlibur bareng, main petak umpet sampai di pesta. Termasuk saat undangan ke Bordeux, Perancis. Jane lalu melahirkan anak ketiga, kerepotan mengurus keluarga membuat Jane tampak frustasi dan momen itu ditangkap oleh Stephen yang akhirnya memberi Jane opsi kalau ingin mendua silakan.

Kisah dituturkan dengan sangat bagus. Catat prediksi saya, Eddie Redmayde akan menang Best Actor. Penampilan memikat sebagai seorang jenius dengan mimik wajah yang meyakinkan. Kecuali Keaton, total 4 kandidat best actor yang kutonton, ini yang terbaik. Seyakin saat saya nebak Matthew mengalahkan Leo tahun lalu. Sedangkan untuk Felicity Jones, rasanya kurang. Di sini dia memang tampil cantik sekali, gigi kelincinya membuat makin imut. Mungkin momen terbaiknya saat dia bilang ada rasa dengan Jonathan, itu gerak tubuh dan mimik muka yang terlihat natural. Untuk best actress saya sudah menonton 3 kandidat. Jones masih kalah cemerlang sama Pike. Mudah-mudahan bisa segera nonton Two Days, One Night dan Still Alice buat pembanding.

Apakah The Theory of Everything akan menang best picture? Tunggu nonton Birdman dan Boyhood dulu ya. Diluar dua film tersebut, film ini leading.

The Theory of Everything | Director: James Marsh | Screenplay: Anthony McCarten | Cast: Eddie Redmayde, Felicity Jones | Skor: 4/5

Dawn Of The Planet of The Apes: War Has Begun

Visual CGI nya halus, pertempurannya dahsyat, sayangnya ceritanya mudah diprediksi. Film langsung lanjut dari ending Rise of the Apes di mana koloni kera berhasil menyeberangi Golden Gate dan hidup damai di hutan. Koloni kera yang dipimpin oleh Caesar (Andy Serkis) pada suatu hari berburu rusa, namun tiba-tiba ada beruang yang coba menyerang anak Caesar yang beranjak dewasa xxx. Untung diselamatkan Koba (Toby Kebbell) teman Caesar, mereka adalah eks kera percobaan laboratorium  yang berhasil lolos. Koloni yang damai kemudian jadi terasa terancam saat ada manusia masuk ke hutan. Rombongan Malcolm (Jason Clarke) ke hutan untuk membetulkan saluran air sumber energy listrik yang rusak. Caesar dan kawan-kawan menolaknya, apalagi manusia membawa senjata. Namun setelah berkali-kali mencoba, akhirnya Caesar mengizinkannya selama 3 hari.

Keadaan manjadi gaduh saat diketahui rombongan membawa senjata, berarti melanggar kesepakatan. Caesar dengan marah melempar bedil nya ke danau, nah pas adegan ini saya langsung menimpali, oh Nobel Perdamaian for Caesar please… bahwa perang hanya akan merusak harapan, masa depan, dan keluarga. Waktu semakin menipis, kepercayaan dirusak. Di saat bersamaan, Koba yang selalu berfikir negative tentang manusia menyelidiki kemungkinan manusia akan menyerang, dan malah mengambil tindakan sendiri. Dia berpendapat bahwa Caesar sudah tidak di sisi kera, karena berfikir dia lebih mencintai manusia. Pemberontakan dimulai, Apes together strong!Caesar ditembak, rumah koloni dibakar. Kera menyerang. Siapa kuat?

Film pertama luar biasa, saya memberi nilai 5/5 untuk Rise. Namun di film kedua ini ada banyak penurunan. Sayang sekali James Franco tak mau ambil peran. Gary Oldman sebagia tetua yang dihormati juga tampil biasa kerena memang scene akan lebih banyak menyoroti trust antara Caesar dan Malcolm. Pertempuran saat koloni berhasil merebut persediaan senjata sangat bagus. Ditampilkan bak perang epik dua kubu. Andy Serkis seperti biasa, tampil total dan sangat bagus. Epic battle di ending juag wow, sampai akhirnya keluar kalimat, “you are no ape” yang jadi salah satu quote terbaik 2014.

Ending sendiri menggantung, wajah Caesar di close-up tanpa diberitahu tindakan apa yang diambilnya. Bisa jadi disimpan untuk film ketiga, harus langsung tempur habis-habisan di pembuka nanti. Poin penting dari film ini adalah, bukan hanya dunia manusia yang ada penghianat. Dunia kera pun sama saja, selalu ada yang mencoba menusuk dari belakang. Lalu kepercayaan, bahwa kepercaayn itu mahal harganya, jangan sampai dirusak. Sekali rusak, aib takkan bisa dihapus. Caesar sempat mengira bahwa kera lebih baik dari manusia, tanpa permusuhan, tanpa iri dengki. Namun pemberontakan yang terjadi membuatnya kecewa dan berujar, “how much like them wa are..” Yak kita disamakan dengan kera oleh seekor kera. J

Terakhir, kelemahan utama film ini hanya satu sehingga tak dilirik oleh juri Oscar, yaitu taka da tulisan: based on true event. I’m saving the human race! Gooooo…..

Dawn Of The Planet of The Apes | Directed by: Matt Reeves | Screenplay: Mark Bomback, Rick Jaffa | Starring: Andy Serkis, Gary Oldman, Jason Clarke, Toby Kebbell | Skor: 4/5

(review) Unbroken: What A Waste Time Of Great Story

Butuh dua kali nonton ini film untuk menyelesaikannya. Pertama saat pulang kerja setelah Isya, saya tonton. Namun gagal, ga ada 30 menit saya tertidur. Kedua saat libur Sabtu kemarin, pagi-pagi bangun tidur langsung coba menikmatinya. Sukses sampai selesai walau dengan perjuangan 2 gelas kopi, durasi 2 jam lebih. Well, Sabtu dan Minggu pagi adalah waktu luang berhargaku dan saya membuangnya sia-sia kali ini. Unbroken adalah film yang membosankan.

Berdasarkan kisah nyata, Louis Zamperini (Jack O’Connel) adalah atlet Olimpiade yang wajib militer di Perang Dunia II. Film dibuka dengan sebuah serangan udara Amerika ke Jepang, lalu adegan kembali ke masa kecilnya. Menyaksikan lomba lari di bawah tribun penuh penonton. Louis dikira mengintip rok wanita, dan kepergok. Ketakutan dia lari terbirit-birit masuk ke lapangan lari dan diluar duga larinya lebih kencang dari pada para atlit cilik. Dari situ, Louis terlihat punya bakat untuk menjadi atlit.

Adegan berikutnya, dalam serangan udara pesawat Louis tertembak dan jatuh di samudra Pasifik. Yang selamat hanya 3 orang, namun terapung-apung di perahu karet. Louis, Mac dan Phil yang terluka di kepala mencoba bertahan hidup dari menangkap ikan, menjerat bangau serta menghemat persediaan air tawar. Hujan adalah berkah sekaligus musibah, air tawarnya menyejukkan dan bisa menambah persediaan namun bersamaan hujan dapat badai. Hari demi hari dilewati tanpa ketidakpastian. Perlu diketahui, sebelum mereka bertiga pernah ada yang bisa bertahan hidup terombang-ambing di atas samudra selama 23 hari. Dan bertiga mereka berhasil melewatinya. Sampai akhirnya salah satu dari mereka akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ini satu-satunya adegan yang membuatku menitikkan air mata.

Suatu hari, sebuah kapal perang Jepang menemukan mereka. Entah harus syukur atau sedih, berdua akhirnya jadi tawanan Jepang. Lalu film menyoroti kekejaman selama ditahan. Bersama tahanan lainnya, mereka mencoba bertahan hidup. Bagaimana akhir kisah Louis Zamperini berikutnya? Bagi masyarakat Amerika tentu tak terkejut akhir kisah ini, Louis ini legendaris sebagai atlit yang terjebak perang.

Dengan cast nyaris tanpa bintang, film ini flop sukses bikin menguap. Awalnya saya mau memberi nilai 1 bintang, namun 5 menit terakhir sungguh menyegarkan bahwa masih ada harapan di tengah keterpurukan. Apalagi saat diperlihatkan foto-foto asli Louis Zamperini sampai akhirnya dia membawa obor Olimpiade di Tokyo. Namun secara keseluruhan Jolie melakukan banyak scene kosong yang membosankan. Padahal screenplay oleh duo Coen bersaudara. Adegan saat di tahanan pun dibuat biasa, padahal Takamasa kabarnya sangat kejam. Dan nilai plusnya adalah O’Connel bermain memikat. Sayangnya hanya itu yang membuatku bertahan. Tagline: If you can take it, you can make it mungkin salah satu tagline terbaik 2014. Sama A moment of pain is worth a lifetime of glory yang catchy dan pas diteriakkan. Terkahir, saying sekali Jolie yang menahkodai film ini. Kisah yang bagus namun salah eksekusi. What a waste of a great story by Jolie, membuat saya berandai-andai sutradara yang lebih pengalaman yang membuatnya. Sayang sekali. Ada yang tahu arti judul unbroken ini? Saksikan sendiri ya, takut spoiler.

Unbroken | Directed by: Angelina Jolie | Screenplay:  Coen Brother | Cast: Jack O’Connel, Domhnall Gleeson, Garrett Hedlund, Jai Courtney, Takamasa Ishihara | Skor: 2/5

A Touch of Majic

Akhirnya saya ganti HP juga. Sony Xperia M dual resmi dalam genggamanku pada tanggal 3 Mei 2014. Setelah pegang BB ganti Andro, rasanya itu seperti turun dari becak ganti naik Ferrari. Really ‘a touch of majic!’

Gambar

(warna putih yang kupilih)

Gambar

(bongkar!)

Gambar

(Ferrari-ku)

Karawang, 140514