The Batman: Deklamasi Sinema

“Ketakutan adalah alat. Saat cahaya itu menerpa langit, itu bukan sekadar panggilan. Itu peringatan.”

Di sebuah kota yang selalu ditempa hujan… Darah dan kata-kata pasti meluap bersamaan. Gotham yang basah dalam berkah limpahan kata-kata sang superhero seolah penyair pelamun, ia murung dan lelah. Apakah perlu kita menghitung air hujan yang diguyur langit, yang umlahnya tak terhingga, seperti penderitaan yang harus Batman pikul. Jalan yang harus ditapaki seorang pahlawan tidaklah semulus yang kita bayangkan: berliku-liku dan melewati kerasnya gunung pengorbanan.

Ini adalah deklamasi sinema, drama panggung dengan syair meluap. Saya tidak pernah dengan sengaja berniat menghafal puisi Batman, tetapi puisi ini masuk ke pikiranku seperti wahyu tuhan turun kepada para nabi. Gelap dan semakin gelap. Penonton dijejali bergalon-galon kata sambil mencoba menautkan klu, serta bualan itu yang makin lama makin ngelatur. Puisi itu seolah filosofis, samar-samar mencoba membentuk benak para penonton, kata-kata melayang di baris subtitle yang menggugah, bermakna, bermanfaat, dan sepertinya siap dipraktikkan. “Mereka pikir saya bersembuyi di balik bayangan, tapi akulah bayangannya.” Cocok dikutip, dibagikan di sosial media, dijadikan status motivasi ala ala Arnold P. Bolang. Ini jelas Batman yang beda, maka lebih tepatnya, saat topeng dibuka ternyata Bruce Wayne adalah alter ego Widji Thukul.

Mendendam dan saat pembunuhan orang-orang penting terjadi tiap malam jelang pilihan umum walikota, Batman menemukan tautan penting ke arahnya. Titik-titik hubung itu mengarah padanya, surat cinta berisi klu ‘To The Batman’, pembunuh serial ini gila, walaupun dasarnya pembaruan kota, pembersihan atas para pejabat yang salah menggunakan wewenang, pembunuhan ini harus dihentikan, bersama sahabat malamnya Catwoman, Gotham butuh pahlawan, sebelum meledak.

Bruce Wayne (Robert Pattinson) anak yatim piatu dengan kekayaan besar diasuh oleh Alfred (Andy Serkis), hobinya berkenala malam hari, dengan penanda Batman di langit. Saat senjakala jatuh di kota yang ramai dan sibuk ini, kereta malam menderu membelah keriuhan, kejahatan-kejahatan terjadi. Matahari terbenam menyorotkan jubah hitamnya di atas gedung. Di Gotham Batman belum dikenal, di malam Helloween gerombolan, berandal yang akan menghajar orang asing malah bertanya, “siapa kau”. Secara bersamaan terjadi pembunuhan wali kota, kematian tokoh besar mencipta sensasi. Batman turut serta ke TKP untuk menyelidiki atas ajakan sobatnya di kepolisian Gordon (Jeffrey Wright). Banyak klu, tapi pesan terpenting adalah amplop untuknya. Malam kedua pembunuhan terjadi lagi, Komisaris Pete Savage (Alex Ferns). Klu kembali ditebar dan mengarah pada mobil korban, ada file di sana. Sudah mulai terlihat di sini, target korban adalah orang-orang penting yang menyalahgunakan jabatan.

Penyelidikan lanjut ke bar tertutup milik Penguins (Colin Farrell). Bar penuh orang-orang penting, separuh kejari ada di sana. Mabuk dan terbang sama pil koplo The Drop. Di sana ia mendapati pramusaji Selina Kyle (Zoe Kravitz) yang setelah diikuti ternyata memiliki hobi yang sama. Kucing berkelana di malam hari. Keduanya kini satu arah memburu pelaku, walau tujuan utama jelas beda. Batman ingin memecahkan kasus, Selina ingin menyelamatkan teman sekos Annika. Yang ternyata adalah gadis di foto walikota.

Malam ketiga korbannya adalah Pengacara Colson (Peter Sarsgaard), ia dijerat di mobilnya. Esoknya saat hari pemakanan wali kota, gempar mobil menerjang masuk masuk di pelataran duka, dengan Colson di sana, leher terikat, bom ditanam, dan sebuah panggilan telepon dari Riddler (Paul Dano) yang memberi teka-teki, dua pertama dibantu jawab Batman, tapi pertanyaan ketiga siapa sang informan, tak mau, dan yang akhirnya menewaskannya.

Begitulah, film terus bergulir menuju hari pemilihan umum. Kedok Riddle dan kroninya baru terungkap saat informan ditangkap, dan itu juga belum usai sebab semuanya malah kembali ke Batman, dan sekalipun otak kejahatan sudah diamankan di Arkham. Motifnya lebih besar, Gotham dirudung ancaman lebih dahsyat. Siapa berani memberantas lingkaran KKN di pemerintahan?

Durasinya terlampau lama, entah kenapa seolah dipanjang-panjangkan. Pembacaan puisi bagus, tapi kalau terus dilakukan, malah mencipta kantuk. Dalam deklamasi, pembaca yang memakai baju hitam artinya puisi duka. Batman yang ini sedihnya kebangetan. Bersuara parau dan gemar menyanyikan lagu tentang ketidakadilan, kejadian lampau yang mengecewakan, tentang rasa yang ditinggalkan, dan neraka. Mencoba gelap, ada satu adegan layar benar-benar gelap. Hanya sesekali muncul cahaya dari salakan tembakan, di lorong Batman sedang menghajar mush-musuhnya.

Setalah berpanjang-panjang, inti cerita ternyata hanya mengarah pada pembaruan kota, dibersihkan dari sampah masyarakat, orang-orang yang menyalahgunakan wewenang dibunuh satu per satu, sampai akhirnya arah senjata ke Batman, masa lalu ayahnya yang pernah mencalonkan diri jadi pejabat. Klu-klu itu menarik? Biasa saja. Jaring mereka makin merapat menit demi menit. Semua petunjuk sudah digaris, titik-titik disambungkan. Ternyata tak ada twist, kalau boleh bilang, dua setengah jam lebih lalu bilang, ‘hah, gitu aja?’

Ada tiga adegan yang cukup menghibur, seolah menjadi obat lelah dan ngantuk dalam penantian. Pertama jelas adegan kejar-kejaran versus Oz. mobil keren yang dinanti-nanti itu akhirnya keluar garansi. War-biasa aksinya, melawan arah, kebut sampai gaaasnya mentok, dan akhirnya ledakan dengan dramatis mobil Bat terbang. Dan kamera yang dibalik dengan gaya. Nah begitulah adegan film action dibuat, keseruan nampak dan bergetar.

Kedua saat teka-teki kematian, bagaimana bisa infomasi sang informan tetap ditahan saat nyawa terancam, hitungan detik dan dramatis, betapa berat menyangga rahasia gelap dan berisiko. Saya sudah prediksi bakalan tetap mati sih, sebab temanya pembunuhan berantai, jadi begitu tahu korban nomor tiga masih hidup, hanya tinggal eksekusinya saja.

Ketiga, saat Batman berciuman dengan latar cahaya mentari subuh yang masih asri, warna oranye dominan bersemburat. Saya tak tahu di komiknya bagaimana, apakah ada asmara di antara kucing dan kelelawar, tapi romansa mereka tampak saling melengkapi. Jadi sejatinya sudah cocok, walau adegan cheezy Batman diselamatkan dramatis tampak malah merusak mood, dan perpisahan sendu di ujung dengan arah berlawannya, dengan iringan skoring ciamik, jelas keduanya bisa akur memburu penjahat. Sebagaimana kucing dan kelelawar, binatang malam yang selalu lebih senang bergaul dengan benda-benda mati daripada makhluk hidup. Batman tetap tenang dan diam lama setelah menawarkan kebersamaan, tetapi ekspresi keyakinan di wajahnya tidak menghilang. Percayalah, kucing ini akan balik. Dengan catatan kontraknya Zoe diperpanjang.

Harus diacungi jempol usaha reboot kali ini, pembaruan itu bukan Gotham sejatinya tapi Batmannya sendiri, sangat manusiawi. Ini jelas jauh lebih baik dari Batman encok. Pattinson sangat pantas, ia masih sangat muda, dan sebagai orang yang memproklamirkan diri sendiri berjiwa merdeka, ia sudah selalu berusaha tampil hebat, beda, avant-garde, canggih. Dan sekaligus pemurung. Dalam wawancara dengan the Hollywood Reporter yang muncul di beranda sosmed, ia mendeskripsikan dalam tiga kata: crazy, sexy, cool. Sepakat?

Seperti kebanyakan orang Indonesia yang muak akan kelakuan warganya yang tak disiplin, mudah marah, bermuka dua, pejabat yang bloon, hingga berhianat, pada dasarnya tetap saja mencintai kota kelahiran, kota tempat dibesarkan, kota berpijak mengais harta. Begitulah, sebobrok apapun, Batman mencintai Gotham dan akan selalu menjaganya. Kota ini adalah perkuburan, mengapa aku harus tetap di sini? Apa yang harus tetap membuatku di sini? Puisi Batman tak kurang daripada pencarian makna hidup dan kecintaan akan tempat ia dibesarkan. Apakah tindakan Riddler dapat dibenarkan? Menyingkirkan orang-orang jahat di pemerintahan lalu menenggelamkan kota demi pembaruan? Tentu saja tidak, kita harus bersepakat, seburuk apapun kota dan penghuninya, kekerasan dan pembersihan massal tak bisa diterima. Sama seperti Real Madrid yang muak sama panitia Liga Champions yang korup, lalu mencipta Liganya sendiri. Jelas itu salah. Atau para radikal yang tiap hari mengumbar kata-kata kasar semua kebijakan tak bijak pemerintahan, lalu esoknya antri paling depan subsidi beras. Tidak, tidak, sistemnya sudah salah, butuh waktu bertahun-tahun untuk revolusi, memotong generasi lama tak bisa dengan seketika memutus rantai pemerintahan. Pejabat korup tumbang, pajabat korup lainnya akan naik. Di manapun berada, ada. Hanya levelnya saja yang beda, paling tidak mengikisnya, memperbaiki sistem dengan teknologi terbaru, aturan win-win solution, hingga menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat. Dus, gue nulis apa ini bro… maaf ngelantur.

Dunia ini sepanjang masa akan seperti ini; kita boleh mengejeknya, mengkritisinya kalau perlu, ketika kepentingan seseorang menjadi terlalu dominan, tak ada yang patut diperjuangkan. Banyak hal tak bisa kita rubah, kita di luar lingkaran itu. Maka, mengubah diri sendiri lebih masuk akal ketimbang mengubah mindset warga twitter. Para legistalif yang mencari uang dengan menyalahgunakan kedudukan apakah bisa kita rubah langsung? Apakah tetangga kamu yang ngeselin motong keramik di hari Minggu bisa kamu hentikan langsung? Apakah chat ngeselin dari grup WA bisa kamu kendalikan dan atur seketika untuk jadi memihakmu? Banyak hal tak bisa kita modifikasi, peran kita di dunia ini kecil. Peran kita dalam keluargalah yang utama, dan berpengaruh, dan masih dalam kendali. Bangsat! Gue nulis apa lagi ini…

Siapapun yang bisa bertahan dari rasa lelah akan keluar dari perburuan ini dengan penuh kemenangan. Selamat, The Batman berhasil memesonaku.

The Batman | 2022 | USA | Directed by Matt Reeves | Screenplay Matt Reeves, Peter Craig | Cast Robert Pattison, Zoe Kravitz, Jeffrey Wright, Collin Ferrell, Paul Dano, Andy Serkis, Peter Sarsgaards | Skor: 4/5

Karawang, 010422 – Billie Holyday

Thx to Rubay. One down, Four to go.

Kata-kata Meluap Seperti Soda Pop

“Suara jangkrik bisa didengar bahkan oleh gadis di balik maskernya.”

Karena judul filmnya sudah eksotis maka aku tak perlu mencari judul ulasan. Words Bubble Up Like Soda Pop atau dikenal juga sebagai Palabras que burbujean como un refresco, keren ya kalimatnya. Filmnya juga, sederhana tapi sangat asyik. Walau mengetengahkan cerita remaja, cinta yang bersemi lalu dirajut sungguh menyenangkan diikuti. Gabungan pria snob dan perempuan narsis. Dunia memang penuh dengan kontradiksi, dan itu malah saling melengkapi. Laiknya aku memilih pasangan, kita bisa dengan mantab bilang, “Aku punya alasan tersendiri waktu memilihmu.”

Kartun Jepang lagi. Saya sedang menikmati film random, asal klik saja. Untuk film ini, cenderung karena puas sama Earwig. Kisah-kisah Asia Timur yang membumi, kali ini tentang remaja beda kelas. Remaja laki snob ke mana-mana memasang headset, membawa buku catatan untuk mencatat inspirasi yang tertangkap tiba-tiba lalu menggores bait-baitnya agar tertangkap lekat. Pasangannya adalah remaja populer, sekali live di sosmed penontonnya membludak. Karena kepopulerannya, penampilan tentu harus dijaga, maka untuk menutup giginya yang maju, ia selalu memakai masker. Keduanya ditemukan takdir.

Dibuka dengan langkah aneh, pria tua membawa bungkus rekaman vynil berjalan ke kebun, tampak kebingungan. Ia mencari sesuatu yang akan diungkap di tengah film. Dibantu remaja kalem, Cherry/Yui Sakura (disurakan oleh Ichikawa Somegoro) untuk kembali ke panti jompo. Cherry mengenakan headset bukan karena sedang mendengarkan musik, perilakunya lebih untuk meredam kebisingan, melawan kearamaian. Sementara itu di tempat lain, Smile/Yuki (Hana Sugisaki) melakukan siaran langsung pakai HP. Hal-hal yang biasa, tapi karena ia populer dengan banyak follower, aksinya di depan kamera HP begitu dinanti. Giginya yang tongos sedang dipermak, dikawat biar rapi, maka ia mengenakan masker. Ia tampak malu dengan ‘kekurangan’-nya itu.

Suatu hari mereka ditemukan takdir di mal, sebuah tabrakan tak sengaja membuat buku catatan Cherry dibawa Smile, begitu juga sebaliknya HP Smile sebagai gantinya. Memang tampak mirip, makanya gerak cepat pertukaran itu bisa berlangsung. Betapa terkejutnya Smile, ketika di rumah menyadari. Ia lantas meminjam HP adiknya untuk menghubungi, meminta balik. Cherry yang di rumah, bersama teman-temannya mengangkat panggilan dan janjian ketemu untuk dikembalikan. Bisa ditangkap adegan sederhana di sini tapi bermakna dalam, makan keluarga jangan main HP. Hormati pasangan, hormati yang memasak, hormati waktu kebersamaan. Hal-hal yang terjadi di dunia maya masih bisa ditunda kok, hadapi keadaan asli saat itu. Kurangi buka HP saat bersama orang lain. Catet!

Sudah tertebak, mereka akrab. Bertukar akun sosmed, bertukar cerita. Status Cherry lebih banyak tentang puisi, atau di Jepang lebih akrab disebut haiku. Memandang senja dari taman, melihat air mengalir, awan beriring yang dihalau angin, sejuknya suasana perkebunan. Dan seterusnya, mereka saling mencinta, tapi dalam diam. Gerak bisa saja ditafsir, tapi kata-kata tertahan.

Cherry ternyata sedang dalam proses pindahan, musim panas ini di tanggal 17 Agustus ia harus pindah. Kerja sementara di panti jompo hanya sukarela, Smile tak tahu karena memang tak diberi tahu. maka saat di hari H pindahan, Smile mengajak menonton festival kembang api, Cherry ragu, tapi tetap mengiyakan. Lihat, hal-hal yang tak jujur atau terbuka, malah membuat runyam keadaan. Apa sulitnya bilang, maaf tak bisa karena harus cabut. Selesai. Oh tidak, Cherry terlalu banyak merenung, terlalu banyak pertimbangan. Maka saat mobil itu tiba-tiba berhenti, lantas ia berlari. Itu bisa jadi adalah salah satu masa terpenting dalam hidupnya. Ia memang harus mengambil resiko.

Di satu sisi mereka memiliki misi mencari rekaman vynil sang kakek yang berangsur pikun. Selidik punya selidik, ternyata rekaman itu adalah milik istrinya bernama Sakura. Ia tak ingin melupakan istrinya yang sudah almarhum, ia ingin mengabadikan momen, ia ingin mendengarkan lagunya sebelum ingatannya tergerus, sebelum ia mati. Sudah sangat langka, susah dicari, di toko rekaman miliknya dibongkar sampai lelah juga ga nemu. Saat akhirnya menyerah, malah dapat. Sayangnya saat akan diputar, sama Smile, kaset malah tak sengaja dipatahkan. Karena dirasa agak melengkung, saat diluruskan malah patah. Huhuhu…

Berhasilkan keinginan sang kakek merasai suara istrinya lagi? berhasilkan cinta dua remaja ini disatukan, karena festival kembang api dan hari kepindahan terjadi di hari yang sama. Well, seperti judulnya, endingnya menghentak dengan ribuan kata membuncah. Bak soda yang meletup histeris, kata-kata itu menjelma bising, terlontar tak terkendali, indah laksana kembang api yang juga sedang gemericik di angkasa.

Aku yakin kalian punya teman dengan gaya keduanya. Seorang yang sok puitis, di mana status sosmed-nya digores penuh makna dan kutipan orang terkenal (baik dicantumkan penulis aslinya atau tidak), atau benar-benar ditulis sendiri setelah mendapat inspirasi saat jiwa kreatifnya sedang meluap-luap. Sah-sah saja, zaman dulu dicatat dulu di kertas, sekarang sudah bisa dihamburkan dalam digital. Aku yakin juga kalian memiliki sahabat populer yang tak bisa lepas HP, sok cantik, sok imut, tiap menit update status, memiliki pengikut melimpah padahal kontennya juga biasa (atau jujur saja, banyak yang jelek), narsis abis, suka joget tiktok, suka pamer tete, suka pamer skincare, suka sekali mengikuti trend. Ya ‘kan, ya ‘kan? Wajar, dunia memang berlari mengikuti perkembangan, tingkah laku manusia otomatis menghambur bersamanya. Hanya bentuk gaya, dan bungkusnya saja yang tampak lebih kreatif. Satu bait saja yang ingin kubagikan di sini, “Bagian ‘membuat awal yang salah’ dalam Cahaya malam musim panas, awal yang salah.” 

Selalu menyenangkan menonton film sederhana disampaikan dengan ciamik. Hembusan kisahnya mengalir lancar, pilihan dialog dibuat dengan nyaman. Adegan ending di festival itu kalau salah proses saja akan jadi lebai, atau salah pemilihan kata yang diluapkan sekencang-kencangnya bila terpeleset bisa jadi roman remaja biasa bak FTV. Namun tidak, endingnya pas sekali saat kita masih terpukau dan hanyut dalam nuansa puitik sehingga aura seninya masih membayang sepanjang detik lagu penutup berkumandang. Memang tepat pemilihan judulnya, di awal meluap dalam tulisan, di akhir meluap dalam gempita jeritan. Bukankah kita semua mendamba adegan romantis dari pasangan yang diguratkan dengan manis, semanis syair?

Words Bubble Up Like Soda Pop | 2020 | Japan | Directed by Kyohei Ishiguro | Screenplay Kyohei Ishiguro, Dai Sato | Cast Ichikawa Somegoro, Hana Sugisaki, Megumi Han, Natsuki Hanae, Yuichiro Umehara, Megumi Nakajima | Skor: 4/5

Karawang, 071021 –Billie Holiday – Stormy 

Words Bubble Up Like Soda Pop bisa dinikmati di Netflix

Hello Ghost: Manfaatkan Masa Kini dengan Baik, dan Kau akan Ditempanya

“Apa yang kulakukan sekarang akan menciptakan siapa aku nanti.” Jean-Paul Sartre (1905 – 1980) dalam “Nausea”

Pentingnya menjaga kejutan tak bocor. Film lama yang sungguh nikmat dilahap saat kita tak tahu obsesi apa yang dijalani para tokoh ini, motif yang disimpan rapat sepanjang film dibuka jelang akhir. Segala yang tampak dan diperjuangkan, terlihat masuk akal, walau membantu hantu sendiri tak masuk akal. Hiburan sejati, seolah kita tercerahkan, ada hikmah yang bisa ditangkap saat credit title muncul, cieee…, di mana dukacita lama dipoles dan diubah menjadi harapan. Orang-orang di dimensi lain biasanya dalam film bisa mengamati kegiatan kita, lantas bila karakter utama kita bisa balik mengamati mereka, apakah semenakutkan yang dikira? Oh tidak, mereka orang-orang baik, maksudnya hantu-hantu baik dengan keingina aneh-anah sahaja, tak ada salahnya dipenuhi. Dan apa konsekuensinya? Harapan! Harapan adalah bahan bakar untuk mesin mental kita. Hello Ghost menawarkan air mata pengorbanan yang sangat pantas dipeluk seerat-eratnya, sehangat-hangatnya.

Kisahnya tentang Sang-Man (Tae-hyung Cha) yang gagal bunuh diri. Ia frustasi menjalani hidup, sebatang kara tertekan keadaan. Ada di titik lelah, disintegrasi pribadi. Berbagai cara dilakukan, terbaru, setelah minum banyak obat dan tak jadi mati, ia mengalami sejenis halusinasi. Hati kecilnya terjeblos ke dalam sunyi yang meresahkan. Di rumah sakit melihat hantu, bukan hanya satu tapi empat. Keempatnya meminta tolong padanya untuk melakukan hal-hal yang tak tuntas di masa hidup. Pertama seorang lelaki parlente sopir taksi (Chang-Seok Ko) dengan rambut sigrak pinggir dan hobi merokok. Ia semena-mena duduk di tempat tidur pasien. Ia jorok dan suka mengintip rok para perawat dengan melakukan tiupan hantu sehingga roknya terangkat terayun dikit. Hantu cabul dengan senyum genit nyaris sepanjang film. Hantu ini ternyata cukup arif, untuk menjaga agar kepribadiannya, kehidupannya (di masa lampau), perasaan-perasaannya, dorongan-dorongan keinginannya, tak terkuak langsung. Ia menginginkan kembali taksinya.

Kedua, seorang ibu (Young-nam Jang) yang menangis mulu. Ia hobi masak dan ingin menyediakan masakan keluarga spesial, melewatkan makan malam istimewa. Makhluk Tuhan yang menangis sampai terlelap kini bersiap-siap menguras air mata lagi dan lagi, sementara para tukang teriak pun akan segera kembali bersuara, dialah yang ketiga, seorang anak kecil (Bo-Geun Cheon) yang merengek minta ke bioskop dan makan permen segede ikan, dalam artinya sebenarnya. Terakhir lelaki tua (Moon-su Lee) berharap Sang membantunya menemukan kamera yang belum dikembalikan.

Karena Sang yang memang tak tahu mau ngapain lagi hidup, dan rasanya tak ada salahnya memenuhi harap para hantu gentayangan itu, serta ia ingin gegas terlepas dari kewajiban nyeleneh itu, (dan mungkin agar bisa segera mati tenang) maka satu per satu keinginan itu coba dikabulkan. Mereka ikut tinggal di apartemennya dan mengikuti kegiatan sehari-hari. Pikiran Sang jumpalitan ketika ia mulai diganduli, tapi itu belum seberapa, ia nantinya juga jadi penyampai pesan dari orang mati.

Dalam prosesnya, kita malah mendalami masa lalunya. Menemukan hal-hal umum, betapa hidup masih layak diperjuangkan. Apalagi ia jatuh hati sama perawat Jung Yun-Soo (Kang Ye-won), yang tentu saja memberinya ‘ada sesuatu di masa depan yang diperjuangkan’ seolah berbisik, ayooolaaahhh semangat. Cintanya bersambut, dan misi-misi itu segera dituntaskan. Roman mukanya yang bodoh itu memang tampak meyesatkan, hantu-hantu itu seolah tampak familiar dan mereka say hello, menyapa untuk tujuan mulia.

Lantas saat mendekati akhir, keheningan seakan berdenyut. Kita menemukan sebuah titik di mana mereka yang menghantui tak asing. Sang butuh beberapa detik untuk menyusun kepingan segala informasi itu, lantas saat ia menemukan klik, harus gegas sebelum terlambat. Saat kejutan ini ditampilkan di layar, dalam adegan dramatis berlari sebelum segalanya terlambat, kita malah menemukan hikmah yang pas dari film ini. Sayangilah mereka, orang-orang tercinta yang ada di sekeliling kita sebelum perpisahan ke alam berikutnya terjadi. Sedih ya? Ya, saya sampai menitikan air mata. Lega kan? Jelas. Hal-hal yang tak tuntas kini bisa ditutup kembali dengan rapat. Betapa berharga kesempatan. Betapa dunia fana yang ada batasnya ini begitu sempit, dan bersyukurlah semua orang yang memiliki kesempatan tumbuh dalam kasih sayang orangtua serta sanak famili.

Manfaatkan masa kini dengan baik, dan kau akan ditempanya. Suka sekali sama adegan akhir saat Sang dan Yun-Soo di kursi taman, seolah perjuangan sepanjang film ini dibayar lunas. Suasana taman masih tampak lembayung, dengan rona nada bahagia. Waktu seolah berjalan lambat dan menyebar. Nada-nada musik seakan-akan saling merenggangkan tanpa kehilangan tempo. Tidak semua film happy ending itu malesi, Hello Ghost justru film mencerahkan. Ide hantu-hantu baik yang menolong mengingatkanku pada Sartre tentang keberadaan. Ia pernah bilang, “Apa yang tersisa kalau Anda menyingkirkan warna, ukuran, bentuk, tekstur, dan baunya? Apa yang tersisa ketika Anda menyingkirkan emosi dan perasaan, rekaan dan gagasan fantastis? Ketika semua yang bisa Anda sebutkan hilang dan disingkirkan dari kehidupan, apa yang tersisa?” Sartre menjawab: keberadaan.

Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah. Maka akhir yang indah ini meluap-luap. Melegakan semua orang, keberadaan orang-orang tercinta di manapun berada di dimensi lain sekalipun.

Hello Ghost | Year 2010 | Korea | Directed by Young-Tak Kim | Screenplay Young-Tak Kim | Cast Tae-Hyun Cha, Ye-won Kang, Moon-su Lee, Chang-Seok Ko | Skor: 4.5/5

Karawang, 290921 – Billie Holiday – A Foggy Day

Rekomendasi Lee, Thx.

The Carducci Talent Show: Sesat Kitab Acuan

Jadi tolong ambil napas dalam-dalam dan terakhir, sekarang.”

Kita tak bisa menarik suatu kesimpulan yang absah dari pernyataan yang bersikap rekaan. Kesalahan, tidak selalu dalam kebohongan, tetapi pasti kekeliruan, telah memotivasi kejadian sejarah, mencipta peninggalan yang salah, ini salah satu kitab sesat yang muncul di abad modern. Kita harus bersandar pada kriterium kebenaran. Temanya permainan, tapi taruhannya nyawa. Bukan barang baru. Kesadisan yang ditawarkan juga sudah banyak dibuat. Langsung mengingatkanku pada Ready or Not? Yang mengajak penonton mengikuti petak umpet di malam hari, yang kalah mati. Kalau di sini, permainan dulu dijalankan lalu konsekuensi yang kalah baru diumumkan di akhir. sederhananya, main-main bertaruh nyawa. Mau pakai kitab kuno jenis apa, mau pakai aturan bagaimana, apalah dunia gila komunitas yang salah.

Emma (Saydee Dickonson) memiliki pacar baru, Tony (Johnno Wilson) mengajaknya ke perkumpulan pertunjukan talenta Carducci yang diadakan tiap empat tahun. Tampak Emma adalah gadis cerdas, ia juga berpikiran terbuka. Dikenalkannya kepada teman-teman yang juga mengajak pacar-pacarnya. Mereka ngumpul ngopi buat acara pertunjukan telenta. Sebelum dimulai dibacakan aturannya. Dihitung berdasarkan poin, poin terendah kalah.

Malam itu tampak menarik. Pertunjukannya seru, penampilan main music, menyanyi, sandiwara, pembacaan puisi, dst. Semua menampilkan talenta-talenta terbaik, membuat suasan meriah, dan Emma tertawa ceria. Sampai akhirnya tiba diperhitungan poin. Terjadi skor imbang, dan karena Emma member baru maka ia yang memutuskan siapa yang lolos.

Di sinilah film menjelma gila. Keputusan sederhana yang dibacakan sambil tertawa itu berakhir dalam kesedihan mendalam. Apa yang tampak di depan, yang kita lihat selama belasan menit itu, tak menggambarkan kehitaman cerita, kini malah mengerikan. Dunia ini memang penuh dengan hingar bingar kehidupan makhluk beragam. Dan di antaranya terbagi dalam berbagai komunitas, warga, kelompok. Ini hanya sebagain kecil komunitas gila.

Selama setengah jam kita menyaksi tiga babak: pengenalan karakter di mana semua dikumpulkan, diperkenalkan masing-masing, bersapa setelah lama tak jumpa, lantas membuka kita kuno. Kedua adalah pertunjukkan utama. Setiap karakter menampilkan apa yang bisa ditampilkan, tampaknya bakal jadi film fun kumpulan manusia dewasa yang menghabiskan waktu bersama, melepas kangen, bercerita dan berkumpul makan-makan, ngopi, pokoknya menikmati hari. Nah, bagian ketiga adalah eksekusi makna utama kisah ini. ini bukan sekadar kumpul ngopi, ini adalah kumpulan sekte kuno yang menjalankan ritual. Apapun yang terjadi harus dijalankan, tak peduli betapa kalian bahagia, tak perduli bagaimana dengan segala sisa usia yang terhitung. Pokoknya, mati. Wasiat sudah disiapkan, surat-surat sudah ditandatangani, dan pertunjukkan ditutup. Ini film pendek, semua dipadatkan. Kebosanan ditekan seminim mungkin, begitu juga ketegangan dan aroma thriller, semua dibagi seefektif mungkin. Namun, bagiku tak terlalu mengejutkan.

Pertunjukkan boleh ditonton, dinikmati, ditelaah. Perjalanan hidup setiap individu sudah digariskan takdir. Lantas kalau kebebasan, dan keindividuan setiap orang sudah boleh dipegang, mengapa menjalani hal-hal yang melenceng? Yang perlu kita telaah mungkin adalah kekhasan setiap pedoman hidup, dan apa yang membuat kitab Carducci menjadi Sabda Carducci. Kalian bisa saja hari ini memegang teguh al-kitab, lusa meyakini Tripitaka, tahun depan memercayai Quran. Manusia itu relatif dan terbuka segala kemungkinan, tapi jelas kalian takkan memegang teguh kitab Carducci, kecuali sudah miring otaknya. Perbedaan antara satu talenta dan talenta lain sangat cair, bisa sungguh objektif. Minat tiap peserta pada hobi dan kemampuan menunjukkan talenta tidak berdasarkan penilaian estetis, tapi selera pribadi, seperti halnya hobi main catur atau mengisi teka-teki silang atau misalkan sepakbola. Semua serba relatif dan tak kuat pondasinya untuk mendulang skor, maka jelas ini sesat.

Dalam praktiknya, kita sukar memilih antara sudut pandang sejarah dan sudut pandang kekinian. Ini thriller, juga horror dan drama. Sudut pandang masa lalu dijadikan acuan, sudut pandang modern menyatakan bi’ah. Kitab Carducci harus dibakar, mungkin juga file film ini. Tak nyaman ditonton, tak enak diperdebatkan. Setengah jam kalian terselamatkan dengan tak memilih The Carducci Talent Show sebagai tontonan. Serius!

The Carducci Talent Show | Year 2021 | USA | Short Movie 36m | Directed by Anthony Fanelli | Screenplay Anthony Fanelli | Cast Saydee Dickinson, Johnno Wilson, Sara Fletcher | Skor: 2.5/5

Karawang, 210921 – Peterpan – Kukatakan dengan Indah

The Guilty: Instruksi-instruksi Tak Kasat Mata

“Tidurlah dengan manis, tenangkan hatimu, dalam damai.” – Puisi Tennyson

Seluruh isi fiksi adalah wajah. Namun bagaimana kalau kita tak pernah langsung melihat wajah lawan bicara? Bagaimana plot disusun suara dua arah, tapi satu sisi wajah? Cerita hanya dalam satu tempat. Sebuah ruangan layanan kontak darurat 112 di Denmark. Ia menjawab telpon, memberi instruksi, menasehati, sampai memaki-maki. Karena hanya berdasarkan suara, kita tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di seberang. Kita hanya bisa menduga-duga, dari intonasi, dari gaya ucapan, dari tempo dan jeda suara. Dan nyatanya, sang jagoan kita tertipu. Saya tidak…

Kisahnya tentang Asger Holm (Jakob Cedergren), polisi petugas penjawab layanan telpon darurat. Jelang akhir shift dua, ia mendapat telpon dari seorang wanita bernama Iben Ostergard yang meminta tolong, ia diculik. Kedua anaknya di rumah, dan ia tak tahu sedang di mana sebab ia disekap dalam mobil. Sang penculik memberi kesempatan buatnya telpon kepada anak, dan ia secara sembunyi meminta bantuan. Dalam hati penonton pasti bergumam, Apakah ia cukup kuat untuk membongkar sebuah kasus penculikan?

Dengan akting bahwa ia menelpon anak, Asger membantu mengarahkannya. Identitas penculik, keadaan rumah, mobil yang dikendarai. Ada Mathilde, lima tahun dan adiknya Oliver di rumah, dua balita yang dihubungi Asger untuk tetap tenang dan akan dikirim petugas. Lalu Asger meminta petugas untuk memblokir mobil van putih di sekitar sinyal lokasi kejadian.

Dengan menegangkan petugas melakukan pengejaran. Dan hasilnya nihil, sebab mereka salah mobil. Asger termenung, kesal dan menunggu panggilan telpon. Ketika ada telpon darurat lain, ia dengan tegas dan gegas menutup. “Kamu jatuh dari sepeda, cari bantuan sekitar. Ke klinik kek, ke orang-orang terdekat kek.” Hahaha… esmosi. Itulah hebatnya, kita menikmati suara-suara dan merasakan ketegangan yang dicipta.

Saat hubungan dengan Iben terjadi lagi, ia meminta lebih detail kejadian dan posisi, ia gegas melaksanakan tugas mulia: membantu korban penculikan. Saat jam shift jaga sudah selesai, ia tak lantas pulang. Ada yang harus diselesaikan, ini menyangkut nyawa manusia. Ia malah masuk ke ruangan, ditutup gordennya, fokus mengubungi sana-sini, menanti hubungan sana-sini. Ia bicara dengan senyum kecut. Itulah yang membuat seorang polisi dipandang baik, insting yang tajam.

Film berakhir dengan klimaks luar biasa. Kekuatan bicara dan mendengarkan, mengantisipasi, memaknai. Apa yang kita pikir tak seperti kenyataan yang disangka. Orang-orang boleh saja memaknai, ini ide menipu penonton, nyelimur, membelokkan makna, menyiman kata-kata kunci. Hingga akhirnya adegan di jembatan menjawab segalanya. Ok, niat baik sudah dihitung pahala, niat mulia Asger sudah patut diapresiasi, ujung kisah yang pahit hanyalah goresan kecil luka kehidupan dunia yang fana. Emosinya membanting-banting ganggang telpon wajar, kemarahannya memporakporandakan meja kerja juga sangat bisa dimaklumi. Ia sudah menjalankan tugas sebaik-baiknya seadil-adilnya. Saya sudah menduga akan akhir yang mengejutkan. 

Ide menipu penonton dengan mencipta pening penonton, satu setengah jam menyaksikan orang ngobrol di telpon. Serasa lebih membosankan daripada di toilet? Impian-impian liar, fatamorgana, kegilaan akan surga dijanjikan dengan air jernih yang mengalir di taman-taman hijau. Suara-suara dalam kesunyian, maka untuk mengakhiri hukuman di dunia ini, mati adalah solusi. Sedih? Ya. Menakutkan? Ah, kita hanya menjadi saksi pembicaraan. Mungkin bisa menghanyutkan dari percakapan-percakapan itu. Namun, tak sulit menebak, arah pandang kisah. Ingat, Iben menghubungi mengaku korban, saat sisi lain menjawab kita bisa mengantisipasi ada janggal. Normalnya ia langsung mengaku status suami ‘korban’, tapi tidak, plot digulirkan untuk mengelabuhi Asger (dan penonton). Hanya keheningan biru yang tenang. Hanya air yang bergerak di sekitarnya. Dunia dengan segala isinya hanya sementara. Kembali lagi, ilusi mimpi diapungkan, kali ini di atas jembatan.

Instruksi-intruksi tak kasat mata, mengingatkanku pada kisah Tom Hardy dalam Locke yang ngegoliam sepanjang film di mobil, memberi instruksi, menyarankan kata-kata, mengalami dilemma. Kali ini petugas polisi yang jadi korban. Sampai akhirnya sang protagonist tahu sebuah fakta, kebenaran yang menggelisahkan, sebuah kesadaran bisu bahwa di hadapan keluasan tanpa batas, segala yang kita kasihi sekejap menjadi hampa. Larut… kecewa… pulanglah… pergilah…

The Guilty | Original title Den Skylide | Year 2018 | Denmark | Directed by Gustav Moller | Screenplay Gustav Moller, Emil Nygaard Albertsen | Cast Jacob Cedergren | Skor: 4/5

Karawang, 170921 – Diane Schuur – The Man I Love