14 Buku Terbaik 2018

Musik ini bukan untuk Anda, ini untuk zaman mendatang.” – Beethoven

Tahun ini saya menyelesaikan baca 110 buku. Fiksi masih sangat mendominasi, novel masih menjadi golongan terdepan. Setelah beberapa tahun terakhir saya tak membuat daftar buku terbaik, maka inilah saatnya saya kembali menyusunnya. Aturan sederhana, bila ada Penulis yang tercantum lebih dari satu karya maka akan diambil satu saja yang terbaik, tak ada batasan tahun terbit, tak ada garis fiksi-non-fiksi serta hilangkan garis Penulis lokal atau terjemahan. Awalnya ketika saya sarikan muncul 27 buku, maka terpaksa saya pangkas, pangkas, pangkas, padat. Dari Summer, Kass, Never Let Me Go, The English Patient, Misteri Dian Yang Padam, Lacasa de Papel, Gentayangan, sampai Fathers and Sons dengan segala hormat kena coret satu senti garis finish hingga di daftar pendek. Tahun ini benar-benar banyak buku lima bintang – sempurna, maka daftar ini adalah jaminan puas menikmati. Berikut susunan 14 buku terbaik yang kubaca selama tahun 2018:

#14. A Man Called Ove – Fredrik Backman | Penerbit Noura | Tahun Terbit 2016

Buku si tua penggerutu yang kocak, awalnya ikut sebal dan merasakan apa yang Ove rasakan lantas teriak lantang, “Benar juga” karena Negara Swedia yang makmur itu juga jiwa sosialnya ga jauh beda dengan lingkungan kita sekitar, sebagian kecil tentunya dari sudut pandang seorang kakek. Kisah menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga kita merasa dekat dengan sang protagonis. Dengan alur satu bab maju, satu bab mundur lalu dipertemukan jelang akhir, kita menemui banyak sekali drama dan keterkaitan orang sekeliling Ove. “Semua orang bilang begitu. Namun mayoritas tidak selalu benar.

#13. Harimau Harimau – Mochtar Lubis | Yayasan Obor | 1975

Penebusan dosa, pengakuan rasa bersalah. Sekumpulan pencari damar terjebak di hutan, di mana ada harimau lapar yang mengintai. Saat salah seorang diterkam dan sang harimau mengejar, semua diminta meminta maaf pada Tuhan atas dosa mereka. Rahasia-rahasia dibongkar, dan semua cuit nyali saat kematian begitu dekat.

#12. Ratu Sekop – Iksaka Banu | Marjin Kiri | 2017

Kumpulan cerita pendek yang bergizi. Bagus sekali, padat, satir dan menggugah. Total 13 cerita dengan tiga varian baru. Cetakan mungil, dengan kover aneh sang Ratu Sekop. Film Noir sebagai pembuka sudah membawa Pembaca ke dunia fantasi, plot tak lazim bagaimana pembunuhan adalah seni takdir. Kemana perginya superstar setelah meninggal?

#11. Kura-Kura Berjanggut – Azhari Aiyup | Banana | 2018

Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa tahun ini. Ketebalannya menantang kesabaran. Kisahnya dibagi tiga bagian, merentang jauh ke abad 17 di Bandar Lamuri, ujung Barat Indonesia hingga era kolonial di pergantian abad ke 20. Kura-kura Berjanggut adalah buku panduan membunuh sang sultan. “Kalau kalian tidak bisa membunuhku hari ini, kalian tidak akan pernah bisa membunuhku selamanya.”

#10. Timeline – Michael Crichton | Gramedia Pustaka Utama | 1999

Sekumpulan mahasiswa 1990an yang mendapatkan kesempatan untuk melintasi waktu kembali ke abad 14 di Prancis yang keras karena sedang bertempur dengan Inggris. Hanya punya waktu terbatas untuk menolong sang profesor yang tersesat. Kejar-kejaran, pamer teknologi, serta kemungkinan manusia bisa melakukan teleport. 150 tahun lalu ada orang bilang, suatu saat orang bisa bicara dengan benda tanpa kabel di seberang benua, pasti pada ketawa dikira orang gila. Sekarang? Lihatlah! Bagaimana kalau saat ini kita bilang bahwa manusia akan bisa dikirim ke masa lalu? Apakah kalian masih akan tertawa?

#9. Big Little Lies – Liane Moriarty | Gramedia Pustaka Utama | 2014

Gosip yang memakan korban. Dusta-dusta kecil yang menguar di udara oleh para orang tua itu menyeset kepekaan dan harga diri para pengantar anak-anak sekolah. Twist, bagaimana bisa sang pelaku kekerasan seksual yang sudah digaris itu ternyata tak seperti yang kita kira, mengingatkanku pada film Posesif yang rilis tahun lalu. “Biar kuperjelas. Ini bukan sirkus. Ini penyelidikan kasus pembunuhan.”

#8. Muslihat Musang Emas – Yusi Avianto Pareanom | Banana | 2017

Kumpulan cerpen dengan kover yang sedap dipandang, warna kuning sebagai latar dengan seekor musang di dalam cangkir di antara dua lainnya. Kover bak poster film art, film festival. Catchy nan mewah. Kisahnya ada di sekeliling kita, banyak mengambil setting warung kopi (atau agar lebih kelihatan mewah kita sebut saja kafe) sehingga menyeret kita dalam obrolan santai sekaligus menegangkan. “Ketimbang bikin agama baru, bikin Komunitas Hati Remuk Karena Sebab-Sebab Tak Tertangguhkan saja, Mas.”

#7. Matinya Penulis Besar – Mario Vargas Llosa | Immotal Publising dan Octopus | 2018

Kumpulan esai yang luar biasa indah. Menghantam nalar, menggelitik pikiran. Proses kreatif tulisan yang rumit. Andai banyak kumpulan pemikiran bisa semegah ini, saya akan lebih sering membaca esai. Pada dasarnya saya menyukai proses kreatif di balik karya. Llosa melimpahruahkannya dengan tikaman tanpa henti. Dalam Benarnya Kebohongan (1989), kalian akan terpukul bahwasanya cerita-cerita based on true story itu omong kosong. “Keadaan adalah bukan seperti apa kita melihatnya, tetapi seperti apa kita mengingatnya.”

#6. Ford County – John Grisham | Gramedia Pustaka Utama | 2012

A Short Story yang seperti kumpulan novelet. Cerita pendek namun sungguh panjang. Semua kisah bermuara di daerah Ford County, dan seperti biasa Grisham membumbui cerita bersinggungan dengan kebusukan pengadilan. Yang paling hebat adalah Kamar Michael, di mana seorang pengacara diadili di rumah kosong dengan intensitas ketegangan tinggi. “Wah, pekerjaanmu busuk Wade, karena melibatkan berbohong, menggertak, mengganggu, menutup-nutupi, tidak menunjukkan belas kasihan sedikitpun untuk orang yang terluka. Aku membenci pekerjaanmu Wade, hampir sebanyak kebencianku padamu.”

#5. 1Q84 Book 1 – Haruki Murakami | Kepustakaan Populer Gramedia | 2013

Kisahnya tak tuntas karena ini jilid pertama dari tiga. Khas Murakami yang memang jagonya meramu bualan imajiner. Dua karakter utama: Aomame dan Tengo, keduanya hidup di tahun pararelnya 1984. Seorang pembunuh berdarah dingin dengan jarum suntik dan satunya editor buku yang melakukan kejahatan terstruktur atas buku remaja: Kepompong Udara yang fenomenal. “Dalam rahasia ada satu prinsip penting. Yaitu semakin sedikit orang yang mengetahui rahasia itu, semakin baik. Sejauh ini di dunia hanya kita bertiga yang tahu rencana ini. Kamu, aku dan Fuka-Eri. Kalau bisa, aku tidak ingin menambah jumlah itu.”

#4. The 100: A Ranking of the Influential Persons in History – Michael H. Hart | Noura | 2012 | Catatan 3 | Catatan 1 | Catatan 2

Buku non-fiksi terbaik tahun ini. “Bila kita membandingkan matematika dari awal dunia ini sampai masa ketika Newton hidup, apa yang dia lakukan jauh lebih baik.” Berisi 100 manusia hebat yang pernah ada, ditambah 10 lagi di edisi revisi dengan 90 nama tercantum berikutnya. Nomor satu jelas Nabi Muhammad SAW. “Maka kita lihat, betapa monumen-monemun akal dan pembelajaran jauh lebih bertahan daripada monumen-monumen kekuatan atau karya tangan. Karena bukankah bait-bait Homer bertahan dua ribu lima ratus tahun atau lebih, tanpa kehilangan satu patah kata atau huruf pun. Dalam kurun waktu itu tak terkira banyaknya istana, kuil, benteng, kota yang telah membusuk dan hancur.” Yang mengejutkan, Penulis fiksi hanya satu, ada yang bisa menebak?

#3. Trilogi Insiden – Seno Gumira Ajidarma | Bentang | 2010

Tiga buku dalam satu bundel. #1. Saksi Mata, kumpulan cerpen. #2. Jazz, Parfum dan Insiden, novel dan #3. Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, kumpulan esai. Satu benang yang menyatukannya adalah tragedi di Dili tahun 1990an. Keberanian Bung Seno menulis kisah ini memberi konsekuensi berat karena di era Orde Baru, banyak fakta disulap seolah dongeng. “Kemerdekaan adalah impian terkutuk.”

#2. The Ocean at the End of the Lane – Neil Gaiman | Gramedia Pustaka Utama | 2013

Tahun ini saya membaca dua buku Gaiman, American Gods juga sangat bagus sayangnya terlampau mewah, dan menurutku kisah klasik sederhana yang bersetting di Inggris ini lebih berkelas. Sihir yang tak terduga, bagaimana ranting bisa menjadi kompas dan batasan-batasan dunia lain begitu nyata terlihat. Sungguh hebat, konsep ruang dan waktu yang dituturkan Neil. Salut. Saat akhirnya epilog kunikmati, seakan saya usai melahap puding-dan-pai-yang-manis, kau dalam masalah besar. Damn it! Saya jatuh hati sama karakter Lettie Hempstock. “Kau hanya perlu tumbuh dewasa dan berusaha untuk layak. Hidup ini memang tidak adil.”

#1. The Trial – Franz Kafka | Gramedia Pustaka Utama | 2016

Book of the year kita adalah karya lawas yang menghantui, diterjemahkan langsung dari Der Prozes. Bagaimana seorang pekerja dengan rutinitas kerja normal, yang menganggap dunia ini ya dinikmati suatu hari tiba-tiba ditahan polisi karena alasan tak jelas. Merasa tak bersalah, Joseph K dengan sabar dan tenang mengikuti persidangan demi persidangan hingga akhirnya kita tahu, masalahnya tak sesederhana yang kita kira. Kita seolah menaiki rollercoaster yang memusingkan, dan proses itu berujung sebuah tragedi. “Anda semua ternyata pegawai, sekarang saya tahu, Anda semua gerombolan tukang korup yang tadi saya bicarakan, Anda semua di sini berdesak-desakan sebagai pendengar dan pengintai, Anda semua berpura-pura tergabung dalam kelompok-kelompok, dan tampaknya tepuk tangan tadi dimaksudkan untuk menguji saya; rupanya Anda semua belajar cara menyesatkan dan membodohi orang yang tidak bersalah!”

Bagaimana dengan tahun 2019? See ya…

Karawang, 31 Desember 2018 – Sherina Munaf – Better Than Love

Iklan

Christ The Lord: Out Of Egypt – Anne Rice

Saat Tuhan menciptakan dunia, Pengetahuan Tertinggi ada di sana seperti tukang kayu yang ahli dan kalau Pengetahuan Tertinggi bukan Tuhan, apakah Pengetahuan Tertinggi itu? “Yerusalem, tempat Tuhan berdiam di Bait Allah.” Tuhan ada di mana-mana dan Tuhan ada di Bait Allah.

Ini adalah kesempatan pertama saya menikmati karya Anne Rice, saya sudah jadi penggemarnya semenjak Sherinaku bilang menyukai An Interview With Vampire di web sherina-online.com tahun 2006 (jangan dibuka ya, web wajib doeleo tiap buka kompuer di warnet). Buku yang bervitamin. Baca dengan kepala jernih dalam tiga hari ini, pada dasarnya saya adalah pembaca segala rupa. Tahun ini saya tahu sejarah Sidartha Gautama karya Herman Hesse yang mengejutkanku. Tahun lalu saya tahu sejarah Nabi, istri dan sahabat Nabi yang beberapa juga mengejutkanku. Hari ini saya selesai baca Yesus Muda, yang tentu saja banyak hal baru kuketahui, dan juga mengejutkanku. Yesus memiliki kekuatan supernatural di usia muda. Menghidupi dan mematikan, menyembuhkan orang buta hingga mencipta burung layang-layang dari tanah liat. Sedari awal ia tahu, seorang malaikat telah mendatangi ibunya. Malaikat. Yesus bukan putra Yusuf.

Kisahnya dibuka di Alexandria, Mesir. Yesus bin Yusuf berusia tujuh tahun. Saat bermain sama anak-anak sebaya, tak sengaja ia menewaskan temannya Eleazar, Yesus yang ketakutan karena tak tahu mengapa, dilindungi keluarga, massa merangsek dan marah-marah menuntut. Lalu dalam ketenangan yang membuncah, ia menghidupkan kembali temannya. Kejadian itu membuat geger warga, Filo dan para guru yang tahu Yesus punya sesuatu yang istimewa memintanya untuk bertahan di Mesir dan menjadi muridnya, tapi tidak. Yusuf sudah memutuskan, semua keluarga pulang kampung ke Nazaret. Ada sesuatu yang disembunyikan, maka dengan kapal mereka meninggalkan Mesir. Ibuku dan Yusuf melindungiku dari sesuatu, tapi aku tak mau dilindungi terus. Jangan pernah bicara ini pada orang lain. Kau tak boleh bicara tentang kita dari mana saja dan mengapa, dan simpanlah semua pertanyaanmu dalam hatimu, dan pada saat kau sudah cukup dewasa nanti, aku akan menceritakan apa yang seharusnya kamu ketahui. “Rumah kita di Nazaret, kau punya banyak sepupu di Nazaret. Sarah menunggu kita di sana, dan Yustus. Mereka kerabat kita. Kita akan pulang.”

Tak usah khawatir tentang rahasia. Kami menuju Yerusalem. Pada hari Sabat semua orang Yahudi menjadi filsuf dan orang terpelajar. Begitu juga di Nazaret. Perjalanan berhari-hari itu berlabuh di Dermaga Jamnia lalu melanjutkan naik keledai setelah bermalam di penginapan. Mereka menuju Yerusalem dulu untuk berdoa, “peziarah, semua orang menuju Yerusalem. Seluruh dunia”. Pada hari ketiga, untuk pertama kalinya kami bisa melihat Kota Suci dari lereng perbukitan tempat kami berada. Kami anak-anak melompat-lompat senang. Kami bisa melihat semuanya, tempat suci yang selalu ada dalam doa kami, hati kami, lagu-lagu kami sejak kami lahir. Di sana sedang dalam kondisi kacau karena raja lalim, tapi mengapa Herodes membakar hidup-hidup dua guru Taurat? “Karena mereka menurunkan patung elang emas yang dipasang Herodes di atas Bait Allah, itulah sebabnya. Kitab Taurat mengatakan bahwa tak boleh ada gambaran makhluk hidup di Bait Allah kita.” Setelah memanjatkan doa, mereka pun menuju kampung halaman. “Tak seorangpun kecuali Tuhan yang berhak memerintah kami! Katakan itu pada Herodes, katakan itu pada kaisar.”

Cerita bergolak Yesus muda yang bertanya-tanya banyak hal. Kegelisahannya, memikirkan keganjilan. Lebih baik aku tidur sebab semua orang tidur, lebih baik hanyut oleh rasa kantuk seperti mereka terhanyut kantuk mereka. Lebih baik percaya mereka percaya. Aku berhenti mencoba untuk tetap bangun dan memikirkan semua itu. Aku mengantuk, sangat mengantuk, sehingga aku tak bisa berpikir lagi. “Kau jauh lebih bijak dari usiamu.
Di Nazaret, Yesus menemukan hal-hal baru. “Semuanya mungkin dilakukan Tuhan. Tuhan menciptakan Adam dari debu, Adam bahkan tak punya ibu. Tuhan juga bisa menciptakan anak tanpa ayah.” Sekolah, belajar kepada tiga rabi: Rabi Berekhaiah bin Fineas, Rabi Sherebiah, Rabi Yasimis. Ketiganya memiliki keunggulan yang meletakkan dasar-dasar ajaran Taurat. Yohanes telah dipersembahkan pada Tuhan sejak lahir. Dia tidak akan pernah memotong rambutnya, dan tak akan pernah membagi anggur makan malam. “Ya Rabi, seorang tukang kayu akan membangun rumah sang Raja. Selalu ada seorang tukang kayu. Bahkan Tuhan sendiripun sekarang dan dulu adalah tukang kayu.

Orang-orang bilang begitu. Malaikat datang ke Nazaret? Apakah benar-benar terjadi?” | “Tidak, orang-orang tidak mengatakan itu, tapi aku tahu.” Tanya itu satu per satu terjawab, walau dengan cara tersembunyi. Pada usia dua belas tahun, anak sudah dianggap dewasa untuk bertanggung jawab menurut Taurat.

Bagian ketika di Yerusalem memang rawan diskusi, sebagai kota suci tiga agama semua mengklaim sebagai yang berhak. Baca dengan jernih, semua dalam kasih. Gadis-gadis itu dipilih untuk membuat cadar Bait Allah karena semua hal di Bait Allah harus dibuat oleh mereka yang berada dalam kondisi suci. Dan hanya gadis-gadis di bawah usia dua belas tahun yang benar-benar suci; mereka dipilih dibawah tradisi, dan keluarga ibuku adalah bagian dari tradisi itu. “Bukankah mereka juga keturunan Abraham? Bukankah mereka juga keturunan Daud, keturunan Harun, keturunan suku-suku Israel? Bukankah mereka juga orang-orang saleh? Taat pada Taurat. Kukatakan padamu, mereka akan membawanya ke pedalaman dan di sana mereka akan mendidiknya dan mengasuhnya. Dan dia anakku sendiri, memang menginginkan ini dan dia punya alasan.” Yesus selalu dilindungi dari pengetahuan luar yang mencoba disusupkan. “Tak seorangpun mencarimu di sini. Kau tersembunyi dan akan terus begitu.” Alasan keluar dari Mesir pun terungkap. “Malaikat mengatakan padaku bahwa kekuatan Tuhan akan melingkupiku, lalu bayangan Tuhan akan menghampiriku – aku merasakannya – kemudian pada saatnya muncullah kehidupan dalam diriku, dan itu adalah kau.”

Kau harus tumbuh seperti anak-anak lain ataukah Daud kecil kembali ke kaumnya hingga mereka memanggilnya? Jangan biarkan ibumu sedih. Ya, bagian Yesus harus tetap tumbuh seperti anak-anak lain terus disampaikan. Segala tanya kelak akan terjawab. “Simpan apa yang akan kukatakan ini dalam hatimu, akan tiba saat kaulah yang akan memberi jawabannya pada kami.” Yesus malah tambah penasaran, kenapa ia bertanya malah nantinya ia yang memberi jawab? Dia sendiri tak mengerti beberapa hal, dan saat orang tak mengerti, dia tak bisa menjelaskan. Aku belum merasa takut. Aku masih terpaku, mati rasa. Ketakutan baru akan datang kemudian.

Ini Bait Allah kami, dan ini Rumah Tuhan; sangat mengagumkan karena kami bisa memasukinya dan sangat dekat dengan keberadaan Tuhan. Selama masih ada orang Yahudi di dunia maka akan ada Paskah saat Paskah! Gejolak di sana memang sudah terjadi sangat lama. Seperti ada masyarakat yang menentang. “Mengapa orang itu melemparkan batu, padahal dia tahu tentara itu akan membunuhnya?” dan pertanyaan itu dijawab ibunya, “Itu saat yang bagus untuk mati. Mungkin itu saat yang sempurna untuknya untuk mati.” Terdengar familiar di era sekarang? Ya.

Kenapa hal itu terus terjadi hingga kini? “Kita diasingkan di tanah sendiri. Itulah kebenarannya, karena itulah kita melawan. Mereka ingin mengusir keluarga raja yang menyedihkan ini yang membangun kuil-kuil berhala dna hidup seperti tiran memuja berhala.” Dan dalam sebuah riwayat. “Tuhan menepati janjinya pada Israel tapi bagaimana dan kapan dan dengan cara apa kita tidak tahu.” Terdengar familiar lagi? Ya. Di satu sisi, perang berlangsung dan keluarga Yusuf menggangap. Kita sudah keluar dari Yerusalem, kita sudah keluar dari masalah. “Bagaimana kita bisa tahu? Ada orang Farisi, juga imam, juga Essene. Semua mengucapkan doa, ‘Dengarlah anak Israel, Anak Allah, kita adalah satu.’”

Di mana tanah Israel berawal dan berakhir? Di sana, di mana orang Yahudi berkumpul dan mentaati Taurat. Aku juga melihat transformasi dari dunia kuno karena kemandekan ekonomi dan pengaruh nilai-nilai monoteisme, nilai-nilai Yahudi yang melebur nilai-nilai Kristiani. Dan aku tahu para pria mandi dan memakai baju baru sesuai dengan hukum Taurat, dan mereka tak akan lebih bersih hingga matahari terbenam. Karena itulah mereka tak langsung pulang ke Nazaret hari ini. Mereka ingin bersih saat sampai di rumah.
Seperti kalian satu-satunya yang tinggal di Nazaret. Seluruh kota ini menjadi milik kalian, dan seluruh populasi kota ini berkumpul di halaman satu rumah. Bukankah itu bagus?” Nazaret digambarkan desa yang tenang. “Kita akan segera sampai di perbukitan, jauh dari semua ini. Kau bersama kami. Dan kita akan pergi ke tempat yang damai. Di sana tak ada perang.” Jalanan berbatu dan tak rata, tapi angin bertiup sejuk. Aku melihat pohon yang dipenuhi bunga, dan menara-menara kecil di ladang, tapi tak terlihat seorang pun. Tak ada orang di mana-mana. Tak ada domba yang merumput, tak ada ternak. Hobinya memang menyendiri, menyatu dengan alam, menyepi. Aku berdiri dan keluar, senja mulai turun dan menyusuri jalan menuju perbukitan, dan mendaki tempat yang rumputnya lembut tak terganggu. Ini tempat favoritku, tak jauh dari pepohonan yang sering kudatangi untuk istirahat. Rasanya damai saat Yesus merenungi hidup di bukit dalam kesunyiannya. Aku berbaring di rumput meraba bunga-bunga liar dengan tanganku. Aku memandang di sela-sela ranting pohon zaitun. Aku ingin seperti itu – melihat langit dalam kepingan. Aku bahagia.

Ingatlah jangan pernah mengangkat tanganmu untuk mempertahankan diri atau memukul. Bersabarlah. Kalau kau harus bicara, bicaralah sederhana.” Ajaran-ajaran tanpa kekerasan juga muncul di banyak bagian. Kalau manusia ingin berperang, mereka akan mudah mencari alasan. Tidak ada yang bekerja, semua orang menghormati Sabat, tapi mereka berjalan pelan. Kegelapan mencoba menelan cahaya, dan kegelapan tak pernah bisa menelan cahaya. Dalam setiap diri kita, ada kisah menyeluruh tentang siapa kita. Kita pernah tinggal di Mesir seperti bangsa kita dulu, dan seperti mereka kita akan pulang juga.
Bukan masjid, bukan pula gereja atau pura. Tempat ibadah mereka adalah sinagoga. Air suci ini dibuat dari abu sapi betina merah yang disembelih dan dibakar di Bait Allah sesuai aturan Taurat untuk diambil abunya, dicampur dengan air hidup dari sungai di dekat sinagoga di ujung desa. Diberkatilah semua yang takut pada Tuhan, mereka yang taat padaNya. Aku akan keluar ke dunia dan melakukan apa yang menjadi takdirku.

Ada bagian yang membuatku tersenyum saat sepintas lewat menyebut “Eli sang imam”, menelusur imajiku ke film The Book of Eli yang berkisah tentang perjalanan menyelamatkan buku (kitab) dibintangi Denzel Washington. “Malaikat datang di mana saja, ke mana saja, kapanpun mereka mau.” Film itu adalah misi penyelamatan Injil, dan twist-nya adalah bukan buku fisik yang dibawa, tapi si Eli sendiri! “Aku datang ke sini dan berpikir, dan pikiranku berubah menjadi doa.” Hebat. Saya sampai terkejut, saat Eli terluka tapi dia dengan damai mendikte kitab untuk diarungi agar tak punah. “Aku tak mau tidur, aku akan melihat mereka kalau bermimpi.” Hal terpenting yang dilakukan Imam Besar adalah memasuki Ruang Maha Kudus di Bait Allah, tempat Tuhan menunjukkan beberadaan-Nya; tempat yang hanya boleh dimasuki Imam Besar. Apakah ending kisah di perahu itu Eli ada di Timur Tengah?

Dan sebuah ramalan bahwa akan lahir raja baru di Betlehem membuat raja Herodes berang, maka orang-orang majusi yang melihat bintang turun. Raja memerintahkan mencari anak itu, tapi Yesus sudah diselamatkan, pergi jauh ke Afrika. Kaukira mukjizat-mukjizat kecilmu itu akan membantu orang-orang bodoh ini? Kukatakan padamu, kekacauanlah yang berkuasa. Dan aku adalah Pengeran Kekacauan. Raja berang dan melakukan tindakan biadab, sekitar dua ratus anak dibunuh dalam kegelapan malam menjelang fajar, anak-anak dibawah dua tahun. Demi mencegah ramalan terwujud. Seram, sadis, kejam. Sepertinya seluruh dunia memelukku. Mengapa aku pernah berpikir aku sendirian? Aku ada dalam pelukan bumi, pelukan mereka yang mencintaiku, tak peduli yang mereka pikirkan atau pahami, pelukan bintang-bintang. “Wahai Tuhan seluruh alam, pencipta anggur yang kami minum, pencipta gandum untuk roti yang kami makan. Kami bersyukur karena kami akhirnya tiba di rumah dengan selamat, dan jauhkan kami dari marahabaya. Amin.”

Bagian kilas balik cerita ibunya juga bagus sekali dituturkan. Kamar itu dipenuhi cahaya begitu saja, terjadi tanpa suara. Cahaya itu ada di mana-mana. Semua benda-benda di ruangan masih ada, tapi dipenuhi cahaya. Cahaya yang tidak menyakiti mataku, tapi sangat terang benderang. Kalau kau bisa membayangkan matahari dan matahari tak melukai matamu, maka kau bisa membayangkan cahaya itu. Dia mengirimkanmu kepada Yusuf bin Yakub, si tukang kayu dan tunangannya Maria dari keturunan suku Daud di Nazaret bersama kami.

Endingnya bagus sekali. Bab terakhir itu sungguh lezat diikuti, menjawab tanya Jesus memberi detail hari di mana ia lahir. Yah, walaupun mungkin untuk sebagian besar umat itu bukanlah hal baru. “Kota itu sangat penuh malam itu, Betlehem, dan kami tidak bisa menemukan tempat menginap – kami berempat, Kleopas, Yusuf, Yakobus, dan aku… dan akhirnya penjaga penginapan mengizinkan kami bermalam di kandang. Kandangnya berupa gua yang terletak di sebelah penginapan. Sangat nyaman menginap di sana, karena hangat dan Tuhan menurunkan salju.”

Seluruh tubuhku sakit – bahu, pinggang, lutut – tapi aku bisa tidur. Aku bermimpi. Untuk pertama kalinya bagiku, tidur seperti sebuah tempat yang bisa dituju. Dan dari mimpi-mimpi itulah terjadi komunikasi dengan malaikat. “Kau berdoa agar turun salju, nah kau punya salju sekarang. Berhati-hatilah akan apa yang kau inginkan.”

Anne Rice terinspirasi buku karya Fredsiksen yang dengan indah menggambarkan kembali suasana Yahudi tempat Yesus kemungkinan tumbuh di Nazaret, dan kemungkinan Yesus pergi merayakan Paskah ke Bait Allah di Yerusalem bersama keluarganya. Fredriksen menekankan bahwa Yesus adalah orang Yahudi. Maka kisah ini utamanya ya saat-saat Yesus muda di sana. Bagian Mesir cuma tiga bab awal, setelahnya kita terus disuguhi petualang di kampung halaman dan sesekali ke Yerusalem.

Di bagian akhir Anne Rice memberi catatan bagaimana buku ini terwujud. Beliau adalah Kristiani taat, di sekolahkan dengan ajaran agama yang ketat. Sampai usia 18 tahun di masa kuliah ia berubah. Dipenuhi orang-orang baik dan orang-orang yang membaca buku terlarang untukku. Aku membaca Kiekergaard, Sartre dan Camus. Menikah dengan ateis Stan Rice yang berpedoman tulisan kami adalah hidup kami. Menikah empat puluh satu tahun, terpisah karena maut tahun 2005. Stan mendorong Rice untuk menulis kisah ini setelah ia terserang tumor otak. Lalu di New Orleans tempat lahirnya, Anne Rice kembali menemukan jalan. Bahwa buku berikutnya adalah tentang Yesus, maka riset dilakukan dengan berbagai cara bertahun tahun. Bibliografi tak ada akhirnya, perdebatan kadang menimbulkan dendam. Aku tak menyarankan adanya sensor, tapi aku menyarankan adanya sensitivitas, terutama bagi mereka yang membaca buku-buku religi. Aku beruntung hidup dalam lingkupan kasih sayang mereka, aku benar-benar diberkati. Dan jadilah Chist The Lord yang kita nikmati.

Apa yang kudapat seusai menikmati Young Messiah ini? Dengan sepenuh hati, ayolah baca karya-karyanya. Masih ada jutaan halaman dari seluruh buku-buku karya para Penulis yang harus kubaca, dan kubaca lagi. Masih banyak sekali bahasan tentang Josephus, Filo, Tacikus, Cicerio, Santo Paulus sampai Julius Cesar yang harus kubaca. Dari dulu saya ingin memulai Sartre, hiks mungkin tahun 2019 terwujud. Banyak sekali pemenang Nobel Sastra yang belum kulahap, banyak sekali karya klasik yang seakan tiba-tiba mengantre untuk kukejar. Banyak sekali buku-buku agama lain yang juga pengen kupelajari. Sungguh dunia ini maha luas, ilmu pengetahuan begitu banyaknya, kita beruntung di era digital karena buku-buku itu kini lebih terjangkau.

Aku terus belajar, aku terus membaca siang dan malam. Aku membaca, membaca dan membaca. Kadang aku pikir aku sedang di Lembah Kematian, saat aku membaca. Tapi aku terus membaca, siap mempertaruhkan segalanya. Semakin saya banyak membaca buku, semakin merasa bodoh. Banyak sekali hal-hal di luar sana, buaaanyaaak sekali ilmu pengetahuan yang tersebar di semesta buku, kita hanya tinggal menikmatinya, memilahnya, melahapnya. 100 buku per tahun takkan cukup hingga usia 100 tahun!

Jadi, “berdoalah!”, mari mengangkat tangan dan berdoa untuk kemakmuran bangsa, untuk saling menghormati kemajemukan Indonesia dan selalu dalam lindunganNya.

Terima kasih Sherina Munaf yang telah merekomendasikan, Terima kasih Anne Rice atas segala yang dicurahkan dan terima kasih Gramedia Karawang yang memberiku kesempatan menikmati karya ini. Aku belajar sesuatu dari setiap buku yang aku baca.

Kristus Tuhan: Meninggalkan Mesir | By Anne Rice | Diterjemahkan dari Christ The Lord: Out Of Egypt | Copyright 2005 | 6 16 86 005 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2006 | Alih bahasa Esti Ayu Budihapsari | Desain sampul Satya | Cetakan kedua, April 2016 | ISBN 978-602-03-2732-7 | 392 hlm.; 20 cm | Skor: 3.5/5
Untuk Christopher

Karawang, 251218 – Nikita Willy – Surat Kecil Untuk Tuhan

A Man Called Ove – Fredrik Backman

Orang dinilai dari yang mereka lakukan. Bukan dari yang mereka katakan.” Parvaneh dalam bahasa Farsi artinya apa ya?

Cinta sejati takkan mati. Cinta Ove kepada Sonja sungguh sederhana, sekaligus sungguh romantis. Detail ini bikin kesal mungkin, tapi benar juga. Ketika Sonja memotong rambut, Ove akan jengkel terhadap istrinya selama berhari-hari karena Sonja tidak tampak sama. Itulah yang paling dirindukan Ove, mendapati segala sesuatu sama seperti biasanya. Frederick Backman adalah blogger dan kolomnis Swedia. Tokoh Ove pertama muncul di blog-nya dan para pembaca mendorong untuk dikembangkan guna dibukukan. Senangnya ada blogger sukses gini, memotivasi kita para pemula untuk terus lebih giat mengetik kata demi kata. “Jika kau tidak bisa mengandalkan seseorang agar tepat waktu, kau juga tidak bisa mempercayakan sesuatu yang lebih penting padanya.”

Setiap manusia harus tahu apa yang diperjuangkannya. Itulah kata mereka. Dan Sonja memperjuangkan apa yang baik. Demi anak-anak yang tidak pernah dimiliknya. Dan Ove berjuang untuk Sonja. Ini adalah buku si tua penggerutu yang kocak, awalnya ikut sebal dan merasakan apa yang Ove rasakan lantas teriak lantang, “Benar juga” karena Negara Swedia yang makmur itu ternyata juga jiwa sosialnya ga jauh beda dengan lingkungan kita sekitar, sebagian kecil sih dari sudut pandang kakek-kakek. Bagaimana warga yang suka langgar rambu lalu lintas, mereka memasang beberapa polisi tidur dan sejumlah plang besar, “Banyak Anak Kecil” di kawasan rumah-rumah mereka sendiri. Tapi ketika sedang menyetir melewati rumah orang lain, semuanya itu sekan kurang penting. Terobos aturan sederhana terkait mobil yang tak boleh lewat. “Menakjubkan betapa terburu-burunya kita.” Sampai orang-orang masa kini yang awam mesin dan bangunan yang menurut generasi old adalah sesuatu yang basic tapi bagi kita seakan rumit!

Mengingatkanku pada bapak, bahwa isi token listrik saja beliau tak bisa, sementara saya disuruh benerin kipas saja gagal, bahkan kipas yang masih putar yang sejatinya cuma rusak gara-gara ada bunyi ‘krik krik krik’ kini setelah saya otak-atik malah rusak total. Mantab! Maafkan aku. “Seluruh jalan berubah menjadi rumah sakit jiwa. Kekacauan total. Sekarang ini, kau bahkan harus keluar dan memundurkan caravan mereka. Dan bahkan kau tidak bisa memasang pengait dengan benar.” Hiks. Gap generation.

Saya mulai baca di Minggu pagi saat mengantar istri ambil raport Play Group Hermione di ruang tunggu sampai akhir pekan lalu. Pas seminggu, ketawa ngakak ga jelas bagian awal kisah sungguh lucu. Orang tua yang mengeluhkan segalanya. Mengeluh adalah sesuatu hal yang sangat dikuasainya. Hemat (atau bisa juga dibilang pelit), mobil menggunakan lebih sedikit bahan bakar jika terus bergerak, dibandingkan yang berhenti sepanjang waktu. ‘Setidaknya dia menghemat bensin.’ Bukannya Ove bermaksud membeli ham dalam tawaran khusus itu. Namun mengamati harga-harga selalu patut dilakukan. Jika ada salah satu yang tidak disukai Ove di dunia ini, adalah saat seseorang berupaya menipunya. Istriku juga ga terlalu peduli harga di Indomart atau Alfamart, sayalah yang memperhatikan kenaikan harga, sayalah yang memilah beli, saya juga yang menetapkan barang, ‘sedang ada diskon’ atau normal. Duh, sepintas lalu, Ove banget ternyata saya ini. Juga orang tua yang tak banyak bicara, lebih suka di belakang layar. Inilah yang dipelajari Ove, jika seseorang tidak punya sesuatu untuk dikatakan, dia harus mencari sesuatu untuk ditanyakan. Ove sangat meyakini beberapa hal: keadilan, kesetaraan, kerja keras dan dunia yang menganggap kebenaran adalah kebenaran. Bukan karena ingin medali, diploma atau tepukan tangan di panggung, tapi hanya karena memang begitulah seharusnya. Pengenalan karakter yang nyeleneh, beli ipad atau komputer yang bukan komputer, nantinya jadi adegan penting di akhir. Kau adalah sebagaimana adanya dirimu. Kau melakukan apa yang kau lakukan, dan itu sudah cukup bagi Ove. Yah, kita dibenturkan keadaan pria tua kesepian apa adanya. Sampai akhirnya kita tahu sebuah kabar duka. Kematian istrinya, Sonja yang bikin nangis pembaca, membuatku menangis. Nasib memang tak ada yang bisa tebak. Prinsip yang diemban sama dengan ayahnya. “Aku punya istri. Saat ini, hanya saja sedang tidak ada di rumah.” Secara naluriah Ove meragukan semua orang yang tingginya melebihi seratus delapan puluh sentimeter; darah pasti tidak bisa mengalir sejauh itu hingga otak. Mengirim bunga, dua ikat setiap hari (cara belinya, hahahaha). Curhat di depan nisan, sunyi menghadapi kehidupan yang ditikam sendiri.

Besok sama baiknya dengan hari ini untuk bunuh diri. Lalu kita sampai pada titik nol, niatan Ove untuk mengakhir hidupnya. Ketika percobaan pertama gagal, jelas saya bisa menebak ke arah mana kisah ini. Dengan tali gantung, dengan asap mengepul, dengan menghadapi laju kereta api, dan seterusnya. Dengan tenang, ia dicipta gagal. Selalu, ya selalu, ada yang menggagalkan. Salah satu yang sering dikirim malaikat untuk mencegahnya adalah tetangga baru yang memiliki kombinasi anggota keluarga aneh. Sang kepala keluarga, Patrik adalah konsultan IT yang awam pekerjaan tangan, menyetir mobil dengan gegara,parkir saja miring dan suatu saat jatuh dari tangga. Seberapa sulit menetapkan kanan dan kiri lalu melakukan sebaliknya? Bagaimana orang seperti itu bisa bertahan hidup. Bagaimana mungkin seseorang bisa menghabiskan hidupnya merindukan hari ketika dia menjadi tak berguna? Lalu istrinya dengan nama aneh, keturunan Iran seorang imigran Parvaneh yang kini sedang hamil tua. Saya jatuh hati sama karakter ini, nama Parvaneh rasanya ok juga buat anak ketigaku. Ntar, coba diskusi sama istri ah. Lalu ada dua anaknya yang lucu, berusia tujuh tahun dan tiga tahun. Yang selalu mengingatkan Ove untuk tidak berkata kasar. “Tidak! Sialan! Tidak ada yang oke di sekitar sini.” Keluarga Patrik menghiasai mayoritas kisah karena akan bersinggungan terus.

Lalu perseteruan dengan si tua Rune yang akan dikirim ke panti jompo setelah perjuangan berlarut dua tahun yang gagal, oleh istrinya Anita menyerah? Sulit bagi seseorang untuk mengakui kesalahannya sendiri. Terutama ketika orang itu telah keliru selama waktu yang sangat lama. Masa lalu terkuak, ada dendam, ada hawa panas menguar yang membuat Ove dan Rune, sahabat lama yang kini bermusuhan. Seperti orang waras manapun, Ove berpendapat hanya orang sok pamer yang mengenakan setelan terbaik pada hari kerja.

Ada pemuda yang mencintai gadis tetangga, dengan meminta Ove membetulkan sepeda. Murid masa lalu Sonja, pecinta William Shakepeare. Yang uniknya malah jadi penggerak segala kelucuan di kafe. Ove bukan jenis orang yang suka basa-basi, dia menyadari setidaknya belakangan ini, bahwa itu cacat karakter serius. Langsung to the point. Kau merindukan hal-hal aneh ketika kehilangan seseorang. Hal-hal sepele. Senyuman. Cara perempuan berbalik ketika tidur. Kau bahkan rindu mengecat ulang ruangan untuknya.

Kisah menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga kita merasa dekat dengan sang protagonist. Dengan alur satu bab maju, satu bab mundur lalu dipertemukan jelang akhir, kita menemui banyak sekali drama dan keterkaitan orang sekeliling Ove. Bagaimana ia piatu, dan akhirnya menjadi yatim piatu karena sang ayah meninggal tertabrak kereta. Ove melanjutkan pekerjaan ayahnya, drop out sekolah dengan kerja keras menghidupi kebutuhan. “Itu pekerjaan jujur dan layak dilakukan.” Dia bukan lelaki yang merenungkan hal-hal semacam itu. Akan tiba saatnya dalam kehidupan semua laki-laki, ketika mereka harus memutuskan akan menjadi jenis lelaki macam apa. Apakah menjadi jenis lelaki yang membiarkan orang lain menguasai mereka atau tidak. Dia cukup puas dengan mengingat, pada hari itu dia memutuskan untuk menjadi semirip mungkin dengan ayahnya. Ya, panutannya adalah orang tuanya sendiri. Salah satu yang bagus sekali terkait penemuan tas di kereta. “Saya bukan jenis orang yang mengadukan perbuatan orang lain.” Ia tahu siapa yang mengambil, tapi ga banyak omong hanya mengembalikan dompet yang berhasil direbut. “Ketika seseorang tidak bicara terlalu banyak, mereka tidak bicara omong kosong juga.”

Kekuatan utama kisah ini adalah cinta sejati. Cinta Ove kepada Sonja yang tak bertepi. Masa kematian ayahnya hingga ketemu Sonja menjadi masa hampa. Dia tidak pernah bisa menjelaskan dengan baik hal yang terjadi kepadanya hari itu. Namun dia berhasil berhenti menjadi bahagia. Dia tak bahagia selama beberapa tahun setelah itu. “Kau hanya perlu seberkas cahaya untuk mengusir semua bayang-bayang.” Dia membuat lemari buku untuk istrinya dan istrinya mengisi lemari dengan buku-buku karya orang yang menuliskan perasaan mereka hingga berlembar-lembar. Orang mengatakan Ove melihat dunia dalam warna hitam putih. Namun perempuan itu berwarna-warni. Seluruh warna yang dimiliki Ove. Cinta melimpah ruah yang diberikan kepada seorang special, benar-benar suami ideal. Awal perkenalan mereka juga sangat unik, Ove jatuh hati pada pandangan pertama. Hari-hari yang kelabu tiba-tiba tampak berkilau. Bayangkan, Ove rela mengikuti naik kereta api saat Sonja pulang padahal lawan arah, demi duduk bersama, yah walaupun ia lebih banyak diam dan Sonjalah yang ngoceh. Beberapa bulan kemudian, Ove akan berjalan menyusuri peron itu bersama perempuan yang ditakdirkan untuk dinikahinya. Namun tentu saja pada saat itu dia tidak sama sekali mengetahui. Sungguh kisah yang romantis tanpa bumbu pemanis berlebih. Sonja tertawa dan tertawa dan tertawa hingga huruf vokal menggelinding melintasi dinding dan lantai seakan tidak mau menghiraukan hukum waktu dan ruang. Bagian saat Ove menyatakan kasih sayangnya sungguh indah, mendeklamasikan bahwa lelaki hanya memerlukan beberapa hal sederhana dalam kehidupan: atap di atas kepala, jalanan lengang, merek mobil yang tepat dan perempuan untuk dianugerahi kesetiaannya.

Setiap orang harus tahu apa yang diperjuangkan. Aku akan belajar sambil membaca.” Pasangan ini tampak cocok, seorang guru yang ceria dengan banyak buku dan pria pekerja keras yang pendiam yang memiliki cinta membuncah. Saling mengisi, saling mencinta. Istrinya memang tidak pintar memahami masalah prinsip. Namun kisah keluarga kecil ini tak lama cerianya, kita dibenturkan kenyataan pahit saat mereka berlibur ke Spanyol dengan naik bus. Istrinya sering berkata, “Semua jalanan menuju pada sesuatu yang sudah ditakdirkan untukmu.” Bagian paling menyedihkan, saya nangis. Serius. Ga tega, ga rela. “Aku merasakan kehilangan yang begitu besar Ove, begitu kehilangan seakan jantungku berdetak di luar tubuh.” Tuhan berencana, manusia yang menentukan. “Semua orang bilang begitu. Namun mayoritas tidak selalu benar.”

Ada bagian yang mengusik kita, interaksi Ove dengan mobil Saab-nya. Ya Saab-nya adalah cinta kedua Ove setelah Sonja ketiganya rumah, mungkin. Ada yang orang yang begitu obsesif dengan kendaraan. Salah satunya rutinitas pagi. Dia duduk di kursi pengemudi dan memutar tombol pencari stasiun radio setengah putaran ke depan lalu setengah putaran ke belakang, sebelum membetulkan semua kaca spion. Seperti yang dilakukannya setiap kali memasuki mobil Saab-nya. Seakan seseorang telah secara rutin memasuki Saab itu dan iseng mengubah semua kaca spion dan stasiun radio Ove. Wkwkwkqq… aneh. Bahkan nantinya si Saab ini jadi trivia menyenangkan di eksekusi ending. Ove mencintai Saab, jelas tapi ada orang yang setia dan benar-benar ga mau ganti merek lain, ga mau berpaling dengan yang lebih modern sekalipun kendaraan baru itu baru luar biasa. Hebat. Salut. Keren. Totalitas tanpa batas, #ForzaLazio. Mobilku Toyota, dan ga menutup kemungkinan suatu hari pindah ke Honda atau Daihatsu bahkan ke Mercedes (hehe ngimpi), sah-sah saja. “Mengapa pula aku mengucapkan sesuatu. Kau ingin membeli mobil Prancis. Jangan terlalu mengkhawatirkan orang lain, kau sendiri sudah cukup banyak masalah.”

Ove walaupun freak tapi tetap mencoba menjadi bagian dari masyarakat, bahkan menjadi ketua asosiasi warga. Salah satu aktivitasnya adalah inspeksi warga pagi hari, memastikan segalanya aman. Bangun pagi cek sampah, cek kendaraan warga, cek jalanan, cek remeh temeh kala subuh, gilax. Dia tak pernah mencoba narkoba dan nyaris tak pernah berada di bawah pengaruh alkohol. Hanya orang tolol yang menganggap kehilangan kendali adalah keadaan yang patut diburu. Ada plang di area pemukiman, kendaraan dilarang melintas. Bikin rusuh. Prinsip anehnya, dia mencoba memberitahu Sonja agar tidak memberi uang pada pengemis di jalanan karena mereka hanya akan membeli minuman keras dengan uang itu. Namun sedikit banyak ada benarnya. Mungkin terdengar pelit, yah wanti-wanti wajar sih. Dan Sonja bilang, “ketika seseorang memberi sesuatu pada orang lain, bukan hanya si pengemis yang diberkati tapi juag si pemberi.

Kedukaan adalah hal ganjil. Cinta adalah sesuatu yang ganjil. Kehidupan adalah sesuatu yang ganjil. Endingnya sudah sangat pas, mungkin ketebak karena tiap mau bunuh diri gagal, Ove jelas mendapat pencerahan. Tetangganya yang unik Parvaneh (sekali lagi, catet yes!) jelas menjadi kunci utama, belajar menyetir, minta tolong memperbaiki rumah, sampai kedua anaknya kini dekat, “Badot!”. Waktu, kedukaan, dan kemarahan mengalir serempak dalam kegelapan pekat berkepanjangan, dan keluarga Patrik memberi warna baru pasca kematian Sonja. Kita merasa gentar terhadap kematian, tapi sebagian besar dari kita merasa paling takut jika kematian itu membawa pergi orang lain. Tul banget!

Swedia Berjaya. Setelah terpesona dengan Johas Jonasson dalam The 100-Years-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared, kini saya juga tertakjub sama –lagi-lagi- seorang kekek bernama Ove. Sungguh hebat, karakter utama orang tua extraordinary, novel-novel Swedia jelas wajib antisipasi berikutnya. Mungkin target berikutnya novel tetralogy Gadis Bertato Naga, rasanya hanya tinggal tunggu waktu tepat untuk dinikmati. See

Jadi Ove melawan seluruh dunia, kamu tak sendirian. Ove and me againt the world! Dan saya sepakat. “Semua orang ingin menjalani kehidupan yang bermartabat, tapi arti bermatabat berbeda bagi orang yang berbeda.”

A Man Called Ove | By Fredrik Backman | Terbitan Sceptre, imprint of Hodder & Stroughton – an Hachette UK Company | Ditrtjemahkan dari En man som heter Ove | copyright 2014, Published by arrangement with Partners in Stories Stockholm AB, Sweden | Penerjemah Ingrid Nimpoeno | Penyunting Jia Effendi | Penata letak CDDC | Perancang sampul Muhammad Usman | Cetakn I, Januari 2016 | ISBN 978-602-385-023-5 | Penerbit Noura Books| Skor: 4/5

Karawang, 23-241218 – Tasya – Ketupat Lebaran
#PrayForBanten

Bartleby si Juru Tulis – Herman Melville

Selamat tinggal Bartleby, aku pergi dari sini. Selamat tinggal, dan semoga Tuhan memberkatimu, entah bagaimana caranya. Ini untukmu…”

Bartleby si Juru Tulis (1-78). Sekarang aku harus berjuang untuk berhenti peduli dan tak akan lagi ikut campur, dan hati nuraniku setuju denganku, meskipun tentu saja aku tak kan seberhasil yang aku mau.

Waktu di mana manusia paling tenang dan bijak adalah tepat sesaat ia bangun dari tidurnya. Kisahnya sederhana, setting tempat minimalis dalam bilik kerja dengan tulisan embel-embel: kisah-kisah Wall Street, maka jelas mereka adalah orang kantoran di bursa saham. Dengan sudut pandang orang pertama, di mana sang pencerita adalah AKU maka kita diajak menelusur kehidupan tempat kerja era abad 19. Sebagai bos, awalnya aku mempekerjakan dua juru tulis dan satu pesuruh kantor. Ada si Catut, Kalkun dan Biskuit Jahe. Bukanlah nama yang lazim ditemukan di buku alamat, hanya panggilan akrab.

Kalkun tua orang Inggris berbadan pendek dan gemuk, usianya seumuran denganku sekitar enam puluh tahun. Di pagi ia sangat cerah dengan semangat pagi menggebu, setelah istirahat siang cahayanya redup, kehilangan gairah, kehabisan tenaga. Mengingat jelang sore yang loyo, kadang membuatku jengkel, tapi yah memang sudah uzur. Aku tetap menghargai tenaganya di pagi hari. “Saya anggap saya ini tangan kanan Tuan.”

Catut berumur dua puluh lima tahun, berjanggut, pucat dengan wajah mirip bajak laut. Kupikir ia adalah korban ambisi dan gangguan pencernakan. Ambisinya mencerminkan ketidaksabaran, usia muda menggebu, sejatinya sebagai penyalin itu harus sabar. Gangguan pencernakan itu menggangu sehingga ia mudah marah dan gugup. Tapi konsistensi energinya sangat diperlukan.”Hanya Tuan yang berhak memutuskan perihal ini.”

Perpaduan mereka cukup unik, Kalkun semangat pagi Catut paginya emosian. Kalkun loyo setelah istirahat, Catut menemukan ketenangan selepas makan siang. Kombinasi sempurna. Pekerja ketiga, Biskuit Jahe berusia dua belas tahun, ayahnya adalah pekerja penarik kereta yang bermimpi suatu saat anaknya bisa bekerja di balik meja, bukan di belakang kuda. Jadi ia menitipkan si Biskuit ke kantorku sebagai pesuruh untuk belajar tentang apa saja yang bisa disarikan, tentang hukum, keuletan, tukang antar surat, dan segala hal termasuk jadi cleaning service, gajinya satu dollar seminggu. Mengejar sebanyak mungkin pengalaman adalah hal paling berharga untuk remaja. “Dengan hormat Tuan, saya senang hati membelikan kertas surat untuk Tuan.”

Pekerjaanku sebagai penengah dan pemburu surat, penyusun segala macam dokumen, jadi ketika membutuhkan satu lagi juru tulis aku pasang iklan lowongan. Dan muncullah Bartleby, rapi tapi pucat, pantas tapi mengundang iba, sedih tiada terobati. Orangnya tenang dan kalem, sehingga kurasa cocok untuk mengimbangi gejolak jiwa Kalkun dan emosian si Catut. Orang lain punya takdir yang lebih megah, tapi tujuan hidupku di dunia ini Bartleby, adalah memberimu bilik kerja untuk kau tinggali selama kau mau.

Awalnya sungguh memuaskan, Bartleby mampu menyalin banyak sekali dokumen seolah lapar, dan ia melakukannya dengan sangat baik karena terlihat menikmati pekerjaan ini. Sekali lagi, awalnya. Ia sama sekali tak mau istirahat menulis, ia menulis siang malam, kala ada matahari dan sinar lilin di kala butuh pelita. Bahkan jatah liburnya pun dihabiskan di kantor. Ada sesuatu dalam diri Bartleby yang membuatku berpikir bahwa ia tak mungkin menggunakan hari Minggu untuk berkarya atau melakukan hal sekuler. Waktu menempanya menjadi pendiam, sangat pendiam malah. Anti-sosial. Bekerja saking rajinnya bak mesin, jelas segala hal yang berlebihan juga ga bagus. Memang kesopanannyalah yang selain melunakan amarahku, menggerus kejantananku.

Masalah timbul kala salinan dokumen membutuhkan cek dan ricek. Sudah lazim satu juru tulis dengan yang lain saling silang untuk saling cek, aneh sekali Bartleby ga mau mengecek tulisan rekan kerja. Dengan simpel berujar, “Saya tidak mau.” Seakan itu adalah prinsip, sehingga didesak dan dipaksa bagaimanapun ia konsisten ga mau. Lebih parah lagi, salinannya sendiri akhirnya juga ga mau dicek lagi olehnya sendiri! Wuih weleh weleh weleh… ono opo rek. Permintaan bos yang lazim dan masuk akal terkait pekerjaan, lho. Biskuit Jahe sampai berkomentar, “Saya pikir ia agak gila.” Kemudian terpikir olehku bahwa kemalangan, kesendirian, kesepian yang ia alami pastilah sangat menyengsarakan.

Keteguhannya, kegigihannya, kengganannya untuk tak melakukan hal-hal tak penting, kerja kerasnya yang tanpa henti (kecuali ketika ia memilih untuk melamun di bilik kerjanya), ketenangannya, ketetapan perilakunya dalam keadaan bagaimanapun juga, menjadikannya berharga dari kantorku. Namun seberapa lama? Masalah gawat akhirnya muncul, karena bukan hanya tak mau mengecek salinan dokumen, bahkan Bartleby menolak instruksi lainnya, segala instruksi bos! Ga mau kirim naskah, ga mau merapikan dokumen, ga mau dipanggil ke ruangan, ga mau segala perintah. Emoh! Emboh! Ogah! Dan kemudian muncullah segala hal aneh, agak mistis, dan segala kelangkaan sifat manusia. Bartleby freak, ada apa gerangan? Surat surat pembawa pesan kehidupan itu melaju menuju ajal.

Sayang sekali pengalaman pertama saya dengan Penulis besar Herman Melville ternyata seperti ini, biasa saja. Padahal kemahsyuran Moby Dick begitu tinggi. Banyak hal tentang Melville dibicarakan dalam dunia literasi. Menanti-nanti dialihbahasakan dengan sabar dan diwujudkan OAK dengan memilih cerita pendek. Padahal ini hanya satu cerita pendek, kenapa berani berdiri sendiri? Harusnya bisalah ditambah dua tiga cerita lagi, why? Jelas saya tak puas menuntaskan hanya satu cerita pendek satu buku, harga jadi pertimbangan utama, kepuasan petualangan nanggung. Dan walaupun kisahnya lumayan keren, secara overall jadinya ga plong. Ada yang mengganjal, ada sesuatu yang menahan, ada yang kurang. OAK menyebutnya fiksi/novel pendek, saya menyebutnya buku satu cerpen.

Kubaca cepat, kala dalam angkot perjalanan ke IIBF September lalu, dan kutuntaskan sekali duduk. Bayangkan, satu cerpen dalam satu buku! Kurang worth it dibeli, tapi yah karena buku-buku Herman sulit dicari di Indonesia kurasa sepuluh tahun ini harganya bisa tiga kali lipat. Masak sih, Penulis sebesar beliau penerbit major ga ada yang mau ambil?

OAK sendiri menerbitkan exclusive karena cetakan ini dinomori! Ini pertama kalinya saya punya buku dengan nomor seri. Sudah jelas mereka melihat masa depan, buku ini masuk kolektor edition, cult novel dan layak dipajang dalam rak perpustakaan. Saya mendapatkan edisi nomor 226. Akan abadi, tak seperti Penerbitnya sendiri yang mengejutkan tahun ini tutup.
Herman Melville adalah seorang guru dan awak kapal, anak ketiga dari delapan bersaudara. Kedua kakeknya adalah pahlawan perang kemerdekaan, kedua orang tuanya adalah orang berada. Lahir pada tanggal 1 Agustus 1819 di New York, nama aslinya tak memakai huruf ‘e’ di akhir, yaitu Melvill. Debut bukunya tahun 1846, Typee yang terinspirasi kala petualangan ke pulau Polinesia sukses, dilanjutkan Omoo setahun berselang, lalu Mardi (1849), Redburn (1849) dan White Jacket (1850). Setahun berselang barulah novel fenomenalnya terbit, Moby Dick. Novel inilah yang mengangkat namanya, menjadikannya penulis terkenal yang mengangkat secara finalsial. Sayangnya buku-buku berikutnya kembali meredup sehingga beliau kembali mengalami masalah keuangan, Pierre (1852), Israel Potter (1855) dan Confidence Man (1857). Bartleby, Si Juru Tulis ada dalam kumpulan cerita pendek Piazza Tales yang terbit tahun 1856. Jadi wahai para penerbit indie kesayangan kita semua, kapan maha karya Moby Dick dialih bahasakan?

Apakah kau tahu kau menyengsarakanku karena kau tak mau beranjak dari pintu kantor lamaku meski sudah lama diusir?”

Bartleby, Si Juru Tulis | Herman Melville | Oak, 2017 | Diterjemahkan dari Bartleby, the Scrivener: A Story of Wall-Street | Pertama terbit oleh Dix, Edward and Co. Tahun 1856, New York | Penerjemah Widya Mahardika Putra | Penyunting Widya Mahardika Putra | Penggambar sampul Ika Novita | Penata letak Hengki Eko Putra | Pemeriksa aksara Solihin | Penerbit Oak | Cetakan pertama, Maret 2017 | ix + 78 hlm.; 12 x 18 cm | ISBN 978-602-60924-1-0 | Skor: 3/5

Karawang, 181218 – Ari Laso – Mengejar Matahari
Atlanta 1-1 Lazio, seharusnya.

The Dinner #3

The Dinner #3

“… Hidangan utamanya baru saja datang…”

Buku pertama yang kubaca pasca menyusun Best 100 Novels. Mereview-nya ketunda mulu, sampai tiga kali kesempatan duduk depan laptop guna menuntaskannya. Memang butuh perjuangan lebih keras untuk melakukan sesuatu sekalipun kita mencintainya. Semakin ke sini, dunia digital makin rumit dan menggeser segala yang manual. Saya merasakan semakin canggih HP yang kupunya malah makin menjauhi intelektual waktu berharga. Aneh sekali. Nah The Dinner ini jua absurd, bagaimana teknologi menjadi pengungkap semua kasus pembunuhan yang tak terencana yang meneror banyak aspek. Bagaimana kehidupan orang terkasih justru bisa menjadi mata pisau tajam yang mengancam. Novel psokologis yang sejatinya bagus sekali sedari awal sampai pertengahan. Sayangnya tensinya tak terjaga aman, setelah makan malam usai kisah malah menuai anti-klimak. Dengan label lingkaran merah ‘SEGERA Difilmkan’ saya yakin sekali ini bakal jadi film indi ataulah masuk film-film festival yang gaungnya hanya terdengar antar movie freak nan snob, tak akan sampai blockbuster. Hanya kejutan besar yang akan menjadikannya jadi perbincangan banyak khalayak.

Buku ini saya baca tahun lalu saat santai, awalnya mau kejar kandidat untuk 100 novel terbaik tapi ga sampai, dan memang pada akhirnya tak masuk. Kisahnya tentang keluarga calon Perdana Menteri Belanda yang makan malam keluarga. Awalnya memang tenang, makan bersama antar kakak adik terpandang bersama para istri. Berempat, menikmati restoran mahal. Aku ingin melakukan ini semua sebagai keluarga. Jika aku harus memberikan definisi kebahagiaan, akan kukatakan, kebahagiaan tidak membutuhkan apa pun kecuali kebahagiaan itu sendiri, kebahagiaan tidak membutuhkan pembenaran. Saat akhirnya sebuah kasus dibuka, kasus pembunuhan yang melibat anak mereka, segalanya bak angin ribut yang menodongkan belati tajam ke arah mereka.
Aku akan mengendalikan diriku seperti dirimu menahan nafas di dalam air, dan aku akan bersikap seolah-olah tidak ada yang aneh sama sekali dengan tangan orang asing yang melambai ke makanan di atas piringku. Tentu aku menyadari, di restoran yang lebih mahal, kualitas dianggap lebih penting ketimbang kuantitas, tetapi akan ada ruang kosong dan kehampaan. Pilihan makin sulit, saat fakta demi fakta dibuka. Melalui rekaman cctv mesin ATM bagaimana suatu malam seorang gelandangan terbunuh tak sengaja oleh dua anak remaja.

Seperti sepucuk pistol di atas panggung pementasan, ketika seseorang mengacung-acungkan pistol selama babak pertama, kau bisa memastikan bahwa akan ada yang ditembak dengan pistol itu sebelum tirai diturunkan. Itu adalah aturan drama pertunjukkan. Aturannya menyebutkan bahwa pistol tidak akan muncul di panggung bila tidak ada yang menembaknya. Sang calon perdana menteri makin kalut, bagaiman jika terus maju dan menang karena elektabilitas memang tinggi, dan mengetahu anak mereka adalah pembunuh. Apakah berani menjatuhi hukuman berat itu?
Itulah sebabnya ia memilih berlari.

Katanya kau dapat melakukannya sendiri di tengah udara segar dan dia bertingkah seolah gagasan itu datang dari dirinya sendiri. Dia sudah lupa bahwa aku sudha mulai berlari beberapa tahu lalu dan tak sekalipun melewatkan kesempatan melayangkan komentar sinis tentang ‘adiknya yang berlari-lari kecil.’ Karena di Belanda yang maju, masyarakatnya yang modern di mana setiap orang dewasa katanya jaminan makmur secara ekonomi maka kasus ini tergolong riskan.

Seperti ketika kau tidak membuang buku buruk ketika sudah membacanya setengah bagia, kau akan tetap menyelesaikannya dnegan enggan, begitulah ia bertahan hidup bersama Serge – mungkin bagian akhirnya akan memperbaiki sebagian hubungannya. Daddy dan mommy ingin berbicara denganku. Daddy dan mommy mencintaiku lebih dari apa pun di dunia. Ya, keluarga menjadi tumpuan. Keluarga adalah segalanya. Sepakat. Jabatan bisa jadi sebuah jaminan karir, tapi keluarga adalah kata istimewa yang tak boleh goyah oleh apapun.

Ya, bersikap polos adalah cara terbaik melakukannya, pasti tak terlalu sulit bagiku memainkan ayah polos. Lagi pula, seperti itulah diriku, naif. Kau tidak berbuat salah, kau hanya menendang bola ke jendela. Itu hanya sebuah kecelakaan. Kecelakaan bisa terjadi kapan saja, tetapi itu tidka bisa menjadi alasan untuk mengataimu seperti itu. menenangkan sang anak, termasuk anak angkat yang mulai terkuak menyimpang? Sungguh mulia. Bila kau merusak sesuatu meskipun tak disengaja, kau harus membayar kerusakannya.

Memperbaiki segalanya harus dengan konsekuen bersama. Pengorbanan demi orang terkasih, lebih mulia ketimbang takhta yang menjanji.

Di Belanda kau memiliki jaringan keselamatan sosial. Seharusnya tidak ada yang terpaksa menggelandang dan tidur di bilik ATM. “Kau tahu apa yang sebaiknya dalam hal ini? Lupakan sejenak, selama tidak ada yang terjadi maka tidak akan ada yang terjadi.” Satu sepatu tenis dapat merujuk pada puluhan ribu pemakai sepatu tenis, tetapi sebaliknya puluhan ribu sepatu tenis sulit untuk ditelusuri ke astu pemilik yang spesifik.

Perang sebaiknya meletus di luar sana, atau serangan teroris akan lebih baik dengan banyak korban jiwa warga sipil yang akan membuat orang-orang menggeleng-geleng khawatir. Ambulan datang dan pergi, kereta api atau kereta bawah tanah yang terguling, bagian depan gedung berlantai sepuluh yang terbakar – hanya itu cara agar wanita tunawisma di bilik ATM dapat menghilang di belakang layar, menjadi peristiwa kecil di antara peristiwa-peristiwa besar. Benar luka itu akan tetap ada, tetapi sebuah luka tidka harus menghalangi kebahagiaan. Selama waktu berjalan, aku akan bersikap senormal mungkin.

Ini bukan sekadar tentang pesta, ini tentang masa depanmu…” Salah satu istilah abstrak, masa depan. Masa depan anak tercinta, setiap pengorbanannya sangat pantas. Abad pertengahan, kalau kau renungkan lagi, adalah zaman yang membosankan, kecuali beberapa pemberontakan keji, sangat sedikit yang terjadi pada saat itu.

Aku juga akan menangis jika sebodoh itu.”

Kau mengatakan sesuatu yang setajam pisau kepada seseorang agar dia terus mengingatnya seumur hidup. Terkadang pembicaraan menemui jalan buntu. Demi Michel. Demi Michel. Aku akan menahan diriku bertindak. Tentu saja itu mengerikan, kita semua telah diajarkan untuk mengatakan bahwa itu mengerikan, tetapi dunia tanpa bencana dan kekerasan – bencana alam maupun kekerasan otot dan darah – akan sangat membosankan.

Aku memikirkan tentang waktu, waktu yang berlalu tepatnya, betapa satu jam dapat terasa sangat lama, tiada akhir juga terasa gelap, panjang, dan kosong. Siapapun akan berfikir seperti itu, tidak perlu memikirkan tentang ruang dan waktu yang btidka terbatas.

Bila itu yang terjadi maka situasiku menjadi lebih menyedihkan daripada yang kukira.

Tetapi kita harus tetap objektif, ini sebuah kecelakaan. Kecelakaan yang dapat memberikan dampak sangat besar pada kehidupan anak-anak kita, pada masa depan mereka. “Demi kepentingan terbaik anakku, dan juga demi negeri ini, aku akan menarik pencalonanku.

Masa depan itu akan hancur jika kau berhenti mengikuti keinginanmu untuk memerankan politisi mulia. Hanya karena kau tak sanggup menjalani hidup dengan menanggung sesuatu, kau menganggap bahwa hal ini juga berlaku pada anakku.

Apakah aku perlu mengetahui ini? Apakah aku ingin mengetahui soal ini? Apakah ini akan membuat kami lebih bahagia sebagai keluarga?

The Dinner | by Herman Koch | diterjemahkan dari The Dinner | terbitan Ambo | Anthos Uitgevers, Amsterdam, 2009 | original published Het Diner | copyright 2009 | Penerbit Bentang | penerjemah Yunita Chandra | penyunting Ade Kumalasari | perancang sampul Fahmi Ilmansyah | pemeriksa aksara Intan Puspa | penata aksara Martin Buczer | cetakan pertama, April 2017 | vi + 350 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-291-240-8 | Skor: 3,5/5

Nice Guy Eddie: Ayolah, beri saja satu dolar. | Mr Pink: hm-mh. Aku tidak memberi tip. | Nice Guy Eddie: Apa maksudmu, kau tidak memberi tip? | Mr Pink: Aku tidak setuju soal tip. – Quentin Tarantino, Reservoir Dogs

Karawang, 02-171217 030618 – Angela – Yesterday Once More # Sevendust – Forever Dead

#3 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Pulau Dokter Moreau #1

image

Dari orang yang memukau kita lewat Jurasic Park, H.G Wells kembali membuatku terpesona. Sesaat setelah selesai membaca Pulau, saya tertidur dan mimpi buruk. Manusia-Binatang tersebut mengacaukan pikiran teman-teman kerja. Di kantor rusuh, kelakuannya mirip yang digambarkan Wells. Meja dilempar, kursi dibanting, kertas berhamburan, saling pukul, saling hujat, seram. Semua terlihat di CCTV, saat diintrogasi sebuah nama disebut dan dirinya seakan linglung di hadapan petugas.  Seperti Manusia-Binatang yang malu-malu mengucapkan hukum, terdakwa terbata-bata mengakui tindakannya. Saat terbangun saya begidik ngeri, membayangkan pikiran Prendick yang diombang-ambing nasib sendiri di sebuah kapal di tengah samudra. Aneh bin ajaib, nama seseorang yang dipanggil di mimpi tersebut, hari itu dipanggil HRD lalu dikeluarkan dari Perusahaan karena sebuah kasus. Wells effect…
Cerita dibuka dengan sebuah pengantar yang menyebutkan pengakuan Charles Edward Prendick melalui surat. Sang keponakan membeberkan narasi panjang tentang pamannya yang hilang selama 11 bulan di laut. Menumpang kapal Lady Vine yang hancur berkeping karena bertabrakan dengan kapal tak berawak. Setelah terombang-ambing di laut lepas tanpa harapan, Predick diselamatkan kapal Ipecacuanha yang membawa dua dokter ahli bedah anatomi dan manusia-manusia aneh mengerikan. Lalu kapal tersebut menurunkannya di sebuah pulau tak bernama, di sanalah kisah ini bermula. Dua dokter gila ekperimen mencipta monster-monster untuk dididik.
Prendick bersama dokter Moreau dan dokter Montgomery hidup bersama Manusia-Binatang. Mahkluk yang dicipta melalui penggabungan berbagai jenis binatang. Mereka dilatih dan diajarkan layaknya manusia. Moreau sendiri adalah ‘Tuhan’ bagi Manusia-Binatang. Mereka harus berjalan dengan dua kaki. Dilarang makan daging mentah, dilarang minum langsung ke sumber air, dan dididik ritus-ritus agama. Membayangkannya saja sudah mengerikan. Namun seperti yang kuduga, bencana terjadi. Insting buas kebinatangan itu kembali. Pemberontakan muncul sampai ada yang meninggal. Lalu mereka kembali mempertanyakan hukum kebenaran manusia. Predick terjepit di dua pilihan sulit. Bertahan di pulau itu dengan konsekuensi gila dan terbunuh atau nekat kembali ke lautan lepas dengan bekal sekedarnya?
Pulau Dokter Moreau | by H.G Wells | Penerjemah Aryo Swastika | Penerbit Quills Book Publisher Indonesia | cetakan 1, Agustus 2005 | ISBN 979-999-850-6 | 264; 120 x 180 mm | Skor: 5/5
Karawang, 010915 – Cuci baju yang banyak
#30HariMenulis #ReviewBuku #September2015