Cerita Mini dari Kota Sejuta Rawa

Anak Asli Asal Mappi oleh Casper Aliandu

“Terlalu asyik, Teman. Alamnya terlalu indah.”

Cerita mini, mirip fiksi mini. Dan karena ini berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar di Mappi, Papua maka bisa disebut fakta mini sahaja. Ceritanya terlampau biasa, terlampau sederhana, pengalaman sehari-har. Dan selain cerita mini, bukunya juga, hanya seratusan halaman. Namun harganya tak mini. Contoh buku mini harga mini yang kubeli tahun ini, Sumur-nya Eka Kurniawan. Satu cerpen dicetak, dijual dengan harga masih sungguh wajar 50 ribu. Anak Asli lebih dari itu. Sumur kubaca tak sampai setengah jam, Anak Asli hanya sejam pada Rabu, 13 Oktober 2021 selepas Subuh, ditemani kopi dan serentet lagu Sherina Munaf dalam album My Life. Serba mni, skor juga? Mari kita lihat.

Tak ada inti atau benang merah yang patut dikhawatirkan laiknya novel, tak ada alur yang patut diikuti dengan teliti, tak ada emosi di dalamnya, ngalir saja, tanpa riak sama sekali. Ini fakta mini, bertutur bagaimana keseharian Casper Aliandu mendidik, menjadi guru di pedalaman Mappi yang mendapat julukan kota sejuta rawa. Sah-sah saja, pernah baca beberapa kisah sejenis ini, tapi rerata memang biasa kalau tak mau dibilang jeleq. Termasuk ini. ditulis dengan sederhana, tanpa jiwa meletup, tanpa tautan penting ke jiwa pelahapnya. Cerita tak ada sinyal misalnya, yang mengharuskan ke kabupaten/kota hanya untuk terhubung internet, tak istimewa dan tak ada hal yang baru, wajar dong kan pedalaman. Kecuali saat cari sinyal bertemu singa dengan aumaaan terpekik, atau ketemu gadis jelita dan aku jatuh hati padanya, langit seakan runtuh. Atau cerita gaji yang terlambat, bukankah di sini di negeri ini hal ini sudah terbiasa sehingga apa yang harus dipetik hikmahnya? Korupsi atau alur yang panjang sehingga bocor bisa saja terjadi, dan memang sering terjadi; mau kritik sosial birokrasi juga tak mengarah dengan pas. Ngambang.

Atau cerita anak-anak dengan cita-citanya, dari pengen jadi perawat, dokter, guru, dst. Hal-hal yang juga bisa temui di sepanjang pulau di Indonesia. Kecuali bilang, pengen bercita menjadi bajak laut, atau penyihir wilayah Timur, atau penakluk naga, mungkin juga bilang ingin jadi pengusaha kayu gelondong, atau pengen jadi pendekar penjaga hutan, baru terdengar beda. Tidak, cerita-cerita di sini wajar dan apa adanya. Tanpa ledakan, tanpa letupan. Pemilihan diksi juga tak ada yang istimewa, tanpa kata-kata puitik, tanpa sentuhan bahasa sastrawi.

Tiap cerita dengan judul bahasa Inggris, nah ini. aku pernah komplain dulu penulis remaja bernarasi keseharian bersekolah dengan tiap bab dibuka dengan bahasa Inggris, hal ginian cuma buat gaya dengan esensi kedalaman rendah. Dengan dalil diambil dan terinspirasi dari pakaian yang dikenakan, judulnya malah terbaca ‘walaaah…’, kalau tak mau dibilang norak. Akan lebih eksotik bila judul-judulnya memakai bahasa asli Papua, atau yang biasa saja. Misal ‘Noken is Papua’, kenapa ga jadi ‘Noken adalah Papua’. Tak ada yang salah dengan bahasa Nasional. Namun ya itu tadi, gaya dikedepankan dengan cerita biasa. Coba aku ketik ulang lima judul pertama dalam daftar isi: Making magic happen, creating something from nothing, we started with trust, not just see but observe, life is nothing without love. Kalian bisa simpulkam, terdengar norak ‘kan? Seperti belajar bahasa Inggris level beginner. Ayolaaahh, ini KSK. Ini penghargaan sastra Nasional.

Sistem berceritanya juga dibuat beda, tiap karakter berbicara digambarkan dengan simbol; positif (+), negative (-), lingkaran (Ŏ), sampai sama dengan (=). Sah-sah saja, tapi tetap tak terlalu berpengaruh sama cerita. Tak ada tanda kutip untuk kalimat langsung juga sah-sah saja, mau dibuat aneh-aneh bentuk kodok, jerangkong, kuda nil juga monggo aja, sah-sah saja yang penting ada hal bagus yang didapat pembaca pasca-membaca. Ini negeri demokrasi, bebas berekspresi.

Ada dua cerita yang lumayan bagus. Tentang mencari ikan dan udang. Casper tidak bisa berenang, ia mengajak muridnya untuk berburu di tengah sungai. Takut riak dan khawatir perahu oleng. Hhhmmm… di kelas dialah gurunya, di alam, muridnyalah gurunya. Saling melengkapi. Begitu juga saat muridnya itu sudah lulus, dan ganti murid lainnya. Sama saja, keberanian naik perahu untuk seorang yang tak bisa renang saja sudah patut diapresiasi, tak semua orang berani di tengah air dalam dengan pengamanan minim, atau sekalipun dengan pelampung untuk lebih  tenang, tetap saja patut dikasih jempol. Pengabdian dan pengalaman serunya. Nah, cerita itu disampaikan ke sahabatnya. Bagaimana Casper apakah sudah move on dari pujaan hati yang terlepas, ataukah tetap tertambat. Hal-hal biasa, hal-hal yang wajar dan normal dialami semua pemuda. Pengabdiannya ke pedalaman untuk pendidikanlah yang luar biasa, tak semua orang mampu dan mau. Dan untuk itu, mungkin buku ini terjaring.

Buku ini terlampau tipis, mudah dicerna, mudah dipahami, cepat selesai, tak sebanding dengan harganya. Penutupnya mungkin akan membuat beberapa pembaca terharu, yah minimal tersentuh, perjuangan di pedalaman untuk menulis dan mengirimnya, tapi tetap bagiku biasa saja. Perjuangan yang lebih keras dan berpeluh keringat sangat banyak dilakukan pengarang lain. Haruki Murakami untuk menelurkan karya debut, begadang dari tengah malam sampai subuh lantas siangnya kerja keras sampai tengah malam lagi. penulis dari Timur Tengah dalam gejolak perang, menulis dengan suara dentuman bom sebagai teman. Maka, seperti kubilang, epilog itu juga biasa saja bagiku. Namun, keteguhannyalah yang tetap harus diapresiasi.

Prediksiku jelas, buku ini hanya sebagai pelengkap hingar bingar pesta KSK. Sudah masuk 10 besar saja sudah sungguh beruntung. Mungkin kedepannya harus lebih padat, tebal, dan dalam, yah setidaknya ada benang merah dari awal sampai akhir yang memancing rasa penasaran pembaca. cerita nyata pun harus tetap memesona.

Anak Asli Asal Mappi, Cerita-cerita Mini dari Papua | oleh Casper Aliandu | © 2020 | Penerbit IndonesiaTera | Cetakan pertama, Oktober 2020 | Penyunting Dorothea Rosa Herliany | Desain sampul Regina Redaning & Sabina Kencana Arimanintan | Lay out Irwan Supriyono | ISBN 978-9797-7531-46 | Skor: 3/5

Karawang, 141021 – Sherina Munaf – Sebuah Rahasia

Lima sudah, lima belum.

Thx to Stan Buku, Yogya. Thx to Titus, Karawang.

The Summons: Keserakahan adalah Binatang yang Sangat Aneh

“Berpikirlah seperti bajingan, Ray. Berpikirlah seperti penjahat.”

Hakim Atlee adalah orang besar di sebuah kota kecil. Buku ini ada tautan dengan The King of Torts, di mana seorang raja ganti rugi menjadi sisipan kisah. Sebuah panggilan dari orang tua, kedua anaknya diminta datang ke kampung halaman sebab sang ayah kini sudah tua dan sekarat. Panggilan yang dikira sederhana, untuk menjadikan pertemuan terakhir dan mungkin pembacaan warisan itu menjadi cerita liar dan panjang. Sebab saat sang sulung sudah sampai, ayahnya keburu meninggal. Terlambat, waktu tak bisa ditarik mundur. Lebih runyam lagi, ada berkantong-kantong uang di dalam lemari. Tiga juta dollar lebih, menarik sekali idenya. Sang hakim yang lurus dan penuh dedikasi, terkenal loyal dan baik hati, dambaan semua warga, tampak sederhana, ternyata memiliki kekayaan melimpah. Korupsi? Uang jatuh dari langit? Nah itulah inti kisah Panggilan, penyelidikan uang apa gerangan.

Kisahnya tentang Ray Atlee, mengambil sudut pandang orang pertama. Ayahnya Reuben V. Atlee adalah hakim terkenal di Clanton. Ray adalah dosen di Universitas Virginia, lulusan hukum yang awalnya menjadi tumpuan harap sang ayah, tapi ia malah merantau. Kehidupan mapan itu, retak sebab ia cerai dengan Vicki yang telah menikah lagi dengan konglomerat tua nan kaya. Ray menjalani hidup untuk dirinya sendiri, bukan untuk ayahnya atau kemegahan masa lalu keluarga. Ia hadir di Clanton hanya untuk menghadiri pemakaman. Adiknya, Forrest Atlee sangat kontras, pria bermasalah di banyak hal. Forrest adalah seperangkat persoalan dan masalah lain, jauh lebih rumit daripada ayah tua yang penyendiri.

Hakim Chanvellor Reuben V. Atlee tinggal di Mapple Run, rumah tua itu berdiri di sana tahun demi tahun, dekade demi dekade, menerima berbagai serangan tapi tak pernah roboh. Baginya jadi hakim adalah panggilan hidup. Impian Hakim Reuben Atlee dulu adalah anak-anaknya menyelesaikan sekolah hukum dan kembali ke Clanton. Ia pensiun dari jabatan hakim, dan bersama-sama mereka membuka kantor hukum di alun-alun. Di sana mereka akan mengikuti panggilan mulia dan ia akan mengajari mereka bagaimana menjadi ahli hukum – ahli hukum terhormat, pengacara daerah pedesaan.

Bandara itu terletak di utara kota, lima belas menit perjalanan dengan mobil dari kampus sekolah hukum. Meninggalkan Charlottesville menuju Clanton, Ray selama perjalanan mengenang masa lalu. Melihat banyak hal berubah di kampung halamannya. Mampir di kedai kopi, menyapa teman lama, di sana mereka meneguk bergalon-galon kopi sambil menuturkan kisah-kisah penerbangan serta bualan yang makin lama makin hebat.

Kota ini telah berubah, tetapi sebetulnya tidak juga. Seperti hampir semua hal, baik ataupun buruk, pornografi datang terlambat ke Missisippi. Kota kecil yang beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di sinilah snag hakim mengabdi. Preseden hukum harus diikuti, tak peduli apa pun pandangan atau pendapat pribadi, dan hakim yang baik tentu mengikuti hukum. Hakim yang lemah mengikuti kehendak khayalan, hakim lemah bermain untuk mengantongi suara dan kemudian ikut mencela saat putusan mereka yang pengecut diajukan ke pengadilan yang lebih tinggi. Hakim adalah orang besar dan sangat peduli dengan bagaimana ia harus dikenang. “Sebut saya apa saja sekehendak Anda sekalian, tapi saya bukan pengecut.”

Saat Ray sampai di sana, hari sudah sore dan cuaca cerah. Saat masuk rumah, tampak sepi seperti biasanya. Rumah tak dikunci, dan ia masuk saja. Setelah menyapa tanpa jawaban, ia masuk ke kamar sang ayah yang tertidur. Namun ternyata bukan tidur, ayahnya sudha mangkat. Ia lalu melakukan beberapa prosedur umum, memastikan keadaan lalu saat melihat sekeliling, betapa terkejutnya Ray, ia menemukan berkantong-kantong uang.

Adiknya belum tiba. Adiknya seumur hidup tak pernah tepat waktu, ia menolak memakai arloji dan mengatakan tak pernah tahu hari, dan kebanyakan orang mempercayainya. Ia dengan cepat menganalisa situasi. Ketika rasa shock mulai memudar, berbagai pertanyaan muncul. Perasaan terguncang atas kematian sang ayah sudah cukup untuk sehari. Guncangan karena uang itu membuatnya terus gemetar. Apa dan bagaimana menanggapi keterkejutan ini.

Ia langsung mengamankan uangnya, gegas memasukkannya ke dalam lemari sapu. Ia sangat was-was dengan simpanan yang sudah berada dalam lemari sapu. Berapa banyakkah jumlahnya di sana? Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menghitungnya? Apakah it asli atau paslu? Dari manakah asalnya? Apakah yang harus dilakukan dengannya? Ke manakah harus dibawa? Siapakah yang harus diberitahu? Ia butuh seorang diri untuk berpikir, mengatur berbagai hal, dan menyusun rencana.

Melihat surat wasiat yang sudah ditandatangani, menyatakan Ray sebagai eksekutor warisan sebab ia si sulung. Berkonsultasi dengan pengacara yang sudah menjadi sahabatnya, dan memutuskan melakukan penghormatan terakhir di pengadilan sehingga taka da banyak orang di rumah, yang sekaligus mengamankan lemari sapu. Si pendeta jauh lebih emosional daripada si anak. Ia menyayangi sang hakim dan menyatakan dirinya sebagai sahabat karib. Adiknya hanya datang sebentar, lalu menyerahkan segalanya kepada Ray.

Lalu Ray menata situasi. Hidup tanpa ayahnya takkan berbeda jauh dari hidup terpisah jauh darinya. Pengabdian sepenuh hati, selama 32 tahun sebagai hakim, catatannya tak tercela. Uang itu jelas tak pantas disebut uang panas, tapi dari mana? Berapa kali dalam hidupnya ia punya kesempatan memandangi tiga juta dolar? Berapa orang punya kesempatan seperti ini? Tidak mau hidup seperti mangsa yang terluka.

Ia lalu mencoba memindahkannya, ke sebuah jasa keamanan, menyewa loker. Chaney’s adalah temapt aman, sementara ia menaruh uangnya di sana, Ray mencoba memastikan uangnya asli.  Memastikan uang itu tidak palsu, tidak tertandai, tidak terlacak dengan cara apapun. Ia terbang ke berbagai kasino, main jdui. Perjudian paling dasar adalah datang-pasang taruhan, dan setelah berhasil mengerahkan keberanian, ia mendesak maju di antara dua pejudi lain dan menempatkan sepuluh chip tersisa. Ia akan membawa lebih banyak uang tunai, mencucinya dalam sistem. “Penjudi profesional tidak pernah minum saat berjudi.”

Berjalannya waktu, tak ada kecurigaan baik dari Bandar atau orang-orang yang mungkin berurusan dengan uang itu. Kehatihatian, sebab itulah yang didapat setiap wanita darinya. Kehati-hatian, sebab ia merasa  melihat potensi pada yang itu.

Namun teror akhirnya muncul. Drai orang tak dikenal yang mengejar uang itu untuk diserahkan. Bahkan malam hari mengusiknya, melempar benda hingga kaca rumah pecah, mencongkel pintu apartemennya, mengirim surat ancaman, dst. Dengan situasi terbaru itu, Ray Atlee akhirnya mengakui betapa penting arti uang itu sekarang. Sempat pula terbesit rencana lain. Tentang bagaimana uang itu bisa berkembang bila diinvestasikan secara konservatif atau agresif.

Sebagai eksekutor warisan, ia punya waktu satu tahun sejak tanggal kematian untuk mengirimkan surat pemberitahuan pajak terakhir, dan menurut akuntannya, perpanjangan waktu dapat dengan mudah didapatkannya. Ia memastikan, uang itu tak akan dimasukkan ke daftar warisan sebab akan habis dihisap pajak. Mungkin bukan langkah yang paling cerdik hingga sejauh ini.

Ray memutuskan berkeliling, dengan uang di bagasi mobil, mencari kebenaran. Kalau kau kabur membawa banyak harta, seperti pembunuh dengan korbannya di bagasi, maka banyak wajah tampak familier dan berbahaya. Setiap orang yang ia temui tampak mencurigakan. Kau tidak mungkin bisa batuk di sana tanpa membuat tiga orang lain tertular Apakah semua orang gila, atau cuma aku?

Sementara adiknya yang terjerat narkoba tinggal di rehabilitasi. Sesekali ia kunjungi. Hidup tidak akan jadi sederhana dengan mengunjungi adiknya, tapi ia sudah berjanji.

Petualangan pencarian Ray mengarah ke Hancock County dinamai menurut nama John Hancock, salah satu penandatangan Deklarasi Kemerdekaan. Lalu menuju seorang pengacara jumawa nan kaya raya. Patton French adalah orang yang amat sangat pongah. Setelah berusaha dengan keras menemui, dan bilang ia anak sang hakim, ia akhirnya berhasil bertemu. Di atas pesiar mewah yang tenang, segalanya akhirnya terang.

Semua bermula dari Berkas perkara Gibson v. Miyer-Brack. Hakim percaya akan kerja keras, dan tanpa juri yang harus dimanjakan, ia bertindak brutal. Patton yang cerdik dan menjadi seorang penggugat massal mencari celah, dan menemukan nama sang hakim. Keputusan-keputusan itu tegas, sangat lugas, dan bertujuan untuk meresahkan para pengacara tergugat. Setelah berhari-hari mengumpulkan banyak korban obat gagal, ia maju menggugat pabrikan. Mr. Patton French berhasil mengunci Miyer-Brack hingga terlentang tak berdaya di atas matras. Dan akhirnya ganti rugi dengan jutaan dollar tersaji.

Kalau mau tahu detail cerita tata cara menggugat bisa dibaca di novel King of Torts, raja ganti rugi. Kebenaran kini mengalir deras, dan ia menginginkan seluruhnya. Keserakahan adalah binatang yang sangat aneh, Ray. Dan setelah kebenaran terungkap, lantas mau diapakan uang sebesar itu? Kembali lagi, keadaan sehat, tenteram, dan bisa menjalani kehidupan wajar adalah impian, bahkan dibanding dengan uang besar yang mengancam keselamatan.

Endingnya datar. Setelah aksi penuh ketegangan, pertarungan kesabaran dan segala kemungkinan baku tembak dan ledakan, John Grisham malah mengambil jalan tenang. Mungkin agak mengejutkan, beberapa fakta disimpan lalu diungkap hingga bab terakhir. Namun tetap, tak terlalu mengejutkan. Sangat tenang, dan juga menggantung.

Bagaimanapun, karya Grisham tak pernah mengecewakan. The Summons jelas memenuhi itu, hanya saja harapan itu terlampau tinggi. Beda dengan The Partner yang meledak di akhir atau Bleachers yang memukau dalam nostalgia, atau The Last Juror yang walau akhirnya tenang, sungguh heroik. Well, susunan Grisham mungkin sudah kukenali dan nikmat plotnya walau familier tetap terasa menawan. Masih banyak bukunya di rak yang belum kubaca, dan akan terus kubaca. Semoga.

Panggilan | by John Grisham | Diterjemahkan dari The Summons | Copyright 2002 by Belfray Holding, Inc |  Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 02.023 | Desain cover Amy C. King | Sampul dikerjakan oleh Eduard Iwan Mangopang | cetakan pertama, September 2002 | 432 hlm; 18 cm | ISBN 979-686-116-x | Skor: 4/5

Karawang, 230821 – Ida Laila & Mus Mulyadi – Setelah Jumpa Pertama

Thx to Mahina Kamila, Jkt

Tempat Asing dan Misterius

Negeri Senja by Seno Gumira Ajidarma

“… Ada satu masa dalam hidupku di mana aku selalu memburu senja ke mana-mana, seperti memburu cinta. Aku memburu senja ke pantai, memburu senja ke balik gunung, memburu senja yang membias di gedung-gedung bertingkat. Namun itu sudah lama sekali berlalu…”

Novel yang melelahkan, membosankan, menjadikan bacaan yang terengah-engah di awal, tengah, sampai akhir. Penjelasan setting tempat yang bertele-tele, penjelasan karakter yang berputar, aturan mainnya kurang cantik, bahkan saat sampai halaman 200 yang berarti mendekati garis finish, detail penjelasan tempat masih berlangsung. Ya ampun… bagaimana sebuah buku bisa menjadi begitu berliku dan lelah sekadar mencoba ikuti alur.

Kisahnya dibuka dengan sebuah penipuan. Dalam Kitab tentang Kejadian yang Akan Datang bahwa Penunggang Kuda dari Selatan menguasai bahasa Negeri Senja tingkat tiga yang sudah langka. Sang Musafir sempat ditanya, oh bukan dia. Lalu ada yang datang dan mengaku sebagai The One tersebut, dibawa ke Guru Besar, ternyata penipu, maka massa langsung membantainya. “Negeri Senja adalah tempat yang berbahaya.”

Lalu kita diajak mengenal negeri asing di tengah gurun tersebut. Waktu seolah terhenti. “Aku tidur pada senja hari dan bangun pada senja hari.” Jadi di sini sepanjang waktu adalah senja: pagi, siang, malam, semuanya sama. Di Negeri Senja, orang mati tidak pernah benar-benar pergi. Kenapa tidak, di sebuah negeri di mana matahari termungkinkan untuk tidak pernah tenggelam. Kisah tentang lempengan matahari raksasa yang berjuang keras untuk terbenam namun tak pernah berhasil melewati cakrawala dan semesta bergetar karenanya. Di sebuah negeri yang selalu tenggelam dalam keremangan, sekilas cahaya sangat banyak artinya dan keping-keping mata uang emas yang sangat jarang terlihat itu memang akan berkilat-kilat meski ditimpa cahaya yang hanya sedikit saja.

Seperti Sukab yang mengirim surat pada Alina, kali ini sang Musafir mengirim surat untuk Maneka. Mengisahkan petualangannya. Apakah yang bisa dilakukan untuk menghalangi datangnya masa depan yang penuh dengan perubahan menggelisahkan?

Ia penyendiri, ia datang ke sana sebagai sang musafir. Ia menjaga jarak, tak memihak pihak penguasa atau para militan bahwa tanah. Seorang pengembara dalam sunyi sangat sering terkecoh perasaan sendiri, sehingga dengan perempuan mana pun aku bergaul, selalu kujaga jarakku dari suasana hati yang semu. Diperintah oleh rezim ganas. Sejarah kekuasaan Tirana adalah usaha menindas kebebasan pikiran itu, karena dengan pikiran kita bisa menolak kekuasaan. Sekarang aku mengerti, kebisuan dan kegelapan adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan di Negeri Senja – yang tak memahaminya tak ambil bagian dalam permainan ini.

Sang Pengelana lalu mencoba memahami posisinya. Ia di kedai turut dalam kekhawatiran warga, ia turut pula dalam bisik para detektif yang mencoba menggulingkan kekuasaan yang sudah lama lalim. Hatiku gundah dan gulana. Puan Tirana Sang Penguasa yang tak pernah terlihat wajahnya dan Buta telah menghamburkan kekejaman begini rupa, namun Tuhan Mahabaik seperti tidak berbuat apa-apa. Tirana barangkali bisa membaca pikiran, namun bagaimana jika pikiran yang dibacanya sengaja dikacaukan? Bisakah ia membaca pikiran di balik pikiran?

Sudah banyak percobaan penggulingan, tapi selalu gagal. Bayangkan, lawan kita adalah makhluk yang bisa membaca pikiran bak anggota X-Mens! Gerakan bawah tanah terbesar melawan tirani adalah Perhimpunan Cahaya yang dipimpin oleh Rajawali Muda. Terdapat lima golongan lain yang besar, (1) Gerak Kesadaran; (2) Kerudung Perempuan; (3) Sabetan Pedang; (4) Wira Usaha; (5) Lorong Hitam. Selain itu masih ada kelompok remeh, golongan kecil yang terburai.

Kita memang ditempatkan sebagai pembaca/pendengar dongeng Sang Pengelana. “Apa yang kuceritakan itu hanyalah suatu susunan tambal-sulam dari berbagai cerita yang kudengar di kedai, di pasar, dan di jalanan.” Maka mencipta kisah satu arah yang tentu saja kita harus menerima apapun yang dicerita. Debar degub sesekali muncul, tapi memang sudah kuyakini Sang Protagonist aman.

Seperti ada kesunyian yang kosong dan memberikan perasaan terasing di mana cahaya yang tersisa dalam senja bisa terdengar sebagai bunyi yang sepi – seperti denging, tapi bukan denging, seperti gumam, tapi bukan gumam, seperti desah, tapi bukan desah, hanya sapi, tapi berbunyi. Mungkinkah itu bunyi kekosongan?

Semangat perlawanan yang telah lama tergalang bagaikan seribu satu mata air yang membentuk anak sungai kecil di berbagai tempat dan menemukan arus serta gelombangnya dalam pembahasaan para pelajar… bergabung menjadi debur ombak dan hempasan gelombang. Tirana yang berkuasa, yang mampu membaca pikiran, memenjarakan roh, dan menentukan takdir, bagai tuhan yang jahat, bagaimana tidak akan tertawa melihat usaha perlawanan terhadapnya?

Endingnya sendiri horor. Menakutkan membayangkan pembantaian yang dicipta. Darah di mana-mana, jalanan dijadikan ajang saling tikam, nyawa menjadi begitu murahnya. “Kota yang hancur luluh dengan mayat-mayat memenuhi ruang, kurasa aku tidak pernah akan tahu apakah suatu hari duka ini akan pupus.”

Lalu apa gerangan maksud Sang Pengelana memasuki negeri antah yang mengerikan ini? Hanya sekadar mampir lewat ataukah menjadi juru selamat?
Untuk mendendangkan dongeng dalam satu wilayah, kita disuguhi lima bagian, belum termasuk prolog dan epilog plus lampiran tentang visual dan proses menggambarnya. Menjelaskan bagiamana akhirnya novel ini bermula dari cerita bersambung, lalu dibukukan, lalu menang KSK, lalu dibuatlah ilustrasi para tokoh. Bagus sih, tapi bagiku yang utama adalah cerita. Mau digambar semewah Ernest H. Shepard yo monggo, mau dibuatkan semegah komik DC ya silakan, tetap saja yang utama cerita. Kisah buku ini merumit sendiri, bingung sendiri, mengajak pembaca turut bingung dan sekali lagi, melelahkan. Lampiran akhir ada enam lembar, itu adalah draf pilihan. Hasil akhir ada di pembuka, menggambarkan bentuk karakter di buku.

Epilognya dimulai dengan pengakuan; kesalahan penulis adalah memandang dunia ini sebagai suatu cerita. Nah kan. Absurd! Nama Seno Gumira Ajidarma (SGA) sudah besar sejak saya masih kecil. Namanya lekat atas sastra berkualitas, baru beberapa yang kunikmati. Beliau juga serba bisa, kumpulan esai ada, kumpulan cerpen ada, novel-pun ada, yang belum nemu dan belum kubaca kumpulan puisi. Namun pernah lihat di youtube, cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku, dinukil dan dibacakan bak barisan bait, mungkin karena pembawaannya yang keren, dan juga – eheem…- yang membawakan sekelas Dian Sastro Wardoyo makanya terlihat powerful!

Sebuah tempat asing dan misterius, Negeri Senja adalah negeri yang sulit diterima akal, negeri ini seperti puisi, hanya bisa dipahami jika dihayati. Yah, persis seperti itulah kisahnya. Sengaja mencipta bosan, sengaja mencetak bait dalam rengkuhan samar. Ada benarnya juga kalimat di kover belakang, “Roman petualangan, tentang cinta yang berdenyar di antara kilau belati, cipratan darah, dan pembebasan iman.”

Negeri Senja | by Seno Gumira Ajidarma | KPG 59 15 01044 | 2003 | Cetakan kedua, September 2015 | Desain sampul Rully Susanto | Tata letak Wendie Artwenda | Ilustrasi isi Margarita Maridina Chandra | Rancangan Busana Poppy Dharsono | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | xx + 244 hlm.; 14 cm x 21 cm | ISBN 979-979-91-0930-9 | Skor: 3.5/5

Cerita kecil Untuk almarhumah Ibu: Poestika Kusuma Sudjana (1923-2002)

Karawang, 120421 – Ronan Keating – Everything I Do (Do it For You)

*) Thx to Ari Naicher (Rindang Buku), Klaten

**) Kubaca dalam satu hari saat cuti tahunan di Masjid Peruri Karawang pada 12 Maret 2021

***) Hari ini mendapat kabar sedih dari keluarga; Sabar, Tawakal, Iqtiar. Allah bersama orang yang sabar.

****) Selamat datang Ramadan 2021

#Januari2021 Baca

Saya masih memberi kesempatan kepada klub-klub untuk kembali ke kompetisi yang resmi. Paling tidak sampai Senin ini. Ya, paling lambat Senin malamlah.”Johar Arifin dalam buku Dari Kekalahan ke Kematian (Mahfud Ikhwan)

Awal tahun yang padat. Saya sudah coba baca santai, tapi kondisi malah mencipta waktu luang lebih banyak. Saya kena shift seminggu masuk jam 12:00 karena pembatasan skala besar Karawang. Maka punya waktu baca pagi lebih panjang habis subuh sampai jam 09:00, luar biasa pagiku benar-benar melimpah.

Dimula dengan Zarathustra di tanggal 1 selesai tepat 31, lalu diselingi buku-buku lain yang lebih ringan. Gila, buku berat dan melelahkan. Namun kelar juga, tepat sebulan! Buku baru sudah Sembilan paket, jadi tumpukan masih sangat tinggi. Semangat!

Segala genre saya lahap!

#1. Life of Pi by Yann Martel

Fantasi atau fakta? Ada dua cerita, yang pertama bersama sesekoci sama macan yang tak bisa dilogika, yang kedua bersama pembunuh yang terbunuh. Endingnya dijelaskan, tapi tetap absurd. Begini seharusnya cerita sebuah perjalanan dibuat. Kalau kita, para warga negara, tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita, berarti kita telah mengorbankan imajinasi kita di altar realitas yang kejam, dan pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apa pun, dan mimpi-mimpi kita tidak lagi berarti. Jelas novel yang laik didiskusikan lanjut.

Jangan sampai patah semangat, boleh merasa kecil hati tapi jangan menyerah. Ingat semangat sangat penting, melebihi lain-lainnya. Kalau Anda memiliki kemauan untuk hidup, Anda pasti bisa bertahan.”

#2. Dari Kekalahan ke Kematian by Mahfud Ikhwan

Cak Mahfud memang jaminan, sejauh ini. Ini buku kedua tentang sepakbola yang kunikmati, jelas lebih baik ketimbang rangkuman review per pekan sepakbola Eropa dalam ‘Sepakbola Tak Akan Pulang’. Kali ini fokus ke cerita lokal, mayoritas diangkut dari blog-nya belakanggawang.blogspot.com yang diampu bersama Bung Darmanto Simaepa. Sobatnya tersebut, ternyata sobat kental beberapa kali disebut menjadi teman curhat dan nonton bareng. Setara Grandong yang jadi sobat misuhi Liverpool dengan kepleset Gerard-nya. Masih ingat review buku Tamasya Bola? Kata Pengantarnya keren sekali oleh Cak Mahfud, di Dari Kekalahan, dibalik. Pengantarnya oleh Darmanto, panjang meliuk-liuk liar, dan muatan isi bukunya segaris lurus.

Barangkali sepakbola unik karena ia bisa memberikan harapan berulang kali.”

#3. Oliver’s Story by Erich Segal

Kisah cinta lanjutan. Memang sulit melanjutkan cerita wow, atau setidaknya menyamai. Sekuel yang mengalami penurunan kualitas, tapi masih bagus sebab endingnya pahit, cara berceritanya bagus, pemilihan plotnya lumayan juga. Tak seperti kebanyakan cerita romantis yang mellow. Sesuai harapan, untung sekali mereka ambyar. Walau alasannya terlalu politis, terlalu kurang alami, sekalipun itu terkait aturan birokrasi, menentang prinsip hidup, idealism yang dipegang, sebagai Sarjana Hukum ia jelas menentang eksploitasi anak-anak untuk bekerja, tapi kisah ini jadinya malah muluk, dan adegan Hongkong itu jauh dari kesan asyik seperti eksekusi di Rumah Sakit, ending luluh lantak sebelumnya. Seperti kata Jimi Hendrix waktu Woodstock.

Keadaan cukup buruk dan dunia ini perlu dibersihkan.”

#4. My Beautiful Feeling by Walter & Ingrid Trobisch

Masturbasi perempuan. Tema yang tabu dari dulu, bahkan sampai era digital ini. Di sini dikupas panjang, dari surat-surat remaja Jerman di masa SMA hingga kuliah, surat-surat pribadi itu dikirim ke seorang psikolog yang biasa mengisi rubrik di Koran nasional tentang tanya-jawab pembaca. Lalu, entah apakah surat ini ditayangkan atau tidak, malah dibukukan. Ini adalah buku kedua terbitan BPK yang kubaca, setelah curhat masa muda Indonesia tahun 1980-an dengan Suhartin, apa yang harus saya lakukan?

Kalau kau tahu tujuannya, kau dapat menemukan jalannya.”

#5. Mata dan Riwayat Semesta by Wija Sasmaya

Buku tipis yang aslinya hanya berisi 75 halaman. Namun menjadi dua kali lipatnya sebab buku ini bilingual, diterjemahkan jua ke dalam Bahasa Inggris. Dicetak bolak-balik, tapi karena saya saat ini nyaman dengan Bahasa Indonesia, dan celetuk, ‘kurasa buat apa membaca Inggris-nya toh, isinya sama’, maka buku ini hanya kunikmati separuh. Separuhnya bagaimana, mungkin suatu hari nanti kubaca lagi, entah kapan, yang jelas bukan dalam waktu dekat. Dua kali saya memiliki dua sejenis ini, yang pertama karya Marga T, versi separuh asing jelas ku-skip. Benar-benar tak rekomendasi deh ide bikin bilingual gini, boros kertas. Kecuali diterjemahkan, lalu dijual terpisah, jelas itu lain soal sebab tak menempel langsung.

Hidup itu ibarat cuma mampir minum, dan sebaik-baiknya minum tentu minum air jernih yang menyejukkan jiwa.

#6. Memoar Ronny Patinasarany by Andreas J. Waskito

Memoar yang berkesan, jadi tahu detail era emas Timnas Indonesia-pun penuh intrik politik. Bagaimana ia dilarang merokok, tak mau nurut dicoret dari skuat, lalu hukuman lama itu dikurangi menjadi beberapa bulan. Buku ini gambaran umum saja, dari karier bolanya yang cemerlang dari Makassar, Surabaya, hingga Jakarta. Bagaimana ia menjadi pegawai Bank BNI, menjadi pencari bakat, lalu musibah kanker yang dialami. Sepertiga akhir adalah masa sulit, pengobatan ke China hingga akhir hidupnya. Lalu sebelum epilog sang istri, kita menyimak pendapat beberapa rekan, keluarga, dan bosnya. Buku yang padat dan emosional.

Kalaupun anak saya meninggal, dia meninggal dalam kasih sayang saya. Saya rela menghilangkan harga diri, popularitas, hidup… tapi saya tidak pernah rela kehilangan kasih sayang saya kepada keluarga.”

#7. Pembunuh by Rayni N Massardi

Dengan kata pengantar oleh maestro sastra kita, Seno Gumira Ajidarma, sesuatu yang sangat menjual dicetak tahun 2005, di mana dunia sedang mengalami proses transisi ke data digital besar-besaran, apa yang disampaikan secara garis besar mewakili kehidupan kaum urban kebanyakan. Wanita karier yang bosan di ibukota, kekejaman vonis keluarga atas nasib tak bagus saudara dalam acara ngumpul rutin, gadis desa yang merantau, keputusan penting jadi mudik ke Indonesia atau menetap di tanah orang, istri yang cerewet atas kesetiaan suami, kehidupan pagi di stasiun kereta, sampai kehidupan rutin di kantor yang mencipta ‘demo’ akan mesin pencatat kehadiran.

Kita tidak mungkin bangga akan orang lain, tapi dapat bangga pada diri kita sendiri.”

#8. Kuntilanak Pondok Indah by Lovanisa

Cerita yang aneh, tapi lumayan menghibur juga. Nama-nama karakter utamanya kebarat-baratan semua: pearly (putih dan berkilau seperti mutiara), Cherie (siapanya Cher?), Shena x Xena, dst. Pola hidup orang kota yang kental, jelas kalangan menengah atas: rutin ke salon, makan pizza, naik Yaris, kos? Sewa pembantu merangkap chef merangkap intel dong, mainnya bilyar, di sini disebut Four Hole, mungkin diselingi miras dan obat, tapi tak boleh disebut kena rating ntar. Lupakan logika sebab memang ini buku fun aja, bedakan ‘di’ disambung dan ‘di’ dipisah saja sulit. Bahasanya gaul, lo gue end, No Prob. Melamar pakai cincin berlian dengan mata berwarna putih dikelilingi permata-permata kecil. Romantis itu pakai kawat yang disambung, tapi ya tak level-lah. Liburan? Ke Bali sewa vila, semudah mengucapkan pesan nasi orek di Warteg.

Mana gue tahu, lo sih Conan bukan, FBI juga bukan, sok-sokan main selidik-selidik aja.”

#9. Zarathustra by Frederick Nietzschie

Buku yang luar biasa (membingungkan). Kubaca ditanggal 1 Januari di rumah Greenvil sebagai pembuka tahun, di tengah mulai kehilangan arah (bosan dan mumet), maka kuselipkan bacaan-bacaan lain yang setelah bulan berganti kuhitung ada 9 buku, tapi tetap target baca kelar buku ini di bulan Januari terpenuhi tepat di tanggal 31 di lantai 1 Blok H, walau tersendat dan sungguh bukan bacaan yang tepat dikala pikiran mumet. Awal tahun ini banyak masalah di tempat kerja, pandemik harus ini itu, aturan baru semakin meluap, dan tindakan-tindakan harus diambil. Di rumah, lagi mumet urusan buku yang menggunung. Maka lengkap sudah Sang Nabi menambah kesyahduan hidup ini dengan sabda aneh nan rumitnya.

Kita mencintai kehidupan, bukan sebab kita sudah biasa hidup tapi sebab kita biasa mencintai.”

#10. Si Lugu by Voltaire

Buku kecil yang luar biasa. Padat, renyah, sesak, dan pace-nya sangat cepat. Kubaca hanya dalam tempo sesingkat-singkatnya pada hari Sabtu pagi, 30 Januari 2021 di teras rumah langsung kelar. Seperti inilah novelet harusnya dibuat, ga bertele-tele, gayanya dapat, plotnya bagus, endingnya nyesek, dan ada motivasi yang bisa dipetik. Paket lengkap setengah hari.

Aneh juga. Kok air mata bisa menimbulkan rasa lega? Saya kira malahan bisa menimbulkan akibat sebaliknya.”

Karawang, 050221 – Dewa 19 – Kamulah Satu-satunya

#Oktober2020 Baca

“Manusia yang berpikir bukan otaknya.” – Kata Straus (1963)

Bulan santai pasca KSK, secara kuantitas tetap saja melaju di angka belasan. Yang paling sulit memang The Constant Gardener berisi lima ratus lima puluh halaman, ukuran lebar dan topiknya rumit. Heart of Darkness kumasukkan giveaway, jadi setelah baca langsung kulepas. KSK ada dua buku, keduanya tersingkir dari daftar pendek jadi dibaca santai yang ternyata malah bagus banget keduanya. Sedang menikmati buku-buku psikologi dan filsafat, dan kumpulan esai. Oh iya, jangan lupa beberapa buku lama kubaca ulang, terutama yang belum kuulas jadi untuk mengetiknya, saya butuh refresh.

Menyenangkan sekali bukan, menikmati buku dan menceritakan keseruannya dalam blog?

#1. Heart of Darkness Joseph Conrad

Ini tentang perjalanan ke belantara Afrika dengan rute sungai. Penuh perjuangan sebab di prosesnya mendapat serangan dari suku pedalaman. Menuju Tuan Kurtz yang kejam, sekaligus dipuja oleh Pemerintahan Belgia. Menuju jantung kegelapan, tentang kolonialisme di Kongo, tentang penjualan gading.

Bernarasi kalimat langsung, jadi sang tokoh Aku menceritakan kepada para awak kapal, pengalamannya selama perjalanan. Sebagai nahkoda dalam misi menjelajah ke Congo, sebagai wilayah jajahan Belgia. Nah, selama air mengalir mengantar mereka itulah kita disuguhi sisi gelap manusia. Kolonialisme, pemaksaan kehendak demi kepentingan para penjajah, penjualan gelap gading gajah, korupsi, hingga perilaku manusia dalam sisi hitam. Memudiki sungai ini bagaikan melakukan perjalanan kembali ke masa paling awal dunia ini, ketika vegetasi bersuka-ria di bumi dan pepohonan besar bak raja-raja.

Aku melihatnya, aku mendengarnya. Aku melihat misteri tak terpahami dari satu jiwa yang tak mengenal batasan, keyakinan, dan ketakutan, namun masih berjuang membabi buta mengasai dirinya…”

#2. Makan Siang OktaNurul Hanafi

Saya suka sekali film A Ghost Story yang menampakkan ‘hantu’ yang bosan menapaki waktu di tempat yang sama untuk rentang kisah acak. Saya juga suka sekali Buried yang membuat Ryan Reynolds terkubur satu setengah jam dalam peti, yang otomatis sepanjang film penonton turut sesak. Saya juga suka sekali Locke, filmnya tentang Ivan Locke ngomong sendiri di mobil via telpon, ia berkendara dan meramu kejadian di sekelilingnya jadi syahdu. Nah, di Makan Siang Okta kita mendapat sisi minimalis itu. Sungguh jantan dan menarik. Kalian diminta untuk terus menyimak dialog sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu, cintailah kebosanan itu.

Ini kisah sederhana, sebuah kunjungan anak SD ke teman sekelasnya untuk meminjam buku, yang nantinya kita tahu hanyalah alibi. Kedatangan ini memang tak memerlu konfirmasi sebab Okta, gadis itu juga tidak tahu ia bakalan datang, saat Tendy tiba ia sedang makan siang. Kau hampir sama sekali tak tahu bahwa ikan bandeng, sepatu selop, seuntai kalung, dan sebuah buku cerita benar-benar telah tampil sia-sia jika dibandingkan dengan keanehan dia yang memiliki semua barang itu sekaligus. Adegan sepanjang buku akan berkutat di situ. Setelah berputar-putar dalam dialog dan ‘dialog’ dalam kepala Tendy, kita bertemu ibunya Okta yang sedang mengupas kentang, turut sertalah beliau dalam belitan kisah. Tokoh nyata hanya bertiga, walau dalam percakapan menyinggung nama-nama lain seperti teman sekolah atau teman masa kecil ibu, tapi tetaplah tokoh Makan Siang hanya bertiga. Sekolah tidak mengajarkan cara menghabiskan waktu siang yang baik bersama seorang teman laki-laki. Maka muncullah buku panduan ini. Haha…

Karena aku menganggapnya paling cantik sekelas.”

#3. Kiat Bermain SahamSurono Subekti

Secara ekstrem saham dibagi menjadi dua, saham fundamental dan saham kucing kurap. Di era itu belum dikenal saham gorengan kali ya. Justru ketika baca saham kucing kurap rada aneh. Hehe… Faktor judi di saham kucing kurap itu sangat besar, disebut kucing kurap karena diusahakan setelah dipegang segera dilepas begitu ada kesempatan. Sedang saham fundamental, bisa disimpan bertahun-tahun di lemari besi, bahkan seumur hidup sampai pensiun kalau mau.

Pengalaman adalah guru terbaik, lapangan adalah guru terbaik. Saya sudah main saham hampir dua tahun, Alhamdulillah sudah positif, sudah untung. Sejatinya ingin jadi investor, tapi tiap minggu/bulan pas lihat grafik hijau, tangan ini gatal buat jual, akhirnya yo wes yang warna hijau berkali-kali kujual buat kuputar. Sampai-sampai berpikir, ini kok cari duit sederhana dan gampang ya? Cuma tanam duit, pilih saham bagus, diamkan, sebulan dua bulan dicek udah untung. Wew… kenapa ga dari dulu pas masih lajang sih. Hiks. Namun nggak papa terlambat, masih bisa kok nabung saham. Terus bergerak dan belajar. Termasuk baca buku saham dari yang jadul (seperti buku ini – buku kedua saham yang selesai kubaca setelah Simple Stories for Simple Investor) sampai baca buku saham terbitan baru, saya lahap semuanya. Beberapa buku pinjam, beberapa beli sudah di rak. Saya adalah pembaca yang rakus.

Jadikan bermain saham sebagai hobi. Memilih saham sama seperti memilih orang. Salah satu alasan membeli saham adalah membeli masa depan perusahaan.

#4. Apa yang Harus Saya Lakukan? Drs. R.I. Suhartin

Buku konseling remaja yang bervitamin sekali. Keren! Jadi tahu curhat dan jawaban pakar masalah-masalah pergaulan tahun 1980-an. Buku ini berisi lima permasalahan utama, yang dibagi lagi dalam tanya-jawab satu arah 47 poin, kecuali ada dua pertanyaan dari orang yang sama. Merupakan kumpulan tulisan dalam Rubrik Pendidikan di suratkabar Berita Buana. Sangat menarik, bagaimana remaja kala itu menghadapi problematika yang rasanya relatif masih sama dengan era sekarang, minus gadget dan kebebasan bersuara. Related. Permasalahan remaja, tak jauh dari cinta, keluarga, dan peningnya belajar. Cinta kala itupun sudah mengarah ke seks yang tentu saja tabu untuk dibicarakan.

Jawaban-jawaban yang diberikan sangat lugas, bagus sekali, enak dibaca. Terlihat sekali direspon dari orang bijak yang berpengalaman mendidik dan mengalami pasang surut kehidupan. Seperti opsi, yang utama membahagiakan orang tua atau pribadi? Ketidakmampuan memenuhi kemauan orang tua tidaklah menjadi soal, yang pokok adalah Anda! Susunlah rencana sesuai dengan kemampuan, dan segera menyusun siasat, cara, dan teknik penyampaiannya, yang penting bahagia sesuai kemampuan pribadi. Kebetulan topik ini beberapa hari lalu sedang dibahas di diskusi inspirasi pagi. Hanya doa dengan hati yang bersih yang dapat dikabulkan Tuhan.

Cinta sejati bukan sekadar seks belaka, tapi harus meliputi keseluruhan pribadi masing-masing, yang utama tahan uji dalam keadaan apapun, maka cinta bukan hanya seks centered, tapi harus personality centered.

#5. Oh Film…Misbach Yusa Biran

Buku tipis yang sebenarnya bisa cepat diselesaikan baca, tapi saya baca santuy jelang tidur. Saya bacakan untuk Hermione satu atau dua bab setiap beberapa malam. Ini adalah buku rekomendasi Sherina Munaf dan berkali-kali cari di Gramedia Karawang nggak ada, maka saat ada yang jual daring, langsung kusambar. Buku yang sejatinya biasa, hanya mencerita kehidupan seputar orang-orang film di Senen, dari sudut pandang para jelata mengais rupiah hanya untuk sekadar bertahan hidup dari bulan ke bulan. Kisah apes yang mengelilingi para kuli film. Judulnya tentu pas sekali, … oh, film!

Kisahnya lebih sederhana dan membumi, ini buku berdasarkan pengalaman sang penulis yang berkecimpung di dunia film sejak 1954 sebagai anggota PERFINI. CV filmnya sangat banyak, jasanya dalam seni di Indonesia tentunya melimpah. Tahun 2008 beliau menerima Bintang Budaya Parama Dharma, bintang tertinggi dari Pemerintah RI di bidang budaya.

“Ah… betapa tenangnya langit, mengapa orang bisa tidur di malam berbintang terang seperti ini?”

#6. Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi KematianYetti A. KA

Kumpulan cerpen yang menyajikan hal-hal sederhana malah mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan. Kata Martin Heidegger dari Jerman, yang meneliti eksistensi manusia terutama tentang kecemasan, kenisbian segalanya dan kesadaran manusia akan kematian. Ada yang bilang Heideggar seorang ateis, ada yang bilang pula ia seorang mistikus, tapi dengan jelas ia mengatakan bahwa dirinya, “sedang menunggu kedatangan Tuhan.”

Begitulah, Ketua Klub Gosip menjadi kumpulan cerita pendek yang melatari sisi dalam setiap individu. Dengan tema beragam dan beberapa minim penjelasan menjadikannya lebih asyik sebab segala yang membingungkan malah menarik. Ia mempertahankan pentingnya transendensi. Bagaimana jadinya kalau gosip sedih itu dimulai dari orang yang kita kasihi?

“Seharusnya kau menggunakan benang merah untuk topi itu”

#7. Cerita, Bualan, KebenaranMahfud Ikhwan

Kebetulan ini buku kedua tahun 2020 dari Tanda Baca yang kubaca, Tentang Menulis-nya Bernard Batubara yang gagal memenuhi harap, sekadar curhat pengalaman beliau mencipta karya, tak dalam, sangat biasa, dan benar-benar tak bervitamin. Sempat terbesit sepintas, jangan-jangan ini buku ala kadar juga? Sama-sama tipis dan berkutat dalam proses kreatif. Namun tentu saya rasa was-was itu bisa dienyahkan seketika, jelas Cak Mahfud punya kualitas, punya standar yang menggaris, mana yang laik dicetak dan mana yang sebaiknya tetap tersimpan dalam komputer. Kedelapan tulisan di sini sungguh ciamik. Kalau dituturkan dengan irama merdu gini, sangat perlu dibuat lebih banyak lagi kisah-kisah dibalik karya, terutama tentu saja karya yang sudah dikenal rakyat, dikenal pembaca dengan akrab. Dengan sudah membaca tiga buku sebelumnya, bualan beliau langsung bisa nyetel, klik sejak di akhir tahun cuti yang lucu itu.

Saya belum baca satupun buku karya Pak Kunto, tapi namanya memang termasyur di kalangan klub buku. Berkali-kali incar, gagal bawa pulang. Terutama Pasar yang sering kali muncul di pajangan. Ternyata menjadi panutan Cak Mahfud.

“Kekuasaan bergandengan tangan dengan agama akan memperlihatkan sisi buruk manusia.”

#8. Koleksi Kasus Sherlock HolmesSir Arthur Conan Doyle

Saya sedang membaca ulang beberapa buku lama, saya pilih pilah yang terkesan dan belum kuulas. Seingat saya, buku Sir Arthur baru satu yang kuulas di blog, makanya seminggu lalu entah refleks ambil buku ii di rak. Saya sudah khatam semua kisah Sherlock, dan membaca ulang malah menelusur kenangan, dan ingatan saya di Koleksi Kasus ternyata nggak kuat nempel, hanya beberapa yang klik, kebanyakan lupa tentang apa. Makanya terasa fresh lagi. saya baca buat selingan baca non-fiksi tentang filsafat yang bikin kerut kening making banyak.

Ternyata ini masa-masa akhir Holmes yang pensiun. Jadinya masuk ke koleksi kasus. Beberapa kisah berulang, seperti Holmes yang sombong menunggu klien saat Watson sedang duduk lalu mendengarkan detail. Atau Watson yang seperti kita tak paham maksud Holmes bahwa kasus ini sudah jelas, padahal selubung belum dibuka. Atau bahwa Holmes selalu ingin di balik layar, oarng-orang dari Kepolisian saja yang mendapat pujian. Atau Holmes yang hanya ingin menangani kasus unik, aneh, berat. Uang bukan masalah, justru ia tak tertarik menarik bayaran bagi jelata. Hebat. Keren. Takjub. Kebetulan saya sudah baca seri satu detektif karya Penulis Harry Potter. JK Rowling mencoba meng-copy gaya Holmes ke era masa kini. Belum bisa menandingi, tapi patut diapresiasi usahanya. Hal-hal yang paling rumit biasanya sangat bergantung pada hal-hal yang paling sepele.

“Nada bicara Anda tak kalah sombongnya, Mr. Holmes. Tapi saya bisa memakluminya. Hasil kerja Anda patut mendapat acungan jempol.”

#9. Bebas dari MiliterMartin Shaw

Buku yang sejatinya sangat umum, ditulis tahun 1991, dan kini sudah hampir tiga puluh tahun sudah banyak sekali perubahan militer. Telaahnya tentu saja sudah banyak tidak relevan, memang menikmati buku ini lebih ke nostalgia. Dunia digital meluluhkan segalanya. Membahas istilah saja bisa berlembar-lembar, membahas militer Inggris bisa panjang sekali, lalu telaah nuklir dan konsekuensi, menyelam dalam Perang Teluk yang berlarut, dst. Melelahkan sekali, tapi kalau nggak segera kupaksakan takutnya terbengkelai, maka gegas kutuntaskan. Berhubung militer adalah hal yang awam bagiku, lumayan bervitamin. Seluk beluk dunia militer. Jika perang selalu menjadi anakronisme sosial, masalahnya tidak akan selesai dengan menjadikannya sebagai kambing hitam.

Setiap masalah bisa dipecahkan jika teknologi dan dana digunakan dengan dosis yang tinggi. Argumen Ross bahwa apa yang sering kali dideskripsikan sebagai militerisasi di Dunia Ketiga (atau ‘militerisasi global’) lebih merupakan bangunan militer daripada militerisasi sosial.

“Pengeluaran militer pasti merusak kesejahteraan ekonomi meskipun ia memiliki keuntungan ekonomi yang positif.”

#10. Mimpi-Mimpi Einstein Alan Lightman

Secara cerita buku ini mengecewakan, intinya kurang gereget, hanya labuhan khayal sang ilmuwan yang acak dan tak jelas. Terliaht samar, mencoba merumitkan diri. Ini fiksi sehingga Alan Lightman harusnya punya kreasi bebas untuk melalangbuanakan bualan, sayangnya inti yang coba disampaikan tak jelas. Sepenggal masa-masa tahun 1905 di mana Einstein muda mengajukan tulisan terkait teori waktu, menjadikannya patokan utama, benang merah, dari seratus halaman, sejatinya hanya bagian interlude yang menjadi realitas yang menyenangakn dilahap, sayangnya yang namanya interlude ya sesekali saja muncul. Sementara sebagian besar hanya pecahan kejadian yang bebas dan tak beraturan. Tak kuat secara cerita, tapi memang dasarnya seperti puisi, semua bebas disenandungkan, keras, berisik, dan merdeka. Namun melelahkan sekali…

Buku ini sudah berkali-kali masuk daftar incar. Berbagai kover sudah kulihat, setelah bertahun-tahun akhirnya kumiliki edisi cetakan kesepuluh dengan kover kuning mentererng. Penerjemahnya adalah Penulis Raden Mandasia yang terkenal itu. Saya tak terlalu banyak complain terkait alih bahasa, karena memang rerata bila dikerjakan dengan serius hasilnya bagus. Kembali di kalimat pembuka, yang utama adalah cerita, dan Mimpi-Mimpi Einstein ceritanya kurang OK, mencoba bermewah kata, menawarkan stair-syair puisi kehidupan masyarakat di sekitar pegunungan Alpen. Mimpi-mimpi itu pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri.

“…Saat terkenal nanti, kau akan teringat bahwa kau pertama kali menjelaskan padaku, di perahu ini.”

#11. Teori Kepribadian Rollo MayIna Sastrowardoyo

Kehidupan kosong dapat terlihat dari manusia yang hidup seperti robot, tiap hari itu-itu saja yang dikerjakan tanpa gairah atau kegirangan seolah-olah dipantau oleh radar di kepala. Buku psikologi yang sangat bagus, dipadatkan dengan bagus dan dijelajah pengertian itu dengan sangat pas. Menjadikan penasaran lagi buku asli karya Rollo May, karena disini didedah dengan sudut yang mengagum. Sumbangan May, mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan.

May berujar bahwa konseling merupakan seni, yang dapat dikembangkan lebih besar dari seni lain misalnya melukis atau seni musik. Orang yang memandang objek seni, bahkan dapat mengidentifisir dirinya dengan objek seni itu.

“Saya hanya merupakan suatu koleksi cermin, yang memantulkan keinginan orang lain.”

#12. The Constant GardenerJohn le Carre

Kisah mengambil sudut utama Justin Quayle yang mendapati istrinya Tessa Quayle meninggal dunia dibunuh di tepi Danau Turkana, dekat Teluk Allia bersama pula rekannya dokter Arnold Bluhm, sang Apollo berkumis dalam sebuah pesta perjamuan di Nairobi, dokter kharismatik, lucu, dan tampan.. Pengemudinya Mr. Noah Katanga juga tewas. Mrs. Qayle akan dikenang atas pengabdiannya dalam menegakan hak-hak asasi wanita di Afrika. Sebuah pengalaman buruk yang didapatkan Tessa dan Arnold dalam perjalanan lapangan mereka sejenis malapraktik, jenis yang dilakukan oleh perusahaan farmasi.

Masalah obat ini adalah: pertama berbagai efek sampingnya ditutupi demi meraih keuntungan. Kedua masyarakat termiskin di dunia digunakan sebagai kelinci percobaan oleh masyakarat terkaya di dunia. Ketiga debat ilmiah yang sah mengenai masalah ini diberangus oleh intimidasi korporat. Apa yang benar selalu kekal. Para bedebah ini tidak memilkirkan apa pun selain keuntungan yang sangat besar, dan itulah kebenaran. Dyraxa bukan obat yang buruk, itu obat bagus hanya belum menuntaskan uji cobanya. Tidak semua dokter bisa dirayu, tidak semua perusahaan farmasi itu ceroboh dan tamak. Tessa dan Bluhm telah dibunuh karena mengetahui tentang kesepakatan jahat yang dilakukan perusahaan farmasi. Tessa adalah korban dari konspirasi internasional.

“Sandy, tugasku adalah mengabdi untuk Afrika…”

#13. Prosa 3 Obsesi Perempuan Berkumis – Budi Darma Dkk.

Wow, baru tahu dulu pernah ada sebuah buku berjilid Prosa sekeren ini. Ini adalah edisi ketiga entah total ada berapa edisi, isinya luar biasa, padat, sedap, bervitamin. Semacam majalah? Enggak juga. Semacam edisi khusus sastra? Bisa jadi, yang jelas benar-benar keren. Bung Budi Darma menjadi pusat, dengan cerpen panjang, kritik sastratentang cerpennya, dan wawancara khusus, Bung Yusi juga menyumbang dua tulisan. Bagus semua. Bikin pembaca megap-megap antusias.

Mengubah dunia tentu memerlukan keyakinan, ketetapan, kepastian – dalam bentuk ilham maupun dokrin, dan organiasasi dan lain-lain. Berisi tiga jenis tulisan: fiksi,esai, dan dialog. Renyah sekali.

“Saliva, Saliva, hatimu, mulutmu, ucapanmu, semuanya berlendir.”

Oktober tahun ini memang penuh buku. Kukira bakal jadi puncak jor-joran beli buku, ternyata November sejauh ini sudah beli belasan lagi. sulit sekali menghentikan.

Karawang, 161120 – Solomon Linda & The Evening Birds – Mbube (1939)

Fiksi Etnografis Sempurna: Lock for Best Prosa KSK 20

Orang-orang Oetimu by Felix K. Nesi

Ia suka membaca buku. Sekali ia duduk di depan buku, taka da yang bis abikin ia bangun. Saya yakin ia akan enggan naik ke surga bila dikubur bersama buku.”

===Catatan ini mungkin mengandul spoiler===

Oetimu, dulu ini adalah kerajaan Timu Un, sekarang sudah menjadi Kecamatan Makmur Sentosa. Ini kisah tentang masyarakat di sana, menyelimuti segala nasib manusia. Siapa bisa menjamin, jika besok atau lusa, karena perempuan itu juga, Oetimu tidak menuntut kemerdekaan dari Indonesia?

Keren adalah kata pertama yang kuucap setelah menuntaskan baca. Luar biasa, hikayat singkat orang-orang Oetimu dari zaman dahulu sampai tahun 1998, tahun genting peralihan Orde Baru ke Reformasi. Buku ini melibat banyak karakter, dan hampir semua yang ditelusur kisah hidupnya memberi peran signifikan. Membantu menggerakkan plot secara yahud, menjadikan penentu nasib tokoh lain, dan ini hebatnya Bung Felix K. Nesi tak segan-segan menewaskan karakter favorit! Tak ada yang baik konsisten, tak ada pula yang jahat terus, mayoritas sifatnya abu-abu, pas banget dengan kenyataan kehidupan yang fana ini. Eh, kecuali satu karakter yang dungu, nyebelin tak ketulungan. Namun nyatanya, orang bodoh pun dapat durian runtuh gadis jelita yang menjadi impian semua orang. Mengangkang siap diterkam, Hajindul! Asu!

Kisahnya dibuka dengan menyakinkan sekali, di Oetimu tahun 1998 malam final Piala Dunia di Prancis yang meluluhlantakkan Samba tiga gol itu menjadi kejadian menghantar kronik drama panjang ini. Tersebutlah Sersan Ipi yang menjemput Martin Katibi dengan motor bututnya untuk nonton bareng di pos polisi. Satu jam sebelum tragedi pembunuhan itu, mereka menyumpah Amerika, dituduh dalang kekacauan dunia. Ronaldo loyo, Amerika yang dihujat. Khas kaum kadrun.

Nobar itu menjadi petaka buat warga ketika Sang Sersan mengumumkan rencana pernikahannya dengan Nona Silvy, primadona kampung yang masih sekolah, siswa pindahan yang cerdas nan jelita. Dengan hasil separuh babak amburadul dua tandukan Zidane, sang tetua pulang lebih dini, para pembunuh sudah di rumahnya, menyekap anak istri. Mereka tak mengira, sepakbola 2 x 45 menit itu tak penuh, sang tuan rumah pulang cepat! Mendebarkan? Tentu saja, tapi untuk mengetahui nasib mereka kita diajak melalangbuana jauh ke belakang.

Di Lisbon tahun 1974, Julio Craveiro dos Santos akan dikirim ke Timor membantu Mario Lemos Pires dalam proses dekolonisasi Portugal. Rencana awal istrinya Lena dan anaknya 16 tahun Laura akan ditinggal, tapi ketika disampaikan Timor itu bukan Afrika, itu Negara kecil dekat Australia jadi relatif aman, tak bar bar seperti Afrika? Gundulmu! Maka diputuskan sekeluarga dibawa. Rencana dan perkiraan yang bagus itu menjelma bencana, Timor dalam gejolak politik. Ada tiga partai yang berdiri menjelang dekolonisasi: UDT yang menginginkan persatuan dengan Portugal, Fretelin yang menginginkan kemerdekaan penuh – sebelumnya bernama ASDT, dan Apodeti yang kecil dan ingin bersatu dengan Indonesia, Negara tetangga bekas jajahan Belanda. Walau Julio mencoba tak ikut-ikut suasana, mencoba netral tak memihak politik manapun, nasib malang menimpa, menjadikannya korban keganasan politik. Semua tidak baik-baik saja. Sadis sekali kisah hidup keluarga ini. Julio Craveiro dos Santos yang malang. Atas nama rakyat Maurebe, kalian adalah martir-martir pertama.

Legenda Am Siki mencipta kisah tersendiri, kembali ditarik lebih jauh ke belakang di era penjajahan. Am Siki menjadi masyur dan dihormati di seluruh negeri. Namanya harum mewangi dan dikenal ke pulau-pulau lain. Mereka sering menyebutnya pahlawan, yaitu ksatria yang membunuh untuk menyelamatkan bangsa dari cengkeraman Jepang. Ama Nemo Manas Manikin, leluhur salah satu pemimpin negeri. Konon hujan tak pernah membasahinya, angin hanya meniupnya jika mendapat izin, dan bila ia menunggang kuda di siang terik, awan akan berputar-putar di kepalanya, melindungi ia dari sengatan matahari. Segala yang tumbuh di atas tanah itu hanya milik leluhur semata, jika membutuhkan sesuatu, ambillah, tapi jangan untuk berperang. Am Siki turunan orang sakti itu, pohon lontar yang ajaib. Pohon lontar itu membacakan syair dalam uab Meto.

Bagaimana ia menjadi pahlawan sungguh kocak. Am Siki menyelamatkan kudanya yang diperkosa tentara Jepang, tapi ditafsir menyelamatkan bangsa sebab selain membantai Nippon ia juga membakar area romusha. Orang-orang bisa menyelamatkan diri. Lalu waktu menjelma dongeng legenda. Sejak Am Nu’an pendongeng dari Oetimu yang rabun terjun ke jurang yang disangkanya kolam ikan dan mati, orang meminta Am Siki untuk mendongeng. Ia adalah pencerita yang handal, yang bercerita dengan kata kerja yang gampang diimajinasikan dan beragam isyarat tubuh. “Tidak boleh dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Ingat? Tidak boleh diperkosa, sekalipun itu kuda…

Laura yang terlunta berhari-hari dalam keadaan hamil terdampar di Toko SUBUR: Berdiri Karena Sabar. Dikira penyihir saking kumalnya, dikira orang gila. Panggilkan Am Siki, tetua kampung. Maka Am Siki mengulurkan tangannya. Menyulap gadis dekil menjadi jelita. Laura melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Siprianus Portakes Oetimu atau yang kita kenal nantinya sebagai Sersan Ipi yang kita baca di bab pertama.

Ketika lulus SMA, sang kakek angkat mencarikan jalan hidup nyaman. Sebagai tetua adat, ia lalu menyambut pejabat. Am Siki memandang mereka dengan heran dan bertanya bagaimana bisa orang terhormat tidak memahami syair, padahal ia berkata dengan diksi dan metafora yang bisa dipahami oleh orang Timor paling tolol sekalipun. Ipi berangkat pendidikan kepolisian, dan peran sang legenda berakhir sudah.

Ia menjadi seorang polisi tunggal yang gagah, ditakuti anak-anak sekaligus dihormati sebagian kalangan. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia adalah aparat Negara yang berseragam, ia akan bertindak atas nama Negara, demi kebaikan daripada seluruh warga Negara. Dia menjaga keamanan wilayah, suatu hari dua siswa berkelahi karena permasalahan mimpi basah. Kalian boleh mimpi basah dengan siapa saja, dengan Nona Silvy, dengan istri A Teang, atau dengan Lady Diana sekalipun. Namun jangan berkelahi, demi Tuhan, kalian hanya bocah bodoh, kencing saja belum bisa bikin lubang tanah. Belum tahu dia, betapa jelitanya Nona Silvy ini. Maka ketika ia ke rumahnya yang sepi, ia gemetar jatuh hati. Bagian ini sampai melenguh lega adalah bagian terbaik, anjay kalau saya bilang. Pertama ketemu bercinta, dan saling mengikat. Menghamili adalah cara lain untuk melamar. Silvy yang cerdas memilih calon ayah bagi anaknya, Ipi yang lelah karena hobi nganu-nya menemukan sarang yang pas. Kalau ini adaptasi Disney, garongnya keok. Namun enggak, ini adalah hikayat orang sial.

Tersebut pula Atino yang membela Negara, memberantas radikalisme para pemberontak. Apes pula nasibnya sebab sebuah serbuan maut membunuh keluarganya. Dengan dendam kesumat, ia menjadi pasukan Petrus-nya Soeharto, sambil mencatat para pembunuh untuk balas dendam. Sampai di sini tentu saja kita tahu, di bab mula bahwa ia merencana balas dendam, dan Martin Katibi tentulah salah satu dalam daftar.

Untuk kembali ke benang putus bab satu, kita masih diajak muter ke sebuah kehidupan lain. SMA Santa Helena yang termasyur itu dituturkan dari mula sekali. Romo Yosef ditugaskan menjadi kepala sekolah bobrok pesisir karena hukuman. Ia sukses mengubah sekolah kumuh menjadi sekolah favorit, banyak trik. Orang-orang cepat jatuh hati pada kemiskinan dan selalu ingin menjadi pahlawan. Dari sumbangan dan kerja keras. Bagaimana ia di ditempatkan di sana memang misteri. Ada yang bilang ia melakukan pelanggaran, ada yang bilang ia naik pangkat setelah menjadi asisten pastor ia kini menjadi orang nomor satu, walau terkucil. Tenang, kita akan diberitahu detailnya, karena dari Maria Goreti Naleok-lah sumber itu. Masa muda Maria yang idealis di kampus bertemu calon pelayan Tuhan yang kalem. Untuk menutupi gerakan mahasiswa, mereka membentuk Kelompok Doa Mahasiswa Ora et Labora, dan laki-laki itu turut serta. Lelaki berilmu yang dingin kepala, akan betah bersama perempuan yang cerewet dan suka mengumpat. “Jika kita selalu menjadikan Tuhan sebagai pelita, sebagai penuntun jalan kita, maka kita pasti bisa menjalani setiap cobaan di dunia ini.” Mereka saling cinta, terjadi berkali-kali ciuman panas, Maria sudah menyatakan ketertarikannya, tapi Yosef sudah membulatkan tekad menjadi pastor. Maka melalui ciuman panas perpisahan, Mari melanjutkan hidup menikah dengan lelaki Rumah Sakit bernama Wildan. Keluarga ini sempurna ketika buah hatinya lahir. Bung Felix tertawa, sebuah kecelakaan menewaskan suami dan anaknya, dan Maria menjanda. Seorang cerdas ini mendapat nasib buruk.

Nah, janda ini melakukan ciuman dengan Romo Yosef, masih ada cinta di antara mereka. Adegan hot itu ketahuan sang kepala, maka ia harus angkat kaki. Nasib akhir Maria sendiri membuat merinding. Orang cerdas tak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan, banyak impiannya tak terkabul, cinta, karier, keluarga ini. Rapuh. Di pemakaman suami-anaknya ia mengumpat, umpatan yang fasih dan menggelegar di arena dukacita. “Kesatuan Negara? Kesatuan Negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya… Sangkamu kesatuan Negara lebih penting daripada… puih! Anjing!”

Kita kembali ke Silvy Hakuak Namepan yang lulus seleksi masuk SMA, Yunus Mafut Namepan menangis seperti gembala kehilangan sapi, bukan bahagia, tetapi ia menangis sebab terus-terus merasa gagal menjadi orang tua. Nasib Yunus sendiri mengambang. Setelah ditinggal istrinya Yanti yang kabur sama laki lain, ia mengalami degradasi mental. Guru yang terpuruk. Nah, Silvy putri tunggalnya ini cerdas, membuat heboh sekolah asrama ini. Sebab kerap ia menyela penjelasan mereka dan mengajukan argumen lain dengan sumber data yang jelas dan landasan berpikir yang kuat. Tak ada yang bisa membantahnya. Kecerdasan ini membuatnya diminta keluar kelas, diminta belajar mandiri dalam perpustakaan pribadi asrama. Kita tahu ada adegan mesum di dalamnya karena suatu ketika sang kepala sekolah pulang dalam keadaan demam, dan terjadilah apa yang yang menjadi penyebab Silvy ke Oetimu.

Satu tokoh lagi yang menjadi link adalah Linus Atoin Aloket. Dari enam ratus delapan puluh Sembilan orang sarjana laki-laki yang melamar, ia satu-satunya yang diterima sebagai guru SMA Santa Helena. Karakter bodoh yang aneh nan menjengkelkan. “Di dunia yang fana ini, uang bisa membeli kebahagiaan kalau kau tahu cara menggunakannya.” Menjadi guru sejarah tapi nggak nyambung masalah masa lalu. Apa pula gunanya berpikir? Ia hanya perlu bekerja. Kerja, kerja, dan kerja. Biarkan Romo Yosef yang berpikir. Tokoh paling menjijikkan ini menjadi kunci utama untuk menyambungkan adegan pembuka, mengapa Silvy pindah sekolah diantar Om Lamber dan Tanta Yuli.

Di Oetimu, segala yang ditata rapi itu berakhir berantakan. Saya suka sekali kisah hidup tragis, Bung Felix menyajikannya dengan melimpah ruah, suram adalah koentji. Orang-Orang Oetimu adalah novel lokal terbaik yang kubaca tahun ini. Serius!

Hajindul, keren banget! Sabtu malam kemarin (26/09/20) saya chat WA sama teman diskusi (buku, bola, film) – Bung Tak saya memanggilnya – bahwa pemenang KSK tahun ini adalah Orang-orang Oetimu, beliau punya podcast channel dan mau undang ngobrol. All hail mokondo channel! Beliau tanya, tahu dari mana? Pengalaman membaca banyak buku membentuk pola, otomatis feeling bagus/jeleknya bisa diperkira. Benar saja, esoknya di Minggu siang yang terik saya mendapat kabar lima besar dari Dunia Maya, dan buku ini melaju. Nah kan! Dari delapan buku KSK 20 yang sudah kubaca, ini satu-satunya yang berbintang lima. Masih dua buku lagi sore itu baru diterima via pos, tapi keduanya sudah gugur duluan. Jadi fix, bisa dipastikan juara Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 kategori prosa adalah novel ini.

Banyak sekali kritik sosial disampaikan. Korupsi, perilaku buruk masyarakat, sampai birokrasi yang ribet. Orang-orang itu telah korup sejak dalam pikirannya, sehingga satu pejabat korup hanya akan digantikan oleh kroninya yang juga korup, dilindungi oleh rezim yang juga korup, dipermudah oleh sistem yang juga korup, dan didukung oleh budaya tidak tahu malu yang menjijikan. Atau kritik kekerasan dalam pendidikan. Dalam asrama itu diperboleh. Tak apa jika mereka dibikin nyonyor dan berdarah-darah. Lebih baik berdarah di masa muda daripada hancur seluruh masa depannya…

Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 ini sepertinya akan berpesta di 15 Oktober nanti. Fiksi Etnografis Sempurna: Orang-Orang Oetimu is lock for best Prosa KSK 20. Wanna bet?

Orang-orang Oetimu | by Felix K. Nesi | Penerbit CV. Marjin Kiri | Juli 2019 | Cetakan ketiga, Februari 2020 | i – viii + 220 hlm, 14 x 20.3 cm | ISBN 978-979-1260-89-3 | Desain sampul TINTA Creative Production | Skor: 5/5

Karawang, 280920 – Jo Stafford – Autumn Leaves (1950)

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokopedia

Delapan sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Hollywood Husbands Book 1 by Jackie Collins

Kehidupan Hollywood yang membara, para suami selingkuh, para istri kelayapan, dan para gembel memuja hedonisme mereka.

“Dulu kita berniat mempertaruhkan segalanya untuk menikmati suasana seperti ini, lucu juga. Sekarang malah tidak menyukainya.”

Dia menyukaiku, dia menyukaiku. Seperti Sally Field kala menang Oscar. “Hi, sayang. Aku sedang duduk melamunkanmu.” Coba banyangkan, seperti apa jadinya bila seseorang kehilangan kecantikan, karier, dan masa depan. Ini adalah pengalaman pertamaku menikmati novel Jackie Collins. Pace-nya cepat, kurang detail sehingga hal-hal kecil tak disentuh, hanya mencerita latar dengan kejadian-kejadian yang bergerak maju. Awalnya membosankan, tapi memasuki bagian dua menemukan klik yang nyaman. Bukunya ada dua, setiap buku dibagi lagi dalam dua bagian utama. Di sini kamu bisa memeroleh apa pun yang kau mau asal ada duit.

Bagian pertama terjadi di bulan April 1985, pengenalan karakter, bagaimana nasib yang satu menggelayut manja di nasib tokoh lainnya. Center kejadian adalah pesta mewah sang artis besar Silver Anderson. Dari pesta itulah merentet efek kejadian selanjutnya. Di bagian kedua setting bulan Juni 1985 dengan titik pusat pesta para gaek di hotel Forum dan nasib cinta Sang Superstar. Semua kejadian utama berpusar di Hollywood, California. Di Hollywood tidak ada yang lebih dari materi dan uang. Dengan uang, wanita secantik apa pun akan memberikan tubuhnya untuk dinikmati.

Suami-suami di sini ada empat tokoh utama. Pertama, Jack Python yang memiliki acara talk show face to face with Python. Kehidupannya mapan bersama artis pemenang Oscar Clarissa Browning, hingga bertemu Jade Johnson. Clarissa sendiri sama rumitnya. Bercinta dengan pasangan main, adalah bagian dari pertunjukan itu sendiri. Hidup adalah resiko dan itu harus dijalani.

Kedua, Mannon Cable, bintang film ternama. Ia berencana menceraikan istrinya Melani-Shania tapi malah terganjal, istrinya hamil. Mannon masih tergila-gila sama mantan istri pertamanya Whitney Valentine. Sang bintang dicerita sedikit di buku satu ini. Whitney hanya mau berpose telanjang, bila imbalannya tidak kurang dari satu juta dollar, dan sejauh ini belum ada yang menawarinya. Ada tiga macam aturan yang harus ditaati Whitney: tersenyum bila wartawan memotret, tampil gaya dan siap untuk tampil televisi, dan pertakukan orang-orang dengan ramah sebab berkat partisipasi merekalah kepopuleran berhasil diraih. Jadi jangan lupakan mereka.

Ketiga, Howard Soloman, kepala studio. Seorang playboy yang sudah menikah empat kali, tapi incaran utama Whitney, mantan istri sahabatnya tak pernah berhasil digaet. Berkepala botak, dan memakai wig untuk bergaya. Memilih film yang akan box-office sama saja dengan memilih seekor anjing dari antara banyak anak anjing yang lain. Seseorang bisa saja keliru memilih yang kerdil, walau kelihatannya punya asal usul yang jelas.

Keempat Zachary K. Klinger, raja Hollywood, pemilik Orpheus Studio bosnya Howard. Kaya raya, hampir semua keinginannya terkabul, tapi tidak untuk sang bintang opera sabun Silver Anderson, yang justru terjebak nafsu sama begundal muda, Wes Money. Zach tak terlalu banyak dikisah ini, mungkin di buku dua. Sebab konflik utama sama Silver tak mengapung dalam, dengan Wes sendiri mencipta bimbang. Ke Las Vegas menikah dengan gembel? “Kota ini penuh dengan orang cantik, tapi kau bellissima, adalah yang istimewa.”

Kisahnya sepusaran itu. Duit menjadi magnet utama karena duit berkuasa. Ketenaran menjadi bumbu yang menyesatkan. Dunia hiburan besar ini memang kejam, melibatkan banyak entitas dan kekuatan siapa kuat akan bertahan. Ada kilas balik dengan huruf miring, itu masa lalu suram korban perkosaan. Amarah sedari remaja. “Justru itu! Kau harus tahu, sumpah serapah tidak membuat orang kelihatan lebih dewasa.”

Sejatinya segala pusat cerita bukan pada para suami, tapi sang artis Silver Anderson. Ia menjadi titik utama kisah, karena mendetail kehidupan dari kecil sampai ending-nya menggantung dilamar telanjang sama budak seks-nya. Masa lalunya hitam, perjuangan mencapai puncak penuh darah dan tetesan air mata. Ini cerita berkutat di situ. “Miss Anderson saya sangat mengagumi permainan Anda yang begitu cemerlang.”

Pesta Silver sejatinya disponsori oleh sebuah studio, hotel, dan promo sponsor. Jadi sekalipun pusat acara, ia mengandalkan nama besar. Nora sang asisten adalah satu-satunya orang yang bisa melontarkan kritik pada Silver tanpa membuatnya marah. Susah dipercaya bahwa Silver menginginkan kehadiran anaknya, karena selama ini ia tak peduli sama anaknya. Silver hidup hanya untuk dirinya sendiri. Nora mengundang anaknya yang terlantar. Dan adiknya ternyata turut serta. Silver sudah berjuang mati-matian berjuang untuk  meraih nama besar sebagai superstar. Dan malam ini seharusnya adalah puncak kejayaannya. Tapi hancur karena kedatangan adik dan anaknya. Melihat mereka saja sudah membuat muak.

Silver adalah wanita dengan segerobak kegiatan. Pesta itu juga jadi ajang saling kenalan, tukar kontak dan tebar pesona. Band bernama The Rats dengan Eddie dan Heaven sebagai leading band-nya. Diperkenalkan ke fotografer terkenal. Seorang model baru akan kelihatan pas pada role ketiga. Nora menyalakan rokoknya yang keempat puluh hari ini. “Katanya ada urusan bisnis.”

Ada kejadian aneh sungguh memalukan ketika pelayan Silver, orang Rusia yang gagah nan perkasa, ketika majikan pergi, ia berdandan gemulai mencoba ngonde, apes ketahuan. Selama tiga tahun Vladimir mengabdi pada majikannya penuh pengabdian dan kejujuran, ia tahu apa yang disuka dan dibenci Silver, dan menjaganya tetap tutup mulut terhadap wartawan. Bayangan dipecat muncul, tapi ternyata hanya detensi. Wartawati Cindy Lou yang suka menulis tajam akan sisi hitam Hollywood, tak segan melontarkan kecaman, maka Silver menghindari wawancara dengannya. Karena Lou ternyata menyimpan masa lalu. Seorang artis yang gagal, penyanyi yang gagal, penulis novel yang juga gagal. Akhirnya nasib mengantarnya menjadi kolomis London dan terkenal dengan kecaman pedas pada artis, penyanyi, dan novelist pada setiap kesempatan.

Lalu saat para suami berkumpul di Las Vegas, para istri ngumpul bergosip. Forum Hotel menyambut Jack, Howard, dan Mannon dengan istimewa. Poppy sebagai istri sang kepala studio punya prinsip: jangan terlalu gemuk, jangan berpakaian norak, jangan duduk di tempat biasa di restoran, dan yang utama jangan sampai diremehkan oleh orang-orang tertentu.

Cowok gombal, karena selama ini kebanyakan cowok yang dikenalnya penuh tipu muslihat. “Aku telah melakukan sesuatu yang keliru. Kuharap aku tak kan mengulangi ketololan seperti ini. Aku tak ingin kehilangan kau, apakah kau memaafkanku?”

Dari bu ibu gosip itulah muncul kabar kebejatan masa lalu pasangan masing-masing. “Aku belum terlalu tua untuk mengingat masa itu…” Ya, seperti kita semua saat ngumpul ngopi, mereka bercerita bagaimana awal mula meniti karier. Jangan dekati lelaki beken, dia memiliki ego yang berlebih. Lelaki seperti ini harus dihindari. “Kau seharusnya menulis buku!” Dijawab ketus, “Nanti, kalau saya punya waktu…”

Berkiprah pada ladang show business tak bisa membuat Silver membagi waktunya untuk bergaul. Seperti Dennis Denby, ia bepergian bersama Silver hanya untuk membonceng populeritasnya. Tak ada cinta di antara mereka. “Aku tidak pernah marah, aku hanya bosen saja melihat tampangmu.” Dennis menjadi cowok paling apes, atau bisa juga disebut konyol sekali mengharap cinta yang dicueki. Huh cinta, mungkin yang begitu tidak pernah ada di dunia.

Acara talk show milik Jack bernama Face to Face with Jack Python. Face to face with Python merupakan media yang efektif untuk promosi film, buku, atau peristiwa lain. Mengingatkanku pada acara Empat Mata Tukul Arwana yang pernah booming. “Kau bisa membawa pergi seorang Colorado, tapi kau takkan bisa menghilangkan sifat khas Colorado-nya.”

Tata bahasanya sebenarnya gaul dan asyik. seperti kalimat langsung yang bebas. “Nggak usah ngguruin, entar aku juga balas mengeritik cara hidupmu.” Karena di sana kawin-cerai menjadi kelaziman, ada satu kata yang muncul ke permukaan. ‘Prenup’, adalah surat perjanjian yang dibuat sebelum menikah yang menyatakan bahwa seorang suami/istri tak akan menuntut apa-apa dalam hal harta kekayaan bila mereka bercerai. Bila tidak ada perjanjian semacam itu, ia berhak menuntut pembagian harta bila diceriakan. Mannon Cable dan Melanie-Shanna berniat cerai, tapi ada kehamilan yang menghalangi. Lalu Poppy yang merasa hambar dengan uang melimpah, jelas tahu suaminya berengsek. Bahkan endingnya menawarkan Silver dan Wes menuju ke pelaminan.

Sebuah perjudian, bintang besar akankah menikahi gembel. Silver tak terlalu gila untuk menghentikan sesuatu yang disukai, mumpung masih bisa. “Permainan cinta yang menggebu-gebu lebih bermafaat daripada tidur seharian.” Di Hollywood sekali Anda berkencan dengan wanita, besoknya seluruh penduduk di kota itu tahu apa yang terjadi. Namun lanjut ke jenjang serius?

Lalu Wes yang bermasalah di kosnya, ditagih terus sama induk semang. Tetangganya yang cantik Unity yang menawarkan pelihara anjing bersama. Kegiatannya yang amburadul, menghalalkan segara cara untuk dapat uang, termasuk menerima job menagih uang transaksi narkoba yang ternyata adalah jebakan. Wes Money bukanlah orang alim, tapi dalam keadaan seperti ini, dia baru ingat untuk berdoa. Khusuk.

Inilah kumpulan para pesohor Hollywood dengan segala sisi hitamnya. “Aku penggemar cokelat yang fanatik, lengkap dengan segala akibat sampingnya.”

Bersambung…

Suami-Suami Hollywood 1 | By Jackie Collins | Diterjemahkan dari Hollywood Husbands | Copyright 1986 | Alih bahasa Carl Chairul | GM 402.91.050 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Pertama terbit, Januari 1991 | Cetakan kedua, Juni 1991 | 440 hlm.; 18 cm | ISBN 979-511-049-7 (no. Jilid lengkap) | ISBN 979-511-050-0 (jilid.1 ) | Skor: 3.5/5

Karawang, 200720-210720 – None (tidak mendengarkan lagu)

HP Mi4ku rusak, huhuhu…

Thx to Anita Damayanti, enam dari Sembilan

Love Story by Erich Segal

Oliver: “Jenny, kita sudah sah menjadi suami istri.”

Jenny: “Yeah, mulai sekarang aku boleh bawel.”

Uang THR tahun ini, sebagian saya belikan buku, seperti biasa (ketimbang beli baju) melakukan enam kali transaksi beli buku. Transaksi kelima dan keenam, bingkisan kubuka (Ciprut yang #unboxing) malam minggu kemarin (160520) dari Bekasi (Raden Beben) dan Surabaya (Angga Adi) berisi total 16 buku. Kebetulan yang paling tipis buku ini, jadi gegas kubaca selepas nonton bola Bundesliga, ya ampun saya menurunkan kasta nonton live Dortmund versus Schalke, di pergantian hari buku berisi 160 halaman ini sudah selesai baca. Langsung kuulas sekalian, karena waktu melimpah di dini hari begadang ini. Inilah kisah cinta sejati, seperti pembukanya yang berkata pilu, endingnya luluh lantak dalam tangis. Bisa jadi cerita cinta pedih seperti ini sudah banyak dibuat saat ini, tapi buku pertama Erich Segal yang kubaca ini dituturkan dengan kelenturan kata yang menyeset emosi, dan lelaki mana yang tak menangis di lobi rumah sakit dalam pelukan ayah itu? Setegar Hercules-pun akan sesenggukan.

Kisahnya tentang pasangan muda yang tampak sungguh ideal. Oliver Barrett IV adalah mahasiswa Havard yang kaya, keturunan Barrett yang tersohor, jurusan ilmu sosial. Atilt hoki es yang menjadi andalan kampus. Sungguh gambaran pria sempurna untuk menjadi pasangan hidup. Jennifer Cavilleri adalah mahasiswi kere, anak penjual kue dari Cranston, Rhode Island, sebuah kota di selatan Boston, keturuan Italia. Kuliah musik di Radcliffe, berkaca mata, dan tentu saja cerdas. Ini kisah sedih, dan pembaca sudah dikasih tahu di kalimat pertama bahwa, Apa yang bisa kita ceritakan mengenai gadis dua puluh lima tahun yang telah tiada?

Perkenalan mereka tampak biasa tapi dibalut kalimat puitik, Oliver meminjam buku jelang ujian di perpustakaan, Jenny di sana memancing tanya, “Hey mana sopan santunmu preppie?” Dijawab “Kenapa kau begitu yakin aku dari prep school?” Ditimpali, “Tampangmu bodoh dan kaya.” Haha… dibalas lagi “Kau keliru sebenarnya aku cerdas dan miskin.” Dan kena jab, “Oh, jangan menfada-ada, aku cerdas dan msikin.” Justru dari saling sindir itulah hubungan berlanjut panjang.

Oliver anak orang kaya, keturuan keempat Barrett, hubungan dengan ayahnya Oliver Barrett III ga akrab. Memanggil Sir, nurut dalam tekanan dan beban piala, karena sudah tradisi keluarga akan prestasi, bukan sekadar akademi tapi juga olahraga. “Ada yang bisa dibantu?” Adalah keluarga jetset yang sepertinya tak peduli materi, karena melimpah. Keluarga kaya raya pada umumnya yang banyak menuntut sukses anak-anaknya. “Demi aku Oliver, aku belum pernah minta apa pun darimu, please.”

Sementara Jenny adalah keluarga biasa, kepulangan disambut mewah, dan betapa ia sungguh akrab sama ayahnya, karena ibunya sudah meninggal dunia dalam kecelakaan, hungan ayah-putri ini begitu erat dan kuat. Memanggil ayahnya dengan nama langsung, Phil. Menjadi kikuk Ollie akhirnya ketika mengikuti. “Ya, Phil, Sir.” Dan ketika ditegur, makin canggung dan tetap menjawab, “Baik, Phil, Sir.”

Bak cerita sinetron, hubungan ini tak dapat restu si keluarga kaya. Cinta sejati Ollie harus diperjuang, maka selepas lulus S1, mereka menikah. Karena keduanya beda keyakinan maka menikah di tengah-tengah kepercayaan, bangunan kuno Phillips Brokes House, di utara Harvard Yard, dengan pendeta Unitarian. Hidup pas-pasan di apartemen murah, Jenny mengajar, Ollie bekerja sambil lanjut S2 hukum. Kehidupan pasangan muda penuh perjuangan. Hubungan dengan ayahnya sudah putus, sehingga mereka benar-benar berusaha mandiri, berjuang bersama. Cinta mereka, saling menguatkan. Sungguh romantis.

Oliver lulus pasca sarjana hukum, bukan nomor satu tapi nomor tiga, tetap di Law Review. Namun rasa penasaran Jenny, akan siapa yang bisa mengalahkan suaminya menjadi lucu ketika diberitahukan di atas kapal dan ia yang kecewa malah melompat di laut. Ternyata nomor satunya adalah seorang pria kutu buku, introvert yang luar biasa pasif bersosial, dan yang kedua cewek cerdas dengan talenta tinggi. Sebuah kewajaran. Dengan ijazah barunya, ia memiliki peluang karier lebih luas, dengan berbagai pertimbangan dan tawaran yang masuk, Oliver setelah diskusi dengan istrinya mengambil kesempatan kerja di firma hukum Jonas and Marsh di New York dengan gaji tinggi 1.800 dollar. Ekomoni mereka lumayan mapan, Jenny mulai menata harap, dan Ollie ikut club elite. Bencana tiba secepat melesatnya karier mereka ketika program memiliki anak dilakukan. Berbagai percobaan sudah dilakukan, lalu konsultasi ke dokter kandungan. “Rasanya seperti jatuh dari tebing secara slow motion.”

Hasil yang diterima mencengangkan. Bukan hanya gagal memiliki anak, tapi ada masalah pelik yang sungguh berat harus disampaikan. Oliver sempat berujar, yang penting saling mencintai dan ikrar setia. Masalahnya ini menyangkut nyawa. Kesedihan membuncah, ia tak kuasa menyampaikan kepada orang terkasih. Rencana hidup yang tertunda sempat diapungkan, salah satunya harapan Jenny ke kota Romantis Paris, karena dulu sempat mau ambil kursus musik khusus ke sana, tapi gagal demi pernikahan dengannya. Dua tiket diambil, dan rasanya ia tak tega menyampaikan kabar duka itu, sampai akhirnya, fakta mau tak mau mengapung, dalam duka dan kepedihan yang teramat. Ini baru Love Story sejati. Menikam jantung dengan hujaman keras, tak hanya sekali, bertubi dalam duka dan segala kandungan di dalamnya. “Nomor berapa C Minor Piano Concerto? Dulu aku hapal.”

Harus diakui, kisahnya awal terasa klise. Pasangan beda kasta, tampan dan cerdas bersatu lalu mengarungi perjuangan bahtera pernikahan, lalu ekonomi membaik dan timbul benih cerahnya masa depan. Tikaman itu dari vonis dokter, sampai halaman berakhir adalah kesedihan akut. Ditulis dengan kenyamanan dan pemilihan (terjemahan) diksi yang bagus sehingga kita turut terkoyak. Jelas ini tak semanis yang dikira. “Seandainya aku tak berjanji pada Jenny untuk bersikap tabah.

Cerita bagus memang harus menjual konflik berat, lalu pemecahan yang pas. Semakin runyam masalah yang disodorkan semakin asyik diikuti. Love Story memunculkan masalah dengan tikaman yang dalam, bagi pecinta romcom ini alur yang umum. Adegan akhir menantu-mertua di ruang rokok solarium bisa jadi sangat menyedihkan, tapi kesedihan maksimal justru di kalimat-kalimat akhir di lobi. Saya turut menitikan air mata, walau kutahan-tahan juga karena itu sudah menghadapi lembar akhir. Drama cinta memang tak rumit, drama cinta memang harus alami. Dan kepedihan Oliver jelas terasa sangat mendalam, dan nyata. Pernah menangis di rumah sakit? Ya. pernah melelehkan air mata membuncah di pelukan orang tua? Ya. Oliver adalah gambaran duka yang sempurna.

Dan kemudian aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan di depan ayahku, apalagi di dalam pelukannya. Aku menangis.

Cinta berarti tak perlu minta maaf.

Kisah Cinta | by Erich Segal | Diterjemahkan dari Love Story | Copyright 1970 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 95 135 | Alih bahasa Hendarto Setiadi | Jakarta, Januari 1995 | Cetakan ketujuh, Juli 2001 | 160 hlm; 18 cm | ISBN 978-605-135-4 | Skor: 5/5

Untuk Sylvia Herscher dan John Flaxman

…namque… solebatis.

Meas esse aliquid putare nuqas

Karawang, 170520 – Patti Austin – Baby, Come to Me

#Maret2020 Baca

Dunia menghancurkan semua orang, dan setelahnya, sebagian masih berdiri tegar di tempat-tempat yang luluh lantak.” Ernest Hemingway

Maret ini saya lebih santuy padahal, pasca Oscar mau kejari film menuntaskan rutinitas bikin daftar terbaik di akhir bulan. Ternyata santuy pun dapat sembilan buku, dengan enam sudah ulas. Dua buku baru dengan keduanya adalah Penulis yang sudah berteman menjadi prioritas kejar. Sejujurnya kurang memenuhi ekspektasi, sebagai naskah yang menang di kompetisi sekelas DKJ, tapi memang beberapa naskah lain tahun-tahun sebelumnya ga jauh beda sih. Jadi mari kita lihat buku apa saja yng kutuntaskan di bulan ketiga ini.

#1. Babad Kopi ParahyanganEvi Sri Rezeki
Cerita sejarah kopi dengan iringan fiksi. Kubaca hanya dalam sehari, dari pagi sampai sore di hari Senin, 16 Maret 2020 di Galuh Mas dari satu ruko ke ruko lain, lalu ke kursi Taman Baca Bustaka, Karawang. Ceritanya membentang dari present day di sebuah kedai kopi dengan blazer menawan dikenakan bertemu dengan barista terkait motif pertemuan. Lalu alurnya jauh ke masa kolonial di perkebunan Bandung. Monoton, maaf Marjin Kiri. “Orang sunda itu tidak pemalas Rim. Tidak perlu dipaksa-paksa buat kerja. Kami hanya mengambil sesuatu dari alam secukupnya.”

#2. Seorang Gembala Yang Tertidur Panjang di Akhir ZamanA. Mustofa
Cerita tentang waria, seorang penganut Ahmadyah dan selingan sebuah kolam lumpur dengan hikayat babi. Setelah 2/3 buku yang datar, jangan letakkan bukunya. Endingnya menyelamatkan cerita ini, hufh… karena saya memang ngalir saja jadi ada kejutan manis bagaimana sang gembala terbangun. Berdasarkan kisah nyata Roro Willis, menjadikannya lebih jleb. Semarang di temaram malam di pinggir jalan, dengan bidadari yang mewarnai. “Cinta-cintaan itu Cuma buat anak kecil Wan, kamu pikir kalau aku percaya sama cinta, aku bakalan nyebong kayak gini?” Selamat Opan!

#3. Kitab Para PencibirTriyanto Triwikromo
Kumpulan puisi serasa kumpulan fiksi mini. Bagus banget, ngalir diskusi tuhan dan hakikat hidup. Isinya lebih nyaman diikuti ketimbang puisi yang hanya menutur beberapa bait. Perlu tafsir jua karena banyak diskusi makhluk dengan tuhan. Aib terbesarku adalah menciptakanmu. “Di mana kau sembunyikan sesuatu yang menyerupai laut?” Ini bisa jadi kumpulan puisi pertama yang memuaskan saya. Sejauh itu, saya tak terlalu ‘in’ dengan kata-kata puitis.

#4. The Book of MirrorE.O. Chirovici
Luar biasa. Kejutan itu memberi alur mundur, penelusuran pembunuhan tiga puluh tahun yang tak terungkap tiba-tiba muncul ke permukaan dan meyentak pribadi-pribadi yang tenang. Mengalir dalam balutan novel, potongan-potongan masa lalu menjadi cekam menakjubkan. Memainkan kenangan, memainkan hati, lalu jiwa yang sekarat itu menuliskan novel berdasarkan kisah nyata, mencekam dan mengungkap dalang pembunuhan lama yang tertutup. Dengan pola telusur seru. Mendebarkan, saling slinag tebak pelaku, hingga ledakan di akhir. “Dengarkan saran orangtua Richard. Ketika perempuan merasakan kau punya sesuatu terhadapnya, dia akan mulai menguji kekuatannya dan mencoba mendominasimu.”

#5. All the Bright PlacesJenniver Niven
Kisah remaja bunuh diri yang janggal. Dibuat sepuitis mungkin, apa yang ditampilkan memang menawarkan drama remaja tapi problematikanya dewasa karena menyangkut nyawa. “Ke mana kau akan pergi kalau kau bisa ke mana saja?” / “Aku akan ke Bukit Hoosier bersama gadis cantik.” Heleh, gombal! Tapi untuk karaketr yang sakit psikologis dan mau bunuh diri, yah silakan sih. Aku merasakan desakan untuk mengucapkan sesuatu yang mengesankan dan puitis, tapi satu-satunya yang terpikir olehku adalah, “Ini Elok.” Mungkin karena mencoba memesona, justru cara itu malah mbulet sendiri, terjerat kata-kata. Toh akhirnya mati juga.

#6. Ender’s GameOrson Scott Card
Invasi pertama bugger ke bumi bisa digagalkan oleh pahlawan kita Mazzer Rackman. Invasi kedua pun bisa sukses dihalau, kini bumi menghadapi rencana invasi ketiga, tapi kali ini kita mempersiapkan diri lebih matang. Sebelum makhluk alien bugger menyerang, kita akan melakukan tindakan terlebih dulu. Adalah Ender Wiggin yang menjelma anak didik, ditempat istemewa sejak umur tujuh tahun. Di sekolah luar angkasa. Game itu menjelma nyata, tanpa ada pemberitahuan. Kisahnya berlaur lambat karena memang mengedepankan drama keluarga dan hubungan emosional aliens. Sebuah masa depan yang tak jauh dari sekarang, di mana planet-planet diduduki, dan monster luar angkasa saling menaklukkan. “Sekarang, sebelum sabun mengering. Sekarang, selama tubuhku masih licin untuk dipegang.”

#7. Mengukir Masa DepanNidhoen Sriyanto
Upaya Negara menghilangkan kesenjangan sosial di era Orde Baru dengan mensimulan warga bahwa bekerja itu ga harus di kantor. Ga harus gajian, bisa dengan berwiraswasta, dalam cerita dimodelkan dengan keluarga ideal: kerjaan mapan sang ayah, ibu rumah tangga dengan dua anak laki dan perempuan. Benar-benar untuk warga Negara yang bahagia. Meninabobokan, buku klasik yang umum ditaruh di perpustakaan sekolah. “Kau sebagai tukang di pabrik perakitan mobil, masih menerima gaji dari pabrik. Sedangkan saya sebagai tukang kayu, tak ada yang menggaji saya. Yang menggaji saya adalah pekerjaan saya. Pekerjaan yang saya ciptakan sendiri. Saya tak khawatir sedikti pun. Dapat makan, dapat membeli pakaian dan dapat membuat rumah seperti orang-orang lain yang menerima gaji tiap bulan.”

#8. A Monster CallsPatrick Ness
Ceritanya berat, monster pohon yew yang muncul di tengah malam lebih tujuh menit. Ibunya sekarat, ga cocok sama neneknya, ayahya kawin lagi dan tinggal di Amerika. Dan kesuraman akut menyelingkupi. Dengan modal empat kisah masa lalu yang mendetail menuju masa kini, dari ilusi yang tampak menyeramkan menjelma kenyataan. Sempat kubacakan ¼ awal untuk Hermione, tapi kuhentikan karena ternyata bukan cerita anak-anak. Conor O’Malley remaja dengan fantasi kelamnya. Ilustrasinya keren. Salut! Sudah difilmkan, baiklah masuk daftar buru untuk kutonton. “Kisahnya berakhir dengan penghancuran yang tepat, kalau itu maksudmu.”

#9. Winnie The PoohA. A. Milne
Sudah sejak tahun 2018 memilikinya, mau baca ketunda terus. Bukan karena ga ada waktu, sedang menanti saat yang tepat saja kubacakan ke Hermione. Dan alhamdulllah, sukses mempesonanya. Dia langsung menjadi fan berat Winnie The Pooh, bahkan bisa mencerita per bab isinya apa. Suka menyanyi lagu Pooh, suka bermain dengan binatang rekan-rekan Christopher Robin di Hutan Seratus Ekar. Dan antusias tinggi ingin memiliki boneka si kuning.

Terima kasih Noura, sudah menghadirkan buku bagus banget sebagai teman dongeng Hermione jelang tidur. Kubaca dua bab perhari yang berarti selama lima malam yang luar biasa melalangbuanakan imaji ke dunia ajaib. “Ya, sambil berjalan ke sini aku berkata kepada diriku sendiri, mungkinkah Christopher Robin punya semacam balon? Aku berbicara sendiri, memikirkan balon, dan penasaran.”Berkat buku ini, Apa cita-cita Hermione? Jadi ilustrator seperti Ernest H. Shepard. Wow

Karawang, 100420 – 160420 – Sherina Munaf – Kisah Sang Lebah

Jamaloke – Zoya Herawati

Dalam pandangan paling sempit sekalipun, manusia cenderung mempertahankan hak hidupnya. Kalau kesalahan itu terletak pada seni mengukir nasib, apa gunanya manusia punya pikiran.”

Peperangan sepanjang sejarah manusia, adalah kebiadaban yang direstui, setidaknya oleh kekuatan yang dapat dengan mudah menggilas pihak yang lemah. Novel sejarah dari zaman kemerdekaan sampai zaman awal Orde Baru. Premisnya menarik, menawarkan gejolak yang terjadi di dalam, seteru lebih banyak dengan orang-orang kita sendiri, bukan Belanda atau Jepang, garis besarnya kita semua sudah tahu. Bagaimana Hari Pahlawan tercipta, bagaimana Belanda coba lagi mendompleng ke Negara kita pasca Jepang runtuh, bagaimana kita mengalami masa sulit setelah Proklamasi justru saling sikut antar etnis dan golongan. Sebagian besar sudah tertera di buku sejarah. Aku memandangnya tanpa ekspresi, bagiku gambar-gambar tersebut tak lebih dari sekadar benda mati. Kalau orang lain mengekspresikan dengan arti lain, itu urusan mereka.

Sebagai pembuka, kita sudah dikasih tahu bahwa novel ini diangkat dari pengalaman seorang veteran perang. Walau tidak seluruhnya, jalan ceritanya mirip dengan perjalanan hidupnya. Selebihnya, jalan cerita dalam novel ini adalah atas dasar imajinasi penulis. Catatan sejarah ada di mana-mana, di benakku juga.

Kisahnya adalah tentang aku, karakter tanpa nama yang memiliki dua saudara, terlahir miskin di era kolonial. Kesadaran muncul secara tiba-tiba. Dalam situasi seperti ini, hal yang paling remeh sekalipun sulit dilaksanakan. Sekolah adalah hal langka, maka ketika ia berhasil lulus Vervolk School dengan biaya penuh perjuangan, aku melanjutkan HIS. Melewatkan masa remaja di tahun 1940an, saksi sejarah berdirinya Indonesia. Bagaimana kedatangan Jepang yang berhasil mengusir Belanda disambut sorak sorai, sebagai saudara tua. Saat pendudukan Jepang itulah ayahku meninggal. Ga sempat mengalami kemerdekaan. Secara pelan-pelan, kucoba untuk meredam semua kekecewaan yang ditimbulkan keadaan.

Untuk menyibukan diri, aku bergabung dengan PETA, kesatuan militer bentukan Jepang, masuk sebagai Pelopor. Tanggal 14 Februari 1945, PETA melakukan pemberontakan, untuk menagih janji merdeka. Saat itulah masa-masa krusial kita. Aku selalu mencoba menenangkan Emak, yang kini sendiri setelah dua saudaranya menghilang tanpa jejak. Toh setiap lakon dalam hidup menjadi bagian yang tidak lagi penting setelah kita mampu melepaskannya dari pikiran-pikiran. Sampailah kita di hari penting, 17 Agustus 1945. Perjuangan, apapun maknanya, menurut perasaan mereka tak akan pernah usai. Tiba-tiba saja kebencianku pada perang makin menjadi, melebihi waktu-waktu sebelumnya. Karena peperangan telah secara paksa berhasil mengoyak-koyak impian remajaku, karena peperangan telah dengan bengis merenggutkan seluruh harapanku atas orang-orang kucintai.

Masalah kini adalah mempertahankannya, tipu muslihat, kekecewaan, ketidakjujuran, sewaktu waktu bisa mengecoh siapa saja yang lengah. Jiwa mudaku juga meronta, maka pencarian jodoh dilaksanakan. Wanita, bagiku selalu saja menambah persoalan yang sudah ada menjadi bertambah ruwet, karena wanita sendiri adalah sebuah masalah yangtak terselesaikan. Sayang di era peralihan dengan banyak permasalahan ekonomi ini, cinta itu kandas. Kuletakkan seluruh persoalan pada pikiran, bukan pada perasaan. Seseorang yang mampu melecehkan dan mencemooh diri sendiri, menertawakan dan mengejek diri sendiri, adalah satria bagi nuraninya.

Surabaya, seperti kita tahu menggelar perang paling akbar Republik ini dalam mempertahankan kemerdekaan. Kebanggaan membuat bulu-bulu di tanganku berdiri, walau tidak kuingkari terselip juga sepercik keraguan-keraguan dalam benak. Beberapa percobaan menggulingkan pemerintahan juga terjadi. Aku tak bisa mengerti mengapa orang harus melakukan penghianatan. Apakah krisis itu sudah sedemikian parah?! Sebegitu jauh aku tak bisa meraba sampai dimana krisis kepercayaan kepada diri sendiri melanda para prajurit.

Perjuangan belum berakhir. Aku bergabung dengan tentara gabungan Pemerintah, bersama pasukan Serigala. Agaknya nama Serigala mempunyai kekuatan khusus bagi semangat prajurit-prajurit. Kesedihan bisa datang setiap saat. Kesengsaraan dan kemiskinan menyertai dengan kesetiaan sempurna sampai ke liang lahat. Emak meninggal dengan dramatis ketika isu kematianku menyeruak, padahal dalam Agresi Militer Belanda, saya hanya terluka dan tinggal dalam perawatan. Pasang surut sejarah terus mengalir, sementara gerilya-gerilya masih terus menghantui Belanda dengan ketegarannya menembus benteng-benteng pertahanan mereka. Sesungguhnya mereka tidak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi. Yang mereka ketahui adalah mengapa mereka selalu dapat dikalahkan oleh kekuatan, mereka menyesali nasib, mengapa mereka tetap bodoh walau terdapat pengajaran dimana-mana…

Kata Jamaloke baru muncul di halaman 116. Jamaloke, sandang pangan goleko dewe, tak ada arti khusus hanya dipakai untuk melengkapi keindahan pada kata sandang pangan goleko dewe yang artinya, sandang pangan cari sendiri. Kata jamaloke sering dipakai kaum gerilya yang beroperasi di daerah di Jawa Timur. Sebuah permainan kata untuk para prajurit yang diminta bertahan dengan pakaian dan makanan dengan upaya sendiri.

Susahnya dalam dunia logika, semua permainan bisa diterima, bertolak dari apa dasar pijakan tindakan-tindakan penghianatan itu bermula. Setelah negara sedikit tenang, para sahabat yang merangkul dalam era perjuangan, ada yang menjilat demi uang atau takhta. Kecurangan itu ada di mana-mana, sama seperti penghianatan, ia tumbuh subur tanpa bisa dicegah. Khotbah yang keluar dari mulut penghianat adalah bagai racun yang memastikan hanya dalam beberapa detik. Sang aku tetap pada kemandirian, mengayuh becak, menyewakan ruang dalam rumahnya, bertahan hidup di rakyat bawah. Manusia telah menjadi budak dirinya sendiri dalam satu ruang hampa. Penduduk desa yang lugu, menganggap semua yang keluar dari mulut pamong, merupakan kebijaksanaan yang tak perlu dikaji terlalu njelimet.

Hanya orang gila yang tak tertarik pada kesempatan dan peluang, aku dan dia punya hak untuk menentukan jalan hidup. Pasangan penyewa rumah memang tampak bermasalah, banyak selebaran, banyak menyelenggarakan pelatihan/seminar dan desas desus menyebar. Secara refleks, oh ini Partai Komunis. Dan sayangnya, Penulis ga menyimpan cadangan kemungkinan lain. Ya, semua datar. Maka saya langsung berasumsi, menuju tragedi tahun 1965 itu. Tak mudah bagiku untuk mempercayai orang lain, sebab di balik manisnya wajah, tersembunyi prasangka-prasangka buruk.

Orang tak akan pernah tahu jalan pikiran kita, jika bukan diri kita sendiri berusaha untuk menunjukkan. Ada satu teman yang ternyata senasib sepenanggungan, juga memutuskan mandiri, Masran teman perang. Pemahaman tentang nasib merupakan misteri yang sampai kapanpun tak bakalan mampu terkuakkan. Dengan kesadaran penuh, orang lebih menyukai kepalsuan, karena kepalsuan dapat dinikmati dengan mata wadag, bukan mata batin. Aku bahagia karena dapat menertawakan diri, melecehkan nasib, dan memandang dengan lucu segala kesulitan yang menghadang.

Di tahun genting 1965, kisah ini masih saja mengapungkan prasangka, menawarkan tanya apa yang akan terjadi. Bukan gitu sih seharusnya. Ingat, ini sebenarnya bukan buku sejarah, ini novel olahan imaji, cerita tak akan menarik bila menjelaskan hal-hal yang sudah pasti. Dan Jamaloke malah mengikuti garis itu. Pemahaman terhadap nafsu dan kehendak yang hanya sebatas daging dan kulit saja, membawa pikiranku ke arah pengertian lain tentang kehendak dan jiwa yang telah didasari dengan pikiran-pikiran bersih tentang nurani.

Overall: Apa gunanya mencerita sejarah yang sudah umum? Menuturkan ulang dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Tak ada kejutan, tak ada sesuatu yang wow mau dipertunjukkan, detail perang juga nanggung, drama sangat kurang, semua serba nanggung. Ekspektasiku adalah gelora Perang Surabaya yang legendaris, adegan penyobekan warna biru dalam bendera Belanda, pidato Bung Tomo, semangat membara Jenderal Sudirman, tak ditampailkan dengan bagus, semua nyaris tanpa ekspresi. Mungkin karena tokoh aku, hanya prajurit, tapi tetap, cerita yang bagus adalah cerita yang bisa mengungkapkan daya upaya karakter untuk memberikan warna lebih buat pembaca. Sang aku pasif, pasrah akan hidup, merasa tak dihargai negara. Dan pada akhirnya mati tanpa tanda jasa pahlawan, ataupun penyebutan namanya di buku sejarah. Dalam buku-buku Christie, pelayan atau pembantu rumah tangga selalu punya peran penting. Seharunya sekalipun prajurit, ledakan yang terdengar lebih nyaring karena ada di front perang terdepan. Sayang sekali…

Karena keyakinanku akan karma, aku ingin mengingkari sebuah janji, dengan harapan tak seorangpun akan berbuat serupa terhadapku. “Perang dan kewajiban mengajarkan seseorang untuk bersikap hati-hati terhadap segala bentuk tipu muslihat.”

Ia pasrah karena ia sudah merasa menang atas dirinya sendiri. Seperti ending-nya yang menyedihkan, betapa miskin, betapa kesendirian, betapa sunyi. Wanita seperti yang selama ini kubayangkan, tampaknya mampu bersikap tegas, meski sebenarnya agak naif. Hanya ada beberapa hal yang membedakan gadis itu dengan emak, selebihnya, mereka semua sama persis sama, egois dan serba membingungkan. Ternyata kesendirian bagiku merupakan karunia. Dalam situasi yang sulit ini aku merasa bersyukur karea taka da siapa-siapa yang harus menjadi tanggunganku. Berbahagialah perempuan yang pernah menolakku, dengan demikian, ia telah terhindar dari kemiskinan. Budaya diam serta pasrah terhadap lakon dan nasib, masih kuat dala, tatanan masyarakat, meski kedengarannya hal itu, amat merendahkan budi.

Tujuh sudah, tiga menuju.

“Itulah sepenggal lakon sejarah.”

Jamaloke | Oleh Zoya Herawati | Copyright 2019 | Halaman: xii + 224 | Ukuran: 13 cm x 19 cm | Editor S. Jai | Desain Ferdi Afrar | Penerbit Pagan Press | Cetakan pertama, November 2018 | ISBN 978-602-5934-26-1 | Skor: 3/5

Kupersembahkan Buat para Srikandi Indonesia

Karawang, 101019 – Sherina Munaf –Simfoni Hitam

Dicetak oleh Penerbit Indie, Pagan Press dengan kualitas cetak ala kadar, seolah buku hasil foto copy kertas buram pinggir jalan. Buku ini bisa menyeruak ke dalam kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Hebat. Ada ratusan typo, awalnya akan saya koreksi dan tampilkan, tapi saking banyaknya yo weslah.

Thx to TB Buruh Membaca