The Partner adalah Novel Tukang Tipu yang Ditipu, Hingga Pembaca Turut Dikelabui

The Partner by John Grisham

“Tak ada masalah. Ini bukan pertama kalinya ia menggugat tergugat yang salah. Ini strategi. Sedikit simpati tidak akan merugikan.” – Patrick

Diburu dan memburu, polemik hati dan limpahan putar uang gede menyeret banyak kalangan guna adu cerdik, mengetuk Dinding Ego para pengacara. Ini kisah tentang pengacara Amerika yang memalsukan kematian, menyaksikan pemakamannya pada 11 Februari 1992, mencuri 90 juta dollar dari biro hukumnya, dan tertangkap empat tahun kemudian ketika menyepi hidup di Brasil. Uang tersebut sudah dalam perjalanan, sudah disetujui, dokumen-dokumen sudah ditandatangani, perintah-perintah sudah dimasukkan; mereka bisa melihatnya, mencium baunya, nyaris menyentuhnya ketika Patrick Lanigan yang mati menyerobot uang tersebut pada detik terakhir yang memungkinkan. Uangnya bergerak cepat dan sungguh merumitkan diri. Dari Washington ke Nasional Bank, sejam kemudian sampai di Nassau, lima belas menit sudah di United Bank, dan Sembilan menit berlalu tiba di Malta, dan akhirnya berpindah ke Panama. Novel setebal 500 halaman yang sangat memikat, mungkin salah satu cerita tentang pengadilan terbaik yang pernah kubaca. Desas-desus dikumpulkan, didengar, diciptakan. Rahasia menjadi hal langka di Coast. Harapan kian meninggi, sementara gosip didaur ulang. Tak ada komentar dari para pemain, tapi spekulasi liar dari reporter. Uang yang dicurinya terlalu banyak, seandainya jauh lebih sedikit korban-korbannya tidak akan begitu bertekad memburunya.

Pembukanya Patrick Lanigan ditangkap di Ponta Pora, kota kecil yang nyaman di Brasil, perbatasan dengan Paraguay oleh Biro penyelidik terkenal dari New Orleans, dipimpin oleh Stephano, mereka menginterogasinya. Cara memaksa minta informasi dengan penyiksaan brutal, dengan listrik dan darah di mana-mana malah menjadi boomerang. Patrick dengan uang haram 90 juta dollarnya menjadi sangat menarik.

Kisahnya ditarik mundur. Plotnya acak, beriringan, karena setiap keping jawab akan memenuhi lubang berikutnya. Bogan usia 49 tahun, ia yang tertua di antara berempat. Doug Vitrano, sang litigator yang mengusulkan Lanigan menjadi partner kelima menjadi: Bogan, Rapley, Vitrano, Havarac, dan Lanigan. Pengacara dan penasihat hukum. Dengan iklan besar “Spesialis dalam Bidang Kerugian Lepas Pantai”. Spesialis atau tidak, seperti kebanyakan biro hukum, mereka akan menerima apa saja bila uangnya besar. Biro hukum dengan begitu banyak kebencian. “Apakah kamu berpikir kita akan memperoleh uang itu, Charlie?”

Patrick lalu diminta dilepas oleh FBI, dibawa ke Amerika untuk ditangani. Karena lukanya mengerikan, ia tidak ditahan di penjara, ia dirawat khusus di rumah sakit. Di Biloxi, setting utama cerita ini langsung masuk headline, kasus pencurian yang yang besar menarik minat. Ancaman dikurung di Penjara Parchman mengerikan.

Kehidupan pribadi Patrick dikupas. Pernikahannya yang tak bahagia sama Trudy. Trudy adalah gambaran cantik impian masa kini, secara fisik. Badan ramping dibalut pakaian senam, berlumur keringat, berambut pirang diekor kuda dengan kencang. Tidak ada satu ons pun lemak di tubuhnya. Sekaligus berhati kejam, sangat sadis. Sudah tepat Patrick menciptanya menjadi mantan istri: wanita yang menyenangkan, tapi berubah jadi keji ketika langit runtuh. Anaknya Ashley Nicole bukan anak kandung Patrick, kemungkinan anak kandung Lance Maxa selingkuhannya. Tes DNA dan foto-foto telanjang itu bukti yang kuat. “Kuucapkan selamat, tak ada lagi yang terlibat.” Karena kita tak akan membahas urusan gugatan cerai berikutnya, kita sampaikan di sini saja. Trudy mendapat asuransi kematian Patrick sebesar 2.5 juta dollar. Dengan bangkitnya ia dari kubur, jelas ia kebakaran kaus senam, maka ia menuntut balik. Naas, segala bukti mengarah Trudy (dan Lance) salah, dan kalah telak. Namun karena ini masalah paling sepele di sini, oleh Grisham dieksekusi santuy, memuaskan banyak pihak. Bisa kubayangkan Pengacara Trudy, Si J. Murray Riddleton jumawa dan gede ndase, hahahaha… Kedengkian menjadi kecenderungan yang wajar.

Patrick terancam dituntut hukuman maksimal karena terindikasi pembunuhan berencana, sebab proses kaburnya terbukti ada mayat. Jadi ia melakukan ‘bunuh diri’ mobilnya kecelakaan tunggal, terguling, terbakar, dan ditemukan mayat yang kita semua kita itu dia, sekarang kita tahu mayat itu tokoh asing. Apa pun yang diberikan klien saya dijamin undang-undang dan rahasia, Anda tahu itu. Itu dinamakan produk kerja pengacara. Cutter membenci pengacara, karena mereka tidak mudah digertak.

Selama masa pemulihan tinggal di rumah sakit dengan penjagaan ketat. Kunjungan dibatasi, Hakim Karl adalah sahabat lama dan kisah ini banyak sekali melintas masa lalu dari tuturan mereka berdua, ia bersimpati dan jelas tak akan menjadi hakim di sidangnya. Kunjungan ke rumah sakit adalah kunjungan teman lama. Nama samaran Carl Hildebrand (untuk menghormati beliau), lalu menjadi Randy Austin. “Aku hakim, fakta-fakta penting bagiku.” Mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun, lama sesudah ia berlalu. Ada begitu banyak pertanyaan, begitu banyak untuk diucapkan. Ruangan itu berputar dengan berbagai kemungkinan dan skenario.

Kepada Hakim Karl, Patrick menumpahkan banyak sekali hal. Proses kecelakaan yang disengaja. Aku tak tahu bunyinya akan begitu ribut. Bunyi sirine itu begitu keras, tahulah aku aku berlari menuju kebebasan. Patrick sudah mati, dan membawa serta kehidupan buruk. Proses mengambilan mayat, dan siapa dia. Pembaca yang pening dan deg-degan malah tertipu, betapa mudahnya proses itu terasa. Cuma butuh sedikit pemikiran dan perencanaan.

Kasus ini menjadi besar dan semakin meluas dengan setiap fakta baru dibuka. Aku bergulat mati-matian untuk memecahkan satu teka-teki, dan sepuluh misteri lain menimpaku. Ada perkataan dari film lama, “Saat kau melakukan pembunuhan, kau melakukan dua puluh lima kesalahan. Bila bisa memikirkan lima belas di antaranya, kau jenius.”

Dalam prosesnya malah kita mendapati kebusukan birokrasi dan seluk beluk pengadilan. Orang tak bisa merampok bank, tertangkap, lalu menawarkan mengembalikan uang itu bila tuduhan dicabut. Keadilan bukan untuk diperjualbelikan. Para seniman pengadilan bekerja terstruktur. Kerjanya dalam sidang metodis, bebas dari gaya framboyan dan mematikan. Negara versus Patrick Laginan, sidang kasus nomor 96-1140. Jaksanya adalah T.L. Parish yang sudah sarat pengalaman, menjebloskan para penjahat. Duel pengadilan yang patut dinanti.

Seorang gadis yang menjadi penghubung kasus ini lalu diungkap. Nama aslinya Eva memakai nama samaran Leah. Kau tidak boleh panik ketika kau dalam pelarian, demikian berkali-kali Patrick berkata. Kau berpikir, kau mengamati, kau menyusun rencana. Patrick menyewa pengacara sahabat kuliahnya yang handal, Sandy. Seperti teman-teman kuliah, mereka begitu saja pergi menempuh jalan masing-masing. Negosiasinya sangat jago, tapi karena Patrick sendiri pengacara seolah Sandy adalah pion, otaku tama segala keputusan jelas sang tersangka. Sangat licin dan liat, waspadalah para pembaca kalian menuju terkelabui. Kalian para pengacara memang saling mengurus diri sendiri. Pengacara perusahaan asuransi selalu bepergian berpasangan. Tak peduli apa pun tugas yang harus ditangani, harus ada dua orang sebelum pekerjaan dimulai. Keduanya medengarkan, melihat, berbicara, mencatat, dan yang terpenting keduanya menagihkan uang jasa untuk pekerjaan yang sama.

Proses pencurian data selama Patrick menjadi partner malah tampak keren sekali. Membeli pelacak, pengintai, penyadap, sampai segala peralatan canggih di era 1990-an. Ruangan bernama Closet karena sempit. Ada meja kecil berbentuk persegi dengan satu kursi pada masing-masing sisi. Tanpa jendela, dengan langit-langit miring karena ada anak tangga di atasnya. Keluar dari Closet ada yang kesal, sambil mengumpat di setiap langkahnya. Menjadikan meja dan kursi itu saksi mati bagaimana nego para pengacara berengsek ini mencuri duit Negara, dan nama seorang tokoh politik terekam.

Aricia, Monach-Sierra, dan Northern Case Mutual. Perputaran uang yang melibatkan penyandang dana besar akan kebakaran jenggot kalau foto-foto penyiksaan itu disebar ke media. Rekaman, foto, sampai bukti transaksi menjadi barang sangat mahal. Jutaan dollar diputar dan dibahas agar tak ada yang merasa dirugikan. Sebab kalian semua di sini, sebab kalian semua mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan.

Akhir sidangnya sendiri datar, seolah terhenti karena para penuntut kelabakan. Patrick sang perencana ulung, sudah memegang kartu truf semuanya. Usulan aneh, Patrick bebas terasa mustahil di akhir, tapi menjadi sangat lumrah di akhir. Parrish sendiri tidak keberatan, ia memiliki jadwal delapan sidang lain dalam tiga minggu ke depan, sehingga melepas perkara Lanigan melegakan baginya. Tak ada pembebasan tanpa uang jaminan untuk ekstradisi. Tahun-tahun itu begitu jauh, suatu kehidupan lain. Selama bertahun-tahun barang-barangnya telah disingkirkan, barang-barang kenangan di masa kanak-kanak.

Luar biasa. Benar-benar buku yang menggigit, lumer basah sempurna. Menggelepar-gelepar. Menegangkan sejak awal, membelit rumit di tengah negosiasi, mengejutkan akhir. Kita diajak tur, menjelajah kehidupan para manusia elit di biro hukum, tangan-tangan kotor yang menyalurkan uang, memegang kendali, lobi panas, dan memang piramida itu memuncak pada tokoh politik. Nama baik adalah segalanya dalam sosialita demokrasi masa kini, tak bisa dibantah semua orang menghindari, tentu sejauh-jauhnya pencemaran nama baik. Bahkan pembalikan keadaan, hampir semua yang dilakukan Patrick Laginan adalah ancaman namanya rusak, bukti yang kuat membuat ketakutan para pemegang jabatan, nilai saham yang runtuh, sampai penegasan bahwa sejuta-dua juta dilepas untuk membungkam itu seolah tak terlalu masalah. Korupsi adalah efek buruk demokrasi yang menjerat leher mereka yang tak kuat iman. Dalam perjalanan menuju pertemuan penting, tetapi terperangkap kemacetan, dan aku memandang ke teluk. Di sana ada perahu layar kecil yang hampir tidak bergerak di cakrawala.

Impian liar Grisham untuk kabur dari realita yang menamatkan sudah dua kali ini kubaca. ”Semua orang ingin lari, Karl suatu saat dalam hidupnya. Semua orang berpikir untuk kabur. Hidup selalu lebih baik di pantai atau di pegunungan… Kau bangun bersama terbitnya matahari. Menjadi orang baru di dunia baru, segala kekhawatrian dan masalah kau tinggalkan.” Sebelumnnya di kumpulan cerpen Ford County juga ada. Hidup dalam pelarian memang petualangan sangat menggetarkan dan romantis, sampai kau tahu ada orang di belakang sana.. saya pribadi berkali-kali memimpikannya, menghilang dari bosan. Impian untuk pergi begitu saja, menghilang dalam kegelapan malam dan ketika matahari terbit kita jadi orang lain yang benar-benar baru. Orang-orang Brasil yang malang, semua pengacara curang berlari ke sana. Semua masalah tertinggal di belakang – kerja keras yang menjemukan, patah hati karena perkawainan yang buruk, tekanan untuk kaya…

Vonis bersalah berdasarkan sentimen publik perlu diwaspadai. Masih sangat segar diingatan bagaimana sebuah kasus di ibukota kita tercinta mencipta kegaduhan karena kasus yang abu-abu. Namun sentimen dan desakan publik ternyata menguat. Sedih sih, di sini keadilan terasa tegak, walau pada ujungnya sang protagonist kena batunya.

Patrick telah memberikan rahasia paling gelap, paling mematikan, dan Eva berjanji akan selalu melindunginya. Setelah bertaruh segalanya, melimpahkan tanggung jawab besar kepada kekasihnya ini, kita dibuat terperangah. Keadilan hanya kain lap, keadilan sekadar kata-kata. Endingnya benar-benar jleb!

Sang Partner | By John Grisham | Diterjemahkan dari The Partner | Copyright 1997 | Alih bahasa Hidayat Saleh | GM 402 97.668 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Juli, 1997 | 592 hlm.; 18 cm | ISBN 979-605-668-2 | Skor: 5/5

Untuk David Gernert: teman, editor, agen

Karawang, 270720 – None (tidak mendengarkan musik)

HP Mi Noted4-ku mati

Thx To Raden Beben, Bekasi

Reuni Hitam di Pemakaman Sang Pelatih

Bleachers by John Grisham

Bagaimana kau bisa tidak merindukan Rake begitu kau bermain untuknya? Aku melihat wajahnya setiap hari, aku mendengar suaranya. Aku bisa mencium bau keringatnya. Aku bisa merasakan dia menghantamku, tanpa bantalan. Aku bisa menirukan geramannya, gerutuannya, omelannya. Aku ingat cerita-ceritanya, ceramah-ceramahnya, pelajaran-pelajarannya. Aku ingat keempat puluh permainan dan ketiga puluh delapan permainan yang kujalani sewaktu masih mengenakan seragam. Ayahku meninggal empat tahun yang lalu dan aku sangat menyayanginya, tapi, dan ini sulit dikatakan, Eddie Rake lebih berpengaruh bagiku daripada ayahku sendiri.” – Nat

Tidak ada yang menyayangi Rake seperti Silo. Apa yang terlitas pertama kali saat selesai menikmati Bleachers? Sir Alex Ferguson. Seorang pelatih kenamaan yang bertahan lama di Manchester United dalam liga paling keras sedunia English Premier League, metode pelatihnya yang keras sehingga menimbulkan banyak konfliks dalam tim. Hubungan dengan Roy Keane yang buruk, bisa sangat mirip dengan bintang lapangan Neely. Yah, karena saya tak mengenal football Amerika, dan sangat akrab dengan football maka pembandingnya sepak bola saja.

Kisahnya mengambil sudut pandang Neely, mantan kapten football Amerika yang sudah lima belas tahun tak kembali ke Messina. Hari Selasa ia menelusuri lapangan yang membesarkan namanya. Kabar sang pelatih terhebat Eddie Rake sekarat telah mengetuk hatinya, dan sebagian mantan anak asuh untuk pulang. “Lima belas tahun, Pal…” Jadilah ini seperti reuni hitam, dibuka dengan hari Selasa, ditutup pada hari Jumat, hari pemakaman. Selain setting waktu yang minim hanya empat hari, setting tempat juga minim: bangku penonton, kafe, pemakaman, mobil, dst. Novel ini mengandalkan kekuatan dialog dan narasi sehingga hujaman kata harus benar-benar memikat untuk terus bertahan sepanjang 200 halaman. Kubaca kilat dalam dua hari Minggu malam setelah tarawih, kutuntaskan Senin sore sepulang kerja (100520). Tipis, dengan pacu kata kencang.

Neely Crenshaw bertemu dahulu dengan Paul Curry di bangku penonton Rake Field mengenang kenang. Mereka duduk terpisah sejauh tiga kaki, keduanya menatap ke kejauhan, bercakap-cakap tapi sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu pembaca diantar memutar memori itu. Di kelas Sembilan Rake sendiri mengawasi latihan kita dan kita hafal keempat puluh play yang ada di bukunya. Bahkan dalam tidur. Hari-hari jaya kita hilang dalam sekejap mata. “Ayolah, hentikan. Nikmati saja kenangannya.”

Mereka juga membuka kelabu masa lalu tentang pilihan kuliah pasca kelulusan. “Aku tidak pernah memberitahu siapa pun hingga sekarang. Benar-benar bisnis kotor… setiap sekolah menawarkan uang tunai, Paul, jangan naïf. Itu bagian dari permainan.” Bagaimana pilihan Neely ke kampus Tech melukai beberapa pihak. Ternyata dibalik itu, ada uang tunai yang terselip. “Kenapa menabung kalau kau berada dalam daftar gaji?” Anak muda yang lulus tahun 1987 dengan uang melimpah. Sapaan saling dilontarkan, penghinaan dibalas. Begitu banyak yang tertinggal di antara mereka berdua hingga tidak satu pun ingin memulainya.

Lalu muncul alumni lain yang lebih muda, bintang terakhir arahan Rake. Randy Jaeger, “Kapan kau selesai? Tanya Neely. / “Sembilan puluh tiga.” / “Dan mereka memecatnya tahun__?” / “Sembilan puluh dua, tahun seniorku. Aku salah satu kapten.” Beda angkatan ini lalu mengupas apa saja waktu-waktu kenang sang pelatih. Bahas apa saja. Musim pertandingan tanpa kebobolan gawang satu kali membutuhkan waktu semenit untuk dicerna, tahun-tahun yang lebih mula diapungkan. Dan di akhir karier kepelatihan koran-koran mencetak berita besar di headline. “… Selama tiga puluh empat tahun ia melatih tujuh ratus empat belas pemain. Itu judul artikelnya – Eddie Rake dan Ketujuh Ratus Spartan.”

Muncul pula angkatan yang lebih tua, seorang polisi Mal, seangkatan lainnya bankir Curry dan sebagainya. Neely mengetahui legendanya, bukan orangnya. Bangku lapangan itu di malam Rake sekarat karena kanker menjadi malam nostalgia. Bagaimana Rake, selalu merupakan pakar motivator, menggunakan penundaan itu untuk memicu semangat pasukannya. Rake memiliki masalah dengan bintang. Kita semua mengetahuinya. Kalau kau memenangkan terlalu banyak piala, membuat rekor terlalu banyak, Rake iri. Sesederhana itu. Ia melatih kita seperti anjing dan ingin setiap orang dari kita menjadi pemain hebat. “Rasanya seperti baru kemarin, tapi kalau dipikir lagi rasanya seperti mimpi.”

Messina memiliki para pahlawannya, dan mereka diharapkan menikmati nostalgianya. “Hak untuk membual, apalagi yang bisa mereka bualkan?” Setiap Jumat malam menjadi altar pemujaan sekaligus hujatan di lapangan football yang keras. Di kota seukuran Messina, bakat datang berdasarkan siklus. Saat-saat puncak dengan Neely, Silo, Paul, Alonzo Taylor, dan empat penebang kayu yang brutal. Skornya sangat bagus. “Aku tak ingin membicarakan football, oke? Aku tak ingin membicarakan betapa hebatnya diriku dulu.”

Sejatinya ada apa dengan pelatih legendaris ini sehingga dipecat secara tak hormat? Kita tahu dalam kupasan lembar hari berikutnya. Neely ngopi di kafe yang memajang posternya di atas kasir. “Tidak ada yang membencimu Neely, kau jagoan Amerika.” Pada waktu itu ia telah melatih Spartan selama lebih dari tiga dekade dan sudah melihat segalanya. Gelar terakhirnya yang ketiga belas, diraihnya tahun 1987. Rake terkenal akan gerutuannya, yang selalu bisa didengar. Tahun 1992, di akhir musim yang berakhir buruk Rake melakukan training yang lebih keras di hari Minggu pagi, hari suci yang harusnya di gereja itu malah berakhir bencana karena seorang pemain tewas kala latihan. Kota terpecah, situasi memburuk. Menyedihkan untuk Scotty, dan menyedihkan karena era Rake tampaknya telah berakhir.

Era akhir itu pilu, Rake dipuja dan dibenci. Waktu berjalan, pertandingan tetap ada. Dan menang adalah segalanya. Situasi tampaknya bisa oke ketika kita menang, tapi satu kekalahan itu telah memecah belah kota hingga bertahun-tahun. “Isu selalu bisa dipercaya di sini, terutama tentang Rake.”

Rake lalu menepi, jarang muncul di keramaian, lebih dekat dengan keluarga. Dan salah satu mantan anak didik Nat yang membuka toko buku di Messina membuka pintu khusus buatnya. Ngopi dan baca buku. Buku-buku bacaan karya Raymond Chandler, Dashiell Hammett, Elmore Leonard. Menjadi bahan diskusi, menghabiskan masa tua. Tersisih, tapi tetap dikenang.

Di toko buku itulah Neely lalu datang di hari berikutnya. Bertemu rekan setim Nat yang antusias menyambut pahlawan yang pulang. Semangat itu perlu kawan, usia tua adalah keniscayaan. Ada pelanggan seratus sepuluh tahun usianya, dan ia menyukai novel koboi erotis. Pikirkanlah. Kita belum separuhnya, jangan muram. Pameran itu merupakan penghargaan bagi pelatih yang cemerlang dan pemain yang berdedikasi, dan pengingat yang menyedihkan mengenai keadaan yang menyedihkan dulu.

Waktu berjalan, hal-hal biasa bisa saja berubah. Football adalah raja dan ini tidak berubah. Football membawa kemegahan dan membayar tagihan-taguhan dan hanya itu. Kariermu yang meriah hanya akan menjadi catatan kaki, semua gadis kecil yang manis akan menjadi ibu-ibu. Barang SMU, barang anak-anak. Hanya sedikit yang berubah. Pelatih-pelatih yang berbeda, pemain-pemain yang berbeda, bocah-bocah yang berbeda dalam band, tetapi mereka masih tetap Spartan di Rake Field dengan Rabbit di atas mesin pemotong rumput dan kegugupan menghadapi Jumat malam.

Hari Kamis malam, setelah pengumuman duka para mantan anak didik itu berkumpul di bangku penonton Rake Field. Nat membawa boom-box lalu menyalakan rekaman kaset Buck Coffey menyiarkan pertandingan kejuaraan ’87. Kenangan komentar laga paling dramatis perebutan juara. Dari tertinggal jauh di separuh babak, lalu membalikkan keadaan dengan kejanggalan tak ada pelatih di bangku. Apa sejatinya yang terjadi di ruang ganti dibuka dengan dahsyat. Jadi ingat segala pertandingan sepak bola yang membalik di babak kedua: Manchester United tahun 99, Liverpool tahun 2005, atau semacam kejadian ajaib itulah.

Kita memakamkan penduduk kita yang paling terkenal. Neely lalu mengajak Cameron ke acara pemakaman itu. “Ada sesuatu yang ajaib di cinta pertama Cameron, sesuatu yang kurindukan selamanya.” Cinta pertamanya yang terluka. Ia sudah menikah dan hidup bahagia dengan orang lain. Permintaan maaf Neely karena mencampakkannya, serta kehidupannya sebagai karyawan real estat yang berantakan, dan bagaimana pacar yang merebutnya kini sengsara di Hollywood, sebagai pemain film kelas B. Ahh… Menjadi pahlawan yang terlupakan tidaklah mudah.

Acara perpisahan dengan legenda, penghomatan terakhir Eddi Rake ditulis dengan gagah luar biasa menyentuh. Tidak ada yang tergesa-gesa, ini saat-saat yang akan dipuja dan dikenang oleh Messina. Neely duduk diantara Paul Curry dan Silo Mooney, bersama ketiga puluh anggota regu 1987 lainnya, dua di antara mereka telah meninggal, enam menghilang, dan sisanya tak bisa hadir. Ada tiga orang yang memberi semacam pidato, tiga bintang di tiga angkatan yang berbeda. Seorang pekerja di biro hukum yang pintar bicara di muka umum, lalu pendeta yang sudah biasa di mimbar. Dan seorang bintang yang menghilang. Ia mendapat pekerjaan itu karena tidak ada orang lain yang menginginkannya, ia melatih di sini selama tiga puluh empat tahun, memenangkan lebih dari empat ratus pertandingan, meraih tiga belas gelar negara bagian, dan kita mengetahui angka-nagka sisanya.

Prinsipnya sederhana, tetap berpegang pada hal-hal mendasar, dan bekerja tanpa henti hingga kau bisa melakukannya dengan sempurna. Kita bukan orang-orang hebat, kita mungkin orang-orang baik, jujur, adil, bekerja keras, setia, ramah, dermawan, dan sangat sopan, atau mungkin sebaliknya. Tapi kita tidak dianggap sebagai orang hebat. Kehebatan jarang muncul sehingga sewaktu melihatnya kita ingin menyentuhnya. Eddie Rake memungkinkan kita para pemain dan penggemar untuk menyentuh kehebatan. Walau sangat tangguh, ia luar biasa peka terhadap penderitaan orang lain.

Masa lalu akhirnya benar-benar berlalu sekarang, berlalu bersama Rake. Neely bosan dengan kenangan dan mimpi-mimpi yang gagal, menyerahlah, katanya pada diri sendiri. Kau tak akan pernah menjadi pahlawan lagi. Hari-hari itu telah berakhir sekarang. “Aku menyayangi Eddie Rake melebihi siapa pun dalam hidupku. Ia hadir dalam sidang ketika mereka memvonisku. Aku menghancurkan hidupku, dan aku malu. Aku menghancurkan hati kedua orang tuaku, dan aku merasa muak karenanya…” Jesse yang malang mengingat masa emas itu.

John Grisham tak pernah mengecewakan. Buku tipis ini juga sama dahsyatnya dengan buku lain. temanya bervariasi, dari pengadilan, kenangan masa kecil di perkebunan kapas, boikot natal, kumpulan cerita pendek di kotanya sampai sebuah memoar samar nan fiktif pelatih Rake ini. Sungguh luar biasa penulis ini, bagaimana memacu andrenalin pembaca menuju puncak malam pemakaman, semakin lembar menipis semakin membikin penasaran. Seperti kenyataan malam kejayaan 87 itu, ternyata ada tragedi pahit antara bintang utama dan pelatih. Dikuak dengan dramatis.

Lebih dahsyat Neely sebagai penutur narasi malah menjadi orang yang menutup sambutan kalimat perpisahan. Seperti yang disampaikan di mula, Neely membenci Rake karena sebab yang jelas, ia bintang utama sekaligus mata pisau paling tajam untuk menyampai kebencian. Pelatih Rake tidak mudah disayangi, dan saat kau bermain di sini, kau benar-benar tidak menyukai dia. Tetapi sesudah kau pergi, sesudah meninggalkan tempat ini, sesudah kau didepak beberapa kali di sana-sini, menghadapi tentangan, beberapa kegagalan, dikalahkan hidup, kau segera menyadari betapa pentingnya Pelatih Rake dulu dan sekarang… begitu kau jauh dari pelatih Rake, kau merindukannya. Bayangkan saja, lima belas tahun tak mau jumpa!

Rake memang jago dalam menyampaikan pesan terakhir. Rake memang jago memanipulasi para pemainnya untuk yang terakhir kalinya.

Keberhasilan bukanlah kebetulan.

Sang Pelatih | by John Grisham | Diterjemahkan dari Bleachers | Copyright 2003 | Alihbahasa B. Sendra Tanuwidjaja | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 04.007 | Cetakan pertama, Juli 2004 | 208 hlm.; 18 cm | ISBN 9789-22-0741-4 | Skor: 5/5

Untuk Ty, dan anak-anak luar biasa yang bermain football dengannya di SMU; pelatih mereka yang hebat; dan kenangan tentang dua gelar Negara bagian

Karawang, 180520 – 230520 – Bill Withers – Lovely Day & The Best You Can

Skipping Christmas – John Grisham

Ini adalah boikot Nora, boikot total Natal.”

Terpingkal-pingkal saya menamatkan cerita Natal kali ini, sungguh luar biasa Penulis Amerika yang biasanya serius kali ini mencipta cerita tema sederhana, tapi ternyata menyimpan gas tawa luar biasa. Separuh akhir sungguh menakjubkan, seolah melempar punch-line, membuat seantero pemirsa terpingkal sejadinya. Sempat khawatir cerita akan membosankan, Grisham yang punya CV hukum menakjubnya, menjadikan cerita keluarga ini menjadi luar biasa menghibur. Dengan bermodal sebuah tradisi tahunan, rencana absen perayaan menjadi bencana tak terkira, menjadi hangat, lalu sungguh indah sekali pesan yang hendak disampaikan. Ngumpet dari tetangga demi kabur di hari besar? Sejauh ini tak ada yang melihatnya, atau setidaknya begitu perkiraannya. Salah satu kehebatan buku ini adalah, tatanan yang rapi itu tiba-tiba boom, rusak hanya karena satu kalimat. Sebuah telpon sekitar jam sebelas yang mengacaukan segalanya. Hebat ya.

Sebuah rumah di Hemlock, empat belas tujuh delapan. Luther Krank, lima puluh empat tahun dan istrinya Nora Krank untuk pertama kalinya semenjak putri satu-satunya dewasa akan merayakan Natal berdua. Blair Krank menjadi relawan pendidikan di Lima, Peru dan akan pulang tahun depan. Natal pertama berduaan ini direncana Luther untuk pergi berlibur ke pantai sebuah pulau di Karibia sepuluh hari, maka mereka akan absen perayaan sakral tersebut. Lagian setelah dihitung-hitung, sungguh boros sekali pengeluarannya. Tahun lalu Krank mengeluarkan biaya 6.100 Dollar. Justru itu yang tidak disukai Luther tentang Natal. Semua orang mencoba menjual sesuatu, menghimpun dana, menharap tip, bonus, sesuatu, sesuatu, sesuatu. Ia jadi kesal lagi kemudian senang lagi.

Sekarang sudah terkepung aku.” Cobaan menerpa dari berbagai sudut akan rencana skip Natal. Dari teman-teman kerja, yang biasanya ngumpul makan malam mewah, Luther menetapkan diri ga ikut. Membuatnya bangga akan keputusannya untuk menghindari segala kekacauan Natal. Dari tetangga sekitar yang paling heboh. Kebiasaan pasang Frosty, boneka salju yang ditaruh di atap untuk hiasan, menjadi kabar paling menggemparkan Hemstock Street. Lomba tahunan antar kota, yang otomatis kali ini kalah karena ada warga yang tak memasang frosty. Frosty dengan bohlam dua ratus watt akan bergabung dengan keempat puluh satu temannya. Kabar dia absen Natal lagi menyebar, sampai ke berita tv, sampai tahu semua sepanjang jalan Hemstock. Beginilah hidup, bila kita tampak beda maka akan ada perlawanan. Ia berkeringat sekaligus kedinginan, mereka akan tertawa, mencibir, dan berkisah tentang Luther yang absen Natal selama bertahun-tahun ke depan. Setiap istrinya agak ragu, selalu diujar. “Bayangkan saja, pantai-pantai indah itu dear, menanti kita di sana.

Rencana liburan berangkat berpesiar tanggal 25 siang, semakin mendekati hari H semakin kencang angin menerpa. Polisi keamanan yang rutin tiap tahun jaga, ditolaknya untuk beli ‘kalender’, dari yayasan sosial yang biasa jual cokelat, ditolak pula, tukang jual pohon cemara langganan sampai kaget ketika Luther tak turut membeli, telpon dari pembuat kartu ucapan, dimentahkan, semakin kuat dorongan luar, Luther semakin yakin dan merasa menang telah melakukan perlawanan untuk tak ikut merayakan. Budaya konsumtif, perayaan berlebih, Sinterklas palsu, terasa buang-buang uang dan dimanfaatkan para kapitalis. Beberapa rekan salut, ia bisa melakukan acara beda, beberapa heran, kok bisa seorang Kristiani tak turut serta. Ini membuatnya bersalah atas budaya materialisme yang picik. Rasa sakit memagur tajam saat ia berhenti meluncur.

Dan boom! Sebuah telpon di jam 11 siang merusak segalanya. Sungguh benar-benar mengerikan, bagaimana rencana dan realisasi menghancurlebur, menyirnakan segalanya. Hebat, seolah setelah set up dibangun dengan runut, Grisham melontarkan punch-line bertubi, lucu dan sungguh bermakna manis. Entah kenapa saya terasa tersindir, tentang tabiat hambur uang kita akan Lebaran, kebiasaan kita berfoya saat Idul Fitri, jauh dari makna sederhana yang diminta agama, ga ada kekhusukan, ga banyak momen reliji-nya. Judul buku ini Absen Natal, tapi benarkan tahun ini keluarga Kranks beneran absen Natal?

Chemistry suami istri Krank juga keren sih. Saling isi, salah satunya pas kegemparan terjadi dan menjalankan tugas masing-masing. “Ia membayar wine itu dan menyeretnya menjauh delapan ratus meter ke mobilnya, dalam hati mengomeli suaminya, di setiap langkahnya yang terasa berat.” Lihat, mereka saling dukung-dan-marah. Untuk menemukan pasangan yang tepat memang harus berjuang. “Dulu aku butuh tiga tahun untuk melihat potensimu.”

Setelah terpesona A Painted House, saya menjadikan Penulis ini spesial. Mencoba menikmati kumpualn cerpen dalam Ford County, juga luar biasa menghibur. Dan ini buku ketiganya, bertema komedi dan inspirasi Natal, juga sangat menakjubkan. Saya sudah punya The Firm yang sudah difilmkan dengan bintang Tom Cruise, mungkin akan kubaca tahun depan, karena membaca cerita dari penulis yang sama berturut itu kurang nyaman. Agar, pola dan kesamaan alur ga berasa. Ia langsung bertatap muka dengan para tetangganya, orang-orang yang tidak ingin dijumpainya saat ini.

Kebetulan hari ini saya sedang konsen ke 5S. Tahu dong ajaran Jepang tentang tempat kerja yang nyaman harus menerapkannya, dalam bahasa Indonesia menjadi 5R. Nah di sini disinggung, walau dikit. Bagaimana joke tentang kerapian. ‘Coba cari di kantor Stanley’ merupakan slogan perusahaan untuk berkas kerja yang tidak pernah ditemukan. Ia tak ingin melihat arlojinya, hatinya gundah, galau, dan ingin menyerah secara total.

Ending Skipping Chrismas sungguh indah. Mengajarkan kebersamaan, mengajak berbagi, mengajak mengalah, berkorban untuk kepentingan lebuh luar, kepentingan umum lebih tinggi ketimbang pribadi. Bagiamana sinisme dilepas, Swade Kerr adalah vegetarian loyo yang hampir tak mampu memungut koran paginya. Bagaimana saling ini dan tahan emosi, Ia merasa ingin muntah. Dari semua kemewahan yang terkandung di situ, langkahnya terasa makin cepat. “Ini adalah kado dari kami untuk kalian, sebuah pemberian Natal yang tulus dari lubuk hati kami tanpa mengharapkan imbalan.

Momen yang hampir bikin nangis pas Luther menangkap kesempatan. Saat kedua pandangan itu bersatu. Luther menangkapnya. Ini memang gila, tapi mengapa tidak?

Kita tak tahu apa yang akan terjadi dengan masa depan, kita tak tahu jodoh anak kita siapa. Namun kita bisa mengarahkan, bisa memberi nasehat bijak. Dan pamor Enrique naik lagi. “Ganteng, lulusan luar negeri, dokter.” Natal adalah saat yang penuh kebahagiaan dan kedamaian di dunia. Absen Natal? Pikir lagi, keluarga Krank sudah merasakan ‘karma’. “Tapi mestinya aku bawa kamera.” Membicarakan cuaca meskinya adalah hal yang paling netral.

Dan semua terpana oleh lantunan musik.

Absen Natal | By John Grisham | Copyright 2001 by Belfry Holding, Inc | Cover design John Fontana | Cover ilustration Andrew Davidson | Diterjemahkan dari Skipping Christmas | Alih bahasa Budiyanto T. Pramono | GM 402 03.002 | Sampul dikerjakan oleh Marcel A.W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Januari 2003 | 240 hlm.; 18 cm | ISBN 979-22-0159-9 | Skor: 4.5/5

Karawang, 161019 – 221019 – Kenny G – Theme Dying Young

A Painted House #10

Featured image

Pengalaman pertama saya dengan John Grisham berakhir menyenangkan. Kurang lebih 5 tahun lalu saya memiliki salah satu bukunya, beruntung sekali saya menemukan di tumpukkan buku murah, Rumah Bercat Putih sungguh seru. Ceritanya dituturkan dengan runut dan enak dibaca, mengalir dengan detail-detail mengagumkan. Gara-gara ini buku di pikiran sempat terbesit, bahwa untuk membuat plot seru tidak harus dengan kata-kata bombastis. Taruh detail-detail yang menggelitik dengan logika yang bisa dijangkau imajinasi lalu biarkan karakter memecahkan konflik yang dicipta. A Painted House mengajarkan bahwa sekuat apapun usaha kita melawan nasib sial, takdir juaranya. Speechless.

Dengan setting tahun 1950-an di Amerika, cerita dimulai di hari Rabu awal September 1952. Di hari itulah orang-orang pegunungan dan orang-orang Meksiko tiba di rumah kami. Mereka adalah buruh tani yang kami sewa untuk memanen kapas yang kini menjulang sepinggang ayah atau hampir melampaui kepalaku. Yup, cerita ini dari sudut pandang seorang anak yang jago mengamati sekeliling. Bercita-cita menjadi pemain bisbol untuk Cardinals. Luke, berumur 7 tahun. Seorang yang periang dan ramah. Sebagai anak petani, dirinya termasuk beruntung karena ekonominya berkecukupan, awalnya. Sampai akhirnya keputusan penting harus diambil.

Namun tahun itu ternyata hasil panen tak seperti kelihatannya. Konflik utama digulirkan dengan halus oleh John melalui para buruh. Ada yang hamil diluar nikah. Ada seteru yang mengakibatkan hilangnya seseorang. Ada perkelahian yang dituturkan dengan mendebarkan. Hebatnya Luke yang belum terlalu paham, diam-diam jadi saksi. Mungkin beberapa bagian tertebak, namun tetap konflik dan penyelesaiannya dieksekusi rapi. Jelas sekali dari pencerita yang handal dan berpengalaman. Saya meyakini buku ini terinspirasi dari masa kecil John, tentunya dengan dibubuhi imajinasi.

Sampai pada suatu hari Luke mengusulkan rumah mereka untuk dicat. Cat yang mahal ditengah krisis keuangan. Cat mahal seharga 14 Dollar 80 sen tersebut seakan jadi antidot kejadian-kejadian di sekelilingnya. Cat ternyata kurang, namun sesuatu yang dimulai harus diselesaikan. Dan bagian ini benar-benar menyedihkan:

Niatku baik, pikirku jadi mengapa aku merasa gundah? Aku mengambil kuas, membuka satu kaleng dan memulai tahap terakhir pekerjaan itu. Perlahan-lahan kusapukan kuas dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku menyeka air mata. (hal 519)

Buku ini dicetak dengan sederhana, terasa klasik. Tanpa testimoni pembaca sama sekali. Tanpa judul per bab yang otomatis tanpa tulisan daftar isi. Tanpa ucapan dedikasi yang menghabiskan satu halaman, kecuali se-kalimat: Untuk orangtuaku, Weez dan Big John, dengan penuh cinta kekaguman. Tanpa profil penulis. Tanpa banyak kata-kata pujian. Saya suka kesederhanaannya. Harusnya buku memang seperti ini. Seperti paragraf endingnya, saya juga tersenyum puas. Saya kecup bukunya dan berujar, “John, you are awesome…”

Setelah puas melihat pemandangan di luar, aku memandang ibuku. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi. Matanya terpejam, dan seulas senyum perlahan-lahan terkembang di sudut-sudut bibirnya.

A Painted House | by John Grisham | copyright 2000, 2001 by Belfry Holdings, inc | Alih bahasa: Hidayat Saleh | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Agustus 2001 | 560 hlm; 18 cm | ISBN 979-686-569-X | Skor: 4.5/5

Karawang, 100615 – Mirror Mirror

#10 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku