Menjalankan Wejangan Ray Bradbury #72

Liburan dan masih mengejar komitmen, saat santuy tetap menjalankan wejangan. Berat, selama di kampung halaman seminggu penuh, menyediakan waktu barang 15-20 menit. Membawa tiga buku untuk menjadi teman. Makanya dominan tiga penulis untuk catatan ini sebab dibaca dari buku yang sama, rekapnya sih setelah sampai kembali di Karawang. Hanya memastikan kepada kalian, saya masih bertahan program ini. Seribu hari masih sangat jauh, tetap semangat…

Hari 61

#1. Cerpen: Tak Kunjung Kembali (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Hanya Penulis (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Ode untuk Kota Kelahiran (Yopi Setia Umbara)

Hari 62

#1. Cerpen: Tak Ada Ular di Irlandia (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Penulis? Oh, yang di Percetakan (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Ode untuk Terminal dalam Hujan (Yopi Setia Umbara)

Hari 63

#1. Cerpen: Sang Kaisar (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Alasan untuk Tidak Menulis (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Ode untuk Stasiun Kereta Kelas Tiga (Yopi Setia Umbara)

Hari 64

#1. Cerpen: Ada Hari-hari… (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Pengarang dan Kemelut (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Ode untuk Sebotol Bir (Yopi Setia Umbara)

Hari 65

#1. Cerpen: Uang Pemerasan (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Bahasa Indonesia dan Persoalannya – bagi Seorang Pengarang Jawa (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Ode untuk Sebuah Kursi (Yopi Setia Umbara)

Hari 66

#1. Cerpen: Dipergunakan sebagai Bukti (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Pulang, Pola, Mood (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Ode untuk Secangkir Kopi (Yopi Setia Umbara)

Hari 67

#1. Cerpen: Hak Istimewa (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Buku Baru (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Di Astana Gede (Yopi Setia Umbara)

Hari 68

#1 Cerpen: Tugas (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Melihat Pengarang tidak Bekerja (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Di Sungai Cikaengan (Yopi Setia Umbara)

Hari 69

#1. Cerpen: Seorang yang Hati-hati (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Tentang Menulis Populer (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Sepasang Ciuman dalam Hujan (Yopi Setia Umbara)

Hari 70

#1. Cerpen: Praktek Lancung (Frederick Forsyth)

#2. Esai: Penulis dan Tidurnya (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Di Bordes Harina (Yopi Setia Umbara)

Hari 71

#1. Cerpen: Corrie (Alice Munro)

#2. Esai: Sastra adalah.. Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan? (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Di Teluk Batukaras (Yopi Setia Umbara)

Hari 72

#1. Cerpen: Kereta (Alice Munro)

#2. Esai: Duaribu Duapuluh (Mahfud Ikhwan)

#3. Puisi: Di Lembah Lembang (Yopi Setia Umbara)

Karawang, 110522 – Billie Holiday – Me, My Self, and I

Sastra adalah… Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

“Jika Anda seorang pengarang, dan tak menemukan ungkapan-ungkapan yang pas untuk menjelaskan perasaan yang rumit dan intim dan dalam dari tokoh-tokoh yang ingin Anda ceritakan dalam bahasa Indonesia, maka boleh jadi Anda akan lari mencari pertolongan kepada bahasa yang Anda alami sehari-hari atau kepada bahasa yang Anda anggap lebih kompleks berdasar kecenderungan bacaan Anda…”

Menurutku buku ini setara bagusnya dengan Cerita, Bualan, Kebenaran. Tips-tips menulis yang dibalut bukan tips menulis. Nyaman dan terasa sangat masuk akal. Jelas lebih keren dari Menumis itu Gampang yang bertema umum. Poinnya sama, Cak Mahfud bercerita kesehariannya. Buku ini terasa lebih asyik sebab bahasannya fokus ke proses kreatif, yang setelah ditelaah, tak kreatif juga, tak banyak nasehat, atau petuah membumbung. Benar-benar cerita bagaimana ketahananan menulis buku itu perlu, pengalaman dari Penulis pemenang DKJ dan KSK. Dua penghargaan sastra paling bergengsi tanah air. Walau judulnya provokatif, bagaimana penulis menganggur, percayalah, itu hanya jeda. Judulnya biar tampak eksotik. Itu hanya masa santuy, sejatinya menulis memang kudu tahan banting, konsistensi, dan dipaksa. Maka tata kelola waktu juga sebuah kunci, dan buku ini jelas patut dipertimbangkan jadi rujukan proses mencipta karya. Seperti yang dulu pernah kubilang di ulasan buku Mario Vargas Llosa dalam Matinya Seorang Penulis Besar (sudah diterjemahkan oleh Shira Media), bahwa buku-buku dibalik karya sangat patut dicetak sebanyak mungkin agar pembaca tak meraba ngasal. Setidaknya kita tahu, buku-buku itu diterbitkan penuh pengorbanan, tak sim salabim mengada.

#1. Hanya Penulis

Sosial media, atau di sini Facebook telah mengikat kita dalam pergaulan instan. Bisa saling mengenal secara daring orang-orang asing, serta para idola yang dulu rasanya tak terjangkau. Dibuka dengan sebuah kotak pesan masuk yang menanyakan pendapat kontribusi penulis di masa pandemi. Dan dijawab dengan apa adanya, mungkin benar kurang memuaskan, tapi ini benar-benar real. Kenapa, sebab “jangan memberi panggung kepada orang-orang yang tak kompeten,” adalah mutlak.

Jangan tanya tanggapan Lesti.

#2. Penulis? Oh, yang di Percetakan

Karena sudah baca dua kumpulan esai, saya jadi tahu perjalanan hidup Cak Mahfud yang lulusan pesantren, kuliah Yogya, bekerja di Jakarta, lantas menyepi menekuri tulisan dengan serius kembali ke Yogya. Maka saat baca judulnya, jelas ini adalah lontaran tanya dari rekan saat di Utan Kayu. Penjelasan bagaimana ia ‘tak menyangka’ jadi penulis suatu hari kelak tampak seolah hanya mengikuti arus kehidupan. Dan penulis yang dikenali sekaligus tak dikenali, kocak juga kontribusinya, saat truk-truk bahan bangunan yang bising di balik tembok tempat tinggalnya dan ia bergeming, tak turun tangan. Tak mengapa, saya sama saja kalau di posisi itu.

#3. Alasan untuk Tidak Menulis

Sudah menulis dari era mesin tik, dan bagaimana cerpen pembuka Belajar Mencintai Kambing berproses. Sibuk jadi semacam kelakar saat ditanyakan pada Penulis. Hingga bagaimana tatapan pada Ayu Utami di meja kafe seberang dengan laptopnya, sepuluh tahun kemudian, beliau punya karya setara bagusnya. Sejatinya, penundaan menunaikan tugas (di sini menulis) adalah hal wajar bagi manusia. Termasuk alibi, kalau punya komputer, kalau punya laptop kualitas bagus, kalau punya tempat nyaman menulis, serta kalau kalau yang lain.

Penutupnya bagus, langsung kena jap. “… semakin cepat capek dan diserang pegal-pegal. Saya pasti akan jauh lebih sigap dan lebih cepat menyelesaikan tulisan ini jika saya masih seumur para penulis muda yang sore itu saya temui.” Hahaha…

#4. Pengarang dan Kemelut

Mengandaikan masa hidup di era lama, tak hanya cocok untuk para penulis. Bayangkan, kalau kamu buruh di masa kemerdekaan, apakah mungkin sudah bergabung angkat senjata? Atau bayangkan hidup di masa ’65, mungkin kamu buruh yang keciduk karena ikut coblos Merah. Nah, di sini membayangkan bagaimana kalau penulis hidup di masa itu? Bakalan angkat senjata? Bakalan turut serta disingkirkan? Chairil Anwar memang penyair terbesar kita, dan bagaimana ia berumur muda banyak memberi warna kebangkitan Indonesia.

#5. Bahasa Indonesia dan Persoalannya – bagi Seorang Pengarang Jawa

Ini menyenggol Azhari Aiyup si penulis Kura-kura Berjanggut yang fenomenal itu. Bagaimana cerpennya terbit di Kompas dan mencipta iri Cak Mahfud, terutama gaya bahasa, pilihan diksi, hingga keluwesan bercerita yang bagus, seorang Aceh yang mahir berbahasa Indonesia.

Dan bagaimana kehidupan sehari-hari mempengaruhi kehidupan sosial kita, terutama bahasa. Jadi seperti apakah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu. Lebih nyaman memang memilih “percampuran” bahasa ibu dan bahasa Indonesia, dan itu sangat wajar. Bukankah malah tampak aneh, orang Jawa dengan fasih bercerita tentang kehidupan suku Dani?

#6. Pulang, Pola, Mood

Pulang kampung adalah jeda dari kesibukan. Menikmati waktu dengan keluarga, menelusuri kenangan, ngopi sama rekan main kelereng, hingga ketawa-ketiwi sama teman-teman lama yang tak merantau. Begitu pula penulis, mudik adalah masa kosong dari mengetik kata-kata, refreshing-kan pikiran, mengisi ulang ide-ide. Masalahnya, mood-nya tak kunjung kembali saat telah kembali ke kota tempat kita mencari uang.

“Jadi, sekali lagi, mood itu eksis. Ia bukan mitos. Ia ada, dan beberapa orang betul-betul memerlukannya untuk mencipta. Ia, membentuk sejenis pola bagi orang-orang tertentu…”

#7. Buku Baru

Buku debut Ulid bersampul kuning yang terkenal itu, disambut dengan sederhana oleh penulisnya. Bersepeda Wymcicle AC Milan santuy ke tempat kelahirannya, mengambil 25 eksemplar, merayakan dengan mampir ke tempat teman, meminta meresensinya, dan setelah lama berselang itulah satu-satunya resensi. Hiks, si sulung yang malang katanya. Namun lihatlah, setelah belasan tahun, buku itu justru kembali nge-hits efek ketenaran.

“Semua istimewa pada masing-masing tempatnya.”

#8. Melihat Pengarang tidak Bekerja

Ini hanya curhat masa tak mood menulis. Klontang-klantung, ngopi sama teman, haha hihi lupa waktu, menunda nulis, buka sosmed yang menghamburkan waktu banyak, menunda lagi nulis untuk mencari makan, kembali membuat kopi, dst. Hal-hal wajar yang memengaruhi kreativitas, yang terasa tak wajar adalah, saat penulis tak bekerja, malah jadi tulisan. Ironi di atas ironi kata Spongebob.

“Dengan malas ia bangun dan mematikan lampu… dan dengan malas ia akhirnya memutuskan bangun.”

#9. Tentang Menulis Populer

Ini mungkin yang paling bagus, tulisan populer itu yang bagaimana? Pertama mendengarnya, jelas buku-buku buruk Tere Liye. Laris manis, penulisnya baper, ngudi-udi di sosial media demi mendongkrak penjualan. Kita harus sepakat di awal, bahwa buku-buku Tere jelex, tapi sayangnya laris manis, dikutip para abege, dan beberapa berhasil diadaptasi film. Itulah tulisan populer, menurutku.

Cak Mahfud menjabarkan panjang lebar, dimula dalam seminar yang diadakan para pelajar, yang lantas membedahnya. Benarkah tulisan populer itu mudah? Beliau menjawab, dalam jenis tulisan apa pun, menulis populer haruslah didasari oleh kemampuan teknis yang lebih dari sekadar memadai, malahan lebih lihai, dengan kemampuan menyampaikan ide dan gagasan atau cerita kepada pembaca di atas rata-rata. Jangan dikata lagi isi yang disampaikan. Terlihat Cak Mahfud sering kali curhat terkait seminar/bedah buku yang diisinya. Saya sendiri dua kali ikut, dan seru. Cuma satu pertanyaanku waktu itu, nulis cerpen sudah, esai sudah, novel sudah, kapan nulis puisi? Cuma dijawab tawa, dan bilang ‘endak… endak...’ sambil terus mengelak.

“… sengaja atau tidak, para penulis pop ini kemudian menyepakati, dalam banyak kesempatan mungkin malah memanfaatkan, pandangan bahwa yang populer adalah dangkal dan gampangan…”

#10. Penulis dan Tidurnya

“Terlambat karena kita tidak bisa mengatasi kenapa kita terlambat jauh lebih tidak menyenangkan dibanding terlambat karena kita lali atau disebabkan melakukan hal lain…”

Ceritanya, beliau lagi nostalgia bagaimana mencipta tidur yang nyaman. Memiliki kamar pribadi tentu saja sebuah kenyamanan, atau malah sebuah kemewahan bagi kita kebanyakan (keluarga Rafathar jelas tak dihitung). Tidur di masjid sesuatu yang lumrah, tidur di pos ronda wah ekstrem, tidur cepat dengan niat agar esok bisa bugar dan siap menulis, sungguh utopia. Saya sendiri sering kali tidur larut kala hari libur, dan bangun subuh setelahnya. Rasanya, sayang sekali akhir pekan tak memeluk buku lebih lama. Sebuah kerugian bagi pecinta buku bangun kesiangan di hari libur.

#11. Sastra adalah.. Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

Sampai sekarang, definisi sastra masih simpang siur dan mengundang pendapat beragam. Teori sastra di buku Welleck dan Warren yang kebetulan sudah kubaca, juga menimbulkan banyak tafsir. Maka kalau dalam seminar ada yang berpendapat Satra itu gelap, wajar. Apalagi deretan contoh yang disajikan mayoritas mengiyakan. Satu paragraph yang mengutar menyelamatkan seseorang yang menganggap KKN Desa Penari sebagai sastra, bisa jadi benar. Namun kita tak tahu, seratus tahun lagi, buku dari sensasi twit ini bisa jadi berbelok nyastra. Merefleksikan kehidupan, menggetarkan hati pembaca… nah… ‘kan.

“Saya menjawab bukan untuk membuatnya mengerti, tapi untuk membuatnya diam.”

#12. Duaribu Duapuluh

Pandemi dan orang-orang yang bertahan hidup sampai sekarang. Saya, dan kalian yang membaca blog ini, saya ucapkan selamat. “Hidup hanya menunda kekalahan,” kata Chairil Anwar, dan ya 2020 memang tahun tak wajar.

Suka sekali sekali penutup bab, sekaligus buku ini tentang Jimmy Glass yang menyelamatkan Carlisle United tahun 1999 dari degradasi dari divisi empat Liga Inggris. Kiper cadangan yang mencetak gol dramatis, yang mendadak jadi pahlawan, lantas pensiun dini 27 tahun sebab tak ada yang memakai jasanya. Baru tahu, dan kalian harus tahu. Tipis memang, pahlawan dan pecundang.

Kubaca selama libur Lebaran saat mudik ke Solo kemarin, kutuntaskan setelah kembali tiba di Karawang. Selang seling sama buku kumpulan cerpen Frederick Forsyth: No Comebacks. Jelas pilihan bagus, keduanya saling melengkapi, esai dan cerpen, dan sebuah buku tipis kumpulan puisi dalam sepekan, langsung kelar.

Selamat ulang tahun Mahfud Ikhwan, 42 tahun. Buku-buku barumu selalu kunanti.

Melihat Pengarang Tidak Bekerja | by Mahfud Ikhwan | Ilustrator Alfin Rizal | Tata Sampul alfin Rizal | Tata Isi Vitrya | Pracetak Antini, Dwi, Wardi | Cetakan pertama, Maret 2022 | Penerbit Diva Press | 128 hlm; 13 x 19 cm | ISBN 978-623-293-651-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 090522 – Patrice Rushen – Forget Me Nots

Thx to Gramedia Karawang

Menjalankan Wejangan Ray Bradbury #60

10 hari terakhir Ramadan, membuat fokusnya lepas. Mencatat dan menyimpannya di HP dan excel komputer. Tenang, event ini terus melaju kawan… ada perubahan, khusus untuk additional kata sementara off dulu. Agak kewalahan, jadinya kembali ke tenplate utama event ini, tiga item yang dinikmati tiap malam.

Hari 46

#1. Cerpen: Kembalinya Si Tuan Kecil (Rabindranath Tagore)

#2. Esai: Reinkarnasi bab Lama Sang Tokoh (Vicki Mackenzie)

#3. Puisi: Tugu (Rivai Apin)

Hari 47

#1. Cerpen: Perpecahan (Rabindranath Tagore)

#2. Esai: Etika Dasar bab Etika Normatif (Franz Magnis-suseno)

#3. Puisi: Sebagai Kenangan kepada Amir Hamzah Penyair yang Terbunuh (Asrul Sani)

Hari 48

#1. Cerpen: Popularitas Taraprasanna (Rabindranath Tagore)

#2. Esai: Diaspora Nimatullah (Leonard Lewisohn)

#3. Puisi: Melalui Siang Menembus Malam (Rivai Apin)

Hari 49

#1. Cerpen: Martir (Ngugi Wa Thiong’o)

#2. Esai: Buku Cerita Anak Indonesia di Prancis (Jafar Suryomenggolo)

#3. Puisi: Doa (Chairil Anwar)

Hari 50

#1. Cerpen: Di Dermaga Kota Smyra (Ernest Hemingway)

#2. Esai: Evolusi Naqsyabandi-Mujaddidi (Gerdien Jonker)

#3. Puisi: Gumamku ya Allah (W.S. Rendra)

Hari 51

#1. Cerpen: Yang Menjadikan Mereka Bersaudar (O. Henry)

#2. Esai: Suara Kassandra (Alberto Manguel)

#3. Puisi: Jadi (Sutardji Calzoum Bachri)

Hari 52

#1. Cerpen: Perkemahan Orang-orang Indian (Ernest Hemingway)

#2. Esai: Tarekat Bawa Muhaiyyaddeen di Amerika (Gisela Webb)

#3. Puisi: Celana (Joko Pinurbo)

Hari 53

#1 Cerpen: Dokter dan Istrinya (Ernest Hemingway)

#2. Esai: Reinkarnasi bab Visi (Vicki Mackenzie)

#3. Puisi: Nabi di Kebun Pisang (Triyanto Triwikromo)

Hari 54

#1. Cerpen: Adam-Hawa, Iblis, dan Eksperimen Ali Mugeni (Ken Hanggara)

#2. Esai: Sufisme Transnasional Haqqaniyah (Jorgen S. Nielsen, Mustafa Drapper, Galina Yemelianova)

#3. Puisi: Sendiri (Triyanto Triwikromo)

Hari 55

#1. Cerpen: Topeng (Yokomitsu Riichi)

#2. Esai: Ragam Cara Menjadi Sufi di Inggris (Pnina Werbner)

#3. Puisi: Diponegoro (Chairil Anwar)

Hari 56

#1. Cerpen: Kram (Etgar Keret)

#2. Esai: Serangan Balik Sufi atas Neo-revoalis dan Wahabi di Inggris (Ron Graves)

#3. Puisi: Atas Kemerdekaan (Sapardi Djoko Damono)

Hari 57

#1. Cerpen: Benci (Parwin Faiz Zadah Malal)

#2. Esai: Islam Populer di Pakistan Utara dan Rekonstruksinya di Perkotaan Inggris (Roger Ballard)

#3. Puisi: Jakarta 17 Agustus 45 Dinihari (Sitor Situmorang)

Hari 58

#1. Cerpen: Anjing dan Titwal (Saadat Hasan Manto)

#2. Esai: Reinkarnasi bab Kembali ke Kopan (Vicki Mackenzie)

#3. Puisi: Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu (Widji Thukul)

Hari 59

#1. Cerpen: Di Bawah Pohon Beringin (R.K. Narayan)

#2. Esai: Reinkarnasi bab Akhir Hidup Lama Yeshe (Vicki Mackenzie)

#3. Puisi: Musium Perjuangan (Kuntowijoyo)

Hari 60

#1. Cerpen: Pembalasan (Taslima Nasrin)

#2. Esai: Reinkarnasi bab Kelahiran dan Kematian Kembali (Vicki Mackenzie)

#3. Puisi: Kepada Bunda (Sanusi Pane)

Karawang, 290422 – Alternative Rock Hits

Catatan Inkspell

#Prolog

Andai kutahu, dari mana asal puisi, Ke sanalah aku akan pergi.

(Michael Longley)

#1. Kata-kata yang Tepat

Bait demi bait / Padang pasirku sendiri / Bait demi bait / Surgaku

(Marie Luis Kaschnitz, Ein Gedicht)

#2. Emas Palsu

Seorang bajiangan seperti Joe – bagi mereka itu sudah sangat jelas – pasti mengabdi pada iblis dan akan terlalu berbahaya untuk melibatkan diri dalam sebuah pertempuran melasan kekuatan seperti itu.

(Mark Twain, Petualangan Tom Sawyer)

#3. Kepulangan Staubfinger

“Apa itu?” kata si Matan Tutul, “yang begitu gelap tapi sekaligus penuh bagian-bagian kecil bercahaya.”

(Rudyard Kipling, Bagaiamana Macan Tutul Mendapatkan bintik-bintiknya)

#4. Putri Lidah Ajaib

Apakah sebenarnya hanya ada satu dunia, yang menghabiskan waktunya dengan memimpikan dunia-dunia lain?

(Phillip Pullman, Pisau Gaib)

#5. Farid

“Dia keras kepala bagaikan bagal, pintar seperti monyet, dan gesit seperti kelinci.”

(Louis Pergaurd, Perang Kancing)

#6. Penginapa Seniman Pengelana

“Terima kasih,” kata Lucy, membuka kotak korek api dan mengeluarkan sebatang korek api. “Perhatikan semuanya!” dia berteriak. Suaranya menggema nyaring. “PERHATIKAN! SELAMAT TINGGAL KENANG-KENANGAN BURUK!”

(Philip Ridley, Dakota Pink)

#7. Keputusan Maggie

Ide itu melayang-layang dalam getaran lembut yang berkilauan bagai gelembung sabun dan Lyra tak berani menatapnya langsung karena takut melihat gelembung itu pecah. Tetapi, ia telah terbiasa menghadapi ide-ide semacam itu, maka ia pun membiarkannya tetap berkilauan, mencoba mengalihkan pikirannya pada hal lain.

(Phillip Pullman, Kompas Emas)

#8. Sang Biduanita Pengelana

Tetap seorang seniman adalah jalanan, Begitulah kebiasaan lama, Maka selapis kesedihan. Selalu menyelimuti lagu-lagunya. Apakah suatu hari nanti aku ‘kan kembali? Oh sayang, aku pun tak tahu. tangan berat sang Kematian, menghancurkan banyak kuncup mawar yang bermekaran.

(Elimar von Monsterberg, Der Spielmann)

#9. Meggie Membaca

Setiap buku memiliki jiwa. Jiwa orang yang telah menulisnya serta jiwa mereka yang telah membaca dan menikmatinya dan memipikannya.

(Carlos Ruiz Zafon, Bayangan Angin)

#10. Tintewelt

Dalam ketakutan mereka bertiga dapat merasakan betapa drastic perbedaan antara sebuah pulau yang ada dalam bayangan dengan sebuah pulai dalam kenyataan.

(Kames M. Barrie, Peter Pan)

#11. Meggie Telah PErgi

“aku bangun dan tahu, dia telah pergi. Aku langsung tahu, dia telah pergi. Kalau kau mencintai seseorang, kau bisa tahu hal-hal semacam itu.”

(David Almond, Zeit Des Mondes)

#12. Tamu Tak Diundang

“Kalian memiliki hati,” katanya pada suatu ketika, “yang membimbing kalian agar tidak melakukan hal-hal buruk. Aku hidup tanpa hati, karena itulah aku harus bersungguh-sungguh mengawasi diriku sendiri.”

(L. Frank Baum, The Wizard of Oz)

#13. Fenoglio

“Aku melatih diriku mengingat, Nain,” kataku. “Menulis, membaca, dan mengingat.”

“Memang itu yang harus kaulakukan,” balas Nain tajam. “Kau tahu apa yang terjadi setiap kali kau menulis tentang sesuatu? Setiap kali kau memberi nama pada suatu benda? Kau mengambil kekuatannya.”

(Kevin Crossley-Holland, The Seeing Stone)

#14. Pangeran Hitam

“Jadi beruang-beruang bisa membuat sendiri jiwa mereka…” kata Lyra. Begitu banyak hal di dunia ini yang tidak diketahuinya.

(Phillip Pullman, Kompas Emas)

#15. Suara-suara Asing di Malam yang Asing

Betapa dunia begitu sunyi / Dalam dekapnya senja / Teramat manis dan menyenangkan! / Bagai sebuah ruang sepi / Tempat keluhan hari ini / Kauabaikan dan lupakan

(Mathhias Claudius, Abendlied)

#16. Hanya Sebuah Dusta

Selimut itu ada di sana, namun pelukan pemuda itulah yang menyelimuti dan menghangatkannya.

(Jerry Spinelli, Maniac Magee)

#17. Hadiah untuk Capricorn

“Kalau dia bermusuhan dengan ayahku, aku lebih tidak percaya lagi padanya!” teriak gadus itu benar-benar terkejut. “Maukah Anda bicara dengannya, Mayor Heyward, agar aku bisa mendengar suaranya? Mungkin menurutmu ini konyol, tapi barangkali kau sering mendengar betapa aku percaya bahwa suara setiap orang memiliki makna.”

(James Fenimore Cooper, The Last of the Mochicans)

#18. Dendam Mortola

Aku tak berani, Tak berani kumenulis. Jika kau mati.

(Pablo Neruda, The Dead Women)

#19. Pagi di Hari Ulang Tahun

“Tidak, tidak akan kutinggalkan kota ini tanpa sebuah luka dalam jiwa… begitu banyak belahan jiwaku bertebaran di jalan-jalan dan begitu banyak anak kerinduanku berjalan telanjang di bukit-bukit.”

(Khalil Gibran, Sang Nabi)

#20. Tamu dari Bagian Hutan yang Jahat

“Kegelapan selalu memiliki peranan. Tanpanya, bagaimana kita tahu bahwa kita sedang menuju cahaya? Namun ketika, ambisinya menjadi terlalu besar, ia harus dilawan, diatur, kadang – jika perlu – dilenyapkan untuk sementara. Lalu dia akankembali lagi, seperti seharusnya.”

(Clive Barker, Abarat)

#21. Paduka Nestapa

“Aku tidak mau,” mustahil dikatakannya pada sang raja karena bagaimana nanti dia akan mencari nafkah?

(Raja dalam Keranjang, Cerita Rakyat Italia)

#22. Sepuluh Tahun

Waktu adalah kuda yang berlari di dalam hati, kuda / Tanpa kesatria di tengah jalan pada suatu malam. / Akal duduk terdiam, dengan saksama, mendengarkannya berlalu.

(Wallace Stevens, All the Preludes to Felicity)

#23. Dingin dan Putih

 Aku bagai seorang pandai emas yang siang-malam menempa / Hanya dengan cara itulah dapat kuubah derita / Menjadi hiasan emas, lembut bagai sayap seekor jangkrik.

(Xi Murong, Poetry’s Value)

#24. Di Gudang Bawah Tanaj Elinor

Rak buku tinggi itu melendut / Menopang ribuan jiw ayang terlelap / Sunyi, penuh harap –  / Setiap kali aku membuka sebuah buku, satu jiwa terbangun.

(Xi Chuan, Books)

#25. Perkemahan di Hutan

Aku pikir ia mengatakannya setiap saat: aku sangat penat, sangat penat, sangat penat; O kematian, datanglah cepat, datanglah cepat, datanglah cepat.

(Frances Cornford, The Watch)

#26. Rencana Fenoglio

Yang kubutuhkan hanya selembar kertas serta alat tulis, dan aku akan mengguncang dunia.

(Frederich Nietzsche)

#27. Violante

Keesokan harinya nenek mulai bercerita untukku. Dia pasti ingin menghibur kami berdua dari kesedihan kami yang sangat dalam.

(Roald Dahl, The Witches)

#28. Kata-kata yang Salah

Jika yang kaumiliki dariku hanyalah rambut merahmu serta tawamku yang sepenuh hati / maka hal lain dalam diriku bisa bagus atau buruk / bagaikan bunga-bunga pudar yang hanyut di air.

(The Ballad of Little Florestan)

#29. Penguasa Baru

Para tiran tersenyum saat mengembuskan napas terakhir. Karena mereka tahu bahwa dalam kematian mereka, Tirani hanya beralih ke tangan lain, kekuasaan tetap bertahan di tanah-tanah mereka.

(Heinrich Heine, King David)

#30. Cosimo

“Ya,” kata Abhorsen. “Aku ahli nekromansi, tapi bukan nekromansi sembarangan. Bila yang lain-lain membangkitkan orang mati, aku mengistirahatkan mereka kembali…”

(Garth Nix, Sabriel)

#31. Elinor

Di luar sana tidak banyak yang terjadi. Tapi di malam yang istimewa ini, di negeri bertembok kertas dan kulit, segalanya mungkin terjadi, selalu begitu.
(Ray Bradbury, Something Wicked This Way Comes)

#32. Salah Orang

Maka ia pun meletakkan tanaman obat yang bisa menyembuhkan itu / Ke dalam mulut lelaki itu – dan dia pun langsung tertidur. / Diselimutinya lelaki itu dengan sangat hati-hati. / Dia terus saja tidur sepanjang hari.

(Wolfram von Eschenbach, Parsifal)

#33. Dongeng Kematian

Angin mala mini, begitu kuat berembus / Terdengar bagaikan mata pisau yang dikibaskan orang – Di batang-batang pepohonan yang rimbum…

(Montale, Poems)

#34. Pesan Si Kaki Awan

Ya, kasihku, Dunia kita berdarah. Dengan kepedihan yang lebih besar daripada kepedihan cinta.

(Faiz Ahmed Faiz, The Love I Gave you Once,)

#35. Obat-Tinta

Kenangan akan ayahku terbungkus dalam / Kertas putih, bagaikan sandwich yang hendak dibawa ke tempat kerja. / Seperti pesulap mengeluarkan aneka benda dan kelinci / Dari dalam topinya, ia mengeluarkan cinta dari tubuhnya yang kecil.

(Yehuda Amichai, My Father)

#36. Jetitan-jeritan

Aku ingin melihat dahaga / Dalam silabel, / Menyentuh api / Dalam suara; / Merasakan dalam kegelapan / Jeritan itu.

(Pablo Neruda, Word)

#37. Jerami Bercak Darah

Goblin yang terkubur dalam tanah, peri yang mendendangkan lagu di pepohonan; semua itu merupakan keajaiban dari membaca, namun di baliknya tersimpan keajaiban mendasar bahwa, dalam dongeng, kata-kata dapat memerintahkan terjadinya sesuatu.

(Francis Spufford, The Child That Books Built)

#38 Penonton untuk Fenoglio

“Lady Cora,” katanya, “Terkadang orang harus melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan. Ketika persoalan besar melanda, orang tidak bisa mempermainkan keadaan dengan sarung tangan sutra. Tidak. Kita sedang membuat sejarah.”

(Mervyn Peake, Titan Groan)

#39. Pesuruh Lain

Ingatan yang paling kuat lebih lemah daripada tinta yang paling pucat.

(Pepatah Cina)

#40. Tanpa Harapan

Si Panci monster berdiri dan berjalan menghampiri piringnya dengan kaki-kaki perak kurus yang terseok-seok seperti kaki burung hantu… “Oh, aku suka sekali panci monster!” oekik si Kutik. “Dari mana kau mendapatkannya?”

(T.H. White, The Sword in the Stone)

#41. Para Tawanan

“Kalau begitu menurutmu dia belum mati?” Ia mengenakan topinya. “Bisa jadi aku keliru, tentu saja, tapi menurutku dia masih segar bugar. Semua gejalanya menunjukkan hal itu. Tengoklah dia, dan saat aku kembali kita akan bertemu dan memutuskannya.”

(Harper Lee, To Kill a Mockingbird)

#42. Wajah yang Tak Asing Lagi

Percayalah padaku. Terkadang saat hidup kelihatannya berada di titik tergelap, ada terang tersembunyi di tengah semua itu.

(Clive Barker, Abarat)

#43. Kertas dan Api

“Bagus, well, kalau itu sudah diputuskan,: terdengar suara dari ujung sel yang gelap dan lembab. Suara si gnokgoblin, masih dirantai dan terlupakan. “Kalau begitu, tolong lepaskan aku.”

(Paul Stewart, Midnight Over Sanctaphrax)

#44. Pohon yang Terbakar

Apakah kau melihat lidah-lidah api / Melesat, menjilat semkain lama semakin tinggi? / Apakah kau melihat nyala api menari-nari, / Membakar, menyapi kayu kering?

(James Kruss, Fire)

#45. Kasihan Meggie

“Halo,” sapa suara lembut nan merdu, dan Leonardo pun mendongak. Di hadapannya berdiri gadis muda paling cantik yang pernah ia lihat, gadis yang mungkin akan membuatnya takut kalau bukan karena ekspresi sedih di matanya yang biru. Leonardo tahu tentang kesedihannya.

(Eva Ibbotson, Misteri Penyihir Ketujuh)

#46. Ketukan di Pintu

Lancelot mengamati cawannya. “Ia bukan manusia,” akhirnya ia berkata. “Tapi mengapa dia harus menjadi manusia? Apakah malaikat harus menjadi manusia?”

(T.H. White, The Ill-Made Knight)

#47. Roxane

Mata baginda putri tidaklah seumpana mentari; Batu koral masih jauh lebih merah daripada merah bibirnya. Bila salju berwarna putih, lantas mengapa dadanya kecokelatan; bila rambut laksana kawat, kawat-kawat hitam tumbuh di kepalanya.

(William Shakespeare, Soneta)

#48. Kastel di Tepi Laut

Selembar halaman yang ia temukan dalam buku pedoman tentang patah hati.

(Wallace Stephens, “Madame la Fleurie”, Kumpulan Puisi)

#49. Penggilingan

Kami berkuda dan terus berkuda dan tidak terjadi apa-apa. Ke mana pun kami pergi, semua tenang, damai, dan indah. Anggap saja seperti malam yang tenang di pegunungan, pikirku, walaupun itu sama sekali tidak benar.

(Astrid Lindgren, Kakak-Beradik Hati Singa)

#50. Malam Terbaik

“Makan,” kata Merlot.

“Tidak mungkin bisa,” jawab Despereaux, mundur menjauhi buku.

“Mengapa?”

“Eh,” jawab Despereaux, “itu akan merusak ceritanya.”

(Kate DiCamillo, The Tale of Despereaux)

#51. Kata-kata yang Tepat

Taka da hal buruk berdiam di kuil semegah itu. Bila roh jahat memiliki kediaman seindah itu, Hal-hal baik harus berjuang keras untuk dapat berdiam besamanya.

(William Shakepeare, The Tempest)

#52. Kemarahan Orpheus

Semua kata ditulis dengan tinta yang sama, “bunga” dan “kuasa”, misalnya, sama saja, dan walaupun aku mungkin menulis “darah, darah, darah” memenuhi halaman, kertasnya tidak akan ternoda dan aku juga tidak akan berdarah.

(Phillipe Jacottet, Parlet)

#53. Burung Lumbung

Dan setiap dokter pasti tahu Tuhan telah menempatkan misteri yang besar dalam banyak tumbuhan, bila karena roh-roh dan hal-hal liar membuat manuisa merana, dan pertolongan ini datang bukan dari iblis tapi dari Alam.

(Paracelsus, Works)

#54. Di Penjara Bawah Tanah Kastel Kegepalan

Mereka berkata: Bicaralah untuk kami (kepada siapa?). Sebagian berkata: Balaskan dendam kami (terhadap siapa?). Sebagian berkata: Gantikan tempat kami. Sebagian berkata: Saksi mata. Yang lain-lain berkata (dan mereka ini wanita): Berbahagialah untuk kami.

(Margaret Atwood, “Down”, Eating Fire)

#52. Surat dari Feniglio

Kalau begitu adakah dunia. Tempat aku berkuasa sepenuhnya atas takdir? Waktu yang bisa kuikat dengan rantai pertanda? Keberadaan yang tak kunjung berakhir sebagaimana yang kuperintahkan?

(Wislawa Szynborska, “The Joy of writing”, View with a Grain of Sand)

#53. Mencuri Dengar

Lagu terbaring tidur dalam segala hal. Yang bermimpi siang dan malam. Dan seluruh dunia sendiri bernyayi. Bila kata ajaib yang kauucapkan.

(Joseph von Eichendorff, The Divining Rod)

#54. Api dna Air

Dan apa arti pengetahuan kata selain bayangan dari pengetahuan tanpa kata?

(Khalil Gibran, Sang Nabi)

#55. Tak Terlihat Seperti Angin

“Maaf sekali, Yang Berdarah, Mr Baron, Sir,” katanya menjilat. “Salahku, salahku – aku tidak melihatmu – tentu saja tidak, kau tidak kelihatan – maafkan gurauan kecil Peevsie, Sir.”

(J.K. Rowling, Harry Pooter dan Batu Bertuah)

#56. Nattenkopf

Pikiran-pikiran tentang kematian / Mengganggu kebahagiaanku / Bagaikan awan-awan hitam / Menutupi semburat perak cahaya bulan.

(Sterling A. Brown, Thoughts of Death)

#57. Api di Dinding

Lihat, putihnya dinding, perhatikan, muncul sebentuk tangan manusia, Yang menulis dan menulis, dalam huruf-huruf indah, Pesan berapi-api untuk negeri ini.

(Heinrich Heine, Belsazar)

#58. Di Menara Kastel Kegelapan

Kau tidak pernah keluar dalam keadaan seperti waktu kamu masuk.

(Francis Spufford, The Child that Books Built)

#59. Ke Mana

Aku memimpikan buku yang tak berbatas, / Buku yang tak berjilid, / Halaman-halamannya berserakan dalam kelimpahan / Si setiap barisnya tergambar cakrawala baru / Surga-surga baru dibukakan; / Negeri-negeri baru, jiwa-jiwa baru.

(Clive Barker, Abarat)

#60. Sarang Musang

“Oh, Sara. Seperti dongeng saja.”

“Ini memang dongeng… semua adalah dongeng. Kau adalah dongeng – Aku adalah dongeng. Miss Minchin adalah dongeng.”

(Francis Hodgson Burnett, The Little Princess)

#61. Habis Sudah

Ini perang! Ini perang! Malaikat Tuhan menyertaiku / Dan membimbing tanganmu. / Perang ini, aduh, dan aku tak bersalah / Atas apa yang melanda negeri ini.

(Matthias Claudius, War Song)

#62. Penguasa Cerita

Help besi tak akan mampu menyelamatkan / Bahkan para pahlawan dari liang kubur. / Darah orang-orang baik akan tercurah / Sementara mereka yang lalim Berjaya.

(Heinrich Heine, Valkyries)

#63. Kertas Kosong

Demi kau kami membuat hal-hal seperti berdiri tegak. Selama berabad-abad halaman-halaman ini akan bertahan selamanya. Di atas kertas kosong mesin cetak menerakan apa yang terdengar. Menghidupkan sesuatu dengan kekuatan kata.

(Michael Kongehl, Die Weisse und die Schwarze Kunst)

#64. Kebaikan dan Belas Kasihan

Di sinilah kami tergantung, / Daging kami yang terlalu banyak makan, / Sedikit demi sedikit disantap dan membusuk, terkoyak dan tercabik, / Dan tulang kami melebur menjadi debu.

(Froncois Villon, Ballade of the Hanged Man)

#65. Kunjungan

“Jika aku tidak bisa keluar dari rumah ini,” pikirnya, “matilah aku!”

Robert L. Stevenson, The Black Arrow

#66. Malam Sebelumnya

Benar, aku berbicara tentang mimpi-mimpi, / Yang merupakan anak-anak dari otak yang menganggur / Tak menghasilkan apa-apa kecuali khayalan sia-sia, / Yang maknanya hanyalah setipis udara.

(William Shakespeare, Romeo and Juliet)

#67. Pena dan Pedang

“Tentu saja tidak,” kata Hermione. “Semua yang kita butuhkan ada di kertas ini.”

(J.K. Rowling, Harry Potter dan Batu Bertuah)

#68. Hanya Mimpi

Suatu hari seorang pemuda berkata, “Aku tidak suka cerita yang di dalamnya banyak orang mati. Aku akan pergi mencari negeri tempat tidak seorang pun pernah mati.”

(Negeri Tempat Tidak Seorang Pun Pernah Mati, Cerita Rakyat Italia)

#69. Pertukaran

Biru mataku telah padam malam ini / Merah emasnya hatiku.

(Geord Trakl, “By Night”, Poems)

#70. Gagak Biru

Dunia ada untuk dibaca. Dan aku membacanya.

(Lynn Sharon Schwartz, Ruined by Reading)

#71. Harapan Farid

Dan sekarang ia sudah mati, jiwanya melayang ke Negeri Tanpa Matahari dan tubuhnya terbaring dingin di lumpur dingin, di suatu tempat di tengah keramaian kota ini.

(Philip Reeve, Mortal Engines)

#72. Sendiri lagi

Harapan adalah sesuatu yang berbulu.

(Emily Dickinson, Hope)

#73. Penyair Baru

Kegembiraan menulis / Kuasa untuk mengabadikan, / Pembalasan dendam tanganyang fana.

(Wislawa Szymborska, The Joy of Writing)

#74. Ke Mana Sekarang

Raksasa itu menyandarkan punggungnya ke kursi, “Ada beberapa cerita yang masih tersisa,” katanya. “Aku bisa menciumnya di kulitmu.”

(Brian Patten, The Story Giant)

Karawang, 270422

Karawang, 270422

Menjalankan Wejangan Ray Bradbury #45

Idealnya memang dicatat per lima hari seperti ini, jadi tak terlalu menumpuk. Namun sekali lagi, ini catatan buat memantau perkembangan program sahaja, dibuat nyaman, dibikin santuy.

Hari 41

#1. Cerpen: Malam Hening, Kasih Bening (Ike Soepomo)

Konfliks yang disampaikan berat, penyelesaiannya yang ringan. Pasangan suami istri yang secara ekonomi mapan mengadopsi anak dari dokter sahabatnya yang menangani kelahiran ibu yang miskin dan sudah cerai. Namun setelah tiga tahun, sang ibu menuntut haknya. Ia mencoba merebut anak kandungnya. Inilah pentingnya surat adopsi resmi, maka melalui pengadilan, dan negosiasi alot, mereka dengan berat hati merelakan. Endingnya sedikit dimodifikasi.

#2. Esai: Manusia Indonesia bab Tanggapan-Tanggapan (Mochtar Lubis)

Setelah menikmati bacaan ceramah 82 halaman Mochtar Lubis, muncul berbagai tanggapan di Koran nasional. Ada yang sangat keras menentang menyebutkan sifat-sifat manusia, yang rerata memang negatif. Dibantah langsung oleh yang penulis, lalu tanggapan lain muncul, dibantah lagi, dan diluruskan. Seru sekali, Koran tahun 1970-an ini menyanggah tulisan dan mengkirtisinya.

Luar biasa, tulisan bagus dari ceramah itu memunculkan pro-kontra. Memang pahit mengetahui keburukan sifat mayoritas warga kita, fakta pahit itu diungkap dan wajar saja muncul tanggapan-tanggapan. Di Koran nasional tahun 1970-an ada yang menyanggahnya, lalu disanggah balik, ada yang sepakat, tapi kritis, ada pula yang memberi contoh sifat-sifat kontra yang ada. Seru sekali, buku yang bagus.

#3. Puisi: Kancing Baju Tanggal Seluruhnya (Deddy Arsya)

Dalam topi lakenmu yang bundar / cakrawala tiba-tiba pudar / bukit-bukit baru tumbuh dari balik kabut seperti payudara / anak gadis tiga belas tahun / ladam kuda memercikkan api di jalan raya, dulu para rodi / bergelimang mati di situ / tetapi sebentar lagi lampu-lampu toko menyala di / seberangnya menerbarkan harum / sabun yang tercium dari leher gadis-gadis baru pulang dari / pemandian air panas

#4. Kata: Indonesia

capai: raih, sampai; lelah, letih

Hari 42

#1. Cerpen: Permata Lembah Hijau (Ike Soepomo)

Keluarga yang sejatinya mapan, dengan tiga anak manis. Lalu musibah dicipta, sang suami kecelakaan kerja yang mengakibat kakinya harus diamputasi agar infeksi tak menjalar. Keruntuhan dimulai, suaminya yang insinyur emosi, banyak hal dipertanya, istrinya ditampar, anak-anaknya menjauh, dan begitulah, butuh ketenangan hati untuk memutuskan nasib ke depan. Inilah keluarga.

#2. Esai: Resistansi Bahasa Daerah di Era“Westernisasi” (Komang Budi Mudita)

Upaya menahan gempuran bahasa asing dengan melokalisasikan bahasa daerah. Bahasa daerah yang terancam punah harus dilindungi, dan penggunaan sehari-hari tentu sangat efektif, sebab langsung dipraktekkan. Salah satu yang menonjol adalah bahasa Ngalam, orang-orang Malang yang membalik kata dan ditulis ulas di koran lokal. Patut diapresiasi.

#3. Puisi: Sajadah Panjang (Taufiq Ismail)

Ada sajadah panjang terbentang
Dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba
Kuburan hamba bila mati

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan sujud
Di atas sajadah yang panjang ini
Diselingi sekedar interupsi

Mencari rezeki, mencari ilmu
Mengukur jalanan seharian
Begitu terdengar suara azan
Kembali tersungkur hamba

Ada sajadah panjang terbentang
Hamba tunduk dan rukuk
Hamba sujud dan tak lepas kening hamba
Mengingat Dikau
Sepenuhnya.

#4. Kata: Indonesia

cecak: binatang merayap, biasa hidup di dinding atau langit-langit rumah

Hari 43

#1. Cerpen: Untung dan Rugi (Rabindranath Tagore)

Di India pernikahan zaman dulu memang tampak aneh di mata kita. Keluarga perempuan memberi uang besar kepada keluarga laki-laki, sebab pengantin perempuan pindah rumah ikut suami, yang berarti tinggal sama mertua. Maka kalau suami adalah keluarga kaya, atau bangsawan maka maharnya minta besar. Keluarga perempuan mendapat mantu kaya tentu saja bangga, tapi jua kudu berkorban banyak uang. Pernikahan yang sejatinya menyatukan dua kelurag malah jadi petaka, perkara uang mahar.

#2. Esai: Literatur Gerakan Sufi Barat (Marcia Hermansen)

Bagus banget. Tasawuf di Eropa dan Amerika, di bumi Barat mengalami kebangkita abad 20. Gerakan itu mencipta gelombang Islamisasi, justru setelah kejadian 9/11 banyak yang bertanya-tanya tentang Islam, dan di sini sufisme naik daun.

#3. Puisi: Elang Laut (Asrul Sani)

Ada elang laut terbang / senja hari / antara jingga dan merah / surya hendak turun, / pergi ke sarangnya.

Apakah ia tahu juga, / bahwa panggilan cinta / ada ditahan kabut / yang menguap pagi hari?

Bunyinya menguak suram / lambat-lambat / mendekat, ke atas runjam / karang putih, / makin nyata,

#4. Kata: Indonesia

cendekia: tajam pikiran; cepat mengerti dan pandai mencari jalan keluar; terpelajar, cerdik pandai

Hari 44

#1. Cerpen: Kulit (Roald Dahl)

Mengerikan. Rasanya sulit dipercaya, penulis cerita anak ini memiliki cerpen dewasa yang keras dan sangat kejam, bila dibayangkan. Sebuah pesta mabuk pelukis dan istri dan tentara dari desa yang sama membuat ide gila, menulis di punggung. Lukisan tato itu menggemparkan di masa kini, dan ditawar sangat mahal. Lalu bagaimana menjualnya? Kulit itu dikupas?

#2. Esai: Siasat Struktur “Raden Mandasia, Si Pencuri Daging Sapi” (Marcelus Ungkang)

Novel pemenang KSK ini dikupas dengan gaya yang berbeda. Atau dalam bahasa literature, ditelisik dengan baik dalam kritik sastra. Walau tetap saja memusingkan menyikapi tata kelola kupasannya, sejatinya tetap asyik. Malah membuatku penasaran dan tertantang menulis kritik sastra yang bagus seperti ini.

#3. Puisi: Keluhan (Mustofa Bisri)

Tuhan, kami sangat sibuk.

#4. Kata: Indonesia

cengkerama: percakapan untuk menyenangkan hati; senda gurau; perjalanan untuk bersenang-senang

Hari 45

#1. Cerpen: Sang Nyonya Rumah (Rabindranath Tagore)

Tentang bullying, dari guru ke murid, dari murid ke murid. Memberi nama aneh kepada murid-murid, seorang anak manja yang sering dikirim gula-gula dan makanan oleh pelayannya di jam makan siang dijuluki Sang Nynoya Rumah.

#2. Esai: Untaian Hikmah bab Tiga Perkara (Ibnu Hajar al-‘Asqalani)

Bab dua ini intinya sama dengan bab satu, berisi hadis dan nasehat agama tentang segala hal berhubungan tiga perkara. Beruntun indah, tapi menyusun kutipan-kutipan seperti ini kurang membekas.

#3. Puisi: Kamar (Sapardi Djoko Damono)

ketika kumasuki kamar ini
pasti dikenalnya kembali aku
suara langkahku, nafasku
dan ujung-ujung jari yang dulu menyentuhnya
dan kali ini – pertemuan ini
tanpa jam dinding
begitu saja di suatu sore hari
sewaktu percakapan tak diperlukan lagi
tanpa engahan-engahan pendek
tanpa “malam begitu cepat lalu!”
dan kulihat bibir-bibirnya sembilu
menoreh kenanganku

#4. Kata: Indonesia

cengkih: tanaman industri untuk rempah-rempah; bunga cengkih

Karawang, 140422 – Barry Manilow – Can’t Smile Without You

Sandra saab tood: Jenius Merenung

“Saya telah melakukan segalanya dengan benar sepanjang hidupku. Sudah bagus, melakukan apa yang harus dilakukan, tapi nyatanya saya tak mendapat timbal balik sepadan.” – Sandra

Seorang jenius pendiam yang perperangkap di dunia kemunafikan. Di dunia ini tak ada yang idealis, segalanya rata-rata, di tengah-tengah, harus dinegosiasikan, kudu menyesuaikan keadaan. Apapun sistem yang dipakai, kamu tak kan bisa puas, selalu akan ada rongga yang perlu ditambal, selalu akan menemukan sebuah bentuk yang lebih baik lagi dari apa yang kamu capai. Pengaruh memengaruhi dunia dan sekelilingnya. Seluruh penggambaran, apersepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi tadi merupakan unsur-unsur pengetahuan, seorang individu yang sadar.  Sandra jelas memahami ini, tapi ia juga tak bisa mensejajarkan diri akan kehidupan sekelilingnya. Menemukan banyak hal tak sesuai harap, ditambah tekanan bahwa orangtuanya kaya dan sukses, ia justru seperti jadi beban keluarga. Rasanya ia dingin, sekaligus panas.

Sandra Mets (Mari Abel) seorang doktor fisika muda, ia mendapat kejutan di puncak acara kantornya dalam pesta keberhasilan proyek penelitian, ia justru dipanggil bosnya, diberitahu bahwa diberhentikan (bahasa sopan, kamu dipecat!) karena perusahaan perlu efektifitas kelola sumber daya manusia (SDM). Berita ini mengempiskan semangat. Tanpa banyak tanya, tanpa banyak komentar ia langsung mengemasi barang-barangnya, lantas pulang meninggalkan pesta. Sempat coba dicegah bosnya, coba diminta balik ke pesta, ia geming. Sebuah pembuka yang kontradiksi dari judulnya, Sandra Kehilangan Pekerjaan. Pergi dengan gaya.

Ia adalah seorang jenius, dari langkahnya sudah menunjukkan kecerdasan yang menyingkapkan derajat intelegensia bawaan yang tinggi, otaknya encer, rekomendasi pekerjaan banyak, tawaran wawancara ada, tes kerja antri. Ia memiliki seorang anak, yang keseharian dititipkan ke ibunya. Ayahnya seorang ilmuwan sukses, secara finansial orangtuanya aman, maka selama menganggur ia meminjam uang.

Dalam tes kerja, ia dengan mudah melibasnya. Tertulis lancar, wawancara tak jauh beda. Tawaran kerja juga mengantri, tapi memang tak ada yang bisa sreg, klik dengan hatinya. Tak mudah beradaptasi, tak mudah bergaul sama rekan kerja. Saat akhirnya ia mengambil salah satunya, sebuah perusahaan start-up yang mencipta chip. Saat mendapat apresiasi, ia diajak pesta nyanyi, tapi malah dengan galak membalas tak bisa nyanyi. Dasar jenius murung. Ia juga tampak egois, walaupun setelah bermenit-menit kita tahu, Sandra-nya yang defense, tampak sombong tapi bukan sombong, rasanya ia sangat logis. Diamnya adalah misteri yang tak terpecahkan. Saat-saat di puncak kemuakan, seolah kita bisa dengar ia berteriak, “Biarkan saya  sendiri dengan serdaduku, jangan ganggu, agar gengsiku terpuaskan!”

Dalam proyek yang potensial bagus, idenya dari Sandra, yang membuat file presentasi dia juga, yang memaparkan proyek ke calon investor dia juga, dan jelas bagus banget. Sayangnya, Sandra yang memang tipikal serius dan logis malah merusaknya.

Begitulah, film ini bergulir lambat dan tenang, tak ada tawa, tak ada teriakan, semua seolah dialog umum antar orang asing, formal dan apa adanya. Selain konfiks dalam pekerjaan yang monoton, ia juga bertentangan dengan ibunya yang banyak memberi nasihat, juga bapaknya yang mengajak kerjasama malah ditolak. Memang susah bergaul sama orang jenius, sampai akhirnya di titik yang tak bisa dijelaskan, ia mencoba melepas beban, dunia ini memang tak adil, tak pernah adil, dan tak akan pernah jadi adil.

Makanya sebagai manusia sosial kit harus bisa menempatkan diri, saat perlu ngumpul sama teman-teman ya santuy saja suasana, tak perlu serius. Saat meeting sama bos atau ketemu klien, baru serius. Hal-hal yang tak termaktub dalam aturan baku, manusia memenuhi etika. Saat menemukan ketidaksesuaian dengan hati, selama tak main fisik atau mencederai hati terdalam tak perlulah mencela-celanya secara destruktif. Tak banyak yang bisa kita perbuat untuk umum, kita hanya bisa mengubah dan menundukkan diri kita sendiri. Emile Durkheim, sosiolog Prancis yang terkenal, memperhatikan aspek solidaritas hubungan antara individu dalam kelompok dan dalam perkumpulan, dan membedakan mekanisme solidaritas yang menjiwai kelompok, dan organisasi solidaritas yang menjiwai perkumpulan.

Pekerjaan merupakan tumpuan tiap individu untuk bertahan hidup di kerasnya dunia. Memaksa kita untuk tetap waras, dipaksa melakukan hal-hal yang tak disukai, dipaksa melaksanakan rutinitas yang membosankan, mau tak mau mengikuti alur. Kita hidup dalam lingkaran yang menghubungkan orang satu ke orang lain, kita makhluk sosial yang saling membutuhkan.

Suka sama ending-nya. Setelah bermenit-menit murung, bermenit-menit merenung, kibasan merdeka itu terjadi. Perasaan lega atas segala-gala-gala-galanya. Mencipta sungging senyum penonton.

Sandra Gets a Job | Judul Asli Sandra saab tood | Year 2021 | Estonia | Directed by Kaupo Kruusiauk | Screenplay Kaupo Kruusiauk | Cast Mari Abel, Henrik Kalmet, Helen Klasman, Alo Korve | Skor: 4/5

Karawang, 120422 – Bruno Mars – Just The Way You Are

Menjalankan Wejangan Ray Bradbury #40

Puasa sudah seminggu, dan wejangan ini menyentuh kepala empat. So far masih semangat, walau tak setegar di awal. Perjalanan masih sangat panjang…
Hari 36

#1. Cerpen: Program Pembaca Nasib (Muhammad Aan)

Memainkan weton Jawa untuk disatukan dengan teknologi, peramal menghitungnya. Pasangan yang ragu datang, menganalisisnya. Bukan sesuatu yang baru, sudah sangat umum bagi masyarakat Jawa menghitung neptu.

#2. Esai: Numpang Parkir (Andina Dwifatma)

Tetangga dan segala aktivitasnya, termasuk parkir di depan rumahnya. Kalau sebentar, kalau pas ada hajat, kalau pas ada tamu, kalau sesekali sih tak mengapa, yang jadi masalah malah rutin dan seolah jadi pemakluman, tentu tak nyaman. Dan ini potensi konfliks, mari hormati tetangga kalian, seperti kamu menghormati hak-hakmu sendiri sebagai tetangga lainnya.

#3. Puisi: Garis (Sapardi Djoko Damono)

menyayat garis-garis hitam
atas warna keemasan; di musim apa
kita mesti berpisah tanpa
membungkukkan selamat jalan?
sewaktu cahaya tertoreh
ruang hening oleh bisik pisau; Dikau-kah
debu, bianglala itu,
kabut diriku?
dan garis-garis tajam (berulang
kembali, berulang
ditolakkan) atas latar keemasan
pertanda aku pun hamil. kau-tinggalkan

#4. Kata: Indonesia

balig: cukup umur, akil balig
Hari 37

#1. Cerpen: Sembilan yang Kedelapan (Asmi)

Anniversary penikahan yang berantakan, bukan di pesta makan malamnya, ini adalah pertemuan absurd sebab keduanya sudah sepakat pisah. Ketemu di tempat makan pertama mereka bertemu, mencoba mengakrabkan diri. Jadi bagaimana bisa dua hati yang retak itu coba didekatkan?

#2. Esai: Untaian Hikmah bab Dua Perkara (Ibnu Hajar al-‘Asqalani)

Berisi hadist-hadist pilihan tentang dunia yang fana. Dari perintah salat hingga kewajiban sedekah.

#3. Puisi: Percakapan (Sapardi Djoko Damono)

lalu ke mana lagi percakapan kita (desah jam
menggigilkan ruangan, kata-kata yang sudah
dikosongkan. Semakin hijau pohonan di luar
sehabis hujan semalaman; semakin merah
bunga-bunga ros di bawah jendela; dan kabut,
dan kabut yang selalu membuat kita lupa)
sehabis hujan, sewaktu masing-masing mencoba
mengingat-ingat nama, jam semakin putih tik-toknya

#4. Kata: Indonesia

balsam: minyak kental untuk pereda sakit kepala, masuk angin, dll; bahan pengawet mayat
Hari 38

#1. Cerpen: Tentang Berjumpa dengan Seorang Gadis yang Seratus Persen Sempurna pada Satu Pagi yang Indah di Bulan April (Haruki Murakami)

Di usia matang sepasang manusia yang pernah berjanji untuk bersama, hanya berpapasan di jalan. Padahal dulu ikrarnya mereka akan mencinta. Kriteria cocok seratus persen tak melulu fisik yang cantik atau bentuk tubuh ideal. Ini tentang ketertarikan.

#2. Esai: Kemesorotan Ummat Islam dan Upaya Pembangkitannya (Abul A’la Maududi)

Ditulis di Pakistam yang moralnya merosot, dikaji bagaimana bisa dunia Islam yang baik dan hebat itu kini ambyar. Ditarik mundur dari era penjajahan Barat, kemunafikan, hingga sistem yang salah: sekuler, nasional, demokrasi. Apalagi setelah merdeka, orang-orang dalamlah yang dilawan.

#3. Puisi: Malam Minggu (Joko Pinurbo)

Malam minggu malam para jomblo, malam para penunggu
Pengembara muda duduk gelisah di beranda / menunggu pacarnya tak kunjung tiba. / rindu yang ditabungnya sudah jadi racun; / bahayanya sudah sampai di ubun-ubun.
Ada orang linglung berjalan limbung di depan rumah / matanya bingung melihat zaman sudah berubah / mau belok ke kiri, ia gamang dan ragu / mau belok kanan, takut terjebak di gang buntu

#4. Kata: Indonesia

bujet: anggaran belanja, anggaran pemasukan dan pengeluaran uang; rencana anggaran terinci
Hari 39

#1. Cerpen: Perihal Mesin dan Peristiwa (Galeh Pranudianto)

Isinya hanya tentang sektor-sektor yang dikembangkan, lalu para robot itu membantu manusia untuk bahagia. Segalanya dihitung dan dikaji, tak ada yang meleset. Benarkah?

#2. Esai: BMW (Bomb of Millenial’s WAQD): Konsep Berwakaf ala Millenial Masa Kini (Reskia Ekasari)

Mahasiswa menjadi pengusaha? Kebanyakan gagal terkait modal, bagaimana kalau modal dari waqaf? Dengan pengandaian setiap orang menanamkan 10 ribu, nilainya sangat luar biasa, sebulan bisa 1,5 milar, setahun bisa 18 milar. Esai tentang ‘sedekah’ tampak bombastis, tak sampai untuk otak tua sepertiku.

#3. Puisi: Sepasang Lampu Baca (Sapardi Djoko Damono)

untuk Isma Sawitri
ada sepasang lampu beca bernyanyi lirih di muara gang
tengah malam sementara si abang sudah tertidur sebelum
gerimis reda
mereka harus tetap bernyanyi sebab kalau sunyi tibatiba sempurna bunga yang tadi siang tanggal dari keranda
lewat itu akan mendadak semerbak dan menyusup ke dalam
pori-pori si abang beca lalu mengalir di sela-sela darahnya
sehingga ia merasa sedang bertapa dalam sebuah gua
digoda oleh seribu bidadari yang menjemputnya ke suralaya
dan hai selamat tinggal dunia

#4. Kata: Indonesia

boling: permainan menggelindingkan bola untuk merobohkan pin
Hari 40

#1. Cerpen: Bagaimana Kita Menulis Cerita Pendek 20 Tahun dari Sekarang (Ardy Kresna Crenata)

Tahun 2018 cerpen ini dibuat, 20 tahun lalu mencipta cerpen dengan motivasi sepele dan memalukan, bagaimana dengan 20 tahun lagi? Artinya 2038, usianya sudah senja. Setiap masa ada lingkaran ketertarikannya masing-masing.

#2. Esai: Toa dan Budaya (Massa) (Mahfud Ikhwan)

Toa yang kini jadi polemik umum, dijelaskan secara runut perannya di era puncak Orde Baru tahun 1980 hingga 1990-an. Toa padahal tak melulu tentang agama, itu bisa jadi sarana untuk mengumpulkan massa. Untuk hajatan yang bisa tiga hari penuh berdentum, hanya off saat azan. Lain dulu lain sekarang memang…

#3. Puisi: Pagi (Sapardi Djoko Damono)

ketika angin pagi tiba kita seketika tak ada
di mana saja. Di mana saja bayang-bayang gema
cinta kita
yang semalam sibuk menerka-nerka
di antara meja, kursi, dan jendela? kamar
berkabut setiap saat kita berada,
jam-jam terdiam
sampai kita gaib begitu saja. ketika angin
pagi tiba tak terdengar “Di mana kita?” —
masing-masing mulai kembali berkelana
cinta yang menyusur jejak Cinta
yang pada kita tak habis-habisnya menerka

#4. Kata: Indonesia

cabai: tanaman perdu, lombok
Karawang, 090422 – Limp Bizkit – My Way

In Front of Your Face: Aneka Warna Tingkah Laku Manusia

In front of your face film.jpg
Produksi: Jeonwonsa Film Co.

“Aku percaya surga bersembunyi di depan wajah kita.” – Sangok

Komunikasi timbul setelah kontak terjadi. Saya menemui si A maka terjalin perbicaraan. Saya menghubungi si B, maka komunikasi tercipta. Saya diajak ngopi sama si C, maka terjadi interaksi. Ini jenis film ngegoliam, di mana kata-kata lebih dikedepankan. Kekuatan ngobrol, keseruan dialog. Dan bobotnya, makin berat konfliks yang dibahas, maka makin menentukan kualitas cerita. Cerita sejatinya sangat sederhana, dan karena kesederhanaan itulah, tampilannya justru menarik. Minim pemain, minim lokasi, jelas minim bujet. Seorang artis yang mudik ke Seoul, tinggal sama saudarinya, menekuri hari-hari yang cerah, minum kopi, sarapan roti, melihat-lihat taman penuh bunga, makan di resto, lalu siangnya ada janji temu sama seorang sutradara muda. Janji tengah hari itu ditunda sore, maka sang artis memutuskan membelokkan taksinya ke tempat ia lahir dan tumbuh, rumah masa lalunya sudah direnovasi dan ditempati orang lain. Merokok jadi kebiasaan, guna mengakrabi kenalan. Sorenya ketika ketemu di bar sama sang sutradara, ia mendapat tawaran main film layar lebar. Ia mengaguminya, ia siap menyesuaikan jadwal syuting, dan saat naskah dikerjakan, Sang artis diperbolehkan balik ke Amerika barang setengah tahun atau lebih, nanti dikabari saat siap. Dan jawaban kejutan yang didapat. Tawaran-tawaran lain disampaikan, dan alkohol diedarkan. Siang terik, sore hujan deras ditemani petir, dan segalanya tersapu badai…

Jelas ini bukan film untuk semua orang. Isinya cuma ngobrol dari satu meja ke meja lain, dari jalan kaki menikmati pemandangan taman penuh bunga hingga merokok di bawah jembatan menikmati aliran air, percikannya menenangkan, menjadi backsound lembut seolah di taman firdaus. Dari pertemuan di resto ke pertemuan di bar, dan begitulah, seolah memang dipamerkan keindahan lanskap kota. Hiruk pikuknya jadi semacam latar, dan kata-kata bergulir semarak, keputusan-keputusan harus diambil, waktu terus berjalan, waktu berjalan linier, kita dilindasnya. Hidup, begitulah, tak pernah ada yang tahu masa depan.

Korea Selatan adalah Negara maju, ekspansi produknya sudah mengglobal. Dari Samsung hingga Hyundai, dari K-Pop sampai Drakor. Budaya baik ditampilkan di banyak adegan, misal menghormati yang lebih tua, salam sapa dengan saudara, pelukan hangat sebagai tanda kasih sayang, hingga menawarkan makanan bagi teman yang absen makan siang. Manusia harus mempelajari kebudayaan sejak ia lahir, selama seluruh jangka waktu hidupnya, hingga saatnya ia mati, semuanya dengan jerih payah, dan faktor kebiasaan jadi faktor paling dominan pembentuknya. Sistemnya sudah ada, tinggal eksekusinya. Kita misalkan, terbiasa makan dengan hanya menggunakan tangan kanan, berdoa sebelum makan, dan sedikit berbincang di atas meja. Hal itu tak serta merta, ada proses dan tempaan. Akan sangat sulit mengubahnya, faktor lingkungan memang sangat berpengaruh. Kita mungkin terbiasa melihat orang buang sampah sembarangan, atau pengendara menerobos lampu merah. Anehnya, warga kita, orang yang sama tersebut melancong ke Korea, akan otomatis mengikuti aturan yang ada. Orang Indonesia di Korea akan membuang sampah pada tempatnya, akan mengikuti antrian, dst. Lantas kemana sifat melanggar aturan itu menghilang? Unsur-unsur terkandung dalam watak itu tadi tentu saja tidak hilang lenyap begitu saja, melainkan hanya terdesak masuk ke dalam bagian dari jiwa manusia, hanya diredam, prinsip di mana bumi dipijak langit dijunjung secara naluriah aktif. Aneka warna tingkah laku manusia memang karena kolektif di mana manusia itu bergaul dan berinteraksi.

Endingnya sendiri sangat bagus. Menertawakan kekonyolan? Tersenyum masam atas keputusan sambil lalu, ataukah ada penyesalan yang terkandung di dalamnya. Yang jelas itu tawa getir, saat tahu dunia yang kamu tinggali akan kamu tinggalkan, lalu memaksimalkan masa yang ada dengan segala kekreatifannya, itu seolah tak bermakna. Apa yang dikejar, dunai fana, waktu fana, tubuh ini fana. Seribu tahun lagi kita semua dilupakan, mungkin Seoul masih ada, mungkin pula bumi masih baik-baik saja, hanya individunya yang berganti, lantas apa yang dikhawatirkan atas pembatalan janji temu?

Menurut Profesor Clyde Kluckhohn kelima masalah dasar dalam kehidupan manusia yang menjadi landasan bagi kerangka variasi sistem nilai budaya: (1) Masalah mengenai hakekat hidup manusia, (2) dari karya manusia, (3) dari kedudukan manusia dalam ruang waktu, (4) dari hubungan manusia dengan alam sekitar, (5) dari hubungan manusia dengan sesamanya. Kelima ada di film ini. kalau diperhatikan Sangok begitu bimbang, di mana opening adalah ending, dan ending adalah penafsir perjalanan manusia. Ia seperti terperangkap di sekitar, ia begitu mencoba menikmati hal-hal yang ada. Rokok, kopi, roti, pelukan, hingga warna-warni bunga. Rasa cukup menjadi titik utama, syukur, sabar, merdeka.

Bersikap dan berbuatlah seolah-olah kamu sangat bahagia. Maka ini akan membuat kamu betul-betul berbahagia. Seperti kata Sangok, surga tuh tersembunyi di depan wajahmu. Jadi kebahagiaanmu, hanya tergantung kepada apa yang kamu pikirkan.

Film sederhana yang bagus. Cerdas, sangat menggugah, dan juga diplomatis.

In Front of Your Face | Tahun 2021 | Korea Selatan | Sutradara Hong Sang-soo | Cerita Hong Sang-soo | Pemain Yunhee Cho, Lee Hye-yeong, Hae-hyo Kwon | Skor: 4/5

Karawang, 070422 – Eagles – Hotel California