The Trial of the Chicago 7: Bagaimana Perang di Pengadilan Dicipta

Tom Hayden: “Those are two contradictory instructions.”

Kita akan menemukan apa yang kita bayangkan sejak awal. Perang harus diakhiri, dan itu butuh darah pengorbanan di jalanan kota. Film yang luar biasa menghentak. Segala peluru amunisi ditembakkan secara membabibuta di gedung pengadilan. Rentetan bom diledakkan seolah tak berujung. Jebakan kata bisa meledak setiap saat. Adu cerdik, adu taktik di depan Yang Mulia menjadi pertempuran akbar tujuh aktivis kemanusiaan yang memperjuangkan Anti-Perang melawan Negara yang semena-mena. Semua ini masalah kemanusiaan, harga diri diredam, dan tameng-tameng itu bombardir rentetan tembak membabi buta. Mereka kalah jumlah, kalah senjata, kalah pasukan, kalah sebelum berperang. Namun tidak, tidak sepenuhnya sang raksasa berhasil mencincang sepasukan jagoan kecil ini. penonton dan warga dunia menyaksikan, dan mari kita beri aplaus paling meriah untuk laporan akhir mengguncang pengadilan yang terhormat.

Kisahnya berkutat di pengadilan Chicago, dari sidang ke sidang yang melelahkan. Sesekali muncul adegan demontrasi yang menyebab proses ini: dari, saat, dan setelahnya. Tujuh orang yang diadili adalah orang-orang yang didakwa mengkoordinasi massa, mereka memprotes perang Vietnam, konversi Partai Demokrat di Chicago tahun 1968. Masa puncak invasi ke Asia Tenggara itu diproses, dibahas para wakil rakyat, lalu masyarakat demo, prosesnya dikemas dengan sangat menawan. Dan terjadilah kerusuhan.

Biang rusuh digugat, mereka adalah: Abbie Hoffman (Sacha Baron Cohen), Jerry Rubin (Jeremy Strong), Bobby Seale (Yahya Abdul-Mateen II), John Froines (Danny Flaherty), Tom Hayden (Eddie Redmayne), Lee Weiner (Noah Robbins), dan David Dellinger (John Carroll Lynch). Jaksa penuntut yang ditunjuk adalah Richard Schultz (Joseph Gordon-Levitt) yang sedari awal sekali film tampak ragu, apanya yang dituntut? Namun sebagai jaksa terbaik ia mencoba menjalankan tugas.

Persidangan dipimpin hakim Julius Hoffman (Frank Langella). Pengacara David Dellinger dkk diampu William Kunstler (Mark Rylance) yang tampil ciamik. Kantornya meriah dengan poster-poster protes, tulisan ‘Konspirasi’ ditempel di dinding berjumlah empat deret. Dalam rembug bilang, ini adalah persidangan politik. Dalam ilmu hukum adanya sidang pidana dan perdata Lik, oh tidak. Ini adalah proses hukum politik buat para aktivis. Revolusi belum usai.

Dalam persidangan itulah terungkap banyak sekali hal-hal tak tampak selama demo. Polisi cantik yang menyamar Daphne O’Connor (Caitlin FitzGerald) masuk ke tubuh aktivis dengan cara yang membuat pukau para idealis. Kepada Jerry ia bilang, “Kamu tahu, kenapa orang Prancis sarapan hanya dengan sebutir telur? Karena di Prancis satu telur is ‘un oeuf’ (cukup).” Cara menyampaikan un oeuf yang meluluhkan hati, apakah ini diajarkan di akademi. Fck!

Boby Seale ditahan sebab banyak omong dan dianggap mengganggu serta menghina pengadilan. Pengacaranya sedang sakit, ia sering komunikasi sama rekannya yang nantinya justru ditembak mati di subuh hari. Sang pemimpin genk ini David Delliger juga akhirnya diringkus sebab marah saat menyampaikan pendapat, yang dianggap belum diberi kesempatan bicara. Ia bahkan memukul petugas yang mencoba menenangkannya. So sorry… so sorry…

Ditampilkan secara bersisian gonta-ganti dengan video klip asli saat demo. Konser musik dengan latar perjuangan. Orasi penuh motivasi ala ala stand up comedy yang dibawakan dengan gemilang oleh Abbie Hoffman, diiringi musik berdegub nan mewah: perang adalah situasi buruk kawan-kawan. Lalu dalam adegan yang berdarah, saat ada demonstran anak kecil naik ke tiang dan dipukuli polisi, saat seharusnya menahan diri, Tom Hayden dengan nada provokasi indah puitik, “Jika darah akan mengalir, biarkan mengalir ke seluruh kota.” Kalimat yang dijadikan bukti memberatkannya, yang membuatnya tak bisa jadi saksi kunci sebab terekam jelas.

Mereka yang bersenjata menekan, mereka yang melawan babak belur, mereka mulai mengendur, ditempelengi angin, dipojokkan bar penuh politikus, lalu menyerah… Asal usul seseorang menentukan partisipasi politiknya, tidak semua orang kaya itu termasuk golongan reaksioner. Terkadang para borjuis yang menjalankan revolusi, ah langka, sementara orang miskin mendukung fasisme. Black Panther, Sayap Kiri, Perkumpulan Demokrasi Pelajar, Partai Muda Internasional, sebut saja…

Dengan segala yang memberatkan, dengan hakim yang jelas berat sebelah, dengan kondisi timpang dan compang camping dalam pembelaan rasanya ancaman hukuman 10 tahun maksimal penjara akan diketuk dengan mantab. Bahkan saat Kunstler dan tim memanggil mantan jaksa agung di era Presiden sebelumnya Lyndon B. Johnson, awalnya tampak meragu Ramsey Clark (Michael Keaton) mau menjadi saksi, tapi ia dengan meyakinkan siap hadir. Saat dihadirkan ia tampil memesona, “Presiden bukan klien.” Dan saat pertanyaan dalam pembicaraan telepon, apakah presiden akan menuntut, oh tidak. Polisilah yang memulai kerusuhan! Sayang 12 juri tak dihadirkan, sayang sekali Ramsey Clark dipaksa turun dari kursi saksi, dan sayang sekali tepuk tangan membahana hadirin tak mencapai titik keputusan yang diharap. Rasanya benar-benar habis. Bagaimana menyelamatkan prinsip saat semua keadaan menyudutkan? Tom Hayden memiliki jawabannya. Menghentak! Waktu berlalu selagi kita bersidang, korban berjatuhan di Timur Jauh sana, selagi kita memertanyakan keadilan.

Saat nasib akhir para terdakwa dibuat dalam tulisan epilog, kita tahu mengapa pengadilan memakai simbol wanita dengan mata tertutup membawa timbangan. Saya benar-benar turut tepuk tangan adegan ending itu. Dan makin kesemsem saat tahu film dibuat dan ditulis oleh Aaron Sorkin, manusia istimewa yang menulis naskah dengan CV keren nan panjang. Secara kualitas, sejauh ini jelas The Trial adalah film Oscar terbaik tahun ini. Sangat amat layak menang kategori tertinggi. Untuk editing laik menang, sinematografi nanti dulu.

Ruang sidang bagi mereka seolah adalah panggung untuk menyampaikan gagasan. Akting Sacha Baron dan Eddie Redmayne paling memukau. Ada begitu banyak yang ingin disampaikan sehingga seolah tak tahu apa yang harus dikatakan. Dalam pengertian mereka, revolusioner berarti radikal; berhasrat melakukan perubahan dengan cepat. Perang harus diakhiri. Saat sang hakim memberi kesempatan untuk menyampaikan sesuatu sebelum vonis. Seolah Tom dan dirinya mengukur hati masing-masing. Singkat? Ya… banjir kata-kata gan! Semua hadirin berdiri memberikan tepuk tangan paling meriah, termasuk jaksa penuntut, termasuk semua penonton. Sebuah kemenangan sesungguhnya yang secara tersurat tersampaikan bahwa misi utama menarik pasukan Amerika, berhasil.

Di luar gedung terjadi demontrasi yang menuntut para aktivis dibebaskan, dunia menyaksikan. Para terdakwa kini menjadi ‘pahlawan’, kisah-kisah heroik setiap individu jadi sungguh aduhai. Kadang kebenaran sulit diterima. Dan revolusi ini mencipta banyak harapan, kalian bisa jadi apa saja. Tak perlu takut diangkut pemerintah pada usia 18-24 tahun untuk wajib militer, tak perlu panik saudara atau kerabat mati di medan perang. Sebuah revolusi terhadap dogma-dogma pemikiran tradisional. Seperti kata pakar militer Carl von Clausewitz, “Mau dibilang apa, perang adalah kelanjutan dari politik.”

The Trial of the Chicago 7 | Tahun 2020 | Directed by Aaron Sorkin | Screenplay Aaron Sorkin | Cast Eddie Redmayne, Alex Sharp, Sacha Baron Cohen, Jeremy Strong, John Carroll Lynch, Yahya Abdul-Mateen II, Mark Rylance, Joseph Gordon-Lewitt, Ben Shenkman, J.C. MacKenzie, Frank Langella, Michael Keaton | Skor: 5/5

Karawang, 210421 – Robin Williams – Feel

Ma Rainey’s Black Bottom: Perfect Blues

Levee: “I can smile and say yessir to whoever I please. I got my time coming to me.”

Proses rekaman lagu Ma Rainey’s Black Bottom yang menggairahkan. Apa yang terjadi: akan, sedang, dan setelah rekaman sepanjang satu setengah jam benar-benar luar biasa. Meledak bak delapan granat yang dilempar secara serentak. Berdentum bermenit-menit bahkan setelah film usia. Sinisme, harga diri, perjuangan persamaan hak, hingga apa arti kebersamaan. Tema yang asyik dengan durasi yang pas. Setting utama hanya di studio rekaman, hanya berkutat di situ. Apa yang ditampilkan sudah cukup mewakili suara para pihak yang terlibat. Ini adalah penghormatan terakhir Chadwick Boseman, Sang Black Panther yang meninggal dunia tahun lalu.

Kisahnya tentang rekaman lagu tanggal 2 Juli 1927 di studio Paramount, Chicago milik warga kulit putih. Para anggota band Georgia Jazz Band tiba terlebih dulu terdiri atas: Toledo (Glynn Turman), Cutler (Colman Domingo), Slow Drag (Michael Potts), dan Levee Green (Chadwick Boseman). Mereka berlatih sembari menunggu sang diva. Levee memiliki sepatu baru kuning mengkilap, ia adalah anggota baru, menjadi tokoh yang menonjol dengan impian memiliki band sendiri, yang paling muda yang paling memberontak. Ia berkisah di masa lalu bagaimana ibunya diperkosa warga kulit putih, ingatan itu terpatri kuat dan mencoba membalas trauma itu dengan menunjukkan jati diri. Ia menawarkan original komposer Sturdyvant. Interpersonal sepenuhnya adalah tentang kelekatan emosional. Dan cara terbaik untuk membangun kelekatan tersebut, adalah dengan membuat orang berhenti berpikir kritis. Ya Sir katamu? Saya punya kisah tak terlupa, trenyuh.

Cutler adalah pemimpin band, ia bersikeras memakai musik asli Ma, tapi ditentang oleh Levee yang mengingin versinya. Saat ditanyakan manajer band Irvin (Jeremy Shamos), ya pakai Sturdyvant saja. Dengan gesture tak peduli, sang pemimpin band merasa kecewa, Levee jumawa.

Saat Ma Rainey (Viola Davis) tiba kecelakaan kecil terjadi di depan studio, mobil barunya tergores dan sang manajer diminta membereskannya. Ia bersama keponakan Sylvester (Dusan Brown) yang gagap, memaksanya masuk band sebagai intro, bersama pula penari Dussie Mae (Taylour Paige) yang menggoda. Ketiga disambut bak raja. Yah, Ma memiliki suara emas, mereka hanya menginginkan suaranya. Fakta bahwa warga kulit hitam hanya dimanfaatkan adalah kebenaran yang menggelisahkan, sebuah kesadaran bisu bahwa di hadapan keluasan tanpa batas, segala yang kita kasihi sekejap menjadi hampa. Kalian kesal sama Ma? Ya awalnya , terlihat egois. Lalu Fanta-fanta diskriminasi diapungkan, dan kita justru membernarkan. Amerika tahun 1920-an begitu semena-menanya karena warna kulit beda.

Saat latihan lagi, betapa sulitnya Sylvester masuk ke lagu bahkan sekadar memulai. Kalimat legendaris yang berkali-kali diulang Cutler: “Ma Rainey’s Black Bottom. A one. A two. A you-know-what-to-do” berulang kali diambil. Dan saat Cutler tanya ke Ma pakai irama apa? Ya jelas pakai miliknya. Hahahaha… Levee yang egois menunjukkan kecewa. Saat di studio tak kalah heboh, panas minta kipas. Haus minta cola. Dan rehat lagi, terjadi cinta sesaat antara Levee dan Mae. Si omong besar akan band sendiri dan si gadis yang mata duitan. Klop. Anda memiliki iman bahwa cinta adalah hal yang penting, pekerjaan juga hal yang penting, pakaian juga penting, mewujudkan ambisi penting, dan semua hal ini adalah sesuatu yang penting. Setiap individu memiliki tujuannya masing-masing.

Saat akhirnya rekaman dimulai, keping kaset dibuang berkali-kali sebab seperti saat latihan Sylvester gagap. Saat adegan masuk, lagu menggema hebat. Yah, mic milik si keponakan ternyata tak tersambung sempurna, Ma tak peduli, rekaman harus diulang. Jelas ini membuat gusar manajer dan pemilik studio. Semakin kita menghargai sesuatu semakin kita keberatan untuk mempertanyakan atau mengubah nilai tersebut, dan maka semakin menderitalah kita jika nilai itu mengecewakan kita.

Saat rekaman usai dengan sangat manis, dan Ma ‘dipaksa’ menandatangani rilis lagu, terjadi drama. Levee dipecat, ia lalu mencoba merayu sang bos buat mendengar demo lagunya, dan kegusaran itu membunuh. Harapan pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri. Betapa dunia bergerak dengan tak waras, betapa kehidupan melaju dengan kejam. Sadis tak terperi, sepatu terinjak hanyalah alibi, kemarahan itu meletup tak terkendali. Pada akhirnya, hanya emosilah yang menggerakkan kita untuk bertindak. Ini karena tindakan adalah emosi. Adegan di paling ujung lebih gilax lagi, bagaimana warga kulit putih band Paul Whiteman’s Orchestra memainkan Sturdyvant milik Levee yang malang! *
Natur spiritual kita adalah lompatan kualitatif melampaui natur-natur fisik dan psikis, keduanya berakar pada tubuh fisik dan eksistensi material kita. Siapa yang tak bergetar hatinya mendengar Ma menyenandungkan dengan dahsyat lagu itu. Pantas warga kulit putih membayar mahal, adegan pembuka saat orang-orang yang berlari kendang di hutan seolah dikejar anjing itu kukira tak lebai. Mereka rela gegas demi antri tiket live Jazz dipersembahkan.

Ma Rainey’s Black Bottom adalah film Oscar pertama tahun ini yang kunilai sempurna. Benar-benar hidup. Music jazz menghantui, proses pembuatan di tahun 1920-an yang jadul, klasik, dan sederhana. Saya suka hal-hal sederhana. Dramanya dapat, musiknya dapat, akting kedua bintang utama luar biasa. Viola Davis bisa saja kalah, tapi Boseman yang almarhum menjadi kandidat sangat kuat melawan Pak tua Hopkins. Film dengan dua aktor di di dua kategori bergengsi yang tak masuk Best Picture? Serius? Hah…

Lagu yang dimainkan musisi berbeda jelas memberi hasil yang berbeda pula. Szwed, John F., dalam “Memahami dan Menikmati Jazz” biang, “Jika karya yang sama dimainkan lagi malam harinya, karya itu juga diharapkan terdengar baru. Tuntutan tingkat kreativitas sangat tinggi, bahkan terdengar tidak realistis; musisi tidak saja dituntut untuk terdengar berbeda dari musisi lain tapi juga berbeda dari dirinya sendiri.” Makanya endingnya terasa bgst, siapa yang memulai siapa yang menikmati. Terasa wajar dan pantas apa yang dilakukan Ma, ia memiliki suara emas dan karya maka ia menuntut, ia memperjuangkan haknya, melindungi sesuatu yang ternilai sebab bisa saja hal buruk gegas terjadi di masa Amerika yang diskriminasi.

Pengalaman menghasilkan emosi. Emosi menghasilkan nilai. Nilai menghasilkan cerita-cerita tentang makna. Dan orang yang berbagi cerita makna yang sama, berkumpul bersama untuk menghasilkan raungan jazz berkelas. Sebagai penghormatan atas almarhum Chadwick Boseman, saya turut menebak dia-lah yang akan disebut namanya Senin pagi nanti.

Ma Rainey’s Black Bottom | Tahun 2020 | Directed by George C. Wolfe | Screenplay Ruben Santiago-Hudson | Story August Wilson | Cast Viola Davis, Chadwick Boseman, Colman Domingi, Glynn Turman, Michael Potts, Jeremy Shamos, Jonny Coyne, Taylour Paige, Dusan Brown | Skor: 5/5

Karawang, 210421 – Charlie Parker – Jam Sessions (1952)

Borat Subsequent Moviefilm: Oscar untuk Cerita Semacam Ini? Bah!

Borat: “Only men and bears are allowed inside car.”

Banyak orang terlambat mati dan beberapa mati terlalu dini. Tapi dokrin itu masih terdengar asing, “Matilah pada saatnya yang tepat.” Ketika Borat dibebaskan, lalu menjalani misi ke Amerika kalau gagal akan dihukum mati, saya langsung bilang ‘omong kosong’. Omong kosong untuk eksekusinya, kalau misinya? Oh ini konspirasi ngasal, jangan diambil hati. Sekuel ini tak akan membunuh Borat. Dan terbukti.

Film yang annoying. Saya menyaksikan sekuel Borat dengan pesimistis, dan terbukti rasa jengah itu menjadi kenyataan. Apa yang bisa dilakukan oleh komedi dokumenter politik? Remuk. Perjalanan Borat ke Amerika untuk menyerahkan hadiahnya kepada wakil presiden terasa konyol sedari mula. Perintah dari pemerintah, kalau sampai misi gagal ia akan dieksekusi mati. Dengan penampilan kumal, ia dibersihkan, dimandikan, disuntik entah apa, diberi pakaian layak.

Maka perjalanan panjang dari Kazakhtan ke Amerika dimulai. Anehnya Borat Sagdiyev (Sacha Baron Cohen) naik kapal, mampir China, mampir Australia, mampir Eropa. Saat sampai di Amerika, saat boks dibongkar, monyetnya mati dimakan oleh putrinya Tutar Sagdiyev (Maria Bakalova) yang turut serta dalam pelayaran. Sempat akan dikirim balik, tapi justru memutuskan sang putri dijadikan hadiah.

Untuk mempersembahkannya, Tutar didandani. Wajahnya dipermak, dadanya dioperasi dengan harga 21.751 dollar karena dananya kurang Borat mencari duit jadi tukang cukur, sementara Tutar dititipkan ke warga sekitar, saat duitnya komplit, justru Tutar justru menemukan seminar tentang persamaan gender. Tentang feminism di era modern. Wanita juga bisa nyupir, bisa bekerja, bisa menjadi dirinya sendiri. Bisa punya pilihan. Jadi selama ini buku hijau dari sukunya palsu? Ya.

Termasuk saat beli kue yang memakan langsung, dan figure bayi ditelan. Sungguh annoy saat konsultasi, bagaimana cara mengeluarkan bayi dari tubuhnya. Oh hidup adalah hidup, tak peduli sekecil apa di dalam perut. Mencipta mis-komunikasi dengan sengaja seperti ini membuatku muak. Borat dan anaknya menipu publik, ini dokumenter aneh dan mengganggu. Termasuk bagaimana kemaluan menelan pemiliknya sebab menyentuhnya. Ga jelas, geje, memalukan.

Saat Tutar melakukan perlawanan, ia menjadi seperti wanita Amerika kebanyakan. Menjadi reporter konser lalu mencoba menjadikan hadiah buat Michael Pence. Borat bertemu dengan dua ilmuwan, turut tinggal dan mengapa jalanan sepi? Oh virus menghantam, semua orang karantina mandiri. Dalam kediaman menulis lagi yang mengecam partai republik, dan Obama. Yang saat konser dinyanyikan live. Makin absurd.

Eksekusi endingnya makin gajebo saat Tutar melakukan wawancara, Borat yang mendapat ilham bahwa persembahan semacam itu tak baik dari Jeanice Jones hanya karena ia mau mengambil bola tahanan beserta rantainya. Lalu ia pun melakukan sabotase wawancara. Konyol, ga lucu, blas ga menarik. Dokumenter macam apa ini. Payah! Ga relate sama kehidupan modern Barat, dan juga Timur.

Kejutan yang dicipta akhir juga tak terlalu mengejutkan. Makan kelelawar? Virus yang dibawa ke sana oleh karakter ini? Dan adegan Tom Hanks yang muncul sekian detik di Aussie yang kena Covid-19. Ahhh… sungguh mengada-ada.

Dua nominasi Oscar kuprediksi gagal semua. Cerita adaptasi jelas kalah, asal saja ini kisah walaupun dibuat oleh keroyokan scenario tetap saja. Buruk dan ngantuk dan cenderung kacau. Untuk supporting actress, lumayan aja. Debut Maria Bakalova di Amerika tak akan menang piala. Ia memang menawan, cantik dan menggemaskan. Namun tidak, saya tak menyarankan juri Oscar memilihnya. Mungkin dia-lah daya tarik utama cerita ini. Tutar menggunakan Bahasa Bulgaria, menjadikan akses canpur aduk sama Bahasa Negara Eropa lainnya. Tutar artinya ‘Putri’ dari Bahasa Estonia.

Judul aslinya “Borat: Gift of Pornographic Monkey to Vice Premiere Mikhael Pence to Make Benefit Recently Diminished Nation of Kazakhtan.” Ah hanya bikin sensasi saja, saya lebih senang sebut Borat 2. Judul panjang 110 karakter ini menuliskan rekor mengalahkan film yang pernah masuh nominasi Oscar sebelumnya dipegang oleh “Those Magnificent Men in Their Flying Machines or How I Flew from London to Paris in 25 hours 1 minutes.” (1965) dengan 85 karakter.

Dalam pepatah Jawa yang terkenal: ‘perempuan adalah swarga nunut nraka katut.’ Artinya, perempuan adalah surga turut, neraka ikut. Borat 2 mencipta desakan protes, bahwa wanita setara dengan pria. Feminism yang diperjuangkan. Tutar mengalami perubahan signifikan dari remaja perempuan yang dibelenggu, dianggap hanya sebagai hadiah, dan akhirnya menjadi dewasa dalam sekejap. Hebat, penuturan kata dari wanita-wanita independen langsung merubahnya. Kritik sosial yang tebal tapi terjadi berkali-kali penyimpangan arti, yang bisa muncul karena tiga hal: ambiguitas, kontradiksi, dan nonsence. Perjalanan ini sendiri sudah ambigu. Hadiah berubah, misi seolah tempelan. Kontradiksi terjadi di banyak adegan. Mulai dari tak percaya virus, tapi memukuli tiang dan tembok guna membunuhnya, sampai niatan mengambil bola belenggu yang tak dibawa ketika menerima kata-kata sang baby sitter. Bah! Semudah itu. Sedang nonsence, kata borat sendiri omong kosong. Adegan ia berdandan perempuan yang mencoba menggantikan putrinya, omong kosong. Adegan jadi tukang cukur dengan gunting pemotong rumput, tapi hanya buat gaya. Sejatinya hampir semua yang dilontarkan Borat akting berlebih. Dokumenter yang tak lucu.

Kasih adalah api, ia membakar segala sesuatu. Pertama-tama api membakar tahap kesabaran. Kutonton saat puasa, dan untuk menuntaskannya butuh kesabaran ekstra. Piala Oscar untuk cerita semacam Ini? Bah! 3x.

Borat 2 | Tahun 2020 | Directed by Jason Woliner | Screenplay Sacha Baron Cohen, Anthony Hines, Dan Swimer, Peter Bayham, Erica Rivinoja, Dan Mazer, Jena Friedman, Lee Kern | Cast Sacha Baron Cohen, Maria Bakalova, Tom Hanks, Dani Popescu, Manuel Vieru | Skor: 2.5/5

Karawang, 200421 – Linkin Park – Breaking the Habit

Meeting ESS HO-CIF-CHR

Onward: Fantasi Nanggung

Barley: “Put it in O, for Onward!”

Kisahnya tentang sebuah era di mana sihir sudah memudar. Zaman dahulu kala mereka hidup dalam dunia fantasi. Dengan tongkat sihir dan keajaibannya, dengan naga yang menjadi hewan peliharaan, hingga mitos-mitos lainnya, di era sekarang New Mushroomton hampir semuanya sirna. Teknologi dan ilmu pengetahuan menggeser keajaiban alami. Listrik misalnya bisa mencipta api dan kehangatan dalam sekejap ketimbang menautkan dua batu untuk sekadar membuat percikan api. Adalah dua elf: Ian Lightwood (Tom Holland) siswa sekolah atas yang tampak penggugup dan kakaknya yang seolah kebalikannya, Barley (Chris Pratt) yang pede dan aneh dan pecinta sejarah. Seorang gamer yang fanatik. Dalam adegan rekam, ia menceam walikota menyingkirkan air mancur kota yang memiliki sejarah panjang dengan mendirikan gedung di atasnya. Mereka adalah anak yatim, ayahnya Wilden meninggal saat Ian belum lahir. Dan ibunya Laurel (Julia Loius-Dreyfus) kini memiliki pacar polisi seorang centaurus, manusia dengan pinggang ke bawah berbentuk kuda. Colt Bronco (Mel Rodriguez ) yang tegas dan keras, kurang disukai oleh mereka berdua.

Remaja, oh tindak tanduknya memang selalu aneh. Ulang tahun yang ke enam belas yang rencananya mengundang teman-teman sekolah berakhir berantakan. Ian yang introvert, kakaknya yang annoy naik mobil jadul penuh kerusuhan, van yang diberi nama Guinevere., diambil dari nama istri Raja Arthur Nantinya dalam petualang mobil ini melakukan pengorbanan yang mengharu. Ibunya lalu membuka langit-langit berisi warisan buat Ian. Barang-barang sihir dari ayahnya: barang ajaib, permata, dan sepucuk surat. Termasuk kemungkinan bertemu ayahnya dalam sebuah mantra panggilan. Sayangnya permata dan mantra itu gagal sepenuhnya menjalankan tugas sebab hanya separuh bawah bapaknya yang muncul.

Dengan peta yang ada mereka lalu menjalankan misi ke Manticore’s Tavern lalu menuju ke gunung terdekat Raven’s Point guna menemukan gems dibantu oleh Corey (Octavia Spencer). Harapan untuk bisa ngobrol sama ayahnya mencipta perjalanan penuh bahaya, menjelajah gua misterius, menelusur tempat-tempat eksotis lama. Dan dalam adegan maut yang mendebarkan mereka terbebas dengan dramatis di sebuah gorong-gorong. Lalu muncullah di kota, hah mereka balik lagi di tempat tinggal. Jadi selama ini gems ada di air mancur kota? Ya, dan perbuatan itu memicu kutukan lama: sekolah menjelma naga golem raksasa itu menyerang mereka. Berhasilkan Ian menuntaskan misi, apakah ayahnya bisa terwujud sepenuhnya? Kisah pribadi memiliki gema kolektif.

Ini film anak-anak yang fun. Tak perlu berkerut kening, kisahnya sederhana sahaja. Fantasi tak rumit: naga, golem, penyihir, kuda poni, dst semua hanya tempelan. Kisah ini adalah kisah persaudaraan Ian dan Barley yang renggang lalu menjadi kuat berkat petualangan aneh. Onward, tak seperti Pixar lainnya temanya biasa. Pengisi suara yang biasanya antah, kini malah berisi artis-artis ternama, seperti bukan Pixar. Lagian tahun lalu sudah ada Soul, kenapa rilis film lain di tahun yang sama? Tradisi satu film setahun memang sudah beberapa kali memudar, dan dengan sendirinya kualitas Pixar juga segaris lurus, entah kenapa magi-nya jadi sangat standar.

Jelas tidak akan menang Oscar, temanya drama keluarga, fantasi hanya tempelan. Tak seperti soul yang lebih dalam dan luar biasa filosofis, Onward lebih mengedepankan arti saudara. Arti keluarga. Bagaimana saat mengenang selama petualangan ini kakaknya mengisi segala yang ia butuhkan, bagaimana kebersamaan menjadi arti penting dalam persaudaraan. Dan fantasi nanggung ini mengakhiri kisah bak motivator menyampaikan nasehat-nasehatnya. Tak seperti Pixar kebanyakan, dan mereka terasa menyadarinya merilis digital di bulan Maret. Pertama kalinya film Pixar rilis di bulan ketiga.

Sejatinya fantasi bersinggung kehidupan nyata selalu menarik, kalau dibuat dengan benar. Onward nanggung di semua lini, drama dan eksekusinya yang tergesa. Bahkan Onward mencoba melakukan kritik sosial terkait penggusuran tempat bersejarah, fantasi geografis berangsur-angsur menghasilkan simpati, tapi tidak. Film ini tak berhasil mencapainya. Kepala Dan dkk terisi adonan fantasi dan realism, gagal dalam eksekusi. Musuh muncul dan kalah secara dramatis, film banget. Menawarkan harapan, memberi suatu hal yang perlu diperjuangkan.

Plato, Aristoteles dan para Stoik berkata bahwa bukanlah kebahagiaan, tapi tentang karakter, menumbuhkan kemampuan untuk menanggung penderitaan dan berkorban secara tepat. Ian menyadari kehadiran saudaranya penting, memberi peran yang selama ini dicarinya. Lantas melalui pengalaman itu apakah penonton tercerahkan? Tidak. Kita sudah tahu, menerima kenyataan akan lebih bijak. Saudara adalah sahabat terbaik, menggantikan peran seseorang tak akan pernah bisa tapi kenyataan memberi fakta itu, berjalannya waktu akan bisa. Ian seolah diberi harapan palsu, semu, dan jelas-jelas maya. Hanya di dunia fiksi dan film-film, kalau sampai Ian berhasil justru pesannya malah terlepas, Dan tahu itu makanya dibuatkan kesadaran buatan, jadi selama ini yang ia cari ternyata ada di depan matanya. Klise ya? Ya. Biasa ya? Ya. Bukan Pixar banget. Pribadi mempesona ternyata tidak terletak pada fisiknya, melainkan karena dia mempunyai pendirian yang teguh dan kepribadian yang mantab.

Boleh saja Anda sebut dongeng fantasi yang mengandung pesan moral, cocok buat jamaah yang mengangguk-angguk sepakat atas apa yang disampaikan motivator. Sihir ala Neil Gaiman jauh lebih berkelas.

Onward | Tahun 2020 | Directed by Dan Scanlon | Screenplay Dan Scanlon, Jason Headley, Keith Bunin | Cast Tom Holland, Chris Patt, Julia Loius-Dreyfus, Octavia Spencer, Mel Rodriguez, Kyle Bornheimer, Lena Waithe | Skor: 3/5

Karawang, 200421 – The Cranberries – Promises

One Night in Miami: Satu Malam Mengubah Segalanya

Malcolm X: “How many roads must a man walk down before you call him a man?”

Ini malam yang aneh. Empat lelaki dewasa di dalam kamar hotel, ngobrol sepanjang malam. Luar biasa. One Night in Miami adalah film kedua Oscar tahun ini yang kuberi lima bintang. Powerful! Mereka diskusi tentang tujuan hidup, rencana-rencana ke depan, sebagai kumpulan influencers yang harus dilakukan, dan apa yang sudah menjadi komitmen harus dilakukan sepenuh hati, tak ada jalan kembali. Merenungkan sebuah euforia. Sebagai contoh dan cermin keindahan intelektual. Senyum yang sedikit terdistorsi dari keputusasaan. Untuk menemukan kedamaian dalam kesempurnaan adalah keinginan seseorang yang mencari keunggulan; dan bukankah ketiadaan merupakan bentuk kesempurnaan?

Kisahnya tentang persahabatan empat lelaki keling: Pertama Cassius Clay (Eli Goree) sebelum menjadi Muhammad Ali adalah yang termuda. Kedua seorang penulis lagu dan penyanyi ternama Sam Cooke (Leslie Odom Jr.). Ketiga pemain futball terkenal Jim Brown (Aldis Hodge), dan Malcolm X (Kingsley Ben-Adir) yang tampak paling dituakan. Ia sedang di puncak, seorang pengkhotbah yang akan mengubah sejarah Amerika. Seorang muslim yang nantinya pecah kongsi sama Elijah Muhammad. Islam radikal yang memecah hubungan dan menimbulkan kesan negatif Islam.

Pertemuannya di Hampton House Motel di Miami, sebuah daerah pemukiman warga Afro Amerika pada hari Selasa, 25 Februari 1964. Malam bersejarah itu dimula sebagai malam perayaan kemenangan Cassius Clay atas Sony Liston dalam perebutan sabuk tinju kelas berat, hasil yang mengejutkan dunia. Clay masih sangat muda, ia baru saja memeluk Islam atas bimbingan Malcolm X. Jim adalah pemain hebat futball, merasa galau pula dalam hubungan sosial. Dalam adegan saat ia mampir ke rumah seseorang sungguh disambut hangat, ngobrol di teras dengan sajian minum penuh hormat. Saat ia akan masuk rumah untuk membantu angkat perabot, dilarang sebab kulit hitam dilarang masuk. Sam juga mengalami dilematis saat-saat konser. Karyanya diakui publik, performanya juga OK, tapi sering terjadi sabotase. Malcolm X datang dengan dua pengawal, satu senior dengan penuh disiplin dan tegas, satu lagi sangat muda. Bahkan nantinya ia minta tandatangan! Empat lelaki hebat beradu argument di era suram Amerika yang demokratis. Rencana Malcolm X jelas merupakan perwujudan perkataan Klestakoff: “Kita harus terlibat dalam hal-hal yang lebih bernilai.”

Kesederhanaan menjadi tema utama dalam diskusi. Tak ada makanan melimpah seperti pesta, es krim mau? Ada rasa vanilla. Bosan, mari ke lantai atas menyaksikan langit. Lihat ada kembang api perayaan, saat adu pendapat menjurus kelahi, kedua pengawal Malcolm X langsung serobot. Kalem men, tenang. Ini hanya canda. Hidup jangan serius-serius. Semua orang kemudian berdiri merenung di atap, dan menjaga jarak berpisah ke dalam seribu kesepian. Kemudian mulailah malam Miami yang agung, pengasingan para raja, dan kemegahan keputusasaan yang menunggu kelana yang kesepian. Dunia telah dengan sengaja menyisihkan mereka berempat dari apa yang memberinya keabadian: alam, lautan, perbukitan, renungan malam.

Yang tertinggal hanyalah angkasa pekat malam, membentang menuju perjalanan yang tak bergerak. Saat seolah titik temu tak didapat, Sam keluar mencari minum ke minimart, beli miras yang bagi Clay tentu sudah tak boleh. Oh termasuk daging babi yang lezat itu? Ya…

Yang paling keras adalah Sam, ia merasa Malcolm menyudutkannya. Padahal sang Pengkhotbah sudah lima kali menyaksikan konsernya. Oh ya? Ya. Dan salah satu penampilan terbaik di Boston saat sabotase terjadi. Saat mic mati, pengiring band pada kabur, setelah penampilan menghentak penyanyi sebelumnya, Sam berdiri sendiri di panggung bersama cemooh penonton yang kecewa. Ia dengan cepat adaptasi situasi dan menampilkan acapela, merinding, dahsyat. Dunia memang keras, dan ia menghantam balik dengan lebih keras. “Aku menjual suara, kata-kata, imajinasi, dan pesanku.”

Satu lagi diskusi terkait karya. Dengan piringan lagu milik Bob Dylan lagu Blowing in the Wind yang terkenal itu, Malcolm memberi nasehat akan kesetaraan, akan perjuangan menjadi manusia sesungguhnya, tiap keping sen yang laik untuk didapatkan seorang musisi dan penulis lagu, tentang apa yang bisa diraih dalam perjalanan kedamaian. Selain musik, ceramah agama, Malcolm juga suka fotografi, ke mana-mana menenteng kamera.

Saat akhirnya malam itu berakhir masing-masing menemukan tindakan apa yang harus diperbuat. Jim pensiun dari futball, memasuki gemerlap dunia Hollywood. Sam menjadi penulis lagu yang lebih bijak. Clay menjadi Muhammad Ali ‘The Greatest’. Dan Malcolm menulis memoar yang memicu pembunuhan. Ia menjadi martir akan perjuangan persamaan hak. Tulisan endingnya mencipta lelehan air mata. “Saatnya untuk para martir, jika aku sa;ah satunya, itu demi persaudaraan. Hanya itu yang bisa selamatkan Negara ini.” – Malcolm X, 19 Febrauri 1965. Ia dibunuh dua hari kemudian.
Menurut pandangan Sahl: takut adalah unsur jantan, harap adalah unsur betina, keduanya sama-sama menumbuhkan realitas keimanan yang sedalam-dalamnya. Berpikir baik tentang Tuhan artinya percaya pada janji-Nya akan mengampuni orang yang berdosa.

Ini film sejarah. Terinspirasi kisah nyata yang diadaptasi dari sandiwara dengan judul dan penulis yang sama. Saya mengagumi Muhammad Ali, The Greatest. Saya hanya membaca sejarahnya, menyaksikan rekaman-rekaman aksi di atas ring, dan sederet kontroversi yang dicipta. Ia memang sedang menuju puncak malam itu, pesonanya luar biasa. Tapi semua orang memang sedang on fire. 4 legenda, 1 malam yang legendaris. Mereka berdiri untuk mempertanggungjawabkan ‘hidayah’ yang diterima, memergunakan pengaruh untuk kebaikan. Ide-ide liar berkelindan menelusup pada mereka yang berani memperjuangkan hak-haknya, hak-hak orang sekitar, hak-hak akan kemanusiaan.

Film ini memiliki tiga wakil di Oscar. Lagu Speak Now yang dibawakan Sam yang luar biasa menghentak, laik menang! Leslie Odom Jr. laik menang, ia begitu menghayati penampilan di panggung dan diskusi kuat sama yang dituakan. Dan Cerita adaptasi yang juga laik menang. Namun Oscar sering mengejutkan, atau dalam bahasa yang lebih halus, jarang memenangkan piala naskah terbaik untuk film yang benar-benar terbaik, yang jelas telak mengalahkan Borat 2. Akan lebih adil diberi satu piala, bisa dimana saja.

Tanpa mengenal semua cast yang ada, saya benar-benar menikmati sensasi dialog yang disajikan. Luar biasa hidup, seolah memang adu pendapat itu nyata demi kemanusiaan. Regina King adalah sutradara wanita hitam pertama yang filmnya masuk Venice Film Festival. Film ini layak lebih dihargai. Perjuangan Persamaan Hak. #BlackLiveMatter.

Malam yang aneh. Seolah ejawantah Ghaznawid, “Pertama-tama kutulis buku-buku dengan saksama – akhirnya kupatahkan penaku dalam kebingungan.”

One Night in Miami | Tahun 2020 | Directed by Regina King | Screenplay Kemp Powers | Cast Kingley Ben0Adir, Eli Goree, Aldis Hodge, Leslie Odom Jr., Lance Reddick, Christian Magby, Joaquina Kalukango, Nicolette Robinson | Skor: 5/5

Karawang, 190421 – Ebiet G. Ade – Kupu-Kupu Kertas

The Father: Menua dan Tersisih

Anthony: “I feel as if I’m losing all my leaves.”

Pikun di usia senja, melupakan banyak hal. Orangtua yang tinggal sama anaknya di apartemen, menjadi beban karena sang anak mau melalangbuana ke negeri jauh. Nasib, ingatan menjadi hal yang sangat penting, menjaganya, membuatnya tetap hidup saat usia tak lagi muda. Dunia telah menjadi tua dalam sesaat, sekejap mata, dan kita menjelma bersamanya. Hebat sekali yang bikin cerita, kita turut menjadi seorang Anthony, turut merasa bingung dan menempatkan diri dalam kebimbangan. Kenangan, memori, pori-pori samar apa itu dunia maya yang berkelebat di kepala, di awang-awang. Tanpa ingatan, setiap malam adalah malam yang pertama, setiap pagi adalah pagi pertama, setiap sapaan dan sentuhan adalah yang pertama. Semuanya serba kejadian baru. Lantas apa itu masa lalu?

Anthony (diperankan bagus sekali oleh Anthony Hopkins) bangun dari tidurnya, Anne (Olivia Colman) putrinya bilang akan ke Paris dengan kekasih barunya, lho kemana James? Kan sudah cerai Pak. Lalu ia pamit turun akan membeli ayam ke warung depan buat dimasak. Anthony tinggal di apartemen di London yang riuh. Saat sendirian, muncullah lelaki asing (Mark Gatiss) yang dengan santuy membaca Koran seolah ini tempat tinggalnya. Siapa kamu, ngapain? Pak, sampeyan itu tinggal sama Anne dan saya, ini flat kami. Anthony yang tua bingung, waktu seolah non-linier. Acak-acak, mana yang duluan, mana yang kemudian.

Alunan musik yang menjadi teman Anthony sungguh jadul dan menenangkan. Musik orangtua yang nyaman di telinga. Lembut, tenang, menghanyutkan. Lukisan Lucy juga mewakili waktu, saat ada dan tiada, saat yang mana Anne lama dan Anne baru, saat putri terkasihnya memberinya kesempatan.

Rencana Anne akan ke Paris, tampak meragu tega kah meninggalkan ayahnya sendiri? Lantas siapa yang mengurus sang ayah? Dengan perawat sebelumnya bermasalah, ia mengeluhkan jamnya dicuri, padahal hanya lupa naruh. Lalu didatangkanlah perawat pengganti Laura (Imogen Potts) yang seolah cocok, sebab mirip putrinya Lucy. Namun sampai kapan? Saya seorang penari, oh bukan bapak, bapak tuh seorang engineer! Oh ya, lupa.

Dalam sebuah adegan makan malam, Anne dan pasangannya mendiskusikan rencana memindahkan sang ayah ke panti jompo, mendengar itu ada nada marah yang tersirat. Dari rautnya, Anne marah sama Paul (Rufus Sewell) sebab di depan bapaknya bilang mau gmana lagi? Lalu untuk meredam amarah, Anne mengambil menu ayamnya untuk ditaruh di dapur, dan dengan terang-terangan Paul bilang mau sampai kapan nyusahin? Saat Anne kembali ke meja makan, Anthony mau nambah ayam, Anne mau berdiri, oh tak perlu, biar saya saja. Dan tersamar, adegan bisik-bisik rencana ke panti jompo terulang. De javu. Wait, apakah ini nyata? Masa muda menjadi era yang terasa jauh di belakang, hanya sebagian kecil yang bisa bertahan di kepalanya.

Pada akhirnya memang tak ada pilihan yang lebih bijak buat Anne, ia benar-benar ingin mewujudkan impian ke Paris, maka Anthony pun dikirim ke panti jompo. Dalam sebuah adegan surealis ia terbangun dari tidur, membuka pintu dan tembus ke sebuah rumah sakit. Ia terus memanggil Anne, malah mendapati putrinya yang lain terbaring sakit. Penuh kebingungan, ia lantas menangis dalam pelukan perawat. Betapa ia merindukan kasih, betapa menginginkan pelukan ibu. Sedih sekali. Apakah Hopkins menang Oscar lagi? Performa pilu inilah yang bisa jadi mencipta piala tersebut.

Dengan kondisi ini semua tampak serba salah. Lantas bagaimana sebaiknya yang dilakukan? Kalau kita bijaksana, ikuti kata hati, jiwanya tenang seperti gelombang yang tak terganggu, keindahan masih ada untuk jiwa yang sabar. Biarkan daun-daun di kebun yang menjawab dalam desir angin penuh rintihan. Daun itu memunculkan kenangan akan masa kecilnya, sebuah kenangan paling dalam yang dirasakan oleh orang yang didorong oleh daya tarik pelukan ibu, dalam kehidupan ini bagi orang-orang yang telah menua memang seolah tumbuh seperti anak kecil lagi. Pikiran luang, waktu luang, dan segalanya seolah menciut. Hidup seolah mencoba memberontak pada kelupaan, memberontak pada kenangan, ia bingung akan kebingungannya.

Fungsi kenangan menurut Bhabha ada dua. Pertama sebagai penggalian yang lebih sederhana atas ingatan-ingatan yang tak mengenakkan, berupa mengungkapkan kekerasan kolonisasi yang melimpah dan masih tersisa. Kedua, untuk menciptakan masa lalu yang bermusuhan ke arah perdamaian agar masa lalu yang antagonistic semakin ramah. Memori Anthony seolah dihapus, ia didera penyakit dementia dan kehilangan ingatan-ingatan penting. Melupakan banyak sekali hal, ia menua dan tersisih. Semua kejayaan masa lalunya di dunia ini lenyap seperti asap. Orang terdekatnya Anne pergi, ia benar-benar sendiri, hanya sesekali tiap akhir pekan ia berkunjung. Dunia memang seperti ini, bersabar dan bersiaplah. Kenangan menjadi benalu kuat yang mengikat leher.

Terbangun sepenuhnya ia mengenali angin yang membelai dedaunan di pohon dan gumaman sedih ruangan yang kosong, hatinya hampa. Kurasa Hopkins akan menang piala lagi. Akting pikunnya tampak natural, usia aslinya kini 84 tahun. Ia adalah satu-satunya aktor yang diinginkan sang sutradara, tahun 2017 diajukan dan menunggu ‘Ya’. Dan saat bersedia, sang sutradara bilang, inilah mimpi yang jadi nyata. Kolaborasi hebat.

Ada enam nominasi Oscar yang disematkan. Best Picture sulit. Best Actor dan Supporting Actress bisa jadi, akan sangat senang menyaksikan kakek Hopkins menang di usianya yang sekarang. Cerita adaptasi bisa jadi, tapi One Night in Miami lebih hidup kurasa. Kalau teknis kurasa sulit. Minimal satu piala ada di tangan.

Orangtua adalah orang yang telah belajar untuk hidup di dunia tanpa ingatan. Saya jadi teringat Descartes yang menulis surat kepada Balzac, “Sekarang sudah tua. Setiap hari aku berjalan-jalan melewati kebingungan sejumlah besar orang dengan kebebasan dan keheningan sebanyak yang kau temui di jalan kecilmu.”

Lantas apa artinya meneruskan masa kini bila seseorang telah kehilangan masa lalu?

The Father | Tahun 2020 | Directed by Florian Zeller | Screenplay Christopher Hampton, Florian Zeller | Cast Olivia Colman, Anthony Hopkins, Mark Gatiss, Olivia Williams, Imogen Poots, Rufus Sewell, Ayesha Dharker, Evie Wray | Skor: 4/5

Karawang, 190421 – Linkin Park – Faint

A Shaun The Sheep Movie: Farmageddon – Alien dan Peternakan

Thing can get better.”

Saya tak mengikuti serialnya, hanya sesekali nonton sambil lalu. Namun jelas ini kartun umum, sudah banyak yang tahu detailnya. Di peternakan kambing, tuan rumah dan anjingnya menjaga kambing-kambing tak berbuat onar. Tak ada kalimat terucap, semuanya sekadar isyarat dan kode-kode. Lantas kenapa kita bisa menerima dan mencerna alurnya? Itulah hebatnya, seolah panel komik yang dinukil bersisian, lalu membentuk pola dan kisah.

Di film sama saja, ceritanya kali ini Peternakan Mossy Bottom mendapat kunjungan Alien. Lebih tepatnya anak alien Lu-La yang tersesat. Para kambing mencoba menyelamatkannya sebelum para agen dari pemerintah mendahului. Alien dengan kemampuan luar biasa, apa yang tampak adalah apa yang sering kita saksikan di film kartun kebanyakan, alien dengan kemampuan super. Tak bisa banyak yang kucerita sebab memang semuanya berjalan dengan bisu, dan misi diselamatkan oleh Timmy. Happy ending. Dah itu sahaja.

Tak ada dialog sama sekali, tapi alur kisah berjalan dengan mudah dicerna. Komunikasi bisa lewat apa saja, dengan memasuki memori sang alien, Koran yang menyatakan UFO mendarat, toko yang menunjukkan tanda-tanda, bahkan detektif yang mencarinya tak perlu berkata-kata untuk melakukan pembedahan ‘alien’ yang tertangkap. Semuanya dengan efektif berperan, memberi indikasi jalinan komunikasi yang pas. Hermione bahkan berdansa di akhir saat sang bos terbawa ke angkasa. Mungkin turut puas menyaksikan karakter ini tersiksa. Haha…

Paling menemukan homemage bahwa toko swalayan yang dikunjungi itu tertuliskan Miliways, bahwa itu diambil dari The Hitchhikers Guide of the Galaxy. Lalu garasi yang tampil adalah HG Weels yang muncul di War of The Wars. Itu tuh adegan Tom Criuse ngumpet dari serangan aliens. Ada pula kode Star Trek, bungkus pizza dari Arrival, kode pesawat dari Encounter of the Third Kind, sampai adegan ikonik dari E.T. Semuanya diaduk tanpa penjelasan sebab hanya mengamati, penonton tak menangkap kata-kata langsung, hanya layar yang bicara. Membuncah tak termaktub jelas. Terdengar lagu ‘Lazy’ yang dinyanyikan The Vaccines dan Kylie Minogue.

Kusaksikan dua kali, pertama malam Minggu 27 Maret. Hermione ketiduran, saya dan May berhasil tuntas. Kesempatan kedua Minggu malamnya, kali ini bertiga di pergantian hari, sukses kelar lagi, dan Hermione tidak ketiduran. Memang ini jenis film keluarga, cocok ditonton sama anak istri. Beruntung kami berhasil menuntaskan misi. Kartun tawa, tak perlu mikir atau telaah lanjut. Pokoknya tawa saja. Tak bakal menang Oscar, kujamin!

A Shaun The Sheep Movie: Farmageddon | Tahun 2020 | Directed by Will Becher, Richard Phelan | Screenplay Mark Burton, Jon Brown | Cast Justin Fletcher, John Sparkes, Amalia Vitale, Kate Harbour, David Holt | Skor: 3.5/5

Karawang, 170421 – Ida Laila – Setelah Jumpa Pertama

Mank: Tentang Pengakuan Mahakarya

Mank: “That, my friend, is the magic of the movie.”

Saya belum menonton Citizen Kane yang termasyur itu, hanya mengetahui kehebatannya dalam beberapa review dan pembicaraan dengan teman. Maka saya benar-benar blank akan judul film terbaru David Fincher. Mank beberapa kali kena pleset jadi ‘Mang’ yang berarti memanggil ke amang-amang. Pas tahu hitam putih, duh makin berat untuk dilanjutkan. Namun seminggu jelang pengumuman saya paksa tonton kelar, kemarin sore ngabuburit di ruang sepi sendirian dapat setengah jam, pagi tadi seusai subuh kutuntaskan. Hasilnya, well. Mari kita lihat.

Mank berkisah tentang seorang penulis scenario, intinya proses penulisan scenario mahakaryanya: Citizen Kane yang menyabet Oscar Naskah Tebaik, dari 9 nominasi hanya satu yang menang. Ini kisah dibaliknya, dari tahun 1933 masa depresi Amerika sampai tahun 1940 jelang Perang dunia Kedua. Konfliksnya ternyata menyeret ke banyak faktor, salah satu yang paling kental adalah politik. Bikin kesal pemilihan Gubernur sebab studio besar memainkan perannya. Disraeli mengatakan bahwa terdapat tiga jenis kedustaan yakni, “dusta, dusta besar, dan statistik.”

Dibuka dengan sebuah akhir pejalanan darat di tahun 1940, Mank (Gary Oldman) terpincang masuk rumah dipapah dan dibantu sama rekan. Ia baru pulang dari rumah sakit karena kecelakaan. Mendapat kabar bahwa sutradara muda 24 tahun Orson Welles (Tom Burke) mendapat restu control penuh sama film baru di mana Mank akan menjadi penulisnya. Lalu film banyak mengambil flashback masa mula sekali tahun 1933, bertahap sampai di pembuka. Herman J. Mankiewicz adalah penulis scenario handal yang menjadi jaminan kualitas Hollywood, ia menjadi rebutan banyak studio. Salah satu yang terbesar adalah MGM, bahkan untuk saat ini kukira singkatan dari Metro-Goldwyn-Mayer ternyata bukan, yang tepat adalah Mayer’s gantze mishpokhe, seluruh keluarga Mayer. Kalimat itu langsung disampaikan oleh kepala studio Loius B. Mayer (Arliss Howard).

MGM sedang terpuruk, Loius menyampaikan pemotongan gaji buat seluruh cast and crew, ini demi kebersamaan, ini demi kelangsungan. Karena disampaikan dengan baik, beberapa artis mendukung dan siap, tapi saat keluar panggung ia menanyakan ke asistennya apakah penampilannya OK. Mank yang melihatnya muak. Well, begitulah dunia hiburan penuh tipu tipu.
Selain itu MGM juga melakukan pemalsuan kabar, hubungan dengan karyawan yang tak bagus. Mank berdiri di tengah-tengah. Hubungannya dengan Marion Davies (Amanda Seyfried) timbul tenggelam, tapi jelas mereka adalah sahabat karib. Dalam sebuah adegan, saat akan mengambil gambar Marion di puncak rerimbunan setting film, mereka bertegur sapa, Mank yang memang jago ngegombal berhasil mengambil hati pemilik studio dan ia pun diundang makan malam dengan meja dekat. Marion tampak tergugah, ia adalah bintang besar di masa itu. Ia adalah bintang terbesar MGM selama sepuluh tahun, ia special. Dalam memoarnya ia bahkan belum menonton Citizen Kane!

Karena cedera, Mank menyewa seorang penulis yang ia dikte. Rita Alexander (Lily Collins) perlahan tahu sifat dan karakter Mank yang alkoholik, egois, dan kadang marah. Namun tak semua negative, salah satu yang bikin trenyuh adalah sikapnya menyelamatkan kaum Yahudi dari Jerman yang berhasil diungsikan, pengakuan pelayannya membuat hati Rita tersentuh, sempat akan resign tapi ga jadi. Lalu ia mendapat kabar buruk, kapal suaminya karam di tengah perang. Keadaanya tak diketahui.

Politik panas tentang pemilihan Gubernur menyeret Mank dalam kekalutan, selain prinsip juga keuangan. Ia turut bertaruh, ia emosional. Pertarungan antara Merriam dan Sinclair itu dimenangkan oleh Merriam, dan hasil ini memicu tindakan bunuh diri sobatnya. Sempat diminta pistolnya tapi hanya diberi isi peluru, lalu melaporkan ke istinya. Oh tidak, ia membawa sekotak peluru. Dor! Mank sendiri akhirnya bangkrut, kesulitan keuangan, jobless dan menulis naskah dengan tanpa kredit. Ia benar-benar di titik rendah.

Pada akhirnya kita menuju di tahun 1940, kita bertemu dengan Orson Welles yang terpukau sama naskahnya ia meminta Mank untuk tak mencantumkan namanya, tapi tidak. Mank mengakui ini naskah brilian, ia akan memperjuangkan dengan apapun namanya tercantum. Oh goddamn it! Berdua lebih bijak.

Dan ya, seperti yang tercatat sejarah tahun 1941 Citizen Kane rilis, mendapat pujian tinggi dan satu dari Sembilan nominasi Oscar itu memenangkan piala. Saat penyerahan di Hotel Baltimore tahun 1942, mereka berdua sedang di Brazilia syuting film. Well, dunia mencoba meluruskan kisah, dunia sedang adil. Sebuah karya hebat, pengakuan yang hebat. Dari film ini kita semakin mengukuhkan bahwa menulis (bagus) itu sulit.

Ungkapan istrinya yang setia bahkan saat Mank terpuruk patut dicatat. Ia kesal sama suaminya sebab emosi dan egois, tapi heran mengapa saya setia? Oh dear berjuang bersama itu indah, suatu saat kesabaran itu akan diganjar setimpal. Bah! Saya ingin naik kuda saking frustasinya. Cinta berarti merenguk tanpa menikmati. Ya, itulah cinta. Dunia asmara memang ganjil dan tak bisa dilogika.

Film juga menyampaikan kritik akan sistem pemerintahan. Demokrasi yang bagaimana? Apa bedanya sosialis dan komunis. Sama-sama sama rasa sama harta, oh tidak. Sosialis dibagi sama hartanya, komunis dibagi rata miskinnya. Mank sang pembual itu merusak acara makan malam dan ulang tahun bos, yah siapa peduli. Kebenaran harus diutarkan. Kemegahan kisah ini paling menonjol adalah acara makan malam, penuh lempar kata sinis dan serangan keras akan kemunafikan. Makan malam memang harus berkelas, dan proses pengambilan gambarnya dibuat berulang-ulang kali sampai bosan dan memuakkan. Fincher yang kita kenal dengan ketelitian dan kesempurnaan itu, ya mengapa tidak?

Sekali lagi David Fincher berhasil menunjukkan kelasnya, setelah bertahun-tahun gagal juara apakah tahun ini? Mari kita meraba kemungkinannya. Mank mendominasi nominasi. Menduduki tiga pos penting, Picture, Director, dan Actor. Bisa jadi dua yang pertama, sebab ini film pertama dari seluruh kandidat saya belum sepenuhnya yakin, tapi jelas laik menang di kategori tertinggi. Fincher dengan deretan CV filmnya belum pernah menang, siapa tahu pecah telur.

Untuk set dan produksi design jelas tak diragukan lagi, keren sekali. Membangun set semegah itu, kategori teknik harusnya ada satu atau dua gelar. Set terbesarnya adalah membangun Istana Hearst dan set makan malam yang klasik. Walau hitam putih itu dibangun nyata dan terlihat wajar. Teknologi, kita berhutang banyak padanya.

Dengan sebuah piala berharga dan bergengsi ini ia memang lantas masuk jajaran elit. Ia meninggal di usia 55 tahun karena candu alkohol. “Sepertinya aku makin mirip tikus dalam jebakan yang kubuat sendiri, jebakan yang sering kuperbaiki setiap kali ada bahaya, lubang yang akan memungkinkan aku untuk kabur.”

Baik, setelah Lebaran akan saya saksikan Kane, dengan saksama dan senyaman mungkin. Demi Fincher, demi Mank!

Mank | Tahun 2020 | Directed by David Fincher | Screenplay David Fincher | Cast Gary Oldman, Amanda Seyfried, Lily Collins, Tom Pelphrey, Arliss Howard, Tuppence Gossmann | Skor: 4/5

Karawang, 160421 – Ronan Keating – Life a Rollercoaster

Pieces of a Woman: Biji Apel dan Nilai Filosofinya

Martha: “She smelled like an apple.

Powerful. Penampilan terbaik Vanessa Kirby yang pernah kutonton. Menjadi seorang istri yang rapuh akan kehilangan bayinya, memperjuangan keadilan tapi sejatinya lebih karena didorong oleh keadaan sekitar, bukan karena murni keinginan pribadi. Tragedi hidup, memang tak ada yang tahu apa yang bisa celaka di masa depan, apa yang ditampilkan di setengah jam pertama adalah gambaran bahwa nasib benar-benar kata yang kejam. Hiks, 2012. Hiks…

Sean (Shia LaBeouf) adalah pekerja kontruksi jembatan di Boston. Ia sedang bahagia menjadi calon bapak, istrinya Martha (Vanessa Kirby) sebentar lagi melahirkan anak pertama. Kebahagiaan keluarga kecil ini terenggut dengan sangat pahit. Bayinya terlahir dalam keadaan kritis dan lalu meninggal. Siapa yang salah? Martha yang menginginkan proses lahir di rumah? Bidan Eva sebagai bidan pengganti yang gagal mendiagnosa keadaan genting? Sean sebagai kepala keluarga yang tak peka dan dianggap ceroboh. Inilah drama keluarga yang pahit, bagaimanapun keadaannya hidup harus terus berjalan. Judul film baru muncul setelahnya, butuh setengah jam.

Sean berupaya menuntut sang bidan, ia dituntut penjara lima tahun akan keteledorannya. Ide yang sebenarnya kurang disetujui oleh Martha, sebagai orangtua ia malah menginginkan anaknya diserahkan ke forensik untuk dijadikan bahan penelitian, tentu saja ide itu ditentang. Ketika segala macam benda di ruang bayi disingkirkan terjadi pertentangan, tak ada bayi tak ada mainan. Semua selesai, semuanya.
Bu Elizabeth (Ellen Burstyn) sebagai orangtua berdiri di antara mereka. Keluarga kecil ini rapuh dan dalam tekanan hebat, dan benar saja Sean frustasi ia keluar dari tempatnya kerja, mabuk dan main perempuan. Martha juga tak terkendali, tampak seperti orang linglung di kantor, di tempat perbelanjaan melihat dengan sisi menawan seorang gadis kecil, bahkan di puncak kesedihan, ia dugem dan melalangkan kebebasan, walaupun akhirnya bisa ditahan. (lagunya Into Trouble dari Tim Kingsburry). Keluarga ini diambang keruntuhan. Bahkan nantinya Sean diminta out, Seattle? Why not?

Dalam sebuah renungan hidup, Martha mencoba menghormati apa itu benih apel. Setelah dinikmati dagingnya, bijinya tak langsung dibuang. Ia memperlakukan benih dengan hormat, menaruhnya di kulkas dalam kapas, menjadikannya hidup. Setelah beberapa hari benih ditanam, nantinya menjadi eksekusi ending yang rupawan dengan desir angin dan Lucy yang memanjatnya, iringan musik menghantar para cast and crew dengan latar pohon apel yang berbuah banyak sekali. Syukurlah.
Proses di pengadilan sendiri berjalan dengan sangat hidup, dan di sinilah ia sang artis cantik pirang ini menunjukkan pesonanya. Dengan pidato akan kemanusiaan, ketulusan, keikhlasan. Apa yang dituntut? Uang? Kompensasi? Tidak! Bayi saya tak akan bisa hidup kembali, justru karena anak saya sangat bernilai tak bisa digantikan dengan apa yang diproses di pengadilan ini. Ya, inilah adegan yang kuyakini menarik juri Oscar, menjadikan nominasi best actress. Bagaimana peluangnya?

Dekade ini Netflix memang sedang di masa jaya. Produksinya melimpah, platform streaming di era digital jelas sudah di jalan yang tepat. Hanya masalah waktu Netflix akan mendominasi Oscar. Sekali lagi, saya terpesona sama produksi mereka. Ini menjadikan film drama yang hidup. Saya mencatat ada tiga adegan keren; pertama pidato di pengadilan di akhir. Itu yang menjadikan Kirby laik dihargai nominasi. Kedua adegan saat makan malam yang berantakan. Menampilkan kisah sama lalu Bu Elizabeth yang luar biasa, proses melahirkan di gubuk sendirian, seadanya. Sempat akan dimatikan, tapi seandainya bayi ini mendongak ia berarti ingin hidup, dan benar saja. Ia tumbuh dengan sehat. Lihat, dengan peralatan minim tanpa bantuan kala itu berhasil melakukan persalinan normal. Tak seperti zaman sekarang yang canggih, tapi tak menjamin keberhasilan! Adegan itu powerful, orangtua marah, sang anak marah, dan begitulah lazimnya. Dua orang saling memarahi, adalah bukti mereka penuh cinta dan kasih. Ketiga adalah adegan jembatan, itu hanya sebagai latar yang menunjukkan waktu. Aslinya tidak ada, itu dibuat dengan efek digital. Dari bulan September, jembatan masih belum terhubung, lalu berjalannya waktu dua jembatan itu menyatu sampai tahun berikutnya. Dan di atas jembatan itulah Martha merelakan segalanya, semuanya. Trenyuh. Dalam hidup ini, justru hal-hal sederhanalah yang paling luar biasa; hanya orang-orang bijak yang dapat memahaminya.

Hubungan antara berbagai fakta tidaklah nyata sebagaimana yang kita sangka. Kisah ini sebagian berdasarkan kejadian nyata, sang penulis scenario Kata Weber dan suaminya yang membuat ini film pernah mengalami kaguguran. Seperti dalam teori empirisme bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman yang konkret. Pengamatan kita akan membuahkan pengetahuan mengenai berbagai gejala yang mengikuti pola-pola tertentu. Maka kejadian pahit Kata melakukan terapi dengan menulis. Dan jadilah ini. Dan juga terinspirasi dari kejadian nyata, seorang bidan Hongaria Agnes Gereb yang dituntut di pengadilan karena proses persalinan di rumah yang gagal. Dan juga berdasarkan kisah hidupku. Hiks…

Prediksiku, Kirby tak akan mendapat piala. Memang bagus perannya tapi untuk menang kurasa masih jauh drai sempurna. Masih butuh perjuangan lebih di kesempatan berikutnya. Satu-satunya nominasi di Oscar tahun ini dan gagal. Tetap semangat buat semua wanita yang berjuang untuk bayinya. Tetap berjiwa besar May.
Sebagai penutup catatan ini, saya teringat Abn ‘Arabi dalam Al Futuhat al Makiyyah yang pernah bilang, “Rahmat diberikan kepada seluruh jagad raya, kepada yang eksis dan segala yang potensial ada.” Ending yang sempurna. Tuhan Mahabaik.

Pieces of woman | 2020 | Directed by Kornel Mundruczo | Screenplay Kata Weber | Cast Vanessa Kirby, Shia LaBeouf, Ellen Burstyn, Iliza Shlesinger, Benny Safdie, Sarah Snook, Molly Parker | Skor: 4/5

Karawang, 160421 – Charlie Parker – Jam Session (1952)

Soul: Tentang Jiwa, siapa yang bisa menerka dengan tepat?

Jerry: “A Spark isn’t a soul’s purpose. Oh, you mentor and your passions. Your ‘purpose’. Your ‘meaning of life’. So basic.”

Film pertama yang kusaksikan setelah pengumuman nominasi Oscar (15/03/21). Kutuntaskan dalam sekali duduk sepulang kerja di ruang ATK dalam gelap jelang Magrib. Benar-benar bagus, kehidupan setelah kematian yang diselimuti jazz, impian yang kandas karena ‘kematian’ mendadak lalu berhasil mengelabuhi malaikat maut sehingga muncul kesempatan bangkit dari dunia antara. Tema yang sangat berat, memainkan dunia gaib, dunia antah. Disampaikan dengan fun karena warna-warni animasinya benar-benar istimewa.

Kisahnya tentang Joe Gardner (Jamie Foxx), seorang guru musik sekolah yang bosan akan rutinitas. Ia diangkat jadi guru tetap yang membanggakan Libba ibunya. Namun impiannya adalah memainkan jazz dalam konser, passion bermusik bersama musisi jazz. Impiannya itu suatu hari menjadi kenyataan, mantan muridnya Curly menghubunginya bahwa ia mendapat kesempatan tersebut mengiringi legenda jazz Dorothea Williams, walau gugup permainan pianonya memukau. Ia lulus dan kesepakatan dibuat. Betapa ia antusias dan bahagia, tapi takdir seolah memunggunginya. Malam itu dalam rona berlebih akan impian nyata, ia terjatuh di lubang jalanan.

Kehendak Tuhan tidak akan pernah kita ketahui, dan Bruder Juniper dalam karya sastra klasik The Bridge of San Luis Rey berujar, “Tuhan terhadap kita adalah bagaikan lalat yang dibunuh kanak-kanak pada suatu hari di musim panas.”

Ia terbangun di dunia antah, dunia jiwa-jiwa menuju ke keabadian menuju suatu tempat bermama ‘Great Beyond’ yang dijaga dan dihitung oleh Terry (Rachel House). Ini adalah kesalahan, ini mengerikan. Ia tak terima mati saat impiannya tinggal sejengkal lagi. ia mencoba kabur dari dunia antah mencoba kembali ke bumi. Di antah semacam taman bernama ‘Great Before’ ia mencari jalan tersebut. Dan benar saja, ia hanya sekarat belum sepenuhnya mati. Di sana ada konselur bernama Jerry (Richard Ayoade & Alice Braga) yang menyiapkan jiwa-jiwa untuk terlahir. Percobaan Joe loncat ke bumi gagal berulang kali, ia selalu balik, ia selalu terjun di dunia antah ini. Semua syarat turun ke bumi harus lengkap, salah satunya harus menemukan ‘sprak’. Jiwa nomor 22 (Tina Fey) diajak kerjasama.

Carl Jung berkata bahwa alam bawah sadar manusia – daerah masa lalu, masa kanak-kanak dan masa bayi yang tertekan ke bawah sadar – ada ‘kesadaran kolektif’, yakni daerah masa lalu umat manusia dan masa sebelum manusia ada. Proses kreatif meliputi seluruh tahapan, mulai dari dorongan bawah sadar yang melahirkan karya sampai pada perbaikan terakhir yang dilakukan pencipta. Jung menyebut tiap manusia membawa di dalam dirinya bentuk hidup masing-masing yang tak pernah bisa diganti orang lain. Secara teoritis, tak ada satupun pengalaman yang hilang, semua disimpan di dalam bawah sadar itu, meskipun sudah lama dilupakan. Mengingat kembali serta melupakan sesuatu adalah juga unsur-unsur bawah sadar. Jadi bawah sadar adalah gudang yang sangat besar berisi segala macam sifat-sifat psikis seperti ketakutan, harapan, keinginan, dan bermacam-macam kecenderungan naluri.

Dalam pencarian tersebut bertemu Moonwind (Graham Norton) dan sepakat membantu menyelamatkan jiwa yang hilang. Dan segalanya ternyata berhasil, Joe terjun ke bumi untuk masuk ke tubuhnya yang terbaring di rumah sakit. Yuhui… sesederhana itu. Oh, tidak bisa sobat. Film baru dimulai, maka diciptalah kesalahan. Joe masuk ke tubuh kucing terapi yang ada di dekatnya, nomor 22 masuk ke tubuh Joe! Cilaka 13.

Sampai di sini sebenarnya mudah ditebak, ini film Disney. Seberat apapun semuanya akan kembali ke basic, happy ending. Maka tebakan semua akan baik-baik saja, kedua jiwa akan sesuai tempatnya dan Joe akan kembali menjalani hidupnya yang sejati. Maka saat Joe dan 22 kabur dari rumah sakit, pulang dan mencoba mencari Moonwind untuk membetulkannya. Di sini si bajak laut menjelma petugas sales yang berdansa di depan toko, memainkan petunjuk diskon. Lucu sekali.

Sementara Terry yang menyadari bahwa ada jiwa yang hilang di areanya maka ia pun tanya ke Jerry, yang lalu mengarah ke bumi. Maka ia mengendus jejak-jejaknya, di mulai dari rumah sakit dan membuntuti terus.

Sebelum tampil, Joe merapikan rambut. Adegan menyentuh hati tentang mimpi yang akan menjadi nyata, karena celananya sobek, ia lalu ke rumah ibunya untuk meminta menjahitkan pakaian. Oh di sana menjadi bahan gosip pegawainya yang menolak pegawai tetap guru malah menjadi musisi, tapi tetap passion-nya harus diperjuang. Ternyata di balik itu ada sebab lainnya kenapa ibunya meminta tak menjadi musisi, almarhum ayahnya kere karena kengototannya main musik. Maka karena sang anak meneruskan mimpi orangtuanya, jas special itu diberikan dengan haru. Sekarang setelah ibu tua, setiap tahun berjalan lebih dekat kepada awalnya. Kenaifan, keyakinan, dan kegelisahan yang sama; juga kekaguman, ketakutan, dan kesepiannya. Bagaimana rasanya tersesat. Kejar impianmu!

Dan mendekati waktu pemindahan jiwa ke masing-masing, Terry mendekat, sementara 22 malah menemukan apa yang selama ini dicarinya. Ia betah, ia menyukai angin, ia menyukai pizza, ia menyukai pemandangan, ia menyukai musik, ia menyukai dunia ini. Ia bahkan meminta tetap di tubuh Joe, wait.. tak bisa gitu. Cinta merupakan gabungan dari pelbagai unsur perasaan dan keadaan jiwa berupa kehampiran, kerinduan, kecenderungan. Inilah hidup. Malam ini adalah malam besar, ia akan memainkan piano bersama Dorothea. Dan sebelum terlambat, tindakan harus gegas diambil. Menurut Andre Gide, banyak orang takut akan menemukan bahwa mereka itu berdiri sendiri akibatnya mereka tidak dapat menemukan dirinya sendiri. Go Joe Go!

Secara keseluruhan sungguh menyenangkan. Kebetulan saya sudah lumayan banyak mendengarkan music jenis ini, sejak 2019 saya mengoleksi, mendengarkan dengan intens, menikmati alunannya. Maka di sini melimpah ruah. Keputusan memainkan dunia antah dalam bentuk garis sederhana ketimbang bentuk manusia juga kurasa pas, ingat manusia setelah tewas jiwanya yang abadi, mayatnya musnah. Maka bentuk bisa bisa apa saja, simple dengan warna warni ceria. Syukur selalu menjadi tema yang menyenangkan, membangkitkan imun dan senantiasa dalam peluk kasihNya. Sikap berterima kasih kepada Allah dan merasa lega atas segala karunia.

Saya memprediksi Soul memenangkan Best Animated. Walaupun saya belum menonton semua, feel kemenangan itu bisa dirasakan. Memang istimewa Pixar dalam mengemas cerita dan gambar, setelah ini saya menyaksikan Shaun the Sheep: bagus tapi sulit untuk menang cerita anak-anak sekali. Onward: fantasi yang hanya sebagai tempelan sebab sejatinya kisah petualangan anak-anak untuk kehangatan keluarga. Jadi jagoanku jelas Soul, menjiwai!

Dalam agama, konsepsi jiwa ini abadi dan kekal, bebas dan berasal dari Tuhan. Dunia gaib yang liar dan misterius, dunia antara yang antah dan penuh tanya. Tentang Jiwa, siapa yang bisa menerka dengan tepat?

Soul | Tahun 2020 | Directed by Pete Docter | Screenplay by Pete Docter, Mike Jones, Kemp Power | Cast Jamie Foxx, Tina Fey, Graham Norton, Rachel House, Alice Braga | Skor: 4/5

Karawang, 150421 Charlie Parker – Jam Sessions