Spider-Man: Homecoming – Laba-Laba Hura-Hura

Adrian Toomes: You need to understand, I will do anything to protect my family. I know you know what I’m talking about.
Yeah, jarang-jarang saya menonton film se-update ini. Hari pertama rilis menyempatkan diri ke CGV Blitz Festive Walk Karawang. May ga mau ikut, cuma ingin dibeliin copcorn. Walhasil setelah mampir ke Gramedia dengan 3 buku baru, Magrib yang mepet saya berhasil menyusup dalam keramaian bioskop tengah pekan. Dapat kursi bagian depan ketiga. Penuh euy, hebat antusiasme menyambut manusia laba-laba. So here we go, spiderwebb!

Sebelum film rilis saya sudah menutup mata dan telinga, sedikit sekali info yang masuk. Dan tentu saja saat beberapa easter eggs muncul, daya kejutnya berasa gmana gitu. Kisahnya nyambung sama dunia Marvel yang lain. Dari pembuka kita disuguhi akhir film The Avengers pertama yang berbagai alien meluluhkan kota New York berkat undangan si evil Tom Hiddleston. Bangkai pesawat alien itu dibereskan kontraktor nyentrik Adrian Toomes (Michael Keaton) dkk. Ada banyak benda-benda berdaya sumber tinggi yang akan membuat Madura kegirangan. Rongsok itu punya daya jual bagus. Tapi dalam prosesnya mereka dihentikan oleh pihak berwajib, proyek itu diambil alih. Adrian ynag sudah menginvestasikan uang untuk program ini kecewa. Perintah untuk menyerahkan segalanya tak digubris, beberapa benda yang sudah diangkut lalu diotak-atik yang ternyata jadi benda hebat sebagai senjata. “Business is good.”

Lalu film resmi dibuka. Tanpa judul sama sekali. Memperlihatkan para jagoan Marvel seolah membuka lembar-lembar komik, opening song-nya khas Spidey. Itu tuh lagu yang pernah dinyanyikan nenek-nenek di Spider-Man 2 ketika Spidey menghilang. Lagu klasik Spider-man versi orchestra yang pertama rilis tahun 1967 oleh Paul Francis Webber dan Robert ‘Bob’ Harris. Sebuah tribute yang baik. Delapan tahun berselang, kita disambungkan dengan klimak to the maxx Civil War di Berlin. Di bandara yang riuh penuh aksi gila itu kita diajak melihat dari sudut pandang Spidey karena pembuka film berujar ‘a Film by Peter Parker’. Seusai perang riuh itu, Peter Parker (Tom Holland) kembali ke rutinitas. Seorang anak SMU yang memcoba menyembunyikan alter-ego. Peter yang ingin diakui member Avengers, kontaknya ke Tony hanya lewat asisten Happy Hogan (diperankan sangat unik dengan facelessnya Jon Favreau).

Seperti Parker versi lainnya, kali ini tetap nerd dan humoris. Suka main lego Death Star, bareng konco kentalnya Ned (diperankan dengan sangat lucu oleh Jacob Batalon) sekaligus jadi sidekick-nya. Sedari awal kita sudah disuguhi identitas Spidey bocor sama Ned, jadi sepanjang film di film ada teman sekolah yang tahu siapa manusia laba-laba. Ketika pulang, masuk lewat jendela, menutup pintu dan melepas kostum. Ned ternyata ada di dalam kamar Peter. Waaa… selanjutnya ya mereka saling mengisi. Saking banyaknya kata, ‘awesome, cool, wow’ yang diucapkan Ned seakan mewakili fan seandainya sang idola berada dalam kehidupan sekitar. Yup, kalau kalian berteman dengan pahlawan super tentu ekspresinya akan seperti Ned, ‘kan?

Aksi pertama muncul saat di sebuah pojok gedung di ruang mesin ATM terjadi pembobolan. Ada tulisan ‘Bagley’ di dinding dalam bentuk pilox-an. Sebuah penghormatan untuk Mark Bagley. Empat penjahat yang mengenakan topeng anggota Avengers membobol mesin dengan senjata canggih. Di mana lasernya bisa menembus benda padat. Aksi itu memporakporandakan bangunan sekitar, termasuk toko roti langganan Peter. Dalam sebuah acara pesta remaja di rumah Liz (Laura Harrier) yang ditaksir Peter, awalnya Spidey akan muncul di tengah hingar bingar musik yang dimainkan si tukang bully Flash (Tony Revolori), saat sang laba-laba bersiap show-off malah melihat sebuah tembakan cahaya di tengah kota. Seakan ingin memberi bukti pada Tuan Stark (Robert Downey Jr), ia ke TKP. Di sana ada transaksi jual-beli senjata ilegal. Hajar sana-sini. Keributan itu membuat bos Toomes marah. Delapan tahun tak pernah bermasalah, kini muncul bocah ingusan yang coba mengacaukan bisnisnya. Dan Toomes itu adalah sang manusia burung, Birdman aka Vulture. Pertarungan seru disajikan. Mendesak Peter dalam gudang, terpenjara sampai esok. Adegan lucu saat Spider-man ada di tengah perumahan, taka da gedung tinggi yang memaksanya berlari. Ya iyalah, jaringnya tak bisa digunakan di antara rumah warga. Lucux sekali melihatnya berlari kesal.

Sajian paling heboh ditampilkan di monument Washington. Inilah bagian terbaik Homecoming. Sebuah benda akan meledak di puncak, membawa rekan-rekan sekolahnya yang baru saja memenangkan kompetisi cerdas-cermat. Spidey dikejar waktu untuk mencegah. Melalui dinding monument, merangkak dengan gaya, masuk lewat jendela dalam serangan pesawat penjaga. Peter dengan dramatis melempar jaringnya tepat saat elevator turun, menyelamatkan Liz. Wuuih, deg-degan juga karena mengingatkanku pada nasib Emma Stones.

Bersama Karen (Jennifer Connelly) si pemandu personalnya, Spidey terus mengejar penjahat dan coba menguak jati diri Vulture. Sementara di kehidupan asli, si Peter tetap siswa aneh. Maka saat acara homecoming (ternyata ini semacam acara reuni) aneh sekali Liz mau diajaknya jalan. Kejutan menarik muncul ketika ia datang menjemput ke rumah Liz, wow. Pasti penonton ikut terhenyak. Setelahnya ketegangan terus dijaga, sampai di akhir, eh ralat maksudnya menjelang akhir. Misi utama penjahat adalah membajak pesawat yang membawa benda-benda canggih milik Stark. Perpindahan gedung Stark industries itu coba digagalkan Vulture dkk. Berhasilkah Spidey menghantam sang villain?

Jennifer Connelly menyumbang suara dalam diri Karen, mengikuti suaminya Paul Bettany sebagai Jarvis. Suara seksinya akan menemani Spidey laiknya Jarvis memandu Iron-Man. Ada dua kejutan saru dalam film ini, pertama identitas ayah Liz dan siapa karakter MJ yang disimpan terus sampai akhirnya dibuka sesaat di akhir. Jelas ini akan jadi semakin menarik bagaimana cinta Peter akhirnya berlabuh. Nantikan Homecoming 2 yang rencana rilis Mei 2019. Sayangnya akhir film anti-klimak. Setelah hancur-hancuran di museum dan penyelamatan di kapal seharusnya saat pertarungan di pesawat bisa lebih memukau. Apes sekali, justru terjun bebas. Gagal mempertahankan tempo. 

Pemilihan Michael Keaton menjadi Birdman juga unik. Menyambungkan film Oscar Birdman yang juga dibintanginya, ataukan menyindir Batman yang lampau? Lalu permainan Jon Favreau yang muncul mengesalkan selalu sebagai asisten Iron-Man sukses bikin ngakak. Sutradara favorit ini pas banget jadi orang yang merasa terganggu sama bocah tengil, tahun depan ditunggu sekuel The Jungle Book. Ayoo hebohkan Jon!

Untuk sebuah franchise besar Marvel, Homecoming adalah film hura-hura. Dibanding dua Spidey sebelumnya, jelas kalah. Original Tobey tetap yang terbaik. Trilogy itu rasanya akan sulit digoyahkan karena memang menakjubkan. Reboot versi Andrew Garfield sebenarnya sangat bagus, sayang saja beberapa pengulangan sehingga seakan mengambil template. Dan anehnya ending Amazing 2 yang hebat itu tak dilanjutkan. Dan kini, setelah menggoyang Civil Wars, Spidey tampil sendiri. Ini murni film khas remaja. Tak ada air mata, sama sekali tak ada scene menyentuh hati. Tak ada cinta-cintaan, kisahnya menggejar Liz juga hambar. Kecuali ending identitas MJ, plot cinta remaja di Homecoming benar-benar tak kuat. Bahkan trailer Peter mencium Liz di film dihilangkan. 

Homecoming juga menampilkan Spidey dengan teknologi mewah dimana semua gadget canggih dikedepankan. Jaringnya modifikasi Stark industry, ga harus digigit laba-laba untuk bisa melontarkan jaring. Ada mode bom, mode interogasi sampai mode kekuatan perekat. Kostumnya bisa menggembung lalu mengetat menyesuaikan tubuh. Apakah semakin canggih semakin bagus? Ah tidak juga, Spidey terlanjur melekat sebagai pahlawan kere, jadi dipadu peralatan canggih membuat kita berkerut dahi. 

Spoiler – Spoiler – Spoiler

Khas Marvel movie setelah selesai film kita ditawari scene after credit. Saya menikmati semua tulisan berjalan itu. Untuk Homecoming ada dua, yang pertama adalah kode untuk kemunculan master villain Sinister Six di mana Adrian Toomes ngegoliam ditunggu seseorang. Kode bakalan muncul Mysterio dan atau Kraven? Yang kedua banyak yang bilang, fak scene di mana Captain America bilang sabar adalah kunci. Sabar menunggu apa? “probably a war criminal now”. Bah! Jelas criminal kau Kapten, bikin kita misuh-misuh. Aggghh.., silakan dinikmati.

Saya tak mau komentar tentang Marisa Tomei. Jangankan kita,  pelayan restoran freak aja terkesan. Cukup May!

Spider-Man: Homecoming | Year 2017 | Director by Jon Watts | Screenplay Jonathan Goldstein, John Francis Daley, Jon Watts, Christopher Ford, Chris McKenna, Erik Sommers | Cast Tom Holland, Michael Keaton, Robert Downey Jr., Marisa Tomei, Jon Favreau, Gwyneth Paltrow, Zendaya, Donald Glover, Jacob Batalon, Laura Harrier, Jennifer Connelly, Stan Lee | Skor: 3.5/5

Ruang HRGA NICI CIF – Karawang, 060717 – Sherina Munaf – Impian Kecil


Dunkirk: A Technical Masterpiece

Komandan Bolton: Home”

Catat! Saya menjagokan skoring Dunkirk untuk best skoring Oscar 2018. Juara utama film terbaru Nolan adalah skoring yang sangat bagus. Mengintimidasi, membuat kubu cekam menjadi begitu nyata. Sepanjang film tak henti alunan nada-nada merdu Hans Zimmer memberi dukungan untuk memberi kepuasan cinema, audio visual cinema yang sesungguhnya. Rekomendasi, tonton di Atmos atau IMAX untuk memaksimalkan sektor indra. Sepanjang film iringan skor yang saya maksud bukan sekedar mayoritas menit berjalan, tapi benar-benar dari awal sampai akhir kalian akan ditemani nada film tiada dua, dari hentakan perang dalam rentetan peluru sampai scene-scene sendu tanpa dialog yang memilu, skoring akan nyala terus, TERUS! Seperti bukan film Nolan yang biasanya kuat dalam script, kali ini beliau mengandalkan visual dan audio untuk didorong ke masa depan sejauh mungkin.

Seperti biasa sebelum menonton film, apalagi sespesial Nolan, saya akan menutup mata dan telinga serapat mungkin. Sempat kena sedikit bocor, apa maksud Dunkirk dan misi yang diemban, tapi langsung saya stop dan syukurlah tak merusak keseluruhan. Setelah panas-dingin seminggu terakhir menanti Jumat bekah, eh malah dapat kabar duka #RIPChester, akhirnya sepulang kerja, lari sore (welcom to the klub RyanCP), cek jadwal minta ss di grup Bank Film, plot itu ada di jam 20:15, setelah Isya seorang diri langsung jalan kaki ke Festive Walk, Karawang. Ini Nolan bro, takut kehabisan, 40 menit sebelum kick-off saya beli tiket dan ternyata dugaanku meleset jauh sekali karena tak seramai yang kukira. Banyak kursi kosong, tinggal tunjuk kursi manapun bisa. Aneh sekali, This is Nolan lho. Bahkan kalah sama ramainya hari pertama Spidey yang terpaksa saya dapat kursi ketiga dari depan. Kepastian tiket, menanti setengah jam saya alokasikan untuk cuci mata di toko buku Kharisma, KCP. Dapat novel Gabriel Garcia Marquez: The Chronicle of a Death Foretold.

Dengan sebotol air teh dingin saya siap mengarungi perang. Setelah logo Warner Bros Film muncul, disusul RatPac-Dune dan Syncopy. Tulisan judul tercetak putih di atas hitam, sederhana. Kisah dimulai dengan sebuah catatan, di Dunkirk di Perang Dunia II pasukan sekutu, terutama Perancis dan Inggris terdesak. Serangan gencar musuh dari darat, laut dan udara membuat mereka harus mundur. Menanti keajaiban. Dari kota, kita diajak berkenalan dengan pasukan yang kocar-kacir. Mencari air, menanti bantuan. Sekelompok pasukan dalam tebaran kertas selebaran itu tiba-tiba diberondong peluru, menyisakan pemuda imut Tommy (Fionn Whitehead) yang berlari menjauh menuju pantai. 

Dengan setting waktu 26 Mei – 4 Juni 1940 di mana kekalahan Perancis dari Jerman mendesak sekutu untuk mengevakuasi pasukan. Gambaran di pantai lebih mencekam lagi. Beberapa antrian panjang, sangat panjang barisan mengular dari bibir pantai ke daratan terbentuk. Tapi tak ada kapal yang tertambat, mereka menanti. Mayat-mayat bergelimpangan, yang terluka ditandu untuk diangkut. Yang tewas dibiarkan, satu dua dikubur. Paramedis menjadi begitu sibuknya. Ada tiga catatan muncul, sebuat durasi set perang plot non linier: 1. The Mole – one week, 2. The Sea – one day, 3. The Air – one hour. Untuk menjaga kenyamanan menonton Anda, saya tak akan menjelaskan detail ini.

Di dermaga pantai Dunkirk kita diajak bertemu komandan angkatan laut Bolton (Kenneth Branagh), kekhawatiran tampak dari wajah dan gestur. Pasukan sulit masuk, bala bantuan yang minim serta serangan setiap saat mengancam merusak harapan. Di mole tersebut, disaring. Yang terluka yang bisa naik ke kapal dan prioritas untuk pasukan Inggris. Nah, jagoan kita si Tommy berstrategi untuk bisa menyelinap masuk kapal membawa seorang pasukan terluka bersama rekan dadakannya membawa tandu dengan kecepatan menakjubkan. Adegan cepat tanggap itu dibuat mendebarkan, sampai menit akhir mereka bisa mencapai kapal, tapi setelah menaruh yang terluka mereka diminta kembali. Mereka ngumpet di bawah bendungan, dan menanti tanpa kepastian. Eh tak lama berselang, kapal karam. Ada serangan udara yang meluluhlantakan, kembali mereka berlomba ke darat. Kasihan yang luka tadi, malah mendekati maut. Bagian ini sungguh mencekam. Naik ke kapal bukan berarti selesai sudah perjuangan, karena setiap saat ada serangan kapal selam Torpedo yang lagi-lagi membuat karam tumpangan. 

Sementara di dermaga seberang tampak puluhan kapal warga siap diberangkatkan, sebuah panggilan Negara. Kita diajak bertemu Tuan Dawson (Mark Rylance) dan putranya Peter (Tom Glynn-Carney). Kapal sipil yang difungsikan bantuan itu saat tambat dilepas, tiba-tiba George (Barry Keoghan) ikut naik. “Saya akan berguna, Sir.” Ok pelayaran penyelamatan dimulai. Di tengah laut, mereka menemukan sebuah pesawat jatuh dan tampak sang pilot yang harus diselamatkan. Pilot itu (diperankan dengan aneh oleh Cillian Murphy) awalnya menolak, teh disamplok, ngambek ngomong. Dan dia semakin kesal ketika tahu arah kapal, “Kalian warga sipil tak seharusnya ada dalam perang, putar arah!” Tentu Dawson bergeming. Perdebatan itu menghasilkan cek cok yang berujung pada salah satu karakter terluka. Luka parah, pendarahan dan coba dihentikan. Misi terus dilanjutkan. Nantinya mereka akan kembali menyelamatkan seorang pilot yang ditampikan dengan sangat dramatis.

Dari udara kita bersapa dengan pasukan. Ada tiga pesawat tempur Royal Air Force yang coba menghalau musuh. Tak lama satunya terjatuh, menyisakan pilot Collins (Jack Lowden) dan Farrier (Tom Hardy). Dari tiga penjuru perang inilah bagian menakjubkan film. Serangan efektif dari udara. Kepuasan visual cinema ada di sini. Karena seringnya kamera di tempatkan mengarah pesawat lawan sehingga saat saling serang tembak. Penonton diajak berguling, miringkan kepala kanan-kiri mengikuti ayunan stir pilot. Saat pesawat musuh kena tembak jatuh menuju laut. Kita bisa menikmati kepulan asap yang mengekor. Suguhan yang menawan. Bukannya tak bermasalah juga di udara, mereka harus menghitung dengan cermat sisa bahan bakar selama mengudara. Ditambah spido nya rusak, hitungan meleset akan sangat mengkhawatirkan. 

Perrasakan penonton akan ikut berkecamuk, seakan disertakan dalam ketidakpastian nasib. Serba salah mau lari ke mana saja terancam, karena setiap saat serangan torpedo datang, serangan udara yang paling mengerikan siap menjatuhkan bom, dan lari ke darat jelas mustahil. Dengan naskah sejarah, tentu saja pertanyaannya bukan seberapa banyak pasukan sekutu yang bisa diselamatkan? Tapi seberapa seru perjuangan itu ditampilkan. Dengan CV Nolan yang biasanya menantang pikiran, kali ini kita tak terlalu perlu banyak mengerutkan dahi. Seakan ini film Bay yang penuh ledakan, tapi tingkatannya dikali lima. Nah!

Ini adalah penyutradaraan yang secara teknik luar biasa. Pamer skill. Tak ada surealis, tak ada absurb penuh perdebatan, tak ada twist. Jalan baru untuk sang master WTF-moment. Karena sebelum nonton sudah digadang-gadang diminta ke IMAX, maka rasanya sangat patut dicoba. Menggunakan kombinasi kamera 15/70mm IMAX film dan Super Panavision 65mm. Di Karawang hari pertama hanya show 2D. Jadi yah, saya sih minimal tak ketinggalan. Andai ada IMAX di sini, pasti kutonton lagi. Cast-nya juga tak istimewa. Aktor besar yang muncul tak ada yang dominan. Mayoritas menggunakan sipil untuk adegan evakuasi memberi gambaran nyata. Tom Hardy yang sepanjang film hanya duduk dalam kemudi, cuma sekilas menampilkan wajahnya. Mau diperankan Tom Hanks atau Tom Holland pun tak akan jauh beda. Yang mencuri perhatian jelas, aktor muda Fionn Whitehead. Debut cinema yang membuka jalan untuk film besar lainnya. Tercatat hyanya pernah mini seri Him tahun lalu. Jelas masa depan cerah membentang.

Untuk jadi best picture Oscar mustahil. Visual efek bisa saja, tapi rasanya akan tergusur film lain. Cinematografi luar biasa, bisa jadi masuk. Tapi seperti yang saya tulis di pembuka, juaranya skoring. Kalau sekedar masuk nominasi pasti. Menang, sangat layak. 10 kali nominasi, sekali menang. Kudoakan ini akan jadi yang kedua!

Seperti biasa saya orang terakhir yang keluar bioskop sekalipun tahu tak ada scene afetr credit. Saya nikmati tulisan naik dengan damai karena memang skoringnya nyaman sekali. Tak ada kejutan apapun dalam credit, soundtrack-nya bahkan tak ada judul. Hanya pembagian tugas abak buah Zimmer. Dan film ini didedikasikan untuk orang-orang yang kena dampak kejadian Dunkirk. Sebuah persembahan sempurna film historical pertama Nolan untuk dunia.

It’s a great adventure in cinema, just go for it!

Dunkirk | Year 2017 | Directed by Christopher Nolan | Screenplay Christopher Nolan | Cast Mark Rylance, Tom Hardy, Fionn Whitehead, Damien Bonnard, Aneurin Barnard, Harry Styles, Cillian Murphy, Miranda Nolan | Skor: 4/5

Karawang, 220717 – Linkin Park – Somewhere I Belong

#RIPChester


Sapta Siaga : Menerima Tanda Jasa – Enid Blyton

Colin: “Yah – ada satu kejadian aneh! Kita bisa saja menyelidiki siapa yang mengerek kursi Kepala Sekolah kita di atas tiang bendera di halaman sekolah, benar-benar gila. Ketika kami datang ke sekolah hari Rabu yang lalu, kursi itu sudah tergantung di situ!”

Buku-buku Enid Blyton berserakan di toko buku. Bersama karya Tere Liye yang bejibun, L Hubborn dari angkatan Pulp Fiction, sampai novel-novel KKPK yang daftarnya panjang. Dulu pas SD pernah baca beberapa, bersama Empat Sekawan dan kisah-kisah wajib Balai Pustaka, tapi untuk Sapta Siaga nyaris tak berbekas karena memang kurang mengena. Kisah-kisah petualangan anak-anak yang standar, kala itu. Lalu bagaimana dengan sekarang? Yah, kalau bacaan anak dibaca anak-anak saja kurang mengesankan, bagaimana bacaan anak dibaca dewasa? Drop.

Ini adalah buku Enid pertama yang saya review. Dari buku tukar pinjam dengan teman May, Melly Potter saya pinjamkan seri empat Eragon saya menyandera 4 buku. Salah satunya buku tipis ini yang kubaca kilat di jam istirahat kerja. Hasilnya? Standar sekali, apalagi saya semalam baru saja mneyelesaikan Ordeal By Innocence-nya Agatha Christie. Kisah pembunuhan kelas berat, jadi setelah berpusing ria membaca buku sederhana seakan bersepeda turun bukit. Tanpa perlu mengayuh, roda menggelinding dengan sendirinya.

Berisi 12 bab pendek-pendek, kisahnya anak-anak sekali. Laiknya sebuah kelompok anak yang mengimpikan kisah detektif. Sebuah petualangan seru bak pramuka Siaga dengan jiwa ceria. Sapta Siaga terdiri dari: Peter, Janet, Pam, Barbara, Jack, Colin, George. Di sampul belakang disertai foto close up wajah-wajahnya. Beserta anjing spinel nyentrik bernama Skippy. Dengan kode SS – The Secret Society – pas bener dicocokin terjemahan sama Sapta Siaga, kali ini kisahnya tentang pencarian lencana seorang veteran yang hilang. Karena judul terjemahannya spoiler berat, ‘menerima tanda jasa’ maka sedari pembuka saya sudah tahu, pasti lencana tanda jasa itu akan ketemu. Nah lo kalian juga kena spoiler.

Kisahnya bermula dengan masa liburan, Serikat Sapta Siaga mengadakan pertemuan di gudang keluarga Peter dan adiknya Janet. Pertemuan rutin dengan suguhan special biscuit cokelat sekaleng penuh, hadiah dari bibi Lou. Karena momen liburan, maka kata sandi ketika mereka masuk ke gudang untuk pertemuan adalah ‘liburan’. Malam itu saat semua member sudah berkumpul, Skippy menggongong ke arah Jack. Aneh sekali, seakan Skippy tak mengenal anggota SS. Saat mereka mencoba menenangkannya, terbukalah kedok. Ternyata yang masuk dalam perkumpulan adalah Susie, adiknya. Mereka punya perawakan yang mirip. Bukan anggota, tentu saja diusir. Saat di luar gudang, muncul pula bocah nakal satu lagi, Binkie yang mengguyurkan seember air. Meeting malam itu batal. Duh, Susie yang nakal.

“Aduh! Aku tidak bisa menemukan ide bagus bila disuruh. Kalau aku mendapat ide bagus datangnya selalu tiba-tiba.”

Besoknya, rundingan kembali digelar dan memutuskan dua kesepakatan. Pertama, kasus yang akan meleka pecahkan adalah hilangnya medali-medali Jenderal Branksome yang dicuri beberapa hari yang lalu. Jenderal tua yang menangis saat tahu tanda jasanya lenyap dari atas perapian. Satu lagi, mengawasi sarang burung di hutan Bramley. Rupanya akhir-akhir ini ada gerombolan anak yang merusak sarang burung yang baru menetas, serta mengambil telurnya. “Sebenarnya kedua tugas itu sama sekali tak berhubungan, tapi siapa tahu?”

Karena Colin bertetangga dengan sang jenderal dan memang dia yang menusulkan kasus ini untuk dipecahkan maka tugas mengorek informasi diserahkan padanya. Dengan cerdas Colin melempar bola masuk ke halaman rumah tetangga dan meminta izin mengambilnya dengan berharap diajak bersapa ngopi sore. Dan ternyata sang jenderal ramah, malah mengajaknya minum limun. Dari obrolan itu, ada kunci penting. Bahwa tangan sang pencuri kecil, karena masuk ke rumah dengan memecah kaca jendela dengan lubang kecil untuk melepas gerendel. 

Sementara tiga anggota lain ke hutan Bramley: Jack, Barbara dan George. Setelah berjalan tanpa tujuan, mereka melihat tiga anak laki-laki yang bersiap mengambil telur burung jalak. “Kalian tentunya tahu, kita semua diminta agar tidak mengambil telur burung dari sarangnya pada musim semi ini. Tahun lalu begitu banyak sarang yang dicuri hingga burung-burung pergi dari daerah ini…” Jack memperingatkan.

Anak lelaki yang di atas pohon melempari Jack telur yang tepat mengenai wajah. Terjadilah perkelahian, karena SS ada ceweknya dan mereka kalah dewasa, mereka meminta Barbara untuk lari sembari teriak minta tolong. Kebetulan tak jauh dari situ ada seorang lelaki yang sedang membaca buku (bah semua serba kebetulan), laki-laki yang berhasil membuat para pencuri ketakutan kabur. Kemudian mereka berkenalan. Awalnya baik sekali lelaki bernama Tom Smith ini. Seorang terpelajar yang sedang menyusun buku tentang pohon dan burung. 

Namun dari diskusi lebih lanjut dan dari pengakuan tim SS bahwa mereka dalam misi mencari medali yang hilang, Tom ternyata tahu di mana medali itu berada. Bahwa medali disimpan di lubang pohon sekitar situ, Mengajak untuk berbagi hasil imbalan, 400 Dollar untuknya, 100 Dollar untuk SS. Tentu saja penawaran ga masuk akal ini ditolak. Cek cok itu membuat mereka berseberangan.

The SS lalu mengadakan rapat lagi rindakan apa yang akan diambil berikutnya. Petunjuk bahwa medali ada di sekitar hutan tempta kejadian menyempitkan opsi. Letaknya yang di dalam lubang pohon tempat sarang burung menyempitkan opsi. Dan mereka kini tinggal menentukan waktu. Keputusan itu menghasilkan, mereka malam itu akan mengintai. Ketujuh pasukan plus Skippy akan menyebar di sekitar lokasi, menunggu Tom dan musuh. Dengan senter, syal dan baju hangat mereka menanti. Ada yang naik pohon, ada yang sembunyi di belakang semak, ada yang hanya ngumpet belakang pohon. Misi mendebarkan ini diberkahi bulan sedang purnama. Akankah berhasil ataukan menanti kesia-an? Bisakah medali itu dikembalikan kepada sang jenderal? Ataukah Skippy yang diminta diam akhirnya menggonggong?

Ini jelas buku anak yang mudah ditebak. Dibaca sambil lalu. Fiksi sederhana, tak banyak kejutan. Mempersiapkan plot jalur tol dengan hanya sedikit kerikil, bukan tanjakan apalagi benturan keras konflik. Tapi setidaknya ini karya klasik yang patut diapresiasi. Sebuah buku bisa bertahan tembus 30 tahun tentunya bukan sembarangan. Buku Enid lain? Boleh, asalkan pinjaman lagi.

“Aku kepengin bisa mengajar anjing seperti itu! Kalau aku besar nanti, aku ingin berlatih menjadi pawang anjing!”

Sapta Siaga : Menerima Tanda Jasa | by Enid Blyton | diterjemahkan dari Look Out Secret Seven | alih bahasa Agus Setiadi | GM 310 01.579 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan ketiga, Februari 2001 | 128 hlm; 18 cm | Sapta Siaga #15 | ISBN 979-655-579-4 | Skor: 2/5

Ruang HRGA CIF, Karawang, 180717 – Sherina Munaf – Demi Kamu Dan aku​

Terima kasih Melly Potter yang telah meminjamkan buku ini. 

THR 2017

THR tahun ini adalah buku yang sangat melimpah. Ditambah buku-buku pinjaman yang juga mengantri, seharusnya sampai akhir tahun saya sudah punya daftar panjang baca dan tak perlu beli buku lagi. Yah, kalau ga terjebak di mall dan ga tahu ke mana tentunya. Buku-buku dibeli sebelum puasa di toko buku Mal Lippo Cikarang, lalu antara bulan puasa di Gramedia Karawang, di toko buku Salemba KCP Karawang. Pas ada buka puasa bersama dan taraweh di Masjid besar depan Karaba, Karawang ada buku terhampar di halaman depan masjid. Pas mudik beli di Gramedia Solo, di buku buku bekas Gladag Solo. Dan sekembali ke Karawang, tangan saya gatal untuk kembali ke Gramedia lagi, sisanya pemberian sehingga total THR tahun ini menghasilkan 22 buku baru. Sebagian sudah baca dan review dalam event #30HariMenulis.

#1. Les Miserables – Victor Hugo

Sebenarnya sebelum mudik saya mau beli Hugo atau Great Expectation, tapi pas balik ke Gramed salah satu buku sudah sold out. Pilihan tinggal karya Hugo. Buku legendaris yang proses penyiapan dan menulisnya menembus 20 tahun. Tentang mantan narapidana Jean Valjean. Sudah difilmkan tahun 2012 dengan bintang Hugh Jackman dan mengantar Anne Hathaway menang Oscar, disutradarai Tim Hooper. Uniknya dalam versi musikal. Bagaimana dengan versi aslinya?

#2. The Nothing Hill Mystery – Charles Felix

Dengan daya jual detektif pertama di dunia, tentu saja membuat penasaran. Terbit tahun 1863 jauh sebelum kemunculan Monsieur Lecoq dan Sherlock Holmes. Bermula terbit dalam seri di majalah Once A Week tahun 1862 dengan nama pena. Sampai setengah abad lebih identitas Felix tersimpan, tahun 1952 ada yang mencoba mengungkapkan. Baru tahun 2011 oleh Paul Collins, seorang akademisi, penulis dan editor melakukan penelusuran panjang identitasnya dan kesimpulannya Felix adalah seorang pemilik…

#3. Inheritance – Christopher Paolini

Serial Eragon. Saya membaca Eragon jauh sebelum filmnya dibuat. Tapi terhenti karena adaptasinya yang kurang OK serta tersendat seri dua di Cikarang yang kala itu susah cari. Ini adalah buku keempat, itu artinya saya melewati dua seri. Bukunya tebal sekali, maka untuk membelinya selalu terpikir dua kali. Saya mendapat ‘Warisan’ di toko buku bekas yang harganya miring, maka tak masalah ditumpuk dulu karena cepat lambat saya pasti membaca semua kisah Saphira. Buku ini unik macam The Lord of The Ring versi zaman kita. Ada peta, ada naga, dan dunia fantasi yang fantastis.

#4. The Call of the Wild – Jack London

Novel pertama Jack London yang saya baca. Nama unik penulis ini sudah saya incar jauh hari, sayangnya yang saya temui versi English, duh my bad. Dan entah kenapa siang itu sebelum menimang versi original, malah ketemu terjemahannya. Yang saya pegang adalah cetakan pertama tahun 2016. Terima kasih Gramedia, ayo terjemahkan karya klasik lainnya. Ternyata tentang seekor anjing rumahan di California bernama Buck yang diculik dan diperjualbelikan untuk menjadi anjing penarik kereta di Amerika Utara yang dingin. Di alam liar Klondike, Alaska Buck menjelma menjadi anjing hebat, pejantan tangguh yang sesungguhnya. Adaptif yang luar biasa.

#5. Revolution 2020 – Chetan Bhagat

Sudah selesai baca dan review. Tentang India yang birokrasi sama bobroknya di negara kita. Cinta, korupsi, ambisi. Di sana uang berkuasa, yang idealis dan memegang teguh nilai tersingkir. Kisahnya dari tiga remaja asli Varanasi yang akan memutuskan masa depan, mau ke mana. Dilema itu dibumbui kisah cinta segitiga. Yang satu jenius nan berpegang teguh integritas, yang satu cantik luar biasa ingin jadi pramugari tapi di Varanasi tak ada bandara, dan yang satu secara akademis berotak ala kadarnya namun menjelma bisnisman sehingga menjadi direktur di usia muda. Antara nafsu dan ambisi membuat India menjadi lebih baik, sebuah koran kuning bernama Revolution 2020 membuat rakyat berfikir terbuka masih ada harapan untuk lebih baik di sebuah masa depan yang imajinatif.

#6. Dear Life – Alice Munro

Saya beli sebelum bulan puasa, berarti jauh sebelum THR tiba. Tapi sebagai rekap, saya masukkan di daftar. Saya baca kilat kumpulan cerpen yang amazing. Salah satu kumcer terbaik yang pernah kubaca. Cinta. Rasa bersalah. Aib. Gairah. Kehilangan. Keterasingan. Perkara keseharian yang dekat dengan kita di tangan Munro menjadi sangat memikat. Hebat. Peraih nobel, jaminan mutu. Seni mengolah kata yang menakjubkan. Bagaimana bisa cerita pendek menjadi begitu gemuruh memainkan pikiran. Wajib baca, wajib cari buku Munro yang lainnya.

#7. Planetes – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Akhirnya ada juga buku Penulis benama aneh ini saya baca. Buku lokal rasa internastional. Dunia fantasi yang penuh ambiguitas itu diramu menjadi cerita asal muasal terbentuknya tata surya, termasuk planet bumi yang kita cintai. Memainkan gaya klasik ramalan, bahwa Satu pembawa takdir, Satu orang kehilangan terkasih, Satu dalam pencarian, Satu menjadi pembimbing dan Satu lagi sebagai tertuduh. Sekalipun agak membingungkan, tapi sebenarnya sederhana. Perjalanan cerita diatur seenak pembuat toh ini fiksi. Terbentuknya tata surya berkat mereka dan tentu saja untuk keseruan ada penghianat di dalamnya.

#8. Tom Little – L. Ron Hubbard

Ini juga jadi buku pertama Hubbard yang saya baca. Tipis, hanya terdiri dua cerpen yang dipanjangkan. Berkat buku ini saya tahu, apa itu pulp fiction. Judul aslinya bukan Tom Little apalagi Tom si Kerdil. Aslinya berjudul If I Were You, saya ga tahu kenapa Penerbit Ufuk membuat dua versi berbeda padahal setelah saya buka isinya sama. Beda kover dan beda judul doang. Kisahnya tentang Tom yang bertubuh mungil yang mengharapkan suatu hari bisa gagah, doa itu terkabul berkat seorang gipsi berjuluk sang Profesor yang mati mewariskan buku sihir. Dan seperti kisah yang sudah-sudah, apa yang kita impikan tak seperti yang dibayangkan. Dunia sirkus itu bergolak. Tom terjebak dalam kawanan singa dan harimau gara-gara terjebak dalam tubuh yang salah.

#9. Dan Brown a biography – Lisa Rogak

Untunglah, dulu sempat menimang-nimang untuk kubeli tak urung. Untuk sebuah biografi setipis 236 halaman banderol 60 ribu terlampau mahal. Sebenarnya rasa penasaran itu membuncah, tentang Novelis kontroversial yang menghasilkan novel mega hit Da Vinci Code. Sebenarnya jadi buku pertama yang kubaca sesampai di rumah. Tapi baru dapat dua bab, saya ketiduran. Esoknya kamar tidur dirapikan May termasuk buku-buku yang berserak. Saya tanya, ‘Di mana biografi yang kubaca semalam?’ Dia taruh asal di rak, saya cari njelimet ga ketemu. Hufh, ketunda sebulan. Ini akhirnya ketemu setelah saya telusur satu per satu. Apakah worth it daya tunggu itu?

#10. Cinta Paling Setia – Benny Arnas

Jadi buku kedua (atau ketiga) bung Benny yang saya baca. Diambil dari cerpen-cerpen beilau yang pernah terbit di media masa. Karena dulu terkesan, maka kumpulan cerpen yang ini punya ekstektasi tinggi. Cerita pendek karya beliau memang tak lazim. Bagus. Membumbui kisah-kisah kedaerahan. Saya jadi tahu banyak hal tentang adat di Lumbuklinggau dan sekitar. Dan seperti yang sudah-sudah, pasti kumpulan cerpen ini akan menyeret lebih banyak hal dari tanah kelahiran sang Penulis. Semoga sama bagusnya.

#11. Doctor Zhivago – Boris Pasternak

Penulis Rusia selalu memikat hati. Ini jadi buku Pasternak pertama yang saya baca, terbitan Narasi yang bikin was-was. Tipis. Tentang revolusi Rusia yang menyeret perubahan besar itu melibatkan kisah cinta Lara dan Pasha, cinta lama yang hilang dan mencoba untuk dirajut lagi. Ada segitiga dalam karakter lain Yuri Zhivago sang dokter. Kisah asmara di tengah polemik politik, sangat menarik.

#12. Animal Rationale – FX Rudy Gunawan

Kumpulan cerpen yang dibaca sekali duduk. Awalnya menarik, tapi semakin ke tengah halaman lalu menyusut di akhir kisah karena makin tak jelas. Mungkin maksudnya dibuat takjub di awal, terpesona. Namun sayang sekali secara keseluruhan ini adalah buku kumpulan cerita pendek yang sangat biasa. Tak banyak kejutan, sebagian bahkan bisa kita baca di web dengan mudah. Menguak sisi kebinatangan manusia melalui berbagai jalan, yah buntu.

#13. The Extraordinary Adventures of Arsene Lupin – Maurice LeBlanc

Dalam daftar ini akan ada tiga buku tentang Arsene Lupin. Sepuluh tahun lalu saya kesulitan mendapat buku-buku LeBlanc. Siapa sangka Penerbit Bukune menghujani kita dengan terjemahan melimpah. Tahu ada buku ini di Gramedia, langsung saya sikat tiga. Satu lagi terbitan VisiMedia. Seluruh kover Bukune bagus, hebat euy. Enyak dilihat dan dipajang di rak. Salute Bukune! Petualangan Lupin yang luar biasa akan jadi buku pertama yang saya lahap. Sehebat apa ya?

#14. The Crystal Stopper – Maurice LeBlanc

Kali ini sang gentlement of thief dan kawanannya melakukan tugas bukan berdasar harta, melainkan nyawa. Berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan teman-temannya yang tak bersalah dari ancaman pisau guillotine dan deputi Daubrecq siap menjegal. 

#15. The Hollow Needle – Maurice LeBlanc

Tahap pencurian kali ini ditingkatkan. Target harta karun peninggalan raja Perancis yang berisi mas kawin ratu Perancis, mutiara, rubi, safir, dan berlian yang tak ternilai harganya. Dalam aksinya mendapat lawan tangguh Holmlock Shears dan Isidore Beautrelet. 

#16. The Game of Two Quests: Sherlock Holmes Vs Arsene Lupin – Maurice LeBlanc

Kaget. Ternyata ada buku ini, menyeret detektif Inggris legendaris Sherlock Holmes dalam bukunya Lupin. Kok bisa? Kabarnya Sir Arthur Conan Doyle mengajukan somasi hak cipta, wah zaman itu pasti geger ya. Sangat berani juga menantang detektif besar ini. Khawatir dan was-was, akankah adu cerdik yang brilian ataukah konyol? Semoga tak mengecewakan. Please jangan rusak Holmes kita.

#17. Gulliver’s Travel – Jonatahn Swift

Adaptasi filmnya sudah ada banyak versi. Penjalanan Gulliver ke negeri liliput dan negeri Brobdingnag. Pertama terbit tahun 1726! Perjalanan ke empat petualangan seru. Ke sebuah negeri aneh liliput dan raksasa. Sebuah kisah fiksi satir yang menyinggung politik.

#18. The Little Secret That Can Change Your Life – Joann Davis

Satu-satunya buku non fiksi yang saya beli. Dari Penulis best seller yang katanya bisa mengubah hidup Anda. Buku tipis tentang motivasi, self healing. Kenapa saya bawa ke kasir? Baca kover belakangnya: ‘Inilah sejumlah aturan untuk tikus rumah. Tak ada pertarungan, tak saling menggigit. Jika kau cakar punggungku, kucakar balik punggungmu. Jika tak mungkin melawan, eluslah dia.’ Oke, bisakah membuat kita berubah ke arah yang lebih baik?

#19. World Without End I – Ken Follett

Bukunya sangat tebal, dan ini baru jilid satu! Aje gile, 700 halaman yang sangat panjaaaang. Kisahnya dibuka tanggal 13 November 1327 di tanah Britania. Masa kecil yang menghantui karena jadi saksi pembunuhan. Saat dewasa kenangan itu terus terbawa, terus bersama keempat anak itu. Andai ada Laguna inc, andai ada pensive. Andai ada penghapus kenangan pahit. Oke, seberapa seru buku sangat tebal sekali ini. Sepintas mengingatkanku pada Mystic River.

#20. Mehrunnisa, The Twentieth Wife – Indu Sundaresan

Kalau yang ini bukan buku beli, tapi pemberian teman lama Lelur saat reuni kecil buka bersama ke Cikarang. Buku Hikmah tentang Timur Tengah adalah kisah yang paling sering kuhindari. Kenapa? Entahnya, dramatisasinya kurang Ok. Raja-raja beristri banyak yang dilemanya kurang greget. Tapi karena ini pemberian, dan saya tegaskan saya pembaca segalanya maka saya pasti lahap walau entah kapan. Semoga kuat, semoga strooong sampai halaman akhir. Dan kita lihat bagaimana reviewnya nanti.

#21. Majalah Hadila edisi 119 | Mei 2017

Ini juga ga beli. Waktu mudik kemarin, Mbak Purwanti kasih sebuah majalah lokal tentang agama. Hufh, tentang agama. Maksudnya bagus, agar tetap reliji. Tapi yah, mari kita lihat. Judul edisi ini adalah ‘Selfie Hati’, apakah semacam muhasbah? Instropeksi? Sahabat Keluarga Menuju Takwa. Yakin, kubaca dan selesai?

#22. Fantasteen: Anonymous Letter – Salsadzwana

Awalnya buku ini saya beli untuk saya bawa pulang mudik diberikan kepada ponakan Winda LI yang suka baca KKPK. Sayangnya semalam sebelum berangkat saya cari di rak ga ketemu, dirapikan May gara-gara berserakan. Ini jadi buku fantasi remaja terbitan Dar! Mizan pertama yang saya beli dan akan saya baca. Pernah, malam itu buku ini sudah siap saya buka segel dan baca tapi ditegur Hermione, ‘Itu buku Mbak Winda!’, yah karena pas beli saya berujar gitu maka ga jadi saya buka, sampai sekarang. Berhubung sudah ketemu dan pulang kampung sepertinya masih jauh hari, sepertinya akan kelahap juga. Yang berarti plastiknya kulepas. Ah, Winda pastinya tak terlalu mempermasalahkan sebuah buku second’kan?

Well, ada 22 buku baru. Sejauh mana selesai? Sepertinya sampai akhir tahun ga akan, kenapa? Buku keempat Eragon akan tertahan karena saya akan cari buku ketiga dan kedua. Tergantung hasil baca buku satu, dua buku Lupin. Andai bagus, bisa jadi kelahap semua dalam waktu singkat. Tapi kalau mengecewakan, pasti kan tersendat. Tergantung juga buku non genre-ku seperti majalah Agama dan kisah timur Tengah seorang istri ke dua belas? Saya sih tak pesimis, tapi menyelesaikan dalam dua-tiga bulan ke depan rasanya sulit. Apalagi saya berencana, mereviewnya. Ditambah antrian empat buku pinjam yang juga harus segera selesai karena akan kukembalikan. Dan keempatnya semua setebal al kitab!

Karawang, 060717 – Phil Collins – You’ll Be In My Heart

Antrian blog review: Spider-Man Homecoming, Wonder Woman, Amadeus dan Pengalaman Mudik 2017 yang entah kapan kumulai tulis.

My Sweet Heart #30

My Sweet Heart #30

Huray! Akhirnya catatan ke 30 dari 30 sampai juga. Sesuai target 15 buku lokal dan 15 buku terjemahan selama bulan Juni dalam event #30HariMenulis #ReviewBuku dengan berbagai kendala dan keseruan yang menyelingkupi. Dengan segala kelelahan dan berbagai kenekadan, inilah catatan akhir itu. Tulisan di mulai tepat tanggal 1 Juni di Karawang dalam laptop Meyka dan diakhiri di Palur dalam laptop Wildan. Dipost antara perjalanan mudik dan arus balik yang macet. Ditulis dalam kekhusukan Ramadhan penuh berkah. Di sela-sela usaha tetap berlomba cari pahala. Dengan optimisme ala optimis prime, bisa tepat berakhir di akhir bulan. Sampai jumpa bulan Juni 2018.

Sekali lagi dari KKPK – Kecil Kecil Punya Karya punya ponakan Winda LI. Dibeli kemarin saat ke Gramedia Solo, saat Wildan cari buku psikotest untuk persiapan tes masuk Angkatan Laut, dibeli saat saya cari novel Jack London, The Call Of Wild. Winda membeli tiga buku KKPK. Buku setipis ini dengan kecepatan santaipun seharusnya bisa diselesaikan sekali duduk. Tapi tidak, tadi pagi saya baca di Jatipuro ketika antar ibu ke Pasar Jatipuro dapat dua bab, sisanya saya baca siang ini di Palur. Draft sudah saya siapkan untuk perjalanan arus balik esok ke kota Karawang.

Untuk sebuah buku KKPK sejauh ini My Sweet Heart adalah salah satu yang terbaik. Pantaslah masuk Gold Edition: Best Seller. Kisahnya mungkin sederhana tapi untuk buku anak-anak jelas plotnya lucu. Apalagi ending-nya yang menggantung menggemaskan. Saya sendiri tersenyum menggerutu. Kata Winda, ada buku KKPK lain yang juga menarik. Sayangnya program ini sudah berakhir hari ini. Mungkin tahun depan?

Ceritanya ya tentang keseharian sang Penulis dibumbui daya khayal anak SD. Tiras adalah si Salim – sok alim karena dalam keseharian sekolah mengenakan hijab. Padahal ia tomboi suka main game battle dan play station. Nah hari itu Tiras ditinggal sendirian di rumah, membaca komik Detective Conan menunggu mang Kiki tapi via telpon ia ga jadi datang. Adegan mengunci pintu dua kali klik dan adegan angkat telpon yang wajarnya biasa bisa dibuat lucu. Hebat dik! Berteman akrab dengan Sarry yang di hari pertama sekolah naik angkot, turun bersama dan berlomba lari. 

Nah, kisah sesungguhnya ada di di sini. Dari Kang Ginanjar, Amira tahu ada tiga orang di dunia in berwajah mirip dengan pribadi kita. Dia berujar bahwa ia tahu ada seorang anak yang mirip dengan Tiras, via rekaman HP sedang bermain bulu tangkis. Anak itu bernama Mei Ling. Dari namanya jelas keturunan Cina. Tiras lalu diajak bertemu langsung saat turnamen bulu tangkis. Keluarga ini datang terlambat, untungnya pertandingan Mei ada di akhir jadi aman. Mereka mendukung di tribun penonton, “Ayooo Mei Ling, sikat! Smash!”

Sayangnya menjelang akhir laga, Mei cidera. Wasit memberi waktu untuk pemulihan, saat itulah Tiras kebelet pipis. Tak disangka mereka bertemu langsung, saling terkejut. Dan terbesitlah ide untuk melanjutkan pertandingan, Tiras yang maju. Kesepakatan diraih, mereka bergegas bertukar kostum. Tiras yang hanya tahu pengetahuan dasar bulu tangkis mencoba melawan. Tapi karena Mei sudah leading jauh, dan sang lawan mulai mengejar akhirnya mereka ada di skor dramatis 14-14. Dengan sistem lama di mana sang pemenang adalah yang pertama cetak skor 15, pertandingan dibuat dramatis dan yak! Betul Tiras palsu menyudahi perlawanan Erwin dengan jurus crazy ball.

Kesepakatan bertukar tempat ternyata tak sampai di sini. Mereka setuju, sampai hari Minggu mereka akan menjalani kehidupan baru. Tiras di rumah Mei bersama bunda Fu Jin Siao dalam kehidupan kelas atas yang gemerlap. Rumah bak istana, mobil Mercedez Benz dengan sopir pribadi, sekolah elite di mana ketika masuk dengan sidik jari, dan kehidupan orang kaya lain di mana koneksi internet bisa diakses setiap saat. All hail game online!

Sementara Mei hidup dalam keseharian sederhana di mana setiap hari adalah keseruan. Pulang sekolah main lumpur, membaur dengan teman-teman tanpa tekanan berlebih dari orang tua. Konflik baru muncul saat di sekolah Tiras sangat kurang dalam aljabar, sementara Mei kurang dalam pelajaran bahasa. Mei Ling sampai dapat julukan Ratu Buta Bahasa dari bu guru Esti, sementara Tiras dengan julukan salim. Penyesuaian diri itu awalnya sulit, tapi dengan segala keseruan khas anak-anak tentu saja dapat teratasi. Tapi tak sampai di sana saja, karena akan ada masalah lain yang akan menghadang mereka. Bisakah kali ini diatasi? Kisah ditutup dengan sebuah informasi dari Mang Ginanjar, sesuatu yang unik. Renang?

Sampulnya unik. Ilustrasi cantik Mei Ling. Bak sebuah gambar kartun, cantik sekali Mei yang mengacungkan dua jari ‘peace’ sementara Tiras memberi kode telunjuk di depan mulut yang berarti ‘sssttt…’ dengan kombinasi cerita bagus, ilustrasi oke jelas ini termasuk KKPK yang sukses. Ayoo Winda cari lagi buku Amira dan saya numpang baca lagi. Lho.

My Sweet Heart | oleh Amira Budi Mutiara | ilustrasi isi Agus Willy | ilustrasi sampul Nur Cililia | penyunting naskah Dadan Ramadhan | penyunting ilustrasi Iwan Yuswandi | design isi dan sampul tumes | pengarah design Anfevi | layout dan setting isi Tim Pracetak | Penerbat DAR! Mizan | Cetakan III, Maret 2017 | 116 hlm.; illust.; 21 cm | ISBN 978-602-420-170-8 | Skor: 3,5/5

Palur, 290617 – Pink – Just Give Me A Reason – Subuh dan diposting di Gemuh kota Kendal 

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#30HariMenulis #ReviewBuku​

Tom Little #29

Buku pertama Lafayette Ronald Hubbard yang saya baca dan review. Bukunya tipis, sebuah novela menarik tentang dunia sirkus. Buku-buku Hubbard sebenarnya sudah lama sekali lihat di toko buku. Berserakan karena memang banyak dan tipis-tipis. Tapi baru benar-benar saya beli bulan puasa lalu. Sempat kebaca pas mudik, separuh dibaca di Palur separuh dibaca di Jatipuro. Dibaca cepat untuk mengejar event #30HariMenulis. 

Buku dibuka dengan penjelasan apa itu pulp fiction? Sebelum membaca buku ini saya jelas akan jawab itu adalah judul film Quentin Tarantino. Masterpiece yang berbuah best screenplay di Oscar. Tapi ternyata ada arti yang lain. Arti sesungguhnya. Bahwa pulp fiction adalah era emas fiksi yang dicetak di kertas pulp cokelat murahan di Amerika masa tahun 1930an sampai 1940an. Masa penuh gairah dan berseminya gelombang membaca, angka baca per kapita tertinggi sepanjang sejarah Amerika. Kios-kios majalah dipenuhi publikasi berpotongan kasar, gambar sampul serampangan, harga per edisiyang murah karena dicetak di kertas pulp murahan – kesenangan yang dipegang tinggi.

Saya sendiri kalau beli buku mending yang kertas buram, ketimbang hvs cerah yang hambur uang. Ga masalah buat koleksi kertas biasa, yang utama adalah isi. Saya punya koleksi buku Friedrich Nietzsche terbitan Narasi yang mana kertasnya buram, ga masalah. Kena harganya murah, yang penting jilid kuat. Mending kualitas kertas biasa isi keren ketimbang buku kertas luk kualitas kopong dengan harga selangit.

Era pulp fiction melahirkan PenulisPenulis: H.P Lovecraft, Edgar Rice Burroughs, Robert E. Howard, Max Brand , Loius L’Amour, Elore Lenard, Dashiell Hammett, Raymond Chandler, Erle Stanley Gardner, John D. MacDonald, Ray Bradbury, Issac Asimov, Robert Heinin dan tentu saja L Ron Hubbard. 

Seperti tradisi Penulis hebat lainnya seperti Herman Melville, Mark Twain, Jack London dan Ernest Hemingway, Ron benar-benar menjalani petualangan yang dikagumi karakter-karakternya sendiri. Entah sebagai etnologis di tengah suku-suku prmitif, sebagai insinyur, maupun sebagai kapten kapal yang menyeberangi samudera. Bahkan Ron menulis satu seri artikel untuk Argosy berjudul ‘Hell Job’ untuk itu ia melakoni sendiri sebagai profesi berbahaya dan menceritakan pada pembaca. 

Lantara era pulp fiction dicetak di kertas murahan maka banyak yang akhirnya dicetak ulang saat era itu berakhir. Kisah-kisah dari Masa Keemasan karya Ron menawarkan sesuatu untuk berbagi selera pembaca. Kisah ini akan membawa kita ke masa itu. Era itu terhenti saat Perang Dunia II karena kelangkaan kertas. Yang bertahan sampai kini tentu saja yang karya berkualitas, salah satunya adalah yang saya baca.

Bukunya terdiri dari dua cerita. Laiknya cerpen, tapi agak panjang. Yang pertama adalah Tom Si Kecil kedua Tetes Terakhir. Tom bercerita tentang seorang kerdil yang selalu dilecehkan bosnya di arena sirkus. Nah suasana sirkus menjadi mencekam saat kematian sang profesor. Seorang peramal yang hebat itu menghembuskan nafas terakhirnya dengan memberi warisan kepada Tom. Buku-buku sihir untuk dipelajari. “Dengan kekuatan semacam itu aku meninggalkan dunia ini yang lebih baik, karena aku tahu persis ke mana aku pergi. Tetapi aku pergi tidak dengan menyisakan bangkai permata, karena sesuatu yang kumiliki untukmu. Kau akan memiliki kekuatan utnuk menjalankan dan menguasai semua tahap ilmu sihir,”

Buku tiu dipelajari Tom dengan giat. Dan dia menemukan sebuah mantra untuk berpindah tubuh. Dimana ia bisa bertukar jiwa dengan orang lain. Kekuatan itu dicoba kepada Maizie dengan menatap mata lalu membaca mantra. Berhasil, Tom masuk ek tubuh Maizie dan Maizie ke tubuh Tom. Bertukar jiwa ini sungguh membahagiakan Tom karena dari dulu dia sudah muak bertubuh 30 cm. Keinginan untuk bertubuh normal akhirnya ditujukan kepada sang pembaca acara sirkus Herman Schmidt. Seorang sombong yang suka melecehkannya.

Saat ia berhasil bertukar jiwa, segalanya tak sesuai yang dibayangkan. Herman tukang selingkuh yang kini dikejar suami Betty. Sudah tunangan tapi tak berniat menikahi sang gadis. Seorang koruptor pertunjukan. Dibenci banyak orang. Sengan kekhawatiran memuncak, karena kini Herman ada di tubuh Tom berhasilkah ia kembali ke tubuhnya sebelum terlambat?

Tom Si Kecil | by L. Ron Hubbard | copyright 2007 | pertama terbit berjudul If I were You | diterjemahkan dari Tom Little | pewajah sampul Apung Donggala- Ufukkreatif design | Ilustrasi sampul Roni Setiawan | pewajah isi EMW14@ufukkreatif Design | penerjemah Leinovar Bahfein | Proofreader Helena Theresia | cetakan I, Februari 2012 | Penerbit Ufuk Publishing House | ISBN 978-602-9346-32-9 | Skor: 4/5

Jatipuro, 290617 – Sherina Munaf – Ku Mau Kau Mau – diposting di Palur

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#29 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

AKU #28

Aku #28

Kalau sampai waktuku | ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu | Tidak juga kau | Tak perlu sedu sedan itu | Aku ini binatang jalang | Dari kumpulannya yang terbuang | Biar peluru menembus kulitku | Aku tetap meradang menerjang | Luka dn bisa kubawa lari | Berlari | Hingga hilang pedih peri | Dan aku akan lebih tidak peduli | Aku mau hidup seribu tahun lagi | Maret 1943

Siapa yang tak kenal puisi ini? Semua pelajar Indonesia pasti tahu, karena masuk dalam buku-buku pelajaran. Kalaupun tak tahu setidaknya pernah membacanya sekilas. Kalaupun belum membacanya, pasti pernah mendengarnya sekelebat. Kalau masih belum dengar juga, berarti bolos saat mata pelajar Bahasa Indonesia, eh pas bahas puisi ini. 

Buku yang kubeli karena booming film Ada Apa dengan Cinta? Sudah 12 tahun tertata rapi di rak. Dulu sih carinya susah, sekarang sudah banyak di toko buku. Buku kumpulan puisi yang difotocopy Cinta ini memang bagus, beberapa sudah sangat dikenal karena puisi Chairil Anwar memang sudah ada yang dikutip di buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia. Makanya saat dunia puisi kembali naik saat film rilis, otomatis buku ini ikut terangkat. 

Penyair lokal yang paling dibicarakan ini menjadi lebih dekat setelah membaca buku ini. Kisah hidupya yang mati muda, bagaimana ia mencinta, punya seorang putri lalu becerai dikisahkan dengan gaya sastra. Untuk seorang yang suka biografi buku ini bisa dibaca santai karena halamannya tak lebih dari 200, tak banyak narasi. Lebih kepada nukilan kehidupan dengan disertai proses-proses terciptanya buku. 

Buku karya Sjuman Djaya yang mengisahkan perjalanan hidup sang penyair Chairil Anwar. Bentuknya bak skenario film dengan gaya sastra dimana sajak sang penyair selalu disertai. Buku dibuka dengan puisi ‘Bom atom pertama meledak di kota Hiroshima. Langit berselaput awan cendawa berbisa. Letika memburai awan ini, bumi laksana ditimpa hujan salju ganas… lalu menganalogikan ada seekor kuda yang mengamuk di tengah peron stasiun kereta api. Berikutnya kita diajak berkenalan dengan Chairil Anwar secara pribadi.

Ayahnya menikah lagi dengan perempuan muda. Momen itu ditangkap saat ia memenangkan turnamen badminton. Ayahnya pergi ke Medan meninggalkan ibu dan dia. Sebagai kutu buku ia membawa serta buku ke manapun, semasa sudah dewasa ia mengembara. Pergi dari rumah, tak pulang yang membuat ibunya khawatir. Tapi dalam perjalanan itu ia menerima kabar melalui surat ibunya bahwa neneknya meninggal, membuatnya terpukul. Ia sangat dekat dengan sang nenek.

Sejak remaja Chairil sudah bertekad menjadi seniman. Sehingga sejak hijrah ke Batavia (Jakarta) ia makin mengbulatkan tekad. Buku-buku orang besar dilahapnya dari Hendrik Marsmn, Edgards du Perron, Reiner Maria Rilke. Dari orang-orang inilah ia terpengaruh. Beberapa ada yang bilang, ia meniru. Pada masa pendudukan Jepang, karyanya tak banyak diterbitan. Nah saat Indonesia mewujudkan proklamasi barulah muncul.

Chairil menikah tahun 1946 dengan Hapsah Wiraredja dan memiliki anak Evawani Alissa. Pernikahannya hanya bertahan dua tahun. Tahun 1949 beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Taman Makam Umum Karet Bivak, Jakarta. 

Skenario film ini ditutup dengan ironi tulisan kapital: AKU MAU HIDUP SERIBU TAHUN LAGI!

Well, kisah dan skenario film yang bagus ini tak pernah terwujud karena sang Penulis dan Sutradara sudah tiada. Niatnya untuk mewariskan semangat penyair yang dikaguminya dalam bentuk gambar gerak tak pernah tercapai. Tapi tetap ini adalah salah satu karya besar Sjuman Djaya yang menempatkannya dalam jajaran seniman besar Indonesia. 

Saya yakin. Saya sangat yakin suatu hari nanti akan ada yang membeli hak buku ini untuk diangkat ke layar lebar. Suatu hari nanti…

“Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku…”

Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup Dan Karya Penyair Chairil Anwar | oleh Sjuman Djaya | Pengantar Rendra | Tata letak isi Muhammad Roniyadi | Desain sampul Sushanto | ilustrasi S. Malela | Diterbitkan pertama kali Pustaka Utama Grafiti, 1987 | Terbitan kedua oleh Metafor Inter Media Indonesia, 2003 | ISBN 979-3019-12-3 | 9 11 13 15 16 14 12 10 8 | xii + 155 hlm.; 19,7 cm | Skor: 5/5

Jatipuro, 280617 – Peter Pan – Kukatakan Dengan Indah

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#28 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku​