Kusala Sastra Khatulistiwa 2019: Teh & Sadimin

Kita hanya akan membicarakan prosa, sayang. Bahkan karya pertama atau kedua hanya bisa bertahan dua tahun.

Sebelumnya, kita refresh sejenak ke tahun lalu. Secara gemilang Penerbit Banana menempatkan dua bukunya di daftar pendek. Sesuai prediksi Kura-Kura Berjanggut menyabet Prosa Terbaik. Terlihat relatif tertebak karena memang sulit sekali mencipta novel setebal hampir seribu halaman. Dengan gegap gempita menyajikan cerita detail perseteruan kerajaan di ujung Indonesia Barat. Salut.

Bagaimana tahun ini? Pada tanggal 4 September, kita dapat daftarnya. Sepuluh buku saya beli di lima tempat berbeda. Beberapa saat setelah Bung Richard Oh memposting para kandidat, saya langsung pesan daring ke toko buku langganan. Dema Buku di Jakarta, bisa mensuplai Tango & Sadimin, Cara Berbahagia Tanpa Kepala, Dekat & Nyaring dan Bertarung Dalam Sarung. Agak sulit mencari buku terbitan indie, yang akhirnya setelah tanya kanan-kiri kupesan langsung ke Penerbit Pustaka Jaya di Bandung untuk Bugiali, dan Penerbit Aura di Lampung untuk Seekor Capung Merah, keduanya via penulis langsung yang diarahkan ke marketingnya. Buku ketujuh kuterima dari Surabaya, Jamaloke dikirim dari toko daring TB Buruh Membaca, agak terlambat responnya tapi akhirnya tiba sebelum meletupkan kecewa. Buku ke delapan Teh dan Penghianat kubeli di Gramedia World Karawang, inipun saya tanya di inbox Instagram guna memastikan, sudah muter ke Togamas Solo kosong. Dan akhirnya melengkapi daftar, Paperbook Plane dari Yogyakarta menyediakan Republik Rakyat Lucu dan Atraksi Lumba-Lumba, keduanya ketika kupesan sudah tahu rontok dari 5 Besar, tak mengapa karena memang tujuannya menikmati segalanya…

Mari kita telusur satu per satu, disusun berdasarkan selesai baca.

#1. Cara Bahagia Tanpa KepalaTriskaidekaman
Tentang Sentani yang dirudung kesulitan hidup dan memutuskan memenggal kepalanya sendiri agar bahagia. Dan bagaimana bisa manusia masih tetap hidup, tetap bergelut dalam rutinitas padahal empat dari panca indera itu sudah dilenyapkan. “Memang begitu ya cara membereskan masalah?”

#2. Dekat & NyaringSabda Armandio
Tentang suatu masa di gang Patos di pinggir kali yang terkena desak laju perekonomian kota. Edi yang jenius bak Einstein mengolah berbagai cara guna bertahan hidup, Nisbi yang memiliki masa lalu pelik, sampai anak kecil, Anak Baik yang imut dalam imaji laba-laba tempurung. Bagaimana cara mengusir warga dengan kekerasan terselubung. “Kalau tidak ada Jackie Chan, dunia bisa kacau.”

#3. Bertarung Dalam SarungAlfian Dippahatang
Tentang adat Bugis dan segala istiadatnya. Tarung dalam sarung yang mematikan, dua laki-laki bersenjata Kawali dalam satu sarung, duel lelaki Bugis atas nama kesetiaan, atas nama harga diri keluarga. Bagaimana harga diri itu mahal. “Yang namanya manusia, tidak pernah puas memiliki satu barang, Nak.”

#4. Tango & SadiminRamayda Akmal
Tentang lingkaran keluarga pelacur, pengemis, buruh tani, juragan dan pak haji pemilik pesantren dengan tiga istrinya. Semua coba dijelaskan serunut dan senyaman mungkin, banyak sisi abu-abu dalam diri manusia. “Belajarlah dari kesalahan orang lain. Di situlah letak kecerdikan.”

#5. BugialiArianto Adipurwanto
Tentang hikayat manusia super nan kere dengan tuak dan kehebatannya. Saling silang dengan karakter lain cerita pendek, saling isi dan sapa. Bagaimana kenikmatan minum arak adalah setara surga. “…kita membaik-baiki orang berharap kita dibaiki. Betapa hinanya kita.”

#6. Seekor Capung MerahRilda A. Oe. Taneko
Tentang teror militer terhadap warga dengan sudut Rumi, anak imut yang dihinggapi capung. Bagaimana kehidupan mengalir di tanah rantau, di negeri jauh dan segala kesibukan sehari-hari. “Bukankah kematian juga yang menungguku di ujung lain? Di penghujung senja?”

#7. JamalokeZoya Herawati
Tentang perjuangan Indonesia Merdeka, dari sudut jelata di Jawa Timur. Perang yang tersaji sepanjang 1940-an sampai masa transisi Indonesia Orde Baru. Bagaimana nasib manusia disajikan dengan pilu, walau tetap syukur padaNya. “Kalau kesalahan itu terletak pada seni mengukir nasib, apa gunanya manusia punya pikiran.”

#8. Teh dan Penghianat Iksaka Banu
Tentang Indonesia pra merdeka dengan segala perjuangannya. Terbagi dalam banyak tema dan perseteruan. Tentang Indonesia setelah merdeka, mencoba mempertahankan kedaulatan. Bagaimana penghianat tersisip dalam gejolak. “Awalnya semua baik-baik saja, sampai si wanita merasa diperlakukan tidak adil. Itu motif yang selalu berulang…

#9. Republik Rakyat LucuEko Triono
Tentang komedi yang dicipta masa remaja, masa kuliah sampai dewasa. Tak akan pernah habis mengupas kelucuan politikus, tak akan pernah lekang membahas ironi hidup para pengajar. Bagaimana Republik ini bisa bertahan dari gempuran kritik? Maka kita ciptakan Wakil Rakyat Garis Lucu. “Ketidakpastian adalah ruh kreativitas.”

#10. Atraksi Lumba-LumbaPratiwi Juliani
Tentang impian kecil masa kanak menyaksikan atraksi lumba yang kandas, dan kenangan-kenangan yang melingkari kehidupan yang memberi efek, lalu mencipta takdir. Bagaimana menghadapi kenyataan, setelah beberapa kenang menggores tajam. “Hidup tidak pernah mudah sejak aku meninggalkanmu…

Tahun ini kumulai dengan kabar duka, sempat down beberapa hari dan mengalami masa antara. Merenungkan hidup, mau ngapain ke depan, kerinduan membuncah untuk pulang ke Solo, dalam kebosanan rutinitas kerja, menyumpatnya dengan keraguan, menghadangnya dengan alasan bertahan. Bagaimana keluarga memang segalanya, senyum Hermione seolah memaku diri bertahan guna mengorbankan seribu satu impian muda, memaksa menenggelamkan banyak skenario, andai ini itu. Selalu; sabar, tawakal, iqtiar.

Menenggelamkan diri dalam bacaan, menikmati huruf demi huruf memang bagiku semacam obat melarikan diri dari kepenatan waktu, menenggelamkan diri seolah menghentikan gerak luar dari tekanan yang muncul. Februari, lalu Maret datang, rutinitas menikmati Oscar nyaris ku-skip, April lalu Mei, ulang tahun May yang otomatis mengajak menginjak bumi lagi. Juni dalam #30HariMenulis #ReviewBuku dan akhirnya saya kembali terjebak rutinitas tahunan, lagi.

Ketika kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa diumumkan, belum satupun baca. Rasanya sayang melewatkan moment ini, dengan semangat lahap yang kembali, kukejar jua akhirnya. Semua rampung baca pada 12 Oktober, rampung ulas 14 Oktober. Dibuka dengan buruk oleh Cara Berbahagia, yang anehnya malah mencari kepala yang dengan sukarela dilepasnya, merupakan skor terendah. Lalu Banana, lagi-lagi menyajikan novel bagus yang sayangnya terlampau tipis, coba dikembangbiakan lagi, banyak hal di Gang Patos bisa digali. Bertarung sekadar hobi. Tango memberikan kembali kepercayaan diri dengan skor sempurna. Bugiali dan Seekor Capung, duo indie ini dengan tepuk tangan membahana bisa melejit dalam daftar pendek ketika kubaca. Jamaloke kembali mengajak santai dalam narasi berbelit tanpa daya kejut, Teh sesuai ekspektasi yang memang Bung Iksaka jago di cerita pendek. Dua terakhir yang sudah tersingkir, ngalir saja. Setelah senyam senyum di Republik, daftar prosa ditutup dengan sangat bagus oleh Atraksi. Aneh, kumpulan kisah sebagus ini tercoret.

“… aku mendengar suara tepuk tangan. Semakin lama semakin keras.” Merupakan kalimat penutup buku Teh dan Penghianat. Seolah menjadi pertanda, Bung Iksaka Banu menang lagi? “… berusaha menggapai-gapai Tuhan.” Adalah kalimat akhir yang bombastis dalam Tango & Sadimin, seolah tangan Tuhan akan membantu Mbak Ramayda Akmal memenangkan piala prosa terbaik. Siapapun itu, besok kita tahu salah satu dari mereka yang berada di puncak acara, yang pasti Penerbit Major Gramedia Grup kembali mendudukinya setelah vakum tiga tahun.

Prediksiku, jelas menyesuaikan skor. Cara Berbahagia coret pertama, Bugiali adalah kuda hitam dengan tuaknya sulit di puncak, Seekor Capung akan senasib Gentayangan, gagal terbang tinggi. Final match: Teh dan Sadimin, keduanya skor lima bintang. Teh memang sangat menawan, mencipta cerita sejarah dalam penggalan-penggalan cerpen, yang sulit sekali untuk tak bilang wow ketika punch-line disaji di tiap akhir naskah. Tango sangat tangguh. Tak kusangka, para karakter diungkap hati abu-abunya dengan gemilang. Lalu siapa yang akan menang? Apakah ending tepuk tangan, atau gapaian tangan Tuhan? Saya lebih percaya sang Pencipta akan selalu bersama para pemenang, bersama Nini Randa dan Haji Misbah. Or is just me?

Karawang, 151019 – Train – If It’s Love

Iklan

Atraksi Lumba-Lumba – Pratiwi Juliani

Orang-orang desa bangun lebih pagi daripada dan mereka hidup cermat: listrik, air, dan segala sesuatunya harus digunakan seperlunya saja…”

Seperti inilah seharunya cerita pendek dibuat. Kisah ada di sekitar kita, tampak nyata, tampak apa adanya. Atraksinya sendiri berakhir tak semulus yang diharapkan, tapi terus tersimpan dalam ingat seolah abadi. “… panas sekali bulan ini. Semoga panen bagus.”

#1. Menyayangi Bianglala
Pengalaman naik bianglala anak kecil yang diceritakan kepada teman-teman sekelas, membagi permen dan pamer khas anak sekolah. Anak orang kaya, yang habis berlibur ke kota. Tampak manis dan menggemaskan. Ternyata, orang tua Rima cerai, ia hanya sesekali ajak keluar kota sama ayahnya, dan bainglala adalah salah satu moment yang diambil untuk menancapkan gores, karena berikutnya waktu digulir cepat. Ibunya menikah lagi, mereka pindah dan ketika sudah dewasa, ia kembali mengukir kenangan kembali ke kampung untuk sebuah pemakaman. “Ayolah kita ke pasar malam tengah kota selepas acara tahlil tiga hari.”

#2. Rambutan yang Timbul di Kepala
Cerita biji yang tertelan lalu ditakuti akan tumbuh dalam perut dengan batang tumbuh tembus ke kepala juga kualami dulu. Seringnya biji asam, karena di kampung ada pohon asam besar sekali, dikeramatkan, dibuat pesta anak-anak saat berbuah, dan banyak sekali remaja naik pohonnya yang rindang. Sang Aku memiliki kenangan tentang lomba makan rambutan di masa kecilnya, dan saat itu tiba-tiba ia ingin makan rambutan, Mujib temannya yang gembeng ga sengaja menelan biji rambutan. Ditakut-takuti, makin kencang nangisnya. Hari masih sangat pagi, toko yang menjualnya ada tujuh kilometer jauhnya, berkenalan dengan lelaki menarik, sambil ngopi dan makan rambutan berkaleng, mereka berkisah. “Tidak ada. Aku sering membaca. Tetapi membaca itu hal umum yang dilakukan semua orang, bukan hal yang special.” Kita semua tidak lebih dari sebuah foto profil yang bisu.

#3. Atraksi Lumba-Lumba
Seolah ini adalah penggalan kisah di judul pertama. Ameli dan ayahnya memiliki kenangan pahit tentang sebuah acara karnaval atraksi lumba-lumba. Bangun pagi, berkendara jauh, akan menontonnya. Penonton penuh, dan antrian panjang. Apes, mereka kehabisan tempat. Berharap bisa masuk, dengan menyogok petugas jaga, malah minta dua kali harganya. Dan mereka gagal menyaksikan. Kenangan yang unik memang yang akan tersimpan erat terikat dalam kepala, dan kegagalan serta efeknya inilah yang terlihat dalam tawanya saat di Yogyakarta, kelak. “Oh kau anak yang baik, semoga kelak nasibmu baik.”

#4. Pecundang
Dari novel Maxim Gorky berjudul Pecundang, kita diajak berkelana tentang hidup dan kepahitannya. Kita tahu sang Penulis bunuh diri dengan meninggalkan sekalimat buat anak dan istrinya, ‘Goodbye my beloved.’ Cerita dalam perjalanan bermobil memang menarik untuk dikupas, melalalngbuana. memiliki kenangan pahit tentang ayahnya, sebuah pohon beringin di pinggir jalan mengurainya, ada maaf sebelum terlambat. Sebuah kebesaran hati, legawa, tanggung jawab, dan ketulusan. Oh ya? Ingat cerpen ini berjudul pecundang, benarkah kata maaf sudah berucap? “Apakah kau menangis saat dia dikuburkan?

#5. Pembalut
Kisah ini juga seakan adalah nukilan dari cerpen pertama dan ketiga. Memiliki kenangan ketika bersekolah menengah lanjutan pertama. Sempat mengingin untuk sekolah asrama, saat meninjau bersama ibunya ke sekolah tersebut ketika libur tahun, betapa kecewa. Betapa jorok, dan tak terawat bangunannya. Bahkan air di kamar mandi tak menyala, dengan sampah berserakan. Akhirnya ia melanjutkan di sekolah tengah kota yang lebih umum. Pembalut di sini baru bersinggung saat salah satu siswi kurang berpunya sedang mens pas upacara bendera, dibelikan pembalut di koperasi sekolah. Mereka saling mengenal walau tak akrab, lalu suatu ketika gadis itutak kelihatan, ia keluar sekolah. Waktu merentang dan mereka kembali bertemu di sebuah warung soto yang ternyata milik sang gadis. Semua tampak nyata dan membumi, dan bisa kita jumpai di sekitar kita, bukan? “Tidak perlu dimengerti, aku juga tidak mengerti akan banyak hal. Andai aku bias lebih mengerti banyak hal.”

#6. Seekor Kucing dan Gelandangan Tua
Ini satu-satunya cerita mengambil sudut orang ketiga, seolah pencerita mendongengkan kepada kita sebuah pengalaman mengamati kejadian di alun-alun pinggir kota yang ramai, pemuda dan kebaikan hatinya bertemu gelandangan tua dan kucing sakit, memberi makan kucing dan pak tua, karena pemuda tinggal di kontrakan atas, sang gelandangan yang memutuskan merawat si empus dan suatu malam mereka kembali bertemu, lebih tepatnya, sang pemuda dating ke area pasar tempat gelandangan istirahat, makan malam yang hangat, kali ini tak ada si empus. “Tidak. Aku menyayanginya. Dia mati dalam keadaan ada seseorang yang menyayanginya.”

#7. Film
Berkenalan, menonton bareng, ngopi dalam cerita renyah. Kok rasanya enak sekali ya, saya belum pernah mengalami hal semacam itu dalam sehari. Padahal kita tahu, pengalaman semacam ini bisa terwujud, menyenangkan kedua belah pihak. Cerita aneh untuk film aneh. Mal masing tutup di pagi hari, gedung bioskop juga belum buka dong. Mara datang terlalu dini, ngopi dulu dan berkenalan dengan laki-laki yang menarik bernama Ricky, dan ditimpali Martin. Lhaa… seperti itulah canda alir tanpa beban. Ngobrol beberapa hal, berniat nonton film rumit, lalu mendiskusikannya. Mara pulang larut, suaminya menyambut dalam keanehan pula, dan tadaaa… “Jangan menjadi gelas yang penuh, Anwar.” Hiks, sayang Gundala dapat ulasan negatif.

#8. Kepulangan
Ini mungkin yang terbaik. Perjalanan pulang ke rumah nenek yang misterius, sungguh aneh, sungguh janggal. Pertengkaran orang tua mereka memicu benih cerai, Anggi dan kakaknya menguping, lalu pura-pura tidur saat ibunya masuk kamar dan meminta bergegas, malam itu juga mereka akan ke rumah nenek. Ayahnya menyetir dengan gamang, malam itu gerimis, dan dari sudut anak-anak kita diajak menjadi saksi akhir sebuah perjalanan satu kehidupan. “Masuklah, temani ibumu.” Begidik.

#9. Yang Teratur dan Yang Tidak Teratur
Ini mungkin kisah yang paling biasa, seorang pelukis coba mencipta ruangan dengan kesempurnaan guna mencipta karya. Jullie membeli mebel dan sejenisnya dengan mengajak Ami lalu mengecat-nya. Sang pemabuk yang stylist. Membuat tempat santai di rumah belakang, dengan musik jazz, dan kenyamanan hidup. “Jangan mabuk jika sedang bekerja dengank. Jika kau ingin mabuk, liburlah dulu.”

#10. Rumah Bercat Putih
Judulnya mengingatkanku pada novel John Grisham, A Painted House yang diterjemahkan Gramedia menjadi Rumah Bercat Putih. Isinya tentang pasangan tua yang dulu bercerai, Yos menderita batuk berdarah, didatangi mantan istrinya Marta yang kini menjanda. Mereka melewatkan hari itu dengan mengharu, masa tua pasti datang, kita tak tahu apa yang akan terjadi. Di sini, Yos sakit keras dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Anak kesayangan mereka Anggi datang, membisikkan kata-kata dalam tidur Yos dan akankah ada kesempatan lagi bersua dalam kehangatan keluarga? “Hidup tidak pernah mudah sejak aku meninggalkanmu…

#11. Cerita-Cerita Kematian
Pasangan yang merayakan malam dansa, menginap di sebuah hotel lalu menyaksikan kematian, pemilik syalawan bunuh diri. Hantu itu tidak ada, dan tuhan juga. Diskusi larut dalam keterasingan masing-masing. Bagus sih, open minded. Mereka menikmati waktu kebersamaan, berdiskusi tentang hal-hal yang diluar batas dengan enak diikuti. Di mana jiwa pergi ketika berpisah dengan tubuh? “Kebenaran itu universal. Hantu memang tidak ada. Ini soal mekanika kuantum. Kau terlalu pakai perasaan.”

Saya yakin, berbulan-bulan dari sekarang, saya masih bisa dengan santai mengingat kisah-kisah di sini dengan hanya membaca judul cerpennya. Buku bagus ini, kenapa ga masuk ke daftar pendek? Saya bisa yakin pula, mayoritas adalah pengalaman pribadi Pratiwi Julian dengan modifikasi di sana-sini tentunya. Saya ga tahu kehidupan keluarga dan orang-orang terdekatnya, tapi jelas sekali cerita yang disaji tampak nyata. Contoh dalam Atraksi Lumba-Lumba, di adegan pembuka kita dikasih tahu sang karakter utama berusia tujuh tahun di tahun 1998, pas dengan kelahiran Penulis di tahun 1991.

Done. Sepuluh dari sepuluh kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 kategori prosa selesai baca dan ulas semua. Syukurlah, setelah pembuka yang buruk dan naik turun kehangatan, daftar ini ditutup dengan sangat bagus. Kumpualn cerita pendek ini dapat stempel Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2018. Good luck PJ.

Bagus narasinya, bagus dialognya, bagus susunan plotnya. Mengalir merdu. Biasanya kalau pengalaman pertama melahap buku puas, karya berikutnya tinggal masalah waktu untuk dinikmati pula. Saya ingin menutup catatan ini dengan kutipan satu paragraf di cerpen terakhir halaman 250. Menurutku, tuturan kalimatnya sungguh alami.

Kami sedang dalam sebuah taksi, melintasi jalan aspal yang mulia sepi di bawah lampu-lampu bercahaya kuning yang digantung pada besi hitam berukir. Tiang lampu hias itu ditanam pada trotoar yang membagi jalan menjadi lajur kini dan kanan. Wajahnya menoleh ke sebuah bangunan bertingkat yang teramat besar, yang pada bagian depannya terpasang jendela-jendela lebar berkaca mati, sedang penerangan yang dihidupkan di sekelilingnya seperti tidak mampu menandingi kesuramannya: tembok-tembok putih yang menguning dan atap merah yang menjadi hitam karena malam tidak memiliki bulan.

Atraksi Lumba-Lumba dan Kisah-Kisah Lainnya | Oleh Pratiwi Juliani | Penerbit Kepustakan Gramedia Populer | KPG 59 18 01548 | Cetakan pertama, September 2018 | Desaigner Aditya Putra | Ilustrator Aditya Putra | Penataletak Teguh Tri Erdyan | Penyunting Leila S. Chudori | x + 277 hlm.; 11,5 cm x 17,5 cm | ISBN 978-602-481-025-2 | Skor: 4/5

Untuk Mom.

Karawang, 131019-141019 – Whitney Houston – I Will Always Love You

Thx to Paperbookplane, Yogyakarta. Empat kali kesempatan duduk depan laptop: Sabtu pagi, Minggu pagi, Minggu sore kemarin, dan Senin pagi tadi. Editing ulas bahkan kulakukan saat istirahat kerja Senin (14/10/19) di ruang meeting Initiative and Drive, dengan hanya berteman kopi dan dingin ruangan.

Republik Rakyat Lucu – Eko Triono

Kalian menyaksikan orang belajar dan lulus, sementara kalian, oh, wahai ruang kelas dengan segala isinya, kalian senantiasa di sini setia menampung dan menelan semua kebodohan anak bangsa yang datang pada suatu pagi dan tetap bodoh pada suatu sore.”

Buku kedua Bung Eko Triono yang kubaca setelah Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-Masing. Kurang suka komedi macam gini. Kumpulan cerita yang mencoba melucu, beberapa lumayan bikin senyum, tapi mayoritas ya gitulah. Mencoba satir, kritik sosial, kritik politik, bagaimana pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tak bijak, tapi warga juga sama komedinya, sama konyolnya seperti kisah klakson kendaraan saat lampu lalu lintas masih hijau, kan aneh. Tapi beneran nyata! Tokoh utama adalah Gembus, mengingatkanku pada tokoh Tom Gembus di koran harian Solo Pos yang satu frame sama Jon Koplo dan Lady Cempluk. Cerita keseharian warga negara Indonesia dalam balutan Rakyat Lucu. Sepanjang-panjangnya kemarahan, toh kosakata manusia terbatas jumlahnya.

Terbagi dalam tiga bab utama, seperti fase kehidupan manusia. Pendidikan, kuliah dan pekerjaan, sampai irisan sosial dengan sekitar.

#1. Masa Belajar dan Jatuh Cinta
Bagian ini merupakan kritik pendidikan di negara kita yang aneh bin ajaib. Seperti hukuman buat yang terlambat diminta berdiri di bawah terik, tanpa kecuali. Awalnya murid, lalu guru, lalu kepala sekolah, lalu ke atas terus hingga presiden. Karena terasa memberatkan hukuman ditiadakan saja. Hehe…

Kritik yang menohok ada di Kalah Sama Tukang Bengkel, bagaimana sebuah sekolah akan disidak, seorang murid Gemplak yang belum bisa baca coba disembunyikan, eh malah kena. Akhirnya sekolah mencipta aturan, bagi murid yang tak bisa baca keluar, rekrut siswa hanya yang sudah bisa baca, biar kualitas sekolah terjaga. Lantas buat apa sekolah dasar kalau semua siswa sudah pada bisa baca? Inisiatif akademis yang aneh sejatinya. Mirip kan dengan pola rekrut kampus ternama yang ketat, disaring agar hanya yang unggulan masuk, lantas apa yang akan dikuliahi kalau dah pada unggul?

Obsesi nama Siti yang lucu, LKS berkah untuk sampingan bisnis, sampai akhirnya cerita cinta monyet yang berengsek. Jadi Gembus diminta buat puisi oleh gadis idaman, setelah merenung, menekur sampai bermuhasabah di Perpustakaan guna mencipta syair masterpiece, puisi jadi lalu dikirim. Hasilnya? Puisi itu malah berakhir di Kusno, siswa tampan nan rupawan. Ternyata puisi ciptaan Gembus hanya dijadikan alat gaet. Sedih cuk!

Ditutup dengan mengharu, bagaimana Gembus dan siswa teladan tak melakukan corat coret baju kelulusan, dengan melakukan tindakan mulia terhadap sekolah dan sekitar, mendermakan seragam, sampai memberi makan burung dan semut di sekitar sekolah seolah mereka kerasukan nabi. Cita-cita mulia menjadi menteri pendidikan.

#2. Meniti Karier, Sengsara, Kadang Tertawa
Pendidikan adalah investasi peradaban. Ini bukan ruang publik atau kapitalisme. Pendidikan merupakan ruang kultural, kebudayaan, tempat untuk memanusiakan manusia dan seterusnya. Kisah kuliah yang nyeleneh. Surat miskin untuk beasiswa tak mampu, diperuntukkan warga kaya. Gembus yang sulit mendapat stempel di kelurahan merasa dirugikan. Maka kita ciptakan saja stempel sendiri.

Kisah cinta yang diperumit lebih konyol lagi. Gadis cerdas yang keblinger ketika diucap sayang. Tiap kali gadis itu lewat taman bunga, bunga-bunga di sana akan layu seketika, menyembunyikan diri mereka sebagai budak warna-warni di hadapan sang tunggal ratu cantik. Haha, selalu muncul mengapa. “Kalau begitu harus jelas dulu…” Matahari redup dan entah mengapa terasa sedingin itu waktu.

Bagian saat menafsirkan ayam terbang malah lebih rumit. Beberapa pakar lelucon kelak menafsirkan bahwa kelucuannya adalah puncak dari perenunagn itu sendiri. Bagaimana beli togel berdasarkan mimpi, menghitung kemungkinan angka. Ayam yang tertabrak kereta di dekat perlintasan, ayam terbang, kok bisa? Otak atik gatuk yang ternyata ga gatuk, karena istrinya yang jitu. Ah ngapusi

Pengalaman menjadi guru honorer bergaji cekak, nyambi ojek online, di mana penumpangnya siswinya sendiri, cium tangan sebelum dan sesudah antar beli kue ulang tahun. Dan akhir yang mengharu. Andai ojek online sudah ada lima belas tahun lalu, saya yakin saya juga akan berprofesi sampingan itu. Kala itu, banyak waktu luang, bingung cara nambah uang, terhimpit di rantau dalam kebusukan asap kendaraan kota. Ah.. masa lalu… Ahsu dahlah...

#3. Karier Politik dan Ke Mana Angin Menggiring Nafsu Batin
Anda tak lolos seleksi, kami hanya butuh kader berpengalaman, mampu bekerja sama dengan baik.” Hehe.. setiap ganti bab, ada karikatur sebiji di belakang judul. Yang pertama menolak olahraga karena yang dibutuhkan adalah olah jiwa. Yang kedua tentang cinta, mengapa mencintai? Ya karena cinta itu sendiri. Nah yang ketiga ini menurutku paling lucu, bagaimana rekrut kader partai berjalan? Karena integritas? Enggak! Luar biasa murni? Nope! Trus? Karena yang dibutuhkan yang bisa kerja sama. Nah!

Kalau mengumpulan cerita kelucuan, kekonyolan nan tragis tentang politik serta partai politik dan lingkaran politikus, Republik ini juaranya. Bisa sekarung penuh, membuncah, melebihi kapasitas. Bisa diketik sepuluh ribu kata, dalam semalam karena ide norak melimpah ruah, mengalir menganak sungai. Ga percaya? Baru juga kemarin lusa, politikus menjelma koemdian di acara talkshow tengah pekan. Manjadi trending topik berhari-hari, betapa para politikus kita lebih lucu dari badut. Bab ini hanya sebagian sangat kecil yang terjadi di negeri ini.

Jajan diluar? Jajan begituan. Jelang pemilu, jadilah merakyat. Banyak cara menjadi jelata secara instan. Akting ala kadar atau mendalami? Bisa diatur. Yang paling tragis mungkin adalah kunjungan presiden yang menyukai warna kuning. Segala sandiwara coba dicipta. Ketika presiden datang, ciptakan suasana hangat, senyum ramah, kemakmuran terlihat, warga bahagia, semua sejahtera, gemah ripah loh jinawi. Dan rencana sang presiden naik kapal batal, diganti helikopter, semua rencana itu buyar. Kekacauan yang ada. Alami kan!?

Diakhir dengan kunjungan menteri Finlandia ke Indonesia, ketika malam ia turun ke masyarakat dan mengejutkan karena banyak orang tidur di pelataran toko, banyak pemulung, dan betapa mengerikan melibatkan anak-anak dalam putaran ekonomi? Menteri Pendidikan si Gembus itupun ngeles, natural. Menyatu dengan alam dan mandiri. Haha.. oke sip! Gembus yang ketika sekolah begitu idealis itu? Ya. Gembus yang mahasiswa jenius itu? Iya.. begitulah negeri ini berputar, saat tanggung jawab ada di tangan, rencana-rencana brilian yang disusun dan diniatkan sirna.

Secara cerita ini hanya have fun aja sih, sekelat lewat buat refreshing, mengejutkan juga masuk ke sastra. Sudah tepat tersingkir cepat. Entah mengapa lelucon semacam ini bisa menyeruak, padahal kurang menyentuh kalbu, kurang mendalam. Catatan-catatan yang bisa ditemui di berbagai sosial media bisa jauh lebih lucu. Kisah-kisah seperti ini tak akan membuat kerut mengerut, ga perlu banyak mikir, sekadar seru-seruan. Beberapa mencoba filosofis, Ada orang tua di desa yang mengajari melihat bulan purnama dari genangan air di gentong. Bahwa semesta adalah penjelmaan dari penciptanya. Beberapa mencoba puitis, tapi poin utamanya memang komedi, seperti judulnya. “Ketidakpastian adalah ruh kreativitas.”

Sembilan dari sepuluh sudah selesai ulas. The last one is coming…

Republik Rakyat Lucu dan Cerita-Cerita Lainnya | Oleh Eko Triono | Penyunting Ipank Pamungkas | Penyelaras akhir Reddy Suzayzt | Tata letak Werdiantoro | Ilustrasi isi Fathurrahman Karyadi | Rancang sampul Sukutangan | Copyright 2018 | ISBN 978-602-5868-40-5 | 168 halaman | 13 x 19 cm | Penerbit Shira Media | Skor: 3.5/5

Karawang, 121019 – Diana Krall – Cry Me A River

Thx to Paperbook Plane, Shopee dan Titus RP, dua buku KSK terakhir bisa kunikmati berkat mereka.

Teh dan Penghianat – Iksaka Banu

Tetapi dengan membuka kebejatan moral ini selebar-lebarnya kepada umum, kepercayaan orang kepadanya akan luntur…

Ketika tahu buku Iksaka Banu masuk daftar panjang kandidat, saya sudah memprediksinya akan melaju ke daftar pendek, bahkan sebelum kubaca. Ketika beliau menggarap cerita pendek, ada nada optimis. Apalagi ini adalah cerita fiksi dibalut sejarah, ga bisa sembarangan menggubah, dengan turut terus mengikuti alur waktu.

#1. Kalabaka
Pembuka yang menghentak, di ujung Barat Indonesia era kolonial, bagaimana para penjajah menduduki Aceh dengan segala cara, dengan segala upaya, jelas bukan dengan diplomasi. Hukuman mati bagi para pembangkang, libas tanpa hati. “… Aku hanya ingin mengatakan, cukup sering kekacauan bermula dari kita sendiri. Seandainya kita lebih bijaksana hal seperti ini tidak akan terjadi.”

#2. Tegak Dunia
Perdebatan bumi bulat atau datar sudah ada sejak doeloe kala, ini hanya sebagian kecil konflik yang dicipta. Bagaimana para pemuka agama menentang penciptaan dan penggunaan globe, bola dunia, bahwa bumi bulat seperti bola dengan pemetaan detail daerah yang ada. “Banyak orang sesat di luar sana. Tuan ingin menambah jumlah mereka?”

#3. Teh dan Penghianat
Mengejutkan. Bagus banget euy, cocok buat jadi judul buku. Para pemilik teh dan cara bertahan dari gempuran musuh, baik penduduk lokal atau perantau Asia lainnya. Para tentara bayaran ini mau saja melawan warga negaranya sendiri, meredam perang, membunuh para bumiputera yang mencoba memberontak kompeni. Target berikutnya, Perang Padri! Wow, ending yang sakti. Sebaiknya kita tetap waspada, penghianat tetaplah penghianat. Sentot dan kekuatan uang.

#4. Variola
Kisah aneh di zaman percobaan penemuan obat penyakit menular. Vaksin variola, cacar sudah didapat, proses peralihan dan menjaga daya tahan dengan memasukkan ke dalam tubuh anak-anak (Eropa) sehat yang akan dibawa ke Bali, tempat wabah sedang berlangsung. Pihak Panti menentang, pihak Gereja menolak. Dan kitapun disuguhi ending yang mengharu pekat. Ada jalan, selalu ada jalan bagi mereka yang terus berjuang. Rahasia hitam tuan Diaken.

#5. Sebutir Peluru Saja
Ini cerita sejatinya sederhana. Perampok, begal yang meresahkan warga, tersudut di atap rumah seorang juragan, lalu sang aku, Tuan Skaut sedang lewat, maka dihadang seseorang untuk dimintai bantu. Karena aku memegang senapan, barang langka bagi bumiputera, diminta menembak jatuh sang penjahat. Namun, tak semudah itu menentukan, ada fakta-fakta meyakitkan mengapa sang begal beraksi selama ini. Peristiwa yang patut disesali, sepanjang hidup.

#6. Lazarus Tak Ada di Sini
Mengharukan, saat sekarat seorang Letnan sedang dijenguk pendeta untuk bertobat, untuk mengucap doa kidung puji jelang ajal. Ternyata sang Letnan Lazarus Willem Stijthart memiliki masa lalu yang lebih dalam tentang ajaran agama, menghafal banyak ayat, memahami detail isi Alkitab. Dan bagaimana menenangkan hati, jiwa sekarang itu? Menggubah ayat, menanamkan kesejukan menuju alam lain. “Apakah Ia akan menerimaku?

#7. Kutukan Lara Ireng
Dengan dalih menjaga kesehatan warga, dengan dalih uang yang menguntungkan, dengan dalih untuk kepentingan umat, sebuah konspirasi dicipta. Kapten Frederick Zwarteboom adalah kepala kapal operasi narkoba, ditugaskan operasi di wilayah pantai Jepara, Juwana dan Rembang, dia biasa tanpa asisten, kali ini ada perintah dari pusat bahwa Agen Polisi Bernard Eigensteen akan menjadi side kick dalam operasi tangkap tangan para gembong di lautan, sang junior yang takjub lalu menjadi gugup, dan harus memutuskan sesuatu yang berat, turut terjerumus dalam kosnpirasi atau mati?

#8. Di Atas Kereta Angin
Bagi mereka, pantalon dan sepatu adalah pembeda kedudukan antara priyayi dan kawula. Cerita paling ringan, konfliknya hanya boleh enggaknya pesuruh bumiputera mengendarai sepeda milik tuan tanah. Karena Kees memiliki Fiets atau kereta angin alias sepeda baru merek Columbia Roaster maka sepeda lama boleh dipakai si Dullah, untuk keperluan sehari-hari, ada temannya, Jan yang berkunjung dan keberatan seorang lokal mengendarainya, haha… lalu adegan piknik ke Prambanan menjadi lelucon tak lucu. Tragedi terusirnya Spanyol dari Kuba dan Filipina tidak terjadi di sini. “Beberapa orang masih di masa lalu. Ingin diperlakukan seperti raja diraja. Terutama para pegawai negeri. Kasihan.”

#9. Belenggu Emas
“… Kita hidup dalam diskriminasi.” Sebuah perjuangan perlawanan, persamaan hak perempuan tak hanya milik pribumi. Seorang istri Belanda-pun melakukan hal yang berani demi menjaga supremasi persamaan hak. Seorang penyuka sastra, seorang wanita yang ingin mandiri setelah kecewa pada sebuah fakta tentang suaminya, lalu Nyonya Westenenk berkunjung ke Sumatera untuk menjadikan dirinya seorang kontributor tulisan koran lokal Soenting Melajoe yang mana pemiliknya adalah wanita. Jadi penasaran sejarah hidup Roehana Koeddoes. “The white man’s burden.

#10. Nieke de Flinder
Ini tentang skandal seks orang penting. Sungguh menghibur, sungguh mendebarkan ketika kepala redaksi menolak memuat kisah asmara terlarang seorang berpengaruh. Setelah mereka yang hidup dari kepuasan jasmani tanpa pernikahan, musnahlah dari muka bumi mereka para penyuka sesama jenis. Dan dua kertas yang diketik itu. Duh… keren sekali kakak. “Awalnya semua baik-baik saja, sampai si wanita merasa diperlakukan tidak adil. Itu motif yang selalu berulang…” Hidup memang penuh rintangan, dan siapa yang berani mengambil resiko itu, termasyurlah… Orang bisa berkedok apapun. Tetapi jejak asusila mudah tercium. “… Itulah tugas polisi, memata-matai moral?”

#11. Tawanan
Jarak dan ketegasan akan memunculkan rasa segan, yang pada gilirannya akan membangun kepatuhan. Pihak Belanda yang tertawan, pribumi dibantu sang Hollander meminta tanda tangan kesepakatan tukar tawanan tanpa syarat. Para bumiputera yang dikira lemah itu ternyata kini sudah menghebat, merdeka hati dan pikiran, memperjuangkan hak hidup, mengusir mereka yang coba kembali mendompleng kekuasaan. Renyah.

#12. Indonesia Memanggil
Australia punya andil untuk kemerdekaan Indonesia. Lewat buruh angkut di Pelabuhan di Brisbane dan sekitarnya, mereka melakukan mogok massal ketika kapal perang Belanda berisi perlengkapan senjata yang akan diberangkatkan ke Jawa pasca Proklamasi, diblokir, dilarang bergerak. Indie Verloren, Rampspoed Geboren. Dan keputusan Jannes Grisjman yang berani.

#13. Semua Sudah Selesai
Tahun 1950an Indonesia banyak menasionalisasikan Perusahaan asing, beberapa yang coba bertahan pun dipaksa hengkang, atau menjadi tamu di bekas jajahannya. Tak terkecuali sebuah industri roti, dengan citarasa lezat dan nama besar, Arnoud Scherpezin mengalami dilema berat. Pulang ke Belanda atau bertahan dengan beberapa konsekuensi rumit, ia mungkin sudah jatuh hati sama Indonesia, sama para pekerja, dan rutinitas penciptaan roti, waktu berjalan maju tanpa memberi kesempatan kedua, putuskan! Semua sudah selesai. … aku mendengar suara tepuk tangan. Semakin lama semakin keras.

Harus diakui, Bung Iksana mencerita dalam novel Sang Raja sungguh terlihat biasa sekali, kalau ga mau dibilang buruk. Entah kenapa, aturan dasar untuk tak mengikuti garis dalam menata kata di Sang Raja malah dilakukan, runut, panjang dan membosankan. Boring, mudah sekali ketebak. Saya belum baca, Semua Untuk Hindia yang menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2014, tapi jelas Ratu Sekop adalah kenikmatan tersendiri dalam melahap cerita pendek dengan tema beragam. Teh dan Penghianat, lebih susah dibuat karena semua temanya tentang sejarah pendudukan Belanda di Indonesia dari zaman perang Aceh sampai pasca Proklamasi. Dan rupanya, berhasil mempertahankan tempo, tempao kenyamanan menelusur kata per kata. Menghentak di pembuka, menggila di tengah, ceria dalam peluk setia di akhir. Paket komplit. Apakah dua kalimat akhir itu pertanda juara?

Prediksi: Well, secara kompetisi lima kandidat utama Prosa sudah kubaca ulas semuanya. Teh Dan Penghianat jelas masuk pusaran kemungkinan besar memegang piala utama. Lawannya hanya satu, head-to-head dengan Tango & Sadimin. Siapa yang akan menang? Tunggu lusa, dalam ulasan lengkapnya.

Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat. Pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar…”

Teh dan Penghianat | Oleh Iksaka Banu | KPG 59 19 01637 | Cetakan pertama, April 2019 | Perancang sampul Adi Suta | Ilustrasi Adi Suta | Penataletak Tim Pracetak Grafika Mardi Yuana | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | xii + 164 hlm.; 13.5 cm x 20 cm | ISBN 978-602-481-137-2 | Skor: 5/5

Untuk anakku: Demetrius Dyota Tigmakara

Karawang, 091019-111019 – Sherina Munaf – Pergilah Kau

Thx to Gramedia World Karawang, jalan kaki sepulang kerja ke sana selalu merupakan kenikmatan tak terkira. Buku ini kubeli di sana setelah beberapa toko daring sudah kosong dan pencarianku saat mudik Solo juga berakhir hampa.

Jamaloke – Zoya Herawati

Dalam pandangan paling sempit sekalipun, manusia cenderung mempertahankan hak hidupnya. Kalau kesalahan itu terletak pada seni mengukir nasib, apa gunanya manusia punya pikiran.”

Peperangan sepanjang sejarah manusia, adalah kebiadaban yang direstui, setidaknya oleh kekuatan yang dapat dengan mudah menggilas pihak yang lemah. Novel sejarah dari zaman kemerdekaan sampai zaman awal Orde Baru. Premisnya menarik, menawarkan gejolak yang terjadi di dalam, seteru lebih banyak dengan orang-orang kita sendiri, bukan Belanda atau Jepang, garis besarnya kita semua sudah tahu. Bagaimana Hari Pahlawan tercipta, bagaimana Belanda coba lagi mendompleng ke Negara kita pasca Jepang runtuh, bagaimana kita mengalami masa sulit setelah Proklamasi justru saling sikut antar etnis dan golongan. Sebagian besar sudah tertera di buku sejarah. Aku memandangnya tanpa ekspresi, bagiku gambar-gambar tersebut tak lebih dari sekadar benda mati. Kalau orang lain mengekspresikan dengan arti lain, itu urusan mereka.

Sebagai pembuka, kita sudah dikasih tahu bahwa novel ini diangkat dari pengalaman seorang veteran perang. Walau tidak seluruhnya, jalan ceritanya mirip dengan perjalanan hidupnya. Selebihnya, jalan cerita dalam novel ini adalah atas dasar imajinasi penulis. Catatan sejarah ada di mana-mana, di benakku juga.

Kisahnya adalah tentang aku, karakter tanpa nama yang memiliki dua saudara, terlahir miskin di era kolonial. Kesadaran muncul secara tiba-tiba. Dalam situasi seperti ini, hal yang paling remeh sekalipun sulit dilaksanakan. Sekolah adalah hal langka, maka ketika ia berhasil lulus Vervolk School dengan biaya penuh perjuangan, aku melanjutkan HIS. Melewatkan masa remaja di tahun 1940an, saksi sejarah berdirinya Indonesia. Bagaimana kedatangan Jepang yang berhasil mengusir Belanda disambut sorak sorai, sebagai saudara tua. Saat pendudukan Jepang itulah ayahku meninggal. Ga sempat mengalami kemerdekaan. Secara pelan-pelan, kucoba untuk meredam semua kekecewaan yang ditimbulkan keadaan.

Untuk menyibukan diri, aku bergabung dengan PETA, kesatuan militer bentukan Jepang, masuk sebagai Pelopor. Tanggal 14 Februari 1945, PETA melakukan pemberontakan, untuk menagih janji merdeka. Saat itulah masa-masa krusial kita. Aku selalu mencoba menenangkan Emak, yang kini sendiri setelah dua saudaranya menghilang tanpa jejak. Toh setiap lakon dalam hidup menjadi bagian yang tidak lagi penting setelah kita mampu melepaskannya dari pikiran-pikiran. Sampailah kita di hari penting, 17 Agustus 1945. Perjuangan, apapun maknanya, menurut perasaan mereka tak akan pernah usai. Tiba-tiba saja kebencianku pada perang makin menjadi, melebihi waktu-waktu sebelumnya. Karena peperangan telah secara paksa berhasil mengoyak-koyak impian remajaku, karena peperangan telah dengan bengis merenggutkan seluruh harapanku atas orang-orang kucintai.

Masalah kini adalah mempertahankannya, tipu muslihat, kekecewaan, ketidakjujuran, sewaktu waktu bisa mengecoh siapa saja yang lengah. Jiwa mudaku juga meronta, maka pencarian jodoh dilaksanakan. Wanita, bagiku selalu saja menambah persoalan yang sudah ada menjadi bertambah ruwet, karena wanita sendiri adalah sebuah masalah yangtak terselesaikan. Sayang di era peralihan dengan banyak permasalahan ekonomi ini, cinta itu kandas. Kuletakkan seluruh persoalan pada pikiran, bukan pada perasaan. Seseorang yang mampu melecehkan dan mencemooh diri sendiri, menertawakan dan mengejek diri sendiri, adalah satria bagi nuraninya.

Surabaya, seperti kita tahu menggelar perang paling akbar Republik ini dalam mempertahankan kemerdekaan. Kebanggaan membuat bulu-bulu di tanganku berdiri, walau tidak kuingkari terselip juga sepercik keraguan-keraguan dalam benak. Beberapa percobaan menggulingkan pemerintahan juga terjadi. Aku tak bisa mengerti mengapa orang harus melakukan penghianatan. Apakah krisis itu sudah sedemikian parah?! Sebegitu jauh aku tak bisa meraba sampai dimana krisis kepercayaan kepada diri sendiri melanda para prajurit.

Perjuangan belum berakhir. Aku bergabung dengan tentara gabungan Pemerintah, bersama pasukan Serigala. Agaknya nama Serigala mempunyai kekuatan khusus bagi semangat prajurit-prajurit. Kesedihan bisa datang setiap saat. Kesengsaraan dan kemiskinan menyertai dengan kesetiaan sempurna sampai ke liang lahat. Emak meninggal dengan dramatis ketika isu kematianku menyeruak, padahal dalam Agresi Militer Belanda, saya hanya terluka dan tinggal dalam perawatan. Pasang surut sejarah terus mengalir, sementara gerilya-gerilya masih terus menghantui Belanda dengan ketegarannya menembus benteng-benteng pertahanan mereka. Sesungguhnya mereka tidak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi. Yang mereka ketahui adalah mengapa mereka selalu dapat dikalahkan oleh kekuatan, mereka menyesali nasib, mengapa mereka tetap bodoh walau terdapat pengajaran dimana-mana…

Kata Jamaloke baru muncul di halaman 116. Jamaloke, sandang pangan goleko dewe, tak ada arti khusus hanya dipakai untuk melengkapi keindahan pada kata sandang pangan goleko dewe yang artinya, sandang pangan cari sendiri. Kata jamaloke sering dipakai kaum gerilya yang beroperasi di daerah di Jawa Timur. Sebuah permainan kata untuk para prajurit yang diminta bertahan dengan pakaian dan makanan dengan upaya sendiri.

Susahnya dalam dunia logika, semua permainan bisa diterima, bertolak dari apa dasar pijakan tindakan-tindakan penghianatan itu bermula. Setelah negara sedikit tenang, para sahabat yang merangkul dalam era perjuangan, ada yang menjilat demi uang atau takhta. Kecurangan itu ada di mana-mana, sama seperti penghianatan, ia tumbuh subur tanpa bisa dicegah. Khotbah yang keluar dari mulut penghianat adalah bagai racun yang memastikan hanya dalam beberapa detik. Sang aku tetap pada kemandirian, mengayuh becak, menyewakan ruang dalam rumahnya, bertahan hidup di rakyat bawah. Manusia telah menjadi budak dirinya sendiri dalam satu ruang hampa. Penduduk desa yang lugu, menganggap semua yang keluar dari mulut pamong, merupakan kebijaksanaan yang tak perlu dikaji terlalu njelimet.

Hanya orang gila yang tak tertarik pada kesempatan dan peluang, aku dan dia punya hak untuk menentukan jalan hidup. Pasangan penyewa rumah memang tampak bermasalah, banyak selebaran, banyak menyelenggarakan pelatihan/seminar dan desas desus menyebar. Secara refleks, oh ini Partai Komunis. Dan sayangnya, Penulis ga menyimpan cadangan kemungkinan lain. Ya, semua datar. Maka saya langsung berasumsi, menuju tragedi tahun 1965 itu. Tak mudah bagiku untuk mempercayai orang lain, sebab di balik manisnya wajah, tersembunyi prasangka-prasangka buruk.

Orang tak akan pernah tahu jalan pikiran kita, jika bukan diri kita sendiri berusaha untuk menunjukkan. Ada satu teman yang ternyata senasib sepenanggungan, juga memutuskan mandiri, Masran teman perang. Pemahaman tentang nasib merupakan misteri yang sampai kapanpun tak bakalan mampu terkuakkan. Dengan kesadaran penuh, orang lebih menyukai kepalsuan, karena kepalsuan dapat dinikmati dengan mata wadag, bukan mata batin. Aku bahagia karena dapat menertawakan diri, melecehkan nasib, dan memandang dengan lucu segala kesulitan yang menghadang.

Di tahun genting 1965, kisah ini masih saja mengapungkan prasangka, menawarkan tanya apa yang akan terjadi. Bukan gitu sih seharusnya. Ingat, ini sebenarnya bukan buku sejarah, ini novel olahan imaji, cerita tak akan menarik bila menjelaskan hal-hal yang sudah pasti. Dan Jamaloke malah mengikuti garis itu. Pemahaman terhadap nafsu dan kehendak yang hanya sebatas daging dan kulit saja, membawa pikiranku ke arah pengertian lain tentang kehendak dan jiwa yang telah didasari dengan pikiran-pikiran bersih tentang nurani.

Overall: Apa gunanya mencerita sejarah yang sudah umum? Menuturkan ulang dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Tak ada kejutan, tak ada sesuatu yang wow mau dipertunjukkan, detail perang juga nanggung, drama sangat kurang, semua serba nanggung. Ekspektasiku adalah gelora Perang Surabaya yang legendaris, adegan penyobekan warna biru dalam bendera Belanda, pidato Bung Tomo, semangat membara Jenderal Sudirman, tak ditampailkan dengan bagus, semua nyaris tanpa ekspresi. Mungkin karena tokoh aku, hanya prajurit, tapi tetap, cerita yang bagus adalah cerita yang bisa mengungkapkan daya upaya karakter untuk memberikan warna lebih buat pembaca. Sang aku pasif, pasrah akan hidup, merasa tak dihargai negara. Dan pada akhirnya mati tanpa tanda jasa pahlawan, ataupun penyebutan namanya di buku sejarah. Dalam buku-buku Christie, pelayan atau pembantu rumah tangga selalu punya peran penting. Seharunya sekalipun prajurit, ledakan yang terdengar lebih nyaring karena ada di front perang terdepan. Sayang sekali…

Karena keyakinanku akan karma, aku ingin mengingkari sebuah janji, dengan harapan tak seorangpun akan berbuat serupa terhadapku. “Perang dan kewajiban mengajarkan seseorang untuk bersikap hati-hati terhadap segala bentuk tipu muslihat.”

Ia pasrah karena ia sudah merasa menang atas dirinya sendiri. Seperti ending-nya yang menyedihkan, betapa miskin, betapa kesendirian, betapa sunyi. Wanita seperti yang selama ini kubayangkan, tampaknya mampu bersikap tegas, meski sebenarnya agak naif. Hanya ada beberapa hal yang membedakan gadis itu dengan emak, selebihnya, mereka semua sama persis sama, egois dan serba membingungkan. Ternyata kesendirian bagiku merupakan karunia. Dalam situasi yang sulit ini aku merasa bersyukur karea taka da siapa-siapa yang harus menjadi tanggunganku. Berbahagialah perempuan yang pernah menolakku, dengan demikian, ia telah terhindar dari kemiskinan. Budaya diam serta pasrah terhadap lakon dan nasib, masih kuat dala, tatanan masyarakat, meski kedengarannya hal itu, amat merendahkan budi.

Tujuh sudah, tiga menuju.

“Itulah sepenggal lakon sejarah.”

Jamaloke | Oleh Zoya Herawati | Copyright 2019 | Halaman: xii + 224 | Ukuran: 13 cm x 19 cm | Editor S. Jai | Desain Ferdi Afrar | Penerbit Pagan Press | Cetakan pertama, November 2018 | ISBN 978-602-5934-26-1 | Skor: 3/5

Kupersembahkan Buat para Srikandi Indonesia

Karawang, 101019 – Sherina Munaf –Simfoni Hitam

Dicetak oleh Penerbit Indie, Pagan Press dengan kualitas cetak ala kadar, seolah buku hasil foto copy kertas buram pinggir jalan. Buku ini bisa menyeruak ke dalam kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Hebat. Ada ratusan typo, awalnya akan saya koreksi dan tampilkan, tapi saking banyaknya yo weslah.

Thx to TB Buruh Membaca

Seekor Capung Merah – Rilda A. Oe. Taneko

Einstein: “Seorang kritik adalah penjaga kualitas sastra. Peran terpenting dalam kemajuan sastra dan budaya.”

Dua puluh lima cerpen yang kubaca dalam perjalanan bus Solo-Karawang, selesai ketika sampai kota Semarang (30/09/19). Kubaca sedari sehabis Asar saat menunggu bus tiba, sampai jelang Isya dengan lampu baca dalam kendaraan. Petualangan dengan banyak tema, dari cinta yang kandas, pengorbanan anak sulung yang tak bertepi, demo mahasiswa 1998, penculikan dan pembunuhan aktivis, sampai imaji peri. Paling banyak berkutat di Lancaster, Inggris tempat sang Penulis bernaung.

#1. Antara Den Haag dan Delft
Cerita perjalanan dengan sudut pandang aku bernama Ito, yang berdialog dengan seorang kakek, tentang masa lalunya, seorang Indonesia yang terasing di negeri Belanda. Perjalanan kendaraan umum yang seolah perjalanan hidup bermakna. “Banyak orang yang ingin pulang. Tapi tak semua orang yang pergi dapat kembali… dan di tiap-tiap pengembaraan ada saatnya menetap, memulai hidup di suatu tempat, mengenal orang-orang…” Cerita berakhir dengan kalimat motivasi, bahwa segala hal harus diperjuangkan. Pembuka yang bagus.

#2. Awan Hitam Menghadang Di Depan
Ray menyambut Boxing Day, waktu yang tepat buat belanja jelang akhir tahun, saat perayaan Natal karena banyak diskon. Merayakan kemenangan pemilik modal dan menyerahkan diri pada ketundukan pemujaan barang-barang. Ray membeli barang-barang kesayangan istri dan anaknya, Cut Meutia dan Adriana yang esok akan berkunjung. Antusiasme, kerinduan bertemu orang terkasih, menanti canda tawa secara langsung. Lalu sebuah tragedi di ujung Barat Indonesia terjadi, meluluhlantakkan segalanya…

#3. Bukan Sebambangan
Cerita dibuka dengan narasi kece. “Selepas subuh, matahari hangat kuku dan embun masih memberati dedaunan. Pohon nangka, belimbing, dan ubi jalar masih terliaht mengantuk…” Lamina dan kesendirian yang menyejukan. Di hutan ia bisa memejam mata dari kehidupan nyata, menikmati kesendirian dan menemukan ketenangan. Ia menemukan wanita meringkuk dekat pohon pisang. Hanum yang diculik, dipaksa kawin dengan pria sesuai adat. Keduanya lalu disatukan dalam akhir yang mengharu.

#4. Di Market Square
Persahabatan yang tak biasa. Emma dan Amelia yang sedang saling curhat tentang krisis ekonomi yang melanda, banyak orang menjadi susah. sulit dapat kerja, dan tunjangan yang disunat. Dan bagaimana seorang Penulis terkenal, seolah santai, hanya weekend writer, menghasilkan satu novel dalam sebulan. “well done, well done…”

#5. Di Pelarian
Dalam perjalanan ke pantai, kita menjadi saksi remaja korban pelecehan, di Inggris dijanjikan masa indah, ternyata dijual. Dalam sekap yang tak menentu, ia kabur. Bertemu sang aku di bus. Mengapa tak mencari polisi? Hujan di pantai, “Help me!”

#6. Dongeng Peri
Kau lebih mirip dengan orang-orang di tempat ini daripada di sisi lain pintu. Kulit dan rambutmu lebih gelap dibanding mereka.” Pangeran (pemberontak) dan putri (bukan Etta) yang melewatkan malam dalam kembang api, bom. “Mereka pernah sangat hidup. Hati mereka lembut, berakal sehat dan berkulit segar.

#7. Gambar Mei
Mungkin salah satu yang terbaik. Mei dan keistimewaan menggambar, meramalkan kematian. Namanya Mei, ia buka bicara apa saja. Siapa yang digambarnya akan mati. “Itu mistik dan bisa membuatmu sirik. Tuhan tidak akan mengampuni orang-orang yang sirik.” Saat ia sudah kuliah dan berencana melakukan demo di kampus, Mei membuat pertanda. “Jangan pergi besok, tidak baik dan berbahaya.” Nah… kisah cenayang yang mau tak mau, suka tak suka, percaya tidak percaya, hanya dari goresan gambar seorang gadis.

#8. Joseph dan Sam
Sedih. Tapi mau bagaimana lagi, sering kali kita membantu seseorang, orang yang dibantu nyelunjak, minta lebih. Mendua niat dan harapan. Jadi sang aku menghabiskan masa tua sendiri, lebih tepatnya menyendiri, menikmati hari-hari, tetangganya meminta bantu, jagain anaknya, karena sedang ada acara, sekali dua ok lah, lalu berlarut dan keseringan. Joseph dan Sam lalu tak bisa ditemukan, bukan salahku, tapi didakwa nirpeduli. Bah! “Tahukah kamu dimana orang tua kami?”

#9. Kambing
Ini kisah tragis. Bagaimana pasangan hidup, sakit kanker, sudah parah. Berobat di banyak tempat, habis banyak biaya, rasa frustasi menghinggapi. Dan mengambil jalan ke dukun. Sang dukun memberi solusi, sakitnya akan ditransfer ke binatang kambing. Kambing yang terlihat polos, dan bermata bulat kelereng itu. Dan terjadilah, sesuatu yang mengerikan. Betapa cinta sejati begitu murni. Begitu cintakah kita pada kehidupan, Ami? // Bukankah kematian adalah alami? / Seperti bunga yang tumbuh lalu layu dan mati. / Apakah tidak mungkin kematian lebih indah dibanding kehidupan?

#10. Kawan Keluarga
MSM: Mirrors, Signal, Manoeuvre… Blind spot…” Persahabatan yang kental. Dave datang berkunjung untuk kesekian kalinya, main catur, buka you tube, seolah rumah ini rumahnya juga. Dave sudah berkali-kali kena check mate, fufufu… dan adegan di Big Hero Six menjadi kasar.

#11. Kembang Api di Stasiun Kereta
Ini juga terhanyut seru. Bagaimana mantan mencoba menggoda, mengajak bertemu lagi setelah sekian purnama terputus. Pengalaman pribadi? Lati dan komedi cinta di stasiun kereta api. Setelah tiga tahun dua bulan satu hari tak jumap dengan Steen, apakah masih sama? Kisah mereka hanyalah sebuah kesalahan. “Apakah ada kemungkinan, sekecil apa pun itu, untuk kamu percaya?”

#12. Lemari Buku Ayah
Sejarah Indonesia tentang masa pembersihan sebagai dalih pembunuhan massa, selalu akan dibuat ceritanya. Kali ini dari sudut sang anak yang kehilangan ayahnya, lemari buku menjadi saksi perjalanan masa. “Untuk sebuah perubahan tentu butuh korban, Bunda.” Dan ending yang membuat pilu.

#13. Lubang Bumi
30 September 1965. Sudah ada telepon genggam. Lubang bumi: sebuah kawah raksasa, dan ia berdiri di pinggirnya. “Aku rela mati untuk melahirkanmu ke dunia. Anakku.

#14. Madonna and Child
Cerita selingkuh yang laik dibalas selingkuh? Cerita mengapa memilih (akan) mendua dengan menyakiti pasangan, dengan penuturan lembut seolah lumrah? Kamu melakukan itu, mengapa saya enggak? Ini bisa jadi pematik sesuatu untuk digunjingkan. Surat Maryam, ayat pertam Kaf. Ha. Ya. ‘Ain. Sad. Lana dan pengelanaan percobaan meneruskan keturunan. Boleh aku berjalan bersamamu Lana?

#15. Mrs. Esa
Orang tua, warga Indonesia yang bermukim dalam keterasingan Inggris. Imigran yang digunjing, perempuan pulang malam sebagai gadis penghibur? Orang-orang tua pemalas yang hanya menengadah uang santunan pemerintah? Bagaimana anak-anak muda, remaja menghadapi orang tua menjadi dasar menjelajah kata. Nyonya Esa dan kekhawatiran lingkungan asing.

#16. Nyonya Whittard dan Kanan-kanak yang Hilang
Musim panas yang hangat. Cerita antar tetangga yang mengharukan. Setelah bertahun-tahun tak berkontak, tetangga itu bertemu saudaranya. The lost children. Keluarga Whittard yang bersatu di usia senja. David dan Donna kini bisa menghabiskan masa bersama lagi. Maya mendengar seksama, apakah ada yang janggal? “Kerap kali saya merasa saya sedang menunggu es krim yang dijanjikan ibu.” Hiks,

#17. Pemungut Kastanye
Ad yang suka makan kastanye panggang, ia sudah bosan rasanya mirip biji semangka yang membosankan. Setelah dua generasi keluarga Ad tinggal di Indonesia, ia menikah denganku, tapi sekarang harus tinggal di sana. Kerinduan kampung halaman, sedikit terobati karena ada perkumpulan para pelajar, saat kelulusan maka aku mendapat kata perpisahan yang berarti pula teman baru. Begitu saja terus… “Bangunlah. Apa tidak ingin ke Brouwesweg 10?

#18. Penghuni Swan Yard
Welcome to our house! It isn’s usually messy like today… it’s worse. Kisah Els dan San yang membeli rumah, tempat tinggal dengan tetangga yang janggal. Ternyata mereka salah investasi, ini bukan kompleks perumahan biasa. Ada kutukan yang mengintai, masa lalu suram. “Kamu terlalu banyak membaca karya-karya Austen.”

#19. Rumah Impian
Perjalanan hidup menyedihkan tanpa ekspresi meluap, sangat menyentuh hati. Hal semacam ini banyak terjadi, pengorbanan anak untuk orang tua, pengorbanan saudara untuk masa depan adiknya, pendidikan dan kelangsungan hidup. Pengorbanan saudara untuk kakak yang tak diperhatikan, pengorbanan tak bertepi. Kohar sang pahlawan, yang sekadar ingin punya rumah sendiri tak cukup mampu setelah segala yang ia perjuangkan selalu ludes atas nama keluarga. “Apa bapak ingin naik haji?”

#20. Sahabat Lama
Sudah bisa menebak akhirnya. Sahabat lama yang miskin, idealis, muda terpisah jarak. Lalu boom, sekembali dan turut bertemu menjadi kaya dan dihormati. Mendadak kaya itu bisa diartinya dua hal: pertama dengan cara korupsi, kedua menang lotere. Sayangnya di Indonesia, judi ilegal, maka bisa dipastikan Fajri akan terjerat KPK. “Jangan cemas, kami akan mengeluarkan Anda.

#21. Satu Jam Menuju Manchester
Cerita perjalanan kendaraan umum menuju Manchester. Ada beberapa pengamatan di sekitar, anak muda yang mendapat tempat duduk yang cuek terhadap orang tua, wanita yang berdiri, memainkan ironi betapa orang tua anak muda itu mengajarkan kebaikan. “Aku sangat hormat pada ibuku, dan selalu mencoba menuruti perkataannya.” Oh, smile you’re on CCTV!

#22. Seekor Capung Merah
Rumi, anak kecil ini dan cerita dengan sahabat bersama rahasia di kala sore, capung yang hinggap dan nuansa tragedi. Dari Mbak Soeplah, saya tahu ada orang jahat di luar sana. Para ninja yang melakukan penculikan. Aku melihat ada seekor capung merah hinggap di rambutnya yang hitam, serupa jepit rambut. Sayap-sayap merah capung itu beristirahat damai di kepala Rumi.

#23. Sudut Wyresdale Road
Pasangan sempurna Bia dan Akan, tampak ideal karena menawan di kedua sisi: penampilan dan otak. Malam itu untuk pertama kalinya listrik padam, dan untuk pertama kalinya juga setelah sepuluh tahun menikah, mereka bertengkar. “Tidak sah kalimat cerai itu kalau bercampur emosi. Untuk bercerai butuh saksi dan pengadilan.” Jadi penasaran kehidupan Titi Kamal dan Christian Sugiono? Sepuluh tahun lalu mereka mencipta kehebohan ketika menikah, sampai pada bilang kesempurnaan cinta. Benarkah?

#24. Wennington
Cerita pelayaran di abad 19. John dan impian pemilik nahkoda Wennington. Memiliki Janet, gadis yang menantinya di kampung halaman selepas berpetualang, tapi saat di Semarang ia jatuh hati dengan gadis lokal. Cinta memang buta, dan kisah romantis itu hanya omong kosong.

#25. Wennington’s Morse
Benarkah bintang-bintang di angkasa kala malam menyapa itu adalah kode morse yang dikirim? Apakah langit itu lautan, mercusuar adalah matahari, bulan adalah lampu kapal? Setelah laut, kita akan sampai di ujung dunia. Apakah kita akan bertemu lagi? “Bukankah kematian juga yang menungguku di ujung lain? di penghujung senja?”

Menikmati kumpulan cerpen memang gampang-gampang susah, ga seperti novel yang memiliki benang terkait sepanjang cerita, cerpen lebih liar dan bebas dengan tema beragam. Seekor Capung sendiri kisah sedih dengan balutan imut, dipilih menjadi judul buku dengan kover ciamik. Tak melulu kesedihan, ada harapan, kesetiaan, dan janji berjuang bersama. Dua puluh lima cerita yang memiliki sejarah penerbitan, tak satupun yang pernah kubaca sebelumnya, jadi ini adalah pengalaman pertama dengan Rilda.

Prediksi: Seperti Gentayangan (Intan Paramaditha) yang berdasar pengalaman hidup di luar negeri, Seekor Capung yang melaju ke daftar pendek, rasanya juga tak akan juara. Sulit memang menjaga konsistensi bagus dalam kumpulan cerita pendek. Dengan tema beragam, diberi kebebasan berkisah tanpa runut sekalipun, Seekor Capung di beberapa bagian memang OK, sangat Ok malah. Bahkan sangat menyentuh, paling realistis dan nyata tentu saja pengorbanan demi keularga hingga tak bisa memiliki rumah sederhana sekalipun, menukil beberapa sejarah menjadikan seolah fiksi, bagaimana era kolonial itu mencipta cinta.

Cerita sedih tanpa perlu uraian air mata, cerita tragedi tanpa perlu darah berserakan, cerita inspirasi tanpa perlu kata-kata motivasi melimpah ruah. Semua mengalir apa adanya, seolah air sungai yang biasa menyapa ranting, menyapu batu kali, atau sesekali ada seekor capung merah yang melintas di atas alirannya. Enam sudah, empat menuju. #KSK2019

Seekor Capung Merah | Oleh Rilda A. Oe. Taneko | Ilustrasi Pata Areadi | Desain cover & layout Team Aura Creative | Penerbit Aura | vii + 250 hal: 13.3 x 20.5 cm | Cetakan April 2019 | ISBN 978-623-211-052-6 | Skor: 4/5

Karawang, 021019-051019-091019 – M2M – Pretty Boy

Bugiali – Arianto Adipurwanto

Maq Kepaq: “Sebenarnya di mana surga neraka itu?” / Bugiali: “Ndak ada surga neraka, kita dapat minum tuak, inilah surga. Neraka itu kalau kita tidak dapat lanjut minum tuak.”

Kumpulan kisah yang berkutat di Lelenggo, kental sekali dengan istilah lokal. Menurut Google Map yang kubuka setelah selesai baca, Lelenggo berada di… , tidak ketemu, tidak ada. Ga tercantum di Google Map. Lha, apakah fiktif? Nope. Saya sampai menghubungi Bung Arianto untuk memastikan apakah ada daerah dimaksud. Ternyata ada. “Lelenggo real mas. Mungkin belum msuk google map karena pelosok.” Lelonggo adalah kampung halaman sang Penulis? Terlahir di Selebung, Lombok Utara.

#1. Suara Dari Puncak bukit
Ini adalah cerita sepasang manusia yang mengeluhkan tempat tinggal yang dirasa dikutuk, bertahun ga punya anak. Maq Colaq dan Naq Colaq yang sedang mau ngopi malah ngerumpi masa-masa yang menyedihkan yang sudah mereka jalani. “Untuk apa gunanya tanah yang luas ini kalau kita ndak punya anak.” Sang istri yang putus asa mengancam bunuh diri, kecewa akan hidup. Pembuka kisah yang janggal, karena kita tak tahu mana yang laki dan perempuan, nantinya setelah beberapa halaman saya pahami bahwa Maq untuk laki, Naq untuk perempuan. Saya pakai analogi Sunda untuk menyapa saja akhirnya, ‘M’ untuk Mang, ‘N’ untuk Neng agar lebih mudah mengingat dan menyerap.

#2. Mantra
Maq Colaq yang seolah terserap dimensi lain. Labu yang memiliki mata, hidung, mulut itu terasa hidup. Ketakutan akan pengaruh mistis, sementara Naq Colaq yang sedang mencari kutu menanyakan ada apa, ia terus saja merancau seolah perang mantra. “Ada apa?”

#3. Malam Ketika Naq Colaq Diusung dengan Keraro Meninggalkan Lelenggo
Naq Colaq yang sakit keras, dibawa ke Lelonggo dengan ditandu bersama warga dan anaknya, Colaq. Malam melewati sungai Keditan bersama iringan suara burung hantu dan dares (burung peliharaan orang yang menguasai ilmu hitam), sampai tengah malam. Anak Colaq, cucu Naq Colaq menyambut. Mereka lalu membuat penangkal racun yang sudah masuk ke tubuh Naq. Siapa yang tega meracun orang tua ini? “Ada babi, ada babi.

#4. Pendea
Pendea adalah orang yang datang setiap musim kopi dengan membawa berbagai macam barang dengan tujuan menukarnya dengan kopi. Ini adalah kisah para pendea yang datang ke rumah Naq Capiq. Kopi di kebunnya sudah habis dipetik, tapi tamu yang datang tak boleh pulang dnegan tangan hampa. Maka berdebatlah ia dengan sang suami. “… Sumpah! Saya akan pindah dari tempat ini. Dari dulu tidak lain yang kita susahkan. Kopi, kopi terus.

#5. Pemburu Musang
Sejak usia sepuluh tahun ia sudah menjadi pemburu musang, hingga kini ia menjadi pemburu yang tak tertandingi. Mampu mengenali bau musang dan mampu melacak keberadaannya. Ia mampu menjadi hantu yang baunya pun tak bisa dilacak oleh musang yang ia akan tangkap. Bugiali, kini ia dalam sekap karena ia malah diburu oleh musang! Dan…

#6. Bugiali
Walaupun kita menderita di dunia, kita harus bahagia di surga. Kematian membuat warga Lelonggo ketakutan, orang kaya diracun karena iri dan ini mencipta kecurigaan sesama warga. Hanya dua orang yang ga takut, adalah Bugiali dan Maq Kepaq. Bugiali yang teramat miskin, tampak bahagia tanpa beban berlebih, dan Maq Kepaq memakan semua makanan yang diberikan warga tanpa prasangka. “Jangan berani lawan saya, saya Bugiali.”

#7. Bagindali
Di Lelonggo, hanya Bugiali yang tidak takut makan di rumah siapapun. Yang lain, bahkan takut makan di rumah mereka sendiri. Mereka percaya bahwa lalat, kutu, semut dan makhluk-makhluk tak terlihat adalah suruhan orang selaq (orang yang menguasai ilmu hitam) yang ingin membunuh mereka. Legenda kehebatan, Bugiali dan Bagindali, siapa nomor satu siapa nomor dua? “… tekecodet tekecodet.”

#8. Mur Monjet
Legenda di puncak Mur Monjet yang dikutuk. Dunia orang mati dan hidup itu beda, apakah surga dan neraka ada? Siapa yang menguasai kita? Tuak! Terus kenapa Bugiali pengen membunuh kita? Karena kita meminum tuaknya. Hentikan!

#9. Sepotong Kisah Bugiali
Ada dua hal yang membuat Bugiali tak terkalahkan, ia bisa berjalan cepat dan ia cepat sekali berbicara. Istrinya, Kirsip banyak yang dikeluhkan warga karena kurang pantas untuk seorang yang cekatan, suka belanja berlebihan. Mereka miskin, pinjaman di mana-mana, sudah banyak menjual barang-barang pribadi, lalu apalagi yang hendak diperdagang? “Kita jual pintu itu.

#10. Puq Bijoq Mencari Tingo
Tingo adalah serangga kecil berwarna merah yang membuat gatal. Puq Bijoq sedang mencari tingo ketika anaknya Bugiali datang, memberi saran pakai minyak tanah aja biar cepat beres. Bugiali mau metik kopi, disembur kata-kata pedas, kopi lagi kopi lagi, dalam ketegangan itu muncullah anak kedua Kecepeh yang membawa bakul yang sedikit, datang bersama bayinya guna memetik kopi. Weleh.

#11. Sabuk Bugiali
Beberapa orang yang yakin bahwa Sudar Gana berhasil merebut sabuk Bugiali. Namun ia masih hidup, legenda kehebatan ini mencipta perseturuan siapa yang paling hebat? Sebagian ibu-ibu juga menakuti anak-anaknya dengan Sudar Gana sebagai raksasa bertanduk, bertaring, berjenggot, bermata lebar dan sebagainya.

#12. Pencuri Kopi
Ini kisah paling lucu nan ironis. Ini cerpen terbaik. Sepasang manusia terpaksa mencuri kopi gara-gara ga punya duit, ga punya duit tapi memaksa beli makanan yang dijual tetangga yang miskin dengan utang, bayar nanti. Dan malam itu mereka terpaksa melakukan kejahatan itu. Puq Mayu jaualan masih banyak, Naq Sukiq yang simpati memborong. Maq Sukiq geram, ga ada duit kok memaksa. Dan malam itu dengan terpaksa mencuri di kebun kopi milik Maq Tegep. Menegangkan. “Nah, kan dapat.”

#13. Ketika Musim Panen Kopi
Rumah Kirsip berada di pinggir jalan, menciptanya ramah setiap ada warga yang lewat guna senyum sapa. Betapa keramahtamahan diagungkan oleh warga sini. Kita tidak bisa hidup kalau tidak ada mereka, mereka itu orang-orang kaya, nasib kita tergantung pada mereka. “…kita membaik-baiki orang berharap kita dibaiki. Betapa hinanya kita.

#14. Kedatangan Jiwar
Nasib orang memang ga ada yang tahu. Jiwar yang dulu miskin kini menjadi terlihat kaya, kedatangannya dengan gaya akan memperbaiki rumah yang memprihatinkan, menawarkan giling kopi gratis karena sudah punya mesinnya, sampai motor barunya siap dipakai. “Saya sekarang ndak menderita kayak dulu. Sekadar makan sehari-hari ndak susah.” Pasangan Sumir dan Kirsip, saudara Jiwar yang miskin menyambutnya dalam masam.

#15. Puq Dusaq yang Tak Kunjung Mati
Orang tua yang sudah sekarat, tak kunjung mati karena dianggap punya gawan, di sini disebut sesangi. Atau memiliki selaq, semacam ilmu hitam yang membuat murka Yang Maha Kuasa. Kondisi ini mencipta Kirsip dalam dilema, menderita mengurus mertua. Banyak gunjingan warga, kasihan dia. Sumir sebagai anak, suatu ketika mendengar kasak-kusuk, ilmunya harus diturunkan dulu kepadanya agar beban orang tuanya lepas. Hiks, “Kasian Kirsip sudah lelah urus mertua, nanti harus urus lagi urus suaminya.”

#16. Sudar Gana
Puq Dusaq yang terkenal abadi, pagi ini ditemukan mati. Legenda Batu anak hebat, itu dicerita bahwa ia ditemukan dalam rempung pisang dalam kemisa. Banyak pertanyaan warga muncul, Puq Dusaq menyebutnya bayi Tuhan yang keluar dari batang pisang. Dari cerita turun temurun, Sudar Gana adalah makhluk pencuri jiwa, tak ada yang bisa kembali jika jiwanya sudah dibawa. “Dia sudah dekat dengan kalian, bersiaplah.”

#17. Upacara Pembakaran Kelor
Kisah Maq Merdip dengan lilitan utangnya. Hingga akhirnya ia tak datang di rapat rutin karena rapat yang sejatinya kesempatan untuk mencicil itu, ia tak sanggup. Maka keputusan bulat diambil, “Ya sudah, kita anggap lunas.” Dilakukan upacara bakar kelor sebagai syarat. Siapa yang bakar? Kirsip. Maka jamu dia nantinya!

#18. Pengisah Kesedihan
Tragedi Maq Dumbeng yang jatuh di Tangkok Binong menjadi buah bibir warga. Sang pencerita dengan sumringah bertutur kisah sedih yang menjadi minat pendengar. Ketika beralih ke kabat baik, antusias mereka redup, tapi ketika gosip ke yang kabar buruk menjadi riuh lagi. Sejak itu, ia memetik pelajaran bahwa para warga tidak suka cerita tentang kebahagiaan.

#19. Empat Orang Pengangkut Kayu Telah Lama Lewat
Hehe, cerita lucu seorang penunggu durian runtuh. Diberikan kepada empat orang pengakut kayu yang lewat, gratis. Lalu ia menunggu di bawah pohon lagi. Ada yang minta lagi, walau niat beli, ia kasih lagi. Ia tunggu lagi, kelamaan, ada yang usul tebang saja. Hah. Sumir, sang penunggu durian jatuh. Lalu cerita ditutup dengan aneh, salah satu pengangkut kayu itu jatuh di Tangkok Binong. Hah…

#20. Kisah-kisah yang Hanyut di Sungai Keditan
Maq Sukiq bercerita kepada Sumir seolah sudah mengenal lama, padahal mereka baru bertemu. Lalu muncullah empat pengangkut kayu dari hutan, saling sapa. Dan betapa bekal itu lebih dari cukup untuk beli beras. Percakapan mereka berdua berakhir dengan nir transaksi, sekadar basa-basi ngalor-ngidul. Mereka benar-benar pergi, seekor capung berwarna merah terbang dan hinggap di atas sebongkah batu. Dan sungai Keditan mengalir seperti biasa.

Kumpulan cerpen yang mengaduk, ga ada konsistensi. Di cerita lain pasangan siapa, di cerita berikutnya berganti padahal nama karakter sama. Berkutat di tradisi warga, seperti tamu yang membawa bekal guna ditukar dengan kopi, tapi saat taun rumah kehabisan memaksa cari, logika anak zaman now pasti tinggal bilang ga ada. Tidak, adat itu tak memperbolehkan seenaknya pulang tangan hampa. Tindak tanduk, sopan santun, adat leluhur masih dijaga. Lalu, Bugiali yang terlihat perkasa-pun terjatuh juga, miskin tanpa beban, hebat dnegan tuak, melegenda, menyatu dengan alam.

Untungnya, penutup buku ini bagus banget. Tiga cerpen terakhir bertautan, saling isi, saling sambung dengan sudut pandang berbeda, dengan inti tukang angkut kayu yang jatuh. Dari sudut pencerita kesedihan, dari sisi penunggu durian runtuh dan penjual yang disapa lewat. Dan sungguh, maha benar sungai Kepidan yang menjadi saksi mati segala peristiwa masa lalu, kini dan akan datang. Sebiasa alirannya yang normal dari hulu ke hilir.

Prediksi: Sebenarnya buku ini sekadar bagus, terlampau mengedepankan kedaerahan, banyak sekali suku kata Sasak yang tertera sampai menyita dua halaman penuh guna penjelasan. Agak mengejutkan, sore ini ketika pengumuman lima besar, Bugiali melaju ke daftar pendek, saya langsung mengucapkan selamat via WA ke Penulis. Karena jadi buku kelima yang kubaca pasca kehebohan Tango & Sadimin yang sedikit berhasil mengembalikan kepercayaan, harap tinggi itu gagal terpenuhi. Jelas Bugiali bukan jagoanku. Seperti Tiba Sebelum Berangkat yang mengejutkan melaju, dan berakhir kalah, saya bisa melihat Bugiali juga tak akan juara 16 Oktober nanti. Bisa melaju sejauh ini sungguh luar biasa, dari Penerbit legendaris Pustaka Jaya, moga jadi pematik kebangkitan.

Bugiali Sehimpun Cerpen | Oleh Arianto Adipurwanto | Penerbit Dunia Pustaka Jaya | Bekerja sama dengan Studio Hanafi | Artwork (kover) Hanafi | Cetakan pertama, 2018 | ISBN 979-978-419-499-7 | Skor: 3.5/5

Karawang, 250919-051019 – Sherina Munaf – Mimpi dan Tantangan

*) diketik dalam dua kali kesmepatan duduk. Tanggal 25 September sore saat pengumuman lima besar muncul, dan dini hari ini 5 Oktober dengan segelas kopi dan kumpulan lagu Sherina Muanf dan Bee Gees.