Pekan 5: Lazio Vs Napoli

Lazio Vs Napoli

Prakiraan formasi
3-4-2-1
Strakosha
Bastos –  De Vrij – Radu
Basta – Parolo – Leiva-Lulic – Leiva – Lulic
Luis Alberto –  Sergej
Immobile
LBP 3-0
Xuel akbar bulan ini. Napoli sedang dalam puncak permainan, Lazio dalam puncak optimistis. Malam ini 01:45 Wib jadilah saksi, siapa yang terbaik?
praptekanthropus erectus
Lazio 1-3 Napoli; Mertens
Di tengah yuforia performa apik, lha kok malah divoor. Main kandang pulak. Hahay, makanan empuk bandar ini bray. Sikat!
Adityanus Marairembessy!
Lazio vs Napoli : 1-2, Callejon
Napoli lagi oke. Lazio lagi oke. Siapapun yang menang oke.
Damar irr
Lazio 2-0 Napoli,  Immobile
Bermodal optimisme tinggi pasukan elang akan menghancurkan Napoli. Kuncinya ada d strategi Simone Inzaghi. Immobile pasti akan berkelok 9 lagi.
Bagas
Lazio 2 – 1 Napoli, Immobile
Diprediksi menjadi penantang gelar musim ini menjadi suntikan moral bagi Elang untuk menggebuk Napoli, skore 2 – 1 layak untuk laga ini, forza Lazio!
Ajie Muserinteristi
Lazio 1-1 Napoli, Immobile
Pembuktian don simone. Pantas tak pantasnya Lazio disebut sebagai kuda hitam. Laga krusial saling berbagi angka.
Takdir
Lazio 3-1 Immobile
Sandungan pertama Napoli adalah Lazio. Martens sedang panas Dybala sedang meluap, Immobile adalah gabungannya. Disaat tim lelah karena jadwal Nani datang siap membackup. Dan saya penasaran dengan Seberapa Vieri Simone Palombi, debut? (revisi)
Arief Arryn
Lazio v Napoli 0-2. Mertens
Tridente Napoli semakin menakutkan. Lazio ingin meneruskan tren positif. Mertens akan kembali menjadi pembeda.
Arifin Panigoro
Lazio 1-0 tampoli. Immobile.
Lajio main tandang. Lajio menang. Om budi girang. Om pulsa om. 🤣
Siska
Lazio 4-2 napoli
Ciro
Ini adalah ujian besar bagi tuan rumah Lazio. Bayang-bayang histori yang tak dapat dibanggakan akan menghantui mereka sepanjang pertandingan. Tapi sepertinya Lazio tetap akan menang 😌
emas agos 24 karat
Lazio 2 – 0 napoli
Gol Nani
Efek kedatangan Nani begitu terasa di squad Lazio. Belum sempat dimainkan saja sudah jumawa di serie A dan EL. Apalagi kalo sudah dimainkan. Fans berharap tuah kejayaan United menular lewat NANI
Karawang, 200917

Iklan

Beautiful Mind – Sylvia Nasar

Sebuah biografi yang indah. Seperti inilah seharusnya perjalanan hidup seorang tokoh dibuat. Detail, seru dan (seolah) tampak mengesankan. Salah satu biografi terbaik yang pernah kubaca. Untuk menuntaskan 600-an halaman ini saya butuh perjuangan. Setahun setengah terbengkelai, awal bulan ini karena sudah diminta balik sama yang punya, saya kebut dan butuh dua hari penuh (16 – 17 Sep 17) untuk menyelesaikan baca. Penuh dalam artian tak membaca cabang buku lain, tak menulis blog dulu dan fokus di libur – efeknya diomel Meyka karena waktu luang pegang buku mulu. Hasilnya? Sepadan, it’s  A beautiful book.
Tentu saja. Ya tentu saja saya tahu kisah John Forbes Nash Jr. – Genius dalam matematika, penemu salah satu teori perilaku rasional, teori permainan, orang dengan visi tentang pemikir ini pertama tahu dari film yang dibintangi Russel Crowe. Ketika memutuskan baca pinjam dari Putri, teman sekantor pun semua (yang tahu) langsung berujar – sudah ada filmnya. Jadi apa yang baru? Apa menariknya? Ternyata banyak. Seperti yang sudah-sudah, buku tentu saja jauh lebih bagus dan berkelas karena media tulisan penjabarannya luas dengan mengajak pembaca melalangkan imaji. Kisahnya panjang. Sangat panjang, dan rasanya hanya cocok untuk pelahap kertas sejati.

John Fobes Nash Jr.  lahir pada 13 Juni 1928 di Bluefield, Virginia Barat. Lahir dari seorang ayah insinyur listrik dan ibu guru bahasa Latin. Memiliki saudara perempuan Martha yang lebih muda dua tahun. Selesai sekolah dengan nilai bagus, ia mendapat beasiswa ke Carnegie. Berikutnya ia melanjutkan pascasarjana, dengan empat pilihan prestise. Awalnya ia akan ke MIT – Massachusetss Institute of Technology yang bergengsi tapi jalan membentuknya ke kampus Princeton. Di sanalah kegilaan pikiran Indah itu dijalani.

Kisah benar-benar menarik era kuliah, pascasarjana dan menjalani profesi awal sebagai pengajar. Nash adalah seorang egois, benar-benar selfish. Omong besar, suka hoperbolis tentang kehebatannya menghitung, penyendiri, introvert, ga asyik. Semua sifat buruk yang tak enak untuk dijadikan sahabat ngobrol sambil ngopi di kafe. Sering meremehkan orang sekitar, bahkan bahasanya yang blak-blakan membuat teman-temannya menjauh. Takut wajib militer sehingga segala daya dan upaya dibuat agar tak dikirim ke Perang Korea. 

Bagian paling memuakkan adalah saat pacar simpanan seorang perawat sederhana Eleanor Stier hamil. Sebagai pria dewasa berpendidikan sejatinya harus menikahi. Nyatanya, ia cuek. Sebagai professor MIT yang disegani, ia malah mengajukan agar nanti saat putranya lahir diberikan kepada keluarga yang mau menampung,  supaya ekonomi lebih terjamin. Di pikirannya bahkan tak ada niat untuk merawat, membiayai atau memikul tanggung jawab. Fak. Padahal ia yang memberi nama dengan ego sama, John David Stier. Eleanor yang lebih tua lima tahun, mengadu ke orang tua Nash: Margaret Virginia Mastin dan John Nash Sr. membuat mereka marah besar dan meminta menikahinya. Namun saat bersamaan kesehatan sang ayah memburuk hingga akhirnya meninggal. 

Lebih parah lagi, suatu hari Eleanor memergoki Nash tidur sama mahasiswi-nya. Marah-marah ke Nash karena tak berperikemanusiaan. Marah kepada Alicia Lopez-Harrison de Larde, sang mahasiswi jurusan fisika. Seorang imigran El Salamon yang lebih cantik dan terlihat cerdas. Dalam posisi seperti ini, wajarnya Alicia mundur dan membiarkan mereka menikah. Tapi tidak, mereka mencipta riak-riak kehidupan menjadi gejolak. Alicia mengundang Eleanor, membuatnya mabuk dan menodong cerita lengkapnya. Dari situ ia tahu, pacar simpanan Nash adalah perempuan biasa yang tak selevel dengan derajat otak mereka dan memutuskan Maju Terus! Gila. Moral sudah ditimbun di tempat sampah.

Menikahlah Nash dengan Alicia dengan acara sederhana di gereja Episkopal di St. John, Washington D.C. dalam suasana mendung. Mulai dari sini cerita kehidupan Eleanor dan anak haramnya mulai disingkirkan, hanya dijelaskan John David dititipkan dari rumah ke rumah dan ibunya berjuang hidup dengan kerja serabutan. Setahun berselang Alicia hamil dan kegilaan Nash mulai tampak. Ada yang bilang Nash menderita skizofrenia gara-gara kehamilan Alicia. Ada juga yang bilang pemicunya kecewa karena seorang mahasiswa Italia berhasil memecahkan persamaan eliptik yang sedang coba diurainya. Konon delusinya juga dipicu ambisi tak berbatas untuk memecahkan hipotesis Riemann yang merupakan sebuah tantangan besar matematikawan. Apalah itu, Alicia yang mulai khawatir suaminya makin menggila, terpaksa mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Tragis, John kedua lahir saat sang ayah dikarantina. Itu artinya kedua anaknya lahir tanpa bisa menemani proses persalinan. 

Seminggu berselang, setelah mengadakan jamuan minum teh yang disebuat Mad Hatter Tea. Nash yang kecewa, mengambil langkah berani dengan mengundurkan diri dari MIT dan pergi ke Eropa. Tujuan? Ingin mencabut kewarganegaraan Amerika-nya untuk menjadi warga negara dunia. Delusi serangan alien dan bahwa ia adalah yang terpilih di jagat raya. 

Oiya, ia pernah juga menjadi karyawan RAND, sebuah institusi eksekutif memecahkan kode yang terhubung dengan Pentagon. Sayangnya ia dipecat dengan tak hormat, gara-garanya ia kedapatan berkencan sesama jenis di suatu dini hari di mana teman kencannya adalah polisi yang menyamar. Kisah penyimpangan seksnya dijabarkan dalam bab padat yang menyakitkan. Bahwa ia memiliki tiga teman istimewa, dan salah satunya yang berinisial ‘B’ yang membuatnya sakit hati hingga menyebutnya iblis. Bagian ini tentu saja menyinggung Alan Turing dari Inggris, seorang jenius bunuh diri gara-gara didakwa bersalah karena homo.

Dan begitulah, setelahnya fokus akan terus memacu personalitas lebih dalam kejiwaan Nash, dirawat dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain. Dari rumah sakit swasta elit, swasta kelas menengah hingga kehabisan dana dan dipindahkan ke rumah sakit pemerintah yang disubsidi. Dari terapi insulin, terapi kejut sampai proses penyembuhan yang memilukan. Kabar duka datang silih berganti. Kematian ibunya, perceraian dan perginya Martha menjauh dengan keluarganya sendiri, membuat ia kini sendiri. Benar-benar sebatang kara mengarungi kerasnya kehidupan. Tapi orang-orang Princeton memberi ruang untuknya, sekedar membaca di Perpustakaan, diterima dengan tangan terbuka di Fine Hall, bermain catur dan memenuhi kebutuhan dasar sebagai balas budi seorang alumni, seorang legenda. 

Tahun 1978 ia mendapat John von Neumann Theory Prize, sebuah penghargaan yang diilhami dari profesornya. Lalu Sampai akhirnya seperti yang kita semau tahu, tahun 1994 menerima Nobel Bidang Ekonomi – Nobel Memorial Prize in Economic Sciences. Menurutku yang paling menyedihkan dari semua kisah ini adalah, saat Nash Jr. ada di puncak, saat ia diakui karyanya dengan ganjaran tertinggi, orang terkasih: orang tuanya sudah tiada. Kalimat umum saat ditanya general apa cita-citamu, ‘membuat bangga orang tua’ itu tak mewujud nyata. Walaupun sang mantan istri akhirnya mendukung, sang adik menemani dan anaknya memaafkan, rasanya ada yang hampa. Ada yang kurang.

Sebagai penemu teori Nash equilibrium, Nash embedding theorem, Nash fuction dan teori Nash-Moser. Nash sesungguhnya kurang lengkap penghargaannya karena penghargaan empat tahunan Medal Field yang bergengsi sebagai matematikawan lepas. Award yang nyaris itu, terlepas dalam momen dramatis sebelum ia diserang skizofrenia, dan dalam pikiran (juri) mungkin empat tahun lagi masih ada peluang dapat kesempatan, sayangnya ia keburu dikirim ke rumah sakit jiwa. Ambisi berlebih memecahkan hipotesis Riemann-lah menurutku yang paling merusak. Kehebatannya (mencoba) mematahkan teori bapak Ekonomi dunia, Adam Smith yang fenomenal – teori Invisible Hand menurutku masih perlu diuji keabsahannya. Kata panitia Nobel bilang butuh waktu setidaknya 50 tahun lagi untuk bisa benar-benar merealisasikan teori Ekuilibrium atau kesetimpangan sebagai solusi ekonomi. Ambisi berlebih, semua butuh waktu. Apapun itu kontribusi Nash memang mewujud, kita hanya bisa berandai-andai ah seandainya ia FIT di usia emas.

Karena buku ini istimewa, maka untuk menyimpan memori dalam blog, saya kutipkan judul bab, kutipan pembuka dari tokoh-tokoh besar beserta sebagian kecil yang menarik di Bab itu.

Sebuah lomba, dan sebuah kemenangan lagi. Syukur atas hati nurani yang kita miliki. Syukur atas kelembutan, keriangan, dan ketakutan yang ditimbulkannya. Apalah kejahatan sekuntum bunga selain diam menunggu mati tanpa ada yang menangisi. – William Wordsworth, “Intimation of Immortality”

Prolog – Sama seperti patung…, sama seperti Newton. Kacamata tebal, wajah pendiam. Yang merenung dan terus merenung. Menjelajah samudera pikiran serba asing, sendirian. – William Wordwoth

Emil Kraepelin yang mendefinisikan kelainan ini pertama kalinya pada tahun 1896 menyebutnya ‘dementia praecox’, penyakit yang bukan meluluhlantakkan akal sehat melainkan menyebabkan kerusakan mendasar pada kehidupan emosional dan kemauan. – halaman 12-13

Bagian Satu – A Beautiful Mind

#1. Bluefield (1928 – 45) –  Aku diajari untuk merasa, mungkin terlalu mendalam. Maka aku jadi kelewat mandiri… – William Wordworth

Bluefield yang diberi nama demikian karena banyaknya ladang chicory (Chicory atau Cichorium intybus adalah sejenis tumbuhan bunga biru asal Eropa dan Afrika, daunnya kerap dijadikan salad). Selain dibudidayakan di ladang-ladang dan lembah-lembah di sekeliling kota kecil pedalaman. – 25-26

#2. Carnegie Institute of Technology (Juni 1945-Juni 1948) – Kala itu sedikit sekali orang mau menjadi ahli matematika. Sama langkanya dengan orang yang mau jadi pianis sebuah konser. – Raoul Bott, 1995

Pada musim semi 1948 – yang merupakan tahun ketiga kuliahnya di Carnegie – Nash telah diterima oleh empat program pascasarjana ternama di Amerika dalam bidang matematika, yakni Harvard, Princeton, Chicago dan Michigan, masuk ke salah satu lembaga pendidikan tinggi tersebut pada dasarnya merupakan sebuah prasyarat untuk karier akademik yang cemerlang di kemudian hari. – 53

#3. Pusat Jagat Raya (Princeton, Musim Gugur 1948) – … sebuah perkampunagn dengan tata upacaranya yang unik. – Albert Einstein. – … pusat matematika di seluruh jagat raya. – Harald Bohn

Kontribusi paling besar, tentu saja adalah bom atom. Wigner di Princeton dan Leo Szilard di Colombia menyusun sebuah surat lalu mereka bawa kepada Einstein untuk ditandatangani, yang mengingatkan Presiden Roosevelt bahwa seorang fisikawan Jerman, Otto Hahn di Kaiser Friedrich Institute di Berlin telah berhasil membelah atom uranium. Lise Meitner, seorang Yahudi Austria yang melarikan diri ke Denmark melakukan perhitungan matematis tentang bagaimana sebuah atom dapat dibuat dari penemuan-penemuan tersebut. Niels Bohns, fisikawan Denmark berkunjung ke Princeton pada tahun 1939 lalu menyebarluarkan kabar itu. “Justru merekalah, bukan ahli-ahli kelahiran Amerika yang pertama kali menemukan implikasi militer atas pengetahuan baru ini,” tulis Davies. Presiden Roosevelt menanggapi dengan menunjuk sebuah dewan penasehat untuk urusan uranium dalam bulan Oktober 1939, dua bulan sebelum perang pecah, yang akhirnya berkembang menjadi Proyek Manhattan. – 68

#4. Sekolah Para Genius (Princeton, Musim Gugur 1948) – Bincang-bincang menambah pengetahuan, tetapi hening adalah ciri para genius. – Edward Gibbon

Melvin Hauner belakang berujar, “Anda datang ke sana untuk bicara soal matematika. Mengungkapkan gosip Anda sendiri. Bertemu dengan dosen. Bertemu dengan teman-teman. Membicarakan pemecahan masalah matematika. Berbagi bacaan seputar matematika terkini.” – 80

#5. Genius (Princeton, 1948 – 49) – Untunglah aku tidak membiarkan diriku terpengaruh. – Ludwig Wittgentein

Einstein belum pernah bisa ‘menerima bahwa jagat raya terfragmentasi atas relativitas di satu sisi dan mekanika kuantum di sisi lain.’ menjelang ulang tahunnya yang ke tujuh puluh tahun ia masih mencari seperangkat alat tunggal, konsisten, yang berlaku untuk semua gaya dan partikel yang berbeda-beda di jagat raya dan sesungguhnyalah ketika itu ia sedang menyiapkan sebuah makalah yang belakangan menjadi makalah terakhirnya – teori medan terpadu (unfied field theory). – 90

#6. Permainan (Princeton, Musim Semi 1949)

Permainan ‘John’ atau ‘Nash’ merupakan sebuah contoh indah permainan zero-sum untuk dua orang dengan informasi selengkapnya yang memungkinkan seorang pemain selalu memiliki strategi untuk menang (zero-sum: situasi yang menyebabkan keunggulan pada salah satu pihak sudah pasti mengharuskan pihak lain kalah). Catur dan tic-tac-toe juga permainan zero-sum untuk dua orang dengan informasi lengkap tetapi keduanya masih masih bisa berakhir dengan kedudukan seri. ‘Nash’ benar-benar permainan topologi. ‘Anda dapat berjalan kaki dari Meksiko ke Kanada atau berenang dari California ke New York, tapi tidak dapat melakukan keduanya sekaligus.” Itu menjelaskan mengapa tidak pernah ada kedudukan seri, bahkan jika kedua pemain mencoba mengalah, salah satu dari mereka pasti menang, suka tidak suka. – 101-102

#7. John von Neumann (Princeton, 1948 – 49)

Apapun yang disentuh oleh von Neumann terimbas oleh daya pikatnya. Dengan keberaniannya masuk bidang-bidang yang jauh dari matematika. Ia mengilhami para genius muda termasuk Nash untuk berbuat serupa. Pendekatannya merupakan lampu hijau bagi gerenasi muda yang berbakat menjadi pemecah masalah, alih-alih hanya ahli dalam kejuruan masing-masing. – 109

#8. Teori Permainan – Penemuan teori-teori yang sengaja sangat disederhanakan merupakan salah satu teknik penting dalam sains, khususnya ‘ilmu-ilmu pasti’ yang memanfaatkan analisis matematika secara ekstensif. Apabila seorang ahli biofisika dapat memanfaatkan model-model yang disederhanakan untuk sel, begitu pula ahli ruang angkasa dapat menggunakan model-model yang disederhanakan untuk jagat raya, maka masuk akal jika permainan yang disederhanakan juga dapat digunakan sebagai model-model untuk konflik-konflik yang rumit. – John William, ahli strategi

Bagi matematikawan muda ambisius macam Nash, celah dan cacat pada teori von Neumann sama menantangnya dengan ketiadaan ether sebagai media perambatan gelombang cahaya yang pernah dirasa janggal oleh Einstein muda. Nash langsung memulai memikirkan masalah yang menurut von Neumann dan Morgenstern merupakan batu ujian paling penting bagi teori tersebut. – 116

#9. Masalah Tawar-Menawar (Princeton, Musim Semi 1949) – Bagaimanapun, kami berharap bisa mendapatkan pemahaman yang sesungguhnya atas masalah pertukaran dengan mempelajarinya dari sudut yang berbeda sama sekali, yakni dari perpektif ‘strategi permainan’.” – Von Neumann dan Morgenstern, The Theory Of Games and Economic Behavior, edisi kedua, 1947

Ingat bahwa Edgeworth pernah menyebut masalah kontrak sebagai sesuatu yang ‘tak tertentukan’ atau ‘indeterminate’. Dengan kata lain, jika yang diketahui tentang seorang perunding hanyalah kesukaannya (preferensinya), orang tidak dapat meramalkan interaksinya atau cara yang diusulkannya untuk berbagi kue. Alasan ketakteraturan itu tampaknya sesuatu yang jelas bagi Nash. Baginya, masalah yang pokok adalah ketiadaan informasi yang memadai, oleh sebab itu orang harus menambah asumsi-asumsi tambahan. Teori Nash mengasumsikan ‘kedua individu mempunyai peluang untuk kerja sama yang sama-sama menguntungkan lewat lebih dari satu cara.’ Yang menghebohkan dari makalah Nash adalah bukan tingkat kesulitannya atau kedalamannya atau bahkan keanggunan dan generalisasinya, melainkan karena makalah itu menyediakan jawaban atas sebuah masalah penting. Jika Anda membaca makalah Nash saat ini, Anda akan tersentuh oleh originalitasnya. Gagasan seolah datang begitu saja. Padahal yang terjadi tidak demikian. – 120-121

#10. Gagasan dan Tandingan Nash (Princeton, 1949-50) – Saya memainkan permainan non-kooperatif guna menandingi von Neumann alih-alih untuk mendapatkan dukungan. – John F. Nash Jr, 1993

Ia mengatakan kepada Nash tentang keyakinannya bahwa Nash sudah menggenggam sebuah tesis yang cemerlang di tangannya. Akan tetapi lebih dari itu, ia mendesak Nash untuk mengumumkan temuannya sebelum orang lain memunculkan gagasan serupa. Gale mengusulkan meminta tolong kepada seorang anggotan National Academy of Sciences agar menerbitkan pembuktian Nash dalam buletin bulanan lembaga itu. “Ia polos sekali, tidak pernah terpikirkan olehnya untuk membuat demikian. Maka ia menyerahkan pembuktiannya dan saya menulis pengantar kecil untuk NAS.” Lefschetz langsung mengirimkan catatan itu dan sudah muncul dalam buletin terbitan November. “Saya langsung tahu, itu sebuah tesis. Tapi saya tidak menyangka bahwa kelak itu menghasilkan Nobel.” – 127-128 

#11. Llyod (Princeton, 1950) – semua matematikawan hidup dalam dua dunia berbeda. Mereka hidup dalam sebuah drama mirip kristal dengan bentuk-bentuk platonik yang sempurna. Sebuah istana es. Akan tetapi mereka juga hidup di dunia biasa yang segala sesuatunya serba sementara, serba mendua, selalu siap untuk berubah. Matematikawan terus berpindah-pindah dari dunia satu ke dunia yang lain. Mereka orang-orang dewasa dalam dunia mirip kristal, namun bayi-bayi tak berdaya dalam dunia nyata. – S. Cappel, Courant Institute of Mathematics, 1996

Persahabatan antara sesama pria selalu berujung dengan persaingan. – 138

#12. Perang Antar Orang Pintar (RAND, Musim Panas 1950) – Oh, the Rand corporation is the boon of the world | They think all day for a fee | They sit and play games about going up in flames | For counters they use you and me, Honey Bee | For counters they use you and me. – Malvina Reynolds, ‘The RAND Hymn’, 1961

Kalau tidak sedang menggigit-gigit cangkir kopi, ia berjalan bersiual, sering dengan nada lagu yang sama, yakni The Art of the Fugue ciptaan Bach, berulang-ulang. – 154

#13. Teori Permainan Di RAND – Kami berharap (teori permainan) akan berhasil, sebagaimana pada tahun 1942 kami berharap bom atom akan berhasil. – Ilmuwan anonim di Pentagon kepada Fortune, 1949

Kabar tentang hasil kesetimpangan Nash juga mengilhami kebanyakan strategi permainan paling terkenal di semua bidang ilmu sosial. Dilema Tahanan (Prisoner’s Dilemma). Dilema Tahanan sebagian ditemukan di RAND, beberapa bulan sebelum kedatangan Nash, oleh dua orang matematikawan RAND yang menanggapi gagasan Nash lebih dengan sikap skeptis ketimbang menghargai revolusi yang akan diilhami oleh gagasan Nash. Dalam cerita Al Tucker itu polisi menangkap dua orang tersangka dan menanyai mereka di ruang terpisah. Masing-masing diberi pilihan untuk mengaku, melimpahakn kesalahan kepada pihak tersangka lain, atau diam seribu bahasa. Yang menjadi pokok masalah dalam permainan ini adalah bahwa apapun yang diperbuat oleh tersangka lain, masing-masing (secara sendiri-sendiri) akan merasa lebih baik mengaku. Jika tersangka lainm mengaku, tersangka pertama sebaiknya berbuat serupa dan karean itu terhindar dari hukuman lebih berat karena menyembunyikan kebenaran. Jika tersangka lain tutup mulut, ia berpeluang mendapatkan perlakuan lebih ringan karena bertindak sebagai saksi. Pengakuan merupakan strategi yang dominan. Ironisnya adalah kedua tersangka (diperiksa bersama-sama) akan merasa lebih baik tidak mengaku – yakni, jika mereka dapat kerja sama- tetapi karena masing-masing sadar tentang keuntungan tersangka lain jika mengaku, solusi yang ‘rasional’ adalah jika keduanya mengaku. – 162

#14. Wajib Militer (Princeton, 1950-51)

Ia bertekad melakukan apapun untuk menghindari wajib militer. – 170

#15. Teorema Yang Indah (Princeton, 1950-51)

Sebagaimana orang biologi ingin menemukan berbagai spesies dengan perbedaan yang hampir tidak bermakna sekedar untuk melacak pola evolusi, begitu pula matematikawan mencoba mengisi celah-celah dalam kontinum di antara ruang-ruang topologi yang polos di ekstrem satu dan varietas-varietas aljabar berstruktur sangat pelik di ekstrem lain. “Anda dapat naik anak tangga ke salah satu anak tangga kemudian menggunakan teknik-teknik dari geometri aljabar.” – 181

#16. Massachusetss Institute of Technology

Levinson merupakan pelopor teori persamaan diferensial parsial, pemenang Bocher Prize dan penemu sebuah teorema penting dalam teori kuantum untuk partikel-partikel yang menyebar. Yang paling mempesona ketika usianya awal enam puluhan dan telah menderita tumor otak yang akhirnya merenggut nyawanya, Levinson meraih prestasi paling penting dalam kariernya, yakni menemukan solusi untuk beberapa soal dalam Hipotesis Reitmann yang terkenal. Dalam banyak hal, Levinson dalam tokoh teladan bagi Nash. – 192

#17. Anak-Anak Bengal – Orang memandanganya sebagai anak bengal, tetapi ia anak bengal yang istimewa. – Donald J. Newman, 1995 – Orang Besar… biasaya orang yang dingin, keras, tegas, dan tidak takut ‘pandangan orang lain’; ia tidak begitu peduli soal tata krama, juga tidak suka sok suci. Jika orang sulit memahami jalan pikirannya, ia memilih berangkat sendiri.. ia sadar tidak boleh sembarangan bicara: memang susah menjadi orang terkenal… kecuali sedang bicara sendiri, ia lebih suka menyembunyikan perasaannya. Ada semacam kesepian dalam dirinya yang tidak dapat dijangkau entah untuk dipuji atau dipersalahkan. – Frederich Nietzsche, The Will to Power

Sayangnya Nash menjatuhkan matematikawan lain membuatnya memperoleh julukan ‘Gnash’. ‘G’ di situ jelas sekali genius. – 204

#18. Eksperimen (RAND, Musim Panas 1950)

“Mengenai cinta, aku tahu konjungsi Latin untuk kata kerja amare; amo, amas, amat, amamus, amatis, amant. Agaknya amas juga bentuk imperatif, love! Barangkali orang harus maskulin sekali untuk menggunakan imperatif itu. – 212

#19. Bahaya Merah (Musim Semi 1953) – Sekarang, satu-satunya yang menurut saya sebuah kabar baik sekali bagi komite, jika Anda dapat menjelaskan kepada mereka… Doktor… perihal kenyataan terlalu besarnya persentase orang komunis di MIT? – Robert L. Kunzig, Counel, HUAC, 22 April 1953

Baginya diskusi tentang moralitas itu sebuah kemunafikan. – 216

#20. Geometri – Karya metematikawan terdiri atas dua macam: karya yang penting bagi sejarah matematika dan karya yang membuktikan semangat seorang anak manusia. – Paul J. Cohen, 1996

Matematika sering disebut sebagai bidang yang membuat orang terpencil. Akan tetapi saat seorang matematikawan serius mengumumkan bahwa ia telah menemukan solusi untuk sebuah soal penting, sekurangnya ada seorang matematikawan serius lain dan kadang-kadang beberapa, seperti tradisi yang telah berjalan ratusan tahun, akan dengan sengaja menyisihkan pekerjaan mereka sendiri, kadang-kadang sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk melancarkan dan meluruskan segalanya. – 226

Bagian Kedua – Dua Kehidupan Yang Terpisah

#21. Singularitas – Nash menjalani semua kehidupan yang terpisah ini. Betul-betul kehidupan yang terpisah. – Arthur Mattuck, 1997

Dalam lima tahun yang terasa singkat antara usia dua puluh empat dan dua puluh sembilan tahun, Nash mempunyai hubungan emosi dengan sekurangnya tiga pria. Ia berhubungan gelap dengan seorang wanita, kemudian meninggalkannya kendati melahirkan anak. dan berpacaran dengan – atau lebih tepat, dipacari oleh – seorang wanita yang kemudian menjadi istrinya. – 234

#22. Persahabatan Istimewa (Santa Monica, Musim Panas 1952) – Jauh dari kontak dengan beberapa orang yang sangat khusus membuat aku seperti tersesat, aku tahu arah… maka, dalam banyak hal ini hidup ini terasa berat sekali. – John F. Nash, Jr., 1965

Setelah Nash kehilangan segala-galanya – keluarga, karier, kemampuan matematika – ia mengaku dalam sebuah surat kepada adiknya Martha bahwa hanya tiga orang dalam hidupnya yang pernah mengantarkan ke suatu kebahagiaan sejati: dengan tiga ‘orang sangat khusus’ inilah ia telah membentuk ‘persahabatan yang istimewa’.

#23. Eleanor – Matematikawan adalah orang yang sangat eksklusif. Mereka menempati suatu daratan yang sangat tinggi, dan memandang rendah semua orang lain. Itu membuat hubungan mereka dengan perempuan sangat rumit. – Zipporah Levinson, 1995

Pada akhirnya Eleanor mengaku, “Ia ingin menikah dengan gadis yang betul-betul cerdas. Ia ingin menikah dengan seseorang yang setara dengannya.” – 249

#24. Jack

Yang tertulis di situ pun hanya ‘No to No’ dan tampaknya merupakan jawaban Nash setelah Bricker menjawab ‘No’. “Dear Mattuckine, tampaknya jelas Mr. B yang telah memberiku luka hati paling dalam.” – 256

#25. Ditangkap Polisi (RAND, Musim Panas 1954)

“Kenyataannya bahwa Anda telah dituduh menjadikan Anda tidak mungkin terus berada di sini.” – 261

Alan Turing, genius matematika yang berhasil memecahkan sandi kapal selam Nazi, ditangkap, diadili, dan dinyatakan bersalah berdasarkan undang-undang antihomoseksual Inggris tahun 1952; ia bunuh diri pada musim panas 1954 dengan memakan apel yang diolesi sianida di laboratoriumnya. – 264

#26. Alicia – Ia memiliki tekad yang membaja, itu yang kusukai. Dan yang menarik sekali, ia senantiasa mempunyai rencana dan tujuan. – Emma Douchane, 1997

Sayangnya, gadis romantis dengan lagu kesukaan ‘Lady of Spain’ itu ternyata harus menghilang dalam penderitaan berat hanya dalam beberapa tahun setelah itu. – 278

#27. Pacaran

“Yang kami butuhkan inginkan adalah gairah intelektual. Ketika pacar saya berkata kepada saya e sama dengan l untuk pi minus 1, saya merasa bergetar. Saya merasa bahagia sekali.” – 282

#28. Seattle (Musim Panas 1956)

Eleanor Stier telah menghubungi mereka dan bercerita bahwa ia telah memberi mereka seorang cucu, kata Virginia. Itu sebuah kejutan yang sangat besar. “Jangan pulang. Pergilah langsung ke Boston dan bereskan urusan ini. Nikahi perempuan ini.” – 290

#29. Kematian dan Pernikahan

Nash, yang saat itu ateis tidak suka dengan upacara gerejani itu. Sebenarnya ia lebih suka menikah di catatan sipil. – 297

Bagian Ketiga – Api Kecil Yang Terus Menyala

#30. Olden Lane dan Washington Square (1956-57) – Gagasan matematika berawal dari uji empirik… namun bagitu lahir si subjek menjalani hidupnya sendiri yang khas dan lebih baik dibanding gagasan kreatif yang hampir sepenuhnya diatur oleh motivasi-motivasi estetik… sewaktu suatu disiplin matematika mengembangkan sejarahnya atau setelah sekian kali menjalani persilangan sedarah yang ‘abstrak’ (ia) mulai terancam degenerasi… kapan pun tahapan ini tercapai, obat satu-satunya menurut saya adalah meremajakannya dengan kembali ke sumber semula. Mengisinya kembali dengan gagasan-gagasan yang kurang lebih empirik. – John von Neumann

Ternyata saya mengalami semacam kesialan nasib karena tanpa informasi yang memadai tentang kegiatan orang lain di bidang tersebut, secara kebetulan saya mengerjakan sesuatu yang sama dengan Ennio De Giorgi dari Pisa, Italia. Dan ternyata De Giorgi lebih dulu berhasil mencapai puncak gunung itu (memecahkan soal secara figuratif) setidaknya untuk kasus ‘persamaan eliptik’ yang kala itu menjadi sorotan. – 309

#31. Seperti Membuat Bom Atom – Apa salahnya menjadi penyendiri dan inovator? Bukankah itu bagus? Bagaimanapun sang genius yang kesepian mempunyai hasrat dan perasaan sama seprti orang lain. Kalau hanya dalam taraf praktikal IPA di SMU, kegagalan mungkin bukan masalah. Akan tetapi dalam kesendirian seseorang mengalami kekecewaan dalam perkara besar, itu sesuatu yang mengerikan, dan kengerian dapat berkembang menjadi depresi. – Paul Howard, McLean Hospital

“Pada tahun 1962, Fields untuk Nash menjadi mustahil. Itu tak mungkin lagi. Bahkan saya yakin tak ada seorang pun yang mengingatnya.” – 318

#32. Rahasia (Musim Panas 1958) – Betapa terkejut ketika aku sadar bahwa aku tahu segalanya; seolah segala sesuatu terungkap di hadapanku, seolah semua rahasia yang ada di dunia milikku selama beberapa jam itu. – Gerard De Nerval

“Apa? Sudah tiga puluh tahun, dan belum ada penghargaan, belum ada penawaran dari Harvard, jabatan tetap pun belum? Dan engkau masih menganggap diri matematikawan besar? Seorang genius? Ha ha ha!” – 323

#33. Skema (Musim gugur 1958) – Pertumbuhan kesadaran menghadirkan bahaya sekaligus penyakit. – Frederich Nietzshe

Cohen kepada Nash: “Teorema keliru mana lagi yang kamu buktikan hari ini?”

#34. Kaisar Antartika – Ada ranting-ranting kering. Yang kapanpun siap untuk terbakar. – Joseph Brenner, psikiater, Cambridge, Massachusetts, 1997

Kata Shapiro, “Saya ingat pernah mendengar bahwa ia tertarik sekali pada bilangan prima. Reaksi semua orang kala itu adalah jika Nash lari ke teori bilangan, berarti para pakar teori bilangan wajib waspada. Semua mengharapkan kejutan.” – 347

#35. Di Pusat Badai (Musim Semi 1959) –  Tak kala badai dasyat itu datang. Kita memegang apapun yang kita miliki. Jangan sampai hilang semuanya. – Alicia Nash

Nash sangat sakit. – 354

#36. Hari-Hari Di Bowditch Hall (McLEan Hospital, April – Mei 1959) – Beginilah hari-hari di Bowditch Hall, McLean – ‘Walking in the Blue’, Life Studies. Robert Lowell

Semua orang menaruh harapan yang besar sekali. Optimisme memang merupakan bagian tak terpisahkan dari ‘zaman keemasan psikoanalitik’ di McLEan. – 364

#37. Mad Hatter’s Tea (Mei-Juni 1959)

Itu salah satu malam paling menyedihkan yang pernah saya alami. Saya memenuhi undangan mereka dan di sana ada Alicia, bayi, dan ibu Alicia. Perilaku John kala itu aneh sekali. Setiap kali John berdiri, ibu Alicia ikut berdiri menjaga di antara bayi dan John. Mereka seperti pasangan yang sedang berdansa. – 372

Bagian Keempat – Tahun-Tahun Yang Hilang

#38. Warga Negara Dunia (Paris dan Jenawa. 1959-60) – Ada tugas sulit di hadapanku dan telah kuabdikan seluruh hidupku demi tugas ini. – K, dalam The Casstle, Franz Kafka. – Aku seolah berada di tengah sesuatu yang serba agung, serba indah dan memanjakan khayalku sendiri. – Percy Bysshe Shelley, “Mont Blanc”

Seperti tokoh K, Nash menemukan diri terperangkap dalam sebuah situasi serba rumit serba salah dengan tumpukan kertas tak berujung… dengan mesin raksasa pengedar kertas… sebuah dunia berserak kertas, darah putih birokrasi… menjadi budak kekuatan-kekuatan luar kendali, sekaligus mengalihkan perhatiannya ke hasrat-hasrat hati yang serba membingungkan. – 386-387

#39. Nol Mutlak (Princeton, 1960)

Sehari atau dua hari sebelum polisi menangkapnya, Nash muncul di kampus dengan bekas cakaran di tubuhnya. “Johann von Nassau anak nakal.” Katanya dengan mimik sangat menakutkan. “Mereka akan datang menangkapku.” – 406

#40. Menara Keheningan (Trenton State Hospital, 1961) – Dalam ketenangan di tengah panorama paling indah di lembah sungai Delaware, terpadu seluruh kekuatan seni dna keterampilan manusia yang diharapkan mampu memanjakan, menenangkan dan memulihkan para cerdik pandai yang berkumpul dalam kebingungan di dalamnya. – Laporan tahunan pertama New Jersey State Lunatic Asylum, 1848

Aku seperti dibiarkan membusuk di ‘Menara Keheningan’ menjadi sasaran empuk burung-burung pemangsa yang terus mencabik, mengoyak organ vitalku. – John Nash, 1967

“Nash dulu pasien saya,” kenang Baumecker. “Ia tak menyukai saya hanya karena nama saya diawali dengan huruf ‘B’. Ia merasa anti sekali dengan huruf ‘B’.” – 410

#41. Selingan Rasionalitas Yang Paksakan (Juli 1961 – April 1963) – Ketika saya dirumahsakitkan cukup lama…, saya akhirnya melepaskan hipotesis-hipotesis selama delusi itu dan kembali ke pola pikir semula sebagai manusia yang konvensional. – John Nash, autobiografi untuk Nobel, 1995

‘Apa yang engkau butuhkan?’ tanya saya. ‘Saya buth garam dan lada.’ Setelah membubuhkan garam dan lada ke dalam tehnya, ia mengeluhkan tehnya yang terasa sangat tidak enak. – 424

#42. Masalah ‘Blowing Up’ (Princeton dan Carrier Clinic. 1963-65)

‘Saya  minta alamat Jean Cocteau dan Andre Gide. Saya harus menyurati meraka.’ Saya pelan-pelan memberitahukannya bahwa Gide amaupun Cocteau sudah meninggal dan menyurati mereka yang sudah pasti sia-sia. Mendengar itu Nash merasakan kekecewaan yang berat sekali. – 441

#43. Sendiri (Boston, 1965-67)

“Banyak kantong lipat, bertumpuk, juga kotak-kotak sereal. Tak terlalu buruk, tapi itu tanda bahwa ia sakit.” – 458 

#44. Kesepian di Dunia Serba Asing (Roanoke, 1967-70) – and then a plank in reason, broke, | and dropped down, and down – | and hit a world, at every plunge… |–| Tiba-tiba, bilah papan pembentuk Nalar itu, patah, | Terus jatuh, terempas, ke bawah… | Memukul, menghantam, membentur, menghujam… – Emily Dickson, Number 280

“Kepalaku seolah-olah sebuah balon yang hampir meletus, penuh suara serba membingungkan.” – 467

#45. Phantom of Fine Hall (Princeton, 1970-an) – Banyak Kegilaan ternyata indera paling Ilahi, ‘Tuk Mata yang sungguh keji … – Emily Dickson, Number 435

Nash tertarik kepada agama Zoroaster. Zarathrustra adalah nabi bagi orang Iran di masa lampau. Ia bukan orang gila. Ia bukan orang yang ‘mempunyai unta kuning’ (ungkapan orang Iran untuk orang tak waras). Agama yang diperkenalkan mempunyai tiga prinsip: perbuatan baik, pikiran baik, tampilan wajah baik. Api dianggap suci. Cahaya dan kegelapan terus berseteru. Api selalu menyala di kuil Zoroaster. Mereka hanya menyembah satu Tuhan. – 480

#46. Kehidupan Yang Tenang (Princeton, 1970-90) – Aku diberi tempat bernaung di sini, maka tak harus menjadi gelandangan. – John Nash, 1992

“Anda pasti pernah mendengar tentang ayah saya. Ia yang memecahkan teorema pembenaman.” – 491

Bagian Lima – Yang Paling Berharga

#47. Remisi – Kita semua maklum, ia pernah sakit lama sekali, tapi sekarang ia sehat. Bukan berkat terapi ini atau itu, melainkan semata-mata karena boleh menjalani hidupnya secara tenang. – Alicia Nash, 1994

Dan ia merupakan salah seorang dari hanya segelintir penderita skizofrenia parah yang lama kemudian mengalami remisi yang dramatis. – 500

#48. Hadiah – Anda harus menunggu lima puluh tahun untuk mengetahuinya (kisah tentang penghargaan untuk Nash). Kami tidak akan pernah mengungkapkannya sekarang. – Carl-Orlof Jacobson, sekretaris jenderal, Royal Swedish Academy of Sciences, Februari 1997

Mereka memutar nomor Selter dahulu karena ia berada di Jerman dan, tidak seperti Nash atau Harsanyi, sudah pasti tidak sedang tidur. Ternyata, Selter sedang berbelanja. Jacobson kemudian mencoba Harsanyi, ketika telepon tersambung dengan cepat Maler yang kenal baik mulai bicara menyakinkannya bahwa Jacobson bukan salah seorang mahasiswanya atau lebih buruk lagi seorang wartawan yang mencoba mempermainkannya. Nash menjadi yang terakhir dihubungi. “Di luar dugaan ia tenang sekali.” Katanya setelah pembicaraan selesai. “Setidaknya itulah yang kurasakan. Ia menerimanya dengan tenang sekali.” – 534

#49. Lelang Paling Akbar Sedunia (Washington, D.C., Desember 1994)

“Akhirnya kita menyaksikan perwujudan potensi sejati revolusi yang dahulu dimulai von Neumann dan Morgenstern. Dan karena kebanyakan penerapan teori permainan dalam ilmu ekonomi menggunakan konsep kesetimbangan Nash, sumbangan Nash adalah penyediaan titik tinggal tinggal landas semua tadi.” – 537

#50. Kebangkitan (Princeton, 1995-97)

Matematika adalah permainan kaum muda. Namun permainan ini tak memberi kesempatan barang sedikit pun untuk merenung dan mengagumi kesitimewaannya begitu keasyikan melumat… sampai memasuki masa sarat kebosanan tak berujung. – Norbert Weiner

“Masa ketika aku mengalami serangan-serangan delusi sudah berlalu, tapi bagi anakku masa itu adalah sekarang.” – 549

Epilog – Princeton Junction, New Jersey, 1 Juni 2001

Ketika Nash pertama bertemu Russel Crowe ia berkata, “Anda akan harus melewati semua tranformasi ini!” Bahkan selama tiga tahun sejak buku ini diterbitkan, transfromasi dalam kehidupan nyata Nash sama menakjubkan dengan yang digambarkan Crowe di layar lebar. – 559

Jelas ini adalah salah satu biografi terbaik yang pernah saya baca. Sylvia sering kali menyebut Nietzsche, menyebut karakter novel-novel Franz Kafka dari K hingga sang kecoak, sampai mengutip William Wordsworth. Buku tentang matematikawan namun tak banyak teori angka yang memusingkan. Bagus sekali tak membuat kening berkerut sehingga cocok dibaca untuk umum. Biografi paket lengkap dan akurat karena dilengkapi wawancara orang-orang sekitar lalu disisipi dengan foto. Hebat, ini baru biografi. Tak heran buku sempurna ini menang National Book Critics Award tahun 1998 dan jadi finalis Pulitzer Prize.

Terakhir sebelum saya tutup. Ini kabar terbaru takdir Nash Jr. sehingga tak ada dalam buku. Sang professor dan istrinya pada hari Sabtu tanggal 23 Mei 2015 meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas saat naik taksi. Mereka meninggal di tempat kejadian, taksi yang mereka tumbangi melaju tak terkendali saat mencoba mendahului kendaraan lain, menabrak pagar pembatas dan mobil dari lawan arah hingga terhenti di pos penjaga rel kereta api. Pengemudi Tarek Girgis menderita luka parah dan dilarikan ke rumah sakit Robert Wood Johnson University. Nash Jr meninggal di usia 86 tahun, Alicia 82 tahun. Selamat jalan Legend. Warisanmu kan dikenang sepanjang masa.

A Beautiful Mind: Kisah Hidup Seorang Genius Penderita Sakit Jiwa Yang Meraih Hadiah Nobel | by Sylvia Nasar | diterjemahkan dari A Beautiful Mind | copyright 1998 | alih bahasa Alex Tri Kantjono W. | GM 204 05.039 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama |desain sampul Sofnir Ali | setting Sukoco | arranged with the Robbins Office, Inc through Tuttle-Mori Agency Co. Ltd | ISBN 979-22-1464-X | Skor: 5/5

Karawang, 190917 – Coldplay – Till Kingsom Come – HBD Mbakku yang cantik Purwati

Thx to Putri Wewa yang sudah dengan sabar meminjami buku ini setahun setengah lebih. Tri HH yang sudah menjadi kurir pinjam-balik. Kalian luar biasa.

Pekan 4: Genoa Vs Lazio 

Genoah vs Lazio 

Prakiraan Formasi
3-5-1-1
Strakosha
Bastos – De Vrij –  Radu
Basta –  Murgia –  Leiva –  Sergej –  Lulic
Luis Alberto
Immobile

LBP
0-3
TAK ADA YANG MUSTAHIL. Di Luigi Ferarris kita tak pernah menang sejak… Kapan ya. Saking lamanya sampai lupa. Tapi di tangan Inzaghi semua seakan ada yang pertama. Inilah saatnya. Ayo Lazio.

Adithandro Nista
Genoa vs Lazio : 1-3, Immobile
Lazio sedang ON. Gaya main tidak monoton. Om Budi dilarang nonton.

bagas
Genoa vs Lazio : 1 – 4, Immobile
Lazio dalam tren  bagus, ayo Immobile hettrik lagi, forza elang!

arifin panigoro
Genoa 1 v 1 Lazio. Immobile.
Lajio main tandang. Hasil imbang. Pulsapun datang.

DC
Genoa 1-0 Lazio
Galabinov
Main kandang. Genoa bakal menang tipis. Cukup 1-0 saja

I’m a Muser
Genoa 1-2 Lazio, Immo
Lazio masih dalam kepercayaan diri tinggi usai pekan lalu sukses membantai tim kaya mendadak Milan. Meski main tandang rasanya tak sulit utk Lazio meraih setidaknya satu tren kemenangan lagi. Pekan ini masih milik Lazio sepenuhnya.

JK
Genoa 1 – 1 Lazio, Laxalt
Genoa meski dipapan bawah ga mau kehilangan muka di kandang. Lazio 3x beruntun menang disemua kompetisi. Imbang kayaknya pas.

Damar ultras Budiman
Genoa 0-1 Lazio ,savic
Ini lawan sesungguhnya Lazio.melawan genoah Lazio selalu kesulitan. Tapi lagi-lagi Inzaghi memainkan strategi briliannya. Tiga point pun diraih

Arief Arryn
Genoa v Lazio 0-1.
IMMOBILE
Lazio pantas diunggulkan di laga ini. Kemenangan 4-1 atas Milan menjadi bukti Le Aquile adalah tim hebat. Genoa belum meraih kemenangan pada musim ini.

sun go khuang
Genovah 0-2 lazio; Milinkovic Savic
Mitos bentegodi sudah kita tumbangkan. Setan merah sudah kita buat seperti kumpulan pemain amatir. Kini saatnya luigi ferraris kita buat menangis! Dici, lazio per campione! ✊🏽🔥

Wao
Genoa 2-4 lazio, IMMO
PaRtai serie A dihelat lagi mempertemukan jenoa vs lazio.Laga tandang tidak ngaruh buat elang biru.pada akhirnya skor akhir 2-4 untuk tamu.

Siska
Genoa 0-2 Lazio
Immobile
Genoa? Lazio bisalah menang. Bener ga om Bud? 😌

gold calciopoli
Ge noah 2 – 1 lazio
Bale.
Tak ada yang lebih menyenangkan selain mengalahkan genoa dikandang. Tapi sayang harapan tinggal harapan. Lazio terpeleset dan kembali terjungkal.

Ngolon GANte
Genoa 0-4 Lazio
Immobile
Lazio mengamuk. Genoa tikusruk. Immo hattrick.

Takdir
Genoa 1-1 Savic
Analisis: Kemenangan tak terduga The Great di Bentegodi menyalakan alarm persaingan Scudetto. Luluh lantaknya si Kaya Baru membuka mata,  Serie A kini akan kembali ketat. Tim cadangan yang diminta main ke Belanda bahkan membawa pulang angka penuh! Catat, itu semua tak diperkuat trio Portegal yang baru ditranfer, belum diperkuat il phenomenal Felipe Bale Anderson! Melawan Genoa adalah kuntji utama. Menang di Ferarris, Juve wajib gemetar. Seri Inter segera tekan tombol SOS. Kalah berarti Lazio The Great masih seekor Elang Hitam yang bisa di papan tengah saja syukur. Saya penasaran seberapa Vieri pemuda gagah Palombi itu? Debut?

Karawang, 170917

Kappa – Ryunosuke Akutagawa

Kappa – Ryunosuke Akutagawa

Peringatan: Ulasan ini mengandung spoiler, karena jumlah halaman yang sedikit dan review ini akan menceritakan dari halaman awal sampai ending kisah Aku. Bagi yang belum baca dan ingin menikmati Kappa disarankan berhenti baca di sini.

Kappa tua: “Siapa pun tidak dapat hidup tenteram, kalau tidak sehat atau tidak mempunyai uang. Untungnya aku selalu sehat dan mempunyai cukup bekal untuk membiayai keperluanku. Mungkin yang paling utama yang menjadikan aku bahagia adalah aku telah tua sejak lahir.”

Bermula dari rekomendasi grup WA – Love Book A Lot, sebuah buku tipis yang jumlah halaman tak lebih dari 100, memaksa saya memilih lahap Kappa. Awal bulan ini akan beli, tapi ragu karena lumayan juga harganya, setipis itu 45 ribu woy. Pekan lalu saat rekan kerja persiapan resign, akhirnya memutuskan beli-titip karena kebetulan Len mau ke Gramedia. Dan esoknya malah jadi hadiah perpisahan. Makacih Vaness. Bukunya saya baca kilat dalam perjalanan ke HO – Head Office pada 13 September lalu saat akan implementasi Training ke SAP. Buku aneh yang dibaca saat suasana kurang tidur dan kepala senut-senut ditemani radio Prambors FM yang ngelantur.

Cerita dibuka dengan sebuah kutipan satu paragraph panjang dari ensiklopedia Wakan Sansai Zue yang terbit tahun 1770. Tentang definisi kappa, mahkluk yang mirip manusia umur 10 tahun, telanjang, bisa berdiri tegak dan bisa bicara bahasa manusia. Hidup di air, biasanya keluar malam hari untuk mencuri semangka, apel dan hasil ladang lainnya. Orang harus berhati-hati kalau menyeberang sungai karena hobinya berkelahi. Bisa menyeret kuda atau lembu ke dalam air dan menghisap darahnya dari dubur. Sebuah penggambaran absurb seekor makhluk yang akan mengajak kita berpetualangan.

Ini adalah novel(a) satire dari Jepang yang pertama terbit di era Meiji. Sebuah analisis social tentang budaya Jepang yang disamarkan dalam bentuk dunia lain, dunia kappa. Sudut pandangnya orang pertama, orang gila nomor 23. Karena ini cerita dari orang gila banyak hal ganjil akan kita temui. Yah, seakan ia ngoceh tak tentu arah tapi karena penggambarannya pas seakan ini benar-benar terjadi – ataukah benar-benar terjadi? Ia bercerita di hadapan kita bagaimana kehidupan kappa yang legendaris itu.

Si Aku sedang mendaki gunung Hodaka, beristirahat di lembah sungai Azusa ia melihat kappa. Berniat menangkapnya, ia malah terjatuh pingsan. Saat tersadar ia sudah di kerumunan kappa, diperiksa oleh dokter Chak. Karena masih sakit maka ia ditandu ke rumah kappa dan jadi warga kehormatan. Maka jadilah ia hidup di sana, belajar kehidupan, bahasa, sastra, seni sampai budaya. Aneh di negeri asing itu banyak hal nyeleneh. Di negeri manusia dianggap serius tapi di sana tidak, begitu juga sebaliknya.

Di negeri kappa ia berteman dengan banyak karakter. Dari dokter Chak, Pep sang hakim, Bag kappa pencari ikan yang dikejar Aku, Tok penyair, Lap murid kappa, Mag sang filsuf, Crabach si componist jenius, Gael pemilik perusahaan gelas sampai Kappa Tua peniup seruling. Semua memberi porsi cerita moral yang pas berdasar bagaimana mereka memandang hidup ini.

Sekarang aku akan bangkit dan pergi | Ke jurang di seberang lembah kesengsaraan ini | Ke jurang berbatu karang | Di Mana air sejuk dan jernih | Dan udara segar dengan rumput-rumput berbunga’ – nyanyian Mignon, Goethe

Sedari lahir, kappa sudah diberi pilihan. Mau hidup atau langsung dimusnahkan. Janin kappa akan ditanya apakah ingin lahir atau tidak? Bila tidak ia akan disuntik cairan untuk pergi. Masalah jodoh misalkan, kappa betina akan mengejar kappa jantan sampai ke manapun. Di sana juga ada agama dan pemikir modern, ada juga para pemuja kehidupan viverisme. Di sana ada perang dan persaingan. Dan yang paling mengerikan (menurutku) adalah sistem kerja. Saat sang Aku bertanya kenapa para pekerja yang dirugikan itu tak melakukan mogok kerja, membentuk serikat kerja untuk melawan? Gael sang direktur menjawab ada undang-undang yang mengatur bahwa para buruh itu mereka makan. Jadi para kappa yang kehilangan pekerjaan berhak disembelih dan dimakan! Serem men…

Semakin halaman tinggal dikit sang Aku makin muak. Bahkan salah satu temannya ada yang bunuh diri saking memandang hidup dengan optimisme berbeda. Saat kemuakan sudah sampai di puncak ia ingin kembali ke kehidupan manusia. Melalui Bag ia disarankan bertemu dengan kappa tua pemain seruling si kutu buku, di sana ia menunjuk sudut ruangan yang menjulur seutas tali yang tergantung di langit-langit. Saat tali ditarik, terlihat pohon pinus dan cemara dan langit dan tawaran kehidupan lama menjelang. Jika ingin kembali itulah jalannya. Saat ditanya apakah benar ia tak ingin tinggal di negeri kappa saja? Sang Aku dengan mantab bilang tidak.

Saat kembali di kehidupan manusia ia malah jadi jijik. Malah merasa kehidupan kappa lebih jernih tak sekotor manusia, tentu saja berkat ia sudah terlalu lama berinteraksi di sana. Kembali ia butuh adaptasi, memandang manusia aneh dan bau, sesekali bicara dengan bahasa kappa ‘Qua’, menggelandang di stasiun dan saat akan berkereta ke Chuo ia malah ditangkap polisi sampai akhirnya dirawat di rumah sakit bernomor 23 karena ngoceh ga jelas dan dianggap gila sehingga suatu saat dokter S yang merawatnya lengah ia ingin kembali ke negeri kappa. Lhooo.. ternyata.

Apa yang didapat dari pengalaman aneh ini? Tentu saja memandang hidup jadi lain. Apa yang ada di depan kita harus syukuri. Sesuatu yang mungkin kita anggap biasa, bahkan sepele di nun di sana adalah anugerah. Hidup ini singkat, tak perlu marah dan kecewa dengan tetangga, lebih-lebih saudara. Saling mengasihi dan terutama sekali sabar. Walau tak setajam Animal Farm-nya George Orwell di mana binatang bisa ngomong dan bertarung, kappa adalah kisah yang menyentil tata krama manusia. Walau tak serumit masa depan Brave New World-nya Aldous Huxley, namun kappa jelas memberi gambaran frustasi suatu masa (depan) yang tak pasti. Walau tak sehampa Pulau Dokter Moreau-nya H.G. Wells, jelas kappa memberi kesunyian hidup dalam gila semu dan sinisme.

Saya memang suka minimalis tapi kover-kover terbitan baru KPG yang hanya memberi warna latar dominan dengan mencantumkan nama Penulis besar dan judul ala kadarnya itu buruk juga. Ilustrasinya terlalu sederhana yang bahkan seperti dibuat anak kecil. Minimalis oke, tapi kalau minimalis dan serentak mirip jadinya ga unik. Monoton. Harusnya tetap memberi identitas sekelumit kisah, bandingkan dengan versi yang lebih berwarna yang enak dipandang seperti terbitan Interprebook.

Catatan ini saya tutup dengan sajak gila pasien nomor 23:

Di antara rumpun bambu dan batang kurma yang sedang berbunga | Budha telah lama tertidur | dan dengan batang ara yang layu di sepanjang jalan | Agaknya Kristus pun telah mati | Tetapi kita semua harus beristirahat, semua pemain | Bahkan sebelum adegan-adegan yang harus kita mainkan.

Well, seperti kata Ryunosuke, “Kappa lahir dari kemuakanku terhadap banyak hal, terutama pada diriku sendiri.” Akhir hidup sang Penulis sendiri adalah interprestasi dari apa yang dipikirkan laiknya penyair Tock. Otak manusia memicu banyak hal nyata di hari depan. Di tanggal 24 Juli 1927 setelah menyelesaikan tulisan Zoku Saiho no Hito ia ditemukan meninggal dunia karena over dosis obta tidur. “Hanya kegelisahan yang usulnya tidak jelas.

Kappa | by Ryunosuke Akutagawa | diterjemahkan dari Kappa | KPG 59 16 01211 | cetakan pertama, Juni 2016 | sebelumnya diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya | cetakan pertama, 1975 | penerjemah Winanrta Adisubrata | perancang sampul Teguh Tri Erdyan, Deborah amadis Mawa | iv + 83, 14 cm x 21 cm | ISBN 978-602-424-095-0 | Skor: 5/5

Karawang, 150917 – Sherina Munaf – Curahan Segalanya

Tnx to Vanessa Len, sukses berkarir di tempat barunya. Another place another challange

The Hobbit – J. R. R. Tolkien 

The Hobbit – J.R.R. Tolkien

Fili: “Aku tidak ingin lagi mencium bau apel seumur hidupku. Tongku penuh bau apel. Mencium bau apel terus-menerus dengan perut lapar dan tak bisa bergerak, bisa membuat orang jadi gila. Aku bisa makan apa saja selama berjam-jam sekarang – asal jangan buah apel.”

Setelah terpesona The Lord Of The Rings (filmnya) yang kutonton tahun 2005 sampai beli kaset vcd original komplit seri, saya sempat akan membeli novelnya. Sayang di Cikarang susah sekali menemukan. Seakan sekejap waktu merentang cepat sampai di tahun 2009, saya malah menemukan The Hobbit di tumpukan buku diskon di Carefour Cikarang, dan taa-daaa… saya terkesan. Saya sangat terkesan. Setelah epic Potter berakhir 2007 inilah buku fantasi yang sukses bisa sampai klimak to the maxxx. Tiga tahun terentang ada Bartimaeus trilogy yang juga superb. Speechless.

Filmnya dibagi menjadi tiga, padahal bukunya tak lebih tebal dari al kitab. Dulu antusias menanti, tapi karena yang pertama bagus yang kedua sekedar lumayan, yang ketiga hingga kini belum kulihat. Kisahnya dipanjang-panjangkan, dan banyak sekali yang dicipta baru untuk memenuhi durasi. Karena setting waktu memang sebelum kisah Frodo maka segalanya memang mungkin.

Poin utama cerita adalah kumpulan kurcaci berjumlah tiga belas yang meminta bantuan hobbit cerdas, pintar menyelinap curi dan selalu rindu rumah di Bag’s End, Bilbo Baggins untuk menyertainya perjalanan ke Timur menuntut hak pada naga jahat Smaug yang menguasai lembah penuh emas. Dipimpin Thorin Oakenshield yang ambisius dan disertakan Gandalf the Grey yang memberi saran untuk mengajak Bilbo, mereka berpetualang. Mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir Indah ke samudera. Dihadang berbagai rintangan dan Bilbo tersesat di gua Gollum yang mengakibat sebuah cincin ajaib dikenakan, berhasilkah?

Kutipan-Kutipan

Kami di sini lebih suka hidup tenteram dan tidak menyukai petualangan. Petualangan cuma membawa kesulitan dan tidak menyenangkan. Membuat makan malam jadi terlambat! Aku tidak mengerti kenapa ada orang yang menyukai petualangan. – 15

Hari berikutnya Bilbo hampir melupakan Gandalf sama sekali. Ingatannya memang tidak terlalu tajam, kecuali ia mencatat dalam Daftar Acara. – 17

Dengan tongkat kayu dibabatnya kepala raja goblin yang bernama Golfimbul hingga terpelanting. Kepala raja itu melayang di udara sejauh delapan puluh meter, dan masuk tepat ke lubang kelinci. Maka dalam pertempuran ini pasukan goblin dikalahkan, dan sejak itu pula terciptalah permainan golf. – 29

Waktu melihat tampang orang kecil yang lucu itu, aku sudah mulai ragu. Dia lebih mirip pedagang barang kelontong daripada pencuri! – 30

Bagaimana aku akan bisa mengatasinya? Dan apakah aku akan kembali dengan selamat? – 35

“Jangan seperti orang tolol, Bilbo Baggins!” katanya pada diri sendiri, “Percaya pada naga dan segala dongeng omong kosong dalam usiamu yang setua itu!”

Sampai akhir hayatnya Bilbo tak pernah mengerti, bagaimana ia bisa keluar tanpa topi, tongkat, atau uang atau segala sesuatu yang biasa dibawanya kalau pergi ke luar. – 43

“Sial benar segala urusan ini. Ingin sekali aku berada di rumah, dalam laingku yang menyenangkan, dekat api dengan ketel yang bersiul.” – 45

Semakin sedikit bertanya-tanya, semakin sedikit pula kesulitan yang akan kita temukan. – 47

Bilbo terpaksa berangkat sebelum sempat mengatakan bahwa ia tak bisa menirukan suara burung apa pun. – 48

“Mengapa tidak kautunjukkan dari tadi?” – 58

Jadi sekarang kalian sudah mengerti. Lain kali kalian harus lebih hati-hati, kalau tidak kita takkan sampai ke mana pun. – 60

Sekali lagi ia membayangkan kursinya yang empuk di muka perapian, dalam liang hobbit-nya dan ketel yang mulai bersiul. Bukan untuk terakhir kali! – 62

Kadang-kadang ia terangguk-angguk dan hampir jatuh dari tungganggannya, atau hidungnya menumpuk leher kuda poninya. Makin turun ke bawah semangat mereka makin naik. – 64

“Lembah punya telinga dan beberapa peri punya lidah yang terlalu periang. – 67

Hari-hari yang penuh kegembiraan rasanya tidak menarik untuk diceritakan. Sementara itu, segala hal yang kurang enak, mendebarkan hati dan bahkan menyedihkan selalu lebih memikat untuk diceritakan. – 67

‘tinggi pintu lima kaki dan tiga bisa berjalan berjajar’ – 69

‘Berdirilah dekat batu kelabu waktu srigunting mematuk, dan matahari yang sedang terbenam akan memancarkan cahaya terakhir Hari Durin ke arah lubang kelinci.’ – 70

“Aduh, mengapa aku mau meninggalkan liang hobbit-ku!” kata Bilbo yang terlonjak-lonjak di punggung Bombur. – 85

Mula-mula ia terkejut, tapi lama-lama ia jadi terbiasa. – 89

Kadang-kadang Goblin Besar ingin makan ikan dari danau dan disuruhnya anak buahnya pergi ke sana. Kadang-kadang baik goblin maupun ikannya tak pernah kembali. – 91

Waktu! Waktu! – 97

Ia membayangkan kehidupan Gollum yang tidak mengenal hari, cahaya dan pengharapan. Yang diketahuinya hanya batu keras, ikan dingin, merayap-rayap dan berbisik-bisik sendiri. Bayangan itu melintas sekejap dan Bilbo menggigil. – 107

‘Selama ini dia lebih banyak memberikan kesulitan daripada bantuan pada kita. Kubilang, terkutuklah dia!’ – 113

“Apa yang akan kita lakukan. Apa yang akan kita lakukan? Lepas dari mulut harimau jatuh ke mulut buaya.” – 120

Pohon bukanlah tempat yang menyenangkan untuk diduduki lama-lama, pada saat kapan pun. Lebih-lebih kalau malam dingin dan berangin. Ditambah dengan sekelompok serigala mengepung dan menunggu untuk memakan mereka, tidak ada lagi tempat yang lebih menyedihkan. – 122

“Sekarang aku tahu bagaimana perasaan dendeng yang tiba-tiba diangkat dari penggorengan dengan garpu dan ditaruh kembali di atas rak!” – 132

Ia tidur bergelung di karang yang keras, lebih nyenyak daripada tidurnya di kasur empuk di rumahnya sendiri. Tapi semalaman ia memimpikan rumahnya. – 135

Ingat, kalian tidak boleh keluar dari jalan setapak karena alasan apapun. – 160

Semua tergantung dari nasib baik kalian, serta keberanian dan kecerdasan otak kalian sendiri. – 165

“Bukan itu yang kumaksud. Maksudku, tidak adakah jalan memutar.” – 166

Bilbo berlutut di tepi air dan melihat ke sebarang. Tiba-tiba ia berseru, “Ada sampan di seberang! Aduh kenapa tidak berada di tepi sebelah sini!” – 171

“Apakah hutan terkutuk ini tak ada habis-habisnya?” – 176

“Kenapa aku bangun dari tidur? Mimpiku Indah sekali. Aku mimpi berjalan di hutan yang agak mirip hutan ini. Di tanah ada api unggun. Pesta sedang berlangsung. Ada Raja Peri Hutan di situ mengenakan mahkota daun. Rakyatnya menyanyikan lagu gembira. Aku tak menghitung atau melukiskan makanan dan minuman yang begitu banyak.” | “Kau tak perlu menceritakannya,” kata Thorin. “Kalau kau tak bicara soal lain, lebih kau diam saja. Kami sudah cukup kesal gara-gara kau…” – 179

“Ya, mereka tidak takut. Tapi apa aku tidak takut pada mereka?” – 182

Bilbo berlari berkeliling sambil memanggil-manggil, “Dori, Nori, Ori, Oin, Gloin, Fili, Kili, Bombur, Bifur, Bofur, Dwalin, Balin, Thorin Oakenshield.” Sementara itu, ia merasa ada orang-orang yang tak bisa dilihat dan didengarnya juga berlari mengelilinginya sambil memanggil namanya berkali-kali. – 184

Satu-satunya makhluk yang tidak diberi ampun oleh Peri Hutan hanyalah laba-laba raksasa. – 199

Semua kurcaci diikat dengan tali, dijajarkan dan dihitung. Tapi mereka tak pernah menemukan atau menghitung si hobbit. – 201

“Kami kira kau punya rencana yang masuk akal, waktu kau mencuri kunci tahanan. Ini rencana gila!” – 211

Mereka berhasil meloloskan diri dari penjara Raja Peri. Tapi apakah mereka hidup atau mati, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. – 219

Seandainya mereka tahu apa yang terjadi kemudian, mereka pasti akan sangat terkejut. – 225

Tapi apa yang diucapkannya sangat berlainan dengan apa yang dipikirkannya. – 233

“Kalian bilang tugasku adalah duduk di ambang pintu dan berfikir. Nah, aku sedang duduk dan berfikir.” Tapi Bilbo tidak sedang memikirkan tugas yang dibebankan padanya. Ia sedang memikirkan Daerah Barat nun jauh di sana, serta liang hobbit di bawah Bukit yang menyenangkan. – 240

Para kurcaci gemetar. Takut jangan-jangan kesempatan ini akan lenyap kembali. Mereka mendorong batu sekuat tenaga – namun usaha mereka sia-sia. – 243

“Akhirnya kau melibatkan dirimu dalam bahaya, Bilbo Baggins.” – 247

“Aku tidak diikutsertakan untuk membunuh naga. Itu tugas seorang prajurit. Sebagai pencuri, tenagaku dipakai untuk mencuri harta.” – 254

Aku percaya apa yang dikatakannya, walau aku yakin itu bukan dari pengalamannya sendiri. – 255

“Akulah si pencari jejak, pemotong jaring laba-laba, lalat penyengat. Aku yang terpilih sebagai pemilik nomor mujur.” – 257

“Sisikku seperti perisai berlapis sepuluh. Gigiku deretan pedang, cakarku tombak, dan lecutan ekorku halilintar, sayapku angin ribut, dan napasku tiupan Elmaut.” – 261

“Jangan takut! Selama masih hidup selalu ada harapan, begitulah kata ayahku selalu.” – 270

Yang harus kita cari sekarang adalah jalan keluar, dan kita sudah terlalu lama bergantung pada nasib baik! – 276

Pembicaraan mereka selalu sampai pada satu pertanyaan: di mana Smaug? – 281

“Tempat ini masih berbau naga,” gerutunya sendirian. “Membuatku mau muntah rasanya. Dan aku benar-benar sudah sebal makan cram.” – 304

Meski aku sendiri tak pernah merasa sebagai pencuri – tapi aku pencuri yang jujur. – 311

Tapi perang ini rasanya sama sekali tidak mengandung kebesaran. Bahkan tidak menyenangkan, dan mengerikan. Ingin sekali aku tidak terlibat di dalamnya.” – 326

“Kalau kelak kau lewat di muka rumahku, masuklah. Kalian tak usah mengetuk pintu lagi. Waktu minum teh pada jam empat, tapi kapan pun kalian datang, akan kusambut dengan senang hati.” – 334

Dan aku sangat bangga akan dirimu; tapi kau juga hanya makhluk kecil di tengah alam semesta yang begini besar! – 348

Kutipan yang saya ketik ulang panjang nan banyak ya. Maklumlah ini  buku istimewa. Setiap lembarnya memberi kesan, dan bagian terbaik kesukaanku ada dua yang pertama saat main tebak-tebakan dengan Gollum. Cerdas dan sangat menyenangkan. Saya sampai teriak, ‘wow wow wow’. Satunya lagi setiap Bilbo ingat rumah liangnya yang nyaman. Kalau ditolok ukur kepuasan fantasi, The Hobbit adalah yang terbaik. Lebih hebat ketimbang Harry Potter, Narnia, His Dark Materials  apalagi Bartimaeus. Pertama terbit tahun 1937, jauh sekali dari fantasi era modern J.R.R. Tolkien menulis kisah bak sebuah dongeng yang lezat disantap dalam kondisi apapun. Setahuku doeloe pernah diterjemahkan ke Balai Pustaka, dengan sampul jadul nan klasik. Yang kubaca adalah terjemahan Gramedia, yang syukurlah sangat bagus. Tak ada komplain, ditambah ilustrasi bagus yang membawa bayang, sungguh ini adalah kisah yang sempurna.

The Hobbit jelas masuk 10 besar novel terbaik yang pernah saya baca. Noted!

The Hobbit atau Pergi dan Kembali | by J.R.R. Tolkien | diterjemahkan dari The Hobbit | originally published in English by HarperCollinPublishers Ltd | copyright 1937, 1951, 1966, 1978, 1995 | alih bahasa A. Adiwiyoto | GM 402 02.011 | sampul dikerjakan oleh Eduard Iwan Mangopang | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan ketiga, Mei 2002 | 352 hlm; 23 cm | ISBN 979-686-767-2 | Skor: 5/5

Karawang, 140917 – Sherina Munaf – Bermain Musik

Bride On The Loose 

Bride On The Loose – Debbie Macomber

Elizabeth: “Aku mengetahui beberapa berita yang mengejutkan. The Yacth Club tempat kami merencanakan resepsi, makan malam dan dansa sudah dipesan penuh sampai tiga belas bulan ke depan, kebetulan ada yang batal jadi aku memesankan tanggal itu untuk kau dan Jason.

Harlequin lagi. Pengalaman buruk pertama dulu terulang lagi, kali ini lebih buruk karena kisahnya berjalan dengan plot yang sangat mengada-ada. Mencoba romantis, fail! Mungkin karena memang buku roman picisan bukan genre-ku, tapi siapa sih yang suka cerita cinta-cintaan tak ada tragedi di dalamnya? Happy ending? Dengan akhir pangeran meminang sang putri tanpa banyak kendala? Kovernya saja spoiler berat. Kejadian demi kejadian yang disusun dengan (pura-pura) berkendala, tetap pada akhirnya mereka menikah-kan? Dan buruknya sesuai dugaan. Bah, buku macam apa ini. Bahkan teenlit anak SMP yang so so pun masih jauh lebih menarik. Seperti kata Carrie: “Aku ingin pergi ke pesta dansa dengan Brad melebihi apapun. Tapi sekarang pergi atau tidak aku tak peduli. Seharusnya memang saya tak memperdulikan buku ini. Di tengah gempuran sastra yang saya kejar untuk momen November (daftarnya panjang), novel ini mencuat dari daftar pinjaman yang harus saya selesaikan. Yah, memang harus lebih jeli dalam pilih pilah.

Jason Manning adalah dokter hewan yang punya apartemen, di usianya yang hampir 40 tahun ia lajang. Nonton softball jauh lebih menarik ketimbang kencan! Tampan, kaya, keluarga penuh cinta, karier sangat mapan. Charlotte Weston adalah orang tua tunggal Carrie. Janda cerai dari Tom, seorang sekretatis Perusahaan ternama yang traumatis perhadap pernikahan. Carrie Weston sebagai anak tunggal yang kini sudah ABG, mau lulus SMP menginginkan pesta dansa di perpisahan yang dilarang oleh ibunya karena dianggap masih kecil. orang tua kolot. Kalaupun datang, ia harus diantar olehnya. Gara-gara larangan itulah Carrie berpendapat bahwa ibunya harus move on dari masa lalu, harus segera kembali kencan mencari pasangan. Inilah saatnya, inilah waktunya. Waktu harusnya sudah menempanya untuk bersuami lagi. Dan Carrie yang berinisiatif mengail cowok, calon ayah tirinya.

Jadi Carrie meminta Jason untuk berkencan dengan ibunya, dibayar. Dalam pikiran sang remaja ini, siapa tahu setelah kembali berkencan pola atur kaku orang tuanya akan cair. Awalnya Jason tentu saja menolak berlibat keluarga ini. Namun Carrie dengan cerdik mengakali situasi. Karena mereka satu gedung apartemen, dan Jason sendiri yang punya maka suatu hari Carrie menyusun strategi bagaimana caranya Jason ke tempatnya. Keran air dirusak, Carrie menelpon Jason untuk memperbaiki, sebuah taktik biar pertemuan mereka seolah natural. Baut diberikan saat Jason yang pura-pura memperbaiki, dan saat mereka sedang berdebat kecil bagaimana selanjutnya, Charlotte curiga sehingga meminta penjelasan. Terbongkarlah rencana-rencana itu. Dan dengan marah sang janda mengultimatum bahwa esok pindah saja! “Dia tak bermaksud apa-apa. Dia hanya berusaha berbuat baik padamu. Anggap saja ini sebuah hadiah Hari Ibu yang kepagian.

Namun kisah dirajut tak seterjal yang diharap. Segera setelah mengusir, Charlotte ke apartemen Jason meminta maaf, tak jadi pindah dan malah ambil popcorn untuk ikut nonton softball. Di perpisahan mereka ciuman. Bah! Kisah macam apa ini. Freddy S saja menyusun cerita cabul tak senorak ini. Bagaimana bisa, habis marah tak lebih dari lima menit dengan sekotak popcorn dan laga live olah raga di tv (bahkan itu bukan sepak bola!), semua reda. Dan setelahnya dengan sangat mudah ditebak ke arah mana kisah ini. Lurus, lempeng bak di jalan tol dini hari. Kecepatan di atas 100 km/jam, tak ada rintang tak ada lawan, gas terus pol dan taa-daaa akhir yang bahagia.

Tantangan ibunya yang menyewa yatch dengan dipaksa nikah dalam waktu tiga minggu hanya gelitik semu sebuah taburan bunga. Masalah pekerjaan Charlotte yang ga sreg sama bosnya sehingga memutuskan resign seakan hanya obrolan santai anak-anak di sela main kelereng. Acara dansa Carrie bahkan tak se-mengusik pikiran sedari awal, hanya jadi picu sebuah busi karatan yang sekali pakai bisa langsung dilempar ke tengah kali. Buruk, sangat buruk. Dibanding buku-buku sederhana karangan KKPK – Kecil-Kecil Punya Karya lokal saja kalah ini. Coba bayangkan, apa masalahnya: pria tampan, profesi mapan, lajang, sabar, dan senyumnya bisa membuat bunga langsung rontok. Dipertemukan janda cantik, beranak manis. Nikahnya aja di yacth dan semua keruwetan pra-nikah sudah ga dipusingkan karena sudah dipersiapkan keluarga. Tak pusing cari survenir, tak lieur cetak undangan, tak pening pula cari vendor buat pre-wed. Semua sudah terstuktur masive, ibarat nikah tinggal datang bermodal kolor. Sah! Hadeh, benar-benar plot kisah yang buruk.

Dengan tulisan tambahan di kover ‘Those Manning Man’ ternyata ini adalah seri ketiga dari Debbie Macomber tentang keluarga Manning. Ini jelas cerita pure romance happy ending, tak ada tragedi tak ada konflik yang benar-benar berarti. Hebat, Jason adalah karakter penyabar yang benar-benar idaman. Saat jadi harapan terakhir Manning family yang pernikahannya akan dirayakan gede-gedean karena kaka-kakanya nikah sederhana macam nikah siri pula, ia dengan sangat sabar meladeni permintaan gila orang tuanya. Saat sang mempelai dengan oon-nya kabur dari pernikahan beberapa jam sebelum kick off ijab kabul, ia dengan sabarnya mencari, meminta untuk tabah dan hadapi bersama. Saat ia dipermainkan remaja labil, ia dengan sabarnya membantu masih dengan nada humor, “menjijikkan adalah kata yang bagus.” Benar-benar bak superman. Seakan ia adalah pria idaman. Yah, cerita selurus ini. Mana menarik?

Sempat berharap saat Charlotte kabur ini akan jadi twist, ternyata tak terwujud. Saat adegan intim jelang akhir, dengan trauma sang mempelai kuharap akan terjadi sesuatu yang mengejutkan. Saat dibuka bajunya baru ketahuan Charlotte ganti kelamin, misalkan. Ah ternyata bukan. “Terbukalah padaku, aku tak kan menyakitimu. Lebih baik aku mati daripada menyakitimu.” Debbie jelas memberi penggemar cerita Disney bertepuk tangan. Saya membacanya dalam dua kali kesempatan duduk. Walau halaman nyaris 300 tapi karena cerita ringan ya lempeng aja. Jelas ini buku sekali baca dan lupakan. Tak perlu dibenamkan ke dasar lumpur deh, kan ini buku pinjaman. Sebuah karya sederhana yang tak layak dipajang di rak. Di kover juga tertulis koleksi istimewa? Yang ada stempel superb aja macam gini bagaimana yang biasa?  Wahai pembaca atau kolektor Harlequin, adakah buku yang benar-benar hebat dari seri ini? Coba pilih yang menurut kalian yang terbaik dan sodorkan ke saya, siapa tahu bisa mengubah hakim bahwa ini serial adalah deretan karya hampa. Ada?

Kau sungguh cantik. Charlotte kau dengar aku, kau sungguh sempurna!”

Harlequin: Kesempatan Kedua | by Debbie Macomber | diterjemahkan dari Bride On The Loose | copyright 1992 | this edition is published by arrangement with Harlequin enterprises II B.V. | alih bahasa Vivi Wijaya | GM 402 02.005 | sampul dikerjakan oleh Marcel A.W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, April 2002 | 296 hlm; 18 cm | ISBN 979-686-754-0 | Skor: 1,5/5

Karawang, 150917 – Jessie J – Ain’t Been Done

Thnx to: Melly Potter, teman Meyka yang meminjamankan buku ini.

Botchan – Natsume Soseki

Tempat ini terlalu kecil untuk menyimpan rahasia.
A modern classic. Pertama baca tahun 2010 saat mengantar teman cari buku kuliah di pameran buku Pujasera, Cikarang. Saya beli hanya karena iming-iming tulisan back-cover ‘Seperti cerita The Adventure of Huckleberry Finn…’ yang seakan berteriak inilah Twain versi Asia. 

Membaca Botchan memberi pembenaran bahwa semua manusia punya talenta dibalik segala tindak buruk yang terlihat. Botchan adalah anak nakal, membuat berang orang sekitar. Hanya pelayan keluarga yang benar-benar percaya bahwa dibalik semua masalah yang dibuat ia memiliki sesuatu yang luar biasa sehingga sang pelayan menyayanginya. Dan saat beranjak dewasa, ia dipaksa jauh dari kampung halaman, pembuktian itu bisa. Ia menyata, ia ‘sukses’. Dikirim ke pelosok sebagai guru awalnya Botchan menganggap bahwa daerah terpencil itu kuno, warga Tokyo yang meremehkan. Namun siapa sangka, ia menemukan banyak pelajaran dan pengalaman hidup yang sangat berharga. Segala pengalaman itu dilimpahkan dalam buku 200 halaman yang sungguh menakjubkan.

Sedari pembuka kita sudah diperingatkan bahwa sang tokoh utama, ‘Aku’ ini orangnya nekad dan melakukan tindakan tanpa pikir dua kali. Lompat dari lantai dua karena hanya ditantang teman, menggores jari dengan pisau hanya karena diledek, dan berkelahi. Kenakalan-kenalakan anak-anak. “Anak itu begitu kasar dan berandalan, entah akan jadi apa nantinya.” Ibunya meninggal setelah sakit keras dengan gertakan kakaknya bahwa ia anak celaka. Saat tinggal dengan ayahnya yang aneh, ia hanya berkomentar, “Kau tidak berguna! Tidak berguna!”

Hanya Kiyo yang menggapnya tidak dibuang. Pelayan keluarga yang sudah sepuluh tahun mengabdi, ia lah pembela saat kenakalan Botchan kambuh. Ia selalu berprasangka baik, “Kau selalu berterus terang, sifatmu baik.” Sikap blak-blakan itulah yang jadi landasan Kiyo, Botchan akan ‘jadi orang’ suatu hari nanti. Dia percaya bahwa orang sepeti aku akan sukses dalam kehidupan dan menjadi orang besar, sedangkan kakaknya yang selalu belajar giat akan menjumpai kegagalan total, meskipun kulitnya putih bersih bak bangsawan. “Kau pasti bisa!” Kiyo selalu bersikap bijak, memberi uang lebih, membelikan makan, merawat dengan hati.

Saat akhirnya Botchan yatim piatu, bulan Januari tahun keenam setelah kematian ibunya. Bulan April ia lulus sekolah, bulan Juni kakaknya lulus sekolah bisnis. Kakaknya pindah ke Kyushu karena mendapat tawaran kerja yang menarik, Botchan harus tetap di Tokyo meneruskan studi. Kakaknya memutuskan memjual rumah, membagi uangnya berdua. Memberi uang pisah kepada Kiyo, dan mengucapkan selamat tinggal. Dengan lima ratus yes, Botchan menimang masa depan. Akhirnya memutuskan mengambil kesempatan Sekolah Ilmu Alam Tokyo. Selama tiga tahun belajar keras ia lulus walau pas-pasan. Delapan hari setelah kelulusan ia dipanggil kepala sekolah, bahwa sebuah Sekolah Menengah di Shikoku membutuhkan guru matematika, gajinya empat puluh yen sebulan dan ditawarkan kepadanya. Walau tak berkeinginan menjadi guru, ataupun tinggal di pedesaan ia ambil kesempatan itu karena ia tak tahu harus ngapain. Sebuah spotanitas yang disesali.

Sebelum berangkat ke Shikoku ia mampir ke tempat tinggal Kiyo, di sana Kiyo tinggal sama ponakan dan selalu membual bahwa Botchan akan jadi orang hebat dan memberitahu saudaranya segala hal hebat tentangnya, selepas lulus ia akan membeli rumah mewah di Kojimachi. Karena Kiyo sudah memutuskan sendiri dan mengumumkan semua bayangan itu, aku mendapati diri dalam posisi sulit dan tersipu. Sebelum pamit ia berujar, “Botchan kapan kau membeli rumah?” walau sudah dijelaskan membeli rumah tak semudah membalik telapan tangan, ia selalu membesarkan hatinya. “Aku harus pergi sekarang, tapi aku akan segera kembali. Aku pasti ke sini saat liburan musim panas tahun depan.”

Dikiranya Botchan hanya akan pergi ke sisi barat Hakone, tempat yang tak seberapa jauh dari Tokyo. Wanita seperti ini memang hanya membuatmu putus asa. Tapi saat bermamitan di stasiun adegan biru tersaji. Ia sudah naik kereta, dia menatap lekat-lekat dan berujar, “Ini mungkin kali terakhir kita bertatap muka. Jaga dirimu baik-baik.” Matanya dibanjiri air mata, aku tak menangis tapi hampir melakukannya. Kereta bergerak dan petualangan Botchan di tempat baru pun dimulai.

Setelah berpindah kapal dan kembali naik kereta ia tiba di sekolah tempatnya mengajar, berkenalan dengan kepala sekolah, guru lain dan tentu saja si guru matematika senior si Landak Hotta. Saat hari pertama mengajar para murid ribut sekali, sesekali ada yang memanggilnya ‘sensei’ dengan suara berlebihan. Saat sekolah ilmu alam dulu ia juga memanggil guru sensei, tapi saat dirimu yang dipanggil dengan kata hormat itu, rasanya ada sensasi menggelitik menuruni tulang rusuk. 

Sejak saat itu Aku setiap hari pergi ke sekolah, sesuai perintah dan mematuhi semua peraturan dan setiap hari pulang si pemilik rumah sewa akan menawari ‘menyeduh teh’. Rutinitas terbentuk, dan waktu memang obat mujarab menghadapi kesulitan. Adaptasi, di tanah rantau dengan uang minim dikombinasi kerja keras memberikan suatu hasil yang menakjubkan. Ditambah pengalaman kenakalan anak-anak dulu yang pernah ia alami, maka ia lebih bisa menghadapi masalah. 

Hanya karena pintar berargumen bukan berarti ia orang baik. Sama hal nya dengan orang yang dikalahkan dalam argumen, ia jahat. Kalau kau bisa membeli kekaguman seseorang dengan uang, kekuasaan atau logika maka lintah darat, polisi dan profesor universitas akan memiliki lebih banyak pengagum ketimbang siapapun. Bayangkan aku dikalahkan logika sekedar kepala sekolah menengah sungguh menggelikan. Manusia bergerak berdasarkan perasaan suka atau tidak suka bukan melulu dengan logika. – 155

Aku mengalami dilema. Sarjana sastra memang setan pandai bicara. Mereka menyambar satu titik lemah kemudian terus menyerangnya, menjadikan cemas dan terganggu sampai mereka mendapatkan apa yang diinginkan. – 153

Mereka berkelahi karena hal-hal yang sepele. Menurutku karena mereka tinggal di daerah terpencil, ini hanya salah satu cara mereka membunuh waktu. – 180

Aku meremas koran hingga menjadi bola dan melemparnya ke taman, tapi karena ini kurang membuatku puas aku mengambilnya kembali dan membuangnya di toliet. – 195

“Masalahnya ini memang rumit. Kalau mengatakan apapun, kita akan dicap melemparkan tuduhan palsu sungguh memusingkan. Terkadang aku menjadi ragu apakah ada keadilan yang datang dari langit.” – 200

Botchan terbit pertama kali tahun 1904 dan menginspirasi banyak pembaca. Novel ini mengajarkan kehidupan bagaimana menghadapi kenyataan dengan gentlemen di tenag kerusakan moral masyarakat. Ia adalah protagonis yangseakan antihero, melawan arus dengan keterusterangan dan tak memandang jabatan harus digenggam erat. Pemberontakannya akan sistem yang kolot dan lebih menguntungkan segelintir orang juga memberi gambaran karakter Botchan yang melawan. “Saya tak peduli pada karier saya, keadilan lebih penting.

Kovernya keren. Mengambil sembilan gambar dalam kotak di mana salah satunya ternyata berlubang. Judul yang bold putih beedasar hitam yang mencolok sungguh cathy. Layak dikoleksi dan dipajang berjajar novel sastra megendaris lainnya. Kisahnya sendiri terhenti bak di tengah jalan. Saat keputusan itu diambil, ia bahkan tak berkabar sama sekali dengan kolega. Menggoncang rel saat kereta sedang melaju nikmat, terasa menggangu? Enggak juga, bahasanya yang ringan dan mudah dicerna sudah cukup. Dan jelas Botchan adalah salah satu novel terbaik yang saya baca. Klasik yang menawan. 

Botchan | by Natsume Soseki | GM 402 09.017 | diterjemahkan drai bahasa Jepang olhe Alan Turney | alih bahasa Indah Santi Pratidina | sampul dan ilustrasi cover Martin Dima | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ceyakan keempat, Januari 2010 | 224 hlm; 20 cm | ISBN 978-979-22-4417-5 | skor: 5/5

Ruang HRGA CIF – Karawang, 120917 – Sherina Munaf – Sendiri