Ibu Mendulang Anak Berlari – Cyntha Hariadi

Ibuku melahirkanku
Sebagai seorang anak
Anakku melahirkanku
Sebagai seorang ibu – ‘Kelahiran’

Kumpulan puisi (lagi?), kapok Lombok ya? Aya naon?

Barangkali tak ada yang lebih alami dalam kodrat manusia daripada arus energi di antara dua tubuh biologis serupa: yang satu meringkuk damai di dalam tubuh lain. Yang kemudian akan mengerahkan seluruh tenaga, untuk mendorong keluar yang satunya. Darinya tumbuh akar kisah-kisah tentang, ketergantungan antar manusia yang paling dalam. Dan keterasingan yang paling kelam. – Of Woman Born

Aku merasa lebih tak berdaya bersamamu daripada tanpamu. – Trying To Talk With A Man (Adrienne Rich, 1929-2012)

Setelah dibuka dua kutipan Rich, kita langsung diajak ‘bersenandung’. Berisi 62 puisi, seperti sebelum-sebelumnya seakan acak tanpa aturan baku (emang puisi ada aturan baku?). Seperti tulisan asal, mencomot kata, disusunkan, dirimakan, dirata kiri, selesai. Saya baca dalam tiga kali kesempatan duduk, pertama Sabtu pagi pas mengantar istri periksa kandungan di Klinik Dokter Sitorus, Alhamdulillah hasil USG bayi perempuan. Kedua Minggu pagi bangun lebih dini sebelum mengantar anak ambil raport di Play Group, Hermioneku ranking satu, yey! Ketiga Senin pagi tadi sebelum mandi, ditemani segelas kopi dan iringan lagu Sherina Munaf di laptop, sebelum berangkat kerja, semangat Moanday. Saya nikmati di sela baca A Man Called Ove yang padat, pria tua penggerutu. Puisi ini memang saya baca santai, buku tipis, amat tipis malah, tak sampai 100 halaman, ada beberapa yang kosong, ada ilustrasi sederhana warna hitam seolah potongan gambar jendela, pintu dan sudut rumah. Saya masih belum yakin, nyamannya puisi itu dibaca nyaring atau lirih atau hanya dalam hati?

Contoh bagian yang agak sulit, untuk kita (eh saya) logika ada di bagian ‘Tidur’ ada sebaris yang berbunyi ‘Ia mengambil kepalaku di tangannya’, membuatku mengernyitkan dahi, menyipitkan mata. Sampai kubaca berulang kali, biasanya kalau saya kurang paham bacaan akan kuulang, akan kucerna lebih lama, akan kubaca nyaring sampai masuk ke kepala, yah kalau masuk. Tapi setelah empat lima kali percobaan masih belum nggeh, opo maksudte?

Pada dasarnya saya suka yang sederhana, ga ngawang-awang. Saya senang bagian ‘Jarak’ di akhir bertuliskan: ‘Ingat ayah merindukan kita dari amat jauh, dan ibu kerap memarahimu karena dekat.’ Mengingatkanku pada Mbak ku, Mbak Pur di Palur, dulu pas satu atap kita sering sekali marahan, rebutan mandi duluan tapi dasarnya malas bangun pagi, cepat-cepatan ambil lauk goreng saat sarapan, rebutan remote tv, rebutan nasi ‘berkat’ sepulang ayah kondangan, bagaimana poster Marcelo Salas-ku disobeknya karena marah, bagaimana peralatan kosmetiknya saya obrak-abrik sebagai balasan. Itu dulu, saat jarak tak jadi soal kita dua saudara yang bagai air dan api. Kini saat sama-sama dewasa, dan saya terlontar di perantauan, rasanya momen-momen ‘memarahi’ itu jadi merindu. Ah waktu, ah jarak.

Yang kusuka lagi sederhana pula di judul ‘Layar Lebar’ bagian akhir berbunyi: ‘Lihatlah tembok ini, dengarlah ia berbicara. Runtuhkan aku dengan krayon-krayonmu, mainkan layar lebar yang menayangkan mimpi-mimpi kau dan ibumu.’ Menelisikku pada putriku yang sukanya coret-coret tembok, bukan hanya dengan crayon, pensil warna atau stabilo, ia bahkan menggambar kapal di tembok pakai lipstick! Ya saya biarkanlah sambil ketawa, daya kreatif balita memang lagi tinggi-tingginya. Paling kita arahkan, belikan buku yang banyak, crayon seabreg demi mewujudkan layar lebar a la Hermione.

Bagian ‘Beres Beres’ kurasa unik, kek barang yang akan dibereskan, kata-katanya juga diserakkan sembarang. Sampai saya ikut gemes kugores ‘wuzz wuzz wuzz wuzz’ dengan stabilo kuning. Wahai para pujangga, apakah hal-hal receh gini yang membuat kumpulan puisi malah menjadi menarik?

Dari daftar ini saya paling suka ‘Jalan-Jalan’, dan sekali lagi karena kesederhanaannya, dekat dengan kita, kita jadi bagian dalamnya. Saya ketik ulang deh, cuma beberapa kalimat:

Seorang anak di dalam kereta, didorong ibunya | Anak bertanya, “Ke mana kita pergi, Ibu?”, jawab Ibu, “Keliling-keliling saja.” | Anak melihat bola-bola dan balon-balon di toko mainan, ibu mengamati berbagai rupa biskuit Itali di balik kaca | Anak menonton mobil dan sepeda yang bersliweran di jalan, ibu membaca sebuah pengumuman tentang karnaval | Anak melihat anjing lewat dan boneka jerapah yang jatuh di jalan, ibu bersapa dengan tetangga tentang cuaca | Anak mengamati poster-poster film di bioskop, ibu juga | Anak melihat dan menunjuk lampu yang baru saja dinyalakan, ibu berkata kepada anak tentang gelap yang sudah dekat | Anak menunjuk sekelompok burung-burung melintas langit senja, ibu berkata sudah waktunya kita berbalik pulang | Anak bertanya, “Besok keliling-keliling lagi?”, ibu mengangguk, mendorong kereta lebih cepat.

Sederhana kan? Justru kekuatan utama fiksi adalah kita ‘ada’ di dalamnya. Mengingkanku akan pengalaman jalan ke mal dengan hanya ‘menonton’ keadaan, melihat sekeliling, menyaksikan hiruk pikuk kesibukan manusia, makhluk yang bisa berpikir ini. Kebetulan saya hobi jalan kaki. Membayangkan segalanya akan disapu zaman, generasi dulu kita yang ganti, generasi sekarang akan diganti anak cucu. Dan interaksi anak-ibu ini sungguh lucu. Sekeping cerita Jalan-Jalan yang bagi setiap umat, hanyalah fakta kecil sambil lalu. Kebahagiaan mewujud dari dalam, bukan?

Kalau mau, kalian bisa menelusur blog ini, saya ga banyak membaca dan ulas puisi. Dari ratusan buku, hanya segelintir yang pernah kunikmati semacam Chairil Anwar, itupun semi-biografi Sjuman Djaya: Aku gara-gara AADC. James Joyce dalam Bilik Musik, yang setelah kuingat lagi ternyata belum kuulas. Atasi Amin dalam Potret Diri hingga karya Nanang Suryadi dalam Penyair Midas, yang ini pemberian teman menang kuis. Oiya, jangan lupakan jua buku Yopi Setia Umbara: Mengukur Jalan, Mengulur Waktu yang saat kubeli ternyata karena ketertarikan kovernya aduhai, dan kalau ingatanku kulempar dua bulan lalu, saya ‘terjerat’ Ibu Mendulang ini lebih karena kovernya yang bagus berwujud kuda-kudaan dengan latar yang cathy. Duh! Dijamin dalam koleksiku, tak ada (atau belum ada?) nama-nama besar Penyair Joko Pinurbo, tak ada bukunya Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Sitor Situmorang hingga mungkin yang hampir dekat dan sering kutimang bukunya di Gramedia, Goenawan Mohamad, hingga detik ini tak pernah kutenteng ke kasir. Betapa kering dahaga syair romantis di daftarku. Hiks,…

Saya belum nyaman sama rima puisi. Termasuk setelah menuntaskan baca Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi, debut karyanya yang menyabet juara III Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2015. Saya malah terpesona sama editor bernama Sasa. Sudah puluhan terbitan Gramedia, akhir-akhir ini di tangan beliau hal-hal non teknis ini jadi nyaman dilahap. Minimalis kesalahan ketik, enak buat baca. Bahkan pernah saking penasarannya sama ini orang, satu buku siap saya coretin bila ada typo atau kesalahan dasar dalam cetak, sampai sekarang belum nemu. Keren. Memang selayaknya penerbit besar punya editor berkelas, dan jelas Sasa mencipta hal itu dari buku tebal sampai buku setipis ini, semuanya bagus. Hebat!

Pas SD dulu saat baca Majalah Bobo, mayoritas pinjam atau beli murah bekas 100 perak di lapak buku dekat Tugu Gladag Solo, kolom puisi sering kali kuabaikan. Selain panel komik yang terkenal itu, saya lebih suka artikel di Arena Kecil, Tak Disangka hingga cerpen-cerpen kiriman pembaca. Puisi hampir selalu kena skip. Oiya, ada juga Majalah Ananda yang lebih padat tulisan karya, saya lebih sreg di bagian humor malah ketimbang puisi. Pas SMP bahkan saat tugas Bahasa Indonesia bikin puisi, puisi saya lebih seakan narasi prosa ketimbang berima yang membuat bu guru dan seisi kelas tertawa ketika dibaca di depan. Entah beneran karena lucu atau saking amburadul nan kacau. Tentang pengalaman mencuri mangga tetangga dengan ketapel. Dan sampai kini sudah keluarga pun, dalam rak perpus mungilku tak banyak buku puisi. Walau setiap ulang tahun anak istri, saya belikan satu pot bunga, saya ini ga romantis. Walaupun setiap pagi bangun tidur, saya kecup mereka di kedua pipi, saya ini tak romantis. Sekalipun setiap berangkat kerja saya cium keningnya, saya merasa ga bisa meromantis. Walaupun sepulang kerja, istri cium tangan dan anak minta gendong dalam dua putaran, jelas saya belum bisa mencipta puisi yang syairnya melodrama bikin air mata keluar atau membuat trenyuh pembaca (atau pendengar?). Saya tetaplah pembaca fiksi, segala rupa, segala jenis. Namun tidak untuk puisi, salut buat para penikmat karya genre yang satu ini.

Jadi bagaimana penilaian Ibu Mendulang? Manifesto Flora jelas memuaskan, seharusnya menang karya pertama atau kedua. Kumpulan puisi ini kurasa sama saja dengan buku kumpulan syair yang lain, kayaknya pernah saya bilang gini ya? Hehe, repeat order please! Rataan tak memuaskan, tapi juga ga mengecewakan. Ga bikin kapok karena jelas ini bukan puisi terakhir yang kubeli atau nikmati, juga ga bikin candu karena memang beginilah selera. Tak bisa ditebak. Sebagai uneg-uneg penutup saya kutip kalimat terakhir buku ini, untuk saya, untuk kamu, untuk kita. Mungkin.

“…atau sekali-kali, sembunyilah.”

Ibu Mendulang Anak Berlari | Oleh Cyntha Hariadi | GM 616202020 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, April 2016 | Penyelia naskah Mirna Yulistianti | Copy editor Sasa | Desainer buku Roy Wisnu | Setter Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-2763-1 | Skor: 3/5

Karawang, 171218 – Nikita Willy – Lebih Dari Indah

Bunga Rose di taman?
Bunga Rose di taman, Rani, Intan, Rayen

Iklan

Tom Sawyer: Anak Amerika – Mark Twain

Tom Sawyer: Anak Amerika – Mark Twain

Suatu ketika di St. Petersburg, Amerika Serikat di abad ke Sembilan Belas…

Kebajikan adalah hal yang bisa didengar orang tuli dan bisa dilihat oleh orang buta.”

Luar biasa. Ini adalah buku klasik, salah satu terbaik yang pernah kubaca. Keren sekali. Nama aslinya Thomas Sawyer, ia adalah anak nakal, berandal nan cerdik. Ia menjadi impian saya sewaktu kecil, bedanya saya hanya bisa berangan, Tom mewujudkan kisah petualangan itu. Ia anak tunggal dari kakak bibi Polly yang kini menjadi orang tua angkat. Sid dan Mary adalah sepupunya, Sid selalu melaporkan kenakalan-kenakalan Tom yang bersama Huckberry Finn, sahabatnya. “Sebab ia tak pernah mengganggu kesenangan orang sebagai engkau. Jika tidak cukup dapat hukuman, niscaya tangan engkau ini sehari-hari tidak akan ke luar-luar dari tempat gula.” Mary lebih kalem dan kadang mengajak Tom belajar menghafal Kitab berlembar-lembar. Nasehat Pendeta: ‘Tapi tiadalah engkau menyesal karena menghafalkannya, ilmu pengetahuan itu lebih besar harganya daripada segala harta di dunia ini.’ Di hari Minggu di Gereja Tom mudah bosan mendengar ceramah. Hanya kesudahan khotbah itu sudah mendapat rintangan yang besar, karena di antara kanak-kanak yang nakalnya sudah banyak yang resah, sebab mendengarkan khotbah yang panjang dan tak dapat difahamkan lagi.

Sedari pembuka kita diajak mengenal karakter nyeneh anak Amerika abad ke sembilan belas, yang kalau dipikir-pikir kok mirip sekali dengan kenakalan angkatanku sewaktu kecil. Saya melalui masa SD tahun 1990an, karena kemiripan inilah seakan jadi semacam nostalgila. Kalau direnteng banyak ulahnya: ga masuk sekolah dengan mencari berbagai alasan, kabur memancing dan mandi di sungai berkepanjangan, yang ngeles dari bibi Polly. Dihukum melabur tembok dan pagar di hari Sabtu saat anak-anak sedang liburan, dan seterusnya. “Maka insyaflah Tom bahwa hidup di dunia ini tidak senantiasa menanggung sengasara saja, asal menggunakan kecerdikan.” Saat membaca kata ‘melabur’ saya ketawa, karena doeloe emang di rumah masa kecilku tembok dan pagar dilabur pakai batu kapur putih yang melepuh saat direndam air, nah air itulah yang buat cat dinding! Kidz jaman now gagal paham.

Konflik pertama mencipa, suatu tengah malam Tom dan Huck hendak memantrai bangkai kucing di tanah pekuburan. Huckleberry Finn yaitu seorang anak yang diberi gelaran ‘anak sampah’ oleh kawan-kawannya. Huckleberry ialah anak seorang pemabuk, yang tidak dihargai lagi dalam pergaulan. Bibi Polly pun melarang Tom bermain-main dengannya dan oleh karena itulah Tom gemar sekali bergaul dengannya. Tak dinyana mereka jadi saksi pembunuhan dokter Robinson. Dua orang pencuri mayat, Injun Joe dan Muff Potter menjadi penggali curi mayat, saat akan deal dan kisruh uang, Sang dokter ditikam saat Potter pingsan dengan pisaunya oleh Joe. Tentu saja kedua anak shock, dan ketakutan. Huck Finn dan Tom Sawyer bersumpah hari ini bahwa mereka akan menutup mulut tentang perkara ini, dan mereka suka rela mati dengan sekonyong-konyong daripada menerangkan yang sebenarnya. Tapi esoknya yang ditangkap dan dituduh pembunuh adalah Potter karena di TKP ada pisau miliknya, maka gundahlah hati mereka. Apalagi nantinya di persidangan pengacara Potter berujar: “Kepada saksi inipun saya tidak hendak bertanya sesuatu apa.

Kisah cintanya dengan Becky Thatcher juga seru. Tunangan-tunangan anak, gombal cara jadul. “Kalau aku sudah besar, nanti aku akan menjadi badut di komidi itu.”

Suatu hari bertiga kabur dari rumah ke Pulau seberang sungai Mississippi, menginap, berapi unggun, mengail dan bermain bajak laut. Maka sampailah mereka pada mata air yang dasarnya seolah-olah ditaburi dengan ratna mutu manikam, disebabkan oleh titik-titik keluar dari tanah. “Tom Sawyer, Penyamun Hitam dari laut Sepanyol. Huck Finn si Tangan Merah dan Joe Harper, Hantu Lautan Raya.” Hidup serupa ini memang menyenangkan hati. Lebih dari itu, tiadalah kuharap-harap. Biasanya tiadalah cukup yang hendak kumakan dan di sini tidak ada orang yang menyepak dan menyiksa akan daku. Tidak terpaksa bangun pagi, tidak usah mencuci badan, tidak usah pergi sekolah dan melakukan pekerjaan lain yang bukan-bukan. Bahwa merekalah ketiga anak yang tidak ada bandingan mashurnya di Amerika.

Hilangnya mereka membuat warga St. Petersburg panik dan melakukan pencarian besar-besaran. Kapal dikerahkan, mantra roti apung dirapalkan. Tom yang menatap tingkah itu bertanya-tanya siapa yang mati tenggelam, dan baru sadarlah mereka.“Kawan-kawan, aku tahu siapa yang mati terbenam, kitalah.

Setelah berhari-hari bibi Polly pun pasrah, hari Minggu nanti di Gereja akan dilakukan misa arwah. “Benar ia seorang berandal, benar ia meracun hatiku sepanjang hari, tapi kalau suaranya tak terdengar lagi di telingaku, sunyi dan sepilah rasanya di dunia ini bagiku.”

Tapi segala sesuatupun ada hingganya. Kejutan dicipta dengan manis dan nakal. Banyak pula orang-orang yang berdesak-desakan di sekeliling kereta itu, sambil bertempik dan bersorak.

Serupa itu benar yang terjadi. Tidak berlainan serabut juga. Engkau menceritakan seolah-olah engkau hadir sendiri pada malam itu, Tom.” Bagian ketika Tom membual itu sungguh kocak, seolah ada arwah yang merasuki mimpi, kisah absurb yang tiada dua. Tapi akhirnya ketahuan juga. “… sebenarnya tidak sekali-kali saya bermaksud hendak menunjukkan budi yang hina, – sebenar-benarnya tidak. Dusta itu dusta yang berpaedah – buat penghibur hati orang tua. Jika benar ia berdusta, tidaklah aku berkecil hati.

Setelah tepar dua minggu karena sakit. Di tengah-tengah pakansi bercabullah penyakit campak, dan Tom tertawan dua minggu lamanya di atas tempat tidurnya, petualangan berikutnya Tom dan Huck adalah mencari harta karun, menggali tanah di mana-mana. Barang siapa mendapat uang atau harta yang terkubur dalam tanah boleh memiliki harta itu, meskipun di dapatnya di tanah siapa juga. Mereka percaya ada harta terpendam yang patut diburu. Mereka berlaku malam agar tak dicurigai warga. Gelap gulita semalam itu, angin dan badai turunlah menggetarkan insan seluruh alam. Di langit cemerlang bintang sebuah. Sejauh-jauh mata memandang tak adalah lagi bintang yang nampak, hanya yang sebuah itu saja. Lebih menantang lagi dilakuakn pada Jum’at malam. “Semua orang gila tahu, bahwa Jum’at adalah hari nahas, Huck! Bukankah engkau yang pertama-tama mendapat ilmu itu.”

Tom berkata dalam hati bahwa ia seumur hidup tak akan percaya lagi kepada sekalian hakim yang sudah tua. Awalnya terasa sia-sia, namun saat mereka sampai di rumah tua, rumah berhantu. Sekali lagi mereka menjadi saksi, dan wow benar-benar melihat uang dan emas bergelimang dipegang dua orang yang tak asing. Pada sangkanya perkataan uang ‘ratusan’ atau ‘ribuan’ itu hanyalah ada pada hitungan saja, sebenarnya uang itu mustahil bisa sekali terkumpul di dunia ini. Tidak masuk dia akal orang bahwa manusia bisa memiliki uang dollar yang terkumpul sampai beratus, apalagi beribu-ribu.

Dua orang itu salah satunya Joe yang kabur dari persidangan dan mereka merencana jahat lagi. Uang dalam peti itu dipindahkan dan akan disimpan di kamar nomor dua. Angka ini akan jadi teka-teki bak penelusuran detektif. Orang hidup itu hanya sekali beroleh jalan buat mendapat rejeki yang luar biasa. Jika tidak diperolehnya sekali itu maka menimpanglah rejeki tadi dan seumur hidupnya akan tidak bertemu-temu lagi.

Setan-setan itu terpelihara dari peluru kami. Twist dicipta. Joe punya rencana jahat, bukan pembuhan namun lebih kejam, tentang balas dendam. Dan sebuah goa misterius menjadi akhir petualangan mendebarkan itu. “Sangkaku kitab-kitab dari sekolah agama.” Meskipun Injun Joe dengan kawannya sudah dibawa setan pindah ke negerinya, tapi aku tahu sekeliling kita masih banyak kawan-kawannya yang masih hidup.

Mark Twain adalah legenda besar seni tulis cerita anak-anak. Lahir dengan nama Samuel Langhorne Clemens di Florida, Missouri, Amerika pada tanggal 30 November 1835. Sekarang tiap tanggal 30 November diperingati sebagai hari Mark Twain. Semasa remaja dia menggemari kapal-kapal yang berlalu lalang di sungai Mississippi, selama empat tahun dia ikut dalam dalam pelayaran. Ia menjadi tukang cetak di usia muda, merangkap juru tulis. Dari sanalah bakat mengarangnya terasah. Saat Perang Saudara pecah pada tahun 1860 beliau pindah ke California dan mulai menggunakan nama pena Mark Twain yang artinya ‘dua depa dalamnya’. Sebuah istilah yang dipakai awak kapal saat mengukur dalamnya air. Beliau meninggal dunia di Redding, Connecticut pada tanggal 21 April 1910.

Setelah menyelesaikan baca Tom tentu saja saya tak sabar melanjutkan sekuelnya yang mengambil judul Petualangan Huckleberry Finn. Di akhir kisah kita tahu, ia ‘terjerat’ dalam kehidupan normal yang tak disukai. Jiwanya adalah petualang.

“Aku mesti ke Gereja, tidak boleh menangkap langau, tidak boleh bersugi tembakau, tidak boleh menghisap pipa, dan sehari-hari Minggu harus memakai sepatu. Nyonya itu makan jika lonceng berbunyi, ia tidur jika lonceng berbunyi, ia bangun jika lonceng itu berbunyi dan semua meski teratur, semua pada waktunya, hingga manusia biasa saja tidak kuat menurutkan kebiasaannya.”

Huck! Memang begitu aturan hidup.”

Dalam hati mereka bertanya-tanya apa yang bisa diberikan oleh peradaban modern untuk menggantikan zaman yang hilang itu. Mereka berkata, lebih baik jadi anak buah Robin Hood setahun ketimbang menjadi Presiden Amerika Serikat seumur hidup. Bravo Bravo Bravo!

Tom Sawyer: Anak Amerika  | by Mark Twain | diterjemahkan dari The adventure of Tom Sawyer | Penerbit Balai Pustaka | BP No. 804 | pertama dicetak, 1928 | cetakan ketujuh, 2001 | alih bahasa Abdoel Moeis | 226 hlm.; 21 cm | ISBN 979-407-883-2 | perancang sampul Supriyono | CMK 010 | Skor: 5/5

Karawang, 26-301017 – Sherina Munaf – Singing Pixie