Atraksi Lumba-Lumba – Pratiwi Juliani

Orang-orang desa bangun lebih pagi daripada dan mereka hidup cermat: listrik, air, dan segala sesuatunya harus digunakan seperlunya saja…”

Seperti inilah seharunya cerita pendek dibuat. Kisah ada di sekitar kita, tampak nyata, tampak apa adanya. Atraksinya sendiri berakhir tak semulus yang diharapkan, tapi terus tersimpan dalam ingat seolah abadi. “… panas sekali bulan ini. Semoga panen bagus.”

#1. Menyayangi Bianglala
Pengalaman naik bianglala anak kecil yang diceritakan kepada teman-teman sekelas, membagi permen dan pamer khas anak sekolah. Anak orang kaya, yang habis berlibur ke kota. Tampak manis dan menggemaskan. Ternyata, orang tua Rima cerai, ia hanya sesekali ajak keluar kota sama ayahnya, dan bainglala adalah salah satu moment yang diambil untuk menancapkan gores, karena berikutnya waktu digulir cepat. Ibunya menikah lagi, mereka pindah dan ketika sudah dewasa, ia kembali mengukir kenangan kembali ke kampung untuk sebuah pemakaman. “Ayolah kita ke pasar malam tengah kota selepas acara tahlil tiga hari.”

#2. Rambutan yang Timbul di Kepala
Cerita biji yang tertelan lalu ditakuti akan tumbuh dalam perut dengan batang tumbuh tembus ke kepala juga kualami dulu. Seringnya biji asam, karena di kampung ada pohon asam besar sekali, dikeramatkan, dibuat pesta anak-anak saat berbuah, dan banyak sekali remaja naik pohonnya yang rindang. Sang Aku memiliki kenangan tentang lomba makan rambutan di masa kecilnya, dan saat itu tiba-tiba ia ingin makan rambutan, Mujib temannya yang gembeng ga sengaja menelan biji rambutan. Ditakut-takuti, makin kencang nangisnya. Hari masih sangat pagi, toko yang menjualnya ada tujuh kilometer jauhnya, berkenalan dengan lelaki menarik, sambil ngopi dan makan rambutan berkaleng, mereka berkisah. “Tidak ada. Aku sering membaca. Tetapi membaca itu hal umum yang dilakukan semua orang, bukan hal yang special.” Kita semua tidak lebih dari sebuah foto profil yang bisu.

#3. Atraksi Lumba-Lumba
Seolah ini adalah penggalan kisah di judul pertama. Ameli dan ayahnya memiliki kenangan pahit tentang sebuah acara karnaval atraksi lumba-lumba. Bangun pagi, berkendara jauh, akan menontonnya. Penonton penuh, dan antrian panjang. Apes, mereka kehabisan tempat. Berharap bisa masuk, dengan menyogok petugas jaga, malah minta dua kali harganya. Dan mereka gagal menyaksikan. Kenangan yang unik memang yang akan tersimpan erat terikat dalam kepala, dan kegagalan serta efeknya inilah yang terlihat dalam tawanya saat di Yogyakarta, kelak. “Oh kau anak yang baik, semoga kelak nasibmu baik.”

#4. Pecundang
Dari novel Maxim Gorky berjudul Pecundang, kita diajak berkelana tentang hidup dan kepahitannya. Kita tahu sang Penulis bunuh diri dengan meninggalkan sekalimat buat anak dan istrinya, ‘Goodbye my beloved.’ Cerita dalam perjalanan bermobil memang menarik untuk dikupas, melalalngbuana. memiliki kenangan pahit tentang ayahnya, sebuah pohon beringin di pinggir jalan mengurainya, ada maaf sebelum terlambat. Sebuah kebesaran hati, legawa, tanggung jawab, dan ketulusan. Oh ya? Ingat cerpen ini berjudul pecundang, benarkah kata maaf sudah berucap? “Apakah kau menangis saat dia dikuburkan?

#5. Pembalut
Kisah ini juga seakan adalah nukilan dari cerpen pertama dan ketiga. Memiliki kenangan ketika bersekolah menengah lanjutan pertama. Sempat mengingin untuk sekolah asrama, saat meninjau bersama ibunya ke sekolah tersebut ketika libur tahun, betapa kecewa. Betapa jorok, dan tak terawat bangunannya. Bahkan air di kamar mandi tak menyala, dengan sampah berserakan. Akhirnya ia melanjutkan di sekolah tengah kota yang lebih umum. Pembalut di sini baru bersinggung saat salah satu siswi kurang berpunya sedang mens pas upacara bendera, dibelikan pembalut di koperasi sekolah. Mereka saling mengenal walau tak akrab, lalu suatu ketika gadis itutak kelihatan, ia keluar sekolah. Waktu merentang dan mereka kembali bertemu di sebuah warung soto yang ternyata milik sang gadis. Semua tampak nyata dan membumi, dan bisa kita jumpai di sekitar kita, bukan? “Tidak perlu dimengerti, aku juga tidak mengerti akan banyak hal. Andai aku bias lebih mengerti banyak hal.”

#6. Seekor Kucing dan Gelandangan Tua
Ini satu-satunya cerita mengambil sudut orang ketiga, seolah pencerita mendongengkan kepada kita sebuah pengalaman mengamati kejadian di alun-alun pinggir kota yang ramai, pemuda dan kebaikan hatinya bertemu gelandangan tua dan kucing sakit, memberi makan kucing dan pak tua, karena pemuda tinggal di kontrakan atas, sang gelandangan yang memutuskan merawat si empus dan suatu malam mereka kembali bertemu, lebih tepatnya, sang pemuda dating ke area pasar tempat gelandangan istirahat, makan malam yang hangat, kali ini tak ada si empus. “Tidak. Aku menyayanginya. Dia mati dalam keadaan ada seseorang yang menyayanginya.”

#7. Film
Berkenalan, menonton bareng, ngopi dalam cerita renyah. Kok rasanya enak sekali ya, saya belum pernah mengalami hal semacam itu dalam sehari. Padahal kita tahu, pengalaman semacam ini bisa terwujud, menyenangkan kedua belah pihak. Cerita aneh untuk film aneh. Mal masing tutup di pagi hari, gedung bioskop juga belum buka dong. Mara datang terlalu dini, ngopi dulu dan berkenalan dengan laki-laki yang menarik bernama Ricky, dan ditimpali Martin. Lhaa… seperti itulah canda alir tanpa beban. Ngobrol beberapa hal, berniat nonton film rumit, lalu mendiskusikannya. Mara pulang larut, suaminya menyambut dalam keanehan pula, dan tadaaa… “Jangan menjadi gelas yang penuh, Anwar.” Hiks, sayang Gundala dapat ulasan negatif.

#8. Kepulangan
Ini mungkin yang terbaik. Perjalanan pulang ke rumah nenek yang misterius, sungguh aneh, sungguh janggal. Pertengkaran orang tua mereka memicu benih cerai, Anggi dan kakaknya menguping, lalu pura-pura tidur saat ibunya masuk kamar dan meminta bergegas, malam itu juga mereka akan ke rumah nenek. Ayahnya menyetir dengan gamang, malam itu gerimis, dan dari sudut anak-anak kita diajak menjadi saksi akhir sebuah perjalanan satu kehidupan. “Masuklah, temani ibumu.” Begidik.

#9. Yang Teratur dan Yang Tidak Teratur
Ini mungkin kisah yang paling biasa, seorang pelukis coba mencipta ruangan dengan kesempurnaan guna mencipta karya. Jullie membeli mebel dan sejenisnya dengan mengajak Ami lalu mengecat-nya. Sang pemabuk yang stylist. Membuat tempat santai di rumah belakang, dengan musik jazz, dan kenyamanan hidup. “Jangan mabuk jika sedang bekerja dengank. Jika kau ingin mabuk, liburlah dulu.”

#10. Rumah Bercat Putih
Judulnya mengingatkanku pada novel John Grisham, A Painted House yang diterjemahkan Gramedia menjadi Rumah Bercat Putih. Isinya tentang pasangan tua yang dulu bercerai, Yos menderita batuk berdarah, didatangi mantan istrinya Marta yang kini menjanda. Mereka melewatkan hari itu dengan mengharu, masa tua pasti datang, kita tak tahu apa yang akan terjadi. Di sini, Yos sakit keras dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Anak kesayangan mereka Anggi datang, membisikkan kata-kata dalam tidur Yos dan akankah ada kesempatan lagi bersua dalam kehangatan keluarga? “Hidup tidak pernah mudah sejak aku meninggalkanmu…

#11. Cerita-Cerita Kematian
Pasangan yang merayakan malam dansa, menginap di sebuah hotel lalu menyaksikan kematian, pemilik syalawan bunuh diri. Hantu itu tidak ada, dan tuhan juga. Diskusi larut dalam keterasingan masing-masing. Bagus sih, open minded. Mereka menikmati waktu kebersamaan, berdiskusi tentang hal-hal yang diluar batas dengan enak diikuti. Di mana jiwa pergi ketika berpisah dengan tubuh? “Kebenaran itu universal. Hantu memang tidak ada. Ini soal mekanika kuantum. Kau terlalu pakai perasaan.”

Saya yakin, berbulan-bulan dari sekarang, saya masih bisa dengan santai mengingat kisah-kisah di sini dengan hanya membaca judul cerpennya. Buku bagus ini, kenapa ga masuk ke daftar pendek? Saya bisa yakin pula, mayoritas adalah pengalaman pribadi Pratiwi Julian dengan modifikasi di sana-sini tentunya. Saya ga tahu kehidupan keluarga dan orang-orang terdekatnya, tapi jelas sekali cerita yang disaji tampak nyata. Contoh dalam Atraksi Lumba-Lumba, di adegan pembuka kita dikasih tahu sang karakter utama berusia tujuh tahun di tahun 1998, pas dengan kelahiran Penulis di tahun 1991.

Done. Sepuluh dari sepuluh kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 kategori prosa selesai baca dan ulas semua. Syukurlah, setelah pembuka yang buruk dan naik turun kehangatan, daftar ini ditutup dengan sangat bagus. Kumpualn cerita pendek ini dapat stempel Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2018. Good luck PJ.

Bagus narasinya, bagus dialognya, bagus susunan plotnya. Mengalir merdu. Biasanya kalau pengalaman pertama melahap buku puas, karya berikutnya tinggal masalah waktu untuk dinikmati pula. Saya ingin menutup catatan ini dengan kutipan satu paragraf di cerpen terakhir halaman 250. Menurutku, tuturan kalimatnya sungguh alami.

Kami sedang dalam sebuah taksi, melintasi jalan aspal yang mulia sepi di bawah lampu-lampu bercahaya kuning yang digantung pada besi hitam berukir. Tiang lampu hias itu ditanam pada trotoar yang membagi jalan menjadi lajur kini dan kanan. Wajahnya menoleh ke sebuah bangunan bertingkat yang teramat besar, yang pada bagian depannya terpasang jendela-jendela lebar berkaca mati, sedang penerangan yang dihidupkan di sekelilingnya seperti tidak mampu menandingi kesuramannya: tembok-tembok putih yang menguning dan atap merah yang menjadi hitam karena malam tidak memiliki bulan.

Atraksi Lumba-Lumba dan Kisah-Kisah Lainnya | Oleh Pratiwi Juliani | Penerbit Kepustakan Gramedia Populer | KPG 59 18 01548 | Cetakan pertama, September 2018 | Desaigner Aditya Putra | Ilustrator Aditya Putra | Penataletak Teguh Tri Erdyan | Penyunting Leila S. Chudori | x + 277 hlm.; 11,5 cm x 17,5 cm | ISBN 978-602-481-025-2 | Skor: 4/5

Untuk Mom.

Karawang, 131019-141019 – Whitney Houston – I Will Always Love You

Thx to Paperbookplane, Yogyakarta. Empat kali kesempatan duduk depan laptop: Sabtu pagi, Minggu pagi, Minggu sore kemarin, dan Senin pagi tadi. Editing ulas bahkan kulakukan saat istirahat kerja Senin (14/10/19) di ruang meeting Initiative and Drive, dengan hanya berteman kopi dan dingin ruangan.

Iklan

Jamaloke – Zoya Herawati

Dalam pandangan paling sempit sekalipun, manusia cenderung mempertahankan hak hidupnya. Kalau kesalahan itu terletak pada seni mengukir nasib, apa gunanya manusia punya pikiran.”

Peperangan sepanjang sejarah manusia, adalah kebiadaban yang direstui, setidaknya oleh kekuatan yang dapat dengan mudah menggilas pihak yang lemah. Novel sejarah dari zaman kemerdekaan sampai zaman awal Orde Baru. Premisnya menarik, menawarkan gejolak yang terjadi di dalam, seteru lebih banyak dengan orang-orang kita sendiri, bukan Belanda atau Jepang, garis besarnya kita semua sudah tahu. Bagaimana Hari Pahlawan tercipta, bagaimana Belanda coba lagi mendompleng ke Negara kita pasca Jepang runtuh, bagaimana kita mengalami masa sulit setelah Proklamasi justru saling sikut antar etnis dan golongan. Sebagian besar sudah tertera di buku sejarah. Aku memandangnya tanpa ekspresi, bagiku gambar-gambar tersebut tak lebih dari sekadar benda mati. Kalau orang lain mengekspresikan dengan arti lain, itu urusan mereka.

Sebagai pembuka, kita sudah dikasih tahu bahwa novel ini diangkat dari pengalaman seorang veteran perang. Walau tidak seluruhnya, jalan ceritanya mirip dengan perjalanan hidupnya. Selebihnya, jalan cerita dalam novel ini adalah atas dasar imajinasi penulis. Catatan sejarah ada di mana-mana, di benakku juga.

Kisahnya adalah tentang aku, karakter tanpa nama yang memiliki dua saudara, terlahir miskin di era kolonial. Kesadaran muncul secara tiba-tiba. Dalam situasi seperti ini, hal yang paling remeh sekalipun sulit dilaksanakan. Sekolah adalah hal langka, maka ketika ia berhasil lulus Vervolk School dengan biaya penuh perjuangan, aku melanjutkan HIS. Melewatkan masa remaja di tahun 1940an, saksi sejarah berdirinya Indonesia. Bagaimana kedatangan Jepang yang berhasil mengusir Belanda disambut sorak sorai, sebagai saudara tua. Saat pendudukan Jepang itulah ayahku meninggal. Ga sempat mengalami kemerdekaan. Secara pelan-pelan, kucoba untuk meredam semua kekecewaan yang ditimbulkan keadaan.

Untuk menyibukan diri, aku bergabung dengan PETA, kesatuan militer bentukan Jepang, masuk sebagai Pelopor. Tanggal 14 Februari 1945, PETA melakukan pemberontakan, untuk menagih janji merdeka. Saat itulah masa-masa krusial kita. Aku selalu mencoba menenangkan Emak, yang kini sendiri setelah dua saudaranya menghilang tanpa jejak. Toh setiap lakon dalam hidup menjadi bagian yang tidak lagi penting setelah kita mampu melepaskannya dari pikiran-pikiran. Sampailah kita di hari penting, 17 Agustus 1945. Perjuangan, apapun maknanya, menurut perasaan mereka tak akan pernah usai. Tiba-tiba saja kebencianku pada perang makin menjadi, melebihi waktu-waktu sebelumnya. Karena peperangan telah secara paksa berhasil mengoyak-koyak impian remajaku, karena peperangan telah dengan bengis merenggutkan seluruh harapanku atas orang-orang kucintai.

Masalah kini adalah mempertahankannya, tipu muslihat, kekecewaan, ketidakjujuran, sewaktu waktu bisa mengecoh siapa saja yang lengah. Jiwa mudaku juga meronta, maka pencarian jodoh dilaksanakan. Wanita, bagiku selalu saja menambah persoalan yang sudah ada menjadi bertambah ruwet, karena wanita sendiri adalah sebuah masalah yangtak terselesaikan. Sayang di era peralihan dengan banyak permasalahan ekonomi ini, cinta itu kandas. Kuletakkan seluruh persoalan pada pikiran, bukan pada perasaan. Seseorang yang mampu melecehkan dan mencemooh diri sendiri, menertawakan dan mengejek diri sendiri, adalah satria bagi nuraninya.

Surabaya, seperti kita tahu menggelar perang paling akbar Republik ini dalam mempertahankan kemerdekaan. Kebanggaan membuat bulu-bulu di tanganku berdiri, walau tidak kuingkari terselip juga sepercik keraguan-keraguan dalam benak. Beberapa percobaan menggulingkan pemerintahan juga terjadi. Aku tak bisa mengerti mengapa orang harus melakukan penghianatan. Apakah krisis itu sudah sedemikian parah?! Sebegitu jauh aku tak bisa meraba sampai dimana krisis kepercayaan kepada diri sendiri melanda para prajurit.

Perjuangan belum berakhir. Aku bergabung dengan tentara gabungan Pemerintah, bersama pasukan Serigala. Agaknya nama Serigala mempunyai kekuatan khusus bagi semangat prajurit-prajurit. Kesedihan bisa datang setiap saat. Kesengsaraan dan kemiskinan menyertai dengan kesetiaan sempurna sampai ke liang lahat. Emak meninggal dengan dramatis ketika isu kematianku menyeruak, padahal dalam Agresi Militer Belanda, saya hanya terluka dan tinggal dalam perawatan. Pasang surut sejarah terus mengalir, sementara gerilya-gerilya masih terus menghantui Belanda dengan ketegarannya menembus benteng-benteng pertahanan mereka. Sesungguhnya mereka tidak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi. Yang mereka ketahui adalah mengapa mereka selalu dapat dikalahkan oleh kekuatan, mereka menyesali nasib, mengapa mereka tetap bodoh walau terdapat pengajaran dimana-mana…

Kata Jamaloke baru muncul di halaman 116. Jamaloke, sandang pangan goleko dewe, tak ada arti khusus hanya dipakai untuk melengkapi keindahan pada kata sandang pangan goleko dewe yang artinya, sandang pangan cari sendiri. Kata jamaloke sering dipakai kaum gerilya yang beroperasi di daerah di Jawa Timur. Sebuah permainan kata untuk para prajurit yang diminta bertahan dengan pakaian dan makanan dengan upaya sendiri.

Susahnya dalam dunia logika, semua permainan bisa diterima, bertolak dari apa dasar pijakan tindakan-tindakan penghianatan itu bermula. Setelah negara sedikit tenang, para sahabat yang merangkul dalam era perjuangan, ada yang menjilat demi uang atau takhta. Kecurangan itu ada di mana-mana, sama seperti penghianatan, ia tumbuh subur tanpa bisa dicegah. Khotbah yang keluar dari mulut penghianat adalah bagai racun yang memastikan hanya dalam beberapa detik. Sang aku tetap pada kemandirian, mengayuh becak, menyewakan ruang dalam rumahnya, bertahan hidup di rakyat bawah. Manusia telah menjadi budak dirinya sendiri dalam satu ruang hampa. Penduduk desa yang lugu, menganggap semua yang keluar dari mulut pamong, merupakan kebijaksanaan yang tak perlu dikaji terlalu njelimet.

Hanya orang gila yang tak tertarik pada kesempatan dan peluang, aku dan dia punya hak untuk menentukan jalan hidup. Pasangan penyewa rumah memang tampak bermasalah, banyak selebaran, banyak menyelenggarakan pelatihan/seminar dan desas desus menyebar. Secara refleks, oh ini Partai Komunis. Dan sayangnya, Penulis ga menyimpan cadangan kemungkinan lain. Ya, semua datar. Maka saya langsung berasumsi, menuju tragedi tahun 1965 itu. Tak mudah bagiku untuk mempercayai orang lain, sebab di balik manisnya wajah, tersembunyi prasangka-prasangka buruk.

Orang tak akan pernah tahu jalan pikiran kita, jika bukan diri kita sendiri berusaha untuk menunjukkan. Ada satu teman yang ternyata senasib sepenanggungan, juga memutuskan mandiri, Masran teman perang. Pemahaman tentang nasib merupakan misteri yang sampai kapanpun tak bakalan mampu terkuakkan. Dengan kesadaran penuh, orang lebih menyukai kepalsuan, karena kepalsuan dapat dinikmati dengan mata wadag, bukan mata batin. Aku bahagia karena dapat menertawakan diri, melecehkan nasib, dan memandang dengan lucu segala kesulitan yang menghadang.

Di tahun genting 1965, kisah ini masih saja mengapungkan prasangka, menawarkan tanya apa yang akan terjadi. Bukan gitu sih seharusnya. Ingat, ini sebenarnya bukan buku sejarah, ini novel olahan imaji, cerita tak akan menarik bila menjelaskan hal-hal yang sudah pasti. Dan Jamaloke malah mengikuti garis itu. Pemahaman terhadap nafsu dan kehendak yang hanya sebatas daging dan kulit saja, membawa pikiranku ke arah pengertian lain tentang kehendak dan jiwa yang telah didasari dengan pikiran-pikiran bersih tentang nurani.

Overall: Apa gunanya mencerita sejarah yang sudah umum? Menuturkan ulang dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Tak ada kejutan, tak ada sesuatu yang wow mau dipertunjukkan, detail perang juga nanggung, drama sangat kurang, semua serba nanggung. Ekspektasiku adalah gelora Perang Surabaya yang legendaris, adegan penyobekan warna biru dalam bendera Belanda, pidato Bung Tomo, semangat membara Jenderal Sudirman, tak ditampailkan dengan bagus, semua nyaris tanpa ekspresi. Mungkin karena tokoh aku, hanya prajurit, tapi tetap, cerita yang bagus adalah cerita yang bisa mengungkapkan daya upaya karakter untuk memberikan warna lebih buat pembaca. Sang aku pasif, pasrah akan hidup, merasa tak dihargai negara. Dan pada akhirnya mati tanpa tanda jasa pahlawan, ataupun penyebutan namanya di buku sejarah. Dalam buku-buku Christie, pelayan atau pembantu rumah tangga selalu punya peran penting. Seharunya sekalipun prajurit, ledakan yang terdengar lebih nyaring karena ada di front perang terdepan. Sayang sekali…

Karena keyakinanku akan karma, aku ingin mengingkari sebuah janji, dengan harapan tak seorangpun akan berbuat serupa terhadapku. “Perang dan kewajiban mengajarkan seseorang untuk bersikap hati-hati terhadap segala bentuk tipu muslihat.”

Ia pasrah karena ia sudah merasa menang atas dirinya sendiri. Seperti ending-nya yang menyedihkan, betapa miskin, betapa kesendirian, betapa sunyi. Wanita seperti yang selama ini kubayangkan, tampaknya mampu bersikap tegas, meski sebenarnya agak naif. Hanya ada beberapa hal yang membedakan gadis itu dengan emak, selebihnya, mereka semua sama persis sama, egois dan serba membingungkan. Ternyata kesendirian bagiku merupakan karunia. Dalam situasi yang sulit ini aku merasa bersyukur karea taka da siapa-siapa yang harus menjadi tanggunganku. Berbahagialah perempuan yang pernah menolakku, dengan demikian, ia telah terhindar dari kemiskinan. Budaya diam serta pasrah terhadap lakon dan nasib, masih kuat dala, tatanan masyarakat, meski kedengarannya hal itu, amat merendahkan budi.

Tujuh sudah, tiga menuju.

“Itulah sepenggal lakon sejarah.”

Jamaloke | Oleh Zoya Herawati | Copyright 2019 | Halaman: xii + 224 | Ukuran: 13 cm x 19 cm | Editor S. Jai | Desain Ferdi Afrar | Penerbit Pagan Press | Cetakan pertama, November 2018 | ISBN 978-602-5934-26-1 | Skor: 3/5

Kupersembahkan Buat para Srikandi Indonesia

Karawang, 101019 – Sherina Munaf –Simfoni Hitam

Dicetak oleh Penerbit Indie, Pagan Press dengan kualitas cetak ala kadar, seolah buku hasil foto copy kertas buram pinggir jalan. Buku ini bisa menyeruak ke dalam kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Hebat. Ada ratusan typo, awalnya akan saya koreksi dan tampilkan, tapi saking banyaknya yo weslah.

Thx to TB Buruh Membaca

Tango & Sadimin – Ramayda Akmal

Jangan mau belajar dari kesalahan diri sendiri. Itu tandanya kau pernah berbuat salah dan bodoh. Belajarlah dari kesalahan orang lain. Di situlah letak kecerdikan.” – Tango

Akhirnya ada kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 yang benar-benar OK, benar-bener puas. Tango dan Sadimin adalah kisah sendu orang-orang pinggiran yang dituturkan begitu hidup, seolah kesedihan mereka nyata. Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas masalah beragam. Hikayat manusia kebanyakan dalam pusaran asmara, tragedi dan kerumitan hidup. Seorang mucikari tersohor yang memulai, seorang haji teladan yang menutup. Alurnya dicipta dengan ketelitian luar biasa yang membuat pembaca berpikir, berkhayal lalu geregetan dan bergumam duuh!

Kisahnya terjebak dalam lima sudut pasangan. Semua saling silang, menentukan nasib para karakter dengan jitu. Pertama Nini Randa & Satun Sadat. Nini adalah mucikari di pinggir sungai Cimanduy, bagaimana ia mendalami profesi itu dicerita dengan detail yang mengharu. Awal mula kemunculannya yang hanya dari orok terhanyut saat banjir menghadang, ia tumbuh dengan keras, memiliki kekuatan gaib, ketika masih perawan bisa melihat sosok orang yang baru meninggal dunia. Ia berbicara dengan kelelawar dan ulat-ulat, juga makhluk-makhluk lain. Lalu saat remaja, muncullah lelaki misterius Satun Sadat yang memberinya pengalaman baru. Menciptanya menjadi dewasa lebih cepat, membuatnya mengerti bahwa laki-laki yang bekerja di proyek dam, pencari pasir sampai warga sekitar membutuhakn kopi dan singkong, termasuk kehangatan lain. Bayangan dan ingatan itu pula yang membuat ia bertahan dari inisiasi yang mengikis rasa malu dan keangkuhan dasar seorang manusia dalam dirinya.

Nini menjadi terkenal setelah menampung para perempuan, membuatkannya gubuk di sekitar, menarik biaya, menjadikannya lebih cukup materi. Ia tidak mampu menghadapi hantu-hantu bernama kenangan yang diciptakannya sendiri dengan mandor-mandor atau laki-laki yang datang silih ganti datang di hidupnya. Ia memiliki dua anak, pertama Cainah yang dirawat dari hubungannya dengan Satun Sadat, kedua Sadimin dari Haji Misbah yang kala mendemo rumah pelacuran, kena guna-guna, terjerat dalam peluk dan terjadilah. Sadimin dititipkan kepada Uwa Mono, nelayan yang serba bisa. Prinsip hidupnya, nikmati saja, ngalir saja. Ada sebagian orang yang hidup tidak untuk mencari sesuatu, tetapi menikmati. Mereka berpikir dan mengamati banyak hal. Sementrara orang bergerak, mereka tetap pada titik yang sama. Mono kini turut mencipta sebuah jaring, meliuk dan melilit dalam romansa benang kusut.

Bagian kedua, Tango & Sadimin. Pasangan ini tampak saling mengisi, secara kaca mata umum. Tango adalah anak buah Nini Randa, Sadimin adalah buah hatinya yang disusupkan ke tetangga. Kita sampai di masa kini, Tango menjadi juragan, bisnis apa saja yang penting menghasilkan. Jualan barang haram, judi, dan tentu saja bos para buruh sawah yang ia urus bersama istri dan orang tua angkat. Sang juragan mendapat dana dari pembagian harta Haji Misbah, dengan petak sawah yang ia terima, Sadimin menjelma pengusaha yang disegani. Beberapa kali berkasus dengan polisi, dan sumpah serapah dengan pesaing. Tango yang seorang pelacur diangkat istri, terasa bisa menempatakn diri. Dia bilang, wajahmu seperti tomat segar di pasar, rambutmu seperti bulu-bulu jagung yang sehat dan lebat, dan kalau kau bersuara di panggung, katanya semua yang mendengar jadi bodoh dan takluk. Keduanya menjadi pasangan tak lazim pula, di akhir kisah bagian mereka, Tango bisa tersenyum walau darah pelan mengalir dari hidung.

Bagian ketiga adalah Nah & Dana, Nah sebagai anak pertama Nini memilih kabur dari rumah demi cinta dan masa depan. Dana adalah anak kandung pengemis yang juga kabur dari rumah untuk merajut asa, memperbaiki status sosial. Mereka dicerita sebagai dua anak SD yang tersisa dalam kelas, setelah teman-temannya satu per satu keluar untuk menikah. Keduanya menghimpun harap dari kerasnya hidup, sejatinya pasangan ini hampir jadi ideal (baca romantis) saat memiliki anak Karim, bersatu dalam kasih, harta bukan segalanya, sungguh kisah cinta hakiki, sepertinya, awalnya, dasarnya. Namun, cerita bagus memang harus disusun dari keping tragedi, maka kesulitan materi membuat mereka kembali menginjak bumi, memaksa mereka mengetuk pintu Nini Randa, nebeng tinggal di kandang sapi, dan nantinya dalam akhir yang pilu. Nukilan Dana mengetuk pintu mertua adalah pembuka novel, jadi memang permainan alur yang dinamis. Nah kabur dari rumah yang melibatkan pencarian ala detektif. Oiya, Dana adalah buruh tembak Sadimin, lingkaran hubung ini akan saling mengikat di ujung kisah yang menyedihkan. Ingatan bahwa tiba-tiba satu orang menghilang sementara dunia tidak berubah sama sekali, membuat hatinya hancur-lebur, lututnya bergetar.

Bagian keempat, pasangan pengemis yang sungguh ajaib. Keluarga yang sempurna mencipta iba. Ozog & Sipon. Mereka terlatih untuk tidak mengeluh, tidak mengumpat, juga tidak tersenyum karenanya. Mereka harus bersikap dan berwajah datar, perpaduan antara kepedihan dan sedikit tekad untuk hidup yang menghasilkan rasa iba mendalam. Ozog adalah lelaki buta, peniup seruling. Sipon adalah wanita kuat buka hanya kuat menengadahkan tang, ia juga harus menggendong suami dalam berkarier. Kedua anak angkat mereka turut dalam aksi meminta derma. Cerita pengemis menggelar wayang golek menjadi legenda sepanjang masa masyarakat tepi Sungai Cimanduy. Kalian yang suka kasih receh kepada para pengiba ini, pikir lagi! Kesedihan adalah awal yang bagus untuk produktivitas. Dan kemudian obsesi.

Peran dalam kisah ini seolah mereka terasa kurang signifikan, tapi tunggu dulu. Pendengki bisa apa? Mereka kalah jumlah dan kalah konsep. Bagian kala mereka terjebak dalam hutan hujan madu yang mistis, bagus banget, seolah di alam raya para makhluk-pun berpesta pora. Keheningan dan angin-angin di hutan itu lebih suka bernyanyi daripada bercerita. Keputusan main paku gepeng di rel kereta api itu sejatinya malah eksekusi kunci. Betapa dunia orang miskin sungguh darurat peduli.

Bagian final, luar biasa, sangat bagus. Sepanjang hidupku menjadi bayangan, aku hanya mengerti tentang penyesalan dan kecurigaan. Yang tak pernah disimpulkan kecuali bahwa dua hal itu adalah musuh kehidupan yang harus cepat-cepat dienyahkan. Misbah & Nyai adalah gambaran sempurna ironi kehidupan. Tokoh agama panutan, memiliki tiga istri (di sini disebut Nyai) dan lima anak (enam, jika Sadimin dihitung). Terlalu sulit menemukan alasan bagi mereka untuk percaya bahwa ayahnya yang kiai, bersih, terhormat, makmur sejahtera, jatuh di pelukan iblis lahir batin seperti Nini Randa. Jadi ketua Rukun Warga, jadi guru ngaji, punya satri banyak, dengan usaha pengeruk pasir. Sejatinya tampak sosok yang patut disegani, dikagumi bila kalian seorang agamis, dan dihormati jika patokan kalian adalah seorang jelata. Dalam kisah ini, perannya memang menutup cerita, slotnya ga sebanyak yang lain. Jadi klimaks itu disusun di rumahnya. Dana yang kehilangan Nah, setelah frustasi cari ke mana saja gagal, termasuk ke kantor polisi yang birokratif. Bertemu pula Sakidin di sana yang diminta kesaksian, datang pula Nini Randa yang juga butuh pengakuan, plus para peminta yang makin merumitkan keadaan. Sejatinya kita tahu akhir Nah, tapi memang dibuat samar, saya suka hal-hal yang menggantung ragu gini.

Melengkapi kepiluan kisah, sang haji sedang pengen bercengkrama malam itu. Nyai ketiga, termuda setelah tahu rahasia marah, wajar jiwa muda. Nyai kedua yang sejatinya pasrah mengabdi, sedang dapat. Nyai pertama yang sabar dan sungguh menanti janji surga kelak, orang yang banyak berkorban, penuh perjuangan di masa awal, sendiko dawuh. Seseorang atau sesuatu yang berharga memang akan selamanya berharga, tetapi tidak selamanya satu-satunya. Selesai? Belum. Kisah ditutup dengan menghebat, betapa seorang tampak agamis yang dipuja banyak orang itu melakukan kegiatan dosa besar. Tak cukup dengan itu, bahkan novel Tango & Sadimin menyajikan akhir kalimat yang luar biasa indah, “… berusaha menggapai-gapai Tuhan.”

Bisa jadi nantinya, jika Bung Akmal memuncaki penghargaan ini, dia dengan cerdik menutup kisah satu paragraf menggucang.

Prediksi: Jelas akan masuk daftar pendek. Sejauh ini yang terbaik. Sembari menanti menyelesikan baca enam buku lainnya, kalian bisa menjagokan dan menempatkan buku ini sebagai unggulan pertama. Alur, penokohan, konfliks, sampai detail yang disaji sangat ampuh. Betapa absurd cerita perpaduan antara pelacur, pengemis, buruh, juragan dan seorang tokoh agama. Semua yang terbang ke langit, hilang dalam peraduan mistis. Tango & Sadimin adalah novel hebat yang membumi, ada di sekeliling kita, ada di antara masyarakat. Saya ga bohong, sungguh aduhai.

Tango & Sadimin | Oleh Ramayda Akmal | GM 619202024 | Editor Teguh Afandi | Layout Ayu Lestari | Desain sampul Orkha Creative | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Maret 2019 | ISBN 978-602-06-2815-8 | ISBN DIGITAL 978-602-06-2816-5 | Skor: 5/5

Karawang, 230919 – M2M – The Day You Went Away

Bertarung Dalam Sarung – Alfian Dippahatang

Aku mati dibunuh.” // “Dibunuh karena puisi.

Ceritanya hanya berputar di drama keluarga. Dalam masyarakat Bugis memang harga diri sangat penting dalam keluarga. Semua cerpen di sini berkutat di sana. Perseteruan dengan orang tua, adat yang harus ditegakkan, asal usul yang ditentang, jodoh warisan bapak, riwayat tarung Indonesia Timur dalam kemerdekaan sampai agama daerah yang dijunjung, semuanya ngulik di hubungan darah yang mendrama. Saling silang tunjuk mana yang batil dan enggak. Mengangkat isu sosial dan budaya Toraja dan Makassar. Seperti ucapan persembahan, memang sang Penulis menyatakan keluarga adalah pustaka hidup.

#1. Ustaz To Balo
Tentang keunikan seorang yang memiliki bercak aneh berwarna putih berbentuk segitiga yang harus terbuang. Mati atau dilepas di hutan untuk jadi santapan binatang buas. Nyatanya ia bertahan, menemukan seorang pemuka agama, menjalani hidup dalam kebatinan. Saat akhirnya merasa beruntung dapat menikahi putri sang pemuka, anaknya juga memiliki khas bercak itu dan sang istri meminta cerai karena menanngung malu. “Mengapa kau hendak menceraikan Ranti, Nak?”

#2. Nenek Menerawang dan Ibu Memburu
Ibunya kabur, memilih suami baru dan sang anak dalam tangis tak berkesudahan. Pergi kala terlelap sehingga tak diberi waktu pamit. Sang Nenek adalah dukun atau orang pintar yang kali ini kedatangan Tanta Halidang, dimandikan untuk apa? “Dimandikan agar suaminya tidak ke mana-mana, Nak.

#3. Jangan Keluar Rumah Saat Magrib
Kisah selingkuh yang menyakitkan. Dengan sudut pandang sang calon bayi hasil berzina dengan pelaut, sang ibu malah menikah dnegan Basri sang polisi yang juga turut berzina. Sang ibu yang sejatinya lebih mencintai pelaut yang sedang ke Maluku mencoba mengugurkannya dengan keluar magrib agar roh halus memainkan peran. “Jangan keluar saat Magrib, Anri.”

#4. Kelong Paluserang dan Kebohongan Masa Kecil
Ini adalah cerita bohong yang ditanamkan orang dewasa pada anak bahwa ibunya pergi ke Malaysia cari duit. Ayah dan tantenya memberi harap agar ia tetap menjalani kehidupan kecil dengan tanpa beban. Nyatanya ia terus kena bully, Samri lalu meluruskan hal ini kepada anaknya. “Tiga bulan lagi, Nak.

#5. Bukan Sayid
Kisah kasih tak sampai. Keturunan Sayid Opu yang digadang adalah keturunan Nabi Muhammad tak boleh menjalin hubung dengan keturunan lain. Tradisi kafa’ah di Cikoang, ini coba dimentahkan sang aku, Syarifah Atkah Bintang yang menjalin cinta dengan lelaki Sayid Karaeng, Habri. Dianggap kafir bila melanggar tabu. Bintang membujuk Habri membawanya kabur, tapi tak semudah itu ferguso. “Kau percaya cinta?”

#6. Mayat Hidup dan Bertobat Tak Seperti Mengedipkan Mata
Ini adalah cerpen terbaik. Paling panjang, paling kompleks, paling vulgar. Jelas buku ini kena label 21+ karena kisah Mayat Hidup. Dengan sudut pandang dua orang, ibu dan anak yang terus melakukan komunikasi setelah ibu meninggal, mereka masih bisa komunikasi karena Rungka yang istimewa. Dari sudut Rungka kita tahu, cintanya pada ibu tak terbatas. Ibu selalu melindunginya saat ayahnya Puto marah karena lelaki ga boleh gemulai. Lalu saat sudut berganti ke almarhum, kita tahu ia selingkuh dengan saudara suaminya demi keturunan, seorang pemuka agama Tamrin. Tobat lombok. Sampai akhirnya Rungka menggali kubur ibunya agar bangkit. “Wajahmu terlihat bingung, kau kenapa, Nak?

#7. Ayahku Memang Setan
Mencari cara untuk balas dendam agar tak diketahui orang. Sakir yang suka bully sang aku, tewas akhirnya saat di pinggir sungai kesempatan memarangnya muncul. Ayahnya pergi berjuang untuk tanah air, berperang bak setan sehingga ia disebut anak setan. Hidup memang pilihan, tapi pilihan macam apa yang tersedia sebagai anak tanpa ayah yang menemani masa kecil? Damai? “Kita berharap begitu, Nak.”

#8. Tangan Kanan Orang Toraja
Serabut kisah tentang Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL) di tanah Sulawesi Selatan. Pengorbanan, cinta, dan penghiatanan dalam masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia Timur. Perang yang menjadi pilihannya menjadi konsekuensi pahit. “Pergilah, Nak!”

#9. Prajurit Yang Sakit Hati
Setelah beberapa kali dibujuk bergabung akhirnya ia sepakat. Menyatakan persetujuan adalah ledakan, membuka gerbang kehancuran. Mungkin bisa bebas menghirup udara lepas, tapi tak akan leluasa bertindak. Kalimat ayah adalah kekhawatiran sekaligus pengharapan. Ah, pengasingan terjadi juga. “Kau dinanti untuk membungkam segalanya.”

#10. Aku Tak Kemayu Lagi
Hikayat Gerakan Muda Bajeng (GMB) yang dibentuk, dikembangkan lalu membubarkan diri membaung dengan organisasi lain. Ayahnya yang marah karena gemulai, “Kau ini lelaki. Kau ini pejantan.” Menempanya, membangungkan tidurnya untuk bergabung ke dalam pasukan. Selalu ada jalan untuk melihat Polongbangkeng berhenti diinjak-injak.

#11. Mayat yang Menceritakan Kematiannya
Riwayat Anda Ruapandewi, penyair yang tewas dibunuh. Dalam alam kuburnya ia dikagumi mayat lain, yang juga menulis puisi, tapi sekadar iseng. Ah syair…, bahasanya sederhana pun selalu butuh tafsir. Dengan kesenangan akan makanan coto, dengan pengagum yang setia bersama. Ada sesuatu di baliknya, sama-sama mati dibunuh tapi ada kaitan. “… kau akan dikenang dengan desas-desus yang tak mengenakan.” Mungkin ini cerpen yang paling ga OK di daftar ini.

#12. Cahaya Gaib
Cerita istri yang tak bisa menghasilkan keturunan, lagi. Kali ini istri kedua, ia lalu berkeluh kesah pada Nenek-nya. Langkah meminta cerai, meminta tolong karena suaminya kembali ke istri pertamanya yang hamil lagi. Lalu datanglah sebuah mobil yang selalu menawar beli kebun Nenek, tetap ditolak hingga jalan keluar itu ia malah melamar anaknya yang masih dalam proses cerai. Well, di sini Nenek adalah orang tua laki-laki di masyarakat Konjo. Sempat membuat bingung karena, Nenek kok disapa Pak. “Yang namanya manusia, tidak pernah puas memiliki satu barang, Nak.”

#13. Orang-orang Dalam Menggelar Upacara
Di Kajang, kauserap pasang – petuah nenek moyang, hutan adalah sakral. Tak boleh ada yang menebang sembarangan. Harus ada ritual, harus ada izin, harus ada pengganti. Sang aku mendapat wejangan. Bila ada pohon yang ditebang sembarangan maka ada adat upacara yang harus dilaku untuk mencari pelaku dengan ujung linggis yang membara diinjak, yang bukan pelaku tak akan mempan. Ketika beberapa orang sudah dilakukan aman, tiba giliranmu. Dadamu sudah berhenti bergemuruh. “Kita bergantung dari hutan. Manfaatnya begitu besar untuk kehidupan, sekaligus penting merawat segala isinya.”

#14. Takdir Mala
Saling silang keluarga menentukan jodoh Mala. Orang tua cerai, menikah lagi dengan janda beranak sehingga tampak saling mengisi. Hingga masa dewasa jodoh ditentukan. Ibu tiri, dan kemarahannya. “Ini musibah, Nak.

#15. Bertarung dalam Sarung
Akhirnya sampai juga di judul buku. Adat tarung dalam sarung yang mematikan, dua laki-laki bersenjata Kawali dalam satu sarung, duel lelaki Bugis atas nama kesetiaan, atas nama harga diri keluarga. Tarung dan Bombang dan segala kekuatan yang tersisa. “Nak, aku paham hatimu mungkin berkata, Bugisku sudah rontok…”

#16. Bissu Muda
Untuk menjadi bissu orang harus mengalami mimpi gaib ditemui Dewata. Tak semua lelaki yang berlagak keperempuan bisa diangkat menjadi bissu, pendeta agama Bugis Kuno. Menjadi bissu memang bukan cita-cita, tapi panggilan hati petunjuk Dewata. Kali ini kita mendapati pemuda, sudah lama anak muda tak menjadi bissu. “Orangtuaku menolak keras. Aku dianggap keperempuanan jika jadi bissu.”

#17. Panggilan Gaib
Dua lelaki melambai bersahabat, saat salah satu diangkat jadi bissu yang satunya lagi curiga mimpi dan panggilan gaib itu hanya omong kosong, kebohongan dan akting saja. Ada dendam dan kasih lama yang menguar. “Apa belum jelas? Kau bissu dan aku calabai biasa.”

Kubaca dalam dua kali kesempatan duduk. Semalam saat pergantian hari ketika mati listrik dan pagi ini di libur Sabtu cerah dengan kopi dan musik The Legacy of Jazz. Kesan pertamaku selepas menyelesaikan baca adalah, ini kuda hitam Kusala Sastra Khatulistiwa tahun ini. Banyak hal yang mirip dengan Tiba Sebelum Berangkat-nya Faisal Oddang yang tahun lalu kuperkira rontok di daftar panjang, nyatanya masuk final. Namun jelas, Tiba Sebelum jauh lebih nyaman, lebih bagus dan mendalam. Bertarung Dalam temanya terlalu pendek, pengembangan kisah ga ada. Urusan keluarga mulu, pertentangan dengan ayahnya, padu dengan istri, ketidakharmonisan dengan anak. Bahkan kisah satu dengan yang lain mirip, beberapa pengulangan dalam lingkup sama padahal ini kan tak bersangkut, cerpen terpisah. Coba hitung berapa kata ‘Nak’ yang diujar? Andai ga ditutur dengan baik, malah seperti cerita sinetron, untungnya tata bahasa dan pilihan diksi bagus sehingga tak perlu menjadi suku Bugis untuk bisa menikmati alur.

Prediksi: rasanya buku ini masuk ke daftar prosa terpilih saja sudah prestasi, tak akan juara. Mustahil menjadi nomor satu. Tiba Sebelum yang terasa utuh dan menghebat di tengah pergolakan bissu saja kalah, apalagi ini. Masuk daftar pendek kalau terjadi, hanya keberuntungan.

Bertarung Dalam Sarung | Oleh Alfian Dippahatang | KPG 59 19 01604 | Cetakan pertama, Maret 2019 | Penyunting Udji Kayang | Perancang sampul Harits Farhan | Penataletak Teguh Tri Erdyan | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | ISBN 978-602-481-100-6 | viii + 151; 13.5 cm x 20 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 210919 – Matchbox Twenty – Unwell

Kamis Yang Manis #30

Orang-orang berubah, digantikan dengan orang baru. Dan Tuhan mengetuk-etuk diriNya dalam banyak cara.” Mack

Kau bisa menilai banyak hal dari cara berjalan. Akhirnya event #30HariMenulis #ReviewBuku ada di penghujung juga. 30 buku, 15 dari Penulis lokal dan 15 terjemahan selesai kuulas dalam 30 hari selama bulan Juni. Ini adalah perayaan kelima sejak 2015. Konsisten, dan terus diperbarui. Sebenarnya malah sangat banyak yang pengen kukejar menuntaskan ulas buku, tapi tetap di bulan ini sesuai target. Hufh… #HBSherinaMunaf #HBDNikitaWilly

Siapa yang tahu apa yang tertidur di kedalaman pikiran seseorang? Siapa yang tahu apa yang diinginkan seseorang?”

Fresh from the oven. Ini tidak baru. Setan gunakan matamu.

Buku ini terbit bulan Maret, dan saya selesaikan baca di bulan April 2019. Sempat mau langsung kuulas, tapi ternyata kegilas buku lain. Bulan puasa tiba dan akhirnya terendam. Ekspektasiku terhadap John Steinbeck ketinggian, memang laik tinggi sih, buku ini happy ending dengan terlalu manis, kebanyakan gula, makanya kurang sreg bagiku mengingat beberapa buku lain yang sudah kubaca. Tak ada di dunia ini yang seperti Suzy. The Pearl, Of Mice and Men yang memberi akhir sangat mengejutkan. Ini adalah buku sekuel, saya sendiri belum membaca seri satu, Cannery Row. Namun ga masalah dah biasa saya diterjunkan langsung di tengah permasalahan. “Aku mungkin akan menghilang. Aku menyimpan kegelisahan dalam diriku, aku mungkin akan menghilang.

Ceritanya tentang orang-orang di daerah Cannery Row dengan kegalauan masing-masing. Fokus utama sejatinya ada di Doc yang seorang ilmuwan nyentrik yang jomblo akut, yang ada di pemikirannya adalah ilmu pengetahuan, percobaan penemuan tentang fauna laut, dan hobinya nongkrong di laboratorium itu menyita banyak sekali daya dan waktu. Perubahan bisa jadi diberitahukan oleh sedikit rasa sakit, sehingga kau sedang terserang flu. Mengorbankan banyak hal. Maka dimunculkan karakter cantik yang mencoba mendobrak kerasnya hati. Suzy. Misalnya Doc mengatakan sesuatu dan kau tidak tahu apa artinya. Tanyalah! Hal paling baik di dunia yang bisa kau lakukan untuk sembarang orang adalah membiarkannya membantumu. Suzy sebagai pendatang memberi angin segar, dan diciptalah konspirasi ‘comblang’. Sendiri dia merenung, bukan tentang kelemahan Doc, tetapi tentang penghianatan teman-teman Doc yang mempertanyakannya, siapa yang berani mempertanyakannya. Sepanjang 400 halaman kalian akan disuguhi cinta mereka, dengan banyak kalimat filosofis. “Aku mencintai kebenaran, bahkan jika kebenaran itu menyakitkan. Bukankah lebih baik mengetahui kebenaran tentang seseorang.” Cinta monyet untuk para senior. Suzy yang diletakkan dalam posisi kasih. Jika seorang laki-laki mengatakan sesuatu yang menarik perhatianmu, maka jangan menyembunyikan itu darinya. Semacam mencoba untuk membayangkan apa yang sedang dia pikirkan alih-alih kau akan menjawabnya.

Dan seperti judulnya yang manis, endingnya juga sangat manis. Jika aku tak bisa mendapat keberanian dari keagungannya, dia berpikir, aku sebaiknya menyerah. Tak seperti dua buku Steinbeck sebelumnya yang sudah kubaca, jelas ini keluar jalur. Tak seperti harapanku. Sebuah kejadian tidak perlu merupakan kebohongan jika ia tidak perlu terjadi.

Apakah aku sudah cukup kerja? (1) Apakah aku sudah cukup makan? (2) Apakah aku sudah dicinta? (3) Adalah tagline di kover warna orange ini. Cukup mewakili hati yang terasing yang mendamba kenyamanan, cukup untuk menampar jiwa yang egois. Pernahkah kau tahu orang-orang yang sangat sibuk dengan kepandaian mereka sampai tidak punya waktu untuk melakukan hal yang lain?

Kisahnya tentang persahabatan Mack dan Doc, ini kisah antara, ini kisah yang menghubungkan nasib orang-orang di sekeliling mereka. Jangan berbangga diri dan mengatakan bahwa kau tidak membutuhkannya atau menginginkannya. Itu adalah tamparan ke pipi. Hal yang disukai orang di dunia adalah memberimu sesuatu dan melihatmu menyukai dan membutuhkannya. Itu bukan sifat rendahan.

Suka banget dengan kalimat ini. “Salah satu penyakit di zaman kita adalah mendakwahkan bahaya pada orang-orang sepertimu yang khawatir dan tergesa-gesa. Orang yang tidak berpikir bahwa dunia akan berakhir adalah orang yang berbahaya.” Menampar kita, cocok untuk semua era sebenarnya, tapi sangat pas di saat ini. Waktu esok seolah sangat panjang, well tak ada yang tahu kan?! Lalu kalimat ini juga cukup keras memukul kita. “Orang-orang tidak mengetahui apa yang mereka inginkan. Mereka harus didorong. Ada orang yang dalam pikirannya tidak ingin menikah, tapi menikah juga.” Banyak temanku yang di usia sangat matang, belum menikah karena menikmati masa lajang. Banyak pula yang sudah menikah tapi malah mendamba masa lajang, mengingat waktu lalu yang sudah lewat. Ironi kehidupan. Itu hanya akan menjadi jalan palsu lainnya sebuah rasa frustasi baru. Lalu kalimat “Aku ingin menyumbang pada ilmu pengetahuan. Mungkin itu adalah pengganti bagi keinginan untuk menjadi ayah buat seorang anak. Sekarang, sumbanganku bahkan jika ia keluar, sepertinya masih lemah.” Ini juga menjadi pertanyaan semua umat manusia, hidup ini apa? Berguna bagi orang lain? melakukan penemuan-penemuan untuk kenyamaan umat masa depan? Lalu apa? Pahit, kawan! Lihatlah setiap kekacauan yang pernah kau dapatkan dan kau akan menemukan bahwa lidahmulah yang memulai.

Tahun 2019 ini saya mulai menikmati musim Jazz, indah banget ternyata aliran musik ini. Maka pas bagian ketika salah satu karakter mendengarkan ‘Stormy weather’ by Cacahuete saya langsung menyalakan musiknya, teduh dalam badai, saya tahunya lagu jazz ini dinyanyikan oleh Lena Horne dengan instrumen terompet yang dominan. Dari musik tidakkah keinginan-keinginan dan kenangan-kenangan terbentuk?

Saya belum sempat browsing, apakah benar ada novel berjudul ‘Akar Pi Oedipus’? Rasanya memberi tautan untuk turut menikmatinya. Ujaran tentang ledakan penduduk, banyak anak banyak rejeki tapi intaian kemiskinan ada. Sudah banyak yang mengulas, tapi masih tetap keren ketika Steinbeck yang menulis. Populasi meningkat dan produktivitas bumi menurun. Dan pada masa depan yang teramalkan kita akan tercekik oleh jumlah kita sendiri. Hanya pengendalian kelahiran yang bisa menyelamatkan kita, dan itu adalah satu hal tak akan pernah dipraktikkan umat manusia.

Kutipan indah tentang sabar muncul pula kala ada kegaduhan. “Cara terbaik di seluruh dunia untuk membela dirimu adalah dengan menjaga tinjumu tetap di bawah.” Atau yang ini “Untuk rasa sakit atau frustasi manusia punya banyak obat, tapi tak satupun obat itu adalah amarah.” Karena semua orang tahu kau hanya membodohi dirimu sendiri. Kau tidak akan menulis makalah itu karena kau tidak bisa menulisnya. Kau hanya duduk di sini seperti seorang anak kecil yang bermain-main dengan harapan.

Aku sepertinya takut. Sesuatu semacam teror mendatangiku ketika aku memulai. Sejatinya Doc memang dikelilingi orang-orang yang penuh kasih. Saling membantu, saling mengisi, Minggu ke gereja, malam ngopi di kafe, hari kerja yang riang, dan kenyamanan di laboratorium yang tak terperikan. Mitosnya adalah laut, angin dan ombak pasang dan dia menghubungkan mereka semua dengan mengumpulkan binatang. Dia membawa harta karunnya ke dalam laboratorium. Bersikap tenang untuk diri sendiri membuatnya tenang dalam menghadapi dunia. Lalu apa masalahnya? Bukankah ini adalah akhir yang bahagia? Ya, sejatinya sudahlah ditutp saja. Ratusan halaman kalian akan disuguhi cerita yang indah-indah, sementara syarat buku yang bagus salah satunya harus ada konfliks berat. Enggak ada di sini. Doc yang menghadapi hari-hari ceria di tengah masyarakat yang ideal. Ternyata, konfliks yang diharap itu adalah cinta. Ahhh… dari Pemenang Nobel Sastra, kita diajak bercinta. Memang bukan sembarang cinta karena karakter utama sudah tak muda lagi. Doc dicomblangkan, didesak, dan bahkan sampai dipertaruhkan dengan Suzy agar coba bersama. Dan yah, sweet thursday itu mewujud nyata. Walau sesekali ada masalah, poinnya adalah happily ever after. Doc menemukan belahan jiwanya. Cukup. Siap jadi presiden?

Kelebihan utama buku ini bukan pada cerita, tapi kedua hal: pertama sifat para karakter yang unik. Selain penamaan yang aneh, mereka juga memiliki kebiasaan tak lazim. Sungguh bagus memberi kegiatan para tokoh dengan tindakan tak wajar. Semua karakter yang dicipta bagus banget membawakan perannya. Kedua, sekalipun ini buku cinta yang terlambat, pembawannya tak cemen. Tak melow, tak mendrama berlebihan. Kisah cinta yang dituliskan dengan rasa dewasa. Kapan lagi kalian baca buku cinta yang menawarkan alur berliku? “Aku membutuhkanmu, aku akan tersesat tanpamu.” Ehem… Sekalipun tujuan utama pada akhirnya bisa disentuh, liku labirin itu sangat seru. Dan kalian pasti ikut bahagia atas kebahagiaan tokoh favorit. Nama-nama yang bagus: Mack, Doc, Hazel, Joseph and Mary (satu orang), Lee Chong, Suzy, Fauna, Whitney No. 2, Old Jingeballicks, dan seterusnya.

Terjemahan Basa Basi bagus banget. Beberapa istilah yang masih rumit diberikan catatan kaki, semisal. “Ini semisal ‘whatcha-macallit’ yang artinya ‘pembicaraan tentang orang yang namanya tak bisa diingat.’ Atau “Veritas in vino” adalah idiom Latin yang artinya ‘kejujuran dalam anggur’ yang bermaksud orang akan jujur ketika mabuk. Hal-hal yang sangat membantu mengimaji tanya. Beberapa masih ketemu typo, tapi dalam 400 halaman rasanya salah ketik tak lebih dari sepuluh kata adalah lumrah. Sebagai terjemahan Bahasa Indonesia pertama ‘Sweet ThursdayBasa Basi termasuk sukses menghantarkan kisah Doc. Salute!

Aku benci hukum yang menahan kemurahan hati dan menjadikan amal sebagai ladang bisnis.Dia sedang mengalami perubahan yang sangat mendalam sampai dia sendiri tidak menyadari perubahan itu sedang terjadi.

Di antara semua angan-angan muram kita, perasaan bersalah adalah yang paling penuh liku, paling jenaka dan paling menyakitkan. Ah penyataan yang manis, “Aku tak utuh tanpanya. Aku tak hidup tanpanya. Ketika dia bersamaku aku merasa lebih hidup dibanding sebelumnya, dan tak hanya ketika dia merasa senang saja.” Suzy yang bahagia, Pembaca yang bahagia, penduduk Cannery Row yang suka cita. Mencoba untuk melepas dari proses berpikir meskipun berpikir adalah pekerjaan manusia yang paling bermanfaat.

Dia pernah kuliah – dia sudah membaca begitu banyak buku sampai aku tidak bisa menyacah mereka – dan bukan komik juga. “Ketika kau membuat rencana, langit runtuh ke ekormu.” Henry Penny. Ah hidup ini… Seseorang berteriak untuk mendapatkan perhatian di dalam dunia yang tak terpersepsi atau mungkinkah bahwa kebahagiaan pamungkas manusia justru adalah rasa sakit? Mari ngopi.

Kamis Yang Manis | By John Steinbeck | Diterjemahkan dari Sweet Thursday (renewed edition) | Terbitan Penguins Books, New York, 1982 | Penerjemah Hari Taqwan Santoso | Editor Tia Setiadi | Pemeriksa aksara Daruz Armedian | Tata sampul Sukutangan | Tata isi Rania | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, Maret 2019 | Penerbit Basa Basi | 400 hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-5783-82-1 | Skor: 4/5

Karawang, 130419 – Michael Jackson – One Day in Your Life || 300619 – Melody Gardot – Worrisome Heart

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day30 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Originals #28

Saya bangun pagi dan terbelah antara keinginan untuk memperbaiki dunia atau menikmati dunia. Ini menyulitkanku membuat rencana hari ini.”E.B. White

Para psikolog menemukan ada dua jalan menuju keberhasilan: konformitas dan originalitas. Konformitas artinya mengikuti orang kebanyakan di jalur konvensional dan menjaga status quo. Originalitas memilih jalur yang jarang dilalui, memperjuangkan ide baru yang melawan arus, tetapi akhirnya membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Tentu saja dari judulnya kita sudah tahu, buku ini mengupas banyak sekali hal di poin kedua.

Buku yang sangat bervitamin. Untuk menjadi original ternyata justru diminta untuk lebih berpikir sederhana, ga usah muluk-muluk. “Dalam hal gaya, ikutilah arus. Dalam hal prinsip teguhlah sekukuh karang.” Banyak ide fresh di antara kita, di sekeliling kita. Saya baca buku ini akhir tahun lalu, sebagai buku penutup rangkaian #2018lazionebudybaca, iseng menghitung, saya terhenti di angka 110. Sempat pula kumau ulas, ketik panjang lebar, tapi malah awal tahun ada tragedi yang membuatku pilu dan istirahat dari banyak hal. Nah, baru sempat lagi lanjut ketik ulas di momen #30HariMenulis ini. Mendekati akhir. Kebiasaan, aturan agama, dan hukum itu sebenarnya dibuat oleh manusia dan karenanya bisa dirubah. “Mari kita jadikan tahun mendatang berarti. Terasa energi yang tak mungkin diciptakan oleh band rock. Setiap orang ada tugas penting yang harus dilaksanakan.

Ciri khas originalitas adalah menolak status qou dan mencari jalan pilihan yang lebih baik. Titik awalnya adalah keingintahuan: memikirkan secara mendalam mengapa sesuatu yang default itu ada pada mulanya. Kita terdorong mempertanyakan hal yang default saat mengalamai vuja de, kebalikan dari de javu. Déjà vu terjadi saat kita menemui sesuatu yang baru, tapi rasanya kita pernah melihatnya sebelumnya. Vuja de, kita menghadapi sesuatu yang familier tetapi kita melihatnya dengan sudut pandang baru yang membuat kita mendapatkan wawasan baru untuk masalah lama. Sudah lama para ilmuwan sosial tahu bahwa kita cenderung terlalu percaya diri saat menilai diri sendiri. Banyak orang gagal menciptakan originalitas karena mereka menghasilkan sedikit ide dan kemudian terobsesi untuk mengasahnya agar sempurna.

Ia akan mencerahkan, menginspirasi, dan sekaligus mendukung Anda. Banyak contoh dipaparkan dalam buku ini, beberapa yang sudah sangat terkenal. Contohnya sejarah Google yang dibuat Larry Page dan Sergey Brin, aplikasi paling terkenal di dunia digital ini awalnya juga terdengar biasa. “Kami hampir tak mendirikan Google, terlalu khawatir kalau berhenti dari program doctoral kami.” Kata Larry Page. Mereka orang-orang besar yang ketika merancang sejarah, juga memiliki kekhawatiran gagal sehingga mencari pijakan di bagian lain. Jadi walaupun sedang mencipta hal besar, mereka tetap melanjutkan studi, ibarat rencana cadangan masih dalam jalur. Mereka bermain aman dengan mengikuti jalur sukses konvensional. Dapatkah penemu menilai idenya sendiri secara objektif? Yakni seni memperkirakan keberhasilan ide? Poinnya adalah, jangan serta merta melepas yang ‘pasti’ kecuali yang utama sudah mapan. Pengusaha yang melindungi diri dengan memulai usaha sembari tetap bekerja kantoran jauh lebih anti risiko dan tak percaya diri.

Banyak usahawan mengambil banyak risiko-tetapi mereka biasanya gagal, bukan sukses.” Kata Malcolm Gladwell. Setiap usaha memang memiliki resiko, tapi tetap harus menghitung jalur kemungkinan. Semakin sedikit jalur jatuh, semakin bisa ditekan minim tentunya semakin besar potensi berhasilnya. Saat menghadapi situasi yang tidak disukai, mereka memperbaikinya. Dengan berinisiatif memperbaiki keadaan, hasilnya tidak banyak alasan untuk berhenti bekerja. Mereka menciptakan pekerjaan yang mereka inginkan. Jargon berbahaya yang sering kita temui adalah: “Jika ide itu memang bagus, pasti sudah ada yang mengerjakannya.” Kalau kayak gini ga akan maju, ga akan mulai-mulai. Buku ini jelas mengajak tabrak aturan! Kita mulai menyadari bahwa sebagian besar keadaan itu punya asal-usul sosial: aturan dan sistem itu diciptakan oleh orang. “Peluang menghasilkan ide berpengaruh atau sukses adalah fungsi positif dari jumlah total ide yang dihasilkan.

Cara menjadi berkuasa bukanlah dengan menentang kemapanan, tetapi pertama-tama tempatkan diri di dalamnya dan kemudian tantang dan khianati kemapanan itu. Dalam politik, banyak hal yang perlu dibuat unik. Ahli politik mengevaluasi presiden Amerika, mereka menetapkan bahwa pemimpin yang paling tak efektif adalah yang mengikuti kehendak rakyat dan hal-hal yang telah ditetapkan presiden sebelumnya. Presiden terhebat adalah yang menentang status quo dan mewujudkan perubahan di seluruh negeri. Apapun ideologi politiknya, orang akan lebih menyukai calon yang tampak ditakdirkan akan menang. Saat peluangnya turun, orang jadi kurang menyukainya. Indonesia kini dalam situasi politik, ujung Pilpres sudah kita ketahui, hasil akhirnya Pertahana melanjutkan program kerja. Berani melawan arus demi sebuah adil makmur? Seperti kata Ira Glass, “Sesuatu yang mungkin paling penting yang bisa dilakukan adalah banyak bekerja. Hasilkan banyak karya.” Jadi mari kerja kerja kerja. Bangsa besar ini… akan berhasil dan sejahtera… satu hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri.

Sekutu terbaik Anda adalah orang-orang dengan jejak rekam yang tangguh dan menyelesaikan masalah dengan cara yang mirip dengan cara Anda. Layaknya sebuah tuah, kalau kamu ingin tahu sifat seseorang, lihatlah kawan dekatnya. Maka kalau ingin sukses ya harus berkawan, kolaborasi, bareng orang sukses pula. Sahabat adalah seseorang yang melihat lebih banyak potensi dalam diri Anda ketimbang yang Anda lihat sendiri. Saya melihat kesuksesan biasanya tak dapat diubah mendahului yang lain, tetapi menunggu dengan sabar saat yang tepat untuk bertindak. Dan ingat, sukses itu tergantung cara pandang. Sukses satu orang jelas beda dengan sukse orang lain. Saya berhasil menyelesaikan program tulis bulan Juni 30 ulasan, jelas bagiku sukses yang mungkin bagi orang lain sepele. “Yang terpenting bukan gagasannya, tetapi eksekusinya.” Mengapa musuh bisa menjadi sekutu yang lebih baik dibanding orang yang pura-pura mejadi teman, dan mengapa nilai bersama bisa memecah-belah bukan menyatukan. “Jika Anda ingin membuat koneksi yang inovatif, Anda tak boleh mempunyai serangkaian pengalaman yang sama dengan orang lain.”

Dalam teori sukses, saya pernah dengar tiga rumus: jadilah yang pertama, atau jadilah berbeda, atau jadilah yang terbaik. Kalimat ini sudah sangat sering saya dengar di banyak diskusi, nyatanya memang harus usaha ekstra. Ketika Anda semakin menghargai prestasi, Anda akan semakin takut gagal. Alih-alih mengincar prestasi unik, dorongan kuat untuk sukses membawa kita ke arah yang dijamin sukses. Menjadi orisinal bukanlah jalur termudah untuk mengejar kebahagiaan, tetapi cara ini memberikan kebahagiaan dalam rangka pengejaran tersebut. Berdasarkan kata-kata Penulis William Deresiewicz, mereka menjadi domba-domba terbaik dunia.

Di dunia kerja, saya sebagai HR dalam wawancara karyawan keluar mencantumkan penilaian selama kerja di sini. Ternyata menurut buku ini, kurang efektif. Justru dibalik. Alih-alih meminta ide pada karyawan yang akan keluar, mulailah meminta pandangan saat pertama kali mereka masuk. Semakin ahli dan pengalaman seseorang, cara pandang mereka terhadap dunia semakin sulit dirubah. Menurut Adam, orang-orang yang baru masuk memiliki pikiran yang fresh, semangat membuncah, dan tentu saja ide yang tak lazim karena mereka belum mengalami kerja di sini! Well, benar juga ya. “Tak seorang pun yang datang ke sini membawa ide yang mereka anggap jelak.” Orang yang sering berpindah pekerjaan akan lebih cepat berhenti bekerja, tetapi ternyata tidak: peluang orang yang telah lima kali pindah kerja dalam lima tahun terakhir akan berhenti dibanding dengan orang yang bertahan di tempat kerjanya selama lima tahun tidaklah berbeda. Rumus HR dalam melawan dead wood adalah mencipta situasi. Untuk mengeluarkan orang dari zona nyaman, Anda harus menumbuhkan ketidakpuasan, rasa frustasi, atau kemarahan pada keadaan sekarang dan menjadikan sebagai kegagalan pasti. Jika Anda mendapat waktu untuk berpikir, pola umum mudah lenyap dalam detail. Saya juga terpikat oleh keamanan kedudukan mapan.

Warby Parker adalah gabungan dua nama tokoh ciptaan novelis Jack Kerouac, semangat pemberontak dimasukkan ke dalam budaya mereka, dan cara itu berhasil. Saya ga terlalu mengenal sang penemu jualan daring kaca mata ini, di buku ini ia disebut berulang kali seolah menemukan emas di tanah kosong. Seperti semua pencipta, inovator, dan agen perubahan besar, empat sekawan Warby Parker mengubah dunia karena mereka mau melakukan sesuatu yang belum jelas hasilnya. Salut atas keberanian bertindak, keberanian mengambil jalan berbeda. Seolah menebas jalur hutan perawan, membuat batu setapak menuju puncak. “Periode ditemukannya produk paling minor cenderung sama dnegan periode dihasilkannya karya besar.” Luxottica lahir di masa yang sangat pas, era internet yang sedang mewabah dan kebutuhan kaca mata yang banyak dengan pembelian garansi. Mereka tidak mampu mengubah dunia adalah karena mereka tek belajar untuk berpikir original. Mereka memusatkan energi untuk melahap pengetahuan ilmiah yang ada, tetapi tak menghasilkan pengetahuan baru.

Wabah sinetron di televisi lokal di jam utama sungguh memprihatinkan. Kita mayoritas sepakat tentunya sinetron merusak moral, membuat candu buruk bagi generasi berikutnya. Nyatanya produk itu laku. Kita tahu mematikan televisi saja tak cukup menunjukkan pada para produser sinetron bahwa rakyat siap berdiri memrotes. Tapi seberapa banyak? Masalahnya produk itu laku, dijejali iklan melimpah, dan semacam jaminan finansial sehat. Ketika kita sedang berusaha memengaruhi orang lain dan mendapati mereka tak menghormati kita, keadaan ini menciptakan siklus kekesalan yang tak berujung pangkal. Jika Anda ingin mengubah perilakunya, pakai lebih baik menyoroti manfaat perubahan atau kerugian akibat perubahan? Penerima yang marah secara acak diminta memberikan satu dari tiga respons berikut: malampiaskan, mengalihkan, atau mengontrol. Bagaimana respon Anda terhadap produk sinetron kita kawan?

Model ATM – Amati, Tiru, Modifikasi sudah jadi kewajaran di era ini. Tentu saja tak ada yang benar-benar original, dalam arti bahwa semua ide kita dipengaruhi oleh hal-hal yang pernah kita pelajari dari dunia sekitar. Kita selalu meminjam pemikiran-pemikiran, baik secara sengaja atau tidak. Kita rentan terhadap ‘kleptomnesia’ – secara tidak sengaja mengingat ide-ide orang lain sebagai ide kita sendiri. Originalitas termasuk memperkenalkan dan mengembangkan sebuah ide yang relatif tidak umum di dalam sebuah domain tertentu, dan berpotensi memperbaiki domain tersebut.

Di dunia musik, kita tahu banyak sekali genre dan tergantung sudut pandang siapa yang terbaik, siapa yang biasa. Tergantung selera, tergantung obsesi. Beethoven dikenal sebagai pengkritik karya sendiri yang baik. Sesuatu yang istimewa, tahu karyanya laik enggaknya. Jadi ingat Sherina Munaf di twitter lalu bilang, sebulan stuck ide nulis lagu, butuh tambahan waktu. Kita harus segera membangkitkan ide sendiri sebelum menyaring pendapat orang lain. Dan cara ini ternyata membantu menjelaskan mengapa akhirnya lagu berhasil rilis. “Saya dianugerahi selera musik yang kuat. Terkadang tulang saya menggigil.” Kata Darwin.

Ia menghabiskan empat puluh tahun berikutnya bekerja di sebuah penerbit demi stabilitas hidup dan menulis puisi di sela-sela waktu. Seperti komentar pendiri Polaroid, Edwin Land, “Tak seorang pun benar-benar orisinal di satu bidang, kecuali ia telah memiliki stabilitas emosi dan sosial yang berasal dari sikap yang tetap di semua bidang lainnya di luar bidang tempat ia menjadi orisinal.

Ketika kita meratapi originalitas di dunia, kita menyalahkan ketiadaan kreativitas. Untuk menjadi orisinal, orang dewasa harus lebih jarang belajar dan lebih sering tak belajar. Dan mereka menginspirasi saya agar tak terlalu mengikuti harapan menciptakan dunia yang lebih baik bagi mereka. “Keyakinan pada ide sendiri itu berbahaya, bukan hanya karena membuat kita rentan terhadap ide positif salah, tetapi juga membuat kita berhenti menghasilkan variasi yang membutuhkan untuk meraih potensi kreatif kita.”

I have a dream” King, 1963

Originals “Tabrak Aturan”, Jadilah Pemenang | By Adam Grant | Copyright 2016 | Diterjemahkan dari Originals | Terbitan Viking, an imprint of Penguin Random House LLC 375 Hudson Street, New York 10014 | Penerbit Noura | Penerjemah Mursid Wijanarko | Penyunting Aswita Fitriani | Penyelaras aksara Lian Kagura, Sheilla | Penata aksara Aniza Pujiati | Perancang sampul Artgensi | Cetakan pertama, April 2017 | 348 hlm.; 15 x 23 cm | ISBN 978-602-385-277-2 | Skor: 4/5

Untuk Allison

Karawang, 311218 – The Vure – Mint Car // 280619 – Christina Aguilera – Beautiful

Thank a lot Noura. Bless you.

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day28 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing #27

Bahwa di dalam diri mereka. Kekuatan adalah saat mereka mampu membuat orang lain kesuliatn dan memohon-mohon.” – Yusuf Yasa

Ini adalah cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Buku yang hhhmmm…, OK, tapi gmana ya. Ada semacam hal janggal yang mengganjal. Plotnya mirip 100 Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez, kalau ga mau dibilang contek. Gaya berceritnya agak aneh, dengan sering berujar ‘pada suatu masa’. Seperti para pencerita lokal macam Eka Kurniawan, Triyanto Triwikromo, AS Laksana, dkk, yang suka memakai nama-nama unik, Eko Triono juga melakukan hal serupa. Nama-nama karakter yang ‘muluk-muluk’ lucunya: Dari Massa Jenis, Gendis, Tulus Tapioka, Kembang Surtikanti, Yusuf Yasa, Rizal Gibran, Parta Gamin Gesit, Darma Gabus, Marzuki Kazam, Muhammad Basyirin, Jaya Kadal, Darman Gabus, Kembang Surtikanti, Dirjo Wuyung, Rodi Pahrurodi dan seterusnya. Boleh saja sih, sah-sah saja. Namun karena saya sering menemui, lama-kelamaan bosan juga. Lebih senang dengan nama-nama Indonesia yang membumi. Pilihan diksi dalam gaya bertutur kental dengan nilai lokal, kata Seno Gumira Ajidarma. Sementara Anton Kurnia bilang, menggelitik kita dengan semacam karnaval unik. Yup, sebagian sepakat. Kaya atau miskin datang dengan cara yang sama, bahagia dengan cara yang sama.

Kisahnya tentang sebuah keluarga yang melakukan transmigrasi dari Jawa ke tanah seberang. Lika-liku kehidupan para penjahat memulai petualangan baru. Yang lelaki sangat aneh, tapi terlihat jenius, yang perempuan adalah anak kiai yang termasyur. Putri pemilik pesantren baik-baik yang juga kelihatan cerdas, tapi memilih suami dengan tak lazim pula. Pasangan aneh yang menginginkan anaknya jadi ilmuwan, sekaligus ulama. Kombinasi tak wajar ini lalu berbaur dalam tiga puluh tiga kepala keluarga diangkut dengan dua bus biru. Berdesakan dengan kardus, barang dalam karung dan ikatan dalam plastik melakukan perjalanan ke Barat. Menyeberangi lautan, menancapkan bambu di tanah hutan perawan, dan drama umat manusia dimulai. “Tiap pendosa akan memiliki masa depan, sebagaimana tiap ulama yang telah memiliki masa lalu.”

Alurnya tak runut, pokoknya mirip sekali, bahkan polanya seperti 100 Tahun yang mendeskripsikan ending, lalu ditarik jauh ke belakang, Para Penjahat melakukan ‘napak tilas’ bagaimana menjalani kehidupan asing di rantau. Nama tanah rantau fiktif itu Jabalekat, nah apa bedanya dengan Macondo yang fiktif? Walau secara regional kita arahnya ke Sumatra. Nama areanya juga dibuat semenarik mungkin, seperti Gang Tokyo, Asia Kecil, Afrika Kecil, Australia Kecil, Pemukiman Perambah Hutan, Gang Shanghai Kecil, Balai Kumpul Jabalekat, dan seterusnya. Tokoh utamanya Parta Gamin, eks narapidana Nusakambangan yang tobat. Beristri jelita anak kiai, Kembang Sutikanti, putranya menjadi seorang pejuang revolusioner. Massa Jenis yang namanya diambil dari kemasan di tempat sampah, yang dibalik ya terdiri atas komposisi, produksi sampai identitas produk: Massa jenis adalah massa benda dibagi dengan volume. “Sudah kubilang, kau mencomot nama dari tempat sampah.” Dan nantinya mereka akan dikarunia anak kedua yang juga istimewa. Nama adalah doa.

Menghadapi orang-orang lokal yang sebagian tak ramah, hutan yang masih rimbun dipangkas, mengusir dan menghadapi hewan-hewan liar. “Jadi jangan percaya kalau kamu dengar tawa hantu, itu hanya tangis yang disamarkan.” Jangan memberikan ucapan dan komentar apa pun, katanya, pada orang yang belum bekerja dan bahkan tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Secara teori nenek moyang kita dari surga dan itulah sebabnya kita mabuk pada dunia. Para transmisgran ini selalu dijejali donkrin bahwa New York dan Sydney mula-mula dibangun dari migrasi bandit-bandit Inggris. Kalau mereka bisa kenapa kita enggak? Penyakit terberatnya adalah perasaan sunyi yang sering muncul tiba-tiba dan ketombe yang sulit dihilangkan; hingga sering kehilangan konsentrasi. “Jika ragu-ragumu dalam hal baik itu dari setan. Jika ragu-ragumu dalam hal buruk, itu dari malaikat.”

Parta Gamin sekalipun dapat istri istimewa dia punya pikiran liar juga tentang cinta masa lalu. Tapi, hanya ingatan diam. Karena kenyataannya tidak ada mantan yang lebih baik dibandingkan dengan mantan pacar yang menjadi istri. “Cinta dan sakit hanya beda istilah.”

Berikutnya yasu dah, segala cerita masyarat pindahan ini mengarungi kehidupan. Semacam rapat RT, koordinasi mengusir hewan buas, paguyupan membersihkan selokan, goyong royong mbangun desa, dan seterusnya. Apakah peran kucing lebih penting secara psikologis daripada peran ikan gabus secara biologis? Kelahiran para penerus, kematian para tetua hingga konfliks vertical dengan pemerintah yang memicu para penerus untuk melawan, memberontak demi revolusi. Dan begitulah kehidupan, selalu berputar, selalu pada akhirnya kita akan pergi dan diganti generasi berikutnya. Para Penjahat dan Kesunyian menampilkan sepenggal kehidupan orang-orang terasing tersebut dengan masam. Keunikan selain nama-nama yang aneh, adalah cara bercerita yang tak biasa, di mana plot-nya dipermainkan, tak segaris lurus laiknya waktu, tapi alurnya bolak-balik. Kalau kita harus menggugat Tuhan karena telah menciptakan dan memberi hidup pada orang jahat, maka kita pun harus menghukum orang-orang baik, sebab hanya dengan adanya orang-orang baiklah kita mampu menunjuk siapa orang-orang yang dianggap jahat. Kadang kita meragukan terhadap hal-hal sudah jelas. “Ini bukan tanah yang dijanjikan, ini tanah kutukan, tanah para binatang.

Awalnya memang sesuai harapan, tapi keterpencilan, perhatian pemerintah yang kecil, abai aturan, dan konfrontasi antar warga mencipta banyak masalah mendasar. Lalu saat muncul pemikiran generasi berikutnya, anak-anak mereka yang lebih modern mecuat, timbul gerakan pemberontakan, gerakan pembaruan yang coba dibasmi itu melibatkan orang-orang penting. Dan satu lagi, cerita akan semakin seru saat ditaruh seorang penghianat. Godaan komplit: harta, takhta, wanita. Siapa yang berani melawan suara rakyat? Siapakah yang teganya menjilat uang demi kenikmataan sesaat? “Saya resmi jadi penghianat. Demi cinta, ya demi cinta, saying. Apa pun saya rela, asalkan jangan menjadi kenanganmu.”

Awalnya saya kasih skor 3.5 karena kemiripan novel masterpiece Gabriel Garcia Marquez, tapi setelah kupikir-pikir sulit juga menjaga konsistensi sepanjang 200 halaman bertutur kata dalam drama yang memusing, walaupun ‘agakhappy ending. Biasanya kita menikmati Triono dalam cerita pendek, maka cerita panjang pertama beliau, novel pertama beliau yang kulahap ini sangat patut diapresiasi. Berlabel juara 3 UNNES – International Novel Writing Contest 2017. Yel-yel dan jargon itu – konon digali oleh Parta Gamin dari amanat penderitaan rakyat – bahkan telah bergema di hati mereka sendiri meski dalam diam bermain catur. Apakah perjuangan itu sebuah kesia-siaan besar?

Aku sudah melakukannya selama tiga puluh dua jam. Nggak jadi presiden nggak sipilis.”

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing | Oleh Eko Triono | GM 618202020 | Editor Sasa | Desain sampul Chandra Kartika (@kartikagunawan) | Desain isi Nur Wulan | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-602-03-8315-6 | Skor: 4/5

Karawang, 180419 – Nikita Willy – Lebih Dari Indah // 270619 – Westlife – I Don’t Wanna Fight

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day27 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019