Sastra adalah… Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

“Jika Anda seorang pengarang, dan tak menemukan ungkapan-ungkapan yang pas untuk menjelaskan perasaan yang rumit dan intim dan dalam dari tokoh-tokoh yang ingin Anda ceritakan dalam bahasa Indonesia, maka boleh jadi Anda akan lari mencari pertolongan kepada bahasa yang Anda alami sehari-hari atau kepada bahasa yang Anda anggap lebih kompleks berdasar kecenderungan bacaan Anda…”

Menurutku buku ini setara bagusnya dengan Cerita, Bualan, Kebenaran. Tips-tips menulis yang dibalut bukan tips menulis. Nyaman dan terasa sangat masuk akal. Jelas lebih keren dari Menumis itu Gampang yang bertema umum. Poinnya sama, Cak Mahfud bercerita kesehariannya. Buku ini terasa lebih asyik sebab bahasannya fokus ke proses kreatif, yang setelah ditelaah, tak kreatif juga, tak banyak nasehat, atau petuah membumbung. Benar-benar cerita bagaimana ketahananan menulis buku itu perlu, pengalaman dari Penulis pemenang DKJ dan KSK. Dua penghargaan sastra paling bergengsi tanah air. Walau judulnya provokatif, bagaimana penulis menganggur, percayalah, itu hanya jeda. Judulnya biar tampak eksotik. Itu hanya masa santuy, sejatinya menulis memang kudu tahan banting, konsistensi, dan dipaksa. Maka tata kelola waktu juga sebuah kunci, dan buku ini jelas patut dipertimbangkan jadi rujukan proses mencipta karya. Seperti yang dulu pernah kubilang di ulasan buku Mario Vargas Llosa dalam Matinya Seorang Penulis Besar (sudah diterjemahkan oleh Shira Media), bahwa buku-buku dibalik karya sangat patut dicetak sebanyak mungkin agar pembaca tak meraba ngasal. Setidaknya kita tahu, buku-buku itu diterbitkan penuh pengorbanan, tak sim salabim mengada.

#1. Hanya Penulis

Sosial media, atau di sini Facebook telah mengikat kita dalam pergaulan instan. Bisa saling mengenal secara daring orang-orang asing, serta para idola yang dulu rasanya tak terjangkau. Dibuka dengan sebuah kotak pesan masuk yang menanyakan pendapat kontribusi penulis di masa pandemi. Dan dijawab dengan apa adanya, mungkin benar kurang memuaskan, tapi ini benar-benar real. Kenapa, sebab “jangan memberi panggung kepada orang-orang yang tak kompeten,” adalah mutlak.

Jangan tanya tanggapan Lesti.

#2. Penulis? Oh, yang di Percetakan

Karena sudah baca dua kumpulan esai, saya jadi tahu perjalanan hidup Cak Mahfud yang lulusan pesantren, kuliah Yogya, bekerja di Jakarta, lantas menyepi menekuri tulisan dengan serius kembali ke Yogya. Maka saat baca judulnya, jelas ini adalah lontaran tanya dari rekan saat di Utan Kayu. Penjelasan bagaimana ia ‘tak menyangka’ jadi penulis suatu hari kelak tampak seolah hanya mengikuti arus kehidupan. Dan penulis yang dikenali sekaligus tak dikenali, kocak juga kontribusinya, saat truk-truk bahan bangunan yang bising di balik tembok tempat tinggalnya dan ia bergeming, tak turun tangan. Tak mengapa, saya sama saja kalau di posisi itu.

#3. Alasan untuk Tidak Menulis

Sudah menulis dari era mesin tik, dan bagaimana cerpen pembuka Belajar Mencintai Kambing berproses. Sibuk jadi semacam kelakar saat ditanyakan pada Penulis. Hingga bagaimana tatapan pada Ayu Utami di meja kafe seberang dengan laptopnya, sepuluh tahun kemudian, beliau punya karya setara bagusnya. Sejatinya, penundaan menunaikan tugas (di sini menulis) adalah hal wajar bagi manusia. Termasuk alibi, kalau punya komputer, kalau punya laptop kualitas bagus, kalau punya tempat nyaman menulis, serta kalau kalau yang lain.

Penutupnya bagus, langsung kena jap. “… semakin cepat capek dan diserang pegal-pegal. Saya pasti akan jauh lebih sigap dan lebih cepat menyelesaikan tulisan ini jika saya masih seumur para penulis muda yang sore itu saya temui.” Hahaha…

#4. Pengarang dan Kemelut

Mengandaikan masa hidup di era lama, tak hanya cocok untuk para penulis. Bayangkan, kalau kamu buruh di masa kemerdekaan, apakah mungkin sudah bergabung angkat senjata? Atau bayangkan hidup di masa ’65, mungkin kamu buruh yang keciduk karena ikut coblos Merah. Nah, di sini membayangkan bagaimana kalau penulis hidup di masa itu? Bakalan angkat senjata? Bakalan turut serta disingkirkan? Chairil Anwar memang penyair terbesar kita, dan bagaimana ia berumur muda banyak memberi warna kebangkitan Indonesia.

#5. Bahasa Indonesia dan Persoalannya – bagi Seorang Pengarang Jawa

Ini menyenggol Azhari Aiyup si penulis Kura-kura Berjanggut yang fenomenal itu. Bagaimana cerpennya terbit di Kompas dan mencipta iri Cak Mahfud, terutama gaya bahasa, pilihan diksi, hingga keluwesan bercerita yang bagus, seorang Aceh yang mahir berbahasa Indonesia.

Dan bagaimana kehidupan sehari-hari mempengaruhi kehidupan sosial kita, terutama bahasa. Jadi seperti apakah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu. Lebih nyaman memang memilih “percampuran” bahasa ibu dan bahasa Indonesia, dan itu sangat wajar. Bukankah malah tampak aneh, orang Jawa dengan fasih bercerita tentang kehidupan suku Dani?

#6. Pulang, Pola, Mood

Pulang kampung adalah jeda dari kesibukan. Menikmati waktu dengan keluarga, menelusuri kenangan, ngopi sama rekan main kelereng, hingga ketawa-ketiwi sama teman-teman lama yang tak merantau. Begitu pula penulis, mudik adalah masa kosong dari mengetik kata-kata, refreshing-kan pikiran, mengisi ulang ide-ide. Masalahnya, mood-nya tak kunjung kembali saat telah kembali ke kota tempat kita mencari uang.

“Jadi, sekali lagi, mood itu eksis. Ia bukan mitos. Ia ada, dan beberapa orang betul-betul memerlukannya untuk mencipta. Ia, membentuk sejenis pola bagi orang-orang tertentu…”

#7. Buku Baru

Buku debut Ulid bersampul kuning yang terkenal itu, disambut dengan sederhana oleh penulisnya. Bersepeda Wymcicle AC Milan santuy ke tempat kelahirannya, mengambil 25 eksemplar, merayakan dengan mampir ke tempat teman, meminta meresensinya, dan setelah lama berselang itulah satu-satunya resensi. Hiks, si sulung yang malang katanya. Namun lihatlah, setelah belasan tahun, buku itu justru kembali nge-hits efek ketenaran.

“Semua istimewa pada masing-masing tempatnya.”

#8. Melihat Pengarang tidak Bekerja

Ini hanya curhat masa tak mood menulis. Klontang-klantung, ngopi sama teman, haha hihi lupa waktu, menunda nulis, buka sosmed yang menghamburkan waktu banyak, menunda lagi nulis untuk mencari makan, kembali membuat kopi, dst. Hal-hal wajar yang memengaruhi kreativitas, yang terasa tak wajar adalah, saat penulis tak bekerja, malah jadi tulisan. Ironi di atas ironi kata Spongebob.

“Dengan malas ia bangun dan mematikan lampu… dan dengan malas ia akhirnya memutuskan bangun.”

#9. Tentang Menulis Populer

Ini mungkin yang paling bagus, tulisan populer itu yang bagaimana? Pertama mendengarnya, jelas buku-buku buruk Tere Liye. Laris manis, penulisnya baper, ngudi-udi di sosial media demi mendongkrak penjualan. Kita harus sepakat di awal, bahwa buku-buku Tere jelex, tapi sayangnya laris manis, dikutip para abege, dan beberapa berhasil diadaptasi film. Itulah tulisan populer, menurutku.

Cak Mahfud menjabarkan panjang lebar, dimula dalam seminar yang diadakan para pelajar, yang lantas membedahnya. Benarkah tulisan populer itu mudah? Beliau menjawab, dalam jenis tulisan apa pun, menulis populer haruslah didasari oleh kemampuan teknis yang lebih dari sekadar memadai, malahan lebih lihai, dengan kemampuan menyampaikan ide dan gagasan atau cerita kepada pembaca di atas rata-rata. Jangan dikata lagi isi yang disampaikan. Terlihat Cak Mahfud sering kali curhat terkait seminar/bedah buku yang diisinya. Saya sendiri dua kali ikut, dan seru. Cuma satu pertanyaanku waktu itu, nulis cerpen sudah, esai sudah, novel sudah, kapan nulis puisi? Cuma dijawab tawa, dan bilang ‘endak… endak...’ sambil terus mengelak.

“… sengaja atau tidak, para penulis pop ini kemudian menyepakati, dalam banyak kesempatan mungkin malah memanfaatkan, pandangan bahwa yang populer adalah dangkal dan gampangan…”

#10. Penulis dan Tidurnya

“Terlambat karena kita tidak bisa mengatasi kenapa kita terlambat jauh lebih tidak menyenangkan dibanding terlambat karena kita lali atau disebabkan melakukan hal lain…”

Ceritanya, beliau lagi nostalgia bagaimana mencipta tidur yang nyaman. Memiliki kamar pribadi tentu saja sebuah kenyamanan, atau malah sebuah kemewahan bagi kita kebanyakan (keluarga Rafathar jelas tak dihitung). Tidur di masjid sesuatu yang lumrah, tidur di pos ronda wah ekstrem, tidur cepat dengan niat agar esok bisa bugar dan siap menulis, sungguh utopia. Saya sendiri sering kali tidur larut kala hari libur, dan bangun subuh setelahnya. Rasanya, sayang sekali akhir pekan tak memeluk buku lebih lama. Sebuah kerugian bagi pecinta buku bangun kesiangan di hari libur.

#11. Sastra adalah.. Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

Sampai sekarang, definisi sastra masih simpang siur dan mengundang pendapat beragam. Teori sastra di buku Welleck dan Warren yang kebetulan sudah kubaca, juga menimbulkan banyak tafsir. Maka kalau dalam seminar ada yang berpendapat Satra itu gelap, wajar. Apalagi deretan contoh yang disajikan mayoritas mengiyakan. Satu paragraph yang mengutar menyelamatkan seseorang yang menganggap KKN Desa Penari sebagai sastra, bisa jadi benar. Namun kita tak tahu, seratus tahun lagi, buku dari sensasi twit ini bisa jadi berbelok nyastra. Merefleksikan kehidupan, menggetarkan hati pembaca… nah… ‘kan.

“Saya menjawab bukan untuk membuatnya mengerti, tapi untuk membuatnya diam.”

#12. Duaribu Duapuluh

Pandemi dan orang-orang yang bertahan hidup sampai sekarang. Saya, dan kalian yang membaca blog ini, saya ucapkan selamat. “Hidup hanya menunda kekalahan,” kata Chairil Anwar, dan ya 2020 memang tahun tak wajar.

Suka sekali sekali penutup bab, sekaligus buku ini tentang Jimmy Glass yang menyelamatkan Carlisle United tahun 1999 dari degradasi dari divisi empat Liga Inggris. Kiper cadangan yang mencetak gol dramatis, yang mendadak jadi pahlawan, lantas pensiun dini 27 tahun sebab tak ada yang memakai jasanya. Baru tahu, dan kalian harus tahu. Tipis memang, pahlawan dan pecundang.

Kubaca selama libur Lebaran saat mudik ke Solo kemarin, kutuntaskan setelah kembali tiba di Karawang. Selang seling sama buku kumpulan cerpen Frederick Forsyth: No Comebacks. Jelas pilihan bagus, keduanya saling melengkapi, esai dan cerpen, dan sebuah buku tipis kumpulan puisi dalam sepekan, langsung kelar.

Selamat ulang tahun Mahfud Ikhwan, 42 tahun. Buku-buku barumu selalu kunanti.

Melihat Pengarang Tidak Bekerja | by Mahfud Ikhwan | Ilustrator Alfin Rizal | Tata Sampul alfin Rizal | Tata Isi Vitrya | Pracetak Antini, Dwi, Wardi | Cetakan pertama, Maret 2022 | Penerbit Diva Press | 128 hlm; 13 x 19 cm | ISBN 978-623-293-651-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 090522 – Patrice Rushen – Forget Me Nots

Thx to Gramedia Karawang

Manajemen Strategik Koperasi

Bagi saya yang awam koperasi, dan sedang belajar tentang koperasi, buku umum seperti ini sangat bermanfaat. Dasar-dasar manajemen yang bisa dijadikan pijakan untuk mengarungi kegiatan. Kebetulan, saya ditunjuk jadi pengawas koperasi karyawan, jadi sedang mendalami teori perkoperasian. Anggota adalah puncak tertinggi pengambil keputusan, dan itu baik.

Saking banyaknya ilmu yang perlu diserap, saya ketik ulang beberapa poin yang menarik. Per bab per tulisan. Bagus untuk dibaca-baca lagi, bagus untuk dibagikan di blog, bagus untuk dipelajari bersama, belajar bersama tentang koperasi. Berikut ketikan ulang inti sari buku ini. Semoga bermanfaat.

#1. Penemuan Kembali dan Revalitasi Kaidah-Kaidah Koperasi dalam Usaha Mencapai Keunggulan Kompetitif by Prof. Dr. H. Yuyun Wirasasmita, M.Sc

Koperasi berlandaskan dasar-dasar self-help (menolong dirinya), self-relief (pecaya diri), self-management, self-responsibility (bertanggung jawab atas diri sendiri), sehingga kaidah koperasi efektif secara keseluruhan dan khususnya pelayanan anggota dapat dicapai.

Efisiensi/keunggulan biaya pada umumnya dipicu karena skala ekomonis, efisiensi biaya transaksi, spesialisasi, efisiensi pengelolaan, proses pembelajaran, dll.

Mendorong amalgamasi untuk koperasi kecil yang tidak ekonomis.

Mendorong kemitraan/aliansi strategic/jaringan usaha.

Menerapkan kaidah koperasi yaitu keunggulan biaya, pelayanan, fokus.

Kebijakan merger/amalgamasi.

Kebijakan promosi anggota: hubungan antara koperasi dengan anggota tidak berdasarkan hubungan pasar, tapi lebih berdasarkan hubungan koperasi sehingga barang/jasa yang dihasilkan untuk anggota didesain untuk pemanfaatan, bukan untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya.

Selalu mengidentifikasi kepentingan (felf needs) anggota, sehingga barang-barang/jasa koperasi selalu sesuai dengan kebutuhan anggota, merupakan usaha yang dapat menjaga keunikan barang/jasa koperasi para anggota dari waktu ke waktu sesuai perubahan/perkembangan pasar.

Kebijakan uji pasar secara teratur adalah untuk membandingkan harga dan kualitas barang/jasa koperasi dengan barang/jasa yang ditawarkan oleh badan usaha non-koeprasi. Koperasi didesain untuk menghasilkan barang/jasa yang relative lebih murah dari harga pasar, berdasar kualitas yang disetujui oleh para anggota.

Salah satu indikator terjadinya distorsi menfaat adalah berkurangnya partisipasi anggota.

Persayaratan-persayaratan yang diinginkan anggota dipenuhi oleh koperasi, demikian juga persyaratan yang diinginkan oleh koperasi dipenuhi oleh anggota.

#2. Menajemen Strategik Pelayanan Kepada anggota Koperasi by Prof. Dr. H. Sutaryo Salim, SE.

Pengurus dan pengawas berkewajiban untuk memberikan pelayanan berkualitas (servequal) sebaik-baiknya kepada anggota ialah bersikap WIRA Koperasi agar pengadaan jumlah anggota mencapai optimum, pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan usaha meninggal melalui program pengembangan, pendidikan, dan pelatihan.

Dengan kesejahteraannya, menjaga agar turn over anggota seminimal mungkin.

Masa depan koperasi sebagai suatu badan usaha yang diharapkan menjadi soko guru perekonomian seperti amanat konstitusi Negara (UUD 45) sangat ditentukan oleh mampu tidaknya kemandirian pelaksanaan tanggung jawab. Sebagai badan usaha, ketangguhan koperasi diukur oleh kemampuan mengembangkan dan menguasai pasar. Koperasi harus bisa memberi alternative rasional bagi pelanggannya (anggota) melalui kebijakan insentif usaha maupun perbaikan teknis pelayanan pelanggan.

Segitiga C strategi: Cooperative; customer; competitor

Parasuraman menyatakan bahwa terdapat lima dimensi kualitas pelayanan (servequal) taitu: Reliabilitu (keandalan); Responsiveness (daya tanggap); Assurance (keterjaminan); Empathy (empatri); dan Tangible (Leberwujudan fisik).

Semakin besar kesenjangan semakin besar pula ketidakpuasan.

Terciptanya loyalitas dan membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut (word of mouth).

Menurut Hunger, David J, dan Thomas L. Wheelen, manajemen strategik terdiri 4 dasar pokok: Mengamati lingkungan (environmental scanning); penyusunan strategik (strategic formula); pelaksanaan strategi (strategic implementation); dan evaluasi/control.

Bersifat asih, asah, dan asuh trehadap anggota.

WIRA Koperasi: Wujud, Intrese, Ramah, Asih, dan Kepercayaan.

Kemampuan melaksanakan strategi lebih penting daripada kualitas strategi itu sendiri.

Keanggotaan bersifat terbuka, sukarela (bebas) dan demokrasi, maka anggota mmepunyai hak untuk memberikan informasi suara (voice), vote, threats bahkan exit apabila terjadi penyimpangan dari strategi, sehingga sudah tidak sesuai yang diharapkan, oleh karenanya pengurus ‘terpaksa’ untuk mengadakan penyesuaian.

Anggota sebagai pemilik dan pelanggan mempunyai posisi kekuasaan tertinggi dalam koperasi, mereka mendirikan dan mengadakan perusahaan koperasi.

#3. Manajemen Pelayanan Strategik Koperasi by Dr. H.R.M. Ramudi Ariffin, SE.M.S.

Tujuan universal koperasi adalah ‘mempromosikan anggita’ dan di Indonesia diterjemahkan menjadi ‘meningkatkan kesejahteraan anggota’. Dengan demikian peningkatan kesejahteraan anggota menjadi kriteria pokok dalam mengukur tingkat keberhasilan koperasi.

Anggota koperasi dikategorikan dalam dua kelompik besar, yaitu produsen dan konsumen, sedangkan pendapatan anggota dikategorikan berbentuk pendapatan mominal dan pendapatan riil.

Koperasi adalah badan usaha yang didirikan, dimodali/dibiayai, dikelola, diawasi, dan dimanfaatkan sendiri oleh para anggota.

Pola dasar pengelolaan koperasi meliputi tiga hal, yaitu kepentingan ekonomi anggota, manajemen koperasi dan program pelayanan.

Keputusan-keputusan operasional yang diambil oleh manajemen koperasi harus sesuai dengan kebutuhan nyata dari rumah tangga anggota.

Tugas anggota pertama turut serta mengambil keputusan strategis koperasi, sedang keputusan operasional dapat saja diarahkan kepada manajemen koperasi, kedua memodali/membiayai koperasi agar koperasi dapat menjalankan tugas-tugasnya sesuai keputusan rapat, ketiga mengawasi atau mengendalikan jalannya koperasi agar tetap berada pada jalur kepetingan ekonomi anggota sesuai keputusan yang ditetapkan bersama.

Yuyun Wirasasmita menyatakan bahwa mode of production and cost di dalam koperasi terjadi karena pencapaian skala ekonomi, pengurangan biaya transaksi, peningkatan posisi tawar, definisi informasi, dan peningkatan produktivitas.

Koperasi memiliki karakteristik khusus dan berbeda dengan berbagai bentuk usaha kapitalistik.

Pengurus hanya menjalankan fungsi pengorganiasaian, sedangkan fungsi usaha diserahkan kepada manajer profesional yang diangkat.

#4. Pemberdayaan Koperasi Melalui Pengyatan Manajemen Pemasaran Strategik by Dr. Hj. Dwi Kartika Yahya, SE. Spec Lict.

Lloyd L. Byars menyatakan bahwa strategi adalah penentuan dan evaluasi terhadap alternative yang tersedia bagi suatu organiasai dalam mencapai tujuan dan misinya. Dengan demikian strategi merupakan setiap kesatuan rencana yang menyeluruh untuk mencapai misi dari tujuan organiasai.

Menurut Evert Gummesson analisis situasi meliputi tiga tahap: tahapan internet, tahapan intranet, dan tahap extranet.

#5. Manajemen Pemasaran Strategik Koperasi bty Ir. Slamet R. Bisri, MS.

Apabila falasafah dan idiologi koperasi tidak banyak berubah selama 100 tahun terakhir, manajemen bisnis justru mengalami perubahan yang sangat besar.

Dalam hal pemasaran, koperasi justru secara konseptual sudah sesuai dengan pendekatan pemasaran strategik, kelemahannya justru dalam hal koeprasi kurang mengenali keunggulannya sendiri, padahal perusahaan non koperasi menggunakan cara koperasi.

Igor Ansoff menyatakan upaya-upaya untuk mencapai tujuan tersebut didasarkan pada suatu strategi umum, disebut The Common Thread. Robert E. Word tahun 1992 menyatakan kegiatan usaha seperti halnya perang,… jika strategi umumnya betul, kesalahan-kesalahan yang bersifat taktis dapat terjadi tetapi perusahaan tetap dapat berhasil. Menurut Henry Mintzberg ada tiga macam cara menyusun strategi: entrepreneurial, adaptif, dan perencanaan.

Entrepreneurial cocok untuk pemimpin yang kuat yang dimotivasi oleh tujuan pokok pertumbuhan konstan. Adaptif dilakukan berupa reaksi terhadap lingkungan yang berubah. Kemajuan terjadi perlahan dan terputus-putus, dilakukan biasanya jika tidak ada pemimpin yang kuat. Cara perencanaan kegiatannya didasarkan pada prosedut yang sistematik.

Mestikpun anggota koperasi merupakan captive market perlu juga memperoleh informasi, di sisi lain, pelaksana di koperasi kurang mengenal jati diri organiasai koperasi sehingga justru menjadi pengekor cara-cara pemasaran bentuk perusahaan lain.

Secara teoritis harga di koperasi dapat rendah karena adanya ecomonics of scale, keberhasilan ini mutlak tergantung pada profesionalisme manajemen.

#6. Manajemen Keuangan Strategik Koperasi by Dr. Sumarno Zain, SE, MBA.                             

Ciri usaha koperasi adalah prinsip identitas di mana pelanggan adalah juga pemilik. Keuntungan dari ciri usaha ini adalah mengurangi kesenjangan informasi serta biaya transaksi.

Manajemen keuangan berkaitan dengan bagaimana menarik dana (financing) dan menggunakannya untuk memperoleh assat (investment) yang diperlukan dalam oeprasi oerusahaan. Secara normative tujuan pengambilan keputusan dalam manajemen keuangan adalah mekasimalkan kekayaan perusahaan.

Jadi dalam pendanaan ini ada dua masalah. Pertama, apakah akan digunakan dana dari kreditur dan seberapa besar sebaiknya pinjaman tersebut. Masalah ini dikenal sebagai masalah struktur modal. Kedua, apakah dana dari hasil operasi akan ditanamkan kembali untuk keperluan usaha atau dikembalikan kepada pemilik. Masalah ini biasanya disebut kebijakan deviden.

Koperasi tidak menerbitkan saham yang diperdagangkan di pasar modal, sehingga tidak ada harga saham yang dapat dijadikan sebagai tolok ukur.

#7. Manajemen Strategik Keuangan Koperasi by Sugiyanto, SE,M.Sc.

Koperasi dimiliki oleh anggota yang bergabung atas dasar sedikitnya ada satu kepentingan ekonomi yang sama.

Koperasi didirikan dan dikembangkan berdasarkan nilai-nilai percaya diri untuk menolong dan bertanggung jawab kepada diri sendiri, kesetiakawanan, keadilan, persamaan dan demokrasi.

Penilaian untuk investasi pada aktiva tetap disebut dengan capital budgeting yang kemudian lebih dikenal dengan istilah studi kelayakan, baik untuk investasi baru, investasi pengembangan atau investasi penggantian aktiva tetap, dengan mempertimbangkan return yang akan diterima dan risikonya.

Koperasi berkaitan dengan kemampuan pengelola dalam mengoptimalkan perolehan sumber dana dan penggunaannya.

#8. Manajemen Sumberdaya Manusia Strategik Koperasi by Drs. Oman Hadipermana

Kata pendidikan sebagai istilah kultural, sedangkan kata-kata Sumber Daya Manusia dipandang sebagai istilah ekonomi. Tetapi konsep yang terletak dibalik kedua kata-kata ini sama, yaitu penggalian dan pemanfaatan potensi-potensi (kekayaan) yang terdapat dalam diri manusia…

Kemampuan manusia itu sangat luas. Penemuan ilmiah pengetahuan menunjukkan bahwa otak manusia mempunyai ocadangan yang sangat besar.

Potensi manusia seluruhnya adalah Sumber Daya Manusia.

Setiap pekerjaan mempunyai dua aspek: teknologi dan manusia.

Tujuan utama pengembangan SDM adalah untuk membantu orang-orang dalam organisasi untuk menghadapi tantangan-tantangan yang ditimbulkan oleh teknologi dan perubahan lainnya, untuk menyesuaikan diri pada persyaratan-persayaratan baru dan mencapai tingkat-tingkat kinerja yang diperlukan untuk tetap hidup dan tetap tegak untuk bersaing.

Sumber daya atau potensi manusia berupa mental, fisik, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan yang dimiliki.

Organiasai berbeda (politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun pertahanan dan keamanan) akan memerlukan SDM yang berbeda.

Manajemen Strategik Koperasi | By (editor) Prof. Dr. Hj. Tati Suhartati Joesron, Se, MS | Edisi pertama, Cetakan pertama, 2005 | Penerbit Graha Ilmu | xii + 116 hlm, 1 Jil.: 23 cm | ISBN 979-756-029-4 | Skor: 4/5

Karawang, 270122 – 180322 – 290322 – Boyzone – Key To My Life

Thx to Ade Buku, Bdg

130 Buku Rentang Setahun

Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”Mahfud Ikhwan dalam Anwar Tohari Mencari Mati

Tahun 2020 saya buat daftar terbaik-terbaik dalam dua versi: Fiksi dan Non-Fiksi. Kali ini akan saya pecah lagi untuk fiksi jadi lokal dan terjemahan, kalau tidak kupecah yang terjemahan terlalu mendominasi.
130 buku yang kulahap dengan nyaman. Padahal kalau mau hitung belanja bukunya bisa empat kali lipat, artinya hanya seperempat yang selesai. Betapa banyak yang numpuk. Tahun ini, saya coba rem belanja buku, yah beberapa toleransi tetap gas, tapi kalau rutin tak akan segila. Berikut rekap baca 2021.

*I. Januari – 10 buku
Awal tahun sengaja kumulai dengan bacaan bagus, Pi memenuhi ekspektasi itu.

#1. The Life of Pi by Yann Martel

Tentang bertahan hidup di tengah samudera.

#2. Dari Kekalahan ke Kematian by Mahfud Ikhwan

Tentang Timnas kita yang payah.

#3. Oliver’s Story by Erich Segal

Tentang pilihan pasangan setelah menduda.

#4. My Beautiful Feeling by Walter & Ingrid Trobisch

Tentang remaja dan kegalauannya.

#5. Mata dan Riwayat Semesta by Wija Sasmaya

Tentang puisi dan pewayangan.

#6. Memoar Ronny Patinasarany by Andreas J. Waskito

Tentang perjuangan sang legenda.

#7. Pembunuh by Rayni N Massardi

Tentang jiwa yang marah.

#8. Kuntilanak Pondok Indah by Lovanisa

Tentang rumah angker di tanah elite.

#9. Zarathursta by Frederick Nietschie

Tentang falsafah hidup sang petualang.

#10. Si Lugu by Voltaire

Tentang pertaruhan hidup di penjara.
*II. Februari –10 buku
Terbaik, memoar Bung Karno akhirnya berhasil kutuntaskan. Tentu saja jadi terbaik bulan ini.

#11. Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat by Cindy Adams

Tentang riwayat sang proklamator.

#12. Menumis itu Gampang, Menulis Tidak by Mahfud Ikhwan

Tentang sulitnya menulis. Apa saja.

#13. Mencari Setangkai Daun Surga by Anton Kurnia

Tentang sastra dan ruang lingkupnya.

#14. White Tiger by Aravind Adiga

Tentang sopir kere yang merdeka.

#15. Tanah Tabu by Anindita S. Thayf

Tentang Papua yang bergolak.

#16. Pribadi Mempersona by La Rose

Tentang tips-tips wanita menghadapi pria.

#17. Rahasia Nama-nama Islam by Annemarie Schimmel

Tentang sejarah nama-nama bangsa Arab.

#18. Lockwood and Co. by Jonathan Stoud

Tentang fantasi mengatasi hantu.

#19. The Joy Luck Club by Amy Tan

Tentang imigran Amerika dalam perkumpulan.

#20. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer by Jujun S. Suriasumantri

Tentang filsafat dibuat fun.
*III. Maret – 10 buku
Maret ini baca ulang Narnia 4 yang luar biasa sama Hermione, dan sekuel Dawuk yang dahsyat.

#21. The Chronicles of Narnia: The Silver Chair C.S. Lewis

Tentang perjalanan ke Utara jauh.

#22. Anwar Tohari Mencari MatiMahfud Ikhwan

Warto Kemplung kembali membual.

#23. The Last JurorJohn Grisham

Tentang pemilihan juri, ada warga kulit hitam pertama.

#24. Negeri SenjaSeno Gumira Ajidarma

Tentang negeri antah surantah.

#25. The Alchemist Paulo Coelho

Tentang perjalanan ke Mesir mencari harta karun.

#26. Dubi Dubi DumaEsthy Wika

Tentang tata kelola mengasuh buah hati.

#27. Tasawuf Dipuja Tasawuf DibenciMukhlis, S.Pd.I., M.Ag

Tentang para sufi dari masa ke masa.

#28. Pendeta YonasLa Rose

Tentang pendeta muda yang tergoda janda.

#29. Kuda Kayu TerbangYanusa Nugroho

Tentang keluh kesah naik bianglala.

#30. Q & ASherina Salsabila

Tentang romansa anak SMA.
*IV. April – 4 buku
Penuh salju, tebal, keren, lelah.

#31. Kitab Writer Preneur by Sofie Beatrix

Tentang perjalanan penyair pulang kampung Turki, dan efeknya.

#32. Pinky Promise by Kireina Enno

Tentang perempuan-perempuan tegar.

#33. Snow by Orhan Pamuk

Tentang syair yang dingin dan beku.

#34. Belajar Mencintai Kambing by Mahfud Ikhwan

Tentang pilihan sepeda atau kambing?
*V. Mei – 11 buku
Haruki Murakami tetap melaju dengan nyaman dan indah.

#35. Luka Batu by Komang Adyana

Tentang tradisi dan keseharian di Bali.

#36. Angel of Darkness (Sheldon’s Series) by Tilly Bagshawe

Tentang pembunuhan berantai dengan tertuduh si innocent.

#37. Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya by Haruki Murakami

Tentang cinta lama dan persahabatan, selamanya.

#38. Renungan Kloset by Rieke Dyah Pitaloka

Tentang kritik dan opini yang dihasilkan dari toilet.

#39. Civilization and Its Discontents by Sigmund Freud

Tentang budaya dan muatannya.

#40. The Man Who Loved Books Too Much by Allison Hoover Bartlett

Tentang pencuri buku yang gila.

#41. Aku dan Film India Melawan Dunia Buku I by Mahfud Ikhwan

Tentang kegemaran film India, melawan arus.

#42. Kritikus Adinan by Budi Darma

Tentang pengadilan yang tak adil.

#43. Seni Menulis by Haruki Murakami

Tentang tips menulis dari maestro.

#44. Cinta Bagai Anggur by Syaikh Muzaffer Ozak

Tentang sufi awal ke Amerika.

#45. Narsisme by Sigmund Freud

Tentang kebiasaan menampakkan diri ke publik.
*VI. Juni – 14 buku
Banyak baca, sebab melakukan isoman. Mayoritas ternyata tipis-tipis, pantas banyak. Terbaik jelas Pasar, buku pertama Bung Kontowijoyo.

#46. The Street Lawyer by John Grisham

Tentang kebaikan memihak para gelandangan dengan jadi pengacara mereka.

#47. Kanuku Leon by Dicky Senda

Tentang kehidupan mistik di tengah modernitas.

#48. Pasar by Kuntowijoyo

Tentang orang-orang pasar dan pusarannya.

#49. The Mummy by Anne Rice

Tentang mumi yang bangkit di masa kini setelah tertidur panjang.

#50. Putri Cina by Sindhunata

Tentang legenda putri Cina dan keturunannya di Indonesia.

#51. Isinga: Roman Papua by Dorothea Rosa Herliany

Tentang cinta diputus paksa dan dirajut ulang.

#52. Mati Bahagia by Albert Camus

Tentang pencarian makna hidup yang lapang.

#53. Lotre by Shirley Jackson

Tentang kebiasaan main lotre di tengah masyarakat yang manjemuk.

#54. Bisik Bintang by Najib Mahfuz

Tentang orang-orang Mesir dalam berbagai silang pendapat.

#55. Komune Paris 150

Tentang masa revolusi, kudeta gagal dan efek panjangnya.

#56. Misa Ateis by Honore de Balzac

Tentang kematian yang abadi.

#57. Sumur by Eka Kurniawan

Tentang cinta bersemi di sumur lalu ditenggelamkan masa.

#58. 100 Film by Ibnu M. Zain

Tentang rekap film terbaik sepanjang masa.

#59. Therese Desqueyroux by Francois Charles Mauriac

Tentang cinta dan kegilaan, pasangan aneh saling mengisi.
*VII. Juli – 5 buku
Terbaiknya tentu Geisha, tapi memang tertebak kan. Yang mengejutkan Pseudonim, lokal yang bagus. Rekomendasi.

#60. Memoirs of Geisha by Arthur Golden

Tentang memoar geisha zaman sebelum dan sesudah Perang Dunia II.

#61. Who Moved my Cheese? By Spencer Johnson

Tentang keberanian melawan kebiasaan, berani mengambil tindakan radikal.

#62. The March by E.L. Doctorow

Tentang perang saudara Amerika.

#63. Pseudonim by Daniel Mahendra

Tentang penulis galau yang jatuh hati sama calon dokter.

#64. Kampus Kabelnaya by Koesalah Subagyo Toer

Tentang pengalaman kuliah di Rusia.
*VIII. Agustus – 12 buku
The Dante Club terbaik, lika-liku proses alih bahasa buku legendaris.

#65. The Summons by John Grisham

Tentang panggilan mendadak orangtua untuk mudik, dan misteri besar di baliknya.

#66. Malapetaka Indonesia by Max Lane

Tentang sejarah kelam ’65.

#67. Dari Belakang Gawang by Mahfud Ikhwan & Darmanto Simaepa

Tentang rona-rona bola dalam esai duet.

#68. Sosiologi by Drs. Soedjono D. SH

Tentang teori sosiologi yang panjang merentang.

#69. Upacara Bakar Rambut by Dian Hartati

Tentang adat dan efeknya.

#70. Jalan Udara by Boris Pasternak

Tentang gejolak Rusia di masa perang dingin.

#71. The Dante Club by Matthew Pearl

Tentang Amerika yang mencoba menerima puisi Dante, biasalah selalu ada yang menentang, atau terinspirasi?

#72. Kota Kucing by Haruki Murakami

Tentang kota antah misterius, kereta berhenti di negeri aneh.

#73. Penyair Revolusioner by Deddy Arsya

Tentang syair-syair meledak.

#74. Firebelly by J.C. Michaels

Tentang katak yang menekuri hidup.

#75. Zahiya by Najib Mahfuz

Tentang kafe dan masyarakat di sekitarnya.

#76. The Things They Carried by Tim O’Brien

Tentang perang Vietnam, barang-barang seberat itu dibawa menjelajah.
*IX. September – 10 buku
Buku-buku bagus, terbaik Eichmann in Yerusalem. Dibuat dengan intensitas ketegangan proses pengadilan.

#77. Breaking PoetryAntologi

Jelex.

#78. The NotebookNicholas Spark

Tentang manula yang hilang ingatan, dan coba dingatkan pasangan.

#79. Eichmann in YerusalemHannah Arendt

Tentang proses pengadilan kejahatan perang di tubuh Nazi.

#80. IdentityMilan Kundera

Tentang pasangan galau, krisis identitas.

#81. The Silence of the LambsThomas Harris

Tentang pembunuh berantai membantu memecahkan kasus pembunuhan berantai.

#82. Think Like a FreaksSteven D. Levitt & Stephen J. Dubner

Tentang pemikiran aneh untuk hasil luar biasa.

#83. The Return of the Young PrinceAG Roemmers

Tentang pangeran dan sopirnya dalam perenungan di jalan.

#84. BibirKrishna Mihaedja

Tentang ucapan yang mencipta dengung apa saja.

#85. Perkara Mengirim Senja –Tribute untuk SGA

Tentang senja dan segala isinya.

#86. Haniyah dan Ala di Rumah TeterugaErni Aladjai

Tentang kehidupan di kebun teh.
*X. Oktober – 14 buku
Rerata bacaan Kusala Sastra, terbaiknya tetap Haruki. Akhirnya buku 900 halaman itu selesai baca.

#87. Damar KambangMuna Masyari

Tentang adat Madura yang keras.

#88. Yogya YogyaHerry Gendut Janarto

Tentang nostalgia ke Yogya.

#89. Rekayasa BuahRio Johan

Buku jelex lagi.

#90. Looking for AlaskaJohn Green

Tentang pencarian jati diri remaja.

#91. Semesta MurakamiJohn Wray, dkk

Tentang kehidupan yang idola.

#92. Anak Asli Asal MappiCasper Aliandu

Tentang pengalaman mengajar di Papua.

#93. Jalan MalamAbdul Wachid B.S

Tentang muhasabah dan ziarah dalam bait.

#94. Segala yang Diisap LangitPinto Anugrah

Tentang Islamisasi di Sumatra.

#95. Revolusi NuklirEko Damono

Tentang masa depan yang misterius.

#96. Bunga Kayu ManisNurul Hanafi

Tentang pasangan saling menghargai.

#97. Cerita-cerita yang Sedih dan MenakjubkanRaudal Tanjung Banua

Tentang masa lalu dalam dongeng.

#98. Kronik Burung PegasHaruki Murakami

Tentang suami yang ditinggal istri.

#99. Ramuan Penangkal Kiamat Zelfeni Wimra

Tentang dahwah yang hakiki.

#100. The Homeless BirdGloria Whelan

Tentang remaja janda yang kehilangan rumah.
*XI. November – 15 buku
Nama besar Terry Pratchett, ini novel pertamanya yang kuselesaiakan. Memang warbiasa.

#101. Moby DickHerman Merville

Tentang perburuan paus istimewa.

#102. The Great Guest RescueEva Ibbotson

Tentang penyelamatan hantu-hantu terusir.

#103. The Black CatEdgar Allan Poe

Tentang mitos dan horror tersaji.

#104. Pria Cilik MerdekaTerry Pratchett

Tentang perjuangan menyelamatkan saudara di negeri berantah.

#105. BuddhaDeepak Chopra

Tentang riwayat Buddha dari lahir hingga mencapai nirwana.

#106. Melipat JarakSapardi Djoko Damono

Tentang waktu yang relatif.

#107. Cara Mencari Kawan dan Mempengaruhi OrangDale Carnegie

Tentang upaya membuat takjub orang lain.

#108. Kembang SepasangGunawan Maryanto

Tentang budaya Jawa dalam pentas.

#109. Klik!Nick Hornby, dkk

Tentang kamera bergenerasi berikut.

#110. 1 Perempuan 14 Laki-lakiDjenar Maesa Ayu

Tentang kopi dan cipta karya per kalimat.

#111. Arang PerempuanArini Hidajati

Tentang perempuan tegar dan sendu.

#112. Seekor Anjing Mati di Bala MurghabLinda Christiany

Tentang perang dan efeknya.

#113. Puisi Baru Sutan Takdir Alisjahbana

Tentang puisi lama tahun 40-an ke bawah.

#114. A Golden WebBarbara Quick

Tentang dokter perempuan pertama yang menemukan alir darah dalam tubuh.

#115. DepresiDr Paul Hauck

Tentang tata cara menghadapi stress.
*Desember – 15 buku
Akhir tahun terbaik sekuel Little Women. Keren abis.

#116. Kau Gerimis dan Aku Badai by Wahyu Heriadi

Tentang puisi kehidupan.

#117. Rumah Mati di Siberia by Fyodor Dostoevsky

Tentang orang-orang terpenjara di sana.

#118. The March’s Captain by Geraldine Brooks

Tentang detail ayah/suami di medan perang.

#119. Jatisaba by Ramadya Akmal

Tentang kehidupan desa yang keras dalam pemilihan Lurah.

#120. Asal Muasal Pelukan by Candra Malik

Tentang pelukan melibat dua individu, ada sejarahnya.

#121. Nama Saya Tawwe Kabota by Mezra E. Pellondou

Tentang pria nakal yang menyesali banyak hal.

#122. Adu Jotos Lone Ranger dan Tonton di Surga by Sherman Alexie

Tentang kehidupan di revervasi.

#123. Cinderella Man by Marc Cerasini

Tentang petinju 30-an yang fenomenal.

#124. The Runaway Jury by John Grisham

Tentang pemilihan juri dan kasus rokok heboh.

#125. Sang Belas Kasih by Haidar Bagir

Tentang tafsir surat Ar-Rahman.

#126. Manajemen Strategik Koperasi (kolabs)

Tentang koperasi dan strategi pengembangan.

#127. My Grandmother asked me to tell you She’s Sorry by Frederick Backman

Tentang cucu yang memiliki tugas menyampaikan surat-surat Sang Nenek.

#128. My Sister’s Keeper by Jodi Picoult

Tentang Si Bungsu yang melawan.

#129. Penjual Bunga Bersyal Merah by Yetti A. KA

Tentang penjual bunga di pinggir jalan.

#130. Malam ini Aku Tidur di Matamu by Joko Pinurbo

Tentang rona-rona dalam bait.

Lakukan apa yang kamu senangi, selama tak menyusahkan orang lain itu baik. Membaca buku jelas ada di urutan atas daftar kenikmatan hidup. Saya takkan mengeremnya, saya jalani dengan nyaman dan damai. Bagaimana tahun ini? sepertinya tak akan jauh beda. Sehat-sehat semuanya. Salam Literasi dari Karawang, dengan cinta.

Karawang, 030221 – Steve Goodman – The Dutchman

Terima kasih buat seluruh penjual buku, kalian luar biasa, kalian keren!

14 Best Books 2021 – Fiksi/Lokal

Kekayaan, kedudukan, kekuasaan, kepandaian, dapat mematikan rasa. Mati rasa berarti hilang kemanusiaan kita. Hidup ialah bagaimana kita merasakan sesuatu. Bukan bagaimana kita memiliki kemewahan, kekuasaan, kekayaan.” – Pasar, Kuntowijoyo

Tahun 2021 setelah dipertimbangkan lebih masak, untuk fiksi saya pecah lokal/terjemahan sahaja sebab terjemahan terlalu dominan. Total fiksi lokal kubaca 49 buku. Kupadatkan jadi 14 seperti biasa. Sebuah kebetulan, yang terbaik buku terbitan tahun lalu. Dan secara kebetulan pula, pas daftar ini kupos di instagram, muncul info buku nomor satu masuk daftar pendek buku Prosa Tempo 2021.

Berikut daftar buku non-fiksi terbaik yang kubaca tahun 2021 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. Kuda Kayu Bersayap by Yanusa Nugroho (Tiga Serangkai) – 2004

Ini adalah buku beli yang acak, artinya saya tak mengenal sang Penulis, yang ternyata sudah melalangbuana di banyak media, penulis senior yang katanya, sesuai pembuka pengantar penerbit: Ngerokok. Ngopi. Ngarang. Perjudian menikmati karya ‘asing’ seperti ini memang jarang membuahkan hasil Ok, jelas ini adalah daftar sedikit itu. Cocok seperti yang dibilang sama Bung Yanusa, “Menulis, sebagaimana halnya makan dan minum, adalah kebutuhan. Kebutuhan untuk mengungkap sesuatu…”

#13. Revolusi Nuklir by Eko Damono (Basa Basi) – 2021

Lelah, tapi puas. 22 cerpen dalam buku kecil 200 halaman. Sebagian sudah diterbitkan di media, sebagian besarnya belum. Semua yang berkisah di masa depan tampak kurang, atau kalau mau jujur tampak aneh. Burung besi berkisah, pohon android, dst. Semua yang dikisahkan di perjalanan gunung, tampak nostalgia. Ibadah puisi di Rinjani, petualang sekual Apocalyto, dst. Semua yang dikisahkan secara flashback tampak nyata, atau nyata yang dimodifikasi. Telinga putus, pacar yang hamil berencana memberi kejutan yang malah mengejutkan, hotel Kurt Cobain, dst.

“Di dunia ini terlalu banyak serba kemungkinan, dan kita dipaksa untuk meneruskan hidup.”

#12. Pseudonim by Daniel Mahendra (Grasindo) – 2016

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen yang jumlah kata lebih sedikit, dan sewajarnya tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua pembaca itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak faktor. Salah satunya tentu saja selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasarnya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

“Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

#11. Luka Batu by Komang Adnyana (Mahima Institute Indonesia) – 2020

Kisahnya berkutat di Bali, tempat sang penulis tinggal dan dibesarkan. Kebanyakan dari kita memang paling nyaman menulis tentang hidup kita dan sekeliling kita, jadi seolah dituturkan langsung dari pengalaman hidup. Relevan dan masuk akal, sebab akan tampak aneh dan tak berlogika jika kita yang lahir dan besar di Indonesia bercerita tentang dinginnya salju negeri Swiss.

“Kuatkan dirimu. Semoga mereka mendapat hukuman yang sesuai.”

#10. Bunga Kayu Manis by Nurul Hanafi (JBS) – 2021

Bunga Kayu Manis menawarkan jenis keindahan kata-kata (atau di sini berarti tulisan), dipilih dan dipilah dengan mujarab oleh Bung Nurul Hanafi. Beberapa bagian mungkin tampak terlampau lebai, atau ngapain melihat senja dari jembatan saja melankolis, itukan hal yang lumrah tak ada yang istimewa dari matahari jelang terbenam, umpamanya. Namun memang itulah keunggulan kata-kata, banyak hal dicipta berlebihan, dan terasa sentimental. Memang mudah tersentuh saat kita bicara kenangan, angan dalam kepala tentang masa lalu, setiap orang beda-beda, dan semakian mendayu, semakin terasa feel-nya.

“Hujan terlalu larut dan luka.”

#9. Damar Kambang by Muna Masyari (KPG) – 2020

Pembukanya fantastic. Seorang istri yang ngalah, legowo atas apapun keputusan suami. Dengan setting Madura, terkenal dengan adu karavan sapi dengan festival Gubeng sebagai puncaknya. Seorang suami gemar berjudi, memertaruhkan segalanya. Kemenangan/kekalahan timbul tenggelam bersama waktu. Apa yang dipertaruh berbagai hal, berbagai jenis; motor, sapi, emas, tegalan, dan pada puncaknya adalah rumah dengan segala isinya. Narasi pembuka membuat kuduk berdiri sebab sang suami kalah, dan Si Buntung berhasil membalas, ia beserta ‘dukun;’-nya datang mengambil piala kemenangan. Dahsyat bukan? Pembuka yang memesona sejenis ini biasanya langsung menegakkan punggung dan memancing konsentrasi berlebih guna terus berkutat mengikuti cerita, banyak yang tumbang gagal memertahankan tempo, sedikit yang berhasil hingga garis finish. Damar Kambang termasuk yang sedikit itu, walaupun sesekali temponya memang harus sedikit teredam. Aku baca sekali duduk di Jumat pagi yang cerah. Untungnya, suami-istri di pembuka ini identitasnya tak dikuak, fakta ini akan jadi semacam tautan yang ditaruh di tengah kecamuk adu sihir. Perhatikan sahaja, buku yang berhasil salah satu faktornya para tokoh memiliki motif yang kuat untuk mengambil tindakan, tindakan dijalankan dengan logika dasar. Tak perlu muluk-muluk, tak perlu ndakik-ndakik.

“Orangtua memang harus selalu dibenarkan ya.”

#8. Segala yang Diisap Langit by Pinto Anugrah (Bentang Pustaka) – 2021

Ringkas nan memikat. Hanya seratusan halaman, kubaca hanya sejam sekali duduk selama satu setengah jam pada Sabtu, 16 Oktober 2021 selepas Subuh. Langsung ke poin-poin apa yang hendak dituturkan. Tentang Islamisasi di tanah Sumatra di masa Tuanku Imam Bonjol. Mengambil sudut pandang sebuah keluarga lokal yang kalah dan tersingkir. Segalanya jelas, tapi akan mencipta keberpihakan abu-abu.

“Tatapanmu, tatapan pesimis dan penuh amarah! Tidak baik memelihara tatapan seperti itu! Setan-setan akan senang di dalamnya, mereka akan berpesta pora di matamu!”

#7. Jatisaba by Ramadya Akmal (Grasindo) – 2017

Bagus. Ini adalah novel kedua Ramayda Akmal yang kubaca setelah Tango dan Sadimin yang luar biasa itu. Cerita masih berkutat dalam realita muram kehidupan kampung dengan segala problematikanya. Kali mengangkat isu pemilihan kepala desa, buruh migran, dan kenangan masa kecil yang menguar mengancam. Dedikasi akan kampung halaman bisa dengan berbagai macam cara, tapi merenggut para pemudi untuk diangkut ke negeri seberang dengan berbagai iming-iming, dan tahu bakalan amburadul, jelas bukan dedikasi yang laik ditiru. Sayangnya, ini bukan isapan fiksi belaka.

“Kau selalu meminta yang tak mungkin ketika seluruh kemungkinan di dunia ini aku persembahkan kepadamu.”

#6. Melipat Jarak by Sapardi Djoko Damono (GPU) – 2015

Begini rasanya membacai puisi bagus tuh. Sebelum-sebelumnya sulit masuk atau ngawang-awang, atau tak tentu arah. Dalam Melipat Jarak, yang dominan adalah narasi. Bukan per bait yang rumit. Kata-katanya juga umum, temanya sederhana, tapi pilihan katanya mewah. Singkatnya, enak dibaca. Mau nyaring atau rilih, sama nyamannya. Beginilah puisi sejatinya dicipta. Buku ini berisi 75 sajak yang dipilih oleh Hasif Amini dan Sapardi Djoko Damono dari buku-buku puisi yang terbit antara 1998-2015 yakni Arloji, Ayat-ayat Api, Ada Berita Apa Hari ini, Den Sastro?, Mata Jendela, Kolam, Namaku Sita, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, dan Babad Batu. Oh, ternyata ini sejenis album terbaik terbaik, atau kalau CD/ kaset The Best of The Best-nya. Versi kedua setelah sebelumnya sudah pernah dibuat dalam rentang, 1959-1994 yang termaktup dalam buku Hujan Bulan Juni yang pertama terbit 1994.

Tiga Sajak Kecil: “Mau ke mana, Wuk?” / “ke Selatan situ.” / “Mau apa, Wuk?” / “Menangkap kupu-kupu.”

#5. Puisi Baru by Sutan Takdir Alisjahbana (Dian Rakyat) – 1946

Ini adalah kumpulan puisi dari masa lalu. Pertama terbit tahun 1946, pasca Indonesia merdeka. Yang kubaca adalah cetakan ke-10, 1996 sehingga banyak pula tambahan puisi-puisi di era Revolusi. Yang jelas, Sutan Takdir Alisjahbana memilih dan memilahnya dengan jitu. Campuran gaya dan jenis syairnya. Terlihat klasik, daftar isi ada di muka kanan seperti membaca buku-buku Arab. Terdiri 19 penyair, termasuk Sang Penulis. Benar-benar buku bagus, bisa jadi langka ini sebab puisi-puisi lama (di sini disebut baru) ini akan sulit dicari nantinya. Termasuk beruntung bisa menikmatinya di era digital yang serba wuuuz…

Ah, dunia! Dunia! / Saya pusing di atas kau. / Adakah sudah suratan saya / Akan selalu menghimbau-himbau?Betapa Seni, OR. Mandank

#4. Kritikus Adinan by Budi Darma (Bentang) – 2017

Ini adalah buku kedua Bung Budi Darma yang kubaca setelah Rafillus yang absurd itu. Langsung jadi penulis idola, tampak unik dan luar biasa aneh. Kumpulan cerpen ini sama absurd-nya dengan Rafillus, tokoh-tokohnya tak biasa. Nama-nama juga nyeleneh. Dilengkapi ilustrasi ciamik di tiap cerita, rasanya memang pantas kukasih nilai sempurna.

Rasanya buku-buku Bung Budi Darma hanya masalah waktu untuk dikoleksi, salah satu penulis besar tanah air. Apalagi kabar terbaru buku Orang-Orang Bloomington kini sudah duterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Penguins. Orang Indonesia pertama yang berhasil melakukannya. Kritikus Adinan rasanya hanya masalah waktu pula untuk menyejajarkan diri.

“Dengan mendadak kamu mengunjungi saya, Malaikat. Apa sebenarnya dosa saya? Sejak kecil saya selalu berusaha berbuat baik.”

#3. Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan oleh Raudal Tanjung Banua

Menakjubkan! Ya, itulah komentarku seusai membacai. Campur aduk perasaan, dijabarkan dengan sabar, disajikan dengan istimewa. Cerita-cerita masa kecil dari orangtua, paman sampai neneknya, kita melangkah lanjut ke tema-tema masa lalu yang lebih umum, menorehkan kenangan. Menulis tentang masa lalu, sekali lagi kubilang sungguh aktual. Dan lebih mudah diimajinasikan. Sungguh nyaman, asyik sekali diikuti, seolah membacai memoar, menelisik nostalgia.

“Sering-seringlah memandang Bukit Talau. Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan.”

#2. Pasar by Kuntowijoyo (Mataangin) – 1995 *

Novel dengan penggambaran detail mengagumkan. Mencerita apa adanya keadaan pasar dan par penghuninya. Sejatinya setting hanya satu tempat dari mula sampai jelang akhir. Pasar dan situasi yang ada. Orang-orangnya juga itu-itu saja, berkutat melelahkan. Pada dasarnya menggambarkan sifat manusia yang mengingin nyaman, ketika terusik maka ia marah, dan saat keinginan-keinginan tak terkabul, jadi petaka. Minim konflik tapi sungguh menohok saat masalah itu dilemparkan ke pembaca.

“Kalau macan mati meninggalkan belang, Pak Mantri mati meninggalkan tembang.”

#1. Anwar Tohari Mencari Mati by Mahfud Ikhwan (Marjin Kiri) – 2021

Berkelas. Bagus sekali. Rentetan katanya menyemburkan degub khawatir dan caci maki kepuasan. Dalam puncak ketegangan, saya benar-benar menikmati adu jurus di atas jembatan itu. Setidaknya tiga kali pada bab pertarungan kusela tepuk tangan dan kepal tangan. Bravo! Cerita-cerita pun mengalir dahsyat, dan saya hampir mengeluarkan HP buat kubaca rekam. Mungkin akan kulakukan nanti pas baca ulang. Bergaul dengan Warto Kemplung membuatku berlajar seni bercerita. Senyumnya bagai sambaran kilat, dan berhasil memainkan tempo.

“Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”

Panjang umur kesehatan, panjang umur keuangan. Semoga tahun ini bisa lebih banyak lagi karya lokal yang kunikmati, bisa lebih nyaman, enak, dan berkembang. Panjang umur para penulis lokal, dedikasi kalian untuk literasi Indonesia patut diapresiasi.

Karawang, 100122 – Sammy Davis Jr. – Dedicated to You

Sang Belas Kasih: Maka Nikmat Tuhan kamu yang Manakah yang kamu Dustakan?

Suatu hari Rosulullah membacakan surah Ar-Rahman dari awal hingga akhir. Lalu Nabi SAW bersabda, “Aku telah membacakannya (Surah Ar-Rahman) kepada bangsa jin di malam pertemuanku dengan mereka. Ternyata mereka lebih baik responnya daripada kalian. Ketika aku membaca ayat ‘Fa bi ayyi ala’I rabbikuma tukadzdziban (Maka nikmat atau karunia Tuhan kalian yang manakah yang kaudustakan?)’, mereka (bangsa jin) selalu menjawab dengan mengatakan, “La bi sya-in min ni’amika, Rabbana nakdzibu, falakal hamdu (Tidak ada sedikit pun nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Hanya milik-Mu segala pujian).”

Keren. Itulah kata pertama yang kuucap seusai menuntaskan 200 halaman. Mungkin karena jarang baca buku-buku agama, apalagi terjemahan langsung isi Al Quran, maka yang aku dapat adalah sesuatu yang fresh. Enak sekali pembahasannya. Runut dan nyaman. Jadi tahu seluk beluk kandungan di dalamnya. Selama ini baca Al Quran ya baca saja Arabnya. Sesekali baca terjemahannya, tapi sungguh sangat jarang. Bahasanya yang puitis dan bernada, tak mudah dipahami. Dan ini, per katanya dibedah. Ini adalah buku tafsir surah Al Quran pertama yang tuntas kubaca.

Surah Ar-Rahman sepenuhnya berisi berita gembira, bahkan ketika menunjuk pada siksa neraka. Bahasannya bervariasi, dari kenikmatan surga hingga detailnya, gambaran surga dalam Al-Quran bersifat simbolik. Dari belas kasihnya, hingga semesta yang tak berbatas. Apa saja yang diciptakan oleh Allah sesungguhnya adalah kebaikan yang datang dari Dia yang memiliki sifat belas kasih.

Penciptaan matahari dan bulan serta pergerakan keduanya itu direncanakan dan dirancang secara matematis, sangat teliti, dan menutup kemungkinan bagi adanya kesalahan. Dari tanda-tanda kebesaran Allah hingga perintah untuk dua makhluk: jin dan manusia. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Segala sesuatu memiliki pengantin, dan pengantinnya Al-Quran adalah surah Al-Rahman.” Di dalam surah ini disebutkan berbagai ciptaan Allah yang berpasang-pasangan.

Manusia dan jin dijelaskan bagaimana dicipta. Dan kita wajib sujud pada-Nya. Kata ‘bersujud’ secara umum dipahami sebagai simbol ketaatan, dan tumbuh-tumbuhan serta pepohonan memang adalah di antara ciptaan Allah Swt. Yang tidak memiliki free will atau karsa bebas, sehingga tidak ada alternatif bagi keduanya, kecuali bersujud atau taat kepada Allah. Khilafah bermakna perpanjangan tangan atau deputi, wakil – dalam hal ini wakil Allah di muka bumi.

Dulu waktu kecil pas ngaji di mushola kampung, aku ingat ada satu surah yang dimula baca tanpa kalimat Bismillah. Sempat lupa, di sini aku temukan lagi, “Di dalam ayat pertama pembuka seluruh surah Al-Quran – kecuali surah Al-Naml, yang di dalamnya ayat ‘Bismillahi ar-Rahmani ar-Rahim’ berada di tengah-tengh surah – selalu saja nama ‘Allah’ oleh Allah sendiri disifatinya dengan Al-Rahman dan Al-Rahim.”

Dan makna dua kata yang sering bersisian itu ternyata sungguh beda.

Al-Rahman adalah belas kasih Allah bersifat universal, yang mencakup semua makhluk-Nya, tak peduli Muslim ataukah non-Muslim, beriman atau kafir, baik ataupun jahat. Sedang Al-Rahim adalah sifat kasih sayang Allah yang juga kepada semuruh makhluk, namun lebih spesifik. Artinya allah Swt. Berikan akses kepada sifat kasih sayang yang spesifik ini jika makhluk memilih berjalan di jalan Allah.

Memakan buah dan sayur mungkin harus ditingkatkan. Ada pembahasan khusus tentang buah, yang merupakan karunia Allah yang diselundupkan dari surga. Allah mengatakan bahwa para penghuni surga dijamu dengan buah-buahan. Dan ketika para penghuni surga itu memakan buah-buahan, mereka berkata bahwa sungguh kami telah mencicipi ini ketika kami berada di dunia (QS Al-Baqarah: 25).

Alam semesta ini sesungguhnya merupakan perpajangan atau bayangan, sehingga sering dikatakan bahwa keberadaan alam semesta ini sesungguhnya bersifat i’tibari, bersifat tidak riil. Jadi alam semesta ini masih ada seperti sekarang, sesungguhnya dia tidak benar-benar ada. Jadi ingat The Matrix, pil biru atau pil hijau?

Alam dunia ini bersifat fisik-empiris begitu luas dan terus berkembang sehingga yang bisa ditembus oleh manusia hanyalah wilayah luar angkasa yang paling dekat dengan bumi. Melihat tanda-tanda kebesaran Allah di semua alam, demi terus meningkatkan keimanan kita. Ada penjaga-penjaga yang akan menghalangi kita dari menembus alam yang kita tidak miliki kekuatan atau persiapan untuk menembusnya.

Peristiwa di Sidratulmuntaha ketika Rosullullah mi’raj ditemai Malaikat Jibril, lalu Rosul bertemu Allah, dalam salah satu riwayat di Baitul Ma’mur. Jibril mengatakan, “Jika aku memaksa diri pergi denganmu ke suatu tempat di mana engkau akan bertemu Allah, maka sayapku akan terbakar.”

Fakta penting bahwa manusia berdosa disiksa-pun, itu bentuk kasih sayang Allah pula. Kalaupun manusia dimasukkan ke dalam neraka oleh Allah – semoga Allah menghindarkan kita dari keadaan ini – maka itupun juga merupakan satu bentuk karunia Allah karena tujuannya untuk membersihkan dosa-dosa para pendosa, agar mereka dapat bergabung dengan orang baik, pada saatnya.

Amal baik maupun amal buruk sudah terekam dan tercatat di dalam buku catatan yang merekam semua alam manusia, yang ditulis oleh pesuruh Allah Swt. Yakni Malaikat Raqib dan Atid. Ganjaran perbuatan baik dilipatgandakan menjadi tujuh puluh bahkan sampai tujuh ratus kali lipat, sedang ganjaran amal buruk adalah setara dengan amal butuk itu, dan tetap dengan kemungkinan mendapat pengampunan oleh sifat Al Ghafur, Maha Pengampun.

Berbagai kenikmatan yang disampaikan di surga merentang banyak. Salah satunya adalah kenikmatan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan semata-mata bersifat fisik. Sesungguhnya kenikmatan surgawi itu melampaui apa yang terbatas pada hal-hal yang bersifat fisik, bahkan lebih luhur lagi berupa kenikmatan-kenikmatan, ketentraman-ketentraman, kedamaian-kedamaian yang bersifat ruhani.

Syaikh Al-Akbar Ibn ‘Arabi berkata bahwa berbuat ihsan hanya mungkin dilakukan jika kita berhasil meniadakan egosime kita, meniadakan diri kita. Yakni jika kita berhasil menanamkan di dalam diri kita kualitas pengorbanan: Mendahulukan Allah Swt. Menjadikan ridha Allah Swt. sebagai tujuan, dan juga semangat untuk berbuat baik kepada makhluk Allah.

Ihsan sesungguhnya puncak keislaman kita. Bahkan diluar Rukun Islam dan Rukun Iman yang kita kenal, ada Rukun Ihsan yakni hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya (Yakni benar-benar me’lihat’-Nya tapi bukan dengan pengelihatan lahir, melainkan batin). Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, (yakinlah bahwa) sesungguhnya Dia melihatmu. Ihsan, adalah puncak kebaikan, sekaligus puncak keberagaman. Bahkan keislaman dan keimanan seseorang sesungguhnya adalah sarana dan wahana untuk mencapai ihsan ini.

Ada bagian buku ini yang membuatku merinding, hanya sekalimat tapi membuatku tertunduk lama. Di usia kelas dua SD aku pernah mengalami halusinasi, atau mimpi, atau semacam di dimensi antara. Kata ibuku, aku koma, dikira sudah tak tertolong karena sakit tifus berminggu-minggu. Aku sendiri tak terlalu ingat detail masa itu, sebab masih kecil. Namun ada satu memori yang membekas sampai sekarang, aku mimpi dunia kiamat. Langit gelap gulita seminggu penuh, ada suara dari langit liris sejenis senandung. Semua manusia ketakutan, bersembunyi di dalam rumah, berdzikir dan memohon ampun. Lalu langit terbelah, muncul warna merah dan suara besar dan berat. Aku lupa kata-katanya, mungkin kalimat tegas bahwa hari akhir sudah tiba, intinya saat itu semua orang menyebut asma Allah dan bertobat di sisa waktu yang ada. Kata ibunya, aku demam tinggi dan mengigau.

Nah di buku ini aku baca satu kalimat yang mengingatkanku masa kritis itu. “Pada hari Akhir akan ada tanda-tanda, antara lain ketika langit terbelah, kemudian menjadi merah menyala seperti minyak yang panas.” Ya Allah, apakah mimpi/igauanku itu pertanda?

Pada akhirnya, kita belajar tentang agama ini untuk mendekatkan diri pada-Nya untuk menemukan kebahagiaan. Bukan saja paradigma ini akan menempatkan kebaikan hati dan pemaafan di pusat praktik keislaman kita, melainkan juga menjadi jendela yang melaluinya kita membaca, memahami, dan mengontekstualisasi pesan-pesan Al-Quran. Dengan mempelajari Al-Quran ayat demi ayat dan memahami maknanya secara bertahap, kita berharap bisa memulihkan makna Al-Quran dalam bentuk global, yang masih dalam bentuk gagasan menyatu, di dalam hati kita, dan dengan cara itu insya Allah kita bisa mendapatkan cahaya di dalam perjalanan meraih kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun kebahagiaan yang abadi setelah kematian. Jika orang berpegang kepada Al-Quran, mendalaminya, memahaminya, kemudian menerapkannya dalam kehidupan, maka kebahagiaan sudah terjamin baginya.

Kubaca dalam sehari semalam dari Kamis, 23.12.21 jam 17:30 sepulang kerja, lanjut sesampai di rumah jelang tidur. Lanjut lagi Jumat 24.12.21 bangun dini hari sebelum Subuh, pas sampai kantor ada 20 menit kulanjut, pas istirahat selepas Jumatan ada 15 menit, dan tuntas juga sore ini jam 17:10. Lihat, kalau diniatkan, kalau diluangkan, kalau dilakukan sungguh-sungguh, baca buku di sela kesibukan tuh tak mustahil. Bisa, dan berhasil.

Ini adalah buku pertama Haidar Bagir yang aku baca. Namanya sudah tak asing bila kita menelusur rak buku agama di toko buku, muncul di banyak beranda sosial media. Setara M. Quraish Shihab yang juga banyak sekali menulis tentang agama. Dan sebuah kebetulan, tahun ini aku juga pecah telur membaca pertama buku beliau. Keduanya bagus, aku suka, jelas ini hanyalah awal. Apalagi aku juga sedang gandrung sama bacaan tasawuf, persis akhir tahun lalu, buku penutup tahun membahas agama.

Di usia 30-an, menghapal surah Al Quran tak semudah usia sekolah dulu. Sejujurnya tak banyak surah di luar juz ama yang berhasil kuhapal. Tahun ini, untuk menghapal surah Al-Mulk 30 ayat saja, aku butuh sebulan penuh saat Ramadan, dan kesulitan. Lanjut kuhapalkan saat isoman, kuulang terus dan konsisten, baru bisa. Nah, surah berikutnya yang menjadi target hapal jelas surah Ar-Rahman ini, kandungan isinya bagus banget. Kuulangi: BAGUS BANGET. Jumlah ayat dua kali lipat dari Al-Mulk, tapi beberapa berulang di ayat, “nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?” Rasanya sangat mungkin dikejar, doakan ya.

Surah Ar-Rahman disebut sebagai surah yang paling dekat dengan Allah Swt. Kalau Haidar Bagir bilang, “Surah Ar-Rahman sebagai surah yang paling dahulu saya garap, ketika diminta untuk melakukan upaya penggalian makna kitab suci Al-Quran. Seayat demi seayat.” Maka aku bisa bilang, “Setelah mengurai pesan-pesan Surah Ar-Rahman, dengan mantab aku menjadikan surah panjang pertama yang akan kuhapal tahun 2022.”

Bisa. Amin.

Sang Belas Kasih | Oleh Haidar Bagir | Copyright teks 2020 Haidar Bagir | Penerbit Mizan | Penyunting Azam Bahtiar & Ahmad Najib | Penyelaras aksara LS & Dhiwangkara | Perancang sampul & ilustrasi sampul Zuhri | Penata aksara Aniza Pujiati, Hedotz & @platypo | Cetakan ke-1, September 2021 | ISBN 978-602-441-198-5 | Skor: 4/5

Karawang, 241221 – Charles Mingus – Self-Portrait in Three Colors

November2021 Baca

“Kecerdikan yang berlebihan akan menghilangkan akal sehat.”Seneca

Bulan ulang tahun pernikahan. Hampir saja terlambat masuk kerjaku menyentuh batas maks. Wanti-wanti, berangkat lebih pagi, ada banyak demo buruh, Hermione mulai sekolah offline, mengantar dalam ketergesaan sebab susah bangun tidur, waktu baca seperti biasa, sebelum subuh sudah bangun, setengah jam istirahat kerja, dan pulang kerja. Hari libur dihajar waktu luang banyak. Sempat anak istri flu, sehingga ikut repot, apalagi aku juga dua tiga hari ketularan. Waktu baca, tak perlu mencari waktu luang, kitalah yang menciptakan waktu luang itu. 15 buku tuntas, lumayan banyak ‘kan.

Setelah hanya mendengar nama besar Terry Pratchett, akhirnya ada buku fantasinya yang tuntas kubaca dan ulas, memang sekeren itu. Moby Dick juga akhirnya kelar juga, walaupun versi pendek. Edgar Allan Poe dan Eva Ibbotson juga akhirnya pecah telur, kuulas di blog ini. Dale Carnegie, nama besar berikutnya berhasil kutuntaskan.

Dan puisi bagus, hufh… ternyata rasanya seperti ini ya baca puisi indah tuh. Pengalaman memang tak bohong.

#1. Moby DickHerman Merville

Buku tipis yang selesai kubaca sekali duduk. Kutuntaskan jelang tidur pada hari Rabu, 3 Okt 21. Jumlah halaman tak lebih dari seratus. Beli buku ini sebab cari teman beli buku KSK aja, makanya jadi sisipan. Pas pertama rilis, sempat ragu mau beli atau nunggu edisi lengkapnya. Sebagai sastra klasik yang diringkas, rasanya kurang gereget, kurang mantab hanya baca sebagian dengan detail-detail dihilangkan. Nah, prasangka itu dibahas panjang lebar di pengantar oleh Cep Subhan KM. Itu sudah mewakili perasaanku.

“Berburu paus adalah pekerjaan yang sangat berbahaya. Malaikat maut selalu menyertai kita.”

#2. The Great Guest RescueEva Ibbotson

Ini bukan buku pertama Eva Ibbotson yang kubaca, tapi ini adalah buku pertamanya yang kuulas. Dulu pernah baca satu atau dua, tapi karena terjadi di era multiply segalanya hilang, di masa wordpress akhirnya berhasil kutuntaskan. Khas tentang dunia penyihir dan segala fantasi imaji yang dikelola dengan fun. Mungkin masalah yang ditawarkan agak berat, menyangkut pemerintahan Inggris yang membantu mencari suaka hantu, tapi jelas ini benar-benar sekadar hiburan remaja. Tak ada rasa takut atau khawatir tokoh-tokoh baik akan kalah, maka saat eksekusi akhir di mana, segalanya berakhir bahagia, terasa pas untuk bilang, ‘nah kan, aku bilang juga apa.’

“Setelah semua yang dikatakan dan terjadi, gigi tetaplah gigi.”

#3. The Black CatEdgar Allan Poe

Keren sekali. Kukira Edgar Allan Poe ini masternya cerita misteri, hantu-hantuan saja. Ternyata ia juga jago sekali mencerita detektif. Dibagi dalam dua bagian, misteri dan detektif. Terasa sungguh klasik, cara menghadapi masalah, cara penelusuran, cara memecahkannya. Buku abad 19, salah satu pioneer kisah-kisah sejenis.

“Lagu apa yang disenandungkan para putri duyung, atau nama apa yang dipakai Achilles saat dia bersembunyi di antara para perempuan, meskipun membingungkan, sebenarnya bisa diterka.” – Sir Thomas Browne

#4. Pria Cilik MerdekaTerry Pratchett

“Beberapa hal terjadi sebelum hal-hal yang lain.” Kalimat pembuka yang jitu dan bagus sekali. Ini adalah kisah Tiffany sebelum dan saat-saat menjadi penyihir. Nama Tiffany sendiri terdengar norak saat disebut ‘Penyihir Tiffany’, maka ia ingin mengubah nama sihir nantinya. Kucingnya bernama Ratbag, kirain bakal punya peran ternyata ia benar-benar kucing biasa. Di sebuah tanah pertanian berkapur yang dipimpin oleh Baron yang kehilangan anaknya Roland. Di pertanian ini, masih ada orang-orang yang punya kebiasaan mengagumi dan menyimpan barang-barang indah yang tidak berguna.

“Aku akan mengambil adikku, dan pulang.”

#5. BuddhaDeepak Chopra

Terbagi dalam tiga bagian: Siddartha sebagai snag pengeran, Gautama sebagai petapa dan Buddha sebagai sang pencerah. Bagian-bagian ini memberi segmen yang pas. Beberapa bagian mungkin terdengar aneh, persis pas kubaca Young Messiah di mana Yesus sudah menunjukkan keajaiban di masa kecil, Buddha dinaungi banyak keajaiban, selamat dari berbagai godaan setan Mara.

“Aku yang berurusan dengan dewa-dewa, kau tak perlu memikirkan mereka.”

#6. Melipat JarakSapardi Djoko Damono

Luar biasa. Salah satu kumpulan puisi terbaik yang pernah kubaca. Ternyata ini semacam The Best of The Best, jadi puisi-puisi dari buku-buku lama, dipilih dan dipilah. Keren banget euy, begini to rasanya membacai puisi bagus. Narasinya kental, banyak hal umum yang disajikan, sederhana temanya, yang luar biasa memang diksinya. Ditulis dengan pilihan-pilihan kata sebagus dan seromantis mungkin.

#7. Cara Mencari Kawan dan Mempengaruhi OrangDale Carnegie

Buku self-improvement yang luar biasa. Salah satu yang terbaik yang pernah kubaca. Sangat inspiratif dan menggugah. Tips-tips jitu, sebenarnya beberapa sudah kupraktekkan, terutama saat konseling karyawan, tapi dengan mambaca buku, saya mendapat teori yang lebih pas. Betapa menghargai orang lain itu sangat amat penting. Orang suka ditanyai pendapatnya dan gagasan-gagasannya.

“Jika ada rahasia mengenai sukses, maka rahasia itu ialah kecakapan untuk melihat melalui kacamata orang lain.”

#8. Kembang SepasangGunawan Maryanto

Kubaca dalam sekali rebahan pada malam jelang tidur 22.11.21. Tak tebal jadi memang bisa cepat kelar. Terbagi dalam lima bagian, berisi puisi-puisi dengan satu dua halaman. Banyak kata-kata ‘asing’ bahasa Jawa alus atau bahasa seni Jawa, yang bagiku tak akrab.

Karena secara bersamaan aku lagi baca kumpulan puisi maestro Sapardi Djoko Damono, Melipat Jarak. Rasanya ternyata baca puisi bagus tuh seperti ini, sempat berujar gitu. Maka baca Kembang Sepasang, terasa biasa saja. Kebanting kali ya. Membaca puisi menjadi rutintas 12 buku tiap tahun mulai 2021 ini, dan mulai terpilah dan terasa mana puisi yang berhasil tune in mana yang terlihat biasa, bahkan mana yang buruk juga sudah ada feel-nya. Progress yang bagus ‘kan?!

“Belukar menjalar hingga luar pagar / seperti mencari bapaknya / Sementara tunas bamboo menetas…”

#9. Klik!Nick Hornby, dkk

Keren. 10 cerita dibuat 10 penulis dan berkelanjutan. Satu bab/cerita mengambil sudut pandang satu karakter, lalu dilanjutkan oleh penulis lain. Bebas mencerita, asal ada benang merah sama cerita sebelumnya, lalu ketiga aturan juga sama, cerita berkaitan terus sampai total 10. Ditulis oleh orang-orang yang memang memberi jaminan kualitas, semua sudah memiliki buku best seller. Hanya dua yang kukenal dan sudah kubacai bukunya, Nick Hornby dalam About a Boy dan Eoin Colfer dalam Artemis Fowl. Memang alasan keduanya aku membeli buku ini, dan terbukti Ok.

“Aku selalu terkejut dengan apa yang bisa dilakukan orang.”

#10. 1 Perempuan 14 Laki-lakiDjenar Maesa Ayu

Idenya terdengar gila. Menulis cerpen keroyokan, tapi menulisnya bergantian per kalimat. Kuulangi, “PER KALIMAT!” Bayangkan, kita tak tahu apa yang ada di kepala partner kita. Kita mau ke Barat, tapi dia malah ke Utara. Ga nyambung cuk. Namun nyatanya bisa ada 14 cerpen. Ternyata hasilnya juga biasa saja. Sulit sekali membuat cerita sejenis itu, apalagi hanya dibuat beberapa bulan. Kalau ditulis beberapa tahun, dengan pendalaman, editing, dan diskusi lanjut pasti beda. Akan lebih matang, ini seolah bikin mis instan, hanya semalam dikerjakan sampai subuh untuk satu cerita, janjian ngopi lalu mencipta karya. Sah-sah saja, tapi tetap tak bisa sebagus itu.

Pembukanya lumayan bagus. Begitu juga penutupnya, tapi tengah-tengahnya entahlah. Mawut pokoknya. Heran juga, bisa pede merilis cerita semawut ini.

“Aku akan selalu mencintaimu, kekasihku…”

#11. Arang PerempuanArini Hidajati

Ini kumpulan esai, tapi terasa membaca puisi. Kata-kata disusun dengan mendayu-dayu, meluap-luap seperti soda pecah. Temanya beragam, tapi mengedepankan reliji. Pengalaman penulis dalam menghadapi perubahan hidup. Proses pernikahan misalnya, adalah contoh langkah besar manusia menuju jenjang berikutnya. Malam, senja, hujan, cinta, bermunculan lebih sering. Perenungan kehidupan, dari sudut pandang perempuan.

#12. Seekor Anjing Mati di Bala MurghabLinda Christiany

Bukti bahwa nama besar tak selalu menjamin bukunya selalu bagus. Kumpulan cerpen ini, dimula bagus, di tengah agak menurun, dan akhir yang malah biasa saja. Apalagi ada blunder bahwa Superman adalah pahlawan keluaran komik Marvel. Ketika kubagikan di grup film jadi bahan bully, mereka tak tahu bahwa penulisnya adalah penulis yang sudah menang penghargaan sastra bergengsi. Dengan setting bervariasi, dari Jepang, Eropa, Timur Tengah, hingga pantai-pantai lokal. Kita diajak melalang buana dalam bernarasi. Paling bagus cerita kedua, cerita sederhana tentang mengantar barang tapi dibumbui mistik. Paling biasa cerita terakhir.

“Laut memang sama di mana-mana. airnya asin. Tapi ini Atlantik. Lain. Bagaimana?”

#13. Puisi BaruSutan Takdir Alisjahbana

Judulnya Puisi Baru, tapi buku ini dicetak 1946. Baru memang selalu dinamis, selalu ada pembaruan dengan bergulirnya waktu. Beruntung sekali aku punya buku ini. klasik, penulis/penyair Indonesia yang karyanya sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Sumatra paling dominan, banyak sekali orang hebat dari sana. Hebat.

#14. A Golden WebBarbara Quick

tentang Alessandra Giliani dari Persiceto, Italia, perempuan pertama ahli anatomi. Ia terlahir di abad 14, di mana perbedaan gender masih sangat kental. Terlahir perempuan, tak bisa menempuh pendidikan tinggi, menikah di usia yang sungguh belia, haid pertama berarti masa untuk mencarikan pasangan hidup, perang terjadi di berbagai tempat, para penyihir dibakar hidup-hidup, dan dunia medis masih sangat kuno. Di masa itulah cerita buku berkutat.

“Ini artinya semacam ‘Hal-hal itu disebut ambigu’, ketika meskipun mereka bernama sama, mereka memiliki arti yang berbeda.”

#15. Depresi Dr Paul Hauck

Ini adalah buku tipis tentang tips-tips menghadapi stress, sebelum berubah jadi depresi kita harus mencegahnya. Rasa bersalah jadi dominan, rasa minder, tekanan hidup, hingga rasa kasihan. Bukan hanya terhadap diri sendiri, juga terhadap orang lain. Keadaan itu harus ditekan, stress mau diobati atau tidak, masalah masu dipecahkan atau tidak, yang jelas waktu terus bergulir jadi relaks saja. Maka tak perlulah sampai depresi. Ada berbagai cara mengatasinya, dari psikoanalis, konseling, curhat, memindahkan beban ke tempat yang tepat, dst. Cocok dibaca untuk semua orang, khususnya yang mau belajar psikologi.

Karawang, 011221 – Nina Simone – Wild is the Wind

Kusala Sastra Khatulistiwa 2021: Bentang-kan Hingga Langit

Kejari KSK nih.” / “WA wae virtual account e.” – Chat ig dengan Titus P.

Rak bukuku baru, tinggi menjulang hingga langit-langit. Bisa menampung sepuluh ribu buku, kalau mau, dan sungguh rapi walau aku masih kesulitan mencari letak buku yang kuingin baca tiba-tiba. Sedap dipandang, betah berlama-lama bercengkerama dengannya. Warna putih cerah dengan penerangan lampu terang, mencipta nyaman duduk terpekur di perpustakaan keluarga. Ini tak serta merta, rak ini sudah kubayangkan doeloe pas masih sekolah. Koleksi bukuku terus bertambah, tapi tenang saja ada garasinya…

Koleksi itu tentu saja termasuk buku-buku prosa Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Tahun ini terdiri dari: Enam kumpulan cerpen, empat novel. Pengumuman kandidat agak terlambat, sampai kunyalakan notif twitter Richard Oh, yang akhirnya pada 23 September muncul juga. Kamis malam itu sepulang kerja langsung ke Gramedia Karawang, hanya nemu Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga. Lumayan, sembari cari daring setidaknya sudah kumulai baca. Kesepuluh nominasi belum baca semua, jadi benar-benar start mula, dan sebagian besar nama-nama asing. Well, kurasa salah satu fungsi KSK adalah kita sudah disarikan, sudah dipilih dan dipilah para sastrawan, sehingga tinggal menikmati saja. Terlepas hasil akhir bagus/buruknya kualitas belakangan. Mirip film-film Oscar, lha wong sudah dijaring, tinggal duduk nikmati. Enak to.

Dan syukurlah kita hidup di zaman digital. Cari barang lebih mudah, termasuk buku. Toko buku langganan rerata tak sedia bukunya. Aku pengen beli buku sebanyak mungkin dalam sekali transaksi, selain hemat ongkir juga ada stok baca bila cepat usai. Dema Buku, Sentaro Book, Kedai Buku ternyata tak ready stock setelah kujapri, sembilan sisanya berburu bertahap. Kloter kedua buku baru muncul dari Dojo Buku, Jakarta Barat. Beli empat buku, kepending lama sekali, setelah tiktokan berkali-kali akhirnya bilang hanya ada tiga, yo wes gegas saja yang ada karena Haniyah dan Ala sudah selesai baca lama. Yogya Yogya, Damar Kambang, dan Rekayasa Buah baru kupegang pada 29 September.

Kloter ketiga dari Basa Basi Store yang mewakilkan satu buku Revolusi Nuklir di Prosa, menawarkan paket tiga buku, dua buku puisi KSK-pun tak mengapa kubeli dan kuterima 4 Oktober. Secara bersamaan pesan dari Stanbuku, Sleman. Ini teman lama, teman grup diskusi buku WA, pengalaman pertama beli daring justru dari sini. Mas Olih sedia Anak Asli Asal Mappi dan Segala yang Diisap Langit yang kuterima 9 Oktober.

Kloter kelima adalah Bunga Kayu Manis dari Jalan Literasi, Bandung yang bersamaan beli kandidat puisi sebagai ‘teman’ pengiriman. Buku kesembilan dan kesepuluh beli dari dua tempat beda lagi, Cerita-cerita yang Sedih dan Menakjubkan dikirim dari Yogya (Jual Buku Sastra) dan Ramuan Penangkal Kiamat dari Bogor (Aiakawa Books). Keduanya kupesan tentu saja ada barengan, keduanya Non KSK.

Jangan beranggap wah mudah sekali ya cari buku dan selalu ada duit. Oh tak sesederhana itu, bujet memang sudah kusiapkan, menabung dari beberapa bulan sebelumnya untuk dibelanjakan September. Aku juga tak punya m-banking jadi sering umpet-umpetan ATM sama Meyka, istriku. Maka sering kali minta tolong temanku Titus P. untuk talangi bayar ke Tokopedia/transfer BCA. Direkap, baru kuganti. Lihat, tak sederhana juga kan, tapi tak rumit juga. Kalau sudah berkeluarga, kalian pasti tahu betapa kebutuhan banyak, dan pendapatan harus dipilah pilah menyesuaikan kepentingan anak-istri. Dan buku, bagi istriku bukan di urutan prioritas.

Tepat 28 Oktober semuanya selesai baca ulas, maka mari kita simak. Berikut bacaan 10 besar prosa, diurutkan berdasar selesai lahap.

#1. Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga – Erni Aladjai

Pembuka Kusala Sastra Khatulistiwa yang kurang OK. Temanya beragam, tapi intinya bisa jadi budaya lokal dengan kritik sosial dalam lingkar kebun cengkih. Pelukisan perkebunan dan tradisi setempat bisa saja menjadi daya saing yang menjanjikan, tapi tetap intinya sederhana. Hantu anak yang baik, walau kehidupannya tragis bisa memunculkan berbagai kemungkinan horror, jagoan yang sakti juga bisa saja meledakkan amarah ke warga, tidak. Kisah ini berakhir dengan tenang. “Tanaman bertenaga-baik membuat manusia yang memakannya berjiwa baik.”

#2. Damar Kambang – Muna Masyari

Aku baca sekali duduk di Jumat pagi yang cerah. Untungnya, suami-istri di pembuka identitasnya tak dikuak, fakta ini akan jadi semacam tautan yang ditaruh di tengah kecamuk adu sihir perdukunan. Perhatikan sahaja, buku yang berhasil salah satu faktornya para tokoh memiliki motif yang kuat untuk mengambil tindakan, tindakan dijalankan dengan logika dasar. Tak perlu muluk-muluk, tak perlu ndakik-ndakik. “Kau tidak percaya atau justru takut memercayainya?”

#3. Yogya Yogya – Herry Gendut Janarto

Cerita hanya berisi nostalgia. Dan saya suka cerita yang menengok masa lalu ketimbang ngawang-awang ke masa depan yang tak jelas. Orang Yogya yang merantau ke ibukota, sesekali mudik Yogya menekuri wilayah-wilayah yang dulu pernah disinggahi, ditelusur untuk dikenang, dengan sudut pandang orang pertama, segala yang disampaikan jelas bergaya orang bercerita satu arah. Tak ada hal-hal yang luar biasa, maksudnya nyaris tak ada ledakan… “Gayuh, kan, memang suka banget bernostalgia, sedikit-sedikit menukik ke masa silam. Benar-benar Gayuh itu manusia past tense. Mister Past Tense!”

#4. Rekayasa Buah – Rio Johan

Buku ini jeleq.

#5. Anak Asli Asal Mappi – Casper Aliandu

Cerita mini, mirip fiksi mini. Dan karena ini berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar di Mappi, Papua, maka bisa disebut fakta mini sahaja. Ceritanya terlampau biasa, terlampau sederhana, pengalaman sehari-har. Dan selain cerita mini, buku cetaknya juga, hanya seratusan halaman. Namun harganya tak mini. “Terlalu asyik, Teman. Alamnya terlalu indah.”

#6. Segala yang Diisap Langit – Pinto Anugrah

Ringkas nan memikat. Hanya seratusan halaman, kubaca sekali duduk selama satu setengah jam pada Sabtu, 16 Oktober 2021 selepas Subuh. Langsung ke poin-poin apa yang hendak dituturkan. Tentang Islamisasi di tanah Sumatra di masa Tuanku Imam Bonjol. Mengambil sudut pandang sebuah keluarga lokal yang kalah dan tersingkir. Segalanya jelas, tapi akan mencipta keberpihakan abu-abu. “Atas nama agama, katanya!”

#7. Revolusi Nuklir – Eko Darmoko

Yang bagus menurutku adalah bagian-bagian yang sederhana. Malaikat pencabut nyawa yang mengambil kembarannya, itu kisah mudah dicerna, walau memilukan, terasa emosional. Atau pencabut nyawa yang mau berkunjung malah diusir oleh PSK, klenik yang membuncah kan masih banyak berlaku di masyarakat. Atau Ayam Kampus yang memandang hina keset kampus, tenang, diam, dan malah langsung in kan? Tak perlu melingkar pusing untuk berfantasi. “Kau harus ke Nordlingen!”

#8. Bunga Kayu Manis – Nurul Hanafi

Pada dasarnya manusia menyukai hal-hal bagus, hal-hal indah bagi kita sungguh nyaman dirasa mata atau telinga. Seni memberinya banyak jenis kenikmatan. Dan dari hal-hal yang dicecap itulah kita lari sementara dari kejenuhan rutinitas. Bunga Kayu Manis menawarkan jenis keindahan kata-kata (atau di sini berarti tulisan), dipilih dan dipilah dengan mujarab oleh Bung Nurul Hanafi. “Seperti apapun penampilanmu, kau tetap cantik.”

#9. Cerita-cerita yang Sedih dan Menakjubkan – Raudal Tanjung Banua

Cerita-cerita masa kecil dari orangtua, paman sampai neneknya, kita melangkah lanjut ke tema-tema masa lalu yang lebih umum, menorehkan kenangan. Menulis tentang masa lalu, sekali lagi kubilang sungguh aktual. Dan lebih mudah diimajinasikan. Sungguh nyaman, asyik sekali diikuti, seolah membacai memoar, menelisik nostalgia. “Sering-seringlah memandang Bukit Talau. Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan.”

#10. Ramuan Penangkal Kiamat – Zelfeni Wimra

Tentang ramuan darurat yang bisa digunakan saat terjepit. Sejak zaman Perang Padri sampai ear PRRI, bergenerasi digunakan. Sejarah Sumatra yang panjang nan berliku, zaman kolonial, zaman pasca merdeka, hingga kini. Setiap daerah memiliki kebiasaanya sendiri. Termasuk dua mangkuk ramuan rahasia… “Mengapa ayah menangis?”

Sebelum lanjut, mau bilang bahwa tahun ini penulis favorit Mahfud Ikhwan merilis lanjutan Dawuk, Anwar Tohari Mencari Mati kukasih skor sempurna (lima bintang). Kukira bakal masuk KSK, nyatanya tak tercantum. Apakah sekuel otomatis tak terjaring, atau nama Cak Mahfud sudah terlalu besar, entahlah…

Tahun lalu tebakan meleset jauh. Novel Orang-orang Oetimu tuh sempurna, sampai kulabeli buku terbaik lokal yang kubaca tahun 2020. Satu-satunya novel lima bintang KSK, masuk lima besar dan dengan pede sekali kutebak menang. Dalam podcast Mokondo-nya Bung Takdir panjang lebar kujelaskan sampai berbuih-buih, betapa indah cerita karya Felix K. Nesi ini. Sebagai pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta sebelumnya, kukira bakalan berstempel ganda, karena di waktu yang hampir bersamaan Marjin Kiri menyiapkan kover baru.

Burung Kayu sejatinya sungguh biasa, prinsipku adalah novel bagus itu menghibur, bahasanya ga ngawang-awang, plot jelas, cerita bagus, pembaca senang. Burung Kayu mencoba nyeni yang malah menghilangkan esensi isi, dan aku tak suka hal-hal yang tak nyaman. Hanya kukasih 3.5 bintang, buku pertama yang kubaca setelah pengumuman nominasi. Aneh, sungguh aneh.

Tahun ini tampak lebih aneh. Saat pengumuman lima besar, satu-satunya buku lima bintang bahkan sudah tak tercantum. Cerita-cerita yang Sedih dan Menakjubkan benar-benar menakjubkan, indah dilihat dari berbagai sisi. Campur aduk perasaan, dijabarkan dengan sabar, disajikan dengan istimewa. Kok bisa? Entahlah, sedikit mengejutkanku atas keputusan dewan juri menyingkirkan dini.

Dan memang masa depan itu sulit ditebak. Kejutan juga perlu dalam hidup, seperti semalam Bayern Muenchen dibantai 5-0, banyak orang suka ‘kan sama kegaduhan. Jadi mari kita susun kepingan tebak.

Yang tersingkir lima buku, dalam penilaianku buku bagus selain karya Raudal Tanjung Banua ada tiga: Revolusi Nuklir (empat bintang), Yogya Yogya (empat bintang). Namun masih dikoridor yang tepat, sebab di awal buku keduanya boring, baru meledak di pertengahan dan akhir. Serta Bunga Kayu Manis (empat bintang) yang juga indah, memang mendayu seperti tahun lalu dalam Makan Siang Okta yang juga melaju kencang di fantasi.

Satu buku lainnya memang pantas dihapus, sudah pas. Buku jeleq.

Daftar pendek mencantum Anak Asli Asal Mappi (tiga bintang), rasanya enggak banget. Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga sama saja, terlampau biasa (tiga bintang). Tiga lainnya berskor sama (empat bintang); jadi sejak kuikuti KSK, untuk pertama kalinya aku tak bisa yakin menebak. Ketiganya bagus, dan indah di porsinya masing-masing. Dua buku tentang Sumatra versus Madura.

Damar Kambang laik menang, cekam yang disaji bisa konsisten. Kental budaya Madura, taiye… selamat. Segala yang Diisap Langit to the point, apa-apa yang disaji memang sepantasnya disaji. Babat sana-sini demi tegaknya tauhid. Laik menang, selamat. Ramuan Penangkal Kiamat, tak perlu banyak bualan, mayoritas cerpen sudah disaring koran Nasional, dan jiwa-jiwa yang renta dalam kenangan menambah pikatnya, laik menang, selamat. Jadi tahun ini nebak mana?

Prediksiku: Buku-buku Bentang banyak sekali yang memuaskan, rerata bagus. Untuk kali ini sahaja, aku berdoa penerbit ini lebih diapresiasi atas kurasi mereka. Salam literasi dari Karawang yang damai.

Karawang, 281021 – 291021 – Michael Franks – Rendezvous in Rio

Thx to Titus P, sobatku yang selalu ada saat butuh tolong talangan transfer buku. Beeeest… (kecup kecup kecup)

Mengapa Ayah Menangis


Ramuan Penangkal Kiamat oleh Zelfeni Wimra

“Kita dilahirkan tidak untuk mengeluh. Kehidupan tidak menerima para pengeluh. Selalu ada jalan keluar. Saya saja yang belum menemukan!”

Kumpulan cerpen yang bervitamin. Dirangkai dari cerpen-cerpen yang sudah terbit di media masa. Rerata bagus sebab memang sudah dikurasi oleh tim handal, tinggal dilihat saja cerpen bagus atau kurang di Koran atau media daring mana, terlampir di akhir buku. Jawa Pos, Tempo, Republika, Padang Express…

Ada dua yang sungguh biasa, atau dikata kurang, atau malah cenderung jelek. Dan kebetulan dua-duanya belum terbit, lantas mencipta tanya, jangan-jangan keduanya ini sudah dikirim ke media tapi tak tayang? Maka diinput saja ke dalam buku. Dua itu adalah Ramuan Penangkal Kiamat, mencoba menelusur sejarah nenek moyang, tapi lemah dalam penyajian. Satu lagi tentang kucing lapar di rumah, plotnya lemah dan standar saja.

Favoritku jelas, Gantungan Baju Buya. Kiai selalu ingin pulang ke rumah mengisi ceramah di manapun, dengan anekdot gantungan baju saja sudah terdengar unik, agak aneh. Memang ketebak, sudah jelas keluarga adalah segalanya. Nah, endingnya yang keren di mana sogokan itu memakai anekdot lama yang otomatis mengingatkan pada gurunya. Satu lagi, Guru Nalu, teman masa kanak menjadi gila tersebab idealism kebablasan. Mengingat aku pernah punya teman seperti itu, terasa sekali emosiku turut. Temanku sembuh dengan dinikahkan dan ganti nama yang lebih sederhana, tak muluk-muluk atau keberatan kata, mungkin ini salah dua solusi buat Nalu.

Kuulas singkat-singkat sebagai apresiasi.

#1. Bila Jumin Tersenyum

Tentang kesulitan keuangan dan gigi yang tanggal, upaya untuk menutupinya mencipta iuran uang warga. Dilemma urgenitas. Namun memang anak atau di sini pendidikan anak urutan kebutuhan ada di urutan tinggi, dunia akan memakluminya.

#2. Madrasah Kunang-kunang

“Bila kampung sudah tidak memiliki orang disegani ibarat ijuk tak bersagar; bagai lurah tak berbatu. Kawan dan lawan akan bersilantasangan kepada kita.” Profesi penceramah menjadi diskusi menarik. Ayah tak suka anaknya bekerja seperti itu, diundang ke rumah-rumah, ke kantor-kantor untuk membacakan doa. Membiayai hidup dari upah mengajarkan agama seperti menjadi penceramah atau pendoa tidak berkah! Kita dikaruniai tubuh dan tenaga yang kuat.

#3. Gantungan Baju Buya

Tentang Buya Mukaram yang nekad tetap pulang seusai ceramah sekalipun sudah larut malam, walaupun sudah ditawarkan tempat menginap. Alasannya, di mana Buya akan menggantung bajunya? Yang secara tersirat terimplementasi di masa kini, saat ia mendampingi Pak Menteri ke provinsi terjauh, mendapat hadiah dan tawaran gantung baju.

#4. Kopiah yang Basah

Profesi dukun penggugur anak atau aborsi menjadi petaka saat Johan, kemenakannya mendapati kesalahan, pasiennya meninggal dunia. Ia ditangkap polisi, diperkara, dan Aku sebagai yang dituakan mencoba membebaskannya, mencoba damai. Datuak Basa Marajao dengan kopiah basah pulang naik angkuta umum.

#5. Guru Nalu

Orang gila yang mendaku guru. Kenangan masa kecil, serta upaya untuk mau mandi. Idealism pendidikan yang tak menelurkan manusia robot siap kerja, segalanya malah runyam. Kebablasan, mendekam di rumah sakit jiwa Pak Guru Nalu.

#6. Mengasah Lidah Murai

Belajar pidato atau bicara di depan umum dengan mahir itu tak hanya diasah dan belajar dari pengalaman, tapi juga ada syarat istimewa dari seorang sesepuh desa yang terkenal jago. Dengan mahar burung yang ditangkap dan tak hanya itu kerbau yang di-angon setiap hari harus dipastikan tercukupi asupan rumputnya. Belajar memang mahal.

#7. Urat Leher Burhan

Jodoh kebentur banyak kepentingan, doa ibu yang mujarab dan segala keinginannya yang ideal. Burhan seorang aktivis, berpacaran dengan wartawan, sudah pas dan wajar. Pranita di mata ibu terlalu vocal. Muncullah Evalisa, perawan tua yang tampak ideal mengingat Burhan yang juga sudah sangat matang. Namun lagi-lagi, Burhan memilih prioritas yang lain.

#8. Rumah Berkucing Lapar

Paling biasa dari semuanya. Suara meow di rumah yang mengindikasi ada kucing lapar yang suka mencuri lauk. Lantas membuat geram seisi rumah, dan tamunya.

#9. Ramuan Penangkal Kiamat

Sebagai judul buku, ini juga biasa. Sejarah Sumatra yang pernah ada penyebaran agama, warga asli yang terdesak dan upaya mencipta ramuan penangkal kematian. Dari generasi ke generasi, banyak jalan manusia untuk bertahan hidup, menahan gempuran kerasnya hidup.

#10. Dua Keping Kisah Pikun

Masa kecil memang terbaiq. Mahmud dan Zahara sudah berkawan akrab, sudha main kawin-kawinan. Sudah asyik madu dengan menangkap burung dan betapa akan mewujud nyata saat mereka bertunangan. Lantas takdir jahat menimpa, di usia senja adakah kesempatan kedua?

#11. Si Mas yang Pendusta

Si Mas yang melambaikan pergi dari geladak kapal untuk kembali ke Jawa seusai tugas menggempur gerakan PRRI di Sumatra. Janji-janji manis yang disampaikan dihianati, janji mau mengawini. Dicerita oleh neneknya Namimah yang makin renta kepada Neli yang penasaran cerita kakeknya. Oh tak seperti itu ternyata sebenarnya.

#12. Rentak Kuda Manggani

Kenangan oh kenangan. Di masa sulit, ia meninggalkan istri dan anaknya. Merantau jauh dan menikah lagi. Saat tua mengunjungi lagi tempat lama itu, ditemui anaknya yang juga sudah menua, dan juga mantan istrinya, kunjungan ini tak hanya meminta maaf, sebab sejatinya sudah dimaafkan, kunjungan ini adalah perjalanan menekuri ingatan, perjalanan religi di senjakala.

#13. Air Tanah Abang

Kalau kalian lihat gelandangan di Tanah Abang, bisa jadi itu adalah Langang. Ia adalah perantau yang ambisius, dulunya. Pergi dari tanah kelahiran sejak usia 15 tahun, menikah dengan warga pinggiran Bandung hingga memiliki anak, lantas diminta pulang oleh emaknya. Utang dan beban seolah dilepas secara bersamaan, dengan surat penting dan KTP ibu kota dilarung di selat Sunda. Lantas tekanan sosial malah mencipta ulang perjalanan.

#14. Gadis Bermata Gerimis

Nek Gadis yang sendu. Dikunjungi aku Jalito, mahasiswi pascasarjana. Sanad keluarga menyisa mereka berdua, banyak anggota kelurga meninggal di bencana tsunami Aceh 2004. Pesan nenek, memintanya segera menikah agar keturunannya berlanjut. Lantas seolah tanda-tanda senjakala yang mana menipis waktu hidup, sang nenek bercerita masa mudanya yang terlambat menikah. Betapa perjuangan laki-laki di zaman kemerdekaan itu penuh pengorbanan, begitu juga perempuan yang menanti, dobel pengorbanan.

#15. Rendang Kumbang

Ramuan untuk mengembalikan suami dari godaan janda tetangga. Suaminya Kari seorang sopir truk pasir, tergoda sama Marina janda beranak dua yang meminta pesan membangun dapur. Keakraban itu mencipta cemburu dan gemanya malah semakin terasa. Marini meminta dukun Pati buat bikin ramuan pikat sukma. Hasilnya? Alamak…

#16. Tukang Beri Makan Kucing

Suami kesepian walaupun sudah punya lima, semuanya merantau, punya banyak cucu, otomatis mengikuti orangtuanya. Dari Bandung hingga Papua. Istrinya ikut ke Si Bungsu yang baru saja memberi cucu, dan setiap saat istrinya meminta untuk kasih makan kucing kesayangan. Namun suatu ketika si kucing malah memberantakkan dapur, bikin kzl. Wait… rasa sepi itu seharunya dibelai si meow…

#17. Sihir Batu Bata

Ibunya yang cerai mencipta kekesalan. Sebagai anak SD ia rindu belaian ayah, dan kala ada sopir yang mampir ke warungnya menggoda ibunya, ia berjanji akan membalas dengan kepal tangan kuat. Pendidikannya hancur, tapi tak bisa dijadikan alasan sebab kakaknya di posisi sama tetap berprestasi. Kala masalah dewasa dilihat dari sudut anak-anak memang tak sinkron, dunia itu semua ada masanya, Nak.

#18. Diri Juga Ingin Pulang

Seolah ini adalah gelandangan di ‘Air Tanah Abang’. Diri yang kere, sementara teman-teman sebayanya sudah sukses secara materi. Ia lantas menelusur masa lalunya, timbul tenggelam dalam kenangan.

#19. Tuan Alu dan Nyonya Lesung

Memakai anekdot alu dan lesung, sejoli yang saling mengisi. Seolah pohon stek, dibabat tapi bisa tumbuh lagi setelah coba ditanam lagi. tuan Alu dan Nyonya Lesung dalam lanskap surealis bdi taburan biji kopi.

Sebagai buku terakhir, Ramuan Penangkal Kiamat sudah dkutahui masuk lima besar. Laik, skor 4 masih bisalah untuk teman ngopi, lebih dari ekspektasi. Sulit memang membuat cerpen bagus. Salah satu ciri Bung Zelfeni adalah, riwayat karakter tergambar jelas dari mula hingga senja. Lihat saja, para tokoh utama sering kali mengingat masa lalu, meriwayat dari kecil atau dari muda, lantas ke masa kini. Balutan tradisi daerah adalah hal wajar, dan sudah sangat lazim dibuat. Tanpa tahu siapa Zelfeni, aku sudah bisa menebak ia orang Minangkabau atau Sumatra, atau setidaknya pernah tinggal di Sumatra, merantau ke tanah Jawa, dan ekonominya lumayan (terlihat dari cerpen awal). Untuk karakter yang lusuh, bisa dicomot dari orang-orang sekitar. Lihat, banyak hal bisa dipetik dari sini.

Cerita bagus, lebih mudah ditulis dari kisah sendiri atau teman sekitar dan memodifikasinya. Secara otomatis, pembaca juga. Dengan mudah menautkan emosinya. Selamat!

Ramuan Penangkal Kiamat | oleh Zelfeni Wimra | GM 6212020001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Penyelia naskah Teguh Afandi | Desai nisi Ryan Pradana | Desain sampul Orkha Creative | Cetakan pertama, Januari 2021 | ISBN 978-602-06-4985-6 | ISBN Digital 978-606-06-4986-3 | Skor: 4/5

Tikus dan tupai mudah dipilah sedari kecil hanya dengan melihat ekornya.

Karawang, 281021 – Michael Franks – Time Together

Akhirnya selesai. 10 dari 10 prosa KSK selesai baca dan ulas.

Thx to Aiakawa Books, Bogor

Berpikir tidak Biasa untuk Hasil yang Luar Biasa


Think Like a Freak by Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner

“Prasangka membuat kita menyingkirkan serangkaian besar solusi yang memungkinkan hanya karena mereka tampaknya tidak mungkin atau menjijikkan.”

Uang bahkan membentuk cara kita dibentuk.

Berpikir seperti orang aneh, berarti berpikir kecil, tidak besar. Tentang pikiran kritis akan masalah aktual dunia saat ini dilihat dari kacamata orang aneh, orang yang beda. Pemecahannya juga aneh, walau saat ditelaah lebih dalam terlihat malah sungguh sederhana. Contoh, injeksi kotoran manusia untuk pengobatan. Itu hal yang terdengar ganjil, tapi saat ditelaah ternyata bisa dan ada. Atau pemikirannya untuk berhenti protes pemanasan global sebab menipisnya lapisan ozon. Karena percuma. Berani menentang arus. Berpikir seperti orang aneh itu cukup sederhana sehingga siapapun dapat melakukannya. Yang mengherankan, sedikit sekali yang melakukannya.

Ditulis duet, berpengalaman dengan buku sebelumnya yang sukses, disajikan dengan sederhana dan mudah dicerna. Berpikir seperti orang aneh tampaknya mudah dilakukan, dipraktikkan, tapi tak semudah itu juga. Jika masalah tertentu masih ada, Anda boleh bertaruh bahwa sudah banyak orang yang mencoba dan gagal menyelesaikannya.

Cerita para penendang pinalti, keputusan mau ke arah mana diteliti. Persentase kea rah tepat kiper sungguh kecil. Salah satu alasan adalah bahwa sekilas, membidik ke tengah gawang sepertinya ide yang buruk. Tidak ada pemain sepak bola waras yang mau mengakuinya: rasa rakut malu. Namun rasanya sungguh patut dicoba. Jika Anda mengikuti insentif komunal, Anda akan menendang ke tengah gawang.

Mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi atau golongan adalah pelajaran Pancasila sejak sekolah daar. Jika ditanya bagaimana kita akan bertindak dalam situasi yang membenturkan kepentingan pribadi dengan kebaikan yang lebih besar, kebanyakan dari kita tidak mau mengakui bila memilih kepentingan pribadi.

Kebanyakan orang terlalu sibuk untuk memikirkan ulang cara mereka berpikir. Ketika orang-orang tidak membayar biaya sebenarnya dari sesuatu, mereka cenderung mengonsumsinya dengan tidak efisien. Aku sepakat untuk yang satu ini. Sudah lama disebutkan bahwa tiga kata yang paling sulit diucapkan adalah, “aku cinta padamu.” Kami tidak sepakat. Bagi kebanyakan orang, jauh lebih sulit mengatakan, “saya tidak tahu”.

Daniel Patrick Moynihan bilang, “Semua orang berhak atas pendapat mereka sendiri, tetapi tidak atas fakta mereka sendiri.” Apa yang kita ‘tahu’ jelas dapat dibentuk oleh pandangan politik atau agama kita. Hasil penelitian Tetlock, 96% dari mereka lulusan pascasarjana, “menganggap diri mereka tahu lebih banyak daripada yang sebenarnya mereka tahu.” Membuat asumsi yang megah tentang kemampuan Anda dan gagal mengakui apa yang Anda tidak tahu dapat menimbulkan bencana. Setiap kali kita berpura-pura mengetahui sesuatu, kita melakukan hal yang sama: melindungi reputasi kita sendiri ketimbang mengedepankan kebaikan bersama.

Kunci dari belajar adalah umpan balik. Hampir mustahil untuk mempelajari apa pun tanpa hal itu. Semakin sulit sebuah masalah, semakin sulit untuk menangkap umpan balik yang baik. Hanya dengan mendefiniskan ulang masalah kita dapat menemukan serangkaian solusi baru. Kita semua menghadapi penghalang: fisik, keuangan, waktu. Setiap hari. Kebanyakan dari kita, ketika berusahan menyelesiakan sebuah masalah, condong pada penyebab yang paling dekat dan paling jelas. Jika Anda mengatasi akar penyebab masalah, setidaknya Anda tahu Anda sedang mengatasi masalah yang sesungguhnya dan bukan hanya bergumul dengan bayangan. Roy Porter pada tahun 1997 menjelaskan, “Kita hidup pasa zaman sains. Tetapi sains tidak menghapus fantasi tentang kesehatan. stigma penyakit, makna moral kedokteran terus ada.”

Sebagai HR aku sering kali mendapati karyawan yang kasih Surat Keterangan Dokter (SKD) dengan penyakit umum. Selain diare, maag ada di tingkat tertinggi. Tukak lambung sering diistilahkan dengan penyakit maag. Penyakit ini diwarisi atau disebabkan oleh stress psikologis dan makanan pedas, keduanya bisa menghasilkan kelebihan asam lambung.

Menghasilkan ide yang buruk? Tidak masalah, cukup jangan diwujudkan menjadi tindakan. Jika Anda tidak dapat melihat dengan baik, Anda tidak akan membaca dengan baik, dan itu membuat sekolah semakin sulit. Jangan takut pada sesuatu yang sudah jelas. Albert Einstein, “Segala sesuatu harus dibuat sesederhana mungkin, tetapi tidak lebih sederhana.”

Dulu aku suka judi, baru tercerahkan saat nmenikah. Ada prinsip dasar sejatinya. Perlu diingat, walaupun Anda menikmati permainan lotre, Bandar jauh lebih menikmatinya – karena selalu menang.

Cara mengubah pendapat/pikiran orang lain saat baca buku ini terasa wah benar sekali, tapi tetap saja sulit dilakukan. Aku sudah banyak konseling orang, walau sedikit yang gagal tapi tetap saja ada celah. Kuncinya adalah belajar memasuki pikiran orang lain untuk mencari tahu apa yang benar-benar penting bagi mereka. Kita akan mengatakan apa yang kita pikir orang lain ingin dengar dan kemudian, diam-diam melakukan apa yang kita inginkan. Dalam ekonomi, ini dikenal sebagai pilihan yang dinyatakan dan pilihan yang diungkapkan, dan sering kali terjadi kesenjangan besar di antara keduanya. Pepatah lama: jangan dengarkan apa kata orang, lihatlah apa yang mereka lakukan. Kucninya adalah berpikir lebih sedikit tentang perilaku ideal orang-orang imajiner dan lebih banyak tentang perilaku aktual orang-orang sungguhan. Orang-orang sungguhan jauh lebih mudah diprediksi.

Ketika peraturan berubah, perilaku juga berubah. Tidak ada orang yang suka merasa dimanipulasi. Cara terbaik untuk mendapatkan apa yang Anda inginkan adalah dengan memperlakukan orang lain dengan sopan. Seni mengalahkan lawan dengan mengantisipasi langkah mereka berikutnya.

Meyakini Anda benar, tidak sama dengan Anda benar. Legenda basket sekaligus filsuf Kareem Abdul Jabbar, “Lebih mudah untuk melompat dari pesawat – mudah-mudahan dengan parasut – daripada mengubah pikiran Anda tentang suatu pendapat.”

Orang-orang dengan nilai sains dan matematika yang lebih tinggi kemungkinan berpendidikan lebih baik, dan kita semua tahu bahwa kemungkinan berpendidikan lebih baik, dan kita semua tahu bahwa pendidikan menciptakan orang-orang tercerahkan dan moderat.

Hargai pendapat lawan Anda mungkin lebih berdasarkan pada ideologi dan pemikiran kelompok daripada dakta dan logika. Dia beroperasi dari seperangkat prasangka yang bahkan tidak bisa dilihat. Seperti kata Daniel Kahneman, “Kita bisa jadi buta pada sesuatu yang jelas, dan kita juga buta pada kebutaan kita sendiri.” Anda hanya produsen argument. Argument Anda mungkin sangat tak terbantahkan dan kuat sekali, tetapi jika itu rak beresonansi bagi si penerima, Anda tidak akan ke mana-mana. Jika Anda ingin argument Anda dianggap serius, Anda akan berhasil bila mengakui potensi kelemahannya.

Masa depan, seperti yang sudah kita ketahui, hampir mustahil untuk diprediksi. Argument lawan hampir pasti bernilai, Anda dapat belajar darinya dan Anda dapat gunakan untuk memperkuat argument Anda sendiri. Ingat, kita buta terhadap kebutaan kita sendiri. Seorang lawan yang merasa argumennya diabaikan tidak mungkin akan terlibat dengan Anda sama sekali.

Anekdot adalah sebuah kilasan pendek, potongan satu dimensi dari gambaran besar. Hal ini kurang dalam skala, perpektif, dan data. Sebuah cerita akan memenuhi gambaran besar. Cerita menggunakan data, statistik, atau sebaliknya, untuk menggambarkan kebesarannya; tanpa data, kita tidak tahu bagaimana sebuah cerita cocok dengan skema besar segala sesuatu. Sebuah cerita yang bagus juga meliputi perjalan waktu.

Rasanya menggoda bila memercayai bahwa sekali Anda bersikukuh pada sesuatu, berhenti adalah kontraproduktif.

Alasan aku membeli buku ini sebenarnya sederhana saja, Penerbit Noura banyak buku inspirasi bagus. Sudah tiga empat buku kunikmati, maka seperti sebelumnya, buku ini juga sungguh bagus. Secara teori masuk, secara penjabaran sungguh OK, tinggal praktiknya sahaja untuk diwujudkan. Aku setiap hari berhubungan dengan manusia, dan secara garis besar sepakat apa yang disampaikan. Eh wait, mungkin satu yang kurang sepakat. Transplantasi feses! Nah kan…

Think Like a Freak | by Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner | Diterjemahkan dari Think Like a Freak, terbitan William Morrow Paperbacks, HarperCollins Publisher, 2015 | Penerbit Noura | Penerjemah Adi Toha | Penyunting Ida Wajdi | Penyelaran aksara Lya Astika | Perancang sampul Fahmi Ilmansyah | Pernah diterbitkan dengan judul sama pda athaun 2016 dan telah cetak 3 kali | Cetakan ke-1, Juli 2018 | ISBN 978-602-385-516-2 | Skor: 4/5

Karawang, 250821 – 271021 – Manhattan Jazz Quartet

Thx to Ade Buku, Bandung

Puisi tuh Bukan Gini Bro…


Jakarta Breaking Poetry by Foentry.com

Duduk diam tak menentu / Memikirkan waktu yang terus berjalan tak tentu / Dimana loudspreaker bersuara maaf selalu / Jajanan pasar biasanya segera keluar sebagai hidangan penyumbat malu / Kadang roti isi yang beredar sebagai peredam emosi penumpang yang / menggebu-gebu / Kadang juga nasi bungkus yang dibagikan sebagai alternative / pencegah demo yang lebih seru – Poetry #22: Maskapai Penerbangan Terhebat Sepanjang Sejarah Perjuangan Bangsa

Kumpulan puisi mbeling yang payah. Tampil beda tak selalu keren. Buku ini mencerita segala aktivitas dan kritik sosial di ibu kota, dibawakan dengan aneh dan nyeleneh dan dalam konotasi negatif. Entah maunya apa, puisi yang sudah kita ketahui itu memang agak sulit dimaknai, walaupun memang tak ada yang salah. Mau dirubah dengan gaya gaul, oh tidak. Puisi tuh ga gini bro. Sungguh buruk.

Identitas penulis dirahasiakan, seolah memang sudah malu sama karyanya. Lihat saja identitas bukunya, semua oleh Foentry, kecuali Joshua Santoso, dan bisa saja jangan-jangan dia sendiri yang bikin juga? Semua kerjaan diborong, dan itulah mengapa perlunya editing, proof reader, dst sehingga jika tulisan melenceng ada yang meluruskan. Ini Joshua hanya ditaruh dibagian ilustrasi. Esensi isi tulisan tak disentuh orang kedua/ketiga. Ambyar! Eka Kurniawan contohnya, bukunya diedit oleh orang lain, buku Seno Gumira Ajidarma editornya pernah orang yang masih fresh graduate, ga masalah asal dicek sama orang lain yang kompeten. Kalau tulisan gede-kecil sih memang sengaja, tapi editing kata baku saja beberapa kelewat: yang basic saja kata ‘silahkan’. Buku ini representasi sebuah karya yang tak enak dinikmati, mentah, lemah, dan boring sekali. Malah kayak Vicky Prasetyo yang terkenal suka belibet kata, di sini beneran dicetak, diedarkan, dan dijual. Kacau dari berbagai sisi.

Mau kritik sosial dan budaya, tapi jatuhnya malah penyampaian antah surantah.

Banyak sekali tulisan alay kombinasi angka dan huruf capital, ya ampun, merusak mata. Menjemukan gan, baca tulisan alay di sosmed saja rasanya muak, ini dalam buku ber-ISBN! Bukunya juga berwarna, blink-blink ala abege. Halamannya tampil beda, ditaruh di samping. Bukan di atas/bawah. Untuk penjelasan catatan kaki, tak semua di bawah, sebagian di halaman khusus belakang. Dan jujur sahaja, catatan kaki tuh tak banyak harusnya. Semakin banyak semakin kelihatan bego, yang berarti sang penulis gagal menyampaikan isi hati ke pembaca. Dan catatan kakinya basic banget pula. Contoh Dan Brown, ngapain dijelaskan ia adalah pengarang Da Vinci Code? Tak perlu, tak usah. Buasiiiic gan. Atau pas nyindir kasus korupsi yang sedang hype saat puisi dibuat, tak usah. Tak perlu seterang-terangnya. Atau menjelaskan kalau HI itu Hotel Indonesia. Duuh! Maksud hati mau kritik pengambil kebijakan pemerintah, malah penyair antah ini yang patut dihujat/kritik abis!

Mending nulis prosa saja, cerpen/novel yang narasinya panjang dan nyaman ketimbang berwujud puisi tapi bentuk dan penuturan bertele-tele. Ini sejenis curhat berparagraf-paragraf, dimodifikasi dalam bentuk puisi yang ada baitnya, ndelujur tak jelas. Mencerita kehidupan Jakarta, sayangnya berisi hal-hal yang unfaedah. Rerata malah menjelaskan betapa penulisnya berpikiran sempit. Seperti menjelaskan caddy golf, itu menjurus ke selakangan. Tak semua caddy seperti itu gan. Atau bercerita tentang kawin kontrak, cara menyampaikannya saja amburadul. Maksud hati nyinidr area Cisarua yang banyak orang Arabnya, malah bablas, bahkan ada lagi di puisi lain tentang nikah siri atau arisan sosialita tentang brondong. Dahlah! Kalau pameo, apa yang ditulis adalah bentuk pribadi penulisnya. Maka yah, begitulah sekiranya isi buku ini.

Yang lumayan ok paling ‘Muatan Kebijaksanaan Para Filsuf Buronan’. Di mana disinggung kata-kata yang tertera di belakang truk begitu aneh dan nyeleneh, nyelekiti sekaligus ada benarnya. Permainan kata yang disajikan memang unik dan menyenangkan di mata. Namun malah keseluruhan malah bahas pribadi rerata sopir truk yang kelelahan. “Biar penghasilan pas-pasan tapi istriku sehat dan juga gemuk / Apa ini saatnya aku cari perempuan lain yang lebih seksi dan mudaan, nduk?”

Atau ilustrasinya Ok-lah. Menggambar bagus itu sulit, sama sulitnya mencipta kata-kata bijak. Penggambaran tiap puisi terwakili. Cover-nya Ok, lukisan abtsrak tiap judul juga dibuat samar dan justru yang samar adalah bagian dari keindahan. Yah, masak aku baca buku puisi tapi yang kupuji gambarnya. Mending aku beli komik sekalian dah.

Dan ternyata feeling-ku bahwa ini terinpirasi Vicky Prasetyo terbukti. Di nomor 24 berjudul ‘Musik Kontraversi Hati Penderita Skizofrenia’ ada sub judul “Puisi Vickinisasi”. Ya ampun, pantas saja sudah terbaca memualkan. Ternyata rujukannya selebriti itu to. Kiss My Age! You damn twenty nine!

Keputusan aku membeli buku ini sebenarnya iseng sahaja. Pas kutanya ke grup WA grup Buku, taka da yang merespon. Lantas ku googling, hasilnya tak banyak. Hanya sejenis endorsement singkat, buruknya hal itu memicu rasa penasaran. Apa maksud puisi baru, apa terobosannya, apa yang mau dibikin nyeleneh/anti mainstream. Eh kek gini, ya ampun. Rasanya buang waktu saja. Rugi waktu, biaya, tenaga. Lantas kenapa tetap kuulas, ya semua buku baik yang menyenangkan atau yang busuk tetap kuulas, biar pembaca blog tahu seberapa rekomendasi sebuah karya. Dan jelas, Jakarta Breaking Poetry adalah sampah belaka. Nonsense. Skip keras!

Jakarta Breaking Poetry Series #1 | by Foentry.com | Copyright 2015 | Penerbit buku Foentry, April 2015 | CV. Foentry TSI | Editor Foentry.com | Desain cover Joshua Santoso | Layout & Ilustrasi Joshua Santoso | ISBN design Foentry.com | Distributor Foentry.com | ISBN 978-602-71-6300-3 | Skor: 1.5/5

Karawang, 261021 – Billie Holiday – Me My Self and I

Thx to Latifah Book, Yogya