Rekayasa Buah: Mengapa Aku Bilang Buku ini Jeleq

Rekayasa Buah oleh Rio Johan

“Oh, ini mah buah lupu.” / “Buah apa buah lupu ini?” / “Buah yang mahal, susah didapat di sembarang toko.”

Entah apa yang menjadi dasar pemilihan buku ini masuk ke 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2021. Buku ini jeleq. Aku sudah baca Aksara Amananunna yang menjadi buku pilihan Tempo 2014, jeleq. Aku juga sudah menyelesaikan baca Ibu Susu yang menang KSK 2018 untuk karya pertama kedua, jeleq. Sejatinya satu buku jeleq tak akan merentang buku lainnya, ingat prinsipku; first impress itu penting banget. Pengalaman membaca buku pertama seorang penulis akan sangat menentukan buku karya-karya lainnya apakah akan kunikmati atau skip maksimal, kecuali masuk daftar penghargaan Sastra. Nah, salahnya di sini, memberi pengecualian. Sejak tahun 2018 kuikuti KSK dan kubaca semua Prosanya. Dari ‘kecuali’ ini, keterpaksaan menghasilkan Ibu Susu dan Rekayasa Buah, dan terbukti, jeleq jeleq.

Kalau kubeli buku antah, tanpa embel-embel apapun, dari penulis tak dikenal, atau dengan genre diluar favoritku, atau iseng sahaja tetiba pengen berkelana, kalau jeleq atau kurang puas ya wajar dan tak akan terlalu komplain. Baca buku remaja, misalnya ekspektasiku juga dunia remaja dengan hingar bingar darah muda. Pas kubaca buku fantasi, Neil Gaiman misalkan, atau Jonathan Stroud yang kuharap tentu saja sebuah imaji. Buku-buku John Grisham tentang gugat menggugat di ranah hukum sebab keseharian sang penulis memang di bidang itu. Pengalaman membaca ribuan buku menciptaku untuk bisa menempatkan diri dan ekspektasi. Contoh kasus, pernah baca buku Ika Natasha, Divortiare jeleq karena ceritanya hedon dan tak terjangkau pemikiran jelata, bayangkan konfliks yang ditawarkan adalah memilih cowok, yang satu tampan yang satu kaya. Kata temanku Harsoyo Lee, itu sih tinggal milih merem. Dan saat baca-baca buku lainnya, sama saja. Maka berikutnya, tak kubaca lagi, atau tak akan kubeli lagi pas rilis buku baru. Memang sudah jadi pijakannya. Lantas pengalaman baca pula buku-buku Tere Liye (tahun 2015 pas ulang tahun dibelikan istri sepaket), jeleq juga sebab banyak jiplakan, dulu kukira sistem seperti ini adalah metode ATM, amati tiru modifikasi; tapi setelah kutelaah, kudalami lagi jelas buku si Liye ini banyak sekali mencuri ide penulis lain. Mencuri itu haram di bidang manapun. Sampling, dua buku saja, Rembulan Tenggelam di Wajahmu itu idenya Mitch Albom, lalu Negeri Para Bedebah ada klub duel bawah tanah, jelas sekali aturan mainnya mengambil dengan tanpa izin aturan baku Fight Club-nya Chuck Palahniuk. Dengan pengalaman itu, tak kubacai lagi keduanya. Seharusnya Rio juga.

Yang membedakan adalah, Rio dapat ‘amanat’ di daftar KSK, dan itu malah makin bikin jengkel. Ibarat film jeleq muncul di Oscar. Bah!

Rekayasa Buah mencipta banyak sekali varian kata baru yang bikin kzl, seolah turut merasakan buah busuk dilahap, pengen muntah. Contoh buah mangga dimofikasi untuk tujuan tertentu, bisa bikin wajah glowing, buat jadi obat kuat, diblender jus sehat, untuk obat kutu air, dst lantas dibuat nama baru dan diadakan dalam perdebatan para peneliti. Sejujurnya mau milih nama jadi manggoooooooo, atau mang amang-beego, e-mango, mang jago, terserah dan tak memengaruhi cerita. Cuma kreatifitas tak jelas aja ini sih. Dikira membuat kata baru itu terlihat keren, bah! Enggak bro. sama seperti orang-orang yang suka mengutip kata-kata Pram atau Eka Kurniawan atau Ayu Utami, tak lantas otomatis jadi keren. Esensi membaca buku kan cerita, esensi keren bukan dengan menyebut kata sulit, sampai-sampai memodifikasi jenis hurufnya. Bukan begitu caranya, Vicky Prasetyo akan tertawa ngakak mendengarnya. Mencipta kata baru kalau ada sangkut paut kisah masih sah-sah saja, misal Lord Voldemort yang tampak unik dan aneh, ternyata di buku dua dijelaskan sebuah anagram. Itu baru kelas. Ada alasan mengapa memilih nama itu. Dalam buku ini, ada nama dengan semua konsonan semua: ‘Symphymphymm’, atau nama buah ‘snollygosterslang-whangersnickersneeberi’ hahaha, kata Bung Takdir temanku, “Biasalah masih ada yang anggap karya bagus itu kalau kosakatanya aneh aneh.”

Rekaysa terdiri atas sepuluh cerpen, saling silang beberapa cerita seperti Korporasi Hayati yang mewadahi penelitian, muncul di banyak paragraf. Kesemuannya enggak jelas, mencoba revolusioner dengan melihat masa depan, jauh di dunia antah dengan nama-nama kota modifikasi sendiri, sayang dibarengi plot cemen. Contoh, seorang bintang iklan buah yang tersingkir, dikagumi oleh kakek tua yang meninggalkan warisan melimpah untuknya. ‘Orang asing’ yang beruntung, yang material-oriented. Itu template di abad sekarang juga bisa, iklan kosmetik misal dengan mal-praktik dokter yang mengacaukan wajah bintangnya. 

Atau dalam Buah untuk Diktator Terakhir di Muka Bumi, seorang peneliti mempersembahkan buah untuk pernikahan kesekian-sekian-sekian, sekadar kudeta dengan buah sebagai pelurunya. Dalam Misteri Visiceri ada abtraksi dan kode-kode gaul dengan tulisan di kanan-kiri, dibolak-balik, bah tak ada esensi. Blink-blink kek Smash Blast. First thing first story! Gaya taruh di belakang aja. Ini memenuhi halaman, aku baca sambil nguap dan malesi tenan.

Dalam cerita Beri-beri Berlipat Ganda, perhatikan halaman 51 dalam memberi nama bisa sehalaman penuh/dua tiga halaman lainnya membahas penamaan juga, dan tak terlalu menautkan kepentingan dalam kisah, mau namain cerybel, cerytel, cerybah, ceryoletel, ceryceryjingan anggak krusial, nggak ngaruh, nggak ada eksotik-eksotiknya, kalian muak ga sih? Bayangkan ada 70-100 nama baru tiap tahun, syukur saja sih bukunya tak muncul tiap tahun. Simpan uang kalian, selamatkan waktu kalian, nikmatilah karya yang lebih bermutu. Inilah fungsi blog ini, inilah manfaat rekomendasi.

Dengan komposisi ini, satu buku lainnya Buanglah Hajat Pada Tempatnya jelas skip keras. Aksara Amananunna adalah buku debut kuberi skor 2 dari 5, Ibu Susu sama saja, permainan kata dengan plot nggak jelas, dan karena aku terjatuh di lubang yang sama, skor sejatinya bisa identik, tapi aku drop jadi 1.5. Satu utas yang menghubungkan ketiganya adalah, Rio suka sekali mencipta kata baru, dikira keren kali ya. Cerita ngawang-awang, padahal cerita bagus harusnya bisa ‘in’ dengan pembaca, kata Penulis favoritku Cak Mahfud, nulis cerita tuh tak perlu rumit dan tak perlu ndakik-ndakik.

Ketika membaca apapun genre dan jenisnya ekspektasiku juga mengikuti kok. Memang sulit mencerita masa depan. Akan salah bila aku mengharap sehebat Brave New World yang melihat masa depan gemilang. Atau Do Adroids Dream of Electric Sheep yang melihat dunia replikan menjadikan nyata/maya jadi abu-abu. Enggak. Kalau ada yang komplain, membandingkan buku klasik, baik aku aku kasih contoh sastra modern yang terbit tahun 2010-an. Baca buku-buku Yusi Avianto Pareanom, semuanya gemilang. Raden Mandasia bisa jadi adalah masterpiecenya. Atau Mahfud  Ikhwan dengan Dawuk-nya (aku nyebut dia lagi ya), itu kisah tanpa kerut kening juga bisa langsung ‘masuk’. Kebetulan dua itu menang KSK. Kalau usia dijadikan patokan, baik penulis muda yang mencipta buku bagus yang pernah kubaca juga ada, semisal Faisal Oddang dalam Tiba Sebelum Berangkat; atau Sabda Armandio Alif dalam 24 Jam Bersama Gaspar. Lihat dan rasakan kualitasnya.

Pasca membaca Rekayasa, aku butuh netralisir keadaan kalau tak ingin muntah. Untungnya ada Haruki Murakami, Kronik Burung Pegas seratus halaman langsung kulahap, dan benar-benar nyaman sekali. Lihat, seorang Haruki saja bercerita tentang keadaan sehari-hari. Pria kesepian ditinggal pergi istrinya, yang lantas merespon keadaan dengan apa adanya. Dan buku Looking For Alaska-nya John Green tentang remaja yang menempati sekolah asrama lantas jatuh hati. Sederhana ‘kan. Dan dibawakan dengan indah pula! 

Cerita bagus memang harusnya aktual, dan masa lalu selalu aktual. Mencerita masa depan, hanya berandai, mengangan, mengumpamakan; tahun 2050 mobil udah bisa terbang, tahun 2060 manusia bisa makan pil sebagai pengenyang, tahun 2070 ilmu bisa diinjeksi, tahun 2080 lorong teleport sudah dirancang, tahun 2090 buah direkayasa dari batu, tapi boong! Beda sama bercerita tahun 1945 terjadi Perang Dunia Kedua, dan kakekku turut memanggul senjata, terdampar di parit saat pasukan Jepang melakukan pembersihan, sebutir peluru melukai kakinya sehingga ia harus terpincang-pincang saat menyelamatkan diri, andai raganya tak kuat, bisa jadi aku takkan lahir, dst. Kita bisa langsung ‘in’ serta pembaca diajak bersafari di alam fantasi, dalam sisipan sejarah ada, dan logikanya bisa di-pas-kan. Buku yang berhasil adalah buku yang bisa melibatkan pembaca secara emosi.

Rasanya tak ada habisanya mengupas buku ini, seperti buku bagus, aku mengetik dengan semangat, begitu juga buku jeleq, aku mengetik ini dengan semangat mencerahkan. Aku tutup saja cerita curhat sore ini, habis lari sore bau keringat, kututup dengan kutipan dari penulis favoritku (wah favoritnya banyak ya), Gabriel Garcia Marquez bilang, “Tugas seorang penulis adalah menulis dengan sebaik-baiknya.” Mau ditulis di tanah kelahiran atau di tanah seberang atau di dunia jauh, mau ditulis di mana saja, tujuannya adalah agar penulis berbakti pada bangsanya.

Salam hangat dari korporasi haryati. Istighfar Bud.

Rekayasa Buah | Oleh Rio Johan | GM 621202011 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Teguh Afandi | Ilustrasi isi dan sampul Martin Demonchuax | Desain sampul Isran Febrianto | Desai nisi Ayu Lestari | Cetakan pertama, Juni 2021 | ISBN 978-602-06-5332-7 | ISBN Digital 978-602-06-5333-4 | Skor: 1.5/5

Karawang, 131021 – Billie Holiday – Me, My Self, and I

Empat sudah, tersisa enam.

Thx to Dojo Buku, Jakarta Barat. Thx to Titus Pradita, Karawang. Thx to Richard Oh, atas rekomendasinya.

Gurita di Punggung Naf Tikore


Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga oleh Erni Aladjai


Tapi besok malam kau akan datang lagi kan?”


Pembukanya jitu sekali, hok yang keras dan menghantui. Pembunuhan suami istri, yang (kemungkinan) dilakukan oleh anaknya sendiri. Pembunuhan sadis itu membuat warga sekitar ketakutan berhubungan dengan pelaku, muncul desas-desus ia memiliki ilmu hitam, kebal sakit, manusia yang melakukan perjanjian dengan iblis, sampai kesaktian mandraguna dengan penghuni dimensi lain. Hal-hal sejenis itu, sungguh sangat mujarab openingnya, mencipta tanya, lantas kehidupan berlari kencang di tahun 1990-an.


Setting utama di desa Ko, di jelang akhir masa Pemerintahan Soeharto. Gejolak Orde Baru merambati kehidupan sehari-hari di perkebunan cengkih yang asri. Haniyah membesarkan sendiri anaknya Ala yang kini beranjak remaja. Rumah mereka bernama Teteruga sudah berusia seabad lebih, dan seperti pada umumnya hubungan anak-ibu, mereka saling mengisi keseharian. Saling menguatkan. Dari sekolah, membantu pekerjaan di kebun cengkih, mengajarkan hal-hal bijak bestari, dst.

Novel ini banyak menyorot sosial budaya kehidupan di sekeliling kebun.
Ala di sekolah dipanggil Aljul (Ala Juling) yang membuatnya ngambek sama teman-teman dan bu guru Hijima, teman Haniyah sekolah dulu. Teman akrabnya Yolanda dan Siti Amaranti juga mengesalkan. Ala mencatat olokan itu di papan tersembunyi, mencapai 180-an. Awalnya tak dicerita, tapi nantinya kekesalan itu membuatnya marah, dan ia melabrak ke sekolah. Kisah tentang bullying? Enggak juga.


Cerita sejatinya malah ada di kebun cengkih tetangga kita, Naf Tikore yang di prolog melakukan kejahatan. Segala desas-desus itu menjadikannya terasing, tak berhubungan dengan sesama. Ia tak ke masjid, tak pula ke gereja. “Bukan Muslim, bukan Kristien, sudah sepantasnya dia tinggal di hutan.” Ia tak makan binatang, ia hidup dari hasil alam sekitar. Dalam sejarah singkat yang ditulis, ia menjadi hebat dengan bantuan gurita di kapal perang menjadikannya legenda. Pada suatu hari di Sungai Mariata…


Nah, koneksinya di sini. Ala suatu malam bertemu hantu remaja bernama Ido. Datang dalam kabut dan mengajaknya berkomunikasi, ia adalah korban di zaman colonial. Anak pribumi yang bergaul sama anak londo, dibunuh oleh seorang pribumi demi mengabdi penjajah, tapi tetap abdinya tak digubris. Kepala Ido dipenggal dan dikubur terpisah.


Ala punya misi menyatukan jasad yang dikubur di kolong rumahnya dan di kolong rumah Naf. Saat semua warga takur dan begidik sama Naf, Ala dengan langkah ringan ke sana. Membawa makanan berkat, dan setelah basa-basi mengutarkan niatnya. Sesederhana itu. Kisah ditutup dengan isu perekonomian, sebuah keputusan anak penguasa Orde Baru mencekik petani cengkih, dan setelah berbagai upaya, baru berhasil dihapus setelah Orde itu tumbang.


Temanya beragam, tapi intinya bisa jadi budaya lokal dengan kritik sosial. Pelukisan perkebunan dan tradisi setempat bisa saja menjadi daya saing yang menjanjikan, tapi tetap intinya sederhana. Hantu anak yang baik, walau kehidupannya tragis bisa memunculkan berbagai kemungkinan horror, jagoan yang sakti juga bisa saja meledakkan amarah ke warga, tidak. Kisah ini berakhir dengan tenang. Pesannya bisa saja, apa yang kita makan menghasilkan apa tindakannya. “Tanaman bertenaga-baik membuat manusia yang memakannya berjiwa baik.” Ah, kembali ke jiwa. Misteri semesta ini, merongrong tanya. Dunia Haniyah dan Ala masih di seputar kebun, dan itu membuatnya tetap membumi. Aroma khas cengkihnya bahkan berhasil terbaui hanya dari penuturan.


Pembuka Kusala Sastra Khatulistiwa yang kurang OK. Ekspetasi memang tak tinggi, nama Erni Aladjai sendiri masih asing di telinga, dengan lebl Pemenang ketiga Sayembara Novel DKJ 2019, tetap saja bukan jaminan. Tebakanku jelas novel ini akan tersingkir dari daftar pendek. Kita butuh suatu ledakan hebat untuk jadi juara.


Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga | by Erni Aladjai | KPG 592101875 | Cetakan pertama, Januari 2021 | Penyunting Christina M. Udiani | Penataletak dan Perancang sampul Pinahayu Parvati | Penerbit KPG | vi + 146 hlm.; 13.5 x 20 cm | ISBN 978-602-481-527-1 | Skor: 3/5


Karawang, 051021 – Michael Franks – Time Together


Satu sudah, Sembilan menunggu
Buku ini kubeli di Gramedia Karawang sepulang kerja, tepat di hari diumumkan nominasi KSK.

Zoon Politikon

Sosiologi by Dr. Soedjono Dirdjosisworo, S.H.

Bouman: “Kebersamaan dengan halaman baru dalam kepercayaan Nasrani (reformasi) dengan Renaissance, maka mulailah suatu zaman individualism, yang empat abad: tumbuh menjadi suatu corak kehidupan yang baru sama sekali.”

Efek sebuah buku bisa sangat panjang. Saya menikmati sekali buku Prof Priono yang mengulas sejak terjang Anthony Giddens, mengupas kulitnya saja tentang sosiologi. Nah, dari situlah saya menelusuri banyak buku terkait. Ini salah satu gema sosiologi tersebut. Buku ini memperkenalkan sosiologi pengantar dengan peringatan bahwa pandangan falsafah terentu mempunyai pengaruh terhadap pengertian dan persespsi terhadap gejala sosial yang terjadi.

Sosiologi berarti Ilmu pengetahuan tentang hidup bersama, yang dibicarakan di sini adalah sebuah ilmu pengetahuan, artinya pelajaran yang memenuhi semua persayaratan, ilmu pengetahuan adalah karya manusia yang mencoba mencari kebenaran yang didasarkan pada kenyataan, dengan susunan yang sistematis, logis (rational), dan metodis (menggunakan metoda-metoda). Ciri-ciri ilmu pengetahuan menurut Ralph Ross dalam bukunya The Fabric Society, ada empat: bersifat rasional, emipiris,umum, dan akumulatif.

Hipotesis adalah suatu generalisasi ilmiah yang mengadakan spesifikasi terhadap kondisi-kondisi yang ada korelasinya dengan fenomena-fenomena yang sedang diselidiki oleh peneliti.

Kebenaran ilmiah itu tidak absolut dan bersifat final. Kebenaran ilmiah selalu terbuka untuk peninjauan kembali berdasarkan atas adanya fakta-fakta baru yang sebelumnya tak diketahui.

Ilmu pengetahuan alam membutuhkan laboratorium, ilmu sosial tidak mempunyai laboratorium bagia penelitian yang dapat dikuasai sepenuhnya. Oleh karena itu teori-teori dalam ilmu sosial lebih mudah untuk mendapatkan koreksi kritis. Dan seharusnya apabila seorang ilmuwan itu harus selalu bersikap kritis, malahan harus bersikap skeptic yaotu sikap yang dapat disebut sebagai sikap ilmiah.

Membaca sebuah buku harus dimulai dari permulaan halaman demi halaman, sampai pada halaman terakhir. Membuat percobaan-percobaan tidak bisa selalu sekali jadi. Butuh kesabaran intelektual. Ilmu tidak mempunyai tujuan dan tugas untuk pada akhirnya membuat penilaian tentang apa yang baik dan apa yang buruk, melainkan ilmu mempunyai tugas untuk mengemukakan apa yang salah dan apa yang benar secara relatif. Ilmuwan tidak mempunyai preferensi politik, relijius, dan moral. Baginya semua fakta boleh dikatakan suci, artinya tidak dibenarkan memutarbalikkan fakta. Tidak dibenarkan melakukan diskriminasi fakta-fakta dan memilih untuk penyusunan teori-teorinya tentang fakta-fakta yang disenanginya saja.

Cendekiawan Arab, Ibnu Chaldun (1332 – 1406) dalam karyanya ‘Prolego Mena’ (Muqaddama) dipandang sebagai Pembina dasar-dasar sosiologi modern di luar daratan Eropa. Menurut Ibnu Chaldun, sosiologi merupakan studi tentang masyarakat manusia dalam berbagai bentuknya serta sifat dan gejala-gejala masyarakat yang dalam perkembangannya dipengaruhi oleh hukum-hukum alam. August Comte membawanya ke Barat, ke Granada tahun 1362 saat diundang Raja di Suna.

Rasa heran yang mendorong seorang peneliti untuk mengadakan penelitian, merupakan sumber penemuan-penemuan ilmiah. Maka sumber dari ilmu pengetahuan adalah ‘rasa heran’. Menurut Prof. Soedirman Kartohadiprojo, manusia adalah makluk hidup yang memiliki perlengkapan-perlengkapan berupa: raga (jasmani, sebagai wadah), rasa, ratio, dan rukun.

Zaman Renaissance (abad 13 – 16, abad pertengahan) menurut Jacob Burckhardt, “adalah suatu zaman di mana manusia menemukan kembali kepribadiannya.” Sebelumnya manusia dalam kekangan dan belenggu kekuasaan gereja, atau disebut sebagai The Dark Ages. Itulah pandangan Barat yang dipakai sampai sekarang, pandangan ‘individualisme’.

Apakah yang harus didahulukan, kepentingan individu (perorangan) atau pergaulan hidup (kolektif)? Dan muncullah persaingan antara aliran Demokrasi Liberal dan Sosiolis Komunis. Yang pertama mengutamakan kekebasan individu, yang keuda mengutamakan kepenting kolektif atau pergaulan hidup.

Tiga aspek kejiwaan terdiri atas aspek naruliah, perasaan, dan kebiasaan. Menurut para ahli yang menganut bio-psychologis memandangn bahwa mula-mula naluri yang berkuasa, kemudian kebiasaan dan tradidi mendapat arti yang lebih besar, akhirnya pikiran menjadi kekuatan sosial yang utama, maka tak heran bahwa masyarakat petani yang tradisional akan memiliki pola-pola hidup yang sama terus sehingga tidak jarang ada yang menamakan bahwa masyarakat petani yang tinggal di desa bersifat ‘statis’.

Kaidah sosial yang utama ada tiga konsep: Folkway, Mores, Laws. Hukum bangkit, dilembagakan, direncanakan, diatur dan dipaksakan oleh fungsionaris-fungsionaris hukum dan pejabat-pejabat politik di suatu masyarakat atau Negara. Mores dan folkway direnacanakan, diatur dan dipaksakan oleh suatu perasaan masyarakat, sehingga tidak memiliki kekuatan atau sanksi hukum. Perbedaan lain, folkway dan mores tumbuh, berkembang dan berubah secara relative lebih cepat mengikuti trends.

Norma kesopanan dan kesusilaan bila dilanggar tidak ada sanksi hukum dari penguasa tapi dari masyarakat sekitar dengan celaan, cemooh, dan dibenci.

R. Linton dalam bukunya ‘The Cultural Background of Personality’ mengemukakan kebudayaan adalah konfigurasi tingkah laku manusia yang dipelajari dan hasil dari tingkah laku yang unsur-unsur pembentukannya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu.

Gemeinschatf adalah kesatuan kelompok manusia yang terbentuknya sebagai kelompok tersebut kodrat Tuahn seperti keluarga, klan, marga, dan suku-suku bangsa. Gesellschaft adalah kesatuan kelompok manusia yang terbentuknya sebagai kelompok tersebut karena kehendak masing-masing anggota-anggota kelompok tersebut sepetu nampak pada organisasi-organisasi kemasyarakatan.

Natie atau lebih dikenal dengan warga Negara (bangsa) yakni kelompok manusia yang hidup sebagai suatu bangsa dari suatu Negara tertentu dikarenakan memenuhi ketentuan-ketentuan kewarganegaraan suatu Negara tertentu.

Prof. Dr. Selo Sumardjan bilang, “Kepemimpinan adalah suatu kemampuan untuk memperngaryhi pihak lain sehingga ia denagn kemauan sendiri berbuat seperti yang dikehendaki oleh si pemimpin.” Di dalam setiap masyarakat tidak selalu tenteram dan damai seperti gambaran surgawi dalam kitab suci dan masyarakat utopianya Thomas More.

Interaksi dimulai dengan kerjasama, kemudian menjadi persaingan dan memuncak menjadi pertikaian kemudian terjadi akomodasi, walaupun kadang-kadang memang terjadi demikian.

Di dunia ini ada dua keruntuhan besar ‘Weltordnung’ yaitu terjadinya keruntuhan dari abad 13 ke abad 14 (berakhirnya zaman pertengahan dengan keruntuhan struktur masyarakatnya yang sempurna) dan berakhirnya Perang Dunia II. Yang mempengaruhi sekali ‘social chanfe’ di seluruh dunia.

Muncullah keyakinan bahwa nasibnya bisa diperbaiki asalkan ia berusaha kuat. Demokrasi bukan hanya berarti tata cara, ia juga merupakan tujuan dari kehidupan bermasyarakat. Ideologi harus dapat menimbulkan harapan-harapan yang cukup besar, tetapi sebaliknya ia tak boleh didasarkan atas khayalan-khayalan yang berlebihan dan yang tak mungkin dicapai.

Buta huruf merupakan halangan untuk berkembangnya msyarakat untuk melaksanakan pembanguan dalam abad modern. Tujuan pendidiakn pengajaran pada intinya memberikan kemampuan dan keterampilan pribadi anggota masyarakat dan membina kesadaran untuk melaksanakan tugas-tugas sosial sebaik-baiknya.

Frank W. Notesten berkata bahwa masalah penduduk merupakan salah satu problema sosial yang paling menyulitkan dalam era modern. Laju kenaikan jumlah penduduk yang mencepat akan mempunyai efek involusi terhadap kenaikan produk pangan.

Masalah mendasar kependudukan di Indonesia ada tiga pokok: laju pertambahan, penebaran tak seimbang dan mutu yang rendah. Dalam membangun desa jangan sekali-sekali merusak dan mengacaukan nilai-nilai dan karakteristik kehidupan desa-desa karena hal ini akan berakibat buruk dan tidak membawa hasil sesuai dengan tujuan membangun desa itu sendiri.

Solusi untuk mengurangi kepadatan penduduk salah satunya adalah perpindahan penduduk ke daerah yang lebih karang. Transmigrasi dapat memberikan dukungan logistic wilayah ebagai contra untuk pembangunan regional. Dua aspek transmigrasi terpenting adalah kesejahteraan dan keamanan (prosperity dan security).

Masyarakat yang heterogen tentu segaris lurus dengan permasalahan yang menemukan. Begitu pula penyakit masyarakat, akan selalu ada. Gelandangan adalah masalah serius bagi setiap kota, secara nyata agaknya persoalan ini mencerminkan problema sosial yang besar yang dapat ditemui dalam pergaulan hidup kota di manapun. Gelandangan adalah orang-orang yang kehidupannya mengembara dan tidak mempunyai tempat tinggal tertentu.

Prostitusi berasal dari bahasa latin ‘prostituere’ yang artinya menonjolkan diri (dalam hal-hal buruk), atau menyerahkan diri secara terang-terangan kepasa umum. Pelacuran menurut Barners & Teeters merupakan penyakit sosial tertua yang terus ada dari mas ke masa. Di sini ada hukum permintaan dan penawaran yang didorong oleh faktor-faktor lingkunan sehingga terbentuk ‘pasar’. Pelacuran sulit diberantas, tapi harus ada usaha penanggulangan dalam arti sekurang-kurangnya menekan atau mengurangi meningkatnya jumlah.

Kenakalan remaja atau dalam istilah umu ‘juvenile deliquency’, banyak sebuatnya. Salah satunya taruna tersesat. Statistic kenakalan anak-anak di usia 16-19 tahun (masa pubertas atau addolesensi). Menurut Sheldon dan Eleanor Clusck dalam bukunya ‘One Thousand’, “Lebih dari 95% anak-anak nakal adalah mereka yang telah berhubungan dengan ‘bad companious’ dan ‘bad habits’.

Semua manusia dilahirkan tidak dengan takdir bahwa kelak akan menjadi orang jahat atau baik, ia akan berkembang dalam lingkunagn pergaulan hidup; dan akan berkembang dalam lingkungan pergaulan hidup; dan dalam situasi dan kondisi tertentu, faktor inilah yang kelask sangat berpengaruh atas pertumbuhan anak-anak ada sebab musababnya.

Filsafat Pancasila, “Ora sanak ora kadang jen mati melu kelangan” artinya bukan sanak bukan saudara kalau mati ikut kehilangan. Peranan hukum dalam pembangunan adalah untuk menjamin bahwa perubahan itu terjadi dengan cara yang teratur.

Buku bagus, best seller di masanya hingga cetak beberapa kali. Masih sangat relevan dengan zaman, sebab bahasannya umum. Enak dinikmati, tak perlu lulusan IPS untuk merasa nyaman dengan kalimat-kalimatnya. Dan jelas ini akan memicu buku-vuku genre sosiologi yang lainnya. Kekuatan perdana dan kepuasan yang didapat.

Sosiologi | by Dr. Soedjono Dirdjosisworo, S.H. | Copyright 1981 | Penerbit Alumni | 10 9 8 7 6 5 | IBM Setting, layout, film, cetak offset oleh Percetakan Offset Alumni, Kotak pos 272, Bandung | Skor: 4/5

Karawang, 040921 – Dee Dee Bridgewater – Angel Eyes

Thx to Ade Buku, Bandung

Kemungkinan yang Tak Terbatas


Firebelly by J.C. Michaels


Aku tetap berada di rumput sampai kesejukan pagi membangunkanku. Ketika aku sedikit bergerak, aku merasakan tanah yang kering pecah di kulitku…”


Kadang-kadang kehidupan kita dibelokkan oleh sesuatu yang begitu sederhana dan begitu tidak penting seperti seekor katak. Buku ini lebih bagus penjelasan di kata pengantar dan lampiran tentang eksistensialime-nya ketimbang isi utamanya. Mencoba filsafat, sang katak malah mengantar pembaca menguap bosan dengan berbagai pilihan hidup. Bagaimana sebuah pertanyaan sederhana dapat menyebabkan timbulnya masalah besar. Adalah pemicunya, dari sang katak tua, si katak muda lantas mengalami petualangan hebat. Mereka memandang kehidupan dengan tergopoh-gopoh dan merasa telah menemukan sesuatu. Ludwig Wittgenstein menulis sebuah buku yang sangat kecil di mana dia menyatakan bahwa batasan bahasa adalah batasan dari apa yang dapat kita ketahui dan kita sampaikan pada orang lain. Jika kita punya kata-kata untuk menggambarkan sebuah pengalaman, pengalaman itu akan lenyap dan tidak dapat dimiliki orang lain.


Biasanya terbitan Serambi menjamin kualitas, terjemahan pilihan dari novel-novel bermutu. Maka, walau saya tak paham ini tentang apa dan siapa, karena terbitan Serambi aja saya putuskan beli. Ternyata ada yang kurang bagus. Novel ini lemah dalam bercerita, tentang katak bunting yang banyak bertanya tentang kehidupan, semesta metamorphosis sampai rasa penasaran bila keluar dari zona nyaman apa yang akan terjadi. Umum, menggurui, lantas masalah yang disodorkan terlampau biasa, konfliks sederhana, tak berbahaya, atau dalam satu kata: datar.


Descartes mengemukakan argumen bahwa karena persepsi-persepsi kita bisa diperdaya atau tidak akurat, kepastian dan pengetahuan sejati hanya bisa datang kalau kita mengabaikan panca indra kita dan bergantung pada pemikiran dan penalaran.


Katak itu bernama Mising Pieces (PC) – potongan yang hilang, sebab dua kakinya buntung. Ia terlahir sebagai Firebelly, si perut api di sebuah danau, tempat liar. Semasa masih embrio, ia tumbuh menuju kehidupan, bermetamorfosis, yang lantas mengantarnya pada kerasnya kenyataan.


Ia mendapat banyak petuah dari kata tua, bahwa hidup ini misteri. Penderitaan adalah awal mula kesadaran. Apakah setiap tindakan dan keyakinan adalah hasil dari beberapa sel saraf yang membakar di dalam otak kita? Apakah ada kekuatan tak terhingga yang bekerja membentuk siapa dirinya, lama sebelum ia terlahir. Waktu akan menyembuhkan apapun yang mengganggunya, dan luka apapun yang terbentuk sekarang.


Nah suatu hari, ia kena jaring. Bersama binatang lainnya, ia lalu ditaruh di toko peliharaan. Daerah yang berisik karena bersama binatang lain, salah satunya adalah ular. Predator kaum mereka. Salah satu contoh hewan lalat jenis Ephemerids yang hidup singkat adalah , jenis lalat yang hidup hanya sehari.


Dari sinilah, kisah lalu melalangbuana liar. Ia dibeli oleh remaja putri Caroline, orangtuanya bercerai, ia hidup sama ayahnya. Ia bernama PC, dan hidup dalam limpahan kasih sayang. Di tempatkan di akuarium, di kamar yang sejuk, dengan makanan jangkrik yang terjamin rutin. Ia bahagia.


Lantas suatu hari sang ayah akan keluar negeri, ke negeri jauh di Asia. Pergi ke negeri-negeri jauh dan menunggang unta melintasi gunung pasir yang angin. Maka Caroline diantar ke rumah ibunya, PC dibawa dan ditempatkan di jok belakang, sayangnya penampung itu terbuka, ia memiliki kesempatan bebas. Apakah impian petualangan liar yang dikisahkan pak tua itu worth it dilakukan, atau ia nyaman saja sama Caroline? Kembimbangan, dan segala kemungkinan ditimbang. “Berpikir dapat menimbulkan banyak kesulitan.”


Rasa penasaran mengantarnya, keluar. Hippocrates bilang, “Kehidupan ini singkat, kesenian berumur panjang, kesempatan cepat berlalu.” Ia bersembunyi di kolong tempat duduk mobil, ia menikmati kesunyian, kesabaran, dan momen merdeka yang absurd. Bukankah ini yang inginkan selama ini? kembali kea lam liar, menikmati semburan matahari bersama saudara-saudaranya, walau ancaman ular atau predator lain menghadang. “Aku terkutuk untuk bebas…”


Kita diperkenalkan dengan keluarga baru, seorang remaja bermasalah bernama Claire. Ia mendapat konseling oleh guru BP-nya Pak Levante. Dan takdir mempertemukan mereka. Keduanya bermasalah, tapi nasib makhluk hidup memang dinamis ‘kan?! “Yang penting adalah mengembangkan harga diri dan kebahagiaan sehingga kita bisa menghadapi tantangan hidup…”


Dalam salah satu sesi penyuluhan. Di antara ruang yang memisahkan, ada kesunyian yang menggelisahkan. Claire komplain, Bapak selalu mencari hal yang sama, dengan sudut pandang yang sama, dan menemukan solusi yang sama – tanpa menghiraukan siapa yang duduk di kursi ini. “Kita hidup bahagia dan senang sampai sesuatu membuat kita sedikit merasa tidak enak dan sakit, sampai kita menyadari ada akhir pada setiap kehidupan…”


Semua orang memberikan alasan dan penjelasan tentang kelakuan Claire, tapi kemudian dia melakukan sesuatu yang menghancurkan optimism semua orang.


Awan telah menghitam dan menyebar di langit seolah-seolah menutupi dunia dalam warna kelabu yang samar-samar. Dunia luar memanggilnya dengan janjinya akan keliaran dan petualangan, mengajaknya dengan kemungkinan mengenai kehebatan dan kemegahan. Tidak ada cahaya pemahaman yang bisa diterima semua orang. Yang ada hanyalah kesadaran Claire bahwa dia tidak bisa kembali pada kesenangan masa kecil.


Kehidupan penuh dengan tepi-tepi yang kasar. Kehidupan adalah perjalanan luar biasa menuju wilayah tak dikenal. Kita hanya menggunakan kiasan dan analogi untuk menggambarkan perjalanan waktu. Objek yang ditangkap indra kita sama; persepsi kitalah yang berubah seiring bergesernya cahaya dan bayang-bayang. “Kamu tidak pernah berubah, dan itulah alasan aku menyukai kamu ada di sini. Kamu sama seperti dulu, sama seperti ketika aku masih kecil…”


Kita selalu melihat ke belakang. Benar, kan? Tepi itu tidak pernah menjemukan dan selalu menarik. “Aku berbicara seperti seorang penyair karena… yah.. karena aku berusaha untuk tidak memberitahumu tentang tepi yang kasar dalam kehidupanku..”


Berikutnya adalah lampiran tentang keberadaan, bagus banget penjelasannya. Beberapa kutipan beberapa filsuf. Gagasan mengenai keberadaan. Novel ini menitikberatkan pada eksistensialisme. Salah duanya adalah tokoh yang terkenal akan teori ini adalah Jean-Paul Sartre, bukunya Being and Nothingless dan Martin Heidegger, bukunya Being and Time.


Hal-hal besar terjadi di sekitar kita sepanjang waktu, hal-hal besar yang berlalu tanpa kita sadari atau yang kita abaikan, cerita-cerita besar yang tenggelam dalam rajutan kisah dunia, dan hanya bagian-bagian kecilnya yang kita lihat dan kita kenal.


Dalam Notes from Underground, Dostoyevsky melukiskan seorang anti-hero yang ingin menjadi lawan dari hal-hal yang rasional, dapat dimengerti, dan bermanfaat… dia ingin menciptakan ketidakteraturan dan kekacauan sebanyak-banyaknya.


Sartre dalam Nausea, “Apa yang kulakukan sekarang akan menciptakan siapa aku nanti.”


Nama resminya adalah firebelly toad, atau dalam bahasa Indonesia kodok perut api, dan memang lazim ditemukan di toko hewan peliharaan karena warnanya yang unik sehingga menarik dilihat, dan juga mudah dalam perawatannya.


Ini adalah buku pertama J.C. Michaels, dan rasanya sudah bisa bilang bye andai ketemu karya lain. Mengingatkanku pada nama besar Paulo Coelho yang isinya petuah, menggurui, menasehati di mana cerita utama sejatinya hanya tempelan. “… Aku ingin tahu berapa banyak bagian hidupku yang hanya sebuah mimpi… jika aku bisa menjadi orang lain, hanya untuk sesaat, banyak sekali yang akan kupahami.”


Apa yang tersisa kalau Anda menyingkirkan warna, ukuran, bentuk, tekstur, dan baunya? Apa yang tersisa ketika Anda menyingkirkan emosi dan perasaan, rekaan dan gagasan fantastis? Ketika semua yang bisa Anda sebutkan hilang dan disingkirkan dari kehidupan, apa yang tersisa?” Sartre menjawab: keberadaan.


Firebelly | by J.C. Michaels | Diterjemahkan dari terbitan Philograph, Inc, Boston, 2007 | Penerjemah Rahmani Astuti | Penyunting M. Sidik Nugraha | Pemeriksa aksara Eldani | Pewajah isi Siti Qomariyah | Penerbit Serambi Ilmu Semesta | Cetakan pertama, September 2010 | ISBN 978-979-024-203-6 | cover gilang-iggrafix | Skor: 3/5


Untuk Julia,


Karawang, 050921 – Take Over Band X John Paul Ivan – Cuma Kamu


Thx to Derson, Jkt

Pembunuh Serial atas Nama Dante


The Dante Club by Matthew Pearl


Holmes: “… Memperkenalkan Dante kepada masyarakat Amerika akan menjadi salah satu prestasi yang paling signifikan pada zaman kita.”


Dante, seorang loyalis sejati pada sastra dan bahasa klasik. Dante dikambinghitamkan sebagai sumber inspirasi. Novel menggebu tentang pembunuh serial yang mengambil buku klasik sebagai acuan, sebagai pijakan melakukan pengadilan. Jelas bukan barang baru, tema membunuh untuk menegakkan penghakiman sudah sangat banyak sekali dibuat. Lebih spesifik lagi, pembunuhan berantai yang didasarkan buku atau kitab. Sedikit diantaranya yang terbesit adalah ‘The Messiah’ karya Boris Starling, lalu ‘Inferno’ karya Dan Brown. Yang terakhir ini bahkan berdasarkan buku yang sama dengan Dante Club! Namun karena rilisnya duluan ini, bisa jadi kali ini Brown yang kalah langkah.


Apakah kita cukup kuat untuk membongkar sebuah kasus pembunuhan? Adalah pertanyaan para penerjemah ini. Motif dan aura terasa merekalah pemicu kasus-kasus ini. Kematian menjadi sebuah hadiah. Gaya puisinya menjulang seturut temanya, dan mengembang laiknya air pasang dan alurnya yang berpanjang-panjang menggugah pembaca, mengalirkan keraguan dan kekhawatiran. Ada orang lain yang ingin mengambil keuntungan dari informasi yang kau miliki.


Settingnya abad 19, di mana Amerika sedang berbenah pasca Perang Saudara. Di Boston tahun 1865, kota yang menjadi saksi asli proses terjemahan buku Dante ke bahasa Inggris. Gedung Ticknor, Fields & Co. di Tremort Street.


Banyak hal diambil dari kejadian sejarah asli, termasuk nama-nama karakternya. Mencoba senyata mungkin, walaupun tentu ini adalah karya fiksi. “Satu hal yang menyenangkan dari demokrasi adalah bawa kita bebas menerbitkan buku apa saja sejauh kita bisa melakukannya dan sama sekali tidak merugi…”


Tentang sekelompok professor di universitas Harvard yang mengisi waktu diskusi mingguannya dengan menterjemahkan karya-karya sastra. Pertemuan Kamisan di rumah Longfellow Mereka takut dengan pengaruh Dante, karya asing – pengaruh Katolik. Buku-buku Dante sebenarnya mereka sedang memasukkan kita ke dalam neraka yang kita takkan bisa segera keluar darinya. Karena ini tentang Dante maka nama komunitas ini mereka namakan The Dante Club. Anggotanya adalah Henry Wadsworth Longfellow, Profesor James Russel Lowell, Profesor Dr. Oliver Wendell Holmes, James Thomas Fields.


Perkumpulan ini memunyai nilai penting bagi misi Lowell untuk memperkenalkan puisi Dante ke masyarakat Amerika.keberhasilan klub adalah keberhasilan menyatukan berbagai kepentingan anggota. Dunia ini sepanjang masa persis seperti apa yang dikatakannya; kita boleh mengejeknya, kalau perlu, ketika kepentingan seseorang menjadi terlalu dominan. “Aku butuh nama penyair terkenal untuk menjual buku semacam itu ke masyarakat Amerika yang bebal.”


Bahasa Italia, seperti halnya bahasa Spanyol dan Jerman, secara khusus merepresentasikan ambisi-ambisi politik murahan, nafsu-nafsu wadag, dan amoralitas dekaden Eropa. Karena karya itu ditulis dalam bahasa-ibunya sendiri, bahasa Italia dusun, bukan bahasa Latin, dan karena ceritanya berakhir dengan bahagia, penyairnya masuk surga. Ini berkebalikan dengan tragedia. Alih-alih berusaha mengubah sebuah puisi hebat dari sesuatu yang asing dan artifial, dia membiarkan puisinya mengalir sendiri dari dalam pikirannya. Jika orang-orang katolik boleh mengalir masuk dari Irlandia, mengapa beberapa orang Protestan tidak?


Dr. Manning tidak akan mengizinkan racun-racun asing tersebut menyebar dengan berselubung sastra. Nah pertentangan ini menimbulkan riak, isu efek jelek Dante ke masyarakat membuat klub mereka kena kritik. Puisi Dante adalah semacam maklumat Vatikan. “Itu terlalu Italia, terlalu Katolik untuk Universitas Havard. Konsep-konsep tentang Tuhan yang menakutkan seperti itu tidak dapat dijejalkan ke dalam telinga-telinga Protestan kita.”


Padahal seharusnya sastra-lah yang dijadikan agen perubahan, pengetahuan tersalurkan. “… Mencintai sastra lantaran kekuatannya yang memanusiakan dan memuliakan manusia, maka negeri ini tidak akan pernah meraih keberhasilan dalam arti seluas-luasnya yang semata-mata kelak akan melahirkan sebuah Negara dari Rahim rakyat. Sastralah yang membangkitkan sebuah bangsa dari kematian jadi kekuatan yang hidup.”


Bersamaan dengan itu, terjadi pembunuhan yang menghebohkan kota. Seorang hakim ternama dibunuh dengan keji. Healey, tewas di pinggir danau dekat rumahnya dengan belatung di dalam tubuhnya, ia masih hidup beberapa langkah hingga rumah. Namun berakhir mengenaskan. Dalam penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa ia mati dibunuh dengan membiarkan lalat-lalat ganas menggumulinya. Dengan sengaja menanam belatung dalam tubuh! Gila.


Ada sekitar dua ribu lima ratus spesies lalat di Amerika Utara yang siap diberi nama, perkiraan ada sepuluh ribu spesies lalat di dunia. Belatung-belatung di dalam tubuh manusia, manusia hidup! “Lucifer kita menginginkan korban-korban bukan hanya mati, tetapi juga menderita, seperti yang dialami arwah-arwah dalam inferno. Sebuah keadaan antara hidup dan mati, setengah hidup dan mati.”


Belas kasih tanpa ketegasan hukum hanya akan menjadi egoisme pengecut, menjadi sentimen. Peristiwa yang telah dinanti-nantikan dan dimatangkan oleh waktu jadi sebuah takdir: perkenalan Amerika dengan Dante. ‘Dan alangkah hebatnya mereka yang berani bermimpi, yang berani berbuat’. Oh betapa dahsyatnya puisi ini. Puisi itu menjelmakan filosofi yang samar-samar dalam benak semua orang jadi sebaris kalimat ringkas yang bermakna, bermanfaat, dan siap dipraktikkan. “Setelah kejatuhan Adam, kita menanggung dosa.”


Pembunuhan kedua adalah seorang pendeta tersohor. Ia tewas dengan kaki di atas, tertanam dalam lubang di mana uang sekantung penuh ada di dasarnya. Dibunuh di terowongan bawah gereja, dengan api sengat dan tubuh rusak. Dalam penyelidikan lebih lanjut, ia terseret kasus uang haram, dan uang di bawahnya hanyalah simbol. Seorang Simoniac rekaan Dante, para pendeta yang mencari uang dengan menyalahgunakan kedudukan. Seorang meniru Dante untuk membunuh Talbot. Talbot, tiran tua penguasa mimbar khotbah Cambridge. Lucifer bukanlah seorang ahli Dante, dia hanyalah seorang jemaat gereja Dante. Lucifer melaksanakan hukuman-hukumannya demi kepentingan mereka – demi kepentingan Klub Dante!


Sebuah pesan yang bagus dan berkelas serta ditulis dengan gaya yang indah yang diperburuk dan dipelencengkan – sebuah nasihat cerdik dari penulisnya. ‘Galilah lubang Pendeta itu lebih dalam lagi. sesuatu telah luput di bawah kepalanya.’


Dari sini belum ada yang nggeh dengan pola asli sang pelaku. Barulah kasus ketiga yang membuat kepolisian yakin, dan para Dantean yang menunjukkan motifnya. Adalah seorang mahasiswa Jennison. Ditemukan termutilasi. Cukup, tak perlu penjelasan lebih detail. Mati dimutilasi saja, sudah jadi bikin gidik bulu roma.


Tautan itu akhirnya ditemukan, semua adalah dari hasil terjemahan The Dante Club, bahkan kejadian-kejadian itu berurutan. Contoh saat dalam puisi Dante membahas tentang dosa uang haram, maka pembunuhan sang pendeta. Atau saat hakim dibunuh, saat itu mereka sedang bahas tentang hak-hak rakyat yang ternyata oleh hakim tak segera disahkan. “Bila kita lapor polisi semua modus pembunuhan yang dijiplak dari Dante dan dipraktikkan di sini, siapakah yang akan dituduh memiliki cukup pengetahuan tentang modus kejahatan?” / “Kita akan menjadi bukan hanya tertuduh pertama, tetapi juga tertuduh utama.”


Dilema dan pening. Polisi yang menangani di lapangan adalah Nicholas Rey, polisi keling pertama di kota itu, ia sering kena rasis. Sempat masuk pusaran kemungkinan pelaku, tapi kan ia polisi yang mengayomi masyarakat.


Sempat pula salah satu anggota Dantean yang dituduh, apalagi saat diketahui ia melakukan ceramah di gereja tentang Dante di luar kota di akhir pekan. Namun ia lolos dari tuduhan sebab, setiap kejadian pembunuhan banyak saksi bersamanya.


Sang pembunuh disebut sebagai Lucifer, dan dengan melakukan penyelidikan intens mereka berhasil menyimpulkan bahwa pelaku adalah seorang tentara. Hipotesis tunggal: sang pembunuh adalah seorang veteran perang. Kenapa? Dante adalah veteran, ia terasing, ia marah sama keadaan, ia kecewa sama pemerintahan, ia frustasi di medan tempur. Maka ia lampiaskan dengan menulis. “Ide untuk berwisata ke alam akhirat ini, untuk merekam siksaan-siksaan neraka – ini terlalu liar. Dan karya semacam itu sangat tidak tepat disebut sebagai sebuah ‘Komedi’. Khas abad pertengahan, khas skolastik…”


Sastra memperbudak pikiran yang lemah, seperti John Wilkes Booth. Setelah menembak Lincoln ia berkata dalam bahasa latin, ‘Senantiasa demikianlah takdir para tiran’. Itupula yang dikatakan Brutus kepada Caesar, Lincoln adalah kaisar Romawi di zaman itu dalam benak Booth. Dan ia adalah seorang Shakepearean. Maka Lucifer di sini, adalah seorang Dantean.


Berhasilkan mereka menghentikannya? Sebelum pembunuhan keempat, kelima, dst terjadi. Proses terjemahan itu akankah dilanjutkan, atau tetap jalan dengan resiko korban berjatuhan. Sebuah fakta sederhana: hidup adalah pertaruhan.


Segara garis besar bagus. Proses pengenalan karakter, inti masalah yang disajikan, hingga eksekusi ending yang dramatis cukup menghibur. Jelas ini novel dibuat dengan proses analisis dan penelitian jeli nan dalam. Puisi Dante tak kurang daripada pencariannya akan kampung halamannya. “Aku bersyukur di dunia ini, masih ada hal langka yang bagus selain puisi.”, kata Lowell.


Edgar Allan Poe pernah menulis bahwa Longfellow dan semua penyiar Boston menjiplak karya setiap penulis lain, baik yang masih hidup atau sudah mati, termasuk karya Poe sendiri. Ide Poe, setiap kata yang dirinya tulis sesungguhnya curian dari penyair terkenal sebelumnya, dan bermimpi bahwa seorang penyair kondang yang telah meninggal muncul untuk menuntut puisinya dikembalikan.


Pemujaan Dante yang kurasa berlebihan. Sebagai inti cerita, ia seolah seorang Nabi. Dante mengangkat tema umat manusia, bukan seorang manusia. Jangan bertanya apa yang telah diberikan Dante pada manusia, tetapi apa yang dapat diberikan manusia pada Dante – agar bisa secara pribadi memasuki wilayahnya, meskipun wilayah ini luar biasa berat. Dante, dia ingin sekali pulang kampung halamannya. Kematiannya di pengasingan dalam keadaan nestapa adalah kegagalan terakhirnya yang mencolok.


Saat Anda menulis fiksi sejarah, Anda harus tahu detail-detail tokohnya: makanan apa yang mereka santap ketika sarapan, apa jenis topi yang mereka kenakan, bagaimana cara mereka beruluk salam ketika saling bertemu di jalan. Tokoh-tokoh dalam novel saya diburu oleh hasrat sastrawi, sehingga jika novel ini turut membangkitkan hasrat sastrawi pembaca, ini bonus bagi pembaca. Fakta sejarah bahwa Inferno terjemahan di Amerika pertama terbit tahun 1867 oleh Longfellow. “Para pembacalah yang berperan, orang-orang yang menghargai karya. Menulis bukanlah aktivitas kehidupan orang yang paling cakap, tetapi aktivitas orang-orang yang sanggup bertahan. Bagaimana halnya dengan para kritikus? Mereka berusaha sekuat tenaga menjatuhkan diriku, menggilasku, dan bila aku tidak bisa menahan mereka, aku akan tergilas habis.”, kata Holmes.


Klub Dante dan polisi sedang bekerja keras demi satu tujuan: menghentikan pembunuhan. Bedanya, klub bekerja terutama dengan apa yang dapat mereka temukan di dalam buku, sedang polisi dengan apa yang dapat mereka temukan di lapangan. Penduduk ini membangun istana seolah mereka akan hidup kekal dan makan seolah mereka akan segera meninggal dunia. “Kita semua harus mengambil tindakan agar tidak menyesal kelak di kemudian hari…”


Sastra yang mengembuskan napas kehidupan dan kematian, yang dapat membelenggu dan juga membebaskan. Dante bilang, kesedihan terdalam adalah mengingat kebahagiaan masa lalu. Siapa pun yang memberangus pemikiran tak akan pernah selamat dari pemikiran lain. “Lelaki dan perempuan dalam puisi itu, mengapa harus dihukum padahal mereka saling mencintai?”


Dibaca pertama pada saat menjadi sopir keluarga ke Mal Yogya, Karawang malam Minggu 31 Juli 2021. Sempat kutaruh, terlupa. Lantas kuhajar seharian pada libur Merdeka: 17.08.21 dari halaman 243 sd. 502, kutuntaskan pada 21.08.21 halaman 503 sd. Selesai. Novel tebal dan rumit memang idealnya dikejar segera, kalau banyak menunda akan terbengkelai. Apalagi memang novel ini kumasukkan target Agustus. Ini adalah buku pertama Matthew Pearl yang kubaca, ini juga debutnya. Mantab. Moga diberi kesempatan suatu saat menikmati karya-karya lainnya. Here we go! Longfellow: “Kebahagiaan utama dalam hidup ini bukanlah bertempur di medan perang, Lowell, tetapi menghindarinya. Mundur teratur itu sendiri merupakan sebuah kemenangan.”


Waktu itu tahun 1300. Di tengah perjalanan hidupnya, seorang penyair Dante terbangun di sebuah hutan lebat, mendapati bahwa hidupnya berjalan di jalur yang salah. Kita semua memasuki hutan lebat itu dua kali. Sekali dalam hidup kita, dan kemudian sekali lagi ketika kita menoleh ke belakang melihat masa lalu…”


The Dante Club | by Matthew Pearl | Copyright 2003 | Diterjemahkan dari The Dante Club: A Novel | Random House Trade Paperback | Penerjemah Agung Prihantoro | Penyunting M.S. Nasrulloh | Penerbit Q-Press | Cetakan I, Agustus 2005 | Cetakan II, Agustus 2005 | Tata letak Tito F.H & Ruslan Abdulgani | Desain sampul gB | ISBN 979-99542-4-X | Skor: 5/5


Teruntuk Lino, professor pembimbingku, dan Ian, guruku


Karawang, 030921 – The Very Best of Jazz Louis Armstrong – La Vie en Rose


Thx to Ade Buku, Bandung


HBD to Me

Zaman Meleset; Melaju Kencang

Penyair Revolusioner by Deddy Arsya

… aku membujukmu dengan bibir entah milik siapa: / “di sini, kami sama-sama sedang berbahagia!”… – Doa Para Pasien

Alurnya agak lambat, untung di tengah sampai akhir langsung kebut seru. Bagus banget saat halaman mulai di 50-an. Hufh… lega. Dimula dengan Jembatan Ambruk, meninggi dalam Sapi dari dalam Kitab Suci, lalu meledak bungah dalam Revolusi angsa Putih. Saya memang masih sulit menikmati puisi, tapi setidaknya di Penyair Revolusioner mendapat hikmat dan cumpuan asyik. baca baik-baik ini, “Hidup kadang-kadang saja lembut maka senjatamu teruslah asah, aku berdiam pada gagangnya!” 

Seperti sebelumnya saat ulas puisi, saya ambil beberapa yang memikat. Saya kutip sebagian dan kuselingi komentar. Satu kutipan, satu paragraf komentar. Enjoy it!

Musa di Sinai: Kami telah lewati / badai-badai kecil / diaku pendek saja: / Tuhan, kami ini hendak apakan?

Mungkin yang menjadi saran atau kritik adalah, dalam penyampaian kalimat langsung, sering kali ditutup dengan tanda perintah (!) seolah marah atau meminta perhatian, itu sah-sah saja tapi ya agak mengganggu kalau keseringan. Kutemui, banyak sekali. Seperti penulis mula yang sering menggunakan tiga tanda perintah (!!!), awalnya mungkin biasa, tapi jelas itu kurang nyaman.

Kota yang Terkunci dari Dalam: Pintu-pintu dari baja / engsel-engsel besar / dan kunci dengan gembok berkarat / dinding-dinding berwarna cokelat / lumut-lumut yang menjalar / dipisahkan oleh gang-gang / sunyi seketika menyergap / suara Anda lama bersipongang / seakan sedang berada dalam gua – atau gulag? / ketika melihat keluar, betapa hidup terasa terpisah dari keriuhan…

Janji, sumpah, maklumat. Sering kali kita temui dalam puisi. Cerita yang diberikan adalah sebuah kalimat terlontar yang dipegang, memegang angin? Seolah kata-kata bisa diperas, kali ini terlambat.

Nubuat yang Datang Terlambat: … “Aku bersumpah demi awan gelap ini / yang turun setelah petang hari / Aku sama sekali tidak benci padamu / aku berkata begini agar hatimu senang / tapi Aku mesti menyingkir / tapi bukan pertanda mangkir!”…

Paling suka puisi yang bercerita, maka narasi bagiku penting. Setiap bait yang diketik, memberi aura, bukan sekadar pilihan diksi. Maka saya suka puisi ini:

Membangun Kota: Memang ada kota yang didirikan dari gerutu / dari derap omong-kosong tak sudah-sudah! / Lalu mereka berkata: kita mesti atur itu siasat, / masa depan hanya diraih dengan gelegak hasrat / harus kau pilih jembatan antar selat atau kapal pengangkut / segala / pesawat-pesawat semakin sering jatuh dan orang-orang / takut terbang / padahal kelak oto dan sepur akan diberi sayap / “tapi maaf, ya, penyair partikelir seperti anda susah dibawa serta!”

Karya sastra lama juga disenggol, sudah sangat sering kusaksi dan nikmati. Kali ini dari Marah Rusli yang dikomplain oleh tokohnya.

Sitti Nurbaya di Pasar Gadang:Aku bayangkan ruh Nurbaya berkata: / pengarang celaka telah mendorongku ke jurang neraka!…

Beberapa terasa pengulangan, seperti sapi betina yang ada di kitab. Awalnya wah, ayat suci dikutip, tapi terulang di belakang, dan lagi.

Sapi dari dalam Kitab Suci: … Sapi betina yang luka pada pantat / menggoyang-goyangkan telinganya / yang kempis-kembang bagai hasrat pada kerampang / dia terpancang pada tambang / hingga larut malam / di padang-padang kuning / dikebat gelap begini lindap / kau tinggikan obormu ingin menangkap / “wujud, wujudmu, kami hendak!”

Ini yang bagiku ironi, jam 12 tutup saat adzan dhuhur, lantas kegiatan lanjut sampai adzan asar? Bagiku, bait terakhir adalah asar sebab dua adzan disandingkan di tengah hari.

Bank Tutup Jam 12 Siang: Bank tutup jam 12 siang, suara azan bagai bunyi perut lapar, / (banyak kejadian tertuang; puisi ditutup dengan begini) / suara azan terdengar lagi bagai suara kentut yang tertahan

Ini tentang fantasi, tukang bakso yang dikerumun pembeli, merdu sekali gema gentanya.

Gunung Api Fantasi: Ada tukang bakso lewat setiap sore / membunyikan genta sebagai tanda, aku mengira yang lewat / gerombolan sapi, orang-orang memburunya bagai arak- / arakan ke kuburan. Tia ada di antara / riuh karnaval itu, para pembeli berbicara dengan ibu / sambil menutup kedua telinga,…

Nah, narasi itu penting. Tak hanya di puisi, dalam prosa penyampaian yang tepat dan nyaman juga menjadi nilai lebih. Ini juga bagus sekali, bagaimana mudik menjadi petaka. Lantas diakhiri dengan semacam pemakluman kata ‘jihad’, padahal ia melontarkan sendiri dari kereta yang bergerak.

Kereta Lebaran: Dari atas kereta yang lewat malam / seorang pemudik yang penat berdesak-desakan / memutuskan / lompat kea tap rumah, melesat, bagai batu dilontarkan / orang-orang dalam rumah terpekik, ‘sialan!’, ‘anjing hutan!’ / mereka mengira sedang terjadi kerusuhan antarsuporter / sepakbola / mereka mulai menghitung-hitung berapa nilai kerugian / harus mengganti plafond an genteng-genteng yang rusak / sementara ‘si batu’ yang terlontar itu berguling-guling ke tepi / rel / persis batu, beradu dengan batu lain yang lebih besar / nun di kampung, keluarga yang mati berkata: / Dia wafat dalam berjihad!

Kutemui kata baru ‘aur’, belum kubuka kamus, dari web google artinya emas (bahasa Rumania). Namun dari web sinomim artinya: bambu/buluh. Mungkin pulang kerja nanti saya buka KBBI kertas sahaja.

Kau Tebing Aku Aur: … tetap tak bisa ia dilerai / katanya kau tebing aku aur / tiap runtuh padamu / riuh rusuh padaku…

Kenapa saya pilih kutip ini, sebab pagi disiram mentari itu nyaman dan segar sekali. Bahagia itu sederhana walaupun masih ngontrak.

Cinta Musim Panas (1): Kau boleh mencintaiku dengan rasa jijik / yang terus-menerus naik ke kerongkonganmu / tapi aku akan tetap membajak luas sawahmu, menjadi sapi, atau kerbau untukmu… / Kita akan bahagia disiram cahaya matahari jam tujuh pagi, / kita akan bahagia memiliki rumah /  yang bukan milik pribadi…

Sederhana tapi pas, cinta yang dimetamor dalam salak aning malam.

Cinta Musim Panas (2): … Cintaku adalah kasmaran sepanjang waktu. / Cintaku semata salak anjing dalam kegelapan!

Pemilihan kata beriak, lalu berdebur, lalu melipur. Enak didengar bukan?

Selesai ke Laut: … yang aku kira lebih ganas dari ombak memukul / Rasanya tak kutinggalkan engkau / yang beriak, yang berdebur, lebih melipur

Ini lebih ke realistis, ayolah kita hidup di kerasnya keadaan. Omong kosong lebih pas ketimbang angan-angan.

Pulang Malam: … Aku tak percaya pada impian yang menggebu-gebu. / Kita sebaiknya memelihara omong-kosong untuk bisa / berbahagia / aku tidak bisa menangkapmu lebih jauh lagi.

Demikian pengamatan dan komentar penikmat puisi amatir. Semoga berkenan. Seperti biasa pula, setiap buku debut baca kuketik ulang profil penulis/penyairnya.

Deddy Arsya lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera, 15 Desember 1987. Banyak tulisannya di media massa: esai, puisi, cerpen, tinjauan buku dan film. Buku pertamanya kumpulan puisi Odong-odong Fort de Kock (Padang, Kabarita, 2013) merupakan lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2013, dan merupakan Buku Satra Terbaik 2013 versi Majalah Tempo. Bukunya yang lain, Mendisiplinkan Kawula Jajahan (Yogyakarta, Basabasi, 2017), Rajab Syamsuddin si Penabuh Dulang (Yogyakarta, Divapress, 2017). Ini buku pertama bung Deddy yang saya baca, dan rasanya laik dinanti buku-buku berikutnya.

Tahun ini target melahap 12 buku puisi, masih empat bulan lagi, dan percayalah, akan kukejar walau para ‘Penyair Revolusioner.’

Penyair Revolusioner | Kumpulan Puisi | by Deddy Arsya | 57.17.1.0037 | Penyunting Septi Ws | Desainer sampul Studio Broccoli | Penerbit Grasindo, 2017 | ISBN 978-602-375-961-3 | Cetakan pertama, Juni 2017 | Skor: 4/5

Karawang, 310821 – David Sanborn – The Dream

Thx to Dea (GK)

#Juli2021 Baca

Lenin mengatakan, “Ploretariat tak mungkin mencapai kemerdekaan penuh tanpa ada kemerdekaan penuh bagi perempuan.”

Juli ini lebih slow bacanya, sebab kembali beraktifitas setelah isoman hampir sebulan. Karena kepadatan kerja, mood juga menurun dan benar-benar menguras emosi menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Hanya lima buku yang kutuntaskan. Memoirs of Geisha yang sebagian besar kubaca bulan sebelumnya, agak sulit dituntaskan, hanya modal maju terus. Tebal, lebar, dan kecil-kecil. Kelar juga. The March lebih gila lagi, tak ada tanda petik di dalamnya, padat melelahkan. Mau kalimat langsung atau tidak, pokoknya tak ada kutip. Ndelujur aja, kalau kisahnya di Indonieaakan lebih muda seperti Midah, ini tentang perang saudara di Amerika dengan geografi yang tak familier, dengan sudut pandang banyak. Melelahkan, maka saat akhirnya selesai, lega juga. Jadi mari kita simak kelima buku bulan tujuh tahun ini yang kutuntaskan.

#1. Memoirs of Geisha by Arthur Golden

Luar biasa. Seperti naik roller coaster, walau tak banyak liukan dan tanjakan terjal, ceritanya berliku. Awalnya sudah sangat manis, gadis miksin anak nelayan dengan kecantikan natural. Matanya yang cemerlang sering kali disebut, berulang kali. Lalu keadaan mencipta, ia dan kakaknya dikirim ke kota, dijual untuk dididik menjadi orang. Bisa jadi apa saja, tergantung nasib dan kemauan. Bisa jadi pelayan, pelacur, pekerja pabrik, atau geisha.

Memang suku kata ‘gei’ dalam kata ‘geisha’ berarti ‘seni’ jadi kata ‘geisha’ yang sebenarnya adalah seniman. Geisha, di atas segalanya adalah penghibur dan pementas. Menuang sake atau teh memang dilakukan, tapi jelas tak akan pernah mengambil acar tambahan. Geisha sejati tidak akan pernah mengotori reputasinya dengan membuat dirinya bisa disewa laki-laki dengan tarif per malam. Geisha tidak pernah menikah. Atau paling tidak, mereka menikah tidak menjadi lagi geisha.

Ke mana pun dia membawa kami, aku lebih memilih bersamanya daripada terdampar sendirian di tengah jalan-jalan besar dan bangunan-bangunan yang sama asingnya bagiku dengan dasar samudra.”

#2. Who Moved my Cheese? By Spencer Johnson

Buku motivasi lagi. kali ini tema utama adalah perubahan dan keniscayaan bahwa yang tak ikut berubah akan ketinggalan dan terlindas zaman. Sejatinya tema semecam ini sudah usang, atau sudah sangat banyak disebut dan dibahas, bahkan berulang kali kita dengar di seminar-seminar, sudah sering pula disampaikan, juga sudah banyak contohnya. Nokia, Blackberry, Bluebird, Fujifilm, dan seterusnya. Produk yang dulu merajai, bisa tenggelam saat ini. Dan tentu saja, mereka yang saat ini terasa raja suatu saat bisa ambruk. Semuanya butuh adaptasi. Nah itulah, topik utamanya, perubahan dan cara mengantisipasinya. Dibawakan dengan fun dan cerita yang nyaman diikuti.

“Karena orang mau semuanya seperti dulu dan mereka berpikir perubahan akan merugikan mereka. Saat satu orang bilang perubahan itu adalah ide buruk, yang lain akan berkata sama.”

#3. The March by E.L. Doctorow

Perang saudara di Amerika abad 19 yang menelan banyak korban dari tahun 1861 sampai 1865 antara Utara versus Selatan. Utara menuntut penyatuan disebut Union, Selatan meminta kemerdekaan dari Amerika Serikat yang membentuk Konfederasi. Tuntutan tentang perbudakan yang lanjut atau dihapus menjadi isu penting nan krusial. Ada kekayaan begitu melimpah yang dapat diperas dari tenaga budak; karena itu, tidak heran bahwa orang-orang ini mau berjuang sampai mati. The March ada di masa itu, seperti perang itu sendiri yang rumit, penceritaannya juga mencipta pusing sebab tak ada tanda kutip untuk kalimat langsung.

Kau tidak boleh mereduksi kehidupan menjadi sentimen-sentimen saja, Emily.

#4. Pseudonim by Daniel Mahendra

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen saja yang jumlah kata lebih sedikit, dan tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua orang itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak faktor. Salah satunya selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasaranya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

“Dan di mana Radesya?”

#5. Kampus Kabelnaya by Koesalah Subagyo Toer

Curhat selama belajar di Uni Soviet. Bagus, menuturkan cerita dari orangnya langsung, pengalaman yang dikisahkan dengan fun, tak perlu telaah lebih, santuy dan asyik aja menikmtai kalimat-kalimat itu. Ini adalah dunia Eropa Timur di tahun 1960-an, dunia sedang Perang Dingin. Perang ideologi Demokrasi Liberal versus Sosialis. Ini adalah catatan penulis selama belajar di Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa di Moskwa tahun 1960-1965, yang sedikit-banyak mencerminkan semangat zaman itu.

“Maafkan aku, ya, karena telah membuatmu ragu. Tapi aku memang ingin menangis. Biarkan aku menangis sampai puas. Sesudah itu aku takkan menangis lagi.”

Karawang, 260821 – Norah Jones – Don’t Know Why

The March: Rumit sejak Bab Pertama

Kau tidak boleh mereduksi kehidupan menjadi sentimen-sentimen saja, Emily.

Perang saudara di Amerika abad 19 yang menelan banyak korban dari tahun 1861 sampai 1865 antara Utara versus Selatan. Utara menuntut penyatuan disebut Union, Selatan meminta kemerdekaan dari Amerika Serikat yang membentuk Konfederasi. Tuntutan tentang perbudakan yang lanjut atau dihapus menjadi isu penting nan krusial. Ada kekayaan begitu melimpah yang dapat diperas dari tenaga budak; karena itu, tidak heran bahwa orang-orang ini mau berjuang sampai mati. The March ada di masa itu, seperti perang itu sendiri yang rumit, penceritaannya juga mencipta pusing sebab tak ada tanda kutip untuk kalimat langsung.

Perang ini bisa juga disebut mempertahankan kehormatan. Para wanita tidak menciptakan perang – mereka tidak menaiki kuda sambil mengayun-ayunkan pedang dan berteriak-teriak tentang kehormatan dan kemerdekaan.

Terbagi dalam tiga kota: Georgia, Carolina Selatan, Carolina Utara. Tiga tempat ini adalah Wilayah selatan jadi perang dalam March semua settingnya di sana. Total ada sebelas negera bagian, empat yang lain: Mississippi, Florida, Alabama, Louisiana. Lalu Virginia, Arkansas, Tennessee. Tokoh asli dalam sejarah Jenderal William Tecumseh Sherman menjadi sentral kisah ini, walau mengambil sudut pandang yang lain, dan tak ada yang dominan, tetap saja pemimpin ini yang menjadi acuan kisah, termasuk percobaan pembunuhan terhadapnya.

Mereka meninggalkan tempat itu, rombongan kulit putih dan hitam, mengikuti garis debu sinar matahari yang akan membawa mereka ke arah tenggara langit Georgia.

Semuanya ada sebelas jenderal. Dan kisahnya panjang berliku. Ada Pearl, Pearl, laki-laki aneh ini, pada kenyataannya adalah gadis. Dalam perang, walaupun ia berkulit putih, dia pastilah seorang negro. Seorang budak wanita di Selatan yang bimbang akan nasibnya, akankah mengikuti saran teman-temannya atau menyongsing impiannya, merdeka dan menikahi lelaki idamannya yang berkulit putih.

Ada Kolonel Wrede Sartorius seorang dokter bedah lulusan Jerman yang menjadi petugas lapangan. Ia menjadi saksi keganasan perang, banyak individu mati di tangannya akibat kegagalan penanganan, begitu banyak pula yang selamat, tapi harus cacat permanen. Ia membawa perlengkapan operasi dalam tasnya, termasuk gergaji dan palu.

Lalu ada dua tentara Konfederasi Arly dan Will, ini bagian paling menarik. Sedih sekali di adegan meminta kuda, lalu salah satunya tewas sebab yang sederhana. Mereka adalah pasukan biasa, maka kalian akan menemui banyak kekonyolan. Saling canda, saling tawa, ke rumah pelacuran, hingga perampokan gereja. Pada akhirnya membelot ke Union.

Dalam perang antar Negara bagian ini, mengapa alasan untuk bertempur harus punya arti? Karena jika kematian tidak penting, mengapa kehidupan itu penting? Kata Arly: jika ada suatu alasan yang bagus untuk perang, itu bukanlah untuk menyelamatkan Union, dan tentu saja bukan untuk membebaskan orang-orang negro, tidak ada hubungannya dengan apa pun kecuali untuk mendapatkan seseorang perempuan milikmu sendiri, atau bahkan milik orang lain, di tempat tidur bersamamu saat kamu mau.

Emily Thompson, anak hakim yang berduka. Setelah kehilangan ayahnya, ia linglung, ia adalah orang kaya, bangsawan yang tak siap menjadi kere. Ia menjadi perawat dalam tenda perang, kekasih Kolonel Sartorius. Meradang akan situasi ini. Ketika perang dimulai, Emily belum mengerti arti perang. Perang berarti kematian setiap orang dalam keluarganya. Perang berarti kematian keluarga Thompson. Tetapi kemudian anak itu ragu-ragu.

Semuanya digulirkan secara bergantian, ada penjarahan kota di mana saat kota sudah ditaklukkan maka semua harta yang tertinggal berhak diambil. Milledgville hancur – jendela-jendela pecah, kebun-kebun terinjak-injak, barang-barang di toko-toko dijarah. Setelah itu dibakar, bersama angin yang melaju di atasnya, semarak letusan tembak malah menambah kesedihan.

Ada kepiluan saat korban perang adalah para pemuda, mati muda. Pada pagi hari dia mengetahui bahwa Willie Hardee, anak laki-laki berusia enam belas tahun putra Jenderal Konfederasi Hardee, telah meninggal dalam pertempuran di Bentonville, Sherman kembali ke kamarnya dan menangis. Mungkin penderitaannya yang terbesar adalah ketika kehidupannya sebaga tokoh publik dan kehidupan pribadinya berbenturan.

Sungguh tak wajar dalam usia seperti itu karena, bertentangan dengan rencana aung Tuhan, anak muda lebih dulu kehilangan nyawanya sebelum yang tua. Disebutkan dalam al kitab Perjanjian Lama (seingatku), “Saat dedaunan jatuh yang lainnya akan tumbuh, demikian juga yang terjadi pada keturnan daging dan darah (manusia), saat satu mati yang lainnya akan lahir.”

Perang di abad 19 tampak klasik dengan kuda, strategi parit, senjata bedil seadanya, hingga komunikasi terbatas. Kuda-kuda diikat ke tiang-tiang lampu. Dia mendengar suara musik aneh, dan saat memasuki Capitol Square dia melihat sebuah tarian yang berlangsung di bawah cahaya obor. Dia tidak sedang berpikir, hanya mencoba untuk mengendalikan kudanya yang panik yang mendompak dengan satu tangan sementara. Tetapi kudanya menginjak-injak mayat dan kemudian barisan kuda-kuda dan para penunggangnya berdiri di sekelilingnya.

Untungnya jelang akhir kisah, buku ini meledak. Sebuah Studio fotografi Josiah Culp mendapat kehormatan untuk mengabadikan momen para jenderal berpose. Di sana ada penipuan, ada teror, bahwa Culp bukanlah Culp, ada penghianat yang siap mengacaukan keadaan. Akhirnya memang ketebak, di mana novel berakhir di sejarah terbunuhnya Presiden Linconl 14 April 1865. Di sini, ujung kisah itu menjadi pelajara berharga, betapa harapan selalu ada, optimisme wajib dipupuk. Seperti sejarah perang saudara itu sendiri, di mana perbudakan diakhiri, kisah The March meninggalkan duka mendalam lalu menyongsong hari esok yang lebih menjanjikan.

Ditulis dengan narasi panjang nan puitis. Tetapi kalau kau dengar paduan suara lolongan artinya cuma satu: kau berada di Neraka. Bagaimana seandainya orang-orang yang tewas itu bermimpi sebagaimana orang yang tertidur bermimpi? Bagaimana kita akan mengetahui bahwa tidak ada pikiran setelah kematian? Atau bahwa kematian bukanlah suatu keadaan bermimpi yang dari situ mereka tewas tidak dapat bangun? Dan mereka terjebak di dalam alam yang mengerikan dari teror-teror yang samar-samar seperti yang kuketahui dalam mimpi-mimpi burukku.

Selain fotografi yang merupakan barang baru, menjadi penggerak alur. Ada jurnalis yang mencatat kisah-kisah ini. Hugh Pryce, wartawan dari times London. Ia memberi makna di setiap kejadian, netral? Tampaknya, tapi di dunia ini setiap individu selalu ada kecenderungan. Kemuliaan sejati adalah kebahagiaan yang tak pernah bisa diungkapkan saat melakukan perintah Tuhan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada rasairi di sana, tidak ada sanjungan yang akan meledak di wajahmu.

Api juga bisa mati, seperti manusia saja. Pikir Stephen. Ketika hidup menyala-nyala, sedangkan kematiannya begitu dramatis. Seakan-akan dia berkata: aku sudah berakhir, kalah, kau sedang melihat kematianku. Jenderal Konfederasi, Hampton ketika mundur adalah orang yang memerintahkan pembakaran kapas. Dibantu angin, pasukan pemberontak sendirilah yang membakar Columbia.

Sherman yang legendaris, dipuja bak dewa. Padahal pemujaan terhadap Sherman ini adalah penghujatan, sebab ia bukan Tuhan kalian. Perdagangan budak telah berakhir, apa kamu tidak dengar? Tidak bisa membeli atau menjual orang lagi. Merasakan kekaguman mereka ketika dia mengungkapkan penghargaan pada mereka dengan caranya yang aneh, melalui gerutuan dan anggukan.

Dia sedang melihat refleksinya dalam cahaya yang lembut dari lampu gas. Apakah kita tidak punya jiwa? Lalu apakah yang kudengar ini kalau bukan jiwa yang tercurah dalam musik? Aku sedang mendengar ungkapan jiwa…

Stephen pernah menyaksikan sendiri kengerian dalam pertempuran, dia tetap tak sanggup melihat prosedur pembedahan, dan jatuh mentalnya mendengar suara-suara kesakitan di mana-mana, dan menyaksikan betapa banyaknya penyakit yang dapat menimpa begitu banyak umat manusia…

Ini adalah buku pertama E. L. Doctorow yang kubaca, rumit tapi nagih maka buku lainnya kalau ada kesempatan baca, akan turut kulibas. Menang PEN/Faulkner award, dan finalist Pulitzer Prize 2006, serta finalist 2005 National Book Award. Selain ini beberapa novel terkenalnya, City of God, Welcome to Hard Times, The Bookof Daniel, Ragtime, Loon Lake, Lives of the Poets, World’s Fair, Billy Billgate, dan The Waterworks. Ia tinggal di New York.

Dunia dalam perang membuat hatinya bersedih. Bahasa adalah peperangan dalam bentuk lain. Dan takdir? Dalam perang, takdir adalah suatu kebetulan. Waktu berlalu, segala sesuatu berubah dari waktu ke waktu, hanya foto yang tersisa dari masa lalu itu.

The March | by E.L, Doctorow | Copyright, Random House Publishing, 2005 | Penerjemah Rahmani Astuti | Penyunting M.S. Nasrullah | Cetakan I, Januari 2007 | Penerbit Q-Press | Desain sampul gBALLON | Tata letak Tito F. Hodayat | Montase Ruslan Abdulgani | ISBN 979-1174-05-9 | Skor: 4.5/5

Helen

Karawang, 250821 – Ella Fitzgerald feat. Louis Armstrong – April in Paris

Thx to Buku Vide, Yogyakarta  

Di Kota Kucing, Manusia adalah Pengunjung

“Aku sangat menyukainya. Dia memiliki kebanyakan kualitas yang luar biasa. Tetapi terkadang sulit bagiku untuk mengikuti cara berpikirnya yang ekstrem…”

Memang jaminan mutu, penulis idola, pengarang terbaik modern yang masih hidup hingga saat ini. Setiap tahun kujago menang Nobel Sastra, maka semua buku terjemahannya coba saya nikmati. Kota Kucing dan Kisah-kisah Lainnya diterjemahkan entah dari mana, sebab di identitas tidak dicantumkan. Diambil dari berbagai sumber? Ya sepertinya, satu cerita adalah nukilan novel 1Q84, awalnya sudah familier. Kisah Tengo terbaca alurnya bahkan di halaman pertama. Saya baru baca books one, belum finish di seri tiga, tapi pijakannya sama. Apakah ini sejenis cerpen yang dikembangkan menjadi novel? Atau kumpulan cerpen ini adalah versi padat sebuah buku besar? Kreatif sekali kalian, kalau segitunya. Hanya kalian yang sudah baca riwayat Tengo, atau orang dibalik Penerbit Odyssee yang tahu.

Ada enam cerita, dan semuanya keren.

#1. Samsa Jatuh Cinta

Dia terbangun dan menemukan dirinya telah bermetamorfosis menjadi Gregor Samsa. Pembuka kisah yang to the point. Pijakannya jelas dari novelet Franz Kafka dimana Samsa terbangun suatu pagi menjadi seekor kecoa. Kali ini dibalik, seekor kecoa menjadi manusia. Kok bisa? Biasanya saya kurang suka cerita terkenal yang sudah menjadi ikon, lalu diburai dan dikembangkan oleh penulis lain. Namun kali ini jelas pengecualian, sebab jadinya malah terlena, terbuai akan nasib Samsa.

Samsa terbangun dalam kebingungan, dan memertanya kenapa jadi manusia? Dia tidak berubah menjadi ikan saja? Atau bunga matahari? Setidaknya, menjadi ikan atau bunga matahari lebih masuk akal daripada menjadi manusia – menjadi Gregor Samsa. Seandainya aku berubah menjadi ikan atau bunga matahari, aku bisa menjalani hidupku dengan damai, tanpa harus berjuang untuk naik atau turun tangga seperti ini. dalam keadaan lapar, ia turun ke halaman rumah yang terbentang meja penuh makanan. Saking laparnya, dia tidak peduli dengan ras. Hambar atau lezat, pedas atau asam, baginya semua rasa sama.

Samsa tidak tahu dari mana pengetahuan berasal. Mungkin terkait dengan ingatan berputar yang ia miliki. Setelah kenyang ia lalu menyusun kepingan info. Saat itulah muncul gadis panggilan, yang bertugas membetulkan kaca. “Gregor Samsa, kamu adalah orang yang menyenangkan untuk diajak bicara. Kosa katamu kaya, dan selalu sampai ke intinya…”

Mereka ada di masa perang, era asli kisah ini. Praha yang bergolak, di mana-mana banyak tentara yang berjaga. Penjelasan sang gadis, untuk sampai rumahnya butuh perjuangan ekstra. Ia bukan ahli kunci, tetapi sebagai tenaga pengganti sementara. “Segalanya berantakan akibat bom di sekitar kita, tetapi masih ada yang peduli dengan lubang kunci yang rusak… mungkin mengerjakan hal-hal kecil dengan patuh dan jujur adalah cara untuk menjaga kewarasan di tengah dunia yang sedang kacau.”

Lubang kunci yang rusak ada di lantai atas, dan setelah banyak kecanggungan, basa-basi, sampai fakta aneh bahwa di masa itu, masih ada yang peduli kunci yang rusak terdengar janggal. Yang pasti Samsa jatuh hati padanya. “Jika kamu memikirkan seseorang dengan sungguh-sungguh, kamu akan bertemu dengannya lagi.”

Segalanya gelap: masa depan, saat ini, dan masa lalu. Mana yang benar dan mana yang salah? Samsa yang baru saja jadi manusia, memertanya banyak hal. Dunia sedang menunggu untuk dipelajari. “Aku tidak bermaksud kasar. Aku tidak sehat, ada banyak hal yang tidak kumengerti.”

#2. Pisau Berburu

Waktu berlalu dalam diam. Mungkin yang paling lemah sebab endingnya paling biasa, kalau tak mau dibilang datar. Narasinya panjang nan berbelit. Jadi suami istri yang sedang melakukan liburan, menginap di hotel dekat pantai, memperhatikan sekitar. Termasuk tetangga mereka yang unik.

Rutinitas sebagai sesama tamu, walau tanpa saling sapa mencipta keakraban tanggung. Dan di hari terakhir sebelum check-out, ia bertemu dengan sang pemuda Amerika tersebut. Di dini hari yang sunyi di dekat kolam hotel. Terjadi diskusi menarik. “Ketika Debussy tidak mendapatkan tempat di dalam opera yang ia susun, dia mengatakan ini: ‘Aku menghabiskan hari-hariku untuk mengejar ketiadaan yang tercipta – rien.’ Tugasku adalah menciptakan kekosoangan itu, rien-ku.”

Pisau berburu yang tajam yang berbahaya untuk seorang yang sakit fisik. Apakah itu semua hanya ilusi? Atau, aku adalah ilusi itu sendiri? Mungkin itu bukan masalah. Datanglah besok, dan aku tidak lagi ada di sini.

#3. Kota Kucing

Ini yang saya maksud nukilan novel 1Q84. Tengo yang unik, karakter istimewa ini mengunjungi ayahnya yang sudah tua di sebuah panti jompo, naik kereta dan menikmati sebuah buku dari Jerman tentang kota kucing, di mana seorang pemuda turun di sebuah stasiun, tak ada penghuni manusia, adanya kucing, banyak kucing, banyak sekali. Di sebuah menara, ia mendengar bahwa para kucing curiga ada manusia di kota ini, dan ia diburu. Saat ia kembali ke stasiun, kereta tak mau berhenti, maka ia kembali bersembunyi di menara lonceng. Stack, takut, prihatin dalam sepi. Fantasinya semakin jauh dan kompleks. Mereka mengikuti satu pola, tetapi variasinya tak terbatas.

Tengo, bernarasi selama perjalanan tentang masa kecilnya yang menjadi teman menarik iuran TV stasiun NHK, oleh ayahnya. Kabarnya ibunya meninggal saat kecil dan menghabiskan masa kecilnya menjadi teman jalan ayahnya tiap hari Minggu yang seharusnya merupakan hari libur.

Menyebalkan, dan sungguh ia muak. Maka hubungan ayah-anak ini jadi renggang dan janggal. Mereka adalah dua manusia terpisah yang berasal dari – dan sedang menuju –  tempat yang sepenuhnya berbeda. Bahkan memori masa kecilnya, melihat ibunya berselingkuh dengan lelaki lain menjadi alibi bagus untuk menanyakan, apakah ia anak kandung? Apakah ibunya masih hidup? Dst. Kalian takkan menemukan jawabnya, sebab khas Murakami, banyak hal menggantung, semakin banyak semakin penasaran, semakin bagus. Jika hidup dapat diukur dengan warna dan ragam episodenya, kehidupan ayah ayah Tengo begitu kaya dengan caranya sendiri, mungkin.

Aku tidak selalu ingin tahu akan kebenaran tentang siapa diriku dan dari mana aku berasal. Termasuk saat di masa tuanya, Tengo kembali menanyakannya, walaupun ujungnya tak ketemu juga.

Pengetahuan adalah modal sosial berharga. Itu adalah modal yang harus dikumpulkan hingga berlimpah dan digunakan kepada generasi berikutnya dengan sangat hati-hati. Itu juga harus diwarsikan kepada generasi berikutnya dalam bentuk yang bermanfaat…”

#4. Kino

Luar biasa. Tentang suami yang dikhianati dan bagaimana menghadapi kenyataan pahit. Saat kenyataan menghantam keras padamu, maka hantamlah dengan keras sebagai balasan. Seperti tanah kering yang menyambut hujan, ia membiarkan kesendirian, kesunyian, dan kesepian meresap dalam. Kino adalah pekerja kantor biasa, memiliki istri dan belum punya anak. Suatu hari saat ia ditugaskan keluar kota, dan balik tanpa info lebih cepat sehari sebelum jadwal, ia menemukan istrinya selingkuh. Ia marah, pergi tanpa menengok ke belakang. Tanpa membawa apapun, ia membangun ulang kehidupan. Ada yang salah di antara mereka sejak awal, seolah mereka telah menekan tombol yang salah. Aku harus belajar bukan hanya melupakan tetapi memaafkan. “Aku harus belajar bukan hanya melupakan tetapi memaafkan.”

Membuka bar dengan jazz dan arsesoris aduhai. “Mendengarnya, membawa kembali begitu banyak kenangan.” Bar milik bibinya yang kini sudah ia sulap menjadi tempat nongkrong yang menyenangkan. Ia bayar per bulan, ia sanggupi syarat itu. Berjuang dari awal lagi, mencipta idealismenya sendiri. Lalu seorang pengunjung aneh bernama Kamita, yang tiba setelah Magrib dengan buku tebal dan pesanan yang sama membuatnya penasaran. “Maksudmu beberapa masalah serius telah terjadi, bukan karena aku melakukan kesalahan, tetapi karena aku tidak melakukan hal benar? Ada masalah dengan bar ini, atau aku?”

Dari situ pula kita tahu, ada sesuatu yang aneh di kedai itu. Sesuatu yang janggal, ia bukan pengunjung biasa. Kino biasanya selalu berhati-hati dan menjaga jarak dari segala macam keterikatan. Tidak ada yang lebih buruk dari kecemburuan dan kebanggaan, dan Kino memilki sejumlah pengalaman yang mengerikan karena keduanya.

Sementara hujan tak kunjung reda, membasahi dunia dalam dingin yang menggigil.

#5. U.F.O. di Kushiro

Ini juga tentang suami yang kehilangan istrinya, Komura ditinggal istrinya setelah gempa yang menimpa Kobe. Semua akibat dari gempa itu seperti gema monoton yang jauh darinya. Menjelaskan secara sederhana tetapi jelas mengapa dia tidak ingin hidup dengan Komura lagi. Tanpa kejelasan kenapa ia cabut, teman sekerjanya Sasaki lalu menyarankan liburan ke Hokkaido. Sekalian menitipkan benda aneh untuk diberikan kepada adiknya.

Di bandara, ia disambut Keiko Sasaki dan temannya, Shimao. Dari sana mereka mengakrabkan diri, dan khas Murakami persahabatan sesaat ini menjelma liar. Cerita mereka berhenti pada titik itu. Dia berhenti sejenak untuk membiarkan ceritanya meresap. Dan yang terjadi, terjadilah. Shimao menggambarkan suatu pola rumit di dada Komura dengan ujung jarinya, seolah sedang melemparkan mantar sihir.

#6. Kemarin

Pikiranku seperti diselimuti kabut. Ini yang terbaik, sangat bagus. Di tempatkan di paling akhir pula. Tanimura memiliki teman aneh bernama Kitaru, orang Tokyo yang belajar dialek Kansai dan mempraktekkannya. Bukan hanya mempraktekkan, juga mendalami dan benar-benar menjelma orang Kansai. Hajar mereka tepat di depan dengan memberikan fakta bahwa aku berasal dari De-nen-cho-fu. Bayangkan, ada orang Jakarte, belajar logat Tegal dan benar-benar menyusupinya dengan sungguh. Mereka berkawan di kedai kopi dekat gerbang Universitas. Sama-sama aneh memang, tapi Kitaru terlampau kreatif. Tes masuk perguruan tinggi Waseda (tempat kuliah Murakami) dua kali gagal, sementara Tanimura langsung kuliah. Jika kamu tidak tahu apa yang kamu cari, akan sulit untuk menemukannya.

Maka saat ia berkunjung ke kampung halaman di Denenchofu, berceritalah ia bahwa ia memiliki pacar sejak sejak sekolah. Teman akrab sejak kecil, Erika yang cantik sekali. Mereka terlihat cocok, dan saling melengkapi, tapi memang Aki (panggilan sayang Kitaru) lebih ekstrem. Muncul ide gila, bahwa Tanimura diminta kencan sama pacarnya. Awalnya ga mau, tapi karena Tanimura sahabatnya sendiri, dan percaya sekali, maka kencan itu terwujud. “Tetapi, pengalaman yang sulit dan rasa kesepian, adalah sesuatu yang kamu perlukan ketika masih muda. Bagian dari proses kedewasaan.”

Diskusi suatu akhir pekan itu di Shibuya dan menonton film Woody Allen, menjadi kejadian yang absurd untuk dikenang. Menjadi penghubung banyak hal, sebab setting cerita lalu dilempar ke masa depan dengan nasib berbeda untuk ketiganya. Dia menelusuri halaman-halaman buku ingatannya. Merenungi bagaimana hal-hal pada akhirnya berakhir – setelah semuanya telah diputuskan – adalah masalah kronis lainnya. Kimura di Amerika, Tanimura yang sudah menikah tanpa anak, dan Erika yang menjadi sales juga belum menikah. “Kamu terlalu cantik untuknya.”

Pertemuan tak sengaja di hotel itu mengungkap hal-hal masa lalu yang terpendam. Betapa kemarin, walau sudah lewat masihlah sangat berharga. Yang bisa kita lakukan supaya kedua mataku tetap terbuka ketika angina yang kuat menerjang adalah menarik napas, dan terus maju.

Lakukan apa yang kamu inginkan dan lupakan apa yang orang lain pikirkan. Aku terkesan denganya. Yang masih tersisa dalam ingatanku hanyalah fragmen-fragmen, yang bahkan aku tidak yakin apa benar begitu yang dinyanyikan Kitaru. Seiring berjalannya waktu, ingatan, tanpa bisa dihindari, menyusun kembali dirinya sendiri.

Memang istimewa penulis yang satu ini, segala pujian rasanya tak akan selesai dikumandangkan untuk cara bercerita yang keren. Kota Kucing adalah kumpulan cerpen pertama yang kubaca, setelah novel-novelnya dan memoar asyik tentang lari. Dan jelas buku-buku keren lainnya pasti kususul baca. Kucing, jazz, absurditas narasi, cinta yang tenggelam, lari… inilah semesta Murakami.

Kota Kucing dan Kisah-kisah Lainnya | by Haruki Murakami | Copyright Odyssee Publishing, 2019 | Cetakan pertama, Mei 2019 | Alih bahasa Dewi Martina | Penyunting A.D. Saputra | Tata letak The Naked! Lab | Perancang sampul The Naked! Lab | Ilustrasi sampul Louis Wain Paintings, 1886 – 1936 | Skor: 5/5

Karawang, 240821 – Louis Armstrong feat. Ella Fitzgelard – Isn’t This a Lovely Day (To Be Caught in the Rain)

Thx to Sentaro books, Bekasi

The Summons: Keserakahan adalah Binatang yang Sangat Aneh

“Berpikirlah seperti bajingan, Ray. Berpikirlah seperti penjahat.”

Hakim Atlee adalah orang besar di sebuah kota kecil. Buku ini ada tautan dengan The King of Torts, di mana seorang raja ganti rugi menjadi sisipan kisah. Sebuah panggilan dari orang tua, kedua anaknya diminta datang ke kampung halaman sebab sang ayah kini sudah tua dan sekarat. Panggilan yang dikira sederhana, untuk menjadikan pertemuan terakhir dan mungkin pembacaan warisan itu menjadi cerita liar dan panjang. Sebab saat sang sulung sudah sampai, ayahnya keburu meninggal. Terlambat, waktu tak bisa ditarik mundur. Lebih runyam lagi, ada berkantong-kantong uang di dalam lemari. Tiga juta dollar lebih, menarik sekali idenya. Sang hakim yang lurus dan penuh dedikasi, terkenal loyal dan baik hati, dambaan semua warga, tampak sederhana, ternyata memiliki kekayaan melimpah. Korupsi? Uang jatuh dari langit? Nah itulah inti kisah Panggilan, penyelidikan uang apa gerangan.

Kisahnya tentang Ray Atlee, mengambil sudut pandang orang pertama. Ayahnya Reuben V. Atlee adalah hakim terkenal di Clanton. Ray adalah dosen di Universitas Virginia, lulusan hukum yang awalnya menjadi tumpuan harap sang ayah, tapi ia malah merantau. Kehidupan mapan itu, retak sebab ia cerai dengan Vicki yang telah menikah lagi dengan konglomerat tua nan kaya. Ray menjalani hidup untuk dirinya sendiri, bukan untuk ayahnya atau kemegahan masa lalu keluarga. Ia hadir di Clanton hanya untuk menghadiri pemakaman. Adiknya, Forrest Atlee sangat kontras, pria bermasalah di banyak hal. Forrest adalah seperangkat persoalan dan masalah lain, jauh lebih rumit daripada ayah tua yang penyendiri.

Hakim Chanvellor Reuben V. Atlee tinggal di Mapple Run, rumah tua itu berdiri di sana tahun demi tahun, dekade demi dekade, menerima berbagai serangan tapi tak pernah roboh. Baginya jadi hakim adalah panggilan hidup. Impian Hakim Reuben Atlee dulu adalah anak-anaknya menyelesaikan sekolah hukum dan kembali ke Clanton. Ia pensiun dari jabatan hakim, dan bersama-sama mereka membuka kantor hukum di alun-alun. Di sana mereka akan mengikuti panggilan mulia dan ia akan mengajari mereka bagaimana menjadi ahli hukum – ahli hukum terhormat, pengacara daerah pedesaan.

Bandara itu terletak di utara kota, lima belas menit perjalanan dengan mobil dari kampus sekolah hukum. Meninggalkan Charlottesville menuju Clanton, Ray selama perjalanan mengenang masa lalu. Melihat banyak hal berubah di kampung halamannya. Mampir di kedai kopi, menyapa teman lama, di sana mereka meneguk bergalon-galon kopi sambil menuturkan kisah-kisah penerbangan serta bualan yang makin lama makin hebat.

Kota ini telah berubah, tetapi sebetulnya tidak juga. Seperti hampir semua hal, baik ataupun buruk, pornografi datang terlambat ke Missisippi. Kota kecil yang beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di sinilah snag hakim mengabdi. Preseden hukum harus diikuti, tak peduli apa pun pandangan atau pendapat pribadi, dan hakim yang baik tentu mengikuti hukum. Hakim yang lemah mengikuti kehendak khayalan, hakim lemah bermain untuk mengantongi suara dan kemudian ikut mencela saat putusan mereka yang pengecut diajukan ke pengadilan yang lebih tinggi. Hakim adalah orang besar dan sangat peduli dengan bagaimana ia harus dikenang. “Sebut saya apa saja sekehendak Anda sekalian, tapi saya bukan pengecut.”

Saat Ray sampai di sana, hari sudah sore dan cuaca cerah. Saat masuk rumah, tampak sepi seperti biasanya. Rumah tak dikunci, dan ia masuk saja. Setelah menyapa tanpa jawaban, ia masuk ke kamar sang ayah yang tertidur. Namun ternyata bukan tidur, ayahnya sudha mangkat. Ia lalu melakukan beberapa prosedur umum, memastikan keadaan lalu saat melihat sekeliling, betapa terkejutnya Ray, ia menemukan berkantong-kantong uang.

Adiknya belum tiba. Adiknya seumur hidup tak pernah tepat waktu, ia menolak memakai arloji dan mengatakan tak pernah tahu hari, dan kebanyakan orang mempercayainya. Ia dengan cepat menganalisa situasi. Ketika rasa shock mulai memudar, berbagai pertanyaan muncul. Perasaan terguncang atas kematian sang ayah sudah cukup untuk sehari. Guncangan karena uang itu membuatnya terus gemetar. Apa dan bagaimana menanggapi keterkejutan ini.

Ia langsung mengamankan uangnya, gegas memasukkannya ke dalam lemari sapu. Ia sangat was-was dengan simpanan yang sudah berada dalam lemari sapu. Berapa banyakkah jumlahnya di sana? Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menghitungnya? Apakah it asli atau paslu? Dari manakah asalnya? Apakah yang harus dilakukan dengannya? Ke manakah harus dibawa? Siapakah yang harus diberitahu? Ia butuh seorang diri untuk berpikir, mengatur berbagai hal, dan menyusun rencana.

Melihat surat wasiat yang sudah ditandatangani, menyatakan Ray sebagai eksekutor warisan sebab ia si sulung. Berkonsultasi dengan pengacara yang sudah menjadi sahabatnya, dan memutuskan melakukan penghormatan terakhir di pengadilan sehingga taka da banyak orang di rumah, yang sekaligus mengamankan lemari sapu. Si pendeta jauh lebih emosional daripada si anak. Ia menyayangi sang hakim dan menyatakan dirinya sebagai sahabat karib. Adiknya hanya datang sebentar, lalu menyerahkan segalanya kepada Ray.

Lalu Ray menata situasi. Hidup tanpa ayahnya takkan berbeda jauh dari hidup terpisah jauh darinya. Pengabdian sepenuh hati, selama 32 tahun sebagai hakim, catatannya tak tercela. Uang itu jelas tak pantas disebut uang panas, tapi dari mana? Berapa kali dalam hidupnya ia punya kesempatan memandangi tiga juta dolar? Berapa orang punya kesempatan seperti ini? Tidak mau hidup seperti mangsa yang terluka.

Ia lalu mencoba memindahkannya, ke sebuah jasa keamanan, menyewa loker. Chaney’s adalah temapt aman, sementara ia menaruh uangnya di sana, Ray mencoba memastikan uangnya asli.  Memastikan uang itu tidak palsu, tidak tertandai, tidak terlacak dengan cara apapun. Ia terbang ke berbagai kasino, main jdui. Perjudian paling dasar adalah datang-pasang taruhan, dan setelah berhasil mengerahkan keberanian, ia mendesak maju di antara dua pejudi lain dan menempatkan sepuluh chip tersisa. Ia akan membawa lebih banyak uang tunai, mencucinya dalam sistem. “Penjudi profesional tidak pernah minum saat berjudi.”

Berjalannya waktu, tak ada kecurigaan baik dari Bandar atau orang-orang yang mungkin berurusan dengan uang itu. Kehatihatian, sebab itulah yang didapat setiap wanita darinya. Kehati-hatian, sebab ia merasa  melihat potensi pada yang itu.

Namun teror akhirnya muncul. Drai orang tak dikenal yang mengejar uang itu untuk diserahkan. Bahkan malam hari mengusiknya, melempar benda hingga kaca rumah pecah, mencongkel pintu apartemennya, mengirim surat ancaman, dst. Dengan situasi terbaru itu, Ray Atlee akhirnya mengakui betapa penting arti uang itu sekarang. Sempat pula terbesit rencana lain. Tentang bagaimana uang itu bisa berkembang bila diinvestasikan secara konservatif atau agresif.

Sebagai eksekutor warisan, ia punya waktu satu tahun sejak tanggal kematian untuk mengirimkan surat pemberitahuan pajak terakhir, dan menurut akuntannya, perpanjangan waktu dapat dengan mudah didapatkannya. Ia memastikan, uang itu tak akan dimasukkan ke daftar warisan sebab akan habis dihisap pajak. Mungkin bukan langkah yang paling cerdik hingga sejauh ini.

Ray memutuskan berkeliling, dengan uang di bagasi mobil, mencari kebenaran. Kalau kau kabur membawa banyak harta, seperti pembunuh dengan korbannya di bagasi, maka banyak wajah tampak familier dan berbahaya. Setiap orang yang ia temui tampak mencurigakan. Kau tidak mungkin bisa batuk di sana tanpa membuat tiga orang lain tertular Apakah semua orang gila, atau cuma aku?

Sementara adiknya yang terjerat narkoba tinggal di rehabilitasi. Sesekali ia kunjungi. Hidup tidak akan jadi sederhana dengan mengunjungi adiknya, tapi ia sudah berjanji.

Petualangan pencarian Ray mengarah ke Hancock County dinamai menurut nama John Hancock, salah satu penandatangan Deklarasi Kemerdekaan. Lalu menuju seorang pengacara jumawa nan kaya raya. Patton French adalah orang yang amat sangat pongah. Setelah berusaha dengan keras menemui, dan bilang ia anak sang hakim, ia akhirnya berhasil bertemu. Di atas pesiar mewah yang tenang, segalanya akhirnya terang.

Semua bermula dari Berkas perkara Gibson v. Miyer-Brack. Hakim percaya akan kerja keras, dan tanpa juri yang harus dimanjakan, ia bertindak brutal. Patton yang cerdik dan menjadi seorang penggugat massal mencari celah, dan menemukan nama sang hakim. Keputusan-keputusan itu tegas, sangat lugas, dan bertujuan untuk meresahkan para pengacara tergugat. Setelah berhari-hari mengumpulkan banyak korban obat gagal, ia maju menggugat pabrikan. Mr. Patton French berhasil mengunci Miyer-Brack hingga terlentang tak berdaya di atas matras. Dan akhirnya ganti rugi dengan jutaan dollar tersaji.

Kalau mau tahu detail cerita tata cara menggugat bisa dibaca di novel King of Torts, raja ganti rugi. Kebenaran kini mengalir deras, dan ia menginginkan seluruhnya. Keserakahan adalah binatang yang sangat aneh, Ray. Dan setelah kebenaran terungkap, lantas mau diapakan uang sebesar itu? Kembali lagi, keadaan sehat, tenteram, dan bisa menjalani kehidupan wajar adalah impian, bahkan dibanding dengan uang besar yang mengancam keselamatan.

Endingnya datar. Setelah aksi penuh ketegangan, pertarungan kesabaran dan segala kemungkinan baku tembak dan ledakan, John Grisham malah mengambil jalan tenang. Mungkin agak mengejutkan, beberapa fakta disimpan lalu diungkap hingga bab terakhir. Namun tetap, tak terlalu mengejutkan. Sangat tenang, dan juga menggantung.

Bagaimanapun, karya Grisham tak pernah mengecewakan. The Summons jelas memenuhi itu, hanya saja harapan itu terlampau tinggi. Beda dengan The Partner yang meledak di akhir atau Bleachers yang memukau dalam nostalgia, atau The Last Juror yang walau akhirnya tenang, sungguh heroik. Well, susunan Grisham mungkin sudah kukenali dan nikmat plotnya walau familier tetap terasa menawan. Masih banyak bukunya di rak yang belum kubaca, dan akan terus kubaca. Semoga.

Panggilan | by John Grisham | Diterjemahkan dari The Summons | Copyright 2002 by Belfray Holding, Inc |  Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 02.023 | Desain cover Amy C. King | Sampul dikerjakan oleh Eduard Iwan Mangopang | cetakan pertama, September 2002 | 432 hlm; 18 cm | ISBN 979-686-116-x | Skor: 4/5

Karawang, 230821 – Ida Laila & Mus Mulyadi – Setelah Jumpa Pertama

Thx to Mahina Kamila, Jkt