14 Best Books 2020 – Non Fiksi

Meskipun sudah berusaha untuk tidak salah mengerti pemikiran dasar Anthony Giddens, saya tetap jauh dari keyakinan bahwa saya tidak keliru memahaminya yang begitu luas memang bagaikan mengejar kawanan gejala modernitas yang selalu berlarian tunggang-langgang.”Anthony Giddens: Suatu Pengantar (B. Herry Priyono).

Mulai tahun ini saya buat terbaik-terbaik dalam dua kategori sebab buku-buku yang kubaca mulai berimbang genre, fiksi/non fiksi, kategori apapun kulahap. Sebelum merekap baca 2020, sudah saya sarikan terbaik fiksi di sini. Total ada 38 buku non fiksi yang kunikmati. Kusaring dengan mudah menjadi 21 buku, lalu dipadatkan dengan mudah pula menjadi angka sakral 14. Kenapa kubilang lebih mudah, sebab non-fiksi dan perjalanan menyusun best books adalah mainan baru, dan mainan itu tak lebih dari 50.

Dari kumpulan teori sastra sampai cara-cara menulis yang kreatif, dari segala harapan dan ke-ambyaran-nya sampai dunia sufi yang misterius, dari bualan dan kebenaran menyemai tulisan sampai cerita musim panas di Aljazair, dari tuturan bahasa yang rumit sampai teori penelitian sastra, dari seorang CEO iklan ternama sampai teori humanistik. Tahun yang sangat berwarna, semua genre disikat.

Berikut daftar buku non-fiksi terbaik yang kubaca tahun 2020 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. Confesions Of An Advertising Man by David Ogilvy (Pustaka Tangga) – 1963

Semakin banyak informasi dalam iklan Anda, semakin persuasif iklan itu jadinya. Buku bagus. Sungguh menyenangkan menyantap ujaran-ujaran baik bagaimana beriklan dengan baik dan menyenangkan. Saking seringnya kalimat ini diucapkan seolah menjadi jargon, “Anda tidak dapat memaksa orang untuk membayar produk Anda; Anda hanya dapat membuat mereka agar tertarik membelinya.”

Selama ini kita dijejali iklan di berbagai sudut ruang dan platform, kita tak tahu bagaimana detail iklan itu dicipta. Di sini banyak hal dikupas, dari negosiasi, tata kelolanya, sampai iklan itu tampil. Dibuat oleh orang yang sangat kompeten, Pengakuan Orang Iklan jelas disampaikan berdasarkan pengalaman pahit manisnya. Lebih seperti memoar, tapi lebih banyak menyorot profesinya, sungguh beruntung saya mendapatkan buku ini di masa yang tepat. Ketika saya menulisnya, orang-orang periklanan masih berkiblat pada Madison Avenue sebagaimana kaum muslim berkiblat ke Mekkah. Sekarang banyak agen-agen periklanan Amerika berkiblat ke London.

#13. Creative Writing by A.S. Laksana (Banana) – 2020

Banyak buku menyaji tips-tips menulis, saya baru baca 4-5 buku, termasuk ini. Sebelum menikmati, jargon Penulis Stephen King selalu kupegang, kuncinya satu: “Tulis, tulis, tulis.” Karena hanya mantra itu yang cocok untuk menjadi penulis. Action menulis adalah langkah utama yang tak bisa dibantah, setiap kali menikmati tata-cara entah namanya apa, termasuk saat menikmati Creative Writing. Lalu latihan terus menerus yang akan mengasahnya. Seperti pemain bola yang pandai bikin gol, itu tak serta merta, itu butuh latihan yang keras, ditempa dengan darah dan keringat. Menurut William Blake, penyair Inggris hasrat saja tanpa ada tindakan akan membiakkan penyakit. Oke, menulislah sekarang juga. Dan ‘menulislah yang buruk’. Beberapa tips usang, beberapa terasa baru.

Berisi 24 tips, dengan berbagai level nasihat. Dari yang dasar sekali, bagaimana keinginan yang kuat dan niat yang level dewa tak akan jadi tulisan nyata jika tak praktek, tak action. Sampai level intermediate yang menanamkan efektivitas kata, penggunaan diksi yang pas, sampai cara-cara mencipta metafora. Dituturkan oleh penulis yang terbukti sudah mencipta karya bagus, saya sudah baca dua bukunya kumpulan cerpen: Bidadari Mengembara, dan Murjangkung. Sudah pengalaman mengajar jua di Jakarta School. Jadi rasanya terasa sekali sharing pengalaman.

Penulis Denmark Isak Dinesen (1885-1962) berujar ke Paris Review, “Mula-mula saya merasakan dorongan kuat untuk menulis sebuah cerita. Kemudian datanglah karakter-karakter, dan merekalah yang membangun cerita. Dari gerak karakter-karakter itulah, muncul plot.”

#12. Metodologi Penelitian Sastra by Suwardi Indraswara (Medpress) – 2003

Penelitian, kritik, resensi, dan esai sastra seluruhnya bermuara pada upaya memahami karya sastra secara komprehansif. Buku yang sangat bervitamin. Yang suka sastra wajib melahapnya, benar-benar melimpah ruah nustrisinya. Megap-megap bacanya. Beruntung saya sudah berpengalaman membaca ribuan karya sastra sehingga langsung klik atas segala teori penelitian, seolah dengan membacanya saya mendapat ajaran teori yang berfungsi meluruskan hal-hal yang selama ini abu-abu. Penelitian yang mengikuti proses verifikasi melalui pengukuran dan analisis yang dikualifikasikan, menggunakan data statistik model matematika, sedangkan penelitian kualifikatif dilakukan dengan tidak mengutamakan angka-angka, tetapi mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang sedang dikaji secara empiris.

Memang belum ada pedoman khusus penulisan resensi sastra dengan baik. Satu cabang penelitian yang unik adalah Feminisme, dan kalau ngomongin ini selalu ingat pepatah Jawa yang terkenal: ‘perempuan adalah swarga nunut nraka katut.’

#11. Cerita, Bualan, Kebenaran by Mahfud Ikhwan (Tanda Baca) – 2020

Lucu, ironi, dan poin pentingnya eheemmmm…. tidak sombong. Tentang betapa merasa benar sangat tipis jaraknya dengan kesombongan. Biasanya saya manggil pria di blog ini dengan sebutan Bung untuk segala usia, tapi karema kita berteman di facebook dan sebagian besar sobat Dawuk memanggilnya Cak, saya turut serta di mayoritas itu. Untuk manusia penerima penghargaan Sastra tertinggi di tanah air, bahkan menyandingkan piala dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK), Cak Mahfud terbaca humble. Bayangkan, dua dari tiga novelnya menang! Wow banget ‘kan.

Ini buku tentang curhatnya, pengalaman menulis yang disarikan dalam warta asyik sekali. “Saya menulis apa yang saya tahu, saya pahami, dan saya kuasai.”

#10. Bagaimana Aku Menjadi Penulis by Gabriel Garcia Marquez (Circa) – 2019

Kumpulan esai penulis nomor satu di daftar novel terbaik LBP. Seru sekali membaca curhatan Penulis favorit, seperti saat pertama kalinya melihat dan menyapa dari jarak jauh penulis idola beliau: Ernest Hemingway di Paris. Sekadar teriak woooy… dibalas lambaian tangan saja, sudah bikin hepi. Bayangkan, suatu saat ketemu Seno Gumira Ajidarma lalu diajungi jempol. Hahaha… sedemikian bagus sampai-sampai hal biasa tampak menyenangkan. Atau cerita beliau ketika melakukan wawancara di udara, terdengar menarik sekali, sang narasumber punya waktu sempit, penulis harus menyesuaikan. Terutama sekali cerita beliau saat proses menulis buku paling fenomenalnya, ‘Seratus Tahun Kesunyian. Mematikan karakter favorit membuatnya menangis tersedu-sedu dalam pelukan istri, betapa mendalam perasaan Sang Penulis terhadap tokoh rekaannya. Dan fakta bahwa ia tak suka fantasi karena segala yang ‘ngawang-awang’ terasa palsu. Jadi semua buku beliau berdasar semacam rekonstruksi kehidupan, tak ada unsur fantasi? Yup, termasuk adegan dramatis ruh yang terbang? Ya. Itu berdasarkan mimpi, ia mengelola sebuah mimpi menjadi adegan yang terlihat nyata. Hhhmmm… menariq.

Berisi delapan tulisan yang diambil dari berbagai sumber. Circa mengumpulkan tulisan berserak lalu membundle-nya dalam buku ini. Dan nasihat utamanya buat para penulis: “Satu-satunya saran adalah terus menulis dan melanjutkan menulis.”

#9. Pandemic! COVID-19 Shakes the World by Slavoj Zizek (Independen) – 2020

Buku tipis yang padat nasihat, atau setidaknya informatif karena kesimpulan akhir kembali ke pribadi. Untuk kelangsungan hidup, umat manusia dalam peranannya bertahan dari gempuran penyakit, musibah, atau petaka lain. Virus bukan musuh yang mencoba untuk menghancurkan kita – ia hanya mereproduksi-diri dengan otomatisme buta. Kukira judulnya Panik!, ternyata ada huruf ‘dem’ di insert ‘I’ sehingga jadi Pandemik! Termasuk buku terbitan luar update, aslinya dari OR Books yang terbit tahun ini. Makanya sungguh beruntung kita hidup di era digital, menikmati karya bisa dalam waktu rentang bentar dari aslinya! Kita memperlakukan alam semesta sekadar sebagai mitra dalam komunikasi.
Dampak nyata di depan kita adalah ekonomi, banyak sektor terpuruk. Pekerjaan yang membutuhkan perjalanan, kumpul-kumpul, atau potensi memunculkan potensi penularan dipenggal seketika.

#8. Discourse on Method by Rene Descartes (IRCiS0D) – 1626

Buku pertama Rene Descartes yang kubaca, filsuf dan matematikawan Prancis, yang sering disebut sebagai Bapak Filsafat dan Matematika Modern. Riwayat hidupnya tentu sudah sering kita lihat di berbagai literasi, terutama filsafat. Dari Buku Diskusus dan Metode ini, kita mendapati pemikiran beliau yang menarik, alasan-alasan menulis sampai semacam menyelamatkan kebenaran. Di atas sesuatu yang demikian rapuh, tidak mungkin dibangun sesuatu yang kokoh. Terdiri atas enam bagian yang panjang.
Rene muda bermimpi tiga kali berturut-turut dan bersambungan. “Quad vitae sektabor iter?” – “Hidup apa yang akan kau ikuti?”

#7. Everything is F*cked by Mark Manson (Grasindo) – 2019 | Bagian 1 | Bagian 2

Setelah heboh dengan debut Sebuah Seni Bersikap Bodo Amat, Mark Manson melanjutkan buku motivasi yang terasa lebih rapi dan tak meletup-letup. Lebih bagus, dan syahdu. Ini blogger yang menjelma motivator, yang masih bodo amat sama keadaan yang menanungi. Sungguh beruntung saya membacanya berselang tak lama setelah alih bahasa. Harapan dan keambyaran, kombinasi keren dalam rangkaian hidup yang fana ini. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang mampu berbicara dan merangsang kedua otak pada saat yang sama.

Formula Kemanusiaan berbunyi, “Bertindaklah dengan mendudukan kemanusiaan, senantiasa sebagai tujuan, bukan hanya sebagai sarana.”

#6. Summer by Albert Camus (Liris) – 1954

Menulis esai tentang kehidupan sehari-hari di tempat beliau tumbuh kembang. Terlahir di Aljazair, tulisan dalam Summer bercerita tentang kehidupan Camus di sana. Keseharian dan kewajaran yang manusiawi.
Secara garis besar, Camus memainkan majas personifikasi, membaurnya dalam puisi yang naratif, memancing tanya pembaca dalam spekulasi, membawa serta mitos Yunani, kehidupan sederhana Afrika Utara tampak dalam padang gersang. Matahari, musim panas, hingga bicara cuaca menjadi asyik rasanya bila disampaikan oleh sang Penulis. Jelas, ini salah satu kumpulan tulisan hebat, sangat worth it untuk dinikmati penggemar sastra. Bukan, lebih baik saya sebut bagi semua orang. Tak perlu kotak-kotak untuk dapat melahap nikmati Summer (Finn).

Perkataan Klestakoff: “Kita harus terlibat dalam hal-hal yang lebih bernilai.”

#5. Teori Kepribadian Rollo May by Ina Sastrowardoyo (Balai Pustaka) – 1991

Rollo May sangat menekankan eksistensi pribadi manusia. Cita-cita bukanlah murni keinginan sendiri, melainkan yang diperoleh dari orang lain; orang tua, atasan, guru dan pandangan umum lainnya. “Saya hanya merupakan suatu koleksi cermin, yang memantulkan keinginan orang lain.” Keadaan luar itu hanya merupakan gejala dari apa yang tersembunyi di bawah permukaan kehidupan bersama seluruh masyarakat.
May berujar bahwa konseling merupakan seni, yang dapat dikembangkan lebih besar dari seni lain misalnya melukis atau seni musik. Orang yang memandang objek seni, bahkan dapat mengidentifisir dirinya dengan objek seni itu.

#4. Pengarang Tidak Mati by Maman S. Mahayana (Nuansa Cendikia) – 2012

Buku yang keren banget. Jelas ditulis dengan telaah mendalam, ditulis oleh orang yang berkecimpung di bidangnya. Dibagi dalam tiga bagian panjang, dengan dua lampiran tulisan dari Michel Foucault dan Roland Barthes. Kata Ernst Cassirer, sastra sekadar berfungsi mimetis, peniruan atas segala yang terjadi dalam kehidupan manusia. Produk budaya sebuah komunitas.
Membaca karya sastra sebagai kegiatan membuang-buang waktu. Mereka membaca karya sastra dicap sebagai pemalas. Inilah pandangan sebagian besar masyarakat kita mengenai profesi sastrawan dan memperlakukan karya sastra sebagai karya tidak mendatangkan manfaat apa-apa. Buku yang padat sekali teori kesusastraan Indonesia. Ditelaah dari sastra mula Nasional sampai yang terbaru (ketika buku terbit). Tajam dan menyenangkan. Ditulis oleh seorang yang sudah expert di bidang sastra: Munsyi sastra dan kritikus. Sebuah produk kreativitas berupa tulisan, abadi tak lekang ditelan zaman, tak punah dilindas usia.

Kreativitas harus menjadi tanda perubahan mentalitas yang sangat berarti dalam diri makhluk manusia. Para pencipta adalah kaum yang lebih tinggi.” Kata Nietzsche.

#3. Serendipities: Language and Lunacy by Umberto Eco (Circa) – 1998

Buku pertama Umberto Eco yang kubaca ini sangat cantik dan liar. Teori bahasa dalam tampilan lugas nan istimewa. Teori-teorinya, gagasannya, analisisnya. Jos banget. Klasik, jadul, memikat. Santo Thomas dalam Queaestio Quodlibet alias XII, 14 menyatakan ‘utrum veritas sit fortiori inter vinum et regem et mulierem’ yang memunculkan pertanyaan mengenai mana yang lebih kuat, lebih meyakinkan, dan lebih membatasi: kekuasaan raja, pengaruh anggur, pesona wanita, atau kekuatan kebenaran? Jawaban Aquinas halus dan fasih: anggur, raja, wanita, dan kebenaran tidak dapat dibandingkan mereka tidak dalam kategori yang sama. Semuanya dapat menggerakkan hati manusia untuk melakukan tindakan tertentu. Keren ya jawaban filsuf ini,
Apa yang disebut kemurahan hati dalam perhatian mereka lebih menyerupai permainan yang dimainkan anjing dan tikus.”

#2. Theory of Literature by Rene Wellek & Austin Warren (GPU) – 1977

Seperti inilah sebuah teori harus ditulis. Detail, cocok buat kaum awam, akan merasuk pula untuk para expert. Terbagi dalam dua khazanah pendekatan utama: Pendekatan ekstrinsik yakni pendekatan yang mengait karya sastra dengan bidang lain (psikologi, masyarakat, biografi), dan instrinsik, yakni pendekatan dengan mengkhususkan diri pada unsur-unsur kritik sastra, teori, sejarah, sastra nasional, sastra perbandingan, dst. Bagi saya yang awam, ini sungguh mengasyikkan. Saking melimpahnya vitamin yang disajikan, saya baca perlahan, baca ulang di banyak bagian, takut terlewat, dan kalau sudah nemu buku semacam ini, jelas laik dikoleksi, dibaca ulang di lain hari, dijadikan rujukan. Jelas ini buku panduan kesusastraan yang istimewa.
Sastra terbuka untuk dinilai semua orang, tetapi ‘semua’ di sini dibatasi untuk ‘semua penilai yang kompeten.’

#1. Mystical Dimension of Islam by Annemarie Schimmel (Pustaka Firdaus) – 1975

Seseorang bertanya kepada Abu Hafs: “Siapakah sufi?” Ia menjawab: “Seorang sufi tidak bertanya siapa sufi.” Sebagai buku penutup tahun, buku 500 halaman yang padat dan penuh perenungan. Saya tak mengenal tasawuf, jelas ini barang baru. Saya tak mengenal Annemarie Schimmel, sebelum memutuskan beli, saya sudah tanya ke grup buku dan serentak sepakat orang hebat dari Jerman, maka ini pengalaman pertamanya yang menakjubkan, akan ada buku-buku beliau yang akan kubaca. Sudah antri.

Kadang-kadang kebenaran mengetuk hatiku selama empat puluh hari, tetapi aku tidak mengizinkannya masuk kecuali kalau ia membawa dua saksi. Quran dan hadis Nabi.”

Karawang, 070121 – Bill Withers – Soul Shadow

Histeria Massal, Folie a Cinq

Kontak by Carl Sagan

Apakah Tuhan ada? Pertanyaan itu mempunyai nuansa yang rumit. Kalau dijawab tidak, apakah itu berarti aku yakin Tuhan tidak ada? Atau aku tidak yakin Tuhan itu ada? Itu dua hal yang berbeda.”

Novel panjang nan melelahkan. Biasanya saya komplain sehabis baca buku kurang bervitamin, buku minim pengetahuan, minim manfaat, atau minim hiburan. Nah, dalam Kontak semua dilibas. Sangat bernutrisi, pengetahuan melimpah terutama terkait astronomi yang setelah selesai-pun masih bikin kerut kening, catat pula buku ini juga ada hiburan. Kejutan surat tahun 1961 mungkin dalam drama Hollywood sudah banyak dibuat, tapi tetap saja ketika diungkap sangat menyentuh hati.

Untuk mencapai Vega dan sebuah penelusuran absurd dibalik pesan yang dikirim, kita butuh berputar melingkar panjang, sungguh melelahkan. Kumulai baca Jumat pagi 3 November sampai Ahad sore 22 November dengan kopi melimpah di teras, dalam balutan bacaan lain, menumpuk. Butuh perjuangan ekstra, sebab jenis buku seperti ini sekalinya diletakkan iseng baca buku lain tertunda seminggu saja, akan sulit dilanjutkan. Makanya harus dipaksakan. Rancang bangun antena dan analisa data.

Selain kecantikan, yang paling penting di dunia ini adalah pendidikan. Tak banyak yang ku bisa lakukan dengan kecantikan, tapi kau bisa melakukan sesuatu dengan pendidikan. Kisahnya mengambil sudut pandang Ellie Arroway, astronot Amerika yang menemukan kontak asing dalam penelitian, lalu pesan itu menjelma mesin, dan mesin itu mengantarnya ke Vega, menemukan jawab akan semesta? Pesan itu berarti intsruksi, cetak biru, sejenis mesin. Kegunaannya masih belum diketahui. Disamping minat utamanya pada matematika, fisika, dan teknik, ia pandai memecahkan kode. Istilah matematikanya existence theorem, sesuatu yang terbukti ada adalah benar. Dalam banyak hal, phi berhubungan erat dengan ketidakbatasan. Sekadar sifat aneh dan tak penting?

Tema novel sangat beragam, astronomi, matematika, agama, sampai sihir. Tak heran Carl Sagan mencampur fiksi dengan teori segalanya, maka setiap bab berganti kita disuguhi kutipan-kutipan keren. Nyaris semuanya wow/ saya kutip dua di mula:

#1. Hatiku bergetar bagaikan dedaunan malang. Planet-planet berpusar-pusar dalam mimpiku. Bintang-bintang mengintai dari jendelaku. Aku berguling dalam tidurku. Tempat tidurku sebuah planet hangat.Marvin Mercer (SD 153, Kelas Lima, Harlem), New York City, NY (1981)

#2.
Lalat kecil,
Keriangan musim panasmu
Tanganku yang tak berotak
Telah menghancurkannya
—-
Apakah aku bukan
Seekor lalat sepertimu?
Atau apakah kau bukan
Seorang manusia sepertiku?
—–
Karena aku pun menari-nari
Dan minum dan bernyanyi
Sampai sebuah tangan tak bermata
Meremukkan sayapku
William Blake, Songs of Experience “The Fly”, Stanza 1-3 (1795)

Kalau kalian penasaran sama kutipan pembuka bab lainnya, mending melahap sendiri. Jelas worth it, jelas nyaman untuk dinikmati. Semakin dalam mereka meneliti ruang angkasa, semakin banyak mereka menemukan sumber gelombang radio dari tempat-tempat jauh di luar Galaxy.

Valerian menekankan betapa kita terperangkap oleh waktu, oleh budaya, oleh struktur biologis. Betapa terbatasnya kita membayangkan makhluk atau peradaban yang secara mendasar sangat berbeda.

Ellie seperti ilmuwan kebanyakan, penasaran berat akan gugus alam semesta yang mahaluas. Kalau kau mengamati cukup banyak bintang di langit, cepat atau lambat akan ada gangguan dari Bumi, atau rangkaian gangguan acak, yang polanya untuk sesaat membuat jantungmu hampir meloncat. “Seperti kehidupan di planet Venus? Itu memang khayalan. Venus sebuah planet neraka. Dan itu cuma satu planet. Di Galaxy ada ratusan miliar bintang. Kau baru mengamati segelintir. Tidakkah terlalu pagi untuk menyerah?”

Dia lalu naik pangkat menjadi direksi di Proyek Argus adalah fasilitas proyek terbesar di dunia yang disediakan khusus untuk mencari peradaban di luar Bumi dengan menggunakan radio. Shannon pernah berkata, “Pesan sandi yang paling efisien adalah yang tidak bisa dibedakan dari suara bising atau noise. Kecuali bila kita sudah mengetahui kunci sandinya terlebih dulu…” Mungkin mereka tidak akan bisa menemukan tanda-tanda kehidupan cerdas lain di alam semesta ini, tapi mereka bisa menarik rahasia-rahasia lain dari kekayaan alam semesta.

Nah, suatu malam mereka menangkap pesan dari langit. “Halo, Ian? Mungkin ini bukan apa-apa, tapi kami menangkap bogey di sini, dan mungkin kalian bisa membantu kami memeriksanya. Frekuensinya sekitar Sembilan gigahertz, dengan lebar frekuensi beberapa ratus hertz…” Lalu pesan itu diumumkan ke pers, yang lalu mencipta histeria massal ke seluruh dunia. Nenek moyang kita berpendapat, kitalah pusat alam semesta.

Maka setiap Negara berbondong-bondong menafsir artinya. Sumber bilangan prima itu bisa dipastikan dari Vega. Sangat banyak planet lain yang menyimpan kemungkinan kehidupan. Mungkin kita bukan satu-satunya makhluk di dunia. Ada semacam kehidupan cerdas di Vega? Kita punya rumus algoritma pemecah sandi, rumus yang ideal untuk itu.

Apesnya, pesan itu berisi sinyal televisi dari Vega itu siaran tahun 1936, Olimpiade Berlin. Siaran itu hanya untuk Jerman, tapi itu siaran televisi pertama yang cukup kuat. Empat puluh juta orang meninggal dunia karena si megalomaniak ini, dan kini ia jadi bintang. Orang-orang luar angkasa menangkap siaran Hitler sebagai berita pertama dari bumi? Mereka menggunakan bahan itu berkali-kali, menuliskan sesuatu di atas tulisan lama, dan hasilnya sesuatu yang disebut palimpsest. Dan setelah telusur panjang nan rumit, kita tahu poinnya adalah instruksi untuk membuat semacam mesin.

Dilemanya, selain biaya mihil, dan kalaupun kita menjawab, jawaban itu akan sampai Vega dua puluh enam tahun lagi, dan dua puluh enam tahun kemudian menerima jawabannya. Maka semua Negara bahu membahu, salah satu sobat Ellie ilmuwan dari Rusia, Vasily Gregorovich Lunacharsky. Berpendapat, “Setiap desa adalah sebuah planet, dan setiap planet adalah sebuah desa.” Tak seorangpun tahu, pesan itu dikirim dengan simbol atau gambar. Beberapa percaya pesan itu dikirim dari Tuhan, dan beberapa percaya itu dari Setan.

Maka hal wajar proyek sangat amat mahal ini menimbulkan ptro-kontra proyek ini merembet ke banyak kalangan, salah satunya berandal berkedok agama, kata Lunacharsky. Orang bisa menghabiskan seluruh masa hidupnya dan tetap tidak bisa memahami keberadaan Tuhan yang Mahakuasa. Para ilmuwan berpendapat, mereka ingin kita meninggalkan iman kita, tetapi mereka memberikan pengganti yang mempunyai nilai spiritual.

Ah kembali ke konfliks lama. Ilmu pengetahuan dan agama, keduanya diciptakan oleh Tuhan jadi keduanya tidak boleh bertentangan. Kalau ada hal-hal yang tampak bertentangan, mungkin di ilmuwan, atau mungkin si ahli agama, atau keduanya tidak melakukan tugasnya dengan baik.

Saya sendiri sangat menghargai pilihan Ellie bahwa di luar sikap patriotism normal, ia tak ingin berkecimpung di politik praktis. Ilmu pengetahuan pada dasarnya meneliti dan membetulkan hipotesis. Agnostik adalah orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (masalah Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak dapat diketahui. “Kepercayaanku begitu teguh, sehingga aku tidak membutuhkan bukti-bukti…”

Suara dari bintang, makhluk-makhluk asing – bukan manusia, tapi juga bukan dari dewa – yang ditemukan di langit malam. Perasaan heran dan takjub. Kita gembira, kita telah mengambil keputusan ini. Kita saling bertukar data, bertukar khayalan, bertukar impian. Kita semua hidup di planet yang sama, kita semua memiliki kepentingan yang sama. Benda sehari-hari dari peradaban luar bumi yang sudah sangat maju, tidak akan bisa kita bedakan dengan sihir. “Kenikmatannya akan mengurangi hak Anda di surga.”

Bumi adalah sebuah ghetto, perkampungan kumuh. Seluruh umat manusia terperangkap di sini. Samar-samar kita mendengar bahwa di luar perkampungan kumuh ada sebuah kota besar dengan jalan-jalan lebar penuh droshky – kereta kuda Rusia, dan wanita-wanita cantik berparfum wangi mengenakan mantel bulu… Iklan mengajar orang untuk menjadi bodoh.

Proyek itu menjadi proyek umat manusia, Nama Konsorsium Pesan Dunia diganti menjadi Konsorsium Mesin Dunia. “Terlalu banyak yang kita pertaruhkan untuk sesuatu yang tidak pernah kita lihat.” Setelah diperdebat dalam rapat yang panas, akhirnya lima kursi mesin itu diisi oleh para astronot dari Amerika Serikat, China, Rusia, India, Nigeria. Hanya lima kursi menghadap ke dalam, sehingga setiap awak bisa melihat yang lain.

Emosi adalah motivasi untuk menyesuaikan diri dari waktu ketika kita terlalu bodoh untuk tahu apa yang sedang terjadi. Setidaknya harapan kita untuk masa depan itu sama pentingnya dengan penemuan api, atau tulisan, atau pertanian. Ramalan tentang kejadian-kejadian penting rupanya jauh lebih akurat bila tidak pernah dituliskan di atas kertas sebelum kejadian. Bila kitab kita dibaca lagi dengan hati-hati dan menggunakan imajinasi secukupnya, jelaslah kejadian menakjubkan itu tersirat dalam kitab-kitab.

Mereka terpesona sama teknologi sehingga melupakan bahanya. Sikap skeptis merupakan jiwa ilmu pengetahuan. Rasanya seperti ikut ujian tanpa persiapan, tapi jawabannya bisa dicari dari pengetahuan umum yang kau miliki. Bisa membuat kau menangis karena indahnya. “Peter, kenapa kau menatap langit-langit kalau sedang berpikir?”

Amerika, seperti Indonesia selalu curiga pada dua dari sedikit kelompok yang jadi kambing hitam: makhluk luar bumi (tak kasat mata) dan Orang-orang Rusia (komunis). Penerbangan ruang angkasa adalah subvertif. Negara-negara melakukannya untuk kebanggaan Nasional.

Lalu muncullah bencana pasak erbium di Wyoming sangat mengerikan. Awalnya bukan Ellie yang ditunjuk untuk berangkat, naas itu mencipta kematian gurunya, maka iapun melaju. Ia adalah penemu dan pelarian dan akhir dari kesepian.

Telaah agama (besar) hampir disebut semua. Menurut Buddha, Tuhan mereka begitu besar dan agung sehingga tidka perlu ada. Orang Kristen bilang, awal dari segalanya adalah perkataan. Aku satu-satunya penganut materialism di antara kita berlima, dan semua yang kubawa ada di kepalaku. Kalau peradaban luar bumi itu begitu cerdas, mengapa mereka membawa kami melalui begitu banyak lompatan-lompatan kecil?

Di Kompleks Hokkaido Machine segala persiapan akhirnya rampung, dan lima orang siap berangkat: Eda, Ellie, Sukhavati, Vaygay, Xi. Membawa pesan, “… Kalian adalah pahlawan-pahlawan planet bumi. Bicaralah atas nama kami semua. Bersikaplah bijaksana, dan kembalilah.” Mesin itu pergi ke suatu tempat, mesin itu adalah sarana.

Alam semesta ini terus mengembang, dan tidak cukup materi di dalamnya untuk menghentikan pengembangannya. Ada sebelas pesan tersembunyi di balik nilai phi, seseorang berkomunikasi di alam semesta dengan matematika. Nilai phi pasti sama di alam semesta, nilainya sudah terbentuk dan merupakan bagian dari alam semesta. Ia mencoba mencari sumber ketidaktenangannya

Setelah merumit dalam teori astonomi, akhirnya mereka tiba di sebuah pantai misterius. Di sinilah puncak tanya itu dijawab. Kepala Stasiun Cysgus A menciptakan bagi mereka apa yang bisa disebut sebagai cinta mereka yang paling dalam. Mungkin tujuan hanya sebagai menjembatani kesulitan komunikasi dengan makhluk yang sangat berbeda bentuk dan jenisnya. Semua hampir menangis kegirangan.

Dengan kamera merekam ‘makhluk’ yang mereka temui, bercengkerama dan mencipta hidup kenangan indah di masa lampau. Satu-satunya fungsi mesin ini adalah menciptakan ilusi, atau mungkin juga membuat mereka berlima menjadi gila.

Sayangnya setelah segalanya usai dan mereka kembali di penghujung millenium segala yang disiapkan untuk laporan temuan hilang. Semuanya tidak didukung oleh bukti fisik. Rol memori yang merekam itu seolah tak percaya, sebab mereka yakin sudah menyimpan adegan penelitian. Mereka lalu diinterogasi, seperti Kantor Kejaksaan selalu menanyakan tiga hal, “Apakah dia punya kesempatan, apakah dia punya motif, apakah dia cara?”

Kalau manusia bisa membuat obat-obatan yang menimbulkan fantasi, tidak bisakah teknologi yang jauh lebih maju menimbulkan halusinasi kelompok yang sangat terperinci? Untuk sesaat terasa kemungkinan itu ada. Kembali ke bumi dengan membawa kisah yang aneh, tanpa hal yang bisa digunakan untuk kemiliteran atau politis. Dan kisah itu memiliki implikasi.

Novel ini sungguh bombastis. Panjang berliku, saking banyaknya ilmu yang diserap sampai meluber. Saya lebih suka menyebutnya memimpikan masa lalu yang lebih sederhana. Endingnya jleb dengan pesan membumi untuk Ellie. Ia telah mempelajari alam semesta sepanjang hidupnya, tapi mengabaikan pesannya yang paling jelas. Bagi makhluk-makhluk kecil seperti kita, kebesaran alam semesta hanya bisa dihadapi dengan cinta.

Kita semua haus akan hal-hal yang menakjubkan. Aku seperti seorang murid, menunggu datangnya ilham. Menurut Cervantes, membaca terjemahan seperti melihat bagian belakang permadani. Numinous adalah ‘hal-hal yang di luar jangkauan’, dan reaksi manusia terhadapnya adalah ‘takjub luar biasa’. Setelah menyelesaikan baca Contact, jadi kepikiran film Arrival-nya Dennis tahun 2016. Tentang invasi alien yang menemui kendala bahasa, mereka datang untuk memberika ‘a gift’ dalam bentuk ‘a weapon’ yang mana bahasa menjadi pembentuk budaya. Mirip sekali dengan kontak makhluk luar yang coba membantu bumi. Sebuah inspirasi, yang segaris lurus.

Seperti dialog dimula tentang Tuhan, maka catatan ini saya tutup dengan sang Pencipta. “Kalau Tuhan ingin kita tahu Dia Ada, mengapa tidak meninggalkan pesan yang jelas? Kau berpikir Tuhan itu ahli matematika?”

Kontak | by Carl Sagan | Copyright 1985 | new cover 1997 | Atas izin cover art Warner Bros | Diterjemahkan dari Contact | Alih bahasa Andang H. Sutopo | GM 402 97.851 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Desember 1997 | 592 hlm.; 18 cm | ISBN 979-605-851-0 | Skor: 5/5

Untuk Alexandra, yang hadir menjelang datangnya millenium. Semoga kami memberi generasimu dunia yang lebih baik daripada dunia yang dulu diberikan pada kami.

Karawang, 301120 – The Ink Spots – Java Jive (1940)

Thx to Agoeng S, Bdg

Clash of Clans in Japan

Furin Kazan by Yasushi Inoue

Ya, siapapun yang menentangmu Tuanku, harus diperangi.”

Tanpa tahu ini tentang apa, siapa Inoue, dan segala awam yang menyelimuti, kunikmati lembar demi lembarnya. Terkadang memang saya membeli ke-awam-an buku, sebagai selingan atau pengen iseng petualang ke sebuah area antah. Dibaca sehari selesai, dimulai Jumat pagi (13/11) selesai Sabtu paginya (14/11), hari libur memang liar. Lumayan bagus, mengingatkanku pada Game of Throne, pertarungan antar klan memperebutkan kekuasaan. Terbit tahun 1950-an, apakah G.R.R.Martin sudah melahapnya? Tokoh utama, si ahli strategi Kansuke bertubuh pendek, pincang, mata satunya rusak, akalnya panjang yang tentu saja mengingatkan kita pada si cebol hebat di Perebutan Takhta. Endingnya ketebak, walau ada nada sedih disenandungkan, pada akhirnya tersenyum.

Kisahnya tentang Yamamoto Kansuke, seorang samurai yang sudah tak muda lagi, kepala lima. Selama Sembilan tahun mengabdi pada kerajaan, tapi nggak segera mendapat kerja tetap. Dia dicerita cerdik, suka membual, pernah berpetualang ke banyak daerah. Dan jago main pedang, maka di pembuka kita disajikan sebuah sekongkol. Menyelamatkan Itagaki, sandiwara yang mengantarnya menjadi orang kepercayaan raja Harunobu. Jadi bab pertama kita mengambil sudut pandang sang pemeras Aoki Daizen, ia mendatangi rumah Kansuke untuk meminta uang rutin sebagai biaya tutup mulut.

Nah, saat itulah ia mendengar nama seorang samurai kepercayaan raja akan melintas daerah situ, maka disusunlah strategi. Daizen nanti pura-pura merampok, lalu muncullah Kensuke menyelanatkan. Tak ada nyawa melayang, hanya sandiwara. Dan taktik ini pasti berhasil sebab utang nyawa akan selalu dihargai kepercayaan tinggi. Ternyata ini sebuah jebakan buat Daizen, sebab sandiwara dijalankan, ia terjebak dan meminta dihentikan, Sensuke malah membunuhnya. Dari sinilah sudut pandang bab dua berubah ke sang tokoh utama. Pembuka yang secara langsung bilang, ia cerdik, serta novel ini akan melibatkan banyak nyawa melayang. Bukan ratusan lagi, ribuan pasukan akan berperang. Beginilah cerita perang antar klan harus disajikan. “Selain dalam pertempuran, tidak baik menghilangkan nyawa seseorang.”

Kensuke menguasai aliran pedang Gyoryu ditantang melawan aliran pedang Shintoryu dalam duel latihan, kukira hanya bualan ternyata bisa. Maka setelah beberapa waktu Kansuke dipanggil menghadap Harunobu. Ia dites oleh seorang samurai utusan, dikira hanya memakai pedang kayu, nggaklah langsung pedang beneran yang mengakibat nyawa melayang. Ini menegaskan sekali ia mencabut pedang dan berniat membunuh, pasti tak pernah gagal. Tenggoret-tenggoret sedang mengerik menandai era baru kehidupannya. Ia ditunjuk sebagai penasehat jenderal muda Takeda Harunobu.

Maka ujian pertama sesungguhnya adalah dari klan Suwa yang dipimpin Yorishige Suwa. Aku sama sekali tidak tahu akibat-akibatnya kelak, namun justru itu yang menjadi alasan kenapa aku bertahan. Ketika ia diutus ke sana menyampaikan salam damai, disambut sang jenderal yang lalu melakukan kunjungan balasan. Ketika sang tamu dan pengiringnya tiba di wilayah Kofu, dalam rapat terbatas berbagai usulan muncul, dan saat sang jenderal menanyakan kepada Sansuke ia meminta empat mata, usulnya jelas: bunuh Yorishige sebelum ia menyerang kita. Maka eksekusi langsung dilakukan, mereka menyerang klan musuh tanpa komando dan dalam waktu singkat menguasainya.

Dalam kewajaran, keluarga jenderal yang kalah biasanya melakukan ritual seppuku (bunuh diri), Putri Huu tidak. Ia ingin bertahan hidup dan rela menjadi selir sang jenderal yang membunuh ayahnya. Ia tahu ada dendam berkobar, tapi setidaknya harapan selalu ada selama napas masih bisa dihela. Ia mendapatkan keyakinan atas kejujuran, kepercayaan diri, dan cara berpikir positif.

Perang berikutnya lebih banyak dan rumit. Cara Kensuke menunggang kuda agak aneh, tubuh kecilnya duduk di punggung seekor kuda besar. Membungkuk begitu dekat dengan leher kuda. Dalam masa perang itu, ia menemui banyak hal tapi memang yang pertama selalu istimewa. Kensuke belajar pertama kalinya tentang cinta dan kebencian bisa muncul pada saat bersamaan tanpa logika sama sekali. Ia jatuh hati sama Putri Huu, cinta yang mustahil terwujud sebab janji setia sebagai samurai yang takkan menghianati tuannya.

Zaman perang Sengoku Jidai dan akan ada perang terus-menerus selama bertahun-tahun. Panji Furin Kazan tak pernah tinggal di Kofu lebih dari setengah tahun. “Jangan biarkan saya di sini menjaga rumah. Itu sangat membosankan.” Sampai diucapkan sang samurai, karena perang memang manjadi tujuannya bergabung.

Jika menyangkut masalah penaklukan benteng atau pertempuran, ia mampu melihat segala sesuatunya dengan jelas, layaknya kabut pagi menghilang seiring terbit matahari. Namun jika sudah soal laki-laki dan perempuan, ia tak mampu melihat apa pun di hadapannya. Otaknya begitu jernih memikirkan perang yang akan segera terjadi. Sang Putri lalu mendapat seteru dengan selir lain, Puteri Ogoto. Terdengar jenaka, ia diombang-ambing sama kedua selir itu, dan sang jenderal-pun tak jujur pula. Pusing. Maka ketika Putri Huu mengancam, ia meminta sang jenderal dan ia meninggalkan kehidupan duniawi dan mengubah nama, sang jenderal kini bernama Tadeka Shingen. “… Ya aku benar-benar mengerti. Meninggalkan keduniawian, menjadi seorang rahib, dan menyerahkan diri pada kehendak langit.”

Itu hanya strategi, ia mendapat ucapan selamat dan gelar namun pasukan Takeda terus melakukan invasi. Mereka berkuda ke berbagai penjuru, bertempur menang, dan kembali ke Kofu. Ia merasa akan hidup lebih lama, jika kematian tidak segera menjemputnya, ia ingin mengendalikan takdir sendiri. Setiap manusia memiliki sendiri waktu untuk mati. Saking seringnya perang, diskusi ini disampaikan sambil santuy. “Nah, berikutnya apa yang kita lakukan?” / “Mari kita menyerbu Joshu.” / “Bagaimana dengan Bushu?” / “Baik, kita juga akan menyerang Bushu.”

Penggambaran zaman dulu yang realistis, terdengar keji tapi memang perang memang sadis. Sampai akhirnya Kansuke di masa letih. Aku sedang menghadapi masa paling sulit dalam hidupku. Akhir-akhir ini aku memikirkan dengan sungguh-sungguh berbagai hal, tapi tetap saja tak bisa memecahkan masalah. Tujuan klan Takeda membentuk persekutuan tiga keluarga: Imagawa, Hojo, dan Takeda sudah terwujud, lalu invasi terbesar disiapkan. Musuh utama Murakami Yoshikiyo bisa dikalahkan, pada dasarnya puncak pertempuran besar berikutnya adalah melawan Uesugi Kenshin Kagetora yang melibatkan ribuan pasukan. Penaklukan benteng paling sulit ini menjadi ending novel ini.

Keinginan melihat Kampanye perang Pengeran muda Katsuyori yang berusia 16 tahun (anak Putri Huu) terwujud walau terdengar rumit dalam pelaksanaan. Maklum pangeran muda yang perlu bimbingan.

Dalam cerita berlatar Jepang yang menjadi sulit dalam bayang adalah timeline. Karena di sini tak dijelaskan tahun Masehi hanya tahun ke berapa Tenbu, lalu saat pergantian era kita sudah sampai pada tahun ke-4 Koji lalu terjadi pergantian era lagi menjadi Eiroku ke-1, dst. Perlu belajar segala masa di Jepang siapa saja yang berkuasa.

Dengan usia 51 tahun ketika dimulai mengabdi, ia termasuk sebagai protagonist tua, kondisi fisik yang kurang, samurai nganggur lalu menjelma ahli strategi kisah ini potensial meledak. Suram adalah koentji, latarnya sudah memenuhinya. Sayangnya narasinya malah kurang detail, mematikan orang dengan sangat mudah. Menyebut pasukan ratusan hingga ribuan dengan mudah, penyerbuan dan menempatkan posisi perang juga kurang masuk. Sempat berharap ada asmara dengan Putri Huu malah merasa hambar, benar-benar kakek samurai sejati. Sisi cintanya dimatikan demi mengabdi kepada sang raja. Yamamoto Kensuke dikuasai oleh gagasan. Tubuhnya bersimbah keringat.

Sumpahnya ada tiga, dan sejak disampaikan jelas akan terpenuhi. Tiga orang yang ia cintai jenderal Harunobu, Putri Huu, dan sang Pangeran, semuanya menempatkan akhir yang pas. Putri Huu yang perfectionist mengalami goncangan batin, tapi pada akhirnya tersingkir. Dan anak tunggalnya, Pengeran Katsuyori menjadikan kampanye perang pertamanya sesuai pemicu, sudah sesuai alur.

Coba perhatikan perancang sampulnya. Adalah penulis kini menyandang dua kali pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa. Gambarnya keren dengan Panji Furi Kazan berkibar-kibar dengan latar seorang samurai bertopeng. Panjinya sendiri dicetak luks sehingga lebih lembut jika diraba. Dominasi biru di belakang para prajurit di markas utama

Akhirnya, mau diambil dari sudut manapun kita mendapati bahwa perang antar klan ini tak ada yang salah-dan benar. Persis seperti dalam Game of Throne, mau menjago atau menaruh simpati pada siapapun, mereka hanya terjebak di era yang salah. Era kekerasan di mana pedang diayunkan menebas leher serutin cangkul dikayuh di ladang.

Karena kami di sini juga atas perintah tuanku.”

Furin Kazan | by Yasushi Inoue | Copyright 1953 by The Heirs of Yasushi Inoue | Penerjemah Dina Faozi & Fatmawati Djafri | Penerbit Mahda Books | Penyunting Tim Kansha Books | Pewajah sampul Iksaka Banu | Pewajah isi Call Izmi | Cetakan I : Juli 2010 | ISBN 978-602-97196-0-4 | Skor: 4/5

Karawang, 181120 – Linkin Park – Pushing Me Away

Thx to Lifian, Jkt

#Oktober2020 Baca

“Manusia yang berpikir bukan otaknya.” – Kata Straus (1963)

Bulan santai pasca KSK, secara kuantitas tetap saja melaju di angka belasan. Yang paling sulit memang The Constant Gardener berisi lima ratus lima puluh halaman, ukuran lebar dan topiknya rumit. Heart of Darkness kumasukkan giveaway, jadi setelah baca langsung kulepas. KSK ada dua buku, keduanya tersingkir dari daftar pendek jadi dibaca santai yang ternyata malah bagus banget keduanya. Sedang menikmati buku-buku psikologi dan filsafat, dan kumpulan esai. Oh iya, jangan lupa beberapa buku lama kubaca ulang, terutama yang belum kuulas jadi untuk mengetiknya, saya butuh refresh.

Menyenangkan sekali bukan, menikmati buku dan menceritakan keseruannya dalam blog?

#1. Heart of Darkness Joseph Conrad

Ini tentang perjalanan ke belantara Afrika dengan rute sungai. Penuh perjuangan sebab di prosesnya mendapat serangan dari suku pedalaman. Menuju Tuan Kurtz yang kejam, sekaligus dipuja oleh Pemerintahan Belgia. Menuju jantung kegelapan, tentang kolonialisme di Kongo, tentang penjualan gading.

Bernarasi kalimat langsung, jadi sang tokoh Aku menceritakan kepada para awak kapal, pengalamannya selama perjalanan. Sebagai nahkoda dalam misi menjelajah ke Congo, sebagai wilayah jajahan Belgia. Nah, selama air mengalir mengantar mereka itulah kita disuguhi sisi gelap manusia. Kolonialisme, pemaksaan kehendak demi kepentingan para penjajah, penjualan gelap gading gajah, korupsi, hingga perilaku manusia dalam sisi hitam. Memudiki sungai ini bagaikan melakukan perjalanan kembali ke masa paling awal dunia ini, ketika vegetasi bersuka-ria di bumi dan pepohonan besar bak raja-raja.

Aku melihatnya, aku mendengarnya. Aku melihat misteri tak terpahami dari satu jiwa yang tak mengenal batasan, keyakinan, dan ketakutan, namun masih berjuang membabi buta mengasai dirinya…”

#2. Makan Siang OktaNurul Hanafi

Saya suka sekali film A Ghost Story yang menampakkan ‘hantu’ yang bosan menapaki waktu di tempat yang sama untuk rentang kisah acak. Saya juga suka sekali Buried yang membuat Ryan Reynolds terkubur satu setengah jam dalam peti, yang otomatis sepanjang film penonton turut sesak. Saya juga suka sekali Locke, filmnya tentang Ivan Locke ngomong sendiri di mobil via telpon, ia berkendara dan meramu kejadian di sekelilingnya jadi syahdu. Nah, di Makan Siang Okta kita mendapat sisi minimalis itu. Sungguh jantan dan menarik. Kalian diminta untuk terus menyimak dialog sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu, cintailah kebosanan itu.

Ini kisah sederhana, sebuah kunjungan anak SD ke teman sekelasnya untuk meminjam buku, yang nantinya kita tahu hanyalah alibi. Kedatangan ini memang tak memerlu konfirmasi sebab Okta, gadis itu juga tidak tahu ia bakalan datang, saat Tendy tiba ia sedang makan siang. Kau hampir sama sekali tak tahu bahwa ikan bandeng, sepatu selop, seuntai kalung, dan sebuah buku cerita benar-benar telah tampil sia-sia jika dibandingkan dengan keanehan dia yang memiliki semua barang itu sekaligus. Adegan sepanjang buku akan berkutat di situ. Setelah berputar-putar dalam dialog dan ‘dialog’ dalam kepala Tendy, kita bertemu ibunya Okta yang sedang mengupas kentang, turut sertalah beliau dalam belitan kisah. Tokoh nyata hanya bertiga, walau dalam percakapan menyinggung nama-nama lain seperti teman sekolah atau teman masa kecil ibu, tapi tetaplah tokoh Makan Siang hanya bertiga. Sekolah tidak mengajarkan cara menghabiskan waktu siang yang baik bersama seorang teman laki-laki. Maka muncullah buku panduan ini. Haha…

Karena aku menganggapnya paling cantik sekelas.”

#3. Kiat Bermain SahamSurono Subekti

Secara ekstrem saham dibagi menjadi dua, saham fundamental dan saham kucing kurap. Di era itu belum dikenal saham gorengan kali ya. Justru ketika baca saham kucing kurap rada aneh. Hehe… Faktor judi di saham kucing kurap itu sangat besar, disebut kucing kurap karena diusahakan setelah dipegang segera dilepas begitu ada kesempatan. Sedang saham fundamental, bisa disimpan bertahun-tahun di lemari besi, bahkan seumur hidup sampai pensiun kalau mau.

Pengalaman adalah guru terbaik, lapangan adalah guru terbaik. Saya sudah main saham hampir dua tahun, Alhamdulillah sudah positif, sudah untung. Sejatinya ingin jadi investor, tapi tiap minggu/bulan pas lihat grafik hijau, tangan ini gatal buat jual, akhirnya yo wes yang warna hijau berkali-kali kujual buat kuputar. Sampai-sampai berpikir, ini kok cari duit sederhana dan gampang ya? Cuma tanam duit, pilih saham bagus, diamkan, sebulan dua bulan dicek udah untung. Wew… kenapa ga dari dulu pas masih lajang sih. Hiks. Namun nggak papa terlambat, masih bisa kok nabung saham. Terus bergerak dan belajar. Termasuk baca buku saham dari yang jadul (seperti buku ini – buku kedua saham yang selesai kubaca setelah Simple Stories for Simple Investor) sampai baca buku saham terbitan baru, saya lahap semuanya. Beberapa buku pinjam, beberapa beli sudah di rak. Saya adalah pembaca yang rakus.

Jadikan bermain saham sebagai hobi. Memilih saham sama seperti memilih orang. Salah satu alasan membeli saham adalah membeli masa depan perusahaan.

#4. Apa yang Harus Saya Lakukan? Drs. R.I. Suhartin

Buku konseling remaja yang bervitamin sekali. Keren! Jadi tahu curhat dan jawaban pakar masalah-masalah pergaulan tahun 1980-an. Buku ini berisi lima permasalahan utama, yang dibagi lagi dalam tanya-jawab satu arah 47 poin, kecuali ada dua pertanyaan dari orang yang sama. Merupakan kumpulan tulisan dalam Rubrik Pendidikan di suratkabar Berita Buana. Sangat menarik, bagaimana remaja kala itu menghadapi problematika yang rasanya relatif masih sama dengan era sekarang, minus gadget dan kebebasan bersuara. Related. Permasalahan remaja, tak jauh dari cinta, keluarga, dan peningnya belajar. Cinta kala itupun sudah mengarah ke seks yang tentu saja tabu untuk dibicarakan.

Jawaban-jawaban yang diberikan sangat lugas, bagus sekali, enak dibaca. Terlihat sekali direspon dari orang bijak yang berpengalaman mendidik dan mengalami pasang surut kehidupan. Seperti opsi, yang utama membahagiakan orang tua atau pribadi? Ketidakmampuan memenuhi kemauan orang tua tidaklah menjadi soal, yang pokok adalah Anda! Susunlah rencana sesuai dengan kemampuan, dan segera menyusun siasat, cara, dan teknik penyampaiannya, yang penting bahagia sesuai kemampuan pribadi. Kebetulan topik ini beberapa hari lalu sedang dibahas di diskusi inspirasi pagi. Hanya doa dengan hati yang bersih yang dapat dikabulkan Tuhan.

Cinta sejati bukan sekadar seks belaka, tapi harus meliputi keseluruhan pribadi masing-masing, yang utama tahan uji dalam keadaan apapun, maka cinta bukan hanya seks centered, tapi harus personality centered.

#5. Oh Film…Misbach Yusa Biran

Buku tipis yang sebenarnya bisa cepat diselesaikan baca, tapi saya baca santuy jelang tidur. Saya bacakan untuk Hermione satu atau dua bab setiap beberapa malam. Ini adalah buku rekomendasi Sherina Munaf dan berkali-kali cari di Gramedia Karawang nggak ada, maka saat ada yang jual daring, langsung kusambar. Buku yang sejatinya biasa, hanya mencerita kehidupan seputar orang-orang film di Senen, dari sudut pandang para jelata mengais rupiah hanya untuk sekadar bertahan hidup dari bulan ke bulan. Kisah apes yang mengelilingi para kuli film. Judulnya tentu pas sekali, … oh, film!

Kisahnya lebih sederhana dan membumi, ini buku berdasarkan pengalaman sang penulis yang berkecimpung di dunia film sejak 1954 sebagai anggota PERFINI. CV filmnya sangat banyak, jasanya dalam seni di Indonesia tentunya melimpah. Tahun 2008 beliau menerima Bintang Budaya Parama Dharma, bintang tertinggi dari Pemerintah RI di bidang budaya.

“Ah… betapa tenangnya langit, mengapa orang bisa tidur di malam berbintang terang seperti ini?”

#6. Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi KematianYetti A. KA

Kumpulan cerpen yang menyajikan hal-hal sederhana malah mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan. Kata Martin Heidegger dari Jerman, yang meneliti eksistensi manusia terutama tentang kecemasan, kenisbian segalanya dan kesadaran manusia akan kematian. Ada yang bilang Heideggar seorang ateis, ada yang bilang pula ia seorang mistikus, tapi dengan jelas ia mengatakan bahwa dirinya, “sedang menunggu kedatangan Tuhan.”

Begitulah, Ketua Klub Gosip menjadi kumpulan cerita pendek yang melatari sisi dalam setiap individu. Dengan tema beragam dan beberapa minim penjelasan menjadikannya lebih asyik sebab segala yang membingungkan malah menarik. Ia mempertahankan pentingnya transendensi. Bagaimana jadinya kalau gosip sedih itu dimulai dari orang yang kita kasihi?

“Seharusnya kau menggunakan benang merah untuk topi itu”

#7. Cerita, Bualan, KebenaranMahfud Ikhwan

Kebetulan ini buku kedua tahun 2020 dari Tanda Baca yang kubaca, Tentang Menulis-nya Bernard Batubara yang gagal memenuhi harap, sekadar curhat pengalaman beliau mencipta karya, tak dalam, sangat biasa, dan benar-benar tak bervitamin. Sempat terbesit sepintas, jangan-jangan ini buku ala kadar juga? Sama-sama tipis dan berkutat dalam proses kreatif. Namun tentu saya rasa was-was itu bisa dienyahkan seketika, jelas Cak Mahfud punya kualitas, punya standar yang menggaris, mana yang laik dicetak dan mana yang sebaiknya tetap tersimpan dalam komputer. Kedelapan tulisan di sini sungguh ciamik. Kalau dituturkan dengan irama merdu gini, sangat perlu dibuat lebih banyak lagi kisah-kisah dibalik karya, terutama tentu saja karya yang sudah dikenal rakyat, dikenal pembaca dengan akrab. Dengan sudah membaca tiga buku sebelumnya, bualan beliau langsung bisa nyetel, klik sejak di akhir tahun cuti yang lucu itu.

Saya belum baca satupun buku karya Pak Kunto, tapi namanya memang termasyur di kalangan klub buku. Berkali-kali incar, gagal bawa pulang. Terutama Pasar yang sering kali muncul di pajangan. Ternyata menjadi panutan Cak Mahfud.

“Kekuasaan bergandengan tangan dengan agama akan memperlihatkan sisi buruk manusia.”

#8. Koleksi Kasus Sherlock HolmesSir Arthur Conan Doyle

Saya sedang membaca ulang beberapa buku lama, saya pilih pilah yang terkesan dan belum kuulas. Seingat saya, buku Sir Arthur baru satu yang kuulas di blog, makanya seminggu lalu entah refleks ambil buku ii di rak. Saya sudah khatam semua kisah Sherlock, dan membaca ulang malah menelusur kenangan, dan ingatan saya di Koleksi Kasus ternyata nggak kuat nempel, hanya beberapa yang klik, kebanyakan lupa tentang apa. Makanya terasa fresh lagi. saya baca buat selingan baca non-fiksi tentang filsafat yang bikin kerut kening making banyak.

Ternyata ini masa-masa akhir Holmes yang pensiun. Jadinya masuk ke koleksi kasus. Beberapa kisah berulang, seperti Holmes yang sombong menunggu klien saat Watson sedang duduk lalu mendengarkan detail. Atau Watson yang seperti kita tak paham maksud Holmes bahwa kasus ini sudah jelas, padahal selubung belum dibuka. Atau bahwa Holmes selalu ingin di balik layar, oarng-orang dari Kepolisian saja yang mendapat pujian. Atau Holmes yang hanya ingin menangani kasus unik, aneh, berat. Uang bukan masalah, justru ia tak tertarik menarik bayaran bagi jelata. Hebat. Keren. Takjub. Kebetulan saya sudah baca seri satu detektif karya Penulis Harry Potter. JK Rowling mencoba meng-copy gaya Holmes ke era masa kini. Belum bisa menandingi, tapi patut diapresiasi usahanya. Hal-hal yang paling rumit biasanya sangat bergantung pada hal-hal yang paling sepele.

“Nada bicara Anda tak kalah sombongnya, Mr. Holmes. Tapi saya bisa memakluminya. Hasil kerja Anda patut mendapat acungan jempol.”

#9. Bebas dari MiliterMartin Shaw

Buku yang sejatinya sangat umum, ditulis tahun 1991, dan kini sudah hampir tiga puluh tahun sudah banyak sekali perubahan militer. Telaahnya tentu saja sudah banyak tidak relevan, memang menikmati buku ini lebih ke nostalgia. Dunia digital meluluhkan segalanya. Membahas istilah saja bisa berlembar-lembar, membahas militer Inggris bisa panjang sekali, lalu telaah nuklir dan konsekuensi, menyelam dalam Perang Teluk yang berlarut, dst. Melelahkan sekali, tapi kalau nggak segera kupaksakan takutnya terbengkelai, maka gegas kutuntaskan. Berhubung militer adalah hal yang awam bagiku, lumayan bervitamin. Seluk beluk dunia militer. Jika perang selalu menjadi anakronisme sosial, masalahnya tidak akan selesai dengan menjadikannya sebagai kambing hitam.

Setiap masalah bisa dipecahkan jika teknologi dan dana digunakan dengan dosis yang tinggi. Argumen Ross bahwa apa yang sering kali dideskripsikan sebagai militerisasi di Dunia Ketiga (atau ‘militerisasi global’) lebih merupakan bangunan militer daripada militerisasi sosial.

“Pengeluaran militer pasti merusak kesejahteraan ekonomi meskipun ia memiliki keuntungan ekonomi yang positif.”

#10. Mimpi-Mimpi Einstein Alan Lightman

Secara cerita buku ini mengecewakan, intinya kurang gereget, hanya labuhan khayal sang ilmuwan yang acak dan tak jelas. Terliaht samar, mencoba merumitkan diri. Ini fiksi sehingga Alan Lightman harusnya punya kreasi bebas untuk melalangbuanakan bualan, sayangnya inti yang coba disampaikan tak jelas. Sepenggal masa-masa tahun 1905 di mana Einstein muda mengajukan tulisan terkait teori waktu, menjadikannya patokan utama, benang merah, dari seratus halaman, sejatinya hanya bagian interlude yang menjadi realitas yang menyenangakn dilahap, sayangnya yang namanya interlude ya sesekali saja muncul. Sementara sebagian besar hanya pecahan kejadian yang bebas dan tak beraturan. Tak kuat secara cerita, tapi memang dasarnya seperti puisi, semua bebas disenandungkan, keras, berisik, dan merdeka. Namun melelahkan sekali…

Buku ini sudah berkali-kali masuk daftar incar. Berbagai kover sudah kulihat, setelah bertahun-tahun akhirnya kumiliki edisi cetakan kesepuluh dengan kover kuning mentererng. Penerjemahnya adalah Penulis Raden Mandasia yang terkenal itu. Saya tak terlalu banyak complain terkait alih bahasa, karena memang rerata bila dikerjakan dengan serius hasilnya bagus. Kembali di kalimat pembuka, yang utama adalah cerita, dan Mimpi-Mimpi Einstein ceritanya kurang OK, mencoba bermewah kata, menawarkan stair-syair puisi kehidupan masyarakat di sekitar pegunungan Alpen. Mimpi-mimpi itu pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri.

“…Saat terkenal nanti, kau akan teringat bahwa kau pertama kali menjelaskan padaku, di perahu ini.”

#11. Teori Kepribadian Rollo MayIna Sastrowardoyo

Kehidupan kosong dapat terlihat dari manusia yang hidup seperti robot, tiap hari itu-itu saja yang dikerjakan tanpa gairah atau kegirangan seolah-olah dipantau oleh radar di kepala. Buku psikologi yang sangat bagus, dipadatkan dengan bagus dan dijelajah pengertian itu dengan sangat pas. Menjadikan penasaran lagi buku asli karya Rollo May, karena disini didedah dengan sudut yang mengagum. Sumbangan May, mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan.

May berujar bahwa konseling merupakan seni, yang dapat dikembangkan lebih besar dari seni lain misalnya melukis atau seni musik. Orang yang memandang objek seni, bahkan dapat mengidentifisir dirinya dengan objek seni itu.

“Saya hanya merupakan suatu koleksi cermin, yang memantulkan keinginan orang lain.”

#12. The Constant GardenerJohn le Carre

Kisah mengambil sudut utama Justin Quayle yang mendapati istrinya Tessa Quayle meninggal dunia dibunuh di tepi Danau Turkana, dekat Teluk Allia bersama pula rekannya dokter Arnold Bluhm, sang Apollo berkumis dalam sebuah pesta perjamuan di Nairobi, dokter kharismatik, lucu, dan tampan.. Pengemudinya Mr. Noah Katanga juga tewas. Mrs. Qayle akan dikenang atas pengabdiannya dalam menegakan hak-hak asasi wanita di Afrika. Sebuah pengalaman buruk yang didapatkan Tessa dan Arnold dalam perjalanan lapangan mereka sejenis malapraktik, jenis yang dilakukan oleh perusahaan farmasi.

Masalah obat ini adalah: pertama berbagai efek sampingnya ditutupi demi meraih keuntungan. Kedua masyarakat termiskin di dunia digunakan sebagai kelinci percobaan oleh masyakarat terkaya di dunia. Ketiga debat ilmiah yang sah mengenai masalah ini diberangus oleh intimidasi korporat. Apa yang benar selalu kekal. Para bedebah ini tidak memilkirkan apa pun selain keuntungan yang sangat besar, dan itulah kebenaran. Dyraxa bukan obat yang buruk, itu obat bagus hanya belum menuntaskan uji cobanya. Tidak semua dokter bisa dirayu, tidak semua perusahaan farmasi itu ceroboh dan tamak. Tessa dan Bluhm telah dibunuh karena mengetahui tentang kesepakatan jahat yang dilakukan perusahaan farmasi. Tessa adalah korban dari konspirasi internasional.

“Sandy, tugasku adalah mengabdi untuk Afrika…”

#13. Prosa 3 Obsesi Perempuan Berkumis – Budi Darma Dkk.

Wow, baru tahu dulu pernah ada sebuah buku berjilid Prosa sekeren ini. Ini adalah edisi ketiga entah total ada berapa edisi, isinya luar biasa, padat, sedap, bervitamin. Semacam majalah? Enggak juga. Semacam edisi khusus sastra? Bisa jadi, yang jelas benar-benar keren. Bung Budi Darma menjadi pusat, dengan cerpen panjang, kritik sastratentang cerpennya, dan wawancara khusus, Bung Yusi juga menyumbang dua tulisan. Bagus semua. Bikin pembaca megap-megap antusias.

Mengubah dunia tentu memerlukan keyakinan, ketetapan, kepastian – dalam bentuk ilham maupun dokrin, dan organiasasi dan lain-lain. Berisi tiga jenis tulisan: fiksi,esai, dan dialog. Renyah sekali.

“Saliva, Saliva, hatimu, mulutmu, ucapanmu, semuanya berlendir.”

Oktober tahun ini memang penuh buku. Kukira bakal jadi puncak jor-joran beli buku, ternyata November sejauh ini sudah beli belasan lagi. sulit sekali menghentikan.

Karawang, 161120 – Solomon Linda & The Evening Birds – Mbube (1939)

Fiksi Etnografis Sempurna: Lock for Best Prosa KSK 20

Orang-orang Oetimu by Felix K. Nesi

Ia suka membaca buku. Sekali ia duduk di depan buku, taka da yang bis abikin ia bangun. Saya yakin ia akan enggan naik ke surga bila dikubur bersama buku.”

===Catatan ini mungkin mengandul spoiler===

Oetimu, dulu ini adalah kerajaan Timu Un, sekarang sudah menjadi Kecamatan Makmur Sentosa. Ini kisah tentang masyarakat di sana, menyelimuti segala nasib manusia. Siapa bisa menjamin, jika besok atau lusa, karena perempuan itu juga, Oetimu tidak menuntut kemerdekaan dari Indonesia?

Keren adalah kata pertama yang kuucap setelah menuntaskan baca. Luar biasa, hikayat singkat orang-orang Oetimu dari zaman dahulu sampai tahun 1998, tahun genting peralihan Orde Baru ke Reformasi. Buku ini melibat banyak karakter, dan hampir semua yang ditelusur kisah hidupnya memberi peran signifikan. Membantu menggerakkan plot secara yahud, menjadikan penentu nasib tokoh lain, dan ini hebatnya Bung Felix K. Nesi tak segan-segan menewaskan karakter favorit! Tak ada yang baik konsisten, tak ada pula yang jahat terus, mayoritas sifatnya abu-abu, pas banget dengan kenyataan kehidupan yang fana ini. Eh, kecuali satu karakter yang dungu, nyebelin tak ketulungan. Namun nyatanya, orang bodoh pun dapat durian runtuh gadis jelita yang menjadi impian semua orang. Mengangkang siap diterkam, Hajindul! Asu!

Kisahnya dibuka dengan menyakinkan sekali, di Oetimu tahun 1998 malam final Piala Dunia di Prancis yang meluluhlantakkan Samba tiga gol itu menjadi kejadian menghantar kronik drama panjang ini. Tersebutlah Sersan Ipi yang menjemput Martin Katibi dengan motor bututnya untuk nonton bareng di pos polisi. Satu jam sebelum tragedi pembunuhan itu, mereka menyumpah Amerika, dituduh dalang kekacauan dunia. Ronaldo loyo, Amerika yang dihujat. Khas kaum kadrun.

Nobar itu menjadi petaka buat warga ketika Sang Sersan mengumumkan rencana pernikahannya dengan Nona Silvy, primadona kampung yang masih sekolah, siswa pindahan yang cerdas nan jelita. Dengan hasil separuh babak amburadul dua tandukan Zidane, sang tetua pulang lebih dini, para pembunuh sudah di rumahnya, menyekap anak istri. Mereka tak mengira, sepakbola 2 x 45 menit itu tak penuh, sang tuan rumah pulang cepat! Mendebarkan? Tentu saja, tapi untuk mengetahui nasib mereka kita diajak melalangbuana jauh ke belakang.

Di Lisbon tahun 1974, Julio Craveiro dos Santos akan dikirim ke Timor membantu Mario Lemos Pires dalam proses dekolonisasi Portugal. Rencana awal istrinya Lena dan anaknya 16 tahun Laura akan ditinggal, tapi ketika disampaikan Timor itu bukan Afrika, itu Negara kecil dekat Australia jadi relatif aman, tak bar bar seperti Afrika? Gundulmu! Maka diputuskan sekeluarga dibawa. Rencana dan perkiraan yang bagus itu menjelma bencana, Timor dalam gejolak politik. Ada tiga partai yang berdiri menjelang dekolonisasi: UDT yang menginginkan persatuan dengan Portugal, Fretelin yang menginginkan kemerdekaan penuh – sebelumnya bernama ASDT, dan Apodeti yang kecil dan ingin bersatu dengan Indonesia, Negara tetangga bekas jajahan Belanda. Walau Julio mencoba tak ikut-ikut suasana, mencoba netral tak memihak politik manapun, nasib malang menimpa, menjadikannya korban keganasan politik. Semua tidak baik-baik saja. Sadis sekali kisah hidup keluarga ini. Julio Craveiro dos Santos yang malang. Atas nama rakyat Maurebe, kalian adalah martir-martir pertama.

Legenda Am Siki mencipta kisah tersendiri, kembali ditarik lebih jauh ke belakang di era penjajahan. Am Siki menjadi masyur dan dihormati di seluruh negeri. Namanya harum mewangi dan dikenal ke pulau-pulau lain. Mereka sering menyebutnya pahlawan, yaitu ksatria yang membunuh untuk menyelamatkan bangsa dari cengkeraman Jepang. Ama Nemo Manas Manikin, leluhur salah satu pemimpin negeri. Konon hujan tak pernah membasahinya, angin hanya meniupnya jika mendapat izin, dan bila ia menunggang kuda di siang terik, awan akan berputar-putar di kepalanya, melindungi ia dari sengatan matahari. Segala yang tumbuh di atas tanah itu hanya milik leluhur semata, jika membutuhkan sesuatu, ambillah, tapi jangan untuk berperang. Am Siki turunan orang sakti itu, pohon lontar yang ajaib. Pohon lontar itu membacakan syair dalam uab Meto.

Bagaimana ia menjadi pahlawan sungguh kocak. Am Siki menyelamatkan kudanya yang diperkosa tentara Jepang, tapi ditafsir menyelamatkan bangsa sebab selain membantai Nippon ia juga membakar area romusha. Orang-orang bisa menyelamatkan diri. Lalu waktu menjelma dongeng legenda. Sejak Am Nu’an pendongeng dari Oetimu yang rabun terjun ke jurang yang disangkanya kolam ikan dan mati, orang meminta Am Siki untuk mendongeng. Ia adalah pencerita yang handal, yang bercerita dengan kata kerja yang gampang diimajinasikan dan beragam isyarat tubuh. “Tidak boleh dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Ingat? Tidak boleh diperkosa, sekalipun itu kuda…

Laura yang terlunta berhari-hari dalam keadaan hamil terdampar di Toko SUBUR: Berdiri Karena Sabar. Dikira penyihir saking kumalnya, dikira orang gila. Panggilkan Am Siki, tetua kampung. Maka Am Siki mengulurkan tangannya. Menyulap gadis dekil menjadi jelita. Laura melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Siprianus Portakes Oetimu atau yang kita kenal nantinya sebagai Sersan Ipi yang kita baca di bab pertama.

Ketika lulus SMA, sang kakek angkat mencarikan jalan hidup nyaman. Sebagai tetua adat, ia lalu menyambut pejabat. Am Siki memandang mereka dengan heran dan bertanya bagaimana bisa orang terhormat tidak memahami syair, padahal ia berkata dengan diksi dan metafora yang bisa dipahami oleh orang Timor paling tolol sekalipun. Ipi berangkat pendidikan kepolisian, dan peran sang legenda berakhir sudah.

Ia menjadi seorang polisi tunggal yang gagah, ditakuti anak-anak sekaligus dihormati sebagian kalangan. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia adalah aparat Negara yang berseragam, ia akan bertindak atas nama Negara, demi kebaikan daripada seluruh warga Negara. Dia menjaga keamanan wilayah, suatu hari dua siswa berkelahi karena permasalahan mimpi basah. Kalian boleh mimpi basah dengan siapa saja, dengan Nona Silvy, dengan istri A Teang, atau dengan Lady Diana sekalipun. Namun jangan berkelahi, demi Tuhan, kalian hanya bocah bodoh, kencing saja belum bisa bikin lubang tanah. Belum tahu dia, betapa jelitanya Nona Silvy ini. Maka ketika ia ke rumahnya yang sepi, ia gemetar jatuh hati. Bagian ini sampai melenguh lega adalah bagian terbaik, anjay kalau saya bilang. Pertama ketemu bercinta, dan saling mengikat. Menghamili adalah cara lain untuk melamar. Silvy yang cerdas memilih calon ayah bagi anaknya, Ipi yang lelah karena hobi nganu-nya menemukan sarang yang pas. Kalau ini adaptasi Disney, garongnya keok. Namun enggak, ini adalah hikayat orang sial.

Tersebut pula Atino yang membela Negara, memberantas radikalisme para pemberontak. Apes pula nasibnya sebab sebuah serbuan maut membunuh keluarganya. Dengan dendam kesumat, ia menjadi pasukan Petrus-nya Soeharto, sambil mencatat para pembunuh untuk balas dendam. Sampai di sini tentu saja kita tahu, di bab mula bahwa ia merencana balas dendam, dan Martin Katibi tentulah salah satu dalam daftar.

Untuk kembali ke benang putus bab satu, kita masih diajak muter ke sebuah kehidupan lain. SMA Santa Helena yang termasyur itu dituturkan dari mula sekali. Romo Yosef ditugaskan menjadi kepala sekolah bobrok pesisir karena hukuman. Ia sukses mengubah sekolah kumuh menjadi sekolah favorit, banyak trik. Orang-orang cepat jatuh hati pada kemiskinan dan selalu ingin menjadi pahlawan. Dari sumbangan dan kerja keras. Bagaimana ia di ditempatkan di sana memang misteri. Ada yang bilang ia melakukan pelanggaran, ada yang bilang ia naik pangkat setelah menjadi asisten pastor ia kini menjadi orang nomor satu, walau terkucil. Tenang, kita akan diberitahu detailnya, karena dari Maria Goreti Naleok-lah sumber itu. Masa muda Maria yang idealis di kampus bertemu calon pelayan Tuhan yang kalem. Untuk menutupi gerakan mahasiswa, mereka membentuk Kelompok Doa Mahasiswa Ora et Labora, dan laki-laki itu turut serta. Lelaki berilmu yang dingin kepala, akan betah bersama perempuan yang cerewet dan suka mengumpat. “Jika kita selalu menjadikan Tuhan sebagai pelita, sebagai penuntun jalan kita, maka kita pasti bisa menjalani setiap cobaan di dunia ini.” Mereka saling cinta, terjadi berkali-kali ciuman panas, Maria sudah menyatakan ketertarikannya, tapi Yosef sudah membulatkan tekad menjadi pastor. Maka melalui ciuman panas perpisahan, Mari melanjutkan hidup menikah dengan lelaki Rumah Sakit bernama Wildan. Keluarga ini sempurna ketika buah hatinya lahir. Bung Felix tertawa, sebuah kecelakaan menewaskan suami dan anaknya, dan Maria menjanda. Seorang cerdas ini mendapat nasib buruk.

Nah, janda ini melakukan ciuman dengan Romo Yosef, masih ada cinta di antara mereka. Adegan hot itu ketahuan sang kepala, maka ia harus angkat kaki. Nasib akhir Maria sendiri membuat merinding. Orang cerdas tak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan, banyak impiannya tak terkabul, cinta, karier, keluarga ini. Rapuh. Di pemakaman suami-anaknya ia mengumpat, umpatan yang fasih dan menggelegar di arena dukacita. “Kesatuan Negara? Kesatuan Negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya… Sangkamu kesatuan Negara lebih penting daripada… puih! Anjing!”

Kita kembali ke Silvy Hakuak Namepan yang lulus seleksi masuk SMA, Yunus Mafut Namepan menangis seperti gembala kehilangan sapi, bukan bahagia, tetapi ia menangis sebab terus-terus merasa gagal menjadi orang tua. Nasib Yunus sendiri mengambang. Setelah ditinggal istrinya Yanti yang kabur sama laki lain, ia mengalami degradasi mental. Guru yang terpuruk. Nah, Silvy putri tunggalnya ini cerdas, membuat heboh sekolah asrama ini. Sebab kerap ia menyela penjelasan mereka dan mengajukan argumen lain dengan sumber data yang jelas dan landasan berpikir yang kuat. Tak ada yang bisa membantahnya. Kecerdasan ini membuatnya diminta keluar kelas, diminta belajar mandiri dalam perpustakaan pribadi asrama. Kita tahu ada adegan mesum di dalamnya karena suatu ketika sang kepala sekolah pulang dalam keadaan demam, dan terjadilah apa yang yang menjadi penyebab Silvy ke Oetimu.

Satu tokoh lagi yang menjadi link adalah Linus Atoin Aloket. Dari enam ratus delapan puluh Sembilan orang sarjana laki-laki yang melamar, ia satu-satunya yang diterima sebagai guru SMA Santa Helena. Karakter bodoh yang aneh nan menjengkelkan. “Di dunia yang fana ini, uang bisa membeli kebahagiaan kalau kau tahu cara menggunakannya.” Menjadi guru sejarah tapi nggak nyambung masalah masa lalu. Apa pula gunanya berpikir? Ia hanya perlu bekerja. Kerja, kerja, dan kerja. Biarkan Romo Yosef yang berpikir. Tokoh paling menjijikkan ini menjadi kunci utama untuk menyambungkan adegan pembuka, mengapa Silvy pindah sekolah diantar Om Lamber dan Tanta Yuli.

Di Oetimu, segala yang ditata rapi itu berakhir berantakan. Saya suka sekali kisah hidup tragis, Bung Felix menyajikannya dengan melimpah ruah, suram adalah koentji. Orang-Orang Oetimu adalah novel lokal terbaik yang kubaca tahun ini. Serius!

Hajindul, keren banget! Sabtu malam kemarin (26/09/20) saya chat WA sama teman diskusi (buku, bola, film) – Bung Tak saya memanggilnya – bahwa pemenang KSK tahun ini adalah Orang-orang Oetimu, beliau punya podcast channel dan mau undang ngobrol. All hail mokondo channel! Beliau tanya, tahu dari mana? Pengalaman membaca banyak buku membentuk pola, otomatis feeling bagus/jeleknya bisa diperkira. Benar saja, esoknya di Minggu siang yang terik saya mendapat kabar lima besar dari Dunia Maya, dan buku ini melaju. Nah kan! Dari delapan buku KSK 20 yang sudah kubaca, ini satu-satunya yang berbintang lima. Masih dua buku lagi sore itu baru diterima via pos, tapi keduanya sudah gugur duluan. Jadi fix, bisa dipastikan juara Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 kategori prosa adalah novel ini.

Banyak sekali kritik sosial disampaikan. Korupsi, perilaku buruk masyarakat, sampai birokrasi yang ribet. Orang-orang itu telah korup sejak dalam pikirannya, sehingga satu pejabat korup hanya akan digantikan oleh kroninya yang juga korup, dilindungi oleh rezim yang juga korup, dipermudah oleh sistem yang juga korup, dan didukung oleh budaya tidak tahu malu yang menjijikan. Atau kritik kekerasan dalam pendidikan. Dalam asrama itu diperboleh. Tak apa jika mereka dibikin nyonyor dan berdarah-darah. Lebih baik berdarah di masa muda daripada hancur seluruh masa depannya…

Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 ini sepertinya akan berpesta di 15 Oktober nanti. Fiksi Etnografis Sempurna: Orang-Orang Oetimu is lock for best Prosa KSK 20. Wanna bet?

Orang-orang Oetimu | by Felix K. Nesi | Penerbit CV. Marjin Kiri | Juli 2019 | Cetakan ketiga, Februari 2020 | i – viii + 220 hlm, 14 x 20.3 cm | ISBN 978-979-1260-89-3 | Desain sampul TINTA Creative Production | Skor: 5/5

Karawang, 280920 – Jo Stafford – Autumn Leaves (1950)

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokopedia

Delapan sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Nasib Mang kAslan Kita yang Menentukan

Rab(b)i by Kedung Darma Romansha

Memang kadang dunia bekerja dengan tidak adil… Telembuk yang diludahi di muka umum, juga diludahi ketika di dalam kamar.”

Kalau ngomongin Kedung Darma Romansha, bukunya akan selalu berkutat di selakangan. Kelir Slindet sangat kental ke arah sana, Telembuk lebih ekstrem lagi. Maka apa yang kurasakan di tengah gempuran Rab(b)i sudah kukenali pola itu. Buku ketiga yang kunikmati, ngalir saja, ga perlu mikir aneh-aneh, ketawa sahaja. Seperti satu-dua yang butuh waktu lebih untuk ‘tune in’ sampai buka kamus arti ‘slindet’ atau arti ‘telembuk’ yang baru kutahu, tak heran sejak cerita pertama saja sudah bisa menebak, bagaimana enggak aneh? Istri jadi TKW, kasih modal suaminya di kampung buat niduri seratus pelacur! Selain dari judul yang dicoret, ada alasan poin penting yang akan diungkap di cerita ketiga.

Novel yang tiap bab bisa berdiri sendiri, dari sudut pandang banyak karakter, saling silang melengkapi. Sang Diva, tokoh utama di kisah sebelumnya, kini hanya cameo, sesekali saja muncul dan disebut.

#1. Kaji Darsan Rab(b)i

Hikayat orang kaya yang baik hati memberi pekerjaan kepada orang susah. Sampai akhirnya kita tahu, tak ada yang gratis di dunia ini. Kisahnya tentang suami tak tahu diri. Seorang pemimpi tak tahu diri, sebenar-benarnya pemimpi. Kerjanya hanya melamun dan berjudi.

Tentang Kartamin dan keluarganya yang bekerja di toko kelontong milik Kaji Darsan, padahal sejatinya ia dijanjikan jaga empang, di menit akhir diganti orang lain, kisah Dulatip akan dibeberkan di cerita berikutnya.
Namun kita akan mengenal lebih dekat sama putra sulungnya yang beruntung bernama Untung. Menikahi Wasti dengan adegan ketiaknya (jorok woy!). “… Kamu tahu, kalai bau ketiak laki-laki itu menyenangkan?” Menjadi istirnya, nantinya juga menjadi ATM-nya ketika memutuskan jadi TKW. Emang dasar Untung, malah rabi lagi sama Nurlaila yang suka peliharaan ayam. Drama itu menemui ujung udur dua istri. “Wah hebat kamu, suamiku perkasa!”

Pembuka yang mantab sekali. Ilustrasi cover-nya sangat pas, ayam jago santuy sementara dua babon padu. 20 juta tunai!

#2. Nar

Tentang Narka yang yang menjadi tukang parkir untuk dapat duit buat nyawer. “…Saweran adalah candu bagi setiap pemeluk dangdut garis keras. Kamu sendiri pemeluk teguh, tentu juga aku.” Bergoyang bersama Diva Fiesta adalah impian setiap pemuda untuk mencium aroma tubuhnya dan menatap aurat kecantikannya dari dekat.

Ini drama keluarga, urusan suami-istri yang bertengkar karena ekonomi. Namun suatu ketika Nar memiliki surpes, kejutan buat rabi-nya. Zaman sudah berubah, lakon sudah berubah, tapi masih menyukai cerita lama. Memang kadang cinta membuat seseorang bersikap tak wajar.

Jangan membantah suami, Dosa!” / “Membantah suami kalau kayak kamu ini dapat pahala.”

#3. Juragan Empang

Alibi dibalik kenapa Kartamin gagal mendapatkan pekerjaan urus empang ada di sini. Dengan sudut pandangnya yang menjadi karyawan Pak Kaji, dan istrinya yang ngambek. Kartamin merasa beruntung diberi pekerjaan oleh Kaji Darsan, pendapatannya yang labil sebagai buruh tani, buruh bangunan, atau serabutan lain selain nganggur, kini ia bisa bernapas lega. Ada yang aneh terkait istrinya yang semok berhari-hari ga mau rabi, bahkan saat diberi kejutan gelang emas di meja kamar. Sebab ngambeknya lalu dituturkan dengan santuy dan menghentak, lewat kamar yang sedikit terbuka, dan permintaan cerai!

Ia ingin membeli kesenangan setelah lama kami hidup serba pas-pasan.

#4. Ngarot

“…Ia juga punya istri mirip tukang pukul. Suka membentak, ia tersenyum hanay ketika melihat uang.aku berani bertaruh, siapapun laki-lakinya, hasrat seksualnya akan turun jika bertemu perempuan seperti dia…”

Ini mungkin cerita yang paling biasa. Bagaimana nasib pemuda-pemudi yang dipilih jadi ngarot. Ditemui typo juga, harusnya tiga bulan tapi malah tiga tahun. Rasmini yang terpilih dalam acara kasinoman dalam upacara Ngarot, muda-mudi dengan darah segar mendebarkan. Memilih laki-laki perjaka, dan gadis perawan. Indikasi bunga layu akan menunjukkan keasliannya sudah tak suci lagi.

Drama di tengah sawah dengan Mang Sukri. Duh! Pulung guna pulung sari. “Semua orang takut sama kakakmu, tapi rasa cintaku lebih besar dai rasa takutku.”

#5. Menjaring Bidadari

Nelayan yang diajak melawan pantangan, melaut di kala purnama. Kegiatan yang katanya membentuk kutuk sulit jodoh, menurut Kaki Bayong. Hanya di kampung ini Tuhan menurunkan bidadari di kala purnama. Bertiga melaut, memang benar-benar tak dapat ikan. Lalu acara sambatan pasar jodoh muda-mudi di malam itu menjadi pahit, karena Narka malah mendapat apa yang ia mau. Hiks,…

Selama ini yang mereka lakukan adalah kesia-siaan. Kasihan mereka, sudah hidup susah, malah disumpahi masuk neraka.

#6. Kang Sodikin

Kiai mbeling putra Kiai Soleh dari desa Rajasinga yang bergaul tanpa memisahkan kasta. Isi ceramahnya juga nyeleneh, lebih membumi. Gaul dengan siapa saja, tak peduli telembuk atau jelata yang membutuhkan siraman rohani. Kisah ini menemui titik akhir, bagaimana malam-malam ada perempuan menanyakan alamat Kang Sodikin, fitnah itu kejam. Maka Dorman dkk yang punya dendam lalu melancarkan isu negatif, menggelar demo ke rumahnya, walau peserta segelintir (tak lebih dari sepuluh). Jawabnya bikin geger, tapi bohong!

Sebuah misteri terjawab, Sang Diva disebut lagi. “Wujud nyata yang paling dekat dengan Tuhan di dunia ini adalah perempuan.”

#7. Lebar-an

Ini unik, walau bukan pola baru mengungkap sebuah kengerian pribadi yang meninggal. Bagaimana sebuah pos ronda menjadi tempat diskusi maksiat guna melancarkan aksi curi, tempat yang seharusnya menjadi titik kumpul penjaga keamannya malah menjelma ajang judi dan perencanaan merampok. Jelang lebaran, kebutuhan manusia turut meningkat, dan marak begal dan kriminal.

Dengan sudut pandang Aan yang merindu suasana kampung setelah kuliah keluar kota, momen lebaran memang jadi waktu lepas rindu keluarga dan sahabat lama, ada Casta dan Kartam yang saling curhat masalah keluarga. Menanti sobat lama Yusup alias Kriting apakah mudik tahun ini, ia merantau ke Jakarta (tepatnya Bekasi). Ketika sudut pandang berganti, tahulah kita apa yang terjadi. Rindu itu berat, biar aku saja. Baju baru, celana baru, jam tangan palsu baru…

Di tepi jalan ini kami biasanya membakar singkong tanah sambil membicarakan kerumitan hidup, perempuan, kelakar, dan omong kosong lainnya.

#8. Asbabul Wurud

Siapa yang sanggup menjawab rahasia mimpi-mimpi? Ustaz Karim, sebab orang takut mati adalah orang yang imannya lemah dan cinta dunia.

Banyak-banyaklah beribadah, jangan mau diperbudak dunia. Setelah meyakinkan untuk siap mati, beliau malah mengalami mimpi buruk, yang ia yakini datangnya dari setan. Namun sampai lima malam, ia bermimpi masuk neraka dengan adegan lain seorang telembuk masuk surga. Wajah ayu yang menghantuinya, lalu ia buka facebook-nya Mang Kaslan dan mengetahui siapa gerangan. Si Ratu Goyang yang rajin sedekah, Si Nadira Cantik alias Warjem. Masa lalu diungkap tentang sumbangan dari uang haram. Nah lo!

Pesantren yang sebenarnya ya sekarang, di tengah masyarakat.

#9. Jangan Tanya Dulu Bagaiamana Aku Mati

Kata ‘seandainya’ hanya akan membuatmu terpuruk dan lupa diri. Kamu akan menjadi orang yang tak waras dan akhirnya mengutuk ketidakmampuan diri sendiri. Ini kisah unik, kisah dari sudut pandang si korban pembunuhan, yang sudah baca Telembuk pasti tahu siapa germo Diva Fiesta, yang tewas dibacok orang tengah malam di tengah sawah. Kisah dituturkan runut dari masa lalu Mak Dayem, usia 12 tahun menjadi istri siri, menikah kedua kali kacau lagi, menikah ketiga kali sejatinya lebih tenteram, syarat tidak nelembuk malah dilanggarnya. Kalian tahu? Ialah ibu dari Warjem. Namun bukan itu kejutannya, ini adalah kisah mistis mediumisasi.

Kenyataan hidup telah mengubah cinta menjadi pembunuh yang paling mengerikan.

#10. Mang Kaslan

Jangan macam-macam dengan nama, karena nama adalah doa.” Mang Kaslan yang merasa jadi singa, karena namanya sempat menjadi Aslan (singa – bahasa Turki). Ia adalah karakter penting yang jadi penghubung, menjadi ojek Diva dan Warjem, yang menjadi rujukan Ustaz Karim dalam menelusur dunia maya, yang jadi penjawab tanya, Safitri atau Sapitri? Pipit atau Fitri? Nah, kali ini di tengah perjalanan satu setengah jam bersama motor tuanya, ia terjungkal. Dan nasibnya kita yang menentukan.
Marah pada diri sendiri dan tak sanggup menghadapi kenyataan yang sedemikian pahit.

#11. Mengenai Pengarang

Pernah nyaris kusingkirkan novelnya (walau sudah kubeli) karena ada unsur ‘Roma-nsha-nya’ di nama belakang, tapi urung setelah sosmed mencipta hubung, memastikan bukan Romanista. Penulis Indramayu yang pernah mondok di Yogya, dan kuliah jurusan Bahasa dan Sastra di UNY. Boleh jadi semua yang ditulis tentang tanah kelahirannya adalah fiksi, tapi bercerita tentang dunia sekitar adalah hal wajar dan tentu saja tampak sangat nyata, ga perlu telaah mendalam untuk bilang tokoh Aan adalah gambaran Kedung, walau nantinya keduanya berinteraksi. Makanya tampak perkasa dan baik hati, dan eeheemmm… soleh. Lulusan pesantren! Tahun 2017 Telembuk yang luar biasa, sangat tipis untuk meraih juara KSK, apes saja Dawuk muncul di tahun yang sama. Prediksiku, Rab(b)i akan melaju lagi ke lima besar, sejauh ini ada tiga yang berskor: 4.5 bintang. Mari kita lihat, sehebat apa mantra Kaji Darsan mewujudkan mimpi penciptanya, moga ga sampai keselek mlinjo.

Kalau boleh kasih saran, buku berikutnya sesekali mencoba jauh dari tema yang membentuk citranya sebagai penutur sekitar selakangan. Misalkan, bikin cerita genre fantasi imajinasi, perjalan ke galaksi Bima Sakti. Atau tentang kekayaan flora dan fauna laut, berjuang membantu Aquaman, misalkan ya ini. Jangan ketawa, kan sekadar contoh. Namun percuma juga sih, seandainya dibuat, tahunya astronot mesum ketemu alien nongkrong atau nelayan yang terperangkap putri duyung yang lagi cari mangsa. Duh! Nelembuk enak, setelah maninya muncrat, langsung gajian. Mudah, praktis, dan enak. Bayangkan di luar angkasa, atau di tengah laut. Maninya melayang.
Hehehe…

Tambahan dikit, ada nama Dea Anugrah di sini. Dua kali saya menemukan namanya disebut dalam novel. Pertama dalam Dekat dan Nyaring-nya Sabda, sekilas lewat cameo di akhir, kedua di sini, sebagai sahabat tobat. Asyik juga ya menyebut sobat Penulis dalam buku. Sungguh terasa istimewa Sang Bakat Menggonggong ini, apakah sebuah konsolidasi?

Rab(b)i | by Kedung Darma Romansha | Copyright 2020 | Penyunting Anis Mashlihatin | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Ilustrator sampul Hidayatul Azmi | Penata sampul dan isi M. Sadam Husaen | Cetakan pertama, Juli 2020 | Penerbit Buku Mojok | viii + 136 halaman | 14 x 21 cm | ISBN 978-623-7284-30-7 | Skor: 4.5/5

Karawang, 170920 – Yusuf Islam – Father and Son

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokped

Empat sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Realitas Merenggut Mimpi-Mimpinya

La Muli by Nunuk Y. Kusmiana

Tahukah kamu, Inah, nelayan sepertiku tidak bisa memilih-milih. Aku tidak benar-benar tahu ikan apa yang memakan umpanku. Cukup sering menangkap penyu dan terpaksa kulepaskan. Meski hati ini sedih mendapati mulutnya yang terluka karena kailku.”

Buku kedua dari Nunuk Y. Kusmiana yang kubaca setelah Lengking Burung Kasuari yang memukau itu, debut yang sukses berat. Kali ini temanya lebih variatif, mengambil sudut pandang penduduk asli Papua yang ditunjuk menjadi ketua RT, mencoba memecahkan masalah warga, menjadi penghubung pemerintah dan penduduk asli dan juga pendatang. Sebagai nelayan yang baik hati. Pondasi utama cerita ini adalah sebuah sumur yang terbuka yang coba dibuatkan dinding agar tak terjadi porno aksi, mereka dianggap melakukan mandi dengan porno sebab area terbuka, mengenakan sarung untuk dewasa dan telanjang bulat untuk anak-anak. “Masuk neraka saja komandan itu. Bikin susah semua orang, mentang-mentang dong tidak pernah mengalami susah air.”

Kali ini seolah tokoh-tokoh penting di Lengking menjadi tokoh pendukung saja. Bu Letnan adalah perwujudan ibunya Asih yang membuka toko kelontong. Kisahnya hanya berkutat di Papua, ujung Timur Indonesia yang bergabung dengan Indonesia 1969. La Muli adalah ketua RT yang terpilih, tak berpengalaman berorganisasi, warga asli kebanyakan yang tak terlalu mengenal birokrasi, mengalahkan La Ode Komarudin yang lebih kaya dan telah lama diakui berkuasa (walau tak sah). Istrinya Mutmainah (dipanggil Inah) adalah pribadi yang sederhana pula, berpikir praktis yang penting dapur ngebul, ada ikan yang dibawa pulang. Urusan dinding yang rumit, tak menghasilkan uang atau makanan membuatnya muak. Sejatinya hampir semua istri juga gitu-kan, “Cari duit kakak, bukan pangkat atau jabatan!”

Sebagai nelayan kecil, La Muli menjadi presensi nyata kehidupan warga kebanyakan. Tidur awal menjadi kemewahan tersendiri bagi nelayan seperti dia. Dibuka dengan masa kecilnya yang absurd bahwa ia akan menjadi orang penting yang disampaikan berkata-kata oleh kakek berambut putih yang dianggap gila, tapi ramalannya jitu. Ketua RT yang (mencoba) mengayomi, istrinya terlihat ngalir saja hidup. Pakai seragam? Enggak! Dapat gaji? Enggak! Apa pentingnya?! “Pekerjaan ini adalah kontribusi nyata warga bagi tertib administrasi.”

Suatu ketika dapat instruksi dari Komandan untuk membuat dinding di sumur umum agar tak menjadikan porno aksi, hal sederhana ini lalu memicu rentetan panjang masalah. Iuran warga per Kepala Keluarga (KK) dua puluh lima ribu rupiah, menjadi beban. Bukan macam gini, main buka mulut saja, macam uang tinggal ambil di pohon-pohon. Tak semua mau memberi, ada yang bayar tunai, ada yang bayar separuh, ada juga yang tak mau bayar. Pak RT mumet. Polemik pertama muncul dari pelacur berambur lurus, Sarita yang tinggal menyewa rumah La Rabaenga, belakang rumah Wa Ome. Ketika ditagih, malah menyampaikan kabar untuk menagih ke palanggannya yang utang, La Udin. Dalam rapat, walau La Muli tak menyampaikan langsung salah satu masalah penarikan iuran, hanya tersirat, tetap membuatnya marah. Suatu malam, La Udin melakukan tindak kekerasan yang berakibat Sarita harus dirawat di rumah sakit. Ada warga mendengar jerit sakitnya, tapi malah pasif sama ‘Bibi’, soalnya sudah terbiasa mendengar jeritnya. “Menantuku dengarkan ini, kalau ada kejahatan sedang terjadi dan kita diam saja, padahal kita mampu melakukan sesuatu, bukankah kita ikut berdosa?” Jangan bayangkan rumah sakit yang mewah dan mudah dijangkau, di sana urusan medis juga rumit dan sebagai ketua RT, ia harus mengantar. Waktu dan tenaganya tersita banyak.

Di sinilah seninya, urusan dinding sumur merembet ke yang lain. Bahkan eksekusi endingnya ketika dinding jadi-pun masalah bukannya selesai, malah melebar ke lain hal pula, karena dinding itu bermasalah (saya bocorin dikit, masalah cakar ayam!) lalu malah La Muli dituduh korupsi dana warga. Astaga… mau mandi nyaman dan aman saja ribetnya. “Mengapa ada orang yang tega mengurusi bagaimana caranya orang mandi?”

Buku ini juga terasa bervitamin, dengan menyodorkan fakta-fakta kecil yang asyik. seperti pola tidur nelayan yang menyesuaikan jadwal kerja. “La Muli masih tidur, kamu akan sulit membangunkannya, meskipun kamu meledakkan bom di telinganya. Beginilah nelayan sejatinya, atau kamu bisa kembali sedikit siang, ia akan bangun saat itu.”

Fakta permainan harga untuk komoditi ikan, saat bulan terang dan saat ada badai, harga ikan melambung tinggi seperti harga emas. Mirip dengan budaya pertanian yang mana, kala panen raya justru harganya terjun. Atau hal sepele tentang sopan santun berpakaian ketika menghadap orang penting, “baju diseterika membuat bapa kelihatan penting.”

Tentang tata cara berniaga ada yang bikin trenyuh, bagaimana ada yang jualan hasil kebun dari pulau seberang. Pulau Muna yang jauh, mengangkut hasil alam untuk dijual di sana, dengan mengarungi laut dua hari berperahu seadanya, bersama angin yang menggerakkan layar terkembang! Gilax, terdengar janggal tapi juga nyata. “Selamat datang, selamat berjuang di tanah rantau yang keras ini.”

Di Papua nuansa reliji juga kental. Sayangnya Allah kelewat sibuk bekerja, sampai-sampai aku mendapat ‘kembung-kembung’ yang tidak berharga ini, dan teri yang jauh tidak ada harganya di pasar. Rasanya aneh debat suami-istri ini, saling silang pendapat. Dua orang yang berdoa kan lebih kuat daripada hanya satu orang, “Kurasa kalau kau ikut berdoa, Allah akan menutup kupingnya, karena kamu selalu berdoa dengan berisik. Kalau kita berdoa untuk mendapatkan hanya ikan yang tidak kelewat besar. Mungkin Allah akan mendengar doamu dengan mendatangkan ikan-ikanyang tepat.”

Satu lagi fakta asyik. bagi kita ngopi bergelas-gelas dengan aneka rasa dan merek sudah biasa, dan setiap saat juga bisa. La Muli dan uring-uringan istrinya yang kekurangan dana, buat kopi manis saja jarang-jarang. Sebuah kejadian langka, ngopi manis dan nyaman dengan buku atau HP. Maka ketika bertamu ke Sarita meluruskan masalah dan mendapat suguhan kopi, bersama Letnan. Respon keduanya berseberangan. Pak Letnan yang berkecukupan, menganggap kopinya basa-basi yang tak menarik (bahkan tak diminum!), lain halnya Pak RT. Ia mencecap dan menikmati setiap seruputannya. La Muli membayangkan akan kenangan kopi manis di rumah Sarita. Mulutnya bahkan masih bisa mencecap rasa manis yang tertinggal di sana. Haha… bersyukurlah wahai umat santuy sekalian.

Tentu saja kita harus angkat topi untuk pemilihan diksi, dibawakan dengan meriah dan renyah. Mencipta nyaman para pembaca guna mengikuti alirannya. Bahkan dengan menatap pohon pisang dengan tanpa alasan yang jelas dan menanyai tentang jenisnya. Sebaris kalimat sederhana yang mumpuni. Atau penutup paragraf berujar: Senja lenyap seperti satu tiupan napas. Malam pun datang. Nah! Sastra yang asyik-kan, tak perlu kerut kening untuk dunia jauh, dituturkan dengan porsi adonan kata pas. “Dinding yang bagus, aku ikut membangunnya.”

Nilai minusnya, ada beberapa misal: terlampau sering menyebut ‘batok kepala’ sebagai ungkapan ada pemikiran yang akan atau tertahan untuk disampaikan. Sekali dua sih OK, tapi ini udah kebablasan. Tema sumur sempat akan membuat boring, konyol sekali, sampai sebegininya urusan air bersih. Untungnya temanya diperlebar ke lainnya, terutama ketika Inah memutuskan terjun ke laut saat ‘bertemu’ teman lama Zubaidah, teman Mutmaimah satu-satunya di perantauan mati bunuh diri. Kisah menjelma abu-abu, memudar dan melejit lagi dalam bayangan. “Jangan mengingini yang aneh-aneh Idah, tidak baik menyimpan pikiran macam itu.”

Tema kritik pemerintahan juga tersebar di banyak halaman, tank bekas Perang Dunia II di lepas pantai yang akan dibeli (oleh orang Jawa), menjadi polemik suku asli. Besi rongokan yang oleh kaca mata awam otomatis berpikir, buat apa? Dihargai oleh orang jauh, buat museum misalnya. Papua besarnya tiga setengah kali pulau Jawa luasnya. Lalu kritik terhadap birokrasi, “sering kukatakan kepada anak buahku harus menangani kampung kacau-balau ini dengan tegas, tapi tidak kasar.” Dan terutama sekali ketika Bapa Ondoafi dan anaknya menghadap Gubernur. Kelihatan sekali itu suara hati sebagian rakyat, orang-orang Pemerintah itu hanya mau menafsirkan hukum yang menguntungkan mereka saja. Tentang hak guna tanah, hak kelola dong tapi dimaksudkan jual beli. Dengan naskah kumal dan kuno sebagai bukti? Kritik nyata dalam sastra. Jadi kalau kalian membenci penjajah, atau merasa nenek-moyangnya didzolimi, sampai mengutuk keras Belanda atau Jepang atau segala penindasan yang melatari segala hubungan bilateral, pikir lagi! Sangat jelas, bangsa kita juga melakukannya hal serupa. “Sudah kuduga akan begini.”

Debat suami-istri ditampilkan tak hanya La Muli dan Inah. Pak Letnan dan istrinya yang menjaga kios juga sesekali muncul. Walaupun kita sudah banyak menikmatinya dalam drama Lengking Burung, di sini sisa-sisa sausana kehebatan Bu Yatmi masih terlihat. “Dia itu polisi, Bu. Aku tentara, beda urusan… Dia urusan sipil aku urusan perang, beda jurusannya.” Asyik. Sehat terus #Wildan!

Ditemukan beberapa kata tak baku, misal ‘hutang’, typo juga berkali-kali ditemukan contoh: ‘bagaiamana’, ‘istrtinya’. Bagian teknis yang bagus tentu saja ada di covernya yang keren. Suka sama ilustrasi sederhana gini. Urusan cetak kertas buram atau hvs bagiku tak terlalu pengaruh yang penting jilidnya OK. Kalau boleh saran, editingnya harus ditingkatkan, triple check kalau perlu. Proof reader itu penting, sangat dianjurkan! Ini adalah satu dari rangkaian paket KSK Daftar Panjang dari Basabasi, yang tahun ini mengirim empat wakil! Wow… untungnya #unboxing pertama ini, bagus. Jadi ada antusiame lebih guna melanjutkan. Prediksiku, dengan skor empat setengah bintang (skor yang sama kuberikan untuk Lengking Burung) rasanya sangat pantas masuk daftar pendek. Tema mirip dengan Burung Kayu yang kemarin selesai baca (suku pedalaman, ketua RT/Kepala Desa, sampai budaya lokal yang tergerus), tapi jelas pembawaan La Muli lebih mantab, lebih hidup, lebih asyik, lebih terasa lelehan nikmat di setiap halamannya, bisa jadi sebab Nunuk mengambil setting tempat ia tumbuh, sudah menghirup dalam-dalam bertahun latar yang dicerita, singkatnya tempat yang sudah ia sangat akrabi, jadi memang seolah mencerita pengalaman pribadi. Good!

Ketika laut mampu memberimu apa saja, mengapa mengais-aisnya di daratan? “Pendek saja doanya, Allah tahu bagaimana terdesaknya kita dengan waktu.”

La Muli | by Nunuk Y. Kusmiana | Editor Faisal Oddang | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Tata sampul Sukutangan | Tata letak Ieka | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, Maret 2020 | Penerbit Basabasi | 200 hlmn, 14 x 20 cm | ISBN 978-623-7290-78-0 | Skor: 4.5/5

Karawang, 160920 – Linkin Park – Plc 4 Mie Head

Thx to Basabasi Store, Titus Pradita, Shopee.
Tiga sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Legeumanai Sura’-Sabbeu

Burung Kayu by Nudiparas Erlang

Mengapa dendam dan pertikaian tak berkesudahan?”

Buku yang kental sekali budaya daerah Mentawai, di pedalaman Pulau Siberut, Sumatra. Banyak kata daerah disodorkan, butuh beberapa kali baca kata itu muncul dan diulang untuk paham, karena di sini tak ada bantuan/glosarium. Imajinasi naratif yang rada kebablasan. Temanya mempertahankan budaya asli di tengah gempuran modernitas, pemerintah pusat (Jawa) yang mencoba masuk, mendirikan perkampungan baru, memberi bantuan rutin, memberi opsi agama International, mencoba memberi napas pemikiran baru. Sementara kebiasaan lama dengan roh kepercayaan, seteru dengan suku sebelah, sampai kebiasaan-kebiasaan yang turun dari moyang perlahan kena gusur. Tema bisa juga lebih melebar dengan unsur memertahankan lingkungan asli, hutan yang sudah banyak dibabat itu harus dilawan. Namun tak, lebih ke drama keluarga. Seperti kata-kata di sampul belakang, ini tentang dendam yang terkorusi waktu dan keadaan. Mereka diikat kepentingan yang sama: menyelamatkan hutan dari penggundulan, menuntut ganti rugi atas ladang dan hutan yang akan dimanfaatkan perusahaan.

Kritik sosial juga tersaji dalam perselisihan surat serah terima tanah 36 hektar tanah kepada Dinas Sosial menjadi seluas 360 hektar. Jelas itu manipulasi data, korupsi khas Indonesia. Rasanya bikin geram, tapi nyatanya memang hal-hal semacam ini ada, menjamur subuh di era Orba. Maka sungguh jenaka ada karakter anjing bernama Sistem atau Pemerintah.

Kisah utamanya tentang Legeumanai, sosok yang kuat dan berdiri di antara budaya lama dan serbuan budaya nasional. Kerja sama dunia medis dan dunia roh yang mungkin bisa ditempuh tanpa mencederai keyakinan para penghuni lembah. Ia menjadi penghubung, pejabat yang ditunjuk mewakili suku sekaligus mulut pemerintahan Indonesia. Untuk sampai ke sana, kita diajak keliling ke masa lampau. Masa ketika berburu babi menjadi gengsi tinggi para uma/suku pedalaman.

Pertikaian-permusuhan antardua uma, sudah terjadi lama sekali sebelum masa Legeumanai. Sejarahnya tercatat (dan mungkin terbaca lucu), karena babi kabur bisa menjadi pemicu pembunuhan. Perselisihan uma satu dengan uma lain, dimulai dari seekor babi sigelag, babi besar yang dijadikan alat toga keluarga Babuisiboje untuk mengawinkan anak lelaki mereka dengan adik perempuan Baumanai. Naas, babi yang dipersembahkan itu kabur pulang, lantas dicari dan ditanyai, tapi enggan mengaku. Nah, si gadis membocorkan fakta. Dan dua pemuda yang naas dibunuh karena emosi. Permusuhan itu lalu turun temurun, karena para pembunuh kabur membuka lahan baru dan beranak pinak. Baumanai yang dikenal di sekujur lembah sebagai leluhur yang pernah membunuh keluarga Babuisiboje. Keturunan berharap kedua uma akan menjalani paabat.

Uma yang patut disegani di saentero lembah menjadi jargon utama. Membalas kekalahan berburu dengan menenggerkan burung enggang-kayu di puncak pohon katuka. Menjadi petaka ketika sang pemanjat tewas di depan anak dan istrinya. Awan hitam menggumpal-mengental di atas bubungan sapou-nya… hanya remang senja yang terlihat. Menjadi penutur bagaimana tragedy itu tercipta. Ah, siapa yang dapat mengira cuaca? Saengrekerei ke puncak pohon. Memasang burung enggang-kayu, dan wuzzz… wassalam.

Uma-uma atau suku-suku yang berkerabat dan yang bermusuhan – sebagaimana kisah-kisah yang kadang mengesankan, kadang memilukan, kadang membanggakan, yang didapatnya saban malam dari teuteu-nya. Mengurai-mengurut asal-usul uma, tak mungkin terhindar dari kisah mengenai pertengkaran dan perpecahan, kekecewaan dan kepergian, ketakcukupan dan keterpisahan. Ayam dan babi adalah pembayaran yang sangat berharga pada waktu itu

Kisah cinta sepasang remaja yang tengah menikmati rejana semesta. Mereka beda uma, mereka menyatukan atas nama asmara. Tampak romantis, berkencan dengan alam dan seekor ulat yang menyatu dalam ciuman. Cintanya tak pernah ikut mati atau menjadi sekadar kiretat di pohon durian dan di dinding uma. Keduanya melupa, melupa pada pantang-larang, pada tulou yang mengintai dan mengancam.

Keputusan Taksilitoni menikahi adik iparnya memang diliputi banyak alasan, tapi terasa masuk logika demi anak kesayangan Legeumanai. Pindah ke Dusun Muara, barasi baru buatan pemerintah untuk memajukan suku-suku di hulu. Saengrekerei sang kepala desa yang dihormati, ada bagian ketika bantuan dari pemerintah beras-beras berkarung itu akan didistribusikan dengan kapal, agar tak bolak-balik maka beberapa kapal mengangkut banyak, tapi tetap saja ada yang tak terangkut, sebagai kepala desa yang berpengalaman ia memutuskan yang tak terangkut disumbangkan ke daerah sekitar. Beres? Sementara…

Karena suatu ketika muncul desas-desus bahwa beras itu dikorupsi sang kepala desa, mengambil dan menyimpan untuk pribadi. Betapa marahnya ia, maka ia melakukan sumpah. Bernyali melakukan tippu sasa, melakukan kutukan bagi dirinya sendiri di hadapan banyak mata. Dan berdoa Ulaumanua melindungi anaknya. Jleb! Keren… Padi tak pernah tumbuh subuh di tanah gambut tanah lumpur tanah cadas.

Ada bagian setiap selip beberapa bab, tentang tarian mistis. Antara impian atau kenyataan, laku purba untuk memohon roh leluhur atas sebuah musibah atau permintaan yang rasanya sulit diwujudkan. Mimpi-mimpi tentang sirei muda yang menari di atas api unggun. Jangan biarkan jiwa-jiwa keluar dari kampung ini. Dan engkau roh-roh punen, terimalah roh-roh mereka, dan lindungilah mereka dari segala penyakit dan dari kejahatan. Persembahan yang rasanya akan dimusnahkan agama baru itu lantas kembali dilakukan demi keselamatan seorang terkasih. Legeumanai Sura’-Sabbeu. Ia dingin di dalam api…

Dalam remang purnama, semua yang hadir di uma itu bergeletakan; sebagian berbaring begitu saja di beranda, sebagian lainnya membentangkan kelambu-kelambu dan meringkuk di dalamnya. Pikirannya kusut-masai.
Budaya yang dipertahankan menjadi benteng kemajuan. Seekor babi telah disembelih, dimantari, dan dibaca juga gurat hatinya. Bukahkah jiwa-jiwa kami telah dipikat sedemikian rupa agar tetap betah di uma. Lucu juga agama baru yang diperkenalkan mendapat sambutan, walau banyak yang berganti-ganti sesuai selera. Semua orang mengaku sebagai simata saja, sebagai orang awam saja. Sebagian menanggalkan agama lama dan menggantinya dengan salah satu agama-baru-resmi-pula. Rada aneh rasanya, Menyanyikan lagu-lagu pujian kepada tuhan yang bukan roh leluhur. Babi bagi muslim haram, tapi di sana kan jadi kebanggan kekayaan. Sipuisilam, tak boleh makan babi. Nah!

Ini adalah kandidat pertama KSK yang kubaca pasca pengumuman daftar panjang. Lumayan bagus sebagai pembuka, bisa masuk daftar panjang saja sudah syukur, apalagi bisa melaju ke lima besar, yang jelas bukan jagoanku untuk juara. Buku pertama yang kubaca dari penerbit indi Teroka, yang ternyata masuk ke ‘Naskah yang Menarik Perhatian Juri’ Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019′. Temanya terlalu umum, sudah sangat banyak cerita tentang suku pedalaman yang diterjang modernitas, walau dengan bahasa yang unik, walau dengan narasi yang mendayu, walau dengan meliuk-liuk panjang, jelas kualitas adalah utama.

Telusur kata itu menemukan klik akhir yang menentrampakan, bahagia dan lega.

Puncak pohon katuka, sebuah uma, jajaran abagmanang, bakkat katsaila… Tampak luar biasa, magege.

Burung Kayu | by Nudiparas Erlang | Copyright 2020 | ISBN 978-623-93669-0-2 | Penerbit CV. Teroka Gaya Baru | Cetakan I: Juni 2020 | Penyunting Heru Joni Putra & Fariq Alfaruqi | Sampul Kevin William | Tata Isi Gerbera Timami | Skor: 3.5/5

Untuk para pemeluk teguh Arat Sabulungan

Karawang, 140920 – Protocol Harun – A Whiter Shade of Pale

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokped.
Dua sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

“Saya Sudah Mencoba Menjalani Hidupku Sebaik Mungkin…”

Kusala Sastra Khatulistiwa 20

Dari kisah buku panduan membunuh raja sampai dunia imaji Selma, dari negeri temaran senja sampai kisah perjuangan memertahankan kepercayaan yang dianggap sesat, dari kisah jagoan kampung yang buruk rupa menjadi suami si jelita sampai perjuangan Indonesia mengusir penjajah, dari orang-orang terusir di negerinya sendiri mencoba pulang sampai pangeran dan saudara-saudaranya bertempur ke negeri antah. Semua tersaji demi kalian pecinta sastra.

Di zaman yang serba digital, saringan karya itu sangat perlu. Dan berterima kasihlah pada ajang-ajang penghargaan yang memberi (walau tak semua) pilihan berkualitas. Seolah jadi panduan rekomendasi baca. Saya sudah mencoba menjalani hidupku sebaik mungkin…, melahap buku sebagus mungkin.

Dalam dua puluh tahun terakhir, sastra kita lebih semarak. Era Reformasi yang lebih bebas dan liar dalam menyampaikan pendapat. Hal-hal yang rasanya tabu di masa Orde Baru kini sudah merdeka. Tema yang variatif, terkadang vulgar, out of the box, perbaikan catatan sejarah, religi, beragam cerita daerah, semuanya berusaha berlomba mencipta unik. Dan muncullah penghargaan bergengsi Kusala Sastra Khatulistiwa (sebelumnya bernama Khatulistiwa Literary Award 2001-2013) yang digagas oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki.

Berikut para pemenang dari edisi pertama sampai 19:

2001
Puisi: Goenawan Mohamad, “Sajak-sajak Lengkap 1961-2001”

2002
Prosa: Remy Sylado, “Kerudung Merah Kirmizi”

2003
Prosa: Hamsad Rangkuti, “Bibir Dalam Pispot”

2004
Nonfiksi: Sapardi Djoko Damono, “Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan”
Fiksi: Linda Christanty, “Kuda Terbang Maria Pinto”; Seno Gumira Ajidarma, “Negeri Senja: Roman”

2005
Puisi: Joko Pinurbo, “Kekasihku
Prosa: Seno Gumira Ajidarma, “Kitab Omong Kosong”

2006
Prosa: Gde Aryantha Soethama, “Mandi Api”
Puisi: Dorothea Rosa Herliany, “Santa Rosa”

2007
Penulis Muda Berbakat: Farida Susanty, “Dan Hujan Pun Berhenti
Prosa: Gus ft Sakai, “Perantau
Puisi: Acep Zamzam Noor, “Menjadi Penyair Lagi”

2008
Puisi: Nirwan Dewanto, “Jantung Lebah Ratu”
Penulis Muda Berbakat: Wa Ode Wulan Ratna, “Cari Aku di Candi”
Prosa: Ayu Utami, “Bilangan Fu”

2009
Puisi: Sindu Putra, “Dongeng Anjing Api
Prosa: “F. Rahadi, “Lembata
Penulis Muda Berbakat: Ria N. Badaria, “Fortunata

2010
Puisi: H.U. Mardi, “Buwun”; Gunawan Maryanto, “Sejumlah Perkutu Buat Bapak.”
Fiksi: Linda Christanty, “Rahasia Selma”

2011
Fiksi: Arafat Nur, “Lampuki
Puisi: “Nirwan Dewanto, “Buli-Buli Lima Kaki”; Avianti Armand, “Perempuan yang Dihapus Namanya”

2012
Fiksi: “Okky Madasari, “Maryam
Puisi: Zeffry J. Alkatiri, “Post Kolonial dan Wisata Sejarah dalam Sajak”

2013
Prosa: Leila S. Chudori, “Pulang
Puisi: “Afrizal Malna, “Museum Penghancur Dokumen”

2014
Prosa: Iksaka Banu, “Semua Untuk Hindia”
Puisi: Oka Rusmini, “Saiban

2015
Prosa: Dorothea Rosa Herliany, “Isinga: Roman Papua”
Puisi: Joko Pinurbo, “Surat Kopi”

2016
Prosa: Yusi Avianto Pareanom, “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Puisi: F. Aziz Manna, “Playon

2017
Prosa: Mahfud Ikhwan, “Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu
Puisi: Kiki Sulistyo, “Di Amperan, apa Lagi yang Kau Cari?”
Karya Perdana atau Kedua: Nunuk W. Kusmiana, “Lengking Burung Kasuari

2018
Puisi: Avianti Armand, “Museum Masa Kecil”
Prosa: Azhari Aiyup, “Kura-kura Berjanggut
Karya Perdana atau Kedua: Rio Johan, “Ibu Susu

2019
Puisi: Irma Agryanti, “Anjing Gunung
Prosa: Iksana Banu, “Teh dan Penghianat

Iseng, menghitung berapa buku yang sudah kubaca dari daftar tersebut. Ada sepuluh buku, yah lumayan. Sedari dulu memang lebih sering baca buku terjemahan, buku klasik, buku-buku dengan nama besar pengarang. Nah, berkat penghargaan KSK (dan Dewan Kesenian Jakarta – DKJ) saya seolah dipilahkan, tinggal membuat anggaran belanja yang disodorkan ke May aja buat di-acc. Hehe…

Pada hari Sabtu, 5 September 2020 kemarin melalui twitter @richard0h mengumumkan daftar panjang kandidat KSK ke-20. Periode penjurian Juni 2019-Juli 2020, disusun berdasarkan abjad.

Prosa

#1. Arafat Nur, “Kawi Matin di Negeri Anjing (Basabasi, Maret 2020)
#2. Ben Sohib, “Kisah-kisah Perdagangan yang Gemilang (Banana, Februari 2020)
#3. Felix F. Nesi, “Orang-orang Oetimu” (Marjin Kiri, Juli 2020)
#4. Kedung Darma Romansha, “Rab(b)i (Mojok, Juli 2020)
#5. Maywin Dwi-Asmara, “Surat-surat Lenin Endrou (Basabasi, Juli 2019)
#6. Niduparas Erlang, “Burung Kayu” (Teroka Press, Juni 2019)
#7. Nunuk Y. Kusmiana, “La Muli (Basabasi, Maret 2020)
#8. Nurul Hanafi, “Makan Siang Okta, Sebuah Cerita Tiga Bagian” (Shira Media, September 2019)
#9. Samar Gantang, “Leak Tegal Sirah” (Indonesiatera, November 2019)
#10. Yetti A.KA, “Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi Kematian” (Basabasi, April 2020)

Puisi

#1. Beni Satryo, “Antarkota antarpuisi” (Banana, Agustus 2020)
#2. Binhad Nurrohmat, “Nisan Annemarie” (Diva Press, April 2020)
#3. Deddy Arsya, “Khotbah si Bisu” (Diva Press, Desember 2019)
#4.Esha Tegar Putra, “Setelah Gelanggang Itu” (Grasindo, Januari 2020)
#5. Gaudiffridus Sone Usna’at, “Mama Menganyam Noken” (Papua Cendikia, September 2019)
#6. Inggit Putria Marga, “Empedu Tanah” (Lampung Literatue, November 2019)
#7. Mutia Sukma, “Cinta dan Ingatan” (Diva Press, November 2019)
#8. Ratri Nindytia, “Rusunothing” (Gramedia, November 2019)
#9. Seno Joko Suryono, “Di Teater Dyonysos” (Anom Pustaka, April 2020)
#10. Triyanto Triwikromo, “Nabi Baru” (Diva Press, Juli 2020)

Kategori prosa seperti tahun-tahun sebelumnya akan kukejar baca-ulas sebelum pengumuman pemenang. Tahun ini, ketika nominasi diumumkan saya baru membaca satu buku: Kisah-kisah Perdagangan yang Gemilang, sudah saya prediksi bakalan masuk dengan menyebut ‘Goodluck for KSK 2020’ di akhir ulasan. Jadi masih sembilan lagi. Dan rasanya tahun ini lebih mudah dalam mengejarnya, sebab toko buku daring langganan setelah kujapri, semua buku ready stock! Sebelumnya harus berburu, mencari dari pedagang buku daring, dari seberang pulau, sampai pesan langsung ke penerbitnya. Kalau penerbit yang aktif di sosmed dan besar sih lebih nyaman, nah yang penerbit indie/daerah terkadang lama respon. Sudah dua kali sih aman, ini yang ketiga. Dan Wow, ga perlu berburu njelimet ke dunia maya.

Dari daftar , yang mengejutkan prosa, dari Penerbit Major Gramedia tak ada satupun. Dominasi ada di Penerbit Basa-Basi, perjuangan mereka mengadakan sayembaya novel dan diterbitkan sendiri harus diacungi jempol gede-gede. Mereka sedang menuai buahnya, ada empat bukunya muncul. Dan kabar baik ini direspon keren dengan menawarkan paket. Saya sendiri mengambil paket tiga bukunya, yang normalnya seharga 170 ribu menjadi 120 ribu. Lumayan.

Di kategori puisi dominasi ada pada Diva Press yang memborong empat nominasi, Gramedia Grup dua, dan Banana penerbit indie paling aduhai ini juga menempatkan satu bukunya. banyak nama asing (baru) yang kukenal, kecuali jelas yang disebutkan terakhir yang jago nulis ceria pendek, kali ini mencoba peruntungan di syair. Persis debut puisinya dalam Kitab Para Pencibir yang sukses, rasanya Nabi Baru laik dinikmati.

Sampai sekarang (11/09/20) tiga buku sudah mendarat, tiga buku sedang dalam perjalanan, dan tiga buku lagi akan dikirim akhir bulan. Jadi minimal sampai akhir bulan, saya harusnya sudah mereview enam buku. Lihat, betapa dunia literasi menyenangkan sekali!

Nantinya, dari sepuluh kandidat akan disaring menjadi lima. Dan puncak acara diumumkan di malam anugerah di Plaza Senayan Jakarta (waktu tba). Jadi siapa pemenang tahun ini? See ya… nantikan ulasan lengkapnya dan prediksi special dari LBP.

Karawang, 110920 – Roxette – Spending my Time

Kami Berjodoh

Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa by Andi Eriawan

“… Asalkan kamu berdamai dengan hatimu, kamu akan menemukan jawabannya di sana.” – Bundanya Pram

Ini novel membuatku takjub tahun 2000-an, bukunya Jemy K (teman sekamar di Ruanglain_31, Cikarang) yang turut ditaruh di rak kecilku, dipinjam teman lalu tak tentu arah, entah siapa yang pinjam dan tak kembali. Hiks… Generasi Dilan akan shock ketika tahu ada cerita cinta sejoli Bandung yang mengharu biru dengan belitan romansa jauh lebih berkualitas. Dua kali baca, dua kali pula mewek.

Kisahnya tentang Laila, gadis Bandung yang dicintai penuh tanpa syarat oleh Prameswara, jejaka Bandung pula yang istimewa. Mereka telah menjalin asmara selama Sembilan tahun, sebuah angka pacaran yang luar biasa, tapi pembukanya adalah sendu, karena Laila menerima paket pos berupa jam dari Pram di ulang tahunnya. Posisinya mereka sudah putus, dan Laila yang merasa tak enak hati, menelusur kenangan. “Kamu begitu sempurna dengan ketidaksempurnaanmu.”

Alur lalu dibuat acak, kembali ke masa sekolah pertama kali bertemu, Pram seperti Dilan merayu dengan gaya. Suka nulis puisi, cita-cita arsitek, jago gambar, penyendiri. Mencintai Laila yang cantik jelita, suka cubit, ceria, dan nggak suka kaun kol. Sudah saling cinta sejak sekolah, dan apapun yang terjadi sudah pula mendeklarasikan jodoh. Selamat datang di kehidupan dewasa, segala ujian waktu mencoba menggoyahkan.
Pram terlihat sangat dekat dengan orang tua, terutama Bundanya. Segala cinta dan keseruan dunia remaja dicurahkannya, Laila adalah pujaan yang diwujud lukis pajang di kamar, rumahnya yang jauh dari hiruk-pikuk kota, masih asri. Laila juga tampak baik-baik saja, keluarganya welcome, bata-bata kehidupan terus disusun. “Mencintai tidak butuh alasan, tapi menikahi seseorang membutuhkan alasan.”

Riak-riak itu dimunculkan dalam berbagai daya dari luar. Teman lama Laila semasa SMP datang lagi dalam kehidupannya, Bubung yang baik dan pernah menyatakan cinta. Ketika mendaftar ke ITB jurusan penerbangan, ketemu. Dan jadi kakak kelasnya. Laila adalah satu-satunya cewek di angkatan itu, tiga cowok kesemsem, Laila jelas mahasiswi tercantik. Pesonanya tak terbantah. Pasca lulus, Bubung dapat kerja sebagai engineer di Malaysia Airline, menjauhkannya sementara. Namun cinta Bubung memang kuat, berjanji akan merebut Laila dari Pram, memberi cincin nikah diamond mahal, walau saat itu ditolak, Bubung meminta balik nantinya pas nikah atau saat ketetapan hati sudah final. Memperlakukan Laila seolah ia adalah perempuan terakhir di dunia. Setiap jutaan hal kecil yang dilakukan terasa begitu istimewa.

Pram masih dengan dunia imajinya sendiri. Mengaku sebagai penjelajah waktu, gombal ala Dilan. Hidup di era Majapahit, era kemerdekaan, era Kasultanan Malaysia, jadi manusia lama di Siberia, dst. Mimpi itu tampak nyata dan sungguh kuat. Bualan itu hampir saja memberi percaya. Setidaknya buat Laila, bukti-bukti terpampang. Apalagi saat perjalanan ke Malaysia, ada tautan di sana. Nah, di Negara tetangga itu Bubung belum menyerah. Membantu Laila selama tinggal di sana sebagai tenaga bantu proyek kampus. Terharu, dan sungguh miris melihat perjuangan lelaki ini. Cintanya pada Laila sungguh gila, tapi jawaban yang tegas memang diperlukan dan sudah berkali-kali diucap. Finalnya, kami berjodoh. Takdir, siapa yang bisa melawan? Bahkan ketika manusia sudah sempurna merencana, takdir pula yang menghakimi.

Semua daya dan upaya memang menuju perwujudan dua karakter utama bersatu. Kisah manis bak sinetron yang tayang di jam utama. Namun seperti yang terbaca di pembuka, mereka akhirnya berpisah. Laila memutuskan hubungan, Pram stress dan murung sekali. Cita-citanya sebagai arsitek dilepas demi membuka kafe, hari itu kafe Laila tutup. Laila bermaksud menyampaikan permohonan maaf setelah di ulang tahunnya yang ke 24 mendapat kado jam tangan. Dari bundanya Pram kita tahu, ia mencoba berdamai dengan kenyataan. “… Bila ia memang bersikeras ingin berpisah, apalagi selain melupakannya.”

Menerima pinangan teman ayahnya kerja di Yogyakarta. Maka Laila menyusul ke sana, mencoba memberi kejutan tanpa memberitahukan kehadirannya, Laila shock ada lukisan dirinya di ruang khusus di hotel tempatnya menginap. Lebih shock lagi eksekusi endingnya, pembaca juga kaget. Hiks…

Entah kenapa novel ini belum diangkat ke layar lebar, padahal semua kriteria bagus untuk diperkenalkan ke khalayak lebih umum dalam balutan visual sudah ada. Dibanding Dilan yang terlampau lembek karakternya, Laila cerita remaja yang dalam masa transisi ke dewasa menampilkan realita menyentuh, puitik, drama, dan tentunya ending yang jleb. Membayangkan adegan payung dan jajan di kantin seberang sekolah, tahi lalat di pipi kiri, sampai adegan ‘terbang’. Lebih berkelas ketimbang di boks telpon, ‘rindu itu berat’. Tahun 2011 pas ke toko buku Cikarang, sempat lihat cetak ulang. Senang, akhirnya ada cetakan berikutnya. Namun karena segel saya ga tahu cetakan ke-berapa, yang jelas gaungnya tak sebesar yang kuharapkan.

Kata Always, Laila sendiri kita temukan setelah setengah perjalanan novel (halaman 121!), di akhir email. Dengan setting 2000-an, email dan sms begitu dominan untuk komunikasi jarak jauh. Tak ada WA, tak ada sosmed, tak ada kenarsisan yang menyinggung di dunia digital. Rahasia Laila, bahkan bisa bertahan beberapa bulan, berarti memang keluarga sudah kompak menahan informasinya.

Berkorban demi orang terkasih juga menjadi tema, Pram ‘mengalah’ akan ambisi, padahal ia jago gambar. Saling mengalah, guna pacar mendapat masa depan yang lebih cerah tercermin pada tindakan Laila yang memutuskan lamaran asyik di Laila’s Cafe, 26 Desember 2003, dan ia tahu kalau jujur Pram justru akan menguat dan setegar karang, sungguh tindakan yang masuk dinalar dan berat disampaikan. Dia memang yang terbaik. Dramatisasi ketika melihat Pram bahagia naik sepeda dengan kedua tangan terentang, menjadi ironi, menjadi bumbu drama bikin gereget, yah seperti itulah hidup, pahit. Ia pernah jatuh cinta dan terluka. Bila perempuan itu memang satu-satunya perempuan yang bisa ia cintai di antara milyaran lain, ia akan terus mencintainya. “Kamu memang lelaki terbaik yang pernah kutemui.” – Laila

Tampak sekali ini ditulis sebagian adalah pengalaman pribadi, memang fiksi tapi kesamaan pendidikan Andi Eriawan dengan setting kampus di ITB jurusan penerbangan jelas bukan sebuah kebetulan. Memang beda rasanya tulisan yang berdasar pengalaman dengan angan-angan, terasa sekali diketik dengan memetakan ingatan masa lalu. Salut! Kudoakan menjadi film bioskop, Mas. Saya akan nonton di hari pertama. Semoga…

 

Laila… nama yang cantik. Orangtuamu pandai memberi nama. Mungkin mereka tahu kau akan tumbuh secantik ni.

Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa | by Andi Eriawan | Penyunting Denny Indra | Desain sampul FN | Penata letak Jefri Fernando | Penerbit Gagas Media | Cetakan pertama, November 2004 | xii + 228 hlm.; 19 cm | ISBN 979-3600-38-1 | Skor: 4.5/5

Untuk Prameswari yang membenci daun kol

Karawang, 05-060820 – La Nina de los Peines – Al Gurugu (1946)

Thx to Lifian, Tangerang