Matinya Seorang Penulis Besar – Mario Vargas Llosa

Hiburan saya adalah membaca, membaca buku-buku bagus, berlindung dalam dunia di mana hidup ini penuh gelora, intens, satu petualangan disusul lainnya, di mana saya bisa kembali merasa bebas dan bahagia. Dan itu ditulis diam-diam, bak seseorang yang menyerahkan diri pada kejahatan tak terkatakan, luapan hasrat terlarang. “Lima puluh tahun silam di Amerika, barangkali Edmund Wilsonlah melalui artikel-artikelnya id New Yorker atau The New Republic yang memutuskan gagal atau berhasil sebuah novel, esai dan puisi. Hari ini penentunya adalah acara TV Oprah Winfrey. Saya tidak bilang ini buruk, semata-mata demikianlah adanya sekarang.”

Sastra adalah pemberontakan permanen dan tidak bisa menerima jaket pengekang. Banyak cara untuk jatuh hati sama karya tulis, dari baca baca novel panjang penuh lika-liku, dari cerpen sederhana yang nge-twist, dari membaca pandangan hidup dan menuangkannnya dalam kumpulan esai. Untuk kali ini saya terpesona cara yang terkahir. Saya langsung jatuh cinta sama Mario Vargas Llosa berkat kumpulan esai ini. Dari ratusan karya tulisnya, saya belum membaca karya fiksi beliau satupun. Namun sudah jelas sangat kelihatan di sini bagaimana beliau berhasil membuka wawasan, mendobrak batas. Bagaimana efektif dan menakjubkannya pemikirannya, pandangan hidup, norma dan prinsip yang dijalani. Matinya Seorang Penulis Besar adalah kumpulan esai dari berbagai sumber. Sang penerjemah menyarikan yang terbaik terbaik, dan ini memang salah satu buku non fiksi terbaik yang pernah kubaca. Lha bagus semua euy, edun! Sebab Penulis, seperti anda ketahui adalah tukang recok abadi. Jos gandos. Menerbitkan buku yang mencoba memulihkan kebenaran yang telah diubah oleh fiksi.

Berisi 10 tulisan dari tahun 1960an sampai 2012, yang digores berdasarkan pengalamannya sendiri. Yang paling menyentuh saat beliau ke London dan menelusur jejak Penulis besar yang terasing di masa tuanya, kata-kata Marx bahwa “Penulis boleh menghasilkan uang untuk bisa hidup dan menulis tetapi tidak sedikitpun ia boleh hidup dan menulis untuk menghasilkan uang. Tidak sedikitpun penulis boleh menganggap karyanya sebagai harta. Baginya, karyanya adalah tujuan dalam dirinya sendiri.” Tulisan dalam Menjenguk Karl Marx (1966), Penulis Manifesto Komunis ini menghabiskan masa tua dalam kemiskinan. Ironis finansialnya sampai dibantu temannya Engels yang miris berujar, “Aku telah mengalami segala jenis permusuhan, tapi kini untuk pertama kalinya aku tahu apa arti kemalangan.”

Umumnya, Penulis Amerika Latin hidup dan menulis dalam lingkungan yang sungguh sulit, sebab masyarakat kita telah memapankan mekanisme membekukan yang hampir sempurna untuk menjegal dan mematikan panggilan hidup. Satu tulisan saat menerima penghargaan Nobel Sastra tahun 2010 di Stockholm juga dipilih dalamjudul Pujian Untuk Membaca dan Karya Fiksi (2010). Keren, menginspirasi untuk mengumpulkan semua pidato pemenang lain pas nerima penghargaan ini. Ayo dong, disusun dan diterbitkan, pasti laku. Lucu dan mengingat pengalamanku suatu malam saat menonton buku di toko buku di Lippo Cikarang yang kini sudah punah. Jadi saya pergi tanpa apa-apa, sesuatu yang jarang terjadi pada saya di toko buku. Sungguh kita akan punah, hanya masalah waktu. Peristiwa-peristiwa ini berlangsung tak lebih lama dari sekejap saat mereka disampaikan, lantas lenyap, tersapu dengan yang lainnya yang pada gilirannya juga akan dihabisi oleh yang lebih baru. Dan bagaimana imajinasi sejatinya memenuhi segala aspek kehidupan. Ibarat orang arif dalam salah satu fantasi indah Borgesian, berpura-pura menanamkan spekulatif dan impian-impian fiktif dalam kehidupan nyata.

Apakah novel ini benar atau bohong bagi sebagian orang sama pentingnya dengan apakah novel itu baik atau buruk, dan banyak pembaca – dengan sadar atau tidak sadar – menilai yang belakangan ini dari yang pertama tadi. Tulisan paling keren ada di bagian Benarnya Kebohongan (1989). Nyentil, unik, nyeleneh, bikin kzl tapi emang faktanya hampir semua buku yang berembel-embel based on true story itu dibumbui dramatisasi yang seringnya malah membuat lenceng cerita parah. Sebetulnya, novel memang berbohong, bahwa dengan berbohong, mereka menyatakan kebenaran ganjil yang hanya bisa diungkap dengan gaya sembunyi dan terselubung, tersamar sebagai sesuatu yang tidak seperti adanya. Pastinya selalu ada modifikasi, improvisasi sang Penulis sangat dibutuhkan. Orang tidak menulis novel untuk mengisahkan ulang kehidupan tetapi lebih untuk mengubahnya dengan menambahi sesuatu. Dengan cara yang kurang kasar dan kurang eksplisit, dan juga kurang sadar, semua novel membentuk ulang realitas.

Kehidupan fiksional adalah sebuah simulakra di mana ketidakteraturan yang memusingkan menjadi keteraturan: organisasi, sebab akibat, awal dan akhir. Sudah baca The Sound and The Fury? Novel karya William Faulkner itu tampak indah karena keberhasilan mencipta sebuah labirin di masa lalu, masa kini dan masa depan hidup berdampingan dan saling meniadakan. Kadang secara halus, kadang secara kasar, fiksi menghianati kehidupan, membungkusnya dalam jalinan kata-kata yang mereduksi skalanya dan membuatnya dapat digapai pembaca. Saya ingat membacanya di sebuah masjid di Depok, butuh lebih dari empat minggu, butuh konsentrasi berlebih karena memang kita ditenggelamkan dalam air sampai megap-megap. Fiksi bisa menjadi terlihat seperti kreasi serampangan, trik memperdaya pikiran yang sekenanya saja. Fiksi adalah pengganti sementara kehidupan. Kembali pada realitas selalu menjadi pemiskinan brutal. Manusia tidak puas dengan nasibnya dan nyaris semuanya – kaya atau miskin, cemerlang atau biasa-biasa aja, termasyur atau tidak – menginginkan hidup berbeda dari yang sedang mereka lakoni. Untuk meredakan – meski dengan cara yang menyimpang – rasa lapar tersebut, lahirlah karya fiksi.

Dalam Sastra Itu Api (1967), Mario Llosa bercerita proses panjang mencipta karya. Ingatkan mereka bahwa sastra itu api, yang berarti perbedaan pendapat dan pemberontakan, bahwa alasan keberadaan seorang Penulis adalah protes, konfrontasi serta kritik. Beliau berujar, “Venezuela telah membuat saya terbenam utang berlimpah ruah. Satu-satunya cara saya bisa membayar balik utang ini adalah dengan menjadi dalam batas-batas kekuatan saya, kian teguh dan kian setia pada panggilan untuk menulis ini, yang tak pernah saya sangka akan memberi kepuasan yang saya rasakan ini hari.” Nah, hasil yang baik selalu ada pemicu. Penting bagi tiap orang untuk memahami soal ini sekaligus: makin kritis tulisan-tulisan seorang Penulis menentang negeranya, makin intens gairah yang mengikat dia ke Negara tersebut. Sebab dalam ranah sastra, kekerasan adalah bukti cinta. Setuju sekali kan kalau kubilang Pram jadi hebat karena memang keterbatasan, kungkungan, pengasingan itu membuatnya melawan dan menulis jadi semacam perjuangan. Seperti kata Valle Inclan, “Keadaan adalah bukan seperti apa kita melihatnya, tetapi seperti apa kita mengingatnya.” Mencintai Negara tempat seseorang dilahirkan tidak bisa menjadi suatu kewajiban, tetapi seperti cinta lainnya haruslah sebuah laku spontan yang keluar dari hati seperti cinta yang menyatukan sepasang kekasih, orang tua dan anak serta teman-teman.

Sentilan paling ngena ada di Peradaban Tontonan (2012). Mungkin karena tulisan paling fresh, diketik tahun 2010an pasca menerima gelar tertinggi maka sungguh actual kata-katanya dengan era sekarang. Apa yang kita maksud terhadap perabadan tontonan? Yakni adalah dunia di mana tempat teratas dalam skala nilainya diisi oleh hiburan, di mana bersenang-senang, lari dari kesuntukan, menjadi hasrat universal. Relevan dengan dunia sosmed kita, bagaimana ada begitu banyak tunggangan untuk aktualisasi diri. Dan – maaf sebelumnya, bila ada yang tersinggung – agama dianut sebagai basa-basi sosial, sementara sebagian besar hidup mereka sesungguhnya tak terjamah agama.

Dalam ending tulisan ini sungguh mengeri karena menurut Llosa: media audiovisual, film, televisi, dan kini internet menyisihkan buku-buku, dan bila prediksi pesimisme George Streiner benar terjadi, maka dalam waktu dekat buku-buku akan terbuang ke katakombe. Rasanya tak rela, kalau koran, majalah dan sejenisnya yang mengejar harian berita bisa saja digerus tapi untuk buku-buku semoga tak dalam waktu dekat. Minimal please, generasi setelah Hermione. Internet kita tak sehat. Di bidang informasi tanpa disadari prioritaspun terjungkir balik: berita menjadi penting atau tidak penting bukan karena muatan ekonomi, politik, kultural atau sosial. Tetapi terutama dan kadang semata-mata karena ia baru, mengejutkan, menggemparkan dan spektakuler. Saya mencoba membatasi diri untuk dapat berita di internet, tapi sosmed pertemanan kan kita tak bisa menghalangi semua rekan untuk berbagi berita, malangya paling sebal kalau ada yang sher berita negative, lebih bikil kzl berita negative terkait politik. Alamak! Pertarungan Pemilu ini rasanya muak, dan ingin segera terlewati. Namun, baik si perempuan maupun tokoh-tokoh yang menyaksikan polahnya tidak tertawa karena bagi mereka tangis itu sendiri bentuk murninya bersinomin dengan kesedihan. Tak ada cara lain untuk bersedih kecuali menangis, “Meneteskan air mata yang hidup” kata sebuah novel, karena di dunia ini bentuklah yang penting, isi dari segala tindakan menginduk pada bentuk. Keremeh-temehan dunia, main-main, lagak, hiburan. Selain ‘benar-benar berteman’ dengan teman dan keluarga, saya (seolah) harus bentengi diri untuk berteman dengan komunitas film, para kutu buku dan tentu saja Laziale. #ForzaLazio Keberlebihan selalu lumrah, tak pernah menjadi perkecualian.

Sering dibilang bahwa istilah ‘intelektual’ baru lahir pada abad 19 di Prancis selama kasus Dreyfus dalam polemik yang ditimbulkan oleh artikel terkenal Emile Zola. “J’accuse”.

Tulisan paling standar mungkin di bagian Epitaf Untuk Sebuah Perpustakaan (1997) tentang petualangannya ‘jalan-jalan’ di London. Tak seperti bagian menjenguk sang filsuf, bagian ini lebih umum mengumbar pandangan, betapa ia bahagia ke sana. Kepindahan ini sebuah metamorphosis: selubung menyesakan dari kehidupan nyata kita tersibak dan kita meninggalkannya untuk jadi orang lain, menjalani perjalanan-perjalanan akrab yang dibikin seperti pengalaman kita sendiri di novel.

Sebagai Tulisan yang dinukil sebagai judul buku Matinya Penulis Besar (1994), bagaimana ia nyentil sampah karya. Dalam masyarakat macam ini bisa jadi buku-buku tetap ada, tetapi sastra mati sudah. Menurutku karya kurang mutu itu juga perlu ada kok, menjadi besar butuh proses dan menuju ke sana banyak kritik karya terbebaran, saya lebih suka menyebut buku yang mengecewakan sebagai sebutan ‘Bukan Selera Saya.’ Banalisasi yang dihasilkan oleh pusaran ini adalah tak ada buku yang permanen, semua lewat dan tak ada yang kembali sebab sastra kini hanya bermakna sebagai produk bagi konsumsi jangka pendek, hiburan sejenak atau sumber informasi yang kadaluwarsa secepat kemunculannya. Saya menganggap karya yang menurutku buruk, berarti memang buku itu dicipta bukan untukku dan mungkin untuk orang lain yang lebih pas, yang sesuai genre-nya. Seperti buku-buku Tere Liye, jelas itu sampah bagiku tapi nyatanya setiap tahun bukunya muncul di rak best seller! Merupakan hak prerogatif masyarakat terbuka. Dalam masyarakat ini keduanya hidup berdampingan, merdeka, dan berdaulat meskipun saling melengkapi dalam hasrat utopisnya untuk mengikutsertakan seluruh masyarakat. Berkat demokrasi dan pasar begitu banyak manusia bisa membaca dan mampu membeli buku, sesuatu yang tidak pernah terjadi di masa lampau ketika sastra adalah agama dan penulis adalah sesosok dewa kecil yang diberi penghormatan dan puja-puja oleh ‘minoritas kebanyakan.’ Lihatlah di rak-rak toko buku, remaja yang bahkan masih minta uang jajan sama orang tua kini bisa menulis cerita dewasa, era digital, globalisasi, internet mengubah banyak sekali hal dan kebiasaan. Jadi jarak Penulis dan Pembaca kini setipis gawai di tangan. Karena sesungguhnya seseorang yang berbakat dalam karya-cipta sastra dan sanggup menulis novel bagus atau sajak indah tidak serta-merta waskita secara umum. Maka genre KKPK misalkan, itu adalah sebuah hal positif untuk literasi kita. Ditulis oleh anak-anak dikonsumsi anak-anak, ibarat tabungan generasi yang saya yakini mereka-mereka nantinya menjadi penerus kutu buku berkualitas karena pengalaman hidup mutlak diperlukan. Hampir bagi setiap penulis, kenangan adalah titik mula fantasi, landasan yang meluncurkan imajinasi menuju fiksi dalam arah terbangnya yang tidak bisa terprediksi.

Kita kembali ke awal, esai pembuka buku ini adalah Nona Dari Somerset (1983) tentang kebaikan yang ditularkan, apa yang ditanam itulah yang dituai. Surat wasiatnya sesungguhnya adalah penghakiman tegas atas dunia menjijikan tempatnya dilahirkan, yang ia upayakan dengan keras untuk tidak ia hidupi. Walau materi tetaplah perlu, sejatinya semua akan digerus waktu. Sebagai anak-anak saya punya mimpi suatu hari ke Paris karena silau oleh sastra Prancis, saya yakin bahwa tinggal di sana dan menghirup udara yang dihirup oleh Balzac, Stendhal, Baudelaire dan Proust akan turut mengubah saya menjadi Penulis sungguhan. Atas alasan itulah sastra adalah ranah sempurna bagi ambiguitas.

Semakin dekat satu sama yang lain, makin benarlah ia; semakin jauh, semakin menipu. Menyebut sejarah Revolusi Prancis karya Michelet atau sejarah penaklukan Peru karya Prescott itu ‘novelistik’ berarti menghina mereka, mencibir mereka kurang serius. Atau malah justru karena itulah, sastra mengisahkan ulang sejarah yang tidak bisa atau tidak sanggup ditulis oleh sejarah tulisan sejarawan.

Mereka mengomunikasikan pada kita kebenaran-kebenaran yang numpang lewat dan mudah menguap yang selalu luput dari deskripsi saintifik atau realitas. Manakala kita membuka sebuah buku fiksi, kita setel diri kita untuk menjadi saksi representasi, di mana kita tahu betul bahwa air mata atau kuap kantuk kita tergantung sepenuhnya pada baik buruknya guna-guna yang dimantrakan snag narator pada kita agar menghayati kebohongannya sebagai kenyataan. Dalam masyarakat tertutup, cepat atau lambat masa lalu akan menjadi subjek manipulasi dengan sebuah pandangan untuk membenarkan masa kini.

Tokoh-tokoh protagonis yang timbul tenggelam tanpa jejak tergantung apakah mereka sedang dijunjung atau dienyahkan oleh kekuasaan yang ada.
Membaca mengubah mimpi menjadi hidup dan hidup menjadi mimpi dan menempatkan semesta sastra dalam jangkauan anak kecil seperti saya dulu. Untungnya ada para maestro untuk dipelajari dan teladan-teladan untuk diikuti. Flaubert mengajari saya bahwa bakat adalah disiplin yang ulet dan kesabaran panjang. Faulkner bahwa bentuk – penulisan dan struktur – mangangkat atau memiskinkan tema. Martorell, Cervantes, Dickens, Balzac, Tolstoy, Conrad, Thomas Mann bahwa besaran dan ambisi sama pentingnya dalam sebuah novel sebagaimana ketangkasan stilistik dan strategi narasi. Sartre bahwa kata-kata adalah aksi bahwa novel, drama atau esai yang bergulat dengan aktualitas dan pilihan-pilihan yang baik bisa mengubah jalan sejarah. Orwell dan Camus bahwa sastra yang dilucuti dari moralitas itu tidak manusiawi. Dan Malraux bahwa horeisme dan tindakan epic masih mungkin pada zaman ini sebagaimana zaman Argonaut, Odisea dan Illiad.

Llosa di bagian akhir bilang bahwa “Keraguan ini tak pernah mematahkan panggilan saya dan saya pun terus menulis, bahkan ketika masa-masa mencari nafkah menyita sebagian besar waktu saya. Saya yakin akan apa yang saya lakukan ini benar karena agar sastra bisa berkembang sebuah masyarakat pertama-tama perlu untuk mencapai kebudayaan tinggi. Ibarat menulis, membaca adalah protes terhadap tidak memadai hidup.

Kita mengarang fiksi agar bisa menjalani banyak hidup yang ingin kita lakoni padahal kita sendiri Cuma punya satu kehidupan yang tersedia. Llosa yang menjelajah menjadi warga dunia dan berujar saya tak merasa menjadi orang asing di Eropa, atau sejujurnya di manapun. Di semua tempat yang peranh kutinggali, saya merasa betah. Kediktatoran menghasilkan kedurjanaan absolut untuk sebuah negeri, sumber brutalitas dan korupsi serta luka-luka mendalam yang butuh waktu lama untuk menutup, meracuni masa depan bangsa, dan membentuk kebiasaan dan praktik-praktik mudarat yang bertahan selama sekian keturunan dan menghalangi rekonstruksi demokratis. “Yang memalukan kehidupan di zaman kita bukanlah serangan terhadap nilai-nilai moral, melainkan terhadap prinsip realitas.

Untuk kesekian kalinya saya baca terjemahan Bung Ronny Agustinus, hebat sekali penerjemah yang satu ini. Bukunya tersebar di mana-mana, dari berbagai penerbit. Salut! Kualitas OK, mudah dipahami, sangat nyaman dibaca, serta mengalir mengikuti genre setiap Penulis aslinya. Mantab soul! Bung Ronny seolah hanya penyaluran ke penerbit. Tanpa penerbit, tanpa pembaca tanpa budaya yang merangsang, menuntutnya, Penulis Amerika Latin adalah orang yang berangkat perang dengan tahu sejak awal bahwa dia akan kalah. Amerika Latin tiga puluh tahun lalu, mirip dengan Indonesia saat ini. Budaya baca masyarakat kita masih rendah.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip ini, “Budaya-budaya religius menghasilkan puisi dan teater, tetapi jarang-jarang sebuah novel besar. Karya fiksi adalah seni suatu masyarakat yang imannya sedang menghadapi krisis tertentu, di mana orang percaya pada sesuatu, di mana visi yang satu, absolut dan terpercaya digantikan visi yang retak serta ketidakpastian tentang dunia yang ditinggali seseorang beserta akhiratnya.” Jadi sekarang kita bisa tempelkan sebuah pengumuman di setiap atap tv masyarakat, ‘Dicari JK Rowling-nya Indonesia!’

Matinya Seorang Penulis Besar |oleh Mario Vargas Llosa | Diterjemahkan (terpilih) dari empat buku Contra Viento y Marea, La Verdad de la Mentiras, El Lenguaje de la Pasion, dan La Civilizacion del Espectaculo + Pidato penerimaan Nobel Sastra | Penerjemah Ronny Agustinus | Penyunting Adhe | Tata Letak Wediantoro | Penyelaras akhir Ipank Pamungkas | Desain sampul Sukutangan | Cetakan Kesatu, 2018 | ISBN 978-602-6657-94-7 | x + 142 Hlm; 13 x 19 cm | Penerbit Immotal Publising dan Octopus | ig @shiramedia | Skor: 5/5

Karawang, 2510 – 171218 – Sherina Munaf – Menikmati Hari

Iklan

Kisah Dalam Satu Jam

Dunia yang palsu, mengapa pendanganmu menyilaukan kami.”

Kumpulan cerpen Penulis dunia. Nama-namanya sudah mendunia, sebagian besar sudah akrab di telinga. Pas memutuskan beli ya karena karya mereka adalah jaminan kualitas. Jarang saya beli kumpulan cerpen dengan sistem keroyokan gini, iseng ambil pas di Zona Kalap IIBF 2018.

#1. Kerangka – Rabindranth Tagore
Kisah pembuka yang luar biasa. Kisah sederhana di tangan Tagore menjadi wow. Tentang balas dendam, tentang cinta yang tak sampai. Ditulis dengan halus, tanpa menggebukan amarah arti kesumat itu sendiri. Ada ruang berisi kerangka, dengan sudut orang ketika kita disajikan cerita berlapis bagaimana kisah tragis menjadi dahsyat. “Apakah kau masih di sini?

#2. Kasus Pembunuhan – Graham Greene
Pembunuhan ganjil dengan sebutan ‘Kasus Peckham’. Di dini hari yang remang pembunuhan terjadi. Menghadirkan beberapa saksi salah satunya Nyonya Salmon yang melihat jelas dari sibak tirai jendela. Begitu sidang pengadilan telah berjalan dan niscaya Anda pun akan berpendapat pastilah si penjahat, Adams akan dihukum gantung. Namun sebuah bukti lain mengejutkan sehingga segala yang tampak yakin menjadi kabur. Kisah dengan cerdas melontarkan pilihan ketiga, dan ending yang mengerikan. “Anda lihat orang itu sekarang ada di sini.”

#3. Perkampungan Indian – Ernest Hemingway
Orang Indian akan menyukai sesuatu jika diberi kesempatan. Tentang persalinan di seberang dermaga. Nick dan ayahnya dijemput orang Indian untuk membantu kelahiran, pasangan sang ibu hamil kemarin sakit parah sehingga saat persalinan berlangsung ia mendekam dalam kamar dengan erangan sakit tiada tara. Lebih nyaring dank eras ketimbang proses persalinan itu sendiri. Akhirnya sendiri menyedihkan. Ironi bagaimana sang Penulis akhirnya malah berakhir dengan bunuh diri. “Apakah banyak manusia yang bunuh diri?

#4. Burung Bulbul – Marxim Gorky
Cerita keempat tetap luar biasa, bagaimana siulan burung bulbul menjadi penanda. Bagaimana orang dengan teknik khusus bisa mencipta siulan burung bulbul. Trik dan segala keahlian itu mengecoh para penumpang kapal. Kesedihan merambat di atas sungai yang tampak lesu. “Ketika saya sudah mahir meniru kicau burung, orang-orang desa mengatakan kepada saya. Teruskan bersiul, Misha…” Kita telah mendengar kicau burung bulbul, burung yang menjadi mahsyur karena penyair, bukan karena anak desa penjiplak tadi. Ternyata mengetahui kenyataan tak lebih indah dari ilusi.

#5. Kisah Dalam Satu Jam – Kate Chopin
Bagaimana dengan kita, akankah kita ke surga nanti?” Sebagai cerita yang diambil sebagai judul utama, kisah ini benar-benar keren. Tragis, unik dan sungguh diluar duga. Nyonya Mallard yang mengidap penyakit jantung diberi tahu dengan tenang oleh Josephine, adiknya bahwa Brently Mallard sang suami ada dalam daftar orang ‘meninggal’ dalam musibah. Mereka mengatakan mencoba sehalus mungkin. Sedih, dan mencoba menyangkalnya Nyonya Mallard menyendiri dalam kamar. Ia muda dan cantik, kesedihan ini tak bisa dibiarkan berlarut, sampai akhirnya kisah menemui titik kejut yang dahsyat. “Bebas, bebas, bebas.”

#6. Rumah Di Jalan Buntu – Mahesh Bhargava
Empat Sekawan: Biman Guha, Paritosh Sen, Mayank Cahtterji dan Surajit Gangguly selalu tampak bersama di kampus sebagai para penikmat seni, sastra dan cerita petualangan. Keempatnya melakukan perjalanan ke Calcuta, mereka harus istirahat bermalam di sebuah rumah di jalan buntu. Dan sesuatu yang tak terduga terjadi. “Jika sungai Gangga melimpah airnya, orang-orang miskin yang tinggal di sepanjang tepi-tepinya akan kehilangan barang-barang dan tempat tinggalnya.”

#7. Sumur Thakur – Prem Chand
Cerita klasik dari Banaras. Gangi yang membutuhkan air bersih untuk minum Jokhoo yang lemah, hanya tersedia air lumpur. Ada sebuah sumur di keluarga kaya tuan Thakur. Kebimbangan, kenekadan, atau sebuah tindakan buruk dalam menentukan pilihan? Malam itu Gangi melakukan sesuatu yang sungguh liar. “Kami hanya berpikir lebih baik bekerja keras dan mandiri.”

#8. Glushenko Dan Bunga Aster – Hellen Melpomene Brown
Tentang dialog-dialog panjang di meja makan. Para bangsawan Ukraina, Prancis dan beberapa utusan menikmati malam dengan santai sampai akhirnya bunga aster yang dimaksud butuh ‘pertolongan’. “Pernahkah kau membaca kisah Star Rover karya Jack London? Pengalaman-pengalamannya di penjara.” Mereka selalu bilang jangan habiskan untuk pesta pernikahan atau jangan habiskan uang untuk pemakaman. Walau begitu, ayahku bukanlah seorang ahli kayu, melainkan seorang ahli sihir.

#9. Pendosa – Sherman Alexie
Tentang mimpi buruk Jonah akan perang. Kepanikan melanda, sebagian menyangkal, sebagian peduli dan bersiap. Ini kisah anekdot sebelum perang saudara pecah di Amerika, dan seperti yang sudah kita ketahui, pertempuran akhirnya terjadi, mimpi Jonah benar. “Ibu, akan terjadi perang.” Kami memasuki cahaya terang, aku memasuki cahaya terang.

#10. Bayi Dalam Bak Sampah – Donne Bartholomew
Cerpen dari Singapura dengan judul asli, ‘The Baby in the Rubish Bin’. Seorang anak yang selalu menghindari bak sampah saat pulang karena sebal ada Froggy, kodok berisik. Namun suatu hari ia menemukan bayi dalam bak sampah, dan esoknya koran-koran memberitakan penyelamatan itu. “Seorang pahlawan.

#11. Kain Kafan – Prem Chard
Pasangan miskin yang aneh, Madhava dan Budhiya. Budhiya sakit keras. Lalu Gheeso sang pengerajin kulit, memberi saran pada sobatnya agar menengok istrinya. Madhava yang juga aneh keberatan. Mereka melarat dan sungguh menderita. Bahkan saat Budhiya esoknya meninggal mereka ga kuat beli kain kafan. Sumbangan datang, terkumpul dan mereka pun mencoba mencari kain ke pasar. Sungguh mengejutkan uang receh itu malah habis buat mabuk. “Kita bilang saja uangnya jatuh dari sarung yang kita pakai. Mereka tak akan percaya, tapi mereka akan memberi kita uang lagi.” Duh, berengsek!

#12. Selembut Tangan Ibuku – Robert Fontaine
Suami istri tua yang masih saja terkejut akan tingkah pasangannya. Hidup memang untuk dinikmati, tetapi apa yang kita impikan lagi jika sudah berumur 80 tahun dan sudah menikah lebih dari 50 tahun. Bukankah semua jalan sudah dilewati, semua laut sudah diseberangi? Sang aku, sang anak menjadi pencerita bagaimana kedua orang tuanya dengan tingkah aneh melewati malam. Ayahnya pergi dan tak kembali, kekhawatiran melanda, dan pencarian terjadi. Esoknya saat ayah mereka pulang, dengan santai menjawab. “Aku pergi ke bioskop.” Oh. Dan fakta-fakta kasih sayang yang abadi tersaji. Saat dia menggenggam kedua jari tangannya dalam berdoa atau menepuk tangannya, jarak antara bumi dan bulan bisa berubah.

#13. Harta Terpendam – Alberto Moravia
Kisah tak lazim bahwa dari obrolan di rumah makan sebuah penginapan memicu kriminal. Si tua Marinese melontarkan sebuah kabar bahwa ia memiliki emas yang terpendam di pekarangan. “Suatu hari kelak saat tua renta dan tak mampu bekerja, aku akan menggalinya.” Maka sang aku, pelayan dan Remigio merencana merampok, meminta paksa petunjuk tempat penyimpanan emas. Dengan berbekal sekop, linggis dan sepucuk pistol malam itu kejahatan tercipta. “Dan apa yang kau lakukan dengan pistolmu?”

#14. Gadis Pintar – Margaret Bonham
Ia ingin menarik perhatianmu, dan kamu memberinya perhatian.” Penutup yang bagus. Kisah tentang penulis yang mengirim naskah ceritanya ke media. Koran The English Review dipimpin oleh lelaki bernama Stendel, dibantu sekretaris laki-laki Mark Pellini. Suatu hari seorang tukang pos mengantar sebuah kiriman naskah cerita bagus sekali, benar-benar narasinya hebat sampai-sampai apa yang dikisahkan tampak nyata. Sang pengirim gadis introvert yang freak. Cerpen berikutnya ‘Ruang Tunggu’ sama hebatnya, sampai-sampai Stendel terbawa cekam saat naik kereta dan di ruang tunggu seolah muncul karakter cerpen, mengancamnya. Penutupnya nge-twist bagaimana cerpen sang gadis berkisah pembunuhan oleh sopir taksi, siapa korbannya, kalian akan begidik. “Aku tidak bohong Mark! Karangan Nona Anna itu benar-benar terjadi pada diriku.”

Harbolnas, menikmati Mizan Store

Ditemukan banyak typo, editing yang buruk, layout berantakan. Entah bagaimana semua itu diloloskan untuk dicetak, dan betapa menyedihkan untuk dijual! Sebuah penerbit kecil, penerbit indi sekalipun hal-hal dasar harus tetap diperhatikan. Proof reader, cek and ricek, sumber yang valid dst. Bahkan setiap profil Penulis seharusnya ada foto, ada yang kelewat kosong. Seolah editingnya memang tak tuntas, atau malah mencari foto Penulis ga ketemu? Di era digital gini? Alamak!

Sayang sekali, tulisan sebagus ini dibawakan dengan ala kadarnya. Ibarat makan udang rebus kualitas restoran bintang lima disajikan dalam semangkuk plastik berdebu. Sulit untuk cetak ulang bila sajiannya penuh minor gini. Namun saya percaya, 30, 40, atau 50 tahun lagi buku terbitan kecil gini akan langka dan menjadi cult. Dan saya berpendapat Kisah Dalam Satu Jam bakalan menjelma cult, cocok untuk kolektor!

Kami akan melaksanakan apa yang menjadi tugas kami, dan kami akan melaksanakan tugas dengan cepat dan tanpa menimbulkan rasa sakit.”

Kisah Dalam Satu Jam | Kumpulan Cerpen Penulis Dunia, diterjemahkan dari berbagai sumber | Cetakan I, Februari 2015 | Diterbitkan oleh Penerbit Literati | Penerjemah dan Editor Edi Warsidi | Lay out Rozal Rabas | Desainer sampul M. Shodiq N. | 242 hlm.; 13 x 19 cm. | ISBN 978-602-8740-41-8 | Skor: 4/5

Karawang, 121218 – Nikita Willy – Ku Akan Menanti

Svetlana Alexievich, Nobel Sastra dan Penulis Indonesia

Featured image

Semalam saat menonton trending topic di Metro TV sekilas membaca running text: ‘Svetlana Alexievich, Penulis asal Belarusia menjadi pemenang Nobel Sastra 2015’. Pengumuman dilakukan Kamis (8/10) kemarin oleh komite Nobel di Swedia. Alexievich mengalahkan kandidat kuat penyair asal Korea, Ko Un dan penulis Hungaria, Laszlo Krasznahorkai. Sara Danius, ketua penyelenggara menyebutkan buku pemenang Alexievich sebagai monumen untuk keberanian dan penderitaan di waktu yang sama.

Seperti yang dikutip CNN Indonesia, Svetlana Alexievich adalah pemenang wanita yang ke-14. Wanita kelahiran 31 Mei 1948 di Ukrania ini memiliki darah Belarusia dari ibunya. Alexievich pindah ke Belarusia setelah ayahnya keluar dari militer. Kedua orang tuanya lalu menjadi guru. Beliau menjadi jurnalis dan menulis banyak karya mulai dari cerpen, esai sampai reportase. Dirinya adalah jurnalis pertama yang memenangkannya.

Alexievich sering mengkritisi perang yang banyak mengorbankan anak-anak dan wanita. War’s Unwomanly Face berisi reportase dari berbagai negara yang sangat menyentuh terutama dari Eropa Timur di Perang Dunia II. Bukunya yang paling terkenal, Voices from Chernobyl tentang bencana nuklir tahun 1986 dan Zinky Boys yang mengacu perang di Soviet dan Afganinstan. Buku itu menuai kontroversi ketika pertama diterbitkan di Rusia. Karena dianggap sebagai sebuah fitnah kejam terhadap pemerintah sehingga dirinya beberapa kali dicekal dan teleponnya disadap. Semangat Alexievich untuk mengungkap kebenaran akhirnya diganjar hadiah Nobel Sastra tahun ini, uang sebesar Rp 15 milyar berhak untuknya. Selamat Alexievich.

Berikut Pemenang Nobel Sastra dalam 10 tahun terakhir:

2015 – Svetlana Alexievich (Belarusia)

2014 – Patrick Modiano (Perancis)

2013 – Alice Ann Munro (Kanada)

2012 – Mo Yan (China)

2011 – Tomas Transtromer (Swedia)

2010 – Mario Vargas Llosa (Peru)

2009 – Herta Muller (Jerman)

2008 – Jean-Marie Gustave Le Clezio (Perancis)

2007 – Doris Lessing (Inggris)

2006 – Ferit Orhan Pamuk (Turki)

Penganugerahan Nobel Sastra dimulai tahun 1901 dan sejauh ini belum pernah ada Penulis Indonesia yang meraihnya. Raihan tertinggi Indonesia adalah masuknya penulis terbesar kita Pramudya Ananta Toer yang beberapa kali dinominasikan. Sayangnya sampai beliau meninggal tahun 2006, Nobel Sastra tak mampir. Pram mempunyai karya dahsyat Bumi Manusia. Buku ini kontroversi di era pak Harto. Sehingga Pram beberapa kali diasingkan. Dalam pidato tertulisnya pada saat menerima Penghargaan Magsaysay di Manila, Pram mengatakan bahwa sastra yang dilahirkan dalam pangkuan kekuasaan dan berfungsi memangku kekuasaan semacam itu, langsung menggiring pembaca pada sastra hiburan, memberikan umpan pada impian-impian naluri purba pada pembacanya. Dari sekelumit kisah ini kita tahu, untuk dikenang kita harus berani mengungkap kebenaran tak peduli kita tak sejalan dengan sang pemegang kekuasaan.

Era Pram sudah berlalu, mari kita tatap ke depan. Siapakah Penulis Indonesia yang akan pecah telur memenangkan penghargaan bergensi ini di kemudian hari? Saya tak tahu. Kalian juga tak tahu. Semua orang tak tahu. Tapi kita tetap harus yakin, seuatu saat pasti ada. Ini bukan prediksi, namun sejauh ini ada empat Penulis yang menonjol yang layak untuk selalu masuk daftar spotlight, pertama Okky Madasari Penulis muda yang meraih sastra Khatulistiwa tahun 2012 dengan karyanya Entrok (2010), Maryam (2012) dan Pasung Jiwa (2013). Ketiganya sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Kedua Eka Kurniawan dengan masterpiece-nya Cantik Itu Luka (2002) dan Lelaki Hariau (2004), keduanya juga sudah diterjemahkan ke Bahasa asing. Tulisan-tulisannya yang surealise mengingatkanku pada penulis besar Amerika Latin, Gabriel Garcia Marquez. Ketiga Seno Gumilar Ajidarma yang cerpen indahnya Sepotong Senja Untuk Pacarku selalu menghantui kita. Tahun 2012 lalu beliau menang Ahmad Bakrie award. Puluhan karyanya begitu menghipnotis dan selalu ditunggu pembaca. Dan terakhir Remy Silado, satu-satunya buku yang sudah kubaca Beolevard de Clinchy (Agonia Cinta Monyet) benar-benar luar biasa indah. Pernah menang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2002. Selain menulis, Remy juga membuat film. Ciri khas karyanya adalah penceritaan setting tempat yang sangat kuat dan jelas ditulis dengan survei yang detail. Cerita seperti itu sangat sulit dibuat karena butuh kesabaran tingkat tinggi. Selain keempatnya masih banyak Penulis besar yang layak disodorkan. Ahmad Tohari yang tahun ini menang Ahmad Bakrie award, Djenar Maesa Ayu yang karyanya mengekploitasi seksualitas tanpa batas, Asma Nadia yang buku-buku religinya banyak mengubah pandangan hidup perempuan, Ayu Utami yang punya Saman dan Pintu Terlarang yang fenomenal setelah diangkat ke layar lebar. Dee, yang tulisannya selalu nyeleneh dengan Supernova. Dan masih banyak lagi. Kepada merekalah saat ini kita berharap. Kepada kalianlah saya berharap.

Siapapun itu Penulis Indonesia nantinya yang meraih Nobel Sastra, kuharap saya bisa menjadi saksi sejarah. Atau salah satu dari kalian yang sedang membaca tulisan ringan ini yang akan memecahkannya? Siapa yang tahu?! Sekali lagi Kuharap saya panjang umur sampai tahu sejarah emas itu ditulis. Allahu akbar.

Karawang, 091015

(review) A Cup of Tea For Writer: Curhatan Penulis Merangkai Karya

Gambar

Sabtu, 11 Januari 2014 saat ada ajakan dari CISC Karawang untuk nonton bareng sepak bola EPL antara Chelsea vs. Hull City di Karawang Central Plaza saya iseng ke toko buku ketika jeda pertandingan. Sebenarnya sih sedang mencari bukunya JK Rowling (pakai nama samaran si Richard itu tuh) yang baru, tapi berhubung belum ada maka penjelajahanku mengantar pada sebuah buku motivasi buat nulis, terbitan Stiletto. Yang menjadi magnet untuk membelinya adalah cover yang simple dan tulisan back cover yang mengintimidasi. “Belakangan ini, menulis terdengar sangat seksi. Begitu banyak orang yang ingin menjadi penulis. Motivasi mereka pun beragam. Dari mengisi waktu senggang, ingin terkenal, hingga mencari nafkah. Impian untuk menjadi seterkenal JK Rowling pun melambung. Terkenal, royalty melimpah, tulisan difilmkan, diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan seterusnya. A cup of tea for Writer membagi semangat itu pada para pembaca. Semangat itu akan menyala di hati, menerangi. Menghangatkan. Selamat membaca sambil menikmati secangkir teh Anda.”

Nasehatnya kujalakan, dengan segelas teh porsi  besar akhirnya saya menikmati buku kumpulan kisah inspiratif para penulis Indonesia. Dengan cuaca hujan yang saat ini lebih sering menyapa, saya membaca kisah-kisahnya dengan tempo cepat. Saya ingat, waktu itu saya iseng twit sebelum membacanya. Seperti biasanya saya selalu sharing sama teman-teman di media social bacaan apa yang sedang kunikmati. Tak ada sehari saya kelar membacanya.

Buku ini berisi 20 kisah (curhat) para penulis baik senior ataupun yunior, mulai dari awal mereka membangun karya. Dengan rincian: 14 penulis terpilih sebagai kontributor, 4 penulis tamu (Reda Gaudiamo, Ika Natasah, Ollie, dan Dian Kristiani) serta 2 penulis editor Stiletto (Triani Retno A dan Herlina P Dewi). Benar-benar perjuangan (mayoritas) meraka dari awal. Kisahnya ditarik dari basic bahkan ada beberapa cerita yang menariknya sampai saat masih Sekolah Dasar. Senang susahnya menerbitkan karya perdana, pertentangan dengan keluarga akan profesi yang tak menjanjikan sebagai penulis, teror calon penulis yang tak lolos seleksi, sampai nasehat harus bermental baja karena akrab dengan kata penolakan dari penerbit. Banyak bertebaran kata-kata mutiara sebagai penyemangat bagi yang berniat menjadi penulis.

Beberapa kalimat yang menembak hati saya adalah:

“Aku berusaha mempertahankan keikhlasan dalam menjalani kehidupan. Yang kuyakini hingga saat ini adalah jika aku mengejar kekayaan, aku akan hancur. Namun jika aku menjalani semuanya dengan ikhlas dan mensyukuri sekecil apapun yang kudapatkan, aku akan memperoleh lebih banyak hal besar untuk kusyukuri. Hidup adalah rangkaian proses yang tak ada habisnya. Begitu pula dengan dunia menulis. Ada proses yang harus kulalui. Di sinilah aku pada akhirnya. Aku bukanlah penulis. Aku hanya seseorang yang merangkai impian melalui jalinan kata indah yang tak akan ada habisnya. Aku mencandu kata-kata, aku akan terus berada di dalam dunia kata hingga kelak aku berkata pada dunia bahwa aku pernah ada.” (Monica Anggen)

“Ketika kau tak bisa mengucapkan sesuatu, tidak usah takut karena kau masih bisa menulisnya. Lakukan sekarang dan kau akan merasa lega.” (M. A. Sitanggang)

“Touching lives with words. Sounds superficial and cheesy, but sometimes it’s happen, and when it’s does, I’m flattered” (Ika Natasha)

“Pada akhirnya hidup adalah memilih dan memilah. Meniatkannya dengan kuat, meyakininya sepenuh hati, lantas memperjuangkannya sekuat tenaga. Selebihnya, terserah Tuhan hendak menggiring ke mana.” (Lalu Abdul Fatah)

“Begitulah. Bersama buku, aku bermimpi dan hidup. I do really love my job.” (Herlina P Dewi)

“Akhirnya aku bangkit. Jika satu pintu tertutup, aku harus membuka pintu yang lain. Banyak kesempatan di luar sana yang bisa kuraih. Menerbitkan buku tadinya hanya sebuah impian yang ingin kuwujudkan tanpa tahu kapan waktunya. Aku bersyukur karena masih ada celah untukku.” (Juliana Wina Rome)

“Hal paling mendasar yang bisa kita dapatkan dari menulis adalah bahwa menulis itu menyenangkan. Sangat menyenangkan. Dengan menulis kita bisa menciptakan sebuah dunia baru lalu melakukan apa saja di dunia itu.” (Whianyu Sanko)

Dan tak kusangka, twit saya mendapat retwit dari Stiletto pada tanggal 16 Januari 2014. Review ini sekaligus menjawab bahwa saya juga menikmati kegiatan menulis, yah walau hanya sekedar ulasan di blog. Ehemm…

Gambar

Karawang, 300114