Blue Summer: Cinta Biru dari Negeri Sakura

Cinta remaja di masa liburan di desa, terkesan. Ketika liburan berakhir akankah ini hanya cinta sesaat?

Gadis kota liburan ke kampung halaman, ke rumah neneknya bareng adiknya. Saat turun dari bus di pinggir sungai, berkenalan dengan pemuda desa yang lugu, yang menawarkan tur dengan gambar pamflet eksotis, si gadis terpesona, sang pemuda kesemsem. Lalu pas sampai rumah sang nenek, ternyata pemuda itu adalah saudaranya, penjaga toko kelontong. Ada kebencian karena dari tutur nenek, cucunya pergi meninggalkan kampung mencipta kesepian. Liburan yang seharusnya penuh warna menjadi agak renggang awalnya, sampai tak kurang dari ¼ film di mula, saya sudah bisa memprediksi endingnya. Dan tepat! Blue Summer adalah cerita manis, semanis-manisnya.

Kisahnya berpusat pada siswi cantik Rio (Wakana Aoi). Pembukanya adalah adegan jelang libur sekolah, ketika Rio mau pulang disapa cowok si jangkung yang secara halus tersamar mencintainya, sempat akan meminta kontak, tapi terlewat. Liburan sekolah musim panas ini akan dilewatinya di kampung halaman sang nenek, berangkat bersama adiknya, ibunya seorang desain grafis akan menyusul nanti. Sampai di pedesaan berkenalan dengan Ginzo (Hayato Sano), pemuda desa yang sedari muncul juga sudah bisa ditebak akan meluluhkan hati Rio.

Benar saja, walau ia dibenci Ginzo karena meninggalkan neneknya, Rio melewati hari-hari galau dengan melihat bintang bertebaran indah di malam hari, bermain air di sungai, main sepeda menghirup udara segar pegunungan, memetik bunga. Lalu berkenalan dengan teman-temannya Ginzo yang sepanjang waktu pegang kamera, ada tantangan terjun ke jernihnya air sungai dari jembatan. Rio dengan meyakinkan berani, jangan sepelekan anak kota ya.

Lalu beberapa teman sekolahnya menyusul liburan ke sana, bikin tenda di pinggir sungai, panggang daging, sampai main air. Terlihat jelas si jangkung mencintai Rio, maka ia mengajak kencan, dan ‘mengancam’ Ginzo. Rio sendiri lalu secara terbuka bilang suka pemuda desa, sehingga kini tercipta cinta segitiga dengan pusat yang protagonist.

Kebetulan ada event sekolah, mendatangkan band nasional. Semakin merekatkan mereka berdua, mendesain promo, mencipta erat, menghabiskan malam dengan lanskap kembang api, menangkap ikan di bazar, cinta itu perlahn tumbuh kembang bak musim semi, sampai akhirnya mendekati hari terakhir liburan di puncak pesta musik. Apakah kedekatan mereka berlanjut? Ataukah dengan berakhirnya masa di desa, berakhir pula hubungan ini. Lalu Rio mengambil tindakan berani sebab ada kekhawatiran mengucap kata ‘selamat tinggal.

Ini jenis film warna-warni mencolok mata. Semua ditampilkan indah, ga cocok buat kaum merenung, tak cocok pula buat kaum hippy. Ternyata berdasar manga populer. Yah ini sih manga remaja yng so sweet. Bunga matahari kuning terhampar, pemandangan gunung asri sepanjang mata memandang. Suara jernih sungai mengalir. Gemerlap bintang di langit yang ditingkahi tembakan kembang api. Benar-benar film romantis khas remaja. Saya justru jatuh hati sama Seika Furuhata, cantik dan tampak dewasa ketimbang tokoh utamanya yang childish. Sebagai gadis ‘penghamba cinta’ yang mencinta, berharap jodoh keluarga tapi kandas. Duuuh manisnya, catet yes Seika!

Plot semacam gini sudah banyak dibuat FTV kita. Cinta-cintaan dengan penampil cantik dan tampan, konfliks ringan, lagu-lagu indah, gadis kota tergoda pemuda desa, sudah melimpah ruah. Blue Summer menawarkan hal yang mirip, kalau tak mau dibilang sama. Dengan template seperti itu, wajar saya agak kecewa. Keistimewaan film justru di technical. Banyak kamera ditaruh di beberapa sisi. Contoh adegan jembatan itu, saya catat ada minimal lima kamera menyorot adegan terjun. Dari kedua jembatan, kamera terbang, dari sisi sungai bawah, dan pas masuk ke air kamera terendam. Nah, secara teknikal tampak anggun. Kelopak air itu menyejukkan, benar-benar film memanjakan mata.

Memang sebuah perjudian menonton film tanpa rekomendasi, ngasal karena muncul di beranda. Blue Summer sekadar hura-hura remaja yang akan cepat terlupakan, kecuali gemerlapnya yang tertahan lama di balik retina. Eyes candy alert!

Tentu saja pertemuan kita terkadang tidak lebih dari sekadar liburan, tapi beberapa hari itu bertemu dengan orang yang kaucinta sangat besar artinya. Kau ajarkan aku apa itu kenyataan.

Blue Summer | Judul asli Ao-Batsu: Kimi ni Koi Shita30-Nichi | Japan | 2018 | Directed by | Screenplay Yukiko Mochiji | Manga Atsuko Nanba | Cast Shiori Akita, Wakana Aoi, Seika Furuhata, Takumi Kizu, Rinka Kumada, Atom Mizuishi, Hayato Sano, Reo Shimura, Aimi Terakawa | Skor: 3.5/5

Karawang, 230420 – Bill Withers – Railroad Man

Notting Hill: Ketika Realita Lebih Indah dari Khayalan

Anna: Her most famous part. Men went to bed with the dream, they didn’t like it when they would wake up with the reality. Do you feel that way?

Impian liar semua laki-laki bisa dilihat dalam frame film Notting Hill. Bahkan mulanya untuk dibayangkan saja, rasanya ga berani. Seorang penjual buku traveling, William Thacker (Hugh Grant) yang tinggal di distrik Notting Hill, London Barat. Orang biasa kebanyakan yang menjalani rutinitas pekerjaan. Toko buku di era peralihan digital, ga ramai tapi masih menguntungkan. Suatu hari ia kedatangan calon pembeli, seorang artis besar Hollywood, Anna Scott (Julia Roberts). Saking terkenalnya, kedatangan ke London menginap di hotel Ritz dipenuhi wartawan. Maka ketika ia jalan-jalan mengenakan kacamata, wajar.

William emang istimewa, seorang yang ga suka gibah, ia tak tahu yang berkunjung adalah orang tenar. Setelah transaksi dan basa-basi, bersama pegawainya ia ngopi, lalu cari jus dan disinilah pemicu segalanya terjadi. Balik dari warung ia bertabrakan dengan Anna sehingga baju depannya basah, iapun menawarkan bantuan untuk ke rumahnya untuk ganti baju. Dan sesaat sebelum pamit, dengan canggung di depan pintu terjadi ciuman mulut, kilat tapi terasa istimewa. Wew, orang asing terkenal, tatap-tatapan, jeda yang hening dan kiss kiss. Imaji paling liar pun ga nyampai. Ini artis besar, sangat besar!

Hubungan berikutnya seharusnya lebih mudah. Kerikil ada, sandungan ada, bentakan, marahan, ngambek ada. Namun jelas, ini adalah film komedi romantis yang sangat mudah ditebak. Happy ending pastinya terjadi. Kalau saya menyebut Our Time adalah film yang menampilkan kebahagiaan yang hakiki, maka ini jauh lebih manis, hakiki di atas hakiki, tumpahan gula bukan hanya setoples, tapi melimpah ruah satu truk gula dihambur-hampurkan sepanjang Portobello road.

Makan malam merayakan ulang tahun adik, tamunya aktor Hollywood. Gilax, artis lokal saja dah heboh kok. Ketemu sama keluarga Will, salah satunya pialang saham. Lucu juga dia pening lihatin grafik, untungnya per tahun ga seberapa. Beraninya nanya penghasilan artis? Dijawab 15 juta Dollar, gaji Julia sesungguhnya di film ini. Sang pialang saham adalah kita, tertohok. Wkwkwk… Jalan kaki di malam hari bertabur bintang di jalanan yang tenang sambil ngobrol berdua, sungguh menyenangkan. Sungguh wow. Mungkin tanganku harus dimasukkan ke saku celana saking gemetarnya. Disandingkan Celine dan Jesse pasti kita berharap bisa main kuis ‘siapa lebih romantis’. Lompat pagar masuk taman tanah pribadi, duduk di kursi bercengkeraman mesra dan diiringi lagu Ronan Keating. Luar biasa, nikmat mana yang kau dustakan? Sampai di sini, saya baru sadar ternyata ost-nya akhir era 90an memang sedang di puncak. When You Say Nothing At All bahkan identik dengan film ini, kok saya bisa lupa ya? Padahal dulu MTV Most Wanted saban sore hari muterin debut solo karier Ronan.

Sepulang jalan-jalan, di hotel diajak ke kamar. Weleh. Kerikil pertama dilempar, Anna mendapat kejutan kunjung pacarnya Jeff King (Alex Baldwin) merusak rencana indehoy mereka. Anna ternyata punya pacar, fakta ini tak diketahui Will karena ia memang tak ikuti gosip. Kelar? Ah ini sih bumbu drama hubungan saja. Mereka toh jalan lagi. Pas makan malam, ada cowok-cowok gibah tentang Anna Scott sama Meg Ryan, hotan siapa coba? Anna sih kalem, tapi William marah ketika mereka menyebut artis Amerika gampangan, Anna cewek gampangan. Diakhiri dengan tampilan Anna menohok. Keren? Yeah, ini film mereka, santuy aja.

Imaji paling tinggi ditampilkan di sini, ketika Anna yang kzl dikejar paparazzi memutuskan nginep di tempat tinggal Will. Yah, tahu sendirilah akhirnya bagaimana, sejatinya usulan Will tidur di sofa hanya lamis lambe tipis. Spike freak (Rhys Ifans) teman sekosnya yang ngoceh aneh ‘kalau kamu ga mau, gmana kalau saya saja’ hanyalah guyon garing kek keripik kering. Maka terjadilah hal-hal yang diinginkan, di dini hari dengan kamera menyorot dari belakang Anna, atasan diturunkan. Pada mimisan dah menatap nafsu punggung terbuka Julia Roberts.

Tanda-tanda hubungan mereka berakhir coba diapungkan. William ngadain voting sama keluarganya, lanjut ga nih? Anna pamit, ia akan segera balik Amerika. Bahkan keluar kata-kata kasar-pun penonton waras dengan mudah bisa menebak akhirnya. Ketika di lokasi shooting, tak sengaja mendengar kalimat ‘teman biasa’ sama warga London. Heleh, riak kek buih septitenk. Dengan penuh gaya balap mobil di kepadatan lalin London, dibuat dramatis ketika di hotel Ritz, Anna dah check out, yang ternyata sedang adain konferensi pers di hotel lain. Boom, semua bahagia selamalamalamalamalamalamanya.

Di akhiri dengan sangat manis di kursi taman, Will baca buku, Anna tiduran di pangkuan dengan mengelus perut buncit. Ini adalah ejawantag dongeng Disney yang sesungguhnya. Realita > Khayalan.

Notting Hill mematik imaji saya. Saya penggemar buku, Will punya toko buku. Walau beda genre, karena calon pembeli tanya novel Charles Dickens dipelototin. Tanya Winnie The Pooh dikesalin. Berbanding terbalik sama koleksiku, buku panduan wisata ke Lubang Buaya ga akan kalian temukan, buku traveling ala Trinity Optima Production jelas akan kujual kiloan buat bungkus tempe mendoan. Pun, buku-buku Jejak Petualang ala Upin Ipin. Rak-ku mayoritas adalah novel! Poinnya adalah kesamaan di buku saja, catet.

Imaji kedua adalah jreng jreng jreng…, kalian pastinya tahu saya adalah seorang Sherina Lover nomor satu di dunia akhirat. Ga ada yang ngalahin, bahkan mungkin bapaknya shock cintanya tersaingi. Bayangkan, kamu sedang santuy sama buku (saya ga punya toko buku, jadi anggap saja saya pengunjung juga), tiba-tiba ada Sherina masuk menyapamu, menyukai buku kamu baca, ngobrol saru lalu ketika di jalan baju Sherina kena tumpahan kopi (saya jarang minum jus), lalu saya tawarkan Sherina untuk ganti baju ke rumah, lalu selama semenit lirik-lirikan terjadilah ‘hal-hal yang diinginkan’. Duuh, Listerine-ku dah habis tanggal tua.

Lalu sepanjang jalan Galuh Mas, Karawang jalan kaki malam hari bertabur bintang, ngobrolin banyak hal, ada pegamen nyanyiin lagu romantis. ‘Sher saya punya lagumu komplit lho’, ‘serius Mas Budy?’, ‘iya, dalam bentuk mp3.’ Hening, lalu ia marah karena harusnya dah bentuk sportipi atau jukz. Suatu hari tiba-tiba ia datang lagi, mau pinjam bukunya Haruki Murakami yang 1Q84 (anggap saja ini alibi) lalu bilang lagi kzl sama Ayah Triawan Munaf, boleh nginep ga? Duuerrrr… lalu pas mau buka kaus kaki, May buka pintu. Kejutan! Merusak fantasi. Iya May, saya tiap libur masih setia cuci piring kok. Lalu dan lalu dan lalu… begitulah. Notting Hill hanya akan tetap indah di layar. Our Times saya sebut bahagia hakiki, Before Sunrise saya sebut kesempatan ketemu Celine di kendaraan umum hanya satu per sejuta kesempatannya. Maka Notting Hill adalah imajinasi fantasi yang keterlaluan tingginya. Kejadian langka yang bahkan komet Halley sudah timbul tenggelam seribu kali, baru sekali kejadian. Sherina dijampi pakai pelet ajian goyang Karawang-pun ga akan luluh untuk menikahi kutu buku misquen. Iya, kalian yang beli buku daring pakai Shopee gara-gara gratis ongkir.

Sesaat setelah nonton film ini, saya langsung #unboxing bukunya Henry James: Daisy Manis karena di film ini Anna ada proyek film adaptasi novella beliau: ‘The Siege of London’. Bukunya tipis, hanya perlu sejam baca selesai. Makhluk Anna ki langka.

Ketika ia bilang ‘Rita Hayworth used to say, “They go to bed with Gilda, they wake up with me.”’ Saya membayangkan ia berkata, ‘May used to say, “They go to bed with Sherina, they wake up with me.”’ Itulah kenapa hiu putih harus dilindungi. Lalu mengalunlah lagu klasik fenomenal Elvis Castello: SHE!!!

Notting Hill | Year 1999 | Directed by Roger Michell | Screenplay Richard Curtis | Cast Julia Roberts, Hugh Grant, Richard McCabe, Rhys Ifans, James Dreyfus, Alec Baldwin | Skor: 4/5

Karawang, 291119 – Deep Purple – Soldier of Fortune

Rekomendari film romantis keenam Bank Movie ini dipersebahkan oleh Bang Oja. Thx.

Jeritan Dari Pintu Kubur – Abdullah Harahap

“…di kota banyak kami dengar kabar-kabar aneh tentang kampung ini. Pencurian mayat bayi, tempat perampok berkumpul, kematian-kematian ganjil…”

Buku kedua Abdullah Harahap yang kubaca, setelah terpesona dengan Kolam Darah, saya memang memastikan akan membaca karyanya lagi. Sayang sekali, untuk kali ini kurang memuaskan. Saya sudah bersiap ketakutan, saya sudah was-was aura mistisnya, saya sudah antispasi membaca dalam remang Malam Minggu sendiri dan kutuntaskan hari ini (27/10/19). Sayang sekali, gagal terpenuhi. Jeritan Dari Pintu Kubur malah berjalan klise, dramanya bak sinetron azab yang tayang di tv tiap malam, endingnya ketebak, yang baik pada akhirnya menang, yang kalah ya yang jahat. Aura mistis yang kunanti juga nyaris ga muncul, hanya segelintir tanpa bikin merinding. Tumbal bayi malam Jumat Kliwon, jimat untuk pengasihan, tapi justru malah dendam kematian yang utama. Bagaimana arwah penasaran mencipta kengerian untuk menuntut balas.

Kisahnya tentang Parman, perampok yang selesai menjalani hukuman. Mendapati istrinya meninggal secara tak wajar. Ditemukan tewas nyaris telanjang di sungai, info yang beredar karena bunuh diri. Namun jelas bukan karena itu, pembaca sudah diberitahu bahwa kematian Lila karena ulah Pak Lurah (karakter tanpa nama) yang mencoba memperkosanya, dalam kamarnya ada lubang yang mengarah ke top roof, Lila lari dan di atap itulah, Lila terjun ke sungai. Lila menjadi arwah penasaran. “Persetan! Biar halusinasi, kalau itu jerit arwah isteriku, aku tak peduli.”

Parman adalah pembantu pak Lurah, maka karena ia akan diusir warga, ia minta bantuan perlindungan. Pak Lurah punya asisten Pak Bejo yang kekar dan plontos, gambaran jahat seorang antagonis yang bengis. Pak Lurah yang walau gugup, mencoba membantu. Namun suatu pagi, saat Parman sedang merenungi nasib di tempat ditemukannya Lila nyangkut di akar pohon sungai, ia menemukan keganjilan. Di tepian rumah Pak Lurah, di sungai itu ia menemukan kutang Lila, maka spekulasi Pak Lurahlah yang melakukan pembunuhan berkecamuk di kepala. Subuh itu, ia mendatangi rumah orang terkaya di desa itu. Teriak-teriak kayak orang gila, warga berkumpul, malah massa itu lalu mengeroyok Parman yang seperti orang gila. Lalu dirawat di klinik, Bejo diminta membereskan oleh bosnya. Malam itu, arwah Lila menolong Parman, karena menampakan diri dan membuatnya bersembunyi di semak menyaksikan Bejo yang coba membunuhnya pulang tanpa hasil.

Parman kabur ke Bu Lasmi, mantan istri Pak Lurah. Di sana ia cerita bagaimana kronologinya, karena pernah ada asmara diantara mereka, ada sendu yang menguar, tapi Bu Lasmi sudah berencana menikah, maka godaan Parman ditampik. Ia membantu perawatan Parman ke kota, dengan bus yang dalam perjalanan ia pingsan berkat banyak darah keluar. Naas, kaki kanannya harus amputasi karena sudah kena inspeksi, ia hampir putus aja. Sekarang bagaimana ia bisa menuntut balas dengan satu kaki?

Maka Bung Abdullah mencipta karakter bernama Dorothea, seorang suster yang wajahnya mirip Lila. Parman mengejarnya, mengeja Lila untuk perempuan yang merawatnya, nyaris membuatnya gila. Antara halusinasi ataukah penampakan ataukah ia sudah beneran edan. Nah, dari sinilah keklisean kisah dimulai. Sungguh kebetulan yang konyol dicipta, Tea yang bercerita pada kedua orang tuanya, lalu kita tahu identitas Tea yang ternyata bersaudara dengan Lila, lalu membantu Parman membalas kematian kakaknya, lalu amburadullah kengerian yang sudah disusun itu. “Hantu? Tidak ada hantu di dunia ini bung. Apalagi di siang bolong seperti kemarin, waktu kau kejar-kejar suster Dorothea…”

Pak Lurah seorang bisex, Bejo wakilnya adalah pasangan tidur, mereka memiliki jimat dari mayat bayi yang mati di malam Jumat, diawetkan dan disimpan dalam sebuah kotak. Barang siapa memilikinya, ia bisa tembus pandang. Dari situlah kekayaan Pak Lurah, merampok dalam senyap. Parman sendiri tertangkap dalam aksinya karena setelah melacur, ada rambut perempuan yang terselip sehingga ajian itu hilang.

Kisah menjadi makin tak jelas saat, Pak Lurah dengan mudah memecat Bejo, orang kepercayaan yang sudah lama mengabdi demi pemuda bernama Kardi yang mencari kerja, mengantar surat untuk Bejo agar pulang. Pak Lurah terkesima kemudaan Kardi dan nafsunya membumbung, Bejo sendiri saat sampai di kampung menemukan kejanggalan karena alasan ia diminta pulang, ayahnya sekarat dan akan membagikan warisan. Bagaimana ini merupakan jebakan, ibunya buta huruf dan adik-adik perempuannya hanya bisa bersolek. “Mengapa kau pandangi aku begitu? Mata pak lurah membayangkan ketakutan.”

Kisah berakhir dengan nyaris tanpa pukau, Pak Lurah menuai kejahatan, Parman menuai kerja kerasnya, Tea menemukan kejutan, bagaimana ia belum tampil tapi ada penampil lain yang ternyata arwah Lila sendiri yang muncul menuntut balas. “Aku bukan membanggakan diri, isteriku memang cantik. Itu salah satu sebab mengapa aku teramat mendambakannya.”

Agak janggal membayangkan Tea menolak dokter atau banyak lelaki yang menggodanya, ia adalah semacam perawat idola. Kalau dokter yang sudah beristri wajar, tapi begitu banyak pemuda lajang mengantre, lalu menjatuhkan pilihan kepada Parman yang terlihat gila? Semakin tercurah perhatian perempuan terhadap laki-laki, semakin tertumpah pula harapan lelaki lain yang justru mengharapkan perhatian itu ditunjukkan hanya pada dirinya seorang. Atau inikah yang dinamakan cinta? Cinta buta.

Cerita tampak terlalu mengada-ada, seolah orang jahat itu harus menuai kepahitan di akhir. Hati manusia abu-abu, kebaikan mengurus Lila dan ibunya memang tampak lumrah, tapi ia mengharap balas nafsu yang terlihat agak konyol. Legenda urban, dimana pencurian mayat yang dikubur malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon memang ada, di kampungku dulu juga gitu. Keluarga akan mendirikan tenda di dekat kubur sampai 40 hari setelah penguburan. Serem? Begitulah nyatanya. Seolah ini memberi gambaran kisah semacam ini memang mungkin terjadi. Tapi jelas, ga sesinetron ini. Semua dendam apakah harus terbalas? “Aku akan datang untuk membalasmu!

Ini adalah buku bekas persewaan dan perpustakaan. Hurufnya sebagian kabur, kertas buram yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. dari penerbit indi, dicetak tanpa ISBN dengan ukuran sedikit lebih besar dari buku saku. Ada stempel merah ‘Perpustakaan NIKA’ Delanggu dan ‘Taman Batja Galiuk’ Kauman 120 Pati. Sayang sekali halaman hilang dua, halaman 63-63 bagian yang agak panas ketika Parman berkunjung ke Bu Lasmi, perempuan yang merenggut perjakanya. Bagian itu jelas disobek, kepingan kisah menjadi tak lengkap.

Dengan kekecewaan ini apakah saya tak berniat lagi akan kisah horor Abdullah Harahap? Nope, sesekali memang perlu terpeleset untuk menggapai harap lagi. Jeritan Dari memang gagal memenuhi harap, tapi jelas ini hanyalah pijakan horor kecil untuk letupan seram selanjutnya.

Dorothea tertengadah. Takjub.

Jeritan Dari Pintu Kubur – Abdullah Harahap | Cetakan pertama, Agustus 1984 | Penerbit ‘GULTOM’ Agency | Skor: 2.5/5

Karawang, 271019 – Bee Gees – You Should Be Dancing

Buku dibeli di lapak buku bekas Gladag, Solo pada tanggal 29 September 2019 beli 5 hanya 20k bareng Damar Laziale

(review) Frenemy: Aku Mendengarkan Nasehat Cinta Dari Seorang Jomblo Sejati

Gambar

Dengan embel-embel ‘Juara II lomba novel 30 hari 30 buku Bentang Belia’, novel remaja karya Ayuwidya ini menyeruak di antara novel-novel terjemahan luar negeri yang saya beli pertengahan tahun lalu. Saya sendiri heran kenapa bisa beli novel remaja yang sudah sangat jarang saya baca, si May juga heran tak biasanya saya baca cerita cinta. Di lemari buku saya mayoritas adalah buku-buku cerita terjemahan dengan cerita yang bukan cinta remaja. Jauh dari tema cinta-cintaan anak sekolah. Novel ini bahkan kelar dibaca istriku dulu, baru saya membacanya. Dia membacanya dalam semalam, saya besoknya juga dalam rentang yang tak lama.

Frenemy is someone, who is your friend but also an enemy (urban dictionary). Frenemy bercerita tentang seorang remaja bernama Tamara Galuh Wangi yang bersekolah di Arc. Dari pertama menginjakkan kakinya di sekolah tersebut dia sudah berniat untuk menjadi popular, berteman dengan orang-orang popular dan bertekad akan mengikuti ektra-kulikuler yang menjadi favorite di sana. Maka dari itu dia ingin berteman dengan Tiara yang jadi incaran semua cewek di sekolah, sebuah mimpi. Lalu Charlene yang selalu memakai barang bermerek, Kalin yang suka menyebut selebritis dan designer terkenal atau Bianca yang sering dikerubuti cowok-cowok. Namun sayang, impian itu kandas. Tiara hanya anak piatu dengan uang jajan pas-pasan yang pernah ke salon dengan rambut kriting gagal. Korban salon murahan yang enggak bisa membedakan ikal cewek-cewek ala Korea yang dimintanya dengan surai singa. Misi makin sulit untuk menjadi popular setelah dia terjebak menjadi teman seorang kutu buku kuper, Kayla.

Tamara ingin menjadi bagian dari girlband yang diadakan di Arc, salah satu ektra-kulikuler favorite, sayangnya gagal. Dia ingin menjadi cheerleader yang bisa menyoraki pemain basket yang kece, gagal juga. Salah satu sesi eliminasinya yang memakai dance bahkan berujung memalukan. Namun dari seleksi tersebut dia yang kena timpuk bola basket sampai pingsan malah dapat kenalan kakak kelas keren bernama kak Alven. Dari situlah mereka akhirnya dekat.

Tamara akhirnya memilih eksul tak popular, jurnalistik. Eksul ini mengelola majalah online sekolah Highlight yang isinya berkisar tentang dunia remaja yang dibagi dalam beberapa rubrik, Tamara di divisi artikel remaja padahal dia ingin di divisi gosip yang saat ini dipegang Viselle. Divisi gosip lebih mentereng karena sering diundang oleh orang-orang popular, jadi bisa ikutan tenar. Bahkan Viselle sesekali dapat voucher sogokan dari orang-orang yang ingin namanya dimuat dalam berita positif.

“Kalau lu beli sesuatu belilah yang mahal. Termahal yang bisa lu beli! Karena harga ga pernah bohong. Sesuatu yang mahal pasti terbuat dari bahan yang berkualitas, paling bagus dan pengerjaannya bagus, jadi dipakainya juga bagus”. Salah satu kutipan yang sebenarnya terdengar sombong, yang sayangnya benar. Waktu membacanya saya sempat geram, ini anak-anak sekolah enak banget ngomongnya. Belum pernah cari duit, emang duit tinggal metik dari pohon? Atau gaya remaja yang suka menghambur-hamburkan uang dengan makan enak, beli barang mahal sampai gaya pesta yang tak cocok buat di Indonesia.

Sampai akhirnya keajaiban bak cerita Cinderela yang menemukan pangerannya terjadi, Tamara jadian dengan pemain basket kaya raya yang mengubah segalanya. Bisa kalian bayangkan dari seorang kere berambut keriting gagal menjadi seorang yang diperebutkan cowok-cowok beken. Sepertinya hanya ada dalam cerita. Bersanding dengan wanita cantik akan membuatmu terlihat jelek, jadi lebih baik menyingkir saja. Mereka yang tak mau menyingkir biasanya akan berhadapan dengan lidah api Charlene. Dan, ternyata kak Alven yang naksir Tamara adalah saudara Charlene. Tamara yang terlanjur jatuh hati dan terbiasa diberi hadiah barang-barang mahal dari kak Alven akhirnya malah terjebak antara lanjut ingin menjadi popular ataukah menyerah. Dengan dekat dengan kak Alven, dia akan sering muncul di berita gosip sehingga akan mendongkrak polling popular.

Keadaan makin rumit saat muncul karakter baru bernama kak Arial. Seorang cowok yang cool, macam Rangga di film ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ yang ternyata juga naksir Tamara. Bisa kalian bayangkan, cerita mimpi bangetkan? Sementara persahabatannya dengan si kutu buku makin meruncing karena sejak dekat dengan gang popular, Tamara berubah, yang menambah rumit situasi.

Dapatkah Tamara menjadi siswa paling popular? Bagi pembaca yang suka dunia remaja tentang cinta-cintaan kalian layak melahapnya. Kalau ga suka dunia cinta monyet sebaiknya jangan memaksa, kalau tetap juga melahapnya ya seperti saya ini. Ceritanya sederhana sekali. Ketebak dari awal, dan akan makin pusing melihat nama-nama merk produk fashion terkenal yang tak kukenal. Dunia literasi Indonesia memang makin beragam, dan novel ini tetap layak dihargai (dari kaca mata remaja) sebagai sebuah karya. Frenemy, friend and enemy. Kisah remaja galau, kita semua sudah melewati masa tersebut. Ehhhmm…, 10, 15 atau 20 tahun yang lalu. Enough!

Karawang, 010414