The High Mountains of Portugal: Cinta yang Amat Besar, dan Rasa Kehilangan yang Tak Terhingga

The High Mountains Portugal by Yann Martel

Apakah ada artinya? Dari mana jiwa berasal? Ada beragam jiwa yang diasingkan dari surga. Jiwa tetaplah jiwa yang harus diberkati dan dibawa kepada kasih Tuhan.”

Apalah arti kita tanpa orang-orang yang kita cintai? Apakah ia berhasil bangkit dari duka? Ketika dia menatap matanya di cermin saat bercukur, hanya relung-relung kosong yang tampak. Dan dia menjalani hari-harinya bagaikan hantu yang membayang-bayangi kehidupannya sendiri. Buku tentang duka yang terbagi dalam tiga bab panjang. Tanpa Rumah, Menuju Rumah, Rumah. Semua adalah kesedihan kehilangan orang terkasih. Menguras air mata, takdir yang pilu. Tanpa rumah adalah sebuah kehilangan yang sempurna: ayah, kekasih, anak tahun 1904. Menuju rumah adalah kehilangan pasangan hidup, dokter spesialis patologi yang kebahagiaannya terenggut tahun 1939. Rumah adalah perjalanan duka dari Kanada ke Puncak pegunungan Portugal, pencarian rumah tahun 1989.

Semua yang tersaji bisa saja sekadar kisah pilu para lelaki rapuh yang ditinggal mati istrinya, tapi setiap sisi terselip perjuangan dan pencarian makna hidup. “Aku berbicara dengannya di dalam kepalaku, ia hidup di situ sekarang.” Jangan menyerah, kerelaan, waktu yang menyembuhkan, rutinitas akan menjadi imun hidup, dan seterusnya. Ternyata di sini malah dibuat dengan benang indah – atau kalau mau lebih lembut, koneksi sejarah – ketiganya berpusat di puncak dan tanya itu diakhiri dengan sunyi. Tomas merasa bagikan kepingan es yang terhanyut di sungai. Ketergantungan ini menciptakan semacam kesetaraarn bukan?

Pertama tahun 1904, adalah Tomas yang miskin. Pamannya kaya, memiliki pembantu cantik bernama Dora, kisah cinta mereka yang langgeng, memiliki Gaspar yang menyenangkan, tiba-tiba dihantam duka. Ketiga orang terkasih meninggal berurutan hingga membuatnya murka akan takdir. Dia kerap meratap, terlampau kerap sejak malaikat maut memberinya tiga pukulan telak. Kenangan akan Gaspar, Dora, atau ayahnya sering menjadi sumber sekaligus inti kesedihannya, tetapi ada kalanya air matanya mengalir tanpa alasan yang sulit dipahaminya, datang seketika seperti bersin.

Ia berjalan mundur, ia terjatuh luruh. Yang tak dipahami pamannya adalah berjalan mundur, memunggungi dunia, memunggungi Tuhan, bukanlah cara Tomas untuk mengungkap duka. Ini adalah caranya mengajukan keberatan. Karena jika semua yang kaucintai dalam kehidupanmu telah diambil, apakah yang bisa kauperbuat selain mengajukan keberatan?

Menemukan sebuah surat/buku harian seorang pastor Bapa di Ulisses yang lalu menyeretnya dalam petualangan, hanya beberapa minggu setelah kehidupannya luluh lantak di Museum Nasional Karya Seni Kuno, tempatnya bekerja sebagai asisten kurator. Surat itu mengisah kehidupan sunyi, dan mengarah pada pencarian salib di pegunungan Portugal. Dengan mengendarai mobil Eropa pertama milik pamannya. Orang-orang akan berlama-lama melihatnya, mulut mereka akan ternganga, benda itu akan membuat hura-hura. Dengan benda itu, aku akan memberi Tuhan atas perbuatan-Nya kepada orang-orang yang kucintai. Keheningan yang menyelubunginya akibat pemusatan konsentrasi sekonyong-konyong meledak ke dalam derap kaki-kaki kuda yang menggelegar, keriat-keriut nyaring kereta pos. Kemudian mereka dan kedua kusir kereta saling bertukar umpatan dan isyarat marah.

Mobil di era itu memang belum banyak, awal-awal masa penemuan. Barang yang dibelinya sebagai bahan bakar, oleh mereka dijual sebagai pembasmi parasit. Tempat tinggal mungil beroda ini dengan potongan-potongan kecil ruang tamu, kamar mandi, dan perapian, adalah contoh mengenaskan bahwa kehidupan manusia tidak lebih dari ini: upaya untuk merasa seperti di rumah sendiri saat mengejar kenisbian. Seorang pria atau wanita, tak perlu bekerja sekeras itu untuk menunjang kehidupan, tetapi roda gigi di dalam sistem harus diputar tanpa henti.

Pada 2 Juni 1633, terdapat satu tempat nama baru Sao Tome, pulau koloni kecil di Teluk Guinea yang disebut sebagai ‘serpihan ketombe di kepala Afrika, berhari-hari perjalanan panjang di sepanjang pesisir lembap benua gersang ini’. Tertulis Isso e minha casa (Ini adalah Rumah). Bapa Ulisses rupanya terserang kerinduan mendalam pada kampung halaman. Ruang arsip Episkopal di Lisbon, setelah mengabaikan buku harian Bapa Ulisses selama lebih dari dua ratus lima puluh tahun, tidak akan merasakan kehilangan untuk ia ambil.

Perjalanan religi mencari gereja. Kesederhanaan arsitektur paling sesuai dengan bangunan religius. Apapun yang mewahadalah arogansi manusia yang disamarkan sebagai keimanan. Semua berada di tempat masing-masing, dan waktu bergerak dengan kecepatan yang sama. Gravitasi akan marah dan benda-benda akan melayang malas. Namun tidak, ladang-ladang tetap diam, jalan tetap membentang lurus, dan matahari pagi tetap bersinar terang.

Dia mengingat-ingat dan menghitung. Satu, dua, tiga, empat – empat malam. Empat malam dan lima hari cutinya dari cutinya yang sepuluh hari. Separuh jalan, tapi tempat tujunya belum terlihat. Di sana hujan terlampau sering turun, hingga menggaggu kewarasan. Menit-menit berlalu. Keheningan terbingkai oleh deris hujan, embik domba, dan salak anjing. Aku sedang mencari harta yang hilang.

Niat semula sepuluh hari cuti untuk menemukan benda kuno demi pemaknaan hidup, justru berakhir bencana karena tak sengaja menabrak seorang anak, tewas seketika. Batin Tomas berkemauk. Dia pernah menjadi korban pencurian, dan kini menjadi pelaku pencurian. Aku memasuki bui itu sebagai kristen. Aku keluar dari sana sebagai seorang prajurit Romawi. Kami tidak lebih baik dari binatang.

Dalam kisah ini, cara menanggapi kedukaan tampak sangat sentimental. Mengajukan keberatan akan takdir, melakukan perjalanan pemaknaan hidup, lalu dihantam musibah perih tak terkira. Ruang dan waktu menjadi tanya kembali, menjadi teka-teki sejati. Kembali ke individu, dan rumah yang dituju justru menggoreskan luka. Dia nyaris menangis lega. Menguarkan waktu dan memancarkan keterpencilan.

Ketika benda yang dicari akhirnya ketemu, lalu apa? Benda itu terpampang di sana, setelah melakukan perjalanan jauh dari Sao Tome. Oh betapa menakjubkan. Kemenangannya terusik oleh luapan emosi: kesedihan yang meluluhlantakkan jiwa. Muntah-muntah dengan raungan lantang.

Jika ia memprotes Tuhan, lalu ia malah mencipta protes manusia lain? Kapankah masa duka yang janggal ini berakhir? “Cukup! Cukup!” Dia berbisik. Apa makna nestapa bagi manusia? Apakah ini membuka dirinya? Apakah penderitaan ini membuatnya lebih mengerti? Mereka memang menderita, tapi aku juga. Jadi apa yang istimewa?

Kedua tahun 1939, di akhir tahun seorang dokter spesialis patologi melakukan otopsi mayat perempuan yang meninggal di dekat jembatan, pembunuhan atau bunuh diri? Dokter Eusebio Lozora yang sedang melakukan bedah dikunjungi istrinya, Maria Luisa Motaal Lozora yang menyukai kisah detektif. Buku-buku Agatha Christie dikoleksi dan dinikmati, malam itu istrinya berkisah panjang lebar tentang teori Tuhan, seperti Yesus yang mati misterius, Agatha juga mencipta kasus pembunuhan misterius. Autopsi, bagi mata awam bukanlah pemandangan yang enak dilihat. Tujuan tindakan ini adalah mencari abnormalitas fisiologis – penyakit atau kecelakaan – yang menyebabkan kematiannya.

Dokter spesialis patologi adalah detektif yang melakukan penyelidikan dan menggunakan sel-sel kelabunya untuk menerapkan aturan dan logika hingga kedok salah satu organ terbuka dan sifat aslinya, kejahatannya, akan bisa dibuktikan tanpa keraguan. Kesabarannya benar-benar menyentuh. “Kau mengerti bukan, bukan dia yang dibunuh.”

Malam itu setelah istrinya pulang meninggalkan novel terbaru Agatha Christie: Perjanjian Dengan Maut, sekuel Pembunuhan di Sungai Nil, datang lagi seorang ibu dengan koper. Namanya juga Maria, mengejutkan, koper itu berisi mayat suaminya, minta diotopsi segera, kisah cintanya yang vulgar dan menggairahkan, dan segala pilu kehilangan. Ibu Maria berasal dari Pegunungan Tinggi Portugal, perjalanan tiga hari ke Braganca, mencari rumah sakit untuk otopsi mayat suaminya. Cinta hadir dalam kehidupan saya dengan penyamaran tidak terduga. Seorang pria. Saya seterkejut bunga yang melihat lebah datang untuk pertama kalinya.

Setelah urusan raja selesai, kita berlaih ke ratunya yaitu kepala. Memeriksa otak dan batang otak…” Hasil otopsi mengejutkan, ada simpanse dan beruang, dan teka-teki itu meledak di ending yang mengejutkan. Saya sampai geleng-geleng, wow. Novel yang sempurna. Seperti itulah duka, ia makhluk yang memiliki banyak lengan tetapi hanya beberapa kaki, dan ia terhuyung-huyung mencari sandaran. Hati memiliki dua pilihan, menutup atau membuka diri. Tutur katanya kadang-kadang pedas, diamnya meresahkan.

Kisah ini nge-link dengan yang pertama. Kami mencintai putra kami, seperti laut yang mencintai pulau, selalu menyelingkupinya dengan pelukan, selalu menyentuh dan membelai pantainya dengan perhatian dan kasih sayang. Ketika dia pergi, hanya laut yang tertinggal, kedua lengan kami memeluk kehampaan. Kami menangis sepanjang waktu. Satu-satunya putra yang dicintai meninggal dunia, dan pelaku tabrak lagi itu adalah Tomas.

Namun sayang, bagian ketiga tahun 1989 justru agak merusak pola. Seorang senator Kanada Peter Tovy adalah pemilik sah seekor simpanse jantan, pan troglodytes, bernama Odo. Prosesnya panjang. Yang jelas ia baru saja kehilangan istri tercinta Clara. Dalam kedukaan, ia disarankan temannya menepi, ke Amerika dalam kunjungan, ia lalu ke kebun binatang, dan sekilat pintas membeli simpanse jantan dengan harga mahal. “Saya akan membayar Anda Lima belas ribu dolar.” Oh godaan bilangan bulat, itu jelas angka yang lebih mahal dari harga mobilnya.

Orang-orang berduka sebaiknya menunggu setidaknya satu tahun sebelum membuat perubahan penting dalam hidup. Perubahan pemandangan, bahkan perubahan udara – lembut dan lembab – terasa menenangkan.

Ia muak dengan pekerjaannya sebagai politikus. Pidato, pencitraan yang tiada habisnya, rencana busuk, ego yang ditelan mentah-mentah, ajudan arogan, media-media tak kenal ampun, tetek bengek yang merepotkan, birokrasi yang kaku, kemanusiaan yang tak kunjung membaik, dia memandang semua hal itu sebagai ciri khas demokrasi. Dengan gejolak kegembiraan yang meresahkan, dia bersiap-siap membuang semua rantai yang mengikatnya.

Segalanya bergerak cepat, Peter lalu melepas semua atribut duniawi dan memutuskan pulang. Ke rumah nenek-kakeknya di Portugal bersama Odo. Penenungan makna hidup, kehilangan, melepas, damai. Iman seharusnya diperlakukan secara radikal, dia menatap salib, penyeimbang keyakinan dan kegamangannya.

Melakukan perjalanan panjang, melakukan pencarian rumah. Dia masih ingat caranya bercinta, tapi sudah tidak mengingat alasannya. Kehilangan istri membuatnya merenung sepi. Selama sekitar satu jam, sambil duduk di puncak tangga, menyesap kopi, lelah, agak lega, agak khawatir, dia merenungkan titik itu. Apa yang akan dihadirkan kalimat selanjutnya?

Simpanse adalah kerabat terdekat di garis evolusi. Kita dan simpanse memiliki leluhur yang sama, dan baru berpisah jalan sekitar enam juta silam. Mempelajari simpanse sama juga mempelajari refleksi leluhur kita, dalam ekspresi wajah mereka. Masing-masing kera, kini dia mengerti, adalah sesuatu yang tidak pernah diduganya, individu dengan kepribadian unik.

Mungkin agak aneh, memilih simpanse sebagai teman perjalanan untuk menepi, tapi keputusan ini nantinya nge-link dengan hasil otopsi. Bianatang mengenal rasa bosan, tetapi apakah mereka mengenal rasa kesepian? sepertinya tidak. Bukan kesepian seperti ini yang mendera jiwa dan raga. Dia adalah spesies kesepian. Kalau masa lalu dan masa depan sudah tidak menarik, apa yang bisa mencegahnya dari duduk di lantai sambil merawat seekor simpanse dan mendapat perawatan balasan?

Tidak ada derajat yang membedakan tingkat ketakjuban.

Salah satu makna duka bisa jadi adalah sekarang. Simpanse Odo hampir sepanjang hari menikmati waktu, misalnya duduk di tepi sungai menyaksikan air mengalir. Ini ilmu yang sulit dikuasai, hanya duduk dan berada di sana. Kadang-kadang Odo bernapas dengan waktu, menarik dan melepasnya, menarik dan melepasnya. Binatang-binatang ini hidup dalam amnesia emosional yang berpusat di masa kini. Kesyahduan menjelma di sanubarinya, menenangkan bukan hanya masalah yang diderita tubuhnya, tetapi juga kerja keras otaknya.

Di dalam udara ada matahari dan gumpalan-gumpalan awan putih yang saling menggoda, cahaya yang melimpah tidak terkatakan keindahannya. Tidak ada suara di sekelilingnya, baik dari serangga, burung-burung, maupun angin. Yang tertangkap telinganya hanyalah bebunyian yang dihasilkannya sendiri. Tanpa keberadaan suara, lebih banyak yang dilihat oleh matanya, terutama bunga-bunga musim dingin cantik yang bermekaran menembus tanah berbatu-batu di sana-sini.

Rasa sakitnya datang bagaikan ombak, dan setiap gelombang membuatnya bisa merasakan setiap dinding perutnya. Setelah kisah panjang perjalanan ke puncak, lalu sebuah adegan panjang di ruang otopsi yang luar biasa, kisah ini ditutup dengan anti-klimaks di puncak. Memainkan duka, dan segala kandungan di dalamnya. The High Mountains memang menutup rapat akhirnya, tak ada yang menggantung, tapi perjalanan panjang Kanada ke Potugal dengan monyet terlampau mudah menemukan rumah. Bagaimana bisa Peter langsung menemukan rumah, di kesempatan pertama menginap di tanah asing? Ini kebetulan yang mengagumkan. Tuizelo, dari sanalah orangtuanya berasal, ia dan Odo akan menetap. Ini bingkisan mungil berisi rasa takut, tetapi tidak melukai ataupun merisaukan.

Buku kedua Yann Martel yang kubaca setelah Beatrice and Virgil yang absurd. buku ketiga Life of Pi sudah ada di rak, menjadi target berikutnya. Sepertinya memang genre Martel adalah filsafat yang merenung. Banyak tanya dan duka yang dipaparkan serta pencarian makna hidup. “Orang-orang tinggal sejenak, lalu satu per satu pergi, dan Anda diberi waktu untuk berduka, dan sesudahnya Anda diharapkan untuk kembali ke dunia, menjalani kehidupan lama Anda. Setelah pemakaman, pemakaman yang bagus, semua hal kehilangan makna dan kehidupan lama pun sirna. Kematian memakan kata-kata…”

Pegunungan Tinggi Portugal | by Yann Martel |Copyright 2016 | Diterjemahkan dari The High Mountain Portugal | GM 617186006 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Berliani M. Nugrahani | Editor Tanti Lesmana | Desain dan ilustrasi sampul Martin Dima | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-03-4638-0 | 416 hlm; 20 cm | Skor: 4.5/5

Untuk Alice, dan untuk Theo, Lola, Felix, dan Jasper: kisah hidupkau

Karawang, 090520 – Norman Brown – Don’t You Stay

Max and The Cats – Moacyr Scliar

Aku? Takut? Macan tidak takut siapapun… macan tidak kasatmata. Jiwa.Fransisco Macias Ngueme, Diktator Terguling dari

Saya belum membaca Life Of Pi (a novel by Yann Martel), tapi sudah menonton adaptasinya (a film by Ang Lee). Terlalu banyak kemiripan dengannya, menempatkan seorang bocah bersama kucing besar dalam perahu darurat ketika kapal karam, halusinasi atau kenyataan? Dalam perjalanan laut menyeberangi samudra, melakukan apapun itu demi bertahan hidup. Kail, makanan kaleng, saling melengkapi dan kemudian terdampar selamat. Dasarnya sama, penerungannya jelas beda.

Max dan Kucing-Kucing terbagi dalam tiga babak. Jerman, Perairan, Brasilia. Penuh. Padat dan mempermainkan psikologis. Max adalah orang Jerman yang remaja era 1930an, masa ketika Nazi sedang menapaki kejayaan. Max seorang anak tunggal dari pasangan Erna Schmidt dan Hans Schmidt. Ayahnya yang kolot, seorang saudagar karpet, penjual aksesoris yang menilai uang begitu tinggi. Pengusaha yang terlihat bersahaja, tapi kalau kita lihat dari dalam, dari sudut keluarga, jelas bermasalah. Max melepas perjakanya di gudang toko dengan wanita tetangganya Frida yang bekerja paruh waktu, dengan kepala hias Harimau Benggala. Max yang remaja mendapat sensasi bercinta yang menjadikannya dewasa lebih cepat. Frida adalah anak petani dari selatan, pendek, montok, cerewet. Di gudang itulah, kita tahu ada kepala macan yang dijadikan pajangan, tatapan hampanya menghantui, memberi efek takut kepada Max kita sampai dewasa nantinya. Ada bagian yang membuat kita turut kesal sama Frida terkait mantel bulu yang disyaratkannya guna mengulang perbuatan dosa. Max yang remaja tak kuasa memenuhi harap, dan mantel itu menjadi polemik parah saat suatu ketika ia kenakan dan tak sengaja berpapasan dengan Hans. Dituduh maling, tapi ia ga maling. Max dalam masalah besar bung.

Ketika Nazi benar-benar berkuasa dan mencoba membumihanguskan kaum Yahudi, semua yang menentang arus berakhir mati. Max yang kini sedang mekar dalam bangku kuliah, sejatinya ga terlibat aktivitas politik, tapi karena hubungannya dengan Frida dan Harald sahabatnya, memicu hal buruk berikutnya, ia dalam ketergesaan menyelamatkan hidup bergegas kabur. Dengan bekal seadanya, menumpang kapal Schiller menuju Brasilia. Kapal dari Hamburg itu gagal diraih, maka ia menumpang kapal barang yang juga mengarah ke Brasilia. Kapal yang sedari mula memang mencurigakan, ada banyak binatang di angkut, ada tempat bernaung tapi memprihatinkan dalam kamar sempit, dan karena ini buku tragedi, maka kapal ini karam.

Max terapung dalam ketidakpastian.
Ia berhasil bertahan di perahu darurat, perahu yang sudah disiapkan ketika keadaan genting berisi makanan kaleng, peralatan mancing, pelampung dan sebagainya. Namun ia tak sendirian, ketika sudut perahu itu disingkap, ia terperangah, ada macan melonjak keluar. Macan besar jenis jaguar itu kini ada di sudut lain Max, memperhatikannya, memandangnya penuh nafsu lapar. Max, tak diterkam berkat konsistensi memberi si buas dengan ikan yang dikail, Max makan makanan kaleng, jaguar melahap ikan. Dan perenungan melihat bintang, menatap langit, efek panas terik di siang hari mencipta banyak fatamorgana, harapan bertahan hidup kecil, tapi ada.

Max selamat sampai di Brasilia berkat pertolongan kapal nelayan yang lewat, setelah ia beradu marah dengan jaguar dan juga akhirnya beradu emosi perahu terguling. Cerita Max seperahu dengan macan menjadi pergunjingan, seolah khayal seolah hasil imaji, tapi Max lah yang mengalami dan desas desus apapun itu tak terpengaruh. Max kembali menata hidup di negeri seberang.

Kalau kalian tahu jargon, para perantau adalah pekerja ulet dan pejuang keras di sini jelas ada benarnya. Tak punya siapa-siapa, tak punya banyak hal, hanya permata pemberian ibunya yang disimpan rapi lalu dijual dengan harga layak. Max mencari penghidupan di negeri Samba. “Di Brasilia, orang bisa kaya mendadak dalam semalam.”

Max tak bisa lepas bayang-bayang ketakutan Nazi, setiap lihat lambang Swastika atau lambang yang mirip dengannya ia mengalami traumatis. Namun waktu juga yang menyembuhkan. Kita tahu, sejarah mencatat tahun 1945 era Hitler runtuh, dan dunia berbenah. Max yang merdeka bisa mudik, menyelami masa lalu dan mempunyai opsi lebih banyak. Setelah kepulangannya yang pilu, ibunya meninggal, ayahnya gila, dan serentet fakta pahit ia kembali ke Brasilia. Menikah dengan penduduk lokal, memiliki keluarga. Akankah ia membawa pulang seluruh keluarganya ke Jerman, karena sejauh manapun kau pergi, rumah adalah tanah tempat kamu dilahirkan. Atau menjadi warga Brasilia, tanah seberang yang dijanjikan? Max dan Kucing-kucing jelas, adalah sebuah frame kehidupan yang mengajak kita menyelami pahit manis segala detak waktu yang kita jalani. Akan lebih indah dengan bonus syukur padaNya. Manusia, makhluk fana ini berjuang hidup dengan melakukan apapun, tapi maut selalu hadir di manapun, kapanpun. Max dan segala perenungannya.

Novel seratus halaman ini kubeli kala dalam tugas luar mengikuti pelatihan di Hotel Horison Bekasi seminggu. Kubeli di Gramedia MM Bekasi dengan Gadis Pendongeng, kubaca singkat di pagi dan sore saat waktu istirahat. Di pinggir kolam renang hotel, berderet kepul asap rokok pemuda lain di kiri kanan. Buku pertama Scliar yang kubaca. Seorang dokter kelahiran 1937 di Porto Alegre, Brasilia. Sudah menghasilkan 62 buku cerita, rasanya Max ini hanya permulaan, karya berikutnya masuk daftar tunggu.

Ada satu adegan yang menurutku sangat bagus. Adegan yang tak tersangkut paut langsung dengan para kucing. Bahwa kala Max kuliah, seorang profesornya eksentrik melakukan eksperimen. Profesor Kuntz melakukan riset gila dengan menggunakan pemuda Gipsi, dipasangi mikrofon yang digantung di leher, dilemparkan ke luar dari pesawat terbang. Sang profesor berharap dalam perjalanan terjun menuju kematian, orang-orang tadi akan memberi pernyataan atau paling tidak jeritan, baik jeritan manusia purba atau tidak, memberi ketegasan tentang arti kehidupan. Ngeri ya. Uji coba kaum gila, memainkan nyawa demi sebuah laporan penelitian.

Jaguar dan kapal karam? Jaguar, kapal karam, dan lari dari Jerman? Apakah itu semua hanyalah impian orang muda bernama Max? Atau mungkin hanya impian buruk luar biasa panjang anak bernama Max, yang akhirnya tertidur setelah suatu hari yang penuh luapan perasaan berat. Ada satu nama Penulis yang direkomendasikan di buku ini, Jose de Alencar, penulis abad sembilan belas yang banyak bercerita tentang Indian. Lalu kegemaran mendengarkan lagu-lagu Beethoven berjudul Ninth Symphony laik lebih sering dikumandangkan suatu saat. Karena agak sulit tentunya mencari lagu Jerman pengantar tidur: Guten abend, Gute natch, Mit rosen bedacht…

Aku berdamai dengan kucing-kucingku.”

Max dan Kucing-Kucing | By Moacyr Scliar | Diterjemahkan dari Max E Os Felinos | Copyright 1981 | 618186019 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Djokolelono | Editor Rini Nurul Badariah | Ilustrasi dan desain sampul Martin Dima | Cetakan pertama, 2018 | 100 hlm.; 20 cm | ISBN 978-602-06-2044-2 | ISBN 978-602-02045-9 (digital) | Skor: 4/5

Karawang, 220819 – Anggun – Bayang-Bayang Ilusi