The High Mountains of Portugal: Cinta yang Amat Besar, dan Rasa Kehilangan yang Tak Terhingga

The High Mountains Portugal by Yann Martel

Apakah ada artinya? Dari mana jiwa berasal? Ada beragam jiwa yang diasingkan dari surga. Jiwa tetaplah jiwa yang harus diberkati dan dibawa kepada kasih Tuhan.”

Apalah arti kita tanpa orang-orang yang kita cintai? Apakah ia berhasil bangkit dari duka? Ketika dia menatap matanya di cermin saat bercukur, hanya relung-relung kosong yang tampak. Dan dia menjalani hari-harinya bagaikan hantu yang membayang-bayangi kehidupannya sendiri. Buku tentang duka yang terbagi dalam tiga bab panjang. Tanpa Rumah, Menuju Rumah, Rumah. Semua adalah kesedihan kehilangan orang terkasih. Menguras air mata, takdir yang pilu. Tanpa rumah adalah sebuah kehilangan yang sempurna: ayah, kekasih, anak tahun 1904. Menuju rumah adalah kehilangan pasangan hidup, dokter spesialis patologi yang kebahagiaannya terenggut tahun 1939. Rumah adalah perjalanan duka dari Kanada ke Puncak pegunungan Portugal, pencarian rumah tahun 1989.

Semua yang tersaji bisa saja sekadar kisah pilu para lelaki rapuh yang ditinggal mati istrinya, tapi setiap sisi terselip perjuangan dan pencarian makna hidup. “Aku berbicara dengannya di dalam kepalaku, ia hidup di situ sekarang.” Jangan menyerah, kerelaan, waktu yang menyembuhkan, rutinitas akan menjadi imun hidup, dan seterusnya. Ternyata di sini malah dibuat dengan benang indah – atau kalau mau lebih lembut, koneksi sejarah – ketiganya berpusat di puncak dan tanya itu diakhiri dengan sunyi. Tomas merasa bagikan kepingan es yang terhanyut di sungai. Ketergantungan ini menciptakan semacam kesetaraarn bukan?

Pertama tahun 1904, adalah Tomas yang miskin. Pamannya kaya, memiliki pembantu cantik bernama Dora, kisah cinta mereka yang langgeng, memiliki Gaspar yang menyenangkan, tiba-tiba dihantam duka. Ketiga orang terkasih meninggal berurutan hingga membuatnya murka akan takdir. Dia kerap meratap, terlampau kerap sejak malaikat maut memberinya tiga pukulan telak. Kenangan akan Gaspar, Dora, atau ayahnya sering menjadi sumber sekaligus inti kesedihannya, tetapi ada kalanya air matanya mengalir tanpa alasan yang sulit dipahaminya, datang seketika seperti bersin.

Ia berjalan mundur, ia terjatuh luruh. Yang tak dipahami pamannya adalah berjalan mundur, memunggungi dunia, memunggungi Tuhan, bukanlah cara Tomas untuk mengungkap duka. Ini adalah caranya mengajukan keberatan. Karena jika semua yang kaucintai dalam kehidupanmu telah diambil, apakah yang bisa kauperbuat selain mengajukan keberatan?

Menemukan sebuah surat/buku harian seorang pastor Bapa di Ulisses yang lalu menyeretnya dalam petualangan, hanya beberapa minggu setelah kehidupannya luluh lantak di Museum Nasional Karya Seni Kuno, tempatnya bekerja sebagai asisten kurator. Surat itu mengisah kehidupan sunyi, dan mengarah pada pencarian salib di pegunungan Portugal. Dengan mengendarai mobil Eropa pertama milik pamannya. Orang-orang akan berlama-lama melihatnya, mulut mereka akan ternganga, benda itu akan membuat hura-hura. Dengan benda itu, aku akan memberi Tuhan atas perbuatan-Nya kepada orang-orang yang kucintai. Keheningan yang menyelubunginya akibat pemusatan konsentrasi sekonyong-konyong meledak ke dalam derap kaki-kaki kuda yang menggelegar, keriat-keriut nyaring kereta pos. Kemudian mereka dan kedua kusir kereta saling bertukar umpatan dan isyarat marah.

Mobil di era itu memang belum banyak, awal-awal masa penemuan. Barang yang dibelinya sebagai bahan bakar, oleh mereka dijual sebagai pembasmi parasit. Tempat tinggal mungil beroda ini dengan potongan-potongan kecil ruang tamu, kamar mandi, dan perapian, adalah contoh mengenaskan bahwa kehidupan manusia tidak lebih dari ini: upaya untuk merasa seperti di rumah sendiri saat mengejar kenisbian. Seorang pria atau wanita, tak perlu bekerja sekeras itu untuk menunjang kehidupan, tetapi roda gigi di dalam sistem harus diputar tanpa henti.

Pada 2 Juni 1633, terdapat satu tempat nama baru Sao Tome, pulau koloni kecil di Teluk Guinea yang disebut sebagai ‘serpihan ketombe di kepala Afrika, berhari-hari perjalanan panjang di sepanjang pesisir lembap benua gersang ini’. Tertulis Isso e minha casa (Ini adalah Rumah). Bapa Ulisses rupanya terserang kerinduan mendalam pada kampung halaman. Ruang arsip Episkopal di Lisbon, setelah mengabaikan buku harian Bapa Ulisses selama lebih dari dua ratus lima puluh tahun, tidak akan merasakan kehilangan untuk ia ambil.

Perjalanan religi mencari gereja. Kesederhanaan arsitektur paling sesuai dengan bangunan religius. Apapun yang mewahadalah arogansi manusia yang disamarkan sebagai keimanan. Semua berada di tempat masing-masing, dan waktu bergerak dengan kecepatan yang sama. Gravitasi akan marah dan benda-benda akan melayang malas. Namun tidak, ladang-ladang tetap diam, jalan tetap membentang lurus, dan matahari pagi tetap bersinar terang.

Dia mengingat-ingat dan menghitung. Satu, dua, tiga, empat – empat malam. Empat malam dan lima hari cutinya dari cutinya yang sepuluh hari. Separuh jalan, tapi tempat tujunya belum terlihat. Di sana hujan terlampau sering turun, hingga menggaggu kewarasan. Menit-menit berlalu. Keheningan terbingkai oleh deris hujan, embik domba, dan salak anjing. Aku sedang mencari harta yang hilang.

Niat semula sepuluh hari cuti untuk menemukan benda kuno demi pemaknaan hidup, justru berakhir bencana karena tak sengaja menabrak seorang anak, tewas seketika. Batin Tomas berkemauk. Dia pernah menjadi korban pencurian, dan kini menjadi pelaku pencurian. Aku memasuki bui itu sebagai kristen. Aku keluar dari sana sebagai seorang prajurit Romawi. Kami tidak lebih baik dari binatang.

Dalam kisah ini, cara menanggapi kedukaan tampak sangat sentimental. Mengajukan keberatan akan takdir, melakukan perjalanan pemaknaan hidup, lalu dihantam musibah perih tak terkira. Ruang dan waktu menjadi tanya kembali, menjadi teka-teki sejati. Kembali ke individu, dan rumah yang dituju justru menggoreskan luka. Dia nyaris menangis lega. Menguarkan waktu dan memancarkan keterpencilan.

Ketika benda yang dicari akhirnya ketemu, lalu apa? Benda itu terpampang di sana, setelah melakukan perjalanan jauh dari Sao Tome. Oh betapa menakjubkan. Kemenangannya terusik oleh luapan emosi: kesedihan yang meluluhlantakkan jiwa. Muntah-muntah dengan raungan lantang.

Jika ia memprotes Tuhan, lalu ia malah mencipta protes manusia lain? Kapankah masa duka yang janggal ini berakhir? “Cukup! Cukup!” Dia berbisik. Apa makna nestapa bagi manusia? Apakah ini membuka dirinya? Apakah penderitaan ini membuatnya lebih mengerti? Mereka memang menderita, tapi aku juga. Jadi apa yang istimewa?

Kedua tahun 1939, di akhir tahun seorang dokter spesialis patologi melakukan otopsi mayat perempuan yang meninggal di dekat jembatan, pembunuhan atau bunuh diri? Dokter Eusebio Lozora yang sedang melakukan bedah dikunjungi istrinya, Maria Luisa Motaal Lozora yang menyukai kisah detektif. Buku-buku Agatha Christie dikoleksi dan dinikmati, malam itu istrinya berkisah panjang lebar tentang teori Tuhan, seperti Yesus yang mati misterius, Agatha juga mencipta kasus pembunuhan misterius. Autopsi, bagi mata awam bukanlah pemandangan yang enak dilihat. Tujuan tindakan ini adalah mencari abnormalitas fisiologis – penyakit atau kecelakaan – yang menyebabkan kematiannya.

Dokter spesialis patologi adalah detektif yang melakukan penyelidikan dan menggunakan sel-sel kelabunya untuk menerapkan aturan dan logika hingga kedok salah satu organ terbuka dan sifat aslinya, kejahatannya, akan bisa dibuktikan tanpa keraguan. Kesabarannya benar-benar menyentuh. “Kau mengerti bukan, bukan dia yang dibunuh.”

Malam itu setelah istrinya pulang meninggalkan novel terbaru Agatha Christie: Perjanjian Dengan Maut, sekuel Pembunuhan di Sungai Nil, datang lagi seorang ibu dengan koper. Namanya juga Maria, mengejutkan, koper itu berisi mayat suaminya, minta diotopsi segera, kisah cintanya yang vulgar dan menggairahkan, dan segala pilu kehilangan. Ibu Maria berasal dari Pegunungan Tinggi Portugal, perjalanan tiga hari ke Braganca, mencari rumah sakit untuk otopsi mayat suaminya. Cinta hadir dalam kehidupan saya dengan penyamaran tidak terduga. Seorang pria. Saya seterkejut bunga yang melihat lebah datang untuk pertama kalinya.

Setelah urusan raja selesai, kita berlaih ke ratunya yaitu kepala. Memeriksa otak dan batang otak…” Hasil otopsi mengejutkan, ada simpanse dan beruang, dan teka-teki itu meledak di ending yang mengejutkan. Saya sampai geleng-geleng, wow. Novel yang sempurna. Seperti itulah duka, ia makhluk yang memiliki banyak lengan tetapi hanya beberapa kaki, dan ia terhuyung-huyung mencari sandaran. Hati memiliki dua pilihan, menutup atau membuka diri. Tutur katanya kadang-kadang pedas, diamnya meresahkan.

Kisah ini nge-link dengan yang pertama. Kami mencintai putra kami, seperti laut yang mencintai pulau, selalu menyelingkupinya dengan pelukan, selalu menyentuh dan membelai pantainya dengan perhatian dan kasih sayang. Ketika dia pergi, hanya laut yang tertinggal, kedua lengan kami memeluk kehampaan. Kami menangis sepanjang waktu. Satu-satunya putra yang dicintai meninggal dunia, dan pelaku tabrak lagi itu adalah Tomas.

Namun sayang, bagian ketiga tahun 1989 justru agak merusak pola. Seorang senator Kanada Peter Tovy adalah pemilik sah seekor simpanse jantan, pan troglodytes, bernama Odo. Prosesnya panjang. Yang jelas ia baru saja kehilangan istri tercinta Clara. Dalam kedukaan, ia disarankan temannya menepi, ke Amerika dalam kunjungan, ia lalu ke kebun binatang, dan sekilat pintas membeli simpanse jantan dengan harga mahal. “Saya akan membayar Anda Lima belas ribu dolar.” Oh godaan bilangan bulat, itu jelas angka yang lebih mahal dari harga mobilnya.

Orang-orang berduka sebaiknya menunggu setidaknya satu tahun sebelum membuat perubahan penting dalam hidup. Perubahan pemandangan, bahkan perubahan udara – lembut dan lembab – terasa menenangkan.

Ia muak dengan pekerjaannya sebagai politikus. Pidato, pencitraan yang tiada habisnya, rencana busuk, ego yang ditelan mentah-mentah, ajudan arogan, media-media tak kenal ampun, tetek bengek yang merepotkan, birokrasi yang kaku, kemanusiaan yang tak kunjung membaik, dia memandang semua hal itu sebagai ciri khas demokrasi. Dengan gejolak kegembiraan yang meresahkan, dia bersiap-siap membuang semua rantai yang mengikatnya.

Segalanya bergerak cepat, Peter lalu melepas semua atribut duniawi dan memutuskan pulang. Ke rumah nenek-kakeknya di Portugal bersama Odo. Penenungan makna hidup, kehilangan, melepas, damai. Iman seharusnya diperlakukan secara radikal, dia menatap salib, penyeimbang keyakinan dan kegamangannya.

Melakukan perjalanan panjang, melakukan pencarian rumah. Dia masih ingat caranya bercinta, tapi sudah tidak mengingat alasannya. Kehilangan istri membuatnya merenung sepi. Selama sekitar satu jam, sambil duduk di puncak tangga, menyesap kopi, lelah, agak lega, agak khawatir, dia merenungkan titik itu. Apa yang akan dihadirkan kalimat selanjutnya?

Simpanse adalah kerabat terdekat di garis evolusi. Kita dan simpanse memiliki leluhur yang sama, dan baru berpisah jalan sekitar enam juta silam. Mempelajari simpanse sama juga mempelajari refleksi leluhur kita, dalam ekspresi wajah mereka. Masing-masing kera, kini dia mengerti, adalah sesuatu yang tidak pernah diduganya, individu dengan kepribadian unik.

Mungkin agak aneh, memilih simpanse sebagai teman perjalanan untuk menepi, tapi keputusan ini nantinya nge-link dengan hasil otopsi. Bianatang mengenal rasa bosan, tetapi apakah mereka mengenal rasa kesepian? sepertinya tidak. Bukan kesepian seperti ini yang mendera jiwa dan raga. Dia adalah spesies kesepian. Kalau masa lalu dan masa depan sudah tidak menarik, apa yang bisa mencegahnya dari duduk di lantai sambil merawat seekor simpanse dan mendapat perawatan balasan?

Tidak ada derajat yang membedakan tingkat ketakjuban.

Salah satu makna duka bisa jadi adalah sekarang. Simpanse Odo hampir sepanjang hari menikmati waktu, misalnya duduk di tepi sungai menyaksikan air mengalir. Ini ilmu yang sulit dikuasai, hanya duduk dan berada di sana. Kadang-kadang Odo bernapas dengan waktu, menarik dan melepasnya, menarik dan melepasnya. Binatang-binatang ini hidup dalam amnesia emosional yang berpusat di masa kini. Kesyahduan menjelma di sanubarinya, menenangkan bukan hanya masalah yang diderita tubuhnya, tetapi juga kerja keras otaknya.

Di dalam udara ada matahari dan gumpalan-gumpalan awan putih yang saling menggoda, cahaya yang melimpah tidak terkatakan keindahannya. Tidak ada suara di sekelilingnya, baik dari serangga, burung-burung, maupun angin. Yang tertangkap telinganya hanyalah bebunyian yang dihasilkannya sendiri. Tanpa keberadaan suara, lebih banyak yang dilihat oleh matanya, terutama bunga-bunga musim dingin cantik yang bermekaran menembus tanah berbatu-batu di sana-sini.

Rasa sakitnya datang bagaikan ombak, dan setiap gelombang membuatnya bisa merasakan setiap dinding perutnya. Setelah kisah panjang perjalanan ke puncak, lalu sebuah adegan panjang di ruang otopsi yang luar biasa, kisah ini ditutup dengan anti-klimaks di puncak. Memainkan duka, dan segala kandungan di dalamnya. The High Mountains memang menutup rapat akhirnya, tak ada yang menggantung, tapi perjalanan panjang Kanada ke Potugal dengan monyet terlampau mudah menemukan rumah. Bagaimana bisa Peter langsung menemukan rumah, di kesempatan pertama menginap di tanah asing? Ini kebetulan yang mengagumkan. Tuizelo, dari sanalah orangtuanya berasal, ia dan Odo akan menetap. Ini bingkisan mungil berisi rasa takut, tetapi tidak melukai ataupun merisaukan.

Buku kedua Yann Martel yang kubaca setelah Beatrice and Virgil yang absurd. buku ketiga Life of Pi sudah ada di rak, menjadi target berikutnya. Sepertinya memang genre Martel adalah filsafat yang merenung. Banyak tanya dan duka yang dipaparkan serta pencarian makna hidup. “Orang-orang tinggal sejenak, lalu satu per satu pergi, dan Anda diberi waktu untuk berduka, dan sesudahnya Anda diharapkan untuk kembali ke dunia, menjalani kehidupan lama Anda. Setelah pemakaman, pemakaman yang bagus, semua hal kehilangan makna dan kehidupan lama pun sirna. Kematian memakan kata-kata…”

Pegunungan Tinggi Portugal | by Yann Martel |Copyright 2016 | Diterjemahkan dari The High Mountain Portugal | GM 617186006 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Berliani M. Nugrahani | Editor Tanti Lesmana | Desain dan ilustrasi sampul Martin Dima | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-03-4638-0 | 416 hlm; 20 cm | Skor: 4.5/5

Untuk Alice, dan untuk Theo, Lola, Felix, dan Jasper: kisah hidupkau

Karawang, 090520 – Norman Brown – Don’t You Stay

Blue Summer: Cinta Biru dari Negeri Sakura

Cinta remaja di masa liburan di desa, terkesan. Ketika liburan berakhir akankah ini hanya cinta sesaat?

Gadis kota liburan ke kampung halaman, ke rumah neneknya bareng adiknya. Saat turun dari bus di pinggir sungai, berkenalan dengan pemuda desa yang lugu, yang menawarkan tur dengan gambar pamflet eksotis, si gadis terpesona, sang pemuda kesemsem. Lalu pas sampai rumah sang nenek, ternyata pemuda itu adalah saudaranya, penjaga toko kelontong. Ada kebencian karena dari tutur nenek, cucunya pergi meninggalkan kampung mencipta kesepian. Liburan yang seharusnya penuh warna menjadi agak renggang awalnya, sampai tak kurang dari ¼ film di mula, saya sudah bisa memprediksi endingnya. Dan tepat! Blue Summer adalah cerita manis, semanis-manisnya.

Kisahnya berpusat pada siswi cantik Rio (Wakana Aoi). Pembukanya adalah adegan jelang libur sekolah, ketika Rio mau pulang disapa cowok si jangkung yang secara halus tersamar mencintainya, sempat akan meminta kontak, tapi terlewat. Liburan sekolah musim panas ini akan dilewatinya di kampung halaman sang nenek, berangkat bersama adiknya, ibunya seorang desain grafis akan menyusul nanti. Sampai di pedesaan berkenalan dengan Ginzo (Hayato Sano), pemuda desa yang sedari muncul juga sudah bisa ditebak akan meluluhkan hati Rio.

Benar saja, walau ia dibenci Ginzo karena meninggalkan neneknya, Rio melewati hari-hari galau dengan melihat bintang bertebaran indah di malam hari, bermain air di sungai, main sepeda menghirup udara segar pegunungan, memetik bunga. Lalu berkenalan dengan teman-temannya Ginzo yang sepanjang waktu pegang kamera, ada tantangan terjun ke jernihnya air sungai dari jembatan. Rio dengan meyakinkan berani, jangan sepelekan anak kota ya.

Lalu beberapa teman sekolahnya menyusul liburan ke sana, bikin tenda di pinggir sungai, panggang daging, sampai main air. Terlihat jelas si jangkung mencintai Rio, maka ia mengajak kencan, dan ‘mengancam’ Ginzo. Rio sendiri lalu secara terbuka bilang suka pemuda desa, sehingga kini tercipta cinta segitiga dengan pusat yang protagonist.

Kebetulan ada event sekolah, mendatangkan band nasional. Semakin merekatkan mereka berdua, mendesain promo, mencipta erat, menghabiskan malam dengan lanskap kembang api, menangkap ikan di bazar, cinta itu perlahn tumbuh kembang bak musim semi, sampai akhirnya mendekati hari terakhir liburan di puncak pesta musik. Apakah kedekatan mereka berlanjut? Ataukah dengan berakhirnya masa di desa, berakhir pula hubungan ini. Lalu Rio mengambil tindakan berani sebab ada kekhawatiran mengucap kata ‘selamat tinggal.

Ini jenis film warna-warni mencolok mata. Semua ditampilkan indah, ga cocok buat kaum merenung, tak cocok pula buat kaum hippy. Ternyata berdasar manga populer. Yah ini sih manga remaja yng so sweet. Bunga matahari kuning terhampar, pemandangan gunung asri sepanjang mata memandang. Suara jernih sungai mengalir. Gemerlap bintang di langit yang ditingkahi tembakan kembang api. Benar-benar film romantis khas remaja. Saya justru jatuh hati sama Seika Furuhata, cantik dan tampak dewasa ketimbang tokoh utamanya yang childish. Sebagai gadis ‘penghamba cinta’ yang mencinta, berharap jodoh keluarga tapi kandas. Duuuh manisnya, catet yes Seika!

Plot semacam gini sudah banyak dibuat FTV kita. Cinta-cintaan dengan penampil cantik dan tampan, konfliks ringan, lagu-lagu indah, gadis kota tergoda pemuda desa, sudah melimpah ruah. Blue Summer menawarkan hal yang mirip, kalau tak mau dibilang sama. Dengan template seperti itu, wajar saya agak kecewa. Keistimewaan film justru di technical. Banyak kamera ditaruh di beberapa sisi. Contoh adegan jembatan itu, saya catat ada minimal lima kamera menyorot adegan terjun. Dari kedua jembatan, kamera terbang, dari sisi sungai bawah, dan pas masuk ke air kamera terendam. Nah, secara teknikal tampak anggun. Kelopak air itu menyejukkan, benar-benar film memanjakan mata.

Memang sebuah perjudian menonton film tanpa rekomendasi, ngasal karena muncul di beranda. Blue Summer sekadar hura-hura remaja yang akan cepat terlupakan, kecuali gemerlapnya yang tertahan lama di balik retina. Eyes candy alert!

Tentu saja pertemuan kita terkadang tidak lebih dari sekadar liburan, tapi beberapa hari itu bertemu dengan orang yang kaucinta sangat besar artinya. Kau ajarkan aku apa itu kenyataan.

Blue Summer | Judul asli Ao-Batsu: Kimi ni Koi Shita30-Nichi | Japan | 2018 | Directed by | Screenplay Yukiko Mochiji | Manga Atsuko Nanba | Cast Shiori Akita, Wakana Aoi, Seika Furuhata, Takumi Kizu, Rinka Kumada, Atom Mizuishi, Hayato Sano, Reo Shimura, Aimi Terakawa | Skor: 3.5/5

Karawang, 230420 – Bill Withers – Railroad Man

110 Buku Yang Kubaca 2019

Hanya kebetulan belaka, tahun ini saya merampungkan baca 110 buku, sama persis dengan total baca tahun lalu. Ini sekadar catatan, betapa nikmat bercengkerama dengan buku.

#1. Seorang PendatangK. Usman
Dua cerpen lawas yang disatukan tahun 1963. Residivis pulang kampung dan melihat betapa banyak perubahan. Mengingat masa muda yang penuh amarah, cinta dan pengorbanan.

#2. Menolak AyahAshadi Siregar
Kisah Tondi sebagai PRRI melawan pusat, perjalanan dari Toba ke Bukittinggi yang mistis dan perjuangan melawan kecewa atas pilihan ayah. Kental budaya Batak, minus tukang tambal ban dan pengacara.

#3. Demi Esme dengan Cinta dan KesengsaraanJ.D. Salinger
“Apa yang dikatakan sebuah dinding pada dinding lainnya?” Dua cerpen klasik karya penulis ‘The Catcher in the Rye.’

#4. Magi Perempuan dan Malam Kunang-KunangGuntur Alam
“Jangan lihat kunang-kunangnya, ia bisa menyihir kita.” Dua puluh satu cerita pendek dengan tema beragam. Legenda hantu daerah, modifikasi hikayat. Kumpulan cerpen yang renyah.

#5. The Life and Adventures of Santa Claus L. Frank Baum
Dasarnya kita tahu. Sederhana, fiktif dan sudah sangat umum. Entah kenapa Frank Baum menulis ulang kisah semacam ini. Jauh dari bayangan ‘The Wizard of OZ’.

#6. Guru Generasi MilenialTri Winarno
Tulislah buku tentang bidang yang kuasai, Mas Tri dengan jeli menceritakan pengalamannya sendiri dalam kelas. Seperti membuat tantangan menulis puisi untuk murid-muridnya, mencerita keseharian dengan buku.

#7. Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-MasingEko Triono

Cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Plotnya mirip 100-tahun-kesunyian.

#8. MemoarPablo Neruda
“Kita para penyair memiliki hak untuk bahagia, sepanjang kita tetap dekat dengan masyarakat di negeri kita dan dalam kegigihan perjuangan untuk kebahagiaan mereka.”

#9. Di Kaki Bukit Cibalak Ahmad Tohari
Cinta yang tak harus miliki, politik orang bawah, permainan mistis sampai kritik birokrasi. Perubahan zaman, perubahan kebiasaan, teknologi masuk desa, sampai polemik dasar makhluk Tuhan untuk bertahan hidup.

#10. Handmaid’s TaleMargaret Atwood *
Para handmaid di masa depan, aturan absurd dan pertentangan tak berkesudahan. Gadis kerudung tunduk, pikiran penuh luapan teriak.

#11. About a BoyNick Hornby
Filmnya kita tahu keren sekali. Ncik Hornby kalau bahas bola tajam dan sangat mendalam. Fan Gunners. Entah kenapa novelnya terlihat biasa. Plotnya ngelantur ke mana-mana, menjemukan.

#12. Breakfast at Tiffany’sTruman Capote *
Renyah di setiap lapisannya. Tampak seperti kisah nyata saat masih kere, menjalani sebagai penyendiri di apartemen sebagai penulis lokal tak bernama, sunyi, perenung mencari jati diri. Lalu muncul tetangga istimewa.

#13. Sesat Pikir Para Binatang Triyanto Triwikromo
Sembahyang adalah wujud cinta kita kepadaNya. Sembahyang tak boleh kita jadikan upeti. Sembahyang bukanlah semacam jual beli kita kepadaNya.

#14. Jokowi, Sangkuni, MachiavelliSeno Gumira Ajidarma
Pemimpin yang ideal adalah yang bebas dari kontrak politik, karena dukungan partai yang mana pun tidaklah mungkin dilakukan tanpa kepentingan. Kumpulan esai kedua SGA yang kubaca.

#15. Ups! Rieke Diah Pitaloka
Tugas penyair adalah mendewasakan bangsanya. Bagaimana kalau masyarakat tidak mau didewasakan dan ingin tetap seperi kanak-kanak? Jadi mari biarkan waktu menempa, mau ke arah mana perahu rima ini berlayar.

#16. Old Death Karl May
Kisah detektif dengan nuansa koboi, tak seperti cara penelusuran Holmes atau Poirot yang penuh deduksi dan telaah mendalam, cerita dalam The Wild West Journey ini dibarengi banyak keberuntungan, tak detail dan siasat tricky.

#17. The Murder of Roger AckroydAgatha Christie *
Dan ya, saya bisa menebaknya. Ada dua kalimat yang JELAS SEKALI yang menunjukkan sang pelaku, saya konsisten. Yakin dialah pelakunya. Terbukti. Salah satu yang terbaik dari Christie, dari Hercule Poirot.

#18. Around the World in Eighty DaysJules Verne *
Buku pinjam di taman baca Bus Taka Kota Galuh Mas, kubaca cepat saat pulang kerja hujan lebat, mencipta genangan sehingga menanti reda, baca di kantor. Sungguh menyenangkan melahap buku keren saat hujan dengan kopi.

#19. KawitanNi Made Purnama Sari
Sebatang pohon ara, empat pina, tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu. Sungguh sajak adalahbarang mewah yang sulit dijangkau, sulit kubenamkan dalam kepala sehingga menyatu sukma.

#20. Mardi GrasAdriani Sukmoro
Lupakan konflik, kisah hanya berkutat pamer perjalanan hidup pengantin baru ke Amerika dengan salah satunya menyaksikan festival Margi Gras.

#21. Telembuk Kedung Darma Romansha *
Cerita dari Indramayu yang keras. Makian dan umpatan berbagai kelas. Lha judulnya saja sudah berat: Kisah Cinta yang Keparat.

#22. White FangJack London *
Kubaca dalam sehari dari siang sampai malam, di sela ibadah dan tidur di lantai satu Blok H nomor 279 hari Sabtu, 23 Feb 19. Ini semacam prekuel ‘The Call of the Wild’ yang sudah kubaca dua tahun lalu. Dituturkan dengan berkelas.

#23. Go Set A WatchmanHarper Lee *
Kisah lanjutan novel legendaris ‘To Kil A Mockingbird’, sekarang Scout sudah dewasa jadi perantau di New York dan buku berkutat di Maycomb saat liburan dua minggunya yang menegangkan. Bagaimana orang tuanya yang sudah tua tetap bekerja membela kebenaran. Sabar, tenang dan menghanyutkan.

#24. Mari LariNinit Yunita
Kubaca sekali duduk pada Selasa, 260219 sepulang kerja. Sinetron sekali, tentang Rio yang selalu mengecewakan orang tua. Saat ibunya meninggal dunia, dia harus buktikan tiga hal: bisa kerja benar di dealer sebagai sales mobil mewah, lulus kuliah di kesempatan kedua, dan lari marathon di Bromo dengan memakai nomor lari almarhum. Semua indah.

#25. Masa Depan Sebuah Ilusi Sigmund Freud
Esai buku kecil ide besar. “Tidak, sains kita bukan merupakan ilusi. Tetapi menganggap bahwa apa yang tidak bisa diberikan sains kepada kita bisa kita dapatkan di tempat lain akan merupakan sebuah ilusi.”

#26. The Clockwork ThreeMatthew Kirby
Premis bagus. Menempatkan tiga remaja dalam dilema rumit. Satu ingin pulang, satu ahli jam, satu untuk keluarga yang sakit. Terjepit finansial kusut. Sayang eksekusinya remuk. “Kau tahu, kau tegar seperti Hannah dalam al kitab.”

#27. Hujan Bulan JuniSapardi Djoko Damono
Kamu ga otomatis hebat saat sebut orang-orang hebat. Hepburn style. Jazz klasik menjadi teman Sarwono. Apakah membuatku terkesan? Enggak. Cerita sinetron yang coba berpuisi. “Kamu ini cengeng Sar, jualan gombal.”

#28. Kumpulan Budak SetanEka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad *
Kumpulan cerita pendek yang digarap bertiga atas dasar horror Abdullah Harahap. Seram, mistis, dan tragis. “Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan.”

#29. Manuskrip yang Ditemukan di Accra Paulo Coelho
Hidup ini untuk bersenang-senang, positif thinking, positif feeling. Dah kalau mau itulah review sangat singkat untuk buku ini. Benar-benar ya, buku perdana Paulo Coelho yang saya baca berakhir buruk.

#30. Dunia SophieJostein Gaarder *
Buku rangkuman filsafat yang luar biasa. Cara cepat belajar jadi filsuf. Butuh waktu empat bulan buat menuntaskannya. Hidup ini fiksi bagi mereka yang terjebak dalam ambiguitas.

#31. Perempuan PalaAzhari
“Aku tak mungkin menolak dan menutup pintu bagi siapapun yang datang ke rumah ini bukan? Aku diajarkan untuk memberikan apa yang kumakan bagi setiap orang lemah yang meminta. Itulah kemuliaan.”

#32. Bilik Musik James Joyce
Kumpualn puisi lengkap dari Penulis legendaris Ullyses. “Karena suaramu terdengar di sisiku / kuberi ia cemburu / dan dengan tanganku. kugenggam / tanganmu ‘tuk kali kesekian. Diterjemahkan oleh Gita Kharisma.

#33. Yang Telah TiadaJames Joyce
“Oh saya rela kehilangan apa saja demi mendengar Caruso bernyanyi.” Disebut novella, padahal lebih tepat cerita pendek ++. Buku ini selesai baca hanya dalam jeda Magrib ke Isya. Fufufu…

#34. Matahari dan BajaYukio Mishima
Gagasan tentang mengubah dunia merupakan kebutuhan yang sama pentingnya dengan tidur dan makan tiga kali sehari. Pemikiran yang tak lazim, ga mudah dicerna, berkali-kali baca ulang, nyaring, dan tetap mengernyitkan dahi.

#35. Kamis Yang Manis John Steinbeck
“Cara terbaik di seluruh dunia untuk membela dirimu adalah dengan menjaga tinjumu tetap ke bawah.” Ga seperti Steinbeck lainnya yang tragis, endingnya manis seperti judul. Tapi tetap karakter kuat dengan keanehan masing-masing.

#36. Water for ElephantsSara Gruen
Karena ia binatang yang begitu cantik, luar biasa, dengan hati yang sangat pemaaf dan mampu memahami kesalahpahaman. Kita akan berada di tingkat yang sama dengan sirkus-sirkus besar dan itu takkan bisa terjadi tanpa kalian.”

#37. Sad CypressAgatha Christie
Ini mungkin kisah Poirot yang paling mudah ditebak. Karena hanya menyisakan dua kemungkinan pembunuh, yang walau nantinya mencabang ke target lain, tapi jelas ada yang tak mungkin melebar liar. “Saya bisa mencari kebenaran…”

#38. MetamorfosisFranz Kafka *
Buku yang berat sekali. Mungkin jua karena kualitas terjemahannya yang aneh, typo berserakan, walau dialihbahasakan keroyokan berempat tapi tetap masih saja ditemukan kalimat-kalimat nyeleneh. “Ia bersuara seperti seekor hewan…”

#39. KubahAhmad Tohari
Cerita baik untuk orang baik yang dianugerahi akhir yang baik. “Takdir Tuhan adalah hal yang paling baik bagimu, betapapun getir rasanya, bertakwa kepadaNya akan membuat segala penderitaan ringan.” Sabar, tawakal, iqtiar.

#40. Kumpulan Cerita Pendek TerbaikLeo Tolstoy
Memang istimewa penulis satu ini. Mau cerpen atau novel sama hebatnya. Epos Sevastopol di mana rakyat Rusi adalah pahlawan sesungguhnya, meninggalkan jejak besar untuk waktu yang lama. “Kamu tak akan bisa bedakan bom dan bintang.”

#41. HumanismeYB Mangunwijaya
Keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan kepada kebenaran.” Ernest Renan dalam Qu’est qu’une nation? (1882)

#42. Paper Town John Green
“Ini akan menjadi malam terbaik dalam hidupmu.” Kisah remaja yang tak biasa. Pengalaman pertamaku dengan Green berakhir menyenangkan. Tentang Q dan asmara tak biasa. Satu malam, terkenang sepanjang hidup, menuju kota kertas.

#43. Di Bawah Lindungan Ka’bah HAMKA
Buku sangat tipis. Kubaca sekali duduk (15/06/19), malam minggu sendirian tak butuh waktu sejam juga selesai. Kisah kasih tak sampai. Cerita berlapis, tragis tapi tak semenangis Tenggelamnya Kapal…

#44. Matilda, Lelaki Izrail, dan Seorang Perempuan di Masjid KamiHairus Salim HS
14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek. “Dan tiba-tiba mereka hanya mendengar tubuhnya ambruk.”

#45. Teach Me Like FinlandTimothy S. Walker
Di Finlandia moto ‘bekerja untuk hidup’ bukan ‘hidup untuk bekerja’. Mereka tampak serius dalam bekerja, namun di waktu luang mereka ikuti hobi daripada menggunakannya untuk meningkatkan pertumbuhan profesi mereka.

#46. Dalam Kobaran Api Tahar Ben Jellous *
Hebat. Penulis kelahiran Maroko, tinggal di Prancis bercerita tentang Tunisia dan efeknya. “Aku tidak menjelaskan apapun, ini adalah karya sastra.” Arab Spring, demi rasa keadilan.

#47. Misteri Rumah Masa LaluV. Lestari
Buku klasik dalam memetakan karakter yang protagonis akan konsisten baik sampai akhir, yang jahat tetap digambarakan di sisi negatif terus, ga ada konflik batin berlebih, ga ada wilayah abu-abu sifat manusia.

#48. OriginDan Brown
Semua tertebak. Saya bisa menebak motifnya, saya bisa memprediksi apa isi presentasinya, saya bis atahu endingnya. Puisi William Blake tahun 1790an, Amerika sebuah nubuat, Eropa sebuah nubuat. Dan mereka sudah datang!

#49. Alice Through The Looking Glass Lewis Caroll
Buku yang aneh sekali. Masih bagusan seri pertama, karena teras original, seri kedua ini menawarkan kebingungan yang sama, hanya dengan pola lebih rumit, lebih acak, dan jauh di luar nalar.

#50. Maut di VenesiaThomas Mann
Narasinya berbelit panjang, melingkar-lingkar, merenung, lalu putus karena frustasinya mengurai, dengan detail tempat, suasana, gambaran orang sekitar, smapai cuaca yang tak ramah. “Untuk Tuhan kami yang asing.”

#51. Max and the CatsMoacyr Scliar
Novel seratus halaman ini kubeli kala dalam tugas luar mengikuti pelatihan di Hotel Horison, Bekasi seminggu. Kubeli di Gramedia MM dengan Gadis Pendongeng, kubaca singkat di pagi dan sore waktu istirahat. Pi!

#52. If I StayGayle Forman
Keluarga yang sempurna. Orang tua utuh yang benar-benar mencinta. Adik manis yang menggemaskan. Dan masa depan cerah untuk karier seni dan lagu snob. Dalam hujan salju di pagi hari libur, kecelakaan merusak semuanya. Ini adalah novel religi di dunia antara.

#53. Tamasya BolaDarmanto Simaepa
Pengantarnya bagus banget dari Mahfud Ikhwan. Diambil dari blog, tulisan sepak bola dengan sudut pandang belakang gawang. Apa menariknnya cerita Barcelona, MU, Timnas dan pengalaman pribadi Penulis sejak kecil? Bukan kayak gini cerita bola yang bagus tuh.

#54. The Story GirlL.M. Montgomery *
Cerita anak-anak pada suatu masa di Amerika. Lucu, seru dan apa adanya. Benar-benar membumi, seolah ini adalah diari sang Penulis. Setara ‘Secret Garden’-lah, tapi ini lebih riuh dan ceria karena melibatkan banyak karakter. Tak sabar baca lanjutan.

#55. Kisah Pedagang Buku yang Tewas di Bagdad (kumpulan esai)
‘Belajar dari para maestro nonfiksi’. Karena buku ini tidak diperjualbelikan, tipis berisi 66 halaman, dan isinya yang sungguh bikin penasaran. “… Kairo yang menulis, Beirut yang menerbitkan, Bagdad yang membaca.”

#56. Dijamin Bukan Mimpi Musmarwan Abdullah
Kumpulan pos di sosmed, terutama Facebook. Ga semuanya tapi kebanyakan. Tulisan dikit tiap judul, kek orang curhat aja. Bisa tebal juga, kumpulan cerita satiris bisa benar, kalau cerita inspirasi ya hhhmmm… Enggak terlalu. Sekadar lumayan…

#57. Cerita Cerita Telapak Tangan Yasunari Kawabata
Ini adalah kumpulan cerita dikit-dikit tiap judul, curhat orang Jepang terhadap keseharian, kejadian sekitar. Tmpak sederhana, tapi kualitas imaji dan asosiasi mendalam. Beberapa memicu tafsir beragam.

#58. Cat Among the PigeonsAgatha Christie
Poirot melacak pembunuhan berantai? Di dalam sekolah elit khusus putri, orang-orang kaya yang panik, dan cerita putri dari Timur Tengah yang diculik. Gempar dan memusingkan, tapi bagi Poirot (aka Christie) tampak sederhana. Saling tipu. Dush!

#59. Tanah Air ImajinerSalman Rushdie
Kumpulan esai yang menggairahkan. Bergizi tinggi. Curhat Rushdie ketika jadi juri lomba tulis, prediksi untuk Penulis muda yang akan menghentak dunia. Beberapa menjadi, curhatnya tentang India yang lama ditinggalkan dan efek psikologi. Runut dan wow.

#60. Time Machine H.G. Wells
Mungkin ekspektasiku ketinggian, Mesin Waktu terasa mengada-ada, eksekusinya tergesa, melupakan detail bagaimana bisa memutar waktu. Penjelasan mesinnya bekerja tampak meragukan, semeragukan sang Penjelajah Waktu bercerita.

#61. NeverwhereNeil Gaiman *
Pertarungan malaikat, iblis dan makhluk bawah tanah London. Richard, manusia normal di atas tanah terjebak dalam permainan kotor. Fantasi luar biasa, kejutan akhir yang hebat. “Bagaimana aku bisa kembali normal?” Gaiman tak pernah mengecewakan.

#62. OEka Kurniawan
“Aku akan menjadi manusia.” Kata O si monyet cerdik.

#63. Max Havelaar Multatuli
Tata bahasanya memang agak susah dipahami. Cerita asisten Residen yang keren, mencoba menerbitkan buku dnegan modal makelar kopi.

#64. The Adventures of PinocchioCarlo Collodi
Kisah abadi boneka kayu pembohong. Susah diberitahu, tak mau mendengarkan nasihat, mudah tergiur rayuan manis. Hikayat ikan paus dan semburannya.

#65. Sharp ObjectGillian Flynn
Ketika penulis mudik untuk mewartakan pembunuhan anak-anak sejatinya sudah menunjuk siapa pelakunya. Kombinasi buruk pengenalan karakter, susunan plot dan misteri detektif ala kadar.

#66. Do Android Dream of Electric Sheep?Phillip K. Dick
Dunia masa depan yang mengerikan. Hewan elektrik murah, hewan asli mahal. Untuk membelinya bahkan perlu dicicil. Dan misi pemburuan manusia mesin? Tak ada nurani.

#67. Artemis Fowl Eoin Colfer
Dunia peri yang menakjubkan. “Aku mendengar suara-suara di malam hari. Suara itu merayap di bantal dan memasuki telingaku.”

#68. SapiensYuval Noah Harari *
“Orang-orang yang hidup saat itu tidak melakukan hal-hal yang penting.” Tiap sepuluh kalimat kubaca, kubaca ulang separuhnya. Nikmat di tiap lembarnya.

#69. Cara Berbahagia Tanpa Kepala Triskaidekaman
Bukan fantasi, bukan misteri, bukan humor, bukan surealis. Blas. Kepala terpenggal dan bersenang-senang palsu.

#70. Dekat & NyaringSabda Armandio
Buku tipis yang melegakan. Bagus tapi ada yang kurang. Cerita gang Patos dalam dilematis.

#71. Bertarung Dalam SarungAlfian Dippahatang
Perseteruan adat dan pertarungan harga diri dalam sarung yang mematikan.

#72. Tango & SadiminRamayda Akmal *
Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas. “… berusahan mengapai-gapai Tuhan…”

#73. Bugiali Arianto Adipurwanto
Banyak suku kata Sasak yang tertera, sampai menyita dua halaman penuh guna menjelaskan. Hikayat bugiali.

#74. Seekor Capung MerahRilda A. Oe. Taneko
25 cerpen yang kubaca dalam perjqalanan bus Solo-Karawang, selesai saat di Semarang (30/09/19). “Apa tidak ingin ke Brouwesweg 10?”

#75. JamalokeZoya Herawati
Jamaloke, sandang pangan goleko dewe. Sandang pangan carialh sendiri. “Itulah sepenggal lakon sejarah.”

#76. Teh dan PenghianatIksaka Banu *
“Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat, pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar…”

#77. Republik Rakyat LucuEko Triono
Ini hanya buat fun. Lelucon rakyat, semua warganya lucu.

#78. Atraksi Lumba-Lumba Pratiwi Juliani
Narasi bagus, dialog bagus, susunan plot bagus. Mengalir merdu. “Tidak pernah kumengerti, aku juga tidak mengerti banyak hal. Andai aku bisa mengerti banyak hal.”

#79. The MartianAndy Weir
“Para astronot pada dasarnya gila. Dan sangat baik hati. Aku ingin dengar ide itu.” Mark Watney perjuangan bertahan hidup di Mars.

#80. Aku dan Surabaya dan NakamuraGerson Poyk
Semacam memoir Poyk. Tidak pernah ada seniman yang tak punya utang, sudah niat menghidupi keluarga walau ancaman kere.

#81. Skipping ChristmasJohn Grisham
Terpingkal-pingkal menamatkan novel Grisham ini. “Ini adalah boikot Nora, boikot total Natal.”

#82. Perjalanan Nun Jauh ke Atas SanaKurt Vonnegut
“Kota Anda berterima kasih pada Anda, negeri Anda berterima kasih pada Anda, planet Anda berterima kasih pada Anda, tapi yang paling berterima kasih adalah generasi mendatang.” Dua cerpen masa depan yang misterius.

#83. MissingR.L. Stine
Orang tua Cara dan Mark menghilang, awal pesta berubah cekam.

#84. Bastian dan Jamur AjaibRatih Kumala
Bagaimana jamur bisa mencipta gadis fantasi, mantan kekasih yang mati. Raquel…

#85. Jeritan Dari Pintu KuburAbdullah Harahap
“… di kota banyak kami dengar kabar-kabar aneh tentang kampong ini. Pencurian mayat bayi, tempat perampok berkumpul, kematian-kematian ganjil…”

#86. AlexPierre Lemaitre
Alex yang diculik tampak seperti korban, dalam perkembangannya ternyata pembunuh, dan dalam perkembangan lagi, ada twist. Wow. Detektif Prancis yang absurd.

#87. Goosebumps: Makhluk Mungil Pembawa BencanaR.L. Stine
Grool hanya bisa beralih tangan kalau pemilik sebelumnya mati. Kengerian setiap ganti bab.

#88. Ocean SeaAlesandro Baricco
Tagline saja, ‘Love, Murder & Betrayal in Almayer Inn’

#89. Simple Stories for a Simple InvestorNicky Hogan
Buku tentang saham pertama yang kubaca berakhir mengecewakan. Pamer jalan-jalan promo ‘Yuk Nabung Saham’. Ga banyak ulasan detail. Only for beginner.

#90. LoversusFarah Hidayati
Elang Terbang vs Cinta Lestari. FTV banget, Cinta yang miskin di antara para lelaki berada.

#91. Apollo dan Para PelacurCarlos Fuentes
Diari mencipa kenangan masa kecil. Dan kisah kematian dicerita dengan pola tak lazim.

#92. Dalih Pembunuhan Massal John Roosa *
Bencana kemanusiaan dari sisi lain. Kemelut kusut tanpa kepaduan, sejarah kelam Republik ini. Semua janggal sedari awal.

#93. The Giraffe and the Pelly and MeRoald Dahl
Kera, jerapah, bangau dan aku menyewakan jasa bersih kaca gedung bertingkat. Sang Duke memanggil…

#94. DiaHenry Rider Haggard
Leo dan Holly berpetualang ke rimba imaji Kor. Dia yang immortal, cinta mengorban banyak hal.

#95. Daisy Manis Henry James
Selasa malam nontong film Notting Hill, Julia Roberts bilang sedang proses syuting film adaptasi Henry James. Langsung ku #unboxing dan esoknya baca kilat sepulang kerja. Tentang gadis Amerika abad 19 jalan-jalan ke Eropa, ada insiden.

#96. Soekarno, Arsitek BangsaBob Hering
Biografi singkat Bung Karno yang nyaman diikuti. 32 halaman cerita perjalanan hidup, 125 foto yang dibubuhi keterangan dari kecil hingga wafat. Terbit memperingati 100 tahun pada 2001. Dibaca sekali waktu untuk teman tidur Hermione.

#97. MaryamOkky Madasari
Tentang Ahmadyah yang dianggap sesat. Pertentangan Maryan dan keluarganya, dan masyarakat sekitar. “Yang namanya keyakinan memang tak bisa dijelaskan. Ia datang sendiri tanpa punya alasan.”

#98. Kematian di VenesiaThomas Mann
Versi Basa Basi dari buku yang sama yang diterjemahkan pula oleh Circqa. Ini lebih bagus, entah karena bacaan kedua atau emang kualitas alih bahasanya lebih nyaman. Aschenbach yang jatuh hati pada pemuda cantik Tadzio.

#99. Tarian Bumi Oka Rusmini
Bagus sekali alurnya. Pemahaman yang sesungguhnya kalimat, ‘demi cinta akan kulakukan segalanya untukmu.’ Hikayat tari dan gesekan harga diri. Aku selalu mohon pada dewa di sanggah agar kau bisa keluar dari lingkaran karmaku.

#100. Rumah Hujan Dewi Ria Utari
Kubaca dua hari. Novel yang dikembangkan dari cerita pendek dan cerita lainnya. Seniman, hujan, sepi, kenangan, hujan. Buku keseratus tahun ini seram.

#101. Goosebump: Hantu Penunggu SekolahR.L. Stine
Salah satu seri Goosebumps terbaik. Dunia pararel misteri, siswa yang hilang dengan kilat kamera, cekam takut warna kelabu dan ending menggantung terselebung teror. Tommy dan kawan-kawan berpetualang di negeri antah di balik dinding sekolah. Gawat!

#102. The Notting Hill MysteryCharles Felix
Tahun 1850an terjadi pembunuhan berencana, melibatkan uang warisan dan polis asuransi sebesar 50.000 pound. Penyelidikan dengan detail saksi, surat pos, dampai catatan harian. “Musuh paling fatal kejahatan adalah kehati-hatian yang berlebihan.”

#103. AparajitoBibhutibhusan Banerji *
Novel India terbaik yang pernah kubaca. Riwayat Apurbo dari masa kanak-kanak, perjuangan pendidikan, merantau ke Kalkuta demi menyambut masa depan gemilang. Inilah gambaran hidup sesungguhnya. Leela dan Aparna, cinta dan tragedy. Kisah luar biasa.

#104. Alex and the Ironic GentlementAdrienne Kress
Saat bumi telah berdamai / Dan elemen-elemen terbakar / Dengan rasa paling prima / Hasratmu akan kau dapatkan. Petualangan bajak laut dengan banyak kejanggalan. Kisah yang buruk.

#105. Si Cacing dan Kotoran KesayangannyaAjahn Brahm
Sepertiga awal terasa biasa, mungkin karena cerita motivasi umum. Barulah jelang tengah, terutamqa terkait meditasi danyang terbesar adalah pikiran, banyak menawarkan keindahan dunia Buddha. Salur: Seorang Inggris, Ilmuwan, Biksu.

#106. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ariZuhairi Misrawi
Lebih seperti sejarah NU ketimbang riwayat pendirinya. Karena saya ga ikuti perkembagan NU banyak vitaminnya. “Tanda-tanda mati hati adalah mencari keuntungan dunia dalam urusan akhirat.”

#107. Lady SusanJane Austen
Hanya dari surat menyurat semua cerita bergulir. Janda dan putri remajanya, saudara yang bimbang tentang moral. Perjodohan. Asmara abad 18 di London yang rumit (dalam arti sebenarnya). Bagaimana tukang pos menjelma penggerak plot.

#108. PlayonF Aziz Manna
Garis awal garis pintu, satu kaki di depan, satu kaku di belakang, kepala lurus angina bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah. Garis jalan, garis belokan, satu kaki membumi, satu kaki mengawang, kepala lurus, angina bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah.

#109. Kapitalisme, Islam dan Sastra PerlawananOkky Madasari
Beberapa karya sastra berfungsi transformatif terhadap pembacanya dan masyarakat skala lebih luas. Buku-buku dapat mengubah pandangan dan tingkah laku mereka. – O’Leary

#110. Cannery Row John Steinbeck
Hikayat Doc dengan laboratoriumnya. Mack dan konco-konconya dalam lingkup ranjang pesta.

Alhamdulillah…

Karawang, 311219 – Roxette – Almost Unreal

There’s Something about Mary: Jambul Rambut yang Mengilhami

Ted: Japan? What’s she doing in Japan?

===mungkin tulisan ini mengandung spoiler===

Semua fokus pada Cameron Diaz seolah ia adalah pusat semesta. Cantik. Muda. Pirang. Dan jambul rambut yang bikin istigfar.

Kisahnya memang tertuju utama ke Mary Jensen (Cameron Diaz). Cameron Diaz sedang gemilang, aktris romantis era 1990an. Beberapa filmnya mungkin sudah kutonton, tapi ga ada yang lebih memorable dari Charlie’s Angel yang saat ini kena reboot. Namun sudut pandang dipegang oleh Ted Stroehmann (Ben Stiller). Di tahun 1985, di akhir masa sekolah, jelang acara pesta dansa ia mengajak temannya yang dijawab dengan gantung. Ted jadi lelaki cadangan, rencana samping sang gadis bila inceran utama ga nawari. Maka dalam insiden unik, dengan adik Mary yang terjebak di dunia anak, Warren (W. Earl Brown) yang mencari bola dan sensitif telinganya. Hal mengejutkan adalah Mary tahu namanya, momen gadis tercantik mengetahui namamu saja membuatmu berdegub. Lalu mengantarnya pulang, kejutan berikutnya justru Mary yang menawarkan diri untuk pergi pesta dansa bersama. Ted si freak, culun, dan kaku tentu saja shock. Tampang Stiller mainkan mimik awkakwa. Bangga akan berdansa dengan idola sekolah. Namun sayangnya berakhir dengan bencana, saat dijemput terjadi insiden resleting di kamar mandi.

Kisah cinta remaja ini berakhir ejakulasi. Memorinya bertahan lebih lama, dan terbenam dalam kepala. 13 tahun kemudian, kita menemukan sebuah dilema. Tanpa kabar dan terpisah jarak, Ted memutuskan mencoba mencari tahu kabar cinta remajanya. Ia pun menyewa detektif swasta Healy (Matt Dillon) untuk menyelidiki status, keadaan dan segala hal yang menarik perhatian. Pokoknya update Mary minta tolong dilacak. Andai Ted hidup di jaman now, tinggal cari di facebook. Sempat ragu, tapi tetap rasa penasaran itu harus dituntaskan. Hal menariknya Healy memberi data fakta palsu, menjelek-jelekkan Mary. Ia bahkan resign dari pekerjaannya. Dalam momen awkwk, penyelidikan di apartemen dengan teropong, ia memutuskan jatuh hati.

Ternyata sang detektif menuju Florida, memainkan sandiwara. Dari hasil pengamatan, betapa Mary menyukai pria arsitek, suka jalan-jalan, suka pria yang tak terikat waktu kerja sampai hal-hal ideal yang kelak jadi pasangan. Healy memanipulasi keadaan sehingga ia tampak pria yang dicarinya, pria ideal yang ada dalam bayang, lambe lamis, menipu banyak hal. Nah, suatu malam ia diajak ke pameran arsitek secara mendadak, berkenalan dengan Tucker (Lee Evans) yang ada masalah di kakinya sehingga memakai penyangga dua. Diskusi tentang bangunan yang sudah dicipta, tampak jelas Healy bohong. Nantinya ketika di cek di lulusan Havard pun ia tak ada.

Sementara Ted yang kecewa, menemukan fakta aneh tentang sang detektif dari Dom (Chris Elliott) sobatnya. Maka iapun meluncur ke tempat pujaan hati. Dalam perjalanan penuh bahaya, menaikkan penumpang gelap seorang pembunuh, istirahat di area umum malah ke-gap komunitas gay padahal ia hanya mau buang air kecil, dan di mobilnya ditemukan karung berisi mayat. Sempat ditahan, tapi penyelidikan lebih lanjut melepasnya. Karena ini film komedi maka segala proses di sini dibuat santauy maksimal.

Sesampainya di Florida, ia pun menyapa Mary, dan langsung klik lagi. Warren masih ingat, dan dalam waktu singkat mereka akrab. Mary adalah dokter bedah, wah makin naik derajatnya. Satu apartemen dengan wanita tua yang aneh jua dengan anjingnya yang juga aneh. Magna (Lin Shaye) dan kerutan waktu. Ketika kerumitan kisah jelang akhir, ke mana hati Mary berlabuh, kita akhirnya mengetahui betapa para pria ini mendamba cintanya, termasuk Tucker sang pizza boy. Bahkan di klimaks kisah, kekasih Magna pun melakukan tembakan yang tak kalah aneh, kepada pengisi soundtrack yang bermula dari cintanya pada Mary. Absurd cara isi musik, para pemainnya ditampilkan seolah musisi jalanan yang bersenandung untuk pemirsa. Si pemain gitar (Jonathan Richman) yang apes.

Ini baru film komedi romantis yang sesungguhnya. Komedinya lebih dominan, sangat dominan malah ketimbang sisi percintaan. Menumbar tawa garing, hal-hal penting di sini dipandang remeh. Bagaimana bisa laki-laki di sekeliling jatuh hati semua terhadap Mary? Tentunya ia begitu istimewa. Sangat istimewa. Saya mengenal Cameron Diaz justru dari poster besar yang dipasang di kos temanku. Seorang maniak film yang memajang gambar artis dengan pose menantang. Saya yang masih awam menanyakannya, ia jawab dengan enteng Diaz. Apa kabar temanku di Cikarang, tempat tumbuh masa labil. Ruang lain 31 yang kurindu.

Salah satu yang paling dikenang di film ini jelas adalah jel rambut. Gambar Diaz dengan pose rambut berdiri dan tersenyum, baju cerah di resto sudah sangat banyak di media social bahkan setelah dua puluh tahun berlalu. Sepintas kukira itu gaya rambut era 1990an yang sedang trend. Saya benar-benar belum nggeh sebelum nonton film ini. Makanya sungguh ikonik, keren, absurd bahwa seorang dokter ga mengenali bau benih, awalnya saya turut heran ketika Ted melakukan itu dengan gambar cabul di depannya, lalu saat ia mencari ‘tembakan’ terjatuh di mana, saya masih ga mudeng mau ke arah mana. Barulah saat pintu diketuk dan Mary tersenyum, ya ampun. Di kuping, diminta, dibuat gaya. Jorok dalam humor. Adegan ini jelas akan diingat, dibicarakan, digibah penuh tawa sampai seabad depan. Jambul rambut yang mengilhami.

Untuk menjadi film pelepas stress There Something jelas berhasil. Untuk jadi film romantis, nanti dulu. Adegan kunci ketika Mary kasih kunci kurasa terlalu menggampangkan. Kejutan fan 49ers yang mencipta perubahan keputusan juga ga kuat. Setelah panjang lebar dalam permainan kata dan naik turun hubungan, film berakhir dengan gitu doang. Makanya ini lebih ke film lelucon. Film untuk hahahihi, pengiring musiknya ditampilkan sambil lalu di jalanan, syukurin kena tembak. Proses jatuh hatinya dibuat lebai, akting sakit Tucker yang paling annoying. Openingnya kek kartun, dengan warna warni cerah dan menyeru kehangatan. Bagaimana bisa seorang gadis terjerat sama lelaki yang jalannya kek robot, sekalipun arsitek ternama. Jangan lupakan pula musik-musiknya, renyah dan sudah langsung nempel di telinga. Yang paling asal ya endingnya, dengan mudahnya Mary mencampakkan, lalu jatuh ke pelukan lain, lalu balik lagi, lalu kunci kebahagiaan, lalu kembali lagi.

That’s good point. Tapi ah… sudahlah, kenyataan hidup tak sebercanda itu.

There’s Something About Mary | Year 1998 | Directed by Bobby Farrelly, Peter Farrelly | Screenplay Ed Decter, John J. Strauss, Peter Farrelly, Bobby Farrelly | Cast Cameron Diaz, Matt Dillon, Ben Stiller, Lee Evan, Christ Elliott, Lin Shaye, W. Earl Brown, Brett Favre | Skor: 3.5/5

Karawang, 281119 – 041219 – Fire House – I Live My Love For You

Rekomendari Romantis ketujuh dari tujuh belas Bank Movie dari Bung Firman A. Thx.

Notting Hill: Ketika Realita Lebih Indah dari Khayalan

Anna: Her most famous part. Men went to bed with the dream, they didn’t like it when they would wake up with the reality. Do you feel that way?

Impian liar semua laki-laki bisa dilihat dalam frame film Notting Hill. Bahkan mulanya untuk dibayangkan saja, rasanya ga berani. Seorang penjual buku traveling, William Thacker (Hugh Grant) yang tinggal di distrik Notting Hill, London Barat. Orang biasa kebanyakan yang menjalani rutinitas pekerjaan. Toko buku di era peralihan digital, ga ramai tapi masih menguntungkan. Suatu hari ia kedatangan calon pembeli, seorang artis besar Hollywood, Anna Scott (Julia Roberts). Saking terkenalnya, kedatangan ke London menginap di hotel Ritz dipenuhi wartawan. Maka ketika ia jalan-jalan mengenakan kacamata, wajar.

William emang istimewa, seorang yang ga suka gibah, ia tak tahu yang berkunjung adalah orang tenar. Setelah transaksi dan basa-basi, bersama pegawainya ia ngopi, lalu cari jus dan disinilah pemicu segalanya terjadi. Balik dari warung ia bertabrakan dengan Anna sehingga baju depannya basah, iapun menawarkan bantuan untuk ke rumahnya untuk ganti baju. Dan sesaat sebelum pamit, dengan canggung di depan pintu terjadi ciuman mulut, kilat tapi terasa istimewa. Wew, orang asing terkenal, tatap-tatapan, jeda yang hening dan kiss kiss. Imaji paling liar pun ga nyampai. Ini artis besar, sangat besar!

Hubungan berikutnya seharusnya lebih mudah. Kerikil ada, sandungan ada, bentakan, marahan, ngambek ada. Namun jelas, ini adalah film komedi romantis yang sangat mudah ditebak. Happy ending pastinya terjadi. Kalau saya menyebut Our Time adalah film yang menampilkan kebahagiaan yang hakiki, maka ini jauh lebih manis, hakiki di atas hakiki, tumpahan gula bukan hanya setoples, tapi melimpah ruah satu truk gula dihambur-hampurkan sepanjang Portobello road.

Makan malam merayakan ulang tahun adik, tamunya aktor Hollywood. Gilax, artis lokal saja dah heboh kok. Ketemu sama keluarga Will, salah satunya pialang saham. Lucu juga dia pening lihatin grafik, untungnya per tahun ga seberapa. Beraninya nanya penghasilan artis? Dijawab 15 juta Dollar, gaji Julia sesungguhnya di film ini. Sang pialang saham adalah kita, tertohok. Wkwkwk… Jalan kaki di malam hari bertabur bintang di jalanan yang tenang sambil ngobrol berdua, sungguh menyenangkan. Sungguh wow. Mungkin tanganku harus dimasukkan ke saku celana saking gemetarnya. Disandingkan Celine dan Jesse pasti kita berharap bisa main kuis ‘siapa lebih romantis’. Lompat pagar masuk taman tanah pribadi, duduk di kursi bercengkeraman mesra dan diiringi lagu Ronan Keating. Luar biasa, nikmat mana yang kau dustakan? Sampai di sini, saya baru sadar ternyata ost-nya akhir era 90an memang sedang di puncak. When You Say Nothing At All bahkan identik dengan film ini, kok saya bisa lupa ya? Padahal dulu MTV Most Wanted saban sore hari muterin debut solo karier Ronan.

Sepulang jalan-jalan, di hotel diajak ke kamar. Weleh. Kerikil pertama dilempar, Anna mendapat kejutan kunjung pacarnya Jeff King (Alex Baldwin) merusak rencana indehoy mereka. Anna ternyata punya pacar, fakta ini tak diketahui Will karena ia memang tak ikuti gosip. Kelar? Ah ini sih bumbu drama hubungan saja. Mereka toh jalan lagi. Pas makan malam, ada cowok-cowok gibah tentang Anna Scott sama Meg Ryan, hotan siapa coba? Anna sih kalem, tapi William marah ketika mereka menyebut artis Amerika gampangan, Anna cewek gampangan. Diakhiri dengan tampilan Anna menohok. Keren? Yeah, ini film mereka, santuy aja.

Imaji paling tinggi ditampilkan di sini, ketika Anna yang kzl dikejar paparazzi memutuskan nginep di tempat tinggal Will. Yah, tahu sendirilah akhirnya bagaimana, sejatinya usulan Will tidur di sofa hanya lamis lambe tipis. Spike freak (Rhys Ifans) teman sekosnya yang ngoceh aneh ‘kalau kamu ga mau, gmana kalau saya saja’ hanyalah guyon garing kek keripik kering. Maka terjadilah hal-hal yang diinginkan, di dini hari dengan kamera menyorot dari belakang Anna, atasan diturunkan. Pada mimisan dah menatap nafsu punggung terbuka Julia Roberts.

Tanda-tanda hubungan mereka berakhir coba diapungkan. William ngadain voting sama keluarganya, lanjut ga nih? Anna pamit, ia akan segera balik Amerika. Bahkan keluar kata-kata kasar-pun penonton waras dengan mudah bisa menebak akhirnya. Ketika di lokasi shooting, tak sengaja mendengar kalimat ‘teman biasa’ sama warga London. Heleh, riak kek buih septitenk. Dengan penuh gaya balap mobil di kepadatan lalin London, dibuat dramatis ketika di hotel Ritz, Anna dah check out, yang ternyata sedang adain konferensi pers di hotel lain. Boom, semua bahagia selamalamalamalamalamalamanya.

Di akhiri dengan sangat manis di kursi taman, Will baca buku, Anna tiduran di pangkuan dengan mengelus perut buncit. Ini adalah ejawantag dongeng Disney yang sesungguhnya. Realita > Khayalan.

Notting Hill mematik imaji saya. Saya penggemar buku, Will punya toko buku. Walau beda genre, karena calon pembeli tanya novel Charles Dickens dipelototin. Tanya Winnie The Pooh dikesalin. Berbanding terbalik sama koleksiku, buku panduan wisata ke Lubang Buaya ga akan kalian temukan, buku traveling ala Trinity Optima Production jelas akan kujual kiloan buat bungkus tempe mendoan. Pun, buku-buku Jejak Petualang ala Upin Ipin. Rak-ku mayoritas adalah novel! Poinnya adalah kesamaan di buku saja, catet.

Imaji kedua adalah jreng jreng jreng…, kalian pastinya tahu saya adalah seorang Sherina Lover nomor satu di dunia akhirat. Ga ada yang ngalahin, bahkan mungkin bapaknya shock cintanya tersaingi. Bayangkan, kamu sedang santuy sama buku (saya ga punya toko buku, jadi anggap saja saya pengunjung juga), tiba-tiba ada Sherina masuk menyapamu, menyukai buku kamu baca, ngobrol saru lalu ketika di jalan baju Sherina kena tumpahan kopi (saya jarang minum jus), lalu saya tawarkan Sherina untuk ganti baju ke rumah, lalu selama semenit lirik-lirikan terjadilah ‘hal-hal yang diinginkan’. Duuh, Listerine-ku dah habis tanggal tua.

Lalu sepanjang jalan Galuh Mas, Karawang jalan kaki malam hari bertabur bintang, ngobrolin banyak hal, ada pegamen nyanyiin lagu romantis. ‘Sher saya punya lagumu komplit lho’, ‘serius Mas Budy?’, ‘iya, dalam bentuk mp3.’ Hening, lalu ia marah karena harusnya dah bentuk sportipi atau jukz. Suatu hari tiba-tiba ia datang lagi, mau pinjam bukunya Haruki Murakami yang 1Q84 (anggap saja ini alibi) lalu bilang lagi kzl sama Ayah Triawan Munaf, boleh nginep ga? Duuerrrr… lalu pas mau buka kaus kaki, May buka pintu. Kejutan! Merusak fantasi. Iya May, saya tiap libur masih setia cuci piring kok. Lalu dan lalu dan lalu… begitulah. Notting Hill hanya akan tetap indah di layar. Our Times saya sebut bahagia hakiki, Before Sunrise saya sebut kesempatan ketemu Celine di kendaraan umum hanya satu per sejuta kesempatannya. Maka Notting Hill adalah imajinasi fantasi yang keterlaluan tingginya. Kejadian langka yang bahkan komet Halley sudah timbul tenggelam seribu kali, baru sekali kejadian. Sherina dijampi pakai pelet ajian goyang Karawang-pun ga akan luluh untuk menikahi kutu buku misquen. Iya, kalian yang beli buku daring pakai Shopee gara-gara gratis ongkir.

Sesaat setelah nonton film ini, saya langsung #unboxing bukunya Henry James: Daisy Manis karena di film ini Anna ada proyek film adaptasi novella beliau: ‘The Siege of London’. Bukunya tipis, hanya perlu sejam baca selesai. Makhluk Anna ki langka.

Ketika ia bilang ‘Rita Hayworth used to say, “They go to bed with Gilda, they wake up with me.”’ Saya membayangkan ia berkata, ‘May used to say, “They go to bed with Sherina, they wake up with me.”’ Itulah kenapa hiu putih harus dilindungi. Lalu mengalunlah lagu klasik fenomenal Elvis Castello: SHE!!!

Notting Hill | Year 1999 | Directed by Roger Michell | Screenplay Richard Curtis | Cast Julia Roberts, Hugh Grant, Richard McCabe, Rhys Ifans, James Dreyfus, Alec Baldwin | Skor: 4/5

Karawang, 291119 – Deep Purple – Soldier of Fortune

Rekomendari film romantis keenam Bank Movie ini dipersebahkan oleh Bang Oja. Thx.

Love For Sale 2: Seni Memanipulasi Keadaan

Kan ceritanya lagi training…” | Baca ulasan Love for Sale

===catatan ini mungkin mengandung spoiler ===

Setelah tertunda beberapa lama, setelah menanti film ini tayang malam (di atas jam 21:00) di CGV Festive Walk, Karawang, setelah menengok komen-komen terkait kekhawatir lanjutan kekejaman Arini, akhirnya Jumat (15/11/19) kuberhasil duduk (dan berangkat) sendiri di studio satu. Nonton cuma bertiga, awalnya tapi pas film akan mulai nambah dua lagi. Memprihatinkan, film originalnya bagus, tapi kurang laku, kurang gaung, sekarang lanjutannya, melihat minimnya antusiasme, rasanya bernasib sama. Makin dramatis, parkir motor pas 6 ribu, pas dua jam nol menit. Tepuk tangan untuk Kharisma Biru, siKusi-ku.

Kita akan menemukan apa yang kita bayangkan sejak awal. Sayang sekali happy ending. Kisahnya kali ini lebih ke fokus orang tua, walaupun tetap garisnya tentang cinta yang dijual, sejatinya sekuel ini lebih mengedepankan keluarga dengan sentral Ibu Rosmaida (diperankan keren sekali oleh Ratna Riantiarno). Sebenarnya trailer-nya berkata: the most horror love story, sempat khawatir, sempat ketakutan jua karena kamu bisa saja menyakiti pacar kamu, kamu bisa saja marah-marah ke anak-istri, kamu juga masih bisa saling bentak kekasih, tapi kalau ibu, jangan pernah. Kalian berani sama orang tua terkasih, kalian tega sakiti, kalian melawan dunia. Dari cuplikan yang wara-wiri di sosmed, garisnya sudah jelas: Arini sekalipun merayu, sekalipun akting jadi pasangan ideal pasti akan kabur kala masa sewa habis. Memang, benang Love For Sale kan emang itu. Sayangnya sekali lagi, ini cerita berakhir bahagia. Kabur dan meninggalkan kebahagiaan kok bisa?

Indra Tauhid Sikumbang aka Ican (Adipati Dolken) adalah seorang yatim, pria kerah putih, laiknya pekerja di Jakarta kebanyakan. Kerja pagi pulang malam, kakaknya yang sudah mapan jadi PNS mulanya dibanggakan ibunya, tapi Anadoyo Tauhid Sikumbang aka Ndoy (Ariyo Wahab) dianggap salah pilih istri Maya (Putri Ayudya), yang dianggap kurang ideal. Pernikahan adalah batu ujian moralitas. Si bungsu Yunus Tauhid Sikumbang (Bastian Steel) malah lebih parah, MBA (Married by Accident), lalu menjadi pengguna narkoba, lalu cerai dan seteru tentang hak asuh anak. Karena kita tak akan membicarakan Bastian lebih lanjut dalam ulasan ini, saya keluarkan uneg-uneg sekarang saja: menurutku karakter ini annoying. Mungkin bermaksud menambah drama keluarga, ibu memiliki anak bermasalah, tapi seandaianya hanya Ican dan Ndoy akan tetap OK. Apalagi aktingnya yang berkata kasar di depan ibunya kepada ibu dari anaknya, sungguh ga faedah.

Ican yang tertekan untuk mendapatkan istri ideal lalu install aplikasi love inc yang ia lihat di halte bus. Ketika dihubungi, kriteria yang diminta disampaikan, dan taa-daaa.. Arini Kusuma – di sini menjelma Arini Chaniago (Della Dartyan) muncul di rumahnya sebagai teman lama waktu kuliah di Bandung, ia ke Jakarta untuk acara training, membutuhkan tempat singgah (di sini disebut pavilium) yang disewakan keluarga Sikumbang. Dan seterusnya, sampai di sini kita pasti tahu film ini akan mengarah ke mana. Ican dan Arini ada rasa, ibunya jatuh hati sama Arini, Keren akting hebat meyakinkan menjelma menantu impian, sampai akhirnya yah sebuah pengulangan Arini kabur. Sayangnya, kepergiannya ga membuat remuk redam hati-hati yang terluka laiknya mas Richard. Karena misi Arini menebar kebahagiaan sejatinya terwujud.

Yang amat disayangkan jelas, terlalu manis. Dambaan ibu untuk mendapat cucu perempuan terkabul, harapan penonton untuk hubungan ibu dan menantunya Maya membaik, terkabul. Bahkan permohonan maaf, Supiak yang disampaikan kala subuh kabur dari paviliumnya seolah adalah permohonan Andibachtiar kepada penonton karena memberi akhir yang terlampau manis. Suram adalah koentji, apa yang disampaikan Love for Sale dua terlampau menuruti kemauan indah penonton. Kurang suka saya. Kekhawatiran, karena film pertama yang sudah amat bagus, takut dirusak itu sebenarnya bisa saja terkikis, sayangnya terjatuh di akhir.

Salah satu adegan terbaik ditampilkan dengan kamera mengambil gambar melalui bias-bias kaca akuarium. Setelah tahu, ibunya jatuh hati pada Arini, Ican melakukan apa yang jadi imaji liar lelaki. Dia berdeklamasi untuk cinta demi ibunya. Di kedua mata Arini yang dipandang dengan ketakjuban liar, ia dalam satu waktu tak mempertimbangkan individualitas. Itu sejenis ketakutan kehilangan wanita ini, kekhawatiran akan ditinggalkan, bukan karena ia takut kehilangan, tapi takut ibuku akan kehilangan. Dia memohon seolah dia tak pernah memohon pada makhluk apapun sebelumnya. Dalam benak Ican jelas terdengar alarm meraung, ‘dialah yang selama ini orang yang dicari ibunya dalam doa setiap malam’. Ketika Arini mengangguk (walaupun penonton pastinya tahu itu akting), seketika itu ia lolos dari singularitas yang terlindungi, yang telah disusun, ditaksir dengan cermat. Arini mencipta subjek kolektif keceriaan keluarga dalam keintiman bersama. Orang-orang yang terbebas dari penderitaan bukan ketika mereka mengalami kenikmatan sementara ini-itu, tapi justru ketika mereka memahami bahwa semua perasaan mereka hanya sementara dan berhenti mengidam-idamkan perasaan nikmat sementara.

Lalu ada lagi adegan memorable di awal sekali, ketika Ican akan lari pagi. Berdiskuis dengan tetangganya yang kemudian meninggal mendadak. Mungkin itu adalah bayangan kebenaran yang tak berwujud, mungkin buah pemikiran jiwa. Dalam seketika segalanya berkelebat melewati otak dan akan terngiang, ‘pohon apa yang paling berani?’ Jadi promo itu tak bohong, beneran ada horror di sini. Semacam penampakan Pak Giran, seolah ini adalah metafora filsafat akan hidup. Film ini juga relijius, ditampilkan dengan konsisten sama Bu Ros. Pengajian rutin, sholat malam dilakukan, penuh nasehat bijak.

Permukaan bumi luasnya sekitar 500 juta kilometer persegi, dengan 155 juta diantaranya daratan, secuil permukaan bumi itu masih banyak yang belum didiami karena banyak tanah terlampau dingin, terlampau panas, tidak cocok untuk budidaya, jadi hanya sekitar 2 persen yang bisa dihuni dan didiami, dari secuil tanah itulah pentas teater sejarah manusia dibuat. Drama cinta dan nafsu Arini hanyalah sekilas lewat, tapi berhasil meluruhkan banyak umat. Sudah hukum alam laki-laki menganggap ringan ‘kejahatan’ perempuan, terutama kalau perempuan itu cantik, dan kejahatan itu dilakukan atas nama cinta.

Tiap drama keji itu, diakhri dengan kesunyian, mengepung korban, seolah ada gereget marah dan kesal. Apapun reaksi penonton, apapun hasil penjualan tiket dan kerumitan yang tersaji setelahnya, kita meyakini Arini akan hadir lagi ke layar lebar, hanya pertanyaan besarnya, setelah Gading Marten dan Adipati Dolken, siapa lelaki berikutnya yang menghubungi love inc? Siapa yang hatinya akan ambyar karena Arini? Akan jadi ledakan dahsyat kalau Andibachtiar dan tim kreatifnya bisa meluluhkan Nicholas Saputra! Wanna bet?

Dalam menikmati film Indonesia kita sudah lama mencari misteri, dan kini sudah ada di depan kita. Misteri itu bernama Arini. Tidak ada kata ‘Mistearini’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk mengungkap ‘misteri arini’, tapi sepertinya sudah saatnya kita buat bukan?

Love For Sale 2 | Year 2019 | Sutradara Andibachtiar Yusuf | Naskah Andibachtiar Yusuf, Mohammad Irfan Ramly | Pemeran Della Dartyan, Adipati Dolken, Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Bastian Steel, Putri Ayudya, Gading Marten | Skor: 3.5/5

Karawang, 221119 – Angela – Don’t Know Why

Jejak cinta (Persembahan)

https://lazionebudy.files.wordpress.com/2014/10/romeo-juliet1.jpg?w=199
Cinta telah membakar dua jiwa pada pandangan pertama | Keduanya berusaha mempersembahkan sesuatu yang dikehendaki cinta | Mereka menikah dalam pengakuan dosa dengan nasehat seorang pastor | Tengah malam Romeo memanjat dinding kamar Juliet | Tiga bulan Romeo menikmati keindahan dan kecantikan sang Kekasih
Ketika kegusaran Tybalt berubah menjadi kemarahan | Remeo membunuh Tybalt, lalu diasingkan
Romeo mengajak Juliet menikah | Juliet meminum ramuan pembunuh rasa, hingga dikubur hidup-hidup | Mendengar kabar kematian Juliet | Romeo meminum racun | Ketika Juliet terbangun, celakalah! | Pisau Romeo tergenggam di tangan | Juliet meregang nyawa karena tikaman
By: William Shakepeare
Karawang, 281014

(review) Frenemy: Aku Mendengarkan Nasehat Cinta Dari Seorang Jomblo Sejati

Gambar

Dengan embel-embel ‘Juara II lomba novel 30 hari 30 buku Bentang Belia’, novel remaja karya Ayuwidya ini menyeruak di antara novel-novel terjemahan luar negeri yang saya beli pertengahan tahun lalu. Saya sendiri heran kenapa bisa beli novel remaja yang sudah sangat jarang saya baca, si May juga heran tak biasanya saya baca cerita cinta. Di lemari buku saya mayoritas adalah buku-buku cerita terjemahan dengan cerita yang bukan cinta remaja. Jauh dari tema cinta-cintaan anak sekolah. Novel ini bahkan kelar dibaca istriku dulu, baru saya membacanya. Dia membacanya dalam semalam, saya besoknya juga dalam rentang yang tak lama.

Frenemy is someone, who is your friend but also an enemy (urban dictionary). Frenemy bercerita tentang seorang remaja bernama Tamara Galuh Wangi yang bersekolah di Arc. Dari pertama menginjakkan kakinya di sekolah tersebut dia sudah berniat untuk menjadi popular, berteman dengan orang-orang popular dan bertekad akan mengikuti ektra-kulikuler yang menjadi favorite di sana. Maka dari itu dia ingin berteman dengan Tiara yang jadi incaran semua cewek di sekolah, sebuah mimpi. Lalu Charlene yang selalu memakai barang bermerek, Kalin yang suka menyebut selebritis dan designer terkenal atau Bianca yang sering dikerubuti cowok-cowok. Namun sayang, impian itu kandas. Tiara hanya anak piatu dengan uang jajan pas-pasan yang pernah ke salon dengan rambut kriting gagal. Korban salon murahan yang enggak bisa membedakan ikal cewek-cewek ala Korea yang dimintanya dengan surai singa. Misi makin sulit untuk menjadi popular setelah dia terjebak menjadi teman seorang kutu buku kuper, Kayla.

Tamara ingin menjadi bagian dari girlband yang diadakan di Arc, salah satu ektra-kulikuler favorite, sayangnya gagal. Dia ingin menjadi cheerleader yang bisa menyoraki pemain basket yang kece, gagal juga. Salah satu sesi eliminasinya yang memakai dance bahkan berujung memalukan. Namun dari seleksi tersebut dia yang kena timpuk bola basket sampai pingsan malah dapat kenalan kakak kelas keren bernama kak Alven. Dari situlah mereka akhirnya dekat.

Tamara akhirnya memilih eksul tak popular, jurnalistik. Eksul ini mengelola majalah online sekolah Highlight yang isinya berkisar tentang dunia remaja yang dibagi dalam beberapa rubrik, Tamara di divisi artikel remaja padahal dia ingin di divisi gosip yang saat ini dipegang Viselle. Divisi gosip lebih mentereng karena sering diundang oleh orang-orang popular, jadi bisa ikutan tenar. Bahkan Viselle sesekali dapat voucher sogokan dari orang-orang yang ingin namanya dimuat dalam berita positif.

“Kalau lu beli sesuatu belilah yang mahal. Termahal yang bisa lu beli! Karena harga ga pernah bohong. Sesuatu yang mahal pasti terbuat dari bahan yang berkualitas, paling bagus dan pengerjaannya bagus, jadi dipakainya juga bagus”. Salah satu kutipan yang sebenarnya terdengar sombong, yang sayangnya benar. Waktu membacanya saya sempat geram, ini anak-anak sekolah enak banget ngomongnya. Belum pernah cari duit, emang duit tinggal metik dari pohon? Atau gaya remaja yang suka menghambur-hamburkan uang dengan makan enak, beli barang mahal sampai gaya pesta yang tak cocok buat di Indonesia.

Sampai akhirnya keajaiban bak cerita Cinderela yang menemukan pangerannya terjadi, Tamara jadian dengan pemain basket kaya raya yang mengubah segalanya. Bisa kalian bayangkan dari seorang kere berambut keriting gagal menjadi seorang yang diperebutkan cowok-cowok beken. Sepertinya hanya ada dalam cerita. Bersanding dengan wanita cantik akan membuatmu terlihat jelek, jadi lebih baik menyingkir saja. Mereka yang tak mau menyingkir biasanya akan berhadapan dengan lidah api Charlene. Dan, ternyata kak Alven yang naksir Tamara adalah saudara Charlene. Tamara yang terlanjur jatuh hati dan terbiasa diberi hadiah barang-barang mahal dari kak Alven akhirnya malah terjebak antara lanjut ingin menjadi popular ataukah menyerah. Dengan dekat dengan kak Alven, dia akan sering muncul di berita gosip sehingga akan mendongkrak polling popular.

Keadaan makin rumit saat muncul karakter baru bernama kak Arial. Seorang cowok yang cool, macam Rangga di film ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ yang ternyata juga naksir Tamara. Bisa kalian bayangkan, cerita mimpi bangetkan? Sementara persahabatannya dengan si kutu buku makin meruncing karena sejak dekat dengan gang popular, Tamara berubah, yang menambah rumit situasi.

Dapatkah Tamara menjadi siswa paling popular? Bagi pembaca yang suka dunia remaja tentang cinta-cintaan kalian layak melahapnya. Kalau ga suka dunia cinta monyet sebaiknya jangan memaksa, kalau tetap juga melahapnya ya seperti saya ini. Ceritanya sederhana sekali. Ketebak dari awal, dan akan makin pusing melihat nama-nama merk produk fashion terkenal yang tak kukenal. Dunia literasi Indonesia memang makin beragam, dan novel ini tetap layak dihargai (dari kaca mata remaja) sebagai sebuah karya. Frenemy, friend and enemy. Kisah remaja galau, kita semua sudah melewati masa tersebut. Ehhhmm…, 10, 15 atau 20 tahun yang lalu. Enough!

Karawang, 010414

Demi Cinta

Catatan: Cerpen ini saya ambil dari Antologi yang terbit tahun 2012 lalu. Yang Anda baca ini adalah versi draft-nya. Saya cari yang sudah final ga ketemu.

Demi Cinta

Oleh: Lazione Budy

“Apa? Ini tak mungkin” tangisku meleleh, tubuhku bergetar. Kalut.

“Dunia ini memang kejam nak…”

***

“Sayang aku tak akan meninggalkanmu, aku cinta banget sama kamu.”

“Janji ya, kamu setia.”

“Iya sayang, apapun yang terjadi aku ingin menjadi istrimu.”

“Iya sayang, segera akan kulamar kamu.”

“I love you.”

“I love you too.”

Kukecup keningnya, kugenggam tanganku. Segera kami melangkah pulang dari taman kota. Kegalauan hati Fanny selalu membuatku resah. Kecemburuannya ditumpahkan sore itu gara-gara dia memergokiku suka ber-sms dengan wanita lain. HP yang biasanya selalu kugenggam tak tahu kenapa tiba-tiba ada di tangannya, dan dia membaca beberapa sms yang lupa kuhapus. Segala cara kuusahakan agar dia percaya bahwa mereka hanya teman, tak lebih. Dan janji setia selalu terucap sebagai penutup yang melegakan hatinya. Sumpah aku adalah pria yang setia.

***

Pagi ini ada mata kuliah praktek computer di hari pertama. Sebagai mahasiswa baru tak boleh terlambat, namun sial aku bangun kesiangan sehingga ketika sampai kampus kelas sudah dimulai.

“Maaf pak aku terlambat.”

“Silakan masuk, cari tempat duduk yang kosong di belakang.”

“Terima kasih pak.”

Kuedarkan pandangan untuk mencari tempat duduk, semua penuh. Lalu kumelangkah ke belakang ruang kelas, kulihat seorang gadis cantik duduk sendirian. Kudekati dia.

“Boleh aku duduk di sini? Satu computer buat dua orang” sapaku sambil tersenyum.

“Silahkan.”

“Oh, terima kasih” lalu kutarik sebuah kursi untuk lebih dekat dengannya.

“Ngomong-ngomong siapa namamu?” lanjutku.

“Fanny” jawabnya. Nama yang indah, aku membatin.

***

“Ayah kamu itu kelewatan!” teriakku padanya. “Kita hanya pacaran biasa dia berani-beraninya menuduhku yang tidak-tidak.”

“Maaf sayang, ayahku memang terlalu protektif.”

“Bukan hanya protektif, tapi dia juga selalu berfikiran negative.”

“Maaf….”

“Seharusnya aku tahu bahwa aku tak diterima di keluargamu. Sejak hari pertama aku berkunjung ke rumahmu, ayahmu selalu bertanya macam-macam. Melarang ini-itu seolah-olah aku ini anak kecil.”

“Maaf.…”

“Kamu orang mana? Sudah punya penghasilan belum? Fanny tak boleh pacaran, dia harus langsung menikah nantinya. Konsentrasi kuliah, selesaikan dulu. Setiap ada lelaki berkunjung ke sini selalu kularang memacari Fanny, termasuk kamu.. “ kutirukan berbagai macam pertanyaan ayah Fanny sebagai bentuk protes kepada pacarku untuk kesekian kalinya.

“Maaf….”

“Pertanyaan macam apa itu, dasar orang tua yang kolot” kemarahanku memuncak.

“Maaf….” dia mengucapkan kata maaf lagi sambil menunduk di hadapanku, air matanya mengalir.

“Sayang, kita sudah melewatkan banyak waktu. Kita sudah melanggar perkataan ayahmu untuk tidak pacaran, kita menjalani cinta backstreet dan aku mulai muak dengan semua ini”

“Maaf…, aku tak tahu harus bagaimana” tangisnya makin terdengar.

“Tahu tidak kenapa aku tetap mempertahankanmu, demi apa coba? Demi kamu, demi kita, demi cinta!”

“Maaf…., aku tahu kamu sangat mencintaiku tapi jika keadaan memaksa kamu bisa kok memutuskanku. Kamu terlalu baik untukku.”

“Tidak, aku takkan memutuskanmu. Akan kuperjuangkan sampai detak jantungku terhenti”

“Janji?”

“Janji! Demi cinta.”

“Ya demi cinta, sayang aku takut kehilanganmu” ucapnya.

****

Sebuah panggilan telepon mengetarkan HP ku, aku yang baru bangun tidur segera saja mengangkatnya. Sebuah nomor baru.

“Hello..”

“Nak kamu jangan mendekati Fanny, apapun alasannya. Mengerti?” tanpa ada sapaan, suara di seberang langsung nerocos.

“Maaf ini siapa ya? Maksudnya apa?”

“Paham apa yang aku bilang?” bentaknya. Oh, ternyata ayah Fanny.

“Maaf pak, tidak bisa. Aku mencintai anak bapak, dan dia juga mencintaiku. Jadi tak ada masalah seharusnya.”

“Oh ya, kalau begitu. Hari ini juga kalian harus menikah”

“Tunggu dulu pak, aku masih kuliah kenapa harus tergesa-gesa?”

“Jadi kalau belum siap jangan memacari anak orang”

“Pak aku mencintai Fanny, dan aku berjanji akan menjaganya” sahutku memelas.

“Benarkah?” katanya, seolah-olah dia baru menyadarinya.

“Apakah Fanny benar-benar mencintaimu juga?” lanjutnya.

“Tentu saja, apakah dia tak pernah bercerita kepada Anda selama ini?”

“Tidak!” jawabnya ketus.

“Aneh, Fanny bilang dia sudah bercerita pada Anda. Dia seorang piatu yang membutuhkan kasih sayang. Anda selalu menolak tiap kali dia pacaran, semua mantannya selalu menyerah mundur tiap kali menghadpi Anda. Tapi tidak buatku, aku akan maju terus untuk memperjuangkan Fanny. Demi cinta! Jadi sekarang bapak sudah tahu kan.” Terangku setenang mungkin.

“Tidak…”

“Pak dia sudah dewasa, jangan terlalu protektif terhadap anak. Kami bisa jaga diri kok, jadi percayakan padaku. Anda takkan kecewa, Fanny tak akan kukecewakan.”

“Tidak…” hanya itu yang kudengar di seberang.

“Pak bolehkan aku tahu bagaimana istri Anda meninggal?”

“Tidak…” kupicingkan telinga ini di speaker, suara ayah Fanny memelan. Sepertinya dia mulai bisa menerimaku.

“Bapak tidak apa-apa?”

“Tidak…, nak bisakah kita bertemu? Bisakan kamu ke sini sekarang ke rumahku, kita butuh bicara.”

“Baiklah, aku ke rumahmu sekarang”

Tanpa ada kata-kata, telpon sudah ditutup. Sialan, dasar orang tua tak punya sopan santun. Tapi tak mengapa, mungkin setelah ini dia merestui hubunganku dengan Fanny jadi sebaiknya aku bergegas kerumahnya sekarang dengan bersemangat.

***

Tak lebih dari setengah jam aku sudah di sana. Seperti biasa, rumah ini sepi. Hanya Fanny dan ayahnya yang tinggal di sana. Katanya ibu Fanny sudah meninggal ketika Fanny masih kecil, tak ada pembatu di rumah semewah ini rasanya aneh juga. Setelah dipersilahkan masuk di ruang tamu, kulihat Fanny duduk tertunduk di kursi, dia menangis. Sementara ayahnya di sampingnya membuka map berwarna hijau. Sepertinya surat nikah. Ah, ada-ada saja. Aku belum siap kalau menikah hari ini.

“Nak, kita butuh bicara. Fanny sebagai saksi.”

“Oh, mau membicarakan apa ya?” jawabku bingung.

“Sebelumnya biarkan aku bercerita tentang masa lalu Fanny dengan sejujur-jujurnya, mohon jangan disela selama aku bercerita. Setelah ceritaku selesai terserah kalian mau bagaimana, apakah mau melanjutkan ke jenjang serius atau tidak. Paham?”

Aku tersenyum, “Paham”

“Baiklah, nama asli Fanny adalah Paniyem, dia terlahir dari keluarga yang miskin. Profesi kedua orang tuanya adalah pengemis. Rumahnya terbuat dari gubuk reyot di pinggiran desa. Paniyem kecil tidak sekolah, kesehariannya selalu membatu orang tuanya mengemis. Sampai suatu hari ada seorang duda yang murah hati datang ke gubuknya untuk mengambilnya sebagai anak angkat. Walau terlambat akhirnya Paniyem bersekolah dan ayah angkatnya mengganti nama Fanny..”

“Tunggu dulu, maksudnya apa ini?” aku gemetar, lalu kutatap Fanny yang tertunduk terus menangis.

“Benarkan itu Fanny?” tanyaku padanya. Dia diam, sesengguk air matanya adalah jawab yang tak kuinginkan.

“Nak, sudah kubilang ketika aku bercerita mohon jangan disela!”

“Oh tidak..” kupegangi kepalaku yang berdenyut. Aku turut menunduk tak berdaya. Katanya Fanny adalah anak orang kaya.

“Baik, aku lanjutkan. Bertahun-tahun setelah masa sekolah, sang duda membawanya ke kota untuk lanjut study kuliah. Aku selalu menjaganya, selalu berharap dia akan menjadi manusia yang berguna suatu saat…” ada jeda beberapa detik.

“Duda itu adalah aku nak…” lanjutnya.

Sambil terus menunduk aku berguman, “Bagiku tak masalah Fanny dari keluarga mana, aku tetap mencintainya. Selama dia juga mencintaiku aku akan tetap menikahinya…” tak terasa air mataku mulai keluar.

“Tunggu dulu, ceritaku belum selesai. Fanny apakah kamu mencintainya?” kulirik Fanny sesaat, dia tak menjawab dan terus menangis. Ayahnya hanya menggelengkan kepala. Aku turut tak percaya, dia tak menjawab. Lalu dia menatapku dan lanjut bercerita.

“Nak, pada suatu hari ayah kandung Fanny sekarat. Sebelum meninggal dia berwasiat kepadaku untuk menjaganya. Dan…”

“Cukup! Aku tak peduli, aku tetap akan menikahinya. Titik!” sela-ku emosi.

“…dan menikahinya..” ujarnya lirih.

“Apaaaa? Ini tak mungkin!” tanganku bergetar hebat. Tubuhku panas dingin, rasanya seperti ada berkilo-kilo benda menghantam kepalaku.

“Ya, dia istriku, Fanny adalah istriku nak…” lalu dia menyodorkan surat nikah yang ada di map hijau tersebut sebagai bukti.

“Oh tidak, ya Allah apa salahku?” aku tak kuat, kepalaku pusing. Dunia gelap.

Story inspired by movie: An Education starring Carey Mulligan.