Pseudonim #21

Pseudonim #21

“Lho-lho? Kenapa jadi nyalahin Maya?”

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen saja yang jumlah kata lebih sedikit, dan tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua orang itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak waktor. Salah satunya selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasaranya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

Buku dibuka dengan kutipan: “Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; Kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam sendiri.” – Multatuli, Max Havelaar.

Itulah yang pertama terbesit sesaat setelah menyelesaikan baca Pseudonim. Plotnya sudah umum, tipikal sekali. Cinta diapungkan, kelesuan menghadapi perubahan, adaptasi yang berhasil, lantas saat kenyamanan sudah diraih, kita dihadapkan masalah pelik. Umum bukan? Bahkan cara menyampaikan kata akhir, sebagai bukti bahwa ‘apa yang ditulis itu adalah ini’, sudah banyak kutemui. Sehingga tak mengejutkan sama sekali, bagi yang sudah banyak melahap bacaan pola ‘apa yang ditulis itu adalah ini’ sudah terlihat biasa. Namun untuk Pseudonim, beberapa kerikil masalah itu relevan dan untungnya bagus.

Kisahnya tentang Wipra Supraba, penulis novel yang kere. Mengeluhkan banyak hal. Pembukanya bilang ia ditangkap polisi, ia mengeluhkan keadaan ekonomi yang amburadul, dan profesi menulis nyaris diiyakan dengan ‘kere’. Lalu nama asing di akhir pembuka diapungkan, “Dan di mana Radesya?” Kisah lalu ditarik mundur, di awal sekali bagaimana Pra memulai karier dan bagaimana lingkungan sekitar membentuknya.

Pertama kita diperkenalkan Suhar, sahabat kuliah jurnalistik Unpad yang sudah menikah dan tinggal Jakarta. Ia selalu mendorong Pra untuk menulis novel, walau sudah punya beberapa karya ia, tak kunjung menemukan karya monumental yang bisa mengangkat namanya. “A good writer always work at the impossible.”John Steinbeck. Ia nganggur, sesekali dapat order menyupir sobatnya di Bandung, Saefullah yang hidup lurus dan vegetarian. Manusia pekerja keras yang berjuang dari bawah. Punya rental juga usaha merangkak bukan warisan atau turunan. Lulusan SMU berjiwa membumi.

Lalu kita diperkenalkan dengan Ardi, orang penting di dunia entertainment nasional. Menjadi penghubung banyak hal, awalnya Pra ditantang untuk menulis skenario kartun sebab sudah pengalaman nulis novel. Dengan kerja keras dan sudah banyak literature, tantangan itu sukses dilewati. Keuangannya membaik hingga bisa punya laptop bagus, tinggal di tempat yang laik, dan terutama bisa jalan-jalan saat proyek animasi lagi senggang.

Nah, ini mungkin yang paling menyebalkan. Ia memiliki lima pacar dalam waktu bersamaan. Kemala di Jakarta, Luska di Bandung, Kirana di Yogya, Alinka di Surabaya, dan Pradnya di Bali. Kelimanya digilir, pas kerja di Jakarta dengan entengnya support pacar tampil. Pas mudik Bandung, santainya jalan dengan yang lokal, pas punya waktu luang cus ke  Yogya, lanjut Surabaya, dan berakhir pekan ke Bali. Kan kamvret, sampai di bagian ini saya sempat muak. Ga gitu bos hidup, enak aja. Apalagi mereka berlima loyal, seolah Pra adalah sultan, raja di raja dengan kekuasaan atau uang melimpah. Oh dia kere, dan penulis tak terkenal. Bisa-bisanya… sabar, tenang saja dulu. Akan ada masanya semua runtuh. Kesendirian dan kesepian adalah dua hal yang nyata berbeda. Sendiri adalah objektif, sementara kesepian itu subjektif.

Dan benar saja, Ardi menyampaikan kabar buruk. Serial animasi dihentikan, proyek cinema juga batal sebab PH nya ambyar karena mengganti uang konser yang gagal, hingga pada titik di mana Pra kembali miskin, semiskin-miskinnya. Menjual yang bisa dijual, serta kembali ke Bandung nebeng rumah orantuuanya. Dan kembali ke biasaan lama, bertahan hidup dengan nyupir kalau ada order. Gila adalah menyerah di tengah jalan, padahal sukses telah menunggunya di ujung jalan.

Sudah bisa ditebak juga, sebuah alur yang menyakitkan tapi setimpal mencipta kelima pacarnya mengetahui perbuatannya selingkuh. Eh empat ding, Pradnya yang akhir disampaikan dengan jujur bahwa selama ini ia tak sebaik yang dikira, berakhir pula hubungan pacar. “Perempuan selalu menunggu kepastian, Pra.” Kenapa Pra bisa setega itu, Saefullah menjadi saksi kisah bagaimana hatinya hancur sama Maya.

Dari Ardi pula kita diarahkan mengenal seorang penulis skenario sinetron Satar. Karena kalang kabut order melimpah, ia menawarkan pada Pra untuk membantunya, menulis skenario bayangan. Namanya tak disebut, ia hanya membuat skenario dengan nama yang menjual Satar. Terdengar memuakkan, tapi uangnya bagus. Maka dicoba, dan berhasil. Kini aku menusia praktis, yang hidup, bekerja, demi uang, untuk menyambung hidup kembali. “… Kamu bisa menggiring cara berpikir kebanyakan orang di Indonesia melalui sinetron.”

Perlahan segalanya kembali membaik, lalu muncul godaan dari penulis skenario lain yang mencium alibinya. Landung menawarkan uang lebih plus bonus untuk FTV, sulit sekali memberontak, menghianati, tapi ini uang lebih wow. Sikat! Keadaan ini lebih menggiurkan saat bertemu gadis yang idealnya kebangetan.

Aku selalu takut ketika harus bertemu apalagi berdekatan dengan seseorang yang berhasil membuatku bergetar. Radesya adalah dokter, bertemu dengannya di kafe apartemen saat ngopi. Membaca buku The Celestine Prophecy karya James Redfield, yang kebetulan dibaca Pra juga. Kalau ini benaran ada, luar biasa indah, menggigit imajinasi semua orang. “Karena kita sama-sama nggak percaya kebetulan.” Radesya tinggal di apartemen nomor 1503 di lantai 15 hanya berjarak satu lantai dengannya.

“… Lalu aku mikir, spesialis apa yang nggak menimbulkan fitnah saat aku nanganin pasien? Tiba-tiba aku kayak dapat jawaban: anak! Maka itulah yang kuambil. Sederhana ‘kan?” Dokter anak yang lanjut kuliah lagi, bercita memiliki klinik di pedesaan, mudik beberapa kali tiap bulan ke Bandung dengan Jazz merah! Aku lelaki yang tak pernah mengizinkan cinta menjadi jangkar pada setiap pelabuhan. Untuk kali ini bisa jadi pengecualian.

Lalu segala-galanya ambyar.

Sejujurnya kisah dalam Pseudonim lebih mendekati plot sinetron dengan penawaran mimpi-mimpi indah, untungnya seperlima akhir menyelamatkan. Riaknya mewarnai fakta, hidup ini pahit gan. Ga begitu menjalaninya, rona-rona kemarahan harus ada, dinamika kesedihan harus membuncah, dan satu lagi, akhir yang ‘agak menggantung’ ditampilkan. Seperti kalimat akhir bab pertama, di mana gerangan gadis aduhai itu?

Banyak kutipan bagus ditampilkan, dan itu sah-sah saja, “Cinta. Tentang kerinduan untuk kembali pada asal-usul yang sejati.”Plato. Lalu “Cinta adalah ketika kuat kau rasakan kehadiran Tuhan dalam pasanganmu.”Sudjiwo Tedjo. Atau “Apa pun yang menjadikan tergetar, itulah yang terbaik.” – Rumi. Tapi yang paling keren mungkin ini, “Kepalaku adalah parbik kata-kata dan jari ini adalah buruhnya.” Lisa Febrianti (Iluminasi, 2009)

Satu lagi yang laik kutip, walau sudah sangat sering kita temui makna kalimat ini, terutama dari Pram. Sobarnya bilang, “Ketimbang nulis skenario pake nama samara terus, nggak menjadikamu siapa-siapa. Sejarah aja nggak sudi mencatat namamu. Apalagi karyamu. Sementara kalo nulis novel, karyamu abadi. Usiamu panjang. Sepanjang masa.”

Pilihan nama-nama karakter sangat modern terutama untuk tokoh penting, tak ada kata Joko, Agus, Budi, Asep. Walau ada Saefullah atau Suhar, tetap saja mereka tokoh pembantu. Hampir semua nama tokoh idalaman sungguh catchy, sangat stylist. Kemala Luska Kirana Alinka Pradnya adalah rentetan nama kekasihnya, dan di akhir bahkan ketemu nama Radesya untuk cewek ideal kebangetan. Sah-sah saja namanya juga fiksi.

Ini adalah karya pertama Daniel Mahenda yang kubaca. Ada sekitar 28 karya lainnya, beberapa di antaranya Selamat Datang di Pengadilan (kumpulan cerpen, 2001), Epitaph (novel, 2009), Perjalanan ke Atap Dunia (travel narrative, 2012), Niskala (novel, 2013), 3360 (novel, 2014), Rumah Tanoa Alamat Surat (kumpulan cerpen, 2016). Seperti biasa, berhubung trial pertama ini sukses, maka rasanya buku-buku lain hanya masalah waktu untuk dilahap. Selamat!

Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

Pseudonim | by Daniel Mahendra | Desain kover Mico Prasetya | Penata isi Widia Novita | Copyright 2016 | ISBN 978-602-375-596-7 | Cetakan pertama, Juli 2016 | Penerbit Grasindo | Skor: 4/5

Karawang, 210721 – New York Jazz Lounge – Bar Jazz Classic

#30HariMenulis #ReviewBuku #21 #Juli2021

Memoirs of a Geisha #19

“Kita tak boleh membuang-buang waktu memikirkan hal semacam itu, taka da tabf lebih suram daripada masa depan, kecuali mungkin masa lalu.”

Luar biasa. Seperti naik roller coaster, walau tak banyak liukan dan tanjakan terjal, ceritanya berliku. Awalnya sudah sangat manis, gadis miksin anak nelayan dengan kecantikan natural. Matanya yang cemerlang sering kali disebut, berulang kali. Lalu keadaan mencipta, ia dan kakaknya dikirim ke kota, dijual untuk dididik menjadi orang. Bisa jadi apa saja, tergantung nasib dan kemauan. Bisa jadi pelayan, pelacur, pekerja pabrik, atau geisha.

Memang suku kata ‘gei’ dalam kata ‘geisha’ berarti ‘seni’ jadi kata ‘geisha’ yang sebenarnya adalah seniman. Geisha, di atas segalanya adalah penghibur dan pementas. Menuang sake atau teh memang dilakukan, tapi jelas tak akan pernah mengambil acar tambahan. Geisha sejati tidak akan pernah mengotori reputasinya dengan membuat dirinya bisa disewa laki-laki dengan tarif per malam. Geisha tidak pernah menikah. Atau paling tidak, mereka menikah tidak menjadi lagi geisha.

Di tengah di suguhi kelokan konfliks internal, bagaimana mencipta geisha yang cakap. Perseteruan dengan geisha magang dan kakaknya, perseteruan dengan para tamu, lalu luluh lantak oleh perang. Seolah semuanya di-reset, setelah ambyar Jepang mencoba membangun negeri.

Bagian akhir awalnya kukira bakalan landai, menjurus ke bosan sebab keinginan sang protagonist banyak sekali terwujud. Hanya satu hal, ia tak mau jadi danna seorang yang cacat sekalipun orang tersebut sudah banyak membantu, sudah sering sekali mengangkatnya dari lembah kenistaan, bahkan menyelamatkan nyawanya. Nah bagian akhir inilah kejutan dicipta, sempat bilang wow, lalu eksekusi ending, makin bilang wow. Happy ending sih, tapi kurasa worth it sebab ini memang memoar yang memastikan sedari mula Sayuri selamat dan terdampar di Amerika, seperti kata pengantar yang memang bocoran utama.

Kisahnya tentang Sakamoto Chiyo, atau sekarang bernama Nitta Sayuri, nama geisha-nya. Ia bercerita kepada sang penulis, memberitahukan kisah masa lalunya. Sayuri kini tinggal di New York, membuka kedai minuman khas Jepang dan bisnis lainnya. Dari sini saja sudah merupakan kunci penting novel ini.

Cerita ditarik dari mula sekali. Chiyo-san adalah anak kedua dari dua bersaudara, ayahnya nelayan miskin dengan rumah miring di pesisir pantai Yoroido. Ibunya sakit-sakitan. Suatu hari saat sedang berlari untuk membeli sesuatu, Chiyo kecil terjatuh dan terluka. Tetangganya Tuan Tanaka Ichiro membantunya, membawanya ke rumah dan jelas sekali ia tampak terkesan. Matanya cemerlang, jelita sekali.

Kejadian itulah yang mengubah masa depan Chiyo. Suatu hari ia dijemput Tuan Tanaka diajak naik kereta api bersama kakaknya Satsu juga. Lalu disambung oleh Tuan Bekku, orang asing pula. Ini adalah perjalanan paling jauh yang pernah ia rasakan, sekaligus menakutkan sebab tak tahu akan ke mana. “Ke mana pun dia membawa kami, aku lebih memilih bersamanya daripada terdampar sendirian di tengah jalan-jalan besar dan bangunan-bangunan yang sama asingnya bagiku dengan dasar samudra.” Katanya setelah menyadari mereka sampai di Kyoto.

Mereka ditempatkan di Okiya, tempat geisha tinggal. “Ini Okiya, tempat tinggal geisha. Kalau bekerja keras, nantinya kau bisa menjadi geisha…” Adalah Hatsumomo, geisha yang utama. Ia dilayani banyak orang. Bibi, nenek, pelayan, dan juga Chiyo. Sementara kakaknya dikirim ke tempat lain. Penguasa utama adalah ibu, ia yang mengatur banyak hal. “Si Hatsumomo itu cantik sekali, tapi lihat sendiri, bodoh sekali dia.”

Hari-hari berat dilaluinya, belajar, bekerja, dan memerhatikan situasi baru ini. “Kalau kau mengamati geisha-geisha paling sukses di Gion, semuanya penari.” Suatu hari ia niat kabur, janjian sama kakaknya di tepi sungai, lalu rencananya pulang. Naas, malam itu ia naik ke atap, merangkak dalam senyap, lalu melewati pagar. Yah, malah jatuh. Ia terluka, dan saat siuman hari sudah berganti. Kesempatan satu itupun lenyap, dan ia tak bertemu kakaknya hingga sekarang. Betapa mudanya untuk mengambil langkah sebesar itu

Kabar duka malah tiba, orangtuanya meninggal dunia. Ibunya yang memang sakit-sakitan dan ayahnya yang sudah menanggung banyak beban. Kini ia sebatang kara, dunia yang kejam menghantamnya sedari masa kecil. Mereka punya anjing bernama Taku. Taku adalah makhluk pemarah dengan muka jelek. Kegemarannya dalam hidup ini cuma tiga – menggonggong, mendengkur, dan menggigit orang yang mencoba membelainya.

Chiyo suatu sore di tepi sungai menyaksikan iring-iringan orang kaya menuju teater, ia terpesona dan saat itulah ada salah seorang laki-laki menghampirinya. Memberinya uang untuk membeli makanan, senja itu mencetak kenangan. Laki-laki itu mencipta kenangan, kenangan yang akan banyak menentukan masa depannya.

Perseteruan dengan Hatsumomo kian parah, ia mengangkat temannya Labu untuk dijadikan geisha magang, sementara Chiyo diangkat oleh geisha rumah sebelah Mameha mengganti namanya Nitta Sayuri. Pertaruhan ini dicerita panjang dan berbelit. Promosi geisha magang dari akting terluka untuk menggoda seorang dokter, mendatangi seorang pelukis, hingga jamuan teh dan sake seolah tak henti. Menyaksikan tanding sumo. “Aku tak berniat mengalahkan lawanku, aku berniat mengalahkan kepercayaan dirinya. Pikiran dirasuk keraguan tidak bisa terfokus pada jalan kemenangan…” Mameha adalah geisha besar di zamannya. Pernah menjamu Penulis besar Jerman Thomas Mann, Bintang film terkenanl Charlie Chaplin, Peraih Nobel Sastra Amerika Ernest Hemingway ke Jepang dijamu istimewa dengan para geisha yang tampil. Jelas, ia di tangan yang tepat.

Dari pelatihan ini kita mencatat nama-nama penting. Ketua adalah pemilik Iwamura Elektrik yang membuat Sayuri jatuh hati. Lalu Nobu, veteran perang yang kehilangan salah satu tangannya. Ia orang kepercayaan Ketua, ia sudah jatuh hati sama Sayuri sejak magang. Namun jelas, cinta itu tak beriring. Lalu Dr. Kepiting, orang yang menolong membebat luka, seorang predator perawan. Nantinya ialah yang membeli mizuage-nya. Mizu berarti ‘air’ dan age berarti ‘menaikkan’ atau ‘meletakkan’ sehingga mizuage kedengarannya berkaitan dengan menaikkan air atau menaruh sesuatu dalam air. Sayuri mendapat pelajaran seks dengan pengandaian aneh. “Belut tak berumah” Lelaki punya semacam belut di tububmereka. Belut menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mencari rumah, dna tahukah kau apa yang dipunyai perempuan di dalam tubuhnya? Gua, tempat belut suka tinggal. Gua ini adalah tempat dari mana keluar darah setiap bulan ketika ‘awan melintasi bulan’.

Dan jangan lupakan Uchida Kosaburo, pelukis ini juga masuk radar. Nantinya ia melukis Sayuri dengan eksotis, menjadikannya model geisha. Dan namanya akan terkenal, bukan hanya di Gion tapi seisi Jepang.

Kisah ini bersetting tahun 1930-an. Di Jepang zaman setelah zaman Malaise sampai Perang Dunia II disebut kuraitani – lembah kegelapan. Ketika begitu banyak orang hidup seperti anak-anak yang kepalanya terbenam di bawah ombak. Dan susunan bata yang mengasyikkan itu porak poranda akibat Jepang kalah perang. Malam demi malam kami menyaksikan bulan berubah merah karena kobaran api di Osaka. Kehidupan jadi sangat sulit dan terlunta. “Sungguh aneh, apa yang dibawa masa depan untuk kita. Kau harus berhati-hati, Sayuri, jangan pernah mengharap terlalu banyak.”

Rumah minum teh Ichiriki yang biasa menggelar pesta langsung sunyi. Banyak geisha menjadi pekerja pabrik, membuat parasut, mencetak peluru, dan sebagainya. Sayuri setelah meminta tolong beberapa orang penting, akhirnya justru dibantu Nobu, direkomendasikan tinggal di Keluarga Arashino. Itulah sebabnya khayalan bisa sangat berbahaya. Mereka menjalar seperti api, dan kadang-kadang membakar habis kita.

Tak ada yang bisa lebih baik mengatasi kekecewaan daripada kerja. Saat perang usai dan keadaan membaik, ia akhirnya dijemput bibi untuk kembali ke Okiya. Kembali menjalankan bisnis, tapi jelas sudah tak sama lagi. ia kalut. Kegiatan dalam sarang semut pun kalah sibuk dengan pikiranku. Angsa yang meneruskan hidup di pohon orangtuanya akan mati, itulah sebabnya mereka yang cantik dan berbakat menahan penderitaan untuk menemukan jalan mereka sendiri di dunia. Segera saja pikiranku serasa seperti vas pecah yang tak bisa berdiri. Pikiranku terasa kosong.

Geisha sangat percaya tahayul, seperti pernah kukatakan. Bibi dan ibu, bahkan juga juru masak dan para pelayan, jarang sekali mengambil keputusan sederhana seperti membeli sandal tanpa berkonsultasi pada almanak. Kurasa yang dimaksud dengan ‘anggun’ adalah semacam percaya diri atau kepastian, sedemikian rupa sehingga sepoi angin atau jilatan ombak tidak akan membuat perubahan berarti.

Saat seolah segalanya membaik, Sayuri lalu akan diambil sebagai danna, sejenis wanita simpanan yang menetap pada satu orang laki-laki. Ia memang seolah ditakdirkan menjadi wanita-nya Nobu, yang jelas-jelas ia mengharap Ketua. Nah, suatu hari mereka bertamasya ke Pulau Amami bersama para pembesar, termasuk Menteri yang memiliki pengaruh keberlangsungan Iwamura Elektrik. Di pulau itulah drama yang dimainkan berantakan dan twist. Kehidupan telah bertindak kejam kepadanya, dan dia hanya menerima sedikit sekali kebaikan.

Bagian berikutnya bisa saja menjadi sad ending pilu nan menyakitkan, serta memalukan. Namun tidak. Malam saat ia seharusnya resmi menyandang sebagai danna, kejutan lain menghantam. Manis, terlalu manis. Segalanya lantas berubah, mereka membeli rumah mewah di timur laut Kyoto dan menamainya Eisha-an – Tetirah Kebenaran Makmur. Dan segalanya baik-baik saja, akhirnya. Duduk di sini mengenang malam bersamanya sebagai saat ketika suara-suara dukacita dalam diriku menjadi diam.

Buku tebal, lebar, dengan tulisan kecil-kecil. Tipe buku yang akan sulit diselesaikan jika tak dipaksa kelar. Hampir 500 halaman, kisah yang panjang nan berliku. Kebetulan sekali kumulai baca saat Isoman, dan butuh sebulan tuntas, kuselesaikan baca dengan kekuatan santai saja. Kubaca bersama Kronik Burung Pegang yang lebih dahsyat tebalnya. Kita tidak menjadi geisha agar hidup kita memuaskan. Kita menjadi geisha karena kit arak punya pilihan lain.

Kurasa kenangan akan tahun-tahun mengerikan itulah yang membuatku merasa sangat sendirian. Harapan itu seperti hiasan rambut. Gadis-gadis ingin memakai terlalu banyak hiasan rambut. Ketika sudah tua, mereka tampak boidoh bahkan kalaupun hanya memakai satu. “Kadang-kadang, kurasa hal-hal yang kuingat lebih realistis daripada hal-hal yang kulihat.”

Memoar Seorang Geisha | by Arthur Golden | Diterjemahkan dari Memoirs of a Geisha | Copyright 1997 | 6 17 1 86 002 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Listiana Srisanti | Desain sampul Martin Dina | Pertama terbit 2008 | Cetakan ketigabelas: Februari 2018 | ISBN 978-602-03-3769-2 | 496 hlm; 23 cm | Skor: 5/5

Untuk istriku, Trudy, dan anak-anakku, Hyas dan Tess

Karawang, 190721 – Very best of Jazz (Louis Armstrong)

#30HariMenulis #ReviewBuku #19 #Juli2021

Pasar #18

“Kekayaan, kedudukan, kekuasaan, kepandaian, dapat mematikan rasa. Mati rasa berarti hilang kemanusiaan kita. Hidup ialah bagaimana kita merasakan sesuatu. Bukan bagaimana kita memiliki kemewahan, kekuasaan, kekayaan.”

Novel dengan penggambaran detail mengagumkan. Mencerita apa adanya keadaan pasar dan par penghuninya. Sejatinya setting hanya satu tempat dari mula sampai jelang akhir. Pasar dan situasi yang ada. Orang-orangnya juga itu-itu saja, berkutat melelahkan. Pada dasarnya menggambarkan sifat manusia yang mengingin nyaman, ketika terusik maka ia marah, dan saat keinginan-keinginan tak terkabul, jadi petaka. Minim konflik tapi sungguh menohok saat masalah itu dilemparkan ke pembaca.

Kisah utamanya hanya ada empat karakter yang dominan. Pak Mantri sebagai tokoh sentral yang bertugas menjaga pasar pemerintah. Pasanya ada di Gemolong, yang setahu ada di Sragen, tapi entah apakah setting di kota lain mengingat sang Penulis lahir di Yogyakarta. Kedua adalah tukang karcis, bawahan Pak Mantri yang tiap hari menarik uang ke para pedagang. Ketiga adalah Siti Zaitun, petugas bank yang kantornya bersebelahan sama kantor pasar. Keempat adalah antagonis kaya bernama Kasan Ngali. Ia memiliki rumah besar yang dekat pasar, ia banyak melancarkan aksi jahat.

Ya sudah, kekuatan cerita berkutat di situ saja sampai akhir. pak Mantri yang sudah sepuh jelas adalah generasi kolot yang berpikir secara tradisional dalam memecahkan masalah. Ia memiliki pagupon dengan burung merpati banyak sekali, sering mengganggu orang-orang baik penjual maupun orang sekadar lewat. Nah kasus pertama dikemukakan, merpati itu dianggap sungguh bikin sial. Sering mengambil makanan para penjual, tainya sembarangan, berisik, dst. Maka suatu pagi saat ditemukan seekor sekarat, marahlah Pak Mantri yang meminta Paijo mengusut siapa yang membunuh, meminta tolong Siti menyembuhkan. Haha.. padahal keduanya biasa saja, atau malah lega, keinginannya diwakilkan seseorang.

Berjalannya waktu malah makin banyak yang dibunuh, puncaknya orang-orang pasar pindah ke rumah Kasan Ngali, rumahnya dibuka untuk umum, tanpa dipungut bayaran, Paijo yang meminta karcis sering kali zonk, para pedagang banyak yang menolak bayar. Seteru itu sudah ada lama, tapi kali ini benar-benar ditabuh.

Siti Zaitun seorang muda yang mengeluhkan keadaan di desa sepi. Bank sepi, tak banyak yang menabung mengancam masa depannya di sana, sejatinya ia biasa saja, malah syukur dipindahkan ke kota sebab desa tampak tak menarik bagi darah muda. Apalagi tetangganya si tua yang banyak komplain.

Paijo adalah susunan terendah dalam karta ini, ia hanya pesuruh. Ia manut saja ditendang ke kanan ya ayoo, disepak ke kiri yo monggo. Perannya banyak disepelekan. Sebagai kaki tangan Pak Mantri ia memang seolah tak punya suara. Pagi sudah rapi-rapi, kadang bakar telo atau pohon di kumpulan daun yang menggunung setelah disapu. Ia sering kali pula menjadi pelampiasan amarah atasannya, nasib jadi pasukan.

Kasan Ngali adalah manusia tamak, bermasalah sejak dalam pikiran. Duda, dengan mantan istri berjajar. Ia membuka rumahnya untuk pasar jelas bukan murni kemanusiaan. Ia memiliki misi mempersunting Siti Zaitun yang polos. Tahu bank sepi, ia menabung banyak. Untuk menarik perhatian ia beli mobil dengan disopiri, walau mobil bekas. Seolah menjadi malaikat kebajikan, ia membebaskan tempatnya buat jualan, membagi-bagikan uang seolah uang tinggal metik dari dahan. Bahkan saat ada misi membunuh merpati, ia dengan arogan membeli setiap merpati yang berhasil ditangkap saat Pak Mantri akhirnya melepas siapa yang mau, lalu dilepas lagi, dengan memberi tanda bahwa merpati itu miliknya. Aksi paling menjijikan menurutku adalah saat memberi hadiah ke Siti Zaitun, ‘memaksa’ untuk dijadikan istri. Bagi Kasan Ngali satu jalan tertutup bukan berarti hilangnya jalan lain. Akal pedagang itu lebih banyak dari jumlah jalan ke Bank. Tak tahu diri, dan fakta uang tak bisa membeli segalanya diapungkan dengan sangat gemilang.

Begitulah, waktu bergulir dengan tenang. Minum teh dengan dengkur merpati, cahaya mentari menerobos jendela memercik ke tempat kita santai. Dunia yang damai itu pada akhirnya menjadi tujuan Pak Mantri, seolah ada sebuah klik. Ia melepas segalanya, ikhlas dan penuh kerelaan tak ada sebersit materi yang perlu diganduli. “Kalau macan mati meninggalkan belang, Pak Mantri mati meninggalkan tembang.”

Paijo yang pegawai rendahan seolah dijadikan titik baik untuk naik derajat. Hanya Paijo sungguh-sungguh terhina, emngutuki diri sendiri, tertawa ialah pernyataan kemarahannya yng terpendam. Ia menapaki banyak sekali pelajaran hidup. Dari Kasan kita belajar, menyombongkan kekayaan, satu dari sekian macam perbuatan yang tak patut dikerjakan. Menyombongkan kepandaian, menyombongkan kesaktian, menyombongkan pangkat, menyombongkan kekayaan.

Kritik sosial juga banyak ditemukan. Salah satu yang kusuka adalah seolah ini penggambaran politik. Sebab orang itu kalau sudah berpolitik lain soalnya. Yang benar bisa salah, yang salah bisa jadi benar. Dunia yang dipolitikkan ialah dunia yang dibolakbalik. Hati pembaca turut dibolak-balik merasakan sensasi kesedihan sesering tertawa lepas akan situasi yang dicipta.

Pak Mantri sebagai seorang priyayi pada suatu kesempatan diminta tolong membuat gubahan tulisan. Merasa tersanjung dan dibutuhkan. Namun ada kalanya ia kesulitan saat akan menulis surat complain ke polisi. Susahnya menulis, tak semudah mencangkul. Sebentar ia merenung-renungkan nasib mereka yang mengajar orang untuk menulis, para guru itu… kalimat pertama ialah yang sukar. Sesudah yang pertama meski akan berjalan dengan sendirinya…

Ada satu kalimat yang absud nan menawan. “Ia memegangi mulutnya, seolah takut akan keluar kata-kata yang tak pada tempatnya.” Membayangkan kalimat itu terbesit kejanggalan. Mulut ditutup takut kata-kata keluar. Bukankah otak yang menyusuh untuk bicara atau diam?

Teori kehidupan banyak sekali diapungkan. Salah satu yang asyik mungkin saat menyinggung nafsu. Kuntowijoyo ini mirip sufi ya. “Kita punya tiga macam nafsu. Nafsu amarah ialah yang membuatmu angkara, mendorong kepada perbuatan jahat. Nafsu lawamah ialah memberi pertimbanga, berada di tengah-tengah, bergoyang seperti timbangan. Dan nafsu mutmainah ialah yang menuntunmu ke kebaikan…”

Filsafat kehidupan tentu saja ada. Apa itu bahagia? “Soalnya ialah bagaimana kamu merasakan, bukan bagaimana sebenarnya yang terjadi. Rasa ialah kunci dari kebahagiaan.” Nah, intinya ada di rasa. Di situlah titik paling vital yang menjadi kunci kehidupan.

Dan karena ini mengenai Jawa dan budayanya. Nasehat untuk selalu, “Ingatlah bahwa kau orang Jawa, ketika engkau gembira, ingatlah pada suatu kali kau akan mendapat kesusahan. Apalagi menertawakan nasib buruk orang lain.” Menjadi poin kesekian yang laik dibagikan. Udar-udar roso, saling menghormati dan tenggang rasa.

Kuntowijoyo lahir di Yogyakarta, 18 September 1943. Lulusan UGM fakultas sastra tahun 1969 lalu mengabdi di almamaternya. Tahun 1973 mendapat tugas belajar di Universitas Connecticut, USA dan memperoleh gelar M.A setahun berselang, sementara gelar Ph.D-nya diperoleh di Universitas Columbia dalam studi sejarah tahun 1980. Nama besarnya sudah melegenda, banyak bukunya tersebar di media sosial yang membuatku penasaran. Namun setelah baca esai Mahfud Ikhwan-lah saya benar-benar memutuskan menikmati karyanya. Pasar adalah novel pertama Kuntowijoyo yang selesai kubaca.

Buku ini kudapat dari giveaway Twitter @akudodo, kuselesaikan baca saat Isoman tiga minggu bersama buku-buku lainnya. Terima kasih.

Pasar | by Kuntowijoyo | Cetakan pertama, Maret 1995 dan kedua, November 2002 diterbitkan oleh Bentang | Cetakan ketiga, 2016 diterbitkan oleh Mataangin | Desain sampul Buldanul Khuri | Ilustrasi cover Anugerah Eko T. | Tata letak Erwan Supriyono | Penerbit MataAngin | ISBN 978-979-9471-26-0 | Skor: 5/5

Karawang, 180721 – The Cranberries – Loud and Clear

 #30HariMenulis #ReviewBuku #18 #Juli2021

The Joy Luck Club #17

Ada suatu pendapat bahwa orangtua tidak seharusnya mengkritik anak-anak. Mereka sebaliknya harus memberikan dorongan. Mama tahu, orang selalu berusaha bangkit untuk memenuhi harapan orang lain. Dan jika Mama mengkritik artinya Mama mengharapkan kegagalan.”

Buku yang luar biasa. Padat dan melelahkan. Kita jadi saksi kehidupan empat ibu imigran Cina ke Amerika Serikat, dan menjadi pula saksi kehidupan empat putrinya yang terlahir sebagai warga Amerika. Segalanya tumpang tindih. Bahasanya mendayu, agak rumit, nyastra di beberapa bagian yang butuh telaah. Seperyi kehidupan ini sendiri, novel ini juga menyajikan banyak sekali tragedy. Bagian-bagina pedih bahkan menjadi sangat banyak sebab mereka adalah orang asing di negeri asing. Butuh perjuangan ekstra untuk adaptasi dan menjalani rutinitas baru, jelas ini masuk radar buku istimewa. Ditulis dengan detail mengagumkan, dituturkan dengan sabar, renyah dan seperti judulnya novel ini juga memberi kebahagian, seperti kebanyakan orang Cina, keberuntungan bisa dibentuk. Kami orang-orang yang beruntung.

Kisahnya dibuka dengan Jing-Mei Woo memiliki nama panggilan June yang sudah kehilangan ibunya. Ia menggantikan main mahyong dalam perkumpulan, dan lalu mendengar banyak sekali pengakuan masa hidup ibunya yang dulu dianggap aneh dan keras.  Joy Luck Club adalah suatu ide yang diingat ibuku dari masa perkawinan pertamanya di Kweilin, sebelum masuknya Jepang.

Agar mudah mencerna ulasan kita jelaskan terpisah masa saja. Empat anak dan empat ibu, setelah mengambil sudut June, kita mengambil sudut lainnya. Saya urutakn dari anak-anak saja, yang kedua Rose Hsu Jordan. Memiliki masa lalu tragis saat menyaksikan adik kecilnya Bing tenggelam di pantai. Benar-benar bagian paling menggetarkan. Ia menikah dengan doctor Ted Jordan, sebenarnya menjadi tampak istimewa. Sayangnya tidak, mereka bercerai dan menyeret kasus di pengadilan. Aku akan selalu mengingat pesan orangtuaku, tetapi aku tak akan melupakan diriku sendiri.

Ketiga Waverly Jong, masa kecil hingga remaja menjadi kebanggan keluarga. Juara catur cuy, cerdas dan sungguh menggairahkan. Ia menjadi semacam contoh anak lain, terutama June. Sayangnya telenta hebat itu seolah menghilang, tekanan dan seteru sama ibunya menjadikannya muak. Dia suka membicarakan permainanku seolah-olah dia yang menciptakan strateginya. Kehebatan main catur seolah lenyap, seperti datangnya, ia berhenti total seperti ada rem darurat diinjak.

Keempat Lena St. Clair seorang penerjemah. “Karena perempuan adalah yin, kegelapan yang tersembunyi, tempat nafsu yang tak terkendali bersarang. Dan laki-laki adalah yang, kebenaran yang bersinar, menerangi pikiran kita.” Ia menikah dengan Harold, sedari mula pernikahan ini tampak meragukan. Ada perjanjian pembagian harta, suaminya juga adalah atasannya. Ia mendesain dan menyuport banyak hal. Namun pembagian harta itu malah mengacaukan banyak sekali hal. Berakhir pula dalam frustasi.

Keempat ibu lebih banyak berkisah di masa lalu, di Cina yang gundah. Pertama Suyuan Woo, kisah paling menyedihkan adalah saat perang ia harus melepas satu dari dua anaknya, yang selamat bernama Jing-Mei yang menjadi pondasi utama novel ini.

Kedua An Mei-Hsu yang belajar banyak sama ibunya. Setelah percerian orangtuanya, ia tinggal sama ibu dan ayah barunya. Yang ternyata sudah punya istri lainnya lagi, ibunya tampak pasrah dan menerima keadaan, tapi jelas sakit siapa yang mau dimadu. An Mei ke Amerika dan menikah, memiliki tujuh anak. Ia adalah ibu Bing, yang mati tenggelam.

Ketiga adalah Lindo Jong, wanita kuat dan ibunya Waverly si juara catur. Ia banyak mengatur kehidupan, terlalu masuk ke pribadi yang justru membuat muak orang sekitar. Ia bangga menjadi seorang Amerika, yang lantas agak mengikis jiwa Cina-nya.

Keempat Ying-Ying St. Clair yang terlalu banyak tahayul. Timur adalah awal dari segala sesuatu, ibuku pernah berkata begitu kepadaku, arah dari matahari terbit, dari mana angin datang. Ia menikah bukan karena cinta, ia menyebutnya takdir. Menjalani hidup yang ngalir aja. Sampai suatu hari seorang Amerika di Shanghai Clifford St. Clair. Setelah suaminya meninggal dunia, ia menikah dengannya, pindah ke Amerika memiliki anak, salah satunya Lena, yang satunya lagi meninggal dunia. Sang Tiger. Jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus di tengah-tengahnya. Aku belajar permainan tengah dan mengapa taktik antara dua lawan itu seperti benturan ide. Pemain yang lebih baik memiliki rencana yang lebih jelas, baik untuk menyerang maupun untuk meloloskan diri dari jebakan. Aku mempelajari pentingnya membuat ramalan yang tepat pada akhir permainan, pengertian matematis tentang semua gerakan yang mungkin dibuat, kesabaran.

Para ibu-ibu ini rutin ngumpul dan main mahyong. Main mahyong Cina, kau harus bermain memakai kepalamu, sangat rumit. Lalu kami mengobrol sepanjang malam sampai pagi, menceritakan kisah-kisah yang menyenangkan di masa lalu, dan di masa yang akan datang.

Karena ini kisah para imigran, maka kerja keras adalah wajib. Saat agak mapan, mereka tentu coba penghasilan yang lebih baik lagi. Jadi, sejak lama kami memutuskan untuk berinvestasi pada bursa saham. Di sana tidak ada keahlian. Bahkan ibumu pun setuju.

Ini merupakan permainan yang serba rahasia, di mana kita harus menunjukkan tapi tak boleh menceritakan. Rasa sakitnya harus dilupakan. Karena terkadang karena itulah satu-satunya cara untuk mengingat apa yang ada pada tulang kita. Aku selalu akan ingat, peran orangtuaku, tetapi aku tak akan melupakan diriku sendiri. “Kalau sesuatu berlawanan dengan watak kita, kita dalam keadaan tak seimbang…”

Aku menangis gembira bersama mereka, karena aku sudah salah sangka. Aku sudah merasakan yang terburuk, setelah ini tak mungkin ada yang lebih buruk lagi. Ini bukan soal harapan. Ini soal alasan. Ini takdirmu. Ini hidupmu, sesuatu yang harus kau lakukan.

Dalam arus Cina kita dianggap harus menerima segalanya, mengalir mengikuti arus Tao dan tidak membuat gelombang Dan entah mengapa, melihat semua tanda-tanda kecil kedomestikan yang familier ini, ritus ehari-hari kami, membuatku mabuk di dalam. Seolah-olah dia membangun dinding tak tak kehilatan, setiap hari diam-diam merabanya untuk melihat seberapa tinggi dan lebarnya dinding itu.

Amy Tan lahir di Oakland, California tahun 1952. Ia menyandang gelar master linguistic dari San Jose State University. Esainya banyak dimuat di majalah, begitu juga cerpen-cerpennya. The Joy Luck Club adalah novel debut dan menjadi finalis National Book Award dan National Book Critics Award. Tahun 1990 memperoleh penghargaan Bay Area Book Reviewer Award for Fiction. Ini juga menjadi buku pertama Amy Tan yang selesai kubaca, buku lainnya jelas masuk radar wajib lahap! Kado terbesar tidak selalu yang terbagus.

Pepatah Cina yang mengatakan Chunwang chihan: jika bibir tidak ada, gigi akan kedingingan. Yang artinya satu hal merupakan akibat dari hal yang lain. Bagaimana mungkin di dunia yang penuh kesemrawutan bisa timbul begitu banyak persamaan dan perbedaan yang persis bertolak belakang?

Perkumpulan Kebahagiaan dan Keberuntungan | by Amy Tan | Diterjemahkan dari The Joy Luck Club | Copyright 1989 | Alihbahasa Joyce K. Isa | GM 402.94.990 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Mei 1994 | Cetakan kedua, Juli 1994 | 488 hlm; 18 cm | ISBN 979-511-990-7 | Skor: 5/5

Untuk ibuku dan kenangan akan ibunya;

Kau pernah bertanya kepadamu apa yang akan kuingat;

Ini, dan masih banyak lagi.

Karawang, 060421 – 110621 – 170721 – New York Jazz – Bar Jazz Classics

Thx to Lifian, Jakarta

Putri Cina #15

Korsiah: “Oalah Tien, hidup ini sudah pahit, mengapa kamu masih mau mencari makanan yang pahit-pahit? Kamu ini seperti nyidham saja.”

Sifat orang Cina, senang menikmati kebadanan, tapi tak membenci kehorhanian. Padahal kata leluhurnya, hanya dengan menjadi sederhana kau dapat menemukan dirimu yang sesungguhnya. Epic memang, kata-kata mutiara ditebar di banyak tempat. Pepatah Cina, manusia itu seharusnya seperti burung, yang terbang tanpa meninggalkan bekas dan tapaknya.

Kisahnya panjang nan melelahkan, sepertiga pertama agak boring sebab menarik lurus ke balakang sejarah orang-orang Cina di tanah Jawa, agak berbelit dan seolah menikmati dongeng/sejarah. Sepertiga kedua baru kita memasuki are sesungguhnya, bagaimana arah cerita terbentuk. Dari kesenian keliling, bintang ketoprak seorang putri Cina yang menarik perhatian dua tentara/orang penting. Sepertiga akhir barulah meledak. Waktu mengubah mereka menjadi pejabat, tapi persaingan lama terus menggelayuti. Saat geger geden, eksekusi ending yang pilu disajikan. Klimaks, bagaimana susunan itu membuncah luar biasa. Sedih, tapi kisah yang bagus memang rerata berakhir dengan kesedihan.

Kisah utama sejatinya tentang Giok Tien, sang Putri Cina. Namun untuk ke sana kita diajak bersafari jauh ke masa lalu, riwayat orang-orang Cina mula di tanah Jawa, sejarah kerajaan-kerajaan di pulau Jawa yang terhubung dengan Negeri Tirai Bambu, lantas menyusut ke keturunan paling ujung yang ada di kisah ini. Di Tuban aku datang / ketika perahuku datang di Tanah Jawa. / Dari Tuban aku pergi / ketika selamanya aku harus meninggalkan Tanah Jawa.

Membawa serta kisah-kisah legendaris masa lampau. Tentu saja kisah Perang Bratayudha disebut, satu kerajaan Astina di bawah Kurawa dengan rajanya Duryudana, si sulung dari Kurawa sedang lainnya Kerajaan Amarta, di bawah Pandawa dengan Yudhistira, si sulung dari Pandawa. Buminya sudah ditaburi dengan darah dendam dan pembalasan. Semua hanya lanjutan darah Kurusetra, di ama nenenk moyang mereka, saudara sesama, berperang habis-habisan meninggalkan warisan dendam, sampai sekarang. Sabdopalon-Nayagenggong berkata, “Sesungguhnya sejarah hanya berulang. Apa yang akan terjadi kelak, telah terjadi sekarang. Dan apa yang terjadi sekarabf, telah terjadi dulu. Hamba tak perlu menyebut satu per satu riwayat pertikaian di Tanah Jawa yang tiada hentinya itu…”

Jadi memang sudah turun-temurun rasa itu, mengapa ia dan kaumnya selalu tergoda untuk mencari harta dan kekayaan yang berlebih-lebihan. Padahal leluhur mengajarkan berulang-ulang, untuk menemukan tao, jalan kebahagiaan itu, manusia tak boleh terikat akan benda atau harta apa pun jua.

Mega-mega berarak, membawa lamunannya terbang jauh ke padang bunga. Segala bunga tumbuh di sana. Satu-satunya bunga yang di sana taka da adalah mawar hitam yang kini menjadi wajahnya. Di manakah ua ketika tiada lagi wajahnya? Ia pun bertanya, siapa ia sesungguhnya, dan mengapa ia bernama Putri Cina?

Ngomongi Jawa tentu saja kisah wayang kulit disampaikan. Kyai Dhudha Nanang Nunung, “Semar punika saking basa samar, mapan pranyata Kyai Lurah Semar punika wujudira samar.” Semar itu dari kata samar, memang ternyata Kyai Lurah Semar itu wujudnya adalah samar.

Kemegahan Majapahir berakhir lalu muncullah kerajaan Islam. Raden Patah dipanggil dengan nama Jim Bun, nama Cina itu disandang olehnya saat sebagai Sultan Demak. Nama lengkapnya, Jimbun Ngabudir-Rahman. Para wali berpesan hendaknya raja yang baru bisa menjadi jembatan antara Jawa lama menuju Jawa baru, antara agama lama menuju agama yang baru.

Settingnya di era Kerajaan Medang Kamulan Baru atau nantinya diplesetkan jadi Pedang Kemulan. Awalnya damai dipimpin oleh Prabu Murhardo, tapi berjalannya waktu rakyat muak sama pemerintahan kerajaan sebab banyak huru-hara. Adalah Giok Tien, pemain ketoprak keliling Sekar Kastubo, gadis keturun Cina ini memainkan perannya dengan cantik. Memikat banyak penonton, dan salah satu penontonnya Radi Prawiro bahkan sampai obsesif mencintai membabi buta, ia mengejar sang Putri Cina ke manapun, menuntut untuk dijadikan istri.

Lalu muncul penonton yang juga mengaguminya bernama Setyoko. Ia sukses mempersunting dan membuat Giok Tien rela meninggalkan dunia seni yang ia cintai saat di puncak karier. Hati-hati bila sedang di puncak kehebatanmu. Sebab justru di puncak kehebatanmu itulah berada di titik kejatuhanmu. Di negeri ini kemunafikan adalah kekuatan luar biasa, yang bisa menjatuhkan siapa saja yang terjerat oleh hukum kemunafikan itu.

Sebelum pamit sama teman-teman teater-nya ia memerankan kisah legendaris Cina yang tragis. Eng Tay dan Sam Pek. Dulu memang di rumah orang-orang Jawa, kayu jati yang menjadi soko guru rumahnya selalu di-patek dengan bamboo sehingga keduanya menyatu. Persatuan itulah yang menyangga kokohnya rumah tersebut. Melambangkan agar keluarga yang menghuninya tak terpisah seperti cinta Sam Pek dan Eng Tay.

Lalu kisah ini seolah berakhir bahagia, mereka menikah dan pindah kota. Namun ini jauh dari kata itu, sebab kerajaan yang penuh huru-hara ini lalu membuat kebijakan yang tak bijak, mereka membuat aturan untuk menyingkirkan warga keturunan Cina. Cerita pilu ini sudah turun-temurun, langsung saya teringat tragedy 1998. Hiks, sedih banget. Kata K’ung Tzu, kemanusiaan itu melebihi api dan air. Manusia bis amati karena air dan api. Tapi kemanusiaan terus abadi, tak bakal mati oleh apa pun, juga oleh air dan api.

Kali ini kita di masa yang huru-hara dengan nama lain, yang ternyata Setyoko sudah menjadi Gurdo Paksi dan Radi Prawiro menjadi Joyo Sumengah. Keduanya ada di lingkaran pemerintahan tapi Setyoko masih lebih tinggi pangkatnya. Apes, saat itu ia mundur dan keris utama senapati ia lepas. Dan tragedi cinta segitiga ini-pun terjadi. Sedih, hiks…

Banyak hal ingin disampaikan. Benar-benar kisahnya liar. Kepercayaan di banyak area muncul. Para peziarah Gunung Kawi percaya, siapa kejatuhan buah Shianto di pelataran pesarean Eyang Djoego, ia akan mendapat rezeki, keberhasilan, dan kebahagiaan. Namun seolah memang dipadatkan.

Kata-kata mutiara juga berserakan. Liu Tsung-yuan, penyair kuno Cina bilang, “Aku tahu, usia tua akan tiba. Usia itu akan datang dengan tiba-tiba. Tahun ini mungkin aku belum menjadi lemah, tapi lama-lama ketuaan itu akan tiba juga. Gigi-gigiku akan berguguran, dan rambutku akan rontok…”

Manusia yang bahagia adalah dia yang berani lepas dari dunia, tapi tanpa membenci dunia. Seperti kata penyair Tao Yuan Ming, “teguklah dengan nikmat anggur dunia, tapi sekaligus jangan kauikatkan dirimu oada dunia, kehormatan, dan hartanya, sampai kau dibelenggunya.

Ojo dumeh, maksudnya kalau sudah sakti dan berkuasa janganlah lupa bahwa wong sekti ana kalane apes, pangkat bisa minggat, wong pinter bisa lali, rejeko bisa mati, donya bisa lunga… Dadi luhur iku ora gampang, sebab wong luhur iku wong sing asor. Menjadi luhur itu tidak mudah, sebab orang yang luhur itu adalah orang yang rendah hati.

Suatu hari buku ini akan jadi cult, sebab kisahnya menarik tapi tak sampai meledak di pasaran. Diskusi literasi yang disaji juga jarang kutemui, justru nama besar Sindhunata yang lebih mentereng ketimbang novel ini. Jelas rekomendari, nikmatilah sebelum terlambat. Dunia dengan segala keterbatasannya.

Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, Sj lahir di kota Batu, 12 Mei 1952. Karya klasik terkenalnya, Anak Bajang Menggiring Angin. Tulisannya sudah wara-wiri di media massa, paling sering jelas di Kompas karena memang beliau wartawan Kompas. Telah menulis karya ilmiah, Dilema Usaha Manusia Rasional, Hoffen auf den Ratu Adil-Das eschatologische Motiv de “Gerechten Konigs” Bauernprotest auf Java wahrend des 19 und zu Beginn de 20 Jahrhundrerts (Menanti Ratu Adil-Motif Eskatologis dari Ratu Adil dalam Protes Petani di Jawa Abad ke-19 dan awal Abad ke-20), Sakitnya Melahirkan Demokrasi (1999), dan  Kambing Hitam, Teori Rene Girard (2006). Putri Cina adalah buku pertama beliau yang saya baca, dan akan kubaca beberapa karyanya setelah ini. ingat, kepuasan di pengalaman pertama akan mengantar kita ke pengalaman berikutnya oleh penulis yang sama, yang mungkin bukan karya ilmiahnya, setidaknya esai atau buku fiksi lainnya.

Catatan ini saya tutup dengan kutipan dari Chuang Tzu yang pernah berkata, “Jika saat berpulang telah tiba, aku hanya membutuhkan beberapa lembar daun pisang saja.” Untuk apakah semuanya, bila akhirnya manusia cukup dibaringkan di atas daun ketika ia untuk selamanya tidur? Sesuai endingnya yang pilu nan surealis…

Putri Cina | by Sindhunata | 617173013 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Ilustrasi dan desain sampul Orkha Creative | copyright 2017 | Cetakan ketiga, November 2017 | ISBN 9789792230796 | 304 hlm; 20 cm | Skor: 4/5

“Mengenang Koo Soen Ling, ibuku”

Karawang, 150721 – Netral – Terompet Iblis

#30HariMenulis #ReviewBuku #15 #Juli2021

Ke Utara Jauh dalam Misi Penyelamatan

The Silver Chair by C.S. Lewis

Yah! Ini tepat seperti yang kubutuhkan. Kalau makhluk-makhluk ini tidak bisa mengajariku untuk memiliki pandangan hidup yang serius, aku tidak tahu apa lagi yang bisa. Lihatlah makhluk dengan kumis itu – atau yang itu yang memiliki…”

Tugas mereka berdua (plus satu bantuan) adalah menyelamat sang Putra Mahkota yang diculik Penyihir Hijau yang jahat. Tak ada orang-orang Narnia yang tahu, yang jelas ia masih hidup. Mereka harus membawanya kembali ke Narnia dalam keadaan hidup.
Buku keempat Narnia, kubacakan untuk Hermione. Mungkin yang paling seru sebab ada sebuah area di ujung Utara bernama Harfang, tempat nyaman yang dituju dengan antusias karena kenyamanannya. Dijanjikan api hangat, tempat tidur empuk, atas yang melindungi dari badai dan tempaan angin malam. Lalu booom! Mereka musuh, mereka pemakan daging manusia. Mereka raksasa beradab? Kejutan itu mencipta kengerian, trio jagoan: Eustace, Puddleglum, dan Pole berlari keluar dari dapur dengan tunggang langgang ketakutan, mendebarkan sekali mereka nyaris tertangkap, terselamatkan berkat ada lubang di kaki tangga, mungkin bagi para raksasa itu hanya lubang tikus, hanya celah bongkahan di pojok tangga halaman rumah, tapi benar-benar menyelamatkan mereka. Hermione sampai ketakutan, lalu tertawa meriah. Saking senangnya ketika mereka bertiga selamat dari jangkauan raksasa, ia jingkrak-jingkrak di kasur, membal-membal ceria. Walaupun akhir bab itu menggantung, di mana mereka terperosok bermil-mil, Hermione tetap saja mengalami euphoria suka cita. Lihat, betapa efek membaca bisa sedemikian dahsyat. Cara kita baca, dengan siapa kita baca, bagaimana cara membacanya menjadi sangat berpengaruh pada banyak hal, berpengaruh pada setiap individu.

Kisahnya langsung berlanjut dari akhir buku tiga, Eustace Scrub kini menerima tongkat estafet Pevensie Bersaudara sepenuhnya. Ia kini menjadi leader ke Narnia, dibuka di belakang Gimnasium ia bercerita pada gadis yang sedang sedih sebab kena perisak di Sekolah Eksperimen, Jill Pole yang memakai bando. Ia mencerita dunia ajaib yang pernah dikunjungi, lalu saat mendengar para jagoan kelas datang, mereka merayap di kebun menemukan pintu. Bahkan pada satu kejadian pun bisa membuat orang berharap, dan membuka pintu itu, karena kalau saja ternyata tidak dikunci, dan benar saja di balik pintu itu mereka sudah tidak di Inggris lagi. Harapan Eustace untuk kembali ke Narnia terkabul, Pole yang awalnya berharap malah kini gemetar ketakutan. “Apakah kita bakal bisa kembali? Apakah aman?”

Mereka menjelajah hutan asing, tempat penuh suara burung dan gemericik air, dan desir angin lembut. Saat di tepi jurang dalam debat yang aneh, Scrubb yang berdiri tak seimbang terdorong ke jurang, lalu tiba-tiba ada Singa yang meniupnya. Jelas Aslan menyelamatkan Scrubb, menjadikannya terjatuh lembut di suatu tempat. “Pasti ini mimpi, pasti, pasti. Aku akan segera terbangun.” Tapi itu bukan mimpi, dan ia tidak terbangun. Lalu Jill mendengar Sang Singa berbicara, memberinya empat perintah/tugas (Hermione hapal!), yang harus diingat selama dalam petualangan. (1) begitu Eustace, si anak lelaki menginjak Narnia ia akan bertemu dengan teman lama yang baik, dia harus segera menyapanya agar dapat bantuan besar. (2) kau harus berjalan ke Utara, ke luar Narnia sampai menemukan puing-puing kota kuno para raksasa. (3) kau akan menemukan tulisan pada batu di kota tua itu, dan kau harus melakukan apa yang diperintahkan tulisan itu padamu. (4) kau akan mengenali si pangeran yang hilang (kalau kau menemukannya) berdasarkan petunjuk ini, dia akan menjadi orang pertama yang kau temui dalam perjalanan yang akan memintamu melakukan sesuatu dalam namaku, dalam nama Aslan. Pole pun diminta mengulang perintah itu agar ingat, lalu ia ditiup menyusul Scrubb.

Setelah kembali bertemu Scrub di pantai, mereka melihat istana yang meriah. Ada kapal yang segera diangkat jangkarnya, dalam lambaian rakyat yang bersedih. Scrub awalnya ragu, tapi saat Pole mengingatkan empat tugas, barulah ia menemukan klik. Orangtua yang akan berlayar itu ternyata adalah Raja Caspian, ia sudah sangat tua, padahal di London baru setahun, di sini sudah puluhan tahun. Waktu berjalan tak linier. Menemui sahabat lamanya, ia merasa khawatir sebab bantuan besar itu bukan Caspian. Saat akhirnya Caspian dkk memulai petualangan ke Timur demi nostalgia, mereka berdua dilayani di istana dengan mewah.

Malam itu, saat jelang tidur ada yang mengetuk jendela, padahal ada di lantai atas. Ada Burung Hantu raksasa. “Kuu-kuu, kuu-kuu!” burung hantu bernama Glimfeather itu lalu ‘menculik’ mereka menuju sebuah reruntuhan istana, di sana sudah banyak burung hantu lainnya, sedang mendiskusikan rencana penyelamatan. Rapat burung hantu itu menghasilkan keputusan, mereka berdua besok pagi akan dibawa ke Rawa Timur menemui Marsh-wiggle bernama Puddleglum yang jangkung. Ia tahu rute ke utara, ia berniat meminta bantuan. Sejauh ini ketemu dua tugas utama: mengenali Caspian tua, mendapat bantuan besar dan itu adalah si jangkung, kedua mereka akan menuju ke Utara. Inilah kisah utama Kursi Perak, bertiga memiliki misi penyelamatan.

Dalam petualang ini perbatasan Narnia ada di sungai yang dangkal menyeberangi Shribble, maka mereka menuju Ettinmore di mana para raksasa bodoh sedang bermain lempar tangkap batu, saling memukul dan tertawa konyol. Beberapa benda nyaris saja menimpa mereka, berlari menghindar malah diketawain. Mungkin bagi para raksasa bodoh itu, kita semacam lalat yang panik tersebab mau dimainkan.

Di jembatan lebar, mereka melihat dua penunggang kuda. Satu Sang Lady, satu lagi adalah ksatria berbaju besi begitu diam. Setelah basa-basi, dari Sang Lady diberitahu bahwa di Utara sana ada pemukiman raksasa bernama Harfang, mereka adalah makhluk cerdas, baik, dan siap membantu para petualang. Bilang saja, dapat salam dari Lady, kalian akan dilayani dengan baik. Ksatria baju besi tetap diam, lalu mereka berpisah. Dalam bayang Pole dkk akan penginapan nyaman membuat gairah semangat, sebab kini mereka memasuki area badai salju.

Perjalanan menjadi sungguh berat, dingin, dan mengerikan. Angan kenyamanan Harfang membayang sepanjang hari, saat Pole terjebak salju lalu terperosok ke lubang lebar, mereka ketakutan. Di bawah sana, ada rute, ada jalan melingkar, tapi antah. Setelah dicek dan dipastikan buntu, mereka melanjutkan ke Utara, sudah tampak cahaya pemukiman, membuat hilang akal, dan keburu ingin sampai.

Benar saja, di Harfang mereka dijamu dengan baik oleh para pelayan. Diberi makan, selimut, dan sambutan luar biasa. Lega, tenang, dan nyaman. Para raksasa itu tertawa dan bahagia, menerima salam Lady dengan senyuman. Malam itu mereka diminta istirahat, pembantunya memainkan Pole laiknya boneka, Scrub sampai muak sebab Pole menangis, Puddleglum bertingkat konyol bak badut yang menari menghibur tuan rumah. Lega? Ya, hanya sementara…

Seperti yang kutulis di awal, Harfang adalah kejutan seru sesungguhnya kisah ini. siang itu para pejabat bersiap berburu, mereka makan dan santai, lalu ke dapur, disambut koki dan pelayan, dibiarkan. Saat agak sepi, mereka bertiga nak ke kursi, bayangkan semut yang merangkak ke meja, seperti itulah mereka bertiga. Dan betapa terkejutnya saat menemukan buku resep. Begidik ngeri!

Harfang adalah neraka, sambutan hangat hanyalah kamuflase. Dengan siasat tepat dan dramatis mereka kabur kembali ke Selatan, terjatuh di lubang tangga, terperosok jauh sekali ke bawah tanah, kelegaan kabur dari Harfang disambut makhluk antah lain di dasar bumi. Petualangan menakjubkan dan mendebarkan sebab mereka langsung disapa Muluguterum, “Siapa itu?” tanya mereka, dijawab, “Aku penjaga gerbang Perbatasan Dunia Bawah, dan bersamaku ada seratus earthman bersenjata…” yah, mereka menjadi tawanan, dibawa dalam gelap menuju kastil bawah tanah, area tanpa matahari yang asing dan misterius.

Dan tak dinyana, justru di situlah tujuan utama petualangan ini. petunjuk ketiga sudah ada, Pole sempat meleset lupa, tapi akhirnya bisa diperbaiki, petunjuk keempat, mereka sadar di sinilah pangeran itu ditawan. Dengan Penyihir Hijau yang memiliki kekuatan dahsyat, berhasilkah mereka membawa Sang Pangeran kembali ke Narnia?

Secara cerita memang aman, jelas buat anak-anak. Secara keseluruhan, ini salah satu yang terbaik dari respon Hermione. Ia benar-benar masuk ke dunia ajaib itu, ketakutan, nama-nama yang mudah dihapal, sampai bisa buat peta perjalanan ke Utara, lalu terjatuh di bawah tanah, melalui perjalanan ia bisa menyimpulkan sendiri berarti perjalanan di bawah itu ke Selatan sehingga tembus di tanah Narnia lagi, saya bilang ‘Ya’. Seperti itulah.
Sebenarnya sudah tak sabar memulai petualangan Kuda dan Anak Manusia. Namun kebiasaan setelah baca buku, lalu nonton film terhenti Hermionekzl’. Dan bulan ini malah memulai buku Harry Potter, baru dapat dua bab. Masih dari tanah Britania.

Kursi Perak | by C.S. Lewis | #6 | Diterjemahkan dari The Chronicle of Narnia: The Silver Chair | Ilustrasi Pauline Baynes | Alih bahasa Donna Widjajanto | GM 106 05.015 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Oktober 2005 | Cetakan kedua: Desember 2005 | 320 hlm; ilustrasi; 18 cm | ISBN 979-22-1719-3 | Skor: 5/5

Untuk Nicholas Hardie

Karawang, 130421 – Boyzone – Words

Tempat Asing dan Misterius

Negeri Senja by Seno Gumira Ajidarma

“… Ada satu masa dalam hidupku di mana aku selalu memburu senja ke mana-mana, seperti memburu cinta. Aku memburu senja ke pantai, memburu senja ke balik gunung, memburu senja yang membias di gedung-gedung bertingkat. Namun itu sudah lama sekali berlalu…”

Novel yang melelahkan, membosankan, menjadikan bacaan yang terengah-engah di awal, tengah, sampai akhir. Penjelasan setting tempat yang bertele-tele, penjelasan karakter yang berputar, aturan mainnya kurang cantik, bahkan saat sampai halaman 200 yang berarti mendekati garis finish, detail penjelasan tempat masih berlangsung. Ya ampun… bagaimana sebuah buku bisa menjadi begitu berliku dan lelah sekadar mencoba ikuti alur.

Kisahnya dibuka dengan sebuah penipuan. Dalam Kitab tentang Kejadian yang Akan Datang bahwa Penunggang Kuda dari Selatan menguasai bahasa Negeri Senja tingkat tiga yang sudah langka. Sang Musafir sempat ditanya, oh bukan dia. Lalu ada yang datang dan mengaku sebagai The One tersebut, dibawa ke Guru Besar, ternyata penipu, maka massa langsung membantainya. “Negeri Senja adalah tempat yang berbahaya.”

Lalu kita diajak mengenal negeri asing di tengah gurun tersebut. Waktu seolah terhenti. “Aku tidur pada senja hari dan bangun pada senja hari.” Jadi di sini sepanjang waktu adalah senja: pagi, siang, malam, semuanya sama. Di Negeri Senja, orang mati tidak pernah benar-benar pergi. Kenapa tidak, di sebuah negeri di mana matahari termungkinkan untuk tidak pernah tenggelam. Kisah tentang lempengan matahari raksasa yang berjuang keras untuk terbenam namun tak pernah berhasil melewati cakrawala dan semesta bergetar karenanya. Di sebuah negeri yang selalu tenggelam dalam keremangan, sekilas cahaya sangat banyak artinya dan keping-keping mata uang emas yang sangat jarang terlihat itu memang akan berkilat-kilat meski ditimpa cahaya yang hanya sedikit saja.

Seperti Sukab yang mengirim surat pada Alina, kali ini sang Musafir mengirim surat untuk Maneka. Mengisahkan petualangannya. Apakah yang bisa dilakukan untuk menghalangi datangnya masa depan yang penuh dengan perubahan menggelisahkan?

Ia penyendiri, ia datang ke sana sebagai sang musafir. Ia menjaga jarak, tak memihak pihak penguasa atau para militan bahwa tanah. Seorang pengembara dalam sunyi sangat sering terkecoh perasaan sendiri, sehingga dengan perempuan mana pun aku bergaul, selalu kujaga jarakku dari suasana hati yang semu. Diperintah oleh rezim ganas. Sejarah kekuasaan Tirana adalah usaha menindas kebebasan pikiran itu, karena dengan pikiran kita bisa menolak kekuasaan. Sekarang aku mengerti, kebisuan dan kegelapan adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan di Negeri Senja – yang tak memahaminya tak ambil bagian dalam permainan ini.

Sang Pengelana lalu mencoba memahami posisinya. Ia di kedai turut dalam kekhawatiran warga, ia turut pula dalam bisik para detektif yang mencoba menggulingkan kekuasaan yang sudah lama lalim. Hatiku gundah dan gulana. Puan Tirana Sang Penguasa yang tak pernah terlihat wajahnya dan Buta telah menghamburkan kekejaman begini rupa, namun Tuhan Mahabaik seperti tidak berbuat apa-apa. Tirana barangkali bisa membaca pikiran, namun bagaimana jika pikiran yang dibacanya sengaja dikacaukan? Bisakah ia membaca pikiran di balik pikiran?

Sudah banyak percobaan penggulingan, tapi selalu gagal. Bayangkan, lawan kita adalah makhluk yang bisa membaca pikiran bak anggota X-Mens! Gerakan bawah tanah terbesar melawan tirani adalah Perhimpunan Cahaya yang dipimpin oleh Rajawali Muda. Terdapat lima golongan lain yang besar, (1) Gerak Kesadaran; (2) Kerudung Perempuan; (3) Sabetan Pedang; (4) Wira Usaha; (5) Lorong Hitam. Selain itu masih ada kelompok remeh, golongan kecil yang terburai.

Kita memang ditempatkan sebagai pembaca/pendengar dongeng Sang Pengelana. “Apa yang kuceritakan itu hanyalah suatu susunan tambal-sulam dari berbagai cerita yang kudengar di kedai, di pasar, dan di jalanan.” Maka mencipta kisah satu arah yang tentu saja kita harus menerima apapun yang dicerita. Debar degub sesekali muncul, tapi memang sudah kuyakini Sang Protagonist aman.

Seperti ada kesunyian yang kosong dan memberikan perasaan terasing di mana cahaya yang tersisa dalam senja bisa terdengar sebagai bunyi yang sepi – seperti denging, tapi bukan denging, seperti gumam, tapi bukan gumam, seperti desah, tapi bukan desah, hanya sapi, tapi berbunyi. Mungkinkah itu bunyi kekosongan?

Semangat perlawanan yang telah lama tergalang bagaikan seribu satu mata air yang membentuk anak sungai kecil di berbagai tempat dan menemukan arus serta gelombangnya dalam pembahasaan para pelajar… bergabung menjadi debur ombak dan hempasan gelombang. Tirana yang berkuasa, yang mampu membaca pikiran, memenjarakan roh, dan menentukan takdir, bagai tuhan yang jahat, bagaimana tidak akan tertawa melihat usaha perlawanan terhadapnya?

Endingnya sendiri horor. Menakutkan membayangkan pembantaian yang dicipta. Darah di mana-mana, jalanan dijadikan ajang saling tikam, nyawa menjadi begitu murahnya. “Kota yang hancur luluh dengan mayat-mayat memenuhi ruang, kurasa aku tidak pernah akan tahu apakah suatu hari duka ini akan pupus.”

Lalu apa gerangan maksud Sang Pengelana memasuki negeri antah yang mengerikan ini? Hanya sekadar mampir lewat ataukah menjadi juru selamat?
Untuk mendendangkan dongeng dalam satu wilayah, kita disuguhi lima bagian, belum termasuk prolog dan epilog plus lampiran tentang visual dan proses menggambarnya. Menjelaskan bagiamana akhirnya novel ini bermula dari cerita bersambung, lalu dibukukan, lalu menang KSK, lalu dibuatlah ilustrasi para tokoh. Bagus sih, tapi bagiku yang utama adalah cerita. Mau digambar semewah Ernest H. Shepard yo monggo, mau dibuatkan semegah komik DC ya silakan, tetap saja yang utama cerita. Kisah buku ini merumit sendiri, bingung sendiri, mengajak pembaca turut bingung dan sekali lagi, melelahkan. Lampiran akhir ada enam lembar, itu adalah draf pilihan. Hasil akhir ada di pembuka, menggambarkan bentuk karakter di buku.

Epilognya dimulai dengan pengakuan; kesalahan penulis adalah memandang dunia ini sebagai suatu cerita. Nah kan. Absurd! Nama Seno Gumira Ajidarma (SGA) sudah besar sejak saya masih kecil. Namanya lekat atas sastra berkualitas, baru beberapa yang kunikmati. Beliau juga serba bisa, kumpulan esai ada, kumpulan cerpen ada, novel-pun ada, yang belum nemu dan belum kubaca kumpulan puisi. Namun pernah lihat di youtube, cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku, dinukil dan dibacakan bak barisan bait, mungkin karena pembawaannya yang keren, dan juga – eheem…- yang membawakan sekelas Dian Sastro Wardoyo makanya terlihat powerful!

Sebuah tempat asing dan misterius, Negeri Senja adalah negeri yang sulit diterima akal, negeri ini seperti puisi, hanya bisa dipahami jika dihayati. Yah, persis seperti itulah kisahnya. Sengaja mencipta bosan, sengaja mencetak bait dalam rengkuhan samar. Ada benarnya juga kalimat di kover belakang, “Roman petualangan, tentang cinta yang berdenyar di antara kilau belati, cipratan darah, dan pembebasan iman.”

Negeri Senja | by Seno Gumira Ajidarma | KPG 59 15 01044 | 2003 | Cetakan kedua, September 2015 | Desain sampul Rully Susanto | Tata letak Wendie Artwenda | Ilustrasi isi Margarita Maridina Chandra | Rancangan Busana Poppy Dharsono | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | xx + 244 hlm.; 14 cm x 21 cm | ISBN 979-979-91-0930-9 | Skor: 3.5/5

Cerita kecil Untuk almarhumah Ibu: Poestika Kusuma Sudjana (1923-2002)

Karawang, 120421 – Ronan Keating – Everything I Do (Do it For You)

*) Thx to Ari Naicher (Rindang Buku), Klaten

**) Kubaca dalam satu hari saat cuti tahunan di Masjid Peruri Karawang pada 12 Maret 2021

***) Hari ini mendapat kabar sedih dari keluarga; Sabar, Tawakal, Iqtiar. Allah bersama orang yang sabar.

****) Selamat datang Ramadan 2021

“Bagaimana Cara Mendapatkan Ide?”

Menumis itu Gampang, Menulis Tidak by Mahfud Ikhwan

Saya berharap bisnisnya kali ini bagus, atau setidaknya baik-baik saja. Namun, melihat intensitasnya ngopi bersama saya, saya khawatir yang terjadi adalah sebaliknya. Ia memang banyak gagal, dan mungkin karena itu kami berteman.”

Tentu saja tak banyak, karena menulis tidak memberi saya banyak uang…

Melihat ilustrasi bukunya saja sudah bikin males, tiga pose santuy, rebahan dalam kebosanan. Dan warna kuning, jersey Malaysia yang mengesalkan itu. Banyak hal mewakili pengalamanku sendiri, otomatis banyak hal pula menjadikannya ironi hidup. Sepakbola, buku, Muhammadyah, resign di tahun 2009, males keluar rumah (apapun modanya), kopi melimpah dst. Lazio, Chelsea, La Coruna rasanya hanya tim gurem yang tak ada apa-apanya dalam sejarah Eropa dibanding gelimang gelar AC Milan, Liverpool, dan eehhheemmm Madrid. Saya benar-benar mencintai bola lebih belakangan, baru di Piala Dunia 1998 kala Italia bersama aksi Vieri-nya, yang hanya semusim, maka ketika hijrah dengan rekor hatiku tetap bertahan di Olimpico. Sepakat sekali segala apa yang dikisah panjang lebar dalam ‘Menunggu”, yang menyata bahwa kecintaan pada permainan ini sungguh absurd.

Walau terkesan sombong, seperti yang terlihat dalam wawancara di Youtube, “saya punya buku baru lagi…” atau ketika mengunggah gambar di sosmed saat membubuhkan untuk momen pra-pesan. Keterangan yang tertera, ‘resiko penulis produktif’ bagiku, Cak Mahfud adalah pribadi rendah hati. Dalam esai yang diproduksi untuk kolom Mojok selama 2020 ini, kita bisa mengenal Sang Penulis, sebagian besar lucu, sebagian besarnya lagi ngomong ngalor ngidul nostalgia masa lalu. Apa yang disampaikan adalah hal-hal umum, kegiatan sehari-hari, hal-hal yang biasa kita hadapi. Tak ada yang muluk-muluk, ngawang-ngawang, atau seperti yang sering disebut sama beliau, “tak rumit dan tidak ndakik-ndakik”.

Kebetulan saya baru saja menyelesaikan baca Zarathustra. Bagus sih, tapi benar-benar melelahkan, serius sekali, dan mencoba ‘mengesankan’, bagus di sisi lain tapi tak nyaman. Benar-benar Menumis Itu adalah penawar jitu. Sebagai buku pertama yang kuselesaikan baca bulan ini, ini benar-benar fun, ketawa ketiwi sendiri, dan seringkali bilang, ‘wah aku banget’ hahahaha…. Berisi 21 tulisan dengan tema yang berkutat di kontrakan. Sebenarnya mau ulas acak dan sekenanya aja, ternyata malah ketikannya tak bisa dihentikan. Lagian baca biografi Bung Karno sudah selesai, dan waktuku melimpah. Yo wes, setiap kolom kukupas singkat-singkat sahaja.

#1. Ayam di Beranda

Dibuka dengan cerita ayam yang suka ‘main’ di beranda kontrakan, suka buang tahi, dan gelisah nangkring di pohon kala hujan. Apa yang ditampilkan adalah kejadian lumrah yang seringkali dialami masyarakat Pedesaan. Sampai akhirnya seorang penulis muda berkunjung, menyingkirkan kursi dari beranda, dan membantu ngepel. See, tak ada bom yang meledak di pekarangan!

#2. Dapur Hijau

Tentang dapur yang asri, memberi corak hijau di dalamnya dengan sebuah wastafel. Well, so sorry bukannya sombong kita-kita warga urban, sudah biasa dengan wastafel rumah. Bukan perabot mewah, bukan pula sesuatu yang patut dibanggakan. Namun inilah keunikan kisah, ia lalu bernostalgia ke era masa perjuangan semasa kecil. Dan, sayangnya apa yang dicerita di masa lalu, sungguh mirip denganku di Palur. Lantai tanah, cuci piring dengan abu gosok, nimba sumur buat ditampung di ember cuci.

#3. “Pulang

Cerita ketiga bisa jadi yang terbaik (yah yang kedua deh), memaknai kata ‘pulang’. Pengalaman pribadi jua, sebagai perantau sejak lulus STM, saya tenggelam dan ada kesan sentimental bila berbicara rumah. Dulu saya selalu bilang, pulang kampung. Pulang ya ke Palur, dan selalu bilang berangkat kembali ke Cikarang. Namun sejak terikat gadis di Karawang, arti rumah memberi kesan berbeda sebab ada tujuan di sini, dan apa yang ditampilkan dalam kolom ini sungguh tepat sekali. Jadi pas ia mudik ke Lamongan, lalu pamit balik ke Bantul, ia berujar ‘pulang’ ke temannya. Rasanya apakah ia menemukan rumah baru di Yogyakarta? Apalagi, tiap update berita, “saya sudah tak tahu lagi, siapa yang lahir, siapa yang mati.” Sungguh tepat sekali. Bukankah apa yang terjadi pada saya juga terjadi dengan kebanyakan perantau? BIG ya!

#4. Menumis itu Gampang

Tulisan keempat lucu, dan cocok jadi judul buku. Kita harus hargai orang-orang yang mau memasak sendiri. Dan ini ia lakukan, dengan nada tak serius. “Saya memang ahlinya melakukan tindakan sia-sia dengan cara yang rumit.” Begitu katanya ketika nasi gagal itu dikasih ke ayam di halaman. Patut dihargai pula tentang pijakan hidup dalam pergulatan fikih tentang nasi orang mati. Dan poin utamanya, memasak tumis kangkung yang nikmat dengan sachet produksi Indofood Racik ternyata gampang, rasanya sama dengan kuliner Yogya yang enyak-enyak itu. Rahasia penting seolah terbongkar. Hahaha tawa Plankton Sheldon. Mereka memakai bumbu instan yang sama. Oh catet!

#5. Perjalanan

Dalam Perjalanan, ini jelas mewakili kata hatiku. Tahun 2009 atau 2010, dalam catatan facebook saya pernah nulis 100 about me, salah satu poinnya saya tak suka jalan-jalan, tapi selalu ingin merenung di gunung atau main air di pantai, selfi di bukit hijau, nah kok bisa? Saya tak suka traveling. Di sini dibongkar. Ia menyebutnya, “kegelisahan yang tak terjelaskan.

#6. TV

Saya punya TV merek-nya Oke tahun 1998 kala Piala Dunia berlangsung (atau setahun sebelumnya, lupa), dan betapa bangganya saya bisa nonton di rumah sendiri, biasanya saya nebeng nongkrong di tetangga atau saudara sekadar menikmati Layar Emas RCTI atau Dunia dalam Berita TVRI. Kalau remote rusak, kaki menjulur untuk mengganti channel, antena harus diputar bila kena angin, atau baru baterai yang di-pepe di atap kala ‘habis’.

#7. Bonsai

Ketika tahun 2009 saya keluar dari pekerjaan, punya waktu berlimpah untuk ngopi dan punya sedikit tabungan untuk bersantai…” Persis saya, pengen leha-leha menyusun bebek rencana di pematang sawah. Namun saya mbalik ke tanah rantau untuk kembali jadi buruh, karena menurut bebek rencana umur 28 harus nikah, dan ngopeni anake wong, harus punya penghasilan. Oh, saya pecundang sejati, tak punya keberanian penuh mewujudkan impian liar, tak berani bertaruh. Hanya berani separuh gerak, lalu terpenjara lagi. “Kurang lebih seperti orang-orang yang memelihara pohon hanya untuk dikerdilkan.” Hiks, sedih mengingat itu. Ternyata masa itu baru 11 tahun, dan pertaruhan telah luntur. Salut buatmu, Cak Mahfud.

#8. Beradab

Rebahan, tidur, bengong berlama-lama memandang rak buku. Saya juga sudah sering melakukan sebelum pandemi. Maka kini menjadi beradab, dianjurkan, bahkan didesak. Sewaktu kecil, sudah biasa menunggu jambu jatuh di bawah pohon tetangga, sudah jadi kebiasaan menanti pelem ranum kena goyang angin atau badai, bahkan sisa codot juga kita embat, setelah jatuh di kalen? Kenapa tidak? Yah, kalau tak mau jatuh karena alam, gmana kalau kita jatuhkan. Pakai ketapel misalnya. Di sini, kita tahu iklan ‘belum lima menit’ adalah lelucon. Tisu? Idem!

#9. Tiga Jumat

Kita semua di masa yang sama, larangan kumpul apapun termasuk menggelar Jumatan sungguh terasa janggal. Apalagi ancamannya adalah label munafik, hadisnya jelas dan shahih. Dan dengan bijak (jiah… memang bijaksana) ia menjawab, “Aku ikut keputusan PP Muhammadyah saja.”

#10. Kolom

Akhirnya ketemu juga yang namanya ‘ide mandek’ (saya tak buntu, hanya kosong). Menulis kolom memang pekerja, ada tuntutan bergaris waktu yang harus dipenuhi, persis sama buruh yang harus datang dan pulang di waktu yang ditentukan. Maka ia pun ngedabrus panjang lebar betapa tanggung jawab itu harus dilaksanakan. “…Anda haruslah seorang tukang jagal sekaligus juru masak untuk tulisan Anda.”

#11. Festival

Ramadan dan hingar bingarnya. Dari sekian banyak festival rutin ini, saya nyaris turut serta semua yang disebut. Menambahkan daftar sahaja; main monopoli, catur, ular tangga di teras rumah orang dari subuh sampai capek. Kadang jalan kaki memutar kampung, sambil ngobrol apapun. Malamnya tadarus menanti makanan, hingga petasan yang membahana di banyak malam. Kalau siang, ada ‘long bumbung’ dari pring (bambu) yang dilubangi, sulut api, saling tembak (apa kabar The Gunners?) Sungguh merindu masa-masa itu. Yah, kurang lebih begitulah Cak Mahfud menuturkan tulisan kesebelas ini. “Sekolah ke luar daerah kemudian mencipta rutinitas baru, dan menempatkan rutinitas lama sebagai nostalgia.”

#12. Kolom (2)

Ketemu lagi kata mandek? Yah, mirip. Mungkin ini yang digambarkan dalam cover. “Jika siang malas karena lapar, saat malam malas karena kekenyangan.” Di masa pandemi, dengan banyak larangan keluar, beli gorengan sang penjual mengucap terima kasih dengan begitu tulus.

Baik, bulan depan saya baca The Year of Living Dangerously-nya Christopher Koch yang katamu murahan, nge-pop.

#13. Sepeda

Sepeda, idem. Saya baru bisa naik sepeda saat kelas tiga atau empat SD dan menjadi olok-olok teman sekampung. Lambat benar ya, bahkan saya tak punya sepeda sendiri sampai akhirnya jelang lulus SD punya federal ungu ke-merah jambu-an. Itupun second, dari tetangga yang menang hadiah, bosan pakai, lalu dijual murah ke kita. Dibayar kredit, berbunga! Mantab. Kali ini Sang Penulis berkisah sejarah sepedanya, “angin dan kumbang”. Well, suatu saat saya mau cerita Sikusi, sepeda (motor) berusia 15 tahun dan akan terus kugunakan hingga ia kehabisan energi.

#14. Perayaan

Lega setelah libur paksa lama sepakbola, akhirnya bisa menyaksikan Haaland beraksi dan merayakan gol tanpa pelukan, ‘jaga jarak’. Yah, bahkan saya yang tak suka Bundeslig, saya tonton laga come bek itu seiklan-iklannya! Saya sendiri juga tak terlalu antusias Hari Raya, keliling kampung salaman. Saya lebih suka Cuma sama keluarga dekat, santuy ngumpul saja. Nyatanya, tahun 2020 tak ada mudik. Benar-benar Lebaran tak biasa, “Bagaimana lagi”, katanya, memaklumi.

#15. Berguna

Ini mungkin yang terbaik, lebih bagus dari “Pulang” sebab hakikat manusia yang berguna itu sangat lebar jabarannya. Jadi ingat, siang tadi istriku May menggalang baju layak pakai, makanan, dan segala bantuan buat korban banjir sama ibu-ibu sekompleks. Saya berdalih, “Kaosku mayoritas tak layak sumbang, bisa lima enam tahun sekali belinya” Ia memulai menggalangnya, tanpa banyak rencana, refleks saja melihat berita banjir di Karawang meluas. Dan berhasil. Tepuk tangan untuk May, hebat sayang. Saya turut terharu menyaksikan, barang bantuan itu menumpuk di rumahku hanya dalam waktu kurang dai 24 jam! Sungguh mulia dan berguna istriku, untuk masyarakat.

Berbanding terbalik denganku. Saya males keluar rumah, males turut ngopi bapak-bapak kompleks (beda sama teman lama rasanya), males ronda, males ikut kerja bakti. Dua minggu ini ada kegiatan perbaikan fasum, dan saya absen keduanya. Males sekadar nyupir antar arisan. Benar-benar tak guna saya ini, egois atau lebih ke cuek. Nah, tema itu dijabarkan panjang lebar sama Cak Mahfud di sini, jelas kamu sangat berguna, peranmu lebih besar Mas. Saya HRD Perusahaan, yang bahkan ketika ada sanak family nitip lamaran saja saya tolak, atau ketika saya terima (dengan terpaksa) surat lamarannya, saya ikutkan tes dengan fair, banyak yang gagal. See, benar-benar tak berguna ‘kan saya?! Lebih ke males urusan sama orang aja, dan kerjaanku setiap hari adalah konsultasi, konseling karyawan, kasih nasehat, mendengar orang-orang bermasalah menjelaskan masalah. Lalu memberi opsi solusi. Ironis, malesi ‘kan?

Karena melihat ke-“berguna”-an buku/tulisan bisa sangat konkret sekaligus abstrak, bisa sangat spesifik tapi juga bisa sangat luas, dank arena itu sulit diukur, maka tujuan “berguna” untuk buku pelajaran ini saya modifikasi yang lain lagi, saya lakukan untuk novel berikutnya lagi.”

#16. Menunggu

Ini menarik. Bagaimana menunggu Liverpool juara Liga, dirayakan dalam kekaleman. Tak perlu emosional, setelah rontok pertama kali tiga gol di tangan Watford, kalah sama Atletico, dan lepas FA. Akhirnya penantian itu berakhir kala Chelsea ‘membantu’ memastikan gelar juara Reds di tengah pekan, ini terjadi setelah laga-laga sepakbola ditunda. Lalu ia bercerita bagaimana mencintai tiga klub BESAR di Eropa. Jadi pengen cerita detail bagaimana saya mencinta klub jagoan. “Nikmati selagi bisa. Jika gembira, terharu, keranjingan, edan, atau diksi-diksi meluap-luap yang lain…

#17. Ideal dan Ironi

Dulu, kos terakhir saya sebelum nikah adalah sebuah rumah sepi, kontrakan terpencil dengan pemandangan sawah, dan kuburan tepat di depan halaman rumah. Rumah sendirian di tengah lapang, rumah terdekat sekitar lima puluh meter, selepas Isya, benar-benar sunyi. Kontrakan itu tak laku, maka sama induk semang disewakan teramat murah. Saya betah tinggal di sana sebab sepi banget. Tiap malam kubaca buku di teras, ditemani suara jangkrik ya sesekali dengar mp3 HP track list George Benson, semilir angin, selepas nyeruput kopi dan jeda baca memandang ke depan, kuburan yang sungguh tenang. Batu-batu nisannya jelas terlihat sebab kuburan itu di atas, rumah yang kuhuni di bawah. Manteb! Saya merindukan masa itu.

Maka Cak Mahfud terasa terganggu saat pohon-pohon di dekat rumah itu ditebang, suara pembangunan menggeber, menyayat sepi, lalu ia bercerita masa kecilnya sebagai side-kick pencuri kayu di hutan.

#18. Tercerabut

Sungguh ironis, seorang bocah tegalan seperti saya membutuhkan wabah untuk kembali ke umbi-umbian.” Mana salah kupas lagi, hahahahaha… well, di kampung saya punya kebun penuh singkong dan ketela. Entah dari jenis apa, dulu sampai muak sama pohong. Benar banget, tanamnya simple. Tinggal tancap, di pelajar IPA baru kutahu namanya stik, bisa dilakukan untuk pohon-pohon istimewa, sebab tahan segala cuaca, dan sehat.

#19. Perempuan Tua dan Benang Rayutnya

Menyukai sepakbola, seperti benang yang susah payah dirajut dan kemudian dibongkar, adalah rasa sakit dan sulit yang dinikmati, kebahagiaan yang fana dan dengan cepat memudar, dan ia lakukan berulang-ulang. Dan saya kira karena itulah, saya tak membutuhkan rasa sakit yang lain.”

#20. Hasil

Apakah lagi-lagi saya sedang bercerita tentang hal-hal sia-sia yang bias akita alami?” Ya, kok tahu? Setelah membaca tujuh halaman, saya sempat agak boring, mana menariknya penghijauan dapur itu? Dan hebatnya, ia tahu, ia sudah merasakan apa yang akan pembaca rasakan.

Bagaimana merasakan simpati atas ‘nyawa’ tanaman kangkung, memberi tambahan waktu hidup walau tak lama. Hahaha… pengen tak lempar potnya ke tembok, biar ambyar sekalian. Hahaha

#21. Dua Jendela

Sebagai cerita penutup, tertanggal tulis 14 Juni 2020 yang berarti kolom ini berlangsung enam bulan. Cerita ini lebih tenang, memandang jendela dengan perpektif dua arah. Jendela depan dan belakang rumah yang memberi pandang horizon bahwa Cak Mahfud ternyata jarang menulis tentang masa kini, seorang sentimental? Ya lebih tepatnya, ia adalah pemuja masa lalu. Idem, sepakat, seiya sekata. “Gampangnya, semulia apa pun pekerjaanmu, pada akhirnya larinya ke dapur juga.”

Kubaca dalam tiga hari (5-7 Feb 21), Karawang hujan bertubi-tubi, saya yang memang dasarnya malas keluar rumah, makin rapat selimut dan membuncahkan daftar baca. Ini adalah buku ke, hhmm… bentar saya hitung lagi. Dawuk check, Kambing dan Hujan check, Sepakbola Tidak akan Pulang check, Cerita Bualan check, Dari Kekalahan check, dan ini. berarti sudah lebih dari separuh karya beliau kulahap. Ulid, Belajar Mencintai, Aku dan India (jilid 1) sudah kumiliki, rencana bakal kubaca tiap bulan satu bukunya. Jilid II India sudah pesan, kemungkinan kubeli bersamaan dengan sekuel Dawuk. Itu artinya, setidaknya sampai bulan Juli sudah terjejer daftar baca-ulasnya. Mantab bukan? Mahfud Ikhwan adalah salah satu Penulis terbaik di era kita, jaminan kualitas, tak pernah mengecewakan setidaknya sampai buku keenam yang kulahap.

(Ket: Kambing dan Hujan setelah ku bongkar rak sejam tidak ketemu, ternyata dulu pernah dipinjam teman, dikembalikan, kutaruh laci, terlupakan. Sampai sekarang, terlelap di sana)

Salut sama keberanian pilihan hidup kala di persimpang jalan, hal yang nyaris kulakukan tahun 2009 saat resign dari kerja dan coba menata ulang arti hidup. Namun saya tak seberani itu, saya hanyalah manusia kebanyakan yang turut dibelenggu jam kerja, terpenjara kewajiban tahun 2011 menikah. Darani pernah bilang, “Kenikmatan pujian dan kepasrahan hati yang bisa dirasakan bujangan tidak akan bisa dihayati orang yang kawin.” Ibrahim ibn Adham mengungkapkan hal serupa, “Ketika seorang lelaki kawin, ia naik perahu; kalau anaknya lahir, perahu itu karam.”

Sebagai penutup saya kutip ‘kebanggan’ Cak Mahfud yang sukses dengan pilihan hidupnya. Seperti Murakami yang berani menutup kafe-nya demi fokus menulis. Walaupun taraf-nya beda, tapi keberaniannya di frekuensi yang sama. “Meski sering menolak menyebut kegiatan menulis saya sebagai pekerjaan, pada dasarnya memang inilah pekerjaan saya. “Menjalankan darma”, “membeli buku”, “bersenang-senang”, “melakukan apa yang bisa saya lakukan”, atau frasa lain yang kadang terlalu agung dan selalu sulit diverifikasi…”

Sekali lagi, selamat, kamu berhasil memukauku. kapan-kapan saya pengen icip-icip tumis kangkung buatanmu.

Menumis itu Gampang, Menulis Tidak | by Mahfud Ikhwan | 2021 | Penyunting Prima Sulistya | Pemeriksa aksara Dyah Permatasari | Penata isi dan desain sampul M. Saddam Husaen | Ilustrator isi Nurul Ismi Fitrianty | Cetakan pertama, Januari 2021 | xiv + 252 halaman | ISBN 978-623-7284-48-2 | Penerbit Mojok | Skor: 4/5

Karawang, 090221 – Dizzy Gillespie feat. Charlie Parker – A Night in Tunisia

Thx to Dema Buku, Jakarta

#Januari2021 Baca

Saya masih memberi kesempatan kepada klub-klub untuk kembali ke kompetisi yang resmi. Paling tidak sampai Senin ini. Ya, paling lambat Senin malamlah.”Johar Arifin dalam buku Dari Kekalahan ke Kematian (Mahfud Ikhwan)

Awal tahun yang padat. Saya sudah coba baca santai, tapi kondisi malah mencipta waktu luang lebih banyak. Saya kena shift seminggu masuk jam 12:00 karena pembatasan skala besar Karawang. Maka punya waktu baca pagi lebih panjang habis subuh sampai jam 09:00, luar biasa pagiku benar-benar melimpah.

Dimula dengan Zarathustra di tanggal 1 selesai tepat 31, lalu diselingi buku-buku lain yang lebih ringan. Gila, buku berat dan melelahkan. Namun kelar juga, tepat sebulan! Buku baru sudah Sembilan paket, jadi tumpukan masih sangat tinggi. Semangat!

Segala genre saya lahap!

#1. Life of Pi by Yann Martel

Fantasi atau fakta? Ada dua cerita, yang pertama bersama sesekoci sama macan yang tak bisa dilogika, yang kedua bersama pembunuh yang terbunuh. Endingnya dijelaskan, tapi tetap absurd. Begini seharusnya cerita sebuah perjalanan dibuat. Kalau kita, para warga negara, tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita, berarti kita telah mengorbankan imajinasi kita di altar realitas yang kejam, dan pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apa pun, dan mimpi-mimpi kita tidak lagi berarti. Jelas novel yang laik didiskusikan lanjut.

Jangan sampai patah semangat, boleh merasa kecil hati tapi jangan menyerah. Ingat semangat sangat penting, melebihi lain-lainnya. Kalau Anda memiliki kemauan untuk hidup, Anda pasti bisa bertahan.”

#2. Dari Kekalahan ke Kematian by Mahfud Ikhwan

Cak Mahfud memang jaminan, sejauh ini. Ini buku kedua tentang sepakbola yang kunikmati, jelas lebih baik ketimbang rangkuman review per pekan sepakbola Eropa dalam ‘Sepakbola Tak Akan Pulang’. Kali ini fokus ke cerita lokal, mayoritas diangkut dari blog-nya belakanggawang.blogspot.com yang diampu bersama Bung Darmanto Simaepa. Sobatnya tersebut, ternyata sobat kental beberapa kali disebut menjadi teman curhat dan nonton bareng. Setara Grandong yang jadi sobat misuhi Liverpool dengan kepleset Gerard-nya. Masih ingat review buku Tamasya Bola? Kata Pengantarnya keren sekali oleh Cak Mahfud, di Dari Kekalahan, dibalik. Pengantarnya oleh Darmanto, panjang meliuk-liuk liar, dan muatan isi bukunya segaris lurus.

Barangkali sepakbola unik karena ia bisa memberikan harapan berulang kali.”

#3. Oliver’s Story by Erich Segal

Kisah cinta lanjutan. Memang sulit melanjutkan cerita wow, atau setidaknya menyamai. Sekuel yang mengalami penurunan kualitas, tapi masih bagus sebab endingnya pahit, cara berceritanya bagus, pemilihan plotnya lumayan juga. Tak seperti kebanyakan cerita romantis yang mellow. Sesuai harapan, untung sekali mereka ambyar. Walau alasannya terlalu politis, terlalu kurang alami, sekalipun itu terkait aturan birokrasi, menentang prinsip hidup, idealism yang dipegang, sebagai Sarjana Hukum ia jelas menentang eksploitasi anak-anak untuk bekerja, tapi kisah ini jadinya malah muluk, dan adegan Hongkong itu jauh dari kesan asyik seperti eksekusi di Rumah Sakit, ending luluh lantak sebelumnya. Seperti kata Jimi Hendrix waktu Woodstock.

Keadaan cukup buruk dan dunia ini perlu dibersihkan.”

#4. My Beautiful Feeling by Walter & Ingrid Trobisch

Masturbasi perempuan. Tema yang tabu dari dulu, bahkan sampai era digital ini. Di sini dikupas panjang, dari surat-surat remaja Jerman di masa SMA hingga kuliah, surat-surat pribadi itu dikirim ke seorang psikolog yang biasa mengisi rubrik di Koran nasional tentang tanya-jawab pembaca. Lalu, entah apakah surat ini ditayangkan atau tidak, malah dibukukan. Ini adalah buku kedua terbitan BPK yang kubaca, setelah curhat masa muda Indonesia tahun 1980-an dengan Suhartin, apa yang harus saya lakukan?

Kalau kau tahu tujuannya, kau dapat menemukan jalannya.”

#5. Mata dan Riwayat Semesta by Wija Sasmaya

Buku tipis yang aslinya hanya berisi 75 halaman. Namun menjadi dua kali lipatnya sebab buku ini bilingual, diterjemahkan jua ke dalam Bahasa Inggris. Dicetak bolak-balik, tapi karena saya saat ini nyaman dengan Bahasa Indonesia, dan celetuk, ‘kurasa buat apa membaca Inggris-nya toh, isinya sama’, maka buku ini hanya kunikmati separuh. Separuhnya bagaimana, mungkin suatu hari nanti kubaca lagi, entah kapan, yang jelas bukan dalam waktu dekat. Dua kali saya memiliki dua sejenis ini, yang pertama karya Marga T, versi separuh asing jelas ku-skip. Benar-benar tak rekomendasi deh ide bikin bilingual gini, boros kertas. Kecuali diterjemahkan, lalu dijual terpisah, jelas itu lain soal sebab tak menempel langsung.

Hidup itu ibarat cuma mampir minum, dan sebaik-baiknya minum tentu minum air jernih yang menyejukkan jiwa.

#6. Memoar Ronny Patinasarany by Andreas J. Waskito

Memoar yang berkesan, jadi tahu detail era emas Timnas Indonesia-pun penuh intrik politik. Bagaimana ia dilarang merokok, tak mau nurut dicoret dari skuat, lalu hukuman lama itu dikurangi menjadi beberapa bulan. Buku ini gambaran umum saja, dari karier bolanya yang cemerlang dari Makassar, Surabaya, hingga Jakarta. Bagaimana ia menjadi pegawai Bank BNI, menjadi pencari bakat, lalu musibah kanker yang dialami. Sepertiga akhir adalah masa sulit, pengobatan ke China hingga akhir hidupnya. Lalu sebelum epilog sang istri, kita menyimak pendapat beberapa rekan, keluarga, dan bosnya. Buku yang padat dan emosional.

Kalaupun anak saya meninggal, dia meninggal dalam kasih sayang saya. Saya rela menghilangkan harga diri, popularitas, hidup… tapi saya tidak pernah rela kehilangan kasih sayang saya kepada keluarga.”

#7. Pembunuh by Rayni N Massardi

Dengan kata pengantar oleh maestro sastra kita, Seno Gumira Ajidarma, sesuatu yang sangat menjual dicetak tahun 2005, di mana dunia sedang mengalami proses transisi ke data digital besar-besaran, apa yang disampaikan secara garis besar mewakili kehidupan kaum urban kebanyakan. Wanita karier yang bosan di ibukota, kekejaman vonis keluarga atas nasib tak bagus saudara dalam acara ngumpul rutin, gadis desa yang merantau, keputusan penting jadi mudik ke Indonesia atau menetap di tanah orang, istri yang cerewet atas kesetiaan suami, kehidupan pagi di stasiun kereta, sampai kehidupan rutin di kantor yang mencipta ‘demo’ akan mesin pencatat kehadiran.

Kita tidak mungkin bangga akan orang lain, tapi dapat bangga pada diri kita sendiri.”

#8. Kuntilanak Pondok Indah by Lovanisa

Cerita yang aneh, tapi lumayan menghibur juga. Nama-nama karakter utamanya kebarat-baratan semua: pearly (putih dan berkilau seperti mutiara), Cherie (siapanya Cher?), Shena x Xena, dst. Pola hidup orang kota yang kental, jelas kalangan menengah atas: rutin ke salon, makan pizza, naik Yaris, kos? Sewa pembantu merangkap chef merangkap intel dong, mainnya bilyar, di sini disebut Four Hole, mungkin diselingi miras dan obat, tapi tak boleh disebut kena rating ntar. Lupakan logika sebab memang ini buku fun aja, bedakan ‘di’ disambung dan ‘di’ dipisah saja sulit. Bahasanya gaul, lo gue end, No Prob. Melamar pakai cincin berlian dengan mata berwarna putih dikelilingi permata-permata kecil. Romantis itu pakai kawat yang disambung, tapi ya tak level-lah. Liburan? Ke Bali sewa vila, semudah mengucapkan pesan nasi orek di Warteg.

Mana gue tahu, lo sih Conan bukan, FBI juga bukan, sok-sokan main selidik-selidik aja.”

#9. Zarathustra by Frederick Nietzschie

Buku yang luar biasa (membingungkan). Kubaca ditanggal 1 Januari di rumah Greenvil sebagai pembuka tahun, di tengah mulai kehilangan arah (bosan dan mumet), maka kuselipkan bacaan-bacaan lain yang setelah bulan berganti kuhitung ada 9 buku, tapi tetap target baca kelar buku ini di bulan Januari terpenuhi tepat di tanggal 31 di lantai 1 Blok H, walau tersendat dan sungguh bukan bacaan yang tepat dikala pikiran mumet. Awal tahun ini banyak masalah di tempat kerja, pandemik harus ini itu, aturan baru semakin meluap, dan tindakan-tindakan harus diambil. Di rumah, lagi mumet urusan buku yang menggunung. Maka lengkap sudah Sang Nabi menambah kesyahduan hidup ini dengan sabda aneh nan rumitnya.

Kita mencintai kehidupan, bukan sebab kita sudah biasa hidup tapi sebab kita biasa mencintai.”

#10. Si Lugu by Voltaire

Buku kecil yang luar biasa. Padat, renyah, sesak, dan pace-nya sangat cepat. Kubaca hanya dalam tempo sesingkat-singkatnya pada hari Sabtu pagi, 30 Januari 2021 di teras rumah langsung kelar. Seperti inilah novelet harusnya dibuat, ga bertele-tele, gayanya dapat, plotnya bagus, endingnya nyesek, dan ada motivasi yang bisa dipetik. Paket lengkap setengah hari.

Aneh juga. Kok air mata bisa menimbulkan rasa lega? Saya kira malahan bisa menimbulkan akibat sebaliknya.”

Karawang, 050221 – Dewa 19 – Kamulah Satu-satunya

Histeria Massal, Folie a Cinq

Kontak by Carl Sagan

Apakah Tuhan ada? Pertanyaan itu mempunyai nuansa yang rumit. Kalau dijawab tidak, apakah itu berarti aku yakin Tuhan tidak ada? Atau aku tidak yakin Tuhan itu ada? Itu dua hal yang berbeda.”

Novel panjang nan melelahkan. Biasanya saya komplain sehabis baca buku kurang bervitamin, buku minim pengetahuan, minim manfaat, atau minim hiburan. Nah, dalam Kontak semua dilibas. Sangat bernutrisi, pengetahuan melimpah terutama terkait astronomi yang setelah selesai-pun masih bikin kerut kening, catat pula buku ini juga ada hiburan. Kejutan surat tahun 1961 mungkin dalam drama Hollywood sudah banyak dibuat, tapi tetap saja ketika diungkap sangat menyentuh hati.

Untuk mencapai Vega dan sebuah penelusuran absurd dibalik pesan yang dikirim, kita butuh berputar melingkar panjang, sungguh melelahkan. Kumulai baca Jumat pagi 3 November sampai Ahad sore 22 November dengan kopi melimpah di teras, dalam balutan bacaan lain, menumpuk. Butuh perjuangan ekstra, sebab jenis buku seperti ini sekalinya diletakkan iseng baca buku lain tertunda seminggu saja, akan sulit dilanjutkan. Makanya harus dipaksakan. Rancang bangun antena dan analisa data.

Selain kecantikan, yang paling penting di dunia ini adalah pendidikan. Tak banyak yang ku bisa lakukan dengan kecantikan, tapi kau bisa melakukan sesuatu dengan pendidikan. Kisahnya mengambil sudut pandang Ellie Arroway, astronot Amerika yang menemukan kontak asing dalam penelitian, lalu pesan itu menjelma mesin, dan mesin itu mengantarnya ke Vega, menemukan jawab akan semesta? Pesan itu berarti intsruksi, cetak biru, sejenis mesin. Kegunaannya masih belum diketahui. Disamping minat utamanya pada matematika, fisika, dan teknik, ia pandai memecahkan kode. Istilah matematikanya existence theorem, sesuatu yang terbukti ada adalah benar. Dalam banyak hal, phi berhubungan erat dengan ketidakbatasan. Sekadar sifat aneh dan tak penting?

Tema novel sangat beragam, astronomi, matematika, agama, sampai sihir. Tak heran Carl Sagan mencampur fiksi dengan teori segalanya, maka setiap bab berganti kita disuguhi kutipan-kutipan keren. Nyaris semuanya wow/ saya kutip dua di mula:

#1. Hatiku bergetar bagaikan dedaunan malang. Planet-planet berpusar-pusar dalam mimpiku. Bintang-bintang mengintai dari jendelaku. Aku berguling dalam tidurku. Tempat tidurku sebuah planet hangat.Marvin Mercer (SD 153, Kelas Lima, Harlem), New York City, NY (1981)

#2.
Lalat kecil,
Keriangan musim panasmu
Tanganku yang tak berotak
Telah menghancurkannya
—-
Apakah aku bukan
Seekor lalat sepertimu?
Atau apakah kau bukan
Seorang manusia sepertiku?
—–
Karena aku pun menari-nari
Dan minum dan bernyanyi
Sampai sebuah tangan tak bermata
Meremukkan sayapku
William Blake, Songs of Experience “The Fly”, Stanza 1-3 (1795)

Kalau kalian penasaran sama kutipan pembuka bab lainnya, mending melahap sendiri. Jelas worth it, jelas nyaman untuk dinikmati. Semakin dalam mereka meneliti ruang angkasa, semakin banyak mereka menemukan sumber gelombang radio dari tempat-tempat jauh di luar Galaxy.

Valerian menekankan betapa kita terperangkap oleh waktu, oleh budaya, oleh struktur biologis. Betapa terbatasnya kita membayangkan makhluk atau peradaban yang secara mendasar sangat berbeda.

Ellie seperti ilmuwan kebanyakan, penasaran berat akan gugus alam semesta yang mahaluas. Kalau kau mengamati cukup banyak bintang di langit, cepat atau lambat akan ada gangguan dari Bumi, atau rangkaian gangguan acak, yang polanya untuk sesaat membuat jantungmu hampir meloncat. “Seperti kehidupan di planet Venus? Itu memang khayalan. Venus sebuah planet neraka. Dan itu cuma satu planet. Di Galaxy ada ratusan miliar bintang. Kau baru mengamati segelintir. Tidakkah terlalu pagi untuk menyerah?”

Dia lalu naik pangkat menjadi direksi di Proyek Argus adalah fasilitas proyek terbesar di dunia yang disediakan khusus untuk mencari peradaban di luar Bumi dengan menggunakan radio. Shannon pernah berkata, “Pesan sandi yang paling efisien adalah yang tidak bisa dibedakan dari suara bising atau noise. Kecuali bila kita sudah mengetahui kunci sandinya terlebih dulu…” Mungkin mereka tidak akan bisa menemukan tanda-tanda kehidupan cerdas lain di alam semesta ini, tapi mereka bisa menarik rahasia-rahasia lain dari kekayaan alam semesta.

Nah, suatu malam mereka menangkap pesan dari langit. “Halo, Ian? Mungkin ini bukan apa-apa, tapi kami menangkap bogey di sini, dan mungkin kalian bisa membantu kami memeriksanya. Frekuensinya sekitar Sembilan gigahertz, dengan lebar frekuensi beberapa ratus hertz…” Lalu pesan itu diumumkan ke pers, yang lalu mencipta histeria massal ke seluruh dunia. Nenek moyang kita berpendapat, kitalah pusat alam semesta.

Maka setiap Negara berbondong-bondong menafsir artinya. Sumber bilangan prima itu bisa dipastikan dari Vega. Sangat banyak planet lain yang menyimpan kemungkinan kehidupan. Mungkin kita bukan satu-satunya makhluk di dunia. Ada semacam kehidupan cerdas di Vega? Kita punya rumus algoritma pemecah sandi, rumus yang ideal untuk itu.

Apesnya, pesan itu berisi sinyal televisi dari Vega itu siaran tahun 1936, Olimpiade Berlin. Siaran itu hanya untuk Jerman, tapi itu siaran televisi pertama yang cukup kuat. Empat puluh juta orang meninggal dunia karena si megalomaniak ini, dan kini ia jadi bintang. Orang-orang luar angkasa menangkap siaran Hitler sebagai berita pertama dari bumi? Mereka menggunakan bahan itu berkali-kali, menuliskan sesuatu di atas tulisan lama, dan hasilnya sesuatu yang disebut palimpsest. Dan setelah telusur panjang nan rumit, kita tahu poinnya adalah instruksi untuk membuat semacam mesin.

Dilemanya, selain biaya mihil, dan kalaupun kita menjawab, jawaban itu akan sampai Vega dua puluh enam tahun lagi, dan dua puluh enam tahun kemudian menerima jawabannya. Maka semua Negara bahu membahu, salah satu sobat Ellie ilmuwan dari Rusia, Vasily Gregorovich Lunacharsky. Berpendapat, “Setiap desa adalah sebuah planet, dan setiap planet adalah sebuah desa.” Tak seorangpun tahu, pesan itu dikirim dengan simbol atau gambar. Beberapa percaya pesan itu dikirim dari Tuhan, dan beberapa percaya itu dari Setan.

Maka hal wajar proyek sangat amat mahal ini menimbulkan ptro-kontra proyek ini merembet ke banyak kalangan, salah satunya berandal berkedok agama, kata Lunacharsky. Orang bisa menghabiskan seluruh masa hidupnya dan tetap tidak bisa memahami keberadaan Tuhan yang Mahakuasa. Para ilmuwan berpendapat, mereka ingin kita meninggalkan iman kita, tetapi mereka memberikan pengganti yang mempunyai nilai spiritual.

Ah kembali ke konfliks lama. Ilmu pengetahuan dan agama, keduanya diciptakan oleh Tuhan jadi keduanya tidak boleh bertentangan. Kalau ada hal-hal yang tampak bertentangan, mungkin di ilmuwan, atau mungkin si ahli agama, atau keduanya tidak melakukan tugasnya dengan baik.

Saya sendiri sangat menghargai pilihan Ellie bahwa di luar sikap patriotism normal, ia tak ingin berkecimpung di politik praktis. Ilmu pengetahuan pada dasarnya meneliti dan membetulkan hipotesis. Agnostik adalah orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (masalah Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak dapat diketahui. “Kepercayaanku begitu teguh, sehingga aku tidak membutuhkan bukti-bukti…”

Suara dari bintang, makhluk-makhluk asing – bukan manusia, tapi juga bukan dari dewa – yang ditemukan di langit malam. Perasaan heran dan takjub. Kita gembira, kita telah mengambil keputusan ini. Kita saling bertukar data, bertukar khayalan, bertukar impian. Kita semua hidup di planet yang sama, kita semua memiliki kepentingan yang sama. Benda sehari-hari dari peradaban luar bumi yang sudah sangat maju, tidak akan bisa kita bedakan dengan sihir. “Kenikmatannya akan mengurangi hak Anda di surga.”

Bumi adalah sebuah ghetto, perkampungan kumuh. Seluruh umat manusia terperangkap di sini. Samar-samar kita mendengar bahwa di luar perkampungan kumuh ada sebuah kota besar dengan jalan-jalan lebar penuh droshky – kereta kuda Rusia, dan wanita-wanita cantik berparfum wangi mengenakan mantel bulu… Iklan mengajar orang untuk menjadi bodoh.

Proyek itu menjadi proyek umat manusia, Nama Konsorsium Pesan Dunia diganti menjadi Konsorsium Mesin Dunia. “Terlalu banyak yang kita pertaruhkan untuk sesuatu yang tidak pernah kita lihat.” Setelah diperdebat dalam rapat yang panas, akhirnya lima kursi mesin itu diisi oleh para astronot dari Amerika Serikat, China, Rusia, India, Nigeria. Hanya lima kursi menghadap ke dalam, sehingga setiap awak bisa melihat yang lain.

Emosi adalah motivasi untuk menyesuaikan diri dari waktu ketika kita terlalu bodoh untuk tahu apa yang sedang terjadi. Setidaknya harapan kita untuk masa depan itu sama pentingnya dengan penemuan api, atau tulisan, atau pertanian. Ramalan tentang kejadian-kejadian penting rupanya jauh lebih akurat bila tidak pernah dituliskan di atas kertas sebelum kejadian. Bila kitab kita dibaca lagi dengan hati-hati dan menggunakan imajinasi secukupnya, jelaslah kejadian menakjubkan itu tersirat dalam kitab-kitab.

Mereka terpesona sama teknologi sehingga melupakan bahanya. Sikap skeptis merupakan jiwa ilmu pengetahuan. Rasanya seperti ikut ujian tanpa persiapan, tapi jawabannya bisa dicari dari pengetahuan umum yang kau miliki. Bisa membuat kau menangis karena indahnya. “Peter, kenapa kau menatap langit-langit kalau sedang berpikir?”

Amerika, seperti Indonesia selalu curiga pada dua dari sedikit kelompok yang jadi kambing hitam: makhluk luar bumi (tak kasat mata) dan Orang-orang Rusia (komunis). Penerbangan ruang angkasa adalah subvertif. Negara-negara melakukannya untuk kebanggaan Nasional.

Lalu muncullah bencana pasak erbium di Wyoming sangat mengerikan. Awalnya bukan Ellie yang ditunjuk untuk berangkat, naas itu mencipta kematian gurunya, maka iapun melaju. Ia adalah penemu dan pelarian dan akhir dari kesepian.

Telaah agama (besar) hampir disebut semua. Menurut Buddha, Tuhan mereka begitu besar dan agung sehingga tidka perlu ada. Orang Kristen bilang, awal dari segalanya adalah perkataan. Aku satu-satunya penganut materialism di antara kita berlima, dan semua yang kubawa ada di kepalaku. Kalau peradaban luar bumi itu begitu cerdas, mengapa mereka membawa kami melalui begitu banyak lompatan-lompatan kecil?

Di Kompleks Hokkaido Machine segala persiapan akhirnya rampung, dan lima orang siap berangkat: Eda, Ellie, Sukhavati, Vaygay, Xi. Membawa pesan, “… Kalian adalah pahlawan-pahlawan planet bumi. Bicaralah atas nama kami semua. Bersikaplah bijaksana, dan kembalilah.” Mesin itu pergi ke suatu tempat, mesin itu adalah sarana.

Alam semesta ini terus mengembang, dan tidak cukup materi di dalamnya untuk menghentikan pengembangannya. Ada sebelas pesan tersembunyi di balik nilai phi, seseorang berkomunikasi di alam semesta dengan matematika. Nilai phi pasti sama di alam semesta, nilainya sudah terbentuk dan merupakan bagian dari alam semesta. Ia mencoba mencari sumber ketidaktenangannya

Setelah merumit dalam teori astonomi, akhirnya mereka tiba di sebuah pantai misterius. Di sinilah puncak tanya itu dijawab. Kepala Stasiun Cysgus A menciptakan bagi mereka apa yang bisa disebut sebagai cinta mereka yang paling dalam. Mungkin tujuan hanya sebagai menjembatani kesulitan komunikasi dengan makhluk yang sangat berbeda bentuk dan jenisnya. Semua hampir menangis kegirangan.

Dengan kamera merekam ‘makhluk’ yang mereka temui, bercengkerama dan mencipta hidup kenangan indah di masa lampau. Satu-satunya fungsi mesin ini adalah menciptakan ilusi, atau mungkin juga membuat mereka berlima menjadi gila.

Sayangnya setelah segalanya usai dan mereka kembali di penghujung millenium segala yang disiapkan untuk laporan temuan hilang. Semuanya tidak didukung oleh bukti fisik. Rol memori yang merekam itu seolah tak percaya, sebab mereka yakin sudah menyimpan adegan penelitian. Mereka lalu diinterogasi, seperti Kantor Kejaksaan selalu menanyakan tiga hal, “Apakah dia punya kesempatan, apakah dia punya motif, apakah dia cara?”

Kalau manusia bisa membuat obat-obatan yang menimbulkan fantasi, tidak bisakah teknologi yang jauh lebih maju menimbulkan halusinasi kelompok yang sangat terperinci? Untuk sesaat terasa kemungkinan itu ada. Kembali ke bumi dengan membawa kisah yang aneh, tanpa hal yang bisa digunakan untuk kemiliteran atau politis. Dan kisah itu memiliki implikasi.

Novel ini sungguh bombastis. Panjang berliku, saking banyaknya ilmu yang diserap sampai meluber. Saya lebih suka menyebutnya memimpikan masa lalu yang lebih sederhana. Endingnya jleb dengan pesan membumi untuk Ellie. Ia telah mempelajari alam semesta sepanjang hidupnya, tapi mengabaikan pesannya yang paling jelas. Bagi makhluk-makhluk kecil seperti kita, kebesaran alam semesta hanya bisa dihadapi dengan cinta.

Kita semua haus akan hal-hal yang menakjubkan. Aku seperti seorang murid, menunggu datangnya ilham. Menurut Cervantes, membaca terjemahan seperti melihat bagian belakang permadani. Numinous adalah ‘hal-hal yang di luar jangkauan’, dan reaksi manusia terhadapnya adalah ‘takjub luar biasa’. Setelah menyelesaikan baca Contact, jadi kepikiran film Arrival-nya Dennis tahun 2016. Tentang invasi alien yang menemui kendala bahasa, mereka datang untuk memberika ‘a gift’ dalam bentuk ‘a weapon’ yang mana bahasa menjadi pembentuk budaya. Mirip sekali dengan kontak makhluk luar yang coba membantu bumi. Sebuah inspirasi, yang segaris lurus.

Seperti dialog dimula tentang Tuhan, maka catatan ini saya tutup dengan sang Pencipta. “Kalau Tuhan ingin kita tahu Dia Ada, mengapa tidak meninggalkan pesan yang jelas? Kau berpikir Tuhan itu ahli matematika?”

Kontak | by Carl Sagan | Copyright 1985 | new cover 1997 | Atas izin cover art Warner Bros | Diterjemahkan dari Contact | Alih bahasa Andang H. Sutopo | GM 402 97.851 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Desember 1997 | 592 hlm.; 18 cm | ISBN 979-605-851-0 | Skor: 5/5

Untuk Alexandra, yang hadir menjelang datangnya millenium. Semoga kami memberi generasimu dunia yang lebih baik daripada dunia yang dulu diberikan pada kami.

Karawang, 301120 – The Ink Spots – Java Jive (1940)

Thx to Agoeng S, Bdg