Sastra adalah… Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

“Jika Anda seorang pengarang, dan tak menemukan ungkapan-ungkapan yang pas untuk menjelaskan perasaan yang rumit dan intim dan dalam dari tokoh-tokoh yang ingin Anda ceritakan dalam bahasa Indonesia, maka boleh jadi Anda akan lari mencari pertolongan kepada bahasa yang Anda alami sehari-hari atau kepada bahasa yang Anda anggap lebih kompleks berdasar kecenderungan bacaan Anda…”

Menurutku buku ini setara bagusnya dengan Cerita, Bualan, Kebenaran. Tips-tips menulis yang dibalut bukan tips menulis. Nyaman dan terasa sangat masuk akal. Jelas lebih keren dari Menumis itu Gampang yang bertema umum. Poinnya sama, Cak Mahfud bercerita kesehariannya. Buku ini terasa lebih asyik sebab bahasannya fokus ke proses kreatif, yang setelah ditelaah, tak kreatif juga, tak banyak nasehat, atau petuah membumbung. Benar-benar cerita bagaimana ketahananan menulis buku itu perlu, pengalaman dari Penulis pemenang DKJ dan KSK. Dua penghargaan sastra paling bergengsi tanah air. Walau judulnya provokatif, bagaimana penulis menganggur, percayalah, itu hanya jeda. Judulnya biar tampak eksotik. Itu hanya masa santuy, sejatinya menulis memang kudu tahan banting, konsistensi, dan dipaksa. Maka tata kelola waktu juga sebuah kunci, dan buku ini jelas patut dipertimbangkan jadi rujukan proses mencipta karya. Seperti yang dulu pernah kubilang di ulasan buku Mario Vargas Llosa dalam Matinya Seorang Penulis Besar (sudah diterjemahkan oleh Shira Media), bahwa buku-buku dibalik karya sangat patut dicetak sebanyak mungkin agar pembaca tak meraba ngasal. Setidaknya kita tahu, buku-buku itu diterbitkan penuh pengorbanan, tak sim salabim mengada.

#1. Hanya Penulis

Sosial media, atau di sini Facebook telah mengikat kita dalam pergaulan instan. Bisa saling mengenal secara daring orang-orang asing, serta para idola yang dulu rasanya tak terjangkau. Dibuka dengan sebuah kotak pesan masuk yang menanyakan pendapat kontribusi penulis di masa pandemi. Dan dijawab dengan apa adanya, mungkin benar kurang memuaskan, tapi ini benar-benar real. Kenapa, sebab “jangan memberi panggung kepada orang-orang yang tak kompeten,” adalah mutlak.

Jangan tanya tanggapan Lesti.

#2. Penulis? Oh, yang di Percetakan

Karena sudah baca dua kumpulan esai, saya jadi tahu perjalanan hidup Cak Mahfud yang lulusan pesantren, kuliah Yogya, bekerja di Jakarta, lantas menyepi menekuri tulisan dengan serius kembali ke Yogya. Maka saat baca judulnya, jelas ini adalah lontaran tanya dari rekan saat di Utan Kayu. Penjelasan bagaimana ia ‘tak menyangka’ jadi penulis suatu hari kelak tampak seolah hanya mengikuti arus kehidupan. Dan penulis yang dikenali sekaligus tak dikenali, kocak juga kontribusinya, saat truk-truk bahan bangunan yang bising di balik tembok tempat tinggalnya dan ia bergeming, tak turun tangan. Tak mengapa, saya sama saja kalau di posisi itu.

#3. Alasan untuk Tidak Menulis

Sudah menulis dari era mesin tik, dan bagaimana cerpen pembuka Belajar Mencintai Kambing berproses. Sibuk jadi semacam kelakar saat ditanyakan pada Penulis. Hingga bagaimana tatapan pada Ayu Utami di meja kafe seberang dengan laptopnya, sepuluh tahun kemudian, beliau punya karya setara bagusnya. Sejatinya, penundaan menunaikan tugas (di sini menulis) adalah hal wajar bagi manusia. Termasuk alibi, kalau punya komputer, kalau punya laptop kualitas bagus, kalau punya tempat nyaman menulis, serta kalau kalau yang lain.

Penutupnya bagus, langsung kena jap. “… semakin cepat capek dan diserang pegal-pegal. Saya pasti akan jauh lebih sigap dan lebih cepat menyelesaikan tulisan ini jika saya masih seumur para penulis muda yang sore itu saya temui.” Hahaha…

#4. Pengarang dan Kemelut

Mengandaikan masa hidup di era lama, tak hanya cocok untuk para penulis. Bayangkan, kalau kamu buruh di masa kemerdekaan, apakah mungkin sudah bergabung angkat senjata? Atau bayangkan hidup di masa ’65, mungkin kamu buruh yang keciduk karena ikut coblos Merah. Nah, di sini membayangkan bagaimana kalau penulis hidup di masa itu? Bakalan angkat senjata? Bakalan turut serta disingkirkan? Chairil Anwar memang penyair terbesar kita, dan bagaimana ia berumur muda banyak memberi warna kebangkitan Indonesia.

#5. Bahasa Indonesia dan Persoalannya – bagi Seorang Pengarang Jawa

Ini menyenggol Azhari Aiyup si penulis Kura-kura Berjanggut yang fenomenal itu. Bagaimana cerpennya terbit di Kompas dan mencipta iri Cak Mahfud, terutama gaya bahasa, pilihan diksi, hingga keluwesan bercerita yang bagus, seorang Aceh yang mahir berbahasa Indonesia.

Dan bagaimana kehidupan sehari-hari mempengaruhi kehidupan sosial kita, terutama bahasa. Jadi seperti apakah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu. Lebih nyaman memang memilih “percampuran” bahasa ibu dan bahasa Indonesia, dan itu sangat wajar. Bukankah malah tampak aneh, orang Jawa dengan fasih bercerita tentang kehidupan suku Dani?

#6. Pulang, Pola, Mood

Pulang kampung adalah jeda dari kesibukan. Menikmati waktu dengan keluarga, menelusuri kenangan, ngopi sama rekan main kelereng, hingga ketawa-ketiwi sama teman-teman lama yang tak merantau. Begitu pula penulis, mudik adalah masa kosong dari mengetik kata-kata, refreshing-kan pikiran, mengisi ulang ide-ide. Masalahnya, mood-nya tak kunjung kembali saat telah kembali ke kota tempat kita mencari uang.

“Jadi, sekali lagi, mood itu eksis. Ia bukan mitos. Ia ada, dan beberapa orang betul-betul memerlukannya untuk mencipta. Ia, membentuk sejenis pola bagi orang-orang tertentu…”

#7. Buku Baru

Buku debut Ulid bersampul kuning yang terkenal itu, disambut dengan sederhana oleh penulisnya. Bersepeda Wymcicle AC Milan santuy ke tempat kelahirannya, mengambil 25 eksemplar, merayakan dengan mampir ke tempat teman, meminta meresensinya, dan setelah lama berselang itulah satu-satunya resensi. Hiks, si sulung yang malang katanya. Namun lihatlah, setelah belasan tahun, buku itu justru kembali nge-hits efek ketenaran.

“Semua istimewa pada masing-masing tempatnya.”

#8. Melihat Pengarang tidak Bekerja

Ini hanya curhat masa tak mood menulis. Klontang-klantung, ngopi sama teman, haha hihi lupa waktu, menunda nulis, buka sosmed yang menghamburkan waktu banyak, menunda lagi nulis untuk mencari makan, kembali membuat kopi, dst. Hal-hal wajar yang memengaruhi kreativitas, yang terasa tak wajar adalah, saat penulis tak bekerja, malah jadi tulisan. Ironi di atas ironi kata Spongebob.

“Dengan malas ia bangun dan mematikan lampu… dan dengan malas ia akhirnya memutuskan bangun.”

#9. Tentang Menulis Populer

Ini mungkin yang paling bagus, tulisan populer itu yang bagaimana? Pertama mendengarnya, jelas buku-buku buruk Tere Liye. Laris manis, penulisnya baper, ngudi-udi di sosial media demi mendongkrak penjualan. Kita harus sepakat di awal, bahwa buku-buku Tere jelex, tapi sayangnya laris manis, dikutip para abege, dan beberapa berhasil diadaptasi film. Itulah tulisan populer, menurutku.

Cak Mahfud menjabarkan panjang lebar, dimula dalam seminar yang diadakan para pelajar, yang lantas membedahnya. Benarkah tulisan populer itu mudah? Beliau menjawab, dalam jenis tulisan apa pun, menulis populer haruslah didasari oleh kemampuan teknis yang lebih dari sekadar memadai, malahan lebih lihai, dengan kemampuan menyampaikan ide dan gagasan atau cerita kepada pembaca di atas rata-rata. Jangan dikata lagi isi yang disampaikan. Terlihat Cak Mahfud sering kali curhat terkait seminar/bedah buku yang diisinya. Saya sendiri dua kali ikut, dan seru. Cuma satu pertanyaanku waktu itu, nulis cerpen sudah, esai sudah, novel sudah, kapan nulis puisi? Cuma dijawab tawa, dan bilang ‘endak… endak...’ sambil terus mengelak.

“… sengaja atau tidak, para penulis pop ini kemudian menyepakati, dalam banyak kesempatan mungkin malah memanfaatkan, pandangan bahwa yang populer adalah dangkal dan gampangan…”

#10. Penulis dan Tidurnya

“Terlambat karena kita tidak bisa mengatasi kenapa kita terlambat jauh lebih tidak menyenangkan dibanding terlambat karena kita lali atau disebabkan melakukan hal lain…”

Ceritanya, beliau lagi nostalgia bagaimana mencipta tidur yang nyaman. Memiliki kamar pribadi tentu saja sebuah kenyamanan, atau malah sebuah kemewahan bagi kita kebanyakan (keluarga Rafathar jelas tak dihitung). Tidur di masjid sesuatu yang lumrah, tidur di pos ronda wah ekstrem, tidur cepat dengan niat agar esok bisa bugar dan siap menulis, sungguh utopia. Saya sendiri sering kali tidur larut kala hari libur, dan bangun subuh setelahnya. Rasanya, sayang sekali akhir pekan tak memeluk buku lebih lama. Sebuah kerugian bagi pecinta buku bangun kesiangan di hari libur.

#11. Sastra adalah.. Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

Sampai sekarang, definisi sastra masih simpang siur dan mengundang pendapat beragam. Teori sastra di buku Welleck dan Warren yang kebetulan sudah kubaca, juga menimbulkan banyak tafsir. Maka kalau dalam seminar ada yang berpendapat Satra itu gelap, wajar. Apalagi deretan contoh yang disajikan mayoritas mengiyakan. Satu paragraph yang mengutar menyelamatkan seseorang yang menganggap KKN Desa Penari sebagai sastra, bisa jadi benar. Namun kita tak tahu, seratus tahun lagi, buku dari sensasi twit ini bisa jadi berbelok nyastra. Merefleksikan kehidupan, menggetarkan hati pembaca… nah… ‘kan.

“Saya menjawab bukan untuk membuatnya mengerti, tapi untuk membuatnya diam.”

#12. Duaribu Duapuluh

Pandemi dan orang-orang yang bertahan hidup sampai sekarang. Saya, dan kalian yang membaca blog ini, saya ucapkan selamat. “Hidup hanya menunda kekalahan,” kata Chairil Anwar, dan ya 2020 memang tahun tak wajar.

Suka sekali sekali penutup bab, sekaligus buku ini tentang Jimmy Glass yang menyelamatkan Carlisle United tahun 1999 dari degradasi dari divisi empat Liga Inggris. Kiper cadangan yang mencetak gol dramatis, yang mendadak jadi pahlawan, lantas pensiun dini 27 tahun sebab tak ada yang memakai jasanya. Baru tahu, dan kalian harus tahu. Tipis memang, pahlawan dan pecundang.

Kubaca selama libur Lebaran saat mudik ke Solo kemarin, kutuntaskan setelah kembali tiba di Karawang. Selang seling sama buku kumpulan cerpen Frederick Forsyth: No Comebacks. Jelas pilihan bagus, keduanya saling melengkapi, esai dan cerpen, dan sebuah buku tipis kumpulan puisi dalam sepekan, langsung kelar.

Selamat ulang tahun Mahfud Ikhwan, 42 tahun. Buku-buku barumu selalu kunanti.

Melihat Pengarang Tidak Bekerja | by Mahfud Ikhwan | Ilustrator Alfin Rizal | Tata Sampul alfin Rizal | Tata Isi Vitrya | Pracetak Antini, Dwi, Wardi | Cetakan pertama, Maret 2022 | Penerbit Diva Press | 128 hlm; 13 x 19 cm | ISBN 978-623-293-651-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 090522 – Patrice Rushen – Forget Me Nots

Thx to Gramedia Karawang

Menjalankan Wejangan Ray Bradbury #35

Mulai agak malesi, beberapa kubaca di paginya, bahkan pernah siang hari berikutnya. Namun tak mengapa, saya terus berusaha melanjutkan komitmen ini, seribu itu banyak, dan ini baru 3.5% perjalanan, masih sangat panjang…

Hari 26

#1. Cerpen: Kepala Kantor Pos (Rabindranath Tagore)

Seorang petugas pos dikirim ke kantor cabang di pelosok untuk jadi kepala kantor pos. Desa yang sederhana ini memberi cerita mengharukan.

#2. Esai: How the World Work Bab Yang Kaya Sedikit dan Yang Gelisah Banyak (Noam Chomsky)

Amerika yang digdaya pasca Perang Dunia Kedua melakukan banyak invasi, menjaga harga minyak untuk menyuplai warganya. Bersekutu dengan Negara-negara ketiga, atau membumihanguskannya.

#3. Puisi: Ingin Menghilang (Triyanto Triwikromo)

Jauhilah Aku sesaat agar kau tahu betapa kita / begitu dekat. Aku ingin sendiri. Aku tak ingin kausentih / dengan cinta dan doa paling lembut sekalipun. Aku / ingin menghilang…

#4. Kata: Indonesia

Afdal: lebih baik, lebih utama; lengkap, komplet

Hari 27

#1. Cerpen: Ule Sondok So-Len (Al El Afif)

Cerpen buruk, entah kumpulan cerpen di sini makin tak jelas.

#2. Esai: Etika Dasar bab Suara Hati (Franz Magnis-suseno)

Ketika bermsyarakat kita sering memertanyakan kebebasan, tapi tak bisa seenaknya sendiri juga. Ada batasan, dan suara dalam hati berfungsi menjaganya.

#3. Puisi: Jika Kau Rupa Stasiun (Yopi Setia Umbara)

:Widzar Al-Ghifary

Jika kau serupa stasiun / merasa senantiasa ditinggalkan / lalu bagaimana dengan mereka / yang silih berganti datang / bawa wajah-wajah kisah / bukankah keberangkatan dan kedatangan / adalah rel melintang / pada dadamu / seperti garis takdirmu / terjaga dalam sunyi / jam menempel pada dinding hatimu / mencatat pada mereka yang datang dan pergi / bersama pilihannya / dalam risalah hidupmu / sebagai stasiun / kau layak menyediakan lobi sunyi / bagi segara keriuhan kisah / yang mereka bawa / juga mereka / tinggalkan padamu – 2007

#4. Kata: Indonesia

ambulans: kendaraan yang dilengkapi peralatan medis untuk orang sakit, korban kecelakaan, dll

Hari 28

#1. Cerpen: Budayut (Tony Lesmana)

Bunuh diri, gundul, masa depan yang aneh.

#2. Esai: Membangun Koperasi (Moh. Hatta)

Ceramah sang proklamator untuk kesekian kalinya untuk membangun ekonomi rakyat, membangun koperasi, dasarnya kuat.

#3. Puisi: Sang Guru (Yopi Setia Umbara)

:Riski Lesmana

Dan kau ucapkan selamat tinggal / pada keremajaan jalan / di sepanjang cekungan / yang tercipta dari kisah para hyang

di bawah garis merah lembayung / pada langit matamu / kau berjalan menuju sunyi satu kota / di mana hujan selalu turun lebih deras

mungkin di sana / namamu akan mengenang / pada tanah merah serupa tujuan hujan / yang resap ke dalam hati ibu bumi – 2007

#4. Kata: Indonesia

amendemen: usul perubahan undang-undang; penambahan pada bagian yang sudah ada

Hari 29

#1. Cerpen: Obat Mujarab (Mo Yan)

Seram. Hukuman mati dilakukan di atas jembatan di fajar yang baru merekah, satu keluarga ditembak algojo dan mayatnya dilempar di kolong jemabatan. Bapak anak menunggu di sana, untuk mencari obat mujarab.

#2. Esai: Apakah Kita Masih Perlu Ngantor? (Andina Dwifatma)

Selama pandemi kita dihadapkan nama baru: Work From Home (WFH). Banyak kantor melakukannya, juga sekolah online. Banyak keuntungannya, tanpa mandi, tanpa perlu make-up, bahkan 15 menit sebelum jam masuk kita masih bisa rebahan! Nantinya kalau sudah enddemi, apakah masih dilakukan?

#3. Puisi: Catatan Masa Kecil, 4 (Sapardi Djoko Damono)

Ia tak pernah sempat bertanya kenapa dua kali dua hasilnya sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar dari tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol. Dan setiap kali ia menghitung dua tambah tiga kali empat kurang dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam ketika ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhum nenek dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar mandi yang dekat sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.

Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.  

#4. Kata: Indonesia

amonia: gas tak berwarna, baunya menusuk, terdiri atas unsur nitrogen dan hidrogen, mudah larut dalam air, dll

Hari 30

#1. Cerpen: Lelaki Tua di Jembatan (Ernest Hemingway)

Lelaki tua yang mendaku sebagai penggembala, pemelihara binatang. Ia diminta segera pergi sebab akan ada serangan, tenang saja binatang-binatang itu akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri, apalagi kucing. Benarkah?

#2. Esai: Filsafat Administrasi bab Planning (Dr.S.P. Siagiam, MPA)

Rencana adalah separuh keberhasilan.

#3. Puisi: Jarak (Triyanto Triwikromo)

Aku sudah di balkon. Kau masih di tanah becek. / Aku sudah jadi semacam burung. Kau masih jadi / semacam kecoa. Aku sudah asap. Kau masih api. Aku / hujan. Kau awan. Aku lima kaki. Kau dua kaki. Aku / topeng. Kau wajah busuk. Aku meninggalkan neraka / lima hari lagi. kau berjalan tertatih-tatih ke neraka / hingga tujuh hari. Aku sedih. Kau menari-nari.

#4. Kata: Indonesia

andal: dapat dipercaya, memberi hasil yang sama pada ujian atau percobaan berulang

Hari 31

#1. Cerpen: Kejadian di Michigan (Ernest Hemingway)

Cinta buta. Jill Gilmore dicintai Liz dengan membabibuta di pedesaan yang lengang, hanya lima rumah di sana. Liz tak bisa tidur saat Jill dan para lelaki berburu di hutan, dan saat kembali, terjadilah apa yang selama ini diidamkan Liz, tapi tak sepenuhnya sama.

#2. Esai: Filsafat Administrasi bab Organizing (Dr.S.P. Siagiam, MPA)

Atasan dan bawahan diatur dalam organisasi yang tepat, saling menghargai dan menjalankan tugas sesuai perannya.

#3. Puisi: Kurang Ajar (Triyanto Triwikromo)

Ada makhluk-makhluk yang kurang ajar pada-Ku. / Di laut penuh hantu, ada seekor paus yang selalu / menganngap aku hanyalah beruang kutup. Galak. / Berjalan sendirian. Di langit penuh merpati, ada seekor / rajawali yang menganggap Aku hanyalah cacing / di tanah gembur. Rapuh. Diabaikan oleh siapa pun.

“Kau hendak menghukum makhluk-makhluk itu? Katamu

#4. Kata: Indonesia

antre: berdiri berderet-deret di belakang menunggu giliran, antrean

Hari 32

#1. Cerpen: Meninggalkan Maverley (Alice Munro)

Gadis tukang sobek tiket bioskop yang lucu menghilang. Dibawa pemain musik, yang mencipta geger kota kecil Maverley. Waktu terus bergulir dan kabar itu tertimpa kabar-kabar lainnya. Namun saya tak kan melupakannya.

#2. Esai: Perkara Nama (Andina Dwifatma)

Nama anak zaman sekarang memang unik dan panjang-panjang. Saya mau complain, tapi kok ya anakku juga sebelas dua belas. Wajar, nama adalah doa. Justru yang mengagetkanku motifnya. Tak ada keinginan untuk mencipta web dengan nama anak.

#3. Puisi: Sunyi yang Lebat (Sapardi Djoko Damono)

Sunyi yang lebat: ujung-ujung jari / sunyi yang lebat: bola mata dan gendang telinga / sunyi yang lebat: lidah dan lubang hidung / sunyi yang dikenal sebagai hutan: pohon-pohon roboh, / margasatwa membusuk di tepi sungai kering, para / pemburu mencari jejak pencaindra…

#4. Kata: Indonesia

asas: dasar, dasar cita-cita, hukum dasar

Hari 33

#1. Cerpen: Kerikil (Alice Munro)

Bekas tambang di samping rumah yang kini menjelam danau sebab ditempa hujan. Keluarga ini pindah ke sana, kehidupan baru yang lebih berat. Dan tragedy dicipta dengan penuh intimidasi.

#2. Esai: Manusia Indonesia Bab Dunia Kini (Mochtar Lubis)

Modernitas yang rumit. Indonesia ingin seperti dunia barat, tapi orang-orang Eropa malah mengingin hidup sederhana seperti orang timur.

#3. Puisi: Membangun Kata (Deddy Arsya)

Memang ada kota yang didirikan dari gerutu / dari derap omong-kosong rak sudah-sudah!

Lalu mereka berkata: kita mesti atur itu siasat / masa depan hanya dapat diraih dengan gelegak hasrat / harus kau pilih jembatan antar selat atau kapal pengankut segala / pesawat-pesawat semakin sering jatuh dan orang-orang takut terbang / padahal kelak ato dan sepit akan diberi sayap / “tapi maaf, ya, penyair partikelir seperti Anda susah dibawa serta!”

Penyair-penyair mabuk menguping dari biliknya yang pengap / sebab tak punya bini, hanya bisa menggerutu pada diri sendiri. / mereka kira kata-kata seperti sak-sak semen / dan setumpuk batu-bata yang bisa bangun gedong bersusun / mereka kira puisi bisa menyelamatkan kita dari amok-murka?

Memang ada kota yang dibangun dari lentingan kata-kata?

#4. Kata: Indonesia

astronaut: antariksawan, kosmonaut

Hari 34

#1. Cerpen: Surga (Alice Munro)

Perbedaan pandangan kepercayaan, mencipta perdebatan antar keluarga. Sang dokter tak ingin mengenal kakaknya yang musisi, dan istrinya begitu taatnya.

#2. Esai: Jalan Pintas Menuju Cinta (Andina Dwifatma)

Sudah nonton film The Tinder Swindler yang menegangkan itu, dan sepakat sama tulisan di sini betapa manusia memang menyukai yang instan, bahkan cinta.

#3. Puisi: Di Radio Lokal (Deddy Arsya)

Di radio lokal / ia menunggu / menjelang akhir lagu / hujan dan waktu

Ke langit lengang ia bersuara / Kapan kau akan segera tiba?

Serupa kilau / mata kucing / hatinya nyala

Di radio lokal / Ia menunggu / menjelang datang sepi / dan mendesak ragu

Kau entah di mana berada

#4. Kata: Indonesia

autentik: dapat dipercaya; asli, tulen; sah

Hari 35

#1. Cerpen: Harga Diri (Alice Munro)

Riwayat hidup gadis bernama unik. Melewati masa perang dunia dan mencoba bertahan hidup, menjadi piatu saat remaja, kini ia yatim piatu. Dan sang aku melewatkan hari bersama, saling mengisi.

#2. Esai: Hidup yang Saling Bersinggungan (Andina Dwifatma)

Cerita burung nuri yang akan dicuri tetangga. Triknya lucu, dan seperti itulah hidup, terkadang lucu. Tetangga menjadi orang terdekat yang bersinggungan dengan kita.

#3. Puisi: Surat dari Ibu (Asrul Sani)

Pergi ke dunia luas, anakku sayang / pergi ke hidup bebas! / Selama angin masih angina buritan / dan matahari pagi menyinar daun-daunan / dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku sayang / pergi ke alam bebas! / selama hari belum petang / warnasenja belum kemerah-merahan / menutup pintu waktu lampau

Jika bayang telah pudar / dan elang laut pulang ke sarang / angina bertiup ke benua / Tiang-tiang akan kering sendiri .  dan nahkoda sudah tak pedoman, / boleh engkau dayang padaku

#4. Kata: Indonesia

azan: seruan mengajak untuk salat berjemaah

Karawang, 040422 – M2M – The Day You Went Away

14 Best Books 2021 – Fiksi/Lokal

Kekayaan, kedudukan, kekuasaan, kepandaian, dapat mematikan rasa. Mati rasa berarti hilang kemanusiaan kita. Hidup ialah bagaimana kita merasakan sesuatu. Bukan bagaimana kita memiliki kemewahan, kekuasaan, kekayaan.” – Pasar, Kuntowijoyo

Tahun 2021 setelah dipertimbangkan lebih masak, untuk fiksi saya pecah lokal/terjemahan sahaja sebab terjemahan terlalu dominan. Total fiksi lokal kubaca 49 buku. Kupadatkan jadi 14 seperti biasa. Sebuah kebetulan, yang terbaik buku terbitan tahun lalu. Dan secara kebetulan pula, pas daftar ini kupos di instagram, muncul info buku nomor satu masuk daftar pendek buku Prosa Tempo 2021.

Berikut daftar buku non-fiksi terbaik yang kubaca tahun 2021 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. Kuda Kayu Bersayap by Yanusa Nugroho (Tiga Serangkai) – 2004

Ini adalah buku beli yang acak, artinya saya tak mengenal sang Penulis, yang ternyata sudah melalangbuana di banyak media, penulis senior yang katanya, sesuai pembuka pengantar penerbit: Ngerokok. Ngopi. Ngarang. Perjudian menikmati karya ‘asing’ seperti ini memang jarang membuahkan hasil Ok, jelas ini adalah daftar sedikit itu. Cocok seperti yang dibilang sama Bung Yanusa, “Menulis, sebagaimana halnya makan dan minum, adalah kebutuhan. Kebutuhan untuk mengungkap sesuatu…”

#13. Revolusi Nuklir by Eko Damono (Basa Basi) – 2021

Lelah, tapi puas. 22 cerpen dalam buku kecil 200 halaman. Sebagian sudah diterbitkan di media, sebagian besarnya belum. Semua yang berkisah di masa depan tampak kurang, atau kalau mau jujur tampak aneh. Burung besi berkisah, pohon android, dst. Semua yang dikisahkan di perjalanan gunung, tampak nostalgia. Ibadah puisi di Rinjani, petualang sekual Apocalyto, dst. Semua yang dikisahkan secara flashback tampak nyata, atau nyata yang dimodifikasi. Telinga putus, pacar yang hamil berencana memberi kejutan yang malah mengejutkan, hotel Kurt Cobain, dst.

“Di dunia ini terlalu banyak serba kemungkinan, dan kita dipaksa untuk meneruskan hidup.”

#12. Pseudonim by Daniel Mahendra (Grasindo) – 2016

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen yang jumlah kata lebih sedikit, dan sewajarnya tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua pembaca itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak faktor. Salah satunya tentu saja selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasarnya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

“Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

#11. Luka Batu by Komang Adnyana (Mahima Institute Indonesia) – 2020

Kisahnya berkutat di Bali, tempat sang penulis tinggal dan dibesarkan. Kebanyakan dari kita memang paling nyaman menulis tentang hidup kita dan sekeliling kita, jadi seolah dituturkan langsung dari pengalaman hidup. Relevan dan masuk akal, sebab akan tampak aneh dan tak berlogika jika kita yang lahir dan besar di Indonesia bercerita tentang dinginnya salju negeri Swiss.

“Kuatkan dirimu. Semoga mereka mendapat hukuman yang sesuai.”

#10. Bunga Kayu Manis by Nurul Hanafi (JBS) – 2021

Bunga Kayu Manis menawarkan jenis keindahan kata-kata (atau di sini berarti tulisan), dipilih dan dipilah dengan mujarab oleh Bung Nurul Hanafi. Beberapa bagian mungkin tampak terlampau lebai, atau ngapain melihat senja dari jembatan saja melankolis, itukan hal yang lumrah tak ada yang istimewa dari matahari jelang terbenam, umpamanya. Namun memang itulah keunggulan kata-kata, banyak hal dicipta berlebihan, dan terasa sentimental. Memang mudah tersentuh saat kita bicara kenangan, angan dalam kepala tentang masa lalu, setiap orang beda-beda, dan semakian mendayu, semakin terasa feel-nya.

“Hujan terlalu larut dan luka.”

#9. Damar Kambang by Muna Masyari (KPG) – 2020

Pembukanya fantastic. Seorang istri yang ngalah, legowo atas apapun keputusan suami. Dengan setting Madura, terkenal dengan adu karavan sapi dengan festival Gubeng sebagai puncaknya. Seorang suami gemar berjudi, memertaruhkan segalanya. Kemenangan/kekalahan timbul tenggelam bersama waktu. Apa yang dipertaruh berbagai hal, berbagai jenis; motor, sapi, emas, tegalan, dan pada puncaknya adalah rumah dengan segala isinya. Narasi pembuka membuat kuduk berdiri sebab sang suami kalah, dan Si Buntung berhasil membalas, ia beserta ‘dukun;’-nya datang mengambil piala kemenangan. Dahsyat bukan? Pembuka yang memesona sejenis ini biasanya langsung menegakkan punggung dan memancing konsentrasi berlebih guna terus berkutat mengikuti cerita, banyak yang tumbang gagal memertahankan tempo, sedikit yang berhasil hingga garis finish. Damar Kambang termasuk yang sedikit itu, walaupun sesekali temponya memang harus sedikit teredam. Aku baca sekali duduk di Jumat pagi yang cerah. Untungnya, suami-istri di pembuka ini identitasnya tak dikuak, fakta ini akan jadi semacam tautan yang ditaruh di tengah kecamuk adu sihir. Perhatikan sahaja, buku yang berhasil salah satu faktornya para tokoh memiliki motif yang kuat untuk mengambil tindakan, tindakan dijalankan dengan logika dasar. Tak perlu muluk-muluk, tak perlu ndakik-ndakik.

“Orangtua memang harus selalu dibenarkan ya.”

#8. Segala yang Diisap Langit by Pinto Anugrah (Bentang Pustaka) – 2021

Ringkas nan memikat. Hanya seratusan halaman, kubaca hanya sejam sekali duduk selama satu setengah jam pada Sabtu, 16 Oktober 2021 selepas Subuh. Langsung ke poin-poin apa yang hendak dituturkan. Tentang Islamisasi di tanah Sumatra di masa Tuanku Imam Bonjol. Mengambil sudut pandang sebuah keluarga lokal yang kalah dan tersingkir. Segalanya jelas, tapi akan mencipta keberpihakan abu-abu.

“Tatapanmu, tatapan pesimis dan penuh amarah! Tidak baik memelihara tatapan seperti itu! Setan-setan akan senang di dalamnya, mereka akan berpesta pora di matamu!”

#7. Jatisaba by Ramadya Akmal (Grasindo) – 2017

Bagus. Ini adalah novel kedua Ramayda Akmal yang kubaca setelah Tango dan Sadimin yang luar biasa itu. Cerita masih berkutat dalam realita muram kehidupan kampung dengan segala problematikanya. Kali mengangkat isu pemilihan kepala desa, buruh migran, dan kenangan masa kecil yang menguar mengancam. Dedikasi akan kampung halaman bisa dengan berbagai macam cara, tapi merenggut para pemudi untuk diangkut ke negeri seberang dengan berbagai iming-iming, dan tahu bakalan amburadul, jelas bukan dedikasi yang laik ditiru. Sayangnya, ini bukan isapan fiksi belaka.

“Kau selalu meminta yang tak mungkin ketika seluruh kemungkinan di dunia ini aku persembahkan kepadamu.”

#6. Melipat Jarak by Sapardi Djoko Damono (GPU) – 2015

Begini rasanya membacai puisi bagus tuh. Sebelum-sebelumnya sulit masuk atau ngawang-awang, atau tak tentu arah. Dalam Melipat Jarak, yang dominan adalah narasi. Bukan per bait yang rumit. Kata-katanya juga umum, temanya sederhana, tapi pilihan katanya mewah. Singkatnya, enak dibaca. Mau nyaring atau rilih, sama nyamannya. Beginilah puisi sejatinya dicipta. Buku ini berisi 75 sajak yang dipilih oleh Hasif Amini dan Sapardi Djoko Damono dari buku-buku puisi yang terbit antara 1998-2015 yakni Arloji, Ayat-ayat Api, Ada Berita Apa Hari ini, Den Sastro?, Mata Jendela, Kolam, Namaku Sita, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, dan Babad Batu. Oh, ternyata ini sejenis album terbaik terbaik, atau kalau CD/ kaset The Best of The Best-nya. Versi kedua setelah sebelumnya sudah pernah dibuat dalam rentang, 1959-1994 yang termaktup dalam buku Hujan Bulan Juni yang pertama terbit 1994.

Tiga Sajak Kecil: “Mau ke mana, Wuk?” / “ke Selatan situ.” / “Mau apa, Wuk?” / “Menangkap kupu-kupu.”

#5. Puisi Baru by Sutan Takdir Alisjahbana (Dian Rakyat) – 1946

Ini adalah kumpulan puisi dari masa lalu. Pertama terbit tahun 1946, pasca Indonesia merdeka. Yang kubaca adalah cetakan ke-10, 1996 sehingga banyak pula tambahan puisi-puisi di era Revolusi. Yang jelas, Sutan Takdir Alisjahbana memilih dan memilahnya dengan jitu. Campuran gaya dan jenis syairnya. Terlihat klasik, daftar isi ada di muka kanan seperti membaca buku-buku Arab. Terdiri 19 penyair, termasuk Sang Penulis. Benar-benar buku bagus, bisa jadi langka ini sebab puisi-puisi lama (di sini disebut baru) ini akan sulit dicari nantinya. Termasuk beruntung bisa menikmatinya di era digital yang serba wuuuz…

Ah, dunia! Dunia! / Saya pusing di atas kau. / Adakah sudah suratan saya / Akan selalu menghimbau-himbau?Betapa Seni, OR. Mandank

#4. Kritikus Adinan by Budi Darma (Bentang) – 2017

Ini adalah buku kedua Bung Budi Darma yang kubaca setelah Rafillus yang absurd itu. Langsung jadi penulis idola, tampak unik dan luar biasa aneh. Kumpulan cerpen ini sama absurd-nya dengan Rafillus, tokoh-tokohnya tak biasa. Nama-nama juga nyeleneh. Dilengkapi ilustrasi ciamik di tiap cerita, rasanya memang pantas kukasih nilai sempurna.

Rasanya buku-buku Bung Budi Darma hanya masalah waktu untuk dikoleksi, salah satu penulis besar tanah air. Apalagi kabar terbaru buku Orang-Orang Bloomington kini sudah duterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Penguins. Orang Indonesia pertama yang berhasil melakukannya. Kritikus Adinan rasanya hanya masalah waktu pula untuk menyejajarkan diri.

“Dengan mendadak kamu mengunjungi saya, Malaikat. Apa sebenarnya dosa saya? Sejak kecil saya selalu berusaha berbuat baik.”

#3. Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan oleh Raudal Tanjung Banua

Menakjubkan! Ya, itulah komentarku seusai membacai. Campur aduk perasaan, dijabarkan dengan sabar, disajikan dengan istimewa. Cerita-cerita masa kecil dari orangtua, paman sampai neneknya, kita melangkah lanjut ke tema-tema masa lalu yang lebih umum, menorehkan kenangan. Menulis tentang masa lalu, sekali lagi kubilang sungguh aktual. Dan lebih mudah diimajinasikan. Sungguh nyaman, asyik sekali diikuti, seolah membacai memoar, menelisik nostalgia.

“Sering-seringlah memandang Bukit Talau. Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan.”

#2. Pasar by Kuntowijoyo (Mataangin) – 1995 *

Novel dengan penggambaran detail mengagumkan. Mencerita apa adanya keadaan pasar dan par penghuninya. Sejatinya setting hanya satu tempat dari mula sampai jelang akhir. Pasar dan situasi yang ada. Orang-orangnya juga itu-itu saja, berkutat melelahkan. Pada dasarnya menggambarkan sifat manusia yang mengingin nyaman, ketika terusik maka ia marah, dan saat keinginan-keinginan tak terkabul, jadi petaka. Minim konflik tapi sungguh menohok saat masalah itu dilemparkan ke pembaca.

“Kalau macan mati meninggalkan belang, Pak Mantri mati meninggalkan tembang.”

#1. Anwar Tohari Mencari Mati by Mahfud Ikhwan (Marjin Kiri) – 2021

Berkelas. Bagus sekali. Rentetan katanya menyemburkan degub khawatir dan caci maki kepuasan. Dalam puncak ketegangan, saya benar-benar menikmati adu jurus di atas jembatan itu. Setidaknya tiga kali pada bab pertarungan kusela tepuk tangan dan kepal tangan. Bravo! Cerita-cerita pun mengalir dahsyat, dan saya hampir mengeluarkan HP buat kubaca rekam. Mungkin akan kulakukan nanti pas baca ulang. Bergaul dengan Warto Kemplung membuatku berlajar seni bercerita. Senyumnya bagai sambaran kilat, dan berhasil memainkan tempo.

“Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”

Panjang umur kesehatan, panjang umur keuangan. Semoga tahun ini bisa lebih banyak lagi karya lokal yang kunikmati, bisa lebih nyaman, enak, dan berkembang. Panjang umur para penulis lokal, dedikasi kalian untuk literasi Indonesia patut diapresiasi.

Karawang, 100122 – Sammy Davis Jr. – Dedicated to You

Semesta Murakami: The Art of Fiction Issue


Semesta Murakami by John Wray, dkk

“Aku suka membuat orang tertawa setiap sepuluh halaman.”

Terdiri atas tujuh cerita, plus satu pengantar dari Cep Subhan KM. menyenangkan sekali menyaksi Penulis favorit menjalani hari-harinya, ditulis dengan gaya santai dalam bentuk esai dan wawancara. Sebagian besar mungkin sudah sungguh familiar, atau karena berkali-kali dibaca, sekadar pengulangan, tapi mayoritas memang hal-hal asyik. Seperti proses kreatif menulisnya, sudah sering kubaca; bagaimana ia menulis dalam bermimpi, dan dalam daya imaji, itu adalah kegiatan mimpi yang bisa dilanjutkan. Atau bagaimana adegan drama yang memberinya ilham di lapangan olahraga dalam momen ‘eureka’ Aku bisa menulis, atau di bagian familiar hampir semua jagoannya menderita.

Sebuah Pengantar: Tenung Murakami oleh Cep Subhan KM

Bagus, isinya meringkas dan menjelaskan hal-hal yang memang harus dijelaskan. Sebagian buku yang disebutkan sudah dibaca, jadi nyaman sahaja, langsung klik. 1984 jelas rujukan utama 1Q84, keduanya sudah baca maka apa yang disampaikan mana yang lebih baik/penilaian secara keseluruhan mungkin berkebalikan bisa dengan jitu diserap. Aku sendiri sangat suka keduanya. Pengantar ditutup dengan apik dengan kalimat, “Tampaknya kekaguman kita terhadap Murakami, sedikit atau banyak, dipengaruhi oleh kekaguman kita terhadap dia sebagai subjek yang tak menyerah…” Amat langka menemukan penulis dengan keseimbangan menerapkan pola hidup sehat, dan mampu ikut marathon rutin! Hanya Murakami yang bisa.

#1. Menjadi Orang Asing di Negeri Sendiri oleh Laura Miller

Wawancara ini pertama terbit di salon.com pada 16 Desembr 1997. Bagaimana Raymond Carver memengaruhinya, adegan sumur terutama bagaimana ia terilhami anak yang terjatuh ke dalamnya seharian. Kalau kalian sudah baca, misalkan Kronik Burung Pegas; sumur menjadil simbol masuk ke dimensi lain. Menjadi tempat merenungkan kejadian antah yang merasuk ke sumsum. Termasuk adegan memilukan di Pembantaian Nanking dipindahkan ke panel Manchuria, di novel ada penggambaran prajurit yang tertangkap dikuliti hidup-hidup, atau membunuh dengan tongkat bisbol hanya untuk menghemat peluru. Lihat, imajinasi berhasil mencipta kengerian.

#2. The Art of Fiction Issue – Haruki Murakami oleh John Wray

Wawancara ini terbit pertama di tahun 2004 di The Paris Review. Tak salah penulis ini yang dipilih muncul di kover, sebab memang yang paling bagus. Panjang dan detail. Menjelaskan proses kreatif bagaimana inpirasi muncul. Jelas terpengaruh sama novel-novel lawas yang bagus. Dari The Great Gatsby, The Little Prince, buku-buku Kurt Vennegut, hingga bantahan bahwa novel-novelnya yang absurd apakah diilhami film The Spirited Away. Justru beliau sebut nama sutradara yang tak kukenal dari Finlandia: Aku Kaurismaki. Bakalan kuburu nih.

#3. Raja Kegelapan dari Dunia Mimpi oleh Stephan Phelan

Pertama terbit di harian The Age pada 5 Februari 2005. Satu dari dua yang ditulis bukan dalam bentuk wawancara. Esai tentang kekagumannya sama Murakami, menjelaskan beberapa poin yang mungkin sudah familiar. Riwayat hidup Murakami dari orang pemilik kafe, menulis, dan menjalani keseharian. Murakami pernah menyebut kisah-kisahnya sebagai ‘misteri tanpa solusi’, yang bisa kit abaca sebagai metafora dari kehidupan itu sendiri.

#4. Penangkap Mimpi oleh Sally Blundell

Dibandingkan dengan penulis pemenang Booker Prize (nantinya menang Nobel Sastra) Kazuo Ishiguro, yang bilang novelnya bernada surreal-yang berubah-menjadi-absurd; keinginan membelokkan keadaan. Namun Murakami tak setuju sebab baginya semua sangat natural.

#5. Dunia Bawah Tanah Murakami oleh Deborah Treisman.

Ada satu pembuka yang lucu. Sebelum wawancara, Murakami menjelaskan. “Menjadi novelis sejati: pertama ia tak akan membicarakan pajak penghasilan yang ia bayarkan; kedua, ia tidak menulis tentang mantan pacar atau mantan istrinya; ketiga ia tidak memikirkan soal hadiah Nobel Sastra.” Maka ia meminta tak menanyakan tiga hal itu. Hehe…

Pertama terbit di The New Yorker pada 10 Februari 2019, ini juga tulisan yang luar bias bervitamin. Aku kutip sahaja salah duanya, “Aku menulis sambil mendengarkan musik, jadi secara alami musik akan meresap ke dalam tulisan-tulisanku… ia memberi energi untuk menulis. Jadi aku sering menulis tentang musik, dan seringnya aku menulis tentang musik yang aku sukai. Ini bagus untuk kesehatanku. Ya, musik dan kucing. Mereka banyak membantuku.”

Gene Quill, musisi saksofon tahun lima puluhan hingga enam puluhan yang terinspirasi Charlie Parker pernah menjawab kritik di bar seusai tampil. Seorang pria berujar, “Hei yang Anda lakukan hanyalah bermain seperti Charlie Parker.” Gene mengulurkan saksofonnya dan berkata, “Ini. Bermainlah seperti Charlie Parker.” Dari kejadian ini, ada tiga anekdot. Pertama, mengkritik itu mudah. Kedua, menciptakan yang original itu sulit. Ketiga, seseorang tetap harus melakukannya. Begitulah, sama seperti di dunia tulis-menulis.

#6. Haruki Murakami: Melihat Kembali 40 Tahun Kerja Penulisannya oleh Kyodo News

Terbit pada 5 Juni 2019. Ini sudah diwarning berisi spoiler novel Killing Commendatore, tapi tetap kulibas habis juga walau aku belum baca, dan baru tahun ini diterjemahkan oleh KPG. Dan jelas sekali, aku pasti mengoleksinya. Tak masalah.
Sama, aku kutip sahaja dua bagian yang menurutku bagus. “Secara alami, tema dari cerita-ceritaku adalah perkara menjelajahi alam bawah sadar dan lubuk hati terdalam… bagian terdalam dari pikiran sadar. Ketika kita menggali alam pikiran sadar sedalam mungkin, kita akan menemukan makhluk-makhluk kegelapan dari dunia yang paling aneh.”

“Kekerasan di media sosial muncul secara terfragmentasi, tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Aku pribadi pecaya, semakin panjang suatu cerita maka semakin baik. Karena ia tidak terfragmentasi. Harus ada poros nilai yang konsisten di keseluruhan cerita. Dna ia harus bertahan dalam ujian waktu.”

#7. Akhir yang Bahagia untuk Sang Pelukis dan Penulis

Berisi percakapan antara Haruki Murakami dan pelukis dan penulis sahabatnya Mizumaru Ansei.

Murakami: Sebenarnya, setiap kali meminta bantuan, aku sudah memiliki ide di kepala. Hanya saja, aku selalu gagal menyampaikannya dengan kata-kata. Begitu juga ketika aku meminta bantuanmu.

Ini buku special untuk penggemar Haruki Murakami. Tipis, kecil, tapi sungguh berbobot. Nyaman sekali bila kita membaca orang yang sudah kita kenal, bagiku penulis terbaik yang masih hidup saat ini adalah beliau. Setiap tahun berdoa dan berharap menang Nobel Sastra, entah sampai kapan. Semoga Haruki Murakami berumur panjang dan terus menulis hingga akhir hayat. Catatan ini kututup dengan nasehatnya tentang dunia kepenulisan tentang kesabaran:

“Untuk menulis novel yang panjang, diperlukan setidaknya satu tahun dengan tingkat konsentrasi dan semangat tinggi.”

Semesta Murakami | by John Wray, dkk | Penerbit Odise | Cetakan pertama, Februari 2021 | ISBN 978-623-95462-4-3 | Penerjemah Dewi Martina | Penyunting Agata DS | Tata letak The Naked! Lab | Perancang sampul The Naked! Lab | Skor: 5/5

Karawang, 251021 – Michael Franks – Samba Do Soho

Thx to 7 teman dalam 700k untuk Juventus-nya Tuan Pirlo. Thx to Sentaro Books, Bekasi.

Orang-orang di Masa Lalu yang Telah Meninggalkan Cerita ke Masa Mendatang


Segala yang Diisap Langit oleh Pinto Anugrah

“Tatapanmu, tatapan pesimis dan penuh amarah! Tidak baik memelihara tatapan seperti itu! Setan-setan akan senang di dalamnya, mereka akan berpesta pora di matamu!”

Ringkas nan memikat. Hanya seratusan halaman, kubaca sekali duduk selama satu setengah jam pada Sabtu, 16 Oktober 2021 selepas Subuh. Langsung ke poin-poin apa yang hendak dituturkan. Tentang Islamisasi di tanah Sumatra di masa Tuanku Imam Bonjol. Mengambil sudut pandang sebuah keluarga lokal yang kalah dan tersingkir. Segalanya jelas, tapi akan mencipta keberpihakan abu-abu.

Kisahnya di daerah Batang Ka, negeri di tenggara Gunung Marapi, Sumatra. Dibuka dengan pasangan suami istri yang absurd. Bungi Rabiah mendamba anak perempuan sebagai penerus sebagai pelanjut lambang kebesaran dari Rumah Gadang Rangkayo, suaminya Tuanku Tan Amo yang gila perempuan sudah punya banyak istri, Bungo Rabiah sebagai istri kelima. Memang ingin dimadu sama bangsawan. Terjadi kesepakatan di antara mereka, bagaimana masa depan generasi ini harus diselamatkan.

Rabiah memiliki hubungan gelap dengan saudara kandungnya Magek Takangkang/Datuk Raja Malik, satu ibu beda bapak. Dorongan yang begitu besar dari dirinya untuk tetap menjaga kemurnian darah keturunan Rangkayo. Ia tak mau darah keturunan Rangkayo ternoda dengan darah-darah yang lain. Mereka memiliki anak Karengkang Gadang yang bandelnya minta ampun, sejak tahu hamil, Rabiah langsung mencari suami, seolah asal ambil, ia menikah dengan pekerja kasar saat Magek Takangkang sedang dalam perjalanan bisnisnya. Pilihan langsung jatuh kepada Gaek Binga, bujang lapuk yang bekerja sebagai pemecah bukit pada tambang-tambang emas di tanahnya. Sudah bisa ditebak, pernikahan ini kandas dengan mudah, memang hanya untuk status sahaja. Rabiah lalu menikah lagi dengan Tan Amo, seperti yang terlihat di adegan pembuka.

Karengkang Gadang tukang mabuk dan judi. Hidupnya kacau, sakaw karena narkoba dan nyaris mati. Tan Amo mabuk perempuan, menggoda sana-sini walau sudah punya banyak istri. Kesamaan keduanya adalah judi, ia sering kali memertaruhkan banyak harta, termasuk perkebunan. Suatu hari desa mereka kena serang. Seranganya yang memporakporandakan wilayah sekitar itu kini menyambangi mereka. Satu lagi, Jintan Itam yang merupakan anak pungut yang dibesarkan seolah anak sendiri, mengabdi tanpa pamrih. Ia mewarnai kekacauan keadaan dengan pelayanan memuaskan.

Pasukan putih, tanpa menyebut secara terbuka ini adalah pasukan Tuanku Imam Bonjol yang terkenal itu, kita tahu ini adalah Jihad penyebaran agama Islam. Mereka juga memakai sebutan Tuanku untuk orang-orang terhormat bagi mereka. Nah, di sinilah dilema muncul. Magek kini jadi bagian dari pasukan ini, Magek Takangkang, Datuk Raja Malik yang mengganti nama Kasim Raja Malik, ia menjadi panglima yang paling depan mengangkat pedang dan menderap kuda. Pilihan bagi yang kalah perang hanya dua: mengikuti ajaran baru, atau mati. Ia tak pandang bulu meratakan daerah manapun.

Sebagian warga yang sudah tahu, memilih kabur. Yang bertahan luluh lantak, adegan keluarga Bungo ini ditaruh di ujung kisah. Drama memilukan, tak perlu kita tanya apakah Sang Kasim tega membinasakan keluarganya demi agama baru ini? Ataukah hatinya tetap tersentuh. Jangankan keluarganya, pusaka pribadinya yang mencipta dosa sahaja ia siap musnahkan. Dunia memang seperti itu, penuh dengan makhluk serba unik dan aneh. Kalau sudah ngomongin prinsip hidup, segalanya memang bisa diterjang, segalanya diisap langit!

Tanpa perlu turut mendukung pihak manapun, pembunuhan adalah salah. Apalagi pembunuhan dengan membabi buta, dengan bengis dan amarah memuncak. “Kau! Kelompokmu! Tuanku-tuanku kau itu! Hanya orang-orang kalah pada kehidupan, lalu melarikan diri kepada Tuhan!”

Tanpa bermaksud mendukung atau menhujat pihak manapun, selingkuh adalah salah, hubungan incen juga salah, judi, mabuk, narkoba jelas salah. Lantas bagaimana kita menempatkan diri? Dunia memang seperti itu, mau zaman dulu dan sekarang sama saja, hanya teknologinya saja yang berubah. Kalau mau objektif, semua karakter ini pendosa, dan saat bertaubat, ia memilih jalan yang keras, dan yah, salah juga mengangkat pedang. Kalau zaman sekarang, menyandang bom untuk menegakkan bendera agama dengan meledakkan diskotik misalkan, tetap saja salah. “Atas nama agama, katanya!”

Perjuangan melawan semacam kutukan juga terlihat di sini. Rabiah! Ingat, kau adalah keturunan ketujuh dan kutukan kepunahan pada keturunan ketujuh akan menghantuimu. Munculnya karakter minor yang ternyata memiliki peran penting dirasa pas. “Apakah orang-orang mencatat apa-apa yang pernah terjadi pada masa lampau kita, Jintan?” Maka akhir yang manis dengan api berkobar sudah sungguh pas.

Overall ceritanya bagus, tak njelimet, jadi sungguh enak dilahap. Benar-benar clir semuanya, apa yang mau disampaikan juga jelas, silsilah di halaman depan mungkin agak membantu, tapi untuk kisah seratusan halaman, rasanya tak diperlukan. Mungkin salah satu saran, jangan terlalu sering menggunakan tanda perintah (!) terutama untuk kalimat langsung. Mungkin maksudnya marah, atau meminta, atau memerintah, tapi tetap kubaca jadi kurang nyaman. Atau semuanya berakhiran dengan tanda itu dan tanda tanya (?)? contoh kalimat-kalimat langsung yang sebenarnya bisa dengan tanda titik (.), atau ada yang salah dengan tanda ini. (1) “Memang kita tidak akan mengerti, jika mengerti berarti kita selamat di ambang zaman ini!”; (2) “Sebentar lagi kita akan punah! Semuanya akan habis! Saya lebih peduli akan hal itu. Saya dan Rumah Gadang ini, tidak ingin hilang begitu saja, makanya perlu ada yang mencacat! Perlu dicatat!” (3) “Saya telah memilih jalan ini, Tuanku! Maka, saya pun akan berjuang sampai titik darah penghabisan, Tuanku!”; dst…

Prediksiku, buku ini laik masuk lima besar. Kisahnya sudah sangat pas, tak perlu bertele-tele, langsung ‘masuk’ ke intinya. Kursi goyang yang mewarnai kenyamanan hidup hanya selingan bab mula, masa kolonial yang keras bahkan tak disebut dan tak dikhawatirkan. Pasukan Padri, pasukan lokal yang perkasa malah justru yang mencipta khawatir. Rasanya banyak hal yang disampaikan, dan memang sepantasnya tak disampaikan sebab bersisian sejarah. Lihat, cerita bagus tak harus njelimet dan melingkar mumet bikin pusing pembaca, inti cerita yang utama.

Aku tutup catatan ini dengan kutipan dari Matthew Pearl, penulis The Dante Club ketika diwawancarai terkait cerita fiksinya yang bersetting sejarah Amerika, ia menjawab; “Saat Anda menulis fiksi sejarah, Anda harus tahu detail-detail tokohnya: makanan apa yang mereka santap ketika sarapan, apa jenis topi yang mereka kenakan, bagaimana cara mereka beruluk salam ketika saling bertemu di jalan.”

Segala yang Diisap Langit sukses menerjemahkannya.

Segala yang Diisap Langit | oleh Pinto Anugrah | Cetakan pertama, Agustus 2021 | Penyunting Dhewiberta Hardjono | Perancang sampul Bella Ansori | Pemeriksa aksara Yusnida, Nurani | Penata aksara Labusian | Penerbit Bentang | vi + 138 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-291-842-4 | ISBN 978-602-291-843-1 (EPUB) | ISBN 978-602-291-844-8 (PDF) | Skor: 4/5

Terima kasih untuk istri tercinta, Welly Zein

Karawang, 181021 – Fourplay (feat. El Debarge) – After the Dance

*Enam sudah, empat gegas.

**Thx to Titus, Karawang. Thx to Stanbuku, Yogyakarta.

***Judul catatan kuambil dari ucapan terima kasih penulis di halaman awal berbunyi: “Dan, terima kasih untuk orang-orang di masa lalu yang telah meninggalkan cerita ke masa mendatang.”

Gurita di Punggung Naf Tikore


Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga oleh Erni Aladjai


Tapi besok malam kau akan datang lagi kan?”


Pembukanya jitu sekali, hok yang keras dan menghantui. Pembunuhan suami istri, yang (kemungkinan) dilakukan oleh anaknya sendiri. Pembunuhan sadis itu membuat warga sekitar ketakutan berhubungan dengan pelaku, muncul desas-desus ia memiliki ilmu hitam, kebal sakit, manusia yang melakukan perjanjian dengan iblis, sampai kesaktian mandraguna dengan penghuni dimensi lain. Hal-hal sejenis itu, sungguh sangat mujarab openingnya, mencipta tanya, lantas kehidupan berlari kencang di tahun 1990-an.


Setting utama di desa Ko, di jelang akhir masa Pemerintahan Soeharto. Gejolak Orde Baru merambati kehidupan sehari-hari di perkebunan cengkih yang asri. Haniyah membesarkan sendiri anaknya Ala yang kini beranjak remaja. Rumah mereka bernama Teteruga sudah berusia seabad lebih, dan seperti pada umumnya hubungan anak-ibu, mereka saling mengisi keseharian. Saling menguatkan. Dari sekolah, membantu pekerjaan di kebun cengkih, mengajarkan hal-hal bijak bestari, dst.

Novel ini banyak menyorot sosial budaya kehidupan di sekeliling kebun.
Ala di sekolah dipanggil Aljul (Ala Juling) yang membuatnya ngambek sama teman-teman dan bu guru Hijima, teman Haniyah sekolah dulu. Teman akrabnya Yolanda dan Siti Amaranti juga mengesalkan. Ala mencatat olokan itu di papan tersembunyi, mencapai 180-an. Awalnya tak dicerita, tapi nantinya kekesalan itu membuatnya marah, dan ia melabrak ke sekolah. Kisah tentang bullying? Enggak juga.


Cerita sejatinya malah ada di kebun cengkih tetangga kita, Naf Tikore yang di prolog melakukan kejahatan. Segala desas-desus itu menjadikannya terasing, tak berhubungan dengan sesama. Ia tak ke masjid, tak pula ke gereja. “Bukan Muslim, bukan Kristien, sudah sepantasnya dia tinggal di hutan.” Ia tak makan binatang, ia hidup dari hasil alam sekitar. Dalam sejarah singkat yang ditulis, ia menjadi hebat dengan bantuan gurita di kapal perang menjadikannya legenda. Pada suatu hari di Sungai Mariata…


Nah, koneksinya di sini. Ala suatu malam bertemu hantu remaja bernama Ido. Datang dalam kabut dan mengajaknya berkomunikasi, ia adalah korban di zaman colonial. Anak pribumi yang bergaul sama anak londo, dibunuh oleh seorang pribumi demi mengabdi penjajah, tapi tetap abdinya tak digubris. Kepala Ido dipenggal dan dikubur terpisah.


Ala punya misi menyatukan jasad yang dikubur di kolong rumahnya dan di kolong rumah Naf. Saat semua warga takur dan begidik sama Naf, Ala dengan langkah ringan ke sana. Membawa makanan berkat, dan setelah basa-basi mengutarkan niatnya. Sesederhana itu. Kisah ditutup dengan isu perekonomian, sebuah keputusan anak penguasa Orde Baru mencekik petani cengkih, dan setelah berbagai upaya, baru berhasil dihapus setelah Orde itu tumbang.


Temanya beragam, tapi intinya bisa jadi budaya lokal dengan kritik sosial. Pelukisan perkebunan dan tradisi setempat bisa saja menjadi daya saing yang menjanjikan, tapi tetap intinya sederhana. Hantu anak yang baik, walau kehidupannya tragis bisa memunculkan berbagai kemungkinan horror, jagoan yang sakti juga bisa saja meledakkan amarah ke warga, tidak. Kisah ini berakhir dengan tenang. Pesannya bisa saja, apa yang kita makan menghasilkan apa tindakannya. “Tanaman bertenaga-baik membuat manusia yang memakannya berjiwa baik.” Ah, kembali ke jiwa. Misteri semesta ini, merongrong tanya. Dunia Haniyah dan Ala masih di seputar kebun, dan itu membuatnya tetap membumi. Aroma khas cengkihnya bahkan berhasil terbaui hanya dari penuturan.


Pembuka Kusala Sastra Khatulistiwa yang kurang OK. Ekspetasi memang tak tinggi, nama Erni Aladjai sendiri masih asing di telinga, dengan lebl Pemenang ketiga Sayembara Novel DKJ 2019, tetap saja bukan jaminan. Tebakanku jelas novel ini akan tersingkir dari daftar pendek. Kita butuh suatu ledakan hebat untuk jadi juara.


Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga | by Erni Aladjai | KPG 592101875 | Cetakan pertama, Januari 2021 | Penyunting Christina M. Udiani | Penataletak dan Perancang sampul Pinahayu Parvati | Penerbit KPG | vi + 146 hlm.; 13.5 x 20 cm | ISBN 978-602-481-527-1 | Skor: 3/5


Karawang, 051021 – Michael Franks – Time Together


Satu sudah, Sembilan menunggu
Buku ini kubeli di Gramedia Karawang sepulang kerja, tepat di hari diumumkan nominasi KSK.

Tidak Ada yang Lebih Menyenangkan Daripada Kopi di Pagi Hari


Lotre dan Cerita-cerita Lainnya by Shirley Jackson


“Aku merasa terjebak, tinggi di atas gedung tua dengan api; rasanya seperti mimpi buruk. Dan di kota yang asing.”

#1. Percakapan

Kunjungan Nyonya Arnold ke Dokter Murphy. Konsultasi tentang kekhawatiran suaminya tahu, ia khawatir. Ketakutan menjadi gila, semua orang berbeda dan berkepribadian unik hingga isu global.


“Saya ingin Anda mengendalikan diri. Di dunia yang membingungkan seperti dunia kita saat ini, keterasingan dari kenyataan sering –“ / “Membingungkan. Keterasingan. Kenyataan. Kenyataan.”

#2. Elizabeth

Cerpen kedua yang sangat panjang. Melelahkan tutur bahasanya, intinya adalah Elizabeth Style yang bekerja dengan Robert Shax bertahun-tahun penuh perjuangan membangun penerbitan buku, lebih pasnya sebagai agen sastra. Suatu hari ada anak baru, Nona Hill Dephne yang aneh dan mencurigakan, atau malah tampak annoying sebab seenaknya sendiri saat ditinggal sendiri di kantor. Salah satunya berani meminjam buku-buku di meja kerjanya tanpa izin! Sombong sekali kau Nak. Lalu Elizabeth yang kesal lalu mengambil tindakan.


“Saya rasa dia tidak akan mengatakannya, ketika saya melihat bagaimana kau langsung bersikap seolah-olah kau akan terus berada di sini.”

#3. Firma Lama yang Bagus

Kunjungan Nyonya Friedman kepada Nyonya Concord dan putri tertuanya, Helen. Memilih dan memilah tembakau, lalu bergosip ria. Menanyakan kabar putranya yang di Angkatan Darat, Bob Friedman dan Charlie menjadi bahan utama, dan penuh gaya bahwa sebelum masuk tentara Charlie kuliah hukum. Khas gosip ibu-ibu yang membanggakan anak, menanbah-nambahkan detail.


“Firma lama yang bagus, kakek Tuan Concord dulunya adalah seorang partner.”

#4. Sang Boneka

Kunjungan nyonya Wilkins dan Nyonya Straw ke restoran elit. Semua pelayan siap melayani dengan hormat. Mengatur jarak duduk, membicarakan menu makanan yang lezat, kaserol udang, ayam goreng, dst. Dan pemandangan indah di sekitar. Lalu pembicaraan tentang surat dari Walter. Dan akhirnya sampai kepada omongan tamu restoran yang lain. Ada gadis lugu bergaun hijau, disebutnya mirip monyet dan tampak norak, padahal ia makan sama pemuda tampan, dan sang boneka. Lantas sudut berganti ke meja mereka bertiga, tahu apa yang mereka bicarakan? Hahaha…


“Aku suka melihat tempat yang menyajikan makanan enak dan bersih.”

#5. Tujuh Jenis Ambiguitas

Tuan Harris, pemilik sekaligus pelayan toko buku tua, suatu hari kedatangan sepasang bapak-ibu dan pemuda delapan belas tahun (mereka tak saling kenal dan sesama tamu), berbincang literatur dan yang utama ingin belanja buku banyak, sangat banyak. Beberapa koleksi. Meminta rekomendasi, termasuk beberapa karya Dickens, Bronte bersaudara, Mark Twain, dst. Dan sampailah pada buku berjudul Tujuh Jenis Ambiguitas. Sang pria besar terkesan kepada sang pemuda, buku-buku klasik berbobot tahu dan sudah dilahap!


“Perhatikan anak tangga paling bawah.”

#6. Berdansalah denganku di Irlandia

Nyonya Archer muda, Kathy Valentine, dan Nyonya Corn sambil menimang bayi, mereka bergosip. Lalu bel rumah berbunyi, ternyata tamu pria tua yang menawarkan barang tali sepatu berharga satu quarter, ia tinggal di blok seberang, sempat akan ditolak tapi terbesit rasa kasihan, maka dibelinya. Sekadar sopan santun. Namun tak sampai di situ aja, sang tamu dipersilakan masuk, disajikan minuman, makanan. Dan jamuan mendadak-pun tersaji, pria bernama John O’Flaherty, orang Irlandia. Dan nama penyair Irlandia disebut Yeats, karyanya dalam puisi, I am Of Ireland dibacakan, salah satu kutipannya,


“Come out of Charity, come dance with me in Irlandia”

#7. Tentu Saja

Nyonya Tylor yang memperhatikan tetangga, sebuah mobil van berhenti dan anak sekitar empat tahun turun. Disusul perempuan muda. Mereka sedang pindahan, tetangga baru. Nyonya Tylor bersama anaknya Carol bersapa. Mereka bernama Nyonya Harris dan James Junior. Sopan-santun, saling mengakrabkan. Hobi, kegiatan rutin, profesi suami, dst. Rasanya banyak hal bertolak belakang, yang satu suka nonton bioskop, yang satu suka radio, sementara yang lainnya justru kesal sama suara radio keras, dan larangan anaknya nonton film. Oh, awal yang tak bagus. Walau senyum, tapi jelas masam. Ah basa-basi, rasanya memang perlu?


“Tentu saja.”

#8. Tiang Garam

Sepasang suami-istri dalam perjalanan kereta dari New Hampshire ke New York. Muncul lagu lawas di sana, lagu soundtrack film. Lagu yang terdengar akrab, tapi lupa judulnya. Lagu yang rasanya bisa dinyanyikan, tapi liriknya agak terlupa. Brad dan Margaret melakukan liburannya melihat-lihat kota. Berbelanja, makan di restoran, dst. Karena sang istri suka belanja lama, sang suami tak mau menemani. Pengalaman buruk muncul, saat ditemukan mayat dan polisi dipanggil. Lalu Margaret ada rasa semacam phopia terhadap orang-orang, kerumunan, takut akan hal-hal janggal di tengah kota. Ia pun menelpon Brad dari telpon umum untuk menjemputnya.


“Aku merasa terjebak, tinggi di atas gedung tua dengan api, rasanya seperti mimpi buruk. Dan di kota yang asing.”

#9. Pria dengan Sepatu Besarnya

Nyonya Hart, calon ibu muda yang menanti buah hati pertamanya. Nyonya Anderson, pembantunya yang datang dan melayani tiap pagi, sang pembantu suka mengeluh, kerjanya kurang bersih, dan beberapa complain disajikan. Awalnya dirasa mungkin butuh keakraban di antara mereka, tapi ternyata bukan hanya dimula, setelah sebulan lebih, ketidaknyamanan kecil itu benar adanya. Mereka bercerita, bergosip tentang keluarga, kegiatan favorit, dan akhirnya sampai pada Bill, suami Hart. Dikompori sama pembantunya, dipanasi betapa pasangan muda harus lebih saling peduli, tak boleh cuek gitu, dst. Jangan-jangan suami Anda selingkuh?!


“Saya rasa orang tak perlu membicarakan orang lain, maksud saya, menurut saya tidak adil untuk mengatakan hal-hal yang Anda tidak bisa tahu dengan pasti.”

#10. Gigi

Aku merasa aneh.” Clara Spencer bilang ke suaminya. Apakah ini efek obat bius untuk mengobati giginya? Cobalah tidur dalam bus perjalanan ke New York ini, saran suaminya. Ini bukan perjalanan pertamanya ke sana, tapi ia merasa ada kejanggalan. Teman duduknya adalah pemuda bernama Jim, sopan dan mengajaknya ngobrol, ngopi. Ia berasal dari jauh, lebih jauh dari Samarkand. Saat sampai di klinik, hasil x-ray bilang geraham bawah harus dicabut, hal yang harusnya ia lakukan jauh hari. Proses cabut gigi yang dirasa biasa menjelma ketakutan, samar tapi ini kan hanya gigi!


“Ini hanya sakit gigi. Tidak ada yang serius dengan sakit gigi.”

#11. Surat dari Jimmy

Surat dari Jimmy yang tak pernah dibuka, langsung diposkan lagi, dikirim balik. Suaminya selalu begitu, istrinya sempat meminta untuk membacanya. Namun rasanya tak akan. Tak akan pernah. Oh benarkah? Sepadankah?


“Konyol sekali menyimpan dendam terhadao surat. Melawan Jimmy, baiklah. Tetapi tidak membaca surat karena dendam itu konyol.”

#12. Lotre

Di alun-alun yang panas pada 27 Juni, sebuah desa kecil sekiatr tiga ratus warga. Mereka berkumpul, berpesta menyelenggarakan lotre. Kepala pos, Tuan Graves meletakkan kotak berkaki tiga di tengah-tengah. Tuan Summers mengaduk-aduk kertas di dalamnya, Tuan Martin dna putranya Baxter memegang kotaknya. Ritual rutin memilih secarik keras lalu Tuan Summers mengambil satu, setelah para keluarga atau perwakilannya memasukkan kertasnya. Tradisi ini sering ribut, beberapa kali bahkan ia disumpah tak curang, dan memang kali ini sangat kacau.


Ini tidak adil, ini tidak benar,” teriak Nyonya Hutchincon, lalu mereka menyerbunya.


Ini adalah buku pertama dari Shirley Jackson (1916 – 1965) yang kubaca. Lahir di San Francisco, California, USA. Penulis dengan genre horror dan misteri. Lulusan Syracuse University New York dan aktif di jurnal sastra kampus. Bertemu dengan calon suaminya Stanley Edgar Hyman, dan setelah lulus keduanya berkarier di The New Yorker. Shirley menjadi penulis fiksi, suaminya contributor ‘Talk of the Town’.


Karya Shirley yang terkenal, The Road Through the Wall (1948), Hangsman (1951), The Bird’s Nest (1954), The Sundial (1958), The Haunting of Hill House (1959), dan We Have Always Libed in the Castle (1962). Lottery sudah diadaptasi tiga kali ke layar lebar, dan paling terkenal rilis tahun 1969.


Terlihat banyak sekali cerpen yang diambil dari pengalaman pribadi. Sebagai seorang ibu, Shirley jelas suka bergosip dengan tetangga, ada banyak adegan di sini. Sebagai seorang agen penerbit ia tentu saja berpengalaman menghadapi staf nakal, di sini dikisahkan panjang sekali. Sebagai seorang istri, ia menyampaikan pengalaman perjalanan ke New York baik saat bersama suami atau sendiri naik bus, ada di sini. Sebagai warga Negara yang baik, ia tentu menyambut tetangga baru, di sini ada lebih dari dua kali. Sebagai manusia biasa, ia tentu beberapa kali ke dokter, ada beberapa pula. Hampir semua mengambil sudut pandang seorang wanita, seorang IRT, seorang pekerja kantor, seorang istri yang baik, dst. Jelas ini adalah pengalaman sendiri dengan bumbu imaji. Semuanya adalah kejadian sehari-hari, wajar, biasa, sangat sederhana. Nah, inilah hebatnya, kisah biasa kalau dicerita dengan bagus akan luar biasa. Di sinilah pengalaman (menulis dan membaca) itu penting sekali. Mencipta cerita bagus tak seperti lotre yang bisa diambil acak dan asal, harus dilatih dan ditempa panjang. Shirley Jackson tentu saja melakukannya.


Lotre; dan Cerita-Cerita Lainnya | by Shirley Jackson | Diterjemahkan dari The Lottery and Other Stories | Terbitan Farrar, Straus and Giroux, 2005 | Penerjemah Laura Harsoyo | Penyunting Nasrina Lubis | Tata sampul Airarumi | Tata isi Vitrya | Pracetak Wardi | Cetakan pertama, 2021 | Penerbit Noktah | 196 hlmn; 13 x 19 cm | ISBN 978-623-6175-08-8 | Skor: 4/5


Untuk ibu dan ayahku


Karawang, 280721 – 060921 – Earl Klugh – Midnight in San Juan


Thx to Diva Press

Kemungkinan yang Tak Terbatas


Firebelly by J.C. Michaels


Aku tetap berada di rumput sampai kesejukan pagi membangunkanku. Ketika aku sedikit bergerak, aku merasakan tanah yang kering pecah di kulitku…”


Kadang-kadang kehidupan kita dibelokkan oleh sesuatu yang begitu sederhana dan begitu tidak penting seperti seekor katak. Buku ini lebih bagus penjelasan di kata pengantar dan lampiran tentang eksistensialime-nya ketimbang isi utamanya. Mencoba filsafat, sang katak malah mengantar pembaca menguap bosan dengan berbagai pilihan hidup. Bagaimana sebuah pertanyaan sederhana dapat menyebabkan timbulnya masalah besar. Adalah pemicunya, dari sang katak tua, si katak muda lantas mengalami petualangan hebat. Mereka memandang kehidupan dengan tergopoh-gopoh dan merasa telah menemukan sesuatu. Ludwig Wittgenstein menulis sebuah buku yang sangat kecil di mana dia menyatakan bahwa batasan bahasa adalah batasan dari apa yang dapat kita ketahui dan kita sampaikan pada orang lain. Jika kita punya kata-kata untuk menggambarkan sebuah pengalaman, pengalaman itu akan lenyap dan tidak dapat dimiliki orang lain.


Biasanya terbitan Serambi menjamin kualitas, terjemahan pilihan dari novel-novel bermutu. Maka, walau saya tak paham ini tentang apa dan siapa, karena terbitan Serambi aja saya putuskan beli. Ternyata ada yang kurang bagus. Novel ini lemah dalam bercerita, tentang katak bunting yang banyak bertanya tentang kehidupan, semesta metamorphosis sampai rasa penasaran bila keluar dari zona nyaman apa yang akan terjadi. Umum, menggurui, lantas masalah yang disodorkan terlampau biasa, konfliks sederhana, tak berbahaya, atau dalam satu kata: datar.


Descartes mengemukakan argumen bahwa karena persepsi-persepsi kita bisa diperdaya atau tidak akurat, kepastian dan pengetahuan sejati hanya bisa datang kalau kita mengabaikan panca indra kita dan bergantung pada pemikiran dan penalaran.


Katak itu bernama Mising Pieces (PC) – potongan yang hilang, sebab dua kakinya buntung. Ia terlahir sebagai Firebelly, si perut api di sebuah danau, tempat liar. Semasa masih embrio, ia tumbuh menuju kehidupan, bermetamorfosis, yang lantas mengantarnya pada kerasnya kenyataan.


Ia mendapat banyak petuah dari kata tua, bahwa hidup ini misteri. Penderitaan adalah awal mula kesadaran. Apakah setiap tindakan dan keyakinan adalah hasil dari beberapa sel saraf yang membakar di dalam otak kita? Apakah ada kekuatan tak terhingga yang bekerja membentuk siapa dirinya, lama sebelum ia terlahir. Waktu akan menyembuhkan apapun yang mengganggunya, dan luka apapun yang terbentuk sekarang.


Nah suatu hari, ia kena jaring. Bersama binatang lainnya, ia lalu ditaruh di toko peliharaan. Daerah yang berisik karena bersama binatang lain, salah satunya adalah ular. Predator kaum mereka. Salah satu contoh hewan lalat jenis Ephemerids yang hidup singkat adalah , jenis lalat yang hidup hanya sehari.


Dari sinilah, kisah lalu melalangbuana liar. Ia dibeli oleh remaja putri Caroline, orangtuanya bercerai, ia hidup sama ayahnya. Ia bernama PC, dan hidup dalam limpahan kasih sayang. Di tempatkan di akuarium, di kamar yang sejuk, dengan makanan jangkrik yang terjamin rutin. Ia bahagia.


Lantas suatu hari sang ayah akan keluar negeri, ke negeri jauh di Asia. Pergi ke negeri-negeri jauh dan menunggang unta melintasi gunung pasir yang angin. Maka Caroline diantar ke rumah ibunya, PC dibawa dan ditempatkan di jok belakang, sayangnya penampung itu terbuka, ia memiliki kesempatan bebas. Apakah impian petualangan liar yang dikisahkan pak tua itu worth it dilakukan, atau ia nyaman saja sama Caroline? Kembimbangan, dan segala kemungkinan ditimbang. “Berpikir dapat menimbulkan banyak kesulitan.”


Rasa penasaran mengantarnya, keluar. Hippocrates bilang, “Kehidupan ini singkat, kesenian berumur panjang, kesempatan cepat berlalu.” Ia bersembunyi di kolong tempat duduk mobil, ia menikmati kesunyian, kesabaran, dan momen merdeka yang absurd. Bukankah ini yang inginkan selama ini? kembali kea lam liar, menikmati semburan matahari bersama saudara-saudaranya, walau ancaman ular atau predator lain menghadang. “Aku terkutuk untuk bebas…”


Kita diperkenalkan dengan keluarga baru, seorang remaja bermasalah bernama Claire. Ia mendapat konseling oleh guru BP-nya Pak Levante. Dan takdir mempertemukan mereka. Keduanya bermasalah, tapi nasib makhluk hidup memang dinamis ‘kan?! “Yang penting adalah mengembangkan harga diri dan kebahagiaan sehingga kita bisa menghadapi tantangan hidup…”


Dalam salah satu sesi penyuluhan. Di antara ruang yang memisahkan, ada kesunyian yang menggelisahkan. Claire komplain, Bapak selalu mencari hal yang sama, dengan sudut pandang yang sama, dan menemukan solusi yang sama – tanpa menghiraukan siapa yang duduk di kursi ini. “Kita hidup bahagia dan senang sampai sesuatu membuat kita sedikit merasa tidak enak dan sakit, sampai kita menyadari ada akhir pada setiap kehidupan…”


Semua orang memberikan alasan dan penjelasan tentang kelakuan Claire, tapi kemudian dia melakukan sesuatu yang menghancurkan optimism semua orang.


Awan telah menghitam dan menyebar di langit seolah-seolah menutupi dunia dalam warna kelabu yang samar-samar. Dunia luar memanggilnya dengan janjinya akan keliaran dan petualangan, mengajaknya dengan kemungkinan mengenai kehebatan dan kemegahan. Tidak ada cahaya pemahaman yang bisa diterima semua orang. Yang ada hanyalah kesadaran Claire bahwa dia tidak bisa kembali pada kesenangan masa kecil.


Kehidupan penuh dengan tepi-tepi yang kasar. Kehidupan adalah perjalanan luar biasa menuju wilayah tak dikenal. Kita hanya menggunakan kiasan dan analogi untuk menggambarkan perjalanan waktu. Objek yang ditangkap indra kita sama; persepsi kitalah yang berubah seiring bergesernya cahaya dan bayang-bayang. “Kamu tidak pernah berubah, dan itulah alasan aku menyukai kamu ada di sini. Kamu sama seperti dulu, sama seperti ketika aku masih kecil…”


Kita selalu melihat ke belakang. Benar, kan? Tepi itu tidak pernah menjemukan dan selalu menarik. “Aku berbicara seperti seorang penyair karena… yah.. karena aku berusaha untuk tidak memberitahumu tentang tepi yang kasar dalam kehidupanku..”


Berikutnya adalah lampiran tentang keberadaan, bagus banget penjelasannya. Beberapa kutipan beberapa filsuf. Gagasan mengenai keberadaan. Novel ini menitikberatkan pada eksistensialisme. Salah duanya adalah tokoh yang terkenal akan teori ini adalah Jean-Paul Sartre, bukunya Being and Nothingless dan Martin Heidegger, bukunya Being and Time.


Hal-hal besar terjadi di sekitar kita sepanjang waktu, hal-hal besar yang berlalu tanpa kita sadari atau yang kita abaikan, cerita-cerita besar yang tenggelam dalam rajutan kisah dunia, dan hanya bagian-bagian kecilnya yang kita lihat dan kita kenal.


Dalam Notes from Underground, Dostoyevsky melukiskan seorang anti-hero yang ingin menjadi lawan dari hal-hal yang rasional, dapat dimengerti, dan bermanfaat… dia ingin menciptakan ketidakteraturan dan kekacauan sebanyak-banyaknya.


Sartre dalam Nausea, “Apa yang kulakukan sekarang akan menciptakan siapa aku nanti.”


Nama resminya adalah firebelly toad, atau dalam bahasa Indonesia kodok perut api, dan memang lazim ditemukan di toko hewan peliharaan karena warnanya yang unik sehingga menarik dilihat, dan juga mudah dalam perawatannya.


Ini adalah buku pertama J.C. Michaels, dan rasanya sudah bisa bilang bye andai ketemu karya lain. Mengingatkanku pada nama besar Paulo Coelho yang isinya petuah, menggurui, menasehati di mana cerita utama sejatinya hanya tempelan. “… Aku ingin tahu berapa banyak bagian hidupku yang hanya sebuah mimpi… jika aku bisa menjadi orang lain, hanya untuk sesaat, banyak sekali yang akan kupahami.”


Apa yang tersisa kalau Anda menyingkirkan warna, ukuran, bentuk, tekstur, dan baunya? Apa yang tersisa ketika Anda menyingkirkan emosi dan perasaan, rekaan dan gagasan fantastis? Ketika semua yang bisa Anda sebutkan hilang dan disingkirkan dari kehidupan, apa yang tersisa?” Sartre menjawab: keberadaan.


Firebelly | by J.C. Michaels | Diterjemahkan dari terbitan Philograph, Inc, Boston, 2007 | Penerjemah Rahmani Astuti | Penyunting M. Sidik Nugraha | Pemeriksa aksara Eldani | Pewajah isi Siti Qomariyah | Penerbit Serambi Ilmu Semesta | Cetakan pertama, September 2010 | ISBN 978-979-024-203-6 | cover gilang-iggrafix | Skor: 3/5


Untuk Julia,


Karawang, 050921 – Take Over Band X John Paul Ivan – Cuma Kamu


Thx to Derson, Jkt

Pembunuh Serial atas Nama Dante


The Dante Club by Matthew Pearl


Holmes: “… Memperkenalkan Dante kepada masyarakat Amerika akan menjadi salah satu prestasi yang paling signifikan pada zaman kita.”


Dante, seorang loyalis sejati pada sastra dan bahasa klasik. Dante dikambinghitamkan sebagai sumber inspirasi. Novel menggebu tentang pembunuh serial yang mengambil buku klasik sebagai acuan, sebagai pijakan melakukan pengadilan. Jelas bukan barang baru, tema membunuh untuk menegakkan penghakiman sudah sangat banyak sekali dibuat. Lebih spesifik lagi, pembunuhan berantai yang didasarkan buku atau kitab. Sedikit diantaranya yang terbesit adalah ‘The Messiah’ karya Boris Starling, lalu ‘Inferno’ karya Dan Brown. Yang terakhir ini bahkan berdasarkan buku yang sama dengan Dante Club! Namun karena rilisnya duluan ini, bisa jadi kali ini Brown yang kalah langkah.


Apakah kita cukup kuat untuk membongkar sebuah kasus pembunuhan? Adalah pertanyaan para penerjemah ini. Motif dan aura terasa merekalah pemicu kasus-kasus ini. Kematian menjadi sebuah hadiah. Gaya puisinya menjulang seturut temanya, dan mengembang laiknya air pasang dan alurnya yang berpanjang-panjang menggugah pembaca, mengalirkan keraguan dan kekhawatiran. Ada orang lain yang ingin mengambil keuntungan dari informasi yang kau miliki.


Settingnya abad 19, di mana Amerika sedang berbenah pasca Perang Saudara. Di Boston tahun 1865, kota yang menjadi saksi asli proses terjemahan buku Dante ke bahasa Inggris. Gedung Ticknor, Fields & Co. di Tremort Street.


Banyak hal diambil dari kejadian sejarah asli, termasuk nama-nama karakternya. Mencoba senyata mungkin, walaupun tentu ini adalah karya fiksi. “Satu hal yang menyenangkan dari demokrasi adalah bawa kita bebas menerbitkan buku apa saja sejauh kita bisa melakukannya dan sama sekali tidak merugi…”


Tentang sekelompok professor di universitas Harvard yang mengisi waktu diskusi mingguannya dengan menterjemahkan karya-karya sastra. Pertemuan Kamisan di rumah Longfellow Mereka takut dengan pengaruh Dante, karya asing – pengaruh Katolik. Buku-buku Dante sebenarnya mereka sedang memasukkan kita ke dalam neraka yang kita takkan bisa segera keluar darinya. Karena ini tentang Dante maka nama komunitas ini mereka namakan The Dante Club. Anggotanya adalah Henry Wadsworth Longfellow, Profesor James Russel Lowell, Profesor Dr. Oliver Wendell Holmes, James Thomas Fields.


Perkumpulan ini memunyai nilai penting bagi misi Lowell untuk memperkenalkan puisi Dante ke masyarakat Amerika.keberhasilan klub adalah keberhasilan menyatukan berbagai kepentingan anggota. Dunia ini sepanjang masa persis seperti apa yang dikatakannya; kita boleh mengejeknya, kalau perlu, ketika kepentingan seseorang menjadi terlalu dominan. “Aku butuh nama penyair terkenal untuk menjual buku semacam itu ke masyarakat Amerika yang bebal.”


Bahasa Italia, seperti halnya bahasa Spanyol dan Jerman, secara khusus merepresentasikan ambisi-ambisi politik murahan, nafsu-nafsu wadag, dan amoralitas dekaden Eropa. Karena karya itu ditulis dalam bahasa-ibunya sendiri, bahasa Italia dusun, bukan bahasa Latin, dan karena ceritanya berakhir dengan bahagia, penyairnya masuk surga. Ini berkebalikan dengan tragedia. Alih-alih berusaha mengubah sebuah puisi hebat dari sesuatu yang asing dan artifial, dia membiarkan puisinya mengalir sendiri dari dalam pikirannya. Jika orang-orang katolik boleh mengalir masuk dari Irlandia, mengapa beberapa orang Protestan tidak?


Dr. Manning tidak akan mengizinkan racun-racun asing tersebut menyebar dengan berselubung sastra. Nah pertentangan ini menimbulkan riak, isu efek jelek Dante ke masyarakat membuat klub mereka kena kritik. Puisi Dante adalah semacam maklumat Vatikan. “Itu terlalu Italia, terlalu Katolik untuk Universitas Havard. Konsep-konsep tentang Tuhan yang menakutkan seperti itu tidak dapat dijejalkan ke dalam telinga-telinga Protestan kita.”


Padahal seharusnya sastra-lah yang dijadikan agen perubahan, pengetahuan tersalurkan. “… Mencintai sastra lantaran kekuatannya yang memanusiakan dan memuliakan manusia, maka negeri ini tidak akan pernah meraih keberhasilan dalam arti seluas-luasnya yang semata-mata kelak akan melahirkan sebuah Negara dari Rahim rakyat. Sastralah yang membangkitkan sebuah bangsa dari kematian jadi kekuatan yang hidup.”


Bersamaan dengan itu, terjadi pembunuhan yang menghebohkan kota. Seorang hakim ternama dibunuh dengan keji. Healey, tewas di pinggir danau dekat rumahnya dengan belatung di dalam tubuhnya, ia masih hidup beberapa langkah hingga rumah. Namun berakhir mengenaskan. Dalam penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa ia mati dibunuh dengan membiarkan lalat-lalat ganas menggumulinya. Dengan sengaja menanam belatung dalam tubuh! Gila.


Ada sekitar dua ribu lima ratus spesies lalat di Amerika Utara yang siap diberi nama, perkiraan ada sepuluh ribu spesies lalat di dunia. Belatung-belatung di dalam tubuh manusia, manusia hidup! “Lucifer kita menginginkan korban-korban bukan hanya mati, tetapi juga menderita, seperti yang dialami arwah-arwah dalam inferno. Sebuah keadaan antara hidup dan mati, setengah hidup dan mati.”


Belas kasih tanpa ketegasan hukum hanya akan menjadi egoisme pengecut, menjadi sentimen. Peristiwa yang telah dinanti-nantikan dan dimatangkan oleh waktu jadi sebuah takdir: perkenalan Amerika dengan Dante. ‘Dan alangkah hebatnya mereka yang berani bermimpi, yang berani berbuat’. Oh betapa dahsyatnya puisi ini. Puisi itu menjelmakan filosofi yang samar-samar dalam benak semua orang jadi sebaris kalimat ringkas yang bermakna, bermanfaat, dan siap dipraktikkan. “Setelah kejatuhan Adam, kita menanggung dosa.”


Pembunuhan kedua adalah seorang pendeta tersohor. Ia tewas dengan kaki di atas, tertanam dalam lubang di mana uang sekantung penuh ada di dasarnya. Dibunuh di terowongan bawah gereja, dengan api sengat dan tubuh rusak. Dalam penyelidikan lebih lanjut, ia terseret kasus uang haram, dan uang di bawahnya hanyalah simbol. Seorang Simoniac rekaan Dante, para pendeta yang mencari uang dengan menyalahgunakan kedudukan. Seorang meniru Dante untuk membunuh Talbot. Talbot, tiran tua penguasa mimbar khotbah Cambridge. Lucifer bukanlah seorang ahli Dante, dia hanyalah seorang jemaat gereja Dante. Lucifer melaksanakan hukuman-hukumannya demi kepentingan mereka – demi kepentingan Klub Dante!


Sebuah pesan yang bagus dan berkelas serta ditulis dengan gaya yang indah yang diperburuk dan dipelencengkan – sebuah nasihat cerdik dari penulisnya. ‘Galilah lubang Pendeta itu lebih dalam lagi. sesuatu telah luput di bawah kepalanya.’


Dari sini belum ada yang nggeh dengan pola asli sang pelaku. Barulah kasus ketiga yang membuat kepolisian yakin, dan para Dantean yang menunjukkan motifnya. Adalah seorang mahasiswa Jennison. Ditemukan termutilasi. Cukup, tak perlu penjelasan lebih detail. Mati dimutilasi saja, sudah jadi bikin gidik bulu roma.


Tautan itu akhirnya ditemukan, semua adalah dari hasil terjemahan The Dante Club, bahkan kejadian-kejadian itu berurutan. Contoh saat dalam puisi Dante membahas tentang dosa uang haram, maka pembunuhan sang pendeta. Atau saat hakim dibunuh, saat itu mereka sedang bahas tentang hak-hak rakyat yang ternyata oleh hakim tak segera disahkan. “Bila kita lapor polisi semua modus pembunuhan yang dijiplak dari Dante dan dipraktikkan di sini, siapakah yang akan dituduh memiliki cukup pengetahuan tentang modus kejahatan?” / “Kita akan menjadi bukan hanya tertuduh pertama, tetapi juga tertuduh utama.”


Dilema dan pening. Polisi yang menangani di lapangan adalah Nicholas Rey, polisi keling pertama di kota itu, ia sering kena rasis. Sempat masuk pusaran kemungkinan pelaku, tapi kan ia polisi yang mengayomi masyarakat.


Sempat pula salah satu anggota Dantean yang dituduh, apalagi saat diketahui ia melakukan ceramah di gereja tentang Dante di luar kota di akhir pekan. Namun ia lolos dari tuduhan sebab, setiap kejadian pembunuhan banyak saksi bersamanya.


Sang pembunuh disebut sebagai Lucifer, dan dengan melakukan penyelidikan intens mereka berhasil menyimpulkan bahwa pelaku adalah seorang tentara. Hipotesis tunggal: sang pembunuh adalah seorang veteran perang. Kenapa? Dante adalah veteran, ia terasing, ia marah sama keadaan, ia kecewa sama pemerintahan, ia frustasi di medan tempur. Maka ia lampiaskan dengan menulis. “Ide untuk berwisata ke alam akhirat ini, untuk merekam siksaan-siksaan neraka – ini terlalu liar. Dan karya semacam itu sangat tidak tepat disebut sebagai sebuah ‘Komedi’. Khas abad pertengahan, khas skolastik…”


Sastra memperbudak pikiran yang lemah, seperti John Wilkes Booth. Setelah menembak Lincoln ia berkata dalam bahasa latin, ‘Senantiasa demikianlah takdir para tiran’. Itupula yang dikatakan Brutus kepada Caesar, Lincoln adalah kaisar Romawi di zaman itu dalam benak Booth. Dan ia adalah seorang Shakepearean. Maka Lucifer di sini, adalah seorang Dantean.


Berhasilkan mereka menghentikannya? Sebelum pembunuhan keempat, kelima, dst terjadi. Proses terjemahan itu akankah dilanjutkan, atau tetap jalan dengan resiko korban berjatuhan. Sebuah fakta sederhana: hidup adalah pertaruhan.


Segara garis besar bagus. Proses pengenalan karakter, inti masalah yang disajikan, hingga eksekusi ending yang dramatis cukup menghibur. Jelas ini novel dibuat dengan proses analisis dan penelitian jeli nan dalam. Puisi Dante tak kurang daripada pencariannya akan kampung halamannya. “Aku bersyukur di dunia ini, masih ada hal langka yang bagus selain puisi.”, kata Lowell.


Edgar Allan Poe pernah menulis bahwa Longfellow dan semua penyiar Boston menjiplak karya setiap penulis lain, baik yang masih hidup atau sudah mati, termasuk karya Poe sendiri. Ide Poe, setiap kata yang dirinya tulis sesungguhnya curian dari penyair terkenal sebelumnya, dan bermimpi bahwa seorang penyair kondang yang telah meninggal muncul untuk menuntut puisinya dikembalikan.


Pemujaan Dante yang kurasa berlebihan. Sebagai inti cerita, ia seolah seorang Nabi. Dante mengangkat tema umat manusia, bukan seorang manusia. Jangan bertanya apa yang telah diberikan Dante pada manusia, tetapi apa yang dapat diberikan manusia pada Dante – agar bisa secara pribadi memasuki wilayahnya, meskipun wilayah ini luar biasa berat. Dante, dia ingin sekali pulang kampung halamannya. Kematiannya di pengasingan dalam keadaan nestapa adalah kegagalan terakhirnya yang mencolok.


Saat Anda menulis fiksi sejarah, Anda harus tahu detail-detail tokohnya: makanan apa yang mereka santap ketika sarapan, apa jenis topi yang mereka kenakan, bagaimana cara mereka beruluk salam ketika saling bertemu di jalan. Tokoh-tokoh dalam novel saya diburu oleh hasrat sastrawi, sehingga jika novel ini turut membangkitkan hasrat sastrawi pembaca, ini bonus bagi pembaca. Fakta sejarah bahwa Inferno terjemahan di Amerika pertama terbit tahun 1867 oleh Longfellow. “Para pembacalah yang berperan, orang-orang yang menghargai karya. Menulis bukanlah aktivitas kehidupan orang yang paling cakap, tetapi aktivitas orang-orang yang sanggup bertahan. Bagaimana halnya dengan para kritikus? Mereka berusaha sekuat tenaga menjatuhkan diriku, menggilasku, dan bila aku tidak bisa menahan mereka, aku akan tergilas habis.”, kata Holmes.


Klub Dante dan polisi sedang bekerja keras demi satu tujuan: menghentikan pembunuhan. Bedanya, klub bekerja terutama dengan apa yang dapat mereka temukan di dalam buku, sedang polisi dengan apa yang dapat mereka temukan di lapangan. Penduduk ini membangun istana seolah mereka akan hidup kekal dan makan seolah mereka akan segera meninggal dunia. “Kita semua harus mengambil tindakan agar tidak menyesal kelak di kemudian hari…”


Sastra yang mengembuskan napas kehidupan dan kematian, yang dapat membelenggu dan juga membebaskan. Dante bilang, kesedihan terdalam adalah mengingat kebahagiaan masa lalu. Siapa pun yang memberangus pemikiran tak akan pernah selamat dari pemikiran lain. “Lelaki dan perempuan dalam puisi itu, mengapa harus dihukum padahal mereka saling mencintai?”


Dibaca pertama pada saat menjadi sopir keluarga ke Mal Yogya, Karawang malam Minggu 31 Juli 2021. Sempat kutaruh, terlupa. Lantas kuhajar seharian pada libur Merdeka: 17.08.21 dari halaman 243 sd. 502, kutuntaskan pada 21.08.21 halaman 503 sd. Selesai. Novel tebal dan rumit memang idealnya dikejar segera, kalau banyak menunda akan terbengkelai. Apalagi memang novel ini kumasukkan target Agustus. Ini adalah buku pertama Matthew Pearl yang kubaca, ini juga debutnya. Mantab. Moga diberi kesempatan suatu saat menikmati karya-karya lainnya. Here we go! Longfellow: “Kebahagiaan utama dalam hidup ini bukanlah bertempur di medan perang, Lowell, tetapi menghindarinya. Mundur teratur itu sendiri merupakan sebuah kemenangan.”


Waktu itu tahun 1300. Di tengah perjalanan hidupnya, seorang penyair Dante terbangun di sebuah hutan lebat, mendapati bahwa hidupnya berjalan di jalur yang salah. Kita semua memasuki hutan lebat itu dua kali. Sekali dalam hidup kita, dan kemudian sekali lagi ketika kita menoleh ke belakang melihat masa lalu…”


The Dante Club | by Matthew Pearl | Copyright 2003 | Diterjemahkan dari The Dante Club: A Novel | Random House Trade Paperback | Penerjemah Agung Prihantoro | Penyunting M.S. Nasrulloh | Penerbit Q-Press | Cetakan I, Agustus 2005 | Cetakan II, Agustus 2005 | Tata letak Tito F.H & Ruslan Abdulgani | Desain sampul gB | ISBN 979-99542-4-X | Skor: 5/5


Teruntuk Lino, professor pembimbingku, dan Ian, guruku


Karawang, 030921 – The Very Best of Jazz Louis Armstrong – La Vie en Rose


Thx to Ade Buku, Bandung


HBD to Me

#Juli2021 Baca

Lenin mengatakan, “Ploretariat tak mungkin mencapai kemerdekaan penuh tanpa ada kemerdekaan penuh bagi perempuan.”

Juli ini lebih slow bacanya, sebab kembali beraktifitas setelah isoman hampir sebulan. Karena kepadatan kerja, mood juga menurun dan benar-benar menguras emosi menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Hanya lima buku yang kutuntaskan. Memoirs of Geisha yang sebagian besar kubaca bulan sebelumnya, agak sulit dituntaskan, hanya modal maju terus. Tebal, lebar, dan kecil-kecil. Kelar juga. The March lebih gila lagi, tak ada tanda petik di dalamnya, padat melelahkan. Mau kalimat langsung atau tidak, pokoknya tak ada kutip. Ndelujur aja, kalau kisahnya di Indonieaakan lebih muda seperti Midah, ini tentang perang saudara di Amerika dengan geografi yang tak familier, dengan sudut pandang banyak. Melelahkan, maka saat akhirnya selesai, lega juga. Jadi mari kita simak kelima buku bulan tujuh tahun ini yang kutuntaskan.

#1. Memoirs of Geisha by Arthur Golden

Luar biasa. Seperti naik roller coaster, walau tak banyak liukan dan tanjakan terjal, ceritanya berliku. Awalnya sudah sangat manis, gadis miksin anak nelayan dengan kecantikan natural. Matanya yang cemerlang sering kali disebut, berulang kali. Lalu keadaan mencipta, ia dan kakaknya dikirim ke kota, dijual untuk dididik menjadi orang. Bisa jadi apa saja, tergantung nasib dan kemauan. Bisa jadi pelayan, pelacur, pekerja pabrik, atau geisha.

Memang suku kata ‘gei’ dalam kata ‘geisha’ berarti ‘seni’ jadi kata ‘geisha’ yang sebenarnya adalah seniman. Geisha, di atas segalanya adalah penghibur dan pementas. Menuang sake atau teh memang dilakukan, tapi jelas tak akan pernah mengambil acar tambahan. Geisha sejati tidak akan pernah mengotori reputasinya dengan membuat dirinya bisa disewa laki-laki dengan tarif per malam. Geisha tidak pernah menikah. Atau paling tidak, mereka menikah tidak menjadi lagi geisha.

Ke mana pun dia membawa kami, aku lebih memilih bersamanya daripada terdampar sendirian di tengah jalan-jalan besar dan bangunan-bangunan yang sama asingnya bagiku dengan dasar samudra.”

#2. Who Moved my Cheese? By Spencer Johnson

Buku motivasi lagi. kali ini tema utama adalah perubahan dan keniscayaan bahwa yang tak ikut berubah akan ketinggalan dan terlindas zaman. Sejatinya tema semecam ini sudah usang, atau sudah sangat banyak disebut dan dibahas, bahkan berulang kali kita dengar di seminar-seminar, sudah sering pula disampaikan, juga sudah banyak contohnya. Nokia, Blackberry, Bluebird, Fujifilm, dan seterusnya. Produk yang dulu merajai, bisa tenggelam saat ini. Dan tentu saja, mereka yang saat ini terasa raja suatu saat bisa ambruk. Semuanya butuh adaptasi. Nah itulah, topik utamanya, perubahan dan cara mengantisipasinya. Dibawakan dengan fun dan cerita yang nyaman diikuti.

“Karena orang mau semuanya seperti dulu dan mereka berpikir perubahan akan merugikan mereka. Saat satu orang bilang perubahan itu adalah ide buruk, yang lain akan berkata sama.”

#3. The March by E.L. Doctorow

Perang saudara di Amerika abad 19 yang menelan banyak korban dari tahun 1861 sampai 1865 antara Utara versus Selatan. Utara menuntut penyatuan disebut Union, Selatan meminta kemerdekaan dari Amerika Serikat yang membentuk Konfederasi. Tuntutan tentang perbudakan yang lanjut atau dihapus menjadi isu penting nan krusial. Ada kekayaan begitu melimpah yang dapat diperas dari tenaga budak; karena itu, tidak heran bahwa orang-orang ini mau berjuang sampai mati. The March ada di masa itu, seperti perang itu sendiri yang rumit, penceritaannya juga mencipta pusing sebab tak ada tanda kutip untuk kalimat langsung.

Kau tidak boleh mereduksi kehidupan menjadi sentimen-sentimen saja, Emily.

#4. Pseudonim by Daniel Mahendra

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen saja yang jumlah kata lebih sedikit, dan tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua orang itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak faktor. Salah satunya selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasaranya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

“Dan di mana Radesya?”

#5. Kampus Kabelnaya by Koesalah Subagyo Toer

Curhat selama belajar di Uni Soviet. Bagus, menuturkan cerita dari orangnya langsung, pengalaman yang dikisahkan dengan fun, tak perlu telaah lebih, santuy dan asyik aja menikmtai kalimat-kalimat itu. Ini adalah dunia Eropa Timur di tahun 1960-an, dunia sedang Perang Dingin. Perang ideologi Demokrasi Liberal versus Sosialis. Ini adalah catatan penulis selama belajar di Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa di Moskwa tahun 1960-1965, yang sedikit-banyak mencerminkan semangat zaman itu.

“Maafkan aku, ya, karena telah membuatmu ragu. Tapi aku memang ingin menangis. Biarkan aku menangis sampai puas. Sesudah itu aku takkan menangis lagi.”

Karawang, 260821 – Norah Jones – Don’t Know Why