Buku Baru

image

5 Buku baru di akhir Oktober 2015. Ditengah gempuran Sidney Sheldon yang kini memasuki buku keempat, sudah jadi kewajiban beli buku baru setelah gajian. Kali ini adalah:
1. Zarathustra – Nietzsche
Sudah sepuluh tahun lebih saya mencarinya. Ingin sekali segera memulai petualangan sang ‘nabi’. Seberapa kontroversikah buku yang terkenal karena ungkapan ‘ Tuhan telah mati’ ini.
2. Prajurit Schweik – Jaroslav Hasek
(dulu) Ini buku langka, susah sekali mencarinya. Terbit sebelum Perang Dunia I, katanya satire tentang prajurit yang kocak. Seberapa nyeleneh akan saya buktikan segera.
3. 100 Year Old Man Who Climbed Out Of The Window and Disappeared – Jonas Jonasson
Ini buku fenomena dalam dua tahun terakhir. Ternyata sudah diangkat ke layar lebar. Gaungnya terlambat sampai di telinga ku, yah maklumlah bukan film Hollywood. Seberapa seru petualangan sang kakek?
4. Murjakung – AS Laksana
Cinta yang dungu dan hantu-hantu, kumpulan cerpen setelah Bidadari Yang Mengembara. Disanding-sandingkan dengan Eka Kurniawan tentunya bukan karya yang sembarangan. Akan jadi pengalaman pertamaku bersama Mister Laksana.
5. The Brave New World – Aldous Huxley
Buku futuristik yang katanya sangat visioner ini hanya kalah dari karya George Orwell, 1984! Sebegitu besarkah dunia baru ini?
Karawang, 281015 – Sumpah Pemuda

The Naked Face – Sidney Sheldon #2

image

Buku kedua Sheldon yang selesai kubaca di bulan ini. Setelah kurang menghentak di A Stranger in the Mirror buku kedua ini ternyata sama datarnya. Apakah ekspektasiku yang ketinggian? Dengan nada bombastis: Jago Cerita kelas dunia, lebih dari 200 juta eksemplar bukunya sudah beredar di pasaran dan diterbitkan dalam 73 bahasa di 100 negara, sebenarnya harapan tinggi yang kucanangkan seharusnya wajar.
Tentang dekektif. Mendengarnya saja sudah senang, saya suka semua buku Agatha Christie terlebih Sir Arthur Conan Doyle. Kisah-kisah detektif tiada duanya. Maka ketika di adegan pembuka, disebutkan sesorang dibunuh di tengah kerumunan lalu dua detektif menyelidikinya, saya langsung sumringah. Ada benang tipis yang menggelitik setiap baca kisah tebak sana-sini. Sayangnya untuk Wajah Sang Pembunuh, saya bisa menebak dan ternyata sampai halaman terakhirnya tebakan saya tepat. Sheldon kurang jeli menyembunyikan pelaku. Terutama sekali adegan di pemasangan bom di mobil korban, jelas itu blunder. Walaupun tebakan saya sudah tepat sejak awal, namun pas temuan bom mobil itu penegasan.
Kisahnya maju terus tanpa menengok ke belakang. Tentang seorang psikoanalis, Judd Stevens yang diburu. Dua orang dekatnya tewas dibunuh dengan sadis. John Hanson, pasiennya yang homoseksual suatu pagi ditusuk di punggungnya di tengah jalan yang ramai. Di bulan Desember yang dingin jelang Natal, John yang pulang dari terapi dengan Dokter Judd menyisakan tanya apakah motif sang pelaku? Hari itu juga datang dua detektif dari kepolisian setempat, McGready dan Angeli. Keduanya membawa jas hujan sang korban yang ternyata milik dokter. Judd bilang pagi itu jas hujannya dipinjam Hanson. Korban kedua muncul petang harinya, Carol Roberts sekretaris Dokter Judd dibunuh dengan keji di kantor saat dirinya sedang memberitahu keluarga Hanson. Saya justru mengapresiasi cara bercerita Sidney tentang latar belakang Carol yang runut enak dibaca. Carol adalah ramaja kulit hitam, seorang pelacur 16 tahun yang diselamatkan hidupnya. Disekolahkan, dididik untuk menata kesempatan kedua. Malam itu, akhirnya muncul kesimpulan bahwa target sesungguhnya adalah Dokter Judd. Hanson dan Carol adalah korban pembuka dan salah sasaran.
Paginya semua surat kabar memberitakan kasus ini. Lalu Judd menganalisis kemungkinan-kemungkinan pelaku. Dimulai dari para pasien. Pertama, Teri Washburn seorang wanita yang haus seks. Menikah berkali-kali, melakukan terapi untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Mantan bintang Hollywood yang pernah membunuh selingkuhannya karena selingkuh itu selalu menggoda Judd. Kedua Harrison Burke, pasien yang mengalami paranoid. Seorang wakil presiden sebuah Perusahaan besar yang merasa bahwa orang-orang di sekitar selalu mencoba membunuhnya. Dia selalu takut setiap interaksi dengan karyawan, kalut kalau-kalau ada orang akan menembaknya. Dia merasa dijegal sehingga ga bisa promosi jadi nomor satu. Ketiga  Anne Blake, pasien yang cantik. Judd jatuh hati pada istri orang. Suaminya seorang pengusaha kontruksi yang sukses, baru menikah 6 bulan. Setiap kebutuhan materi Anne terpenuhi, namun keadaan jadi janggal karena Anne yang datang ke kantor Judd tanpa buat janji, tanpa tahu masalahnya, tanpa detail profil dan selalu membayar cash setelah berobat. Bayar tunai yang memunculkan dugaan agar tak terlacak identitasnya? Masuk akal kan. Keempat Skeet Gibson, pelawak yang dicintai Hollywood. Pernah ke rumah sakit jiwa, hobinya berkelahi di bar-bar karena dia bekas petinju.
Melalui rekaman-rekaman percakapan pasien, Judd mencoba menelaah semuanya. Namun selain mereka muncul dugaan lain, bisa jadi detektif McGready sendiri yang melakukannya. Bisa jadi dia punya motif balas dendam karena pernah mengirim Ziffren ke rumah sakit jiwa. Ziffren adalah pembunuh partner McGready beberapa tahun lalu. Padahal bisa saja Ziffren dihukum mati, hal ini membuat marah McGready. Angeli juga perlu dicurigai, sebagai partner baru McGready tingkah lakunya ganjil. Sakit flu, izin ga dinas tapi ternyata keluyuran. Selain nama-nama itu, Dokter Peter bisa juga masuk pusaran, sebagai sahabat terbaik tentunya tahu seluk beluk dokter Judd. Peter dan istrinya selalu mencomblangkan Judd dengan gadis-gadis cantik agar Judd menikah lagi. Semua karakter bisa jadi tersangka. Kepada siapa Sheldon akhirnya menjatuhkan antagonis sesungguhnya?
Well, separuh awal kisah digulirkan dengan enak sekali. Detail-detail yang memanjakan mata, pengenalan karakter yang membuka imaji, sampai tatanan ruang kejadian yang asyik diikuti. Sayang sekali Sheldon terpeleset, sebuah kisah detektif akan jadi seru kalau bisa mengecoh pembaca. Kenapa Sherlock begitu memukau? Karena pola pikirnya yang out the box tak bisa diikuti kebanyakn orang. Dengan brilian diceritakan partner-nya dokter Watson, pembaca nyaris selalu berhasil ditipu. Di kisah Wajah Sang Pembunuh, Sheldon memaparkan kemungkinan-kemungkinan motif daftar karakter yang sayangnya tak ada back-up kemungkinan kedua sehingga pembaca dengan leluasa menebak tersangka dengan mudah. Lubang plot paling besar adalah mematikan karakter detektif Moody yang sebenarnya masih bisa berkembang, Sheldon dengan gegabah menceritakan rencana liburan Judd kemudian membatalkannya dengan gamblang seolah-olah menunjuk ini dia pelakunya.
Ending-nya sendiri akan lebih menarik seandainya dibuat sedih. Dokter Judd diburu sekaligus dirinya memburu, setiap detik berharga. Ketika akhirnya diungkap pelakunya lalu menuju klimak cerita, sayang sekali pelaku utama yang terdengar bengis dan cerdik justru berlaku konyol. Cara mengakhiri orang ketika ada pistol di tangan adalah tembak kepalanya dalam jarak dekat. Bukan malah ngerumpi seolah-olah ketemu teman lama yang ngajak ngopi. Keputusan Anne di kala genting juga penting untuk menentukan hasil akhir. Sangat disayangkan ini kisah happy ending.
Namun Sidney tetaplah Sidney. Bagian pengungkapan Don Vinton itu ide cemerlang, tak terpikirkan akan dipecahkan dengan unik sambil lalu. Lalu karakter paranoid Harrison Burke itu mantab. Suka dengan orang yang menganggap dirinya istimewa, over confident, nyeleneh. Walau tampil sepintas, jelas sifat Judd akhirnya terduplikat darinya. Judd Stevens harus bisa menanggalkan topeng wajah tak berdosa yang dikenakannya dan menelanjangi gejolak-gejolak emaosinya yang paling dalam, ketakutan dan kengerian, dambaan, nafsu dan dengan demikian menampilkan wajah sang pembunuh. Berhasilkah?
Wajah Sang Pembunuh | diterjemahkan dari The Naked Face | copyright 1970 by Sidney Sheldon | alih bahasa Anton Adiwiyoto | GM 402 96.034 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kesembilan, Oktober 1996 | 328 hlm; 18 cm | ISBN 979-403-034 | Untuk wanita-wanita dalam hidupku: Jorja, Mary dan Natalie | Skor: 3/5
#2/14 #SidneySheldon Next: Master of the Game, pencarian berlian di Afrika Selatan. Cover hitam yang terlihat cantik, tebalnya 764 halaman. Semoga seru.
Karawang, 221015 – Guardate che ha fatto il don vinton
E molto bene di ritornare a casa | Si, d’accordo | Signore, per piacere, guardatemi | Tutto va bene | Si, ma… | Dio mio, dove sono i miei biglietti? | Cretino, hai perduto i biglietti | ah, eccoli

A Stranger In The Mirror – Sidney Sheldon #1

image

Akhirnya 1 dari 14 novel Sidney Sheldon selesai dibaca juga. Apa yang saya dapat dari novel ini adalah sebuah pengulangan dari kisah biografi Sidney di The Other Side of Me. Tak menemukan sesuatu yang wah, karena memang premis-nya sama. Mencoba sukses di Hollywood berangkat dari bawah, pahit manisnya perjuangan, mencapai puncak lalu menuruninya. Hanya fiksi yang berlebihan yang menjadi benang pembedanya. Dulu pas pertama baca The Other Side saya sempat bilang wah, seru sekali ternyata lika-liku perjalanan di tanah impian Amerika. Tapi untuk A Stranger biasa sekali. Sepertinya saya salah memilih mulai baca.
Kisahnya adalah sebuah impian seorang yang bercita-cita jadi selebritis. Benar-benar merangkak dari bawah, diceritakan dengan sangat detail khas Sheldon. Dibuka dengan prolog yang menjadi ending cerita ini. Walaupun sekilas namun ini jelas langkah salah karena sebuah bocoran utama akan ke mana kisah ini berakhir. Bahwa seorang chief purser Bretagne, Claude Dessard menceritakan pengalamannya menahkodai kapal Perancis SS Bretagne. Suatu hari dia mengalami tragedi besar karena salah seorang penumpangnya adalah Jill Temple, aktris yang sedang dirudung duka. Dalam kisah samar dia bertutur hari itu segalanya berjalan buruk, kapal mewahnya membawa petaka yang tak kan terlupakan oleh seluruh dunia.
Lalu kisah ditarik jauh ke belakang. Detroit, Michigan pada tahun 1919. Sebuah kota industri pasca Perang Dunia I mengalami kebangkitan. Paul dan Freida adalah pasangan Yahudi asal Polandia, segelintir manusia yang berharap perubahan nasib. Paul adalah lelaki kalem yang suka puisi namun kurang tegas sebagai kepala keluarga, Freida adalah wanita taat namun punya keberanian mengambil resiko hidup. Sifat bertolak belakang inilah yang mempengaruhi sifat anak pertama mereka. Toby Temple terlahir dengan anugerah kemaluan dengan ukuran di atas rata-rata. Saat dirinya menginjak remaja, di sekolah dia membuat masalah dengan menghamili teman sekelas. Bersiap tanggung jawab, namun sang ibu diam-diam menolak. Toby punya bakat dalam dunia entertaiment. Kalau dia menikah muda maka impiannya untuk terkenal bisa hancur ditikam kenyataan di kota kecil ini. Maka besoknya Toby berbekal seadanya diminta sang ibu untuk ke kota. Suatu saat ketika sudah sukses Toby diminta kembali membawa serta ibunya. Dan dimulailah petualangan Toby Temple di dunia hiburan.
Sementara itu di Odessa, Texas empat belas Agustus tahun 1939 lahirlah seorang bayi perempuan bernama Josephine Czinki. Melalui kelahiran yang berat, Josephine akhirnya menemui keajaiban untuk hidup. Orang tua Josephine sangat kolot, ibunya seorang religius yang menolak kemewahan dunia. Sehingga di Texas yang terbagi dalam dua kelompok keluarga, kelompok kaya disebut kelompok minyak dan kelompok biasa, non-minyak. Keluarga Josephine di kelompok kedua, ibunya bekerja sebagai penjahit. Namun jiwa petualang Josephine tak bisa bohong. Dirinya yang terlahir sangat cantik dan sering bermain dengan anak-anak orang kaya akhirnya sadar dirinya berpotensi sukses di dunia hiburan. Dia jatuh hati dengan David Kenyon, anak kelompok minyak. Awalnya mereka jalan bareng dan saling mencinta. Sayang, orang tua David tak setuju maka David dijodohkan dengan Cissy Toping yang juga anak orang kaya. Dengan perasaan kalut keesokan harinya Josephine kabur dari kota kecilnya menuju Hollywood.
Sampai di bagian ini saya sudah bisa menebak arah cerita ini. Kenapa? Karena sudah dibocorkan di prolog bahwa Josephine merubah namanya jadi Jill Castle. Nah, cocokkan dengan Toby Temple? Di pembuka sudah dikatakan Jill Temple terdiam menghadap laut lepas dengan pandangan hampa. Jelas sekali mereka berdua nantinya akan menikah. Kesalahan besar Sidney! Diperparah lagi di back-cover dibocorkan bahwa untuk mencapai sukses Jill Castle harus menjual diri karena sulitnya menembus batas glamor kemasyuran. Gadis frustasi bertemu lelaki kesepian, jadilah kisah buku ini. Jadi apa yang dijual buku ini? Ending jelas sudah diungkap.
Secara keseluruhan novel ini bagus. Sekedar bagus, tidak istimewa. Sinetron banget kisahnya, klise konfliknya. Beberapa hal kurang kuat dalam eksekusi keputusan tiap karakter. Dengan mudahnya perubahan-perubahan sifat ditampilkan. Seperti Jill yang tadinya gadis kere yang mudah pindah dari pelukan lelaki satu ke lelaki lain. Bagaimana mudahnya menolak berlian dari rayuan aktor besar? Walau sekedar akting, itu sesuatu yang mustahil. Lalu Toby dengan mudahnya mendapat kritik dan review bagus setiap tampil. Tak semudah itu menjadi komedian, harusnya keterpurukan bukan dari sakit namun dari profesi utama sang aktor. Jelas saya kurang suka kisah menye-menye semacam ini. Sinetron kita sudah memuakkan, jadi ketika ada kemiripan membacanya dari Penulis Besar jadinya bosan. Karakter yang seharusnya bisa digali lebih dalam malah disingkirkan dengan cepat, Alice Tanner misalnya. Setelah kesuksesan pertama Toby dia menghilang. Padahal dia sudah seatap dengannya masak tak ada ikatan emosi. Sam Winter, yang jadi atasannya saat Perang dunia II juga tak berkembang. Hilang dalam hingar bingar Hollywood. Yang paling parah al Caruso dengan Millie yang menyenangkan setiap mengikuti jejak kehidupan, hilang setelah tragedi ketika Toby ke Asia Timur. Musuh utamanya juga terlihat bodoh. Seorang agen bisa dengan mudahnya terjatuh. Klimak cerita ditampilkan dengan datar. Entah kenapa saya tak mendapat sesuatu yang wah dari sini.
Namun tetap, Sidney adalah Sidney. Novel ini tetap layak dilahap di kala santai. Ada beberapa kutipan yang sayang kalau dilewatkan. “Kau tak perlu memakan habis satu kilo kaviar untuk mengetahui enak atau tidak bukan?”. Sebuah nasehat bahwa sesuatu yang luar biasa bisa kita lihat hanya ketika melihat sebagian kecil.
Waktu bukanlah sahabat yang menyembuhkan segala luka, waktu adalah musuh yang mencabik-cabik dan membinasakan masa muda.
“Kau tahu bagaimana caranya agar keledai mau memperhatikan? Pertama kaupukul kepalanya.” Toby ditanya tangan mana yang sering digunakan? Dia jawab kanan, lalu tangan kanannya dihantam dengan besi sampai patah. Pause.
“Apakah aku sudah mendapatkan perhatian?” Toby mengangguk. Edian adegan ini seram sekali, sekaligus yang terbaik yang ditampilkan. Jadi apakah kalian masih akan percaya bahwa ketika bercermin, itu adalah wajah kalian? Ataukah orang asing yang menyamar jadi kalian? Think again!
Sosok Asing Dalam Cermin | diterjemahkan dari A Stranger In The Mirror by Sidney Sheldon | copyright 1976 | Alih bahasa Hidayat Saleh | GM 402 93.780 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan ke sebelas, Februari 2007 | 448 hlm; 18 cm |ISBN-10: 979-511-780-7 | ISBN-13: 978-979-511-780-3 | skor: 3/5
#1/14 #SidneySheldon Next: the Naked Face tentang pembunuhan di malam Natal, kisah detektif yang mengingatkanku pada Agatha Christie. Semoga seru.
Karawang, 191015
Bila kau ingin menemukan diri sendiri. Janganlah mencarinya dalam cermin. Karena hanya bayangan yang kau temukan di sana. Sosok asing… (Silensius, Ode to truth)

Bliss #1

image

image

Seperti yang sudah saya bilang, sebelum memulai petualangan 14 novel Sidney Sheldon saya harus menyelesaikan buku pertama trilogi Bliss. Novel ini saya beli bulan September lalu saat jenuh di rumah di Sabtu siang lalu iseng jalan ke toko buku Kharisma di Karawang Central Plaza (KCP) dengan budget mepet di dompet, selembar kertas biru. Serius, tak ada lembar uang lain di dompet selain kertas lima puluhan itu. Buku bagus banyak, buku mahal banyak. Tapi untuk mendapatkan buku bagus dengan harga murah itu susah-susah mudah. Makanya selama 2 jam mengelilingi rak novel, pilih-pilah, bongkar sana-sini, baca back-cover satu-dua, timang-timang ragu. Awalnya mau ambil Meet Your Maker-nya Jacob Julian namun saya butuh sesuatu yang wah saat itu juga. Akhirnya coba Bliss #1 dengan uang kembali 500 perak.
Saya tak terlalu memperdulikan kemasan saat membaca buku. Cover bisa jadi pertimbangan, namun tak selalu masuk kategori utama. Kualitas kertas apalagi, saya justru suka buku minimalis dengan isi kertas buram. Kurasa novel dengan kertas HVS itu pemborosan. Makanya, jelas pilihan Bliss bukan karena pertimbangan tampilan luar yang menggiurkan. Dengan warna biru dominan, kualitas cover luks timbul dan sangat cerah. Gambar yang ceria dengan set ‘Cup & Cupcake Bliss Bakery’. Dan baru kali ini saya punya buku dengan ujung kertas bagian terbukanya dilumuri biru bling-bling. Kalau ada kontes pemilihan best cover, pastilah novel ini juara 1. Tenang saja, bagiku first thing first story. Kualitas cerita nomor satu.
“Lezat dan sangat lucu.” Itu kata Wall Street Journal. Bisa jadi testimoni itu benar. Sedari awal kita langsung disuguhkan sebuah prolog yang membuat penggemar sihir melonjak girang. Rosemary Bliss saat ulang tahun yang ke sepuluh, melihat dengan kepala sendiri orang tua mereka membuat kue dengan sihir. Saat itu, Kenny tetangga mereka kesetrum yang membuatnya dirawat di rumah sakit sampai koma. Purdy Bliss, ibu Rose bergegas membuat ramuan ajaib sebelum terlambat. Hujan lebat yang tak memungkinkan meningkalkan anak-anak mereka ditinggal memaksa Albert Bliss, ayah Rose mengajak seluruh keluarga ikut ke puncak Calamity Fall dengan mobil Van untuk menangkap halilintar. Malam itu, ramuan sudah lengkap, dengan mantra “electro coreccto” Purdy merampungkan resep. Keesokan harinya, kue itu disuapkan paksa kepada Kenny yang tak sadarkan diri. Awalnya suapan pelan, lalu perlahan Kenny menelan satu demi satu sisanya. Dan ajaib dia pulih dan berkata, “kau punya susu?”
Pembuka yang hebat. Harapan pembaca langsung membumbung di langit. Dua tahun setelah itu, Rose melihat berbagai bencana besar atau kecil di kota kecil mereka dan diam-diam orang tuanya memperbaiki keadaan. Keluarga Bliss terdiri dari orang tua Albert dan Purdy, Ty si sulung yang tampan, Rose sebagai karakter utama dan sepanjang cerita akan diambil dari sudut pandangnya, Sage sang actor, dan si bungsu Leigh yang berusia 3 tahun. Lalu karakter lain ada Chip yang jadi karyawan Bliss Bakery, memiliki tubuh atletis dan macho. Mrs Carlson, orang tua yang menjaga Leigh selama ayah-ibu mereka pergi. Ya, kisah bergulir ketika suatu siang Rose melihat mobil polisi ke toko roti mereka untuk menjemput orang tua mereka. Walikota Hammer meminta bantuan, kota tetangga membutuhkan bantuan sehingga memaksa mereka pergi seminggu penuh. Albert berpesan apapun yang terjadi mereka dilarang membuka Bliss Bakery Booke, buku sihir yang disimpan di lemari besi ruang pendingin bawah tanah.
Ty yang jail dan Rose yang penasaran berat tentu saja tak akan tahan. Ini kesempatan langka di mana mereka memiliki waktu coba-coba ramuan ajaib. Siang di hari pertama kepergian orang tua mereka datanglah tamu asing. Dengan sepeda motor gede, sang tamu membuka helm-nya. Seorang wanita jangkung dan sensasional yang pernah dilihat Rose sepanjang hidupnya, selain di film. Lily, wanita itu memperkenalkan diri sebagai bibinya. Tak percaya, Rose mempunyai saudara secantik model. Orang tua mereka tak pernah cerita.
Sekalipun Rose curiga namun mengingat kesibukan seminggu yang akan datang rasanya Lily bisa membantu apalagi Ty, Sage dan Leigh akan lebih banyak merepotkan ketimbang menolong. Saya jadi ingat novel pertama trilogi The Good Earth, “wanita cantik akan lebih sering mengacaukan keadaan ketimbang memperbaikinya”. Bernahkah?
Sementara bibi Lily membantu Chip di toko kue, Ty dan Rose mulai iseng membuat kue sihir. Diawali Muffin Asmara untuk menyatukan dua sejoli pelanggan mereka yang saling cinta namun tak berani mengungkap. Bliss Booke ternyata memiliki resep yang rumit. Nyaris setiap menu dimulai dengan kisah pendahulu.
Muffin Labu Hijau. Untuk Melarutkan Berbagai Rintangan Berbagai Cinta: Pada tahun 1718 di kota kecil di Inggris yang bernama Gosling’s Wake, Sir Jasper Bliss menyatukan dua orang yang paling tidak beruntung, James Corinthian sang duda dan Petra Biddlebumme si penjahit yang, berturut-turut, terlalu sedih dan terlalu malu, untuk melompat ke kobaran cinta yang agung. Jasper secara khusus mengantar Muffin Labu Hijau ini ke rumah masing-masing, kemudian menunggu pada jarak yang aman dari rumah Petra Biddlebumme si penjahit. Dua jam setelah diantarkan muffin-muffin itu, James Corinthian sang duda berlari ke pintu  Petra Biddlebumme, yang mengundangnya masuk untuk minum teh. Mereka menikah sebulan kemudian.
Kisahnya apik bak dongeng pengantar tidur. Ramuannya rumit. Berhasilkah Ty dan Rose menyatukan Mr Bastable dan Miss Thistle? Lalu besoknya mereka geram sama Mr. Havegood yang suka koya, pesan kue mendesak karena akan ada tamu Presiden Kamboja. Kesal, mereka berusaha mengungkap kebenaran kata-kata lewat Cookie Kebenaran.
Koekjes van Waarheid (Cookie Kebenaran): Pada tahun 1618 di desa pertambangan di Zandvoort, Belanda, Lady Brigitta Bliss telah menyingkap perbuatan pencuri permata Gerhard Boots dengan memberinya sekeping Cookie Kebenaran. Si pencuri yang tadinya berkeras tidak bersalah selama testimoni penuh tangis ketujuh korbannya, yang semuanya petani miskin dan permata-permata yang dicuri itu warisan keluarga mereka. Kemudian, setelah memakan sekeping Koekjes van Waarheid Lady Brigitta, dia mengakui pencurian itu, bahkan sampai memukul-mukul kepala dan bahunya agar berhenti bicara.
Berhasilkah mereka membuat Mr. Havegood menghentikan omong kosongnya? Dari keisengan inilah segalanya kacau. Ty dan Rose harus segera memperbaiki keadaan, maka muncullah resep ketiga: Cake-Pemutar-Balik-Keadaan-Seutuhnya. Resep ini tanpa kisah pendahulu, namun ramuannya membutuhkan air mata Warlock. Menu sulit, resep janggal? Dan segalanya berjalan berantakan. Seisi kota mawut, Calamity Falls bagai kota mati. Siang hari tak ada aktivitas, malam hari warga berjalan bak zombie. Lalu bibi Lily mencoba membantu membereskan situasi. Akhirnya Lily memegang, membaca serta mempelajari Bliss Bakery Booke. Berhasilkah kota kembali normal sebelum ayah-ibu mereka pulang? Kecuriaan Rose sedari awal kepada bibinya apakah berbukti? Apa itu Kilabret?
Well, sungguh menarik. Idenya memang tak original. Kisah Bliss jelas mengambil banyak ide cerita lain lalu diramu jadi makanan lezat untuk pembaca. Kue berisi sihir? Ronald Weasley dan Hermione Granger sudah mempraktekannya. Mencuri resep rahasia? Plankton Sheldon sudah berjibaku mencoba masuk Krasty Krab berjuta kali. Kota mati? 28 Days Later membuktikan kota London, kota tersibuk di dunia itu bisa kosong melompong. Jadi apa menariknya? Kalau bicara konflik jelas bukan, ini kisah sederhana yang tak akan membuat salah satu anggota kelurga Bliss sekarat. Twits? Tak ada. Segalanya seperti prediksi. Saya sudah bisa menebak ke arah mana kisah ini akan berujung ketika kunjungan Lily di saat ortu merak tak ada. Jadi apa serunya? Pertama eksekusi, seperti cover-nya yang terlihat manis. Isi cerita ternyata juga setara gula. Pintar sekali Littlewood mengocok mixer sehingga kita bisa ikut merasakan kekhawatiran Rose. Kedua, endorsment tak bohong. Seluruh puja-puji yang disampaikan di lampiran halaman depan mulai dari Amazon.com, Kirkus review sampai School Library Journal semuanya apa adanya. Jadi saat saya selesai membaca saya merasa tak ditipu. Memang sedari awal saya sekedar butuh wah bukan wow dan itu terpenuhi. Bliss pertama termasuk sukses membuatku ingin melahap kelanjutannya. Jelas seri kedua dan penutup akan menyusul ke rak saya namun tak dalam waktu dekat. Antrian baca masih sangat panjang. Bliss memang bukan buku istimewa namun tetap layak koleksi, kelak biar dibaca Hermione Budiyanto. Saya yakin Hermione akan suka buku ini, namun terkadang –kelak—mendengarkan secara langsung dari mulutnya terasa penting bagiku. UKA UMIATNICNEM!
Bliss | By Kathryn Littlewood | Copyright 2012 by Inkhouse | Penerjemah Nadia Mirzha | Penerbit Mizan Publika (anggota Ikapi) | cetakan XII, April 2015 | cover art 2012 by lacopo Bruno | ISBN 978-979-433-690-8 |  untuk Ted | Skor: 3,5/5
Karawang, 171015 – The Naked face

Pahat Hati

image

Back cover-nya mengiurkan. Dengan berani menuliskan: Dari Penulis yang bersanding dengan JK Rowling dan Cassandra Claire sebagai nominator BEST AUTHOR IN SOCIAL MEDIA 2013, penulis Indonesia berbakat, Andi Tenry Ayumaya siap menggebrak dunia lewat karya fenomenalnya. Bayangkan, penulis Harry Potter disebut dan disandingkan. Walau penulis favoritku dijual, ekspektasiku tak tinggi. Biasanya jualan dengan omongan koya seperti ini isinya kosong. Mungkin Eka Kurniawan sedang sibuk sehingga tak masuk, mungkin Dee sedang liburan sehingga tak tercantum sehingga Penulis lokal yang masuk nominasi adalah Andi-who? Baru dengar? Saya juga.
Saya jadi teringat Jemy teman satu kos dulu. Tiap selesai baca buku buruk dia selalu melemparnya ke bak sampah. Dia berujar, “buku seperti ini berbahaya, lebih bagus dilenyapkan”. Saya tak setuju, karena kita membeli dengan uang jerih payah maka kita harus ‘memeliharanya’ di rak. Saya berpendapat, kalau buku ini buruk di mata kita berarti buku ini memang bukan untuk kita. Bisa jadi untuk orang lain yang nantinya berkesempatan membacanya memetik hal positif. Bisa jadikan.
Saya teringat pesan teman, “sesekali kamu harus keluar zona nyaman. Bacalah genre diluar favoritmu. Mungkin kamu akan menemukan sebuah sensasi yang menakjubkan.” Dan novel Pahat hati ini di tangan, kisahnya tentang cerita semasa SMA. Seorang gadis ceria sedang ke rumah Oma setelah minggat dari rumah orang tuanya. Sampai di rumah nenek, tak ada orang. Neneknya sedang ke Jepang untuk berobat. Dia dititipi tetangga amplop berisi uang GeDhe dan akan rutin kirim uang, ia gunakan untuk sewa apartemen. Ketika pulang secara tak sengaja rebutan taksi dengan pemuda, sewot saling usir. Kebetulan sang pemuda satu kamar dalam apartemen yang ia sewa karena kena tipu. Kebetulan lagi mereka satu sekolah. Sang pemuda memiliki mobil yang bisa setiap saat berangkat-pulang sekolah bareng. Sang pemuda adalah playboy stadium akhir, setiap minggu ganti pacar. Bah pembuka macam apa in, anak durhaka, nenek gila, nyinyir hanya rebutan taksi sewot seperti mau mengantar pasien ke IGD saja. Dengan santainya membuat susunan cerita anak sekolah naik mobil. Hello dunia, SIM A sudah bisa dibuat oleh remaja lho sekarang. Dari sini saya sudah bisa menebak ke arah mana cerita ini akan berlanjut. Andai ini buku sewa atau pinjam, tentu saja saya hentikan. Namun saya tegaskan setiap lembarnya saya bayar jadi ya harus dituntaskan. Dan segalanaya mulai berjalan kacau bahkan ketika saya belum sampai separo baca.
Biar terlihat keren, daftar isi menggunakan bahasa Inggris. Dari prolog sampai epilog, dari Sweet Cherries sampai 1 month later. Kalau kalian berharap akan ada dialog puitis ala Chairil Anwar, jelas ga akan ada. Jadi ceritanya Cherry ini anak baru di SMA Bhakti. Di hari pertama sudah jadi pahlawan bagi anak kembar Alda dan Andini. Kalau yang ada di bayangan Anda ketika saya ketik pahlawan adalah melawan begal, membasmi perampok, menahan petir atau mencegah kejahatan lain Anda salah. Cherry hanya mengusir anjing. Pahlawan? Ya, tahan muntah Anda. Ulasan baru dimulai.
Di bab 2 Andi memberi judul Robber Cat. Mungkin maksudnya adalah criminal cat, plesetan ala Tukul di Bukan Empat Mata, mungkin artinya kucing garong agar terdengar cool jadilah robber cat. Itu istilah diperuntukkan buat Dicky, teman seatap Cherry seorang playboy yang giginya dipagar. Bayangkan Ashton Kucher memakai kawat gigi lalu tersenyum, mungkin terlihat lebih tampan. Dicky baru saja memutuskan Nabilah, korban terbarunya. Sementara itu Ilham pemuda yang akan tunangan sedang patah hati setelah Hannie pacarnya tewas kecelakaan. Kejadian dibuat se-dramatis mungkin, sang kekasih meninggal dalam pelukan ala sinetron lokal. Kelas 2 SMA tunangan. Kerjaan Ilham ini setiap hari melihat danau yang ada di belakang sekolah merasakan semilir angin. Ya, tahan muntah Anda, tulisan masih panjang.
Lalu secara flash back kita diberi tahu kenapa Cherry minggat dari rumah. Alasan pertama adiknya Dea nyebelin, kedua dia dijodohkan dengan anak teman ayahnya. Ya ini bukan zaman Siti Nurbaya yang bisa menyatukan pasangan lewat orang tua, kejadian ini bisa saja terjadi. Namun menyodorkan konflik keluarga seburuk ini sungguh tak ada logika. Otak Cherry jelas perlu di-ruwat. Bisa-bisa Raam Punjabi pingsan saking shock-nya membaca kisah ini. Tahan lagi muntah Anda, ini belum separo tulisan.
Dalam kisah The Ring, cincin tunangan Ilham secara tak sengaja jatuh ke danau setelah disenggol Cherry. Bodohnya Ilham ini memandang danau cincin tunangannya di-ewer-ewer mulu. Merasa bersalah, malam hari dia nekat nyebur ke danau mencari. Sungguh konyol, di siang hari ngapain? Di panas terik saja ga ketemu apalagi dalam gelap malam. Dicky dengan gagah berani menyusul ke danau, mungkin maksdunya biar terdengar romantis ala A Lot Like Love, berdua kedinginan di bawah sinar rembulan. Besoknya mereka flu. Konyolnya lagi, cincin bisa ketemu dengan mudahnya kemudian, dan diperparah Ilham memberinya kepada Cherry. Andi bisa saja sekalian menulis itu cincin The Hobbit sehingga siapa yang pakai bisa ngilang, toh sampai di sini kisah mulai liar tak terkendali.
Hobi ganti pacar Dicky berlanjut kini giliran Alda jadi korban. Salah satu si kembar ini back street (tanpa boys) jadian, namun seperti yang sudah diduga mereka putus. Dalam judul Playboy’s Aware lalu Dicky ditantang teman-temannya yang kurang kerjaan (atau PR-nya sudah selesai dikerjakan) untuk bisa menaklukkan hati Cherry. Dengan pede dia yakin bisa menjadikannya pacar. Kesempatan itu datang saat acara kemah di Tangkuban Perahu, namun saat acara belum mulai Cherry menghilang. Saya sempat berharap dia diculik Smeagol biar seru, tapi ternyata dia sedang bergelayut di tepi jurang karena kecelakaan. Setelah diselamatkan, acara itu dibatalkan. Wah wah, hebat. Seakan ke Tangkuban Perahu hanya 5 menit perjalanan, dan dengan mudahnya bubar lantaran kekonyolan karakter ini. Duh! Dunia koma.
Akhirnya kepala Cherry kepentok pintu sehingga luluh dengan cinta Dicky, dia mau pacaran dengannya, syarat dia mengaku insyaf di sekolah. Karakter macam apa, masak sedari awal kekeuh membenci Dicky tiba-tiba mencinta. Kalau alasan berubah pikiran karena sesuatu yang kuat sih oke saja, toh banyak yang benci jadi cinta, namun cinta itu bersatu karena sesuatu yang konyol seakan cinta bisa dipetik di kebun belakang rumah. Besoknya Dicky memegang megaphone berteriak-teriak ke seisi sekolah dia tobat dari mempermainkan cewek. Ini lagi, makin ke sini makin ngawur. Coba dilogika, di mana para guru? Di mana nalarnya? Bagaimana sekolah bisa menjadi arena petak umpet dengan megaphone di tangan. Siswa teriak-teriak di sekolah dan tak ada yang protes? Mungkinkah satpamnya sedang cuti? Atau setting-nya di dunia ketiga sehingga hal semacam itu lumrah. Perkara makin ga jelas saat pak guru Dion yang ditaksir bu Erlin akhirnya akan menikah dengan pacarnya yang di Perancis. Uhuk.., guru zaman sekarang apakah gajinya setara keluarga Bakrie bisa macari cewek yang eek-nya aja di Paris. Dan tak ketulungan buruknya saat Ilham dengan mudah dikirim oleh pihak sekolah ke Jepang untuk Olimpiade Kepo. Wew, my God. Rasanya kini benar-benar tak tahan muntah. Tahan tahan, bentar lagi sobat.
Cherry pun diminta memilih antara Ilham yang cool, Reza yang pengagum rahasia (sudah ga rahasia dong dia mengungkapkannya – walau mundur juga), dan Dicky sang playboy. Siapa yang dipilihnya? Baca sendiri buku ini kalau Anda penasaran, pening tanggung sendiri.
Sekarang silakan muntah. Selesai baca buku ini saya jadi prihatin. Separah inikah sekolah sekarang? Zaman saya tak ada yang naik mobil, atau sekarang anak sekolah bisa punya izin mengemudi? Setahu saya jangankan mobil, motor saja seorang pelajar belum boleh punya SIM, kecuali pelajar yang oon-nya kebangetan sehingga saat SMA usianya kepala 2. Ini jelas pengaruh buruk sinetron kita yang tayang prime time. Tentang pacaran, tentang pergaulan bebas. Di Pahat Hati lebih parah lagi dua karakter utama satu atap, satu apartemen. Walau tak ada adegan macam Lust, Caution tetap saja ini sungguh pemikiran kisah yang buruk. Saat saya sebut: BIsma, Rangga, Dicky, Ilham, Reza apa yang ada di pikiran Anda? Apa Smash? kurang keras! Smash?! Ya ya, Anda bisa memasukkan nama-nama selebritis favoritmu dalam karangan Anda. Namun belum pernah saya menjumpai novel menaruh nama-nama karakter konyol senorak ini. Bukan, saya bukan anti-smash. Saya adalah Laziale, seandainya saya menjumpai novel dengan 11 nama karakter dengan 11 nama pemain Lazio, saya sendiri yang akan membakar buku itu.
Konfliknya mutu rendah. Kisahnya datar. Settingnya memang sekolah, namun tak satu kata pun menyebut algoritma atau statistik dasar. Gaya hedon seperti ini berbahaya, bukannya iri justru saya prihatin dengan yang ditampilkan. Sedemikian kacaukah remaja Indonesia sehingga yang ada di otaknya pacaran? Awalnya saya mau beri rate 0.5 namun 2 bab terakhir mulai menarik karena karakter penting akan dimatikan, makanya saya naikkan rate, namun eksekusi ending kembali menjatuhkan cerita sehingga ya kembali saya beri rate 0.5. kalau saya kasih 0 takutnya asosiasi penulis Indonesia akan menggugat saya. Emang ada? Cari saja sendiri. Seingat saya, saya belum pernah kasih nilai 0.5 seburuk-buruknya 1. Entah kenapa di tahun baru Islam ini saya berlakukan nilai itu, bisa jadi saya shock ada buku seperti ini di Indonesia.
Menurut buku Nyanyian Ilalang karya Andi berikutnya, Pahat Hati diklaim best seller. Ini tak bagus, kalau Pahat Hati dibaca dan ditiru remaja sekarang, Indonesia dalam darurat karya. Sedemikian minimkah pilihan sehingga editor meloloskannya? Sedemikian minimkah pilihan sehingga  sampah seperti ini laku? Kalau tulisan seperti ini berani menyandingklan diri dengan JK Rowling, mungkin Tere-Liye sudah mengklaim layak dapat Nobel Sastra.
Jadi kangen Jemy. Untuk kali ini saja. Ya untuk kali ini saja saya setuju dengannya. Buku sebobrok ini lebih berbahaya ketimbang pengungkapan konspirasi Wahyudi dan layak dilempar ke tempat sampah. Benamkan ke lumpur terdalam sehingga anak cucu kita tak membacanya. Tetap semangat Andi, jangan patah hati.
Pahat Hati | karya Andi Tenry Ayumaya | copyright 2009 | cetakan II, November 2013 | ISBN: 978-602-1258-40-8 | Penerbit Matahari | Skor: 0.5/5
Karawang, 151015 – Sheldon rules

Sidney Sheldon Month

image

Rani Wulandari, S. Kom teman kerja, tetangga duduk kemarin mau pinjam Trilogi Bartimaeus. Baru dapat seri satu sehingga ingin melanjutkan seri dua. Bagi teman-teman yang mau pinjam buku koleksiku ga masalah, asal saya juga pinjam punyanya. Mengingat kenangan buruk meminjami buku kurasa tukar-pinjam sebagai sandera itu perlu. Karena tak semua orang mencintai buku yang susah payah saya kumpulkan. So saya pinjamkan The Golem’s Eye dengan syarat meminjamkan koleksi buku terbaiknya, Rani punya Sidney Sheldon banyak jadi ya hari ini mau bawa seri apa aja terserah.

Pagi tadi dia bawa seplastik penuh novel Sidney, datang-datang langsung menyodorkan kepadaku sesaat setelah absensi finger print-nya error. Wow, semua dibawa. Kukira hanya satu atau dua. Edian, keren deh! Total ada 15 buku, satu diantaranya sudah bawa, The Sky Is Falling. Jadi kini PR saya menyelesaikan 14 novel Sidney sebelum tahun berganti. Bisa? Optimis mampu!

  1. Windmills Of The Gods – Kincir Angin Para Dewa
  2. Nothing Lasts Forever – Tiada Yang Abadi
  3. The Doomsday Conspiracy – Konspirasi Hari Kiamat
  4. The Stars Shine Down – Kilau Bintang Menerangi Bumi
  5. Rage Of Angels – Malaikat Keadilan
  6. If Tomorrow Comes – Bila Esok Tiba
  7. Master Of The Game – Ratu Berlian
  8. The Sand Of Time – Butir-Butir Waktu
  9. A Stanger In The Mirror – Sosok Asing Dalam Cermin
  10. Tell Me Your Dreams – Ceritakan Mimpi-Mimpimu
  11. Morning, Noon & Night – Pagi, siang & Malam
  12. The Other Side Of Midnight – Lewat Tengah Malam
  13. Memories Of Midnight _ Padang Bayang Kelabu
  14. The Naked Face – Wajah Sang Pembunuh
  15. The Sky Is Falling – Langit Runtuh

Waa, melihat buku sebanyak ini seperti melihat makanan lezat siap santap. FREE lagi. Jangan bosan, minggu-minggu ke depan akan banyak membahas Sidney Sheldon. Hell yeah, open your book runs wild your imagination.

Karawang, 081015 – Missing

Pencopet Dan Kelompok Begundal – Dr. Najib Mahfouz

image

Pengalaman pertama saya mambaca karya Dr Najib adalah Karnak Cafe yang mengalir indah. Kekuatan utama ceritanya ada pada karakter yang kuat sehingga seakan-akan kita ikut duduk ngopi bareng dengan setiap individu yang terombang-ambing sebagai korban perang. Karena itulah saat tahu buku karya Najib ada di daftar jual sebuah toko online saya langsung membelinya. Diterjemahkan dari Al-lish wa Al-Kilab tahun 1972, apa yang ditampilkan ternyata tak seperti harapan. Inilah buku kedua dari penulis peraih nobel asal Mesir yang saya nikmati.
Jika ada kata pengantar yang begitu buruk, bisa jadi di buku inilah salah satunya. Setelah membaca kata pengantar saya langsung teriak, “bangsat!” tak ada etika tak ada sopan santunnya ini menaruh spoiler di pembuka dengan entengnya. Joko Suryatno  harus belajar membuat kata pembuka dengan lebih bijak. Ada aturan tak tertulis bahwa dalam me-review jangan membuka bocoran cerita secara gamplang kecuali ada alert-nya. Joko dengan santai membuat ringkasan Sekilas tentang novel ini dengan runut menceritakan kisah dari awal sampai akhir dalam 3 halaman. Lengkap dengan siapa yang bertahan hidup siapa yang tewas. Uh, sadis sekali kau kawan. Saya langsung membanting buku ini kecewa, bahwa sebelum memulai baca bab pertama saya sudah tahu ke arah mana kisah ini akan berjalan. Asem!
Diceritakan dalam 18 bab tentang seorang narapidana baru saja bebas setelah menjalani hukuman kurung, baru menghirup udara merdeka Sa’id Mahran dihadapkan pada pilihan sulit akan kemana selanjutnya. Membalas dendam pada penghianat yang membuatnya dipenjara ataukah membiarkan segalanya berjalan apa adanya dengan memulai hidup baru biar lebih damai? Kisah dimulai di hari pertama bebas, Sa’id mengunjungi rumah mantan istrinya Nabuyah untuk bertemu putri semata wayang Sanaa yang kini berusia 6 tahun. Namun yang menemuinya adalah Alish, suami baru Nabuyah dan pengawalnya Al-Mukhbir. Bukan sambutan nyaman yang diharapkan mengingat Alish adalah musuhnya.
“Yang sudah terjadi, biarlah berlalu. Sampai hari ini sudah banyak yang terjadi. Kejadian-kejadian itu terkadang membuat kita merasa sedih dan khawatir, namun hanya lelaki cela saja yang punya aib.” (halaman 8)
Sa’id pergi dari rumah itu dengan hati penuh kecewa. Niatnya untuk menemui dan mengambil hak asuh Sanaa gagal. Alish mempertahankan Sanaa dan meminta Sa’id untuk bertarung di pengadilan. Sa’id lalu bertemu Sayid Muhamad Ali Babak seorang tua pemuka agama setempat. Sa’id lalu meminta tolong kepada pak Ali untuk sementara tinggal di sana. Menjelaskan dengan jujur bahwa dirinya baru saja keluar dari penjara. Namun setelah penjelasan Sa’id, pak Ali dengan santai berujar bahwa “engkau belum keluar dari penjara.” Secara fisik ya, Sa’id sudah bebas tapi hatimu masih dipenjara dendam. “Seorang wanita langit menyatakan, ‘kenapa engkau mesti mencari kerelaan dari seseorang yang tak rela padamu? Janganlah kau lakukan yang demikian.’”
“Berwudlulah dan bacalah! Bacalah, katakan jika kalian benar-benar mencintai Tuhan, maka ikutilah aku, niscaya Tuhan akan mencintai kalian! Dan bacalah pula. ‘Dan aku mewakilkan diriku padamu!’ selain itu katakan pula ungkapan orang berakal, ‘Cinta kasih adalah persetujuan, atau ketaatan kepada-Nya atas perintah-perintah, dan meninggalkan larangan-larangan, serta ridha dengan hukum ketentuan.’” (halaman 29)
Nasehat yang bijak tersebut ternyata tak bisa mengubah Sa’id. Malam itu memang dirinya menginap bersama pak Ali tua, namun bara hatinya masih mengembara bagaimana membalas dendam kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita. Keesokan harinya Sa’id menemui teman lama yang kini sudah terpandang, ustadz Rauf Alwan. Dari kolom koran Al-Zahrah milik Rauf itulah dia ingin meminta bantuan kerja ke teman lamanya. Awalnya berjalan normal, namun setelah berbasa-basi panjang lebar Rauf sudah berubah. Kini Rauf sudah kaya raya, menjadi orang penting. Berteman dengan mantan penjahat membuatnya risih, walau tak diungkapkan secara langsung. Niatan Sa’id meminta kerja sebagai wartawan ditolak. “Masa lampauku belum mengizinkan aku untuk memikirkan masa depan.”
“Alangkah indahnya jika ada orang-orang kaya yang suka menasehati orang-orang miskin dan terlantar…” Sa’id pulang dari rumah Rauf dengan kemarahan. Walau bersalaman dengan dua lembar uang sebagai ‘sumbangan’ dirinya terlanjur sakit hati. Diniatkanlah misi balas dendam. Malam hari Sa’id berencana menyusup masuk rumahnya untuk merampok dan membunuh Rauf. Inilah titik pilihan yang menyesatkannya. Pilihan untuk kembali menjadi pencopet dan begundal. Jika api amarah dan khianat sudah bersemayam di dalam hati, mana bisa ada orang yang kuasa membendungnya.
Malam itu Sa’id menyusup rumah Rauf, rumah yang dulu sudah begitu dikenalnya. Sayang dirinya kepergok, ditangkap basah. Awalnya mau dibawa ke polisi, namun Sa’id memohon maaf. Penuh hina dirinya memohon ga dilaporkan polisi dan ga akan mengusik hidupnya lagi. Rauf memaafkan dan memintanya jauh-jauh.
Sa’id makin galau. Hidup semakin berat, tak ada pijakan pasti. Akhirnya pilihan sulit itu menempatkannya ke kedai milik Tarzan, teman lama lainnya. Kedai maksiat penuh alkohol, pelacur dan hal negatif. Sayang sekali, di saat pak tua Ali mengulurkan tangan untuk menebus dosa masa lalu justru Sa’id memilih kembali ke dunia hitam. Di kedai (yang mengingatkanku cerita Karnak cafe) itulah dirinya kembali bertemu pelacur, Nur yang sedari dulu mengaguminya. Akhirnya dirinya tinggal di kos Nur sembari menyusun misi balas dendam agar lebih matang. Dendam kepada mantan istri Nabuyah, dendam kepada mantan temannya Alish, dendam kepada ‘mantan’ ustadz-nya Rauf. Berhasilkah Sa’id membunuhnya? Ataukah akan berakhir kembali di penjara? Ataukah dirinya yang tewas? Hidup ini pilihan, dan setiap pilihan selalu memberi konsekuensi. Namun, yah hidup ini juga keras bung!
Koran-koran itu lidahnya lebih panjang daripada tali gantungan buat penjahat. (halaman 135)
Di mana akan ada ketenagan, keamanan, kenyamanan? Aku ingin sekali merasakan ketenangan hidup, bisa tidur nyenyak, dan bangun tidur dengan segar bugar! Apakah semua itu hanya sekedar ilusi? (halaman 138)
Siapa yang bisa menghentikan esok hari? (halaman 167)
Bersabarlah, sabar itu suci dan mensucikan banyak hal. Hukum selamanya akan tetap adil. Tawakal dan berserah diri itu hanya kepada Tuhan. (halaman 194-195)
Dia ditanya, ‘adakah kamu melihat kesembuhan yang kita cari serta obat yang kita gunakan? Apakah semuanya terjadi karena kehendak Tuhan?’ Dia menjawab, ‘sesungguhnya semua itu dari kehendak Tuhan.’
Well, secara keseluruhan novel ini sebenarnya bagus. Walau kisahnya seperti sinetron lokal, namun apa yang ditampilkan memikat dan berani. Yang paling disayangkan adalah hasil terjemahnya yang buruk. Typo di mana-mana, susunan kalimatnya kurang rapi, hasil cetakan yang buruk padahal pakai kertas hvs, dan tentu saja kata pengantar yang sialan itu. Penerbit besar memang tak bohong karena hasil cetaknya tentu lebih menjanjikan. Penerjemah pengalaman tentunya lebih nyaman untuk dibaca. Dan penulis besar pemenang nobel memang jaminan, novel ini memikat namun tak memenuhi ekspektasi tinggi yang sudah kuharap sedari awal. Layak ditunggu buku lain karya Dr. Najib Mahfouz.
Pencopet Dan Kelompok Begundal | karya Dr. Najib Mahfouz | judul asli Al-Lish wa Al-Kilab | Penerbit Maktabah Mishr, Mesir | cetakan ke -6, 1972 | Penerjemah Joko Suryatno | Penerbit MISTSAQ | cetakan pertama, Agustus 2000 | Skor: 3/5
Karawang, 051015 – Lazio win againt Fro-apa-tuh 2-0