Atraksi Lumba-Lumba – Pratiwi Juliani

Orang-orang desa bangun lebih pagi daripada dan mereka hidup cermat: listrik, air, dan segala sesuatunya harus digunakan seperlunya saja…”

Seperti inilah seharunya cerita pendek dibuat. Kisah ada di sekitar kita, tampak nyata, tampak apa adanya. Atraksinya sendiri berakhir tak semulus yang diharapkan, tapi terus tersimpan dalam ingat seolah abadi. “… panas sekali bulan ini. Semoga panen bagus.”

#1. Menyayangi Bianglala
Pengalaman naik bianglala anak kecil yang diceritakan kepada teman-teman sekelas, membagi permen dan pamer khas anak sekolah. Anak orang kaya, yang habis berlibur ke kota. Tampak manis dan menggemaskan. Ternyata, orang tua Rima cerai, ia hanya sesekali ajak keluar kota sama ayahnya, dan bainglala adalah salah satu moment yang diambil untuk menancapkan gores, karena berikutnya waktu digulir cepat. Ibunya menikah lagi, mereka pindah dan ketika sudah dewasa, ia kembali mengukir kenangan kembali ke kampung untuk sebuah pemakaman. “Ayolah kita ke pasar malam tengah kota selepas acara tahlil tiga hari.”

#2. Rambutan yang Timbul di Kepala
Cerita biji yang tertelan lalu ditakuti akan tumbuh dalam perut dengan batang tumbuh tembus ke kepala juga kualami dulu. Seringnya biji asam, karena di kampung ada pohon asam besar sekali, dikeramatkan, dibuat pesta anak-anak saat berbuah, dan banyak sekali remaja naik pohonnya yang rindang. Sang Aku memiliki kenangan tentang lomba makan rambutan di masa kecilnya, dan saat itu tiba-tiba ia ingin makan rambutan, Mujib temannya yang gembeng ga sengaja menelan biji rambutan. Ditakut-takuti, makin kencang nangisnya. Hari masih sangat pagi, toko yang menjualnya ada tujuh kilometer jauhnya, berkenalan dengan lelaki menarik, sambil ngopi dan makan rambutan berkaleng, mereka berkisah. “Tidak ada. Aku sering membaca. Tetapi membaca itu hal umum yang dilakukan semua orang, bukan hal yang special.” Kita semua tidak lebih dari sebuah foto profil yang bisu.

#3. Atraksi Lumba-Lumba
Seolah ini adalah penggalan kisah di judul pertama. Ameli dan ayahnya memiliki kenangan pahit tentang sebuah acara karnaval atraksi lumba-lumba. Bangun pagi, berkendara jauh, akan menontonnya. Penonton penuh, dan antrian panjang. Apes, mereka kehabisan tempat. Berharap bisa masuk, dengan menyogok petugas jaga, malah minta dua kali harganya. Dan mereka gagal menyaksikan. Kenangan yang unik memang yang akan tersimpan erat terikat dalam kepala, dan kegagalan serta efeknya inilah yang terlihat dalam tawanya saat di Yogyakarta, kelak. “Oh kau anak yang baik, semoga kelak nasibmu baik.”

#4. Pecundang
Dari novel Maxim Gorky berjudul Pecundang, kita diajak berkelana tentang hidup dan kepahitannya. Kita tahu sang Penulis bunuh diri dengan meninggalkan sekalimat buat anak dan istrinya, ‘Goodbye my beloved.’ Cerita dalam perjalanan bermobil memang menarik untuk dikupas, melalalngbuana. memiliki kenangan pahit tentang ayahnya, sebuah pohon beringin di pinggir jalan mengurainya, ada maaf sebelum terlambat. Sebuah kebesaran hati, legawa, tanggung jawab, dan ketulusan. Oh ya? Ingat cerpen ini berjudul pecundang, benarkah kata maaf sudah berucap? “Apakah kau menangis saat dia dikuburkan?

#5. Pembalut
Kisah ini juga seakan adalah nukilan dari cerpen pertama dan ketiga. Memiliki kenangan ketika bersekolah menengah lanjutan pertama. Sempat mengingin untuk sekolah asrama, saat meninjau bersama ibunya ke sekolah tersebut ketika libur tahun, betapa kecewa. Betapa jorok, dan tak terawat bangunannya. Bahkan air di kamar mandi tak menyala, dengan sampah berserakan. Akhirnya ia melanjutkan di sekolah tengah kota yang lebih umum. Pembalut di sini baru bersinggung saat salah satu siswi kurang berpunya sedang mens pas upacara bendera, dibelikan pembalut di koperasi sekolah. Mereka saling mengenal walau tak akrab, lalu suatu ketika gadis itutak kelihatan, ia keluar sekolah. Waktu merentang dan mereka kembali bertemu di sebuah warung soto yang ternyata milik sang gadis. Semua tampak nyata dan membumi, dan bisa kita jumpai di sekitar kita, bukan? “Tidak perlu dimengerti, aku juga tidak mengerti akan banyak hal. Andai aku bias lebih mengerti banyak hal.”

#6. Seekor Kucing dan Gelandangan Tua
Ini satu-satunya cerita mengambil sudut orang ketiga, seolah pencerita mendongengkan kepada kita sebuah pengalaman mengamati kejadian di alun-alun pinggir kota yang ramai, pemuda dan kebaikan hatinya bertemu gelandangan tua dan kucing sakit, memberi makan kucing dan pak tua, karena pemuda tinggal di kontrakan atas, sang gelandangan yang memutuskan merawat si empus dan suatu malam mereka kembali bertemu, lebih tepatnya, sang pemuda dating ke area pasar tempat gelandangan istirahat, makan malam yang hangat, kali ini tak ada si empus. “Tidak. Aku menyayanginya. Dia mati dalam keadaan ada seseorang yang menyayanginya.”

#7. Film
Berkenalan, menonton bareng, ngopi dalam cerita renyah. Kok rasanya enak sekali ya, saya belum pernah mengalami hal semacam itu dalam sehari. Padahal kita tahu, pengalaman semacam ini bisa terwujud, menyenangkan kedua belah pihak. Cerita aneh untuk film aneh. Mal masing tutup di pagi hari, gedung bioskop juga belum buka dong. Mara datang terlalu dini, ngopi dulu dan berkenalan dengan laki-laki yang menarik bernama Ricky, dan ditimpali Martin. Lhaa… seperti itulah canda alir tanpa beban. Ngobrol beberapa hal, berniat nonton film rumit, lalu mendiskusikannya. Mara pulang larut, suaminya menyambut dalam keanehan pula, dan tadaaa… “Jangan menjadi gelas yang penuh, Anwar.” Hiks, sayang Gundala dapat ulasan negatif.

#8. Kepulangan
Ini mungkin yang terbaik. Perjalanan pulang ke rumah nenek yang misterius, sungguh aneh, sungguh janggal. Pertengkaran orang tua mereka memicu benih cerai, Anggi dan kakaknya menguping, lalu pura-pura tidur saat ibunya masuk kamar dan meminta bergegas, malam itu juga mereka akan ke rumah nenek. Ayahnya menyetir dengan gamang, malam itu gerimis, dan dari sudut anak-anak kita diajak menjadi saksi akhir sebuah perjalanan satu kehidupan. “Masuklah, temani ibumu.” Begidik.

#9. Yang Teratur dan Yang Tidak Teratur
Ini mungkin kisah yang paling biasa, seorang pelukis coba mencipta ruangan dengan kesempurnaan guna mencipta karya. Jullie membeli mebel dan sejenisnya dengan mengajak Ami lalu mengecat-nya. Sang pemabuk yang stylist. Membuat tempat santai di rumah belakang, dengan musik jazz, dan kenyamanan hidup. “Jangan mabuk jika sedang bekerja dengank. Jika kau ingin mabuk, liburlah dulu.”

#10. Rumah Bercat Putih
Judulnya mengingatkanku pada novel John Grisham, A Painted House yang diterjemahkan Gramedia menjadi Rumah Bercat Putih. Isinya tentang pasangan tua yang dulu bercerai, Yos menderita batuk berdarah, didatangi mantan istrinya Marta yang kini menjanda. Mereka melewatkan hari itu dengan mengharu, masa tua pasti datang, kita tak tahu apa yang akan terjadi. Di sini, Yos sakit keras dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Anak kesayangan mereka Anggi datang, membisikkan kata-kata dalam tidur Yos dan akankah ada kesempatan lagi bersua dalam kehangatan keluarga? “Hidup tidak pernah mudah sejak aku meninggalkanmu…

#11. Cerita-Cerita Kematian
Pasangan yang merayakan malam dansa, menginap di sebuah hotel lalu menyaksikan kematian, pemilik syalawan bunuh diri. Hantu itu tidak ada, dan tuhan juga. Diskusi larut dalam keterasingan masing-masing. Bagus sih, open minded. Mereka menikmati waktu kebersamaan, berdiskusi tentang hal-hal yang diluar batas dengan enak diikuti. Di mana jiwa pergi ketika berpisah dengan tubuh? “Kebenaran itu universal. Hantu memang tidak ada. Ini soal mekanika kuantum. Kau terlalu pakai perasaan.”

Saya yakin, berbulan-bulan dari sekarang, saya masih bisa dengan santai mengingat kisah-kisah di sini dengan hanya membaca judul cerpennya. Buku bagus ini, kenapa ga masuk ke daftar pendek? Saya bisa yakin pula, mayoritas adalah pengalaman pribadi Pratiwi Julian dengan modifikasi di sana-sini tentunya. Saya ga tahu kehidupan keluarga dan orang-orang terdekatnya, tapi jelas sekali cerita yang disaji tampak nyata. Contoh dalam Atraksi Lumba-Lumba, di adegan pembuka kita dikasih tahu sang karakter utama berusia tujuh tahun di tahun 1998, pas dengan kelahiran Penulis di tahun 1991.

Done. Sepuluh dari sepuluh kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 kategori prosa selesai baca dan ulas semua. Syukurlah, setelah pembuka yang buruk dan naik turun kehangatan, daftar ini ditutup dengan sangat bagus. Kumpualn cerita pendek ini dapat stempel Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2018. Good luck PJ.

Bagus narasinya, bagus dialognya, bagus susunan plotnya. Mengalir merdu. Biasanya kalau pengalaman pertama melahap buku puas, karya berikutnya tinggal masalah waktu untuk dinikmati pula. Saya ingin menutup catatan ini dengan kutipan satu paragraf di cerpen terakhir halaman 250. Menurutku, tuturan kalimatnya sungguh alami.

Kami sedang dalam sebuah taksi, melintasi jalan aspal yang mulia sepi di bawah lampu-lampu bercahaya kuning yang digantung pada besi hitam berukir. Tiang lampu hias itu ditanam pada trotoar yang membagi jalan menjadi lajur kini dan kanan. Wajahnya menoleh ke sebuah bangunan bertingkat yang teramat besar, yang pada bagian depannya terpasang jendela-jendela lebar berkaca mati, sedang penerangan yang dihidupkan di sekelilingnya seperti tidak mampu menandingi kesuramannya: tembok-tembok putih yang menguning dan atap merah yang menjadi hitam karena malam tidak memiliki bulan.

Atraksi Lumba-Lumba dan Kisah-Kisah Lainnya | Oleh Pratiwi Juliani | Penerbit Kepustakan Gramedia Populer | KPG 59 18 01548 | Cetakan pertama, September 2018 | Desaigner Aditya Putra | Ilustrator Aditya Putra | Penataletak Teguh Tri Erdyan | Penyunting Leila S. Chudori | x + 277 hlm.; 11,5 cm x 17,5 cm | ISBN 978-602-481-025-2 | Skor: 4/5

Untuk Mom.

Karawang, 131019-141019 – Whitney Houston – I Will Always Love You

Thx to Paperbookplane, Yogyakarta. Empat kali kesempatan duduk depan laptop: Sabtu pagi, Minggu pagi, Minggu sore kemarin, dan Senin pagi tadi. Editing ulas bahkan kulakukan saat istirahat kerja Senin (14/10/19) di ruang meeting Initiative and Drive, dengan hanya berteman kopi dan dingin ruangan.

Jamaloke – Zoya Herawati

Dalam pandangan paling sempit sekalipun, manusia cenderung mempertahankan hak hidupnya. Kalau kesalahan itu terletak pada seni mengukir nasib, apa gunanya manusia punya pikiran.”

Peperangan sepanjang sejarah manusia, adalah kebiadaban yang direstui, setidaknya oleh kekuatan yang dapat dengan mudah menggilas pihak yang lemah. Novel sejarah dari zaman kemerdekaan sampai zaman awal Orde Baru. Premisnya menarik, menawarkan gejolak yang terjadi di dalam, seteru lebih banyak dengan orang-orang kita sendiri, bukan Belanda atau Jepang, garis besarnya kita semua sudah tahu. Bagaimana Hari Pahlawan tercipta, bagaimana Belanda coba lagi mendompleng ke Negara kita pasca Jepang runtuh, bagaimana kita mengalami masa sulit setelah Proklamasi justru saling sikut antar etnis dan golongan. Sebagian besar sudah tertera di buku sejarah. Aku memandangnya tanpa ekspresi, bagiku gambar-gambar tersebut tak lebih dari sekadar benda mati. Kalau orang lain mengekspresikan dengan arti lain, itu urusan mereka.

Sebagai pembuka, kita sudah dikasih tahu bahwa novel ini diangkat dari pengalaman seorang veteran perang. Walau tidak seluruhnya, jalan ceritanya mirip dengan perjalanan hidupnya. Selebihnya, jalan cerita dalam novel ini adalah atas dasar imajinasi penulis. Catatan sejarah ada di mana-mana, di benakku juga.

Kisahnya adalah tentang aku, karakter tanpa nama yang memiliki dua saudara, terlahir miskin di era kolonial. Kesadaran muncul secara tiba-tiba. Dalam situasi seperti ini, hal yang paling remeh sekalipun sulit dilaksanakan. Sekolah adalah hal langka, maka ketika ia berhasil lulus Vervolk School dengan biaya penuh perjuangan, aku melanjutkan HIS. Melewatkan masa remaja di tahun 1940an, saksi sejarah berdirinya Indonesia. Bagaimana kedatangan Jepang yang berhasil mengusir Belanda disambut sorak sorai, sebagai saudara tua. Saat pendudukan Jepang itulah ayahku meninggal. Ga sempat mengalami kemerdekaan. Secara pelan-pelan, kucoba untuk meredam semua kekecewaan yang ditimbulkan keadaan.

Untuk menyibukan diri, aku bergabung dengan PETA, kesatuan militer bentukan Jepang, masuk sebagai Pelopor. Tanggal 14 Februari 1945, PETA melakukan pemberontakan, untuk menagih janji merdeka. Saat itulah masa-masa krusial kita. Aku selalu mencoba menenangkan Emak, yang kini sendiri setelah dua saudaranya menghilang tanpa jejak. Toh setiap lakon dalam hidup menjadi bagian yang tidak lagi penting setelah kita mampu melepaskannya dari pikiran-pikiran. Sampailah kita di hari penting, 17 Agustus 1945. Perjuangan, apapun maknanya, menurut perasaan mereka tak akan pernah usai. Tiba-tiba saja kebencianku pada perang makin menjadi, melebihi waktu-waktu sebelumnya. Karena peperangan telah secara paksa berhasil mengoyak-koyak impian remajaku, karena peperangan telah dengan bengis merenggutkan seluruh harapanku atas orang-orang kucintai.

Masalah kini adalah mempertahankannya, tipu muslihat, kekecewaan, ketidakjujuran, sewaktu waktu bisa mengecoh siapa saja yang lengah. Jiwa mudaku juga meronta, maka pencarian jodoh dilaksanakan. Wanita, bagiku selalu saja menambah persoalan yang sudah ada menjadi bertambah ruwet, karena wanita sendiri adalah sebuah masalah yangtak terselesaikan. Sayang di era peralihan dengan banyak permasalahan ekonomi ini, cinta itu kandas. Kuletakkan seluruh persoalan pada pikiran, bukan pada perasaan. Seseorang yang mampu melecehkan dan mencemooh diri sendiri, menertawakan dan mengejek diri sendiri, adalah satria bagi nuraninya.

Surabaya, seperti kita tahu menggelar perang paling akbar Republik ini dalam mempertahankan kemerdekaan. Kebanggaan membuat bulu-bulu di tanganku berdiri, walau tidak kuingkari terselip juga sepercik keraguan-keraguan dalam benak. Beberapa percobaan menggulingkan pemerintahan juga terjadi. Aku tak bisa mengerti mengapa orang harus melakukan penghianatan. Apakah krisis itu sudah sedemikian parah?! Sebegitu jauh aku tak bisa meraba sampai dimana krisis kepercayaan kepada diri sendiri melanda para prajurit.

Perjuangan belum berakhir. Aku bergabung dengan tentara gabungan Pemerintah, bersama pasukan Serigala. Agaknya nama Serigala mempunyai kekuatan khusus bagi semangat prajurit-prajurit. Kesedihan bisa datang setiap saat. Kesengsaraan dan kemiskinan menyertai dengan kesetiaan sempurna sampai ke liang lahat. Emak meninggal dengan dramatis ketika isu kematianku menyeruak, padahal dalam Agresi Militer Belanda, saya hanya terluka dan tinggal dalam perawatan. Pasang surut sejarah terus mengalir, sementara gerilya-gerilya masih terus menghantui Belanda dengan ketegarannya menembus benteng-benteng pertahanan mereka. Sesungguhnya mereka tidak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi. Yang mereka ketahui adalah mengapa mereka selalu dapat dikalahkan oleh kekuatan, mereka menyesali nasib, mengapa mereka tetap bodoh walau terdapat pengajaran dimana-mana…

Kata Jamaloke baru muncul di halaman 116. Jamaloke, sandang pangan goleko dewe, tak ada arti khusus hanya dipakai untuk melengkapi keindahan pada kata sandang pangan goleko dewe yang artinya, sandang pangan cari sendiri. Kata jamaloke sering dipakai kaum gerilya yang beroperasi di daerah di Jawa Timur. Sebuah permainan kata untuk para prajurit yang diminta bertahan dengan pakaian dan makanan dengan upaya sendiri.

Susahnya dalam dunia logika, semua permainan bisa diterima, bertolak dari apa dasar pijakan tindakan-tindakan penghianatan itu bermula. Setelah negara sedikit tenang, para sahabat yang merangkul dalam era perjuangan, ada yang menjilat demi uang atau takhta. Kecurangan itu ada di mana-mana, sama seperti penghianatan, ia tumbuh subur tanpa bisa dicegah. Khotbah yang keluar dari mulut penghianat adalah bagai racun yang memastikan hanya dalam beberapa detik. Sang aku tetap pada kemandirian, mengayuh becak, menyewakan ruang dalam rumahnya, bertahan hidup di rakyat bawah. Manusia telah menjadi budak dirinya sendiri dalam satu ruang hampa. Penduduk desa yang lugu, menganggap semua yang keluar dari mulut pamong, merupakan kebijaksanaan yang tak perlu dikaji terlalu njelimet.

Hanya orang gila yang tak tertarik pada kesempatan dan peluang, aku dan dia punya hak untuk menentukan jalan hidup. Pasangan penyewa rumah memang tampak bermasalah, banyak selebaran, banyak menyelenggarakan pelatihan/seminar dan desas desus menyebar. Secara refleks, oh ini Partai Komunis. Dan sayangnya, Penulis ga menyimpan cadangan kemungkinan lain. Ya, semua datar. Maka saya langsung berasumsi, menuju tragedi tahun 1965 itu. Tak mudah bagiku untuk mempercayai orang lain, sebab di balik manisnya wajah, tersembunyi prasangka-prasangka buruk.

Orang tak akan pernah tahu jalan pikiran kita, jika bukan diri kita sendiri berusaha untuk menunjukkan. Ada satu teman yang ternyata senasib sepenanggungan, juga memutuskan mandiri, Masran teman perang. Pemahaman tentang nasib merupakan misteri yang sampai kapanpun tak bakalan mampu terkuakkan. Dengan kesadaran penuh, orang lebih menyukai kepalsuan, karena kepalsuan dapat dinikmati dengan mata wadag, bukan mata batin. Aku bahagia karena dapat menertawakan diri, melecehkan nasib, dan memandang dengan lucu segala kesulitan yang menghadang.

Di tahun genting 1965, kisah ini masih saja mengapungkan prasangka, menawarkan tanya apa yang akan terjadi. Bukan gitu sih seharusnya. Ingat, ini sebenarnya bukan buku sejarah, ini novel olahan imaji, cerita tak akan menarik bila menjelaskan hal-hal yang sudah pasti. Dan Jamaloke malah mengikuti garis itu. Pemahaman terhadap nafsu dan kehendak yang hanya sebatas daging dan kulit saja, membawa pikiranku ke arah pengertian lain tentang kehendak dan jiwa yang telah didasari dengan pikiran-pikiran bersih tentang nurani.

Overall: Apa gunanya mencerita sejarah yang sudah umum? Menuturkan ulang dengan sudut pandang yang sedikit berbeda. Tak ada kejutan, tak ada sesuatu yang wow mau dipertunjukkan, detail perang juga nanggung, drama sangat kurang, semua serba nanggung. Ekspektasiku adalah gelora Perang Surabaya yang legendaris, adegan penyobekan warna biru dalam bendera Belanda, pidato Bung Tomo, semangat membara Jenderal Sudirman, tak ditampailkan dengan bagus, semua nyaris tanpa ekspresi. Mungkin karena tokoh aku, hanya prajurit, tapi tetap, cerita yang bagus adalah cerita yang bisa mengungkapkan daya upaya karakter untuk memberikan warna lebih buat pembaca. Sang aku pasif, pasrah akan hidup, merasa tak dihargai negara. Dan pada akhirnya mati tanpa tanda jasa pahlawan, ataupun penyebutan namanya di buku sejarah. Dalam buku-buku Christie, pelayan atau pembantu rumah tangga selalu punya peran penting. Seharunya sekalipun prajurit, ledakan yang terdengar lebih nyaring karena ada di front perang terdepan. Sayang sekali…

Karena keyakinanku akan karma, aku ingin mengingkari sebuah janji, dengan harapan tak seorangpun akan berbuat serupa terhadapku. “Perang dan kewajiban mengajarkan seseorang untuk bersikap hati-hati terhadap segala bentuk tipu muslihat.”

Ia pasrah karena ia sudah merasa menang atas dirinya sendiri. Seperti ending-nya yang menyedihkan, betapa miskin, betapa kesendirian, betapa sunyi. Wanita seperti yang selama ini kubayangkan, tampaknya mampu bersikap tegas, meski sebenarnya agak naif. Hanya ada beberapa hal yang membedakan gadis itu dengan emak, selebihnya, mereka semua sama persis sama, egois dan serba membingungkan. Ternyata kesendirian bagiku merupakan karunia. Dalam situasi yang sulit ini aku merasa bersyukur karea taka da siapa-siapa yang harus menjadi tanggunganku. Berbahagialah perempuan yang pernah menolakku, dengan demikian, ia telah terhindar dari kemiskinan. Budaya diam serta pasrah terhadap lakon dan nasib, masih kuat dala, tatanan masyarakat, meski kedengarannya hal itu, amat merendahkan budi.

Tujuh sudah, tiga menuju.

“Itulah sepenggal lakon sejarah.”

Jamaloke | Oleh Zoya Herawati | Copyright 2019 | Halaman: xii + 224 | Ukuran: 13 cm x 19 cm | Editor S. Jai | Desain Ferdi Afrar | Penerbit Pagan Press | Cetakan pertama, November 2018 | ISBN 978-602-5934-26-1 | Skor: 3/5

Kupersembahkan Buat para Srikandi Indonesia

Karawang, 101019 – Sherina Munaf –Simfoni Hitam

Dicetak oleh Penerbit Indie, Pagan Press dengan kualitas cetak ala kadar, seolah buku hasil foto copy kertas buram pinggir jalan. Buku ini bisa menyeruak ke dalam kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Hebat. Ada ratusan typo, awalnya akan saya koreksi dan tampilkan, tapi saking banyaknya yo weslah.

Thx to TB Buruh Membaca

Tango & Sadimin – Ramayda Akmal

Jangan mau belajar dari kesalahan diri sendiri. Itu tandanya kau pernah berbuat salah dan bodoh. Belajarlah dari kesalahan orang lain. Di situlah letak kecerdikan.” – Tango

Akhirnya ada kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 yang benar-benar OK, benar-bener puas. Tango dan Sadimin adalah kisah sendu orang-orang pinggiran yang dituturkan begitu hidup, seolah kesedihan mereka nyata. Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas masalah beragam. Hikayat manusia kebanyakan dalam pusaran asmara, tragedi dan kerumitan hidup. Seorang mucikari tersohor yang memulai, seorang haji teladan yang menutup. Alurnya dicipta dengan ketelitian luar biasa yang membuat pembaca berpikir, berkhayal lalu geregetan dan bergumam duuh!

Kisahnya terjebak dalam lima sudut pasangan. Semua saling silang, menentukan nasib para karakter dengan jitu. Pertama Nini Randa & Satun Sadat. Nini adalah mucikari di pinggir sungai Cimanduy, bagaimana ia mendalami profesi itu dicerita dengan detail yang mengharu. Awal mula kemunculannya yang hanya dari orok terhanyut saat banjir menghadang, ia tumbuh dengan keras, memiliki kekuatan gaib, ketika masih perawan bisa melihat sosok orang yang baru meninggal dunia. Ia berbicara dengan kelelawar dan ulat-ulat, juga makhluk-makhluk lain. Lalu saat remaja, muncullah lelaki misterius Satun Sadat yang memberinya pengalaman baru. Menciptanya menjadi dewasa lebih cepat, membuatnya mengerti bahwa laki-laki yang bekerja di proyek dam, pencari pasir sampai warga sekitar membutuhakn kopi dan singkong, termasuk kehangatan lain. Bayangan dan ingatan itu pula yang membuat ia bertahan dari inisiasi yang mengikis rasa malu dan keangkuhan dasar seorang manusia dalam dirinya.

Nini menjadi terkenal setelah menampung para perempuan, membuatkannya gubuk di sekitar, menarik biaya, menjadikannya lebih cukup materi. Ia tidak mampu menghadapi hantu-hantu bernama kenangan yang diciptakannya sendiri dengan mandor-mandor atau laki-laki yang datang silih ganti datang di hidupnya. Ia memiliki dua anak, pertama Cainah yang dirawat dari hubungannya dengan Satun Sadat, kedua Sadimin dari Haji Misbah yang kala mendemo rumah pelacuran, kena guna-guna, terjerat dalam peluk dan terjadilah. Sadimin dititipkan kepada Uwa Mono, nelayan yang serba bisa. Prinsip hidupnya, nikmati saja, ngalir saja. Ada sebagian orang yang hidup tidak untuk mencari sesuatu, tetapi menikmati. Mereka berpikir dan mengamati banyak hal. Sementrara orang bergerak, mereka tetap pada titik yang sama. Mono kini turut mencipta sebuah jaring, meliuk dan melilit dalam romansa benang kusut.

Bagian kedua, Tango & Sadimin. Pasangan ini tampak saling mengisi, secara kaca mata umum. Tango adalah anak buah Nini Randa, Sadimin adalah buah hatinya yang disusupkan ke tetangga. Kita sampai di masa kini, Tango menjadi juragan, bisnis apa saja yang penting menghasilkan. Jualan barang haram, judi, dan tentu saja bos para buruh sawah yang ia urus bersama istri dan orang tua angkat. Sang juragan mendapat dana dari pembagian harta Haji Misbah, dengan petak sawah yang ia terima, Sadimin menjelma pengusaha yang disegani. Beberapa kali berkasus dengan polisi, dan sumpah serapah dengan pesaing. Tango yang seorang pelacur diangkat istri, terasa bisa menempatakn diri. Dia bilang, wajahmu seperti tomat segar di pasar, rambutmu seperti bulu-bulu jagung yang sehat dan lebat, dan kalau kau bersuara di panggung, katanya semua yang mendengar jadi bodoh dan takluk. Keduanya menjadi pasangan tak lazim pula, di akhir kisah bagian mereka, Tango bisa tersenyum walau darah pelan mengalir dari hidung.

Bagian ketiga adalah Nah & Dana, Nah sebagai anak pertama Nini memilih kabur dari rumah demi cinta dan masa depan. Dana adalah anak kandung pengemis yang juga kabur dari rumah untuk merajut asa, memperbaiki status sosial. Mereka dicerita sebagai dua anak SD yang tersisa dalam kelas, setelah teman-temannya satu per satu keluar untuk menikah. Keduanya menghimpun harap dari kerasnya hidup, sejatinya pasangan ini hampir jadi ideal (baca romantis) saat memiliki anak Karim, bersatu dalam kasih, harta bukan segalanya, sungguh kisah cinta hakiki, sepertinya, awalnya, dasarnya. Namun, cerita bagus memang harus disusun dari keping tragedi, maka kesulitan materi membuat mereka kembali menginjak bumi, memaksa mereka mengetuk pintu Nini Randa, nebeng tinggal di kandang sapi, dan nantinya dalam akhir yang pilu. Nukilan Dana mengetuk pintu mertua adalah pembuka novel, jadi memang permainan alur yang dinamis. Nah kabur dari rumah yang melibatkan pencarian ala detektif. Oiya, Dana adalah buruh tembak Sadimin, lingkaran hubung ini akan saling mengikat di ujung kisah yang menyedihkan. Ingatan bahwa tiba-tiba satu orang menghilang sementara dunia tidak berubah sama sekali, membuat hatinya hancur-lebur, lututnya bergetar.

Bagian keempat, pasangan pengemis yang sungguh ajaib. Keluarga yang sempurna mencipta iba. Ozog & Sipon. Mereka terlatih untuk tidak mengeluh, tidak mengumpat, juga tidak tersenyum karenanya. Mereka harus bersikap dan berwajah datar, perpaduan antara kepedihan dan sedikit tekad untuk hidup yang menghasilkan rasa iba mendalam. Ozog adalah lelaki buta, peniup seruling. Sipon adalah wanita kuat buka hanya kuat menengadahkan tang, ia juga harus menggendong suami dalam berkarier. Kedua anak angkat mereka turut dalam aksi meminta derma. Cerita pengemis menggelar wayang golek menjadi legenda sepanjang masa masyarakat tepi Sungai Cimanduy. Kalian yang suka kasih receh kepada para pengiba ini, pikir lagi! Kesedihan adalah awal yang bagus untuk produktivitas. Dan kemudian obsesi.

Peran dalam kisah ini seolah mereka terasa kurang signifikan, tapi tunggu dulu. Pendengki bisa apa? Mereka kalah jumlah dan kalah konsep. Bagian kala mereka terjebak dalam hutan hujan madu yang mistis, bagus banget, seolah di alam raya para makhluk-pun berpesta pora. Keheningan dan angin-angin di hutan itu lebih suka bernyanyi daripada bercerita. Keputusan main paku gepeng di rel kereta api itu sejatinya malah eksekusi kunci. Betapa dunia orang miskin sungguh darurat peduli.

Bagian final, luar biasa, sangat bagus. Sepanjang hidupku menjadi bayangan, aku hanya mengerti tentang penyesalan dan kecurigaan. Yang tak pernah disimpulkan kecuali bahwa dua hal itu adalah musuh kehidupan yang harus cepat-cepat dienyahkan. Misbah & Nyai adalah gambaran sempurna ironi kehidupan. Tokoh agama panutan, memiliki tiga istri (di sini disebut Nyai) dan lima anak (enam, jika Sadimin dihitung). Terlalu sulit menemukan alasan bagi mereka untuk percaya bahwa ayahnya yang kiai, bersih, terhormat, makmur sejahtera, jatuh di pelukan iblis lahir batin seperti Nini Randa. Jadi ketua Rukun Warga, jadi guru ngaji, punya satri banyak, dengan usaha pengeruk pasir. Sejatinya tampak sosok yang patut disegani, dikagumi bila kalian seorang agamis, dan dihormati jika patokan kalian adalah seorang jelata. Dalam kisah ini, perannya memang menutup cerita, slotnya ga sebanyak yang lain. Jadi klimaks itu disusun di rumahnya. Dana yang kehilangan Nah, setelah frustasi cari ke mana saja gagal, termasuk ke kantor polisi yang birokratif. Bertemu pula Sakidin di sana yang diminta kesaksian, datang pula Nini Randa yang juga butuh pengakuan, plus para peminta yang makin merumitkan keadaan. Sejatinya kita tahu akhir Nah, tapi memang dibuat samar, saya suka hal-hal yang menggantung ragu gini.

Melengkapi kepiluan kisah, sang haji sedang pengen bercengkrama malam itu. Nyai ketiga, termuda setelah tahu rahasia marah, wajar jiwa muda. Nyai kedua yang sejatinya pasrah mengabdi, sedang dapat. Nyai pertama yang sabar dan sungguh menanti janji surga kelak, orang yang banyak berkorban, penuh perjuangan di masa awal, sendiko dawuh. Seseorang atau sesuatu yang berharga memang akan selamanya berharga, tetapi tidak selamanya satu-satunya. Selesai? Belum. Kisah ditutup dengan menghebat, betapa seorang tampak agamis yang dipuja banyak orang itu melakukan kegiatan dosa besar. Tak cukup dengan itu, bahkan novel Tango & Sadimin menyajikan akhir kalimat yang luar biasa indah, “… berusaha menggapai-gapai Tuhan.”

Bisa jadi nantinya, jika Bung Akmal memuncaki penghargaan ini, dia dengan cerdik menutup kisah satu paragraf menggucang.

Prediksi: Jelas akan masuk daftar pendek. Sejauh ini yang terbaik. Sembari menanti menyelesikan baca enam buku lainnya, kalian bisa menjagokan dan menempatkan buku ini sebagai unggulan pertama. Alur, penokohan, konfliks, sampai detail yang disaji sangat ampuh. Betapa absurd cerita perpaduan antara pelacur, pengemis, buruh, juragan dan seorang tokoh agama. Semua yang terbang ke langit, hilang dalam peraduan mistis. Tango & Sadimin adalah novel hebat yang membumi, ada di sekeliling kita, ada di antara masyarakat. Saya ga bohong, sungguh aduhai.

Tango & Sadimin | Oleh Ramayda Akmal | GM 619202024 | Editor Teguh Afandi | Layout Ayu Lestari | Desain sampul Orkha Creative | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Maret 2019 | ISBN 978-602-06-2815-8 | ISBN DIGITAL 978-602-06-2816-5 | Skor: 5/5

Karawang, 230919 – M2M – The Day You Went Away

Misteri Rumah Masa Lalu – V. Lestari

Tidak tahukah, Mama rasa takut itu tidak boleh diutarkan? Karena kita jadi semakin takut.” – Kristina

Cerita Penulis janda beranak satu dengan segala kegalauannya. Kubaca tepat seminggu (01/07/19-09/07/19) diantara Alice Though The Looking Glass dan Origin, kisahnya memang tak muluk-muluk. Sesuai ekspektasi roman tahun 1990an dengan segala kesederhanaan teknologi. Sangat ketebak alurnya, cerita seakan adalah pengalamanan pribadi sang Penulis V. Lestari atau memang ini kisah nyata? Ini adalah buku pertama beliau yang selesai kubaca, lika-liku kehidupan pengarang lokal dalam menjalani keseharian. “Kau masih ingat nasihat Mama tentang isi hati orang yang bisa berbeda jauh dari penampilannya?

Yosepin (akrab dipanggil Bu Yos) adalah Penulis yang tinggal di rumah kontrakan Nyonya Samosir di Jakarta, induk semang yang kurang ideal karena suka menaikkan uang sewa rumah, suka bergosip, dan basa-basi yang pahit. Saat ini Yosepin mengalami paceklik ide, keuangan yang sedang turun, mantan suaminya Rahadi yang rese karena sering gangguin. Mereka cerai karena suaminya selingkuh. Ditambah lagi, anak semata wayangnya berusia 15 tahun yang sedang mekar-mekarnya suka gonta ganti pacar. Karena kecantikannya Kristina memang terlihat tomboy, laiknya playgirl. Setelah beberapa kali pacaran dengan teman sekolah sebaya, kini malah pacaran dengan lelaki seusia mamanya. Joko, seorang pekerja kantor berusia 33 tahun, lebih muda dua tahun dari Yosepin! Mereka memanggilnya Om Joko. Gmana ga bikin jantungan? Usia pacar anaknya dua kali lipat! Namun pada dasarnya Kristina baik jadi bisa jaga diri. Sebuah ironi dilontarkan. “Berjanjilah untuk lebih berterus terang mengenai perasaanmu. Kalau kau takut katakan saja. Jangan menyimpan sendiri. Bukankah kita bisa saling memberi keberanian?” Jelas sekali di sini hubungan ibu-anak sungguh erat, dan sang putri menjadi primadoa untuk berbagi, senasib sepenanggungan. Yosepin menyukai istilah kita yang digunakan Kristina. Itu menandakan Kristina menganggap masalah itu sebagai masalahnya juga.

Nah, plot benar-benar bergulir ketika sisa waktu perpanjangan kontrak rumah tinggal beberapa hari, diminta uang panjar buat perpanjang, dengan ancaman penghuni baru sudah mengantri, ia tak punya duit, sehingga mencoba bertahan dan mencari pinjaman, mau bilang ke Rahadi ga enak, karena kalau minta tolong ke mantan suaminya ia memberi angin harapan, Rahadi masih cinta, tapi tidak dengan Yosepin. Minta uang muka buat bukunya ke penerbit, malu. Jelas di sini Yosepin sangat menjunjung tinggi nilai hormat. Mau pinjam bank, takut susah cicil kreditnya. Ketika banyak hal yang dipeningkan bersamaan, muncullah malaikat penolong. Ia bernama Taufik SH, seorang pengacara yang tiba-tiba datang ke rumahnya kasih tahu, bahwa Yosepin dapat hibah rumah di Bogor dari seseorang yang misterius bernama Sasmita. “Lebih baik kita berprasangka daripada terlalu percaya.” Antara curiga dan bahagia, Yosepin menerima hadiah tersebut. Tanpa ketemu sosok yang berjasa, karena sang pengacara terikat sumpah jabatan, ia hanya menjalankan kewajiban. Dan Sabtu itu dengan mobilnya Joko, bertiga mengecek rumah di pinggir kali, di kawasan Gawir, Bogor.

Rumah itu tampak kumuh karena lama tak ditinggali, beralamat di Gang satu nomor dua belas A, yang ternyata adalah nomor 13 yang tabu, angka sial, sehingga nomornya disesuaikan (pintar juga idenya, dibuat mistis). Rumahnya retak-retak, pas ditikungan aliran air sungai kali Ciliwung, sehingga pondasinya dihajar air setiap saat. Dan dari tetangganya bernama Bu Sarma, ia tahu bahwa penghuni sebelumnya Pak Sasmita telah tiada, istrinya meninggal dunia karena sebuah tragedi suatu malam hujan dan badai menyeretnya dalam bencana (nantinya jadi sejenis motif menakuti). Mereka tak memiliki keturunan, tampak sering cek cok, dan musibah itu mencipta kemurungan. Lantas kenapa dia meninggalkan rumah itu begitu saja? Akibat kenangan traumatis? Yosepin karena terdesak keadaan, dan sangat membutuhkan rumah bernaung tak terlalu ambil pusing tentang omongan tetangga yang katanya rumah angker, rumah hantu, rumah yang tak aman, mereka tetap memutuskan pindah. Sekalian cari suasana baru, cari ide baru. Tantangan baru.

Kristina pindah sekolah, ia begitu ceria akan suasana asri pedesaan, kota hujan yang sejuk. Cucu bu Sarma, tetangganya bernama Iwan yang nantinya menjadi teman sekolah karena sebaya jadi akrab dan membantu adaptasi. Rumah dua kamar yang misterius itu mencipta aura janggal, malam pertama Yosepin merasa ada penghuni lain di kamarnya, malam berikutnya ada yang seakan memeluknya, padahal ia sendirian di kamar, Kristina ada di kamar sebelah yang ruangnya dipisah pintu penghubung. Kebebasan itu berbahaya, karena membuat orang kehilangan kendali diri. Jadi jangan cuma berpikir toh, tidak akan berbuat macam-macam. Kita itu manusia yang bisa berbuat salah, tergoda setan. Dan setan itu ada di mana-mana. Dan suatu malam di depan rumah ia melihat laki-laki berpeci mondar-mandir melihat rumahnya, mengawasi, pergi lalu mengamati. Semakin membuat cekam. Semalam ia tidak bisa tidur merenungkan semua. Bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terjadi?

Karena dirundung banyak tanya, akhirnya Josepin meminta bantuan Joko untuk menyelidiki masa lalu Sasmita dengan mencari Taufik SH terlebih dulu yang juga misterius karena sudah pindah kantor, lewat iklan baris di Koran, pencarian ala detektif itu membuahkan hasil dan usaha memecahkan identitas sang pemberi rumah serta motifnya, Yosepin juga mencari saudara ibunya yang hilang kontak. Bu Delima yang kini sudah tua, lalu membuka beberapa rahasia keluarga. Nah bagian ini sangat menyentuh hati. Dan betapa mengejutkan ternyata nama Sasmita muncul, jadi bukan karena pemberian gratis dan asal, ada benang yang menghubungkan mereka, ada masa lalu orang tuanya yang mengejutkan, dan hubungan tak restu sampai dosa turunan. Sampai akhirnya suatu malam, rumah masa lalu itu ditempa hujan bertubi yang mengakibatkan longsong, sekali lagi. Akankah mereka selamat? Bagaimana nasib Joko yang terus membantu keluarga ini, apakah benar ada motif tersendiri? Atauakh benar-benar cinta mati kepada Kristina? Bukankah yang nampak pada pandangan pertama ini merupakan tantangan? Bukankah kemandirian itu juga berarti keberanian?

Secara garis besar, cerita ngalir nyaman. Khas tahun 1990an, bagaimana menghubungi penerbit masih dengan telpon meja, surat menyurat, masih butuh printer dengan serba hati-hati cetaknya karena harga kertas mahal. Terima kasih Yahoo! Pencarian alamat seseorang dengan memasang iklan di Koran, keramahtamahan yang masih terjalin di antara warga, tanpa sosmed, tanpa teknologi digital yang mewah. Facebook dan Twitter pun tersenyum. Memang Yosepin sudah menggunakan komputer untuk menulis cerita, sudah mulai meninggalkan mesin ketik. Komputer tidak bisa diperintahkan seperti bos menginstruksikan sekretarisnya.

Komputer generasi awal, yang klasik. Tahun 1995? Hhhmm… yah, simpannya saja masih pakai disket!
Saya sudah bisa menebak ke arah mana kisah ini, ketika hubungan Joko dan Kristina memang tak lazim, sangat janggal. Saya bisa menebak pasti ada sesuatu dengan alasan hibah rumah ini, tapi ga nyangka juga identitas Sasmita yang ternyata punya alasan sangat kuat. Saya bisa menebak, akhir dari kebuntuan ide nulis Yosepin yang tetap saja bisa kejar dealine. Hal-hal semacam ini lumrah, wajar. Dan V. Lestari mengikuti alur rel tebak itu. Memang tak muluk harapan itu, keunggulan novel ini jelas khas manusia Indonesia. Nama-nama Indonesia sekali, Joko, Iwan, Wati, Sasmita, Didit, Taufik Sarma, dst justru menjadikan terasa asli Indonesia. Konflik yang ditawarkan juga seperti rakyat kebanyakan. Ekonomi, cinta, keceriaan remaja, mistisme, dan syukurlah tak ada sara (suku, agama, ras dan antar golongan) yang disinggung sama sekali di sini. Memang sudah sangat pas. Misteri rumah masa lalu menjadi bacaan novel bagus di tengah bacaan sastra yang berat, kumpulan cerpen melimpah, terjemahan dari Eropa Timur sampai non-fiksi yang sungguh melelahkan. Buku sederhana, yang tampak istimewa. Buku ini juga klasik dalam memetakan karakter orang, yang protagonist akan konsisten baik sampai akhir, yang tampak jahat tetap digambarkan di sisi negatif terus, ga ada konflik batin berlebih, ga ada wilayah abu-abu sifat manusia. Betapa kenangan masa lalu bisa menjadi sesuatu yang berharga sekali. Sesuatu untuk dinikmati sekarang.

Apalah arti hidup ini bila kita tidak memiliki ketenangan dan ketentraman. Orang tak bisa begitu saja tidur dan melupakn tanggung jawab atau kewajibannya.

Misteri Rumah Masa Lalu | Oleh V. Lestari | GM 401 01 15 0001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Proofreader Selviana Rahayu | Desain sampul oleh maryna_design@yahoo.com | ISBN 978-602-03-1220-0 | 456 hlm.; 18 cm | Skor: 3.5/5

Teruntuk Ikka Vertika dan Meilani

Ariobimo Jakarta, 110719 – Roxette – Milk and Toast and Honey

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing #27

Bahwa di dalam diri mereka. Kekuatan adalah saat mereka mampu membuat orang lain kesuliatn dan memohon-mohon.” – Yusuf Yasa

Ini adalah cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Buku yang hhhmmm…, OK, tapi gmana ya. Ada semacam hal janggal yang mengganjal. Plotnya mirip 100 Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez, kalau ga mau dibilang contek. Gaya berceritnya agak aneh, dengan sering berujar ‘pada suatu masa’. Seperti para pencerita lokal macam Eka Kurniawan, Triyanto Triwikromo, AS Laksana, dkk, yang suka memakai nama-nama unik, Eko Triono juga melakukan hal serupa. Nama-nama karakter yang ‘muluk-muluk’ lucunya: Dari Massa Jenis, Gendis, Tulus Tapioka, Kembang Surtikanti, Yusuf Yasa, Rizal Gibran, Parta Gamin Gesit, Darma Gabus, Marzuki Kazam, Muhammad Basyirin, Jaya Kadal, Darman Gabus, Kembang Surtikanti, Dirjo Wuyung, Rodi Pahrurodi dan seterusnya. Boleh saja sih, sah-sah saja. Namun karena saya sering menemui, lama-kelamaan bosan juga. Lebih senang dengan nama-nama Indonesia yang membumi. Pilihan diksi dalam gaya bertutur kental dengan nilai lokal, kata Seno Gumira Ajidarma. Sementara Anton Kurnia bilang, menggelitik kita dengan semacam karnaval unik. Yup, sebagian sepakat. Kaya atau miskin datang dengan cara yang sama, bahagia dengan cara yang sama.

Kisahnya tentang sebuah keluarga yang melakukan transmigrasi dari Jawa ke tanah seberang. Lika-liku kehidupan para penjahat memulai petualangan baru. Yang lelaki sangat aneh, tapi terlihat jenius, yang perempuan adalah anak kiai yang termasyur. Putri pemilik pesantren baik-baik yang juga kelihatan cerdas, tapi memilih suami dengan tak lazim pula. Pasangan aneh yang menginginkan anaknya jadi ilmuwan, sekaligus ulama. Kombinasi tak wajar ini lalu berbaur dalam tiga puluh tiga kepala keluarga diangkut dengan dua bus biru. Berdesakan dengan kardus, barang dalam karung dan ikatan dalam plastik melakukan perjalanan ke Barat. Menyeberangi lautan, menancapkan bambu di tanah hutan perawan, dan drama umat manusia dimulai. “Tiap pendosa akan memiliki masa depan, sebagaimana tiap ulama yang telah memiliki masa lalu.”

Alurnya tak runut, pokoknya mirip sekali, bahkan polanya seperti 100 Tahun yang mendeskripsikan ending, lalu ditarik jauh ke belakang, Para Penjahat melakukan ‘napak tilas’ bagaimana menjalani kehidupan asing di rantau. Nama tanah rantau fiktif itu Jabalekat, nah apa bedanya dengan Macondo yang fiktif? Walau secara regional kita arahnya ke Sumatra. Nama areanya juga dibuat semenarik mungkin, seperti Gang Tokyo, Asia Kecil, Afrika Kecil, Australia Kecil, Pemukiman Perambah Hutan, Gang Shanghai Kecil, Balai Kumpul Jabalekat, dan seterusnya. Tokoh utamanya Parta Gamin, eks narapidana Nusakambangan yang tobat. Beristri jelita anak kiai, Kembang Sutikanti, putranya menjadi seorang pejuang revolusioner. Massa Jenis yang namanya diambil dari kemasan di tempat sampah, yang dibalik ya terdiri atas komposisi, produksi sampai identitas produk: Massa jenis adalah massa benda dibagi dengan volume. “Sudah kubilang, kau mencomot nama dari tempat sampah.” Dan nantinya mereka akan dikarunia anak kedua yang juga istimewa. Nama adalah doa.

Menghadapi orang-orang lokal yang sebagian tak ramah, hutan yang masih rimbun dipangkas, mengusir dan menghadapi hewan-hewan liar. “Jadi jangan percaya kalau kamu dengar tawa hantu, itu hanya tangis yang disamarkan.” Jangan memberikan ucapan dan komentar apa pun, katanya, pada orang yang belum bekerja dan bahkan tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Secara teori nenek moyang kita dari surga dan itulah sebabnya kita mabuk pada dunia. Para transmisgran ini selalu dijejali donkrin bahwa New York dan Sydney mula-mula dibangun dari migrasi bandit-bandit Inggris. Kalau mereka bisa kenapa kita enggak? Penyakit terberatnya adalah perasaan sunyi yang sering muncul tiba-tiba dan ketombe yang sulit dihilangkan; hingga sering kehilangan konsentrasi. “Jika ragu-ragumu dalam hal baik itu dari setan. Jika ragu-ragumu dalam hal buruk, itu dari malaikat.”

Parta Gamin sekalipun dapat istri istimewa dia punya pikiran liar juga tentang cinta masa lalu. Tapi, hanya ingatan diam. Karena kenyataannya tidak ada mantan yang lebih baik dibandingkan dengan mantan pacar yang menjadi istri. “Cinta dan sakit hanya beda istilah.”

Berikutnya yasu dah, segala cerita masyarat pindahan ini mengarungi kehidupan. Semacam rapat RT, koordinasi mengusir hewan buas, paguyupan membersihkan selokan, goyong royong mbangun desa, dan seterusnya. Apakah peran kucing lebih penting secara psikologis daripada peran ikan gabus secara biologis? Kelahiran para penerus, kematian para tetua hingga konfliks vertical dengan pemerintah yang memicu para penerus untuk melawan, memberontak demi revolusi. Dan begitulah kehidupan, selalu berputar, selalu pada akhirnya kita akan pergi dan diganti generasi berikutnya. Para Penjahat dan Kesunyian menampilkan sepenggal kehidupan orang-orang terasing tersebut dengan masam. Keunikan selain nama-nama yang aneh, adalah cara bercerita yang tak biasa, di mana plot-nya dipermainkan, tak segaris lurus laiknya waktu, tapi alurnya bolak-balik. Kalau kita harus menggugat Tuhan karena telah menciptakan dan memberi hidup pada orang jahat, maka kita pun harus menghukum orang-orang baik, sebab hanya dengan adanya orang-orang baiklah kita mampu menunjuk siapa orang-orang yang dianggap jahat. Kadang kita meragukan terhadap hal-hal sudah jelas. “Ini bukan tanah yang dijanjikan, ini tanah kutukan, tanah para binatang.

Awalnya memang sesuai harapan, tapi keterpencilan, perhatian pemerintah yang kecil, abai aturan, dan konfrontasi antar warga mencipta banyak masalah mendasar. Lalu saat muncul pemikiran generasi berikutnya, anak-anak mereka yang lebih modern mecuat, timbul gerakan pemberontakan, gerakan pembaruan yang coba dibasmi itu melibatkan orang-orang penting. Dan satu lagi, cerita akan semakin seru saat ditaruh seorang penghianat. Godaan komplit: harta, takhta, wanita. Siapa yang berani melawan suara rakyat? Siapakah yang teganya menjilat uang demi kenikmataan sesaat? “Saya resmi jadi penghianat. Demi cinta, ya demi cinta, saying. Apa pun saya rela, asalkan jangan menjadi kenanganmu.”

Awalnya saya kasih skor 3.5 karena kemiripan novel masterpiece Gabriel Garcia Marquez, tapi setelah kupikir-pikir sulit juga menjaga konsistensi sepanjang 200 halaman bertutur kata dalam drama yang memusing, walaupun ‘agakhappy ending. Biasanya kita menikmati Triono dalam cerita pendek, maka cerita panjang pertama beliau, novel pertama beliau yang kulahap ini sangat patut diapresiasi. Berlabel juara 3 UNNES – International Novel Writing Contest 2017. Yel-yel dan jargon itu – konon digali oleh Parta Gamin dari amanat penderitaan rakyat – bahkan telah bergema di hati mereka sendiri meski dalam diam bermain catur. Apakah perjuangan itu sebuah kesia-siaan besar?

Aku sudah melakukannya selama tiga puluh dua jam. Nggak jadi presiden nggak sipilis.”

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing | Oleh Eko Triono | GM 618202020 | Editor Sasa | Desain sampul Chandra Kartika (@kartikagunawan) | Desain isi Nur Wulan | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-602-03-8315-6 | Skor: 4/5

Karawang, 180419 – Nikita Willy – Lebih Dari Indah // 270619 – Westlife – I Don’t Wanna Fight

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day27 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Humanisme Y.B. Mangunwijaya #26

Pancasila adalah hasil finalnya, di mana “humanisme” terumuskan dalam sila pertama, secara de facto di Negara kita bersifat pluralis ini, tidak hanya dalam konteks “agama” dalam arti formal, melainkan juga keyakinan dan kepercayaan dalam arti kultural.

Saya seorang muslim, dan saya penikmat segala bacaan. Saya sepintas mengenal Yusuf Bilyarta (Y.B.) Mangunwijaya atau yang lebih akrab dengan sebutan Romo Mangun lewat novel Burung-Burung Rantau. Novel tersebut masih kusimpan, belum sempat kubaca. Namanya sering muncul di beranda sosmed sebagai sastrawan yang ternyata setelah membaca ini malah makin kagum karena profesinya yang banyak. Justru buku ini duluan yang kubaca, kubeli sewaktu liburan Lebaran lalu di Gramedia Slamet Riyadi, Solo. Kubaca kilat bulan ini, dan luar biasa. Ternyata beliau adalah sosok besar. Romo Mangun adalah seorang humanis religius yang mencurahkan seluruh hidup dan karyanya untuk terwujudnya humanisme. Dan humanisme tidak pernah selesai diperjuangkan karena menuntut pembaruan terus-menerus untuk menjadi manusiawi dan menghargai kemanusiaan. Sebelum menjadi profesi apapun ia harus menjadi manusiawi terlebih dulu sehingga bisa menghargai kemanusiaan yang ditandai dengan sikap terbuka, lugas, nguwongke, dan menghargai sesama.

Buku ini adalah kolaborasi Forum Mangunwijaya IX yang ditulis oleh orang-orang hebat, total ada delapan kontributor: A. Sudiarja, Sj, Ferry T. Indratno, Bakdi Soemanto (alm.), Bandung Mawardi, B. Rahmanto, Erwinthon Napitupulu, Musdah Mulia, dan St. Sularto. Kedelapannya menampilkan esai yang mewah, renyah dibaca, nikmat diikuti. Cara review, menuturkan pandangan hidup, sampai ketertarikan karya-karya beliau yang ditelusur. Banyak hal yang patut dipelajari. Romo Mangun sepaham dengan pandangan Rudolf Otto (The Idea of the Holy) bahwa manusia adalah makhluk religius (homo religious), demikian setiap manusia serta merta bersifat religius; ada sifat yang disebut ‘suci’ dalam arti moral. Religius di sini tidak harus berarti sebagai pemeluk agama tertentu, melainkan adanya kecenderungan dan kesadaran akan yang ilahi, yang mengatasi kekecilan manusia atau rasa kemakhlukan (creature-feeling) atau rasa ketergantungan (feeling of dependence) pada suatu lain. Saking banyaknya tema yang mau disampaikan karena beliau memang multi-karya, salah satunya arsitekur. Bidang arsitektur melakukan pendekatan konsep ‘guna’ dan ‘citra’.

Lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929 sebagai sulung 12 bersaudara, meninggal dalam tugas pada 10 Februari 1999 di tengah seminar di Jakarta. Romo Mangun menerapkan paradigma berpikir nggiwar dalam setiap langkah memperjuangkan humanisme. Konon, Romo Mangun menjadi pastor karena terharu pada partisipasi rakyat dalam gerilya, dan untuk ‘membayar utang kepada rakyat’. Maka pelayanannya bukan sebatas pelayanan gerejani, paroki, melainkan pada sosialitas umum, pembelaan kaum miskin dan melebar untuk kerja sama dengan agama lain.

Banyak sekali pemikiran yang disampaikan dalam buku tipis ini. Seperti kala Romo banyak mengkritik pemerintah yang bersifat penyeragaman, brainwash, formal, dan birokratis dan kurang memberi ruang bagi kreativitas anak didik dan menekankan kreativitas, eksplorasi, penyadaran, dan pengaturan diri.

Sebagai penikmat buku, jelas saya sangat tertarik di bagian sastra. Ada satu bagian yang mengulas detail sekali salah satu karya beliau berjudul Balada Becak (1985) bagaimana kisah benar-benar membumi, ada di antara kita. Kisah cinta wong cilik di mana angan dan kenyataan tak sejalan. Sastra, berbeda dengan teater, hadir secara personal ke dalam batin pembaca di saat tenang, sunyi, tranquil, sehingga terjadi dialog antara pembaca dan novel pada satu pihak, pada pihak lain, seperti Bima Suci, bacaan mengantar pembaca berdialog dengan batin sendiri. Menjadikanku ingin segera menikmati novel beliau, Manusia Indonesia yang humanisme religius dan nasionalisme yang terbuka. Dua kerangka besar inilah Indonesia bisa ikut menyumbang pemikiran dalam pergaulan dunia yang luas.

Bagian akhir tentang arsitek saya yang awam turut kagum, ada sekitar 84 karya beliau. Beberapa kontroversial. Pemikiran tetang ‘Gereja Diaspora’ yang dalam teologi katolik pasti menjadi sesuatu yang kontroversial atau inkonvensional. Mengidealkan gereja sebagai “jaringan titik-titik simpul organik.. yang berpijak pada realitas serba heterogen… tidak beranggotakan orang-orang berdasarkan daerah, tapi berdasakan fungsi atau lapangan kerja… titik-titik simpul bisa berupa lone rangers seperti gerilya yang sendirian…, namun lincah ke mana-mana.” Beberapa sudah dipugar, yang sayang sekali sebagian itu menghilangkan identitas awal.

Menurut Mochtar Lubis ciri-ciri manusia Indonesia, pertama hipokritis atau munafik. Berpura-pura, lain di muka lain di belakang, merupakan suatu ciri utama manusia Indonesia sejak lama. Sejak mereka dipaksa menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan atau dipikirkan atau sebenarnya dikehendaki oleh kekuatan-kekuatan dari luar karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana baginya. Kedua segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, tetapi kalau sukses manusia Indonesia tidak segan-segan untuk tampil ke depan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Ketiga memiliki sifat feodal yang tinggi, ABS (asal bapak senang). Keempat percaya takhayul. Kelima berkarakter lemah. Keenam bukan economic animals, sehingga boros. Ketujuh, cepat cemburu dan dengki pada orang lain yang lebih maju.

Sementara sifat positifnya, pertama memiliki sifat artistik yang tinggi sehingga mampu menghasilkan kerajinan seni. Kedua suka menolong dan gotong royong. Ketiga berhati lembut, suka damai, memiliki selera humor dan memiliki kesabaran hati. Keempat adanya ikatan kekeluargaan yang mesra dan memiliki kecerdasan yang cukup baik terutama di bidang ketrampilan.

Pandangannya tentang pendidikan juga sangat bagus. Pendidikan sebagai sosialisasi tidak melihat anak memiliki nilai tersendiri, berkepribadian unik dengan status bermartabat sebagai manusia yang harus dihormati, anak hanyalah bersifat sekunder, yang primer ialah kedudukan, kepentingan dan penghidupan kolektivitas. Maka, sosialisasi berikhtiar menggiring warganya untuk tahu diri dalam sistem pahala dan status. “Setiap sistem pendidikan ditentukan oleh filsafat tentang manusia dan cita-manusianya yang dianut, sehingga tidak netral.” Tujuan pendidikan adalah mengantar dan menolong anak untuk mengenal dan mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadi manusia mandiri, dewasa, utuh, merdeka, biajksana, humanis, dan menjadi sosok manusia Pasca-Indonesia dan Pasca-Einstein. Kata post merujuk pada sesudah, belum menyatakan kontinuitas maupun diskontinuitas. Seorang pascasarjana bukan seorang yang sesudah menjadi bukan sarjana. Dia tetap sarjana. Tetapi lebih luas pandangannya, lebih banyak dimensianya, lebih dalam visinya, lebih dewasa.

Sebagai orang Jawa, beberapa pemikirannya jelas terinspirasi sejarah Jawa. Citra manusia Jawa yang hakikatnya adalah citra wayang belaka pada kelir jagad cilik (mikro-kosmos), jadi manusia hanya bayangan saja, tidak sejati. Sejajar dengan ajaran Plato, segala peristiwa kehidupan manusia ‘wus dhasar pinasthu karsaning dewa’ (sudah diniscayakan oleh kehendak para dewa). Bahwa yang menciptakan adalah dewa, yang melahirkan adalah orang tua, yang membuat bahagia itu guru, yang membuat kaya kuasa itu raja, yang membuat gembira adalah mertua. Kelima-limanya itu bila tidak dipatuhi akan membawa celaka. (Serat Paramayoga/Pustakaraja).
Manusia Indonesia yang ideal adalah sesuai pedoman Pancasila, manusia yang menghayati dan membuat dasar dan pedoman hidupnya, dasar tingkah laku dan budi pekerti berdasar kelima dasar Pancasila.

Komunisme sudah hancur oleh perkembangan ‘masyarakat warga’ (civil society), pembaruan politik ada di mana-mana, perestroika di Rusia dan demokrasi di Barat, namun menurut Fukuyama, sejarah berakhir dengan bentuk demokrasi liberal dan ekonomi kapitalis.
Arief Budiman menyatakan bahwa manusia Indonesia seutuhnya merupakan konsep sosiologi. Sudah sangat umum ada empat kebebasan: kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, kebebasan untuk berkeinginan, kebebasan dari rasa takut. Lalu menurut Hussein Nars, ilmuwan Iran kebebasan beragama ada dua jenis: kebebasan untuk menjadi (freedom to be) dan kebebasan bertindak (freedom to act), yang pertama sifatnya tanpa batas, yang kedua dapat dibatasi oleh aturan.

Dari semua pemikiran beliau yang sangat saya kagumi, jelas tentang saling menghormati, baginya agama lain bukan saingan, apalagi musuh, melainkan teman kerja, kolega di dalam membangun kemanusiaan, khususnya melayani masyarakat yang miskin. Kita tahu, saat ini Indonesia sedang panas-panasnya politik, agama menjadi tunggangan, agama menjadi alat untuk mencapai kekuasaan. Pluralisme beragama adalah lawan dari eksklusivisme agama. Artinya filsafat pluralisme mengakui semua agama dengan cara pemeluknya memiliki hak yang sama untuk eksis dan berkembang.

Keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan kepada kebenaran.” – Ernest Renan dalam Qu’est ce qu’une nation? (1882).

Humanisme Y.B. Mangunwijaya | By Forum Mangunwijaya IX | Copyright Kompas Media Nusantara | Penerbit Buku Kompas, 2015 | KMN: 20305150074 | Editor Ferry T. Indratno | Perancang sampul A Novi Rahmawanta | Ilustrasi sampul Dok. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko | xvi + 144 hlm.; 24 cm x 21 cm | ISBN 978-979-709-938-1 | Skor: 4.5/5

Karawang, 270619 – Sherina Munaf – Primadona

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day26 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Misteri Dian Yang Padam #25

Sekarang ke mana?” / “Kita terus ke Ngawi.” / “Kaukira kau akan menemukan sesuatu di sana?

Buku yang sangat bagus. Semacam nostalgia. Pertama baca pas masih sekolah di Perpustakaan Kota Solo. Terpesona sama alurnya, detektif dengan kearifan lokal. Yang paling kuingat setelah satu setengah dekade berlalu, adalah susunan plotnya yang rapi, walaupun tertebak siapa pelaku pembunuhan kita masih sangat bisa enjoy. Sama dialog di catatan pembuka, ‘kita terus ke Ngawi.’ Karena waktu itu kakakku baru menikah dan dapat orang Ngawi, kota ini selalu mengingatkan pada dian yang padam. Garis besarnya adalah kisah gadis muda bernama Dian Ambarwati di akhir pekan ditemukan tewas dibunuh. Pembaca ditantang untuk menganalisis dan menebak siapa pelakuknya? Kisah asmaranya coba dikuak, ternyata ia sedang hamil. Pacar terakhirnya Insinyur Drajat diinterogasi dan menjadi target tangkap paling kuat, tapi setelah berlembar-lembar malah makin menjauhkannya dari kemungkinan status tersangka. Lalu muncul dugaan lain dari tunangan sang Insinyur yang bisa saja cemburu, iri akan kecantikannya. Muncul pula kemungkinan lain mantannya dari kampung, yang malam itu ternyata bertemu, sampai kemungkinan rekan-rekan kerja dan atasan dengan berbagai respon.

Cerita awalnya diambil dari sudut pandang seorang istri yang melewatkan hari dengan sepi, seorang gadis keturunan kaya bernama Frida Sumarsono dari Ujung Pandang. Ia menikah dengan Sumarsono dengan kilat, setelah berkenalan. Adegan sedih anjing yang tertabrak dan mencoba melupakan sang mantan Frans yang ambisius. Frida Sumarsono tidak tahu dengan pasti apakah ia mencintai suaminya atau tidak, ia bertekad mensukseskan pernikahan. Kesibukan bisa mengobati luka hatiku dan mengalihkan kesedihanku.

Sumarsono adalah asisten Pak Sugeng pemilik biro periklanan Ramanda, tempat kerja sang korban. lalu sudut pandang berganti-ganti menyesuaikan dengan alur. Dan yang akhirnya kita menjadi detektif.

Semua coba dirunut dari awal. Dian yang terlihat polos ternyata memiliki masa lalu yang keras, masalah dengan pacarnya menyeret cerita luka yang mau tak mau harus diungkap. Tidak ada manfaatnya berkorban untuk laki-laki. Mereka tidak tahu menghargai pengorbanan. Kasus bermula saat Bu Firda datang langsung ke kantor suaminya untuk mengundang makan malam di hari Sabtu jam tujuh untuk Pak Sugeng dan beberapa karyawan. Semacam jamuan, sang suami kaget tapi tetap tenang (klu nomor satu).

Sore itu Dian coba dijemput mantannya Insinyur Drajat pakai skuter, sudah sering ditolak tapi tetap saja nekad. Padahal ia sudah tunangan dengan Herlina Subekti yang sering cemburu terhadap Dian. “Kalau di dunia ini setiap orang diizinkan berbuat sesukanya, manusia sudah lama punah.” Hubungan mereka memang terlihat minim cinta, Drajat yang mengharap cinta Dian, Herlina yang bersumpah akan mematahkan lehernya jika berani merebut kekasihnya (simpangan klu nomor dua).

Sementara, mantan Dian yang lain dari Ngawi Purnomo Jalaludin masih memendam cinta setelah Dian pergi dalam rantau. Malam itu ia ke kontrakan Dian, memacu motornya untuk berunding sesuatu ( sampingan klu nomor tiga). Waktu itu akan selalu ada, tidak sekarang bisa besok, luput besok, lusa masih menanti, mengapa harus tergesa-gesa? Sampai pada suatu saat kematian memutuskan segalanya, dan manusia menjadi menyesal. Memang tak ada yang tahu hari esok, rahasia Ilahi. Dian, sabtu pagi tak kelihatan di kantor. Ia ditemukan meninggal dunia. Dua puluh tahun, baru dua bulan di Surabaya. Mati muda.

Maka kapten polisi Kosasih mendapat tugas menuntaskan kasus. Ia meminta narapidana cerdik Gozali membantunya, mereka menjadi satu tim. Duo detektif laiknya Sherlock dan Watson. Mereka melakukan wawancara ke kantor periklanan, ke pemondokan Narti tempat Dian tinggal, demi mencari ujung benang kusut itu.

Drajat yang gugup, tunangannya Herlina yang sinis. Seorang gadis yang benar-benar mencintai seorang laki-laki, tidak akan bersikap sedemikian santainya kalau ia harus melepas orang yang dicintainya. Tidak ada di dunia ini wanita yang demikian acuhnya atas putusnya pertunangan mereka. Rekan kerja yang sedih, tetangga pondok yang shock, mantannya yang sangat kehilangan. Apakah Anda pikir saya mau mempertaruhkan kebebasan saya dan mengambil risiko meringkuk di penjara hanya demi memperebutkan cinta seorang lelaki? Ia membantah sebagai pelaku, straight tanpa ragu (klu penting keempat). Dituduh menghamili adalah satu hal, tetapi kalau dituduh membunuh, sudah hal yang sama sekali lain. Trik-trik dilempar. Kosasih sadar bahwa dirinya telah sengaja berbohong. Nurlita tidak pernah melihat nomor kendaraan Purnomo lagi kalau harus dikonfrontasi.

Benang kusut ini seakan sulit diurai. Sampai akhirnya mereka memutuskan ke Ngawi untuk bertemu keluarga. Yang sudah mendahului kita sebaiknya direlakan saja, yang masih hidup ini yang butuh perhatian. Sebagai anak bungsu yang manja tapi tegar, memang berat sekali rasa kehilangan. Yang paling terpukul jelas ayahnya, Pak Prabowo yang sejatinya ga setuju si bungsu merantau. Dan tak disangka mereka menemukan sebuah potret yang membuka jalan kasus ini diselesaikan. Di Ngawi yang awalnya nyaris hopeless, duo ini malah hampir-hampir tak sengaja mendapat jawab dari ngobrol iseng dengan kakaknya Dian. Dan sesuai segala petunjuk yang ditebar, mereka bergerak cepat meringkus sang pelaku, walau masih ada satu hal yang mengganjal mereka harus cepat bergerak sebelum sang pelaku kabur. “Coba ceritakanlah tentang pesta itu.”

Jarang sekali saya membaca kisah detektif lokal, lebih-lebih ini adalah buku lama. Dikemas dengan sederhana, bukunya tipis, dicetak lebih kecil dari buku biasa, sedikit lebih besar dari buku saku. Kovernya tak kalah sederhana, dengan latar coklat, sebuah kertas di atas meja dengan lilin (dian) yang kini sudah padam. Banyak buku-buku S. Mara GD dicetak seperti ini, beberapa cetak ulang dan menanti waktu yang tepat untuk kubaca. Era sekarang memang memungkinkan kita untuk langsung interaksi dengan Penulis. Maka di media sosial, secara kebetulan saya berteman dengan beliau. Menjadi tahu, keseharian sang idola. Semoga panjang umur, dan terus menulis ya Bunda.

Buku ini terbit tahun 1985, saya masih bayi. Dan era-itupun sang Penulis sudah berbilang modern. “Seribu gombal yang mudah diucapkan dan dilupakan oleh pasangan-pasangan modern sekarang.” Setiap era selalu mengklaim terbarukan, seperti kita saat ini yang berujar ada di masa modern, padahal dua puluh tahun lagi kita dilindas zaman dan tahun 2019 akan tampak sangat usang. Begitu juga nanti tahun 2039, mereka jelas akan bilang canggih nan modern, padahal waktu yang kejam akan menggerus mereka juga.

Untuk satu orang koruptor yang tertangkap, ada seratus orang bebas berkeliaran dan bergelimang dalam kekayaan.”

Kejujuran adalah sikap fundamental seseorang.

Misteri Dian Yang Padam | Olrh S. Mara GD | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 401 01 13 0046 | Pertama kali terbit 1985 | Cetakan keenam, Juni 2013 | 248 hlm.; 18 cm | ISBN 978-979-22-9714-0 | Skor: 4/5

Karawang, 260619 – Nikita Willy – Akibat Pernikahan Dini

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day25 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019