Misteri Rumah Masa Lalu – V. Lestari

Tidak tahukah, Mama rasa takut itu tidak boleh diutarkan? Karena kita jadi semakin takut.” – Kristina

Cerita Penulis janda beranak satu dengan segala kegalauannya. Kubaca tepat seminggu (01/07/19-09/07/19) diantara Alice Though The Looking Glass dan Origin, kisahnya memang tak muluk-muluk. Sesuai ekspektasi roman tahun 1990an dengan segala kesederhanaan teknologi. Sangat ketebak alurnya, cerita seakan adalah pengalamanan pribadi sang Penulis V. Lestari atau memang ini kisah nyata? Ini adalah buku pertama beliau yang selesai kubaca, lika-liku kehidupan pengarang lokal dalam menjalani keseharian. “Kau masih ingat nasihat Mama tentang isi hati orang yang bisa berbeda jauh dari penampilannya?

Yosepin (akrab dipanggil Bu Yos) adalah Penulis yang tinggal di rumah kontrakan Nyonya Samosir di Jakarta, induk semang yang kurang ideal karena suka menaikkan uang sewa rumah, suka bergosip, dan basa-basi yang pahit. Saat ini Yosepin mengalami paceklik ide, keuangan yang sedang turun, mantan suaminya Rahadi yang rese karena sering gangguin. Mereka cerai karena suaminya selingkuh. Ditambah lagi, anak semata wayangnya berusia 15 tahun yang sedang mekar-mekarnya suka gonta ganti pacar. Karena kecantikannya Kristina memang terlihat tomboy, laiknya playgirl. Setelah beberapa kali pacaran dengan teman sekolah sebaya, kini malah pacaran dengan lelaki seusia mamanya. Joko, seorang pekerja kantor berusia 33 tahun, lebih muda dua tahun dari Yosepin! Mereka memanggilnya Om Joko. Gmana ga bikin jantungan? Usia pacar anaknya dua kali lipat! Namun pada dasarnya Kristina baik jadi bisa jaga diri. Sebuah ironi dilontarkan. “Berjanjilah untuk lebih berterus terang mengenai perasaanmu. Kalau kau takut katakan saja. Jangan menyimpan sendiri. Bukankah kita bisa saling memberi keberanian?” Jelas sekali di sini hubungan ibu-anak sungguh erat, dan sang putri menjadi primadoa untuk berbagi, senasib sepenanggungan. Yosepin menyukai istilah kita yang digunakan Kristina. Itu menandakan Kristina menganggap masalah itu sebagai masalahnya juga.

Nah, plot benar-benar bergulir ketika sisa waktu perpanjangan kontrak rumah tinggal beberapa hari, diminta uang panjar buat perpanjang, dengan ancaman penghuni baru sudah mengantri, ia tak punya duit, sehingga mencoba bertahan dan mencari pinjaman, mau bilang ke Rahadi ga enak, karena kalau minta tolong ke mantan suaminya ia memberi angin harapan, Rahadi masih cinta, tapi tidak dengan Yosepin. Minta uang muka buat bukunya ke penerbit, malu. Jelas di sini Yosepin sangat menjunjung tinggi nilai hormat. Mau pinjam bank, takut susah cicil kreditnya. Ketika banyak hal yang dipeningkan bersamaan, muncullah malaikat penolong. Ia bernama Taufik SH, seorang pengacara yang tiba-tiba datang ke rumahnya kasih tahu, bahwa Yosepin dapat hibah rumah di Bogor dari seseorang yang misterius bernama Sasmita. “Lebih baik kita berprasangka daripada terlalu percaya.” Antara curiga dan bahagia, Yosepin menerima hadiah tersebut. Tanpa ketemu sosok yang berjasa, karena sang pengacara terikat sumpah jabatan, ia hanya menjalankan kewajiban. Dan Sabtu itu dengan mobilnya Joko, bertiga mengecek rumah di pinggir kali, di kawasan Gawir, Bogor.

Rumah itu tampak kumuh karena lama tak ditinggali, beralamat di Gang satu nomor dua belas A, yang ternyata adalah nomor 13 yang tabu, angka sial, sehingga nomornya disesuaikan (pintar juga idenya, dibuat mistis). Rumahnya retak-retak, pas ditikungan aliran air sungai kali Ciliwung, sehingga pondasinya dihajar air setiap saat. Dan dari tetangganya bernama Bu Sarma, ia tahu bahwa penghuni sebelumnya Pak Sasmita telah tiada, istrinya meninggal dunia karena sebuah tragedi suatu malam hujan dan badai menyeretnya dalam bencana (nantinya jadi sejenis motif menakuti). Mereka tak memiliki keturunan, tampak sering cek cok, dan musibah itu mencipta kemurungan. Lantas kenapa dia meninggalkan rumah itu begitu saja? Akibat kenangan traumatis? Yosepin karena terdesak keadaan, dan sangat membutuhkan rumah bernaung tak terlalu ambil pusing tentang omongan tetangga yang katanya rumah angker, rumah hantu, rumah yang tak aman, mereka tetap memutuskan pindah. Sekalian cari suasana baru, cari ide baru. Tantangan baru.

Kristina pindah sekolah, ia begitu ceria akan suasana asri pedesaan, kota hujan yang sejuk. Cucu bu Sarma, tetangganya bernama Iwan yang nantinya menjadi teman sekolah karena sebaya jadi akrab dan membantu adaptasi. Rumah dua kamar yang misterius itu mencipta aura janggal, malam pertama Yosepin merasa ada penghuni lain di kamarnya, malam berikutnya ada yang seakan memeluknya, padahal ia sendirian di kamar, Kristina ada di kamar sebelah yang ruangnya dipisah pintu penghubung. Kebebasan itu berbahaya, karena membuat orang kehilangan kendali diri. Jadi jangan cuma berpikir toh, tidak akan berbuat macam-macam. Kita itu manusia yang bisa berbuat salah, tergoda setan. Dan setan itu ada di mana-mana. Dan suatu malam di depan rumah ia melihat laki-laki berpeci mondar-mandir melihat rumahnya, mengawasi, pergi lalu mengamati. Semakin membuat cekam. Semalam ia tidak bisa tidur merenungkan semua. Bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terjadi?

Karena dirundung banyak tanya, akhirnya Josepin meminta bantuan Joko untuk menyelidiki masa lalu Sasmita dengan mencari Taufik SH terlebih dulu yang juga misterius karena sudah pindah kantor, lewat iklan baris di Koran, pencarian ala detektif itu membuahkan hasil dan usaha memecahkan identitas sang pemberi rumah serta motifnya, Yosepin juga mencari saudara ibunya yang hilang kontak. Bu Delima yang kini sudah tua, lalu membuka beberapa rahasia keluarga. Nah bagian ini sangat menyentuh hati. Dan betapa mengejutkan ternyata nama Sasmita muncul, jadi bukan karena pemberian gratis dan asal, ada benang yang menghubungkan mereka, ada masa lalu orang tuanya yang mengejutkan, dan hubungan tak restu sampai dosa turunan. Sampai akhirnya suatu malam, rumah masa lalu itu ditempa hujan bertubi yang mengakibatkan longsong, sekali lagi. Akankah mereka selamat? Bagaimana nasib Joko yang terus membantu keluarga ini, apakah benar ada motif tersendiri? Atauakh benar-benar cinta mati kepada Kristina? Bukankah yang nampak pada pandangan pertama ini merupakan tantangan? Bukankah kemandirian itu juga berarti keberanian?

Secara garis besar, cerita ngalir nyaman. Khas tahun 1990an, bagaimana menghubungi penerbit masih dengan telpon meja, surat menyurat, masih butuh printer dengan serba hati-hati cetaknya karena harga kertas mahal. Terima kasih Yahoo! Pencarian alamat seseorang dengan memasang iklan di Koran, keramahtamahan yang masih terjalin di antara warga, tanpa sosmed, tanpa teknologi digital yang mewah. Facebook dan Twitter pun tersenyum. Memang Yosepin sudah menggunakan komputer untuk menulis cerita, sudah mulai meninggalkan mesin ketik. Komputer tidak bisa diperintahkan seperti bos menginstruksikan sekretarisnya.

Komputer generasi awal, yang klasik. Tahun 1995? Hhhmm… yah, simpannya saja masih pakai disket!
Saya sudah bisa menebak ke arah mana kisah ini, ketika hubungan Joko dan Kristina memang tak lazim, sangat janggal. Saya bisa menebak pasti ada sesuatu dengan alasan hibah rumah ini, tapi ga nyangka juga identitas Sasmita yang ternyata punya alasan sangat kuat. Saya bisa menebak, akhir dari kebuntuan ide nulis Yosepin yang tetap saja bisa kejar dealine. Hal-hal semacam ini lumrah, wajar. Dan V. Lestari mengikuti alur rel tebak itu. Memang tak muluk harapan itu, keunggulan novel ini jelas khas manusia Indonesia. Nama-nama Indonesia sekali, Joko, Iwan, Wati, Sasmita, Didit, Taufik Sarma, dst justru menjadikan terasa asli Indonesia. Konflik yang ditawarkan juga seperti rakyat kebanyakan. Ekonomi, cinta, keceriaan remaja, mistisme, dan syukurlah tak ada sara (suku, agama, ras dan antar golongan) yang disinggung sama sekali di sini. Memang sudah sangat pas. Misteri rumah masa lalu menjadi bacaan novel bagus di tengah bacaan sastra yang berat, kumpulan cerpen melimpah, terjemahan dari Eropa Timur sampai non-fiksi yang sungguh melelahkan. Buku sederhana, yang tampak istimewa. Buku ini juga klasik dalam memetakan karakter orang, yang protagonist akan konsisten baik sampai akhir, yang tampak jahat tetap digambarkan di sisi negatif terus, ga ada konflik batin berlebih, ga ada wilayah abu-abu sifat manusia. Betapa kenangan masa lalu bisa menjadi sesuatu yang berharga sekali. Sesuatu untuk dinikmati sekarang.

Apalah arti hidup ini bila kita tidak memiliki ketenangan dan ketentraman. Orang tak bisa begitu saja tidur dan melupakn tanggung jawab atau kewajibannya.

Misteri Rumah Masa Lalu | Oleh V. Lestari | GM 401 01 15 0001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Proofreader Selviana Rahayu | Desain sampul oleh maryna_design@yahoo.com | ISBN 978-602-03-1220-0 | 456 hlm.; 18 cm | Skor: 3.5/5

Teruntuk Ikka Vertika dan Meilani

Ariobimo Jakarta, 110719 – Roxette – Milk and Toast and Honey

Iklan

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing #27

Bahwa di dalam diri mereka. Kekuatan adalah saat mereka mampu membuat orang lain kesuliatn dan memohon-mohon.” – Yusuf Yasa

Ini adalah cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Buku yang hhhmmm…, OK, tapi gmana ya. Ada semacam hal janggal yang mengganjal. Plotnya mirip 100 Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez, kalau ga mau dibilang contek. Gaya berceritnya agak aneh, dengan sering berujar ‘pada suatu masa’. Seperti para pencerita lokal macam Eka Kurniawan, Triyanto Triwikromo, AS Laksana, dkk, yang suka memakai nama-nama unik, Eko Triono juga melakukan hal serupa. Nama-nama karakter yang ‘muluk-muluk’ lucunya: Dari Massa Jenis, Gendis, Tulus Tapioka, Kembang Surtikanti, Yusuf Yasa, Rizal Gibran, Parta Gamin Gesit, Darma Gabus, Marzuki Kazam, Muhammad Basyirin, Jaya Kadal, Darman Gabus, Kembang Surtikanti, Dirjo Wuyung, Rodi Pahrurodi dan seterusnya. Boleh saja sih, sah-sah saja. Namun karena saya sering menemui, lama-kelamaan bosan juga. Lebih senang dengan nama-nama Indonesia yang membumi. Pilihan diksi dalam gaya bertutur kental dengan nilai lokal, kata Seno Gumira Ajidarma. Sementara Anton Kurnia bilang, menggelitik kita dengan semacam karnaval unik. Yup, sebagian sepakat. Kaya atau miskin datang dengan cara yang sama, bahagia dengan cara yang sama.

Kisahnya tentang sebuah keluarga yang melakukan transmigrasi dari Jawa ke tanah seberang. Lika-liku kehidupan para penjahat memulai petualangan baru. Yang lelaki sangat aneh, tapi terlihat jenius, yang perempuan adalah anak kiai yang termasyur. Putri pemilik pesantren baik-baik yang juga kelihatan cerdas, tapi memilih suami dengan tak lazim pula. Pasangan aneh yang menginginkan anaknya jadi ilmuwan, sekaligus ulama. Kombinasi tak wajar ini lalu berbaur dalam tiga puluh tiga kepala keluarga diangkut dengan dua bus biru. Berdesakan dengan kardus, barang dalam karung dan ikatan dalam plastik melakukan perjalanan ke Barat. Menyeberangi lautan, menancapkan bambu di tanah hutan perawan, dan drama umat manusia dimulai. “Tiap pendosa akan memiliki masa depan, sebagaimana tiap ulama yang telah memiliki masa lalu.”

Alurnya tak runut, pokoknya mirip sekali, bahkan polanya seperti 100 Tahun yang mendeskripsikan ending, lalu ditarik jauh ke belakang, Para Penjahat melakukan ‘napak tilas’ bagaimana menjalani kehidupan asing di rantau. Nama tanah rantau fiktif itu Jabalekat, nah apa bedanya dengan Macondo yang fiktif? Walau secara regional kita arahnya ke Sumatra. Nama areanya juga dibuat semenarik mungkin, seperti Gang Tokyo, Asia Kecil, Afrika Kecil, Australia Kecil, Pemukiman Perambah Hutan, Gang Shanghai Kecil, Balai Kumpul Jabalekat, dan seterusnya. Tokoh utamanya Parta Gamin, eks narapidana Nusakambangan yang tobat. Beristri jelita anak kiai, Kembang Sutikanti, putranya menjadi seorang pejuang revolusioner. Massa Jenis yang namanya diambil dari kemasan di tempat sampah, yang dibalik ya terdiri atas komposisi, produksi sampai identitas produk: Massa jenis adalah massa benda dibagi dengan volume. “Sudah kubilang, kau mencomot nama dari tempat sampah.” Dan nantinya mereka akan dikarunia anak kedua yang juga istimewa. Nama adalah doa.

Menghadapi orang-orang lokal yang sebagian tak ramah, hutan yang masih rimbun dipangkas, mengusir dan menghadapi hewan-hewan liar. “Jadi jangan percaya kalau kamu dengar tawa hantu, itu hanya tangis yang disamarkan.” Jangan memberikan ucapan dan komentar apa pun, katanya, pada orang yang belum bekerja dan bahkan tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Secara teori nenek moyang kita dari surga dan itulah sebabnya kita mabuk pada dunia. Para transmisgran ini selalu dijejali donkrin bahwa New York dan Sydney mula-mula dibangun dari migrasi bandit-bandit Inggris. Kalau mereka bisa kenapa kita enggak? Penyakit terberatnya adalah perasaan sunyi yang sering muncul tiba-tiba dan ketombe yang sulit dihilangkan; hingga sering kehilangan konsentrasi. “Jika ragu-ragumu dalam hal baik itu dari setan. Jika ragu-ragumu dalam hal buruk, itu dari malaikat.”

Parta Gamin sekalipun dapat istri istimewa dia punya pikiran liar juga tentang cinta masa lalu. Tapi, hanya ingatan diam. Karena kenyataannya tidak ada mantan yang lebih baik dibandingkan dengan mantan pacar yang menjadi istri. “Cinta dan sakit hanya beda istilah.”

Berikutnya yasu dah, segala cerita masyarat pindahan ini mengarungi kehidupan. Semacam rapat RT, koordinasi mengusir hewan buas, paguyupan membersihkan selokan, goyong royong mbangun desa, dan seterusnya. Apakah peran kucing lebih penting secara psikologis daripada peran ikan gabus secara biologis? Kelahiran para penerus, kematian para tetua hingga konfliks vertical dengan pemerintah yang memicu para penerus untuk melawan, memberontak demi revolusi. Dan begitulah kehidupan, selalu berputar, selalu pada akhirnya kita akan pergi dan diganti generasi berikutnya. Para Penjahat dan Kesunyian menampilkan sepenggal kehidupan orang-orang terasing tersebut dengan masam. Keunikan selain nama-nama yang aneh, adalah cara bercerita yang tak biasa, di mana plot-nya dipermainkan, tak segaris lurus laiknya waktu, tapi alurnya bolak-balik. Kalau kita harus menggugat Tuhan karena telah menciptakan dan memberi hidup pada orang jahat, maka kita pun harus menghukum orang-orang baik, sebab hanya dengan adanya orang-orang baiklah kita mampu menunjuk siapa orang-orang yang dianggap jahat. Kadang kita meragukan terhadap hal-hal sudah jelas. “Ini bukan tanah yang dijanjikan, ini tanah kutukan, tanah para binatang.

Awalnya memang sesuai harapan, tapi keterpencilan, perhatian pemerintah yang kecil, abai aturan, dan konfrontasi antar warga mencipta banyak masalah mendasar. Lalu saat muncul pemikiran generasi berikutnya, anak-anak mereka yang lebih modern mecuat, timbul gerakan pemberontakan, gerakan pembaruan yang coba dibasmi itu melibatkan orang-orang penting. Dan satu lagi, cerita akan semakin seru saat ditaruh seorang penghianat. Godaan komplit: harta, takhta, wanita. Siapa yang berani melawan suara rakyat? Siapakah yang teganya menjilat uang demi kenikmataan sesaat? “Saya resmi jadi penghianat. Demi cinta, ya demi cinta, saying. Apa pun saya rela, asalkan jangan menjadi kenanganmu.”

Awalnya saya kasih skor 3.5 karena kemiripan novel masterpiece Gabriel Garcia Marquez, tapi setelah kupikir-pikir sulit juga menjaga konsistensi sepanjang 200 halaman bertutur kata dalam drama yang memusing, walaupun ‘agakhappy ending. Biasanya kita menikmati Triono dalam cerita pendek, maka cerita panjang pertama beliau, novel pertama beliau yang kulahap ini sangat patut diapresiasi. Berlabel juara 3 UNNES – International Novel Writing Contest 2017. Yel-yel dan jargon itu – konon digali oleh Parta Gamin dari amanat penderitaan rakyat – bahkan telah bergema di hati mereka sendiri meski dalam diam bermain catur. Apakah perjuangan itu sebuah kesia-siaan besar?

Aku sudah melakukannya selama tiga puluh dua jam. Nggak jadi presiden nggak sipilis.”

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing | Oleh Eko Triono | GM 618202020 | Editor Sasa | Desain sampul Chandra Kartika (@kartikagunawan) | Desain isi Nur Wulan | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-602-03-8315-6 | Skor: 4/5

Karawang, 180419 – Nikita Willy – Lebih Dari Indah // 270619 – Westlife – I Don’t Wanna Fight

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day27 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Humanisme Y.B. Mangunwijaya #26

Pancasila adalah hasil finalnya, di mana “humanisme” terumuskan dalam sila pertama, secara de facto di Negara kita bersifat pluralis ini, tidak hanya dalam konteks “agama” dalam arti formal, melainkan juga keyakinan dan kepercayaan dalam arti kultural.

Saya seorang muslim, dan saya penikmat segala bacaan. Saya sepintas mengenal Yusuf Bilyarta (Y.B.) Mangunwijaya atau yang lebih akrab dengan sebutan Romo Mangun lewat novel Burung-Burung Rantau. Novel tersebut masih kusimpan, belum sempat kubaca. Namanya sering muncul di beranda sosmed sebagai sastrawan yang ternyata setelah membaca ini malah makin kagum karena profesinya yang banyak. Justru buku ini duluan yang kubaca, kubeli sewaktu liburan Lebaran lalu di Gramedia Slamet Riyadi, Solo. Kubaca kilat bulan ini, dan luar biasa. Ternyata beliau adalah sosok besar. Romo Mangun adalah seorang humanis religius yang mencurahkan seluruh hidup dan karyanya untuk terwujudnya humanisme. Dan humanisme tidak pernah selesai diperjuangkan karena menuntut pembaruan terus-menerus untuk menjadi manusiawi dan menghargai kemanusiaan. Sebelum menjadi profesi apapun ia harus menjadi manusiawi terlebih dulu sehingga bisa menghargai kemanusiaan yang ditandai dengan sikap terbuka, lugas, nguwongke, dan menghargai sesama.

Buku ini adalah kolaborasi Forum Mangunwijaya IX yang ditulis oleh orang-orang hebat, total ada delapan kontributor: A. Sudiarja, Sj, Ferry T. Indratno, Bakdi Soemanto (alm.), Bandung Mawardi, B. Rahmanto, Erwinthon Napitupulu, Musdah Mulia, dan St. Sularto. Kedelapannya menampilkan esai yang mewah, renyah dibaca, nikmat diikuti. Cara review, menuturkan pandangan hidup, sampai ketertarikan karya-karya beliau yang ditelusur. Banyak hal yang patut dipelajari. Romo Mangun sepaham dengan pandangan Rudolf Otto (The Idea of the Holy) bahwa manusia adalah makhluk religius (homo religious), demikian setiap manusia serta merta bersifat religius; ada sifat yang disebut ‘suci’ dalam arti moral. Religius di sini tidak harus berarti sebagai pemeluk agama tertentu, melainkan adanya kecenderungan dan kesadaran akan yang ilahi, yang mengatasi kekecilan manusia atau rasa kemakhlukan (creature-feeling) atau rasa ketergantungan (feeling of dependence) pada suatu lain. Saking banyaknya tema yang mau disampaikan karena beliau memang multi-karya, salah satunya arsitekur. Bidang arsitektur melakukan pendekatan konsep ‘guna’ dan ‘citra’.

Lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929 sebagai sulung 12 bersaudara, meninggal dalam tugas pada 10 Februari 1999 di tengah seminar di Jakarta. Romo Mangun menerapkan paradigma berpikir nggiwar dalam setiap langkah memperjuangkan humanisme. Konon, Romo Mangun menjadi pastor karena terharu pada partisipasi rakyat dalam gerilya, dan untuk ‘membayar utang kepada rakyat’. Maka pelayanannya bukan sebatas pelayanan gerejani, paroki, melainkan pada sosialitas umum, pembelaan kaum miskin dan melebar untuk kerja sama dengan agama lain.

Banyak sekali pemikiran yang disampaikan dalam buku tipis ini. Seperti kala Romo banyak mengkritik pemerintah yang bersifat penyeragaman, brainwash, formal, dan birokratis dan kurang memberi ruang bagi kreativitas anak didik dan menekankan kreativitas, eksplorasi, penyadaran, dan pengaturan diri.

Sebagai penikmat buku, jelas saya sangat tertarik di bagian sastra. Ada satu bagian yang mengulas detail sekali salah satu karya beliau berjudul Balada Becak (1985) bagaimana kisah benar-benar membumi, ada di antara kita. Kisah cinta wong cilik di mana angan dan kenyataan tak sejalan. Sastra, berbeda dengan teater, hadir secara personal ke dalam batin pembaca di saat tenang, sunyi, tranquil, sehingga terjadi dialog antara pembaca dan novel pada satu pihak, pada pihak lain, seperti Bima Suci, bacaan mengantar pembaca berdialog dengan batin sendiri. Menjadikanku ingin segera menikmati novel beliau, Manusia Indonesia yang humanisme religius dan nasionalisme yang terbuka. Dua kerangka besar inilah Indonesia bisa ikut menyumbang pemikiran dalam pergaulan dunia yang luas.

Bagian akhir tentang arsitek saya yang awam turut kagum, ada sekitar 84 karya beliau. Beberapa kontroversial. Pemikiran tetang ‘Gereja Diaspora’ yang dalam teologi katolik pasti menjadi sesuatu yang kontroversial atau inkonvensional. Mengidealkan gereja sebagai “jaringan titik-titik simpul organik.. yang berpijak pada realitas serba heterogen… tidak beranggotakan orang-orang berdasarkan daerah, tapi berdasakan fungsi atau lapangan kerja… titik-titik simpul bisa berupa lone rangers seperti gerilya yang sendirian…, namun lincah ke mana-mana.” Beberapa sudah dipugar, yang sayang sekali sebagian itu menghilangkan identitas awal.

Menurut Mochtar Lubis ciri-ciri manusia Indonesia, pertama hipokritis atau munafik. Berpura-pura, lain di muka lain di belakang, merupakan suatu ciri utama manusia Indonesia sejak lama. Sejak mereka dipaksa menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan atau dipikirkan atau sebenarnya dikehendaki oleh kekuatan-kekuatan dari luar karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana baginya. Kedua segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, tetapi kalau sukses manusia Indonesia tidak segan-segan untuk tampil ke depan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Ketiga memiliki sifat feodal yang tinggi, ABS (asal bapak senang). Keempat percaya takhayul. Kelima berkarakter lemah. Keenam bukan economic animals, sehingga boros. Ketujuh, cepat cemburu dan dengki pada orang lain yang lebih maju.

Sementara sifat positifnya, pertama memiliki sifat artistik yang tinggi sehingga mampu menghasilkan kerajinan seni. Kedua suka menolong dan gotong royong. Ketiga berhati lembut, suka damai, memiliki selera humor dan memiliki kesabaran hati. Keempat adanya ikatan kekeluargaan yang mesra dan memiliki kecerdasan yang cukup baik terutama di bidang ketrampilan.

Pandangannya tentang pendidikan juga sangat bagus. Pendidikan sebagai sosialisasi tidak melihat anak memiliki nilai tersendiri, berkepribadian unik dengan status bermartabat sebagai manusia yang harus dihormati, anak hanyalah bersifat sekunder, yang primer ialah kedudukan, kepentingan dan penghidupan kolektivitas. Maka, sosialisasi berikhtiar menggiring warganya untuk tahu diri dalam sistem pahala dan status. “Setiap sistem pendidikan ditentukan oleh filsafat tentang manusia dan cita-manusianya yang dianut, sehingga tidak netral.” Tujuan pendidikan adalah mengantar dan menolong anak untuk mengenal dan mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadi manusia mandiri, dewasa, utuh, merdeka, biajksana, humanis, dan menjadi sosok manusia Pasca-Indonesia dan Pasca-Einstein. Kata post merujuk pada sesudah, belum menyatakan kontinuitas maupun diskontinuitas. Seorang pascasarjana bukan seorang yang sesudah menjadi bukan sarjana. Dia tetap sarjana. Tetapi lebih luas pandangannya, lebih banyak dimensianya, lebih dalam visinya, lebih dewasa.

Sebagai orang Jawa, beberapa pemikirannya jelas terinspirasi sejarah Jawa. Citra manusia Jawa yang hakikatnya adalah citra wayang belaka pada kelir jagad cilik (mikro-kosmos), jadi manusia hanya bayangan saja, tidak sejati. Sejajar dengan ajaran Plato, segala peristiwa kehidupan manusia ‘wus dhasar pinasthu karsaning dewa’ (sudah diniscayakan oleh kehendak para dewa). Bahwa yang menciptakan adalah dewa, yang melahirkan adalah orang tua, yang membuat bahagia itu guru, yang membuat kaya kuasa itu raja, yang membuat gembira adalah mertua. Kelima-limanya itu bila tidak dipatuhi akan membawa celaka. (Serat Paramayoga/Pustakaraja).
Manusia Indonesia yang ideal adalah sesuai pedoman Pancasila, manusia yang menghayati dan membuat dasar dan pedoman hidupnya, dasar tingkah laku dan budi pekerti berdasar kelima dasar Pancasila.

Komunisme sudah hancur oleh perkembangan ‘masyarakat warga’ (civil society), pembaruan politik ada di mana-mana, perestroika di Rusia dan demokrasi di Barat, namun menurut Fukuyama, sejarah berakhir dengan bentuk demokrasi liberal dan ekonomi kapitalis.
Arief Budiman menyatakan bahwa manusia Indonesia seutuhnya merupakan konsep sosiologi. Sudah sangat umum ada empat kebebasan: kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, kebebasan untuk berkeinginan, kebebasan dari rasa takut. Lalu menurut Hussein Nars, ilmuwan Iran kebebasan beragama ada dua jenis: kebebasan untuk menjadi (freedom to be) dan kebebasan bertindak (freedom to act), yang pertama sifatnya tanpa batas, yang kedua dapat dibatasi oleh aturan.

Dari semua pemikiran beliau yang sangat saya kagumi, jelas tentang saling menghormati, baginya agama lain bukan saingan, apalagi musuh, melainkan teman kerja, kolega di dalam membangun kemanusiaan, khususnya melayani masyarakat yang miskin. Kita tahu, saat ini Indonesia sedang panas-panasnya politik, agama menjadi tunggangan, agama menjadi alat untuk mencapai kekuasaan. Pluralisme beragama adalah lawan dari eksklusivisme agama. Artinya filsafat pluralisme mengakui semua agama dengan cara pemeluknya memiliki hak yang sama untuk eksis dan berkembang.

Keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan kepada kebenaran.” – Ernest Renan dalam Qu’est ce qu’une nation? (1882).

Humanisme Y.B. Mangunwijaya | By Forum Mangunwijaya IX | Copyright Kompas Media Nusantara | Penerbit Buku Kompas, 2015 | KMN: 20305150074 | Editor Ferry T. Indratno | Perancang sampul A Novi Rahmawanta | Ilustrasi sampul Dok. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko | xvi + 144 hlm.; 24 cm x 21 cm | ISBN 978-979-709-938-1 | Skor: 4.5/5

Karawang, 270619 – Sherina Munaf – Primadona

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day26 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Magi Perempuan Dan Malam Kunang-Kunang #24

Caraku membutuhkanmu serupa rasa sepi yang tak bisa kutanggung.” – Carson McCullers, The Heart is a Lonely Hunter

Sebagian besar cerita pendek di sini pernah dimuat di surat kabar lokal dan nasional. Cerita pendek yang memang pendek. Awalnya kurang nendang, cerita dari daerah tentang hantu-hantu yang melegenda, lambat laun menjadi seru karena melibatkan banyak tema, sampai sampai keluar negeri, hingga hikayat yang dibelokkan dan misteri dalam buku yang dimodifikasi. Dan inilah 21 cerpen karya Guntur Alam.

#1. Peri Kunang-Kunang
Cerita dari daerah. Kunang-kunang dari kuku orang mati bukan hanya dari Jawa, dari Sumatra legenda itu juga ada. Dul, Padet, Liman dan anak-anak malam itu penasaran dengan cerita bujang lapuk yang suka memanggil peri kunang-kunang. Malam itu mereka sembunyi mengintip ritual di rumah limas tua. Cerita alasan mengapa sang bujang ga kawin-kawin padahal rupawan dan mapan, akhirnya disampaikan. Bagaimana bisa ada orang yang memanggil arwah pujaan hatinya, lalu bercinta? “Jangan lihat kunang-kunangnya, ia bias menyihir kita.”

#2. Tem Ketetem
Ini kisah terlarang. Kisah yang hanya akan sekali kau dengar. Dari kampung Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, bulan di langit malam memberi pertanda. Jika mengembang serupa jantan bujang isngusan itulah masa yang menyusup cemas, menyekam bala dalam balutan pekat. Mantra pengusir kecemasan, tem ketetem, sape tepi kulambani, sape tengah kukerok ijat mate… cerita lama sang gadis jelita Ketetem yang tersohor dalam memilih suami. Namun semesta mencatatkan takdir bencana. Malam seperti itulah Ketetem akan menuntaskan dendamnya. Cantik itu luka. “Itu rahasia sang Semesta, Bak.”

#3. Malam Hujan Bulan Desember
Malam ketika ayah membunuh ibu, hujan turun dengan deras. Malam dalam Kidung Natal yang bergema di gereja samping kontrakan. Cara membuka kisah yang menarik. Sebut saja nama ayahnya Joe dan ibunya Maria. Sang aku bahkan baru tahu identitas ayahnya, dan bagaimana kisah ‘keluarga kecil’ ini terbentuk lalu ditarik mundur. Maria yang terpesona ketampanan Joe di masa muda. “Kami jatuh cinta pada pandangan pertama.” Cinta yang menggebu mereka menghasilkan janin, Maria mempertahankan, Joe tidak. Sebagai calon dokter masa depannya sangat terancam, malam itu usiaku 4 bulan dan air mata ayah menetes di pipiku.

#4. Maria Berdarah
Ia mengaku bernama Mary. Hanya Mary. Ia datang membawa luka dan kegelapan yang sulit disibak. Pastor muda yang melayani dalam gereja itu kedatangan wanita yang berlumpur dosa. “Bapa, tolong aku. Tolonglah pendosa ini dari api neraka. Aku sudah bersekutu dengan iblis, Bapa. Kegelapan akan selalu hidup dalam diriku, walau berkali-kali aku memotongnya” Guntur ikut menyalak ketika sebuah angin tornado tercipta dalam dada perempuan itu.

#5. Gadis Buruk Rupa dalam Cermin
Kisah klasik gadis yang bertanya kepada cermin. “Cermin ajaib, siapakah gadis tercantik di dunia?” dan jawaban mereka selalu sama, “Ratu Ravenna-lah yang tercantik.” Kisah lama yang dituturkan dengan modifikasi, bagaiaman hikayat Ratu Ravenna menjelma jelita. Pengorbanan dengan ritual darah gadis dan bujang. Dan kisah dibelokkan ke Putri Salju. Ia bosan menjadi istri raja tua, ia ingin yang lebih muda, yang bergairah dan hangat.

#6. Tamu Ketiga Lord Byron
Tak ada yang tahu siapa tamu ketiga tuan Byron pada musim panas 1816 selain Mary Wollstonecraft Golwin dan kekasihnya, penyair Percy Bysshe Shelley di kastil megah Danau Gevena. Ah ini kisah fiktif tentang Penulis legendaris Frankenstein. Sang aku menjadi orang berikutnya yang bertutur, bahwa tamu ketiga sudah bilang kepadanya. Malam itu mereka berlomba menulis kisah mencekam. Tamu ketiga tidak ikut menulis, ia di sana karena penasaran hantu budak tuan Byron yang mati dicambuk. Dan di menara kastil itulah tamu ketiga bercerita rahasi besar sang taun rumah: Lord Byron bergumul dengan adiknya, Augusta Leigh!

#7. Dongeng Nostradamus
Legenda Michael de Nostredame, menulis surat dari abad 16 dari kota kecil St. Remy di Prancis. Kupikir ini lawakan, sempat akan kubuang surat itu tapi rasa penasaran mengalahkannya. Surat itu dari masa lalu, untukku di tahun 2012. Mungkin masa depan akan pincang karena kelancangan yang diperbuat. Durat itu memprediksi bayi tujuh bulan dalam kandungan istriku berjenis kelamin laki-laki. Dan prediksi berikutnya membuat terhenyak, anakmu adalah pembawa rahasia suku Maya yang hilang. Dan kecemasan melanda kami.

#8. Boneka Air Mata Hantu
Boneka yang berasal dari air mata hantu. Terdengar menyeramkan dan tak masuk akal. Seumur hidup aku tak pernah melihat ibu tersenyum, tidakkah itu ganjil? “Aku tidak bisa tertawa lagi karena penjual tawaku sudah diculik oleh hantu perempuan.” Dan inilah kisah lama, sang penjual tawa adalah pemuda tampan. Mereka awalnya bahagia, sampai tragedi origami tercipta.

#9. Tentang Sebatang Pohon yang Tumbuh di Dadaku
Apa kau tahu arti mencintai?

Jika aku mencintaimu apakah itu salah?”

Mencintai adalah kebebasan rasa yang ada dalam hati.”

Pergilah ke neraka dan jangan kembali lagi. Ini kisah terlarang Danu dan Nando.

#10. Dongeng Emak
Dongeng yang dibacakan emak tentang penyihir yang tak pernah tua sedang murka menuntut balas kepada sang guru. Cerita yang tak pernah usai, didongengkan berulang kali namun tak pernah selesai. Hingga suatu malam emak memutuskan menceritakan endingnya. Berhasilkah sang penyihir menuntaskan balas?

#11. Almah Melahirkan Nabi
Gadis bisu delapan belas tahun melahirkan anak-laki, malah tak kelihatan bunting dan belum bersuami. Karena tak bisa mengucapkan siapa laki-laki yang harus bertanggung jawab, ia hanya ah uh bilang dan tak bisa menuliskan nama. Desas-desus merebak. Saat orang-orang menuduhkan si A, si B, si C, dukun beranak Emak Yesaya bilang, “Almah, melahirkan nabi. Dia disetubuhi Jibril.”

#12. Kastil Walpole
Hikayat Tuan Horace Walpole yang malang, kisah cintanya yang tragis dan misterius seperti dalam novel The Castle of Otranto yang ia tulis. Tuan Walpole meninggal tahun 1797, hidupnya laiknya cerita gotik yang ia tulis sendiri. Dan Thomas Gray mencoba menjelaskan.

#13. Hari Tenggelamnya Van der Decken
Kapal dagang VOC yang tenggelam tahun 1641 di Tanjung Harapan dengan rute Batavia ke Holland menyimpan misteri. Karena hantu Flying Dutchman? Karena bencana badai? Sejatinya ada di sini, ternyata instrik keluarga yang menjadi petaka. “Aku akan menaklukkan badai dan melewati semenanjung ini, walau kiamat menghadang.”

#14. Sepasang Kutu, Kursi Rotan, dan Kenangan yang Tumbuh di Atasnya
Ini adalah cerpen yang dipilih jadi sinopsis di kover belakang. Kursi rotan yang penuh kenangan. Kursi warisan ibuku yang paling berharga. Di kursi rotan itulah konon ayahnya menjelma kutu lalu menyusup dalam anyaman. Sejak saat itulah ibunya selalu menjaganya. Kenapa ayah jadi kutu? Untuk menyelamatkan dunia. Kelak bila misi usai ia akan kembali. Mendusta? Mengada-ada? Hinga suatu ketika kursi rotan itu bisa berbicara mengungkap fakta!

#15. Lola
Tentang Lola yang dikenalnya di kafe Ubud, Bali. Lola dari San Francisco, Budi asli Indonesia bertukar kata tentang literasi dan seni. Saling memuja, saling mengenal. Namun ini kisah tak biasa, ini Lola yang istimewa, sebuah perpisahan di Pura Ubud Dalem membuat Budi harus berpikir lebih keras, ada misteri tentang kakek buyutnya.

#16. Kotak Southcott
20 Desember 1814, di London yang dingin William Sharp berjalan di gelap malam dalam guyuran slaju. Apa hal yang membuat sang wanita dalam wahyu memintanya menghadap? “Kedatangan Shiloh akan menjadi awal dari akhir dunia. Ia akan diangkat ke urge (surga) dan akan dikirim kembali ke dunia jadi saksi berkahirnya dunia. Ia sudah ada dan siap lahir dari rahimku 19 Oktober 1814.” Dan Southcott berkata, “Aku wanita yang ada dalam wahyu.” Dan kematian mendadaknya membuat Tanya, kotaknya dibuka dan berisi gulungan kertas, lotere dan tiket kuda-pistol.

#17. Kematian Heartfield
Ini kisah dari novel Haruki Murakami dalam novel Dengarkan Nyanyian Angin. Buku yang luar biasa indah, kali ini dirusak oleh sang Penulis, entah kenapa analisis kematian Heartfield yang bunuh diri loncat drai menara Empire State Building tahun 1938 seakan mengada-ada. Yang pasti, menurutku ini cerpen terburuk.

#18. Tiga Penghuni dalam Kepalaku
Yang pertama seorang laki-laki gagah yang datang kala emak mencekiknya, melawan dan meminta lari. Kedua, bocah penakut yang suka meningkuk dalam gelap. Ia datang saat bang Codet menyeretku ke toilet umum di pelabuhan Merak. Ketiga gadis manis yang menetap di kepalaku, yang datang kala Kang Asep penjual makanan yang suka memberinya makan. Lalu suatu ketika ketiganya melakukan perlawanan.

#19. Hantu Seriman
Hantu yang berasal dari kampung kecil di Kabupaten Penungkal Abab Lematang Ilir, Tanah Abang. Jangan sekali-kali merajuk di petang kelam. Hantu menakutkan yang muncul di kala pergantian terang ke gelap. Hikayatnya, ada seorang gadis jelita bernama Serina (tanpa ‘h’ ya) yang menikah dengan bujang yang biasa, ia meminta talak, dan pantangan sana wanita meminta cerai. Awalnya sang anak bernama Seriman yang magrib belum pulang, dan dicari. Tak kunjung pulang, dan tragedi dicipta.

#20. Anak Pintaan
Tidak semua, hanya anak pintaan yang punya empat tetek.” Anak Pintaan adalah anak yang didapat setelah orang tua bermunajat kepada Tuhan YME agar dikaruniai anak laki-laki, mereka percaya bahwa anak pintaan adalah reinkarnasi leluhur. Ini dongeng dari kajut (nenek) kepada cucunya.

#21. Lima Orang di Meja Makan
Kisah mencekam di meja makan. Renata yang mengeluhkan kehidupan. “Ternyata kematian itu begitu indah. Aku baru menyadarinya.” Drama keluarga yang disajikan dengan daging yang renyah, pisau dan garpu di kedua sisinya, anggur merah yang beriak dan racun yang cukup untuk mengakhiri hidup.

Beberapa kali saya membaca cerpen Guntur Alam di Kompas Minggu, memang sangat produktif. Ini adalah buku pertama beliau yang selesai kubaca, kubeli sehari jelang ulang tahun September lalu, kuselesiakan baca dalam #JanuariBaca2019 dan akhirnya baru sempat kuulas. Paling senang cerita Almah Melahirkan Nabi, ada semacam misteri yang menggantung. Kovernya bagus banget, bis ajadi salah satu daya pikat kenapa kuputuskan beli. Kumpulan cerita yang renyah, dengan ekspetasi biasa saja ternyata berhasil memenuhi harap. Buku kumpulan Cerpen memang tak senikmat dalam satu cerita novel utuh, tapi jelas pendekatan yang berbeda juga harus diapungkan, dan Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang ternyata sukses memikat hati.

Magi Perempuan Dan Malam Kunang-Kunang | Oleh Guntur Alam | 6 15 1 74 001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Ilustrasi sampul Pramoe Aga | Editor Yemima Lintang | ISBN 978-602-03-1939-1 | Skor: 4/5

Karawang, 260619 – Sherina Munaf – Ada

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day24 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami #7

“Ia memang laki-laki aneh. Hampir seharian ia sendirian di taman kota ini. Sebentar bediri, duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Pandangannya tajam selalu menatap ke arah depan seperti tidak peduli pada orang di sekitar. Dan tiba-tiba mereka hanya mendnegar tubuhnya ambruk.”

Buku kedua bulan Juni tahun ini sengaja saya membaca buku non mainstream, mencari dari terbitan kecil, setelah lelah dari lebaran, mudik dan rangkaian panjang libur, pengen santai. Ada beberapa pilihan yang ada di rak, beberapa terjemahan, malah ketemu yang penulis lokal. Bacaan terjemahan penulis Dunia sudah sangat banyak, maka buku tipis ini saya pilih. Dua hari selesai, dibaca santai di kala setelah subuh, jelang tidur atau jeda istirahat kerja. Yang paling unik kubaca di teras rumah kala tidak dibukakan pintu di malam Sherina ulang tahun. Tema-tema yang ditawarkan sederhana, sebagai lulusan pesantren sang penulis memang banyak mengambil tema reliji, walau ga semilitan jadi buku agama, cerpen yang lumayan seru. 14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek.

#1. Lelaki Izrail
Tentang Pak Ulak Ulu, lelaki yang bisa (secara tak mengaja) meramalkan kematian. Awalnya njeplak otomatis, menasehati seseorang agar lebih banyak beramal, banyak ibadah karena usia tak ada yang tahu. Ternyata esoknya beneran tewas. Kejadian yang dikira hanya kebetulan itu, terulang lagi, dan lagi sehingga diapun didapuk lelaki peramal kematian.

#2. Matilda
Perempuan hebat di bawah lima tahun, pembaca sastra dunia, rakus melahap buku dan tampak aneh. Tentu saja otomatis kita akan menyebut Matilda, karakter terkenal karya Roald Dahl yang punya daya telekinetis menggerakkan benda ala Profesor X. Di sini lebih sederhana, sebuah keluarga mendapat kunjungan anak asing bernama Picataka setiap Senin-Jumat sore hari untuk numpang baca. Buku-buku tebal dilibas, remaja putri empat tahun yang aneh itu ternyata tak senyata yang terlihat karena suatu hari iseng diikuti, rumah tempatnya tinggal adalah rumah kosong. Lho?

#3. Percintaan Firdaus dan Janneti
Asmara anak pesantren. Sang aku adalah semacam pujangga pondok ‘Raja Kata-kata’, menuliskan surat cinta dengan biaya traktir. Maka Firdaus yang siswa senior suatu hari jatuh hati dengan siswa pondok sebelah ketika beli sayuran. Janneti yang dikirimi surat ‘cinta’ oleh Firdaus menjawab dengan berbunga. Maka disepakati hari untuk bertemu, untuk mengklaim kakak-adik. Sang aku ikut senang, surat buatannya bisa membantu mewujud kisah cinta cinta itu, hingga hari H yang harusnya berbunga menjelma petaka.

#4. Migrasi Para Hantu
Kisah hantu turun temurun dari ayah sang pencerita lalu dituturkan ke anaknya. Kisah hantu yang sudah umum, lazim di kampung halaman dikisah ulang kepada anaknya. Bagaimana hantu-hantu masa silam suka iseng menampakkan diri. Sang anak diluar duga malah antusias, dan meminta izin untuk ke kampung halaman. Untuk mencari bukti? Yah, anak muda zaman sekarang, ajak teman-teman mereka berencana jadi semacam ghost buster. Duh!

#5. Seorang Perempuan di Masjid Kami
Perempuan aneh yang menginap di masjid kita. Tanpa banyak tanya, tanpa basa-basi. Agamanya yang bagus, tingkahnya yang baik membuat warga menerima dengan terbuka. Musafir yang bijak, mengikuti kajian, ibadah bagus, membantu sesama. Lama-lama membuat tanya identitas sesungguhnya. Siapa gerangan yang menebar ilmu dengan teladan ini?

#6. Pa’aliran Caran
Cerita tentang pawang buaya yang legendaris. Adalah Caran yang menjadi penakluk buaya, bisa bertahan berjam di dalam air, bisa mencari hal gaib di air. Sebagai pawang buaya senior, suatu hari ada anak tenggelam gara-gara acara mancing yang awalnya dilarang. Sudah lama Caran tak melakukannya, dan iapun kembali menyelam mencari kebenaran di dasar sungai.

#7. Libur ‘Aisya
Cerita mencari tempat liburan yang tak biasa. ‘Aisyah yang anak kota akan liburan musim panas, beberapa opsi disodorkan. Dari yang umum dari buku panduan wisata sampai kampung desa yang ada di pelosok, tapi apa istimewanya? Maka sang aku pun menawarkan liburan di pesantren, belajar agama? Wuihh… ide bagus. sebulan dua bulan ‘nebeng’ belajar agama, apa respon ‘Aisya?

#8. Perempuan Pembunuh Terang
Tentang perempuan sakti yang mematikan semua cahaya malam, lampu-lampu ditembak, semua cahaya dimatika. Dengan kuda laiknya seorang pengelana, jagoan yang meminta kembali menjaga kekhusukan malam. Warga yang takut bergegas mematikan lampu, dan derap kuda yang menakutkan itu selalu terdengar bagi mereka yang berani menyalakan cahaya. Hingga akhirnya usul menembak bulan agar pekat tercipta itu mewujud.

#9. Oleh-oleh
Seorang cucu yang galau liburan ke Bali, pertentangan reliji. Terlahir dari pasangan agama Islam dan seniman, sang aku tampak bimbang mau ke arah mana kehidupannya. Darah seni menciptanya ingin melukis, Bali jadi detinasi, dapat pertentangan dari kakeknya yang kolot. Hingga akhirnya oleh-oleh baju khas agama Hindu itu diberikan, menjelma baju koko untuk ibadah ke masjid. Lega?!

#10. Teratai Kota
Ini mungkin kisah terbaik, tentang perenungan lelaki yang menyendiri di taman kota. Melihat, terpana, dan berdiskusi dengan bunga teratai kota. Bunga yang tumbuh liar, sebuah anugrah dari Tuhan ataukah makhluk buangan? Hingga kahirnya ia ditemukan di sebuah kamar rumah sakit. Nasehat aneh dari penjual madu.

#11. Rumah di Samping Kuburan
Membangun rumah di samping kuburan. Tentu banyak pertimbangan. Tentu saja ekonomi jadi alasan utama, sang Aku yang masih lajang awalnya ditentang keluarga, tapi ia keukeh membangun rumah dengan jendela menghadap kuburan. Tiap ada prosesi pemakaman, ia menyapa, tiap ada yang ziarah ia ikut berdialog. Hingga suatu hari ia melihat penampakan yang menjadi pertanda. Serigala kenapa tampak jadi ikon korupsi ya?

#12. Perempuan Kafe Senja
Perempuan dengan empat kekasih, kekasih di hari kerja, kekasih di akhir pekan, kekasih di malam hari dan yang satu entahlah. Perempuan tanpa nama itu sering kali nongkrong di kafe sepulang kerja, hingga sang aku menyapa dan memulai menjalin kenangan.

#13. Kubur Penuh Cahaya
Agak aneh bagaimana bisa kubur warga biasa, penjual minyak luar kota bisa memancarkan cahaya? Desa yang awalnya biasa menjelma riuh. Jadi keramat, jadi tempat ziarah, jadi sakral. Mencipta hal-hal gaib, cahayanya memang tak muncul terus, hanya sesekali, tanpa teknologi ya. sampai kapan?

#14. Hidup Memang Tak Mudah, Pak Atin!
Tentang penangkapan terduga teroris. Pak Atin kena ciduk juga, padahal beliau terkenal sebagai orang alim yang tak neko-neko. Maka kisah dirunut bagaimana bisa. Ternyata bermula dari tiga pemuda yang menitipkan jual buku, buku-buku aliran radikal yang menyeret pak Atin jua. Walaupun dalam prosesnya ia kembali bebas, setidaknya benar adanya hidup itu tak mudah.

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami | Oleh Hairus Salim HS | Desain sampul Rahman | Tata letak Gapura Omah Desain | Ilustrasi Rahman | Penerbit Gading | Cetakan satu, September 2012 | x + 130 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 978-979-16776-1-5 | Skor: 3.5/5

Karawang, 130619 – James Ingram – I Dont Have The Heart

#Day7 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Kumpulan Budak Setan

Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?

Saya mengenal Abdullah Harahap belum lama, tiga tahun lalu lewat novel mistik Kolam Darah. Cerita peseteruan keluarga terkait warisan dan keturunan yang dibalut kengerian saling serang sihir dan lempar tuah. Andai ga baca tulisan kover belakang yang mengandung inti cerita bisa jadi ceritanya akan lebih resep. Mitisme lokal dengan jimat, dendam, hingga jualan kengerian darah yang membuncah. Status genre horror yang identik dengan estetika rendah dan karenanya berada di luar khasanah sastra. Edisi kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan ini ternyata dipersebahkan untuk beliau. Berisi dua belas cerita, ditulis tiga Pengarang handal tanah air dari komunikasi tiga kota. Eka dan Intan sudah mengenal beberapa karyanya, untuk Ugoran, ini adalah buku pertama beliau yang kunikmati. Saya berstrategi membacanya ga berututan dari halaman satu beriring runut terus sampai akhir buku, tapi satu cerita dari satu penulis, lalu cerpen berikutnya ganti penulis lain, lanjut lagi dan kembali muter. Jadinya gaya bercerita yang kukhawatirkan monoton karena dari tangan yang sama dapat dihindari, dan alhasil sukses. Sungguh bagus kisah-kisah di buku ini. Tema variasi, tapi tetap hal-hal gaib menyelingkupi semuanya.

(1).Eka Kurniawan
#1. Penjaga Malam
Kisah para peronda yang ditikam kesunyian pekat. Bagaimana mereka menjaga kampung, mengawasi segala yang potensial membahayakan warga, badai menambah menakutkan diseling mati listrik dan sesekali mengerjap. Lalu satu per satu menghilang. Sebuah tindakan beresiko yang mengabai keselamatan. Pace-nya memang lambat tapi nikmat diikuti karena memang kekuatan utama ketenangan malam yang disaji. Gelap pekat membuat kita serasa dikubur hidup-hidup.

#2. Taman Patah Hati
Untuk memutuskan kekasih harus sampai ke Jepang. Memang sulit untuk mengakhiri hubungan, lebih mudah memulai. Keputusan berat yang terpaksa diambil itu melibatkan keberanian, mitos dan pengorbanan yang tak sedikit. Kita bertemu lagi dengan karakter bernama Ajo Kawir, tokoh penting di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas. Mia Mia yang dan danau di taman Inokashira.

#3. Riwayat Kesendirian
Salah satu yang terbaik. Seorang ilustrator yang sudah memiliki pacar, mendapat tugas menjaga temannya teman, dititipi untuk numpang tidur di apartemen. Awalnya tak ada rasa, tapi riwayat kesendirian mencipta drama saat kedua insan terpisah. Sang gadis bernama Ina Mia, dari nama perempuan Chairil Anwar, ia dipaksa kawin sama pilihan orang tuanya, dan sebuah telpon untuk janji temu meluluhlantakan bata lego yang disusun. “Bolehkah aku bertemu denganmu?”

#4. Jimat Sero
Menurutku ini yang paling bagus. Pembukanya mengupas kulit bawang paling luar, lalu kupasannya perlahan sekali, menarik minat pembaca sampai akhirnya saat sampai di inti, ternyata kupasan terbaik ada di permukaan! Ga nyangka. Seorang penakut yang kena perisak di sekolah, dibantu Rohmat, seorang anak yang istimewa, siapa saja yang memukulnya akan kena damprat. Sekembali dari kampung melanjutkan hidup, segala takdir berubah lurus dan nyaman berkat jimat sero. “Tak ada yang perlu kamu risaukan.” Benarkah?

(2). Intan Paramaditha
#5. Goyang Penasaran
Tak pernah mabuk judi atau mabuk minuman, tetapi mabuk janda ternyata lebih berbahaya. Kisah yang keras dan berdarah-darah. Jelas kover buku diambil dari cerita ini. Penyanyi dangdut yang mencoba insyaf, terusir dari kampung dan saat kembali sudah mengenakan hijab. Sebuah taktik dendam disusun, kepala desa yang baru sang pengagum itu dituntun dalam goyang penasaran di tepi jalan. Keras. Sadis. Mencekam. Hal hal remeh cenderung meruap dari ingatan. Zina yang sering tak kita sadari wahai kaum muslimin dan muslimat adalah zina mata.

#6. Apel dan Pisau
Kisah nabi jelita Yusuf yang membuat para wanita menggoresi tangan mereka dengan pisau. Pesona gossip, arisan keluarga dan ketamvanan yang haqiqi. Apel yang matang, perempuan-perempuan yang matang, dan Yusuf yang memukau. Sinisme kaum hawa yang pandai bergosip laiknya kena batu. Cik Juli dan magnet sihirnya. “Apelnya memang enak.”

#7. Pintu
Keluarga terpandang, kaya, dan kematian tragis dalam sebuah mobil kutukan, Mercy Tiger merah metalik tahun 1982. Cerita tragis sebuah keluarga pasangan Bambang dan Ratri mencoba kembali menurut fakta saling silang selingkuh. Namun ternyata asmara dan dendam arwah menghantar pada kepahitan lain. “Mari, temani aku jalan-jalan.”

#8. Si Manis dan Lelaki Ketujuh
Ini yang paling aneh. Wanita buruk rupa sedang mencari mangsa, lelaki yang diperbudak seks dengan imingan gaji menggiurkan. Seorang penganggur yang sudah berkeluarga dengan berat hati menerima tawaran, gaya bercinta ala kisah sang putri salju dan tujuh kurcaci di mana drama sandiwara penculikan dicipta, scenario itu berantakan saat titik didih sudah di puncak. “Karena aku menyukai eksperimen.”

(3). Ugoran Prasad
#9. Penjaga Bioskop
Cerita hantu di bioskop yang angker, sang penjaga bioskop Rusdi yang menjadi saksi dari awal sekali gedung dibuat smampai akhirnya esok dirobohkan. Saat film terakhir selesai diputar, sang penjaga mengenakan pakaian terbaiknya dan mengucapkan salam perpisahan. Ternyata tak seperti yang tampak di permukaan. Sebuah rekaman suara memberi kengerian di balik kabar angin kesereman gedung. “Aku datang. Aku di sini terus. Aku menemanimu terus.”

#10. Hantu Nancy
Cerita balas dendam yang tak biasa. Pembunuhan sang gadis salon yang merentet kematian demi kematian semua orang yang terlibat. Hikayat hantu di kampung Kebon Sawah yang menguar kengerian di udara. Zulfikar dan bau rambut terbakar. “Aku mimpi ketemu Nancy. Dia bilang mau balas dendam.”

#11. Topeng Darah
Level kekerasan kelas satu, satu tingkat di atas Goyang Penasaran. Sadis, tragis, dan tak berperi. Sebuah iklan aneh yang menjual barang langka, sebuah topeng abad 19 dengan harga tak masuk akal, Iskandar iseng, berbuntut panjang dan penyesalan. Percobaan demi percobaan itu seperti candu.

#12. Hidung Iblis
Sang lelaki belang yang membantai lelaki belang dengan pemacing hasrat istrinya sendiri, Mirna yang jelita. Berkelit masalah ekonomi, petualang cinta, setia kawan atau pengianat, sampai drama saling ancam dalam penyelesaian proses kriminal. Endingnya twist. “Seberapa sering kamu mengajukan pertanyaan-pertanyaan metafisika?”

Sejatinya semua ini bermula dari Gentayangan. Novel pertama Intan Paramaditha yang masuk lima besar Kusala Sastra 2018 ini membuatku penasaran karya lain, Sihir Perempuan menjadi buku ke 100 yang kubaca tahun lalu. Dan dari komentar teman di sosmed bahwa ada kumpulan cerpen Intan kolaboratif, bilang cerpennya yang paling menawarkan kengerian, maka jadilah kunikmati juga buku ini. Eka Kurniawan jelas adalah salah satu Penulis besar yang masih hidup saat ini. Penghanggaan demi penghargaan internasional adalah bukti, ia memang Penulis jempolan. Terbukti lagi, di sini. Empat cerpennya kurasa yang terbaik. Ketenangan bernarasi menjadi kekuatan utama, menyimpan rapat kejutan masih menjadi andalan, hingga fakta itu dibuka di penghujung. Riwayat Kesendirian itu luar biasa lho, tak ubahnya sebuah lipatan origami yang menghasilkan angsa terbaik. Ina Mia dan kesedihan takdir yang tercipta. Ugoran ternyata jua penulis hebat, empat cerpennya sudah cukup untuk bekal mengarungi cerita-cerita lain beliau.

Kuhirup udara seolah-olah aku ingin memasukkan seluruh udara di dalam ruangan ke dalam tubuhku, dan siapa pun yang bersembunyi di balik udara, akan tersirap dan mendekat ke arahku. Dan sebagaimana budak sejati, kami juga berada di tengah-tengah: antara keinginan untuk merdeka dan kesetiaan yang tak terjelaskan.

Kumpulan Budak Setan | Oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad | GM 616202044 | Desain sampul eMTe | Setting Sukoco | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, 2016 | ISBN 978-602-03-3364-9 | Skor: 5/5

Untuk Abdullah Harahap

Karawang, 070319 – 160319 – Ronan Keating – I Hope You Dance

Nyepi Day – Undian 8 besar UCL – Liga Sparing

White Fang – Jack London

Sekarang meraunglah, sialan. Meraunglah!”

White Fang menjadi buku kedua yang saya baca dari Penulis legendaris Jack London setelah The Call of the Wild yang fenomenal itu. Ini semacam prekuel (atau sekuel ya, entah duluan mana terbitnya), kalau The Call dari anjing rumahan menjadi ganas di alam, White Fang malah dari makhluk liar dan keras menjadi takluk pada manusia, atau di sini disebut dewa. Ia mematuhi kehendak para dewa. Mereka pembuat api, mereka adalah para dewa!

Cerita sama gilanya. Karena entah kenapa peristiwa yang berkaitan dengan makhluk hidup selalu terjadi dengan cara berbeda. Hebat sekali Jack, bisa memasuki dunia binatang seolah ia adalah bagian dari makhluk itu. Merasakan bagaimana kengerian di alam liar, menerornya dalam banyak sergapan. Dan inilah epitaph dari seekor enjing yang mati di jalur Northland – lebih singkat dari epitaph anjing-anjing lainnya, dari epitaph seorang manusia. Pengalamannya di Klondike, Yakon yang dingin jelas adalah inspirasi dari trilogi ini, satu lagi buku Martin Eden jelas dalam pemburuanku. Melihat banyak pemburuan mangsa dan mulai ikut ambil bagian.

Kisahnya tentang anjing blesteran serigala. Ayahnya seekor serigala, memang, ibunya seekor anjing, tapi bukankah abang White Fang mengikatnya di hutan selama tiga malam pada musim kawin? Ya, ceritanya panjang berliku. Kita dirunut dari orang tua White Fang, masa kecilnya hingga akhirnya nanti berkeluarga. Runut, tenang, lalu mengganas tak terkendali. Bermula dari perjalanan dua manusia di tengah hutan bersalju dalam kereta yang ditarik enam anjing. Mereka ada perjalanan membawa mayat dalam peti Lord Alfred, perjalanan sulit itu berakhir bencana. “Pemakaman jarak jauh adalah sesuatu yang tak sanggup kita dapatkan.” Satu persatu anjing penariknya tewas diterkam, serigala liar. Pertama Fatty, lalu Frog, berikutnya Spanker, lalu Bill bersumpah. “Terkutuklah jika aku melakukannya. Aku sudah bilang tak akan minum kopi kalau ada satu ekor anjing yang menghilang lagi, dan aku tak akan melakukannya.” Apakah terhenti? Tidak, perjalanan ke Fort McGurry masih panjang. Anjing keempat dan pada akhirnya pada kedua manusia itu terhempas, tersudut menanti maut. “Aku pernah dengar para pelaut membicarakan ikan hiu yang mengitari sebuah kapal. Serigala adalah hiu darat. Mereka lebih memahami urusan mereka dan mereka bukan mengikuti kita demi alasan kesehatan. Mereka akan membunuh kita. Mereka pasti akan membunuh kita.”

Berikutnya kita fokus pada binatang penarik segala bencana ini, serigala betina penggoda. Kalau ini digambarkan manusia, pastinya sangat cantik sampai menjadikan pertarungan pertaruhan demi menjadi pasangannya. Serigala liar itu saling bunuh dan bantai demi cinta serigala jelita ini, dari kawanan ini pada akhirnya yang tersisa hanya empat ekor, serigala betina, pemimpin muda, si mata satu dan serigala berumur tiga tahun yang ambisius. Saya sempat meprediksi bakalan menjadi pasangan muda, tapi ternyata tidak. Jack dengan berani mematikan mereka yang ambisius dan kokoh, yang menjadi pemenang adalah One Eye yang tua dan terluka. Karena ini adalah pencitraan alam liar, tragedi seks dunia alami yang hanya menjadi tragedi bagi mereka yang mati. Bagi mereka yang tidak mati, ini bukan tragedi, melainkan kesadaran dna pencapaian. Mereka menjalin cinta di tepian Mackenzie River, memadu kasih dan memiliki lima bayi serigala yang dirawat di gua. Nah disinilah sisi hebat buku ini, filosofis dan sungguh hebat kata demi kata yang disaji. Bukan pertama kalinya hal semacam ini terjadi dalam hidupnya yang panjang dan sukses. Ini sudah sering kali terjadi, tapi setiap kali selalu terasa mengejutkan baginya.

Jack dengan jeli menanamkan diri dalam bayi abu-abu serigala, bagaimana ia membuka mata, kelaparan menanti ibunya untuk memberi susu atau gumpalan daging lembut. Sisi manusiawi yang tersentuh dalam kaca mata bayi binatang. Menghilang di balik dinding merupakan keistimewaan ayahnya, seperti susu dan daging setengah cerna yang menjadi keistimewaan ibunya. Cahaya menarik mereka seakan-akan mereka tanaman, reaksi kimia kehidupan yang membentuk mereka menuntut cahaya sebagai sebuah kebutuhan hidup, dan secara kimiawi tubuh kecil mereka merangkak tanpa melihat. Yang terkuatlah yang bisa bertahan di kerasnya hidup, empat saudara abu-abu meninggal. Ia mendapati populasi dunianya sudah berkurang. Hanya tersisa satu saudara perempuannya. Saudarinya terus tidur, jerangkong kurus berbalut kulit yang nyala apinya semakin lemah, lemah dan akhirnya padam. Dan bayi serigala ini mencoba mencari jawab terhadap ‘sebuah dinding putih’ yang di sini adalah pintu tempat tinggalnya. Ia tidak tahu apapun mengenai konsep pintu. Ia tidak mengenal tempat lain, apalagi cara mencapainya. Jadi baginya pintu masuk gua adalah sebuah dinding – dinding cahaya. Dinding melompat di depan matanya. Ia menduga dirinya dalam dinding.

Bayi abu-abu belajar di dunia luar sendirian setelah lapar menyergap dan orang tua mereka tak kunjung datang. Menyaksikan arti bertahan hidup di sekeliling. Lynx dan landak sama-sama menunggu, masing-masing bertekad untuk hidup. Dan itulah sisi menarik dari permainan ini, jalan hidup satu makhluk bergantung memakan makhluk lain, dan jalan hidup makhluk satunya bergantung dengan tidak dimakan. Rasa takut! Tahukah kau, mereka sudah yakin mengenai kita. Sementara itu, mereka bersedia memakan apa pun yang bisa mereka temukan dan makan. Warisan alam liar yang tidak bisa dihindari maupun ditukar dengan makanan oleh hewan mana pun. Ada adegan unik, saat sang serigala muda ketakutan akan serangan elang. Dan tahulah kalian secara harfiah, ini adalah derby Roma. Elang memang terlalu perkasa, mengintai di udara, menerkam segala yang bisa dimakan di darat, serigala terbirit-birit. Ia tidak pernah merasakan sakit terjatuh, ia tak tahu apa itu jatuh. “Hewan itu tahu lebih banyak dari yang seharusnya diketahui oleh seekor serigala penuh harga diri.”

Didikan alam liar menjadikan bayi abu-abu kuat, adaptifnya yang cepat juga menempanya menjadi serigala pemburu yang tak kenal ampun. Ia menjadi kuat karena pernah tahu dirinya terancam hewan lain sehingga tahu apa itu mangsa. Tubuhnya yang mengagumkan ini, kulit yang hidup ini tidak lebih dari seonggok daging, sebuah pemburuan hewan-hewan lapar, yang akan dicabik dan disayat oleh taring-taring lapar, dijadikan makanan bagaikan rusa dan kelinci yang sering kali menjadi makanan mereka. Ia memiliki kekuatan alam. Rasa takut luar biasa menderanya, ini dunia asing yang mengerikan. Karena sesuatu yang asing merupakan elemen utama yang menyebabkan rasa takut. Pertumbuhan adalah kehidupan, kehidupan selamanya ditakdirkan untuk cahaya. Cahaya ya cahaya itu adalah kehidupan di luar gua, di alam liar, di dunia ini. Ia juga dibuat pening oleh perluasan ruang yang mendadak dan luar biasa ini. Sehingga ia mengenal rasa sakit, dan yang paling penting, ia belajar cara menghindari rasa sakit, pertama-tama dengan tidak megambil risiko akan sesuatu yang sakit. Ia mendapati dirinya menjadi seorang petualang di sebuah dunia yang benar-benar baru.

Di dunia ini tidak semuanya bebas, bahwa di dalam hidup ada batasan dan kekangan. Seluruh batasan dan kekangan ini merupakan aturan, mematuhi aturan itu merupakan jalan untuk menghindari rasa sakit dan jalan untuk mendapat kebebasan.

Bayi abu-abu tahu rasanya sakit saat ayahnya tak terlihat lagi beberapa lagi, tak kembali memberinya makan. Di tepi sungai dan sekelilingnya menjadi tempat bermain dan mencari mangsa. Alam liar tetaplah alam liar, dan ibu adalah ibu, selalu sangat protektif, entah di alam liar atau bukan. Ibunya tetap menjaga, tapi sampai kapan? Karena musim berganti, masa sulit datang dan pergi. Maka bayi abu-abu belajar mandiri. Ia baru saja menghancurkan beberapa makhluk hidup kecil. Sekarang ia akan memusnahkan makhluk hidup besar. Waktu demi waktu menjadikan pengalaman berharga. Ia terlalu sibuk dan bahagia untuk menyadari ia bahagia. Tujuan kehidupan adalah daging, kehidupan itu sendiri adalah daging. Kehidupan hidup dari kehidupan. Ada pemangsa dan mangsa, aturan adalah makan atau dimakan. Baginya kematian adalah rasa sakit yang paling hebat. Kematian adalah inti dunia asing gabungan seluruh teror dunia asing, satu-satunya bencana tak terduga dan tertinggi yang terjadi padanya. Hantu penasaran dari kebaikan dan kekuasaan yang diimpikan, potongan jiwa ke alam arwah.

Benar-benar filosofis kehidupan. Apa bedanya dengan manusia? Mencoba bertahan hidup di tengah pencakar langit yang sombong menjulang. Nah, sehalanya berubah ketika si abu-abu beranjak dewasa dan menemukan manusia. Rombongan manusia, asing dan tampak sangat berbeda dengan makhluk lain. Kekuasaan mereka akan benda-benda mati, kemampuan mereka untuk mengubah wajah dunia. Abu-abu lalu takluk oleh mereka, mengikuti hidup dalam perkemahan, merelakan kebebasannya dengan mau diikat.

Dan disinilah akhirnya kita tahu asal judul buku ini. White Fang – taring putih, bos pertama mereka memberi nama. Perubahan besar ini membuatnya dilema. Rasa penasaran pertumbuhan yang menyemangatinya – kebutuhan untuk belajar, hidup, dan melakukan sesuatu yang menghasilkan pengalaman. Dan dalam perkumpulan perkemahan ini, ia mengenal anjing lain. Lip-lip yang sombong dan seolah pemimpin binatang warga. Ini adalah perkelahian pertama dari banyak perkelahian yang dilakukan dnegan Lip-Lip, karena mereka musuh sejak awal, terlahir seperti itu, dengan sifat-sifat yang ditakdirkan untuk saling selalu bertentangan. White Fang sempat ingin kabur. Ia rindu pada rumah. Berlari kencang, menyongsong gua tepi sungai tapi ternyata sifat alami tunduk pada dewa mengantarnya mengikuti jejak langkah perkemahan. Desakan insting-insting sama yang membuatnya melolong pada bulan dan bintang di malam hari, dan membuatnya takut pada kematian dan dunia asing.

Begitu banyak hewan-manusia, pria, wanita, dan anak-anak semuanya mengeluarkan suara dan mengesalkan. Tidak dibutuhkan keimanan besar untuk mempercayai dewa semacam itu, tidak ada tekad kuat yang sanggup menyebabkan keingkaran terhadap dewa semacam itu. Tidak ada cara menghindarinya. Saat mengetahui ibunya sudah berubah, saat itu juga White Fang harus kuat. Hidupnya kini di tangan para dewa, dari satu tangan ke tangan lain, dari perkelahian satu ke perkelahian lain. Seekor anjing lengah, yang pundaknya tercabik atau telinganya robek sebelum ia menyadari apa yang terjadi, adalah anjing yang sudah separuh terkalahkan. Sebelum mengenal para dewa, Kiche adalah pusat semesta baginya. Dan sifat-sifat manusia yang berbeda tipa individu menghasilkan cinta benci yang tarik ulur. Sebenarnya ini merupakan kompensasi, karena selalu lebih mudah untuk bergantung kepada orang lain daripada berdiri sendiri.

Lempung White Fang sudah dibentuk hingga ia menjadi dirinya yang sekarang, pemurung dan kesepian, tidak penyayang dan galak, musuh bagi semua kaumnya. Sekolah kehidupannya lebih tangguh dan ia sendiri lebih tangguh. Vitalitasnya terlalu besar, cengkramannya pada kehidupan terlalu kuat. Dan pada akhirnya White Fang menemukan cinta, seorang manusia memberinya perlindungan, memberikan pelukan sayang dan makanan yang mencipta timbal balik. Endingnya seolah adalah cerita awal The Call, terlalu manis dan sempurna. Apa yang kamu tanam ya kamu tuai. Hidup serigala yang keras dan liar kini tenang dalam peluk dekap para dewa yang mencintainya.

Dengan resiko apapun harus tetap bergerak, terus bergerak, karena gerakan adalah ekspresi dari keberatan. Ia berlari sepanjang hari. Ia tidak beristirahat seakan-akan ia diciptakan untuk berlari selamanya. “Aku menyerahkan diriku di tanganmu, ketahuilah aku di bawah kehendakmu.

White Fang | By Jack London | Diterjemahkan dari The Project Ebook of White Fang, by Jack London | Release date: March 16, 2005 [ebook #910] | [Last update: March 2, 2011] | Penerjemah Harisa Permatasari | Penyunting Jia Effendie | Proofreader Bernard Batubara | Desain sampul Amanta Nathania | Penataletak Landi A. Handwiko | Penerbit GagasMedia | Cetakan pertama, 2014 | vi + 330 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 979-780-700-2 | Skor: 5/5

Karawang, 120319 – Nikita Willy – Ku Tetap Menanti

*) Dibaca dalam sekali waktu dari siang sampai malam minggu pada tanggal 23 Feb 19 di lantai satu Blok H-279 bersama dua cangkir kopi serta deretan Jazz, menikmati hidup. Hanya tersela ibadah dan panggilan pulang Hermione untuk bergegas keburu es krim di rumah meleleh.