Orang-orang di Masa Lalu yang Telah Meninggalkan Cerita ke Masa Mendatang


Segala yang Diisap Langit oleh Pinto Anugrah

“Tatapanmu, tatapan pesimis dan penuh amarah! Tidak baik memelihara tatapan seperti itu! Setan-setan akan senang di dalamnya, mereka akan berpesta pora di matamu!”

Ringkas nan memikat. Hanya seratusan halaman, kubaca sekali duduk selama satu setengah jam pada Sabtu, 16 Oktober 2021 selepas Subuh. Langsung ke poin-poin apa yang hendak dituturkan. Tentang Islamisasi di tanah Sumatra di masa Tuanku Imam Bonjol. Mengambil sudut pandang sebuah keluarga lokal yang kalah dan tersingkir. Segalanya jelas, tapi akan mencipta keberpihakan abu-abu.

Kisahnya di daerah Batang Ka, negeri di tenggara Gunung Marapi, Sumatra. Dibuka dengan pasangan suami istri yang absurd. Bungi Rabiah mendamba anak perempuan sebagai penerus sebagai pelanjut lambang kebesaran dari Rumah Gadang Rangkayo, suaminya Tuanku Tan Amo yang gila perempuan sudah punya banyak istri, Bungo Rabiah sebagai istri kelima. Memang ingin dimadu sama bangsawan. Terjadi kesepakatan di antara mereka, bagaimana masa depan generasi ini harus diselamatkan.

Rabiah memiliki hubungan gelap dengan saudara kandungnya Magek Takangkang/Datuk Raja Malik, satu ibu beda bapak. Dorongan yang begitu besar dari dirinya untuk tetap menjaga kemurnian darah keturunan Rangkayo. Ia tak mau darah keturunan Rangkayo ternoda dengan darah-darah yang lain. Mereka memiliki anak Karengkang Gadang yang bandelnya minta ampun, sejak tahu hamil, Rabiah langsung mencari suami, seolah asal ambil, ia menikah dengan pekerja kasar saat Magek Takangkang sedang dalam perjalanan bisnisnya. Pilihan langsung jatuh kepada Gaek Binga, bujang lapuk yang bekerja sebagai pemecah bukit pada tambang-tambang emas di tanahnya. Sudah bisa ditebak, pernikahan ini kandas dengan mudah, memang hanya untuk status sahaja. Rabiah lalu menikah lagi dengan Tan Amo, seperti yang terlihat di adegan pembuka.

Karengkang Gadang tukang mabuk dan judi. Hidupnya kacau, sakaw karena narkoba dan nyaris mati. Tan Amo mabuk perempuan, menggoda sana-sini walau sudah punya banyak istri. Kesamaan keduanya adalah judi, ia sering kali memertaruhkan banyak harta, termasuk perkebunan. Suatu hari desa mereka kena serang. Seranganya yang memporakporandakan wilayah sekitar itu kini menyambangi mereka. Satu lagi, Jintan Itam yang merupakan anak pungut yang dibesarkan seolah anak sendiri, mengabdi tanpa pamrih. Ia mewarnai kekacauan keadaan dengan pelayanan memuaskan.

Pasukan putih, tanpa menyebut secara terbuka ini adalah pasukan Tuanku Imam Bonjol yang terkenal itu, kita tahu ini adalah Jihad penyebaran agama Islam. Mereka juga memakai sebutan Tuanku untuk orang-orang terhormat bagi mereka. Nah, di sinilah dilema muncul. Magek kini jadi bagian dari pasukan ini, Magek Takangkang, Datuk Raja Malik yang mengganti nama Kasim Raja Malik, ia menjadi panglima yang paling depan mengangkat pedang dan menderap kuda. Pilihan bagi yang kalah perang hanya dua: mengikuti ajaran baru, atau mati. Ia tak pandang bulu meratakan daerah manapun.

Sebagian warga yang sudah tahu, memilih kabur. Yang bertahan luluh lantak, adegan keluarga Bungo ini ditaruh di ujung kisah. Drama memilukan, tak perlu kita tanya apakah Sang Kasim tega membinasakan keluarganya demi agama baru ini? Ataukah hatinya tetap tersentuh. Jangankan keluarganya, pusaka pribadinya yang mencipta dosa sahaja ia siap musnahkan. Dunia memang seperti itu, penuh dengan makhluk serba unik dan aneh. Kalau sudah ngomongin prinsip hidup, segalanya memang bisa diterjang, segalanya diisap langit!

Tanpa perlu turut mendukung pihak manapun, pembunuhan adalah salah. Apalagi pembunuhan dengan membabi buta, dengan bengis dan amarah memuncak. “Kau! Kelompokmu! Tuanku-tuanku kau itu! Hanya orang-orang kalah pada kehidupan, lalu melarikan diri kepada Tuhan!”

Tanpa bermaksud mendukung atau menhujat pihak manapun, selingkuh adalah salah, hubungan incen juga salah, judi, mabuk, narkoba jelas salah. Lantas bagaimana kita menempatkan diri? Dunia memang seperti itu, mau zaman dulu dan sekarang sama saja, hanya teknologinya saja yang berubah. Kalau mau objektif, semua karakter ini pendosa, dan saat bertaubat, ia memilih jalan yang keras, dan yah, salah juga mengangkat pedang. Kalau zaman sekarang, menyandang bom untuk menegakkan bendera agama dengan meledakkan diskotik misalkan, tetap saja salah. “Atas nama agama, katanya!”

Perjuangan melawan semacam kutukan juga terlihat di sini. Rabiah! Ingat, kau adalah keturunan ketujuh dan kutukan kepunahan pada keturunan ketujuh akan menghantuimu. Munculnya karakter minor yang ternyata memiliki peran penting dirasa pas. “Apakah orang-orang mencatat apa-apa yang pernah terjadi pada masa lampau kita, Jintan?” Maka akhir yang manis dengan api berkobar sudah sungguh pas.

Overall ceritanya bagus, tak njelimet, jadi sungguh enak dilahap. Benar-benar clir semuanya, apa yang mau disampaikan juga jelas, silsilah di halaman depan mungkin agak membantu, tapi untuk kisah seratusan halaman, rasanya tak diperlukan. Mungkin salah satu saran, jangan terlalu sering menggunakan tanda perintah (!) terutama untuk kalimat langsung. Mungkin maksudnya marah, atau meminta, atau memerintah, tapi tetap kubaca jadi kurang nyaman. Atau semuanya berakhiran dengan tanda itu dan tanda tanya (?)? contoh kalimat-kalimat langsung yang sebenarnya bisa dengan tanda titik (.), atau ada yang salah dengan tanda ini. (1) “Memang kita tidak akan mengerti, jika mengerti berarti kita selamat di ambang zaman ini!”; (2) “Sebentar lagi kita akan punah! Semuanya akan habis! Saya lebih peduli akan hal itu. Saya dan Rumah Gadang ini, tidak ingin hilang begitu saja, makanya perlu ada yang mencacat! Perlu dicatat!” (3) “Saya telah memilih jalan ini, Tuanku! Maka, saya pun akan berjuang sampai titik darah penghabisan, Tuanku!”; dst…

Prediksiku, buku ini laik masuk lima besar. Kisahnya sudah sangat pas, tak perlu bertele-tele, langsung ‘masuk’ ke intinya. Kursi goyang yang mewarnai kenyamanan hidup hanya selingan bab mula, masa kolonial yang keras bahkan tak disebut dan tak dikhawatirkan. Pasukan Padri, pasukan lokal yang perkasa malah justru yang mencipta khawatir. Rasanya banyak hal yang disampaikan, dan memang sepantasnya tak disampaikan sebab bersisian sejarah. Lihat, cerita bagus tak harus njelimet dan melingkar mumet bikin pusing pembaca, inti cerita yang utama.

Aku tutup catatan ini dengan kutipan dari Matthew Pearl, penulis The Dante Club ketika diwawancarai terkait cerita fiksinya yang bersetting sejarah Amerika, ia menjawab; “Saat Anda menulis fiksi sejarah, Anda harus tahu detail-detail tokohnya: makanan apa yang mereka santap ketika sarapan, apa jenis topi yang mereka kenakan, bagaimana cara mereka beruluk salam ketika saling bertemu di jalan.”

Segala yang Diisap Langit sukses menerjemahkannya.

Segala yang Diisap Langit | oleh Pinto Anugrah | Cetakan pertama, Agustus 2021 | Penyunting Dhewiberta Hardjono | Perancang sampul Bella Ansori | Pemeriksa aksara Yusnida, Nurani | Penata aksara Labusian | Penerbit Bentang | vi + 138 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-291-842-4 | ISBN 978-602-291-843-1 (EPUB) | ISBN 978-602-291-844-8 (PDF) | Skor: 4/5

Terima kasih untuk istri tercinta, Welly Zein

Karawang, 181021 – Fourplay (feat. El Debarge) – After the Dance

*Enam sudah, empat gegas.

**Thx to Titus, Karawang. Thx to Stanbuku, Yogyakarta.

***Judul catatan kuambil dari ucapan terima kasih penulis di halaman awal berbunyi: “Dan, terima kasih untuk orang-orang di masa lalu yang telah meninggalkan cerita ke masa mendatang.”

Gurita di Punggung Naf Tikore


Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga oleh Erni Aladjai


Tapi besok malam kau akan datang lagi kan?”


Pembukanya jitu sekali, hok yang keras dan menghantui. Pembunuhan suami istri, yang (kemungkinan) dilakukan oleh anaknya sendiri. Pembunuhan sadis itu membuat warga sekitar ketakutan berhubungan dengan pelaku, muncul desas-desus ia memiliki ilmu hitam, kebal sakit, manusia yang melakukan perjanjian dengan iblis, sampai kesaktian mandraguna dengan penghuni dimensi lain. Hal-hal sejenis itu, sungguh sangat mujarab openingnya, mencipta tanya, lantas kehidupan berlari kencang di tahun 1990-an.


Setting utama di desa Ko, di jelang akhir masa Pemerintahan Soeharto. Gejolak Orde Baru merambati kehidupan sehari-hari di perkebunan cengkih yang asri. Haniyah membesarkan sendiri anaknya Ala yang kini beranjak remaja. Rumah mereka bernama Teteruga sudah berusia seabad lebih, dan seperti pada umumnya hubungan anak-ibu, mereka saling mengisi keseharian. Saling menguatkan. Dari sekolah, membantu pekerjaan di kebun cengkih, mengajarkan hal-hal bijak bestari, dst.

Novel ini banyak menyorot sosial budaya kehidupan di sekeliling kebun.
Ala di sekolah dipanggil Aljul (Ala Juling) yang membuatnya ngambek sama teman-teman dan bu guru Hijima, teman Haniyah sekolah dulu. Teman akrabnya Yolanda dan Siti Amaranti juga mengesalkan. Ala mencatat olokan itu di papan tersembunyi, mencapai 180-an. Awalnya tak dicerita, tapi nantinya kekesalan itu membuatnya marah, dan ia melabrak ke sekolah. Kisah tentang bullying? Enggak juga.


Cerita sejatinya malah ada di kebun cengkih tetangga kita, Naf Tikore yang di prolog melakukan kejahatan. Segala desas-desus itu menjadikannya terasing, tak berhubungan dengan sesama. Ia tak ke masjid, tak pula ke gereja. “Bukan Muslim, bukan Kristien, sudah sepantasnya dia tinggal di hutan.” Ia tak makan binatang, ia hidup dari hasil alam sekitar. Dalam sejarah singkat yang ditulis, ia menjadi hebat dengan bantuan gurita di kapal perang menjadikannya legenda. Pada suatu hari di Sungai Mariata…


Nah, koneksinya di sini. Ala suatu malam bertemu hantu remaja bernama Ido. Datang dalam kabut dan mengajaknya berkomunikasi, ia adalah korban di zaman colonial. Anak pribumi yang bergaul sama anak londo, dibunuh oleh seorang pribumi demi mengabdi penjajah, tapi tetap abdinya tak digubris. Kepala Ido dipenggal dan dikubur terpisah.


Ala punya misi menyatukan jasad yang dikubur di kolong rumahnya dan di kolong rumah Naf. Saat semua warga takur dan begidik sama Naf, Ala dengan langkah ringan ke sana. Membawa makanan berkat, dan setelah basa-basi mengutarkan niatnya. Sesederhana itu. Kisah ditutup dengan isu perekonomian, sebuah keputusan anak penguasa Orde Baru mencekik petani cengkih, dan setelah berbagai upaya, baru berhasil dihapus setelah Orde itu tumbang.


Temanya beragam, tapi intinya bisa jadi budaya lokal dengan kritik sosial. Pelukisan perkebunan dan tradisi setempat bisa saja menjadi daya saing yang menjanjikan, tapi tetap intinya sederhana. Hantu anak yang baik, walau kehidupannya tragis bisa memunculkan berbagai kemungkinan horror, jagoan yang sakti juga bisa saja meledakkan amarah ke warga, tidak. Kisah ini berakhir dengan tenang. Pesannya bisa saja, apa yang kita makan menghasilkan apa tindakannya. “Tanaman bertenaga-baik membuat manusia yang memakannya berjiwa baik.” Ah, kembali ke jiwa. Misteri semesta ini, merongrong tanya. Dunia Haniyah dan Ala masih di seputar kebun, dan itu membuatnya tetap membumi. Aroma khas cengkihnya bahkan berhasil terbaui hanya dari penuturan.


Pembuka Kusala Sastra Khatulistiwa yang kurang OK. Ekspetasi memang tak tinggi, nama Erni Aladjai sendiri masih asing di telinga, dengan lebl Pemenang ketiga Sayembara Novel DKJ 2019, tetap saja bukan jaminan. Tebakanku jelas novel ini akan tersingkir dari daftar pendek. Kita butuh suatu ledakan hebat untuk jadi juara.


Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga | by Erni Aladjai | KPG 592101875 | Cetakan pertama, Januari 2021 | Penyunting Christina M. Udiani | Penataletak dan Perancang sampul Pinahayu Parvati | Penerbit KPG | vi + 146 hlm.; 13.5 x 20 cm | ISBN 978-602-481-527-1 | Skor: 3/5


Karawang, 051021 – Michael Franks – Time Together


Satu sudah, Sembilan menunggu
Buku ini kubeli di Gramedia Karawang sepulang kerja, tepat di hari diumumkan nominasi KSK.

Tidak Ada yang Lebih Menyenangkan Daripada Kopi di Pagi Hari


Lotre dan Cerita-cerita Lainnya by Shirley Jackson


“Aku merasa terjebak, tinggi di atas gedung tua dengan api; rasanya seperti mimpi buruk. Dan di kota yang asing.”

#1. Percakapan

Kunjungan Nyonya Arnold ke Dokter Murphy. Konsultasi tentang kekhawatiran suaminya tahu, ia khawatir. Ketakutan menjadi gila, semua orang berbeda dan berkepribadian unik hingga isu global.


“Saya ingin Anda mengendalikan diri. Di dunia yang membingungkan seperti dunia kita saat ini, keterasingan dari kenyataan sering –“ / “Membingungkan. Keterasingan. Kenyataan. Kenyataan.”

#2. Elizabeth

Cerpen kedua yang sangat panjang. Melelahkan tutur bahasanya, intinya adalah Elizabeth Style yang bekerja dengan Robert Shax bertahun-tahun penuh perjuangan membangun penerbitan buku, lebih pasnya sebagai agen sastra. Suatu hari ada anak baru, Nona Hill Dephne yang aneh dan mencurigakan, atau malah tampak annoying sebab seenaknya sendiri saat ditinggal sendiri di kantor. Salah satunya berani meminjam buku-buku di meja kerjanya tanpa izin! Sombong sekali kau Nak. Lalu Elizabeth yang kesal lalu mengambil tindakan.


“Saya rasa dia tidak akan mengatakannya, ketika saya melihat bagaimana kau langsung bersikap seolah-olah kau akan terus berada di sini.”

#3. Firma Lama yang Bagus

Kunjungan Nyonya Friedman kepada Nyonya Concord dan putri tertuanya, Helen. Memilih dan memilah tembakau, lalu bergosip ria. Menanyakan kabar putranya yang di Angkatan Darat, Bob Friedman dan Charlie menjadi bahan utama, dan penuh gaya bahwa sebelum masuk tentara Charlie kuliah hukum. Khas gosip ibu-ibu yang membanggakan anak, menanbah-nambahkan detail.


“Firma lama yang bagus, kakek Tuan Concord dulunya adalah seorang partner.”

#4. Sang Boneka

Kunjungan nyonya Wilkins dan Nyonya Straw ke restoran elit. Semua pelayan siap melayani dengan hormat. Mengatur jarak duduk, membicarakan menu makanan yang lezat, kaserol udang, ayam goreng, dst. Dan pemandangan indah di sekitar. Lalu pembicaraan tentang surat dari Walter. Dan akhirnya sampai kepada omongan tamu restoran yang lain. Ada gadis lugu bergaun hijau, disebutnya mirip monyet dan tampak norak, padahal ia makan sama pemuda tampan, dan sang boneka. Lantas sudut berganti ke meja mereka bertiga, tahu apa yang mereka bicarakan? Hahaha…


“Aku suka melihat tempat yang menyajikan makanan enak dan bersih.”

#5. Tujuh Jenis Ambiguitas

Tuan Harris, pemilik sekaligus pelayan toko buku tua, suatu hari kedatangan sepasang bapak-ibu dan pemuda delapan belas tahun (mereka tak saling kenal dan sesama tamu), berbincang literatur dan yang utama ingin belanja buku banyak, sangat banyak. Beberapa koleksi. Meminta rekomendasi, termasuk beberapa karya Dickens, Bronte bersaudara, Mark Twain, dst. Dan sampailah pada buku berjudul Tujuh Jenis Ambiguitas. Sang pria besar terkesan kepada sang pemuda, buku-buku klasik berbobot tahu dan sudah dilahap!


“Perhatikan anak tangga paling bawah.”

#6. Berdansalah denganku di Irlandia

Nyonya Archer muda, Kathy Valentine, dan Nyonya Corn sambil menimang bayi, mereka bergosip. Lalu bel rumah berbunyi, ternyata tamu pria tua yang menawarkan barang tali sepatu berharga satu quarter, ia tinggal di blok seberang, sempat akan ditolak tapi terbesit rasa kasihan, maka dibelinya. Sekadar sopan santun. Namun tak sampai di situ aja, sang tamu dipersilakan masuk, disajikan minuman, makanan. Dan jamuan mendadak-pun tersaji, pria bernama John O’Flaherty, orang Irlandia. Dan nama penyair Irlandia disebut Yeats, karyanya dalam puisi, I am Of Ireland dibacakan, salah satu kutipannya,


“Come out of Charity, come dance with me in Irlandia”

#7. Tentu Saja

Nyonya Tylor yang memperhatikan tetangga, sebuah mobil van berhenti dan anak sekitar empat tahun turun. Disusul perempuan muda. Mereka sedang pindahan, tetangga baru. Nyonya Tylor bersama anaknya Carol bersapa. Mereka bernama Nyonya Harris dan James Junior. Sopan-santun, saling mengakrabkan. Hobi, kegiatan rutin, profesi suami, dst. Rasanya banyak hal bertolak belakang, yang satu suka nonton bioskop, yang satu suka radio, sementara yang lainnya justru kesal sama suara radio keras, dan larangan anaknya nonton film. Oh, awal yang tak bagus. Walau senyum, tapi jelas masam. Ah basa-basi, rasanya memang perlu?


“Tentu saja.”

#8. Tiang Garam

Sepasang suami-istri dalam perjalanan kereta dari New Hampshire ke New York. Muncul lagu lawas di sana, lagu soundtrack film. Lagu yang terdengar akrab, tapi lupa judulnya. Lagu yang rasanya bisa dinyanyikan, tapi liriknya agak terlupa. Brad dan Margaret melakukan liburannya melihat-lihat kota. Berbelanja, makan di restoran, dst. Karena sang istri suka belanja lama, sang suami tak mau menemani. Pengalaman buruk muncul, saat ditemukan mayat dan polisi dipanggil. Lalu Margaret ada rasa semacam phopia terhadap orang-orang, kerumunan, takut akan hal-hal janggal di tengah kota. Ia pun menelpon Brad dari telpon umum untuk menjemputnya.


“Aku merasa terjebak, tinggi di atas gedung tua dengan api, rasanya seperti mimpi buruk. Dan di kota yang asing.”

#9. Pria dengan Sepatu Besarnya

Nyonya Hart, calon ibu muda yang menanti buah hati pertamanya. Nyonya Anderson, pembantunya yang datang dan melayani tiap pagi, sang pembantu suka mengeluh, kerjanya kurang bersih, dan beberapa complain disajikan. Awalnya dirasa mungkin butuh keakraban di antara mereka, tapi ternyata bukan hanya dimula, setelah sebulan lebih, ketidaknyamanan kecil itu benar adanya. Mereka bercerita, bergosip tentang keluarga, kegiatan favorit, dan akhirnya sampai pada Bill, suami Hart. Dikompori sama pembantunya, dipanasi betapa pasangan muda harus lebih saling peduli, tak boleh cuek gitu, dst. Jangan-jangan suami Anda selingkuh?!


“Saya rasa orang tak perlu membicarakan orang lain, maksud saya, menurut saya tidak adil untuk mengatakan hal-hal yang Anda tidak bisa tahu dengan pasti.”

#10. Gigi

Aku merasa aneh.” Clara Spencer bilang ke suaminya. Apakah ini efek obat bius untuk mengobati giginya? Cobalah tidur dalam bus perjalanan ke New York ini, saran suaminya. Ini bukan perjalanan pertamanya ke sana, tapi ia merasa ada kejanggalan. Teman duduknya adalah pemuda bernama Jim, sopan dan mengajaknya ngobrol, ngopi. Ia berasal dari jauh, lebih jauh dari Samarkand. Saat sampai di klinik, hasil x-ray bilang geraham bawah harus dicabut, hal yang harusnya ia lakukan jauh hari. Proses cabut gigi yang dirasa biasa menjelma ketakutan, samar tapi ini kan hanya gigi!


“Ini hanya sakit gigi. Tidak ada yang serius dengan sakit gigi.”

#11. Surat dari Jimmy

Surat dari Jimmy yang tak pernah dibuka, langsung diposkan lagi, dikirim balik. Suaminya selalu begitu, istrinya sempat meminta untuk membacanya. Namun rasanya tak akan. Tak akan pernah. Oh benarkah? Sepadankah?


“Konyol sekali menyimpan dendam terhadao surat. Melawan Jimmy, baiklah. Tetapi tidak membaca surat karena dendam itu konyol.”

#12. Lotre

Di alun-alun yang panas pada 27 Juni, sebuah desa kecil sekiatr tiga ratus warga. Mereka berkumpul, berpesta menyelenggarakan lotre. Kepala pos, Tuan Graves meletakkan kotak berkaki tiga di tengah-tengah. Tuan Summers mengaduk-aduk kertas di dalamnya, Tuan Martin dna putranya Baxter memegang kotaknya. Ritual rutin memilih secarik keras lalu Tuan Summers mengambil satu, setelah para keluarga atau perwakilannya memasukkan kertasnya. Tradisi ini sering ribut, beberapa kali bahkan ia disumpah tak curang, dan memang kali ini sangat kacau.


Ini tidak adil, ini tidak benar,” teriak Nyonya Hutchincon, lalu mereka menyerbunya.


Ini adalah buku pertama dari Shirley Jackson (1916 – 1965) yang kubaca. Lahir di San Francisco, California, USA. Penulis dengan genre horror dan misteri. Lulusan Syracuse University New York dan aktif di jurnal sastra kampus. Bertemu dengan calon suaminya Stanley Edgar Hyman, dan setelah lulus keduanya berkarier di The New Yorker. Shirley menjadi penulis fiksi, suaminya contributor ‘Talk of the Town’.


Karya Shirley yang terkenal, The Road Through the Wall (1948), Hangsman (1951), The Bird’s Nest (1954), The Sundial (1958), The Haunting of Hill House (1959), dan We Have Always Libed in the Castle (1962). Lottery sudah diadaptasi tiga kali ke layar lebar, dan paling terkenal rilis tahun 1969.


Terlihat banyak sekali cerpen yang diambil dari pengalaman pribadi. Sebagai seorang ibu, Shirley jelas suka bergosip dengan tetangga, ada banyak adegan di sini. Sebagai seorang agen penerbit ia tentu saja berpengalaman menghadapi staf nakal, di sini dikisahkan panjang sekali. Sebagai seorang istri, ia menyampaikan pengalaman perjalanan ke New York baik saat bersama suami atau sendiri naik bus, ada di sini. Sebagai warga Negara yang baik, ia tentu menyambut tetangga baru, di sini ada lebih dari dua kali. Sebagai manusia biasa, ia tentu beberapa kali ke dokter, ada beberapa pula. Hampir semua mengambil sudut pandang seorang wanita, seorang IRT, seorang pekerja kantor, seorang istri yang baik, dst. Jelas ini adalah pengalaman sendiri dengan bumbu imaji. Semuanya adalah kejadian sehari-hari, wajar, biasa, sangat sederhana. Nah, inilah hebatnya, kisah biasa kalau dicerita dengan bagus akan luar biasa. Di sinilah pengalaman (menulis dan membaca) itu penting sekali. Mencipta cerita bagus tak seperti lotre yang bisa diambil acak dan asal, harus dilatih dan ditempa panjang. Shirley Jackson tentu saja melakukannya.


Lotre; dan Cerita-Cerita Lainnya | by Shirley Jackson | Diterjemahkan dari The Lottery and Other Stories | Terbitan Farrar, Straus and Giroux, 2005 | Penerjemah Laura Harsoyo | Penyunting Nasrina Lubis | Tata sampul Airarumi | Tata isi Vitrya | Pracetak Wardi | Cetakan pertama, 2021 | Penerbit Noktah | 196 hlmn; 13 x 19 cm | ISBN 978-623-6175-08-8 | Skor: 4/5


Untuk ibu dan ayahku


Karawang, 280721 – 060921 – Earl Klugh – Midnight in San Juan


Thx to Diva Press

Kemungkinan yang Tak Terbatas


Firebelly by J.C. Michaels


Aku tetap berada di rumput sampai kesejukan pagi membangunkanku. Ketika aku sedikit bergerak, aku merasakan tanah yang kering pecah di kulitku…”


Kadang-kadang kehidupan kita dibelokkan oleh sesuatu yang begitu sederhana dan begitu tidak penting seperti seekor katak. Buku ini lebih bagus penjelasan di kata pengantar dan lampiran tentang eksistensialime-nya ketimbang isi utamanya. Mencoba filsafat, sang katak malah mengantar pembaca menguap bosan dengan berbagai pilihan hidup. Bagaimana sebuah pertanyaan sederhana dapat menyebabkan timbulnya masalah besar. Adalah pemicunya, dari sang katak tua, si katak muda lantas mengalami petualangan hebat. Mereka memandang kehidupan dengan tergopoh-gopoh dan merasa telah menemukan sesuatu. Ludwig Wittgenstein menulis sebuah buku yang sangat kecil di mana dia menyatakan bahwa batasan bahasa adalah batasan dari apa yang dapat kita ketahui dan kita sampaikan pada orang lain. Jika kita punya kata-kata untuk menggambarkan sebuah pengalaman, pengalaman itu akan lenyap dan tidak dapat dimiliki orang lain.


Biasanya terbitan Serambi menjamin kualitas, terjemahan pilihan dari novel-novel bermutu. Maka, walau saya tak paham ini tentang apa dan siapa, karena terbitan Serambi aja saya putuskan beli. Ternyata ada yang kurang bagus. Novel ini lemah dalam bercerita, tentang katak bunting yang banyak bertanya tentang kehidupan, semesta metamorphosis sampai rasa penasaran bila keluar dari zona nyaman apa yang akan terjadi. Umum, menggurui, lantas masalah yang disodorkan terlampau biasa, konfliks sederhana, tak berbahaya, atau dalam satu kata: datar.


Descartes mengemukakan argumen bahwa karena persepsi-persepsi kita bisa diperdaya atau tidak akurat, kepastian dan pengetahuan sejati hanya bisa datang kalau kita mengabaikan panca indra kita dan bergantung pada pemikiran dan penalaran.


Katak itu bernama Mising Pieces (PC) – potongan yang hilang, sebab dua kakinya buntung. Ia terlahir sebagai Firebelly, si perut api di sebuah danau, tempat liar. Semasa masih embrio, ia tumbuh menuju kehidupan, bermetamorfosis, yang lantas mengantarnya pada kerasnya kenyataan.


Ia mendapat banyak petuah dari kata tua, bahwa hidup ini misteri. Penderitaan adalah awal mula kesadaran. Apakah setiap tindakan dan keyakinan adalah hasil dari beberapa sel saraf yang membakar di dalam otak kita? Apakah ada kekuatan tak terhingga yang bekerja membentuk siapa dirinya, lama sebelum ia terlahir. Waktu akan menyembuhkan apapun yang mengganggunya, dan luka apapun yang terbentuk sekarang.


Nah suatu hari, ia kena jaring. Bersama binatang lainnya, ia lalu ditaruh di toko peliharaan. Daerah yang berisik karena bersama binatang lain, salah satunya adalah ular. Predator kaum mereka. Salah satu contoh hewan lalat jenis Ephemerids yang hidup singkat adalah , jenis lalat yang hidup hanya sehari.


Dari sinilah, kisah lalu melalangbuana liar. Ia dibeli oleh remaja putri Caroline, orangtuanya bercerai, ia hidup sama ayahnya. Ia bernama PC, dan hidup dalam limpahan kasih sayang. Di tempatkan di akuarium, di kamar yang sejuk, dengan makanan jangkrik yang terjamin rutin. Ia bahagia.


Lantas suatu hari sang ayah akan keluar negeri, ke negeri jauh di Asia. Pergi ke negeri-negeri jauh dan menunggang unta melintasi gunung pasir yang angin. Maka Caroline diantar ke rumah ibunya, PC dibawa dan ditempatkan di jok belakang, sayangnya penampung itu terbuka, ia memiliki kesempatan bebas. Apakah impian petualangan liar yang dikisahkan pak tua itu worth it dilakukan, atau ia nyaman saja sama Caroline? Kembimbangan, dan segala kemungkinan ditimbang. “Berpikir dapat menimbulkan banyak kesulitan.”


Rasa penasaran mengantarnya, keluar. Hippocrates bilang, “Kehidupan ini singkat, kesenian berumur panjang, kesempatan cepat berlalu.” Ia bersembunyi di kolong tempat duduk mobil, ia menikmati kesunyian, kesabaran, dan momen merdeka yang absurd. Bukankah ini yang inginkan selama ini? kembali kea lam liar, menikmati semburan matahari bersama saudara-saudaranya, walau ancaman ular atau predator lain menghadang. “Aku terkutuk untuk bebas…”


Kita diperkenalkan dengan keluarga baru, seorang remaja bermasalah bernama Claire. Ia mendapat konseling oleh guru BP-nya Pak Levante. Dan takdir mempertemukan mereka. Keduanya bermasalah, tapi nasib makhluk hidup memang dinamis ‘kan?! “Yang penting adalah mengembangkan harga diri dan kebahagiaan sehingga kita bisa menghadapi tantangan hidup…”


Dalam salah satu sesi penyuluhan. Di antara ruang yang memisahkan, ada kesunyian yang menggelisahkan. Claire komplain, Bapak selalu mencari hal yang sama, dengan sudut pandang yang sama, dan menemukan solusi yang sama – tanpa menghiraukan siapa yang duduk di kursi ini. “Kita hidup bahagia dan senang sampai sesuatu membuat kita sedikit merasa tidak enak dan sakit, sampai kita menyadari ada akhir pada setiap kehidupan…”


Semua orang memberikan alasan dan penjelasan tentang kelakuan Claire, tapi kemudian dia melakukan sesuatu yang menghancurkan optimism semua orang.


Awan telah menghitam dan menyebar di langit seolah-seolah menutupi dunia dalam warna kelabu yang samar-samar. Dunia luar memanggilnya dengan janjinya akan keliaran dan petualangan, mengajaknya dengan kemungkinan mengenai kehebatan dan kemegahan. Tidak ada cahaya pemahaman yang bisa diterima semua orang. Yang ada hanyalah kesadaran Claire bahwa dia tidak bisa kembali pada kesenangan masa kecil.


Kehidupan penuh dengan tepi-tepi yang kasar. Kehidupan adalah perjalanan luar biasa menuju wilayah tak dikenal. Kita hanya menggunakan kiasan dan analogi untuk menggambarkan perjalanan waktu. Objek yang ditangkap indra kita sama; persepsi kitalah yang berubah seiring bergesernya cahaya dan bayang-bayang. “Kamu tidak pernah berubah, dan itulah alasan aku menyukai kamu ada di sini. Kamu sama seperti dulu, sama seperti ketika aku masih kecil…”


Kita selalu melihat ke belakang. Benar, kan? Tepi itu tidak pernah menjemukan dan selalu menarik. “Aku berbicara seperti seorang penyair karena… yah.. karena aku berusaha untuk tidak memberitahumu tentang tepi yang kasar dalam kehidupanku..”


Berikutnya adalah lampiran tentang keberadaan, bagus banget penjelasannya. Beberapa kutipan beberapa filsuf. Gagasan mengenai keberadaan. Novel ini menitikberatkan pada eksistensialisme. Salah duanya adalah tokoh yang terkenal akan teori ini adalah Jean-Paul Sartre, bukunya Being and Nothingless dan Martin Heidegger, bukunya Being and Time.


Hal-hal besar terjadi di sekitar kita sepanjang waktu, hal-hal besar yang berlalu tanpa kita sadari atau yang kita abaikan, cerita-cerita besar yang tenggelam dalam rajutan kisah dunia, dan hanya bagian-bagian kecilnya yang kita lihat dan kita kenal.


Dalam Notes from Underground, Dostoyevsky melukiskan seorang anti-hero yang ingin menjadi lawan dari hal-hal yang rasional, dapat dimengerti, dan bermanfaat… dia ingin menciptakan ketidakteraturan dan kekacauan sebanyak-banyaknya.


Sartre dalam Nausea, “Apa yang kulakukan sekarang akan menciptakan siapa aku nanti.”


Nama resminya adalah firebelly toad, atau dalam bahasa Indonesia kodok perut api, dan memang lazim ditemukan di toko hewan peliharaan karena warnanya yang unik sehingga menarik dilihat, dan juga mudah dalam perawatannya.


Ini adalah buku pertama J.C. Michaels, dan rasanya sudah bisa bilang bye andai ketemu karya lain. Mengingatkanku pada nama besar Paulo Coelho yang isinya petuah, menggurui, menasehati di mana cerita utama sejatinya hanya tempelan. “… Aku ingin tahu berapa banyak bagian hidupku yang hanya sebuah mimpi… jika aku bisa menjadi orang lain, hanya untuk sesaat, banyak sekali yang akan kupahami.”


Apa yang tersisa kalau Anda menyingkirkan warna, ukuran, bentuk, tekstur, dan baunya? Apa yang tersisa ketika Anda menyingkirkan emosi dan perasaan, rekaan dan gagasan fantastis? Ketika semua yang bisa Anda sebutkan hilang dan disingkirkan dari kehidupan, apa yang tersisa?” Sartre menjawab: keberadaan.


Firebelly | by J.C. Michaels | Diterjemahkan dari terbitan Philograph, Inc, Boston, 2007 | Penerjemah Rahmani Astuti | Penyunting M. Sidik Nugraha | Pemeriksa aksara Eldani | Pewajah isi Siti Qomariyah | Penerbit Serambi Ilmu Semesta | Cetakan pertama, September 2010 | ISBN 978-979-024-203-6 | cover gilang-iggrafix | Skor: 3/5


Untuk Julia,


Karawang, 050921 – Take Over Band X John Paul Ivan – Cuma Kamu


Thx to Derson, Jkt

Pembunuh Serial atas Nama Dante


The Dante Club by Matthew Pearl


Holmes: “… Memperkenalkan Dante kepada masyarakat Amerika akan menjadi salah satu prestasi yang paling signifikan pada zaman kita.”


Dante, seorang loyalis sejati pada sastra dan bahasa klasik. Dante dikambinghitamkan sebagai sumber inspirasi. Novel menggebu tentang pembunuh serial yang mengambil buku klasik sebagai acuan, sebagai pijakan melakukan pengadilan. Jelas bukan barang baru, tema membunuh untuk menegakkan penghakiman sudah sangat banyak sekali dibuat. Lebih spesifik lagi, pembunuhan berantai yang didasarkan buku atau kitab. Sedikit diantaranya yang terbesit adalah ‘The Messiah’ karya Boris Starling, lalu ‘Inferno’ karya Dan Brown. Yang terakhir ini bahkan berdasarkan buku yang sama dengan Dante Club! Namun karena rilisnya duluan ini, bisa jadi kali ini Brown yang kalah langkah.


Apakah kita cukup kuat untuk membongkar sebuah kasus pembunuhan? Adalah pertanyaan para penerjemah ini. Motif dan aura terasa merekalah pemicu kasus-kasus ini. Kematian menjadi sebuah hadiah. Gaya puisinya menjulang seturut temanya, dan mengembang laiknya air pasang dan alurnya yang berpanjang-panjang menggugah pembaca, mengalirkan keraguan dan kekhawatiran. Ada orang lain yang ingin mengambil keuntungan dari informasi yang kau miliki.


Settingnya abad 19, di mana Amerika sedang berbenah pasca Perang Saudara. Di Boston tahun 1865, kota yang menjadi saksi asli proses terjemahan buku Dante ke bahasa Inggris. Gedung Ticknor, Fields & Co. di Tremort Street.


Banyak hal diambil dari kejadian sejarah asli, termasuk nama-nama karakternya. Mencoba senyata mungkin, walaupun tentu ini adalah karya fiksi. “Satu hal yang menyenangkan dari demokrasi adalah bawa kita bebas menerbitkan buku apa saja sejauh kita bisa melakukannya dan sama sekali tidak merugi…”


Tentang sekelompok professor di universitas Harvard yang mengisi waktu diskusi mingguannya dengan menterjemahkan karya-karya sastra. Pertemuan Kamisan di rumah Longfellow Mereka takut dengan pengaruh Dante, karya asing – pengaruh Katolik. Buku-buku Dante sebenarnya mereka sedang memasukkan kita ke dalam neraka yang kita takkan bisa segera keluar darinya. Karena ini tentang Dante maka nama komunitas ini mereka namakan The Dante Club. Anggotanya adalah Henry Wadsworth Longfellow, Profesor James Russel Lowell, Profesor Dr. Oliver Wendell Holmes, James Thomas Fields.


Perkumpulan ini memunyai nilai penting bagi misi Lowell untuk memperkenalkan puisi Dante ke masyarakat Amerika.keberhasilan klub adalah keberhasilan menyatukan berbagai kepentingan anggota. Dunia ini sepanjang masa persis seperti apa yang dikatakannya; kita boleh mengejeknya, kalau perlu, ketika kepentingan seseorang menjadi terlalu dominan. “Aku butuh nama penyair terkenal untuk menjual buku semacam itu ke masyarakat Amerika yang bebal.”


Bahasa Italia, seperti halnya bahasa Spanyol dan Jerman, secara khusus merepresentasikan ambisi-ambisi politik murahan, nafsu-nafsu wadag, dan amoralitas dekaden Eropa. Karena karya itu ditulis dalam bahasa-ibunya sendiri, bahasa Italia dusun, bukan bahasa Latin, dan karena ceritanya berakhir dengan bahagia, penyairnya masuk surga. Ini berkebalikan dengan tragedia. Alih-alih berusaha mengubah sebuah puisi hebat dari sesuatu yang asing dan artifial, dia membiarkan puisinya mengalir sendiri dari dalam pikirannya. Jika orang-orang katolik boleh mengalir masuk dari Irlandia, mengapa beberapa orang Protestan tidak?


Dr. Manning tidak akan mengizinkan racun-racun asing tersebut menyebar dengan berselubung sastra. Nah pertentangan ini menimbulkan riak, isu efek jelek Dante ke masyarakat membuat klub mereka kena kritik. Puisi Dante adalah semacam maklumat Vatikan. “Itu terlalu Italia, terlalu Katolik untuk Universitas Havard. Konsep-konsep tentang Tuhan yang menakutkan seperti itu tidak dapat dijejalkan ke dalam telinga-telinga Protestan kita.”


Padahal seharusnya sastra-lah yang dijadikan agen perubahan, pengetahuan tersalurkan. “… Mencintai sastra lantaran kekuatannya yang memanusiakan dan memuliakan manusia, maka negeri ini tidak akan pernah meraih keberhasilan dalam arti seluas-luasnya yang semata-mata kelak akan melahirkan sebuah Negara dari Rahim rakyat. Sastralah yang membangkitkan sebuah bangsa dari kematian jadi kekuatan yang hidup.”


Bersamaan dengan itu, terjadi pembunuhan yang menghebohkan kota. Seorang hakim ternama dibunuh dengan keji. Healey, tewas di pinggir danau dekat rumahnya dengan belatung di dalam tubuhnya, ia masih hidup beberapa langkah hingga rumah. Namun berakhir mengenaskan. Dalam penelusuran lebih lanjut, diketahui bahwa ia mati dibunuh dengan membiarkan lalat-lalat ganas menggumulinya. Dengan sengaja menanam belatung dalam tubuh! Gila.


Ada sekitar dua ribu lima ratus spesies lalat di Amerika Utara yang siap diberi nama, perkiraan ada sepuluh ribu spesies lalat di dunia. Belatung-belatung di dalam tubuh manusia, manusia hidup! “Lucifer kita menginginkan korban-korban bukan hanya mati, tetapi juga menderita, seperti yang dialami arwah-arwah dalam inferno. Sebuah keadaan antara hidup dan mati, setengah hidup dan mati.”


Belas kasih tanpa ketegasan hukum hanya akan menjadi egoisme pengecut, menjadi sentimen. Peristiwa yang telah dinanti-nantikan dan dimatangkan oleh waktu jadi sebuah takdir: perkenalan Amerika dengan Dante. ‘Dan alangkah hebatnya mereka yang berani bermimpi, yang berani berbuat’. Oh betapa dahsyatnya puisi ini. Puisi itu menjelmakan filosofi yang samar-samar dalam benak semua orang jadi sebaris kalimat ringkas yang bermakna, bermanfaat, dan siap dipraktikkan. “Setelah kejatuhan Adam, kita menanggung dosa.”


Pembunuhan kedua adalah seorang pendeta tersohor. Ia tewas dengan kaki di atas, tertanam dalam lubang di mana uang sekantung penuh ada di dasarnya. Dibunuh di terowongan bawah gereja, dengan api sengat dan tubuh rusak. Dalam penyelidikan lebih lanjut, ia terseret kasus uang haram, dan uang di bawahnya hanyalah simbol. Seorang Simoniac rekaan Dante, para pendeta yang mencari uang dengan menyalahgunakan kedudukan. Seorang meniru Dante untuk membunuh Talbot. Talbot, tiran tua penguasa mimbar khotbah Cambridge. Lucifer bukanlah seorang ahli Dante, dia hanyalah seorang jemaat gereja Dante. Lucifer melaksanakan hukuman-hukumannya demi kepentingan mereka – demi kepentingan Klub Dante!


Sebuah pesan yang bagus dan berkelas serta ditulis dengan gaya yang indah yang diperburuk dan dipelencengkan – sebuah nasihat cerdik dari penulisnya. ‘Galilah lubang Pendeta itu lebih dalam lagi. sesuatu telah luput di bawah kepalanya.’


Dari sini belum ada yang nggeh dengan pola asli sang pelaku. Barulah kasus ketiga yang membuat kepolisian yakin, dan para Dantean yang menunjukkan motifnya. Adalah seorang mahasiswa Jennison. Ditemukan termutilasi. Cukup, tak perlu penjelasan lebih detail. Mati dimutilasi saja, sudah jadi bikin gidik bulu roma.


Tautan itu akhirnya ditemukan, semua adalah dari hasil terjemahan The Dante Club, bahkan kejadian-kejadian itu berurutan. Contoh saat dalam puisi Dante membahas tentang dosa uang haram, maka pembunuhan sang pendeta. Atau saat hakim dibunuh, saat itu mereka sedang bahas tentang hak-hak rakyat yang ternyata oleh hakim tak segera disahkan. “Bila kita lapor polisi semua modus pembunuhan yang dijiplak dari Dante dan dipraktikkan di sini, siapakah yang akan dituduh memiliki cukup pengetahuan tentang modus kejahatan?” / “Kita akan menjadi bukan hanya tertuduh pertama, tetapi juga tertuduh utama.”


Dilema dan pening. Polisi yang menangani di lapangan adalah Nicholas Rey, polisi keling pertama di kota itu, ia sering kena rasis. Sempat masuk pusaran kemungkinan pelaku, tapi kan ia polisi yang mengayomi masyarakat.


Sempat pula salah satu anggota Dantean yang dituduh, apalagi saat diketahui ia melakukan ceramah di gereja tentang Dante di luar kota di akhir pekan. Namun ia lolos dari tuduhan sebab, setiap kejadian pembunuhan banyak saksi bersamanya.


Sang pembunuh disebut sebagai Lucifer, dan dengan melakukan penyelidikan intens mereka berhasil menyimpulkan bahwa pelaku adalah seorang tentara. Hipotesis tunggal: sang pembunuh adalah seorang veteran perang. Kenapa? Dante adalah veteran, ia terasing, ia marah sama keadaan, ia kecewa sama pemerintahan, ia frustasi di medan tempur. Maka ia lampiaskan dengan menulis. “Ide untuk berwisata ke alam akhirat ini, untuk merekam siksaan-siksaan neraka – ini terlalu liar. Dan karya semacam itu sangat tidak tepat disebut sebagai sebuah ‘Komedi’. Khas abad pertengahan, khas skolastik…”


Sastra memperbudak pikiran yang lemah, seperti John Wilkes Booth. Setelah menembak Lincoln ia berkata dalam bahasa latin, ‘Senantiasa demikianlah takdir para tiran’. Itupula yang dikatakan Brutus kepada Caesar, Lincoln adalah kaisar Romawi di zaman itu dalam benak Booth. Dan ia adalah seorang Shakepearean. Maka Lucifer di sini, adalah seorang Dantean.


Berhasilkan mereka menghentikannya? Sebelum pembunuhan keempat, kelima, dst terjadi. Proses terjemahan itu akankah dilanjutkan, atau tetap jalan dengan resiko korban berjatuhan. Sebuah fakta sederhana: hidup adalah pertaruhan.


Segara garis besar bagus. Proses pengenalan karakter, inti masalah yang disajikan, hingga eksekusi ending yang dramatis cukup menghibur. Jelas ini novel dibuat dengan proses analisis dan penelitian jeli nan dalam. Puisi Dante tak kurang daripada pencariannya akan kampung halamannya. “Aku bersyukur di dunia ini, masih ada hal langka yang bagus selain puisi.”, kata Lowell.


Edgar Allan Poe pernah menulis bahwa Longfellow dan semua penyiar Boston menjiplak karya setiap penulis lain, baik yang masih hidup atau sudah mati, termasuk karya Poe sendiri. Ide Poe, setiap kata yang dirinya tulis sesungguhnya curian dari penyair terkenal sebelumnya, dan bermimpi bahwa seorang penyair kondang yang telah meninggal muncul untuk menuntut puisinya dikembalikan.


Pemujaan Dante yang kurasa berlebihan. Sebagai inti cerita, ia seolah seorang Nabi. Dante mengangkat tema umat manusia, bukan seorang manusia. Jangan bertanya apa yang telah diberikan Dante pada manusia, tetapi apa yang dapat diberikan manusia pada Dante – agar bisa secara pribadi memasuki wilayahnya, meskipun wilayah ini luar biasa berat. Dante, dia ingin sekali pulang kampung halamannya. Kematiannya di pengasingan dalam keadaan nestapa adalah kegagalan terakhirnya yang mencolok.


Saat Anda menulis fiksi sejarah, Anda harus tahu detail-detail tokohnya: makanan apa yang mereka santap ketika sarapan, apa jenis topi yang mereka kenakan, bagaimana cara mereka beruluk salam ketika saling bertemu di jalan. Tokoh-tokoh dalam novel saya diburu oleh hasrat sastrawi, sehingga jika novel ini turut membangkitkan hasrat sastrawi pembaca, ini bonus bagi pembaca. Fakta sejarah bahwa Inferno terjemahan di Amerika pertama terbit tahun 1867 oleh Longfellow. “Para pembacalah yang berperan, orang-orang yang menghargai karya. Menulis bukanlah aktivitas kehidupan orang yang paling cakap, tetapi aktivitas orang-orang yang sanggup bertahan. Bagaimana halnya dengan para kritikus? Mereka berusaha sekuat tenaga menjatuhkan diriku, menggilasku, dan bila aku tidak bisa menahan mereka, aku akan tergilas habis.”, kata Holmes.


Klub Dante dan polisi sedang bekerja keras demi satu tujuan: menghentikan pembunuhan. Bedanya, klub bekerja terutama dengan apa yang dapat mereka temukan di dalam buku, sedang polisi dengan apa yang dapat mereka temukan di lapangan. Penduduk ini membangun istana seolah mereka akan hidup kekal dan makan seolah mereka akan segera meninggal dunia. “Kita semua harus mengambil tindakan agar tidak menyesal kelak di kemudian hari…”


Sastra yang mengembuskan napas kehidupan dan kematian, yang dapat membelenggu dan juga membebaskan. Dante bilang, kesedihan terdalam adalah mengingat kebahagiaan masa lalu. Siapa pun yang memberangus pemikiran tak akan pernah selamat dari pemikiran lain. “Lelaki dan perempuan dalam puisi itu, mengapa harus dihukum padahal mereka saling mencintai?”


Dibaca pertama pada saat menjadi sopir keluarga ke Mal Yogya, Karawang malam Minggu 31 Juli 2021. Sempat kutaruh, terlupa. Lantas kuhajar seharian pada libur Merdeka: 17.08.21 dari halaman 243 sd. 502, kutuntaskan pada 21.08.21 halaman 503 sd. Selesai. Novel tebal dan rumit memang idealnya dikejar segera, kalau banyak menunda akan terbengkelai. Apalagi memang novel ini kumasukkan target Agustus. Ini adalah buku pertama Matthew Pearl yang kubaca, ini juga debutnya. Mantab. Moga diberi kesempatan suatu saat menikmati karya-karya lainnya. Here we go! Longfellow: “Kebahagiaan utama dalam hidup ini bukanlah bertempur di medan perang, Lowell, tetapi menghindarinya. Mundur teratur itu sendiri merupakan sebuah kemenangan.”


Waktu itu tahun 1300. Di tengah perjalanan hidupnya, seorang penyair Dante terbangun di sebuah hutan lebat, mendapati bahwa hidupnya berjalan di jalur yang salah. Kita semua memasuki hutan lebat itu dua kali. Sekali dalam hidup kita, dan kemudian sekali lagi ketika kita menoleh ke belakang melihat masa lalu…”


The Dante Club | by Matthew Pearl | Copyright 2003 | Diterjemahkan dari The Dante Club: A Novel | Random House Trade Paperback | Penerjemah Agung Prihantoro | Penyunting M.S. Nasrulloh | Penerbit Q-Press | Cetakan I, Agustus 2005 | Cetakan II, Agustus 2005 | Tata letak Tito F.H & Ruslan Abdulgani | Desain sampul gB | ISBN 979-99542-4-X | Skor: 5/5


Teruntuk Lino, professor pembimbingku, dan Ian, guruku


Karawang, 030921 – The Very Best of Jazz Louis Armstrong – La Vie en Rose


Thx to Ade Buku, Bandung


HBD to Me

#Juli2021 Baca

Lenin mengatakan, “Ploretariat tak mungkin mencapai kemerdekaan penuh tanpa ada kemerdekaan penuh bagi perempuan.”

Juli ini lebih slow bacanya, sebab kembali beraktifitas setelah isoman hampir sebulan. Karena kepadatan kerja, mood juga menurun dan benar-benar menguras emosi menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Hanya lima buku yang kutuntaskan. Memoirs of Geisha yang sebagian besar kubaca bulan sebelumnya, agak sulit dituntaskan, hanya modal maju terus. Tebal, lebar, dan kecil-kecil. Kelar juga. The March lebih gila lagi, tak ada tanda petik di dalamnya, padat melelahkan. Mau kalimat langsung atau tidak, pokoknya tak ada kutip. Ndelujur aja, kalau kisahnya di Indonieaakan lebih muda seperti Midah, ini tentang perang saudara di Amerika dengan geografi yang tak familier, dengan sudut pandang banyak. Melelahkan, maka saat akhirnya selesai, lega juga. Jadi mari kita simak kelima buku bulan tujuh tahun ini yang kutuntaskan.

#1. Memoirs of Geisha by Arthur Golden

Luar biasa. Seperti naik roller coaster, walau tak banyak liukan dan tanjakan terjal, ceritanya berliku. Awalnya sudah sangat manis, gadis miksin anak nelayan dengan kecantikan natural. Matanya yang cemerlang sering kali disebut, berulang kali. Lalu keadaan mencipta, ia dan kakaknya dikirim ke kota, dijual untuk dididik menjadi orang. Bisa jadi apa saja, tergantung nasib dan kemauan. Bisa jadi pelayan, pelacur, pekerja pabrik, atau geisha.

Memang suku kata ‘gei’ dalam kata ‘geisha’ berarti ‘seni’ jadi kata ‘geisha’ yang sebenarnya adalah seniman. Geisha, di atas segalanya adalah penghibur dan pementas. Menuang sake atau teh memang dilakukan, tapi jelas tak akan pernah mengambil acar tambahan. Geisha sejati tidak akan pernah mengotori reputasinya dengan membuat dirinya bisa disewa laki-laki dengan tarif per malam. Geisha tidak pernah menikah. Atau paling tidak, mereka menikah tidak menjadi lagi geisha.

Ke mana pun dia membawa kami, aku lebih memilih bersamanya daripada terdampar sendirian di tengah jalan-jalan besar dan bangunan-bangunan yang sama asingnya bagiku dengan dasar samudra.”

#2. Who Moved my Cheese? By Spencer Johnson

Buku motivasi lagi. kali ini tema utama adalah perubahan dan keniscayaan bahwa yang tak ikut berubah akan ketinggalan dan terlindas zaman. Sejatinya tema semecam ini sudah usang, atau sudah sangat banyak disebut dan dibahas, bahkan berulang kali kita dengar di seminar-seminar, sudah sering pula disampaikan, juga sudah banyak contohnya. Nokia, Blackberry, Bluebird, Fujifilm, dan seterusnya. Produk yang dulu merajai, bisa tenggelam saat ini. Dan tentu saja, mereka yang saat ini terasa raja suatu saat bisa ambruk. Semuanya butuh adaptasi. Nah itulah, topik utamanya, perubahan dan cara mengantisipasinya. Dibawakan dengan fun dan cerita yang nyaman diikuti.

“Karena orang mau semuanya seperti dulu dan mereka berpikir perubahan akan merugikan mereka. Saat satu orang bilang perubahan itu adalah ide buruk, yang lain akan berkata sama.”

#3. The March by E.L. Doctorow

Perang saudara di Amerika abad 19 yang menelan banyak korban dari tahun 1861 sampai 1865 antara Utara versus Selatan. Utara menuntut penyatuan disebut Union, Selatan meminta kemerdekaan dari Amerika Serikat yang membentuk Konfederasi. Tuntutan tentang perbudakan yang lanjut atau dihapus menjadi isu penting nan krusial. Ada kekayaan begitu melimpah yang dapat diperas dari tenaga budak; karena itu, tidak heran bahwa orang-orang ini mau berjuang sampai mati. The March ada di masa itu, seperti perang itu sendiri yang rumit, penceritaannya juga mencipta pusing sebab tak ada tanda kutip untuk kalimat langsung.

Kau tidak boleh mereduksi kehidupan menjadi sentimen-sentimen saja, Emily.

#4. Pseudonim by Daniel Mahendra

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen saja yang jumlah kata lebih sedikit, dan tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua orang itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak faktor. Salah satunya selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasaranya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

“Dan di mana Radesya?”

#5. Kampus Kabelnaya by Koesalah Subagyo Toer

Curhat selama belajar di Uni Soviet. Bagus, menuturkan cerita dari orangnya langsung, pengalaman yang dikisahkan dengan fun, tak perlu telaah lebih, santuy dan asyik aja menikmtai kalimat-kalimat itu. Ini adalah dunia Eropa Timur di tahun 1960-an, dunia sedang Perang Dingin. Perang ideologi Demokrasi Liberal versus Sosialis. Ini adalah catatan penulis selama belajar di Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa di Moskwa tahun 1960-1965, yang sedikit-banyak mencerminkan semangat zaman itu.

“Maafkan aku, ya, karena telah membuatmu ragu. Tapi aku memang ingin menangis. Biarkan aku menangis sampai puas. Sesudah itu aku takkan menangis lagi.”

Karawang, 260821 – Norah Jones – Don’t Know Why

The March: Rumit sejak Bab Pertama

Kau tidak boleh mereduksi kehidupan menjadi sentimen-sentimen saja, Emily.

Perang saudara di Amerika abad 19 yang menelan banyak korban dari tahun 1861 sampai 1865 antara Utara versus Selatan. Utara menuntut penyatuan disebut Union, Selatan meminta kemerdekaan dari Amerika Serikat yang membentuk Konfederasi. Tuntutan tentang perbudakan yang lanjut atau dihapus menjadi isu penting nan krusial. Ada kekayaan begitu melimpah yang dapat diperas dari tenaga budak; karena itu, tidak heran bahwa orang-orang ini mau berjuang sampai mati. The March ada di masa itu, seperti perang itu sendiri yang rumit, penceritaannya juga mencipta pusing sebab tak ada tanda kutip untuk kalimat langsung.

Perang ini bisa juga disebut mempertahankan kehormatan. Para wanita tidak menciptakan perang – mereka tidak menaiki kuda sambil mengayun-ayunkan pedang dan berteriak-teriak tentang kehormatan dan kemerdekaan.

Terbagi dalam tiga kota: Georgia, Carolina Selatan, Carolina Utara. Tiga tempat ini adalah Wilayah selatan jadi perang dalam March semua settingnya di sana. Total ada sebelas negera bagian, empat yang lain: Mississippi, Florida, Alabama, Louisiana. Lalu Virginia, Arkansas, Tennessee. Tokoh asli dalam sejarah Jenderal William Tecumseh Sherman menjadi sentral kisah ini, walau mengambil sudut pandang yang lain, dan tak ada yang dominan, tetap saja pemimpin ini yang menjadi acuan kisah, termasuk percobaan pembunuhan terhadapnya.

Mereka meninggalkan tempat itu, rombongan kulit putih dan hitam, mengikuti garis debu sinar matahari yang akan membawa mereka ke arah tenggara langit Georgia.

Semuanya ada sebelas jenderal. Dan kisahnya panjang berliku. Ada Pearl, Pearl, laki-laki aneh ini, pada kenyataannya adalah gadis. Dalam perang, walaupun ia berkulit putih, dia pastilah seorang negro. Seorang budak wanita di Selatan yang bimbang akan nasibnya, akankah mengikuti saran teman-temannya atau menyongsing impiannya, merdeka dan menikahi lelaki idamannya yang berkulit putih.

Ada Kolonel Wrede Sartorius seorang dokter bedah lulusan Jerman yang menjadi petugas lapangan. Ia menjadi saksi keganasan perang, banyak individu mati di tangannya akibat kegagalan penanganan, begitu banyak pula yang selamat, tapi harus cacat permanen. Ia membawa perlengkapan operasi dalam tasnya, termasuk gergaji dan palu.

Lalu ada dua tentara Konfederasi Arly dan Will, ini bagian paling menarik. Sedih sekali di adegan meminta kuda, lalu salah satunya tewas sebab yang sederhana. Mereka adalah pasukan biasa, maka kalian akan menemui banyak kekonyolan. Saling canda, saling tawa, ke rumah pelacuran, hingga perampokan gereja. Pada akhirnya membelot ke Union.

Dalam perang antar Negara bagian ini, mengapa alasan untuk bertempur harus punya arti? Karena jika kematian tidak penting, mengapa kehidupan itu penting? Kata Arly: jika ada suatu alasan yang bagus untuk perang, itu bukanlah untuk menyelamatkan Union, dan tentu saja bukan untuk membebaskan orang-orang negro, tidak ada hubungannya dengan apa pun kecuali untuk mendapatkan seseorang perempuan milikmu sendiri, atau bahkan milik orang lain, di tempat tidur bersamamu saat kamu mau.

Emily Thompson, anak hakim yang berduka. Setelah kehilangan ayahnya, ia linglung, ia adalah orang kaya, bangsawan yang tak siap menjadi kere. Ia menjadi perawat dalam tenda perang, kekasih Kolonel Sartorius. Meradang akan situasi ini. Ketika perang dimulai, Emily belum mengerti arti perang. Perang berarti kematian setiap orang dalam keluarganya. Perang berarti kematian keluarga Thompson. Tetapi kemudian anak itu ragu-ragu.

Semuanya digulirkan secara bergantian, ada penjarahan kota di mana saat kota sudah ditaklukkan maka semua harta yang tertinggal berhak diambil. Milledgville hancur – jendela-jendela pecah, kebun-kebun terinjak-injak, barang-barang di toko-toko dijarah. Setelah itu dibakar, bersama angin yang melaju di atasnya, semarak letusan tembak malah menambah kesedihan.

Ada kepiluan saat korban perang adalah para pemuda, mati muda. Pada pagi hari dia mengetahui bahwa Willie Hardee, anak laki-laki berusia enam belas tahun putra Jenderal Konfederasi Hardee, telah meninggal dalam pertempuran di Bentonville, Sherman kembali ke kamarnya dan menangis. Mungkin penderitaannya yang terbesar adalah ketika kehidupannya sebaga tokoh publik dan kehidupan pribadinya berbenturan.

Sungguh tak wajar dalam usia seperti itu karena, bertentangan dengan rencana aung Tuhan, anak muda lebih dulu kehilangan nyawanya sebelum yang tua. Disebutkan dalam al kitab Perjanjian Lama (seingatku), “Saat dedaunan jatuh yang lainnya akan tumbuh, demikian juga yang terjadi pada keturnan daging dan darah (manusia), saat satu mati yang lainnya akan lahir.”

Perang di abad 19 tampak klasik dengan kuda, strategi parit, senjata bedil seadanya, hingga komunikasi terbatas. Kuda-kuda diikat ke tiang-tiang lampu. Dia mendengar suara musik aneh, dan saat memasuki Capitol Square dia melihat sebuah tarian yang berlangsung di bawah cahaya obor. Dia tidak sedang berpikir, hanya mencoba untuk mengendalikan kudanya yang panik yang mendompak dengan satu tangan sementara. Tetapi kudanya menginjak-injak mayat dan kemudian barisan kuda-kuda dan para penunggangnya berdiri di sekelilingnya.

Untungnya jelang akhir kisah, buku ini meledak. Sebuah Studio fotografi Josiah Culp mendapat kehormatan untuk mengabadikan momen para jenderal berpose. Di sana ada penipuan, ada teror, bahwa Culp bukanlah Culp, ada penghianat yang siap mengacaukan keadaan. Akhirnya memang ketebak, di mana novel berakhir di sejarah terbunuhnya Presiden Linconl 14 April 1865. Di sini, ujung kisah itu menjadi pelajara berharga, betapa harapan selalu ada, optimisme wajib dipupuk. Seperti sejarah perang saudara itu sendiri, di mana perbudakan diakhiri, kisah The March meninggalkan duka mendalam lalu menyongsong hari esok yang lebih menjanjikan.

Ditulis dengan narasi panjang nan puitis. Tetapi kalau kau dengar paduan suara lolongan artinya cuma satu: kau berada di Neraka. Bagaimana seandainya orang-orang yang tewas itu bermimpi sebagaimana orang yang tertidur bermimpi? Bagaimana kita akan mengetahui bahwa tidak ada pikiran setelah kematian? Atau bahwa kematian bukanlah suatu keadaan bermimpi yang dari situ mereka tewas tidak dapat bangun? Dan mereka terjebak di dalam alam yang mengerikan dari teror-teror yang samar-samar seperti yang kuketahui dalam mimpi-mimpi burukku.

Selain fotografi yang merupakan barang baru, menjadi penggerak alur. Ada jurnalis yang mencatat kisah-kisah ini. Hugh Pryce, wartawan dari times London. Ia memberi makna di setiap kejadian, netral? Tampaknya, tapi di dunia ini setiap individu selalu ada kecenderungan. Kemuliaan sejati adalah kebahagiaan yang tak pernah bisa diungkapkan saat melakukan perintah Tuhan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada rasairi di sana, tidak ada sanjungan yang akan meledak di wajahmu.

Api juga bisa mati, seperti manusia saja. Pikir Stephen. Ketika hidup menyala-nyala, sedangkan kematiannya begitu dramatis. Seakan-akan dia berkata: aku sudah berakhir, kalah, kau sedang melihat kematianku. Jenderal Konfederasi, Hampton ketika mundur adalah orang yang memerintahkan pembakaran kapas. Dibantu angin, pasukan pemberontak sendirilah yang membakar Columbia.

Sherman yang legendaris, dipuja bak dewa. Padahal pemujaan terhadap Sherman ini adalah penghujatan, sebab ia bukan Tuhan kalian. Perdagangan budak telah berakhir, apa kamu tidak dengar? Tidak bisa membeli atau menjual orang lagi. Merasakan kekaguman mereka ketika dia mengungkapkan penghargaan pada mereka dengan caranya yang aneh, melalui gerutuan dan anggukan.

Dia sedang melihat refleksinya dalam cahaya yang lembut dari lampu gas. Apakah kita tidak punya jiwa? Lalu apakah yang kudengar ini kalau bukan jiwa yang tercurah dalam musik? Aku sedang mendengar ungkapan jiwa…

Stephen pernah menyaksikan sendiri kengerian dalam pertempuran, dia tetap tak sanggup melihat prosedur pembedahan, dan jatuh mentalnya mendengar suara-suara kesakitan di mana-mana, dan menyaksikan betapa banyaknya penyakit yang dapat menimpa begitu banyak umat manusia…

Ini adalah buku pertama E. L. Doctorow yang kubaca, rumit tapi nagih maka buku lainnya kalau ada kesempatan baca, akan turut kulibas. Menang PEN/Faulkner award, dan finalist Pulitzer Prize 2006, serta finalist 2005 National Book Award. Selain ini beberapa novel terkenalnya, City of God, Welcome to Hard Times, The Bookof Daniel, Ragtime, Loon Lake, Lives of the Poets, World’s Fair, Billy Billgate, dan The Waterworks. Ia tinggal di New York.

Dunia dalam perang membuat hatinya bersedih. Bahasa adalah peperangan dalam bentuk lain. Dan takdir? Dalam perang, takdir adalah suatu kebetulan. Waktu berlalu, segala sesuatu berubah dari waktu ke waktu, hanya foto yang tersisa dari masa lalu itu.

The March | by E.L, Doctorow | Copyright, Random House Publishing, 2005 | Penerjemah Rahmani Astuti | Penyunting M.S. Nasrullah | Cetakan I, Januari 2007 | Penerbit Q-Press | Desain sampul gBALLON | Tata letak Tito F. Hodayat | Montase Ruslan Abdulgani | ISBN 979-1174-05-9 | Skor: 4.5/5

Helen

Karawang, 250821 – Ella Fitzgerald feat. Louis Armstrong – April in Paris

Thx to Buku Vide, Yogyakarta  

Di Kota Kucing, Manusia adalah Pengunjung

“Aku sangat menyukainya. Dia memiliki kebanyakan kualitas yang luar biasa. Tetapi terkadang sulit bagiku untuk mengikuti cara berpikirnya yang ekstrem…”

Memang jaminan mutu, penulis idola, pengarang terbaik modern yang masih hidup hingga saat ini. Setiap tahun kujago menang Nobel Sastra, maka semua buku terjemahannya coba saya nikmati. Kota Kucing dan Kisah-kisah Lainnya diterjemahkan entah dari mana, sebab di identitas tidak dicantumkan. Diambil dari berbagai sumber? Ya sepertinya, satu cerita adalah nukilan novel 1Q84, awalnya sudah familier. Kisah Tengo terbaca alurnya bahkan di halaman pertama. Saya baru baca books one, belum finish di seri tiga, tapi pijakannya sama. Apakah ini sejenis cerpen yang dikembangkan menjadi novel? Atau kumpulan cerpen ini adalah versi padat sebuah buku besar? Kreatif sekali kalian, kalau segitunya. Hanya kalian yang sudah baca riwayat Tengo, atau orang dibalik Penerbit Odyssee yang tahu.

Ada enam cerita, dan semuanya keren.

#1. Samsa Jatuh Cinta

Dia terbangun dan menemukan dirinya telah bermetamorfosis menjadi Gregor Samsa. Pembuka kisah yang to the point. Pijakannya jelas dari novelet Franz Kafka dimana Samsa terbangun suatu pagi menjadi seekor kecoa. Kali ini dibalik, seekor kecoa menjadi manusia. Kok bisa? Biasanya saya kurang suka cerita terkenal yang sudah menjadi ikon, lalu diburai dan dikembangkan oleh penulis lain. Namun kali ini jelas pengecualian, sebab jadinya malah terlena, terbuai akan nasib Samsa.

Samsa terbangun dalam kebingungan, dan memertanya kenapa jadi manusia? Dia tidak berubah menjadi ikan saja? Atau bunga matahari? Setidaknya, menjadi ikan atau bunga matahari lebih masuk akal daripada menjadi manusia – menjadi Gregor Samsa. Seandainya aku berubah menjadi ikan atau bunga matahari, aku bisa menjalani hidupku dengan damai, tanpa harus berjuang untuk naik atau turun tangga seperti ini. dalam keadaan lapar, ia turun ke halaman rumah yang terbentang meja penuh makanan. Saking laparnya, dia tidak peduli dengan ras. Hambar atau lezat, pedas atau asam, baginya semua rasa sama.

Samsa tidak tahu dari mana pengetahuan berasal. Mungkin terkait dengan ingatan berputar yang ia miliki. Setelah kenyang ia lalu menyusun kepingan info. Saat itulah muncul gadis panggilan, yang bertugas membetulkan kaca. “Gregor Samsa, kamu adalah orang yang menyenangkan untuk diajak bicara. Kosa katamu kaya, dan selalu sampai ke intinya…”

Mereka ada di masa perang, era asli kisah ini. Praha yang bergolak, di mana-mana banyak tentara yang berjaga. Penjelasan sang gadis, untuk sampai rumahnya butuh perjuangan ekstra. Ia bukan ahli kunci, tetapi sebagai tenaga pengganti sementara. “Segalanya berantakan akibat bom di sekitar kita, tetapi masih ada yang peduli dengan lubang kunci yang rusak… mungkin mengerjakan hal-hal kecil dengan patuh dan jujur adalah cara untuk menjaga kewarasan di tengah dunia yang sedang kacau.”

Lubang kunci yang rusak ada di lantai atas, dan setelah banyak kecanggungan, basa-basi, sampai fakta aneh bahwa di masa itu, masih ada yang peduli kunci yang rusak terdengar janggal. Yang pasti Samsa jatuh hati padanya. “Jika kamu memikirkan seseorang dengan sungguh-sungguh, kamu akan bertemu dengannya lagi.”

Segalanya gelap: masa depan, saat ini, dan masa lalu. Mana yang benar dan mana yang salah? Samsa yang baru saja jadi manusia, memertanya banyak hal. Dunia sedang menunggu untuk dipelajari. “Aku tidak bermaksud kasar. Aku tidak sehat, ada banyak hal yang tidak kumengerti.”

#2. Pisau Berburu

Waktu berlalu dalam diam. Mungkin yang paling lemah sebab endingnya paling biasa, kalau tak mau dibilang datar. Narasinya panjang nan berbelit. Jadi suami istri yang sedang melakukan liburan, menginap di hotel dekat pantai, memperhatikan sekitar. Termasuk tetangga mereka yang unik.

Rutinitas sebagai sesama tamu, walau tanpa saling sapa mencipta keakraban tanggung. Dan di hari terakhir sebelum check-out, ia bertemu dengan sang pemuda Amerika tersebut. Di dini hari yang sunyi di dekat kolam hotel. Terjadi diskusi menarik. “Ketika Debussy tidak mendapatkan tempat di dalam opera yang ia susun, dia mengatakan ini: ‘Aku menghabiskan hari-hariku untuk mengejar ketiadaan yang tercipta – rien.’ Tugasku adalah menciptakan kekosoangan itu, rien-ku.”

Pisau berburu yang tajam yang berbahaya untuk seorang yang sakit fisik. Apakah itu semua hanya ilusi? Atau, aku adalah ilusi itu sendiri? Mungkin itu bukan masalah. Datanglah besok, dan aku tidak lagi ada di sini.

#3. Kota Kucing

Ini yang saya maksud nukilan novel 1Q84. Tengo yang unik, karakter istimewa ini mengunjungi ayahnya yang sudah tua di sebuah panti jompo, naik kereta dan menikmati sebuah buku dari Jerman tentang kota kucing, di mana seorang pemuda turun di sebuah stasiun, tak ada penghuni manusia, adanya kucing, banyak kucing, banyak sekali. Di sebuah menara, ia mendengar bahwa para kucing curiga ada manusia di kota ini, dan ia diburu. Saat ia kembali ke stasiun, kereta tak mau berhenti, maka ia kembali bersembunyi di menara lonceng. Stack, takut, prihatin dalam sepi. Fantasinya semakin jauh dan kompleks. Mereka mengikuti satu pola, tetapi variasinya tak terbatas.

Tengo, bernarasi selama perjalanan tentang masa kecilnya yang menjadi teman menarik iuran TV stasiun NHK, oleh ayahnya. Kabarnya ibunya meninggal saat kecil dan menghabiskan masa kecilnya menjadi teman jalan ayahnya tiap hari Minggu yang seharusnya merupakan hari libur.

Menyebalkan, dan sungguh ia muak. Maka hubungan ayah-anak ini jadi renggang dan janggal. Mereka adalah dua manusia terpisah yang berasal dari – dan sedang menuju –  tempat yang sepenuhnya berbeda. Bahkan memori masa kecilnya, melihat ibunya berselingkuh dengan lelaki lain menjadi alibi bagus untuk menanyakan, apakah ia anak kandung? Apakah ibunya masih hidup? Dst. Kalian takkan menemukan jawabnya, sebab khas Murakami, banyak hal menggantung, semakin banyak semakin penasaran, semakin bagus. Jika hidup dapat diukur dengan warna dan ragam episodenya, kehidupan ayah ayah Tengo begitu kaya dengan caranya sendiri, mungkin.

Aku tidak selalu ingin tahu akan kebenaran tentang siapa diriku dan dari mana aku berasal. Termasuk saat di masa tuanya, Tengo kembali menanyakannya, walaupun ujungnya tak ketemu juga.

Pengetahuan adalah modal sosial berharga. Itu adalah modal yang harus dikumpulkan hingga berlimpah dan digunakan kepada generasi berikutnya dengan sangat hati-hati. Itu juga harus diwarsikan kepada generasi berikutnya dalam bentuk yang bermanfaat…”

#4. Kino

Luar biasa. Tentang suami yang dikhianati dan bagaimana menghadapi kenyataan pahit. Saat kenyataan menghantam keras padamu, maka hantamlah dengan keras sebagai balasan. Seperti tanah kering yang menyambut hujan, ia membiarkan kesendirian, kesunyian, dan kesepian meresap dalam. Kino adalah pekerja kantor biasa, memiliki istri dan belum punya anak. Suatu hari saat ia ditugaskan keluar kota, dan balik tanpa info lebih cepat sehari sebelum jadwal, ia menemukan istrinya selingkuh. Ia marah, pergi tanpa menengok ke belakang. Tanpa membawa apapun, ia membangun ulang kehidupan. Ada yang salah di antara mereka sejak awal, seolah mereka telah menekan tombol yang salah. Aku harus belajar bukan hanya melupakan tetapi memaafkan. “Aku harus belajar bukan hanya melupakan tetapi memaafkan.”

Membuka bar dengan jazz dan arsesoris aduhai. “Mendengarnya, membawa kembali begitu banyak kenangan.” Bar milik bibinya yang kini sudah ia sulap menjadi tempat nongkrong yang menyenangkan. Ia bayar per bulan, ia sanggupi syarat itu. Berjuang dari awal lagi, mencipta idealismenya sendiri. Lalu seorang pengunjung aneh bernama Kamita, yang tiba setelah Magrib dengan buku tebal dan pesanan yang sama membuatnya penasaran. “Maksudmu beberapa masalah serius telah terjadi, bukan karena aku melakukan kesalahan, tetapi karena aku tidak melakukan hal benar? Ada masalah dengan bar ini, atau aku?”

Dari situ pula kita tahu, ada sesuatu yang aneh di kedai itu. Sesuatu yang janggal, ia bukan pengunjung biasa. Kino biasanya selalu berhati-hati dan menjaga jarak dari segala macam keterikatan. Tidak ada yang lebih buruk dari kecemburuan dan kebanggaan, dan Kino memilki sejumlah pengalaman yang mengerikan karena keduanya.

Sementara hujan tak kunjung reda, membasahi dunia dalam dingin yang menggigil.

#5. U.F.O. di Kushiro

Ini juga tentang suami yang kehilangan istrinya, Komura ditinggal istrinya setelah gempa yang menimpa Kobe. Semua akibat dari gempa itu seperti gema monoton yang jauh darinya. Menjelaskan secara sederhana tetapi jelas mengapa dia tidak ingin hidup dengan Komura lagi. Tanpa kejelasan kenapa ia cabut, teman sekerjanya Sasaki lalu menyarankan liburan ke Hokkaido. Sekalian menitipkan benda aneh untuk diberikan kepada adiknya.

Di bandara, ia disambut Keiko Sasaki dan temannya, Shimao. Dari sana mereka mengakrabkan diri, dan khas Murakami persahabatan sesaat ini menjelma liar. Cerita mereka berhenti pada titik itu. Dia berhenti sejenak untuk membiarkan ceritanya meresap. Dan yang terjadi, terjadilah. Shimao menggambarkan suatu pola rumit di dada Komura dengan ujung jarinya, seolah sedang melemparkan mantar sihir.

#6. Kemarin

Pikiranku seperti diselimuti kabut. Ini yang terbaik, sangat bagus. Di tempatkan di paling akhir pula. Tanimura memiliki teman aneh bernama Kitaru, orang Tokyo yang belajar dialek Kansai dan mempraktekkannya. Bukan hanya mempraktekkan, juga mendalami dan benar-benar menjelma orang Kansai. Hajar mereka tepat di depan dengan memberikan fakta bahwa aku berasal dari De-nen-cho-fu. Bayangkan, ada orang Jakarte, belajar logat Tegal dan benar-benar menyusupinya dengan sungguh. Mereka berkawan di kedai kopi dekat gerbang Universitas. Sama-sama aneh memang, tapi Kitaru terlampau kreatif. Tes masuk perguruan tinggi Waseda (tempat kuliah Murakami) dua kali gagal, sementara Tanimura langsung kuliah. Jika kamu tidak tahu apa yang kamu cari, akan sulit untuk menemukannya.

Maka saat ia berkunjung ke kampung halaman di Denenchofu, berceritalah ia bahwa ia memiliki pacar sejak sejak sekolah. Teman akrab sejak kecil, Erika yang cantik sekali. Mereka terlihat cocok, dan saling melengkapi, tapi memang Aki (panggilan sayang Kitaru) lebih ekstrem. Muncul ide gila, bahwa Tanimura diminta kencan sama pacarnya. Awalnya ga mau, tapi karena Tanimura sahabatnya sendiri, dan percaya sekali, maka kencan itu terwujud. “Tetapi, pengalaman yang sulit dan rasa kesepian, adalah sesuatu yang kamu perlukan ketika masih muda. Bagian dari proses kedewasaan.”

Diskusi suatu akhir pekan itu di Shibuya dan menonton film Woody Allen, menjadi kejadian yang absurd untuk dikenang. Menjadi penghubung banyak hal, sebab setting cerita lalu dilempar ke masa depan dengan nasib berbeda untuk ketiganya. Dia menelusuri halaman-halaman buku ingatannya. Merenungi bagaimana hal-hal pada akhirnya berakhir – setelah semuanya telah diputuskan – adalah masalah kronis lainnya. Kimura di Amerika, Tanimura yang sudah menikah tanpa anak, dan Erika yang menjadi sales juga belum menikah. “Kamu terlalu cantik untuknya.”

Pertemuan tak sengaja di hotel itu mengungkap hal-hal masa lalu yang terpendam. Betapa kemarin, walau sudah lewat masihlah sangat berharga. Yang bisa kita lakukan supaya kedua mataku tetap terbuka ketika angina yang kuat menerjang adalah menarik napas, dan terus maju.

Lakukan apa yang kamu inginkan dan lupakan apa yang orang lain pikirkan. Aku terkesan denganya. Yang masih tersisa dalam ingatanku hanyalah fragmen-fragmen, yang bahkan aku tidak yakin apa benar begitu yang dinyanyikan Kitaru. Seiring berjalannya waktu, ingatan, tanpa bisa dihindari, menyusun kembali dirinya sendiri.

Memang istimewa penulis yang satu ini, segala pujian rasanya tak akan selesai dikumandangkan untuk cara bercerita yang keren. Kota Kucing adalah kumpulan cerpen pertama yang kubaca, setelah novel-novelnya dan memoar asyik tentang lari. Dan jelas buku-buku keren lainnya pasti kususul baca. Kucing, jazz, absurditas narasi, cinta yang tenggelam, lari… inilah semesta Murakami.

Kota Kucing dan Kisah-kisah Lainnya | by Haruki Murakami | Copyright Odyssee Publishing, 2019 | Cetakan pertama, Mei 2019 | Alih bahasa Dewi Martina | Penyunting A.D. Saputra | Tata letak The Naked! Lab | Perancang sampul The Naked! Lab | Ilustrasi sampul Louis Wain Paintings, 1886 – 1936 | Skor: 5/5

Karawang, 240821 – Louis Armstrong feat. Ella Fitzgelard – Isn’t This a Lovely Day (To Be Caught in the Rain)

Thx to Sentaro books, Bekasi

The Summons: Keserakahan adalah Binatang yang Sangat Aneh

“Berpikirlah seperti bajingan, Ray. Berpikirlah seperti penjahat.”

Hakim Atlee adalah orang besar di sebuah kota kecil. Buku ini ada tautan dengan The King of Torts, di mana seorang raja ganti rugi menjadi sisipan kisah. Sebuah panggilan dari orang tua, kedua anaknya diminta datang ke kampung halaman sebab sang ayah kini sudah tua dan sekarat. Panggilan yang dikira sederhana, untuk menjadikan pertemuan terakhir dan mungkin pembacaan warisan itu menjadi cerita liar dan panjang. Sebab saat sang sulung sudah sampai, ayahnya keburu meninggal. Terlambat, waktu tak bisa ditarik mundur. Lebih runyam lagi, ada berkantong-kantong uang di dalam lemari. Tiga juta dollar lebih, menarik sekali idenya. Sang hakim yang lurus dan penuh dedikasi, terkenal loyal dan baik hati, dambaan semua warga, tampak sederhana, ternyata memiliki kekayaan melimpah. Korupsi? Uang jatuh dari langit? Nah itulah inti kisah Panggilan, penyelidikan uang apa gerangan.

Kisahnya tentang Ray Atlee, mengambil sudut pandang orang pertama. Ayahnya Reuben V. Atlee adalah hakim terkenal di Clanton. Ray adalah dosen di Universitas Virginia, lulusan hukum yang awalnya menjadi tumpuan harap sang ayah, tapi ia malah merantau. Kehidupan mapan itu, retak sebab ia cerai dengan Vicki yang telah menikah lagi dengan konglomerat tua nan kaya. Ray menjalani hidup untuk dirinya sendiri, bukan untuk ayahnya atau kemegahan masa lalu keluarga. Ia hadir di Clanton hanya untuk menghadiri pemakaman. Adiknya, Forrest Atlee sangat kontras, pria bermasalah di banyak hal. Forrest adalah seperangkat persoalan dan masalah lain, jauh lebih rumit daripada ayah tua yang penyendiri.

Hakim Chanvellor Reuben V. Atlee tinggal di Mapple Run, rumah tua itu berdiri di sana tahun demi tahun, dekade demi dekade, menerima berbagai serangan tapi tak pernah roboh. Baginya jadi hakim adalah panggilan hidup. Impian Hakim Reuben Atlee dulu adalah anak-anaknya menyelesaikan sekolah hukum dan kembali ke Clanton. Ia pensiun dari jabatan hakim, dan bersama-sama mereka membuka kantor hukum di alun-alun. Di sana mereka akan mengikuti panggilan mulia dan ia akan mengajari mereka bagaimana menjadi ahli hukum – ahli hukum terhormat, pengacara daerah pedesaan.

Bandara itu terletak di utara kota, lima belas menit perjalanan dengan mobil dari kampus sekolah hukum. Meninggalkan Charlottesville menuju Clanton, Ray selama perjalanan mengenang masa lalu. Melihat banyak hal berubah di kampung halamannya. Mampir di kedai kopi, menyapa teman lama, di sana mereka meneguk bergalon-galon kopi sambil menuturkan kisah-kisah penerbangan serta bualan yang makin lama makin hebat.

Kota ini telah berubah, tetapi sebetulnya tidak juga. Seperti hampir semua hal, baik ataupun buruk, pornografi datang terlambat ke Missisippi. Kota kecil yang beradaptasi dengan perkembangan zaman. Di sinilah snag hakim mengabdi. Preseden hukum harus diikuti, tak peduli apa pun pandangan atau pendapat pribadi, dan hakim yang baik tentu mengikuti hukum. Hakim yang lemah mengikuti kehendak khayalan, hakim lemah bermain untuk mengantongi suara dan kemudian ikut mencela saat putusan mereka yang pengecut diajukan ke pengadilan yang lebih tinggi. Hakim adalah orang besar dan sangat peduli dengan bagaimana ia harus dikenang. “Sebut saya apa saja sekehendak Anda sekalian, tapi saya bukan pengecut.”

Saat Ray sampai di sana, hari sudah sore dan cuaca cerah. Saat masuk rumah, tampak sepi seperti biasanya. Rumah tak dikunci, dan ia masuk saja. Setelah menyapa tanpa jawaban, ia masuk ke kamar sang ayah yang tertidur. Namun ternyata bukan tidur, ayahnya sudha mangkat. Ia lalu melakukan beberapa prosedur umum, memastikan keadaan lalu saat melihat sekeliling, betapa terkejutnya Ray, ia menemukan berkantong-kantong uang.

Adiknya belum tiba. Adiknya seumur hidup tak pernah tepat waktu, ia menolak memakai arloji dan mengatakan tak pernah tahu hari, dan kebanyakan orang mempercayainya. Ia dengan cepat menganalisa situasi. Ketika rasa shock mulai memudar, berbagai pertanyaan muncul. Perasaan terguncang atas kematian sang ayah sudah cukup untuk sehari. Guncangan karena uang itu membuatnya terus gemetar. Apa dan bagaimana menanggapi keterkejutan ini.

Ia langsung mengamankan uangnya, gegas memasukkannya ke dalam lemari sapu. Ia sangat was-was dengan simpanan yang sudah berada dalam lemari sapu. Berapa banyakkah jumlahnya di sana? Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menghitungnya? Apakah it asli atau paslu? Dari manakah asalnya? Apakah yang harus dilakukan dengannya? Ke manakah harus dibawa? Siapakah yang harus diberitahu? Ia butuh seorang diri untuk berpikir, mengatur berbagai hal, dan menyusun rencana.

Melihat surat wasiat yang sudah ditandatangani, menyatakan Ray sebagai eksekutor warisan sebab ia si sulung. Berkonsultasi dengan pengacara yang sudah menjadi sahabatnya, dan memutuskan melakukan penghormatan terakhir di pengadilan sehingga taka da banyak orang di rumah, yang sekaligus mengamankan lemari sapu. Si pendeta jauh lebih emosional daripada si anak. Ia menyayangi sang hakim dan menyatakan dirinya sebagai sahabat karib. Adiknya hanya datang sebentar, lalu menyerahkan segalanya kepada Ray.

Lalu Ray menata situasi. Hidup tanpa ayahnya takkan berbeda jauh dari hidup terpisah jauh darinya. Pengabdian sepenuh hati, selama 32 tahun sebagai hakim, catatannya tak tercela. Uang itu jelas tak pantas disebut uang panas, tapi dari mana? Berapa kali dalam hidupnya ia punya kesempatan memandangi tiga juta dolar? Berapa orang punya kesempatan seperti ini? Tidak mau hidup seperti mangsa yang terluka.

Ia lalu mencoba memindahkannya, ke sebuah jasa keamanan, menyewa loker. Chaney’s adalah temapt aman, sementara ia menaruh uangnya di sana, Ray mencoba memastikan uangnya asli.  Memastikan uang itu tidak palsu, tidak tertandai, tidak terlacak dengan cara apapun. Ia terbang ke berbagai kasino, main jdui. Perjudian paling dasar adalah datang-pasang taruhan, dan setelah berhasil mengerahkan keberanian, ia mendesak maju di antara dua pejudi lain dan menempatkan sepuluh chip tersisa. Ia akan membawa lebih banyak uang tunai, mencucinya dalam sistem. “Penjudi profesional tidak pernah minum saat berjudi.”

Berjalannya waktu, tak ada kecurigaan baik dari Bandar atau orang-orang yang mungkin berurusan dengan uang itu. Kehatihatian, sebab itulah yang didapat setiap wanita darinya. Kehati-hatian, sebab ia merasa  melihat potensi pada yang itu.

Namun teror akhirnya muncul. Drai orang tak dikenal yang mengejar uang itu untuk diserahkan. Bahkan malam hari mengusiknya, melempar benda hingga kaca rumah pecah, mencongkel pintu apartemennya, mengirim surat ancaman, dst. Dengan situasi terbaru itu, Ray Atlee akhirnya mengakui betapa penting arti uang itu sekarang. Sempat pula terbesit rencana lain. Tentang bagaimana uang itu bisa berkembang bila diinvestasikan secara konservatif atau agresif.

Sebagai eksekutor warisan, ia punya waktu satu tahun sejak tanggal kematian untuk mengirimkan surat pemberitahuan pajak terakhir, dan menurut akuntannya, perpanjangan waktu dapat dengan mudah didapatkannya. Ia memastikan, uang itu tak akan dimasukkan ke daftar warisan sebab akan habis dihisap pajak. Mungkin bukan langkah yang paling cerdik hingga sejauh ini.

Ray memutuskan berkeliling, dengan uang di bagasi mobil, mencari kebenaran. Kalau kau kabur membawa banyak harta, seperti pembunuh dengan korbannya di bagasi, maka banyak wajah tampak familier dan berbahaya. Setiap orang yang ia temui tampak mencurigakan. Kau tidak mungkin bisa batuk di sana tanpa membuat tiga orang lain tertular Apakah semua orang gila, atau cuma aku?

Sementara adiknya yang terjerat narkoba tinggal di rehabilitasi. Sesekali ia kunjungi. Hidup tidak akan jadi sederhana dengan mengunjungi adiknya, tapi ia sudah berjanji.

Petualangan pencarian Ray mengarah ke Hancock County dinamai menurut nama John Hancock, salah satu penandatangan Deklarasi Kemerdekaan. Lalu menuju seorang pengacara jumawa nan kaya raya. Patton French adalah orang yang amat sangat pongah. Setelah berusaha dengan keras menemui, dan bilang ia anak sang hakim, ia akhirnya berhasil bertemu. Di atas pesiar mewah yang tenang, segalanya akhirnya terang.

Semua bermula dari Berkas perkara Gibson v. Miyer-Brack. Hakim percaya akan kerja keras, dan tanpa juri yang harus dimanjakan, ia bertindak brutal. Patton yang cerdik dan menjadi seorang penggugat massal mencari celah, dan menemukan nama sang hakim. Keputusan-keputusan itu tegas, sangat lugas, dan bertujuan untuk meresahkan para pengacara tergugat. Setelah berhari-hari mengumpulkan banyak korban obat gagal, ia maju menggugat pabrikan. Mr. Patton French berhasil mengunci Miyer-Brack hingga terlentang tak berdaya di atas matras. Dan akhirnya ganti rugi dengan jutaan dollar tersaji.

Kalau mau tahu detail cerita tata cara menggugat bisa dibaca di novel King of Torts, raja ganti rugi. Kebenaran kini mengalir deras, dan ia menginginkan seluruhnya. Keserakahan adalah binatang yang sangat aneh, Ray. Dan setelah kebenaran terungkap, lantas mau diapakan uang sebesar itu? Kembali lagi, keadaan sehat, tenteram, dan bisa menjalani kehidupan wajar adalah impian, bahkan dibanding dengan uang besar yang mengancam keselamatan.

Endingnya datar. Setelah aksi penuh ketegangan, pertarungan kesabaran dan segala kemungkinan baku tembak dan ledakan, John Grisham malah mengambil jalan tenang. Mungkin agak mengejutkan, beberapa fakta disimpan lalu diungkap hingga bab terakhir. Namun tetap, tak terlalu mengejutkan. Sangat tenang, dan juga menggantung.

Bagaimanapun, karya Grisham tak pernah mengecewakan. The Summons jelas memenuhi itu, hanya saja harapan itu terlampau tinggi. Beda dengan The Partner yang meledak di akhir atau Bleachers yang memukau dalam nostalgia, atau The Last Juror yang walau akhirnya tenang, sungguh heroik. Well, susunan Grisham mungkin sudah kukenali dan nikmat plotnya walau familier tetap terasa menawan. Masih banyak bukunya di rak yang belum kubaca, dan akan terus kubaca. Semoga.

Panggilan | by John Grisham | Diterjemahkan dari The Summons | Copyright 2002 by Belfray Holding, Inc |  Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 02.023 | Desain cover Amy C. King | Sampul dikerjakan oleh Eduard Iwan Mangopang | cetakan pertama, September 2002 | 432 hlm; 18 cm | ISBN 979-686-116-x | Skor: 4/5

Karawang, 230821 – Ida Laila & Mus Mulyadi – Setelah Jumpa Pertama

Thx to Mahina Kamila, Jkt

#Juni2021 Baca

“Orang-orang dungu! Sekarang katakan bahwa Tuhan itu ada!”


Juni adalah bulan Isoman, sejak ulang tahun Sherina sampai awal bulan Juli. Seminggu pertama tidak banyak yang bisa dilakukan, fokus istirahat dan penyembuhan. Baru setelah itu gas, baca buku dan nonton film. Lumayan banyak untuk bulan Juni, 14 buku selesai baca! Tapi momen #30HariMenulis yang sudah sangat lama berjalan, tak gagal. Sehat itu penting.

#1. The Street Lawyer by John Grisham

Bagaimana hidup bisa berubah begitu drastis dalam sebulan? Kisahnya tentang Michael Nelson Brock, yang merupakan pengacara di sebuah biro kaya dan mapan Drake & Sweeney. Ia memiliki istri cantik yang bekerja di rumah sakit Claire, pasangan kaya ini tampak sangat ideal, materi terpenuhi, tapi dari dalam ada keruntuhan batin. Kesibukan dan cinta yang digerus waktu menjelma bosan, dan di dunia Barat yang liberal tentu saja arahnya mudah ditebak, perceraian. Menjadi bujangan lagi bukanlah hal yang hebat. Aku dan Claire sama-sama kalah.


“Aku menemukan panggilan hidupku. Kita masuk ke bisnis ini karena kita pikir menegakkan hukum adalah panggilan mulia. Kita dapat memerangi ketidakadilan dan penyakit-prnyakit masyarakat, dan mengerjakan karya-karya mulia karena kita pengacara. Kita pernah menjadi orang idealis, mengapa kita tak bisa mengulanginya?”

#2. Kanuku Leon by Dicky Senda

Cerpen-cerpen Dicky Senda mayoritas berkisah di tanah kelahirannya di Indonesia Timur. Banyak sekali mengambil bahasa lokal, melimpah ruah sampai butuh penjelasan di tiap akhir cerpen. Menonjolkan budaya lokal sah-sah saja, seolah memang menjual dan menyampaikan ke dunia bahwa budaya yang erat dilakukan itu ada. Seperti pencerita kebanyakan, kisahnya mencoba membumi dengan kegiatan rutinitas, pengalaman pribadi yang dibumbui fantasi. Semua cerpen di sini tertata dengan apik, tapi tetap inti cerita masihlah liar. Tak nyaman diikuti dengan santuy.


“Orang begitu lama mati, karena Tuhan masih kasih kesempatan untuk dia supaya bertobat.”

#3. Pasar by Kuntowijoyo

Novel dengan penggambaran detail mengagumkan. Mencerita apa adanya keadaan pasar dan par penghuninya. Sejatinya setting hanya satu tempat dari mula sampai jelang akhir. Pasar dan situasi yang ada. Orang-orangnya juga itu-itu saja, berkutat melelahkan. Pada dasarnya menggambarkan sifat manusia yang mengingin nyaman, ketika terusik maka ia marah, dan saat keinginan-keinginan tak terkabul, jadi petaka. Minim konflik tapi sungguh menohok saat masalah itu dilemparkan ke pembaca.


“Kalau macan mati meninggalkan belang, Pak Mantri mati meninggalkan tembang.”

#4. The Mummy by Anne Rice

Kisahnya tentang cinta dan pengorbanan, kerelaan, serta keabadian itu tak segaris lurus dengan kebahagiaan. Relatif, dan perubahan, apapun itu adalah keniscayaan. Termasuk para mumi yang diawetkan lalu berhasil dibangkitkan, perbedaan zaman, perabadan yang sudah sangat usang, manusia jadul itu bangkit di zaman sekarang, lantas apakah mereka bahagia? Jelas belum tentu.


Tema usang cinta diapungkan, dan tak akan bosan. Usang itu hanya beda bentuk dan genre, kali ini mumi gagah nan aneh merindu masa lalu, ia adalah raja di eranya, kini ia hanya rakyat biasa. Ini demokrasi dengan kebebasan individu, maka keputusan membangkitkan kekasihnya tentu saja wajar, walaupun tak selalu sesuai harapan.


“Berdoalah kepada dewa-dewamu, tanyakan pada mereka apa yang harus kaulakukan. Tuhanku hanya akan mengutuk perbuatanmu. Tapi apa pun yang terjadi atas makhluk itu, ada satu hal yang pasti. Kau tak boleh mengolah ramuan itu…”

5. Putri Cina by Sindhunata

Kisahnya panjang nan melelahkan, sepertiga pertama agak boring sebab menarik lurus ke balakang sejarah orang-orang Cina di tanah Jawa, agak berbelit dan seolah menikmati dongeng/sejarah. Sepertiga kedua baru kita memasuki are sesungguhnya, bagaimana arah cerita terbentuk. Dari kesenian keliling, bintang ketoprak seorang putri Cina yang menarik perhatian dua tentara/orang penting. Sepertiga akhir barulah meledak. Waktu mengubah mereka menjadi pejabat, tapi persaingan lama terus menggelayuti. Saat geger geden, eksekusi ending yang pilu disajikan. Klimaks, bagaimana susunan itu membuncah luar biasa. Sedih, tapi kisah yang bagus memang rerata berakhir dengan kesedihan.


“Semar punika saking basa samar, mapan pranyata Kyai Lurah Semar punika wujudira samar.”

#6. Isinga: Roman Papua by Dorothea Rosa Herliany

Kisahnya tentang sejoli anak asli Papua yang saling mencinta namun kandas hubungan sebab keadaan yang memaksa. Bagaiman hubungan itu dicipta, dirasa, lalu ambyar berkeping-keping. Yang cewek terus menjaga asa hingga akhirnya perang pecah antar kampung lalu ia diculik dan dijadikan alat damai. Yang cowok juga menjaga asa dalam diam, memilih menyepi pergi dari kampung melalangbuana untuk meredakan sedih, dan akhirnya menjadi ‘orang’. Sejatinya hanya itu, tapi karena ini tentang cinta yang tak sampai dengan balutan budaya daerah yang kental, kisahnya diputar jauh bertitian dengan sejarah Indonesia.


“Mulai sekarang kamu tidak boleh makan pandan merah, Irewa. Karena warna merah dari buah pandan merah adalah darah menstruasi.”

#7. Mati Bahagia by Albert Camus

Mencintai hidup berarti menjalani hidup yang mempesona dan tak terkendali. Kisahnya mendayu-dayu. Tentang hidup dan pilihan yang tersaji. Dibuka dengan menghentak, pembunuhan yang dilakukan oleh Patrice Mersault, nama akrab dalam Orang Aneh ini menjadi seolah antagonis. Ia membunuh sobatnya Zegreus di vilanya dengan menembak jarak dekat di hari minggu pagi yang suram.


Namun semua tak seperti yang kita duga, ‘pembunuhan’ itu sudah dirancang oleh sang ‘korban’ sebab ia muak akan kondisi hidupnya. Veteran perang yang terluka, satu kakinya diamputasi, mengeluhkan keadaan, mengeluhkan rutinitas, mengeluhkan suasana hati yang memang gundah, intinya mengeluhkan hidup. Saat hidup sudah tak senyaman masa lalu, apa yang bisa diharapkan?


“Ada hari-hari aku ingin bertukar hidup denganya, tapi kadang-kadang keberanian hidup lebih susah diraih daripada keberanian untuk bunuh diri.”

#8. Lotre by Shirley Jackson

Ini adalah buku pertama dari Shirley Jackson (1916 – 1965) yang kubaca. Lahir di San Francisco, California, USA. Penulis dengan genre horror dan misteri. Lulusan Syracuse University New York dan aktif di jurnal sastra kampus. Bertemu dengan calon suaminya Stanley Edgar Hyman, dan setelah lulus keduanya berkarier di The New Yorker. Shirley menjadi penulis fiksi, suaminya contributor ‘Talk of the Toen’.


“Hari saat kita mulai bekerja bersama.”

#9. Bisik Bintang by Najib Mahfuz

Luar biasa. Tipis, memukau. Dibaca sekali duduk di malam isoman tengah bulan Juni lalu. Terpesona sama plot yang disajikan tiap cerita, sederhana nan menghibur, beberapa menyakitkan tapi itu nyata, beberapa menggugah hati seperti perkataan gelandangan yang meminta orang kaya korup untuk membersihkan hartanya, beberapa lagi menampar kenyataan yang pahit seprti di permainan usia tua tapi baru merasa diberkahi. Tokoh-tokohnya juga sering sama memakai Kepala Kampung yang mengatur warganya, orang-orang kaya yang kikir, lalu gua di benteng kuno yang mistis, kaum papa yang melawan, sampai lingkup dunia Islam yang moderat.


“Ini adalah kelebat seorang perempuan yang lewat… mengapa kau berada dalam kegelapan di malam begini? Kesendirian akan mengarahkanmu pada hati yang berdebar dan akhir yang tak pasti.”

#10. Komune Paris 150

Eksperimen 72 hari yang dikenal sebagai Komune Paris. Disebut ‘komune’ karena pada rahun 1792 kaum revolusioner telah menata kota-kota mereka ke dalam kantung-kantung teritorial yang mengembangkan prinsip-prinsip pemerintahan swakelola.


Komune bermula sebagai tindakan patriotic, suatu cara untuk mempertahankan Paris dari tentara Prusia; tetapi dengan cepat ia mengambil watak demokratis yang lebih radikal sebagai konsekuensi dari kehendak rakyat dan pengaruh kelompok-kelompok revolusioner.


“Atas nama rakyat, komune diproklamirkan.”
Vive la Commune, teriak orang-orang. “Topi-topi diacungkan di ujung-ujung bayonet, bendera-bendera berkibaran di udara,”

#11. Misa Ateis by Honore de Balzac

Kumpulan cerpen yang menggugah, tipis dilahap dalam sehari hanya sebagai selingan ‘Sumur’-nya Eka Kurniawan yang juga selingan dari Memoar Geisha. Keduanya hanya selingan, saat isoman karena Covid-19. Untuk menjadi hebat memang tak selalu harus tebal, tipis semacam ini dengan penyampaian inti kisah, langsung tak banyak cingcong juga sungguh aduhai. Semua konfliks diramu dengan pas, beberapa tanda tanya sempat diapungkan, arti judul juga jadi saling kebalikan, misa dilakukan untuk orang-orang relijius, ateis berarti tidak tes, tak percaya tuhan, lantas Misa Ateis? Tenang, jawaban itu tak menggantung, ada penjelasan runut dan sajian kuat mengapa itu bisa dan harus dilakukan.


“Segala kemarahan akibat kesengsaraan ini aku lampiaskan ke dalam pekerjaan…”

#12. Sumur by Eka Kurniawan

Satu cerpen dalam satu buku. Terdengar gila ‘kan? Gila nggak? Ya aja deh. Biasanya kita disuguhi kumpulan cerpen, minimal dua atau tiga cerpen. Berarti ini diluar biasanya, hanya Eka Kurniawan yang bisa. Penulis lokal dengan ketenaran dan jaminan mutu. Hebatnya lagi, laris. Dari beranda sosmed saat masa pre-order dibuka dari harga 50k menjadi 40k, banyak sekali toko buku daring yang pajang sold out. Mendekati hari H penutupan, saya yang penasaran malah ikutan klik beli. Dan, setelah #unboxing, ini benar-benar satu cerpen dijual lima puluh ribu rupiah! Dibaca lima menit. Kalau value biaya jelas kurang worth it, tapi kembali ke kualitas yang utama. Eka adalah brand, di mana namanya yang tercetak di sampul memberi rasa penasaran, minimal ada keinginan memilikinya.


“Kamu bertemu Siti di sumur?”

#13. 100 Film by Ibnu M. Zain

Sebuah panduan tontonan yang disarikan dari era jadul awal mula film ditemukan sampai tahun 2000-an. Buku ini terbit tahun 2009 jadi selang 12 tahun ini jelas sudah sangat banyak film rilis dengan kualitas mumpuni. Sekalipun begitu tetap relevan untuk dinikmati. Sayangnya di era digital, panduan nonton sudah sangat mudah ditemukan. Gampangnya tinggal buka situs imdb.com kamu sudah bisa menemukan rating film-film yang biasanya sejalan lurus dengan kritikus.


“Di sebuah galaksi nun jauh di atas sana…”

#14. Therese Desqueyroux by Francois Charles Mauriac

Ini buku lama yang kubaca lagi, kisah istri yang diadili sebab meracuni suaminya. Penggambarannya sulit dicerna sebab meliuk-liuk rumit. Jelas ini adalah novel luar biasa. Dari pemenang Nobel Sastra!


Karawang, 130821 – 180821 – Sherina Munaf – Singing Pixie