Gerbang Neraka Akan Segera Dibuka

The Gates (buku satu dari tiga) by John Connolly

Ilmuwan tidak mengejar kebenaran; kebenaranlah yang mengejar ilmuwan.”Dr. Karl Schlecta (1904-1985)

Secara teknis aku adalah entitas ektoplasma yang berkeliaran bebas… artinya setan yang dapat mengambil hampir segala bentuk dan wujud berdasarkan getaran spiritual yang dipancarkan korbannya.”

Ini kisah malam Helloween yang janggal. “Aku benar-benar minta maaf, ini malam yang sangat aneh. Mungkin kau mau minum teh, semua terasa lebih enak setelah secangkir teh.” Kita mungkin telah membuktikan keberadaan multi-semesta. Spiggit’s Old Peculia, Si Tua Aneh adalah bir yang dinamai dengan tepat. Cerita remaja dengan imaji monster-monster, bukan sembarang monster karena diundang langsung dari neraka.

Kita tahu perjalanan antara dunia ini dan dunia kita dapat dilakukan. Novel yang aneh, teori lubang hitam dan terbentuknya semesta, menghadirkan pasukan setan ke bumi untuk dihancurkan, tapi ternyata dituturkan dengan nge-pop, santai di tengah serbuan. Argumen induktif adalah kemungkinan, bukan kepastian. Titik amat kecil, para ilmuwan menyebutnya ‘singularitas’. Orang relijius mungkin menyebutnya partikel debu di mata Tuhan yang mencipta semesta setelah ledakan besar. Ilmuwan membutuhkan bukti, yang lain tidak. Keanehan dan segala teori praktis semesta itu langsung terasa ga ada ngeri-ngerinya. Malah lelucon garing bagaimana bertahan hidup dan upaya mengirim balik para perusuh ini, selama gerbang neraka terbuka, atau kalau terlambat bisa runyam sepenuhnya. 300 halaman yang sederhana, melacur kata dalam tak teraturan garis cerita. Mereka semua terlihat seperti fosil yang hidup kembali, bagian dalam tubuh mereka dilindungi oleh kerangka luar, diseret dengan kaki-kaki pendek terbungkus logam.

Tokoh utamanya remaja freak Samuel Johnson bersama anjingnya yang cekat Boswell, duet ini dibantu dewa rusuh Nurd menjelma kekuatan bak super-man. Di ruang bawah tanah 666 Crowley Avenue, rumah tuan Abernathy diketuk oleh Samuel, ini malam yang lebih mula hari Helloween, jadi ditolak kasih permen. Tuan Abernathy dan istrinya, dan kedua tamunya pasangan Doris dan Reginald Renfield ternyata menemukan sebuah buku panduan berbahasa asing untuk mendatangkan makhluk jahat ke dunia. Acara iseng bersenang-senang itu menjadi petaka karena mantranya bekerja.

Sementara di sebuah laboratorium CERN Proferor Hilbert dan para ahli molekul Ed dan Victor sedang melakukan penelitian tentang kemungkinan adanya semesta lain permainan ‘Kapal Perang’, tabrakan, loncatan frekuensi, ke-abnormal-an itulah fakta adanya kemungkinan sebuah portal terbuka. Menyelidiki kebocoran energi. Penabrak Hadron Akbar.

Dia menduga alam semesta adalah tempat yang jauh lebih aneh dibandingkan perkiraan siapa pun, yang membuatnya bersemangat untuk membuktikan bahwa betapa luar biasa alam semesta ini. Minat profesor Hilbert adalah dimensi, secara spesifik dia tertarik pada kemungkinan ada begitu banyak alam semesta di luar sana, dan alam semesta kita hanya salah satunya.
Sebenarnya ada bunyi di sekeliling kita, bahkan jika kita tidak bisa mendengarkan dengan baik. Namun bunyi tidak sama dengan suara: bunyi bersifat acak dan teratur, sementara suara dibuat. Rasanya seperti mendengar gumaman orang gila dalam bahasa asing. Ini bahasa yang dikenal. Kami sudah menelitinya. Ini bahasa Aramaic awal, mungkin priode sekitar seribu SM. “Menurut kami dia mengatakan, ‘Takutilah kami’…”

Kau tidak bisa membuat prinsip yang meruntuhkan semua prinsip. Ilmu pengetahuan tidak bekerja seperti itu. Maka kepala departemen fisika partikel CERN, Profesor Stefan mencoba menyeimbang, tapi nyatanya benar-benar ada lonjakan titik, munculnya makhluk selain manusia ke bumi. “Buruk! Ini buruk! Larilah sekarang!”

Samuel hidup bersama ibunya, ayahnya menikah lagi dan pergi, hanya mobil antik yang tertinggal di garasi rumah. Di sekolah ia dikenal sebagai anak aneh yang berpikiran out of the box, jarum dengan ujung jutaan malaikat, teori ketakteraturan alam. Di gereja Timidus ia juga dikenal sebagai anak nakal dengan pertanyaan tak lazim seperti asal mula dosa, serangkaian malaikat dan setan yang mengawasi, sampai hal klenik yang membuat pusing para pendeta dan asistennya. Pendeta Ussher, sang vikaris dan Tuan Berkeley, sang pengurus.

Nurd, pembawa petaka lima dewa. Lima entitas: Schwell, Setan sepatu tak nyaman; Ick, setan hal-hal yang tak menyenangkan yang ditemukan di lubang pembuangan saat dibersihkan; Graham, setan biskuit dan kue cracker basi; Marvis, setan nama-nama tak pantas untuk laki-laki; dan terakhir, sekaligus mungkin yang paling rendah Erics, setan tanda baca keliru. Perumpamaan jitu tentang para dewa adalah, “Bagaikan lalat di tangan anak-anak ceroboh, begitulah kita di mata para dewa, mereka membunuh kita untuk hiburan.” King Lear, William Shakepeare. Menggembirakan, ya. mengkhawatrirkan, kadang-kadang.

Karakter bagus di sini justru setan Nurd ini. Dalam suatu tindakan berbahaya serius, salah satu percikan energi telah menciptakan celah kecil antara dunia kita dengan ruang yang ditempati singgasana Nurd, atau lebih tepatnya lagi, Nurd sendiri. “Yah, seperti yang kubilang tadi, aku tinggal di padang tandus. Tidak ada yang bisa dilihat, tidak ada yang bisa dilakukan, dan aku sudah kehabisan bahan pembicaraan dengan Wormwood. Hanya karena aku setan, bukan berarti aku jahat.”

Aku tidak ingin menjadi menakutkan, atau mengerikan. Aku hanya ingin mondar-mandir dengan santai, mengurus urusanku sendiri. Nurd, tidak pernah punya ibu bapak, yang tidak pernah mencintai atau dicintai, takjub mendapati betapa rasa yang begitu indah ternyata juga bisa membuat seseorang sangat menderita. Bagaimanapun, tidak melakukan perbuatan buruk tidak sama dengan melakukan perbuatan baik. Bagaimana ia jenuh di asalnya dan pamit sama asistennya yang annoy. “Selamat tinggal Wormwood, aku ingin mengatakan bahwa aku akan merindukanmu, tapi itu tidak benar.”

Nah, kejadian terbukanya gerbang neraka membuat kota Biddlecombe yang lalu terisolasi berantakan. Kekacauan tercipta, setan-setan keluar memporakporandakan segalanya. Nurd, setan yang tak jahat-jahat amat mencoba membantu Samuel dan kedua temannya yang juga ga kalah aneh Tom Hobbes dan Maria Mayer. Para profesor dari CERN turut serta, jauh-jauh datang setelah menerima email janggal. Malam itu malam Helloween, malam cekam yang biasanya sekadar trick or treat, berubah menjadi malam kelam. “Akhir dunia, neraka telah dibuka. Malapetaka besar akan datang… Sang Mahadengki…” Sebelum sang musuh utama dipanggil kedua asistennya Shan dan Gath, Nurd, Samuel dan kawan-kawan harus gegas menutup portal, berhasilkah?

Referensi utama karya perunggu besar bertajuk La Porte de l’Enfer yang diterjemahkan menjadi ‘Gerbang Neraka’, karya Auguste Rodin, ia diminta membuat karya tahun 1880, dan berjanji menyelesaikannya tahun 1885, ternyata Rodin masih mengerjakannya saat wafat tahun 1917. Bangsa Romawi dan Yunani memercayai bahwa gerbang neraka dijaga oleh anjing berkepala tiga bernama Cerberus yang memastikan bahwa siapa pun yang sudah masuk, tak kan bisa keluar lagi. “Yah, ini neraka di bumi bukan? Gerbang Neraka telah dibuka, setan menyerbu keluar. Akhir dunia dan semua itu.”

Buku guyon remaja yang tak lucu untuk teori besar seperti ini sebenarnya juga sudah banyak dibuat, hanya masalah cara tutur dan pemilihan gaya bahasa, The Gates ada di tengah-tengah antara mau bekerja serius adanya serangan setan atau penuh humor slap-stick konyol. Satu hal yang menarik tentang lubang hitam: semakin keras kau berjuang untuk meloloskan diri dari kekuatannya, semakin cepat kau mendekati seluruh proses tentang proses kepadatan tak terhingga, tentang meremukkan dan sebagainya, disebabkna dimensi waktu dan ruang yang kacau balau.

Seperti pemanggilan sang Mahadengki yang merupakn villain utama, digambarkan seram dan besar. Dia menjulang di atas pasukannya, sehingga mereka bagaiman kumpulan serangga di hadapannya. Dia membuka mulut, dan meraung, dan mereka gemetar di hadapannya, karena keagungannya begitu mengerikan untuk disaksikan. Mengingatkanku pada tokoh Dormamu di Doctor Strange yang dipanggil melalui gerbang, tapi hanya sepintas keluar lalu frustasi balik lagi.

Ini buku pertama John Connolly yang kubaca, kurang sreg sih. Tapi saya sudah lacur beli Trilogi komplit, jadi mau tak mau harus diselesaikan perjalanan Samuel Johnson ini.

Penyelesaian kisah juga terlalu gampang. Mobil ayah Samuel yang antik menjadi sumbat? Oh my! “Secara ilmiah solusi ini memiliki banyak ketidakpastian, mungkin tidak akan berhasil sama sekali. Rencana ini terdengar sangat gila, berbahaya, dan benar-benar mustahil sehingga mungkin saja berhasil, sekarang yang kita butuhkan adalah mobil.”

Gerbang Neraka | by John Connolly | The Gates | Copyright 2009 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 617185026 | Alih bahasa Barokah Ruziati | Editor Ariyantri E. Tarman | Desain & ilustrasi cover eMTe | Pertama terbit, Desember 2011 | Cetakan kedua, Juli 2017 | ISBN 9789792278217 | 320 hlm; 20 cm | Skor: 3.5/5

Untuk Cameron dan Alistair

Karawang, 230520 – Bill Wither – Harlem

Historia Bintang Jatuh: Sebuah Fantasi Liar

Stardust by Neil Gaiman

Aku bersedia dibayar dengan warna rambutmu, atau semua ingatanmu sebelum kau berusia tiga tahun. Aku bersedia dibayar dengan pendengaran dari telinga kirimu – tidak semuanya, cukup supaya kau tak bisa menikmati musik atau menghargai desau arus sungai atau desir angin.”

Tentang petualangan anak setengah manusia setengah peri yang menakjubkan. Untuk memulai perjalanan kita perlu mengenal desa asal, Desa Tembok di padang rumput Inggris yang tenang. Tak sembarangan yang bisa melintas, setiap Sembilan tahun sekali di seberang tembok yang bercelah ada bazar festival yang digelar dan desa itu menjadi penginapan mendadak. Syahdan, seorang pemuda rupawan Dunstan Thorn berusia delapan belas tahun mengalami malam sensasional. Terasa gigil dan gemetar di pusat alam. “Ini kuucapkan: kau telah mencuri pengetahuan yang tak layak kauperoleh, tetapi pengetahuan ini tak akan menguntungkanmu…”

Dengan setting waktu masa Ratu Victoria yang bertakhta sebelum menjadi janda Windsor, Charles Dickens tengah menerbitkan novel Oliver Twist. Mr. Draper baru saja memotret bulan untuk pertama kalinya, membekukan wajah pucatnya pada kertas dingin; Mr. Morse baru-baru saja mengumumkan cara mengirim pesan melalui kawat logam. Dunstan memasuki bazar berkenalan gadis cantik terikat di karavan, dengan satu ciuman yang menderet asmara mistis. Ciuman gadis dengan bibir yang bercita rasa lumatan arbei hutan. Tak disangka satu malam berkelindan peluk itu mencipta keturunan. Sembilan bulan pasca bazar, di celah Desa Tembok ada keranjang bayi dengan secarik kertas berpeniti bertuliskan ‘Tristran Thorn.’

Ini kisah tentang Tristran Thorn. Jadi kejadian melompat delapan belas tahun kemudian. Ia jatuh hati sama gadis desa Victoria Forester, dan dalam canda gombal remaja, si Victoria bilang bawakan saya bintang jatuh. “Kau masih muda dan sedang kasmaran, setiap pemuda dalam situasimu adalah pemuda paling merana yang pernah hidup.” Tristran menanggapinya serius, maka ia pamit sama ibu, bapak, dan adiknya melakukan petualang ke hutan seberang. Dibawakan bunga tetes salju dari ayahnya, yang didapat dari ibu aslinya. Perjalanan inilah yang menjadi komoditi utama Stardust. Walau banyak hal terasa kebetulan tapi jelas tutur kata di negeri peri ini sungguh dahsyat. Seni bertahan hidup, termasuk dalam memasak, bagaimana di hutan tak ada garam, tapi dibumbui sedikit semangi, sedikit serpili gunung, ini pasti sama lezatnya.

Berkenalan dengan katai, manusia kecil yang baik hati, ia merasa lelaki ini sungguh polos dan jujur sekali dalam bercerita tujuan utamanya mencari bintang jatuh. Dan, terlalu lugu untuk merasa takjub, terlalu muda untuk merasa gentar, Tristran menyeberangi padang yang kita kenal… dan memasuki Negeri Peri. Terasa sulit tapi ga mustahil, maka ia membantu Tristran dengan memberi lilin cahaya yang bisa melakukan perjalanan antar dimensi. Aturan mainnya, lilin nyala itu akan mengantarnya menembus ruang dan waktu, lalu sekejap saat dimatikan ia sudah sampai tujuannya. Lilinnya dikit maka gunakan dengan bijak. Pesannya agar berhati-hati, ketika ditanya orang asing jangan berkata apa adanya, bilang saja; ia dari belakang dan akan maju ke depan. Maka dengan pamit ala kadar yang memusing, Tristran melesat. Bintang yang diajarkan Mrs Cherry adalah bola gas yang berkobar dan menyala, selebar ratusan mil, mirip matahari, hanya lebih jauh.

Betapa terkejutnya, bahwa bintang jatuh mirip berlian atau batu, jelas ia tak menyangka adalah seorang gadis. “Ini kulakukan demi cinta, dan kau benar-benar harapanku satu-satunya…” Bintang itu cedera, satu kakinya patah, maka ia ikat dan papah dalam perjalanan, dan dibawanya pulang. Dengan kuda bertanduk yang diselamatkan ketika akan diterkam singa, bertiga melakukan perjalanan balik. Nah, di sinilah keseruan benar-benar diramu. Perjalanan itu tak mudah, penuh onak duri dan orang-orang berniat jahat.

Halangan pertama dari Ratu Penyihir hitam, panggil dia dengan sebutan Morwanneg. Tiga saudari di dimensi lain, yang tertua keluar dari dunia cermin, mendapatkan kembali usia mudanya, ia ke negeri Peri untuk mendapatkan bintang jatuh. Karena jantung-bintang-hidup adalah obat manjur untuk melawan jerat usia dan waktu, adik-adiknya menanti pulang. Sang Ratu penyihir memiliki kekuatan besar, paling mungkin memenangkan pertarungan perebutan bintang, tapi nikmati saja perjalanan ini kejutan demi kejutan bersaji. “Kami hanya makan kegelapan, dan kami hanya minum cahaya. Jadi aku tidak lapar, aku kesepian dan takut dan dingin dan merana dan disandera tapi aku tidak lapar.”

Halangan kedua dari perebutan takhta Stormhold di gunung Houn. “Takdirku. Hak memerintah.” Jadi sang raja mangkat, mutiara manikamnya ia lempar ke langit yang mengakibat bintang jatuh, jadi ketujuh putera mahkota yang memilikinyalah yang akan resmi memerintah kerajaan. Empat saudaranya sudah tewas, saling tikam dan bunuh: Secundus, Quintus, Quartus, dan Sextus. Sisa tiga: Primus, Tertius, dan Septimus. Di sini alurnya unik sekali, bintang jatuh bukan karena tersandung tapi sejatinya tertabrak sebuah kuningan utas perak yang dilempar raja. Dalam perjalanan menuju takhta, di penginapan satu orang diracun saudaranya sendiri, sehingga menyisa dua. Karena panik, Primus kabur terlebih dulu. Menjaga diri tak akan makan dari produk asing. Septimus mengejar, sembari juang mencari jatuhnya bintang. Oiya, mereka yang tewas bisa melihat kehidupan. Jadi saudara-saudara ini membayang menyaksi perjuangan menuju takhta siapa yang tersisa. Ternyata ada orang-orang baik di negeri yang gelap ini, si bintang memutuskan dengan rasa hangat dan tenteram.

Pertempuran puncak sejatinya di penginapan. Kereta ratu penyihir yang tiba duluan, menikam pemilik lalu menjelma mengubah diri pemilik baru, dan kusir serta kudanya (yang disihir dari manusia menjadi hewan) menjadi pelayan. Menanti bintang dan kuda bertanduknya tiba. Karena Tristran dan Bintang slek, melarikan diri. Bintang dan kuda bertanduk tiba disambut, alat bedah sudah disiapkan namun tiba-tiba pintu diketuk, muncullah Tristran dan Primus yang bersatu di jalan. Kalimat: “Ini bisa menunggu.” Menjadi penyelamat. Dia tahu, di suatu tempat aneh dalam dirinya yang mengetahui arah dan jarak benda-benda yang belum pernah dilihatnya dan tempat-tempat yang belum dikunjunginya, dan si bintang sudah mendekat… ini bisa menunggu. Kebetulan atau entah apa namanya, Primus yang terbunuh dulu, Tristran dan bintang yang terdesak, sekelibat pikir cepat, menyala lilin intas dimensi, dan wuuuzzzz…. Mereka selamat. Lilin redup lalu mati di negeri awan. Mereka diselamatkan Kapal Merdeka Pardita. Menurunkannya di suatu bukit, lalu melanjut perjalan pulang.

Ratu Penyihir geram, lalu strategi diubah. Ia akan menanti di Parit Diggory, tempat terbuka celah lembah menuju Desa Tembok. Sementara Septimus yang kini menjadi satu-satunya yang masih hidup, sejengkal lagi jadi raja, syarat terakhir harus dipenuhi, membalas dendamkan saudaranya. Di Parit itulah titik akhir para penghalang berakhir. Adegan bakar serta seni menipu, well dia Ratu Penyihir yang punya kekuatan dahsyat ya, sehingga takhta itu lenyap kini.

Sementara Tristran dan bintang kini menjadi akrab. “Aku membencimu. Aku sudah membencimu utuk segalanya, tetapi sekarang ini aku paling membencimu.” Setelah ¾ kisah, barulah kita tahu siapa namanya. Saudari-saudariku memanggilku Yvaine, karena aku bintang senja. Ia membuka diri, menjadi turut serta pulang sekalipun ketika melintas dinding perbatas akan menjadi serbuk bintang, butir biasa di dunia manusia. Kau tahu gadis itu sebuah bintang dan seorang manusia fana. Di sini kebetulan kembali dicipta, Tristran bertemu penyihir yang di mula diperkenal sebagai Mistress Semele (nama kenalan), aslinya Ditchwater Sal. Penyihir ini mau menukar bunga tetes salju yang dibawa sang pengelana, syarat mengantarnya sampai Desa Tembok dengan selamat tanpa kurang apa pun. “Dan aku tak bisa menyesali petualanganku sedetikpun, meskipun ada kalanya merindukan tempat tidur yang empuk, dan aku tak akan pernah lagi melihat tikus dengan cara yang sama…”

Siapa sangka Tristran disulap jadi tikus, sang bintang disimpan juga. Dengan begitu mereka selamat lemintas Parit Diggory dan sampai di perbatasan dengan selamat. Selesai? Penutup yang njelimet karena fakta-fakta baru diungkap membuat bungah, Yvaine memiliki mahkota, burung yang dibawa sang penyihir ternyata memiliki kekuatan super juga setelah sihir tahanannya lenyap ehem Daisy Thorn, ketika Senin ketemu Senin di hari Jumat. Dan segalanya menyenangkan. Ending sempurna untuk kisah yang sungguh sempurna. Identitas Lady Una, penguasa Stormhold muncul ketika kerajaan mencapai titik hopeless. Bahagia itu apa? Tristran mewujudkannya, bukan harta, bukan takhta, bukan pula gelimang fantasi imaji: tapi bersama orang terkasih yang tepat, saling mencinta, saling mengisi. So sweet, too sweet untuk sebuah epic Neil Gaiman.

Dimula buku ada puisi karya John Donne, 1572-1631 berjudul Dendang.

Kisahnya sangat Gaiman, fantasi murni di Negeri Peri yang penuh keajaiban dan segala imaji yang tak terbatas. Saya menyukai fantasi khas Inggis seperti ini ketimbang kisah-kisah yang dicipta di daratan Amerika. Belum bisa menandingi The Ocean Lane at the End of the Lane yang fenomenal itu, tapi ini jelas lebih liar ketimbang kehidupan malaikat dan makhluk-makhluk ajaib di subway kereta api London. Bagaimana bisa mencerita petualangan dengan aturan lentur menyeret keadaan mendesak untuk gegas menyelamatkan situasi, yang paling kutakjubkan ada tiga. Cahaya lilin yang menghantar lintas dan waktu sebagai semacam portkey, kedua bintang jatuh itu adalah putri. Gadis yang memukau kecantikan dan tutur lembutnya. Dan terakhir, runutan kisah yang rapi dan menempa pikiran terliar sekalipun. Genre fantasi imaji banyak sekali yang indah-indah, dan Stardust jelas masuk salah satunya.

Permintaan sederhana, budi terkecil yang kuminta darimu, “Kadangkala, malam-malam aku dan saudari-saudariku bernyanyi bersama, bersenandung lagu tentang ibu kami, dan sifat masa, dan nikmatnya bersinar dan kesepian.” Tampak manis bukan?!

Serbuk Bintang | by Neil Gaiman | Diterjemahkan dari Stardust | Copyright 1999 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 617188003 | Alih bahasa Femmy Syahrani Ardiyanto dan Herman Ardiyanto | Desain dan ilustrasi cover Martin Dima | Cetakan kelima, Mei 2017 | ISBN 9789792226881 | 256 hlm; 20 cm | Skor: 5/5

Untuk Gene dan Rosemary Wolfe

Karawang, 220520 – Bill Withers – Hello Like Before

“Adakah Kau Juga Menjual Doa?”

Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering by Hasan Aspahani

Aku tanya, “Adakah kau juga menjual doa?”Penjual Bunga di Jalanan Kota Bangkok

Dibuka oleh ulasan maestro penyair Tanah Air Sapardi Djoko Damono, dan ditutup oleh Goenawan Moehammad yang lebih sederhana. Hebat, kalau empunya puisi sudah mau turun gunung memberi sambutan atau kata pengantar, berarti ada sesuatu yang istimewa sehingga perlu ditelaah lebih lanjut. Beliau berujar: “… Suatu hal yang wajar yang tidak bisa dihalang-halangi oleh penyair yang konon memiliki lisensi puitik maupun lembaga yang diberi tugas ‘menjaga’ bahasa. Dan karena bahasa tidak lain adalah wadah dari ‘dongeng’, bahkan juga ‘dongeng’ itu sendiri, maka ia terus bergerak tanpa arah yang bisa ditebak. Dalam khazanah sastra modern kita, restoran adalah tempat yang sering muncul, baik sebagai sekadar latar maupun sebagai penanda. Yang menyatukan bait-bait sajak itu bukan prinsip kausalitas, tetapi suasana. Benda dan konsep yang disebut dalam sajak itu saling mendukung terciptanya suatu suasana yang, kalau boleh meminjam larik Amir Hamzah, ‘bertukar tangkap dengan lepas’. Dalam sajak ini, kematian adalah suasana dan bukan makna…”SDD

Rangkaian puisi yang berselibat narasi rasanya lebih kusukai ketimbang syair-syair pendek penuh rima. Ada jalinan utas kisah yang nyambung dari tiap sisinya, maka Bagian III. Penjahit Telanjang dan Sosok-Sosok Lainnya terasa biasa, yang lainnya dengan total empat bagian besar, tak jadi soal. Atau bisa kubilang Ok lah.

Kumpulan puisi yang lebih banyak bertutur dari sudut pandang orang pertama lebih nyaman dan asyik disenandungkan, karena melibat pembaca langsung, kata-kata boleh runut atau ditebar dalam petak lurus kanan per bait. Maka wajar, saya menyukai buku ini. Sempat berujar ‘huuufhhh… so typical…’ pas bagian tiga, tapi langsung membuncah lagi, bagian keempat mungkin yang terbaik selain awal-awal yang bersinggungan dengan kematian, terasa janggal dan absurd. Metafora yang membalikkan posisi kata dalam larik itu merupakan sumber keterampilan berbahasa sekaligus ambiguitas.

Karena saya ga romantis, dan ga terlalu bisa menikmati atau mencipta puisi, sajak-sajak pujian sakral bagiku, saya kutip sahaja sebagian yang menurutku bagus atau setidaknya menarik hati. Monggo dieja dengan kenyamanan tersendiri:

Sajak Ini Kuberi Judul: Buku: Diam-diam aku sedang mempersiapkan /

sebuah kematian yang paling sempurna: / dikuburkan di dalam buku. Engkau tahu? /Buku akan hidup abadi. Tak mati-mati! – (h. 40)

GMT, The Home of Time: Akhirnya aku memilih sebuah jam yang / bisa menangis setiap pergantian hari tiba. (h. 44)

Skenario Untuk Klip Video Lagu Rock: “Beri aku lirik yang lebih keras!” / “Tuan, beri aku hingar yang lebih meraung!” / “Beri aku gelap yang tak tembus suara…” (h. 49)

Tawa Untuk Karikatur Lainnya: “Hasil jepretanmu itu kartun atau gambar biasa?” tanyaku / Kau tertawa. Aku juga tertawa. Tawa untuk karikatur lainnya: / Negeri tak kelar berkelakar, yang tak akan habis kita gambar. (h. 67)

Sungai Yang Mengalir di Negeri Kami: /1/ Inilah sungai yang mengalir di negeri kami. Arusnya berlapis tiga: di permukaan ada pedih kenyataan, di tengahnya harapan yang kadang-kadang beku, lebih kerap buntu, dan di dasarnya darah yang masih deras dari hulu: luka lama itu. /2/ Inilah sungai yang mengalir ke petak-petak sawah tua, mengentalkan lumpur, yang berabad-abad lekat di kaki kami. (h.71)

Rapsodi Pembunuh Lembu: Ya, aku harus pergi, Pak, bukan karena takut itu, tapi hanya dengan jalan ini aku bisa membunuh kepengecutanku. (h. 77)

Melangkah Aku Seperti Langkah Seorang Lelaki: Kalau nanti kusaksikan letak paksi ke arah paksina / aku harus pulang ke sana, melipat peta, lalu / melangkah seperti langkah kaki seorang lelaki – / seperti lagu yang aku dengar dari Springteen – dan / menuliskan puisi yang aku takut pada bait-baitnya. (h. 79)

Mimpi, Sajak Apakah Ini: Kalau aku menangis, ikan di dalam mataku pasti / ada yang terperangkap ke luar. Di kulkas ada / garam. Dengan sedikit luka di pangkal sisiknya, / kukira cukup nikmat rasa pedih itu untuk kusantap, / sekadar penahan laparku. Lagi pula perutku / sendiri, mungkin aku bisa lain melihat diriku. (h. 82)

Kamus Yang Sangat Tidak Lengkap: II. ada sebuag panggung, dan kau berada di panggung / itu melakonkan dirimu sendiri, kau juga duduk di kursi / penonton, menyaksikan dirimu sendiri. Ketika terbangun / kau tak tahu pasti, “Aku ini adalah aku yang tadi berlakon, ataukah aku yang duduk sebagai penonton.” (h. 87)

Relikui: Apa yang tak mengenangkan aku padamu? Segala seperti relikui / Layangan putus, menyerahkan ujung benang, menyentakkan relikui (h. 92)

Pemetik, 2: Kalau sudah teramat rimbun waktu / aku duga itu dari serbuk air matamu / menempias sejuk ke hutan usiranku (h. 103)

Pendayung, 1: Lautku mendayungkan perahumu, berlabuhlah / Anginku menunjukkan ke pelabuhanmu, berlayarlah / Malamku memperada kerlip bintangmu, berianglah! (h. 107)

Pelupa: Tidur lama, dan lupa, membebaskan kita dari maut dan tua. / Tapi, kita terkurung sawang, menebal di pintu guha. Tak / terbaca tanda waktu, di tulang anjing dan kerangka kuda (h. 130)

Ia Menulis di Linimasa: Pada usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian, / Ia menulis di linimasanya, hidup yang baik telahg / memberi satu hal: aku telah mampu untuk lupa… // Pada usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian, / ia menulis di linimasanya, hidup yang baik tetap / memberi satu hal: aku masih mampu untuk ingat. (h. 134)

Lelaki Ke-15 dan Seorang Perempuan yang Tak Sempat Ia Ajak Menulis Sajak Bersama: 6. Saya di rak buku itu? nama kita, nama yang melupakan kita. / Tiap napas: sepasang hirup dan hembus, adalah kalimat tidak / sederhana, dengan gumpal tanda tanya di ujungnya, Kita tak bisa / berhenti bertanya, kita terus mempertanyakan pertanyaan kita.

7. Kita yang lama mengawani sunyi, tak pernah baik mengenal / sunyi. Berpapasan denganya, kita ragu dan kecut, tapi talk / bisa menghindar, “Kesunyian dan kesendirian adalah cabang / filsafat yang tak pernah selesai dirumuskan.” Kata profesor yang / tertinggal ajarannya, padahal sudah beberapa jam lalu dia pulang / entah ke rumah yang mana. (h. 151)

Beberapa Sajak yang Aku Pikir Seharusnya Aku yang Menulisnya: Aku pernah mencoba melacak apa sebenarnya / rahasia, dibalik bait-baitnya. Diam-diam aku pun / menjadi diam. Menyelinap masuk ke bait-bait / sajak pendek itu, dan oh, baru aku tahu kemudian, / ternyata rumit sekali kata di balik kalimat yang / ketika sekilas kubaca, tampak sangat sederhana. (h. 159)

Tak banyak buku kumpulan puisi yang kubaca, selain memang agak sulit tune in dengan aliran kata dan diksi dan segala yang spontan, saya tak bisa runut nikmat dari awal hingga kalimat terakhir. Saya langganan Koran Kompas Minggu doeloe, bagian puisi nyaris skip semua. Tak seperti novel yang ada klik dalam sebuku, atau kumpulan cerpen yang walau mungkin terpenggal-penggal tiap ganti cerita namun masih ada aliran benangnya. Buku Kumpulan puisi masihlah oase gurun dan menjadi sekadar selingan baca, dulu sempat merencana sebulan sekali baca kumpulan puisi, tapi pas ada tragedi awal tahun, mencipta kesedihan akut yang merusak tatanan, yang akhirnya kembali ke habitat. Pena Sudah Diangkat, setidaknya memberi banyak narasi, jalinannya masih nyaman, seperti kumpulan puisi terakhir yang kunikmati: Kitab Para Pencibir yang juga nyaman karena naratif, sama-sama terbuka segala tafsirnya.

Mungkin karena memainkan waktu, usia, dan beberapa kejanggalan linier masa, menurutku yang terbaik di kumpulan puisi ini ada di judul: Aku Belum Tua:

Segala rupa puitik selama alirannya mendegub jantung dan berhasil menelisik telinga, sah-sah saja untuk dilahap. Nyaring atau lirih? Ah itu sekadar pilihan lahap. Demi waktu baca dan segelas kopi, mari gegas bersajak! Penasaran kumpulan puisi apa lagi berikutnya yang tersedia untuk kudedah?

Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering | by Hasan Aspahani | GM 616202048 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, September 2016 | Penyelia naskah Mirna Yulistiani | Proof read Sasa | Desain cover Kuro-neko | Setter Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-3402-8 | Skor: 4/5

Judul buku ini diambil dari kalimat terakhir hadist ke-19 dari kumpulan 40 hadist yang dikumpulkam oleh Imam An-Nawawi, yang sangat termahsyur sebagai Hadist Arba’in.

Karawang, 150520-210520 – Bill Withers – Railroad Man / Katy Perry – Last Friday Night

Reuni Hitam di Pemakaman Sang Pelatih

Bleachers by John Grisham

Bagaimana kau bisa tidak merindukan Rake begitu kau bermain untuknya? Aku melihat wajahnya setiap hari, aku mendengar suaranya. Aku bisa mencium bau keringatnya. Aku bisa merasakan dia menghantamku, tanpa bantalan. Aku bisa menirukan geramannya, gerutuannya, omelannya. Aku ingat cerita-ceritanya, ceramah-ceramahnya, pelajaran-pelajarannya. Aku ingat keempat puluh permainan dan ketiga puluh delapan permainan yang kujalani sewaktu masih mengenakan seragam. Ayahku meninggal empat tahun yang lalu dan aku sangat menyayanginya, tapi, dan ini sulit dikatakan, Eddie Rake lebih berpengaruh bagiku daripada ayahku sendiri.” – Nat

Tidak ada yang menyayangi Rake seperti Silo. Apa yang terlitas pertama kali saat selesai menikmati Bleachers? Sir Alex Ferguson. Seorang pelatih kenamaan yang bertahan lama di Manchester United dalam liga paling keras sedunia English Premier League, metode pelatihnya yang keras sehingga menimbulkan banyak konfliks dalam tim. Hubungan dengan Roy Keane yang buruk, bisa sangat mirip dengan bintang lapangan Neely. Yah, karena saya tak mengenal football Amerika, dan sangat akrab dengan football maka pembandingnya sepak bola saja.

Kisahnya mengambil sudut pandang Neely, mantan kapten football Amerika yang sudah lima belas tahun tak kembali ke Messina. Hari Selasa ia menelusuri lapangan yang membesarkan namanya. Kabar sang pelatih terhebat Eddie Rake sekarat telah mengetuk hatinya, dan sebagian mantan anak asuh untuk pulang. “Lima belas tahun, Pal…” Jadilah ini seperti reuni hitam, dibuka dengan hari Selasa, ditutup pada hari Jumat, hari pemakaman. Selain setting waktu yang minim hanya empat hari, setting tempat juga minim: bangku penonton, kafe, pemakaman, mobil, dst. Novel ini mengandalkan kekuatan dialog dan narasi sehingga hujaman kata harus benar-benar memikat untuk terus bertahan sepanjang 200 halaman. Kubaca kilat dalam dua hari Minggu malam setelah tarawih, kutuntaskan Senin sore sepulang kerja (100520). Tipis, dengan pacu kata kencang.

Neely Crenshaw bertemu dahulu dengan Paul Curry di bangku penonton Rake Field mengenang kenang. Mereka duduk terpisah sejauh tiga kaki, keduanya menatap ke kejauhan, bercakap-cakap tapi sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu pembaca diantar memutar memori itu. Di kelas Sembilan Rake sendiri mengawasi latihan kita dan kita hafal keempat puluh play yang ada di bukunya. Bahkan dalam tidur. Hari-hari jaya kita hilang dalam sekejap mata. “Ayolah, hentikan. Nikmati saja kenangannya.”

Mereka juga membuka kelabu masa lalu tentang pilihan kuliah pasca kelulusan. “Aku tidak pernah memberitahu siapa pun hingga sekarang. Benar-benar bisnis kotor… setiap sekolah menawarkan uang tunai, Paul, jangan naïf. Itu bagian dari permainan.” Bagaimana pilihan Neely ke kampus Tech melukai beberapa pihak. Ternyata dibalik itu, ada uang tunai yang terselip. “Kenapa menabung kalau kau berada dalam daftar gaji?” Anak muda yang lulus tahun 1987 dengan uang melimpah. Sapaan saling dilontarkan, penghinaan dibalas. Begitu banyak yang tertinggal di antara mereka berdua hingga tidak satu pun ingin memulainya.

Lalu muncul alumni lain yang lebih muda, bintang terakhir arahan Rake. Randy Jaeger, “Kapan kau selesai? Tanya Neely. / “Sembilan puluh tiga.” / “Dan mereka memecatnya tahun__?” / “Sembilan puluh dua, tahun seniorku. Aku salah satu kapten.” Beda angkatan ini lalu mengupas apa saja waktu-waktu kenang sang pelatih. Bahas apa saja. Musim pertandingan tanpa kebobolan gawang satu kali membutuhkan waktu semenit untuk dicerna, tahun-tahun yang lebih mula diapungkan. Dan di akhir karier kepelatihan koran-koran mencetak berita besar di headline. “… Selama tiga puluh empat tahun ia melatih tujuh ratus empat belas pemain. Itu judul artikelnya – Eddie Rake dan Ketujuh Ratus Spartan.”

Muncul pula angkatan yang lebih tua, seorang polisi Mal, seangkatan lainnya bankir Curry dan sebagainya. Neely mengetahui legendanya, bukan orangnya. Bangku lapangan itu di malam Rake sekarat karena kanker menjadi malam nostalgia. Bagaimana Rake, selalu merupakan pakar motivator, menggunakan penundaan itu untuk memicu semangat pasukannya. Rake memiliki masalah dengan bintang. Kita semua mengetahuinya. Kalau kau memenangkan terlalu banyak piala, membuat rekor terlalu banyak, Rake iri. Sesederhana itu. Ia melatih kita seperti anjing dan ingin setiap orang dari kita menjadi pemain hebat. “Rasanya seperti baru kemarin, tapi kalau dipikir lagi rasanya seperti mimpi.”

Messina memiliki para pahlawannya, dan mereka diharapkan menikmati nostalgianya. “Hak untuk membual, apalagi yang bisa mereka bualkan?” Setiap Jumat malam menjadi altar pemujaan sekaligus hujatan di lapangan football yang keras. Di kota seukuran Messina, bakat datang berdasarkan siklus. Saat-saat puncak dengan Neely, Silo, Paul, Alonzo Taylor, dan empat penebang kayu yang brutal. Skornya sangat bagus. “Aku tak ingin membicarakan football, oke? Aku tak ingin membicarakan betapa hebatnya diriku dulu.”

Sejatinya ada apa dengan pelatih legendaris ini sehingga dipecat secara tak hormat? Kita tahu dalam kupasan lembar hari berikutnya. Neely ngopi di kafe yang memajang posternya di atas kasir. “Tidak ada yang membencimu Neely, kau jagoan Amerika.” Pada waktu itu ia telah melatih Spartan selama lebih dari tiga dekade dan sudah melihat segalanya. Gelar terakhirnya yang ketiga belas, diraihnya tahun 1987. Rake terkenal akan gerutuannya, yang selalu bisa didengar. Tahun 1992, di akhir musim yang berakhir buruk Rake melakukan training yang lebih keras di hari Minggu pagi, hari suci yang harusnya di gereja itu malah berakhir bencana karena seorang pemain tewas kala latihan. Kota terpecah, situasi memburuk. Menyedihkan untuk Scotty, dan menyedihkan karena era Rake tampaknya telah berakhir.

Era akhir itu pilu, Rake dipuja dan dibenci. Waktu berjalan, pertandingan tetap ada. Dan menang adalah segalanya. Situasi tampaknya bisa oke ketika kita menang, tapi satu kekalahan itu telah memecah belah kota hingga bertahun-tahun. “Isu selalu bisa dipercaya di sini, terutama tentang Rake.”

Rake lalu menepi, jarang muncul di keramaian, lebih dekat dengan keluarga. Dan salah satu mantan anak didik Nat yang membuka toko buku di Messina membuka pintu khusus buatnya. Ngopi dan baca buku. Buku-buku bacaan karya Raymond Chandler, Dashiell Hammett, Elmore Leonard. Menjadi bahan diskusi, menghabiskan masa tua. Tersisih, tapi tetap dikenang.

Di toko buku itulah Neely lalu datang di hari berikutnya. Bertemu rekan setim Nat yang antusias menyambut pahlawan yang pulang. Semangat itu perlu kawan, usia tua adalah keniscayaan. Ada pelanggan seratus sepuluh tahun usianya, dan ia menyukai novel koboi erotis. Pikirkanlah. Kita belum separuhnya, jangan muram. Pameran itu merupakan penghargaan bagi pelatih yang cemerlang dan pemain yang berdedikasi, dan pengingat yang menyedihkan mengenai keadaan yang menyedihkan dulu.

Waktu berjalan, hal-hal biasa bisa saja berubah. Football adalah raja dan ini tidak berubah. Football membawa kemegahan dan membayar tagihan-taguhan dan hanya itu. Kariermu yang meriah hanya akan menjadi catatan kaki, semua gadis kecil yang manis akan menjadi ibu-ibu. Barang SMU, barang anak-anak. Hanya sedikit yang berubah. Pelatih-pelatih yang berbeda, pemain-pemain yang berbeda, bocah-bocah yang berbeda dalam band, tetapi mereka masih tetap Spartan di Rake Field dengan Rabbit di atas mesin pemotong rumput dan kegugupan menghadapi Jumat malam.

Hari Kamis malam, setelah pengumuman duka para mantan anak didik itu berkumpul di bangku penonton Rake Field. Nat membawa boom-box lalu menyalakan rekaman kaset Buck Coffey menyiarkan pertandingan kejuaraan ’87. Kenangan komentar laga paling dramatis perebutan juara. Dari tertinggal jauh di separuh babak, lalu membalikkan keadaan dengan kejanggalan tak ada pelatih di bangku. Apa sejatinya yang terjadi di ruang ganti dibuka dengan dahsyat. Jadi ingat segala pertandingan sepak bola yang membalik di babak kedua: Manchester United tahun 99, Liverpool tahun 2005, atau semacam kejadian ajaib itulah.

Kita memakamkan penduduk kita yang paling terkenal. Neely lalu mengajak Cameron ke acara pemakaman itu. “Ada sesuatu yang ajaib di cinta pertama Cameron, sesuatu yang kurindukan selamanya.” Cinta pertamanya yang terluka. Ia sudah menikah dan hidup bahagia dengan orang lain. Permintaan maaf Neely karena mencampakkannya, serta kehidupannya sebagai karyawan real estat yang berantakan, dan bagaimana pacar yang merebutnya kini sengsara di Hollywood, sebagai pemain film kelas B. Ahh… Menjadi pahlawan yang terlupakan tidaklah mudah.

Acara perpisahan dengan legenda, penghomatan terakhir Eddi Rake ditulis dengan gagah luar biasa menyentuh. Tidak ada yang tergesa-gesa, ini saat-saat yang akan dipuja dan dikenang oleh Messina. Neely duduk diantara Paul Curry dan Silo Mooney, bersama ketiga puluh anggota regu 1987 lainnya, dua di antara mereka telah meninggal, enam menghilang, dan sisanya tak bisa hadir. Ada tiga orang yang memberi semacam pidato, tiga bintang di tiga angkatan yang berbeda. Seorang pekerja di biro hukum yang pintar bicara di muka umum, lalu pendeta yang sudah biasa di mimbar. Dan seorang bintang yang menghilang. Ia mendapat pekerjaan itu karena tidak ada orang lain yang menginginkannya, ia melatih di sini selama tiga puluh empat tahun, memenangkan lebih dari empat ratus pertandingan, meraih tiga belas gelar negara bagian, dan kita mengetahui angka-nagka sisanya.

Prinsipnya sederhana, tetap berpegang pada hal-hal mendasar, dan bekerja tanpa henti hingga kau bisa melakukannya dengan sempurna. Kita bukan orang-orang hebat, kita mungkin orang-orang baik, jujur, adil, bekerja keras, setia, ramah, dermawan, dan sangat sopan, atau mungkin sebaliknya. Tapi kita tidak dianggap sebagai orang hebat. Kehebatan jarang muncul sehingga sewaktu melihatnya kita ingin menyentuhnya. Eddie Rake memungkinkan kita para pemain dan penggemar untuk menyentuh kehebatan. Walau sangat tangguh, ia luar biasa peka terhadap penderitaan orang lain.

Masa lalu akhirnya benar-benar berlalu sekarang, berlalu bersama Rake. Neely bosan dengan kenangan dan mimpi-mimpi yang gagal, menyerahlah, katanya pada diri sendiri. Kau tak akan pernah menjadi pahlawan lagi. Hari-hari itu telah berakhir sekarang. “Aku menyayangi Eddie Rake melebihi siapa pun dalam hidupku. Ia hadir dalam sidang ketika mereka memvonisku. Aku menghancurkan hidupku, dan aku malu. Aku menghancurkan hati kedua orang tuaku, dan aku merasa muak karenanya…” Jesse yang malang mengingat masa emas itu.

John Grisham tak pernah mengecewakan. Buku tipis ini juga sama dahsyatnya dengan buku lain. temanya bervariasi, dari pengadilan, kenangan masa kecil di perkebunan kapas, boikot natal, kumpulan cerita pendek di kotanya sampai sebuah memoar samar nan fiktif pelatih Rake ini. Sungguh luar biasa penulis ini, bagaimana memacu andrenalin pembaca menuju puncak malam pemakaman, semakin lembar menipis semakin membikin penasaran. Seperti kenyataan malam kejayaan 87 itu, ternyata ada tragedi pahit antara bintang utama dan pelatih. Dikuak dengan dramatis.

Lebih dahsyat Neely sebagai penutur narasi malah menjadi orang yang menutup sambutan kalimat perpisahan. Seperti yang disampaikan di mula, Neely membenci Rake karena sebab yang jelas, ia bintang utama sekaligus mata pisau paling tajam untuk menyampai kebencian. Pelatih Rake tidak mudah disayangi, dan saat kau bermain di sini, kau benar-benar tidak menyukai dia. Tetapi sesudah kau pergi, sesudah meninggalkan tempat ini, sesudah kau didepak beberapa kali di sana-sini, menghadapi tentangan, beberapa kegagalan, dikalahkan hidup, kau segera menyadari betapa pentingnya Pelatih Rake dulu dan sekarang… begitu kau jauh dari pelatih Rake, kau merindukannya. Bayangkan saja, lima belas tahun tak mau jumpa!

Rake memang jago dalam menyampaikan pesan terakhir. Rake memang jago memanipulasi para pemainnya untuk yang terakhir kalinya.

Keberhasilan bukanlah kebetulan.

Sang Pelatih | by John Grisham | Diterjemahkan dari Bleachers | Copyright 2003 | Alihbahasa B. Sendra Tanuwidjaja | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 04.007 | Cetakan pertama, Juli 2004 | 208 hlm.; 18 cm | ISBN 9789-22-0741-4 | Skor: 5/5

Untuk Ty, dan anak-anak luar biasa yang bermain football dengannya di SMU; pelatih mereka yang hebat; dan kenangan tentang dua gelar Negara bagian

Karawang, 180520 – 230520 – Bill Withers – Lovely Day & The Best You Can

Love Story by Erich Segal

Oliver: “Jenny, kita sudah sah menjadi suami istri.”

Jenny: “Yeah, mulai sekarang aku boleh bawel.”

Uang THR tahun ini, sebagian saya belikan buku, seperti biasa (ketimbang beli baju) melakukan enam kali transaksi beli buku. Transaksi kelima dan keenam, bingkisan kubuka (Ciprut yang #unboxing) malam minggu kemarin (160520) dari Bekasi (Raden Beben) dan Surabaya (Angga Adi) berisi total 16 buku. Kebetulan yang paling tipis buku ini, jadi gegas kubaca selepas nonton bola Bundesliga, ya ampun saya menurunkan kasta nonton live Dortmund versus Schalke, di pergantian hari buku berisi 160 halaman ini sudah selesai baca. Langsung kuulas sekalian, karena waktu melimpah di dini hari begadang ini. Inilah kisah cinta sejati, seperti pembukanya yang berkata pilu, endingnya luluh lantak dalam tangis. Bisa jadi cerita cinta pedih seperti ini sudah banyak dibuat saat ini, tapi buku pertama Erich Segal yang kubaca ini dituturkan dengan kelenturan kata yang menyeset emosi, dan lelaki mana yang tak menangis di lobi rumah sakit dalam pelukan ayah itu? Setegar Hercules-pun akan sesenggukan.

Kisahnya tentang pasangan muda yang tampak sungguh ideal. Oliver Barrett IV adalah mahasiswa Havard yang kaya, keturunan Barrett yang tersohor, jurusan ilmu sosial. Atilt hoki es yang menjadi andalan kampus. Sungguh gambaran pria sempurna untuk menjadi pasangan hidup. Jennifer Cavilleri adalah mahasiswi kere, anak penjual kue dari Cranston, Rhode Island, sebuah kota di selatan Boston, keturuan Italia. Kuliah musik di Radcliffe, berkaca mata, dan tentu saja cerdas. Ini kisah sedih, dan pembaca sudah dikasih tahu di kalimat pertama bahwa, Apa yang bisa kita ceritakan mengenai gadis dua puluh lima tahun yang telah tiada?

Perkenalan mereka tampak biasa tapi dibalut kalimat puitik, Oliver meminjam buku jelang ujian di perpustakaan, Jenny di sana memancing tanya, “Hey mana sopan santunmu preppie?” Dijawab “Kenapa kau begitu yakin aku dari prep school?” Ditimpali, “Tampangmu bodoh dan kaya.” Haha… dibalas lagi “Kau keliru sebenarnya aku cerdas dan miskin.” Dan kena jab, “Oh, jangan menfada-ada, aku cerdas dan msikin.” Justru dari saling sindir itulah hubungan berlanjut panjang.

Oliver anak orang kaya, keturuan keempat Barrett, hubungan dengan ayahnya Oliver Barrett III ga akrab. Memanggil Sir, nurut dalam tekanan dan beban piala, karena sudah tradisi keluarga akan prestasi, bukan sekadar akademi tapi juga olahraga. “Ada yang bisa dibantu?” Adalah keluarga jetset yang sepertinya tak peduli materi, karena melimpah. Keluarga kaya raya pada umumnya yang banyak menuntut sukses anak-anaknya. “Demi aku Oliver, aku belum pernah minta apa pun darimu, please.”

Sementara Jenny adalah keluarga biasa, kepulangan disambut mewah, dan betapa ia sungguh akrab sama ayahnya, karena ibunya sudah meninggal dunia dalam kecelakaan, hungan ayah-putri ini begitu erat dan kuat. Memanggil ayahnya dengan nama langsung, Phil. Menjadi kikuk Ollie akhirnya ketika mengikuti. “Ya, Phil, Sir.” Dan ketika ditegur, makin canggung dan tetap menjawab, “Baik, Phil, Sir.”

Bak cerita sinetron, hubungan ini tak dapat restu si keluarga kaya. Cinta sejati Ollie harus diperjuang, maka selepas lulus S1, mereka menikah. Karena keduanya beda keyakinan maka menikah di tengah-tengah kepercayaan, bangunan kuno Phillips Brokes House, di utara Harvard Yard, dengan pendeta Unitarian. Hidup pas-pasan di apartemen murah, Jenny mengajar, Ollie bekerja sambil lanjut S2 hukum. Kehidupan pasangan muda penuh perjuangan. Hubungan dengan ayahnya sudah putus, sehingga mereka benar-benar berusaha mandiri, berjuang bersama. Cinta mereka, saling menguatkan. Sungguh romantis.

Oliver lulus pasca sarjana hukum, bukan nomor satu tapi nomor tiga, tetap di Law Review. Namun rasa penasaran Jenny, akan siapa yang bisa mengalahkan suaminya menjadi lucu ketika diberitahukan di atas kapal dan ia yang kecewa malah melompat di laut. Ternyata nomor satunya adalah seorang pria kutu buku, introvert yang luar biasa pasif bersosial, dan yang kedua cewek cerdas dengan talenta tinggi. Sebuah kewajaran. Dengan ijazah barunya, ia memiliki peluang karier lebih luas, dengan berbagai pertimbangan dan tawaran yang masuk, Oliver setelah diskusi dengan istrinya mengambil kesempatan kerja di firma hukum Jonas and Marsh di New York dengan gaji tinggi 1.800 dollar. Ekomoni mereka lumayan mapan, Jenny mulai menata harap, dan Ollie ikut club elite. Bencana tiba secepat melesatnya karier mereka ketika program memiliki anak dilakukan. Berbagai percobaan sudah dilakukan, lalu konsultasi ke dokter kandungan. “Rasanya seperti jatuh dari tebing secara slow motion.”

Hasil yang diterima mencengangkan. Bukan hanya gagal memiliki anak, tapi ada masalah pelik yang sungguh berat harus disampaikan. Oliver sempat berujar, yang penting saling mencintai dan ikrar setia. Masalahnya ini menyangkut nyawa. Kesedihan membuncah, ia tak kuasa menyampaikan kepada orang terkasih. Rencana hidup yang tertunda sempat diapungkan, salah satunya harapan Jenny ke kota Romantis Paris, karena dulu sempat mau ambil kursus musik khusus ke sana, tapi gagal demi pernikahan dengannya. Dua tiket diambil, dan rasanya ia tak tega menyampaikan kabar duka itu, sampai akhirnya, fakta mau tak mau mengapung, dalam duka dan kepedihan yang teramat. Ini baru Love Story sejati. Menikam jantung dengan hujaman keras, tak hanya sekali, bertubi dalam duka dan segala kandungan di dalamnya. “Nomor berapa C Minor Piano Concerto? Dulu aku hapal.”

Harus diakui, kisahnya awal terasa klise. Pasangan beda kasta, tampan dan cerdas bersatu lalu mengarungi perjuangan bahtera pernikahan, lalu ekonomi membaik dan timbul benih cerahnya masa depan. Tikaman itu dari vonis dokter, sampai halaman berakhir adalah kesedihan akut. Ditulis dengan kenyamanan dan pemilihan (terjemahan) diksi yang bagus sehingga kita turut terkoyak. Jelas ini tak semanis yang dikira. “Seandainya aku tak berjanji pada Jenny untuk bersikap tabah.

Cerita bagus memang harus menjual konflik berat, lalu pemecahan yang pas. Semakin runyam masalah yang disodorkan semakin asyik diikuti. Love Story memunculkan masalah dengan tikaman yang dalam, bagi pecinta romcom ini alur yang umum. Adegan akhir menantu-mertua di ruang rokok solarium bisa jadi sangat menyedihkan, tapi kesedihan maksimal justru di kalimat-kalimat akhir di lobi. Saya turut menitikan air mata, walau kutahan-tahan juga karena itu sudah menghadapi lembar akhir. Drama cinta memang tak rumit, drama cinta memang harus alami. Dan kepedihan Oliver jelas terasa sangat mendalam, dan nyata. Pernah menangis di rumah sakit? Ya. pernah melelehkan air mata membuncah di pelukan orang tua? Ya. Oliver adalah gambaran duka yang sempurna.

Dan kemudian aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan di depan ayahku, apalagi di dalam pelukannya. Aku menangis.

Cinta berarti tak perlu minta maaf.

Kisah Cinta | by Erich Segal | Diterjemahkan dari Love Story | Copyright 1970 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 95 135 | Alih bahasa Hendarto Setiadi | Jakarta, Januari 1995 | Cetakan ketujuh, Juli 2001 | 160 hlm; 18 cm | ISBN 978-605-135-4 | Skor: 5/5

Untuk Sylvia Herscher dan John Flaxman

…namque… solebatis.

Meas esse aliquid putare nuqas

Karawang, 170520 – Patti Austin – Baby, Come to Me

#April2020 Baca

Apa pun yang terjadi aku takkan pernah mengingkari imanku…”

Enam buku pinjam dari Titus R. Pradita yang pamit akhir bulan April menjadi prioritas baca ulas (good luck and good bye). Yang lainnya melengkapi. Bulan yang sangat produktif.

#1. Ateisme FreudHan Kung
Bagaimana sang penemu Teori Psikoanalis bertumbuh, seorang pemeluk Yahudi dari kedua orang tua, lalu di sekolah kena bully-an karena mayoritas pemeluk Kristen, kuliah di kedokteran demi kemanusiaan, hingga penemuan tafsir mimpi yang legendaris itu. Kesimpulan ekstrem dalam penelitian, ketika menjadi seorang psikiater yang membuat kontroversi bahwa simbol-simbol dan ritual-ritual agama, dan tentunya juga pemeluk-pemeluknya, sama dengan perilaku pasien-pasien neurotisnya di rumah sakit jiwa. Agama adalah kegilaan, sebagaimana kegilaan yang diidap para penghuni rumah sakit jiwa di tempatnya bekerja. “Seperti yang Anda, saya membangun hubungan agung dengan cinta.”

#2. Dilarang Gondrong!Aria Wiratma Yudhistira
Kalau sampai petinggi Pemerintah yang mengeluarkan statemen berarti ada sesuatu yang memang harus diperhati lebih dalam. Dan itu terkait gaya rambut panjang. Terasa lucu, tapi dengan buku ini menjelma serius. Tanggal 1 Oktober 1973 Senin malam sebuah acara bincang-bincang di TVRI, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro berkata bahwa rambut gondrong membuat pemuda menjadi overschilling alias acuh tak acuh. Sebuah pernyataan kontroversi yang menjadi ancaman hingga boikot artis-artis yang tak mau nurut, bahkan pemain sepak bolapun turut dilarang. Maurice Gibbs beretoris, “Aneh, bagaimana mereka dapat mengundang kami, sedang mereka sendiri tidak rambut gondrong seperti kami.”

#3. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3!Ajahn Brahm
Seri ketiga ini ternyata bagus. Seolah pilihan kishanya bebas, lepas, melayang ku melayang jauh. Masih dengan pola lama, di mana Ajahn Brahm menukil beberapa pengalaman, kutipan orang tersohor, petuah klasik, sampai analisis keadaan. Dengan kover monyet, dan menjadi penutup kisah, Si Cacing pamit untuk meditasi. “Semua ungkapan terbaik, semua kata terbaik, semuanya sudah dipakai, tak seorang pun bisa menulis apa pun yang segar lagi.” – Juru Tulis Cendikia Mesir Kuno 4.000 tahun yang lalu.

#4. Ritus-Ritus PemakamanHannah Kent
Ditulis oleh seorang kelahiran Adelaide, Australia, awalnya kukira novel Islandia. Ternyata semasa sekolah Hannah pernah melakukan tukar-siswa ke sana, melakukan penelitian atas kasus Agnes dan menuangkannya dalam novel. Setiap awal bab kita akan disodori surat-surat yang disadur asli dari pihak berwenang. Dari surat pengadilan, surat kepolisian, korespondensi permohonan penangguhan, surat perintah pemindahan tempat penahanan, puisi-puisi penyair Rosa, lagu kematian, sampai surat yang menyatakan perang. Semua terasa nyata, dengan sebagian memakai bahasa asli, yang tampak eksotis. Tentang Agnes yang akan dihukum mati.

#5. AngelologiDanielle Trussoni
Angelologi adalah salah satu dari sekian cabang asli teologi, dikuasai oleh seseorang yang ahli angelologi, yang keahliannya meliputi baik penelitian teoritis atas sistem malaikat maupun perwujudan nubuat mereka sepanjang sejarah manusia. Protagonistnya adalah seorang suster muda, Evangeline yang dibagian pembuka diceritakan bertugas di perpustakaan biara St. Rose, Lembah Sungai Hudson, Milton, New York. Melawan kaum Nefilistik, yaitu kaum malaikat yang bersatu dengan manusia, mereka berebut alat musik yang diturunkan langsung dari surga, sebuah lira yang sakral. Petualangan enam ratus halaman yang melelahkan. “Kau makhluk paling cantik di sini, kau terlihat seperti malaikat.”

#6. Sang Golem dan Sang JinHelena Wecker
Debut yang melelahkan. Bayangkan, enam ratus halaman dan ceritanya hanya gitu. Untung pinjam. Kisahnya golem yang terlahir di kapal bernama Chava dan jin yang setelah ratusan tahun terkurung di guci, terlepas bernama Ahmad. Keduanya lalu bersinggungan, beradaptasi dengan masyarakat Amerika. Dan seteru dengan seorang penyihir abadi. “Berikan padanya rasa ingin tahu, dan kecerdasan. Aku takkan tahan menghadapi perempuan yang konyol, buat dia sopan, tidak cabul. Istri yang pantas untuk pria baik-baik.”

#7. Crystal StopperMaurice LeBlanc
Buku pertama sang pencuri Prancis yang legendaris Arsene Lupin yang kubaca. Tentang sumbat Kristal yang misterius, cenderung gaib. Penelusuran dan adu cerdik untuk memilikinya membawa petaka, ketika dalam perampokan yang gagal, Gilbert diancam dihukum mati. Lupin dan komplotan lalu berjuang menggagalkan eksekusi, tertebak pasti bisa tapi prosesnya sangat dramatis hingga jam-jam terakhir. Kejutan, sang penjahat utama bukan Daubrecq yang menyulitkan sepanjang cerita, ternyata seorang pejabat penting dan bagiaman seni mengelabuhi terus tersaji. ¼ akhir kisah menyelamatkan segalanya. “… Malam ini, cara apa pun yang akan aku gunakan, ia akan buka mulut.”

#8. Cadas TaniosAmin Maalouf
Luar biasa. Ini kisah cinta yang aneh, terlampau aneh. Tanios yang unik, terlahir dari seorang Cheikh? Adalah tanda tanya yang menguar sepanjang halaman, lalu riwayat cintanya pada Asma, anak mantan juru tulis yang bermasalah, sampai seteru agama dan jajahan. Di abad Sembilan belas di Kfaryabda, konflik kekuasaan, cinta, dan dendam meletus. Sebuah batu yang akhirnya diberi nama The Rock of Tanios menjadi saksi perubahan zaman. Termasuk misteri yang terkandung di dalamnya. “Kejadian nyata itu tidak tahan lama, percayalah, hanya dongeng yang tetap hidup, seperti minyak wangi setelah anak gadis yang memakainya lewat.”

#9. SilenceShusaku Endo
Kristiani dibawa ke Jepang oleh Francis Xavier, orang Basque yang mendarat di pantai Kagoshima pada tahun 1549 bersama dua rekan Yesuit dan seorang penerjemah Jepang. Tetapi arsitek sesungguhnya atas misi ini adalah Alessandro Valignano yeng berkebangsaan Italia. Dialah yang menggabungkan antusiame Xavier dengan rancangan masa depan yang brilian serta kegigihan yang mengagumkan. Kisah penyebaran agama Kristen di Jepang abad tujuh belas penuh derita dan lelehan air mata untuk mempertahankan keyakinan. Dan seperti laut itu, Tuhan tetap bungkam, tuhan masih tetap mempertahankan keheningannya. “Sungguh melelahkan jalan ceroboh menuju kehancuran, sungguh sepi rawa-rawa yang kita jalani..”

#10. Lengking Burung KasuariNunuk Y. Kusmiana
Keren. Keren adalah kata pertama yang kuucap setelah selesai baca. Kisah yang mengambil sudut pandang anak-anak, di Timur Indonesia. Asih yang tak paham kehidupan orang dewasa, lika-liku kehidupan militer ayahnya dan ibunya yang berdagang. Teman-temannya yang lebih variasi lagi. jelas ini ditulis dengan ingatan pengalaman pribadi. “Itu burung kasuari. Dia suka marah kalau melihat kita dekat-dekat denganya.”

#11. The Chronicles of Narnia: The Lion, The Witch, and the WardrobeC.S. Lewis
Saya baca ulang untuk Hermione jelang tidur, dua bab per malam. Saya sudah sangat akrab, tapi sensasinya beda dengan baca sendiri. Ini dongeng anak-anak dengan lemari ajaib yang dimasuki empat Pevensie bersaudara dengan makhluk-makhluk mitologi. Luar biasa antusiasme #Ciprut. Menjadi malam-malam indah memasuki imajinasi. Keputusan membacakan Narnia selepas dua seri Pooh tiba-tiba saja muncul ketika saya pulang kerja, ia sembunyi. Kucari-cari dengan memanggil ‘Ciprut… Ciprut… Ciprut…’ ga ketemu, istri bilang ada kok di kamar. Lha… kok ga ada, ternyata sembunyi dalam lemari. Lalu saya pun bilang, kalau masuk lemari harus ada celah di pintunya, dia nanya kenapa? Karena, ada sebuah dunia di lain dunia kita, dan gegaslah kubacakan seri pertama. Kisahnya sudah sangat terkenalkan, jadi ga perlu saya jelaskan.

#12. Pooh at the CornerA. A. Milne
Melanjutkan petualangan Pooh dkk di Hutan Seratus Ekar, kali ini ada karakter baru yang sangat disuka Tigger, hobinya membal-membal (bounching). Berisi 10 bab, sama dengan yang sebelumnya yang kubacakan dua bab per hari. Sebuah pengalaman mengagumkan bersama Hermione yang karena Pooh, saat ini mencita illustrator, biar seperti Ernest H. Shepard. Ulasan lengkap segera menyusul. “Kau beruang terbaik di seleuruh dunia.”

#13. Sepakbola Tidak Akan PulangMahfud Ikhwan
Ini buku tambahan saja, ga masuk target baca, tiba-tiba malam terakhir bertugas membeli kado Titus ke Gramaedia, iseng nonton buku nemu ini malah kubeli dan kubaca tuntas sehari dalam tiga kali duduk. Yo wes…

Ini semacam rangkuman cerita sepanjang musim 2018/2019 liga top Eropa: Belanda, Prancis, Spanyol, Italia, dan Inggris. Catatan tiap pekan yang dimuat di Geotimes lalu sama Shira Media dibukukan. Jangan tanya gizinya, jangan pula tanya seberapa gereget. Ini sekadar keluh kesah, dan untaian kata dari pengamat yang berceloteh tentang moment-moment unik pekan tersebut. Tak ada data dan statistik (syukurlah), hanya uneg-uneg. Lumayan menghibur, walau tak sampai tergelak. Mematik asa bikin catatan tanding dengan center: Lazio. “Tak ada yang lebih tabah dari pendukung Liverpool.”

Tiga belas buku dibaca sebulan dan mayoritas sudah diulas, luar biasa.

Belum pernah saya se-terbakar-ini.

Karawang, 050520 – 110520 – Bill Withers – Harlem

The High Mountains of Portugal: Cinta yang Amat Besar, dan Rasa Kehilangan yang Tak Terhingga

The High Mountains Portugal by Yann Martel

Apakah ada artinya? Dari mana jiwa berasal? Ada beragam jiwa yang diasingkan dari surga. Jiwa tetaplah jiwa yang harus diberkati dan dibawa kepada kasih Tuhan.”

Apalah arti kita tanpa orang-orang yang kita cintai? Apakah ia berhasil bangkit dari duka? Ketika dia menatap matanya di cermin saat bercukur, hanya relung-relung kosong yang tampak. Dan dia menjalani hari-harinya bagaikan hantu yang membayang-bayangi kehidupannya sendiri. Buku tentang duka yang terbagi dalam tiga bab panjang. Tanpa Rumah, Menuju Rumah, Rumah. Semua adalah kesedihan kehilangan orang terkasih. Menguras air mata, takdir yang pilu. Tanpa rumah adalah sebuah kehilangan yang sempurna: ayah, kekasih, anak tahun 1904. Menuju rumah adalah kehilangan pasangan hidup, dokter spesialis patologi yang kebahagiaannya terenggut tahun 1939. Rumah adalah perjalanan duka dari Kanada ke Puncak pegunungan Portugal, pencarian rumah tahun 1989.

Semua yang tersaji bisa saja sekadar kisah pilu para lelaki rapuh yang ditinggal mati istrinya, tapi setiap sisi terselip perjuangan dan pencarian makna hidup. “Aku berbicara dengannya di dalam kepalaku, ia hidup di situ sekarang.” Jangan menyerah, kerelaan, waktu yang menyembuhkan, rutinitas akan menjadi imun hidup, dan seterusnya. Ternyata di sini malah dibuat dengan benang indah – atau kalau mau lebih lembut, koneksi sejarah – ketiganya berpusat di puncak dan tanya itu diakhiri dengan sunyi. Tomas merasa bagikan kepingan es yang terhanyut di sungai. Ketergantungan ini menciptakan semacam kesetaraarn bukan?

Pertama tahun 1904, adalah Tomas yang miskin. Pamannya kaya, memiliki pembantu cantik bernama Dora, kisah cinta mereka yang langgeng, memiliki Gaspar yang menyenangkan, tiba-tiba dihantam duka. Ketiga orang terkasih meninggal berurutan hingga membuatnya murka akan takdir. Dia kerap meratap, terlampau kerap sejak malaikat maut memberinya tiga pukulan telak. Kenangan akan Gaspar, Dora, atau ayahnya sering menjadi sumber sekaligus inti kesedihannya, tetapi ada kalanya air matanya mengalir tanpa alasan yang sulit dipahaminya, datang seketika seperti bersin.

Ia berjalan mundur, ia terjatuh luruh. Yang tak dipahami pamannya adalah berjalan mundur, memunggungi dunia, memunggungi Tuhan, bukanlah cara Tomas untuk mengungkap duka. Ini adalah caranya mengajukan keberatan. Karena jika semua yang kaucintai dalam kehidupanmu telah diambil, apakah yang bisa kauperbuat selain mengajukan keberatan?

Menemukan sebuah surat/buku harian seorang pastor Bapa di Ulisses yang lalu menyeretnya dalam petualangan, hanya beberapa minggu setelah kehidupannya luluh lantak di Museum Nasional Karya Seni Kuno, tempatnya bekerja sebagai asisten kurator. Surat itu mengisah kehidupan sunyi, dan mengarah pada pencarian salib di pegunungan Portugal. Dengan mengendarai mobil Eropa pertama milik pamannya. Orang-orang akan berlama-lama melihatnya, mulut mereka akan ternganga, benda itu akan membuat hura-hura. Dengan benda itu, aku akan memberi Tuhan atas perbuatan-Nya kepada orang-orang yang kucintai. Keheningan yang menyelubunginya akibat pemusatan konsentrasi sekonyong-konyong meledak ke dalam derap kaki-kaki kuda yang menggelegar, keriat-keriut nyaring kereta pos. Kemudian mereka dan kedua kusir kereta saling bertukar umpatan dan isyarat marah.

Mobil di era itu memang belum banyak, awal-awal masa penemuan. Barang yang dibelinya sebagai bahan bakar, oleh mereka dijual sebagai pembasmi parasit. Tempat tinggal mungil beroda ini dengan potongan-potongan kecil ruang tamu, kamar mandi, dan perapian, adalah contoh mengenaskan bahwa kehidupan manusia tidak lebih dari ini: upaya untuk merasa seperti di rumah sendiri saat mengejar kenisbian. Seorang pria atau wanita, tak perlu bekerja sekeras itu untuk menunjang kehidupan, tetapi roda gigi di dalam sistem harus diputar tanpa henti.

Pada 2 Juni 1633, terdapat satu tempat nama baru Sao Tome, pulau koloni kecil di Teluk Guinea yang disebut sebagai ‘serpihan ketombe di kepala Afrika, berhari-hari perjalanan panjang di sepanjang pesisir lembap benua gersang ini’. Tertulis Isso e minha casa (Ini adalah Rumah). Bapa Ulisses rupanya terserang kerinduan mendalam pada kampung halaman. Ruang arsip Episkopal di Lisbon, setelah mengabaikan buku harian Bapa Ulisses selama lebih dari dua ratus lima puluh tahun, tidak akan merasakan kehilangan untuk ia ambil.

Perjalanan religi mencari gereja. Kesederhanaan arsitektur paling sesuai dengan bangunan religius. Apapun yang mewahadalah arogansi manusia yang disamarkan sebagai keimanan. Semua berada di tempat masing-masing, dan waktu bergerak dengan kecepatan yang sama. Gravitasi akan marah dan benda-benda akan melayang malas. Namun tidak, ladang-ladang tetap diam, jalan tetap membentang lurus, dan matahari pagi tetap bersinar terang.

Dia mengingat-ingat dan menghitung. Satu, dua, tiga, empat – empat malam. Empat malam dan lima hari cutinya dari cutinya yang sepuluh hari. Separuh jalan, tapi tempat tujunya belum terlihat. Di sana hujan terlampau sering turun, hingga menggaggu kewarasan. Menit-menit berlalu. Keheningan terbingkai oleh deris hujan, embik domba, dan salak anjing. Aku sedang mencari harta yang hilang.

Niat semula sepuluh hari cuti untuk menemukan benda kuno demi pemaknaan hidup, justru berakhir bencana karena tak sengaja menabrak seorang anak, tewas seketika. Batin Tomas berkemauk. Dia pernah menjadi korban pencurian, dan kini menjadi pelaku pencurian. Aku memasuki bui itu sebagai kristen. Aku keluar dari sana sebagai seorang prajurit Romawi. Kami tidak lebih baik dari binatang.

Dalam kisah ini, cara menanggapi kedukaan tampak sangat sentimental. Mengajukan keberatan akan takdir, melakukan perjalanan pemaknaan hidup, lalu dihantam musibah perih tak terkira. Ruang dan waktu menjadi tanya kembali, menjadi teka-teki sejati. Kembali ke individu, dan rumah yang dituju justru menggoreskan luka. Dia nyaris menangis lega. Menguarkan waktu dan memancarkan keterpencilan.

Ketika benda yang dicari akhirnya ketemu, lalu apa? Benda itu terpampang di sana, setelah melakukan perjalanan jauh dari Sao Tome. Oh betapa menakjubkan. Kemenangannya terusik oleh luapan emosi: kesedihan yang meluluhlantakkan jiwa. Muntah-muntah dengan raungan lantang.

Jika ia memprotes Tuhan, lalu ia malah mencipta protes manusia lain? Kapankah masa duka yang janggal ini berakhir? “Cukup! Cukup!” Dia berbisik. Apa makna nestapa bagi manusia? Apakah ini membuka dirinya? Apakah penderitaan ini membuatnya lebih mengerti? Mereka memang menderita, tapi aku juga. Jadi apa yang istimewa?

Kedua tahun 1939, di akhir tahun seorang dokter spesialis patologi melakukan otopsi mayat perempuan yang meninggal di dekat jembatan, pembunuhan atau bunuh diri? Dokter Eusebio Lozora yang sedang melakukan bedah dikunjungi istrinya, Maria Luisa Motaal Lozora yang menyukai kisah detektif. Buku-buku Agatha Christie dikoleksi dan dinikmati, malam itu istrinya berkisah panjang lebar tentang teori Tuhan, seperti Yesus yang mati misterius, Agatha juga mencipta kasus pembunuhan misterius. Autopsi, bagi mata awam bukanlah pemandangan yang enak dilihat. Tujuan tindakan ini adalah mencari abnormalitas fisiologis – penyakit atau kecelakaan – yang menyebabkan kematiannya.

Dokter spesialis patologi adalah detektif yang melakukan penyelidikan dan menggunakan sel-sel kelabunya untuk menerapkan aturan dan logika hingga kedok salah satu organ terbuka dan sifat aslinya, kejahatannya, akan bisa dibuktikan tanpa keraguan. Kesabarannya benar-benar menyentuh. “Kau mengerti bukan, bukan dia yang dibunuh.”

Malam itu setelah istrinya pulang meninggalkan novel terbaru Agatha Christie: Perjanjian Dengan Maut, sekuel Pembunuhan di Sungai Nil, datang lagi seorang ibu dengan koper. Namanya juga Maria, mengejutkan, koper itu berisi mayat suaminya, minta diotopsi segera, kisah cintanya yang vulgar dan menggairahkan, dan segala pilu kehilangan. Ibu Maria berasal dari Pegunungan Tinggi Portugal, perjalanan tiga hari ke Braganca, mencari rumah sakit untuk otopsi mayat suaminya. Cinta hadir dalam kehidupan saya dengan penyamaran tidak terduga. Seorang pria. Saya seterkejut bunga yang melihat lebah datang untuk pertama kalinya.

Setelah urusan raja selesai, kita berlaih ke ratunya yaitu kepala. Memeriksa otak dan batang otak…” Hasil otopsi mengejutkan, ada simpanse dan beruang, dan teka-teki itu meledak di ending yang mengejutkan. Saya sampai geleng-geleng, wow. Novel yang sempurna. Seperti itulah duka, ia makhluk yang memiliki banyak lengan tetapi hanya beberapa kaki, dan ia terhuyung-huyung mencari sandaran. Hati memiliki dua pilihan, menutup atau membuka diri. Tutur katanya kadang-kadang pedas, diamnya meresahkan.

Kisah ini nge-link dengan yang pertama. Kami mencintai putra kami, seperti laut yang mencintai pulau, selalu menyelingkupinya dengan pelukan, selalu menyentuh dan membelai pantainya dengan perhatian dan kasih sayang. Ketika dia pergi, hanya laut yang tertinggal, kedua lengan kami memeluk kehampaan. Kami menangis sepanjang waktu. Satu-satunya putra yang dicintai meninggal dunia, dan pelaku tabrak lagi itu adalah Tomas.

Namun sayang, bagian ketiga tahun 1989 justru agak merusak pola. Seorang senator Kanada Peter Tovy adalah pemilik sah seekor simpanse jantan, pan troglodytes, bernama Odo. Prosesnya panjang. Yang jelas ia baru saja kehilangan istri tercinta Clara. Dalam kedukaan, ia disarankan temannya menepi, ke Amerika dalam kunjungan, ia lalu ke kebun binatang, dan sekilat pintas membeli simpanse jantan dengan harga mahal. “Saya akan membayar Anda Lima belas ribu dolar.” Oh godaan bilangan bulat, itu jelas angka yang lebih mahal dari harga mobilnya.

Orang-orang berduka sebaiknya menunggu setidaknya satu tahun sebelum membuat perubahan penting dalam hidup. Perubahan pemandangan, bahkan perubahan udara – lembut dan lembab – terasa menenangkan.

Ia muak dengan pekerjaannya sebagai politikus. Pidato, pencitraan yang tiada habisnya, rencana busuk, ego yang ditelan mentah-mentah, ajudan arogan, media-media tak kenal ampun, tetek bengek yang merepotkan, birokrasi yang kaku, kemanusiaan yang tak kunjung membaik, dia memandang semua hal itu sebagai ciri khas demokrasi. Dengan gejolak kegembiraan yang meresahkan, dia bersiap-siap membuang semua rantai yang mengikatnya.

Segalanya bergerak cepat, Peter lalu melepas semua atribut duniawi dan memutuskan pulang. Ke rumah nenek-kakeknya di Portugal bersama Odo. Penenungan makna hidup, kehilangan, melepas, damai. Iman seharusnya diperlakukan secara radikal, dia menatap salib, penyeimbang keyakinan dan kegamangannya.

Melakukan perjalanan panjang, melakukan pencarian rumah. Dia masih ingat caranya bercinta, tapi sudah tidak mengingat alasannya. Kehilangan istri membuatnya merenung sepi. Selama sekitar satu jam, sambil duduk di puncak tangga, menyesap kopi, lelah, agak lega, agak khawatir, dia merenungkan titik itu. Apa yang akan dihadirkan kalimat selanjutnya?

Simpanse adalah kerabat terdekat di garis evolusi. Kita dan simpanse memiliki leluhur yang sama, dan baru berpisah jalan sekitar enam juta silam. Mempelajari simpanse sama juga mempelajari refleksi leluhur kita, dalam ekspresi wajah mereka. Masing-masing kera, kini dia mengerti, adalah sesuatu yang tidak pernah diduganya, individu dengan kepribadian unik.

Mungkin agak aneh, memilih simpanse sebagai teman perjalanan untuk menepi, tapi keputusan ini nantinya nge-link dengan hasil otopsi. Bianatang mengenal rasa bosan, tetapi apakah mereka mengenal rasa kesepian? sepertinya tidak. Bukan kesepian seperti ini yang mendera jiwa dan raga. Dia adalah spesies kesepian. Kalau masa lalu dan masa depan sudah tidak menarik, apa yang bisa mencegahnya dari duduk di lantai sambil merawat seekor simpanse dan mendapat perawatan balasan?

Tidak ada derajat yang membedakan tingkat ketakjuban.

Salah satu makna duka bisa jadi adalah sekarang. Simpanse Odo hampir sepanjang hari menikmati waktu, misalnya duduk di tepi sungai menyaksikan air mengalir. Ini ilmu yang sulit dikuasai, hanya duduk dan berada di sana. Kadang-kadang Odo bernapas dengan waktu, menarik dan melepasnya, menarik dan melepasnya. Binatang-binatang ini hidup dalam amnesia emosional yang berpusat di masa kini. Kesyahduan menjelma di sanubarinya, menenangkan bukan hanya masalah yang diderita tubuhnya, tetapi juga kerja keras otaknya.

Di dalam udara ada matahari dan gumpalan-gumpalan awan putih yang saling menggoda, cahaya yang melimpah tidak terkatakan keindahannya. Tidak ada suara di sekelilingnya, baik dari serangga, burung-burung, maupun angin. Yang tertangkap telinganya hanyalah bebunyian yang dihasilkannya sendiri. Tanpa keberadaan suara, lebih banyak yang dilihat oleh matanya, terutama bunga-bunga musim dingin cantik yang bermekaran menembus tanah berbatu-batu di sana-sini.

Rasa sakitnya datang bagaikan ombak, dan setiap gelombang membuatnya bisa merasakan setiap dinding perutnya. Setelah kisah panjang perjalanan ke puncak, lalu sebuah adegan panjang di ruang otopsi yang luar biasa, kisah ini ditutup dengan anti-klimaks di puncak. Memainkan duka, dan segala kandungan di dalamnya. The High Mountains memang menutup rapat akhirnya, tak ada yang menggantung, tapi perjalanan panjang Kanada ke Potugal dengan monyet terlampau mudah menemukan rumah. Bagaimana bisa Peter langsung menemukan rumah, di kesempatan pertama menginap di tanah asing? Ini kebetulan yang mengagumkan. Tuizelo, dari sanalah orangtuanya berasal, ia dan Odo akan menetap. Ini bingkisan mungil berisi rasa takut, tetapi tidak melukai ataupun merisaukan.

Buku kedua Yann Martel yang kubaca setelah Beatrice and Virgil yang absurd. buku ketiga Life of Pi sudah ada di rak, menjadi target berikutnya. Sepertinya memang genre Martel adalah filsafat yang merenung. Banyak tanya dan duka yang dipaparkan serta pencarian makna hidup. “Orang-orang tinggal sejenak, lalu satu per satu pergi, dan Anda diberi waktu untuk berduka, dan sesudahnya Anda diharapkan untuk kembali ke dunia, menjalani kehidupan lama Anda. Setelah pemakaman, pemakaman yang bagus, semua hal kehilangan makna dan kehidupan lama pun sirna. Kematian memakan kata-kata…”

Pegunungan Tinggi Portugal | by Yann Martel |Copyright 2016 | Diterjemahkan dari The High Mountain Portugal | GM 617186006 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Berliani M. Nugrahani | Editor Tanti Lesmana | Desain dan ilustrasi sampul Martin Dima | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-03-4638-0 | 416 hlm; 20 cm | Skor: 4.5/5

Untuk Alice, dan untuk Theo, Lola, Felix, dan Jasper: kisah hidupkau

Karawang, 090520 – Norman Brown – Don’t You Stay

Dongeng Pooh Jelang Tidur

Winnie-the-Pooh by A.A. Milne

Apa kotak pensil Pooh lebih bagus dari kotak pensilku?”

Saya beruntung. Bisa mendongengkan buku ini ke Hermione Budiyanto (5 tahun) jelang tidur, dua bab per malam (selesai 21 Maret 2020). Menjadi candu baginya, karena moment ini selalu dinanti. Sepanjang hari dia penasaran kisah berikutnya, acara nginep di rumah nenek tiap akhir pekan yang biasanya semangat, jadi lenyap. Kenapa ga mau nginep rumah nenek? Tumben. “Saya mau dibacain cerita sama ayah!”

Berisi 10 bab, dan setiap jelang kubacakan selalu kureview bab-bab sebelumnya, sehingga Hermione sampai hapal inti ceritanya, bahkan detail adegan penting banyak yang nempel di ingatan. Seperti beberapa nyanyian dan puisi Pooh, dan di sini Pooh sangat sering melakukan kedua hal itu.

Sering menggunakan pembuka ‘pada suatu masa’, atau ‘pada suatu hari’, kalimat yang suka sekali dikutip Hermione, selain ‘astaga…’ dan ‘ ya ampun…’ yang sekarang jadi ekspresi kesalnya.

#Bab Satutentang perkenalan kita dengan Winnie-the-Pooh dan beberapa Lebah, dan awal cerita ini

First impress sangat penting. Ini kisah pembuka yang luar biasa, kita langsung ke karakter utama dengan makanan favoritnya, sehingga madu dan Pooh tak akan terpisahkan. Pooh mengingin madu di sarang lebah pohon mempening besar. Pooh tanpa ragu memanjat, memanjat lagi, memanjat lagi, ketika tinggal dikit malah menginjak dahan dan jatuh. Lalu dia meminta tolong Christopher Robin, meminta balon. Mau hijau atau biru? Hijau mirip daun, biru mirip awan. Hermione jawab hijau karena dekat kan madunya daun. Namun Pooh pilih biru untuk terbang, sampai di atas ini jenis madu yang salah. Maka Christopher Robin menembak balonnya untuk kembali turun. “Akhir cerita itu. masih ada banyak cerita lainnya… tentang Pooh dan aku… dan Piglet dan Rabbit, dan kalian semua. Apa kau lupa?”

#Bab Duatentang Pooh yang bertamu dan masuk ke tempat sesak

Ketika Edward-si-beruang atau si beruang tua jenaka Winnie-the-Pooh atau singkatnya Pooh suatu hari jalan-jalan di hutan Seratus Ekar sambil bernyanyi ‘Tra-la-la, tra-la-la, ram-tam-tam-didi-dam-dam…” ia main ke rumah Rabbit, di lubang yang sempit untuk sarapan: madu, roti, susu kental manis, setelah kenyang ia pamit. Ketika mau keluar, ternyata ga bisa. Ia tersangkut, dengan kelapa dan tangan di luar, meminta tolong. Maka Christopher Robin, Rabbit, Piglet, dkk akhirnya menolong menariknya setelah beberapa waktu. Dan ‘pluk..’ ia terbebas. “Dasar Beruang Tua Jenaka.”

#Bab Tigatentang Pooh dan Piglet yang pergi berburu dan nyaris menangkap seekor Sumang

Ini mungkin yang paling lemah, tapi tetap saja lucu. Pooh dan Piglet mencari jejak, berputar-putar di atas salju yang seolah detektif meneliti dan menelaahnya, dikira sumang tapi nyatanya jelas bukan karena jejak itu terus saja di sekitar situ, semakin mencari putar semakin banyak, yang disini membuat Woozle (pooh) dan Wiizle (piglet). Dari bab ini kita tahu nama kakek Piglet dari papan yang ada di sana: Trespassers William. “Kau beruang terbaik di seluruh dunia.”

#Bab Empattentang Eeyore yang kehilangan ekor dan Pooh yang menemukan ekor

Si keledai abu-abu Eeyore kehilangan ekornya, muram dan tampak letih. Pooh berupaya membantu, dan karena berpedoman. ‘kalau ada yang tahu tentang apa pun dan apa pin, Owl-lah yang tahu sesuatu dan sesuatu’ maka ia pun ke Phon Chesnut, pohon kastanye tua tempat tinggalnya. Karena rumah Owl dilengkapi lonceng bertali sekaligus pengetuk pintu, di bawahnya terdapat tulisan keterangan yang ditulis salah. Setelah ngobrol banyak hal, Owl cerita loncengnya bagus ‘kan. Dan tahulah Pooh di mana ekor Eeyore berada. Ada yang janggal sejak di pintu rumah. “Ini mengingatkanku pada sesuatu, tapi aku tidak bisa memikirkannya. Di manakah kau mendapatkannya?”

#Bab Limatentang Piglet yang berjumpa dengan seekor Huffalump

Pooh berkata pada Piglet ia akan menangkap huffalump yang legendaris, tapi itu mustahil jawabnya. Pooh lalu membuat perangkap cerdik, menggali tanah yang dalam dan menaruh umpan. Menaruh semak-semak dan daun untuk menutupnya sehingga ga ada yang tahu, lalu apa umpannya? Guci berisi madu! Malamnya, Pooh bermimpi, terbayang terus madu yang ditaruhnya, dan betapa ia terlalu baik pada huffalump (sejenis gajah), ia pun bangun di tengah remang, mengendus bau madu, berjalan keluar, lalu bersiul. Huffalump, “Seperti apa wujudnya?”

#Bab Enam tentang Eeyore yang berulang tahun dan mendapat dua hadiah

Tidak semua orang ceria, menari, bernyanyi, memutari rumpun murbei. Eeyore tak mau mengeluh, tapi ia curhat. Pooh menanggapi dengan bernanyi, karena pendengarnya ga mengeluhkan, ia lanjut ke bait kedua, Eeyore masih dim, lalu ia lanjutkan bait ketiga, “Cottleston, Cottleston, Pai Cottleston / Kenapa ayam begitu, aku tak tahu semua alasan / Akan kujawab jika diberi tebakan / ‘Cootleston Cootleston, pai Cootleston’”. Menyanyi, dudi-dam, dudi-dam.. Eeyore tetap muram padahal hari ini ulang tahunnya. Maka Pooh dan Piglet berencana memberinya hadiah, guci penuh madu dan balon merah. Kalian tahu, ini jadi berantakan. Christopher Robin tak memberi hadiah? Eh… “Ya, aku sudah ingat.”

#Bab Tujuhtentang kedatangan Kanga dan Baby Roo di Hutan dan Piglet yang manis

Ada pendatang baru, ibu kangguru dan anaknya. Rabbit jenis orang yang tak suka pendatang, ia tak suka ada warga baru, maka ia pun berkomplot dengan Pooh dan Piglet untuk melakukan sejenis penculikan. Jadi nanti, ketika mereka ngerumpi dengna Kanga, Pooh mengalihkan perhatian dengan bernyayi atau berpuisi, sehingga ketika lengah Baby Roo dapat diculik Rabbit, lalu Piglet akan menggantikannya di dalam kantong. Dia tulis dalam kertas dan dibacakan Rabbit, 11 langkah ‘Rencana Penculikan Baby Roo’ Piglet yang tak suka mandi, dan minum obat. Haha… “Aku akan memanggilnya Pootel. Singkatan Henry Pootel.”

#Bab DelapanTentang Christopher Robin yang memimpin eksposisi ke Kutub Utara

Nyanyian Ho! Untuk si Beruang.’ Ekpedisi ke Kutub Utara ini dilakukan Robin mengajak seluruh temannya, siapa saja yang mau. Pooh salah dengar jadi ‘eksposisi’ jadi lumrah akhirnya. Jadi tujuannya ada di puncak bukit, semua harus menyiapkan perlengkapan dan bekal. Seperti biasa, Pooh dalam perjalanan suka nyanyi dan ngoceh. Kutub itu semacam galah yang ditancapkan. Maka ketika Baby Roo berenang di danau puncak, dan meminta tolong, Pooh yang refleks mengambil galah malah dinyatakan penemu kutubnya. Haha… ‘KutUB UtARa DITEmukAN Oleh PooH, Pooh MenEmuKaNNyA

#Bab Sembilantentang Piglet yang terkurung air

Ini yang paling lucu sih, bencana banjir terjadi di Hutan Seratus Ekar, Piglet terjebak di pohonnya, semakin waktu semakin tinggi. Sementara yang lain sudah berhasil naik ke bukit, dan Robin memberi tanda air yang terus pasang, Pooh yang juga terjebak di pohon, bersama guci-gucinya lalu menjelma Beruang Apunglalu di puncak bukit bertemu Robin, dari Owl yang mengabarkan Piglet yang terjebak, maka misi penyelamatan dilakukan. Di aman lucunya? Misi itu menggunakan guci yang menjadi kapal, lantas memakai payung yang dibalik menjadi parahu penyelamatkan. Hhmm… ide unik Pooh. “Aku akan menamai perahuku Akal Pooh.”

#Bab Sepuluh tentang Christopher Robin yang menggelar Pesta untuk Pooh, dan kita mengucapkan selamat tinggal

Ini pesta perpisahan. Jadi Robin menyiapkan kado istimewa sekotak dosgrip, tempat pensil dengan penghapus, krayon, penggaris, dll. Pesta ini dilakukan untuk Pooh yang sudah melakukan banyak penyelamatan. Yaa bab 1-9 memang Beruang Kuning inilah bintangnya. Ini semacam pamit sementara, karena A.A. Milne sudah menyiapkan lanjutannya jadi Piglet berkata, “Aku mengatakan akan ada kejadian menarik apa ya hari ini?” Dengan perpisahan, “Bisakah kau memikirkannya, lalu menceritakannya kepadaku dan Pooh kapan-kapan?”

Karena buku ini Hermione mencita menjadi seorang ilustrator, karena suka sekali dengan gambar-gambar Ernest H. Shepard. Saya perhatian banyak sekali gambar-gambar yang ia karyakan lalu mengacu pada kisah ini, walau sekarang saya juga membacakan Narnia dan ia mulai tertarik Pauline Baynes, tapi jelas goresan EH Sherpard sudah tertanam di kepala. Good luck #Ciprut.

A.A. Milne lahir di London pada 18 Januari 1882, yang sekaligus menjadi Winnie-thePooh Day. Kisah ini terinspirasi dari teddy bear milik anak laki-lakinya Christopher Robin yang juga muncul sebagai satu-satunya manusia dalam kisah Pooh. Koleksi anaknya yang lain seperti babi, keledai, hariamu, dan kangguru juga menjadi tokoh teman Pooh. Nama Winnie the Pooh diambil dari seekor berunagn di London Zoo (Winnie) dan seekor angsa sahabat Christopher Robin yang dipanggil Pooh.

Ernest H. Shepard lahir di London para tahun 1879. Ibunya yang meninggal saat ia berusia 10 tahun menyemangatinya untuk menggambar dan melukis. Mendapat banyak medali dan dipamerkan untuk pertama kalinya di Royal Academy tahun 1901. Tahun 1903 menikah dengan Florence Chaplin dan dianugerahi dua anak. Graham meninggal pada saat Perangd Dunia Kedua dan Mary, terkenal dengan ilustrasinya di Mary Poppins. Ilustrasi Ernest muncul di banyak buku anak atau dewasa, salah satu yang terkenal ada di buku The Wind in the Willows karya Kenneth Grahame.

Buku kedua bulan April kemarin juga sudah kubacakan, makin jatuh hati Hermione pada kisah ini. Apalagi Tigger yang dinanti-nanti itu akhirnya muncul, dan gaya membal-membalnya sering kali diikuti. Di kasur ia loncat-loncat girang tak terkira, seperti Tigger… nantikan ulasan berikutnya.

Terima kasih Naura sudah menerbitkan salah satu buku dongeng terbaik sepanjang masa…

Winnie-the-Pooh | by A.A. Milne | Diperjemahkan dari Winnie the Pooh | Copyright under the Berne Convention, Coloring 1970 by Ernest H. Shepard and Methuen & Co Ltd. | Illustration provided by Egmont UK Ltd. | Penerjemah Berliani Nugrahanti | Penyunting Suhindrati a. Shinta & Yuli Pritania | Penyelaras aksara Nani | Penata aksara CDDC/NH | Penerbit Noura Books (Mizan Publika) | Cetakan ke-1, Juli 2017 | 172 hlm.; 20 cm | ISBN 978-602-385-282-6 | Judul asli: The hous at the pooh corner | Skor: 5/5

Untuk Dia

Bergandengan tangan kami datang / Aku dan Christopher Robin / Meletakkan buku ini di pangkuanmu. / Apa kau terpana? / Apa kau suka? / Apa ini sudah kau duga? / Karena ini milikmu – / Karena kami mencintaimu.

Karawang, 300320 – 080420 – 200420 – 020520 – Hanson – If Only (Live and Electric) // bill Withers – I Can’t Write Left-Handed

Freud and the Problem of God

Ateisme Sigmund Freud: Ketegangan radikal psikologi dan spiritual by Hans Kung

Seperti yang Anda tahu, saya membangun hubungan agung dengan cinta.”

Datanglah! Aku ingin memberikannya untukmu sebelum pamit. Aku sekarang memiliki pondokan di sana, tunjukku ke langit. / “Benarkah?” / “Yah, di sana aku punya kebun bunga yang tak mengenak musim, namun entah untuk siapa.” / Lalu kita saling membuka kenangan dan tersenyum tiba-tiba: kita telah menjadi tua. (R. Timur Budi Raja).

Sigmund Freud berlabuh pada kesimpulan yang sangat ekstrem bahwa simbol-simbol dan ritual-ritual agama, dan tentunya juga pemeluk-pemeluknya, sama dengan perilaku pasien-pasien neurotisnya di rumah sakit jiwa. Agama adalah kegilaan, sebagaimana kegilaan yang diidap para penghuni rumah sakit jiwa di tempatnya bekerja. Lalu satu hal lagi yang sangat digelisahkannya, mengapa mayoritas manusia mempertahankan ‘kegilaan’ itu dengan landasan keyakinan yang sangat ultrafanatis? Lantas, bagaimana membedakan kegilaan dengan kesehatan, kesetanan dengan kemanusiaan? Apapun itu Sigmund Freud pada akhirnya tak bisa sanggup memberi jawaban yang memuaskan. Freud tetap dipasung, dibunuh kemudian dikuburkan oleh kebingungannya sendiri. Akhirnya sinisme Freud sendiri terhadap realitas agama sejalur dengan kebingungannya sendiri dalam memetakan relasi Tuhan dan manusia.

EB. Tylor dan JG. Frazer terekspresentasikan melalui kejadian-kejadian alam maha dahsyat, seperti banjir, gempa, hujan, guntur, dan seterusnya – bila mengamini kesimpulan Rufolf Otto – berupa ketakutan misterius yang kemudian memicu munculnya keyakinan hieropanik dan kosmogonik. Pengejawantahan ‘sesuatu yang bukan dari dunia nyata’, Yang Sakral – yang secara sederhana bertolak belakang dengan Yang Profan – yang niscaya juga telah menjalani ‘perjanjian primordial’ dalam definisi Sayyed Hosein Nashr. Freud yang ateis tetap Homo Religious, yang suatu kala berbenturan dengan kegelisahan spiritual, sebagaimana Nietzsche yang hanya ‘membunuh tuhan’ (got ist tot) yang tidak mendukung tegaknya kemanusiaan, seperti keadilan, perdamaian, dan kebahagiaan. Pendeknya, Freud pada awalnya tidak diametal dengan Tuhan.

Permusuhan dengan Tuhan baru bermula secara ekstrem mensimplifikasikan makna-makna hieropanis di balik deretan simbol dan ritual keagamaan yang dilakukan secara takzim oleh orang sekitar. Terlampau menyederhanakan makna ‘kehadiran Tuhan’ di dunia nyata yang profan, sehingga di matanya Tuhan haruslah riil, manusiawi, dan yang tidak demikian harus ditolak, maka Freud pada detik yang sama telah sempurna menjadi ateis yang lebih militant ketimbang Nietzsche dan Karl Marx.

Apakah lantaran ibadah agama melalui simbol dan ritual identik dengan sikap pasiennya yang tidak pernah memahami logis di balik perbuatannya, lantas agama sebagai salah satu ‘jalan membumikan Tuhan’ harus dituduh sebagai penyebab kelumpuhan dan keprimitifan rasionalitas manusia? Apakah karena semua agama bersifat transender, suprarasional, metafisis, skeptis, jauh dari rumus-rumus logika dan angka-angka saintifik, lantas eksistensi Tuhan yang ‘diwadahi’ agama sebenarnya hanyalah kesia-siaan dan omong kosong?

Odin murka dan mengutuk, “Mengapa kau ke tempat ini, Duetscher?! Telah kau curi tombakku untuk membunuhku!?” Dan tak seorang pelayat pun mendengar bisikannya pada keheningan, “Ternyata Tuhan tidak mati betul.” // Ketika tak satu pintu pun dijumpai terbuka rohnya kembali ke dunia, bergentayangan melalangrimba, memasuki kota demi kota kembali ke tanah airnya: pikiran manusia. (Faaizi L. Kaelan).

Bapak ateisme Marxis dan Freudian, yaitu Ludwing Feuerbach awalnya seorang teolog, kemudian menjadi Hegelian, lalu menjadi filosofis ateistik. Kedokteran secara khusus merupakan kebutuhan terbesar bagi ateisme materialistis pada paruh kedua abad ke-19.

Ernest Jones, penulis biografi Freud tiga volume setebal 1,500 halaman, Freud tumbuh tanpa keyakinan apa pun terhadap Tuhan atau keabadian atau tampak tidak pernah membutuhkannya. Waktu muda, Freud melaksanakan semua atribut dan upacara keagamaan Yahudi. Pada ulang tahun 35, ia mendapat hadiah dari ayahnya berupa Bibel. Pengalaman anti-Semitik Katolik, Freud menganggap dirinya Yahudi dan memang dibuktikan oleh fakta. Namun ia merasa tersiksa karena pendidikannya di sekolah pertama dan kedua, posisinya serupa Karl Marx. Ia hanya memiliki sedikit teman Yahudi, semua jenis penghinaan orang Kristen anti-Semitik telah menjadi kehidupan sehari-harinya. Kuliah, akhirnya ambil kedokteran dengan cita, “Kebutuhan untuk memahami suatu teka-teki dunia yang kita huni dengan harapan dapat menyumbangkan sesuatu sebagai solusi.” Minat pada pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting. Jadi Freud menemukan ‘ayah keduanya’ sebagaimana Hegel menjadi ayah Feuerbach di Berlin, Brucke menjadi ayahnya di Vienna.

Psikoanalis mengarahkan semua proses mental dari permainan kekuatan-kekuatan yang diterima atau ditolak oleh hal lainnya, berkombinasi dengan hal lainnya menuju kompromi-kompromi dengan hal lainnya. Tahun 1842, Du Bois-Reymond menulis: “Brucke dan saya berikrar dengan tulus untuk meneliti efek kebenaran ini: Tidak ada kekuatan-kekuatan lain dibandingkan suatu kesatuan fisik dan kimiawi dalam aktivitas organisme. Dengan ini fisiologi-fisikalis membasmi seluruh filsafat alam idealis (Naturphilosophie), serta mengeliminasi semua tingkatan ‘vital’ Aristotelian dan tradisi Scholastik, yang berpandangan bahwa organisme diayomi oleh Pencipta dengan faktor immaterial – bentuk subtansial, tujuan-tujuan – dan hukum-hukum tertinggi serta objek-objek mutlak. Inilah yang sekarang disebut sebagai akibat alami, penjelasan deterministik dalam faktor-faktor kimiawi-fisik (penjelasan yang menyerupai produksi artifisial asam sendawa).

Freud menggunakan metode katarsis dalam teori dan prakteknya, lebih membangun dirinya dalam posisi berbeda, sebuah revolusi terhadap dogma-dogma kedokteran tradisional. Pandangan utamanya adalah semua aktivitas psikis pada awalnya adalah ketaksadaran. Dalam kasus normal ketaksadaran, gerakan-gerakan insting yang menjijikan ditolak oleh kesadaran, oleh ego, setelah kurang lebih menjadi konflik intens; energi diturunkan atau dihentikan. Namun dalam kasus nyata, gerakan-gerakan insting ini tak terbawa ke dalam konflik. Penolakan ego dari luar mekanisme pertahanan primer digeser – ditekan – menuju ketidaksadaran, dengan energi kateksis yang penuh, jumlah total energi berjalan konstan. Akibatnya, pemuasan berganti menjadi bentuk mimpi-mimpi atau bahkan sistem-sistem neurotik tubuh. Mimpi menggunakan sisa-sisa waktu sebagai material, dengan tujuan untuk mendorongnya menuju kesadaran dengan pertolongan mimpi. Lantaran mimpi menyensoe ego (sisa resistensi refresif), maka materi mimpi pra-sadar harus diubah, dikurangi, diringkas, diganti, didistorsi dan akhirnya didramatisir. Begitulah proses ‘kerja mimpi’. Ini menjadi bentuk ‘distorsi mimpi’ dan memungkinkannya terlihat jelas sebagai bentuk pengganti dan kompromi.

Tahun 1895, Freud menemukan elemen makna mimpi: “Mimpi adalah pemenuhan harap.” Mimpi seperti simptom neurotik yang pertama kali disetarakan kebodohan, adalah pemenuhan harapan terseumbunyi yang ditekan dan karenya membutuhkan penafsiran. The Interpretation of Dreams dalam masa enam tahun setelah diterbitkan hanya terjual 351 ekslembar, dan di tahun yang sama, hanya ada tiga orang yang tertarik pada ceramah tafsir mimpi.

Libido (yang juga diketemukan di masa kanak-kanak) adalah energi dorongan-dorongan seksual. Ia tidak semata-mata dihubungkan dengan organ-organ genital, melainkan merepresentasikan pencarian kepuasan fungsi tubuh yang lebih sempurna (sensualitas dalam terma yang paling luas). Ia mencakup anak-anak dan orang tua serta meliputi rasa kelembutan dan persahabatan murni (semua jenis ‘cinta’), merupakan jalan menuju elaborasi teori seksualitas yang sempurna – fantasi-fantasi harapan (kemudian secara khusus disebut Oedipus kompleks), pandangan tingkat-tingkat pasti pertumbuhan, kemunduran tingkat-tingkat ini dalam peristiwa kekerasan, sublimasi atau aplikasi berbagai keberhasilan kebudayaan.

Ada dua persoalan yang secara kontinu tetap tersisa dalam berbagai studi saintifik modern terhadap agama, yang juga diketahui secara pasti oleh Freud: apa asal-usul agama dan apa alam agama? Dua persoalan yang berkaitan erat.

Dari Tylor muncul asumsi bahwa animisme mencerminkan tingakt pertama atau tepatnya landasan utama agama. Animism dipahami sebagai kepercayaan yang hidup dalam bentuk yang murni atau campuran yang secara antropomorfis menunjuk pada ‘jiwa’ atau kemudian ‘ruh’: kepercayaan bahwa segala sesuatu memiliki jiwa. Kepercayaan pada ruh atau jiwa kemudian berkembang menjadi kepercayaan politeistik kepada dewa-dewa dan akhirnya monoteisme kepada satu tuhan. Magis, agama, dan sains kini dilihat sebagai tingkatan-tingkatan skema evolusi sejarah agama. Dalam artikel terkenalnya, “Mungkin dinyatakan bahwa kasus hysteria merupakan karikatur karya seni, bahwa neurosis-obsesif merupakan karikatur agama dan bahwa delusi paranoik merupakan karikatur sistem filsafat.”

Apakah agama? Jawaban pertama ialah bahwa kita harus memercayai tanpa menuntut pembuktian-pembuktian. Freud bilang ini lantaran kita benar-benar menyerah pada fakta bahwa klaim itu tidak pasti dan tanpa landasan. Kedua, kita harus memercayai karena nenek moyang kita memercayai, Freud bilang nenek moyang kita kolot dan memercayai sesuatu yang besar yang tidak mungkin kita percayai sekarang. Ketiga kita harus percaya lantaran kita memiliki bukti-bukti dari zaman purba. Freud bilang catatan-catatan menjadi sumber bukti tidak bisa dipercaya, penuh kontradiksi, membutuhkan perbaikan dan sering salah dan menjadi wahyu itu sendiri bahwa dokrin mereka tak otentik. Dan ‘Jawaban Tunggal’ yang bisa diberikan adalah bahwa statemen yang paling penting, yang dimaksudkan untuk memecah teka-teki dunia kita dan membebaskan kita dari segala penderitaan, merupakan ‘yang paling kecil dengan sempurna mengotentisasikan sesuatu’. Dalam hal apa pun, mereka secara pasti tidak bisa dibuktikan.

Agama kemudian menjelma harapan-harapan manusia paling tua, paling kuat dan paling mendasar. Agama adalah pemikiran yang penuh pengharapan, ilusi. ‘Ilusi’ bermakna bahwa agama bukanlah kesengajaan untuk menuju dimensi moral atau – yang ditekankan Freud – kesalahan dalam bagian epistemologi; atau ilusi yang menarik terhadap hal-hal yang tidak realistis atau berrtentangan dengan relaitas. Ilusi – dan inilah bentuknya – dimotivasi oleh kepuasan harapan; merupakan produk insting sensual kehidupan dan kebutuhan untuk mengurai teknik sandi psikologi terapan.

The Man Moses: A Historical Novel merupakan karya Freud yang aslinya dipublikasikan dalam tiga bagian yang berbeda. Bagian ketiga dibaca saudara perempuannya, Anna, dalam kongres Psikoanalis International di Paris tahun 1938. Tahun 1939, karya ini diterjemahkan ke bahasa Jerman Der Mann Moses und die monotheistische Religion (The Man Moses and Monotheistic Religion). Waktu itu merupakan tahun dimulainya Perang Dunia II dan sekaligus tahun kematian Freud.

Lalu muncullah Jung dengan teori ‘Psikologi Analitik’ atau ‘Psikologis Kompleks’nya. Kata Emile Durkheim dunia akan kacau balau kalau tidak dilandasi oleh simbol dan ritual agama yang transender dan metafisis. Kung dengan lebih rasional seolah ingin mengingatkan Freud.

Ateisme Sigmund Freud | by Hans Kung | Diterjemahkan dari Freud and the Problem of God | Terbitan Yale University, London, 1979 | Penerjemah Edi AH Iyubnenu | Tata sampul Ferdika | Tata isi Ika Setiyani | Pracetak Kiki | Cetakan Pertama, April 2017 | Penerbit Labirin | 176 hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-6651-00-6 | Skor: 4/5

Karawang, 300420 – Bill Withers – Don’t Want to Stay

Thx to Titus Pradita, good luck and good bye.

Terima kasih kawan untuk buku, m-banking book, dan segala-galanya. Adigang, Adigung, Adiguna. We’ll miss you ~ NICIERS.

Segala-galanya Ambyar by Mark Manson (2/2)

Ulasan dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama buat dibaca di sini. Ini bagian kedua dari dua. Seperti bukunya, yang pertama tentang harapan yang lain adalah keambyaran.

Aku rasa pikiranmu begitu terbuka, sampai otakmu tercecer.” – Carl Sagan.

Bagian kedua ini bermula dengan formula kemanusiaan. Pertengkaran membutuhkan dua orang yang saling peduli. Otak Pemikir Kant adalah Mr. Olympia dalam semesta para intelektual. Bagi Kant, satu-satunya yang membedakan kita dari seluruh benda di semesta adalah kemampuan kita untuk berpikir – kita mampu memahami dunia di sekitar kita, melalui pikiran dan kehendak, memperbaikinya. Inilah baginya yang istimewa, sangat istimewa – nyaris sebuah mukjizat – karena dari antara aneka kehidupan yang tak terpermanai, cuma kitalah (sejauh yang kita tahu) yang sungguh mampu menyetir kehidupan. Kehidupan Kant yang menurut kita monoton karena melakukan banyak hal yang sama, malah menjadi sebuah rutinitas kebahagiaan. Menemui rasa sakit dan ketidaknyamanan. Inilah mengapa tidak ada perubahan tanpa rasa sakit, tidak ada pertumbuhan tanpa ketidaknyamanan. Bahwa kita ditakdirkan untuk selalu bertikai untuk perbedaan-perbedaan kecil.

Kehidupan yang umum dari anak, remaja, dewasa, tua adalah proses yang harus dihadapi. Penderitaan manusia itu seperti gim Whac-A-Mole, gim di mana tikus-tikus tanah bermunculan, dan pemain harus memukul satu demi satu untuk mendapatkan poin. Setiap kali Anda menggebuk satu penderitaan, penderitaan lainnya muncul. Semakin cepat menggebuk penderitaan, semakin cepat pula penderitaan datang lagi. Jadi dari segala yang berjalan, penderitaan itu akan selalu ada. Tak peduli betapa kaya rayanya kamu. Penderitaan itu mungkin menjadi mendingan, barangkali berubah bentuk, barangkali semakin bisa dihadapi hari demi hari. Namun, dia selalu ada. Penderitaan adalah bagian dari kita. Penderitaan adalah kita. Plato, Aristoteles dan para Stoik berkata bahwa bukanlah kebahagiaan, tapi tentang karakter, menumbuhkan kemampuan untuk menanggung penderitaan dan berkorban secara tepat.

Semboyan terkenal Woodstock dan banyak gerakan bebas-mencintai di tahun 1960-an adalah “Jika rasanya enak, lakukan! (If it feels good, do it!)” Sentimen ini merupakan dasar dari banyak gerakan New Age dan perlawanan budaya hari ini. Seperti pegangan kaum hippies, just do it. Keputusan itu pada dasarnya adalah sebuah tawar-menawar dengan masa depannya: aku merelakan kenikmatan saat ini demi mencegah sesuatu yang lebih buruk menimpaku di masa depan.

Dan ketika setiap agama yang baru memercayai bahwa dirinya yang memberikan kebenaran paling tulen yang mempersatukan seluruh manusia di bawah satu panji-panji, sejauh ini, semuanya terbukti tidak sempurna dan tidak berlaku universal. Menurutku, agama kalian yakini, jangan merusak hubungan dengan menyalahkan agama lain karena ini seperti melihat cermin, kamu adalah bayangan kamu. Yakini, lakukan, tanpa menuding yang lain salah. Ada orang-orang yang hidupnya ambyar: orang-orang miskin, tersisih, terlupakan dan tersakiti. Anda tahu kan, orang-orang yang setiap hari kerjaannya meng-ecek facebook. Lebih buruk lagi, cek facebook dan berkicau ngawur tentang kebenaran agamanya sendiri yang hakiki, yang lain kafir. Saya yakin kalian pernah melihatnya, atau malahan masih berteman dengan individu seperti itu? jauhkan saran saya. Kemampuan kognitif Elliot (kecerdasan, ingatan, dan perhatian). Sokrates menyatakan akal sebagai akar dari segala kebaikan. Descartes berpendapat bahwa akal kita terpisah dari gairah-gairah kebinatangan, sehingga tugas akal adalah mengendalikan gairah-gairah tersebut.

Kekuatan yang mendesak kita untuk mengisi kesenjangan-kesenjangan tersebut adalah emosi kita. Dalam hal ini, setiap tindakan mendatangkan reaksi emosi yang kadarnya setara dan datang dari pihak lawan. Bagi Nietzsche semuanya kacau, dan ia membenci semuanya. Demokrasi itu naïf, nasionalisme itu dungu, komunisme itu penuh tipu muslihat, kolonialisme itu menyakiti hati. Semua yang berhubungan dengan duniawi – baik pada gender, ras, suku, bangsa, atau sejarah – bersifat fana. Di bagian dua ini kehidupan pribadi sang filsuf dikupas detail. Adalah Meta adalah wanita pertama Swiss yang mendapat gelar Ph.D. yang menjadi orang terdekatnya, banyak membantu dan menyelingkupi kehidupan ‘Sang Pembunuh tuhan’. Ilmu pengetahuan tidak bisa disangkal merupakan agama yang paling efektif karena ini adalah agama pertama yang mampu berevolusi dan memperbaiki dirinya sendiri. Cinta hanyalah wadah terjadinya pertukaran perasaan, di mana masing-masing diri kalian membawa apa pun yang dipunyai untuk ditawarkan dan saling menjajakannya hingga mendapat keuntungan traksaksi yang paling bagus.

Lalu ada penelitian, Efek Titik Biru (Blue Dot Effect) menyatakan bahwa pada dasarnya, semakin banyak kita mencari ancaman, semakin niscaya kita melihatnya, tidak peduli seberapa aman atau nyamannya kondisi lingkungan yang sesungguhnya. Semakian menyedihkan hubungan menyedihkan dijalani, kejujuran menjadi semakin penting. Semakin mengerikan dunia ini, keberanian menjadi semakin penting untuk dimunculkan. Semakin membingungan kehidupan ini, bersikap rendah hati menjadi semakin berharga. Kita memang manusia yang memeluk rasa, terutama cinta yang dalam tak peduli itu berefek derita karena pengorbanan atau saking dungunya tak melihat secara wajar, cinta buta yang mengilhami. Karena itupun satu-satunya bahasa yang dimengerti oleh Otak Perasa: empati.

Ruang dan waktu adalah apa yang kita sebut sebagai ‘konstanta universal’. Salah, Einsten menjawab, kecepatan cahaya-lah yang merupakan konstanta universal, sesuatu yang dipakai untuk mengukur segala hal lain. Kita semua bergerak, sepanjang waktu, dan semakin kita mendekati kecepatan cahaya, semakin ‘melambat’ gerak waktu, dan ruang pun semakin mengerut.

Berikutnya kita memasuki tahap apa itu perasaan. Amat mudah mempermainkan emosi orang dan membuat mereka marah atas hal-hal yang sepele – media berita telah menciptakan model bisnis dari kegiatan macam ini. Freud bilang pada dasarnya kita adalah hewan-hewan, yang impulsif dan egois dan emosional. Jika kamu dapat memasuki keresahan orang lain, mereka akan memercayai semua sampah yang Anda sampaikan.

Daniel Kahneman, otak pemikir adalah “Peran pembantu yang membayangkan diri menjadi pahlawan”. Internet pada akhirnya tidak didesain untuk memberi apa yang kita butuhkan, sebaliknya, internet memberikan pada orang-orang apa yang mereka inginkan. Satu-satunya bentuk paling sejati kemerdekaan, satu-satunya bentuk paling etis dari kemerdekaan, adalah melalui pembatasan-diri. Koneksi dunia maya nyaris tanpa batas, sampai-sampai kita dari bangun tidur sampai tidur lagi, kita kecantol sama koneksi digital. Jujur saja, ketika bangun tidur kalian pasti langsung cari HP yang akan menemani sepanjang hari, lalu sebelum tidur pun akan menaruhnya dengan tepat di mana, ya kan ya kan.

Ide saya sebegitu mustahilnya sampai mungkin saja justru akan berhasil. Edward Bernays, seorang figur muda pemasaran dengan ide liar dan kampanye pemasaran yang bahkan lebih liar lagi. Dia adalah kemenakan Freud. Pemasaran secara spesifik menunjuk atau menguatkan kesenjangan moral pelanggan dan kemudian menawarkan cara mengisinya. Dunia digital juga memudahnya segala pembelian produk, maka dunia iklan merasuk ke dalamnya. Nyaris setiap saat mata kita digampar iklan di layar yang muncul seketika tanpa kita minta. Mereka mengkloning diri, menjadikan hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan menjadi opsi, lagi dan lagi. Kemajuan teknologi adalah salah satu menifestasi Ekonomi Perasaan. Paradox pilihan, semakin banyak pilihan yang diberikan pada kita, semakin kita tidak merasa puas atas pilihan yang kita ambil.

Menurut model kepribadian “Lima Besar”, kepribadian seseorang terdiri lima ciri dasar: kemauan untuk bergaul, kemauan untuk menyadari, kemampuan untuk berpendapat, neurotisisme, dan keterbukaan akan pengalaman baru. Nah ‘kan, kembali ke dalam itu sangat penting. Keterbukaan dan menempatkan diri menjadi penting di era yang banyak menebas sekat. “Bicara banyak tentang dirimu sendiri dapat juga menjadi cara untuk menutupi dirimu.” Nietzsche.

Thich Quang Duc, membakar diri dalam meditasi. Diam. Tenang. Damai. Meditasi secara ilmiah terbukti meningkatkan rentang perhatian dan kesadaran diri dan pengurangan kecanduan, keresahan, dan stress. Meditasi secara esensial merupakan latihan untuk mengatur penderitaan dalam kehidupan. Semakin kita menghargai sesuatu semakin kita keberatan untuk mempertanyakan atau mengubah nilai tersebut, dan maka semakin menderitalah kita jika nilai itu mengecewakan kita. Konsep populer mengenai ‘cinta yang keras (tough love)’ adalah Anda membiarkan anak untuk mengalami penderitaan karena dengan menyadari hal-hal yang penting di saat berhadapan duka, anak akan meraih nilai yang lebih tinggi dan berkembang.

Dunia digital yang pesat memberi banyak kemudahan sekaligus teror baru. Elon Musk ditanya tentang ancaman apakah yang paling mengerikan: pertama, peran nuklir skala besar, kedua perbuhan iklim dan yang ketiga ia terdiam. Air mukanya berubah kecut. Ia melihat ke bawah, tampak berpikir dalam. Lalu ia tersenyum dan berkata, “Saya hanya berharap komputer-komputer bersikap baik pada kita.” Dunia IT yang misterius ini sampaikah menggeser nurani? Generasi mendatang yang akan tahu, kita memetakan dan meletakkan dasarnya! Plato bilang bahwa seseorang harus membangun karakter melalui aneka bentuk penyangkalan diri, ketimbang melalui pemanjaan diri. Kata ide sendiri datang dari dia – jadi, Anda boleh berkata bahwa ia menciptakan ide tentang ide.

Tidak ada Negara yang sepenuhnya dil dan aman. Tidak ada filsafat politik yang mampu mengatasi masalah setiap orang dalam sepanjang waktu. Jadi syukuri kita tinggal di mana, di Indonesia dengan segala kelemahannya? Lihat sisi positifnya, lakukan apa yang bisa dilakukan. Di tengah pandemi seperti ini, justru kita akan terlihat aslinya. Mau di sisi mana sebenarnya tingkah polah kita. Kemakmuran membuat kesulitan mencari makna. Itu membuat penderitaan yang bertambah akut. Riset menunjukkan bahwa semakin seseorang terdidik dan mengetahui banyak hal, semakin pendapat orang tersebut terpolasisasi secara politik. Apalagi kalau ngomongin politik, yang wajar saja Mas. Dunia politik kita sejatinya juga ga jauh beda dengan negara miskin di pojok Afrika atau negara maju Amerika. Jadi masalahnya bukan tempatnya kita di mana, tetapi mau menaruh pikiran kita ke mana. Pada dasarnya perkembangan psikologi kita senantiasa berevolusi untuk menuhankan segala yang tidak kita pahami. Internet adalah inovasi tulen. Semua menjadi setara, secara fundamental, membuat hidup kita menjadi lebih baik. Jauh lebih baik. Masalahnya ada pada kita.

Di kover belakang tertulis, ‘…blog markmanson.net menarik dua juta lebih pembaca setiap hari’. Di identitas penulis akhir buku tertulis ‘…menarik lebih dari dua juta pembaca setiap bulannya.’ Manson tinggal di kota New York. Jadi sebenarnya dua per hari atau bulan?

Tulisan yang bagus adalah tulisan yang mampu berbicara dan merangsang kedua otak pada saat yang sama. Semuanya runyam, semuanya ambyar. Komitmen yang lebih besar mendatangkan kedalaman yang lebih berkualitas. Buku kedua Mark Manson ini jelas lebih bagus dalam menyampaikan pendapat dan ide, dengan judul yang lebih gaul memakai kata ‘ambyar’ yang baru saja disahkan di KBBI sehingga secara instan berhasil menggaet kaum muda. Blogger yang sukses menasehati kita. Grasindo panen lagi, yakinlah ini akan menjadi best-seller lagi tahun ini. Beruntung saya bisa menuntaskan baca di bulan yang sama diterbitkan cetakan pertamanya. Segala-galanya, secinta-cintanya, sesayang-sayangnya.

Tamat.

Segala-galanya Ambyar | by Mark Manson | Diterjemahkan dari Everything is F*cked | Copyright 2019| Penerbit HarperCollin | ID 572040009 | Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) | Cetakan kedua, Februari 2020 | Alih bahasa Adinto F. Susanto | Tata isi wesfixity@gmail.com | Sampul wesfixity@gmail.com | modifikasi desain karya asli Leah Carlson-Stanisic | ISBN 978-602-052-283-8 | Skor: 4.5/5

Untuk Fernanda, tentu saja

Karawang, 290220 – 060320 – 140320 – 150320 – 300420 – Andra and The Backbone – Hitamku – Sempurna