Sastra adalah… Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

“Jika Anda seorang pengarang, dan tak menemukan ungkapan-ungkapan yang pas untuk menjelaskan perasaan yang rumit dan intim dan dalam dari tokoh-tokoh yang ingin Anda ceritakan dalam bahasa Indonesia, maka boleh jadi Anda akan lari mencari pertolongan kepada bahasa yang Anda alami sehari-hari atau kepada bahasa yang Anda anggap lebih kompleks berdasar kecenderungan bacaan Anda…”

Menurutku buku ini setara bagusnya dengan Cerita, Bualan, Kebenaran. Tips-tips menulis yang dibalut bukan tips menulis. Nyaman dan terasa sangat masuk akal. Jelas lebih keren dari Menumis itu Gampang yang bertema umum. Poinnya sama, Cak Mahfud bercerita kesehariannya. Buku ini terasa lebih asyik sebab bahasannya fokus ke proses kreatif, yang setelah ditelaah, tak kreatif juga, tak banyak nasehat, atau petuah membumbung. Benar-benar cerita bagaimana ketahananan menulis buku itu perlu, pengalaman dari Penulis pemenang DKJ dan KSK. Dua penghargaan sastra paling bergengsi tanah air. Walau judulnya provokatif, bagaimana penulis menganggur, percayalah, itu hanya jeda. Judulnya biar tampak eksotik. Itu hanya masa santuy, sejatinya menulis memang kudu tahan banting, konsistensi, dan dipaksa. Maka tata kelola waktu juga sebuah kunci, dan buku ini jelas patut dipertimbangkan jadi rujukan proses mencipta karya. Seperti yang dulu pernah kubilang di ulasan buku Mario Vargas Llosa dalam Matinya Seorang Penulis Besar (sudah diterjemahkan oleh Shira Media), bahwa buku-buku dibalik karya sangat patut dicetak sebanyak mungkin agar pembaca tak meraba ngasal. Setidaknya kita tahu, buku-buku itu diterbitkan penuh pengorbanan, tak sim salabim mengada.

#1. Hanya Penulis

Sosial media, atau di sini Facebook telah mengikat kita dalam pergaulan instan. Bisa saling mengenal secara daring orang-orang asing, serta para idola yang dulu rasanya tak terjangkau. Dibuka dengan sebuah kotak pesan masuk yang menanyakan pendapat kontribusi penulis di masa pandemi. Dan dijawab dengan apa adanya, mungkin benar kurang memuaskan, tapi ini benar-benar real. Kenapa, sebab “jangan memberi panggung kepada orang-orang yang tak kompeten,” adalah mutlak.

Jangan tanya tanggapan Lesti.

#2. Penulis? Oh, yang di Percetakan

Karena sudah baca dua kumpulan esai, saya jadi tahu perjalanan hidup Cak Mahfud yang lulusan pesantren, kuliah Yogya, bekerja di Jakarta, lantas menyepi menekuri tulisan dengan serius kembali ke Yogya. Maka saat baca judulnya, jelas ini adalah lontaran tanya dari rekan saat di Utan Kayu. Penjelasan bagaimana ia ‘tak menyangka’ jadi penulis suatu hari kelak tampak seolah hanya mengikuti arus kehidupan. Dan penulis yang dikenali sekaligus tak dikenali, kocak juga kontribusinya, saat truk-truk bahan bangunan yang bising di balik tembok tempat tinggalnya dan ia bergeming, tak turun tangan. Tak mengapa, saya sama saja kalau di posisi itu.

#3. Alasan untuk Tidak Menulis

Sudah menulis dari era mesin tik, dan bagaimana cerpen pembuka Belajar Mencintai Kambing berproses. Sibuk jadi semacam kelakar saat ditanyakan pada Penulis. Hingga bagaimana tatapan pada Ayu Utami di meja kafe seberang dengan laptopnya, sepuluh tahun kemudian, beliau punya karya setara bagusnya. Sejatinya, penundaan menunaikan tugas (di sini menulis) adalah hal wajar bagi manusia. Termasuk alibi, kalau punya komputer, kalau punya laptop kualitas bagus, kalau punya tempat nyaman menulis, serta kalau kalau yang lain.

Penutupnya bagus, langsung kena jap. “… semakin cepat capek dan diserang pegal-pegal. Saya pasti akan jauh lebih sigap dan lebih cepat menyelesaikan tulisan ini jika saya masih seumur para penulis muda yang sore itu saya temui.” Hahaha…

#4. Pengarang dan Kemelut

Mengandaikan masa hidup di era lama, tak hanya cocok untuk para penulis. Bayangkan, kalau kamu buruh di masa kemerdekaan, apakah mungkin sudah bergabung angkat senjata? Atau bayangkan hidup di masa ’65, mungkin kamu buruh yang keciduk karena ikut coblos Merah. Nah, di sini membayangkan bagaimana kalau penulis hidup di masa itu? Bakalan angkat senjata? Bakalan turut serta disingkirkan? Chairil Anwar memang penyair terbesar kita, dan bagaimana ia berumur muda banyak memberi warna kebangkitan Indonesia.

#5. Bahasa Indonesia dan Persoalannya – bagi Seorang Pengarang Jawa

Ini menyenggol Azhari Aiyup si penulis Kura-kura Berjanggut yang fenomenal itu. Bagaimana cerpennya terbit di Kompas dan mencipta iri Cak Mahfud, terutama gaya bahasa, pilihan diksi, hingga keluwesan bercerita yang bagus, seorang Aceh yang mahir berbahasa Indonesia.

Dan bagaimana kehidupan sehari-hari mempengaruhi kehidupan sosial kita, terutama bahasa. Jadi seperti apakah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu. Lebih nyaman memang memilih “percampuran” bahasa ibu dan bahasa Indonesia, dan itu sangat wajar. Bukankah malah tampak aneh, orang Jawa dengan fasih bercerita tentang kehidupan suku Dani?

#6. Pulang, Pola, Mood

Pulang kampung adalah jeda dari kesibukan. Menikmati waktu dengan keluarga, menelusuri kenangan, ngopi sama rekan main kelereng, hingga ketawa-ketiwi sama teman-teman lama yang tak merantau. Begitu pula penulis, mudik adalah masa kosong dari mengetik kata-kata, refreshing-kan pikiran, mengisi ulang ide-ide. Masalahnya, mood-nya tak kunjung kembali saat telah kembali ke kota tempat kita mencari uang.

“Jadi, sekali lagi, mood itu eksis. Ia bukan mitos. Ia ada, dan beberapa orang betul-betul memerlukannya untuk mencipta. Ia, membentuk sejenis pola bagi orang-orang tertentu…”

#7. Buku Baru

Buku debut Ulid bersampul kuning yang terkenal itu, disambut dengan sederhana oleh penulisnya. Bersepeda Wymcicle AC Milan santuy ke tempat kelahirannya, mengambil 25 eksemplar, merayakan dengan mampir ke tempat teman, meminta meresensinya, dan setelah lama berselang itulah satu-satunya resensi. Hiks, si sulung yang malang katanya. Namun lihatlah, setelah belasan tahun, buku itu justru kembali nge-hits efek ketenaran.

“Semua istimewa pada masing-masing tempatnya.”

#8. Melihat Pengarang tidak Bekerja

Ini hanya curhat masa tak mood menulis. Klontang-klantung, ngopi sama teman, haha hihi lupa waktu, menunda nulis, buka sosmed yang menghamburkan waktu banyak, menunda lagi nulis untuk mencari makan, kembali membuat kopi, dst. Hal-hal wajar yang memengaruhi kreativitas, yang terasa tak wajar adalah, saat penulis tak bekerja, malah jadi tulisan. Ironi di atas ironi kata Spongebob.

“Dengan malas ia bangun dan mematikan lampu… dan dengan malas ia akhirnya memutuskan bangun.”

#9. Tentang Menulis Populer

Ini mungkin yang paling bagus, tulisan populer itu yang bagaimana? Pertama mendengarnya, jelas buku-buku buruk Tere Liye. Laris manis, penulisnya baper, ngudi-udi di sosial media demi mendongkrak penjualan. Kita harus sepakat di awal, bahwa buku-buku Tere jelex, tapi sayangnya laris manis, dikutip para abege, dan beberapa berhasil diadaptasi film. Itulah tulisan populer, menurutku.

Cak Mahfud menjabarkan panjang lebar, dimula dalam seminar yang diadakan para pelajar, yang lantas membedahnya. Benarkah tulisan populer itu mudah? Beliau menjawab, dalam jenis tulisan apa pun, menulis populer haruslah didasari oleh kemampuan teknis yang lebih dari sekadar memadai, malahan lebih lihai, dengan kemampuan menyampaikan ide dan gagasan atau cerita kepada pembaca di atas rata-rata. Jangan dikata lagi isi yang disampaikan. Terlihat Cak Mahfud sering kali curhat terkait seminar/bedah buku yang diisinya. Saya sendiri dua kali ikut, dan seru. Cuma satu pertanyaanku waktu itu, nulis cerpen sudah, esai sudah, novel sudah, kapan nulis puisi? Cuma dijawab tawa, dan bilang ‘endak… endak...’ sambil terus mengelak.

“… sengaja atau tidak, para penulis pop ini kemudian menyepakati, dalam banyak kesempatan mungkin malah memanfaatkan, pandangan bahwa yang populer adalah dangkal dan gampangan…”

#10. Penulis dan Tidurnya

“Terlambat karena kita tidak bisa mengatasi kenapa kita terlambat jauh lebih tidak menyenangkan dibanding terlambat karena kita lali atau disebabkan melakukan hal lain…”

Ceritanya, beliau lagi nostalgia bagaimana mencipta tidur yang nyaman. Memiliki kamar pribadi tentu saja sebuah kenyamanan, atau malah sebuah kemewahan bagi kita kebanyakan (keluarga Rafathar jelas tak dihitung). Tidur di masjid sesuatu yang lumrah, tidur di pos ronda wah ekstrem, tidur cepat dengan niat agar esok bisa bugar dan siap menulis, sungguh utopia. Saya sendiri sering kali tidur larut kala hari libur, dan bangun subuh setelahnya. Rasanya, sayang sekali akhir pekan tak memeluk buku lebih lama. Sebuah kerugian bagi pecinta buku bangun kesiangan di hari libur.

#11. Sastra adalah.. Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

Sampai sekarang, definisi sastra masih simpang siur dan mengundang pendapat beragam. Teori sastra di buku Welleck dan Warren yang kebetulan sudah kubaca, juga menimbulkan banyak tafsir. Maka kalau dalam seminar ada yang berpendapat Satra itu gelap, wajar. Apalagi deretan contoh yang disajikan mayoritas mengiyakan. Satu paragraph yang mengutar menyelamatkan seseorang yang menganggap KKN Desa Penari sebagai sastra, bisa jadi benar. Namun kita tak tahu, seratus tahun lagi, buku dari sensasi twit ini bisa jadi berbelok nyastra. Merefleksikan kehidupan, menggetarkan hati pembaca… nah… ‘kan.

“Saya menjawab bukan untuk membuatnya mengerti, tapi untuk membuatnya diam.”

#12. Duaribu Duapuluh

Pandemi dan orang-orang yang bertahan hidup sampai sekarang. Saya, dan kalian yang membaca blog ini, saya ucapkan selamat. “Hidup hanya menunda kekalahan,” kata Chairil Anwar, dan ya 2020 memang tahun tak wajar.

Suka sekali sekali penutup bab, sekaligus buku ini tentang Jimmy Glass yang menyelamatkan Carlisle United tahun 1999 dari degradasi dari divisi empat Liga Inggris. Kiper cadangan yang mencetak gol dramatis, yang mendadak jadi pahlawan, lantas pensiun dini 27 tahun sebab tak ada yang memakai jasanya. Baru tahu, dan kalian harus tahu. Tipis memang, pahlawan dan pecundang.

Kubaca selama libur Lebaran saat mudik ke Solo kemarin, kutuntaskan setelah kembali tiba di Karawang. Selang seling sama buku kumpulan cerpen Frederick Forsyth: No Comebacks. Jelas pilihan bagus, keduanya saling melengkapi, esai dan cerpen, dan sebuah buku tipis kumpulan puisi dalam sepekan, langsung kelar.

Selamat ulang tahun Mahfud Ikhwan, 42 tahun. Buku-buku barumu selalu kunanti.

Melihat Pengarang Tidak Bekerja | by Mahfud Ikhwan | Ilustrator Alfin Rizal | Tata Sampul alfin Rizal | Tata Isi Vitrya | Pracetak Antini, Dwi, Wardi | Cetakan pertama, Maret 2022 | Penerbit Diva Press | 128 hlm; 13 x 19 cm | ISBN 978-623-293-651-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 090522 – Patrice Rushen – Forget Me Nots

Thx to Gramedia Karawang

Kritik Sastra Indonesia

Buku-buku di rak kantor

Penilaian adalah hal yang penting, tidak dapat disanggah. Buku ditulis, diterbitkan, disalurkan, sampailah pada pembaca. Untuk mengetahui bagus tidaknya sebuah karya, butuh penilaian. Pembaca menjadi krusial karena memberi respon. Banyak hal yang terjadi selama proses itu, panjang nan berliku. Penulis tidak memiliki jalan pintas. Penerbit dan penjual juga tak ada jalan pendek. Muara di pembaca, semua proses ke muara memang butuh waktu dan tenaga. Penulis bukan penemu, tetapi mensuplai pengetahuan. Pembaca bukan hakim, tetapi berhak mengulik nilai akhir.

Sastra Indonesia memang tengah bergeliat, sangat menyenangkan kita hidup di era serba digital. Di masa kini, buku-buku dengan mudahnya kita cari dan dapatkan. Bermodal android dan pertemanan di dunia maya, tinggal ketik di pencarian maka abracadabra, muncullah. Dalam dunia maya segalanya mungkin, seolah Tuhan berkata, “Fiat lux!” (jadilah terang), maka dalam hitungan hari buku yang dicari sudah bisa dinikmati. Setiap kemudahan sejatinya dibarengi dengan tikaman ancam, maka dunia kertas yang sudah seabad lebih menguasai pasar perbukuan kini dalam raungan alarm akan serbuan bentuk digital. Banyak yang sulit beradaptasi, kenikmatan aroma buku dalam kenyamanan menjadi benteng akhir untuk dipertahankan. Namun sampai kapan? Sampai angin dan matahari hanya membicarakan kesepian.

Saya teringat Pramoedya Ananta Toer di buku Bumi Manusia, betapa beruntungnya Minke hidup di era mula abad 20. Ada mesin pencetak kertas, gambar bisa dicetak ratusan dalam sehari, era kemudahan dalam menikmati karya, relate untuk masa kini bila kukatakan betapa beruntungnya kita di era digital ini. Kalau masa itu Minke merasa hidup dalam kemewahan dan kemegahan, kita mungkin serasa di surga teknologi. Surplus informasi, kebanjiran berita, teori ilmu melimpah ruah.

Dari sastra kita belajar banyak hal. Dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, kita menuai pelajaran arti cinta pertama, cinta sejati, cinta mati. Tak ada cinta yang lain, sebuah kesetiaan yang sulit kita terima dengan nalar, memang setiap individu itu unik, sebagian besar kita mungkin malah pernah mengalami cinta bodoh dengan tetap mengedepankan kesetiaan tanpa syarat, kekerasan hati Hayati mengingatkanku pula pada Daisy Buchanan dalam The Great Gatsby-nya F. Scott Fitzgerald. Terasa sekali ceweknya jahat banget, menikam kemurnian kasih.

Di tahun 2002 muncul novel Cantik Itu Luka, dua tahun berselang muncul Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan, tidak langsung booming, tidak serta merta menuai kesuksesan di pasar, terlambat panas. Butuh waktu lumayan lama untuk meledak, tahun 2010-an barulah namanya mencuat hebat. Kualitas memang tak berbohong, kualitas akan tertanam kuat di peredaran apa pun alasannya. Apalagi, kemudian muncul Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Lunas dan O, yang bisa konsisten membentuk dunia imaji luar biasa. Permainan kata dan plot menjadi komoditi utama.

Ketika membaca Saman karya Ayu Utami, saya menemukan dunia wanita yang tak lazim, berontak dan berani bersuara, lebih terasa makin jleb karena muncul di pergantian era, Orde Baru jelang runtuh, di sana ada kritik sosial dan politik, bagaimana Laila menghadapi hari-hari liar dengan memikirkan Sihar yang tersandung politik. Saman seolah menjadi pembuka kran tema feminisme di Indonesia. Cala Ibi, Tarian Bumi, Biru, Supernova menyusul. Ceritanya bisa saja lebih menghentak, tapi karena Saman muncul terlebih dulu, saya mencatatnya lebih pas momentumnya.

Saya teringat kata-kata tokoh Watanabe di novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami yang berujar bahwa ia tak akan menikmati karya sastra modern yang belum dibaptis waktu, hidup ini singkat. Atau kata-kata AJ Fikry dalam The Storied Life of A.J. Fikry karya Gabrielle Zevin bahwa ia tak suka buku remaja. Sejatinya bagi para penikmat buku yang sudah sangat berpengalaman, otomatis kualitas akan menyaring sendirinya. Waktulah yang memvonisnya. Kebetulan keduanya adalah orang yang memiliki hobi dan kecimpung di dunia buku, lalu membentuk pola bahwa mutu sastra yang bagus itu klasik sehingga berhasil melewati masa dan bertahan hidup di era kita. Lantas apakah dokrin ini sah dan laik dipertahankan?

Sastra kita sejatinya mengalami banyak kemajuan, selain era yang memang lebih maju, tema yang disodorkan di pasar lebih bervariatif. Sastra kita membuncah dan semarak. Pasar akan sortir sendiri, kualitas akan bertahan di tengah gempuran karya, dan yang bertahan (pastilah) hanya karya bermutu. Saya teringat Manusia Harimau, buku ini berserak dalam obral diskon setelah dua atau tiga tahun pasca rilis. Masa menempanya, tahun 2010-an nama Eka mencuat, dan sosial media memblow-up keganasan Margio. Lihatlah sekarang, semua buku Eka sangat laku, terbitan lama justru berharga lebih mahal ketimbang edisi cover baru. Itulah kualitas.

Penerbit Indie di era digital menggeliat dengan taring sangat menjanjikan, dalam penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK), dekade 2010-an juara kategori Prosa contohnya dari Kura-Kura Berjanggut (Banana), Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi (Banana), sampai Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (Marjin Kiri). Bukti bahwa tak ada dominasi, tak ada relevansi antara modal dan kualitas. Gambaran yang bisa memicu berkarya dan diterbitkan dengan opsi lebih beragam. Karya sastra menentukan nasibnya sendiri.

Harus diakui dunia digital mengancam perbukuan bentuk kertas, dalam sebuah pos di blog ada yang berkomentar heran, saya masih menikmati buku (kertas) ditengah gempuran e-book, sejatinya dan sewajarnya kita memang harus beradaptasi pada perkembangan zaman, nyatanya kenikmatan membaca dalam layar tak maksimal, saya takkan betah memandang layar bercahaya bermenit-menit, apalagi berjam-jam. Aroma buku kertas dan kenyamaan di tiap ujung telunjuk, sensasi membalik kertas bagiku belum tergantikan, mungkin untuk generasi berikutnya saja. Beberapa Penerbit sudah mengantisipasinya, dan waktu terus berjalan.

Ketekunan kita membaca mencipta dunia imaji, dan dengan sendirinya kita hidup di dalamnya, minimal pelarian beberapa waktu dari penatnya kenyataan. Ada keseruan, ada keindahan, tapi memang terbatas di sana. Untuk bisa keluar perlu kembali kesadaran, terhanyut, tercerabut.

Sastra kita masih banyak perlu perjuangan berbagai pihak, orang-orang yang gemar membaca, menjadikan membaca buku sebagai kebutuhan masihlah sedikit, kalau tak mau dibilang kritis. Minat baca Negara kita menurut Central Connecticut State University (CCSU) tahun 2016 berdasarkan lima indikator kesehatan literasi: perpustakaan, input dan output pendidikan, surat kabar, dan ketersediaan komputer berada di angka 60 dari 61! Banyak Pekerjaan Rumah (PR) memang, tentu dibutuhkan banyak aksi lebih mumpuni ketimbang berteori.

Segala upaya para pejuang literasi memang sungguh aduhai dan kita wajib apresiai, tapi sayangnya tak banyak. Mayoritas masyarakat masih nyaman nongkrong sama gawai berjam-jam ketimbang mantengin buku. Sebuah kejadian langka ketika di ruang umum mendapati seseorang nyaman dengan buku, lihat saja, orang-orang lebih nyaman sama tempaan layar gawai untuk menunggu. Bukan mau menyalahkan siapapun, siapa tahu menatap layar ternyata baca e-book kumpulan puisi, tapi sejujurnya pikiran semacam itu jauh dari kenyataan. Permainan daring lebih memikat daripada baca buku, inilah PR kita semua. Lantas kepada siapa tuntutan itu disampaikan, diarahkan?

Semakin bertambahnya usia semakin matang pula pemikirnan, semakin baik kualitas tulisan. Banyak penulis yang sudah berhasil mencipta karya di usia remaja, tema yang disodorkan mayoritas cinta monyet, waktu menempa, dan ketika dewasa tulisannya (seharusnya) matang. Semua tamasya pengetahuan dalam menikmati sastra memiliki keunikan walaupun mungkin tema narasi sama. Sama-sama buku cinta misalnya, tulisan remaja jelas masih a la sinetron yang acakadut tayang di televisi waktu jam utama. Bertambahnya usia, temanya tetap cinta. Dengan kritik tajam di sana-sini, masalah yang dikemukan lebih berwarna. Sekali lagi seharusnya. Kenikmatan dilambangkan dengan angka 16 karena (diduga) kegiatan seksual dimulai pada usia enam belas. Namun karena dibutuhkan dua manusia untuk bersetubuh dilambangkan dengan dua angka 16. *(1) Di situlah usia krusial menanamkan ideologi dan masa penting menentukan arah.

Coba tengok ke toko buku, buku-buku remaja berhamburan. Sangat banyak, tapi terlihat asing? Mengapa? Karena saring usia. Saya sangat jarang menikmati buku remaja yang ditulis remaja, isinya jarang bagus. Memang segmen pasar juga sih. Beberapa kali coba iseng kunikmati, ya ampun benar-benar lemah dalam banyak hal. Namun usaha itu patut diapresiasi, memang bukan untuk generasi baby boomer target pasar mereka. Seperti sinetron yang ambyar secara kualitas, novel remaja memang diperuntukkan untuk generasi milenial. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang mampu berbicara dan merangsang kedua otak secara bersamaan. *(2)

Apakah buku cinta-cintaan, buku horor yang mengagetkan, atau buku-buku yang dicetak dari wattpad bisa disebut sastra? Batasan sastra adalah segala yang tertulis atau tercetak, tapi karena luas maka batasan dipersempit menjadi segala yang tertulis lebih berkualitas, atau kritikus menulisnya mahakarya, buku-buku yang dianggap menonjol, karena bentuk dan ekspresinya istimewa, sastra sejatinya juga meliputi sastra lisan. Bahasa sastra mencoba memengaruhi, membujuk, akhirnya mengubah sikap dan pandangan pembaca. Bahasa sastra penuh simbolisme suara, tanda dari kata-kata. *(3)

Saya menikmati buku sastra sejak sekolah, dapat pinjaman di perpustakaan kota Solo. Saya ingat waktu itu iseng saja membawa pulang Namaku Hiroko karya Nh. Dini. Ada dunia asing yang memikat, novel dewasa dibaca remaja. Ada rasa malu, ada rasa perkewuh. Karena ada adegan dewasa ketika tokoh Hiroko memutuskan melepas keperawanan. Dan karena pendidikan seks di sini masih tabu untuk diperbincangkan maka masa itu bagiku sebagai dunia antah, dunia asing dan baru. Sungguh pengalaman berkesan menuntaskan kisah hidup karakter asing dari negeri Sakura.

Lalu novel detektif Misteri Dian yang Padam karya S. Mara GD memikat. Setelah beberapa cerita Agatha Christie dengan Pirot-nya memesonaku, juga Sherlock-nya Sir Arthur Conan Doyle, ada novel lokal yang tak kalah seru dalam penyelidikan kejahatan dalam dua karakter; kapten polisi Kosasih dan mantan narapidana Gozali. Saya merasakan kenikmatan tersendiri menelusur dunia detektif. Agak sulit mungkin membayangkan kota London yang walau di era Victoria, tetaplah megah. Maka terasa lebih klik dengan kota Ngawi dan sekitarnya, dalam penyelidikan pembunuhan Dian. Inilah mula saya mencintai buku, inilah pemicu. Menjadikannya rutin membaca, sebagai anak sekolah di pinggiran kota Solo dari keluarga sederhana, membeli buku adalah kemewahan. Semua itu saya pinjam, fiksi durasi yang diberikan Perpustakaan adalah dua minggu, sangat cukup untuk menuntaskan satu-dua buku di sela belajar.

Saya menemukan novel-novel sastra justru di luar, bukan di perpustakaan sekolah. Koneksi menjadi kutu buku memang wajarnya dari dalam, dari diri sendiri, menjadikannya mencintai buku juga butuh perjuangan, tidak mengeluhkan keadaan, tapi rasanya distribusi ke sekolah-sekolah untuk novel lokal berkualitas memang dirasa kurang. Entah di era digital sekarang, apakah ada alokasi khusus menuju ke sana. Ataukah masih sama saja, setiap cetak sastra yang ada di perpustakaan sekolah akan menjadikan dekat dengan generasi muda. Antisipasi utama yang seharusnya menjadi prioritas kala kita membicarakan literasi.

Usia memang bukan patokan kedewasaan, tapi tetap saja kualitas bacaan akan sangat memengaruhi perkembangan dan pilihan hidup di masa depan. Sudah seyogyanya masa-masa krusial remaja kini dijejali bacaan bermutu. Okelah acara tv swasta kita memang tak bermutu, memberi opsi ke channel daring untuk menikmati hiburan tonton, jangan berharap banyak dari tayangan televisi. Radio bisalah, karena membaca pun bisa dengan mendengarkan musik atau siaran radio. Dunia perbukuan sejatinya tak jauh beda, hanya opsi lahapnya lebih bebas waktu dan bisa di mana saja. Sekiranya untuk buku cetak bisa dipermudah dalam penyaluran (terutama) ke kawasan Timur Indonesia. Lebih terjangkau dan merakyat. Buku masih bisa diandalkan untuk hiburan, pendidikan, sampai perenungan.

Penghargaan Sastra nasional semakin banyak semakin bagus, dengan juri-juri Sastrawan ternama dan kualitas saring yang lebih ketat. Dalam dua puluh tahun terakhir, penghargaan Sastra yang patut mendapat sorotan salah satunya dalam Kusala Sastra Khatulistiwa, saya mengikuti perkembangan beberapa waktu terakhir dan menjadi saksi tahun-tahun kegemilangan para juara. Tahun 2016 Raden Mandasia contohnya, sungguh aduhai cara bertutur kata Yusi Avianto Pareanom, atau dua tahun berselang dari penerbit yang sama menghasilkan Kura-Kura Berjanggut yang luar biasa tebal, hal-hal yang membanggakan ini sejatinya membuat geliat penikmat buku tetap ada, dan nyata. Bagaimanapun, sastra membutuhkan perenungan yang intens.

Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) masih terdepan, sudah lima puluh tahun menjadi rujukan sastra. Sekarang sudah banyak penulis muda menyeruak, tak ada dominasi sastrawan lama. Angkatan 2000-an atau kita bisa menyebutnya Angkatan Digital. Tema sudah sangat beragam, hal-hal yang di masa Orde Baru kena sortir, sekarang sudah bebas. Era yang represif, dan militerlistik sudah berakhir. Bahkan terlampau bebas. Tema-tema yang dulu rasanya mustahil terbit, sekarang menjadi komoditi umum. Cinta sesama jenis contohnya, sudah lazim dicipta. Atau kritik sosial politik, jumlahnya bisa dideret panjang. Perhargaan nasional resmi dari pemerintah juga patut diapresiasi, walau tak serutin dan seintens dua even yang kusebut, geliat penulis dan penghargaan patut disematkan. Puisi dan prosa diproduksi dengan oplah melimpah, bahkan terjadi inflasi karya di masa kini. Namun untuk sastra berkualitas masih butuh waktu lagi, sedekade lagi mungkin. Untuk menjadi sastrawan, memang wajib banyak membaca, banyak menulis.

Semangat zaman bisa dilihat dalam setiap masa terbitnya buku. Tiap dekade berjalan memiliki konsepsi penilaian dan apresiasi sastra yang berbeda-beda. Setiap era merupakan satu kesatuan dengan tipe novel atau puisi yang khas, dan tak bisa dibandingkan dengan zaman setelahnya. Kalau dilihat sepintas, sastra Indonesia benar-benar mulai menggeliat di tahun 1920-an. Balai Pustaka adalah penerbit di bawah kolonial, novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli adalah tonggak penting literasi kita. Cerita tentang perseteruan anak muda dan orang tua, cinta tak sampai dengan latar budaya Minang yang kental. Tahun 1928 muncul Salah Asuhan karya Abdul Muis yang menampilkan pertentangan budaya lokal dengan Barat (Belanda). Namun nama Muhammad Yamin tentu wajib dikedepankan di era itu karena seorang perintis puisi baru Indonesia yang mengetengahkan konsep Tanah Air dan bahasa persatuan.

Tahun 1930-an adalah era Pujangga Baru. Beberapa novel menonjol sekiranya bisa disematkan pada Layar Terkembang karya St. Takdir Alisyahbana, I Swasta Setahun di Bedahulu karya IGN Panji Tisna, sampai Katak Hendak Jadi Lembu karya Nur St Iskandar. Beberapa masih menampilkan roman yang mumpuni antara modernitas dan budaya lokal. Tahun 1940-an adalah milik penyair Chairil Anwar, yang menasbihkan Angkatan 1945. Sampai akhirnya muncul Angkatan 1966 di mana tahun politik bergolak. Setelahnya hingga reformasi, berbagai genre dan jenis sastra menyeruak. Konfliks yang lumrah di masa itu, seperti novel Pulang-nya Leila S. Chudori yang mengetengahkan politik bersih-bersih efek politik tahun 1965, dan berujung pada reformasi 1998, mustahil terbit di era Soeharto. Lihatlah, tahun-tahun yang panjang itu sejatinya adalah bentuk kehidupan sosial masyarakat. Ada perubahan gaya sastra yang sangat cepat, ada generasi sastra baru tiap sepuluh tahun, lima belas tahun, dua puluh tahun. Setiap masa menampilkan kekhasannya masing-masing.

Kebudayaan mematik kenangan, kenangan akan menjelma karya yang jika dituturkan dengan benar dan nyaman akan menjadi karya sastra yang aduhai. Buku sastra bukan studi psikologi atau telaahnya, melainkan drama atau melodrama kehidupan sehari-hari. Cerminan waktu. Dulu dengan segala kesederhanaan, seminal dalam Di Bawah Lindungan Ka’bah cinta yang terbentang di tanah Arab dengan Tanah Sumatra, nyaris tak ada komunikasi. Sekarang, kita bersama teknologi, pastinya cinta miss-komunikasi Hamid dan Zainab tak akan ada. Bagaimana tidak, orang sekarang menyatakan cinta saja bisa lewat sosial media atau sekadar kirim pesan! Atau riwayat kasih tak sampai Zainudin kepada Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk, di era sekarang rasanya belenggu adat sudah (dapat) dihilangkan. Cinta ya cinta, pilihan kembali ke pemuda-pemudi menentukan jodohnya sendiri. Tak ada banyak campur tangan orang tua, atau ikatan adat. Selamat datang di dunia modernitas yang tunggang-langgang.

Dalam Kura-Kura Berjanggut karya Azhari Aiyup, rentang waktu dari era kerajaan sampai abad 21. Kitab cara membunuh Sang Raja, itu konon masih ada. Sejarah Aceh yang bergolak digarap dengan syahdu dalam konfliks beragam. Ini adalah novel lokal tertebal yang saya nikmati, nyaris seribu halaman. Kita disuguhi banyak tema dan kecanduan adu cerdik perebuatan kekuasaan. Novel itu jelas membutuhkan riset mendalam, tak sembarang orang bisa mengkhayalkan adegan, dililit sejarah, terasa nyata. Kita dapat mengumpulkan informasi tentang latar belakang sosial, latar belakang kerajaan yang memimpin, dan posisi ekonomi penulis. Kita dapat menunjukkan apa peran Azhari dalam masyarakat Aceh, kaum jelata atau mungkin penggiat sosial, dan tampilan cerita itu menggambarkan dengan jitu dalam lanskap sastra. Sosok sastrawan berinduk pada tradisi dan kultur tempatan.

Apakah ada sebuah buku berpengaruh terhadap pembacanya? Jawabnya tentu bisa ya, jikalau buku itu terasa istimewa. Apakah pengaruh Chairil Anwar menyebabkan generasi berikutnya mengingin profesi menjadi penyair? Apakah novel Ateis membuat para orang tua tak terlalu kolot mendidik anak? Ataukah novel Hati yang Damai membentuk dunia pernikahan harus dilandasi cinta? Penulis dipengaruhi dan memengaruhi kehidupan masyarakat, sastra tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Banyak orang meniru gaya hidup para karakter dunia rekaan yang dicetak. Banyak orang menamai keturunannya dengan nama tokoh fiksi novel. Lhaa… kalau yang ini saya sendiri contohnya. Bukti keterkaitan itu ada. Penulis mengajarkan banyak sifat-sifat menuasia ketimbang konsultan kemanusiaan. Sastra adalah gudang adat istiadat, buku sumber sejarah peradaban, terutama sejarah kehidupan sosial budaya masyarakat. Sastra lahir dari rahim kehidupan sosial budaya sekitar.

Saya teringat ucapan teman satu kos dulu, yang bilang membaca itu merusak mata dan membuang waktu berharga. Dalam buku Pengarang Tidak Mati, ada kalimat: membaca karya sastra sebagai kegiatan membuang-buang waktu. Mereka membaca karya sastra dicap sebagai pemalas. Inilah pandangan sebagian besar masyarakat kita mengenai profesi sastrawan dan memperlakukan karya sastra sebagai karya tidak mendatangkan manfaat apa-apa. *(4)

Keahlian membaca memang sangat diperlukan dan menjadi dasar untuk membudayakan apresiasi sastra dalam masyarakat, juga pilihan baca harus ke arah buku-buku bermutu. Kritik yang muncul menjadi pemicu karya berikutnya yang lebih baik. Dalam Tentang Menulis *(5) karya Bernard Batubara, ia mengaku tiga karya perdana yang bertema cinta memang dirasa biasa, tapi sukses di pasar dan menjadi pematik menulis, bahkan ada yang memberi satu bintang di Goodreads disertai ulasan minor bahwa bukunya sampah, ia dengan hati terbuka menerima, muhasabah, dan lihatlah, muncul karya beliau di kemudian hari dengan mutu bagus, contohnya Milana dan Mobil Bekas dan Kisah-kisah dalam Putaran secara cerita sangat bagus. Di sini jelas, kritik itu menempa dan berfungsi dengan tepat.

Dengan buku yang sama penilaian baca tiap kepala tentunya berbeda, pembacaan tiap masa juga berbeda. Sama halnya dalam musik. Bahkan jika karya yang sama dimainkan lagi malam harinya, karya itu juga diharapkan terdengar baru. Tuntutan tingkat kreativitas sangat tinggi, bahkan terdengar tidak realistis; musisi tidak saja dituntut untuk terdengar berbeda dari musisi lain tapi juga berbeda dari dirinya sendiri. *(6) Penulis dituntut mencipta karya yang beragam tema, tapi tetap mutunya aduhai. Setiap individu, setiap masa, setiap kesempatan kemungkinan memunculkan beda tafsir dan pemahaman. Kita berhak mencari penafsiran makna perilaku Si Tukang Pos yang menyelam dalam amplop, yang mungkin malah tidak disadari oleh Seno Gumira Ajidarma sendiri.

Dari zaman dulu, perdebatan mutu kalau sudah kembali ke selera akan sulit didiskusikan, sulit menemukan titik temu yang memuaskan semua individu, karena selera itu sufatnya abstrak serta unik. Banyak hal bergelantung di dalamnya, sama seperti tiap manusia yang unik, selera tiap orang tidak ada yang sama, bahkan dalam manusia yang kembar sekalipun. Reputasi juga berkaitan dengan masalah tanggapan pembaca. Tanggapan pembaca dari satu periode diselidiki melalui sejumlah pernyataan resmi yang dianggap mewakili pendapat umum. Jadi masalah ‘selera yang berubah-ubah’ bersifat ‘sosial’, dan dapat diletakkan pada dasar sosiologi yang jelas. Hubungan karya dan publik tertentu dapat ditelusuri melalui sejumlah edisi dan buku yang terjual. *(7) Sejarah mencatat, kualitas dan cap ‘best-seller’ di sampul buku sering kali tak segaris lurus. Pasar buku, seperti halnya dunia ini yang sulit diprediksi. Maka sastra boleh dibaca, dinikmati, dan diapresiasi… Apresiasi, selera, dan antusiasme adalah urusan pribadi. Intuisi mengarah pada apreasiasi yang bersifat emosional, jelas lebih subjektif. *(8)

Sebagai seorang blogger (buku, film, sepak bola) saya mencoba menempatkan diri dalam pandangan umum. Buku yang sepuluh tahun lalu kubaca menimbulkan decak kagum, belum tentu sama penilaiannya dengan sekarang. Buku yang tak kumengerti alur dan maksudnya lima belas tahun lalu, ketika dibaca ulang, bisa saja menimbulkan respon positif. Banyak faktor, banyak hal yang bisa dilihat. Setidaknya setiap pembaca memberi respon penilaian, sudah patut diapresiasi. Setiap orang ingin dihargai; penulis,orang-orang di balik penerbitan, penjual, dan tentu saja pembaca. Sastra kita memang perlu dipecut!

Terakhir, saya ingin mengutip tentang kreativitas menulis. Tekad untuk menjadi original dan tidak mau membaca apa pun itu sungguh mengharukan dan tidak masuk akal. Anda boleh saja bersikukuh tidak membaca buku-buku yang ditulis orang orang lain, sebab Anda tidak ingin terpengaruh… apa pun dalihnya itu sangat egoistis dan ajaib… Dan, kalau novel itu jadi, saya betul-betul tidak ingin membacanya. Saya kira itu cukup adil karena ia tidak mau membaca karya orang lain. *(9)

Banyak-banyaklah membaca, percayalah suatu saat ilmu yang diserap itu akan berguna, dan cobalah menulis.

Karawang, 070920 – The Adams – Pahlawan Lokal

——————————————————————————-

1) Eco, Umberto, “Bahasa & Kegilaan”, Circa: cetakan pertama: Agustus 2019, hlm. 76

2) Manson, Mark, “Segala-galanya Ambyar”, Grasindo: cetakan II: Februari 2020, hlm. 54

3) Wellek, Rene; Warren, Austin, “Teori Kesusastraan”, Gramedia Pustaka Utama: cetakan keenam (cover baru) September 2016, hlm. 11

4) Mahayana, S Maman, “Pengarang Tidak Mati”, Nuansa: cetakan I, Juli 2012, hlm. 32

5) Batubara, Bernard, “Tentang Menulis”, Tanda Baca: cetakan pertama, Juli 2019, hlm. 24

6) Szwed, John F., “Memahami dan Menikmati Jazz”, Gramedia Pustaka Utama: cetakan kedua, Juli 2013, hlm. 35

7) Wellek, Rene; Warren, Austin, “Teori Kesusastraan”, Gramedia Pustaka Utama: cetakan keenam (cover baru) September 2016, hlm. 107.

8) Ibid. hlm. 4

9) Laksana, A.S., “Creative Writing”, Banana, 2020, hlm. 184-185

** Tahun 2020 saya kirim ke lomba Kritik Sastra dan kalah, saya pos di blog ini agar bisa dinikmati para pembaca.

130 Buku Rentang Setahun

Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”Mahfud Ikhwan dalam Anwar Tohari Mencari Mati

Tahun 2020 saya buat daftar terbaik-terbaik dalam dua versi: Fiksi dan Non-Fiksi. Kali ini akan saya pecah lagi untuk fiksi jadi lokal dan terjemahan, kalau tidak kupecah yang terjemahan terlalu mendominasi.
130 buku yang kulahap dengan nyaman. Padahal kalau mau hitung belanja bukunya bisa empat kali lipat, artinya hanya seperempat yang selesai. Betapa banyak yang numpuk. Tahun ini, saya coba rem belanja buku, yah beberapa toleransi tetap gas, tapi kalau rutin tak akan segila. Berikut rekap baca 2021.

*I. Januari – 10 buku
Awal tahun sengaja kumulai dengan bacaan bagus, Pi memenuhi ekspektasi itu.

#1. The Life of Pi by Yann Martel

Tentang bertahan hidup di tengah samudera.

#2. Dari Kekalahan ke Kematian by Mahfud Ikhwan

Tentang Timnas kita yang payah.

#3. Oliver’s Story by Erich Segal

Tentang pilihan pasangan setelah menduda.

#4. My Beautiful Feeling by Walter & Ingrid Trobisch

Tentang remaja dan kegalauannya.

#5. Mata dan Riwayat Semesta by Wija Sasmaya

Tentang puisi dan pewayangan.

#6. Memoar Ronny Patinasarany by Andreas J. Waskito

Tentang perjuangan sang legenda.

#7. Pembunuh by Rayni N Massardi

Tentang jiwa yang marah.

#8. Kuntilanak Pondok Indah by Lovanisa

Tentang rumah angker di tanah elite.

#9. Zarathursta by Frederick Nietschie

Tentang falsafah hidup sang petualang.

#10. Si Lugu by Voltaire

Tentang pertaruhan hidup di penjara.
*II. Februari –10 buku
Terbaik, memoar Bung Karno akhirnya berhasil kutuntaskan. Tentu saja jadi terbaik bulan ini.

#11. Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat by Cindy Adams

Tentang riwayat sang proklamator.

#12. Menumis itu Gampang, Menulis Tidak by Mahfud Ikhwan

Tentang sulitnya menulis. Apa saja.

#13. Mencari Setangkai Daun Surga by Anton Kurnia

Tentang sastra dan ruang lingkupnya.

#14. White Tiger by Aravind Adiga

Tentang sopir kere yang merdeka.

#15. Tanah Tabu by Anindita S. Thayf

Tentang Papua yang bergolak.

#16. Pribadi Mempersona by La Rose

Tentang tips-tips wanita menghadapi pria.

#17. Rahasia Nama-nama Islam by Annemarie Schimmel

Tentang sejarah nama-nama bangsa Arab.

#18. Lockwood and Co. by Jonathan Stoud

Tentang fantasi mengatasi hantu.

#19. The Joy Luck Club by Amy Tan

Tentang imigran Amerika dalam perkumpulan.

#20. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer by Jujun S. Suriasumantri

Tentang filsafat dibuat fun.
*III. Maret – 10 buku
Maret ini baca ulang Narnia 4 yang luar biasa sama Hermione, dan sekuel Dawuk yang dahsyat.

#21. The Chronicles of Narnia: The Silver Chair C.S. Lewis

Tentang perjalanan ke Utara jauh.

#22. Anwar Tohari Mencari MatiMahfud Ikhwan

Warto Kemplung kembali membual.

#23. The Last JurorJohn Grisham

Tentang pemilihan juri, ada warga kulit hitam pertama.

#24. Negeri SenjaSeno Gumira Ajidarma

Tentang negeri antah surantah.

#25. The Alchemist Paulo Coelho

Tentang perjalanan ke Mesir mencari harta karun.

#26. Dubi Dubi DumaEsthy Wika

Tentang tata kelola mengasuh buah hati.

#27. Tasawuf Dipuja Tasawuf DibenciMukhlis, S.Pd.I., M.Ag

Tentang para sufi dari masa ke masa.

#28. Pendeta YonasLa Rose

Tentang pendeta muda yang tergoda janda.

#29. Kuda Kayu TerbangYanusa Nugroho

Tentang keluh kesah naik bianglala.

#30. Q & ASherina Salsabila

Tentang romansa anak SMA.
*IV. April – 4 buku
Penuh salju, tebal, keren, lelah.

#31. Kitab Writer Preneur by Sofie Beatrix

Tentang perjalanan penyair pulang kampung Turki, dan efeknya.

#32. Pinky Promise by Kireina Enno

Tentang perempuan-perempuan tegar.

#33. Snow by Orhan Pamuk

Tentang syair yang dingin dan beku.

#34. Belajar Mencintai Kambing by Mahfud Ikhwan

Tentang pilihan sepeda atau kambing?
*V. Mei – 11 buku
Haruki Murakami tetap melaju dengan nyaman dan indah.

#35. Luka Batu by Komang Adyana

Tentang tradisi dan keseharian di Bali.

#36. Angel of Darkness (Sheldon’s Series) by Tilly Bagshawe

Tentang pembunuhan berantai dengan tertuduh si innocent.

#37. Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya by Haruki Murakami

Tentang cinta lama dan persahabatan, selamanya.

#38. Renungan Kloset by Rieke Dyah Pitaloka

Tentang kritik dan opini yang dihasilkan dari toilet.

#39. Civilization and Its Discontents by Sigmund Freud

Tentang budaya dan muatannya.

#40. The Man Who Loved Books Too Much by Allison Hoover Bartlett

Tentang pencuri buku yang gila.

#41. Aku dan Film India Melawan Dunia Buku I by Mahfud Ikhwan

Tentang kegemaran film India, melawan arus.

#42. Kritikus Adinan by Budi Darma

Tentang pengadilan yang tak adil.

#43. Seni Menulis by Haruki Murakami

Tentang tips menulis dari maestro.

#44. Cinta Bagai Anggur by Syaikh Muzaffer Ozak

Tentang sufi awal ke Amerika.

#45. Narsisme by Sigmund Freud

Tentang kebiasaan menampakkan diri ke publik.
*VI. Juni – 14 buku
Banyak baca, sebab melakukan isoman. Mayoritas ternyata tipis-tipis, pantas banyak. Terbaik jelas Pasar, buku pertama Bung Kontowijoyo.

#46. The Street Lawyer by John Grisham

Tentang kebaikan memihak para gelandangan dengan jadi pengacara mereka.

#47. Kanuku Leon by Dicky Senda

Tentang kehidupan mistik di tengah modernitas.

#48. Pasar by Kuntowijoyo

Tentang orang-orang pasar dan pusarannya.

#49. The Mummy by Anne Rice

Tentang mumi yang bangkit di masa kini setelah tertidur panjang.

#50. Putri Cina by Sindhunata

Tentang legenda putri Cina dan keturunannya di Indonesia.

#51. Isinga: Roman Papua by Dorothea Rosa Herliany

Tentang cinta diputus paksa dan dirajut ulang.

#52. Mati Bahagia by Albert Camus

Tentang pencarian makna hidup yang lapang.

#53. Lotre by Shirley Jackson

Tentang kebiasaan main lotre di tengah masyarakat yang manjemuk.

#54. Bisik Bintang by Najib Mahfuz

Tentang orang-orang Mesir dalam berbagai silang pendapat.

#55. Komune Paris 150

Tentang masa revolusi, kudeta gagal dan efek panjangnya.

#56. Misa Ateis by Honore de Balzac

Tentang kematian yang abadi.

#57. Sumur by Eka Kurniawan

Tentang cinta bersemi di sumur lalu ditenggelamkan masa.

#58. 100 Film by Ibnu M. Zain

Tentang rekap film terbaik sepanjang masa.

#59. Therese Desqueyroux by Francois Charles Mauriac

Tentang cinta dan kegilaan, pasangan aneh saling mengisi.
*VII. Juli – 5 buku
Terbaiknya tentu Geisha, tapi memang tertebak kan. Yang mengejutkan Pseudonim, lokal yang bagus. Rekomendasi.

#60. Memoirs of Geisha by Arthur Golden

Tentang memoar geisha zaman sebelum dan sesudah Perang Dunia II.

#61. Who Moved my Cheese? By Spencer Johnson

Tentang keberanian melawan kebiasaan, berani mengambil tindakan radikal.

#62. The March by E.L. Doctorow

Tentang perang saudara Amerika.

#63. Pseudonim by Daniel Mahendra

Tentang penulis galau yang jatuh hati sama calon dokter.

#64. Kampus Kabelnaya by Koesalah Subagyo Toer

Tentang pengalaman kuliah di Rusia.
*VIII. Agustus – 12 buku
The Dante Club terbaik, lika-liku proses alih bahasa buku legendaris.

#65. The Summons by John Grisham

Tentang panggilan mendadak orangtua untuk mudik, dan misteri besar di baliknya.

#66. Malapetaka Indonesia by Max Lane

Tentang sejarah kelam ’65.

#67. Dari Belakang Gawang by Mahfud Ikhwan & Darmanto Simaepa

Tentang rona-rona bola dalam esai duet.

#68. Sosiologi by Drs. Soedjono D. SH

Tentang teori sosiologi yang panjang merentang.

#69. Upacara Bakar Rambut by Dian Hartati

Tentang adat dan efeknya.

#70. Jalan Udara by Boris Pasternak

Tentang gejolak Rusia di masa perang dingin.

#71. The Dante Club by Matthew Pearl

Tentang Amerika yang mencoba menerima puisi Dante, biasalah selalu ada yang menentang, atau terinspirasi?

#72. Kota Kucing by Haruki Murakami

Tentang kota antah misterius, kereta berhenti di negeri aneh.

#73. Penyair Revolusioner by Deddy Arsya

Tentang syair-syair meledak.

#74. Firebelly by J.C. Michaels

Tentang katak yang menekuri hidup.

#75. Zahiya by Najib Mahfuz

Tentang kafe dan masyarakat di sekitarnya.

#76. The Things They Carried by Tim O’Brien

Tentang perang Vietnam, barang-barang seberat itu dibawa menjelajah.
*IX. September – 10 buku
Buku-buku bagus, terbaik Eichmann in Yerusalem. Dibuat dengan intensitas ketegangan proses pengadilan.

#77. Breaking PoetryAntologi

Jelex.

#78. The NotebookNicholas Spark

Tentang manula yang hilang ingatan, dan coba dingatkan pasangan.

#79. Eichmann in YerusalemHannah Arendt

Tentang proses pengadilan kejahatan perang di tubuh Nazi.

#80. IdentityMilan Kundera

Tentang pasangan galau, krisis identitas.

#81. The Silence of the LambsThomas Harris

Tentang pembunuh berantai membantu memecahkan kasus pembunuhan berantai.

#82. Think Like a FreaksSteven D. Levitt & Stephen J. Dubner

Tentang pemikiran aneh untuk hasil luar biasa.

#83. The Return of the Young PrinceAG Roemmers

Tentang pangeran dan sopirnya dalam perenungan di jalan.

#84. BibirKrishna Mihaedja

Tentang ucapan yang mencipta dengung apa saja.

#85. Perkara Mengirim Senja –Tribute untuk SGA

Tentang senja dan segala isinya.

#86. Haniyah dan Ala di Rumah TeterugaErni Aladjai

Tentang kehidupan di kebun teh.
*X. Oktober – 14 buku
Rerata bacaan Kusala Sastra, terbaiknya tetap Haruki. Akhirnya buku 900 halaman itu selesai baca.

#87. Damar KambangMuna Masyari

Tentang adat Madura yang keras.

#88. Yogya YogyaHerry Gendut Janarto

Tentang nostalgia ke Yogya.

#89. Rekayasa BuahRio Johan

Buku jelex lagi.

#90. Looking for AlaskaJohn Green

Tentang pencarian jati diri remaja.

#91. Semesta MurakamiJohn Wray, dkk

Tentang kehidupan yang idola.

#92. Anak Asli Asal MappiCasper Aliandu

Tentang pengalaman mengajar di Papua.

#93. Jalan MalamAbdul Wachid B.S

Tentang muhasabah dan ziarah dalam bait.

#94. Segala yang Diisap LangitPinto Anugrah

Tentang Islamisasi di Sumatra.

#95. Revolusi NuklirEko Damono

Tentang masa depan yang misterius.

#96. Bunga Kayu ManisNurul Hanafi

Tentang pasangan saling menghargai.

#97. Cerita-cerita yang Sedih dan MenakjubkanRaudal Tanjung Banua

Tentang masa lalu dalam dongeng.

#98. Kronik Burung PegasHaruki Murakami

Tentang suami yang ditinggal istri.

#99. Ramuan Penangkal Kiamat Zelfeni Wimra

Tentang dahwah yang hakiki.

#100. The Homeless BirdGloria Whelan

Tentang remaja janda yang kehilangan rumah.
*XI. November – 15 buku
Nama besar Terry Pratchett, ini novel pertamanya yang kuselesaiakan. Memang warbiasa.

#101. Moby DickHerman Merville

Tentang perburuan paus istimewa.

#102. The Great Guest RescueEva Ibbotson

Tentang penyelamatan hantu-hantu terusir.

#103. The Black CatEdgar Allan Poe

Tentang mitos dan horror tersaji.

#104. Pria Cilik MerdekaTerry Pratchett

Tentang perjuangan menyelamatkan saudara di negeri berantah.

#105. BuddhaDeepak Chopra

Tentang riwayat Buddha dari lahir hingga mencapai nirwana.

#106. Melipat JarakSapardi Djoko Damono

Tentang waktu yang relatif.

#107. Cara Mencari Kawan dan Mempengaruhi OrangDale Carnegie

Tentang upaya membuat takjub orang lain.

#108. Kembang SepasangGunawan Maryanto

Tentang budaya Jawa dalam pentas.

#109. Klik!Nick Hornby, dkk

Tentang kamera bergenerasi berikut.

#110. 1 Perempuan 14 Laki-lakiDjenar Maesa Ayu

Tentang kopi dan cipta karya per kalimat.

#111. Arang PerempuanArini Hidajati

Tentang perempuan tegar dan sendu.

#112. Seekor Anjing Mati di Bala MurghabLinda Christiany

Tentang perang dan efeknya.

#113. Puisi Baru Sutan Takdir Alisjahbana

Tentang puisi lama tahun 40-an ke bawah.

#114. A Golden WebBarbara Quick

Tentang dokter perempuan pertama yang menemukan alir darah dalam tubuh.

#115. DepresiDr Paul Hauck

Tentang tata cara menghadapi stress.
*Desember – 15 buku
Akhir tahun terbaik sekuel Little Women. Keren abis.

#116. Kau Gerimis dan Aku Badai by Wahyu Heriadi

Tentang puisi kehidupan.

#117. Rumah Mati di Siberia by Fyodor Dostoevsky

Tentang orang-orang terpenjara di sana.

#118. The March’s Captain by Geraldine Brooks

Tentang detail ayah/suami di medan perang.

#119. Jatisaba by Ramadya Akmal

Tentang kehidupan desa yang keras dalam pemilihan Lurah.

#120. Asal Muasal Pelukan by Candra Malik

Tentang pelukan melibat dua individu, ada sejarahnya.

#121. Nama Saya Tawwe Kabota by Mezra E. Pellondou

Tentang pria nakal yang menyesali banyak hal.

#122. Adu Jotos Lone Ranger dan Tonton di Surga by Sherman Alexie

Tentang kehidupan di revervasi.

#123. Cinderella Man by Marc Cerasini

Tentang petinju 30-an yang fenomenal.

#124. The Runaway Jury by John Grisham

Tentang pemilihan juri dan kasus rokok heboh.

#125. Sang Belas Kasih by Haidar Bagir

Tentang tafsir surat Ar-Rahman.

#126. Manajemen Strategik Koperasi (kolabs)

Tentang koperasi dan strategi pengembangan.

#127. My Grandmother asked me to tell you She’s Sorry by Frederick Backman

Tentang cucu yang memiliki tugas menyampaikan surat-surat Sang Nenek.

#128. My Sister’s Keeper by Jodi Picoult

Tentang Si Bungsu yang melawan.

#129. Penjual Bunga Bersyal Merah by Yetti A. KA

Tentang penjual bunga di pinggir jalan.

#130. Malam ini Aku Tidur di Matamu by Joko Pinurbo

Tentang rona-rona dalam bait.

Lakukan apa yang kamu senangi, selama tak menyusahkan orang lain itu baik. Membaca buku jelas ada di urutan atas daftar kenikmatan hidup. Saya takkan mengeremnya, saya jalani dengan nyaman dan damai. Bagaimana tahun ini? sepertinya tak akan jauh beda. Sehat-sehat semuanya. Salam Literasi dari Karawang, dengan cinta.

Karawang, 030221 – Steve Goodman – The Dutchman

Terima kasih buat seluruh penjual buku, kalian luar biasa, kalian keren!

14 Best Books 2021 – Fiksi/Lokal

Kekayaan, kedudukan, kekuasaan, kepandaian, dapat mematikan rasa. Mati rasa berarti hilang kemanusiaan kita. Hidup ialah bagaimana kita merasakan sesuatu. Bukan bagaimana kita memiliki kemewahan, kekuasaan, kekayaan.” – Pasar, Kuntowijoyo

Tahun 2021 setelah dipertimbangkan lebih masak, untuk fiksi saya pecah lokal/terjemahan sahaja sebab terjemahan terlalu dominan. Total fiksi lokal kubaca 49 buku. Kupadatkan jadi 14 seperti biasa. Sebuah kebetulan, yang terbaik buku terbitan tahun lalu. Dan secara kebetulan pula, pas daftar ini kupos di instagram, muncul info buku nomor satu masuk daftar pendek buku Prosa Tempo 2021.

Berikut daftar buku non-fiksi terbaik yang kubaca tahun 2021 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. Kuda Kayu Bersayap by Yanusa Nugroho (Tiga Serangkai) – 2004

Ini adalah buku beli yang acak, artinya saya tak mengenal sang Penulis, yang ternyata sudah melalangbuana di banyak media, penulis senior yang katanya, sesuai pembuka pengantar penerbit: Ngerokok. Ngopi. Ngarang. Perjudian menikmati karya ‘asing’ seperti ini memang jarang membuahkan hasil Ok, jelas ini adalah daftar sedikit itu. Cocok seperti yang dibilang sama Bung Yanusa, “Menulis, sebagaimana halnya makan dan minum, adalah kebutuhan. Kebutuhan untuk mengungkap sesuatu…”

#13. Revolusi Nuklir by Eko Damono (Basa Basi) – 2021

Lelah, tapi puas. 22 cerpen dalam buku kecil 200 halaman. Sebagian sudah diterbitkan di media, sebagian besarnya belum. Semua yang berkisah di masa depan tampak kurang, atau kalau mau jujur tampak aneh. Burung besi berkisah, pohon android, dst. Semua yang dikisahkan di perjalanan gunung, tampak nostalgia. Ibadah puisi di Rinjani, petualang sekual Apocalyto, dst. Semua yang dikisahkan secara flashback tampak nyata, atau nyata yang dimodifikasi. Telinga putus, pacar yang hamil berencana memberi kejutan yang malah mengejutkan, hotel Kurt Cobain, dst.

“Di dunia ini terlalu banyak serba kemungkinan, dan kita dipaksa untuk meneruskan hidup.”

#12. Pseudonim by Daniel Mahendra (Grasindo) – 2016

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen yang jumlah kata lebih sedikit, dan sewajarnya tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua pembaca itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak faktor. Salah satunya tentu saja selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasarnya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

“Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

#11. Luka Batu by Komang Adnyana (Mahima Institute Indonesia) – 2020

Kisahnya berkutat di Bali, tempat sang penulis tinggal dan dibesarkan. Kebanyakan dari kita memang paling nyaman menulis tentang hidup kita dan sekeliling kita, jadi seolah dituturkan langsung dari pengalaman hidup. Relevan dan masuk akal, sebab akan tampak aneh dan tak berlogika jika kita yang lahir dan besar di Indonesia bercerita tentang dinginnya salju negeri Swiss.

“Kuatkan dirimu. Semoga mereka mendapat hukuman yang sesuai.”

#10. Bunga Kayu Manis by Nurul Hanafi (JBS) – 2021

Bunga Kayu Manis menawarkan jenis keindahan kata-kata (atau di sini berarti tulisan), dipilih dan dipilah dengan mujarab oleh Bung Nurul Hanafi. Beberapa bagian mungkin tampak terlampau lebai, atau ngapain melihat senja dari jembatan saja melankolis, itukan hal yang lumrah tak ada yang istimewa dari matahari jelang terbenam, umpamanya. Namun memang itulah keunggulan kata-kata, banyak hal dicipta berlebihan, dan terasa sentimental. Memang mudah tersentuh saat kita bicara kenangan, angan dalam kepala tentang masa lalu, setiap orang beda-beda, dan semakian mendayu, semakin terasa feel-nya.

“Hujan terlalu larut dan luka.”

#9. Damar Kambang by Muna Masyari (KPG) – 2020

Pembukanya fantastic. Seorang istri yang ngalah, legowo atas apapun keputusan suami. Dengan setting Madura, terkenal dengan adu karavan sapi dengan festival Gubeng sebagai puncaknya. Seorang suami gemar berjudi, memertaruhkan segalanya. Kemenangan/kekalahan timbul tenggelam bersama waktu. Apa yang dipertaruh berbagai hal, berbagai jenis; motor, sapi, emas, tegalan, dan pada puncaknya adalah rumah dengan segala isinya. Narasi pembuka membuat kuduk berdiri sebab sang suami kalah, dan Si Buntung berhasil membalas, ia beserta ‘dukun;’-nya datang mengambil piala kemenangan. Dahsyat bukan? Pembuka yang memesona sejenis ini biasanya langsung menegakkan punggung dan memancing konsentrasi berlebih guna terus berkutat mengikuti cerita, banyak yang tumbang gagal memertahankan tempo, sedikit yang berhasil hingga garis finish. Damar Kambang termasuk yang sedikit itu, walaupun sesekali temponya memang harus sedikit teredam. Aku baca sekali duduk di Jumat pagi yang cerah. Untungnya, suami-istri di pembuka ini identitasnya tak dikuak, fakta ini akan jadi semacam tautan yang ditaruh di tengah kecamuk adu sihir. Perhatikan sahaja, buku yang berhasil salah satu faktornya para tokoh memiliki motif yang kuat untuk mengambil tindakan, tindakan dijalankan dengan logika dasar. Tak perlu muluk-muluk, tak perlu ndakik-ndakik.

“Orangtua memang harus selalu dibenarkan ya.”

#8. Segala yang Diisap Langit by Pinto Anugrah (Bentang Pustaka) – 2021

Ringkas nan memikat. Hanya seratusan halaman, kubaca hanya sejam sekali duduk selama satu setengah jam pada Sabtu, 16 Oktober 2021 selepas Subuh. Langsung ke poin-poin apa yang hendak dituturkan. Tentang Islamisasi di tanah Sumatra di masa Tuanku Imam Bonjol. Mengambil sudut pandang sebuah keluarga lokal yang kalah dan tersingkir. Segalanya jelas, tapi akan mencipta keberpihakan abu-abu.

“Tatapanmu, tatapan pesimis dan penuh amarah! Tidak baik memelihara tatapan seperti itu! Setan-setan akan senang di dalamnya, mereka akan berpesta pora di matamu!”

#7. Jatisaba by Ramadya Akmal (Grasindo) – 2017

Bagus. Ini adalah novel kedua Ramayda Akmal yang kubaca setelah Tango dan Sadimin yang luar biasa itu. Cerita masih berkutat dalam realita muram kehidupan kampung dengan segala problematikanya. Kali mengangkat isu pemilihan kepala desa, buruh migran, dan kenangan masa kecil yang menguar mengancam. Dedikasi akan kampung halaman bisa dengan berbagai macam cara, tapi merenggut para pemudi untuk diangkut ke negeri seberang dengan berbagai iming-iming, dan tahu bakalan amburadul, jelas bukan dedikasi yang laik ditiru. Sayangnya, ini bukan isapan fiksi belaka.

“Kau selalu meminta yang tak mungkin ketika seluruh kemungkinan di dunia ini aku persembahkan kepadamu.”

#6. Melipat Jarak by Sapardi Djoko Damono (GPU) – 2015

Begini rasanya membacai puisi bagus tuh. Sebelum-sebelumnya sulit masuk atau ngawang-awang, atau tak tentu arah. Dalam Melipat Jarak, yang dominan adalah narasi. Bukan per bait yang rumit. Kata-katanya juga umum, temanya sederhana, tapi pilihan katanya mewah. Singkatnya, enak dibaca. Mau nyaring atau rilih, sama nyamannya. Beginilah puisi sejatinya dicipta. Buku ini berisi 75 sajak yang dipilih oleh Hasif Amini dan Sapardi Djoko Damono dari buku-buku puisi yang terbit antara 1998-2015 yakni Arloji, Ayat-ayat Api, Ada Berita Apa Hari ini, Den Sastro?, Mata Jendela, Kolam, Namaku Sita, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, dan Babad Batu. Oh, ternyata ini sejenis album terbaik terbaik, atau kalau CD/ kaset The Best of The Best-nya. Versi kedua setelah sebelumnya sudah pernah dibuat dalam rentang, 1959-1994 yang termaktup dalam buku Hujan Bulan Juni yang pertama terbit 1994.

Tiga Sajak Kecil: “Mau ke mana, Wuk?” / “ke Selatan situ.” / “Mau apa, Wuk?” / “Menangkap kupu-kupu.”

#5. Puisi Baru by Sutan Takdir Alisjahbana (Dian Rakyat) – 1946

Ini adalah kumpulan puisi dari masa lalu. Pertama terbit tahun 1946, pasca Indonesia merdeka. Yang kubaca adalah cetakan ke-10, 1996 sehingga banyak pula tambahan puisi-puisi di era Revolusi. Yang jelas, Sutan Takdir Alisjahbana memilih dan memilahnya dengan jitu. Campuran gaya dan jenis syairnya. Terlihat klasik, daftar isi ada di muka kanan seperti membaca buku-buku Arab. Terdiri 19 penyair, termasuk Sang Penulis. Benar-benar buku bagus, bisa jadi langka ini sebab puisi-puisi lama (di sini disebut baru) ini akan sulit dicari nantinya. Termasuk beruntung bisa menikmatinya di era digital yang serba wuuuz…

Ah, dunia! Dunia! / Saya pusing di atas kau. / Adakah sudah suratan saya / Akan selalu menghimbau-himbau?Betapa Seni, OR. Mandank

#4. Kritikus Adinan by Budi Darma (Bentang) – 2017

Ini adalah buku kedua Bung Budi Darma yang kubaca setelah Rafillus yang absurd itu. Langsung jadi penulis idola, tampak unik dan luar biasa aneh. Kumpulan cerpen ini sama absurd-nya dengan Rafillus, tokoh-tokohnya tak biasa. Nama-nama juga nyeleneh. Dilengkapi ilustrasi ciamik di tiap cerita, rasanya memang pantas kukasih nilai sempurna.

Rasanya buku-buku Bung Budi Darma hanya masalah waktu untuk dikoleksi, salah satu penulis besar tanah air. Apalagi kabar terbaru buku Orang-Orang Bloomington kini sudah duterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Penguins. Orang Indonesia pertama yang berhasil melakukannya. Kritikus Adinan rasanya hanya masalah waktu pula untuk menyejajarkan diri.

“Dengan mendadak kamu mengunjungi saya, Malaikat. Apa sebenarnya dosa saya? Sejak kecil saya selalu berusaha berbuat baik.”

#3. Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan oleh Raudal Tanjung Banua

Menakjubkan! Ya, itulah komentarku seusai membacai. Campur aduk perasaan, dijabarkan dengan sabar, disajikan dengan istimewa. Cerita-cerita masa kecil dari orangtua, paman sampai neneknya, kita melangkah lanjut ke tema-tema masa lalu yang lebih umum, menorehkan kenangan. Menulis tentang masa lalu, sekali lagi kubilang sungguh aktual. Dan lebih mudah diimajinasikan. Sungguh nyaman, asyik sekali diikuti, seolah membacai memoar, menelisik nostalgia.

“Sering-seringlah memandang Bukit Talau. Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan.”

#2. Pasar by Kuntowijoyo (Mataangin) – 1995 *

Novel dengan penggambaran detail mengagumkan. Mencerita apa adanya keadaan pasar dan par penghuninya. Sejatinya setting hanya satu tempat dari mula sampai jelang akhir. Pasar dan situasi yang ada. Orang-orangnya juga itu-itu saja, berkutat melelahkan. Pada dasarnya menggambarkan sifat manusia yang mengingin nyaman, ketika terusik maka ia marah, dan saat keinginan-keinginan tak terkabul, jadi petaka. Minim konflik tapi sungguh menohok saat masalah itu dilemparkan ke pembaca.

“Kalau macan mati meninggalkan belang, Pak Mantri mati meninggalkan tembang.”

#1. Anwar Tohari Mencari Mati by Mahfud Ikhwan (Marjin Kiri) – 2021

Berkelas. Bagus sekali. Rentetan katanya menyemburkan degub khawatir dan caci maki kepuasan. Dalam puncak ketegangan, saya benar-benar menikmati adu jurus di atas jembatan itu. Setidaknya tiga kali pada bab pertarungan kusela tepuk tangan dan kepal tangan. Bravo! Cerita-cerita pun mengalir dahsyat, dan saya hampir mengeluarkan HP buat kubaca rekam. Mungkin akan kulakukan nanti pas baca ulang. Bergaul dengan Warto Kemplung membuatku berlajar seni bercerita. Senyumnya bagai sambaran kilat, dan berhasil memainkan tempo.

“Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”

Panjang umur kesehatan, panjang umur keuangan. Semoga tahun ini bisa lebih banyak lagi karya lokal yang kunikmati, bisa lebih nyaman, enak, dan berkembang. Panjang umur para penulis lokal, dedikasi kalian untuk literasi Indonesia patut diapresiasi.

Karawang, 100122 – Sammy Davis Jr. – Dedicated to You

November2021 Baca

“Kecerdikan yang berlebihan akan menghilangkan akal sehat.”Seneca

Bulan ulang tahun pernikahan. Hampir saja terlambat masuk kerjaku menyentuh batas maks. Wanti-wanti, berangkat lebih pagi, ada banyak demo buruh, Hermione mulai sekolah offline, mengantar dalam ketergesaan sebab susah bangun tidur, waktu baca seperti biasa, sebelum subuh sudah bangun, setengah jam istirahat kerja, dan pulang kerja. Hari libur dihajar waktu luang banyak. Sempat anak istri flu, sehingga ikut repot, apalagi aku juga dua tiga hari ketularan. Waktu baca, tak perlu mencari waktu luang, kitalah yang menciptakan waktu luang itu. 15 buku tuntas, lumayan banyak ‘kan.

Setelah hanya mendengar nama besar Terry Pratchett, akhirnya ada buku fantasinya yang tuntas kubaca dan ulas, memang sekeren itu. Moby Dick juga akhirnya kelar juga, walaupun versi pendek. Edgar Allan Poe dan Eva Ibbotson juga akhirnya pecah telur, kuulas di blog ini. Dale Carnegie, nama besar berikutnya berhasil kutuntaskan.

Dan puisi bagus, hufh… ternyata rasanya seperti ini ya baca puisi indah tuh. Pengalaman memang tak bohong.

#1. Moby DickHerman Merville

Buku tipis yang selesai kubaca sekali duduk. Kutuntaskan jelang tidur pada hari Rabu, 3 Okt 21. Jumlah halaman tak lebih dari seratus. Beli buku ini sebab cari teman beli buku KSK aja, makanya jadi sisipan. Pas pertama rilis, sempat ragu mau beli atau nunggu edisi lengkapnya. Sebagai sastra klasik yang diringkas, rasanya kurang gereget, kurang mantab hanya baca sebagian dengan detail-detail dihilangkan. Nah, prasangka itu dibahas panjang lebar di pengantar oleh Cep Subhan KM. Itu sudah mewakili perasaanku.

“Berburu paus adalah pekerjaan yang sangat berbahaya. Malaikat maut selalu menyertai kita.”

#2. The Great Guest RescueEva Ibbotson

Ini bukan buku pertama Eva Ibbotson yang kubaca, tapi ini adalah buku pertamanya yang kuulas. Dulu pernah baca satu atau dua, tapi karena terjadi di era multiply segalanya hilang, di masa wordpress akhirnya berhasil kutuntaskan. Khas tentang dunia penyihir dan segala fantasi imaji yang dikelola dengan fun. Mungkin masalah yang ditawarkan agak berat, menyangkut pemerintahan Inggris yang membantu mencari suaka hantu, tapi jelas ini benar-benar sekadar hiburan remaja. Tak ada rasa takut atau khawatir tokoh-tokoh baik akan kalah, maka saat eksekusi akhir di mana, segalanya berakhir bahagia, terasa pas untuk bilang, ‘nah kan, aku bilang juga apa.’

“Setelah semua yang dikatakan dan terjadi, gigi tetaplah gigi.”

#3. The Black CatEdgar Allan Poe

Keren sekali. Kukira Edgar Allan Poe ini masternya cerita misteri, hantu-hantuan saja. Ternyata ia juga jago sekali mencerita detektif. Dibagi dalam dua bagian, misteri dan detektif. Terasa sungguh klasik, cara menghadapi masalah, cara penelusuran, cara memecahkannya. Buku abad 19, salah satu pioneer kisah-kisah sejenis.

“Lagu apa yang disenandungkan para putri duyung, atau nama apa yang dipakai Achilles saat dia bersembunyi di antara para perempuan, meskipun membingungkan, sebenarnya bisa diterka.” – Sir Thomas Browne

#4. Pria Cilik MerdekaTerry Pratchett

“Beberapa hal terjadi sebelum hal-hal yang lain.” Kalimat pembuka yang jitu dan bagus sekali. Ini adalah kisah Tiffany sebelum dan saat-saat menjadi penyihir. Nama Tiffany sendiri terdengar norak saat disebut ‘Penyihir Tiffany’, maka ia ingin mengubah nama sihir nantinya. Kucingnya bernama Ratbag, kirain bakal punya peran ternyata ia benar-benar kucing biasa. Di sebuah tanah pertanian berkapur yang dipimpin oleh Baron yang kehilangan anaknya Roland. Di pertanian ini, masih ada orang-orang yang punya kebiasaan mengagumi dan menyimpan barang-barang indah yang tidak berguna.

“Aku akan mengambil adikku, dan pulang.”

#5. BuddhaDeepak Chopra

Terbagi dalam tiga bagian: Siddartha sebagai snag pengeran, Gautama sebagai petapa dan Buddha sebagai sang pencerah. Bagian-bagian ini memberi segmen yang pas. Beberapa bagian mungkin terdengar aneh, persis pas kubaca Young Messiah di mana Yesus sudah menunjukkan keajaiban di masa kecil, Buddha dinaungi banyak keajaiban, selamat dari berbagai godaan setan Mara.

“Aku yang berurusan dengan dewa-dewa, kau tak perlu memikirkan mereka.”

#6. Melipat JarakSapardi Djoko Damono

Luar biasa. Salah satu kumpulan puisi terbaik yang pernah kubaca. Ternyata ini semacam The Best of The Best, jadi puisi-puisi dari buku-buku lama, dipilih dan dipilah. Keren banget euy, begini to rasanya membacai puisi bagus. Narasinya kental, banyak hal umum yang disajikan, sederhana temanya, yang luar biasa memang diksinya. Ditulis dengan pilihan-pilihan kata sebagus dan seromantis mungkin.

#7. Cara Mencari Kawan dan Mempengaruhi OrangDale Carnegie

Buku self-improvement yang luar biasa. Salah satu yang terbaik yang pernah kubaca. Sangat inspiratif dan menggugah. Tips-tips jitu, sebenarnya beberapa sudah kupraktekkan, terutama saat konseling karyawan, tapi dengan mambaca buku, saya mendapat teori yang lebih pas. Betapa menghargai orang lain itu sangat amat penting. Orang suka ditanyai pendapatnya dan gagasan-gagasannya.

“Jika ada rahasia mengenai sukses, maka rahasia itu ialah kecakapan untuk melihat melalui kacamata orang lain.”

#8. Kembang SepasangGunawan Maryanto

Kubaca dalam sekali rebahan pada malam jelang tidur 22.11.21. Tak tebal jadi memang bisa cepat kelar. Terbagi dalam lima bagian, berisi puisi-puisi dengan satu dua halaman. Banyak kata-kata ‘asing’ bahasa Jawa alus atau bahasa seni Jawa, yang bagiku tak akrab.

Karena secara bersamaan aku lagi baca kumpulan puisi maestro Sapardi Djoko Damono, Melipat Jarak. Rasanya ternyata baca puisi bagus tuh seperti ini, sempat berujar gitu. Maka baca Kembang Sepasang, terasa biasa saja. Kebanting kali ya. Membaca puisi menjadi rutintas 12 buku tiap tahun mulai 2021 ini, dan mulai terpilah dan terasa mana puisi yang berhasil tune in mana yang terlihat biasa, bahkan mana yang buruk juga sudah ada feel-nya. Progress yang bagus ‘kan?!

“Belukar menjalar hingga luar pagar / seperti mencari bapaknya / Sementara tunas bamboo menetas…”

#9. Klik!Nick Hornby, dkk

Keren. 10 cerita dibuat 10 penulis dan berkelanjutan. Satu bab/cerita mengambil sudut pandang satu karakter, lalu dilanjutkan oleh penulis lain. Bebas mencerita, asal ada benang merah sama cerita sebelumnya, lalu ketiga aturan juga sama, cerita berkaitan terus sampai total 10. Ditulis oleh orang-orang yang memang memberi jaminan kualitas, semua sudah memiliki buku best seller. Hanya dua yang kukenal dan sudah kubacai bukunya, Nick Hornby dalam About a Boy dan Eoin Colfer dalam Artemis Fowl. Memang alasan keduanya aku membeli buku ini, dan terbukti Ok.

“Aku selalu terkejut dengan apa yang bisa dilakukan orang.”

#10. 1 Perempuan 14 Laki-lakiDjenar Maesa Ayu

Idenya terdengar gila. Menulis cerpen keroyokan, tapi menulisnya bergantian per kalimat. Kuulangi, “PER KALIMAT!” Bayangkan, kita tak tahu apa yang ada di kepala partner kita. Kita mau ke Barat, tapi dia malah ke Utara. Ga nyambung cuk. Namun nyatanya bisa ada 14 cerpen. Ternyata hasilnya juga biasa saja. Sulit sekali membuat cerita sejenis itu, apalagi hanya dibuat beberapa bulan. Kalau ditulis beberapa tahun, dengan pendalaman, editing, dan diskusi lanjut pasti beda. Akan lebih matang, ini seolah bikin mis instan, hanya semalam dikerjakan sampai subuh untuk satu cerita, janjian ngopi lalu mencipta karya. Sah-sah saja, tapi tetap tak bisa sebagus itu.

Pembukanya lumayan bagus. Begitu juga penutupnya, tapi tengah-tengahnya entahlah. Mawut pokoknya. Heran juga, bisa pede merilis cerita semawut ini.

“Aku akan selalu mencintaimu, kekasihku…”

#11. Arang PerempuanArini Hidajati

Ini kumpulan esai, tapi terasa membaca puisi. Kata-kata disusun dengan mendayu-dayu, meluap-luap seperti soda pecah. Temanya beragam, tapi mengedepankan reliji. Pengalaman penulis dalam menghadapi perubahan hidup. Proses pernikahan misalnya, adalah contoh langkah besar manusia menuju jenjang berikutnya. Malam, senja, hujan, cinta, bermunculan lebih sering. Perenungan kehidupan, dari sudut pandang perempuan.

#12. Seekor Anjing Mati di Bala MurghabLinda Christiany

Bukti bahwa nama besar tak selalu menjamin bukunya selalu bagus. Kumpulan cerpen ini, dimula bagus, di tengah agak menurun, dan akhir yang malah biasa saja. Apalagi ada blunder bahwa Superman adalah pahlawan keluaran komik Marvel. Ketika kubagikan di grup film jadi bahan bully, mereka tak tahu bahwa penulisnya adalah penulis yang sudah menang penghargaan sastra bergengsi. Dengan setting bervariasi, dari Jepang, Eropa, Timur Tengah, hingga pantai-pantai lokal. Kita diajak melalang buana dalam bernarasi. Paling bagus cerita kedua, cerita sederhana tentang mengantar barang tapi dibumbui mistik. Paling biasa cerita terakhir.

“Laut memang sama di mana-mana. airnya asin. Tapi ini Atlantik. Lain. Bagaimana?”

#13. Puisi BaruSutan Takdir Alisjahbana

Judulnya Puisi Baru, tapi buku ini dicetak 1946. Baru memang selalu dinamis, selalu ada pembaruan dengan bergulirnya waktu. Beruntung sekali aku punya buku ini. klasik, penulis/penyair Indonesia yang karyanya sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Sumatra paling dominan, banyak sekali orang hebat dari sana. Hebat.

#14. A Golden WebBarbara Quick

tentang Alessandra Giliani dari Persiceto, Italia, perempuan pertama ahli anatomi. Ia terlahir di abad 14, di mana perbedaan gender masih sangat kental. Terlahir perempuan, tak bisa menempuh pendidikan tinggi, menikah di usia yang sungguh belia, haid pertama berarti masa untuk mencarikan pasangan hidup, perang terjadi di berbagai tempat, para penyihir dibakar hidup-hidup, dan dunia medis masih sangat kuno. Di masa itulah cerita buku berkutat.

“Ini artinya semacam ‘Hal-hal itu disebut ambigu’, ketika meskipun mereka bernama sama, mereka memiliki arti yang berbeda.”

#15. Depresi Dr Paul Hauck

Ini adalah buku tipis tentang tips-tips menghadapi stress, sebelum berubah jadi depresi kita harus mencegahnya. Rasa bersalah jadi dominan, rasa minder, tekanan hidup, hingga rasa kasihan. Bukan hanya terhadap diri sendiri, juga terhadap orang lain. Keadaan itu harus ditekan, stress mau diobati atau tidak, masalah masu dipecahkan atau tidak, yang jelas waktu terus bergulir jadi relaks saja. Maka tak perlulah sampai depresi. Ada berbagai cara mengatasinya, dari psikoanalis, konseling, curhat, memindahkan beban ke tempat yang tepat, dst. Cocok dibaca untuk semua orang, khususnya yang mau belajar psikologi.

Karawang, 011221 – Nina Simone – Wild is the Wind

Kusala Sastra Khatulistiwa 2021: Bentang-kan Hingga Langit

Kejari KSK nih.” / “WA wae virtual account e.” – Chat ig dengan Titus P.

Rak bukuku baru, tinggi menjulang hingga langit-langit. Bisa menampung sepuluh ribu buku, kalau mau, dan sungguh rapi walau aku masih kesulitan mencari letak buku yang kuingin baca tiba-tiba. Sedap dipandang, betah berlama-lama bercengkerama dengannya. Warna putih cerah dengan penerangan lampu terang, mencipta nyaman duduk terpekur di perpustakaan keluarga. Ini tak serta merta, rak ini sudah kubayangkan doeloe pas masih sekolah. Koleksi bukuku terus bertambah, tapi tenang saja ada garasinya…

Koleksi itu tentu saja termasuk buku-buku prosa Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Tahun ini terdiri dari: Enam kumpulan cerpen, empat novel. Pengumuman kandidat agak terlambat, sampai kunyalakan notif twitter Richard Oh, yang akhirnya pada 23 September muncul juga. Kamis malam itu sepulang kerja langsung ke Gramedia Karawang, hanya nemu Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga. Lumayan, sembari cari daring setidaknya sudah kumulai baca. Kesepuluh nominasi belum baca semua, jadi benar-benar start mula, dan sebagian besar nama-nama asing. Well, kurasa salah satu fungsi KSK adalah kita sudah disarikan, sudah dipilih dan dipilah para sastrawan, sehingga tinggal menikmati saja. Terlepas hasil akhir bagus/buruknya kualitas belakangan. Mirip film-film Oscar, lha wong sudah dijaring, tinggal duduk nikmati. Enak to.

Dan syukurlah kita hidup di zaman digital. Cari barang lebih mudah, termasuk buku. Toko buku langganan rerata tak sedia bukunya. Aku pengen beli buku sebanyak mungkin dalam sekali transaksi, selain hemat ongkir juga ada stok baca bila cepat usai. Dema Buku, Sentaro Book, Kedai Buku ternyata tak ready stock setelah kujapri, sembilan sisanya berburu bertahap. Kloter kedua buku baru muncul dari Dojo Buku, Jakarta Barat. Beli empat buku, kepending lama sekali, setelah tiktokan berkali-kali akhirnya bilang hanya ada tiga, yo wes gegas saja yang ada karena Haniyah dan Ala sudah selesai baca lama. Yogya Yogya, Damar Kambang, dan Rekayasa Buah baru kupegang pada 29 September.

Kloter ketiga dari Basa Basi Store yang mewakilkan satu buku Revolusi Nuklir di Prosa, menawarkan paket tiga buku, dua buku puisi KSK-pun tak mengapa kubeli dan kuterima 4 Oktober. Secara bersamaan pesan dari Stanbuku, Sleman. Ini teman lama, teman grup diskusi buku WA, pengalaman pertama beli daring justru dari sini. Mas Olih sedia Anak Asli Asal Mappi dan Segala yang Diisap Langit yang kuterima 9 Oktober.

Kloter kelima adalah Bunga Kayu Manis dari Jalan Literasi, Bandung yang bersamaan beli kandidat puisi sebagai ‘teman’ pengiriman. Buku kesembilan dan kesepuluh beli dari dua tempat beda lagi, Cerita-cerita yang Sedih dan Menakjubkan dikirim dari Yogya (Jual Buku Sastra) dan Ramuan Penangkal Kiamat dari Bogor (Aiakawa Books). Keduanya kupesan tentu saja ada barengan, keduanya Non KSK.

Jangan beranggap wah mudah sekali ya cari buku dan selalu ada duit. Oh tak sesederhana itu, bujet memang sudah kusiapkan, menabung dari beberapa bulan sebelumnya untuk dibelanjakan September. Aku juga tak punya m-banking jadi sering umpet-umpetan ATM sama Meyka, istriku. Maka sering kali minta tolong temanku Titus P. untuk talangi bayar ke Tokopedia/transfer BCA. Direkap, baru kuganti. Lihat, tak sederhana juga kan, tapi tak rumit juga. Kalau sudah berkeluarga, kalian pasti tahu betapa kebutuhan banyak, dan pendapatan harus dipilah pilah menyesuaikan kepentingan anak-istri. Dan buku, bagi istriku bukan di urutan prioritas.

Tepat 28 Oktober semuanya selesai baca ulas, maka mari kita simak. Berikut bacaan 10 besar prosa, diurutkan berdasar selesai lahap.

#1. Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga – Erni Aladjai

Pembuka Kusala Sastra Khatulistiwa yang kurang OK. Temanya beragam, tapi intinya bisa jadi budaya lokal dengan kritik sosial dalam lingkar kebun cengkih. Pelukisan perkebunan dan tradisi setempat bisa saja menjadi daya saing yang menjanjikan, tapi tetap intinya sederhana. Hantu anak yang baik, walau kehidupannya tragis bisa memunculkan berbagai kemungkinan horror, jagoan yang sakti juga bisa saja meledakkan amarah ke warga, tidak. Kisah ini berakhir dengan tenang. “Tanaman bertenaga-baik membuat manusia yang memakannya berjiwa baik.”

#2. Damar Kambang – Muna Masyari

Aku baca sekali duduk di Jumat pagi yang cerah. Untungnya, suami-istri di pembuka identitasnya tak dikuak, fakta ini akan jadi semacam tautan yang ditaruh di tengah kecamuk adu sihir perdukunan. Perhatikan sahaja, buku yang berhasil salah satu faktornya para tokoh memiliki motif yang kuat untuk mengambil tindakan, tindakan dijalankan dengan logika dasar. Tak perlu muluk-muluk, tak perlu ndakik-ndakik. “Kau tidak percaya atau justru takut memercayainya?”

#3. Yogya Yogya – Herry Gendut Janarto

Cerita hanya berisi nostalgia. Dan saya suka cerita yang menengok masa lalu ketimbang ngawang-awang ke masa depan yang tak jelas. Orang Yogya yang merantau ke ibukota, sesekali mudik Yogya menekuri wilayah-wilayah yang dulu pernah disinggahi, ditelusur untuk dikenang, dengan sudut pandang orang pertama, segala yang disampaikan jelas bergaya orang bercerita satu arah. Tak ada hal-hal yang luar biasa, maksudnya nyaris tak ada ledakan… “Gayuh, kan, memang suka banget bernostalgia, sedikit-sedikit menukik ke masa silam. Benar-benar Gayuh itu manusia past tense. Mister Past Tense!”

#4. Rekayasa Buah – Rio Johan

Buku ini jeleq.

#5. Anak Asli Asal Mappi – Casper Aliandu

Cerita mini, mirip fiksi mini. Dan karena ini berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar di Mappi, Papua, maka bisa disebut fakta mini sahaja. Ceritanya terlampau biasa, terlampau sederhana, pengalaman sehari-har. Dan selain cerita mini, buku cetaknya juga, hanya seratusan halaman. Namun harganya tak mini. “Terlalu asyik, Teman. Alamnya terlalu indah.”

#6. Segala yang Diisap Langit – Pinto Anugrah

Ringkas nan memikat. Hanya seratusan halaman, kubaca sekali duduk selama satu setengah jam pada Sabtu, 16 Oktober 2021 selepas Subuh. Langsung ke poin-poin apa yang hendak dituturkan. Tentang Islamisasi di tanah Sumatra di masa Tuanku Imam Bonjol. Mengambil sudut pandang sebuah keluarga lokal yang kalah dan tersingkir. Segalanya jelas, tapi akan mencipta keberpihakan abu-abu. “Atas nama agama, katanya!”

#7. Revolusi Nuklir – Eko Darmoko

Yang bagus menurutku adalah bagian-bagian yang sederhana. Malaikat pencabut nyawa yang mengambil kembarannya, itu kisah mudah dicerna, walau memilukan, terasa emosional. Atau pencabut nyawa yang mau berkunjung malah diusir oleh PSK, klenik yang membuncah kan masih banyak berlaku di masyarakat. Atau Ayam Kampus yang memandang hina keset kampus, tenang, diam, dan malah langsung in kan? Tak perlu melingkar pusing untuk berfantasi. “Kau harus ke Nordlingen!”

#8. Bunga Kayu Manis – Nurul Hanafi

Pada dasarnya manusia menyukai hal-hal bagus, hal-hal indah bagi kita sungguh nyaman dirasa mata atau telinga. Seni memberinya banyak jenis kenikmatan. Dan dari hal-hal yang dicecap itulah kita lari sementara dari kejenuhan rutinitas. Bunga Kayu Manis menawarkan jenis keindahan kata-kata (atau di sini berarti tulisan), dipilih dan dipilah dengan mujarab oleh Bung Nurul Hanafi. “Seperti apapun penampilanmu, kau tetap cantik.”

#9. Cerita-cerita yang Sedih dan Menakjubkan – Raudal Tanjung Banua

Cerita-cerita masa kecil dari orangtua, paman sampai neneknya, kita melangkah lanjut ke tema-tema masa lalu yang lebih umum, menorehkan kenangan. Menulis tentang masa lalu, sekali lagi kubilang sungguh aktual. Dan lebih mudah diimajinasikan. Sungguh nyaman, asyik sekali diikuti, seolah membacai memoar, menelisik nostalgia. “Sering-seringlah memandang Bukit Talau. Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan.”

#10. Ramuan Penangkal Kiamat – Zelfeni Wimra

Tentang ramuan darurat yang bisa digunakan saat terjepit. Sejak zaman Perang Padri sampai ear PRRI, bergenerasi digunakan. Sejarah Sumatra yang panjang nan berliku, zaman kolonial, zaman pasca merdeka, hingga kini. Setiap daerah memiliki kebiasaanya sendiri. Termasuk dua mangkuk ramuan rahasia… “Mengapa ayah menangis?”

Sebelum lanjut, mau bilang bahwa tahun ini penulis favorit Mahfud Ikhwan merilis lanjutan Dawuk, Anwar Tohari Mencari Mati kukasih skor sempurna (lima bintang). Kukira bakal masuk KSK, nyatanya tak tercantum. Apakah sekuel otomatis tak terjaring, atau nama Cak Mahfud sudah terlalu besar, entahlah…

Tahun lalu tebakan meleset jauh. Novel Orang-orang Oetimu tuh sempurna, sampai kulabeli buku terbaik lokal yang kubaca tahun 2020. Satu-satunya novel lima bintang KSK, masuk lima besar dan dengan pede sekali kutebak menang. Dalam podcast Mokondo-nya Bung Takdir panjang lebar kujelaskan sampai berbuih-buih, betapa indah cerita karya Felix K. Nesi ini. Sebagai pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta sebelumnya, kukira bakalan berstempel ganda, karena di waktu yang hampir bersamaan Marjin Kiri menyiapkan kover baru.

Burung Kayu sejatinya sungguh biasa, prinsipku adalah novel bagus itu menghibur, bahasanya ga ngawang-awang, plot jelas, cerita bagus, pembaca senang. Burung Kayu mencoba nyeni yang malah menghilangkan esensi isi, dan aku tak suka hal-hal yang tak nyaman. Hanya kukasih 3.5 bintang, buku pertama yang kubaca setelah pengumuman nominasi. Aneh, sungguh aneh.

Tahun ini tampak lebih aneh. Saat pengumuman lima besar, satu-satunya buku lima bintang bahkan sudah tak tercantum. Cerita-cerita yang Sedih dan Menakjubkan benar-benar menakjubkan, indah dilihat dari berbagai sisi. Campur aduk perasaan, dijabarkan dengan sabar, disajikan dengan istimewa. Kok bisa? Entahlah, sedikit mengejutkanku atas keputusan dewan juri menyingkirkan dini.

Dan memang masa depan itu sulit ditebak. Kejutan juga perlu dalam hidup, seperti semalam Bayern Muenchen dibantai 5-0, banyak orang suka ‘kan sama kegaduhan. Jadi mari kita susun kepingan tebak.

Yang tersingkir lima buku, dalam penilaianku buku bagus selain karya Raudal Tanjung Banua ada tiga: Revolusi Nuklir (empat bintang), Yogya Yogya (empat bintang). Namun masih dikoridor yang tepat, sebab di awal buku keduanya boring, baru meledak di pertengahan dan akhir. Serta Bunga Kayu Manis (empat bintang) yang juga indah, memang mendayu seperti tahun lalu dalam Makan Siang Okta yang juga melaju kencang di fantasi.

Satu buku lainnya memang pantas dihapus, sudah pas. Buku jeleq.

Daftar pendek mencantum Anak Asli Asal Mappi (tiga bintang), rasanya enggak banget. Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga sama saja, terlampau biasa (tiga bintang). Tiga lainnya berskor sama (empat bintang); jadi sejak kuikuti KSK, untuk pertama kalinya aku tak bisa yakin menebak. Ketiganya bagus, dan indah di porsinya masing-masing. Dua buku tentang Sumatra versus Madura.

Damar Kambang laik menang, cekam yang disaji bisa konsisten. Kental budaya Madura, taiye… selamat. Segala yang Diisap Langit to the point, apa-apa yang disaji memang sepantasnya disaji. Babat sana-sini demi tegaknya tauhid. Laik menang, selamat. Ramuan Penangkal Kiamat, tak perlu banyak bualan, mayoritas cerpen sudah disaring koran Nasional, dan jiwa-jiwa yang renta dalam kenangan menambah pikatnya, laik menang, selamat. Jadi tahun ini nebak mana?

Prediksiku: Buku-buku Bentang banyak sekali yang memuaskan, rerata bagus. Untuk kali ini sahaja, aku berdoa penerbit ini lebih diapresiasi atas kurasi mereka. Salam literasi dari Karawang yang damai.

Karawang, 281021 – 291021 – Michael Franks – Rendezvous in Rio

Thx to Titus P, sobatku yang selalu ada saat butuh tolong talangan transfer buku. Beeeest… (kecup kecup kecup)

Mengapa Ayah Menangis


Ramuan Penangkal Kiamat oleh Zelfeni Wimra

“Kita dilahirkan tidak untuk mengeluh. Kehidupan tidak menerima para pengeluh. Selalu ada jalan keluar. Saya saja yang belum menemukan!”

Kumpulan cerpen yang bervitamin. Dirangkai dari cerpen-cerpen yang sudah terbit di media masa. Rerata bagus sebab memang sudah dikurasi oleh tim handal, tinggal dilihat saja cerpen bagus atau kurang di Koran atau media daring mana, terlampir di akhir buku. Jawa Pos, Tempo, Republika, Padang Express…

Ada dua yang sungguh biasa, atau dikata kurang, atau malah cenderung jelek. Dan kebetulan dua-duanya belum terbit, lantas mencipta tanya, jangan-jangan keduanya ini sudah dikirim ke media tapi tak tayang? Maka diinput saja ke dalam buku. Dua itu adalah Ramuan Penangkal Kiamat, mencoba menelusur sejarah nenek moyang, tapi lemah dalam penyajian. Satu lagi tentang kucing lapar di rumah, plotnya lemah dan standar saja.

Favoritku jelas, Gantungan Baju Buya. Kiai selalu ingin pulang ke rumah mengisi ceramah di manapun, dengan anekdot gantungan baju saja sudah terdengar unik, agak aneh. Memang ketebak, sudah jelas keluarga adalah segalanya. Nah, endingnya yang keren di mana sogokan itu memakai anekdot lama yang otomatis mengingatkan pada gurunya. Satu lagi, Guru Nalu, teman masa kanak menjadi gila tersebab idealism kebablasan. Mengingat aku pernah punya teman seperti itu, terasa sekali emosiku turut. Temanku sembuh dengan dinikahkan dan ganti nama yang lebih sederhana, tak muluk-muluk atau keberatan kata, mungkin ini salah dua solusi buat Nalu.

Kuulas singkat-singkat sebagai apresiasi.

#1. Bila Jumin Tersenyum

Tentang kesulitan keuangan dan gigi yang tanggal, upaya untuk menutupinya mencipta iuran uang warga. Dilemma urgenitas. Namun memang anak atau di sini pendidikan anak urutan kebutuhan ada di urutan tinggi, dunia akan memakluminya.

#2. Madrasah Kunang-kunang

“Bila kampung sudah tidak memiliki orang disegani ibarat ijuk tak bersagar; bagai lurah tak berbatu. Kawan dan lawan akan bersilantasangan kepada kita.” Profesi penceramah menjadi diskusi menarik. Ayah tak suka anaknya bekerja seperti itu, diundang ke rumah-rumah, ke kantor-kantor untuk membacakan doa. Membiayai hidup dari upah mengajarkan agama seperti menjadi penceramah atau pendoa tidak berkah! Kita dikaruniai tubuh dan tenaga yang kuat.

#3. Gantungan Baju Buya

Tentang Buya Mukaram yang nekad tetap pulang seusai ceramah sekalipun sudah larut malam, walaupun sudah ditawarkan tempat menginap. Alasannya, di mana Buya akan menggantung bajunya? Yang secara tersirat terimplementasi di masa kini, saat ia mendampingi Pak Menteri ke provinsi terjauh, mendapat hadiah dan tawaran gantung baju.

#4. Kopiah yang Basah

Profesi dukun penggugur anak atau aborsi menjadi petaka saat Johan, kemenakannya mendapati kesalahan, pasiennya meninggal dunia. Ia ditangkap polisi, diperkara, dan Aku sebagai yang dituakan mencoba membebaskannya, mencoba damai. Datuak Basa Marajao dengan kopiah basah pulang naik angkuta umum.

#5. Guru Nalu

Orang gila yang mendaku guru. Kenangan masa kecil, serta upaya untuk mau mandi. Idealism pendidikan yang tak menelurkan manusia robot siap kerja, segalanya malah runyam. Kebablasan, mendekam di rumah sakit jiwa Pak Guru Nalu.

#6. Mengasah Lidah Murai

Belajar pidato atau bicara di depan umum dengan mahir itu tak hanya diasah dan belajar dari pengalaman, tapi juga ada syarat istimewa dari seorang sesepuh desa yang terkenal jago. Dengan mahar burung yang ditangkap dan tak hanya itu kerbau yang di-angon setiap hari harus dipastikan tercukupi asupan rumputnya. Belajar memang mahal.

#7. Urat Leher Burhan

Jodoh kebentur banyak kepentingan, doa ibu yang mujarab dan segala keinginannya yang ideal. Burhan seorang aktivis, berpacaran dengan wartawan, sudah pas dan wajar. Pranita di mata ibu terlalu vocal. Muncullah Evalisa, perawan tua yang tampak ideal mengingat Burhan yang juga sudah sangat matang. Namun lagi-lagi, Burhan memilih prioritas yang lain.

#8. Rumah Berkucing Lapar

Paling biasa dari semuanya. Suara meow di rumah yang mengindikasi ada kucing lapar yang suka mencuri lauk. Lantas membuat geram seisi rumah, dan tamunya.

#9. Ramuan Penangkal Kiamat

Sebagai judul buku, ini juga biasa. Sejarah Sumatra yang pernah ada penyebaran agama, warga asli yang terdesak dan upaya mencipta ramuan penangkal kematian. Dari generasi ke generasi, banyak jalan manusia untuk bertahan hidup, menahan gempuran kerasnya hidup.

#10. Dua Keping Kisah Pikun

Masa kecil memang terbaiq. Mahmud dan Zahara sudah berkawan akrab, sudha main kawin-kawinan. Sudah asyik madu dengan menangkap burung dan betapa akan mewujud nyata saat mereka bertunangan. Lantas takdir jahat menimpa, di usia senja adakah kesempatan kedua?

#11. Si Mas yang Pendusta

Si Mas yang melambaikan pergi dari geladak kapal untuk kembali ke Jawa seusai tugas menggempur gerakan PRRI di Sumatra. Janji-janji manis yang disampaikan dihianati, janji mau mengawini. Dicerita oleh neneknya Namimah yang makin renta kepada Neli yang penasaran cerita kakeknya. Oh tak seperti itu ternyata sebenarnya.

#12. Rentak Kuda Manggani

Kenangan oh kenangan. Di masa sulit, ia meninggalkan istri dan anaknya. Merantau jauh dan menikah lagi. Saat tua mengunjungi lagi tempat lama itu, ditemui anaknya yang juga sudah menua, dan juga mantan istrinya, kunjungan ini tak hanya meminta maaf, sebab sejatinya sudah dimaafkan, kunjungan ini adalah perjalanan menekuri ingatan, perjalanan religi di senjakala.

#13. Air Tanah Abang

Kalau kalian lihat gelandangan di Tanah Abang, bisa jadi itu adalah Langang. Ia adalah perantau yang ambisius, dulunya. Pergi dari tanah kelahiran sejak usia 15 tahun, menikah dengan warga pinggiran Bandung hingga memiliki anak, lantas diminta pulang oleh emaknya. Utang dan beban seolah dilepas secara bersamaan, dengan surat penting dan KTP ibu kota dilarung di selat Sunda. Lantas tekanan sosial malah mencipta ulang perjalanan.

#14. Gadis Bermata Gerimis

Nek Gadis yang sendu. Dikunjungi aku Jalito, mahasiswi pascasarjana. Sanad keluarga menyisa mereka berdua, banyak anggota kelurga meninggal di bencana tsunami Aceh 2004. Pesan nenek, memintanya segera menikah agar keturunannya berlanjut. Lantas seolah tanda-tanda senjakala yang mana menipis waktu hidup, sang nenek bercerita masa mudanya yang terlambat menikah. Betapa perjuangan laki-laki di zaman kemerdekaan itu penuh pengorbanan, begitu juga perempuan yang menanti, dobel pengorbanan.

#15. Rendang Kumbang

Ramuan untuk mengembalikan suami dari godaan janda tetangga. Suaminya Kari seorang sopir truk pasir, tergoda sama Marina janda beranak dua yang meminta pesan membangun dapur. Keakraban itu mencipta cemburu dan gemanya malah semakin terasa. Marini meminta dukun Pati buat bikin ramuan pikat sukma. Hasilnya? Alamak…

#16. Tukang Beri Makan Kucing

Suami kesepian walaupun sudah punya lima, semuanya merantau, punya banyak cucu, otomatis mengikuti orangtuanya. Dari Bandung hingga Papua. Istrinya ikut ke Si Bungsu yang baru saja memberi cucu, dan setiap saat istrinya meminta untuk kasih makan kucing kesayangan. Namun suatu ketika si kucing malah memberantakkan dapur, bikin kzl. Wait… rasa sepi itu seharunya dibelai si meow…

#17. Sihir Batu Bata

Ibunya yang cerai mencipta kekesalan. Sebagai anak SD ia rindu belaian ayah, dan kala ada sopir yang mampir ke warungnya menggoda ibunya, ia berjanji akan membalas dengan kepal tangan kuat. Pendidikannya hancur, tapi tak bisa dijadikan alasan sebab kakaknya di posisi sama tetap berprestasi. Kala masalah dewasa dilihat dari sudut anak-anak memang tak sinkron, dunia itu semua ada masanya, Nak.

#18. Diri Juga Ingin Pulang

Seolah ini adalah gelandangan di ‘Air Tanah Abang’. Diri yang kere, sementara teman-teman sebayanya sudah sukses secara materi. Ia lantas menelusur masa lalunya, timbul tenggelam dalam kenangan.

#19. Tuan Alu dan Nyonya Lesung

Memakai anekdot alu dan lesung, sejoli yang saling mengisi. Seolah pohon stek, dibabat tapi bisa tumbuh lagi setelah coba ditanam lagi. tuan Alu dan Nyonya Lesung dalam lanskap surealis bdi taburan biji kopi.

Sebagai buku terakhir, Ramuan Penangkal Kiamat sudah dkutahui masuk lima besar. Laik, skor 4 masih bisalah untuk teman ngopi, lebih dari ekspektasi. Sulit memang membuat cerpen bagus. Salah satu ciri Bung Zelfeni adalah, riwayat karakter tergambar jelas dari mula hingga senja. Lihat saja, para tokoh utama sering kali mengingat masa lalu, meriwayat dari kecil atau dari muda, lantas ke masa kini. Balutan tradisi daerah adalah hal wajar, dan sudah sangat lazim dibuat. Tanpa tahu siapa Zelfeni, aku sudah bisa menebak ia orang Minangkabau atau Sumatra, atau setidaknya pernah tinggal di Sumatra, merantau ke tanah Jawa, dan ekonominya lumayan (terlihat dari cerpen awal). Untuk karakter yang lusuh, bisa dicomot dari orang-orang sekitar. Lihat, banyak hal bisa dipetik dari sini.

Cerita bagus, lebih mudah ditulis dari kisah sendiri atau teman sekitar dan memodifikasinya. Secara otomatis, pembaca juga. Dengan mudah menautkan emosinya. Selamat!

Ramuan Penangkal Kiamat | oleh Zelfeni Wimra | GM 6212020001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Penyelia naskah Teguh Afandi | Desai nisi Ryan Pradana | Desain sampul Orkha Creative | Cetakan pertama, Januari 2021 | ISBN 978-602-06-4985-6 | ISBN Digital 978-606-06-4986-3 | Skor: 4/5

Tikus dan tupai mudah dipilah sedari kecil hanya dengan melihat ekornya.

Karawang, 281021 – Michael Franks – Time Together

Akhirnya selesai. 10 dari 10 prosa KSK selesai baca dan ulas.

Thx to Aiakawa Books, Bogor

Semesta Murakami: The Art of Fiction Issue


Semesta Murakami by John Wray, dkk

“Aku suka membuat orang tertawa setiap sepuluh halaman.”

Terdiri atas tujuh cerita, plus satu pengantar dari Cep Subhan KM. menyenangkan sekali menyaksi Penulis favorit menjalani hari-harinya, ditulis dengan gaya santai dalam bentuk esai dan wawancara. Sebagian besar mungkin sudah sungguh familiar, atau karena berkali-kali dibaca, sekadar pengulangan, tapi mayoritas memang hal-hal asyik. Seperti proses kreatif menulisnya, sudah sering kubaca; bagaimana ia menulis dalam bermimpi, dan dalam daya imaji, itu adalah kegiatan mimpi yang bisa dilanjutkan. Atau bagaimana adegan drama yang memberinya ilham di lapangan olahraga dalam momen ‘eureka’ Aku bisa menulis, atau di bagian familiar hampir semua jagoannya menderita.

Sebuah Pengantar: Tenung Murakami oleh Cep Subhan KM

Bagus, isinya meringkas dan menjelaskan hal-hal yang memang harus dijelaskan. Sebagian buku yang disebutkan sudah dibaca, jadi nyaman sahaja, langsung klik. 1984 jelas rujukan utama 1Q84, keduanya sudah baca maka apa yang disampaikan mana yang lebih baik/penilaian secara keseluruhan mungkin berkebalikan bisa dengan jitu diserap. Aku sendiri sangat suka keduanya. Pengantar ditutup dengan apik dengan kalimat, “Tampaknya kekaguman kita terhadap Murakami, sedikit atau banyak, dipengaruhi oleh kekaguman kita terhadap dia sebagai subjek yang tak menyerah…” Amat langka menemukan penulis dengan keseimbangan menerapkan pola hidup sehat, dan mampu ikut marathon rutin! Hanya Murakami yang bisa.

#1. Menjadi Orang Asing di Negeri Sendiri oleh Laura Miller

Wawancara ini pertama terbit di salon.com pada 16 Desembr 1997. Bagaimana Raymond Carver memengaruhinya, adegan sumur terutama bagaimana ia terilhami anak yang terjatuh ke dalamnya seharian. Kalau kalian sudah baca, misalkan Kronik Burung Pegas; sumur menjadil simbol masuk ke dimensi lain. Menjadi tempat merenungkan kejadian antah yang merasuk ke sumsum. Termasuk adegan memilukan di Pembantaian Nanking dipindahkan ke panel Manchuria, di novel ada penggambaran prajurit yang tertangkap dikuliti hidup-hidup, atau membunuh dengan tongkat bisbol hanya untuk menghemat peluru. Lihat, imajinasi berhasil mencipta kengerian.

#2. The Art of Fiction Issue – Haruki Murakami oleh John Wray

Wawancara ini terbit pertama di tahun 2004 di The Paris Review. Tak salah penulis ini yang dipilih muncul di kover, sebab memang yang paling bagus. Panjang dan detail. Menjelaskan proses kreatif bagaimana inpirasi muncul. Jelas terpengaruh sama novel-novel lawas yang bagus. Dari The Great Gatsby, The Little Prince, buku-buku Kurt Vennegut, hingga bantahan bahwa novel-novelnya yang absurd apakah diilhami film The Spirited Away. Justru beliau sebut nama sutradara yang tak kukenal dari Finlandia: Aku Kaurismaki. Bakalan kuburu nih.

#3. Raja Kegelapan dari Dunia Mimpi oleh Stephan Phelan

Pertama terbit di harian The Age pada 5 Februari 2005. Satu dari dua yang ditulis bukan dalam bentuk wawancara. Esai tentang kekagumannya sama Murakami, menjelaskan beberapa poin yang mungkin sudah familiar. Riwayat hidup Murakami dari orang pemilik kafe, menulis, dan menjalani keseharian. Murakami pernah menyebut kisah-kisahnya sebagai ‘misteri tanpa solusi’, yang bisa kit abaca sebagai metafora dari kehidupan itu sendiri.

#4. Penangkap Mimpi oleh Sally Blundell

Dibandingkan dengan penulis pemenang Booker Prize (nantinya menang Nobel Sastra) Kazuo Ishiguro, yang bilang novelnya bernada surreal-yang berubah-menjadi-absurd; keinginan membelokkan keadaan. Namun Murakami tak setuju sebab baginya semua sangat natural.

#5. Dunia Bawah Tanah Murakami oleh Deborah Treisman.

Ada satu pembuka yang lucu. Sebelum wawancara, Murakami menjelaskan. “Menjadi novelis sejati: pertama ia tak akan membicarakan pajak penghasilan yang ia bayarkan; kedua, ia tidak menulis tentang mantan pacar atau mantan istrinya; ketiga ia tidak memikirkan soal hadiah Nobel Sastra.” Maka ia meminta tak menanyakan tiga hal itu. Hehe…

Pertama terbit di The New Yorker pada 10 Februari 2019, ini juga tulisan yang luar bias bervitamin. Aku kutip sahaja salah duanya, “Aku menulis sambil mendengarkan musik, jadi secara alami musik akan meresap ke dalam tulisan-tulisanku… ia memberi energi untuk menulis. Jadi aku sering menulis tentang musik, dan seringnya aku menulis tentang musik yang aku sukai. Ini bagus untuk kesehatanku. Ya, musik dan kucing. Mereka banyak membantuku.”

Gene Quill, musisi saksofon tahun lima puluhan hingga enam puluhan yang terinspirasi Charlie Parker pernah menjawab kritik di bar seusai tampil. Seorang pria berujar, “Hei yang Anda lakukan hanyalah bermain seperti Charlie Parker.” Gene mengulurkan saksofonnya dan berkata, “Ini. Bermainlah seperti Charlie Parker.” Dari kejadian ini, ada tiga anekdot. Pertama, mengkritik itu mudah. Kedua, menciptakan yang original itu sulit. Ketiga, seseorang tetap harus melakukannya. Begitulah, sama seperti di dunia tulis-menulis.

#6. Haruki Murakami: Melihat Kembali 40 Tahun Kerja Penulisannya oleh Kyodo News

Terbit pada 5 Juni 2019. Ini sudah diwarning berisi spoiler novel Killing Commendatore, tapi tetap kulibas habis juga walau aku belum baca, dan baru tahun ini diterjemahkan oleh KPG. Dan jelas sekali, aku pasti mengoleksinya. Tak masalah.
Sama, aku kutip sahaja dua bagian yang menurutku bagus. “Secara alami, tema dari cerita-ceritaku adalah perkara menjelajahi alam bawah sadar dan lubuk hati terdalam… bagian terdalam dari pikiran sadar. Ketika kita menggali alam pikiran sadar sedalam mungkin, kita akan menemukan makhluk-makhluk kegelapan dari dunia yang paling aneh.”

“Kekerasan di media sosial muncul secara terfragmentasi, tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Aku pribadi pecaya, semakin panjang suatu cerita maka semakin baik. Karena ia tidak terfragmentasi. Harus ada poros nilai yang konsisten di keseluruhan cerita. Dna ia harus bertahan dalam ujian waktu.”

#7. Akhir yang Bahagia untuk Sang Pelukis dan Penulis

Berisi percakapan antara Haruki Murakami dan pelukis dan penulis sahabatnya Mizumaru Ansei.

Murakami: Sebenarnya, setiap kali meminta bantuan, aku sudah memiliki ide di kepala. Hanya saja, aku selalu gagal menyampaikannya dengan kata-kata. Begitu juga ketika aku meminta bantuanmu.

Ini buku special untuk penggemar Haruki Murakami. Tipis, kecil, tapi sungguh berbobot. Nyaman sekali bila kita membaca orang yang sudah kita kenal, bagiku penulis terbaik yang masih hidup saat ini adalah beliau. Setiap tahun berdoa dan berharap menang Nobel Sastra, entah sampai kapan. Semoga Haruki Murakami berumur panjang dan terus menulis hingga akhir hayat. Catatan ini kututup dengan nasehatnya tentang dunia kepenulisan tentang kesabaran:

“Untuk menulis novel yang panjang, diperlukan setidaknya satu tahun dengan tingkat konsentrasi dan semangat tinggi.”

Semesta Murakami | by John Wray, dkk | Penerbit Odise | Cetakan pertama, Februari 2021 | ISBN 978-623-95462-4-3 | Penerjemah Dewi Martina | Penyunting Agata DS | Tata letak The Naked! Lab | Perancang sampul The Naked! Lab | Skor: 5/5

Karawang, 251021 – Michael Franks – Samba Do Soho

Thx to 7 teman dalam 700k untuk Juventus-nya Tuan Pirlo. Thx to Sentaro Books, Bekasi.

Menakjubkan!


Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan oleh Raudal Tanjung Banua

“Kata ibuku, iblis tak penah mati!”

“… Makin jauh, makin kasih hati kepada mereka yang berpisah. / Apa yang kukenang? Masa kanak waktu tidur dekat ibu. / Dengan membawa dongeng dalam mimpi tentang bota. / Dan raksasa, peri dan bidadari. Aku teringat. / Kepada buku cerita yang terlipat dalam lemari…: (Subagyo Sastrowardoyo, “Manusia Pertama di Laur Angkasa”, 1970)

Tentu saja ada sejuta variasi bagaimana sebuah dongeng dapat dikisahkan: rasio narasi terhadap data; kecepatan, alur, dan nada. Titik dalam narasi tempat ‘menyusup’ ke dalam cerita. Kita semua akrab dengan dongeng, terutama dari orangtua, dan buku ini adalah serangkaian kisah-kisah dongeng yang dituturkan ulang dengan gaya. Entah nyata, atau banyak modifikasi, yang jelas tampak menakjubkan.

Menakjubkan! Ya, itulah komentarku seusai membacai. Campur aduk perasaan, dijabarkan dengan sabar, disajikan dengan istimewa. Cerita-cerita masa kecil dari orangtua, paman sampai neneknya, kita melangkah lanjut ke tema-tema masa lalu yang lebih umum, menorehkan kenangan. Menulis tentang masa lalu, sekali lagi kubilang sungguh aktual. Dan lebih mudah diimajinasikan. Sungguh nyaman, asyik sekali diikuti, seolah membacai memoar, menelisik nostalgia.

Wahai para penulis, Anda harus cukup menghibur pembaca hingga kita memberikan perhatian. Dan dongeng yang menghibur adalah syarat mutlak.

#1. Cerita-cerita Kecil yang Tulus dan Murni dari Ibuku

Cerita istimewa memang baiknya ditaruh di muka, cerita tentang tangga yang menghubungkan warga langit dan bumi terdengar menarik. Orang langit butuh garam tinggal turun, orang bumi butuh cahaya tinggal naik. Orang-orang justru lebih akrab lintas dimensi ini, sampai suatu ketika terjadi bencana yang pada akhirnya membentk kita dalam bertetangga.

Atau kisah Si Miskin dan Anak Raja, bagaimana seekor kumbang milik Si Miskin pada akhirnya kisah mencipta jodoh istimewa. Cerita raja bangau sungguh memilukan, ini juga bukan sekadar kisah, ini sejenis penggambaran cinta sejati yang buta. Sadis, tak berperikemanusiaan eh tak berperikebangauan.

#2. Cerita-cerita Kecil yang Sedih dan Menakutkan dari Ayahku

Selalu minta dipijat dengan imbalan cerita dari Sang Ayah. Angkut-angkut (aku gagal memahaminya pertama baca, sebab tak tahu ini binatang apa; sampai akhirnya aku googling seusai lahap) sejatinya berasal dari manusia yang menunggu padi masak buat disabit, sia-sia.

Kisah tikus betung memelihara bayi manusia menjadi inspirasi balas budi. Jangan lagi Utung masuk ke rumah orang. Utung sudah tua dan istirahat saja sekarang.” Utung, rumpun betung.

#3. Rangkaian Cerita yang Menyertai Wabah di Kampungku

“Sering-seringlah memandang Bukit Talau. Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan.” Ini kisah-kisah isyarat alam yang menjadikan informasi akan datangnya kejadian buruk sehingga warga bisa antisipasi, atau minimal persiapan. Ada saja jenisnya, suara-suara misalnya. Atau kisah lucu pasukan tikus dan babi yang menyeberangi jalan dengan saksi sopir ngantuk di malam pekat. Ada-ada saja.

#4. Cerita Kecil tentang Pohon dan Belukar Masa Kecilku

Lucunya. Batang kayu putih yang salah tangkap jadi olokan tak sopan. “Khalera, ini tidak bisa disuling! Ini kayu sampah!” dan kisah-kisah masa kecil dengan pohon, kerbau, belukar, dst ini jelas menjadikan kita kenangan masa kecil sungguh berharga dan tak ternilai.

#5. Cerita Kecil yang Menyentuh Iman dari Nenekku

Nenek adalah semesta kisah, rujukan cerita masa kecil banyak orang, terlebih jika itu menyangkut keselamatan dunia akhirat. Berkisah kehidupan sesudah kematian mencipta cekam, bagaimaian malaikat Raqib dan Aqib menggedor dinding kubur. Menanyai banyak hal, mencipta jerit bagi para pendosa, tapi tak ada manusia di atas tanah yang mendengarkan, kecuali binatang. Maka selagi masih hidup, berbuat baiklah. Duh, sungguh bijak bestari.

#6. Cerita Campur-Aduk dari Pamanku

Dari Paman Untung Sudah, nama dengan segala arti dan makna. Ia pernah cerita, mengajak mendatangi ke kota. Ke mana? Padang? Batangkapas? Jakarta? “Lebih jauh dari Jakarta; untuk apa ke sana, dulu mereka kirim tentara kemari! Kita pergi lebih jauh dari Amerika, bahkan luar negeri pun lewat, sebab ini berhubungan dengan akhirat.” Hehe, bisa-bisanya.
Jodoh paman Untung sendiri disampaiakan dengan unik, pencarian berbuah manis berkat bantuan sang kiai.

#7. Cerita Rakyat dari Daerahku atawa Dendang Membara Pirin Bana

Pandai memainkan perasaan, seolah mengaduknya dalam bejana, itulah keunggulan Pirin Gadang atau Asmara. Kritik sosio politik menjadi membara kala dicerita di atas panggung. Ada tiga Pirin di sini, pertama Pirin Gadang atau Besar; kedua Pirin Ketek atau Kecil, dan terakhir Bana nah yang ini tersingkir karena dalam penampilannya menyentil proyek jalan terbengkelai dari pemerintah. Gara-gara ‘Insiden Taman Budaya’, ia lantas menghilang, Aku lalu mencoba menyewanya untuk tampil di acara khitanan anakku. Dan drama terjadi, saat penampil muncullah mobil plat merah yang berupaya membubarkan pesta, tapi memang tak semudah itu. Hal-hal yang dirasa perlu disampaikan, tak selamanya berhasil dibungkam.

#8. Bersin

Gelitik ajaib yang meledakan hidung, niscaya bisa jadi pematik yang membalik keadaan. Sebuah malam yang keramat, rumah Bu Gendhuk yang tenang lantas geger sebab ada orang bersih di sana. Dan kedamaian dan ketenteraman mendadak sirna dari bumi. Hahaha… iso ae.

#9. Kisah Cinta Menikung si Tukang Kabung

Selalu ada jalan di lingkar adat nan bestari. Ini cerita paling lucu nan tragis. Dari pengamatan di pinggir jalan, di pasar yang riuh muncullah karakter unik. Pak Uba bersepeda jauh dengan menjual entah apa. Dia dijuluki manusia kabung, sebab hanya menjadi penyambung mantan suami istri yang telah bercerai lalu mencoba rujuk. Nikah kontrak demi sahnya ajaran agama. Lantas kasus besar terjadi sebab Marlena sang istri tak mau dicerai, fakta-fakta masa lalu sedih dan romantic-pun muncul. Luar biasa. Cinta sejati takkan pernah mati. “Ia telah menjelma jadi Gua Hantu, hahaha…”

#10. Cerita Laskar Merah dan Hilangnya Pesawat Terbang

Sedih dan begitulah bila info samar dijadikan patokan, atau bisa dibilang apes bila yang merespon galak-galak. Kisah hilangnya Merpati Nusantara Airlines dengan registrasi PK-MVS rute Jakarta-Padang membuat Kutar bin Katidin kehilangan dua gigi yang nyaris tanggal. “Kutar itu anak turunan Laskar Merah.”

#11. Kamus Cerita Abdul Muin

Kisah tragis mahasiswa mati muda yang mencoba menulis buku. Mencoba tampil beda, idealis dengan tema unik. Teman-teman kosnya di Yogya membuat buku yang laris dan mengikuti arus hype pasar, ia tak mau ikutan. Naas, Abdul Muin meninggal dunia mendadak. Dan saat kosnya dibersihkan, Aku menemukan draf bukunya. Cerita dalam bentuk kamus gaul yang sedap dibaca. Namun belum tuntas. Dan ini menjadikan Abdul Muin telah lebih memulai.

#12. Cerita Kecil tentang Jalan Masa Kecilku dan Segala yang Melintas di Atasnya

Memang, jalan yang dulu terasa jauh atau sebuah tanjakan yang dulu terasa tinggi, kini setelah dewasa ternyata tak sejauh itu, ternyata tak securam itu. Apakah karena kita yang sudah dewasa sehingga langkah dan tinggi tubuh menjulang, atau karena nostalgia itu sejatinya syahdu?

Aku sudah baca biografi Bung Karno yang mencerita perjalanan panjang di zaman mula Jepang ke Bukittinggi yang terkenal itu, nyatanya di sini jalan bersejarah itu terbengkelai, kenapa setelah merdeka bukannya diperbaiki, dijadikan rute napak tilas, atau minimal diperhatikan pemerintah (daerah saja dulu, jangan berharap pusat). Dunia memang begitu, mudah lupa, mudah terlupakan.Jalan masa kecilku sejatinya tak banyak berubah. Atau, ia menyusut ke masa lalu?

Ada satu cerita yang sayang kalau tak kusampaikan di sini, sopir truk tanki Pertamina yang mirip Raja Dangdut Rhoma Irama lewat dan cuek dari sapa warga, sampai suatu hari ia menabrak sapi Uni Jani yang mengubah gaya tengilnya.
Kubaca di sela saat pelatihan koperasi tiga hari dua malam pada 21.10.21 s/d 23.10.21, dapat separuhnya; separuhnya lagi kunikmati di akhir pekannya. Secara keseluruhan kandidat prosa KSK 2021, inilah yang terbaik. Dari Sembilan buku, hanya ini buku bernilai lima bintang. Sayang saat buku ini kupegang, pengumuman lima besar tak mencantumkannya. Cerita Kecil tersingkir justru saat kutemukan prosa yang istimewa.

Catatan ini kututup dengan kutipan dari Ishak Bashevis Singer, pemenang Nobel Sastra yang menulis berbagai genre, termasuk buku anak-anak, dia menjelaskan bahwa anak-anak membaca buku, bukan ulasan/ mereka tidak peduli sama sekali dengan kritik. Cerita-cerita Kecil walau tak seluruhnya cerita anak-anak, tapi Bung Raudal dengan efektif menelusur masa kanak-kanak, dan berhasil.

Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan | oleh Raudal Tanjung Banua | xi + 192 halaman, 13.5 x 20 cm | Penerbit Akar | ISBN 978-602-50433-5-2 | Cetakan 1. Oktober 2020 | Desai nisi Framearts | Desain cover Nur Wahida Idris | Gambar cover dan isi diolah dari lukisan pada kap lampu | Skor: 5/5

Karawang, 241021 – Manhattan Jazz Quartet

9 down, 1 to go.

Thx to Jual Buku Sastra (JBS), Yogyakarta

Perkara Mengirim Senja


“Aku adalah potongan senja yang kau ambil untuk pacarmu. Tinggal seperempat. Tiga perempatnya telah hancur oleh hujan yang kauciptakan.”

Kumpulan cerpen keroyokan. Sebuah persembahan untuk Seno Gumira Ajidarma (SGA). Bagus-bagus, aku suka. Memang kalau ngomongin senja, pertama yang terlintas adalah SGA. Walaupaun sebelum beliau bikin cerpen yang fenomenal itu, tentu saja senja sudah jauh hari diulik banyak penulis atau seniman dan lebih sering penyair. Menampilkan 15 cerita dengan tafsir senja bebas, sebebas-bebasnya. Dibuka dengan pengantar Anton Kurnia, ditutup dengan profil para penyaji.

Beberapa kutipan dari tulisan Anton Kurnia saya ketik ulang saja. Bagus buat dibagikan.

Peneliti sastra Indonesia dari Australia, Andy Fuller menyatakan SGA menggunakan jurus-jurus postmodermnisme dalam karya-karyanya, antara lain menggunakan metanarasi, absurditas dalam penokohan, dan kedekatan dengan budaya populer. SGA juga kerap membaurkan batas-batas antara fiksi dan fakta dengan memdukan jurnalisme dan sastra.

Mengutip Pramoedya, dunia tentu saja bukan surga yang segalanya serbasempurna; dunia adalah tempat kebaikan dan keburukan berdialektika, dan setiap manusia ‘bebas’ memilih peran masing-masing.

Seperti yang dinyatakan oleh SGA dalam tulisannya, seseorang yang ingin menjadi penulis yang baik tinggal melihat lewat jendela kehidupannya dengan baik-baik, lantas menuliskan apa paun yang dianggapnya menarik atau tidak menarik, dengan cara yang menarik maupun tidak menarik. Kedunya menyumbang, keduanya mendapat tempat.

#1. Gadis Kembang – Valiant Budi Yogi

Haha, pembuka yang lucu. Info apa yang beredar belum tentu segaris lurus sama fakta. Info selingkuh dan pasangan yang dicampakkan, nyatanya tak seperti yang kita tahu. Taya dan drama ala sinetron kita yang haus sensasi. Simpan simpatimu, Kawan.

“Tapi aku senang mengendap-endap.”

#2. Perkara Mengirim Senja – Jia Effendie

Senja begini tak boleh dinikmati sendirian. Menatapnya seorang diri akan membuatmu depresi. Seperti ada jarring sepi yang dilemparkan dari langit dan merungkupimu dalam perangkapnya. Kau jadi seperti tersayap-sayat sendiri. Dipenjara kesunyian, digantung keheningan. (h. 14-15).

“Aku akan memajang senja itu di ruang tamu. Biar semua orang yang datang ke rumahmu iri.”

#3. Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Alina Menulis Dua CeritaPendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya – M. Aan Mansyur

Ada banyak kata-kata dalam diam. Celana besi yang mencegah selingkuh dicipta dan dipasangkan ke istri di rumah. Dan publikasi akan mencipta sensasi, hingga akhirnya kita tahu bahwa kunci tak selamanya aman.

Kalimat itu tak punya kuasa untuk meluruhkan sedihnya. Kecelakaan dan kesedihan yang tercipta setelah kemakaman istri tercinta. Dan hal-hal yang tersembuyi di baliknya.

#4. Kuman – Lala Bohang

Cinta nafsu yang menggebu ditautkan dalam cinta sejati. Beneran cinta sama dia? Lantas kenapa masih di sini bersama orang lain? Bertender gagah menjawab dengan kekuatan magisnya.

“Aku mau dua-duanya.”

#5. Ulang – Putra Perdana

Alina dan Sarman mendaki bukit dan melakukan hal-hal yang memang harus dilakukan. Melakukan perjalanan hingga ke gua untuk bertemu juru cerita misterius.

“Jawaban macam apa itu? Kalaupun sejarah ditulis ulang, semua peristiwa itu telah terjadi. Menceritakan kembali dari awal tidak mengembalikan segalanya seperti sedia kalau. Suamiku tetap tiada! Anakku tetap tiada! Semua telah terjadi.”

#6. Akulah Pendukungmu – Sundea

Satu Oktober, hari Kesaktian Pancasila. Sebuah pigura Garuda Pancasila di kelas bisa menjelma hidup dan menggunakan keajaiban di hari istimewa itu.

“Apakah hari ini aku berhasil menemukan Sandra.”

#7. Empat Manusia – Faizal Reza

Saling silang nasib manusia di kehidupan fana ini. Purba, Hendar, Yani, Susan. Oh lima, satunya Ruth Sahanaya.
“Sejak kapan kangen mengenal waktu?”

#8. Saputangan Merah – Utami Diah K.

Bagaimana cara berkenalan dengan orang asing dengan baik? Lebih pasnya bagaimana memulai perkenalan dengan orang asing dengan baik dan benar. Dan jika sudah mengenal, bagaimana memujanya dengan tak tampak begitu memuja. Oscar Wilde dan naskah teaternya mungkin tahu.

#9. Senja dalam Pertemuan Hujan – Mudin Em

Kafe. Hujan. Senja. Rasa sentimental akan menggoyahkannya. Masalahnya kamu bukan bersama istrimu, bersama kekasih gelap yang tak sepantasnya dipeluk hangat. Ahh… cinta. John Legend dengan Where Did My Baby Go biar yang menyaksi.

“Karena ia bisa menciptakan hujan. Dan mereka menyukainya. Mereka terjebak di dalamnya.”

$10. Kirana Ketinggalan Kereta – Maradilla Syachridan

Karena manusia tidak boleh terus nyaman dalam sebuah keadaan, sesekali harus melakukan perubahan. Hehe, mungkin ini yang terbaik. Cinta memang buta, dan kita berjalan dengan tertatih karenanya. Kirana dan ajakan menemani, sebab akan keluar kota. Dengan dokrin mungkin ini kali terakhir bertemu, apapun coba dilakukan. Saya kira manusia memang selalu mencari perkara.

“Ya, saya mau ikut kamu, Kirana.”

#11. Gadis Tidak Bernama – Theoresia Rumthe

Anggap saja saya hidup hanya untuk hari ini. menikmati segala sesuatu yang saya alami hari ini penuh-penuh. Besok lain cerita. Hari kemarin apalagi, mereka hanya akan lewat begitu saja. Tak ada romantisme tertentu. Enak betul kerja meneliti senja. Setiap hari disaksi dan ditelaah, berubahan, berbedaan, fenomena apa yang terjadi. Di dalam diri setiap manusia terdapat semacam kegelisahan. Dinas Penelitian Senja (DPS) siap melaporkan.

Tak usah banyak mendengarkan orang lain. Ini hidupmu dan bukan hidup mereka.

“Oke, lempar dadu. Andreas atau Lingkar?”

#12. Guru Omong Kosong – Arnelis

Dikin dan tugas dadakan mengajar kelas kosong. Terilhami novel Kitab Omong Kosong yang tergeletak di meja kelas, ia melakukan tugas mengajar, padahal ia hanya penjaga sekolah. Haha, dasar Togog!

“Judul buku ini: Kitab Omong Kosong.”

#13. Surat ke – 93 – Feby Indirani

Surat yang ditulis dengan romansa rindu, dibuka dengan Sayangku… dan kata-kata mutiara terpilih. Aku adalah mimpi-mimpinya, ia boleh membakar remah suratku jadi abu, tapi panasnya bara dari jantungku akan terus menyala. // Aku hadir di dunia untuk memberikan tanda. Dan dalam hal mendamba perhatian, nyaris tak ada bedanya apakah kau berusia sehari atau seribu datu kali lebih tua. // Konon ketika air mata pertama mengalir dari mata sebelah kiri, artinya kita menangis karena sesuatu yang menyakitkan. Sementara jika dari mata kanan, itu artinya sesuatu yang membahagiakan.

“Dan ini untuk menanyakan kehidupanku seolah kau tak tahu betapa sakitnya diabaikan…”

14. Bahasa Sunyi – Rita Achdris

Kata-kata dan segala yang berhamburan bersamanya. Emosi dan efeknya. Namun kita di era digital, kata-kata tak langsung dengan ketikan pesan instan yang terselubung.

“Selamat pagi, Tampan.”

#15. Satu Sepatu, Dua Kecoa… – Sundea

Reta dan ke-rebel-annya. Dijuluki Si Amazon, ke sekolah dengan mengenakan satu sepatu, murid baru yang aneh. Dihukum dan dicecar tetap saja tak peduli, dipelototin, berani balas melotot. Bahkan sama guru. Ternyata dia adalah sepupu Alina, sang pencerita dan ia berhasil menjelaskan kenapanya.

“Kemesraan Oom Arnold itu artifisial, Al, kelihatan banget. Abang saja suka muak melihatnya. Apalagi Reta.”

Keren ya SGA ini, profil dan karyanya sudah terbentang jauh sejak era Orde Baru. Banyak sekali tulisannya, berbagai jenis pula. Terakhir aku lihat di Zoom meeting acara Kompas penghargaan Cerpen terbaik 2020 ia menangkan. Dan responnya pas dapat bilang, biasa saja. Memang orang hebat. Pantas mendapat tribute ini, tepuk tangan…

Perkara Mengirim Senja | oleh 14 Penulis | Penyunting Jia Effendie | Penyelaras Ida Wadji | Pewajah isi Aniza Pujiati | Ilustrasi isi dan cover Lala Bohang | Penerbit Serambi Ilmu Semesta | Cetakan I: April 2012 | ISBN 978-919-024-502-0 | Skor: 4/5

Sebuah persembahan untuk Seno Gumira Ajidarma

Karawang, 201021 – George Benson – Mimosa

Thx to Bpk Saut, Jakarta