#April2021 Baca

“Politik dalam karya sastra adalah sebuah pistol yang ditembakkan di tengah-tengah sebuah konser, sebuah tindakan kejam yang mustahil diabaikan. Kita hendak membicarakan sebuah urusan gelap.”Stendhal, The Charterhouse of Parma

Bulannya Oscar yang aneh. Tahun yang memang tidak wajar, maka saat acara penghargaan film  tahunan ini mundur jauh, saya terpaksa menyesuaikan. Menonton di rumah streaming di Senin pagi, puasa. Bulan April tak banyak yang kuselesaikan baca, sebab kebanyakan nonton film dan kejari ulas. Empat buku, salah satunya sangat tebal dalam petualangan ke Turki.

Sudah saya rekap lama, baru sempat edit Agustus ini. Waktu luang yang begitu berharga sungguh tipis. Memilahnya untuk menikmati buku, film, nulis, bola harus benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin.

#1. Kitab Writer Preneur by Sofie Beatrix

Kiat-kiat sederhana yang sudah sangat umum. Saya memang baru sedikit membaca buku-buku non fiksi pengembangan diri tentang tips menulis, tak sampai dua digit. Sebagian besar atau hampir semuanya jelas berdasarkan pengalaman pribadi, termasuk ini. Secara umum apa yang disampaikan adalah hal wajar, tak muluk-muluk, tak ada mantra atau hal khusus yang dijadikan patokan untuk menerbitkan buku. Intinya, ya kembali ke pribadi masing-masing untuk memaksa diri menulis, dan waktu akan membuktikan, apakah sampai finish ataukah terjebak di tengah jalan.

“Anda hanya butuh ‘dipaksa’ untuk menulis dengan step-step yang terjadwal ‘harus’ selesai namun Anda tidak terasa ketika mengerjakannya.”

#2. Pinky Promise by Kireina Enno

Buku yang penuh kepahitan. Tak seperti judul dan kover-nya yang pink merona, menawan bak perawan belia di usia remaja, kisah ini sungguh berat dan membuat kita menjadi berpikir ulang, sebaik dan sebijaknya kita harus bersyukur atas apa yang sudah kita dapat dari Tuhan. Dengan bintang utama Chelsea Islan, seperti filmnya, Chelsea muncul di jelang akhir. Ia tampak sebentar, hanya mengisi bagian kosong di sela kesesakan nasib apes yang menimpa para karakter.

Novel tentang empat perempuan yang terikat dalam perjuangan yang sama. Hidup tidak selalu menerima, tetapi memberi dengan tulus akan membuat hidupmu lebih bermakna. Empat perempuan yang akhirnya menyadari bahwa kenyataan pahit pun bisa menjadi akhir yang manis, jika dihadapi dengan berani. Empat perempuan yang menjadi sahabat sejati.

“Ya, makanya! Kan berarti gue emang mau dicuci dosanya. Atau gue sial aja.”

#3. Snow by Orhan Pamuk

Ka dan kehidupan yang dijalaninya di usia jelang tua. Penyair terkenal yang menjadi pelarian ke Eropa. Terkenal di Turki, tapi juga jadi bulan-bulanan sebab ideologinya dianggap membahayakan Negara, maka ia pergi ke Eropa, ke Jerman yang menampung. Nama aslinya Kerim Alakusoglu, nama kerennya Ka. Kisah ini dimulai dengan tenang, kedatangannya kembali ke Turki setelah lama pergi, ke desa kecil Kars, di mana ia diundang dan dijadwalkan membacakan puisi. Di sanalah ia kembali bertemu dengan yeman kuliahnya, cinta sejatinya Ipek. Dan drama panjang bergesekan dalam gelegar politik, budaya, serta kemampuan bertahan dalam tekanan penguasa melawan pemberontak. Ka diombang-ambing kebimbangan, yang mana keputusan-keputusan yang tamnantinya menjadi martir kematiannya di negeri jauh.

“Aku sedang sangat bahagia sekarang ini. aku tidak butuh agama,” kata Ka. “Dan lagi pula, bukan karena itulah aku kembali ke Turki. Hanya satu hal yang mampu mendorongku kembali ke sini: cintamu… apakah kita akan menikah?”

#4. Belajar Mencintai Kambing by Mahfud Ikhwan

Kumpulan cerpen dari Penulis yang menghantar kita lewat novel terkenal Dawuk. Sama bagusnya, rerata kisah di cerpen membumi, menjadikan kita bisa dengan mudah membayangkan, mengira-ira bagaimana rasanya menjadi bagian plot. Sebagian cerita tentang kucing, binatang rumah kesukaan banyak orang. Sebagian cerita tentang kera, yang aneh dan misterius. Sebagian lagi tentang kambing, yang akan dikurbankan dan yang dipelihara dengan cinta terpaksa. Lika-liku kehidupan yang umum, normal, menghantui.

Saat musim libur sekolah itu, ia berharap dibelikan sepeda. Namun, bapaknya malah membelikannya seekor kambing. “Kambing bisa membuatmu lebih dewasa, sedangkan sepeda akan membuatmu tetap jadi kanak-kanak.” Demikian bapaknya memberi alasan.””

Karawang, 310521 – 310721 – 020821 – Virginie Teychene – You Make Me Feel So Young

Pseudonim #21

Pseudonim #21

“Lho-lho? Kenapa jadi nyalahin Maya?”

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen saja yang jumlah kata lebih sedikit, dan tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua orang itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak waktor. Salah satunya selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasaranya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

Buku dibuka dengan kutipan: “Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; Kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam sendiri.” – Multatuli, Max Havelaar.

Itulah yang pertama terbesit sesaat setelah menyelesaikan baca Pseudonim. Plotnya sudah umum, tipikal sekali. Cinta diapungkan, kelesuan menghadapi perubahan, adaptasi yang berhasil, lantas saat kenyamanan sudah diraih, kita dihadapkan masalah pelik. Umum bukan? Bahkan cara menyampaikan kata akhir, sebagai bukti bahwa ‘apa yang ditulis itu adalah ini’, sudah banyak kutemui. Sehingga tak mengejutkan sama sekali, bagi yang sudah banyak melahap bacaan pola ‘apa yang ditulis itu adalah ini’ sudah terlihat biasa. Namun untuk Pseudonim, beberapa kerikil masalah itu relevan dan untungnya bagus.

Kisahnya tentang Wipra Supraba, penulis novel yang kere. Mengeluhkan banyak hal. Pembukanya bilang ia ditangkap polisi, ia mengeluhkan keadaan ekonomi yang amburadul, dan profesi menulis nyaris diiyakan dengan ‘kere’. Lalu nama asing di akhir pembuka diapungkan, “Dan di mana Radesya?” Kisah lalu ditarik mundur, di awal sekali bagaimana Pra memulai karier dan bagaimana lingkungan sekitar membentuknya.

Pertama kita diperkenalkan Suhar, sahabat kuliah jurnalistik Unpad yang sudah menikah dan tinggal Jakarta. Ia selalu mendorong Pra untuk menulis novel, walau sudah punya beberapa karya ia, tak kunjung menemukan karya monumental yang bisa mengangkat namanya. “A good writer always work at the impossible.”John Steinbeck. Ia nganggur, sesekali dapat order menyupir sobatnya di Bandung, Saefullah yang hidup lurus dan vegetarian. Manusia pekerja keras yang berjuang dari bawah. Punya rental juga usaha merangkak bukan warisan atau turunan. Lulusan SMU berjiwa membumi.

Lalu kita diperkenalkan dengan Ardi, orang penting di dunia entertainment nasional. Menjadi penghubung banyak hal, awalnya Pra ditantang untuk menulis skenario kartun sebab sudah pengalaman nulis novel. Dengan kerja keras dan sudah banyak literature, tantangan itu sukses dilewati. Keuangannya membaik hingga bisa punya laptop bagus, tinggal di tempat yang laik, dan terutama bisa jalan-jalan saat proyek animasi lagi senggang.

Nah, ini mungkin yang paling menyebalkan. Ia memiliki lima pacar dalam waktu bersamaan. Kemala di Jakarta, Luska di Bandung, Kirana di Yogya, Alinka di Surabaya, dan Pradnya di Bali. Kelimanya digilir, pas kerja di Jakarta dengan entengnya support pacar tampil. Pas mudik Bandung, santainya jalan dengan yang lokal, pas punya waktu luang cus ke  Yogya, lanjut Surabaya, dan berakhir pekan ke Bali. Kan kamvret, sampai di bagian ini saya sempat muak. Ga gitu bos hidup, enak aja. Apalagi mereka berlima loyal, seolah Pra adalah sultan, raja di raja dengan kekuasaan atau uang melimpah. Oh dia kere, dan penulis tak terkenal. Bisa-bisanya… sabar, tenang saja dulu. Akan ada masanya semua runtuh. Kesendirian dan kesepian adalah dua hal yang nyata berbeda. Sendiri adalah objektif, sementara kesepian itu subjektif.

Dan benar saja, Ardi menyampaikan kabar buruk. Serial animasi dihentikan, proyek cinema juga batal sebab PH nya ambyar karena mengganti uang konser yang gagal, hingga pada titik di mana Pra kembali miskin, semiskin-miskinnya. Menjual yang bisa dijual, serta kembali ke Bandung nebeng rumah orantuuanya. Dan kembali ke biasaan lama, bertahan hidup dengan nyupir kalau ada order. Gila adalah menyerah di tengah jalan, padahal sukses telah menunggunya di ujung jalan.

Sudah bisa ditebak juga, sebuah alur yang menyakitkan tapi setimpal mencipta kelima pacarnya mengetahui perbuatannya selingkuh. Eh empat ding, Pradnya yang akhir disampaikan dengan jujur bahwa selama ini ia tak sebaik yang dikira, berakhir pula hubungan pacar. “Perempuan selalu menunggu kepastian, Pra.” Kenapa Pra bisa setega itu, Saefullah menjadi saksi kisah bagaimana hatinya hancur sama Maya.

Dari Ardi pula kita diarahkan mengenal seorang penulis skenario sinetron Satar. Karena kalang kabut order melimpah, ia menawarkan pada Pra untuk membantunya, menulis skenario bayangan. Namanya tak disebut, ia hanya membuat skenario dengan nama yang menjual Satar. Terdengar memuakkan, tapi uangnya bagus. Maka dicoba, dan berhasil. Kini aku menusia praktis, yang hidup, bekerja, demi uang, untuk menyambung hidup kembali. “… Kamu bisa menggiring cara berpikir kebanyakan orang di Indonesia melalui sinetron.”

Perlahan segalanya kembali membaik, lalu muncul godaan dari penulis skenario lain yang mencium alibinya. Landung menawarkan uang lebih plus bonus untuk FTV, sulit sekali memberontak, menghianati, tapi ini uang lebih wow. Sikat! Keadaan ini lebih menggiurkan saat bertemu gadis yang idealnya kebangetan.

Aku selalu takut ketika harus bertemu apalagi berdekatan dengan seseorang yang berhasil membuatku bergetar. Radesya adalah dokter, bertemu dengannya di kafe apartemen saat ngopi. Membaca buku The Celestine Prophecy karya James Redfield, yang kebetulan dibaca Pra juga. Kalau ini benaran ada, luar biasa indah, menggigit imajinasi semua orang. “Karena kita sama-sama nggak percaya kebetulan.” Radesya tinggal di apartemen nomor 1503 di lantai 15 hanya berjarak satu lantai dengannya.

“… Lalu aku mikir, spesialis apa yang nggak menimbulkan fitnah saat aku nanganin pasien? Tiba-tiba aku kayak dapat jawaban: anak! Maka itulah yang kuambil. Sederhana ‘kan?” Dokter anak yang lanjut kuliah lagi, bercita memiliki klinik di pedesaan, mudik beberapa kali tiap bulan ke Bandung dengan Jazz merah! Aku lelaki yang tak pernah mengizinkan cinta menjadi jangkar pada setiap pelabuhan. Untuk kali ini bisa jadi pengecualian.

Lalu segala-galanya ambyar.

Sejujurnya kisah dalam Pseudonim lebih mendekati plot sinetron dengan penawaran mimpi-mimpi indah, untungnya seperlima akhir menyelamatkan. Riaknya mewarnai fakta, hidup ini pahit gan. Ga begitu menjalaninya, rona-rona kemarahan harus ada, dinamika kesedihan harus membuncah, dan satu lagi, akhir yang ‘agak menggantung’ ditampilkan. Seperti kalimat akhir bab pertama, di mana gerangan gadis aduhai itu?

Banyak kutipan bagus ditampilkan, dan itu sah-sah saja, “Cinta. Tentang kerinduan untuk kembali pada asal-usul yang sejati.”Plato. Lalu “Cinta adalah ketika kuat kau rasakan kehadiran Tuhan dalam pasanganmu.”Sudjiwo Tedjo. Atau “Apa pun yang menjadikan tergetar, itulah yang terbaik.” – Rumi. Tapi yang paling keren mungkin ini, “Kepalaku adalah parbik kata-kata dan jari ini adalah buruhnya.” Lisa Febrianti (Iluminasi, 2009)

Satu lagi yang laik kutip, walau sudah sangat sering kita temui makna kalimat ini, terutama dari Pram. Sobarnya bilang, “Ketimbang nulis skenario pake nama samara terus, nggak menjadikamu siapa-siapa. Sejarah aja nggak sudi mencatat namamu. Apalagi karyamu. Sementara kalo nulis novel, karyamu abadi. Usiamu panjang. Sepanjang masa.”

Pilihan nama-nama karakter sangat modern terutama untuk tokoh penting, tak ada kata Joko, Agus, Budi, Asep. Walau ada Saefullah atau Suhar, tetap saja mereka tokoh pembantu. Hampir semua nama tokoh idalaman sungguh catchy, sangat stylist. Kemala Luska Kirana Alinka Pradnya adalah rentetan nama kekasihnya, dan di akhir bahkan ketemu nama Radesya untuk cewek ideal kebangetan. Sah-sah saja namanya juga fiksi.

Ini adalah karya pertama Daniel Mahenda yang kubaca. Ada sekitar 28 karya lainnya, beberapa di antaranya Selamat Datang di Pengadilan (kumpulan cerpen, 2001), Epitaph (novel, 2009), Perjalanan ke Atap Dunia (travel narrative, 2012), Niskala (novel, 2013), 3360 (novel, 2014), Rumah Tanoa Alamat Surat (kumpulan cerpen, 2016). Seperti biasa, berhubung trial pertama ini sukses, maka rasanya buku-buku lain hanya masalah waktu untuk dilahap. Selamat!

Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

Pseudonim | by Daniel Mahendra | Desain kover Mico Prasetya | Penata isi Widia Novita | Copyright 2016 | ISBN 978-602-375-596-7 | Cetakan pertama, Juli 2016 | Penerbit Grasindo | Skor: 4/5

Karawang, 210721 – New York Jazz Lounge – Bar Jazz Classic

#30HariMenulis #ReviewBuku #21 #Juli2021

Memoirs of a Geisha #19

“Kita tak boleh membuang-buang waktu memikirkan hal semacam itu, taka da tabf lebih suram daripada masa depan, kecuali mungkin masa lalu.”

Luar biasa. Seperti naik roller coaster, walau tak banyak liukan dan tanjakan terjal, ceritanya berliku. Awalnya sudah sangat manis, gadis miksin anak nelayan dengan kecantikan natural. Matanya yang cemerlang sering kali disebut, berulang kali. Lalu keadaan mencipta, ia dan kakaknya dikirim ke kota, dijual untuk dididik menjadi orang. Bisa jadi apa saja, tergantung nasib dan kemauan. Bisa jadi pelayan, pelacur, pekerja pabrik, atau geisha.

Memang suku kata ‘gei’ dalam kata ‘geisha’ berarti ‘seni’ jadi kata ‘geisha’ yang sebenarnya adalah seniman. Geisha, di atas segalanya adalah penghibur dan pementas. Menuang sake atau teh memang dilakukan, tapi jelas tak akan pernah mengambil acar tambahan. Geisha sejati tidak akan pernah mengotori reputasinya dengan membuat dirinya bisa disewa laki-laki dengan tarif per malam. Geisha tidak pernah menikah. Atau paling tidak, mereka menikah tidak menjadi lagi geisha.

Di tengah di suguhi kelokan konfliks internal, bagaimana mencipta geisha yang cakap. Perseteruan dengan geisha magang dan kakaknya, perseteruan dengan para tamu, lalu luluh lantak oleh perang. Seolah semuanya di-reset, setelah ambyar Jepang mencoba membangun negeri.

Bagian akhir awalnya kukira bakalan landai, menjurus ke bosan sebab keinginan sang protagonist banyak sekali terwujud. Hanya satu hal, ia tak mau jadi danna seorang yang cacat sekalipun orang tersebut sudah banyak membantu, sudah sering sekali mengangkatnya dari lembah kenistaan, bahkan menyelamatkan nyawanya. Nah bagian akhir inilah kejutan dicipta, sempat bilang wow, lalu eksekusi ending, makin bilang wow. Happy ending sih, tapi kurasa worth it sebab ini memang memoar yang memastikan sedari mula Sayuri selamat dan terdampar di Amerika, seperti kata pengantar yang memang bocoran utama.

Kisahnya tentang Sakamoto Chiyo, atau sekarang bernama Nitta Sayuri, nama geisha-nya. Ia bercerita kepada sang penulis, memberitahukan kisah masa lalunya. Sayuri kini tinggal di New York, membuka kedai minuman khas Jepang dan bisnis lainnya. Dari sini saja sudah merupakan kunci penting novel ini.

Cerita ditarik dari mula sekali. Chiyo-san adalah anak kedua dari dua bersaudara, ayahnya nelayan miskin dengan rumah miring di pesisir pantai Yoroido. Ibunya sakit-sakitan. Suatu hari saat sedang berlari untuk membeli sesuatu, Chiyo kecil terjatuh dan terluka. Tetangganya Tuan Tanaka Ichiro membantunya, membawanya ke rumah dan jelas sekali ia tampak terkesan. Matanya cemerlang, jelita sekali.

Kejadian itulah yang mengubah masa depan Chiyo. Suatu hari ia dijemput Tuan Tanaka diajak naik kereta api bersama kakaknya Satsu juga. Lalu disambung oleh Tuan Bekku, orang asing pula. Ini adalah perjalanan paling jauh yang pernah ia rasakan, sekaligus menakutkan sebab tak tahu akan ke mana. “Ke mana pun dia membawa kami, aku lebih memilih bersamanya daripada terdampar sendirian di tengah jalan-jalan besar dan bangunan-bangunan yang sama asingnya bagiku dengan dasar samudra.” Katanya setelah menyadari mereka sampai di Kyoto.

Mereka ditempatkan di Okiya, tempat geisha tinggal. “Ini Okiya, tempat tinggal geisha. Kalau bekerja keras, nantinya kau bisa menjadi geisha…” Adalah Hatsumomo, geisha yang utama. Ia dilayani banyak orang. Bibi, nenek, pelayan, dan juga Chiyo. Sementara kakaknya dikirim ke tempat lain. Penguasa utama adalah ibu, ia yang mengatur banyak hal. “Si Hatsumomo itu cantik sekali, tapi lihat sendiri, bodoh sekali dia.”

Hari-hari berat dilaluinya, belajar, bekerja, dan memerhatikan situasi baru ini. “Kalau kau mengamati geisha-geisha paling sukses di Gion, semuanya penari.” Suatu hari ia niat kabur, janjian sama kakaknya di tepi sungai, lalu rencananya pulang. Naas, malam itu ia naik ke atap, merangkak dalam senyap, lalu melewati pagar. Yah, malah jatuh. Ia terluka, dan saat siuman hari sudah berganti. Kesempatan satu itupun lenyap, dan ia tak bertemu kakaknya hingga sekarang. Betapa mudanya untuk mengambil langkah sebesar itu

Kabar duka malah tiba, orangtuanya meninggal dunia. Ibunya yang memang sakit-sakitan dan ayahnya yang sudah menanggung banyak beban. Kini ia sebatang kara, dunia yang kejam menghantamnya sedari masa kecil. Mereka punya anjing bernama Taku. Taku adalah makhluk pemarah dengan muka jelek. Kegemarannya dalam hidup ini cuma tiga – menggonggong, mendengkur, dan menggigit orang yang mencoba membelainya.

Chiyo suatu sore di tepi sungai menyaksikan iring-iringan orang kaya menuju teater, ia terpesona dan saat itulah ada salah seorang laki-laki menghampirinya. Memberinya uang untuk membeli makanan, senja itu mencetak kenangan. Laki-laki itu mencipta kenangan, kenangan yang akan banyak menentukan masa depannya.

Perseteruan dengan Hatsumomo kian parah, ia mengangkat temannya Labu untuk dijadikan geisha magang, sementara Chiyo diangkat oleh geisha rumah sebelah Mameha mengganti namanya Nitta Sayuri. Pertaruhan ini dicerita panjang dan berbelit. Promosi geisha magang dari akting terluka untuk menggoda seorang dokter, mendatangi seorang pelukis, hingga jamuan teh dan sake seolah tak henti. Menyaksikan tanding sumo. “Aku tak berniat mengalahkan lawanku, aku berniat mengalahkan kepercayaan dirinya. Pikiran dirasuk keraguan tidak bisa terfokus pada jalan kemenangan…” Mameha adalah geisha besar di zamannya. Pernah menjamu Penulis besar Jerman Thomas Mann, Bintang film terkenanl Charlie Chaplin, Peraih Nobel Sastra Amerika Ernest Hemingway ke Jepang dijamu istimewa dengan para geisha yang tampil. Jelas, ia di tangan yang tepat.

Dari pelatihan ini kita mencatat nama-nama penting. Ketua adalah pemilik Iwamura Elektrik yang membuat Sayuri jatuh hati. Lalu Nobu, veteran perang yang kehilangan salah satu tangannya. Ia orang kepercayaan Ketua, ia sudah jatuh hati sama Sayuri sejak magang. Namun jelas, cinta itu tak beriring. Lalu Dr. Kepiting, orang yang menolong membebat luka, seorang predator perawan. Nantinya ialah yang membeli mizuage-nya. Mizu berarti ‘air’ dan age berarti ‘menaikkan’ atau ‘meletakkan’ sehingga mizuage kedengarannya berkaitan dengan menaikkan air atau menaruh sesuatu dalam air. Sayuri mendapat pelajaran seks dengan pengandaian aneh. “Belut tak berumah” Lelaki punya semacam belut di tububmereka. Belut menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mencari rumah, dna tahukah kau apa yang dipunyai perempuan di dalam tubuhnya? Gua, tempat belut suka tinggal. Gua ini adalah tempat dari mana keluar darah setiap bulan ketika ‘awan melintasi bulan’.

Dan jangan lupakan Uchida Kosaburo, pelukis ini juga masuk radar. Nantinya ia melukis Sayuri dengan eksotis, menjadikannya model geisha. Dan namanya akan terkenal, bukan hanya di Gion tapi seisi Jepang.

Kisah ini bersetting tahun 1930-an. Di Jepang zaman setelah zaman Malaise sampai Perang Dunia II disebut kuraitani – lembah kegelapan. Ketika begitu banyak orang hidup seperti anak-anak yang kepalanya terbenam di bawah ombak. Dan susunan bata yang mengasyikkan itu porak poranda akibat Jepang kalah perang. Malam demi malam kami menyaksikan bulan berubah merah karena kobaran api di Osaka. Kehidupan jadi sangat sulit dan terlunta. “Sungguh aneh, apa yang dibawa masa depan untuk kita. Kau harus berhati-hati, Sayuri, jangan pernah mengharap terlalu banyak.”

Rumah minum teh Ichiriki yang biasa menggelar pesta langsung sunyi. Banyak geisha menjadi pekerja pabrik, membuat parasut, mencetak peluru, dan sebagainya. Sayuri setelah meminta tolong beberapa orang penting, akhirnya justru dibantu Nobu, direkomendasikan tinggal di Keluarga Arashino. Itulah sebabnya khayalan bisa sangat berbahaya. Mereka menjalar seperti api, dan kadang-kadang membakar habis kita.

Tak ada yang bisa lebih baik mengatasi kekecewaan daripada kerja. Saat perang usai dan keadaan membaik, ia akhirnya dijemput bibi untuk kembali ke Okiya. Kembali menjalankan bisnis, tapi jelas sudah tak sama lagi. ia kalut. Kegiatan dalam sarang semut pun kalah sibuk dengan pikiranku. Angsa yang meneruskan hidup di pohon orangtuanya akan mati, itulah sebabnya mereka yang cantik dan berbakat menahan penderitaan untuk menemukan jalan mereka sendiri di dunia. Segera saja pikiranku serasa seperti vas pecah yang tak bisa berdiri. Pikiranku terasa kosong.

Geisha sangat percaya tahayul, seperti pernah kukatakan. Bibi dan ibu, bahkan juga juru masak dan para pelayan, jarang sekali mengambil keputusan sederhana seperti membeli sandal tanpa berkonsultasi pada almanak. Kurasa yang dimaksud dengan ‘anggun’ adalah semacam percaya diri atau kepastian, sedemikian rupa sehingga sepoi angin atau jilatan ombak tidak akan membuat perubahan berarti.

Saat seolah segalanya membaik, Sayuri lalu akan diambil sebagai danna, sejenis wanita simpanan yang menetap pada satu orang laki-laki. Ia memang seolah ditakdirkan menjadi wanita-nya Nobu, yang jelas-jelas ia mengharap Ketua. Nah, suatu hari mereka bertamasya ke Pulau Amami bersama para pembesar, termasuk Menteri yang memiliki pengaruh keberlangsungan Iwamura Elektrik. Di pulau itulah drama yang dimainkan berantakan dan twist. Kehidupan telah bertindak kejam kepadanya, dan dia hanya menerima sedikit sekali kebaikan.

Bagian berikutnya bisa saja menjadi sad ending pilu nan menyakitkan, serta memalukan. Namun tidak. Malam saat ia seharusnya resmi menyandang sebagai danna, kejutan lain menghantam. Manis, terlalu manis. Segalanya lantas berubah, mereka membeli rumah mewah di timur laut Kyoto dan menamainya Eisha-an – Tetirah Kebenaran Makmur. Dan segalanya baik-baik saja, akhirnya. Duduk di sini mengenang malam bersamanya sebagai saat ketika suara-suara dukacita dalam diriku menjadi diam.

Buku tebal, lebar, dengan tulisan kecil-kecil. Tipe buku yang akan sulit diselesaikan jika tak dipaksa kelar. Hampir 500 halaman, kisah yang panjang nan berliku. Kebetulan sekali kumulai baca saat Isoman, dan butuh sebulan tuntas, kuselesaikan baca dengan kekuatan santai saja. Kubaca bersama Kronik Burung Pegang yang lebih dahsyat tebalnya. Kita tidak menjadi geisha agar hidup kita memuaskan. Kita menjadi geisha karena kit arak punya pilihan lain.

Kurasa kenangan akan tahun-tahun mengerikan itulah yang membuatku merasa sangat sendirian. Harapan itu seperti hiasan rambut. Gadis-gadis ingin memakai terlalu banyak hiasan rambut. Ketika sudah tua, mereka tampak boidoh bahkan kalaupun hanya memakai satu. “Kadang-kadang, kurasa hal-hal yang kuingat lebih realistis daripada hal-hal yang kulihat.”

Memoar Seorang Geisha | by Arthur Golden | Diterjemahkan dari Memoirs of a Geisha | Copyright 1997 | 6 17 1 86 002 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Listiana Srisanti | Desain sampul Martin Dina | Pertama terbit 2008 | Cetakan ketigabelas: Februari 2018 | ISBN 978-602-03-3769-2 | 496 hlm; 23 cm | Skor: 5/5

Untuk istriku, Trudy, dan anak-anakku, Hyas dan Tess

Karawang, 190721 – Very best of Jazz (Louis Armstrong)

#30HariMenulis #ReviewBuku #19 #Juli2021

Pasar #18

“Kekayaan, kedudukan, kekuasaan, kepandaian, dapat mematikan rasa. Mati rasa berarti hilang kemanusiaan kita. Hidup ialah bagaimana kita merasakan sesuatu. Bukan bagaimana kita memiliki kemewahan, kekuasaan, kekayaan.”

Novel dengan penggambaran detail mengagumkan. Mencerita apa adanya keadaan pasar dan par penghuninya. Sejatinya setting hanya satu tempat dari mula sampai jelang akhir. Pasar dan situasi yang ada. Orang-orangnya juga itu-itu saja, berkutat melelahkan. Pada dasarnya menggambarkan sifat manusia yang mengingin nyaman, ketika terusik maka ia marah, dan saat keinginan-keinginan tak terkabul, jadi petaka. Minim konflik tapi sungguh menohok saat masalah itu dilemparkan ke pembaca.

Kisah utamanya hanya ada empat karakter yang dominan. Pak Mantri sebagai tokoh sentral yang bertugas menjaga pasar pemerintah. Pasanya ada di Gemolong, yang setahu ada di Sragen, tapi entah apakah setting di kota lain mengingat sang Penulis lahir di Yogyakarta. Kedua adalah tukang karcis, bawahan Pak Mantri yang tiap hari menarik uang ke para pedagang. Ketiga adalah Siti Zaitun, petugas bank yang kantornya bersebelahan sama kantor pasar. Keempat adalah antagonis kaya bernama Kasan Ngali. Ia memiliki rumah besar yang dekat pasar, ia banyak melancarkan aksi jahat.

Ya sudah, kekuatan cerita berkutat di situ saja sampai akhir. pak Mantri yang sudah sepuh jelas adalah generasi kolot yang berpikir secara tradisional dalam memecahkan masalah. Ia memiliki pagupon dengan burung merpati banyak sekali, sering mengganggu orang-orang baik penjual maupun orang sekadar lewat. Nah kasus pertama dikemukakan, merpati itu dianggap sungguh bikin sial. Sering mengambil makanan para penjual, tainya sembarangan, berisik, dst. Maka suatu pagi saat ditemukan seekor sekarat, marahlah Pak Mantri yang meminta Paijo mengusut siapa yang membunuh, meminta tolong Siti menyembuhkan. Haha.. padahal keduanya biasa saja, atau malah lega, keinginannya diwakilkan seseorang.

Berjalannya waktu malah makin banyak yang dibunuh, puncaknya orang-orang pasar pindah ke rumah Kasan Ngali, rumahnya dibuka untuk umum, tanpa dipungut bayaran, Paijo yang meminta karcis sering kali zonk, para pedagang banyak yang menolak bayar. Seteru itu sudah ada lama, tapi kali ini benar-benar ditabuh.

Siti Zaitun seorang muda yang mengeluhkan keadaan di desa sepi. Bank sepi, tak banyak yang menabung mengancam masa depannya di sana, sejatinya ia biasa saja, malah syukur dipindahkan ke kota sebab desa tampak tak menarik bagi darah muda. Apalagi tetangganya si tua yang banyak komplain.

Paijo adalah susunan terendah dalam karta ini, ia hanya pesuruh. Ia manut saja ditendang ke kanan ya ayoo, disepak ke kiri yo monggo. Perannya banyak disepelekan. Sebagai kaki tangan Pak Mantri ia memang seolah tak punya suara. Pagi sudah rapi-rapi, kadang bakar telo atau pohon di kumpulan daun yang menggunung setelah disapu. Ia sering kali pula menjadi pelampiasan amarah atasannya, nasib jadi pasukan.

Kasan Ngali adalah manusia tamak, bermasalah sejak dalam pikiran. Duda, dengan mantan istri berjajar. Ia membuka rumahnya untuk pasar jelas bukan murni kemanusiaan. Ia memiliki misi mempersunting Siti Zaitun yang polos. Tahu bank sepi, ia menabung banyak. Untuk menarik perhatian ia beli mobil dengan disopiri, walau mobil bekas. Seolah menjadi malaikat kebajikan, ia membebaskan tempatnya buat jualan, membagi-bagikan uang seolah uang tinggal metik dari dahan. Bahkan saat ada misi membunuh merpati, ia dengan arogan membeli setiap merpati yang berhasil ditangkap saat Pak Mantri akhirnya melepas siapa yang mau, lalu dilepas lagi, dengan memberi tanda bahwa merpati itu miliknya. Aksi paling menjijikan menurutku adalah saat memberi hadiah ke Siti Zaitun, ‘memaksa’ untuk dijadikan istri. Bagi Kasan Ngali satu jalan tertutup bukan berarti hilangnya jalan lain. Akal pedagang itu lebih banyak dari jumlah jalan ke Bank. Tak tahu diri, dan fakta uang tak bisa membeli segalanya diapungkan dengan sangat gemilang.

Begitulah, waktu bergulir dengan tenang. Minum teh dengan dengkur merpati, cahaya mentari menerobos jendela memercik ke tempat kita santai. Dunia yang damai itu pada akhirnya menjadi tujuan Pak Mantri, seolah ada sebuah klik. Ia melepas segalanya, ikhlas dan penuh kerelaan tak ada sebersit materi yang perlu diganduli. “Kalau macan mati meninggalkan belang, Pak Mantri mati meninggalkan tembang.”

Paijo yang pegawai rendahan seolah dijadikan titik baik untuk naik derajat. Hanya Paijo sungguh-sungguh terhina, emngutuki diri sendiri, tertawa ialah pernyataan kemarahannya yng terpendam. Ia menapaki banyak sekali pelajaran hidup. Dari Kasan kita belajar, menyombongkan kekayaan, satu dari sekian macam perbuatan yang tak patut dikerjakan. Menyombongkan kepandaian, menyombongkan kesaktian, menyombongkan pangkat, menyombongkan kekayaan.

Kritik sosial juga banyak ditemukan. Salah satu yang kusuka adalah seolah ini penggambaran politik. Sebab orang itu kalau sudah berpolitik lain soalnya. Yang benar bisa salah, yang salah bisa jadi benar. Dunia yang dipolitikkan ialah dunia yang dibolakbalik. Hati pembaca turut dibolak-balik merasakan sensasi kesedihan sesering tertawa lepas akan situasi yang dicipta.

Pak Mantri sebagai seorang priyayi pada suatu kesempatan diminta tolong membuat gubahan tulisan. Merasa tersanjung dan dibutuhkan. Namun ada kalanya ia kesulitan saat akan menulis surat complain ke polisi. Susahnya menulis, tak semudah mencangkul. Sebentar ia merenung-renungkan nasib mereka yang mengajar orang untuk menulis, para guru itu… kalimat pertama ialah yang sukar. Sesudah yang pertama meski akan berjalan dengan sendirinya…

Ada satu kalimat yang absud nan menawan. “Ia memegangi mulutnya, seolah takut akan keluar kata-kata yang tak pada tempatnya.” Membayangkan kalimat itu terbesit kejanggalan. Mulut ditutup takut kata-kata keluar. Bukankah otak yang menyusuh untuk bicara atau diam?

Teori kehidupan banyak sekali diapungkan. Salah satu yang asyik mungkin saat menyinggung nafsu. Kuntowijoyo ini mirip sufi ya. “Kita punya tiga macam nafsu. Nafsu amarah ialah yang membuatmu angkara, mendorong kepada perbuatan jahat. Nafsu lawamah ialah memberi pertimbanga, berada di tengah-tengah, bergoyang seperti timbangan. Dan nafsu mutmainah ialah yang menuntunmu ke kebaikan…”

Filsafat kehidupan tentu saja ada. Apa itu bahagia? “Soalnya ialah bagaimana kamu merasakan, bukan bagaimana sebenarnya yang terjadi. Rasa ialah kunci dari kebahagiaan.” Nah, intinya ada di rasa. Di situlah titik paling vital yang menjadi kunci kehidupan.

Dan karena ini mengenai Jawa dan budayanya. Nasehat untuk selalu, “Ingatlah bahwa kau orang Jawa, ketika engkau gembira, ingatlah pada suatu kali kau akan mendapat kesusahan. Apalagi menertawakan nasib buruk orang lain.” Menjadi poin kesekian yang laik dibagikan. Udar-udar roso, saling menghormati dan tenggang rasa.

Kuntowijoyo lahir di Yogyakarta, 18 September 1943. Lulusan UGM fakultas sastra tahun 1969 lalu mengabdi di almamaternya. Tahun 1973 mendapat tugas belajar di Universitas Connecticut, USA dan memperoleh gelar M.A setahun berselang, sementara gelar Ph.D-nya diperoleh di Universitas Columbia dalam studi sejarah tahun 1980. Nama besarnya sudah melegenda, banyak bukunya tersebar di media sosial yang membuatku penasaran. Namun setelah baca esai Mahfud Ikhwan-lah saya benar-benar memutuskan menikmati karyanya. Pasar adalah novel pertama Kuntowijoyo yang selesai kubaca.

Buku ini kudapat dari giveaway Twitter @akudodo, kuselesaikan baca saat Isoman tiga minggu bersama buku-buku lainnya. Terima kasih.

Pasar | by Kuntowijoyo | Cetakan pertama, Maret 1995 dan kedua, November 2002 diterbitkan oleh Bentang | Cetakan ketiga, 2016 diterbitkan oleh Mataangin | Desain sampul Buldanul Khuri | Ilustrasi cover Anugerah Eko T. | Tata letak Erwan Supriyono | Penerbit MataAngin | ISBN 978-979-9471-26-0 | Skor: 5/5

Karawang, 180721 – The Cranberries – Loud and Clear

 #30HariMenulis #ReviewBuku #18 #Juli2021

The Joy Luck Club #17

Ada suatu pendapat bahwa orangtua tidak seharusnya mengkritik anak-anak. Mereka sebaliknya harus memberikan dorongan. Mama tahu, orang selalu berusaha bangkit untuk memenuhi harapan orang lain. Dan jika Mama mengkritik artinya Mama mengharapkan kegagalan.”

Buku yang luar biasa. Padat dan melelahkan. Kita jadi saksi kehidupan empat ibu imigran Cina ke Amerika Serikat, dan menjadi pula saksi kehidupan empat putrinya yang terlahir sebagai warga Amerika. Segalanya tumpang tindih. Bahasanya mendayu, agak rumit, nyastra di beberapa bagian yang butuh telaah. Seperyi kehidupan ini sendiri, novel ini juga menyajikan banyak sekali tragedy. Bagian-bagina pedih bahkan menjadi sangat banyak sebab mereka adalah orang asing di negeri asing. Butuh perjuangan ekstra untuk adaptasi dan menjalani rutinitas baru, jelas ini masuk radar buku istimewa. Ditulis dengan detail mengagumkan, dituturkan dengan sabar, renyah dan seperti judulnya novel ini juga memberi kebahagian, seperti kebanyakan orang Cina, keberuntungan bisa dibentuk. Kami orang-orang yang beruntung.

Kisahnya dibuka dengan Jing-Mei Woo memiliki nama panggilan June yang sudah kehilangan ibunya. Ia menggantikan main mahyong dalam perkumpulan, dan lalu mendengar banyak sekali pengakuan masa hidup ibunya yang dulu dianggap aneh dan keras.  Joy Luck Club adalah suatu ide yang diingat ibuku dari masa perkawinan pertamanya di Kweilin, sebelum masuknya Jepang.

Agar mudah mencerna ulasan kita jelaskan terpisah masa saja. Empat anak dan empat ibu, setelah mengambil sudut June, kita mengambil sudut lainnya. Saya urutakn dari anak-anak saja, yang kedua Rose Hsu Jordan. Memiliki masa lalu tragis saat menyaksikan adik kecilnya Bing tenggelam di pantai. Benar-benar bagian paling menggetarkan. Ia menikah dengan doctor Ted Jordan, sebenarnya menjadi tampak istimewa. Sayangnya tidak, mereka bercerai dan menyeret kasus di pengadilan. Aku akan selalu mengingat pesan orangtuaku, tetapi aku tak akan melupakan diriku sendiri.

Ketiga Waverly Jong, masa kecil hingga remaja menjadi kebanggan keluarga. Juara catur cuy, cerdas dan sungguh menggairahkan. Ia menjadi semacam contoh anak lain, terutama June. Sayangnya telenta hebat itu seolah menghilang, tekanan dan seteru sama ibunya menjadikannya muak. Dia suka membicarakan permainanku seolah-olah dia yang menciptakan strateginya. Kehebatan main catur seolah lenyap, seperti datangnya, ia berhenti total seperti ada rem darurat diinjak.

Keempat Lena St. Clair seorang penerjemah. “Karena perempuan adalah yin, kegelapan yang tersembunyi, tempat nafsu yang tak terkendali bersarang. Dan laki-laki adalah yang, kebenaran yang bersinar, menerangi pikiran kita.” Ia menikah dengan Harold, sedari mula pernikahan ini tampak meragukan. Ada perjanjian pembagian harta, suaminya juga adalah atasannya. Ia mendesain dan menyuport banyak hal. Namun pembagian harta itu malah mengacaukan banyak sekali hal. Berakhir pula dalam frustasi.

Keempat ibu lebih banyak berkisah di masa lalu, di Cina yang gundah. Pertama Suyuan Woo, kisah paling menyedihkan adalah saat perang ia harus melepas satu dari dua anaknya, yang selamat bernama Jing-Mei yang menjadi pondasi utama novel ini.

Kedua An Mei-Hsu yang belajar banyak sama ibunya. Setelah percerian orangtuanya, ia tinggal sama ibu dan ayah barunya. Yang ternyata sudah punya istri lainnya lagi, ibunya tampak pasrah dan menerima keadaan, tapi jelas sakit siapa yang mau dimadu. An Mei ke Amerika dan menikah, memiliki tujuh anak. Ia adalah ibu Bing, yang mati tenggelam.

Ketiga adalah Lindo Jong, wanita kuat dan ibunya Waverly si juara catur. Ia banyak mengatur kehidupan, terlalu masuk ke pribadi yang justru membuat muak orang sekitar. Ia bangga menjadi seorang Amerika, yang lantas agak mengikis jiwa Cina-nya.

Keempat Ying-Ying St. Clair yang terlalu banyak tahayul. Timur adalah awal dari segala sesuatu, ibuku pernah berkata begitu kepadaku, arah dari matahari terbit, dari mana angin datang. Ia menikah bukan karena cinta, ia menyebutnya takdir. Menjalani hidup yang ngalir aja. Sampai suatu hari seorang Amerika di Shanghai Clifford St. Clair. Setelah suaminya meninggal dunia, ia menikah dengannya, pindah ke Amerika memiliki anak, salah satunya Lena, yang satunya lagi meninggal dunia. Sang Tiger. Jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus di tengah-tengahnya. Aku belajar permainan tengah dan mengapa taktik antara dua lawan itu seperti benturan ide. Pemain yang lebih baik memiliki rencana yang lebih jelas, baik untuk menyerang maupun untuk meloloskan diri dari jebakan. Aku mempelajari pentingnya membuat ramalan yang tepat pada akhir permainan, pengertian matematis tentang semua gerakan yang mungkin dibuat, kesabaran.

Para ibu-ibu ini rutin ngumpul dan main mahyong. Main mahyong Cina, kau harus bermain memakai kepalamu, sangat rumit. Lalu kami mengobrol sepanjang malam sampai pagi, menceritakan kisah-kisah yang menyenangkan di masa lalu, dan di masa yang akan datang.

Karena ini kisah para imigran, maka kerja keras adalah wajib. Saat agak mapan, mereka tentu coba penghasilan yang lebih baik lagi. Jadi, sejak lama kami memutuskan untuk berinvestasi pada bursa saham. Di sana tidak ada keahlian. Bahkan ibumu pun setuju.

Ini merupakan permainan yang serba rahasia, di mana kita harus menunjukkan tapi tak boleh menceritakan. Rasa sakitnya harus dilupakan. Karena terkadang karena itulah satu-satunya cara untuk mengingat apa yang ada pada tulang kita. Aku selalu akan ingat, peran orangtuaku, tetapi aku tak akan melupakan diriku sendiri. “Kalau sesuatu berlawanan dengan watak kita, kita dalam keadaan tak seimbang…”

Aku menangis gembira bersama mereka, karena aku sudah salah sangka. Aku sudah merasakan yang terburuk, setelah ini tak mungkin ada yang lebih buruk lagi. Ini bukan soal harapan. Ini soal alasan. Ini takdirmu. Ini hidupmu, sesuatu yang harus kau lakukan.

Dalam arus Cina kita dianggap harus menerima segalanya, mengalir mengikuti arus Tao dan tidak membuat gelombang Dan entah mengapa, melihat semua tanda-tanda kecil kedomestikan yang familier ini, ritus ehari-hari kami, membuatku mabuk di dalam. Seolah-olah dia membangun dinding tak tak kehilatan, setiap hari diam-diam merabanya untuk melihat seberapa tinggi dan lebarnya dinding itu.

Amy Tan lahir di Oakland, California tahun 1952. Ia menyandang gelar master linguistic dari San Jose State University. Esainya banyak dimuat di majalah, begitu juga cerpen-cerpennya. The Joy Luck Club adalah novel debut dan menjadi finalis National Book Award dan National Book Critics Award. Tahun 1990 memperoleh penghargaan Bay Area Book Reviewer Award for Fiction. Ini juga menjadi buku pertama Amy Tan yang selesai kubaca, buku lainnya jelas masuk radar wajib lahap! Kado terbesar tidak selalu yang terbagus.

Pepatah Cina yang mengatakan Chunwang chihan: jika bibir tidak ada, gigi akan kedingingan. Yang artinya satu hal merupakan akibat dari hal yang lain. Bagaimana mungkin di dunia yang penuh kesemrawutan bisa timbul begitu banyak persamaan dan perbedaan yang persis bertolak belakang?

Perkumpulan Kebahagiaan dan Keberuntungan | by Amy Tan | Diterjemahkan dari The Joy Luck Club | Copyright 1989 | Alihbahasa Joyce K. Isa | GM 402.94.990 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Mei 1994 | Cetakan kedua, Juli 1994 | 488 hlm; 18 cm | ISBN 979-511-990-7 | Skor: 5/5

Untuk ibuku dan kenangan akan ibunya;

Kau pernah bertanya kepadamu apa yang akan kuingat;

Ini, dan masih banyak lagi.

Karawang, 060421 – 110621 – 170721 – New York Jazz – Bar Jazz Classics

Thx to Lifian, Jakarta

Sumur #16

“Setiap buku langka adalah buku curian.”

Satu cerpen dalam satu buku. Terdengar gila ‘kan? Gila nggak? Ya aja deh. Biasanya kita disuguhi kumpulan cerpen, minimal dua atau tiga cerpen. Berarti ini diluar biasanya, hanya Eka Kurniawan yang bisa. Penulis lokal dengan ketenaran dan jaminan mutu. Hebatnya lagi, laris. Dari beranda sosmed saat masa pre-order dibuka dari harga 50k menjadi 40k, banyak sekali toko buku daring yang pajang sold out. Mendekati hari H penutupan, saya yang penasaran malah ikutan klik beli. Dan, setelah #unboxing, ini benar-benar satu cerpen dijual lima puluh ribu rupiah! Dibaca lima menit. Kalau value biaya (saat ini) jelas kurang worth it, tapi kembali ke kualitas yang utama. Eka adalah brand, di mana namanya yang tercetak di sampul memberi rasa penasaran, minimal ada keinginan menikmatinya.

Cerpen ini pertama terbit dalam bahasa Inggris di antologi Tales of Two Planets dengan judul ‘The Well’ yang diterbitkan oleh Penguins Books tahun 2020. Kisahnya tentang hikayat sejoli yang saling mencinta tapi kandas karena keadaan. Lihat, tema usang kasih tak sampai kalau dicerita dengan mantab menghasilkan thriller bermutu.

Adalah Toyib yang sedari kecil mencintai Siti dari kampung sebelah. Setiap pagi berangkat sekolah bersama, kadang berdua, kadang ramai-ramai. Garis nasib mencipta, ayah keduanya berduel hingga ayah Siti mati. Gara-gara sepele, masalah pembagian pengairan sawah. Ayah Toyib setelah kabur ke hutan, berhasil ditangkap lalu dibui. Keadaan ini jelas turut serta membawa sejoli ini merenggang, ada aib dan sengsara yang memisahkan mereka.

Setelah empat tahun delapan bulan, ayah Toyib bebas. Ia banyak belajar memperbaiki mesin semasa di penjara. Ia bahkan berhasil mengumpulkan uang dengan jasanya, dan uang itu ingin diberikan kepada Siti, lewat Toyib. Berat, tapi diiyakan.

Nah, ada sebuah sumur di lembah, di balik bukit seberang perkampungan. Satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan. Siti melaksanakan tugas mengambil air, Toyib juga. Kesempatan ini dipakai untuk menyampaikan niatnya. Sore itu mereka bertegur sapa dalam canggung. Saat niat utama disampaikan, hanya satu kata yang terucap dari sang gadis, “Tidak.”

Siti yang coba menghindar terjatuh dan luka kakinya, Toyib mencoba membantu. Berikutnya seolah mendapat amanat memikul dua ember untuk dua keluarga ini. Siti diam, dan dianggap sepakat saja. Waktu lalu mencipta perubahan, Toyib diterima masuk rumah dan ibu Siti yang menerima bungkusan tersebut. Saat ditanya di mana Siti? Ternyata sudah berangkat merantau ke kota. Pupus sudah harapan itu…

Dan begitulah, perpisahan tanpa kata-kata itu mencipta jarak yang sungguh lebar. Kabar satu tertimbun kabar lainnya, masa membawa manusia-manusia ini dewasa dengan sangat cepat. Siti menikah, Toyib patah hati dan berniat mencari kerja ke kota, tragedi lain terjadi, dan sekali lagi saat ada kesempatan kedua, akankah cinta pertama ini dapat dipersatukan?

Pertanyaan mendasar orang yang menikah, “Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?” Sejatinya bukan khusus untuk orang-orang pacaran yang kandas ke pelaminan. Ini pertanyaan umum, bahkan bagi pasangan yang saling mencinta, saling berjanji sejati, saling sepakat untuk setia, menikahi orang terkasih. Masa akan melindas banyak sekali kenyataan pahit manis, dan pertanyaan itu layak diapungkan juga. Dunia fana yang membuncah tanya, masa depan yang misterius.

Dihadiahi jaket buku yang manis dan pembatas buku sederhana dengan pesan makjleb dari Penerbit. “Terima kasih telah membawa pulang Sumur karya Eka Kurniawan. Buku ini hanya dicetak sekali. Pada suatu saat nanti dia akan menjadi langka. Semoga kamu senang membacanya. Seperti kami yang bersuka cita saat menyiapkan kelahirannya.” Semoga saja benar hanya dicetak sekali, karena antusiasme yang tinggi dan gegap gempitanya terasa, setelah sebulan terbit hypenya masih meriah, akankah suatu masa berubah pikiran? Ya, saya sepakat suatu hari akan langka. Kriteria langka itu bagaimana? Burt Auerback, juru tafsir buku langka di Manhattan pernah bilang, “Buku langka adalah buku yang harganya jauh lebih mahal sekarang daripada saat diterbitkan.”

Kolektor buku dari Amerika, Robert H. Taylor berkata, “Buku langka adalah buku yang sangat kuinginkan dan tidak bisa kutemukan.” Saat orang-orang menjawab serius, mereka semua sependapat bahwa ‘rare’ – langka, adalah istilah yang sangat subjektif. Satu-satunya kualitas ‘langka’ yang disepakati para kolektor adalah kombinasi kejarangan, kepentingan, dan kondisinya.

Ada kasih unik masalah ini, buku langka Tamerlane and Others Poems ditulis oleh pengarang tanpa nama yang hanya diidentifikasi sebagai, “Seorang Warga Boston.” Lalu berjalannya waktu baru diketahui ternyata adalah karya Edgar Allan Poe saat berusia 14 tahun. Buku setelah 40 halaman yang dicetak tahun 1827 oleh percetakan yang biasa mencetak resep, harga awalnya hanya 12 sen, dan kini setelah ratusan tahun berselang harga dalam lelang bisa mencapai 200 ribu dollar! Nilai Tamerlane yang biasa-biasa saja saat pertama terbit, tampak biasa saja, dibuat hanya 50 sampai 500 eksemplar, kini menjadi legenda dan tercatat hanya ditemukan 14 buku. Lihat Sumur, kita bukan cenayang, tapi kalau Penerbit komitmen tak mencetaknya lagi, tak sampai seratus tahun lagi bukankah tak mustahil berwujud prediksinya? Mirip semua ‘kan, kecuali nama Eka yang memang sudah sungguh terkenal.

Kasus dalam negeri yang paling terkenal tentu saja buku-buku awal Pram, harganya menggila. Semakin lama cetakannya semakin mahal. Saya pernah lihat di posting Facebook, ‘Arus Balik ‘dihargai sejuta lebih, kukira penjualnya gila. Eh ternyata ada komentar pembeli, itupun disusul komen lainnya yang turut antri!

Dalam buku, The Man Who Loved Books Too Much karya Allison Hoover Bartlett, “Selain menjadi kendaraan untuk menyampaikan kisah (dan puisi, informasi, referensi, dll) buku merupakan artefak sejarah dan tempat berkumpulnya kenangan. Kita senang mengingat-ingat siapa yang memberi buku kepada kita, di mana saat kita membacanya, berapa usia kita, dan sebagainya.” Jadi semakin jelas alasan kenapa Sumur harus dicetak. Sepuluh dua puluh tiga puluh tahun lagi, buku ini akan jadi semacam artefak, dimana keunikan dan rare tadi akan lebih menonjol daripada isinya.

Sumur dan misteri diam. Kebetulan saya lagi baca Kronik Burung Pegas-nya Haruki Murakami. Ada kisah bersisian, bagaimana sang protagonist merenung ke dasar sumur tua yang sudah tak mengeluarkan air. Menapaki kesunyian dan mencapai ketenangan luar biasa, semadi yang menghasilkan tompel dan segala tanya dunia antah di dimensi lain. Sumur yang ini lebih kalem, perannya seolah hanya menjadi saksi biru cinta kandas dan membuncah. “Kamu bertemu Siti di sumur?”

Sumur | by Eka Kurniawan | GM 621202009 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Mirna Yulistianti | Desain sampul & ilustrasi Umar Setiawan | Setting Sukoco | Cetakan pertama, Juni 2021 | ISBN 978-602-06-5324-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 160721 – The Cranberries – Animal Instinct

#30HariMenulis #ReviewBuku #16 #Juli2021

Buku ini kubeli di Kedai Boekoe, Bekasi. Saya ambil sepaket sama Misa Ateis-nya Honore de Balzac. Kunikmati saat isoman, menjadikan serangkai buku (dan film) yang berhasil kutuntaskan.

Putri Cina #15

Korsiah: “Oalah Tien, hidup ini sudah pahit, mengapa kamu masih mau mencari makanan yang pahit-pahit? Kamu ini seperti nyidham saja.”

Sifat orang Cina, senang menikmati kebadanan, tapi tak membenci kehorhanian. Padahal kata leluhurnya, hanya dengan menjadi sederhana kau dapat menemukan dirimu yang sesungguhnya. Epic memang, kata-kata mutiara ditebar di banyak tempat. Pepatah Cina, manusia itu seharusnya seperti burung, yang terbang tanpa meninggalkan bekas dan tapaknya.

Kisahnya panjang nan melelahkan, sepertiga pertama agak boring sebab menarik lurus ke balakang sejarah orang-orang Cina di tanah Jawa, agak berbelit dan seolah menikmati dongeng/sejarah. Sepertiga kedua baru kita memasuki are sesungguhnya, bagaimana arah cerita terbentuk. Dari kesenian keliling, bintang ketoprak seorang putri Cina yang menarik perhatian dua tentara/orang penting. Sepertiga akhir barulah meledak. Waktu mengubah mereka menjadi pejabat, tapi persaingan lama terus menggelayuti. Saat geger geden, eksekusi ending yang pilu disajikan. Klimaks, bagaimana susunan itu membuncah luar biasa. Sedih, tapi kisah yang bagus memang rerata berakhir dengan kesedihan.

Kisah utama sejatinya tentang Giok Tien, sang Putri Cina. Namun untuk ke sana kita diajak bersafari jauh ke masa lalu, riwayat orang-orang Cina mula di tanah Jawa, sejarah kerajaan-kerajaan di pulau Jawa yang terhubung dengan Negeri Tirai Bambu, lantas menyusut ke keturunan paling ujung yang ada di kisah ini. Di Tuban aku datang / ketika perahuku datang di Tanah Jawa. / Dari Tuban aku pergi / ketika selamanya aku harus meninggalkan Tanah Jawa.

Membawa serta kisah-kisah legendaris masa lampau. Tentu saja kisah Perang Bratayudha disebut, satu kerajaan Astina di bawah Kurawa dengan rajanya Duryudana, si sulung dari Kurawa sedang lainnya Kerajaan Amarta, di bawah Pandawa dengan Yudhistira, si sulung dari Pandawa. Buminya sudah ditaburi dengan darah dendam dan pembalasan. Semua hanya lanjutan darah Kurusetra, di ama nenenk moyang mereka, saudara sesama, berperang habis-habisan meninggalkan warisan dendam, sampai sekarang. Sabdopalon-Nayagenggong berkata, “Sesungguhnya sejarah hanya berulang. Apa yang akan terjadi kelak, telah terjadi sekarang. Dan apa yang terjadi sekarabf, telah terjadi dulu. Hamba tak perlu menyebut satu per satu riwayat pertikaian di Tanah Jawa yang tiada hentinya itu…”

Jadi memang sudah turun-temurun rasa itu, mengapa ia dan kaumnya selalu tergoda untuk mencari harta dan kekayaan yang berlebih-lebihan. Padahal leluhur mengajarkan berulang-ulang, untuk menemukan tao, jalan kebahagiaan itu, manusia tak boleh terikat akan benda atau harta apa pun jua.

Mega-mega berarak, membawa lamunannya terbang jauh ke padang bunga. Segala bunga tumbuh di sana. Satu-satunya bunga yang di sana taka da adalah mawar hitam yang kini menjadi wajahnya. Di manakah ua ketika tiada lagi wajahnya? Ia pun bertanya, siapa ia sesungguhnya, dan mengapa ia bernama Putri Cina?

Ngomongi Jawa tentu saja kisah wayang kulit disampaikan. Kyai Dhudha Nanang Nunung, “Semar punika saking basa samar, mapan pranyata Kyai Lurah Semar punika wujudira samar.” Semar itu dari kata samar, memang ternyata Kyai Lurah Semar itu wujudnya adalah samar.

Kemegahan Majapahir berakhir lalu muncullah kerajaan Islam. Raden Patah dipanggil dengan nama Jim Bun, nama Cina itu disandang olehnya saat sebagai Sultan Demak. Nama lengkapnya, Jimbun Ngabudir-Rahman. Para wali berpesan hendaknya raja yang baru bisa menjadi jembatan antara Jawa lama menuju Jawa baru, antara agama lama menuju agama yang baru.

Settingnya di era Kerajaan Medang Kamulan Baru atau nantinya diplesetkan jadi Pedang Kemulan. Awalnya damai dipimpin oleh Prabu Murhardo, tapi berjalannya waktu rakyat muak sama pemerintahan kerajaan sebab banyak huru-hara. Adalah Giok Tien, pemain ketoprak keliling Sekar Kastubo, gadis keturun Cina ini memainkan perannya dengan cantik. Memikat banyak penonton, dan salah satu penontonnya Radi Prawiro bahkan sampai obsesif mencintai membabi buta, ia mengejar sang Putri Cina ke manapun, menuntut untuk dijadikan istri.

Lalu muncul penonton yang juga mengaguminya bernama Setyoko. Ia sukses mempersunting dan membuat Giok Tien rela meninggalkan dunia seni yang ia cintai saat di puncak karier. Hati-hati bila sedang di puncak kehebatanmu. Sebab justru di puncak kehebatanmu itulah berada di titik kejatuhanmu. Di negeri ini kemunafikan adalah kekuatan luar biasa, yang bisa menjatuhkan siapa saja yang terjerat oleh hukum kemunafikan itu.

Sebelum pamit sama teman-teman teater-nya ia memerankan kisah legendaris Cina yang tragis. Eng Tay dan Sam Pek. Dulu memang di rumah orang-orang Jawa, kayu jati yang menjadi soko guru rumahnya selalu di-patek dengan bamboo sehingga keduanya menyatu. Persatuan itulah yang menyangga kokohnya rumah tersebut. Melambangkan agar keluarga yang menghuninya tak terpisah seperti cinta Sam Pek dan Eng Tay.

Lalu kisah ini seolah berakhir bahagia, mereka menikah dan pindah kota. Namun ini jauh dari kata itu, sebab kerajaan yang penuh huru-hara ini lalu membuat kebijakan yang tak bijak, mereka membuat aturan untuk menyingkirkan warga keturunan Cina. Cerita pilu ini sudah turun-temurun, langsung saya teringat tragedy 1998. Hiks, sedih banget. Kata K’ung Tzu, kemanusiaan itu melebihi api dan air. Manusia bis amati karena air dan api. Tapi kemanusiaan terus abadi, tak bakal mati oleh apa pun, juga oleh air dan api.

Kali ini kita di masa yang huru-hara dengan nama lain, yang ternyata Setyoko sudah menjadi Gurdo Paksi dan Radi Prawiro menjadi Joyo Sumengah. Keduanya ada di lingkaran pemerintahan tapi Setyoko masih lebih tinggi pangkatnya. Apes, saat itu ia mundur dan keris utama senapati ia lepas. Dan tragedi cinta segitiga ini-pun terjadi. Sedih, hiks…

Banyak hal ingin disampaikan. Benar-benar kisahnya liar. Kepercayaan di banyak area muncul. Para peziarah Gunung Kawi percaya, siapa kejatuhan buah Shianto di pelataran pesarean Eyang Djoego, ia akan mendapat rezeki, keberhasilan, dan kebahagiaan. Namun seolah memang dipadatkan.

Kata-kata mutiara juga berserakan. Liu Tsung-yuan, penyair kuno Cina bilang, “Aku tahu, usia tua akan tiba. Usia itu akan datang dengan tiba-tiba. Tahun ini mungkin aku belum menjadi lemah, tapi lama-lama ketuaan itu akan tiba juga. Gigi-gigiku akan berguguran, dan rambutku akan rontok…”

Manusia yang bahagia adalah dia yang berani lepas dari dunia, tapi tanpa membenci dunia. Seperti kata penyair Tao Yuan Ming, “teguklah dengan nikmat anggur dunia, tapi sekaligus jangan kauikatkan dirimu oada dunia, kehormatan, dan hartanya, sampai kau dibelenggunya.

Ojo dumeh, maksudnya kalau sudah sakti dan berkuasa janganlah lupa bahwa wong sekti ana kalane apes, pangkat bisa minggat, wong pinter bisa lali, rejeko bisa mati, donya bisa lunga… Dadi luhur iku ora gampang, sebab wong luhur iku wong sing asor. Menjadi luhur itu tidak mudah, sebab orang yang luhur itu adalah orang yang rendah hati.

Suatu hari buku ini akan jadi cult, sebab kisahnya menarik tapi tak sampai meledak di pasaran. Diskusi literasi yang disaji juga jarang kutemui, justru nama besar Sindhunata yang lebih mentereng ketimbang novel ini. Jelas rekomendari, nikmatilah sebelum terlambat. Dunia dengan segala keterbatasannya.

Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, Sj lahir di kota Batu, 12 Mei 1952. Karya klasik terkenalnya, Anak Bajang Menggiring Angin. Tulisannya sudah wara-wiri di media massa, paling sering jelas di Kompas karena memang beliau wartawan Kompas. Telah menulis karya ilmiah, Dilema Usaha Manusia Rasional, Hoffen auf den Ratu Adil-Das eschatologische Motiv de “Gerechten Konigs” Bauernprotest auf Java wahrend des 19 und zu Beginn de 20 Jahrhundrerts (Menanti Ratu Adil-Motif Eskatologis dari Ratu Adil dalam Protes Petani di Jawa Abad ke-19 dan awal Abad ke-20), Sakitnya Melahirkan Demokrasi (1999), dan  Kambing Hitam, Teori Rene Girard (2006). Putri Cina adalah buku pertama beliau yang saya baca, dan akan kubaca beberapa karyanya setelah ini. ingat, kepuasan di pengalaman pertama akan mengantar kita ke pengalaman berikutnya oleh penulis yang sama, yang mungkin bukan karya ilmiahnya, setidaknya esai atau buku fiksi lainnya.

Catatan ini saya tutup dengan kutipan dari Chuang Tzu yang pernah berkata, “Jika saat berpulang telah tiba, aku hanya membutuhkan beberapa lembar daun pisang saja.” Untuk apakah semuanya, bila akhirnya manusia cukup dibaringkan di atas daun ketika ia untuk selamanya tidur? Sesuai endingnya yang pilu nan surealis…

Putri Cina | by Sindhunata | 617173013 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Ilustrasi dan desain sampul Orkha Creative | copyright 2017 | Cetakan ketiga, November 2017 | ISBN 9789792230796 | 304 hlm; 20 cm | Skor: 4/5

“Mengenang Koo Soen Ling, ibuku”

Karawang, 150721 – Netral – Terompet Iblis

#30HariMenulis #ReviewBuku #15 #Juli2021

Mencari Setangkai Daun Surga #13

Mencari Setangkai Daun Surga #13

Pablo Neruda: “Orang Spanyol mengambil emas kita, tapi kita memperoleh emas mereka. Yakni kata-kata.”

Kumpulan esai dengan banyak tema, diambil dari berbagai sumber yang pernah muncul di media massa dari pertama muncul sampai update buku ini dicetak tahun 2016. Variasi tema: sastra, politik, budaya, sampai olahraga. Bagian olahraga mungkin yang paling kurang, tak dalam. Bicara Piala Dunia yang dituturkan khas tabloid  Bola, umum dan tak personal. Bagian sastra yang luar biasa, memang spesialisasi beliau di sastra, maka tampak ditulis dengan menggebu dan nyaman dinikmati.

Tulisan singkat-singkat, tiga empat halaman jadi bisa dibaca santai. Hanya beberapa yang lebih panjang, dan tulisan singkat seperti ini terasa kurang dalam. Bagi saya yang bukan basic-nya sastra sudha banyak namanya muncul di kancah sastra nasional bahkan internasional, jelas isinya cukup bervitamin, karena diambil dari tulisan di media massa, kita menempatkan diri pada pembaca umum. Saat buku ini muncul di beranda jual, saya sempat tanya ke grup Buku untuk beli tidaknya, bukan karena nama Bung Anton-nya tapi apakah sudah ada yang baca? Ternyata belum baca buku ini tapi banyak menemukannya di artikel koran, dan memang nama Anton Kurnia jaminan, yo wes langsung kuangkut.

Sebagian besar yang kunukil di sini kutipan sahaja, sebab saya memang tak terlalu dalam mengkritisi isi. Apalagi bila ditulis dengan tergesa, dengan target sehari satu pos seperti saat ini. maka saya ambil kutipan dari dalam buku. Kurasa hal-hal indah seperti ini laik dibagikan. Enjoy it.

Tugas seorang penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun, itu tercermin dalam karya-karyanya. Nadine Goldminer

Mo Yan bernama asli Guan Moye, ia memilih nama pena yang berarti ‘Jangan Bicara’. Di kampung halamanannya kemiskinan adalah hal lumrah. Dan di masa Revolusi Kebudayaan (1966-1976) ia muncul dengan keunggulan, ia seorang otodidak yang tekun dan banyak membaca.

Gao Xingjian mengakui dengan jujur bahwa ia menulis untuk ‘mengusir rasa sepinya’ dan dengan rendah hati menyatakan ‘menulis untuk diri sendiri’ tanpa pretensi menyampaikan khotbah bagi orang banyak.

“Kita bisa memiliki apa yang kita inginkan, tapi kita harus memperjuangkannya agar bisa menikmati dengan layak.”

Sejak awal, sastra Amerika Latin adalah gugatan kritis yang mempertenaykan tatanan sosial masyarakatnya (kebobrokan warisan colonial, penindasan dan kekerasan oleh Negara, kemiskinan, dan keterbelakangan). Mengutip kata Jose Ortega, kritikus sastra Meksiko, sastra Amerika Latin adalah reaksi imajinatif terhadap segala pandangan funia, norma, dan pranata sosial yang datang dari Barat.

Carlos Fuentes menyatakan bahwa Sastra Amerika Latin adalah ‘sastra yang marah’ karena pusaran ‘rasa takut, kekejaman, cinta, dan maut’ yang berlangusng turun-temurun dari abad ke abad, dari satu penaklukan ke penaklukan lain, dari rezim yang satu ke rezim yang berikutnya.

Dalam esainya Alejo Carpentier mengatakan, “Menulis tentang tanah ini (Amerika Latin) dengan sendirinya akan menghasilkan sebuah karya sastra tentang kenyataan yang ajaib.”

Gabriel Garcia Marquez suatu kali menulis, “Tugas seorang penulis adalah menulis dengan sebaik-baiknya.” Dengan begitu penulis berbakti pada bangsanya.

Nadine Gordimer dalam pidato penyerahan Hadiah Nobel Sastra 1991 ‘Writing and Being’ menegaskan pendiriannya bahwa tugas penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun.

Orhan Pamuk bilang, “Terjemahan yang baik tak hanya berhasil mengantarkan kesamaan makna, tapi juga bisa mengikuti irama kata-katanya dengan tepat.”

Kuntowijoyo menegaskan bahwa mereka yang hidup di dalam mitos tak akan pernah bisa menangani realitas. Bagi guru besar bangsa ini, akar permasalahannya terletak dalam cara berpikir kita sebagai bangsa, yakni bagaimana meninggalkan kepercayaan terhadap mitos menuju cara berpikir berdasarkan realitas.

Kritik sosial. Lebih tragis lagi, di negeri ini buku kerap bernasib tak jauh beda dengan film prono, sama-sama sering dilarang beredar, bahkan terkadang dibakar di muka umum.

Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak boila, membaca karena ingin tahu berapa persen diskon obral besar di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca subtitle opera sabun di televisi untuk mendapat hiburan.

Joseph Brodsky, pemenang nobel sastra 1987, “Membakar buku adalah kejahatan, tapi ada lagi yang lebih jahat, yakni tidak membaca buku.”

Meminjam istilah Rendra, ‘orang yang berumah di angin’. Karena ini sering dianggap berbahaya.

Mochtar Lubis, sastrawan dan wartawan terkemuka kita yang pernah dipenjarakan tanpa diadili oleh rezim Sukarno, suatu kali menulis, “Seorang intelektual adalah ia yang tidak merintih ketika ditindas dan yang tidak menindas saat berkuasa.” Komitmennya adalah pada nilai-nilai kebenaran, bukan pada seseorang atau kelompok tertentu. Pertanyaan berikutnya, masih bisakan kita berharap pada kaum intelektual jika mereka telah menjelma menjadi teknokrat – alat kekuasaan – atau sekadar hamba partai?

Istilah ‘kiri’ dipahami secara umum mengacu pada komunisme, sosialisme, dan marxisme (walaupun ketiganya tentu saja berbeda). Sejak era Orde Baru, istilah ini jadi the invisible enemy – musuh tak kasat mata, bahaya laten, dan sebagainya.

Si vis pacem para bellum, pepatah latin yang berarti jika mau damai, siaplah perang. Sepintas jelas terdengar aneh dan paradoksal. Namun sesungguhnya yang dimaksud dari kalimat itu adalah jika kita tak mau diperangi orang, perkuatlah diri kita agar orang segan menyerAng kita.

Dalam Black Beauty karya Anna Sewell, si kuda bertutur, “Tak ada agama tanpa cinta. Banyak manusia yang senang berbicara tentang agama, tapi itu tak membuat mereka bersikap baik kepada sesama manusia dan binatang. Sungguh memalukan…”

Rendra bilang, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”

Salah satu ajaran Gandhi yang terkenal adalah penolakan terhadap tujuh dosa sosial, yakni kekayaan tanpa kerja, kenikmatan tanpa nurani, ilmu tanpa kemanusiaan, pengetahuan tanpa karakter, politik tanpa prinsip, bisnis tanpa moralitas, dan ibadah tanpa pengorbanan.

Dalam buku The Anatomy of Melancholy karya Ricahrd Burton mengemukakan pandangan yang sangat dalam mengenai ‘penyakit hitam’ alias melankoli, serta menyebutkan ketakutan akan kematian, kekalahan, dan perbuatan jahat yang menjadi gejala dan musababnya.

Dalam buku Istanbul: Kenangan Sebuah Kota karya Orhan Pamuk memerikan satu istilah unik untuk menyebut situasi murung yang menggelayuti sebuah masyarakat. Ia menyebutnya huzul. Dalam bahasa Turki berarti kemurungan atau kesedihan. Nabi Muhammad Saw. Menyebut tahun ketika beliau kehilangan istrinya Khadijah dan pamannya Abu Thalib sebagai ‘amul huzl’ atau tahun kemurungan; kata itu berarti perasaan kehilangan yang amat spiritual.

Sabda Ronggowarsito dalam serat Kalatidha sesungguhnya kita ada di zaman edan ketika semua orang menjadi gila harta dan kuasa. Bila ikut gila, kita bisa-bisa tidak tahan mengatasi jeritan nurani. Tapi bila tak ikut gila, tak bakal kebagian harta benda dan kuasa.

Albert Einstein bilanG, “Imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu terbatas, sementara imajinasi tiada batas…”

“Sebagian orang percaya sepak bola adalah soal hidup-mati. Saya kecewa dengan perilaku itu. Saya jamin, sepakbola jauh lebih penting ketimbang hanya soal hidup dan mati.”Bill Shankly

Hitler bilang kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran.

Remy Sylado berujar pada dasarnya bahasa dan kebudayaan kita ini serupa gado-gado sejak asal mulanya.

Saya mengucapkan terima kasih untuk Pak Ade Buku di Bandung, buku-buku bagus yang kunikmati setahun ini banyak kubeli di sana. Termasuk Mencari Setangkai Daun Surga ini. makna judul buku ini ada di bagian akhir, merupakan kutipan dari seorang Goenawan Mohamad. Kutipan dari puisi ‘Daun’ yang ternyata juga terdapat di Belanda Cor de Bruijn (1883 – 1978) yang disadur dari A. Dt. Madjoindo (1896 – 1970), yang terbit tahun Setangkai Daun Surga 1972. Nah, sekarang kita menemukan buku lain berjudul ‘Mencari Setangkai Daun Surga’. Banyak hal dalam kehidupan ini tak sejalan, tapi seperti pepatah Jerman, Orang boleh kehilangan segalanya kecuali harapan, sebab “Harapan adalah yang terindah dalam hidup manusia.”

Mencari Setangkai Daun Surga | by Anton Kurnia | Editor Rusdianto | Tata letak Zizi | Pracetak Antini, Dwi, Wardi |  Cetakan pertama, Februari 2016 | Penerbit IRCiSoD |384 hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-391-114-1 | Skor: 4.5/5

Tanda mata untuk anak-anak tercinta: Kafka, Kalam, Javid, dan Maura

Karawang, 160221 – 100621 – 130721 – Dinah Shore – My Funny Valentine

Thx to Ade Buku, Bandung

Tempat Asing dan Misterius

Negeri Senja by Seno Gumira Ajidarma

“… Ada satu masa dalam hidupku di mana aku selalu memburu senja ke mana-mana, seperti memburu cinta. Aku memburu senja ke pantai, memburu senja ke balik gunung, memburu senja yang membias di gedung-gedung bertingkat. Namun itu sudah lama sekali berlalu…”

Novel yang melelahkan, membosankan, menjadikan bacaan yang terengah-engah di awal, tengah, sampai akhir. Penjelasan setting tempat yang bertele-tele, penjelasan karakter yang berputar, aturan mainnya kurang cantik, bahkan saat sampai halaman 200 yang berarti mendekati garis finish, detail penjelasan tempat masih berlangsung. Ya ampun… bagaimana sebuah buku bisa menjadi begitu berliku dan lelah sekadar mencoba ikuti alur.

Kisahnya dibuka dengan sebuah penipuan. Dalam Kitab tentang Kejadian yang Akan Datang bahwa Penunggang Kuda dari Selatan menguasai bahasa Negeri Senja tingkat tiga yang sudah langka. Sang Musafir sempat ditanya, oh bukan dia. Lalu ada yang datang dan mengaku sebagai The One tersebut, dibawa ke Guru Besar, ternyata penipu, maka massa langsung membantainya. “Negeri Senja adalah tempat yang berbahaya.”

Lalu kita diajak mengenal negeri asing di tengah gurun tersebut. Waktu seolah terhenti. “Aku tidur pada senja hari dan bangun pada senja hari.” Jadi di sini sepanjang waktu adalah senja: pagi, siang, malam, semuanya sama. Di Negeri Senja, orang mati tidak pernah benar-benar pergi. Kenapa tidak, di sebuah negeri di mana matahari termungkinkan untuk tidak pernah tenggelam. Kisah tentang lempengan matahari raksasa yang berjuang keras untuk terbenam namun tak pernah berhasil melewati cakrawala dan semesta bergetar karenanya. Di sebuah negeri yang selalu tenggelam dalam keremangan, sekilas cahaya sangat banyak artinya dan keping-keping mata uang emas yang sangat jarang terlihat itu memang akan berkilat-kilat meski ditimpa cahaya yang hanya sedikit saja.

Seperti Sukab yang mengirim surat pada Alina, kali ini sang Musafir mengirim surat untuk Maneka. Mengisahkan petualangannya. Apakah yang bisa dilakukan untuk menghalangi datangnya masa depan yang penuh dengan perubahan menggelisahkan?

Ia penyendiri, ia datang ke sana sebagai sang musafir. Ia menjaga jarak, tak memihak pihak penguasa atau para militan bahwa tanah. Seorang pengembara dalam sunyi sangat sering terkecoh perasaan sendiri, sehingga dengan perempuan mana pun aku bergaul, selalu kujaga jarakku dari suasana hati yang semu. Diperintah oleh rezim ganas. Sejarah kekuasaan Tirana adalah usaha menindas kebebasan pikiran itu, karena dengan pikiran kita bisa menolak kekuasaan. Sekarang aku mengerti, kebisuan dan kegelapan adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan di Negeri Senja – yang tak memahaminya tak ambil bagian dalam permainan ini.

Sang Pengelana lalu mencoba memahami posisinya. Ia di kedai turut dalam kekhawatiran warga, ia turut pula dalam bisik para detektif yang mencoba menggulingkan kekuasaan yang sudah lama lalim. Hatiku gundah dan gulana. Puan Tirana Sang Penguasa yang tak pernah terlihat wajahnya dan Buta telah menghamburkan kekejaman begini rupa, namun Tuhan Mahabaik seperti tidak berbuat apa-apa. Tirana barangkali bisa membaca pikiran, namun bagaimana jika pikiran yang dibacanya sengaja dikacaukan? Bisakah ia membaca pikiran di balik pikiran?

Sudah banyak percobaan penggulingan, tapi selalu gagal. Bayangkan, lawan kita adalah makhluk yang bisa membaca pikiran bak anggota X-Mens! Gerakan bawah tanah terbesar melawan tirani adalah Perhimpunan Cahaya yang dipimpin oleh Rajawali Muda. Terdapat lima golongan lain yang besar, (1) Gerak Kesadaran; (2) Kerudung Perempuan; (3) Sabetan Pedang; (4) Wira Usaha; (5) Lorong Hitam. Selain itu masih ada kelompok remeh, golongan kecil yang terburai.

Kita memang ditempatkan sebagai pembaca/pendengar dongeng Sang Pengelana. “Apa yang kuceritakan itu hanyalah suatu susunan tambal-sulam dari berbagai cerita yang kudengar di kedai, di pasar, dan di jalanan.” Maka mencipta kisah satu arah yang tentu saja kita harus menerima apapun yang dicerita. Debar degub sesekali muncul, tapi memang sudah kuyakini Sang Protagonist aman.

Seperti ada kesunyian yang kosong dan memberikan perasaan terasing di mana cahaya yang tersisa dalam senja bisa terdengar sebagai bunyi yang sepi – seperti denging, tapi bukan denging, seperti gumam, tapi bukan gumam, seperti desah, tapi bukan desah, hanya sapi, tapi berbunyi. Mungkinkah itu bunyi kekosongan?

Semangat perlawanan yang telah lama tergalang bagaikan seribu satu mata air yang membentuk anak sungai kecil di berbagai tempat dan menemukan arus serta gelombangnya dalam pembahasaan para pelajar… bergabung menjadi debur ombak dan hempasan gelombang. Tirana yang berkuasa, yang mampu membaca pikiran, memenjarakan roh, dan menentukan takdir, bagai tuhan yang jahat, bagaimana tidak akan tertawa melihat usaha perlawanan terhadapnya?

Endingnya sendiri horor. Menakutkan membayangkan pembantaian yang dicipta. Darah di mana-mana, jalanan dijadikan ajang saling tikam, nyawa menjadi begitu murahnya. “Kota yang hancur luluh dengan mayat-mayat memenuhi ruang, kurasa aku tidak pernah akan tahu apakah suatu hari duka ini akan pupus.”

Lalu apa gerangan maksud Sang Pengelana memasuki negeri antah yang mengerikan ini? Hanya sekadar mampir lewat ataukah menjadi juru selamat?
Untuk mendendangkan dongeng dalam satu wilayah, kita disuguhi lima bagian, belum termasuk prolog dan epilog plus lampiran tentang visual dan proses menggambarnya. Menjelaskan bagiamana akhirnya novel ini bermula dari cerita bersambung, lalu dibukukan, lalu menang KSK, lalu dibuatlah ilustrasi para tokoh. Bagus sih, tapi bagiku yang utama adalah cerita. Mau digambar semewah Ernest H. Shepard yo monggo, mau dibuatkan semegah komik DC ya silakan, tetap saja yang utama cerita. Kisah buku ini merumit sendiri, bingung sendiri, mengajak pembaca turut bingung dan sekali lagi, melelahkan. Lampiran akhir ada enam lembar, itu adalah draf pilihan. Hasil akhir ada di pembuka, menggambarkan bentuk karakter di buku.

Epilognya dimulai dengan pengakuan; kesalahan penulis adalah memandang dunia ini sebagai suatu cerita. Nah kan. Absurd! Nama Seno Gumira Ajidarma (SGA) sudah besar sejak saya masih kecil. Namanya lekat atas sastra berkualitas, baru beberapa yang kunikmati. Beliau juga serba bisa, kumpulan esai ada, kumpulan cerpen ada, novel-pun ada, yang belum nemu dan belum kubaca kumpulan puisi. Namun pernah lihat di youtube, cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku, dinukil dan dibacakan bak barisan bait, mungkin karena pembawaannya yang keren, dan juga – eheem…- yang membawakan sekelas Dian Sastro Wardoyo makanya terlihat powerful!

Sebuah tempat asing dan misterius, Negeri Senja adalah negeri yang sulit diterima akal, negeri ini seperti puisi, hanya bisa dipahami jika dihayati. Yah, persis seperti itulah kisahnya. Sengaja mencipta bosan, sengaja mencetak bait dalam rengkuhan samar. Ada benarnya juga kalimat di kover belakang, “Roman petualangan, tentang cinta yang berdenyar di antara kilau belati, cipratan darah, dan pembebasan iman.”

Negeri Senja | by Seno Gumira Ajidarma | KPG 59 15 01044 | 2003 | Cetakan kedua, September 2015 | Desain sampul Rully Susanto | Tata letak Wendie Artwenda | Ilustrasi isi Margarita Maridina Chandra | Rancangan Busana Poppy Dharsono | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | xx + 244 hlm.; 14 cm x 21 cm | ISBN 979-979-91-0930-9 | Skor: 3.5/5

Cerita kecil Untuk almarhumah Ibu: Poestika Kusuma Sudjana (1923-2002)

Karawang, 120421 – Ronan Keating – Everything I Do (Do it For You)

*) Thx to Ari Naicher (Rindang Buku), Klaten

**) Kubaca dalam satu hari saat cuti tahunan di Masjid Peruri Karawang pada 12 Maret 2021

***) Hari ini mendapat kabar sedih dari keluarga; Sabar, Tawakal, Iqtiar. Allah bersama orang yang sabar.

****) Selamat datang Ramadan 2021

#Januari2021 Baca

Saya masih memberi kesempatan kepada klub-klub untuk kembali ke kompetisi yang resmi. Paling tidak sampai Senin ini. Ya, paling lambat Senin malamlah.”Johar Arifin dalam buku Dari Kekalahan ke Kematian (Mahfud Ikhwan)

Awal tahun yang padat. Saya sudah coba baca santai, tapi kondisi malah mencipta waktu luang lebih banyak. Saya kena shift seminggu masuk jam 12:00 karena pembatasan skala besar Karawang. Maka punya waktu baca pagi lebih panjang habis subuh sampai jam 09:00, luar biasa pagiku benar-benar melimpah.

Dimula dengan Zarathustra di tanggal 1 selesai tepat 31, lalu diselingi buku-buku lain yang lebih ringan. Gila, buku berat dan melelahkan. Namun kelar juga, tepat sebulan! Buku baru sudah Sembilan paket, jadi tumpukan masih sangat tinggi. Semangat!

Segala genre saya lahap!

#1. Life of Pi by Yann Martel

Fantasi atau fakta? Ada dua cerita, yang pertama bersama sesekoci sama macan yang tak bisa dilogika, yang kedua bersama pembunuh yang terbunuh. Endingnya dijelaskan, tapi tetap absurd. Begini seharusnya cerita sebuah perjalanan dibuat. Kalau kita, para warga negara, tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita, berarti kita telah mengorbankan imajinasi kita di altar realitas yang kejam, dan pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apa pun, dan mimpi-mimpi kita tidak lagi berarti. Jelas novel yang laik didiskusikan lanjut.

Jangan sampai patah semangat, boleh merasa kecil hati tapi jangan menyerah. Ingat semangat sangat penting, melebihi lain-lainnya. Kalau Anda memiliki kemauan untuk hidup, Anda pasti bisa bertahan.”

#2. Dari Kekalahan ke Kematian by Mahfud Ikhwan

Cak Mahfud memang jaminan, sejauh ini. Ini buku kedua tentang sepakbola yang kunikmati, jelas lebih baik ketimbang rangkuman review per pekan sepakbola Eropa dalam ‘Sepakbola Tak Akan Pulang’. Kali ini fokus ke cerita lokal, mayoritas diangkut dari blog-nya belakanggawang.blogspot.com yang diampu bersama Bung Darmanto Simaepa. Sobatnya tersebut, ternyata sobat kental beberapa kali disebut menjadi teman curhat dan nonton bareng. Setara Grandong yang jadi sobat misuhi Liverpool dengan kepleset Gerard-nya. Masih ingat review buku Tamasya Bola? Kata Pengantarnya keren sekali oleh Cak Mahfud, di Dari Kekalahan, dibalik. Pengantarnya oleh Darmanto, panjang meliuk-liuk liar, dan muatan isi bukunya segaris lurus.

Barangkali sepakbola unik karena ia bisa memberikan harapan berulang kali.”

#3. Oliver’s Story by Erich Segal

Kisah cinta lanjutan. Memang sulit melanjutkan cerita wow, atau setidaknya menyamai. Sekuel yang mengalami penurunan kualitas, tapi masih bagus sebab endingnya pahit, cara berceritanya bagus, pemilihan plotnya lumayan juga. Tak seperti kebanyakan cerita romantis yang mellow. Sesuai harapan, untung sekali mereka ambyar. Walau alasannya terlalu politis, terlalu kurang alami, sekalipun itu terkait aturan birokrasi, menentang prinsip hidup, idealism yang dipegang, sebagai Sarjana Hukum ia jelas menentang eksploitasi anak-anak untuk bekerja, tapi kisah ini jadinya malah muluk, dan adegan Hongkong itu jauh dari kesan asyik seperti eksekusi di Rumah Sakit, ending luluh lantak sebelumnya. Seperti kata Jimi Hendrix waktu Woodstock.

Keadaan cukup buruk dan dunia ini perlu dibersihkan.”

#4. My Beautiful Feeling by Walter & Ingrid Trobisch

Masturbasi perempuan. Tema yang tabu dari dulu, bahkan sampai era digital ini. Di sini dikupas panjang, dari surat-surat remaja Jerman di masa SMA hingga kuliah, surat-surat pribadi itu dikirim ke seorang psikolog yang biasa mengisi rubrik di Koran nasional tentang tanya-jawab pembaca. Lalu, entah apakah surat ini ditayangkan atau tidak, malah dibukukan. Ini adalah buku kedua terbitan BPK yang kubaca, setelah curhat masa muda Indonesia tahun 1980-an dengan Suhartin, apa yang harus saya lakukan?

Kalau kau tahu tujuannya, kau dapat menemukan jalannya.”

#5. Mata dan Riwayat Semesta by Wija Sasmaya

Buku tipis yang aslinya hanya berisi 75 halaman. Namun menjadi dua kali lipatnya sebab buku ini bilingual, diterjemahkan jua ke dalam Bahasa Inggris. Dicetak bolak-balik, tapi karena saya saat ini nyaman dengan Bahasa Indonesia, dan celetuk, ‘kurasa buat apa membaca Inggris-nya toh, isinya sama’, maka buku ini hanya kunikmati separuh. Separuhnya bagaimana, mungkin suatu hari nanti kubaca lagi, entah kapan, yang jelas bukan dalam waktu dekat. Dua kali saya memiliki dua sejenis ini, yang pertama karya Marga T, versi separuh asing jelas ku-skip. Benar-benar tak rekomendasi deh ide bikin bilingual gini, boros kertas. Kecuali diterjemahkan, lalu dijual terpisah, jelas itu lain soal sebab tak menempel langsung.

Hidup itu ibarat cuma mampir minum, dan sebaik-baiknya minum tentu minum air jernih yang menyejukkan jiwa.

#6. Memoar Ronny Patinasarany by Andreas J. Waskito

Memoar yang berkesan, jadi tahu detail era emas Timnas Indonesia-pun penuh intrik politik. Bagaimana ia dilarang merokok, tak mau nurut dicoret dari skuat, lalu hukuman lama itu dikurangi menjadi beberapa bulan. Buku ini gambaran umum saja, dari karier bolanya yang cemerlang dari Makassar, Surabaya, hingga Jakarta. Bagaimana ia menjadi pegawai Bank BNI, menjadi pencari bakat, lalu musibah kanker yang dialami. Sepertiga akhir adalah masa sulit, pengobatan ke China hingga akhir hidupnya. Lalu sebelum epilog sang istri, kita menyimak pendapat beberapa rekan, keluarga, dan bosnya. Buku yang padat dan emosional.

Kalaupun anak saya meninggal, dia meninggal dalam kasih sayang saya. Saya rela menghilangkan harga diri, popularitas, hidup… tapi saya tidak pernah rela kehilangan kasih sayang saya kepada keluarga.”

#7. Pembunuh by Rayni N Massardi

Dengan kata pengantar oleh maestro sastra kita, Seno Gumira Ajidarma, sesuatu yang sangat menjual dicetak tahun 2005, di mana dunia sedang mengalami proses transisi ke data digital besar-besaran, apa yang disampaikan secara garis besar mewakili kehidupan kaum urban kebanyakan. Wanita karier yang bosan di ibukota, kekejaman vonis keluarga atas nasib tak bagus saudara dalam acara ngumpul rutin, gadis desa yang merantau, keputusan penting jadi mudik ke Indonesia atau menetap di tanah orang, istri yang cerewet atas kesetiaan suami, kehidupan pagi di stasiun kereta, sampai kehidupan rutin di kantor yang mencipta ‘demo’ akan mesin pencatat kehadiran.

Kita tidak mungkin bangga akan orang lain, tapi dapat bangga pada diri kita sendiri.”

#8. Kuntilanak Pondok Indah by Lovanisa

Cerita yang aneh, tapi lumayan menghibur juga. Nama-nama karakter utamanya kebarat-baratan semua: pearly (putih dan berkilau seperti mutiara), Cherie (siapanya Cher?), Shena x Xena, dst. Pola hidup orang kota yang kental, jelas kalangan menengah atas: rutin ke salon, makan pizza, naik Yaris, kos? Sewa pembantu merangkap chef merangkap intel dong, mainnya bilyar, di sini disebut Four Hole, mungkin diselingi miras dan obat, tapi tak boleh disebut kena rating ntar. Lupakan logika sebab memang ini buku fun aja, bedakan ‘di’ disambung dan ‘di’ dipisah saja sulit. Bahasanya gaul, lo gue end, No Prob. Melamar pakai cincin berlian dengan mata berwarna putih dikelilingi permata-permata kecil. Romantis itu pakai kawat yang disambung, tapi ya tak level-lah. Liburan? Ke Bali sewa vila, semudah mengucapkan pesan nasi orek di Warteg.

Mana gue tahu, lo sih Conan bukan, FBI juga bukan, sok-sokan main selidik-selidik aja.”

#9. Zarathustra by Frederick Nietzschie

Buku yang luar biasa (membingungkan). Kubaca ditanggal 1 Januari di rumah Greenvil sebagai pembuka tahun, di tengah mulai kehilangan arah (bosan dan mumet), maka kuselipkan bacaan-bacaan lain yang setelah bulan berganti kuhitung ada 9 buku, tapi tetap target baca kelar buku ini di bulan Januari terpenuhi tepat di tanggal 31 di lantai 1 Blok H, walau tersendat dan sungguh bukan bacaan yang tepat dikala pikiran mumet. Awal tahun ini banyak masalah di tempat kerja, pandemik harus ini itu, aturan baru semakin meluap, dan tindakan-tindakan harus diambil. Di rumah, lagi mumet urusan buku yang menggunung. Maka lengkap sudah Sang Nabi menambah kesyahduan hidup ini dengan sabda aneh nan rumitnya.

Kita mencintai kehidupan, bukan sebab kita sudah biasa hidup tapi sebab kita biasa mencintai.”

#10. Si Lugu by Voltaire

Buku kecil yang luar biasa. Padat, renyah, sesak, dan pace-nya sangat cepat. Kubaca hanya dalam tempo sesingkat-singkatnya pada hari Sabtu pagi, 30 Januari 2021 di teras rumah langsung kelar. Seperti inilah novelet harusnya dibuat, ga bertele-tele, gayanya dapat, plotnya bagus, endingnya nyesek, dan ada motivasi yang bisa dipetik. Paket lengkap setengah hari.

Aneh juga. Kok air mata bisa menimbulkan rasa lega? Saya kira malahan bisa menimbulkan akibat sebaliknya.”

Karawang, 050221 – Dewa 19 – Kamulah Satu-satunya