Fiksi Etnografis Sempurna: Lock for Best Prosa KSK 20

Orang-orang Oetimu by Felix K. Nesi

Ia suka membaca buku. Sekali ia duduk di depan buku, taka da yang bis abikin ia bangun. Saya yakin ia akan enggan naik ke surga bila dikubur bersama buku.”

===Catatan ini mungkin mengandul spoiler===

Oetimu, dulu ini adalah kerajaan Timu Un, sekarang sudah menjadi Kecamatan Makmur Sentosa. Ini kisah tentang masyarakat di sana, menyelimuti segala nasib manusia. Siapa bisa menjamin, jika besok atau lusa, karena perempuan itu juga, Oetimu tidak menuntut kemerdekaan dari Indonesia?

Keren adalah kata pertama yang kuucap setelah menuntaskan baca. Luar biasa, hikayat singkat orang-orang Oetimu dari zaman dahulu sampai tahun 1998, tahun genting peralihan Orde Baru ke Reformasi. Buku ini melibat banyak karakter, dan hampir semua yang ditelusur kisah hidupnya memberi peran signifikan. Membantu menggerakkan plot secara yahud, menjadikan penentu nasib tokoh lain, dan ini hebatnya Bung Felix K. Nesi tak segan-segan menewaskan karakter favorit! Tak ada yang baik konsisten, tak ada pula yang jahat terus, mayoritas sifatnya abu-abu, pas banget dengan kenyataan kehidupan yang fana ini. Eh, kecuali satu karakter yang dungu, nyebelin tak ketulungan. Namun nyatanya, orang bodoh pun dapat durian runtuh gadis jelita yang menjadi impian semua orang. Mengangkang siap diterkam, Hajindul! Asu!

Kisahnya dibuka dengan menyakinkan sekali, di Oetimu tahun 1998 malam final Piala Dunia di Prancis yang meluluhlantakkan Samba tiga gol itu menjadi kejadian menghantar kronik drama panjang ini. Tersebutlah Sersan Ipi yang menjemput Martin Katibi dengan motor bututnya untuk nonton bareng di pos polisi. Satu jam sebelum tragedi pembunuhan itu, mereka menyumpah Amerika, dituduh dalang kekacauan dunia. Ronaldo loyo, Amerika yang dihujat. Khas kaum kadrun.

Nobar itu menjadi petaka buat warga ketika Sang Sersan mengumumkan rencana pernikahannya dengan Nona Silvy, primadona kampung yang masih sekolah, siswa pindahan yang cerdas nan jelita. Dengan hasil separuh babak amburadul dua tandukan Zidane, sang tetua pulang lebih dini, para pembunuh sudah di rumahnya, menyekap anak istri. Mereka tak mengira, sepakbola 2 x 45 menit itu tak penuh, sang tuan rumah pulang cepat! Mendebarkan? Tentu saja, tapi untuk mengetahui nasib mereka kita diajak melalangbuana jauh ke belakang.

Di Lisbon tahun 1974, Julio Craveiro dos Santos akan dikirim ke Timor membantu Mario Lemos Pires dalam proses dekolonisasi Portugal. Rencana awal istrinya Lena dan anaknya 16 tahun Laura akan ditinggal, tapi ketika disampaikan Timor itu bukan Afrika, itu Negara kecil dekat Australia jadi relatif aman, tak bar bar seperti Afrika? Gundulmu! Maka diputuskan sekeluarga dibawa. Rencana dan perkiraan yang bagus itu menjelma bencana, Timor dalam gejolak politik. Ada tiga partai yang berdiri menjelang dekolonisasi: UDT yang menginginkan persatuan dengan Portugal, Fretelin yang menginginkan kemerdekaan penuh – sebelumnya bernama ASDT, dan Apodeti yang kecil dan ingin bersatu dengan Indonesia, Negara tetangga bekas jajahan Belanda. Walau Julio mencoba tak ikut-ikut suasana, mencoba netral tak memihak politik manapun, nasib malang menimpa, menjadikannya korban keganasan politik. Semua tidak baik-baik saja. Sadis sekali kisah hidup keluarga ini. Julio Craveiro dos Santos yang malang. Atas nama rakyat Maurebe, kalian adalah martir-martir pertama.

Legenda Am Siki mencipta kisah tersendiri, kembali ditarik lebih jauh ke belakang di era penjajahan. Am Siki menjadi masyur dan dihormati di seluruh negeri. Namanya harum mewangi dan dikenal ke pulau-pulau lain. Mereka sering menyebutnya pahlawan, yaitu ksatria yang membunuh untuk menyelamatkan bangsa dari cengkeraman Jepang. Ama Nemo Manas Manikin, leluhur salah satu pemimpin negeri. Konon hujan tak pernah membasahinya, angin hanya meniupnya jika mendapat izin, dan bila ia menunggang kuda di siang terik, awan akan berputar-putar di kepalanya, melindungi ia dari sengatan matahari. Segala yang tumbuh di atas tanah itu hanya milik leluhur semata, jika membutuhkan sesuatu, ambillah, tapi jangan untuk berperang. Am Siki turunan orang sakti itu, pohon lontar yang ajaib. Pohon lontar itu membacakan syair dalam uab Meto.

Bagaimana ia menjadi pahlawan sungguh kocak. Am Siki menyelamatkan kudanya yang diperkosa tentara Jepang, tapi ditafsir menyelamatkan bangsa sebab selain membantai Nippon ia juga membakar area romusha. Orang-orang bisa menyelamatkan diri. Lalu waktu menjelma dongeng legenda. Sejak Am Nu’an pendongeng dari Oetimu yang rabun terjun ke jurang yang disangkanya kolam ikan dan mati, orang meminta Am Siki untuk mendongeng. Ia adalah pencerita yang handal, yang bercerita dengan kata kerja yang gampang diimajinasikan dan beragam isyarat tubuh. “Tidak boleh dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Ingat? Tidak boleh diperkosa, sekalipun itu kuda…

Laura yang terlunta berhari-hari dalam keadaan hamil terdampar di Toko SUBUR: Berdiri Karena Sabar. Dikira penyihir saking kumalnya, dikira orang gila. Panggilkan Am Siki, tetua kampung. Maka Am Siki mengulurkan tangannya. Menyulap gadis dekil menjadi jelita. Laura melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Siprianus Portakes Oetimu atau yang kita kenal nantinya sebagai Sersan Ipi yang kita baca di bab pertama.

Ketika lulus SMA, sang kakek angkat mencarikan jalan hidup nyaman. Sebagai tetua adat, ia lalu menyambut pejabat. Am Siki memandang mereka dengan heran dan bertanya bagaimana bisa orang terhormat tidak memahami syair, padahal ia berkata dengan diksi dan metafora yang bisa dipahami oleh orang Timor paling tolol sekalipun. Ipi berangkat pendidikan kepolisian, dan peran sang legenda berakhir sudah.

Ia menjadi seorang polisi tunggal yang gagah, ditakuti anak-anak sekaligus dihormati sebagian kalangan. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia adalah aparat Negara yang berseragam, ia akan bertindak atas nama Negara, demi kebaikan daripada seluruh warga Negara. Dia menjaga keamanan wilayah, suatu hari dua siswa berkelahi karena permasalahan mimpi basah. Kalian boleh mimpi basah dengan siapa saja, dengan Nona Silvy, dengan istri A Teang, atau dengan Lady Diana sekalipun. Namun jangan berkelahi, demi Tuhan, kalian hanya bocah bodoh, kencing saja belum bisa bikin lubang tanah. Belum tahu dia, betapa jelitanya Nona Silvy ini. Maka ketika ia ke rumahnya yang sepi, ia gemetar jatuh hati. Bagian ini sampai melenguh lega adalah bagian terbaik, anjay kalau saya bilang. Pertama ketemu bercinta, dan saling mengikat. Menghamili adalah cara lain untuk melamar. Silvy yang cerdas memilih calon ayah bagi anaknya, Ipi yang lelah karena hobi nganu-nya menemukan sarang yang pas. Kalau ini adaptasi Disney, garongnya keok. Namun enggak, ini adalah hikayat orang sial.

Tersebut pula Atino yang membela Negara, memberantas radikalisme para pemberontak. Apes pula nasibnya sebab sebuah serbuan maut membunuh keluarganya. Dengan dendam kesumat, ia menjadi pasukan Petrus-nya Soeharto, sambil mencatat para pembunuh untuk balas dendam. Sampai di sini tentu saja kita tahu, di bab mula bahwa ia merencana balas dendam, dan Martin Katibi tentulah salah satu dalam daftar.

Untuk kembali ke benang putus bab satu, kita masih diajak muter ke sebuah kehidupan lain. SMA Santa Helena yang termasyur itu dituturkan dari mula sekali. Romo Yosef ditugaskan menjadi kepala sekolah bobrok pesisir karena hukuman. Ia sukses mengubah sekolah kumuh menjadi sekolah favorit, banyak trik. Orang-orang cepat jatuh hati pada kemiskinan dan selalu ingin menjadi pahlawan. Dari sumbangan dan kerja keras. Bagaimana ia di ditempatkan di sana memang misteri. Ada yang bilang ia melakukan pelanggaran, ada yang bilang ia naik pangkat setelah menjadi asisten pastor ia kini menjadi orang nomor satu, walau terkucil. Tenang, kita akan diberitahu detailnya, karena dari Maria Goreti Naleok-lah sumber itu. Masa muda Maria yang idealis di kampus bertemu calon pelayan Tuhan yang kalem. Untuk menutupi gerakan mahasiswa, mereka membentuk Kelompok Doa Mahasiswa Ora et Labora, dan laki-laki itu turut serta. Lelaki berilmu yang dingin kepala, akan betah bersama perempuan yang cerewet dan suka mengumpat. “Jika kita selalu menjadikan Tuhan sebagai pelita, sebagai penuntun jalan kita, maka kita pasti bisa menjalani setiap cobaan di dunia ini.” Mereka saling cinta, terjadi berkali-kali ciuman panas, Maria sudah menyatakan ketertarikannya, tapi Yosef sudah membulatkan tekad menjadi pastor. Maka melalui ciuman panas perpisahan, Mari melanjutkan hidup menikah dengan lelaki Rumah Sakit bernama Wildan. Keluarga ini sempurna ketika buah hatinya lahir. Bung Felix tertawa, sebuah kecelakaan menewaskan suami dan anaknya, dan Maria menjanda. Seorang cerdas ini mendapat nasib buruk.

Nah, janda ini melakukan ciuman dengan Romo Yosef, masih ada cinta di antara mereka. Adegan hot itu ketahuan sang kepala, maka ia harus angkat kaki. Nasib akhir Maria sendiri membuat merinding. Orang cerdas tak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan, banyak impiannya tak terkabul, cinta, karier, keluarga ini. Rapuh. Di pemakaman suami-anaknya ia mengumpat, umpatan yang fasih dan menggelegar di arena dukacita. “Kesatuan Negara? Kesatuan Negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya… Sangkamu kesatuan Negara lebih penting daripada… puih! Anjing!”

Kita kembali ke Silvy Hakuak Namepan yang lulus seleksi masuk SMA, Yunus Mafut Namepan menangis seperti gembala kehilangan sapi, bukan bahagia, tetapi ia menangis sebab terus-terus merasa gagal menjadi orang tua. Nasib Yunus sendiri mengambang. Setelah ditinggal istrinya Yanti yang kabur sama laki lain, ia mengalami degradasi mental. Guru yang terpuruk. Nah, Silvy putri tunggalnya ini cerdas, membuat heboh sekolah asrama ini. Sebab kerap ia menyela penjelasan mereka dan mengajukan argumen lain dengan sumber data yang jelas dan landasan berpikir yang kuat. Tak ada yang bisa membantahnya. Kecerdasan ini membuatnya diminta keluar kelas, diminta belajar mandiri dalam perpustakaan pribadi asrama. Kita tahu ada adegan mesum di dalamnya karena suatu ketika sang kepala sekolah pulang dalam keadaan demam, dan terjadilah apa yang yang menjadi penyebab Silvy ke Oetimu.

Satu tokoh lagi yang menjadi link adalah Linus Atoin Aloket. Dari enam ratus delapan puluh Sembilan orang sarjana laki-laki yang melamar, ia satu-satunya yang diterima sebagai guru SMA Santa Helena. Karakter bodoh yang aneh nan menjengkelkan. “Di dunia yang fana ini, uang bisa membeli kebahagiaan kalau kau tahu cara menggunakannya.” Menjadi guru sejarah tapi nggak nyambung masalah masa lalu. Apa pula gunanya berpikir? Ia hanya perlu bekerja. Kerja, kerja, dan kerja. Biarkan Romo Yosef yang berpikir. Tokoh paling menjijikkan ini menjadi kunci utama untuk menyambungkan adegan pembuka, mengapa Silvy pindah sekolah diantar Om Lamber dan Tanta Yuli.

Di Oetimu, segala yang ditata rapi itu berakhir berantakan. Saya suka sekali kisah hidup tragis, Bung Felix menyajikannya dengan melimpah ruah, suram adalah koentji. Orang-Orang Oetimu adalah novel lokal terbaik yang kubaca tahun ini. Serius!

Hajindul, keren banget! Sabtu malam kemarin (26/09/20) saya chat WA sama teman diskusi (buku, bola, film) – Bung Tak saya memanggilnya – bahwa pemenang KSK tahun ini adalah Orang-orang Oetimu, beliau punya podcast channel dan mau undang ngobrol. All hail mokondo channel! Beliau tanya, tahu dari mana? Pengalaman membaca banyak buku membentuk pola, otomatis feeling bagus/jeleknya bisa diperkira. Benar saja, esoknya di Minggu siang yang terik saya mendapat kabar lima besar dari Dunia Maya, dan buku ini melaju. Nah kan! Dari delapan buku KSK 20 yang sudah kubaca, ini satu-satunya yang berbintang lima. Masih dua buku lagi sore itu baru diterima via pos, tapi keduanya sudah gugur duluan. Jadi fix, bisa dipastikan juara Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 kategori prosa adalah novel ini.

Banyak sekali kritik sosial disampaikan. Korupsi, perilaku buruk masyarakat, sampai birokrasi yang ribet. Orang-orang itu telah korup sejak dalam pikirannya, sehingga satu pejabat korup hanya akan digantikan oleh kroninya yang juga korup, dilindungi oleh rezim yang juga korup, dipermudah oleh sistem yang juga korup, dan didukung oleh budaya tidak tahu malu yang menjijikan. Atau kritik kekerasan dalam pendidikan. Dalam asrama itu diperboleh. Tak apa jika mereka dibikin nyonyor dan berdarah-darah. Lebih baik berdarah di masa muda daripada hancur seluruh masa depannya…

Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 ini sepertinya akan berpesta di 15 Oktober nanti. Fiksi Etnografis Sempurna: Orang-Orang Oetimu is lock for best Prosa KSK 20. Wanna bet?

Orang-orang Oetimu | by Felix K. Nesi | Penerbit CV. Marjin Kiri | Juli 2019 | Cetakan ketiga, Februari 2020 | i – viii + 220 hlm, 14 x 20.3 cm | ISBN 978-979-1260-89-3 | Desain sampul TINTA Creative Production | Skor: 5/5

Karawang, 280920 – Jo Stafford – Autumn Leaves (1950)

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokopedia

Delapan sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Nasib Mang kAslan Kita yang Menentukan

Rab(b)i by Kedung Darma Romansha

Memang kadang dunia bekerja dengan tidak adil… Telembuk yang diludahi di muka umum, juga diludahi ketika di dalam kamar.”

Kalau ngomongin Kedung Darma Romansha, bukunya akan selalu berkutat di selakangan. Kelir Slindet sangat kental ke arah sana, Telembuk lebih ekstrem lagi. Maka apa yang kurasakan di tengah gempuran Rab(b)i sudah kukenali pola itu. Buku ketiga yang kunikmati, ngalir saja, ga perlu mikir aneh-aneh, ketawa sahaja. Seperti satu-dua yang butuh waktu lebih untuk ‘tune in’ sampai buka kamus arti ‘slindet’ atau arti ‘telembuk’ yang baru kutahu, tak heran sejak cerita pertama saja sudah bisa menebak, bagaimana enggak aneh? Istri jadi TKW, kasih modal suaminya di kampung buat niduri seratus pelacur! Selain dari judul yang dicoret, ada alasan poin penting yang akan diungkap di cerita ketiga.

Novel yang tiap bab bisa berdiri sendiri, dari sudut pandang banyak karakter, saling silang melengkapi. Sang Diva, tokoh utama di kisah sebelumnya, kini hanya cameo, sesekali saja muncul dan disebut.

#1. Kaji Darsan Rab(b)i

Hikayat orang kaya yang baik hati memberi pekerjaan kepada orang susah. Sampai akhirnya kita tahu, tak ada yang gratis di dunia ini. Kisahnya tentang suami tak tahu diri. Seorang pemimpi tak tahu diri, sebenar-benarnya pemimpi. Kerjanya hanya melamun dan berjudi.

Tentang Kartamin dan keluarganya yang bekerja di toko kelontong milik Kaji Darsan, padahal sejatinya ia dijanjikan jaga empang, di menit akhir diganti orang lain, kisah Dulatip akan dibeberkan di cerita berikutnya.
Namun kita akan mengenal lebih dekat sama putra sulungnya yang beruntung bernama Untung. Menikahi Wasti dengan adegan ketiaknya (jorok woy!). “… Kamu tahu, kalai bau ketiak laki-laki itu menyenangkan?” Menjadi istirnya, nantinya juga menjadi ATM-nya ketika memutuskan jadi TKW. Emang dasar Untung, malah rabi lagi sama Nurlaila yang suka peliharaan ayam. Drama itu menemui ujung udur dua istri. “Wah hebat kamu, suamiku perkasa!”

Pembuka yang mantab sekali. Ilustrasi cover-nya sangat pas, ayam jago santuy sementara dua babon padu. 20 juta tunai!

#2. Nar

Tentang Narka yang yang menjadi tukang parkir untuk dapat duit buat nyawer. “…Saweran adalah candu bagi setiap pemeluk dangdut garis keras. Kamu sendiri pemeluk teguh, tentu juga aku.” Bergoyang bersama Diva Fiesta adalah impian setiap pemuda untuk mencium aroma tubuhnya dan menatap aurat kecantikannya dari dekat.

Ini drama keluarga, urusan suami-istri yang bertengkar karena ekonomi. Namun suatu ketika Nar memiliki surpes, kejutan buat rabi-nya. Zaman sudah berubah, lakon sudah berubah, tapi masih menyukai cerita lama. Memang kadang cinta membuat seseorang bersikap tak wajar.

Jangan membantah suami, Dosa!” / “Membantah suami kalau kayak kamu ini dapat pahala.”

#3. Juragan Empang

Alibi dibalik kenapa Kartamin gagal mendapatkan pekerjaan urus empang ada di sini. Dengan sudut pandangnya yang menjadi karyawan Pak Kaji, dan istrinya yang ngambek. Kartamin merasa beruntung diberi pekerjaan oleh Kaji Darsan, pendapatannya yang labil sebagai buruh tani, buruh bangunan, atau serabutan lain selain nganggur, kini ia bisa bernapas lega. Ada yang aneh terkait istrinya yang semok berhari-hari ga mau rabi, bahkan saat diberi kejutan gelang emas di meja kamar. Sebab ngambeknya lalu dituturkan dengan santuy dan menghentak, lewat kamar yang sedikit terbuka, dan permintaan cerai!

Ia ingin membeli kesenangan setelah lama kami hidup serba pas-pasan.

#4. Ngarot

“…Ia juga punya istri mirip tukang pukul. Suka membentak, ia tersenyum hanay ketika melihat uang.aku berani bertaruh, siapapun laki-lakinya, hasrat seksualnya akan turun jika bertemu perempuan seperti dia…”

Ini mungkin cerita yang paling biasa. Bagaimana nasib pemuda-pemudi yang dipilih jadi ngarot. Ditemui typo juga, harusnya tiga bulan tapi malah tiga tahun. Rasmini yang terpilih dalam acara kasinoman dalam upacara Ngarot, muda-mudi dengan darah segar mendebarkan. Memilih laki-laki perjaka, dan gadis perawan. Indikasi bunga layu akan menunjukkan keasliannya sudah tak suci lagi.

Drama di tengah sawah dengan Mang Sukri. Duh! Pulung guna pulung sari. “Semua orang takut sama kakakmu, tapi rasa cintaku lebih besar dai rasa takutku.”

#5. Menjaring Bidadari

Nelayan yang diajak melawan pantangan, melaut di kala purnama. Kegiatan yang katanya membentuk kutuk sulit jodoh, menurut Kaki Bayong. Hanya di kampung ini Tuhan menurunkan bidadari di kala purnama. Bertiga melaut, memang benar-benar tak dapat ikan. Lalu acara sambatan pasar jodoh muda-mudi di malam itu menjadi pahit, karena Narka malah mendapat apa yang ia mau. Hiks,…

Selama ini yang mereka lakukan adalah kesia-siaan. Kasihan mereka, sudah hidup susah, malah disumpahi masuk neraka.

#6. Kang Sodikin

Kiai mbeling putra Kiai Soleh dari desa Rajasinga yang bergaul tanpa memisahkan kasta. Isi ceramahnya juga nyeleneh, lebih membumi. Gaul dengan siapa saja, tak peduli telembuk atau jelata yang membutuhkan siraman rohani. Kisah ini menemui titik akhir, bagaimana malam-malam ada perempuan menanyakan alamat Kang Sodikin, fitnah itu kejam. Maka Dorman dkk yang punya dendam lalu melancarkan isu negatif, menggelar demo ke rumahnya, walau peserta segelintir (tak lebih dari sepuluh). Jawabnya bikin geger, tapi bohong!

Sebuah misteri terjawab, Sang Diva disebut lagi. “Wujud nyata yang paling dekat dengan Tuhan di dunia ini adalah perempuan.”

#7. Lebar-an

Ini unik, walau bukan pola baru mengungkap sebuah kengerian pribadi yang meninggal. Bagaimana sebuah pos ronda menjadi tempat diskusi maksiat guna melancarkan aksi curi, tempat yang seharusnya menjadi titik kumpul penjaga keamannya malah menjelma ajang judi dan perencanaan merampok. Jelang lebaran, kebutuhan manusia turut meningkat, dan marak begal dan kriminal.

Dengan sudut pandang Aan yang merindu suasana kampung setelah kuliah keluar kota, momen lebaran memang jadi waktu lepas rindu keluarga dan sahabat lama, ada Casta dan Kartam yang saling curhat masalah keluarga. Menanti sobat lama Yusup alias Kriting apakah mudik tahun ini, ia merantau ke Jakarta (tepatnya Bekasi). Ketika sudut pandang berganti, tahulah kita apa yang terjadi. Rindu itu berat, biar aku saja. Baju baru, celana baru, jam tangan palsu baru…

Di tepi jalan ini kami biasanya membakar singkong tanah sambil membicarakan kerumitan hidup, perempuan, kelakar, dan omong kosong lainnya.

#8. Asbabul Wurud

Siapa yang sanggup menjawab rahasia mimpi-mimpi? Ustaz Karim, sebab orang takut mati adalah orang yang imannya lemah dan cinta dunia.

Banyak-banyaklah beribadah, jangan mau diperbudak dunia. Setelah meyakinkan untuk siap mati, beliau malah mengalami mimpi buruk, yang ia yakini datangnya dari setan. Namun sampai lima malam, ia bermimpi masuk neraka dengan adegan lain seorang telembuk masuk surga. Wajah ayu yang menghantuinya, lalu ia buka facebook-nya Mang Kaslan dan mengetahui siapa gerangan. Si Ratu Goyang yang rajin sedekah, Si Nadira Cantik alias Warjem. Masa lalu diungkap tentang sumbangan dari uang haram. Nah lo!

Pesantren yang sebenarnya ya sekarang, di tengah masyarakat.

#9. Jangan Tanya Dulu Bagaiamana Aku Mati

Kata ‘seandainya’ hanya akan membuatmu terpuruk dan lupa diri. Kamu akan menjadi orang yang tak waras dan akhirnya mengutuk ketidakmampuan diri sendiri. Ini kisah unik, kisah dari sudut pandang si korban pembunuhan, yang sudah baca Telembuk pasti tahu siapa germo Diva Fiesta, yang tewas dibacok orang tengah malam di tengah sawah. Kisah dituturkan runut dari masa lalu Mak Dayem, usia 12 tahun menjadi istri siri, menikah kedua kali kacau lagi, menikah ketiga kali sejatinya lebih tenteram, syarat tidak nelembuk malah dilanggarnya. Kalian tahu? Ialah ibu dari Warjem. Namun bukan itu kejutannya, ini adalah kisah mistis mediumisasi.

Kenyataan hidup telah mengubah cinta menjadi pembunuh yang paling mengerikan.

#10. Mang Kaslan

Jangan macam-macam dengan nama, karena nama adalah doa.” Mang Kaslan yang merasa jadi singa, karena namanya sempat menjadi Aslan (singa – bahasa Turki). Ia adalah karakter penting yang jadi penghubung, menjadi ojek Diva dan Warjem, yang menjadi rujukan Ustaz Karim dalam menelusur dunia maya, yang jadi penjawab tanya, Safitri atau Sapitri? Pipit atau Fitri? Nah, kali ini di tengah perjalanan satu setengah jam bersama motor tuanya, ia terjungkal. Dan nasibnya kita yang menentukan.
Marah pada diri sendiri dan tak sanggup menghadapi kenyataan yang sedemikian pahit.

#11. Mengenai Pengarang

Pernah nyaris kusingkirkan novelnya (walau sudah kubeli) karena ada unsur ‘Roma-nsha-nya’ di nama belakang, tapi urung setelah sosmed mencipta hubung, memastikan bukan Romanista. Penulis Indramayu yang pernah mondok di Yogya, dan kuliah jurusan Bahasa dan Sastra di UNY. Boleh jadi semua yang ditulis tentang tanah kelahirannya adalah fiksi, tapi bercerita tentang dunia sekitar adalah hal wajar dan tentu saja tampak sangat nyata, ga perlu telaah mendalam untuk bilang tokoh Aan adalah gambaran Kedung, walau nantinya keduanya berinteraksi. Makanya tampak perkasa dan baik hati, dan eeheemmm… soleh. Lulusan pesantren! Tahun 2017 Telembuk yang luar biasa, sangat tipis untuk meraih juara KSK, apes saja Dawuk muncul di tahun yang sama. Prediksiku, Rab(b)i akan melaju lagi ke lima besar, sejauh ini ada tiga yang berskor: 4.5 bintang. Mari kita lihat, sehebat apa mantra Kaji Darsan mewujudkan mimpi penciptanya, moga ga sampai keselek mlinjo.

Kalau boleh kasih saran, buku berikutnya sesekali mencoba jauh dari tema yang membentuk citranya sebagai penutur sekitar selakangan. Misalkan, bikin cerita genre fantasi imajinasi, perjalan ke galaksi Bima Sakti. Atau tentang kekayaan flora dan fauna laut, berjuang membantu Aquaman, misalkan ya ini. Jangan ketawa, kan sekadar contoh. Namun percuma juga sih, seandainya dibuat, tahunya astronot mesum ketemu alien nongkrong atau nelayan yang terperangkap putri duyung yang lagi cari mangsa. Duh! Nelembuk enak, setelah maninya muncrat, langsung gajian. Mudah, praktis, dan enak. Bayangkan di luar angkasa, atau di tengah laut. Maninya melayang.
Hehehe…

Tambahan dikit, ada nama Dea Anugrah di sini. Dua kali saya menemukan namanya disebut dalam novel. Pertama dalam Dekat dan Nyaring-nya Sabda, sekilas lewat cameo di akhir, kedua di sini, sebagai sahabat tobat. Asyik juga ya menyebut sobat Penulis dalam buku. Sungguh terasa istimewa Sang Bakat Menggonggong ini, apakah sebuah konsolidasi?

Rab(b)i | by Kedung Darma Romansha | Copyright 2020 | Penyunting Anis Mashlihatin | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Ilustrator sampul Hidayatul Azmi | Penata sampul dan isi M. Sadam Husaen | Cetakan pertama, Juli 2020 | Penerbit Buku Mojok | viii + 136 halaman | 14 x 21 cm | ISBN 978-623-7284-30-7 | Skor: 4.5/5

Karawang, 170920 – Yusuf Islam – Father and Son

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokped

Empat sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Realitas Merenggut Mimpi-Mimpinya

La Muli by Nunuk Y. Kusmiana

Tahukah kamu, Inah, nelayan sepertiku tidak bisa memilih-milih. Aku tidak benar-benar tahu ikan apa yang memakan umpanku. Cukup sering menangkap penyu dan terpaksa kulepaskan. Meski hati ini sedih mendapati mulutnya yang terluka karena kailku.”

Buku kedua dari Nunuk Y. Kusmiana yang kubaca setelah Lengking Burung Kasuari yang memukau itu, debut yang sukses berat. Kali ini temanya lebih variatif, mengambil sudut pandang penduduk asli Papua yang ditunjuk menjadi ketua RT, mencoba memecahkan masalah warga, menjadi penghubung pemerintah dan penduduk asli dan juga pendatang. Sebagai nelayan yang baik hati. Pondasi utama cerita ini adalah sebuah sumur yang terbuka yang coba dibuatkan dinding agar tak terjadi porno aksi, mereka dianggap melakukan mandi dengan porno sebab area terbuka, mengenakan sarung untuk dewasa dan telanjang bulat untuk anak-anak. “Masuk neraka saja komandan itu. Bikin susah semua orang, mentang-mentang dong tidak pernah mengalami susah air.”

Kali ini seolah tokoh-tokoh penting di Lengking menjadi tokoh pendukung saja. Bu Letnan adalah perwujudan ibunya Asih yang membuka toko kelontong. Kisahnya hanya berkutat di Papua, ujung Timur Indonesia yang bergabung dengan Indonesia 1969. La Muli adalah ketua RT yang terpilih, tak berpengalaman berorganisasi, warga asli kebanyakan yang tak terlalu mengenal birokrasi, mengalahkan La Ode Komarudin yang lebih kaya dan telah lama diakui berkuasa (walau tak sah). Istrinya Mutmainah (dipanggil Inah) adalah pribadi yang sederhana pula, berpikir praktis yang penting dapur ngebul, ada ikan yang dibawa pulang. Urusan dinding yang rumit, tak menghasilkan uang atau makanan membuatnya muak. Sejatinya hampir semua istri juga gitu-kan, “Cari duit kakak, bukan pangkat atau jabatan!”

Sebagai nelayan kecil, La Muli menjadi presensi nyata kehidupan warga kebanyakan. Tidur awal menjadi kemewahan tersendiri bagi nelayan seperti dia. Dibuka dengan masa kecilnya yang absurd bahwa ia akan menjadi orang penting yang disampaikan berkata-kata oleh kakek berambut putih yang dianggap gila, tapi ramalannya jitu. Ketua RT yang (mencoba) mengayomi, istrinya terlihat ngalir saja hidup. Pakai seragam? Enggak! Dapat gaji? Enggak! Apa pentingnya?! “Pekerjaan ini adalah kontribusi nyata warga bagi tertib administrasi.”

Suatu ketika dapat instruksi dari Komandan untuk membuat dinding di sumur umum agar tak menjadikan porno aksi, hal sederhana ini lalu memicu rentetan panjang masalah. Iuran warga per Kepala Keluarga (KK) dua puluh lima ribu rupiah, menjadi beban. Bukan macam gini, main buka mulut saja, macam uang tinggal ambil di pohon-pohon. Tak semua mau memberi, ada yang bayar tunai, ada yang bayar separuh, ada juga yang tak mau bayar. Pak RT mumet. Polemik pertama muncul dari pelacur berambur lurus, Sarita yang tinggal menyewa rumah La Rabaenga, belakang rumah Wa Ome. Ketika ditagih, malah menyampaikan kabar untuk menagih ke palanggannya yang utang, La Udin. Dalam rapat, walau La Muli tak menyampaikan langsung salah satu masalah penarikan iuran, hanya tersirat, tetap membuatnya marah. Suatu malam, La Udin melakukan tindak kekerasan yang berakibat Sarita harus dirawat di rumah sakit. Ada warga mendengar jerit sakitnya, tapi malah pasif sama ‘Bibi’, soalnya sudah terbiasa mendengar jeritnya. “Menantuku dengarkan ini, kalau ada kejahatan sedang terjadi dan kita diam saja, padahal kita mampu melakukan sesuatu, bukankah kita ikut berdosa?” Jangan bayangkan rumah sakit yang mewah dan mudah dijangkau, di sana urusan medis juga rumit dan sebagai ketua RT, ia harus mengantar. Waktu dan tenaganya tersita banyak.

Di sinilah seninya, urusan dinding sumur merembet ke yang lain. Bahkan eksekusi endingnya ketika dinding jadi-pun masalah bukannya selesai, malah melebar ke lain hal pula, karena dinding itu bermasalah (saya bocorin dikit, masalah cakar ayam!) lalu malah La Muli dituduh korupsi dana warga. Astaga… mau mandi nyaman dan aman saja ribetnya. “Mengapa ada orang yang tega mengurusi bagaimana caranya orang mandi?”

Buku ini juga terasa bervitamin, dengan menyodorkan fakta-fakta kecil yang asyik. seperti pola tidur nelayan yang menyesuaikan jadwal kerja. “La Muli masih tidur, kamu akan sulit membangunkannya, meskipun kamu meledakkan bom di telinganya. Beginilah nelayan sejatinya, atau kamu bisa kembali sedikit siang, ia akan bangun saat itu.”

Fakta permainan harga untuk komoditi ikan, saat bulan terang dan saat ada badai, harga ikan melambung tinggi seperti harga emas. Mirip dengan budaya pertanian yang mana, kala panen raya justru harganya terjun. Atau hal sepele tentang sopan santun berpakaian ketika menghadap orang penting, “baju diseterika membuat bapa kelihatan penting.”

Tentang tata cara berniaga ada yang bikin trenyuh, bagaimana ada yang jualan hasil kebun dari pulau seberang. Pulau Muna yang jauh, mengangkut hasil alam untuk dijual di sana, dengan mengarungi laut dua hari berperahu seadanya, bersama angin yang menggerakkan layar terkembang! Gilax, terdengar janggal tapi juga nyata. “Selamat datang, selamat berjuang di tanah rantau yang keras ini.”

Di Papua nuansa reliji juga kental. Sayangnya Allah kelewat sibuk bekerja, sampai-sampai aku mendapat ‘kembung-kembung’ yang tidak berharga ini, dan teri yang jauh tidak ada harganya di pasar. Rasanya aneh debat suami-istri ini, saling silang pendapat. Dua orang yang berdoa kan lebih kuat daripada hanya satu orang, “Kurasa kalau kau ikut berdoa, Allah akan menutup kupingnya, karena kamu selalu berdoa dengan berisik. Kalau kita berdoa untuk mendapatkan hanya ikan yang tidak kelewat besar. Mungkin Allah akan mendengar doamu dengan mendatangkan ikan-ikanyang tepat.”

Satu lagi fakta asyik. bagi kita ngopi bergelas-gelas dengan aneka rasa dan merek sudah biasa, dan setiap saat juga bisa. La Muli dan uring-uringan istrinya yang kekurangan dana, buat kopi manis saja jarang-jarang. Sebuah kejadian langka, ngopi manis dan nyaman dengan buku atau HP. Maka ketika bertamu ke Sarita meluruskan masalah dan mendapat suguhan kopi, bersama Letnan. Respon keduanya berseberangan. Pak Letnan yang berkecukupan, menganggap kopinya basa-basi yang tak menarik (bahkan tak diminum!), lain halnya Pak RT. Ia mencecap dan menikmati setiap seruputannya. La Muli membayangkan akan kenangan kopi manis di rumah Sarita. Mulutnya bahkan masih bisa mencecap rasa manis yang tertinggal di sana. Haha… bersyukurlah wahai umat santuy sekalian.

Tentu saja kita harus angkat topi untuk pemilihan diksi, dibawakan dengan meriah dan renyah. Mencipta nyaman para pembaca guna mengikuti alirannya. Bahkan dengan menatap pohon pisang dengan tanpa alasan yang jelas dan menanyai tentang jenisnya. Sebaris kalimat sederhana yang mumpuni. Atau penutup paragraf berujar: Senja lenyap seperti satu tiupan napas. Malam pun datang. Nah! Sastra yang asyik-kan, tak perlu kerut kening untuk dunia jauh, dituturkan dengan porsi adonan kata pas. “Dinding yang bagus, aku ikut membangunnya.”

Nilai minusnya, ada beberapa misal: terlampau sering menyebut ‘batok kepala’ sebagai ungkapan ada pemikiran yang akan atau tertahan untuk disampaikan. Sekali dua sih OK, tapi ini udah kebablasan. Tema sumur sempat akan membuat boring, konyol sekali, sampai sebegininya urusan air bersih. Untungnya temanya diperlebar ke lainnya, terutama ketika Inah memutuskan terjun ke laut saat ‘bertemu’ teman lama Zubaidah, teman Mutmaimah satu-satunya di perantauan mati bunuh diri. Kisah menjelma abu-abu, memudar dan melejit lagi dalam bayangan. “Jangan mengingini yang aneh-aneh Idah, tidak baik menyimpan pikiran macam itu.”

Tema kritik pemerintahan juga tersebar di banyak halaman, tank bekas Perang Dunia II di lepas pantai yang akan dibeli (oleh orang Jawa), menjadi polemik suku asli. Besi rongokan yang oleh kaca mata awam otomatis berpikir, buat apa? Dihargai oleh orang jauh, buat museum misalnya. Papua besarnya tiga setengah kali pulau Jawa luasnya. Lalu kritik terhadap birokrasi, “sering kukatakan kepada anak buahku harus menangani kampung kacau-balau ini dengan tegas, tapi tidak kasar.” Dan terutama sekali ketika Bapa Ondoafi dan anaknya menghadap Gubernur. Kelihatan sekali itu suara hati sebagian rakyat, orang-orang Pemerintah itu hanya mau menafsirkan hukum yang menguntungkan mereka saja. Tentang hak guna tanah, hak kelola dong tapi dimaksudkan jual beli. Dengan naskah kumal dan kuno sebagai bukti? Kritik nyata dalam sastra. Jadi kalau kalian membenci penjajah, atau merasa nenek-moyangnya didzolimi, sampai mengutuk keras Belanda atau Jepang atau segala penindasan yang melatari segala hubungan bilateral, pikir lagi! Sangat jelas, bangsa kita juga melakukannya hal serupa. “Sudah kuduga akan begini.”

Debat suami-istri ditampilkan tak hanya La Muli dan Inah. Pak Letnan dan istrinya yang menjaga kios juga sesekali muncul. Walaupun kita sudah banyak menikmatinya dalam drama Lengking Burung, di sini sisa-sisa sausana kehebatan Bu Yatmi masih terlihat. “Dia itu polisi, Bu. Aku tentara, beda urusan… Dia urusan sipil aku urusan perang, beda jurusannya.” Asyik. Sehat terus #Wildan!

Ditemukan beberapa kata tak baku, misal ‘hutang’, typo juga berkali-kali ditemukan contoh: ‘bagaiamana’, ‘istrtinya’. Bagian teknis yang bagus tentu saja ada di covernya yang keren. Suka sama ilustrasi sederhana gini. Urusan cetak kertas buram atau hvs bagiku tak terlalu pengaruh yang penting jilidnya OK. Kalau boleh saran, editingnya harus ditingkatkan, triple check kalau perlu. Proof reader itu penting, sangat dianjurkan! Ini adalah satu dari rangkaian paket KSK Daftar Panjang dari Basabasi, yang tahun ini mengirim empat wakil! Wow… untungnya #unboxing pertama ini, bagus. Jadi ada antusiame lebih guna melanjutkan. Prediksiku, dengan skor empat setengah bintang (skor yang sama kuberikan untuk Lengking Burung) rasanya sangat pantas masuk daftar pendek. Tema mirip dengan Burung Kayu yang kemarin selesai baca (suku pedalaman, ketua RT/Kepala Desa, sampai budaya lokal yang tergerus), tapi jelas pembawaan La Muli lebih mantab, lebih hidup, lebih asyik, lebih terasa lelehan nikmat di setiap halamannya, bisa jadi sebab Nunuk mengambil setting tempat ia tumbuh, sudah menghirup dalam-dalam bertahun latar yang dicerita, singkatnya tempat yang sudah ia sangat akrabi, jadi memang seolah mencerita pengalaman pribadi. Good!

Ketika laut mampu memberimu apa saja, mengapa mengais-aisnya di daratan? “Pendek saja doanya, Allah tahu bagaimana terdesaknya kita dengan waktu.”

La Muli | by Nunuk Y. Kusmiana | Editor Faisal Oddang | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Tata sampul Sukutangan | Tata letak Ieka | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, Maret 2020 | Penerbit Basabasi | 200 hlmn, 14 x 20 cm | ISBN 978-623-7290-78-0 | Skor: 4.5/5

Karawang, 160920 – Linkin Park – Plc 4 Mie Head

Thx to Basabasi Store, Titus Pradita, Shopee.
Tiga sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Legeumanai Sura’-Sabbeu

Burung Kayu by Nudiparas Erlang

Mengapa dendam dan pertikaian tak berkesudahan?”

Buku yang kental sekali budaya daerah Mentawai, di pedalaman Pulau Siberut, Sumatra. Banyak kata daerah disodorkan, butuh beberapa kali baca kata itu muncul dan diulang untuk paham, karena di sini tak ada bantuan/glosarium. Imajinasi naratif yang rada kebablasan. Temanya mempertahankan budaya asli di tengah gempuran modernitas, pemerintah pusat (Jawa) yang mencoba masuk, mendirikan perkampungan baru, memberi bantuan rutin, memberi opsi agama International, mencoba memberi napas pemikiran baru. Sementara kebiasaan lama dengan roh kepercayaan, seteru dengan suku sebelah, sampai kebiasaan-kebiasaan yang turun dari moyang perlahan kena gusur. Tema bisa juga lebih melebar dengan unsur memertahankan lingkungan asli, hutan yang sudah banyak dibabat itu harus dilawan. Namun tak, lebih ke drama keluarga. Seperti kata-kata di sampul belakang, ini tentang dendam yang terkorusi waktu dan keadaan. Mereka diikat kepentingan yang sama: menyelamatkan hutan dari penggundulan, menuntut ganti rugi atas ladang dan hutan yang akan dimanfaatkan perusahaan.

Kritik sosial juga tersaji dalam perselisihan surat serah terima tanah 36 hektar tanah kepada Dinas Sosial menjadi seluas 360 hektar. Jelas itu manipulasi data, korupsi khas Indonesia. Rasanya bikin geram, tapi nyatanya memang hal-hal semacam ini ada, menjamur subuh di era Orba. Maka sungguh jenaka ada karakter anjing bernama Sistem atau Pemerintah.

Kisah utamanya tentang Legeumanai, sosok yang kuat dan berdiri di antara budaya lama dan serbuan budaya nasional. Kerja sama dunia medis dan dunia roh yang mungkin bisa ditempuh tanpa mencederai keyakinan para penghuni lembah. Ia menjadi penghubung, pejabat yang ditunjuk mewakili suku sekaligus mulut pemerintahan Indonesia. Untuk sampai ke sana, kita diajak keliling ke masa lampau. Masa ketika berburu babi menjadi gengsi tinggi para uma/suku pedalaman.

Pertikaian-permusuhan antardua uma, sudah terjadi lama sekali sebelum masa Legeumanai. Sejarahnya tercatat (dan mungkin terbaca lucu), karena babi kabur bisa menjadi pemicu pembunuhan. Perselisihan uma satu dengan uma lain, dimulai dari seekor babi sigelag, babi besar yang dijadikan alat toga keluarga Babuisiboje untuk mengawinkan anak lelaki mereka dengan adik perempuan Baumanai. Naas, babi yang dipersembahkan itu kabur pulang, lantas dicari dan ditanyai, tapi enggan mengaku. Nah, si gadis membocorkan fakta. Dan dua pemuda yang naas dibunuh karena emosi. Permusuhan itu lalu turun temurun, karena para pembunuh kabur membuka lahan baru dan beranak pinak. Baumanai yang dikenal di sekujur lembah sebagai leluhur yang pernah membunuh keluarga Babuisiboje. Keturunan berharap kedua uma akan menjalani paabat.

Uma yang patut disegani di saentero lembah menjadi jargon utama. Membalas kekalahan berburu dengan menenggerkan burung enggang-kayu di puncak pohon katuka. Menjadi petaka ketika sang pemanjat tewas di depan anak dan istrinya. Awan hitam menggumpal-mengental di atas bubungan sapou-nya… hanya remang senja yang terlihat. Menjadi penutur bagaimana tragedy itu tercipta. Ah, siapa yang dapat mengira cuaca? Saengrekerei ke puncak pohon. Memasang burung enggang-kayu, dan wuzzz… wassalam.

Uma-uma atau suku-suku yang berkerabat dan yang bermusuhan – sebagaimana kisah-kisah yang kadang mengesankan, kadang memilukan, kadang membanggakan, yang didapatnya saban malam dari teuteu-nya. Mengurai-mengurut asal-usul uma, tak mungkin terhindar dari kisah mengenai pertengkaran dan perpecahan, kekecewaan dan kepergian, ketakcukupan dan keterpisahan. Ayam dan babi adalah pembayaran yang sangat berharga pada waktu itu

Kisah cinta sepasang remaja yang tengah menikmati rejana semesta. Mereka beda uma, mereka menyatukan atas nama asmara. Tampak romantis, berkencan dengan alam dan seekor ulat yang menyatu dalam ciuman. Cintanya tak pernah ikut mati atau menjadi sekadar kiretat di pohon durian dan di dinding uma. Keduanya melupa, melupa pada pantang-larang, pada tulou yang mengintai dan mengancam.

Keputusan Taksilitoni menikahi adik iparnya memang diliputi banyak alasan, tapi terasa masuk logika demi anak kesayangan Legeumanai. Pindah ke Dusun Muara, barasi baru buatan pemerintah untuk memajukan suku-suku di hulu. Saengrekerei sang kepala desa yang dihormati, ada bagian ketika bantuan dari pemerintah beras-beras berkarung itu akan didistribusikan dengan kapal, agar tak bolak-balik maka beberapa kapal mengangkut banyak, tapi tetap saja ada yang tak terangkut, sebagai kepala desa yang berpengalaman ia memutuskan yang tak terangkut disumbangkan ke daerah sekitar. Beres? Sementara…

Karena suatu ketika muncul desas-desus bahwa beras itu dikorupsi sang kepala desa, mengambil dan menyimpan untuk pribadi. Betapa marahnya ia, maka ia melakukan sumpah. Bernyali melakukan tippu sasa, melakukan kutukan bagi dirinya sendiri di hadapan banyak mata. Dan berdoa Ulaumanua melindungi anaknya. Jleb! Keren… Padi tak pernah tumbuh subuh di tanah gambut tanah lumpur tanah cadas.

Ada bagian setiap selip beberapa bab, tentang tarian mistis. Antara impian atau kenyataan, laku purba untuk memohon roh leluhur atas sebuah musibah atau permintaan yang rasanya sulit diwujudkan. Mimpi-mimpi tentang sirei muda yang menari di atas api unggun. Jangan biarkan jiwa-jiwa keluar dari kampung ini. Dan engkau roh-roh punen, terimalah roh-roh mereka, dan lindungilah mereka dari segala penyakit dan dari kejahatan. Persembahan yang rasanya akan dimusnahkan agama baru itu lantas kembali dilakukan demi keselamatan seorang terkasih. Legeumanai Sura’-Sabbeu. Ia dingin di dalam api…

Dalam remang purnama, semua yang hadir di uma itu bergeletakan; sebagian berbaring begitu saja di beranda, sebagian lainnya membentangkan kelambu-kelambu dan meringkuk di dalamnya. Pikirannya kusut-masai.
Budaya yang dipertahankan menjadi benteng kemajuan. Seekor babi telah disembelih, dimantari, dan dibaca juga gurat hatinya. Bukahkah jiwa-jiwa kami telah dipikat sedemikian rupa agar tetap betah di uma. Lucu juga agama baru yang diperkenalkan mendapat sambutan, walau banyak yang berganti-ganti sesuai selera. Semua orang mengaku sebagai simata saja, sebagai orang awam saja. Sebagian menanggalkan agama lama dan menggantinya dengan salah satu agama-baru-resmi-pula. Rada aneh rasanya, Menyanyikan lagu-lagu pujian kepada tuhan yang bukan roh leluhur. Babi bagi muslim haram, tapi di sana kan jadi kebanggan kekayaan. Sipuisilam, tak boleh makan babi. Nah!

Ini adalah kandidat pertama KSK yang kubaca pasca pengumuman daftar panjang. Lumayan bagus sebagai pembuka, bisa masuk daftar panjang saja sudah syukur, apalagi bisa melaju ke lima besar, yang jelas bukan jagoanku untuk juara. Buku pertama yang kubaca dari penerbit indi Teroka, yang ternyata masuk ke ‘Naskah yang Menarik Perhatian Juri’ Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019′. Temanya terlalu umum, sudah sangat banyak cerita tentang suku pedalaman yang diterjang modernitas, walau dengan bahasa yang unik, walau dengan narasi yang mendayu, walau dengan meliuk-liuk panjang, jelas kualitas adalah utama.

Telusur kata itu menemukan klik akhir yang menentrampakan, bahagia dan lega.

Puncak pohon katuka, sebuah uma, jajaran abagmanang, bakkat katsaila… Tampak luar biasa, magege.

Burung Kayu | by Nudiparas Erlang | Copyright 2020 | ISBN 978-623-93669-0-2 | Penerbit CV. Teroka Gaya Baru | Cetakan I: Juni 2020 | Penyunting Heru Joni Putra & Fariq Alfaruqi | Sampul Kevin William | Tata Isi Gerbera Timami | Skor: 3.5/5

Untuk para pemeluk teguh Arat Sabulungan

Karawang, 140920 – Protocol Harun – A Whiter Shade of Pale

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokped.
Dua sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

“Saya Sudah Mencoba Menjalani Hidupku Sebaik Mungkin…”

Kusala Sastra Khatulistiwa 20

Dari kisah buku panduan membunuh raja sampai dunia imaji Selma, dari negeri temaran senja sampai kisah perjuangan memertahankan kepercayaan yang dianggap sesat, dari kisah jagoan kampung yang buruk rupa menjadi suami si jelita sampai perjuangan Indonesia mengusir penjajah, dari orang-orang terusir di negerinya sendiri mencoba pulang sampai pangeran dan saudara-saudaranya bertempur ke negeri antah. Semua tersaji demi kalian pecinta sastra.

Di zaman yang serba digital, saringan karya itu sangat perlu. Dan berterima kasihlah pada ajang-ajang penghargaan yang memberi (walau tak semua) pilihan berkualitas. Seolah jadi panduan rekomendasi baca. Saya sudah mencoba menjalani hidupku sebaik mungkin…, melahap buku sebagus mungkin.

Dalam dua puluh tahun terakhir, sastra kita lebih semarak. Era Reformasi yang lebih bebas dan liar dalam menyampaikan pendapat. Hal-hal yang rasanya tabu di masa Orde Baru kini sudah merdeka. Tema yang variatif, terkadang vulgar, out of the box, perbaikan catatan sejarah, religi, beragam cerita daerah, semuanya berusaha berlomba mencipta unik. Dan muncullah penghargaan bergengsi Kusala Sastra Khatulistiwa (sebelumnya bernama Khatulistiwa Literary Award 2001-2013) yang digagas oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki.

Berikut para pemenang dari edisi pertama sampai 19:

2001
Puisi: Goenawan Mohamad, “Sajak-sajak Lengkap 1961-2001”

2002
Prosa: Remy Sylado, “Kerudung Merah Kirmizi”

2003
Prosa: Hamsad Rangkuti, “Bibir Dalam Pispot”

2004
Nonfiksi: Sapardi Djoko Damono, “Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan”
Fiksi: Linda Christanty, “Kuda Terbang Maria Pinto”; Seno Gumira Ajidarma, “Negeri Senja: Roman”

2005
Puisi: Joko Pinurbo, “Kekasihku
Prosa: Seno Gumira Ajidarma, “Kitab Omong Kosong”

2006
Prosa: Gde Aryantha Soethama, “Mandi Api”
Puisi: Dorothea Rosa Herliany, “Santa Rosa”

2007
Penulis Muda Berbakat: Farida Susanty, “Dan Hujan Pun Berhenti
Prosa: Gus ft Sakai, “Perantau
Puisi: Acep Zamzam Noor, “Menjadi Penyair Lagi”

2008
Puisi: Nirwan Dewanto, “Jantung Lebah Ratu”
Penulis Muda Berbakat: Wa Ode Wulan Ratna, “Cari Aku di Candi”
Prosa: Ayu Utami, “Bilangan Fu”

2009
Puisi: Sindu Putra, “Dongeng Anjing Api
Prosa: “F. Rahadi, “Lembata
Penulis Muda Berbakat: Ria N. Badaria, “Fortunata

2010
Puisi: H.U. Mardi, “Buwun”; Gunawan Maryanto, “Sejumlah Perkutu Buat Bapak.”
Fiksi: Linda Christanty, “Rahasia Selma”

2011
Fiksi: Arafat Nur, “Lampuki
Puisi: “Nirwan Dewanto, “Buli-Buli Lima Kaki”; Avianti Armand, “Perempuan yang Dihapus Namanya”

2012
Fiksi: “Okky Madasari, “Maryam
Puisi: Zeffry J. Alkatiri, “Post Kolonial dan Wisata Sejarah dalam Sajak”

2013
Prosa: Leila S. Chudori, “Pulang
Puisi: “Afrizal Malna, “Museum Penghancur Dokumen”

2014
Prosa: Iksaka Banu, “Semua Untuk Hindia”
Puisi: Oka Rusmini, “Saiban

2015
Prosa: Dorothea Rosa Herliany, “Isinga: Roman Papua”
Puisi: Joko Pinurbo, “Surat Kopi”

2016
Prosa: Yusi Avianto Pareanom, “Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Puisi: F. Aziz Manna, “Playon

2017
Prosa: Mahfud Ikhwan, “Dawuk, Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu
Puisi: Kiki Sulistyo, “Di Amperan, apa Lagi yang Kau Cari?”
Karya Perdana atau Kedua: Nunuk W. Kusmiana, “Lengking Burung Kasuari

2018
Puisi: Avianti Armand, “Museum Masa Kecil”
Prosa: Azhari Aiyup, “Kura-kura Berjanggut
Karya Perdana atau Kedua: Rio Johan, “Ibu Susu

2019
Puisi: Irma Agryanti, “Anjing Gunung
Prosa: Iksana Banu, “Teh dan Penghianat

Iseng, menghitung berapa buku yang sudah kubaca dari daftar tersebut. Ada sepuluh buku, yah lumayan. Sedari dulu memang lebih sering baca buku terjemahan, buku klasik, buku-buku dengan nama besar pengarang. Nah, berkat penghargaan KSK (dan Dewan Kesenian Jakarta – DKJ) saya seolah dipilahkan, tinggal membuat anggaran belanja yang disodorkan ke May aja buat di-acc. Hehe…

Pada hari Sabtu, 5 September 2020 kemarin melalui twitter @richard0h mengumumkan daftar panjang kandidat KSK ke-20. Periode penjurian Juni 2019-Juli 2020, disusun berdasarkan abjad.

Prosa

#1. Arafat Nur, “Kawi Matin di Negeri Anjing (Basabasi, Maret 2020)
#2. Ben Sohib, “Kisah-kisah Perdagangan yang Gemilang (Banana, Februari 2020)
#3. Felix F. Nesi, “Orang-orang Oetimu” (Marjin Kiri, Juli 2020)
#4. Kedung Darma Romansha, “Rab(b)i (Mojok, Juli 2020)
#5. Maywin Dwi-Asmara, “Surat-surat Lenin Endrou (Basabasi, Juli 2019)
#6. Niduparas Erlang, “Burung Kayu” (Teroka Press, Juni 2019)
#7. Nunuk Y. Kusmiana, “La Muli (Basabasi, Maret 2020)
#8. Nurul Hanafi, “Makan Siang Okta, Sebuah Cerita Tiga Bagian” (Shira Media, September 2019)
#9. Samar Gantang, “Leak Tegal Sirah” (Indonesiatera, November 2019)
#10. Yetti A.KA, “Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi Kematian” (Basabasi, April 2020)

Puisi

#1. Beni Satryo, “Antarkota antarpuisi” (Banana, Agustus 2020)
#2. Binhad Nurrohmat, “Nisan Annemarie” (Diva Press, April 2020)
#3. Deddy Arsya, “Khotbah si Bisu” (Diva Press, Desember 2019)
#4.Esha Tegar Putra, “Setelah Gelanggang Itu” (Grasindo, Januari 2020)
#5. Gaudiffridus Sone Usna’at, “Mama Menganyam Noken” (Papua Cendikia, September 2019)
#6. Inggit Putria Marga, “Empedu Tanah” (Lampung Literatue, November 2019)
#7. Mutia Sukma, “Cinta dan Ingatan” (Diva Press, November 2019)
#8. Ratri Nindytia, “Rusunothing” (Gramedia, November 2019)
#9. Seno Joko Suryono, “Di Teater Dyonysos” (Anom Pustaka, April 2020)
#10. Triyanto Triwikromo, “Nabi Baru” (Diva Press, Juli 2020)

Kategori prosa seperti tahun-tahun sebelumnya akan kukejar baca-ulas sebelum pengumuman pemenang. Tahun ini, ketika nominasi diumumkan saya baru membaca satu buku: Kisah-kisah Perdagangan yang Gemilang, sudah saya prediksi bakalan masuk dengan menyebut ‘Goodluck for KSK 2020’ di akhir ulasan. Jadi masih sembilan lagi. Dan rasanya tahun ini lebih mudah dalam mengejarnya, sebab toko buku daring langganan setelah kujapri, semua buku ready stock! Sebelumnya harus berburu, mencari dari pedagang buku daring, dari seberang pulau, sampai pesan langsung ke penerbitnya. Kalau penerbit yang aktif di sosmed dan besar sih lebih nyaman, nah yang penerbit indie/daerah terkadang lama respon. Sudah dua kali sih aman, ini yang ketiga. Dan Wow, ga perlu berburu njelimet ke dunia maya.

Dari daftar , yang mengejutkan prosa, dari Penerbit Major Gramedia tak ada satupun. Dominasi ada di Penerbit Basa-Basi, perjuangan mereka mengadakan sayembaya novel dan diterbitkan sendiri harus diacungi jempol gede-gede. Mereka sedang menuai buahnya, ada empat bukunya muncul. Dan kabar baik ini direspon keren dengan menawarkan paket. Saya sendiri mengambil paket tiga bukunya, yang normalnya seharga 170 ribu menjadi 120 ribu. Lumayan.

Di kategori puisi dominasi ada pada Diva Press yang memborong empat nominasi, Gramedia Grup dua, dan Banana penerbit indie paling aduhai ini juga menempatkan satu bukunya. banyak nama asing (baru) yang kukenal, kecuali jelas yang disebutkan terakhir yang jago nulis ceria pendek, kali ini mencoba peruntungan di syair. Persis debut puisinya dalam Kitab Para Pencibir yang sukses, rasanya Nabi Baru laik dinikmati.

Sampai sekarang (11/09/20) tiga buku sudah mendarat, tiga buku sedang dalam perjalanan, dan tiga buku lagi akan dikirim akhir bulan. Jadi minimal sampai akhir bulan, saya harusnya sudah mereview enam buku. Lihat, betapa dunia literasi menyenangkan sekali!

Nantinya, dari sepuluh kandidat akan disaring menjadi lima. Dan puncak acara diumumkan di malam anugerah di Plaza Senayan Jakarta (waktu tba). Jadi siapa pemenang tahun ini? See ya… nantikan ulasan lengkapnya dan prediksi special dari LBP.

Karawang, 110920 – Roxette – Spending my Time

Love Story by Erich Segal

Oliver: “Jenny, kita sudah sah menjadi suami istri.”

Jenny: “Yeah, mulai sekarang aku boleh bawel.”

Uang THR tahun ini, sebagian saya belikan buku, seperti biasa (ketimbang beli baju) melakukan enam kali transaksi beli buku. Transaksi kelima dan keenam, bingkisan kubuka (Ciprut yang #unboxing) malam minggu kemarin (160520) dari Bekasi (Raden Beben) dan Surabaya (Angga Adi) berisi total 16 buku. Kebetulan yang paling tipis buku ini, jadi gegas kubaca selepas nonton bola Bundesliga, ya ampun saya menurunkan kasta nonton live Dortmund versus Schalke, di pergantian hari buku berisi 160 halaman ini sudah selesai baca. Langsung kuulas sekalian, karena waktu melimpah di dini hari begadang ini. Inilah kisah cinta sejati, seperti pembukanya yang berkata pilu, endingnya luluh lantak dalam tangis. Bisa jadi cerita cinta pedih seperti ini sudah banyak dibuat saat ini, tapi buku pertama Erich Segal yang kubaca ini dituturkan dengan kelenturan kata yang menyeset emosi, dan lelaki mana yang tak menangis di lobi rumah sakit dalam pelukan ayah itu? Setegar Hercules-pun akan sesenggukan.

Kisahnya tentang pasangan muda yang tampak sungguh ideal. Oliver Barrett IV adalah mahasiswa Havard yang kaya, keturunan Barrett yang tersohor, jurusan ilmu sosial. Atilt hoki es yang menjadi andalan kampus. Sungguh gambaran pria sempurna untuk menjadi pasangan hidup. Jennifer Cavilleri adalah mahasiswi kere, anak penjual kue dari Cranston, Rhode Island, sebuah kota di selatan Boston, keturuan Italia. Kuliah musik di Radcliffe, berkaca mata, dan tentu saja cerdas. Ini kisah sedih, dan pembaca sudah dikasih tahu di kalimat pertama bahwa, Apa yang bisa kita ceritakan mengenai gadis dua puluh lima tahun yang telah tiada?

Perkenalan mereka tampak biasa tapi dibalut kalimat puitik, Oliver meminjam buku jelang ujian di perpustakaan, Jenny di sana memancing tanya, “Hey mana sopan santunmu preppie?” Dijawab “Kenapa kau begitu yakin aku dari prep school?” Ditimpali, “Tampangmu bodoh dan kaya.” Haha… dibalas lagi “Kau keliru sebenarnya aku cerdas dan miskin.” Dan kena jab, “Oh, jangan menfada-ada, aku cerdas dan msikin.” Justru dari saling sindir itulah hubungan berlanjut panjang.

Oliver anak orang kaya, keturuan keempat Barrett, hubungan dengan ayahnya Oliver Barrett III ga akrab. Memanggil Sir, nurut dalam tekanan dan beban piala, karena sudah tradisi keluarga akan prestasi, bukan sekadar akademi tapi juga olahraga. “Ada yang bisa dibantu?” Adalah keluarga jetset yang sepertinya tak peduli materi, karena melimpah. Keluarga kaya raya pada umumnya yang banyak menuntut sukses anak-anaknya. “Demi aku Oliver, aku belum pernah minta apa pun darimu, please.”

Sementara Jenny adalah keluarga biasa, kepulangan disambut mewah, dan betapa ia sungguh akrab sama ayahnya, karena ibunya sudah meninggal dunia dalam kecelakaan, hungan ayah-putri ini begitu erat dan kuat. Memanggil ayahnya dengan nama langsung, Phil. Menjadi kikuk Ollie akhirnya ketika mengikuti. “Ya, Phil, Sir.” Dan ketika ditegur, makin canggung dan tetap menjawab, “Baik, Phil, Sir.”

Bak cerita sinetron, hubungan ini tak dapat restu si keluarga kaya. Cinta sejati Ollie harus diperjuang, maka selepas lulus S1, mereka menikah. Karena keduanya beda keyakinan maka menikah di tengah-tengah kepercayaan, bangunan kuno Phillips Brokes House, di utara Harvard Yard, dengan pendeta Unitarian. Hidup pas-pasan di apartemen murah, Jenny mengajar, Ollie bekerja sambil lanjut S2 hukum. Kehidupan pasangan muda penuh perjuangan. Hubungan dengan ayahnya sudah putus, sehingga mereka benar-benar berusaha mandiri, berjuang bersama. Cinta mereka, saling menguatkan. Sungguh romantis.

Oliver lulus pasca sarjana hukum, bukan nomor satu tapi nomor tiga, tetap di Law Review. Namun rasa penasaran Jenny, akan siapa yang bisa mengalahkan suaminya menjadi lucu ketika diberitahukan di atas kapal dan ia yang kecewa malah melompat di laut. Ternyata nomor satunya adalah seorang pria kutu buku, introvert yang luar biasa pasif bersosial, dan yang kedua cewek cerdas dengan talenta tinggi. Sebuah kewajaran. Dengan ijazah barunya, ia memiliki peluang karier lebih luas, dengan berbagai pertimbangan dan tawaran yang masuk, Oliver setelah diskusi dengan istrinya mengambil kesempatan kerja di firma hukum Jonas and Marsh di New York dengan gaji tinggi 1.800 dollar. Ekomoni mereka lumayan mapan, Jenny mulai menata harap, dan Ollie ikut club elite. Bencana tiba secepat melesatnya karier mereka ketika program memiliki anak dilakukan. Berbagai percobaan sudah dilakukan, lalu konsultasi ke dokter kandungan. “Rasanya seperti jatuh dari tebing secara slow motion.”

Hasil yang diterima mencengangkan. Bukan hanya gagal memiliki anak, tapi ada masalah pelik yang sungguh berat harus disampaikan. Oliver sempat berujar, yang penting saling mencintai dan ikrar setia. Masalahnya ini menyangkut nyawa. Kesedihan membuncah, ia tak kuasa menyampaikan kepada orang terkasih. Rencana hidup yang tertunda sempat diapungkan, salah satunya harapan Jenny ke kota Romantis Paris, karena dulu sempat mau ambil kursus musik khusus ke sana, tapi gagal demi pernikahan dengannya. Dua tiket diambil, dan rasanya ia tak tega menyampaikan kabar duka itu, sampai akhirnya, fakta mau tak mau mengapung, dalam duka dan kepedihan yang teramat. Ini baru Love Story sejati. Menikam jantung dengan hujaman keras, tak hanya sekali, bertubi dalam duka dan segala kandungan di dalamnya. “Nomor berapa C Minor Piano Concerto? Dulu aku hapal.”

Harus diakui, kisahnya awal terasa klise. Pasangan beda kasta, tampan dan cerdas bersatu lalu mengarungi perjuangan bahtera pernikahan, lalu ekonomi membaik dan timbul benih cerahnya masa depan. Tikaman itu dari vonis dokter, sampai halaman berakhir adalah kesedihan akut. Ditulis dengan kenyamanan dan pemilihan (terjemahan) diksi yang bagus sehingga kita turut terkoyak. Jelas ini tak semanis yang dikira. “Seandainya aku tak berjanji pada Jenny untuk bersikap tabah.

Cerita bagus memang harus menjual konflik berat, lalu pemecahan yang pas. Semakin runyam masalah yang disodorkan semakin asyik diikuti. Love Story memunculkan masalah dengan tikaman yang dalam, bagi pecinta romcom ini alur yang umum. Adegan akhir menantu-mertua di ruang rokok solarium bisa jadi sangat menyedihkan, tapi kesedihan maksimal justru di kalimat-kalimat akhir di lobi. Saya turut menitikan air mata, walau kutahan-tahan juga karena itu sudah menghadapi lembar akhir. Drama cinta memang tak rumit, drama cinta memang harus alami. Dan kepedihan Oliver jelas terasa sangat mendalam, dan nyata. Pernah menangis di rumah sakit? Ya. pernah melelehkan air mata membuncah di pelukan orang tua? Ya. Oliver adalah gambaran duka yang sempurna.

Dan kemudian aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan di depan ayahku, apalagi di dalam pelukannya. Aku menangis.

Cinta berarti tak perlu minta maaf.

Kisah Cinta | by Erich Segal | Diterjemahkan dari Love Story | Copyright 1970 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 95 135 | Alih bahasa Hendarto Setiadi | Jakarta, Januari 1995 | Cetakan ketujuh, Juli 2001 | 160 hlm; 18 cm | ISBN 978-605-135-4 | Skor: 5/5

Untuk Sylvia Herscher dan John Flaxman

…namque… solebatis.

Meas esse aliquid putare nuqas

Karawang, 170520 – Patti Austin – Baby, Come to Me

110 Buku Yang Kubaca 2019

Hanya kebetulan belaka, tahun ini saya merampungkan baca 110 buku, sama persis dengan total baca tahun lalu. Ini sekadar catatan, betapa nikmat bercengkerama dengan buku.

#1. Seorang PendatangK. Usman
Dua cerpen lawas yang disatukan tahun 1963. Residivis pulang kampung dan melihat betapa banyak perubahan. Mengingat masa muda yang penuh amarah, cinta dan pengorbanan.

#2. Menolak AyahAshadi Siregar
Kisah Tondi sebagai PRRI melawan pusat, perjalanan dari Toba ke Bukittinggi yang mistis dan perjuangan melawan kecewa atas pilihan ayah. Kental budaya Batak, minus tukang tambal ban dan pengacara.

#3. Demi Esme dengan Cinta dan KesengsaraanJ.D. Salinger
“Apa yang dikatakan sebuah dinding pada dinding lainnya?” Dua cerpen klasik karya penulis ‘The Catcher in the Rye.’

#4. Magi Perempuan dan Malam Kunang-KunangGuntur Alam
“Jangan lihat kunang-kunangnya, ia bisa menyihir kita.” Dua puluh satu cerita pendek dengan tema beragam. Legenda hantu daerah, modifikasi hikayat. Kumpulan cerpen yang renyah.

#5. The Life and Adventures of Santa Claus L. Frank Baum
Dasarnya kita tahu. Sederhana, fiktif dan sudah sangat umum. Entah kenapa Frank Baum menulis ulang kisah semacam ini. Jauh dari bayangan ‘The Wizard of OZ’.

#6. Guru Generasi MilenialTri Winarno
Tulislah buku tentang bidang yang kuasai, Mas Tri dengan jeli menceritakan pengalamannya sendiri dalam kelas. Seperti membuat tantangan menulis puisi untuk murid-muridnya, mencerita keseharian dengan buku.

#7. Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-MasingEko Triono

Cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Plotnya mirip 100-tahun-kesunyian.

#8. MemoarPablo Neruda
“Kita para penyair memiliki hak untuk bahagia, sepanjang kita tetap dekat dengan masyarakat di negeri kita dan dalam kegigihan perjuangan untuk kebahagiaan mereka.”

#9. Di Kaki Bukit Cibalak Ahmad Tohari
Cinta yang tak harus miliki, politik orang bawah, permainan mistis sampai kritik birokrasi. Perubahan zaman, perubahan kebiasaan, teknologi masuk desa, sampai polemik dasar makhluk Tuhan untuk bertahan hidup.

#10. Handmaid’s TaleMargaret Atwood *
Para handmaid di masa depan, aturan absurd dan pertentangan tak berkesudahan. Gadis kerudung tunduk, pikiran penuh luapan teriak.

#11. About a BoyNick Hornby
Filmnya kita tahu keren sekali. Ncik Hornby kalau bahas bola tajam dan sangat mendalam. Fan Gunners. Entah kenapa novelnya terlihat biasa. Plotnya ngelantur ke mana-mana, menjemukan.

#12. Breakfast at Tiffany’sTruman Capote *
Renyah di setiap lapisannya. Tampak seperti kisah nyata saat masih kere, menjalani sebagai penyendiri di apartemen sebagai penulis lokal tak bernama, sunyi, perenung mencari jati diri. Lalu muncul tetangga istimewa.

#13. Sesat Pikir Para Binatang Triyanto Triwikromo
Sembahyang adalah wujud cinta kita kepadaNya. Sembahyang tak boleh kita jadikan upeti. Sembahyang bukanlah semacam jual beli kita kepadaNya.

#14. Jokowi, Sangkuni, MachiavelliSeno Gumira Ajidarma
Pemimpin yang ideal adalah yang bebas dari kontrak politik, karena dukungan partai yang mana pun tidaklah mungkin dilakukan tanpa kepentingan. Kumpulan esai kedua SGA yang kubaca.

#15. Ups! Rieke Diah Pitaloka
Tugas penyair adalah mendewasakan bangsanya. Bagaimana kalau masyarakat tidak mau didewasakan dan ingin tetap seperi kanak-kanak? Jadi mari biarkan waktu menempa, mau ke arah mana perahu rima ini berlayar.

#16. Old Death Karl May
Kisah detektif dengan nuansa koboi, tak seperti cara penelusuran Holmes atau Poirot yang penuh deduksi dan telaah mendalam, cerita dalam The Wild West Journey ini dibarengi banyak keberuntungan, tak detail dan siasat tricky.

#17. The Murder of Roger AckroydAgatha Christie *
Dan ya, saya bisa menebaknya. Ada dua kalimat yang JELAS SEKALI yang menunjukkan sang pelaku, saya konsisten. Yakin dialah pelakunya. Terbukti. Salah satu yang terbaik dari Christie, dari Hercule Poirot.

#18. Around the World in Eighty DaysJules Verne *
Buku pinjam di taman baca Bus Taka Kota Galuh Mas, kubaca cepat saat pulang kerja hujan lebat, mencipta genangan sehingga menanti reda, baca di kantor. Sungguh menyenangkan melahap buku keren saat hujan dengan kopi.

#19. KawitanNi Made Purnama Sari
Sebatang pohon ara, empat pina, tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu. Sungguh sajak adalahbarang mewah yang sulit dijangkau, sulit kubenamkan dalam kepala sehingga menyatu sukma.

#20. Mardi GrasAdriani Sukmoro
Lupakan konflik, kisah hanya berkutat pamer perjalanan hidup pengantin baru ke Amerika dengan salah satunya menyaksikan festival Margi Gras.

#21. Telembuk Kedung Darma Romansha *
Cerita dari Indramayu yang keras. Makian dan umpatan berbagai kelas. Lha judulnya saja sudah berat: Kisah Cinta yang Keparat.

#22. White FangJack London *
Kubaca dalam sehari dari siang sampai malam, di sela ibadah dan tidur di lantai satu Blok H nomor 279 hari Sabtu, 23 Feb 19. Ini semacam prekuel ‘The Call of the Wild’ yang sudah kubaca dua tahun lalu. Dituturkan dengan berkelas.

#23. Go Set A WatchmanHarper Lee *
Kisah lanjutan novel legendaris ‘To Kil A Mockingbird’, sekarang Scout sudah dewasa jadi perantau di New York dan buku berkutat di Maycomb saat liburan dua minggunya yang menegangkan. Bagaimana orang tuanya yang sudah tua tetap bekerja membela kebenaran. Sabar, tenang dan menghanyutkan.

#24. Mari LariNinit Yunita
Kubaca sekali duduk pada Selasa, 260219 sepulang kerja. Sinetron sekali, tentang Rio yang selalu mengecewakan orang tua. Saat ibunya meninggal dunia, dia harus buktikan tiga hal: bisa kerja benar di dealer sebagai sales mobil mewah, lulus kuliah di kesempatan kedua, dan lari marathon di Bromo dengan memakai nomor lari almarhum. Semua indah.

#25. Masa Depan Sebuah Ilusi Sigmund Freud
Esai buku kecil ide besar. “Tidak, sains kita bukan merupakan ilusi. Tetapi menganggap bahwa apa yang tidak bisa diberikan sains kepada kita bisa kita dapatkan di tempat lain akan merupakan sebuah ilusi.”

#26. The Clockwork ThreeMatthew Kirby
Premis bagus. Menempatkan tiga remaja dalam dilema rumit. Satu ingin pulang, satu ahli jam, satu untuk keluarga yang sakit. Terjepit finansial kusut. Sayang eksekusinya remuk. “Kau tahu, kau tegar seperti Hannah dalam al kitab.”

#27. Hujan Bulan JuniSapardi Djoko Damono
Kamu ga otomatis hebat saat sebut orang-orang hebat. Hepburn style. Jazz klasik menjadi teman Sarwono. Apakah membuatku terkesan? Enggak. Cerita sinetron yang coba berpuisi. “Kamu ini cengeng Sar, jualan gombal.”

#28. Kumpulan Budak SetanEka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad *
Kumpulan cerita pendek yang digarap bertiga atas dasar horror Abdullah Harahap. Seram, mistis, dan tragis. “Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan.”

#29. Manuskrip yang Ditemukan di Accra Paulo Coelho
Hidup ini untuk bersenang-senang, positif thinking, positif feeling. Dah kalau mau itulah review sangat singkat untuk buku ini. Benar-benar ya, buku perdana Paulo Coelho yang saya baca berakhir buruk.

#30. Dunia SophieJostein Gaarder *
Buku rangkuman filsafat yang luar biasa. Cara cepat belajar jadi filsuf. Butuh waktu empat bulan buat menuntaskannya. Hidup ini fiksi bagi mereka yang terjebak dalam ambiguitas.

#31. Perempuan PalaAzhari
“Aku tak mungkin menolak dan menutup pintu bagi siapapun yang datang ke rumah ini bukan? Aku diajarkan untuk memberikan apa yang kumakan bagi setiap orang lemah yang meminta. Itulah kemuliaan.”

#32. Bilik Musik James Joyce
Kumpualn puisi lengkap dari Penulis legendaris Ullyses. “Karena suaramu terdengar di sisiku / kuberi ia cemburu / dan dengan tanganku. kugenggam / tanganmu ‘tuk kali kesekian. Diterjemahkan oleh Gita Kharisma.

#33. Yang Telah TiadaJames Joyce
“Oh saya rela kehilangan apa saja demi mendengar Caruso bernyanyi.” Disebut novella, padahal lebih tepat cerita pendek ++. Buku ini selesai baca hanya dalam jeda Magrib ke Isya. Fufufu…

#34. Matahari dan BajaYukio Mishima
Gagasan tentang mengubah dunia merupakan kebutuhan yang sama pentingnya dengan tidur dan makan tiga kali sehari. Pemikiran yang tak lazim, ga mudah dicerna, berkali-kali baca ulang, nyaring, dan tetap mengernyitkan dahi.

#35. Kamis Yang Manis John Steinbeck
“Cara terbaik di seluruh dunia untuk membela dirimu adalah dengan menjaga tinjumu tetap ke bawah.” Ga seperti Steinbeck lainnya yang tragis, endingnya manis seperti judul. Tapi tetap karakter kuat dengan keanehan masing-masing.

#36. Water for ElephantsSara Gruen
Karena ia binatang yang begitu cantik, luar biasa, dengan hati yang sangat pemaaf dan mampu memahami kesalahpahaman. Kita akan berada di tingkat yang sama dengan sirkus-sirkus besar dan itu takkan bisa terjadi tanpa kalian.”

#37. Sad CypressAgatha Christie
Ini mungkin kisah Poirot yang paling mudah ditebak. Karena hanya menyisakan dua kemungkinan pembunuh, yang walau nantinya mencabang ke target lain, tapi jelas ada yang tak mungkin melebar liar. “Saya bisa mencari kebenaran…”

#38. MetamorfosisFranz Kafka *
Buku yang berat sekali. Mungkin jua karena kualitas terjemahannya yang aneh, typo berserakan, walau dialihbahasakan keroyokan berempat tapi tetap masih saja ditemukan kalimat-kalimat nyeleneh. “Ia bersuara seperti seekor hewan…”

#39. KubahAhmad Tohari
Cerita baik untuk orang baik yang dianugerahi akhir yang baik. “Takdir Tuhan adalah hal yang paling baik bagimu, betapapun getir rasanya, bertakwa kepadaNya akan membuat segala penderitaan ringan.” Sabar, tawakal, iqtiar.

#40. Kumpulan Cerita Pendek TerbaikLeo Tolstoy
Memang istimewa penulis satu ini. Mau cerpen atau novel sama hebatnya. Epos Sevastopol di mana rakyat Rusi adalah pahlawan sesungguhnya, meninggalkan jejak besar untuk waktu yang lama. “Kamu tak akan bisa bedakan bom dan bintang.”

#41. HumanismeYB Mangunwijaya
Keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan kepada kebenaran.” Ernest Renan dalam Qu’est qu’une nation? (1882)

#42. Paper Town John Green
“Ini akan menjadi malam terbaik dalam hidupmu.” Kisah remaja yang tak biasa. Pengalaman pertamaku dengan Green berakhir menyenangkan. Tentang Q dan asmara tak biasa. Satu malam, terkenang sepanjang hidup, menuju kota kertas.

#43. Di Bawah Lindungan Ka’bah HAMKA
Buku sangat tipis. Kubaca sekali duduk (15/06/19), malam minggu sendirian tak butuh waktu sejam juga selesai. Kisah kasih tak sampai. Cerita berlapis, tragis tapi tak semenangis Tenggelamnya Kapal…

#44. Matilda, Lelaki Izrail, dan Seorang Perempuan di Masjid KamiHairus Salim HS
14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek. “Dan tiba-tiba mereka hanya mendengar tubuhnya ambruk.”

#45. Teach Me Like FinlandTimothy S. Walker
Di Finlandia moto ‘bekerja untuk hidup’ bukan ‘hidup untuk bekerja’. Mereka tampak serius dalam bekerja, namun di waktu luang mereka ikuti hobi daripada menggunakannya untuk meningkatkan pertumbuhan profesi mereka.

#46. Dalam Kobaran Api Tahar Ben Jellous *
Hebat. Penulis kelahiran Maroko, tinggal di Prancis bercerita tentang Tunisia dan efeknya. “Aku tidak menjelaskan apapun, ini adalah karya sastra.” Arab Spring, demi rasa keadilan.

#47. Misteri Rumah Masa LaluV. Lestari
Buku klasik dalam memetakan karakter yang protagonis akan konsisten baik sampai akhir, yang jahat tetap digambarakan di sisi negatif terus, ga ada konflik batin berlebih, ga ada wilayah abu-abu sifat manusia.

#48. OriginDan Brown
Semua tertebak. Saya bisa menebak motifnya, saya bisa memprediksi apa isi presentasinya, saya bis atahu endingnya. Puisi William Blake tahun 1790an, Amerika sebuah nubuat, Eropa sebuah nubuat. Dan mereka sudah datang!

#49. Alice Through The Looking Glass Lewis Caroll
Buku yang aneh sekali. Masih bagusan seri pertama, karena teras original, seri kedua ini menawarkan kebingungan yang sama, hanya dengan pola lebih rumit, lebih acak, dan jauh di luar nalar.

#50. Maut di VenesiaThomas Mann
Narasinya berbelit panjang, melingkar-lingkar, merenung, lalu putus karena frustasinya mengurai, dengan detail tempat, suasana, gambaran orang sekitar, smapai cuaca yang tak ramah. “Untuk Tuhan kami yang asing.”

#51. Max and the CatsMoacyr Scliar
Novel seratus halaman ini kubeli kala dalam tugas luar mengikuti pelatihan di Hotel Horison, Bekasi seminggu. Kubeli di Gramedia MM dengan Gadis Pendongeng, kubaca singkat di pagi dan sore waktu istirahat. Pi!

#52. If I StayGayle Forman
Keluarga yang sempurna. Orang tua utuh yang benar-benar mencinta. Adik manis yang menggemaskan. Dan masa depan cerah untuk karier seni dan lagu snob. Dalam hujan salju di pagi hari libur, kecelakaan merusak semuanya. Ini adalah novel religi di dunia antara.

#53. Tamasya BolaDarmanto Simaepa
Pengantarnya bagus banget dari Mahfud Ikhwan. Diambil dari blog, tulisan sepak bola dengan sudut pandang belakang gawang. Apa menariknnya cerita Barcelona, MU, Timnas dan pengalaman pribadi Penulis sejak kecil? Bukan kayak gini cerita bola yang bagus tuh.

#54. The Story GirlL.M. Montgomery *
Cerita anak-anak pada suatu masa di Amerika. Lucu, seru dan apa adanya. Benar-benar membumi, seolah ini adalah diari sang Penulis. Setara ‘Secret Garden’-lah, tapi ini lebih riuh dan ceria karena melibatkan banyak karakter. Tak sabar baca lanjutan.

#55. Kisah Pedagang Buku yang Tewas di Bagdad (kumpulan esai)
‘Belajar dari para maestro nonfiksi’. Karena buku ini tidak diperjualbelikan, tipis berisi 66 halaman, dan isinya yang sungguh bikin penasaran. “… Kairo yang menulis, Beirut yang menerbitkan, Bagdad yang membaca.”

#56. Dijamin Bukan Mimpi Musmarwan Abdullah
Kumpulan pos di sosmed, terutama Facebook. Ga semuanya tapi kebanyakan. Tulisan dikit tiap judul, kek orang curhat aja. Bisa tebal juga, kumpulan cerita satiris bisa benar, kalau cerita inspirasi ya hhhmmm… Enggak terlalu. Sekadar lumayan…

#57. Cerita Cerita Telapak Tangan Yasunari Kawabata
Ini adalah kumpulan cerita dikit-dikit tiap judul, curhat orang Jepang terhadap keseharian, kejadian sekitar. Tmpak sederhana, tapi kualitas imaji dan asosiasi mendalam. Beberapa memicu tafsir beragam.

#58. Cat Among the PigeonsAgatha Christie
Poirot melacak pembunuhan berantai? Di dalam sekolah elit khusus putri, orang-orang kaya yang panik, dan cerita putri dari Timur Tengah yang diculik. Gempar dan memusingkan, tapi bagi Poirot (aka Christie) tampak sederhana. Saling tipu. Dush!

#59. Tanah Air ImajinerSalman Rushdie
Kumpulan esai yang menggairahkan. Bergizi tinggi. Curhat Rushdie ketika jadi juri lomba tulis, prediksi untuk Penulis muda yang akan menghentak dunia. Beberapa menjadi, curhatnya tentang India yang lama ditinggalkan dan efek psikologi. Runut dan wow.

#60. Time Machine H.G. Wells
Mungkin ekspektasiku ketinggian, Mesin Waktu terasa mengada-ada, eksekusinya tergesa, melupakan detail bagaimana bisa memutar waktu. Penjelasan mesinnya bekerja tampak meragukan, semeragukan sang Penjelajah Waktu bercerita.

#61. NeverwhereNeil Gaiman *
Pertarungan malaikat, iblis dan makhluk bawah tanah London. Richard, manusia normal di atas tanah terjebak dalam permainan kotor. Fantasi luar biasa, kejutan akhir yang hebat. “Bagaimana aku bisa kembali normal?” Gaiman tak pernah mengecewakan.

#62. OEka Kurniawan
“Aku akan menjadi manusia.” Kata O si monyet cerdik.

#63. Max Havelaar Multatuli
Tata bahasanya memang agak susah dipahami. Cerita asisten Residen yang keren, mencoba menerbitkan buku dnegan modal makelar kopi.

#64. The Adventures of PinocchioCarlo Collodi
Kisah abadi boneka kayu pembohong. Susah diberitahu, tak mau mendengarkan nasihat, mudah tergiur rayuan manis. Hikayat ikan paus dan semburannya.

#65. Sharp ObjectGillian Flynn
Ketika penulis mudik untuk mewartakan pembunuhan anak-anak sejatinya sudah menunjuk siapa pelakunya. Kombinasi buruk pengenalan karakter, susunan plot dan misteri detektif ala kadar.

#66. Do Android Dream of Electric Sheep?Phillip K. Dick
Dunia masa depan yang mengerikan. Hewan elektrik murah, hewan asli mahal. Untuk membelinya bahkan perlu dicicil. Dan misi pemburuan manusia mesin? Tak ada nurani.

#67. Artemis Fowl Eoin Colfer
Dunia peri yang menakjubkan. “Aku mendengar suara-suara di malam hari. Suara itu merayap di bantal dan memasuki telingaku.”

#68. SapiensYuval Noah Harari *
“Orang-orang yang hidup saat itu tidak melakukan hal-hal yang penting.” Tiap sepuluh kalimat kubaca, kubaca ulang separuhnya. Nikmat di tiap lembarnya.

#69. Cara Berbahagia Tanpa Kepala Triskaidekaman
Bukan fantasi, bukan misteri, bukan humor, bukan surealis. Blas. Kepala terpenggal dan bersenang-senang palsu.

#70. Dekat & NyaringSabda Armandio
Buku tipis yang melegakan. Bagus tapi ada yang kurang. Cerita gang Patos dalam dilematis.

#71. Bertarung Dalam SarungAlfian Dippahatang
Perseteruan adat dan pertarungan harga diri dalam sarung yang mematikan.

#72. Tango & SadiminRamayda Akmal *
Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas. “… berusahan mengapai-gapai Tuhan…”

#73. Bugiali Arianto Adipurwanto
Banyak suku kata Sasak yang tertera, sampai menyita dua halaman penuh guna menjelaskan. Hikayat bugiali.

#74. Seekor Capung MerahRilda A. Oe. Taneko
25 cerpen yang kubaca dalam perjqalanan bus Solo-Karawang, selesai saat di Semarang (30/09/19). “Apa tidak ingin ke Brouwesweg 10?”

#75. JamalokeZoya Herawati
Jamaloke, sandang pangan goleko dewe. Sandang pangan carialh sendiri. “Itulah sepenggal lakon sejarah.”

#76. Teh dan PenghianatIksaka Banu *
“Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat, pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar…”

#77. Republik Rakyat LucuEko Triono
Ini hanya buat fun. Lelucon rakyat, semua warganya lucu.

#78. Atraksi Lumba-Lumba Pratiwi Juliani
Narasi bagus, dialog bagus, susunan plot bagus. Mengalir merdu. “Tidak pernah kumengerti, aku juga tidak mengerti banyak hal. Andai aku bisa mengerti banyak hal.”

#79. The MartianAndy Weir
“Para astronot pada dasarnya gila. Dan sangat baik hati. Aku ingin dengar ide itu.” Mark Watney perjuangan bertahan hidup di Mars.

#80. Aku dan Surabaya dan NakamuraGerson Poyk
Semacam memoir Poyk. Tidak pernah ada seniman yang tak punya utang, sudah niat menghidupi keluarga walau ancaman kere.

#81. Skipping ChristmasJohn Grisham
Terpingkal-pingkal menamatkan novel Grisham ini. “Ini adalah boikot Nora, boikot total Natal.”

#82. Perjalanan Nun Jauh ke Atas SanaKurt Vonnegut
“Kota Anda berterima kasih pada Anda, negeri Anda berterima kasih pada Anda, planet Anda berterima kasih pada Anda, tapi yang paling berterima kasih adalah generasi mendatang.” Dua cerpen masa depan yang misterius.

#83. MissingR.L. Stine
Orang tua Cara dan Mark menghilang, awal pesta berubah cekam.

#84. Bastian dan Jamur AjaibRatih Kumala
Bagaimana jamur bisa mencipta gadis fantasi, mantan kekasih yang mati. Raquel…

#85. Jeritan Dari Pintu KuburAbdullah Harahap
“… di kota banyak kami dengar kabar-kabar aneh tentang kampong ini. Pencurian mayat bayi, tempat perampok berkumpul, kematian-kematian ganjil…”

#86. AlexPierre Lemaitre
Alex yang diculik tampak seperti korban, dalam perkembangannya ternyata pembunuh, dan dalam perkembangan lagi, ada twist. Wow. Detektif Prancis yang absurd.

#87. Goosebumps: Makhluk Mungil Pembawa BencanaR.L. Stine
Grool hanya bisa beralih tangan kalau pemilik sebelumnya mati. Kengerian setiap ganti bab.

#88. Ocean SeaAlesandro Baricco
Tagline saja, ‘Love, Murder & Betrayal in Almayer Inn’

#89. Simple Stories for a Simple InvestorNicky Hogan
Buku tentang saham pertama yang kubaca berakhir mengecewakan. Pamer jalan-jalan promo ‘Yuk Nabung Saham’. Ga banyak ulasan detail. Only for beginner.

#90. LoversusFarah Hidayati
Elang Terbang vs Cinta Lestari. FTV banget, Cinta yang miskin di antara para lelaki berada.

#91. Apollo dan Para PelacurCarlos Fuentes
Diari mencipa kenangan masa kecil. Dan kisah kematian dicerita dengan pola tak lazim.

#92. Dalih Pembunuhan Massal John Roosa *
Bencana kemanusiaan dari sisi lain. Kemelut kusut tanpa kepaduan, sejarah kelam Republik ini. Semua janggal sedari awal.

#93. The Giraffe and the Pelly and MeRoald Dahl
Kera, jerapah, bangau dan aku menyewakan jasa bersih kaca gedung bertingkat. Sang Duke memanggil…

#94. DiaHenry Rider Haggard
Leo dan Holly berpetualang ke rimba imaji Kor. Dia yang immortal, cinta mengorban banyak hal.

#95. Daisy Manis Henry James
Selasa malam nontong film Notting Hill, Julia Roberts bilang sedang proses syuting film adaptasi Henry James. Langsung ku #unboxing dan esoknya baca kilat sepulang kerja. Tentang gadis Amerika abad 19 jalan-jalan ke Eropa, ada insiden.

#96. Soekarno, Arsitek BangsaBob Hering
Biografi singkat Bung Karno yang nyaman diikuti. 32 halaman cerita perjalanan hidup, 125 foto yang dibubuhi keterangan dari kecil hingga wafat. Terbit memperingati 100 tahun pada 2001. Dibaca sekali waktu untuk teman tidur Hermione.

#97. MaryamOkky Madasari
Tentang Ahmadyah yang dianggap sesat. Pertentangan Maryan dan keluarganya, dan masyarakat sekitar. “Yang namanya keyakinan memang tak bisa dijelaskan. Ia datang sendiri tanpa punya alasan.”

#98. Kematian di VenesiaThomas Mann
Versi Basa Basi dari buku yang sama yang diterjemahkan pula oleh Circqa. Ini lebih bagus, entah karena bacaan kedua atau emang kualitas alih bahasanya lebih nyaman. Aschenbach yang jatuh hati pada pemuda cantik Tadzio.

#99. Tarian Bumi Oka Rusmini
Bagus sekali alurnya. Pemahaman yang sesungguhnya kalimat, ‘demi cinta akan kulakukan segalanya untukmu.’ Hikayat tari dan gesekan harga diri. Aku selalu mohon pada dewa di sanggah agar kau bisa keluar dari lingkaran karmaku.

#100. Rumah Hujan Dewi Ria Utari
Kubaca dua hari. Novel yang dikembangkan dari cerita pendek dan cerita lainnya. Seniman, hujan, sepi, kenangan, hujan. Buku keseratus tahun ini seram.

#101. Goosebump: Hantu Penunggu SekolahR.L. Stine
Salah satu seri Goosebumps terbaik. Dunia pararel misteri, siswa yang hilang dengan kilat kamera, cekam takut warna kelabu dan ending menggantung terselebung teror. Tommy dan kawan-kawan berpetualang di negeri antah di balik dinding sekolah. Gawat!

#102. The Notting Hill MysteryCharles Felix
Tahun 1850an terjadi pembunuhan berencana, melibatkan uang warisan dan polis asuransi sebesar 50.000 pound. Penyelidikan dengan detail saksi, surat pos, dampai catatan harian. “Musuh paling fatal kejahatan adalah kehati-hatian yang berlebihan.”

#103. AparajitoBibhutibhusan Banerji *
Novel India terbaik yang pernah kubaca. Riwayat Apurbo dari masa kanak-kanak, perjuangan pendidikan, merantau ke Kalkuta demi menyambut masa depan gemilang. Inilah gambaran hidup sesungguhnya. Leela dan Aparna, cinta dan tragedy. Kisah luar biasa.

#104. Alex and the Ironic GentlementAdrienne Kress
Saat bumi telah berdamai / Dan elemen-elemen terbakar / Dengan rasa paling prima / Hasratmu akan kau dapatkan. Petualangan bajak laut dengan banyak kejanggalan. Kisah yang buruk.

#105. Si Cacing dan Kotoran KesayangannyaAjahn Brahm
Sepertiga awal terasa biasa, mungkin karena cerita motivasi umum. Barulah jelang tengah, terutamqa terkait meditasi danyang terbesar adalah pikiran, banyak menawarkan keindahan dunia Buddha. Salur: Seorang Inggris, Ilmuwan, Biksu.

#106. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ariZuhairi Misrawi
Lebih seperti sejarah NU ketimbang riwayat pendirinya. Karena saya ga ikuti perkembagan NU banyak vitaminnya. “Tanda-tanda mati hati adalah mencari keuntungan dunia dalam urusan akhirat.”

#107. Lady SusanJane Austen
Hanya dari surat menyurat semua cerita bergulir. Janda dan putri remajanya, saudara yang bimbang tentang moral. Perjodohan. Asmara abad 18 di London yang rumit (dalam arti sebenarnya). Bagaimana tukang pos menjelma penggerak plot.

#108. PlayonF Aziz Manna
Garis awal garis pintu, satu kaki di depan, satu kaku di belakang, kepala lurus angina bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah. Garis jalan, garis belokan, satu kaki membumi, satu kaki mengawang, kepala lurus, angina bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah.

#109. Kapitalisme, Islam dan Sastra PerlawananOkky Madasari
Beberapa karya sastra berfungsi transformatif terhadap pembacanya dan masyarakat skala lebih luas. Buku-buku dapat mengubah pandangan dan tingkah laku mereka. – O’Leary

#110. Cannery Row John Steinbeck
Hikayat Doc dengan laboratoriumnya. Mack dan konco-konconya dalam lingkup ranjang pesta.

Alhamdulillah…

Karawang, 311219 – Roxette – Almost Unreal

Tango & Sadimin – Ramayda Akmal

Jangan mau belajar dari kesalahan diri sendiri. Itu tandanya kau pernah berbuat salah dan bodoh. Belajarlah dari kesalahan orang lain. Di situlah letak kecerdikan.” – Tango

Akhirnya ada kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 yang benar-benar OK, benar-bener puas. Tango dan Sadimin adalah kisah sendu orang-orang pinggiran yang dituturkan begitu hidup, seolah kesedihan mereka nyata. Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas masalah beragam. Hikayat manusia kebanyakan dalam pusaran asmara, tragedi dan kerumitan hidup. Seorang mucikari tersohor yang memulai, seorang haji teladan yang menutup. Alurnya dicipta dengan ketelitian luar biasa yang membuat pembaca berpikir, berkhayal lalu geregetan dan bergumam duuh!

Kisahnya terjebak dalam lima sudut pasangan. Semua saling silang, menentukan nasib para karakter dengan jitu. Pertama Nini Randa & Satun Sadat. Nini adalah mucikari di pinggir sungai Cimanduy, bagaimana ia mendalami profesi itu dicerita dengan detail yang mengharu. Awal mula kemunculannya yang hanya dari orok terhanyut saat banjir menghadang, ia tumbuh dengan keras, memiliki kekuatan gaib, ketika masih perawan bisa melihat sosok orang yang baru meninggal dunia. Ia berbicara dengan kelelawar dan ulat-ulat, juga makhluk-makhluk lain. Lalu saat remaja, muncullah lelaki misterius Satun Sadat yang memberinya pengalaman baru. Menciptanya menjadi dewasa lebih cepat, membuatnya mengerti bahwa laki-laki yang bekerja di proyek dam, pencari pasir sampai warga sekitar membutuhakn kopi dan singkong, termasuk kehangatan lain. Bayangan dan ingatan itu pula yang membuat ia bertahan dari inisiasi yang mengikis rasa malu dan keangkuhan dasar seorang manusia dalam dirinya.

Nini menjadi terkenal setelah menampung para perempuan, membuatkannya gubuk di sekitar, menarik biaya, menjadikannya lebih cukup materi. Ia tidak mampu menghadapi hantu-hantu bernama kenangan yang diciptakannya sendiri dengan mandor-mandor atau laki-laki yang datang silih ganti datang di hidupnya. Ia memiliki dua anak, pertama Cainah yang dirawat dari hubungannya dengan Satun Sadat, kedua Sadimin dari Haji Misbah yang kala mendemo rumah pelacuran, kena guna-guna, terjerat dalam peluk dan terjadilah. Sadimin dititipkan kepada Uwa Mono, nelayan yang serba bisa. Prinsip hidupnya, nikmati saja, ngalir saja. Ada sebagian orang yang hidup tidak untuk mencari sesuatu, tetapi menikmati. Mereka berpikir dan mengamati banyak hal. Sementrara orang bergerak, mereka tetap pada titik yang sama. Mono kini turut mencipta sebuah jaring, meliuk dan melilit dalam romansa benang kusut.

Bagian kedua, Tango & Sadimin. Pasangan ini tampak saling mengisi, secara kaca mata umum. Tango adalah anak buah Nini Randa, Sadimin adalah buah hatinya yang disusupkan ke tetangga. Kita sampai di masa kini, Tango menjadi juragan, bisnis apa saja yang penting menghasilkan. Jualan barang haram, judi, dan tentu saja bos para buruh sawah yang ia urus bersama istri dan orang tua angkat. Sang juragan mendapat dana dari pembagian harta Haji Misbah, dengan petak sawah yang ia terima, Sadimin menjelma pengusaha yang disegani. Beberapa kali berkasus dengan polisi, dan sumpah serapah dengan pesaing. Tango yang seorang pelacur diangkat istri, terasa bisa menempatakn diri. Dia bilang, wajahmu seperti tomat segar di pasar, rambutmu seperti bulu-bulu jagung yang sehat dan lebat, dan kalau kau bersuara di panggung, katanya semua yang mendengar jadi bodoh dan takluk. Keduanya menjadi pasangan tak lazim pula, di akhir kisah bagian mereka, Tango bisa tersenyum walau darah pelan mengalir dari hidung.

Bagian ketiga adalah Nah & Dana, Nah sebagai anak pertama Nini memilih kabur dari rumah demi cinta dan masa depan. Dana adalah anak kandung pengemis yang juga kabur dari rumah untuk merajut asa, memperbaiki status sosial. Mereka dicerita sebagai dua anak SD yang tersisa dalam kelas, setelah teman-temannya satu per satu keluar untuk menikah. Keduanya menghimpun harap dari kerasnya hidup, sejatinya pasangan ini hampir jadi ideal (baca romantis) saat memiliki anak Karim, bersatu dalam kasih, harta bukan segalanya, sungguh kisah cinta hakiki, sepertinya, awalnya, dasarnya. Namun, cerita bagus memang harus disusun dari keping tragedi, maka kesulitan materi membuat mereka kembali menginjak bumi, memaksa mereka mengetuk pintu Nini Randa, nebeng tinggal di kandang sapi, dan nantinya dalam akhir yang pilu. Nukilan Dana mengetuk pintu mertua adalah pembuka novel, jadi memang permainan alur yang dinamis. Nah kabur dari rumah yang melibatkan pencarian ala detektif. Oiya, Dana adalah buruh tembak Sadimin, lingkaran hubung ini akan saling mengikat di ujung kisah yang menyedihkan. Ingatan bahwa tiba-tiba satu orang menghilang sementara dunia tidak berubah sama sekali, membuat hatinya hancur-lebur, lututnya bergetar.

Bagian keempat, pasangan pengemis yang sungguh ajaib. Keluarga yang sempurna mencipta iba. Ozog & Sipon. Mereka terlatih untuk tidak mengeluh, tidak mengumpat, juga tidak tersenyum karenanya. Mereka harus bersikap dan berwajah datar, perpaduan antara kepedihan dan sedikit tekad untuk hidup yang menghasilkan rasa iba mendalam. Ozog adalah lelaki buta, peniup seruling. Sipon adalah wanita kuat buka hanya kuat menengadahkan tang, ia juga harus menggendong suami dalam berkarier. Kedua anak angkat mereka turut dalam aksi meminta derma. Cerita pengemis menggelar wayang golek menjadi legenda sepanjang masa masyarakat tepi Sungai Cimanduy. Kalian yang suka kasih receh kepada para pengiba ini, pikir lagi! Kesedihan adalah awal yang bagus untuk produktivitas. Dan kemudian obsesi.

Peran dalam kisah ini seolah mereka terasa kurang signifikan, tapi tunggu dulu. Pendengki bisa apa? Mereka kalah jumlah dan kalah konsep. Bagian kala mereka terjebak dalam hutan hujan madu yang mistis, bagus banget, seolah di alam raya para makhluk-pun berpesta pora. Keheningan dan angin-angin di hutan itu lebih suka bernyanyi daripada bercerita. Keputusan main paku gepeng di rel kereta api itu sejatinya malah eksekusi kunci. Betapa dunia orang miskin sungguh darurat peduli.

Bagian final, luar biasa, sangat bagus. Sepanjang hidupku menjadi bayangan, aku hanya mengerti tentang penyesalan dan kecurigaan. Yang tak pernah disimpulkan kecuali bahwa dua hal itu adalah musuh kehidupan yang harus cepat-cepat dienyahkan. Misbah & Nyai adalah gambaran sempurna ironi kehidupan. Tokoh agama panutan, memiliki tiga istri (di sini disebut Nyai) dan lima anak (enam, jika Sadimin dihitung). Terlalu sulit menemukan alasan bagi mereka untuk percaya bahwa ayahnya yang kiai, bersih, terhormat, makmur sejahtera, jatuh di pelukan iblis lahir batin seperti Nini Randa. Jadi ketua Rukun Warga, jadi guru ngaji, punya satri banyak, dengan usaha pengeruk pasir. Sejatinya tampak sosok yang patut disegani, dikagumi bila kalian seorang agamis, dan dihormati jika patokan kalian adalah seorang jelata. Dalam kisah ini, perannya memang menutup cerita, slotnya ga sebanyak yang lain. Jadi klimaks itu disusun di rumahnya. Dana yang kehilangan Nah, setelah frustasi cari ke mana saja gagal, termasuk ke kantor polisi yang birokratif. Bertemu pula Sakidin di sana yang diminta kesaksian, datang pula Nini Randa yang juga butuh pengakuan, plus para peminta yang makin merumitkan keadaan. Sejatinya kita tahu akhir Nah, tapi memang dibuat samar, saya suka hal-hal yang menggantung ragu gini.

Melengkapi kepiluan kisah, sang haji sedang pengen bercengkrama malam itu. Nyai ketiga, termuda setelah tahu rahasia marah, wajar jiwa muda. Nyai kedua yang sejatinya pasrah mengabdi, sedang dapat. Nyai pertama yang sabar dan sungguh menanti janji surga kelak, orang yang banyak berkorban, penuh perjuangan di masa awal, sendiko dawuh. Seseorang atau sesuatu yang berharga memang akan selamanya berharga, tetapi tidak selamanya satu-satunya. Selesai? Belum. Kisah ditutup dengan menghebat, betapa seorang tampak agamis yang dipuja banyak orang itu melakukan kegiatan dosa besar. Tak cukup dengan itu, bahkan novel Tango & Sadimin menyajikan akhir kalimat yang luar biasa indah, “… berusaha menggapai-gapai Tuhan.”

Bisa jadi nantinya, jika Bung Akmal memuncaki penghargaan ini, dia dengan cerdik menutup kisah satu paragraf menggucang.

Prediksi: Jelas akan masuk daftar pendek. Sejauh ini yang terbaik. Sembari menanti menyelesikan baca enam buku lainnya, kalian bisa menjagokan dan menempatkan buku ini sebagai unggulan pertama. Alur, penokohan, konfliks, sampai detail yang disaji sangat ampuh. Betapa absurd cerita perpaduan antara pelacur, pengemis, buruh, juragan dan seorang tokoh agama. Semua yang terbang ke langit, hilang dalam peraduan mistis. Tango & Sadimin adalah novel hebat yang membumi, ada di sekeliling kita, ada di antara masyarakat. Saya ga bohong, sungguh aduhai.

Tango & Sadimin | Oleh Ramayda Akmal | GM 619202024 | Editor Teguh Afandi | Layout Ayu Lestari | Desain sampul Orkha Creative | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Maret 2019 | ISBN 978-602-06-2815-8 | ISBN DIGITAL 978-602-06-2816-5 | Skor: 5/5

Karawang, 230919 – M2M – The Day You Went Away

Les Miserables – Victor Hugo

Les Miserables – Victor Hugo

Akhirnya kesampaian juga menyelesaikan salah satu buku yang kuidam-idamkan ini. Kisahnya panjang sekali, dipecah dalam delapan buku (bab). Novel yang sangat keren, dituturkan dengan ketelitian dan akurasi kata yang sedap dilahap. Buku yang menampilkan ketidakadilan menuju keadilan, dari kepalsuan menuju kebenaran dan dari kegelapan menuju cahaya terang. Materi adalah titik mulanya, kedalaman jiwa adalah akhirnya.

Tentang uskup berhati mulia, sangat mulia bak nabi. Tak ada dendam, tak ada marah, tak ada nafsu dunia. Tuan Myriel, uskup dari kota D. Berjuluk Monsieur Welcome. Tak ada rasa takut akan segala ancaman nafas, semua mengalir apa adanya. “Altar yang paling indah adalah tempat melihat makhluk yang tidak bahagia menjadi terhibur dan bersyukur pada Tuhan.” Mengajak warga untuk taat padaNya tanpa kekerasan tanpa paksaan.

Tentang mantan narapidana Jean Valjean yang dihukum 19 tahun kerja paksa di kapal. Padahal kesalahannya tak wah, mencuri roti karena kelaparan tapi yang membuatnya lama justru alasan usaha kabur berulang kali. Setiap jelang habis masa tahanan ia malah berbuat konyol seolah jagoan yang mencoba kabur, ketangkep lagi hingga makin berat. Saat akhirnya hukuman selesai ia tak mendapat tempat bernaung. Nah sebagai residivis ia ga diterima masyarakat, tak mendapat makan di restoran manapun karena namanya sudah dicekal. Sampai akhirnya ia terdampar di rumah sang uskup.

Tentang gadis lugu yang terjebak cinta, Fantine. Mempunyai anak tanpa ikatan pernikahan karena sang pujaan hati berangkat perang menunaikan tugas negara dan hilang ditelan rimba kehidupan. Sang anak Cossette terpaksa dititipkan kepada keluarga kejam saat ia harus bekerja keluar kota, setiap bulan mengirim uang untuk mengurusnya. Segalanya dikerjakan demi buah hati. Gigi dijual, rambut dipangkas untuk diuangkan, bahkan harga diri dipertaruhkan. Luar biasa perjuangan seorang ibu, single parent single fighter. Dari gadis cantik menjadi jelek, sangat jelek demi anak. Namun anaknya ternyata tak urus layak, pedih. Sangat pedih.

Tentang pengungkapan identis bangsawan yang luar biasa baik. Masa lalunya yang tak tercatat yang datang ke M. Sur M. tanpa bekal memadai namun menjelma jadi orang penting. Mendirikan pabrik bidang perhiasan kaca gelas dari nol dan menjadi raksasa ekomoni kota. Tuan Madeleine yang sangat berjasa dipaksa menjabat wali kota, hingga akhirnya suatu ketika ia bertemu pelacur yang berani meludai wajahnya di depan polisi Javert. Heran, aneh dan begitu absurb. Hakim berbicara atas nama keadilan, pendeta berbicara atas nama belas kasihan, yang merupakan keadilan yang lebih mulia. Petir tidak akan melakukan kesalahan.

Semua kepingan karakter itu disatukan dalam Les Miserables – Orang-Orang Malang karya Victor Hugo yang saat pertama terbit mendapat kritik pedas, dicela kritikus. Penulis legendaris novel Madam Bovary, Gustave Flaubert berujar, “Tidak berisi kebenaran, juga tidak hebat.” Barbey d’Aurevilly menyebut berselera rendah dan mengeluhkan kevulgaran. Nyatanya saat terbit di Perancis respon pasar sebaliknya, antrian mengular dan buku ludes dalam hitungan jam. Hugo memang fenomenal. Dicekal di negerinya sendiri, bersinggungan politik sehingga kabur ke Belgia. Hidup di zaman Napoleon dan menjadi saksi kekalahannya dari Inggris tahun 1915 di Waterloo. Era Restorasi Bourbon di mana gereja ikut berperan dalam politik, tak heran buku ini kental sekali dengan ajaran agama. Kebaikan tidak boleh dilakukan tanpa keimanan. Dia yang merupakan seorang ateis adalah pemimpin yang buruk bagi perabadan manusia. Masa perjuangan revolusi menyingkirkan republik dan gejolak sosial, Les Miserables tumbuh dalam sejarah itu. Ditempa zaman, bertahan hingga kini.

Kutipan-Kutipan

Layaknya laki-laki yang sudah tua dan sebagaimana kebanyakan pemikir, dia hanya tidur sebentar. – halaman 29

Anda salah. Sesuatu yang yang indah sama bergunanya dengan sesuatu yang berguna. – 37

Yang perlu kita takuti adalah diri kita sendiri. Prasangka adalah perampok sesungguhnya, sifat buruk adalah pembunuh sebenarnya. Bahaya terbesar ada dalam diri sendiri. Tak peduli yang mengancam kepala atau dompet kita. Mari hanya berfikir tentang apa yang dapat mengancam jiwa kita. – 43-44

Kematian adalah hal sederhana. Orang tidak membutuhkan cahaya untuk itu. Jadi baiklah. Saya akan mati pada malam hari. – 58

Uskup menundukkan kepala sambil menjawab, “Vermis sum – saya adalah seekor cacing.” – 64

Saya meringkas. Saya berhenti, selain itu saya sekarat. – 67

Mari kita tegaskan bahwa kebencian terhadap kemewahan bukanlah kebencian yang baik. Kebencian ini melibatkan kebencian terhadap seni. – 72

Tidak ada kekuasaan yang tidak memiliki tanggungan. Tidak ada nasib yang tidak memiliki pengadilannya. Para pemburu masa depan berputar mengelilingi masa kini yang luar biasa. – 77

Nalurinya mengatakan ‘Lari!’, akalnya akan mengatakan, ‘Tinggal’. Namun di hadapan godaan yang begitu hebat, akalpun menghilang, yang tersisa hanyalah naluri. – 142-143

Ketika banyak masalah yang memenuhi pikiran, seseorang dapat tertidur satu kali, tetapi tidak untuk kedua kalinya. – 152

Bahagia adalah dia yang ketika saatnya tiba mengambil keputusan dengan gagah berani dan turun tahta seperti Sylla atau Origenes. – 209

Perempuan cantik adalah penyebab peperangan, perempuan cantik adalah pelanggaran yang dahsyat. Seluruh invasi yang tercatat dalam sejarah disebabkan oleh perempuan. Perempuan adalah hak laki-laki. – 213

“Diskusi adalah hal yang baik.” Kata Tholomyes. “Perselisihan lebih baik lagi.” – 215

Dibalik perselisihan yang jelas ini masih ada hal yang lebih besar dan bermakna, Revolusi Perancis. – 241

Buku adalah teman yang dingin, tetapi aman. – 256

Melepaskan diri dari ikatan suram masa lalu adalah tugas yang menyedihkan. – 281

Pada masa itu kumis menunjukkan kaum borjuis dan taji menandakan pejalan kaki. – 299

Kau lihat, neraka yang baru kamu lewati adalah bentuk pertama surga. Memang harus dimulai dari sana. – 318

Ya Tuhan, sungguh mudah menjadi baik, yang sulit adalah untuk menjadi adil. – 333

Ada pemandangan yang lebih megah dari lautan yaitu langit, ada pemandangan yang lebih megah dari langit yaitu lubuk hati yang paling dalam dan tersembunyi pada manusia. – 348

Para pelaut menyebutnya air pasang, orang bersalah menyebutnya penyesalan. Tuhan mengaduk jiwa manusia sebagai mana Dia mengaduk lautan. – 356

Ini adalah krisis yang sangat menakjubkan. Kebahagiaan besar telah terbukti menahan penyakit. – 404

Tuhan tidak hadir ketika dia sedang diadili. – 414

Overall

Buku yang sanng padat, panjang dan sungguh melelahkan. Butuh waktu seminggu lebih untuk menyelesaikannya. Butuh tidak kali waktu duduk untuk mengulasnya, tapi ketunda terus. Buku yang sangat bagus, hanya sayangnya endingnya anti-klimak. Ibarat setelah berjuang berlari berkilo-kilo maraton eh ternyata garis finish itu sudah penuh sesak dengan pelari lain dari garis start lain sehingga seakan sia-sia tak juara. Walaupun gitu, jelas buku ini sangat rekomendasi lahap. Petualangan memaafkan manusia, hati yang mulia dan lautan cinta untuk umat. Sungguh indah bak kutipan alkitab yang diperaga kehidupan sehari-hari. Masterpiece.

Les Miserables | by Victor Hugo | pertama terbit dalam bahasa Perancis tahun 1862 oleh Lacroix and Verboeckhoven, Belgia | Penerjemah Reyvita Mutiara Andryani | Penyunting Muthia Esfand | Proof reader Tim Redaksi Visimedia | Desain sampul dan tata letak Nuruli Khotimah | Gambar sampul Aminudin Hadinugroho | Penerbit Visi Media | Cetakan kedua, Januari 2013 | xiv + 482 hlm; 140 x 210 mm | ISBN 979-065-135-x | Skor: 5/5

Karawang, 240817-090917-101017 – Homogenic – Seringan Awan – BSB – Helpless When She Smiles

Lelaki Harimau #10

image

Inilah masterpiece Indonesia yang berhasil menembus kancah internasional. Sepuluh tahun lalu saya menemukan banyak buku ini dengan cover lama berserakan di toko buku dengan diskon gila-gilaan. Kupikir waktu itu ini buku ga laku? Berjalannya waktu, kualitas akhirnya berbicara. Buku ini mendapat perhatian banyak reviewer bernada positif. Lalu ketika penerbit luar mulai berlomba membeli hak terjemahannya, barulah saya ikut terbawa arus penasaran. Buku Eka pertama yang kubaca adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Lunas baru kemudian buku ini. Saya membaca Seperti Dendam juga gara-gara seorang wartawan bola senior merekomendasikan, dan ternyata cukup memuaskan sehingga berburu buku lainnya. Dan Lelaki Harimau luar biasa sukses membuatku terkagum-kagum atas plot, gaya bahasa, dan penuturan yang tak lazim. Seperti memasuki dunia imajinaf yang menyesakkan, dan tur kisah ala Eka benar-benar enak diikuti. Ikut bangga ada Penulis lokal dengan kualitas mumpuni.

 

Seperti buku-buku klasik yang bagus, buku ini tak banyak cingcung ucapan terima kasih, cuap-cuap ga jelas atau prakata tak tentu arah. Kita bahkan tak diberi daftar isi, tak dijelaskan sinopsis panjang lebar di back cover. Hanya paragraf pendek bertuliskan: Pada lanskap yang sureal, Margio adalah bocah yang menggiring babi ke perangkap. Namun di sore ketika seharusnya rehat menanti musim pemburuan, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan penghianatan, rasa takut dan birahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas “Bukan aku yang melakukannya,” ia berkata dan melanjutkan, “Ada harimau di dalam tubuhku.” Lihat betapa ringkas dan menatap penuh tanya arti sekelumit kalimat itu. Dan ketika kita buka, kita langsung diajak berfantasi ke dunia Eka sesunguhnya.

 

Cerita dibuka dengan sangat gamblang, Margio membunuh Anwar Sadat. Senja itu ketika Kyai Jahro sedang memberi pakan ikan di kolamnya, datanglah Mayor Sadrah dan Ma Soma memberikan kabar duka. Margio yang sedari siang menenteng samurai dikiranya menghentikan nyawa Anwar dengan senjata asal Jepang. “Bocah itu menggigit putus urat lehernya.” Sebuah fakta mengerikan, pembunuhan dilakukan dengan gigitan. Membayangkannya saja membuat begidik. Kyai Jahro yang sudah berpuluh tahun memimpin sholat jenasah, shock. Sepertinya tak ada tanda dendam pada bocah bersama Margio kepada lelaki tua Anwar, namun inilah faktanya.

 

Margio adalah anak pemurung yang tak betah di rumah tapi sesungguhnya anak yang manis dan santun. Ia tak terlalu bodoh menyia-nyiakan kekuatan tubuhnya dalam perkelahian, dan sepanjang hari mengambil kerja serabutan untuk menyia-nyiakankannya dalam bungkus rokok dan botol bir tapi tetap saja ia anak manis meski pemurung. Semua orang tahu ia benci ayahnya dan semua yakin ia bisa menghabisinya, namun sampai Komar bin Syueb mati ia tak pernah mencobanya sedikitpun. Ia sungguh tak banyak polah. Maka ketika ia mendengar Margio membunuh, bagaimanapun Mayor Sadrah masih belum mempercayainya.

 

Mayor Sadrah veteran pejuang memiliki motor Honda 70, didapat dari kepala polisi yang mungkin mendapatkannya dari sitaan barang curian yang tak berpemilik. Tanpa surat dan kelengkapan, namun tentu saja tak pernah ketilang. Dengan sandal jepit, rokok mengepul dan tanpa helm. Tamasya sore kegemarannya, sesekali mampir bengkel untuk mengencangkan sekrup motor tuanya atau mampir ke warung ngopi. Sore itu bersama Ma Soma memberitahu kabar menggemparkan itu kepada Kyai Jahro.

 

Selanjutnya kita disuguhi detail akan dan sesudah kejadian. Betapa Margio yang anak manis itu berubah setelah kematian ayah dan adiknya. Permasalahnya kata Agung Yuda teman bedundalnya, Margio pasca kehilangan ayahnya tampak bahagia. Kematian Anwar membuatnya diseret ke sel, lalu setelah sholat jenazah Mayor Sadrah mengunjunginya. Akhir bab satu seperti yang disampaikan di synopsis singkat back cover, “Ada harimau di dalam tubuhku.”

 

Di bab dua kita diajak kembali ke focus ke awal sebelum kejadian. Awal kemunculan harimau putih, jelmaan lelembut yang dimiliki beberapa warga di sana. Sebagaimana diturukan Ma Muah, pendongeng desa. Beberapa dari mereka memilkinya sebab kawin dengan harimau, yang lain memperoleh dari warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kakek Margio memperoleh itu dari ayahnya, dan ayahnya dari ayahnya, dan nenk moyang yang barangkali tak lagi diingat siapa yang pertama kali kawin dengan harimau. Margio mengetahuinya setelah suatu subuh ketika ia tidur di surau kakinya ada yang mengibas, ternyata seekor harimau putih, warisan kakeknya. Margio memang lebih dekat dengan sang kakek ketimbang orang lain. Ayahnya Komar Bin Syueb adalah lelaki dengan banyak masalah. Pernikahan dengan Nuraeni awalnya seperti kisah roman masa lalu antara gadis desa dan pria rantau yang kepulangannya penuh damba. Pernikahan yang menghasilkan tiga anak, Margio si sulung, Mameh yang aneh dan Marian yang tak berumur panjang. Suatu hari ketika di rumah nomor 131 itu ditemukan Komar Bin Syueb meninggal. Kisah ini malah ditarik jauuuuuh ke belakang. Awal mula terbentuknya keluarga ini.

 

Keluarga ini pindahan. Seperti yang diingat Margio sebagai “Tamasya Keluarga Sapi”. Mereka melalui perjalanan nan religius melewati jalan buruk. Sesunggunya ada jalan beraspal yang bisa dilalui namun Komar takut sapi-sapi itu terganggu atau menggangu pengendara lain sehingga ia memutuskan melewati bukit. Well, perjalanan ini mengingatkanku pada novel 100 Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez. Perjalanan yang menyentuh hati sebuah keluarga.

 

Setelah bab tiga dan empat yang melelahkan nan indah. Bab terakhir kita pun dibimbing ke eksekusi akhir. Tentang Maharani, anak Anwar Sadat yang mengucap cinta pada Margio. Tentang cinta remaja penuh gelora. Sampai di sini tampak sekali Eka mencoba menggiring Pembaca untuk membentuk motif pembunuhan. Namun ketika gumpalan itu mulai tampak, Pembaca dihempaskan lagi. Apakah motifnya cinta terlarang? Hhhmmm…, kisah ini terlalu klise disebut masterpiece kalau hanya karena kasih tak sampai. Apakah cinta mereka akhirnya bersatu? Lalu apa sebenarnya motif Margio menggigit leher Anwar?

 

Saya mencatat ada empat keistimewaan novel ini. Pertama gaya bercerita yang tak biasa. Mengingatkanku pada penulis Inggris George Orwell yang bilang, buatlah cerita dengan penuturan yang tak lazim. Novel ini jelas banyak susunan kalimat yang tak pada umumnya. Kedua ada dunia imajinatif yang indah untuk diraba Pembaca, dan Eka sukses memetakannya. Seperti harimau putih yang ada di tubuh karakter, itu semacam mitos di kampung-kampung yang memang banyak percaya. Ketiga surealis magis ala Garcia Marquez sukses dipetakan. Seperti yang kita tahu, Penulis Latin ini terkenal karena gaya Bahasa yang surealis seperti perjalanan pindahan yang dituturkan dengan menakjubkan. Memang banyak yang mencoba meniru gaya tulisan Marquez namun sejauh ini lebih banyak yang gagal, nah Eka dengan gemilang mengaplikasikannya. Kebetulan saat ini saya sedang membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer, mirip-miriplah. Kalau Marquez sudah dapat dan Pram menjadi nominasi Nobel Sastra, bagaimana dengan Eka?

 

Keistimewaan keempat adalah Eka dengan sangat jeli menyimpan motif. Kita sudah tahu siapa yang mati dan alur merenggang nyawa si Anwar tapi tahukah kalian, sampai kalimat terakhir buku ini barulah kita tahu apa motif sebenarnya. Awalnya pembaca digiring untuk simpati lalu dihempaskan tak terperi sehingga motif itu terasa, “Oke bisa diterima. Selamat!”

 

Adaptasi film sepertinya hanya tinggal tunggu waktu. Saya membayangkan film akan ditayangkan di festival-festival dunia dan mendapat applaus standing. Inilah buku yang sangat amat pantas dikoleksi, ditelaah dan dibicarakan sampai dengan 50, 60 tahun yang akan datang. Eka sudah membuat mahakarya yang akan jadi warisan Indonesia buat Dunia. Kelak saya percaya, buku ini akan jadi literasi sastra (minimal) Indonesia yang dibahas di sekolah-sekolah dan bangku kuliah. Lelaki Harimau, putih serupa angsa!

 

Lelaki Harimau | oleh Eka Kurniawan | diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2004 | GM 20101140028 | Cetakan pertama (cover baru), Agustus 2014 | layout isi Noviprastya | ISBN 978-602-03-0749-7 | Skor: 5/5

 

Karawang, 100616 – Yusuf Islam – The Wind
#10 #Juni2016 #30HariMenulis #ReviewBuku