Rumah Boneka

“Mencintai Anda dengan begitu besarnya lebih daripada orang lain. Apanya yang kejam?”

Buku sandiwara lagi. seperti Menunggu Godot yang begitu hidup, buku ini begitu berhasil membuat pembaca begidik. Ingat, ini adalah buku sandiwara dengan kekuatan ngobrol sepenuhnya. Tokohnya ada delapan + tiga anak, sejatinya hanya lima yang meninjol. Tolvard Helmer sang suami; Nora istirnya; Dokter Rank, dokter keluarga yang sudah dianggap saudara sendiri karena sering ikut pesta dan makan malam; Nyonya Linde, teman lama Nora yang hadir setelah lama berpisah; dan Nils Krogstad, seorang petugas bank yang jahat. Semuanya diaduk di ruang tamu keluarga Helmer. Dan sungguh memikat, hanya dari kata-kata, kita turut tegang, dan pilu.

Terbagi dalam tiga babak, dipisahkan hari. Semuanya di rumah Helmer. Kisahnya bermula Nora pulang berbelanja untuk keperluan Natal, masuk rumah dengan pembantunya, dan meminta menyimpannya agar tidak dilihat anak-anak hadiahnya. Lalu muncul sang suami Tolvard yang begitu mencintai istrinya sampai dipersonifikasikan seperti burung murai, tupai, bahkan sepertui sang boneka. Memang Nora snagat cantik. Pintar bernyanyi dan menari, pandai berdandan. Suka belanja, istri yang dimanja. Delapan tahun pernikahan, tiga orang anak.

Nora tampak boros berbelanja, ditegur (dengan halus) bahwa uangnya tak banyak, ia akan naik jabatan di tahun baru sebagai manajer bank, Nora dengan gaya ngeles, nanti uangnya juga pasti ada kan, bisa pinjam dulu, bisa ditalangi alokasi biaya lain, dst. Suaminya memang tak marah, ia nurut saja, ia begitu memuja Nora. Tolvard itu begitu tergila-gilabya kepada Nora sehingga ia menginginkan dia hanyalah baginya semata-mata, seperti yang ia katakana. Bukan hanya memperoleh yang kita perlukan saja, tetapi tumpukan dan tumpukan uang. “Sungguh menggembirakan, suamiku diangkat, menjadi manajer bank.”

Nyonya Linde lalu hadir, teman semasa sekolah ini pindah kota untuk mencari pekerjaan. Janda tanpa anak ini seperti iri sama Nora. Setelah mengabdi kepada keluarga, ia kini sebenarnya sudah bebas, kedua adiknya sudah mentas, ia tak punya tanggungan orangtua lagi, tak bersuami dan taka da buntut. Ia ke kota ini untuk memulai petualang baru. Setelah bergosip ria, masuklah ke masalah serius. Ia akan dibanti Nora untuk kerja di bank yang dikepalani suaminya. “Aku tidak tahan untuk hidup tanpa pekerjaan. Seluruh hidupku, sepanjang yang dapat kuingat, aku telah bekerja, dan itu merupakan satu-satunya kesenangan dan kebanggaanku.”

Sementara dokter Rank yang sudah tua, mengeluhkan sakit pinggang dan kini di masa tua bangkrut menjadi penengah kasih. Beberapa waktu yang lalu ia telah memeriksa keadaan ekonomi rumah tangga. Bangkrut! Sempat terbesit sebuah paradoksial, ialah impian Nora sebab Nora keceplosan bilang: “Kemudian aku duduk di situ dan membayangkan adanya seorang lelaki tua yang kaya telah jatuh cinta padaku. Bahwa ia kemudian meinggal dan ketika surat wasiatnya dibuka, isinya tertulis dengan huruf-huruf yang besar memerintahkan: “Kepada Nyonya Helmer yang cantik harus segera diserahkan segala yang aku miliki secara tunai.” Namun, tak seserhana itu.

Nah, masalah muncul saat Nils Krogstad datang ke rumah ini. ia mencari Helmer, tapi sedang keluar. Maka ia berbincang dengan Nora, mengenai kemungkinan minta tolong agar dipertahankan. “Nyonya Helmer, sudikah kiranya Anda berbuat baik untuk menggunakan pengaruh Anda demi keperluanku?”

Dan masa lalu dkuak. Betapa Nora melakukan kejahatan, ia bisa saja dipenjara karena kasus ini. dan yang tahu kasus ini hanya Krogstad (lalu Linde, sebab dicurhati). Tarik ulur kesepakatan, negosiasi situasi, hingga ancaman diapungkan. Keluarga harmonis ini terancam, padahal di muka tampak cerah dengan jabatan menterengnya. Apakah berhasil dipertahankan? Atau runtuh bak banguan renta dan rapuh?

Keluarga ini lapisan luar tampak bahagia. Perjuangan membangunnya penuh dedikasi. “Tetapi di tahun-tahun pertama ia harus bekerja melampaui batas. Lihat, ia harus mencari uang dengan berbagai cara, dan ia bekerja sejak dini hari sampai larut petang, tetapi ia tidak dapat bertahan dan jatuh sakit, dan para dokter mengatakan bahwa baginya sangat perlu untuk pergi ke daerah selatan.”

Namun setelah berlembar-lembar kita tahu kerapuhannya. Pertama Nora itu perempuan manja. Cantik dan memandang seolah dunia ini indah-indah saja. “Kau ini masih seperti anak kecil.” Kata Linde. Dan Nora marah, maka membalasnya, “Bahwa aku ini hidup tanpa mengenal dunia yang penuh persoalan.” Dari sanggahan itulah, kata-kata menguar, dan rahasia diungkap.

Sanggahan penting pertama adalah, saat Helmer sakit parah dan harus ke selatan, Nora bilang dapat uang dari ayahnya untuk berobat. Padahal ayahnya tidak memberikan satu shilling pun, dan Noralah yang mencari uang itu. Dari mana? Berutang! Parahnya tanpa sepengetahuan suaminya. Kok bisa? Segi baiknya punya sesuatu sebagai simpanan. Ia berdalih, “Nanti apabila Torvard sudah tidak begitu memperhatikan aku lagi seperti sekarang ini.”

Kemudian ia telah bekerja keras agar bisa menutupi, menentukan jalan yang lain untuk memperoleh uang. Musim dingin yang lalu merasa beruntung mendapatkan pekerjaan menyalin yang banyak sekali. Namun tidak akan tertutup sepenuhnya. Kemarahan mencuat, dan arti cinta diperuhkan. “Kau tidak pernah mencintaiku. Kau cuma pikir sebagai sebuah kesenangan untuk mencintaiku.”

Kerapuhan kedua, seorang ahli hukum bernama Krogstad, menderita penyakit akhlak-lah aktor peminjam kala itu. Secara umum, pinjaman sah-sah saja. Namun ada sebuah kesalahan. Ada pemalsuan, ada kecurangan dalam sepekatan. Dan itu sungguh berat. Pinjaman uang sebesar dua ratus lima puluh pound bisa jadi bola salju yang menyapu banyak hal yang dilewatinya. Sekali badai di rumah itu sudah terhenti, ia punya sepucuk surat untuk sang suami dalam saku baju. “Apabila aku kehilangan jabatanku untuk kedua kalinya, Anda juga akan kehilangan yang Anda miliki, bersama aku.”

Kerapuhan ketiga, Nora yang manja begitu tampak taat, tapi tidak. Contoh dalam mendidik anak, tak boleh ada macaroon, gula-gula, permen, makanan di rumah. Itu adalah makanan dilarang. Nyatanya, sering berdalih, sering melonggarkan aturan, dan sering dinikmati secara sembunyi. Istri yang melawan, tapi tak secara langsung.

Keempat, sang suami. Ternyata ia memiliki sisi egoism tinggi. Dan itu sangat melukai. “Karena lingkungan dengan suasana penuh kebohongan itu akan menular dan meracuni seluruh kehidupan di rumah, setiap helaan napas yang diisap anak-anak di dalam rumah macam begitu itu adalah penuh dengan bibit-bibit kejahatan.”

Semua orang memang tak pernah siap menemui kata pisah, memeluk kehancuran. Hiks, “Kasihan, kawan tuaku. Tentu saja saku tahu bahwa memang dia tak akan lama lagi bersama kita. Tetapi mengapa begitu cepat! Dan begitu ia akan menyembunyikan diri seperti binatang yang terluka.”

Malam Tarian Tarantella menjadi puncak cerita, dan endingnya keren banget! Tak menyangka sang boneka melawan. Rumah itu dipertaruhkan. Rumah boneka yang malang. Jadi apa definisi bahagia? “Tidak, aku tidak pernah merasa bahagia. Aku pikir memang begitu, tetapi sesungguhnya tidak pernah begitu.

Rumah Boneka | by Hendrik Ibsen | Diterjemahkan dari A Doll’s House | Penerjemah Amir Sutaarga | Ed. 1, 2007 | vii + 156 hlm” 11 x 17 cm | ISBN 978-979-461-132-6 | Penerbit Yayasan Obor Indonesia | Edisi pertama: Mei 1993 | Edisi kedua November 2007 | YOI 174.11.15.93 | Desain sampul T. Ramadhan Bouqie, Jean Kharis Design Graphic | Skor: 4.5/5

Karawang, 160922 – Charles Mingus – Self Portrait in Three Colors

Thx to Dede H, Bdg

Selalu ada Tradisi Makanan yang tak Diketahui Orang

Aruna dan Lidahnya by Laksmi Pamuntjak

“Kuah babat karena memberi bodi dan aroma, kacang kedelai karena membuat ekstra renyah, timun karena menambah asam dan segar.”

Karena saya sudah melihat filmnya, apa yang dilakukan dan diucapkan Aruna sudah tercetak wajah Dian Sastrowardoyo. Apalagi gerak-geriknya mirip, atau perasaanku saja yang mengikuti? Entahlah. Ini novel dengan citarasa makanan melimpah, pemakaian kata lezat pada tempatnya. Perhatikan, “Sebuah dunia yang telah terbentuk lama sekali, sebelum musik, sajak, dan gambar, dan yang pagi malam mengisi penuh kepalanya, mengisi dan menaungi.”

Secara cerita mungkin agak kurang, kalangan atas sedang kerja dan makan-makan, motif dan pengembangannya yang kurang relate sama kebanyakan kita, atau kurang pas sama jelata. Pejabat pemerintah, dan lingkarannya melakukan kejahatan, Aruna terseret pusaran, dan begitulah ia mengikuti decak kenikmatan makanan dari kota ke kota. Keistimewaan buku ini jelas, cara penyampaiannya yang luar biasa. Lezat di tiap lembarnya. Memang ini hidangan istimewa, nikmatnya berlapis-lapis. “Selalu ada tradisi makanan yang tak diketahui orang.”

Aruna Rai adalah ahli wabah dengan spesialisasi Flu unggas, diperbantu dalam kasus flu burung yang melanda Indonesia. Bekerja sebagai konsultan epidemiologi, menyebut diri sebagai ‘Ahli Wabah.’ Ada delapan kota yang akan dikunjunginya, kota-kota yang mendapati positif pasien flu burung, dicek dan analisis untuk kemudian dilaporkan ke bosnya. Apakah perlu mendirikan pabrik vaksin? Apakah perlu mencegah penularan dengan proteksi lebih tinggi. Dan tentu saja semua itu perlu biaya. Satu kasus di delapan kota, terjadi secara serentak. Bahaya wabah masih jauh di bawah tingkat siaga? “Sebuah virus akan akan pernah takluk, ia kecil, ia sabar, ia mengganda dalam diam. Tak ada yang menghitung umurnya, tapi ia tak pernah lupa. Suatu hari ia akan datang, menyerang, dan kita tak berdaya menangkalnya.”

Dalam tim Aruna sama lelaki yang sejatinya nyebelin, tapi akrab dan mencoba masuk lingkaran pertemanan. Farish mungkin bukan cowok idealnya Aruna, tapi mereka satu tim dan kebersamaan mencipta hubungan lebih lanjut.

Sejatinya dua sobat kental Aruna-lah penggerak cerita: Bono yang seorang chef lulusan luar negeri yang obsesif sama makanan. Ia begitu hebat menganalisis kualitas makanan, hapal sama kota-kota dengan kekhasan sajian. Manusia yang hidup untuk optimism, harapan, sihir resep yang mengejutkam, retoran yang tak terlupakan, kisah yang tak selesai, kata-kata yang tak terucapkan, malam yang membuka alam setengah mimpi. Bono a.k.a. Johannes Bonafide Natalegawa, chef muda berbakat internasional. “Tak hentinya mengumpulkan fakta remeh temeh tentang makanan tapi yang jika dilontarkan sesekali dalam sebuah pembicaraan membuat sang pembicara semakin menarik dan misterius.”

Satu lagi, si cantik Nadezhda Azhari. Penulis kuliner yang tak mau menikah. Memiliki hubungan dengan lelaki bersuami dari Eropa. Dan karena seorang penulis, hubungan gelap itu sama penulis juga. Suka sama prinsipnya, “Dia tidak pernah menonjolkan kelebihannya terhadap orang-orang yang tak dikenal baik.”

Keduanya turut serta tim Aruna, sekaligus jalan-jalan ke tempat makan. Kuliner ke delapan kota, dari Surabaya, Pamekasan, Singkawang, hingga Pontianak. Dengan dalih menemukan resep makanan lokal yang otentik. Dalam pelaksanaannya, banyak hal meragu, tampak sesuatu yang salah, konspirasi macam apa ini? Dan pada akhirnya Aruna harus mengambil tindakan, dalam keragu-raguan, ketetapan hati harus diambil.

Ada beberapa kalimat panjang yang bagus untuk di-sher. Salah satunya: “Yang melihat poster Macedonia dan bukan membayangkan kemiskinan dan musim kemarau berkepanjangan melainkan sepiring salad dengan mentimun dan tomat termontok di jagat raya, yang melihat poster Venezia dan membayangkan bukan air yang menyapu kaki dan dengkul, melainkan aneka hasil laut yang berlimpah-limpah di Pasar Rialto, manusia yang tahu bahwa mereka bahagia saat lidah mereka bersentuhan dengan pandan dan gula Jawa, saat hidung mereka menghirup gulai yang lekat.”

Atau kesimpulan yang bagus, bagaimana setiap resep kuliner selalu ada yang hilang tak tercatat. Pahlawan lokal. “Akan sekian banyak pahlawan kuliner yang tak tercatat, yang tak mungkin tercatat karena begitulah budaya rakyat, yang namanya tertelan oleh roda waktu dan perputaran zaman, yang resepnya entah bagaimana kekal dalam tafsir beratus beribu tangan.”

Kesamaan para karakter selain obsesi makanan adalah, di usia matang 30-an semuanya memilih lajang. Aruna yang galau di angka 35, merasa gendut dan tak pede. Bono yang kalau dilihat kaca mata umum, sudah mapan, ia terlalu fokus sama karier dan bisnis makanannya. Dan Nadez yang berpendidikan luar, menikmati hidup sampai keblabasan sehingga memilih tak menikah.

Ada satu lagi, bagian yang mengingatkanku pada novel-novel John Grisham. Di mana seorang pekerja, muak sama kehidupan, kesal sama rutinitas sehingga ingin kabur dari segalanya. Nah, di sini Aruna sempat terbesit. “Mungkin bisa aku minggat saja setelah investigasi ini selesai, ke Lima, ke Luanda, ke Lesotho, pokoknya ke kota yang tak akan pernah terlintas dalam benak siapa pun, dan suatu saat, lima tahun lagi, baru pulang ke Jakarta untuk menata ulang hidupku.” Wajar sih, kita semua bosan. Dan impian liar sejenis itu selalu ada.

Hingga tercipta tragedi. Kucatat ada tiga masalah pelik di akhir. Pertama tentang Leon sang mantan yang tragic, bagaimana menanggapi seorang yang kini bukan seseorang lagi di hatinya? Sedih sekali, lenyap jadi debu dan tak bisa menziarahi secara langsung. Kedua, keputusan bosnya yang berdiri di tengah-tengah. Kasus ini pelik, korupsi tak boleh dimaafkan. Dan rasanya berat saat tahu, temanmu, sekaligus bosmu terjerat. Kamu ada di tengah-tengah dan bimbang. Ketiga, keputusan akhir Aruna menambatkan hati. Ia malah mengalah, ia menyerah pada jiwa lelaki yang sejatinya tak klop 100%. Namun lelaki ini siap mendampingi, bahkan saat ke pulau Nusa, bisa menyediakan waktu dan tempat untuk bernaung. Terkadang memang kita harus mengalah pada keadaan. “Hal-hal yang kita lakukan dan hal-hal yang kita impikan. Aku masih ingin hidup di dalam keduanya.”

Novel pertama Laksmi Pamuntjak yang kubaca, keren banget. Pemilihan kata, nyaman dan puitik. Salah satu novel lokal dengan liukan kata terkeren yang kubaca. Cerita mungkin agak kurang, sebab memainkan orang-orang kalangan atas yang tak relate sama jelata. Pilihan dengan makanan sebagai tunggangan utama, baru pilihan bagus. Berapa banyak sih novel dengan citarasa makanan sebagai tema dicipta di Indonesia? Tak banyak. Apalagi dibuat dengan gemuruh diksi sekeren ini. Pengalaman pertama yang akan mematik karya-karya berikutnya untuk dilahap. Next, Amba?

Aruna dan Lidahnya | by Laksmi Pamuntjak | GM 201 01 14 0032 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desain sampul SOSJ Design Bureau & Consultancy | Ilustrasi sampul Barata Dwiputra | Foto Pengarang Bona Soetirto | ISBN 978-602-03-0852-4 | Skor: 4.5/5

Buat D.S.K. (1968-2013)

Karawang, 210822 – 070922 – Miles Davis – Once Upon a Summertime

Thx to Derson S, Jkt

Mati, Truk, Menggeliat Keluar, Lompat, Lari, Seseorang, Pesan, Polisi, Obor Las

Room by Emma Donoghue

“Dan tempat-tempat itu juga nyata, seperti ladang dan hutan dan pesawat dan kota-kota…” “…” | “Tak mungkin. Mana mungkin semua itu muat?” | “Di sana, di luar.” | “Di luar dinding tempat tidur?” | “Di luar kamar.”

Buku dibuka dengan kutipan bagus yang mewakili sudut pandang Jack, sang anak.

Anakku: Kesukaran yang kumiliki. | Sementara kau tertidur, hatimu tenteram; | Kau bermimpi dalam rimba kesedihan; | Dalam malam berselimut merah tua; | Dalam biru kelam kau berbaring geming dan bersinar. Simonides (abad 556-468 SM), “Danae” (terj. Richmond Lattimore)

Lima tahun untuk selamanya. Mengubah segala hal yang selama ini ditempa. Buku ini, bisa jadi renungan ilmu psikologi. Lingkungan membentuk seseorang. Kita dicipta oleh keadaan sekitar, pendidikan sekitar. Makanya, yang kaya makin kaya sebab diolah oleh pendidikan dan pergaulan orang kaya, begitu juga yang miskin, pola pikirnya tetap miskin. Ya, pahit, tapi nyatanya seperti itu.

Novel dan film (baca di sini ulasannya) sama saja, bagus semua. Dibuat dalam dua babak utama, di dalam kamar dan adaptasi di kehidupan sesungguhnya. Dengan cerdas mengambil sudut pandang seorang anak lima tahun yang polos dan menggemaskan. Pendidikan itu penting, tapi lingkungan jauh lebih penting. Bagaimana sifat dan karakter dibangun di ruang sekecil itu. Dari lahir dan pada akhirnya kabur, bagaimana Jack beradaptasi sama hidup baru. Polos dan tampak sangat menyentuh. Seperti filmnya, menurutku bagian pertama luar biasa. Keren abnget, ide memenjara dan dengan segala keterbatasannya. Bagian kedua menurut drastis. Itulah mengapa orang suka drama pahit, sebab cerita pahit selalu mematik penasaran. Nah, untungnya, ending buku ini bagus banget. Pamit itu menampar teori-teori sosiologi, mengukuhkan betapa sempit dan lega itu sangat subjektif.

Kisahnya tentang Ma yang dikurung di kamar. Ia adalah korban penculikan, sang pelaku kita sebut saja namanya Nick Tua. Diculik sejak masa sekolah, dan kini ia sudah tujuh tahun berlalu. Diculik dijadikan budak seks, hingga melahirkan anak. Anak pertama meninggal dunia, dan dikuburkan di kebun belakang. Anak kedua, kini berulang tahun kelima. Jack, yang polos dan sangat menginspirasi.

Mengambil sudut pandang anak lima tahun, semua tampak penuh tanya. Bagaimana mendidik anak, itu sangat berpengaruh. Ma, dikurung di ruangan dengan kunci digital di bekalang rumah. Berbagai percobaan kabur sudah dibuat. Sedih sekali, menempatkan diri sebagai korban kekerasan seksual. Nick Tua, tiap beberapa malam mendatangi, bercinta dan Jack diminta sembunyi di almari.

Setiap minggu, ada traktiran. Artinya Ma dan Jack meminta barang, dan akan dicarikan. Dari obat, mainan, makanan, hingga kebutuhan mendesak lainnya. Dan begitulah, pola pikir Jack dibentuk. Sempit, dan sangat terbatas.

Tv menjadi hiburan utama, maka dirinya dibentuk oleh film-film kartun. Dora adalah yang paling sering disebut, maka ia suka menirunya, mengidolainya. Semua karakter kartun yang disaksi menjadi panutan. Kehidupannya benar-benar dibentuk dari kartun TV. “TV tidak menyala, aku rindu teman-temanku.”

Bacaan buku-buku klasik juga jadi hiburan, pengantar kehidupan Jack. Alice yang terjebak di negeri ajaib menjadi metafora kehidupannya. Kita seperti orang-orang di buku, dan dia tidak akan membiarkan orang lain membacanya. Maka Ma dengan sedih bilang, “Nah, aku seperti Alice.”

Segalanya dikira fiksi, dan Ma berulang kali menjelaskan di Luar banyak hal fakta. Tak hanya khayal, hal-hal yang tak bisa dipahami Jack. “Di luar ada segalanya. Setiap kali aku memikirkan sesuatu sekarang seperti ski atau kembang api atau pulau atau elevator atau yoyo, aku harus mengingat kalau semua itu nyata, mereka semua benar-benar terjadi di Luar bersamaan.”

Maka di ulang tahunnya kelima, sebuah misi penyelamatan disusun. Awalnya dibuat dengan scenario, Jack sakit keras dan minta Nick untuk mengantarnya ke rumah sakit. Demam, mual, dan tampak kritis. Nick diomeli, dan dibuat panik, tapi tak boleh menyentuhnya. Namun, berjalannya waktu, Ma mengubah rencana. Malam berikutnya, saat Nick datang, Ma memberitahunya Jack meinggal dunia. Digulung bungkus tikar, dan dengan akting sesenggukan, kesedihan kehilangan anak kesayangan, meminta Jack menguburnya jauh-jauh dari rumah, tak boleh dilihat. Permohonan terakhir yang jadi kunci utama misi.

Saat pertama kali di Luar, Jack ketakutan. Menghitung tikungan, dan mencoba kabur dari truk. Bertemu orang asing dengan anjingnya, menjadi penyelamat. Nick yang baru sadar ditipu, panik. Sempat mau menangkap Jack, tapi mendapat perlawanan si Bapak. Dan gegas telelpon polisi. Misi itu sukses besar, dan segalanya lalu berputar cepat. Impian Ma kembali menghirup udara bebas kesampaian, berkah aksi heroik Jack.

Lucu, bagaimana Jack menghadapi ketakutan dengan menghitung gigi, bolak-balik. Ada 20 pcs, tapi kadang terlewatkan. Kepolosannya saat mengambil lima mainan, bukan empat malah tampak betapa anak ini tak gegas paham dunia barunya. “Aku tidak mau menghitung deritan tapi aku melakukannya.”

Nah, kehidupan sesungguhnya dimulai di sini. mendadak terkenal. Beerapa hari dirawat di rumah sakit, mendatangkan psikiater, melakukan visum, perawatan intensif. Hubungan sama ibunya kembali tersambung, ibunya yang memanggilnya Gadis Kecil-nya kini sudah menikah lagi, ayahnya kini tinggal di Australia dengan kehidupan barunya. Begitu pula, dengan sang kakak, Palu yang kini sudah menikah dengan Deana dan punya anak Bronwyn. Yeay, Jack punya saudara.

Segalanya kembali terhubung. Jack berpikir keras sampai kepalanya sakit. “Aku tidak di dalam kamar. Apakah aku masih aku?”

Bagian ini, di film terasa boring. Sebab cekam kengerian sudah lewat, hanya bagian saat minum pil over itu yang bikin panik. Di buku sama saja. Separuh buku ini, melelahkan. Dari satu pengobatan ke pengobatan lain, dari pengenalan dunia baru Jack ke pengalaman lainnya, segalanya tampak baru, dan membingungkan. “Hanya ide yang sama yang berputar-putar seperti tikus di roda.”

Namun di buku, tampak lebih bagus. Terutama bagian saat Jack memaksa kembali ke Kamar. Ia memaksa Ma, yang tentu saja trauma, untuk kembali ke sana. Setidaknya mengucapkan selamat tinggal. Dan begitunya, novel ini terselamatkan ending yang luar biasa mengintimidasi. Lebih bagus bukunya, kalau yang ini. feel-nya beda.

Kubaca santuy bulan Agustus, dari tanggal 4 di malam selepas Isya sampai tanggal 21 lewat tengah malam. Buku pertama Emma yang kubaca, dan aku suka. Catatan saya tutup dengan kalimat filosofis ini, “Hanya karena kau belum pernah bertemu mereka, tidak berarti mereka tidak nyata. Ada lebih banyak hal di dunia daripada yang pernah kau bayangkan.” Bukankah begitu juga dengan Tuhan?

Room | by Emma Donoghue | Diterjemahkan dari Room | Terbitan Little, Brown and Company, Hachette Book Group, New York | Copyright 2010 | Penerjemah Rina Wulandari | Penyunting Jie Effendie | Cetakan ke-1, Agustus 2016 | 420 hlm; 14×21 cm | ISBN 978-602-385-136-2 | Penerbit Noura (PT. Mizan Publika) | Skor: 4.5/5

Room dipersembahkan untuk Finn dan Una, karya terbaikku

Karawang, 050922 – Tasya – Ketupat Lebaran

Thx to Andryan, Bekasi

Dan Apakah yang Membangun Pengalaman Manusia jika Bukan Ingatan?

Larung by Ayu Utami

“Kalau kamu bersama orang yang kamu suka dan kamu tahu cara menikmatinya, maka seks akan menyenangkan. Tapi kalau kamu tahu cara menikmatinya, seks juga menyenangkan tanpa orang yang kamu suka.” – Shakuntala

Sekuel yang biasa. Bab-bab awal sungguh cantik Larung Lanang mau membunuh neneknya yang seolah abadi, sudah berusia seabad lebih, dan memiliki jimat yang kudu dilepas agar bisa ke alam seberang. Benar-benar ciamik bagian ini. Sampai sempat membuang jauh-jauh ‘teguran’ temanku bahwa kamu akan kecewa. Sayangnya saat masuk ke dunia Saman, melanjutkan kisah sejatinya, malah down. Mbulet-mbulet sampai lelah cuma mau membenarkan main seks sama pasangan orang lain. Ya, selingkuh itu malah diudal-udal panjang. Dan bagaimana mengatasinya, benar-benar tak bagus ditiru. Seolah kewajaran, teman-temannya yang hedon ke New York turut membantu para perempuan ini untuk bertemu lelaki beristri. Dan Yasmin yang sudah bersuami, dibantu bertemu lelaki lain. Gerombolan si berat, mau maksiat, mau bagaimanapun disampaikan tetap saja itu zina dan dilarang agama, tak bagus untuk norma. Dibuat dengan bahasa se-sastra apapun, tata kelola selingkuh tetaplah busuk.

Larung Lanang dalam perjalanan kereta api ke luar kota. Ia memiliki misi untuk melepas jimat neneknya Anjani yang sudah lebih seabad. Ada yang mengganjal kehidupannya sehingga ia tak mati-mati, maka dari satu kota ke kota lain Larung mencari kunci kematian. Dari hutan ke pantai, dari remang kota sampai ke kegelapan gua. Semua dijabani demi misi itu. Sejatinya bukan hanya ia yang menginginkan kematian neneknya, ibunya dan sebuah kepentingan mendesaklah yang juga mengganduli tindakannya. Ketika orang menjadi tua maka keindahan pergi ke luar dirinya.

Setelah hampir setengah buku, lalu kita diajak ke New York bertemu gerombolan wanita sukses secara material. Laila Gagarinam sang fotografer yang mengingin Sihar yang sudah beristri. Yasmin Moningka, yang tampak sempurna: cantik dan baik, istri solehan tampaknya, tapi tentu saja tidak. Ia adalah Pengacara yang sudah surat-suratan dengan Saman, janji temu kangen. Cokorda Gita Mageresa, pengusaha hotel yang hedon keluar negeri. Dipanggil Cok Gita. Dan Shakuntala sang penampil yang biseksual. ACDC Ok, tersentuhlah sama Laila yang kangen Sihar.

Mereka memang ada perlu pameran, ada bisnis di sana, tapi dibaliknya terjadi misi perselingkuhan. Atas nama cinta dan kebebasan kehendak! Melawan nurani? Oh tidak bisa. “Kamu bukan nggak bisa, kamu nggak mau.”

Lalu sebuah misi penyelamatan diemban. Para aktivis di era 1997-1998, masa akhir Orde Baru itu diburu. Maka Saman yang pernah dibantu kabur, kini memiliki tugas mulia membantu para aktivis yang tersudut di pulau Sumatra menuju Singapura, yang lantas ke luar negeri lebih jauh. Togog, Bilung, dan Koba. Potret aktivis Solidarlit, dibantu Larung Lanang sebagai penghubung.

Misinya tak semulus yang dikira, sebab ada kecurigaan di antara mereka. Ada kekhawatiran akan keluarga yang ditinggalkan. Hanya melihat orang berseragam tentara jalan di pantai saja mereka saling tunjuk, adakah penghianat? Larangan komunikasi pakai pager atau telepon malah dilanggar. Dan di tengah ketegangan itu, tindakan genting harus dilakukan. Berhasilkah Saman meloloskan mereka?

Banyak bagian yang disajikan dengan diksi bagus. Dipilih dan diolah secara estetik. Seperti kalimat, “Janganlah kau tertawa dan menganggapnya sebagai kedunguan yang puitis. Tak banyak orang mendengar cerita ini.” Atau, “Akan mengalami yang takterkatakan: semacam gangguan jiwa bahkan alam tak punya tujuan.” Atau, “Lalu tiba saatnya ketika bunga-bunga api itu semakin tak beraturan. Bertubrukan satu sama lain dalam imaji-imaji yang aneh.” Atau, “Seperti tunas yang baru mengayu.” Dst. Sejujurnya buku-buku dengan pola seperti ini benar-benar mengasyikkan. Enak ditelaah, enak dilahap.

Kepercayaan akan klenik juga banyak disaji. Terutama bagian pertama, sebab memang misinya melawan malaikat maut. “Tetapi burung dadang-haus tetap berkitar-kitar meski fajar akan segera menelanjangi segala yang muncul dari permukaan bumi ke dalam cahayanya yang conak. Orang menyebut kehadirannya tanda buruk.” Atau, “Sayup-sayup kudengar orang membaca lontar di kebun belakang. Sebuah kisah tua tentang rangda yang menghirup darah.” Atau, “Tetapi alangkah ganjil jika segala hal diputuskan oleh akal.” Dst. Sama, membaurkan realita itu menarik, novel mistik dengan tata cara membumi. Masuk akal, dan tampak masuk logika. Sebuah kontradiksi yang mengejutkan? Atau kelumrahan?

Novel kedua Ayu Utami yang kubaca setelah Saman. Sebuah penurunan, sayang sekali. Endingnya bagus sebenarnya, saya suka ending yang menghentak seperti itu. Awal bagus, tengah lemah, akhir biasa, tapi ujung akhir-nya luar biasa. Dua lembar akhir yang sangat layak diberi aplaus. Jelas, Ayu Utami masuk daftar penulis lokal favorit, di rak sudah beberapa bukunya tersedia. Next, Bilangan Fu yang legendaris itu. Mari kita buktikan…

Larung | by Ayu Utami | KPG 901 13 0663 | Gambar sampul Lukisan kaca oleh Ayu Utami | Desain sampul Wendie Artwenda | Cetakan ke-1 November 2001 | Cetakan ke-4 Mei 2013 | viii + 295; 13.5 cm x 20 cm | ISBN 978-979-91-0569-1 | Skor: 3.5/5

Karawang, 290822 – Avril Lavigne – My Happy Ending

Untuk G.M. & Putri

Thx to Lifian, Jakarta

Dan Benar saja, Cantik itu Luka

Cantik itu Luka by Eka Kurniawan

Menanti Pangeranku datang, untuk membebaskanku dari kutukan wajah buruk rupa.” – Si Cantik

Riwayat Halimunda. Kalau saya memulai tulisan ulas novel-nya Jorge Amado: Gabriela, Cengkih, dan Kayu Manis dengan kalimat: “The Chronicles of Ilheus,” maka saya membuka ulasan Cantik Itu Luka dengan kalimat itu. Di kota fiksi inilah, kita diajak bersafari dari sebelum, saat, dan setelah Indonesia merdeka. Memiliki tanggal cantik sendiri untuk dirayakan sendiri, 23 September sebab informasi proklamasi terlambat sampai, kebusukan moral polisi penjahat di setiap sudutnya, hingga tokoh fiksi yang sejajar Jenderal Sudirman. Fakta dikaburkan imaji, dibubuhi segala penyedap kegemparan masa itu, dan taa-daa… jadilah novel liar.

Dibuka dengan kutipan berikut, “Dan kini, setelah baju zirahnya dibersihkan, bagian kepalanya diperbaiki jadi sebuah topi baja, kuda dan dirinya sendiri punya nama baru, ia berpikir tak ada lagi yang ia inginkan kecuali seorang nyonya, pada siapa ia anugerahkan kekaisaran hatinya; sebab ia sadar bahwa seorang ksatria tanpa seorang istri adalah sebatang pohon tanpa buah dan daun, dan sebongkah tubuh tanpa jiwa.” – Miguel de Cervantes, Don Quixote

Kisahnya merentang jauh sebelum Indonesia merdeka. Semuanya tentang manusia-manusia patah hati, hampir semuanya ding karena ada satu dua orang yang begitu nyamannya menjalani hidup ini, mengalir saja. Yang jelas, ketika cinta membuncah, apapun akan dilakukan, apapun akan dikorbankan. Dan ini terus berulang, tata cara bercerita bagus, di mana kita dibocori sedikit kejadian akhir, baru dijelaskan kronologinya. Maka polanya campur, beberapa dilakukan flashback per bab. Dan karena ini novel tebal, banyak karakter yang memiliki riwayatnya sendiri dengan rentangan panjang. Titik hidup tiap tokoh diolah sedemikian rupa sehingga pembaca diseret serta emosinya. Tak ada tanda tanya, semua nasibnya jelas. Hanya beberapa yang samar, saat melibatkan dunia mistik. Dan itu, kembali lagi ke basic absurditas: tafsir bebas.

Pusat cerita sejatinya ada di Dewi Ayu, tapi kita disuguhi pondasi yang sama kuatnya pada masa orang-orang sekelilingnya. Terlahir dari orang Belanda yang menjajah kita. Dengan drama memilukan sebab pasangan wong cilik Ma Iyang yang dipaksa keadaan jadi gundik dan terpisah sama kekasihnya Ma Gendik. Sejarah dua bukit yang dibangun dengan pondasi bunuh diri. Saat Dewi usia remaja, Indonesia diduduki Jepang, dan kehidupan mewahnya mendadak longsor. Para gadis keturunan kala itu adalah tawanan, dan dijadikan pelacur oleh Mama Kalong.

Tak seperti para gadis lainnya yang khawatir dan ketakutan, Dewi Ayu menghadapi kenyataan dengan tegar dan lantang. Entah ide dari mana, menyimpan emas di kubangan kotoran? Penjajahan Jepang yang secara tahun hanya berhitung jari, mencipta kegetiran hingga masa kemerdekaan menjulang. Di Halimunda, karena informasi proklamasi terlambat maka diperingati RI-nya tiap 23 September. Perang kemerdekaan pecah, setiap warga memiliki kewajiban melawan Belanda yang kembali ke Indonesia. Begitu juga Halimunda, tersebutlah para karakter unik yang mengelilinginya.

Dewi Ayu memiliki tiga anak: Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi. Dan ketiganya saling silang membelit rumit.

Maman Gendeng seorang jagoan yang mengingin menikahi wanita tercantik di Halimunda yang ternyata sudah jadi mitos. Ia tetap tinggal di sana dengan menantang kepala preman, manusia kuat yang berhari-hari tarung di pantai menjadikan Maman penguasa. Ia lantas menikah dengan Maya Dewi, anak paling baik, yang polos dan baik hati. Menikah tak seserhana itu, di usia 12 tahun dan harus menunggu balig untuk malam pertama!

Shodanco adalah pejuang kemerdekaan. Turut serta mengusir penjajah, ia setara Jenderal Sudirman. Namun keputusannya bertahan di Halimunda membuatnya hanya sekelas kepala Rayon, maka ialah pihak berwajib tertinggi di sana. Mengatur kota yang busuk. Menikah dengan Alamda dengan drama menjijikkan. Shodanco tahu Alamanda punya kekasih yang sedang kuliah di Jakarta, Kliwon. Maka saat lengah ia melakukan perbuatan bejat di hutan. Pasangan yang tampak ideal ini memiliki noda di dalam rumah tangga. Hubungan suami istri tak bisa serta merta senormal pasangan lain, sebab Alamanda melakukan protes. Bahkan saat lengah, dan akhirnya ia hamil, terjadi kegemparan sebab jabang bayi di perutnya secara misterius raib.

Shodanco dan Maman malah berteman, mereka sering main dadu di pasar. Keduanya memiliki kekuasaan, yang satu polisi yang lain preman. Keduanya memiliki mertua palacur kondang. Saling silang saling mengisi hari-hari pasca merdeka.

Sementara manusia cerdas Kliwon yang patah hati melengkapi kepahitan. Kliwon digambarkan idealis, tokoh komunis yang tegar dan cerdas. Hanya keadaan yang memaksanya terpuruk.  Menikah dengan Adinda. Kliwon adalah kepala Serikat Nelayan. Bayangkan, ketiga saudari ini memiliki pasangan yang tak lazim. Polisi, ketua serikat, kepala preman. Gmana rasanya pas ngumpul arisan keluarga, apa tak riuh dan jotos-jotosan?

Namun drama sejatinya dicipta di ujung. Para cucu Dewi Ayu yang membuat onar, cucu pertama Nur Aini dari Alamanda digambarkan begitu mengayomi saudara-saudaranya. Cucu kedua Krisan dari Adinda yang seperti ayahnya, begitu lantang isi kepalanya, imajinatif. Cucu ketiga dari Maya Dewi, Rengganis yang paling cantik dari semua yang tercantik. Dan benar saja, cantik itu luka.

Di suatu siang terjadi kehebohan di sekolah sebab Rengganis masuk ke kelas dalam kondisi telanjang dan mengaku diperkosa anjing di toilet kumuh sekolah. Inilah mula malapetaka keluarga ini. Carut marut kehidupan fana dengan pijakan hikayat kota Halimunda. Kalian mungkin bisa menebak siapa pelakunya, tapi yakinlah kalian pasti turut terluka akan tragedi bertubi ini.

Oiya, Dewi Ayu pada akhirnya memiliki anak keempat, yang lain daripada yang lain: Si Cantik. Mantra jahat dilempar, adu kekuatan gaib dilakukan. Hanya yang terkuat yang berhasil berdiri kokoh di ujung cerita.

Sudah memilikinya sejak Februari 2018, waktu itu sampul baru warna merah, tersebab ingin koleksi saya ambil yang hard cover, baru kubuka segelnya awal Juli 2022 sebab lihat edisi anniversary 20 tahun dengan sampul biru, dan gegas kubaca. Target selesai bulan Juli bisa terealisasi di akhir bulan. Dibaca santai sehari per bab, atau saat jeda dari bacaan lain.

Novel ini dengan cerdas memainkan sisi psikologi semua karakter. Saat jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya seolah cewek incaran itu seolah segala-galanya. Sekalipun esok berubah pikiran, dan bercinta dengan cewek lain dengan dalih tanpa rasa cinta. Dan juga mengisi kepahitan di setiap generasi, kesedihan ditabur di segala keadaan. Tak ada manis-manisnya. Kliwon dan Adinda misalnya, pasangan ideal yang dipaksa pisah karena memang tak dijodohkan oleh penulis.

Sebagai novel paling unggul Eka Kurniawan, jelas ini paling kompleks permasalahannya, dan yang paling keren. Ini adalah buku kelima yang kubaca setelah: Lelaki Harimau, yang terkamannya menghebat itu. Seperti Dendam, yang penuh makian. O, si monyet dangdut. Kumpulan Budak Setan, yang terinspirasi Abdullah Harahap. Dan cerpen Sumur yang dicetak mungil. Polanya menurutku: dua novel pertama ditulis dengan semangat pemuda membara sehingga Cantik dan Lelaki memakai pola bab panjang yang nyaman dan detail mengagumkan, sangat mengagumkan. Novel ketiga, Seperti Dendam malah penurunan sebab memakai pola penggalan kalimat-kalimat seolah fiksi mini yang dirajut acak. Begitu pula novel keempat, O. Kenyamanan itu terdistorsi. Dan itulah kurasa, jelas tak sebombastis duo pertama. Kesamaannya, semua adalah fiksi dewasa dengan makian bebas, adegan percintaan bebas, serta kebebasan meneriakan hal tabu. Untuk itulah fiksi jadi menarik.

Novel berikutnya kuharap kembali memakai pola duo mula, sabar, telaten mencipta alur, sehingga panjang meliuk-liuk. Kutunggu dengan tak sabar.

Cantik itu Luka | by Eka Kurniawan | GM 617202031 | Copyright 2002 | Penyelia naskah Mirna Yulistianti | Pemeriksa aksara Sasa Galih, Arasy | Desain sampul Orkha | Setter Fitri Yuniar | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Pertama kali diterbitkan oleh AKYPress dan Penerbit Jendela, Desember 2002 | Cetakan pertama, Mei 2004 | Cetakan ketiga belas (Hard Cover) Desember 2017 | ISBN 978-602-03-6651-7 | Skor: 5/5

Karawang, 030822 – 090822 – 240822 – Billie Holiday – God Bless the Child

Thx to Gramedia World Karawang & Widi Satiti

Cerpen dengan Judul Protagonist

Tuan Gendrik by Pamusuk Eneste

“Bila membagi derita dengan orang lain pun, sudah merupakan suatu obat.” – Kitti

Semua cerpen memakai judul karakter utama. Semuanya pendek, belum ‘in’ sama cerita sudah selesai. Namun hebatnya, semua ending menggantung. Keputusan akhir diserahkan ke pembaca. Dari kepala media yang diminta ceramah kepahlawanan, tak tahu ngomong apa. Karyawan yang diancam, diperas duit sebab istrinya diculik, dan kita tak tahu apakah ia melapor polisi atau memenuhi tuntutan dengan uang pinjaman. Lalu Tuan Gendrik, bos kantor yang baik hati dan tak sombong, yang suatu hari kehilangan semua karyawannya, misterius. Hingga warga baik-baik yang dituntut untuk menikahi perempuan yang tiba-tiba mampir ke apartemennya, lalu menyatakan hamil anaknya. Semua diramu dengan tanda tanya di akhir. Begitulah, sederhana nan memikat. Tak sampai meledak-ledak, tapi sungguh efektif meluluhkan hati pembaca.

Hampir semua bersetting di Jerman, terutama di Anustadt, ibukota Anuland. Kecuali nomor 2 mantan kekasih yang diajak ke Jakarta tak mau, pilih tinggal di Yogya, lalu nomor 7 yang ingin pulang ke rumah ibu di Jakarta, dan nomor 10 yang di pinggiran Jakarta seolah diteror istri.

#1. Barero

Barero yang apes, entah kenapa ia yang dipilih sebagai korban. Sebuah telepon tak dikenal mengancamnya, istrinya diculik, ia tak boleh lapor polisi, dan diminta menyiapkan sejumlah uang. Istrinya yang hamil, sampai malam belum pulang juga. Dan saat menit-menit menuju waktu yang ditentukan ia masih saja lemas.

“Jangan coba-coba menelepon siapapun juga dalam urusan ini.”

#2. Bugatti

“Terus terang, aku tak tahu harus menyapamu dengan apa. Mas, dengan kau, dengan kamu, atau dengan Anda. Tapi itu tak penting bagiku, yang terlebih penting adalah persoalan yang akan kubeberkan di bawah ini.”

Bugatti, seorang istri yang mengeluhkan suaminya yang bergaji kecil. Ia bercerita pada aku, mantannya yang kini sudah di ibu kota. Melalui surat penuh cerita pahit, bagaimana rumah tangga Bugatti begitu hampa. Meminta saran pada mantan? Alamak!

#3. Mekeba

Makeba, istri yang kesal dan menyesal. Menanti suaminya pulang kerja, memasakkan istrimewa, dan siap menyambut di teras. Namun sampai waktu yang biasa pulang, tak kunjung terlihat. Ternyata mereka habis bertengkar semalam. Perkara anak yang tak kunjung hadir, sudah coba berbagai cara, dari memungut anak angkat, ke dokter spesialis, konsul ke manapun, nihil. Dan dalam suasana panas, sebuah saran kemarahan yang terlontar di keluarga kecil ini.

“Apa pun kemauan suami saat berhubungan, turuti saja.”

#4. Tuan Gendrik

Bos Gendrik yang kebingungan. Ia heran, bagaimana bis asuatu pagi semua karyawannya lenyap. Entah apa yang terjadi. Apakah secara massal mereka ngambek, cari kerja di tempat lain? Ataukah terjadi sesuatu yang luar biasa yang membuat serentak kabur? Atau entah apa. Padahal ia adalah bos yang ideal, baik, wibawa, ramah.

“Hari ini agaknya mendung, Pak.”

#5. Molli

Molli, sang sekretaris yang ‘sakit’ dan mencoba membolos. Ia penasaran, bagaimana sebuah mesin tik di kosnya hilang. Mesin tik pinjaman kantor itu, benar-benar tak ada di kamarnya. Mau lapor polisi, takut tanggung. Lapor pak RT, belum kenal sama beliau, mau lapor kantor, nanti dikira tak tanggungjawab, malah disangka pencuri. Dan bekerja di lingkungan seperti ini, bukankah neraka?

“Sungguh mati, saya tak mendengar sesuatu yang aneh tadi malam. Padahal, bunyi tikus lari di loteng saja, biasanya sudah membikin saya bangun.”

#6. Benino

Benino besok pagi jam 10 diundang ke balai kota untuk menerima penghargaan. Padahal ia tak tahu jadi pahlawan macam apa dia. Istrinya mendesak datang, siapa tahu selain sertifikat ada uangnya. Padahal ia di kantor sering bolos, tak kompeten, tak berintegritas tinggi. Makanya heran, apa yang menyebabkannya jadi pahlawan sejak jam 24 malam nanti.

“Jangan khawatir, majalah kami cukup makmur kok. Tak mungkin kami menipu Saudara.”

#7. Kitti

Kitti, cantik, jual malah. Ia adalah istri yang teraniaya. Di usia semuda itu, 22 tahun sudah punya segala materi yang memadai. Rumah, mobil, vila, perhiasan. Cuma, tekanan batin dari suaminya yang tak menafkasi batiniahnya. Ia nikah karena materi, dalam keterangan di media, ia siap menikahi pria manapun yang siap kasih materi. Kariernya yang bagus seolah mendadak lenyap, sebab jadi istri di rumah saja, me time melimpah. Ada penyesalan, kenapa dulu tak menuruti kata ibunya. Dan di puncak kesadarannya, ia memutuskan pulang menemui ibunda terkasih, kasih ibu memang sepanjang masa. Tak terhingga.

“Kamu toh bukan anak kecil lagi, dan sudah bisa mencari pemecahan sendiri.”

#8. Bruno Paparici

Seorang teman lama, teman sekolah yang dulu bodohnya minta ampun kini menjadi terkenal dan kaya raya. Suatu hari Bruno Paparici meneleponnya, “Apa betul ini kantor koran Anuzeitung?” dijawab ya, dan mereka pun nostalgia. Bruno lantas memintaku menjadikannya pahlawan. Ia sudah melakukan apa pun sebagai syarat orang baik, dan meminta menulis profilnya dengan ‘baik’. Permintaan aneh, dan janggal. Hingga suatu hari, aku diberitahu Bruno meninggal dunia, di mana surat wasiatnya memintaku jadi pembicara salam terakhir sebelum jasadnya dikebumikan. Pahlawan macam apa ini?

#9. Harlem

Margot, perempuan nakal yang menuntut Harlem untuk menikahinya. Harlem tak paham, ia hanya sekali saja bercinta, suatu malam Margot menghubunginya, ingin cerita, lalu main ke apartemennya, menginap, dan terjadilah. Hingga beberapa bulan kemudian, Margot datang, bilang hamil anaknya. Aneh sekali. Bagaimana memberitahu kabar ini ke istrinya di tanah air? Bagaimana menghindari masalah ini?

Frua Muller: “Katanya, anak yang dia kandung itu anakmu.”

#10. Panderos

Panderos, si istri galau. Ia selalu meminta suaminya lebih. Masose yang punya pendidikan baik, diminta lulus kuliah menikah saja, toh kalau berdua berjuang akan lebih baik. Awalnya, tinggal sama orangtua, lalu Panderos gerah, meminta kos saja, lalu beli rumah mencicil, berisik sebab perumahan yang padat, tetangga begitu bising. Lalu meminta beli rumah di luar kota yang asri dan jauh dari kantor, sepi, malah kangen suasana ramai, dan begitulah, ia menuntut lebih dan tak pernah puas. Ia lalu cerita padaku.

“Tolonglah aku, aku betul-betul tak tahu harus bagaimana lgai. Semua telah aku lakukan demi istriku, tapi tak pernah puas.”

Buku pertama Pamusuk Eneste yang kubaca, ia sudah terkenal. Salah satu pentolan sastrawan lokal kita. Buku-bukunya sudah ada di rak, baru kali ini kuselesaikan baca. Lumayan bagus, tapi kurang panjang. Terlampau sederhana. Keistimewaannya jelas, ending yang terpotong. Indah lho, cara seperti ini. Tafsirnya liar, dan bebas. Saya suka.

Tuan Gendrik | by Pamusuk Eneste | Seri Sastra Pembangunan | No. 93002 | Kumpulan Cerita Pilihan | Pewajah Gatot B.W. | Penerbit Puspa Suara; Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara | Editor seri Eka Budianta | Percetakan Pr. Penebar Swadaya, Jakarta | Cetakan pertama, 1993 | vi+ 104 hlm; 18 cm | ISBN 979-9312-20-I | Skor: 4/5

Karawang, 160822 – Noah – Di Atas Normal

Thx to Sri Purnawati

#Juli2022 Baca

“Betapa sekejap usia kebahagiaan.” – Tiga Cinta, Ibu by Gus TF Sakai

Dua buku tebal di bulan Juli berhasil kubaca cepat, 500 halaman dalam sehari! Dan 400 halaman non fiksi, dua hari. Waktu libur memang waktu yang tepat untuk menuntaskan bacaan. Nyaman sekali, enak sekali, sampai lupa waktu dan ruang. Sampai lupa kegiatan keluarga atau acara ke mana. Kalau sudah pegang buku, sudahlah, lupa segalanya. Bulan yang santuy dapat 12 buku. Semangat membara.

#1. Tiga Cinta, Ibu by Gus TF Sakai

Sederhana, dan menarik. Pusat cerita sejatinya bukan sang ibu, tapi cinta yang kandas dengan berbagai sebab. Pertama di Padang, dengan kegalauan akut mudik untuk meminta restu dan kelonggaran adat demi sang kekasih. Kedua, mahasiswa galau mencinta perempuan aneh yang di persimpang jalan. Ketiga, kali ini bukan rentang asmara kekasih, tapi kegalauan pasangan yang mendamba anak tapi belum siap program punya anak. Ribet ya? Enggak juga, manusia memang pusatnya kegalauan. Atas nama eksistensi, ketiganya dibaur samar. Padang, Banjarmasin, dan kembali ke Padang. Secara tak langsung ketiganya tak berhubung, tapi cinta ibu menentukan langkah antisipasi untuk diambil di kemudian hari.

“Hanya di Lembah inilah segala omong kosong masih mendapat tempat!”

#2. Laki-laki tanpa Perempuan by Haruki Murakami

Akhirnya saya berhasil menikmati buku asal film terbaik 2021. Ternyata banyak sekali modifikasi. Tim kreatifnya terlampau kreatif. Drive My Car versi cerpen sungguh berbeda dengan versi filmnya. Hanya poin-poin utama seperti nama karakter, fakta aktor teater, sopir wanita, hingga perselingkuhan sang istri. Mayoritas benar-benar dikembangkan sendiri. Pembunuhan terutama, itu tak ada. Hanya untuk menambah dramatisasi. Atau bagian film ‘dipaksa’ disediakan sopir, itu bukan keinginan tuan Yusuke Kafuku, padahal di buku, jelas-jelas dia sedang cari sopir sebab SIM-nya dicabut.

“Tidak perlu. Saya pernah bekerja sebagai sopir jasa antar paket. Peta Kota Tokyo sudah tercetak di kepala saya.”

#3. The Royal Game by Stefan Zweig

Menakjubkan. Bagaimana bisa dua buah cerita pendek, tapi tak terlalu pendek, bernarasi di atas kapal. Polanya sama, bertemu orang asing, lalu bercerita. Dua drama yang menakjubkan. Untuk buku ini, kekuatan cerita yang utama. Menegangkan, bahkan hanya dari dua orang duduk ngobrol kita turut khawatir dan ketakutan. Yang pertama, curhat dokter yang ketakutan sebab menyimpan rahasia gelap. Kedua, curhat mantan tahanan Nazi yang jenius aneh, sebab dalam penjara secara tak sengaja menanamkan buku catur di otaknya. Keduanya sungguh brilian cara penyampaiannya, cara menyelesaikan masalahnya, cara mengakhiri cerita.

“Bila Anda telah kehilangan segalanya, Anda berjuang mati-matian untuk yang terakhir yang tersisa, dan yang terakhir adalah warisannya kepada saya, kewajiban saya untuk menjaga rahasianya.”

#4. In a Strange Room by Damon Galgut

Dibagi dalam tiga bagian, perjalanan di tiga benua. Afrika sebagai home town sang penulis, ke Eropa ke tempat kenalan saat petualang, dan terakhir ke Asia, tepatnya Bombay, India. Secara umum, kisahnya acak, seenaknya bagaimana menyampaikan kisah, tak fokus ke mana arah mau dibawa cerita, makanya terbaca aneh, atau inti cerita mau ngapain jadinya tak jelas. Terlalu lama berkeliling tanpa menetap di suatu tenpat telah membuatnya jauh dari dunia nyata, bahkan ketika sejarah digoreskan di mana-mana.

“Aku sudah minum dua gelas kopi hari ini. aku tidak minum lebih dari dua gelas kopi tiap dua belas jam.”

#5. Mr. Midnight #10 by James Lee

Khas R.L. Stine. Seolah bagian dari kasih horror remaja karya Stine, terutama Goosebumps. Templatenya sama, mengambil sudut pandang orang pertama, para remaja/anak-anak ini dihantui. Karena ini buku pertama James Lee yang kubaca, jadi sempat menebak hantu-nya mungkin hanya pengalihan isu, atau pemancing saja. Ternyata, beneran ada. Dan fun, jangan berharap horror penuh darah dan menakutkan, ini sekadar kisah hura-hura. Seperti rangkaian buku Goosebumps, memang terbuka untuk dikoleksi. Kalau dapat ya, diambil, kalau tak nemu tak mengapa.

“Orangtuaku membawaku ke pemakaman tapi aku terpisah dan tersesat. Mereka pasti mencemaskanku…”

#6. Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children by Ransom Riggs

Mengejutkanku, foto-foto yang ditampilkan adalah asli. Sedari mula, kukira ini menjadi penunjang cerita, khas buku-buku lain. Ternyata, kita lebih cocoknya menyebut: foto-foto itulah yang menjadi dasar cerita. Kata-kata dicipta untuk menunjangnya. Penggambaran cerita, jelas dikembangkan dari sebaran frame. Dengan terang sang penulis bilang, ada ribuan foto lain yang tak bisa masuk, kudu selektif. Dan dengan ending menggantung, foto-foto yang tak ditampilkan kemungkinan muncul di Hollow City.

“Aku tahu kedengarannya gila, namun banyak hal yang lebih gila ternyata benar.”

#7. Bagaimana Madelijn Mempertahankan Redoute Hollandia by Miguel Angelo Jonathan

Sehimpuna cerita yang rerata menyinggung sejarah. Dari penelitian ke Indonesia Timur sampai serangan benteng di Batavia. Dari legenda ular yang merupakan jelmaan putri, sampai sejarah kata mangkrak. Dari serangan yang berhasil meluluhlantakkan kota akibat kesalahan gerbang yang dibuka kecil, sampai bagaimana ikan lele berkembang biak. Semuanya diramu bebas merdeka. Sah-sah saja, tapi sayangnya rerata cerita pendek yang benar-benar pendek, jadinya belum panas, sudah keburu selesai.

“Kakek, kami tak mungkin membakar rumah! Kami bermain untuk senang-senang, dan membakar rumah tidaklah menyenangkan!”

#8. Enough by John. C. Bogle

Investasi. Sebuah kata yang sering kita dengar. Butuh perjuangan untuk merealisasikannya. Butuh konsistensi, apalagi buat buruh, di mana gaji ketika turun gegas dialokasikan ke kebutuhan apa saja. Buat kebutuhan sehari-hari, bayar cicilan, memenuhi hobi, tabungan, dan investasi. Buku ini tak membahas tata kelola investasi, tapi langsung ke pokok-pokok pentingnya. Ditulis langsung oleh seorang founder Reksadana terbesar di dunia, asli dari negeri kapitalis Amerika. Dan memang terbaca sungguh beda, misalnya hanya membahas dasarnya saja, atau orang Indonesia sekalipun pengalaman. Ini buku sungguh-sungguh bervitamin. Sekalipun saya sudah terjun dan menekuni saham, apa yang ditulis melalangbuana hebat ke teori finansial dan tepekur telaahnya.

“Ya, tetapi saya memiliki sesuatu yang tidak akan pernah ia miliki… rasa cukup.”

#9. Cantik itu Luka by Eka Kurniawan

Kisahnya merentang jauh sebelum Indonesia merdeka. Semuanya tentang manusia-manusia patah hati, hampir semuanya ding. Yang jelas, ketika cinta membuncah, apapun akan dilakukan, apapun akan dikorbankan. Dan ini terus berulang, tata cara bercerita bagus, di mana kita dibocori kejadian akhir, baru dijelaskan kronologinya. Sebagian dilakukan flashback. Dan karena ini novel tebal, banyak karakter yang memiliki riwayatnya sendiri dengan rentangan panjang. Tak ada tanda tanya, semua nasibnya jelas. Hanya beberapa yang samar, saat melibatkan dunia mistik. Dan itu, tafsir bebas.

“Ia sebenarnya waras bukan main, yang gila adalah dunia yang dihadapinya.”

#10. Aqidah Islam Ibnu Taymiyah by Mustafa Al’alim

Buku agama, ini seperti buku pelajaran sekolah dengan pendahuluan, inti, lalu penutup dengan pertanyaan dari isi bab. Tertata dan terstruktur. Sebagian besar jelas sudah kita dapati sewaktu pelajaran Agama Islam. Berisi pokok agama, enam Iman kepada dan rukun Islam. Yang membedakan, ini disarikan oleh Ibnu Taimiyah dengan penjelasan lebih panjang, sekaligus mematahkan aliran menyimpang, di masa itu.

“Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadanya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

#11. Larung by Ayu Utami

Sekuel yang biasa. Bab-bab awal sungguh cantik Larung Lanang mau membunuh neneknya yang seolah abadi, sudah berusia seabad lebih, dan memikili jimat yang kudu dilepas agar bisa kea lam seberang. Sayangnya saat masuk ke dunia Saman, melanjutkan kisah sejatinya, malah down. Selingkuh dan bagaimana mengatasinya, benar-benar tak bagus ditiru. Seolah kewajaran, teman-temannya yang hedon ke New York turut membantu para perempuan ini untuk bertemu lelaki beristri. Dan Yasmin yang sudah bersuami, dibantu bertemu lelaki lain. Dibuat dengan bahasa sesastra apapun, tata kelola selingkuh tetaplah busuk.

“Betapa anehnya ukuran, di manakah kita meletakkan patokan?”

#12. Kuasa Ramalan Jilid 1 by Peter Carey

Game of Thrones (GOT), adalah kata pertama yang terlintas setelah ussai membacanya. Ini seperti novel rekaan GRR Martin. Bedanya setting Jawa, dan ini nyata. Wow, setelah baca GOT saya berkomentar, susah juga hidup di masa itu. Gerak apapun terasa salah. Mau bela kerajaan manapun tetap akan sulit bertahan, semua akan serba salah. Semua punya ambisi, dan harapannya masing-masing. Perang di mana-mana, dan nyawa begitu murahnya. Di Kuasa Ramalan, konfliks terjadi di banyak arah. Mau para penjajahnya sendiri, Belanda Inggris Prancis yang mempunyai tanah rampasan, berniat memetik sebesar-besarnya keuntungan di Negara kita. Pun, kerajaan Jawa yang saling curiga dan tak saling dukung. Sultan dan Sunan tak bisa bersatu, apalagi pasca Perjanjian Giyanti, Jawa mudah diadu domba, dan ini jelas menguntungkan pendatang.

“…Saya benar-benar memohon hal ini dengan sangat dari segenap sukma dan lubuk hati saya yang paling dalam. Sungguh saya benar-benar bertujuan menyingkirkan kecemaran dari Jawa dan saya akan sangat bersyukur pada Allah sekiranya saya berhasil melakukan apa yang akan membawa kemaslatan…”

Karawang, 030822 –  Sherina Munaf – Singing Pixie

Cerpen-cerpen Kuuuueeereeeennnnnn

“Ini menyedihkan. Ini sangat mengguncang. Cinta obsesi yang membabibuta, meledak dalam kesedihan mendalam. Rumit dan kuasa uang membuat orang kalap, dan bodoh.”

Luar biasa. Keren banget, maaf maksudnya Kueeereeeennnnnn. Kumpulan cerpen yang langka, di mana semua cerpennya mengandung kejutan. Twist. Dituturkan dengan sabar dan muram, telaten. Hingga pukulan telak disiapkan di akhir. kesepuluhnya wow, jelas ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah kubaca, setelah menyelesaikan baca langsung terbesit menyusun 100 buku kumpulan cerpen terbaik, dan ini akan kumasukkan 10 besar. Efek yang murni bagus, dan dengan senang hati saya rekomendasikan untuk kalian.

#1. Tak Kunjung Kembali

Mark Sanderson yang kaya dan lajang, menjaga hati untuk tak jatuh hati sama wanita. Ia seorang pengusaha properti yang mendirikan saham Hamilton. Dengan otak tajam seperti pisau pencukur bila menghadapi urusan properti, ia tahu banyak bisnis ok atau yang banyak tak memberi untung. Keteguhannya untuk menjaga jarak dengan kaum hawa pupus saat di sbuah acara pengumpulan dana. Adalah wanita bersuami, Angela Summers seorang perempuan lokal yang tinggal di pantai Spanyol. Ia perempuan setia, sekalian mereka kencan, Summers tak mau melanjutkan hubungan gelap. Maka Mark menyusun rencana jahat, ia menyewa pembunuh Calvi untuk menghabisi suami Summers, dan sebuah fakta mengejutkan disampaikan.

“Mark hanya berputar-putar dalam lingkaran, dan lingkaran itu akan menuju kegilaan, dan hanya ada satu jalan untuk mendobraknya.”

#2. Tak Ada Ular di Irlandia

Orang Punjab itu mengekang kemarahannya karena ia memerlukan uang. Ram Lal dari India, mahasiswa kedokteran di Bangor yang sedang membutuhkan uang tambahan. Ia lalu dikenalkan McQueen yang memberinya tugas merubuhkan gedung tua. Sayangnya, dalam bekerja terjadi konfliks dengan mandor. Rasis, pemarah, dan tak segan memukul. Maka Ram memiliki dendam, ia ingin menyingkirkannya.  Seram sekali, hati-hati dalam pergaulan. Orang yang sakit hati bisa begitu berbahaya. Tak ada unsur mistik di sini, rencana dan pelaksaannya jelas dan masuk logika.

Dan apa yang harus dilaksanakan, harus dilaksanakan. Ia pulang ke India, mencari ular berbisa. Setelah tawar-menawar, ia membawa ke Irlandia ular kecil sangat berbisa Echis Carinatus. Dengan rencana matang, tapi malah amburadul saat pelaksanaan. Inilah alasan, mengapa di Iralndia ada ular.

“Kau tahu ini pekerjaan yang sungguh berat?”

#3. Sang Kaisar

Jelas ini adalah penghormatan atas cerita The Old Man and the Sea-nya Ernest Hemingway. Turis Murgatroyd, seorang bankir yang mendapat liburan ke Mauritians bersama istrinya yang suka ngomel. Ia menginginkan liburan tak terlupakan, dan perjalanan laut itu mengubah hidupnya, saat memutuskan untuk memancing.

“Sama saja seperti bila kamu menemukan sesuatu yang salah dalam kolom angka-angka. Naluri.”

#4. Ada Hari-hari…

Keren banget. Bagaimana sebuah perampokan memiliki twist, sebuah komplotan berencana membajak truk berisi anggur. Setelah keluar dari pelabuhan, mengurus perizinan dengan berbagai birokrasinya. Mereka mencanangkan mencegat saat di area sepi dekat bukit. Membajaknya dengan sukses, tapi setelahnya malah amburadul saat melakukan kesalahan kecil, akibatnya malah bui dengan durasi panjang.

“Ya hari itu memang salah satu dari hari-hari tersebut di atas. Ia tidak hanya gagal membajak 9000 botol brendi. Tapi bahkan berhasil mencegat pengapalan rahasia senjata seseorang..”

#5. Uang Pemerasan

Sejenis balas dendam dengan sangat gaya. Petugas asuransi tua, Tuan Nutkin mendapati iklan kencan di sebuah kereta api. Kertas itu berisi alamat dan rayuan seks. Untuk menjaga privasi, ia datang dengan hati-hati. Dan menjaga sedemikian rupa agar tak ketahuan orang yang dikenal. Apes, ternyata mereka adalah komplotan penipu. Setelah seks kilat, ia mendapat ancaman. Meminta menyerahkan sejumlah uang, atau kelakuan negatifnya ketahuan. Yang kita dapati adalah sebuah cerita ledakan dahsyat.

“Minta uang dengan ancaman adalah frasanya. Sungguh frasa yang bagus di bidang hukum.”

#6. Dipergunakan sebagai Bukti

Cerita detektif yang sungguh gila. Pria tua yang coba bertahan di rumahnya dari pengusiran. Setelah menghilangnya istrinya 15 tahun lalu, ia mendapati ada mayat di dinding. Kasus itu kembali terbuka, dan bagaimana bisa dia tetap diam?

“Kamu tidak wajib mengatakan sesuatu, tapi apa pun yang kaukatakan akan dicatat dan bisa dipergunakan sebagai bukti.”

#7. Hak Istimewa

Pengusaha yang coba diperas seorang wartawan yang bahkan tak pernah bertemu. Mendapati dirinya menuju jurang kebangkrutan. Hanya kejaiban yang bisa menyelamatkannya. Pagi-pagi di hari Minggu, Bill Chadwick dibangunkan telepon dari Henry Carpenter yang memintanya membaca sebuah artikel di koran Sunday Courier yang membuatnya kesal. Maka, rencana-rencana harus dibuat mengantisipasinya. Sebuah tonjokan merentet kasus ke pengadilan, dan luar biasa shock buntutnya.

“Ia tidak bisa mengatakan hal-hal demikian itu tentang diriku. Ini sama sekali tidak benar.”

#8. Tugas

Ini adalah cerita sahabat FF yang diceritakan ulang, sepasang Irlandia yang melakukan liburan di tahun 1950-an. Dalam perjalanan darat, mobil tua Triumph Mayflower itu terbatuk dan mogok. Meminta bantuan warga sekitar, dan fakta-fakta mengejutkan dituturkan. Semua ada keterkaitan, tak ada yang namanya kebetulan.

“Bernadette gelisah di sebelahku. Ia tegang dicekam gagasannya.”

#9. Seorang yang Hati-hati

Luar biasa, seorang kaya raya kena kanker dan ia mengingin warisannya tak jatuh ke tangan yang salah. Keluarganya yang medit dan begitu mengesalkan, dan betapa sisa waktu beberapa bulan ini akan menentukan nasib kekayaannya. Maka Timothy Hanson menghubungi asisten sekaligus sopir kepercayaannya Richards untuk melakukan hal-hal yang rahasia dan berharga.

Surat warisan dibuat, dan saat benar ia berpulang. Ia meminta dikuburkan di laut, dan syarat-syarat unik, yang bisa mencipta tawa sekaligus geram. Hehe, kocak dan biadab emang.

“… Tujuan tuan Hanson ialah menolak tiap akses  ke harta karunnya setelah ia meninggal dunia kepada para ahli waris dan kepada Jawatan Pajak…”

#10. Praktek Lancung

Kisahnya sederhana seperti suatu kisah sedih. Pastor yang membagongkan diri. Penipuan di atas kereta api dari Kingbridge ke Tralee. Dua penumpang sedang main judi kecil-kecilan, dan hakim Comyn yang penasaran terseret ikut. Awalnya hanya have fun, permainan kartu itu menjadi serius saat akhirnya uang yang dipertaruh makin membengkak. Saat kereta api mendekati garis finish, uang taruhan digenggam lawan. Sesederhana itu? Oh tidak, di ruang sidang, menjadi shock mengesalkan sebab sekali lagi, tak ada yang kebetulan. Semua terstruktur rapi. Dus tenan!

“Untuk sesaat hening menyeramkan.”

Setelah membacanya, langsung terlintas untuk membuat daftar buku kumpulan cerpen terbaik sepanjang masa. Kalau hanya 100 buku, sepertinya sudah pernah baca. Menyusul 100 novel terbaik versiku. Buku ini jelas saya masukkan. Buku langka, di mana 10 cerpen, kesepuluhnya mengandung twist.

Semuanya istimewa, tapi dialog ini sungguh lucu dan sangat memuaskan. “… Aku juga sudah berkesempatan menggunakan jasa seorang agen sangat terhormat untuk melacak ahli waris yang hilang. Kini nampaknya para ahli waris hadir, tetapi harta tetapnya yang hilang. Namun…”

Bisakah November nanti saya bikin daftarnya? Mari kita lihat…

Tak Kunjung Kembali | by Frederick Forsyth | Judul asli No Comebacks, 1982 | Alih bahasa Joko Raswono | Editor Daru Susilowati | Copyright 2000 | Penerbit Interaksara, Batam Center | Skor: 5/5

Karawang, 0305622 – 010822 – Ella Fitzgelard – Mack the Knife

Thx to Ade Buku, Bandung

Pertobatan

Kubah by Ahmad Tohari

“Ketika kau merasa berada dalam pikiran yang amat gelap, ketika kau merasa benar-benar tak berdaya, sesungguhnya ada tangan-tangan terjulur kepadamu…”

Novel pertama Ahmad Tohari yang kubaca. Lurus-lurus saja, dalam artian tokoh utama keluar dari penjara, menemukan jalan terang, lantas menikmati hari tua dalam ibadat. Hitam putih-nya jelas. Pemerintah sebagai badan yang memerangi PKI, menyapu semua hal yang bersinggungan, sang tokoh salah satu yang kena sapuan, selepas dibersihkan, ia kembali ke masyarakat, sempat bimbang dan galau, tapi nyatanya, ia disucikan. Segalanya terang benderang.

Kisahnya tentang Karman, yang dipenjara selama 12 tahun di Pulau Buru karena bersinggungan dengan partai Komunis. Ia kini bebas, menemukan dunia merdeka, dunia yang telah lama ditinggalkannya. Pada hari pertama dinyatakan menjadi orang bebas, Karman malah merasa dirinya tak berarti apa-apa, hina-dina. Ia tak serta merta bisa beradaptasi. Keluarganya kini memiliki kehidupan keluarga sendiri. Istrinya Marni telah menikah lagi. Maka ia di tengah kebimbangan. Saat sampai di kampung halaman Pagetan, ia ragu apakah bisa kembali diterima? “Sangat jelas terasakan ada garis pemisah yang tajam antara dirinya dan alam sekitar. Ia merasa tidak menjadi bagian dari bumi dan lingkungan yang sedang dipijaknya.”

Kisah lalu flashback ke masa lalunya, di masa kecil sebagai  anak dari keluarga miskin. Sekolah hanya sampai SMP dan bekerja sebagai pembantu di keluarga kaya Haji Bakir. Di sinilah ia bergolak, Pak Haji punya anak cantik sekali, Rifah. Ia jatuh hati, tapi kemiskinan mencipta ragu, apakah pantas, apakah bisa? “Sungguh dunia, seluruhnya, telah membelakangiku.”

Petaka tiba saat ia berkenalan dengan Partai Komunis lewat agennya, Kawan Margo. Pelan nan pasti ideology merah merasukinya, meyakinkannya. Karman memang didorong untuk membuang jauh semua kepercayaan atas segala sesuatu yang tidak membenda. Ajaran partainya mengatakan, apa yang tidak membenda sama dengan omong kosong. Bagaimana kaum miskin tertindas, bagaimana para jutawan semena-mena. Hal ini tentu juga disangkutkan dengan nasibnya sendiri. Cintanya yang kandas, memandang materi sebagai pertimbangan utama. Ia sesat, dan mendalami PKI, yang jua meninggalkan ibadah salatnya. Karman menjadi sekretaris dan mendedikasikan hidupnya untuk partai. Hingga akhirnya, sesuai sejarah tahun 1965, komunis digulung.

Kenapa saya bilang ini novel hitam putih, sebab jelas yang baik selalu diselamatkan, yang jahat terlunta-lunta. Baik-buruk juga dilihat dari sudut umum. Artinya, komunis itu jahat, makanya saat mereka dihilangkan, pemerintah seolah melakukan hal yang benar. Makanya, setelah Karman tobat, ia mendapat hidayah. Termasuk setelah berbagai kegalauan, ia mendapatkan hal-hal yang diharapkan. Istri, pertobatan, hingga kesempatan kedua. Sangat jelas, dan begitu memihak sisi malaikat.

Lihat bagian ini, “Kini satu-satunya taruhan yang menyebabkan dia masih ingin hidup, yakni harapan bisa hidup kembali bersama istri dan anak-anaknya, telah runtuh. Karman merasa dirinya benar-benar sudah selesai, tamat, hilang.” Bagian yang menjadikan sungguh segala kebaikan akan menuai kebaikan, sungguh pertobatan akan diterima dan segalanya akan indah pada masanya. Dan yang pasti, sikap putus asa tidak pernah menjadi jawaban yang benar.

Termasuk saat sakit, bagaimana setelah terpuruk dan lalu terlihat tanda sembuh. Ia meminta rokok. Bila orang sakit sudah ingin merokok itulah pertanda baik. Dan seperti semua harapan manusia, pada dasarnya manusia sebelum datang kematian, setiap orang akan mengalami satu di antara tiga cobaan: sulit mendapat rezeki, kesehatan yang buruk, dan hilangnya orang-orang terdekat. “… Untuk mendasari upaya penyembuhan jiwamu, kau harus memulai dari kepercayaan. Ya kepercayaan.”

Tuhan semesta alam, selalu memberi kesempatan bagi mereka yang mau bertobat. Bahwa ia mengatur segalanya, ada kekuatan besar yang berkuasa atas dirimu. Kekuatan itu mengatasi apa saja yang ada padamu. Pokoknya kau hanya memiliki kekuasaan yang kecil atas dirimu sendiri. “… Rasanya saya sudah kehilangan tujuan. Kehilangan segala-galanya. Hidup saya terasa sangat enteng. Dan kosong.”

Novel ini juara tahun 1981 dari Yayasan Buku Utama Kementerian P & K. Jelas, di masa itu hal-hal yang terasa mendukung program pemerintah, didukung. Era tak seterbuka sekarang, maka provokasi dari satra dirasa juga efektif. Ini termasuk buku-buku mula yang berani membahas tragedi 1965. Dan karena terasa sekali memihak pemerintah, partai yang terpinggirkan seolah isinya buruk semua.

Setelah Kubah, saya baca Di Kaki Bukit Cibalak. Malah terasa feel-nya. Bagaimana politik di desa memberi dampak serta pemecahannya yang bagus. Berikutnya, di rak saya ada Lingkar Tanah Lingkar Luar. Total punya tiga buku itu. Mungkin tak sampai membuatku jadi fans Ahmad Tohari, tapi jelas buku-bukunya laik dikoleksi. Termasuk yang fenomenal, Sang Penari.

Kubah | by Ahmad Tohari | GM 40101120067 | Penerbit Gramedia | Desain sampul Eduard Iwan Mangopang | Jakarta, 1995 | ISBN 9789792287745 | 216 hlm; 20 cm | Cetakan keenam, September 2017 | Skor: 4/5

Karawang, 150722 – 260722 – John Coltrane – Ruby my Dear

Thx to Gramedia World Karawang

Pengelana Galau

In a Strange Room by Damon Galgut

“Berenang, tidur, merokok. Orang-orang yang datang kemari bersamanya tidak memercayainya keberuntungan mereka. Bagi mereka inilah Afrika sebenarnya, mereka datang dari Eropa untuk mencari tempat seperti ini, bukan liburan mahal seperti yang diperlihatkan di Air Terjun Victoria, atau hal berbahaya dan menakutkan yang mencoba menyakiti mereka di kereta. Di tempat ini, setiap orang berada di tengah alam semesta sekaligus di waktu bersamaan tidak berada di mana-mana. mungkin ini yang disebut pemenuhan spiritual, mereka sedang berada dalam pengalaman spiritual.”

Dibagi dalam tiga bagian, perjalanan di tiga benua. Afrika sebagai home town sang penulis, ke Eropa ke tempat kenalan saat petualang, dan terakhir ke Asia, tepatnya Bombay, India. Secara umum, kisahnya acak, seenaknya bagaimana menyampaikan kisah, tak fokus ke mana arah mau dibawa cerita, makanya terbaca aneh, atau inti cerita mau ngapain jadinya tak jelas. Terlalu lama berkeliling tanpa menetap di suatu tenpat telah membuatnya jauh dari dunia nyata, bahkan ketika sejarah digoreskan di mana-mana. “Aku sudah minum dua gelas kopi hari ini. aku tidak minum lebih dari dua gelas kopi tiap dua belas jam.”

Pertama, berjudul Si Pengikut, kita diajak ke Eropa. Sang Penulis, dengan mengambil nama depan saja Damon berkelana. Mulai dari Inggris, Prancis, Italia, Yunani, Turki, sekarang kembali ke Yunani. Di sinilah Damon berpapasan dengan Reiner, yang satu ke kota Mycenae, yang satunya ke Sparta. Awalnya sekadar sapa, lalu satunya berbalik. Perkenalan dengan pemuda aneh nan merdeka ini mengubah banyak hal. Merasa senasib dan sama-sama suka penjelajahan mereka berkenalan lantas berteman. Di ruang yang aneh, di mana keduanya seolah kekasih, jatuh hati, dan janji temu lagi suatu hari.

Lalu Reiner berkunjung ke Afrika Selatan, main ke rumah Damon. Permintaan aneh, hanya berdasar alamat tak mau dijemput di bandara, ia menelusur jalanan. Menginap, berjalan-jalan, mencari jejak, kegiatan apapun, menikmati hari. Awalnya menyenangkan. Kunjungan sahabat lama, jalan-jalan ke Lesotho, lintas kota, lintas Negara. Lalu hubungan mereka merenggang. Setelah naik turun bukit, menyaksi bukit, pemandangan alam Afrika menakjubkan, mereka mengalami selisih paham. Jadi pada titik perjalanan ini, ada saat-saat bersatu dan ada saat-saat berseteru.

Reiner yang kaya, memback-up semua keperluan akomodasi Damon, bagaimana bayarnya? Suatu saat nanti saja, tak perlu dipikirkan. Namun biaya tanggung itu mencipta perasaan tak enak Damon, ia merasa beban. Merasa tak punya suara, saat terjadi debat arah jalan, hingga perasaan muak didominasi. Konfliks kecil, riak besar. Membiarkkan dendam kesumat atas pembunuhan putrinya. Tak sesuatu pun bisa membahanbakari keinginan membalas dendam sehebat kesedihan mendalam.

Kedua, dilabeli Si Pencinta, kita diajak berkenalan dengan rombongan turis dari Eropa. Jerome, Alice, Christian, Roderigo, dkk. Mereka dalam perjalanan kota-kota, jalan-jalan tanpa tujuan jelas. Satu kaki terayun melewati kaki lain, setiap tapak kaki tertanam dan bergerak ke depan. Jalan kaki memiliki ritme yang bisa membuatmu melayang. Sebagai tuan rumah benua, walaupun bukan hanya Afrika Selatan, Damon malah merasa jadi beban. Kali ini bukan masalah keuangan, tapi malah hal-hal dasar. Dari visa, hingga kegamangan pilihan. berkutat di Benua Hitam Tanzania, Kenya, Zanzibar, Zimbabwe, hingga Malawi.

Dalam sebuah dramatisasi adegan, mengejar bus setelah melakukan penyogokan di perbatasan karena tak punya visa, teman-teman yang dikejar itu malah berikutnya ditinggal, setelah janjian akan bertemu kembali di Inggris. Secara tiba-tiba memutuskan pulang setelah berkenalan dengan orang yang kebetulan mau ke Afrika Selatan.

Inti cerita kedua, bukan di situ, tapi malah petualangan di Eropa. Main ke rumah Jerome, disambut dengan sangat hangat oleh keluarga temannya. Lalu saat temannya wajib militer, ia ke Negara lain. Pengelanaan yang umum, hingga akhirnya menerima kabar menyedihkan. “Aku kemari untuk merenung.”

Ketiga, kita bersama Anna, teman sekaligus pacar temannya. Ke India, menelusur budaya. Banyak area kumuh, banyak kunjungan ke tempat-tempat eksotik. Sayangnya bagian terakhir ini, Damon mendapati teman perjalanan bermasalah. Sakaw narkoba, punya pacar cewek, hingga niatannya bunuh diri. Memiliki penyakit mental yang ke mana-mana bawa obat. Tujuan utama ke India untuk healing, malah ambyar. Hufh… Yang pada akhirnya obat itu malah ditelan bersamaan membuat repot semua orang. Di setiap keberangkatan, jauh di lubuk hati terdalam, seperti titik hitam, muncul ketakutan akan kematian.

Sekarat, diselamatkan malah marah-marah. Menghubungi keluarga di Cape Town untuk menjemputnya, hingga keputusan-keputusan konyol lainnya. Dunia hitam di tanah orang, merepotkan, mengesalkan. Apakah bisa selamat, Anna?

Kisah dibuku ini langsung mengingatkanku pada film The Man with the Answers. Lelaki galau melakukan perjalanan laut, berkenalan dengan lelaki tamvan tapi tampak nakal. Awalnya pasif saja, tapi setelah turun dari kapal, berkendara mobil tua, mereka malah saling mengisi dan menjaga. Di Jerman segalanya berakhir. Nah, bagian pertama buku ini mirip sekali. Namun di The Man with the Answers jelas motif dan plotnya, apa yang akan diraih di kota tujuan. Sementara In a Strange Room, mau apa dan ngapainnya tak jelas. Mau merenung di tempat terpencil? Mau menyatu dengan alam? Atau mencari jati diri? Jelas dengan alasan itu kurang kuat, ditambah, Damon tak terlalu mempermasalahkan uang, artinya ia kaya, tak terlalu takut duitnya habis, tak detail penjelasan bagaimana ia bertahan hidup dengan uang seadanya, walau seringkali bikin tenda untuk menghemat, seringkali pula menginap di hotel. Ini jelas buku orang jalan-jalan saja. Dan kisah sejenis ini, kurang konfliks, kurang menarik. Malah tampak konyol, saat di India bersama teman wanitanya, hambar.

Saya membeli buku ini karena berlabel Nominator The Man Booker Prize 2010 untuk novel The Good Doctor, bukan buku ini. yah, seperti Eka Kurniawan untuk Lelaki Harimau, bukan O. kurang lebih seperti itulah, mungkin saya akan terpukau sama The Good Doctor, dan merasa standar untuk O. Mari kita buru…

In a Strange Room | by Damon Galgut | Copyright 2010 | Published by Atlantic Books Ltd. | Alih bahasa Yuliany dan Shandy T | 188102536 | ISBN 978-979-27-8972-0 | Penerbit Elex Media Komputindo | Cetakan pertama, 2010 | Skor: 3.5/5

Karawang, 140722 – Manhattan Transfer – Birdland

Thx to Ade Buku, Bandung