Tango & Sadimin – Ramayda Akmal

Jangan mau belajar dari kesalahan diri sendiri. Itu tandanya kau pernah berbuat salah dan bodoh. Belajarlah dari kesalahan orang lain. Di situlah letak kecerdikan.” – Tango

Akhirnya ada kandidat Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 yang benar-benar OK, benar-bener puas. Tango dan Sadimin adalah kisah sendu orang-orang pinggiran yang dituturkan begitu hidup, seolah kesedihan mereka nyata. Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas masalah beragam. Hikayat manusia kebanyakan dalam pusaran asmara, tragedi dan kerumitan hidup. Seorang mucikari tersohor yang memulai, seorang haji teladan yang menutup. Alurnya dicipta dengan ketelitian luar biasa yang membuat pembaca berpikir, berkhayal lalu geregetan dan bergumam duuh!

Kisahnya terjebak dalam lima sudut pasangan. Semua saling silang, menentukan nasib para karakter dengan jitu. Pertama Nini Randa & Satun Sadat. Nini adalah mucikari di pinggir sungai Cimanduy, bagaimana ia mendalami profesi itu dicerita dengan detail yang mengharu. Awal mula kemunculannya yang hanya dari orok terhanyut saat banjir menghadang, ia tumbuh dengan keras, memiliki kekuatan gaib, ketika masih perawan bisa melihat sosok orang yang baru meninggal dunia. Ia berbicara dengan kelelawar dan ulat-ulat, juga makhluk-makhluk lain. Lalu saat remaja, muncullah lelaki misterius Satun Sadat yang memberinya pengalaman baru. Menciptanya menjadi dewasa lebih cepat, membuatnya mengerti bahwa laki-laki yang bekerja di proyek dam, pencari pasir sampai warga sekitar membutuhakn kopi dan singkong, termasuk kehangatan lain. Bayangan dan ingatan itu pula yang membuat ia bertahan dari inisiasi yang mengikis rasa malu dan keangkuhan dasar seorang manusia dalam dirinya.

Nini menjadi terkenal setelah menampung para perempuan, membuatkannya gubuk di sekitar, menarik biaya, menjadikannya lebih cukup materi. Ia tidak mampu menghadapi hantu-hantu bernama kenangan yang diciptakannya sendiri dengan mandor-mandor atau laki-laki yang datang silih ganti datang di hidupnya. Ia memiliki dua anak, pertama Cainah yang dirawat dari hubungannya dengan Satun Sadat, kedua Sadimin dari Haji Misbah yang kala mendemo rumah pelacuran, kena guna-guna, terjerat dalam peluk dan terjadilah. Sadimin dititipkan kepada Uwa Mono, nelayan yang serba bisa. Prinsip hidupnya, nikmati saja, ngalir saja. Ada sebagian orang yang hidup tidak untuk mencari sesuatu, tetapi menikmati. Mereka berpikir dan mengamati banyak hal. Sementrara orang bergerak, mereka tetap pada titik yang sama. Mono kini turut mencipta sebuah jaring, meliuk dan melilit dalam romansa benang kusut.

Bagian kedua, Tango & Sadimin. Pasangan ini tampak saling mengisi, secara kaca mata umum. Tango adalah anak buah Nini Randa, Sadimin adalah buah hatinya yang disusupkan ke tetangga. Kita sampai di masa kini, Tango menjadi juragan, bisnis apa saja yang penting menghasilkan. Jualan barang haram, judi, dan tentu saja bos para buruh sawah yang ia urus bersama istri dan orang tua angkat. Sang juragan mendapat dana dari pembagian harta Haji Misbah, dengan petak sawah yang ia terima, Sadimin menjelma pengusaha yang disegani. Beberapa kali berkasus dengan polisi, dan sumpah serapah dengan pesaing. Tango yang seorang pelacur diangkat istri, terasa bisa menempatakn diri. Dia bilang, wajahmu seperti tomat segar di pasar, rambutmu seperti bulu-bulu jagung yang sehat dan lebat, dan kalau kau bersuara di panggung, katanya semua yang mendengar jadi bodoh dan takluk. Keduanya menjadi pasangan tak lazim pula, di akhir kisah bagian mereka, Tango bisa tersenyum walau darah pelan mengalir dari hidung.

Bagian ketiga adalah Nah & Dana, Nah sebagai anak pertama Nini memilih kabur dari rumah demi cinta dan masa depan. Dana adalah anak kandung pengemis yang juga kabur dari rumah untuk merajut asa, memperbaiki status sosial. Mereka dicerita sebagai dua anak SD yang tersisa dalam kelas, setelah teman-temannya satu per satu keluar untuk menikah. Keduanya menghimpun harap dari kerasnya hidup, sejatinya pasangan ini hampir jadi ideal (baca romantis) saat memiliki anak Karim, bersatu dalam kasih, harta bukan segalanya, sungguh kisah cinta hakiki, sepertinya, awalnya, dasarnya. Namun, cerita bagus memang harus disusun dari keping tragedi, maka kesulitan materi membuat mereka kembali menginjak bumi, memaksa mereka mengetuk pintu Nini Randa, nebeng tinggal di kandang sapi, dan nantinya dalam akhir yang pilu. Nukilan Dana mengetuk pintu mertua adalah pembuka novel, jadi memang permainan alur yang dinamis. Nah kabur dari rumah yang melibatkan pencarian ala detektif. Oiya, Dana adalah buruh tembak Sadimin, lingkaran hubung ini akan saling mengikat di ujung kisah yang menyedihkan. Ingatan bahwa tiba-tiba satu orang menghilang sementara dunia tidak berubah sama sekali, membuat hatinya hancur-lebur, lututnya bergetar.

Bagian keempat, pasangan pengemis yang sungguh ajaib. Keluarga yang sempurna mencipta iba. Ozog & Sipon. Mereka terlatih untuk tidak mengeluh, tidak mengumpat, juga tidak tersenyum karenanya. Mereka harus bersikap dan berwajah datar, perpaduan antara kepedihan dan sedikit tekad untuk hidup yang menghasilkan rasa iba mendalam. Ozog adalah lelaki buta, peniup seruling. Sipon adalah wanita kuat buka hanya kuat menengadahkan tang, ia juga harus menggendong suami dalam berkarier. Kedua anak angkat mereka turut dalam aksi meminta derma. Cerita pengemis menggelar wayang golek menjadi legenda sepanjang masa masyarakat tepi Sungai Cimanduy. Kalian yang suka kasih receh kepada para pengiba ini, pikir lagi! Kesedihan adalah awal yang bagus untuk produktivitas. Dan kemudian obsesi.

Peran dalam kisah ini seolah mereka terasa kurang signifikan, tapi tunggu dulu. Pendengki bisa apa? Mereka kalah jumlah dan kalah konsep. Bagian kala mereka terjebak dalam hutan hujan madu yang mistis, bagus banget, seolah di alam raya para makhluk-pun berpesta pora. Keheningan dan angin-angin di hutan itu lebih suka bernyanyi daripada bercerita. Keputusan main paku gepeng di rel kereta api itu sejatinya malah eksekusi kunci. Betapa dunia orang miskin sungguh darurat peduli.

Bagian final, luar biasa, sangat bagus. Sepanjang hidupku menjadi bayangan, aku hanya mengerti tentang penyesalan dan kecurigaan. Yang tak pernah disimpulkan kecuali bahwa dua hal itu adalah musuh kehidupan yang harus cepat-cepat dienyahkan. Misbah & Nyai adalah gambaran sempurna ironi kehidupan. Tokoh agama panutan, memiliki tiga istri (di sini disebut Nyai) dan lima anak (enam, jika Sadimin dihitung). Terlalu sulit menemukan alasan bagi mereka untuk percaya bahwa ayahnya yang kiai, bersih, terhormat, makmur sejahtera, jatuh di pelukan iblis lahir batin seperti Nini Randa. Jadi ketua Rukun Warga, jadi guru ngaji, punya satri banyak, dengan usaha pengeruk pasir. Sejatinya tampak sosok yang patut disegani, dikagumi bila kalian seorang agamis, dan dihormati jika patokan kalian adalah seorang jelata. Dalam kisah ini, perannya memang menutup cerita, slotnya ga sebanyak yang lain. Jadi klimaks itu disusun di rumahnya. Dana yang kehilangan Nah, setelah frustasi cari ke mana saja gagal, termasuk ke kantor polisi yang birokratif. Bertemu pula Sakidin di sana yang diminta kesaksian, datang pula Nini Randa yang juga butuh pengakuan, plus para peminta yang makin merumitkan keadaan. Sejatinya kita tahu akhir Nah, tapi memang dibuat samar, saya suka hal-hal yang menggantung ragu gini.

Melengkapi kepiluan kisah, sang haji sedang pengen bercengkrama malam itu. Nyai ketiga, termuda setelah tahu rahasia marah, wajar jiwa muda. Nyai kedua yang sejatinya pasrah mengabdi, sedang dapat. Nyai pertama yang sabar dan sungguh menanti janji surga kelak, orang yang banyak berkorban, penuh perjuangan di masa awal, sendiko dawuh. Seseorang atau sesuatu yang berharga memang akan selamanya berharga, tetapi tidak selamanya satu-satunya. Selesai? Belum. Kisah ditutup dengan menghebat, betapa seorang tampak agamis yang dipuja banyak orang itu melakukan kegiatan dosa besar. Tak cukup dengan itu, bahkan novel Tango & Sadimin menyajikan akhir kalimat yang luar biasa indah, “… berusaha menggapai-gapai Tuhan.”

Bisa jadi nantinya, jika Bung Akmal memuncaki penghargaan ini, dia dengan cerdik menutup kisah satu paragraf menggucang.

Prediksi: Jelas akan masuk daftar pendek. Sejauh ini yang terbaik. Sembari menanti menyelesikan baca enam buku lainnya, kalian bisa menjagokan dan menempatkan buku ini sebagai unggulan pertama. Alur, penokohan, konfliks, sampai detail yang disaji sangat ampuh. Betapa absurd cerita perpaduan antara pelacur, pengemis, buruh, juragan dan seorang tokoh agama. Semua yang terbang ke langit, hilang dalam peraduan mistis. Tango & Sadimin adalah novel hebat yang membumi, ada di sekeliling kita, ada di antara masyarakat. Saya ga bohong, sungguh aduhai.

Tango & Sadimin | Oleh Ramayda Akmal | GM 619202024 | Editor Teguh Afandi | Layout Ayu Lestari | Desain sampul Orkha Creative | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Maret 2019 | ISBN 978-602-06-2815-8 | ISBN DIGITAL 978-602-06-2816-5 | Skor: 5/5

Karawang, 230919 – M2M – The Day You Went Away

Svetlana Alexievich, Nobel Sastra dan Penulis Indonesia

Featured image

Semalam saat menonton trending topic di Metro TV sekilas membaca running text: ‘Svetlana Alexievich, Penulis asal Belarusia menjadi pemenang Nobel Sastra 2015’. Pengumuman dilakukan Kamis (8/10) kemarin oleh komite Nobel di Swedia. Alexievich mengalahkan kandidat kuat penyair asal Korea, Ko Un dan penulis Hungaria, Laszlo Krasznahorkai. Sara Danius, ketua penyelenggara menyebutkan buku pemenang Alexievich sebagai monumen untuk keberanian dan penderitaan di waktu yang sama.

Seperti yang dikutip CNN Indonesia, Svetlana Alexievich adalah pemenang wanita yang ke-14. Wanita kelahiran 31 Mei 1948 di Ukrania ini memiliki darah Belarusia dari ibunya. Alexievich pindah ke Belarusia setelah ayahnya keluar dari militer. Kedua orang tuanya lalu menjadi guru. Beliau menjadi jurnalis dan menulis banyak karya mulai dari cerpen, esai sampai reportase. Dirinya adalah jurnalis pertama yang memenangkannya.

Alexievich sering mengkritisi perang yang banyak mengorbankan anak-anak dan wanita. War’s Unwomanly Face berisi reportase dari berbagai negara yang sangat menyentuh terutama dari Eropa Timur di Perang Dunia II. Bukunya yang paling terkenal, Voices from Chernobyl tentang bencana nuklir tahun 1986 dan Zinky Boys yang mengacu perang di Soviet dan Afganinstan. Buku itu menuai kontroversi ketika pertama diterbitkan di Rusia. Karena dianggap sebagai sebuah fitnah kejam terhadap pemerintah sehingga dirinya beberapa kali dicekal dan teleponnya disadap. Semangat Alexievich untuk mengungkap kebenaran akhirnya diganjar hadiah Nobel Sastra tahun ini, uang sebesar Rp 15 milyar berhak untuknya. Selamat Alexievich.

Berikut Pemenang Nobel Sastra dalam 10 tahun terakhir:

2015 – Svetlana Alexievich (Belarusia)

2014 – Patrick Modiano (Perancis)

2013 – Alice Ann Munro (Kanada)

2012 – Mo Yan (China)

2011 – Tomas Transtromer (Swedia)

2010 – Mario Vargas Llosa (Peru)

2009 – Herta Muller (Jerman)

2008 – Jean-Marie Gustave Le Clezio (Perancis)

2007 – Doris Lessing (Inggris)

2006 – Ferit Orhan Pamuk (Turki)

Penganugerahan Nobel Sastra dimulai tahun 1901 dan sejauh ini belum pernah ada Penulis Indonesia yang meraihnya. Raihan tertinggi Indonesia adalah masuknya penulis terbesar kita Pramudya Ananta Toer yang beberapa kali dinominasikan. Sayangnya sampai beliau meninggal tahun 2006, Nobel Sastra tak mampir. Pram mempunyai karya dahsyat Bumi Manusia. Buku ini kontroversi di era pak Harto. Sehingga Pram beberapa kali diasingkan. Dalam pidato tertulisnya pada saat menerima Penghargaan Magsaysay di Manila, Pram mengatakan bahwa sastra yang dilahirkan dalam pangkuan kekuasaan dan berfungsi memangku kekuasaan semacam itu, langsung menggiring pembaca pada sastra hiburan, memberikan umpan pada impian-impian naluri purba pada pembacanya. Dari sekelumit kisah ini kita tahu, untuk dikenang kita harus berani mengungkap kebenaran tak peduli kita tak sejalan dengan sang pemegang kekuasaan.

Era Pram sudah berlalu, mari kita tatap ke depan. Siapakah Penulis Indonesia yang akan pecah telur memenangkan penghargaan bergensi ini di kemudian hari? Saya tak tahu. Kalian juga tak tahu. Semua orang tak tahu. Tapi kita tetap harus yakin, seuatu saat pasti ada. Ini bukan prediksi, namun sejauh ini ada empat Penulis yang menonjol yang layak untuk selalu masuk daftar spotlight, pertama Okky Madasari Penulis muda yang meraih sastra Khatulistiwa tahun 2012 dengan karyanya Entrok (2010), Maryam (2012) dan Pasung Jiwa (2013). Ketiganya sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Kedua Eka Kurniawan dengan masterpiece-nya Cantik Itu Luka (2002) dan Lelaki Hariau (2004), keduanya juga sudah diterjemahkan ke Bahasa asing. Tulisan-tulisannya yang surealise mengingatkanku pada penulis besar Amerika Latin, Gabriel Garcia Marquez. Ketiga Seno Gumilar Ajidarma yang cerpen indahnya Sepotong Senja Untuk Pacarku selalu menghantui kita. Tahun 2012 lalu beliau menang Ahmad Bakrie award. Puluhan karyanya begitu menghipnotis dan selalu ditunggu pembaca. Dan terakhir Remy Silado, satu-satunya buku yang sudah kubaca Beolevard de Clinchy (Agonia Cinta Monyet) benar-benar luar biasa indah. Pernah menang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2002. Selain menulis, Remy juga membuat film. Ciri khas karyanya adalah penceritaan setting tempat yang sangat kuat dan jelas ditulis dengan survei yang detail. Cerita seperti itu sangat sulit dibuat karena butuh kesabaran tingkat tinggi. Selain keempatnya masih banyak Penulis besar yang layak disodorkan. Ahmad Tohari yang tahun ini menang Ahmad Bakrie award, Djenar Maesa Ayu yang karyanya mengekploitasi seksualitas tanpa batas, Asma Nadia yang buku-buku religinya banyak mengubah pandangan hidup perempuan, Ayu Utami yang punya Saman dan Pintu Terlarang yang fenomenal setelah diangkat ke layar lebar. Dee, yang tulisannya selalu nyeleneh dengan Supernova. Dan masih banyak lagi. Kepada merekalah saat ini kita berharap. Kepada kalianlah saya berharap.

Siapapun itu Penulis Indonesia nantinya yang meraih Nobel Sastra, kuharap saya bisa menjadi saksi sejarah. Atau salah satu dari kalian yang sedang membaca tulisan ringan ini yang akan memecahkannya? Siapa yang tahu?! Sekali lagi Kuharap saya panjang umur sampai tahu sejarah emas itu ditulis. Allahu akbar.

Karawang, 091015