Svetlana Alexievich, Nobel Sastra dan Penulis Indonesia

Featured image

Semalam saat menonton trending topic di Metro TV sekilas membaca running text: ‘Svetlana Alexievich, Penulis asal Belarusia menjadi pemenang Nobel Sastra 2015’. Pengumuman dilakukan Kamis (8/10) kemarin oleh komite Nobel di Swedia. Alexievich mengalahkan kandidat kuat penyair asal Korea, Ko Un dan penulis Hungaria, Laszlo Krasznahorkai. Sara Danius, ketua penyelenggara menyebutkan buku pemenang Alexievich sebagai monumen untuk keberanian dan penderitaan di waktu yang sama.

Seperti yang dikutip CNN Indonesia, Svetlana Alexievich adalah pemenang wanita yang ke-14. Wanita kelahiran 31 Mei 1948 di Ukrania ini memiliki darah Belarusia dari ibunya. Alexievich pindah ke Belarusia setelah ayahnya keluar dari militer. Kedua orang tuanya lalu menjadi guru. Beliau menjadi jurnalis dan menulis banyak karya mulai dari cerpen, esai sampai reportase. Dirinya adalah jurnalis pertama yang memenangkannya.

Alexievich sering mengkritisi perang yang banyak mengorbankan anak-anak dan wanita. War’s Unwomanly Face berisi reportase dari berbagai negara yang sangat menyentuh terutama dari Eropa Timur di Perang Dunia II. Bukunya yang paling terkenal, Voices from Chernobyl tentang bencana nuklir tahun 1986 dan Zinky Boys yang mengacu perang di Soviet dan Afganinstan. Buku itu menuai kontroversi ketika pertama diterbitkan di Rusia. Karena dianggap sebagai sebuah fitnah kejam terhadap pemerintah sehingga dirinya beberapa kali dicekal dan teleponnya disadap. Semangat Alexievich untuk mengungkap kebenaran akhirnya diganjar hadiah Nobel Sastra tahun ini, uang sebesar Rp 15 milyar berhak untuknya. Selamat Alexievich.

Berikut Pemenang Nobel Sastra dalam 10 tahun terakhir:

2015 – Svetlana Alexievich (Belarusia)

2014 – Patrick Modiano (Perancis)

2013 – Alice Ann Munro (Kanada)

2012 – Mo Yan (China)

2011 – Tomas Transtromer (Swedia)

2010 – Mario Vargas Llosa (Peru)

2009 – Herta Muller (Jerman)

2008 – Jean-Marie Gustave Le Clezio (Perancis)

2007 – Doris Lessing (Inggris)

2006 – Ferit Orhan Pamuk (Turki)

Penganugerahan Nobel Sastra dimulai tahun 1901 dan sejauh ini belum pernah ada Penulis Indonesia yang meraihnya. Raihan tertinggi Indonesia adalah masuknya penulis terbesar kita Pramudya Ananta Toer yang beberapa kali dinominasikan. Sayangnya sampai beliau meninggal tahun 2006, Nobel Sastra tak mampir. Pram mempunyai karya dahsyat Bumi Manusia. Buku ini kontroversi di era pak Harto. Sehingga Pram beberapa kali diasingkan. Dalam pidato tertulisnya pada saat menerima Penghargaan Magsaysay di Manila, Pram mengatakan bahwa sastra yang dilahirkan dalam pangkuan kekuasaan dan berfungsi memangku kekuasaan semacam itu, langsung menggiring pembaca pada sastra hiburan, memberikan umpan pada impian-impian naluri purba pada pembacanya. Dari sekelumit kisah ini kita tahu, untuk dikenang kita harus berani mengungkap kebenaran tak peduli kita tak sejalan dengan sang pemegang kekuasaan.

Era Pram sudah berlalu, mari kita tatap ke depan. Siapakah Penulis Indonesia yang akan pecah telur memenangkan penghargaan bergensi ini di kemudian hari? Saya tak tahu. Kalian juga tak tahu. Semua orang tak tahu. Tapi kita tetap harus yakin, seuatu saat pasti ada. Ini bukan prediksi, namun sejauh ini ada empat Penulis yang menonjol yang layak untuk selalu masuk daftar spotlight, pertama Okky Madasari Penulis muda yang meraih sastra Khatulistiwa tahun 2012 dengan karyanya Entrok (2010), Maryam (2012) dan Pasung Jiwa (2013). Ketiganya sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Kedua Eka Kurniawan dengan masterpiece-nya Cantik Itu Luka (2002) dan Lelaki Hariau (2004), keduanya juga sudah diterjemahkan ke Bahasa asing. Tulisan-tulisannya yang surealise mengingatkanku pada penulis besar Amerika Latin, Gabriel Garcia Marquez. Ketiga Seno Gumilar Ajidarma yang cerpen indahnya Sepotong Senja Untuk Pacarku selalu menghantui kita. Tahun 2012 lalu beliau menang Ahmad Bakrie award. Puluhan karyanya begitu menghipnotis dan selalu ditunggu pembaca. Dan terakhir Remy Silado, satu-satunya buku yang sudah kubaca Beolevard de Clinchy (Agonia Cinta Monyet) benar-benar luar biasa indah. Pernah menang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2002. Selain menulis, Remy juga membuat film. Ciri khas karyanya adalah penceritaan setting tempat yang sangat kuat dan jelas ditulis dengan survei yang detail. Cerita seperti itu sangat sulit dibuat karena butuh kesabaran tingkat tinggi. Selain keempatnya masih banyak Penulis besar yang layak disodorkan. Ahmad Tohari yang tahun ini menang Ahmad Bakrie award, Djenar Maesa Ayu yang karyanya mengekploitasi seksualitas tanpa batas, Asma Nadia yang buku-buku religinya banyak mengubah pandangan hidup perempuan, Ayu Utami yang punya Saman dan Pintu Terlarang yang fenomenal setelah diangkat ke layar lebar. Dee, yang tulisannya selalu nyeleneh dengan Supernova. Dan masih banyak lagi. Kepada merekalah saat ini kita berharap. Kepada kalianlah saya berharap.

Siapapun itu Penulis Indonesia nantinya yang meraih Nobel Sastra, kuharap saya bisa menjadi saksi sejarah. Atau salah satu dari kalian yang sedang membaca tulisan ringan ini yang akan memecahkannya? Siapa yang tahu?! Sekali lagi Kuharap saya panjang umur sampai tahu sejarah emas itu ditulis. Allahu akbar.

Karawang, 091015

Total Film Indonesia: Edisi Emas

Image

Sampai saat ini majalah Total Film Indonesia (TFI) adalah satu-satunya media cetak yang masih rutin saya beli. Hari ini edisi special kelimapuluh – Januari 2014 baru saja saya terima, harganya naik menjadi Rp 50 ribu. Akhirnya setelah sekian lama dinanti pertanyaan akankah tembus angka 50, kini terjawab. Terjawab apakah akan sampai edisi 50? Ya. Dan terjawab akankah harganya akan mencapai Rp 50 ribu. Ya.

Sebelum rutin membeli majalah TFI saya sudah rutin beli majalah film C, sesekali beli M atau S dan F (keduanya tamat). Di grup social media dulu termasuk rutin posting, komen, sampai debat. Namun mulai akhir 2011 pasca menikah semua berubah, saya tak serutin dan seaktif dulu. Menikah memang membuat banyak perubahan. Karena mahalnya harga majalah akhirnya saya memutuskan harus beli satu, dan mulai edisi ketiga saya putuskan berlabuh ke TFI.

Edisi terbaru ini kita diberi kartu remi dengan gambar (hampir) semua cover TFI. Ketika pertama saya lihat bonusnya, saya rada kaget. Kok kartu remi lagi? Bukannya dulu pas edisi Tron sudah pernah? Kenapa bukan bonus kalender yang memang sudah menjadi kebiasaan di pergantian tahun? Lalu cover-nya tertutup iklan. Berarti ini kedua kali beruntun mereka menutup cover utama dengan iklan mobil. Pemilihan gambar cover TFI juga kurang ideal, bulan ini memilih reboot Robocop dan gambarnya kurang OK. Masalah cover harus diakui TFI masih kalah telak sama tetangga. Ini sudah disampaikan berkali-kali kepada mereka. Di era modern sekarang ini cover minimalis lebih terlihat elegan, masalah konten dan kalimat hiperbola yang ada di cover kurasa tak terlalu penting. Cukup kasih judul film dan beri gambar yang keren, pasti akan jadi magnet pembeli. Tapi harus diakui, isi TFI memang padat informasi. Di dalamnya banyak berisi wawancara dengan aktor Hollywood yang tak akan ada di majalah lain. Menurut saya keunggulan utamanya pada review film yang melimpah. Prinsip mereka semua film (Hollywood dan local) di-review, jadi bisa dibayangkan film yang rilis jumlahnya banyak dan mereka menampilkannya dalam ulasan tiap bulan, padat! Every new movie reviewed and rate. Memang beda sih rasanya membaca majalah impor dan local bisa analogikan dengan film luar terasa lebih canggih ketimbang film kita.

Dari 50 majalah yang sudah terbit saya ketinggalan enam edisi. Nomor satu, dua, cover the A-Team, Superman (yang Henry Cavil bersedakep), dan Thor: The Dark World. Edisi awal saya belum minat beli, sedang yang lain karena kehabisan. Sempat mau langganan, tapi karena tanggal terbit yang tak pasti dan seringnya terlambat terbit membuatku mengurungkan niat. Beli eceran rutin lebih nyaman karena agennya sudah kenal dan sering kasih diskon.

Edisi favorite saya adalah edisi Inception. Di dalamnya memuat detail film-film sutradara hebat Christopher Nolan. Cover favorite jelas The Social Network yang memuat gambar kecil-kecil membentuk muka pendiri Facebook: Mark Zukeckerberg.

Kini pertanyaannya sejauh mana saya akan bertahan untuk rutin membelinya? Kompas sudah saya lepas setengah tahun lalu, apalagi kini harganya naik menjadi Rp 4.500,-. Bola Vaganza sudah lebih dulu berhenti. Tabloid Bola pun sudah jarang baca. Intisari, Tempo mungkin hanya sesekali beli. Annida sudah tak terbit (yah, sudah lama banget kali). Di tengah kencangnya informasi yang mudah diakses melalui internet, kehadiran media cetak kini perlahan mulai digeser. Adaptasi dan hanya dengan kualitas yang (luar biasa) bagus yang mampu membuatnya tetap bertahan. Saya juga.

Image

(review of the year, artikel favorite tahunan)

Karawang, 060114

Indonesia Gagal Lagi

Image

Untuk kesekian kalinya timnas Indonesia gagal meraih emas di ajang sepak bola pria Sea Games. Berarti kegagalan Sea Games Myanmar menjadikan angka 22 tahun puasa gelar. Terakhir kali Timnas kita meraih juara di Sea Games 1991 Fillipina. Perjalanan Timnas Indonesia U23 menuju final sungguh memprihatinkan. Di laga grup yang berisi lima tim, Indonesia memulainya dengan kemenangan tipis 1-0 lawan tim lemah Kamboja, tim yang biasanya jadi lumbung gol. Permainan kita jauh dari kata bagus. Seperti perkiraan di pertandingan kedua lawan Thailand kita tumbang memalukan 4-1. Timnas kita amburadul di semua sisi. Di laga ketiga tak ada perkembangan berarti. Lawan tim lemah Timor Leste, pendatang baru yang di atas kertas harusnya bisa diatasi malah berakhir tanpa gol. Penyerang kita bikin gregetan. Dan di pertandingan pamungkas grup lawan tuan rumah Myanmar kita menang beruntung, menang bejan 1 gol melalui titik penalti.

Perjalanan lolos ke semifinal yang tak meyakinkan tersebut membuat kita perlu was-was saat di fase knock-out kita melawan musuh bebuyutan Malaysia. Tim Harimau Malaya yang menjadi juara grup sebelah dengan kemenangan seru di laga pamungkas menyingkirkan Vietnam, mereka menatap Indonesia dengan nada optimis. Laga ini sekaligus kesempatan kita untuk melakukan revan dua tahun lalu saat kita tumbang di final. Dengan pasukan compang-camping awalnya banyak yang ragu.

Pasukan menjawab! Di awal laga kita langsung mengambil alih serangan, hasilnya kita bisa leading lewat kaki Bayu Gatra. Melakukan one-two Bayu melakukan shoot yang tak bisa dijangkau kiper Malaysia. Setelah itu ya bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik. Saat kita sudah siap-siap berjingkrak menuju final, kelengahan terjadi. Lima menit sebelum waktu normal selesai kita kebobolan. Berawal dari kesalahan control Andik, bola dapat direbut yang menghasilkan sepak pojok yang kemudian memaksa kita melanjutkan perpanjangan waktu. Tak ada gol tercipta. Ada kejadian unik saat kita menyadari Andik yang masuk sebagai pemain penganti ternyata ditarik lagi. Dan adu penalti, adu bejan, adu tos-tosan, adu domba ini memihak kita. Adalah Kurnia Meiga yang menjadi pahlawan kemenangan. Dua tendangan penalti awal Malaysia dapat digagalkan olehnya dengan tangkapan sempurna. Skor akhir 4-5 yang mengantar kita kembali melawan negeri Gajah Putih di final.

Mengingat skor di pertemuan sebelumnya mencolok 4-1 maka harapan saya tak muluk-muluk, apalagi kalau ditarik sejarah kita melawan mereka yang hanya menang sekali sisanya seri dan kalah. Benar saja kita sudah kebobolan di menit-menit awal. Sisanya kita gatot –gagal total– dalam semua serangan. Skor akhir 1-0 dan kita kembali harus menelan pil pahit. Lagi-lagi perak.

Melihat penampilan Timnas U23 di Sea Games kali ini kita sudah seharusnya syukur dapat juara dua. Perjalanan menuju ke sana sungguh miris. Penurunan drastis dari dua tahun lalu saat kita jadi tuan rumah yang kala itu kita hanya kalah adu penalti. Mengaca pada kesuksesan Timnas U19 yang bisa menjuarai AFF U19 2013 dan melaju ke piala Asia 2014 kita harusnya mengadopsi gaya mereka. Rekrut pemain tanpa ada pemain titipan. Serahkan pelatih berkuasa penuh menentukan skuad. Blususkan ke pelosok negeri untuk menemukan bibit muda berkualitas. Dan yang terpenting jangan direcoki politik. Muak rasanya sepak bola kita dikotori politik PSSI. Sepak bola kita siaga satu.

Kegagalan ini makin lengkap saat penutupan Sea Games hari Minggu kemarin kita ada di posisi empat klasemen akhir. Emas yang diraup jauh dari target. Rasanya gagal seperti jadi nama tengah Indonesia. Entah mau sampai kapan kita bisa raih emas sepak bola lagi.

Karawang, 231213