130 Buku Rentang Setahun

Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”Mahfud Ikhwan dalam Anwar Tohari Mencari Mati

Tahun 2020 saya buat daftar terbaik-terbaik dalam dua versi: Fiksi dan Non-Fiksi. Kali ini akan saya pecah lagi untuk fiksi jadi lokal dan terjemahan, kalau tidak kupecah yang terjemahan terlalu mendominasi.
130 buku yang kulahap dengan nyaman. Padahal kalau mau hitung belanja bukunya bisa empat kali lipat, artinya hanya seperempat yang selesai. Betapa banyak yang numpuk. Tahun ini, saya coba rem belanja buku, yah beberapa toleransi tetap gas, tapi kalau rutin tak akan segila. Berikut rekap baca 2021.

*I. Januari – 10 buku
Awal tahun sengaja kumulai dengan bacaan bagus, Pi memenuhi ekspektasi itu.

#1. The Life of Pi by Yann Martel

Tentang bertahan hidup di tengah samudera.

#2. Dari Kekalahan ke Kematian by Mahfud Ikhwan

Tentang Timnas kita yang payah.

#3. Oliver’s Story by Erich Segal

Tentang pilihan pasangan setelah menduda.

#4. My Beautiful Feeling by Walter & Ingrid Trobisch

Tentang remaja dan kegalauannya.

#5. Mata dan Riwayat Semesta by Wija Sasmaya

Tentang puisi dan pewayangan.

#6. Memoar Ronny Patinasarany by Andreas J. Waskito

Tentang perjuangan sang legenda.

#7. Pembunuh by Rayni N Massardi

Tentang jiwa yang marah.

#8. Kuntilanak Pondok Indah by Lovanisa

Tentang rumah angker di tanah elite.

#9. Zarathursta by Frederick Nietschie

Tentang falsafah hidup sang petualang.

#10. Si Lugu by Voltaire

Tentang pertaruhan hidup di penjara.
*II. Februari –10 buku
Terbaik, memoar Bung Karno akhirnya berhasil kutuntaskan. Tentu saja jadi terbaik bulan ini.

#11. Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat by Cindy Adams

Tentang riwayat sang proklamator.

#12. Menumis itu Gampang, Menulis Tidak by Mahfud Ikhwan

Tentang sulitnya menulis. Apa saja.

#13. Mencari Setangkai Daun Surga by Anton Kurnia

Tentang sastra dan ruang lingkupnya.

#14. White Tiger by Aravind Adiga

Tentang sopir kere yang merdeka.

#15. Tanah Tabu by Anindita S. Thayf

Tentang Papua yang bergolak.

#16. Pribadi Mempersona by La Rose

Tentang tips-tips wanita menghadapi pria.

#17. Rahasia Nama-nama Islam by Annemarie Schimmel

Tentang sejarah nama-nama bangsa Arab.

#18. Lockwood and Co. by Jonathan Stoud

Tentang fantasi mengatasi hantu.

#19. The Joy Luck Club by Amy Tan

Tentang imigran Amerika dalam perkumpulan.

#20. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer by Jujun S. Suriasumantri

Tentang filsafat dibuat fun.
*III. Maret – 10 buku
Maret ini baca ulang Narnia 4 yang luar biasa sama Hermione, dan sekuel Dawuk yang dahsyat.

#21. The Chronicles of Narnia: The Silver Chair C.S. Lewis

Tentang perjalanan ke Utara jauh.

#22. Anwar Tohari Mencari MatiMahfud Ikhwan

Warto Kemplung kembali membual.

#23. The Last JurorJohn Grisham

Tentang pemilihan juri, ada warga kulit hitam pertama.

#24. Negeri SenjaSeno Gumira Ajidarma

Tentang negeri antah surantah.

#25. The Alchemist Paulo Coelho

Tentang perjalanan ke Mesir mencari harta karun.

#26. Dubi Dubi DumaEsthy Wika

Tentang tata kelola mengasuh buah hati.

#27. Tasawuf Dipuja Tasawuf DibenciMukhlis, S.Pd.I., M.Ag

Tentang para sufi dari masa ke masa.

#28. Pendeta YonasLa Rose

Tentang pendeta muda yang tergoda janda.

#29. Kuda Kayu TerbangYanusa Nugroho

Tentang keluh kesah naik bianglala.

#30. Q & ASherina Salsabila

Tentang romansa anak SMA.
*IV. April – 4 buku
Penuh salju, tebal, keren, lelah.

#31. Kitab Writer Preneur by Sofie Beatrix

Tentang perjalanan penyair pulang kampung Turki, dan efeknya.

#32. Pinky Promise by Kireina Enno

Tentang perempuan-perempuan tegar.

#33. Snow by Orhan Pamuk

Tentang syair yang dingin dan beku.

#34. Belajar Mencintai Kambing by Mahfud Ikhwan

Tentang pilihan sepeda atau kambing?
*V. Mei – 11 buku
Haruki Murakami tetap melaju dengan nyaman dan indah.

#35. Luka Batu by Komang Adyana

Tentang tradisi dan keseharian di Bali.

#36. Angel of Darkness (Sheldon’s Series) by Tilly Bagshawe

Tentang pembunuhan berantai dengan tertuduh si innocent.

#37. Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya by Haruki Murakami

Tentang cinta lama dan persahabatan, selamanya.

#38. Renungan Kloset by Rieke Dyah Pitaloka

Tentang kritik dan opini yang dihasilkan dari toilet.

#39. Civilization and Its Discontents by Sigmund Freud

Tentang budaya dan muatannya.

#40. The Man Who Loved Books Too Much by Allison Hoover Bartlett

Tentang pencuri buku yang gila.

#41. Aku dan Film India Melawan Dunia Buku I by Mahfud Ikhwan

Tentang kegemaran film India, melawan arus.

#42. Kritikus Adinan by Budi Darma

Tentang pengadilan yang tak adil.

#43. Seni Menulis by Haruki Murakami

Tentang tips menulis dari maestro.

#44. Cinta Bagai Anggur by Syaikh Muzaffer Ozak

Tentang sufi awal ke Amerika.

#45. Narsisme by Sigmund Freud

Tentang kebiasaan menampakkan diri ke publik.
*VI. Juni – 14 buku
Banyak baca, sebab melakukan isoman. Mayoritas ternyata tipis-tipis, pantas banyak. Terbaik jelas Pasar, buku pertama Bung Kontowijoyo.

#46. The Street Lawyer by John Grisham

Tentang kebaikan memihak para gelandangan dengan jadi pengacara mereka.

#47. Kanuku Leon by Dicky Senda

Tentang kehidupan mistik di tengah modernitas.

#48. Pasar by Kuntowijoyo

Tentang orang-orang pasar dan pusarannya.

#49. The Mummy by Anne Rice

Tentang mumi yang bangkit di masa kini setelah tertidur panjang.

#50. Putri Cina by Sindhunata

Tentang legenda putri Cina dan keturunannya di Indonesia.

#51. Isinga: Roman Papua by Dorothea Rosa Herliany

Tentang cinta diputus paksa dan dirajut ulang.

#52. Mati Bahagia by Albert Camus

Tentang pencarian makna hidup yang lapang.

#53. Lotre by Shirley Jackson

Tentang kebiasaan main lotre di tengah masyarakat yang manjemuk.

#54. Bisik Bintang by Najib Mahfuz

Tentang orang-orang Mesir dalam berbagai silang pendapat.

#55. Komune Paris 150

Tentang masa revolusi, kudeta gagal dan efek panjangnya.

#56. Misa Ateis by Honore de Balzac

Tentang kematian yang abadi.

#57. Sumur by Eka Kurniawan

Tentang cinta bersemi di sumur lalu ditenggelamkan masa.

#58. 100 Film by Ibnu M. Zain

Tentang rekap film terbaik sepanjang masa.

#59. Therese Desqueyroux by Francois Charles Mauriac

Tentang cinta dan kegilaan, pasangan aneh saling mengisi.
*VII. Juli – 5 buku
Terbaiknya tentu Geisha, tapi memang tertebak kan. Yang mengejutkan Pseudonim, lokal yang bagus. Rekomendasi.

#60. Memoirs of Geisha by Arthur Golden

Tentang memoar geisha zaman sebelum dan sesudah Perang Dunia II.

#61. Who Moved my Cheese? By Spencer Johnson

Tentang keberanian melawan kebiasaan, berani mengambil tindakan radikal.

#62. The March by E.L. Doctorow

Tentang perang saudara Amerika.

#63. Pseudonim by Daniel Mahendra

Tentang penulis galau yang jatuh hati sama calon dokter.

#64. Kampus Kabelnaya by Koesalah Subagyo Toer

Tentang pengalaman kuliah di Rusia.
*VIII. Agustus – 12 buku
The Dante Club terbaik, lika-liku proses alih bahasa buku legendaris.

#65. The Summons by John Grisham

Tentang panggilan mendadak orangtua untuk mudik, dan misteri besar di baliknya.

#66. Malapetaka Indonesia by Max Lane

Tentang sejarah kelam ’65.

#67. Dari Belakang Gawang by Mahfud Ikhwan & Darmanto Simaepa

Tentang rona-rona bola dalam esai duet.

#68. Sosiologi by Drs. Soedjono D. SH

Tentang teori sosiologi yang panjang merentang.

#69. Upacara Bakar Rambut by Dian Hartati

Tentang adat dan efeknya.

#70. Jalan Udara by Boris Pasternak

Tentang gejolak Rusia di masa perang dingin.

#71. The Dante Club by Matthew Pearl

Tentang Amerika yang mencoba menerima puisi Dante, biasalah selalu ada yang menentang, atau terinspirasi?

#72. Kota Kucing by Haruki Murakami

Tentang kota antah misterius, kereta berhenti di negeri aneh.

#73. Penyair Revolusioner by Deddy Arsya

Tentang syair-syair meledak.

#74. Firebelly by J.C. Michaels

Tentang katak yang menekuri hidup.

#75. Zahiya by Najib Mahfuz

Tentang kafe dan masyarakat di sekitarnya.

#76. The Things They Carried by Tim O’Brien

Tentang perang Vietnam, barang-barang seberat itu dibawa menjelajah.
*IX. September – 10 buku
Buku-buku bagus, terbaik Eichmann in Yerusalem. Dibuat dengan intensitas ketegangan proses pengadilan.

#77. Breaking PoetryAntologi

Jelex.

#78. The NotebookNicholas Spark

Tentang manula yang hilang ingatan, dan coba dingatkan pasangan.

#79. Eichmann in YerusalemHannah Arendt

Tentang proses pengadilan kejahatan perang di tubuh Nazi.

#80. IdentityMilan Kundera

Tentang pasangan galau, krisis identitas.

#81. The Silence of the LambsThomas Harris

Tentang pembunuh berantai membantu memecahkan kasus pembunuhan berantai.

#82. Think Like a FreaksSteven D. Levitt & Stephen J. Dubner

Tentang pemikiran aneh untuk hasil luar biasa.

#83. The Return of the Young PrinceAG Roemmers

Tentang pangeran dan sopirnya dalam perenungan di jalan.

#84. BibirKrishna Mihaedja

Tentang ucapan yang mencipta dengung apa saja.

#85. Perkara Mengirim Senja –Tribute untuk SGA

Tentang senja dan segala isinya.

#86. Haniyah dan Ala di Rumah TeterugaErni Aladjai

Tentang kehidupan di kebun teh.
*X. Oktober – 14 buku
Rerata bacaan Kusala Sastra, terbaiknya tetap Haruki. Akhirnya buku 900 halaman itu selesai baca.

#87. Damar KambangMuna Masyari

Tentang adat Madura yang keras.

#88. Yogya YogyaHerry Gendut Janarto

Tentang nostalgia ke Yogya.

#89. Rekayasa BuahRio Johan

Buku jelex lagi.

#90. Looking for AlaskaJohn Green

Tentang pencarian jati diri remaja.

#91. Semesta MurakamiJohn Wray, dkk

Tentang kehidupan yang idola.

#92. Anak Asli Asal MappiCasper Aliandu

Tentang pengalaman mengajar di Papua.

#93. Jalan MalamAbdul Wachid B.S

Tentang muhasabah dan ziarah dalam bait.

#94. Segala yang Diisap LangitPinto Anugrah

Tentang Islamisasi di Sumatra.

#95. Revolusi NuklirEko Damono

Tentang masa depan yang misterius.

#96. Bunga Kayu ManisNurul Hanafi

Tentang pasangan saling menghargai.

#97. Cerita-cerita yang Sedih dan MenakjubkanRaudal Tanjung Banua

Tentang masa lalu dalam dongeng.

#98. Kronik Burung PegasHaruki Murakami

Tentang suami yang ditinggal istri.

#99. Ramuan Penangkal Kiamat Zelfeni Wimra

Tentang dahwah yang hakiki.

#100. The Homeless BirdGloria Whelan

Tentang remaja janda yang kehilangan rumah.
*XI. November – 15 buku
Nama besar Terry Pratchett, ini novel pertamanya yang kuselesaiakan. Memang warbiasa.

#101. Moby DickHerman Merville

Tentang perburuan paus istimewa.

#102. The Great Guest RescueEva Ibbotson

Tentang penyelamatan hantu-hantu terusir.

#103. The Black CatEdgar Allan Poe

Tentang mitos dan horror tersaji.

#104. Pria Cilik MerdekaTerry Pratchett

Tentang perjuangan menyelamatkan saudara di negeri berantah.

#105. BuddhaDeepak Chopra

Tentang riwayat Buddha dari lahir hingga mencapai nirwana.

#106. Melipat JarakSapardi Djoko Damono

Tentang waktu yang relatif.

#107. Cara Mencari Kawan dan Mempengaruhi OrangDale Carnegie

Tentang upaya membuat takjub orang lain.

#108. Kembang SepasangGunawan Maryanto

Tentang budaya Jawa dalam pentas.

#109. Klik!Nick Hornby, dkk

Tentang kamera bergenerasi berikut.

#110. 1 Perempuan 14 Laki-lakiDjenar Maesa Ayu

Tentang kopi dan cipta karya per kalimat.

#111. Arang PerempuanArini Hidajati

Tentang perempuan tegar dan sendu.

#112. Seekor Anjing Mati di Bala MurghabLinda Christiany

Tentang perang dan efeknya.

#113. Puisi Baru Sutan Takdir Alisjahbana

Tentang puisi lama tahun 40-an ke bawah.

#114. A Golden WebBarbara Quick

Tentang dokter perempuan pertama yang menemukan alir darah dalam tubuh.

#115. DepresiDr Paul Hauck

Tentang tata cara menghadapi stress.
*Desember – 15 buku
Akhir tahun terbaik sekuel Little Women. Keren abis.

#116. Kau Gerimis dan Aku Badai by Wahyu Heriadi

Tentang puisi kehidupan.

#117. Rumah Mati di Siberia by Fyodor Dostoevsky

Tentang orang-orang terpenjara di sana.

#118. The March’s Captain by Geraldine Brooks

Tentang detail ayah/suami di medan perang.

#119. Jatisaba by Ramadya Akmal

Tentang kehidupan desa yang keras dalam pemilihan Lurah.

#120. Asal Muasal Pelukan by Candra Malik

Tentang pelukan melibat dua individu, ada sejarahnya.

#121. Nama Saya Tawwe Kabota by Mezra E. Pellondou

Tentang pria nakal yang menyesali banyak hal.

#122. Adu Jotos Lone Ranger dan Tonton di Surga by Sherman Alexie

Tentang kehidupan di revervasi.

#123. Cinderella Man by Marc Cerasini

Tentang petinju 30-an yang fenomenal.

#124. The Runaway Jury by John Grisham

Tentang pemilihan juri dan kasus rokok heboh.

#125. Sang Belas Kasih by Haidar Bagir

Tentang tafsir surat Ar-Rahman.

#126. Manajemen Strategik Koperasi (kolabs)

Tentang koperasi dan strategi pengembangan.

#127. My Grandmother asked me to tell you She’s Sorry by Frederick Backman

Tentang cucu yang memiliki tugas menyampaikan surat-surat Sang Nenek.

#128. My Sister’s Keeper by Jodi Picoult

Tentang Si Bungsu yang melawan.

#129. Penjual Bunga Bersyal Merah by Yetti A. KA

Tentang penjual bunga di pinggir jalan.

#130. Malam ini Aku Tidur di Matamu by Joko Pinurbo

Tentang rona-rona dalam bait.

Lakukan apa yang kamu senangi, selama tak menyusahkan orang lain itu baik. Membaca buku jelas ada di urutan atas daftar kenikmatan hidup. Saya takkan mengeremnya, saya jalani dengan nyaman dan damai. Bagaimana tahun ini? sepertinya tak akan jauh beda. Sehat-sehat semuanya. Salam Literasi dari Karawang, dengan cinta.

Karawang, 030221 – Steve Goodman – The Dutchman

Terima kasih buat seluruh penjual buku, kalian luar biasa, kalian keren!

14 Best Books 2021 – Fiksi/Lokal

Kekayaan, kedudukan, kekuasaan, kepandaian, dapat mematikan rasa. Mati rasa berarti hilang kemanusiaan kita. Hidup ialah bagaimana kita merasakan sesuatu. Bukan bagaimana kita memiliki kemewahan, kekuasaan, kekayaan.” – Pasar, Kuntowijoyo

Tahun 2021 setelah dipertimbangkan lebih masak, untuk fiksi saya pecah lokal/terjemahan sahaja sebab terjemahan terlalu dominan. Total fiksi lokal kubaca 49 buku. Kupadatkan jadi 14 seperti biasa. Sebuah kebetulan, yang terbaik buku terbitan tahun lalu. Dan secara kebetulan pula, pas daftar ini kupos di instagram, muncul info buku nomor satu masuk daftar pendek buku Prosa Tempo 2021.

Berikut daftar buku non-fiksi terbaik yang kubaca tahun 2021 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. Kuda Kayu Bersayap by Yanusa Nugroho (Tiga Serangkai) – 2004

Ini adalah buku beli yang acak, artinya saya tak mengenal sang Penulis, yang ternyata sudah melalangbuana di banyak media, penulis senior yang katanya, sesuai pembuka pengantar penerbit: Ngerokok. Ngopi. Ngarang. Perjudian menikmati karya ‘asing’ seperti ini memang jarang membuahkan hasil Ok, jelas ini adalah daftar sedikit itu. Cocok seperti yang dibilang sama Bung Yanusa, “Menulis, sebagaimana halnya makan dan minum, adalah kebutuhan. Kebutuhan untuk mengungkap sesuatu…”

#13. Revolusi Nuklir by Eko Damono (Basa Basi) – 2021

Lelah, tapi puas. 22 cerpen dalam buku kecil 200 halaman. Sebagian sudah diterbitkan di media, sebagian besarnya belum. Semua yang berkisah di masa depan tampak kurang, atau kalau mau jujur tampak aneh. Burung besi berkisah, pohon android, dst. Semua yang dikisahkan di perjalanan gunung, tampak nostalgia. Ibadah puisi di Rinjani, petualang sekual Apocalyto, dst. Semua yang dikisahkan secara flashback tampak nyata, atau nyata yang dimodifikasi. Telinga putus, pacar yang hamil berencana memberi kejutan yang malah mengejutkan, hotel Kurt Cobain, dst.

“Di dunia ini terlalu banyak serba kemungkinan, dan kita dipaksa untuk meneruskan hidup.”

#12. Pseudonim by Daniel Mahendra (Grasindo) – 2016

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen yang jumlah kata lebih sedikit, dan sewajarnya tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua pembaca itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak faktor. Salah satunya tentu saja selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasarnya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

“Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

#11. Luka Batu by Komang Adnyana (Mahima Institute Indonesia) – 2020

Kisahnya berkutat di Bali, tempat sang penulis tinggal dan dibesarkan. Kebanyakan dari kita memang paling nyaman menulis tentang hidup kita dan sekeliling kita, jadi seolah dituturkan langsung dari pengalaman hidup. Relevan dan masuk akal, sebab akan tampak aneh dan tak berlogika jika kita yang lahir dan besar di Indonesia bercerita tentang dinginnya salju negeri Swiss.

“Kuatkan dirimu. Semoga mereka mendapat hukuman yang sesuai.”

#10. Bunga Kayu Manis by Nurul Hanafi (JBS) – 2021

Bunga Kayu Manis menawarkan jenis keindahan kata-kata (atau di sini berarti tulisan), dipilih dan dipilah dengan mujarab oleh Bung Nurul Hanafi. Beberapa bagian mungkin tampak terlampau lebai, atau ngapain melihat senja dari jembatan saja melankolis, itukan hal yang lumrah tak ada yang istimewa dari matahari jelang terbenam, umpamanya. Namun memang itulah keunggulan kata-kata, banyak hal dicipta berlebihan, dan terasa sentimental. Memang mudah tersentuh saat kita bicara kenangan, angan dalam kepala tentang masa lalu, setiap orang beda-beda, dan semakian mendayu, semakin terasa feel-nya.

“Hujan terlalu larut dan luka.”

#9. Damar Kambang by Muna Masyari (KPG) – 2020

Pembukanya fantastic. Seorang istri yang ngalah, legowo atas apapun keputusan suami. Dengan setting Madura, terkenal dengan adu karavan sapi dengan festival Gubeng sebagai puncaknya. Seorang suami gemar berjudi, memertaruhkan segalanya. Kemenangan/kekalahan timbul tenggelam bersama waktu. Apa yang dipertaruh berbagai hal, berbagai jenis; motor, sapi, emas, tegalan, dan pada puncaknya adalah rumah dengan segala isinya. Narasi pembuka membuat kuduk berdiri sebab sang suami kalah, dan Si Buntung berhasil membalas, ia beserta ‘dukun;’-nya datang mengambil piala kemenangan. Dahsyat bukan? Pembuka yang memesona sejenis ini biasanya langsung menegakkan punggung dan memancing konsentrasi berlebih guna terus berkutat mengikuti cerita, banyak yang tumbang gagal memertahankan tempo, sedikit yang berhasil hingga garis finish. Damar Kambang termasuk yang sedikit itu, walaupun sesekali temponya memang harus sedikit teredam. Aku baca sekali duduk di Jumat pagi yang cerah. Untungnya, suami-istri di pembuka ini identitasnya tak dikuak, fakta ini akan jadi semacam tautan yang ditaruh di tengah kecamuk adu sihir. Perhatikan sahaja, buku yang berhasil salah satu faktornya para tokoh memiliki motif yang kuat untuk mengambil tindakan, tindakan dijalankan dengan logika dasar. Tak perlu muluk-muluk, tak perlu ndakik-ndakik.

“Orangtua memang harus selalu dibenarkan ya.”

#8. Segala yang Diisap Langit by Pinto Anugrah (Bentang Pustaka) – 2021

Ringkas nan memikat. Hanya seratusan halaman, kubaca hanya sejam sekali duduk selama satu setengah jam pada Sabtu, 16 Oktober 2021 selepas Subuh. Langsung ke poin-poin apa yang hendak dituturkan. Tentang Islamisasi di tanah Sumatra di masa Tuanku Imam Bonjol. Mengambil sudut pandang sebuah keluarga lokal yang kalah dan tersingkir. Segalanya jelas, tapi akan mencipta keberpihakan abu-abu.

“Tatapanmu, tatapan pesimis dan penuh amarah! Tidak baik memelihara tatapan seperti itu! Setan-setan akan senang di dalamnya, mereka akan berpesta pora di matamu!”

#7. Jatisaba by Ramadya Akmal (Grasindo) – 2017

Bagus. Ini adalah novel kedua Ramayda Akmal yang kubaca setelah Tango dan Sadimin yang luar biasa itu. Cerita masih berkutat dalam realita muram kehidupan kampung dengan segala problematikanya. Kali mengangkat isu pemilihan kepala desa, buruh migran, dan kenangan masa kecil yang menguar mengancam. Dedikasi akan kampung halaman bisa dengan berbagai macam cara, tapi merenggut para pemudi untuk diangkut ke negeri seberang dengan berbagai iming-iming, dan tahu bakalan amburadul, jelas bukan dedikasi yang laik ditiru. Sayangnya, ini bukan isapan fiksi belaka.

“Kau selalu meminta yang tak mungkin ketika seluruh kemungkinan di dunia ini aku persembahkan kepadamu.”

#6. Melipat Jarak by Sapardi Djoko Damono (GPU) – 2015

Begini rasanya membacai puisi bagus tuh. Sebelum-sebelumnya sulit masuk atau ngawang-awang, atau tak tentu arah. Dalam Melipat Jarak, yang dominan adalah narasi. Bukan per bait yang rumit. Kata-katanya juga umum, temanya sederhana, tapi pilihan katanya mewah. Singkatnya, enak dibaca. Mau nyaring atau rilih, sama nyamannya. Beginilah puisi sejatinya dicipta. Buku ini berisi 75 sajak yang dipilih oleh Hasif Amini dan Sapardi Djoko Damono dari buku-buku puisi yang terbit antara 1998-2015 yakni Arloji, Ayat-ayat Api, Ada Berita Apa Hari ini, Den Sastro?, Mata Jendela, Kolam, Namaku Sita, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, dan Babad Batu. Oh, ternyata ini sejenis album terbaik terbaik, atau kalau CD/ kaset The Best of The Best-nya. Versi kedua setelah sebelumnya sudah pernah dibuat dalam rentang, 1959-1994 yang termaktup dalam buku Hujan Bulan Juni yang pertama terbit 1994.

Tiga Sajak Kecil: “Mau ke mana, Wuk?” / “ke Selatan situ.” / “Mau apa, Wuk?” / “Menangkap kupu-kupu.”

#5. Puisi Baru by Sutan Takdir Alisjahbana (Dian Rakyat) – 1946

Ini adalah kumpulan puisi dari masa lalu. Pertama terbit tahun 1946, pasca Indonesia merdeka. Yang kubaca adalah cetakan ke-10, 1996 sehingga banyak pula tambahan puisi-puisi di era Revolusi. Yang jelas, Sutan Takdir Alisjahbana memilih dan memilahnya dengan jitu. Campuran gaya dan jenis syairnya. Terlihat klasik, daftar isi ada di muka kanan seperti membaca buku-buku Arab. Terdiri 19 penyair, termasuk Sang Penulis. Benar-benar buku bagus, bisa jadi langka ini sebab puisi-puisi lama (di sini disebut baru) ini akan sulit dicari nantinya. Termasuk beruntung bisa menikmatinya di era digital yang serba wuuuz…

Ah, dunia! Dunia! / Saya pusing di atas kau. / Adakah sudah suratan saya / Akan selalu menghimbau-himbau?Betapa Seni, OR. Mandank

#4. Kritikus Adinan by Budi Darma (Bentang) – 2017

Ini adalah buku kedua Bung Budi Darma yang kubaca setelah Rafillus yang absurd itu. Langsung jadi penulis idola, tampak unik dan luar biasa aneh. Kumpulan cerpen ini sama absurd-nya dengan Rafillus, tokoh-tokohnya tak biasa. Nama-nama juga nyeleneh. Dilengkapi ilustrasi ciamik di tiap cerita, rasanya memang pantas kukasih nilai sempurna.

Rasanya buku-buku Bung Budi Darma hanya masalah waktu untuk dikoleksi, salah satu penulis besar tanah air. Apalagi kabar terbaru buku Orang-Orang Bloomington kini sudah duterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Penguins. Orang Indonesia pertama yang berhasil melakukannya. Kritikus Adinan rasanya hanya masalah waktu pula untuk menyejajarkan diri.

“Dengan mendadak kamu mengunjungi saya, Malaikat. Apa sebenarnya dosa saya? Sejak kecil saya selalu berusaha berbuat baik.”

#3. Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan oleh Raudal Tanjung Banua

Menakjubkan! Ya, itulah komentarku seusai membacai. Campur aduk perasaan, dijabarkan dengan sabar, disajikan dengan istimewa. Cerita-cerita masa kecil dari orangtua, paman sampai neneknya, kita melangkah lanjut ke tema-tema masa lalu yang lebih umum, menorehkan kenangan. Menulis tentang masa lalu, sekali lagi kubilang sungguh aktual. Dan lebih mudah diimajinasikan. Sungguh nyaman, asyik sekali diikuti, seolah membacai memoar, menelisik nostalgia.

“Sering-seringlah memandang Bukit Talau. Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan.”

#2. Pasar by Kuntowijoyo (Mataangin) – 1995 *

Novel dengan penggambaran detail mengagumkan. Mencerita apa adanya keadaan pasar dan par penghuninya. Sejatinya setting hanya satu tempat dari mula sampai jelang akhir. Pasar dan situasi yang ada. Orang-orangnya juga itu-itu saja, berkutat melelahkan. Pada dasarnya menggambarkan sifat manusia yang mengingin nyaman, ketika terusik maka ia marah, dan saat keinginan-keinginan tak terkabul, jadi petaka. Minim konflik tapi sungguh menohok saat masalah itu dilemparkan ke pembaca.

“Kalau macan mati meninggalkan belang, Pak Mantri mati meninggalkan tembang.”

#1. Anwar Tohari Mencari Mati by Mahfud Ikhwan (Marjin Kiri) – 2021

Berkelas. Bagus sekali. Rentetan katanya menyemburkan degub khawatir dan caci maki kepuasan. Dalam puncak ketegangan, saya benar-benar menikmati adu jurus di atas jembatan itu. Setidaknya tiga kali pada bab pertarungan kusela tepuk tangan dan kepal tangan. Bravo! Cerita-cerita pun mengalir dahsyat, dan saya hampir mengeluarkan HP buat kubaca rekam. Mungkin akan kulakukan nanti pas baca ulang. Bergaul dengan Warto Kemplung membuatku berlajar seni bercerita. Senyumnya bagai sambaran kilat, dan berhasil memainkan tempo.

“Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”

Panjang umur kesehatan, panjang umur keuangan. Semoga tahun ini bisa lebih banyak lagi karya lokal yang kunikmati, bisa lebih nyaman, enak, dan berkembang. Panjang umur para penulis lokal, dedikasi kalian untuk literasi Indonesia patut diapresiasi.

Karawang, 100122 – Sammy Davis Jr. – Dedicated to You

Pseudonim #21

Pseudonim #21

“Lho-lho? Kenapa jadi nyalahin Maya?”

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen saja yang jumlah kata lebih sedikit, dan tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua orang itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak waktor. Salah satunya selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasaranya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

Buku dibuka dengan kutipan: “Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; Kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam sendiri.” – Multatuli, Max Havelaar.

Itulah yang pertama terbesit sesaat setelah menyelesaikan baca Pseudonim. Plotnya sudah umum, tipikal sekali. Cinta diapungkan, kelesuan menghadapi perubahan, adaptasi yang berhasil, lantas saat kenyamanan sudah diraih, kita dihadapkan masalah pelik. Umum bukan? Bahkan cara menyampaikan kata akhir, sebagai bukti bahwa ‘apa yang ditulis itu adalah ini’, sudah banyak kutemui. Sehingga tak mengejutkan sama sekali, bagi yang sudah banyak melahap bacaan pola ‘apa yang ditulis itu adalah ini’ sudah terlihat biasa. Namun untuk Pseudonim, beberapa kerikil masalah itu relevan dan untungnya bagus.

Kisahnya tentang Wipra Supraba, penulis novel yang kere. Mengeluhkan banyak hal. Pembukanya bilang ia ditangkap polisi, ia mengeluhkan keadaan ekonomi yang amburadul, dan profesi menulis nyaris diiyakan dengan ‘kere’. Lalu nama asing di akhir pembuka diapungkan, “Dan di mana Radesya?” Kisah lalu ditarik mundur, di awal sekali bagaimana Pra memulai karier dan bagaimana lingkungan sekitar membentuknya.

Pertama kita diperkenalkan Suhar, sahabat kuliah jurnalistik Unpad yang sudah menikah dan tinggal Jakarta. Ia selalu mendorong Pra untuk menulis novel, walau sudah punya beberapa karya ia, tak kunjung menemukan karya monumental yang bisa mengangkat namanya. “A good writer always work at the impossible.”John Steinbeck. Ia nganggur, sesekali dapat order menyupir sobatnya di Bandung, Saefullah yang hidup lurus dan vegetarian. Manusia pekerja keras yang berjuang dari bawah. Punya rental juga usaha merangkak bukan warisan atau turunan. Lulusan SMU berjiwa membumi.

Lalu kita diperkenalkan dengan Ardi, orang penting di dunia entertainment nasional. Menjadi penghubung banyak hal, awalnya Pra ditantang untuk menulis skenario kartun sebab sudah pengalaman nulis novel. Dengan kerja keras dan sudah banyak literature, tantangan itu sukses dilewati. Keuangannya membaik hingga bisa punya laptop bagus, tinggal di tempat yang laik, dan terutama bisa jalan-jalan saat proyek animasi lagi senggang.

Nah, ini mungkin yang paling menyebalkan. Ia memiliki lima pacar dalam waktu bersamaan. Kemala di Jakarta, Luska di Bandung, Kirana di Yogya, Alinka di Surabaya, dan Pradnya di Bali. Kelimanya digilir, pas kerja di Jakarta dengan entengnya support pacar tampil. Pas mudik Bandung, santainya jalan dengan yang lokal, pas punya waktu luang cus ke  Yogya, lanjut Surabaya, dan berakhir pekan ke Bali. Kan kamvret, sampai di bagian ini saya sempat muak. Ga gitu bos hidup, enak aja. Apalagi mereka berlima loyal, seolah Pra adalah sultan, raja di raja dengan kekuasaan atau uang melimpah. Oh dia kere, dan penulis tak terkenal. Bisa-bisanya… sabar, tenang saja dulu. Akan ada masanya semua runtuh. Kesendirian dan kesepian adalah dua hal yang nyata berbeda. Sendiri adalah objektif, sementara kesepian itu subjektif.

Dan benar saja, Ardi menyampaikan kabar buruk. Serial animasi dihentikan, proyek cinema juga batal sebab PH nya ambyar karena mengganti uang konser yang gagal, hingga pada titik di mana Pra kembali miskin, semiskin-miskinnya. Menjual yang bisa dijual, serta kembali ke Bandung nebeng rumah orantuuanya. Dan kembali ke biasaan lama, bertahan hidup dengan nyupir kalau ada order. Gila adalah menyerah di tengah jalan, padahal sukses telah menunggunya di ujung jalan.

Sudah bisa ditebak juga, sebuah alur yang menyakitkan tapi setimpal mencipta kelima pacarnya mengetahui perbuatannya selingkuh. Eh empat ding, Pradnya yang akhir disampaikan dengan jujur bahwa selama ini ia tak sebaik yang dikira, berakhir pula hubungan pacar. “Perempuan selalu menunggu kepastian, Pra.” Kenapa Pra bisa setega itu, Saefullah menjadi saksi kisah bagaimana hatinya hancur sama Maya.

Dari Ardi pula kita diarahkan mengenal seorang penulis skenario sinetron Satar. Karena kalang kabut order melimpah, ia menawarkan pada Pra untuk membantunya, menulis skenario bayangan. Namanya tak disebut, ia hanya membuat skenario dengan nama yang menjual Satar. Terdengar memuakkan, tapi uangnya bagus. Maka dicoba, dan berhasil. Kini aku menusia praktis, yang hidup, bekerja, demi uang, untuk menyambung hidup kembali. “… Kamu bisa menggiring cara berpikir kebanyakan orang di Indonesia melalui sinetron.”

Perlahan segalanya kembali membaik, lalu muncul godaan dari penulis skenario lain yang mencium alibinya. Landung menawarkan uang lebih plus bonus untuk FTV, sulit sekali memberontak, menghianati, tapi ini uang lebih wow. Sikat! Keadaan ini lebih menggiurkan saat bertemu gadis yang idealnya kebangetan.

Aku selalu takut ketika harus bertemu apalagi berdekatan dengan seseorang yang berhasil membuatku bergetar. Radesya adalah dokter, bertemu dengannya di kafe apartemen saat ngopi. Membaca buku The Celestine Prophecy karya James Redfield, yang kebetulan dibaca Pra juga. Kalau ini benaran ada, luar biasa indah, menggigit imajinasi semua orang. “Karena kita sama-sama nggak percaya kebetulan.” Radesya tinggal di apartemen nomor 1503 di lantai 15 hanya berjarak satu lantai dengannya.

“… Lalu aku mikir, spesialis apa yang nggak menimbulkan fitnah saat aku nanganin pasien? Tiba-tiba aku kayak dapat jawaban: anak! Maka itulah yang kuambil. Sederhana ‘kan?” Dokter anak yang lanjut kuliah lagi, bercita memiliki klinik di pedesaan, mudik beberapa kali tiap bulan ke Bandung dengan Jazz merah! Aku lelaki yang tak pernah mengizinkan cinta menjadi jangkar pada setiap pelabuhan. Untuk kali ini bisa jadi pengecualian.

Lalu segala-galanya ambyar.

Sejujurnya kisah dalam Pseudonim lebih mendekati plot sinetron dengan penawaran mimpi-mimpi indah, untungnya seperlima akhir menyelamatkan. Riaknya mewarnai fakta, hidup ini pahit gan. Ga begitu menjalaninya, rona-rona kemarahan harus ada, dinamika kesedihan harus membuncah, dan satu lagi, akhir yang ‘agak menggantung’ ditampilkan. Seperti kalimat akhir bab pertama, di mana gerangan gadis aduhai itu?

Banyak kutipan bagus ditampilkan, dan itu sah-sah saja, “Cinta. Tentang kerinduan untuk kembali pada asal-usul yang sejati.”Plato. Lalu “Cinta adalah ketika kuat kau rasakan kehadiran Tuhan dalam pasanganmu.”Sudjiwo Tedjo. Atau “Apa pun yang menjadikan tergetar, itulah yang terbaik.” – Rumi. Tapi yang paling keren mungkin ini, “Kepalaku adalah parbik kata-kata dan jari ini adalah buruhnya.” Lisa Febrianti (Iluminasi, 2009)

Satu lagi yang laik kutip, walau sudah sangat sering kita temui makna kalimat ini, terutama dari Pram. Sobarnya bilang, “Ketimbang nulis skenario pake nama samara terus, nggak menjadikamu siapa-siapa. Sejarah aja nggak sudi mencatat namamu. Apalagi karyamu. Sementara kalo nulis novel, karyamu abadi. Usiamu panjang. Sepanjang masa.”

Pilihan nama-nama karakter sangat modern terutama untuk tokoh penting, tak ada kata Joko, Agus, Budi, Asep. Walau ada Saefullah atau Suhar, tetap saja mereka tokoh pembantu. Hampir semua nama tokoh idalaman sungguh catchy, sangat stylist. Kemala Luska Kirana Alinka Pradnya adalah rentetan nama kekasihnya, dan di akhir bahkan ketemu nama Radesya untuk cewek ideal kebangetan. Sah-sah saja namanya juga fiksi.

Ini adalah karya pertama Daniel Mahenda yang kubaca. Ada sekitar 28 karya lainnya, beberapa di antaranya Selamat Datang di Pengadilan (kumpulan cerpen, 2001), Epitaph (novel, 2009), Perjalanan ke Atap Dunia (travel narrative, 2012), Niskala (novel, 2013), 3360 (novel, 2014), Rumah Tanoa Alamat Surat (kumpulan cerpen, 2016). Seperti biasa, berhubung trial pertama ini sukses, maka rasanya buku-buku lain hanya masalah waktu untuk dilahap. Selamat!

Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

Pseudonim | by Daniel Mahendra | Desain kover Mico Prasetya | Penata isi Widia Novita | Copyright 2016 | ISBN 978-602-375-596-7 | Cetakan pertama, Juli 2016 | Penerbit Grasindo | Skor: 4/5

Karawang, 210721 – New York Jazz Lounge – Bar Jazz Classic

#30HariMenulis #ReviewBuku #21 #Juli2021

Sumur #16

“Setiap buku langka adalah buku curian.”

Satu cerpen dalam satu buku. Terdengar gila ‘kan? Gila nggak? Ya aja deh. Biasanya kita disuguhi kumpulan cerpen, minimal dua atau tiga cerpen. Berarti ini diluar biasanya, hanya Eka Kurniawan yang bisa. Penulis lokal dengan ketenaran dan jaminan mutu. Hebatnya lagi, laris. Dari beranda sosmed saat masa pre-order dibuka dari harga 50k menjadi 40k, banyak sekali toko buku daring yang pajang sold out. Mendekati hari H penutupan, saya yang penasaran malah ikutan klik beli. Dan, setelah #unboxing, ini benar-benar satu cerpen dijual lima puluh ribu rupiah! Dibaca lima menit. Kalau value biaya (saat ini) jelas kurang worth it, tapi kembali ke kualitas yang utama. Eka adalah brand, di mana namanya yang tercetak di sampul memberi rasa penasaran, minimal ada keinginan menikmatinya.

Cerpen ini pertama terbit dalam bahasa Inggris di antologi Tales of Two Planets dengan judul ‘The Well’ yang diterbitkan oleh Penguins Books tahun 2020. Kisahnya tentang hikayat sejoli yang saling mencinta tapi kandas karena keadaan. Lihat, tema usang kasih tak sampai kalau dicerita dengan mantab menghasilkan thriller bermutu.

Adalah Toyib yang sedari kecil mencintai Siti dari kampung sebelah. Setiap pagi berangkat sekolah bersama, kadang berdua, kadang ramai-ramai. Garis nasib mencipta, ayah keduanya berduel hingga ayah Siti mati. Gara-gara sepele, masalah pembagian pengairan sawah. Ayah Toyib setelah kabur ke hutan, berhasil ditangkap lalu dibui. Keadaan ini jelas turut serta membawa sejoli ini merenggang, ada aib dan sengsara yang memisahkan mereka.

Setelah empat tahun delapan bulan, ayah Toyib bebas. Ia banyak belajar memperbaiki mesin semasa di penjara. Ia bahkan berhasil mengumpulkan uang dengan jasanya, dan uang itu ingin diberikan kepada Siti, lewat Toyib. Berat, tapi diiyakan.

Nah, ada sebuah sumur di lembah, di balik bukit seberang perkampungan. Satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan. Siti melaksanakan tugas mengambil air, Toyib juga. Kesempatan ini dipakai untuk menyampaikan niatnya. Sore itu mereka bertegur sapa dalam canggung. Saat niat utama disampaikan, hanya satu kata yang terucap dari sang gadis, “Tidak.”

Siti yang coba menghindar terjatuh dan luka kakinya, Toyib mencoba membantu. Berikutnya seolah mendapat amanat memikul dua ember untuk dua keluarga ini. Siti diam, dan dianggap sepakat saja. Waktu lalu mencipta perubahan, Toyib diterima masuk rumah dan ibu Siti yang menerima bungkusan tersebut. Saat ditanya di mana Siti? Ternyata sudah berangkat merantau ke kota. Pupus sudah harapan itu…

Dan begitulah, perpisahan tanpa kata-kata itu mencipta jarak yang sungguh lebar. Kabar satu tertimbun kabar lainnya, masa membawa manusia-manusia ini dewasa dengan sangat cepat. Siti menikah, Toyib patah hati dan berniat mencari kerja ke kota, tragedi lain terjadi, dan sekali lagi saat ada kesempatan kedua, akankah cinta pertama ini dapat dipersatukan?

Pertanyaan mendasar orang yang menikah, “Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?” Sejatinya bukan khusus untuk orang-orang pacaran yang kandas ke pelaminan. Ini pertanyaan umum, bahkan bagi pasangan yang saling mencinta, saling berjanji sejati, saling sepakat untuk setia, menikahi orang terkasih. Masa akan melindas banyak sekali kenyataan pahit manis, dan pertanyaan itu layak diapungkan juga. Dunia fana yang membuncah tanya, masa depan yang misterius.

Dihadiahi jaket buku yang manis dan pembatas buku sederhana dengan pesan makjleb dari Penerbit. “Terima kasih telah membawa pulang Sumur karya Eka Kurniawan. Buku ini hanya dicetak sekali. Pada suatu saat nanti dia akan menjadi langka. Semoga kamu senang membacanya. Seperti kami yang bersuka cita saat menyiapkan kelahirannya.” Semoga saja benar hanya dicetak sekali, karena antusiasme yang tinggi dan gegap gempitanya terasa, setelah sebulan terbit hypenya masih meriah, akankah suatu masa berubah pikiran? Ya, saya sepakat suatu hari akan langka. Kriteria langka itu bagaimana? Burt Auerback, juru tafsir buku langka di Manhattan pernah bilang, “Buku langka adalah buku yang harganya jauh lebih mahal sekarang daripada saat diterbitkan.”

Kolektor buku dari Amerika, Robert H. Taylor berkata, “Buku langka adalah buku yang sangat kuinginkan dan tidak bisa kutemukan.” Saat orang-orang menjawab serius, mereka semua sependapat bahwa ‘rare’ – langka, adalah istilah yang sangat subjektif. Satu-satunya kualitas ‘langka’ yang disepakati para kolektor adalah kombinasi kejarangan, kepentingan, dan kondisinya.

Ada kasih unik masalah ini, buku langka Tamerlane and Others Poems ditulis oleh pengarang tanpa nama yang hanya diidentifikasi sebagai, “Seorang Warga Boston.” Lalu berjalannya waktu baru diketahui ternyata adalah karya Edgar Allan Poe saat berusia 14 tahun. Buku setelah 40 halaman yang dicetak tahun 1827 oleh percetakan yang biasa mencetak resep, harga awalnya hanya 12 sen, dan kini setelah ratusan tahun berselang harga dalam lelang bisa mencapai 200 ribu dollar! Nilai Tamerlane yang biasa-biasa saja saat pertama terbit, tampak biasa saja, dibuat hanya 50 sampai 500 eksemplar, kini menjadi legenda dan tercatat hanya ditemukan 14 buku. Lihat Sumur, kita bukan cenayang, tapi kalau Penerbit komitmen tak mencetaknya lagi, tak sampai seratus tahun lagi bukankah tak mustahil berwujud prediksinya? Mirip semua ‘kan, kecuali nama Eka yang memang sudah sungguh terkenal.

Kasus dalam negeri yang paling terkenal tentu saja buku-buku awal Pram, harganya menggila. Semakin lama cetakannya semakin mahal. Saya pernah lihat di posting Facebook, ‘Arus Balik ‘dihargai sejuta lebih, kukira penjualnya gila. Eh ternyata ada komentar pembeli, itupun disusul komen lainnya yang turut antri!

Dalam buku, The Man Who Loved Books Too Much karya Allison Hoover Bartlett, “Selain menjadi kendaraan untuk menyampaikan kisah (dan puisi, informasi, referensi, dll) buku merupakan artefak sejarah dan tempat berkumpulnya kenangan. Kita senang mengingat-ingat siapa yang memberi buku kepada kita, di mana saat kita membacanya, berapa usia kita, dan sebagainya.” Jadi semakin jelas alasan kenapa Sumur harus dicetak. Sepuluh dua puluh tiga puluh tahun lagi, buku ini akan jadi semacam artefak, dimana keunikan dan rare tadi akan lebih menonjol daripada isinya.

Sumur dan misteri diam. Kebetulan saya lagi baca Kronik Burung Pegas-nya Haruki Murakami. Ada kisah bersisian, bagaimana sang protagonist merenung ke dasar sumur tua yang sudah tak mengeluarkan air. Menapaki kesunyian dan mencapai ketenangan luar biasa, semadi yang menghasilkan tompel dan segala tanya dunia antah di dimensi lain. Sumur yang ini lebih kalem, perannya seolah hanya menjadi saksi biru cinta kandas dan membuncah. “Kamu bertemu Siti di sumur?”

Sumur | by Eka Kurniawan | GM 621202009 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Mirna Yulistianti | Desain sampul & ilustrasi Umar Setiawan | Setting Sukoco | Cetakan pertama, Juni 2021 | ISBN 978-602-06-5324-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 160721 – The Cranberries – Animal Instinct

#30HariMenulis #ReviewBuku #16 #Juli2021

Buku ini kubeli di Kedai Boekoe, Bekasi. Saya ambil sepaket sama Misa Ateis-nya Honore de Balzac. Kunikmati saat isoman, menjadikan serangkai buku (dan film) yang berhasil kutuntaskan.

Mencari Setangkai Daun Surga #13

Mencari Setangkai Daun Surga #13

Pablo Neruda: “Orang Spanyol mengambil emas kita, tapi kita memperoleh emas mereka. Yakni kata-kata.”

Kumpulan esai dengan banyak tema, diambil dari berbagai sumber yang pernah muncul di media massa dari pertama muncul sampai update buku ini dicetak tahun 2016. Variasi tema: sastra, politik, budaya, sampai olahraga. Bagian olahraga mungkin yang paling kurang, tak dalam. Bicara Piala Dunia yang dituturkan khas tabloid  Bola, umum dan tak personal. Bagian sastra yang luar biasa, memang spesialisasi beliau di sastra, maka tampak ditulis dengan menggebu dan nyaman dinikmati.

Tulisan singkat-singkat, tiga empat halaman jadi bisa dibaca santai. Hanya beberapa yang lebih panjang, dan tulisan singkat seperti ini terasa kurang dalam. Bagi saya yang bukan basic-nya sastra sudha banyak namanya muncul di kancah sastra nasional bahkan internasional, jelas isinya cukup bervitamin, karena diambil dari tulisan di media massa, kita menempatkan diri pada pembaca umum. Saat buku ini muncul di beranda jual, saya sempat tanya ke grup Buku untuk beli tidaknya, bukan karena nama Bung Anton-nya tapi apakah sudah ada yang baca? Ternyata belum baca buku ini tapi banyak menemukannya di artikel koran, dan memang nama Anton Kurnia jaminan, yo wes langsung kuangkut.

Sebagian besar yang kunukil di sini kutipan sahaja, sebab saya memang tak terlalu dalam mengkritisi isi. Apalagi bila ditulis dengan tergesa, dengan target sehari satu pos seperti saat ini. maka saya ambil kutipan dari dalam buku. Kurasa hal-hal indah seperti ini laik dibagikan. Enjoy it.

Tugas seorang penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun, itu tercermin dalam karya-karyanya. Nadine Goldminer

Mo Yan bernama asli Guan Moye, ia memilih nama pena yang berarti ‘Jangan Bicara’. Di kampung halamanannya kemiskinan adalah hal lumrah. Dan di masa Revolusi Kebudayaan (1966-1976) ia muncul dengan keunggulan, ia seorang otodidak yang tekun dan banyak membaca.

Gao Xingjian mengakui dengan jujur bahwa ia menulis untuk ‘mengusir rasa sepinya’ dan dengan rendah hati menyatakan ‘menulis untuk diri sendiri’ tanpa pretensi menyampaikan khotbah bagi orang banyak.

“Kita bisa memiliki apa yang kita inginkan, tapi kita harus memperjuangkannya agar bisa menikmati dengan layak.”

Sejak awal, sastra Amerika Latin adalah gugatan kritis yang mempertenaykan tatanan sosial masyarakatnya (kebobrokan warisan colonial, penindasan dan kekerasan oleh Negara, kemiskinan, dan keterbelakangan). Mengutip kata Jose Ortega, kritikus sastra Meksiko, sastra Amerika Latin adalah reaksi imajinatif terhadap segala pandangan funia, norma, dan pranata sosial yang datang dari Barat.

Carlos Fuentes menyatakan bahwa Sastra Amerika Latin adalah ‘sastra yang marah’ karena pusaran ‘rasa takut, kekejaman, cinta, dan maut’ yang berlangusng turun-temurun dari abad ke abad, dari satu penaklukan ke penaklukan lain, dari rezim yang satu ke rezim yang berikutnya.

Dalam esainya Alejo Carpentier mengatakan, “Menulis tentang tanah ini (Amerika Latin) dengan sendirinya akan menghasilkan sebuah karya sastra tentang kenyataan yang ajaib.”

Gabriel Garcia Marquez suatu kali menulis, “Tugas seorang penulis adalah menulis dengan sebaik-baiknya.” Dengan begitu penulis berbakti pada bangsanya.

Nadine Gordimer dalam pidato penyerahan Hadiah Nobel Sastra 1991 ‘Writing and Being’ menegaskan pendiriannya bahwa tugas penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun.

Orhan Pamuk bilang, “Terjemahan yang baik tak hanya berhasil mengantarkan kesamaan makna, tapi juga bisa mengikuti irama kata-katanya dengan tepat.”

Kuntowijoyo menegaskan bahwa mereka yang hidup di dalam mitos tak akan pernah bisa menangani realitas. Bagi guru besar bangsa ini, akar permasalahannya terletak dalam cara berpikir kita sebagai bangsa, yakni bagaimana meninggalkan kepercayaan terhadap mitos menuju cara berpikir berdasarkan realitas.

Kritik sosial. Lebih tragis lagi, di negeri ini buku kerap bernasib tak jauh beda dengan film prono, sama-sama sering dilarang beredar, bahkan terkadang dibakar di muka umum.

Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak boila, membaca karena ingin tahu berapa persen diskon obral besar di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca subtitle opera sabun di televisi untuk mendapat hiburan.

Joseph Brodsky, pemenang nobel sastra 1987, “Membakar buku adalah kejahatan, tapi ada lagi yang lebih jahat, yakni tidak membaca buku.”

Meminjam istilah Rendra, ‘orang yang berumah di angin’. Karena ini sering dianggap berbahaya.

Mochtar Lubis, sastrawan dan wartawan terkemuka kita yang pernah dipenjarakan tanpa diadili oleh rezim Sukarno, suatu kali menulis, “Seorang intelektual adalah ia yang tidak merintih ketika ditindas dan yang tidak menindas saat berkuasa.” Komitmennya adalah pada nilai-nilai kebenaran, bukan pada seseorang atau kelompok tertentu. Pertanyaan berikutnya, masih bisakan kita berharap pada kaum intelektual jika mereka telah menjelma menjadi teknokrat – alat kekuasaan – atau sekadar hamba partai?

Istilah ‘kiri’ dipahami secara umum mengacu pada komunisme, sosialisme, dan marxisme (walaupun ketiganya tentu saja berbeda). Sejak era Orde Baru, istilah ini jadi the invisible enemy – musuh tak kasat mata, bahaya laten, dan sebagainya.

Si vis pacem para bellum, pepatah latin yang berarti jika mau damai, siaplah perang. Sepintas jelas terdengar aneh dan paradoksal. Namun sesungguhnya yang dimaksud dari kalimat itu adalah jika kita tak mau diperangi orang, perkuatlah diri kita agar orang segan menyerAng kita.

Dalam Black Beauty karya Anna Sewell, si kuda bertutur, “Tak ada agama tanpa cinta. Banyak manusia yang senang berbicara tentang agama, tapi itu tak membuat mereka bersikap baik kepada sesama manusia dan binatang. Sungguh memalukan…”

Rendra bilang, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”

Salah satu ajaran Gandhi yang terkenal adalah penolakan terhadap tujuh dosa sosial, yakni kekayaan tanpa kerja, kenikmatan tanpa nurani, ilmu tanpa kemanusiaan, pengetahuan tanpa karakter, politik tanpa prinsip, bisnis tanpa moralitas, dan ibadah tanpa pengorbanan.

Dalam buku The Anatomy of Melancholy karya Ricahrd Burton mengemukakan pandangan yang sangat dalam mengenai ‘penyakit hitam’ alias melankoli, serta menyebutkan ketakutan akan kematian, kekalahan, dan perbuatan jahat yang menjadi gejala dan musababnya.

Dalam buku Istanbul: Kenangan Sebuah Kota karya Orhan Pamuk memerikan satu istilah unik untuk menyebut situasi murung yang menggelayuti sebuah masyarakat. Ia menyebutnya huzul. Dalam bahasa Turki berarti kemurungan atau kesedihan. Nabi Muhammad Saw. Menyebut tahun ketika beliau kehilangan istrinya Khadijah dan pamannya Abu Thalib sebagai ‘amul huzl’ atau tahun kemurungan; kata itu berarti perasaan kehilangan yang amat spiritual.

Sabda Ronggowarsito dalam serat Kalatidha sesungguhnya kita ada di zaman edan ketika semua orang menjadi gila harta dan kuasa. Bila ikut gila, kita bisa-bisa tidak tahan mengatasi jeritan nurani. Tapi bila tak ikut gila, tak bakal kebagian harta benda dan kuasa.

Albert Einstein bilanG, “Imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu terbatas, sementara imajinasi tiada batas…”

“Sebagian orang percaya sepak bola adalah soal hidup-mati. Saya kecewa dengan perilaku itu. Saya jamin, sepakbola jauh lebih penting ketimbang hanya soal hidup dan mati.”Bill Shankly

Hitler bilang kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran.

Remy Sylado berujar pada dasarnya bahasa dan kebudayaan kita ini serupa gado-gado sejak asal mulanya.

Saya mengucapkan terima kasih untuk Pak Ade Buku di Bandung, buku-buku bagus yang kunikmati setahun ini banyak kubeli di sana. Termasuk Mencari Setangkai Daun Surga ini. makna judul buku ini ada di bagian akhir, merupakan kutipan dari seorang Goenawan Mohamad. Kutipan dari puisi ‘Daun’ yang ternyata juga terdapat di Belanda Cor de Bruijn (1883 – 1978) yang disadur dari A. Dt. Madjoindo (1896 – 1970), yang terbit tahun Setangkai Daun Surga 1972. Nah, sekarang kita menemukan buku lain berjudul ‘Mencari Setangkai Daun Surga’. Banyak hal dalam kehidupan ini tak sejalan, tapi seperti pepatah Jerman, Orang boleh kehilangan segalanya kecuali harapan, sebab “Harapan adalah yang terindah dalam hidup manusia.”

Mencari Setangkai Daun Surga | by Anton Kurnia | Editor Rusdianto | Tata letak Zizi | Pracetak Antini, Dwi, Wardi |  Cetakan pertama, Februari 2016 | Penerbit IRCiSoD |384 hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-391-114-1 | Skor: 4.5/5

Tanda mata untuk anak-anak tercinta: Kafka, Kalam, Javid, dan Maura

Karawang, 160221 – 100621 – 130721 – Dinah Shore – My Funny Valentine

Thx to Ade Buku, Bandung

Surat dari Praha: Gegap Gempita Kesetiaan

Jaya: “Saya akan mencintai dia selama-lamanya.”

Romantisme berbalut politik dan amarah yang tertahan, saat terbuka sumbat, buncahnya malah menyatukan jiwa-jiwa yang sepi. Tak ada yang bisa kita perbuat lebih selain mengikhlaskan masa lalu, kesalahan-kesalahan, egoisme masa muda, ideologi yang teguh. Sejatinya pilihan hidup yang menjadi komitmen adalah lubang cacing yang wajib dijalani tanpa sesal. Surat dari Praha mencipta kisah cinta yang sungguh sentimental. Terusir sebab mempertahankan ideologi sah-sah saja, mempertahankan cinta sejati juga sah-sah saja. Setiap pribadi adalah unik. Bukannya tak ada, manusia jenis ini langka, dan gegap gempita kesetiaan itu dipetakan dengan pas. Musik, atau di sini seni sangat dominan. Ini Praha Bung, tempat Franz Kafka lahir.

Kisahnya tentang Larasati (Julie Estelle) yang kesal sama ibunya sebab ia dalam kesulitan finansial, ditambah ia kini bercerai. Sang ibu Sulastri (Widyawati) yang terbaring sakit bersikeras cinta tak boleh terputus. Tak berselang lama setelah adegan saling ngambek itu, Bu Sulastri meninggal dunia, dalam surat wasiatnya menyatakan bahwa Larasati akan mendapat rumah warisan jika berhasil mengantar satu boks ke orang asing di Praha. Sang notaris sudah mendaku, silakan kejar, pakai tanda terima. Hufh… petualangan di negeri asing-pun dimulai.

Larasati mendarat dengan mulus di kota eksotik ini, mencari orang asing juga dengan mudahnya. Ternyata Pak Jaya (Tio Pakusadewo) adalah sarjana nuklir, menjadi seorang cleaning service di sebuah gedung teater. Ia mahir memainkan harmonika, fasih bernyanyi dengan suara merdu, ia adalah aktivis yang terasing di masa Orde Baru. Situasi pertemuan dengan Jaya tak berjalan mulus, saat tahu bahwa  ia adalah anak Sulastri, dan membawa kabar duka. Ada nada amarah dan sedih di sana, Laras diusir dari kosnya. Ia yang tak tahu sebabnya pergi dengan situasi kesal.

Cerita bagus memang mewajibkan dibuat untuk mempersulit para karakter, maka saat Laras naik taksi menuju hotel, ia kena begal. Bukan hanya di Indonesia begal taksi ternyata, di Cekoslovakia begalnya bersenjata dan lancar sekali menjalankan aksi, Laras diturunkan di tempat sepi, ditodong senjata dan semua barang diminta tak dibawa. Ia tentu saja pening lalu menghubungi polisi, diantar ke kantor kedubes Indonesia, tutup karena larut. Lantas karena tak ada lagi tempat yang laik dituju, ia kembali ke alamat di mana ia memulai, ke kos Pak Jaya.

Jaya yang frustasi mabuk berat, kaget sang gadis kembali. Karena situasi, ia diperkenankan menginap semalam. Esoknya ke kantor dubes, lagi tutup layanan karena sedang ada pergantian jabatan (ah… khas Indonesia). Yo wes, ia menelpon temannya, pinjam uang untuk ditransfer ke rekening Pak Jaya. Selama itulah mereka bedua akhirnya dipaksa mengenal lebih dekat satu sama lain.

Jaya yang keukeh menolak menerima kotak, lantas karena penasaran Laras membukanya. Betapa terharunya, isinya adalah surat Pak Jaya kepada ibunya, dibacanya curahan hati itu. Ibunya yang rapuh dan sakit, ibunya yang antusias saat menerima surat, ibunya yang dulu merupakan kekasih Jaya. Ada hubungan istimewa ternyata, Jaya marah sebab kotaknya dibuka, Laras marah sebab Jaya adalah penyebab kehidupan orangtuanya goyah. Saling marah dan menjaga jarak.

Yah, itu tak kan lama. Mudah ditebak mereka luluh akan keadaan, sama-sama terasing. Dalam adegan haru, andai ia tak ke Ceko apa yang terjadi, mungkin kamu adalah anakku. Fufufu… Laras pandai memainkan piano, piano tua dimainkan di rumah dengan meriah. Saat lagi kerja, piano di panggung berpenonton kosong, dimainkan pula. Syahdu dan merdu. Dunia tampak adem dan asri. Selamat, Julie Estelle lulus, benar-benar bernyali.

Lantas, saat masalah uang selesai. Tiket dan berkas pulang sudah beres, ia seharunsya pergi tapi tak segera pergi. Saat surat tanda terima sudah ditandatangani, ia seharusnya pergi tapi tak segera pergi. Saat semua urusan selesai, ia seharusnya pergi, dan yah memang harus pergi. Malam terakhir di Praha menjadi meriah dengan pesta, tapi terasa hati itu hambar. Bahkan menit-menit akhir jelang kepulangan ke Indonesia, masih saja labil hati yang tua ini. Surat-surat itu menjadi penghubung fisik keduanya, tapi tak serta merta langsung ke hatinya.

Ini adalah jenis drama mendayu, menjadi film yang diwakilkan ke Oscar dan terdepak. Wajah sih, sangat wajar. Tanggung kelasnya. Sekadar lumayan, terlalu formal bahasanya. Ngomong sama orang asing, bilang ‘Anda tak seharusnya bla bla bla…’ dan lucunya ditimpali pula dengan jawaban normatif yang mirip seolah tukang naskah yang menulisnya membuat makalah di kampus. Lagu-lagu almarhum Glenn Fledly menyelingkupi di banyak adegan seolah pamer keistimewaan vocal. Memang ciamik musisi ini dalam merangkai kata puitik dalam lirik.

Jaya sendiri mendaku bukan komunis, ia bertahan di Praha karena secara ideologi tak setuju dengan Orde Baru, ia dan beberapa temannya yang tetap teguh dengan apa yang dipegang dengan segala konsekuensinya. Situasi politik tahun 1966 dan setelahnya memang genting.  Ideologi merupakan kepercayaan yang dikontruksi secara sosial yang sepenuhnya diterima berdasar keyakinan belaka. Ideologi buruk macam rasisme atau seksisme langgeng lebih karena ketidaktahuan ketimbang kebencian. Apakah komunisme buruk? Belum tentu. Apakah sosialisme butuk? Belum tentu. Bahkan apakah Pancasila benar-benar baik? Juga belum tentu. Banyak faktor yang menyelingkupi. Tidak ada Negara yang sepenuhnya adil dan aman, apapun ideologi yang dipakai. Tidak ada filsafat politik yang mampu mengatasi masalah setiap orang dalam sepanjang waktu. Jangan mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Cukup hiduplah dengan baik. Hidup dengan baik bukan berarti menolak penderitaan, yang sesungguhnya adalah menderita untuk alasan-alasan yang benar.

Kalian memiliki iman bahwa cinta adalah hal yang penting, ideologi juga hal yang penting, pekerjaan juga hal penting, pengetahuan yang didapat juga penting, dan semua hal ini adalah sesuatu yang penting. Lantas kalau semua penting, mana yang menjadi prioritas? Pengorbanan bisa jadi hal yang menjadi tema istimewa, tapi tentu saja yang paling penting dari segalanya adalah bertahan hidup.

Seperti kata Gustave Flaubert,Saat kita menemukan dunia ini terlalu buruk, kita butuh mengungsi ke dunia lain.” Sebagai eksil, Jaya bisa merasa merdeka di negeri asing. Walau pahit terpisah drai orang-orang terkasih, dan terutama jelas sekali saat mengetahui kabar kematian kedua orang tuanya. Sedo. Jadi kabar menyedihkan saat di pengasingan tanpa bisa berbuat apa-apa. Sedih sekali, tapi masa itu memang banyak terjadi.

Secara keseluruhan, sebenarnya serba nanggung. Dramanya nanggung, naskahnya nanggung, akting Estelle dan Tio bisa jadi meletup-letup luar biasa, tapi tetap saja nanggung. Bahkan malam terakhir itu kalau versi Freddy S. bisa lebih liar. Namun tidak, semua yang dipaparkan di Surat dari Praha dicipta datar, bermain aman, serta tak meledak meriah. Wajar sekali dicoret dari Oscar, film-film kita masih jauh perjalanan menuju Penghargaan Hollywood.

Surat dari Praha | Tahun 2016 | Sutradara Angga Dwi Sasongko | Naskah M Irfan Ramli | Pemain Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Widyawati, Rio Dewanto | Skor: 3.5/5

Karawang, 080721 – Hanson – Look at You

*) Film ini kusaksikan di Mola TV, dapat paket gratis IndonesiaSehat selama PPKM, thx.

#Oktober2020 Baca

“Manusia yang berpikir bukan otaknya.” – Kata Straus (1963)

Bulan santai pasca KSK, secara kuantitas tetap saja melaju di angka belasan. Yang paling sulit memang The Constant Gardener berisi lima ratus lima puluh halaman, ukuran lebar dan topiknya rumit. Heart of Darkness kumasukkan giveaway, jadi setelah baca langsung kulepas. KSK ada dua buku, keduanya tersingkir dari daftar pendek jadi dibaca santai yang ternyata malah bagus banget keduanya. Sedang menikmati buku-buku psikologi dan filsafat, dan kumpulan esai. Oh iya, jangan lupa beberapa buku lama kubaca ulang, terutama yang belum kuulas jadi untuk mengetiknya, saya butuh refresh.

Menyenangkan sekali bukan, menikmati buku dan menceritakan keseruannya dalam blog?

#1. Heart of Darkness Joseph Conrad

Ini tentang perjalanan ke belantara Afrika dengan rute sungai. Penuh perjuangan sebab di prosesnya mendapat serangan dari suku pedalaman. Menuju Tuan Kurtz yang kejam, sekaligus dipuja oleh Pemerintahan Belgia. Menuju jantung kegelapan, tentang kolonialisme di Kongo, tentang penjualan gading.

Bernarasi kalimat langsung, jadi sang tokoh Aku menceritakan kepada para awak kapal, pengalamannya selama perjalanan. Sebagai nahkoda dalam misi menjelajah ke Congo, sebagai wilayah jajahan Belgia. Nah, selama air mengalir mengantar mereka itulah kita disuguhi sisi gelap manusia. Kolonialisme, pemaksaan kehendak demi kepentingan para penjajah, penjualan gelap gading gajah, korupsi, hingga perilaku manusia dalam sisi hitam. Memudiki sungai ini bagaikan melakukan perjalanan kembali ke masa paling awal dunia ini, ketika vegetasi bersuka-ria di bumi dan pepohonan besar bak raja-raja.

Aku melihatnya, aku mendengarnya. Aku melihat misteri tak terpahami dari satu jiwa yang tak mengenal batasan, keyakinan, dan ketakutan, namun masih berjuang membabi buta mengasai dirinya…”

#2. Makan Siang OktaNurul Hanafi

Saya suka sekali film A Ghost Story yang menampakkan ‘hantu’ yang bosan menapaki waktu di tempat yang sama untuk rentang kisah acak. Saya juga suka sekali Buried yang membuat Ryan Reynolds terkubur satu setengah jam dalam peti, yang otomatis sepanjang film penonton turut sesak. Saya juga suka sekali Locke, filmnya tentang Ivan Locke ngomong sendiri di mobil via telpon, ia berkendara dan meramu kejadian di sekelilingnya jadi syahdu. Nah, di Makan Siang Okta kita mendapat sisi minimalis itu. Sungguh jantan dan menarik. Kalian diminta untuk terus menyimak dialog sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu, cintailah kebosanan itu.

Ini kisah sederhana, sebuah kunjungan anak SD ke teman sekelasnya untuk meminjam buku, yang nantinya kita tahu hanyalah alibi. Kedatangan ini memang tak memerlu konfirmasi sebab Okta, gadis itu juga tidak tahu ia bakalan datang, saat Tendy tiba ia sedang makan siang. Kau hampir sama sekali tak tahu bahwa ikan bandeng, sepatu selop, seuntai kalung, dan sebuah buku cerita benar-benar telah tampil sia-sia jika dibandingkan dengan keanehan dia yang memiliki semua barang itu sekaligus. Adegan sepanjang buku akan berkutat di situ. Setelah berputar-putar dalam dialog dan ‘dialog’ dalam kepala Tendy, kita bertemu ibunya Okta yang sedang mengupas kentang, turut sertalah beliau dalam belitan kisah. Tokoh nyata hanya bertiga, walau dalam percakapan menyinggung nama-nama lain seperti teman sekolah atau teman masa kecil ibu, tapi tetaplah tokoh Makan Siang hanya bertiga. Sekolah tidak mengajarkan cara menghabiskan waktu siang yang baik bersama seorang teman laki-laki. Maka muncullah buku panduan ini. Haha…

Karena aku menganggapnya paling cantik sekelas.”

#3. Kiat Bermain SahamSurono Subekti

Secara ekstrem saham dibagi menjadi dua, saham fundamental dan saham kucing kurap. Di era itu belum dikenal saham gorengan kali ya. Justru ketika baca saham kucing kurap rada aneh. Hehe… Faktor judi di saham kucing kurap itu sangat besar, disebut kucing kurap karena diusahakan setelah dipegang segera dilepas begitu ada kesempatan. Sedang saham fundamental, bisa disimpan bertahun-tahun di lemari besi, bahkan seumur hidup sampai pensiun kalau mau.

Pengalaman adalah guru terbaik, lapangan adalah guru terbaik. Saya sudah main saham hampir dua tahun, Alhamdulillah sudah positif, sudah untung. Sejatinya ingin jadi investor, tapi tiap minggu/bulan pas lihat grafik hijau, tangan ini gatal buat jual, akhirnya yo wes yang warna hijau berkali-kali kujual buat kuputar. Sampai-sampai berpikir, ini kok cari duit sederhana dan gampang ya? Cuma tanam duit, pilih saham bagus, diamkan, sebulan dua bulan dicek udah untung. Wew… kenapa ga dari dulu pas masih lajang sih. Hiks. Namun nggak papa terlambat, masih bisa kok nabung saham. Terus bergerak dan belajar. Termasuk baca buku saham dari yang jadul (seperti buku ini – buku kedua saham yang selesai kubaca setelah Simple Stories for Simple Investor) sampai baca buku saham terbitan baru, saya lahap semuanya. Beberapa buku pinjam, beberapa beli sudah di rak. Saya adalah pembaca yang rakus.

Jadikan bermain saham sebagai hobi. Memilih saham sama seperti memilih orang. Salah satu alasan membeli saham adalah membeli masa depan perusahaan.

#4. Apa yang Harus Saya Lakukan? Drs. R.I. Suhartin

Buku konseling remaja yang bervitamin sekali. Keren! Jadi tahu curhat dan jawaban pakar masalah-masalah pergaulan tahun 1980-an. Buku ini berisi lima permasalahan utama, yang dibagi lagi dalam tanya-jawab satu arah 47 poin, kecuali ada dua pertanyaan dari orang yang sama. Merupakan kumpulan tulisan dalam Rubrik Pendidikan di suratkabar Berita Buana. Sangat menarik, bagaimana remaja kala itu menghadapi problematika yang rasanya relatif masih sama dengan era sekarang, minus gadget dan kebebasan bersuara. Related. Permasalahan remaja, tak jauh dari cinta, keluarga, dan peningnya belajar. Cinta kala itupun sudah mengarah ke seks yang tentu saja tabu untuk dibicarakan.

Jawaban-jawaban yang diberikan sangat lugas, bagus sekali, enak dibaca. Terlihat sekali direspon dari orang bijak yang berpengalaman mendidik dan mengalami pasang surut kehidupan. Seperti opsi, yang utama membahagiakan orang tua atau pribadi? Ketidakmampuan memenuhi kemauan orang tua tidaklah menjadi soal, yang pokok adalah Anda! Susunlah rencana sesuai dengan kemampuan, dan segera menyusun siasat, cara, dan teknik penyampaiannya, yang penting bahagia sesuai kemampuan pribadi. Kebetulan topik ini beberapa hari lalu sedang dibahas di diskusi inspirasi pagi. Hanya doa dengan hati yang bersih yang dapat dikabulkan Tuhan.

Cinta sejati bukan sekadar seks belaka, tapi harus meliputi keseluruhan pribadi masing-masing, yang utama tahan uji dalam keadaan apapun, maka cinta bukan hanya seks centered, tapi harus personality centered.

#5. Oh Film…Misbach Yusa Biran

Buku tipis yang sebenarnya bisa cepat diselesaikan baca, tapi saya baca santuy jelang tidur. Saya bacakan untuk Hermione satu atau dua bab setiap beberapa malam. Ini adalah buku rekomendasi Sherina Munaf dan berkali-kali cari di Gramedia Karawang nggak ada, maka saat ada yang jual daring, langsung kusambar. Buku yang sejatinya biasa, hanya mencerita kehidupan seputar orang-orang film di Senen, dari sudut pandang para jelata mengais rupiah hanya untuk sekadar bertahan hidup dari bulan ke bulan. Kisah apes yang mengelilingi para kuli film. Judulnya tentu pas sekali, … oh, film!

Kisahnya lebih sederhana dan membumi, ini buku berdasarkan pengalaman sang penulis yang berkecimpung di dunia film sejak 1954 sebagai anggota PERFINI. CV filmnya sangat banyak, jasanya dalam seni di Indonesia tentunya melimpah. Tahun 2008 beliau menerima Bintang Budaya Parama Dharma, bintang tertinggi dari Pemerintah RI di bidang budaya.

“Ah… betapa tenangnya langit, mengapa orang bisa tidur di malam berbintang terang seperti ini?”

#6. Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi KematianYetti A. KA

Kumpulan cerpen yang menyajikan hal-hal sederhana malah mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan. Kata Martin Heidegger dari Jerman, yang meneliti eksistensi manusia terutama tentang kecemasan, kenisbian segalanya dan kesadaran manusia akan kematian. Ada yang bilang Heideggar seorang ateis, ada yang bilang pula ia seorang mistikus, tapi dengan jelas ia mengatakan bahwa dirinya, “sedang menunggu kedatangan Tuhan.”

Begitulah, Ketua Klub Gosip menjadi kumpulan cerita pendek yang melatari sisi dalam setiap individu. Dengan tema beragam dan beberapa minim penjelasan menjadikannya lebih asyik sebab segala yang membingungkan malah menarik. Ia mempertahankan pentingnya transendensi. Bagaimana jadinya kalau gosip sedih itu dimulai dari orang yang kita kasihi?

“Seharusnya kau menggunakan benang merah untuk topi itu”

#7. Cerita, Bualan, KebenaranMahfud Ikhwan

Kebetulan ini buku kedua tahun 2020 dari Tanda Baca yang kubaca, Tentang Menulis-nya Bernard Batubara yang gagal memenuhi harap, sekadar curhat pengalaman beliau mencipta karya, tak dalam, sangat biasa, dan benar-benar tak bervitamin. Sempat terbesit sepintas, jangan-jangan ini buku ala kadar juga? Sama-sama tipis dan berkutat dalam proses kreatif. Namun tentu saya rasa was-was itu bisa dienyahkan seketika, jelas Cak Mahfud punya kualitas, punya standar yang menggaris, mana yang laik dicetak dan mana yang sebaiknya tetap tersimpan dalam komputer. Kedelapan tulisan di sini sungguh ciamik. Kalau dituturkan dengan irama merdu gini, sangat perlu dibuat lebih banyak lagi kisah-kisah dibalik karya, terutama tentu saja karya yang sudah dikenal rakyat, dikenal pembaca dengan akrab. Dengan sudah membaca tiga buku sebelumnya, bualan beliau langsung bisa nyetel, klik sejak di akhir tahun cuti yang lucu itu.

Saya belum baca satupun buku karya Pak Kunto, tapi namanya memang termasyur di kalangan klub buku. Berkali-kali incar, gagal bawa pulang. Terutama Pasar yang sering kali muncul di pajangan. Ternyata menjadi panutan Cak Mahfud.

“Kekuasaan bergandengan tangan dengan agama akan memperlihatkan sisi buruk manusia.”

#8. Koleksi Kasus Sherlock HolmesSir Arthur Conan Doyle

Saya sedang membaca ulang beberapa buku lama, saya pilih pilah yang terkesan dan belum kuulas. Seingat saya, buku Sir Arthur baru satu yang kuulas di blog, makanya seminggu lalu entah refleks ambil buku ii di rak. Saya sudah khatam semua kisah Sherlock, dan membaca ulang malah menelusur kenangan, dan ingatan saya di Koleksi Kasus ternyata nggak kuat nempel, hanya beberapa yang klik, kebanyakan lupa tentang apa. Makanya terasa fresh lagi. saya baca buat selingan baca non-fiksi tentang filsafat yang bikin kerut kening making banyak.

Ternyata ini masa-masa akhir Holmes yang pensiun. Jadinya masuk ke koleksi kasus. Beberapa kisah berulang, seperti Holmes yang sombong menunggu klien saat Watson sedang duduk lalu mendengarkan detail. Atau Watson yang seperti kita tak paham maksud Holmes bahwa kasus ini sudah jelas, padahal selubung belum dibuka. Atau bahwa Holmes selalu ingin di balik layar, oarng-orang dari Kepolisian saja yang mendapat pujian. Atau Holmes yang hanya ingin menangani kasus unik, aneh, berat. Uang bukan masalah, justru ia tak tertarik menarik bayaran bagi jelata. Hebat. Keren. Takjub. Kebetulan saya sudah baca seri satu detektif karya Penulis Harry Potter. JK Rowling mencoba meng-copy gaya Holmes ke era masa kini. Belum bisa menandingi, tapi patut diapresiasi usahanya. Hal-hal yang paling rumit biasanya sangat bergantung pada hal-hal yang paling sepele.

“Nada bicara Anda tak kalah sombongnya, Mr. Holmes. Tapi saya bisa memakluminya. Hasil kerja Anda patut mendapat acungan jempol.”

#9. Bebas dari MiliterMartin Shaw

Buku yang sejatinya sangat umum, ditulis tahun 1991, dan kini sudah hampir tiga puluh tahun sudah banyak sekali perubahan militer. Telaahnya tentu saja sudah banyak tidak relevan, memang menikmati buku ini lebih ke nostalgia. Dunia digital meluluhkan segalanya. Membahas istilah saja bisa berlembar-lembar, membahas militer Inggris bisa panjang sekali, lalu telaah nuklir dan konsekuensi, menyelam dalam Perang Teluk yang berlarut, dst. Melelahkan sekali, tapi kalau nggak segera kupaksakan takutnya terbengkelai, maka gegas kutuntaskan. Berhubung militer adalah hal yang awam bagiku, lumayan bervitamin. Seluk beluk dunia militer. Jika perang selalu menjadi anakronisme sosial, masalahnya tidak akan selesai dengan menjadikannya sebagai kambing hitam.

Setiap masalah bisa dipecahkan jika teknologi dan dana digunakan dengan dosis yang tinggi. Argumen Ross bahwa apa yang sering kali dideskripsikan sebagai militerisasi di Dunia Ketiga (atau ‘militerisasi global’) lebih merupakan bangunan militer daripada militerisasi sosial.

“Pengeluaran militer pasti merusak kesejahteraan ekonomi meskipun ia memiliki keuntungan ekonomi yang positif.”

#10. Mimpi-Mimpi Einstein Alan Lightman

Secara cerita buku ini mengecewakan, intinya kurang gereget, hanya labuhan khayal sang ilmuwan yang acak dan tak jelas. Terliaht samar, mencoba merumitkan diri. Ini fiksi sehingga Alan Lightman harusnya punya kreasi bebas untuk melalangbuanakan bualan, sayangnya inti yang coba disampaikan tak jelas. Sepenggal masa-masa tahun 1905 di mana Einstein muda mengajukan tulisan terkait teori waktu, menjadikannya patokan utama, benang merah, dari seratus halaman, sejatinya hanya bagian interlude yang menjadi realitas yang menyenangakn dilahap, sayangnya yang namanya interlude ya sesekali saja muncul. Sementara sebagian besar hanya pecahan kejadian yang bebas dan tak beraturan. Tak kuat secara cerita, tapi memang dasarnya seperti puisi, semua bebas disenandungkan, keras, berisik, dan merdeka. Namun melelahkan sekali…

Buku ini sudah berkali-kali masuk daftar incar. Berbagai kover sudah kulihat, setelah bertahun-tahun akhirnya kumiliki edisi cetakan kesepuluh dengan kover kuning mentererng. Penerjemahnya adalah Penulis Raden Mandasia yang terkenal itu. Saya tak terlalu banyak complain terkait alih bahasa, karena memang rerata bila dikerjakan dengan serius hasilnya bagus. Kembali di kalimat pembuka, yang utama adalah cerita, dan Mimpi-Mimpi Einstein ceritanya kurang OK, mencoba bermewah kata, menawarkan stair-syair puisi kehidupan masyarakat di sekitar pegunungan Alpen. Mimpi-mimpi itu pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri.

“…Saat terkenal nanti, kau akan teringat bahwa kau pertama kali menjelaskan padaku, di perahu ini.”

#11. Teori Kepribadian Rollo MayIna Sastrowardoyo

Kehidupan kosong dapat terlihat dari manusia yang hidup seperti robot, tiap hari itu-itu saja yang dikerjakan tanpa gairah atau kegirangan seolah-olah dipantau oleh radar di kepala. Buku psikologi yang sangat bagus, dipadatkan dengan bagus dan dijelajah pengertian itu dengan sangat pas. Menjadikan penasaran lagi buku asli karya Rollo May, karena disini didedah dengan sudut yang mengagum. Sumbangan May, mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan.

May berujar bahwa konseling merupakan seni, yang dapat dikembangkan lebih besar dari seni lain misalnya melukis atau seni musik. Orang yang memandang objek seni, bahkan dapat mengidentifisir dirinya dengan objek seni itu.

“Saya hanya merupakan suatu koleksi cermin, yang memantulkan keinginan orang lain.”

#12. The Constant GardenerJohn le Carre

Kisah mengambil sudut utama Justin Quayle yang mendapati istrinya Tessa Quayle meninggal dunia dibunuh di tepi Danau Turkana, dekat Teluk Allia bersama pula rekannya dokter Arnold Bluhm, sang Apollo berkumis dalam sebuah pesta perjamuan di Nairobi, dokter kharismatik, lucu, dan tampan.. Pengemudinya Mr. Noah Katanga juga tewas. Mrs. Qayle akan dikenang atas pengabdiannya dalam menegakan hak-hak asasi wanita di Afrika. Sebuah pengalaman buruk yang didapatkan Tessa dan Arnold dalam perjalanan lapangan mereka sejenis malapraktik, jenis yang dilakukan oleh perusahaan farmasi.

Masalah obat ini adalah: pertama berbagai efek sampingnya ditutupi demi meraih keuntungan. Kedua masyarakat termiskin di dunia digunakan sebagai kelinci percobaan oleh masyakarat terkaya di dunia. Ketiga debat ilmiah yang sah mengenai masalah ini diberangus oleh intimidasi korporat. Apa yang benar selalu kekal. Para bedebah ini tidak memilkirkan apa pun selain keuntungan yang sangat besar, dan itulah kebenaran. Dyraxa bukan obat yang buruk, itu obat bagus hanya belum menuntaskan uji cobanya. Tidak semua dokter bisa dirayu, tidak semua perusahaan farmasi itu ceroboh dan tamak. Tessa dan Bluhm telah dibunuh karena mengetahui tentang kesepakatan jahat yang dilakukan perusahaan farmasi. Tessa adalah korban dari konspirasi internasional.

“Sandy, tugasku adalah mengabdi untuk Afrika…”

#13. Prosa 3 Obsesi Perempuan Berkumis – Budi Darma Dkk.

Wow, baru tahu dulu pernah ada sebuah buku berjilid Prosa sekeren ini. Ini adalah edisi ketiga entah total ada berapa edisi, isinya luar biasa, padat, sedap, bervitamin. Semacam majalah? Enggak juga. Semacam edisi khusus sastra? Bisa jadi, yang jelas benar-benar keren. Bung Budi Darma menjadi pusat, dengan cerpen panjang, kritik sastratentang cerpennya, dan wawancara khusus, Bung Yusi juga menyumbang dua tulisan. Bagus semua. Bikin pembaca megap-megap antusias.

Mengubah dunia tentu memerlukan keyakinan, ketetapan, kepastian – dalam bentuk ilham maupun dokrin, dan organiasasi dan lain-lain. Berisi tiga jenis tulisan: fiksi,esai, dan dialog. Renyah sekali.

“Saliva, Saliva, hatimu, mulutmu, ucapanmu, semuanya berlendir.”

Oktober tahun ini memang penuh buku. Kukira bakal jadi puncak jor-joran beli buku, ternyata November sejauh ini sudah beli belasan lagi. sulit sekali menghentikan.

Karawang, 161120 – Solomon Linda & The Evening Birds – Mbube (1939)

Dua Garis Biru: Slow Pace Realistik

“Kalau ibu saja perlahan-lahan bisa memaafkan kamu, apalagi Allah.”Yuni

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Sleeper hit of the year.

Hanya dengan melihat trailer. Kita tahu alurnya, kita bisa menebak garis besar perjalanan film ini, kita pasti paham langkah-langkah bidak catur per adegan, ke arah mana cerita cinta ini kita juga pasti mengerti. Dua sejoli, anak sekolah pacaran, di kamar dan terjadilah. Justru hal seperti ini lebih terlihat nyata, ketimbang film romantis ramaja yang sering memperlihatkan adegan berdua genggaman tangan, taa-daaa… tak terjadi apa-apa. Lantas kenapa Dua Garis Biru masih bisa memukau? Akting, naskah, dan beberapa keunggulan teknis mencipta debug jantung dan tangis. Endingnya menyempurna, menata rencana masa depan tak semudah menyusun lego. Adegan UKS jelas luar biasa, dua peristiwa marah disajikan tanpa putus penuh emosi. Teriakan saling silang di UKS akan mencipta kenangan yang tertanam dalam dinding-dinding sekolah.

Film ini sukses besar, baik sisi tiket maupun ulasan. Menjadi sleeper hit tahun ini, menjelma puja-puji di banyak beranda sosial media. Inilah film paling mengejutkan 2019, film remaja menghadapi problematika masalah orang dewasa.

Kisahnya tentang dua siswa yang menjalin kasih, hamil lalu penonton menjadi saksi kejadian akibat perbuatan itu bersama orang-orang terdekat. Dara Yunika (Adhisty Zara JKT 48) adalah siswi cerdas, adegan pembuka berkata itu. Berpacaran dengan teman sekelas Bima (Angga Yunanda) yang memiliki nilai akademik biasa, adegan pembuka juga berkata gitu. Kehidupan keduanya pun beda kasta, Dara terlahir dari keluarga kaya. Memiliki dik yang imut Putri (Maisha Kanna), kedua orang tua David (Dwi Sasono) dan Rika (Lulu Tobing) yang secara ekonomi mapan, laiknya orang umum bilang masa depannya terjamin. Bima dari keluarga sederhana, orang tua relijius Yuni (Cut Mini Theo) dan Rudy (Arswendi Bening Swara), dan kakak yang sudah memiliki keluarga sendiri Dewi (Rachel Amanda). Hidup dalam keriuhan gang-gang sempit di Jakarta. Dari sudut romantisme, kita bisa bilang cinta menyatukan mereka, tapi dari sudut yang lebih dalam, MBA terpaksa menyatukan mereka.

Apa yang kita tanam, akan kita tuai. Pernikahan remaja memaksa mereka dewasa lebih cepat. Inilah waktu-waktu cekam, menikah adalah menyatukan dua keluarga. Dan memang, seharusnya kedua keluarga yang sudah terjalin ini bersatu, namun tetap berjarak, dan Dua Garis Biru menyajikan realita, tak berlebihan Cut Mini menang FFI karena sajian emosi dalam frame terlihat hebat.

Yang lebih menakjubkan, ini adalah debut sutradara Gina S. Noer. Luar biasa, film perdana langsung menghentak. Seharusnya kita tak heran juga sih, hanya lupa antisipasi, CV naskah skenario-skenarionya memang berkualitas. Dimulai dengan omongan miring para sinister ketika trailer keluar, di beranda sosmed banyak sekali yang menghujat, banyak yang bilang akan jadi film minor bahkan sebelum rilis. Namun kualitas berbicara seolah menabok semua nada miring itu. Gina pasti tertawa menyaksikan box officenya.

Salut sama bagian kasting, nyaris bagus semua. Spesial buat Zara, well dia sangat cantik. Suaranya bening, sedikit serak tertahan. Menampilkan mimik remaja yang harus mengambil keputusan penting. Lantas selalu berpikir sebelum bicara, jelas ia telah lebih matang. Selamat, atas kembalinya Lulu Tobing ke layar lebar. Pesona terjaga. Cocok akting jadi orang kelas atas. Salut juga untuk penampilan Arswendi Bening Swara jelas ga selantang istrinya, porsinya pas, gesturenya pas, aksinya sangat pas. Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami memang digariskan lebih tenang. Saya sudah banyak mengalami, saya sudah sering mengambil keputusan keluarga dengan kepala dingin ketika masalah pelik menempa.

Adegan ayah anak tersaji memikat, sang ayah duduk di lantai, Bima di tempat tidur mendekam sendu, duduk merenung dalam kebingungan, seolah bilang, “Ada banyak hal tak kumengerti.” Tak berani berharap atau berencana. Yah beginilah hidup Nak. Mengapa remaja membuat salah perhitungan, banyak pemikiran dan aksi salah, usia labil. Namun kesalahan yang ini kebablasan. Karena cinta memang menampar logika, dan masa remaja belum mampu menimbang konsekuensi lengkap keputusan mereka.

Waktu linier, tak ada jalan kembali bagi umat manusia. Ketika dua garis biru muncul, tak ada jalan kembali ke masa lalu yang indah-indah. Mereka tahu bahwa tak diragukan lagi, hari ini adalah hari yang patut dikenang dalam hidupnya. Kenang kepanikan. Tidak bisa mundur lagi. Perangkap sudah menjeplak tertutup. Mulai sekarang, bukan Matematika dan rumus Kimia yang akan kita pusingkan, roda ban terlampau kencang melaju melompati usia tanggung jawab. Menjadikan hari-hari menegangkan, diwarnai lebih banyak kecemasan dan kegelisahan. Mau digugurkan atau tetap dipertahankan, kedua opsi sama buruknya di usia remaja. Simalakama. Keceriaan kehidupan lama, kini selesai sudah.

Kisah perangkap romantis itu memberi pelajaran berharga, jauh lebih penting ketimbang teori yang dipelajari dalam seminar parenting manapun. Serangkaian keputusan sepele di kamar, salah perhitungan, memiliki efek kumulatif yang memaksa keduanya menghabiskan hari-harinya memikul ‘berember-ember air’ masalah untuk disajikan kepada semua orang terdekat. Mungkin mereka memiliki keinginan-keinginan lain, tapi setiap ide yang dilontarkan secara sadar membuat kehidupan lebih sulit guna mencapai keinginan tersebut. Upaya rumit menyelaraskan rasional dan matematis, terciptalah adegan UKS. Para orang tua terjalin tak bisa menghindar dari perhitungan faktor-faktor non material seperti ideologi dan budaya. Tawar-menawar ala Faust antara kedua orang tua bukan satu-satunya kesepakatan konsekuensi, dihadirkan pula opsi ketiga tentang rencana adopsi. Voila, takdir tertawa.

Rencananya. Catat, setelah menikah, bayi terlahir akan diadopsi kepada saudara Dara yang belum dikaruniani anak, Dara yang cerdas secara pendidikan karena terhenti sekolah harus diselamatkan demi masa depan yang masih terentang panjang, akan melanjutkan study ke Korea, mengejar mimpi. Bima terpisah dari anaknya, melanjutkan tumbuh kembang dewasa, karena terlampau muda, mendidik anak itu tak mudah Nak, merajut ulang beberapa mimpi, dan kedua besan secara emosional terputus. Selain beda kasta, mereka memang terjalin sebab terpaksa. Boom! Akhir kisah itu khalayan belaka. Ketika menit mendekati akhir, kita malah diberi bumbu merica melimpahkan derai air mata yang merusak tatanan. Tanda tangan remaja itu setara keputusan teramat penting manusia dewasa. Hebat! Rasanya apa yang kita minta, tak pernah dikabulkan Tuhan, maaf koreksi, apa yang kita minta tak semua dikabulkan Tuhan. Ghhhmmm… Gina memberi akhir yang jitu untuk hubungan yang lebih pas, menahan keinginan, menaboki harapan senyum dan tawa pahit di akhir. Kekhawatiran akan masa depan memang pemain utama dalam teater akalbudi manusia.

Dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika, tertuang bahwa semua manusia diciptakan setara, bahwa mereka dikaruniai oleh Pencipta mereka hak-hak tertentu yang tak bisa dicabut, yang antara lain mencakup kehidupan, kemerdekaan, dan pencarian kebahagiaan. Kehidupan seolah reset, demi lembaran baru hidup manusia pertama di semesta: Adam.

Mencucurkan air mata di saat keberangkatan bisa mendatangkan kemalangan bagi orang terkasih. Adegan itu ditampilkan dengan teramat baik. Menutup layar puas. Satu-satunya hal yang bisa melegakan adalah angan-angan. “Kamu pikir bijaksana merusak segalanya yang sudah berjalan begitu baik?”

Sejauh ini, Dua Garis Biru adalah film terbaik 2019 yang kutonton. Slow pace realistik (Harsoyo Lee).

Dua Garis Biru | Tahun 2019 | Sutradara Gina S. Noer | Naskah Gina S. Noer | Pemain Angga Aldi Yunanda, Adhisty Zara, Lulu Tobing, Cut Mini, Dwi Sasono, Arswendi Bening Swara, Rachel Amanda, Ariella Calista Ichwan, Cindy Hapsari Maharani Pujiantoro Putri | Skor: 4/5

Karawang, 181219 – 160220 – Marty Robbins – A White Sport Coat (And A Pink Carnation)

*) perdana tayang di tv kemarin lusa di prime time saat Valentine, dan sudah bisa disaksikan di Iflix

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing #27

Bahwa di dalam diri mereka. Kekuatan adalah saat mereka mampu membuat orang lain kesuliatn dan memohon-mohon.” – Yusuf Yasa

Ini adalah cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Buku yang hhhmmm…, OK, tapi gmana ya. Ada semacam hal janggal yang mengganjal. Plotnya mirip 100 Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez, kalau ga mau dibilang contek. Gaya berceritnya agak aneh, dengan sering berujar ‘pada suatu masa’. Seperti para pencerita lokal macam Eka Kurniawan, Triyanto Triwikromo, AS Laksana, dkk, yang suka memakai nama-nama unik, Eko Triono juga melakukan hal serupa. Nama-nama karakter yang ‘muluk-muluk’ lucunya: Dari Massa Jenis, Gendis, Tulus Tapioka, Kembang Surtikanti, Yusuf Yasa, Rizal Gibran, Parta Gamin Gesit, Darma Gabus, Marzuki Kazam, Muhammad Basyirin, Jaya Kadal, Darman Gabus, Kembang Surtikanti, Dirjo Wuyung, Rodi Pahrurodi dan seterusnya. Boleh saja sih, sah-sah saja. Namun karena saya sering menemui, lama-kelamaan bosan juga. Lebih senang dengan nama-nama Indonesia yang membumi. Pilihan diksi dalam gaya bertutur kental dengan nilai lokal, kata Seno Gumira Ajidarma. Sementara Anton Kurnia bilang, menggelitik kita dengan semacam karnaval unik. Yup, sebagian sepakat. Kaya atau miskin datang dengan cara yang sama, bahagia dengan cara yang sama.

Kisahnya tentang sebuah keluarga yang melakukan transmigrasi dari Jawa ke tanah seberang. Lika-liku kehidupan para penjahat memulai petualangan baru. Yang lelaki sangat aneh, tapi terlihat jenius, yang perempuan adalah anak kiai yang termasyur. Putri pemilik pesantren baik-baik yang juga kelihatan cerdas, tapi memilih suami dengan tak lazim pula. Pasangan aneh yang menginginkan anaknya jadi ilmuwan, sekaligus ulama. Kombinasi tak wajar ini lalu berbaur dalam tiga puluh tiga kepala keluarga diangkut dengan dua bus biru. Berdesakan dengan kardus, barang dalam karung dan ikatan dalam plastik melakukan perjalanan ke Barat. Menyeberangi lautan, menancapkan bambu di tanah hutan perawan, dan drama umat manusia dimulai. “Tiap pendosa akan memiliki masa depan, sebagaimana tiap ulama yang telah memiliki masa lalu.”

Alurnya tak runut, pokoknya mirip sekali, bahkan polanya seperti 100 Tahun yang mendeskripsikan ending, lalu ditarik jauh ke belakang, Para Penjahat melakukan ‘napak tilas’ bagaimana menjalani kehidupan asing di rantau. Nama tanah rantau fiktif itu Jabalekat, nah apa bedanya dengan Macondo yang fiktif? Walau secara regional kita arahnya ke Sumatra. Nama areanya juga dibuat semenarik mungkin, seperti Gang Tokyo, Asia Kecil, Afrika Kecil, Australia Kecil, Pemukiman Perambah Hutan, Gang Shanghai Kecil, Balai Kumpul Jabalekat, dan seterusnya. Tokoh utamanya Parta Gamin, eks narapidana Nusakambangan yang tobat. Beristri jelita anak kiai, Kembang Sutikanti, putranya menjadi seorang pejuang revolusioner. Massa Jenis yang namanya diambil dari kemasan di tempat sampah, yang dibalik ya terdiri atas komposisi, produksi sampai identitas produk: Massa jenis adalah massa benda dibagi dengan volume. “Sudah kubilang, kau mencomot nama dari tempat sampah.” Dan nantinya mereka akan dikarunia anak kedua yang juga istimewa. Nama adalah doa.

Menghadapi orang-orang lokal yang sebagian tak ramah, hutan yang masih rimbun dipangkas, mengusir dan menghadapi hewan-hewan liar. “Jadi jangan percaya kalau kamu dengar tawa hantu, itu hanya tangis yang disamarkan.” Jangan memberikan ucapan dan komentar apa pun, katanya, pada orang yang belum bekerja dan bahkan tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Secara teori nenek moyang kita dari surga dan itulah sebabnya kita mabuk pada dunia. Para transmisgran ini selalu dijejali donkrin bahwa New York dan Sydney mula-mula dibangun dari migrasi bandit-bandit Inggris. Kalau mereka bisa kenapa kita enggak? Penyakit terberatnya adalah perasaan sunyi yang sering muncul tiba-tiba dan ketombe yang sulit dihilangkan; hingga sering kehilangan konsentrasi. “Jika ragu-ragumu dalam hal baik itu dari setan. Jika ragu-ragumu dalam hal buruk, itu dari malaikat.”

Parta Gamin sekalipun dapat istri istimewa dia punya pikiran liar juga tentang cinta masa lalu. Tapi, hanya ingatan diam. Karena kenyataannya tidak ada mantan yang lebih baik dibandingkan dengan mantan pacar yang menjadi istri. “Cinta dan sakit hanya beda istilah.”

Berikutnya yasu dah, segala cerita masyarat pindahan ini mengarungi kehidupan. Semacam rapat RT, koordinasi mengusir hewan buas, paguyupan membersihkan selokan, goyong royong mbangun desa, dan seterusnya. Apakah peran kucing lebih penting secara psikologis daripada peran ikan gabus secara biologis? Kelahiran para penerus, kematian para tetua hingga konfliks vertical dengan pemerintah yang memicu para penerus untuk melawan, memberontak demi revolusi. Dan begitulah kehidupan, selalu berputar, selalu pada akhirnya kita akan pergi dan diganti generasi berikutnya. Para Penjahat dan Kesunyian menampilkan sepenggal kehidupan orang-orang terasing tersebut dengan masam. Keunikan selain nama-nama yang aneh, adalah cara bercerita yang tak biasa, di mana plot-nya dipermainkan, tak segaris lurus laiknya waktu, tapi alurnya bolak-balik. Kalau kita harus menggugat Tuhan karena telah menciptakan dan memberi hidup pada orang jahat, maka kita pun harus menghukum orang-orang baik, sebab hanya dengan adanya orang-orang baiklah kita mampu menunjuk siapa orang-orang yang dianggap jahat. Kadang kita meragukan terhadap hal-hal sudah jelas. “Ini bukan tanah yang dijanjikan, ini tanah kutukan, tanah para binatang.

Awalnya memang sesuai harapan, tapi keterpencilan, perhatian pemerintah yang kecil, abai aturan, dan konfrontasi antar warga mencipta banyak masalah mendasar. Lalu saat muncul pemikiran generasi berikutnya, anak-anak mereka yang lebih modern mecuat, timbul gerakan pemberontakan, gerakan pembaruan yang coba dibasmi itu melibatkan orang-orang penting. Dan satu lagi, cerita akan semakin seru saat ditaruh seorang penghianat. Godaan komplit: harta, takhta, wanita. Siapa yang berani melawan suara rakyat? Siapakah yang teganya menjilat uang demi kenikmataan sesaat? “Saya resmi jadi penghianat. Demi cinta, ya demi cinta, saying. Apa pun saya rela, asalkan jangan menjadi kenanganmu.”

Awalnya saya kasih skor 3.5 karena kemiripan novel masterpiece Gabriel Garcia Marquez, tapi setelah kupikir-pikir sulit juga menjaga konsistensi sepanjang 200 halaman bertutur kata dalam drama yang memusing, walaupun ‘agakhappy ending. Biasanya kita menikmati Triono dalam cerita pendek, maka cerita panjang pertama beliau, novel pertama beliau yang kulahap ini sangat patut diapresiasi. Berlabel juara 3 UNNES – International Novel Writing Contest 2017. Yel-yel dan jargon itu – konon digali oleh Parta Gamin dari amanat penderitaan rakyat – bahkan telah bergema di hati mereka sendiri meski dalam diam bermain catur. Apakah perjuangan itu sebuah kesia-siaan besar?

Aku sudah melakukannya selama tiga puluh dua jam. Nggak jadi presiden nggak sipilis.”

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing | Oleh Eko Triono | GM 618202020 | Editor Sasa | Desain sampul Chandra Kartika (@kartikagunawan) | Desain isi Nur Wulan | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-602-03-8315-6 | Skor: 4/5

Karawang, 180419 – Nikita Willy – Lebih Dari Indah // 270619 – Westlife – I Don’t Wanna Fight

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day27 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Kumpulan Budak Setan

Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?

Saya mengenal Abdullah Harahap belum lama, tiga tahun lalu lewat novel mistik Kolam Darah. Cerita peseteruan keluarga terkait warisan dan keturunan yang dibalut kengerian saling serang sihir dan lempar tuah. Andai ga baca tulisan kover belakang yang mengandung inti cerita bisa jadi ceritanya akan lebih resep. Mitisme lokal dengan jimat, dendam, hingga jualan kengerian darah yang membuncah. Status genre horror yang identik dengan estetika rendah dan karenanya berada di luar khasanah sastra. Edisi kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan ini ternyata dipersebahkan untuk beliau. Berisi dua belas cerita, ditulis tiga Pengarang handal tanah air dari komunikasi tiga kota. Eka dan Intan sudah mengenal beberapa karyanya, untuk Ugoran, ini adalah buku pertama beliau yang kunikmati. Saya berstrategi membacanya ga berututan dari halaman satu beriring runut terus sampai akhir buku, tapi satu cerita dari satu penulis, lalu cerpen berikutnya ganti penulis lain, lanjut lagi dan kembali muter. Jadinya gaya bercerita yang kukhawatirkan monoton karena dari tangan yang sama dapat dihindari, dan alhasil sukses. Sungguh bagus kisah-kisah di buku ini. Tema variasi, tapi tetap hal-hal gaib menyelingkupi semuanya.

(1).Eka Kurniawan
#1. Penjaga Malam
Kisah para peronda yang ditikam kesunyian pekat. Bagaimana mereka menjaga kampung, mengawasi segala yang potensial membahayakan warga, badai menambah menakutkan diseling mati listrik dan sesekali mengerjap. Lalu satu per satu menghilang. Sebuah tindakan beresiko yang mengabai keselamatan. Pace-nya memang lambat tapi nikmat diikuti karena memang kekuatan utama ketenangan malam yang disaji. Gelap pekat membuat kita serasa dikubur hidup-hidup.

#2. Taman Patah Hati
Untuk memutuskan kekasih harus sampai ke Jepang. Memang sulit untuk mengakhiri hubungan, lebih mudah memulai. Keputusan berat yang terpaksa diambil itu melibatkan keberanian, mitos dan pengorbanan yang tak sedikit. Kita bertemu lagi dengan karakter bernama Ajo Kawir, tokoh penting di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas. Mia Mia yang dan danau di taman Inokashira.

#3. Riwayat Kesendirian
Salah satu yang terbaik. Seorang ilustrator yang sudah memiliki pacar, mendapat tugas menjaga temannya teman, dititipi untuk numpang tidur di apartemen. Awalnya tak ada rasa, tapi riwayat kesendirian mencipta drama saat kedua insan terpisah. Sang gadis bernama Ina Mia, dari nama perempuan Chairil Anwar, ia dipaksa kawin sama pilihan orang tuanya, dan sebuah telpon untuk janji temu meluluhlantakan bata lego yang disusun. “Bolehkah aku bertemu denganmu?”

#4. Jimat Sero
Menurutku ini yang paling bagus. Pembukanya mengupas kulit bawang paling luar, lalu kupasannya perlahan sekali, menarik minat pembaca sampai akhirnya saat sampai di inti, ternyata kupasan terbaik ada di permukaan! Ga nyangka. Seorang penakut yang kena perisak di sekolah, dibantu Rohmat, seorang anak yang istimewa, siapa saja yang memukulnya akan kena damprat. Sekembali dari kampung melanjutkan hidup, segala takdir berubah lurus dan nyaman berkat jimat sero. “Tak ada yang perlu kamu risaukan.” Benarkah?

(2). Intan Paramaditha
#5. Goyang Penasaran
Tak pernah mabuk judi atau mabuk minuman, tetapi mabuk janda ternyata lebih berbahaya. Kisah yang keras dan berdarah-darah. Jelas kover buku diambil dari cerita ini. Penyanyi dangdut yang mencoba insyaf, terusir dari kampung dan saat kembali sudah mengenakan hijab. Sebuah taktik dendam disusun, kepala desa yang baru sang pengagum itu dituntun dalam goyang penasaran di tepi jalan. Keras. Sadis. Mencekam. Hal hal remeh cenderung meruap dari ingatan. Zina yang sering tak kita sadari wahai kaum muslimin dan muslimat adalah zina mata.

#6. Apel dan Pisau
Kisah nabi jelita Yusuf yang membuat para wanita menggoresi tangan mereka dengan pisau. Pesona gossip, arisan keluarga dan ketamvanan yang haqiqi. Apel yang matang, perempuan-perempuan yang matang, dan Yusuf yang memukau. Sinisme kaum hawa yang pandai bergosip laiknya kena batu. Cik Juli dan magnet sihirnya. “Apelnya memang enak.”

#7. Pintu
Keluarga terpandang, kaya, dan kematian tragis dalam sebuah mobil kutukan, Mercy Tiger merah metalik tahun 1982. Cerita tragis sebuah keluarga pasangan Bambang dan Ratri mencoba kembali menurut fakta saling silang selingkuh. Namun ternyata asmara dan dendam arwah menghantar pada kepahitan lain. “Mari, temani aku jalan-jalan.”

#8. Si Manis dan Lelaki Ketujuh
Ini yang paling aneh. Wanita buruk rupa sedang mencari mangsa, lelaki yang diperbudak seks dengan imingan gaji menggiurkan. Seorang penganggur yang sudah berkeluarga dengan berat hati menerima tawaran, gaya bercinta ala kisah sang putri salju dan tujuh kurcaci di mana drama sandiwara penculikan dicipta, scenario itu berantakan saat titik didih sudah di puncak. “Karena aku menyukai eksperimen.”

(3). Ugoran Prasad
#9. Penjaga Bioskop
Cerita hantu di bioskop yang angker, sang penjaga bioskop Rusdi yang menjadi saksi dari awal sekali gedung dibuat smampai akhirnya esok dirobohkan. Saat film terakhir selesai diputar, sang penjaga mengenakan pakaian terbaiknya dan mengucapkan salam perpisahan. Ternyata tak seperti yang tampak di permukaan. Sebuah rekaman suara memberi kengerian di balik kabar angin kesereman gedung. “Aku datang. Aku di sini terus. Aku menemanimu terus.”

#10. Hantu Nancy
Cerita balas dendam yang tak biasa. Pembunuhan sang gadis salon yang merentet kematian demi kematian semua orang yang terlibat. Hikayat hantu di kampung Kebon Sawah yang menguar kengerian di udara. Zulfikar dan bau rambut terbakar. “Aku mimpi ketemu Nancy. Dia bilang mau balas dendam.”

#11. Topeng Darah
Level kekerasan kelas satu, satu tingkat di atas Goyang Penasaran. Sadis, tragis, dan tak berperi. Sebuah iklan aneh yang menjual barang langka, sebuah topeng abad 19 dengan harga tak masuk akal, Iskandar iseng, berbuntut panjang dan penyesalan. Percobaan demi percobaan itu seperti candu.

#12. Hidung Iblis
Sang lelaki belang yang membantai lelaki belang dengan pemacing hasrat istrinya sendiri, Mirna yang jelita. Berkelit masalah ekonomi, petualang cinta, setia kawan atau pengianat, sampai drama saling ancam dalam penyelesaian proses kriminal. Endingnya twist. “Seberapa sering kamu mengajukan pertanyaan-pertanyaan metafisika?”

Sejatinya semua ini bermula dari Gentayangan. Novel pertama Intan Paramaditha yang masuk lima besar Kusala Sastra 2018 ini membuatku penasaran karya lain, Sihir Perempuan menjadi buku ke 100 yang kubaca tahun lalu. Dan dari komentar teman di sosmed bahwa ada kumpulan cerpen Intan kolaboratif, bilang cerpennya yang paling menawarkan kengerian, maka jadilah kunikmati juga buku ini. Eka Kurniawan jelas adalah salah satu Penulis besar yang masih hidup saat ini. Penghanggaan demi penghargaan internasional adalah bukti, ia memang Penulis jempolan. Terbukti lagi, di sini. Empat cerpennya kurasa yang terbaik. Ketenangan bernarasi menjadi kekuatan utama, menyimpan rapat kejutan masih menjadi andalan, hingga fakta itu dibuka di penghujung. Riwayat Kesendirian itu luar biasa lho, tak ubahnya sebuah lipatan origami yang menghasilkan angsa terbaik. Ina Mia dan kesedihan takdir yang tercipta. Ugoran ternyata jua penulis hebat, empat cerpennya sudah cukup untuk bekal mengarungi cerita-cerita lain beliau.

Kuhirup udara seolah-olah aku ingin memasukkan seluruh udara di dalam ruangan ke dalam tubuhku, dan siapa pun yang bersembunyi di balik udara, akan tersirap dan mendekat ke arahku. Dan sebagaimana budak sejati, kami juga berada di tengah-tengah: antara keinginan untuk merdeka dan kesetiaan yang tak terjelaskan.

Kumpulan Budak Setan | Oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad | GM 616202044 | Desain sampul eMTe | Setting Sukoco | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, 2016 | ISBN 978-602-03-3364-9 | Skor: 5/5

Untuk Abdullah Harahap

Karawang, 070319 – 160319 – Ronan Keating – I Hope You Dance

Nyepi Day – Undian 8 besar UCL – Liga Sparing