Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing #27

Bahwa di dalam diri mereka. Kekuatan adalah saat mereka mampu membuat orang lain kesuliatn dan memohon-mohon.” – Yusuf Yasa

Ini adalah cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Buku yang hhhmmm…, OK, tapi gmana ya. Ada semacam hal janggal yang mengganjal. Plotnya mirip 100 Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez, kalau ga mau dibilang contek. Gaya berceritnya agak aneh, dengan sering berujar ‘pada suatu masa’. Seperti para pencerita lokal macam Eka Kurniawan, Triyanto Triwikromo, AS Laksana, dkk, yang suka memakai nama-nama unik, Eko Triono juga melakukan hal serupa. Nama-nama karakter yang ‘muluk-muluk’ lucunya: Dari Massa Jenis, Gendis, Tulus Tapioka, Kembang Surtikanti, Yusuf Yasa, Rizal Gibran, Parta Gamin Gesit, Darma Gabus, Marzuki Kazam, Muhammad Basyirin, Jaya Kadal, Darman Gabus, Kembang Surtikanti, Dirjo Wuyung, Rodi Pahrurodi dan seterusnya. Boleh saja sih, sah-sah saja. Namun karena saya sering menemui, lama-kelamaan bosan juga. Lebih senang dengan nama-nama Indonesia yang membumi. Pilihan diksi dalam gaya bertutur kental dengan nilai lokal, kata Seno Gumira Ajidarma. Sementara Anton Kurnia bilang, menggelitik kita dengan semacam karnaval unik. Yup, sebagian sepakat. Kaya atau miskin datang dengan cara yang sama, bahagia dengan cara yang sama.

Kisahnya tentang sebuah keluarga yang melakukan transmigrasi dari Jawa ke tanah seberang. Lika-liku kehidupan para penjahat memulai petualangan baru. Yang lelaki sangat aneh, tapi terlihat jenius, yang perempuan adalah anak kiai yang termasyur. Putri pemilik pesantren baik-baik yang juga kelihatan cerdas, tapi memilih suami dengan tak lazim pula. Pasangan aneh yang menginginkan anaknya jadi ilmuwan, sekaligus ulama. Kombinasi tak wajar ini lalu berbaur dalam tiga puluh tiga kepala keluarga diangkut dengan dua bus biru. Berdesakan dengan kardus, barang dalam karung dan ikatan dalam plastik melakukan perjalanan ke Barat. Menyeberangi lautan, menancapkan bambu di tanah hutan perawan, dan drama umat manusia dimulai. “Tiap pendosa akan memiliki masa depan, sebagaimana tiap ulama yang telah memiliki masa lalu.”

Alurnya tak runut, pokoknya mirip sekali, bahkan polanya seperti 100 Tahun yang mendeskripsikan ending, lalu ditarik jauh ke belakang, Para Penjahat melakukan ‘napak tilas’ bagaimana menjalani kehidupan asing di rantau. Nama tanah rantau fiktif itu Jabalekat, nah apa bedanya dengan Macondo yang fiktif? Walau secara regional kita arahnya ke Sumatra. Nama areanya juga dibuat semenarik mungkin, seperti Gang Tokyo, Asia Kecil, Afrika Kecil, Australia Kecil, Pemukiman Perambah Hutan, Gang Shanghai Kecil, Balai Kumpul Jabalekat, dan seterusnya. Tokoh utamanya Parta Gamin, eks narapidana Nusakambangan yang tobat. Beristri jelita anak kiai, Kembang Sutikanti, putranya menjadi seorang pejuang revolusioner. Massa Jenis yang namanya diambil dari kemasan di tempat sampah, yang dibalik ya terdiri atas komposisi, produksi sampai identitas produk: Massa jenis adalah massa benda dibagi dengan volume. “Sudah kubilang, kau mencomot nama dari tempat sampah.” Dan nantinya mereka akan dikarunia anak kedua yang juga istimewa. Nama adalah doa.

Menghadapi orang-orang lokal yang sebagian tak ramah, hutan yang masih rimbun dipangkas, mengusir dan menghadapi hewan-hewan liar. “Jadi jangan percaya kalau kamu dengar tawa hantu, itu hanya tangis yang disamarkan.” Jangan memberikan ucapan dan komentar apa pun, katanya, pada orang yang belum bekerja dan bahkan tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Secara teori nenek moyang kita dari surga dan itulah sebabnya kita mabuk pada dunia. Para transmisgran ini selalu dijejali donkrin bahwa New York dan Sydney mula-mula dibangun dari migrasi bandit-bandit Inggris. Kalau mereka bisa kenapa kita enggak? Penyakit terberatnya adalah perasaan sunyi yang sering muncul tiba-tiba dan ketombe yang sulit dihilangkan; hingga sering kehilangan konsentrasi. “Jika ragu-ragumu dalam hal baik itu dari setan. Jika ragu-ragumu dalam hal buruk, itu dari malaikat.”

Parta Gamin sekalipun dapat istri istimewa dia punya pikiran liar juga tentang cinta masa lalu. Tapi, hanya ingatan diam. Karena kenyataannya tidak ada mantan yang lebih baik dibandingkan dengan mantan pacar yang menjadi istri. “Cinta dan sakit hanya beda istilah.”

Berikutnya yasu dah, segala cerita masyarat pindahan ini mengarungi kehidupan. Semacam rapat RT, koordinasi mengusir hewan buas, paguyupan membersihkan selokan, goyong royong mbangun desa, dan seterusnya. Apakah peran kucing lebih penting secara psikologis daripada peran ikan gabus secara biologis? Kelahiran para penerus, kematian para tetua hingga konfliks vertical dengan pemerintah yang memicu para penerus untuk melawan, memberontak demi revolusi. Dan begitulah kehidupan, selalu berputar, selalu pada akhirnya kita akan pergi dan diganti generasi berikutnya. Para Penjahat dan Kesunyian menampilkan sepenggal kehidupan orang-orang terasing tersebut dengan masam. Keunikan selain nama-nama yang aneh, adalah cara bercerita yang tak biasa, di mana plot-nya dipermainkan, tak segaris lurus laiknya waktu, tapi alurnya bolak-balik. Kalau kita harus menggugat Tuhan karena telah menciptakan dan memberi hidup pada orang jahat, maka kita pun harus menghukum orang-orang baik, sebab hanya dengan adanya orang-orang baiklah kita mampu menunjuk siapa orang-orang yang dianggap jahat. Kadang kita meragukan terhadap hal-hal sudah jelas. “Ini bukan tanah yang dijanjikan, ini tanah kutukan, tanah para binatang.

Awalnya memang sesuai harapan, tapi keterpencilan, perhatian pemerintah yang kecil, abai aturan, dan konfrontasi antar warga mencipta banyak masalah mendasar. Lalu saat muncul pemikiran generasi berikutnya, anak-anak mereka yang lebih modern mecuat, timbul gerakan pemberontakan, gerakan pembaruan yang coba dibasmi itu melibatkan orang-orang penting. Dan satu lagi, cerita akan semakin seru saat ditaruh seorang penghianat. Godaan komplit: harta, takhta, wanita. Siapa yang berani melawan suara rakyat? Siapakah yang teganya menjilat uang demi kenikmataan sesaat? “Saya resmi jadi penghianat. Demi cinta, ya demi cinta, saying. Apa pun saya rela, asalkan jangan menjadi kenanganmu.”

Awalnya saya kasih skor 3.5 karena kemiripan novel masterpiece Gabriel Garcia Marquez, tapi setelah kupikir-pikir sulit juga menjaga konsistensi sepanjang 200 halaman bertutur kata dalam drama yang memusing, walaupun ‘agakhappy ending. Biasanya kita menikmati Triono dalam cerita pendek, maka cerita panjang pertama beliau, novel pertama beliau yang kulahap ini sangat patut diapresiasi. Berlabel juara 3 UNNES – International Novel Writing Contest 2017. Yel-yel dan jargon itu – konon digali oleh Parta Gamin dari amanat penderitaan rakyat – bahkan telah bergema di hati mereka sendiri meski dalam diam bermain catur. Apakah perjuangan itu sebuah kesia-siaan besar?

Aku sudah melakukannya selama tiga puluh dua jam. Nggak jadi presiden nggak sipilis.”

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing | Oleh Eko Triono | GM 618202020 | Editor Sasa | Desain sampul Chandra Kartika (@kartikagunawan) | Desain isi Nur Wulan | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-602-03-8315-6 | Skor: 4/5

Karawang, 180419 – Nikita Willy – Lebih Dari Indah // 270619 – Westlife – I Don’t Wanna Fight

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day27 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Iklan

Kumpulan Budak Setan

Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?

Saya mengenal Abdullah Harahap belum lama, tiga tahun lalu lewat novel mistik Kolam Darah. Cerita peseteruan keluarga terkait warisan dan keturunan yang dibalut kengerian saling serang sihir dan lempar tuah. Andai ga baca tulisan kover belakang yang mengandung inti cerita bisa jadi ceritanya akan lebih resep. Mitisme lokal dengan jimat, dendam, hingga jualan kengerian darah yang membuncah. Status genre horror yang identik dengan estetika rendah dan karenanya berada di luar khasanah sastra. Edisi kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan ini ternyata dipersebahkan untuk beliau. Berisi dua belas cerita, ditulis tiga Pengarang handal tanah air dari komunikasi tiga kota. Eka dan Intan sudah mengenal beberapa karyanya, untuk Ugoran, ini adalah buku pertama beliau yang kunikmati. Saya berstrategi membacanya ga berututan dari halaman satu beriring runut terus sampai akhir buku, tapi satu cerita dari satu penulis, lalu cerpen berikutnya ganti penulis lain, lanjut lagi dan kembali muter. Jadinya gaya bercerita yang kukhawatirkan monoton karena dari tangan yang sama dapat dihindari, dan alhasil sukses. Sungguh bagus kisah-kisah di buku ini. Tema variasi, tapi tetap hal-hal gaib menyelingkupi semuanya.

(1).Eka Kurniawan
#1. Penjaga Malam
Kisah para peronda yang ditikam kesunyian pekat. Bagaimana mereka menjaga kampung, mengawasi segala yang potensial membahayakan warga, badai menambah menakutkan diseling mati listrik dan sesekali mengerjap. Lalu satu per satu menghilang. Sebuah tindakan beresiko yang mengabai keselamatan. Pace-nya memang lambat tapi nikmat diikuti karena memang kekuatan utama ketenangan malam yang disaji. Gelap pekat membuat kita serasa dikubur hidup-hidup.

#2. Taman Patah Hati
Untuk memutuskan kekasih harus sampai ke Jepang. Memang sulit untuk mengakhiri hubungan, lebih mudah memulai. Keputusan berat yang terpaksa diambil itu melibatkan keberanian, mitos dan pengorbanan yang tak sedikit. Kita bertemu lagi dengan karakter bernama Ajo Kawir, tokoh penting di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas. Mia Mia yang dan danau di taman Inokashira.

#3. Riwayat Kesendirian
Salah satu yang terbaik. Seorang ilustrator yang sudah memiliki pacar, mendapat tugas menjaga temannya teman, dititipi untuk numpang tidur di apartemen. Awalnya tak ada rasa, tapi riwayat kesendirian mencipta drama saat kedua insan terpisah. Sang gadis bernama Ina Mia, dari nama perempuan Chairil Anwar, ia dipaksa kawin sama pilihan orang tuanya, dan sebuah telpon untuk janji temu meluluhlantakan bata lego yang disusun. “Bolehkah aku bertemu denganmu?”

#4. Jimat Sero
Menurutku ini yang paling bagus. Pembukanya mengupas kulit bawang paling luar, lalu kupasannya perlahan sekali, menarik minat pembaca sampai akhirnya saat sampai di inti, ternyata kupasan terbaik ada di permukaan! Ga nyangka. Seorang penakut yang kena perisak di sekolah, dibantu Rohmat, seorang anak yang istimewa, siapa saja yang memukulnya akan kena damprat. Sekembali dari kampung melanjutkan hidup, segala takdir berubah lurus dan nyaman berkat jimat sero. “Tak ada yang perlu kamu risaukan.” Benarkah?

(2). Intan Paramaditha
#5. Goyang Penasaran
Tak pernah mabuk judi atau mabuk minuman, tetapi mabuk janda ternyata lebih berbahaya. Kisah yang keras dan berdarah-darah. Jelas kover buku diambil dari cerita ini. Penyanyi dangdut yang mencoba insyaf, terusir dari kampung dan saat kembali sudah mengenakan hijab. Sebuah taktik dendam disusun, kepala desa yang baru sang pengagum itu dituntun dalam goyang penasaran di tepi jalan. Keras. Sadis. Mencekam. Hal hal remeh cenderung meruap dari ingatan. Zina yang sering tak kita sadari wahai kaum muslimin dan muslimat adalah zina mata.

#6. Apel dan Pisau
Kisah nabi jelita Yusuf yang membuat para wanita menggoresi tangan mereka dengan pisau. Pesona gossip, arisan keluarga dan ketamvanan yang haqiqi. Apel yang matang, perempuan-perempuan yang matang, dan Yusuf yang memukau. Sinisme kaum hawa yang pandai bergosip laiknya kena batu. Cik Juli dan magnet sihirnya. “Apelnya memang enak.”

#7. Pintu
Keluarga terpandang, kaya, dan kematian tragis dalam sebuah mobil kutukan, Mercy Tiger merah metalik tahun 1982. Cerita tragis sebuah keluarga pasangan Bambang dan Ratri mencoba kembali menurut fakta saling silang selingkuh. Namun ternyata asmara dan dendam arwah menghantar pada kepahitan lain. “Mari, temani aku jalan-jalan.”

#8. Si Manis dan Lelaki Ketujuh
Ini yang paling aneh. Wanita buruk rupa sedang mencari mangsa, lelaki yang diperbudak seks dengan imingan gaji menggiurkan. Seorang penganggur yang sudah berkeluarga dengan berat hati menerima tawaran, gaya bercinta ala kisah sang putri salju dan tujuh kurcaci di mana drama sandiwara penculikan dicipta, scenario itu berantakan saat titik didih sudah di puncak. “Karena aku menyukai eksperimen.”

(3). Ugoran Prasad
#9. Penjaga Bioskop
Cerita hantu di bioskop yang angker, sang penjaga bioskop Rusdi yang menjadi saksi dari awal sekali gedung dibuat smampai akhirnya esok dirobohkan. Saat film terakhir selesai diputar, sang penjaga mengenakan pakaian terbaiknya dan mengucapkan salam perpisahan. Ternyata tak seperti yang tampak di permukaan. Sebuah rekaman suara memberi kengerian di balik kabar angin kesereman gedung. “Aku datang. Aku di sini terus. Aku menemanimu terus.”

#10. Hantu Nancy
Cerita balas dendam yang tak biasa. Pembunuhan sang gadis salon yang merentet kematian demi kematian semua orang yang terlibat. Hikayat hantu di kampung Kebon Sawah yang menguar kengerian di udara. Zulfikar dan bau rambut terbakar. “Aku mimpi ketemu Nancy. Dia bilang mau balas dendam.”

#11. Topeng Darah
Level kekerasan kelas satu, satu tingkat di atas Goyang Penasaran. Sadis, tragis, dan tak berperi. Sebuah iklan aneh yang menjual barang langka, sebuah topeng abad 19 dengan harga tak masuk akal, Iskandar iseng, berbuntut panjang dan penyesalan. Percobaan demi percobaan itu seperti candu.

#12. Hidung Iblis
Sang lelaki belang yang membantai lelaki belang dengan pemacing hasrat istrinya sendiri, Mirna yang jelita. Berkelit masalah ekonomi, petualang cinta, setia kawan atau pengianat, sampai drama saling ancam dalam penyelesaian proses kriminal. Endingnya twist. “Seberapa sering kamu mengajukan pertanyaan-pertanyaan metafisika?”

Sejatinya semua ini bermula dari Gentayangan. Novel pertama Intan Paramaditha yang masuk lima besar Kusala Sastra 2018 ini membuatku penasaran karya lain, Sihir Perempuan menjadi buku ke 100 yang kubaca tahun lalu. Dan dari komentar teman di sosmed bahwa ada kumpulan cerpen Intan kolaboratif, bilang cerpennya yang paling menawarkan kengerian, maka jadilah kunikmati juga buku ini. Eka Kurniawan jelas adalah salah satu Penulis besar yang masih hidup saat ini. Penghanggaan demi penghargaan internasional adalah bukti, ia memang Penulis jempolan. Terbukti lagi, di sini. Empat cerpennya kurasa yang terbaik. Ketenangan bernarasi menjadi kekuatan utama, menyimpan rapat kejutan masih menjadi andalan, hingga fakta itu dibuka di penghujung. Riwayat Kesendirian itu luar biasa lho, tak ubahnya sebuah lipatan origami yang menghasilkan angsa terbaik. Ina Mia dan kesedihan takdir yang tercipta. Ugoran ternyata jua penulis hebat, empat cerpennya sudah cukup untuk bekal mengarungi cerita-cerita lain beliau.

Kuhirup udara seolah-olah aku ingin memasukkan seluruh udara di dalam ruangan ke dalam tubuhku, dan siapa pun yang bersembunyi di balik udara, akan tersirap dan mendekat ke arahku. Dan sebagaimana budak sejati, kami juga berada di tengah-tengah: antara keinginan untuk merdeka dan kesetiaan yang tak terjelaskan.

Kumpulan Budak Setan | Oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad | GM 616202044 | Desain sampul eMTe | Setting Sukoco | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, 2016 | ISBN 978-602-03-3364-9 | Skor: 5/5

Untuk Abdullah Harahap

Karawang, 070319 – 160319 – Ronan Keating – I Hope You Dance

Nyepi Day – Undian 8 besar UCL – Liga Sparing

Svetlana Alexievich, Nobel Sastra dan Penulis Indonesia

Featured image

Semalam saat menonton trending topic di Metro TV sekilas membaca running text: ‘Svetlana Alexievich, Penulis asal Belarusia menjadi pemenang Nobel Sastra 2015’. Pengumuman dilakukan Kamis (8/10) kemarin oleh komite Nobel di Swedia. Alexievich mengalahkan kandidat kuat penyair asal Korea, Ko Un dan penulis Hungaria, Laszlo Krasznahorkai. Sara Danius, ketua penyelenggara menyebutkan buku pemenang Alexievich sebagai monumen untuk keberanian dan penderitaan di waktu yang sama.

Seperti yang dikutip CNN Indonesia, Svetlana Alexievich adalah pemenang wanita yang ke-14. Wanita kelahiran 31 Mei 1948 di Ukrania ini memiliki darah Belarusia dari ibunya. Alexievich pindah ke Belarusia setelah ayahnya keluar dari militer. Kedua orang tuanya lalu menjadi guru. Beliau menjadi jurnalis dan menulis banyak karya mulai dari cerpen, esai sampai reportase. Dirinya adalah jurnalis pertama yang memenangkannya.

Alexievich sering mengkritisi perang yang banyak mengorbankan anak-anak dan wanita. War’s Unwomanly Face berisi reportase dari berbagai negara yang sangat menyentuh terutama dari Eropa Timur di Perang Dunia II. Bukunya yang paling terkenal, Voices from Chernobyl tentang bencana nuklir tahun 1986 dan Zinky Boys yang mengacu perang di Soviet dan Afganinstan. Buku itu menuai kontroversi ketika pertama diterbitkan di Rusia. Karena dianggap sebagai sebuah fitnah kejam terhadap pemerintah sehingga dirinya beberapa kali dicekal dan teleponnya disadap. Semangat Alexievich untuk mengungkap kebenaran akhirnya diganjar hadiah Nobel Sastra tahun ini, uang sebesar Rp 15 milyar berhak untuknya. Selamat Alexievich.

Berikut Pemenang Nobel Sastra dalam 10 tahun terakhir:

2015 – Svetlana Alexievich (Belarusia)

2014 – Patrick Modiano (Perancis)

2013 – Alice Ann Munro (Kanada)

2012 – Mo Yan (China)

2011 – Tomas Transtromer (Swedia)

2010 – Mario Vargas Llosa (Peru)

2009 – Herta Muller (Jerman)

2008 – Jean-Marie Gustave Le Clezio (Perancis)

2007 – Doris Lessing (Inggris)

2006 – Ferit Orhan Pamuk (Turki)

Penganugerahan Nobel Sastra dimulai tahun 1901 dan sejauh ini belum pernah ada Penulis Indonesia yang meraihnya. Raihan tertinggi Indonesia adalah masuknya penulis terbesar kita Pramudya Ananta Toer yang beberapa kali dinominasikan. Sayangnya sampai beliau meninggal tahun 2006, Nobel Sastra tak mampir. Pram mempunyai karya dahsyat Bumi Manusia. Buku ini kontroversi di era pak Harto. Sehingga Pram beberapa kali diasingkan. Dalam pidato tertulisnya pada saat menerima Penghargaan Magsaysay di Manila, Pram mengatakan bahwa sastra yang dilahirkan dalam pangkuan kekuasaan dan berfungsi memangku kekuasaan semacam itu, langsung menggiring pembaca pada sastra hiburan, memberikan umpan pada impian-impian naluri purba pada pembacanya. Dari sekelumit kisah ini kita tahu, untuk dikenang kita harus berani mengungkap kebenaran tak peduli kita tak sejalan dengan sang pemegang kekuasaan.

Era Pram sudah berlalu, mari kita tatap ke depan. Siapakah Penulis Indonesia yang akan pecah telur memenangkan penghargaan bergensi ini di kemudian hari? Saya tak tahu. Kalian juga tak tahu. Semua orang tak tahu. Tapi kita tetap harus yakin, seuatu saat pasti ada. Ini bukan prediksi, namun sejauh ini ada empat Penulis yang menonjol yang layak untuk selalu masuk daftar spotlight, pertama Okky Madasari Penulis muda yang meraih sastra Khatulistiwa tahun 2012 dengan karyanya Entrok (2010), Maryam (2012) dan Pasung Jiwa (2013). Ketiganya sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Kedua Eka Kurniawan dengan masterpiece-nya Cantik Itu Luka (2002) dan Lelaki Hariau (2004), keduanya juga sudah diterjemahkan ke Bahasa asing. Tulisan-tulisannya yang surealise mengingatkanku pada penulis besar Amerika Latin, Gabriel Garcia Marquez. Ketiga Seno Gumilar Ajidarma yang cerpen indahnya Sepotong Senja Untuk Pacarku selalu menghantui kita. Tahun 2012 lalu beliau menang Ahmad Bakrie award. Puluhan karyanya begitu menghipnotis dan selalu ditunggu pembaca. Dan terakhir Remy Silado, satu-satunya buku yang sudah kubaca Beolevard de Clinchy (Agonia Cinta Monyet) benar-benar luar biasa indah. Pernah menang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2002. Selain menulis, Remy juga membuat film. Ciri khas karyanya adalah penceritaan setting tempat yang sangat kuat dan jelas ditulis dengan survei yang detail. Cerita seperti itu sangat sulit dibuat karena butuh kesabaran tingkat tinggi. Selain keempatnya masih banyak Penulis besar yang layak disodorkan. Ahmad Tohari yang tahun ini menang Ahmad Bakrie award, Djenar Maesa Ayu yang karyanya mengekploitasi seksualitas tanpa batas, Asma Nadia yang buku-buku religinya banyak mengubah pandangan hidup perempuan, Ayu Utami yang punya Saman dan Pintu Terlarang yang fenomenal setelah diangkat ke layar lebar. Dee, yang tulisannya selalu nyeleneh dengan Supernova. Dan masih banyak lagi. Kepada merekalah saat ini kita berharap. Kepada kalianlah saya berharap.

Siapapun itu Penulis Indonesia nantinya yang meraih Nobel Sastra, kuharap saya bisa menjadi saksi sejarah. Atau salah satu dari kalian yang sedang membaca tulisan ringan ini yang akan memecahkannya? Siapa yang tahu?! Sekali lagi Kuharap saya panjang umur sampai tahu sejarah emas itu ditulis. Allahu akbar.

Karawang, 091015

Total Film Indonesia: Edisi Emas

Image

Sampai saat ini majalah Total Film Indonesia (TFI) adalah satu-satunya media cetak yang masih rutin saya beli. Hari ini edisi special kelimapuluh – Januari 2014 baru saja saya terima, harganya naik menjadi Rp 50 ribu. Akhirnya setelah sekian lama dinanti pertanyaan akankah tembus angka 50, kini terjawab. Terjawab apakah akan sampai edisi 50? Ya. Dan terjawab akankah harganya akan mencapai Rp 50 ribu. Ya.

Sebelum rutin membeli majalah TFI saya sudah rutin beli majalah film C, sesekali beli M atau S dan F (keduanya tamat). Di grup social media dulu termasuk rutin posting, komen, sampai debat. Namun mulai akhir 2011 pasca menikah semua berubah, saya tak serutin dan seaktif dulu. Menikah memang membuat banyak perubahan. Karena mahalnya harga majalah akhirnya saya memutuskan harus beli satu, dan mulai edisi ketiga saya putuskan berlabuh ke TFI.

Edisi terbaru ini kita diberi kartu remi dengan gambar (hampir) semua cover TFI. Ketika pertama saya lihat bonusnya, saya rada kaget. Kok kartu remi lagi? Bukannya dulu pas edisi Tron sudah pernah? Kenapa bukan bonus kalender yang memang sudah menjadi kebiasaan di pergantian tahun? Lalu cover-nya tertutup iklan. Berarti ini kedua kali beruntun mereka menutup cover utama dengan iklan mobil. Pemilihan gambar cover TFI juga kurang ideal, bulan ini memilih reboot Robocop dan gambarnya kurang OK. Masalah cover harus diakui TFI masih kalah telak sama tetangga. Ini sudah disampaikan berkali-kali kepada mereka. Di era modern sekarang ini cover minimalis lebih terlihat elegan, masalah konten dan kalimat hiperbola yang ada di cover kurasa tak terlalu penting. Cukup kasih judul film dan beri gambar yang keren, pasti akan jadi magnet pembeli. Tapi harus diakui, isi TFI memang padat informasi. Di dalamnya banyak berisi wawancara dengan aktor Hollywood yang tak akan ada di majalah lain. Menurut saya keunggulan utamanya pada review film yang melimpah. Prinsip mereka semua film (Hollywood dan local) di-review, jadi bisa dibayangkan film yang rilis jumlahnya banyak dan mereka menampilkannya dalam ulasan tiap bulan, padat! Every new movie reviewed and rate. Memang beda sih rasanya membaca majalah impor dan local bisa analogikan dengan film luar terasa lebih canggih ketimbang film kita.

Dari 50 majalah yang sudah terbit saya ketinggalan enam edisi. Nomor satu, dua, cover the A-Team, Superman (yang Henry Cavil bersedakep), dan Thor: The Dark World. Edisi awal saya belum minat beli, sedang yang lain karena kehabisan. Sempat mau langganan, tapi karena tanggal terbit yang tak pasti dan seringnya terlambat terbit membuatku mengurungkan niat. Beli eceran rutin lebih nyaman karena agennya sudah kenal dan sering kasih diskon.

Edisi favorite saya adalah edisi Inception. Di dalamnya memuat detail film-film sutradara hebat Christopher Nolan. Cover favorite jelas The Social Network yang memuat gambar kecil-kecil membentuk muka pendiri Facebook: Mark Zukeckerberg.

Kini pertanyaannya sejauh mana saya akan bertahan untuk rutin membelinya? Kompas sudah saya lepas setengah tahun lalu, apalagi kini harganya naik menjadi Rp 4.500,-. Bola Vaganza sudah lebih dulu berhenti. Tabloid Bola pun sudah jarang baca. Intisari, Tempo mungkin hanya sesekali beli. Annida sudah tak terbit (yah, sudah lama banget kali). Di tengah kencangnya informasi yang mudah diakses melalui internet, kehadiran media cetak kini perlahan mulai digeser. Adaptasi dan hanya dengan kualitas yang (luar biasa) bagus yang mampu membuatnya tetap bertahan. Saya juga.

Image

(review of the year, artikel favorite tahunan)

Karawang, 060114

Indonesia Gagal Lagi

Image

Untuk kesekian kalinya timnas Indonesia gagal meraih emas di ajang sepak bola pria Sea Games. Berarti kegagalan Sea Games Myanmar menjadikan angka 22 tahun puasa gelar. Terakhir kali Timnas kita meraih juara di Sea Games 1991 Fillipina. Perjalanan Timnas Indonesia U23 menuju final sungguh memprihatinkan. Di laga grup yang berisi lima tim, Indonesia memulainya dengan kemenangan tipis 1-0 lawan tim lemah Kamboja, tim yang biasanya jadi lumbung gol. Permainan kita jauh dari kata bagus. Seperti perkiraan di pertandingan kedua lawan Thailand kita tumbang memalukan 4-1. Timnas kita amburadul di semua sisi. Di laga ketiga tak ada perkembangan berarti. Lawan tim lemah Timor Leste, pendatang baru yang di atas kertas harusnya bisa diatasi malah berakhir tanpa gol. Penyerang kita bikin gregetan. Dan di pertandingan pamungkas grup lawan tuan rumah Myanmar kita menang beruntung, menang bejan 1 gol melalui titik penalti.

Perjalanan lolos ke semifinal yang tak meyakinkan tersebut membuat kita perlu was-was saat di fase knock-out kita melawan musuh bebuyutan Malaysia. Tim Harimau Malaya yang menjadi juara grup sebelah dengan kemenangan seru di laga pamungkas menyingkirkan Vietnam, mereka menatap Indonesia dengan nada optimis. Laga ini sekaligus kesempatan kita untuk melakukan revan dua tahun lalu saat kita tumbang di final. Dengan pasukan compang-camping awalnya banyak yang ragu.

Pasukan menjawab! Di awal laga kita langsung mengambil alih serangan, hasilnya kita bisa leading lewat kaki Bayu Gatra. Melakukan one-two Bayu melakukan shoot yang tak bisa dijangkau kiper Malaysia. Setelah itu ya bertahan dan hanya mengandalkan serangan balik. Saat kita sudah siap-siap berjingkrak menuju final, kelengahan terjadi. Lima menit sebelum waktu normal selesai kita kebobolan. Berawal dari kesalahan control Andik, bola dapat direbut yang menghasilkan sepak pojok yang kemudian memaksa kita melanjutkan perpanjangan waktu. Tak ada gol tercipta. Ada kejadian unik saat kita menyadari Andik yang masuk sebagai pemain penganti ternyata ditarik lagi. Dan adu penalti, adu bejan, adu tos-tosan, adu domba ini memihak kita. Adalah Kurnia Meiga yang menjadi pahlawan kemenangan. Dua tendangan penalti awal Malaysia dapat digagalkan olehnya dengan tangkapan sempurna. Skor akhir 4-5 yang mengantar kita kembali melawan negeri Gajah Putih di final.

Mengingat skor di pertemuan sebelumnya mencolok 4-1 maka harapan saya tak muluk-muluk, apalagi kalau ditarik sejarah kita melawan mereka yang hanya menang sekali sisanya seri dan kalah. Benar saja kita sudah kebobolan di menit-menit awal. Sisanya kita gatot –gagal total– dalam semua serangan. Skor akhir 1-0 dan kita kembali harus menelan pil pahit. Lagi-lagi perak.

Melihat penampilan Timnas U23 di Sea Games kali ini kita sudah seharusnya syukur dapat juara dua. Perjalanan menuju ke sana sungguh miris. Penurunan drastis dari dua tahun lalu saat kita jadi tuan rumah yang kala itu kita hanya kalah adu penalti. Mengaca pada kesuksesan Timnas U19 yang bisa menjuarai AFF U19 2013 dan melaju ke piala Asia 2014 kita harusnya mengadopsi gaya mereka. Rekrut pemain tanpa ada pemain titipan. Serahkan pelatih berkuasa penuh menentukan skuad. Blususkan ke pelosok negeri untuk menemukan bibit muda berkualitas. Dan yang terpenting jangan direcoki politik. Muak rasanya sepak bola kita dikotori politik PSSI. Sepak bola kita siaga satu.

Kegagalan ini makin lengkap saat penutupan Sea Games hari Minggu kemarin kita ada di posisi empat klasemen akhir. Emas yang diraup jauh dari target. Rasanya gagal seperti jadi nama tengah Indonesia. Entah mau sampai kapan kita bisa raih emas sepak bola lagi.

Karawang, 231213