Menentang Sejuta Matahari

“Namaku, Siska? Bramandita. Panggil saja Bram…”

Mungkin tampak klise. Namun ternyata tak seklise itu. Pengelolaan cerita mengalir nyaman, cerita para remaja tentang kasih tak sampai, cinta segitiga mencipta bencana, karena status sosial, si miskin yang merindukan damba pasangan kaya. Orang tampan yang mengingin cinta gadis cantik. Hingga berantem marah akibat cemburu. Sebuah tusukan maut, mengacaukan tatanan kehidupan para muda-mudi ini. Liar, penuh amarah, jantan.

Bramandita atau panggil saja Bram dalam perjalanan balik ke Bandung, dengan bus butut di Jakarta mengejar kereta api. Hampir tertabrak mobil saat turun dari bus, dan mau ganti moda. Mobil dengan sopir pemuda, turun dan hampir baku hantam. Namun di samping sopir ada cewek cantik, yang mencegahnya, namanya Siska sebab disebut oleh si sopir. Bram jatuh hati.

Jodoh memang tak ada yang tahu. di stasiun Bogor, nasib mempertemukan Siksa dan Bram duduk berdampingan. Perjalanan kereta malam itu, seharusnya syahdu. Namun sang pacar Tommy sudah wanti-wanti, dan kekikukan tak cair hingga sampai Bandung. Tommy berkata dalam hati, “Alangkah bermurah hatinya Tuhan berkenan memberi kesempatan dalam hidup Bram untuk melihat hasil ciptaanNya yang begitu memesona.” Malah, seorang pramugari cantik Merri yang menambatkan hatinya. Merri dijemput pamannya, Bram diantar, nebeng sampai rumah.

Bram adalah mahasiswa ITB, anak seorang penjahat kambuhan. Ayahnya kini mendekam di sel tahanan karena kasus perampokan yang gagal. Naas, rumah korban malam itu yang dikira kosong, malah ada penghuni lain. Kasus perselingkuhan, yang karena niat pencurian itu, membongkar affair. Ibunya hanya tukang jahit, terima pesananan. Seringnya dari butik ternama, yang mengalirkan pekerjaan ke ibunya.

Nah, nasib kembali mempertemukan Bram dengan Siska sebab saat ibunya minta tolong mengantar baju pesanan ke tantenya Zus Nelly, malah diminta langsung ke rumah pelanggan. S. Harjadiningrat di Jl. Trunojoyo. Dan ternyata itu rumah Siska. Masih sama, mereka berdua tampak ketus, belum cair. Masih jaga gengsi. Bram benar-benar jatuh hati akan kecantikan Siska, yang sudah bertunangan dengan Tommy. Mereka sejatinya saudaraan, dulu Tommy adalah anak angkat Suradi Harjadiningrat, ayahnya Siska. Anak pancingan dari saudara, maka setelah Siska lahir dan adiknya juga, Tommy dikembalikan. Namun garis nasib sudah digoreskan.

Sebuah wisata di Tangkuban Perahu, Lembang menjadi pemicu sejatinya. Siska dan Tommy pacaran, Bram dan teman-teman kuliahnya juga di sana. Sutikno, mahasiswa sekaligus guru SD yang sudah menikah dan punya tiga anak, istrinya Soraya, anaknya Nora, Andi, Barda. Ini kurang ajar sebab malah berpacaran dengan mahasiswi Sri Sudarmi yang pacarnya ke luar negeri. Bram berdiri di tengah-tengahnya. Untungnya ia masih punya hati sehingga ajakan Tikno, nanti malam ke rumahnya diajak belajar atau ke mana kek agar mereka bisa jalan. Sebuah misi perselingkuhan, tapi gagal, malah berujung petaka. Mobil plat Jakarta Kingswood Tommy nyusruk mengakibat ia luka parah. Dibantu Bram, dan inilah yang membuka hati Siska.

Ibu Bram sudah memprediksi, mending sama Merri. Pramugari baik, yang ketika diperkenalkan berhasil menyentuh hatinya. Ketimbang Siska yang kaya, tapi berpotensi remuk. Naluri keibuannya memberitahu bahwa anaknya sedang menempuh jalan yang berbahaya. Sebuah cenayang yang tepat. Sebab kisah ini menjadi hitam saat Bram memaksa diri untuk memilih Siska. Begitu pula feeling ibu Siska. Ah, perasaan lembut seorang ibu yang cinta anak-anaknya. “Aku mendapat firasat, akan terjadi hal-hal yang tidak kita kehendaki. Mudah-mudahan saja pemuda lain yang diundang anak kita, berhalangan datang…”

Sebuah undangan pesta ulang tahun ke delapan belas Siska menjadi bencana. Tommy yang tak diundang, datang langsung dari Jakarta. Bram yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba, motor butut tua Honda rusak di jalan. Dan walau terlambat sampai, bersiteganglah Tommy dan Bram di sana. Kehadiran Bram merubah situasi itu secara total. Alangkah mustahil pertemuan semacam itu bisa terjadi di tengah kecamuk jalan yang semakin edan ini. Lebih mengejutkan lagi, ayah Siska ternyata sudah mengenal Bram, dan itu menambah bumbu percik amarah. “Tommy ada di sini sekarang. Hadapailah kenyataan itu. Camkan pula, kalian sudah bertunangan. Aduh nak, tahukah kau apa artinya?” Ditambah lagi nama seorang cewek, Lidya yang hamil menambah pusaran konfliks.

Hingga di ujung kisah cinta segitiga ini, tak semua selamat. Nyawa seseorang melayang. Egoism, amarah, hingga pilihan hidup yang terlampau memaksa bisa jadi karenanya, waktu tak bisa diputar balik. Begitulah kehidupan.

Buku terbit tahun 1980-an, banyak kosa kata jadul. Gongli? Saya tak tahu, hingga akhirnya saya googling. Artinya gadis yang melacur untuk kesenangan semata. Hehe, kata penting di eksekusi akhir ini ternyata. Atau kutipan ini, saya tak paham. Seperti Joan Tanamal ditanya Tanty Yosepha, Tommy menyahut: “Ya mana.” Dan berkat Google saya menemukan jawab. Itu kutipan dialog film Yoan (1977) yang pastinya nge-trend kala itu. Wajib dicari!

Atau kalimat yang masih relate hingga saat ini, “Hanya satu dua. Perkembangan peradaban tidak membuat orang lantas kehilangan sopan santun… Bram, Aku akan menangis selama satu minggu, kalau kau tidak mau kuajak makan sekarang…!” Tampak manja, tapi ada benarnya juga.

Satu kalimat panjang lebai, saat Bram dirasuki asmara tampak wajar. Kita semua pernah muda dan mengalaminya. Cinta itu buta. “Tuhanku. Apakah aku telah jatuh cinta pada Ummat-Mu yang bernama Siska? Jawablah. Jawablah. Apa? Kau tidak mau menjawab? Kalau begitu KAU tak jujur. KAU perlihatkan Siska kepadaku, dan ketika aku sudah mulai menyukai gadis itu, KAU tidak mau menyalakan oborMu untuk menerangi dadaku yang gelap gulita ini…”

Karena ini bersetting jadul, tak ada internet, taka da HP maka sebuah permintaan maaf dikirim via surat. Yang kemudian diminta lagi, sebab menyampaikannya langsung akan lebih afdol. “Tak sepatutnya aku meminta maaf lewat kartunama. Itulah sebabnya aku datang hari ini… untuk mengulangi permintaan maaf atas kekasaran dan kekeliruan yang telah kuperbuat.”

Dan betapa relate-nya kehidupan ini akan nasehat penting ini. masa muda, masa yang berapi-api. Segala zaman akan sama, kesalahan-kesalahan kembali terulang, dan segalanya dilindas waktu. “Aduh, Nak kau masih muda, masih belum matang mengenyam hidup di dunia ini. Bagimu, atau bagi orang-orang muda seperti kau, apa yang tampak itu sajalah yang ada. Apa yang tersirat tak pernah kau baca…”

Sayang sekali buku ini dicetak tanpa ISBN, tanpa tahun. Identitas buku hanya tiga: judul, penulis, penerbit. Hanya itu! Padahal ini buku bagus, terbaik setelah Kolam Darah yang horor abis, keren abis! Buku ini jelas ditulis seorang kawakan, seorang yang tahu bagaimana mencipta kejutan. Sebab bab terakhir sangat keren. Tak menduga, kukira bakalan klise dengan bumbu roman, tapi mahal berdarah-darah, twist. Dan jelas, saya menambahkan nama beliau di daftar penulis lokal favorit.

Bram yang malang. Tommy yang malang. Siska yang malang. Betapa jahatnya dia, betapa banditnya dia. Sejahat ayahnya sendiri. Sebandit ayahnya sendiri. Cinta segi tiga di antara mereka telah sama-sama melahirkan dendam. “Betapa kejamnya dunia.”

Menentang Sejuta Matahari | by Abdullah Harahap | Penerbit Sinar Pelangi, Bandung | Skor: 4/5

Karawang, 120922 – Miles Davis – Once Upon A Summertime

Thx to Erii, Jakarta

Dan Apakah yang Membangun Pengalaman Manusia jika Bukan Ingatan?

Larung by Ayu Utami

“Kalau kamu bersama orang yang kamu suka dan kamu tahu cara menikmatinya, maka seks akan menyenangkan. Tapi kalau kamu tahu cara menikmatinya, seks juga menyenangkan tanpa orang yang kamu suka.” – Shakuntala

Sekuel yang biasa. Bab-bab awal sungguh cantik Larung Lanang mau membunuh neneknya yang seolah abadi, sudah berusia seabad lebih, dan memiliki jimat yang kudu dilepas agar bisa ke alam seberang. Benar-benar ciamik bagian ini. Sampai sempat membuang jauh-jauh ‘teguran’ temanku bahwa kamu akan kecewa. Sayangnya saat masuk ke dunia Saman, melanjutkan kisah sejatinya, malah down. Mbulet-mbulet sampai lelah cuma mau membenarkan main seks sama pasangan orang lain. Ya, selingkuh itu malah diudal-udal panjang. Dan bagaimana mengatasinya, benar-benar tak bagus ditiru. Seolah kewajaran, teman-temannya yang hedon ke New York turut membantu para perempuan ini untuk bertemu lelaki beristri. Dan Yasmin yang sudah bersuami, dibantu bertemu lelaki lain. Gerombolan si berat, mau maksiat, mau bagaimanapun disampaikan tetap saja itu zina dan dilarang agama, tak bagus untuk norma. Dibuat dengan bahasa se-sastra apapun, tata kelola selingkuh tetaplah busuk.

Larung Lanang dalam perjalanan kereta api ke luar kota. Ia memiliki misi untuk melepas jimat neneknya Anjani yang sudah lebih seabad. Ada yang mengganjal kehidupannya sehingga ia tak mati-mati, maka dari satu kota ke kota lain Larung mencari kunci kematian. Dari hutan ke pantai, dari remang kota sampai ke kegelapan gua. Semua dijabani demi misi itu. Sejatinya bukan hanya ia yang menginginkan kematian neneknya, ibunya dan sebuah kepentingan mendesaklah yang juga mengganduli tindakannya. Ketika orang menjadi tua maka keindahan pergi ke luar dirinya.

Setelah hampir setengah buku, lalu kita diajak ke New York bertemu gerombolan wanita sukses secara material. Laila Gagarinam sang fotografer yang mengingin Sihar yang sudah beristri. Yasmin Moningka, yang tampak sempurna: cantik dan baik, istri solehan tampaknya, tapi tentu saja tidak. Ia adalah Pengacara yang sudah surat-suratan dengan Saman, janji temu kangen. Cokorda Gita Mageresa, pengusaha hotel yang hedon keluar negeri. Dipanggil Cok Gita. Dan Shakuntala sang penampil yang biseksual. ACDC Ok, tersentuhlah sama Laila yang kangen Sihar.

Mereka memang ada perlu pameran, ada bisnis di sana, tapi dibaliknya terjadi misi perselingkuhan. Atas nama cinta dan kebebasan kehendak! Melawan nurani? Oh tidak bisa. “Kamu bukan nggak bisa, kamu nggak mau.”

Lalu sebuah misi penyelamatan diemban. Para aktivis di era 1997-1998, masa akhir Orde Baru itu diburu. Maka Saman yang pernah dibantu kabur, kini memiliki tugas mulia membantu para aktivis yang tersudut di pulau Sumatra menuju Singapura, yang lantas ke luar negeri lebih jauh. Togog, Bilung, dan Koba. Potret aktivis Solidarlit, dibantu Larung Lanang sebagai penghubung.

Misinya tak semulus yang dikira, sebab ada kecurigaan di antara mereka. Ada kekhawatiran akan keluarga yang ditinggalkan. Hanya melihat orang berseragam tentara jalan di pantai saja mereka saling tunjuk, adakah penghianat? Larangan komunikasi pakai pager atau telepon malah dilanggar. Dan di tengah ketegangan itu, tindakan genting harus dilakukan. Berhasilkah Saman meloloskan mereka?

Banyak bagian yang disajikan dengan diksi bagus. Dipilih dan diolah secara estetik. Seperti kalimat, “Janganlah kau tertawa dan menganggapnya sebagai kedunguan yang puitis. Tak banyak orang mendengar cerita ini.” Atau, “Akan mengalami yang takterkatakan: semacam gangguan jiwa bahkan alam tak punya tujuan.” Atau, “Lalu tiba saatnya ketika bunga-bunga api itu semakin tak beraturan. Bertubrukan satu sama lain dalam imaji-imaji yang aneh.” Atau, “Seperti tunas yang baru mengayu.” Dst. Sejujurnya buku-buku dengan pola seperti ini benar-benar mengasyikkan. Enak ditelaah, enak dilahap.

Kepercayaan akan klenik juga banyak disaji. Terutama bagian pertama, sebab memang misinya melawan malaikat maut. “Tetapi burung dadang-haus tetap berkitar-kitar meski fajar akan segera menelanjangi segala yang muncul dari permukaan bumi ke dalam cahayanya yang conak. Orang menyebut kehadirannya tanda buruk.” Atau, “Sayup-sayup kudengar orang membaca lontar di kebun belakang. Sebuah kisah tua tentang rangda yang menghirup darah.” Atau, “Tetapi alangkah ganjil jika segala hal diputuskan oleh akal.” Dst. Sama, membaurkan realita itu menarik, novel mistik dengan tata cara membumi. Masuk akal, dan tampak masuk logika. Sebuah kontradiksi yang mengejutkan? Atau kelumrahan?

Novel kedua Ayu Utami yang kubaca setelah Saman. Sebuah penurunan, sayang sekali. Endingnya bagus sebenarnya, saya suka ending yang menghentak seperti itu. Awal bagus, tengah lemah, akhir biasa, tapi ujung akhir-nya luar biasa. Dua lembar akhir yang sangat layak diberi aplaus. Jelas, Ayu Utami masuk daftar penulis lokal favorit, di rak sudah beberapa bukunya tersedia. Next, Bilangan Fu yang legendaris itu. Mari kita buktikan…

Larung | by Ayu Utami | KPG 901 13 0663 | Gambar sampul Lukisan kaca oleh Ayu Utami | Desain sampul Wendie Artwenda | Cetakan ke-1 November 2001 | Cetakan ke-4 Mei 2013 | viii + 295; 13.5 cm x 20 cm | ISBN 978-979-91-0569-1 | Skor: 3.5/5

Karawang, 290822 – Avril Lavigne – My Happy Ending

Untuk G.M. & Putri

Thx to Lifian, Jakarta

Aliansi Monyet Putih #27

“Seperti ada belut di mulutku.”

Bagus. Cerpen yang bagus itu, memberi efek kejut di akhir. Dengan keterbatasan kata-kata, prosedur cerita berkaidah benar kudu dicipta. Karena saya sudah membaca buku Franz Kafka, Herman Hesse hingga Jack Kerouac, apa yang dicerita langsung klik. Dan sebagian cerpen di sini memenuhi harap, saya bilang sebagian sebab hanya beberapa yang laik disandingkan dengan alur cerpen Alice Munro. Cerpen-cerpen Alice sudah saya jadikan acuan cerpen berkualitas. Cerita Tuan yang Paling Mulia misalkan, kita baru tahu motif Pak Joachim dengan anjingnya pada halaman terakhir, setelah diajak berputar panjang kali lebar, ternyata itu to maksudnya. Cerita utama, Aliansi Monyet Putih juga menyimpan kejutnya, bagaimana kekecewaan dan harapan disandingkan, lalu mengapa seorang WNI yang migrasi itu berada di sana, bagus.

Sayangnya sebagian memang biasa saja, Pada Suatu Hari misalnya, itu sekadar pesan antar dengan nilai lebih. Cerita biasa, hanya penyampaiannya yang bagus. Atau yang lebih biasa lagi Peniup Harmonika, itu teman curhat dengan gaya. Menyebut nama-nama keren dengan fasih, tak serta merta kita turut menjadi keren. Dan selanjutnya, dan sebagainya..

#1. Bulan Lemon

Dua sahabat bertemu kembali untuk berpisah. Judi jadi acuan untuk merekatkan pesahabatan. Setelah tiga kali ujian ilmu mesin gagal, mereka memutuskan udar rasa.

“Ternyata kamu pejudi sampai ke darah, ya.”

#2. Tuan yang Paling Mulia

Cerpen ini saya bacakan untuk Inspirasi Pagi di kantor pada #JumatBerkah 17 Juni 2022 kemarin. Isinya yang mencerahkan, betapa syukur kita tinggal di Indonesia yang dilmpahi mentari sepanjang tahun, uang sumbangan yang untuk warga, bukan ke binatang peliharaan, hingga betapa baiknya warga kita kepada pengemis, ‘keramahtamahan dalam menyumbang’ menjadikan pengemis subur di Negara kita.

Joachim sebatang kara, mengandalkan uang dinas dari pemerintah. Bersama anjingnya Tuan, mereka berencana menghabiskan musim panas istimewa di tanggal 31 Juli  jam 12 sampai 14 siang. Tak punya duit, mengemis tak berhasil, bagaimana caranya, oh tenang, seorang kere tahu caranya.

“Kemarin-kemarin aku tidak terlalu beruntung. Dan hari ini, aku hanya akan berjalan-jalan dengan Tuan, sebab keberuntungan kami sudah di depan mata.”

#3. Peniup Harmonika

Kakak kelas yang berkelas, tapi memilih jalan yang keras. Peniup harmonika itu sejatinya penulis, juga melukis, penyanyi, pemasak, dan kemampuan berbicara mengulang-alik fakta sebagai bakat natural. Dengan referensi sastra dan musik/film berkualitas, dia memeluk hangat persahabatan.

“Seperti apa musik paling baik?” / “Seperti remix gilamu terhadap Man with the Harmonica-nya Ennio Morricone?”

#4. Jalan Menuju Rumah

Sandang, pangan, papan. Cerpen ini menyoroti bagian akhir, di manapun berada, papan sangat penting, ini para kere yang memimpikan tempat tinggal. Apalagi warga imigran, dengan latar yang berbeda, dengan pendapatan tak tetap, sekalipun demi cinta yang membuncah, rasanya pencarian rumah adalah takdir penting layaknya: rejeki, jodoh, dan mati.

“Hanya ada satu rumus untuk mendapatkan rumah, rumusnya adalah tanpa rumus.”

#5. Kunci Kecilnya Sudah Hilang

Vulgar tapi tersirat. Tetangga kontrakan yang saling bantu dan sapa, lantas jatuh cinta, dan menyerahkan hal-hal yang berharga: waktu, tenaga, dan pelukan bermakna. Kekasih? Rasanya butuh alibi kuat untuk dideklamasikan. Druv dan Sarah, hanyalah satu kepingan asmara masa muda yang melintasi zaman.

“Aku sekarang mengerti, mengapa kamu menjadi dokter.” / “Mengapa?” / “Karena kau bersemangat dengan orang sakit.”

#6. Aliansi Monyet Putih

Dengan pembuka balap mobil di jalan tol, Volker dan Marquiz kini dalam perjalanan ke Perpustakaan Wojewodzka i Miejska Biblioteka di kota Danzig. Kita diajak mengarungi masa lalubya, WNI yang bermigrasi ke Jerman. Alasan mengapa ia ke sana menjadi bumbu penutup, dan perkumpulan ini memang perlu dikaji ulang. Marquiz, bernama asli Sumartono Hidayat, dan itulah mengapa ia terasa asing di sekumpulan warga kulit putih.

“Saya orang Jawa.” / “Ah, menarik. Apakah cerita itu benar?”

#7. Lelaki yang Menabur Rempah

Ini tentang Karl Heidrich yang jatuh hati sama segala yang oriental. Orang cerdas yang berprestasi, tapi dipaksa menyingkir dari jawara karena keadaan. Memang, di manapun berada diskriminasi masih ada, sekalipun terselubung di negara maju. Orang keturunan Arab misalnya, menang lomba kaligrafi, pasti ada saja yang menuding sebab ia sudah dididik sedari kecil untuk itu, dan menulis kaligrafi laiknya makan sehari-hari. Padahal tak bisa pukul rata, kita harus lebih melihat lebih dekat orang sekitar.

“Sekarang namanya sumbangan, dulu upeti, dulunya lagi mungkin rampasan.”

#8. Pada Suatu Hari, Ombak, dan Camar

Isoman dengan penjelasan tak terbuka. Pos ninja dan penyuplaian kebutuhan dasar orang yang positif Covid-19. Ingat, kebutuhan dasar. Makan, obat, dan sejenisnya. Tentunya yang legal. Bagaimana kalau Heinrich memesan grass. Ada bonus di sana.

“Kata bersetubuh, menjadi satu tubuh dalam bahasa Indonesia, adalah terjemahan paling menarik dari sekian banyak kata di dunia untuk hubungan badan dan menurutku itu konsep yang tepat tinimbang misalnya bercinta.”

#9. Doktor Kafkaesque

Kamila dan keseharian kerjanya. Ia mengingat pada suatu ketika sakit dan dirawat, ingatan akan cerita pendek Kafka, bagaimana Gregor Samsa menjadi kecoak saat bangun tidur. Ingatan samar-samar dan tautan yang berputar.

“Saat itu aku terdiam. Seperti ada air mancur di otakku, tiba-tiba aku teringat juga satu-satunya novel Kafka yang kubaca selesai, Amerika, yang justru tidak selesai ditulis Kafka…”

#10. Bayi Cokelat

Ini tentang gosip kehidupan pekerja dengan berbagai macam bahasan. Dari latar kehidupan rekan kerja kita hingga gosip pasangan. Sama, di manapun. Saat si A tidak ada, kita membicarakannya. Saat si B tidak ada, kita membicarakannya dengan si A di antaranya. Saat si C tidak ada kita membicarakannya dengan A, dan B juga. Begitu juga, saat saya tak ada, A sampai C juga pasti membicarakanku. Kutat lingkar omong-omong.

“Tetapi Natalie pendiam itu tampak selalu mengamati, lho. Matanya seperti rubah yang menelisik ayam-ayam.”

Karena ini diterbitkan di Penerbit Major, editingnya bagus. Enak dibaca, dan hanya ditemukan typo tak lebih dari sepuluh. Salah duanya di halaman 113: ‘ketika ketika’ dan ‘memceramahi’ itu terjadi dalam satu baris. Memang penting sekali peran editor, kerasa banget. Misalnya, beberapa hari yang lalu saya baca buku penerbit antah surantah, editingnya carut marut. Bukan sekadar typo, tapi ditemui banyak sekali kosakata tak beraturan. Seolah cetak biru dari penulis, dicek cepat atau malah tak sepenuhnya dicek. Dan jangan lupakan peran proof reader, tak semua penerbit memilikinya. Gramedia dan grup pastinya ada, pengalaman penting, tapi pijakan dasar bahasa juga sangat diperlukan.

Terakhir, buku ini rerata dicerita di Jerman. Dan wajar sahaja, Mbak Akmal memang menempuh pendidikan di sana. Ia sudah familiar sama situasi sekitar. Yang idenya berasal ketika pengarang berada di tempat yang diceritakan. Seorang pengarang memilih cerita, apa yang dikuasai. Apa yang dimengerti. Apa yang dialami. Demikian juga dalam pemilihan lokasi. Pilihan tempat yang kalian kenal betul. Lokasi, yang kamu perlukan adalah kamu mengenalnya. Walaupun orang Indonesia, setting jauh dari rumah seperti ini sah dan menarik, selama mengalami sendiri, tak ngawang-awang atau sekadar fantasi. Jelas Penulis melakukan beberapa kegiatan dalam goresannya, dengan modifikasi tentunya. Memberikan saling pengertian antar karakter juga terasa, turut serta pula cinta yang nyaman dan rasa simpati. Makanya, cerita yang baik adalah yang berhasil menautkan emosi pembaca. Dan itu didapat dengan mencerita sekitar, bukan di masa depan yang masih diraba, bukan tempat antah surantah, yang hanya dengar dari orang lain, atau dapat dari omongan orang lain. Akan terasa aneh malah kalau Ramayda Akmal bercerita betapa indahnya pulau Kreta misalnya, padahal belum ke sana. Oh, saya sudah baca bukunya Haruki Murakami lho… oh tetap beda bos. Kalau untuk selingan kisah bisa, tapi untuk setting utama tak bisa.

Ini buku ketiga Ramayda Akmal yang kubaca setelah Tango dan Jatisaba, bagus semua. Namun sayangnya semakin ke sini skornya menurun. Dari 5, 4.5, kini 4. Mungkin butuh ledakan sekali lagi untuk kembali ke puncak, bukan malah mengikuti curva. Semoga…

Aliansi Monyet Putih | by Ramayda Akmal | GM 622202008 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Teguh Afandi | Desain cover Orkha Creative | Desai nisi Ayu Lestari | Cetakan pertama, Mei 2022 | ISBN 978-602-06-6063-9 | ISBN DIGITAL 978-602-06-6064-6 | Skor: 4/5

Karawang, 270622 – Barbara Lica – Coffee Shop

Thx to Dojo Buku, Jakarta

#30HariMenulis #ReviewBuku #27 #Juni2022

Manusia Indonesia #5

“… manusia Indonesia itu berjiwa feodal. Meskipun salah satu tujuan kemerdekaan ialah juga membebaskan jiwa dari feodalisme, tapi muncul bentuk-bentuk baru feodalisme dan makin berkembang dalam diri dan masyarakat Indonesia…”

Sebuah ceramah pada tanggal 6 April 1977, dan buku ini abadi. Menyentuh cetakan kesepuluh (yang saya nikmati ini), dan hingga kini terus dicetak. Beberapa kali melihat cetakan baru terbitan Yayasan Obor, dan tak menutup kemungkinan terus dibuat. benar-benar buku yang berhasil. Pertama baca tentang manusia Indonesia tahun 2018 di buku Humanisme-nya Romo Mangun. Buku persehaman untuk Romo Mangun. Wah, berani sekali memberi gambaran warga kita dengan banyak detail minor. Dan benar saja, setelah membaca lengkapnya di sini, ternyata di tahun itu dan setelahnya menimbulkan polemik. Membayangkan polemik di tahun 1970-an, dengan surat-surat balasan di mesia massa sungguh aduhai. Surat demi surat di koran, kolom sastra, surat pembaca, sanggahan, hingga balasan kritik. Membutuhkan berminggu-minggu untuk menikmatinya, membutuhkan uang tunai untuk membeli koran, membutuhkan kesabaran. Klasik sekali, tak seperti sekarang segala informasi yang secara instan di dunia digital bisa menyebar bak virus. Cepat sampai, tapi juga cepat terlupakan. Mengutip kata-kata sobat saya Sahala, membaca tabloid Bola semua artikel dilahap, dan ingatannya permanen, tak seperti sekarang, kita membaca berita atas apa yang hanya kita inginkan, Google telah merusak memori?

Ada enam ciri dan lain-lain, serta gambaran masa kini yang menampilkan kenapa argumentasi itu perlu. Salah satunya ciri yang bisa kita terima secara umum adalah, “Orang tambah pandai menyembunyikan kata hatinya yang sebenarnya, perasaan yang sebenarnya, pikiran yang sebenarnya, dan malahan keyakinannya yang seungguhnya.” Tak perlu berkecil hati, lihatlah sinetron kita. Kata-kata dalam hati dinarasikan dengan nyaring!

Semantics yang sebenarnya bukanlah mencari makna kata-kata yang dijelaskan lagi oleh kata-kata lainnya, tetapi seperti yang ditulis oleh Pemenang Hadiah Nobel Bridgeman, seorang ahli nuklir, “Makna sebenarnya dari sesuatu kata hanya dapat ditemukan dengan meneliti apa yang dilakukan seseorang dengannya, dan bukan dengan apa yang dikatakannya dengan kata tersebut.”

Berikutnya yang juga bisa tampak nyata adalah, manusia Indonesia masih lemah dalam mengaitkan sebab dan akibat. Ditambah pula dengan sikap nrima, percaya pada takdir, pada ksimet, semua ini sudah bergitu ditakdirkan Tuhan, maka makin kendorlah proses logikanya. Kita mudah menerima hal-hal yang serba bertetangan (paradoks), dan maknnya bisa bermacam (ambigu), karena kita enggan melihat ciri-ciri yang saling bertentangan, dan kita cenderung mencari ciri-ciri yang saling komplementer. Bukankah hal-hal seperti ini sudah sering kita lihat di kehidupan sehari-hari?

Umpamanya kita mengatakan kita menegakkan hukum, tetapi pada waktu yang sama kita juga dengan senang memperkosa hukum. Atau yang lebih umum lagi, hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas, itu tak serta merta omong kosong. Apa yang disampaikan tak seperti apa yang diharapkan, tak seperti apa yang terjadi, tak seperti kenyataan! Bingung? Yah, seperti itulah apa adanya.

Mengganti nama tanpa perombakan sesungguhnya instansi juga sering kali kita lihat. Karena kita hanya menukar nama, tetapi tidak berbuat sesuatu apa untuk mengisi nama baru itu sengan kebijaksanaan-kebijaksanaan baru. Namanya bertukar, semboyannya berubah, pada hakikatnya tidak banyak berubah. Kita masih dibelenggu oleh belenggu lama juga, hanya dengan merek baru.

Idealnya somboyan Jawa ini sepi ing pamrih, rame ing gawe, amemayu ayuning bawana (tanpa pamrih, kerja keras, memajukan dunia). Contoh Jamsostek, berganti nama BPJS, apakah pelayaan berubah? Apakah birokasinya berbenah? Mungkin hanya sedikit. Terus terang saja, warga tentunya lebih memilih pakai asuransi ke Rumah Sakit bila sakit dan bila punya, ketimbang BPJS yang diwajibkan, apakah itu karena pelayanan BPJS kurang Ok? Jelas dong.

Begitu pula. Bagaimana kita dapat menyelamatkan bahasa Indonesia dari segala rupa jargon, semboyan, kehampaan, kebasian, impresisi, keburukan dan kacau balau semantik? Bahasa asing menyerbu adalah keniscayaan. Kita tak punya konsepsi tentang waktu, bahwa waktu itu mengalir pergi dan setelah lewat dia tak lagi dapat ditarik kembali. Di buku ini seringkali disebut tahun 2000 yang akan datang, masa depan yang diprediksi, akan begini akan begitu. Kita sebagai generasi yang diramal itu, merasakan banyak kebenaran kata-kata sang Penulis. Ketika Bacon mengatakan bahwa tujuan manusia dengan pengetahuan ialah untuk “menganugerahkan hidup manusia dengan penemuan baru dan kekayaan.” Dan dia menganjurkan agar manusia… membina dan meluaskan kekuasaan dan penguasaan umat manusia terhadap jagat raya.

Ilmu adalah kekuasaan, dan kekuasaan tidak pernah netral. Siapapun yang memenagnya akan sulit untuk objektif. Dan agama di sini sungguh kental, Tujuan terakhir manusia adalah untuk mengabdi pada Tuhan. Namun banyak yang munafik, dengan tetap mementingkan materialistik ketimbang rohani. Kebutuhan akan mitos dan mistik memang merupakan kebutuhan hakiki manusiawi, yaitu untuk memenuhi kebutuhan akan rasa aman.

Banyak orang kini percaya bahwa teknologi itu satu sisi yang lain dari mata uang yang dinamakan modernisasi.

Tangapan-tanggapan. Pertama oleh Sarlito Wirawan Sarwono (Fakultas psikologi UI). Keras dan sangat menghantam. Bagaimana ia menyanggah segala hal negatif yang disampaikan. Poin pentingnya, ialah tidak semua argumentasi, termasuk argumentasi ilmiah, harus didasari oleh data penetian. Pengamatan subjektif dilakukan asal cukup tajam dan kritis seringkali sudah cukup memadai untuk menyusun analisis. Dan dengan dalil, “Saya hanya ingin mendudukkan masalah pada proposi yang sebenarnya, dengan meluruskan kepribadian Indonesia.”

Profil kepribadian manusia Indonesia yang digambarkan bukanlah tidak benar sama sekali, hal-hal yang dikemukakan banyak benarnya dan fakta yang tak terbantah.

Lalu ditanggapi dengan keras pula oleh Muchtar Lubis. Dalam memberikan gambaran secara umum tantang sesuatu soal, patut dipahami secara implinsit, bahwa selalu ada pengecualian. Jadi beliau memberikan gambaran umum saja, sifat-sifat ini tak serta merta seluruhnya. Contoh, ia bilang manusia Indonesia hipokritis alias munafik. Ya jangan langsung ngegas, tak semuanya. Kalau kamu manusia Indonesia dan tak munafik ya jangan tersinggung. Selalu ada pengecualian. Selow, ini sebagai referensi kak.

Kedua tanggapan dari Margono Djojohadikusumo, dan makin panas, sebab sampai bilang agak terlika sehingga mencoba menyingkirkan perasaan tersinggungnya. Ia mencerita bagaimana keluarganya mengabdi pada NKRI, berjuang untuk negeri sehingga sifat-sifat itu terbaca berat. Ditanggapi pula oleh sang penulis, lebih keras? Enggak, malah lebih selow kubaca.

Tanggapan ketiga oleh Wildan Yatim. Ini lebih condong pro, bagaimana Pertamina busuk di dalam, dan satelit Palapa boros sekali, menghabiskan dana milyaran padahal fungsinya sebentar saja, mending dialihkan ke dana pendidikan negeri, misalnya. Dan seterusnya, kukira ini tanggapan yang manusiawi dan lebih bagus dalam merespons masalah.

Dan terakhir dari Dr. Abu Hanifah lebih ke sifat umum, menilik sejarah perjuangan kemerdekaan, hingga suku-suku kita yang beragam sehingga ciri mencolok itu tentunya ada, dan sekali lagi ini sifat umum. Sifat orang Jawa contohnya yang terkenal santai, atau Batak yang keras, dst.

Ingat, Italia pernah punya penulis keren nan sinis terhadap manusia, Machiavelli yang bilang “Siapa yang akan mendirikan suatu negara yang teratur, harus mulai dengan asusmi, bahwa semua manusia itu pada hakikatnya jahat, dan pada waktu tertentu sedia memperlihatkan sifat jahatnya, di mana saja ia mendapat kesempatan.”

Dan ditutup dengan tanggapan sang penulis, langsung dua. Well, apapun itu saya senang saja mendapati pendapat dan sanggahan disampaikan dengan seru seperti ini. Saya tak mencantumkan secara keseluruhan sifat manusia Indonesia di sini, agar kalian mencari dan menikmati bukunya. Jelas recomended!

Manusia Indonesia: (sebuah pertanggungjawaban) | by Mochtar Lubis | Jakarta, 1977 | Cet 10, Jakarta: Haji Masagung, 1993 | iv, 134 hlm.: 21 cm. | ISBN 979-435-000-1 | Penerbit CV. HAJI MASAGUNG (eks Penerbit Gunung Agung, Penerbit PT Inti Idayu Press, dan Penerbit Yayasan Masagung) | Gambar sampul G.M. Sudarta, Kompas, Jakarta | Skor: 4.5/5

Karawang, 050522 – Adele – Hello
Thx to Der Son, Jakarta

#5 #Juni2022 #30HariMenulis #ReviewBuku

#April2022 Baca

April ini bertepatan dengan bulan puasa, dibaca disela ngaji yang sukses khatam 30 juzz, disela sahur yang mengantuk, disela tidur siang kala istirahat kerja, disela tarawih yang begitu panjang. Alhamdulillah, masih dapat 8 buku. Rerata buku agama sebenarnya, sayang tidak sampai tuntas jelang libur panjang. Bulan Mei ini paling beberapa buku agama tuntas.

Semangat tetap membara, hanya pembagian bacanya saja yang perlu diatur ulang. Benar-benar hebat rasanya hidup di serba instan ini kita masih sempatkan membaca buku, dan antrian sangat panjang.

#1. The Emerald Atlas by John Stephens

Ini buku trilogy, buku duanya sudah saya punya. Lumayan bagus, sihir dan aturan main manusia abadi tampak selalu menarik. Di dunia fana ini, fantasi manusia melalangbuana hingga tak berbatas. Maka kehidupan khayal penyihir abadi, permainan waktu, bisa acak nan non linier, sehingga makna dan arti hidup itu sendiri jadi rancu. Dengan bantuan buku album foto, tiga saudara terpilih masuk ke dimensi waktu, mundur di zaman orangtuanya masih muda, dan bertemu lawan berat, menyelamatkan masa. Karena ini berseri, saya bisa simpulkan ketiganya selamat, sekalipun sekarat.

#2. Kemerosotan Ummat Islam dan Upaya Pembangkitannya by Abul A’la Maududi

Bagus banget. Pandangan ulama di Pakistan akan kemrosotan moral muslim, tak hanya di negerinya tapi secara keseluruhan. Dunia saat ini terlampau menggampangkan, tata kelola moral jadi abu-abu. Islam sebagai agama pedoman hidup hadir, sangat relevan di semua zaman, termasuk zaman digital, zaman kita. Upaya pembangkitan, harus ada kerjasama semua pihak. Hal-hal yang jelas dilarang agama, tak perlu toleransi lagi. LGBT contohnya, jelas itu maksiat dan tak ada ampun. Kebangkitan Islam, kudu orang Islam yang menggerakkan, ya kita. Ya kalian juga.

#3. Permata Lembah Hijau by Ike Soepomo

Dua cerpen yang pernah dimuat di majalah Femina ini temanya memang cinta yang remuk. Dibaca saat ini terasa lebai, pasangan yang sudah tak mencinta, lantas kabur ke rumah orangtuanya di desa untuk menenangkan diri. Satu lagi suami yang baik hati dan tak sombong tiba-tiba runtuh sebab mengalami kecelakaan, tragedy yang merenggut semangat hidupnya. Masih enak dibaca sekalipun sudah sulit dilogika di era sekarang, tapi bukankah cinta adalah tema abadi, hanya templatenya saja yang dimodifikasi.

#4. Manusia Indonesia by Mochtar Lubis

Bagus sekali, semua ceramah tentang karakter manusia Indonesia dilontarkan, rerata sifat negative, yang sejatinya banyak benarnya. Ada sifat positif tapi tak dominan. Mengundang reaksi banyak kalangan, dari kanan atau kiri, Mochtar Lubis kena kritik. Di era itu, tahun 1970-an untuk berbalas reaksi harus lewat Koran, dan sungguh aduhai. Bayangkan, menanti terbit bisa seminggu dua minggu, lantas menunggu tanggapan lagi, menunggu lagi. Manusia Indonesia kudu punya sabar berlebih…

#5. The Spellman Files by Lisa Lutz

Hahaha, ada-ada saja. Keluarga detektif yang kocak. Ayah ibu punya biro jasa penyelidikan, si sulung yang malas dan kesal terpaksa ikut kerja usaha keluarga, nomor dua jadi punya pemikiran beda, mengambil kuliah bergengsi, kerja di biro hukum yang ada uang melimpah. Satu lagi si bungsu yang kelahirannya tak diharapkan hidup di tengah-tengahnya, istilahnya ia memiliki kemampuan negosiasi berkat tempaan waktu dan lingkungan. Lantas, ada yang jatuh hati. Kali ini seorang dokter gigi, kebohongan dirancang, dan saat si sulung ingin keluar dari bisnis ini, ia mendapat tugas terakhir yang sulit, sebuah investigasi kasus lama yang sudah beku itu, kini harus dipecahkan.

#6. Sufi Sufi Diaspora by (editor) Jamal Malik & John Hinnels

Melalangbuana ke Barat untuk menikmati perkembangan terbaru sufisme. Luar biasa, sekalipun minoritas mereka bertahan dan berkembang. Di era modern dengan segala kemudahannya, kita diajak mengenal era-era awal abad 20 hingga buku ini diterbitkan tahun 2000-an. Paling banyak disinggung di Amerika dan Inggris, dan mengingat dua Negara besar ini, rasanya dahsyat tasawuf berhasil berkembang di sana, bahkan akhir-akhir ini makin diterima, kita semua butuh ketenangan batin.

#7. Mata Penuh Darah by Faisal Oddang dkk.

Kumpulan cerpen yang diterbitkan untuk merayakan 10 tahun penerbit Shira Media, dari berbagai penulis, dan karena nama Faisal Oddang dipajang, ia adalah penulis paling sukses dan menjual. Sayangnya banyak bagian cerita menulik masa depan yang gelap, tak bisa diterima, hanya memprediksi, beberapa bahkan ada yang luar biasa buruk. Hufh…

#8. Etika-etika Dasar by Franz Magnis-suseno

Ini adalah yang sudah disahkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebagai bahan ajar, artinya sudah diterapkan kurikulum untuk dijadikan pegangan anak sekolah. Terasa memang isinya baku dan umum, hanya bagian-bagian kecil yang berani. Di akhir bab kita diajak menjawab beberapa pertanyaan, seolah quiz/tes pengetahuan seberapa paham kita. Lumayan, walau tak wow, mungkin di buku lain lebih bisa menikmati. Terima kasih.

Karawang, 240522 – Eagle – Hotel California

130 Buku Rentang Setahun

Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”Mahfud Ikhwan dalam Anwar Tohari Mencari Mati

Tahun 2020 saya buat daftar terbaik-terbaik dalam dua versi: Fiksi dan Non-Fiksi. Kali ini akan saya pecah lagi untuk fiksi jadi lokal dan terjemahan, kalau tidak kupecah yang terjemahan terlalu mendominasi.
130 buku yang kulahap dengan nyaman. Padahal kalau mau hitung belanja bukunya bisa empat kali lipat, artinya hanya seperempat yang selesai. Betapa banyak yang numpuk. Tahun ini, saya coba rem belanja buku, yah beberapa toleransi tetap gas, tapi kalau rutin tak akan segila. Berikut rekap baca 2021.

*I. Januari – 10 buku
Awal tahun sengaja kumulai dengan bacaan bagus, Pi memenuhi ekspektasi itu.

#1. The Life of Pi by Yann Martel

Tentang bertahan hidup di tengah samudera.

#2. Dari Kekalahan ke Kematian by Mahfud Ikhwan

Tentang Timnas kita yang payah.

#3. Oliver’s Story by Erich Segal

Tentang pilihan pasangan setelah menduda.

#4. My Beautiful Feeling by Walter & Ingrid Trobisch

Tentang remaja dan kegalauannya.

#5. Mata dan Riwayat Semesta by Wija Sasmaya

Tentang puisi dan pewayangan.

#6. Memoar Ronny Patinasarany by Andreas J. Waskito

Tentang perjuangan sang legenda.

#7. Pembunuh by Rayni N Massardi

Tentang jiwa yang marah.

#8. Kuntilanak Pondok Indah by Lovanisa

Tentang rumah angker di tanah elite.

#9. Zarathursta by Frederick Nietschie

Tentang falsafah hidup sang petualang.

#10. Si Lugu by Voltaire

Tentang pertaruhan hidup di penjara.
*II. Februari –10 buku
Terbaik, memoar Bung Karno akhirnya berhasil kutuntaskan. Tentu saja jadi terbaik bulan ini.

#11. Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat by Cindy Adams

Tentang riwayat sang proklamator.

#12. Menumis itu Gampang, Menulis Tidak by Mahfud Ikhwan

Tentang sulitnya menulis. Apa saja.

#13. Mencari Setangkai Daun Surga by Anton Kurnia

Tentang sastra dan ruang lingkupnya.

#14. White Tiger by Aravind Adiga

Tentang sopir kere yang merdeka.

#15. Tanah Tabu by Anindita S. Thayf

Tentang Papua yang bergolak.

#16. Pribadi Mempersona by La Rose

Tentang tips-tips wanita menghadapi pria.

#17. Rahasia Nama-nama Islam by Annemarie Schimmel

Tentang sejarah nama-nama bangsa Arab.

#18. Lockwood and Co. by Jonathan Stoud

Tentang fantasi mengatasi hantu.

#19. The Joy Luck Club by Amy Tan

Tentang imigran Amerika dalam perkumpulan.

#20. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer by Jujun S. Suriasumantri

Tentang filsafat dibuat fun.
*III. Maret – 10 buku
Maret ini baca ulang Narnia 4 yang luar biasa sama Hermione, dan sekuel Dawuk yang dahsyat.

#21. The Chronicles of Narnia: The Silver Chair C.S. Lewis

Tentang perjalanan ke Utara jauh.

#22. Anwar Tohari Mencari MatiMahfud Ikhwan

Warto Kemplung kembali membual.

#23. The Last JurorJohn Grisham

Tentang pemilihan juri, ada warga kulit hitam pertama.

#24. Negeri SenjaSeno Gumira Ajidarma

Tentang negeri antah surantah.

#25. The Alchemist Paulo Coelho

Tentang perjalanan ke Mesir mencari harta karun.

#26. Dubi Dubi DumaEsthy Wika

Tentang tata kelola mengasuh buah hati.

#27. Tasawuf Dipuja Tasawuf DibenciMukhlis, S.Pd.I., M.Ag

Tentang para sufi dari masa ke masa.

#28. Pendeta YonasLa Rose

Tentang pendeta muda yang tergoda janda.

#29. Kuda Kayu TerbangYanusa Nugroho

Tentang keluh kesah naik bianglala.

#30. Q & ASherina Salsabila

Tentang romansa anak SMA.
*IV. April – 4 buku
Penuh salju, tebal, keren, lelah.

#31. Kitab Writer Preneur by Sofie Beatrix

Tentang perjalanan penyair pulang kampung Turki, dan efeknya.

#32. Pinky Promise by Kireina Enno

Tentang perempuan-perempuan tegar.

#33. Snow by Orhan Pamuk

Tentang syair yang dingin dan beku.

#34. Belajar Mencintai Kambing by Mahfud Ikhwan

Tentang pilihan sepeda atau kambing?
*V. Mei – 11 buku
Haruki Murakami tetap melaju dengan nyaman dan indah.

#35. Luka Batu by Komang Adyana

Tentang tradisi dan keseharian di Bali.

#36. Angel of Darkness (Sheldon’s Series) by Tilly Bagshawe

Tentang pembunuhan berantai dengan tertuduh si innocent.

#37. Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya by Haruki Murakami

Tentang cinta lama dan persahabatan, selamanya.

#38. Renungan Kloset by Rieke Dyah Pitaloka

Tentang kritik dan opini yang dihasilkan dari toilet.

#39. Civilization and Its Discontents by Sigmund Freud

Tentang budaya dan muatannya.

#40. The Man Who Loved Books Too Much by Allison Hoover Bartlett

Tentang pencuri buku yang gila.

#41. Aku dan Film India Melawan Dunia Buku I by Mahfud Ikhwan

Tentang kegemaran film India, melawan arus.

#42. Kritikus Adinan by Budi Darma

Tentang pengadilan yang tak adil.

#43. Seni Menulis by Haruki Murakami

Tentang tips menulis dari maestro.

#44. Cinta Bagai Anggur by Syaikh Muzaffer Ozak

Tentang sufi awal ke Amerika.

#45. Narsisme by Sigmund Freud

Tentang kebiasaan menampakkan diri ke publik.
*VI. Juni – 14 buku
Banyak baca, sebab melakukan isoman. Mayoritas ternyata tipis-tipis, pantas banyak. Terbaik jelas Pasar, buku pertama Bung Kontowijoyo.

#46. The Street Lawyer by John Grisham

Tentang kebaikan memihak para gelandangan dengan jadi pengacara mereka.

#47. Kanuku Leon by Dicky Senda

Tentang kehidupan mistik di tengah modernitas.

#48. Pasar by Kuntowijoyo

Tentang orang-orang pasar dan pusarannya.

#49. The Mummy by Anne Rice

Tentang mumi yang bangkit di masa kini setelah tertidur panjang.

#50. Putri Cina by Sindhunata

Tentang legenda putri Cina dan keturunannya di Indonesia.

#51. Isinga: Roman Papua by Dorothea Rosa Herliany

Tentang cinta diputus paksa dan dirajut ulang.

#52. Mati Bahagia by Albert Camus

Tentang pencarian makna hidup yang lapang.

#53. Lotre by Shirley Jackson

Tentang kebiasaan main lotre di tengah masyarakat yang manjemuk.

#54. Bisik Bintang by Najib Mahfuz

Tentang orang-orang Mesir dalam berbagai silang pendapat.

#55. Komune Paris 150

Tentang masa revolusi, kudeta gagal dan efek panjangnya.

#56. Misa Ateis by Honore de Balzac

Tentang kematian yang abadi.

#57. Sumur by Eka Kurniawan

Tentang cinta bersemi di sumur lalu ditenggelamkan masa.

#58. 100 Film by Ibnu M. Zain

Tentang rekap film terbaik sepanjang masa.

#59. Therese Desqueyroux by Francois Charles Mauriac

Tentang cinta dan kegilaan, pasangan aneh saling mengisi.
*VII. Juli – 5 buku
Terbaiknya tentu Geisha, tapi memang tertebak kan. Yang mengejutkan Pseudonim, lokal yang bagus. Rekomendasi.

#60. Memoirs of Geisha by Arthur Golden

Tentang memoar geisha zaman sebelum dan sesudah Perang Dunia II.

#61. Who Moved my Cheese? By Spencer Johnson

Tentang keberanian melawan kebiasaan, berani mengambil tindakan radikal.

#62. The March by E.L. Doctorow

Tentang perang saudara Amerika.

#63. Pseudonim by Daniel Mahendra

Tentang penulis galau yang jatuh hati sama calon dokter.

#64. Kampus Kabelnaya by Koesalah Subagyo Toer

Tentang pengalaman kuliah di Rusia.
*VIII. Agustus – 12 buku
The Dante Club terbaik, lika-liku proses alih bahasa buku legendaris.

#65. The Summons by John Grisham

Tentang panggilan mendadak orangtua untuk mudik, dan misteri besar di baliknya.

#66. Malapetaka Indonesia by Max Lane

Tentang sejarah kelam ’65.

#67. Dari Belakang Gawang by Mahfud Ikhwan & Darmanto Simaepa

Tentang rona-rona bola dalam esai duet.

#68. Sosiologi by Drs. Soedjono D. SH

Tentang teori sosiologi yang panjang merentang.

#69. Upacara Bakar Rambut by Dian Hartati

Tentang adat dan efeknya.

#70. Jalan Udara by Boris Pasternak

Tentang gejolak Rusia di masa perang dingin.

#71. The Dante Club by Matthew Pearl

Tentang Amerika yang mencoba menerima puisi Dante, biasalah selalu ada yang menentang, atau terinspirasi?

#72. Kota Kucing by Haruki Murakami

Tentang kota antah misterius, kereta berhenti di negeri aneh.

#73. Penyair Revolusioner by Deddy Arsya

Tentang syair-syair meledak.

#74. Firebelly by J.C. Michaels

Tentang katak yang menekuri hidup.

#75. Zahiya by Najib Mahfuz

Tentang kafe dan masyarakat di sekitarnya.

#76. The Things They Carried by Tim O’Brien

Tentang perang Vietnam, barang-barang seberat itu dibawa menjelajah.
*IX. September – 10 buku
Buku-buku bagus, terbaik Eichmann in Yerusalem. Dibuat dengan intensitas ketegangan proses pengadilan.

#77. Breaking PoetryAntologi

Jelex.

#78. The NotebookNicholas Spark

Tentang manula yang hilang ingatan, dan coba dingatkan pasangan.

#79. Eichmann in YerusalemHannah Arendt

Tentang proses pengadilan kejahatan perang di tubuh Nazi.

#80. IdentityMilan Kundera

Tentang pasangan galau, krisis identitas.

#81. The Silence of the LambsThomas Harris

Tentang pembunuh berantai membantu memecahkan kasus pembunuhan berantai.

#82. Think Like a FreaksSteven D. Levitt & Stephen J. Dubner

Tentang pemikiran aneh untuk hasil luar biasa.

#83. The Return of the Young PrinceAG Roemmers

Tentang pangeran dan sopirnya dalam perenungan di jalan.

#84. BibirKrishna Mihaedja

Tentang ucapan yang mencipta dengung apa saja.

#85. Perkara Mengirim Senja –Tribute untuk SGA

Tentang senja dan segala isinya.

#86. Haniyah dan Ala di Rumah TeterugaErni Aladjai

Tentang kehidupan di kebun teh.
*X. Oktober – 14 buku
Rerata bacaan Kusala Sastra, terbaiknya tetap Haruki. Akhirnya buku 900 halaman itu selesai baca.

#87. Damar KambangMuna Masyari

Tentang adat Madura yang keras.

#88. Yogya YogyaHerry Gendut Janarto

Tentang nostalgia ke Yogya.

#89. Rekayasa BuahRio Johan

Buku jelex lagi.

#90. Looking for AlaskaJohn Green

Tentang pencarian jati diri remaja.

#91. Semesta MurakamiJohn Wray, dkk

Tentang kehidupan yang idola.

#92. Anak Asli Asal MappiCasper Aliandu

Tentang pengalaman mengajar di Papua.

#93. Jalan MalamAbdul Wachid B.S

Tentang muhasabah dan ziarah dalam bait.

#94. Segala yang Diisap LangitPinto Anugrah

Tentang Islamisasi di Sumatra.

#95. Revolusi NuklirEko Damono

Tentang masa depan yang misterius.

#96. Bunga Kayu ManisNurul Hanafi

Tentang pasangan saling menghargai.

#97. Cerita-cerita yang Sedih dan MenakjubkanRaudal Tanjung Banua

Tentang masa lalu dalam dongeng.

#98. Kronik Burung PegasHaruki Murakami

Tentang suami yang ditinggal istri.

#99. Ramuan Penangkal Kiamat Zelfeni Wimra

Tentang dahwah yang hakiki.

#100. The Homeless BirdGloria Whelan

Tentang remaja janda yang kehilangan rumah.
*XI. November – 15 buku
Nama besar Terry Pratchett, ini novel pertamanya yang kuselesaiakan. Memang warbiasa.

#101. Moby DickHerman Merville

Tentang perburuan paus istimewa.

#102. The Great Guest RescueEva Ibbotson

Tentang penyelamatan hantu-hantu terusir.

#103. The Black CatEdgar Allan Poe

Tentang mitos dan horror tersaji.

#104. Pria Cilik MerdekaTerry Pratchett

Tentang perjuangan menyelamatkan saudara di negeri berantah.

#105. BuddhaDeepak Chopra

Tentang riwayat Buddha dari lahir hingga mencapai nirwana.

#106. Melipat JarakSapardi Djoko Damono

Tentang waktu yang relatif.

#107. Cara Mencari Kawan dan Mempengaruhi OrangDale Carnegie

Tentang upaya membuat takjub orang lain.

#108. Kembang SepasangGunawan Maryanto

Tentang budaya Jawa dalam pentas.

#109. Klik!Nick Hornby, dkk

Tentang kamera bergenerasi berikut.

#110. 1 Perempuan 14 Laki-lakiDjenar Maesa Ayu

Tentang kopi dan cipta karya per kalimat.

#111. Arang PerempuanArini Hidajati

Tentang perempuan tegar dan sendu.

#112. Seekor Anjing Mati di Bala MurghabLinda Christiany

Tentang perang dan efeknya.

#113. Puisi Baru Sutan Takdir Alisjahbana

Tentang puisi lama tahun 40-an ke bawah.

#114. A Golden WebBarbara Quick

Tentang dokter perempuan pertama yang menemukan alir darah dalam tubuh.

#115. DepresiDr Paul Hauck

Tentang tata cara menghadapi stress.
*Desember – 15 buku
Akhir tahun terbaik sekuel Little Women. Keren abis.

#116. Kau Gerimis dan Aku Badai by Wahyu Heriadi

Tentang puisi kehidupan.

#117. Rumah Mati di Siberia by Fyodor Dostoevsky

Tentang orang-orang terpenjara di sana.

#118. The March’s Captain by Geraldine Brooks

Tentang detail ayah/suami di medan perang.

#119. Jatisaba by Ramadya Akmal

Tentang kehidupan desa yang keras dalam pemilihan Lurah.

#120. Asal Muasal Pelukan by Candra Malik

Tentang pelukan melibat dua individu, ada sejarahnya.

#121. Nama Saya Tawwe Kabota by Mezra E. Pellondou

Tentang pria nakal yang menyesali banyak hal.

#122. Adu Jotos Lone Ranger dan Tonton di Surga by Sherman Alexie

Tentang kehidupan di revervasi.

#123. Cinderella Man by Marc Cerasini

Tentang petinju 30-an yang fenomenal.

#124. The Runaway Jury by John Grisham

Tentang pemilihan juri dan kasus rokok heboh.

#125. Sang Belas Kasih by Haidar Bagir

Tentang tafsir surat Ar-Rahman.

#126. Manajemen Strategik Koperasi (kolabs)

Tentang koperasi dan strategi pengembangan.

#127. My Grandmother asked me to tell you She’s Sorry by Frederick Backman

Tentang cucu yang memiliki tugas menyampaikan surat-surat Sang Nenek.

#128. My Sister’s Keeper by Jodi Picoult

Tentang Si Bungsu yang melawan.

#129. Penjual Bunga Bersyal Merah by Yetti A. KA

Tentang penjual bunga di pinggir jalan.

#130. Malam ini Aku Tidur di Matamu by Joko Pinurbo

Tentang rona-rona dalam bait.

Lakukan apa yang kamu senangi, selama tak menyusahkan orang lain itu baik. Membaca buku jelas ada di urutan atas daftar kenikmatan hidup. Saya takkan mengeremnya, saya jalani dengan nyaman dan damai. Bagaimana tahun ini? sepertinya tak akan jauh beda. Sehat-sehat semuanya. Salam Literasi dari Karawang, dengan cinta.

Karawang, 030221 – Steve Goodman – The Dutchman

Terima kasih buat seluruh penjual buku, kalian luar biasa, kalian keren!

14 Best Books 2021 – Fiksi/Lokal

Kekayaan, kedudukan, kekuasaan, kepandaian, dapat mematikan rasa. Mati rasa berarti hilang kemanusiaan kita. Hidup ialah bagaimana kita merasakan sesuatu. Bukan bagaimana kita memiliki kemewahan, kekuasaan, kekayaan.” – Pasar, Kuntowijoyo

Tahun 2021 setelah dipertimbangkan lebih masak, untuk fiksi saya pecah lokal/terjemahan sahaja sebab terjemahan terlalu dominan. Total fiksi lokal kubaca 49 buku. Kupadatkan jadi 14 seperti biasa. Sebuah kebetulan, yang terbaik buku terbitan tahun lalu. Dan secara kebetulan pula, pas daftar ini kupos di instagram, muncul info buku nomor satu masuk daftar pendek buku Prosa Tempo 2021.

Berikut daftar buku non-fiksi terbaik yang kubaca tahun 2021 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. Kuda Kayu Bersayap by Yanusa Nugroho (Tiga Serangkai) – 2004

Ini adalah buku beli yang acak, artinya saya tak mengenal sang Penulis, yang ternyata sudah melalangbuana di banyak media, penulis senior yang katanya, sesuai pembuka pengantar penerbit: Ngerokok. Ngopi. Ngarang. Perjudian menikmati karya ‘asing’ seperti ini memang jarang membuahkan hasil Ok, jelas ini adalah daftar sedikit itu. Cocok seperti yang dibilang sama Bung Yanusa, “Menulis, sebagaimana halnya makan dan minum, adalah kebutuhan. Kebutuhan untuk mengungkap sesuatu…”

#13. Revolusi Nuklir by Eko Damono (Basa Basi) – 2021

Lelah, tapi puas. 22 cerpen dalam buku kecil 200 halaman. Sebagian sudah diterbitkan di media, sebagian besarnya belum. Semua yang berkisah di masa depan tampak kurang, atau kalau mau jujur tampak aneh. Burung besi berkisah, pohon android, dst. Semua yang dikisahkan di perjalanan gunung, tampak nostalgia. Ibadah puisi di Rinjani, petualang sekual Apocalyto, dst. Semua yang dikisahkan secara flashback tampak nyata, atau nyata yang dimodifikasi. Telinga putus, pacar yang hamil berencana memberi kejutan yang malah mengejutkan, hotel Kurt Cobain, dst.

“Di dunia ini terlalu banyak serba kemungkinan, dan kita dipaksa untuk meneruskan hidup.”

#12. Pseudonim by Daniel Mahendra (Grasindo) – 2016

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen yang jumlah kata lebih sedikit, dan sewajarnya tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua pembaca itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak faktor. Salah satunya tentu saja selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasarnya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

“Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

#11. Luka Batu by Komang Adnyana (Mahima Institute Indonesia) – 2020

Kisahnya berkutat di Bali, tempat sang penulis tinggal dan dibesarkan. Kebanyakan dari kita memang paling nyaman menulis tentang hidup kita dan sekeliling kita, jadi seolah dituturkan langsung dari pengalaman hidup. Relevan dan masuk akal, sebab akan tampak aneh dan tak berlogika jika kita yang lahir dan besar di Indonesia bercerita tentang dinginnya salju negeri Swiss.

“Kuatkan dirimu. Semoga mereka mendapat hukuman yang sesuai.”

#10. Bunga Kayu Manis by Nurul Hanafi (JBS) – 2021

Bunga Kayu Manis menawarkan jenis keindahan kata-kata (atau di sini berarti tulisan), dipilih dan dipilah dengan mujarab oleh Bung Nurul Hanafi. Beberapa bagian mungkin tampak terlampau lebai, atau ngapain melihat senja dari jembatan saja melankolis, itukan hal yang lumrah tak ada yang istimewa dari matahari jelang terbenam, umpamanya. Namun memang itulah keunggulan kata-kata, banyak hal dicipta berlebihan, dan terasa sentimental. Memang mudah tersentuh saat kita bicara kenangan, angan dalam kepala tentang masa lalu, setiap orang beda-beda, dan semakian mendayu, semakin terasa feel-nya.

“Hujan terlalu larut dan luka.”

#9. Damar Kambang by Muna Masyari (KPG) – 2020

Pembukanya fantastic. Seorang istri yang ngalah, legowo atas apapun keputusan suami. Dengan setting Madura, terkenal dengan adu karavan sapi dengan festival Gubeng sebagai puncaknya. Seorang suami gemar berjudi, memertaruhkan segalanya. Kemenangan/kekalahan timbul tenggelam bersama waktu. Apa yang dipertaruh berbagai hal, berbagai jenis; motor, sapi, emas, tegalan, dan pada puncaknya adalah rumah dengan segala isinya. Narasi pembuka membuat kuduk berdiri sebab sang suami kalah, dan Si Buntung berhasil membalas, ia beserta ‘dukun;’-nya datang mengambil piala kemenangan. Dahsyat bukan? Pembuka yang memesona sejenis ini biasanya langsung menegakkan punggung dan memancing konsentrasi berlebih guna terus berkutat mengikuti cerita, banyak yang tumbang gagal memertahankan tempo, sedikit yang berhasil hingga garis finish. Damar Kambang termasuk yang sedikit itu, walaupun sesekali temponya memang harus sedikit teredam. Aku baca sekali duduk di Jumat pagi yang cerah. Untungnya, suami-istri di pembuka ini identitasnya tak dikuak, fakta ini akan jadi semacam tautan yang ditaruh di tengah kecamuk adu sihir. Perhatikan sahaja, buku yang berhasil salah satu faktornya para tokoh memiliki motif yang kuat untuk mengambil tindakan, tindakan dijalankan dengan logika dasar. Tak perlu muluk-muluk, tak perlu ndakik-ndakik.

“Orangtua memang harus selalu dibenarkan ya.”

#8. Segala yang Diisap Langit by Pinto Anugrah (Bentang Pustaka) – 2021

Ringkas nan memikat. Hanya seratusan halaman, kubaca hanya sejam sekali duduk selama satu setengah jam pada Sabtu, 16 Oktober 2021 selepas Subuh. Langsung ke poin-poin apa yang hendak dituturkan. Tentang Islamisasi di tanah Sumatra di masa Tuanku Imam Bonjol. Mengambil sudut pandang sebuah keluarga lokal yang kalah dan tersingkir. Segalanya jelas, tapi akan mencipta keberpihakan abu-abu.

“Tatapanmu, tatapan pesimis dan penuh amarah! Tidak baik memelihara tatapan seperti itu! Setan-setan akan senang di dalamnya, mereka akan berpesta pora di matamu!”

#7. Jatisaba by Ramadya Akmal (Grasindo) – 2017

Bagus. Ini adalah novel kedua Ramayda Akmal yang kubaca setelah Tango dan Sadimin yang luar biasa itu. Cerita masih berkutat dalam realita muram kehidupan kampung dengan segala problematikanya. Kali mengangkat isu pemilihan kepala desa, buruh migran, dan kenangan masa kecil yang menguar mengancam. Dedikasi akan kampung halaman bisa dengan berbagai macam cara, tapi merenggut para pemudi untuk diangkut ke negeri seberang dengan berbagai iming-iming, dan tahu bakalan amburadul, jelas bukan dedikasi yang laik ditiru. Sayangnya, ini bukan isapan fiksi belaka.

“Kau selalu meminta yang tak mungkin ketika seluruh kemungkinan di dunia ini aku persembahkan kepadamu.”

#6. Melipat Jarak by Sapardi Djoko Damono (GPU) – 2015

Begini rasanya membacai puisi bagus tuh. Sebelum-sebelumnya sulit masuk atau ngawang-awang, atau tak tentu arah. Dalam Melipat Jarak, yang dominan adalah narasi. Bukan per bait yang rumit. Kata-katanya juga umum, temanya sederhana, tapi pilihan katanya mewah. Singkatnya, enak dibaca. Mau nyaring atau rilih, sama nyamannya. Beginilah puisi sejatinya dicipta. Buku ini berisi 75 sajak yang dipilih oleh Hasif Amini dan Sapardi Djoko Damono dari buku-buku puisi yang terbit antara 1998-2015 yakni Arloji, Ayat-ayat Api, Ada Berita Apa Hari ini, Den Sastro?, Mata Jendela, Kolam, Namaku Sita, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, dan Babad Batu. Oh, ternyata ini sejenis album terbaik terbaik, atau kalau CD/ kaset The Best of The Best-nya. Versi kedua setelah sebelumnya sudah pernah dibuat dalam rentang, 1959-1994 yang termaktup dalam buku Hujan Bulan Juni yang pertama terbit 1994.

Tiga Sajak Kecil: “Mau ke mana, Wuk?” / “ke Selatan situ.” / “Mau apa, Wuk?” / “Menangkap kupu-kupu.”

#5. Puisi Baru by Sutan Takdir Alisjahbana (Dian Rakyat) – 1946

Ini adalah kumpulan puisi dari masa lalu. Pertama terbit tahun 1946, pasca Indonesia merdeka. Yang kubaca adalah cetakan ke-10, 1996 sehingga banyak pula tambahan puisi-puisi di era Revolusi. Yang jelas, Sutan Takdir Alisjahbana memilih dan memilahnya dengan jitu. Campuran gaya dan jenis syairnya. Terlihat klasik, daftar isi ada di muka kanan seperti membaca buku-buku Arab. Terdiri 19 penyair, termasuk Sang Penulis. Benar-benar buku bagus, bisa jadi langka ini sebab puisi-puisi lama (di sini disebut baru) ini akan sulit dicari nantinya. Termasuk beruntung bisa menikmatinya di era digital yang serba wuuuz…

Ah, dunia! Dunia! / Saya pusing di atas kau. / Adakah sudah suratan saya / Akan selalu menghimbau-himbau?Betapa Seni, OR. Mandank

#4. Kritikus Adinan by Budi Darma (Bentang) – 2017

Ini adalah buku kedua Bung Budi Darma yang kubaca setelah Rafillus yang absurd itu. Langsung jadi penulis idola, tampak unik dan luar biasa aneh. Kumpulan cerpen ini sama absurd-nya dengan Rafillus, tokoh-tokohnya tak biasa. Nama-nama juga nyeleneh. Dilengkapi ilustrasi ciamik di tiap cerita, rasanya memang pantas kukasih nilai sempurna.

Rasanya buku-buku Bung Budi Darma hanya masalah waktu untuk dikoleksi, salah satu penulis besar tanah air. Apalagi kabar terbaru buku Orang-Orang Bloomington kini sudah duterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Penguins. Orang Indonesia pertama yang berhasil melakukannya. Kritikus Adinan rasanya hanya masalah waktu pula untuk menyejajarkan diri.

“Dengan mendadak kamu mengunjungi saya, Malaikat. Apa sebenarnya dosa saya? Sejak kecil saya selalu berusaha berbuat baik.”

#3. Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan oleh Raudal Tanjung Banua

Menakjubkan! Ya, itulah komentarku seusai membacai. Campur aduk perasaan, dijabarkan dengan sabar, disajikan dengan istimewa. Cerita-cerita masa kecil dari orangtua, paman sampai neneknya, kita melangkah lanjut ke tema-tema masa lalu yang lebih umum, menorehkan kenangan. Menulis tentang masa lalu, sekali lagi kubilang sungguh aktual. Dan lebih mudah diimajinasikan. Sungguh nyaman, asyik sekali diikuti, seolah membacai memoar, menelisik nostalgia.

“Sering-seringlah memandang Bukit Talau. Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan.”

#2. Pasar by Kuntowijoyo (Mataangin) – 1995 *

Novel dengan penggambaran detail mengagumkan. Mencerita apa adanya keadaan pasar dan par penghuninya. Sejatinya setting hanya satu tempat dari mula sampai jelang akhir. Pasar dan situasi yang ada. Orang-orangnya juga itu-itu saja, berkutat melelahkan. Pada dasarnya menggambarkan sifat manusia yang mengingin nyaman, ketika terusik maka ia marah, dan saat keinginan-keinginan tak terkabul, jadi petaka. Minim konflik tapi sungguh menohok saat masalah itu dilemparkan ke pembaca.

“Kalau macan mati meninggalkan belang, Pak Mantri mati meninggalkan tembang.”

#1. Anwar Tohari Mencari Mati by Mahfud Ikhwan (Marjin Kiri) – 2021

Berkelas. Bagus sekali. Rentetan katanya menyemburkan degub khawatir dan caci maki kepuasan. Dalam puncak ketegangan, saya benar-benar menikmati adu jurus di atas jembatan itu. Setidaknya tiga kali pada bab pertarungan kusela tepuk tangan dan kepal tangan. Bravo! Cerita-cerita pun mengalir dahsyat, dan saya hampir mengeluarkan HP buat kubaca rekam. Mungkin akan kulakukan nanti pas baca ulang. Bergaul dengan Warto Kemplung membuatku berlajar seni bercerita. Senyumnya bagai sambaran kilat, dan berhasil memainkan tempo.

“Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”

Panjang umur kesehatan, panjang umur keuangan. Semoga tahun ini bisa lebih banyak lagi karya lokal yang kunikmati, bisa lebih nyaman, enak, dan berkembang. Panjang umur para penulis lokal, dedikasi kalian untuk literasi Indonesia patut diapresiasi.

Karawang, 100122 – Sammy Davis Jr. – Dedicated to You

Pseudonim #21

Pseudonim #21

“Lho-lho? Kenapa jadi nyalahin Maya?”

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen saja yang jumlah kata lebih sedikit, dan tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua orang itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak waktor. Salah satunya selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasaranya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

Buku dibuka dengan kutipan: “Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; Kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam sendiri.” – Multatuli, Max Havelaar.

Itulah yang pertama terbesit sesaat setelah menyelesaikan baca Pseudonim. Plotnya sudah umum, tipikal sekali. Cinta diapungkan, kelesuan menghadapi perubahan, adaptasi yang berhasil, lantas saat kenyamanan sudah diraih, kita dihadapkan masalah pelik. Umum bukan? Bahkan cara menyampaikan kata akhir, sebagai bukti bahwa ‘apa yang ditulis itu adalah ini’, sudah banyak kutemui. Sehingga tak mengejutkan sama sekali, bagi yang sudah banyak melahap bacaan pola ‘apa yang ditulis itu adalah ini’ sudah terlihat biasa. Namun untuk Pseudonim, beberapa kerikil masalah itu relevan dan untungnya bagus.

Kisahnya tentang Wipra Supraba, penulis novel yang kere. Mengeluhkan banyak hal. Pembukanya bilang ia ditangkap polisi, ia mengeluhkan keadaan ekonomi yang amburadul, dan profesi menulis nyaris diiyakan dengan ‘kere’. Lalu nama asing di akhir pembuka diapungkan, “Dan di mana Radesya?” Kisah lalu ditarik mundur, di awal sekali bagaimana Pra memulai karier dan bagaimana lingkungan sekitar membentuknya.

Pertama kita diperkenalkan Suhar, sahabat kuliah jurnalistik Unpad yang sudah menikah dan tinggal Jakarta. Ia selalu mendorong Pra untuk menulis novel, walau sudah punya beberapa karya ia, tak kunjung menemukan karya monumental yang bisa mengangkat namanya. “A good writer always work at the impossible.”John Steinbeck. Ia nganggur, sesekali dapat order menyupir sobatnya di Bandung, Saefullah yang hidup lurus dan vegetarian. Manusia pekerja keras yang berjuang dari bawah. Punya rental juga usaha merangkak bukan warisan atau turunan. Lulusan SMU berjiwa membumi.

Lalu kita diperkenalkan dengan Ardi, orang penting di dunia entertainment nasional. Menjadi penghubung banyak hal, awalnya Pra ditantang untuk menulis skenario kartun sebab sudah pengalaman nulis novel. Dengan kerja keras dan sudah banyak literature, tantangan itu sukses dilewati. Keuangannya membaik hingga bisa punya laptop bagus, tinggal di tempat yang laik, dan terutama bisa jalan-jalan saat proyek animasi lagi senggang.

Nah, ini mungkin yang paling menyebalkan. Ia memiliki lima pacar dalam waktu bersamaan. Kemala di Jakarta, Luska di Bandung, Kirana di Yogya, Alinka di Surabaya, dan Pradnya di Bali. Kelimanya digilir, pas kerja di Jakarta dengan entengnya support pacar tampil. Pas mudik Bandung, santainya jalan dengan yang lokal, pas punya waktu luang cus ke  Yogya, lanjut Surabaya, dan berakhir pekan ke Bali. Kan kamvret, sampai di bagian ini saya sempat muak. Ga gitu bos hidup, enak aja. Apalagi mereka berlima loyal, seolah Pra adalah sultan, raja di raja dengan kekuasaan atau uang melimpah. Oh dia kere, dan penulis tak terkenal. Bisa-bisanya… sabar, tenang saja dulu. Akan ada masanya semua runtuh. Kesendirian dan kesepian adalah dua hal yang nyata berbeda. Sendiri adalah objektif, sementara kesepian itu subjektif.

Dan benar saja, Ardi menyampaikan kabar buruk. Serial animasi dihentikan, proyek cinema juga batal sebab PH nya ambyar karena mengganti uang konser yang gagal, hingga pada titik di mana Pra kembali miskin, semiskin-miskinnya. Menjual yang bisa dijual, serta kembali ke Bandung nebeng rumah orantuuanya. Dan kembali ke biasaan lama, bertahan hidup dengan nyupir kalau ada order. Gila adalah menyerah di tengah jalan, padahal sukses telah menunggunya di ujung jalan.

Sudah bisa ditebak juga, sebuah alur yang menyakitkan tapi setimpal mencipta kelima pacarnya mengetahui perbuatannya selingkuh. Eh empat ding, Pradnya yang akhir disampaikan dengan jujur bahwa selama ini ia tak sebaik yang dikira, berakhir pula hubungan pacar. “Perempuan selalu menunggu kepastian, Pra.” Kenapa Pra bisa setega itu, Saefullah menjadi saksi kisah bagaimana hatinya hancur sama Maya.

Dari Ardi pula kita diarahkan mengenal seorang penulis skenario sinetron Satar. Karena kalang kabut order melimpah, ia menawarkan pada Pra untuk membantunya, menulis skenario bayangan. Namanya tak disebut, ia hanya membuat skenario dengan nama yang menjual Satar. Terdengar memuakkan, tapi uangnya bagus. Maka dicoba, dan berhasil. Kini aku menusia praktis, yang hidup, bekerja, demi uang, untuk menyambung hidup kembali. “… Kamu bisa menggiring cara berpikir kebanyakan orang di Indonesia melalui sinetron.”

Perlahan segalanya kembali membaik, lalu muncul godaan dari penulis skenario lain yang mencium alibinya. Landung menawarkan uang lebih plus bonus untuk FTV, sulit sekali memberontak, menghianati, tapi ini uang lebih wow. Sikat! Keadaan ini lebih menggiurkan saat bertemu gadis yang idealnya kebangetan.

Aku selalu takut ketika harus bertemu apalagi berdekatan dengan seseorang yang berhasil membuatku bergetar. Radesya adalah dokter, bertemu dengannya di kafe apartemen saat ngopi. Membaca buku The Celestine Prophecy karya James Redfield, yang kebetulan dibaca Pra juga. Kalau ini benaran ada, luar biasa indah, menggigit imajinasi semua orang. “Karena kita sama-sama nggak percaya kebetulan.” Radesya tinggal di apartemen nomor 1503 di lantai 15 hanya berjarak satu lantai dengannya.

“… Lalu aku mikir, spesialis apa yang nggak menimbulkan fitnah saat aku nanganin pasien? Tiba-tiba aku kayak dapat jawaban: anak! Maka itulah yang kuambil. Sederhana ‘kan?” Dokter anak yang lanjut kuliah lagi, bercita memiliki klinik di pedesaan, mudik beberapa kali tiap bulan ke Bandung dengan Jazz merah! Aku lelaki yang tak pernah mengizinkan cinta menjadi jangkar pada setiap pelabuhan. Untuk kali ini bisa jadi pengecualian.

Lalu segala-galanya ambyar.

Sejujurnya kisah dalam Pseudonim lebih mendekati plot sinetron dengan penawaran mimpi-mimpi indah, untungnya seperlima akhir menyelamatkan. Riaknya mewarnai fakta, hidup ini pahit gan. Ga begitu menjalaninya, rona-rona kemarahan harus ada, dinamika kesedihan harus membuncah, dan satu lagi, akhir yang ‘agak menggantung’ ditampilkan. Seperti kalimat akhir bab pertama, di mana gerangan gadis aduhai itu?

Banyak kutipan bagus ditampilkan, dan itu sah-sah saja, “Cinta. Tentang kerinduan untuk kembali pada asal-usul yang sejati.”Plato. Lalu “Cinta adalah ketika kuat kau rasakan kehadiran Tuhan dalam pasanganmu.”Sudjiwo Tedjo. Atau “Apa pun yang menjadikan tergetar, itulah yang terbaik.” – Rumi. Tapi yang paling keren mungkin ini, “Kepalaku adalah parbik kata-kata dan jari ini adalah buruhnya.” Lisa Febrianti (Iluminasi, 2009)

Satu lagi yang laik kutip, walau sudah sangat sering kita temui makna kalimat ini, terutama dari Pram. Sobarnya bilang, “Ketimbang nulis skenario pake nama samara terus, nggak menjadikamu siapa-siapa. Sejarah aja nggak sudi mencatat namamu. Apalagi karyamu. Sementara kalo nulis novel, karyamu abadi. Usiamu panjang. Sepanjang masa.”

Pilihan nama-nama karakter sangat modern terutama untuk tokoh penting, tak ada kata Joko, Agus, Budi, Asep. Walau ada Saefullah atau Suhar, tetap saja mereka tokoh pembantu. Hampir semua nama tokoh idalaman sungguh catchy, sangat stylist. Kemala Luska Kirana Alinka Pradnya adalah rentetan nama kekasihnya, dan di akhir bahkan ketemu nama Radesya untuk cewek ideal kebangetan. Sah-sah saja namanya juga fiksi.

Ini adalah karya pertama Daniel Mahenda yang kubaca. Ada sekitar 28 karya lainnya, beberapa di antaranya Selamat Datang di Pengadilan (kumpulan cerpen, 2001), Epitaph (novel, 2009), Perjalanan ke Atap Dunia (travel narrative, 2012), Niskala (novel, 2013), 3360 (novel, 2014), Rumah Tanoa Alamat Surat (kumpulan cerpen, 2016). Seperti biasa, berhubung trial pertama ini sukses, maka rasanya buku-buku lain hanya masalah waktu untuk dilahap. Selamat!

Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

Pseudonim | by Daniel Mahendra | Desain kover Mico Prasetya | Penata isi Widia Novita | Copyright 2016 | ISBN 978-602-375-596-7 | Cetakan pertama, Juli 2016 | Penerbit Grasindo | Skor: 4/5

Karawang, 210721 – New York Jazz Lounge – Bar Jazz Classic

#30HariMenulis #ReviewBuku #21 #Juli2021

Sumur #16

“Setiap buku langka adalah buku curian.”

Satu cerpen dalam satu buku. Terdengar gila ‘kan? Gila nggak? Ya aja deh. Biasanya kita disuguhi kumpulan cerpen, minimal dua atau tiga cerpen. Berarti ini diluar biasanya, hanya Eka Kurniawan yang bisa. Penulis lokal dengan ketenaran dan jaminan mutu. Hebatnya lagi, laris. Dari beranda sosmed saat masa pre-order dibuka dari harga 50k menjadi 40k, banyak sekali toko buku daring yang pajang sold out. Mendekati hari H penutupan, saya yang penasaran malah ikutan klik beli. Dan, setelah #unboxing, ini benar-benar satu cerpen dijual lima puluh ribu rupiah! Dibaca lima menit. Kalau value biaya (saat ini) jelas kurang worth it, tapi kembali ke kualitas yang utama. Eka adalah brand, di mana namanya yang tercetak di sampul memberi rasa penasaran, minimal ada keinginan menikmatinya.

Cerpen ini pertama terbit dalam bahasa Inggris di antologi Tales of Two Planets dengan judul ‘The Well’ yang diterbitkan oleh Penguins Books tahun 2020. Kisahnya tentang hikayat sejoli yang saling mencinta tapi kandas karena keadaan. Lihat, tema usang kasih tak sampai kalau dicerita dengan mantab menghasilkan thriller bermutu.

Adalah Toyib yang sedari kecil mencintai Siti dari kampung sebelah. Setiap pagi berangkat sekolah bersama, kadang berdua, kadang ramai-ramai. Garis nasib mencipta, ayah keduanya berduel hingga ayah Siti mati. Gara-gara sepele, masalah pembagian pengairan sawah. Ayah Toyib setelah kabur ke hutan, berhasil ditangkap lalu dibui. Keadaan ini jelas turut serta membawa sejoli ini merenggang, ada aib dan sengsara yang memisahkan mereka.

Setelah empat tahun delapan bulan, ayah Toyib bebas. Ia banyak belajar memperbaiki mesin semasa di penjara. Ia bahkan berhasil mengumpulkan uang dengan jasanya, dan uang itu ingin diberikan kepada Siti, lewat Toyib. Berat, tapi diiyakan.

Nah, ada sebuah sumur di lembah, di balik bukit seberang perkampungan. Satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan. Siti melaksanakan tugas mengambil air, Toyib juga. Kesempatan ini dipakai untuk menyampaikan niatnya. Sore itu mereka bertegur sapa dalam canggung. Saat niat utama disampaikan, hanya satu kata yang terucap dari sang gadis, “Tidak.”

Siti yang coba menghindar terjatuh dan luka kakinya, Toyib mencoba membantu. Berikutnya seolah mendapat amanat memikul dua ember untuk dua keluarga ini. Siti diam, dan dianggap sepakat saja. Waktu lalu mencipta perubahan, Toyib diterima masuk rumah dan ibu Siti yang menerima bungkusan tersebut. Saat ditanya di mana Siti? Ternyata sudah berangkat merantau ke kota. Pupus sudah harapan itu…

Dan begitulah, perpisahan tanpa kata-kata itu mencipta jarak yang sungguh lebar. Kabar satu tertimbun kabar lainnya, masa membawa manusia-manusia ini dewasa dengan sangat cepat. Siti menikah, Toyib patah hati dan berniat mencari kerja ke kota, tragedi lain terjadi, dan sekali lagi saat ada kesempatan kedua, akankah cinta pertama ini dapat dipersatukan?

Pertanyaan mendasar orang yang menikah, “Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?” Sejatinya bukan khusus untuk orang-orang pacaran yang kandas ke pelaminan. Ini pertanyaan umum, bahkan bagi pasangan yang saling mencinta, saling berjanji sejati, saling sepakat untuk setia, menikahi orang terkasih. Masa akan melindas banyak sekali kenyataan pahit manis, dan pertanyaan itu layak diapungkan juga. Dunia fana yang membuncah tanya, masa depan yang misterius.

Dihadiahi jaket buku yang manis dan pembatas buku sederhana dengan pesan makjleb dari Penerbit. “Terima kasih telah membawa pulang Sumur karya Eka Kurniawan. Buku ini hanya dicetak sekali. Pada suatu saat nanti dia akan menjadi langka. Semoga kamu senang membacanya. Seperti kami yang bersuka cita saat menyiapkan kelahirannya.” Semoga saja benar hanya dicetak sekali, karena antusiasme yang tinggi dan gegap gempitanya terasa, setelah sebulan terbit hypenya masih meriah, akankah suatu masa berubah pikiran? Ya, saya sepakat suatu hari akan langka. Kriteria langka itu bagaimana? Burt Auerback, juru tafsir buku langka di Manhattan pernah bilang, “Buku langka adalah buku yang harganya jauh lebih mahal sekarang daripada saat diterbitkan.”

Kolektor buku dari Amerika, Robert H. Taylor berkata, “Buku langka adalah buku yang sangat kuinginkan dan tidak bisa kutemukan.” Saat orang-orang menjawab serius, mereka semua sependapat bahwa ‘rare’ – langka, adalah istilah yang sangat subjektif. Satu-satunya kualitas ‘langka’ yang disepakati para kolektor adalah kombinasi kejarangan, kepentingan, dan kondisinya.

Ada kasih unik masalah ini, buku langka Tamerlane and Others Poems ditulis oleh pengarang tanpa nama yang hanya diidentifikasi sebagai, “Seorang Warga Boston.” Lalu berjalannya waktu baru diketahui ternyata adalah karya Edgar Allan Poe saat berusia 14 tahun. Buku setelah 40 halaman yang dicetak tahun 1827 oleh percetakan yang biasa mencetak resep, harga awalnya hanya 12 sen, dan kini setelah ratusan tahun berselang harga dalam lelang bisa mencapai 200 ribu dollar! Nilai Tamerlane yang biasa-biasa saja saat pertama terbit, tampak biasa saja, dibuat hanya 50 sampai 500 eksemplar, kini menjadi legenda dan tercatat hanya ditemukan 14 buku. Lihat Sumur, kita bukan cenayang, tapi kalau Penerbit komitmen tak mencetaknya lagi, tak sampai seratus tahun lagi bukankah tak mustahil berwujud prediksinya? Mirip semua ‘kan, kecuali nama Eka yang memang sudah sungguh terkenal.

Kasus dalam negeri yang paling terkenal tentu saja buku-buku awal Pram, harganya menggila. Semakin lama cetakannya semakin mahal. Saya pernah lihat di posting Facebook, ‘Arus Balik ‘dihargai sejuta lebih, kukira penjualnya gila. Eh ternyata ada komentar pembeli, itupun disusul komen lainnya yang turut antri!

Dalam buku, The Man Who Loved Books Too Much karya Allison Hoover Bartlett, “Selain menjadi kendaraan untuk menyampaikan kisah (dan puisi, informasi, referensi, dll) buku merupakan artefak sejarah dan tempat berkumpulnya kenangan. Kita senang mengingat-ingat siapa yang memberi buku kepada kita, di mana saat kita membacanya, berapa usia kita, dan sebagainya.” Jadi semakin jelas alasan kenapa Sumur harus dicetak. Sepuluh dua puluh tiga puluh tahun lagi, buku ini akan jadi semacam artefak, dimana keunikan dan rare tadi akan lebih menonjol daripada isinya.

Sumur dan misteri diam. Kebetulan saya lagi baca Kronik Burung Pegas-nya Haruki Murakami. Ada kisah bersisian, bagaimana sang protagonist merenung ke dasar sumur tua yang sudah tak mengeluarkan air. Menapaki kesunyian dan mencapai ketenangan luar biasa, semadi yang menghasilkan tompel dan segala tanya dunia antah di dimensi lain. Sumur yang ini lebih kalem, perannya seolah hanya menjadi saksi biru cinta kandas dan membuncah. “Kamu bertemu Siti di sumur?”

Sumur | by Eka Kurniawan | GM 621202009 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Mirna Yulistianti | Desain sampul & ilustrasi Umar Setiawan | Setting Sukoco | Cetakan pertama, Juni 2021 | ISBN 978-602-06-5324-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 160721 – The Cranberries – Animal Instinct

#30HariMenulis #ReviewBuku #16 #Juli2021

Buku ini kubeli di Kedai Boekoe, Bekasi. Saya ambil sepaket sama Misa Ateis-nya Honore de Balzac. Kunikmati saat isoman, menjadikan serangkai buku (dan film) yang berhasil kutuntaskan.

Mencari Setangkai Daun Surga #13

Mencari Setangkai Daun Surga #13

Pablo Neruda: “Orang Spanyol mengambil emas kita, tapi kita memperoleh emas mereka. Yakni kata-kata.”

Kumpulan esai dengan banyak tema, diambil dari berbagai sumber yang pernah muncul di media massa dari pertama muncul sampai update buku ini dicetak tahun 2016. Variasi tema: sastra, politik, budaya, sampai olahraga. Bagian olahraga mungkin yang paling kurang, tak dalam. Bicara Piala Dunia yang dituturkan khas tabloid  Bola, umum dan tak personal. Bagian sastra yang luar biasa, memang spesialisasi beliau di sastra, maka tampak ditulis dengan menggebu dan nyaman dinikmati.

Tulisan singkat-singkat, tiga empat halaman jadi bisa dibaca santai. Hanya beberapa yang lebih panjang, dan tulisan singkat seperti ini terasa kurang dalam. Bagi saya yang bukan basic-nya sastra sudha banyak namanya muncul di kancah sastra nasional bahkan internasional, jelas isinya cukup bervitamin, karena diambil dari tulisan di media massa, kita menempatkan diri pada pembaca umum. Saat buku ini muncul di beranda jual, saya sempat tanya ke grup Buku untuk beli tidaknya, bukan karena nama Bung Anton-nya tapi apakah sudah ada yang baca? Ternyata belum baca buku ini tapi banyak menemukannya di artikel koran, dan memang nama Anton Kurnia jaminan, yo wes langsung kuangkut.

Sebagian besar yang kunukil di sini kutipan sahaja, sebab saya memang tak terlalu dalam mengkritisi isi. Apalagi bila ditulis dengan tergesa, dengan target sehari satu pos seperti saat ini. maka saya ambil kutipan dari dalam buku. Kurasa hal-hal indah seperti ini laik dibagikan. Enjoy it.

Tugas seorang penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun, itu tercermin dalam karya-karyanya. Nadine Goldminer

Mo Yan bernama asli Guan Moye, ia memilih nama pena yang berarti ‘Jangan Bicara’. Di kampung halamanannya kemiskinan adalah hal lumrah. Dan di masa Revolusi Kebudayaan (1966-1976) ia muncul dengan keunggulan, ia seorang otodidak yang tekun dan banyak membaca.

Gao Xingjian mengakui dengan jujur bahwa ia menulis untuk ‘mengusir rasa sepinya’ dan dengan rendah hati menyatakan ‘menulis untuk diri sendiri’ tanpa pretensi menyampaikan khotbah bagi orang banyak.

“Kita bisa memiliki apa yang kita inginkan, tapi kita harus memperjuangkannya agar bisa menikmati dengan layak.”

Sejak awal, sastra Amerika Latin adalah gugatan kritis yang mempertenaykan tatanan sosial masyarakatnya (kebobrokan warisan colonial, penindasan dan kekerasan oleh Negara, kemiskinan, dan keterbelakangan). Mengutip kata Jose Ortega, kritikus sastra Meksiko, sastra Amerika Latin adalah reaksi imajinatif terhadap segala pandangan funia, norma, dan pranata sosial yang datang dari Barat.

Carlos Fuentes menyatakan bahwa Sastra Amerika Latin adalah ‘sastra yang marah’ karena pusaran ‘rasa takut, kekejaman, cinta, dan maut’ yang berlangusng turun-temurun dari abad ke abad, dari satu penaklukan ke penaklukan lain, dari rezim yang satu ke rezim yang berikutnya.

Dalam esainya Alejo Carpentier mengatakan, “Menulis tentang tanah ini (Amerika Latin) dengan sendirinya akan menghasilkan sebuah karya sastra tentang kenyataan yang ajaib.”

Gabriel Garcia Marquez suatu kali menulis, “Tugas seorang penulis adalah menulis dengan sebaik-baiknya.” Dengan begitu penulis berbakti pada bangsanya.

Nadine Gordimer dalam pidato penyerahan Hadiah Nobel Sastra 1991 ‘Writing and Being’ menegaskan pendiriannya bahwa tugas penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun.

Orhan Pamuk bilang, “Terjemahan yang baik tak hanya berhasil mengantarkan kesamaan makna, tapi juga bisa mengikuti irama kata-katanya dengan tepat.”

Kuntowijoyo menegaskan bahwa mereka yang hidup di dalam mitos tak akan pernah bisa menangani realitas. Bagi guru besar bangsa ini, akar permasalahannya terletak dalam cara berpikir kita sebagai bangsa, yakni bagaimana meninggalkan kepercayaan terhadap mitos menuju cara berpikir berdasarkan realitas.

Kritik sosial. Lebih tragis lagi, di negeri ini buku kerap bernasib tak jauh beda dengan film prono, sama-sama sering dilarang beredar, bahkan terkadang dibakar di muka umum.

Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak boila, membaca karena ingin tahu berapa persen diskon obral besar di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca subtitle opera sabun di televisi untuk mendapat hiburan.

Joseph Brodsky, pemenang nobel sastra 1987, “Membakar buku adalah kejahatan, tapi ada lagi yang lebih jahat, yakni tidak membaca buku.”

Meminjam istilah Rendra, ‘orang yang berumah di angin’. Karena ini sering dianggap berbahaya.

Mochtar Lubis, sastrawan dan wartawan terkemuka kita yang pernah dipenjarakan tanpa diadili oleh rezim Sukarno, suatu kali menulis, “Seorang intelektual adalah ia yang tidak merintih ketika ditindas dan yang tidak menindas saat berkuasa.” Komitmennya adalah pada nilai-nilai kebenaran, bukan pada seseorang atau kelompok tertentu. Pertanyaan berikutnya, masih bisakan kita berharap pada kaum intelektual jika mereka telah menjelma menjadi teknokrat – alat kekuasaan – atau sekadar hamba partai?

Istilah ‘kiri’ dipahami secara umum mengacu pada komunisme, sosialisme, dan marxisme (walaupun ketiganya tentu saja berbeda). Sejak era Orde Baru, istilah ini jadi the invisible enemy – musuh tak kasat mata, bahaya laten, dan sebagainya.

Si vis pacem para bellum, pepatah latin yang berarti jika mau damai, siaplah perang. Sepintas jelas terdengar aneh dan paradoksal. Namun sesungguhnya yang dimaksud dari kalimat itu adalah jika kita tak mau diperangi orang, perkuatlah diri kita agar orang segan menyerAng kita.

Dalam Black Beauty karya Anna Sewell, si kuda bertutur, “Tak ada agama tanpa cinta. Banyak manusia yang senang berbicara tentang agama, tapi itu tak membuat mereka bersikap baik kepada sesama manusia dan binatang. Sungguh memalukan…”

Rendra bilang, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”

Salah satu ajaran Gandhi yang terkenal adalah penolakan terhadap tujuh dosa sosial, yakni kekayaan tanpa kerja, kenikmatan tanpa nurani, ilmu tanpa kemanusiaan, pengetahuan tanpa karakter, politik tanpa prinsip, bisnis tanpa moralitas, dan ibadah tanpa pengorbanan.

Dalam buku The Anatomy of Melancholy karya Ricahrd Burton mengemukakan pandangan yang sangat dalam mengenai ‘penyakit hitam’ alias melankoli, serta menyebutkan ketakutan akan kematian, kekalahan, dan perbuatan jahat yang menjadi gejala dan musababnya.

Dalam buku Istanbul: Kenangan Sebuah Kota karya Orhan Pamuk memerikan satu istilah unik untuk menyebut situasi murung yang menggelayuti sebuah masyarakat. Ia menyebutnya huzul. Dalam bahasa Turki berarti kemurungan atau kesedihan. Nabi Muhammad Saw. Menyebut tahun ketika beliau kehilangan istrinya Khadijah dan pamannya Abu Thalib sebagai ‘amul huzl’ atau tahun kemurungan; kata itu berarti perasaan kehilangan yang amat spiritual.

Sabda Ronggowarsito dalam serat Kalatidha sesungguhnya kita ada di zaman edan ketika semua orang menjadi gila harta dan kuasa. Bila ikut gila, kita bisa-bisa tidak tahan mengatasi jeritan nurani. Tapi bila tak ikut gila, tak bakal kebagian harta benda dan kuasa.

Albert Einstein bilanG, “Imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu terbatas, sementara imajinasi tiada batas…”

“Sebagian orang percaya sepak bola adalah soal hidup-mati. Saya kecewa dengan perilaku itu. Saya jamin, sepakbola jauh lebih penting ketimbang hanya soal hidup dan mati.”Bill Shankly

Hitler bilang kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran.

Remy Sylado berujar pada dasarnya bahasa dan kebudayaan kita ini serupa gado-gado sejak asal mulanya.

Saya mengucapkan terima kasih untuk Pak Ade Buku di Bandung, buku-buku bagus yang kunikmati setahun ini banyak kubeli di sana. Termasuk Mencari Setangkai Daun Surga ini. makna judul buku ini ada di bagian akhir, merupakan kutipan dari seorang Goenawan Mohamad. Kutipan dari puisi ‘Daun’ yang ternyata juga terdapat di Belanda Cor de Bruijn (1883 – 1978) yang disadur dari A. Dt. Madjoindo (1896 – 1970), yang terbit tahun Setangkai Daun Surga 1972. Nah, sekarang kita menemukan buku lain berjudul ‘Mencari Setangkai Daun Surga’. Banyak hal dalam kehidupan ini tak sejalan, tapi seperti pepatah Jerman, Orang boleh kehilangan segalanya kecuali harapan, sebab “Harapan adalah yang terindah dalam hidup manusia.”

Mencari Setangkai Daun Surga | by Anton Kurnia | Editor Rusdianto | Tata letak Zizi | Pracetak Antini, Dwi, Wardi |  Cetakan pertama, Februari 2016 | Penerbit IRCiSoD |384 hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-391-114-1 | Skor: 4.5/5

Tanda mata untuk anak-anak tercinta: Kafka, Kalam, Javid, dan Maura

Karawang, 160221 – 100621 – 130721 – Dinah Shore – My Funny Valentine

Thx to Ade Buku, Bandung