Upaya Menangkap Kenangan Sepakbola

Sepakbola Tak Akan Pulang by Mahfud Ikhwan

Tak ada yang lebih tabah dari Pendukung Liverpool.”

Kumpulan artikel dari Geotimes dari awal musim 2018 sampai akhir musim 2019. Lumayan bagus juga ternyata, tulisan yang mencatat sejarahnya sendiri, semacam ringkasan kisah-kisah terpilih per minggu sehingga cocok buat menelisik kenangan. Saya pribadi menjadi lebih dalam tahu apa hal-hal menarik di pekan tersebut. Sejatinya tak istimewa tulisannya, tapi menanam memorinya lah yang mencipta kesan, sehingga buku seperti ini akan seperti buku kenangan sekolah. Semisal lima atau sepuluh tahun lagi ketika dibuka baca akan ketawa sendiri, oh dulu detailnya gini toh. Oh dulu terjadi drama yang konyol itu. Oh dulu pendapatku tentang pemain ini ternyata syahdu, dst. Ini bukan tentang kualitas tulisan, tapi bagaimana menangkap momen untuk disimpan. Terbakar!

Dari penulis Dawuk yang dahsyat itu, kita diajak mengenang musim kompetisi Eropa musim 2018/2019. Lha, baru kemarin? Iya. Tapi jelas ini ditulis dan diolah dengan kejelian pengamat. Sempat tercipta momen malesi di kepala, tapi setelah dalam tiga kali kesempatan duduk tuntas, ada kelegaan. Justru setelah membacanya saya terpatik, kenapa saya ga bikin tulisan sendiri semacam gini saja, toh ini kompetisi Eropa, yang tertutama lima liga terbaiknya yang tentu saja sudah akrab. Ketimbang bikin artikel Lazio seribu kata yang pembacanya segmented – kata William Loew – maka akan lebih lebar pangsa baca dengan menggores cerita lebih luas. Itu yang terpikir, yang jelas artikel Lazio sudah off semusim karena kzl ga naik-naik peringkat, tapi justru selama saya off nulis ulasan dan menepi dari hingar bingar Serie A, Lazio menggila.

Dibuka dengan tulisan yang dijadikan judul yang dibuat 14-07-18, masa ketika liga belum dimulai, Inggris yang menjadi sang penemu permainan malah diolok, sepak bola yang sulit dibawa pulang pialanya setelah sekian tahun berjibaku. “Itu salah salah Bapak menaruh bola.” Tulisan kedua yang justru bagus. bagaimana Juventus yang kita kenal, sebagai pecundang Champions League mencoba menaikkan harap dengan membeli pemain bekas berusia 33 tahun dengan banderol mahal bernama Ronaldo. Ketika isu ini berhembus, saya ingat sekali saya tertawa ngakak. Incaran Savic, kebanyakan nawar dan Lotito keukeh di angka 150 juta, justru mereka malah membawa pulang CR7, yang harus diakui terbaik di dunia, tapi udah kepala 3 woy. Masih ingat betapa frustasinya dibuat Radu? Dua kali beruntun kita babat 3-1.

Artikel ketiga tambah lucu dengan judul Yang Aneh, Yang Lumrah. Bagaimana Liverpool yang punya pertahanan buruk, dan kiper yang hobi blunder musim dimulai dengan gemilang. Tiga pertandinagn mereka di puncak, lumrah. Tiga pertandingan tanpa kebobolan, nah baru aneh. Harus diakui pembelian Virgil Van Dijk dan Alisson adalah sebuah langkah jitu. di Juventus Stadium, di depan kursi penuh sesak, di pertandingan keduanya Serie A Ronaldo mencetak assist pertamanya – sebuah bola liar yang gagal dimasukkannya ke gawang kosong. Ganjil? Sama sekali tidak, jika kalian cukup mengenal Liga Italia, dan sedikit paham soal betapa sulitnya menjadi striker di sana. Artikel keempat tentang Leeds United, tim yang kita kenal hebat di sebelum dan sesudah pergantian Milenium ini punya sejarah besar, dan menunjuk mantan Pelatih Lazio (dua hari yang absurd), Marcelo Bielsa demi mendongkrak kasta.

Selalu ada yang pertama adalah cerita kehebatan Parma, bagaimana bisa mereka terpuruk ke Serie D karena bangkrut lalu per musim naik terus, promosi tiga kali yang artinya sekarang sudah di kasta tertinggi lagi! Gilax. Sang kapten Lucarelli menjadi legenda karena itu, “Ini tak nyata.” Lalu pensiun. Jorge Mendes adalah tukang sulap di bisnis agen pemain/manager sepak bola, menjelajahi klub-klub dengan gelontor talenta, menjajahnya menjelma kekuatan tim. Bekas pemain sepakbola gagal, bekas pemain DJ klub malam, dan segala kiprahnya di Wolve dalam gelimang pemain Portugal. Pantas Rui Patricio gagal ke Lazio, di sana ternyata tercipta gurita. Liverpool dan penantian gelar juara EPL adalah minyak dan air yang sulit akur. 28 tahun tahun, dan masih berjalan. “Mungkin musim ini saatnya kalian (wartawan) menuntut mereka juara.” – Mou

Yang kekal, yang dikocok ulang. Jeda international memang malesi, semenarik apapun permainan timnas, tetap malesi ikuti. Dan terasa aneh ketika tahu spandung di Bernabeu, “Ronaldo tak lagi dibutuhkan.” Hantu Fergie yang membuat Moyes dipecat, Van Gaal jadi olok-olok, dan kita tahu Mourinho dipecat, kali ini terbukti Baby Face juga babak belur. Mou dan MU, keduanya saling menghancurkan. Emery dan Arsenal adalah lelucon, di artikel ke-10 ini, mencatat Unai pernah mencetak kemenangan beruntun yang luar biasa ternyata, oh iya saya ingat moment itu, fan Gunners melambung dan memujanya, ‘pilihan yang tepat’ katanya. Walau ketika dibaca sekarang, sungguh lucu menyebut Arsenal Baru.

Lopetegui dan Madrid adalah lawakan berikutnya. Drama Piala Dunia 2018 di timnas Spanyol, dan Madrid memecat seenaknya, ga ada yang aneh, justru lumrah di Bernabeu hal macam gini, sebuah rutinitas, yang bikin berang adalah Madrid tak pernah lupa menjadi juara. Dan itulah kenapa banyak orang tak pernah kehabisan alasan untuk membenci mereka. Ini adalah cerita sedih, tragedi helikopter di atas stadium Leicester City menjadi berita kabung. Vichay Srivaddhanaprabha adalah presiden klub paling bahagia ketika The Foxes mengejutkan dunia di musim 2016 karena sejarah juaranya, kali ini beliau kembali mengejutkan dunia atas kepergiaanya yang dramatis bersama putrinya.

Oh Milan itu tim semenjana toh, yang kata Bung Mahfud adalah tim yang hanya berebut posisi empat besar, atau justru tiket Liga Malam Jumat. Begitu juga MU sekarang. “Bersiap menghadapi kesemenjanaan atau biarkan Jose Mourinho merombak tim.”Jamie Jackson (Guardian). Menurut kamus, tim atau sesuatu yang biasa, rata-rata, di tengah, disebut medioker.

Chelsea dan Sarri yang tampak tak menemukan klik itu, berantakan di Wembley. Pelatih nirgelar yang tampak aneh dipilih Roman. Dan Bayern yang tampak kacau di tangan Niko Kovac. Bom, bir, babak belur menjadi tema yang sebenarnya hanya dikait-kait membentuk pola, bagaimana Jerman vs Inggris menjadi laga tak pernah tak seru. Akhir kisah Mou di MU, dalam big match memalukan. “Secara fisik, kami tak sanggup menandingi Liverpool. Aku bahkan ikut lelah hanya dengan melihat Andy Robertson (berlari).” – The Special G(one).

Ole Gunar Soljaer memberi harapan fan MU dengan kembali mencetak lima gol di debutnya sebagai pelatih magang. “Kami bermain dengan keasyikan melimpah…” Jesse Lingard. Arsenal kembali medioker setelah awal musim yang cerah, setelah unggul cepat dengan Pool, mereka digelontor lima gol. Itu Arsenal lama, Arsenal yang sama, itu-itu saja. Sementara City kembali ke kehebatannya lagi. Liverpool yang fokus ke Liga menurunkan pemain antah di FA Cup. Ada yang kenal Ki-Jana Hoever, siapa Rafael Camacho? Siapa pula Curtis Jones? Siapa yang ingat kalau Alberto Moreno masih di Pool? Dan mereka melaju.

Cerita Hudderfield Town dan David Wagner yang akhirnya berpisah setelah timnya jadi juru kunci, tak ada pemecatan karena memang dia adalah legenda. The Terriers mencapai ‘kesepakatan bersama’. “Ini hari yang menyedihkan.”Dean Hoyle. Dulu pernah menimang-nimang jersey Hudderfield untuk kubawa pulang ketika sang penjual salah mengambilkan jersey Brighton yang kupesan. Tapi ga jadi beli juga akhirnya, sekarang tim ini sudah tenggelam di divisi bawah, sayang sekali.

Di tulisan ke-20 ini, Si Gila Bielsa menguliahi tim dengan video bejibun. Dan Frank Lampard yang belajar melatih di Derby Country memberi harapan ke EPL. Sala adalah sebuah keanehan di dunia sepakbola yang sulit dijelaskan. Pemain Nantes yang dibeli mahal Cardiff City hingga memecahkan transfer klub itu hilang dalam perjalanan udara. Berharap membantu Cardiff keluar zona merah, ia tak pernah tiba. Sarriball adalah istilah permainan sepakbola ala Maurizio Sarri, di Chelsea performanya bak yoyo, berpendulum liar. Di bulan Februari 2019, mereka dihajar Bourne 4-0 lalu City 6-0, skor memalukan The Blues. “Sarriball telah gagal, aku tak melihat ada Plan B di sana.”Chris Sutton, mantan pemain Chelsea yang gagal. Saya ingat ini pemain posisi striker tapi malah jadi bek. Bisa juga lu ngeritik ye. Haha…

Dari Keppa untuk Pep, ini baru setahun lalu tapi ternyata ingatanku akan moment-moment penting sepakbola tak setajam dulu. Saya sempat lupa apa yang terjadi, oh ternyata ini drama final Carling Cup yang mana Keppa tak mau diganti jelang pinalti, padahal cedera, seolah dia adalah penentu starting line-up. Mau jadi pahlawan, justru malah gagal memberi gelar pertama Sarri. Padahal drama besar, tapi kenapa saya bisa melupakannya ya? dengan membaca artikel ini, goresan itu terlihat kembali. Benar-benar di usia ini, saya memang memilah mana kenang bagus yang bisa disimpan, mana kenang buruk yang harus dilepas, dan ternyata berhasil, sesaat. “Ini kejadian yang baru saya saksikan setelah sekian lama.” – komentator final.

Zidane pulang. Pas dengar ia resign setelah tiga gelar legendaris UCL, saya sudah yakin ia akan kembali. Tapi ga nyangka secepat ini. Babak belur dengan pelatih timnas Spanyol, lalu pelatih magang itu mencipta nirgelar musim ini, Zidane kembali ke Bernabeu. Sepakbola ‘kacau’ a la Zidane yang tenang dan mematikan. Penunjukannya adalah kelegaan besar yang mendekati kesempurnaan. Dan ‘debut’nya memang 2-0 vs Celta Vigo, Madrid yang normal. Virgil melakukan blunder yang jarang dilakukannya, lalu Ole yang ditunjuk menjadi pelatih tetap langsung terhempas dua kali.

Ternyata di April 2019, Juventus sudah mengunci gelar Serie A. Waduuh… separah itu ya musim lalu. Lazio sedang fokus Copa dengan gengsi sehingga terlalu banyak melepas laga, Atalanta menjelma kekuatan baru. Kalian bosan melihat Zebra juara, musim ini Lazio akan merebutnya. Siapkan sampanye terbaik kalian! Ronaldo yang dibeli untuk UCL, gagal di musim pertamanya di Italia.

Dan apakah senja tak jadi turun? Sehingga Liverpool, ia yang telah sekian lama menjalani puasanya, yang melintasi milenia dalam dahaga, dan masih terlarang menyentuh piala? Musim ini harus diakui Liverpool tak sekadar bagus, tapi menghebat di semua lini. Punya mental juara, punya poin tertinggi di era EPL dan ga juara, sungguh ironis. “Kami gagal juara bukan tak beruntung, kami gagal juara karena Manchester City.”Klopp. Berbagai kalimat perpisahan akhir musim, Robben – Riberry pamit dari Bayern, Barcelona juara tapi tak semeriah yang diharapkan, Valencia menjelma kekuatan baru karena menyodok zona Champions, jangan lupakan Atalanta yang akan melakukan debut di Liga Para Juara. Ada dua paragraf penuh tentang Lazio – akhirnya – hufh… saya ketik ulang sekaligus penutup ulasan ini. Ciao

Lazio, dibawah pelatih Simone Inzaghi, memenangi Copa Italia, tropi besar pertama mereka sejak 2013. Diperkuat pemain-pemain bekas macam Senad Lulic, Milan Badejl, Ciro Immobile, dan Lucas Leiva, atau pemain-pemain yang hanya menunggu waktu untuk pergi seperti Sergej Milankovic-Savic, dan Luiz Felipe, Lazio mengalahkan tim paling menarik dan paling banyak dibicarakan di Italia musim ini, Atalanta.

Gelar ini, juga kesanggupannya membuat Lazio stabil di klasemen liga membuat Simone Inzaghi masuk daftar pelatih baru Juventus. Ia bisa saja tetap di Lazio atau justru ke klub lain, AC Milan misalnya. Tapi sudah semakin jelas, di kepelatihan karier Simone tampaknya akan lebih cemerlang ketimbang Fillipo.

Dua paragraf ini membuatku teringat draf ulasan juara yang sudah kuketik panjang, ternyata sudah setahun dan belum jadi kupos. Bagaimana teriakan juara para Laziale Karawang membahana dalam peluk keceriaan di rumah Bung Adit – ketua Lazio Region Karawang. Mungkin bagi fan lain ini gelar minor, tapi bagi kami ini adalah catatan sejarah besar dekade 2010 menjadi dua kali Copa, sementara Roma nol besar. See…, setiap moment menjadi sangat berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda.

Setelah menyelesaikan baca dan ulas ke-30 tulisan ini, apakah saya ke web geotimes.com? nope. Saya kurang suka berita daring, ga nyaman. Mayoritas ya gitulah, malesi. Buku ini cukup jadi menaikkan pamor, tapi jelas tak cukup tergerakkan jari meng-klik-nya. Saya juga bisa nulis ngoceh sepakbola semacam ini, tentang Lazio di blog ini. Justru berkat Sepakbola Tak Akan Pulang, saya berniat bikin tulisan tandingan, seminggu sekali? Bisalah, apalagi bikin gerah Lazio di sini hanya disinggung sesekali. Bayangkan semusim, Lazio itu tim, maka menyedihkan Biancoceleste disebut tak lebih banyak dari pemain atau pelatih macam Ronaldo, atau Klopp. Mungkin akan kumulai ketika Serie A resmi dilanjutkan lagi bulan ini? #ForLazio #Scudetto

Sepakbola Tak Akan Pulang | by Mahfud Ikhwan | Copyright 2019 | Penyunting Aria Duta B | Tata Letak Werdiantoro | Ilustrasi Sampul Bambang Nurdiansyah | Rancang sampul Katalika Project | Cetakan pertama, 2019 | Penerbit Shira Media | ISBN 978-602-5868-88-7 | vi + 210 halaman | 13 x 19 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 030520 – Hanson – A Song to Sing (live and electric)

Milan Dan Para Korban Olimpico

image

Head To Head S.S Lazio Vs AC Milan
1. 28/01/15 Milan 0 – 1 Lazio
2. 25/01/15 Lazio 3 – 1 Milan
3. 31/08/14 Milan 3 – 1 Lazio
4. 24/03/14 Lazio 1 – 1 Milan
5. 31/10/13 Milan 1 – 1 Lazio
Hasil Lima Pertandingan Terakhir S.S Lazio
1. 04/10/15 Lazio 2 – 0 Frosinone
2. 18/10/15 Sassuolo 2 – 1 Lazio
3. 23/10/15 Lazio 3 – 1 Rosenborg
4. 26/10/15 Lazio 3 – 0 Torino
5. 29/10/15 Atalanta 2 – 1 Lazio
Hasil Lima Pertandingan Terakhir AC Milan
1. 08/10/15 Monza 0 – 3 Milan
2. 18/10/15 Torino 1 – 1 Milan
3. 21/10/15 Milan 0 – 1 Internazionale
4. 25/10/15 Milan 2 – 1 Sassuolo
5. 29/10/15 Milan 1 – 0 Chievo
Prediksi Starting Line Up S.S Lazio Vs AC Milan
Lazio: Marchetti, Basta, Gentiletti, Mauricio, Radu, Biglia, Cataldi, Anderson, Milinkovic, Candreva, Klose.
Milan: Donnaruma, De Sciglio, Zapata, Romagnoli, Antonelli, Kucka, Montolivo, Bertolacci, Cerci, Bacca, Bonaventura.
Penebak | Lazio vs Milan | Skorer
LBP 3-0 all
Lazio hebat. Lazio keren. Lazio is the best.
Zulk Lazio 3-1 Felipe
Lazio menang tanpa syarat, menang tanpa syarat, menang tanpa syarat.
Imunk Lazio The great 1-2 Milan the Legend Bacca
The great? Apaan the great. Cuma mengandalkan Felipe seharga  Bale mau ngalahin the legend? Bangun bud, bangun, jangan ngimpi. The legend yang dimotori honda, tetap satu hati. Bacca bakal bikin gol keren. Catet.
Gentong Lajio 2-1 Milan Cataldi
Rekor 100% masih aman keknya. Milan masih labil. Jupe menuju puncak👊🏿👊🏿
Fahrur Lajio 1-1 milan scorer Felipe
Permainan boring. Ada fans fanatik the great yg telanjang masuk lapangan. Wasit cidera.
DC Lazio 2-0 Milan Biglia
Main kandang, performa milan yang angina-anginan sepertinya akan memberi kemenangan buat tuan rumah,
Widi Lazio 1-1 Milan Biglia
Main kandang jadi pelecut semangat pasca kekalahan. Main home jadi harapan menang. Tapi akhirnya draw 1-1.
Aditya Lazio vs Milan : 2-1, Anderson. Lazio masih akan meneruskan tren kemenangan. Milan masih sulit bangkit. Felipe si overrated akan jadi kunci.
Panji Lazio 1-1 Milan, Matri
Milan ngegolin duluan, tapi babak kedua, sang mantan, Matri ngegolin. Skor mentok di kedudukan segini.
Erwin Lajio 0-2 Milan, Bacca
Lajio membiasakan kalah. Milan membiasakan cleansheet dan menang. Pioli bergoyang.
Lik Jie Lazio 1-2 Milan, Honda.
Lazio ada matri. Milan ada honda. Tapi yang juara tetep Yamaha.
Andi H Lazio 1-3 Milan, Bacca
Meski lazio main di kandang, Milan akan bangkit, Bacca akan membuktikannya.
Huang Lazio 4-1 Milan, Felipe
Analisis: sebelum pertandingan, dengan cerdik para pemain Lazio minum pocari sweat. Sedangkan musuhnya hanya disediain air legen. Alhasil Felipe dkk bisa 100% fokus pada pertandingan sedangkan Bacca cs cepat kelelahan karena nikmat sesaat.
Gangan
Lazio 4-1 Milan. Bacca.  Lazio menang. Milan tumbang. Balotelli telanjang.
Deni The great Lajio 2-1 Milan, Felipe. Duel seru bakal terjadi. The great bermain menyerang. Akhirnya Milan kalah dengan skor tipis 2-1 👍
Jokop Lazio 2-0 Milan, Candreva
Lazio mungkin kalah sama Atlanta. Tapi dengan Milan mungkin akan berbeda. Dukungan curva nord kota Roma ini bakal menjadi semangat sendiri.
Arif Keles Lazio v milan 1-0, Felipe. Lazio bakal meneruskan rekor 100% di Olimpico. Sudah 6 tahun Milan tidak bisa menang di Olimpico atas Lazio. Felipe akan menjadi pembeda. Forza Milan. Satu lagi, Mihajlovic akan bereuni dgn Lazio😚
Aji Lazio 0-1 Milan, Cerci
Skill individu Cerci menjadi penentu kemenangan. Milan pun Melanjutkan tren kemenangannya. Menjadikan Miha kagak jadi dipecat.
Karawang, 011115

Misi Menuju Puncak

image

Lazio menghadapi pekan padat. Tiga hari sekali the Great harus berlaga sampai puncaknya di Derby Roma. Ayooo tren bagus ini kita lanjutkan.
Penebak | Atalanta v Lazio| Skorer
LBP 0-3 all
Menang adalah kewajiban buat terus menuju puncak. Laga tandang sudah pernah poin penuh. Kini kita lanjutkan saja 3 poin itu.
Rekap Kuis LBP (Rekaper dapat bonus plus-plus kalo menang)

1. Arief
Atalanta v lazio 0-1. Felipe
Kemenangan 3-0 lawan Torino akan jadi modal berharga di Atleti azzuri d’italia. Atalanta belum terkalahkan di kandang musim ini. Felipe akan kembali menjadi pembeda. Forza Lazio!

2. Deni
Atalanta 0-2 Lajio Felipe
Kemenangan minggu kemarin membuat semangat pemain Lajio menjadi-jadi. Atlanta pun tidak dapat berkutik. Walaupun main tandang, the great akhirnya akan berhasil meraih poin penuh.

3. DC
Atalanta 0-2 Lazio Biglia
Performa bagus Lazio kali ini akan diuji. Tetapi sepertinya tren kemenangan bakal berlanjut. 3 poin lagi

4. Widy_10
Atalanta 2-2 Lazio; Biglia
Laga paling menjanjikan. Atalanta akan berusaha memetik kemenangan dari Lazio. Lazio juga tertantanng, tapi skor akhir draw 2-2.

5. Erwin
Atalanta 2-0 Lajio. Denis.
Lajio pede menggebrak Atalanta. Tuan rumah gak gentar. Gol Denis bikin Lajio kalem lagi.

6. Aditya W.
Atalanta vs Lazio : 2-1 Pinilla
Atalanta cukup solid di kandang. Walau Lazio lagi ON ga akan mudah main tandang. Denis akan jadi pembeda.

7. Huang (the famous number seven shirt)
Atalanta 2-0 Lazio ; Mauricio Pinilla.
Analisa: Di Olimpico, Lazio adalah elang yang perkasa. Sayangnya di luar sangkar, Felipe dkk berubah menjadi burung pipit yang menggemaskan. Dewi laut Atalanta mungkin tak sesakti Ratu Nyi Roro Kidul. Tapi apalah artinya burung pipit di hadapan Sang Dewi. ☺

8. Jack P.
Atlanta 0-0 Lazio.
Atlanta lumayan bagus di kandang. Lazio mungkin ngotot menang. Hasil draw cukup realistis.

9. Zul
Atalan 1-3 Lazio, Felipe.
Lazio akan menang mudah karena lawannya kali ini sangat sulit dikalahkan. Pertandingan yang berlangsung seru.

10. Imoenk
Ata-apaan 1-2 lazio, Felipe
Ata-apaan? Klub apaan tuch? Bermimpi menang lawan the Great? Ngimpi aja kalee. Ada Felipe (seharga Bale) Lazio oke. Ata-apaan bisa menang lawan the Great kalo Felipe seharga Bale sedang duduk di bale bale.
(Edisilebaybanget).

12. Djoqovic
Atalanta 1-0 Lajio, Pinilla
rekor tandang yg buruk bagi Lajio.100% kalah. Akan terulang lagi. Mimpi buruk terus berlanjut.

13. Muji
Atalanta 1-1 Lazio Felipe
Sik, pemaine Lazio sopo ae sih? Felipe ae lah.
Seri satu.seri dua. Seri tiga. Tampaknya bakalan seri nih, masak menang terus.

14. M. Aji
Atalanta 1-2 Lazio, Matri
Kemenangan akan didapat Lazio dengan susah. Walaupun mengguasai ball posesion. Matri sebagai pemain pengganti akan menjadi penentu kemenangan.

15. Enzoen
Atalanta 0-2 Lazio Klose
Lazio dalam performa terbaik. Kemenangan kemarin akan membuat bangkit Lazio. Walaupun maen tandang lazio akan menang mudah.

16. Tawil
Atalanta 1-1 Lazio , Pemain terbaik dunia 2015… (Cristiano Ronaldo?) 😂
Atalanta menjebol gawang Lazio. Lazio membalas menjebil gawang Atalanta. Hasil imbangpun menutup laga.

Karawang, 281015 – Sumpah Pemuda

Olimpico 100% Ampuh

image

Olimpico 100% Ampuh

Roma (Italia) – Lazio mencatatkan kemenangan 100 % di kandang sendiri musim ini setelah dengan meyakinkan menekuk Torino tiga gol tanpa balas. Kemenangan yang diyakini akan krusial dalam perebutan takhta juara Serie A musim ini.

Lazio menerapkan strategi yang sudah paten musim ini dengan pola 4-3-2-1. Posisi Lulic sudah nyetel di bek kiri. Sisi bek tengah, Gentiletii dan Mauricio tak tersentuh sedang Basta adalah bek kanan paling hebat sejauh ini. Lugas, fisik prima, sapu bersih tanpa kompromi dan rajin dalam menyokong bola ke depan. Di sisi tengah, Biglia sudah tak tergantikan. Onazi yang masih diragukan kontribusinya diberi kesempatan starter. Sementara sisi playmaker adalah pemain pujaan Laziale Felipe Anderson. Bagian penyerang selalu mengalami perubahan. Savic sudah nyetel dengan skuat, Candreva yang pekan lalu kembali dari cidera kembali mengambil hak-nya sebagai starter. Klose mengganti  Djordjevic yang dalam tahap pemulihan. Komposisi ini masih timpang, namun seperti yang saya selalu bilang: Selama Felipe ada dalam skuat tidak tidak pernah takut lawan siapapun.

Pertandingan berjalan 5 menit, Mauricio langsung menghajar lawan. Luar biasa ini pemain tak belajar dari laga lawan Rossenberg. Awal-awal laga sangat monoton, kedua tim masih menjajaki area lawan dengan sangat hati-hati. Sampai menit ke 20 tak ada peluang bersih. Semenit berselang Antonio Candreva mendapat bola dari tengah lapangan, sudah kuduga bola disikat sendiri dan melambung tinggi. Mauricio akhirnya dapat kartu kuning juga, kolektor sejati. Sampai setengah jam Lazio mulai merasakan tandukan Torino, ternyata mereka susah sekali dibongkar. Menit 32 Candreva berhasil menyundul bola hingga gawang Padeli bergetar, sayang offside. Menit 40 gol yang ditunggu terjadi juga, melalui umpan lambung yang cantik dari sisi kanan, Basta melayangkan bola tepat di depan gawang. Klose yang lolos jebakan offside langsung menyundul balik ke Lulic lalu dengan brilian disepak ke tanah dan masuk. Bola yang bergerak liar karena dipantulkan ke bawah itu disambut sorak sorai Laziale, 1-0.

Babak kedua tak ada perubahan, dengan komposisi yang sama unggul satu gol Lazio makin bernafsu menambah gol. 10 menit berlangsung, lagi-lagi Candreva menembak burung. Torino melakukan pergantian setelah satu jam berselang, Maxi Lopez in Baletti out. Klose yang kurang menyengat di laga ini kasih bukti bahwa dia masih layak jadi striker nomor satu. Dari tengah lapangan, Klose mengirim bola datar ke Felipe. Felipe dengan sedikit sentuhan lalu berlari ke kiri untuk melewati bek lawan sehingga tinggal berhadapan dengan kiper, area terbuka itu mencipta gol kedua. Gol ini mengingatkannku pada sosok Christian Vieri. Trade mark Bobo adalah lari menyilang lalu menempatkan bola jauh dari jangkauan kiper dengan bola datar. Walau pelan, kalau posisinya pas, bola seperti ini memang susah ditaklukkan. Felipe malam ini memang luar biasa.

Pergantian pertama Lazio dilakukan untuk Kishna in Candreva out. Kishna adalah pemain keren, skillnya di atas rata-rata. Sayang sebenarnya jarang starter. Menit 78 dia kasih bukti, melalui dribel yang menawan menyusuri garis gawang lalu melambungkan bola tepat di depan gawang, sayang umpan silangnya tak ada yang menyambut. Semenit berselang, Klose out Matri in. 10 menit terakhir nyaris tak ada hal yang istimewa. 2 gol sudah aman buat Lazio, 2 gol sudah susah dikejar. Menit pertama injury time, serentak public Olimpico gemuruh. Ravel Morison in Onazi out. Entah apa yang ada di benak Pioli, seruan Laziale untuk lebih sering memberi kesempatan kepada British Bad Boy selalu dicuekin. Bahkan harapan itu diwujudkan dengan memberi 2 menit saja buat sang nomor 7. Seakan-akan menantang dan berujar, “sayalah Bos-nya”. Dalam hati saya berdoa semoga Ravel tak sakit hati dan lebih berjuang memperebutkan posisi. Saat laga sepertinya tak akan berubah, Felipe menambah golnya di detik terakhir. Melalui umpan pendek Lulic dari sisi kiri, Felipe dengan elegan mencocor bola yang dengan manisnya merobek jala Torino. FT 3-0. Fantastis Felipe, pemain terbaik dunia saat ini bukan CR7, atau Messi tapi Felipe Anderson!

Dua gol Felipe ke gawang Torino ini mengingatkanku pada laga Maret tahun ini. Saat itu Felipe cetak dua gol indah, saat itu Lazio sedang menyusun rekor kemenangan demi kemenangan sebelum dihentikan Juventus.

4 laga ke depan akan sangat padat karena hanya berselang 3 hari. Atlanta sudah menunggu tengah pekan, Milan siap dijamu di kandang. Tengah pekan depan kembali ke EL lawan Rossenberg dan puncaknya tanggal 8 November dalam derby Roma. Roma kini di puncak, derby yang mendebarkan. Derby could be a Scudetto clash. Melihat penampilan istimewa Lazio, 4 laga ini akan bisa dilalui dengan poin sempurna. Saya yakin, kalian yakin?!

Lazio (4-2-3-1): Marchetti, Basta, Mauricio, Gentiletti, Lulic, Onazi (Ravel Morrison), Biglia, Candreva (Ricardo Kishna), Milinkovic-Savic, Anderson, Klose (Alessandro Matri).

Torino (3-5-2): Padelli, Bovo, Glik, Moretti, Bruno Peres, Acquah, Vives (Sanjin Prcic), Baselli, Molinaro, Belotti, Quagliarella.

Karawang, 261015

Lazio Dan Kemenangannya di Kandang

image

Kuis reguler the Great. Pekan ini akumulasi ke 3 jadi pulsa 15.000 dipertaruhkan. Kali ini Torino jadi target berikutnya untuk 100% kemenangan di Olimpico. Ditutup Minggu jam 15:00. Good luck FOC-ers!
Expected Starting XIs
Lazio : Marchetti; Basta, Mauricio, Gentiletti, Lulic; Onazi, Biglia; Candreva, Milinkovic-Savic, Felipe Anderson; Klose
Torino : Padelli; Bovo, Glik, Moretti; Peres, Acquah, Vives, Baselli, Molinaro; Belotti, Quagliarella
Penebak | Lazio vs Torino | Skorer
LBP 3-0 all
Analisis: Di kandang Lazio selalu menang. Tak ada kata seri apalagi kalah. Jelas tak ada keraguan untuk kemenangan ke 6 di Serie A. 3 gol cukup buat lahan latih kembalinya Klose.
DC 2-0 Biglia
Partai yang sepertinya bakal berjalan menarik, kedua tim lagi on fire, tetapi faktor kandang akan memenangkan Lazio
Jokop 1-0 Candreva
Lazio harusnya bisa menang. Apalagi di kandang sendiri. Lawannya hanya Torino.
Erwin 1-3 Baselli
Rekor pecah. Lajio merana. Torino menanjak.
Arif Keles 1-0 Felipe Lazio akan bangkit usai kekalahan dari Sassuolo. Torino akan mengalami teror di Olimpico. Lazio akan meraih kemenangan ke 8 beruntun di Olimpico.
Imunk 1-1 Baselli
Lazio 100% di Olimpico?
Ah sepertinya rekor bakalan pecah. Torino lagi hangat, Baselli unjuk gigi. Torino biasa bermain rapat, pertahanan sulit ditembus. Hanya Candreva yang bermain gemilang, setelah Baselli tentunya.
Aditya 1-2 Baselli.
Baselli ini talenta lokal Italia paling kinclong, jebolan Atalanta yang langsung jadi key player. Conte pasti akan bawa dia di Euro 2016. Oase Italia akan regenerasi mulai ada secercah harapan. Kehadiran Baselli akan bikin Lazio kelimpungan. Sekali lepas gawang Lazio pasti jebol.
Deni 2-1 Baseli Lajio tidak akan menyia-siakan main di kandang. Semangat tempur sedang meninggi. Hanya melawan Torino Lajio bakal memenangkan duel tersebut.
Sapin Lazio 1-4 Torino. Baselli. Baselli is love. Baselli is life. Turin is home.
Gentong 0-2 Keita og
Kekalahan pertama Lajio di kandang. Torino calon scudetto. Klose baru masuk kartu merah.
Huang 2-2 Felipe
Hasil draw sebenarnya adalah kerugian. Peluang keduanya masuk zona europa menjadi terjal gara-gara hasil ini. Lazio tidak terkalahkan di kandang, tapi juga bukan berarti akan selalu menang. El toro impazzito!
Lik Jie 1-2 Quagliarela
Baselli is live. Baselli is maroon. Maroon is five.
Widi 2-2 Klose. Laga sengit. Lazio main kandang dengan semangat tinggi pasca menang di EL. Final score 2-2 saja
Jacky 3-0 Flipe Lazio is the best, Lazio is the best, Lazio is the best.
Aji 2-1 Candreva
Dengan bermain di EL, akan menguras stamina. Lazio akan susah payah melawan membongkar pertahanan Torino. Hadiah Penalti akan memenangkan tim ibukota.
Andi H 3-1 Felipe
Lazio bakal bangkit setelah kalah di Serie A, menang di liga Europa akan jadi motivasi. Lazio akan menang mudah dikandang.
Fahrur 0-0 — Pertandingan berjalan lambat, para pemain tak ada gairah, wasit kena red card dan wisata ke Thailand buat pijet.
Karawang, 251015

Final Piala Presiden: Di Jakarta Antara Bandung dan Palembang

image

Turnamen ini mendekati akhir. Siapa juara piala presiden 2015? Berikut prediksi teman-teman dari Football On Chat.
Persib vs Sriwijaya | Skor | Skorer
LBP 2-2 all
Analisis: Peuyem versus pek-pek yang ribut kerak telur. Pertandingan seru sejak awal. Diakhiri pinalti.
Aditya 2-3 Patrich Wanggai. Partai yang kelihatannya berpihak pada Maung. Tapi Sriwijaya yang diperkuat maskot Alangsari Titus Bonai akan berusaha bikin partai ini ‘enak yaa..’. Mental Sriwijaya yang sudah teruji di partai berat seperti Arema kemarin akan menguntungkan mereka.
Arif 1-0. Zulham. Saatnya persib juara. Djadjang Nurdjaman akan tersenyum. Zulham akan berekspresi ala CR7 lagi.
DC 2-0 Zulham. Partai yang ga diinginkan oknum fans Persija dimainkan di ibukota,  yang main siapa yang rusuh siapa hihihi, lebih berasa main di kandang jadi nilai lebih buat Persib,
Gentong 1-2 Musafri
Walau banyak yang dukung Persib juara, Namun SFC tak gentar. Bendol pelatih joss dan GBK pun jadi |akabaring.
Andy 1-2 Titus Bona
Walaupun Persib diunggulkan, tapi Sriwijaya punya bek yang solid, dan punya motivasi tinggi setelah mengalahkan Arema.
Andyka 3-1 Zulham
Permainan keras. nNntonpun malas. Lebih baik pulas.
Widi 3-2 Zulham
PARTAI seru di GBK. SRIWIJAYA GA TAKUT KALAH . PERSIB JUGA TAPI AKHIRNYA PERSIB YANG JUARA DAN MENANG.
Huang 2-3 Spasojevic
Analisis: Sejarah membuktikan Persib lebih baik. Secara geografis Maung Bandung juga diuntungkan. Tapi di bursa yang dijagokan seringkali malah gigit jari.
Gangan 2-0 Konate.
Persib nu aing. Maung nu aing. Wasit goblog.
Lik Jie 3-1 Zulham. Biar pak Emil senang. Bandung lagi tahunnya. Zulham lagi bagus-bagusnya. Forza cilok. *padahal nang kuis e pak Joko njago Persib kalah 😂*
JJ 2-1 Konate
Persib Bonek sama aja. Asal jangan the Jak. The jak itu Persija.
Deni 3-2 Konate. Kedua tim bermain sangat bersemangat. Apalagi Persib yang bermain di kandang Persija. Persib dengan kekuatan penuh berhasil mengalahkan Sriwijaya dengan skor tipis 3-2
Erwin 3-0 Konate
PERSIB nu Aing. Maung nu Kodim. Juara Deui.
Karawang, 181015

Korban Berikutnya Keganasan Olimpico

image

Lazio memperoleh kemenangan 100% di laga kandang musim ini. Tak peduli di kompetisi apa, lawan siapa, semua tim diratakan. Calon korban berikutnya adalah tim promosi Fro-apa-tuh. Tim yang pertama kali bermain di Serie A ini sedang girang. Setelah 4 pertandingan tanpa poin. Pekan lalu mereka menang 2-0, 3 poin pertama. 2 pekan lalu mereka ditahan imbang Juventus 1-1, gol penyeimbang dicetak di injury time. Poin pertama tersebut akan ditulis tinta emas sejarah mereka. Sementara Lazio the Great sedang tak terbendung. Tak ada kamus imbang di skuat Pioli. Menang atau hancur sekalian. Jadi pekan ke 7 laga di Olimpico ini seharusnya jadi tebakan mudah. Bukan siapa yang bakal menang, tetapi berapa skor kemenangan Lazio? Saya suka angka 3.

Lazio : Machetti, Radu, S. Gentiletti, D. Basta, S. Lulic, L. Biglia, Parolo, Felipe Anderson, Savic, F. Đjorđjević, Kishna
Fro-apa-tuh: Leali, Diakite, Blanchard, M. Ciofani, Crivello, Soddimo, Fara, Goru, Chibsah, D. Ciofani, Castillo.

Penebak | Lazio vs Fro-apa-tuh | Skorer
LBP 3-0 all
Analisis: Fro-apa-tuh akan jadi korban pertama dari sisa laga yang akan kita ratakan setelah 6 pekan jinx. Dari menit pertama pakai 3 penyerang biar saru. Keita, Djordjevic dan Kishna. Next kacang Capri.
Gentong 3-1 Fro-apalah Felipe
Demi pulsa lagi. Demi papan tengah yang sengit. Demi jatah europa league.
Fahrur Lajio 2 – 0 fro(yunowho) Savic
Lajio lagi  on fire. Pertandingan berat sebelah. Wasit diusir dari lapangan.
DC Lazio 2-0 Fio Biglia
Kemenangan di liga eropa, bermain dihadapan tifosi akan memberi angin bagus bagi Lazio, fans bersiap untuk berpesta
Imunk pengantin baru Lazio 2-0 fro-apa- tuh
Kishta eh krisna eh kishna
Lazio keren. Fro-apa-tuh jelas bukan lawan seimbang bagi the great. Fro-apa-tuh bakal kesulitan. 2 gol bakal bersarang di gawang Fro-apa-tuh. Uyeeeeeee
Deni Lajio the great 2-0 frosione Felipe
The great tidak akan menyia-nyiakan saat melawan tim lemah Fro di kandangnya. Saking lemahnya, Lajio bakal berpura-pura dan main santai di babak 1. Baru di 10 menit akhir the Great mengerahkan kekuatannya yang sesungguhnya …👍
Erwin Lazio 2-2 Fro (Djorjepik)
Lazio menekan diawal pertndingan dan dapat  gol cepat dengan mudah. Babak kedua Lazio lengah. Skor imbang merugikan Fro.
Andi H Lasio 3-1 Flo Biglia
Lasio akan meneruskan tren positif menang di kandang. Yang dihadapi tim promosi, makin mudah untuk menang.
Arsol 0-1 (X)
Lajio menekan tapi Fro parkir kereta api saudara-saudara. Dan serangan balik dan gooolll
Gangan Lazio 1-1 Froisisendir Savic
Lazio kelelahan usai menang lawan Ettiene. Froisisendiri membayangkan Lazio seperti Juve. Akan keluar kartu merah dari wasit.
Jacob Lajio 4-0 fresteaone Felipe.
Menang mudah. Termotivasi karena menang kemaren. The Martian film bagus kudu nonton.
Widi Lazio 4-1 Frosinone Djorjevic
Trend positif sedang berpihak ke Lazio. dijamin menang kalau udah lawan tim antah berantah. 4-1 milik Lazio
Huang Lazio 0-0 Frosiwhaatttt
Beberapa Laziale tak dapat menyebutkan nama musuhnya dengan benar. Oleh sebab itu mereka akan terkena kutukan. Tak dapat melesakkan sebiji gol pun walau memecahkan rekor possession 85% – 15%!
Takdir Lazio 7- Frosinone 1(X)
Apa itu Frosinone? Klub tarkam kemaren sore. Harusnya mereka beruntung bisa menghadapi the Great dan felipe yang setara bale. Frosinone kaya merk susu unyu unyu.
Arif Lazio 2-0 Fro Biglia
Lazio dalam tren bagus. Biglia lagi on fire. Fro bukan lawan sepadan bagi the Great.
Lik Jie Lazio 3-1 Fro Savic
Frosinone itu dari daerah mana ya? Masak klub elite ibu kota yang jarang skudeto harus mengalah. Si savic sepertinya bakal jadi buruan klub lain deh.
Aji C Lazio 2-1 Khisna
Efek bermain di malem Jumat membuat tim ibukota dirotasi. Ini tidak mengurangi mereka untuk tampil menyerang. Kemenangan diperoleh lewat detil kecil kesalahan pemain belakang lawan
Karawang, 031015

Menang Dan Mengecewakan

Featured image

Bermain di kompetisi kelas B untuk sebuah klub kelas A jelas ga sebanding. Setelah kekecewaan gagal ke Liga Para Juara, Lazio yang terperosok di Liga Malam Jumat (seakan) terpaksa mengejar asa kosong. Setelah mendapat 1 poin di laga perdana melawan Dnipro, pertandingan kedua yang berlangsung semalam dilalui dengan kemenangan. Melawan tim asal Perancis yang pekan lalu digasak 4 gol, kemenangan sepertinya akan mudah didapat. Saya bahkan nebak minimal gap 2 gol. Sayang 3 poin yang diperoleh dibarengi dengan permainan buruk. Memainkan pemain lapis dua di beberapa posisi adalah pilihan bagus mengingat target utama Serie A. Berisha di bawah mistar, disusul 4 bek: Basta, Mauricio, Hoedt dan Radu. Di tengah Pioli mempercayakan Onazi untuk menemani Biglia, Felipe, Mauri dan Savic. Dengan penggedor tunggal: Keita. Terlihat komposisi ini banyak mengalami perubahan dari saat menekuk Verona. Rotasi bagus untuk memberi semua kesempatan, namun mana Morisson.

Konsentrasi dari menit awal itu penting! Melalui sepak pojok gawang Berisha jebol di menit 6, gol mudah Sall yang hanya dibelokkan. Gol premature yang melecut perlawanan, Olimpico sesaat terdiam. Menit 11 hamper saja Biancoceleste menyamakan kedudukan, tandukan Hoedt bisa ditepis Stephane Ruffier. 2 menit kemudian Saint membuat jantung makin berdegup kencang, sundulan Nolan Roux kena mistar. Namun Lazio tak gugup, karena tak butuh waktu lama, Ogenyi Onazi pemain yang saat ini sedang dalam sorotan berhasil membalas kepercayaan Pioli. Gol yang unik, tendangan ‘kung fu’ menit 22 menyamakan kedudukan 1-1. Umpan silang Felipe yang gagal dimanfaatkan il Capitano justru malah jatuh di kaki Onazi yang dengan tenang menceploskan bola. Andai itu bola bisa disikat Mauri bias jadi malah gagal. Ada yang nyeleneh dari selebrasi Onazi, dirinya hormat pada Savic dan penonton seolah-olah bilang, “Saya masih ADA”.

Kejutan tak sampai di situ, menit 33 giliran Mauricio pemain yang sering saya kritisi itu giliran kasih andil. “pembuatannya” membuat Saint bermain dengan 10 pemain. Mauricio sampai berdarah kena sikut Robert Baric yang membuatnya langsung diusir. Oke, kita kasih kesempatan sampai Januari kalau masih bisa beri kontribusi positif silakan tetap di Lazio. Buktikan kalian berdua masih layak mengenakan jersey besar Elang Biru. Babak pertama ditutup imbang.

Babak kedua kita ambil inisiatif serangan. Mauricio yang cidera ditarik ganti Gentiletti, bek tengah ganti bek tengah, pas. Hanya butuh 3 menit gantian kita unggul, lewat tendangan bebas Biglia, kini Hoedt yang menyelesaikan bola mudah itu, 2-1. Ini adalah gol perdana pemain anyar Belanda untuk Lazio. Dari kesempatan minim, Hoedt selalu tampil prima (juga seakan) kasih lihat Pioli dirinya layak starter di laga penting. Unggul satu gol dan satu pemain harusnya Lazio tetap mempertahankan daya serang, mumpung waktu masih lama, mumpung main di kandang, mumpung momennya pas seharusnya tabung gol sebanyak mungkin. Mauri yang tampil dibawah perfoma diganti Matri, pemain tengah keluar, penyerang masuk, 2 striker pas. Sayangnya melempem, ada yang salah dalam cemunguth skuat. Bonus kekurangan pemain terjadi lagi di menit 77. Felipe dilanggar Sall sang skorer. Dengan 9 pemain. 3 menit kemudian Biglia mengkonversi keadaan dengan gol, 3-1.

Ini nih momen mengesalkannya, lengah! Bek tengah jadi sorotan utama karena hanya butuh 4 menit, Saint berhasil menipiskan keadaan lewat pemain pengganti Monnet-Paquet. Untungnya musuh hanya punya waktu 5 menit sehingga skor 3-2 bertahan sampai akhir. Kemenangan yang mengantar Lazio di puncak grup G bersama Dnipro dengan 4 poin.

Evaluasi utama ada di koordinasi pertahanan dan konsentasi menita awal-akhir. Lawan tim lemah saja kita kebobolan terus bagaimana nanti saat lawan top klaseman. Dengan 9 pemain saja mereka bisa bobol gawang, benar-benar bermasalah nih bek kita. Selain itu, Berisha juga main buruk. Heran, penampilannya konsisten tak membaik. Bagaimana nanti saat lawan tim besar yang ofensif, bagaimana nanti saat Derby, bagaimana nanti (saat kesempatan itu datang) lawan Barcelona. Kemudian hening. Stefan De Vrij ayo segera sembuh, kami sangat membutuhkanmu!

Sebagai catatan tambahan, secara bersamaan Fiorentina menang 4 gol di kandang lawan. Fiorentina adalah tim yang musim lalu kita bantai. Fio kini ada di puncak klasemen, gap hanya 3 poin. Kalau permainan tak seburuk semalam, bisalah kita kejar. Ada baiknya fokus ke Serie A, kompetisi lain pakai lapis kedua dan rotasi. Bisalah jadi nomor satu, bisalah pesta 15 tahun lalu terulang. Tak ada yang mustahil. Jangan puas untuk puncak grup G, menang lawan Saint itu memang selayaknya, kembali ketatkan tali sepatu Bro, Fro-apa-tuh sudah menunggu.

Lazio 3-2 Saint Ettienne (Onazi 22, Hoedt 48, Biglia 80; Sall 6, Kevin 84)

Lazio: Berisha; Basta, Mauricio (Gentiletti 46), Hoedt, Radu; Biglia, Onazi (Cataldi 74); Felipe Anderson, Milinkovic-Savic, Keita; Mauri (Matri 64) St-Etienne: Ruffier; Clerc, Sall, Perrin, Polomat; Pajot, Lemoine; Roux (Monnet-Paquet 74), Corgnet (Diomande 63), Hamouma (Bahebeck 63); Beric

Karawang, 021015 – sedang baca Hugo Chavez

Minus Gol Poin Maxi

image

Verona – Lazio memetik 3 poin penting dalam lawatannya ke kota Verona. Bermain dengan 10 pemain sejak menit 81 setelah Mauricio dikartu merah, Lazio justru bermain lebih menggila. Memasuki pekan keenam dengan hati ketar-ketir di laga tandang setelah takluk 4-0 lalu 5-0, skor 6-0 dalam bayang-bayang otak-atik-gatuk. Melawat di stadion angker Marc Antonio Bentegodi, Pioli memainkan strategi ofensif 4-2-3-1: Basta di bek kanan, Mauricio dan Gentileti di tengah, Lulic di bek kiri. Parolo di kanan, Biglia di sektor kiri. Felipe penyerang kanan, Kishna mengisi kiri , Savic penyeimbang dengan ujung tombak Djordjevic. Minus Klose dan Candreva, inilah komposisi terbaik Lazio.
Strategi ini rasanya sangat pas untuk mengurung lawan dan berjalan baik. Terjadi gol pembuka menit ke 5, sayang gol tersebut dianulir. Seperti biasa, Lazio bermain ofensif. Bola mengalir dari kaki ke kaki, nyaris tak ada bola lambung. Perpaduan Savic-Felipe sungguh keren, lini kanan sangat dominan dalam membombardir bek Hellas. Ciri khas sedari musim lalu, bola secepatnya dioper ke Felipe dan syukurlah sejauh ini pemain baru kita, Savic sangat-sangat-sangat pas dalam skema menyerang. Nantinya ketika Candreva fit, saya tak berani membayangkan betapa dahsyatnya skuat ini. Mauricio adalah titik lemah Lazio musim ini dan saya heran kenapa Pioli selalu memainkannya padahal Radu dan Hoedt siap di bangku cadangan. Benar saja ini bek dapat kartu kuning karena pelanggaran konyol. Catat: kalau ada kuis tebak kartu masukkan pemain ini, persentase melanggar lawan sangat besar. Keasyikan menyerang, Lazio justru kebobolan menit 31 melalui bek Jerman Filip Helander. Melalui skema bola mati, percobaan tendangan pertama menerpa mistar dan Helander dengan cerdik melompat di antara kerumuman pemain untuk menyundul si kulit bundar. 1-0.
Sampai babak pertama usai, Lazio tertinggal 1 gol. Statistik menunjukkan kita menguasai pertandingan, namun shot on goal-nya 0 sementara Hellas 1 dan itu berbuah skor. Bek tengah jadi titik lemah. Posisi ini harus secepatnya ditambal. Babak kedua dengan komposisi yang sama, Lazio langsung melangkah maju. Namun masih buntu juga, menit 61 Pioli melakukan double-sub mengganti Kishna dengan il capitano Mauri dan Djordjevic  dengan Keita. Tak butuh waktu lama, Keita kasih andil. Bayangkan, masuk menit 61, menit 62 dapat pinalti. Harusnya wasit Serie A lebih jeli mengenali kebiasan pemain. Pemain ini memang sering bikin kesal karena saat memegang bola sangat egois dan sering jatuh saat drible. Namun kali ini posisi jatuhnya membuat saya bersorak karena membuka asa. Biglia is big player, menunaikan tugasnya dengan bagus. Pinalti Biglia sebenarnya mudah ditebak: selalu tengah karena kalau dia coba ambil sisi lain (baik kanan atau kiri) seringnya bola keluar. Nyatanya Rafael terkecoh juga, 1-1. Harusnya kiper Serie A lebih jeli mengamati kebiasaan pinalti kicker lawan.
Dan kekonyolan Mauricio kembali terjadi, 9 menit menjelang bubaran waktu normal, saat Hellas melakukan serangan balik dia dengan bodohnya mengangkat kaki terlalu tinggi untuk mengganjal laju bola yang justru mengenai kaki. Seperti Onazi, ini pemain tinggal tunggu waktu ditendang dari skuat. Belajar dari Ledesma, Januari ini harusnya dilepas karena kesalahan-kesalahan mendasar seperti ini tak seharusnya terjadi. Untuk kejar Scudetto jangan sia-siakan poin. Pioli gerak cepat, menarik Felipe mengganti bek Hoedt. Bukti Pioli bermental teri dengan tak berani perjudian, mengganti playmaker dengan bek, dianggapnya 1 poin di laga tandang cukup. Untuk jadi juara, kita harus mengambil resiko besar. Semakin besar resikonya semakin besar peluangnya. Walau dengan 10 pemain kita tetap dominan, harusnya lebih ngotot kejar gol kemenangan dengan memasukkan pemain pendobrak, Morison sudah menunggu.
Tetapi memang skuat Lazio saat ini sangat prima dan bermental juara. Gol kemenangan itu datang juga, setelah lagi-lagi Keita menjatuhkan diri di depan garis pinalti. Tendangan bebas tepat di depan gawang di menit 86. Kita punya dua free kicker handal: Biglia dan Parolo. Setelah pagar betis dibentuk, Biglia di kiri Parolo di kanan. Peluit terdengar, saya sempat mengira bola akan ditendang kencang Biglia, eh ternyata hanya disentuh dikit ke kanan untuk di-shoooot Parolo. Bola mendasar itu melewati kaki-kaki pagar betis dan bersarang mulus di pojok kanan gawang. Gol yang melegakan. Karena skor 1-2 bertahan sampai akhir. Luar biasa, tak mengira kunjungan ke kota Verona menghasilkan 3 poin.
Ada momen mengharukan di menit 77 Hellas Verona melakukan pergantian, Hallfredsson keluar diganti Matuzalem. Seperti yang kita tahu, Matuzalem adalah eks Lazio. Hellas walau selalu menyulitkan adalah tim-saudara seperti Inter Milan yang selalu bermain ‘damai’. Sehingga saat dia masuk dengan tepuk tangan seluruh penonton Marc Antonio Bentegodi langsung bergemuruh meneriakkan namanya. “Matuzalem… Matuzalem… Lazio… Lazio…” Merinding mendengarnya.
Jadwal Serie A di pekan-pekan awal musim ini sungguh horor. 5 dari 6 partai lawannya tim jinx yang sulit ditaklukkan. Partai kandang dilewati dengan sempurna, Bologna 2-1, Udinese 2-0, Genoa 2-0. Partai tandang kalah Chievo 4-0, Napoli 5-0. Ini adalah kemenangan perdana tandang, dengan modal 2-1 ini selisih gol Lazio adalah 8-11= minus 3. Poin kita 12, untung besar.
Partai berikutnya adalah lawan tim promosi Fro-apa-tuh setelah bermain di Liga Malam Jumat. Rasanya tak sulit mendulang angka. Dengan kesuksesan melibas tim-tim sulit ini serta menghasilkan 12 angka, rasanya sisa laga bisa kita ratakan. Silakan sebut tim apapun, kita tak takut. Waspadalah, penantang serius Scudetto telah kembali! Insieme siamo piu porti, avanti Lazio. #ForzaLazio #GrandeLirk #NonMollareMai
Verona 1-2 Lazio (Helander 31′; Biglia 63′ (pen), Parolo 86′
Verona: Rafael; Pisano, Moras, Helander, Souprayen; Greco (Bianchetti 61), Viviani, Hallfredsson (Matuzalem 77); Sala, Gomez Taleb (Wszolek 55), Jankovic
Lazio: Marchetti; Basta, Mauricio, Gentiletti, Lulic; Biglia, Parolo; Felipe Anderson (Hoedt 82), Milinkovic-Savic, Kishna (Mauri 61); Djordjevic (Keita 61)
Karawang, 270915 – Kedai 05

Kutukan Genoah Dipatahkan

image

Rabu malam saat takbir bergema seantero dunia, sebagian Laziale gelisah. Lawan untuk tanding pekan ke-6 Serie A adalah Genoa. Tim yang sulit ditumbangkan oleh Lazio. Laga lawan Genoa adalah bukan laga buat Laziale berjantung lemah. Seperti yang terlihat digambar sebelum hari ini, 5 pertemuan 5 kekalahan, tak peduli main di mana Genoa selalu menang. Maka jargon “laki fearless berani nonton Genoa langsung kick off 01:45 Wib” digalakkan. Prediksi yang digelar para pundit football, poin maksimal Lazio adalah seri, menang rasanya berat.
Saat gema takbir masih terdengar di sebagian masjid untuk begadang, pertandingan dimulai. Was was, namun ternyata Pioli berani bermain menyerang. Babak pertama ditutup sebiji gol dari Djordjevic. Belum aman, Felipe akhirnya mengamankan 3 poin lewat gol pertamanya di Serie A musim ini. Kemenangan 2-0 itu sekaligus mematahkan kutukan Genoah. 3 poin penting untuk merebut Scudetto. Sejujurnya laga ini Lazio bermain standar, terbantu oleh kartu merah lawan sehingga kalau ga menang kebangetan.
Jadwal Lazio musim ini sungguh mengerikan, 5 dari 6 pekan awal adalah tim jinx yang sulit ditumbangkan. 9 poin dalam 5 laga ga buruk amat, Hellas Verona menanti akhir pekan ini. Menang berarti kita bisa bersaing juara. Setelah Hellas kita optimis bisa ratakan sisanya.
Karawang, 240915