Bartleby si Juru Tulis – Herman Melville

Selamat tinggal Bartleby, aku pergi dari sini. Selamat tinggal, dan semoga Tuhan memberkatimu, entah bagaimana caranya. Ini untukmu…”

Bartleby si Juru Tulis (1-78). Sekarang aku harus berjuang untuk berhenti peduli dan tak akan lagi ikut campur, dan hati nuraniku setuju denganku, meskipun tentu saja aku tak kan seberhasil yang aku mau.

Waktu di mana manusia paling tenang dan bijak adalah tepat sesaat ia bangun dari tidurnya. Kisahnya sederhana, setting tempat minimalis dalam bilik kerja dengan tulisan embel-embel: kisah-kisah Wall Street, maka jelas mereka adalah orang kantoran di bursa saham. Dengan sudut pandang orang pertama, di mana sang pencerita adalah AKU maka kita diajak menelusur kehidupan tempat kerja era abad 19. Sebagai bos, awalnya aku mempekerjakan dua juru tulis dan satu pesuruh kantor. Ada si Catut, Kalkun dan Biskuit Jahe. Bukanlah nama yang lazim ditemukan di buku alamat, hanya panggilan akrab.

Kalkun tua orang Inggris berbadan pendek dan gemuk, usianya seumuran denganku sekitar enam puluh tahun. Di pagi ia sangat cerah dengan semangat pagi menggebu, setelah istirahat siang cahayanya redup, kehilangan gairah, kehabisan tenaga. Mengingat jelang sore yang loyo, kadang membuatku jengkel, tapi yah memang sudah uzur. Aku tetap menghargai tenaganya di pagi hari. “Saya anggap saya ini tangan kanan Tuan.”

Catut berumur dua puluh lima tahun, berjanggut, pucat dengan wajah mirip bajak laut. Kupikir ia adalah korban ambisi dan gangguan pencernakan. Ambisinya mencerminkan ketidaksabaran, usia muda menggebu, sejatinya sebagai penyalin itu harus sabar. Gangguan pencernakan itu menggangu sehingga ia mudah marah dan gugup. Tapi konsistensi energinya sangat diperlukan.”Hanya Tuan yang berhak memutuskan perihal ini.”

Perpaduan mereka cukup unik, Kalkun semangat pagi Catut paginya emosian. Kalkun loyo setelah istirahat, Catut menemukan ketenangan selepas makan siang. Kombinasi sempurna. Pekerja ketiga, Biskuit Jahe berusia dua belas tahun, ayahnya adalah pekerja penarik kereta yang bermimpi suatu saat anaknya bisa bekerja di balik meja, bukan di belakang kuda. Jadi ia menitipkan si Biskuit ke kantorku sebagai pesuruh untuk belajar tentang apa saja yang bisa disarikan, tentang hukum, keuletan, tukang antar surat, dan segala hal termasuk jadi cleaning service, gajinya satu dollar seminggu. Mengejar sebanyak mungkin pengalaman adalah hal paling berharga untuk remaja. “Dengan hormat Tuan, saya senang hati membelikan kertas surat untuk Tuan.”

Pekerjaanku sebagai penengah dan pemburu surat, penyusun segala macam dokumen, jadi ketika membutuhkan satu lagi juru tulis aku pasang iklan lowongan. Dan muncullah Bartleby, rapi tapi pucat, pantas tapi mengundang iba, sedih tiada terobati. Orangnya tenang dan kalem, sehingga kurasa cocok untuk mengimbangi gejolak jiwa Kalkun dan emosian si Catut. Orang lain punya takdir yang lebih megah, tapi tujuan hidupku di dunia ini Bartleby, adalah memberimu bilik kerja untuk kau tinggali selama kau mau.

Awalnya sungguh memuaskan, Bartleby mampu menyalin banyak sekali dokumen seolah lapar, dan ia melakukannya dengan sangat baik karena terlihat menikmati pekerjaan ini. Sekali lagi, awalnya. Ia sama sekali tak mau istirahat menulis, ia menulis siang malam, kala ada matahari dan sinar lilin di kala butuh pelita. Bahkan jatah liburnya pun dihabiskan di kantor. Ada sesuatu dalam diri Bartleby yang membuatku berpikir bahwa ia tak mungkin menggunakan hari Minggu untuk berkarya atau melakukan hal sekuler. Waktu menempanya menjadi pendiam, sangat pendiam malah. Anti-sosial. Bekerja saking rajinnya bak mesin, jelas segala hal yang berlebihan juga ga bagus. Memang kesopanannyalah yang selain melunakan amarahku, menggerus kejantananku.

Masalah timbul kala salinan dokumen membutuhkan cek dan ricek. Sudah lazim satu juru tulis dengan yang lain saling silang untuk saling cek, aneh sekali Bartleby ga mau mengecek tulisan rekan kerja. Dengan simpel berujar, “Saya tidak mau.” Seakan itu adalah prinsip, sehingga didesak dan dipaksa bagaimanapun ia konsisten ga mau. Lebih parah lagi, salinannya sendiri akhirnya juga ga mau dicek lagi olehnya sendiri! Wuih weleh weleh weleh… ono opo rek. Permintaan bos yang lazim dan masuk akal terkait pekerjaan, lho. Biskuit Jahe sampai berkomentar, “Saya pikir ia agak gila.” Kemudian terpikir olehku bahwa kemalangan, kesendirian, kesepian yang ia alami pastilah sangat menyengsarakan.

Keteguhannya, kegigihannya, kengganannya untuk tak melakukan hal-hal tak penting, kerja kerasnya yang tanpa henti (kecuali ketika ia memilih untuk melamun di bilik kerjanya), ketenangannya, ketetapan perilakunya dalam keadaan bagaimanapun juga, menjadikannya berharga dari kantorku. Namun seberapa lama? Masalah gawat akhirnya muncul, karena bukan hanya tak mau mengecek salinan dokumen, bahkan Bartleby menolak instruksi lainnya, segala instruksi bos! Ga mau kirim naskah, ga mau merapikan dokumen, ga mau dipanggil ke ruangan, ga mau segala perintah. Emoh! Emboh! Ogah! Dan kemudian muncullah segala hal aneh, agak mistis, dan segala kelangkaan sifat manusia. Bartleby freak, ada apa gerangan? Surat surat pembawa pesan kehidupan itu melaju menuju ajal.

Sayang sekali pengalaman pertama saya dengan Penulis besar Herman Melville ternyata seperti ini, biasa saja. Padahal kemahsyuran Moby Dick begitu tinggi. Banyak hal tentang Melville dibicarakan dalam dunia literasi. Menanti-nanti dialihbahasakan dengan sabar dan diwujudkan OAK dengan memilih cerita pendek. Padahal ini hanya satu cerita pendek, kenapa berani berdiri sendiri? Harusnya bisalah ditambah dua tiga cerita lagi, why? Jelas saya tak puas menuntaskan hanya satu cerita pendek satu buku, harga jadi pertimbangan utama, kepuasan petualangan nanggung. Dan walaupun kisahnya lumayan keren, secara overall jadinya ga plong. Ada yang mengganjal, ada sesuatu yang menahan, ada yang kurang. OAK menyebutnya fiksi/novel pendek, saya menyebutnya buku satu cerpen.

Kubaca cepat, kala dalam angkot perjalanan ke IIBF September lalu, dan kutuntaskan sekali duduk. Bayangkan, satu cerpen dalam satu buku! Kurang worth it dibeli, tapi yah karena buku-buku Herman sulit dicari di Indonesia kurasa sepuluh tahun ini harganya bisa tiga kali lipat. Masak sih, Penulis sebesar beliau penerbit major ga ada yang mau ambil?

OAK sendiri menerbitkan exclusive karena cetakan ini dinomori! Ini pertama kalinya saya punya buku dengan nomor seri. Sudah jelas mereka melihat masa depan, buku ini masuk kolektor edition, cult novel dan layak dipajang dalam rak perpustakaan. Saya mendapatkan edisi nomor 226. Akan abadi, tak seperti Penerbitnya sendiri yang mengejutkan tahun ini tutup.
Herman Melville adalah seorang guru dan awak kapal, anak ketiga dari delapan bersaudara. Kedua kakeknya adalah pahlawan perang kemerdekaan, kedua orang tuanya adalah orang berada. Lahir pada tanggal 1 Agustus 1819 di New York, nama aslinya tak memakai huruf ‘e’ di akhir, yaitu Melvill. Debut bukunya tahun 1846, Typee yang terinspirasi kala petualangan ke pulau Polinesia sukses, dilanjutkan Omoo setahun berselang, lalu Mardi (1849), Redburn (1849) dan White Jacket (1850). Setahun berselang barulah novel fenomenalnya terbit, Moby Dick. Novel inilah yang mengangkat namanya, menjadikannya penulis terkenal yang mengangkat secara finalsial. Sayangnya buku-buku berikutnya kembali meredup sehingga beliau kembali mengalami masalah keuangan, Pierre (1852), Israel Potter (1855) dan Confidence Man (1857). Bartleby, Si Juru Tulis ada dalam kumpulan cerita pendek Piazza Tales yang terbit tahun 1856. Jadi wahai para penerbit indie kesayangan kita semua, kapan maha karya Moby Dick dialih bahasakan?

Apakah kau tahu kau menyengsarakanku karena kau tak mau beranjak dari pintu kantor lamaku meski sudah lama diusir?”

Bartleby, Si Juru Tulis | Herman Melville | Oak, 2017 | Diterjemahkan dari Bartleby, the Scrivener: A Story of Wall-Street | Pertama terbit oleh Dix, Edward and Co. Tahun 1856, New York | Penerjemah Widya Mahardika Putra | Penyunting Widya Mahardika Putra | Penggambar sampul Ika Novita | Penata letak Hengki Eko Putra | Pemeriksa aksara Solihin | Penerbit Oak | Cetakan pertama, Maret 2017 | ix + 78 hlm.; 12 x 18 cm | ISBN 978-602-60924-1-0 | Skor: 3/5

Karawang, 181218 – Ari Laso – Mengejar Matahari
Atlanta 1-1 Lazio, seharusnya.

Iklan

Kekuatan Ngobrol

Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan – Umar Kayam

Tapi Marno, bukankah aku harus berbicara? Apalagi yang bisa kukerjakan kalau aku berhenti bicara? Aku kira Manhattan tinggal lagi kau dan aku yang punya. Apalah jadinya kalau sudah salah seorang pemilik pulau ini jadi capek berbicara? Kalau dua orang terdampar satu pulau, mereka akan terus berbicara sampai kapal tiba, bukan?”

Saya langsung teringat buku self improvement yang kubaca tahun 2000an karya Dorothy Sarnoff berjudul: ‘Bicara Dapat Mengubah Hidup Anda’. Salah satu paragraf favoritku adalah ini: “Anda berkewajiban bicara dengan orang lain sedemikian rupa sehingga Anda tidak hanya menarik perhatian namun juga merangsang mereka untuk berpartisipasi. Apakah Anda seperti mendempul kepercayaan diri atau menenggelamkan mereka? Apakah Anda menawarkan pembukaan untuk membuat sesuatu dengan cara pandang mereka sendiri atau mengunci mereka? Di atas itu semua, apakah Anda memperlihatkan minat pada mereka atau hanya pada diri sendiri. Percakapan, seperti permainan lempar-tangkap, tidak dapat hanya satu pihak. Jika seseorang melambungkan, ada satu kesunyian yang mendebarkan sampai bola tadi ditangkap dan dilemparkan kembali.” Ya, percakapan alias ngobrol bisa menjadi seru atau menjemukan, seolah permainan lempar tangkap bola. Umar Kayam mencipta komunikasi itu dengan menakjubkan.

Makanlah ketika lapar, berhentilah makan sebelum kenyang’. Hal awal yang terlintas setelah baca buku ini selain kekuatan ngobrol adalah kutipan dari Nabi. Buku ini sungguh minimalis. Saya pernah menanyakan beberapa kali ke teman-teman penjual daring buku-buku Umar Kayam setelah terpesona Para Priyayi. Semua bilang kosong, terbitan Grafiti jelas sudah jadi cult sekarang. Masuk edisi kolektor. Maka keinginan itu terpendam lama. Sampai akhirnya diterbitkan lagi sama Pojok Cerpen. Maka saat kesempatan itu datang, saya bener-bener melepas dahaga lapar. Sayangnya buku ini sungguh tipis, saya baca hanya dalam tempo sesingkat-singkatnya, sekali duduk dengan kopi mengepul yang bahkan belum tandas sepenuhnya. Well, saya belum kenyang. Saya masih ingin menikmati karya-karya Kayam… waduh. Hanya dengan percakapan. Dengan berbicara! Dengan membicarakan satu kejadian tertentu, atau satu orang tertentu, atau satu hari tertentu, berulang kali, hal-hal yang amat detail pasti timbul.

#Kata Pengantar: Eka Kurniawan
Kebanyakan kata ‘bahkan’ dan ‘bahwa’ (saya hitung ada 13 bahkan, 7 bahwa), bahkan kata pengantarnya lebih panjang dari cerpen yang terpanjang sekalipun dari buku ini. Sempat memboring diputer-puter, poin utama sih sebenarnya sepakat bahwa Umar Kayam jago banget menciptakan nuansa obrolan yang sungguh mengasyikkan. Kekuatan ngerumpi, hal-hal yang tampak sederhana di mata umum, di Indonesia yang lumrah kita jumpai di sekitar kita tentang aktivitas komunikasi itu di sebuah gedung apartemen New York, aktivitas itu menjelma barang mahal. Menjadi komoditas utama cerpen-cerpen Umar Kayam. Kalau mau dipadatkan lagi dalam satu kalimat, ‘buku ini sukses karena karakternya hidup!’ “Kata kata, Mademoiselle, hanyalah kulit luar sebuah gagasan.” Kata Hercule Poirot dalam novel Pembunuhan ABC

#1. Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan
Pembuka yang keren. Minimalis adegan banyakin ngoceh, minimalis setting tempat, minimal karakter. Hanya dalam beberapa menit, dalam ruangan terjadi percakapan sepasang kekasih. Jane adalah janda yang butuh perhatian, Marno adalah suami selingkuh, orang Indonesia yang menatap keluar kaca gedung, memperhatikan kunang-kunang. Mereka cuma ngobrol dari awal sampai akhir, ditemani minuman martini dicampur gin dan vermouth atau bourbon, Pembaca dibiarkan mengimajikannya, dibuat gemas sendiri. Cerita dalam satu ruang ini jelas sangat elok untuk diadaptasi dalam sandiwara atau sekedar teater mini. Kekuatan ada di dialog, mengingatkanku pada naskah film-film Quentin Tarantino.

Sudahkah aku ceritakan hal ini padamu?”

#2. Istriku, Madame Schlitz, & Sang Raksasa
New York adalah satu raksasa pemakan manusia. Mulutnya terus menganga dan terus menelan manusia tanpa pilih-pilih. Cerita pendek kedua juga mengedepankan kekuatan ngobrol. Temanya adalah kesepian. Kalau yang pertama seorang wanita kesepian yang pengen ngerumpi dengan kekasih, kali ini seorang istri yang kesepian siang harinya sang suami kuliah, dan bersama anaknya yang masih bayi terkurung dalam ruang. Tetangga yang cuek khas kota besar, tapi akhirnya ia pun memberanikan diri memperkenalkan diri ke semua tetangga, salah satu yang ‘terjerat’ adalah Madame Schlitz. Terdengar seperti seorang bangsawan Jerman atau Austria? Ya, kemudian hal-hal aneh terjadi.

Dan aku, aku salah satu yang tertelan itu. Bukankah itu mengerikan?”

#3. Sybil
Pinternya mengolah plot. Kasus orang cuek dengan latar tak biasa. Sybil adalah gadis yang kesepian di liburan musim panas, ibunya yang single parent sering mengajak Tuan Robertson, lelaki asing untuk tidur di tempat mereka. Sybil yang bosan diberi uang satu dollar untuk kelayapan, ketemu tetangga yang akan pergi keluar rumah dengan entengnya menitipkan anaknya berusia 6 tahun, Susan kepadanya sampai sore ini. Sybil belum mengiyakan, tapi uang diterima. Maka mereka naik bus ke park, menikmati suasana pantai. Susan yang ceriwis, mengajak Mr. Todd boneka kesayangan. Ada tindakan tak terduga Sybil pada akhirnya. Dan dengan aneh, kisah ditutup wow.

Kau memang suka kalau aku pening kepala pagi-pagi gini.”

#4. Secangkir Kopi & Sepotong Donat
Ini tentang pelayan kafe yang diperlakukan istimewa sama pelanggan, sama beberapa pelanggan, sama salah seorang pelanggan. Narasinya berkutat terus dalam suasana tempat makan. Salah satu pelanggan Pemuda kakaktua memainkan kertas tisu untuk saling bertukar pesan sama Peggy. Kenapa ajakan kemarin ga datang? Kenapa kamu berbeda? Deretan kecemasan ala kadar itu memang tak sampai membuat kursi baca terjungkal, tapi jelas ini jenis ngobrol yang tak lazim.
Lagi-lagi komunikasi adalah kunci, kali ini lewat secarik kertas dan memang benar, kuncinya adalah timing. Cring cring cring, thank you.

Bapak mabuk lagi semalam, ibu dipukuli. Now get out get out!”

#5. Chief Sitting Bull
Unik, aneh, dan manakjubkan. Sederhana, tapi justru dari hal sederhana inilah kekuatan kisah ini. Seorang kakek Charlie yang menjalani rutinitas di hari tuanya, agak terganggu dengan ulah menantunya Mary. Ia biasa naik kuda hitam atau putih dalam carousel, siang itu ia terlambat sehingga kuda itu sudah dinaiki seorang anak. Tak mau menunda sampai putaran berikutnya, Charlie membujuk anak kecil itu dengan santun dan penuh gaya. Berperan sebagai Buffalo Bill dan Chief Sitting Bull. Dah yah, berhasil. Kegiatan rutin sampai sore pun terlihat wajar, dengan sekumpualn burung dara, dan pertemuan dengan lansia lain, dst.

Namaku bukan Bill.”

#6. There Goes Tatum
Ketika usai baca cerpen ini dan juga sekaligus buku ini. Saya langsung berujar, wah pengalaman pribadi? Tampak nyata, senyata ancaman belati si bocah negro. Dua tokohnya hidup. Cerpen penutupnya juga sederhana, sekilas lewat, sekilas wuuzzz… seperti judulnya. Namun sangat mengena, tampak santai tapi mengintimidasi. Di Riverside Park yang tampak lengang, seorang anak negro mengemis 50 sen. Dengan rintik gerimis, sesaat ada pencopetan, sekilas lalu dan sebuah aksesoris tangan pun berpindah tangan.

Made in Switzerland.”

Ini adalah buku kedua Umar Kayam yang saya nikmati setelah Para Priyayi yang keren itu. Masuk ke dalam best novels sepanjang masa versiku. Seribu Kunang adalah buku debut yang pertama terbit tahun 1972, menyabet cerpen terbaik Majalah Horison tahun 1968. Kelihatan sekali beliau memahami lanskap tempat bercerita. Beliau memang lulusan M.A. dari Universitas New York tahun 1963 dan meraih gelar Ph. D tahun 165 di Universitas Cornell. Saya sudah ngefan beliau sejak baca Priyayi, jadi buku ini dan berikutnya hanya penegasan. Ia tidak ingin menaklukkan apa pun, melainkan hanyalah menjelajah kemungkinan-kemungkinan.

Bukunya mungil, ga nyampai seratus halaman. Dulu pas baca Para Priyayi, setahuku terbitan Pustaka Utama Graviti, sekarang ternyata diterbitkan lagi oleh Pojok Cerpen. Dan baru tahu juga, ini penerbit baru, Seribu Kunang adalah debut mereka! Wow, good luck. Ditunggu kumpulan cerpen berikutnya, kalau boleh usul terjemahkan buku Kate Chopin, saya terpesona sama Kisah Dalam Satu Jam dan menjadi penasaran dengan cerita lain beliau. Tapi sebelum yang lain, rasanya Pojok Cerpen berkewajiban untuk menuntaskan untuk menerbitkan kumpulan cerpen Umar Kayam lainnya, karena cerpen yang harusnya sepuluh kini hanya muncul enam. Why?

Nonton tv bersama Mr. Todd.”

Seribu Kunang-Kunang Di Manhattan | Oleh Umar Kayam | Cetakan pertama, Agustus 2018 | Pernah diterbitkan oleh Pustaka Jaya (1972) dan Pustaka Utama Grafiti (2003) | xxvii + 92 hlm., 12 x 18 cm | ISBN 978-602-52260-6-9 | Ilustrasi sampul Nurari Pertiwi | Perancang sampul Antonius Riva Setiawan | Penata letak isi Aziz Dharma | Pemeriksa aksara Isma Swastiningrum | Penerbit Pojok Cerpen | Skor: 4/5

Karawang, 141218 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

Thx to Iyul, pas satu minggu kelar baca ulasnya.

Kisah Dalam Satu Jam

Dunia yang palsu, mengapa pendanganmu menyilaukan kami.”

Kumpulan cerpen Penulis dunia. Nama-namanya sudah mendunia, sebagian besar sudah akrab di telinga. Pas memutuskan beli ya karena karya mereka adalah jaminan kualitas. Jarang saya beli kumpulan cerpen dengan sistem keroyokan gini, iseng ambil pas di Zona Kalap IIBF 2018.

#1. Kerangka – Rabindranth Tagore
Kisah pembuka yang luar biasa. Kisah sederhana di tangan Tagore menjadi wow. Tentang balas dendam, tentang cinta yang tak sampai. Ditulis dengan halus, tanpa menggebukan amarah arti kesumat itu sendiri. Ada ruang berisi kerangka, dengan sudut orang ketika kita disajikan cerita berlapis bagaimana kisah tragis menjadi dahsyat. “Apakah kau masih di sini?

#2. Kasus Pembunuhan – Graham Greene
Pembunuhan ganjil dengan sebutan ‘Kasus Peckham’. Di dini hari yang remang pembunuhan terjadi. Menghadirkan beberapa saksi salah satunya Nyonya Salmon yang melihat jelas dari sibak tirai jendela. Begitu sidang pengadilan telah berjalan dan niscaya Anda pun akan berpendapat pastilah si penjahat, Adams akan dihukum gantung. Namun sebuah bukti lain mengejutkan sehingga segala yang tampak yakin menjadi kabur. Kisah dengan cerdas melontarkan pilihan ketiga, dan ending yang mengerikan. “Anda lihat orang itu sekarang ada di sini.”

#3. Perkampungan Indian – Ernest Hemingway
Orang Indian akan menyukai sesuatu jika diberi kesempatan. Tentang persalinan di seberang dermaga. Nick dan ayahnya dijemput orang Indian untuk membantu kelahiran, pasangan sang ibu hamil kemarin sakit parah sehingga saat persalinan berlangsung ia mendekam dalam kamar dengan erangan sakit tiada tara. Lebih nyaring dank eras ketimbang proses persalinan itu sendiri. Akhirnya sendiri menyedihkan. Ironi bagaimana sang Penulis akhirnya malah berakhir dengan bunuh diri. “Apakah banyak manusia yang bunuh diri?

#4. Burung Bulbul – Marxim Gorky
Cerita keempat tetap luar biasa, bagaimana siulan burung bulbul menjadi penanda. Bagaimana orang dengan teknik khusus bisa mencipta siulan burung bulbul. Trik dan segala keahlian itu mengecoh para penumpang kapal. Kesedihan merambat di atas sungai yang tampak lesu. “Ketika saya sudah mahir meniru kicau burung, orang-orang desa mengatakan kepada saya. Teruskan bersiul, Misha…” Kita telah mendengar kicau burung bulbul, burung yang menjadi mahsyur karena penyair, bukan karena anak desa penjiplak tadi. Ternyata mengetahui kenyataan tak lebih indah dari ilusi.

#5. Kisah Dalam Satu Jam – Kate Chopin
Bagaimana dengan kita, akankah kita ke surga nanti?” Sebagai cerita yang diambil sebagai judul utama, kisah ini benar-benar keren. Tragis, unik dan sungguh diluar duga. Nyonya Mallard yang mengidap penyakit jantung diberi tahu dengan tenang oleh Josephine, adiknya bahwa Brently Mallard sang suami ada dalam daftar orang ‘meninggal’ dalam musibah. Mereka mengatakan mencoba sehalus mungkin. Sedih, dan mencoba menyangkalnya Nyonya Mallard menyendiri dalam kamar. Ia muda dan cantik, kesedihan ini tak bisa dibiarkan berlarut, sampai akhirnya kisah menemui titik kejut yang dahsyat. “Bebas, bebas, bebas.”

#6. Rumah Di Jalan Buntu – Mahesh Bhargava
Empat Sekawan: Biman Guha, Paritosh Sen, Mayank Cahtterji dan Surajit Gangguly selalu tampak bersama di kampus sebagai para penikmat seni, sastra dan cerita petualangan. Keempatnya melakukan perjalanan ke Calcuta, mereka harus istirahat bermalam di sebuah rumah di jalan buntu. Dan sesuatu yang tak terduga terjadi. “Jika sungai Gangga melimpah airnya, orang-orang miskin yang tinggal di sepanjang tepi-tepinya akan kehilangan barang-barang dan tempat tinggalnya.”

#7. Sumur Thakur – Prem Chand
Cerita klasik dari Banaras. Gangi yang membutuhkan air bersih untuk minum Jokhoo yang lemah, hanya tersedia air lumpur. Ada sebuah sumur di keluarga kaya tuan Thakur. Kebimbangan, kenekadan, atau sebuah tindakan buruk dalam menentukan pilihan? Malam itu Gangi melakukan sesuatu yang sungguh liar. “Kami hanya berpikir lebih baik bekerja keras dan mandiri.”

#8. Glushenko Dan Bunga Aster – Hellen Melpomene Brown
Tentang dialog-dialog panjang di meja makan. Para bangsawan Ukraina, Prancis dan beberapa utusan menikmati malam dengan santai sampai akhirnya bunga aster yang dimaksud butuh ‘pertolongan’. “Pernahkah kau membaca kisah Star Rover karya Jack London? Pengalaman-pengalamannya di penjara.” Mereka selalu bilang jangan habiskan untuk pesta pernikahan atau jangan habiskan uang untuk pemakaman. Walau begitu, ayahku bukanlah seorang ahli kayu, melainkan seorang ahli sihir.

#9. Pendosa – Sherman Alexie
Tentang mimpi buruk Jonah akan perang. Kepanikan melanda, sebagian menyangkal, sebagian peduli dan bersiap. Ini kisah anekdot sebelum perang saudara pecah di Amerika, dan seperti yang sudah kita ketahui, pertempuran akhirnya terjadi, mimpi Jonah benar. “Ibu, akan terjadi perang.” Kami memasuki cahaya terang, aku memasuki cahaya terang.

#10. Bayi Dalam Bak Sampah – Donne Bartholomew
Cerpen dari Singapura dengan judul asli, ‘The Baby in the Rubish Bin’. Seorang anak yang selalu menghindari bak sampah saat pulang karena sebal ada Froggy, kodok berisik. Namun suatu hari ia menemukan bayi dalam bak sampah, dan esoknya koran-koran memberitakan penyelamatan itu. “Seorang pahlawan.

#11. Kain Kafan – Prem Chard
Pasangan miskin yang aneh, Madhava dan Budhiya. Budhiya sakit keras. Lalu Gheeso sang pengerajin kulit, memberi saran pada sobatnya agar menengok istrinya. Madhava yang juga aneh keberatan. Mereka melarat dan sungguh menderita. Bahkan saat Budhiya esoknya meninggal mereka ga kuat beli kain kafan. Sumbangan datang, terkumpul dan mereka pun mencoba mencari kain ke pasar. Sungguh mengejutkan uang receh itu malah habis buat mabuk. “Kita bilang saja uangnya jatuh dari sarung yang kita pakai. Mereka tak akan percaya, tapi mereka akan memberi kita uang lagi.” Duh, berengsek!

#12. Selembut Tangan Ibuku – Robert Fontaine
Suami istri tua yang masih saja terkejut akan tingkah pasangannya. Hidup memang untuk dinikmati, tetapi apa yang kita impikan lagi jika sudah berumur 80 tahun dan sudah menikah lebih dari 50 tahun. Bukankah semua jalan sudah dilewati, semua laut sudah diseberangi? Sang aku, sang anak menjadi pencerita bagaimana kedua orang tuanya dengan tingkah aneh melewati malam. Ayahnya pergi dan tak kembali, kekhawatiran melanda, dan pencarian terjadi. Esoknya saat ayah mereka pulang, dengan santai menjawab. “Aku pergi ke bioskop.” Oh. Dan fakta-fakta kasih sayang yang abadi tersaji. Saat dia menggenggam kedua jari tangannya dalam berdoa atau menepuk tangannya, jarak antara bumi dan bulan bisa berubah.

#13. Harta Terpendam – Alberto Moravia
Kisah tak lazim bahwa dari obrolan di rumah makan sebuah penginapan memicu kriminal. Si tua Marinese melontarkan sebuah kabar bahwa ia memiliki emas yang terpendam di pekarangan. “Suatu hari kelak saat tua renta dan tak mampu bekerja, aku akan menggalinya.” Maka sang aku, pelayan dan Remigio merencana merampok, meminta paksa petunjuk tempat penyimpanan emas. Dengan berbekal sekop, linggis dan sepucuk pistol malam itu kejahatan tercipta. “Dan apa yang kau lakukan dengan pistolmu?”

#14. Gadis Pintar – Margaret Bonham
Ia ingin menarik perhatianmu, dan kamu memberinya perhatian.” Penutup yang bagus. Kisah tentang penulis yang mengirim naskah ceritanya ke media. Koran The English Review dipimpin oleh lelaki bernama Stendel, dibantu sekretaris laki-laki Mark Pellini. Suatu hari seorang tukang pos mengantar sebuah kiriman naskah cerita bagus sekali, benar-benar narasinya hebat sampai-sampai apa yang dikisahkan tampak nyata. Sang pengirim gadis introvert yang freak. Cerpen berikutnya ‘Ruang Tunggu’ sama hebatnya, sampai-sampai Stendel terbawa cekam saat naik kereta dan di ruang tunggu seolah muncul karakter cerpen, mengancamnya. Penutupnya nge-twist bagaimana cerpen sang gadis berkisah pembunuhan oleh sopir taksi, siapa korbannya, kalian akan begidik. “Aku tidak bohong Mark! Karangan Nona Anna itu benar-benar terjadi pada diriku.”

Harbolnas, menikmati Mizan Store

Ditemukan banyak typo, editing yang buruk, layout berantakan. Entah bagaimana semua itu diloloskan untuk dicetak, dan betapa menyedihkan untuk dijual! Sebuah penerbit kecil, penerbit indi sekalipun hal-hal dasar harus tetap diperhatikan. Proof reader, cek and ricek, sumber yang valid dst. Bahkan setiap profil Penulis seharusnya ada foto, ada yang kelewat kosong. Seolah editingnya memang tak tuntas, atau malah mencari foto Penulis ga ketemu? Di era digital gini? Alamak!

Sayang sekali, tulisan sebagus ini dibawakan dengan ala kadarnya. Ibarat makan udang rebus kualitas restoran bintang lima disajikan dalam semangkuk plastik berdebu. Sulit untuk cetak ulang bila sajiannya penuh minor gini. Namun saya percaya, 30, 40, atau 50 tahun lagi buku terbitan kecil gini akan langka dan menjadi cult. Dan saya berpendapat Kisah Dalam Satu Jam bakalan menjelma cult, cocok untuk kolektor!

Kami akan melaksanakan apa yang menjadi tugas kami, dan kami akan melaksanakan tugas dengan cepat dan tanpa menimbulkan rasa sakit.”

Kisah Dalam Satu Jam | Kumpulan Cerpen Penulis Dunia, diterjemahkan dari berbagai sumber | Cetakan I, Februari 2015 | Diterbitkan oleh Penerbit Literati | Penerjemah dan Editor Edi Warsidi | Lay out Rozal Rabas | Desainer sampul M. Shodiq N. | 242 hlm.; 13 x 19 cm. | ISBN 978-602-8740-41-8 | Skor: 4/5

Karawang, 121218 – Nikita Willy – Ku Akan Menanti

(review) Rumah Kopi Singa Tertawa: Aduhai!

Featured image

Buku pertama yang saya baca di bulan Maret, sekaligus buku pertama yang saya selesaikan dari empat buku yang saya beli kemarin. Dalam semalam kumpulan cerpen berisi 18 ini selesai. Yusi ternyata cerpenis handal dalam mengaduk emosi pembaca. Berikut review singkat tiap cerita:

1. Cara-Cara Mati Yang Kurang Aduhai

Tak ada yang abadi di dunia ini. Mati adalah misteri tak ada yang tahu kapan datangnya malaikat maut. Walau beberapa manusia waktunya tiba, narapidana yang divonis hukum mati misalnya. Dalam kisah ini Agus Taswin divonis penyakit adenocarcinomas, kanker pankreas. Namun karena Agus terlambat periksa, penyakitnya kronis dan dokter memperkirakan hidupnya hanya tinggal 6 atau 7 bulan lagi. Tahu usianya ga akan lama lagi, dia-pun menitipkan beberapa wasiat untuk sang adik. Namun siapa sangka, justru Agus bisa bertahan hidup lebih lama sampai akhirnya… Yah, maut itu rahasia.

2. Dosa Besar No. 14

Manik sedang menyusun dosa besar apa saja yang pernah dibuatnya. Gara-garanya sebuah agen asuransi menawarkan jasanya lewat telpon (kita tahu mereka menyebalkan), andai bergabung sekiranya Manik meninggal atau cacat permanen akan ada polis yang GeDhe. Kesal, namun dengan kepala dingin, dia-pun berupaya menutup telpon dengan memberi alamat email sekedarnya. Dari pembuka asuransi itulah, kita diajak ke masa lalu ke dosa besar Manik no. 14 tentang Supriyono.

3. Sebelum Peluncuran

Seorang novelis tanpa nama (menggunakan orang pertama dalam penuturan) dikabari bahwa novelnya Hikayat Abdullah Yusuf Gambiranom akan terbit. Bungah, dia pun mempersiapkan diri. Salah satunya mengurangi berat badan, agar saat peluncuran dia tak tampak terlalu gemuk. Karena masih ada dua bulan sebelum hari H, dia pun berupaya keras ke gym, makan dijaga sampai seabreg tips dilakukannya. Namun setelah sebulan berlalu hasilnya masih jauh dari harapan. Sampai akhirnya dia bertemu M. Kalim, yang dilihat sekilas cerdas karena dia tahu film-film berkelas mulai Godfather sampai Fight Club. Dia pun kasih rahasia, rahasia yang mujarap agar langsing.

4. Edelweiss Melayat ke Ciputat

Mengambil tanggal 10-10-10 sebagai pembuka cerita, Edelweiss adalah janda yang di tanggal cantik itu melihat berita di tv bahwa istri dari mantan suaminya dibunuh secara keji. Dimutilasi oleh kerabatnya sendiri karena menagih hutang. Lalu cerita ditarik kebelakang, masa lalu Edelweiss dengan suaminya. Masa lalu Danae, anak semata wayangnya yang lalu punya adik tiri. Masa lalu dengan Aya, sang korban. Penuh kritik kepada sebuah fanatisme agama, cerita dibalut dengan halus. Sampai akhirnya dia pun memutuskan ke Ciputat untuk melayat.

5. Tiga Lelaki dan Seekor anjing yang Berlari

Raden Mandasia, Loki Tua dan aku (Sungu Lembu) adalh tiga orang dalam pelarian. Melewati gurun dua hari dua malam. Ditemani seekor anjing buruk rupa bernama si Manis. Awalnya mereka membawa kuda beserta bagalnya, dua anjing dan peralatan lengkap musafir. Namun sebuah petaka membuat mereka terpaksa tinggal berempat. Sampai akhirnya di sebuah gubuk yang didiami kakek nenek memberikan mereka kejutan.

6. Telur Rebus Dan Kulit Asam

Ini adalah kisah lanjutan pelarian tiga manusia. Tersebutlah mereka sedang makan kari kepala kambing muda di sebuah warung. Terdengar suara ribut di jalan, “mati, mati, mati…”. Ternyata ada dua maling tertangkap yang sedang diarak ke alun-alun selatan untuk dihukum mati. Di Kotaraja Pintu Agung memang terkenal akan hukuman mati yang kejam. Namun ternyata tujuan mereka bertiga beresiko mati. Sampai akhirnya mereka menemukan jalan keluar melalui Kasim U.

7. Penyakit-Penyakit Yang Mengundang Tawa

Ada tiga cerita yang akan menuturkan karakter utama mengalami sakit yang unik (namun ga membaut tertawa juga bung), membuat terenyuh akibat penyakit itu. Pertama, seekor kalajengking tertular sakit cacar saat usianya udah dewasa 41 tahun, tertular dari anak bungsunya. Cacar air adalah penyakit yang akan diderita setaip orang, biasanya saat masih kecil. Saya dulu kena cacar air saat kelas 4 SD. Cerita kedua tentang sang raja Majapahit, Jayanegara atau Kalagemet yang sedang kena bisul di pantatnya. Pemberontakan selalu gagal, mulai dari Ranggalawe, Lembu Suro, Nambi sampai Ra Kuti. Dari dari sini, kita akan tahu (entah sejarah ini benar atau ga) alasan sebenarnya bagaimana sang raja lengser. Cerita ketiga adalah seorang santri Timur kena penyakit Gondongan, kelenjar ludah sampai atas leher bengkak. Suatu hari wartawan barat mengajaknya wawancara, apa yang terjadi?

8. Rumah Kopi Singa Tertawa

Dari sudut pandang seorang kasir sebuah rumah makan cerita tanpa narasi ini bergulir. Hanya dialog dari meja ke meja, dari satu permasalahan ke permasalahan yang lain. Pembaca diminta menganalisa sendiri makna cerpen ini, karena semua dialog beda meja tak ada sangkut pautnya. Ini bukan cerpen yang terbaik dari 18 yang ada, namun judulnya memang menjual.

9. Kabut Permata

Gone Girl ala Indonesia. Permata kabur dari rumah meninggalkanku dan putri tercinta kami, Bungah. Menghilang tanpa alasan yang jelas, “aku pergi, aku titip anak kita. Aku pergi, tak perlu kau cari”. Tiga hari, sebulan, tiga bulan, setahun, dua tahun… dan saya menjadi pendongeng yang bagus buat Bungah.

10. Kabut Suami

Gone Girl ala Indonesia II dengan versi kebalikan. “Suami saya hilang”. Kata Rosamund. Kalau kalian sudah membaca novel karya Gillian Flynn, yah ini versi cerpennya. Dengan sudut pandang istri kehilangan suami. Dengan ending sedikit dirubah ala petak umpet (namun tak rujuk) karena memang Sulaiman tak seperti Nick. Yang jadi pertanyaan, kapan cerpen ini dibuat? Kebetulan dalam versi film karya David Fincher, Amy diperankan oleh aktris Rosamund Pike. Sebuah kebetulan ataukah film sudah post-credit production saat cerpen dalam proses? Hanya bung Yusi dan Tuhan yang tahu.

11. Sengatan Gwen

Namanya Gwendoline, karyawati baru yang menggegerkan seisi kantor. Bertubuh atletis, rambut hitam sebahu, matanya teduh, hidung bangir, bibir dengan senyum merekah, jarinya runcing dan berhati ramah. Seorang gadis yang sempurna, semua orang terpikat padanya termasuk aku, Sam. Kisah seperti ini sudah sering dibuat, sudah sering kubaca. Namun sayangnya saya tertipu (lagi) kali ini. Sebuah kalimat penutup berisi kejutan yang yah, selalu nikmat cerita ditutup dengan penafsiran unik.

12. Ajal Anwar Sadat di Cempaka Putih

Anwar Sadat, pemuda asal Semarang ke Jakarta untuk menemui calon istrinya. Seorang janda tanpa anak yang dijodohkan denganya. Di hari pertama ia menjejakan kakinya di ibu kota, dia meninggal. Lena Mareta, seorang gadis sedang marah pergi dari kamar pacarnya Jamal karena gusar. Esti, saudara kembar Reni, orang pernah berjasa kepada Lena. Lalu cerita ditarik ke belakang, karena segala kebetulan itu tak ada. Segala kejadian ada sangkut pautnya, ada sebab akibatnya. Ada benang merah dari masa lalu.

13. Durma Sambat

Kisah epic perang besar Baratayudha dari sudut pandang seorang Durma aka Kumbayana. Detail kisah wayang yang mungkin luput dari perhatian. Durma adalah seorang anak dari petapa Resi Baratmadya, suatu hari kedatangan murid baru Raden Sucitra. Kenangan, bagaimana sebenarnya ia bergerak? Masa kecil Durma dan Sucitra yang akrab dan penuh persaudaraan, saat dewasa tak ada rasa itu. Siasat, dari trubus macam apakah dia berasal?

14. Dari Dapur Bu Sewon

Pasangan suami-istri mengontak rumah di bu Sewon yang hobi masak. Tiap masak, dia akan selalu berbagi. Masalahnya masakan bu Sewon jauh dari kata enak. Sebuah anugrah atau musibah buat sebuah keramahtamahan? Utamanya saat bualn puasa, karena barangsiapa memberi makan orang buka puasa, maka dia akan peroleh pahala. Hingga pada suatu malam bu Sewon terjatuh di kamar mandi…

15. Tiga Maria dan Satu Mariam

Ada empat cerita: satu Maria Gregoria Setyorini, 29 tahun, Zurich – 2005. Dua Siti Mariam, 35 tahun, Cot Keng, Pidie – 2003. Tiga, Maria Larasati Tunggaldewi, 18 tabhun, Semarang-Jogya – 1988. Dan keempat, Maria Donita Projowati, 22 tahun, Jakarta-Dresden-Edinburg – 2000. Memang tak ada sangkut paut keempatnya secara langsung, tapi ada sebuah benang yang bisa ditarik, sebuah kehilangan yang masih memberi harapan. Bukankah kita semua hidup dari berharap?

16. Dua Kisah Pendek Tentang Punakawan

Togog Tejamantri sudah ribuan tahun menjadi punakawan tapi nasibnya sama saja yaitu nasihatnya tak pernah digubris oleh majikannya sehingga dia letih dan minta tukar peran dengan Semar. Namun karena dia tahu Bilung Sarahita yang senasib dengannya tak mengeluh dia luluh, yang penting ada makan enak dan ciu cangkol (Cangkol adalah sebuah desa di daerah Bekonang, deket rumahku di Palur). Petruk mempunyai hidung panjang, ternyata hidung itu punya kekuatan yang luar biasa, namun orang-orang tak suka dengan kesaktian itu sehingga akhirnya beramai-ramai meminta Petruk operasi, why not? Kan di depan rumah kita sering kita jumpai tulisan: “Rukun Agawe Sentosa”

17. Laki-laki Di Ujung Jalan

11 Juni 1983 ada gerhana matahari total, tiba-tiab sebuah ide menyusup ke kepala Sentot. Sejak saat itu dia akan berdiri sepanjang malam sambil bersedekap dan mengoyang-goyangkan kaki kirinya di ujung Timur Kampung Karangapi, Semarang Utara. Ide yang memerintahkannya beritual dari Maghrib sampai Subuh.  Kepercayaan yang harus dibayar mahal, sangat mahal.

18. Hukum Murphy Membelit Orang-Orang Karangapi

Ada yang tahu apa itu Hukum Murphy? Saya baru tahu setelah baca cerpen ini. Beberapa kesialan yang menimpa warga Karangapi dirunut satu per satu. Diawali dari Kemat Tahi bertemu denganku di sana bersama gadis “Xena”. Lalu Jarwono, sang kiper kebanggaan Karangapi kena si Murphy sialan saat berkereta menuju puncak karir. Semoga di kemudian hari saya bisa membaca kisah lain hukum Murphy dari bung Yusi Avianto Pareanom.

Rumah Kopi Singa Tertawa | Yusi Avianto Pareanom | 14 cm, 172 hlm | ISBN: 978-978-1079-26-6 | Penerbit Banana | © Yusi 2011

Karawang, 060315