Rekayasa Buah: Mengapa Aku Bilang Buku ini Jeleq

Rekayasa Buah oleh Rio Johan

“Oh, ini mah buah lupu.” / “Buah apa buah lupu ini?” / “Buah yang mahal, susah didapat di sembarang toko.”

Entah apa yang menjadi dasar pemilihan buku ini masuk ke 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2021. Buku ini jeleq. Aku sudah baca Aksara Amananunna yang menjadi buku pilihan Tempo 2014, jeleq. Aku juga sudah menyelesaikan baca Ibu Susu yang menang KSK 2018 untuk karya pertama kedua, jeleq. Sejatinya satu buku jeleq tak akan merentang buku lainnya, ingat prinsipku; first impress itu penting banget. Pengalaman membaca buku pertama seorang penulis akan sangat menentukan buku karya-karya lainnya apakah akan kunikmati atau skip maksimal, kecuali masuk daftar penghargaan Sastra. Nah, salahnya di sini, memberi pengecualian. Sejak tahun 2018 kuikuti KSK dan kubaca semua Prosanya. Dari ‘kecuali’ ini, keterpaksaan menghasilkan Ibu Susu dan Rekayasa Buah, dan terbukti, jeleq jeleq.

Kalau kubeli buku antah, tanpa embel-embel apapun, dari penulis tak dikenal, atau dengan genre diluar favoritku, atau iseng sahaja tetiba pengen berkelana, kalau jeleq atau kurang puas ya wajar dan tak akan terlalu komplain. Baca buku remaja, misalnya ekspektasiku juga dunia remaja dengan hingar bingar darah muda. Pas kubaca buku fantasi, Neil Gaiman misalkan, atau Jonathan Stroud yang kuharap tentu saja sebuah imaji. Buku-buku John Grisham tentang gugat menggugat di ranah hukum sebab keseharian sang penulis memang di bidang itu. Pengalaman membaca ribuan buku menciptaku untuk bisa menempatkan diri dan ekspektasi. Contoh kasus, pernah baca buku Ika Natasha, Divortiare jeleq karena ceritanya hedon dan tak terjangkau pemikiran jelata, bayangkan konfliks yang ditawarkan adalah memilih cowok, yang satu tampan yang satu kaya. Kata temanku Harsoyo Lee, itu sih tinggal milih merem. Dan saat baca-baca buku lainnya, sama saja. Maka berikutnya, tak kubaca lagi, atau tak akan kubeli lagi pas rilis buku baru. Memang sudah jadi pijakannya. Lantas pengalaman baca pula buku-buku Tere Liye (tahun 2015 pas ulang tahun dibelikan istri sepaket), jeleq juga sebab banyak jiplakan, dulu kukira sistem seperti ini adalah metode ATM, amati tiru modifikasi; tapi setelah kutelaah, kudalami lagi jelas buku si Liye ini banyak sekali mencuri ide penulis lain. Mencuri itu haram di bidang manapun. Sampling, dua buku saja, Rembulan Tenggelam di Wajahmu itu idenya Mitch Albom, lalu Negeri Para Bedebah ada klub duel bawah tanah, jelas sekali aturan mainnya mengambil dengan tanpa izin aturan baku Fight Club-nya Chuck Palahniuk. Dengan pengalaman itu, tak kubacai lagi keduanya. Seharusnya Rio juga.

Yang membedakan adalah, Rio dapat ‘amanat’ di daftar KSK, dan itu malah makin bikin jengkel. Ibarat film jeleq muncul di Oscar. Bah!

Rekayasa Buah mencipta banyak sekali varian kata baru yang bikin kzl, seolah turut merasakan buah busuk dilahap, pengen muntah. Contoh buah mangga dimofikasi untuk tujuan tertentu, bisa bikin wajah glowing, buat jadi obat kuat, diblender jus sehat, untuk obat kutu air, dst lantas dibuat nama baru dan diadakan dalam perdebatan para peneliti. Sejujurnya mau milih nama jadi manggoooooooo, atau mang amang-beego, e-mango, mang jago, terserah dan tak memengaruhi cerita. Cuma kreatifitas tak jelas aja ini sih. Dikira membuat kata baru itu terlihat keren, bah! Enggak bro. sama seperti orang-orang yang suka mengutip kata-kata Pram atau Eka Kurniawan atau Ayu Utami, tak lantas otomatis jadi keren. Esensi membaca buku kan cerita, esensi keren bukan dengan menyebut kata sulit, sampai-sampai memodifikasi jenis hurufnya. Bukan begitu caranya, Vicky Prasetyo akan tertawa ngakak mendengarnya. Mencipta kata baru kalau ada sangkut paut kisah masih sah-sah saja, misal Lord Voldemort yang tampak unik dan aneh, ternyata di buku dua dijelaskan sebuah anagram. Itu baru kelas. Ada alasan mengapa memilih nama itu. Dalam buku ini, ada nama dengan semua konsonan semua: ‘Symphymphymm’, atau nama buah ‘snollygosterslang-whangersnickersneeberi’ hahaha, kata Bung Takdir temanku, “Biasalah masih ada yang anggap karya bagus itu kalau kosakatanya aneh aneh.”

Rekaysa terdiri atas sepuluh cerpen, saling silang beberapa cerita seperti Korporasi Hayati yang mewadahi penelitian, muncul di banyak paragraf. Kesemuannya enggak jelas, mencoba revolusioner dengan melihat masa depan, jauh di dunia antah dengan nama-nama kota modifikasi sendiri, sayang dibarengi plot cemen. Contoh, seorang bintang iklan buah yang tersingkir, dikagumi oleh kakek tua yang meninggalkan warisan melimpah untuknya. ‘Orang asing’ yang beruntung, yang material-oriented. Itu template di abad sekarang juga bisa, iklan kosmetik misal dengan mal-praktik dokter yang mengacaukan wajah bintangnya. 

Atau dalam Buah untuk Diktator Terakhir di Muka Bumi, seorang peneliti mempersembahkan buah untuk pernikahan kesekian-sekian-sekian, sekadar kudeta dengan buah sebagai pelurunya. Dalam Misteri Visiceri ada abtraksi dan kode-kode gaul dengan tulisan di kanan-kiri, dibolak-balik, bah tak ada esensi. Blink-blink kek Smash Blast. First thing first story! Gaya taruh di belakang aja. Ini memenuhi halaman, aku baca sambil nguap dan malesi tenan.

Dalam cerita Beri-beri Berlipat Ganda, perhatikan halaman 51 dalam memberi nama bisa sehalaman penuh/dua tiga halaman lainnya membahas penamaan juga, dan tak terlalu menautkan kepentingan dalam kisah, mau namain cerybel, cerytel, cerybah, ceryoletel, ceryceryjingan anggak krusial, nggak ngaruh, nggak ada eksotik-eksotiknya, kalian muak ga sih? Bayangkan ada 70-100 nama baru tiap tahun, syukur saja sih bukunya tak muncul tiap tahun. Simpan uang kalian, selamatkan waktu kalian, nikmatilah karya yang lebih bermutu. Inilah fungsi blog ini, inilah manfaat rekomendasi.

Dengan komposisi ini, satu buku lainnya Buanglah Hajat Pada Tempatnya jelas skip keras. Aksara Amananunna adalah buku debut kuberi skor 2 dari 5, Ibu Susu sama saja, permainan kata dengan plot nggak jelas, dan karena aku terjatuh di lubang yang sama, skor sejatinya bisa identik, tapi aku drop jadi 1.5. Satu utas yang menghubungkan ketiganya adalah, Rio suka sekali mencipta kata baru, dikira keren kali ya. Cerita ngawang-awang, padahal cerita bagus harusnya bisa ‘in’ dengan pembaca, kata Penulis favoritku Cak Mahfud, nulis cerita tuh tak perlu rumit dan tak perlu ndakik-ndakik.

Ketika membaca apapun genre dan jenisnya ekspektasiku juga mengikuti kok. Memang sulit mencerita masa depan. Akan salah bila aku mengharap sehebat Brave New World yang melihat masa depan gemilang. Atau Do Adroids Dream of Electric Sheep yang melihat dunia replikan menjadikan nyata/maya jadi abu-abu. Enggak. Kalau ada yang komplain, membandingkan buku klasik, baik aku aku kasih contoh sastra modern yang terbit tahun 2010-an. Baca buku-buku Yusi Avianto Pareanom, semuanya gemilang. Raden Mandasia bisa jadi adalah masterpiecenya. Atau Mahfud  Ikhwan dengan Dawuk-nya (aku nyebut dia lagi ya), itu kisah tanpa kerut kening juga bisa langsung ‘masuk’. Kebetulan dua itu menang KSK. Kalau usia dijadikan patokan, baik penulis muda yang mencipta buku bagus yang pernah kubaca juga ada, semisal Faisal Oddang dalam Tiba Sebelum Berangkat; atau Sabda Armandio Alif dalam 24 Jam Bersama Gaspar. Lihat dan rasakan kualitasnya.

Pasca membaca Rekayasa, aku butuh netralisir keadaan kalau tak ingin muntah. Untungnya ada Haruki Murakami, Kronik Burung Pegas seratus halaman langsung kulahap, dan benar-benar nyaman sekali. Lihat, seorang Haruki saja bercerita tentang keadaan sehari-hari. Pria kesepian ditinggal pergi istrinya, yang lantas merespon keadaan dengan apa adanya. Dan buku Looking For Alaska-nya John Green tentang remaja yang menempati sekolah asrama lantas jatuh hati. Sederhana ‘kan. Dan dibawakan dengan indah pula! 

Cerita bagus memang harusnya aktual, dan masa lalu selalu aktual. Mencerita masa depan, hanya berandai, mengangan, mengumpamakan; tahun 2050 mobil udah bisa terbang, tahun 2060 manusia bisa makan pil sebagai pengenyang, tahun 2070 ilmu bisa diinjeksi, tahun 2080 lorong teleport sudah dirancang, tahun 2090 buah direkayasa dari batu, tapi boong! Beda sama bercerita tahun 1945 terjadi Perang Dunia Kedua, dan kakekku turut memanggul senjata, terdampar di parit saat pasukan Jepang melakukan pembersihan, sebutir peluru melukai kakinya sehingga ia harus terpincang-pincang saat menyelamatkan diri, andai raganya tak kuat, bisa jadi aku takkan lahir, dst. Kita bisa langsung ‘in’ serta pembaca diajak bersafari di alam fantasi, dalam sisipan sejarah ada, dan logikanya bisa di-pas-kan. Buku yang berhasil adalah buku yang bisa melibatkan pembaca secara emosi.

Rasanya tak ada habisanya mengupas buku ini, seperti buku bagus, aku mengetik dengan semangat, begitu juga buku jeleq, aku mengetik ini dengan semangat mencerahkan. Aku tutup saja cerita curhat sore ini, habis lari sore bau keringat, kututup dengan kutipan dari penulis favoritku (wah favoritnya banyak ya), Gabriel Garcia Marquez bilang, “Tugas seorang penulis adalah menulis dengan sebaik-baiknya.” Mau ditulis di tanah kelahiran atau di tanah seberang atau di dunia jauh, mau ditulis di mana saja, tujuannya adalah agar penulis berbakti pada bangsanya.

Salam hangat dari korporasi haryati. Istighfar Bud.

Rekayasa Buah | Oleh Rio Johan | GM 621202011 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Teguh Afandi | Ilustrasi isi dan sampul Martin Demonchuax | Desain sampul Isran Febrianto | Desai nisi Ayu Lestari | Cetakan pertama, Juni 2021 | ISBN 978-602-06-5332-7 | ISBN Digital 978-602-06-5333-4 | Skor: 1.5/5

Karawang, 131021 – Billie Holiday – Me, My Self, and I

Empat sudah, tersisa enam.

Thx to Dojo Buku, Jakarta Barat. Thx to Titus Pradita, Karawang. Thx to Richard Oh, atas rekomendasinya.

Tidak Ada yang Lebih Menyenangkan Daripada Kopi di Pagi Hari


Lotre dan Cerita-cerita Lainnya by Shirley Jackson


“Aku merasa terjebak, tinggi di atas gedung tua dengan api; rasanya seperti mimpi buruk. Dan di kota yang asing.”

#1. Percakapan

Kunjungan Nyonya Arnold ke Dokter Murphy. Konsultasi tentang kekhawatiran suaminya tahu, ia khawatir. Ketakutan menjadi gila, semua orang berbeda dan berkepribadian unik hingga isu global.


“Saya ingin Anda mengendalikan diri. Di dunia yang membingungkan seperti dunia kita saat ini, keterasingan dari kenyataan sering –“ / “Membingungkan. Keterasingan. Kenyataan. Kenyataan.”

#2. Elizabeth

Cerpen kedua yang sangat panjang. Melelahkan tutur bahasanya, intinya adalah Elizabeth Style yang bekerja dengan Robert Shax bertahun-tahun penuh perjuangan membangun penerbitan buku, lebih pasnya sebagai agen sastra. Suatu hari ada anak baru, Nona Hill Dephne yang aneh dan mencurigakan, atau malah tampak annoying sebab seenaknya sendiri saat ditinggal sendiri di kantor. Salah satunya berani meminjam buku-buku di meja kerjanya tanpa izin! Sombong sekali kau Nak. Lalu Elizabeth yang kesal lalu mengambil tindakan.


“Saya rasa dia tidak akan mengatakannya, ketika saya melihat bagaimana kau langsung bersikap seolah-olah kau akan terus berada di sini.”

#3. Firma Lama yang Bagus

Kunjungan Nyonya Friedman kepada Nyonya Concord dan putri tertuanya, Helen. Memilih dan memilah tembakau, lalu bergosip ria. Menanyakan kabar putranya yang di Angkatan Darat, Bob Friedman dan Charlie menjadi bahan utama, dan penuh gaya bahwa sebelum masuk tentara Charlie kuliah hukum. Khas gosip ibu-ibu yang membanggakan anak, menanbah-nambahkan detail.


“Firma lama yang bagus, kakek Tuan Concord dulunya adalah seorang partner.”

#4. Sang Boneka

Kunjungan nyonya Wilkins dan Nyonya Straw ke restoran elit. Semua pelayan siap melayani dengan hormat. Mengatur jarak duduk, membicarakan menu makanan yang lezat, kaserol udang, ayam goreng, dst. Dan pemandangan indah di sekitar. Lalu pembicaraan tentang surat dari Walter. Dan akhirnya sampai kepada omongan tamu restoran yang lain. Ada gadis lugu bergaun hijau, disebutnya mirip monyet dan tampak norak, padahal ia makan sama pemuda tampan, dan sang boneka. Lantas sudut berganti ke meja mereka bertiga, tahu apa yang mereka bicarakan? Hahaha…


“Aku suka melihat tempat yang menyajikan makanan enak dan bersih.”

#5. Tujuh Jenis Ambiguitas

Tuan Harris, pemilik sekaligus pelayan toko buku tua, suatu hari kedatangan sepasang bapak-ibu dan pemuda delapan belas tahun (mereka tak saling kenal dan sesama tamu), berbincang literatur dan yang utama ingin belanja buku banyak, sangat banyak. Beberapa koleksi. Meminta rekomendasi, termasuk beberapa karya Dickens, Bronte bersaudara, Mark Twain, dst. Dan sampailah pada buku berjudul Tujuh Jenis Ambiguitas. Sang pria besar terkesan kepada sang pemuda, buku-buku klasik berbobot tahu dan sudah dilahap!


“Perhatikan anak tangga paling bawah.”

#6. Berdansalah denganku di Irlandia

Nyonya Archer muda, Kathy Valentine, dan Nyonya Corn sambil menimang bayi, mereka bergosip. Lalu bel rumah berbunyi, ternyata tamu pria tua yang menawarkan barang tali sepatu berharga satu quarter, ia tinggal di blok seberang, sempat akan ditolak tapi terbesit rasa kasihan, maka dibelinya. Sekadar sopan santun. Namun tak sampai di situ aja, sang tamu dipersilakan masuk, disajikan minuman, makanan. Dan jamuan mendadak-pun tersaji, pria bernama John O’Flaherty, orang Irlandia. Dan nama penyair Irlandia disebut Yeats, karyanya dalam puisi, I am Of Ireland dibacakan, salah satu kutipannya,


“Come out of Charity, come dance with me in Irlandia”

#7. Tentu Saja

Nyonya Tylor yang memperhatikan tetangga, sebuah mobil van berhenti dan anak sekitar empat tahun turun. Disusul perempuan muda. Mereka sedang pindahan, tetangga baru. Nyonya Tylor bersama anaknya Carol bersapa. Mereka bernama Nyonya Harris dan James Junior. Sopan-santun, saling mengakrabkan. Hobi, kegiatan rutin, profesi suami, dst. Rasanya banyak hal bertolak belakang, yang satu suka nonton bioskop, yang satu suka radio, sementara yang lainnya justru kesal sama suara radio keras, dan larangan anaknya nonton film. Oh, awal yang tak bagus. Walau senyum, tapi jelas masam. Ah basa-basi, rasanya memang perlu?


“Tentu saja.”

#8. Tiang Garam

Sepasang suami-istri dalam perjalanan kereta dari New Hampshire ke New York. Muncul lagu lawas di sana, lagu soundtrack film. Lagu yang terdengar akrab, tapi lupa judulnya. Lagu yang rasanya bisa dinyanyikan, tapi liriknya agak terlupa. Brad dan Margaret melakukan liburannya melihat-lihat kota. Berbelanja, makan di restoran, dst. Karena sang istri suka belanja lama, sang suami tak mau menemani. Pengalaman buruk muncul, saat ditemukan mayat dan polisi dipanggil. Lalu Margaret ada rasa semacam phopia terhadap orang-orang, kerumunan, takut akan hal-hal janggal di tengah kota. Ia pun menelpon Brad dari telpon umum untuk menjemputnya.


“Aku merasa terjebak, tinggi di atas gedung tua dengan api, rasanya seperti mimpi buruk. Dan di kota yang asing.”

#9. Pria dengan Sepatu Besarnya

Nyonya Hart, calon ibu muda yang menanti buah hati pertamanya. Nyonya Anderson, pembantunya yang datang dan melayani tiap pagi, sang pembantu suka mengeluh, kerjanya kurang bersih, dan beberapa complain disajikan. Awalnya dirasa mungkin butuh keakraban di antara mereka, tapi ternyata bukan hanya dimula, setelah sebulan lebih, ketidaknyamanan kecil itu benar adanya. Mereka bercerita, bergosip tentang keluarga, kegiatan favorit, dan akhirnya sampai pada Bill, suami Hart. Dikompori sama pembantunya, dipanasi betapa pasangan muda harus lebih saling peduli, tak boleh cuek gitu, dst. Jangan-jangan suami Anda selingkuh?!


“Saya rasa orang tak perlu membicarakan orang lain, maksud saya, menurut saya tidak adil untuk mengatakan hal-hal yang Anda tidak bisa tahu dengan pasti.”

#10. Gigi

Aku merasa aneh.” Clara Spencer bilang ke suaminya. Apakah ini efek obat bius untuk mengobati giginya? Cobalah tidur dalam bus perjalanan ke New York ini, saran suaminya. Ini bukan perjalanan pertamanya ke sana, tapi ia merasa ada kejanggalan. Teman duduknya adalah pemuda bernama Jim, sopan dan mengajaknya ngobrol, ngopi. Ia berasal dari jauh, lebih jauh dari Samarkand. Saat sampai di klinik, hasil x-ray bilang geraham bawah harus dicabut, hal yang harusnya ia lakukan jauh hari. Proses cabut gigi yang dirasa biasa menjelma ketakutan, samar tapi ini kan hanya gigi!


“Ini hanya sakit gigi. Tidak ada yang serius dengan sakit gigi.”

#11. Surat dari Jimmy

Surat dari Jimmy yang tak pernah dibuka, langsung diposkan lagi, dikirim balik. Suaminya selalu begitu, istrinya sempat meminta untuk membacanya. Namun rasanya tak akan. Tak akan pernah. Oh benarkah? Sepadankah?


“Konyol sekali menyimpan dendam terhadao surat. Melawan Jimmy, baiklah. Tetapi tidak membaca surat karena dendam itu konyol.”

#12. Lotre

Di alun-alun yang panas pada 27 Juni, sebuah desa kecil sekiatr tiga ratus warga. Mereka berkumpul, berpesta menyelenggarakan lotre. Kepala pos, Tuan Graves meletakkan kotak berkaki tiga di tengah-tengah. Tuan Summers mengaduk-aduk kertas di dalamnya, Tuan Martin dna putranya Baxter memegang kotaknya. Ritual rutin memilih secarik keras lalu Tuan Summers mengambil satu, setelah para keluarga atau perwakilannya memasukkan kertasnya. Tradisi ini sering ribut, beberapa kali bahkan ia disumpah tak curang, dan memang kali ini sangat kacau.


Ini tidak adil, ini tidak benar,” teriak Nyonya Hutchincon, lalu mereka menyerbunya.


Ini adalah buku pertama dari Shirley Jackson (1916 – 1965) yang kubaca. Lahir di San Francisco, California, USA. Penulis dengan genre horror dan misteri. Lulusan Syracuse University New York dan aktif di jurnal sastra kampus. Bertemu dengan calon suaminya Stanley Edgar Hyman, dan setelah lulus keduanya berkarier di The New Yorker. Shirley menjadi penulis fiksi, suaminya contributor ‘Talk of the Town’.


Karya Shirley yang terkenal, The Road Through the Wall (1948), Hangsman (1951), The Bird’s Nest (1954), The Sundial (1958), The Haunting of Hill House (1959), dan We Have Always Libed in the Castle (1962). Lottery sudah diadaptasi tiga kali ke layar lebar, dan paling terkenal rilis tahun 1969.


Terlihat banyak sekali cerpen yang diambil dari pengalaman pribadi. Sebagai seorang ibu, Shirley jelas suka bergosip dengan tetangga, ada banyak adegan di sini. Sebagai seorang agen penerbit ia tentu saja berpengalaman menghadapi staf nakal, di sini dikisahkan panjang sekali. Sebagai seorang istri, ia menyampaikan pengalaman perjalanan ke New York baik saat bersama suami atau sendiri naik bus, ada di sini. Sebagai warga Negara yang baik, ia tentu menyambut tetangga baru, di sini ada lebih dari dua kali. Sebagai manusia biasa, ia tentu beberapa kali ke dokter, ada beberapa pula. Hampir semua mengambil sudut pandang seorang wanita, seorang IRT, seorang pekerja kantor, seorang istri yang baik, dst. Jelas ini adalah pengalaman sendiri dengan bumbu imaji. Semuanya adalah kejadian sehari-hari, wajar, biasa, sangat sederhana. Nah, inilah hebatnya, kisah biasa kalau dicerita dengan bagus akan luar biasa. Di sinilah pengalaman (menulis dan membaca) itu penting sekali. Mencipta cerita bagus tak seperti lotre yang bisa diambil acak dan asal, harus dilatih dan ditempa panjang. Shirley Jackson tentu saja melakukannya.


Lotre; dan Cerita-Cerita Lainnya | by Shirley Jackson | Diterjemahkan dari The Lottery and Other Stories | Terbitan Farrar, Straus and Giroux, 2005 | Penerjemah Laura Harsoyo | Penyunting Nasrina Lubis | Tata sampul Airarumi | Tata isi Vitrya | Pracetak Wardi | Cetakan pertama, 2021 | Penerbit Noktah | 196 hlmn; 13 x 19 cm | ISBN 978-623-6175-08-8 | Skor: 4/5


Untuk ibu dan ayahku


Karawang, 280721 – 060921 – Earl Klugh – Midnight in San Juan


Thx to Diva Press

#Juli2021 Baca

Lenin mengatakan, “Ploretariat tak mungkin mencapai kemerdekaan penuh tanpa ada kemerdekaan penuh bagi perempuan.”

Juli ini lebih slow bacanya, sebab kembali beraktifitas setelah isoman hampir sebulan. Karena kepadatan kerja, mood juga menurun dan benar-benar menguras emosi menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Hanya lima buku yang kutuntaskan. Memoirs of Geisha yang sebagian besar kubaca bulan sebelumnya, agak sulit dituntaskan, hanya modal maju terus. Tebal, lebar, dan kecil-kecil. Kelar juga. The March lebih gila lagi, tak ada tanda petik di dalamnya, padat melelahkan. Mau kalimat langsung atau tidak, pokoknya tak ada kutip. Ndelujur aja, kalau kisahnya di Indonieaakan lebih muda seperti Midah, ini tentang perang saudara di Amerika dengan geografi yang tak familier, dengan sudut pandang banyak. Melelahkan, maka saat akhirnya selesai, lega juga. Jadi mari kita simak kelima buku bulan tujuh tahun ini yang kutuntaskan.

#1. Memoirs of Geisha by Arthur Golden

Luar biasa. Seperti naik roller coaster, walau tak banyak liukan dan tanjakan terjal, ceritanya berliku. Awalnya sudah sangat manis, gadis miksin anak nelayan dengan kecantikan natural. Matanya yang cemerlang sering kali disebut, berulang kali. Lalu keadaan mencipta, ia dan kakaknya dikirim ke kota, dijual untuk dididik menjadi orang. Bisa jadi apa saja, tergantung nasib dan kemauan. Bisa jadi pelayan, pelacur, pekerja pabrik, atau geisha.

Memang suku kata ‘gei’ dalam kata ‘geisha’ berarti ‘seni’ jadi kata ‘geisha’ yang sebenarnya adalah seniman. Geisha, di atas segalanya adalah penghibur dan pementas. Menuang sake atau teh memang dilakukan, tapi jelas tak akan pernah mengambil acar tambahan. Geisha sejati tidak akan pernah mengotori reputasinya dengan membuat dirinya bisa disewa laki-laki dengan tarif per malam. Geisha tidak pernah menikah. Atau paling tidak, mereka menikah tidak menjadi lagi geisha.

Ke mana pun dia membawa kami, aku lebih memilih bersamanya daripada terdampar sendirian di tengah jalan-jalan besar dan bangunan-bangunan yang sama asingnya bagiku dengan dasar samudra.”

#2. Who Moved my Cheese? By Spencer Johnson

Buku motivasi lagi. kali ini tema utama adalah perubahan dan keniscayaan bahwa yang tak ikut berubah akan ketinggalan dan terlindas zaman. Sejatinya tema semecam ini sudah usang, atau sudah sangat banyak disebut dan dibahas, bahkan berulang kali kita dengar di seminar-seminar, sudah sering pula disampaikan, juga sudah banyak contohnya. Nokia, Blackberry, Bluebird, Fujifilm, dan seterusnya. Produk yang dulu merajai, bisa tenggelam saat ini. Dan tentu saja, mereka yang saat ini terasa raja suatu saat bisa ambruk. Semuanya butuh adaptasi. Nah itulah, topik utamanya, perubahan dan cara mengantisipasinya. Dibawakan dengan fun dan cerita yang nyaman diikuti.

“Karena orang mau semuanya seperti dulu dan mereka berpikir perubahan akan merugikan mereka. Saat satu orang bilang perubahan itu adalah ide buruk, yang lain akan berkata sama.”

#3. The March by E.L. Doctorow

Perang saudara di Amerika abad 19 yang menelan banyak korban dari tahun 1861 sampai 1865 antara Utara versus Selatan. Utara menuntut penyatuan disebut Union, Selatan meminta kemerdekaan dari Amerika Serikat yang membentuk Konfederasi. Tuntutan tentang perbudakan yang lanjut atau dihapus menjadi isu penting nan krusial. Ada kekayaan begitu melimpah yang dapat diperas dari tenaga budak; karena itu, tidak heran bahwa orang-orang ini mau berjuang sampai mati. The March ada di masa itu, seperti perang itu sendiri yang rumit, penceritaannya juga mencipta pusing sebab tak ada tanda kutip untuk kalimat langsung.

Kau tidak boleh mereduksi kehidupan menjadi sentimen-sentimen saja, Emily.

#4. Pseudonim by Daniel Mahendra

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen saja yang jumlah kata lebih sedikit, dan tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua orang itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak faktor. Salah satunya selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasaranya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

“Dan di mana Radesya?”

#5. Kampus Kabelnaya by Koesalah Subagyo Toer

Curhat selama belajar di Uni Soviet. Bagus, menuturkan cerita dari orangnya langsung, pengalaman yang dikisahkan dengan fun, tak perlu telaah lebih, santuy dan asyik aja menikmtai kalimat-kalimat itu. Ini adalah dunia Eropa Timur di tahun 1960-an, dunia sedang Perang Dingin. Perang ideologi Demokrasi Liberal versus Sosialis. Ini adalah catatan penulis selama belajar di Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa di Moskwa tahun 1960-1965, yang sedikit-banyak mencerminkan semangat zaman itu.

“Maafkan aku, ya, karena telah membuatmu ragu. Tapi aku memang ingin menangis. Biarkan aku menangis sampai puas. Sesudah itu aku takkan menangis lagi.”

Karawang, 260821 – Norah Jones – Don’t Know Why

Bisik Bintang, Lirih dan Merdu

“Hidup sepanjang ini, semua tenggat masa muda sudah dilewati.”

Luar biasa. Tipis, memukau. Dibaca sekali duduk di malam isoman tengah bulan Juni lalu. Terpesona sama plot yang disajikan tiap cerita, sederhana nan menghibur, beberapa menyakitkan tapi itu nyata, beberapa menggugah hati seperti perkataan gelandangan yang meminta orang kaya korup untuk membersihkan hartanya, beberapa lagi menampar kenyataan yang pahit seprti di permainan usia tua tapi baru merasa diberkahi. Tokoh-tokohnya juga sering sama memakai Kepala Kampung yang mengatur warganya, orang-orang kaya yang kikir, lalu gua di benteng kuno yang mistis, kaum papa yang melawan, sampai lingkup dunia Islam yang moderat.

Nama Najib Mahfuz memang jaminan, ini buku ketiga yang kubaca setelah Karnak Kafe dan Pencopet dan Kelompok Begundal, semuanya memuaskan. Ini kumpulan cerpen pertamanya, walau benar-benar pendek kita langsung klik sama polanya, kejutannya, sampai adegan-adegan absurd-nya. Satu lagi saat ini yang sedang kubaca adalah Zahiya, kumpulan cerpen pula. Dari Peraih Nobel Sastra euy…

#1. Pengusiran

Zakiya yang terusir dan menuntut hak-haknya dengan kembali, ke mana? Ke kampungnya, ke depan toko orang yang menipunya. Juragan Usman dengan tabiat buruknya, Kepala Kampung yang menawarkan solusi tapi tetap, Zakiya keukeh dengan pendiriannya. Juragan Usman mencari solusi lain, dan bah! Yakinlah itu ditolak.

“Aku akan terus menjaga anak inidi depan kedua matanya agar ia selalu ingat akan kejahatannya.”

#.2 Tawhuda

Beethoven, Descartes, maupun Baudelaire tak ada yang mampu merebut hatinya dari wasiat masa lampau yang tertanam di kampung kami. Ia masih percaya akan dupa-dupa, ahli nujum, dan sama sekali tak meragukan jin-jin benteng kuno di atas ruang bawah tanah kampung kami. Penggalan paragraph yang menyatakan kenik nan klasik akan selalu ada di manapun di sunia ini. ini riwayat singkat si cantik Tawhuda yang tinggal di Rumah Putih.

“Bukan salahku jika kau tak mengenaliku.”

#3. Ibnu Hara

Ibnu Hara yang entah siapa yang menghuni ruang bawah tanah di benteng tua. Seorang gelandangan yang naik pangkat sebab suatu hari menyelamatkan nyawa Syekh Asfoury dari tempaan batu. Ibnu Hara menjadi legenda bahkan bak wali karena seolah menyaksikan masa depan. Bisikan yang seolah ramalan itu berlanjut ke orang kaya yang korup, Tuan Zawi. Dalam bisiknya ada kalimat, “Wahai Ibnu Hara, temuilah Tuan Zawi dan katakana kepadanya untuk mengembalikan pundi-pundi haramnya kepada yang berhak…” Saat disampaikan, ia kena bogem mentah, ia kena damprat. Namun tak menyerah dan kembali lagi seolah itu adalah amanat Tuhan.

“Malam yang luar biasa, melebihi anehnya cerita tentang jin benteng kuno.”

#4. Anak Panah

Ini tentang kehebatan benteng kuno lagi, bahwa ada dunia di dimensi lain yang bemain dan bersinggungan dengan dunia kita. Kematian mendadak Tuan Zain al-Baraka mencipta sensasi, tokoh yang banyak tak disukai ini tersungkur di kedai kopi bak kena anak panah. Kepala Kampung lalu menelusuri sebabnya.

“Siapa yang mengeluarkan anak panah dari tempatnya, dan mengapa?”

#5. Ramalan Namla

Ramalan orang gila Namla yang absurd kepada Harq, “Tidak, ini kabar baik untukmu, pahlawan. Kau akan dikelilingi orang-orang! Dan kau akan ditemui oleh para pembesar.”

Kepala Ka,pung Cuma bisa menangkupkan kedua tangannya, shock.

#6. Akhir Hidup Guru Saqr

Pernikahan beda usia jauh ini menjelma petaka, si tua Bangka Guru Saqr menikahi Hamila yang berusia dua puluhan. Bukan istri pertama, dan keputusan ini menjadi polemic sebab mereka tinggal di lantai atas dengan uang banyak dalam lemari. Namun suatu hari Hamila kabur membawa uang banyak di lemari, Saqr yang kaget pingsan dan koma. Apes betul istri dan anaknya merawat Saqr tua, saat kembali sadar dan mengenali anak istrinya ia bilang, “Di atas kamar mandi…” Kalimat itu tak selesai sebab ia keburu mangkat. Apa yang ditemukan benar-benar tak dinyana.

#7. Si Malang

Hasan al-Dahshan sudah menikah tiga kali dengan wanita dari keluarga di kampung, dan tiap kali istrinya menunggal sebelum sempat melahirkan benih yang tertanam di perutnya. Setelah itu Hasan dikenal dengan nama Hasan Si Malang.

Pembuka cerita yang keren sekali kan?! “Serangga tak usah pongah.”

#8. Usia adalah Sebuah Permainan

Ali Zaidan lima puluh tahun; tua, kere, lajang, mengeluhkan banyak hal atas kegagalan hidupnya. Pejudi yang galau yang tiba-tiba bilang ingin menikah. Ia lelah dan ingin mengubah hidup, tak ada kata terlambat ‘kan? Meski sebagian orang toleran terhadap pencuri, ternyata mereka tetap waswas oleh judi dan penjudi.

“Aku tidak mencari wanita penebar wewangian. Tapi aku ingin seorang gadis muda perawan yang cantik dan tidak buruk pendidikannya.”

#9. Doa Syekh Qaf

Ini keren sekali. Kasus pembunuhan dengan gamblang. Umaira el-Ayek mati, dibunuh dan diakui oleh Hanafi el-Rayek, disaksikan tiga orang Zaini, Kibrita, dan Fayek. Saksi yang sangat cukup. Maka jelas sudah, pengadilan mudah memutuskan. Namun, ada yang janggal.

“Mahasuci alam atas segala sesuatunya.”

#10. Ayah Kami, Ajwa

Ajwa tua yang sepi, teman-teman sebayanya telah tiada. Anak-anaknya juga, tinggal Anwar, 80 tahun. Anaknya sakit dan hari saat ada lelang tanah, tak dinyana Ajwa tetap datang dan memenagkan harganya. Orang-orang yang kesal, pada komplain.

“Sore ini aku ada janji dengan kontraktor bangunan. Tak sampai berlalu aku akan memperoleh manfaatnya dan begitu pula orang-orang lain…”

#11. Bisik Bintang

Cerita yang agak susah klik, melibatkan nenek, penyair, dan potongan Firman Tuhan.

“Allah Maha Mengetahui.”

#12. Rahasia Tengah Malam

Lelaki mudik, sampai di kampung halaman jelang fajar dan membaui harum yang semerbak.

“Ini adalah kelebat seorang perempuan yang lewat… mengapa kau berada dalam kegelapan di malam begini? Kesendirian akan mengarahkanmu pada hati yang berdebar dan akhir yang tak pasti.”

#13. Sheikhoun

Sheikhoun yang pergi dari kampung lama sekali, dan saat ia mudik ia dikenal sebagai manusia pilihan Allah. Melibatkan dunia gaib, segala atribut pengobatan natural. Lalu muncullah fakta.

“Esok sebelum matahari terbenam semua orang akan berdamai dengan kekhawatirannya.”

#14. Badai

Saat badai terjadi banyak orang memohon pertolongan pada Allah. Saking lamanya, mereka mengira ini hari kiamat.

“Inilah setan yang keluar dari persembunyiaanya…”

#15. Jeritan

Jeritan tengah malam dari rumah Nyonya Adliya. Tetangga kasak-kusuk ada apa gerangan. Ada yang mengira Kamila, perempuan cantik yang diceraikan  tadi pagi menuangkan minyak ke bajunya dan menyalakan api. Namun siapa yang tahu?

“… Biarlah hukuman berlaku seperti yang seharusnya.”

#16. Nasibmu dalam Hidup

Peristiwa-peristiwa umum yang terjadi di sekeliling kita. Dengan damai dan musibah yang silih berganti. Salah satunya ada yang sakit aneh, mantri dipanggil untuk mengobati. Namun bingung obatnya tak kunjung ketemu.

“Tari sufi… satu-satunya obat adalah tari sufi, wahai Pak Mantri…”

#17. Nabqa si Benteng Kuno

Nabqa si bungu nomor sepuluh yang berhasil selamat dari wabah, semua saudaranya mati. Dan sebagai nazar Adam, ayahnya. Nabqa akan diserahkan ke surau saat umur tujuh tahun untuk melayani ibadah. Hingga suatu hari ia menghilang.

“Sekarang bukan musim ziarah kubur.”

#18. Toko Roti

Uyusha, gadis cantik putri pedagang tekstil kaya-raya yang tampak baik nan anggun suatu hari memutuskan kabur dengan Zenhoum, anak si tukang roti. Paman Jum’a sedih, ia kena cemooh dan belas kasihan sebab Uyusha adalah putri satu-satunya dan akan mewarisi kekayaan keluarga. Walaupun faktanya belum jelas, dan desas-desus beredar nan dirangkai liar.

“Kesalahan terkadang menyeret manusia pada kriminalitas dan itu tetap merugikannya apa pun yang terjadi.”

Kehidupan Mesir tahun 1990-an tak ubahnya Indonesia di masa yang sama. Lihat, kehidupan warga yang percaya klenik, tempat-tempat angker, jin-jin yang murka, sampai skandal kampung yang sering kali terjadi di banyak daerah. Orang-orang rantau yang lama tak kembali lalu saat pulang tampak sangat berbeda dan asing. Rangkaian ini jelas mengingatkanku pada kampung halamanku, waktu memang seolah anak panah yang melesat dan takkan bisa kembali. Ia lurus terus melaju ke masa depan, manusia dan segala nasibnya di dunia. Bisik bintang dari Mesir adalah bisikan syahdu untuk pembaca Indonesia. Cocok dan aduhai.

Untuk jadi keren tak selalu harus tebal, muluk-muluk kisahnya, membuncah liar tak jelas ke mana-mana. Bisa dengan buku tipis efektif dengan banyak pilihan diksi kuat nan indah. Latarnya juga jelas, kehidupan di sekeliling kita sehingga langsung tune ini sama alurnya. Memang tulisan yang dihasilkan oleh orang hebat, kisah sederhana bisa tampak mewah sekali. Bisik Bintang adalh bukti bahwa untuk jadi cerita hebat, ramuan kata harus pas dan mengena. Untuk itu pengalaman menulis menjadi suatu keniscayaan.

Bisik Bintang: Kumpulan Cerita | by Naguib Mahfouz | 1993-1994 | Copyright 2018, Dar al Saqi, Beirut | Diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Muasomah | Penerbit CV. Marjin Kiri | Edisi pertama, Desember 2020 | vi + 78 hlm, 12 x 19 cm | ISBN 978-602-0788-09-8 | Skor: 5/5

Karawang, 050821 – Evanescence – Bring Me to Life

Sumur #16

“Setiap buku langka adalah buku curian.”

Satu cerpen dalam satu buku. Terdengar gila ‘kan? Gila nggak? Ya aja deh. Biasanya kita disuguhi kumpulan cerpen, minimal dua atau tiga cerpen. Berarti ini diluar biasanya, hanya Eka Kurniawan yang bisa. Penulis lokal dengan ketenaran dan jaminan mutu. Hebatnya lagi, laris. Dari beranda sosmed saat masa pre-order dibuka dari harga 50k menjadi 40k, banyak sekali toko buku daring yang pajang sold out. Mendekati hari H penutupan, saya yang penasaran malah ikutan klik beli. Dan, setelah #unboxing, ini benar-benar satu cerpen dijual lima puluh ribu rupiah! Dibaca lima menit. Kalau value biaya (saat ini) jelas kurang worth it, tapi kembali ke kualitas yang utama. Eka adalah brand, di mana namanya yang tercetak di sampul memberi rasa penasaran, minimal ada keinginan menikmatinya.

Cerpen ini pertama terbit dalam bahasa Inggris di antologi Tales of Two Planets dengan judul ‘The Well’ yang diterbitkan oleh Penguins Books tahun 2020. Kisahnya tentang hikayat sejoli yang saling mencinta tapi kandas karena keadaan. Lihat, tema usang kasih tak sampai kalau dicerita dengan mantab menghasilkan thriller bermutu.

Adalah Toyib yang sedari kecil mencintai Siti dari kampung sebelah. Setiap pagi berangkat sekolah bersama, kadang berdua, kadang ramai-ramai. Garis nasib mencipta, ayah keduanya berduel hingga ayah Siti mati. Gara-gara sepele, masalah pembagian pengairan sawah. Ayah Toyib setelah kabur ke hutan, berhasil ditangkap lalu dibui. Keadaan ini jelas turut serta membawa sejoli ini merenggang, ada aib dan sengsara yang memisahkan mereka.

Setelah empat tahun delapan bulan, ayah Toyib bebas. Ia banyak belajar memperbaiki mesin semasa di penjara. Ia bahkan berhasil mengumpulkan uang dengan jasanya, dan uang itu ingin diberikan kepada Siti, lewat Toyib. Berat, tapi diiyakan.

Nah, ada sebuah sumur di lembah, di balik bukit seberang perkampungan. Satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan. Siti melaksanakan tugas mengambil air, Toyib juga. Kesempatan ini dipakai untuk menyampaikan niatnya. Sore itu mereka bertegur sapa dalam canggung. Saat niat utama disampaikan, hanya satu kata yang terucap dari sang gadis, “Tidak.”

Siti yang coba menghindar terjatuh dan luka kakinya, Toyib mencoba membantu. Berikutnya seolah mendapat amanat memikul dua ember untuk dua keluarga ini. Siti diam, dan dianggap sepakat saja. Waktu lalu mencipta perubahan, Toyib diterima masuk rumah dan ibu Siti yang menerima bungkusan tersebut. Saat ditanya di mana Siti? Ternyata sudah berangkat merantau ke kota. Pupus sudah harapan itu…

Dan begitulah, perpisahan tanpa kata-kata itu mencipta jarak yang sungguh lebar. Kabar satu tertimbun kabar lainnya, masa membawa manusia-manusia ini dewasa dengan sangat cepat. Siti menikah, Toyib patah hati dan berniat mencari kerja ke kota, tragedi lain terjadi, dan sekali lagi saat ada kesempatan kedua, akankah cinta pertama ini dapat dipersatukan?

Pertanyaan mendasar orang yang menikah, “Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?” Sejatinya bukan khusus untuk orang-orang pacaran yang kandas ke pelaminan. Ini pertanyaan umum, bahkan bagi pasangan yang saling mencinta, saling berjanji sejati, saling sepakat untuk setia, menikahi orang terkasih. Masa akan melindas banyak sekali kenyataan pahit manis, dan pertanyaan itu layak diapungkan juga. Dunia fana yang membuncah tanya, masa depan yang misterius.

Dihadiahi jaket buku yang manis dan pembatas buku sederhana dengan pesan makjleb dari Penerbit. “Terima kasih telah membawa pulang Sumur karya Eka Kurniawan. Buku ini hanya dicetak sekali. Pada suatu saat nanti dia akan menjadi langka. Semoga kamu senang membacanya. Seperti kami yang bersuka cita saat menyiapkan kelahirannya.” Semoga saja benar hanya dicetak sekali, karena antusiasme yang tinggi dan gegap gempitanya terasa, setelah sebulan terbit hypenya masih meriah, akankah suatu masa berubah pikiran? Ya, saya sepakat suatu hari akan langka. Kriteria langka itu bagaimana? Burt Auerback, juru tafsir buku langka di Manhattan pernah bilang, “Buku langka adalah buku yang harganya jauh lebih mahal sekarang daripada saat diterbitkan.”

Kolektor buku dari Amerika, Robert H. Taylor berkata, “Buku langka adalah buku yang sangat kuinginkan dan tidak bisa kutemukan.” Saat orang-orang menjawab serius, mereka semua sependapat bahwa ‘rare’ – langka, adalah istilah yang sangat subjektif. Satu-satunya kualitas ‘langka’ yang disepakati para kolektor adalah kombinasi kejarangan, kepentingan, dan kondisinya.

Ada kasih unik masalah ini, buku langka Tamerlane and Others Poems ditulis oleh pengarang tanpa nama yang hanya diidentifikasi sebagai, “Seorang Warga Boston.” Lalu berjalannya waktu baru diketahui ternyata adalah karya Edgar Allan Poe saat berusia 14 tahun. Buku setelah 40 halaman yang dicetak tahun 1827 oleh percetakan yang biasa mencetak resep, harga awalnya hanya 12 sen, dan kini setelah ratusan tahun berselang harga dalam lelang bisa mencapai 200 ribu dollar! Nilai Tamerlane yang biasa-biasa saja saat pertama terbit, tampak biasa saja, dibuat hanya 50 sampai 500 eksemplar, kini menjadi legenda dan tercatat hanya ditemukan 14 buku. Lihat Sumur, kita bukan cenayang, tapi kalau Penerbit komitmen tak mencetaknya lagi, tak sampai seratus tahun lagi bukankah tak mustahil berwujud prediksinya? Mirip semua ‘kan, kecuali nama Eka yang memang sudah sungguh terkenal.

Kasus dalam negeri yang paling terkenal tentu saja buku-buku awal Pram, harganya menggila. Semakin lama cetakannya semakin mahal. Saya pernah lihat di posting Facebook, ‘Arus Balik ‘dihargai sejuta lebih, kukira penjualnya gila. Eh ternyata ada komentar pembeli, itupun disusul komen lainnya yang turut antri!

Dalam buku, The Man Who Loved Books Too Much karya Allison Hoover Bartlett, “Selain menjadi kendaraan untuk menyampaikan kisah (dan puisi, informasi, referensi, dll) buku merupakan artefak sejarah dan tempat berkumpulnya kenangan. Kita senang mengingat-ingat siapa yang memberi buku kepada kita, di mana saat kita membacanya, berapa usia kita, dan sebagainya.” Jadi semakin jelas alasan kenapa Sumur harus dicetak. Sepuluh dua puluh tiga puluh tahun lagi, buku ini akan jadi semacam artefak, dimana keunikan dan rare tadi akan lebih menonjol daripada isinya.

Sumur dan misteri diam. Kebetulan saya lagi baca Kronik Burung Pegas-nya Haruki Murakami. Ada kisah bersisian, bagaimana sang protagonist merenung ke dasar sumur tua yang sudah tak mengeluarkan air. Menapaki kesunyian dan mencapai ketenangan luar biasa, semadi yang menghasilkan tompel dan segala tanya dunia antah di dimensi lain. Sumur yang ini lebih kalem, perannya seolah hanya menjadi saksi biru cinta kandas dan membuncah. “Kamu bertemu Siti di sumur?”

Sumur | by Eka Kurniawan | GM 621202009 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Mirna Yulistianti | Desain sampul & ilustrasi Umar Setiawan | Setting Sukoco | Cetakan pertama, Juni 2021 | ISBN 978-602-06-5324-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 160721 – The Cranberries – Animal Instinct

#30HariMenulis #ReviewBuku #16 #Juli2021

Buku ini kubeli di Kedai Boekoe, Bekasi. Saya ambil sepaket sama Misa Ateis-nya Honore de Balzac. Kunikmati saat isoman, menjadikan serangkai buku (dan film) yang berhasil kutuntaskan.

#Januari2021 Baca

Saya masih memberi kesempatan kepada klub-klub untuk kembali ke kompetisi yang resmi. Paling tidak sampai Senin ini. Ya, paling lambat Senin malamlah.”Johar Arifin dalam buku Dari Kekalahan ke Kematian (Mahfud Ikhwan)

Awal tahun yang padat. Saya sudah coba baca santai, tapi kondisi malah mencipta waktu luang lebih banyak. Saya kena shift seminggu masuk jam 12:00 karena pembatasan skala besar Karawang. Maka punya waktu baca pagi lebih panjang habis subuh sampai jam 09:00, luar biasa pagiku benar-benar melimpah.

Dimula dengan Zarathustra di tanggal 1 selesai tepat 31, lalu diselingi buku-buku lain yang lebih ringan. Gila, buku berat dan melelahkan. Namun kelar juga, tepat sebulan! Buku baru sudah Sembilan paket, jadi tumpukan masih sangat tinggi. Semangat!

Segala genre saya lahap!

#1. Life of Pi by Yann Martel

Fantasi atau fakta? Ada dua cerita, yang pertama bersama sesekoci sama macan yang tak bisa dilogika, yang kedua bersama pembunuh yang terbunuh. Endingnya dijelaskan, tapi tetap absurd. Begini seharusnya cerita sebuah perjalanan dibuat. Kalau kita, para warga negara, tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita, berarti kita telah mengorbankan imajinasi kita di altar realitas yang kejam, dan pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apa pun, dan mimpi-mimpi kita tidak lagi berarti. Jelas novel yang laik didiskusikan lanjut.

Jangan sampai patah semangat, boleh merasa kecil hati tapi jangan menyerah. Ingat semangat sangat penting, melebihi lain-lainnya. Kalau Anda memiliki kemauan untuk hidup, Anda pasti bisa bertahan.”

#2. Dari Kekalahan ke Kematian by Mahfud Ikhwan

Cak Mahfud memang jaminan, sejauh ini. Ini buku kedua tentang sepakbola yang kunikmati, jelas lebih baik ketimbang rangkuman review per pekan sepakbola Eropa dalam ‘Sepakbola Tak Akan Pulang’. Kali ini fokus ke cerita lokal, mayoritas diangkut dari blog-nya belakanggawang.blogspot.com yang diampu bersama Bung Darmanto Simaepa. Sobatnya tersebut, ternyata sobat kental beberapa kali disebut menjadi teman curhat dan nonton bareng. Setara Grandong yang jadi sobat misuhi Liverpool dengan kepleset Gerard-nya. Masih ingat review buku Tamasya Bola? Kata Pengantarnya keren sekali oleh Cak Mahfud, di Dari Kekalahan, dibalik. Pengantarnya oleh Darmanto, panjang meliuk-liuk liar, dan muatan isi bukunya segaris lurus.

Barangkali sepakbola unik karena ia bisa memberikan harapan berulang kali.”

#3. Oliver’s Story by Erich Segal

Kisah cinta lanjutan. Memang sulit melanjutkan cerita wow, atau setidaknya menyamai. Sekuel yang mengalami penurunan kualitas, tapi masih bagus sebab endingnya pahit, cara berceritanya bagus, pemilihan plotnya lumayan juga. Tak seperti kebanyakan cerita romantis yang mellow. Sesuai harapan, untung sekali mereka ambyar. Walau alasannya terlalu politis, terlalu kurang alami, sekalipun itu terkait aturan birokrasi, menentang prinsip hidup, idealism yang dipegang, sebagai Sarjana Hukum ia jelas menentang eksploitasi anak-anak untuk bekerja, tapi kisah ini jadinya malah muluk, dan adegan Hongkong itu jauh dari kesan asyik seperti eksekusi di Rumah Sakit, ending luluh lantak sebelumnya. Seperti kata Jimi Hendrix waktu Woodstock.

Keadaan cukup buruk dan dunia ini perlu dibersihkan.”

#4. My Beautiful Feeling by Walter & Ingrid Trobisch

Masturbasi perempuan. Tema yang tabu dari dulu, bahkan sampai era digital ini. Di sini dikupas panjang, dari surat-surat remaja Jerman di masa SMA hingga kuliah, surat-surat pribadi itu dikirim ke seorang psikolog yang biasa mengisi rubrik di Koran nasional tentang tanya-jawab pembaca. Lalu, entah apakah surat ini ditayangkan atau tidak, malah dibukukan. Ini adalah buku kedua terbitan BPK yang kubaca, setelah curhat masa muda Indonesia tahun 1980-an dengan Suhartin, apa yang harus saya lakukan?

Kalau kau tahu tujuannya, kau dapat menemukan jalannya.”

#5. Mata dan Riwayat Semesta by Wija Sasmaya

Buku tipis yang aslinya hanya berisi 75 halaman. Namun menjadi dua kali lipatnya sebab buku ini bilingual, diterjemahkan jua ke dalam Bahasa Inggris. Dicetak bolak-balik, tapi karena saya saat ini nyaman dengan Bahasa Indonesia, dan celetuk, ‘kurasa buat apa membaca Inggris-nya toh, isinya sama’, maka buku ini hanya kunikmati separuh. Separuhnya bagaimana, mungkin suatu hari nanti kubaca lagi, entah kapan, yang jelas bukan dalam waktu dekat. Dua kali saya memiliki dua sejenis ini, yang pertama karya Marga T, versi separuh asing jelas ku-skip. Benar-benar tak rekomendasi deh ide bikin bilingual gini, boros kertas. Kecuali diterjemahkan, lalu dijual terpisah, jelas itu lain soal sebab tak menempel langsung.

Hidup itu ibarat cuma mampir minum, dan sebaik-baiknya minum tentu minum air jernih yang menyejukkan jiwa.

#6. Memoar Ronny Patinasarany by Andreas J. Waskito

Memoar yang berkesan, jadi tahu detail era emas Timnas Indonesia-pun penuh intrik politik. Bagaimana ia dilarang merokok, tak mau nurut dicoret dari skuat, lalu hukuman lama itu dikurangi menjadi beberapa bulan. Buku ini gambaran umum saja, dari karier bolanya yang cemerlang dari Makassar, Surabaya, hingga Jakarta. Bagaimana ia menjadi pegawai Bank BNI, menjadi pencari bakat, lalu musibah kanker yang dialami. Sepertiga akhir adalah masa sulit, pengobatan ke China hingga akhir hidupnya. Lalu sebelum epilog sang istri, kita menyimak pendapat beberapa rekan, keluarga, dan bosnya. Buku yang padat dan emosional.

Kalaupun anak saya meninggal, dia meninggal dalam kasih sayang saya. Saya rela menghilangkan harga diri, popularitas, hidup… tapi saya tidak pernah rela kehilangan kasih sayang saya kepada keluarga.”

#7. Pembunuh by Rayni N Massardi

Dengan kata pengantar oleh maestro sastra kita, Seno Gumira Ajidarma, sesuatu yang sangat menjual dicetak tahun 2005, di mana dunia sedang mengalami proses transisi ke data digital besar-besaran, apa yang disampaikan secara garis besar mewakili kehidupan kaum urban kebanyakan. Wanita karier yang bosan di ibukota, kekejaman vonis keluarga atas nasib tak bagus saudara dalam acara ngumpul rutin, gadis desa yang merantau, keputusan penting jadi mudik ke Indonesia atau menetap di tanah orang, istri yang cerewet atas kesetiaan suami, kehidupan pagi di stasiun kereta, sampai kehidupan rutin di kantor yang mencipta ‘demo’ akan mesin pencatat kehadiran.

Kita tidak mungkin bangga akan orang lain, tapi dapat bangga pada diri kita sendiri.”

#8. Kuntilanak Pondok Indah by Lovanisa

Cerita yang aneh, tapi lumayan menghibur juga. Nama-nama karakter utamanya kebarat-baratan semua: pearly (putih dan berkilau seperti mutiara), Cherie (siapanya Cher?), Shena x Xena, dst. Pola hidup orang kota yang kental, jelas kalangan menengah atas: rutin ke salon, makan pizza, naik Yaris, kos? Sewa pembantu merangkap chef merangkap intel dong, mainnya bilyar, di sini disebut Four Hole, mungkin diselingi miras dan obat, tapi tak boleh disebut kena rating ntar. Lupakan logika sebab memang ini buku fun aja, bedakan ‘di’ disambung dan ‘di’ dipisah saja sulit. Bahasanya gaul, lo gue end, No Prob. Melamar pakai cincin berlian dengan mata berwarna putih dikelilingi permata-permata kecil. Romantis itu pakai kawat yang disambung, tapi ya tak level-lah. Liburan? Ke Bali sewa vila, semudah mengucapkan pesan nasi orek di Warteg.

Mana gue tahu, lo sih Conan bukan, FBI juga bukan, sok-sokan main selidik-selidik aja.”

#9. Zarathustra by Frederick Nietzschie

Buku yang luar biasa (membingungkan). Kubaca ditanggal 1 Januari di rumah Greenvil sebagai pembuka tahun, di tengah mulai kehilangan arah (bosan dan mumet), maka kuselipkan bacaan-bacaan lain yang setelah bulan berganti kuhitung ada 9 buku, tapi tetap target baca kelar buku ini di bulan Januari terpenuhi tepat di tanggal 31 di lantai 1 Blok H, walau tersendat dan sungguh bukan bacaan yang tepat dikala pikiran mumet. Awal tahun ini banyak masalah di tempat kerja, pandemik harus ini itu, aturan baru semakin meluap, dan tindakan-tindakan harus diambil. Di rumah, lagi mumet urusan buku yang menggunung. Maka lengkap sudah Sang Nabi menambah kesyahduan hidup ini dengan sabda aneh nan rumitnya.

Kita mencintai kehidupan, bukan sebab kita sudah biasa hidup tapi sebab kita biasa mencintai.”

#10. Si Lugu by Voltaire

Buku kecil yang luar biasa. Padat, renyah, sesak, dan pace-nya sangat cepat. Kubaca hanya dalam tempo sesingkat-singkatnya pada hari Sabtu pagi, 30 Januari 2021 di teras rumah langsung kelar. Seperti inilah novelet harusnya dibuat, ga bertele-tele, gayanya dapat, plotnya bagus, endingnya nyesek, dan ada motivasi yang bisa dipetik. Paket lengkap setengah hari.

Aneh juga. Kok air mata bisa menimbulkan rasa lega? Saya kira malahan bisa menimbulkan akibat sebaliknya.”

Karawang, 050221 – Dewa 19 – Kamulah Satu-satunya

Nasib Mang kAslan Kita yang Menentukan

Rab(b)i by Kedung Darma Romansha

Memang kadang dunia bekerja dengan tidak adil… Telembuk yang diludahi di muka umum, juga diludahi ketika di dalam kamar.”

Kalau ngomongin Kedung Darma Romansha, bukunya akan selalu berkutat di selakangan. Kelir Slindet sangat kental ke arah sana, Telembuk lebih ekstrem lagi. Maka apa yang kurasakan di tengah gempuran Rab(b)i sudah kukenali pola itu. Buku ketiga yang kunikmati, ngalir saja, ga perlu mikir aneh-aneh, ketawa sahaja. Seperti satu-dua yang butuh waktu lebih untuk ‘tune in’ sampai buka kamus arti ‘slindet’ atau arti ‘telembuk’ yang baru kutahu, tak heran sejak cerita pertama saja sudah bisa menebak, bagaimana enggak aneh? Istri jadi TKW, kasih modal suaminya di kampung buat niduri seratus pelacur! Selain dari judul yang dicoret, ada alasan poin penting yang akan diungkap di cerita ketiga.

Novel yang tiap bab bisa berdiri sendiri, dari sudut pandang banyak karakter, saling silang melengkapi. Sang Diva, tokoh utama di kisah sebelumnya, kini hanya cameo, sesekali saja muncul dan disebut.

#1. Kaji Darsan Rab(b)i

Hikayat orang kaya yang baik hati memberi pekerjaan kepada orang susah. Sampai akhirnya kita tahu, tak ada yang gratis di dunia ini. Kisahnya tentang suami tak tahu diri. Seorang pemimpi tak tahu diri, sebenar-benarnya pemimpi. Kerjanya hanya melamun dan berjudi.

Tentang Kartamin dan keluarganya yang bekerja di toko kelontong milik Kaji Darsan, padahal sejatinya ia dijanjikan jaga empang, di menit akhir diganti orang lain, kisah Dulatip akan dibeberkan di cerita berikutnya.
Namun kita akan mengenal lebih dekat sama putra sulungnya yang beruntung bernama Untung. Menikahi Wasti dengan adegan ketiaknya (jorok woy!). “… Kamu tahu, kalai bau ketiak laki-laki itu menyenangkan?” Menjadi istirnya, nantinya juga menjadi ATM-nya ketika memutuskan jadi TKW. Emang dasar Untung, malah rabi lagi sama Nurlaila yang suka peliharaan ayam. Drama itu menemui ujung udur dua istri. “Wah hebat kamu, suamiku perkasa!”

Pembuka yang mantab sekali. Ilustrasi cover-nya sangat pas, ayam jago santuy sementara dua babon padu. 20 juta tunai!

#2. Nar

Tentang Narka yang yang menjadi tukang parkir untuk dapat duit buat nyawer. “…Saweran adalah candu bagi setiap pemeluk dangdut garis keras. Kamu sendiri pemeluk teguh, tentu juga aku.” Bergoyang bersama Diva Fiesta adalah impian setiap pemuda untuk mencium aroma tubuhnya dan menatap aurat kecantikannya dari dekat.

Ini drama keluarga, urusan suami-istri yang bertengkar karena ekonomi. Namun suatu ketika Nar memiliki surpes, kejutan buat rabi-nya. Zaman sudah berubah, lakon sudah berubah, tapi masih menyukai cerita lama. Memang kadang cinta membuat seseorang bersikap tak wajar.

Jangan membantah suami, Dosa!” / “Membantah suami kalau kayak kamu ini dapat pahala.”

#3. Juragan Empang

Alibi dibalik kenapa Kartamin gagal mendapatkan pekerjaan urus empang ada di sini. Dengan sudut pandangnya yang menjadi karyawan Pak Kaji, dan istrinya yang ngambek. Kartamin merasa beruntung diberi pekerjaan oleh Kaji Darsan, pendapatannya yang labil sebagai buruh tani, buruh bangunan, atau serabutan lain selain nganggur, kini ia bisa bernapas lega. Ada yang aneh terkait istrinya yang semok berhari-hari ga mau rabi, bahkan saat diberi kejutan gelang emas di meja kamar. Sebab ngambeknya lalu dituturkan dengan santuy dan menghentak, lewat kamar yang sedikit terbuka, dan permintaan cerai!

Ia ingin membeli kesenangan setelah lama kami hidup serba pas-pasan.

#4. Ngarot

“…Ia juga punya istri mirip tukang pukul. Suka membentak, ia tersenyum hanay ketika melihat uang.aku berani bertaruh, siapapun laki-lakinya, hasrat seksualnya akan turun jika bertemu perempuan seperti dia…”

Ini mungkin cerita yang paling biasa. Bagaimana nasib pemuda-pemudi yang dipilih jadi ngarot. Ditemui typo juga, harusnya tiga bulan tapi malah tiga tahun. Rasmini yang terpilih dalam acara kasinoman dalam upacara Ngarot, muda-mudi dengan darah segar mendebarkan. Memilih laki-laki perjaka, dan gadis perawan. Indikasi bunga layu akan menunjukkan keasliannya sudah tak suci lagi.

Drama di tengah sawah dengan Mang Sukri. Duh! Pulung guna pulung sari. “Semua orang takut sama kakakmu, tapi rasa cintaku lebih besar dai rasa takutku.”

#5. Menjaring Bidadari

Nelayan yang diajak melawan pantangan, melaut di kala purnama. Kegiatan yang katanya membentuk kutuk sulit jodoh, menurut Kaki Bayong. Hanya di kampung ini Tuhan menurunkan bidadari di kala purnama. Bertiga melaut, memang benar-benar tak dapat ikan. Lalu acara sambatan pasar jodoh muda-mudi di malam itu menjadi pahit, karena Narka malah mendapat apa yang ia mau. Hiks,…

Selama ini yang mereka lakukan adalah kesia-siaan. Kasihan mereka, sudah hidup susah, malah disumpahi masuk neraka.

#6. Kang Sodikin

Kiai mbeling putra Kiai Soleh dari desa Rajasinga yang bergaul tanpa memisahkan kasta. Isi ceramahnya juga nyeleneh, lebih membumi. Gaul dengan siapa saja, tak peduli telembuk atau jelata yang membutuhkan siraman rohani. Kisah ini menemui titik akhir, bagaimana malam-malam ada perempuan menanyakan alamat Kang Sodikin, fitnah itu kejam. Maka Dorman dkk yang punya dendam lalu melancarkan isu negatif, menggelar demo ke rumahnya, walau peserta segelintir (tak lebih dari sepuluh). Jawabnya bikin geger, tapi bohong!

Sebuah misteri terjawab, Sang Diva disebut lagi. “Wujud nyata yang paling dekat dengan Tuhan di dunia ini adalah perempuan.”

#7. Lebar-an

Ini unik, walau bukan pola baru mengungkap sebuah kengerian pribadi yang meninggal. Bagaimana sebuah pos ronda menjadi tempat diskusi maksiat guna melancarkan aksi curi, tempat yang seharusnya menjadi titik kumpul penjaga keamannya malah menjelma ajang judi dan perencanaan merampok. Jelang lebaran, kebutuhan manusia turut meningkat, dan marak begal dan kriminal.

Dengan sudut pandang Aan yang merindu suasana kampung setelah kuliah keluar kota, momen lebaran memang jadi waktu lepas rindu keluarga dan sahabat lama, ada Casta dan Kartam yang saling curhat masalah keluarga. Menanti sobat lama Yusup alias Kriting apakah mudik tahun ini, ia merantau ke Jakarta (tepatnya Bekasi). Ketika sudut pandang berganti, tahulah kita apa yang terjadi. Rindu itu berat, biar aku saja. Baju baru, celana baru, jam tangan palsu baru…

Di tepi jalan ini kami biasanya membakar singkong tanah sambil membicarakan kerumitan hidup, perempuan, kelakar, dan omong kosong lainnya.

#8. Asbabul Wurud

Siapa yang sanggup menjawab rahasia mimpi-mimpi? Ustaz Karim, sebab orang takut mati adalah orang yang imannya lemah dan cinta dunia.

Banyak-banyaklah beribadah, jangan mau diperbudak dunia. Setelah meyakinkan untuk siap mati, beliau malah mengalami mimpi buruk, yang ia yakini datangnya dari setan. Namun sampai lima malam, ia bermimpi masuk neraka dengan adegan lain seorang telembuk masuk surga. Wajah ayu yang menghantuinya, lalu ia buka facebook-nya Mang Kaslan dan mengetahui siapa gerangan. Si Ratu Goyang yang rajin sedekah, Si Nadira Cantik alias Warjem. Masa lalu diungkap tentang sumbangan dari uang haram. Nah lo!

Pesantren yang sebenarnya ya sekarang, di tengah masyarakat.

#9. Jangan Tanya Dulu Bagaiamana Aku Mati

Kata ‘seandainya’ hanya akan membuatmu terpuruk dan lupa diri. Kamu akan menjadi orang yang tak waras dan akhirnya mengutuk ketidakmampuan diri sendiri. Ini kisah unik, kisah dari sudut pandang si korban pembunuhan, yang sudah baca Telembuk pasti tahu siapa germo Diva Fiesta, yang tewas dibacok orang tengah malam di tengah sawah. Kisah dituturkan runut dari masa lalu Mak Dayem, usia 12 tahun menjadi istri siri, menikah kedua kali kacau lagi, menikah ketiga kali sejatinya lebih tenteram, syarat tidak nelembuk malah dilanggarnya. Kalian tahu? Ialah ibu dari Warjem. Namun bukan itu kejutannya, ini adalah kisah mistis mediumisasi.

Kenyataan hidup telah mengubah cinta menjadi pembunuh yang paling mengerikan.

#10. Mang Kaslan

Jangan macam-macam dengan nama, karena nama adalah doa.” Mang Kaslan yang merasa jadi singa, karena namanya sempat menjadi Aslan (singa – bahasa Turki). Ia adalah karakter penting yang jadi penghubung, menjadi ojek Diva dan Warjem, yang menjadi rujukan Ustaz Karim dalam menelusur dunia maya, yang jadi penjawab tanya, Safitri atau Sapitri? Pipit atau Fitri? Nah, kali ini di tengah perjalanan satu setengah jam bersama motor tuanya, ia terjungkal. Dan nasibnya kita yang menentukan.
Marah pada diri sendiri dan tak sanggup menghadapi kenyataan yang sedemikian pahit.

#11. Mengenai Pengarang

Pernah nyaris kusingkirkan novelnya (walau sudah kubeli) karena ada unsur ‘Roma-nsha-nya’ di nama belakang, tapi urung setelah sosmed mencipta hubung, memastikan bukan Romanista. Penulis Indramayu yang pernah mondok di Yogya, dan kuliah jurusan Bahasa dan Sastra di UNY. Boleh jadi semua yang ditulis tentang tanah kelahirannya adalah fiksi, tapi bercerita tentang dunia sekitar adalah hal wajar dan tentu saja tampak sangat nyata, ga perlu telaah mendalam untuk bilang tokoh Aan adalah gambaran Kedung, walau nantinya keduanya berinteraksi. Makanya tampak perkasa dan baik hati, dan eeheemmm… soleh. Lulusan pesantren! Tahun 2017 Telembuk yang luar biasa, sangat tipis untuk meraih juara KSK, apes saja Dawuk muncul di tahun yang sama. Prediksiku, Rab(b)i akan melaju lagi ke lima besar, sejauh ini ada tiga yang berskor: 4.5 bintang. Mari kita lihat, sehebat apa mantra Kaji Darsan mewujudkan mimpi penciptanya, moga ga sampai keselek mlinjo.

Kalau boleh kasih saran, buku berikutnya sesekali mencoba jauh dari tema yang membentuk citranya sebagai penutur sekitar selakangan. Misalkan, bikin cerita genre fantasi imajinasi, perjalan ke galaksi Bima Sakti. Atau tentang kekayaan flora dan fauna laut, berjuang membantu Aquaman, misalkan ya ini. Jangan ketawa, kan sekadar contoh. Namun percuma juga sih, seandainya dibuat, tahunya astronot mesum ketemu alien nongkrong atau nelayan yang terperangkap putri duyung yang lagi cari mangsa. Duh! Nelembuk enak, setelah maninya muncrat, langsung gajian. Mudah, praktis, dan enak. Bayangkan di luar angkasa, atau di tengah laut. Maninya melayang.
Hehehe…

Tambahan dikit, ada nama Dea Anugrah di sini. Dua kali saya menemukan namanya disebut dalam novel. Pertama dalam Dekat dan Nyaring-nya Sabda, sekilas lewat cameo di akhir, kedua di sini, sebagai sahabat tobat. Asyik juga ya menyebut sobat Penulis dalam buku. Sungguh terasa istimewa Sang Bakat Menggonggong ini, apakah sebuah konsolidasi?

Rab(b)i | by Kedung Darma Romansha | Copyright 2020 | Penyunting Anis Mashlihatin | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Ilustrator sampul Hidayatul Azmi | Penata sampul dan isi M. Sadam Husaen | Cetakan pertama, Juli 2020 | Penerbit Buku Mojok | viii + 136 halaman | 14 x 21 cm | ISBN 978-623-7284-30-7 | Skor: 4.5/5

Karawang, 170920 – Yusuf Islam – Father and Son

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokped

Empat sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Sepotong Senja Untuk Pacarku #24

Sepotong Senja Untuk Pacarku by Seno Gumira Ajidarma

Waktu meninggalkankan jejak, begitu pula saat-saat yang dilaluinya bersama dia. Segenap makna perjumpaannya meresap ke dalam hatinya dan ia tidak bisa melupakan dia. – hal. 107

(Prolog) Seiring bersama alunan bunyi seruling di lembah sunyi di sana kududuk seorang diri menjelang malam hari teringat ku akan seorang kasihku yang telah pergi entah ke mana oh angin sampaikanlah salamku kunanti ia di lembah sunyi seindah alunan seruling senja begitu cintaku padanya begitu cintaku padanya. – syair dan lagu karya Vivekananda Leimena, Seruling di Lembah Sunyi (1965)

Saya sah menjadi fan Seno Gumira Ajidarma (SGA) setelah menuntaskan Trilogi Insiden, tiga genre yang dirajut: novel, kumpulan cerpen, dan kumpulan esai. Jelas, saya sudah menikmati cerpen ‘Sepotong Senja Untuk Pacarku’ berkali-kali baik dari sebaran grup WA, sosmed, atau di sebuah web yang menyaji cerpen Koran Minggu. Maka keputusan membeli buku ini adalah melengkapi jawab kelanjutan Alina. Saya bacakan ke Hermione (lima tahun) jelang tidur, kena komplain mulu. “Mana bisa langit dipotong…”, “Kalau aku jadi Alina, enggak mau nerima senja, enggak bisa dimakan, mending dibawain cokelat…”, “Memang di gorong-gorong ada pantai?”, dst. Oh baiklah, anak kecil tukang protes. Sampai di sana saja, selanjutnya saya tuntaskan sendiri, mungkin fantasi SGA ga cocok buat balita.

Menatap senja adalah suatu cara berdoa yang langsung menjelma, perubahannya dari saat ke saat meleburkan diri seseorang ke dalam peredaran semesta. Senja adalah janji sebuah perpisahan yang menyedihkan tapi layak dinanti karena pesona kesempurnaannya yang rapuh. Dunia senja yang sempurna bagi siapa pun yang memburu senja di pantai seperti memburu cinta yang selalu berubah setiap saat, meraih pesan-pesan dari kesementaraan terindah seantero semesta…

Buku kumpulan cerpen ini terdiri tiga bagian: Trilogi Alina (3), Peselancar Agung (10), dan Atas Nama Senja (3) jadi totalnya 16 cerita.

#1. Sepotong Senja Untuk Pacarku (1991)
Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis…

Kalau ngomongin senja, yang pertama terlintas jelas cerita ini. Kalau ngomongin cerpen legendaris Indonesia, jelas cerpen ini harus masuk daftar. Ketenaran Alina yang dihadiahi Sukab sepotong senja memang tak terbantahkan. Ini adalah cerita Sukab mengirimi surat berisi potongan masa di pergantian siang ke malam, dengan latar pantai sejuk, burung-burung mengepakkan sayap, pohon kepala yang melambai. Gambaran idaman santuy itu diperoleh dengan gigih di dimensi lain, di bawah tanah. Dikirim dari tempat paling sunyi ke ujung dunia.

#2. Jawaban Alina (2001)
Sukab yang malang, goblok, dan menyebalkan…

Setelah bertahun-tahun akhirnya saya tahu apa yang terjadi dengan potongan senja itu. Jadi tak seindah yang kukira. Butuh waktu sepuluh tahun untuk sampai ke tangan Alina, mencipta bencana, membuat segalanya berantakan. Dan bahwa Alina tak mencintai Sukab, bersikap baik bukan berarti sayang. Ternyata benar tebakan Hermione, potongan senja itu ditolak, eh lebih tepatnya justru bikin marah. Senja sialan yang paling tidak mungkin diharapkan manusia. Surat balasan ditulis di puncak Himalaya dengan kepungan air bah laiknya kisah Nabi Nuh As. Saya sudah kena spoiler ketika di timeline twitter muncul video pembacaan puisi oleh Dian Sastro Wardoyo. Betapa Bahagianya Penulis, tulisan dibaca dan didokumentasikan seorang bintang secemerlang Disas!

#3. Tukang Pos dalam Amplop (2001)
Dari semesta air ini, aku tidak melihat sesuatu yang merupakan jalan keluar…

Ini dari sudut pandang sang pengantar. Luar biasa perjuangannya untuk menyampaikan potongan itu. Tempat tujuan ada di Ujung Dunia. Dengan kayuh sepeda dan derai tawa anak-anak, semacam terjebak ke dalamnya, beda dimensi beda durasi waktu, di sini sepuluh tahun di dunia Senja Sukab tak linier, menjelma manusia ikan yang mengarungi laut, sungguh aduhai. Perumanan hidup manusia yang ada di akuarium, terjebak di kotak dan mencoba keluar dengan melakukan banyak penelitian dunia antah sungguh sebuah gambaran manusia, makhluk fana mencoba jelajah luar angkasa.

#4. Jezebel (1999)
Kisah seseorang yang berjalan di pantai penuh mayat bergelimpangan. Hanya terdengar suara ombak dan angin. Ombak yang mendesah dan angin yang berbisik. Desah yang membawa keluh dari seberang bumi yang lain. Bisik yang terlalu pelan dan terlalu perlahan dalam angin sehingga tiada pernah menjadi jelas siapa kiranya di sana telah berbisik kepada angin menyampaikan pesan entah kepada siapa entah di pantai mana entah pula kapan sampainya. Sebuah bisikan betapa pun lemahnya tiada akan hilang bukan?

#5. Ikan Paus Merah (1996-1999)
Ini cerita paus merah yang legendaris, paus yang kena tombak dan terluka sepanjang waktu merah darahnya menyertai. Sang Aku bukan pelaut, hanya musafir, baru mengetahui kisahnya ketika di Afrika Selatan. Menikmati senja di pantai, siapa tahu Ikan Paus Merah muncul dari dalam laut, melompat seperti terbang dengan panah menancap di punggungnya…

#6. Kunang-kunang Mandarin (2000)
Cerita kunang-kunang yang tercipta dari kuku mayat disaji dalam peternakan Sukab. Di daerah ini ada yang mengembangbiakan binatang kerlap-kerlip itu, di kota yang pelanginya tak pernah pudar. Konon dari kuku mayat keturunan Mandarin yang dibantai. Seorang sarjana yang sudah keliling dunia, seorang Mandarin yang penasaran datang untuk memastikan, dan malam yang sunyi ketika Sukab bersenandung, golok-golok diacungkan, sementara si Mandarin terkepung.

#7. Rumah Panggung di Tepi Pantai (2000)
Rumah panggung Sukab yang menghadap laut, biasanya rumah tepi pantai selalu memunggungi pantai. Seorang anak Bolong menjaganya selama Sukab berlayar seorang diri, sementara Balu yang penasaran menanyakannya. Dunia yang aneh, sementara cakrawala tampak seperti garis putih yang tipis sekali. “Kamu juga memandang senja?”

#8. Peselancar Angung (2000)
Lautan adalah jingga yang rata dengan perahu layar meintas matahari di cakrawala. Senja semacam inilah yang membuat setiap orang merasa harus jatuh cinta, yang membuat orang-orang memburu cinta, dan akhirnya membuat orang-orang menjajakan cinta di pantai segalanya telah menjadi keemas-emasan. Peselancang keren, tukang kibul. Para Penungggu menganggap bahwa kemunculan Peselancar Agung itu akan memberikan suatu pencerahan. Senja yang sempurna cuma sekejap, hanya melintas sepintas seperti kebahagiaan, sehingga mereka perlu datang langsung segera dan secepatnya.

#9. Hujan, Senja, dan Cinta (2000)
Bagaimana bisa hujan menjadi penanda bahwa di situ ada cinta? Dengan sudut dia dan ia sebagai pelakon, terkadang memang kita harus merelakan kekasih dengan cinta lama yang bersemi kepada orang lain. Dingin hujan itu dirasakannya sebagai dekapan hangat kekasihnya. Cinta itu abstrak, pikirnya selalu, sepasang kekasih tidak usah selalu bertemu, selalu berciuman, dan selalu bergumul untuk mempersatukan diri mereka.

#10. Senja Hitam Putih (2000)
Dunia menjelma dua warna: hitam dan putih, yah terkadang kelabu. Warna-warni seolah dihapus dari ingatan dan dunia sehingga tampak kata dan ungkapan asing. Seluruh kata yang menjelaskan warna telah menguap dari dalam kamus, melayang seperti asap kemenyan, disambar cahaya mentari yang putih menyilaukan, lantas habis sama sekali diterbangkan angin. Dunia yang berubah ataukah aku telah menjadi gila?

#11. Mercusuar (2000)
Cerita paling aneh di sini. Mercusuar bayangan yang muncul di kala senja, menaikkan seseorang ke langit, lalu kembali kala gelap. Mercusuar ini tak nyata, sudah ada bersama dengan waktu, ada yang bilang enam ratus tahun yang lalu. Endingnya twist! Aku heran, bagaimana semua ini mungkin? Apakah kita semua boleh percaya kepada sesuatu yang tidak ada? Yang timbul tenggelam seperti mimpi tapi bukan mimpi, sesuatu yang terlihat tapi tak terpegang, terdengar tapi tak terekam, sesuatu yang tidak ada tetapi terabadikan?

#12. Anak-anak Senja (2001)
Cerita horor untuk anak-anak. Ratri yang gembira melihat anak-anak Senja. Bagi Ratri matahari hanyalah dongeng, dan senja adalah suatu impian. Anak-anak Senja telanjang dan tak berkelamin, bermain di pantai lalu turut anak, bisa tak kembali, orang-orang hanya bisa menonton. Mereka selalu berpesta, namun gagal menjadi bahagia. Dunia telah menjadi tempat yang membingungkan.

#13. Senja yang Terakhir (2001)
Kota di mana pelangi tidak pernah pudar, banyak toko menjual ‘Senja yang Terakhir’. Karena rekaman dari berbagai sudut itu sangat eksotis, memikat kaum turis. Apabila Tuan dan Puan memasuki Senja yang Terakhir itu, seolah memasuki dunia baru. Bisa saja betah, masuk dan tak akan keluar lagi. Karena di sana senja berlangsung selama-lamanya. “Brosur pariwisata yang membingungkan.”

#14. Senja di Pulau Tanpa Nama (2005)
Ini cerita rumit karena kosong adalah isi, dan isi adalah kosong. Nihilitas yang merumitkan diri. Apakah masih boleh disebut semacam cinta jika tidak terdapat kebahagiaan padanya meski setidaknya sesuatu seperti kebahagiaan dalam penderitaan? Seperti Kawabata, aku mencintai seorang perempuan yang tidak pernah ada. Haruskah ada yang lebih indah dari senja – meski tanpa kisah cinta di dalamnya? Tidak ada cinta dan tidak ada diriku. Tiada cerita.

#15. Perahu Nelayan Melintas Cakrawala (2006)
Upaya menangkap keabadian, memperangkap senja di dalam kartu pos. “Katakanlah kepadaku apa yang dipikirkan ikan?” Memang tidak semua orang bisa menjadi penyair, tetapi setiap orang memiliki puisinya sendiri. Waktu membeku dalam kartu pos.

#16. Senja di Kaca Spion (2007)
Ini semacam maut yang mengintai? Senja yang terilhat di tiga cermin mobil: spion kanan-kiri, dan cermin tengah. Melaju ke arah timur memunggungi pegunungan menelan matahari, melaju ke arah kabut dengan kecepatan takterukur. Orang-orang berduyun, seolah malaikat yang menggoda. Di dalam satu dunia yang sama, mengapa suatu hal bisa begitu berbeda? Dari manakah aku datang dan akan menuju ke mana? Juga penyair gaya lama tidak akan mempunyai pilihan lain selain menyebutnya sebagai cahaya kencana.

Dengan tema utama senja, buku ini memang banyak memberi pengaruh anak muda sepanjang 90an hingga kini. Lihat puisi-puisi zaman now, selain kata ‘hujan’ jelas ‘senja’ juga dominan, seolah memandang senja di kala sendiri dalam renung itu keren. Obsesi kecanggihan dalam perburuan keindahan berlebihan. Seperti kita, seperti pula penutup pengantar SGA, “Namun saya tahu, akan selalu terpesona melihat senja.”

(Epilog) Sungai pergi ke laut membawa kubur-kubur laut pergi ke laut membawa kubur-kubur awal pergi ke hujan membawa kubur-kubur hujan pergi ke akar ke pohon ke bunga-bunga membawa kuburmu alina. – Sutardji Calzoum Bachri, dari sajak Perjalanan Kubur (1977).

Sepotong Senja Untuk Pacarku | by Seno Gumira Ajidarma | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 615202014 | Copyright 2016 | Penyelia naskah Mirna Yulistiani | Desain sampul Suprianto | Setter Nur Wulan Dari | Lukisan pada peraangko karya Mansyur Mas’ud | Gambar hal. 33 diambil dari komik Dian dan Boma karya Hans Djaladara yang dimuat di majalah Eres No. 9/1970, hal. 35 | Cetakan keenam cover baru, Mei 2019 | ISBN 978602-03-1903-2 | Skor: 5/5

Karawang, 240620 – Bill Withers – Heartbreak Road

#24 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

Thx to TQ Mutiara Hati, dua tahun yang luar biasa untuk Hermione Budiyanto. Hari ini jam 18:28 khatam Al Quran.

110 Buku Yang Kubaca 2019

Hanya kebetulan belaka, tahun ini saya merampungkan baca 110 buku, sama persis dengan total baca tahun lalu. Ini sekadar catatan, betapa nikmat bercengkerama dengan buku.

#1. Seorang PendatangK. Usman
Dua cerpen lawas yang disatukan tahun 1963. Residivis pulang kampung dan melihat betapa banyak perubahan. Mengingat masa muda yang penuh amarah, cinta dan pengorbanan.

#2. Menolak AyahAshadi Siregar
Kisah Tondi sebagai PRRI melawan pusat, perjalanan dari Toba ke Bukittinggi yang mistis dan perjuangan melawan kecewa atas pilihan ayah. Kental budaya Batak, minus tukang tambal ban dan pengacara.

#3. Demi Esme dengan Cinta dan KesengsaraanJ.D. Salinger
“Apa yang dikatakan sebuah dinding pada dinding lainnya?” Dua cerpen klasik karya penulis ‘The Catcher in the Rye.’

#4. Magi Perempuan dan Malam Kunang-KunangGuntur Alam
“Jangan lihat kunang-kunangnya, ia bisa menyihir kita.” Dua puluh satu cerita pendek dengan tema beragam. Legenda hantu daerah, modifikasi hikayat. Kumpulan cerpen yang renyah.

#5. The Life and Adventures of Santa Claus L. Frank Baum
Dasarnya kita tahu. Sederhana, fiktif dan sudah sangat umum. Entah kenapa Frank Baum menulis ulang kisah semacam ini. Jauh dari bayangan ‘The Wizard of OZ’.

#6. Guru Generasi MilenialTri Winarno
Tulislah buku tentang bidang yang kuasai, Mas Tri dengan jeli menceritakan pengalamannya sendiri dalam kelas. Seperti membuat tantangan menulis puisi untuk murid-muridnya, mencerita keseharian dengan buku.

#7. Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-MasingEko Triono

Cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Plotnya mirip 100-tahun-kesunyian.

#8. MemoarPablo Neruda
“Kita para penyair memiliki hak untuk bahagia, sepanjang kita tetap dekat dengan masyarakat di negeri kita dan dalam kegigihan perjuangan untuk kebahagiaan mereka.”

#9. Di Kaki Bukit Cibalak Ahmad Tohari
Cinta yang tak harus miliki, politik orang bawah, permainan mistis sampai kritik birokrasi. Perubahan zaman, perubahan kebiasaan, teknologi masuk desa, sampai polemik dasar makhluk Tuhan untuk bertahan hidup.

#10. Handmaid’s TaleMargaret Atwood *
Para handmaid di masa depan, aturan absurd dan pertentangan tak berkesudahan. Gadis kerudung tunduk, pikiran penuh luapan teriak.

#11. About a BoyNick Hornby
Filmnya kita tahu keren sekali. Ncik Hornby kalau bahas bola tajam dan sangat mendalam. Fan Gunners. Entah kenapa novelnya terlihat biasa. Plotnya ngelantur ke mana-mana, menjemukan.

#12. Breakfast at Tiffany’sTruman Capote *
Renyah di setiap lapisannya. Tampak seperti kisah nyata saat masih kere, menjalani sebagai penyendiri di apartemen sebagai penulis lokal tak bernama, sunyi, perenung mencari jati diri. Lalu muncul tetangga istimewa.

#13. Sesat Pikir Para Binatang Triyanto Triwikromo
Sembahyang adalah wujud cinta kita kepadaNya. Sembahyang tak boleh kita jadikan upeti. Sembahyang bukanlah semacam jual beli kita kepadaNya.

#14. Jokowi, Sangkuni, MachiavelliSeno Gumira Ajidarma
Pemimpin yang ideal adalah yang bebas dari kontrak politik, karena dukungan partai yang mana pun tidaklah mungkin dilakukan tanpa kepentingan. Kumpulan esai kedua SGA yang kubaca.

#15. Ups! Rieke Diah Pitaloka
Tugas penyair adalah mendewasakan bangsanya. Bagaimana kalau masyarakat tidak mau didewasakan dan ingin tetap seperi kanak-kanak? Jadi mari biarkan waktu menempa, mau ke arah mana perahu rima ini berlayar.

#16. Old Death Karl May
Kisah detektif dengan nuansa koboi, tak seperti cara penelusuran Holmes atau Poirot yang penuh deduksi dan telaah mendalam, cerita dalam The Wild West Journey ini dibarengi banyak keberuntungan, tak detail dan siasat tricky.

#17. The Murder of Roger AckroydAgatha Christie *
Dan ya, saya bisa menebaknya. Ada dua kalimat yang JELAS SEKALI yang menunjukkan sang pelaku, saya konsisten. Yakin dialah pelakunya. Terbukti. Salah satu yang terbaik dari Christie, dari Hercule Poirot.

#18. Around the World in Eighty DaysJules Verne *
Buku pinjam di taman baca Bus Taka Kota Galuh Mas, kubaca cepat saat pulang kerja hujan lebat, mencipta genangan sehingga menanti reda, baca di kantor. Sungguh menyenangkan melahap buku keren saat hujan dengan kopi.

#19. KawitanNi Made Purnama Sari
Sebatang pohon ara, empat pina, tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu. Sungguh sajak adalahbarang mewah yang sulit dijangkau, sulit kubenamkan dalam kepala sehingga menyatu sukma.

#20. Mardi GrasAdriani Sukmoro
Lupakan konflik, kisah hanya berkutat pamer perjalanan hidup pengantin baru ke Amerika dengan salah satunya menyaksikan festival Margi Gras.

#21. Telembuk Kedung Darma Romansha *
Cerita dari Indramayu yang keras. Makian dan umpatan berbagai kelas. Lha judulnya saja sudah berat: Kisah Cinta yang Keparat.

#22. White FangJack London *
Kubaca dalam sehari dari siang sampai malam, di sela ibadah dan tidur di lantai satu Blok H nomor 279 hari Sabtu, 23 Feb 19. Ini semacam prekuel ‘The Call of the Wild’ yang sudah kubaca dua tahun lalu. Dituturkan dengan berkelas.

#23. Go Set A WatchmanHarper Lee *
Kisah lanjutan novel legendaris ‘To Kil A Mockingbird’, sekarang Scout sudah dewasa jadi perantau di New York dan buku berkutat di Maycomb saat liburan dua minggunya yang menegangkan. Bagaimana orang tuanya yang sudah tua tetap bekerja membela kebenaran. Sabar, tenang dan menghanyutkan.

#24. Mari LariNinit Yunita
Kubaca sekali duduk pada Selasa, 260219 sepulang kerja. Sinetron sekali, tentang Rio yang selalu mengecewakan orang tua. Saat ibunya meninggal dunia, dia harus buktikan tiga hal: bisa kerja benar di dealer sebagai sales mobil mewah, lulus kuliah di kesempatan kedua, dan lari marathon di Bromo dengan memakai nomor lari almarhum. Semua indah.

#25. Masa Depan Sebuah Ilusi Sigmund Freud
Esai buku kecil ide besar. “Tidak, sains kita bukan merupakan ilusi. Tetapi menganggap bahwa apa yang tidak bisa diberikan sains kepada kita bisa kita dapatkan di tempat lain akan merupakan sebuah ilusi.”

#26. The Clockwork ThreeMatthew Kirby
Premis bagus. Menempatkan tiga remaja dalam dilema rumit. Satu ingin pulang, satu ahli jam, satu untuk keluarga yang sakit. Terjepit finansial kusut. Sayang eksekusinya remuk. “Kau tahu, kau tegar seperti Hannah dalam al kitab.”

#27. Hujan Bulan JuniSapardi Djoko Damono
Kamu ga otomatis hebat saat sebut orang-orang hebat. Hepburn style. Jazz klasik menjadi teman Sarwono. Apakah membuatku terkesan? Enggak. Cerita sinetron yang coba berpuisi. “Kamu ini cengeng Sar, jualan gombal.”

#28. Kumpulan Budak SetanEka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad *
Kumpulan cerita pendek yang digarap bertiga atas dasar horror Abdullah Harahap. Seram, mistis, dan tragis. “Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan.”

#29. Manuskrip yang Ditemukan di Accra Paulo Coelho
Hidup ini untuk bersenang-senang, positif thinking, positif feeling. Dah kalau mau itulah review sangat singkat untuk buku ini. Benar-benar ya, buku perdana Paulo Coelho yang saya baca berakhir buruk.

#30. Dunia SophieJostein Gaarder *
Buku rangkuman filsafat yang luar biasa. Cara cepat belajar jadi filsuf. Butuh waktu empat bulan buat menuntaskannya. Hidup ini fiksi bagi mereka yang terjebak dalam ambiguitas.

#31. Perempuan PalaAzhari
“Aku tak mungkin menolak dan menutup pintu bagi siapapun yang datang ke rumah ini bukan? Aku diajarkan untuk memberikan apa yang kumakan bagi setiap orang lemah yang meminta. Itulah kemuliaan.”

#32. Bilik Musik James Joyce
Kumpualn puisi lengkap dari Penulis legendaris Ullyses. “Karena suaramu terdengar di sisiku / kuberi ia cemburu / dan dengan tanganku. kugenggam / tanganmu ‘tuk kali kesekian. Diterjemahkan oleh Gita Kharisma.

#33. Yang Telah TiadaJames Joyce
“Oh saya rela kehilangan apa saja demi mendengar Caruso bernyanyi.” Disebut novella, padahal lebih tepat cerita pendek ++. Buku ini selesai baca hanya dalam jeda Magrib ke Isya. Fufufu…

#34. Matahari dan BajaYukio Mishima
Gagasan tentang mengubah dunia merupakan kebutuhan yang sama pentingnya dengan tidur dan makan tiga kali sehari. Pemikiran yang tak lazim, ga mudah dicerna, berkali-kali baca ulang, nyaring, dan tetap mengernyitkan dahi.

#35. Kamis Yang Manis John Steinbeck
“Cara terbaik di seluruh dunia untuk membela dirimu adalah dengan menjaga tinjumu tetap ke bawah.” Ga seperti Steinbeck lainnya yang tragis, endingnya manis seperti judul. Tapi tetap karakter kuat dengan keanehan masing-masing.

#36. Water for ElephantsSara Gruen
Karena ia binatang yang begitu cantik, luar biasa, dengan hati yang sangat pemaaf dan mampu memahami kesalahpahaman. Kita akan berada di tingkat yang sama dengan sirkus-sirkus besar dan itu takkan bisa terjadi tanpa kalian.”

#37. Sad CypressAgatha Christie
Ini mungkin kisah Poirot yang paling mudah ditebak. Karena hanya menyisakan dua kemungkinan pembunuh, yang walau nantinya mencabang ke target lain, tapi jelas ada yang tak mungkin melebar liar. “Saya bisa mencari kebenaran…”

#38. MetamorfosisFranz Kafka *
Buku yang berat sekali. Mungkin jua karena kualitas terjemahannya yang aneh, typo berserakan, walau dialihbahasakan keroyokan berempat tapi tetap masih saja ditemukan kalimat-kalimat nyeleneh. “Ia bersuara seperti seekor hewan…”

#39. KubahAhmad Tohari
Cerita baik untuk orang baik yang dianugerahi akhir yang baik. “Takdir Tuhan adalah hal yang paling baik bagimu, betapapun getir rasanya, bertakwa kepadaNya akan membuat segala penderitaan ringan.” Sabar, tawakal, iqtiar.

#40. Kumpulan Cerita Pendek TerbaikLeo Tolstoy
Memang istimewa penulis satu ini. Mau cerpen atau novel sama hebatnya. Epos Sevastopol di mana rakyat Rusi adalah pahlawan sesungguhnya, meninggalkan jejak besar untuk waktu yang lama. “Kamu tak akan bisa bedakan bom dan bintang.”

#41. HumanismeYB Mangunwijaya
Keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan kepada kebenaran.” Ernest Renan dalam Qu’est qu’une nation? (1882)

#42. Paper Town John Green
“Ini akan menjadi malam terbaik dalam hidupmu.” Kisah remaja yang tak biasa. Pengalaman pertamaku dengan Green berakhir menyenangkan. Tentang Q dan asmara tak biasa. Satu malam, terkenang sepanjang hidup, menuju kota kertas.

#43. Di Bawah Lindungan Ka’bah HAMKA
Buku sangat tipis. Kubaca sekali duduk (15/06/19), malam minggu sendirian tak butuh waktu sejam juga selesai. Kisah kasih tak sampai. Cerita berlapis, tragis tapi tak semenangis Tenggelamnya Kapal…

#44. Matilda, Lelaki Izrail, dan Seorang Perempuan di Masjid KamiHairus Salim HS
14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek. “Dan tiba-tiba mereka hanya mendengar tubuhnya ambruk.”

#45. Teach Me Like FinlandTimothy S. Walker
Di Finlandia moto ‘bekerja untuk hidup’ bukan ‘hidup untuk bekerja’. Mereka tampak serius dalam bekerja, namun di waktu luang mereka ikuti hobi daripada menggunakannya untuk meningkatkan pertumbuhan profesi mereka.

#46. Dalam Kobaran Api Tahar Ben Jellous *
Hebat. Penulis kelahiran Maroko, tinggal di Prancis bercerita tentang Tunisia dan efeknya. “Aku tidak menjelaskan apapun, ini adalah karya sastra.” Arab Spring, demi rasa keadilan.

#47. Misteri Rumah Masa LaluV. Lestari
Buku klasik dalam memetakan karakter yang protagonis akan konsisten baik sampai akhir, yang jahat tetap digambarakan di sisi negatif terus, ga ada konflik batin berlebih, ga ada wilayah abu-abu sifat manusia.

#48. OriginDan Brown
Semua tertebak. Saya bisa menebak motifnya, saya bisa memprediksi apa isi presentasinya, saya bis atahu endingnya. Puisi William Blake tahun 1790an, Amerika sebuah nubuat, Eropa sebuah nubuat. Dan mereka sudah datang!

#49. Alice Through The Looking Glass Lewis Caroll
Buku yang aneh sekali. Masih bagusan seri pertama, karena teras original, seri kedua ini menawarkan kebingungan yang sama, hanya dengan pola lebih rumit, lebih acak, dan jauh di luar nalar.

#50. Maut di VenesiaThomas Mann
Narasinya berbelit panjang, melingkar-lingkar, merenung, lalu putus karena frustasinya mengurai, dengan detail tempat, suasana, gambaran orang sekitar, smapai cuaca yang tak ramah. “Untuk Tuhan kami yang asing.”

#51. Max and the CatsMoacyr Scliar
Novel seratus halaman ini kubeli kala dalam tugas luar mengikuti pelatihan di Hotel Horison, Bekasi seminggu. Kubeli di Gramedia MM dengan Gadis Pendongeng, kubaca singkat di pagi dan sore waktu istirahat. Pi!

#52. If I StayGayle Forman
Keluarga yang sempurna. Orang tua utuh yang benar-benar mencinta. Adik manis yang menggemaskan. Dan masa depan cerah untuk karier seni dan lagu snob. Dalam hujan salju di pagi hari libur, kecelakaan merusak semuanya. Ini adalah novel religi di dunia antara.

#53. Tamasya BolaDarmanto Simaepa
Pengantarnya bagus banget dari Mahfud Ikhwan. Diambil dari blog, tulisan sepak bola dengan sudut pandang belakang gawang. Apa menariknnya cerita Barcelona, MU, Timnas dan pengalaman pribadi Penulis sejak kecil? Bukan kayak gini cerita bola yang bagus tuh.

#54. The Story GirlL.M. Montgomery *
Cerita anak-anak pada suatu masa di Amerika. Lucu, seru dan apa adanya. Benar-benar membumi, seolah ini adalah diari sang Penulis. Setara ‘Secret Garden’-lah, tapi ini lebih riuh dan ceria karena melibatkan banyak karakter. Tak sabar baca lanjutan.

#55. Kisah Pedagang Buku yang Tewas di Bagdad (kumpulan esai)
‘Belajar dari para maestro nonfiksi’. Karena buku ini tidak diperjualbelikan, tipis berisi 66 halaman, dan isinya yang sungguh bikin penasaran. “… Kairo yang menulis, Beirut yang menerbitkan, Bagdad yang membaca.”

#56. Dijamin Bukan Mimpi Musmarwan Abdullah
Kumpulan pos di sosmed, terutama Facebook. Ga semuanya tapi kebanyakan. Tulisan dikit tiap judul, kek orang curhat aja. Bisa tebal juga, kumpulan cerita satiris bisa benar, kalau cerita inspirasi ya hhhmmm… Enggak terlalu. Sekadar lumayan…

#57. Cerita Cerita Telapak Tangan Yasunari Kawabata
Ini adalah kumpulan cerita dikit-dikit tiap judul, curhat orang Jepang terhadap keseharian, kejadian sekitar. Tmpak sederhana, tapi kualitas imaji dan asosiasi mendalam. Beberapa memicu tafsir beragam.

#58. Cat Among the PigeonsAgatha Christie
Poirot melacak pembunuhan berantai? Di dalam sekolah elit khusus putri, orang-orang kaya yang panik, dan cerita putri dari Timur Tengah yang diculik. Gempar dan memusingkan, tapi bagi Poirot (aka Christie) tampak sederhana. Saling tipu. Dush!

#59. Tanah Air ImajinerSalman Rushdie
Kumpulan esai yang menggairahkan. Bergizi tinggi. Curhat Rushdie ketika jadi juri lomba tulis, prediksi untuk Penulis muda yang akan menghentak dunia. Beberapa menjadi, curhatnya tentang India yang lama ditinggalkan dan efek psikologi. Runut dan wow.

#60. Time Machine H.G. Wells
Mungkin ekspektasiku ketinggian, Mesin Waktu terasa mengada-ada, eksekusinya tergesa, melupakan detail bagaimana bisa memutar waktu. Penjelasan mesinnya bekerja tampak meragukan, semeragukan sang Penjelajah Waktu bercerita.

#61. NeverwhereNeil Gaiman *
Pertarungan malaikat, iblis dan makhluk bawah tanah London. Richard, manusia normal di atas tanah terjebak dalam permainan kotor. Fantasi luar biasa, kejutan akhir yang hebat. “Bagaimana aku bisa kembali normal?” Gaiman tak pernah mengecewakan.

#62. OEka Kurniawan
“Aku akan menjadi manusia.” Kata O si monyet cerdik.

#63. Max Havelaar Multatuli
Tata bahasanya memang agak susah dipahami. Cerita asisten Residen yang keren, mencoba menerbitkan buku dnegan modal makelar kopi.

#64. The Adventures of PinocchioCarlo Collodi
Kisah abadi boneka kayu pembohong. Susah diberitahu, tak mau mendengarkan nasihat, mudah tergiur rayuan manis. Hikayat ikan paus dan semburannya.

#65. Sharp ObjectGillian Flynn
Ketika penulis mudik untuk mewartakan pembunuhan anak-anak sejatinya sudah menunjuk siapa pelakunya. Kombinasi buruk pengenalan karakter, susunan plot dan misteri detektif ala kadar.

#66. Do Android Dream of Electric Sheep?Phillip K. Dick
Dunia masa depan yang mengerikan. Hewan elektrik murah, hewan asli mahal. Untuk membelinya bahkan perlu dicicil. Dan misi pemburuan manusia mesin? Tak ada nurani.

#67. Artemis Fowl Eoin Colfer
Dunia peri yang menakjubkan. “Aku mendengar suara-suara di malam hari. Suara itu merayap di bantal dan memasuki telingaku.”

#68. SapiensYuval Noah Harari *
“Orang-orang yang hidup saat itu tidak melakukan hal-hal yang penting.” Tiap sepuluh kalimat kubaca, kubaca ulang separuhnya. Nikmat di tiap lembarnya.

#69. Cara Berbahagia Tanpa Kepala Triskaidekaman
Bukan fantasi, bukan misteri, bukan humor, bukan surealis. Blas. Kepala terpenggal dan bersenang-senang palsu.

#70. Dekat & NyaringSabda Armandio
Buku tipis yang melegakan. Bagus tapi ada yang kurang. Cerita gang Patos dalam dilematis.

#71. Bertarung Dalam SarungAlfian Dippahatang
Perseteruan adat dan pertarungan harga diri dalam sarung yang mematikan.

#72. Tango & SadiminRamayda Akmal *
Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas. “… berusahan mengapai-gapai Tuhan…”

#73. Bugiali Arianto Adipurwanto
Banyak suku kata Sasak yang tertera, sampai menyita dua halaman penuh guna menjelaskan. Hikayat bugiali.

#74. Seekor Capung MerahRilda A. Oe. Taneko
25 cerpen yang kubaca dalam perjqalanan bus Solo-Karawang, selesai saat di Semarang (30/09/19). “Apa tidak ingin ke Brouwesweg 10?”

#75. JamalokeZoya Herawati
Jamaloke, sandang pangan goleko dewe. Sandang pangan carialh sendiri. “Itulah sepenggal lakon sejarah.”

#76. Teh dan PenghianatIksaka Banu *
“Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat, pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar…”

#77. Republik Rakyat LucuEko Triono
Ini hanya buat fun. Lelucon rakyat, semua warganya lucu.

#78. Atraksi Lumba-Lumba Pratiwi Juliani
Narasi bagus, dialog bagus, susunan plot bagus. Mengalir merdu. “Tidak pernah kumengerti, aku juga tidak mengerti banyak hal. Andai aku bisa mengerti banyak hal.”

#79. The MartianAndy Weir
“Para astronot pada dasarnya gila. Dan sangat baik hati. Aku ingin dengar ide itu.” Mark Watney perjuangan bertahan hidup di Mars.

#80. Aku dan Surabaya dan NakamuraGerson Poyk
Semacam memoir Poyk. Tidak pernah ada seniman yang tak punya utang, sudah niat menghidupi keluarga walau ancaman kere.

#81. Skipping ChristmasJohn Grisham
Terpingkal-pingkal menamatkan novel Grisham ini. “Ini adalah boikot Nora, boikot total Natal.”

#82. Perjalanan Nun Jauh ke Atas SanaKurt Vonnegut
“Kota Anda berterima kasih pada Anda, negeri Anda berterima kasih pada Anda, planet Anda berterima kasih pada Anda, tapi yang paling berterima kasih adalah generasi mendatang.” Dua cerpen masa depan yang misterius.

#83. MissingR.L. Stine
Orang tua Cara dan Mark menghilang, awal pesta berubah cekam.

#84. Bastian dan Jamur AjaibRatih Kumala
Bagaimana jamur bisa mencipta gadis fantasi, mantan kekasih yang mati. Raquel…

#85. Jeritan Dari Pintu KuburAbdullah Harahap
“… di kota banyak kami dengar kabar-kabar aneh tentang kampong ini. Pencurian mayat bayi, tempat perampok berkumpul, kematian-kematian ganjil…”

#86. AlexPierre Lemaitre
Alex yang diculik tampak seperti korban, dalam perkembangannya ternyata pembunuh, dan dalam perkembangan lagi, ada twist. Wow. Detektif Prancis yang absurd.

#87. Goosebumps: Makhluk Mungil Pembawa BencanaR.L. Stine
Grool hanya bisa beralih tangan kalau pemilik sebelumnya mati. Kengerian setiap ganti bab.

#88. Ocean SeaAlesandro Baricco
Tagline saja, ‘Love, Murder & Betrayal in Almayer Inn’

#89. Simple Stories for a Simple InvestorNicky Hogan
Buku tentang saham pertama yang kubaca berakhir mengecewakan. Pamer jalan-jalan promo ‘Yuk Nabung Saham’. Ga banyak ulasan detail. Only for beginner.

#90. LoversusFarah Hidayati
Elang Terbang vs Cinta Lestari. FTV banget, Cinta yang miskin di antara para lelaki berada.

#91. Apollo dan Para PelacurCarlos Fuentes
Diari mencipa kenangan masa kecil. Dan kisah kematian dicerita dengan pola tak lazim.

#92. Dalih Pembunuhan Massal John Roosa *
Bencana kemanusiaan dari sisi lain. Kemelut kusut tanpa kepaduan, sejarah kelam Republik ini. Semua janggal sedari awal.

#93. The Giraffe and the Pelly and MeRoald Dahl
Kera, jerapah, bangau dan aku menyewakan jasa bersih kaca gedung bertingkat. Sang Duke memanggil…

#94. DiaHenry Rider Haggard
Leo dan Holly berpetualang ke rimba imaji Kor. Dia yang immortal, cinta mengorban banyak hal.

#95. Daisy Manis Henry James
Selasa malam nontong film Notting Hill, Julia Roberts bilang sedang proses syuting film adaptasi Henry James. Langsung ku #unboxing dan esoknya baca kilat sepulang kerja. Tentang gadis Amerika abad 19 jalan-jalan ke Eropa, ada insiden.

#96. Soekarno, Arsitek BangsaBob Hering
Biografi singkat Bung Karno yang nyaman diikuti. 32 halaman cerita perjalanan hidup, 125 foto yang dibubuhi keterangan dari kecil hingga wafat. Terbit memperingati 100 tahun pada 2001. Dibaca sekali waktu untuk teman tidur Hermione.

#97. MaryamOkky Madasari
Tentang Ahmadyah yang dianggap sesat. Pertentangan Maryan dan keluarganya, dan masyarakat sekitar. “Yang namanya keyakinan memang tak bisa dijelaskan. Ia datang sendiri tanpa punya alasan.”

#98. Kematian di VenesiaThomas Mann
Versi Basa Basi dari buku yang sama yang diterjemahkan pula oleh Circqa. Ini lebih bagus, entah karena bacaan kedua atau emang kualitas alih bahasanya lebih nyaman. Aschenbach yang jatuh hati pada pemuda cantik Tadzio.

#99. Tarian Bumi Oka Rusmini
Bagus sekali alurnya. Pemahaman yang sesungguhnya kalimat, ‘demi cinta akan kulakukan segalanya untukmu.’ Hikayat tari dan gesekan harga diri. Aku selalu mohon pada dewa di sanggah agar kau bisa keluar dari lingkaran karmaku.

#100. Rumah Hujan Dewi Ria Utari
Kubaca dua hari. Novel yang dikembangkan dari cerita pendek dan cerita lainnya. Seniman, hujan, sepi, kenangan, hujan. Buku keseratus tahun ini seram.

#101. Goosebump: Hantu Penunggu SekolahR.L. Stine
Salah satu seri Goosebumps terbaik. Dunia pararel misteri, siswa yang hilang dengan kilat kamera, cekam takut warna kelabu dan ending menggantung terselebung teror. Tommy dan kawan-kawan berpetualang di negeri antah di balik dinding sekolah. Gawat!

#102. The Notting Hill MysteryCharles Felix
Tahun 1850an terjadi pembunuhan berencana, melibatkan uang warisan dan polis asuransi sebesar 50.000 pound. Penyelidikan dengan detail saksi, surat pos, dampai catatan harian. “Musuh paling fatal kejahatan adalah kehati-hatian yang berlebihan.”

#103. AparajitoBibhutibhusan Banerji *
Novel India terbaik yang pernah kubaca. Riwayat Apurbo dari masa kanak-kanak, perjuangan pendidikan, merantau ke Kalkuta demi menyambut masa depan gemilang. Inilah gambaran hidup sesungguhnya. Leela dan Aparna, cinta dan tragedy. Kisah luar biasa.

#104. Alex and the Ironic Gentlement Adrienne Kress
Saat bumi telah berdamai / Dan elemen-elemen terbakar / Dengan rasa paling prima / Hasratmu akan kau dapatkan. Petualangan bajak laut dengan banyak kejanggalan. Kisah yang buruk.

#105. Si Cacing dan Kotoran KesayangannyaAjahn Brahm
Sepertiga awal terasa biasa, mungkin karena cerita motivasi umum. Barulah jelang tengah, terutamqa terkait meditasi danyang terbesar adalah pikiran, banyak menawarkan keindahan dunia Buddha. Salur: Seorang Inggris, Ilmuwan, Biksu.

#106. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ariZuhairi Misrawi
Lebih seperti sejarah NU ketimbang riwayat pendirinya. Karena saya ga ikuti perkembagan NU banyak vitaminnya. “Tanda-tanda mati hati adalah mencari keuntungan dunia dalam urusan akhirat.”

#107. Lady SusanJane Austen
Hanya dari surat menyurat semua cerita bergulir. Janda dan putri remajanya, saudara yang bimbang tentang moral. Perjodohan. Asmara abad 18 di London yang rumit (dalam arti sebenarnya). Bagaimana tukang pos menjelma penggerak plot.

#108. PlayonF Aziz Manna
Garis awal garis pintu, satu kaki di depan, satu kaku di belakang, kepala lurus angina bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah. Garis jalan, garis belokan, satu kaki membumi, satu kaki mengawang, kepala lurus, angina bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah.

#109. Kapitalisme, Islam dan Sastra PerlawananOkky Madasari
Beberapa karya sastra berfungsi transformatif terhadap pembacanya dan masyarakat skala lebih luas. Buku-buku dapat mengubah pandangan dan tingkah laku mereka. – O’Leary

#110. Cannery Row John Steinbeck
Hikayat Doc dengan laboratoriumnya. Mack dan konco-konconya dalam lingkup ranjang pesta.

Alhamdulillah…

Karawang, 311219 – Roxette – Almost Unreal

Perjalanan Nun Jauh Ke Atas Sana – Kurt Vonnegut

Sudah berkali-kali hati saya kecewa sebelum meninggalkan lembah durjana ini untuk dunia yang lebih baik. Tapi kekecewaan yang saya rasa paling dalam disebabkan oleh…

Berisi dua cerpen tentang masa depan yang mengerikan. Di penghujung abad 22, manusia sudah menemukan obat abadi, dimana penuaan bisa disikat. Tak ada wabah, tak ada perang, tak ada pembunuhan massal. Kedamaian yang didapat? Belum tentu. Kematian menjadi barang langka, usia manusia sungguh panjang. Kakek nenek, bisa hidup bersama dengan cucu cicit, dan generasi setelahnya. Dan bagaimana manusia menghadapi bencana overpopulasi? Satu lagi, adalah masa depan yang bisa jadi solusi masalah cerpen pertama, populasi manusia diatur agar seimbang, setiap kelahiran berarti harus teregister kematian lain. Maka tampak jahat, tampak membunuh adalah kelaziman. Dua tema yang luar biasa menantang nalar, dua opsi masa depan yang sungguh misterius dan mengerikan. Perang adalah damai? Ataukah, anti-perang adalah damai?

#1. Perjalanan Nun Jauh Ke Atas Sana
Kalau begitu, seratus tahun lalu juga sudah ada.” Kakek Ford hidup di tahun 2185 bersama banyak keluarga dekatnya, panjang umur dalam arti sebenarnya. Saat minuman anti-geranose ditemukan ia berusia 70 tahun dan sampai 102 tahun kemudian ia masih hidup. Menjadikan privasi adalah barang mahal, langka karena dunia tampak sempit, orang makin banyak. Orang jadi mendamba hidup dalam penjara yang tenang, barangsiapa yang berani menyebarkan berita bagaimana nikmatnya penjara tak akan boleh masuk lagi.

Dengan sudut pandang Lou, keluarga ini hidup berhimpit dalam apartemen bersama seluruh keluarga dari kakek, ayah, anak, cucu, cicit… Kakek Ford sebagai generasi paling tua, memegang surat wasiat nantinya kepada siapa kasur di kamarnya diwariskan, dan selalu mengancam mereka-mereka yang mengusik kenyamanan di jelang akhir hidupnya. Di tengah ruang ada ranjang yang empuk, tinggi, luas dan berkanopi yang dicita-citakan seluruh keluarga Ford. Namun dengan obat anti-aging, entah hidupnya mau sampai kapan? Aku tidak akan panik sampai aku yakin aku memang layak panik akan sesuatu. Hiruk-pikuk dunia ini akan segera lepas dariku bagai jubah bagai jubah berduri, dan aku akan segera menemukan kedamaian.

Pertanda kematian sama asingnya dengan Zoroastrianisme atau pemberontakan Sepoy, membungkam suara dan melembamkan hati mereka masing-masing. “… nanti ketika bendera kotak-kotak di Indianapolis Speedway dikibarkan, dan ketika kakek sudah siap buat Perjalanan Nun Jauh Ke Atas Sana.”

#2. 2BR02B
Nomor telpon 2BR02B dibaca to be or not to be, yang diambil dari soliloquy dalam buku tragedi Hamlet yang artinya pengungkap kegalauan hidup dan keinginan bunuh diri bahwa ayahnya ternyata dibunuh pamannya sendiri. Di sini dijadikan humor satir tentang masa depan yang ideal, angka kelahiran diatur sedemikian rupa, sehingga klik dengan angka kematian. Menurut Undang-undang, seorang bayi hanya boleh hidup bila orangtuanya berhasil menemukan seseorang yang mau sukarela mati.

Di era itu, tak ada penjara, tak ada kampung kumuh, tak ada rumah sakit jiwa, tak ada cacat, tak ada kemiskinan, tak ada perang. Seluruh penyakit sudah ditaklukkan, begitu juga usia tua. Kematian, kecuali kecelakaan adalah petualangan bagi mereka yang sukarela. Penduduk Amerika stabil di angka Empat Puluh juta.

Si Pelukis merenungkan teka-teki menyedihkan tentang kehidupan yang ingin dilahirkan, dan setelah dilahirkan, dan peranak pinak, dan menjalankan kehidupan yang lebih lama, planet ini dituntut untuk bertahan selamanya. Pelukis, dan model lukisan Leona Duncan, dan kenaifan yang fana.

Dengan setting rumah sakit bersalin Chicago dengan lukisan ‘Studio Bunuh Diri Etis’. Seorang ayah Edward K. Wehling Jr. mendapat karunia anak kembar tiga. Yang otomatis harus merenggut tiga nyawa, atau mau mengorbankan salah satu atau salah dua guna penyeimbang. “Aku tidak mau mati di otomat…”

Kota Anda berterima kasih pada Anda, negeri Anda berterima kasih pada Anda, planet Anda berterima kasih pada Anda, tapi yang paling berterima kasih adalah generasi mendatang.”

Kubaca kilat pada hari Senin (21/10/19) ketika istirahat kerja. Sebelum makan siang, dan setelahnya. Di meja kerja sembari mendengarkan kumpulan lagu lokal, kutuntaskan di ruang ATK (Alat Tulis Kantor) dengan rebahan santuy. Bukunya tipis sekali, hanya berisi 46 halaman. Dari Penerbit OAK yang kini sudah tutup, masuk ke dalam kolektor edition, di mana halaman muka ada nomor koleksinya. Saya mendapatkan nomor 090. Menurutku exclusive sih, bagus sekali buku dinomori oleh Penerbit. Dengan kover bagus banget, lukisan karya Arwin Hidayat, seolah mewakili kisah suram yang ada, masa depan yang rumit. Mengekspresikan wajah-wajah tanya, seolah memang kita (nantinya) memang hidup di masa tak tentu arah. Namun tetap dengan masalah utama yang sama, dulu, kini dan nanti.

Umat manusia sudah mampu mengalahkan kehendak Tuhan. Kesejahteraan hidup yang makin menjamin, kelahiran tak terkendali, harapan umur panjang. Longevity – yang mengingatkan pada tulisan Shailesh Modi bahwa di era exponential harapan hidup manusia bertambah 3 bulan setiap tahunnya. Empat tahun lalu harapan hidup manusia ada di angka 79 tahun dan akan terus naik saat ini ada di angka 80. Artinya di tahun 2036 harapan hidup manusia akan mencapai 100 tahun! Teori transhuman. Sementara bumi menyediakan sumber daya alam yang dalam prediksi matematis tak akan cukup dalam 50 tahun ke depan. Manusia banyak, makanan kurang. Sebuah ancaman yang harus diantisipasi yang kini jadi debat rumit para ilmuwan. Solusi untuk mencegah kepunahan umat. Masuk akal sekali-kan?

Di sini kita disuguhi opsi pertama, seolah pembiaran berjalan laiknya saat ini. Sehingga overpopulasi atau populasi dijaga seimbang dengan konsekuensi yang sangat mahal.

Ini adalah buku kedua Kurt Vennegut yang kubaca setelah Gempa Waktu yang wow itu. Gempa waktu 2001 merupakan nyeri otot kosmis dalam tendon-tendon Takdir. Ketika kota New York pukul 14:27 tanggal 13 Februari tahun itu, Alam Semesta mengalami krisis kepercayaan diri. Haruskan ia mengembang tanpa batas? Apa maknanya? Alam Semesta mendadak sontak menyusut sepuluh tahun tanggal 17 Februari 1991. Hebat ini penulis, memainkan ironi kehidupan. Imaji tak berbatas, menantang nalar, memadukan realita dengan konsep-konsep fantasis khas fiksi ilmiah. Menertawai sekaligus mengutuk kebiadapan manusia dan kedangkalan manusia abad 20.

Dunia ini seharusnya sedikit berantakan, menurutku.”

Perjalanan Nun Jauh Ke Atas Sana | by Kurt Vonnegut | Diterjemahkan dari Big Trip Up Yonder | Penerbit OAK, 2017 | Cerakan pertama, Seprtember 2017 | Penerjemah Widya Mahardika Putra | Penyunting Widya Mahardika Putra | Penggambar sampul Arwin Hidayat | Perancang sampul Azka Maulana | Penata Letak Hengki Eko Putra | x + 28 hlm., 12×18 cm | ISBN 978-602-60924-5-8 | Skor: 4/5

Karawang, 231019 – Raisa – Mantan Terindah