Love Story by Erich Segal

Oliver: “Jenny, kita sudah sah menjadi suami istri.”

Jenny: “Yeah, mulai sekarang aku boleh bawel.”

Uang THR tahun ini, sebagian saya belikan buku, seperti biasa (ketimbang beli baju) melakukan enam kali transaksi beli buku. Transaksi kelima dan keenam, bingkisan kubuka (Ciprut yang #unboxing) malam minggu kemarin (160520) dari Bekasi (Raden Beben) dan Surabaya (Angga Adi) berisi total 16 buku. Kebetulan yang paling tipis buku ini, jadi gegas kubaca selepas nonton bola Bundesliga, ya ampun saya menurunkan kasta nonton live Dortmund versus Schalke, di pergantian hari buku berisi 160 halaman ini sudah selesai baca. Langsung kuulas sekalian, karena waktu melimpah di dini hari begadang ini. Inilah kisah cinta sejati, seperti pembukanya yang berkata pilu, endingnya luluh lantak dalam tangis. Bisa jadi cerita cinta pedih seperti ini sudah banyak dibuat saat ini, tapi buku pertama Erich Segal yang kubaca ini dituturkan dengan kelenturan kata yang menyeset emosi, dan lelaki mana yang tak menangis di lobi rumah sakit dalam pelukan ayah itu? Setegar Hercules-pun akan sesenggukan.

Kisahnya tentang pasangan muda yang tampak sungguh ideal. Oliver Barrett IV adalah mahasiswa Havard yang kaya, keturunan Barrett yang tersohor, jurusan ilmu sosial. Atilt hoki es yang menjadi andalan kampus. Sungguh gambaran pria sempurna untuk menjadi pasangan hidup. Jennifer Cavilleri adalah mahasiswi kere, anak penjual kue dari Cranston, Rhode Island, sebuah kota di selatan Boston, keturuan Italia. Kuliah musik di Radcliffe, berkaca mata, dan tentu saja cerdas. Ini kisah sedih, dan pembaca sudah dikasih tahu di kalimat pertama bahwa, Apa yang bisa kita ceritakan mengenai gadis dua puluh lima tahun yang telah tiada?

Perkenalan mereka tampak biasa tapi dibalut kalimat puitik, Oliver meminjam buku jelang ujian di perpustakaan, Jenny di sana memancing tanya, “Hey mana sopan santunmu preppie?” Dijawab “Kenapa kau begitu yakin aku dari prep school?” Ditimpali, “Tampangmu bodoh dan kaya.” Haha… dibalas lagi “Kau keliru sebenarnya aku cerdas dan miskin.” Dan kena jab, “Oh, jangan menfada-ada, aku cerdas dan msikin.” Justru dari saling sindir itulah hubungan berlanjut panjang.

Oliver anak orang kaya, keturuan keempat Barrett, hubungan dengan ayahnya Oliver Barrett III ga akrab. Memanggil Sir, nurut dalam tekanan dan beban piala, karena sudah tradisi keluarga akan prestasi, bukan sekadar akademi tapi juga olahraga. “Ada yang bisa dibantu?” Adalah keluarga jetset yang sepertinya tak peduli materi, karena melimpah. Keluarga kaya raya pada umumnya yang banyak menuntut sukses anak-anaknya. “Demi aku Oliver, aku belum pernah minta apa pun darimu, please.”

Sementara Jenny adalah keluarga biasa, kepulangan disambut mewah, dan betapa ia sungguh akrab sama ayahnya, karena ibunya sudah meninggal dunia dalam kecelakaan, hungan ayah-putri ini begitu erat dan kuat. Memanggil ayahnya dengan nama langsung, Phil. Menjadi kikuk Ollie akhirnya ketika mengikuti. “Ya, Phil, Sir.” Dan ketika ditegur, makin canggung dan tetap menjawab, “Baik, Phil, Sir.”

Bak cerita sinetron, hubungan ini tak dapat restu si keluarga kaya. Cinta sejati Ollie harus diperjuang, maka selepas lulus S1, mereka menikah. Karena keduanya beda keyakinan maka menikah di tengah-tengah kepercayaan, bangunan kuno Phillips Brokes House, di utara Harvard Yard, dengan pendeta Unitarian. Hidup pas-pasan di apartemen murah, Jenny mengajar, Ollie bekerja sambil lanjut S2 hukum. Kehidupan pasangan muda penuh perjuangan. Hubungan dengan ayahnya sudah putus, sehingga mereka benar-benar berusaha mandiri, berjuang bersama. Cinta mereka, saling menguatkan. Sungguh romantis.

Oliver lulus pasca sarjana hukum, bukan nomor satu tapi nomor tiga, tetap di Law Review. Namun rasa penasaran Jenny, akan siapa yang bisa mengalahkan suaminya menjadi lucu ketika diberitahukan di atas kapal dan ia yang kecewa malah melompat di laut. Ternyata nomor satunya adalah seorang pria kutu buku, introvert yang luar biasa pasif bersosial, dan yang kedua cewek cerdas dengan talenta tinggi. Sebuah kewajaran. Dengan ijazah barunya, ia memiliki peluang karier lebih luas, dengan berbagai pertimbangan dan tawaran yang masuk, Oliver setelah diskusi dengan istrinya mengambil kesempatan kerja di firma hukum Jonas and Marsh di New York dengan gaji tinggi 1.800 dollar. Ekomoni mereka lumayan mapan, Jenny mulai menata harap, dan Ollie ikut club elite. Bencana tiba secepat melesatnya karier mereka ketika program memiliki anak dilakukan. Berbagai percobaan sudah dilakukan, lalu konsultasi ke dokter kandungan. “Rasanya seperti jatuh dari tebing secara slow motion.”

Hasil yang diterima mencengangkan. Bukan hanya gagal memiliki anak, tapi ada masalah pelik yang sungguh berat harus disampaikan. Oliver sempat berujar, yang penting saling mencintai dan ikrar setia. Masalahnya ini menyangkut nyawa. Kesedihan membuncah, ia tak kuasa menyampaikan kepada orang terkasih. Rencana hidup yang tertunda sempat diapungkan, salah satunya harapan Jenny ke kota Romantis Paris, karena dulu sempat mau ambil kursus musik khusus ke sana, tapi gagal demi pernikahan dengannya. Dua tiket diambil, dan rasanya ia tak tega menyampaikan kabar duka itu, sampai akhirnya, fakta mau tak mau mengapung, dalam duka dan kepedihan yang teramat. Ini baru Love Story sejati. Menikam jantung dengan hujaman keras, tak hanya sekali, bertubi dalam duka dan segala kandungan di dalamnya. “Nomor berapa C Minor Piano Concerto? Dulu aku hapal.”

Harus diakui, kisahnya awal terasa klise. Pasangan beda kasta, tampan dan cerdas bersatu lalu mengarungi perjuangan bahtera pernikahan, lalu ekonomi membaik dan timbul benih cerahnya masa depan. Tikaman itu dari vonis dokter, sampai halaman berakhir adalah kesedihan akut. Ditulis dengan kenyamanan dan pemilihan (terjemahan) diksi yang bagus sehingga kita turut terkoyak. Jelas ini tak semanis yang dikira. “Seandainya aku tak berjanji pada Jenny untuk bersikap tabah.

Cerita bagus memang harus menjual konflik berat, lalu pemecahan yang pas. Semakin runyam masalah yang disodorkan semakin asyik diikuti. Love Story memunculkan masalah dengan tikaman yang dalam, bagi pecinta romcom ini alur yang umum. Adegan akhir menantu-mertua di ruang rokok solarium bisa jadi sangat menyedihkan, tapi kesedihan maksimal justru di kalimat-kalimat akhir di lobi. Saya turut menitikan air mata, walau kutahan-tahan juga karena itu sudah menghadapi lembar akhir. Drama cinta memang tak rumit, drama cinta memang harus alami. Dan kepedihan Oliver jelas terasa sangat mendalam, dan nyata. Pernah menangis di rumah sakit? Ya. pernah melelehkan air mata membuncah di pelukan orang tua? Ya. Oliver adalah gambaran duka yang sempurna.

Dan kemudian aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan di depan ayahku, apalagi di dalam pelukannya. Aku menangis.

Cinta berarti tak perlu minta maaf.

Kisah Cinta | by Erich Segal | Diterjemahkan dari Love Story | Copyright 1970 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 95 135 | Alih bahasa Hendarto Setiadi | Jakarta, Januari 1995 | Cetakan ketujuh, Juli 2001 | 160 hlm; 18 cm | ISBN 978-605-135-4 | Skor: 5/5

Untuk Sylvia Herscher dan John Flaxman

…namque… solebatis.

Meas esse aliquid putare nuqas

Karawang, 170520 – Patti Austin – Baby, Come to Me

Blue Summer: Cinta Biru dari Negeri Sakura

Cinta remaja di masa liburan di desa, terkesan. Ketika liburan berakhir akankah ini hanya cinta sesaat?

Gadis kota liburan ke kampung halaman, ke rumah neneknya bareng adiknya. Saat turun dari bus di pinggir sungai, berkenalan dengan pemuda desa yang lugu, yang menawarkan tur dengan gambar pamflet eksotis, si gadis terpesona, sang pemuda kesemsem. Lalu pas sampai rumah sang nenek, ternyata pemuda itu adalah saudaranya, penjaga toko kelontong. Ada kebencian karena dari tutur nenek, cucunya pergi meninggalkan kampung mencipta kesepian. Liburan yang seharusnya penuh warna menjadi agak renggang awalnya, sampai tak kurang dari ¼ film di mula, saya sudah bisa memprediksi endingnya. Dan tepat! Blue Summer adalah cerita manis, semanis-manisnya.

Kisahnya berpusat pada siswi cantik Rio (Wakana Aoi). Pembukanya adalah adegan jelang libur sekolah, ketika Rio mau pulang disapa cowok si jangkung yang secara halus tersamar mencintainya, sempat akan meminta kontak, tapi terlewat. Liburan sekolah musim panas ini akan dilewatinya di kampung halaman sang nenek, berangkat bersama adiknya, ibunya seorang desain grafis akan menyusul nanti. Sampai di pedesaan berkenalan dengan Ginzo (Hayato Sano), pemuda desa yang sedari muncul juga sudah bisa ditebak akan meluluhkan hati Rio.

Benar saja, walau ia dibenci Ginzo karena meninggalkan neneknya, Rio melewati hari-hari galau dengan melihat bintang bertebaran indah di malam hari, bermain air di sungai, main sepeda menghirup udara segar pegunungan, memetik bunga. Lalu berkenalan dengan teman-temannya Ginzo yang sepanjang waktu pegang kamera, ada tantangan terjun ke jernihnya air sungai dari jembatan. Rio dengan meyakinkan berani, jangan sepelekan anak kota ya.

Lalu beberapa teman sekolahnya menyusul liburan ke sana, bikin tenda di pinggir sungai, panggang daging, sampai main air. Terlihat jelas si jangkung mencintai Rio, maka ia mengajak kencan, dan ‘mengancam’ Ginzo. Rio sendiri lalu secara terbuka bilang suka pemuda desa, sehingga kini tercipta cinta segitiga dengan pusat yang protagonist.

Kebetulan ada event sekolah, mendatangkan band nasional. Semakin merekatkan mereka berdua, mendesain promo, mencipta erat, menghabiskan malam dengan lanskap kembang api, menangkap ikan di bazar, cinta itu perlahn tumbuh kembang bak musim semi, sampai akhirnya mendekati hari terakhir liburan di puncak pesta musik. Apakah kedekatan mereka berlanjut? Ataukah dengan berakhirnya masa di desa, berakhir pula hubungan ini. Lalu Rio mengambil tindakan berani sebab ada kekhawatiran mengucap kata ‘selamat tinggal.

Ini jenis film warna-warni mencolok mata. Semua ditampilkan indah, ga cocok buat kaum merenung, tak cocok pula buat kaum hippy. Ternyata berdasar manga populer. Yah ini sih manga remaja yng so sweet. Bunga matahari kuning terhampar, pemandangan gunung asri sepanjang mata memandang. Suara jernih sungai mengalir. Gemerlap bintang di langit yang ditingkahi tembakan kembang api. Benar-benar film romantis khas remaja. Saya justru jatuh hati sama Seika Furuhata, cantik dan tampak dewasa ketimbang tokoh utamanya yang childish. Sebagai gadis ‘penghamba cinta’ yang mencinta, berharap jodoh keluarga tapi kandas. Duuuh manisnya, catet yes Seika!

Plot semacam gini sudah banyak dibuat FTV kita. Cinta-cintaan dengan penampil cantik dan tampan, konfliks ringan, lagu-lagu indah, gadis kota tergoda pemuda desa, sudah melimpah ruah. Blue Summer menawarkan hal yang mirip, kalau tak mau dibilang sama. Dengan template seperti itu, wajar saya agak kecewa. Keistimewaan film justru di technical. Banyak kamera ditaruh di beberapa sisi. Contoh adegan jembatan itu, saya catat ada minimal lima kamera menyorot adegan terjun. Dari kedua jembatan, kamera terbang, dari sisi sungai bawah, dan pas masuk ke air kamera terendam. Nah, secara teknikal tampak anggun. Kelopak air itu menyejukkan, benar-benar film memanjakan mata.

Memang sebuah perjudian menonton film tanpa rekomendasi, ngasal karena muncul di beranda. Blue Summer sekadar hura-hura remaja yang akan cepat terlupakan, kecuali gemerlapnya yang tertahan lama di balik retina. Eyes candy alert!

Tentu saja pertemuan kita terkadang tidak lebih dari sekadar liburan, tapi beberapa hari itu bertemu dengan orang yang kaucinta sangat besar artinya. Kau ajarkan aku apa itu kenyataan.

Blue Summer | Judul asli Ao-Batsu: Kimi ni Koi Shita30-Nichi | Japan | 2018 | Directed by | Screenplay Yukiko Mochiji | Manga Atsuko Nanba | Cast Shiori Akita, Wakana Aoi, Seika Furuhata, Takumi Kizu, Rinka Kumada, Atom Mizuishi, Hayato Sano, Reo Shimura, Aimi Terakawa | Skor: 3.5/5

Karawang, 230420 – Bill Withers – Railroad Man

Love For Sale 2: Seni Memanipulasi Keadaan

Kan ceritanya lagi training…” | Baca ulasan Love for Sale

===catatan ini mungkin mengandung spoiler ===

Setelah tertunda beberapa lama, setelah menanti film ini tayang malam (di atas jam 21:00) di CGV Festive Walk, Karawang, setelah menengok komen-komen terkait kekhawatir lanjutan kekejaman Arini, akhirnya Jumat (15/11/19) kuberhasil duduk (dan berangkat) sendiri di studio satu. Nonton cuma bertiga, awalnya tapi pas film akan mulai nambah dua lagi. Memprihatinkan, film originalnya bagus, tapi kurang laku, kurang gaung, sekarang lanjutannya, melihat minimnya antusiasme, rasanya bernasib sama. Makin dramatis, parkir motor pas 6 ribu, pas dua jam nol menit. Tepuk tangan untuk Kharisma Biru, siKusi-ku.

Kita akan menemukan apa yang kita bayangkan sejak awal. Sayang sekali happy ending. Kisahnya kali ini lebih ke fokus orang tua, walaupun tetap garisnya tentang cinta yang dijual, sejatinya sekuel ini lebih mengedepankan keluarga dengan sentral Ibu Rosmaida (diperankan keren sekali oleh Ratna Riantiarno). Sebenarnya trailer-nya berkata: the most horror love story, sempat khawatir, sempat ketakutan jua karena kamu bisa saja menyakiti pacar kamu, kamu bisa saja marah-marah ke anak-istri, kamu juga masih bisa saling bentak kekasih, tapi kalau ibu, jangan pernah. Kalian berani sama orang tua terkasih, kalian tega sakiti, kalian melawan dunia. Dari cuplikan yang wara-wiri di sosmed, garisnya sudah jelas: Arini sekalipun merayu, sekalipun akting jadi pasangan ideal pasti akan kabur kala masa sewa habis. Memang, benang Love For Sale kan emang itu. Sayangnya sekali lagi, ini cerita berakhir bahagia. Kabur dan meninggalkan kebahagiaan kok bisa?

Indra Tauhid Sikumbang aka Ican (Adipati Dolken) adalah seorang yatim, pria kerah putih, laiknya pekerja di Jakarta kebanyakan. Kerja pagi pulang malam, kakaknya yang sudah mapan jadi PNS mulanya dibanggakan ibunya, tapi Anadoyo Tauhid Sikumbang aka Ndoy (Ariyo Wahab) dianggap salah pilih istri Maya (Putri Ayudya), yang dianggap kurang ideal. Pernikahan adalah batu ujian moralitas. Si bungsu Yunus Tauhid Sikumbang (Bastian Steel) malah lebih parah, MBA (Married by Accident), lalu menjadi pengguna narkoba, lalu cerai dan seteru tentang hak asuh anak. Karena kita tak akan membicarakan Bastian lebih lanjut dalam ulasan ini, saya keluarkan uneg-uneg sekarang saja: menurutku karakter ini annoying. Mungkin bermaksud menambah drama keluarga, ibu memiliki anak bermasalah, tapi seandaianya hanya Ican dan Ndoy akan tetap OK. Apalagi aktingnya yang berkata kasar di depan ibunya kepada ibu dari anaknya, sungguh ga faedah.

Ican yang tertekan untuk mendapatkan istri ideal lalu install aplikasi love inc yang ia lihat di halte bus. Ketika dihubungi, kriteria yang diminta disampaikan, dan taa-daaa.. Arini Kusuma – di sini menjelma Arini Chaniago (Della Dartyan) muncul di rumahnya sebagai teman lama waktu kuliah di Bandung, ia ke Jakarta untuk acara training, membutuhkan tempat singgah (di sini disebut pavilium) yang disewakan keluarga Sikumbang. Dan seterusnya, sampai di sini kita pasti tahu film ini akan mengarah ke mana. Ican dan Arini ada rasa, ibunya jatuh hati sama Arini, Keren akting hebat meyakinkan menjelma menantu impian, sampai akhirnya yah sebuah pengulangan Arini kabur. Sayangnya, kepergiannya ga membuat remuk redam hati-hati yang terluka laiknya mas Richard. Karena misi Arini menebar kebahagiaan sejatinya terwujud.

Yang amat disayangkan jelas, terlalu manis. Dambaan ibu untuk mendapat cucu perempuan terkabul, harapan penonton untuk hubungan ibu dan menantunya Maya membaik, terkabul. Bahkan permohonan maaf, Supiak yang disampaikan kala subuh kabur dari paviliumnya seolah adalah permohonan Andibachtiar kepada penonton karena memberi akhir yang terlampau manis. Suram adalah koentji, apa yang disampaikan Love for Sale dua terlampau menuruti kemauan indah penonton. Kurang suka saya. Kekhawatiran, karena film pertama yang sudah amat bagus, takut dirusak itu sebenarnya bisa saja terkikis, sayangnya terjatuh di akhir.

Salah satu adegan terbaik ditampilkan dengan kamera mengambil gambar melalui bias-bias kaca akuarium. Setelah tahu, ibunya jatuh hati pada Arini, Ican melakukan apa yang jadi imaji liar lelaki. Dia berdeklamasi untuk cinta demi ibunya. Di kedua mata Arini yang dipandang dengan ketakjuban liar, ia dalam satu waktu tak mempertimbangkan individualitas. Itu sejenis ketakutan kehilangan wanita ini, kekhawatiran akan ditinggalkan, bukan karena ia takut kehilangan, tapi takut ibuku akan kehilangan. Dia memohon seolah dia tak pernah memohon pada makhluk apapun sebelumnya. Dalam benak Ican jelas terdengar alarm meraung, ‘dialah yang selama ini orang yang dicari ibunya dalam doa setiap malam’. Ketika Arini mengangguk (walaupun penonton pastinya tahu itu akting), seketika itu ia lolos dari singularitas yang terlindungi, yang telah disusun, ditaksir dengan cermat. Arini mencipta subjek kolektif keceriaan keluarga dalam keintiman bersama. Orang-orang yang terbebas dari penderitaan bukan ketika mereka mengalami kenikmatan sementara ini-itu, tapi justru ketika mereka memahami bahwa semua perasaan mereka hanya sementara dan berhenti mengidam-idamkan perasaan nikmat sementara.

Lalu ada lagi adegan memorable di awal sekali, ketika Ican akan lari pagi. Berdiskuis dengan tetangganya yang kemudian meninggal mendadak. Mungkin itu adalah bayangan kebenaran yang tak berwujud, mungkin buah pemikiran jiwa. Dalam seketika segalanya berkelebat melewati otak dan akan terngiang, ‘pohon apa yang paling berani?’ Jadi promo itu tak bohong, beneran ada horror di sini. Semacam penampakan Pak Giran, seolah ini adalah metafora filsafat akan hidup. Film ini juga relijius, ditampilkan dengan konsisten sama Bu Ros. Pengajian rutin, sholat malam dilakukan, penuh nasehat bijak.

Permukaan bumi luasnya sekitar 500 juta kilometer persegi, dengan 155 juta diantaranya daratan, secuil permukaan bumi itu masih banyak yang belum didiami karena banyak tanah terlampau dingin, terlampau panas, tidak cocok untuk budidaya, jadi hanya sekitar 2 persen yang bisa dihuni dan didiami, dari secuil tanah itulah pentas teater sejarah manusia dibuat. Drama cinta dan nafsu Arini hanyalah sekilas lewat, tapi berhasil meluruhkan banyak umat. Sudah hukum alam laki-laki menganggap ringan ‘kejahatan’ perempuan, terutama kalau perempuan itu cantik, dan kejahatan itu dilakukan atas nama cinta.

Tiap drama keji itu, diakhri dengan kesunyian, mengepung korban, seolah ada gereget marah dan kesal. Apapun reaksi penonton, apapun hasil penjualan tiket dan kerumitan yang tersaji setelahnya, kita meyakini Arini akan hadir lagi ke layar lebar, hanya pertanyaan besarnya, setelah Gading Marten dan Adipati Dolken, siapa lelaki berikutnya yang menghubungi love inc? Siapa yang hatinya akan ambyar karena Arini? Akan jadi ledakan dahsyat kalau Andibachtiar dan tim kreatifnya bisa meluluhkan Nicholas Saputra! Wanna bet?

Dalam menikmati film Indonesia kita sudah lama mencari misteri, dan kini sudah ada di depan kita. Misteri itu bernama Arini. Tidak ada kata ‘Mistearini’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk mengungkap ‘misteri arini’, tapi sepertinya sudah saatnya kita buat bukan?

Love For Sale 2 | Year 2019 | Sutradara Andibachtiar Yusuf | Naskah Andibachtiar Yusuf, Mohammad Irfan Ramly | Pemeran Della Dartyan, Adipati Dolken, Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Bastian Steel, Putri Ayudya, Gading Marten | Skor: 3.5/5

Karawang, 221119 – Angela – Don’t Know Why

Silent Love – Dien Ilmi

image

WTF! Kembali saya membaca sampah. Bagaimana bisa buku sejelek ini dicetak? Dunia remaja boleh saja dipenuhi cinta-cintaan dan ke-klise-annya, namun tak senorak ini juga kali. Kisah yang sangat tak menginspirasi. Tentang anak kuliahan dengan problematika pacaran yang benar-benar aduh, tak bagus ditiru. Kutemukan banyak typo, kurasa lebih dari 50 kata, sesuatu yang mengerikan karena buku ini tipis 140 halaman. Entah bagaimana bisa lolos edit, kulihat tak ada proofreader-nya. Kutemukan banyak kata tak baku yang tak pada tempatnya. Kutemukan banyak keganjilan logika. Ini buku ketiga dari terbitan Euthenia, ketiganya kukasih rating busuk.

Dengan embel-embel Romance Story buku ini bahkan tak terdengar romantis, menurut saya. Lebih ke norak. Seperti yang tercantum di judul – Silent Love, kisah ini tentang seorang pemuda yang mencintai teman kuliahnya diam-diam. Cinta buta, cinta bodoh. Sampai heran ada pemuda sebodoh itu, bahkan di dunia fiksi sekalipun tetap tak masuk akal. Semua sudah buruk sedari prolog, kenapa? Sebuah prolog mengungkap akhir kisah! Entah apa yang ada di benak Penulis mencantumkan eksekusi ending di depan.

Prolog itu berisi sepasang muda-mudi di pantai Sanur di kala matahari terbit. Mereka mengikatkan diri dalam cinta – secara harfiah dengan pelukan, setelah lama tak bertemu. Well, Dirga – si cowok bodoh itu dan Yisha – si cewek ga jelas itu diungkapkan bersatu ketika bahkan saya belum membuka bab satu-pun. Gila!

Terdiri dari lima belas bab yang pendek-pendek, diceritakan Yisha, seorang mahasiswi di kota Surabaya jadian dengan cowok playboy, Romi. Dalam cerita ini jangan berharap bertemu dengan seorang kere, anak kos dengan kebingungan makan di akhir bulan, tak ada keakraban dengan mie instan. Romi jelas digambarkan anak orang kaya, punya mobil dan di otaknya hanya masalah pacaran. Tak beda dengan Yisha, cewek berpunya tentunya, karena digambarkan tinggal di Perumahan elit. Sampai di sini tentu saja, cerita ini SANGAT Sinetron. Saya tetap melanjutkan baca ya karena saya sudah memulai, dan harus dituntaskan.

Yisha punya teman sejati, Andin tempat curhatnya. Dan Dirga, cowok pendiam yang jadi tokoh utama buku ini. Ada cinta dalam persahabatan. Sayang, Yisha keburu ditembak Romi sehingga Dirga patah hati. Entah logikanya di mana. Dirga beberapa kali memergoki Romi jalan sama cewek lain, diberitahukan kepada Yisha, namun dia tak percaya. Hello, kalian kan berteman masak tak percaya? Setidaknya cek and ricek dulu baru ambil keputusan. Andin juga sudah berusaha kasih tahu. Namun yah, Yisha kan emang cewek ga jelas padahal dia tahu sejarah Romi. Sampai akhirnya dengan mata sendiri memergoki Romi jalan sama Ayunda.

Kebodohan tidak sampai di sini. Ayunda juga karakter dungu, tahu Romi playboy jalan sama Yisha eh saat diputus malah dendam. Laki-laki, dunia seakan hanya terdiri hitungan jari. Kisah makin tak jelas ketika Dirga yang hatinya hancur drop out kuliah, dirinya tak kuat melihat pujaan hatinya jalan dengan orang lain, bahagia dengan orang lain. Seperti yang kubilang, jelas ini bukan cerita inspirasi yang baik. Kuliah cabut gara-gara cewek? Cemen sekali! Di dunia sana, banyak orang untuk sekolah saja harus banting tulang. Harus sambil kerja, peras keringat demi pendidikan. Ini dengan entengnya malah melepas. Dunia ini keras bung. Walau setting-nya dunia kampus, kalian tak akan menemukan satu kata-pun yang menyebut mata kuliah. Tak ada kepanikan untuk sidang, tak ada pemikiran bagaimana pemecahan masalah belajar.

Dirga kabur ke Bali, tanah impian! Membantu kerja usaha pamannya usaha katering. Dalam pelarian itu, dirinya berkenalan dengan Luna, karakter bodoh lainnya. Berjalannya waktu Luna meng-klaim Dirga adalah tunangannya. Setelah diputus pacarnya dia menginginkan seorang yang lebih serius. Katanya, Luna adalah cewek cantik yang ibaratnya tinggal tunjuk cowok untuk jadi kekasih, nyatanya malah terjebak dengan keklisean. Bayangkan! Seorang cewek penuh gaya, mencoba mencium cowok yang bahkan terang-terangan menolaknya. Karena ini kisah antara Dirga dan Yisha, tentu saja cinta Luna bertepuk sebelah tangan. Dirga juga dikisahkan sudah sukses dengan usahanya, sudah membuka cabang di empat kota. Hebat! Sukses itu seperti membalik telapak tangan. Tak lulus kuliah, jadi buruh ketering pamannya dan ta-daaa! Beruang.

Sementara, Yisha mulai menemukan kenalan baru bernama Hilal. Ini mungkin satu-satunya karakter yang agak benar. Walau memberi harap kepada cewek tetap saja tak benar. Mereka dekat, sampai mulai ada rasa dalam diri Yisha. Sayangnya dalam sebuah adegan yang tak romantis, saat Hilal memintanya menemani ke toko emas untuk beli cincin kawin. Yisha yang mulai salting, karena akan dikira akan ditembak eh ternyata Hilal sudah punya kekasih bernama Leonita. Sehingga Yisha tetap jomblo.

Meski berjuta waktu terlampaui tanpamu, aku tak pernah jemu menunggumu. Penat akan hidup, Yisha berlibur. Coba tebak berlibur ke mana? Betul! Bali. Dan epilog pun dituturkan, sebagian adalah prolog-nya sehingga jelas ketebak ke mana cerita ini ditutup. Bah! Cerita apaan ini! Sampah. Tak ada konflik yang kuta, tak ada alur penuh tanya, tak ada sesuatu yang bagus untuk dipetik, tak ada logika. Selesai baca, buang! Buku ini berbahaya untuk generasi muda, bahkan Raam Punjabi-pun akan takut karena sinetron noraknya kalah norak. Yang mengejutkanku, bagaimana bisa cerita seburuk ini bisa dicetak? Please Penulis muda buatlah karya yang sedikit lebih berguna. Pikirkan ketika menulis dari sudut pandang pembaca. Kalian juga bertanggung jawab untuk Generasi Indonesia yang lebih baik.

Selamat Hari Buku Nasional. Satu hari ini saya akan baca buku lokal. Karena saya cuti, pulang lagi pagi tadi setelah kejebak macet di Cidomba, Karawang. Sayang sekali buku pembukanya tak bagus. Buku tipis yang hanya butuh sejam kubaca, dan muntah. Silent Love, Death Silent!

Silent Love | oleh Dien Ilmi | Editor: Geulis | Design sampul Usman | Penata letak Kuraki | Cetakan 1, 2015 | Penerbit Euthenia | IV, 148 hlm | 13 x 19 cm | ISBN 978-602-1010-29-7 | Skor: 0,5/5

Karawang, 170516 #Delon feat Irene – Indah Pada Waktunya #Selamat Hari Buku Nasional