I Find Giants. I Hunt Giants. I Kill Giants

All things that live in this world die. This is why you must find joy in the living, while the time is yours, and not fear the end. To deny this is to deny life.” – Titan

Sebuah indie fantasi dengan pertaruhan memori sarung tangan baseball ‘Giant Killer’. Keberanian itu hal biasa. Ketabahan itu hal biasa. Tapi kepahlawanan memiliki unsur filosofis di dalamnya.

Magical realism yang menyelingkupi kehidupan remaja 12 tahun Barbara Thorson, yang berupaya menemukan, berburu lantas membunuhnya. Tampak unik, karena selama pemburuan diiringi skoring cekam yang mendukung. Seperti yang diperkira, raksasa itu memang muncul beneran setelah menit-menit yang melelahkan, dan Barbara membunuhnya dalam skema yang sudah dirancang. Imajinasi membumbung tinggi bak bintang-bintang yang berputar riuh di sekitar kepala raksasa yang tertikam.

Kisahnya berkutat pada Barbara Thorson (Madison Wolfe) dengan rambut terurai dan aksesoris telinga kelinci di atas kepala, menelusi pantai dan hutan mencari raksasa, mencoba memerengkapnya. Kakaknya Karen (Imogen Poots) tampak frustasi mengurus kedua adiknya, yang satu lagi Dave (Art Parkinson) hobinya main gim mulu. Keluarga ini sepertinya sedang mengalami depresi bersamaan. Ada masalah apa, nanti akan diungkap secara perlahan.

Barbara sedang memasang perangkap raksasa, melumuri rumput-rumput dengan madu, memasang tali panjang melintasi pantai, membuat perangkap batu ayun di hutan, pokoknya segala upaya melindungi dari serangan monster dibuat. Termasuk menaruh makanan umpan di sebuah tiang. Sungguh tampak tak normal. Seorang siswi baru pindahan dari Leeds, Inggris bernama Sophia (Sydney Wade) akhirnya bergabung. Dengan jaket kuning yang terus dikenakan sepanjang film, Sophia menjadi side-kick penyeimbang dunia khayal dan nyata.

Untuk melindungi diri, Barbara memiliki tas mungil pink yang berisi senjata warhammer bernama Coveleski yang terinspirasi dari pemain baseball pitcher Phillies, Harry Coveleski. Tas sakral yang tak boleh dibuka sembarangan, yang akan digunakan tepat ketika sang raksasa menyerang. Di sekolah ia kena bully, sebagai siswi freak. Gerombolan siswi yang dipimpin oleh Taylor (Rory Jackson) sering beradu argumen, serta adu jotos. Atas beberapa kasus inilah, Barbara dipanggil guru BP Bu Molle (Zoe Zaldana). Dari sinilah kita semakin memahami apa yang ada di kepalanya. Ini tentang bertahan hidup, Barbara memerankan diri sebagai pelindung kota, serangan monster akan tiba, maka bersiaplah! Mitologi raksasanya sendiri terbagi beberapa jenis, dan Titan adalah yang terbesar.

Sophia sendiri tampak ragu, akankah tetap bertahan berteman dengan sang aneh, atau melanjutkan hidup normal. Dengan kertas bertulis opsi, Ya atau Tidak, ia akhirnya melanjutkan petualang di hutan. Barbara memberi mantra pelindung kepadanya, meneteskan darah ke dalam perangkap, disertai janji persahabatan. Sebuah masalah baru tercipta ketika Barbara dipukul Taylor di pantai hingga pingsan, di lantai atas, Barbara terbangun dan mendapati Sophia dengan segelas air dan ‘it’ gelasnya terjatuh pecah.

Setelah beberapa hari ga masuk sekolah, Bu Molle dan Sophia berkunjung, mendapati kakaknya yang sendu. Sophia lalu tahu, apa maksud ‘Gaint Killer’nya dari sebuah rekaman pertandingan di kamar dengan voice-over Ibu Barbara terkait sejarah pemain Coveleski. Raksasa itu ada di dalam kepalanya! Terkuak pula sebab dasar kemunculan imaji itu, raksasa Harbingers dan perwujudan perlawanan untuk menghindari kenyataan orang terkasih yang sekarat. Kebenaran yang menggelisahkan, sebuah kesadaran bisu bahwa di hadapan keluasan tanpa batas, segala yang kita kasihi sekejap menjadi pematik sehingga hampa. Penderitaan adalah bagian dari kita. Penderitaan adalah kita. Barbara hanya berupaya mengubah kebenaran karena dia merasa lebih nyaman berbuat demikian.

Saya belum nonton A Monster Calls tapi udah baca bukunya, kisahnya mirip sekali, di mana monsternya diganti raksasa, motifnya adalah ibu yang sakit keras lalu taruhlah emosi labil yang mencipta tarung antar teman sekolah. Barbara mengangkat senjata, Conor O’Malley memeluk pohon. Dunia fantasi remaja yang melalangbuana. Reaksi-reaksi emosional kita terhadap aneka masalah tidak ditentukan oleh ukuran masalah tersebut.

Nietzsche pernah berkata bahwa manusia adalah suatu transisi, tergantung secara ringkih pada sebuah tali di antara dua ujung, di belakang kita adalah monster dan di depan kita adalah sesuatu yang lebih besar lagi. Siapkan ‘Coveleski Anda’, ia sudah mengintip. Besar sekali perbedaan di antara mengetahui sesuatu dan mendapati sesuatu itu terbukti. Mempelajari fantasi imaji cocok untuk kalian yang suka spekulasi.

I Kill Giants | Year 2018 | Directed by Andrew Walter | Screenplay Joe Kelly | Based on Graphic Novel Joe Kelly, J.M. Ken Nimura | Cast Madison Wolfe, Zoe Saldana, Imogen Poots, Sydney Wade, Rory Jackson, Art Parkinson | Skor: 3.5/5

Karawang, 280420 – Bill Withers – Memories Are That Way

Tanah Liat dan Api yang Melebur

The Golem and the Jinni by Helene Wecker

Dalil mana yang menyebutkan bahwa manusia harus murtad untuk berbuat kebaikan di dunia? Siapa yang mengajarimu? Para filsuf yang kaubaca?” – Avram Meyer sang rabi

Ceritanya sangaaaat panjang, menembus 600 halaman yang berliku. Dari timur tengah di gersangnya gurun abad abad perrtengahan sampai awal abad 20 di New York, Amerika yang kala itu disebut benua baru, tanah yang dijanjikan. Seolah manusia menuju ke sana demi kehidupan baru. Kisahnya bersisian dua makhluk ini, dari judul saja kalian bisa menebak mereka nantinya bersama. Yang satu ciptaan tangan manusia dari tanah liat (lempung), yang satu dari api yang terpenjara dalam tabung. Untuk menemukan titik temu itu butuh hampir separuh perjalanan, panjang dan sungguh berliku.

Sang golem terlahir di lambung kapal Baltika yang melaju dari Danzig ke New York. Dicipta oleh seorang rabi Schaalman untuk menjadi pasangan Otto Rotfeld, seorang yahudi Prissoa yang asli Kronin, selatan Danzig, Sang Golem yang ketika dibangunkan di tengah lautan, calon suaminya mendapat serangan sakit hingga meninggal. Chava, si golem yang harusnya mengabdi pada suami menjadi makhluk kebingungan, apa yang harus dilakukan di tanah Amerika tanpa pemandu? Setelah sempat diburu kabur dari kapal, Chava berjumpa dengan rabi Avram yang mengasuhnya, memberi tempat bernaung, dan mengajari banyak hal kehidupan manusia. “Berikan padanya rasa ingin tahu, dan kecerdasan. Aku takkan tahan menghadapi perempuan yang konyol, buat dia sopan, tidak cabul. Istri yang pantas untuk pria baik-baik.” Well, semua golem di dunia ini pada akhirnya akan berubah kacau, kau harus siap-siap menghancurkannya.

Di lingkungan Lower Manhattan yang disebut Little Syria, tak jauh dari tempat tinggal Sang Golem, Sang Jin Ahmad terlepas dari tabung guci yang memenjaranya ratusan tahun karena secara tak sengaja digosok oleh seorang pengrajin/patri bernama Boutros Arbeely, seorang Katolik Maronit, ia pria asli Zahlel (Lebanon). Kehidupan berikutnya menjadi asistennya, mengenal banyak tetangga dan teman terutama Maryam sang pemilik kafe yang ramah dan Dokter Saleh yang kini menjadi penjual es krim keliling, dan betapa kehidupan sudah sangat berubah. Ahmad mencinta gadis konglomerat Watson bernama Sophia yang mendatanginya suatu malam di lantai atas rumahnya, berkencan dan melewatkan banyak waktu bersama, secara sembunyi karena sang putri akan bertunangan, dan menikah dengan kalangan bangsawan pula.

Chava bekerja di toko roti milik Mrs. Radzin, karena golem ga tidur dan bertenaga kuat, maka kerjanya luar biasa bagus. Tak mengenal kata lelah. Berteman dengan pekerja lain Anna yang lalu mengajaknya berdansa berkenalan pula dengan Phyllis, Jerry, dan Estelle, konflik dengan pacarnya Irving yang janji menikahi tapi ga jadi, memicu kemarahan dan kehebohan malam dansa hingga ada yang terluka parah. Chava sendiri akhirnya menikah dengan keponakan sang rabi, Michael Levy yang seorang pekerja amal rumah singgah yang berpandangan liberal. Bayangkan, golem menikah dengan manusia! Yang jelas, ini tak seperti Twilight blink-blink yang malam senggamanya mengguncang, golem di sini pasif dan tak bisa tidur, jadi ia hanya akan pura-pura terlelap.

Ahmad menjadi asisten pengrajin yang handal, banyak karyanya yang dicipta memesona. Dari besi, tembaga, perak, emas. Mendapat pujian artistik, dan omzet Arbeely otomatis melambung. Kehidupan mereka hangat, seolah tak banyak masalah. Justru kehidupan lama Ahmad yang sungguh mendebarkan, diceritakan secara dramatis bagaimana awal mula ia diperangkap. Gurun Suriah yang gersang dengan seorang remaja penuh tanya Fadwa, kehidupan sisian dunia lain itu sempat membuat khawatir tapi ternyata ayahnya Abu Yusuf pernah mengalami imaji/fantasi yang sama. Sampai suatu ketika Fadwa seperti kesurupan, sehingga oleh bapaknya dibawa ke dukun hitam Wahab Ibn Malik yang lalu mengelurkan jin, tapi ritual itu harus dibayar sangat mahal. Mulai saat itulah sang jin menghuni guci.Kisahnya dituturkan berganti-ganti dari kedua sudut pandang karakter, lalu dilebur ketika sampai bab 12, mereka bertemu, mencuriga ada yang aneh, dan saling mencoba mengenal dekat. Janjian setiap seminggu sekali bertemu di malam hari untuk melewatkan hari bersama, berjalan-jalan di gelap malam Washington Street, ngobrol dan memaknai hidup.

Lalu dimunculkanlah sang antagonis, Yehudah Schaalman yang menyamar memakai nama Joseph Schall, sang pencipta golem turut ke Amerika. ia memiliki obsesi hidup abadi. Mencari buku petunjuk. Buku yang ditulis rabi Avram Meyer menjelaskan beberapa aspek, maka ia pun ke sana, rabi Meyer yang karena usia, meninggal, maka buku dan warisnya ada di Michael dan Chava. Shmira, tradisi yahudi berjaga di samping jenazah. Ia bergabung dengan badan amal tersebut, mengejar dan akhirnya mengetahui kehidupan makhluk ciptaannya. Di sinilah sejatinya buku mulai meriah. Karena antagonis yang tua dan mengejar kehidupan abadi, karena jin mulai terancam, dan golem sendiri terdesak. Semua melebur dalam ledak harapan masing-masing.Memang buku ini ditulis dengan detail, tapi adegan perang dan memetakan aturan mainnya lemah, berliku tapi tak bikin penasaran. Seolah memang dicipta untuk diarahkan ke layar film, seperti kejadian di rumah singgah dan ancaman-ancaman sang rabi ke Anna, itu sudah khas Hollywood, dramatis terasa palsu. Termasuk keputusan final jin yang mengingin ke Timur Tengah lagi, menuntaskan misi lalu ending yang sweet, duh betapa eksukusinya sangat film-able, salah satu bagian yang mengehingkan layar bisa jadi adalah saat sang rabi terpecah-jiwanya bak harcrux Lord Voldemort. “Dan melihat jiwa-jiwanya sendiri di hadapannya, mutiara-mutiara dalam rangkaian tak berujung, yang dimulai dengan ibn Malik dan diakhiri dengan dirinya.”

Untuk sebuah novel yang tebal, menyajikan hal-hal semacam itu sangat disayangkan. Kurang worth it melahap lembar-lembarnya, kurang bervitamin, melelahkan. Seolah setelah bercinta bermenit-menit, anti-klimaks. Buku ini ternyata debut, dan aliran dramanya sangat biasa. Libur tiga hariku beruntun tanggal 10, 11, 12 April 2020 terasa kurang gereget menyelesaikan ini. Untuk buku pinjaman. Hiks,… “Jin tolong! Kami sedang bertempur dengan segerombolan ifrit dan kami terluka – kami butuh tempat berlindung.”

Aturan golem yang tak bisa luka, jin yang menghuni tubuh manusia, rahasia kehidupan abadi yang jiwanya tersiksa karena reinkarnasi dan hanya berganti tubuh, serta segala aturan gaib itu memang sah-sah saja dicipta. Dunai fantasi imaji masih sangat luas nan tak bertepi, namun untuk Sang Golem dan Jin terasa mengada, mungkin karena penyampaian yang biasa, atau pemilihan diksi yang kurang luwes, atau memang pada dasarnya inti cerita ini sendiri yang sangaaat standar. Mempertemukan golem lempung dengan jin api saja sudah terdengar janggal, apalagi menyatukannya. Bubuhkan cinta maka dunia manusia yang fana mengalirkan gelombang asmara. “Ya, aku janji. Tapi kita harus pergi ke tempat lain. Yang privat, agar tidak didengar orang lain.”

Sang Golem dan Sang Jin | By Helene Wecker | Diterjemahkan dari The Golem and the Jinni | Copyright 2013 | GN 402 01 15 0032 | Alih bahasa Lulu Fitri Rahman | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Primadonna Angela | Desain sampul @ibgwiraga | 664 hlm.; 23 cm | ISBN 978-602-03-1425-9 | Skor: 3/5

Untuk Kareem

Karawang, 250420 – Glee Cast – Pompeii

Thx to Titus Pradita

The Hobbit – J. R. R. Tolkien 

The Hobbit – J.R.R. Tolkien

Fili: “Aku tidak ingin lagi mencium bau apel seumur hidupku. Tongku penuh bau apel. Mencium bau apel terus-menerus dengan perut lapar dan tak bisa bergerak, bisa membuat orang jadi gila. Aku bisa makan apa saja selama berjam-jam sekarang – asal jangan buah apel.”

Setelah terpesona The Lord Of The Rings (filmnya) yang kutonton tahun 2005 sampai beli kaset vcd original komplit seri, saya sempat akan membeli novelnya. Sayang di Cikarang susah sekali menemukan. Seakan sekejap waktu merentang cepat sampai di tahun 2009, saya malah menemukan The Hobbit di tumpukan buku diskon di Carefour Cikarang, dan taa-daaa… saya terkesan. Saya sangat terkesan. Setelah epic Potter berakhir 2007 inilah buku fantasi yang sukses bisa sampai klimak to the maxxx. Tiga tahun terentang ada Bartimaeus trilogy yang juga superb. Speechless.

Filmnya dibagi menjadi tiga, padahal bukunya tak lebih tebal dari al kitab. Dulu antusias menanti, tapi karena yang pertama bagus yang kedua sekedar lumayan, yang ketiga hingga kini belum kulihat. Kisahnya dipanjang-panjangkan, dan banyak sekali yang dicipta baru untuk memenuhi durasi. Karena setting waktu memang sebelum kisah Frodo maka segalanya memang mungkin.

Poin utama cerita adalah kumpulan kurcaci berjumlah tiga belas yang meminta bantuan hobbit cerdas, pintar menyelinap curi dan selalu rindu rumah di Bag’s End, Bilbo Baggins untuk menyertainya perjalanan ke Timur menuntut hak pada naga jahat Smaug yang menguasai lembah penuh emas. Dipimpin Thorin Oakenshield yang ambisius dan disertakan Gandalf the Grey yang memberi saran untuk mengajak Bilbo, mereka berpetualang. Mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir Indah ke samudera. Dihadang berbagai rintangan dan Bilbo tersesat di gua Gollum yang mengakibat sebuah cincin ajaib dikenakan, berhasilkah?

Kutipan-Kutipan

Kami di sini lebih suka hidup tenteram dan tidak menyukai petualangan. Petualangan cuma membawa kesulitan dan tidak menyenangkan. Membuat makan malam jadi terlambat! Aku tidak mengerti kenapa ada orang yang menyukai petualangan. – 15

Hari berikutnya Bilbo hampir melupakan Gandalf sama sekali. Ingatannya memang tidak terlalu tajam, kecuali ia mencatat dalam Daftar Acara. – 17

Dengan tongkat kayu dibabatnya kepala raja goblin yang bernama Golfimbul hingga terpelanting. Kepala raja itu melayang di udara sejauh delapan puluh meter, dan masuk tepat ke lubang kelinci. Maka dalam pertempuran ini pasukan goblin dikalahkan, dan sejak itu pula terciptalah permainan golf. – 29

Waktu melihat tampang orang kecil yang lucu itu, aku sudah mulai ragu. Dia lebih mirip pedagang barang kelontong daripada pencuri! – 30

Bagaimana aku akan bisa mengatasinya? Dan apakah aku akan kembali dengan selamat? – 35

“Jangan seperti orang tolol, Bilbo Baggins!” katanya pada diri sendiri, “Percaya pada naga dan segala dongeng omong kosong dalam usiamu yang setua itu!”

Sampai akhir hayatnya Bilbo tak pernah mengerti, bagaimana ia bisa keluar tanpa topi, tongkat, atau uang atau segala sesuatu yang biasa dibawanya kalau pergi ke luar. – 43

“Sial benar segala urusan ini. Ingin sekali aku berada di rumah, dalam laingku yang menyenangkan, dekat api dengan ketel yang bersiul.” – 45

Semakin sedikit bertanya-tanya, semakin sedikit pula kesulitan yang akan kita temukan. – 47

Bilbo terpaksa berangkat sebelum sempat mengatakan bahwa ia tak bisa menirukan suara burung apa pun. – 48

“Mengapa tidak kautunjukkan dari tadi?” – 58

Jadi sekarang kalian sudah mengerti. Lain kali kalian harus lebih hati-hati, kalau tidak kita takkan sampai ke mana pun. – 60

Sekali lagi ia membayangkan kursinya yang empuk di muka perapian, dalam liang hobbit-nya dan ketel yang mulai bersiul. Bukan untuk terakhir kali! – 62

Kadang-kadang ia terangguk-angguk dan hampir jatuh dari tungganggannya, atau hidungnya menumpuk leher kuda poninya. Makin turun ke bawah semangat mereka makin naik. – 64

“Lembah punya telinga dan beberapa peri punya lidah yang terlalu periang. – 67

Hari-hari yang penuh kegembiraan rasanya tidak menarik untuk diceritakan. Sementara itu, segala hal yang kurang enak, mendebarkan hati dan bahkan menyedihkan selalu lebih memikat untuk diceritakan. – 67

‘tinggi pintu lima kaki dan tiga bisa berjalan berjajar’ – 69

‘Berdirilah dekat batu kelabu waktu srigunting mematuk, dan matahari yang sedang terbenam akan memancarkan cahaya terakhir Hari Durin ke arah lubang kelinci.’ – 70

“Aduh, mengapa aku mau meninggalkan liang hobbit-ku!” kata Bilbo yang terlonjak-lonjak di punggung Bombur. – 85

Mula-mula ia terkejut, tapi lama-lama ia jadi terbiasa. – 89

Kadang-kadang Goblin Besar ingin makan ikan dari danau dan disuruhnya anak buahnya pergi ke sana. Kadang-kadang baik goblin maupun ikannya tak pernah kembali. – 91

Waktu! Waktu! – 97

Ia membayangkan kehidupan Gollum yang tidak mengenal hari, cahaya dan pengharapan. Yang diketahuinya hanya batu keras, ikan dingin, merayap-rayap dan berbisik-bisik sendiri. Bayangan itu melintas sekejap dan Bilbo menggigil. – 107

‘Selama ini dia lebih banyak memberikan kesulitan daripada bantuan pada kita. Kubilang, terkutuklah dia!’ – 113

“Apa yang akan kita lakukan. Apa yang akan kita lakukan? Lepas dari mulut harimau jatuh ke mulut buaya.” – 120

Pohon bukanlah tempat yang menyenangkan untuk diduduki lama-lama, pada saat kapan pun. Lebih-lebih kalau malam dingin dan berangin. Ditambah dengan sekelompok serigala mengepung dan menunggu untuk memakan mereka, tidak ada lagi tempat yang lebih menyedihkan. – 122

“Sekarang aku tahu bagaimana perasaan dendeng yang tiba-tiba diangkat dari penggorengan dengan garpu dan ditaruh kembali di atas rak!” – 132

Ia tidur bergelung di karang yang keras, lebih nyenyak daripada tidurnya di kasur empuk di rumahnya sendiri. Tapi semalaman ia memimpikan rumahnya. – 135

Ingat, kalian tidak boleh keluar dari jalan setapak karena alasan apapun. – 160

Semua tergantung dari nasib baik kalian, serta keberanian dan kecerdasan otak kalian sendiri. – 165

“Bukan itu yang kumaksud. Maksudku, tidak adakah jalan memutar.” – 166

Bilbo berlutut di tepi air dan melihat ke sebarang. Tiba-tiba ia berseru, “Ada sampan di seberang! Aduh kenapa tidak berada di tepi sebelah sini!” – 171

“Apakah hutan terkutuk ini tak ada habis-habisnya?” – 176

“Kenapa aku bangun dari tidur? Mimpiku Indah sekali. Aku mimpi berjalan di hutan yang agak mirip hutan ini. Di tanah ada api unggun. Pesta sedang berlangsung. Ada Raja Peri Hutan di situ mengenakan mahkota daun. Rakyatnya menyanyikan lagu gembira. Aku tak menghitung atau melukiskan makanan dan minuman yang begitu banyak.” | “Kau tak perlu menceritakannya,” kata Thorin. “Kalau kau tak bicara soal lain, lebih kau diam saja. Kami sudah cukup kesal gara-gara kau…” – 179

“Ya, mereka tidak takut. Tapi apa aku tidak takut pada mereka?” – 182

Bilbo berlari berkeliling sambil memanggil-manggil, “Dori, Nori, Ori, Oin, Gloin, Fili, Kili, Bombur, Bifur, Bofur, Dwalin, Balin, Thorin Oakenshield.” Sementara itu, ia merasa ada orang-orang yang tak bisa dilihat dan didengarnya juga berlari mengelilinginya sambil memanggil namanya berkali-kali. – 184

Satu-satunya makhluk yang tidak diberi ampun oleh Peri Hutan hanyalah laba-laba raksasa. – 199

Semua kurcaci diikat dengan tali, dijajarkan dan dihitung. Tapi mereka tak pernah menemukan atau menghitung si hobbit. – 201

“Kami kira kau punya rencana yang masuk akal, waktu kau mencuri kunci tahanan. Ini rencana gila!” – 211

Mereka berhasil meloloskan diri dari penjara Raja Peri. Tapi apakah mereka hidup atau mati, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. – 219

Seandainya mereka tahu apa yang terjadi kemudian, mereka pasti akan sangat terkejut. – 225

Tapi apa yang diucapkannya sangat berlainan dengan apa yang dipikirkannya. – 233

“Kalian bilang tugasku adalah duduk di ambang pintu dan berfikir. Nah, aku sedang duduk dan berfikir.” Tapi Bilbo tidak sedang memikirkan tugas yang dibebankan padanya. Ia sedang memikirkan Daerah Barat nun jauh di sana, serta liang hobbit di bawah Bukit yang menyenangkan. – 240

Para kurcaci gemetar. Takut jangan-jangan kesempatan ini akan lenyap kembali. Mereka mendorong batu sekuat tenaga – namun usaha mereka sia-sia. – 243

“Akhirnya kau melibatkan dirimu dalam bahaya, Bilbo Baggins.” – 247

“Aku tidak diikutsertakan untuk membunuh naga. Itu tugas seorang prajurit. Sebagai pencuri, tenagaku dipakai untuk mencuri harta.” – 254

Aku percaya apa yang dikatakannya, walau aku yakin itu bukan dari pengalamannya sendiri. – 255

“Akulah si pencari jejak, pemotong jaring laba-laba, lalat penyengat. Aku yang terpilih sebagai pemilik nomor mujur.” – 257

“Sisikku seperti perisai berlapis sepuluh. Gigiku deretan pedang, cakarku tombak, dan lecutan ekorku halilintar, sayapku angin ribut, dan napasku tiupan Elmaut.” – 261

“Jangan takut! Selama masih hidup selalu ada harapan, begitulah kata ayahku selalu.” – 270

Yang harus kita cari sekarang adalah jalan keluar, dan kita sudah terlalu lama bergantung pada nasib baik! – 276

Pembicaraan mereka selalu sampai pada satu pertanyaan: di mana Smaug? – 281

“Tempat ini masih berbau naga,” gerutunya sendirian. “Membuatku mau muntah rasanya. Dan aku benar-benar sudah sebal makan cram.” – 304

Meski aku sendiri tak pernah merasa sebagai pencuri – tapi aku pencuri yang jujur. – 311

Tapi perang ini rasanya sama sekali tidak mengandung kebesaran. Bahkan tidak menyenangkan, dan mengerikan. Ingin sekali aku tidak terlibat di dalamnya.” – 326

“Kalau kelak kau lewat di muka rumahku, masuklah. Kalian tak usah mengetuk pintu lagi. Waktu minum teh pada jam empat, tapi kapan pun kalian datang, akan kusambut dengan senang hati.” – 334

Dan aku sangat bangga akan dirimu; tapi kau juga hanya makhluk kecil di tengah alam semesta yang begini besar! – 348

Kutipan yang saya ketik ulang panjang nan banyak ya. Maklumlah ini  buku istimewa. Setiap lembarnya memberi kesan, dan bagian terbaik kesukaanku ada dua yang pertama saat main tebak-tebakan dengan Gollum. Cerdas dan sangat menyenangkan. Saya sampai teriak, ‘wow wow wow’. Satunya lagi setiap Bilbo ingat rumah liangnya yang nyaman. Kalau ditolok ukur kepuasan fantasi, The Hobbit adalah yang terbaik. Lebih hebat ketimbang Harry Potter, Narnia, His Dark Materials  apalagi Bartimaeus. Pertama terbit tahun 1937, jauh sekali dari fantasi era modern J.R.R. Tolkien menulis kisah bak sebuah dongeng yang lezat disantap dalam kondisi apapun. Setahuku doeloe pernah diterjemahkan ke Balai Pustaka, dengan sampul jadul nan klasik. Yang kubaca adalah terjemahan Gramedia, yang syukurlah sangat bagus. Tak ada komplain, ditambah ilustrasi bagus yang membawa bayang, sungguh ini adalah kisah yang sempurna.

The Hobbit jelas masuk 10 besar novel terbaik yang pernah saya baca. Noted!

The Hobbit atau Pergi dan Kembali | by J.R.R. Tolkien | diterjemahkan dari The Hobbit | originally published in English by HarperCollinPublishers Ltd | copyright 1937, 1951, 1966, 1978, 1995 | alih bahasa A. Adiwiyoto | GM 402 02.011 | sampul dikerjakan oleh Eduard Iwan Mangopang | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan ketiga, Mei 2002 | 352 hlm; 23 cm | ISBN 979-686-767-2 | Skor: 5/5

Karawang, 140917 – Sherina Munaf – Bermain Musik