Originals #28

Saya bangun pagi dan terbelah antara keinginan untuk memperbaiki dunia atau menikmati dunia. Ini menyulitkanku membuat rencana hari ini.”E.B. White

Para psikolog menemukan ada dua jalan menuju keberhasilan: konformitas dan originalitas. Konformitas artinya mengikuti orang kebanyakan di jalur konvensional dan menjaga status quo. Originalitas memilih jalur yang jarang dilalui, memperjuangkan ide baru yang melawan arus, tetapi akhirnya membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Tentu saja dari judulnya kita sudah tahu, buku ini mengupas banyak sekali hal di poin kedua.

Buku yang sangat bervitamin. Untuk menjadi original ternyata justru diminta untuk lebih berpikir sederhana, ga usah muluk-muluk. “Dalam hal gaya, ikutilah arus. Dalam hal prinsip teguhlah sekukuh karang.” Banyak ide fresh di antara kita, di sekeliling kita. Saya baca buku ini akhir tahun lalu, sebagai buku penutup rangkaian #2018lazionebudybaca, iseng menghitung, saya terhenti di angka 110. Sempat pula kumau ulas, ketik panjang lebar, tapi malah awal tahun ada tragedi yang membuatku pilu dan istirahat dari banyak hal. Nah, baru sempat lagi lanjut ketik ulas di momen #30HariMenulis ini. Mendekati akhir. Kebiasaan, aturan agama, dan hukum itu sebenarnya dibuat oleh manusia dan karenanya bisa dirubah. “Mari kita jadikan tahun mendatang berarti. Terasa energi yang tak mungkin diciptakan oleh band rock. Setiap orang ada tugas penting yang harus dilaksanakan.

Ciri khas originalitas adalah menolak status qou dan mencari jalan pilihan yang lebih baik. Titik awalnya adalah keingintahuan: memikirkan secara mendalam mengapa sesuatu yang default itu ada pada mulanya. Kita terdorong mempertanyakan hal yang default saat mengalamai vuja de, kebalikan dari de javu. Déjà vu terjadi saat kita menemui sesuatu yang baru, tapi rasanya kita pernah melihatnya sebelumnya. Vuja de, kita menghadapi sesuatu yang familier tetapi kita melihatnya dengan sudut pandang baru yang membuat kita mendapatkan wawasan baru untuk masalah lama. Sudah lama para ilmuwan sosial tahu bahwa kita cenderung terlalu percaya diri saat menilai diri sendiri. Banyak orang gagal menciptakan originalitas karena mereka menghasilkan sedikit ide dan kemudian terobsesi untuk mengasahnya agar sempurna.

Ia akan mencerahkan, menginspirasi, dan sekaligus mendukung Anda. Banyak contoh dipaparkan dalam buku ini, beberapa yang sudah sangat terkenal. Contohnya sejarah Google yang dibuat Larry Page dan Sergey Brin, aplikasi paling terkenal di dunia digital ini awalnya juga terdengar biasa. “Kami hampir tak mendirikan Google, terlalu khawatir kalau berhenti dari program doctoral kami.” Kata Larry Page. Mereka orang-orang besar yang ketika merancang sejarah, juga memiliki kekhawatiran gagal sehingga mencari pijakan di bagian lain. Jadi walaupun sedang mencipta hal besar, mereka tetap melanjutkan studi, ibarat rencana cadangan masih dalam jalur. Mereka bermain aman dengan mengikuti jalur sukses konvensional. Dapatkah penemu menilai idenya sendiri secara objektif? Yakni seni memperkirakan keberhasilan ide? Poinnya adalah, jangan serta merta melepas yang ‘pasti’ kecuali yang utama sudah mapan. Pengusaha yang melindungi diri dengan memulai usaha sembari tetap bekerja kantoran jauh lebih anti risiko dan tak percaya diri.

Banyak usahawan mengambil banyak risiko-tetapi mereka biasanya gagal, bukan sukses.” Kata Malcolm Gladwell. Setiap usaha memang memiliki resiko, tapi tetap harus menghitung jalur kemungkinan. Semakin sedikit jalur jatuh, semakin bisa ditekan minim tentunya semakin besar potensi berhasilnya. Saat menghadapi situasi yang tidak disukai, mereka memperbaikinya. Dengan berinisiatif memperbaiki keadaan, hasilnya tidak banyak alasan untuk berhenti bekerja. Mereka menciptakan pekerjaan yang mereka inginkan. Jargon berbahaya yang sering kita temui adalah: “Jika ide itu memang bagus, pasti sudah ada yang mengerjakannya.” Kalau kayak gini ga akan maju, ga akan mulai-mulai. Buku ini jelas mengajak tabrak aturan! Kita mulai menyadari bahwa sebagian besar keadaan itu punya asal-usul sosial: aturan dan sistem itu diciptakan oleh orang. “Peluang menghasilkan ide berpengaruh atau sukses adalah fungsi positif dari jumlah total ide yang dihasilkan.

Cara menjadi berkuasa bukanlah dengan menentang kemapanan, tetapi pertama-tama tempatkan diri di dalamnya dan kemudian tantang dan khianati kemapanan itu. Dalam politik, banyak hal yang perlu dibuat unik. Ahli politik mengevaluasi presiden Amerika, mereka menetapkan bahwa pemimpin yang paling tak efektif adalah yang mengikuti kehendak rakyat dan hal-hal yang telah ditetapkan presiden sebelumnya. Presiden terhebat adalah yang menentang status quo dan mewujudkan perubahan di seluruh negeri. Apapun ideologi politiknya, orang akan lebih menyukai calon yang tampak ditakdirkan akan menang. Saat peluangnya turun, orang jadi kurang menyukainya. Indonesia kini dalam situasi politik, ujung Pilpres sudah kita ketahui, hasil akhirnya Pertahana melanjutkan program kerja. Berani melawan arus demi sebuah adil makmur? Seperti kata Ira Glass, “Sesuatu yang mungkin paling penting yang bisa dilakukan adalah banyak bekerja. Hasilkan banyak karya.” Jadi mari kerja kerja kerja. Bangsa besar ini… akan berhasil dan sejahtera… satu hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri.

Sekutu terbaik Anda adalah orang-orang dengan jejak rekam yang tangguh dan menyelesaikan masalah dengan cara yang mirip dengan cara Anda. Layaknya sebuah tuah, kalau kamu ingin tahu sifat seseorang, lihatlah kawan dekatnya. Maka kalau ingin sukses ya harus berkawan, kolaborasi, bareng orang sukses pula. Sahabat adalah seseorang yang melihat lebih banyak potensi dalam diri Anda ketimbang yang Anda lihat sendiri. Saya melihat kesuksesan biasanya tak dapat diubah mendahului yang lain, tetapi menunggu dengan sabar saat yang tepat untuk bertindak. Dan ingat, sukses itu tergantung cara pandang. Sukses satu orang jelas beda dengan sukse orang lain. Saya berhasil menyelesaikan program tulis bulan Juni 30 ulasan, jelas bagiku sukses yang mungkin bagi orang lain sepele. “Yang terpenting bukan gagasannya, tetapi eksekusinya.” Mengapa musuh bisa menjadi sekutu yang lebih baik dibanding orang yang pura-pura mejadi teman, dan mengapa nilai bersama bisa memecah-belah bukan menyatukan. “Jika Anda ingin membuat koneksi yang inovatif, Anda tak boleh mempunyai serangkaian pengalaman yang sama dengan orang lain.”

Dalam teori sukses, saya pernah dengar tiga rumus: jadilah yang pertama, atau jadilah berbeda, atau jadilah yang terbaik. Kalimat ini sudah sangat sering saya dengar di banyak diskusi, nyatanya memang harus usaha ekstra. Ketika Anda semakin menghargai prestasi, Anda akan semakin takut gagal. Alih-alih mengincar prestasi unik, dorongan kuat untuk sukses membawa kita ke arah yang dijamin sukses. Menjadi orisinal bukanlah jalur termudah untuk mengejar kebahagiaan, tetapi cara ini memberikan kebahagiaan dalam rangka pengejaran tersebut. Berdasarkan kata-kata Penulis William Deresiewicz, mereka menjadi domba-domba terbaik dunia.

Di dunia kerja, saya sebagai HR dalam wawancara karyawan keluar mencantumkan penilaian selama kerja di sini. Ternyata menurut buku ini, kurang efektif. Justru dibalik. Alih-alih meminta ide pada karyawan yang akan keluar, mulailah meminta pandangan saat pertama kali mereka masuk. Semakin ahli dan pengalaman seseorang, cara pandang mereka terhadap dunia semakin sulit dirubah. Menurut Adam, orang-orang yang baru masuk memiliki pikiran yang fresh, semangat membuncah, dan tentu saja ide yang tak lazim karena mereka belum mengalami kerja di sini! Well, benar juga ya. “Tak seorang pun yang datang ke sini membawa ide yang mereka anggap jelak.” Orang yang sering berpindah pekerjaan akan lebih cepat berhenti bekerja, tetapi ternyata tidak: peluang orang yang telah lima kali pindah kerja dalam lima tahun terakhir akan berhenti dibanding dengan orang yang bertahan di tempat kerjanya selama lima tahun tidaklah berbeda. Rumus HR dalam melawan dead wood adalah mencipta situasi. Untuk mengeluarkan orang dari zona nyaman, Anda harus menumbuhkan ketidakpuasan, rasa frustasi, atau kemarahan pada keadaan sekarang dan menjadikan sebagai kegagalan pasti. Jika Anda mendapat waktu untuk berpikir, pola umum mudah lenyap dalam detail. Saya juga terpikat oleh keamanan kedudukan mapan.

Warby Parker adalah gabungan dua nama tokoh ciptaan novelis Jack Kerouac, semangat pemberontak dimasukkan ke dalam budaya mereka, dan cara itu berhasil. Saya ga terlalu mengenal sang penemu jualan daring kaca mata ini, di buku ini ia disebut berulang kali seolah menemukan emas di tanah kosong. Seperti semua pencipta, inovator, dan agen perubahan besar, empat sekawan Warby Parker mengubah dunia karena mereka mau melakukan sesuatu yang belum jelas hasilnya. Salut atas keberanian bertindak, keberanian mengambil jalan berbeda. Seolah menebas jalur hutan perawan, membuat batu setapak menuju puncak. “Periode ditemukannya produk paling minor cenderung sama dnegan periode dihasilkannya karya besar.” Luxottica lahir di masa yang sangat pas, era internet yang sedang mewabah dan kebutuhan kaca mata yang banyak dengan pembelian garansi. Mereka tidak mampu mengubah dunia adalah karena mereka tek belajar untuk berpikir original. Mereka memusatkan energi untuk melahap pengetahuan ilmiah yang ada, tetapi tak menghasilkan pengetahuan baru.

Wabah sinetron di televisi lokal di jam utama sungguh memprihatinkan. Kita mayoritas sepakat tentunya sinetron merusak moral, membuat candu buruk bagi generasi berikutnya. Nyatanya produk itu laku. Kita tahu mematikan televisi saja tak cukup menunjukkan pada para produser sinetron bahwa rakyat siap berdiri memrotes. Tapi seberapa banyak? Masalahnya produk itu laku, dijejali iklan melimpah, dan semacam jaminan finansial sehat. Ketika kita sedang berusaha memengaruhi orang lain dan mendapati mereka tak menghormati kita, keadaan ini menciptakan siklus kekesalan yang tak berujung pangkal. Jika Anda ingin mengubah perilakunya, pakai lebih baik menyoroti manfaat perubahan atau kerugian akibat perubahan? Penerima yang marah secara acak diminta memberikan satu dari tiga respons berikut: malampiaskan, mengalihkan, atau mengontrol. Bagaimana respon Anda terhadap produk sinetron kita kawan?

Model ATM – Amati, Tiru, Modifikasi sudah jadi kewajaran di era ini. Tentu saja tak ada yang benar-benar original, dalam arti bahwa semua ide kita dipengaruhi oleh hal-hal yang pernah kita pelajari dari dunia sekitar. Kita selalu meminjam pemikiran-pemikiran, baik secara sengaja atau tidak. Kita rentan terhadap ‘kleptomnesia’ – secara tidak sengaja mengingat ide-ide orang lain sebagai ide kita sendiri. Originalitas termasuk memperkenalkan dan mengembangkan sebuah ide yang relatif tidak umum di dalam sebuah domain tertentu, dan berpotensi memperbaiki domain tersebut.

Di dunia musik, kita tahu banyak sekali genre dan tergantung sudut pandang siapa yang terbaik, siapa yang biasa. Tergantung selera, tergantung obsesi. Beethoven dikenal sebagai pengkritik karya sendiri yang baik. Sesuatu yang istimewa, tahu karyanya laik enggaknya. Jadi ingat Sherina Munaf di twitter lalu bilang, sebulan stuck ide nulis lagu, butuh tambahan waktu. Kita harus segera membangkitkan ide sendiri sebelum menyaring pendapat orang lain. Dan cara ini ternyata membantu menjelaskan mengapa akhirnya lagu berhasil rilis. “Saya dianugerahi selera musik yang kuat. Terkadang tulang saya menggigil.” Kata Darwin.

Ia menghabiskan empat puluh tahun berikutnya bekerja di sebuah penerbit demi stabilitas hidup dan menulis puisi di sela-sela waktu. Seperti komentar pendiri Polaroid, Edwin Land, “Tak seorang pun benar-benar orisinal di satu bidang, kecuali ia telah memiliki stabilitas emosi dan sosial yang berasal dari sikap yang tetap di semua bidang lainnya di luar bidang tempat ia menjadi orisinal.

Ketika kita meratapi originalitas di dunia, kita menyalahkan ketiadaan kreativitas. Untuk menjadi orisinal, orang dewasa harus lebih jarang belajar dan lebih sering tak belajar. Dan mereka menginspirasi saya agar tak terlalu mengikuti harapan menciptakan dunia yang lebih baik bagi mereka. “Keyakinan pada ide sendiri itu berbahaya, bukan hanya karena membuat kita rentan terhadap ide positif salah, tetapi juga membuat kita berhenti menghasilkan variasi yang membutuhkan untuk meraih potensi kreatif kita.”

I have a dream” King, 1963

Originals “Tabrak Aturan”, Jadilah Pemenang | By Adam Grant | Copyright 2016 | Diterjemahkan dari Originals | Terbitan Viking, an imprint of Penguin Random House LLC 375 Hudson Street, New York 10014 | Penerbit Noura | Penerjemah Mursid Wijanarko | Penyunting Aswita Fitriani | Penyelaras aksara Lian Kagura, Sheilla | Penata aksara Aniza Pujiati | Perancang sampul Artgensi | Cetakan pertama, April 2017 | 348 hlm.; 15 x 23 cm | ISBN 978-602-385-277-2 | Skor: 4/5

Untuk Allison

Karawang, 311218 – The Vure – Mint Car // 280619 – Christina Aguilera – Beautiful

Thank a lot Noura. Bless you.

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day28 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Iklan

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing #27

Bahwa di dalam diri mereka. Kekuatan adalah saat mereka mampu membuat orang lain kesuliatn dan memohon-mohon.” – Yusuf Yasa

Ini adalah cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Buku yang hhhmmm…, OK, tapi gmana ya. Ada semacam hal janggal yang mengganjal. Plotnya mirip 100 Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez, kalau ga mau dibilang contek. Gaya berceritnya agak aneh, dengan sering berujar ‘pada suatu masa’. Seperti para pencerita lokal macam Eka Kurniawan, Triyanto Triwikromo, AS Laksana, dkk, yang suka memakai nama-nama unik, Eko Triono juga melakukan hal serupa. Nama-nama karakter yang ‘muluk-muluk’ lucunya: Dari Massa Jenis, Gendis, Tulus Tapioka, Kembang Surtikanti, Yusuf Yasa, Rizal Gibran, Parta Gamin Gesit, Darma Gabus, Marzuki Kazam, Muhammad Basyirin, Jaya Kadal, Darman Gabus, Kembang Surtikanti, Dirjo Wuyung, Rodi Pahrurodi dan seterusnya. Boleh saja sih, sah-sah saja. Namun karena saya sering menemui, lama-kelamaan bosan juga. Lebih senang dengan nama-nama Indonesia yang membumi. Pilihan diksi dalam gaya bertutur kental dengan nilai lokal, kata Seno Gumira Ajidarma. Sementara Anton Kurnia bilang, menggelitik kita dengan semacam karnaval unik. Yup, sebagian sepakat. Kaya atau miskin datang dengan cara yang sama, bahagia dengan cara yang sama.

Kisahnya tentang sebuah keluarga yang melakukan transmigrasi dari Jawa ke tanah seberang. Lika-liku kehidupan para penjahat memulai petualangan baru. Yang lelaki sangat aneh, tapi terlihat jenius, yang perempuan adalah anak kiai yang termasyur. Putri pemilik pesantren baik-baik yang juga kelihatan cerdas, tapi memilih suami dengan tak lazim pula. Pasangan aneh yang menginginkan anaknya jadi ilmuwan, sekaligus ulama. Kombinasi tak wajar ini lalu berbaur dalam tiga puluh tiga kepala keluarga diangkut dengan dua bus biru. Berdesakan dengan kardus, barang dalam karung dan ikatan dalam plastik melakukan perjalanan ke Barat. Menyeberangi lautan, menancapkan bambu di tanah hutan perawan, dan drama umat manusia dimulai. “Tiap pendosa akan memiliki masa depan, sebagaimana tiap ulama yang telah memiliki masa lalu.”

Alurnya tak runut, pokoknya mirip sekali, bahkan polanya seperti 100 Tahun yang mendeskripsikan ending, lalu ditarik jauh ke belakang, Para Penjahat melakukan ‘napak tilas’ bagaimana menjalani kehidupan asing di rantau. Nama tanah rantau fiktif itu Jabalekat, nah apa bedanya dengan Macondo yang fiktif? Walau secara regional kita arahnya ke Sumatra. Nama areanya juga dibuat semenarik mungkin, seperti Gang Tokyo, Asia Kecil, Afrika Kecil, Australia Kecil, Pemukiman Perambah Hutan, Gang Shanghai Kecil, Balai Kumpul Jabalekat, dan seterusnya. Tokoh utamanya Parta Gamin, eks narapidana Nusakambangan yang tobat. Beristri jelita anak kiai, Kembang Sutikanti, putranya menjadi seorang pejuang revolusioner. Massa Jenis yang namanya diambil dari kemasan di tempat sampah, yang dibalik ya terdiri atas komposisi, produksi sampai identitas produk: Massa jenis adalah massa benda dibagi dengan volume. “Sudah kubilang, kau mencomot nama dari tempat sampah.” Dan nantinya mereka akan dikarunia anak kedua yang juga istimewa. Nama adalah doa.

Menghadapi orang-orang lokal yang sebagian tak ramah, hutan yang masih rimbun dipangkas, mengusir dan menghadapi hewan-hewan liar. “Jadi jangan percaya kalau kamu dengar tawa hantu, itu hanya tangis yang disamarkan.” Jangan memberikan ucapan dan komentar apa pun, katanya, pada orang yang belum bekerja dan bahkan tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Secara teori nenek moyang kita dari surga dan itulah sebabnya kita mabuk pada dunia. Para transmisgran ini selalu dijejali donkrin bahwa New York dan Sydney mula-mula dibangun dari migrasi bandit-bandit Inggris. Kalau mereka bisa kenapa kita enggak? Penyakit terberatnya adalah perasaan sunyi yang sering muncul tiba-tiba dan ketombe yang sulit dihilangkan; hingga sering kehilangan konsentrasi. “Jika ragu-ragumu dalam hal baik itu dari setan. Jika ragu-ragumu dalam hal buruk, itu dari malaikat.”

Parta Gamin sekalipun dapat istri istimewa dia punya pikiran liar juga tentang cinta masa lalu. Tapi, hanya ingatan diam. Karena kenyataannya tidak ada mantan yang lebih baik dibandingkan dengan mantan pacar yang menjadi istri. “Cinta dan sakit hanya beda istilah.”

Berikutnya yasu dah, segala cerita masyarat pindahan ini mengarungi kehidupan. Semacam rapat RT, koordinasi mengusir hewan buas, paguyupan membersihkan selokan, goyong royong mbangun desa, dan seterusnya. Apakah peran kucing lebih penting secara psikologis daripada peran ikan gabus secara biologis? Kelahiran para penerus, kematian para tetua hingga konfliks vertical dengan pemerintah yang memicu para penerus untuk melawan, memberontak demi revolusi. Dan begitulah kehidupan, selalu berputar, selalu pada akhirnya kita akan pergi dan diganti generasi berikutnya. Para Penjahat dan Kesunyian menampilkan sepenggal kehidupan orang-orang terasing tersebut dengan masam. Keunikan selain nama-nama yang aneh, adalah cara bercerita yang tak biasa, di mana plot-nya dipermainkan, tak segaris lurus laiknya waktu, tapi alurnya bolak-balik. Kalau kita harus menggugat Tuhan karena telah menciptakan dan memberi hidup pada orang jahat, maka kita pun harus menghukum orang-orang baik, sebab hanya dengan adanya orang-orang baiklah kita mampu menunjuk siapa orang-orang yang dianggap jahat. Kadang kita meragukan terhadap hal-hal sudah jelas. “Ini bukan tanah yang dijanjikan, ini tanah kutukan, tanah para binatang.

Awalnya memang sesuai harapan, tapi keterpencilan, perhatian pemerintah yang kecil, abai aturan, dan konfrontasi antar warga mencipta banyak masalah mendasar. Lalu saat muncul pemikiran generasi berikutnya, anak-anak mereka yang lebih modern mecuat, timbul gerakan pemberontakan, gerakan pembaruan yang coba dibasmi itu melibatkan orang-orang penting. Dan satu lagi, cerita akan semakin seru saat ditaruh seorang penghianat. Godaan komplit: harta, takhta, wanita. Siapa yang berani melawan suara rakyat? Siapakah yang teganya menjilat uang demi kenikmataan sesaat? “Saya resmi jadi penghianat. Demi cinta, ya demi cinta, saying. Apa pun saya rela, asalkan jangan menjadi kenanganmu.”

Awalnya saya kasih skor 3.5 karena kemiripan novel masterpiece Gabriel Garcia Marquez, tapi setelah kupikir-pikir sulit juga menjaga konsistensi sepanjang 200 halaman bertutur kata dalam drama yang memusing, walaupun ‘agakhappy ending. Biasanya kita menikmati Triono dalam cerita pendek, maka cerita panjang pertama beliau, novel pertama beliau yang kulahap ini sangat patut diapresiasi. Berlabel juara 3 UNNES – International Novel Writing Contest 2017. Yel-yel dan jargon itu – konon digali oleh Parta Gamin dari amanat penderitaan rakyat – bahkan telah bergema di hati mereka sendiri meski dalam diam bermain catur. Apakah perjuangan itu sebuah kesia-siaan besar?

Aku sudah melakukannya selama tiga puluh dua jam. Nggak jadi presiden nggak sipilis.”

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing | Oleh Eko Triono | GM 618202020 | Editor Sasa | Desain sampul Chandra Kartika (@kartikagunawan) | Desain isi Nur Wulan | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-602-03-8315-6 | Skor: 4/5

Karawang, 180419 – Nikita Willy – Lebih Dari Indah // 270619 – Westlife – I Don’t Wanna Fight

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day27 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Humanisme Y.B. Mangunwijaya #26

Pancasila adalah hasil finalnya, di mana “humanisme” terumuskan dalam sila pertama, secara de facto di Negara kita bersifat pluralis ini, tidak hanya dalam konteks “agama” dalam arti formal, melainkan juga keyakinan dan kepercayaan dalam arti kultural.

Saya seorang muslim, dan saya penikmat segala bacaan. Saya sepintas mengenal Yusuf Bilyarta (Y.B.) Mangunwijaya atau yang lebih akrab dengan sebutan Romo Mangun lewat novel Burung-Burung Rantau. Novel tersebut masih kusimpan, belum sempat kubaca. Namanya sering muncul di beranda sosmed sebagai sastrawan yang ternyata setelah membaca ini malah makin kagum karena profesinya yang banyak. Justru buku ini duluan yang kubaca, kubeli sewaktu liburan Lebaran lalu di Gramedia Slamet Riyadi, Solo. Kubaca kilat bulan ini, dan luar biasa. Ternyata beliau adalah sosok besar. Romo Mangun adalah seorang humanis religius yang mencurahkan seluruh hidup dan karyanya untuk terwujudnya humanisme. Dan humanisme tidak pernah selesai diperjuangkan karena menuntut pembaruan terus-menerus untuk menjadi manusiawi dan menghargai kemanusiaan. Sebelum menjadi profesi apapun ia harus menjadi manusiawi terlebih dulu sehingga bisa menghargai kemanusiaan yang ditandai dengan sikap terbuka, lugas, nguwongke, dan menghargai sesama.

Buku ini adalah kolaborasi Forum Mangunwijaya IX yang ditulis oleh orang-orang hebat, total ada delapan kontributor: A. Sudiarja, Sj, Ferry T. Indratno, Bakdi Soemanto (alm.), Bandung Mawardi, B. Rahmanto, Erwinthon Napitupulu, Musdah Mulia, dan St. Sularto. Kedelapannya menampilkan esai yang mewah, renyah dibaca, nikmat diikuti. Cara review, menuturkan pandangan hidup, sampai ketertarikan karya-karya beliau yang ditelusur. Banyak hal yang patut dipelajari. Romo Mangun sepaham dengan pandangan Rudolf Otto (The Idea of the Holy) bahwa manusia adalah makhluk religius (homo religious), demikian setiap manusia serta merta bersifat religius; ada sifat yang disebut ‘suci’ dalam arti moral. Religius di sini tidak harus berarti sebagai pemeluk agama tertentu, melainkan adanya kecenderungan dan kesadaran akan yang ilahi, yang mengatasi kekecilan manusia atau rasa kemakhlukan (creature-feeling) atau rasa ketergantungan (feeling of dependence) pada suatu lain. Saking banyaknya tema yang mau disampaikan karena beliau memang multi-karya, salah satunya arsitekur. Bidang arsitektur melakukan pendekatan konsep ‘guna’ dan ‘citra’.

Lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929 sebagai sulung 12 bersaudara, meninggal dalam tugas pada 10 Februari 1999 di tengah seminar di Jakarta. Romo Mangun menerapkan paradigma berpikir nggiwar dalam setiap langkah memperjuangkan humanisme. Konon, Romo Mangun menjadi pastor karena terharu pada partisipasi rakyat dalam gerilya, dan untuk ‘membayar utang kepada rakyat’. Maka pelayanannya bukan sebatas pelayanan gerejani, paroki, melainkan pada sosialitas umum, pembelaan kaum miskin dan melebar untuk kerja sama dengan agama lain.

Banyak sekali pemikiran yang disampaikan dalam buku tipis ini. Seperti kala Romo banyak mengkritik pemerintah yang bersifat penyeragaman, brainwash, formal, dan birokratis dan kurang memberi ruang bagi kreativitas anak didik dan menekankan kreativitas, eksplorasi, penyadaran, dan pengaturan diri.

Sebagai penikmat buku, jelas saya sangat tertarik di bagian sastra. Ada satu bagian yang mengulas detail sekali salah satu karya beliau berjudul Balada Becak (1985) bagaimana kisah benar-benar membumi, ada di antara kita. Kisah cinta wong cilik di mana angan dan kenyataan tak sejalan. Sastra, berbeda dengan teater, hadir secara personal ke dalam batin pembaca di saat tenang, sunyi, tranquil, sehingga terjadi dialog antara pembaca dan novel pada satu pihak, pada pihak lain, seperti Bima Suci, bacaan mengantar pembaca berdialog dengan batin sendiri. Menjadikanku ingin segera menikmati novel beliau, Manusia Indonesia yang humanisme religius dan nasionalisme yang terbuka. Dua kerangka besar inilah Indonesia bisa ikut menyumbang pemikiran dalam pergaulan dunia yang luas.

Bagian akhir tentang arsitek saya yang awam turut kagum, ada sekitar 84 karya beliau. Beberapa kontroversial. Pemikiran tetang ‘Gereja Diaspora’ yang dalam teologi katolik pasti menjadi sesuatu yang kontroversial atau inkonvensional. Mengidealkan gereja sebagai “jaringan titik-titik simpul organik.. yang berpijak pada realitas serba heterogen… tidak beranggotakan orang-orang berdasarkan daerah, tapi berdasakan fungsi atau lapangan kerja… titik-titik simpul bisa berupa lone rangers seperti gerilya yang sendirian…, namun lincah ke mana-mana.” Beberapa sudah dipugar, yang sayang sekali sebagian itu menghilangkan identitas awal.

Menurut Mochtar Lubis ciri-ciri manusia Indonesia, pertama hipokritis atau munafik. Berpura-pura, lain di muka lain di belakang, merupakan suatu ciri utama manusia Indonesia sejak lama. Sejak mereka dipaksa menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan atau dipikirkan atau sebenarnya dikehendaki oleh kekuatan-kekuatan dari luar karena takut akan mendapat ganjaran yang membawa bencana baginya. Kedua segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, tetapi kalau sukses manusia Indonesia tidak segan-segan untuk tampil ke depan menerima bintang, tepuk tangan, surat pujian, piagam penghargaan, dan sebagainya. Ketiga memiliki sifat feodal yang tinggi, ABS (asal bapak senang). Keempat percaya takhayul. Kelima berkarakter lemah. Keenam bukan economic animals, sehingga boros. Ketujuh, cepat cemburu dan dengki pada orang lain yang lebih maju.

Sementara sifat positifnya, pertama memiliki sifat artistik yang tinggi sehingga mampu menghasilkan kerajinan seni. Kedua suka menolong dan gotong royong. Ketiga berhati lembut, suka damai, memiliki selera humor dan memiliki kesabaran hati. Keempat adanya ikatan kekeluargaan yang mesra dan memiliki kecerdasan yang cukup baik terutama di bidang ketrampilan.

Pandangannya tentang pendidikan juga sangat bagus. Pendidikan sebagai sosialisasi tidak melihat anak memiliki nilai tersendiri, berkepribadian unik dengan status bermartabat sebagai manusia yang harus dihormati, anak hanyalah bersifat sekunder, yang primer ialah kedudukan, kepentingan dan penghidupan kolektivitas. Maka, sosialisasi berikhtiar menggiring warganya untuk tahu diri dalam sistem pahala dan status. “Setiap sistem pendidikan ditentukan oleh filsafat tentang manusia dan cita-manusianya yang dianut, sehingga tidak netral.” Tujuan pendidikan adalah mengantar dan menolong anak untuk mengenal dan mengembangkan potensi-potensi dirinya agar menjadi manusia mandiri, dewasa, utuh, merdeka, biajksana, humanis, dan menjadi sosok manusia Pasca-Indonesia dan Pasca-Einstein. Kata post merujuk pada sesudah, belum menyatakan kontinuitas maupun diskontinuitas. Seorang pascasarjana bukan seorang yang sesudah menjadi bukan sarjana. Dia tetap sarjana. Tetapi lebih luas pandangannya, lebih banyak dimensianya, lebih dalam visinya, lebih dewasa.

Sebagai orang Jawa, beberapa pemikirannya jelas terinspirasi sejarah Jawa. Citra manusia Jawa yang hakikatnya adalah citra wayang belaka pada kelir jagad cilik (mikro-kosmos), jadi manusia hanya bayangan saja, tidak sejati. Sejajar dengan ajaran Plato, segala peristiwa kehidupan manusia ‘wus dhasar pinasthu karsaning dewa’ (sudah diniscayakan oleh kehendak para dewa). Bahwa yang menciptakan adalah dewa, yang melahirkan adalah orang tua, yang membuat bahagia itu guru, yang membuat kaya kuasa itu raja, yang membuat gembira adalah mertua. Kelima-limanya itu bila tidak dipatuhi akan membawa celaka. (Serat Paramayoga/Pustakaraja).
Manusia Indonesia yang ideal adalah sesuai pedoman Pancasila, manusia yang menghayati dan membuat dasar dan pedoman hidupnya, dasar tingkah laku dan budi pekerti berdasar kelima dasar Pancasila.

Komunisme sudah hancur oleh perkembangan ‘masyarakat warga’ (civil society), pembaruan politik ada di mana-mana, perestroika di Rusia dan demokrasi di Barat, namun menurut Fukuyama, sejarah berakhir dengan bentuk demokrasi liberal dan ekonomi kapitalis.
Arief Budiman menyatakan bahwa manusia Indonesia seutuhnya merupakan konsep sosiologi. Sudah sangat umum ada empat kebebasan: kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, kebebasan untuk berkeinginan, kebebasan dari rasa takut. Lalu menurut Hussein Nars, ilmuwan Iran kebebasan beragama ada dua jenis: kebebasan untuk menjadi (freedom to be) dan kebebasan bertindak (freedom to act), yang pertama sifatnya tanpa batas, yang kedua dapat dibatasi oleh aturan.

Dari semua pemikiran beliau yang sangat saya kagumi, jelas tentang saling menghormati, baginya agama lain bukan saingan, apalagi musuh, melainkan teman kerja, kolega di dalam membangun kemanusiaan, khususnya melayani masyarakat yang miskin. Kita tahu, saat ini Indonesia sedang panas-panasnya politik, agama menjadi tunggangan, agama menjadi alat untuk mencapai kekuasaan. Pluralisme beragama adalah lawan dari eksklusivisme agama. Artinya filsafat pluralisme mengakui semua agama dengan cara pemeluknya memiliki hak yang sama untuk eksis dan berkembang.

Keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan kepada kebenaran.” – Ernest Renan dalam Qu’est ce qu’une nation? (1882).

Humanisme Y.B. Mangunwijaya | By Forum Mangunwijaya IX | Copyright Kompas Media Nusantara | Penerbit Buku Kompas, 2015 | KMN: 20305150074 | Editor Ferry T. Indratno | Perancang sampul A Novi Rahmawanta | Ilustrasi sampul Dok. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko | xvi + 144 hlm.; 24 cm x 21 cm | ISBN 978-979-709-938-1 | Skor: 4.5/5

Karawang, 270619 – Sherina Munaf – Primadona

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day26 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Magi Perempuan Dan Malam Kunang-Kunang #24

Caraku membutuhkanmu serupa rasa sepi yang tak bisa kutanggung.” – Carson McCullers, The Heart is a Lonely Hunter

Sebagian besar cerita pendek di sini pernah dimuat di surat kabar lokal dan nasional. Cerita pendek yang memang pendek. Awalnya kurang nendang, cerita dari daerah tentang hantu-hantu yang melegenda, lambat laun menjadi seru karena melibatkan banyak tema, sampai sampai keluar negeri, hingga hikayat yang dibelokkan dan misteri dalam buku yang dimodifikasi. Dan inilah 21 cerpen karya Guntur Alam.

#1. Peri Kunang-Kunang
Cerita dari daerah. Kunang-kunang dari kuku orang mati bukan hanya dari Jawa, dari Sumatra legenda itu juga ada. Dul, Padet, Liman dan anak-anak malam itu penasaran dengan cerita bujang lapuk yang suka memanggil peri kunang-kunang. Malam itu mereka sembunyi mengintip ritual di rumah limas tua. Cerita alasan mengapa sang bujang ga kawin-kawin padahal rupawan dan mapan, akhirnya disampaikan. Bagaimana bisa ada orang yang memanggil arwah pujaan hatinya, lalu bercinta? “Jangan lihat kunang-kunangnya, ia bias menyihir kita.”

#2. Tem Ketetem
Ini kisah terlarang. Kisah yang hanya akan sekali kau dengar. Dari kampung Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, bulan di langit malam memberi pertanda. Jika mengembang serupa jantan bujang isngusan itulah masa yang menyusup cemas, menyekam bala dalam balutan pekat. Mantra pengusir kecemasan, tem ketetem, sape tepi kulambani, sape tengah kukerok ijat mate… cerita lama sang gadis jelita Ketetem yang tersohor dalam memilih suami. Namun semesta mencatatkan takdir bencana. Malam seperti itulah Ketetem akan menuntaskan dendamnya. Cantik itu luka. “Itu rahasia sang Semesta, Bak.”

#3. Malam Hujan Bulan Desember
Malam ketika ayah membunuh ibu, hujan turun dengan deras. Malam dalam Kidung Natal yang bergema di gereja samping kontrakan. Cara membuka kisah yang menarik. Sebut saja nama ayahnya Joe dan ibunya Maria. Sang aku bahkan baru tahu identitas ayahnya, dan bagaimana kisah ‘keluarga kecil’ ini terbentuk lalu ditarik mundur. Maria yang terpesona ketampanan Joe di masa muda. “Kami jatuh cinta pada pandangan pertama.” Cinta yang menggebu mereka menghasilkan janin, Maria mempertahankan, Joe tidak. Sebagai calon dokter masa depannya sangat terancam, malam itu usiaku 4 bulan dan air mata ayah menetes di pipiku.

#4. Maria Berdarah
Ia mengaku bernama Mary. Hanya Mary. Ia datang membawa luka dan kegelapan yang sulit disibak. Pastor muda yang melayani dalam gereja itu kedatangan wanita yang berlumpur dosa. “Bapa, tolong aku. Tolonglah pendosa ini dari api neraka. Aku sudah bersekutu dengan iblis, Bapa. Kegelapan akan selalu hidup dalam diriku, walau berkali-kali aku memotongnya” Guntur ikut menyalak ketika sebuah angin tornado tercipta dalam dada perempuan itu.

#5. Gadis Buruk Rupa dalam Cermin
Kisah klasik gadis yang bertanya kepada cermin. “Cermin ajaib, siapakah gadis tercantik di dunia?” dan jawaban mereka selalu sama, “Ratu Ravenna-lah yang tercantik.” Kisah lama yang dituturkan dengan modifikasi, bagaiaman hikayat Ratu Ravenna menjelma jelita. Pengorbanan dengan ritual darah gadis dan bujang. Dan kisah dibelokkan ke Putri Salju. Ia bosan menjadi istri raja tua, ia ingin yang lebih muda, yang bergairah dan hangat.

#6. Tamu Ketiga Lord Byron
Tak ada yang tahu siapa tamu ketiga tuan Byron pada musim panas 1816 selain Mary Wollstonecraft Golwin dan kekasihnya, penyair Percy Bysshe Shelley di kastil megah Danau Gevena. Ah ini kisah fiktif tentang Penulis legendaris Frankenstein. Sang aku menjadi orang berikutnya yang bertutur, bahwa tamu ketiga sudah bilang kepadanya. Malam itu mereka berlomba menulis kisah mencekam. Tamu ketiga tidak ikut menulis, ia di sana karena penasaran hantu budak tuan Byron yang mati dicambuk. Dan di menara kastil itulah tamu ketiga bercerita rahasi besar sang taun rumah: Lord Byron bergumul dengan adiknya, Augusta Leigh!

#7. Dongeng Nostradamus
Legenda Michael de Nostredame, menulis surat dari abad 16 dari kota kecil St. Remy di Prancis. Kupikir ini lawakan, sempat akan kubuang surat itu tapi rasa penasaran mengalahkannya. Surat itu dari masa lalu, untukku di tahun 2012. Mungkin masa depan akan pincang karena kelancangan yang diperbuat. Durat itu memprediksi bayi tujuh bulan dalam kandungan istriku berjenis kelamin laki-laki. Dan prediksi berikutnya membuat terhenyak, anakmu adalah pembawa rahasia suku Maya yang hilang. Dan kecemasan melanda kami.

#8. Boneka Air Mata Hantu
Boneka yang berasal dari air mata hantu. Terdengar menyeramkan dan tak masuk akal. Seumur hidup aku tak pernah melihat ibu tersenyum, tidakkah itu ganjil? “Aku tidak bisa tertawa lagi karena penjual tawaku sudah diculik oleh hantu perempuan.” Dan inilah kisah lama, sang penjual tawa adalah pemuda tampan. Mereka awalnya bahagia, sampai tragedi origami tercipta.

#9. Tentang Sebatang Pohon yang Tumbuh di Dadaku
Apa kau tahu arti mencintai?

Jika aku mencintaimu apakah itu salah?”

Mencintai adalah kebebasan rasa yang ada dalam hati.”

Pergilah ke neraka dan jangan kembali lagi. Ini kisah terlarang Danu dan Nando.

#10. Dongeng Emak
Dongeng yang dibacakan emak tentang penyihir yang tak pernah tua sedang murka menuntut balas kepada sang guru. Cerita yang tak pernah usai, didongengkan berulang kali namun tak pernah selesai. Hingga suatu malam emak memutuskan menceritakan endingnya. Berhasilkah sang penyihir menuntaskan balas?

#11. Almah Melahirkan Nabi
Gadis bisu delapan belas tahun melahirkan anak-laki, malah tak kelihatan bunting dan belum bersuami. Karena tak bisa mengucapkan siapa laki-laki yang harus bertanggung jawab, ia hanya ah uh bilang dan tak bisa menuliskan nama. Desas-desus merebak. Saat orang-orang menuduhkan si A, si B, si C, dukun beranak Emak Yesaya bilang, “Almah, melahirkan nabi. Dia disetubuhi Jibril.”

#12. Kastil Walpole
Hikayat Tuan Horace Walpole yang malang, kisah cintanya yang tragis dan misterius seperti dalam novel The Castle of Otranto yang ia tulis. Tuan Walpole meninggal tahun 1797, hidupnya laiknya cerita gotik yang ia tulis sendiri. Dan Thomas Gray mencoba menjelaskan.

#13. Hari Tenggelamnya Van der Decken
Kapal dagang VOC yang tenggelam tahun 1641 di Tanjung Harapan dengan rute Batavia ke Holland menyimpan misteri. Karena hantu Flying Dutchman? Karena bencana badai? Sejatinya ada di sini, ternyata instrik keluarga yang menjadi petaka. “Aku akan menaklukkan badai dan melewati semenanjung ini, walau kiamat menghadang.”

#14. Sepasang Kutu, Kursi Rotan, dan Kenangan yang Tumbuh di Atasnya
Ini adalah cerpen yang dipilih jadi sinopsis di kover belakang. Kursi rotan yang penuh kenangan. Kursi warisan ibuku yang paling berharga. Di kursi rotan itulah konon ayahnya menjelma kutu lalu menyusup dalam anyaman. Sejak saat itulah ibunya selalu menjaganya. Kenapa ayah jadi kutu? Untuk menyelamatkan dunia. Kelak bila misi usai ia akan kembali. Mendusta? Mengada-ada? Hinga suatu ketika kursi rotan itu bisa berbicara mengungkap fakta!

#15. Lola
Tentang Lola yang dikenalnya di kafe Ubud, Bali. Lola dari San Francisco, Budi asli Indonesia bertukar kata tentang literasi dan seni. Saling memuja, saling mengenal. Namun ini kisah tak biasa, ini Lola yang istimewa, sebuah perpisahan di Pura Ubud Dalem membuat Budi harus berpikir lebih keras, ada misteri tentang kakek buyutnya.

#16. Kotak Southcott
20 Desember 1814, di London yang dingin William Sharp berjalan di gelap malam dalam guyuran slaju. Apa hal yang membuat sang wanita dalam wahyu memintanya menghadap? “Kedatangan Shiloh akan menjadi awal dari akhir dunia. Ia akan diangkat ke urge (surga) dan akan dikirim kembali ke dunia jadi saksi berkahirnya dunia. Ia sudah ada dan siap lahir dari rahimku 19 Oktober 1814.” Dan Southcott berkata, “Aku wanita yang ada dalam wahyu.” Dan kematian mendadaknya membuat Tanya, kotaknya dibuka dan berisi gulungan kertas, lotere dan tiket kuda-pistol.

#17. Kematian Heartfield
Ini kisah dari novel Haruki Murakami dalam novel Dengarkan Nyanyian Angin. Buku yang luar biasa indah, kali ini dirusak oleh sang Penulis, entah kenapa analisis kematian Heartfield yang bunuh diri loncat drai menara Empire State Building tahun 1938 seakan mengada-ada. Yang pasti, menurutku ini cerpen terburuk.

#18. Tiga Penghuni dalam Kepalaku
Yang pertama seorang laki-laki gagah yang datang kala emak mencekiknya, melawan dan meminta lari. Kedua, bocah penakut yang suka meningkuk dalam gelap. Ia datang saat bang Codet menyeretku ke toilet umum di pelabuhan Merak. Ketiga gadis manis yang menetap di kepalaku, yang datang kala Kang Asep penjual makanan yang suka memberinya makan. Lalu suatu ketika ketiganya melakukan perlawanan.

#19. Hantu Seriman
Hantu yang berasal dari kampung kecil di Kabupaten Penungkal Abab Lematang Ilir, Tanah Abang. Jangan sekali-kali merajuk di petang kelam. Hantu menakutkan yang muncul di kala pergantian terang ke gelap. Hikayatnya, ada seorang gadis jelita bernama Serina (tanpa ‘h’ ya) yang menikah dengan bujang yang biasa, ia meminta talak, dan pantangan sana wanita meminta cerai. Awalnya sang anak bernama Seriman yang magrib belum pulang, dan dicari. Tak kunjung pulang, dan tragedi dicipta.

#20. Anak Pintaan
Tidak semua, hanya anak pintaan yang punya empat tetek.” Anak Pintaan adalah anak yang didapat setelah orang tua bermunajat kepada Tuhan YME agar dikaruniai anak laki-laki, mereka percaya bahwa anak pintaan adalah reinkarnasi leluhur. Ini dongeng dari kajut (nenek) kepada cucunya.

#21. Lima Orang di Meja Makan
Kisah mencekam di meja makan. Renata yang mengeluhkan kehidupan. “Ternyata kematian itu begitu indah. Aku baru menyadarinya.” Drama keluarga yang disajikan dengan daging yang renyah, pisau dan garpu di kedua sisinya, anggur merah yang beriak dan racun yang cukup untuk mengakhiri hidup.

Beberapa kali saya membaca cerpen Guntur Alam di Kompas Minggu, memang sangat produktif. Ini adalah buku pertama beliau yang selesai kubaca, kubeli sehari jelang ulang tahun September lalu, kuselesiakan baca dalam #JanuariBaca2019 dan akhirnya baru sempat kuulas. Paling senang cerita Almah Melahirkan Nabi, ada semacam misteri yang menggantung. Kovernya bagus banget, bis ajadi salah satu daya pikat kenapa kuputuskan beli. Kumpulan cerita yang renyah, dengan ekspetasi biasa saja ternyata berhasil memenuhi harap. Buku kumpulan Cerpen memang tak senikmat dalam satu cerita novel utuh, tapi jelas pendekatan yang berbeda juga harus diapungkan, dan Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang ternyata sukses memikat hati.

Magi Perempuan Dan Malam Kunang-Kunang | Oleh Guntur Alam | 6 15 1 74 001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Ilustrasi sampul Pramoe Aga | Editor Yemima Lintang | ISBN 978-602-03-1939-1 | Skor: 4/5

Karawang, 260619 – Sherina Munaf – Ada

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day24 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Kumpulan Budak Setan

Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?

Saya mengenal Abdullah Harahap belum lama, tiga tahun lalu lewat novel mistik Kolam Darah. Cerita peseteruan keluarga terkait warisan dan keturunan yang dibalut kengerian saling serang sihir dan lempar tuah. Andai ga baca tulisan kover belakang yang mengandung inti cerita bisa jadi ceritanya akan lebih resep. Mitisme lokal dengan jimat, dendam, hingga jualan kengerian darah yang membuncah. Status genre horror yang identik dengan estetika rendah dan karenanya berada di luar khasanah sastra. Edisi kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan ini ternyata dipersebahkan untuk beliau. Berisi dua belas cerita, ditulis tiga Pengarang handal tanah air dari komunikasi tiga kota. Eka dan Intan sudah mengenal beberapa karyanya, untuk Ugoran, ini adalah buku pertama beliau yang kunikmati. Saya berstrategi membacanya ga berututan dari halaman satu beriring runut terus sampai akhir buku, tapi satu cerita dari satu penulis, lalu cerpen berikutnya ganti penulis lain, lanjut lagi dan kembali muter. Jadinya gaya bercerita yang kukhawatirkan monoton karena dari tangan yang sama dapat dihindari, dan alhasil sukses. Sungguh bagus kisah-kisah di buku ini. Tema variasi, tapi tetap hal-hal gaib menyelingkupi semuanya.

(1).Eka Kurniawan
#1. Penjaga Malam
Kisah para peronda yang ditikam kesunyian pekat. Bagaimana mereka menjaga kampung, mengawasi segala yang potensial membahayakan warga, badai menambah menakutkan diseling mati listrik dan sesekali mengerjap. Lalu satu per satu menghilang. Sebuah tindakan beresiko yang mengabai keselamatan. Pace-nya memang lambat tapi nikmat diikuti karena memang kekuatan utama ketenangan malam yang disaji. Gelap pekat membuat kita serasa dikubur hidup-hidup.

#2. Taman Patah Hati
Untuk memutuskan kekasih harus sampai ke Jepang. Memang sulit untuk mengakhiri hubungan, lebih mudah memulai. Keputusan berat yang terpaksa diambil itu melibatkan keberanian, mitos dan pengorbanan yang tak sedikit. Kita bertemu lagi dengan karakter bernama Ajo Kawir, tokoh penting di Seperti Dendam, Rindu Harus Dibalas. Mia Mia yang dan danau di taman Inokashira.

#3. Riwayat Kesendirian
Salah satu yang terbaik. Seorang ilustrator yang sudah memiliki pacar, mendapat tugas menjaga temannya teman, dititipi untuk numpang tidur di apartemen. Awalnya tak ada rasa, tapi riwayat kesendirian mencipta drama saat kedua insan terpisah. Sang gadis bernama Ina Mia, dari nama perempuan Chairil Anwar, ia dipaksa kawin sama pilihan orang tuanya, dan sebuah telpon untuk janji temu meluluhlantakan bata lego yang disusun. “Bolehkah aku bertemu denganmu?”

#4. Jimat Sero
Menurutku ini yang paling bagus. Pembukanya mengupas kulit bawang paling luar, lalu kupasannya perlahan sekali, menarik minat pembaca sampai akhirnya saat sampai di inti, ternyata kupasan terbaik ada di permukaan! Ga nyangka. Seorang penakut yang kena perisak di sekolah, dibantu Rohmat, seorang anak yang istimewa, siapa saja yang memukulnya akan kena damprat. Sekembali dari kampung melanjutkan hidup, segala takdir berubah lurus dan nyaman berkat jimat sero. “Tak ada yang perlu kamu risaukan.” Benarkah?

(2). Intan Paramaditha
#5. Goyang Penasaran
Tak pernah mabuk judi atau mabuk minuman, tetapi mabuk janda ternyata lebih berbahaya. Kisah yang keras dan berdarah-darah. Jelas kover buku diambil dari cerita ini. Penyanyi dangdut yang mencoba insyaf, terusir dari kampung dan saat kembali sudah mengenakan hijab. Sebuah taktik dendam disusun, kepala desa yang baru sang pengagum itu dituntun dalam goyang penasaran di tepi jalan. Keras. Sadis. Mencekam. Hal hal remeh cenderung meruap dari ingatan. Zina yang sering tak kita sadari wahai kaum muslimin dan muslimat adalah zina mata.

#6. Apel dan Pisau
Kisah nabi jelita Yusuf yang membuat para wanita menggoresi tangan mereka dengan pisau. Pesona gossip, arisan keluarga dan ketamvanan yang haqiqi. Apel yang matang, perempuan-perempuan yang matang, dan Yusuf yang memukau. Sinisme kaum hawa yang pandai bergosip laiknya kena batu. Cik Juli dan magnet sihirnya. “Apelnya memang enak.”

#7. Pintu
Keluarga terpandang, kaya, dan kematian tragis dalam sebuah mobil kutukan, Mercy Tiger merah metalik tahun 1982. Cerita tragis sebuah keluarga pasangan Bambang dan Ratri mencoba kembali menurut fakta saling silang selingkuh. Namun ternyata asmara dan dendam arwah menghantar pada kepahitan lain. “Mari, temani aku jalan-jalan.”

#8. Si Manis dan Lelaki Ketujuh
Ini yang paling aneh. Wanita buruk rupa sedang mencari mangsa, lelaki yang diperbudak seks dengan imingan gaji menggiurkan. Seorang penganggur yang sudah berkeluarga dengan berat hati menerima tawaran, gaya bercinta ala kisah sang putri salju dan tujuh kurcaci di mana drama sandiwara penculikan dicipta, scenario itu berantakan saat titik didih sudah di puncak. “Karena aku menyukai eksperimen.”

(3). Ugoran Prasad
#9. Penjaga Bioskop
Cerita hantu di bioskop yang angker, sang penjaga bioskop Rusdi yang menjadi saksi dari awal sekali gedung dibuat smampai akhirnya esok dirobohkan. Saat film terakhir selesai diputar, sang penjaga mengenakan pakaian terbaiknya dan mengucapkan salam perpisahan. Ternyata tak seperti yang tampak di permukaan. Sebuah rekaman suara memberi kengerian di balik kabar angin kesereman gedung. “Aku datang. Aku di sini terus. Aku menemanimu terus.”

#10. Hantu Nancy
Cerita balas dendam yang tak biasa. Pembunuhan sang gadis salon yang merentet kematian demi kematian semua orang yang terlibat. Hikayat hantu di kampung Kebon Sawah yang menguar kengerian di udara. Zulfikar dan bau rambut terbakar. “Aku mimpi ketemu Nancy. Dia bilang mau balas dendam.”

#11. Topeng Darah
Level kekerasan kelas satu, satu tingkat di atas Goyang Penasaran. Sadis, tragis, dan tak berperi. Sebuah iklan aneh yang menjual barang langka, sebuah topeng abad 19 dengan harga tak masuk akal, Iskandar iseng, berbuntut panjang dan penyesalan. Percobaan demi percobaan itu seperti candu.

#12. Hidung Iblis
Sang lelaki belang yang membantai lelaki belang dengan pemacing hasrat istrinya sendiri, Mirna yang jelita. Berkelit masalah ekonomi, petualang cinta, setia kawan atau pengianat, sampai drama saling ancam dalam penyelesaian proses kriminal. Endingnya twist. “Seberapa sering kamu mengajukan pertanyaan-pertanyaan metafisika?”

Sejatinya semua ini bermula dari Gentayangan. Novel pertama Intan Paramaditha yang masuk lima besar Kusala Sastra 2018 ini membuatku penasaran karya lain, Sihir Perempuan menjadi buku ke 100 yang kubaca tahun lalu. Dan dari komentar teman di sosmed bahwa ada kumpulan cerpen Intan kolaboratif, bilang cerpennya yang paling menawarkan kengerian, maka jadilah kunikmati juga buku ini. Eka Kurniawan jelas adalah salah satu Penulis besar yang masih hidup saat ini. Penghanggaan demi penghargaan internasional adalah bukti, ia memang Penulis jempolan. Terbukti lagi, di sini. Empat cerpennya kurasa yang terbaik. Ketenangan bernarasi menjadi kekuatan utama, menyimpan rapat kejutan masih menjadi andalan, hingga fakta itu dibuka di penghujung. Riwayat Kesendirian itu luar biasa lho, tak ubahnya sebuah lipatan origami yang menghasilkan angsa terbaik. Ina Mia dan kesedihan takdir yang tercipta. Ugoran ternyata jua penulis hebat, empat cerpennya sudah cukup untuk bekal mengarungi cerita-cerita lain beliau.

Kuhirup udara seolah-olah aku ingin memasukkan seluruh udara di dalam ruangan ke dalam tubuhku, dan siapa pun yang bersembunyi di balik udara, akan tersirap dan mendekat ke arahku. Dan sebagaimana budak sejati, kami juga berada di tengah-tengah: antara keinginan untuk merdeka dan kesetiaan yang tak terjelaskan.

Kumpulan Budak Setan | Oleh Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad | GM 616202044 | Desain sampul eMTe | Setting Sukoco | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, 2016 | ISBN 978-602-03-3364-9 | Skor: 5/5

Untuk Abdullah Harahap

Karawang, 070319 – 160319 – Ronan Keating – I Hope You Dance

Nyepi Day – Undian 8 besar UCL – Liga Sparing

White Fang – Jack London

Sekarang meraunglah, sialan. Meraunglah!”

White Fang menjadi buku kedua yang saya baca dari Penulis legendaris Jack London setelah The Call of the Wild yang fenomenal itu. Ini semacam prekuel (atau sekuel ya, entah duluan mana terbitnya), kalau The Call dari anjing rumahan menjadi ganas di alam, White Fang malah dari makhluk liar dan keras menjadi takluk pada manusia, atau di sini disebut dewa. Ia mematuhi kehendak para dewa. Mereka pembuat api, mereka adalah para dewa!

Cerita sama gilanya. Karena entah kenapa peristiwa yang berkaitan dengan makhluk hidup selalu terjadi dengan cara berbeda. Hebat sekali Jack, bisa memasuki dunia binatang seolah ia adalah bagian dari makhluk itu. Merasakan bagaimana kengerian di alam liar, menerornya dalam banyak sergapan. Dan inilah epitaph dari seekor enjing yang mati di jalur Northland – lebih singkat dari epitaph anjing-anjing lainnya, dari epitaph seorang manusia. Pengalamannya di Klondike, Yakon yang dingin jelas adalah inspirasi dari trilogi ini, satu lagi buku Martin Eden jelas dalam pemburuanku. Melihat banyak pemburuan mangsa dan mulai ikut ambil bagian.

Kisahnya tentang anjing blesteran serigala. Ayahnya seekor serigala, memang, ibunya seekor anjing, tapi bukankah abang White Fang mengikatnya di hutan selama tiga malam pada musim kawin? Ya, ceritanya panjang berliku. Kita dirunut dari orang tua White Fang, masa kecilnya hingga akhirnya nanti berkeluarga. Runut, tenang, lalu mengganas tak terkendali. Bermula dari perjalanan dua manusia di tengah hutan bersalju dalam kereta yang ditarik enam anjing. Mereka ada perjalanan membawa mayat dalam peti Lord Alfred, perjalanan sulit itu berakhir bencana. “Pemakaman jarak jauh adalah sesuatu yang tak sanggup kita dapatkan.” Satu persatu anjing penariknya tewas diterkam, serigala liar. Pertama Fatty, lalu Frog, berikutnya Spanker, lalu Bill bersumpah. “Terkutuklah jika aku melakukannya. Aku sudah bilang tak akan minum kopi kalau ada satu ekor anjing yang menghilang lagi, dan aku tak akan melakukannya.” Apakah terhenti? Tidak, perjalanan ke Fort McGurry masih panjang. Anjing keempat dan pada akhirnya pada kedua manusia itu terhempas, tersudut menanti maut. “Aku pernah dengar para pelaut membicarakan ikan hiu yang mengitari sebuah kapal. Serigala adalah hiu darat. Mereka lebih memahami urusan mereka dan mereka bukan mengikuti kita demi alasan kesehatan. Mereka akan membunuh kita. Mereka pasti akan membunuh kita.”

Berikutnya kita fokus pada binatang penarik segala bencana ini, serigala betina penggoda. Kalau ini digambarkan manusia, pastinya sangat cantik sampai menjadikan pertarungan pertaruhan demi menjadi pasangannya. Serigala liar itu saling bunuh dan bantai demi cinta serigala jelita ini, dari kawanan ini pada akhirnya yang tersisa hanya empat ekor, serigala betina, pemimpin muda, si mata satu dan serigala berumur tiga tahun yang ambisius. Saya sempat meprediksi bakalan menjadi pasangan muda, tapi ternyata tidak. Jack dengan berani mematikan mereka yang ambisius dan kokoh, yang menjadi pemenang adalah One Eye yang tua dan terluka. Karena ini adalah pencitraan alam liar, tragedi seks dunia alami yang hanya menjadi tragedi bagi mereka yang mati. Bagi mereka yang tidak mati, ini bukan tragedi, melainkan kesadaran dna pencapaian. Mereka menjalin cinta di tepian Mackenzie River, memadu kasih dan memiliki lima bayi serigala yang dirawat di gua. Nah disinilah sisi hebat buku ini, filosofis dan sungguh hebat kata demi kata yang disaji. Bukan pertama kalinya hal semacam ini terjadi dalam hidupnya yang panjang dan sukses. Ini sudah sering kali terjadi, tapi setiap kali selalu terasa mengejutkan baginya.

Jack dengan jeli menanamkan diri dalam bayi abu-abu serigala, bagaimana ia membuka mata, kelaparan menanti ibunya untuk memberi susu atau gumpalan daging lembut. Sisi manusiawi yang tersentuh dalam kaca mata bayi binatang. Menghilang di balik dinding merupakan keistimewaan ayahnya, seperti susu dan daging setengah cerna yang menjadi keistimewaan ibunya. Cahaya menarik mereka seakan-akan mereka tanaman, reaksi kimia kehidupan yang membentuk mereka menuntut cahaya sebagai sebuah kebutuhan hidup, dan secara kimiawi tubuh kecil mereka merangkak tanpa melihat. Yang terkuatlah yang bisa bertahan di kerasnya hidup, empat saudara abu-abu meninggal. Ia mendapati populasi dunianya sudah berkurang. Hanya tersisa satu saudara perempuannya. Saudarinya terus tidur, jerangkong kurus berbalut kulit yang nyala apinya semakin lemah, lemah dan akhirnya padam. Dan bayi serigala ini mencoba mencari jawab terhadap ‘sebuah dinding putih’ yang di sini adalah pintu tempat tinggalnya. Ia tidak tahu apapun mengenai konsep pintu. Ia tidak mengenal tempat lain, apalagi cara mencapainya. Jadi baginya pintu masuk gua adalah sebuah dinding – dinding cahaya. Dinding melompat di depan matanya. Ia menduga dirinya dalam dinding.

Bayi abu-abu belajar di dunia luar sendirian setelah lapar menyergap dan orang tua mereka tak kunjung datang. Menyaksikan arti bertahan hidup di sekeliling. Lynx dan landak sama-sama menunggu, masing-masing bertekad untuk hidup. Dan itulah sisi menarik dari permainan ini, jalan hidup satu makhluk bergantung memakan makhluk lain, dan jalan hidup makhluk satunya bergantung dengan tidak dimakan. Rasa takut! Tahukah kau, mereka sudah yakin mengenai kita. Sementara itu, mereka bersedia memakan apa pun yang bisa mereka temukan dan makan. Warisan alam liar yang tidak bisa dihindari maupun ditukar dengan makanan oleh hewan mana pun. Ada adegan unik, saat sang serigala muda ketakutan akan serangan elang. Dan tahulah kalian secara harfiah, ini adalah derby Roma. Elang memang terlalu perkasa, mengintai di udara, menerkam segala yang bisa dimakan di darat, serigala terbirit-birit. Ia tidak pernah merasakan sakit terjatuh, ia tak tahu apa itu jatuh. “Hewan itu tahu lebih banyak dari yang seharusnya diketahui oleh seekor serigala penuh harga diri.”

Didikan alam liar menjadikan bayi abu-abu kuat, adaptifnya yang cepat juga menempanya menjadi serigala pemburu yang tak kenal ampun. Ia menjadi kuat karena pernah tahu dirinya terancam hewan lain sehingga tahu apa itu mangsa. Tubuhnya yang mengagumkan ini, kulit yang hidup ini tidak lebih dari seonggok daging, sebuah pemburuan hewan-hewan lapar, yang akan dicabik dan disayat oleh taring-taring lapar, dijadikan makanan bagaikan rusa dan kelinci yang sering kali menjadi makanan mereka. Ia memiliki kekuatan alam. Rasa takut luar biasa menderanya, ini dunia asing yang mengerikan. Karena sesuatu yang asing merupakan elemen utama yang menyebabkan rasa takut. Pertumbuhan adalah kehidupan, kehidupan selamanya ditakdirkan untuk cahaya. Cahaya ya cahaya itu adalah kehidupan di luar gua, di alam liar, di dunia ini. Ia juga dibuat pening oleh perluasan ruang yang mendadak dan luar biasa ini. Sehingga ia mengenal rasa sakit, dan yang paling penting, ia belajar cara menghindari rasa sakit, pertama-tama dengan tidak megambil risiko akan sesuatu yang sakit. Ia mendapati dirinya menjadi seorang petualang di sebuah dunia yang benar-benar baru.

Di dunia ini tidak semuanya bebas, bahwa di dalam hidup ada batasan dan kekangan. Seluruh batasan dan kekangan ini merupakan aturan, mematuhi aturan itu merupakan jalan untuk menghindari rasa sakit dan jalan untuk mendapat kebebasan.

Bayi abu-abu tahu rasanya sakit saat ayahnya tak terlihat lagi beberapa lagi, tak kembali memberinya makan. Di tepi sungai dan sekelilingnya menjadi tempat bermain dan mencari mangsa. Alam liar tetaplah alam liar, dan ibu adalah ibu, selalu sangat protektif, entah di alam liar atau bukan. Ibunya tetap menjaga, tapi sampai kapan? Karena musim berganti, masa sulit datang dan pergi. Maka bayi abu-abu belajar mandiri. Ia baru saja menghancurkan beberapa makhluk hidup kecil. Sekarang ia akan memusnahkan makhluk hidup besar. Waktu demi waktu menjadikan pengalaman berharga. Ia terlalu sibuk dan bahagia untuk menyadari ia bahagia. Tujuan kehidupan adalah daging, kehidupan itu sendiri adalah daging. Kehidupan hidup dari kehidupan. Ada pemangsa dan mangsa, aturan adalah makan atau dimakan. Baginya kematian adalah rasa sakit yang paling hebat. Kematian adalah inti dunia asing gabungan seluruh teror dunia asing, satu-satunya bencana tak terduga dan tertinggi yang terjadi padanya. Hantu penasaran dari kebaikan dan kekuasaan yang diimpikan, potongan jiwa ke alam arwah.

Benar-benar filosofis kehidupan. Apa bedanya dengan manusia? Mencoba bertahan hidup di tengah pencakar langit yang sombong menjulang. Nah, sehalanya berubah ketika si abu-abu beranjak dewasa dan menemukan manusia. Rombongan manusia, asing dan tampak sangat berbeda dengan makhluk lain. Kekuasaan mereka akan benda-benda mati, kemampuan mereka untuk mengubah wajah dunia. Abu-abu lalu takluk oleh mereka, mengikuti hidup dalam perkemahan, merelakan kebebasannya dengan mau diikat.

Dan disinilah akhirnya kita tahu asal judul buku ini. White Fang – taring putih, bos pertama mereka memberi nama. Perubahan besar ini membuatnya dilema. Rasa penasaran pertumbuhan yang menyemangatinya – kebutuhan untuk belajar, hidup, dan melakukan sesuatu yang menghasilkan pengalaman. Dan dalam perkumpulan perkemahan ini, ia mengenal anjing lain. Lip-lip yang sombong dan seolah pemimpin binatang warga. Ini adalah perkelahian pertama dari banyak perkelahian yang dilakukan dnegan Lip-Lip, karena mereka musuh sejak awal, terlahir seperti itu, dengan sifat-sifat yang ditakdirkan untuk saling selalu bertentangan. White Fang sempat ingin kabur. Ia rindu pada rumah. Berlari kencang, menyongsong gua tepi sungai tapi ternyata sifat alami tunduk pada dewa mengantarnya mengikuti jejak langkah perkemahan. Desakan insting-insting sama yang membuatnya melolong pada bulan dan bintang di malam hari, dan membuatnya takut pada kematian dan dunia asing.

Begitu banyak hewan-manusia, pria, wanita, dan anak-anak semuanya mengeluarkan suara dan mengesalkan. Tidak dibutuhkan keimanan besar untuk mempercayai dewa semacam itu, tidak ada tekad kuat yang sanggup menyebabkan keingkaran terhadap dewa semacam itu. Tidak ada cara menghindarinya. Saat mengetahui ibunya sudah berubah, saat itu juga White Fang harus kuat. Hidupnya kini di tangan para dewa, dari satu tangan ke tangan lain, dari perkelahian satu ke perkelahian lain. Seekor anjing lengah, yang pundaknya tercabik atau telinganya robek sebelum ia menyadari apa yang terjadi, adalah anjing yang sudah separuh terkalahkan. Sebelum mengenal para dewa, Kiche adalah pusat semesta baginya. Dan sifat-sifat manusia yang berbeda tipa individu menghasilkan cinta benci yang tarik ulur. Sebenarnya ini merupakan kompensasi, karena selalu lebih mudah untuk bergantung kepada orang lain daripada berdiri sendiri.

Lempung White Fang sudah dibentuk hingga ia menjadi dirinya yang sekarang, pemurung dan kesepian, tidak penyayang dan galak, musuh bagi semua kaumnya. Sekolah kehidupannya lebih tangguh dan ia sendiri lebih tangguh. Vitalitasnya terlalu besar, cengkramannya pada kehidupan terlalu kuat. Dan pada akhirnya White Fang menemukan cinta, seorang manusia memberinya perlindungan, memberikan pelukan sayang dan makanan yang mencipta timbal balik. Endingnya seolah adalah cerita awal The Call, terlalu manis dan sempurna. Apa yang kamu tanam ya kamu tuai. Hidup serigala yang keras dan liar kini tenang dalam peluk dekap para dewa yang mencintainya.

Dengan resiko apapun harus tetap bergerak, terus bergerak, karena gerakan adalah ekspresi dari keberatan. Ia berlari sepanjang hari. Ia tidak beristirahat seakan-akan ia diciptakan untuk berlari selamanya. “Aku menyerahkan diriku di tanganmu, ketahuilah aku di bawah kehendakmu.

White Fang | By Jack London | Diterjemahkan dari The Project Ebook of White Fang, by Jack London | Release date: March 16, 2005 [ebook #910] | [Last update: March 2, 2011] | Penerjemah Harisa Permatasari | Penyunting Jia Effendie | Proofreader Bernard Batubara | Desain sampul Amanta Nathania | Penataletak Landi A. Handwiko | Penerbit GagasMedia | Cetakan pertama, 2014 | vi + 330 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 979-780-700-2 | Skor: 5/5

Karawang, 120319 – Nikita Willy – Ku Tetap Menanti

*) Dibaca dalam sekali waktu dari siang sampai malam minggu pada tanggal 23 Feb 19 di lantai satu Blok H-279 bersama dua cangkir kopi serta deretan Jazz, menikmati hidup. Hanya tersela ibadah dan panggilan pulang Hermione untuk bergegas keburu es krim di rumah meleleh.

Sepenggal Memoar – Pablo Neruda: Kita Para Penyair Memiliki Hak Untuk Bahagia

Buku saya selalu tentang hal yang sama; saya selalu menulis yang sama. Saya harap teman-teman saya akan memaafkan saya, karena dalam kesempatan baru ini dan dalam tahun baru yang dipenuhi dengan hari-hari yang baru ini, tak ada yang bisa saya tawarkan kecuali sajak-sajak saya, puisi baru yang sama.

Ini adalah buku pertama Pablo Neruda yang saya baca, padahal kemasyurannya sudah tak tertandingi – sebagai Penyair. Kata Penulis besar Gabriel Garcia Marquez, Neruda adalah penyair terbesar Amerika Latin abad 20. Neruda memang terkenal sebagai penyair, walaupun beliau juga menulis esai dan novel. Karya pertama diterbitkan saat usia 13 tahun dalam harian La Manana berjudul ‘Entusiasmo y perseverancia’ (“Antusiame dan Kegigihan”). Bernama asli, Ricardo Eliecer Neftali Reyes Basoalto, beliau menggunakan nama Jan Neruda yang terinspirasi dari penyair Ceko, tahun 1920 karena sang ayah yang tak mau anaknya menjadi tukang tulis yang tak menjanjikan masa depan.

Kata George Orwell, Autobiografi hanya bisa dipercaya ketika ia menyingkapkan sesuatu yang memalukan. Orang yang memberikan cerita yang bagus tentang dirinya sendiri mungkin berbohong, karena kehidupan mana pun ketika dipandang dari dalam hanya merupakan seri demi seri kegagalan belaka. Di sini Pablo banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman beliau bersyair, dan mengakui banyak hal terlewat karena ditempa waktu. “Banyak hal yang saya ingat telah mengabur saat saya mencoba mengingatnya ulang, mereka telah hancur menjadi debu, seperti pecahan kaca yang tak mungkin dibentuk lagi.”

Tema utama tentang puisi, tentang perjuangan, dan tentu saja tentang bagaimana relasinya dengan puisi dan para penyair lain. Banyak sekali nama disebut, yang sejatinya tak familiar bagiku. Karena dasarnya memang saya tak rutin melahap sajak, jangankan Amerika Latin, puisi-puisi lokal yang terkenal dari Joko Pinurbo atau Sapardi saja saya belum pernah baca satu buku pun! Nyanyian-nyanyian pada dasarnya membentuk bagian dari cerita berseri yang besar. Makanya dengan buku ini saya mencoba mengakrabi, tulisan prosa tentu saja lebih nyaman bagiku. Sajak adalah panggilan terdalam dari jiwa manusia; dari sajak datanglah liturgy, mazmur, juga kandungan-kandungan agama.

Ada dua jenis penyair: ada milik lapisan kerak bagian atas memperoleh penghargaan karena uang, yang menolong mereka mencapai sah tidaknya sebuah kedudukan dan yang tidak. Bisa kita lihat di sini, Pablo masuk lingkaran mana. Pemberian Nobel Sastra tahun 1971 dijelaskan dengan detail lucu. Bagian ketika beliau ke Swedia, ‘semacam diintai’ sampai kegugupan bertamu di lingkungan kerajaan mungkin jadi pengalaman paling mengesankan dan seru. Saya tak percaya orisinalitas. Itu hanyalah satu lagi berhala yang diciptakan di zaman kita, yang mempercepat badai menuju kehancuran. Saya percaya pada spontanitas terbimbing, untuk itu, penyair harus selalu memiliki cadangan di kantongnya, katakanlah pada saat keadaan darurat.

Membutuhkan waktu tiga puluh tahun bagi saya untuk mengumpulkan sebuah perpustakaan besar. Pablo adalah anggota Partai Komunis di Cili, kematiannya yang misterius dan mendadak banyak menimbulkan spekulasi, karena hanya berjarak dua tahun pasca menang Nobel. Hanya dua minggu pasca kudeta Augusto Pinochet. Memoir ini selesai dibuat hanya sehari sebelum ia ke rumah sakit, bersama Matilda istrinya dan seorang sopir muda Manuel Araya, ternyata menjadi saat-saat terakhir beliau. Apakah Pablo dibunuh? Sang Penyair memang vocal terhadap perang. “Perang… perang… kita selalu menentang peperangan, tetapi ketika kita berjuang dalam perang, kita tidak bisa hidup tanpanya, kita selalu ingin kembali ke sana sepanjang waktu.”

Kunjungan ke hal-hal yang tidak terduga ini senilai dengan seluruh jarak yang ditempuh, segala yang dibaca, segala yang dipelajari… kita harus menghilang di tengah-tengah mereka yang tak kita kenal, sehingga mereka tiba-tiba akan mengambil sesuatu milik kita, dari jalanan, dari pasir, dari dedaunan yang telah gugur ribuan tahun di hutan yang sama.. dan akan mengambil sesuatu yang kita ciptakan dengan lembut… hanya dengan begitu kita akan menjadi penyair sesungguhnya… dalam objek itu, puisi akan hidup…

Salah satu bagian yang mengena bagiku, “Penggemar buku yang memiliki sedikit uang cenderung sering menderita. Buku-buku tidak terlepas tangannya melainkan terbang melewatinya melintasi udara, setinggi burung-burung, setinggi harga-harga.” Ya, untuk bisa menikmati buku di Negeri ini memang mahal. Butuh pengorbanan lebih. Dari bumi, dengan kaki dan tangannya, matanya, suaranya – dia membawakan semua akar, semua bunga-bunga dan semua buah beraroma manis kebahagiaan.

Ada banyak kritikus, seperti tanaman labu merambat yang petunjuknya menembus, arah sulurnya mencari napas paling baru dalam kecenderungan modern, takut bahwa mereka akan ketinggalan sesuatu. Akan tetapi akar-akarnya masih meresap dalam di masa lalu.

Seorang anak yang tidak bermain bukanlah seorang anak, tetapi lelaki dewasa yang tidak bermain akan kehilangan selama-lamanya jiwa kanak-kanak yang tinggal di dalamnya dan pastinya ia akan merasa kehilangan. Sikap seperti penonton pasif yang tidak menggerakkan otot wajahnya sama sekali melainkan menajamkan tatapannya pada Anda.

Penyair yang hanya berpikir irasional hanya akan dimengerti oleh dirinya sendiri dan yang dicintainya, dan ini sungguh menyedihkan. Seorang penyair yang sepenuhnya rasional akan dipahami bahkan oleh para pecundang, ini juga kesedihan yang parah.

Buku asli Memoirs berisi dua belas bab, buku ini hanya terjemahan dari satu bab di dalamnya, yakni bab kesebelas. Jadi otomatis bisa kita simpulkan, Circa berhutang untuk melanjutkan alih bahasa bab lainnya. Ditunggu…

Beberapa memoar sungguh mempengaruhi hidupku langsung. Haruki Murakami mempunyai What I Talk About When I Talk About Running (sudah diterjemahkan oleh Bentang tahun 2015) yang membuatku berlari sore tiga kali seminggu, kini sudah berjalan dua tahun lebih. Di usia kepala tiga gini, ga nambah berat badan saja sudah syukur maka olahraga rutin adalah keharusan. George Orwell punya Terbenam dan Tersingkir di Paris dan London (sudah diterjemahkan penerbit OAK tahun 2015) yang lebih syukur, betapa kita disodori kehidupan para gelandang dengan detail di era itu, kumal dan papa. Dalam memoar I Am Malala, betapa takjub perjuangan demi pendidikan, kesetaraan hak belajar untuk semua anak. Dalam memoarnya Sidney Sheldon: The Other Side of Me, saya termotivasi untuk banyak membaca buku, Sidney yang dasarnya adalah orang sinema menjelma Penulis karena kekecewaan atas para produser. Membuat film membutuhkan dana besar, selain mencipta setting dan mengarahkan banyak manusia dan itu tak murah, dengan menulis Sidney hanya bermodal mesin tik dan pikiran liar!

Dan memoar ini memberi lecut untukku lebih banyak menikmati puisi. OKlah, fiksi novel dan cerpen sudah lumayan banyak yang kulahap, puisi begitu minim. Membuatku bertarget baca satu buku dalam satu bulan, dimulai Januari ini. Dapatkah seorang penyair tetap menjadi penyair setelah melalui seluruh percobaan api dan es? Sajak, kebenaran, kebebasan, perdamaian, kebahagiaan adalah karunia yang sama dimiliki semua orang. Semoga bisa konsisten. “Kita para penyair memiliki hak untuk bahagia, sepanjang kita tetap dekat dengan masyarakat di negeri kita dan dalam kegigihan perjuangan untuk kebahagiaan mereka.

Ayo, cintailah puisi, bangkitlah dari kaca yang pecah, saatnya telah tiba untuk bernyanyi. Thx Circa.

Puisi, Buku, dan Kerang Laut – Sepenggal Memoar | By Pablo Neruda | Copyright 1974 |Diterjemahkan dari Confieso que he vivido: Memorias (Original) | Memoirs ( English) tahun 1977, hal. 253-328 | Penerjemah Weni Suryandari | Penyunting Cep Subhan KM | Perancang sampul dan isi Agus Teriyana | Penerbit Circa | ISBN 978-602-52645-6-6 | Skor: 4/5

Karawang, 070119 – 29012019 – Payung Teduh – Sebuah Lagu

Typo: saja-sajak – halaman 16; orangdan – 67; kesuastraan – 85; menraktir – 99; anda – 102; terutup – 138.