Orang-orang di Masa Lalu yang Telah Meninggalkan Cerita ke Masa Mendatang


Segala yang Diisap Langit oleh Pinto Anugrah

“Tatapanmu, tatapan pesimis dan penuh amarah! Tidak baik memelihara tatapan seperti itu! Setan-setan akan senang di dalamnya, mereka akan berpesta pora di matamu!”

Ringkas nan memikat. Hanya seratusan halaman, kubaca sekali duduk selama satu setengah jam pada Sabtu, 16 Oktober 2021 selepas Subuh. Langsung ke poin-poin apa yang hendak dituturkan. Tentang Islamisasi di tanah Sumatra di masa Tuanku Imam Bonjol. Mengambil sudut pandang sebuah keluarga lokal yang kalah dan tersingkir. Segalanya jelas, tapi akan mencipta keberpihakan abu-abu.

Kisahnya di daerah Batang Ka, negeri di tenggara Gunung Marapi, Sumatra. Dibuka dengan pasangan suami istri yang absurd. Bungi Rabiah mendamba anak perempuan sebagai penerus sebagai pelanjut lambang kebesaran dari Rumah Gadang Rangkayo, suaminya Tuanku Tan Amo yang gila perempuan sudah punya banyak istri, Bungo Rabiah sebagai istri kelima. Memang ingin dimadu sama bangsawan. Terjadi kesepakatan di antara mereka, bagaimana masa depan generasi ini harus diselamatkan.

Rabiah memiliki hubungan gelap dengan saudara kandungnya Magek Takangkang/Datuk Raja Malik, satu ibu beda bapak. Dorongan yang begitu besar dari dirinya untuk tetap menjaga kemurnian darah keturunan Rangkayo. Ia tak mau darah keturunan Rangkayo ternoda dengan darah-darah yang lain. Mereka memiliki anak Karengkang Gadang yang bandelnya minta ampun, sejak tahu hamil, Rabiah langsung mencari suami, seolah asal ambil, ia menikah dengan pekerja kasar saat Magek Takangkang sedang dalam perjalanan bisnisnya. Pilihan langsung jatuh kepada Gaek Binga, bujang lapuk yang bekerja sebagai pemecah bukit pada tambang-tambang emas di tanahnya. Sudah bisa ditebak, pernikahan ini kandas dengan mudah, memang hanya untuk status sahaja. Rabiah lalu menikah lagi dengan Tan Amo, seperti yang terlihat di adegan pembuka.

Karengkang Gadang tukang mabuk dan judi. Hidupnya kacau, sakaw karena narkoba dan nyaris mati. Tan Amo mabuk perempuan, menggoda sana-sini walau sudah punya banyak istri. Kesamaan keduanya adalah judi, ia sering kali memertaruhkan banyak harta, termasuk perkebunan. Suatu hari desa mereka kena serang. Seranganya yang memporakporandakan wilayah sekitar itu kini menyambangi mereka. Satu lagi, Jintan Itam yang merupakan anak pungut yang dibesarkan seolah anak sendiri, mengabdi tanpa pamrih. Ia mewarnai kekacauan keadaan dengan pelayanan memuaskan.

Pasukan putih, tanpa menyebut secara terbuka ini adalah pasukan Tuanku Imam Bonjol yang terkenal itu, kita tahu ini adalah Jihad penyebaran agama Islam. Mereka juga memakai sebutan Tuanku untuk orang-orang terhormat bagi mereka. Nah, di sinilah dilema muncul. Magek kini jadi bagian dari pasukan ini, Magek Takangkang, Datuk Raja Malik yang mengganti nama Kasim Raja Malik, ia menjadi panglima yang paling depan mengangkat pedang dan menderap kuda. Pilihan bagi yang kalah perang hanya dua: mengikuti ajaran baru, atau mati. Ia tak pandang bulu meratakan daerah manapun.

Sebagian warga yang sudah tahu, memilih kabur. Yang bertahan luluh lantak, adegan keluarga Bungo ini ditaruh di ujung kisah. Drama memilukan, tak perlu kita tanya apakah Sang Kasim tega membinasakan keluarganya demi agama baru ini? Ataukah hatinya tetap tersentuh. Jangankan keluarganya, pusaka pribadinya yang mencipta dosa sahaja ia siap musnahkan. Dunia memang seperti itu, penuh dengan makhluk serba unik dan aneh. Kalau sudah ngomongin prinsip hidup, segalanya memang bisa diterjang, segalanya diisap langit!

Tanpa perlu turut mendukung pihak manapun, pembunuhan adalah salah. Apalagi pembunuhan dengan membabi buta, dengan bengis dan amarah memuncak. “Kau! Kelompokmu! Tuanku-tuanku kau itu! Hanya orang-orang kalah pada kehidupan, lalu melarikan diri kepada Tuhan!”

Tanpa bermaksud mendukung atau menhujat pihak manapun, selingkuh adalah salah, hubungan incen juga salah, judi, mabuk, narkoba jelas salah. Lantas bagaimana kita menempatkan diri? Dunia memang seperti itu, mau zaman dulu dan sekarang sama saja, hanya teknologinya saja yang berubah. Kalau mau objektif, semua karakter ini pendosa, dan saat bertaubat, ia memilih jalan yang keras, dan yah, salah juga mengangkat pedang. Kalau zaman sekarang, menyandang bom untuk menegakkan bendera agama dengan meledakkan diskotik misalkan, tetap saja salah. “Atas nama agama, katanya!”

Perjuangan melawan semacam kutukan juga terlihat di sini. Rabiah! Ingat, kau adalah keturunan ketujuh dan kutukan kepunahan pada keturunan ketujuh akan menghantuimu. Munculnya karakter minor yang ternyata memiliki peran penting dirasa pas. “Apakah orang-orang mencatat apa-apa yang pernah terjadi pada masa lampau kita, Jintan?” Maka akhir yang manis dengan api berkobar sudah sungguh pas.

Overall ceritanya bagus, tak njelimet, jadi sungguh enak dilahap. Benar-benar clir semuanya, apa yang mau disampaikan juga jelas, silsilah di halaman depan mungkin agak membantu, tapi untuk kisah seratusan halaman, rasanya tak diperlukan. Mungkin salah satu saran, jangan terlalu sering menggunakan tanda perintah (!) terutama untuk kalimat langsung. Mungkin maksudnya marah, atau meminta, atau memerintah, tapi tetap kubaca jadi kurang nyaman. Atau semuanya berakhiran dengan tanda itu dan tanda tanya (?)? contoh kalimat-kalimat langsung yang sebenarnya bisa dengan tanda titik (.), atau ada yang salah dengan tanda ini. (1) “Memang kita tidak akan mengerti, jika mengerti berarti kita selamat di ambang zaman ini!”; (2) “Sebentar lagi kita akan punah! Semuanya akan habis! Saya lebih peduli akan hal itu. Saya dan Rumah Gadang ini, tidak ingin hilang begitu saja, makanya perlu ada yang mencacat! Perlu dicatat!” (3) “Saya telah memilih jalan ini, Tuanku! Maka, saya pun akan berjuang sampai titik darah penghabisan, Tuanku!”; dst…

Prediksiku, buku ini laik masuk lima besar. Kisahnya sudah sangat pas, tak perlu bertele-tele, langsung ‘masuk’ ke intinya. Kursi goyang yang mewarnai kenyamanan hidup hanya selingan bab mula, masa kolonial yang keras bahkan tak disebut dan tak dikhawatirkan. Pasukan Padri, pasukan lokal yang perkasa malah justru yang mencipta khawatir. Rasanya banyak hal yang disampaikan, dan memang sepantasnya tak disampaikan sebab bersisian sejarah. Lihat, cerita bagus tak harus njelimet dan melingkar mumet bikin pusing pembaca, inti cerita yang utama.

Aku tutup catatan ini dengan kutipan dari Matthew Pearl, penulis The Dante Club ketika diwawancarai terkait cerita fiksinya yang bersetting sejarah Amerika, ia menjawab; “Saat Anda menulis fiksi sejarah, Anda harus tahu detail-detail tokohnya: makanan apa yang mereka santap ketika sarapan, apa jenis topi yang mereka kenakan, bagaimana cara mereka beruluk salam ketika saling bertemu di jalan.”

Segala yang Diisap Langit sukses menerjemahkannya.

Segala yang Diisap Langit | oleh Pinto Anugrah | Cetakan pertama, Agustus 2021 | Penyunting Dhewiberta Hardjono | Perancang sampul Bella Ansori | Pemeriksa aksara Yusnida, Nurani | Penata aksara Labusian | Penerbit Bentang | vi + 138 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-291-842-4 | ISBN 978-602-291-843-1 (EPUB) | ISBN 978-602-291-844-8 (PDF) | Skor: 4/5

Terima kasih untuk istri tercinta, Welly Zein

Karawang, 181021 – Fourplay (feat. El Debarge) – After the Dance

*Enam sudah, empat gegas.

**Thx to Titus, Karawang. Thx to Stanbuku, Yogyakarta.

***Judul catatan kuambil dari ucapan terima kasih penulis di halaman awal berbunyi: “Dan, terima kasih untuk orang-orang di masa lalu yang telah meninggalkan cerita ke masa mendatang.”

Cerita Mini dari Kota Sejuta Rawa

Anak Asli Asal Mappi oleh Casper Aliandu

“Terlalu asyik, Teman. Alamnya terlalu indah.”

Cerita mini, mirip fiksi mini. Dan karena ini berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar di Mappi, Papua maka bisa disebut fakta mini sahaja. Ceritanya terlampau biasa, terlampau sederhana, pengalaman sehari-har. Dan selain cerita mini, bukunya juga, hanya seratusan halaman. Namun harganya tak mini. Contoh buku mini harga mini yang kubeli tahun ini, Sumur-nya Eka Kurniawan. Satu cerpen dicetak, dijual dengan harga masih sungguh wajar 50 ribu. Anak Asli lebih dari itu. Sumur kubaca tak sampai setengah jam, Anak Asli hanya sejam pada Rabu, 13 Oktober 2021 selepas Subuh, ditemani kopi dan serentet lagu Sherina Munaf dalam album My Life. Serba mni, skor juga? Mari kita lihat.

Tak ada inti atau benang merah yang patut dikhawatirkan laiknya novel, tak ada alur yang patut diikuti dengan teliti, tak ada emosi di dalamnya, ngalir saja, tanpa riak sama sekali. Ini fakta mini, bertutur bagaimana keseharian Casper Aliandu mendidik, menjadi guru di pedalaman Mappi yang mendapat julukan kota sejuta rawa. Sah-sah saja, pernah baca beberapa kisah sejenis ini, tapi rerata memang biasa kalau tak mau dibilang jeleq. Termasuk ini. ditulis dengan sederhana, tanpa jiwa meletup, tanpa tautan penting ke jiwa pelahapnya. Cerita tak ada sinyal misalnya, yang mengharuskan ke kabupaten/kota hanya untuk terhubung internet, tak istimewa dan tak ada hal yang baru, wajar dong kan pedalaman. Kecuali saat cari sinyal bertemu singa dengan aumaaan terpekik, atau ketemu gadis jelita dan aku jatuh hati padanya, langit seakan runtuh. Atau cerita gaji yang terlambat, bukankah di sini di negeri ini hal ini sudah terbiasa sehingga apa yang harus dipetik hikmahnya? Korupsi atau alur yang panjang sehingga bocor bisa saja terjadi, dan memang sering terjadi; mau kritik sosial birokrasi juga tak mengarah dengan pas. Ngambang.

Atau cerita anak-anak dengan cita-citanya, dari pengen jadi perawat, dokter, guru, dst. Hal-hal yang juga bisa temui di sepanjang pulau di Indonesia. Kecuali bilang, pengen bercita menjadi bajak laut, atau penyihir wilayah Timur, atau penakluk naga, mungkin juga bilang ingin jadi pengusaha kayu gelondong, atau pengen jadi pendekar penjaga hutan, baru terdengar beda. Tidak, cerita-cerita di sini wajar dan apa adanya. Tanpa ledakan, tanpa letupan. Pemilihan diksi juga tak ada yang istimewa, tanpa kata-kata puitik, tanpa sentuhan bahasa sastrawi.

Tiap cerita dengan judul bahasa Inggris, nah ini. aku pernah komplain dulu penulis remaja bernarasi keseharian bersekolah dengan tiap bab dibuka dengan bahasa Inggris, hal ginian cuma buat gaya dengan esensi kedalaman rendah. Dengan dalil diambil dan terinspirasi dari pakaian yang dikenakan, judulnya malah terbaca ‘walaaah…’, kalau tak mau dibilang norak. Akan lebih eksotik bila judul-judulnya memakai bahasa asli Papua, atau yang biasa saja. Misal ‘Noken is Papua’, kenapa ga jadi ‘Noken adalah Papua’. Tak ada yang salah dengan bahasa Nasional. Namun ya itu tadi, gaya dikedepankan dengan cerita biasa. Coba aku ketik ulang lima judul pertama dalam daftar isi: Making magic happen, creating something from nothing, we started with trust, not just see but observe, life is nothing without love. Kalian bisa simpulkam, terdengar norak ‘kan? Seperti belajar bahasa Inggris level beginner. Ayolaaahh, ini KSK. Ini penghargaan sastra Nasional.

Sistem berceritanya juga dibuat beda, tiap karakter berbicara digambarkan dengan simbol; positif (+), negative (-), lingkaran (Ŏ), sampai sama dengan (=). Sah-sah saja, tapi tetap tak terlalu berpengaruh sama cerita. Tak ada tanda kutip untuk kalimat langsung juga sah-sah saja, mau dibuat aneh-aneh bentuk kodok, jerangkong, kuda nil juga monggo aja, sah-sah saja yang penting ada hal bagus yang didapat pembaca pasca-membaca. Ini negeri demokrasi, bebas berekspresi.

Ada dua cerita yang lumayan bagus. Tentang mencari ikan dan udang. Casper tidak bisa berenang, ia mengajak muridnya untuk berburu di tengah sungai. Takut riak dan khawatir perahu oleng. Hhhmmm… di kelas dialah gurunya, di alam, muridnyalah gurunya. Saling melengkapi. Begitu juga saat muridnya itu sudah lulus, dan ganti murid lainnya. Sama saja, keberanian naik perahu untuk seorang yang tak bisa renang saja sudah patut diapresiasi, tak semua orang berani di tengah air dalam dengan pengamanan minim, atau sekalipun dengan pelampung untuk lebih  tenang, tetap saja patut dikasih jempol. Pengabdian dan pengalaman serunya. Nah, cerita itu disampaikan ke sahabatnya. Bagaimana Casper apakah sudah move on dari pujaan hati yang terlepas, ataukah tetap tertambat. Hal-hal biasa, hal-hal yang wajar dan normal dialami semua pemuda. Pengabdiannya ke pedalaman untuk pendidikanlah yang luar biasa, tak semua orang mampu dan mau. Dan untuk itu, mungkin buku ini terjaring.

Buku ini terlampau tipis, mudah dicerna, mudah dipahami, cepat selesai, tak sebanding dengan harganya. Penutupnya mungkin akan membuat beberapa pembaca terharu, yah minimal tersentuh, perjuangan di pedalaman untuk menulis dan mengirimnya, tapi tetap bagiku biasa saja. Perjuangan yang lebih keras dan berpeluh keringat sangat banyak dilakukan pengarang lain. Haruki Murakami untuk menelurkan karya debut, begadang dari tengah malam sampai subuh lantas siangnya kerja keras sampai tengah malam lagi. penulis dari Timur Tengah dalam gejolak perang, menulis dengan suara dentuman bom sebagai teman. Maka, seperti kubilang, epilog itu juga biasa saja bagiku. Namun, keteguhannyalah yang tetap harus diapresiasi.

Prediksiku jelas, buku ini hanya sebagai pelengkap hingar bingar pesta KSK. Sudah masuk 10 besar saja sudah sungguh beruntung. Mungkin kedepannya harus lebih padat, tebal, dan dalam, yah setidaknya ada benang merah dari awal sampai akhir yang memancing rasa penasaran pembaca. cerita nyata pun harus tetap memesona.

Anak Asli Asal Mappi, Cerita-cerita Mini dari Papua | oleh Casper Aliandu | © 2020 | Penerbit IndonesiaTera | Cetakan pertama, Oktober 2020 | Penyunting Dorothea Rosa Herliany | Desain sampul Regina Redaning & Sabina Kencana Arimanintan | Lay out Irwan Supriyono | ISBN 978-9797-7531-46 | Skor: 3/5

Karawang, 141021 – Sherina Munaf – Sebuah Rahasia

Lima sudah, lima belum.

Thx to Stan Buku, Yogya. Thx to Titus, Karawang.

The Autopsy of Jane Doe: Aku Tidak Percaya Hantu, tapi Aku Takut Padanya

Tommy: “Jadi kalau kamu dengar bunyi ‘ting’ (di kaki), maka dia masih hidup.”

Aku tidak percaya hantu, tapi aku takut padanya. Dunia gaib berserta arwah gentayangan menghantui keluarga petugas otopsi. Ayah, anak, dan pacar anaknya dilingkupi horror, mencekam. Hal-hal mistis terjadi saat otopsi mayat istimewa, keganjilan bagaimana dibalik kulit mayat ada simbol sebuah sekte sihir dari masa lampau mendirikan bulu roma. Langkah antisipasi diambil, tapi segalanya berantakan.

Kisahnya dibuka dengan mendebarkan, sesosok mayat ditemukan ditimbun dalam lantai basemen rumah tua. Mayat masih utuh dan tampak baru walau sekelilingnya lusuh. Pihak kepolisian mengirimnya ke rumah keluarga Tilden untuk diotopsi.

Tommy (Brian Cox) dan anaknya Austin (Emile Hirsch) sebenarnya baru saja selesai tugas, tapi karena sobat polisi Sherif Burke (Michael McElhatton) meminta hasilnya esok pagi harus ada, mereka lembur. Sementara acara kencan nonton bioskop sama Emma (Ophelia Lovibond), pacar Austin diminta pulang lagi dan balik jemput nanti. Well, kengerian dimulai dari sini.

Mayat itu diberi identitas Jane Doe (Olwen Catherine Kelly), semua prosedur otopsi dilakukan. Kamera nyala, rekaman jalan, pembedahan dimulai dari pengecekan fisik luar lalu kepala dibuka. Turun ke tubuh, hingga tuntas di anggota kaki. Semua memang tampak janggal. Mayat yang sudah dikubur puluhan atau ratusan tahun ini masih utuh, darah segar muncul. Ngeri, seolah baru kemarin malaikat maut menjemput.

Makin mengerikan, mereka menemukan simbol di balik kulitnya. Simbol sihir dari masa lampau. Ini jelas bencana, teror digalakkan. Lampu mati, badai menerjang, pohon rubuh menimpa atap, pintu terkunci sendiri, bayangan hitam menyelingkupi, kabut sesaat menari, hingga terdengar suara asing meritih. Kita semua menyaksi efek bedah jenasah. Sebuah lonceng yang dipasang di ujung jari kaki sejatinya untuk memastikan tubuh ini sudah jadi mayat, maka saat pisau bedah menyentuh kulit, akan ada urat syaraf yang tertarik, menyalurkan energi itu untuk memberi tahu para petugas bahwa jiwanya masih ada.

Maka saat anak-bapak ini mencoba kabur dan sembunyi di kamar lain, dan muncul asap disertai bunyi lonceng yang bergerak, tahulah, mereka benar-benar menemukan mayat penyihir yang mengancam. Dengan celah yang terbuka, Tommy menghantamkan golok. Fatal!

Tommy yang frustasi bahkan meminta anaknya untuk langsung menembaknya bila ia nanti kesakitan dalam sekarat, ia lebih baik mati draipada menderita. Maka saat kembali ke ruang otopsi, dan tragedi berikutnya muncul, keberanian Austin diuji. Tak sampai di situ saja, saat ia mendengar langit-langit berderak dan mengira bantuan datang, adegan itu malah menjadi bencana berikutnya sekaligus penutup. Keapesan keluarga berurusan dengan mayat yang salah.

Olwen Catherine Kelly hanya berakting tidur sejak mula, dan saat layar ditutup ia tak ada dialog. Mayat memerankan karakter penting yang menghantui, ia memberi makna kalau lagi apes, masalah memang kadang mendatangi.

Genre horror memang ada di ujung daftarku, tapi dari beberapa referensi menganjurkan menikmati. Sesuai saran, kumatikan lampu, ditutup pintu dan jendela, kusaksikan tengah malam. Ditambah saat itu hujan. Aroma mistis coba dipanggungkan, mencipta suasana cekam. Memang mengerikan, walau temanya teror dari Dunia Lain, sejatinya plotnya masih bisa diterima.

Banyak cara untuk menakuti penonton. Para hantu adalah makhluk abadi sejati, di mana yang mati ‘dihidupkan’ sepanjang masa. Hantu-hantu memiliki vitalitas yang lebih besar pada masa kini daripada sebelumnya. Semakin hari semakin banyak, semakin variatif bentuknya. Para hantu yang menyatroni sinema, dan akan selalu seperti itu. Seolah para hantu tak pernah habis atau mati. Jane Doe, mungkin bukan hantu sebab ia tak menampakkan diri dalam samar. Kedokteran medis merupakan suatu ilmu terapan yang empiris. Ia bahkan benda padat yang dioprek tubuhnya, ia tak melakukan panampakan yang mengagetkan. Ia sekadar badan mati yang rebahan. Jenis horror yang tampak lain kan? Itulah, hantu-hantu modernitas. Setting di ruang otopsi, aura takut menguar dengan kuat. Hantu-hantu masa kini memiliki ketertarikan aktif bukan hanya dalam masalah publik, tapi juga seni.

Semakin manusia mengenal hukum alam, semakin tekun manusia mencari tahu masalah supranatural. Bisa saja mengklaim tak percaya takhayul, tapi tak benar-benar meninggalkannya. Sekalipun telah meninggalkan dunia sihir dan alkimia, manusia akan selalu masih memiliki waktu yang melimpah dalam penelitian yang bersifat psikis. Mereka telah mencampurkan horror dengan realitas.

Kehidupan memiliki geometri rahasia yang tidak dapat diolah oleh akal sehat.

The Autopsy of Jane Doe | Year 2016 | England | Directed by Andre Ovredal | Screenplay Ian Goldberg, Richard Naing | Cast Brian Cox, Emile Hirsch, Ophelia Lovibond, Olwen Catherine Kelly | Skor: 4/5

Karawang, 220921

Rekomendasi Lee dan Handa, Thx.

One Day: Peristiwa yang Telah Dinanti-nantikan dan Dimatangkan oleh Waktu Kini jadi Sebuah Takdir

“Beritahu aku, Sherina, apakah kau pernah punya seorang loyalis kasih sefantastis aku?”LBP

Maka, aku membuka mulutku dan meniup terompetku. Nadanya syahdu dan menelisik telinga, membuat Sherina terpental di dunia pararel hilang kesadaran, lantas ia membalas cintaku. Keberuntungan tak akan bertahan selamanya. Bagaimana kalau kamu dikasih kesempatan sehari untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasih yang sejatinya jauh diluar jangkauan? Bagaimana rasanya menikmati masa-masa itu, impian liar yang terpendam diwujudkan dalam waktu 24 jam. Katakanlah, Sherina hilang ingatan, dan hilang kewarasan sehingga mencintaiku untuk waktu tertentu. Lantas saat ia balik ingatan dan juga warasnya, segalanya normal lagi sehingga ia kembali ke suaminya. Namun jelas sehari itu akan sangat amat special. Patut diperhitungkan, dunia fantasi percintaan akan selalu laku diolah. Latarnya saja digubah, proses mencintanya disetting, manusianya yang kreatif. One Day memang menawarkan kisah picisan, tapi tetap saja nikmat untuk diikuti, apalagi tokohnya yang culun yang lantas diwujudkan impiannya. Kita diberi kesempatan menyaksi orang aneh ini bahagia, walau sesaat.

Denchai (Chantavit Dhanasevi), seorang IT yang culun abis. Ia memang bagus dalam kinerja kerja, tapi sosialnya terbelenggu. Freak menghadapi rekan-rekan, apalagi cewek, apalagi cewek cantik yang diam-diam ia kagumi. Adalah Nui (Nittha Jirayungyurn) pusat segala cinta di kantor itu. Ia adalah semesta damba, yang dicintai di balik punggung. Sang IT mengistimewakannya, membantu ekstra bukan hanya masalah informasi teknologi, tapi juga dukungan segalanya yang bisa dikeranhkan. Lagu-lagu jadul ia masukkan winamp, sebagai playlist menemai orang terkasih. Ia hapal kebiasaan selama di kantor, ia bahkan tahu ada tanda lahir di tubuhnya. Pengagum luar biasa obsesif.

Sayangnya, Nui adalah kekasih gelap sang bos. Menjadi wanita simpanan, menjadi Sephia-nya. Ia mau dimadu, dijanjikan dinikahi suatu hari kelak. Perselingkuhan itu pahit baginya, tapi tetap saja dijalani. Cantik sih tapi pelakor.

Suatu hari mereka melakukan rekreasi kantor ke Jepang, di sebuah pegunungan Hokkaido yang merupakan tempat libur impian Nui sebab di sana ada festival tahunan, yang fotonya dipajang di atas meja kerja. Ia menanti hari itu dengan antusias. Sayangnya hari itu tak berjalan mulus. Bosnya memilih bersama istrinya, dan ia tak mungkin menceraikan istrinya sebab sedang mengandung. Hatinya luluh, pikirannya lantak. Rasanya langit runtuh. Ia berniat bunuh diri.

Untung ada si freak yang memerhatikan, mengikuti perjalanan di tengah salju, menolongnya di dinginnya badai. Nui, menurut diagnose dokter mengalami sakit hilang ingatan selama sehari. Ia akan pulih otomatis saat mentari esok muncul. Maka saat terbangun dan Denchai adalah manusia pertama yang dilihat, ia memodifikasi fakta. Mengaku pacarnya, mengaku kekasih istimewa. Nui seolah tak percaya, ia menelpon ibunya, karena nama bosnya yang disodorkan Denchai, segala semesta mendukung drama sandiwara ini. Ia mengangguk, tetapi ekspresi keraguan di wajahnya tidak menghilang. Peristiwa yang telah dinanti-nantikan dan dimatangkan oleh waktu kini jadi sebuah takdir. Hello polisi, ada seorang IT meniru pacarnya Nui untuk mencuri momen! Keraguan menjadi bahan bakar pengembaraan.

Luar biasanya, Nui hanya diberi waktu beberapa jam dan sukses benar-benar jatuh hati. Dan sang pejantan jadi tangguh benaran. Cinta tak berkurang karena rekayasa dan tak bertambah karena luluhnya kekasih. Cinta yang Nui alami bukanlah hasil usaha tangan manusia, melainkan diciptakan oleh aktifitas Tuhan.

Endingnya memikat, kalian yang benar-benar mencinta pasti akan melakukan pengorbanan yang sama. Kebahagiaan orang terkasih ada di posisi tertinggi, yang mulia cinta, aku menghamba. Tertanda IT culun. Sebagaimana kalian para pujangga, seorang IT juga selalu lebih senang bergaul dengan benda-benda mati daripada makhluk hidup.

Denchai adalah seorang loyalis sejati pada cinta dan kenangan. Itu terlalu melankolis, terlalu culun untuk laki-laki, tentu saja tak baik. Budak cinta tak harus seaneh itu. Konsep-konsep tentang mencintai seperti itu tidak dapat dijejalkan ke dalam telinga-telinga orang normal. Malah bikin muak bahkan marah. Perilaku damba sejenis itu adalah maklumat sahaya. Bro, kamu tuh lelaki! Cinta dikambinghitamkan sebagai sumber inspirasi.

Akhir yang pantas untuk keduanya. Tentu saja mereka tidak bersulang untuk sebuah perpisahan. Namun aku memberi tepuk tangan meriah untuk keberanian mengambil keputusan pergi. Selamat Boy, kamu lolos.

One Day | 2016 | Thailand | Directed by Banjong Pisanthanakun | Screenplay Banjong Pisanthanakun, Chantavit Dhanasevi, Nontra Kumwong | Cast |Chantavit Dhanasevi, Nittha Jieayungyurn, Theerapat Sajakul  Skor: 4/5

Karawang, 210921 – Billie Holiday – Fine and Mellow

Recommended by Lee, Thx.

The Carducci Talent Show: Sesat Kitab Acuan

Jadi tolong ambil napas dalam-dalam dan terakhir, sekarang.”

Kita tak bisa menarik suatu kesimpulan yang absah dari pernyataan yang bersikap rekaan. Kesalahan, tidak selalu dalam kebohongan, tetapi pasti kekeliruan, telah memotivasi kejadian sejarah, mencipta peninggalan yang salah, ini salah satu kitab sesat yang muncul di abad modern. Kita harus bersandar pada kriterium kebenaran. Temanya permainan, tapi taruhannya nyawa. Bukan barang baru. Kesadisan yang ditawarkan juga sudah banyak dibuat. Langsung mengingatkanku pada Ready or Not? Yang mengajak penonton mengikuti petak umpet di malam hari, yang kalah mati. Kalau di sini, permainan dulu dijalankan lalu konsekuensi yang kalah baru diumumkan di akhir. sederhananya, main-main bertaruh nyawa. Mau pakai kitab kuno jenis apa, mau pakai aturan bagaimana, apalah dunia gila komunitas yang salah.

Emma (Saydee Dickonson) memiliki pacar baru, Tony (Johnno Wilson) mengajaknya ke perkumpulan pertunjukan talenta Carducci yang diadakan tiap empat tahun. Tampak Emma adalah gadis cerdas, ia juga berpikiran terbuka. Dikenalkannya kepada teman-teman yang juga mengajak pacar-pacarnya. Mereka ngumpul ngopi buat acara pertunjukan telenta. Sebelum dimulai dibacakan aturannya. Dihitung berdasarkan poin, poin terendah kalah.

Malam itu tampak menarik. Pertunjukannya seru, penampilan main music, menyanyi, sandiwara, pembacaan puisi, dst. Semua menampilkan talenta-talenta terbaik, membuat suasan meriah, dan Emma tertawa ceria. Sampai akhirnya tiba diperhitungan poin. Terjadi skor imbang, dan karena Emma member baru maka ia yang memutuskan siapa yang lolos.

Di sinilah film menjelma gila. Keputusan sederhana yang dibacakan sambil tertawa itu berakhir dalam kesedihan mendalam. Apa yang tampak di depan, yang kita lihat selama belasan menit itu, tak menggambarkan kehitaman cerita, kini malah mengerikan. Dunia ini memang penuh dengan hingar bingar kehidupan makhluk beragam. Dan di antaranya terbagi dalam berbagai komunitas, warga, kelompok. Ini hanya sebagain kecil komunitas gila.

Selama setengah jam kita menyaksi tiga babak: pengenalan karakter di mana semua dikumpulkan, diperkenalkan masing-masing, bersapa setelah lama tak jumpa, lantas membuka kita kuno. Kedua adalah pertunjukkan utama. Setiap karakter menampilkan apa yang bisa ditampilkan, tampaknya bakal jadi film fun kumpulan manusia dewasa yang menghabiskan waktu bersama, melepas kangen, bercerita dan berkumpul makan-makan, ngopi, pokoknya menikmati hari. Nah, bagian ketiga adalah eksekusi makna utama kisah ini. ini bukan sekadar kumpul ngopi, ini adalah kumpulan sekte kuno yang menjalankan ritual. Apapun yang terjadi harus dijalankan, tak peduli betapa kalian bahagia, tak perduli bagaimana dengan segala sisa usia yang terhitung. Pokoknya, mati. Wasiat sudah disiapkan, surat-surat sudah ditandatangani, dan pertunjukkan ditutup. Ini film pendek, semua dipadatkan. Kebosanan ditekan seminim mungkin, begitu juga ketegangan dan aroma thriller, semua dibagi seefektif mungkin. Namun, bagiku tak terlalu mengejutkan.

Pertunjukkan boleh ditonton, dinikmati, ditelaah. Perjalanan hidup setiap individu sudah digariskan takdir. Lantas kalau kebebasan, dan keindividuan setiap orang sudah boleh dipegang, mengapa menjalani hal-hal yang melenceng? Yang perlu kita telaah mungkin adalah kekhasan setiap pedoman hidup, dan apa yang membuat kitab Carducci menjadi Sabda Carducci. Kalian bisa saja hari ini memegang teguh al-kitab, lusa meyakini Tripitaka, tahun depan memercayai Quran. Manusia itu relatif dan terbuka segala kemungkinan, tapi jelas kalian takkan memegang teguh kitab Carducci, kecuali sudah miring otaknya. Perbedaan antara satu talenta dan talenta lain sangat cair, bisa sungguh objektif. Minat tiap peserta pada hobi dan kemampuan menunjukkan talenta tidak berdasarkan penilaian estetis, tapi selera pribadi, seperti halnya hobi main catur atau mengisi teka-teki silang atau misalkan sepakbola. Semua serba relatif dan tak kuat pondasinya untuk mendulang skor, maka jelas ini sesat.

Dalam praktiknya, kita sukar memilih antara sudut pandang sejarah dan sudut pandang kekinian. Ini thriller, juga horror dan drama. Sudut pandang masa lalu dijadikan acuan, sudut pandang modern menyatakan bi’ah. Kitab Carducci harus dibakar, mungkin juga file film ini. Tak nyaman ditonton, tak enak diperdebatkan. Setengah jam kalian terselamatkan dengan tak memilih The Carducci Talent Show sebagai tontonan. Serius!

The Carducci Talent Show | Year 2021 | USA | Short Movie 36m | Directed by Anthony Fanelli | Screenplay Anthony Fanelli | Cast Saydee Dickinson, Johnno Wilson, Sara Fletcher | Skor: 2.5/5

Karawang, 210921 – Peterpan – Kukatakan dengan Indah

After Love: Kami Merindukanmu bak Halilintar

“Bersamaku membuatnya merasa menjadi suami yang baik untuk orang lain. Ini membuatku sedih” – G

Kesedihan terdalam adalah mengingat kebahagiaan masa lalu. Cerita cinta yang hilang dan respon menghadapinya. Drama dengan kekuatan akting dikedepankan, karena ceritanya sederhana, kalau dibagi dalam babak ada tiga: kehilangan, pencarian dan penemuan fakta, legowo. Dunia duka dengan segala isinya. Kematian mendadak orang terkasih memicu tanya beruntun saat menemukan isi chat mesra di HP almarhum. Menemukan sebuah kartu identitas wanita lain diselipkan dalam dompet, dan inilah inti dari After Love, perjalanan menemukan jawaban kehidupan lain sang suami. Ini kisah tentang tautan dua wanita dalam satu hati lelaki.

Kisahnya dibuka dengan tenang, Mary (Joanna Scanlan) seorang muslim keturunan Pakistan dan suaminya Ahmed (Nasser Memarzia_ menyatakan diri kepada istrinya dengan identitas: Love), kapten kapal feri jalur Dover – Calais. Mereka tinggal di Dover, Inggris. Mereka pulang dari kondangan. Sang istri melepas hijab, memanaskan air untuk ngopi, mencuci gelas untuk persiapan. Membuka berkat, “apakah isinya ada daging?” oh tidak ada hanya lauk dan sayur. Sang suami duduk santai di ruang tamu, sembari nunggu untuk kopi disajikan, ia membuka HP dan bicara sambil lalu.

Lalu tiba-tiba ia meninggal dunia. Jangankan yang mendadak, orang sakit keras bertahun-tahun saja masih banyak yang tak siap menghadapi kematian. Adegan berikutnya menyaksi penyajian doa bersama yaa siin-an dan hulu ledak tangis dalam duka.

Barang-barang almarhum dirapikan, lantas menemukan kejanggalan. Chat tak selesai dengan wanita bernama Genevieve (Nathalie Richard), di kontak diberi nama ‘G’. Kartu identitasnya ada dalam dompet. Jadi selama ini suaminya selingkuh dengan wanita Prancis hingga memiliki anak. Mary yang kini sendirian lantas menyelidiki sisi lain hidup belahan hatinya. Berkendara jauh ke apartemen Gene, mengikuti rute feri tempat kerja almarhum, lantas menjelma tukang bersih-bersih, tenaga bantu, Sabtu ini mereka akan pindahan.

Hubungan mereka menghasilkan seorang anak lelaki Solomon (Talid Ariss) yang suka memberontak, di usia remaja dengan pikiran liarnya. Betapa ia merindukan kasih sayang seorang ayah. Ia pernah kabur dari study tour ke Dover untuk bertemu ayahnya. Setelah berhari-hari menjadi pendengar dan pengamat keluarga, mereka belum  juga mengetahui identitas asli Mary. Karena memang Mary-lah yang mengorek kehidupan. Hal-hal tabu diungkap, suaminya minum minuman keras tampak saat video kenangan diputar di tv, ideologi Gene bahwa ia memang jadi WIL, tapi semua ga papa kok. Setelah itu, perhatikan gesture Mary, menggeleng dan ekspresi tak percaya! Terdeteksi getar halus rasa sedih dan marah dalam nada suaranya. Benaknya kosong dari pikiran apa pun, seakan-akan berpikir adalah sebuah kemewahan.

Gene dan Ahmed tak menikah, walau dalam Islam diperbolehkan poligami. Gene tak mempersalahkan berbagi suami, jelas muncul tekanan di sana tapi ya ngalir aja, menyadari status ia pacaran sama suami orang. Ya Mary sedih, tapi rasa sedih itu menjadi sangat saat menemukan fakta bahwa Solomon menjalin kasih sesama jenis, ini jelas menghancurkan hati setiap ibu. Ia yang memimpikan seorang anak, menemukan anak suaminya memiliki penyimpangan seksual sungguh mencipta pilu.

Semakin hari, Mary semakin mengerti mengapa suaminya memiliki sisi lain. Mereka tak punya anak, ia gendut, ia kurang cantik; ditampilkan dengan galau dalam cermin tatapan pasrah, ditampilkan pula dalam pembaringan pasir dicium ombak bak paus terdampar. Ia tak lugas dalam diskusi ilmu, ia memang taat ibadah dan selalu salat, bahkan menangis dalam sujudnya. Namun ia juga menyadari penampilan dan kepribadian wanita lain yang lugas dan terbuka, hingga fakta-fakta kecil bahwa kekurangan yang ada di dirinya bisa ditemukan dalam selingkuhannya. Singkatnya mereka melengkapi.

Hingga akhirnya, Mary mengakui statusnya, nama Islamnya Fatima, identitas yang diketahui Gene, lantas ledakan amarah tersaji, keduanya marah, keduanya kesal. Mary menyampaikan kematian mendadak Ahmed, mereka tak siap, HP-nya ditelpon, ada dalam tasnya, dan kekalutan itu wajar, memang pantas membuncah, waktu juga yang mengantar mereka kembali membumi karena dunia terus berjalan, dan setelah kepergian Cinta, ada hal-hal yang laik diperjuangkan, diperbaiki. Fakta mengembuskan napas kekhawatiran dan juga kelemahan, yang dapat membelenggu dan juga membebaskan.

Ini drama sentimental, Mary bercerita masa pacaran pada ‘anaknya’ bahwa zaman dulu komunikasi pakai surat, membuat rekaman kaset pita untuk dikirim dan diperdengarkan bila rindu melanda. Klasik. Tak seperti sekarang, dengan HP kendala rindu menjadi sederhana untuk disampaikan. Nah, berkali-kali kita menjadi Mary untuk mendengarkan rekaman voice mail dari Love. Pesan-pesan sederhana sehari-hari, Mary menikmatinya sebagai kenangan yang sungguh bernilai, sedikit mengobati rindu. Ini jadi adegan touching sekali, saat pesan suara itu hangus. Fufufu… begitu juga saat menemukan pakaian-pakaian almarhum, diciumi, dipeluk. Hal-hal sentimental yang rasanya tak bisa dengan mudah dilepas, termasuk bau khas baju tersebut. Rasanya sayang, karena setelah dicuci arti jejak itu hilang, menguap. Kami merindukanmu bak halilintar.

Sempat memunculkan tanya, “Kapan terakhir kali kalian salat hingga sesenggukan meneteskan air mata?” Lupa saking jarangnya? Banyak alasan untuk menangis, banyak cara mendekatkan diri dengan Yang Mahakuasa, betapa lemah dan rapuhnya manusia.

Banyak sekali pengambilan gambar alam disajikan. Lautan dengan ombaknya, pohon-pohon hijau yang berkejaran saat naik bus, angin berdesir menyapu ombak, dengan sang protagonist tiduran di pasir pantai, dibelai ombak, diraba hembusan. Langit cerah yang menawarkan obat duka, hingga rentetan butir debu berterbangan jatuh dari langit-langit. Semua ditampilkan dengan lembut seolah penting, seolah hal-hal kecil yang ada di sekitar kita menyokong kehidupan fana ini. Mary duduk di kursi depan rumah, melihat kegiatan di sekitar dengan HP di tangan saja sudah tampak menarik, sebab kamera sesekali mengambil dari depan yang artinya Mary menonton penonton, menampilkan kerutan kening kesedihan di wajahnya. 

Walau disesaki kisah duka, pada akhirnya ceritanya selesai dengan bahagia, semua berdamai dengan keadaan, berziarah, mendoakan, memaklumkan. Ini berkebalikan dengan awal mula saat fakta-fakta pahit diungkap, saling marah saling tampar, saling teriak. Alih-alih berusaha mengubah riak-riak konfliks dari sesuatu yang asing dan artifial, After Love membiarkan adegannya mengalir sendiri dari dalam pikiran, lantas kamera menyorot mereka bertiga di tepi pantai, menjauh perlahan seolah mengucap ‘Goodbye‘ guna menutup film.

Mereka akhirnya menyerahkan diri pada ketiadaan beban.

After Love | Tahun 2020 | Inggris | Directed by Allem Khan | Screenplay Allem Khan | Cast Joanna Scanlan, Nathalie Richard, Talid Ariss, Nasser Memarzia | Skor: 4/5

Karawang, 150921 – Shirley Horn – I Got Lost in his Arms

Rekomendasi Lee, Thx.

The Hunt: Maka Marilah Merenungkan dengan Jernih Perasaan Setiap Orang

Lucas: “Tatap aku! Apa yang kau lihat? Apa yang kau lihat? Tak ada apa-apa. Apapun. Jangan ganggu aku.”

Di tengah-tengah perjalanan hidup ini, aku mendapati diriku di sebuah hutan lebat; aku tersesat. The Hunt adalah film untuk para penyabar dan para simpatisan kasih sayang. Ini tentang guru Taman Kanak-kanak yang kena fitnah pelecehan seksual anak. Seorang pemburu yang kena apes bertubi, sebab ia memang tak melakukannya. Senapannya menyalak balik dengan sungguh keras. Ia kena penghakiman warga. Kasus pencabulan anak jelas kasus kelas berat. Ia dikucilkan, dihujat, dihajar (dalam arti nyata), diredam lumpur terdalam. Bak pendosa dalam lapis paling hitam. Bahkan anjing keluarga bernama Fanny, teman berburunya dibunuh. Begitulah, tak di Indonesia tak di Eropa, apalagi Zimbabwe; fitnah memang luar biasa kejam gemanya.

Kisahnya bermula di bulan November yang dingin, bapak-bapak sedang lompa terjun ke danau demi kesenangan dan uang taruhan. Lucas (Mads Mikkelsen) tampak menikmati har-hari, ia duda anak satu. Anaknya Marcus (Lesse Fogelstrom)  tinggal bergantian sama mantan istrinya, ada kedekatan di antara anak-ayah ini; dalam sebuah adegan yang bisa mencipta anak sungai air mata, Marcus membela dengan membabi buta atas keyakinannya. Seorang guru TK yang dekat sama anak-anak, wajar juga dekat dengan segala lapisan warga. Apalagi ia tampan, dan hidup terasa sempurna bersama orang-orang dalam kasih, dalam rutinitas. Pedesaan Taastrup di Denmark yang tenang nan menghanyutkan. Kesenyapan jalanan di Gereja Hoje Taastrup yang dipagari pohon-pohon elm menuli. Ini rutinitas yang jamak untuk hati yang tenteram, tak heran Lucas dengan kekuatan supernya bersikukuh tetap tinggal.

Hingga suatu hari, seorang anak didik Klara (Annika Wedderkopp) bercerita kepada gurunya bahwa alat kelamin Lucas keras dan pernah memperlihatkan padanya dibeberkan. Satu klik yang mencipta gelombang kolektif, sebab dari menit inilah Hunt menjadi liar. Kasus ini menjadi besar dan semakin meluas bak api kena daun kering. Menjejakkan langkah pertama ke adegan pengungkapan, mencipta gemetar dan gelisah.

Guru-gurunya melakukan rapat, para orangtua/wali murid diajak urun rembug untuk memutuskan bahwa ini harus dibawa ke ranah hukum. Orangtua Klara, Theo (Thomas Bo Larsen) yang merupakan sahabat dekat Lucas melakukan apa-apa yang memang harus dilakukan untuk melindungi putrinya.

Marcus turut menjadi korban, ia juga dikucilkan warga akibat fitnah dosa ayahnya. Bahkan di sebuah swalayan, ia mendapat ancaman untuk disampaikan ke ayahnya agar tak berbelanja di situ lagi. nantinya Lucas kena hajar akibat nekad, tapi ia memang punya harga diri. Kaca mata boleh pecah, muka boleh berdarah, yang jelas ia wajib meninggalkan toko dengan berdiri tegak.

Lucas lalu diamankan polisi, interogasi yang menentukan besok untuk bebas atau ditahan sementara. Marcus komplain ke rumah Klara, malah dapat bogem mentah karena merasa mengintimidasi. Keadaan rumit dan runcing, pada sumbu pendek semua. Marcus mengumpat balik dengan keras, walau ekpresinya mengangguk sedih, tetapi jelas keyakinan di wajahnya tidak menghilang: ayahnya tak bersalah. Benar saja, saat kepolisian memutuskan bebas, intimidasi tak berhenti.

Fanny dibunuh setelah jendela rumahnya dilempar batu. Marcus dipindahkan ke rumah ibunya. Lucas menghadapi pengadilan sosial langsung oleh tetangga, sahabat-sahabatnya, rekan kerja, dst padahal sudah dilepas merdeka dan tak bersalah. Hingga suatu malam Natal, di Gereja Lucas nekad datang dalam misa, terjadi rusuh akibat kemarahan yang lama dipendam. Darah dan kata-kata meluap bersamaan.

Harus ada yang bertindak, harus ada yang meluruskan. Kita harus mengambil tindakan agar tidak menyesal kelak di kemudian hari, demi persahabatan, demi keadilan. Tak lain, yang berdiri tegak itu adalah ayah Klara, setelah kena damprat, ia datang langsung ke rumah Lucas, membawa makanan dan sebotol bir, dan menyajikan kata-kata maaf yang tertunda sekian lama. Saat waktu direntang setahun, kita tahu keadilan orang baik itu masih ada, setidaknya masih ada harapan. Hingga akhirnya dalam perayaan usia dewasa Marcus, ia mendapat senapan berburu dari bapaknya, senapan yang juga dari kakeknya, dan kakek buyutnya, kini ia diwarisi tradisi itu. Perasaan lega kolektif. Namun sekali lagi, benarkah hal-hal yang abu-abu itu sudah diputihkan? Setidaknya kunjungan Theo ini perlu dirayakan. Laiknya mengocok botol-botol anggur paling langka dan keras.

Apa yang bisa aku ulas? Tak banyak, tonton saja dan buktikan. Ceritanya hanya berkutat di desa asri dengan orang-orang yang semestinya damai dan saling menghormati. Pace-nya lambat, sungguh lambat, setrika bolak-balikku bahkan terasa lebih cepat dan ritmis. Menit digulirkan dengan tenang seolah aliran air dalam selokan dalam. Gaya filmnya menjulang seturut temanya, dan mengembang laiknya air pasang dan alurnya yang berpanjang-panjang menggugah penonton, mengalirkan keraguan dan kekhawatiran. Kehidupan warga yang damai, hanya sesekali muncul meriah festival: adegan di toko, adegan di Gereja, adegan di rumah Theo, adegan ‘door!’ di ujung. Apalah arti empat adegan ini jika dibanding dua jam duduk melotot. Bahkan setrika bajuku, jauh lebih panas ketimbang baku hantam yang ditawarkan. Insiden fantasi Klara sejatinya adalah picu, dan seharusnya bisa diredam saat putusan sudah dipalu. Namun itulah manusia, hukum sosial memang berbuntut panjang dan sangat keras. Ada kekesalan, ada kemarahan kolektif, bahkan setelah setahun berselang. Padahal sepanjang film kita tahu, dan yakin Lucas tak salah. Mungkin di tengah film kalian masih ragu, tapi jelas aku dengan percaya diri bilang dia orang baik. Apa buktinya? Banyak sekali, bertebaran sepanjang film. Kalau orang normal saat dipojokkan, dihujat, bahkan dipukuli para tetangga, paling mengepalkan tangan balik dan ujung bisa jadi paling pindah; atau yang keras bisa malah membalas brutal atas perlakuan tak menyenangkan. Namun tidak, Lucas adalah sosok istrimewa. Ia memperjuangkan haknya, ia meyakini bahwa apa yang benar harus dijunjung. Sebuah fakta sederhana: hidup adalah pertaruhan.

Sempat terbesit pula dalam pikiranku, andai Lucas habis sabar apakah ia akan mengangkat senjata membalas orang-orang yang menyakitinya. Sebab tampang Mads Mikkelsen memang cocok jadi penjahat, image villain Bond dalam Casino Royale selalu membekas di otakku, atau jadi pemimpin penjahat dalam Dr. Strange yang itu. Namun balik lagi, di sini ia jadi guru TK yang baik hati dan tidak sombong. Hunt mengangkat tema umat manusia, bukan seorang manusia. Bisa jadi ini kisah hidup Lucas, tapi jelas ini tentang kehidupan manusia yang beragam.

Satu klu istimewa kenapa Klara menyampai kebohongan kecil itu, kita bisa tarik kesimpulan ia jatuh hati sama Pak Lucas. Lihat, ia lebih suka diajak jalan pas pulang sekolah sama dia ketimbang misal dijemput ibunya, atau saat ia dengan hati berbunga berkunjung mengajak Fanny jalan sore, ia bahkan meyakini sosok Lucas adalah ayah ideal. Maka akibat, fatamorgana kecil saat di laut perasaan, ia tergelincir.

Bohong kalau kalian tak merasakan simpati. Kita dihadapkan keadaan sesak nan memilukan. Seandainya aku memiliki seribu lidah, aku takkan mampu melukiskan penderitaan fitnah yang luar biasa ini. Gambaran utama Lucas yang teguh, melawan balik kepahitan hidup, dan sosok anaknya yang terus meyakini ayahnya tak bersalah, membela hingga titik maksimal. Dunia Hunt adalah dunia yang mungkin kurang ideal, tapi tetap mencoba adil. Endingnya membuktikan bahwa, sehebat apapun kamu mencoba membersihkan luka-luka keadaan, kamu tak kan bisa. Ada saja orang yang akan membencimu, bahkan sekalipun kamu suci bak malaikat. Inilah strukturasi gejala sosial, ekonomi, kultural, dan politik yang kemudian membentuk kondisi modernitas dunia kita. Dengki adalah anak kandung fitnah yang kadang bertanya, “dapatkah kita hidup di suatu dunia di mana tak ada apa pun juga yang kita anggap menghakimi?” Kalian yang semestinya menjawab.

The Hunt yang luar biasa, dapat kita simpulkan bahwa simpati adalah sebuah hadiah, maka marilah merenungkan dengan jernih perasaan setiap orang.

The Hunt | Tahun 2012 | Judul asli Jagten | Denmark | Directed by Thomas Vinterberg | Screenplay Tobias Lindholm, Thomas Vinterberg | Cast Mads Mikkelsen, Alexandra Rapaport, Thomas Bo Larsen, Annika Wedderkopp | Skor: 5/5

Karawang, 140921 – Cassandra Wilson – I’ve Grown Accustomed to his Face

The Hunt masterpiece, Terima kasih referensinya Om Lee

– Buds –

Zaman Meleset; Melaju Kencang

Penyair Revolusioner by Deddy Arsya

… aku membujukmu dengan bibir entah milik siapa: / “di sini, kami sama-sama sedang berbahagia!”… – Doa Para Pasien

Alurnya agak lambat, untung di tengah sampai akhir langsung kebut seru. Bagus banget saat halaman mulai di 50-an. Hufh… lega. Dimula dengan Jembatan Ambruk, meninggi dalam Sapi dari dalam Kitab Suci, lalu meledak bungah dalam Revolusi angsa Putih. Saya memang masih sulit menikmati puisi, tapi setidaknya di Penyair Revolusioner mendapat hikmat dan cumpuan asyik. baca baik-baik ini, “Hidup kadang-kadang saja lembut maka senjatamu teruslah asah, aku berdiam pada gagangnya!” 

Seperti sebelumnya saat ulas puisi, saya ambil beberapa yang memikat. Saya kutip sebagian dan kuselingi komentar. Satu kutipan, satu paragraf komentar. Enjoy it!

Musa di Sinai: Kami telah lewati / badai-badai kecil / diaku pendek saja: / Tuhan, kami ini hendak apakan?

Mungkin yang menjadi saran atau kritik adalah, dalam penyampaian kalimat langsung, sering kali ditutup dengan tanda perintah (!) seolah marah atau meminta perhatian, itu sah-sah saja tapi ya agak mengganggu kalau keseringan. Kutemui, banyak sekali. Seperti penulis mula yang sering menggunakan tiga tanda perintah (!!!), awalnya mungkin biasa, tapi jelas itu kurang nyaman.

Kota yang Terkunci dari Dalam: Pintu-pintu dari baja / engsel-engsel besar / dan kunci dengan gembok berkarat / dinding-dinding berwarna cokelat / lumut-lumut yang menjalar / dipisahkan oleh gang-gang / sunyi seketika menyergap / suara Anda lama bersipongang / seakan sedang berada dalam gua – atau gulag? / ketika melihat keluar, betapa hidup terasa terpisah dari keriuhan…

Janji, sumpah, maklumat. Sering kali kita temui dalam puisi. Cerita yang diberikan adalah sebuah kalimat terlontar yang dipegang, memegang angin? Seolah kata-kata bisa diperas, kali ini terlambat.

Nubuat yang Datang Terlambat: … “Aku bersumpah demi awan gelap ini / yang turun setelah petang hari / Aku sama sekali tidak benci padamu / aku berkata begini agar hatimu senang / tapi Aku mesti menyingkir / tapi bukan pertanda mangkir!”…

Paling suka puisi yang bercerita, maka narasi bagiku penting. Setiap bait yang diketik, memberi aura, bukan sekadar pilihan diksi. Maka saya suka puisi ini:

Membangun Kota: Memang ada kota yang didirikan dari gerutu / dari derap omong-kosong tak sudah-sudah! / Lalu mereka berkata: kita mesti atur itu siasat, / masa depan hanya diraih dengan gelegak hasrat / harus kau pilih jembatan antar selat atau kapal pengangkut / segala / pesawat-pesawat semakin sering jatuh dan orang-orang / takut terbang / padahal kelak oto dan sepur akan diberi sayap / “tapi maaf, ya, penyair partikelir seperti anda susah dibawa serta!”

Karya sastra lama juga disenggol, sudah sangat sering kusaksi dan nikmati. Kali ini dari Marah Rusli yang dikomplain oleh tokohnya.

Sitti Nurbaya di Pasar Gadang:Aku bayangkan ruh Nurbaya berkata: / pengarang celaka telah mendorongku ke jurang neraka!…

Beberapa terasa pengulangan, seperti sapi betina yang ada di kitab. Awalnya wah, ayat suci dikutip, tapi terulang di belakang, dan lagi.

Sapi dari dalam Kitab Suci: … Sapi betina yang luka pada pantat / menggoyang-goyangkan telinganya / yang kempis-kembang bagai hasrat pada kerampang / dia terpancang pada tambang / hingga larut malam / di padang-padang kuning / dikebat gelap begini lindap / kau tinggikan obormu ingin menangkap / “wujud, wujudmu, kami hendak!”

Ini yang bagiku ironi, jam 12 tutup saat adzan dhuhur, lantas kegiatan lanjut sampai adzan asar? Bagiku, bait terakhir adalah asar sebab dua adzan disandingkan di tengah hari.

Bank Tutup Jam 12 Siang: Bank tutup jam 12 siang, suara azan bagai bunyi perut lapar, / (banyak kejadian tertuang; puisi ditutup dengan begini) / suara azan terdengar lagi bagai suara kentut yang tertahan

Ini tentang fantasi, tukang bakso yang dikerumun pembeli, merdu sekali gema gentanya.

Gunung Api Fantasi: Ada tukang bakso lewat setiap sore / membunyikan genta sebagai tanda, aku mengira yang lewat / gerombolan sapi, orang-orang memburunya bagai arak- / arakan ke kuburan. Tia ada di antara / riuh karnaval itu, para pembeli berbicara dengan ibu / sambil menutup kedua telinga,…

Nah, narasi itu penting. Tak hanya di puisi, dalam prosa penyampaian yang tepat dan nyaman juga menjadi nilai lebih. Ini juga bagus sekali, bagaimana mudik menjadi petaka. Lantas diakhiri dengan semacam pemakluman kata ‘jihad’, padahal ia melontarkan sendiri dari kereta yang bergerak.

Kereta Lebaran: Dari atas kereta yang lewat malam / seorang pemudik yang penat berdesak-desakan / memutuskan / lompat kea tap rumah, melesat, bagai batu dilontarkan / orang-orang dalam rumah terpekik, ‘sialan!’, ‘anjing hutan!’ / mereka mengira sedang terjadi kerusuhan antarsuporter / sepakbola / mereka mulai menghitung-hitung berapa nilai kerugian / harus mengganti plafond an genteng-genteng yang rusak / sementara ‘si batu’ yang terlontar itu berguling-guling ke tepi / rel / persis batu, beradu dengan batu lain yang lebih besar / nun di kampung, keluarga yang mati berkata: / Dia wafat dalam berjihad!

Kutemui kata baru ‘aur’, belum kubuka kamus, dari web google artinya emas (bahasa Rumania). Namun dari web sinomim artinya: bambu/buluh. Mungkin pulang kerja nanti saya buka KBBI kertas sahaja.

Kau Tebing Aku Aur: … tetap tak bisa ia dilerai / katanya kau tebing aku aur / tiap runtuh padamu / riuh rusuh padaku…

Kenapa saya pilih kutip ini, sebab pagi disiram mentari itu nyaman dan segar sekali. Bahagia itu sederhana walaupun masih ngontrak.

Cinta Musim Panas (1): Kau boleh mencintaiku dengan rasa jijik / yang terus-menerus naik ke kerongkonganmu / tapi aku akan tetap membajak luas sawahmu, menjadi sapi, atau kerbau untukmu… / Kita akan bahagia disiram cahaya matahari jam tujuh pagi, / kita akan bahagia memiliki rumah /  yang bukan milik pribadi…

Sederhana tapi pas, cinta yang dimetamor dalam salak aning malam.

Cinta Musim Panas (2): … Cintaku adalah kasmaran sepanjang waktu. / Cintaku semata salak anjing dalam kegelapan!

Pemilihan kata beriak, lalu berdebur, lalu melipur. Enak didengar bukan?

Selesai ke Laut: … yang aku kira lebih ganas dari ombak memukul / Rasanya tak kutinggalkan engkau / yang beriak, yang berdebur, lebih melipur

Ini lebih ke realistis, ayolah kita hidup di kerasnya keadaan. Omong kosong lebih pas ketimbang angan-angan.

Pulang Malam: … Aku tak percaya pada impian yang menggebu-gebu. / Kita sebaiknya memelihara omong-kosong untuk bisa / berbahagia / aku tidak bisa menangkapmu lebih jauh lagi.

Demikian pengamatan dan komentar penikmat puisi amatir. Semoga berkenan. Seperti biasa pula, setiap buku debut baca kuketik ulang profil penulis/penyairnya.

Deddy Arsya lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera, 15 Desember 1987. Banyak tulisannya di media massa: esai, puisi, cerpen, tinjauan buku dan film. Buku pertamanya kumpulan puisi Odong-odong Fort de Kock (Padang, Kabarita, 2013) merupakan lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2013, dan merupakan Buku Satra Terbaik 2013 versi Majalah Tempo. Bukunya yang lain, Mendisiplinkan Kawula Jajahan (Yogyakarta, Basabasi, 2017), Rajab Syamsuddin si Penabuh Dulang (Yogyakarta, Divapress, 2017). Ini buku pertama bung Deddy yang saya baca, dan rasanya laik dinanti buku-buku berikutnya.

Tahun ini target melahap 12 buku puisi, masih empat bulan lagi, dan percayalah, akan kukejar walau para ‘Penyair Revolusioner.’

Penyair Revolusioner | Kumpulan Puisi | by Deddy Arsya | 57.17.1.0037 | Penyunting Septi Ws | Desainer sampul Studio Broccoli | Penerbit Grasindo, 2017 | ISBN 978-602-375-961-3 | Cetakan pertama, Juni 2017 | Skor: 4/5

Karawang, 310821 – David Sanborn – The Dream

Thx to Dea (GK)

#Juni2021 Baca

“Orang-orang dungu! Sekarang katakan bahwa Tuhan itu ada!”


Juni adalah bulan Isoman, sejak ulang tahun Sherina sampai awal bulan Juli. Seminggu pertama tidak banyak yang bisa dilakukan, fokus istirahat dan penyembuhan. Baru setelah itu gas, baca buku dan nonton film. Lumayan banyak untuk bulan Juni, 14 buku selesai baca! Tapi momen #30HariMenulis yang sudah sangat lama berjalan, tak gagal. Sehat itu penting.

#1. The Street Lawyer by John Grisham

Bagaimana hidup bisa berubah begitu drastis dalam sebulan? Kisahnya tentang Michael Nelson Brock, yang merupakan pengacara di sebuah biro kaya dan mapan Drake & Sweeney. Ia memiliki istri cantik yang bekerja di rumah sakit Claire, pasangan kaya ini tampak sangat ideal, materi terpenuhi, tapi dari dalam ada keruntuhan batin. Kesibukan dan cinta yang digerus waktu menjelma bosan, dan di dunia Barat yang liberal tentu saja arahnya mudah ditebak, perceraian. Menjadi bujangan lagi bukanlah hal yang hebat. Aku dan Claire sama-sama kalah.


“Aku menemukan panggilan hidupku. Kita masuk ke bisnis ini karena kita pikir menegakkan hukum adalah panggilan mulia. Kita dapat memerangi ketidakadilan dan penyakit-prnyakit masyarakat, dan mengerjakan karya-karya mulia karena kita pengacara. Kita pernah menjadi orang idealis, mengapa kita tak bisa mengulanginya?”

#2. Kanuku Leon by Dicky Senda

Cerpen-cerpen Dicky Senda mayoritas berkisah di tanah kelahirannya di Indonesia Timur. Banyak sekali mengambil bahasa lokal, melimpah ruah sampai butuh penjelasan di tiap akhir cerpen. Menonjolkan budaya lokal sah-sah saja, seolah memang menjual dan menyampaikan ke dunia bahwa budaya yang erat dilakukan itu ada. Seperti pencerita kebanyakan, kisahnya mencoba membumi dengan kegiatan rutinitas, pengalaman pribadi yang dibumbui fantasi. Semua cerpen di sini tertata dengan apik, tapi tetap inti cerita masihlah liar. Tak nyaman diikuti dengan santuy.


“Orang begitu lama mati, karena Tuhan masih kasih kesempatan untuk dia supaya bertobat.”

#3. Pasar by Kuntowijoyo

Novel dengan penggambaran detail mengagumkan. Mencerita apa adanya keadaan pasar dan par penghuninya. Sejatinya setting hanya satu tempat dari mula sampai jelang akhir. Pasar dan situasi yang ada. Orang-orangnya juga itu-itu saja, berkutat melelahkan. Pada dasarnya menggambarkan sifat manusia yang mengingin nyaman, ketika terusik maka ia marah, dan saat keinginan-keinginan tak terkabul, jadi petaka. Minim konflik tapi sungguh menohok saat masalah itu dilemparkan ke pembaca.


“Kalau macan mati meninggalkan belang, Pak Mantri mati meninggalkan tembang.”

#4. The Mummy by Anne Rice

Kisahnya tentang cinta dan pengorbanan, kerelaan, serta keabadian itu tak segaris lurus dengan kebahagiaan. Relatif, dan perubahan, apapun itu adalah keniscayaan. Termasuk para mumi yang diawetkan lalu berhasil dibangkitkan, perbedaan zaman, perabadan yang sudah sangat usang, manusia jadul itu bangkit di zaman sekarang, lantas apakah mereka bahagia? Jelas belum tentu.


Tema usang cinta diapungkan, dan tak akan bosan. Usang itu hanya beda bentuk dan genre, kali ini mumi gagah nan aneh merindu masa lalu, ia adalah raja di eranya, kini ia hanya rakyat biasa. Ini demokrasi dengan kebebasan individu, maka keputusan membangkitkan kekasihnya tentu saja wajar, walaupun tak selalu sesuai harapan.


“Berdoalah kepada dewa-dewamu, tanyakan pada mereka apa yang harus kaulakukan. Tuhanku hanya akan mengutuk perbuatanmu. Tapi apa pun yang terjadi atas makhluk itu, ada satu hal yang pasti. Kau tak boleh mengolah ramuan itu…”

5. Putri Cina by Sindhunata

Kisahnya panjang nan melelahkan, sepertiga pertama agak boring sebab menarik lurus ke balakang sejarah orang-orang Cina di tanah Jawa, agak berbelit dan seolah menikmati dongeng/sejarah. Sepertiga kedua baru kita memasuki are sesungguhnya, bagaimana arah cerita terbentuk. Dari kesenian keliling, bintang ketoprak seorang putri Cina yang menarik perhatian dua tentara/orang penting. Sepertiga akhir barulah meledak. Waktu mengubah mereka menjadi pejabat, tapi persaingan lama terus menggelayuti. Saat geger geden, eksekusi ending yang pilu disajikan. Klimaks, bagaimana susunan itu membuncah luar biasa. Sedih, tapi kisah yang bagus memang rerata berakhir dengan kesedihan.


“Semar punika saking basa samar, mapan pranyata Kyai Lurah Semar punika wujudira samar.”

#6. Isinga: Roman Papua by Dorothea Rosa Herliany

Kisahnya tentang sejoli anak asli Papua yang saling mencinta namun kandas hubungan sebab keadaan yang memaksa. Bagaiman hubungan itu dicipta, dirasa, lalu ambyar berkeping-keping. Yang cewek terus menjaga asa hingga akhirnya perang pecah antar kampung lalu ia diculik dan dijadikan alat damai. Yang cowok juga menjaga asa dalam diam, memilih menyepi pergi dari kampung melalangbuana untuk meredakan sedih, dan akhirnya menjadi ‘orang’. Sejatinya hanya itu, tapi karena ini tentang cinta yang tak sampai dengan balutan budaya daerah yang kental, kisahnya diputar jauh bertitian dengan sejarah Indonesia.


“Mulai sekarang kamu tidak boleh makan pandan merah, Irewa. Karena warna merah dari buah pandan merah adalah darah menstruasi.”

#7. Mati Bahagia by Albert Camus

Mencintai hidup berarti menjalani hidup yang mempesona dan tak terkendali. Kisahnya mendayu-dayu. Tentang hidup dan pilihan yang tersaji. Dibuka dengan menghentak, pembunuhan yang dilakukan oleh Patrice Mersault, nama akrab dalam Orang Aneh ini menjadi seolah antagonis. Ia membunuh sobatnya Zegreus di vilanya dengan menembak jarak dekat di hari minggu pagi yang suram.


Namun semua tak seperti yang kita duga, ‘pembunuhan’ itu sudah dirancang oleh sang ‘korban’ sebab ia muak akan kondisi hidupnya. Veteran perang yang terluka, satu kakinya diamputasi, mengeluhkan keadaan, mengeluhkan rutinitas, mengeluhkan suasana hati yang memang gundah, intinya mengeluhkan hidup. Saat hidup sudah tak senyaman masa lalu, apa yang bisa diharapkan?


“Ada hari-hari aku ingin bertukar hidup denganya, tapi kadang-kadang keberanian hidup lebih susah diraih daripada keberanian untuk bunuh diri.”

#8. Lotre by Shirley Jackson

Ini adalah buku pertama dari Shirley Jackson (1916 – 1965) yang kubaca. Lahir di San Francisco, California, USA. Penulis dengan genre horror dan misteri. Lulusan Syracuse University New York dan aktif di jurnal sastra kampus. Bertemu dengan calon suaminya Stanley Edgar Hyman, dan setelah lulus keduanya berkarier di The New Yorker. Shirley menjadi penulis fiksi, suaminya contributor ‘Talk of the Toen’.


“Hari saat kita mulai bekerja bersama.”

#9. Bisik Bintang by Najib Mahfuz

Luar biasa. Tipis, memukau. Dibaca sekali duduk di malam isoman tengah bulan Juni lalu. Terpesona sama plot yang disajikan tiap cerita, sederhana nan menghibur, beberapa menyakitkan tapi itu nyata, beberapa menggugah hati seperti perkataan gelandangan yang meminta orang kaya korup untuk membersihkan hartanya, beberapa lagi menampar kenyataan yang pahit seprti di permainan usia tua tapi baru merasa diberkahi. Tokoh-tokohnya juga sering sama memakai Kepala Kampung yang mengatur warganya, orang-orang kaya yang kikir, lalu gua di benteng kuno yang mistis, kaum papa yang melawan, sampai lingkup dunia Islam yang moderat.


“Ini adalah kelebat seorang perempuan yang lewat… mengapa kau berada dalam kegelapan di malam begini? Kesendirian akan mengarahkanmu pada hati yang berdebar dan akhir yang tak pasti.”

#10. Komune Paris 150

Eksperimen 72 hari yang dikenal sebagai Komune Paris. Disebut ‘komune’ karena pada rahun 1792 kaum revolusioner telah menata kota-kota mereka ke dalam kantung-kantung teritorial yang mengembangkan prinsip-prinsip pemerintahan swakelola.


Komune bermula sebagai tindakan patriotic, suatu cara untuk mempertahankan Paris dari tentara Prusia; tetapi dengan cepat ia mengambil watak demokratis yang lebih radikal sebagai konsekuensi dari kehendak rakyat dan pengaruh kelompok-kelompok revolusioner.


“Atas nama rakyat, komune diproklamirkan.”
Vive la Commune, teriak orang-orang. “Topi-topi diacungkan di ujung-ujung bayonet, bendera-bendera berkibaran di udara,”

#11. Misa Ateis by Honore de Balzac

Kumpulan cerpen yang menggugah, tipis dilahap dalam sehari hanya sebagai selingan ‘Sumur’-nya Eka Kurniawan yang juga selingan dari Memoar Geisha. Keduanya hanya selingan, saat isoman karena Covid-19. Untuk menjadi hebat memang tak selalu harus tebal, tipis semacam ini dengan penyampaian inti kisah, langsung tak banyak cingcong juga sungguh aduhai. Semua konfliks diramu dengan pas, beberapa tanda tanya sempat diapungkan, arti judul juga jadi saling kebalikan, misa dilakukan untuk orang-orang relijius, ateis berarti tidak tes, tak percaya tuhan, lantas Misa Ateis? Tenang, jawaban itu tak menggantung, ada penjelasan runut dan sajian kuat mengapa itu bisa dan harus dilakukan.


“Segala kemarahan akibat kesengsaraan ini aku lampiaskan ke dalam pekerjaan…”

#12. Sumur by Eka Kurniawan

Satu cerpen dalam satu buku. Terdengar gila ‘kan? Gila nggak? Ya aja deh. Biasanya kita disuguhi kumpulan cerpen, minimal dua atau tiga cerpen. Berarti ini diluar biasanya, hanya Eka Kurniawan yang bisa. Penulis lokal dengan ketenaran dan jaminan mutu. Hebatnya lagi, laris. Dari beranda sosmed saat masa pre-order dibuka dari harga 50k menjadi 40k, banyak sekali toko buku daring yang pajang sold out. Mendekati hari H penutupan, saya yang penasaran malah ikutan klik beli. Dan, setelah #unboxing, ini benar-benar satu cerpen dijual lima puluh ribu rupiah! Dibaca lima menit. Kalau value biaya jelas kurang worth it, tapi kembali ke kualitas yang utama. Eka adalah brand, di mana namanya yang tercetak di sampul memberi rasa penasaran, minimal ada keinginan memilikinya.


“Kamu bertemu Siti di sumur?”

#13. 100 Film by Ibnu M. Zain

Sebuah panduan tontonan yang disarikan dari era jadul awal mula film ditemukan sampai tahun 2000-an. Buku ini terbit tahun 2009 jadi selang 12 tahun ini jelas sudah sangat banyak film rilis dengan kualitas mumpuni. Sekalipun begitu tetap relevan untuk dinikmati. Sayangnya di era digital, panduan nonton sudah sangat mudah ditemukan. Gampangnya tinggal buka situs imdb.com kamu sudah bisa menemukan rating film-film yang biasanya sejalan lurus dengan kritikus.


“Di sebuah galaksi nun jauh di atas sana…”

#14. Therese Desqueyroux by Francois Charles Mauriac

Ini buku lama yang kubaca lagi, kisah istri yang diadili sebab meracuni suaminya. Penggambarannya sulit dicerna sebab meliuk-liuk rumit. Jelas ini adalah novel luar biasa. Dari pemenang Nobel Sastra!


Karawang, 130821 – 180821 – Sherina Munaf – Singing Pixie

Misa Ateis: Te Deum

“Aku seorang Katolik dan aku takut neraka, tapi aku sangat mencintaimu – ah, kesayangan –aku akan mengorbankan keabadian hanya untukmu!”

Kumpulan cerpen yang menggugah, tipis dilahap dalam sehari hanya sebagai selingan ‘Sumur’-nya Eka Kurniawan yang juga selingan dari Memoar Geisha. Keduanya hanya selingan, saat isoman karena Covid-19. Untuk menjadi hebat memang tak selalu harus tebal, tipis semacam ini dengan penyampaian inti kisah, langsung tak banyak cingcong juga sungguh aduhai. Semua konfliks diramu dengan pas, beberapa tanda tanya sempat diapungkan, arti judul juga jadi kontradiktif, misa dilakukan untuk orang-orang relijius, ateis berarti tidak teis, tak percaya tuhan, lantas Misa Ateis? Tenang, jawaban itu tak menggantung, ada penjelasan runut dan sajian kuat mengapa itu bisa dan harus dilakukan. lezat, memikat.

Buku kecil bermutu besar. Jos tenan! Luapan kegembiraan yang sublim.

#1. Misa Ateis

Ini kisah balas budi, seorang dokter sukses secara akademik, finansial, hingga reputasi terkenal sebagai seorang ateis yang taat. Namun publik lantas tahu ia melakukan misa, sesuatu yang tak lazim dan kontradiktif. Lalu kita diajak melalangbuana ke masa lalu, masa muda yang berapi-api dalam perjuangan menegakkan ambisi dan kebanggaan.

Dokter jenius, ahli bedah Desplein disanjung dan dikanl luas akan dedikasinya akan pengetahuan kedokteran. Kejeniusan Desplein bertanggungjawab atas keyakinan-keyakinan, dank arena alasan itu pula, kefanaannya. Baginya atmosfet terstrial adalah amplop generatif; melihat bumi sebagai telur dalam cangkangnya, karena itu tak bisa menegaskan mana yang ada terlebih dulu antara ayam dan telur, maka ia tidak mengenali baik telur maupun ayam. Dia tak percaya baik roh hewan yang hidup sebelumnya maupun roh manusia yang hidup setelah kematian fisik. Maka ia dengan tegas dan berani, tak berkualifikasi sama seperti yang diyakini banyak ilmuwan lainnya, manusia-manusia terbaik di dunia, ateis-ateis tak tertandingi.

Kesimpulan masa tuanya, bahwa indera pendengar tidak mutlak diperlukan untuk mendengar, indera pengelihatan untuk melihat, dan bahwa pleksus matahari dapat memasok ke tempat yang seharusnya tanpa keraguan sedikitpun, yang dengan demikian menemukan dua jiwa di dalam manusia, menegaskan keistimewaannya dengan fakta itu, meskipun hal tersebut bukan merupakan bukti untuk melawan Tuhan.

Kualitas seorang manusia hebat biasanya bersifat federatif. Jika di antara roh-roh kolosal ini seseorang memiliki lebih banyak bakat daripada kecerdasan, kecerdasannya masih lebih unggul daripada orang-orang yang hanya disebut ‘ia cerdas’. Seorang jenius selalu mengandaikan wawasan moral.

Salah satu muridnya Horace Bianchon yang akrab dengannya, mahasiwa kere yang kembang kempis mengais rejeki dan bayar kos dengan budget seminim mungkin. Ia baik, jujur, dan bukan seorang puritan dan pengkotbah. Seorang periang, tak lebih munafik dari seorang polisi. Ia berjalan tegak dan pikiran penuh isi. Singkatnya, untuk menempatkan fakta di antara kata-kata, Horace adalah seorang Pylades untuk lebih dari satu Orestes.

Keduanya berteman sangat akrab, guru kepada murid dan seorang pembelajar yang baik menyerap dengan bagus apa yang dituturkan. Nah, suatu pagi jam Sembilan Bianchon melihat gurunya pergi ke gereja Saint-Sulpice di Rue du Petit-Lion. Karena rasa penasaran, ia mengikuti dan menyelinap masuk dan betapa terkejutnya ketika melihat Desplein yang agung, seorang ateis, yang tak memiliki kasihan kepada para malaikat – berlutut dengan rendah hati di dalam Lady Chapel, mengikuti misa, memberikan sedekah pada kaum papa. Tercengang akan fakta itu, ia lalu bertanya pada gurunya suatu hari, dan ternyata kegiatan itu rutin dilakukan setiap tahun dengan sembunyi-sembunyi. Jawabannya akan membuat kalian tertepuk tangan, luar biasa Prof.

 “Segala kemarahan akibat kesengsaraan ini aku lampiaskan ke dalam pekerjaan…”

#2. Facino Cane

Impian dan kenyataan memang seringkali tak segaris lurus. Kedigdayaan masa lalu, kejayaan masa muda, memori indah yang laik dikenang, belum tentu layak dikejar kembali mengingat zaman sudah beda dan era berubah. Apalagi ia ada di tanah rantau dalam keringkihan dan kebutaan.

Kehidupan biasa dari warga biasa di perkampungan sederhana. Menyaksikan desa yang berubah digilas waktu, di tengah orang-orang baik dan bersahaja, hidup di daerah Lesdiguieres yang damai. Suatu hari di pesta penikahan sahabat istrinya, ia menemui percakapan ganjil, keanehan latarnyam bayangan gudang bercat merah yang seadanya, aroma anggur yang menyengat, tarian kegembiraan di antara para pekerja, orangtua, wanita-wanita malam yang melempar ke penghiburan.

Seorang peniup klarinet tua memainkan nada dengan syahdu nan aduhai, ia sudah beruban lalu bersapa dan menjalin pershabatan, ada sesutau yang agung dan lalim dalam diri Homer tua ini,, yang menyembunyikan dala, dirinya suatu Odyssey untuk dilupakan. Pria berwaja Italia itu buta, dan dua lagi juga, mereka melakukan percakapan.

Papa Canard berasal dari Venezia, buta karena kecelakaan, ia lalu menuturkan masa lalunya, berkali pula ia mengajak sang narrator untuk mengantarnya pulang, menjanjikan harta jarun melimpah dan kau takkan menyesal karena ia adalah Facino Cane yang terkenal itu. Berkisah masa jayanya, masa lalu yang trenyuh.

“Haruskah kita berangkat besok?”

#3. Ramuan Kehidupan

“Kecantikanku memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali hati yang membeku karena usia.” Ketujuh wanita dari Ferrara, Don Juan, dan sang pangeran merancau dengan hiperbola akan kehidupan, cinta, dan banyak hal yang terjadi baru-baru ini. dalam sebuah jeda yang mengikuti terbukanya sebuah pintu, seperti pada hari raya Balthazar, Tuhan memanifestasikan dirinya dalam diri seorang pelayan tua berambut putih yang cara jalannya tak stabil dengan alis terangkat. Ini tentang ayah yang kikir dan anak yang boros.

Bartholomeo Belvidero, ayah Don Juan adalah pembisnis ulung, mengabdi pada bisnis dengan kakayaan melimpah. Don adalah anak satu-satunya, saat istrinya Juana meninggal ia menjadi murung dan tak boleh diganggu. Untuk masuk ke ruangannya bahkan Don harus meminta izin. Saat itu Bartholomeo tidur, usia rentanya tak banyak tanda kehidupan tersisa, matanya saja yang masih jernih. Menasehati dengan gusar anaknya, “Kau bersenang-senang untuk dirimu sendiri!” lalu memberi wejangan penting, “Segera setelah aku menghembuskan napas terakhirku, segera urapi aku dengan air ini dan aku akan hidup kembali.”

Saat akhirnya menjadi kenyataan Don Juan ragu, Kristal berisi air itu tak langsung diurapkan, ia malah menyimpannya di laci meja bergaya Gotik hingga pagi menjelang. Saat ketujuh wanita masuk dan turut berbelasungkawa, Don Juan terombang-ambing oleh ribuan pikiran, ragu mengambil berbagai resolusi. Maka setelah hari itu selesai menghitung kekayaan, malam harinya ia berniat melakukan kalimat wasiat sang ayah. Apakah bisa bangkit drai kematiannya? Ada sihir yang menari di antara mereka.

“Orang-orang dungu! Sekarang katakan bahwa Tuhan itu ada!”

Misa Ateis | by Honore de Balzac | Penerbit Odyssee, 2020 | Cetakan pertama, Juli 2020 | Alih bahasa Pramesti Wijaya | Penyunting Agata DS | Tata letak The Naked! Lab | Perancang sampul The Naked! Lab | Skor: 5/5

Karawang, 120821 – Netral – Hujan di Hatiku

Thx to Kedai Boekoe, Bekasi