Ke Utara Jauh dalam Misi Penyelamatan

The Silver Chair by C.S. Lewis

Yah! Ini tepat seperti yang kubutuhkan. Kalau makhluk-makhluk ini tidak bisa mengajariku untuk memiliki pandangan hidup yang serius, aku tidak tahu apa lagi yang bisa. Lihatlah makhluk dengan kumis itu – atau yang itu yang memiliki…”

Tugas mereka berdua (plus satu bantuan) adalah menyelamat sang Putra Mahkota yang diculik Penyihir Hijau yang jahat. Tak ada orang-orang Narnia yang tahu, yang jelas ia masih hidup. Mereka harus membawanya kembali ke Narnia dalam keadaan hidup.
Buku keempat Narnia, kubacakan untuk Hermione. Mungkin yang paling seru sebab ada sebuah area di ujung Utara bernama Harfang, tempat nyaman yang dituju dengan antusias karena kenyamanannya. Dijanjikan api hangat, tempat tidur empuk, atas yang melindungi dari badai dan tempaan angin malam. Lalu booom! Mereka musuh, mereka pemakan daging manusia. Mereka raksasa beradab? Kejutan itu mencipta kengerian, trio jagoan: Eustace, Puddleglum, dan Pole berlari keluar dari dapur dengan tunggang langgang ketakutan, mendebarkan sekali mereka nyaris tertangkap, terselamatkan berkat ada lubang di kaki tangga, mungkin bagi para raksasa itu hanya lubang tikus, hanya celah bongkahan di pojok tangga halaman rumah, tapi benar-benar menyelamatkan mereka. Hermione sampai ketakutan, lalu tertawa meriah. Saking senangnya ketika mereka bertiga selamat dari jangkauan raksasa, ia jingkrak-jingkrak di kasur, membal-membal ceria. Walaupun akhir bab itu menggantung, di mana mereka terperosok bermil-mil, Hermione tetap saja mengalami euphoria suka cita. Lihat, betapa efek membaca bisa sedemikian dahsyat. Cara kita baca, dengan siapa kita baca, bagaimana cara membacanya menjadi sangat berpengaruh pada banyak hal, berpengaruh pada setiap individu.

Kisahnya langsung berlanjut dari akhir buku tiga, Eustace Scrub kini menerima tongkat estafet Pevensie Bersaudara sepenuhnya. Ia kini menjadi leader ke Narnia, dibuka di belakang Gimnasium ia bercerita pada gadis yang sedang sedih sebab kena perisak di Sekolah Eksperimen, Jill Pole yang memakai bando. Ia mencerita dunia ajaib yang pernah dikunjungi, lalu saat mendengar para jagoan kelas datang, mereka merayap di kebun menemukan pintu. Bahkan pada satu kejadian pun bisa membuat orang berharap, dan membuka pintu itu, karena kalau saja ternyata tidak dikunci, dan benar saja di balik pintu itu mereka sudah tidak di Inggris lagi. Harapan Eustace untuk kembali ke Narnia terkabul, Pole yang awalnya berharap malah kini gemetar ketakutan. “Apakah kita bakal bisa kembali? Apakah aman?”

Mereka menjelajah hutan asing, tempat penuh suara burung dan gemericik air, dan desir angin lembut. Saat di tepi jurang dalam debat yang aneh, Scrubb yang berdiri tak seimbang terdorong ke jurang, lalu tiba-tiba ada Singa yang meniupnya. Jelas Aslan menyelamatkan Scrubb, menjadikannya terjatuh lembut di suatu tempat. “Pasti ini mimpi, pasti, pasti. Aku akan segera terbangun.” Tapi itu bukan mimpi, dan ia tidak terbangun. Lalu Jill mendengar Sang Singa berbicara, memberinya empat perintah/tugas (Hermione hapal!), yang harus diingat selama dalam petualangan. (1) begitu Eustace, si anak lelaki menginjak Narnia ia akan bertemu dengan teman lama yang baik, dia harus segera menyapanya agar dapat bantuan besar. (2) kau harus berjalan ke Utara, ke luar Narnia sampai menemukan puing-puing kota kuno para raksasa. (3) kau akan menemukan tulisan pada batu di kota tua itu, dan kau harus melakukan apa yang diperintahkan tulisan itu padamu. (4) kau akan mengenali si pangeran yang hilang (kalau kau menemukannya) berdasarkan petunjuk ini, dia akan menjadi orang pertama yang kau temui dalam perjalanan yang akan memintamu melakukan sesuatu dalam namaku, dalam nama Aslan. Pole pun diminta mengulang perintah itu agar ingat, lalu ia ditiup menyusul Scrubb.

Setelah kembali bertemu Scrub di pantai, mereka melihat istana yang meriah. Ada kapal yang segera diangkat jangkarnya, dalam lambaian rakyat yang bersedih. Scrub awalnya ragu, tapi saat Pole mengingatkan empat tugas, barulah ia menemukan klik. Orangtua yang akan berlayar itu ternyata adalah Raja Caspian, ia sudah sangat tua, padahal di London baru setahun, di sini sudah puluhan tahun. Waktu berjalan tak linier. Menemui sahabat lamanya, ia merasa khawatir sebab bantuan besar itu bukan Caspian. Saat akhirnya Caspian dkk memulai petualangan ke Timur demi nostalgia, mereka berdua dilayani di istana dengan mewah.

Malam itu, saat jelang tidur ada yang mengetuk jendela, padahal ada di lantai atas. Ada Burung Hantu raksasa. “Kuu-kuu, kuu-kuu!” burung hantu bernama Glimfeather itu lalu ‘menculik’ mereka menuju sebuah reruntuhan istana, di sana sudah banyak burung hantu lainnya, sedang mendiskusikan rencana penyelamatan. Rapat burung hantu itu menghasilkan keputusan, mereka berdua besok pagi akan dibawa ke Rawa Timur menemui Marsh-wiggle bernama Puddleglum yang jangkung. Ia tahu rute ke utara, ia berniat meminta bantuan. Sejauh ini ketemu dua tugas utama: mengenali Caspian tua, mendapat bantuan besar dan itu adalah si jangkung, kedua mereka akan menuju ke Utara. Inilah kisah utama Kursi Perak, bertiga memiliki misi penyelamatan.

Dalam petualang ini perbatasan Narnia ada di sungai yang dangkal menyeberangi Shribble, maka mereka menuju Ettinmore di mana para raksasa bodoh sedang bermain lempar tangkap batu, saling memukul dan tertawa konyol. Beberapa benda nyaris saja menimpa mereka, berlari menghindar malah diketawain. Mungkin bagi para raksasa bodoh itu, kita semacam lalat yang panik tersebab mau dimainkan.

Di jembatan lebar, mereka melihat dua penunggang kuda. Satu Sang Lady, satu lagi adalah ksatria berbaju besi begitu diam. Setelah basa-basi, dari Sang Lady diberitahu bahwa di Utara sana ada pemukiman raksasa bernama Harfang, mereka adalah makhluk cerdas, baik, dan siap membantu para petualang. Bilang saja, dapat salam dari Lady, kalian akan dilayani dengan baik. Ksatria baju besi tetap diam, lalu mereka berpisah. Dalam bayang Pole dkk akan penginapan nyaman membuat gairah semangat, sebab kini mereka memasuki area badai salju.

Perjalanan menjadi sungguh berat, dingin, dan mengerikan. Angan kenyamanan Harfang membayang sepanjang hari, saat Pole terjebak salju lalu terperosok ke lubang lebar, mereka ketakutan. Di bawah sana, ada rute, ada jalan melingkar, tapi antah. Setelah dicek dan dipastikan buntu, mereka melanjutkan ke Utara, sudah tampak cahaya pemukiman, membuat hilang akal, dan keburu ingin sampai.

Benar saja, di Harfang mereka dijamu dengan baik oleh para pelayan. Diberi makan, selimut, dan sambutan luar biasa. Lega, tenang, dan nyaman. Para raksasa itu tertawa dan bahagia, menerima salam Lady dengan senyuman. Malam itu mereka diminta istirahat, pembantunya memainkan Pole laiknya boneka, Scrub sampai muak sebab Pole menangis, Puddleglum bertingkat konyol bak badut yang menari menghibur tuan rumah. Lega? Ya, hanya sementara…

Seperti yang kutulis di awal, Harfang adalah kejutan seru sesungguhnya kisah ini. siang itu para pejabat bersiap berburu, mereka makan dan santai, lalu ke dapur, disambut koki dan pelayan, dibiarkan. Saat agak sepi, mereka bertiga nak ke kursi, bayangkan semut yang merangkak ke meja, seperti itulah mereka bertiga. Dan betapa terkejutnya saat menemukan buku resep. Begidik ngeri!

Harfang adalah neraka, sambutan hangat hanyalah kamuflase. Dengan siasat tepat dan dramatis mereka kabur kembali ke Selatan, terjatuh di lubang tangga, terperosok jauh sekali ke bawah tanah, kelegaan kabur dari Harfang disambut makhluk antah lain di dasar bumi. Petualangan menakjubkan dan mendebarkan sebab mereka langsung disapa Muluguterum, “Siapa itu?” tanya mereka, dijawab, “Aku penjaga gerbang Perbatasan Dunia Bawah, dan bersamaku ada seratus earthman bersenjata…” yah, mereka menjadi tawanan, dibawa dalam gelap menuju kastil bawah tanah, area tanpa matahari yang asing dan misterius.

Dan tak dinyana, justru di situlah tujuan utama petualangan ini. petunjuk ketiga sudah ada, Pole sempat meleset lupa, tapi akhirnya bisa diperbaiki, petunjuk keempat, mereka sadar di sinilah pangeran itu ditawan. Dengan Penyihir Hijau yang memiliki kekuatan dahsyat, berhasilkah mereka membawa Sang Pangeran kembali ke Narnia?

Secara cerita memang aman, jelas buat anak-anak. Secara keseluruhan, ini salah satu yang terbaik dari respon Hermione. Ia benar-benar masuk ke dunia ajaib itu, ketakutan, nama-nama yang mudah dihapal, sampai bisa buat peta perjalanan ke Utara, lalu terjatuh di bawah tanah, melalui perjalanan ia bisa menyimpulkan sendiri berarti perjalanan di bawah itu ke Selatan sehingga tembus di tanah Narnia lagi, saya bilang ‘Ya’. Seperti itulah.
Sebenarnya sudah tak sabar memulai petualangan Kuda dan Anak Manusia. Namun kebiasaan setelah baca buku, lalu nonton film terhenti Hermionekzl’. Dan bulan ini malah memulai buku Harry Potter, baru dapat dua bab. Masih dari tanah Britania.

Kursi Perak | by C.S. Lewis | #6 | Diterjemahkan dari The Chronicle of Narnia: The Silver Chair | Ilustrasi Pauline Baynes | Alih bahasa Donna Widjajanto | GM 106 05.015 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Oktober 2005 | Cetakan kedua: Desember 2005 | 320 hlm; ilustrasi; 18 cm | ISBN 979-22-1719-3 | Skor: 5/5

Untuk Nicholas Hardie

Karawang, 130421 – Boyzone – Words

Tempat Asing dan Misterius

Negeri Senja by Seno Gumira Ajidarma

“… Ada satu masa dalam hidupku di mana aku selalu memburu senja ke mana-mana, seperti memburu cinta. Aku memburu senja ke pantai, memburu senja ke balik gunung, memburu senja yang membias di gedung-gedung bertingkat. Namun itu sudah lama sekali berlalu…”

Novel yang melelahkan, membosankan, menjadikan bacaan yang terengah-engah di awal, tengah, sampai akhir. Penjelasan setting tempat yang bertele-tele, penjelasan karakter yang berputar, aturan mainnya kurang cantik, bahkan saat sampai halaman 200 yang berarti mendekati garis finish, detail penjelasan tempat masih berlangsung. Ya ampun… bagaimana sebuah buku bisa menjadi begitu berliku dan lelah sekadar mencoba ikuti alur.

Kisahnya dibuka dengan sebuah penipuan. Dalam Kitab tentang Kejadian yang Akan Datang bahwa Penunggang Kuda dari Selatan menguasai bahasa Negeri Senja tingkat tiga yang sudah langka. Sang Musafir sempat ditanya, oh bukan dia. Lalu ada yang datang dan mengaku sebagai The One tersebut, dibawa ke Guru Besar, ternyata penipu, maka massa langsung membantainya. “Negeri Senja adalah tempat yang berbahaya.”

Lalu kita diajak mengenal negeri asing di tengah gurun tersebut. Waktu seolah terhenti. “Aku tidur pada senja hari dan bangun pada senja hari.” Jadi di sini sepanjang waktu adalah senja: pagi, siang, malam, semuanya sama. Di Negeri Senja, orang mati tidak pernah benar-benar pergi. Kenapa tidak, di sebuah negeri di mana matahari termungkinkan untuk tidak pernah tenggelam. Kisah tentang lempengan matahari raksasa yang berjuang keras untuk terbenam namun tak pernah berhasil melewati cakrawala dan semesta bergetar karenanya. Di sebuah negeri yang selalu tenggelam dalam keremangan, sekilas cahaya sangat banyak artinya dan keping-keping mata uang emas yang sangat jarang terlihat itu memang akan berkilat-kilat meski ditimpa cahaya yang hanya sedikit saja.

Seperti Sukab yang mengirim surat pada Alina, kali ini sang Musafir mengirim surat untuk Maneka. Mengisahkan petualangannya. Apakah yang bisa dilakukan untuk menghalangi datangnya masa depan yang penuh dengan perubahan menggelisahkan?

Ia penyendiri, ia datang ke sana sebagai sang musafir. Ia menjaga jarak, tak memihak pihak penguasa atau para militan bahwa tanah. Seorang pengembara dalam sunyi sangat sering terkecoh perasaan sendiri, sehingga dengan perempuan mana pun aku bergaul, selalu kujaga jarakku dari suasana hati yang semu. Diperintah oleh rezim ganas. Sejarah kekuasaan Tirana adalah usaha menindas kebebasan pikiran itu, karena dengan pikiran kita bisa menolak kekuasaan. Sekarang aku mengerti, kebisuan dan kegelapan adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan di Negeri Senja – yang tak memahaminya tak ambil bagian dalam permainan ini.

Sang Pengelana lalu mencoba memahami posisinya. Ia di kedai turut dalam kekhawatiran warga, ia turut pula dalam bisik para detektif yang mencoba menggulingkan kekuasaan yang sudah lama lalim. Hatiku gundah dan gulana. Puan Tirana Sang Penguasa yang tak pernah terlihat wajahnya dan Buta telah menghamburkan kekejaman begini rupa, namun Tuhan Mahabaik seperti tidak berbuat apa-apa. Tirana barangkali bisa membaca pikiran, namun bagaimana jika pikiran yang dibacanya sengaja dikacaukan? Bisakah ia membaca pikiran di balik pikiran?

Sudah banyak percobaan penggulingan, tapi selalu gagal. Bayangkan, lawan kita adalah makhluk yang bisa membaca pikiran bak anggota X-Mens! Gerakan bawah tanah terbesar melawan tirani adalah Perhimpunan Cahaya yang dipimpin oleh Rajawali Muda. Terdapat lima golongan lain yang besar, (1) Gerak Kesadaran; (2) Kerudung Perempuan; (3) Sabetan Pedang; (4) Wira Usaha; (5) Lorong Hitam. Selain itu masih ada kelompok remeh, golongan kecil yang terburai.

Kita memang ditempatkan sebagai pembaca/pendengar dongeng Sang Pengelana. “Apa yang kuceritakan itu hanyalah suatu susunan tambal-sulam dari berbagai cerita yang kudengar di kedai, di pasar, dan di jalanan.” Maka mencipta kisah satu arah yang tentu saja kita harus menerima apapun yang dicerita. Debar degub sesekali muncul, tapi memang sudah kuyakini Sang Protagonist aman.

Seperti ada kesunyian yang kosong dan memberikan perasaan terasing di mana cahaya yang tersisa dalam senja bisa terdengar sebagai bunyi yang sepi – seperti denging, tapi bukan denging, seperti gumam, tapi bukan gumam, seperti desah, tapi bukan desah, hanya sapi, tapi berbunyi. Mungkinkah itu bunyi kekosongan?

Semangat perlawanan yang telah lama tergalang bagaikan seribu satu mata air yang membentuk anak sungai kecil di berbagai tempat dan menemukan arus serta gelombangnya dalam pembahasaan para pelajar… bergabung menjadi debur ombak dan hempasan gelombang. Tirana yang berkuasa, yang mampu membaca pikiran, memenjarakan roh, dan menentukan takdir, bagai tuhan yang jahat, bagaimana tidak akan tertawa melihat usaha perlawanan terhadapnya?

Endingnya sendiri horor. Menakutkan membayangkan pembantaian yang dicipta. Darah di mana-mana, jalanan dijadikan ajang saling tikam, nyawa menjadi begitu murahnya. “Kota yang hancur luluh dengan mayat-mayat memenuhi ruang, kurasa aku tidak pernah akan tahu apakah suatu hari duka ini akan pupus.”

Lalu apa gerangan maksud Sang Pengelana memasuki negeri antah yang mengerikan ini? Hanya sekadar mampir lewat ataukah menjadi juru selamat?
Untuk mendendangkan dongeng dalam satu wilayah, kita disuguhi lima bagian, belum termasuk prolog dan epilog plus lampiran tentang visual dan proses menggambarnya. Menjelaskan bagiamana akhirnya novel ini bermula dari cerita bersambung, lalu dibukukan, lalu menang KSK, lalu dibuatlah ilustrasi para tokoh. Bagus sih, tapi bagiku yang utama adalah cerita. Mau digambar semewah Ernest H. Shepard yo monggo, mau dibuatkan semegah komik DC ya silakan, tetap saja yang utama cerita. Kisah buku ini merumit sendiri, bingung sendiri, mengajak pembaca turut bingung dan sekali lagi, melelahkan. Lampiran akhir ada enam lembar, itu adalah draf pilihan. Hasil akhir ada di pembuka, menggambarkan bentuk karakter di buku.

Epilognya dimulai dengan pengakuan; kesalahan penulis adalah memandang dunia ini sebagai suatu cerita. Nah kan. Absurd! Nama Seno Gumira Ajidarma (SGA) sudah besar sejak saya masih kecil. Namanya lekat atas sastra berkualitas, baru beberapa yang kunikmati. Beliau juga serba bisa, kumpulan esai ada, kumpulan cerpen ada, novel-pun ada, yang belum nemu dan belum kubaca kumpulan puisi. Namun pernah lihat di youtube, cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku, dinukil dan dibacakan bak barisan bait, mungkin karena pembawaannya yang keren, dan juga – eheem…- yang membawakan sekelas Dian Sastro Wardoyo makanya terlihat powerful!

Sebuah tempat asing dan misterius, Negeri Senja adalah negeri yang sulit diterima akal, negeri ini seperti puisi, hanya bisa dipahami jika dihayati. Yah, persis seperti itulah kisahnya. Sengaja mencipta bosan, sengaja mencetak bait dalam rengkuhan samar. Ada benarnya juga kalimat di kover belakang, “Roman petualangan, tentang cinta yang berdenyar di antara kilau belati, cipratan darah, dan pembebasan iman.”

Negeri Senja | by Seno Gumira Ajidarma | KPG 59 15 01044 | 2003 | Cetakan kedua, September 2015 | Desain sampul Rully Susanto | Tata letak Wendie Artwenda | Ilustrasi isi Margarita Maridina Chandra | Rancangan Busana Poppy Dharsono | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | xx + 244 hlm.; 14 cm x 21 cm | ISBN 979-979-91-0930-9 | Skor: 3.5/5

Cerita kecil Untuk almarhumah Ibu: Poestika Kusuma Sudjana (1923-2002)

Karawang, 120421 – Ronan Keating – Everything I Do (Do it For You)

*) Thx to Ari Naicher (Rindang Buku), Klaten

**) Kubaca dalam satu hari saat cuti tahunan di Masjid Peruri Karawang pada 12 Maret 2021

***) Hari ini mendapat kabar sedih dari keluarga; Sabar, Tawakal, Iqtiar. Allah bersama orang yang sabar.

****) Selamat datang Ramadan 2021

“Bagaimana Cara Mendapatkan Ide?”

Menumis itu Gampang, Menulis Tidak by Mahfud Ikhwan

Saya berharap bisnisnya kali ini bagus, atau setidaknya baik-baik saja. Namun, melihat intensitasnya ngopi bersama saya, saya khawatir yang terjadi adalah sebaliknya. Ia memang banyak gagal, dan mungkin karena itu kami berteman.”

Tentu saja tak banyak, karena menulis tidak memberi saya banyak uang…

Melihat ilustrasi bukunya saja sudah bikin males, tiga pose santuy, rebahan dalam kebosanan. Dan warna kuning, jersey Malaysia yang mengesalkan itu. Banyak hal mewakili pengalamanku sendiri, otomatis banyak hal pula menjadikannya ironi hidup. Sepakbola, buku, Muhammadyah, resign di tahun 2009, males keluar rumah (apapun modanya), kopi melimpah dst. Lazio, Chelsea, La Coruna rasanya hanya tim gurem yang tak ada apa-apanya dalam sejarah Eropa dibanding gelimang gelar AC Milan, Liverpool, dan eehhheemmm Madrid. Saya benar-benar mencintai bola lebih belakangan, baru di Piala Dunia 1998 kala Italia bersama aksi Vieri-nya, yang hanya semusim, maka ketika hijrah dengan rekor hatiku tetap bertahan di Olimpico. Sepakat sekali segala apa yang dikisah panjang lebar dalam ‘Menunggu”, yang menyata bahwa kecintaan pada permainan ini sungguh absurd.

Walau terkesan sombong, seperti yang terlihat dalam wawancara di Youtube, “saya punya buku baru lagi…” atau ketika mengunggah gambar di sosmed saat membubuhkan untuk momen pra-pesan. Keterangan yang tertera, ‘resiko penulis produktif’ bagiku, Cak Mahfud adalah pribadi rendah hati. Dalam esai yang diproduksi untuk kolom Mojok selama 2020 ini, kita bisa mengenal Sang Penulis, sebagian besar lucu, sebagian besarnya lagi ngomong ngalor ngidul nostalgia masa lalu. Apa yang disampaikan adalah hal-hal umum, kegiatan sehari-hari, hal-hal yang biasa kita hadapi. Tak ada yang muluk-muluk, ngawang-ngawang, atau seperti yang sering disebut sama beliau, “tak rumit dan tidak ndakik-ndakik”.

Kebetulan saya baru saja menyelesaikan baca Zarathustra. Bagus sih, tapi benar-benar melelahkan, serius sekali, dan mencoba ‘mengesankan’, bagus di sisi lain tapi tak nyaman. Benar-benar Menumis Itu adalah penawar jitu. Sebagai buku pertama yang kuselesaikan baca bulan ini, ini benar-benar fun, ketawa ketiwi sendiri, dan seringkali bilang, ‘wah aku banget’ hahahaha…. Berisi 21 tulisan dengan tema yang berkutat di kontrakan. Sebenarnya mau ulas acak dan sekenanya aja, ternyata malah ketikannya tak bisa dihentikan. Lagian baca biografi Bung Karno sudah selesai, dan waktuku melimpah. Yo wes, setiap kolom kukupas singkat-singkat sahaja.

#1. Ayam di Beranda

Dibuka dengan cerita ayam yang suka ‘main’ di beranda kontrakan, suka buang tahi, dan gelisah nangkring di pohon kala hujan. Apa yang ditampilkan adalah kejadian lumrah yang seringkali dialami masyarakat Pedesaan. Sampai akhirnya seorang penulis muda berkunjung, menyingkirkan kursi dari beranda, dan membantu ngepel. See, tak ada bom yang meledak di pekarangan!

#2. Dapur Hijau

Tentang dapur yang asri, memberi corak hijau di dalamnya dengan sebuah wastafel. Well, so sorry bukannya sombong kita-kita warga urban, sudah biasa dengan wastafel rumah. Bukan perabot mewah, bukan pula sesuatu yang patut dibanggakan. Namun inilah keunikan kisah, ia lalu bernostalgia ke era masa perjuangan semasa kecil. Dan, sayangnya apa yang dicerita di masa lalu, sungguh mirip denganku di Palur. Lantai tanah, cuci piring dengan abu gosok, nimba sumur buat ditampung di ember cuci.

#3. “Pulang

Cerita ketiga bisa jadi yang terbaik (yah yang kedua deh), memaknai kata ‘pulang’. Pengalaman pribadi jua, sebagai perantau sejak lulus STM, saya tenggelam dan ada kesan sentimental bila berbicara rumah. Dulu saya selalu bilang, pulang kampung. Pulang ya ke Palur, dan selalu bilang berangkat kembali ke Cikarang. Namun sejak terikat gadis di Karawang, arti rumah memberi kesan berbeda sebab ada tujuan di sini, dan apa yang ditampilkan dalam kolom ini sungguh tepat sekali. Jadi pas ia mudik ke Lamongan, lalu pamit balik ke Bantul, ia berujar ‘pulang’ ke temannya. Rasanya apakah ia menemukan rumah baru di Yogyakarta? Apalagi, tiap update berita, “saya sudah tak tahu lagi, siapa yang lahir, siapa yang mati.” Sungguh tepat sekali. Bukankah apa yang terjadi pada saya juga terjadi dengan kebanyakan perantau? BIG ya!

#4. Menumis itu Gampang

Tulisan keempat lucu, dan cocok jadi judul buku. Kita harus hargai orang-orang yang mau memasak sendiri. Dan ini ia lakukan, dengan nada tak serius. “Saya memang ahlinya melakukan tindakan sia-sia dengan cara yang rumit.” Begitu katanya ketika nasi gagal itu dikasih ke ayam di halaman. Patut dihargai pula tentang pijakan hidup dalam pergulatan fikih tentang nasi orang mati. Dan poin utamanya, memasak tumis kangkung yang nikmat dengan sachet produksi Indofood Racik ternyata gampang, rasanya sama dengan kuliner Yogya yang enyak-enyak itu. Rahasia penting seolah terbongkar. Hahaha tawa Plankton Sheldon. Mereka memakai bumbu instan yang sama. Oh catet!

#5. Perjalanan

Dalam Perjalanan, ini jelas mewakili kata hatiku. Tahun 2009 atau 2010, dalam catatan facebook saya pernah nulis 100 about me, salah satu poinnya saya tak suka jalan-jalan, tapi selalu ingin merenung di gunung atau main air di pantai, selfi di bukit hijau, nah kok bisa? Saya tak suka traveling. Di sini dibongkar. Ia menyebutnya, “kegelisahan yang tak terjelaskan.

#6. TV

Saya punya TV merek-nya Oke tahun 1998 kala Piala Dunia berlangsung (atau setahun sebelumnya, lupa), dan betapa bangganya saya bisa nonton di rumah sendiri, biasanya saya nebeng nongkrong di tetangga atau saudara sekadar menikmati Layar Emas RCTI atau Dunia dalam Berita TVRI. Kalau remote rusak, kaki menjulur untuk mengganti channel, antena harus diputar bila kena angin, atau baru baterai yang di-pepe di atap kala ‘habis’.

#7. Bonsai

Ketika tahun 2009 saya keluar dari pekerjaan, punya waktu berlimpah untuk ngopi dan punya sedikit tabungan untuk bersantai…” Persis saya, pengen leha-leha menyusun bebek rencana di pematang sawah. Namun saya mbalik ke tanah rantau untuk kembali jadi buruh, karena menurut bebek rencana umur 28 harus nikah, dan ngopeni anake wong, harus punya penghasilan. Oh, saya pecundang sejati, tak punya keberanian penuh mewujudkan impian liar, tak berani bertaruh. Hanya berani separuh gerak, lalu terpenjara lagi. “Kurang lebih seperti orang-orang yang memelihara pohon hanya untuk dikerdilkan.” Hiks, sedih mengingat itu. Ternyata masa itu baru 11 tahun, dan pertaruhan telah luntur. Salut buatmu, Cak Mahfud.

#8. Beradab

Rebahan, tidur, bengong berlama-lama memandang rak buku. Saya juga sudah sering melakukan sebelum pandemi. Maka kini menjadi beradab, dianjurkan, bahkan didesak. Sewaktu kecil, sudah biasa menunggu jambu jatuh di bawah pohon tetangga, sudah jadi kebiasaan menanti pelem ranum kena goyang angin atau badai, bahkan sisa codot juga kita embat, setelah jatuh di kalen? Kenapa tidak? Yah, kalau tak mau jatuh karena alam, gmana kalau kita jatuhkan. Pakai ketapel misalnya. Di sini, kita tahu iklan ‘belum lima menit’ adalah lelucon. Tisu? Idem!

#9. Tiga Jumat

Kita semua di masa yang sama, larangan kumpul apapun termasuk menggelar Jumatan sungguh terasa janggal. Apalagi ancamannya adalah label munafik, hadisnya jelas dan shahih. Dan dengan bijak (jiah… memang bijaksana) ia menjawab, “Aku ikut keputusan PP Muhammadyah saja.”

#10. Kolom

Akhirnya ketemu juga yang namanya ‘ide mandek’ (saya tak buntu, hanya kosong). Menulis kolom memang pekerja, ada tuntutan bergaris waktu yang harus dipenuhi, persis sama buruh yang harus datang dan pulang di waktu yang ditentukan. Maka ia pun ngedabrus panjang lebar betapa tanggung jawab itu harus dilaksanakan. “…Anda haruslah seorang tukang jagal sekaligus juru masak untuk tulisan Anda.”

#11. Festival

Ramadan dan hingar bingarnya. Dari sekian banyak festival rutin ini, saya nyaris turut serta semua yang disebut. Menambahkan daftar sahaja; main monopoli, catur, ular tangga di teras rumah orang dari subuh sampai capek. Kadang jalan kaki memutar kampung, sambil ngobrol apapun. Malamnya tadarus menanti makanan, hingga petasan yang membahana di banyak malam. Kalau siang, ada ‘long bumbung’ dari pring (bambu) yang dilubangi, sulut api, saling tembak (apa kabar The Gunners?) Sungguh merindu masa-masa itu. Yah, kurang lebih begitulah Cak Mahfud menuturkan tulisan kesebelas ini. “Sekolah ke luar daerah kemudian mencipta rutinitas baru, dan menempatkan rutinitas lama sebagai nostalgia.”

#12. Kolom (2)

Ketemu lagi kata mandek? Yah, mirip. Mungkin ini yang digambarkan dalam cover. “Jika siang malas karena lapar, saat malam malas karena kekenyangan.” Di masa pandemi, dengan banyak larangan keluar, beli gorengan sang penjual mengucap terima kasih dengan begitu tulus.

Baik, bulan depan saya baca The Year of Living Dangerously-nya Christopher Koch yang katamu murahan, nge-pop.

#13. Sepeda

Sepeda, idem. Saya baru bisa naik sepeda saat kelas tiga atau empat SD dan menjadi olok-olok teman sekampung. Lambat benar ya, bahkan saya tak punya sepeda sendiri sampai akhirnya jelang lulus SD punya federal ungu ke-merah jambu-an. Itupun second, dari tetangga yang menang hadiah, bosan pakai, lalu dijual murah ke kita. Dibayar kredit, berbunga! Mantab. Kali ini Sang Penulis berkisah sejarah sepedanya, “angin dan kumbang”. Well, suatu saat saya mau cerita Sikusi, sepeda (motor) berusia 15 tahun dan akan terus kugunakan hingga ia kehabisan energi.

#14. Perayaan

Lega setelah libur paksa lama sepakbola, akhirnya bisa menyaksikan Haaland beraksi dan merayakan gol tanpa pelukan, ‘jaga jarak’. Yah, bahkan saya yang tak suka Bundeslig, saya tonton laga come bek itu seiklan-iklannya! Saya sendiri juga tak terlalu antusias Hari Raya, keliling kampung salaman. Saya lebih suka Cuma sama keluarga dekat, santuy ngumpul saja. Nyatanya, tahun 2020 tak ada mudik. Benar-benar Lebaran tak biasa, “Bagaimana lagi”, katanya, memaklumi.

#15. Berguna

Ini mungkin yang terbaik, lebih bagus dari “Pulang” sebab hakikat manusia yang berguna itu sangat lebar jabarannya. Jadi ingat, siang tadi istriku May menggalang baju layak pakai, makanan, dan segala bantuan buat korban banjir sama ibu-ibu sekompleks. Saya berdalih, “Kaosku mayoritas tak layak sumbang, bisa lima enam tahun sekali belinya” Ia memulai menggalangnya, tanpa banyak rencana, refleks saja melihat berita banjir di Karawang meluas. Dan berhasil. Tepuk tangan untuk May, hebat sayang. Saya turut terharu menyaksikan, barang bantuan itu menumpuk di rumahku hanya dalam waktu kurang dai 24 jam! Sungguh mulia dan berguna istriku, untuk masyarakat.

Berbanding terbalik denganku. Saya males keluar rumah, males turut ngopi bapak-bapak kompleks (beda sama teman lama rasanya), males ronda, males ikut kerja bakti. Dua minggu ini ada kegiatan perbaikan fasum, dan saya absen keduanya. Males sekadar nyupir antar arisan. Benar-benar tak guna saya ini, egois atau lebih ke cuek. Nah, tema itu dijabarkan panjang lebar sama Cak Mahfud di sini, jelas kamu sangat berguna, peranmu lebih besar Mas. Saya HRD Perusahaan, yang bahkan ketika ada sanak family nitip lamaran saja saya tolak, atau ketika saya terima (dengan terpaksa) surat lamarannya, saya ikutkan tes dengan fair, banyak yang gagal. See, benar-benar tak berguna ‘kan saya?! Lebih ke males urusan sama orang aja, dan kerjaanku setiap hari adalah konsultasi, konseling karyawan, kasih nasehat, mendengar orang-orang bermasalah menjelaskan masalah. Lalu memberi opsi solusi. Ironis, malesi ‘kan?

Karena melihat ke-“berguna”-an buku/tulisan bisa sangat konkret sekaligus abstrak, bisa sangat spesifik tapi juga bisa sangat luas, dank arena itu sulit diukur, maka tujuan “berguna” untuk buku pelajaran ini saya modifikasi yang lain lagi, saya lakukan untuk novel berikutnya lagi.”

#16. Menunggu

Ini menarik. Bagaimana menunggu Liverpool juara Liga, dirayakan dalam kekaleman. Tak perlu emosional, setelah rontok pertama kali tiga gol di tangan Watford, kalah sama Atletico, dan lepas FA. Akhirnya penantian itu berakhir kala Chelsea ‘membantu’ memastikan gelar juara Reds di tengah pekan, ini terjadi setelah laga-laga sepakbola ditunda. Lalu ia bercerita bagaimana mencintai tiga klub BESAR di Eropa. Jadi pengen cerita detail bagaimana saya mencinta klub jagoan. “Nikmati selagi bisa. Jika gembira, terharu, keranjingan, edan, atau diksi-diksi meluap-luap yang lain…

#17. Ideal dan Ironi

Dulu, kos terakhir saya sebelum nikah adalah sebuah rumah sepi, kontrakan terpencil dengan pemandangan sawah, dan kuburan tepat di depan halaman rumah. Rumah sendirian di tengah lapang, rumah terdekat sekitar lima puluh meter, selepas Isya, benar-benar sunyi. Kontrakan itu tak laku, maka sama induk semang disewakan teramat murah. Saya betah tinggal di sana sebab sepi banget. Tiap malam kubaca buku di teras, ditemani suara jangkrik ya sesekali dengar mp3 HP track list George Benson, semilir angin, selepas nyeruput kopi dan jeda baca memandang ke depan, kuburan yang sungguh tenang. Batu-batu nisannya jelas terlihat sebab kuburan itu di atas, rumah yang kuhuni di bawah. Manteb! Saya merindukan masa itu.

Maka Cak Mahfud terasa terganggu saat pohon-pohon di dekat rumah itu ditebang, suara pembangunan menggeber, menyayat sepi, lalu ia bercerita masa kecilnya sebagai side-kick pencuri kayu di hutan.

#18. Tercerabut

Sungguh ironis, seorang bocah tegalan seperti saya membutuhkan wabah untuk kembali ke umbi-umbian.” Mana salah kupas lagi, hahahahaha… well, di kampung saya punya kebun penuh singkong dan ketela. Entah dari jenis apa, dulu sampai muak sama pohong. Benar banget, tanamnya simple. Tinggal tancap, di pelajar IPA baru kutahu namanya stik, bisa dilakukan untuk pohon-pohon istimewa, sebab tahan segala cuaca, dan sehat.

#19. Perempuan Tua dan Benang Rayutnya

Menyukai sepakbola, seperti benang yang susah payah dirajut dan kemudian dibongkar, adalah rasa sakit dan sulit yang dinikmati, kebahagiaan yang fana dan dengan cepat memudar, dan ia lakukan berulang-ulang. Dan saya kira karena itulah, saya tak membutuhkan rasa sakit yang lain.”

#20. Hasil

Apakah lagi-lagi saya sedang bercerita tentang hal-hal sia-sia yang bias akita alami?” Ya, kok tahu? Setelah membaca tujuh halaman, saya sempat agak boring, mana menariknya penghijauan dapur itu? Dan hebatnya, ia tahu, ia sudah merasakan apa yang akan pembaca rasakan.

Bagaimana merasakan simpati atas ‘nyawa’ tanaman kangkung, memberi tambahan waktu hidup walau tak lama. Hahaha… pengen tak lempar potnya ke tembok, biar ambyar sekalian. Hahaha

#21. Dua Jendela

Sebagai cerita penutup, tertanggal tulis 14 Juni 2020 yang berarti kolom ini berlangsung enam bulan. Cerita ini lebih tenang, memandang jendela dengan perpektif dua arah. Jendela depan dan belakang rumah yang memberi pandang horizon bahwa Cak Mahfud ternyata jarang menulis tentang masa kini, seorang sentimental? Ya lebih tepatnya, ia adalah pemuja masa lalu. Idem, sepakat, seiya sekata. “Gampangnya, semulia apa pun pekerjaanmu, pada akhirnya larinya ke dapur juga.”

Kubaca dalam tiga hari (5-7 Feb 21), Karawang hujan bertubi-tubi, saya yang memang dasarnya malas keluar rumah, makin rapat selimut dan membuncahkan daftar baca. Ini adalah buku ke, hhmm… bentar saya hitung lagi. Dawuk check, Kambing dan Hujan check, Sepakbola Tidak akan Pulang check, Cerita Bualan check, Dari Kekalahan check, dan ini. berarti sudah lebih dari separuh karya beliau kulahap. Ulid, Belajar Mencintai, Aku dan India (jilid 1) sudah kumiliki, rencana bakal kubaca tiap bulan satu bukunya. Jilid II India sudah pesan, kemungkinan kubeli bersamaan dengan sekuel Dawuk. Itu artinya, setidaknya sampai bulan Juli sudah terjejer daftar baca-ulasnya. Mantab bukan? Mahfud Ikhwan adalah salah satu Penulis terbaik di era kita, jaminan kualitas, tak pernah mengecewakan setidaknya sampai buku keenam yang kulahap.

(Ket: Kambing dan Hujan setelah ku bongkar rak sejam tidak ketemu, ternyata dulu pernah dipinjam teman, dikembalikan, kutaruh laci, terlupakan. Sampai sekarang, terlelap di sana)

Salut sama keberanian pilihan hidup kala di persimpang jalan, hal yang nyaris kulakukan tahun 2009 saat resign dari kerja dan coba menata ulang arti hidup. Namun saya tak seberani itu, saya hanyalah manusia kebanyakan yang turut dibelenggu jam kerja, terpenjara kewajiban tahun 2011 menikah. Darani pernah bilang, “Kenikmatan pujian dan kepasrahan hati yang bisa dirasakan bujangan tidak akan bisa dihayati orang yang kawin.” Ibrahim ibn Adham mengungkapkan hal serupa, “Ketika seorang lelaki kawin, ia naik perahu; kalau anaknya lahir, perahu itu karam.”

Sebagai penutup saya kutip ‘kebanggan’ Cak Mahfud yang sukses dengan pilihan hidupnya. Seperti Murakami yang berani menutup kafe-nya demi fokus menulis. Walaupun taraf-nya beda, tapi keberaniannya di frekuensi yang sama. “Meski sering menolak menyebut kegiatan menulis saya sebagai pekerjaan, pada dasarnya memang inilah pekerjaan saya. “Menjalankan darma”, “membeli buku”, “bersenang-senang”, “melakukan apa yang bisa saya lakukan”, atau frasa lain yang kadang terlalu agung dan selalu sulit diverifikasi…”

Sekali lagi, selamat, kamu berhasil memukauku. kapan-kapan saya pengen icip-icip tumis kangkung buatanmu.

Menumis itu Gampang, Menulis Tidak | by Mahfud Ikhwan | 2021 | Penyunting Prima Sulistya | Pemeriksa aksara Dyah Permatasari | Penata isi dan desain sampul M. Saddam Husaen | Ilustrator isi Nurul Ismi Fitrianty | Cetakan pertama, Januari 2021 | xiv + 252 halaman | ISBN 978-623-7284-48-2 | Penerbit Mojok | Skor: 4/5

Karawang, 090221 – Dizzy Gillespie feat. Charlie Parker – A Night in Tunisia

Thx to Dema Buku, Jakarta

Histeria Massal, Folie a Cinq

Kontak by Carl Sagan

Apakah Tuhan ada? Pertanyaan itu mempunyai nuansa yang rumit. Kalau dijawab tidak, apakah itu berarti aku yakin Tuhan tidak ada? Atau aku tidak yakin Tuhan itu ada? Itu dua hal yang berbeda.”

Novel panjang nan melelahkan. Biasanya saya komplain sehabis baca buku kurang bervitamin, buku minim pengetahuan, minim manfaat, atau minim hiburan. Nah, dalam Kontak semua dilibas. Sangat bernutrisi, pengetahuan melimpah terutama terkait astronomi yang setelah selesai-pun masih bikin kerut kening, catat pula buku ini juga ada hiburan. Kejutan surat tahun 1961 mungkin dalam drama Hollywood sudah banyak dibuat, tapi tetap saja ketika diungkap sangat menyentuh hati.

Untuk mencapai Vega dan sebuah penelusuran absurd dibalik pesan yang dikirim, kita butuh berputar melingkar panjang, sungguh melelahkan. Kumulai baca Jumat pagi 3 November sampai Ahad sore 22 November dengan kopi melimpah di teras, dalam balutan bacaan lain, menumpuk. Butuh perjuangan ekstra, sebab jenis buku seperti ini sekalinya diletakkan iseng baca buku lain tertunda seminggu saja, akan sulit dilanjutkan. Makanya harus dipaksakan. Rancang bangun antena dan analisa data.

Selain kecantikan, yang paling penting di dunia ini adalah pendidikan. Tak banyak yang ku bisa lakukan dengan kecantikan, tapi kau bisa melakukan sesuatu dengan pendidikan. Kisahnya mengambil sudut pandang Ellie Arroway, astronot Amerika yang menemukan kontak asing dalam penelitian, lalu pesan itu menjelma mesin, dan mesin itu mengantarnya ke Vega, menemukan jawab akan semesta? Pesan itu berarti intsruksi, cetak biru, sejenis mesin. Kegunaannya masih belum diketahui. Disamping minat utamanya pada matematika, fisika, dan teknik, ia pandai memecahkan kode. Istilah matematikanya existence theorem, sesuatu yang terbukti ada adalah benar. Dalam banyak hal, phi berhubungan erat dengan ketidakbatasan. Sekadar sifat aneh dan tak penting?

Tema novel sangat beragam, astronomi, matematika, agama, sampai sihir. Tak heran Carl Sagan mencampur fiksi dengan teori segalanya, maka setiap bab berganti kita disuguhi kutipan-kutipan keren. Nyaris semuanya wow/ saya kutip dua di mula:

#1. Hatiku bergetar bagaikan dedaunan malang. Planet-planet berpusar-pusar dalam mimpiku. Bintang-bintang mengintai dari jendelaku. Aku berguling dalam tidurku. Tempat tidurku sebuah planet hangat.Marvin Mercer (SD 153, Kelas Lima, Harlem), New York City, NY (1981)

#2.
Lalat kecil,
Keriangan musim panasmu
Tanganku yang tak berotak
Telah menghancurkannya
—-
Apakah aku bukan
Seekor lalat sepertimu?
Atau apakah kau bukan
Seorang manusia sepertiku?
—–
Karena aku pun menari-nari
Dan minum dan bernyanyi
Sampai sebuah tangan tak bermata
Meremukkan sayapku
William Blake, Songs of Experience “The Fly”, Stanza 1-3 (1795)

Kalau kalian penasaran sama kutipan pembuka bab lainnya, mending melahap sendiri. Jelas worth it, jelas nyaman untuk dinikmati. Semakin dalam mereka meneliti ruang angkasa, semakin banyak mereka menemukan sumber gelombang radio dari tempat-tempat jauh di luar Galaxy.

Valerian menekankan betapa kita terperangkap oleh waktu, oleh budaya, oleh struktur biologis. Betapa terbatasnya kita membayangkan makhluk atau peradaban yang secara mendasar sangat berbeda.

Ellie seperti ilmuwan kebanyakan, penasaran berat akan gugus alam semesta yang mahaluas. Kalau kau mengamati cukup banyak bintang di langit, cepat atau lambat akan ada gangguan dari Bumi, atau rangkaian gangguan acak, yang polanya untuk sesaat membuat jantungmu hampir meloncat. “Seperti kehidupan di planet Venus? Itu memang khayalan. Venus sebuah planet neraka. Dan itu cuma satu planet. Di Galaxy ada ratusan miliar bintang. Kau baru mengamati segelintir. Tidakkah terlalu pagi untuk menyerah?”

Dia lalu naik pangkat menjadi direksi di Proyek Argus adalah fasilitas proyek terbesar di dunia yang disediakan khusus untuk mencari peradaban di luar Bumi dengan menggunakan radio. Shannon pernah berkata, “Pesan sandi yang paling efisien adalah yang tidak bisa dibedakan dari suara bising atau noise. Kecuali bila kita sudah mengetahui kunci sandinya terlebih dulu…” Mungkin mereka tidak akan bisa menemukan tanda-tanda kehidupan cerdas lain di alam semesta ini, tapi mereka bisa menarik rahasia-rahasia lain dari kekayaan alam semesta.

Nah, suatu malam mereka menangkap pesan dari langit. “Halo, Ian? Mungkin ini bukan apa-apa, tapi kami menangkap bogey di sini, dan mungkin kalian bisa membantu kami memeriksanya. Frekuensinya sekitar Sembilan gigahertz, dengan lebar frekuensi beberapa ratus hertz…” Lalu pesan itu diumumkan ke pers, yang lalu mencipta histeria massal ke seluruh dunia. Nenek moyang kita berpendapat, kitalah pusat alam semesta.

Maka setiap Negara berbondong-bondong menafsir artinya. Sumber bilangan prima itu bisa dipastikan dari Vega. Sangat banyak planet lain yang menyimpan kemungkinan kehidupan. Mungkin kita bukan satu-satunya makhluk di dunia. Ada semacam kehidupan cerdas di Vega? Kita punya rumus algoritma pemecah sandi, rumus yang ideal untuk itu.

Apesnya, pesan itu berisi sinyal televisi dari Vega itu siaran tahun 1936, Olimpiade Berlin. Siaran itu hanya untuk Jerman, tapi itu siaran televisi pertama yang cukup kuat. Empat puluh juta orang meninggal dunia karena si megalomaniak ini, dan kini ia jadi bintang. Orang-orang luar angkasa menangkap siaran Hitler sebagai berita pertama dari bumi? Mereka menggunakan bahan itu berkali-kali, menuliskan sesuatu di atas tulisan lama, dan hasilnya sesuatu yang disebut palimpsest. Dan setelah telusur panjang nan rumit, kita tahu poinnya adalah instruksi untuk membuat semacam mesin.

Dilemanya, selain biaya mihil, dan kalaupun kita menjawab, jawaban itu akan sampai Vega dua puluh enam tahun lagi, dan dua puluh enam tahun kemudian menerima jawabannya. Maka semua Negara bahu membahu, salah satu sobat Ellie ilmuwan dari Rusia, Vasily Gregorovich Lunacharsky. Berpendapat, “Setiap desa adalah sebuah planet, dan setiap planet adalah sebuah desa.” Tak seorangpun tahu, pesan itu dikirim dengan simbol atau gambar. Beberapa percaya pesan itu dikirim dari Tuhan, dan beberapa percaya itu dari Setan.

Maka hal wajar proyek sangat amat mahal ini menimbulkan ptro-kontra proyek ini merembet ke banyak kalangan, salah satunya berandal berkedok agama, kata Lunacharsky. Orang bisa menghabiskan seluruh masa hidupnya dan tetap tidak bisa memahami keberadaan Tuhan yang Mahakuasa. Para ilmuwan berpendapat, mereka ingin kita meninggalkan iman kita, tetapi mereka memberikan pengganti yang mempunyai nilai spiritual.

Ah kembali ke konfliks lama. Ilmu pengetahuan dan agama, keduanya diciptakan oleh Tuhan jadi keduanya tidak boleh bertentangan. Kalau ada hal-hal yang tampak bertentangan, mungkin di ilmuwan, atau mungkin si ahli agama, atau keduanya tidak melakukan tugasnya dengan baik.

Saya sendiri sangat menghargai pilihan Ellie bahwa di luar sikap patriotism normal, ia tak ingin berkecimpung di politik praktis. Ilmu pengetahuan pada dasarnya meneliti dan membetulkan hipotesis. Agnostik adalah orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (masalah Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak dapat diketahui. “Kepercayaanku begitu teguh, sehingga aku tidak membutuhkan bukti-bukti…”

Suara dari bintang, makhluk-makhluk asing – bukan manusia, tapi juga bukan dari dewa – yang ditemukan di langit malam. Perasaan heran dan takjub. Kita gembira, kita telah mengambil keputusan ini. Kita saling bertukar data, bertukar khayalan, bertukar impian. Kita semua hidup di planet yang sama, kita semua memiliki kepentingan yang sama. Benda sehari-hari dari peradaban luar bumi yang sudah sangat maju, tidak akan bisa kita bedakan dengan sihir. “Kenikmatannya akan mengurangi hak Anda di surga.”

Bumi adalah sebuah ghetto, perkampungan kumuh. Seluruh umat manusia terperangkap di sini. Samar-samar kita mendengar bahwa di luar perkampungan kumuh ada sebuah kota besar dengan jalan-jalan lebar penuh droshky – kereta kuda Rusia, dan wanita-wanita cantik berparfum wangi mengenakan mantel bulu… Iklan mengajar orang untuk menjadi bodoh.

Proyek itu menjadi proyek umat manusia, Nama Konsorsium Pesan Dunia diganti menjadi Konsorsium Mesin Dunia. “Terlalu banyak yang kita pertaruhkan untuk sesuatu yang tidak pernah kita lihat.” Setelah diperdebat dalam rapat yang panas, akhirnya lima kursi mesin itu diisi oleh para astronot dari Amerika Serikat, China, Rusia, India, Nigeria. Hanya lima kursi menghadap ke dalam, sehingga setiap awak bisa melihat yang lain.

Emosi adalah motivasi untuk menyesuaikan diri dari waktu ketika kita terlalu bodoh untuk tahu apa yang sedang terjadi. Setidaknya harapan kita untuk masa depan itu sama pentingnya dengan penemuan api, atau tulisan, atau pertanian. Ramalan tentang kejadian-kejadian penting rupanya jauh lebih akurat bila tidak pernah dituliskan di atas kertas sebelum kejadian. Bila kitab kita dibaca lagi dengan hati-hati dan menggunakan imajinasi secukupnya, jelaslah kejadian menakjubkan itu tersirat dalam kitab-kitab.

Mereka terpesona sama teknologi sehingga melupakan bahanya. Sikap skeptis merupakan jiwa ilmu pengetahuan. Rasanya seperti ikut ujian tanpa persiapan, tapi jawabannya bisa dicari dari pengetahuan umum yang kau miliki. Bisa membuat kau menangis karena indahnya. “Peter, kenapa kau menatap langit-langit kalau sedang berpikir?”

Amerika, seperti Indonesia selalu curiga pada dua dari sedikit kelompok yang jadi kambing hitam: makhluk luar bumi (tak kasat mata) dan Orang-orang Rusia (komunis). Penerbangan ruang angkasa adalah subvertif. Negara-negara melakukannya untuk kebanggaan Nasional.

Lalu muncullah bencana pasak erbium di Wyoming sangat mengerikan. Awalnya bukan Ellie yang ditunjuk untuk berangkat, naas itu mencipta kematian gurunya, maka iapun melaju. Ia adalah penemu dan pelarian dan akhir dari kesepian.

Telaah agama (besar) hampir disebut semua. Menurut Buddha, Tuhan mereka begitu besar dan agung sehingga tidka perlu ada. Orang Kristen bilang, awal dari segalanya adalah perkataan. Aku satu-satunya penganut materialism di antara kita berlima, dan semua yang kubawa ada di kepalaku. Kalau peradaban luar bumi itu begitu cerdas, mengapa mereka membawa kami melalui begitu banyak lompatan-lompatan kecil?

Di Kompleks Hokkaido Machine segala persiapan akhirnya rampung, dan lima orang siap berangkat: Eda, Ellie, Sukhavati, Vaygay, Xi. Membawa pesan, “… Kalian adalah pahlawan-pahlawan planet bumi. Bicaralah atas nama kami semua. Bersikaplah bijaksana, dan kembalilah.” Mesin itu pergi ke suatu tempat, mesin itu adalah sarana.

Alam semesta ini terus mengembang, dan tidak cukup materi di dalamnya untuk menghentikan pengembangannya. Ada sebelas pesan tersembunyi di balik nilai phi, seseorang berkomunikasi di alam semesta dengan matematika. Nilai phi pasti sama di alam semesta, nilainya sudah terbentuk dan merupakan bagian dari alam semesta. Ia mencoba mencari sumber ketidaktenangannya

Setelah merumit dalam teori astonomi, akhirnya mereka tiba di sebuah pantai misterius. Di sinilah puncak tanya itu dijawab. Kepala Stasiun Cysgus A menciptakan bagi mereka apa yang bisa disebut sebagai cinta mereka yang paling dalam. Mungkin tujuan hanya sebagai menjembatani kesulitan komunikasi dengan makhluk yang sangat berbeda bentuk dan jenisnya. Semua hampir menangis kegirangan.

Dengan kamera merekam ‘makhluk’ yang mereka temui, bercengkerama dan mencipta hidup kenangan indah di masa lampau. Satu-satunya fungsi mesin ini adalah menciptakan ilusi, atau mungkin juga membuat mereka berlima menjadi gila.

Sayangnya setelah segalanya usai dan mereka kembali di penghujung millenium segala yang disiapkan untuk laporan temuan hilang. Semuanya tidak didukung oleh bukti fisik. Rol memori yang merekam itu seolah tak percaya, sebab mereka yakin sudah menyimpan adegan penelitian. Mereka lalu diinterogasi, seperti Kantor Kejaksaan selalu menanyakan tiga hal, “Apakah dia punya kesempatan, apakah dia punya motif, apakah dia cara?”

Kalau manusia bisa membuat obat-obatan yang menimbulkan fantasi, tidak bisakah teknologi yang jauh lebih maju menimbulkan halusinasi kelompok yang sangat terperinci? Untuk sesaat terasa kemungkinan itu ada. Kembali ke bumi dengan membawa kisah yang aneh, tanpa hal yang bisa digunakan untuk kemiliteran atau politis. Dan kisah itu memiliki implikasi.

Novel ini sungguh bombastis. Panjang berliku, saking banyaknya ilmu yang diserap sampai meluber. Saya lebih suka menyebutnya memimpikan masa lalu yang lebih sederhana. Endingnya jleb dengan pesan membumi untuk Ellie. Ia telah mempelajari alam semesta sepanjang hidupnya, tapi mengabaikan pesannya yang paling jelas. Bagi makhluk-makhluk kecil seperti kita, kebesaran alam semesta hanya bisa dihadapi dengan cinta.

Kita semua haus akan hal-hal yang menakjubkan. Aku seperti seorang murid, menunggu datangnya ilham. Menurut Cervantes, membaca terjemahan seperti melihat bagian belakang permadani. Numinous adalah ‘hal-hal yang di luar jangkauan’, dan reaksi manusia terhadapnya adalah ‘takjub luar biasa’. Setelah menyelesaikan baca Contact, jadi kepikiran film Arrival-nya Dennis tahun 2016. Tentang invasi alien yang menemui kendala bahasa, mereka datang untuk memberika ‘a gift’ dalam bentuk ‘a weapon’ yang mana bahasa menjadi pembentuk budaya. Mirip sekali dengan kontak makhluk luar yang coba membantu bumi. Sebuah inspirasi, yang segaris lurus.

Seperti dialog dimula tentang Tuhan, maka catatan ini saya tutup dengan sang Pencipta. “Kalau Tuhan ingin kita tahu Dia Ada, mengapa tidak meninggalkan pesan yang jelas? Kau berpikir Tuhan itu ahli matematika?”

Kontak | by Carl Sagan | Copyright 1985 | new cover 1997 | Atas izin cover art Warner Bros | Diterjemahkan dari Contact | Alih bahasa Andang H. Sutopo | GM 402 97.851 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Desember 1997 | 592 hlm.; 18 cm | ISBN 979-605-851-0 | Skor: 5/5

Untuk Alexandra, yang hadir menjelang datangnya millenium. Semoga kami memberi generasimu dunia yang lebih baik daripada dunia yang dulu diberikan pada kami.

Karawang, 301120 – The Ink Spots – Java Jive (1940)

Thx to Agoeng S, Bdg

Clash of Clans in Japan

Furin Kazan by Yasushi Inoue

Ya, siapapun yang menentangmu Tuanku, harus diperangi.”

Tanpa tahu ini tentang apa, siapa Inoue, dan segala awam yang menyelimuti, kunikmati lembar demi lembarnya. Terkadang memang saya membeli ke-awam-an buku, sebagai selingan atau pengen iseng petualang ke sebuah area antah. Dibaca sehari selesai, dimulai Jumat pagi (13/11) selesai Sabtu paginya (14/11), hari libur memang liar. Lumayan bagus, mengingatkanku pada Game of Throne, pertarungan antar klan memperebutkan kekuasaan. Terbit tahun 1950-an, apakah G.R.R.Martin sudah melahapnya? Tokoh utama, si ahli strategi Kansuke bertubuh pendek, pincang, mata satunya rusak, akalnya panjang yang tentu saja mengingatkan kita pada si cebol hebat di Perebutan Takhta. Endingnya ketebak, walau ada nada sedih disenandungkan, pada akhirnya tersenyum.

Kisahnya tentang Yamamoto Kansuke, seorang samurai yang sudah tak muda lagi, kepala lima. Selama Sembilan tahun mengabdi pada kerajaan, tapi nggak segera mendapat kerja tetap. Dia dicerita cerdik, suka membual, pernah berpetualang ke banyak daerah. Dan jago main pedang, maka di pembuka kita disajikan sebuah sekongkol. Menyelamatkan Itagaki, sandiwara yang mengantarnya menjadi orang kepercayaan raja Harunobu. Jadi bab pertama kita mengambil sudut pandang sang pemeras Aoki Daizen, ia mendatangi rumah Kansuke untuk meminta uang rutin sebagai biaya tutup mulut.

Nah, saat itulah ia mendengar nama seorang samurai kepercayaan raja akan melintas daerah situ, maka disusunlah strategi. Daizen nanti pura-pura merampok, lalu muncullah Kensuke menyelanatkan. Tak ada nyawa melayang, hanya sandiwara. Dan taktik ini pasti berhasil sebab utang nyawa akan selalu dihargai kepercayaan tinggi. Ternyata ini sebuah jebakan buat Daizen, sebab sandiwara dijalankan, ia terjebak dan meminta dihentikan, Sensuke malah membunuhnya. Dari sinilah sudut pandang bab dua berubah ke sang tokoh utama. Pembuka yang secara langsung bilang, ia cerdik, serta novel ini akan melibatkan banyak nyawa melayang. Bukan ratusan lagi, ribuan pasukan akan berperang. Beginilah cerita perang antar klan harus disajikan. “Selain dalam pertempuran, tidak baik menghilangkan nyawa seseorang.”

Kensuke menguasai aliran pedang Gyoryu ditantang melawan aliran pedang Shintoryu dalam duel latihan, kukira hanya bualan ternyata bisa. Maka setelah beberapa waktu Kansuke dipanggil menghadap Harunobu. Ia dites oleh seorang samurai utusan, dikira hanya memakai pedang kayu, nggaklah langsung pedang beneran yang mengakibat nyawa melayang. Ini menegaskan sekali ia mencabut pedang dan berniat membunuh, pasti tak pernah gagal. Tenggoret-tenggoret sedang mengerik menandai era baru kehidupannya. Ia ditunjuk sebagai penasehat jenderal muda Takeda Harunobu.

Maka ujian pertama sesungguhnya adalah dari klan Suwa yang dipimpin Yorishige Suwa. Aku sama sekali tidak tahu akibat-akibatnya kelak, namun justru itu yang menjadi alasan kenapa aku bertahan. Ketika ia diutus ke sana menyampaikan salam damai, disambut sang jenderal yang lalu melakukan kunjungan balasan. Ketika sang tamu dan pengiringnya tiba di wilayah Kofu, dalam rapat terbatas berbagai usulan muncul, dan saat sang jenderal menanyakan kepada Sansuke ia meminta empat mata, usulnya jelas: bunuh Yorishige sebelum ia menyerang kita. Maka eksekusi langsung dilakukan, mereka menyerang klan musuh tanpa komando dan dalam waktu singkat menguasainya.

Dalam kewajaran, keluarga jenderal yang kalah biasanya melakukan ritual seppuku (bunuh diri), Putri Huu tidak. Ia ingin bertahan hidup dan rela menjadi selir sang jenderal yang membunuh ayahnya. Ia tahu ada dendam berkobar, tapi setidaknya harapan selalu ada selama napas masih bisa dihela. Ia mendapatkan keyakinan atas kejujuran, kepercayaan diri, dan cara berpikir positif.

Perang berikutnya lebih banyak dan rumit. Cara Kensuke menunggang kuda agak aneh, tubuh kecilnya duduk di punggung seekor kuda besar. Membungkuk begitu dekat dengan leher kuda. Dalam masa perang itu, ia menemui banyak hal tapi memang yang pertama selalu istimewa. Kensuke belajar pertama kalinya tentang cinta dan kebencian bisa muncul pada saat bersamaan tanpa logika sama sekali. Ia jatuh hati sama Putri Huu, cinta yang mustahil terwujud sebab janji setia sebagai samurai yang takkan menghianati tuannya.

Zaman perang Sengoku Jidai dan akan ada perang terus-menerus selama bertahun-tahun. Panji Furin Kazan tak pernah tinggal di Kofu lebih dari setengah tahun. “Jangan biarkan saya di sini menjaga rumah. Itu sangat membosankan.” Sampai diucapkan sang samurai, karena perang memang manjadi tujuannya bergabung.

Jika menyangkut masalah penaklukan benteng atau pertempuran, ia mampu melihat segala sesuatunya dengan jelas, layaknya kabut pagi menghilang seiring terbit matahari. Namun jika sudah soal laki-laki dan perempuan, ia tak mampu melihat apa pun di hadapannya. Otaknya begitu jernih memikirkan perang yang akan segera terjadi. Sang Putri lalu mendapat seteru dengan selir lain, Puteri Ogoto. Terdengar jenaka, ia diombang-ambing sama kedua selir itu, dan sang jenderal-pun tak jujur pula. Pusing. Maka ketika Putri Huu mengancam, ia meminta sang jenderal dan ia meninggalkan kehidupan duniawi dan mengubah nama, sang jenderal kini bernama Tadeka Shingen. “… Ya aku benar-benar mengerti. Meninggalkan keduniawian, menjadi seorang rahib, dan menyerahkan diri pada kehendak langit.”

Itu hanya strategi, ia mendapat ucapan selamat dan gelar namun pasukan Takeda terus melakukan invasi. Mereka berkuda ke berbagai penjuru, bertempur menang, dan kembali ke Kofu. Ia merasa akan hidup lebih lama, jika kematian tidak segera menjemputnya, ia ingin mengendalikan takdir sendiri. Setiap manusia memiliki sendiri waktu untuk mati. Saking seringnya perang, diskusi ini disampaikan sambil santuy. “Nah, berikutnya apa yang kita lakukan?” / “Mari kita menyerbu Joshu.” / “Bagaimana dengan Bushu?” / “Baik, kita juga akan menyerang Bushu.”

Penggambaran zaman dulu yang realistis, terdengar keji tapi memang perang memang sadis. Sampai akhirnya Kansuke di masa letih. Aku sedang menghadapi masa paling sulit dalam hidupku. Akhir-akhir ini aku memikirkan dengan sungguh-sungguh berbagai hal, tapi tetap saja tak bisa memecahkan masalah. Tujuan klan Takeda membentuk persekutuan tiga keluarga: Imagawa, Hojo, dan Takeda sudah terwujud, lalu invasi terbesar disiapkan. Musuh utama Murakami Yoshikiyo bisa dikalahkan, pada dasarnya puncak pertempuran besar berikutnya adalah melawan Uesugi Kenshin Kagetora yang melibatkan ribuan pasukan. Penaklukan benteng paling sulit ini menjadi ending novel ini.

Keinginan melihat Kampanye perang Pengeran muda Katsuyori yang berusia 16 tahun (anak Putri Huu) terwujud walau terdengar rumit dalam pelaksanaan. Maklum pangeran muda yang perlu bimbingan.

Dalam cerita berlatar Jepang yang menjadi sulit dalam bayang adalah timeline. Karena di sini tak dijelaskan tahun Masehi hanya tahun ke berapa Tenbu, lalu saat pergantian era kita sudah sampai pada tahun ke-4 Koji lalu terjadi pergantian era lagi menjadi Eiroku ke-1, dst. Perlu belajar segala masa di Jepang siapa saja yang berkuasa.

Dengan usia 51 tahun ketika dimulai mengabdi, ia termasuk sebagai protagonist tua, kondisi fisik yang kurang, samurai nganggur lalu menjelma ahli strategi kisah ini potensial meledak. Suram adalah koentji, latarnya sudah memenuhinya. Sayangnya narasinya malah kurang detail, mematikan orang dengan sangat mudah. Menyebut pasukan ratusan hingga ribuan dengan mudah, penyerbuan dan menempatkan posisi perang juga kurang masuk. Sempat berharap ada asmara dengan Putri Huu malah merasa hambar, benar-benar kakek samurai sejati. Sisi cintanya dimatikan demi mengabdi kepada sang raja. Yamamoto Kensuke dikuasai oleh gagasan. Tubuhnya bersimbah keringat.

Sumpahnya ada tiga, dan sejak disampaikan jelas akan terpenuhi. Tiga orang yang ia cintai jenderal Harunobu, Putri Huu, dan sang Pangeran, semuanya menempatkan akhir yang pas. Putri Huu yang perfectionist mengalami goncangan batin, tapi pada akhirnya tersingkir. Dan anak tunggalnya, Pengeran Katsuyori menjadikan kampanye perang pertamanya sesuai pemicu, sudah sesuai alur.

Coba perhatikan perancang sampulnya. Adalah penulis kini menyandang dua kali pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa. Gambarnya keren dengan Panji Furi Kazan berkibar-kibar dengan latar seorang samurai bertopeng. Panjinya sendiri dicetak luks sehingga lebih lembut jika diraba. Dominasi biru di belakang para prajurit di markas utama

Akhirnya, mau diambil dari sudut manapun kita mendapati bahwa perang antar klan ini tak ada yang salah-dan benar. Persis seperti dalam Game of Throne, mau menjago atau menaruh simpati pada siapapun, mereka hanya terjebak di era yang salah. Era kekerasan di mana pedang diayunkan menebas leher serutin cangkul dikayuh di ladang.

Karena kami di sini juga atas perintah tuanku.”

Furin Kazan | by Yasushi Inoue | Copyright 1953 by The Heirs of Yasushi Inoue | Penerjemah Dina Faozi & Fatmawati Djafri | Penerbit Mahda Books | Penyunting Tim Kansha Books | Pewajah sampul Iksaka Banu | Pewajah isi Call Izmi | Cetakan I : Juli 2010 | ISBN 978-602-97196-0-4 | Skor: 4/5

Karawang, 181120 – Linkin Park – Pushing Me Away

Thx to Lifian, Jkt

#Oktober2020 Baca

“Manusia yang berpikir bukan otaknya.” – Kata Straus (1963)

Bulan santai pasca KSK, secara kuantitas tetap saja melaju di angka belasan. Yang paling sulit memang The Constant Gardener berisi lima ratus lima puluh halaman, ukuran lebar dan topiknya rumit. Heart of Darkness kumasukkan giveaway, jadi setelah baca langsung kulepas. KSK ada dua buku, keduanya tersingkir dari daftar pendek jadi dibaca santai yang ternyata malah bagus banget keduanya. Sedang menikmati buku-buku psikologi dan filsafat, dan kumpulan esai. Oh iya, jangan lupa beberapa buku lama kubaca ulang, terutama yang belum kuulas jadi untuk mengetiknya, saya butuh refresh.

Menyenangkan sekali bukan, menikmati buku dan menceritakan keseruannya dalam blog?

#1. Heart of Darkness Joseph Conrad

Ini tentang perjalanan ke belantara Afrika dengan rute sungai. Penuh perjuangan sebab di prosesnya mendapat serangan dari suku pedalaman. Menuju Tuan Kurtz yang kejam, sekaligus dipuja oleh Pemerintahan Belgia. Menuju jantung kegelapan, tentang kolonialisme di Kongo, tentang penjualan gading.

Bernarasi kalimat langsung, jadi sang tokoh Aku menceritakan kepada para awak kapal, pengalamannya selama perjalanan. Sebagai nahkoda dalam misi menjelajah ke Congo, sebagai wilayah jajahan Belgia. Nah, selama air mengalir mengantar mereka itulah kita disuguhi sisi gelap manusia. Kolonialisme, pemaksaan kehendak demi kepentingan para penjajah, penjualan gelap gading gajah, korupsi, hingga perilaku manusia dalam sisi hitam. Memudiki sungai ini bagaikan melakukan perjalanan kembali ke masa paling awal dunia ini, ketika vegetasi bersuka-ria di bumi dan pepohonan besar bak raja-raja.

Aku melihatnya, aku mendengarnya. Aku melihat misteri tak terpahami dari satu jiwa yang tak mengenal batasan, keyakinan, dan ketakutan, namun masih berjuang membabi buta mengasai dirinya…”

#2. Makan Siang OktaNurul Hanafi

Saya suka sekali film A Ghost Story yang menampakkan ‘hantu’ yang bosan menapaki waktu di tempat yang sama untuk rentang kisah acak. Saya juga suka sekali Buried yang membuat Ryan Reynolds terkubur satu setengah jam dalam peti, yang otomatis sepanjang film penonton turut sesak. Saya juga suka sekali Locke, filmnya tentang Ivan Locke ngomong sendiri di mobil via telpon, ia berkendara dan meramu kejadian di sekelilingnya jadi syahdu. Nah, di Makan Siang Okta kita mendapat sisi minimalis itu. Sungguh jantan dan menarik. Kalian diminta untuk terus menyimak dialog sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu, cintailah kebosanan itu.

Ini kisah sederhana, sebuah kunjungan anak SD ke teman sekelasnya untuk meminjam buku, yang nantinya kita tahu hanyalah alibi. Kedatangan ini memang tak memerlu konfirmasi sebab Okta, gadis itu juga tidak tahu ia bakalan datang, saat Tendy tiba ia sedang makan siang. Kau hampir sama sekali tak tahu bahwa ikan bandeng, sepatu selop, seuntai kalung, dan sebuah buku cerita benar-benar telah tampil sia-sia jika dibandingkan dengan keanehan dia yang memiliki semua barang itu sekaligus. Adegan sepanjang buku akan berkutat di situ. Setelah berputar-putar dalam dialog dan ‘dialog’ dalam kepala Tendy, kita bertemu ibunya Okta yang sedang mengupas kentang, turut sertalah beliau dalam belitan kisah. Tokoh nyata hanya bertiga, walau dalam percakapan menyinggung nama-nama lain seperti teman sekolah atau teman masa kecil ibu, tapi tetaplah tokoh Makan Siang hanya bertiga. Sekolah tidak mengajarkan cara menghabiskan waktu siang yang baik bersama seorang teman laki-laki. Maka muncullah buku panduan ini. Haha…

Karena aku menganggapnya paling cantik sekelas.”

#3. Kiat Bermain SahamSurono Subekti

Secara ekstrem saham dibagi menjadi dua, saham fundamental dan saham kucing kurap. Di era itu belum dikenal saham gorengan kali ya. Justru ketika baca saham kucing kurap rada aneh. Hehe… Faktor judi di saham kucing kurap itu sangat besar, disebut kucing kurap karena diusahakan setelah dipegang segera dilepas begitu ada kesempatan. Sedang saham fundamental, bisa disimpan bertahun-tahun di lemari besi, bahkan seumur hidup sampai pensiun kalau mau.

Pengalaman adalah guru terbaik, lapangan adalah guru terbaik. Saya sudah main saham hampir dua tahun, Alhamdulillah sudah positif, sudah untung. Sejatinya ingin jadi investor, tapi tiap minggu/bulan pas lihat grafik hijau, tangan ini gatal buat jual, akhirnya yo wes yang warna hijau berkali-kali kujual buat kuputar. Sampai-sampai berpikir, ini kok cari duit sederhana dan gampang ya? Cuma tanam duit, pilih saham bagus, diamkan, sebulan dua bulan dicek udah untung. Wew… kenapa ga dari dulu pas masih lajang sih. Hiks. Namun nggak papa terlambat, masih bisa kok nabung saham. Terus bergerak dan belajar. Termasuk baca buku saham dari yang jadul (seperti buku ini – buku kedua saham yang selesai kubaca setelah Simple Stories for Simple Investor) sampai baca buku saham terbitan baru, saya lahap semuanya. Beberapa buku pinjam, beberapa beli sudah di rak. Saya adalah pembaca yang rakus.

Jadikan bermain saham sebagai hobi. Memilih saham sama seperti memilih orang. Salah satu alasan membeli saham adalah membeli masa depan perusahaan.

#4. Apa yang Harus Saya Lakukan? Drs. R.I. Suhartin

Buku konseling remaja yang bervitamin sekali. Keren! Jadi tahu curhat dan jawaban pakar masalah-masalah pergaulan tahun 1980-an. Buku ini berisi lima permasalahan utama, yang dibagi lagi dalam tanya-jawab satu arah 47 poin, kecuali ada dua pertanyaan dari orang yang sama. Merupakan kumpulan tulisan dalam Rubrik Pendidikan di suratkabar Berita Buana. Sangat menarik, bagaimana remaja kala itu menghadapi problematika yang rasanya relatif masih sama dengan era sekarang, minus gadget dan kebebasan bersuara. Related. Permasalahan remaja, tak jauh dari cinta, keluarga, dan peningnya belajar. Cinta kala itupun sudah mengarah ke seks yang tentu saja tabu untuk dibicarakan.

Jawaban-jawaban yang diberikan sangat lugas, bagus sekali, enak dibaca. Terlihat sekali direspon dari orang bijak yang berpengalaman mendidik dan mengalami pasang surut kehidupan. Seperti opsi, yang utama membahagiakan orang tua atau pribadi? Ketidakmampuan memenuhi kemauan orang tua tidaklah menjadi soal, yang pokok adalah Anda! Susunlah rencana sesuai dengan kemampuan, dan segera menyusun siasat, cara, dan teknik penyampaiannya, yang penting bahagia sesuai kemampuan pribadi. Kebetulan topik ini beberapa hari lalu sedang dibahas di diskusi inspirasi pagi. Hanya doa dengan hati yang bersih yang dapat dikabulkan Tuhan.

Cinta sejati bukan sekadar seks belaka, tapi harus meliputi keseluruhan pribadi masing-masing, yang utama tahan uji dalam keadaan apapun, maka cinta bukan hanya seks centered, tapi harus personality centered.

#5. Oh Film…Misbach Yusa Biran

Buku tipis yang sebenarnya bisa cepat diselesaikan baca, tapi saya baca santuy jelang tidur. Saya bacakan untuk Hermione satu atau dua bab setiap beberapa malam. Ini adalah buku rekomendasi Sherina Munaf dan berkali-kali cari di Gramedia Karawang nggak ada, maka saat ada yang jual daring, langsung kusambar. Buku yang sejatinya biasa, hanya mencerita kehidupan seputar orang-orang film di Senen, dari sudut pandang para jelata mengais rupiah hanya untuk sekadar bertahan hidup dari bulan ke bulan. Kisah apes yang mengelilingi para kuli film. Judulnya tentu pas sekali, … oh, film!

Kisahnya lebih sederhana dan membumi, ini buku berdasarkan pengalaman sang penulis yang berkecimpung di dunia film sejak 1954 sebagai anggota PERFINI. CV filmnya sangat banyak, jasanya dalam seni di Indonesia tentunya melimpah. Tahun 2008 beliau menerima Bintang Budaya Parama Dharma, bintang tertinggi dari Pemerintah RI di bidang budaya.

“Ah… betapa tenangnya langit, mengapa orang bisa tidur di malam berbintang terang seperti ini?”

#6. Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi KematianYetti A. KA

Kumpulan cerpen yang menyajikan hal-hal sederhana malah mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan. Kata Martin Heidegger dari Jerman, yang meneliti eksistensi manusia terutama tentang kecemasan, kenisbian segalanya dan kesadaran manusia akan kematian. Ada yang bilang Heideggar seorang ateis, ada yang bilang pula ia seorang mistikus, tapi dengan jelas ia mengatakan bahwa dirinya, “sedang menunggu kedatangan Tuhan.”

Begitulah, Ketua Klub Gosip menjadi kumpulan cerita pendek yang melatari sisi dalam setiap individu. Dengan tema beragam dan beberapa minim penjelasan menjadikannya lebih asyik sebab segala yang membingungkan malah menarik. Ia mempertahankan pentingnya transendensi. Bagaimana jadinya kalau gosip sedih itu dimulai dari orang yang kita kasihi?

“Seharusnya kau menggunakan benang merah untuk topi itu”

#7. Cerita, Bualan, KebenaranMahfud Ikhwan

Kebetulan ini buku kedua tahun 2020 dari Tanda Baca yang kubaca, Tentang Menulis-nya Bernard Batubara yang gagal memenuhi harap, sekadar curhat pengalaman beliau mencipta karya, tak dalam, sangat biasa, dan benar-benar tak bervitamin. Sempat terbesit sepintas, jangan-jangan ini buku ala kadar juga? Sama-sama tipis dan berkutat dalam proses kreatif. Namun tentu saya rasa was-was itu bisa dienyahkan seketika, jelas Cak Mahfud punya kualitas, punya standar yang menggaris, mana yang laik dicetak dan mana yang sebaiknya tetap tersimpan dalam komputer. Kedelapan tulisan di sini sungguh ciamik. Kalau dituturkan dengan irama merdu gini, sangat perlu dibuat lebih banyak lagi kisah-kisah dibalik karya, terutama tentu saja karya yang sudah dikenal rakyat, dikenal pembaca dengan akrab. Dengan sudah membaca tiga buku sebelumnya, bualan beliau langsung bisa nyetel, klik sejak di akhir tahun cuti yang lucu itu.

Saya belum baca satupun buku karya Pak Kunto, tapi namanya memang termasyur di kalangan klub buku. Berkali-kali incar, gagal bawa pulang. Terutama Pasar yang sering kali muncul di pajangan. Ternyata menjadi panutan Cak Mahfud.

“Kekuasaan bergandengan tangan dengan agama akan memperlihatkan sisi buruk manusia.”

#8. Koleksi Kasus Sherlock HolmesSir Arthur Conan Doyle

Saya sedang membaca ulang beberapa buku lama, saya pilih pilah yang terkesan dan belum kuulas. Seingat saya, buku Sir Arthur baru satu yang kuulas di blog, makanya seminggu lalu entah refleks ambil buku ii di rak. Saya sudah khatam semua kisah Sherlock, dan membaca ulang malah menelusur kenangan, dan ingatan saya di Koleksi Kasus ternyata nggak kuat nempel, hanya beberapa yang klik, kebanyakan lupa tentang apa. Makanya terasa fresh lagi. saya baca buat selingan baca non-fiksi tentang filsafat yang bikin kerut kening making banyak.

Ternyata ini masa-masa akhir Holmes yang pensiun. Jadinya masuk ke koleksi kasus. Beberapa kisah berulang, seperti Holmes yang sombong menunggu klien saat Watson sedang duduk lalu mendengarkan detail. Atau Watson yang seperti kita tak paham maksud Holmes bahwa kasus ini sudah jelas, padahal selubung belum dibuka. Atau bahwa Holmes selalu ingin di balik layar, oarng-orang dari Kepolisian saja yang mendapat pujian. Atau Holmes yang hanya ingin menangani kasus unik, aneh, berat. Uang bukan masalah, justru ia tak tertarik menarik bayaran bagi jelata. Hebat. Keren. Takjub. Kebetulan saya sudah baca seri satu detektif karya Penulis Harry Potter. JK Rowling mencoba meng-copy gaya Holmes ke era masa kini. Belum bisa menandingi, tapi patut diapresiasi usahanya. Hal-hal yang paling rumit biasanya sangat bergantung pada hal-hal yang paling sepele.

“Nada bicara Anda tak kalah sombongnya, Mr. Holmes. Tapi saya bisa memakluminya. Hasil kerja Anda patut mendapat acungan jempol.”

#9. Bebas dari MiliterMartin Shaw

Buku yang sejatinya sangat umum, ditulis tahun 1991, dan kini sudah hampir tiga puluh tahun sudah banyak sekali perubahan militer. Telaahnya tentu saja sudah banyak tidak relevan, memang menikmati buku ini lebih ke nostalgia. Dunia digital meluluhkan segalanya. Membahas istilah saja bisa berlembar-lembar, membahas militer Inggris bisa panjang sekali, lalu telaah nuklir dan konsekuensi, menyelam dalam Perang Teluk yang berlarut, dst. Melelahkan sekali, tapi kalau nggak segera kupaksakan takutnya terbengkelai, maka gegas kutuntaskan. Berhubung militer adalah hal yang awam bagiku, lumayan bervitamin. Seluk beluk dunia militer. Jika perang selalu menjadi anakronisme sosial, masalahnya tidak akan selesai dengan menjadikannya sebagai kambing hitam.

Setiap masalah bisa dipecahkan jika teknologi dan dana digunakan dengan dosis yang tinggi. Argumen Ross bahwa apa yang sering kali dideskripsikan sebagai militerisasi di Dunia Ketiga (atau ‘militerisasi global’) lebih merupakan bangunan militer daripada militerisasi sosial.

“Pengeluaran militer pasti merusak kesejahteraan ekonomi meskipun ia memiliki keuntungan ekonomi yang positif.”

#10. Mimpi-Mimpi Einstein Alan Lightman

Secara cerita buku ini mengecewakan, intinya kurang gereget, hanya labuhan khayal sang ilmuwan yang acak dan tak jelas. Terliaht samar, mencoba merumitkan diri. Ini fiksi sehingga Alan Lightman harusnya punya kreasi bebas untuk melalangbuanakan bualan, sayangnya inti yang coba disampaikan tak jelas. Sepenggal masa-masa tahun 1905 di mana Einstein muda mengajukan tulisan terkait teori waktu, menjadikannya patokan utama, benang merah, dari seratus halaman, sejatinya hanya bagian interlude yang menjadi realitas yang menyenangakn dilahap, sayangnya yang namanya interlude ya sesekali saja muncul. Sementara sebagian besar hanya pecahan kejadian yang bebas dan tak beraturan. Tak kuat secara cerita, tapi memang dasarnya seperti puisi, semua bebas disenandungkan, keras, berisik, dan merdeka. Namun melelahkan sekali…

Buku ini sudah berkali-kali masuk daftar incar. Berbagai kover sudah kulihat, setelah bertahun-tahun akhirnya kumiliki edisi cetakan kesepuluh dengan kover kuning mentererng. Penerjemahnya adalah Penulis Raden Mandasia yang terkenal itu. Saya tak terlalu banyak complain terkait alih bahasa, karena memang rerata bila dikerjakan dengan serius hasilnya bagus. Kembali di kalimat pembuka, yang utama adalah cerita, dan Mimpi-Mimpi Einstein ceritanya kurang OK, mencoba bermewah kata, menawarkan stair-syair puisi kehidupan masyarakat di sekitar pegunungan Alpen. Mimpi-mimpi itu pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri.

“…Saat terkenal nanti, kau akan teringat bahwa kau pertama kali menjelaskan padaku, di perahu ini.”

#11. Teori Kepribadian Rollo MayIna Sastrowardoyo

Kehidupan kosong dapat terlihat dari manusia yang hidup seperti robot, tiap hari itu-itu saja yang dikerjakan tanpa gairah atau kegirangan seolah-olah dipantau oleh radar di kepala. Buku psikologi yang sangat bagus, dipadatkan dengan bagus dan dijelajah pengertian itu dengan sangat pas. Menjadikan penasaran lagi buku asli karya Rollo May, karena disini didedah dengan sudut yang mengagum. Sumbangan May, mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan.

May berujar bahwa konseling merupakan seni, yang dapat dikembangkan lebih besar dari seni lain misalnya melukis atau seni musik. Orang yang memandang objek seni, bahkan dapat mengidentifisir dirinya dengan objek seni itu.

“Saya hanya merupakan suatu koleksi cermin, yang memantulkan keinginan orang lain.”

#12. The Constant GardenerJohn le Carre

Kisah mengambil sudut utama Justin Quayle yang mendapati istrinya Tessa Quayle meninggal dunia dibunuh di tepi Danau Turkana, dekat Teluk Allia bersama pula rekannya dokter Arnold Bluhm, sang Apollo berkumis dalam sebuah pesta perjamuan di Nairobi, dokter kharismatik, lucu, dan tampan.. Pengemudinya Mr. Noah Katanga juga tewas. Mrs. Qayle akan dikenang atas pengabdiannya dalam menegakan hak-hak asasi wanita di Afrika. Sebuah pengalaman buruk yang didapatkan Tessa dan Arnold dalam perjalanan lapangan mereka sejenis malapraktik, jenis yang dilakukan oleh perusahaan farmasi.

Masalah obat ini adalah: pertama berbagai efek sampingnya ditutupi demi meraih keuntungan. Kedua masyarakat termiskin di dunia digunakan sebagai kelinci percobaan oleh masyakarat terkaya di dunia. Ketiga debat ilmiah yang sah mengenai masalah ini diberangus oleh intimidasi korporat. Apa yang benar selalu kekal. Para bedebah ini tidak memilkirkan apa pun selain keuntungan yang sangat besar, dan itulah kebenaran. Dyraxa bukan obat yang buruk, itu obat bagus hanya belum menuntaskan uji cobanya. Tidak semua dokter bisa dirayu, tidak semua perusahaan farmasi itu ceroboh dan tamak. Tessa dan Bluhm telah dibunuh karena mengetahui tentang kesepakatan jahat yang dilakukan perusahaan farmasi. Tessa adalah korban dari konspirasi internasional.

“Sandy, tugasku adalah mengabdi untuk Afrika…”

#13. Prosa 3 Obsesi Perempuan Berkumis – Budi Darma Dkk.

Wow, baru tahu dulu pernah ada sebuah buku berjilid Prosa sekeren ini. Ini adalah edisi ketiga entah total ada berapa edisi, isinya luar biasa, padat, sedap, bervitamin. Semacam majalah? Enggak juga. Semacam edisi khusus sastra? Bisa jadi, yang jelas benar-benar keren. Bung Budi Darma menjadi pusat, dengan cerpen panjang, kritik sastratentang cerpennya, dan wawancara khusus, Bung Yusi juga menyumbang dua tulisan. Bagus semua. Bikin pembaca megap-megap antusias.

Mengubah dunia tentu memerlukan keyakinan, ketetapan, kepastian – dalam bentuk ilham maupun dokrin, dan organiasasi dan lain-lain. Berisi tiga jenis tulisan: fiksi,esai, dan dialog. Renyah sekali.

“Saliva, Saliva, hatimu, mulutmu, ucapanmu, semuanya berlendir.”

Oktober tahun ini memang penuh buku. Kukira bakal jadi puncak jor-joran beli buku, ternyata November sejauh ini sudah beli belasan lagi. sulit sekali menghentikan.

Karawang, 161120 – Solomon Linda & The Evening Birds – Mbube (1939)

Fiksi Etnografis Sempurna: Lock for Best Prosa KSK 20

Orang-orang Oetimu by Felix K. Nesi

Ia suka membaca buku. Sekali ia duduk di depan buku, taka da yang bis abikin ia bangun. Saya yakin ia akan enggan naik ke surga bila dikubur bersama buku.”

===Catatan ini mungkin mengandul spoiler===

Oetimu, dulu ini adalah kerajaan Timu Un, sekarang sudah menjadi Kecamatan Makmur Sentosa. Ini kisah tentang masyarakat di sana, menyelimuti segala nasib manusia. Siapa bisa menjamin, jika besok atau lusa, karena perempuan itu juga, Oetimu tidak menuntut kemerdekaan dari Indonesia?

Keren adalah kata pertama yang kuucap setelah menuntaskan baca. Luar biasa, hikayat singkat orang-orang Oetimu dari zaman dahulu sampai tahun 1998, tahun genting peralihan Orde Baru ke Reformasi. Buku ini melibat banyak karakter, dan hampir semua yang ditelusur kisah hidupnya memberi peran signifikan. Membantu menggerakkan plot secara yahud, menjadikan penentu nasib tokoh lain, dan ini hebatnya Bung Felix K. Nesi tak segan-segan menewaskan karakter favorit! Tak ada yang baik konsisten, tak ada pula yang jahat terus, mayoritas sifatnya abu-abu, pas banget dengan kenyataan kehidupan yang fana ini. Eh, kecuali satu karakter yang dungu, nyebelin tak ketulungan. Namun nyatanya, orang bodoh pun dapat durian runtuh gadis jelita yang menjadi impian semua orang. Mengangkang siap diterkam, Hajindul! Asu!

Kisahnya dibuka dengan menyakinkan sekali, di Oetimu tahun 1998 malam final Piala Dunia di Prancis yang meluluhlantakkan Samba tiga gol itu menjadi kejadian menghantar kronik drama panjang ini. Tersebutlah Sersan Ipi yang menjemput Martin Katibi dengan motor bututnya untuk nonton bareng di pos polisi. Satu jam sebelum tragedi pembunuhan itu, mereka menyumpah Amerika, dituduh dalang kekacauan dunia. Ronaldo loyo, Amerika yang dihujat. Khas kaum kadrun.

Nobar itu menjadi petaka buat warga ketika Sang Sersan mengumumkan rencana pernikahannya dengan Nona Silvy, primadona kampung yang masih sekolah, siswa pindahan yang cerdas nan jelita. Dengan hasil separuh babak amburadul dua tandukan Zidane, sang tetua pulang lebih dini, para pembunuh sudah di rumahnya, menyekap anak istri. Mereka tak mengira, sepakbola 2 x 45 menit itu tak penuh, sang tuan rumah pulang cepat! Mendebarkan? Tentu saja, tapi untuk mengetahui nasib mereka kita diajak melalangbuana jauh ke belakang.

Di Lisbon tahun 1974, Julio Craveiro dos Santos akan dikirim ke Timor membantu Mario Lemos Pires dalam proses dekolonisasi Portugal. Rencana awal istrinya Lena dan anaknya 16 tahun Laura akan ditinggal, tapi ketika disampaikan Timor itu bukan Afrika, itu Negara kecil dekat Australia jadi relatif aman, tak bar bar seperti Afrika? Gundulmu! Maka diputuskan sekeluarga dibawa. Rencana dan perkiraan yang bagus itu menjelma bencana, Timor dalam gejolak politik. Ada tiga partai yang berdiri menjelang dekolonisasi: UDT yang menginginkan persatuan dengan Portugal, Fretelin yang menginginkan kemerdekaan penuh – sebelumnya bernama ASDT, dan Apodeti yang kecil dan ingin bersatu dengan Indonesia, Negara tetangga bekas jajahan Belanda. Walau Julio mencoba tak ikut-ikut suasana, mencoba netral tak memihak politik manapun, nasib malang menimpa, menjadikannya korban keganasan politik. Semua tidak baik-baik saja. Sadis sekali kisah hidup keluarga ini. Julio Craveiro dos Santos yang malang. Atas nama rakyat Maurebe, kalian adalah martir-martir pertama.

Legenda Am Siki mencipta kisah tersendiri, kembali ditarik lebih jauh ke belakang di era penjajahan. Am Siki menjadi masyur dan dihormati di seluruh negeri. Namanya harum mewangi dan dikenal ke pulau-pulau lain. Mereka sering menyebutnya pahlawan, yaitu ksatria yang membunuh untuk menyelamatkan bangsa dari cengkeraman Jepang. Ama Nemo Manas Manikin, leluhur salah satu pemimpin negeri. Konon hujan tak pernah membasahinya, angin hanya meniupnya jika mendapat izin, dan bila ia menunggang kuda di siang terik, awan akan berputar-putar di kepalanya, melindungi ia dari sengatan matahari. Segala yang tumbuh di atas tanah itu hanya milik leluhur semata, jika membutuhkan sesuatu, ambillah, tapi jangan untuk berperang. Am Siki turunan orang sakti itu, pohon lontar yang ajaib. Pohon lontar itu membacakan syair dalam uab Meto.

Bagaimana ia menjadi pahlawan sungguh kocak. Am Siki menyelamatkan kudanya yang diperkosa tentara Jepang, tapi ditafsir menyelamatkan bangsa sebab selain membantai Nippon ia juga membakar area romusha. Orang-orang bisa menyelamatkan diri. Lalu waktu menjelma dongeng legenda. Sejak Am Nu’an pendongeng dari Oetimu yang rabun terjun ke jurang yang disangkanya kolam ikan dan mati, orang meminta Am Siki untuk mendongeng. Ia adalah pencerita yang handal, yang bercerita dengan kata kerja yang gampang diimajinasikan dan beragam isyarat tubuh. “Tidak boleh dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Ingat? Tidak boleh diperkosa, sekalipun itu kuda…

Laura yang terlunta berhari-hari dalam keadaan hamil terdampar di Toko SUBUR: Berdiri Karena Sabar. Dikira penyihir saking kumalnya, dikira orang gila. Panggilkan Am Siki, tetua kampung. Maka Am Siki mengulurkan tangannya. Menyulap gadis dekil menjadi jelita. Laura melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Siprianus Portakes Oetimu atau yang kita kenal nantinya sebagai Sersan Ipi yang kita baca di bab pertama.

Ketika lulus SMA, sang kakek angkat mencarikan jalan hidup nyaman. Sebagai tetua adat, ia lalu menyambut pejabat. Am Siki memandang mereka dengan heran dan bertanya bagaimana bisa orang terhormat tidak memahami syair, padahal ia berkata dengan diksi dan metafora yang bisa dipahami oleh orang Timor paling tolol sekalipun. Ipi berangkat pendidikan kepolisian, dan peran sang legenda berakhir sudah.

Ia menjadi seorang polisi tunggal yang gagah, ditakuti anak-anak sekaligus dihormati sebagian kalangan. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia adalah aparat Negara yang berseragam, ia akan bertindak atas nama Negara, demi kebaikan daripada seluruh warga Negara. Dia menjaga keamanan wilayah, suatu hari dua siswa berkelahi karena permasalahan mimpi basah. Kalian boleh mimpi basah dengan siapa saja, dengan Nona Silvy, dengan istri A Teang, atau dengan Lady Diana sekalipun. Namun jangan berkelahi, demi Tuhan, kalian hanya bocah bodoh, kencing saja belum bisa bikin lubang tanah. Belum tahu dia, betapa jelitanya Nona Silvy ini. Maka ketika ia ke rumahnya yang sepi, ia gemetar jatuh hati. Bagian ini sampai melenguh lega adalah bagian terbaik, anjay kalau saya bilang. Pertama ketemu bercinta, dan saling mengikat. Menghamili adalah cara lain untuk melamar. Silvy yang cerdas memilih calon ayah bagi anaknya, Ipi yang lelah karena hobi nganu-nya menemukan sarang yang pas. Kalau ini adaptasi Disney, garongnya keok. Namun enggak, ini adalah hikayat orang sial.

Tersebut pula Atino yang membela Negara, memberantas radikalisme para pemberontak. Apes pula nasibnya sebab sebuah serbuan maut membunuh keluarganya. Dengan dendam kesumat, ia menjadi pasukan Petrus-nya Soeharto, sambil mencatat para pembunuh untuk balas dendam. Sampai di sini tentu saja kita tahu, di bab mula bahwa ia merencana balas dendam, dan Martin Katibi tentulah salah satu dalam daftar.

Untuk kembali ke benang putus bab satu, kita masih diajak muter ke sebuah kehidupan lain. SMA Santa Helena yang termasyur itu dituturkan dari mula sekali. Romo Yosef ditugaskan menjadi kepala sekolah bobrok pesisir karena hukuman. Ia sukses mengubah sekolah kumuh menjadi sekolah favorit, banyak trik. Orang-orang cepat jatuh hati pada kemiskinan dan selalu ingin menjadi pahlawan. Dari sumbangan dan kerja keras. Bagaimana ia di ditempatkan di sana memang misteri. Ada yang bilang ia melakukan pelanggaran, ada yang bilang ia naik pangkat setelah menjadi asisten pastor ia kini menjadi orang nomor satu, walau terkucil. Tenang, kita akan diberitahu detailnya, karena dari Maria Goreti Naleok-lah sumber itu. Masa muda Maria yang idealis di kampus bertemu calon pelayan Tuhan yang kalem. Untuk menutupi gerakan mahasiswa, mereka membentuk Kelompok Doa Mahasiswa Ora et Labora, dan laki-laki itu turut serta. Lelaki berilmu yang dingin kepala, akan betah bersama perempuan yang cerewet dan suka mengumpat. “Jika kita selalu menjadikan Tuhan sebagai pelita, sebagai penuntun jalan kita, maka kita pasti bisa menjalani setiap cobaan di dunia ini.” Mereka saling cinta, terjadi berkali-kali ciuman panas, Maria sudah menyatakan ketertarikannya, tapi Yosef sudah membulatkan tekad menjadi pastor. Maka melalui ciuman panas perpisahan, Mari melanjutkan hidup menikah dengan lelaki Rumah Sakit bernama Wildan. Keluarga ini sempurna ketika buah hatinya lahir. Bung Felix tertawa, sebuah kecelakaan menewaskan suami dan anaknya, dan Maria menjanda. Seorang cerdas ini mendapat nasib buruk.

Nah, janda ini melakukan ciuman dengan Romo Yosef, masih ada cinta di antara mereka. Adegan hot itu ketahuan sang kepala, maka ia harus angkat kaki. Nasib akhir Maria sendiri membuat merinding. Orang cerdas tak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan, banyak impiannya tak terkabul, cinta, karier, keluarga ini. Rapuh. Di pemakaman suami-anaknya ia mengumpat, umpatan yang fasih dan menggelegar di arena dukacita. “Kesatuan Negara? Kesatuan Negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya… Sangkamu kesatuan Negara lebih penting daripada… puih! Anjing!”

Kita kembali ke Silvy Hakuak Namepan yang lulus seleksi masuk SMA, Yunus Mafut Namepan menangis seperti gembala kehilangan sapi, bukan bahagia, tetapi ia menangis sebab terus-terus merasa gagal menjadi orang tua. Nasib Yunus sendiri mengambang. Setelah ditinggal istrinya Yanti yang kabur sama laki lain, ia mengalami degradasi mental. Guru yang terpuruk. Nah, Silvy putri tunggalnya ini cerdas, membuat heboh sekolah asrama ini. Sebab kerap ia menyela penjelasan mereka dan mengajukan argumen lain dengan sumber data yang jelas dan landasan berpikir yang kuat. Tak ada yang bisa membantahnya. Kecerdasan ini membuatnya diminta keluar kelas, diminta belajar mandiri dalam perpustakaan pribadi asrama. Kita tahu ada adegan mesum di dalamnya karena suatu ketika sang kepala sekolah pulang dalam keadaan demam, dan terjadilah apa yang yang menjadi penyebab Silvy ke Oetimu.

Satu tokoh lagi yang menjadi link adalah Linus Atoin Aloket. Dari enam ratus delapan puluh Sembilan orang sarjana laki-laki yang melamar, ia satu-satunya yang diterima sebagai guru SMA Santa Helena. Karakter bodoh yang aneh nan menjengkelkan. “Di dunia yang fana ini, uang bisa membeli kebahagiaan kalau kau tahu cara menggunakannya.” Menjadi guru sejarah tapi nggak nyambung masalah masa lalu. Apa pula gunanya berpikir? Ia hanya perlu bekerja. Kerja, kerja, dan kerja. Biarkan Romo Yosef yang berpikir. Tokoh paling menjijikkan ini menjadi kunci utama untuk menyambungkan adegan pembuka, mengapa Silvy pindah sekolah diantar Om Lamber dan Tanta Yuli.

Di Oetimu, segala yang ditata rapi itu berakhir berantakan. Saya suka sekali kisah hidup tragis, Bung Felix menyajikannya dengan melimpah ruah, suram adalah koentji. Orang-Orang Oetimu adalah novel lokal terbaik yang kubaca tahun ini. Serius!

Hajindul, keren banget! Sabtu malam kemarin (26/09/20) saya chat WA sama teman diskusi (buku, bola, film) – Bung Tak saya memanggilnya – bahwa pemenang KSK tahun ini adalah Orang-orang Oetimu, beliau punya podcast channel dan mau undang ngobrol. All hail mokondo channel! Beliau tanya, tahu dari mana? Pengalaman membaca banyak buku membentuk pola, otomatis feeling bagus/jeleknya bisa diperkira. Benar saja, esoknya di Minggu siang yang terik saya mendapat kabar lima besar dari Dunia Maya, dan buku ini melaju. Nah kan! Dari delapan buku KSK 20 yang sudah kubaca, ini satu-satunya yang berbintang lima. Masih dua buku lagi sore itu baru diterima via pos, tapi keduanya sudah gugur duluan. Jadi fix, bisa dipastikan juara Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 kategori prosa adalah novel ini.

Banyak sekali kritik sosial disampaikan. Korupsi, perilaku buruk masyarakat, sampai birokrasi yang ribet. Orang-orang itu telah korup sejak dalam pikirannya, sehingga satu pejabat korup hanya akan digantikan oleh kroninya yang juga korup, dilindungi oleh rezim yang juga korup, dipermudah oleh sistem yang juga korup, dan didukung oleh budaya tidak tahu malu yang menjijikan. Atau kritik kekerasan dalam pendidikan. Dalam asrama itu diperboleh. Tak apa jika mereka dibikin nyonyor dan berdarah-darah. Lebih baik berdarah di masa muda daripada hancur seluruh masa depannya…

Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 ini sepertinya akan berpesta di 15 Oktober nanti. Fiksi Etnografis Sempurna: Orang-Orang Oetimu is lock for best Prosa KSK 20. Wanna bet?

Orang-orang Oetimu | by Felix K. Nesi | Penerbit CV. Marjin Kiri | Juli 2019 | Cetakan ketiga, Februari 2020 | i – viii + 220 hlm, 14 x 20.3 cm | ISBN 978-979-1260-89-3 | Desain sampul TINTA Creative Production | Skor: 5/5

Karawang, 280920 – Jo Stafford – Autumn Leaves (1950)

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokopedia

Delapan sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Nasib Mang kAslan Kita yang Menentukan

Rab(b)i by Kedung Darma Romansha

Memang kadang dunia bekerja dengan tidak adil… Telembuk yang diludahi di muka umum, juga diludahi ketika di dalam kamar.”

Kalau ngomongin Kedung Darma Romansha, bukunya akan selalu berkutat di selakangan. Kelir Slindet sangat kental ke arah sana, Telembuk lebih ekstrem lagi. Maka apa yang kurasakan di tengah gempuran Rab(b)i sudah kukenali pola itu. Buku ketiga yang kunikmati, ngalir saja, ga perlu mikir aneh-aneh, ketawa sahaja. Seperti satu-dua yang butuh waktu lebih untuk ‘tune in’ sampai buka kamus arti ‘slindet’ atau arti ‘telembuk’ yang baru kutahu, tak heran sejak cerita pertama saja sudah bisa menebak, bagaimana enggak aneh? Istri jadi TKW, kasih modal suaminya di kampung buat niduri seratus pelacur! Selain dari judul yang dicoret, ada alasan poin penting yang akan diungkap di cerita ketiga.

Novel yang tiap bab bisa berdiri sendiri, dari sudut pandang banyak karakter, saling silang melengkapi. Sang Diva, tokoh utama di kisah sebelumnya, kini hanya cameo, sesekali saja muncul dan disebut.

#1. Kaji Darsan Rab(b)i

Hikayat orang kaya yang baik hati memberi pekerjaan kepada orang susah. Sampai akhirnya kita tahu, tak ada yang gratis di dunia ini. Kisahnya tentang suami tak tahu diri. Seorang pemimpi tak tahu diri, sebenar-benarnya pemimpi. Kerjanya hanya melamun dan berjudi.

Tentang Kartamin dan keluarganya yang bekerja di toko kelontong milik Kaji Darsan, padahal sejatinya ia dijanjikan jaga empang, di menit akhir diganti orang lain, kisah Dulatip akan dibeberkan di cerita berikutnya.
Namun kita akan mengenal lebih dekat sama putra sulungnya yang beruntung bernama Untung. Menikahi Wasti dengan adegan ketiaknya (jorok woy!). “… Kamu tahu, kalai bau ketiak laki-laki itu menyenangkan?” Menjadi istirnya, nantinya juga menjadi ATM-nya ketika memutuskan jadi TKW. Emang dasar Untung, malah rabi lagi sama Nurlaila yang suka peliharaan ayam. Drama itu menemui ujung udur dua istri. “Wah hebat kamu, suamiku perkasa!”

Pembuka yang mantab sekali. Ilustrasi cover-nya sangat pas, ayam jago santuy sementara dua babon padu. 20 juta tunai!

#2. Nar

Tentang Narka yang yang menjadi tukang parkir untuk dapat duit buat nyawer. “…Saweran adalah candu bagi setiap pemeluk dangdut garis keras. Kamu sendiri pemeluk teguh, tentu juga aku.” Bergoyang bersama Diva Fiesta adalah impian setiap pemuda untuk mencium aroma tubuhnya dan menatap aurat kecantikannya dari dekat.

Ini drama keluarga, urusan suami-istri yang bertengkar karena ekonomi. Namun suatu ketika Nar memiliki surpes, kejutan buat rabi-nya. Zaman sudah berubah, lakon sudah berubah, tapi masih menyukai cerita lama. Memang kadang cinta membuat seseorang bersikap tak wajar.

Jangan membantah suami, Dosa!” / “Membantah suami kalau kayak kamu ini dapat pahala.”

#3. Juragan Empang

Alibi dibalik kenapa Kartamin gagal mendapatkan pekerjaan urus empang ada di sini. Dengan sudut pandangnya yang menjadi karyawan Pak Kaji, dan istrinya yang ngambek. Kartamin merasa beruntung diberi pekerjaan oleh Kaji Darsan, pendapatannya yang labil sebagai buruh tani, buruh bangunan, atau serabutan lain selain nganggur, kini ia bisa bernapas lega. Ada yang aneh terkait istrinya yang semok berhari-hari ga mau rabi, bahkan saat diberi kejutan gelang emas di meja kamar. Sebab ngambeknya lalu dituturkan dengan santuy dan menghentak, lewat kamar yang sedikit terbuka, dan permintaan cerai!

Ia ingin membeli kesenangan setelah lama kami hidup serba pas-pasan.

#4. Ngarot

“…Ia juga punya istri mirip tukang pukul. Suka membentak, ia tersenyum hanay ketika melihat uang.aku berani bertaruh, siapapun laki-lakinya, hasrat seksualnya akan turun jika bertemu perempuan seperti dia…”

Ini mungkin cerita yang paling biasa. Bagaimana nasib pemuda-pemudi yang dipilih jadi ngarot. Ditemui typo juga, harusnya tiga bulan tapi malah tiga tahun. Rasmini yang terpilih dalam acara kasinoman dalam upacara Ngarot, muda-mudi dengan darah segar mendebarkan. Memilih laki-laki perjaka, dan gadis perawan. Indikasi bunga layu akan menunjukkan keasliannya sudah tak suci lagi.

Drama di tengah sawah dengan Mang Sukri. Duh! Pulung guna pulung sari. “Semua orang takut sama kakakmu, tapi rasa cintaku lebih besar dai rasa takutku.”

#5. Menjaring Bidadari

Nelayan yang diajak melawan pantangan, melaut di kala purnama. Kegiatan yang katanya membentuk kutuk sulit jodoh, menurut Kaki Bayong. Hanya di kampung ini Tuhan menurunkan bidadari di kala purnama. Bertiga melaut, memang benar-benar tak dapat ikan. Lalu acara sambatan pasar jodoh muda-mudi di malam itu menjadi pahit, karena Narka malah mendapat apa yang ia mau. Hiks,…

Selama ini yang mereka lakukan adalah kesia-siaan. Kasihan mereka, sudah hidup susah, malah disumpahi masuk neraka.

#6. Kang Sodikin

Kiai mbeling putra Kiai Soleh dari desa Rajasinga yang bergaul tanpa memisahkan kasta. Isi ceramahnya juga nyeleneh, lebih membumi. Gaul dengan siapa saja, tak peduli telembuk atau jelata yang membutuhkan siraman rohani. Kisah ini menemui titik akhir, bagaimana malam-malam ada perempuan menanyakan alamat Kang Sodikin, fitnah itu kejam. Maka Dorman dkk yang punya dendam lalu melancarkan isu negatif, menggelar demo ke rumahnya, walau peserta segelintir (tak lebih dari sepuluh). Jawabnya bikin geger, tapi bohong!

Sebuah misteri terjawab, Sang Diva disebut lagi. “Wujud nyata yang paling dekat dengan Tuhan di dunia ini adalah perempuan.”

#7. Lebar-an

Ini unik, walau bukan pola baru mengungkap sebuah kengerian pribadi yang meninggal. Bagaimana sebuah pos ronda menjadi tempat diskusi maksiat guna melancarkan aksi curi, tempat yang seharusnya menjadi titik kumpul penjaga keamannya malah menjelma ajang judi dan perencanaan merampok. Jelang lebaran, kebutuhan manusia turut meningkat, dan marak begal dan kriminal.

Dengan sudut pandang Aan yang merindu suasana kampung setelah kuliah keluar kota, momen lebaran memang jadi waktu lepas rindu keluarga dan sahabat lama, ada Casta dan Kartam yang saling curhat masalah keluarga. Menanti sobat lama Yusup alias Kriting apakah mudik tahun ini, ia merantau ke Jakarta (tepatnya Bekasi). Ketika sudut pandang berganti, tahulah kita apa yang terjadi. Rindu itu berat, biar aku saja. Baju baru, celana baru, jam tangan palsu baru…

Di tepi jalan ini kami biasanya membakar singkong tanah sambil membicarakan kerumitan hidup, perempuan, kelakar, dan omong kosong lainnya.

#8. Asbabul Wurud

Siapa yang sanggup menjawab rahasia mimpi-mimpi? Ustaz Karim, sebab orang takut mati adalah orang yang imannya lemah dan cinta dunia.

Banyak-banyaklah beribadah, jangan mau diperbudak dunia. Setelah meyakinkan untuk siap mati, beliau malah mengalami mimpi buruk, yang ia yakini datangnya dari setan. Namun sampai lima malam, ia bermimpi masuk neraka dengan adegan lain seorang telembuk masuk surga. Wajah ayu yang menghantuinya, lalu ia buka facebook-nya Mang Kaslan dan mengetahui siapa gerangan. Si Ratu Goyang yang rajin sedekah, Si Nadira Cantik alias Warjem. Masa lalu diungkap tentang sumbangan dari uang haram. Nah lo!

Pesantren yang sebenarnya ya sekarang, di tengah masyarakat.

#9. Jangan Tanya Dulu Bagaiamana Aku Mati

Kata ‘seandainya’ hanya akan membuatmu terpuruk dan lupa diri. Kamu akan menjadi orang yang tak waras dan akhirnya mengutuk ketidakmampuan diri sendiri. Ini kisah unik, kisah dari sudut pandang si korban pembunuhan, yang sudah baca Telembuk pasti tahu siapa germo Diva Fiesta, yang tewas dibacok orang tengah malam di tengah sawah. Kisah dituturkan runut dari masa lalu Mak Dayem, usia 12 tahun menjadi istri siri, menikah kedua kali kacau lagi, menikah ketiga kali sejatinya lebih tenteram, syarat tidak nelembuk malah dilanggarnya. Kalian tahu? Ialah ibu dari Warjem. Namun bukan itu kejutannya, ini adalah kisah mistis mediumisasi.

Kenyataan hidup telah mengubah cinta menjadi pembunuh yang paling mengerikan.

#10. Mang Kaslan

Jangan macam-macam dengan nama, karena nama adalah doa.” Mang Kaslan yang merasa jadi singa, karena namanya sempat menjadi Aslan (singa – bahasa Turki). Ia adalah karakter penting yang jadi penghubung, menjadi ojek Diva dan Warjem, yang menjadi rujukan Ustaz Karim dalam menelusur dunia maya, yang jadi penjawab tanya, Safitri atau Sapitri? Pipit atau Fitri? Nah, kali ini di tengah perjalanan satu setengah jam bersama motor tuanya, ia terjungkal. Dan nasibnya kita yang menentukan.
Marah pada diri sendiri dan tak sanggup menghadapi kenyataan yang sedemikian pahit.

#11. Mengenai Pengarang

Pernah nyaris kusingkirkan novelnya (walau sudah kubeli) karena ada unsur ‘Roma-nsha-nya’ di nama belakang, tapi urung setelah sosmed mencipta hubung, memastikan bukan Romanista. Penulis Indramayu yang pernah mondok di Yogya, dan kuliah jurusan Bahasa dan Sastra di UNY. Boleh jadi semua yang ditulis tentang tanah kelahirannya adalah fiksi, tapi bercerita tentang dunia sekitar adalah hal wajar dan tentu saja tampak sangat nyata, ga perlu telaah mendalam untuk bilang tokoh Aan adalah gambaran Kedung, walau nantinya keduanya berinteraksi. Makanya tampak perkasa dan baik hati, dan eeheemmm… soleh. Lulusan pesantren! Tahun 2017 Telembuk yang luar biasa, sangat tipis untuk meraih juara KSK, apes saja Dawuk muncul di tahun yang sama. Prediksiku, Rab(b)i akan melaju lagi ke lima besar, sejauh ini ada tiga yang berskor: 4.5 bintang. Mari kita lihat, sehebat apa mantra Kaji Darsan mewujudkan mimpi penciptanya, moga ga sampai keselek mlinjo.

Kalau boleh kasih saran, buku berikutnya sesekali mencoba jauh dari tema yang membentuk citranya sebagai penutur sekitar selakangan. Misalkan, bikin cerita genre fantasi imajinasi, perjalan ke galaksi Bima Sakti. Atau tentang kekayaan flora dan fauna laut, berjuang membantu Aquaman, misalkan ya ini. Jangan ketawa, kan sekadar contoh. Namun percuma juga sih, seandainya dibuat, tahunya astronot mesum ketemu alien nongkrong atau nelayan yang terperangkap putri duyung yang lagi cari mangsa. Duh! Nelembuk enak, setelah maninya muncrat, langsung gajian. Mudah, praktis, dan enak. Bayangkan di luar angkasa, atau di tengah laut. Maninya melayang.
Hehehe…

Tambahan dikit, ada nama Dea Anugrah di sini. Dua kali saya menemukan namanya disebut dalam novel. Pertama dalam Dekat dan Nyaring-nya Sabda, sekilas lewat cameo di akhir, kedua di sini, sebagai sahabat tobat. Asyik juga ya menyebut sobat Penulis dalam buku. Sungguh terasa istimewa Sang Bakat Menggonggong ini, apakah sebuah konsolidasi?

Rab(b)i | by Kedung Darma Romansha | Copyright 2020 | Penyunting Anis Mashlihatin | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Ilustrator sampul Hidayatul Azmi | Penata sampul dan isi M. Sadam Husaen | Cetakan pertama, Juli 2020 | Penerbit Buku Mojok | viii + 136 halaman | 14 x 21 cm | ISBN 978-623-7284-30-7 | Skor: 4.5/5

Karawang, 170920 – Yusuf Islam – Father and Son

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokped

Empat sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Realitas Merenggut Mimpi-Mimpinya

La Muli by Nunuk Y. Kusmiana

Tahukah kamu, Inah, nelayan sepertiku tidak bisa memilih-milih. Aku tidak benar-benar tahu ikan apa yang memakan umpanku. Cukup sering menangkap penyu dan terpaksa kulepaskan. Meski hati ini sedih mendapati mulutnya yang terluka karena kailku.”

Buku kedua dari Nunuk Y. Kusmiana yang kubaca setelah Lengking Burung Kasuari yang memukau itu, debut yang sukses berat. Kali ini temanya lebih variatif, mengambil sudut pandang penduduk asli Papua yang ditunjuk menjadi ketua RT, mencoba memecahkan masalah warga, menjadi penghubung pemerintah dan penduduk asli dan juga pendatang. Sebagai nelayan yang baik hati. Pondasi utama cerita ini adalah sebuah sumur yang terbuka yang coba dibuatkan dinding agar tak terjadi porno aksi, mereka dianggap melakukan mandi dengan porno sebab area terbuka, mengenakan sarung untuk dewasa dan telanjang bulat untuk anak-anak. “Masuk neraka saja komandan itu. Bikin susah semua orang, mentang-mentang dong tidak pernah mengalami susah air.”

Kali ini seolah tokoh-tokoh penting di Lengking menjadi tokoh pendukung saja. Bu Letnan adalah perwujudan ibunya Asih yang membuka toko kelontong. Kisahnya hanya berkutat di Papua, ujung Timur Indonesia yang bergabung dengan Indonesia 1969. La Muli adalah ketua RT yang terpilih, tak berpengalaman berorganisasi, warga asli kebanyakan yang tak terlalu mengenal birokrasi, mengalahkan La Ode Komarudin yang lebih kaya dan telah lama diakui berkuasa (walau tak sah). Istrinya Mutmainah (dipanggil Inah) adalah pribadi yang sederhana pula, berpikir praktis yang penting dapur ngebul, ada ikan yang dibawa pulang. Urusan dinding yang rumit, tak menghasilkan uang atau makanan membuatnya muak. Sejatinya hampir semua istri juga gitu-kan, “Cari duit kakak, bukan pangkat atau jabatan!”

Sebagai nelayan kecil, La Muli menjadi presensi nyata kehidupan warga kebanyakan. Tidur awal menjadi kemewahan tersendiri bagi nelayan seperti dia. Dibuka dengan masa kecilnya yang absurd bahwa ia akan menjadi orang penting yang disampaikan berkata-kata oleh kakek berambut putih yang dianggap gila, tapi ramalannya jitu. Ketua RT yang (mencoba) mengayomi, istrinya terlihat ngalir saja hidup. Pakai seragam? Enggak! Dapat gaji? Enggak! Apa pentingnya?! “Pekerjaan ini adalah kontribusi nyata warga bagi tertib administrasi.”

Suatu ketika dapat instruksi dari Komandan untuk membuat dinding di sumur umum agar tak menjadikan porno aksi, hal sederhana ini lalu memicu rentetan panjang masalah. Iuran warga per Kepala Keluarga (KK) dua puluh lima ribu rupiah, menjadi beban. Bukan macam gini, main buka mulut saja, macam uang tinggal ambil di pohon-pohon. Tak semua mau memberi, ada yang bayar tunai, ada yang bayar separuh, ada juga yang tak mau bayar. Pak RT mumet. Polemik pertama muncul dari pelacur berambur lurus, Sarita yang tinggal menyewa rumah La Rabaenga, belakang rumah Wa Ome. Ketika ditagih, malah menyampaikan kabar untuk menagih ke palanggannya yang utang, La Udin. Dalam rapat, walau La Muli tak menyampaikan langsung salah satu masalah penarikan iuran, hanya tersirat, tetap membuatnya marah. Suatu malam, La Udin melakukan tindak kekerasan yang berakibat Sarita harus dirawat di rumah sakit. Ada warga mendengar jerit sakitnya, tapi malah pasif sama ‘Bibi’, soalnya sudah terbiasa mendengar jeritnya. “Menantuku dengarkan ini, kalau ada kejahatan sedang terjadi dan kita diam saja, padahal kita mampu melakukan sesuatu, bukankah kita ikut berdosa?” Jangan bayangkan rumah sakit yang mewah dan mudah dijangkau, di sana urusan medis juga rumit dan sebagai ketua RT, ia harus mengantar. Waktu dan tenaganya tersita banyak.

Di sinilah seninya, urusan dinding sumur merembet ke yang lain. Bahkan eksekusi endingnya ketika dinding jadi-pun masalah bukannya selesai, malah melebar ke lain hal pula, karena dinding itu bermasalah (saya bocorin dikit, masalah cakar ayam!) lalu malah La Muli dituduh korupsi dana warga. Astaga… mau mandi nyaman dan aman saja ribetnya. “Mengapa ada orang yang tega mengurusi bagaimana caranya orang mandi?”

Buku ini juga terasa bervitamin, dengan menyodorkan fakta-fakta kecil yang asyik. seperti pola tidur nelayan yang menyesuaikan jadwal kerja. “La Muli masih tidur, kamu akan sulit membangunkannya, meskipun kamu meledakkan bom di telinganya. Beginilah nelayan sejatinya, atau kamu bisa kembali sedikit siang, ia akan bangun saat itu.”

Fakta permainan harga untuk komoditi ikan, saat bulan terang dan saat ada badai, harga ikan melambung tinggi seperti harga emas. Mirip dengan budaya pertanian yang mana, kala panen raya justru harganya terjun. Atau hal sepele tentang sopan santun berpakaian ketika menghadap orang penting, “baju diseterika membuat bapa kelihatan penting.”

Tentang tata cara berniaga ada yang bikin trenyuh, bagaimana ada yang jualan hasil kebun dari pulau seberang. Pulau Muna yang jauh, mengangkut hasil alam untuk dijual di sana, dengan mengarungi laut dua hari berperahu seadanya, bersama angin yang menggerakkan layar terkembang! Gilax, terdengar janggal tapi juga nyata. “Selamat datang, selamat berjuang di tanah rantau yang keras ini.”

Di Papua nuansa reliji juga kental. Sayangnya Allah kelewat sibuk bekerja, sampai-sampai aku mendapat ‘kembung-kembung’ yang tidak berharga ini, dan teri yang jauh tidak ada harganya di pasar. Rasanya aneh debat suami-istri ini, saling silang pendapat. Dua orang yang berdoa kan lebih kuat daripada hanya satu orang, “Kurasa kalau kau ikut berdoa, Allah akan menutup kupingnya, karena kamu selalu berdoa dengan berisik. Kalau kita berdoa untuk mendapatkan hanya ikan yang tidak kelewat besar. Mungkin Allah akan mendengar doamu dengan mendatangkan ikan-ikanyang tepat.”

Satu lagi fakta asyik. bagi kita ngopi bergelas-gelas dengan aneka rasa dan merek sudah biasa, dan setiap saat juga bisa. La Muli dan uring-uringan istrinya yang kekurangan dana, buat kopi manis saja jarang-jarang. Sebuah kejadian langka, ngopi manis dan nyaman dengan buku atau HP. Maka ketika bertamu ke Sarita meluruskan masalah dan mendapat suguhan kopi, bersama Letnan. Respon keduanya berseberangan. Pak Letnan yang berkecukupan, menganggap kopinya basa-basi yang tak menarik (bahkan tak diminum!), lain halnya Pak RT. Ia mencecap dan menikmati setiap seruputannya. La Muli membayangkan akan kenangan kopi manis di rumah Sarita. Mulutnya bahkan masih bisa mencecap rasa manis yang tertinggal di sana. Haha… bersyukurlah wahai umat santuy sekalian.

Tentu saja kita harus angkat topi untuk pemilihan diksi, dibawakan dengan meriah dan renyah. Mencipta nyaman para pembaca guna mengikuti alirannya. Bahkan dengan menatap pohon pisang dengan tanpa alasan yang jelas dan menanyai tentang jenisnya. Sebaris kalimat sederhana yang mumpuni. Atau penutup paragraf berujar: Senja lenyap seperti satu tiupan napas. Malam pun datang. Nah! Sastra yang asyik-kan, tak perlu kerut kening untuk dunia jauh, dituturkan dengan porsi adonan kata pas. “Dinding yang bagus, aku ikut membangunnya.”

Nilai minusnya, ada beberapa misal: terlampau sering menyebut ‘batok kepala’ sebagai ungkapan ada pemikiran yang akan atau tertahan untuk disampaikan. Sekali dua sih OK, tapi ini udah kebablasan. Tema sumur sempat akan membuat boring, konyol sekali, sampai sebegininya urusan air bersih. Untungnya temanya diperlebar ke lainnya, terutama ketika Inah memutuskan terjun ke laut saat ‘bertemu’ teman lama Zubaidah, teman Mutmaimah satu-satunya di perantauan mati bunuh diri. Kisah menjelma abu-abu, memudar dan melejit lagi dalam bayangan. “Jangan mengingini yang aneh-aneh Idah, tidak baik menyimpan pikiran macam itu.”

Tema kritik pemerintahan juga tersebar di banyak halaman, tank bekas Perang Dunia II di lepas pantai yang akan dibeli (oleh orang Jawa), menjadi polemik suku asli. Besi rongokan yang oleh kaca mata awam otomatis berpikir, buat apa? Dihargai oleh orang jauh, buat museum misalnya. Papua besarnya tiga setengah kali pulau Jawa luasnya. Lalu kritik terhadap birokrasi, “sering kukatakan kepada anak buahku harus menangani kampung kacau-balau ini dengan tegas, tapi tidak kasar.” Dan terutama sekali ketika Bapa Ondoafi dan anaknya menghadap Gubernur. Kelihatan sekali itu suara hati sebagian rakyat, orang-orang Pemerintah itu hanya mau menafsirkan hukum yang menguntungkan mereka saja. Tentang hak guna tanah, hak kelola dong tapi dimaksudkan jual beli. Dengan naskah kumal dan kuno sebagai bukti? Kritik nyata dalam sastra. Jadi kalau kalian membenci penjajah, atau merasa nenek-moyangnya didzolimi, sampai mengutuk keras Belanda atau Jepang atau segala penindasan yang melatari segala hubungan bilateral, pikir lagi! Sangat jelas, bangsa kita juga melakukannya hal serupa. “Sudah kuduga akan begini.”

Debat suami-istri ditampilkan tak hanya La Muli dan Inah. Pak Letnan dan istrinya yang menjaga kios juga sesekali muncul. Walaupun kita sudah banyak menikmatinya dalam drama Lengking Burung, di sini sisa-sisa sausana kehebatan Bu Yatmi masih terlihat. “Dia itu polisi, Bu. Aku tentara, beda urusan… Dia urusan sipil aku urusan perang, beda jurusannya.” Asyik. Sehat terus #Wildan!

Ditemukan beberapa kata tak baku, misal ‘hutang’, typo juga berkali-kali ditemukan contoh: ‘bagaiamana’, ‘istrtinya’. Bagian teknis yang bagus tentu saja ada di covernya yang keren. Suka sama ilustrasi sederhana gini. Urusan cetak kertas buram atau hvs bagiku tak terlalu pengaruh yang penting jilidnya OK. Kalau boleh saran, editingnya harus ditingkatkan, triple check kalau perlu. Proof reader itu penting, sangat dianjurkan! Ini adalah satu dari rangkaian paket KSK Daftar Panjang dari Basabasi, yang tahun ini mengirim empat wakil! Wow… untungnya #unboxing pertama ini, bagus. Jadi ada antusiame lebih guna melanjutkan. Prediksiku, dengan skor empat setengah bintang (skor yang sama kuberikan untuk Lengking Burung) rasanya sangat pantas masuk daftar pendek. Tema mirip dengan Burung Kayu yang kemarin selesai baca (suku pedalaman, ketua RT/Kepala Desa, sampai budaya lokal yang tergerus), tapi jelas pembawaan La Muli lebih mantab, lebih hidup, lebih asyik, lebih terasa lelehan nikmat di setiap halamannya, bisa jadi sebab Nunuk mengambil setting tempat ia tumbuh, sudah menghirup dalam-dalam bertahun latar yang dicerita, singkatnya tempat yang sudah ia sangat akrabi, jadi memang seolah mencerita pengalaman pribadi. Good!

Ketika laut mampu memberimu apa saja, mengapa mengais-aisnya di daratan? “Pendek saja doanya, Allah tahu bagaimana terdesaknya kita dengan waktu.”

La Muli | by Nunuk Y. Kusmiana | Editor Faisal Oddang | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Tata sampul Sukutangan | Tata letak Ieka | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, Maret 2020 | Penerbit Basabasi | 200 hlmn, 14 x 20 cm | ISBN 978-623-7290-78-0 | Skor: 4.5/5

Karawang, 160920 – Linkin Park – Plc 4 Mie Head

Thx to Basabasi Store, Titus Pradita, Shopee.
Tiga sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Kami Berjodoh

Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa by Andi Eriawan

“… Asalkan kamu berdamai dengan hatimu, kamu akan menemukan jawabannya di sana.” – Bundanya Pram

Ini novel membuatku takjub tahun 2000-an, bukunya Jemy K (teman sekamar di Ruanglain_31, Cikarang) yang turut ditaruh di rak kecilku, dipinjam teman lalu tak tentu arah, entah siapa yang pinjam dan tak kembali. Hiks… Generasi Dilan akan shock ketika tahu ada cerita cinta sejoli Bandung yang mengharu biru dengan belitan romansa jauh lebih berkualitas. Dua kali baca, dua kali pula mewek.

Kisahnya tentang Laila, gadis Bandung yang dicintai penuh tanpa syarat oleh Prameswara, jejaka Bandung pula yang istimewa. Mereka telah menjalin asmara selama Sembilan tahun, sebuah angka pacaran yang luar biasa, tapi pembukanya adalah sendu, karena Laila menerima paket pos berupa jam dari Pram di ulang tahunnya. Posisinya mereka sudah putus, dan Laila yang merasa tak enak hati, menelusur kenangan. “Kamu begitu sempurna dengan ketidaksempurnaanmu.”

Alur lalu dibuat acak, kembali ke masa sekolah pertama kali bertemu, Pram seperti Dilan merayu dengan gaya. Suka nulis puisi, cita-cita arsitek, jago gambar, penyendiri. Mencintai Laila yang cantik jelita, suka cubit, ceria, dan nggak suka kaun kol. Sudah saling cinta sejak sekolah, dan apapun yang terjadi sudah pula mendeklarasikan jodoh. Selamat datang di kehidupan dewasa, segala ujian waktu mencoba menggoyahkan.
Pram terlihat sangat dekat dengan orang tua, terutama Bundanya. Segala cinta dan keseruan dunia remaja dicurahkannya, Laila adalah pujaan yang diwujud lukis pajang di kamar, rumahnya yang jauh dari hiruk-pikuk kota, masih asri. Laila juga tampak baik-baik saja, keluarganya welcome, bata-bata kehidupan terus disusun. “Mencintai tidak butuh alasan, tapi menikahi seseorang membutuhkan alasan.”

Riak-riak itu dimunculkan dalam berbagai daya dari luar. Teman lama Laila semasa SMP datang lagi dalam kehidupannya, Bubung yang baik dan pernah menyatakan cinta. Ketika mendaftar ke ITB jurusan penerbangan, ketemu. Dan jadi kakak kelasnya. Laila adalah satu-satunya cewek di angkatan itu, tiga cowok kesemsem, Laila jelas mahasiswi tercantik. Pesonanya tak terbantah. Pasca lulus, Bubung dapat kerja sebagai engineer di Malaysia Airline, menjauhkannya sementara. Namun cinta Bubung memang kuat, berjanji akan merebut Laila dari Pram, memberi cincin nikah diamond mahal, walau saat itu ditolak, Bubung meminta balik nantinya pas nikah atau saat ketetapan hati sudah final. Memperlakukan Laila seolah ia adalah perempuan terakhir di dunia. Setiap jutaan hal kecil yang dilakukan terasa begitu istimewa.

Pram masih dengan dunia imajinya sendiri. Mengaku sebagai penjelajah waktu, gombal ala Dilan. Hidup di era Majapahit, era kemerdekaan, era Kasultanan Malaysia, jadi manusia lama di Siberia, dst. Mimpi itu tampak nyata dan sungguh kuat. Bualan itu hampir saja memberi percaya. Setidaknya buat Laila, bukti-bukti terpampang. Apalagi saat perjalanan ke Malaysia, ada tautan di sana. Nah, di Negara tetangga itu Bubung belum menyerah. Membantu Laila selama tinggal di sana sebagai tenaga bantu proyek kampus. Terharu, dan sungguh miris melihat perjuangan lelaki ini. Cintanya pada Laila sungguh gila, tapi jawaban yang tegas memang diperlukan dan sudah berkali-kali diucap. Finalnya, kami berjodoh. Takdir, siapa yang bisa melawan? Bahkan ketika manusia sudah sempurna merencana, takdir pula yang menghakimi.

Semua daya dan upaya memang menuju perwujudan dua karakter utama bersatu. Kisah manis bak sinetron yang tayang di jam utama. Namun seperti yang terbaca di pembuka, mereka akhirnya berpisah. Laila memutuskan hubungan, Pram stress dan murung sekali. Cita-citanya sebagai arsitek dilepas demi membuka kafe, hari itu kafe Laila tutup. Laila bermaksud menyampaikan permohonan maaf setelah di ulang tahunnya yang ke 24 mendapat kado jam tangan. Dari bundanya Pram kita tahu, ia mencoba berdamai dengan kenyataan. “… Bila ia memang bersikeras ingin berpisah, apalagi selain melupakannya.”

Menerima pinangan teman ayahnya kerja di Yogyakarta. Maka Laila menyusul ke sana, mencoba memberi kejutan tanpa memberitahukan kehadirannya, Laila shock ada lukisan dirinya di ruang khusus di hotel tempatnya menginap. Lebih shock lagi eksekusi endingnya, pembaca juga kaget. Hiks…

Entah kenapa novel ini belum diangkat ke layar lebar, padahal semua kriteria bagus untuk diperkenalkan ke khalayak lebih umum dalam balutan visual sudah ada. Dibanding Dilan yang terlampau lembek karakternya, Laila cerita remaja yang dalam masa transisi ke dewasa menampilkan realita menyentuh, puitik, drama, dan tentunya ending yang jleb. Membayangkan adegan payung dan jajan di kantin seberang sekolah, tahi lalat di pipi kiri, sampai adegan ‘terbang’. Lebih berkelas ketimbang di boks telpon, ‘rindu itu berat’. Tahun 2011 pas ke toko buku Cikarang, sempat lihat cetak ulang. Senang, akhirnya ada cetakan berikutnya. Namun karena segel saya ga tahu cetakan ke-berapa, yang jelas gaungnya tak sebesar yang kuharapkan.

Kata Always, Laila sendiri kita temukan setelah setengah perjalanan novel (halaman 121!), di akhir email. Dengan setting 2000-an, email dan sms begitu dominan untuk komunikasi jarak jauh. Tak ada WA, tak ada sosmed, tak ada kenarsisan yang menyinggung di dunia digital. Rahasia Laila, bahkan bisa bertahan beberapa bulan, berarti memang keluarga sudah kompak menahan informasinya.

Berkorban demi orang terkasih juga menjadi tema, Pram ‘mengalah’ akan ambisi, padahal ia jago gambar. Saling mengalah, guna pacar mendapat masa depan yang lebih cerah tercermin pada tindakan Laila yang memutuskan lamaran asyik di Laila’s Cafe, 26 Desember 2003, dan ia tahu kalau jujur Pram justru akan menguat dan setegar karang, sungguh tindakan yang masuk dinalar dan berat disampaikan. Dia memang yang terbaik. Dramatisasi ketika melihat Pram bahagia naik sepeda dengan kedua tangan terentang, menjadi ironi, menjadi bumbu drama bikin gereget, yah seperti itulah hidup, pahit. Ia pernah jatuh cinta dan terluka. Bila perempuan itu memang satu-satunya perempuan yang bisa ia cintai di antara milyaran lain, ia akan terus mencintainya. “Kamu memang lelaki terbaik yang pernah kutemui.” – Laila

Tampak sekali ini ditulis sebagian adalah pengalaman pribadi, memang fiksi tapi kesamaan pendidikan Andi Eriawan dengan setting kampus di ITB jurusan penerbangan jelas bukan sebuah kebetulan. Memang beda rasanya tulisan yang berdasar pengalaman dengan angan-angan, terasa sekali diketik dengan memetakan ingatan masa lalu. Salut! Kudoakan menjadi film bioskop, Mas. Saya akan nonton di hari pertama. Semoga…

 

Laila… nama yang cantik. Orangtuamu pandai memberi nama. Mungkin mereka tahu kau akan tumbuh secantik ni.

Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa | by Andi Eriawan | Penyunting Denny Indra | Desain sampul FN | Penata letak Jefri Fernando | Penerbit Gagas Media | Cetakan pertama, November 2004 | xii + 228 hlm.; 19 cm | ISBN 979-3600-38-1 | Skor: 4.5/5

Untuk Prameswari yang membenci daun kol

Karawang, 05-060820 – La Nina de los Peines – Al Gurugu (1946)

Thx to Lifian, Tangerang