Flipped: Alur Rasional Ciuman Pertama

Somehow the silence seemed to connect us in a way like words never could.” – Juli Baker

Ini kisah cinta remaja yang jatuh hati sama tetangganya, teman sekelas, teman bermain. Ini tentang cinta yang serba pertama. Pandangan pertama, getaran pertama, hingga detak degubnya mendorong jungkir balik hati remaja yang dilanda gairah. Alurnya sangat rasional, proses menuju ciuman pertama yang berliku selama satu setengah jam.

Kisahnya bersetting mulai tahun 1957 sampai 1960an, dimula dengan kepindahan keluarga Loski ke Ann Arbor, Michigan. Setelah adegan syahdu dalam tatapan mata dengan slo-mo, Juli Baker kecil (Morgan Lily) berinisiatif membantu memindahkan barang dari mobil ke rumah, Bryce Loski kecil (Ryan Ketzner) kecil yang kaget menolak dengan kode ayahnya untuk membantu ibu dalam rumah, kabur yang malah menjadi pegangan tangan tak sengaja, tatapan mata biru Bryce membuat hati kecil Juli berdesir jatuh hati. Apalagi esoknya tahu mereka satu kelas, menjadikan bully-an pacar. Dengan sudut pandang Bryce kita tahu, ia merasa dasar cewek aneh!

Sudut pandang lalu berganti ke Juli Baker remaja (Madeline Carroll) yang menuturkan tetangganya Bryce Loski remaja (Callan McAuliffe) bagaimana perkenalan dan rasa yang tertinggal, mencipta kesan. Berikutnya film akan gantian sudut pandang mereka berdua. Jungkir balik rasa, proses menuju saling melengkapi. Awalnya Juli yang jatuh hati, berjuang demi mendapat respon positif, nantinya gantian Bryce yang kesemsem sementara Juli muak. Tumpang tindih rasa, karena definisi rasa ada di dalam kepala, kita tak bisa mengetahui isi setiap orang. Dari sinilah, momen dibolak-balik. Dengan adegan yang sama, penonton melihat sudut pandang yang berbeda.

Juli yang hobi manjat pohon, sampai masuk Koran lokal suatu hari menangis karena pohon di dekat halte bus sekolah itu ditebang demi pembangunan. Dalam tugas sekolah, ia mengambil proyek penetasan telur ayam, hingga memeliharanya di kebun belakang menghasilkan banyak telur. Tetangganya membeli, tapi untuk keluarga Bryce free, tapi karena alasan salmonella dan betapa joroknya kandang ayam, langsung dibuang. Hiks, kejam. Perbuatan ini akhirnya kepergok, melukainya. Berjalannya waktu, hanya kakek Chet Duncan (film terakhir alm. John Mahoney) yang bisa menyentuh hatinya karena suatu ketika Juli mencipta kebun bunga di halaman depan, dibantu sang kakek sehingga ada koneksi istimewa. Kelakuan unik Juli mengingatkannya pada almarhum istrinya.

Lalu kita tahu ada masalah apa di keluarga Baker. Seorang pelukis yang miskin, rumah saja nyewa. Berniat sementara, ternyata tak tahu sampai kapan. Paman Juli, mengidap penyakit mental yang selalu bersikap anak-anak. Juli suatu ketika di hari Minggu yang cerah, ikut bapaknya mengunjungi dan setelah hari itu semua tak sama lagi. Konsep populer mengenai ‘cinta yang keras’ adalah Anda membiarkan anak untuk mengalami penderitaan karena dengan menyadari hal-hal yang penting di saat berhadapan duka, anak akan meraih nilai yang lebih tinggi dan berkembang. Es krim dan gejolak itulah yang membuka mata, hidup ini keras Lur.

Di sekolah, Bryce demi menghindar Juli sampai kencan dengan Shelly Stalls, walau menurut temannya Garrett itu bukan cinta. Hubungan ini timbul tenggelam pula, dan betapa demi makan siang bersama untuk amal, Bryce menjadi yang tertinggi rasanya belumlah cukup sehingga Juli walau dag-dig-dug bukan memilihnya, alasannya? Laiknya sinetron Indonesia yang sering bergumam dalam hati tapi teks dibacakan ke pemirsa, adalah Eddie Trulock, nomor 8 yang aneh mencipta karya. Kasihan. Lantas akankah Juli dan Bryce akhirnya bersatu? Kita memang suka bertikai untuk hal-hal kecil, Nak.

Tanpa tahu ini film tentang apa, tak ada aktor besar yang benar-benar hadir di jajaran cast, berdasarkan novel, bahkan judulnya rancu, flipped – dibalik. Rekomendasi Bung HandaBank Movie, akhirnya Senin pagi pasca sahur kutuntaskan sebagai nutrisi sebelum berangkat kerja. Seolah ini adalah versi remaja (500) Days of Summer dengan akhir manis. Kisah cinta remaja yang menyentuh hati, membayangkan hari-hari remaja SD jatuh hati, mematik pikir masa lalu, bagaimana perjalanan hidup saya dulu. Beberapa relate seperti hobi panjat pohon, beternak ayam, cinta monyet, dunia anak-anak yang merdeka pikir dan materi. Cinta hanyalah wadah terjadinya pertukaran perasaan, di mana masing-masing diri kalian membawa apa pun yang dipunyai untuk ditawarkan dan saling menjajakannya hingga mendapat keuntungan transaksi masuk akal.

Flipped menjadi film romansa yang asyik karena cinta itu masih hijau, saling raba perasaan disertai tebak sikap. Ending-nya sendiri lebih manis lagi, walaupun adegan cium yang dinanti tak kunjung muncul. Masa-masa yang menyenangkan karena tak ada beban cicilan, haha…

Adegan makan malamnya sendiri walau sederhana malah yang paling nyaman diikuti. Sebuah presentasi basa-basi dengan tetangga, manis di mulut, pahir di hati. Bagaimana kedua kakak Juli yang berjuang untuk rekaman, malah menohok bapaknya Bryce yang seorang sukses materi tapi seolah kehilangan cita menjadi pemain saxophone. Dari makan malam itu pula kita tahu, betapa hubungan harmonis dalam keluarga jauh lebih penting ketimbang kesuksesan individu. Komitmen yang lebih besar mendatangkan kedalaman yang lebih berkualitas. Semakin membingungan kehidupan ini, bersikap rendah hati menjadi semakin berharga. Turut senang memandang hangatnya hati Juli ketika melangkah pulang.

Represi Sigmund Freud bahwa hidup ini kita jalani dengan menekan ingatan-ingatan masa kecil yang menyakitkan, dan dengan mengangkatnya lagi ke dalam kesadaran, kita membebaskan emosi-emosi negatif yang terpendalam di dalam diri kita. Akhir yang menyenangkan dan lagu klasik berkumandang menutup layar.

Kalian tak kan pernah lupa perasaan dan sensasi ciuman pertama, itu. Tangan yang mendekap dalam menabur tanah saat menanam, waktu seolah membeku. Dunia ini berputar mengelilingi satu hal: perasaan.

Beautiful teenage romance.

Flipped | Year 2010 | Directed by Rob Reiner | Screenplay Rob Reiner, Andrew Scheinman | based on a novel Wendelin van Draanen | Cast Madeline Carroll, Callan McAuliffe, Rebecca De Mornay, Anthony Edwars, John Mahoney, Penelope Ann Miller, Aidan Quinn, Kevin Weisman, Morgan Lily | Skor: 4/5

Karawang, 270420 – Bill Withers – Friend of Mine (Live)

Thx to Bung Handa Lesmana dan Bung Huang atas rekomendasinya.

Blue Summer: Cinta Biru dari Negeri Sakura

Cinta remaja di masa liburan di desa, terkesan. Ketika liburan berakhir akankah ini hanya cinta sesaat?

Gadis kota liburan ke kampung halaman, ke rumah neneknya bareng adiknya. Saat turun dari bus di pinggir sungai, berkenalan dengan pemuda desa yang lugu, yang menawarkan tur dengan gambar pamflet eksotis, si gadis terpesona, sang pemuda kesemsem. Lalu pas sampai rumah sang nenek, ternyata pemuda itu adalah saudaranya, penjaga toko kelontong. Ada kebencian karena dari tutur nenek, cucunya pergi meninggalkan kampung mencipta kesepian. Liburan yang seharusnya penuh warna menjadi agak renggang awalnya, sampai tak kurang dari ¼ film di mula, saya sudah bisa memprediksi endingnya. Dan tepat! Blue Summer adalah cerita manis, semanis-manisnya.

Kisahnya berpusat pada siswi cantik Rio (Wakana Aoi). Pembukanya adalah adegan jelang libur sekolah, ketika Rio mau pulang disapa cowok si jangkung yang secara halus tersamar mencintainya, sempat akan meminta kontak, tapi terlewat. Liburan sekolah musim panas ini akan dilewatinya di kampung halaman sang nenek, berangkat bersama adiknya, ibunya seorang desain grafis akan menyusul nanti. Sampai di pedesaan berkenalan dengan Ginzo (Hayato Sano), pemuda desa yang sedari muncul juga sudah bisa ditebak akan meluluhkan hati Rio.

Benar saja, walau ia dibenci Ginzo karena meninggalkan neneknya, Rio melewati hari-hari galau dengan melihat bintang bertebaran indah di malam hari, bermain air di sungai, main sepeda menghirup udara segar pegunungan, memetik bunga. Lalu berkenalan dengan teman-temannya Ginzo yang sepanjang waktu pegang kamera, ada tantangan terjun ke jernihnya air sungai dari jembatan. Rio dengan meyakinkan berani, jangan sepelekan anak kota ya.

Lalu beberapa teman sekolahnya menyusul liburan ke sana, bikin tenda di pinggir sungai, panggang daging, sampai main air. Terlihat jelas si jangkung mencintai Rio, maka ia mengajak kencan, dan ‘mengancam’ Ginzo. Rio sendiri lalu secara terbuka bilang suka pemuda desa, sehingga kini tercipta cinta segitiga dengan pusat yang protagonist.

Kebetulan ada event sekolah, mendatangkan band nasional. Semakin merekatkan mereka berdua, mendesain promo, mencipta erat, menghabiskan malam dengan lanskap kembang api, menangkap ikan di bazar, cinta itu perlahn tumbuh kembang bak musim semi, sampai akhirnya mendekati hari terakhir liburan di puncak pesta musik. Apakah kedekatan mereka berlanjut? Ataukah dengan berakhirnya masa di desa, berakhir pula hubungan ini. Lalu Rio mengambil tindakan berani sebab ada kekhawatiran mengucap kata ‘selamat tinggal.

Ini jenis film warna-warni mencolok mata. Semua ditampilkan indah, ga cocok buat kaum merenung, tak cocok pula buat kaum hippy. Ternyata berdasar manga populer. Yah ini sih manga remaja yng so sweet. Bunga matahari kuning terhampar, pemandangan gunung asri sepanjang mata memandang. Suara jernih sungai mengalir. Gemerlap bintang di langit yang ditingkahi tembakan kembang api. Benar-benar film romantis khas remaja. Saya justru jatuh hati sama Seika Furuhata, cantik dan tampak dewasa ketimbang tokoh utamanya yang childish. Sebagai gadis ‘penghamba cinta’ yang mencinta, berharap jodoh keluarga tapi kandas. Duuuh manisnya, catet yes Seika!

Plot semacam gini sudah banyak dibuat FTV kita. Cinta-cintaan dengan penampil cantik dan tampan, konfliks ringan, lagu-lagu indah, gadis kota tergoda pemuda desa, sudah melimpah ruah. Blue Summer menawarkan hal yang mirip, kalau tak mau dibilang sama. Dengan template seperti itu, wajar saya agak kecewa. Keistimewaan film justru di technical. Banyak kamera ditaruh di beberapa sisi. Contoh adegan jembatan itu, saya catat ada minimal lima kamera menyorot adegan terjun. Dari kedua jembatan, kamera terbang, dari sisi sungai bawah, dan pas masuk ke air kamera terendam. Nah, secara teknikal tampak anggun. Kelopak air itu menyejukkan, benar-benar film memanjakan mata.

Memang sebuah perjudian menonton film tanpa rekomendasi, ngasal karena muncul di beranda. Blue Summer sekadar hura-hura remaja yang akan cepat terlupakan, kecuali gemerlapnya yang tertahan lama di balik retina. Eyes candy alert!

Tentu saja pertemuan kita terkadang tidak lebih dari sekadar liburan, tapi beberapa hari itu bertemu dengan orang yang kaucinta sangat besar artinya. Kau ajarkan aku apa itu kenyataan.

Blue Summer | Judul asli Ao-Batsu: Kimi ni Koi Shita30-Nichi | Japan | 2018 | Directed by | Screenplay Yukiko Mochiji | Manga Atsuko Nanba | Cast Shiori Akita, Wakana Aoi, Seika Furuhata, Takumi Kizu, Rinka Kumada, Atom Mizuishi, Hayato Sano, Reo Shimura, Aimi Terakawa | Skor: 3.5/5

Karawang, 230420 – Bill Withers – Railroad Man