Of Mice And Men #20

Featured image
Akhirnya kesampaian juga. Salah satu buku yang paling saya buru itu akhirnya di rak saya tahun lalu. Saya beli online dari teman di Klaten, buku klasik dari Amerika ini selesai baca dalam semalam. Kisahnya sederhana, namun tak sesederhana kelihatannya. Kekuatan buku ini ada tiga, pemilihan diksi yang tepat sehingga kisah digulirkan dengan runut, dua karakter yang berlawanan yang disajikan dengan indah, dan ending yang berani. Poin ketiga adalah poin terpenting yang membuat Amerika bahkan melarang novel ini dibacakan untuk anak-anak. Poin utama yang membuat keseluruhan isi jadi mencengangkan. Saya tak membaca bocoran apapun dari forum diskusi buku dan film, jadi feel mengejutkan itu benar-benar terasa banget. Beruntung sekali kan. Makanya karena saya merasa beruntung tak kena bocoran, setiap saya menulis review inti cerita tak kan pernah saya beberkan.
Kisahnya abadi. Dua orang beda karakter dipersatukan oleh Steinbeck. Dengan cerdas kisah langsung ditaruh di tengah konflik. Lennie adalah lelaki berbadan besar, namun mempunyai sifat kekanak-kanakan. Pelupa, dungu, polos, yang ada di pikirannya adalah hewan ternak yang akan dipeliharanya. Kelinci-kelinci masa depan. Di sakunya ada tikus mati yang selalu dibelainya. Sementara George adalah lelaki kurus yang membantu Lennie keluar dari masalah satu ke masalah yang lain. Otaknya encer, dirinya selalu melindungi Lennie dan selalu menasehatinya untuk selalu pasif dan berkata, “aku tidak akan bilang apa-apa, aku tidak akan bilang apa-apa, aku tidak akan bilang apa-apa…”
Mereka baru saja melarikan diri dari masalah yang dibuat Lennie. Sampai di sebuah sungai yang airnya mengalir tenang. Sunga Salinas yang menjadi titik utama awal dan akhir cerita ini, kelak akan jadi saksi bisu sebuah twist. Mereka dalam perjalanan menuju peternakan di Soledad, tempat kerja baru. “tetapi kita tidak seperti itu! Mengapa begitu. Karena aku punya kau yang selalu menjagaku, dan kau punya kau yang juga selalu menjagamu, yah itu sebabnya. Kita akan mendapatkan uang, memiliki sebuah rumah kecil, beberapa area tanah, seekor sapi, beberapa ekor ayam, dan hidup dari tanah yang subur itu. Dan punya kelinci-kelinci…”
Belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya, George berwasiat kalau nantinya di peternakan Lennie bermasalah lagi. Dirinya diminta untuk sembunyi di semak-semak sungai ini dan menantinya datang menjemput. Dan saat esok menjelang, mereka sudah bekerja di rumah peternakan. Bersama pekerja lain, awalnya Lennie tak banyak membuat masalah. Namun karena dirinya yang gugup, tak bisa menjawab apapun saat ditanya, orang-orang mulai curiga, ada yang tak beres. Termasuk anak juragan, Curley yang katanya jago tinju di atas ring. Curley yang bertubuh kecil merasa kesal karena Lennie yang tubuhnya besar hanya plonga-plongo saat ditanya. Inilah awal mula segala masalah. Lennie memang sumber masalah, dan kali ini masalah yang dibuatnya sungguh besar. Akankah George berhasil lagi menyelamatkan Lennie? Dua pengelana yang tak punya apa-apa selain diri mereka dan impian-impian kelinci itu akankah digerus kenyataan? Bagaimana akhir petualangan mereka, akankah mereka berpisah? John Steinbeck dengan brilian membuat cerita sederhana ini menjadi luar biasa memikat.
“Untuk apa berandai-andai, tidak ada yang boleh berandai-andai George terluka” (halaman 156)
“Aku suka membelai-belai sesuatu yang manis, tetapi tidak jika aku bisa mendapatkan yang lebih baik.” (halaman 193)
Curley dan Carlson menatap kepergian mereka. Lalu Carlson berkata, “sekarang kau pikir apa yang terjadi pada kedua orang itu?” (halaman 233)
Of Mice And Men | by John Steinbeck | copyright 1937, renewed 1965 | Penerjemah Isma B Koesalamwardi | Penerbit Ufuk Press | cetakan I: Desember 2009 | ISBN 978-602-8224-72-7 | skor: 4.5/5
Karawang, 210615 – Sponge out of water
#20 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

The Sitter: Unfunny and Drama Unwelcome

Noah: I know you’re a little kid, and I know I’m not supposed to say this kind of stuff to you, but f**k you. F**k you so much. You’re a douche.

Gara-gara salah bajak nih, saya salah nonton film. Di sampul dvd bajag-an tertulis ‘The sisters’ dengan embel-embel berdasarkan buku karya Anton Chekov. Saya langsung minat untuk nonton filmnya karena beberapa hari yang lalu saya baru saja menyelesaikan baca salah satu buku Anton. Eh pas diputar, adegan pembuka isinya Jonah Hill sedang merayu cewek. Tapi karena sudah klik ‘play’ ya lanjut terus. Tagline-nya unik dengan tulisan ‘Need a sitter?’ dengan poster pose kepala Jonah Hill menatap hampa.

The Sitter (pengasuh) mengenai Noah Griffith (Jonah Hill) yang terpaksa mengasuh tiga anak yang ditinggal orang tuanya ke pesta. Noah adalah pemuda hopeless, anak kuliahan yang klontang-klantung. Suatu hari dia diminta menjadi baby sitter tetangganya, menjaga Slater Pedulla (Max records), Blitte Pedulla (Landry Bender) dan Rodrigo (Keven Hernandez). Ketiganya tampak aneh. Satu gay bermasalah dengan teman sekolahnya, satu anak adopsi dari Spanyol yang suka mainin bom. Beneran bom, hobinya meledakkan toilet. Satu lagi cewek centil yang dewasa lebih cepat, hobinya berdandan dan menari. Dari awal saja segalanya tampak rusuh. Dan malam itu seakan dunia berkonspirasi melawan Noah.

Berawal dari telpon Marisa Lewis (Ari Graynor), cewek nakal yang meminta narkoba dari Noah dengan iming-iming diajak bercinta, Noah yang awalnya bergeming berubah pikiran. Noah diminta menemui Karl (Sam Rockwell) untuk bertransaksi. Karena sedang mengasuh, jadinya Noah mengajak ketiganya memulai petualangan malam yang panjang. Traksaksi narkoba yang seharusnya hanya sebentar berubah jadi kacau saat Rodrigo mengambil ‘telur naga’ yang berisi bubuk narkoba. Bubuk istimewa tersebut malah berhamburan ketika diminta Noah, dan telpon dari Karl untuk mengembalikannya segera atau mengganti uang membuat makin rumit. Petualangan yang seru, mulai dari mobilnya dicuri, minta tolong kepada ayahnya yang sudah menikah lagi, bertemu teman lama yang dulu bermusuhan, sampai kejar-kejaran menghindar polisi. Malam yang runyam itu, berhasilkah Noah dan anak asuhnya selamat?

Well, kisahnya klise. Ketebak. Ga lucu, menjurus ke kasar. Tokohnya memang anak-anak namun ga bagus ditonton anak-anak. Film ini khas banget Jonah Hill, typecast dari karakter-karakter sebelumnya yang pernah ia perankan. Tak ada kejutan berarti, banyak plot hole, dan yah ga bisa diteima logika. Film ini memang untuk fun, sekali tonton segera dilupakan.

The Sitter | Director: David Gordon Green | Screenplay: Brian Gatewood, Alessandro Tanaka | Cast: Jonah Hill, Ari Graynor, Sam Rockwell, JB Smoove | Year: 2011 | Skor: 2/5

Karawang, 050615

The Vow: Weak Take And Just So So

Leo: How do you look at the woman you love, and tell yourself that its time to walk away? 

Menikmati film drama cinta-cintaan itu gampang-gampang susah. Banyak faktor, salah satunya mood saat menonton. Berawal dari rekomendasi teman kerja yang bilang ini film superb sekali saya ‘dipaksa’ menontonnya. Karena ini film (katanya) romantis maka saya ajak si May nonton bareng. Ceritanya sederhana, namun ternyata berdasarkan kisah nyata jadinya ikut terharu atas apa yang menimpa sang tokoh.

Cerita dibuka dengan naratif Leo (Channing Tatum) tentang sebuah teori yang seakan bilang ‘aku ini nasibnya apes tenan’. Mereka mengalami kecelakaan di saat salju turun. Naas, sang istri Paige (Rachel McAdams) kepalanya terbentur kaca sehingga sakitnya lebih parah. Leo sudah sepenuhnya sembuh, namun Paige tidak. Benturan di kepala membuat dia menderita hilang ingatan. Memori sebelum kecelakaan terhapus. Saat suami menjenguknya, dia ga mengenali. Keadaan bertambah runyam saat orang tuanya datang dan mereka tak saling mengenal. Paige ragu, siapa yang dipercaya? Seseorang yang mengatasnamakan suaminya atau kedua orang yang mengklaim ayah-ibunya.

Paige mencoba berdamai dengan kenyataan, dia lalu memilih tinggal di rumah Leo. Pendalaman karakter, Leo mencoba kembali menyusun kepingan demi kepingan masa lalu istrinya. Namun bukannya makin percaya Paige malah meragukan atas masa lalunya. Ada tato di punggung. Bukannya kuliah hokum seperti yang dia harapkan malah ke kuliah seni. Studio Leo yang berantakan. Kemudian orang tuanya menawarkan kembali pulang. Pelan tapi pasti terungkap juga akhirnya tanda tanya tersebut. Apa alasan dia pergi dari rumah. Alasan kenapa dia drop out kuliah hukum dan memilih kuliah seni. Alasan kenapa dia menikahi Leo. Alasan kenapa dia bermasalah dengan temannya. Namun semua terlambat, keputusan penting terlanjur sudah diambil dan adakah jalan kembali?

Secara keseluruhan the Vow biasa saja. Tema pasangan yang kehilangan ingatan lalu coba dibuka kembali memorinya, itu bukan barang baru. The Notebook mungkin yang paling keren (bagiku) karena emang yang pertama kutonton. 50 First Dates lebih mengena. Setelahnya biasa. Kelebihan the Vow mungkin adalah ini kisah nyata sehingga lebih terasa menyentuh. Jadi ingat dulu pernah ada tetangga yang mengalami hilang ingatan setelah kecelakaan, orang tersebut bisa pulih setelah diajari dari awal segalanya. Dikenalkan benda-benda. Saudara yang menjenguk coba membantu mengingat Walau ga sepenuhnya ingat namun dia bisa kembali tahu siapa pasangannya, siapa anak-anaknya.

Akting Rachel biasa, Tatum juga biasa. Plot, setting, dan cerita biasa. Semuanya biasa saja. So so.. film ini mudah diingat begitu juga mudah dilupakan. Atau mungkin karena saya nya yang kurang romantis ya?

The Vow | Director: Michael Suscy| Screenplay: Jason Katims, Abby Kohl| Cast: Rachel McAdams, Channing Tatum, Sam Neill | Tahun Rilis: 2012 | Skor: 2.5/5

Karawang, 290515 – Lazio goes to Champion League

(review) The Interview: Not Funny And Embarrassing

Kim Jong-un : You know what’s more destructive than a nuclear bomb?… Words.

Hype yang tinggi, rating (dari grup film) yang bagus bukanlah jaminan sebuah film akan asyik dinikmati. Semalam nonton The Interview karya komedian Seth Rogen dan koleganya Evan Goldberg, hasilnya? Hhhmmm…, kecewa. Bukannya mau melawan arus, tapi emang kalau kelar nonton film dan ga puas saya ga terpengaruh review orang lain. Dan The Interview ini benar-benar kacau.

Diceritakan Dave Skylark (James Franco) adalah seorang host acara talk show Skylark Tonight yang sukses. Salah satu bintang yang diundang adalah rapper Eminem. Dalam acara tersebut Eminem dengan sambil lalu bilang, bahwa dia gay. Lalu dengan gaya lebai Dave mengulik lagi fakta tersebut. Boom! Rating Skylark Tonight meledak. Telpon bordering di mana, minta klarifikasi. Rekan Dave, Aaron Rapaport (Seth Rogen) sebagai produser jelas bangga, bintang besar melakukan pengakuan di acaranya. Skylart Tonight akhirnya tembus 1000 episode (10 tahun), sebuah rekor luar biasa, seakan membalik telapak tangan.

Sampai pada suatu hari saat Aaron sedang melobi seorang bintang via telepon, Dave datang dan menginterupsi. Kasian telpon gengamnya dilempar. Dave membawa berita mengejutkan dari Time bahwa presiden Korea Utara, Kim Jong-un (Randall Park) menyukai acara The Big Bang Theory dan Skylark Tonight! Maka disusunlah rencana mereka melakukan wawancara dengan presiden Korut. Setelah melalui lika-liku-lebai, Dave dan Aaron tiba di Korut. Turun di bandara, mereka disambut bak bintang besar, ajudan Presiden seorang wanita aneh bernama Sook (Diana Bang) ada di sana.

Rencananya: CIA yang dikepalai agen Lacey (Lizzy Caplan), memberi racun yang ditempel di telapak tangan Dave. Lalu saat acara, Dave diminta menyalami presiden Kim sehingga racun akan menjalar, 12 jam setelahnya presiden Kim akan mati. Namun saat pemeriksaan, Dave yang menaruh racun pada bungkus permen karet, racunnya malah dimakan oleh pampres. Alamat mati tuh orang, dikunyah lagi. Presiden Kim ternyata welcome, tak segarang yang diberitakan. Korut damai, toko makanan di mana-mana, banyak anak-yang bertubuh gendut yang menandakan mereka makmur. Kim ramah, mengajak Dave berpesta, hingga Dave berubah pikiran. Kita semua dikontrol berita, kita semua ditipu media. Dave mengurungkan niat membunuh presiden, racun yang ada dua masing-masing dipegang Dave dan Aaron, malah dibuang.  Aaron geram, segalanya berjalan kacau. Saat sepertinya mereka mustahil keluar hidup-hidup dari Korut, sebuah kejutan bodoh terjadi. Berhasilkah? Bagaimana akhir dari wawancara yang tayang live Skylart Tonight  disaksikan seluruh dunia?

Sejujurnya saya kurang suka komedi slap stick seperti ini. Terkejut juga film akan berjalan kacau. Yang perlu digarisbawahi, jangan percaya hype. Film ini tak lucu dan memalukan. Salah satu adegan bodoh saat Aaron menerima kiriman racun sebentuk stik yang membunuh harimau, stik tersebut takut ketemu pasukan Kim jadi disimpan di tempat yang tak masuk akal agar tak ketahuan saat digeledah. Seorang ajudan presiden, seorang kepercayaan bisa dengan mudahnya berpindah pihak. Lalu saat live interview, saat sang presiden terpojok masak dengan mudah studio diambil alih. Sungguh buruk. Sebenarnya apa salah Katty Perry?

Overall, ini film komedi yang buruk. Jangan-jangan benar, adegan pembuka saat peluncuran rudal itu emang pantas. Dasar Amrik!

The Interview | Director: Seth Rogen, Evan Goldberg | Screenplay: Seth Rogen, Dan Sterling | Star: Seth Rogen, James Franco, Randall Park, Lizzy Caplan | Skor: 2/5

Karawang, 020315

Good and Bad in Oscar 2014

Tulisan lanjutan mengenai pesta perhelatan akbar Oscar 2014. Berikut lima hal yang menurut saya terbaik dan terburuk:

Good:

1. Ellen Is The Best Choice!

Gambar

Mega selfie-nya bikin twitter sampai nge-hang gara-gara retweet (RT) foto ini. Awalnya saya kira komputer warnet ngadat sehingga saya refresh berkali-kali ga muncul new tweet. Akhirnya saya tahu penyebabnya, tweet Ellen memecahkan rekor RT. Kurang ajar, kompor meleduk. Belum lagi adegan pizza, minta receh, sampai dandan peri yang mengundang tawa. Acara Oscar tampak cair dan sungguh nikmat dilihat. Ellen adalah pilihan bagus untuk MC tahun ini, semua orang pasti setuju.

2. Photobomb Benedict

Sebagai Sherlock yang jenius, Khan yang kejam dan naga Smaug yang gila  dalam diri seorang Benedict Cumberbath tentunya kita mengira dia mengalir darah seorang serius. Saat foto red carpet U2, Benedict bergaya konyol di belakangnya. Aneh, unik, konyol sekaligus keren. Ada yang mau niru?

3. Lupita Dalam Pidato Emosionalnya

Gambar

Benedict Cumberbath terlihat matanya merah dan sedikit menitikan air mata mendengar pidato kemenangan Lupita. Saya-pun terharu.

“It doesn’t escape me for one moment that so much joy in my life is thanks to so much pain in someone else’s. And so I want to salute the spirit of Patsey for her guidance. And for Solomon, thank you for telling her story and your own.”

4. Gravity Menang Besar

Ya, saya terkejut. Kemenangan besar Gravity dengan meraup tujuh dari sepuluh nominasi membuat saya geleng-geleng kepala. Apalagi mereka menang beruntun di pengumuman awal jadi sempat berpikir, jangan-jangan sapu bersih. Syukurlah tak terjadi: Best Director, Visual Effects, Cinematography, Film Editing, Sound Editing, Sound Mixing, and Original Score. Deretan piala yang membuat David O. Russels gigit jari.

5. Leto Membayar Janjinya

Sebelum Hari-H Jared Leto memberitahukan publik bakalan pidato yang menggugah seandainya dia menang, dan benar saja saat namanya disebut, dia pun mempersembahkan kemenangannya untuk 36 juta orang yang kalah (meninggal ) dalam melawan AIDS.

“Di 1971 Boger City, Louisiana, ada seorang remaja perempuan yang hamil anak keduanya. Dia keluar dari SMA dan menjadi seorang ibu tunggal, entah bagaimana caranya berhasil memberikan kehidupan yang layak untuknya dan anak-anaknya.  Dia mendorong anak-anaknya untuk kreatif, bekerja keras dan dia adalah ibu saya. Dia ada di sini malam ini. Kemenangan ini juga kutujukan untuk semua orang yang merasa diperlakukan tak adil karena siapa dirimu dan siapa yang kau cintai,”

Bad:

1. Pink

Untuk memperingati anniversary film The Wizard of Oz. Pink menyanyikan lagu ‘Somewhere Over the Rainbow’. Dengan latar yang mencerahkan, sayang penampilannya hari ini sedang tak bagus.

2. Leo Kalah Lagi

Gambar

Walau sudah terprediksi Mathhew bakalan menang, namun saya tetap sedih melihatnya sedih karena kalah lagi. Karir panjangnya selama lebih dari 20 tahun tak segera berbuah Oscar satu pun. Padahal kita semua tahu, film yang dibintanginya selalu berkualitas. Mungkin hanya satu yang flop, sisanya adalah film kaliber Oscar. Lihat mimik Jonah Hill yang duduk di belakangnya saat pengumuman dibacakan, walau dia bertepuk tangan namun wajahnya melirik Leo terlihat kasihan. Tatapan itu seperti mewakili seluruh fan Leo di dunia. Setelah empat kali gagal, entah sampai kapan sang mega-bintang akan meraihnya. Tetap semangat, better luck next time bro!

3. U2 Mengigau

Gambar

Entah kenapa dengan U2, legenda pop yang sudah malang melintang di dunia tarik suara itu seakan redup bintangnya saat menyanyikan soundtrack Mandela: Long Walk to Freedom. Wajar saja mereka kalah dengan Idina Menzel yang dengan cerianya menghentak panggung dengan Let It Go! Saya menguap mendengakannya.

4. Jen-Law Slip Again

Tahun lalu si cantik Jennifer Lawrence terpeleset ketika dia menang best actress, saat itu dia dua kali mendapat nominasi. Saya maklum, mungkin mentalnya belum siap dan usianya yang masih sangat muda untuk sebuah penghargaan besar. Kemarin di acara yang ketiga kalinya dia hadir, dia kepleset lagi. Semacam ritual jatuh agar juara? Ough!

5. Ada Apa Dengan Alfonso?

Sepertinya dia belum siap naik ke atas panggung, ataukah terkejut filmnya menang? Saat pengumuman pemennag best editing untuk film Gravity dia seakan seseorang yang pertama kali di depan umum, seperti demam panggung. Nyelonong begitu saja ‘saat pidatonya belum selesai’. Walau akhirnya dibalas saat pidato best director namun tetap saja, hal ini membuatku mengernyitkan dahi.

Karawang, 040314

(review) American Hustle: Lie – And We Loved Each Other.

Gambar

Sydney Prosser: You’re nothing to me until you’re everything.

Christian Bale menanggalkan baju Batman-nya, dengan kepala botak dan penampilan jadul memakai kaca mata besar, dia menyamar secara meyakinkan. Amy Adams memakai pakaian kerah you-can-see menjadi penggoda para klien. Bradley Cooper mendadani penampilannya menjadi penyidik ala KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) berwajah preman. Jennifer Lawrence Menjadi istri Bale yang cerewet dengan rambut keritingnya. Dan Jeremy Renner melengkapi cast bintang sebagai seorang walikota yang dicintai warganya.

Film dibuka dengan Irving Rosenfeld (Christian Bale) seorang penipu ulung yang berdandan menutupi kepala botaknya dengan rambut palsu, berpenampilan bak seorang bisnisman. Bersama Sydney Prosser (Amy Adams) dan Richie DiMaso (Bradley Cooper) mereka bertiga sedang mencoba menjebak walikota dengan sekoper uang suap. Skenarionya mereka diutus seorang syeik untuk memberikan uang pelicin guna mendapat izin mendirikan casino di New Jersey. Sebagai walikota yang terkenal bersih dan dicintai warga Carmine Polito (Jeremy Renner) terang-terangan menolaknya dan meninggalkan pertemuan. Seakan rencana rencana ini berantakan, lalu film pun digulirkan ke belakang, melihat latar belakang semua karakter.

Irving Rosenfeld adalah anak tukang kaca yang sejak kecil diajarkan menipu. Sewaktu kecil dia disuruh ayahnya memecahkan kaca toko di sekitar tempat usahanya, sehingga kacanya laku. Perbuatan anak kecil tentu saja dianggap hanya kenakalan, sehingga permintaan maaf dan denda ala kadarnya. Tak heran sewaktu dewasa dia menjadi seorang penipu. Sydney Prosser adalah remaja bosan dengan rutinitas bekerja di majalah cosmopolitan, walau awalnya bekerja dengan hati tapi waktu membuatnya tak betah, sehingga dia melakukan bisnis ilegal. Richie DiMaso adalah seorang penyidik FBI, yang suka menjatuhkan para politikus. Menganggap mereka kotor, sehingga sering melakukan penjebakan di mana ruang pertemuan sudah disiapkan dengan alat perekam. Carmine Polito adalah walikota yang terlihat bersih, dengan hati melayani masyarakat. Saat dijebak dia sedang berusaha membuka kesempatan lapangan kerja sebanyak-banyaknya, sehingga tawaran pembukaan casino dari seorang syeik Abu Dhabi terlihat menggiurkan.

Setelah pengenalan karakter, kita lalu disuguhi alasan kenapa duet penipu Irwing dan Sydney mau bekerja sama dengan FBI. Rencana-pun disusun, awalnya atasan Richie tak menyetujui rencana ini, karena melibatkan uang besar sebagai kail-nya. Namun akhirnya berubah pikiran setelah mendengar rayuan. Adegan lalu ditarik kembali ke masa di awal film saat sang walikota keluar ruangan dengan marah. Irwing mengejarnya dan meminta maaf atas kelancangan mereka. Dengan pengalamannya dalam bersilat lidah sebagai penipu, Carmine termakan umpan. Negosiasi kembali dibuka. Lalu muncullah seorang karakter aneh Rosalyn (Jennifer Lawrence) sebagai istri Irving. Dia adalah istri yang cerewet dan protektif terhadap keluarga, tapi ternyata itu hanya sampul karena saat menjelang akhir kita dikejutkan fakta dibalik sifat hati-hatinya. Saat walikota menelpon ke rumahnya untuk memenuhi undangan negosiasi dengan syeik di hotel Plaza yang mengangkat adalah Rosalyn sehingga terpaksa diajak datang juga. Irwing yang ada affair dengan Sydney jelas keberatan. Di durasi satu jam film kita serasa ikut duduk dalam perundingan. Membiarkan para wanita pesta di luar, keadaan serasa menegangkan setelah tahu, Carmine mengajak seorang gangster. Apalagi kita tahu syeik palsu asal Abu Dhabi yang disewa FBI adalah seorang Mexico. Keadaan makin tegang saat sang gangster menyapanya dalam bahasa Arab. Batin saya teriak, ‘modaro koe!’ Saat semua terdiam, sesorang menjatuhkan gelas di atas meja sehingga konsentrasi buyar. Namun pihak walikota tetap fokus dan terdiam seakan masih meminta jawab dalam bahasa asing. Diluar duga Irwing dan Richie sendiri, si syeik palsu itu bisa menjawab dengan lancar. Sehingga kesepakatanpun terjalin, transaksi uang suap pun berlanjut.

Merasa ini adalah kemenangan besar, FBI berpesta. Namun Irwing malah seperti tersadar saat mendengar perkataan sang walikota yang membela rakyatnya. Setelah negosiasi selesai, Irwing meminta maaf ke rumah Carmine dan menjelaskan segalanya. Sadar dirinya dijebak, walikota marah besar lalu menghajar dan mengusirnya. Saat semuanya sudah terasa clear demi kepentingan setiap golongan, muncul twist yang membuat saya tersenyum. Karena ternyata sisi keberpihakan setiap karakter memang terlihat abu-abu sedari awal sehingga saat FBI melakukan penggerebekan, semua yang awalnya terlihat jelas malah berantakan. Twist apakah itu? Lihat sendiri biar kalian bisa berteriak ‘bravooo!’ seperti saya.

Inilah film yang digadang-gadang akan menang oscar tahun 2014 ini. bersama 12 Years A Slave, American Hustle mengirim banyak wakilnya. Bale tampil luar biasa, bertubuh gendut dan memakai kaca mata membuatku pangling. Jen-Law sekali lagi membuktikan bahwa oscar tahun lalu bukan hanya kebetulan. Amy Adams sama gilanya, menjadi seorang wanita affair yang bersisi dua, membuat kita bertanya-tanya ke arah siapakah dia berpihak. Renner juga tampil brilian, tebar senyumnya bak selebriti. Cooper pun 11-12, menampilkan sisi egois seorang pemberantas korupsi. Secara keseluruhan ini film istimewa karya David O Russell. Melanjutkan kehebatannya tahun lalu Silver Linings Playbook, dia kembali memasang Jen-Law dan Cooper. Sebuah prestasi luar biasa. Yang jadi tanya berapa piala yang akan diboyong film ini, layak kita nanti Senin nanti.

Film ini memaksaku membandingkan dengan keadaan di Indonesia. Coba bayangkan KPK menjebak suap seorang gubernur bersih dan dicintai misalkan saja, Jokowi. Akan menjadi heboh negara ini. Well, yang dilakukan FBI saya berpendapat seperti pernah dilakukan oleh KPK. Yah, siapa yang tahu? Politik memang rumit. Tetap semangat para pemangku jabatan bersih, moga istiqomah.

American Hustle

Director: David O Russell – Screenplay: Eric Warren Singer, David O Russell – Cast: Christian Bale, Bradley Cooper, Amy Adams, Jeremy Renner, Jenifer Lawrence – Skor: 4.5/5

Karawang, 020314 – Welcome March

(review) Dallas Buyers Club: Watch What You Eat And Who You Eat

Gambar

Film dibuka dengan adegan Ron Woodroof (Matthew McConaughey) sedang bercinta, dengan background sebuah pertandingan rodeo, koboi menaklukan banteng dengan menaikinya. Beberapa saat kemudian dia tergeletak di rumah sakit dengan kondisi sekarat, menuju maut. Dr. Sevard (Dennis O’hare) mendiagnosa hidup Ron tinggal 30 hari karena mengidap virus HIV. Marah dan tak percaya dia malah memaki dokter yang asal menganalisa. Sang koboi jagoan dari Texas ga mungkin mengidapnya. Dia menolak dirawat dan kalau benar hidupnya tinggal hitungan hari, dia mau bersenang-senang. Lalu film ini dihitung per hari saat dia divonis. Day 1, dia menghabiskan waktu dengan Tucker (Steve Zahn), temannya yang seorang polisi bersama dua pelacur, mereka pesta narkoba. Namun Ron tak ikut serta dalam hubungan badan, walau marah dengan sang dokter dia merasa ada yang tak beres dalam tubuhnya sehingga secara tak langsung harus mencegah penularan. Hari berikutnya, dia menemui dokter di rumah sakit untuk meminta penjelasan lebih rinci. Namun dia malah ditemui wanita dokter Eve (Jenifer Garner) karena Dr. Sevard sedang tak ada di tempat. Dari situ dia tahu ada obat pengurang rasa sakit, namun obat tersebut ilegal, belum dapat izin edar oleh FDA (Food and Drug Administration). Obat AZT kata dokter tak bisa membuatnya hidup lebih lama, karena berfungsi hanya untuk mengurangi rasa sakit.

Malam harinya dia pesta gila lagi di sebuah klub malam, di sana dia bertemu seorang peminum yang wajahnya familiar. Ternyata dia adalah office boy (OB) di rumah sakit tempat dokter Eve bekerja. Dari perkenalan itulah Ron meminta bantuan untuk mencuri AZT dan menggantinya dengan uang yang layak. Hari demi hari dilalui dengan pesta menuju kematian. Sampai akhirnya di day 29, sang OB memberitahunya bahwa AZT kini terkunci rapat di lemari sehingga transaksi tersebut adalah yang terakhir. Namun dia memberi sebuah alamat dokter yang bisa memberinya AZT melimpah di negara Mexico. Setelah siuman dari pingsannya, dan menuju deadline hari h, dia memegang alamat yang diberi oleh sang OB di dalam mobilnya. Ron menangis sejadi-jadinya. Nah ini scene haru-biru yang membuat Matthew patut dinominasikan best actor tahun ini. Rasanya hopeless belum siap menghadapi kematian. Usaha terakhir pun dicoba, dia ke Mexico untuk mendapatkannya.

Di Mexico saat bertemu Dr. Vass (Griffin Dunne), di rumah prakteknya dia melihat banyak pengidap dan merasakan wajah-wajah sedih senasib. Pulang dari Mexico dia membawa banyak obat ilegal. Melewati perbatasan dengan berbohong sebagai seorang pendeta, namun terdeteksi juga. Di ruang interogasi, dia berbohong bahwa obat-obatan tersebut tak akan diperjualbelikan.

Deadline hidup 30 hari terlewati, dia masih bisa bernafas karena obat tersebut ternyata mujarab dan mampu membuatnya bisa bertahan. Akhirnya dia pun mencoba mendistribusikannya kepada orang-orang yang mengidap AIDS. Dari situ dia berkenalan dengan seorang transgender bernama Rayon (diperankan dengan luar biasa oleh Jared Leto). Mereka membuat perjanjian bagi hasil atas usaha penjualan AZT. Berawal dari kecil dan kenalan terdekat, komunitas mereka menjadi booming, obat yang oleh FDA dianggap ilegal dan tak memenuhi persyaratan layak secara medis tersebut banyak peminat sehingga Ron dan Rayon kewalahan. Impor ilegal tersebut juga membuat saham Perusahaan yang memproduksinya melonjak naik. Saking sulitnya Ron sampai harus terbang ke Jepang.

Perjuangan untuk melegalkan AZT akhirnya berbuah manis. Walau masih dilarang, FDA akhirnya mengumumkan bahwa para penderita AIDS dibebaskan untuk memilih apakah mau mengambil resiko dengan mengkonsumsinya karena obat AZT masih dalam tahap percobaan. Sebuah kemenangan yang membuat Ron diberi applause oleh member-nya. Dan diantara orang-orang tersebut dokter Eve salah satu yang mengucapkan selamat, Ron layak disebut pahlawan.

Well, film ini lebih bagus dari perkiraan saya. Ceritanya masuk dan mencerahkan, tema bertahan hidup, perjuangan pengakuan publik, sampai kepedulian antar sesama. Akting para bintangnya juga mantab. Matthew bisa jadi menang best actor atas totalitasnya memerankan Ron. Dia menguruskan tubuhnya sampai kerempeng, mengingatkanku pada Christian Bale di film The Fighter, tapi yang paling mencuri perhatianku adalah Jared Leto yang dengan luwes memainkan seorang waria. Jared saya jagokan menang. Aksi sebagai waria yang meyakinkan begitu sulit, dia bermain cantik. Jenifer Garner bukan hanya sebagai pemanis di antara para pesakitan. Dia juga main bagus, respon saat dia diminta mundur dari rumah sakit, namun menolak sangat membekas, scene ini favorite saya, dia membalas permintaan bosnya dengan berkata: “aku tak akan mundur, silakan pecat aku!” lalu keluar ruangan. Begitulah cara keluar dari tempat kerja yang gentle.

Di akhir film dijelaskan nasib Ron dalam epilog singkat. Komunitas yang diburu kepolisian namun bermanfaat bagi warga penderita AIDS tersebut tersebut diberi nama ‘Dallas Buyers Club’.

Dallas Buyers Club

Director: Jean-Marc Valle – Screenplay: Craig Berton, Mellisa Wallack – Cast: Matthew McConaughey, Jared Leto, Jenifer Garner, – Skor: 4/5

Karawang, 270214