Zaman Meleset; Melaju Kencang

Penyair Revolusioner by Deddy Arsya

… aku membujukmu dengan bibir entah milik siapa: / “di sini, kami sama-sama sedang berbahagia!”… – Doa Para Pasien

Alurnya agak lambat, untung di tengah sampai akhir langsung kebut seru. Bagus banget saat halaman mulai di 50-an. Hufh… lega. Dimula dengan Jembatan Ambruk, meninggi dalam Sapi dari dalam Kitab Suci, lalu meledak bungah dalam Revolusi angsa Putih. Saya memang masih sulit menikmati puisi, tapi setidaknya di Penyair Revolusioner mendapat hikmat dan cumpuan asyik. baca baik-baik ini, “Hidup kadang-kadang saja lembut maka senjatamu teruslah asah, aku berdiam pada gagangnya!” 

Seperti sebelumnya saat ulas puisi, saya ambil beberapa yang memikat. Saya kutip sebagian dan kuselingi komentar. Satu kutipan, satu paragraf komentar. Enjoy it!

Musa di Sinai: Kami telah lewati / badai-badai kecil / diaku pendek saja: / Tuhan, kami ini hendak apakan?

Mungkin yang menjadi saran atau kritik adalah, dalam penyampaian kalimat langsung, sering kali ditutup dengan tanda perintah (!) seolah marah atau meminta perhatian, itu sah-sah saja tapi ya agak mengganggu kalau keseringan. Kutemui, banyak sekali. Seperti penulis mula yang sering menggunakan tiga tanda perintah (!!!), awalnya mungkin biasa, tapi jelas itu kurang nyaman.

Kota yang Terkunci dari Dalam: Pintu-pintu dari baja / engsel-engsel besar / dan kunci dengan gembok berkarat / dinding-dinding berwarna cokelat / lumut-lumut yang menjalar / dipisahkan oleh gang-gang / sunyi seketika menyergap / suara Anda lama bersipongang / seakan sedang berada dalam gua – atau gulag? / ketika melihat keluar, betapa hidup terasa terpisah dari keriuhan…

Janji, sumpah, maklumat. Sering kali kita temui dalam puisi. Cerita yang diberikan adalah sebuah kalimat terlontar yang dipegang, memegang angin? Seolah kata-kata bisa diperas, kali ini terlambat.

Nubuat yang Datang Terlambat: … “Aku bersumpah demi awan gelap ini / yang turun setelah petang hari / Aku sama sekali tidak benci padamu / aku berkata begini agar hatimu senang / tapi Aku mesti menyingkir / tapi bukan pertanda mangkir!”…

Paling suka puisi yang bercerita, maka narasi bagiku penting. Setiap bait yang diketik, memberi aura, bukan sekadar pilihan diksi. Maka saya suka puisi ini:

Membangun Kota: Memang ada kota yang didirikan dari gerutu / dari derap omong-kosong tak sudah-sudah! / Lalu mereka berkata: kita mesti atur itu siasat, / masa depan hanya diraih dengan gelegak hasrat / harus kau pilih jembatan antar selat atau kapal pengangkut / segala / pesawat-pesawat semakin sering jatuh dan orang-orang / takut terbang / padahal kelak oto dan sepur akan diberi sayap / “tapi maaf, ya, penyair partikelir seperti anda susah dibawa serta!”

Karya sastra lama juga disenggol, sudah sangat sering kusaksi dan nikmati. Kali ini dari Marah Rusli yang dikomplain oleh tokohnya.

Sitti Nurbaya di Pasar Gadang:Aku bayangkan ruh Nurbaya berkata: / pengarang celaka telah mendorongku ke jurang neraka!…

Beberapa terasa pengulangan, seperti sapi betina yang ada di kitab. Awalnya wah, ayat suci dikutip, tapi terulang di belakang, dan lagi.

Sapi dari dalam Kitab Suci: … Sapi betina yang luka pada pantat / menggoyang-goyangkan telinganya / yang kempis-kembang bagai hasrat pada kerampang / dia terpancang pada tambang / hingga larut malam / di padang-padang kuning / dikebat gelap begini lindap / kau tinggikan obormu ingin menangkap / “wujud, wujudmu, kami hendak!”

Ini yang bagiku ironi, jam 12 tutup saat adzan dhuhur, lantas kegiatan lanjut sampai adzan asar? Bagiku, bait terakhir adalah asar sebab dua adzan disandingkan di tengah hari.

Bank Tutup Jam 12 Siang: Bank tutup jam 12 siang, suara azan bagai bunyi perut lapar, / (banyak kejadian tertuang; puisi ditutup dengan begini) / suara azan terdengar lagi bagai suara kentut yang tertahan

Ini tentang fantasi, tukang bakso yang dikerumun pembeli, merdu sekali gema gentanya.

Gunung Api Fantasi: Ada tukang bakso lewat setiap sore / membunyikan genta sebagai tanda, aku mengira yang lewat / gerombolan sapi, orang-orang memburunya bagai arak- / arakan ke kuburan. Tia ada di antara / riuh karnaval itu, para pembeli berbicara dengan ibu / sambil menutup kedua telinga,…

Nah, narasi itu penting. Tak hanya di puisi, dalam prosa penyampaian yang tepat dan nyaman juga menjadi nilai lebih. Ini juga bagus sekali, bagaimana mudik menjadi petaka. Lantas diakhiri dengan semacam pemakluman kata ‘jihad’, padahal ia melontarkan sendiri dari kereta yang bergerak.

Kereta Lebaran: Dari atas kereta yang lewat malam / seorang pemudik yang penat berdesak-desakan / memutuskan / lompat kea tap rumah, melesat, bagai batu dilontarkan / orang-orang dalam rumah terpekik, ‘sialan!’, ‘anjing hutan!’ / mereka mengira sedang terjadi kerusuhan antarsuporter / sepakbola / mereka mulai menghitung-hitung berapa nilai kerugian / harus mengganti plafond an genteng-genteng yang rusak / sementara ‘si batu’ yang terlontar itu berguling-guling ke tepi / rel / persis batu, beradu dengan batu lain yang lebih besar / nun di kampung, keluarga yang mati berkata: / Dia wafat dalam berjihad!

Kutemui kata baru ‘aur’, belum kubuka kamus, dari web google artinya emas (bahasa Rumania). Namun dari web sinomim artinya: bambu/buluh. Mungkin pulang kerja nanti saya buka KBBI kertas sahaja.

Kau Tebing Aku Aur: … tetap tak bisa ia dilerai / katanya kau tebing aku aur / tiap runtuh padamu / riuh rusuh padaku…

Kenapa saya pilih kutip ini, sebab pagi disiram mentari itu nyaman dan segar sekali. Bahagia itu sederhana walaupun masih ngontrak.

Cinta Musim Panas (1): Kau boleh mencintaiku dengan rasa jijik / yang terus-menerus naik ke kerongkonganmu / tapi aku akan tetap membajak luas sawahmu, menjadi sapi, atau kerbau untukmu… / Kita akan bahagia disiram cahaya matahari jam tujuh pagi, / kita akan bahagia memiliki rumah /  yang bukan milik pribadi…

Sederhana tapi pas, cinta yang dimetamor dalam salak aning malam.

Cinta Musim Panas (2): … Cintaku adalah kasmaran sepanjang waktu. / Cintaku semata salak anjing dalam kegelapan!

Pemilihan kata beriak, lalu berdebur, lalu melipur. Enak didengar bukan?

Selesai ke Laut: … yang aku kira lebih ganas dari ombak memukul / Rasanya tak kutinggalkan engkau / yang beriak, yang berdebur, lebih melipur

Ini lebih ke realistis, ayolah kita hidup di kerasnya keadaan. Omong kosong lebih pas ketimbang angan-angan.

Pulang Malam: … Aku tak percaya pada impian yang menggebu-gebu. / Kita sebaiknya memelihara omong-kosong untuk bisa / berbahagia / aku tidak bisa menangkapmu lebih jauh lagi.

Demikian pengamatan dan komentar penikmat puisi amatir. Semoga berkenan. Seperti biasa pula, setiap buku debut baca kuketik ulang profil penulis/penyairnya.

Deddy Arsya lahir di Bayang, Pantai Barat Sumatera, 15 Desember 1987. Banyak tulisannya di media massa: esai, puisi, cerpen, tinjauan buku dan film. Buku pertamanya kumpulan puisi Odong-odong Fort de Kock (Padang, Kabarita, 2013) merupakan lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2013, dan merupakan Buku Satra Terbaik 2013 versi Majalah Tempo. Bukunya yang lain, Mendisiplinkan Kawula Jajahan (Yogyakarta, Basabasi, 2017), Rajab Syamsuddin si Penabuh Dulang (Yogyakarta, Divapress, 2017). Ini buku pertama bung Deddy yang saya baca, dan rasanya laik dinanti buku-buku berikutnya.

Tahun ini target melahap 12 buku puisi, masih empat bulan lagi, dan percayalah, akan kukejar walau para ‘Penyair Revolusioner.’

Penyair Revolusioner | Kumpulan Puisi | by Deddy Arsya | 57.17.1.0037 | Penyunting Septi Ws | Desainer sampul Studio Broccoli | Penerbit Grasindo, 2017 | ISBN 978-602-375-961-3 | Cetakan pertama, Juni 2017 | Skor: 4/5

Karawang, 310821 – David Sanborn – The Dream

Thx to Dea (GK)

Snow: Cinta, Agama, Puisi

“Kita harus menikah dan melarikan diri dari tempat ini secepat yang mungkin dilakukan oleh manusia. Apa kautahu betapa kita akan bahagia di Frankfurt?” Ini adalah kata-kata Ka kepada Ipek. Selama sesaat, dia mencoba membayangkan mereka berdua di Frankfurt, menyusuri Kaisertrasse, berjalan pulang setelah menikmati malam di gedung bisokop. Namun manusia hanya bisa merencana. Ka meyakini bahwa kebahagiaan terdiri atas kebaikan dan keburukan dalam jumlah yang seimbang, sehingga dia siap memandang pemukulan itu sebagai penderitaan yang harus dijalani supaya dirinya layak memboyong Ipek ke Jerman.

Buku dimula dengan empat kutipan di bawah ini, rasanya sangat laik diketik ulang dan dibagikan. Mewakili isi cerita, dan saya suka kutipan bagus gini. Seumur hidup Ka, seluruh pengalaman cintanya selalu disaput rasa malu dan derita, dehingga kemungkinan jatuh cinta lagi membuatnya begitu tenang. Pemandangan-pemandangan itu mengisahkan rasa kesepian yang aneh dan kuat.

“Kita tertarik pada sisi berbahaya setiap hal. Pencuri yang jujur, pembunuh yang lembut, ateis yang beriman.” – Robert Brwoning,“ Bishop Blougram’s Apology

“Politik dalam karya sastra adalah sebuah pistol yang ditembakkan di tengah-tengah sebuah konser, sebuah tindakan kejam yang mustahil diabaikan. Kita hendak membicarakan sebuah urusan gelap.”Stendhal, The Charterhouse of Parma

“Baiklah jika begitu, singkirkan saja manusia, batasi tindakan mereka, paksa mereka untuk diam. Karena pencerahan Eropa jauh lebih penting daripada manusia.”Fyodor Dostoevsky, The Brother ‘s Karamozov

“Orang Barat di dalam diriku telah membusuk.” – Joseph Conrad, Under Western Eyes

Ini kisah tentang cinta sejati yang membuncah, dibelit sesak keadaan.

Ka dan kehidupan yang dijalaninya di usia jelang tua. Penyair terkenal yang menjadi pelarian ke Eropa. Terkenal di Turki, tapi juga jadi bulan-bulanan sebab ideologinya dianggap membahayakan Negara, bahkan dianggap ateis, maka ia pergi ke Eropa, ke Jerman yang menampung. Nama aslinya Kerim Alakusoglu, nama kerennya Ka. Judul buku bisa saja Ka dan Cintanya, tapi akan tampak klise. Kepala mereka terasa pusing akibat impian-impian liar itu sehingga mereka tidak lagi merasa malu.

Kisah ini dimulai dengan tenang, kedatangannya kembali ke Turki setelah lama pergi, ke desa kecil Kars, di mana ia diundang dan dijadwalkan membacakan puisi. Ka melihat sisa-sisa masa lalu di kereta-kereta kuda yang masih terlihat di sana-sini, tersimpan di garasi-garasi, tapi kota itu sendiri tampak lebih kumuh dan menyedihkan daripada yang melekat dalam kenangannya.

Dia tak mengharap sambutan sehangat ini, dan dia takut ketenangannya akan goyah. Inilah yang ia takutkan selain menulis puisi yang buruk. Dia membaca apapun yang ingin dibacanya, dan dia membaca semuanya dengan kebahagiaan layaknya bocah yang menganggap kematian adalah hal yang terlalu jauh untuk dibayangkan.

Di sanalah ia kembali bertemu dengan teman kuliahnya, juga cinta sejatinya Ipek. Ipek seorang janda, mantan suaminya juga teman Ka. “Tidak”, jawab Ka. “Saat di Instanbul, aku mendengar bahwa kau dan Muhtar telah berpisah, aku datang kemari untuk menikahimu.”

Dan drama panjang bergesekan dalam gelegar politik, budaya, serta kemampuan bertahan dalam tekanan penguasa melawan pemberontak. Ka diombang-ambing kebimbangan, yang mana keputusan-keputusan yang ia ambil nantinya menjadi martir kematiannya di negeri jauh.

Ka, penyair muram yang memandang hidup dengan opmitisme penuh cinta, kembali ke Kars demi cinta. Kedatangannya dinanti penggemarnya, tapi juga dipandang sinis oleh kalangan agamamis, bahkan ia dituduh sebagai mata-mata Barat. “… mereka mengira Bapak sedang menjalankan sebuah misi rahasia dari pemerintah atau dikirim oleh pihak Barat…”

Ada satu pemuda tulus nan lugu. Nasibnya terakhir tragis, mati muda dalam keadaan tersenyum bahagia dalam hingar bingar tepuk tangan. “Mereka minum karena merasa tidak bahagia,” kata Necip. “Tapi, Bapak memabukkan diri supaya bisa menahan kebahagiaan tersembunyi yang sedang membuncah dalam diri Bapak.” Dia dapat mengingat setiap deskripsinya kata demi kata, seolah-olah cerita Necip adalah sebuah puisi.

Konfrotasi Lazuardi tampak memuakkan. “Hati Anda begitu rapuh dan mungkin tidak akan cukup kuat untuk menerima apa yang akan saya ceritakan, tapi izinkanlah saya menyingkirkan semua keraguan yang mungkin Anda miliki.”

Setiap kehidupan menyerupai sebuah kepingan salju: setiap individu mungkin terlihat sama saja dari jauh, tapi untuk memahami keunikan misterius seseorang, kita harus memecahkan misteri dari kepingan salju pribadi orang itu.

Kebetulan sedang ada kasus bunuh diri beruntun, para gadis yang mengakhiri hidup dengan berbagai alasan. Dari yang dipaksa kawin, diminta lepas jilbab, sampai kasus tak terang yang seolah tahu-tahu memutuskan bebas. Enam insiden bunuh diri dalam waktu singkat. Kesederhanaan motif tindakannya sungguh mengecewakan. “Tapi, jika ketidakbahagiaan menjadi alasan utama tindakan bunuh diri, maka setengah dari seluruh wanita Turki akan bunuh diri.” Dibelai dengan bacaan-bacaan Barat, dan dalam khayalannya, ruang dan waktu adalah faktor amat penting untuk bunuh diri.

Di sana ada ektrimis bernama Lazuardi, mengkoordinasi para pemberontak, melakukan teror, gerakan Islam radikal. Melakukan banyak serangan ke Pemerintahan yang terlalu liberal. Menuntut Turki kembali ke Negara Islam.  

Bersamaan pula sedang ada gerakan Turki moderat yang dipimpin oleh kelompok teater Sunay, dengan kebebasan dan nuansa dunia baru, mendorong Turki untuk lebih terbuka terhadap Barat dan bahkan memainkan sandiwara kontroversial, di mana tokoh utamanya wanita yang membuka jilbab di atas panggung, lalu melakukan pembunuhan. Saat mendengar bahwa sandiwara itu berjudul Tanah Airku dan Jilbabku, mereka mengira ceritanya akan menyinggung masalah politik kontemporer. Hegel adalah orang pertama yang melihat bahwa sejarah dan teater terbuat dari bahan yang sama. Aku membaca semua yang pernah ditulis oleh Sartre dan Zola, dan aku yakin bahwa masa depan kita terbentang bersama Eropa.

Sunay sebenarnya aktor berbakat dan menjanjikan. Ia banyak melakukan improvisasi, pintar menyesuaikan diri, lalu menjadi terkenal sebab pemilihan peran. Dirinya besar dengan situasi Turki yang juga menjadi Republik. Namun, seseorang tak tahu batasan apa yang laik dan tidak disampaikan. “Mungkin suatu hari nanti jika public menghendaki, saya akan memainkan peran sebagai Nabi Muhammad.” Bersama kalimat inilah masalah mulai menderanya.

Nah, Ka ada di tengah itu. Cinta, politik, agama, teater, dan segala pusaran membingungkan. Kasihan sekali ia terjebak, padahal hatinya tulus dan baik sekali. Pria pendiam dan suka merenung yang sejatinnya hanya mengingin cinta dan bahagia. Kasihnya yang meluap terhadap Ipek menjadi tonggak penggerak mau ke arah mana ia berpijak. Ipek adalah anak sulung pemilik hotel, di mana Ka tinggal. Bersama pula si bungsu yang tak kalah cantik, Kadife. Apesnya, belitan kisah ini menekan nasib buruk pada Ka sebab Kadife adalah kekasih Lazuardi. Nantinya bahkan ada kejutan besar, kisah cinta ini. Rumit rek! “Ketidakbahagiaanku melindungiku dari kehidupan.” Kata Ka. “Jangan cemaskan aku.”

Beberapa kali Ka diminta ketemu dengan sang ekstrimis dengan naik kereta, ia naik dengan sembunyi di jok belakang tertutup, di tempat tersembunyi. Pertemuan berkali-kali ini dilihat sebagai persetujuan Ka mendukung Lazuardi, padahal ia hanya melakukan tugas. Begitu juga nantinya ia diminta sebagai penghubung Sunay yang melakukan pemberontakan di panggung, lalu menyusun strategi naskah yang menyatakan ia ditembak mati live di atas penggung dengan pemeran utama Kadife.

Sensasi yang selalu dirasakan Ka saat masih kanak-kanak dan remaja ketika mendapatkan kebahagiaan luar biasa membuncah di dalam dirinya: prospek masa depan yang diliputi keputusasaan dan penderitaan. “Apa aku harus mengunjungi semua orang gila di Kars?”

Ka yang sudah menemukan cintanya, Ipek yang sepakat ikut ke Jerman, dan segala ombang-ambing nasib itu, bagaimana akhirnya sungguh mengerikan. Betapa hidup memang kejam, Ka yang malang. “Satu-satunya hal yang menyatukan kita adalah fakta bahwa kita berdua merendahkan harapan kita akan kehidupan.”

Ka baru seminggu kembali di negeri ini, dan ia belum memiliki cukup keahlian sekuler untuk mendeteksi motif politik setiap melihat seorang wanita berjilbab. Pergolakan pemakaian jilbab menjadi tema penting di sini. Dari pelaku bunuh diri, promo akan pentingnya wanita melindungi diri, sampai puncaknya dalam pentas dengan tokoh melepas jilbab secara live. “Copotlah jilbabmu, karena Negara mengingin-kamu melakukannya.” Adalah kalinat yang sempat muncul, tapi Pamuk tak condong ke sisi manapun. Ia hanya berkisah, ia melakukan dengan jitu di tengah-tengahnya.

Penggambaran setting tempat juga ciamik sekali. Salju yang dingin menghampar luas di setiap mata memandang. Pepohonan dari masa kecilnya telah layu atau ditebang; gedung bioskop yang sudah ditutup selama sepuluh tahun, masih berdiri dikelilingi oleh deretan toko-toko pakaian kecil yang tampak suram.

Ka yang ateis memandang hidup ngalir aja, asal bahagia. Kebahagiaan terbesar akan datang jika dia tidak bertindak demi kebahagiaan pribadi. Ada pembunuhan dengan Ka sebagai saksi. Pembunuhan direktur Institut Pendidikan dengan tebakan jarak dekat, ia membawa sebuah alat perekam, yang ditempel di dadanya oleh seorang agen dari badan intelejen MIT cabang Kars. Harapan akan keselamatan mendatangkan kebahagiaan di dalam hatiku.

Sebagai penyair, setiap momen begitu berharga sebab inspirasi bisa datang kapan dan di mana saja, maka ia membawa buku catatan. Sebagian pikirannya masih bekerja dengan cara berbeda, dengan cara Barat, dan dia membenci dirinya sendiri karenanya. Hujan salju tak kunjung usai, begitu pula daftar topik yang harus kita diskusikan Hal ini terjadi karena benaknya terlalu sibuk memimpikan Ipek, perutnya masih kosong, dan kebahagiaannya meledak-ledak. “Aku tidak tahu bagaimana caraku menulis puisi, puisi yang bagus selalu hadir dari luarm dari jauh…”

Seolah memang tak peduli keadaan, ia hanya ingin cinta pada Ipek terbalaskan. Maka saat itu terwujud, ia melampung tinggi. “Aku sedang sangat bahagia sekarang ini. aku tidak butuh agama,” kata Ka. “Dan lagi pula, bukan karena itulah aku kembali ke Turki. Hanya satu hal yang mampu mendorongku kembali ke sini: cintamu… apakah kita akan menikah?”

Saya sempat terlintas pikiran, apakah mungkin Ka dengan Kadife saja yang lebih moderat sekaligus terkekang cinta itu? Lebih cantik dan wawasan lebih luas. Ka sedang sangat masuk, mereka semua menyangka pernyataan ini sebagai ceracau belaka. Kehidupan memiliki geometri rahasia yang tidak dapat diolah oleh akal sehat. “Kakaknya jauh lebih cantik,” kata Ka, “Kalau memang kecantikan yang kita bicarakan.” Saya tahu semua itu tidak mungkin terjadi, tapi saya masih mencita-citakannya. Namun pada akhirnya, cintanya pada Ipek luar biasa indah dikenang.

Hanya orang-orang yang sangat pintar dan sangat tidak bahagia bisa menulis puisi bagus. Dan Ka dengan tepat menggambarkan itu. Saya belum bisa menikmati puisi, sulit dan dalam. Ternyata resep utama memang tak bahagia. Hahahaha… Tak seorang pun mengerti, menyangka mereka adalah bagian dari sandiwara yang sedang dipentaskan. Jelas terlihat dari ekspresi wajah mereka bahwa sesuatu yang luar biasa telah terjadi. Salah satu dari topic penting dalam sebuah puisi adalah kemampuan si penyair untuk menutup sebagian pikirannya meskipun dunia sedang kalau balau. Tapi ini berarti bahwa penyair tidak memiliki hubungan dengan masa kini, sama seprti hantu. Itulah harga yang harus dibayar oleh seorang penyair demi menghasilkan karya.

Satu lagi, dalam novel seorang penulis harus bisa mengandaikan adegan bukunya. “Ya. Akan ada adegan yang tepat seperti ini dalam novel fiksi-ilmiah yang akan saya tulis suatu hari nanti…”

Dia memenangkan diri dengan berpura-pura bahwa dirinya hanyalah seorang tamu hotel biasa di sebuah kota asing. Dan baru ketika itulah dia mulai menyatukan segala hal yang sebelumnya diabaikan oleh pikirannya. Kedamaian jalan yang kosong mengingatkan Ka pada jam malam yang diberlakukan saat masa kanak-kanaknya. Secara samar-samar hidungnya juga menangkap aroma iodin dan rumah sakit, teror dan kematian. Tepat ketika itulah sebuah puisi baru menempa benaknya; begitu kuat, begitu membahagiakan dengan cara yang ganjil. “Tapi, aku tak bisa mengejar diriku sendiri. Yang bisa kulakukan hanyalah bertahan. Semua yang dilakukan dengan baik akan berakhir baik.”

Aku menyambar kesempatan besar yang hanya mendatangi orang-orang yang dikaruniai kejeniusan dan pada hari ketika aku akan menggunakan karyaku untuk melibatkan diri dalam arus sejarah, tiba-tiba ada yang menarik karpet yang kupijak, dan aku mendapati diriku terjerebab dalam kubangan lumpur terjorok.

Jika kita tidak membiarkan tentara dan Negara mengurus para fanatik berbahaya ini, kita akan berakhir dengan kembali lagi ke Abad Pertengahan, terjerumus dalam anarki, menyusuri jalan terkutuk yang telah dilewati oleh begitu banyak bangsa terbelakang di Asia dan Timur Tengah. Kau harus meyakini Tuhan dengan cara seperti orang miskin, kau harus menjadi salah seorang dari mereka.

Misi melelahkan dan membosankan ini tidak hanya mematahkan sol sepatu si detektif tetapi juga semangatnya. Seperti seorang pria tua murung yang tersesat di lautan impian  dan hantu, dia membicarakan tentang kenangan-kenangan politik yang menghampirinya saat menonton Marianna, dan tentang ketakutannya kembali ke penjara, dan tentang tanggungjawabnya sebagai seorang pria.

Dia sedang merayakan fakta bahwa pada akhirnya dia dapat mewujudkan berbagai fantasi yang selama ini bermain-main di dalam pikirannya. Diagram kepingan salju antara logika dan imajinasi dengan Ka di titik pusat.

Kecemburuan semacam ini wajar terjadi dalam tahap awal hubungan asmara yang belum teruji, mtapi sebuah suara batin yang lebih kuat menyuruhnya untuk memeluk Ipek dengan sekuat daya dimilikinya… “Mengapa dia menangis?” /Dia sedang jatuh cinta.”

Ka tidak berpendapat bahwa Surga adalah masa depan yang kami impikan: bagi Ka, Surga adalah tempat mimpi-mimpi dalam kenangan dilestarikan. “Kami miskin dan sepele. Kehidupan merana kami tidak mendapatkan tempat dalam sejarah manusia. Suatu hari nanti, semua yang ada di Kars akan mati dan pergi. Tak seorang pun akan mengingat kami, tak ada yang memedulikan kami…

Dia terlempar dari waktu, dilumpuhkan oleh gairah; satu-satunya penyesalannya hanyalah karena dia telah menghabiskan kehidupannya selama ini tanpa menemukan surge itu. Ini kedamaian yang dirasakan jauh melampaui apa pun yang pernah dialaminya. Dengarkan kau, kehidupan bukan melulu soal prinsip, kehidupan adalah soal mencari kebahagiaan.

Orang-orang yang membuat keputusan buruk dalam kehidupan mereka gara-gara gejolak kekeraskepalaan sesaat, dan kemudian seumur hidup menyesalinya. “Dan, bagaimana Anda mendefinisikan kebahagiaan.” / “Kebahagiaan adalah menemukan sebuah dunia lain untuk ditinggali, sebuah dunia tempat kita bisa melupakan kemiskinnan dan tirani. Kebahagiaan adalah memeluk seseorang dan mengetahui bahwa dunialah yang sedang kita peluk.”

Anda tidak mengikuti perkataan hati kecil Anda sendiri; Anda hanya menerka-nerka apa yang akan dilakukan oleh seorang Eropa dalam situasi yang sama, lalu Anda bertindak seperti itu juga. Keputusan akhir buku juga sudah sangat pas tampak realistis. Sang kolonel bilang, mereka telah mencampurkan seni dan realitas.

Penganut agama radikal di manapun sama saja, menuntut kebebasan beragam, tapi hanya untuk kaumnya. “Mengapa ada begitu banyak orang yang tiba-tiba berpaling ke agama?” adalah pertanyaan umum. Ayatollah Khomeini bilang, “Yang terpenting untuk dilakukan sekarang ini bukanlah menunaikan salat atau berpuasa melainkan melindungi Islam.”

Ada penjelasan asyik, walau sekadar astronomi iseng bahwa pasangan yang paling cocok untuk pria Gemini adalah wanita Virgo. Sherina dan aku nih, walau jenis kelamin dibalik. Pada akhirnya buku ini seolah biografi teman Pamuk. Ditulis dengan gaya sastra yang sangat bagu. “Karena nantinya Ka akan menggambarkan secara mendetail kebahagiaan tak berbatasnya ini dalam buku catatannya, aku tahu pasti perasaan apa yang sedang menderanya malam ini…” Yap, Pamuk melakukan penelusuran hidup Ka.

Hasil cetaknya bagus, walau tebal sekali, terlihat sangat kuat tak mudah rontok. Hanya saja saya menemukan dua lembar di halaman 633-636 diilid terbalik. Lucu juga sih jadinya. Mulai dibaca 23.03.21 selesai 18.04.21, hampir sebulan. Melelahkan sekali seperti bercinta dengan durasi lama, 600 halaman dalam hingar bingar Turki yang dingin.

Ini adalah buku kedua Orhan Pamuk yang kubaca setelah Wanita Berambut Merah. Suka banget penggambaran adegan final di kamar hotel. Ka melihat Ipek bagaikan sesosok patung, di jendela Kamar 203 di Hotel Istana Salju, masih mengenakan gaun beledu hitamnya… seolah Ka ingin menangkap momen itu dan tak mau beranjak.

Hal terpenting dalam kehidupan adalah kebahagiaan, tapi sebagian dari diri kita mengetahui bahwa kita harus merajut kebohongan, jauh lebih siap berkorban. Sediah sekali ya nasib Ka. Seperti di dalam mimpi buruk, semua orang merasa sendirian. Aku menolak untuk tunduk pada keputusasaan. Mimpi-mimpi heroik adalah tempat berpaling bagi mereka yang tidak bahagia.

Betapa Ipek jauh lebih cantik dalam kenyataan daripada dalam ingatannya. Ka tahu betul bahwa kehidupan adalah rangkaian tanpa arti dari berbagai kejadian acak.

Salju | by Orhan Pamuk | Diterjemahkan dari Snow | terjemahan bahasa Turki dari Maureen Freely, terbitan Faber and Faber, London, 2005 | Penerbit Serambi Ilmu Semesta | Penerjemah Berliani M. Nugrahani | Penyerasi Qamaruddin SF dan Anton Kurnia | Pewajah isi Sitqom | Cetakan I: Agustus 2015 | ISBN 978-602-290-043-6 | Skor: 5/5

Untuk Ruya

Karawang, 230721 – 030821 – 090821 – Bill Withers – Grandma’s Hand

#Mei2021 Baca

Ini air kencing asli India […], kau tidak membutuhkan uang, kedudukan atau massa untuk mendapatkannya. Kau hanya butuh keberanian. Dan Cuma itulah yang kumiliki…” – Sameer Khan dalam Halla Bol (2008).

Mei adalah bulan dengan warna merah banyak di kalender. Karena pandemi aja kita tak bisa ke mana-mana, libur Lebaran juga terasa hambar sebab silaturahmi ketemu langsung terputus, mengandalkan telpon daring. Maka tak heran bulan ini lumayan banyak menyelesaikan baca. Tercatat ada 11 buku, dua hari penulis favorit Haruki Murakami, dua lagi dari sang psikoanalis Freud. Here we go…

#1. Luka Batu by Komang Adyana

Kisahnya berkutat di Bali, tempat sang penulis tinggal dan dibesarkan. Kebanyakan dari kita memang paling nyaman menulis tentang hidup kita dan sekeliling kita, jadi seolah dituturkan langsung dari pengalaman hidup. Relevan dan masuk akal, sebab akan tampak aneh dan tak berlogika jika kita yang lahir dan besar di Indonesia bercerita tentang dinginnya salju negeri Swiss misalnya.

“Kelak kalau ada yang tahu aku penyebab kematian perempuan itu, kalau ada yang bertanya kenapa, dengan masih setengah mencari-cari aku akan tetap bisa memberi jawabannya…”

#2. Angel of Darkness (Sheldon’s Series) by Tilly Bagshawe

Novel pertama serial yang mengekor Sidney Sheldon yang kubaca, bagus. Menegangkan, gaya dan alurnya mencoba sama dengan sang maestro. Kejutan ada, pace-nya cepat, karakter ganteng dan cantik, kekayaan yang melimpah, misteri pembunuhan yang dibuka sampai bab-bab akhir. Dan saya terpikat gaya keliling dunia, dengan salah satunya nuansa lokal. Jangan lupa, karakter perempuan yang kuat bak batu karang. Malaikat perempuan yang rapuh ini memiliki kekuatan mematikan, langsung mengingatkanku pada mayoritas karakter ciptaan Sheldon…

“Tak ada yang tak termaafkan. Aku tidak mencintai masa lalumu, Lisa. Aku mencintaimu.”

#3. Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya by Haruki Murakami

Tentang persahabatan empat anak sekolah yang selepas lulus ambyar sebagian. Wajar dan sangat manusiawi. Namun karena ini ditulis oleh Haruki Murakami maka plot yang biasa menjadi luar biasa. Dengan balutan fantasi, mimpi dan keadaan tak sadar sehingga jiwa bisa seolah masuk ke dimensi lain. Kisah ini menyelingkupi keempatnya, memaafkan dan melepas hal-hal yang mengganjal menjadi begitu dominan. Ikhlas dan segalanya biarkan berjalan semestinya. Ia tak bisa terus menunggu sampai seseorang menelponnya sembari merangkul perasaannya yang kacau.

“…Bagaimanapun peristiwa itu terjadi jauh di masa silam dan sudah tenggelam sampai di dasar.”

#4. Renungan Kloset by Rieke Dyah Pitaloka

Seperti syair-syair yang lain, rasanya memang paling enak dibaca dengan nyaring. Namun tetap esensi yang utama, di sini tetap membumi dengan bahasan umum. Terbagi dalam lima bagian utama yang direntang tahun: 1998, 2000, 2001, 2002, 2003. Sejalan dengan perjalanan hidup Rieke yang tumbuh makin matang. Ditulis di banyak tempat, daro kota-kota lokal hingga manca Negara, yang secara alami bilang sudah berpesiar di belahan dunia jauh. Zaman itu adalah masa-masa kita menikmati wajah Oneng dalam Bajaj Bajuri. Kala itu saya tak tahu bahwa itu juga penulis.

Mempelai Wanita

… Suatu hari,

Perempuan itu meninggalkan dalam beku yang dingin seperti biasa, senyumnya tetap menempel di sudut jendela dan pintu.

Lelaki itu memeluknya dalam derai air mata, entah tangis kehilangan entah tangi bebas dari belanggu… – Tebel, 15062000 (h.17)

#5. Civilization and Its Discontents by Sigmund Freud

Keren adalah kata pertama yang kuucapkan ketika di tengah baca menikmati teori-teori ini. Di akhir merasa ada ganjalan, pemaknaan hidup yang luas dan fakta-fakta yang disodorkan memang mencipta bimbang. Freud memang hebat kala memainkan pikiran, dan Civilization and Its Discontents jelas sukses besar mencipta riak kegelisahan.

“Keindahan, kebersihan, dan keteraturan jelas menduduki posisi istimewa di antara syarat-syarat yang dibutuhkan peradaban.”

#6. The Man Who Loved Books Too Much by Allison Hoover Bartlett

John Gilkey sebenarnya mencuri karena cinta. Ia mencintai buku dan ingin memilikinya. Setiap kolektor, berdasarkan definisinya, sepertinya agak terobsesi, bahkan sedikit gila. Bagi seorang kolektor, satu saja tidak cukup, yang suatu koleksi lengkap, masih ada koleksi lain yang harus dilengkapi, bahkan mungkin sudah dimulai.

“Aku hanya senang mengoleksi buku, mengoleksi barang…”

#7. Aku dan Film India Melawan Dunia Buku I by Mahfud Ikhwan

Beginilah rasanya membaca sesuatu yang asing, susah tune in. Dari semua nama aktor yang disampaikan tak lebih dari lima orang saja yang kukenal, dari seluruh film yang terbaca paling banyak delapan sembilan yang pernah dengar, yang sudah nonton tak lebih dari lima. Lantas kenapa saya memasuki dunia asing ini? Tentu saja nama besar Mahfud Ikhwan, ia mencintai film-film India, mencipta dua seri karenanya, sebagian besar dari blog pribadinya. Walau asing, bahasa penyajian terasa nyaman dan rona-rona klik akhirnya terasa karena sudah sebagian besar karyanya kunikmati.

“Lebih-lebih untuk seseorang yang mendaku dirinya memiliki kewajiban profetis untuk mendakwahkan film India. Tapi, saya bersyukur pernah melakukan kegilaan kecil yang menyenangkan ini.”

#8. Kritikus Adinan by Budi Darma

Ini adalah buku kedua Bung Budi Darma yang kubaca setelah Rafillus yang absurd itu. Langsung jadi penulis idola, tampak unik dan luar biasa aneh. Kumpulan cerpen ini sama absurd-nya dengan Rafillus, tokoh-tokohnya tak biasa. Nama-nama juga nyeleneh. Dilengkapi ilustrasi ciamik di tiap cerita, rasanya memang pantas kukasih nilai sempurna.

“Dengan mendadak kamu mengunjungi saya, Malaikat. Apa sebenarnya dosa saya? Sejak kecil saya selalu berusaha berbuat baik.”

#9. Seni Menulis by Haruki Murakami

Seni menulis berisi tujuh tulisan plus satu lampiran wawancara rilis buku ‘Membunuh Commendatore’, dari berbagai sumber jadi kalian tak akan menemukan buku aslinya kecuali dari berbagai sumber yang disarikan. Menarik dan sangat menggairahkan melahap kata-kata dari idola. Setiap tulisan diawali sengan kutipan keren, saya ketik ulang kutipan tersebut biar nyaman dibaca online berulang kali.

“Bagiku menulis itu seperti bermimpi. Saat menulsi aku bisa bermimpi sekehendakku. Aku bisa memulai dan mengakhirinya kapan pun, dan bisa meneruskan mimpi itu keesokan harinya.”

#10. Cinta Bagai Anggur by Syaikh Muzaffer Ozak

Buku-buku Tasawuf memang sedang gandrung kubaca, efek menikmati Dunia Mistik dalam Islam. Nah, kali ini kita ke seberang Benua. Di Amerika yang asing, seorang guru sufi Syaikh Muzaffer Ozak. Nama asing bagi yang tak mendalami genre ini, tapi ia memang pahlawan sebar Islam di dunia Barat. Cinta bagai Anggur bagus banget, banyak menukil kisah-kisah, diselingi humor dan segala adat Islam, tentunya humor sufi. Beberapa terasa kebetulan, padahal ada Tangan Allah yang mengayunkan nasib manusia. Jelas rekomendasi tinggi, beruntung saya mendapatkan anggur ini, beruntung menikmati manisnya tiap teguknya.

Rumi berkata, “Apakah Cinta itu? Dahaga yang sempurna. Kemarilah, akan aku jelaskan tentang air kehidupan.”

#11. Narsisme by Sigmund Freud

Buku paling lemah karya Freud yang pernah kubaca. Sempat kontra dengan beberapa pendapatnya, lalu benar-benar tak sepakat. Bisa jadi beliau adalah orang hebat saat ngomonging psikologi tapi jelas terasa janggal berpendapat bahwa kekurangan alat kelamin perempuan menjadikan perempuan mengalami kecemburuan terhadap penis lelaki dan menyebabkan rasa rendah diri. Well, terdengar aneh dan tak masuk akal bukan?

“Tuntutan akan keadilan merupakan modifikasi dari kecemburuan dan menegaskan suatu kondisi yang berkaitan dengan hal yang dapat mengesampingkan kecemburuan.”

Karawang, 060821 –  Sherina Munaf – Ada

#Oktober2020 Baca

“Manusia yang berpikir bukan otaknya.” – Kata Straus (1963)

Bulan santai pasca KSK, secara kuantitas tetap saja melaju di angka belasan. Yang paling sulit memang The Constant Gardener berisi lima ratus lima puluh halaman, ukuran lebar dan topiknya rumit. Heart of Darkness kumasukkan giveaway, jadi setelah baca langsung kulepas. KSK ada dua buku, keduanya tersingkir dari daftar pendek jadi dibaca santai yang ternyata malah bagus banget keduanya. Sedang menikmati buku-buku psikologi dan filsafat, dan kumpulan esai. Oh iya, jangan lupa beberapa buku lama kubaca ulang, terutama yang belum kuulas jadi untuk mengetiknya, saya butuh refresh.

Menyenangkan sekali bukan, menikmati buku dan menceritakan keseruannya dalam blog?

#1. Heart of Darkness Joseph Conrad

Ini tentang perjalanan ke belantara Afrika dengan rute sungai. Penuh perjuangan sebab di prosesnya mendapat serangan dari suku pedalaman. Menuju Tuan Kurtz yang kejam, sekaligus dipuja oleh Pemerintahan Belgia. Menuju jantung kegelapan, tentang kolonialisme di Kongo, tentang penjualan gading.

Bernarasi kalimat langsung, jadi sang tokoh Aku menceritakan kepada para awak kapal, pengalamannya selama perjalanan. Sebagai nahkoda dalam misi menjelajah ke Congo, sebagai wilayah jajahan Belgia. Nah, selama air mengalir mengantar mereka itulah kita disuguhi sisi gelap manusia. Kolonialisme, pemaksaan kehendak demi kepentingan para penjajah, penjualan gelap gading gajah, korupsi, hingga perilaku manusia dalam sisi hitam. Memudiki sungai ini bagaikan melakukan perjalanan kembali ke masa paling awal dunia ini, ketika vegetasi bersuka-ria di bumi dan pepohonan besar bak raja-raja.

Aku melihatnya, aku mendengarnya. Aku melihat misteri tak terpahami dari satu jiwa yang tak mengenal batasan, keyakinan, dan ketakutan, namun masih berjuang membabi buta mengasai dirinya…”

#2. Makan Siang OktaNurul Hanafi

Saya suka sekali film A Ghost Story yang menampakkan ‘hantu’ yang bosan menapaki waktu di tempat yang sama untuk rentang kisah acak. Saya juga suka sekali Buried yang membuat Ryan Reynolds terkubur satu setengah jam dalam peti, yang otomatis sepanjang film penonton turut sesak. Saya juga suka sekali Locke, filmnya tentang Ivan Locke ngomong sendiri di mobil via telpon, ia berkendara dan meramu kejadian di sekelilingnya jadi syahdu. Nah, di Makan Siang Okta kita mendapat sisi minimalis itu. Sungguh jantan dan menarik. Kalian diminta untuk terus menyimak dialog sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu, cintailah kebosanan itu.

Ini kisah sederhana, sebuah kunjungan anak SD ke teman sekelasnya untuk meminjam buku, yang nantinya kita tahu hanyalah alibi. Kedatangan ini memang tak memerlu konfirmasi sebab Okta, gadis itu juga tidak tahu ia bakalan datang, saat Tendy tiba ia sedang makan siang. Kau hampir sama sekali tak tahu bahwa ikan bandeng, sepatu selop, seuntai kalung, dan sebuah buku cerita benar-benar telah tampil sia-sia jika dibandingkan dengan keanehan dia yang memiliki semua barang itu sekaligus. Adegan sepanjang buku akan berkutat di situ. Setelah berputar-putar dalam dialog dan ‘dialog’ dalam kepala Tendy, kita bertemu ibunya Okta yang sedang mengupas kentang, turut sertalah beliau dalam belitan kisah. Tokoh nyata hanya bertiga, walau dalam percakapan menyinggung nama-nama lain seperti teman sekolah atau teman masa kecil ibu, tapi tetaplah tokoh Makan Siang hanya bertiga. Sekolah tidak mengajarkan cara menghabiskan waktu siang yang baik bersama seorang teman laki-laki. Maka muncullah buku panduan ini. Haha…

Karena aku menganggapnya paling cantik sekelas.”

#3. Kiat Bermain SahamSurono Subekti

Secara ekstrem saham dibagi menjadi dua, saham fundamental dan saham kucing kurap. Di era itu belum dikenal saham gorengan kali ya. Justru ketika baca saham kucing kurap rada aneh. Hehe… Faktor judi di saham kucing kurap itu sangat besar, disebut kucing kurap karena diusahakan setelah dipegang segera dilepas begitu ada kesempatan. Sedang saham fundamental, bisa disimpan bertahun-tahun di lemari besi, bahkan seumur hidup sampai pensiun kalau mau.

Pengalaman adalah guru terbaik, lapangan adalah guru terbaik. Saya sudah main saham hampir dua tahun, Alhamdulillah sudah positif, sudah untung. Sejatinya ingin jadi investor, tapi tiap minggu/bulan pas lihat grafik hijau, tangan ini gatal buat jual, akhirnya yo wes yang warna hijau berkali-kali kujual buat kuputar. Sampai-sampai berpikir, ini kok cari duit sederhana dan gampang ya? Cuma tanam duit, pilih saham bagus, diamkan, sebulan dua bulan dicek udah untung. Wew… kenapa ga dari dulu pas masih lajang sih. Hiks. Namun nggak papa terlambat, masih bisa kok nabung saham. Terus bergerak dan belajar. Termasuk baca buku saham dari yang jadul (seperti buku ini – buku kedua saham yang selesai kubaca setelah Simple Stories for Simple Investor) sampai baca buku saham terbitan baru, saya lahap semuanya. Beberapa buku pinjam, beberapa beli sudah di rak. Saya adalah pembaca yang rakus.

Jadikan bermain saham sebagai hobi. Memilih saham sama seperti memilih orang. Salah satu alasan membeli saham adalah membeli masa depan perusahaan.

#4. Apa yang Harus Saya Lakukan? Drs. R.I. Suhartin

Buku konseling remaja yang bervitamin sekali. Keren! Jadi tahu curhat dan jawaban pakar masalah-masalah pergaulan tahun 1980-an. Buku ini berisi lima permasalahan utama, yang dibagi lagi dalam tanya-jawab satu arah 47 poin, kecuali ada dua pertanyaan dari orang yang sama. Merupakan kumpulan tulisan dalam Rubrik Pendidikan di suratkabar Berita Buana. Sangat menarik, bagaimana remaja kala itu menghadapi problematika yang rasanya relatif masih sama dengan era sekarang, minus gadget dan kebebasan bersuara. Related. Permasalahan remaja, tak jauh dari cinta, keluarga, dan peningnya belajar. Cinta kala itupun sudah mengarah ke seks yang tentu saja tabu untuk dibicarakan.

Jawaban-jawaban yang diberikan sangat lugas, bagus sekali, enak dibaca. Terlihat sekali direspon dari orang bijak yang berpengalaman mendidik dan mengalami pasang surut kehidupan. Seperti opsi, yang utama membahagiakan orang tua atau pribadi? Ketidakmampuan memenuhi kemauan orang tua tidaklah menjadi soal, yang pokok adalah Anda! Susunlah rencana sesuai dengan kemampuan, dan segera menyusun siasat, cara, dan teknik penyampaiannya, yang penting bahagia sesuai kemampuan pribadi. Kebetulan topik ini beberapa hari lalu sedang dibahas di diskusi inspirasi pagi. Hanya doa dengan hati yang bersih yang dapat dikabulkan Tuhan.

Cinta sejati bukan sekadar seks belaka, tapi harus meliputi keseluruhan pribadi masing-masing, yang utama tahan uji dalam keadaan apapun, maka cinta bukan hanya seks centered, tapi harus personality centered.

#5. Oh Film…Misbach Yusa Biran

Buku tipis yang sebenarnya bisa cepat diselesaikan baca, tapi saya baca santuy jelang tidur. Saya bacakan untuk Hermione satu atau dua bab setiap beberapa malam. Ini adalah buku rekomendasi Sherina Munaf dan berkali-kali cari di Gramedia Karawang nggak ada, maka saat ada yang jual daring, langsung kusambar. Buku yang sejatinya biasa, hanya mencerita kehidupan seputar orang-orang film di Senen, dari sudut pandang para jelata mengais rupiah hanya untuk sekadar bertahan hidup dari bulan ke bulan. Kisah apes yang mengelilingi para kuli film. Judulnya tentu pas sekali, … oh, film!

Kisahnya lebih sederhana dan membumi, ini buku berdasarkan pengalaman sang penulis yang berkecimpung di dunia film sejak 1954 sebagai anggota PERFINI. CV filmnya sangat banyak, jasanya dalam seni di Indonesia tentunya melimpah. Tahun 2008 beliau menerima Bintang Budaya Parama Dharma, bintang tertinggi dari Pemerintah RI di bidang budaya.

“Ah… betapa tenangnya langit, mengapa orang bisa tidur di malam berbintang terang seperti ini?”

#6. Ketua Klub Gosip dan Anggota Kongsi KematianYetti A. KA

Kumpulan cerpen yang menyajikan hal-hal sederhana malah mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan. Kata Martin Heidegger dari Jerman, yang meneliti eksistensi manusia terutama tentang kecemasan, kenisbian segalanya dan kesadaran manusia akan kematian. Ada yang bilang Heideggar seorang ateis, ada yang bilang pula ia seorang mistikus, tapi dengan jelas ia mengatakan bahwa dirinya, “sedang menunggu kedatangan Tuhan.”

Begitulah, Ketua Klub Gosip menjadi kumpulan cerita pendek yang melatari sisi dalam setiap individu. Dengan tema beragam dan beberapa minim penjelasan menjadikannya lebih asyik sebab segala yang membingungkan malah menarik. Ia mempertahankan pentingnya transendensi. Bagaimana jadinya kalau gosip sedih itu dimulai dari orang yang kita kasihi?

“Seharusnya kau menggunakan benang merah untuk topi itu”

#7. Cerita, Bualan, KebenaranMahfud Ikhwan

Kebetulan ini buku kedua tahun 2020 dari Tanda Baca yang kubaca, Tentang Menulis-nya Bernard Batubara yang gagal memenuhi harap, sekadar curhat pengalaman beliau mencipta karya, tak dalam, sangat biasa, dan benar-benar tak bervitamin. Sempat terbesit sepintas, jangan-jangan ini buku ala kadar juga? Sama-sama tipis dan berkutat dalam proses kreatif. Namun tentu saya rasa was-was itu bisa dienyahkan seketika, jelas Cak Mahfud punya kualitas, punya standar yang menggaris, mana yang laik dicetak dan mana yang sebaiknya tetap tersimpan dalam komputer. Kedelapan tulisan di sini sungguh ciamik. Kalau dituturkan dengan irama merdu gini, sangat perlu dibuat lebih banyak lagi kisah-kisah dibalik karya, terutama tentu saja karya yang sudah dikenal rakyat, dikenal pembaca dengan akrab. Dengan sudah membaca tiga buku sebelumnya, bualan beliau langsung bisa nyetel, klik sejak di akhir tahun cuti yang lucu itu.

Saya belum baca satupun buku karya Pak Kunto, tapi namanya memang termasyur di kalangan klub buku. Berkali-kali incar, gagal bawa pulang. Terutama Pasar yang sering kali muncul di pajangan. Ternyata menjadi panutan Cak Mahfud.

“Kekuasaan bergandengan tangan dengan agama akan memperlihatkan sisi buruk manusia.”

#8. Koleksi Kasus Sherlock HolmesSir Arthur Conan Doyle

Saya sedang membaca ulang beberapa buku lama, saya pilih pilah yang terkesan dan belum kuulas. Seingat saya, buku Sir Arthur baru satu yang kuulas di blog, makanya seminggu lalu entah refleks ambil buku ii di rak. Saya sudah khatam semua kisah Sherlock, dan membaca ulang malah menelusur kenangan, dan ingatan saya di Koleksi Kasus ternyata nggak kuat nempel, hanya beberapa yang klik, kebanyakan lupa tentang apa. Makanya terasa fresh lagi. saya baca buat selingan baca non-fiksi tentang filsafat yang bikin kerut kening making banyak.

Ternyata ini masa-masa akhir Holmes yang pensiun. Jadinya masuk ke koleksi kasus. Beberapa kisah berulang, seperti Holmes yang sombong menunggu klien saat Watson sedang duduk lalu mendengarkan detail. Atau Watson yang seperti kita tak paham maksud Holmes bahwa kasus ini sudah jelas, padahal selubung belum dibuka. Atau bahwa Holmes selalu ingin di balik layar, oarng-orang dari Kepolisian saja yang mendapat pujian. Atau Holmes yang hanya ingin menangani kasus unik, aneh, berat. Uang bukan masalah, justru ia tak tertarik menarik bayaran bagi jelata. Hebat. Keren. Takjub. Kebetulan saya sudah baca seri satu detektif karya Penulis Harry Potter. JK Rowling mencoba meng-copy gaya Holmes ke era masa kini. Belum bisa menandingi, tapi patut diapresiasi usahanya. Hal-hal yang paling rumit biasanya sangat bergantung pada hal-hal yang paling sepele.

“Nada bicara Anda tak kalah sombongnya, Mr. Holmes. Tapi saya bisa memakluminya. Hasil kerja Anda patut mendapat acungan jempol.”

#9. Bebas dari MiliterMartin Shaw

Buku yang sejatinya sangat umum, ditulis tahun 1991, dan kini sudah hampir tiga puluh tahun sudah banyak sekali perubahan militer. Telaahnya tentu saja sudah banyak tidak relevan, memang menikmati buku ini lebih ke nostalgia. Dunia digital meluluhkan segalanya. Membahas istilah saja bisa berlembar-lembar, membahas militer Inggris bisa panjang sekali, lalu telaah nuklir dan konsekuensi, menyelam dalam Perang Teluk yang berlarut, dst. Melelahkan sekali, tapi kalau nggak segera kupaksakan takutnya terbengkelai, maka gegas kutuntaskan. Berhubung militer adalah hal yang awam bagiku, lumayan bervitamin. Seluk beluk dunia militer. Jika perang selalu menjadi anakronisme sosial, masalahnya tidak akan selesai dengan menjadikannya sebagai kambing hitam.

Setiap masalah bisa dipecahkan jika teknologi dan dana digunakan dengan dosis yang tinggi. Argumen Ross bahwa apa yang sering kali dideskripsikan sebagai militerisasi di Dunia Ketiga (atau ‘militerisasi global’) lebih merupakan bangunan militer daripada militerisasi sosial.

“Pengeluaran militer pasti merusak kesejahteraan ekonomi meskipun ia memiliki keuntungan ekonomi yang positif.”

#10. Mimpi-Mimpi Einstein Alan Lightman

Secara cerita buku ini mengecewakan, intinya kurang gereget, hanya labuhan khayal sang ilmuwan yang acak dan tak jelas. Terliaht samar, mencoba merumitkan diri. Ini fiksi sehingga Alan Lightman harusnya punya kreasi bebas untuk melalangbuanakan bualan, sayangnya inti yang coba disampaikan tak jelas. Sepenggal masa-masa tahun 1905 di mana Einstein muda mengajukan tulisan terkait teori waktu, menjadikannya patokan utama, benang merah, dari seratus halaman, sejatinya hanya bagian interlude yang menjadi realitas yang menyenangakn dilahap, sayangnya yang namanya interlude ya sesekali saja muncul. Sementara sebagian besar hanya pecahan kejadian yang bebas dan tak beraturan. Tak kuat secara cerita, tapi memang dasarnya seperti puisi, semua bebas disenandungkan, keras, berisik, dan merdeka. Namun melelahkan sekali…

Buku ini sudah berkali-kali masuk daftar incar. Berbagai kover sudah kulihat, setelah bertahun-tahun akhirnya kumiliki edisi cetakan kesepuluh dengan kover kuning mentererng. Penerjemahnya adalah Penulis Raden Mandasia yang terkenal itu. Saya tak terlalu banyak complain terkait alih bahasa, karena memang rerata bila dikerjakan dengan serius hasilnya bagus. Kembali di kalimat pembuka, yang utama adalah cerita, dan Mimpi-Mimpi Einstein ceritanya kurang OK, mencoba bermewah kata, menawarkan stair-syair puisi kehidupan masyarakat di sekitar pegunungan Alpen. Mimpi-mimpi itu pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri.

“…Saat terkenal nanti, kau akan teringat bahwa kau pertama kali menjelaskan padaku, di perahu ini.”

#11. Teori Kepribadian Rollo MayIna Sastrowardoyo

Kehidupan kosong dapat terlihat dari manusia yang hidup seperti robot, tiap hari itu-itu saja yang dikerjakan tanpa gairah atau kegirangan seolah-olah dipantau oleh radar di kepala. Buku psikologi yang sangat bagus, dipadatkan dengan bagus dan dijelajah pengertian itu dengan sangat pas. Menjadikan penasaran lagi buku asli karya Rollo May, karena disini didedah dengan sudut yang mengagum. Sumbangan May, mendekatkan manusia kembali pada realitas kehidupan.

May berujar bahwa konseling merupakan seni, yang dapat dikembangkan lebih besar dari seni lain misalnya melukis atau seni musik. Orang yang memandang objek seni, bahkan dapat mengidentifisir dirinya dengan objek seni itu.

“Saya hanya merupakan suatu koleksi cermin, yang memantulkan keinginan orang lain.”

#12. The Constant GardenerJohn le Carre

Kisah mengambil sudut utama Justin Quayle yang mendapati istrinya Tessa Quayle meninggal dunia dibunuh di tepi Danau Turkana, dekat Teluk Allia bersama pula rekannya dokter Arnold Bluhm, sang Apollo berkumis dalam sebuah pesta perjamuan di Nairobi, dokter kharismatik, lucu, dan tampan.. Pengemudinya Mr. Noah Katanga juga tewas. Mrs. Qayle akan dikenang atas pengabdiannya dalam menegakan hak-hak asasi wanita di Afrika. Sebuah pengalaman buruk yang didapatkan Tessa dan Arnold dalam perjalanan lapangan mereka sejenis malapraktik, jenis yang dilakukan oleh perusahaan farmasi.

Masalah obat ini adalah: pertama berbagai efek sampingnya ditutupi demi meraih keuntungan. Kedua masyarakat termiskin di dunia digunakan sebagai kelinci percobaan oleh masyakarat terkaya di dunia. Ketiga debat ilmiah yang sah mengenai masalah ini diberangus oleh intimidasi korporat. Apa yang benar selalu kekal. Para bedebah ini tidak memilkirkan apa pun selain keuntungan yang sangat besar, dan itulah kebenaran. Dyraxa bukan obat yang buruk, itu obat bagus hanya belum menuntaskan uji cobanya. Tidak semua dokter bisa dirayu, tidak semua perusahaan farmasi itu ceroboh dan tamak. Tessa dan Bluhm telah dibunuh karena mengetahui tentang kesepakatan jahat yang dilakukan perusahaan farmasi. Tessa adalah korban dari konspirasi internasional.

“Sandy, tugasku adalah mengabdi untuk Afrika…”

#13. Prosa 3 Obsesi Perempuan Berkumis – Budi Darma Dkk.

Wow, baru tahu dulu pernah ada sebuah buku berjilid Prosa sekeren ini. Ini adalah edisi ketiga entah total ada berapa edisi, isinya luar biasa, padat, sedap, bervitamin. Semacam majalah? Enggak juga. Semacam edisi khusus sastra? Bisa jadi, yang jelas benar-benar keren. Bung Budi Darma menjadi pusat, dengan cerpen panjang, kritik sastratentang cerpennya, dan wawancara khusus, Bung Yusi juga menyumbang dua tulisan. Bagus semua. Bikin pembaca megap-megap antusias.

Mengubah dunia tentu memerlukan keyakinan, ketetapan, kepastian – dalam bentuk ilham maupun dokrin, dan organiasasi dan lain-lain. Berisi tiga jenis tulisan: fiksi,esai, dan dialog. Renyah sekali.

“Saliva, Saliva, hatimu, mulutmu, ucapanmu, semuanya berlendir.”

Oktober tahun ini memang penuh buku. Kukira bakal jadi puncak jor-joran beli buku, ternyata November sejauh ini sudah beli belasan lagi. sulit sekali menghentikan.

Karawang, 161120 – Solomon Linda & The Evening Birds – Mbube (1939)

“Adakah Kau Juga Menjual Doa?”

Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering by Hasan Aspahani

Aku tanya, “Adakah kau juga menjual doa?”Penjual Bunga di Jalanan Kota Bangkok

Dibuka oleh ulasan maestro penyair Tanah Air Sapardi Djoko Damono, dan ditutup oleh Goenawan Moehammad yang lebih sederhana. Hebat, kalau empunya puisi sudah mau turun gunung memberi sambutan atau kata pengantar, berarti ada sesuatu yang istimewa sehingga perlu ditelaah lebih lanjut. Beliau berujar: “… Suatu hal yang wajar yang tidak bisa dihalang-halangi oleh penyair yang konon memiliki lisensi puitik maupun lembaga yang diberi tugas ‘menjaga’ bahasa. Dan karena bahasa tidak lain adalah wadah dari ‘dongeng’, bahkan juga ‘dongeng’ itu sendiri, maka ia terus bergerak tanpa arah yang bisa ditebak. Dalam khazanah sastra modern kita, restoran adalah tempat yang sering muncul, baik sebagai sekadar latar maupun sebagai penanda. Yang menyatukan bait-bait sajak itu bukan prinsip kausalitas, tetapi suasana. Benda dan konsep yang disebut dalam sajak itu saling mendukung terciptanya suatu suasana yang, kalau boleh meminjam larik Amir Hamzah, ‘bertukar tangkap dengan lepas’. Dalam sajak ini, kematian adalah suasana dan bukan makna…”SDD

Rangkaian puisi yang berselibat narasi rasanya lebih kusukai ketimbang syair-syair pendek penuh rima. Ada jalinan utas kisah yang nyambung dari tiap sisinya, maka Bagian III. Penjahit Telanjang dan Sosok-Sosok Lainnya terasa biasa, yang lainnya dengan total empat bagian besar, tak jadi soal. Atau bisa kubilang Ok lah.

Kumpulan puisi yang lebih banyak bertutur dari sudut pandang orang pertama lebih nyaman dan asyik disenandungkan, karena melibat pembaca langsung, kata-kata boleh runut atau ditebar dalam petak lurus kanan per bait. Maka wajar, saya menyukai buku ini. Sempat berujar ‘huuufhhh… so typical…’ pas bagian tiga, tapi langsung membuncah lagi, bagian keempat mungkin yang terbaik selain awal-awal yang bersinggungan dengan kematian, terasa janggal dan absurd. Metafora yang membalikkan posisi kata dalam larik itu merupakan sumber keterampilan berbahasa sekaligus ambiguitas.

Karena saya ga romantis, dan ga terlalu bisa menikmati atau mencipta puisi, sajak-sajak pujian sakral bagiku, saya kutip sahaja sebagian yang menurutku bagus atau setidaknya menarik hati. Monggo dieja dengan kenyamanan tersendiri:

Sajak Ini Kuberi Judul: Buku: Diam-diam aku sedang mempersiapkan /

sebuah kematian yang paling sempurna: / dikuburkan di dalam buku. Engkau tahu? /Buku akan hidup abadi. Tak mati-mati! – (h. 40)

GMT, The Home of Time: Akhirnya aku memilih sebuah jam yang / bisa menangis setiap pergantian hari tiba. (h. 44)

Skenario Untuk Klip Video Lagu Rock: “Beri aku lirik yang lebih keras!” / “Tuan, beri aku hingar yang lebih meraung!” / “Beri aku gelap yang tak tembus suara…” (h. 49)

Tawa Untuk Karikatur Lainnya: “Hasil jepretanmu itu kartun atau gambar biasa?” tanyaku / Kau tertawa. Aku juga tertawa. Tawa untuk karikatur lainnya: / Negeri tak kelar berkelakar, yang tak akan habis kita gambar. (h. 67)

Sungai Yang Mengalir di Negeri Kami: /1/ Inilah sungai yang mengalir di negeri kami. Arusnya berlapis tiga: di permukaan ada pedih kenyataan, di tengahnya harapan yang kadang-kadang beku, lebih kerap buntu, dan di dasarnya darah yang masih deras dari hulu: luka lama itu. /2/ Inilah sungai yang mengalir ke petak-petak sawah tua, mengentalkan lumpur, yang berabad-abad lekat di kaki kami. (h.71)

Rapsodi Pembunuh Lembu: Ya, aku harus pergi, Pak, bukan karena takut itu, tapi hanya dengan jalan ini aku bisa membunuh kepengecutanku. (h. 77)

Melangkah Aku Seperti Langkah Seorang Lelaki: Kalau nanti kusaksikan letak paksi ke arah paksina / aku harus pulang ke sana, melipat peta, lalu / melangkah seperti langkah kaki seorang lelaki – / seperti lagu yang aku dengar dari Springteen – dan / menuliskan puisi yang aku takut pada bait-baitnya. (h. 79)

Mimpi, Sajak Apakah Ini: Kalau aku menangis, ikan di dalam mataku pasti / ada yang terperangkap ke luar. Di kulkas ada / garam. Dengan sedikit luka di pangkal sisiknya, / kukira cukup nikmat rasa pedih itu untuk kusantap, / sekadar penahan laparku. Lagi pula perutku / sendiri, mungkin aku bisa lain melihat diriku. (h. 82)

Kamus Yang Sangat Tidak Lengkap: II. ada sebuag panggung, dan kau berada di panggung / itu melakonkan dirimu sendiri, kau juga duduk di kursi / penonton, menyaksikan dirimu sendiri. Ketika terbangun / kau tak tahu pasti, “Aku ini adalah aku yang tadi berlakon, ataukah aku yang duduk sebagai penonton.” (h. 87)

Relikui: Apa yang tak mengenangkan aku padamu? Segala seperti relikui / Layangan putus, menyerahkan ujung benang, menyentakkan relikui (h. 92)

Pemetik, 2: Kalau sudah teramat rimbun waktu / aku duga itu dari serbuk air matamu / menempias sejuk ke hutan usiranku (h. 103)

Pendayung, 1: Lautku mendayungkan perahumu, berlabuhlah / Anginku menunjukkan ke pelabuhanmu, berlayarlah / Malamku memperada kerlip bintangmu, berianglah! (h. 107)

Pelupa: Tidur lama, dan lupa, membebaskan kita dari maut dan tua. / Tapi, kita terkurung sawang, menebal di pintu guha. Tak / terbaca tanda waktu, di tulang anjing dan kerangka kuda (h. 130)

Ia Menulis di Linimasa: Pada usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian, / Ia menulis di linimasanya, hidup yang baik telahg / memberi satu hal: aku telah mampu untuk lupa… // Pada usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian, / ia menulis di linimasanya, hidup yang baik tetap / memberi satu hal: aku masih mampu untuk ingat. (h. 134)

Lelaki Ke-15 dan Seorang Perempuan yang Tak Sempat Ia Ajak Menulis Sajak Bersama: 6. Saya di rak buku itu? nama kita, nama yang melupakan kita. / Tiap napas: sepasang hirup dan hembus, adalah kalimat tidak / sederhana, dengan gumpal tanda tanya di ujungnya, Kita tak bisa / berhenti bertanya, kita terus mempertanyakan pertanyaan kita.

7. Kita yang lama mengawani sunyi, tak pernah baik mengenal / sunyi. Berpapasan denganya, kita ragu dan kecut, tapi talk / bisa menghindar, “Kesunyian dan kesendirian adalah cabang / filsafat yang tak pernah selesai dirumuskan.” Kata profesor yang / tertinggal ajarannya, padahal sudah beberapa jam lalu dia pulang / entah ke rumah yang mana. (h. 151)

Beberapa Sajak yang Aku Pikir Seharusnya Aku yang Menulisnya: Aku pernah mencoba melacak apa sebenarnya / rahasia, dibalik bait-baitnya. Diam-diam aku pun / menjadi diam. Menyelinap masuk ke bait-bait / sajak pendek itu, dan oh, baru aku tahu kemudian, / ternyata rumit sekali kata di balik kalimat yang / ketika sekilas kubaca, tampak sangat sederhana. (h. 159)

Tak banyak buku kumpulan puisi yang kubaca, selain memang agak sulit tune in dengan aliran kata dan diksi dan segala yang spontan, saya tak bisa runut nikmat dari awal hingga kalimat terakhir. Saya langganan Koran Kompas Minggu doeloe, bagian puisi nyaris skip semua. Tak seperti novel yang ada klik dalam sebuku, atau kumpulan cerpen yang walau mungkin terpenggal-penggal tiap ganti cerita namun masih ada aliran benangnya. Buku Kumpulan puisi masihlah oase gurun dan menjadi sekadar selingan baca, dulu sempat merencana sebulan sekali baca kumpulan puisi, tapi pas ada tragedi awal tahun, mencipta kesedihan akut yang merusak tatanan, yang akhirnya kembali ke habitat. Pena Sudah Diangkat, setidaknya memberi banyak narasi, jalinannya masih nyaman, seperti kumpulan puisi terakhir yang kunikmati: Kitab Para Pencibir yang juga nyaman karena naratif, sama-sama terbuka segala tafsirnya.

Mungkin karena memainkan waktu, usia, dan beberapa kejanggalan linier masa, menurutku yang terbaik di kumpulan puisi ini ada di judul: Aku Belum Tua:

Segala rupa puitik selama alirannya mendegub jantung dan berhasil menelisik telinga, sah-sah saja untuk dilahap. Nyaring atau lirih? Ah itu sekadar pilihan lahap. Demi waktu baca dan segelas kopi, mari gegas bersajak! Penasaran kumpulan puisi apa lagi berikutnya yang tersedia untuk kudedah?

Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering | by Hasan Aspahani | GM 616202048 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, September 2016 | Penyelia naskah Mirna Yulistiani | Proof read Sasa | Desain cover Kuro-neko | Setter Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-3402-8 | Skor: 4/5

Judul buku ini diambil dari kalimat terakhir hadist ke-19 dari kumpulan 40 hadist yang dikumpulkam oleh Imam An-Nawawi, yang sangat termahsyur sebagai Hadist Arba’in.

Karawang, 150520-210520 – Bill Withers – Railroad Man / Katy Perry – Last Friday Night

Portrait of a Lady on Fire: Barisan Puisi di Atas Kanvas

When you asked if I know love. I could tell the answer was yes. And that it was now.” – Marianne

Art and sisterhood. Pelukis mencipta seni, melakukan seni, dan memamerkannya. Ruang dan waktu bukanlah konstanta universal, semakin kita mendekati kecepatan cahaya, semakin ‘melambat’ gerak waktu, dan ruang pun semakin mengerut. Di abad 18 Prancis masih melarang perempuan melukis tubuh laki-laki secara terbuka. Larangan itu bukan karena moral atau kepatutan, tetapi lebih mencegah agar perempuan tidak menjadi hebat, anatomi tubuh lelaki adalah subjek besar yang tak terjangkau perempuan. Ini adalah film feminis yang mempresentasikan persamaan gender.

Berkat film ini saya jadi parno-noid sama buku halaman 28, mewanti-wanti ada ga gambar telanjang gadis cantik di sana. Beberapa novel beneran saya buka dan cek, yah memang saat ini belum ada. Nantinya siapa tahu muncul. Atau kita munculkan saja, kita gambar saja wajah sang mantan di sana? Eh…

Filmnya minimalis, dengan setting utama sebuah pulau yang sunyi, plot digulirkan dengan nyaman dan tenang, setenang ayunan kuas lukis. Alurnya slow, terlampau slow malah tapi dari alur yang lambat itulah potongan adegan menjadi frame-frame lukis indah. Pengambilan gambar yang menyorot jauh nan lama dengan tampilan ciamik deburan ombak. Deburan ombak, keretak api, angin malah menjelma skoring alamiah. Banyak adegan terlihat murni dan nyata. Tamparan ombak di karang itu menjadi saksi ciuman panas yang seolah melepas belenggu. Inilah kisah cinta terlarang pelukis dan sang putri, lesbian dengan pusat pusaran Vivaldi.

Di sebuah pulau Britania, Prancis tahun 1760an. Seorang putri aristrokrat Prancis, Heloise (Adele Haenel) akan menikah dengan lelaki bangsawan Milan, menyepi di pulau terpencil berencana membuat potret pernikahan. Sang pelukis muda Marianne (Noemie Merlant) yang disewa datang dengan kepolosan gadis lugu. Permulaan perkenalan sang model dan pelukisnya memang tak langsung klik, terlihat sekali sang Lady tak nyaman dan malesi ga mau dilukis sebab ia sejatinya tak mau menikah. Dibujuk untuk berpose dan dalam bujuk itu ada hasrat lain yang tersimpan. Bayangkan, gadis pencipta seni bergulat dengan gadis yang mencari jati diri, telanjang. Ini seolah perwujudan visual rangkaian sajak berima. Setiap detail tubuh, entah itu mata, telinga, hidung meletupkan tekstur baris-baris indah penuh kekaguman. Interpersonal sepenuhnya adalah tentang kelekatan emosional. Dan cara terbaik untuk membangun kelekatan tersebut, adalah dengan saling menyentuh, memikat.

Karena waktu juga mereka yang sering bertemu dan saling mengenal akan saling mengisi. Rada absurd membayangkan dua perempuan muda ini tersenyum saling tatap. Lukisan yang sudah jadi malah dihancurkan karena tak sesuai gambaran ideal, ibunya marah kemudian pergi ke Italia, memberi waktu tambah untuk mencipta ulang. Di sinilah ikatan Marianne dan Heloise perlahan menguat. Suatu malam mereka membaca cerita Orpheus and Eurydice, mendebat alasan kenapa Orpheus kembali ke istrinya. Kemudian membantu Sophie (Luana Bajrami), seorang pelayan melakukan aborsi dengan manual, di sini gambaran perempuan yang kesakitan ditampilkan implisit, termasuk tamu bulanan yang datang rutin dan bagaimana mengatasinya.

Dalam adegan renung, para perempuan ini benyanyi dan menari, ketika pakaian pengantin Heloise terbakar. Syairnya adalah bahasa latin ‘fugere non possum’ yang artinya datang untuk terbang. Menurut Nietzsche, ‘semakin tinggi kami terbang semakin kecil kami terlihat bagi mereka yang tak bisa terbang.’ Sebuah pesan anarkisme terselubung, para perempuan yang berkumpul digambarkan mampu menggapai cita kemerdekaan dan kebebasan berkehendak.

Dengan keterbatasan akses, sepi menjadikan bahan bakar asmara. Api pemanas meluapkan gairah. Dan bagaimana pertanggungjawaban sang pelukis ketika produksi lukis ini usai? Marianne bisa memandang potret Heloise untuk melepaskan kerinduan, setidaknya sedikit mengobati rindu. Bagaimana dengan Sang Lady? Baiklah saya ciptakan saja, potret diriku untuk kau simpan. Dan muncullah adegan paling berkesan tahun ini, wanita telanjang di atas kasur dengan cermin yang ditaruh tepat di depan kemaluan, mengambil buku, dan Marianne lalu mencipta sketsa Marianne. Barisan puisi ini untuk kau simpan dank au kenang. Saya lebih suka menyebutnya ‘Obsesi Halaman 28’ dengan pulasan pualam.

Kebanyakan kita mengenal meditasi sebagai buah teknik relaksasi diri. Senandung Potret mengiringi goresan dasar atas kesadaran kisah, ini adalah film dengan plot gambar yang bercerita, dan sketsanya lebih keras berteriak ketimbang suara. Kalian bisa lihat, dengan apa yang harus kalian tahu. Kalian diminta untuk terus merenung sampai bosan. Terimalah kebosanan itu. Peluklah kebosanan itu, cintailah kebosanan itu. Bagaimana Heloise melepaskan beban terasa sekali, seolah inilah tujuan hidup, inilah yang ia tunggu-tunggu. Rebel with a cause.

Menurut Kant, nilai tertinggi dalam semesta adalah sesuatu yang dipandang sebagai nilai itu sendiri. Satu-satunya hal terpenting adalah suatu hal yang menentukan kepentingannya. Tanpa rasionalitas, semesta akan menjadi sia-sia, hampa, dan tidak memiliki tujuan. Tanggung jawab moral yang paling fundamental adalah kelestarian dan kemajuan kesadaran, baik untuk diri sendiri atau orang lain.

Endingnya mirip dengan Call Me by Your Name, lagu Concerto No. 2 for violin in G minor, Op. 8, Rv 315 L’Estate gubahan Antonio Vivaldi yang dimainkan La Serenissima, Adrian Chandler berkumandang dengan lembut menjelang tutup layar. Yang membedakan Call Me berkonsep MvM, yang ini FvF.

Dan ini jauh lebih jleb.. dengan lelehan air mata pula, karena orkestranya sempurna. Ayooo kita bikin gif-nya. Film yang berhasil membakar hasrat. Tak diragukan lagi, Portrait of a Lady on Fire adalah salah satu film terbaik dekade ini. Sinematografi keren. Akting keren. Cerita keren. Minimalis terkesan. Masterpiece, emotions and artistically running high!

Portrait of a Lady on Fire | France | Judul Asli Portrait de la Jeune Fille en Feu | Year 2019 | Directed by Celine Sciamma | Screenplay Celine Sciamma | Cast Noemie Merlant, Adele Haenel, Luana Bajrami, Valeria Golino, Amanda Boulanger | Skor: 5/5

Karawang, 210420 – 290420 – Bill Withers – Heartbreak Road

Thx to rekomendasi William Loew

110 Buku Yang Kubaca 2019

Hanya kebetulan belaka, tahun ini saya merampungkan baca 110 buku, sama persis dengan total baca tahun lalu. Ini sekadar catatan, betapa nikmat bercengkerama dengan buku.

#1. Seorang PendatangK. Usman
Dua cerpen lawas yang disatukan tahun 1963. Residivis pulang kampung dan melihat betapa banyak perubahan. Mengingat masa muda yang penuh amarah, cinta dan pengorbanan.

#2. Menolak AyahAshadi Siregar
Kisah Tondi sebagai PRRI melawan pusat, perjalanan dari Toba ke Bukittinggi yang mistis dan perjuangan melawan kecewa atas pilihan ayah. Kental budaya Batak, minus tukang tambal ban dan pengacara.

#3. Demi Esme dengan Cinta dan KesengsaraanJ.D. Salinger
“Apa yang dikatakan sebuah dinding pada dinding lainnya?” Dua cerpen klasik karya penulis ‘The Catcher in the Rye.’

#4. Magi Perempuan dan Malam Kunang-KunangGuntur Alam
“Jangan lihat kunang-kunangnya, ia bisa menyihir kita.” Dua puluh satu cerita pendek dengan tema beragam. Legenda hantu daerah, modifikasi hikayat. Kumpulan cerpen yang renyah.

#5. The Life and Adventures of Santa Claus L. Frank Baum
Dasarnya kita tahu. Sederhana, fiktif dan sudah sangat umum. Entah kenapa Frank Baum menulis ulang kisah semacam ini. Jauh dari bayangan ‘The Wizard of OZ’.

#6. Guru Generasi MilenialTri Winarno
Tulislah buku tentang bidang yang kuasai, Mas Tri dengan jeli menceritakan pengalamannya sendiri dalam kelas. Seperti membuat tantangan menulis puisi untuk murid-muridnya, mencerita keseharian dengan buku.

#7. Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-MasingEko Triono

Cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Plotnya mirip 100-tahun-kesunyian.

#8. MemoarPablo Neruda
“Kita para penyair memiliki hak untuk bahagia, sepanjang kita tetap dekat dengan masyarakat di negeri kita dan dalam kegigihan perjuangan untuk kebahagiaan mereka.”

#9. Di Kaki Bukit Cibalak Ahmad Tohari
Cinta yang tak harus miliki, politik orang bawah, permainan mistis sampai kritik birokrasi. Perubahan zaman, perubahan kebiasaan, teknologi masuk desa, sampai polemik dasar makhluk Tuhan untuk bertahan hidup.

#10. Handmaid’s TaleMargaret Atwood *
Para handmaid di masa depan, aturan absurd dan pertentangan tak berkesudahan. Gadis kerudung tunduk, pikiran penuh luapan teriak.

#11. About a BoyNick Hornby
Filmnya kita tahu keren sekali. Ncik Hornby kalau bahas bola tajam dan sangat mendalam. Fan Gunners. Entah kenapa novelnya terlihat biasa. Plotnya ngelantur ke mana-mana, menjemukan.

#12. Breakfast at Tiffany’sTruman Capote *
Renyah di setiap lapisannya. Tampak seperti kisah nyata saat masih kere, menjalani sebagai penyendiri di apartemen sebagai penulis lokal tak bernama, sunyi, perenung mencari jati diri. Lalu muncul tetangga istimewa.

#13. Sesat Pikir Para Binatang Triyanto Triwikromo
Sembahyang adalah wujud cinta kita kepadaNya. Sembahyang tak boleh kita jadikan upeti. Sembahyang bukanlah semacam jual beli kita kepadaNya.

#14. Jokowi, Sangkuni, MachiavelliSeno Gumira Ajidarma
Pemimpin yang ideal adalah yang bebas dari kontrak politik, karena dukungan partai yang mana pun tidaklah mungkin dilakukan tanpa kepentingan. Kumpulan esai kedua SGA yang kubaca.

#15. Ups! Rieke Diah Pitaloka
Tugas penyair adalah mendewasakan bangsanya. Bagaimana kalau masyarakat tidak mau didewasakan dan ingin tetap seperi kanak-kanak? Jadi mari biarkan waktu menempa, mau ke arah mana perahu rima ini berlayar.

#16. Old Death Karl May
Kisah detektif dengan nuansa koboi, tak seperti cara penelusuran Holmes atau Poirot yang penuh deduksi dan telaah mendalam, cerita dalam The Wild West Journey ini dibarengi banyak keberuntungan, tak detail dan siasat tricky.

#17. The Murder of Roger AckroydAgatha Christie *
Dan ya, saya bisa menebaknya. Ada dua kalimat yang JELAS SEKALI yang menunjukkan sang pelaku, saya konsisten. Yakin dialah pelakunya. Terbukti. Salah satu yang terbaik dari Christie, dari Hercule Poirot.

#18. Around the World in Eighty DaysJules Verne *
Buku pinjam di taman baca Bus Taka Kota Galuh Mas, kubaca cepat saat pulang kerja hujan lebat, mencipta genangan sehingga menanti reda, baca di kantor. Sungguh menyenangkan melahap buku keren saat hujan dengan kopi.

#19. KawitanNi Made Purnama Sari
Sebatang pohon ara, empat pina, tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu. Sungguh sajak adalahbarang mewah yang sulit dijangkau, sulit kubenamkan dalam kepala sehingga menyatu sukma.

#20. Mardi GrasAdriani Sukmoro
Lupakan konflik, kisah hanya berkutat pamer perjalanan hidup pengantin baru ke Amerika dengan salah satunya menyaksikan festival Margi Gras.

#21. Telembuk Kedung Darma Romansha *
Cerita dari Indramayu yang keras. Makian dan umpatan berbagai kelas. Lha judulnya saja sudah berat: Kisah Cinta yang Keparat.

#22. White FangJack London *
Kubaca dalam sehari dari siang sampai malam, di sela ibadah dan tidur di lantai satu Blok H nomor 279 hari Sabtu, 23 Feb 19. Ini semacam prekuel ‘The Call of the Wild’ yang sudah kubaca dua tahun lalu. Dituturkan dengan berkelas.

#23. Go Set A WatchmanHarper Lee *
Kisah lanjutan novel legendaris ‘To Kil A Mockingbird’, sekarang Scout sudah dewasa jadi perantau di New York dan buku berkutat di Maycomb saat liburan dua minggunya yang menegangkan. Bagaimana orang tuanya yang sudah tua tetap bekerja membela kebenaran. Sabar, tenang dan menghanyutkan.

#24. Mari LariNinit Yunita
Kubaca sekali duduk pada Selasa, 260219 sepulang kerja. Sinetron sekali, tentang Rio yang selalu mengecewakan orang tua. Saat ibunya meninggal dunia, dia harus buktikan tiga hal: bisa kerja benar di dealer sebagai sales mobil mewah, lulus kuliah di kesempatan kedua, dan lari marathon di Bromo dengan memakai nomor lari almarhum. Semua indah.

#25. Masa Depan Sebuah Ilusi Sigmund Freud
Esai buku kecil ide besar. “Tidak, sains kita bukan merupakan ilusi. Tetapi menganggap bahwa apa yang tidak bisa diberikan sains kepada kita bisa kita dapatkan di tempat lain akan merupakan sebuah ilusi.”

#26. The Clockwork ThreeMatthew Kirby
Premis bagus. Menempatkan tiga remaja dalam dilema rumit. Satu ingin pulang, satu ahli jam, satu untuk keluarga yang sakit. Terjepit finansial kusut. Sayang eksekusinya remuk. “Kau tahu, kau tegar seperti Hannah dalam al kitab.”

#27. Hujan Bulan JuniSapardi Djoko Damono
Kamu ga otomatis hebat saat sebut orang-orang hebat. Hepburn style. Jazz klasik menjadi teman Sarwono. Apakah membuatku terkesan? Enggak. Cerita sinetron yang coba berpuisi. “Kamu ini cengeng Sar, jualan gombal.”

#28. Kumpulan Budak SetanEka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad *
Kumpulan cerita pendek yang digarap bertiga atas dasar horror Abdullah Harahap. Seram, mistis, dan tragis. “Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan.”

#29. Manuskrip yang Ditemukan di Accra Paulo Coelho
Hidup ini untuk bersenang-senang, positif thinking, positif feeling. Dah kalau mau itulah review sangat singkat untuk buku ini. Benar-benar ya, buku perdana Paulo Coelho yang saya baca berakhir buruk.

#30. Dunia SophieJostein Gaarder *
Buku rangkuman filsafat yang luar biasa. Cara cepat belajar jadi filsuf. Butuh waktu empat bulan buat menuntaskannya. Hidup ini fiksi bagi mereka yang terjebak dalam ambiguitas.

#31. Perempuan PalaAzhari
“Aku tak mungkin menolak dan menutup pintu bagi siapapun yang datang ke rumah ini bukan? Aku diajarkan untuk memberikan apa yang kumakan bagi setiap orang lemah yang meminta. Itulah kemuliaan.”

#32. Bilik Musik James Joyce
Kumpualn puisi lengkap dari Penulis legendaris Ullyses. “Karena suaramu terdengar di sisiku / kuberi ia cemburu / dan dengan tanganku. kugenggam / tanganmu ‘tuk kali kesekian. Diterjemahkan oleh Gita Kharisma.

#33. Yang Telah TiadaJames Joyce
“Oh saya rela kehilangan apa saja demi mendengar Caruso bernyanyi.” Disebut novella, padahal lebih tepat cerita pendek ++. Buku ini selesai baca hanya dalam jeda Magrib ke Isya. Fufufu…

#34. Matahari dan BajaYukio Mishima
Gagasan tentang mengubah dunia merupakan kebutuhan yang sama pentingnya dengan tidur dan makan tiga kali sehari. Pemikiran yang tak lazim, ga mudah dicerna, berkali-kali baca ulang, nyaring, dan tetap mengernyitkan dahi.

#35. Kamis Yang Manis John Steinbeck
“Cara terbaik di seluruh dunia untuk membela dirimu adalah dengan menjaga tinjumu tetap ke bawah.” Ga seperti Steinbeck lainnya yang tragis, endingnya manis seperti judul. Tapi tetap karakter kuat dengan keanehan masing-masing.

#36. Water for ElephantsSara Gruen
Karena ia binatang yang begitu cantik, luar biasa, dengan hati yang sangat pemaaf dan mampu memahami kesalahpahaman. Kita akan berada di tingkat yang sama dengan sirkus-sirkus besar dan itu takkan bisa terjadi tanpa kalian.”

#37. Sad CypressAgatha Christie
Ini mungkin kisah Poirot yang paling mudah ditebak. Karena hanya menyisakan dua kemungkinan pembunuh, yang walau nantinya mencabang ke target lain, tapi jelas ada yang tak mungkin melebar liar. “Saya bisa mencari kebenaran…”

#38. MetamorfosisFranz Kafka *
Buku yang berat sekali. Mungkin jua karena kualitas terjemahannya yang aneh, typo berserakan, walau dialihbahasakan keroyokan berempat tapi tetap masih saja ditemukan kalimat-kalimat nyeleneh. “Ia bersuara seperti seekor hewan…”

#39. KubahAhmad Tohari
Cerita baik untuk orang baik yang dianugerahi akhir yang baik. “Takdir Tuhan adalah hal yang paling baik bagimu, betapapun getir rasanya, bertakwa kepadaNya akan membuat segala penderitaan ringan.” Sabar, tawakal, iqtiar.

#40. Kumpulan Cerita Pendek TerbaikLeo Tolstoy
Memang istimewa penulis satu ini. Mau cerpen atau novel sama hebatnya. Epos Sevastopol di mana rakyat Rusi adalah pahlawan sesungguhnya, meninggalkan jejak besar untuk waktu yang lama. “Kamu tak akan bisa bedakan bom dan bintang.”

#41. HumanismeYB Mangunwijaya
Keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan kepada kebenaran.” Ernest Renan dalam Qu’est qu’une nation? (1882)

#42. Paper Town John Green
“Ini akan menjadi malam terbaik dalam hidupmu.” Kisah remaja yang tak biasa. Pengalaman pertamaku dengan Green berakhir menyenangkan. Tentang Q dan asmara tak biasa. Satu malam, terkenang sepanjang hidup, menuju kota kertas.

#43. Di Bawah Lindungan Ka’bah HAMKA
Buku sangat tipis. Kubaca sekali duduk (15/06/19), malam minggu sendirian tak butuh waktu sejam juga selesai. Kisah kasih tak sampai. Cerita berlapis, tragis tapi tak semenangis Tenggelamnya Kapal…

#44. Matilda, Lelaki Izrail, dan Seorang Perempuan di Masjid KamiHairus Salim HS
14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek. “Dan tiba-tiba mereka hanya mendengar tubuhnya ambruk.”

#45. Teach Me Like FinlandTimothy S. Walker
Di Finlandia moto ‘bekerja untuk hidup’ bukan ‘hidup untuk bekerja’. Mereka tampak serius dalam bekerja, namun di waktu luang mereka ikuti hobi daripada menggunakannya untuk meningkatkan pertumbuhan profesi mereka.

#46. Dalam Kobaran Api Tahar Ben Jellous *
Hebat. Penulis kelahiran Maroko, tinggal di Prancis bercerita tentang Tunisia dan efeknya. “Aku tidak menjelaskan apapun, ini adalah karya sastra.” Arab Spring, demi rasa keadilan.

#47. Misteri Rumah Masa LaluV. Lestari
Buku klasik dalam memetakan karakter yang protagonis akan konsisten baik sampai akhir, yang jahat tetap digambarakan di sisi negatif terus, ga ada konflik batin berlebih, ga ada wilayah abu-abu sifat manusia.

#48. OriginDan Brown
Semua tertebak. Saya bisa menebak motifnya, saya bisa memprediksi apa isi presentasinya, saya bis atahu endingnya. Puisi William Blake tahun 1790an, Amerika sebuah nubuat, Eropa sebuah nubuat. Dan mereka sudah datang!

#49. Alice Through The Looking Glass Lewis Caroll
Buku yang aneh sekali. Masih bagusan seri pertama, karena teras original, seri kedua ini menawarkan kebingungan yang sama, hanya dengan pola lebih rumit, lebih acak, dan jauh di luar nalar.

#50. Maut di VenesiaThomas Mann
Narasinya berbelit panjang, melingkar-lingkar, merenung, lalu putus karena frustasinya mengurai, dengan detail tempat, suasana, gambaran orang sekitar, smapai cuaca yang tak ramah. “Untuk Tuhan kami yang asing.”

#51. Max and the CatsMoacyr Scliar
Novel seratus halaman ini kubeli kala dalam tugas luar mengikuti pelatihan di Hotel Horison, Bekasi seminggu. Kubeli di Gramedia MM dengan Gadis Pendongeng, kubaca singkat di pagi dan sore waktu istirahat. Pi!

#52. If I StayGayle Forman
Keluarga yang sempurna. Orang tua utuh yang benar-benar mencinta. Adik manis yang menggemaskan. Dan masa depan cerah untuk karier seni dan lagu snob. Dalam hujan salju di pagi hari libur, kecelakaan merusak semuanya. Ini adalah novel religi di dunia antara.

#53. Tamasya BolaDarmanto Simaepa
Pengantarnya bagus banget dari Mahfud Ikhwan. Diambil dari blog, tulisan sepak bola dengan sudut pandang belakang gawang. Apa menariknnya cerita Barcelona, MU, Timnas dan pengalaman pribadi Penulis sejak kecil? Bukan kayak gini cerita bola yang bagus tuh.

#54. The Story GirlL.M. Montgomery *
Cerita anak-anak pada suatu masa di Amerika. Lucu, seru dan apa adanya. Benar-benar membumi, seolah ini adalah diari sang Penulis. Setara ‘Secret Garden’-lah, tapi ini lebih riuh dan ceria karena melibatkan banyak karakter. Tak sabar baca lanjutan.

#55. Kisah Pedagang Buku yang Tewas di Bagdad (kumpulan esai)
‘Belajar dari para maestro nonfiksi’. Karena buku ini tidak diperjualbelikan, tipis berisi 66 halaman, dan isinya yang sungguh bikin penasaran. “… Kairo yang menulis, Beirut yang menerbitkan, Bagdad yang membaca.”

#56. Dijamin Bukan Mimpi Musmarwan Abdullah
Kumpulan pos di sosmed, terutama Facebook. Ga semuanya tapi kebanyakan. Tulisan dikit tiap judul, kek orang curhat aja. Bisa tebal juga, kumpulan cerita satiris bisa benar, kalau cerita inspirasi ya hhhmmm… Enggak terlalu. Sekadar lumayan…

#57. Cerita Cerita Telapak Tangan Yasunari Kawabata
Ini adalah kumpulan cerita dikit-dikit tiap judul, curhat orang Jepang terhadap keseharian, kejadian sekitar. Tmpak sederhana, tapi kualitas imaji dan asosiasi mendalam. Beberapa memicu tafsir beragam.

#58. Cat Among the PigeonsAgatha Christie
Poirot melacak pembunuhan berantai? Di dalam sekolah elit khusus putri, orang-orang kaya yang panik, dan cerita putri dari Timur Tengah yang diculik. Gempar dan memusingkan, tapi bagi Poirot (aka Christie) tampak sederhana. Saling tipu. Dush!

#59. Tanah Air ImajinerSalman Rushdie
Kumpulan esai yang menggairahkan. Bergizi tinggi. Curhat Rushdie ketika jadi juri lomba tulis, prediksi untuk Penulis muda yang akan menghentak dunia. Beberapa menjadi, curhatnya tentang India yang lama ditinggalkan dan efek psikologi. Runut dan wow.

#60. Time Machine H.G. Wells
Mungkin ekspektasiku ketinggian, Mesin Waktu terasa mengada-ada, eksekusinya tergesa, melupakan detail bagaimana bisa memutar waktu. Penjelasan mesinnya bekerja tampak meragukan, semeragukan sang Penjelajah Waktu bercerita.

#61. NeverwhereNeil Gaiman *
Pertarungan malaikat, iblis dan makhluk bawah tanah London. Richard, manusia normal di atas tanah terjebak dalam permainan kotor. Fantasi luar biasa, kejutan akhir yang hebat. “Bagaimana aku bisa kembali normal?” Gaiman tak pernah mengecewakan.

#62. OEka Kurniawan
“Aku akan menjadi manusia.” Kata O si monyet cerdik.

#63. Max Havelaar Multatuli
Tata bahasanya memang agak susah dipahami. Cerita asisten Residen yang keren, mencoba menerbitkan buku dnegan modal makelar kopi.

#64. The Adventures of PinocchioCarlo Collodi
Kisah abadi boneka kayu pembohong. Susah diberitahu, tak mau mendengarkan nasihat, mudah tergiur rayuan manis. Hikayat ikan paus dan semburannya.

#65. Sharp ObjectGillian Flynn
Ketika penulis mudik untuk mewartakan pembunuhan anak-anak sejatinya sudah menunjuk siapa pelakunya. Kombinasi buruk pengenalan karakter, susunan plot dan misteri detektif ala kadar.

#66. Do Android Dream of Electric Sheep?Phillip K. Dick
Dunia masa depan yang mengerikan. Hewan elektrik murah, hewan asli mahal. Untuk membelinya bahkan perlu dicicil. Dan misi pemburuan manusia mesin? Tak ada nurani.

#67. Artemis Fowl Eoin Colfer
Dunia peri yang menakjubkan. “Aku mendengar suara-suara di malam hari. Suara itu merayap di bantal dan memasuki telingaku.”

#68. SapiensYuval Noah Harari *
“Orang-orang yang hidup saat itu tidak melakukan hal-hal yang penting.” Tiap sepuluh kalimat kubaca, kubaca ulang separuhnya. Nikmat di tiap lembarnya.

#69. Cara Berbahagia Tanpa Kepala Triskaidekaman
Bukan fantasi, bukan misteri, bukan humor, bukan surealis. Blas. Kepala terpenggal dan bersenang-senang palsu.

#70. Dekat & NyaringSabda Armandio
Buku tipis yang melegakan. Bagus tapi ada yang kurang. Cerita gang Patos dalam dilematis.

#71. Bertarung Dalam SarungAlfian Dippahatang
Perseteruan adat dan pertarungan harga diri dalam sarung yang mematikan.

#72. Tango & SadiminRamayda Akmal *
Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas. “… berusahan mengapai-gapai Tuhan…”

#73. Bugiali Arianto Adipurwanto
Banyak suku kata Sasak yang tertera, sampai menyita dua halaman penuh guna menjelaskan. Hikayat bugiali.

#74. Seekor Capung MerahRilda A. Oe. Taneko
25 cerpen yang kubaca dalam perjqalanan bus Solo-Karawang, selesai saat di Semarang (30/09/19). “Apa tidak ingin ke Brouwesweg 10?”

#75. JamalokeZoya Herawati
Jamaloke, sandang pangan goleko dewe. Sandang pangan carialh sendiri. “Itulah sepenggal lakon sejarah.”

#76. Teh dan PenghianatIksaka Banu *
“Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat, pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar…”

#77. Republik Rakyat LucuEko Triono
Ini hanya buat fun. Lelucon rakyat, semua warganya lucu.

#78. Atraksi Lumba-Lumba Pratiwi Juliani
Narasi bagus, dialog bagus, susunan plot bagus. Mengalir merdu. “Tidak pernah kumengerti, aku juga tidak mengerti banyak hal. Andai aku bisa mengerti banyak hal.”

#79. The MartianAndy Weir
“Para astronot pada dasarnya gila. Dan sangat baik hati. Aku ingin dengar ide itu.” Mark Watney perjuangan bertahan hidup di Mars.

#80. Aku dan Surabaya dan NakamuraGerson Poyk
Semacam memoir Poyk. Tidak pernah ada seniman yang tak punya utang, sudah niat menghidupi keluarga walau ancaman kere.

#81. Skipping ChristmasJohn Grisham
Terpingkal-pingkal menamatkan novel Grisham ini. “Ini adalah boikot Nora, boikot total Natal.”

#82. Perjalanan Nun Jauh ke Atas SanaKurt Vonnegut
“Kota Anda berterima kasih pada Anda, negeri Anda berterima kasih pada Anda, planet Anda berterima kasih pada Anda, tapi yang paling berterima kasih adalah generasi mendatang.” Dua cerpen masa depan yang misterius.

#83. MissingR.L. Stine
Orang tua Cara dan Mark menghilang, awal pesta berubah cekam.

#84. Bastian dan Jamur AjaibRatih Kumala
Bagaimana jamur bisa mencipta gadis fantasi, mantan kekasih yang mati. Raquel…

#85. Jeritan Dari Pintu KuburAbdullah Harahap
“… di kota banyak kami dengar kabar-kabar aneh tentang kampong ini. Pencurian mayat bayi, tempat perampok berkumpul, kematian-kematian ganjil…”

#86. AlexPierre Lemaitre
Alex yang diculik tampak seperti korban, dalam perkembangannya ternyata pembunuh, dan dalam perkembangan lagi, ada twist. Wow. Detektif Prancis yang absurd.

#87. Goosebumps: Makhluk Mungil Pembawa BencanaR.L. Stine
Grool hanya bisa beralih tangan kalau pemilik sebelumnya mati. Kengerian setiap ganti bab.

#88. Ocean SeaAlesandro Baricco
Tagline saja, ‘Love, Murder & Betrayal in Almayer Inn’

#89. Simple Stories for a Simple InvestorNicky Hogan
Buku tentang saham pertama yang kubaca berakhir mengecewakan. Pamer jalan-jalan promo ‘Yuk Nabung Saham’. Ga banyak ulasan detail. Only for beginner.

#90. LoversusFarah Hidayati
Elang Terbang vs Cinta Lestari. FTV banget, Cinta yang miskin di antara para lelaki berada.

#91. Apollo dan Para PelacurCarlos Fuentes
Diari mencipa kenangan masa kecil. Dan kisah kematian dicerita dengan pola tak lazim.

#92. Dalih Pembunuhan Massal John Roosa *
Bencana kemanusiaan dari sisi lain. Kemelut kusut tanpa kepaduan, sejarah kelam Republik ini. Semua janggal sedari awal.

#93. The Giraffe and the Pelly and MeRoald Dahl
Kera, jerapah, bangau dan aku menyewakan jasa bersih kaca gedung bertingkat. Sang Duke memanggil…

#94. DiaHenry Rider Haggard
Leo dan Holly berpetualang ke rimba imaji Kor. Dia yang immortal, cinta mengorban banyak hal.

#95. Daisy Manis Henry James
Selasa malam nontong film Notting Hill, Julia Roberts bilang sedang proses syuting film adaptasi Henry James. Langsung ku #unboxing dan esoknya baca kilat sepulang kerja. Tentang gadis Amerika abad 19 jalan-jalan ke Eropa, ada insiden.

#96. Soekarno, Arsitek BangsaBob Hering
Biografi singkat Bung Karno yang nyaman diikuti. 32 halaman cerita perjalanan hidup, 125 foto yang dibubuhi keterangan dari kecil hingga wafat. Terbit memperingati 100 tahun pada 2001. Dibaca sekali waktu untuk teman tidur Hermione.

#97. MaryamOkky Madasari
Tentang Ahmadyah yang dianggap sesat. Pertentangan Maryan dan keluarganya, dan masyarakat sekitar. “Yang namanya keyakinan memang tak bisa dijelaskan. Ia datang sendiri tanpa punya alasan.”

#98. Kematian di VenesiaThomas Mann
Versi Basa Basi dari buku yang sama yang diterjemahkan pula oleh Circqa. Ini lebih bagus, entah karena bacaan kedua atau emang kualitas alih bahasanya lebih nyaman. Aschenbach yang jatuh hati pada pemuda cantik Tadzio.

#99. Tarian Bumi Oka Rusmini
Bagus sekali alurnya. Pemahaman yang sesungguhnya kalimat, ‘demi cinta akan kulakukan segalanya untukmu.’ Hikayat tari dan gesekan harga diri. Aku selalu mohon pada dewa di sanggah agar kau bisa keluar dari lingkaran karmaku.

#100. Rumah Hujan Dewi Ria Utari
Kubaca dua hari. Novel yang dikembangkan dari cerita pendek dan cerita lainnya. Seniman, hujan, sepi, kenangan, hujan. Buku keseratus tahun ini seram.

#101. Goosebump: Hantu Penunggu SekolahR.L. Stine
Salah satu seri Goosebumps terbaik. Dunia pararel misteri, siswa yang hilang dengan kilat kamera, cekam takut warna kelabu dan ending menggantung terselebung teror. Tommy dan kawan-kawan berpetualang di negeri antah di balik dinding sekolah. Gawat!

#102. The Notting Hill MysteryCharles Felix
Tahun 1850an terjadi pembunuhan berencana, melibatkan uang warisan dan polis asuransi sebesar 50.000 pound. Penyelidikan dengan detail saksi, surat pos, dampai catatan harian. “Musuh paling fatal kejahatan adalah kehati-hatian yang berlebihan.”

#103. AparajitoBibhutibhusan Banerji *
Novel India terbaik yang pernah kubaca. Riwayat Apurbo dari masa kanak-kanak, perjuangan pendidikan, merantau ke Kalkuta demi menyambut masa depan gemilang. Inilah gambaran hidup sesungguhnya. Leela dan Aparna, cinta dan tragedy. Kisah luar biasa.

#104. Alex and the Ironic Gentlement Adrienne Kress
Saat bumi telah berdamai / Dan elemen-elemen terbakar / Dengan rasa paling prima / Hasratmu akan kau dapatkan. Petualangan bajak laut dengan banyak kejanggalan. Kisah yang buruk.

#105. Si Cacing dan Kotoran KesayangannyaAjahn Brahm
Sepertiga awal terasa biasa, mungkin karena cerita motivasi umum. Barulah jelang tengah, terutamqa terkait meditasi danyang terbesar adalah pikiran, banyak menawarkan keindahan dunia Buddha. Salur: Seorang Inggris, Ilmuwan, Biksu.

#106. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ariZuhairi Misrawi
Lebih seperti sejarah NU ketimbang riwayat pendirinya. Karena saya ga ikuti perkembagan NU banyak vitaminnya. “Tanda-tanda mati hati adalah mencari keuntungan dunia dalam urusan akhirat.”

#107. Lady SusanJane Austen
Hanya dari surat menyurat semua cerita bergulir. Janda dan putri remajanya, saudara yang bimbang tentang moral. Perjodohan. Asmara abad 18 di London yang rumit (dalam arti sebenarnya). Bagaimana tukang pos menjelma penggerak plot.

#108. PlayonF Aziz Manna
Garis awal garis pintu, satu kaki di depan, satu kaku di belakang, kepala lurus angina bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah. Garis jalan, garis belokan, satu kaki membumi, satu kaki mengawang, kepala lurus, angina bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah.

#109. Kapitalisme, Islam dan Sastra PerlawananOkky Madasari
Beberapa karya sastra berfungsi transformatif terhadap pembacanya dan masyarakat skala lebih luas. Buku-buku dapat mengubah pandangan dan tingkah laku mereka. – O’Leary

#110. Cannery Row John Steinbeck
Hikayat Doc dengan laboratoriumnya. Mack dan konco-konconya dalam lingkup ranjang pesta.

Alhamdulillah…

Karawang, 311219 – Roxette – Almost Unreal

Ocean Sea – Allesandro Baricco

Saya pernah melihat malaikat. Mereka ada di pesisir pantai.”

Novel yang sudah kumiliki sejak 2008 yang kubeli di sebuah lapak koran di pasar Kawasan Hyundai, Cikarang. Beberapa kali sempat kubaca beberapa lembar, tapi selalu kandas. Baru kupaksakan kelar dalam empat hari ini. Memang bukan novel biasa, dalam artian banyak kisahnya absurd, temanya juga mencoba berat tapi nyatanya malah memusingkan. Tagline-nya saja: ‘Love, Murder & Betrayal in Almayer Inn’. Di dalam lingkaran tak sempurna jagat raya yang optikal, kesempurnaan gerakan mengayun itu menghasilkan janji yang tak ditepati berkat keunikan masing-masing ombak. Bukan bermaksud komplain, tema cerita dengan latar merumitkan diri seperti ini ga nyaman dilahap. Loncat-loncat, pemilihan kata yang tak umum, tapi pada dasarnya alur cerita tak kuat. Beberapa karakter tampak menggangu malah, atau kualitas terjemahannya yang agak tersendat?

Di manakah akhir dari lautan itu bermula? Atau, apa yang kita maksud ketika kita mengatakan laut?

Di sini, di rakit dan sekitarnya, menjalar keheningan yang menakutkan. Tak ada lagi yang menatap. Kisahnya berkutat di penginapan Almayer yang bersisian dengan pantai. Pemandangan pilihan Ok bagi para pengunjung. Seperti judulnya, samudera laut cerita akan bergumul di sekitar air asin. Menurut kutipan Santo Agustinus, menurutnya, laut adalah rumah iblis, mengacu pada sebuah nama – Thessala – yang mungkin merupakan kapal yang karam atau seorang perawat yang basah yang pernah memintal kain kapal dan peperangan, hampir terbungkus dalam keharuman pakaian tertentu yang tiba dari daerah yang jauh dan akhirnya muncul kembali dalam mata seorang wanita dari seberang laut…

Dibagi dalam tiga buku: Penginapan Almayer, Rahim Laut dan Nyanyian Mereka Yang Kembali. Bagian pertama adalah perkenalan para karakter, mereka yang menginap dengan keunikan masing. Pertama Elisewin yang memiliki suara indah, halus dan cantik. Mungkin salah satu tokoh kunci, karena dalam eksukusinya ia memiliki pilihan rumit, yang pada akhirnya dipaksa memendam pahitnya masalah.

Kedua Papa Pluche, seorang pendeta yang kesehariannya tak melihat laut, maka saat menginap di penginapan pantai ia berada di tempat yang sejuk menikmati ketenangan. Awalnya, ketenangan yang didamba musnah dengan sendirinya saat bersentuhan dengan pengunjung lain. cinta memang pahit, Bapa. Kebenaran selalu tidak manusiawi.

Ketiga Plasson, pelukis yang mencelupkan kuasnya ke laut untuk melukis laut. Karyanya banyak, sangat produktif dengan frasa alami. Karena kesendiriannya banyak yang menganggap ia angkuh, dan kurang sosialisasi mencipta kata egois. Namun ia punya gaya. Plasson belum mengenal Bartleboom, karakter keempat sebelum menginap. Mereka baru bertemu, dan sang ilmuwan menemukan klik untuk menjalin kawan. Mungkin ini adalah karakter paling nyentrik. Tua, jomblo, pintar, tapi kaku terhadap cewek. Kegiatan di penginap itu adalah menulis surat cinta yang dimasukkan ke dalam kotak kayu. Surat kepada wanita, entah siapa, suatu saat akan diberikan kepada miss X. Jurnalnya berjudul lengkap Ensiklopedia Batas yang Ditemukan pada Alam bersama Lampiran yang Didedikasikan bagi Batas Panca Indera Manusia. Sedih sama akhir ini tokoh. Salah satu isi suratnya: ‘Hari ini aku bertemu dengan wanita tercantik. Tapi kamu jangan cemburu. Hidupku hanya untukmu.’ – Ismael A. Ismael Bartleboom. Lihat betapa kejam asmara aneh itu? Imaji, tokoh terkasih khayali. Wanita memag sulit dimengerti. Antara Ana, sang pelukis vs Elisabetha, sang pianis. Antara Kota Pozel, Colzen, Tozer, Rulzen, Palzen, Alzen, Balzen, dan Fazel. Ia bukan sejenis orang normal, ia orang sederhana. Bartleboom, orang yang sangat sederhana, adil, sungguh. Itulah kenapa hidup adalah urusan yang memusingkan. “… aku telah menantimu, aku telah menantimu bertahun-tahun.” ujarnya, tapi apakah sang gadis benar-benar jodohnya?

Kelima, Ann Deveria. Aku mencintaimu karena mendambakan dirimu agaknya lebih indah ketimbang keindahan mana pun. Dan aku pun tahu bahwa hidup tak cukup besar untuk menampung semua imajinasi itu. “… Angin laut dapat mendinginkan gairah saya dan pemandangan di laut dapat membangkitkan moral saya, dan kesunyian laut dapat membuat melupakan kekasih saya.”

Keenam Savigny. Ini karakter yang janggal, sang penghianat yang dimaksud. Awalnya sangat memuakkan, tapi ketika fakta-fakta diungkap, rasanya apa yang dilakukannya, apa yang diperbuat dengan kekuatan dan niatnya terasa wajar. Di Pantai Depper, suatu hari. Tak ada yang mengerti, tak pernah ada. Akhir yang tragis, dengan darah di mana-mana seakan ini adalah novel slasher yang mengerikan. Di antara rasa putus asa, sebuah pikiran yang tak biasa dibutuhkan ketika ancaman logis akan pembunuhan massal itu tidak dienyahkan.

Karakter ketujuh adalah Adams. Penuh dendam dan amara murka. Bagaimana kekasih tewas dengan kejutan tak terduga, kesumat itu menyayat. Yang terburuk adalah perasaan menghilang, kehilangan kontak dengan pikiran, rasa panik yang samar-samar dan rasa takut yang mulai datang. Narasai panjang, satu buku penuh memang khusus menguak kesedihan Adams. “Pertama-tama nama saya, kedua mata itu, ketiga sebuah pemikiran, keempat malam yang mulai turun, kelima tubuh yang tercerai-berai, keenam rasa lapar, ketujuh rasa takut, kedelapan hantu-hantu yang gila, kesembilan daging, kesepuluh adalah seseoarng yang terus-menerus menatap namun tak membunuh saya. Terakhir adalah layar yang terkembang. Putih. Di kaki langit.”

Buku ini memang tak nyaman dibaca santai, beberapa kali kubaca ulang, beberapa kustabilo, dicetak beberapa kalimat laiknya puisi. Tenang, dan penuh renungan. Beberapa bagian seakan hanya angan. Seperti penuturan tentang Timbuktu. Mutiara Afrika. Kota menakjubkan yang mungkin saja mustahil bisa ditemukan Lokasi harta karun, tempat tinggal semua dewa barbar. Jantung dunia yang tak diketahui, kerajaan fantasi yang sarat kemakmuran, sumber dari segala air dan impian surga manapun. Timbuktu. Kota yang tak ada seorang kulit putih pun pernah temui.

Kalau difilmkan, mungkin lebih ke film art, banyak adegan hening, bahkan saya membayangkan adegan debur ombak selama sepuluh menit tanpa dialog, hanya suara ombak kena karang, atau ombak yang menyapa pasir, bermenit-menit, mencium daratan. Lalu pas di penginapan, dua karakter duduk di meja dengan kuas di tangan, yang satu dengan jurnal menelaah sajak. Setelahnya ngobrol bermenit-menit tentang makna hidup. Mereka dapat terus berbincang-bincang seperti itu selamanya. Melahap durasi. Snob. Ia merasa lelah, rasa lelah yang menakjubkan. Ia tiba-tiba memiliki waktu untuk berpikir.

Di pembuka, di sampul depan, belakang, bahkan bagian additional balik halaman kover: ada banyak sekali puja puji dari berbagai media. Nyaris bikin muntah. Untungnya saya baca di akhir, setelah selesai lahap baru kubolak-balik ulasan satu kalimatnya. Puja-puji berlebih itu ga baik, overate, menjurus memuakkan. Kenapa mencantumkan belasan puja-puji, biarkan pembaca menelaahnya sendiri. Cukup satu-dua ulasan puji saja, setelahnya biar mengalir. Dan benar saja, Ocean Sea kurang memuaskan. Sekadar bacaan sambil lalu, drama penginapan di pantai yang begitu kena terjang badai bakalan terlupa.

Jika ada kehidupan setelah kehidupan ini, mungkin saya akan menghabiskan waktu dengan mendedahkan kisah ini. “…daun pada pepohonan, jika Anda memperhatikannya dengan seksama adalah jagat raya yang rumit tapi berbatas…”

Ocean Sea | By Allesandro Baricco | Diterjemahkan dari Ocean Mare | terbitan BUR, Milan | Copyright 1993, RCS Libri Sp.p.A, Milano | Penerjemah Nadiah Alwi | Penyunting Yus Ariyanto | Penerbit Dastan Books | Cetakan 1, September 2006 | 436 hlm.; 11 x 18 cm | ISBN 979-3972-11-4 | Skor: 3.5/5

Untuk sahabatku, Molli

Karawang, 061119 – Puddle of Mud – Blurry

Ibu Mendulang Anak Berlari – Cyntha Hariadi

Ibuku melahirkanku
Sebagai seorang anak
Anakku melahirkanku
Sebagai seorang ibu – ‘Kelahiran’

Kumpulan puisi (lagi?), kapok Lombok ya? Aya naon?

Barangkali tak ada yang lebih alami dalam kodrat manusia daripada arus energi di antara dua tubuh biologis serupa: yang satu meringkuk damai di dalam tubuh lain. Yang kemudian akan mengerahkan seluruh tenaga, untuk mendorong keluar yang satunya. Darinya tumbuh akar kisah-kisah tentang, ketergantungan antar manusia yang paling dalam. Dan keterasingan yang paling kelam. – Of Woman Born

Aku merasa lebih tak berdaya bersamamu daripada tanpamu. – Trying To Talk With A Man (Adrienne Rich, 1929-2012)

Setelah dibuka dua kutipan Rich, kita langsung diajak ‘bersenandung’. Berisi 62 puisi, seperti sebelum-sebelumnya seakan acak tanpa aturan baku (emang puisi ada aturan baku?). Seperti tulisan asal, mencomot kata, disusunkan, dirimakan, dirata kiri, selesai. Saya baca dalam tiga kali kesempatan duduk, pertama Sabtu pagi pas mengantar istri periksa kandungan di Klinik Dokter Sitorus, Alhamdulillah hasil USG bayi perempuan. Kedua Minggu pagi bangun lebih dini sebelum mengantar anak ambil raport di Play Group, Hermioneku ranking satu, yey! Ketiga Senin pagi tadi sebelum mandi, ditemani segelas kopi dan iringan lagu Sherina Munaf di laptop, sebelum berangkat kerja, semangat Moanday. Saya nikmati di sela baca A Man Called Ove yang padat, pria tua penggerutu. Puisi ini memang saya baca santai, buku tipis, amat tipis malah, tak sampai 100 halaman, ada beberapa yang kosong, ada ilustrasi sederhana warna hitam seolah potongan gambar jendela, pintu dan sudut rumah. Saya masih belum yakin, nyamannya puisi itu dibaca nyaring atau lirih atau hanya dalam hati?

Contoh bagian yang agak sulit, untuk kita (eh saya) logika ada di bagian ‘Tidur’ ada sebaris yang berbunyi ‘Ia mengambil kepalaku di tangannya’, membuatku mengernyitkan dahi, menyipitkan mata. Sampai kubaca berulang kali, biasanya kalau saya kurang paham bacaan akan kuulang, akan kucerna lebih lama, akan kubaca nyaring sampai masuk ke kepala, yah kalau masuk. Tapi setelah empat lima kali percobaan masih belum nggeh, opo maksudte?

Pada dasarnya saya suka yang sederhana, ga ngawang-awang. Saya senang bagian ‘Jarak’ di akhir bertuliskan: ‘Ingat ayah merindukan kita dari amat jauh, dan ibu kerap memarahimu karena dekat.’ Mengingatkanku pada Mbak ku, Mbak Pur di Palur, dulu pas satu atap kita sering sekali marahan, rebutan mandi duluan tapi dasarnya malas bangun pagi, cepat-cepatan ambil lauk goreng saat sarapan, rebutan remote tv, rebutan nasi ‘berkat’ sepulang ayah kondangan, bagaimana poster Marcelo Salas-ku disobeknya karena marah, bagaimana peralatan kosmetiknya saya obrak-abrik sebagai balasan. Itu dulu, saat jarak tak jadi soal kita dua saudara yang bagai air dan api. Kini saat sama-sama dewasa, dan saya terlontar di perantauan, rasanya momen-momen ‘memarahi’ itu jadi merindu. Ah waktu, ah jarak.

Yang kusuka lagi sederhana pula di judul ‘Layar Lebar’ bagian akhir berbunyi: ‘Lihatlah tembok ini, dengarlah ia berbicara. Runtuhkan aku dengan krayon-krayonmu, mainkan layar lebar yang menayangkan mimpi-mimpi kau dan ibumu.’ Menelisikku pada putriku yang sukanya coret-coret tembok, bukan hanya dengan crayon, pensil warna atau stabilo, ia bahkan menggambar kapal di tembok pakai lipstick! Ya saya biarkanlah sambil ketawa, daya kreatif balita memang lagi tinggi-tingginya. Paling kita arahkan, belikan buku yang banyak, crayon seabreg demi mewujudkan layar lebar a la Hermione.

Bagian ‘Beres Beres’ kurasa unik, kek barang yang akan dibereskan, kata-katanya juga diserakkan sembarang. Sampai saya ikut gemes kugores ‘wuzz wuzz wuzz wuzz’ dengan stabilo kuning. Wahai para pujangga, apakah hal-hal receh gini yang membuat kumpulan puisi malah menjadi menarik?

Dari daftar ini saya paling suka ‘Jalan-Jalan’, dan sekali lagi karena kesederhanaannya, dekat dengan kita, kita jadi bagian dalamnya. Saya ketik ulang deh, cuma beberapa kalimat:

Seorang anak di dalam kereta, didorong ibunya | Anak bertanya, “Ke mana kita pergi, Ibu?”, jawab Ibu, “Keliling-keliling saja.” | Anak melihat bola-bola dan balon-balon di toko mainan, ibu mengamati berbagai rupa biskuit Itali di balik kaca | Anak menonton mobil dan sepeda yang bersliweran di jalan, ibu membaca sebuah pengumuman tentang karnaval | Anak melihat anjing lewat dan boneka jerapah yang jatuh di jalan, ibu bersapa dengan tetangga tentang cuaca | Anak mengamati poster-poster film di bioskop, ibu juga | Anak melihat dan menunjuk lampu yang baru saja dinyalakan, ibu berkata kepada anak tentang gelap yang sudah dekat | Anak menunjuk sekelompok burung-burung melintas langit senja, ibu berkata sudah waktunya kita berbalik pulang | Anak bertanya, “Besok keliling-keliling lagi?”, ibu mengangguk, mendorong kereta lebih cepat.

Sederhana kan? Justru kekuatan utama fiksi adalah kita ‘ada’ di dalamnya. Mengingkanku akan pengalaman jalan ke mal dengan hanya ‘menonton’ keadaan, melihat sekeliling, menyaksikan hiruk pikuk kesibukan manusia, makhluk yang bisa berpikir ini. Kebetulan saya hobi jalan kaki. Membayangkan segalanya akan disapu zaman, generasi dulu kita yang ganti, generasi sekarang akan diganti anak cucu. Dan interaksi anak-ibu ini sungguh lucu. Sekeping cerita Jalan-Jalan yang bagi setiap umat, hanyalah fakta kecil sambil lalu. Kebahagiaan mewujud dari dalam, bukan?

Kalau mau, kalian bisa menelusur blog ini, saya ga banyak membaca dan ulas puisi. Dari ratusan buku, hanya segelintir yang pernah kunikmati semacam Chairil Anwar, itupun semi-biografi Sjuman Djaya: Aku gara-gara AADC. James Joyce dalam Bilik Musik, yang setelah kuingat lagi ternyata belum kuulas. Atasi Amin dalam Potret Diri hingga karya Nanang Suryadi dalam Penyair Midas, yang ini pemberian teman menang kuis. Oiya, jangan lupakan jua buku Yopi Setia Umbara: Mengukur Jalan, Mengulur Waktu yang saat kubeli ternyata karena ketertarikan kovernya aduhai, dan kalau ingatanku kulempar dua bulan lalu, saya ‘terjerat’ Ibu Mendulang ini lebih karena kovernya yang bagus berwujud kuda-kudaan dengan latar yang cathy. Duh! Dijamin dalam koleksiku, tak ada (atau belum ada?) nama-nama besar Penyair Joko Pinurbo, tak ada bukunya Sapardi Djoko Damono, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Sitor Situmorang hingga mungkin yang hampir dekat dan sering kutimang bukunya di Gramedia, Goenawan Mohamad, hingga detik ini tak pernah kutenteng ke kasir. Betapa kering dahaga syair romantis di daftarku. Hiks,…

Saya belum nyaman sama rima puisi. Termasuk setelah menuntaskan baca Ibu Mendulang Anak Berlari karya Cyntha Hariadi, debut karyanya yang menyabet juara III Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2015. Saya malah terpesona sama editor bernama Sasa. Sudah puluhan terbitan Gramedia, akhir-akhir ini di tangan beliau hal-hal non teknis ini jadi nyaman dilahap. Minimalis kesalahan ketik, enak buat baca. Bahkan pernah saking penasarannya sama ini orang, satu buku siap saya coretin bila ada typo atau kesalahan dasar dalam cetak, sampai sekarang belum nemu. Keren. Memang selayaknya penerbit besar punya editor berkelas, dan jelas Sasa mencipta hal itu dari buku tebal sampai buku setipis ini, semuanya bagus. Hebat!

Pas SD dulu saat baca Majalah Bobo, mayoritas pinjam atau beli murah bekas 100 perak di lapak buku dekat Tugu Gladag Solo, kolom puisi sering kali kuabaikan. Selain panel komik yang terkenal itu, saya lebih suka artikel di Arena Kecil, Tak Disangka hingga cerpen-cerpen kiriman pembaca. Puisi hampir selalu kena skip. Oiya, ada juga Majalah Ananda yang lebih padat tulisan karya, saya lebih sreg di bagian humor malah ketimbang puisi. Pas SMP bahkan saat tugas Bahasa Indonesia bikin puisi, puisi saya lebih seakan narasi prosa ketimbang berima yang membuat bu guru dan seisi kelas tertawa ketika dibaca di depan. Entah beneran karena lucu atau saking amburadul nan kacau. Tentang pengalaman mencuri mangga tetangga dengan ketapel. Dan sampai kini sudah keluarga pun, dalam rak perpus mungilku tak banyak buku puisi. Walau setiap ulang tahun anak istri, saya belikan satu pot bunga, saya ini ga romantis. Walaupun setiap pagi bangun tidur, saya kecup mereka di kedua pipi, saya ini tak romantis. Sekalipun setiap berangkat kerja saya cium keningnya, saya merasa ga bisa meromantis. Walaupun sepulang kerja, istri cium tangan dan anak minta gendong dalam dua putaran, jelas saya belum bisa mencipta puisi yang syairnya melodrama bikin air mata keluar atau membuat trenyuh pembaca (atau pendengar?). Saya tetaplah pembaca fiksi, segala rupa, segala jenis. Namun tidak untuk puisi, salut buat para penikmat karya genre yang satu ini.

Jadi bagaimana penilaian Ibu Mendulang? Manifesto Flora jelas memuaskan, seharusnya menang karya pertama atau kedua. Kumpulan puisi ini kurasa sama saja dengan buku kumpulan syair yang lain, kayaknya pernah saya bilang gini ya? Hehe, repeat order please! Rataan tak memuaskan, tapi juga ga mengecewakan. Ga bikin kapok karena jelas ini bukan puisi terakhir yang kubeli atau nikmati, juga ga bikin candu karena memang beginilah selera. Tak bisa ditebak. Sebagai uneg-uneg penutup saya kutip kalimat terakhir buku ini, untuk saya, untuk kamu, untuk kita. Mungkin.

“…atau sekali-kali, sembunyilah.”

Ibu Mendulang Anak Berlari | Oleh Cyntha Hariadi | GM 616202020 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, April 2016 | Penyelia naskah Mirna Yulistianti | Copy editor Sasa | Desainer buku Roy Wisnu | Setter Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-2763-1 | Skor: 3/5

Karawang, 171218 – Nikita Willy – Lebih Dari Indah

Bunga Rose di taman?
Bunga Rose di taman, Rani, Intan, Rayen

Penyair Midas #27

Ada sapi terbang!” ujarnya. Puisi penuh logika. Cemburu pada keteraturan kata-kata. Dan penyair? Luka dalam tawanya.

Dengan puisi dia meredam kesakitan, hingga tetap bertahan, dalam kesepian | dia berkata: jika mencintaimu adalah luka, biarlah tak tersembuhkan selamanya. | karena cinta dan luka ada di keping yang sama, maka terimalah sebagaimana adanya. | karena mencinta adalah merawat luka-luka, merawat sepenuh cinta.

Sekali lagi saya mengulas tentang puisi. Buku-buku yang di rakku hanya 5%. Buku hadiah dari teman di Bandung dalam pertaruhan EPL-English Premiere League entah pekan berapa. Bacanya lebih lama, lebih tebal dan panjang ga seperti kumpulan puisi yang biasanya pendek-pendek.

Ada satu baris yang menurutku menggelitik. “Kita pura pura menjadi penyair, karena tak tersisa kamar di rumah sakit jiwa.” Baris ini terasa mengolok sekaligus sombong betapa mereka para Penyaor adalah sekumpulan orang gila. Gila yang bisa jadi ke nada positif.

“Kenapa kamu suka puisi yang aneh-aneh? Apakah hidupmu sudah tidak sangat aneh.” Dia merasa aneh dengan pertanyaan itu.

Dunia kita adalah dunia yang kita beri makna sendiri, dengan rasa percaya dengan cinta yang tak pura-pura | kita belajar pada kehidupan, karena kehidupan memberi segala tanpa kita pinta.

Menembus malam. Dini hari yang temaram. Di sela-sela sorot cahaya. Kendaraan melaju ke mana. Entah. Ke dalam pikiran yang simpang siur. Antara kenang dan kenang. Menembus malam. Menjelajahi riwayat waktu.

Dalam kepalaku ada penyair membaca puisi. Tidurlah. Kata penyair membacakan puisinya di dalam kepalaku yang semakin berat menahan pusing. | Jangan main perkusi di kapalaku! Haha. Malah peta digambar, peta nasib, geografi diri, anatomi pengetahuan.

Yang berderak adalah sumpah. Yang berserak adalah sampah. Teriaklah hingga serak. Geraklah. Gerak. Gertak gemertak. Biar retak biar kerak.

Mungkin engkau akan bisikan segala yang rahasia. Atau kau teriakan segala yang menjadi sesal. Tapi biarkan aku menerjuni arusmu.
Lekas tulis aku, ujar senja. Sebelum malam melumat ke balik kelamnya.

Ulasan singkatku di ig lazione.budy tanggal 28 Januari 2018. ‘Dibaca di Minggu pagi yang gerimis. Saya memang bukanpenikmat puisi. Tak mampu kubaca santai, tak nyaman dibaca nyaring, tak pula enak dinikmati sambil rebahan. #PenyairMidas rasanya sama saja dengan #KumpulanPuisi lainnya yang setiap karya terdiri dari beberapa bait yang bakan ada yang dibaca tak sampai semenit. “Kicau burung. Sisa basah #hujan. Segar udara pagi. Secangkir #kopi. Ah, apalagi yang akan diingkari untuk terus mensyukuri.” #NanagSuryadi membuat kompilasi dengan banyak kata #senja dan rentetetan #rima menambah referensi. Nuhun kang @gangan_januar yang sudah mengirimi buku in. “Gerimis senja, adalah air mata, menghujan kenangan dengan #rindu dan #cinta yang luka.”

Jika seorang penyair berkata, “Jika aku harus menulis puisi, kata apa yang mesti kutuliskan? Puisi tinggal sepi, pasti tak berdarah lagi.” | Penyair menyaring kata, dari ingatan yang lamat, hingga lumat segala penat, hingga tamat, dengan gelisah yang sama, penyair juga bertanya,

Bagaimana dapat kurasakan luka dengan penuh senda? Bagaimana dapat kurasakan luka dengan penuh gurau senantiasa? Puisi yang hampa.”

(3)

Kicau burung, sisa basah hujan. Segarudara pagi. Secangkir kopi, ah.

Apalagi yang akan diingkari untuk terus menyukuri.

Dan batas sanggupkah engkau melintasinya? Karena bara api menyala, mendidihkan isi kepala | Ada yang mengaduh, aduhnya samapi ke bulan. Ada yang memendam pedih, mendungnya menutup cahaya matahari.

Untuk yang ini, puisinya jauh lebih padat dan panjang. Lebih bernarasi dan berbobot. Bahkan sebagian seperti bercerita laiknya narasi cerpen, walau tetap gaya-gayanya bacaan rima. Mungkin salah satu kumpulan puisi paling nyaman kubaca, permainan katanya lebih terasa bagus dan asyik diikuti.

Dari Penyair senior kelahiran Serang tahun 1973. Sudah menulis banyak buku puisi ternyata, makanya pengalamannya di dunia syair tak diragukan lagi. Sebagai dosen FEB Universitas Brawijaya dan aktif mengelola fordisastra.com

Penyair Midas | oleh Nanang Suryadi | Editor Irwan Bajang, Indrian Koto | Proof reader Ahmad Khadafi | Layouter Irwan Bajang | Penerbit Hastasurya | Percetakan Indie Book Corner | ISBN 978-602-1599-05-1 | Skor: 4/5

Karawang, 290618 – Sherina Munaf – Click-Clock

#27 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Thx Tuan Gagan Januar, blogger Midas