Dunia Selma

Rahasia Selma by Linda Christanty

Kamu bikin Ibu mual, Selma! Kita masih punya banyak makanan. Makan daging sesama itu kanibal namanya. Kejam!”

#1. Pohon Kersen

Pohon kersen yang tumbuh di dekat rumah yang kesehariannya terdengar debur ombak pantai. Dengan sudut pandang anak-anak yang diajak kakeknya menikmati hari. Bagaimana pemisahan uang, kertas ke amplop belanja bulanan, dan keping masuk dalam celengan berwujud gajah tembikar. Pohon kersen yang bila musim ulat bikin orang jijik itu hampir ditebang, tapi aku tak setuju karena akan membuat rumah pohon di atasnya. Aku berkhayal tidur malam di situ.

Kebaikan kakek yang membeli ikan dari pedagang sayur keliling di hari Minggu, dan membagi beras kepada yang tak mampu. Sebuah rutinitas kedatangan penjual ikan itu suatu hari terhenti tanpa ada keterangan. Lalu muncul kabar berikut, Bang Husni yang tinggal di sana, disekolahkan, diberi makan, dibelikan kain baju, malah lari, menghilang. Ada hal buruk terjadi, tapi hidup terus berjalan. Aku dan impian rumah kayu di pohon kersen. Kenang-kenangan selalu kembali, “Dasar hantu pohon kersen!”

#2. Menunggu Ibu

Mengambil sudut pandang anak-anak, ibunya yang aneh dan tetangga pemilik bengkel mobil NANA yang memberi anjing pudel bernama Olio. Hubungan dengan paman dan saudara-saudaranya yang terlihat janggal. Punya saudara bernama Ena yang pernah tinggal bersama, lantas ia ikut pamannya, walau Ena bercerita sering kena marah dan ingin pulang, keputusan tetap sama. Paman yang kaya, tak perlu membawa bingkisan ketika berkunjung. Lalu keadaan gawat, ibunya hilang dua hari, masuk DPO lalu pulang awut-awutan. Makin ke sini makin bermasalah, sampai akhirnya harus diungsikan ke tempat rahasia. Dan Olio berakhir menyedihkan. Hiks,…

Pernah juga aku cuma berdiri di tengah kebun tanpa memikirkan apa-apa, berpikir membuatku lelah. Orang cepat tua, karena banyak berpikir. Jadi aku suka bertindak.

#3. Kupu-kupu Merah Jambu

Semua kupu-kupu di tempat itu bersayap merah jambu. Lelaki pemilik tempat itu bernama Juan, katanya bernama asli Jumadi. Di sini tak ada yang memakai nama asli, semua samaran. Ada ular dengan desisnya. Kehidupan berjalan, semua memiliki peran masing-masing. Hukuman, masalah, keseharian, bertahan hidup. Tapi ia hanya menyelamatkan diri. Ia hanya seekor kupu-kupu kecil, tapi kini ia bukan kupu-kupu. Ia tak punya sayap.

#4. Mercusuar

Sebuah kunjungan ke mercusuar, sang aku yang suka berjalan di pantai. Mercusuar tua yang kokoh, bagai menanti kekasih. Aku Hana, bukan Lona. Dan Naida yang menemani, dikira penjaga Mercu, kita kakak-beradik. Dan acara jalan-jalan itu berakhir di ranjang. Bukan seks biasa, karena melibatkan adegan X dengan tangan dan kaki terentang. Sang aku lalu berpisah dengan Chen, setelah bertemu Naida. Hubungan seperti bulu burung, mudah terhempas.

Ternyata kisah traumatis, setiap Mei datang ia menjerit-jerit.

#5. Rahasia Selma

Selma dan ribuan kura-kura di halaman rumah. Tante Bona yang menulis status facebook, ibu yang uring-uringan karena status itu berisi sampah, sebuah prediksi buruk masa depan: gelandangan. Ayah Selma yang buaya, dan gosip menguar di udara dengan konotasi negatif. Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, edisi mengarang Selma mendapat pujian. Lalu kabar ayahnya meninggal, ia tak menangis. Semakin dewasa seseorang, semakin jarang menangis di muka umum.

Lalu di gerbang belakang, larangan membukanya dilanggar. Kura-kura yang hilang, dicari Selma. Di lembah itulah ia melihat sebuah fakta yang mengejutkan. Sebuah pergumulan yang membuatnya pingsan, sebuah rahasia yang diabadikan dalam lukisan.

Jangan terlalu akrab dengan siapa pun. Jangan bawa teman ke rumah. Ibu-ibu semua penggosip.”

#6. Kesedihan

Menikmati suasana pantai sungguh mengasyikkan. Dia yang dicinta, tak menyukai perempuan menghabiskan waktu di dapur. Dia mengaku ke orang-orang bahwa saku adalah keponakan. Dia yang memenuhi hati setiap waktu. Mendua menjadi kesedihan, dan ketika aku mencuci dia menanyakan, aku masuk ke kamar. Permintaan maaf dalam pelukan, sementara di luar ada yang mencuci piring, melanjutkan.

Apa sih yang kamu kerjakan sepagi ini?”

#7. Drama

Lima ratus. Angka genap terkesan palsu. Ganjil justru meyakinkan. Lima ratus orang kaya melakukan pertemuan membahas ‘penjajahan’ Dunia Ketiga. Di luar terjadi demo, dengan gaya dan peserta membara. Ada yang pakai topeng Joker dong.

Suzanne benci politik, sebagaimana benci agama. Seperti kata guru ngajinya, Bang Satar, jangan nakal nanti masuk neraka. Disuruh makan buah zarkum, rasanya tidak enak. Hanya orang kafir yang memakannya. Tahu dari mana nggak enak? Pokoknya, begitulah. Buah itu hanya ada di neraka.

Tukang obat di pengungsian, menjadi juru runding jempolan. Seorang pembual dalam menjual mutu yang meragu tapi bisa menyakinkan pembeli. Dengan setelan jas dan kaca mata ia melaju ke hotel. Dua minggu kemudian ia muncul di tv: “Saya menyerahkan diri secara sukarela dan mengaku apa yang saya lakukan salah.” Ahhh…. Drama kepolisian dan tentara dan politik, dan pemberantasan pemberontak to.

#8. Para Pencerita

Hasril si sulung yang merantau. Dengan sudut pandang anak keempat yang mencerita kehidupan keluarga ini, si Fahmi. Dikiranya abangnya nggak akan pulang, delapan tahun di Amerika, dan kini ada kabar ia mudik. Kampung bergosip, si anak hilang akan tiba. Namun tak lama, tiga haris setelah menikah ia pergi lagi. Fahmi yang tak akrab sama kakaknya, banyak menyimpan tanya.

Lalu kita diajak mengenal keadaan keluarga ini. Ayahnya kabur, menikah lagi dengan wanita lain. Ibunya menangis sepanjang hari, lalu orang tua mereka cerai. Perundingan siapa yang akan ikut ayah atau ibu terjadi. Cut Nas dan jodohnya, cinta pertama yang kandas, dan prahara pernikahan paksa. Sementara Cut Rum merantau ke Jakarta bersama suaminya jualan mi. Ahh…. Inilah kehidupan, ini cerita-cerita tetangga dan saudara tumpang tindih dalam fakta dan maya. “Hei hei Fahmi, jangan dekat-dekat api.”

#9. Jazirah di Utara

Dan dia menyukai tanda-tanda, seperti permainan, seperti teka-teki. Lelaki yang mengelana ke Utara, di mana perang dan cinta diperingati tiada henti. Diselimuti doa-doa yang sudah berumur ribuan tahun, yang mengitari dan melindungi bagai kabur abadi. Tak seorang pun bisa menyentuhnya. Dimuliakan atau dinista ternyata sama-sama memberi sedih. “Setelah ini saya akan menulis sebentar, boleh?”

#10. Ingatan

Ingatanku akan musnah seperti ingatan siapa pun yang ada di sini. Di sini burung-burung tak pernah makan atau hinggap di dahan-dahan pohon. Mereka selalu terbang. Mereka tak pernah lapar.
Perlahan-lahan aku akan meninggalkan perasaan manusia, sebagaimana ingatanku perlahan-lahan musnah. Tapi aku masih ingat alasan aku pergi dari rumah. Aku tidak ingin terbang, tetapi semua yang di sini akhirnya akan terbang, seperti burung-burung.

#11. Babe

Piala Dunia Afrika 2010 yang sesak antusiasme dan fanatisme. Kota Durban menjadi seolah sakral karena di sana sang Aku dan Babe menemukan momentum. Sang aku ditanya apakah selingkuh selama tak ada dia? Dijawab jujur, iya ada empat: Gitaris Rock tahun 60-an. Penjaga rumah tua dan dua ekor kuda di pinggir kota. Anak buah kapal pesiar. Dan direktur lembaga lingkungan hidup.

Aku sang Penulis mencerita lika-liku kehidupan keluarga yang tampak aneh, dan kini ia bersiap merias diri guna perilisan buku barunya. Nama aslimu tak mungkin Singa Laut bukan?

Sebagai buku pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) tahun 2010, bukunya memang bagus, walau engga sampai wow, engga menyentuh kasta istimewa. Namun tetap bagus dalam narasi panjang berliku. Kumpulan cerita pendek tema umum, kita temui di banyak kisah keseharian. Mungkin karena agak unik dalam menyajikan, meliar dalam fantasi dan imaji anak-anak, sebagian besar. Mbak Linda dengan jeli menyimpan beberapa fakta, menyuguhi pembaca narasi panjang menghanyutkan, lalu sebagian darinya dibiarkan mengambang, menggantung terserah pembaca menafsirkan.

Saya sedang merunut mundur para pemenang Prosa KSK, dekade 2010-an masih ada tiga yang belum kunikmati: Lampuki, Semua Untuk Hindia, dan Isinga: Roman Papua, yang sudah baca tinggal Maryam yang belum kuulas. Soon! Sementara, untuk dekade 2000-an belum semuanya. Alon-alon wae, yang penting happy. Menikmati waktu, menikmati hari.

Rahasia Selma adalah buku pertama Linda Christanty yang kubaca, bagus. Buku lainnya boleh mengantri, termasuk Kuda Terbang Maria Pinto yang terkenal itu…

Rahasia Selma | by Linda Christanty | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 201 01 10 0010 | Cetakan pertama, April 2010 | Desain sampul Mirna Yulistianti | foto dari Shutterstock | Setting Malikas | ISBN 978-979-22-5656-7 | Skor: 4/5

Buat adik saya, Budhi dan teman masa kecil kami, Aldes. Buat Fahmi dan Dik Nur. Buat Edward dan Spaghet

Karawang, 180820 – 290920 – Bill Withers – My Imagination

Thx to Anita Damayanti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s