1917: Rancang Bangun Kemegahan Sinema

Down to Gehenna, or up to the Throne, He travel the fastest who travels alone.”Rudyard Kipling

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler==

Kisahnya di tanggal 6 April 1917, dan akan berakhir esoknya. Di ladang perang dari New Hendenburg Line ke Devon, Inggris. Dua tentara muda William Schofield (George MacKay) dan Tom Blake (Dean-Charles Chapman) diperintahkan Jenderal Erinmore (Colin Firth) untuk membawa sebuah pesan kepada Kolonel Mackenzie (Benedict Cumberbact), di battalion kedua resimen Devonshire. Surat yang berisi pembatalan serangan demi menyelamatkan nyawa 1.600 pasukan termasuk di dalamnya Joseph Blake, saudara Tom. Makin dalam maknanya, sebab melibat misi penyelamatan anggota keluarga.

Kalau dirangkum dalam satu kalimat: ‘Film tentang kirim surat, dengan berbagai kendala di perjalanan’. Tak banyak yang bisa dicerita, karena setelah menerima tugas, mereka bergegas gerak, waktu tak banyak. Namun karena blog ini mewajib ngoceh panjang kali lebar, maka ada baiknya saya ketik sahaja, beberapa detail ‘kendala’ petualangan. Yang pasti, berdua menemui berbagai masalah yang mematik peri kemanusiaan. Film jenis bom, bang, bang, wuuz…, jenis keseruan tanpa banyak cingcong dan renungan. Dalam sebuah gua bekas tempat duduk pasukan Jerman, mencipta sebuah degub bertalu-talu karena gua itu berisi bom, dan jebakan mematikan. Tikus dan segala kamuflase gelap di dalamnya. Sampai menahan napas saya ketika ledakan terjadi, seolah kisah berhenti bahkan ketika baru beberapa menit. Gilax, bahkan tikus mereka lebih besar!

Sampai pada sejenis rumah pertanian, saat mendapat susu sapi dan air bersih, sebuah pesawat Jerman tertembak dan meluncur jatuh ke arah mereka. Bayangkan, moncong pesawat mengarah kepadamu, kamu menghindar sejadi-jadinya. Dalam keadaan terluka sang pilot keluar dari pesawat yang terbakar, jiwa baik Blake malah menjadi petaka. Ketika ia mencoba menolong, justru kena tikam. Seluruh penonton turut menutup mata ngeri, seterkejut Blake yang akhirnya gugur. Rasanya pengen turutserta menjelma Schofield memberondong peluru ke sang pembunuh. Dalam adegan sunyi nan menyentuh, ia sekarat dan ia berjanji melanjutkan misi, sobatnya pamit dalam pelukan leleh air mata.

Saat senja menjelang, Schofield mencapai jembatan roboh dekat Ecoust Saint Mein, melintasi dalam rentetan tembak. Ia mamasuki reruntuhan kota setelah berjibau dengan sang sniper. Malam itu ia melintas dengan dingin, menemukan seorang ibu dan anaknya yang kepalaran, memberi botol susu, dan walaupun dia ada di pihak musuh, ia menggunakan nurani. Ini bisa jadi adegan menyentuh, bagaimanapun perang bisa merenggut beberapa hal, tapi nuranimu tetaplah ada. Adegan mengharu juga tersaji dalam tembakan suar di area no man’s land (medan di antara dua kubu).

Bagian yang mendebarkan tersaji ketika ia terjepit dalam kejaran, dan desingan peluru yang memaksanya terjun ke sungai. Menuruti aliran, menghanyutkan jiwa, lelahnya menyusup ke sumsum, seolah tulang itu turut menjerit capek. Sehingga ketika ia berhasil menepi, memasuki hutan dengan jalan gontai seolah pasrah. Pagi fajar menyingsung itu, diiringi untaian lagu pasukan D Company di Devons II, wow dikira kelar justru ia malah menemukan dituju. Sehingga kelesuan itu menjadi secercah semangat dan gegas mencari Kolonel Mackenzie. Agak terlambat, karena serangan sudah dimulai. Dalam deru tembakan dan serbuan, ia berlari sekuat tenaga untuk menyampaikan surat.

Banyak adegan bagus yang laik dibahas dan dibicarakan, yang pasti sinematografi juara. Sesuai prediksi, Deakin lock Oscar. Saya juga menyematkan best picture, yang sayangnya direnggut Parasite. Kalau Birdman yang menampil one take beberapa menit, dengan celana kolor bergaya ke panggung saja menang Oscar, bagaimana bisa yang sepanjang ini gagal? Akan sulit menandingi konsisten penonton menjelma mata kamera. Film yang nyaman sekali ketika dinikmati di layar lebar. Salah satu pengalaman cinema langka, di mana kita menyaksikan film dari awal sampai akhir seolah hanya satu kali pengambilan gambar. Klik, dan sepanjang 119 menit kita menyatu dengan desingan peluru, seolah kejadian ada di depan kita!

Secara cerita memang biasa, lha premis isinya cuma misi menyampaikan surat pembatalan serangan. Kalau kalian berharap ada semacam kejutan di akhir, semisal isi suratnya bersama bingkisan bunga ya ga akan nemu, atau surat 4×4, sempat ga sempat, jelas ga ada. Pesan itu hanya dibaca sekilas, lalu serangan yang terlanjur dimulai, akhirnya harus ditarik kembali, lalu mentari pagi menyoroti jiwa yang lega. Selesai. Strategi Jerman dengan pasukan yang seolah mundur, lalu menyerang balik musuh benar-benar ada, namanya Operation Alberich. Strategi itu dilakukan tanggal 9 Februari sampai 20 Maret 1917, yang juga nyata berdasarkan Kejadian Pertempuran Passchendaele atau Pertempuran Ypres III (31 Juli – 10 November 1917). Karena setting waktu di film ini justru adalah hari pertama Amerika turut Perang Dunia I.

Sam Mendes melakukan gebrakan sinema yang menakjubkan secara teknis. Sebuah achievement yang seharusnya bisa lebih dihargai di Oscar, sensasi layar lebar, senikmat Gravity yang memberi efek layang, atau Avatar yang biru membuncah memberi gambaran terbang di dalam gedung bioskop. Masterpiece visual, teknologi memang sudah sangat maju, tapi ga semua bisa semegah ‘one take’ ini. Ga usah mengerutkan kening. Ini jenis film yang memanjakan indera pengelihatan, pendengar, dan asupan pengecap. Sebuah Rancang Bangun Kemegahan Sinema.

I hope today would be a good day. Hope is a dangerous thing.”

1917 | Year 2019 | Directed by Sam Mendes | Screenplay Sam Mendes, Krysty Wilson-Cairns | Cast Dean-Charles Chapman, George MacKay, Daniel Mays, Colin Firth, Mark Strong, Benedict Cumberbatch | Skor: 4/5

Karawang, 050520 – Bill Withers – Family Table

*) Film ini kutonton di hari pertama tayang di Blitz Karawang bersama Titus Pradita

**) RIP Lord of Godfather of broken heart: Didi Kempot 1966-2020, Sad news. Kabar duka ini kutahui ketika mengantre di Samsat Karawang untuk ganti pelat SiBiru lewat lini masa sosmed. Tindak kundor, Legend. #Ambyar

Dua Garis Biru: Slow Pace Realistik

“Kalau ibu saja perlahan-lahan bisa memaafkan kamu, apalagi Allah.”Yuni

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Sleeper hit of the year.

Hanya dengan melihat trailer. Kita tahu alurnya, kita bisa menebak garis besar perjalanan film ini, kita pasti paham langkah-langkah bidak catur per adegan, ke arah mana cerita cinta ini kita juga pasti mengerti. Dua sejoli, anak sekolah pacaran, di kamar dan terjadilah. Justru hal seperti ini lebih terlihat nyata, ketimbang film romantis ramaja yang sering memperlihatkan adegan berdua genggaman tangan, taa-daaa… tak terjadi apa-apa. Lantas kenapa Dua Garis Biru masih bisa memukau? Akting, naskah, dan beberapa keunggulan teknis mencipta debug jantung dan tangis. Endingnya menyempurna, menata rencana masa depan tak semudah menyusun lego. Adegan UKS jelas luar biasa, dua peristiwa marah disajikan tanpa putus penuh emosi. Teriakan saling silang di UKS akan mencipta kenangan yang tertanam dalam dinding-dinding sekolah.

Film ini sukses besar, baik sisi tiket maupun ulasan. Menjadi sleeper hit tahun ini, menjelma puja-puji di banyak beranda sosial media. Inilah film paling mengejutkan 2019, film remaja menghadapi problematika masalah orang dewasa.

Kisahnya tentang dua siswa yang menjalin kasih, hamil lalu penonton menjadi saksi kejadian akibat perbuatan itu bersama orang-orang terdekat. Dara Yunika (Adhisty Zara JKT 48) adalah siswi cerdas, adegan pembuka berkata itu. Berpacaran dengan teman sekelas Bima (Angga Yunanda) yang memiliki nilai akademik biasa, adegan pembuka juga berkata gitu. Kehidupan keduanya pun beda kasta, Dara terlahir dari keluarga kaya. Memiliki dik yang imut Putri (Maisha Kanna), kedua orang tua David (Dwi Sasono) dan Rika (Lulu Tobing) yang secara ekonomi mapan, laiknya orang umum bilang masa depannya terjamin. Bima dari keluarga sederhana, orang tua relijius Yuni (Cut Mini Theo) dan Rudy (Arswendi Bening Swara), dan kakak yang sudah memiliki keluarga sendiri Dewi (Rachel Amanda). Hidup dalam keriuhan gang-gang sempit di Jakarta. Dari sudut romantisme, kita bisa bilang cinta menyatukan mereka, tapi dari sudut yang lebih dalam, MBA terpaksa menyatukan mereka.

Apa yang kita tanam, akan kita tuai. Pernikahan remaja memaksa mereka dewasa lebih cepat. Inilah waktu-waktu cekam, menikah adalah menyatukan dua keluarga. Dan memang, seharusnya kedua keluarga yang sudah terjalin ini bersatu, namun tetap berjarak, dan Dua Garis Biru menyajikan realita, tak berlebihan Cut Mini menang FFI karena sajian emosi dalam frame terlihat hebat.

Yang lebih menakjubkan, ini adalah debut sutradara Gina S. Noer. Luar biasa, film perdana langsung menghentak. Seharusnya kita tak heran juga sih, hanya lupa antisipasi, CV naskah skenario-skenarionya memang berkualitas. Dimulai dengan omongan miring para sinister ketika trailer keluar, di beranda sosmed banyak sekali yang menghujat, banyak yang bilang akan jadi film minor bahkan sebelum rilis. Namun kualitas berbicara seolah menabok semua nada miring itu. Gina pasti tertawa menyaksikan box officenya.

Salut sama bagian kasting, nyaris bagus semua. Spesial buat Zara, well dia sangat cantik. Suaranya bening, sedikit serak tertahan. Menampilkan mimik remaja yang harus mengambil keputusan penting. Lantas selalu berpikir sebelum bicara, jelas ia telah lebih matang. Selamat, atas kembalinya Lulu Tobing ke layar lebar. Pesona terjaga. Cocok akting jadi orang kelas atas. Salut juga untuk penampilan Arswendi Bening Swara jelas ga selantang istrinya, porsinya pas, gesturenya pas, aksinya sangat pas. Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami memang digariskan lebih tenang. Saya sudah banyak mengalami, saya sudah sering mengambil keputusan keluarga dengan kepala dingin ketika masalah pelik menempa.

Adegan ayah anak tersaji memikat, sang ayah duduk di lantai, Bima di tempat tidur mendekam sendu, duduk merenung dalam kebingungan, seolah bilang, “Ada banyak hal tak kumengerti.” Tak berani berharap atau berencana. Yah beginilah hidup Nak. Mengapa remaja membuat salah perhitungan, banyak pemikiran dan aksi salah, usia labil. Namun kesalahan yang ini kebablasan. Karena cinta memang menampar logika, dan masa remaja belum mampu menimbang konsekuensi lengkap keputusan mereka.

Waktu linier, tak ada jalan kembali bagi umat manusia. Ketika dua garis biru muncul, tak ada jalan kembali ke masa lalu yang indah-indah. Mereka tahu bahwa tak diragukan lagi, hari ini adalah hari yang patut dikenang dalam hidupnya. Kenang kepanikan. Tidak bisa mundur lagi. Perangkap sudah menjeplak tertutup. Mulai sekarang, bukan Matematika dan rumus Kimia yang akan kita pusingkan, roda ban terlampau kencang melaju melompati usia tanggung jawab. Menjadikan hari-hari menegangkan, diwarnai lebih banyak kecemasan dan kegelisahan. Mau digugurkan atau tetap dipertahankan, kedua opsi sama buruknya di usia remaja. Simalakama. Keceriaan kehidupan lama, kini selesai sudah.

Kisah perangkap romantis itu memberi pelajaran berharga, jauh lebih penting ketimbang teori yang dipelajari dalam seminar parenting manapun. Serangkaian keputusan sepele di kamar, salah perhitungan, memiliki efek kumulatif yang memaksa keduanya menghabiskan hari-harinya memikul ‘berember-ember air’ masalah untuk disajikan kepada semua orang terdekat. Mungkin mereka memiliki keinginan-keinginan lain, tapi setiap ide yang dilontarkan secara sadar membuat kehidupan lebih sulit guna mencapai keinginan tersebut. Upaya rumit menyelaraskan rasional dan matematis, terciptalah adegan UKS. Para orang tua terjalin tak bisa menghindar dari perhitungan faktor-faktor non material seperti ideologi dan budaya. Tawar-menawar ala Faust antara kedua orang tua bukan satu-satunya kesepakatan konsekuensi, dihadirkan pula opsi ketiga tentang rencana adopsi. Voila, takdir tertawa.

Rencananya. Catat, setelah menikah, bayi terlahir akan diadopsi kepada saudara Dara yang belum dikaruniani anak, Dara yang cerdas secara pendidikan karena terhenti sekolah harus diselamatkan demi masa depan yang masih terentang panjang, akan melanjutkan study ke Korea, mengejar mimpi. Bima terpisah dari anaknya, melanjutkan tumbuh kembang dewasa, karena terlampau muda, mendidik anak itu tak mudah Nak, merajut ulang beberapa mimpi, dan kedua besan secara emosional terputus. Selain beda kasta, mereka memang terjalin sebab terpaksa. Boom! Akhir kisah itu khalayan belaka. Ketika menit mendekati akhir, kita malah diberi bumbu merica melimpahkan derai air mata yang merusak tatanan. Tanda tangan remaja itu setara keputusan teramat penting manusia dewasa. Hebat! Rasanya apa yang kita minta, tak pernah dikabulkan Tuhan, maaf koreksi, apa yang kita minta tak semua dikabulkan Tuhan. Ghhhmmm… Gina memberi akhir yang jitu untuk hubungan yang lebih pas, menahan keinginan, menaboki harapan senyum dan tawa pahit di akhir. Kekhawatiran akan masa depan memang pemain utama dalam teater akalbudi manusia.

Dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika, tertuang bahwa semua manusia diciptakan setara, bahwa mereka dikaruniai oleh Pencipta mereka hak-hak tertentu yang tak bisa dicabut, yang antara lain mencakup kehidupan, kemerdekaan, dan pencarian kebahagiaan. Kehidupan seolah reset, demi lembaran baru hidup manusia pertama di semesta: Adam.

Mencucurkan air mata di saat keberangkatan bisa mendatangkan kemalangan bagi orang terkasih. Adegan itu ditampilkan dengan teramat baik. Menutup layar puas. Satu-satunya hal yang bisa melegakan adalah angan-angan. “Kamu pikir bijaksana merusak segalanya yang sudah berjalan begitu baik?”

Sejauh ini, Dua Garis Biru adalah film terbaik 2019 yang kutonton. Slow pace realistik (Harsoyo Lee).

Dua Garis Biru | Tahun 2019 | Sutradara Gina S. Noer | Naskah Gina S. Noer | Pemain Angga Aldi Yunanda, Adhisty Zara, Lulu Tobing, Cut Mini, Dwi Sasono, Arswendi Bening Swara, Rachel Amanda, Ariella Calista Ichwan, Cindy Hapsari Maharani Pujiantoro Putri | Skor: 4/5

Karawang, 181219 – 160220 – Marty Robbins – A White Sport Coat (And A Pink Carnation)

*) perdana tayang di tv kemarin lusa di prime time saat Valentine, dan sudah bisa disaksikan di Iflix