Filsafat Administrasi #9

“No training can develop a man, he must develop himself.”

Bagus. Kaget juga, untuk sebuah organisasi yang sudah umum itu ada ilmu khususnya. Dan disampaikan dengan sangat memikat. Yang paling mengena bagiku adalah bagian inti organisasi. Ada empat unsur: anggota, apa mau anggota? Pengurus, apa yang jadi sasaran pengurus yang ada dalam organisasi. Sinkron enggaknya tujuan anggota dan pengurus. Terakhir, kalau tidak sinkron apa yang harus dilakukan. Keempat unsur yang pas banget diterapkan di dunia yang hingar bingar perlu ditata. Terasa pas karena sekarang sedang mendapat mandat di koperasi, dan keempat unsur organisasi itu patut diterapkan.

Teori melimpah, bahkan menjadi penting rasanya kata ‘administrasi’ yang awalnya kuanggap biasa. Charles A. Beard, historikus politik bilang “Tidak ada satu hal untuk abad modern sekarang ini yang lebih penting dari administrasi. Kelangsungan hidup pemerintah yang beradab dan malahan kelangsungan hidup dari perabadan itu sendiri akan sangat tergantung atas kemampuan kita untuk membina dan mengembangkan suatu filsafat Administrasi yang mampu memecahkan masalah-masalah masyarakat modern.”

Administrasi dalam buku ini berarti keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Sederhananya, bila dua orang bekerja bersama-sama untuk menggulingkan sebuah batu yang tidak dapat digulingkan hanya oleh seorang di antara mereka, pada saat itulah administrasi telah ada. Manajemen adalah inti dari administrasi. Maka administasi lebih luas dari manajemen.

Dilihat dari fungsionalnya ada dua tugas utama, menentukan tujuan menyeluruh yang hendak dicapai (organizational goal), dan menentukan kebijaksanaan umum yang mengikat seluruh organiasasi (general and overall policies). Human relations merupakan inti dari kepemimpinan. Human relations adalah keseluruhan rangkaian hubungan, baik yang bersifat formal, antara atasan dan bawahan, atasan dengan atasan, serta bawahan dengan bawahan yang lain yang harus dibina dan dipelihara sedemikian rupa sehingga tercipta suatu teamwork dan suasana kerja yang intim dan harmonis dalam rangka pencapaian tujuan.

Dalam organisasi selalu ada tiga kelompok pimpinan: Top management, middle management, dan lower management.  Semakin tinggi kedudukan seseorang di dalam organisasi, ia semakin generalist. Sedang makin rendah makan kedudukannya specialist. Pemimpin yang dengan menggerakkan bawahannya selalu atau sering bersifat punitive tidak dapat dikatakan sebagai pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik, tidak menganak-emaskan sesuatu bagian di dalam organisasi, menganak-tirikan yang lain.

Kalau belum punya pondasi kepemimpinan, tenang saja. Pengalaman akan menempa. Tidak ada seorang manusia pun yang serta-merta memiliki semua ciri ideal pemimpin ideal. Karena itu penting bagi seorang pemimpin untuk menganalisis diri sendiri untuk melihat ciri-ciri kepemimpinan apa yang telah dimiliki dan ciri-ciri apa yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, baik formal atau informal. Dua belas ciri pemimpin keren: sehat, berpengetahuan luas, keyakinan, hakiki, stamina (daya kerja), gemar dan cepat mengambil keputusan, objektif, adil memperlakukan bawahan, menguasai prinsip IR, menguasai teknik komunikasi, mampu sebagai penasehat, dan mempunyai gambaran menyeluruh aspek organiasai. Setiap orang mampu menjadi pemimpin, bila diberi pendidikan dan pengalaman. Seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan.

Sukses tidaknya seseorang menjalankan peranannya sebagai pemimpin akan sangat tergantung bukan pada ketrampilannya melakukan kegiatan operasional, tetapi akan dinilai tertutama dari kemampuannya mengambil keputusan. Pemimpin yang bersangkutan memiliki pengetahuan yang mendalam tentang dirinya sendiri, kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahannya, termasuk di dalamnya, kemampuan dan kemauan belajar terus-menerus.

Dalam proses pengambilan keputusan tidak ada hal terjadi secara kebetulan. Pengambilan keputusan tidak dapat dilakukan secara ‘asal jadi’ karena pelu pendekatan berdasar sistematika tertentu. Pemecahan tidak dapat dilakukan dengan hanya mencari ‘ilham’ atau dengan intuisi, akan tetapi juga perlu didasarkan kepada fakta yang terkumpul dengan sistemtika, terolah dengan baik, dan tersimpan secara teratur sehingga fakta-fakta/data itu sungguh-sungguh dapat dipercayai dan masih up to date.

Agar seseorang pemimpin dapat meramalkan reaksi, sikap dan tindak-tanduk para bawahannya dalam rangka pelaksanaan daripada sesuatu keptusan yang diambil, ia perlu mengetahui bagaimana pandangan para bawahan itu terhadap diri mereka sendiri. Dengan mensinkronkan tujuan dan kepentingan individu dalam organisasi.

Efektivitas pengambilan keputusan sangat tergantung atas cepat tidaknya informasi yang diperlukan dapat diambil dari tempat penyimpanan. Organisasi sebagai setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam persekutuan tersebut.

Fakta penting yang harus digarisbawahi, sayangnya. Hiks, jika seorang pemimpin mengambil keputusan yang menggembirakan setiap orang, ada kemungkinan bahwa keputusan itu bukan merupakan keputusan yang baik. Oleh karena itu tugas mengambil keputusan bukan merupakan tugas yang enteng. Meminta nasehat staff untuk mempermudah proses pengambilan keputusan menjadi sangat penting. Staff yang mampu memberi ‘nasehat’ kepada atasannya mempunya nilai lebih.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang egoistis padahal manusia mempunyai kemampuan-kemampuan terbatas, baik fisik, biologis maupun mental. William H. Whyte menyebut, manusia itu sebagai manusia organisasi.

Fungsi administrasi dan managemen: planning, organizing, commanding, coordinating, dan controlling. Pada hakikatnya rencana adalah suatu keputusan, maka polarisasi pemikiran yang cenderung untuk memisahkan proses perencanaan dan proses pelaksanaan tidak boleh terjadi. Charles F. Kettering, industrial Amerika pernah bilang sesuatu masalah yang hakikatnya telah diketahui telah separuh terpecahkan.

Baru tahu sistem 5W1H itu dicetuskan oleh Penulis favotiku dari Inggris. Rudyard Kipling pernah bilang bahwa dalam hidupnya ia mempunyai enam pelayan yang baik bernama: What, Where, When, How, Who, dan Why. Atau ini penegasan saja?

Setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerjasama untuk suatu tujuan besama dan terikat secara formal dalam persekutuan mana selalu terdapat hubungan antara seorang/sekelompok orang yang disebur pimpinan dan seorang/kelomok orang lain yang disebut bawahan.

Manusia sebagai makhluk hidup bersedia memberikan yang terbaik pada dirinya, waktunya, tenaganya, keahliannya dan ketrampilannya apabila ia diyakinkan bahwa ia akan diberi balas jasa yang setimpal dengan jasa-jasa yang diberikan. Quid pro Qua yang artinya Sesuatu untuk sesuatu, atau dalam pepatah kita, “Ada ubi ada talas, ada budi ada balas.”

Abraham Maslow dalam teorinya, ada lima tingkatan kebutuhan: 1) kebutuhan fisiologis (sandang, pangan papan), 2) kebutuhan keamanan (kemanan jiwa dan harta), 3) kebutuhan sosial (perasan diterima, dihormati, maju, dan ikut serta), 4) kebutuhan akan prestise (esteem needs), 5) kebutuhan mempertinggi kapasitas kerja.

Perencanaan dan pengawasan merupakan kedua belahan mata uang yang sama, bahwa tanpa rencana pengawasan tidak mungkin dilakukan karena tidak ada pedoman untuk melakukan pengawasa. Sebaliknya, rencana tanpa pengawasan akan timbul penyimpangan-penyimpangan.

Well, ini tentang sistem. Kata ‘filsafat’ di dalam judul tak bohong. Bahasannya lugas, walaupun penulis banyak menukil sumber, dengan daftar pustaka yang banyak, tapi ini jelas sungguh buku yang bervitamin. Sebagai IR saya banyak menemukan teori-teori yang menunjang pekerjaan. Yang jelas, setelah baca buku ini, saya tak memandang sambil lalu kata ‘administrasi’. Dan, kalian harusnya juga.

Filsafat Administrasi | by Dr. Sondang P. Siagian M.P.A., Ph.D. | Penerbit Gunung Agung – Jakarta | 1970 | Cetakan keduabelas, tahun 1983 | Penata wajah AMA | Pencetak Percetakan Offset Sapdodadi, Jakarta | Skor: 4/5

Karawang, 090622 – Westlife – You Raise Me Up

Thx to Lumbung Buku, Bandung

#30HariMenulis #ReviewBuku #9 #Juni2022

Sastra adalah… Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

“Jika Anda seorang pengarang, dan tak menemukan ungkapan-ungkapan yang pas untuk menjelaskan perasaan yang rumit dan intim dan dalam dari tokoh-tokoh yang ingin Anda ceritakan dalam bahasa Indonesia, maka boleh jadi Anda akan lari mencari pertolongan kepada bahasa yang Anda alami sehari-hari atau kepada bahasa yang Anda anggap lebih kompleks berdasar kecenderungan bacaan Anda…”

Menurutku buku ini setara bagusnya dengan Cerita, Bualan, Kebenaran. Tips-tips menulis yang dibalut bukan tips menulis. Nyaman dan terasa sangat masuk akal. Jelas lebih keren dari Menumis itu Gampang yang bertema umum. Poinnya sama, Cak Mahfud bercerita kesehariannya. Buku ini terasa lebih asyik sebab bahasannya fokus ke proses kreatif, yang setelah ditelaah, tak kreatif juga, tak banyak nasehat, atau petuah membumbung. Benar-benar cerita bagaimana ketahananan menulis buku itu perlu, pengalaman dari Penulis pemenang DKJ dan KSK. Dua penghargaan sastra paling bergengsi tanah air. Walau judulnya provokatif, bagaimana penulis menganggur, percayalah, itu hanya jeda. Judulnya biar tampak eksotik. Itu hanya masa santuy, sejatinya menulis memang kudu tahan banting, konsistensi, dan dipaksa. Maka tata kelola waktu juga sebuah kunci, dan buku ini jelas patut dipertimbangkan jadi rujukan proses mencipta karya. Seperti yang dulu pernah kubilang di ulasan buku Mario Vargas Llosa dalam Matinya Seorang Penulis Besar (sudah diterjemahkan oleh Shira Media), bahwa buku-buku dibalik karya sangat patut dicetak sebanyak mungkin agar pembaca tak meraba ngasal. Setidaknya kita tahu, buku-buku itu diterbitkan penuh pengorbanan, tak sim salabim mengada.

#1. Hanya Penulis

Sosial media, atau di sini Facebook telah mengikat kita dalam pergaulan instan. Bisa saling mengenal secara daring orang-orang asing, serta para idola yang dulu rasanya tak terjangkau. Dibuka dengan sebuah kotak pesan masuk yang menanyakan pendapat kontribusi penulis di masa pandemi. Dan dijawab dengan apa adanya, mungkin benar kurang memuaskan, tapi ini benar-benar real. Kenapa, sebab “jangan memberi panggung kepada orang-orang yang tak kompeten,” adalah mutlak.

Jangan tanya tanggapan Lesti.

#2. Penulis? Oh, yang di Percetakan

Karena sudah baca dua kumpulan esai, saya jadi tahu perjalanan hidup Cak Mahfud yang lulusan pesantren, kuliah Yogya, bekerja di Jakarta, lantas menyepi menekuri tulisan dengan serius kembali ke Yogya. Maka saat baca judulnya, jelas ini adalah lontaran tanya dari rekan saat di Utan Kayu. Penjelasan bagaimana ia ‘tak menyangka’ jadi penulis suatu hari kelak tampak seolah hanya mengikuti arus kehidupan. Dan penulis yang dikenali sekaligus tak dikenali, kocak juga kontribusinya, saat truk-truk bahan bangunan yang bising di balik tembok tempat tinggalnya dan ia bergeming, tak turun tangan. Tak mengapa, saya sama saja kalau di posisi itu.

#3. Alasan untuk Tidak Menulis

Sudah menulis dari era mesin tik, dan bagaimana cerpen pembuka Belajar Mencintai Kambing berproses. Sibuk jadi semacam kelakar saat ditanyakan pada Penulis. Hingga bagaimana tatapan pada Ayu Utami di meja kafe seberang dengan laptopnya, sepuluh tahun kemudian, beliau punya karya setara bagusnya. Sejatinya, penundaan menunaikan tugas (di sini menulis) adalah hal wajar bagi manusia. Termasuk alibi, kalau punya komputer, kalau punya laptop kualitas bagus, kalau punya tempat nyaman menulis, serta kalau kalau yang lain.

Penutupnya bagus, langsung kena jap. “… semakin cepat capek dan diserang pegal-pegal. Saya pasti akan jauh lebih sigap dan lebih cepat menyelesaikan tulisan ini jika saya masih seumur para penulis muda yang sore itu saya temui.” Hahaha…

#4. Pengarang dan Kemelut

Mengandaikan masa hidup di era lama, tak hanya cocok untuk para penulis. Bayangkan, kalau kamu buruh di masa kemerdekaan, apakah mungkin sudah bergabung angkat senjata? Atau bayangkan hidup di masa ’65, mungkin kamu buruh yang keciduk karena ikut coblos Merah. Nah, di sini membayangkan bagaimana kalau penulis hidup di masa itu? Bakalan angkat senjata? Bakalan turut serta disingkirkan? Chairil Anwar memang penyair terbesar kita, dan bagaimana ia berumur muda banyak memberi warna kebangkitan Indonesia.

#5. Bahasa Indonesia dan Persoalannya – bagi Seorang Pengarang Jawa

Ini menyenggol Azhari Aiyup si penulis Kura-kura Berjanggut yang fenomenal itu. Bagaimana cerpennya terbit di Kompas dan mencipta iri Cak Mahfud, terutama gaya bahasa, pilihan diksi, hingga keluwesan bercerita yang bagus, seorang Aceh yang mahir berbahasa Indonesia.

Dan bagaimana kehidupan sehari-hari mempengaruhi kehidupan sosial kita, terutama bahasa. Jadi seperti apakah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu. Lebih nyaman memang memilih “percampuran” bahasa ibu dan bahasa Indonesia, dan itu sangat wajar. Bukankah malah tampak aneh, orang Jawa dengan fasih bercerita tentang kehidupan suku Dani?

#6. Pulang, Pola, Mood

Pulang kampung adalah jeda dari kesibukan. Menikmati waktu dengan keluarga, menelusuri kenangan, ngopi sama rekan main kelereng, hingga ketawa-ketiwi sama teman-teman lama yang tak merantau. Begitu pula penulis, mudik adalah masa kosong dari mengetik kata-kata, refreshing-kan pikiran, mengisi ulang ide-ide. Masalahnya, mood-nya tak kunjung kembali saat telah kembali ke kota tempat kita mencari uang.

“Jadi, sekali lagi, mood itu eksis. Ia bukan mitos. Ia ada, dan beberapa orang betul-betul memerlukannya untuk mencipta. Ia, membentuk sejenis pola bagi orang-orang tertentu…”

#7. Buku Baru

Buku debut Ulid bersampul kuning yang terkenal itu, disambut dengan sederhana oleh penulisnya. Bersepeda Wymcicle AC Milan santuy ke tempat kelahirannya, mengambil 25 eksemplar, merayakan dengan mampir ke tempat teman, meminta meresensinya, dan setelah lama berselang itulah satu-satunya resensi. Hiks, si sulung yang malang katanya. Namun lihatlah, setelah belasan tahun, buku itu justru kembali nge-hits efek ketenaran.

“Semua istimewa pada masing-masing tempatnya.”

#8. Melihat Pengarang tidak Bekerja

Ini hanya curhat masa tak mood menulis. Klontang-klantung, ngopi sama teman, haha hihi lupa waktu, menunda nulis, buka sosmed yang menghamburkan waktu banyak, menunda lagi nulis untuk mencari makan, kembali membuat kopi, dst. Hal-hal wajar yang memengaruhi kreativitas, yang terasa tak wajar adalah, saat penulis tak bekerja, malah jadi tulisan. Ironi di atas ironi kata Spongebob.

“Dengan malas ia bangun dan mematikan lampu… dan dengan malas ia akhirnya memutuskan bangun.”

#9. Tentang Menulis Populer

Ini mungkin yang paling bagus, tulisan populer itu yang bagaimana? Pertama mendengarnya, jelas buku-buku buruk Tere Liye. Laris manis, penulisnya baper, ngudi-udi di sosial media demi mendongkrak penjualan. Kita harus sepakat di awal, bahwa buku-buku Tere jelex, tapi sayangnya laris manis, dikutip para abege, dan beberapa berhasil diadaptasi film. Itulah tulisan populer, menurutku.

Cak Mahfud menjabarkan panjang lebar, dimula dalam seminar yang diadakan para pelajar, yang lantas membedahnya. Benarkah tulisan populer itu mudah? Beliau menjawab, dalam jenis tulisan apa pun, menulis populer haruslah didasari oleh kemampuan teknis yang lebih dari sekadar memadai, malahan lebih lihai, dengan kemampuan menyampaikan ide dan gagasan atau cerita kepada pembaca di atas rata-rata. Jangan dikata lagi isi yang disampaikan. Terlihat Cak Mahfud sering kali curhat terkait seminar/bedah buku yang diisinya. Saya sendiri dua kali ikut, dan seru. Cuma satu pertanyaanku waktu itu, nulis cerpen sudah, esai sudah, novel sudah, kapan nulis puisi? Cuma dijawab tawa, dan bilang ‘endak… endak...’ sambil terus mengelak.

“… sengaja atau tidak, para penulis pop ini kemudian menyepakati, dalam banyak kesempatan mungkin malah memanfaatkan, pandangan bahwa yang populer adalah dangkal dan gampangan…”

#10. Penulis dan Tidurnya

“Terlambat karena kita tidak bisa mengatasi kenapa kita terlambat jauh lebih tidak menyenangkan dibanding terlambat karena kita lali atau disebabkan melakukan hal lain…”

Ceritanya, beliau lagi nostalgia bagaimana mencipta tidur yang nyaman. Memiliki kamar pribadi tentu saja sebuah kenyamanan, atau malah sebuah kemewahan bagi kita kebanyakan (keluarga Rafathar jelas tak dihitung). Tidur di masjid sesuatu yang lumrah, tidur di pos ronda wah ekstrem, tidur cepat dengan niat agar esok bisa bugar dan siap menulis, sungguh utopia. Saya sendiri sering kali tidur larut kala hari libur, dan bangun subuh setelahnya. Rasanya, sayang sekali akhir pekan tak memeluk buku lebih lama. Sebuah kerugian bagi pecinta buku bangun kesiangan di hari libur.

#11. Sastra adalah.. Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

Sampai sekarang, definisi sastra masih simpang siur dan mengundang pendapat beragam. Teori sastra di buku Welleck dan Warren yang kebetulan sudah kubaca, juga menimbulkan banyak tafsir. Maka kalau dalam seminar ada yang berpendapat Satra itu gelap, wajar. Apalagi deretan contoh yang disajikan mayoritas mengiyakan. Satu paragraph yang mengutar menyelamatkan seseorang yang menganggap KKN Desa Penari sebagai sastra, bisa jadi benar. Namun kita tak tahu, seratus tahun lagi, buku dari sensasi twit ini bisa jadi berbelok nyastra. Merefleksikan kehidupan, menggetarkan hati pembaca… nah… ‘kan.

“Saya menjawab bukan untuk membuatnya mengerti, tapi untuk membuatnya diam.”

#12. Duaribu Duapuluh

Pandemi dan orang-orang yang bertahan hidup sampai sekarang. Saya, dan kalian yang membaca blog ini, saya ucapkan selamat. “Hidup hanya menunda kekalahan,” kata Chairil Anwar, dan ya 2020 memang tahun tak wajar.

Suka sekali sekali penutup bab, sekaligus buku ini tentang Jimmy Glass yang menyelamatkan Carlisle United tahun 1999 dari degradasi dari divisi empat Liga Inggris. Kiper cadangan yang mencetak gol dramatis, yang mendadak jadi pahlawan, lantas pensiun dini 27 tahun sebab tak ada yang memakai jasanya. Baru tahu, dan kalian harus tahu. Tipis memang, pahlawan dan pecundang.

Kubaca selama libur Lebaran saat mudik ke Solo kemarin, kutuntaskan setelah kembali tiba di Karawang. Selang seling sama buku kumpulan cerpen Frederick Forsyth: No Comebacks. Jelas pilihan bagus, keduanya saling melengkapi, esai dan cerpen, dan sebuah buku tipis kumpulan puisi dalam sepekan, langsung kelar.

Selamat ulang tahun Mahfud Ikhwan, 42 tahun. Buku-buku barumu selalu kunanti.

Melihat Pengarang Tidak Bekerja | by Mahfud Ikhwan | Ilustrator Alfin Rizal | Tata Sampul alfin Rizal | Tata Isi Vitrya | Pracetak Antini, Dwi, Wardi | Cetakan pertama, Maret 2022 | Penerbit Diva Press | 128 hlm; 13 x 19 cm | ISBN 978-623-293-651-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 090522 – Patrice Rushen – Forget Me Nots

Thx to Gramedia Karawang

130 Buku Rentang Setahun

Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”Mahfud Ikhwan dalam Anwar Tohari Mencari Mati

Tahun 2020 saya buat daftar terbaik-terbaik dalam dua versi: Fiksi dan Non-Fiksi. Kali ini akan saya pecah lagi untuk fiksi jadi lokal dan terjemahan, kalau tidak kupecah yang terjemahan terlalu mendominasi.
130 buku yang kulahap dengan nyaman. Padahal kalau mau hitung belanja bukunya bisa empat kali lipat, artinya hanya seperempat yang selesai. Betapa banyak yang numpuk. Tahun ini, saya coba rem belanja buku, yah beberapa toleransi tetap gas, tapi kalau rutin tak akan segila. Berikut rekap baca 2021.

*I. Januari – 10 buku
Awal tahun sengaja kumulai dengan bacaan bagus, Pi memenuhi ekspektasi itu.

#1. The Life of Pi by Yann Martel

Tentang bertahan hidup di tengah samudera.

#2. Dari Kekalahan ke Kematian by Mahfud Ikhwan

Tentang Timnas kita yang payah.

#3. Oliver’s Story by Erich Segal

Tentang pilihan pasangan setelah menduda.

#4. My Beautiful Feeling by Walter & Ingrid Trobisch

Tentang remaja dan kegalauannya.

#5. Mata dan Riwayat Semesta by Wija Sasmaya

Tentang puisi dan pewayangan.

#6. Memoar Ronny Patinasarany by Andreas J. Waskito

Tentang perjuangan sang legenda.

#7. Pembunuh by Rayni N Massardi

Tentang jiwa yang marah.

#8. Kuntilanak Pondok Indah by Lovanisa

Tentang rumah angker di tanah elite.

#9. Zarathursta by Frederick Nietschie

Tentang falsafah hidup sang petualang.

#10. Si Lugu by Voltaire

Tentang pertaruhan hidup di penjara.
*II. Februari –10 buku
Terbaik, memoar Bung Karno akhirnya berhasil kutuntaskan. Tentu saja jadi terbaik bulan ini.

#11. Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat by Cindy Adams

Tentang riwayat sang proklamator.

#12. Menumis itu Gampang, Menulis Tidak by Mahfud Ikhwan

Tentang sulitnya menulis. Apa saja.

#13. Mencari Setangkai Daun Surga by Anton Kurnia

Tentang sastra dan ruang lingkupnya.

#14. White Tiger by Aravind Adiga

Tentang sopir kere yang merdeka.

#15. Tanah Tabu by Anindita S. Thayf

Tentang Papua yang bergolak.

#16. Pribadi Mempersona by La Rose

Tentang tips-tips wanita menghadapi pria.

#17. Rahasia Nama-nama Islam by Annemarie Schimmel

Tentang sejarah nama-nama bangsa Arab.

#18. Lockwood and Co. by Jonathan Stoud

Tentang fantasi mengatasi hantu.

#19. The Joy Luck Club by Amy Tan

Tentang imigran Amerika dalam perkumpulan.

#20. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer by Jujun S. Suriasumantri

Tentang filsafat dibuat fun.
*III. Maret – 10 buku
Maret ini baca ulang Narnia 4 yang luar biasa sama Hermione, dan sekuel Dawuk yang dahsyat.

#21. The Chronicles of Narnia: The Silver Chair C.S. Lewis

Tentang perjalanan ke Utara jauh.

#22. Anwar Tohari Mencari MatiMahfud Ikhwan

Warto Kemplung kembali membual.

#23. The Last JurorJohn Grisham

Tentang pemilihan juri, ada warga kulit hitam pertama.

#24. Negeri SenjaSeno Gumira Ajidarma

Tentang negeri antah surantah.

#25. The Alchemist Paulo Coelho

Tentang perjalanan ke Mesir mencari harta karun.

#26. Dubi Dubi DumaEsthy Wika

Tentang tata kelola mengasuh buah hati.

#27. Tasawuf Dipuja Tasawuf DibenciMukhlis, S.Pd.I., M.Ag

Tentang para sufi dari masa ke masa.

#28. Pendeta YonasLa Rose

Tentang pendeta muda yang tergoda janda.

#29. Kuda Kayu TerbangYanusa Nugroho

Tentang keluh kesah naik bianglala.

#30. Q & ASherina Salsabila

Tentang romansa anak SMA.
*IV. April – 4 buku
Penuh salju, tebal, keren, lelah.

#31. Kitab Writer Preneur by Sofie Beatrix

Tentang perjalanan penyair pulang kampung Turki, dan efeknya.

#32. Pinky Promise by Kireina Enno

Tentang perempuan-perempuan tegar.

#33. Snow by Orhan Pamuk

Tentang syair yang dingin dan beku.

#34. Belajar Mencintai Kambing by Mahfud Ikhwan

Tentang pilihan sepeda atau kambing?
*V. Mei – 11 buku
Haruki Murakami tetap melaju dengan nyaman dan indah.

#35. Luka Batu by Komang Adyana

Tentang tradisi dan keseharian di Bali.

#36. Angel of Darkness (Sheldon’s Series) by Tilly Bagshawe

Tentang pembunuhan berantai dengan tertuduh si innocent.

#37. Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya by Haruki Murakami

Tentang cinta lama dan persahabatan, selamanya.

#38. Renungan Kloset by Rieke Dyah Pitaloka

Tentang kritik dan opini yang dihasilkan dari toilet.

#39. Civilization and Its Discontents by Sigmund Freud

Tentang budaya dan muatannya.

#40. The Man Who Loved Books Too Much by Allison Hoover Bartlett

Tentang pencuri buku yang gila.

#41. Aku dan Film India Melawan Dunia Buku I by Mahfud Ikhwan

Tentang kegemaran film India, melawan arus.

#42. Kritikus Adinan by Budi Darma

Tentang pengadilan yang tak adil.

#43. Seni Menulis by Haruki Murakami

Tentang tips menulis dari maestro.

#44. Cinta Bagai Anggur by Syaikh Muzaffer Ozak

Tentang sufi awal ke Amerika.

#45. Narsisme by Sigmund Freud

Tentang kebiasaan menampakkan diri ke publik.
*VI. Juni – 14 buku
Banyak baca, sebab melakukan isoman. Mayoritas ternyata tipis-tipis, pantas banyak. Terbaik jelas Pasar, buku pertama Bung Kontowijoyo.

#46. The Street Lawyer by John Grisham

Tentang kebaikan memihak para gelandangan dengan jadi pengacara mereka.

#47. Kanuku Leon by Dicky Senda

Tentang kehidupan mistik di tengah modernitas.

#48. Pasar by Kuntowijoyo

Tentang orang-orang pasar dan pusarannya.

#49. The Mummy by Anne Rice

Tentang mumi yang bangkit di masa kini setelah tertidur panjang.

#50. Putri Cina by Sindhunata

Tentang legenda putri Cina dan keturunannya di Indonesia.

#51. Isinga: Roman Papua by Dorothea Rosa Herliany

Tentang cinta diputus paksa dan dirajut ulang.

#52. Mati Bahagia by Albert Camus

Tentang pencarian makna hidup yang lapang.

#53. Lotre by Shirley Jackson

Tentang kebiasaan main lotre di tengah masyarakat yang manjemuk.

#54. Bisik Bintang by Najib Mahfuz

Tentang orang-orang Mesir dalam berbagai silang pendapat.

#55. Komune Paris 150

Tentang masa revolusi, kudeta gagal dan efek panjangnya.

#56. Misa Ateis by Honore de Balzac

Tentang kematian yang abadi.

#57. Sumur by Eka Kurniawan

Tentang cinta bersemi di sumur lalu ditenggelamkan masa.

#58. 100 Film by Ibnu M. Zain

Tentang rekap film terbaik sepanjang masa.

#59. Therese Desqueyroux by Francois Charles Mauriac

Tentang cinta dan kegilaan, pasangan aneh saling mengisi.
*VII. Juli – 5 buku
Terbaiknya tentu Geisha, tapi memang tertebak kan. Yang mengejutkan Pseudonim, lokal yang bagus. Rekomendasi.

#60. Memoirs of Geisha by Arthur Golden

Tentang memoar geisha zaman sebelum dan sesudah Perang Dunia II.

#61. Who Moved my Cheese? By Spencer Johnson

Tentang keberanian melawan kebiasaan, berani mengambil tindakan radikal.

#62. The March by E.L. Doctorow

Tentang perang saudara Amerika.

#63. Pseudonim by Daniel Mahendra

Tentang penulis galau yang jatuh hati sama calon dokter.

#64. Kampus Kabelnaya by Koesalah Subagyo Toer

Tentang pengalaman kuliah di Rusia.
*VIII. Agustus – 12 buku
The Dante Club terbaik, lika-liku proses alih bahasa buku legendaris.

#65. The Summons by John Grisham

Tentang panggilan mendadak orangtua untuk mudik, dan misteri besar di baliknya.

#66. Malapetaka Indonesia by Max Lane

Tentang sejarah kelam ’65.

#67. Dari Belakang Gawang by Mahfud Ikhwan & Darmanto Simaepa

Tentang rona-rona bola dalam esai duet.

#68. Sosiologi by Drs. Soedjono D. SH

Tentang teori sosiologi yang panjang merentang.

#69. Upacara Bakar Rambut by Dian Hartati

Tentang adat dan efeknya.

#70. Jalan Udara by Boris Pasternak

Tentang gejolak Rusia di masa perang dingin.

#71. The Dante Club by Matthew Pearl

Tentang Amerika yang mencoba menerima puisi Dante, biasalah selalu ada yang menentang, atau terinspirasi?

#72. Kota Kucing by Haruki Murakami

Tentang kota antah misterius, kereta berhenti di negeri aneh.

#73. Penyair Revolusioner by Deddy Arsya

Tentang syair-syair meledak.

#74. Firebelly by J.C. Michaels

Tentang katak yang menekuri hidup.

#75. Zahiya by Najib Mahfuz

Tentang kafe dan masyarakat di sekitarnya.

#76. The Things They Carried by Tim O’Brien

Tentang perang Vietnam, barang-barang seberat itu dibawa menjelajah.
*IX. September – 10 buku
Buku-buku bagus, terbaik Eichmann in Yerusalem. Dibuat dengan intensitas ketegangan proses pengadilan.

#77. Breaking PoetryAntologi

Jelex.

#78. The NotebookNicholas Spark

Tentang manula yang hilang ingatan, dan coba dingatkan pasangan.

#79. Eichmann in YerusalemHannah Arendt

Tentang proses pengadilan kejahatan perang di tubuh Nazi.

#80. IdentityMilan Kundera

Tentang pasangan galau, krisis identitas.

#81. The Silence of the LambsThomas Harris

Tentang pembunuh berantai membantu memecahkan kasus pembunuhan berantai.

#82. Think Like a FreaksSteven D. Levitt & Stephen J. Dubner

Tentang pemikiran aneh untuk hasil luar biasa.

#83. The Return of the Young PrinceAG Roemmers

Tentang pangeran dan sopirnya dalam perenungan di jalan.

#84. BibirKrishna Mihaedja

Tentang ucapan yang mencipta dengung apa saja.

#85. Perkara Mengirim Senja –Tribute untuk SGA

Tentang senja dan segala isinya.

#86. Haniyah dan Ala di Rumah TeterugaErni Aladjai

Tentang kehidupan di kebun teh.
*X. Oktober – 14 buku
Rerata bacaan Kusala Sastra, terbaiknya tetap Haruki. Akhirnya buku 900 halaman itu selesai baca.

#87. Damar KambangMuna Masyari

Tentang adat Madura yang keras.

#88. Yogya YogyaHerry Gendut Janarto

Tentang nostalgia ke Yogya.

#89. Rekayasa BuahRio Johan

Buku jelex lagi.

#90. Looking for AlaskaJohn Green

Tentang pencarian jati diri remaja.

#91. Semesta MurakamiJohn Wray, dkk

Tentang kehidupan yang idola.

#92. Anak Asli Asal MappiCasper Aliandu

Tentang pengalaman mengajar di Papua.

#93. Jalan MalamAbdul Wachid B.S

Tentang muhasabah dan ziarah dalam bait.

#94. Segala yang Diisap LangitPinto Anugrah

Tentang Islamisasi di Sumatra.

#95. Revolusi NuklirEko Damono

Tentang masa depan yang misterius.

#96. Bunga Kayu ManisNurul Hanafi

Tentang pasangan saling menghargai.

#97. Cerita-cerita yang Sedih dan MenakjubkanRaudal Tanjung Banua

Tentang masa lalu dalam dongeng.

#98. Kronik Burung PegasHaruki Murakami

Tentang suami yang ditinggal istri.

#99. Ramuan Penangkal Kiamat Zelfeni Wimra

Tentang dahwah yang hakiki.

#100. The Homeless BirdGloria Whelan

Tentang remaja janda yang kehilangan rumah.
*XI. November – 15 buku
Nama besar Terry Pratchett, ini novel pertamanya yang kuselesaiakan. Memang warbiasa.

#101. Moby DickHerman Merville

Tentang perburuan paus istimewa.

#102. The Great Guest RescueEva Ibbotson

Tentang penyelamatan hantu-hantu terusir.

#103. The Black CatEdgar Allan Poe

Tentang mitos dan horror tersaji.

#104. Pria Cilik MerdekaTerry Pratchett

Tentang perjuangan menyelamatkan saudara di negeri berantah.

#105. BuddhaDeepak Chopra

Tentang riwayat Buddha dari lahir hingga mencapai nirwana.

#106. Melipat JarakSapardi Djoko Damono

Tentang waktu yang relatif.

#107. Cara Mencari Kawan dan Mempengaruhi OrangDale Carnegie

Tentang upaya membuat takjub orang lain.

#108. Kembang SepasangGunawan Maryanto

Tentang budaya Jawa dalam pentas.

#109. Klik!Nick Hornby, dkk

Tentang kamera bergenerasi berikut.

#110. 1 Perempuan 14 Laki-lakiDjenar Maesa Ayu

Tentang kopi dan cipta karya per kalimat.

#111. Arang PerempuanArini Hidajati

Tentang perempuan tegar dan sendu.

#112. Seekor Anjing Mati di Bala MurghabLinda Christiany

Tentang perang dan efeknya.

#113. Puisi Baru Sutan Takdir Alisjahbana

Tentang puisi lama tahun 40-an ke bawah.

#114. A Golden WebBarbara Quick

Tentang dokter perempuan pertama yang menemukan alir darah dalam tubuh.

#115. DepresiDr Paul Hauck

Tentang tata cara menghadapi stress.
*Desember – 15 buku
Akhir tahun terbaik sekuel Little Women. Keren abis.

#116. Kau Gerimis dan Aku Badai by Wahyu Heriadi

Tentang puisi kehidupan.

#117. Rumah Mati di Siberia by Fyodor Dostoevsky

Tentang orang-orang terpenjara di sana.

#118. The March’s Captain by Geraldine Brooks

Tentang detail ayah/suami di medan perang.

#119. Jatisaba by Ramadya Akmal

Tentang kehidupan desa yang keras dalam pemilihan Lurah.

#120. Asal Muasal Pelukan by Candra Malik

Tentang pelukan melibat dua individu, ada sejarahnya.

#121. Nama Saya Tawwe Kabota by Mezra E. Pellondou

Tentang pria nakal yang menyesali banyak hal.

#122. Adu Jotos Lone Ranger dan Tonton di Surga by Sherman Alexie

Tentang kehidupan di revervasi.

#123. Cinderella Man by Marc Cerasini

Tentang petinju 30-an yang fenomenal.

#124. The Runaway Jury by John Grisham

Tentang pemilihan juri dan kasus rokok heboh.

#125. Sang Belas Kasih by Haidar Bagir

Tentang tafsir surat Ar-Rahman.

#126. Manajemen Strategik Koperasi (kolabs)

Tentang koperasi dan strategi pengembangan.

#127. My Grandmother asked me to tell you She’s Sorry by Frederick Backman

Tentang cucu yang memiliki tugas menyampaikan surat-surat Sang Nenek.

#128. My Sister’s Keeper by Jodi Picoult

Tentang Si Bungsu yang melawan.

#129. Penjual Bunga Bersyal Merah by Yetti A. KA

Tentang penjual bunga di pinggir jalan.

#130. Malam ini Aku Tidur di Matamu by Joko Pinurbo

Tentang rona-rona dalam bait.

Lakukan apa yang kamu senangi, selama tak menyusahkan orang lain itu baik. Membaca buku jelas ada di urutan atas daftar kenikmatan hidup. Saya takkan mengeremnya, saya jalani dengan nyaman dan damai. Bagaimana tahun ini? sepertinya tak akan jauh beda. Sehat-sehat semuanya. Salam Literasi dari Karawang, dengan cinta.

Karawang, 030221 – Steve Goodman – The Dutchman

Terima kasih buat seluruh penjual buku, kalian luar biasa, kalian keren!

1917: Rancang Bangun Kemegahan Sinema

Down to Gehenna, or up to the Throne, He travel the fastest who travels alone.”Rudyard Kipling

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler==

Kisahnya di tanggal 6 April 1917, dan akan berakhir esoknya. Di ladang perang dari New Hendenburg Line ke Devon, Inggris. Dua tentara muda William Schofield (George MacKay) dan Tom Blake (Dean-Charles Chapman) diperintahkan Jenderal Erinmore (Colin Firth) untuk membawa sebuah pesan kepada Kolonel Mackenzie (Benedict Cumberbact), di battalion kedua resimen Devonshire. Surat yang berisi pembatalan serangan demi menyelamatkan nyawa 1.600 pasukan termasuk di dalamnya Joseph Blake, saudara Tom. Makin dalam maknanya, sebab melibat misi penyelamatan anggota keluarga.

Kalau dirangkum dalam satu kalimat: ‘Film tentang kirim surat, dengan berbagai kendala di perjalanan’. Tak banyak yang bisa dicerita, karena setelah menerima tugas, mereka bergegas gerak, waktu tak banyak. Namun karena blog ini mewajib ngoceh panjang kali lebar, maka ada baiknya saya ketik sahaja, beberapa detail ‘kendala’ petualangan. Yang pasti, berdua menemui berbagai masalah yang mematik peri kemanusiaan. Film jenis bom, bang, bang, wuuz…, jenis keseruan tanpa banyak cingcong dan renungan. Dalam sebuah gua bekas tempat duduk pasukan Jerman, mencipta sebuah degub bertalu-talu karena gua itu berisi bom, dan jebakan mematikan. Tikus dan segala kamuflase gelap di dalamnya. Sampai menahan napas saya ketika ledakan terjadi, seolah kisah berhenti bahkan ketika baru beberapa menit. Gilax, bahkan tikus mereka lebih besar!

Sampai pada sejenis rumah pertanian, saat mendapat susu sapi dan air bersih, sebuah pesawat Jerman tertembak dan meluncur jatuh ke arah mereka. Bayangkan, moncong pesawat mengarah kepadamu, kamu menghindar sejadi-jadinya. Dalam keadaan terluka sang pilot keluar dari pesawat yang terbakar, jiwa baik Blake malah menjadi petaka. Ketika ia mencoba menolong, justru kena tikam. Seluruh penonton turut menutup mata ngeri, seterkejut Blake yang akhirnya gugur. Rasanya pengen turutserta menjelma Schofield memberondong peluru ke sang pembunuh. Dalam adegan sunyi nan menyentuh, ia sekarat dan ia berjanji melanjutkan misi, sobatnya pamit dalam pelukan leleh air mata.

Saat senja menjelang, Schofield mencapai jembatan roboh dekat Ecoust Saint Mein, melintasi dalam rentetan tembak. Ia mamasuki reruntuhan kota setelah berjibau dengan sang sniper. Malam itu ia melintas dengan dingin, menemukan seorang ibu dan anaknya yang kepalaran, memberi botol susu, dan walaupun dia ada di pihak musuh, ia menggunakan nurani. Ini bisa jadi adegan menyentuh, bagaimanapun perang bisa merenggut beberapa hal, tapi nuranimu tetaplah ada. Adegan mengharu juga tersaji dalam tembakan suar di area no man’s land (medan di antara dua kubu).

Bagian yang mendebarkan tersaji ketika ia terjepit dalam kejaran, dan desingan peluru yang memaksanya terjun ke sungai. Menuruti aliran, menghanyutkan jiwa, lelahnya menyusup ke sumsum, seolah tulang itu turut menjerit capek. Sehingga ketika ia berhasil menepi, memasuki hutan dengan jalan gontai seolah pasrah. Pagi fajar menyingsung itu, diiringi untaian lagu pasukan D Company di Devons II, wow dikira kelar justru ia malah menemukan dituju. Sehingga kelesuan itu menjadi secercah semangat dan gegas mencari Kolonel Mackenzie. Agak terlambat, karena serangan sudah dimulai. Dalam deru tembakan dan serbuan, ia berlari sekuat tenaga untuk menyampaikan surat.

Banyak adegan bagus yang laik dibahas dan dibicarakan, yang pasti sinematografi juara. Sesuai prediksi, Deakin lock Oscar. Saya juga menyematkan best picture, yang sayangnya direnggut Parasite. Kalau Birdman yang menampil one take beberapa menit, dengan celana kolor bergaya ke panggung saja menang Oscar, bagaimana bisa yang sepanjang ini gagal? Akan sulit menandingi konsisten penonton menjelma mata kamera. Film yang nyaman sekali ketika dinikmati di layar lebar. Salah satu pengalaman cinema langka, di mana kita menyaksikan film dari awal sampai akhir seolah hanya satu kali pengambilan gambar. Klik, dan sepanjang 119 menit kita menyatu dengan desingan peluru, seolah kejadian ada di depan kita!

Secara cerita memang biasa, lha premis isinya cuma misi menyampaikan surat pembatalan serangan. Kalau kalian berharap ada semacam kejutan di akhir, semisal isi suratnya bersama bingkisan bunga ya ga akan nemu, atau surat 4×4, sempat ga sempat, jelas ga ada. Pesan itu hanya dibaca sekilas, lalu serangan yang terlanjur dimulai, akhirnya harus ditarik kembali, lalu mentari pagi menyoroti jiwa yang lega. Selesai. Strategi Jerman dengan pasukan yang seolah mundur, lalu menyerang balik musuh benar-benar ada, namanya Operation Alberich. Strategi itu dilakukan tanggal 9 Februari sampai 20 Maret 1917, yang juga nyata berdasarkan Kejadian Pertempuran Passchendaele atau Pertempuran Ypres III (31 Juli – 10 November 1917). Karena setting waktu di film ini justru adalah hari pertama Amerika turut Perang Dunia I.

Sam Mendes melakukan gebrakan sinema yang menakjubkan secara teknis. Sebuah achievement yang seharusnya bisa lebih dihargai di Oscar, sensasi layar lebar, senikmat Gravity yang memberi efek layang, atau Avatar yang biru membuncah memberi gambaran terbang di dalam gedung bioskop. Masterpiece visual, teknologi memang sudah sangat maju, tapi ga semua bisa semegah ‘one take’ ini. Ga usah mengerutkan kening. Ini jenis film yang memanjakan indera pengelihatan, pendengar, dan asupan pengecap. Sebuah Rancang Bangun Kemegahan Sinema.

I hope today would be a good day. Hope is a dangerous thing.”

1917 | Year 2019 | Directed by Sam Mendes | Screenplay Sam Mendes, Krysty Wilson-Cairns | Cast Dean-Charles Chapman, George MacKay, Daniel Mays, Colin Firth, Mark Strong, Benedict Cumberbatch | Skor: 4/5

Karawang, 050520 – Bill Withers – Family Table

*) Film ini kutonton di hari pertama tayang di Blitz Karawang bersama Titus Pradita

**) RIP Lord of Godfather of broken heart: Didi Kempot 1966-2020, Sad news. Kabar duka ini kutahui ketika mengantre di Samsat Karawang untuk ganti pelat SiBiru lewat lini masa sosmed. Tindak kundor, Legend. #Ambyar

Dua Garis Biru: Slow Pace Realistik

“Kalau ibu saja perlahan-lahan bisa memaafkan kamu, apalagi Allah.”Yuni

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Sleeper hit of the year.

Hanya dengan melihat trailer. Kita tahu alurnya, kita bisa menebak garis besar perjalanan film ini, kita pasti paham langkah-langkah bidak catur per adegan, ke arah mana cerita cinta ini kita juga pasti mengerti. Dua sejoli, anak sekolah pacaran, di kamar dan terjadilah. Justru hal seperti ini lebih terlihat nyata, ketimbang film romantis ramaja yang sering memperlihatkan adegan berdua genggaman tangan, taa-daaa… tak terjadi apa-apa. Lantas kenapa Dua Garis Biru masih bisa memukau? Akting, naskah, dan beberapa keunggulan teknis mencipta debug jantung dan tangis. Endingnya menyempurna, menata rencana masa depan tak semudah menyusun lego. Adegan UKS jelas luar biasa, dua peristiwa marah disajikan tanpa putus penuh emosi. Teriakan saling silang di UKS akan mencipta kenangan yang tertanam dalam dinding-dinding sekolah.

Film ini sukses besar, baik sisi tiket maupun ulasan. Menjadi sleeper hit tahun ini, menjelma puja-puji di banyak beranda sosial media. Inilah film paling mengejutkan 2019, film remaja menghadapi problematika masalah orang dewasa.

Kisahnya tentang dua siswa yang menjalin kasih, hamil lalu penonton menjadi saksi kejadian akibat perbuatan itu bersama orang-orang terdekat. Dara Yunika (Adhisty Zara JKT 48) adalah siswi cerdas, adegan pembuka berkata itu. Berpacaran dengan teman sekelas Bima (Angga Yunanda) yang memiliki nilai akademik biasa, adegan pembuka juga berkata gitu. Kehidupan keduanya pun beda kasta, Dara terlahir dari keluarga kaya. Memiliki dik yang imut Putri (Maisha Kanna), kedua orang tua David (Dwi Sasono) dan Rika (Lulu Tobing) yang secara ekonomi mapan, laiknya orang umum bilang masa depannya terjamin. Bima dari keluarga sederhana, orang tua relijius Yuni (Cut Mini Theo) dan Rudy (Arswendi Bening Swara), dan kakak yang sudah memiliki keluarga sendiri Dewi (Rachel Amanda). Hidup dalam keriuhan gang-gang sempit di Jakarta. Dari sudut romantisme, kita bisa bilang cinta menyatukan mereka, tapi dari sudut yang lebih dalam, MBA terpaksa menyatukan mereka.

Apa yang kita tanam, akan kita tuai. Pernikahan remaja memaksa mereka dewasa lebih cepat. Inilah waktu-waktu cekam, menikah adalah menyatukan dua keluarga. Dan memang, seharusnya kedua keluarga yang sudah terjalin ini bersatu, namun tetap berjarak, dan Dua Garis Biru menyajikan realita, tak berlebihan Cut Mini menang FFI karena sajian emosi dalam frame terlihat hebat.

Yang lebih menakjubkan, ini adalah debut sutradara Gina S. Noer. Luar biasa, film perdana langsung menghentak. Seharusnya kita tak heran juga sih, hanya lupa antisipasi, CV naskah skenario-skenarionya memang berkualitas. Dimulai dengan omongan miring para sinister ketika trailer keluar, di beranda sosmed banyak sekali yang menghujat, banyak yang bilang akan jadi film minor bahkan sebelum rilis. Namun kualitas berbicara seolah menabok semua nada miring itu. Gina pasti tertawa menyaksikan box officenya.

Salut sama bagian kasting, nyaris bagus semua. Spesial buat Zara, well dia sangat cantik. Suaranya bening, sedikit serak tertahan. Menampilkan mimik remaja yang harus mengambil keputusan penting. Lantas selalu berpikir sebelum bicara, jelas ia telah lebih matang. Selamat, atas kembalinya Lulu Tobing ke layar lebar. Pesona terjaga. Cocok akting jadi orang kelas atas. Salut juga untuk penampilan Arswendi Bening Swara jelas ga selantang istrinya, porsinya pas, gesturenya pas, aksinya sangat pas. Dalam kehidupan rumah tangga, seorang suami memang digariskan lebih tenang. Saya sudah banyak mengalami, saya sudah sering mengambil keputusan keluarga dengan kepala dingin ketika masalah pelik menempa.

Adegan ayah anak tersaji memikat, sang ayah duduk di lantai, Bima di tempat tidur mendekam sendu, duduk merenung dalam kebingungan, seolah bilang, “Ada banyak hal tak kumengerti.” Tak berani berharap atau berencana. Yah beginilah hidup Nak. Mengapa remaja membuat salah perhitungan, banyak pemikiran dan aksi salah, usia labil. Namun kesalahan yang ini kebablasan. Karena cinta memang menampar logika, dan masa remaja belum mampu menimbang konsekuensi lengkap keputusan mereka.

Waktu linier, tak ada jalan kembali bagi umat manusia. Ketika dua garis biru muncul, tak ada jalan kembali ke masa lalu yang indah-indah. Mereka tahu bahwa tak diragukan lagi, hari ini adalah hari yang patut dikenang dalam hidupnya. Kenang kepanikan. Tidak bisa mundur lagi. Perangkap sudah menjeplak tertutup. Mulai sekarang, bukan Matematika dan rumus Kimia yang akan kita pusingkan, roda ban terlampau kencang melaju melompati usia tanggung jawab. Menjadikan hari-hari menegangkan, diwarnai lebih banyak kecemasan dan kegelisahan. Mau digugurkan atau tetap dipertahankan, kedua opsi sama buruknya di usia remaja. Simalakama. Keceriaan kehidupan lama, kini selesai sudah.

Kisah perangkap romantis itu memberi pelajaran berharga, jauh lebih penting ketimbang teori yang dipelajari dalam seminar parenting manapun. Serangkaian keputusan sepele di kamar, salah perhitungan, memiliki efek kumulatif yang memaksa keduanya menghabiskan hari-harinya memikul ‘berember-ember air’ masalah untuk disajikan kepada semua orang terdekat. Mungkin mereka memiliki keinginan-keinginan lain, tapi setiap ide yang dilontarkan secara sadar membuat kehidupan lebih sulit guna mencapai keinginan tersebut. Upaya rumit menyelaraskan rasional dan matematis, terciptalah adegan UKS. Para orang tua terjalin tak bisa menghindar dari perhitungan faktor-faktor non material seperti ideologi dan budaya. Tawar-menawar ala Faust antara kedua orang tua bukan satu-satunya kesepakatan konsekuensi, dihadirkan pula opsi ketiga tentang rencana adopsi. Voila, takdir tertawa.

Rencananya. Catat, setelah menikah, bayi terlahir akan diadopsi kepada saudara Dara yang belum dikaruniani anak, Dara yang cerdas secara pendidikan karena terhenti sekolah harus diselamatkan demi masa depan yang masih terentang panjang, akan melanjutkan study ke Korea, mengejar mimpi. Bima terpisah dari anaknya, melanjutkan tumbuh kembang dewasa, karena terlampau muda, mendidik anak itu tak mudah Nak, merajut ulang beberapa mimpi, dan kedua besan secara emosional terputus. Selain beda kasta, mereka memang terjalin sebab terpaksa. Boom! Akhir kisah itu khalayan belaka. Ketika menit mendekati akhir, kita malah diberi bumbu merica melimpahkan derai air mata yang merusak tatanan. Tanda tangan remaja itu setara keputusan teramat penting manusia dewasa. Hebat! Rasanya apa yang kita minta, tak pernah dikabulkan Tuhan, maaf koreksi, apa yang kita minta tak semua dikabulkan Tuhan. Ghhhmmm… Gina memberi akhir yang jitu untuk hubungan yang lebih pas, menahan keinginan, menaboki harapan senyum dan tawa pahit di akhir. Kekhawatiran akan masa depan memang pemain utama dalam teater akalbudi manusia.

Dalam Deklarasi Kemerdekaan Amerika, tertuang bahwa semua manusia diciptakan setara, bahwa mereka dikaruniai oleh Pencipta mereka hak-hak tertentu yang tak bisa dicabut, yang antara lain mencakup kehidupan, kemerdekaan, dan pencarian kebahagiaan. Kehidupan seolah reset, demi lembaran baru hidup manusia pertama di semesta: Adam.

Mencucurkan air mata di saat keberangkatan bisa mendatangkan kemalangan bagi orang terkasih. Adegan itu ditampilkan dengan teramat baik. Menutup layar puas. Satu-satunya hal yang bisa melegakan adalah angan-angan. “Kamu pikir bijaksana merusak segalanya yang sudah berjalan begitu baik?”

Sejauh ini, Dua Garis Biru adalah film terbaik 2019 yang kutonton. Slow pace realistik (Harsoyo Lee).

Dua Garis Biru | Tahun 2019 | Sutradara Gina S. Noer | Naskah Gina S. Noer | Pemain Angga Aldi Yunanda, Adhisty Zara, Lulu Tobing, Cut Mini, Dwi Sasono, Arswendi Bening Swara, Rachel Amanda, Ariella Calista Ichwan, Cindy Hapsari Maharani Pujiantoro Putri | Skor: 4/5

Karawang, 181219 – 160220 – Marty Robbins – A White Sport Coat (And A Pink Carnation)

*) perdana tayang di tv kemarin lusa di prime time saat Valentine, dan sudah bisa disaksikan di Iflix

13 Buku Baru

image

Well, ditengah gempuran Sidney Sheldon yang kini memasuki buku keempat dan lima buku baru bulan ini baru selesai datu buku, saya kembali membeli buku baru. Tak tanggung-tanggung, 13! Terlihat seperti angka sialan, tapi yasu dahlah. Seperti yang sudah saya bilang, saya adalah pembaca segala. Di rak saya ada buku Budha, Injil, kumpulan Hadist sampai ratusan kisah fiksi, novel mendominasi. Kenapa saya membeli 13 buku baru sementara ada antrian panjang baca? Jawabnya ada dua. Pertama bulan ini ada rejeki lebih yang memungkinkan untuk menambah koleksi buku. Walau ditengah cekikan cicilan rumah dan mobil, Alhamdulillah kalau disyukuri selalu saja ada jalan buat beli buku. Kedua saat main FB ada teman lama, Ari (TB Rindang) dari Klaten yang sedang menawarkan promo bundel buku 100.000. kebetulan ada buku incaran, jadinya sekalian saja ditumpuk.

#1. Relentless Tak Kenal Ampun (Dean Koontz)
Ini adalah alasan utama kenapa saya ambil buntelan itu. Pengalaman pertama saya dengan Dean Koontz berujung ketakjuban dalam Intensity. Membaca back-covernya sepintas jelas ini akan semenarik yang pertama. Tak akan jauh dari kekejaman penuh darah, pembunuhan berencana dan adu cerdik antar tokoh. Pasti secepatnya ingin kulahap.

#2. A Werewolf Boy (Kim Mi Ri)
Tak banyak cerita dari Korea yang saya ikuti. Berdasarkan film drama sukses (di sana) apakah benar Cinta adalah bahasa pertama yang dikenalnya? Kenapa saya kurang minat produk Korea, pertama kendala Bahasa. Sekalipun ada subtitle dan sesekali dubbing, kurasa tak senikmat mendengar English yang sedikit banyak dikenal telinga. Satu lagi, nama-nama karakternya yang mirip atau susah diucapkan apalagi dihafal. Apakah senorak Twilight?!

#3. Me Versus High Heels (Maria Ardelia)
Ya, saya menonton filmnya di bioskop 10, 9, 8, 7 tahun lalu? Mungkin akan jadi salah satu kenangan yang mudah terlupa saat menontonnya karena cerita yang sangat biasa. Sayangnya sampai sekarang masih ingat. Kisahnya klise tentang cewek tomboy yang jatuh hati dengan cowok keren (kalian tahu kan arti keren masa kini dimata remaja?) lalu mencoba segala hal bisa memikatnya. Namun rasanya perlu dicoba versi cetak seberapa lebai penuturannya. Ehem.. bukan karena filmnya yang biasa sih kenapa tak langsung lupa. Ya karena teman nontonnya yang tak biasa.

#4. Dan Surga Pun Tersenyum (Satria Nova dkk)
Kisah ketulusan dan rasa syukur wong cilik. Dari sinopsis back-cover sepertinya menarik tentang lika-liku laki-laki rakyat biasa dalam menghadapi kehidupan. Dari Penulis Permata Dalam Lumpur yang tak saya tahu. Sejauh ini belum ada terbitan Noura yang mengecewakanku, semoga ini juga.

#5. Bacalah Surat Al-Waaqi’ah Maka Engkau akan Kaya! (Muhammad Makhdlori)
Inilah kandidat terkuat buku yang tak selesai kubaca dari daftar ini. Dari judulnya sendiri terdengar bombastis walau tak dipungkiri bisa terjadi. Judul sudah memberitahunya jadi apalagi yang mau dijelaskan? Kuncinya adalah segera letakkan buku dan lakukan sekarang. Sisanya biar alam yang menyelesaikan. Ingin kaya, kerja kerja kerja!

#6. Diary Playgirl Kambuhan (Joshua Riwu Kaho)
Pernah dengar namanya? Tidak? Saya juga. Saya tak anti-teenlit karena pernah dibuat terpesona juga kisah anak sekolah yang bagus. Tapi saya tak akan berharap banyak akan buku ini. Dari judulnya saja sudah pesimis. Namun sepertinya cocok nih dibuat sebagai buku pembuka dari daftar ini.

#7. Sentuh Dia Di Titik Nikmatnya (Dr. Ali Isma’il Abdurahman)
Kandidat terkuat kedua yang tak kan selesai dilahap. Membangun hubungan seks suami istri yang indah dan harmonis. Yah, kita semua tahu di mana titk yang dimaksud. Jadi apa menariknya membaca buku semacam ini? Dan lagi, saya tak tertarik pelajaran anatomi.

#8. Mission Pocongible (Andhika Wandana)
Wah saya selalu ilfil kisah plesetan. Ada beberapa yang pernah saya baca tak ada yang bagus. Sepertinya ini juga akan sama. Buku semacam ini memang cepat kelahap karena bobot isinya yang ringan dan sambil lalu. Ya ya ya…

#9. Russell Troy The Monster’s Ring – Cincin Monster (Bruce Coville)
Akan jadi buku pertama kisah ‘A Magic Shop Book’ yang akan saya baca. Back-cover-nya terdengar seru ala Goosebump. Ketika Russell Troy membeli sebuah cincin si penjual bilang itu bisa mengubah orang menjadi mosnter. Merasa kalau itu hanyalah bohong, dia mencobanya. Tapi, Russell tidak membaca petunjuknya dengan cermat!

#10. The Day I Die – Suatu Hari Ketika Aku Mati (Fannie Flagg)
Saya tahu buku ini 4 atau 5 tahun yang lalu. Sempat ditimang-timang nyaris saja masuk ke keranjang beli andai saja budget saat itu mencukupi. Ternyata kalau memang jodoh tak kemana, karena sekarang saya mendapatkannya dengan harga jauh lebih murah. Semoga seru.

#11. Kuntilanak Pondok Indah (Lovanisa)
Setiap saya lihat buku horror semacam ini saya selalu ingat teman seangkatan dari KCB (Keluarga Cendol Bekasi) Ari Keling. Saat pertama bertemu dengannya dia belum punya karya satu-pun. Kini bukunya ada banyak yang nyaris semuanya horror. Embel-embelnya sih keren, “Awas Mencekam”. Oke mari kita lihat.

#12. All Through The Night – Sepanjang Malam (Mary Higgins Clark)
#1 bestseller international bukanlah jaminan kualitas. Namun sepertinya ini akan menyenangkan, akan jadi pengalaman pertama saya dengan Mary Higgins. Petualangan menjelang Natal. Oke, kalau ini bisa memuaskanku akan saya buru buku Mary Higgins yang lain.

#13. Saga No Gabai Bachan – Nenek Hebat Dari Saga (Yoshichi Shimada)
Daripada Korea saya lebih memilih Jepang. Ini bisa jadi pertempuran yang pas dengan A Werewolf Boy. Dulu pernah belajar bahasa Jepang walau bisa dasarnya saja (apa kabar Hiragana? Apa kabar Katakana?). Pernah kerja di Perusahaan milik Jepang walau sekedar lewat jadi buruh. Dan asal tahu saja, Dragon Ball asalnya dari Jepang. Sepertinya saya akan sangat berharap pada sang Nenek untuk menyeimbangkan kualitas daftar ini.

Karawang, 031115 – Cinta Yang Dungu dan Hantu-Hantu