Hands Of Stone: Duran Duran

image

image

Kisah petinju terbesar Panama difilmkan. Dengan bumbu drama yang kental dan pertarungan legendarisnya dengan Sugar Ray, Manos de piedra alias Hands of Stone bisa saja meledak hingga gilang gemilang, namun sayang film ini salah penanganan, plotnya berantakan terlalu tergesa, script-nya terlalu lembek, film tinju tapi tak banyak jab dan hook sehingga pukulan dan tangkisan itu benar-benar sekedar akting, dan tak ada kejutan berarti. Hands of Stone terjatuh, Knock out. Terkapar sebelum bel akhir laga terdengar.

Kisahnya dimulai dengan sebuah kemenangan Robert Duran (Edgar Ramirez), salah satu penonton yang terpesona adalah pelatih tinju legendaris Ray Arcel (Robert De Niro) yang sudah menghantarkan banyak juara dunia. Pengamatan Arcel akan Duran dengan berbagai sudut slow-mo berlebih itu memang pas. “Kau diberkati itu sejak hari kau dilahirkan atau kau dikutuk tak memiliki itu sampai kau mati”, Dia lalu berbincang dengan promotornya Carlos Eleta (Ruben Blades – ia juga mengisi soundtrack), sebuah kejutan besar ia berniat melatih. Seusai tanding Duran makan setumpuk es krim, Duran tak mau dilatih Arcel karena ia seorang Amerika. Alasan kenapa ga maunya diutarkan lebih lanjut dalam kilas balik.

9 Januari 1964, Panama sedang berseteru dengan Amerika mengenai perbatasan. Sebuah terusan sepanjang 82 Km, memotong Amerika Utara dan Selatan yang menghubungkan samudra Pasifik dan Atlantik itu adalah milik Amerika, padahal itu adalah sumber ekonomi yang ada di pusat perdagangan Panama. Dalam buku sejarah Terusan itu adalah ‘hadiah’ Panama kepada Amerika karena membantu mereka merdeka dari Kolombia. Terjadi demo mahasiswa (sayangnya adegan ini dibuat buruk, lihatlah sebuah bus tergeletak dibakar, tapi jelas itu hanya properti. Tak ada sentuhan alami) yang menuntut hak konstitusi. Salah satu yang berjubel dalam huru hara itu adalah Duran kecil. Ia  menyaksikan sejarah negara sedang dicipta, lalu kabur dan naik pohon di perbatasan sekedar memetik mangga. Lari dalam kejaran penjaga, menyeberangi terusan. Sebuah upaya seni bertahan hidup.

Duran kecil hobi berkelahi. Salah satu guru hidupnya adalah Chaflan (Oscar Jaenada). Terlihat sekali sang guru mengajari apa itu hidup, cara menikmati setiap helaan nafas. Ironis, nantinya bagaimana Chaflan menghembuskan nafas terakhirnya. Petarung jalanan ini suatu ketika ingin dilatih tinju, awalnya ditolak. Namun saat ia sedang berkelahi sampai ditahan, akhirnya mau ditebus dan mendidiknya. Dari sinilah perjalanan karir panjang Duran ditulis. Ia selalu memenangi pertarungan amatir, mayoritas di-KO. Berjalannya waktu ia menatapi karir profesional.

Suatu ketika ia melihat seorang pelajar cantik berjalan seorang diri. Felicidad Iglesias (diperankan dengan sangat cantik oleh Ana De Armas) digodanya, tentu saja sebagai gadis baik-baik ia cuek. Tetapi luluh juga akhirnya melihat perjuangan sang pejantan, apalagi Duran dijemput mobil. Mereka dengan mudah ditebak akan bersama, menikah, punya banyak anak, dan terlihat seperti keluarga sempurna. Ada adegan absurb ketika Duran diperlihatkan majalah dengan sampul Sugar Ray, Duran ternyata buta aksara, tak bisa membaca sehingga Feli harus menjelaskan isi majalah tersebut. Unik ya, juara dunia tak bisa membaca, tugasnya hanya padu. Kisah lalu dirajut sebagaimana di awal tadi. Duran mau dilatih Arcel dengan beberapa pertimbangan. Duet ini lalu menaklukkan dunia. Musuh-musuh disikat, sabuk juara diraih dan Duran yang dari keluarga miskin kini bergelimang harta.

Puncak kisah ini adalah di Montreal, Kanada tantangan Duran terhadap Sugar Ray Leonard (Usher Raymond IV) – sebuah kebanggaan Amerika – yang gayanya mengikuti Muhammad Ali. Wajar saja Ray pernah dilatih oleh orang yang sama. Laga besar bulan Juni 1980 seakan pertaruhan antara Amerika versus Panama. Duran yang seorang juara kelas ringan menantang kelas welter. Laga perebutan gelar kelas menengah WBC. Laga 15 ronde jual beli serangan tak kenal lelah. Karena saya awam sejarah tinju tahun 1990an ke bawah, saya sempat terhanyut dalam dramatisasi perhitungan angka.

Pesta pora kemenangan digelar. Mobil-mobil turun ke jalan. Duran didaulat bak pahlawan, semua rakyat Panama memujanya. Bak seorang Robinhood, ia menghambur-hamburkan uangnya untuk orang sekeliling. Karena ia terlahir miskin maka puncak kejayaannya ini begitu membuncah. Tentu saja terjadi tarung ulang bulan November 1980. Proses menuju  tanding ulang sendiri dilihat lebih intens sehingga kita tahu alasan yang terjadi saat ia bilang ‘No Mass’ sebuah kutipan terkenal dari Duran. Pertanyaannya adalah bagaimana bisa, tarung di puncak dan anti-klimak?!

Saat dalam titik nadir itulah kita diajak mengenal lebih dalam karakter Duran. Ayahnya yang Amerika, dan menelantarkannya. Istrinya yang marah, guru kecilnya yang terusir sampai pertarungan batin Arcel, American nama malah berada di sisi lawan. Karena ini bersinggungan politik maka kematian pahlawan Panama, Jenderal Omar Torrijos disebut. Adakah kesempatan kedua untuk Duran?

Saya dibesarkan zaman Si Leher Beton Mike Tyson berjaya, sebelum histori gigit kuping Evander Holyfield itu terjadi sehingga ia didiskualifikasi. Sebuah momen langka dalam adu pukul di atas ring. Era sebelum itu saya awam. Kalau ngomong Duran yang pertama terlintas jelas grup band asal England, Duran Duran. Musisi kontraversial ini walau besar di era 1980an saya sesekali menikmati Planet Earth, Careless Memories, Rio. Lalu ketika ada kata Sugar Ray yang terlintas pertama ya band Amerika Sugar Ray, apalagi mereka besar di generasi 90an jadi saya hafal lagu-lagu When It’s Over, Someday, Every Morning sampai Fly. Jadi saat ada sejarah mencatat dua ‘musisi’ bertarung saya (berusaha) menikmatinya. Hands of Stone sebenarnya sangat perpotensi meledak, dipandu aktor besar De Niro, petinju Raging Bull yang fenomenal itu. Sayangnya naskah dan penyutradaraannya tanggung. Yah, sekedar adu jotos tanpa jiwa dalam setiap pukulannya.

Yang mencuri perhatian adalah pemeran Felicidad. Cantik natural. Dari seorang pelajar yang lugu, istri yang panas, ibu yang lembut. Transformasi menawan oleh seorang aktris latin yang mewarnai setiap laga. Lalu akting De Niro juga sangat bagus, juara. Pergolakan batinnya, mimik sedihnya, tekanan di hari tua. Inilah film keempat ia berakting dalam film tinju setelah sebelumnya Raging Bull yang legendaris, Night and the City, dan Grudge Match. Ray Arcel sendiri adalah sosok yang luar biasa di dunia tinju. Ia adalah orang pertama sebagai pelatih tinju yang berhasil didaulat di International Boxing of Fame tahun 1991.

Karena sudut pandang kisah ini ada pada Duran, saya jadi penasaran bila cerita diambil dari sisi Sugar Ray. Di film ini Usher kelihatan kaku, dan jadi orang yang ‘dilemahkan’. Bagaimana dia mendapat perlakuan tak senonoh lewat kata-kata Duran. Bagaimana ia terobsesi, jadinya penasaran. Orangnya terlihat sombong, ego tinggi namun punya kelas. Sebagai petinju peraih medali emas olimpiade dan pernah juara di lima kelas berbeda, jelas Sugar Ray adalah legenda. Apakah ada film berdasar hidup Sugar Ray? Patut disimak.

Hands Of Stone | Year 2016 | Directed by Jonathan Jokubowicz | Screenplay Jonathan Jokubowicz | Cast Robert De Niro, Edgar Ramirez, Usher Raymond, Ruben Blades, Ana de Armas, Oscar Jaenada | Skor: 2,5/5

Karawang, 140217 – Maroons V – Maps
*) ditulis satu jam menunggu kick off Lazio v Torino

Focus On Keita, The Hottest Young Player

image

Cagliari vs Lazio.
4-3-3
Strakosha
Basta-De Vrij-Hoedt-Radu
Parolo-Biglia-Lulic
I.K.A

LBP
0-3
Semua daya LAZIO sedang on fire. Menang. Dominan. Keren. Seolah semua kalimat menawan sedang menyelimuti The Great. Lawan Cagliari laiknya studitur, dolanan. Radu udah pulih, jaminan pertahanan. Keita starter, ngeri. Main 10 menit aja musuh ketar ketir, bagaimana 90 menit. Rasanya 3 gol terlampau kecil. Bisalah nanti malam dakon setengah lusin. Jadilah saksi kawan!

Papa Win
Cagliari 3-1 Lajio, Borielo
Cagliari melesat. Lajio kepleset. Tower macet.

Arifin
Cagliari 0-1 Lajio. Immobile.
Main tandang. Lajio tetep menang. Om Budi girang. Om pulsa om.

Gabriel Jesus
Cagliari 0-2 Lazio, Immobile
Cagliasi raih hasil negatif. Lazio lanjutkan tren positif. 8 partai beruntun tak terkalahkan bikin adiktif..

Bagas
Cagliari 1 – 2 Lazio, Immo
Demi menjaga tren Lazio harus menang, lazio menang, om Budi girang.

Adolf Kabo
Cagliari 1-3 Lazio Immobile
Walo main kandang, bakal tetap sulit buat Cagliari meraih poin. Rekor pertemuan mereka juga memihak sang tamu. Jadi saya memprediksi Lazio akan membawa 3 poin.

Ajie Muser
Cagliari 1-1 Lazio. Immobile.
Waktunya mesin lazio berjalan agak melambat demi memuluskan langkah Il Biscione menuju Eropa karena UCL sesungguhnya ialah tempat sang ular seharusnya berada.

Deni
Cagliari 1-2 Lajio, Felipe Anderson
Lajio main tandang. Lazio tetep main menyerang. Cagliari keteteran di lini belakang. Akhirnya Lajio yang menang. Fans dan pelatih pun ikut senang 👍🏻

GG
Cagliari 0-4 Lazio. Immobile.
Demi Zona UCL. Tiga poin harga mati. Pulsa lantjar djaja.

Arief
Cagliari 0-2 Lazio. Felipe
Cagliari optimis menang di Sant’Elia. Lazio terancam tanpa sang kapten. Kemenangan tipis untuk Lazio.

Damar
Cagliari 2-3 Lazio. Immobile.
trend positive masih akan berlanjut serangan dari sayap akan kembali menjadi pembeda.

ceo bolaitubal
Cagliari 2-4 Lazio. Immobile
Aku tau aku suka gak nurut sama Lajio. Aku suka banget main. Tapi Lajioku selalu perhatian. Lajioku sabar banget. Lajioku selalu tahu yg terbaik untukku. Sekarang aku sudah tidak sakit lagi, Lajioku terbaik sedunia.

Imoenk malem mingguan
Cagliari 1 vs 2 Lazio, Keita Balde.
Ok dech kali ini dukung Lazio lagi. Tren positifnya keren banget. Yaaa moga-moga aja Lazio bisa ke UCL tahun depan, secara tetangga sebelah sering ndobos di UCL.

Takdir
Cagliari 1-3 Lazio
Skorer: Balde Keita Diao
Analisis: Buon Compleanno Ivan Vargic –  15 Maret 1987-2017. Ini Kiper ketiga atau kiper ‘Z’ alias paling akhir. Ketika Marchetti cidera, Thomas jadi utama Inzaghi malah manggil kiper primavera Borrelli jadi pelapis, dan Ivan tetap nomor 3. Seandainya  Thomas Fotaq Strakosha ikut  absen saya yakin  Borrelli naik, Inzaghi memulangkan Guido Guerrieri untuk  jadi nomor dua dan Ivan tetap nomor tiga!!! Olala, apakah kalian tak penasaran dengan permainan pemain sabar tipe Z gini? Di ulang tahunnya yang ke 30 siapa tahu Simone beri kesempatan langka itu dan kasih bukti. Dengan tridente Immobile – Keita – Anderson, gawang lawan PASTI jebol, sektor belakang bolehlah dicoba. #AvantiLazio # NonMollareMai.

Widy
Cagliari 1-4 Lazio, Immmobile
Rentetan kemenangan menanti lagi. Kali ini away ke Cagliari. Tidak masalah home away Elang Biru lagi dasyat. Berikutnya cagliari dihajar 1-4.

Agustino
Calgiari 0 – 1 lazio
Gol keita
Disaat Keita bersama. Rindukan gelak tawa yang warnai lembar jalan Keita. Tiga point tandang. Mendekatkan mimpi bertemu Barca.

Mrs Reus
Cagliari 1-0 Lazio, Boriello
Bosen ah Lazio menang mulu. Sekali-kali harus kalah. Semoga dapet pulsa.

Karawang, 190317

109 Tahun Inter Di Mata FOC Indonesia

image

Kuis Anniversaro 109 Internazionale.
Inter vs Atlanta.
Skor
Skorer
Tulis 1 kalimat terakhir di halaman 109 di buku yang Foc-ers baca #judul#pengarang.

JK
Inter vs Atlanta.
Skor : 4-0
Skorer : Icardi
Tapi saat berikutnya, sementara pandangannya belum dialihkan dari kanvas, si pelukis menjadi gemetar dan sangat pucat, dia terperanjat dan berseru dengan suara keras,”lukisan ini sungguh kehidupan itu sendiri! ” lalu tiba-tiba berpaling untuk memandangi sang istri tercinta: “dia sudah mati”.
– The Black Cat and the Other Stories, EdgarAllanPoe

Arief
Skor: 2-0
Skorer: Icardi
Gonzales gelagapan. Ia menoleh padaku, mohon bantuan. Aku menoleh pada MVRC Manooj dan ia menoleh pada Ninoch. Ninoch seperti biasa, menunduk malu.
– Edensor, Andrea Hirata

Huang
Skor: 2-1
Skorer: Icardi
Karena kamu berhati buruk dan secara diam2 mencelakakan orang lain di kehidupan lampau.
– The Cause and Effect Sutra, Anonim

Arifin
Skor: 3-1
Skorer: Icardi
Sehat jasmani tanpa diimbangi dengan sehat rohani akan menjadikan seseorang jatuh nilainya.
– Dahsyatnya Bangun Pagi, Tahajud, Subuh & Dhuha., Adlan Al-Ikhwani.

Bagas
Skor: 3 – 0
Skorer: Icardi
Petunjuk:
Ingat persamaan parameter parabola puncak O (0,0). Misal dua titik pada parabola adalah A dan B, tentukan koordinat A dan B dari parameter parabola.
Ingat rumus menentukan koefisien arah dua titik yang diketahui.
– Geometri Analitik Bidang, Dr Sutama, M. Pd

DC (X)
Inter v Atalanta
Skor 1-0
Skorer Icardi
Duuhhh belum ada yang dibaca

Gabriel Jesus
Inter vs Atalanta
Skor 3-2
Scorer Perisic
Ini semua bukan tentang selera, tentang musik, tentang bola atau apapun. Itu semua kecil banget dibanding kalau kita menjadi orang yang membuat orang lain bisa bernafas lebih lega karena keberadaan kita di situ.
– 5cm, Donny Dhirgantoro

GG
Inter vs Atalanta
Skor 4-1
Skorer Icardi
Lalu, meski menuai protes dari fans Cardiff karena ia dianggap tak mengenal tradisi  Cardiff, bukankah Vincent Tan bisa menunjukkan bagaimana seorang penduduk negara persemakmuran kini bisa berjaya di tanah yang dulu menjajahnya?
– Brazilian Football and Their Enemies, Pandit Football Indonesia

LBP
Int 1-1 Atlanta
Candreva
“Bang…” Vina mendekati suaminya, nada suaranya tak sekeras tadi, “kalau misalnya benar gue kena kanker memangnya kita mau operasi pakai biaya dari mana? Kantor lo kan kagak kasih asuransi.”
– Pinky Promise, Kireina Enno

Mrs Reus
Inter vs Atalanta 2-2
Skorer: icardi
Good is an adjective. Caroline felt good about her test results. (good describes Caroline)
– Road to English Proficiency Test, Mohammad Kurjum

Widy
Inter 4-2 atalanta
Scorer : Icardi
“Dengan Tetap didukung karyawannya yang rela berkorban, akhirnya telkomsel mampu membuktikan konsistensi perjuangannya dengan brand yang melekat di hati masyarakat dan menjadi yang terbesar di Indonesia.
– ESQ, EMOTIONAL SPIRITUAL QUOTIENT the Easy Way 165, Ary  Ginanjar Agustian

Takdir
Inter 1-0 Atlanta
Candrevak
Namun, baru setahun lalu aku yakin bahwa puing sisa pemboman masih jadi pemandangan umum di seluruh kota ini, misalnya area di seberang Jembatan Keraguan – lokasi distrik hiburan kami berada- yang tahun lalu masih berupa padang puing.
– An Artist of the Floating World, Kazuo Ishiguro

Karawang, 120217

Silence: Grim And Intimidating

image

image

Father Rodrigues: I pray but I am lost. Am I just praying to silence?

Film ketiga Oscar 2017 yang kurate sempurna setelah Arrival dan Captain Fantastic. Kisahnya sangat panjang, hingga menyikat durasi hampir 3 jam. Waktu yang bisa saya gunakan untuk merampungkan baca satu buku terbitan Atria itu saya persembahkan untuk sebuah film karya sutradara legendaris Martin Scorsese. Untungnya worth it, karena sesuai ekspektasi. Berdasarkan buku karya Shusaku Endo yang bulan lalu sebenarnya sudah saya timang-timang untuk saya beli, namun urung karena terbentur budget, next time pasti kebeli. Kujamin! Martin sendiri menerima novel Endo tahun 1988 dari Paul Moore, seorang Pendeta di New York. Butuh nyaris 3 dekade untuk divisualisasikan!

Kisahnya pilu dan mengintimidasi. Sedari awal sudah diperlihatkan adegan pembunuhan. Walau pengambilan gambar eksekusinya ga eksplisit karena kamera akan menjauh di adegan itu. Bahwa Kristenisasi di abad ke 17 terjadi di tanah Jepang, tepatnya tahun 1637 sesuai yang narator sampaikan. Para Pendeta dikirim ke berbagai belahan dunia. Kalau dulu pas sekolah saya dapat dari pelajaran IPS – Ilmu Pengetahuan Sosial sub Geografi Sejarah bahwa saat itu Eropa menyerbu – boleh juga kau sebut menjajah – Asia dengan misi 3G: Glory, Gold dan Gospel. Nah film ini akan menyosot ‘G terakhir’ tapi dari sudut pandang yang teraniaya. Dari adegan pembuka, kita langsung disuguhi wajah aktor besar Liam Nesson (sebagai Pendeta Cristovao Ferreira) tapi butuh lebih dari sejam lagi untuk muncul. Ia tertangkap bersama 4 Pendeta lainnya, dieksekusi mati dengan keji di depan warga sebagai contoh. Disalib, ditelanjangi lalu disiram air panas setetes demi setetes sehingga sakitnya teramat dan perlahan. Jepang era Shogun Tokugawa melarang pengaruh Barat masuk. Segala hal yang berbau Kristen dibumihanguskan. Zaman itu dipakai untuk kolonialisme, untuk politik, untuk kuasa. Jadi kalau zaman sekarang kalian masih menunggangi Agama untuk meraup suara dalam Kampanye Pemilu, kalian mundur 4 abad ke belakang.

Father Cristovao Ferreira tidak mati, ia murtad untuk menyelamatkan nyawa. Surat perpindahan keyakinan itu diselundupkan, disalurkan dan ditebus sampai ke St. Paul’s College, Macau. Dibacakan oleh Pendeta Jesuit Portugis, Father Allesandro Valignano (Ciaran Hinds) kepada dua pengikut Ferreira, Father Sebastiao Rodrigues (diperankan dengan sangat bagus oleh Andrew Garfield) dan Father Fransisco Garupe (Adam Driver). Kabar yang mengejutkan itu sulit dipercaya, bagaimana bisa orang pegangan mereka ternyata melepas pegangannya, lalu mereka meminta izin untuk bertemu dan ‘meluruskan’ Ferreira ke Jepang. Tentu saja ini adalah misi berbahaya, nyawa taruhannya. Keinginan mereka bak semangat pertama anak muda.

Mereka dipertemukan dengan saudagar Tuan Chun yang membawanya kepada seorang Jepang yang terdampar di Macau, alkoholik frustasi Kichijiro (Yosuke Kubozuka). Seorang nelayan yang ingin pulang itu akhirnya menghantar mereka menyelundup untuk menginjakkan kaki di Negeri Matahari Terbit. Dalam adegan yang dramatis dan sunyi saat perahu mereka menepi, diluarduga disambut umatnya. Sebuah desa yang penuh Kristiani. Ada dua kepala desa yang selama ini membaptis dan memimpin doa, Mokichi (Shinya Tsukamoto) dan Ichizo (Yoshi Oida). Mereka dengan suka cita melayani Pendeta yang datang. Era itu, barang siapa bisa menunjukkan seorang Kristen mendapat 100 keping emas, saudara Kristen berarti 200 keping emas dan bisa menunjukkan seorang Pendeta artinya 300 keping emas. Era itu begitu mencekam, beda keyakinan dibunuh. Kebebasan beragama ditenggelamkan ke rawa-rawa terdalam.

Rodrigues dan Garupe bersembunyi dan sesekali muncul untuk memimpin doa. Rasa frustasi mulai tampak, jika mereka tak bertindak bagaimana bisa menemukan guru mereka? Suatu hari mereka ditemukan dua orang Jepang memakai buyuk/caping dibalik kabut. Awalnya ketakutan, namun ternyata mereka dua orang Kristen yang datang dari Goto. Mereka tahu ada Pendeta datang ke Jepang via si gila Kichijiro. Mereka meminta Padre (Romanji-nya Father) untuk ke sana karena umat begitu rindu pemimpin. Adegan itu mengharu biru, yang akan membuat orang tersentuh. Di tengah tekanan dan ancaman, masih ada umat yang memegang teguh keyakinan. Minoritas yang teraniaya. Dari Goto, Rodrigues mendapat informasi dari seorang tua bahwa Ferreira di Shinmachi, daerah dekat Nagasaki. Itu dulu sebelum masalah besar terjadi. Kota berbahaya.
Di Goto, Rodrigues membagikan salib ayaman dari selubung padi. Diterima dengan suka cita umatnya, sampai-sampai pada mencium penuh kasih. Salib yang membuatnya khawatir karena mereka menilai tanda-tanda keimanan ini jauh lebih dari keimanan itu sendiri. Tapi melihat antusiasme tinggi itu, Rodrigues begitu tarharu. Ia bahkan memberikan Rosarianya. Semacam tasbih, yang dibagikan satu per satu tiap butirnya. Kecuali Kichijiro yang berlari ketakutan. Ternyata si gila memikul beban dosa tak tertanggung, ia memiliki masa lalu yang kelam. Dan bagaimana keluarganya meregang nyawa ditampilkan dengan pilu. Setiap ingat itu ia selalu ingin melakukan Pengakuan dosa.

Di Goto, Rodrigues membaptis ratusan orang. Menjadi orang yang begitu dihormati bak nabi, bak The Chosen One. Berjalannya waktu, Pihak Pemerintah Jepang memburu. Mereka mengancam kalau dalam tiga hari mereka tak memberi informasi tentang persembunyian Pendeta maka mereka akan membunuh 4 orang dan salah satunya sang pemimpin Mokichi. Informasi itu diperdebat, Rodrigues dan Garupe begitu dicintai mereka bimbang, apakah harus pergi ataukah bertahan. Maju kena mundur kena. Dan keputusan bulat diambil, Padre bertahan sehingga wajib dipilihlah empat orang yang siap mati. Dua pemimpinnya tentu saja maju yang pertama, jeda lama. Jeda diam yang begitu menyakitkan, siapa mau mati demi agama? Seorang loyalis tua mengajukan diri, gila! Sukarela mati bro. Begidik rasanya, dan kurang satu orang. Tak ada yang berani mengajukan diri (salah satu adegan terbaik 2016, sunyi yang mengintimidasi), sampai akhirnya seseorang nyeletuk Kichijiro bukan warga asli sini kenapa bukan dia aja? Adegan di poster saat akhirnya Andrew Garfield bersentuhan jidat dengan Yoshi Oida itu pun terjadi. Ditemani rintikan hujan dengan latar Adam Driver yang berwajah hampa. Sedih sekali.

Eksekusi matinya pun dibuat seram. Satu per satu diminta menginjak simboliame Yesus, awalnya mau tanpa ekspresi tapi mereka curiga sehingga dilanjutkan diminta meludahi salib dengan menyebut kalimat sulit buat seorang Kristiani. Simbol, sebuah tanda keagamaan itu bertaruh nyawa. Dua Padre yang melihat dari jauh itu benar-benar frustasi, sampai beginikah sebuah negeri menolak Agama Luar?

Aku harap aku bisa sekuat kamu. Setelah eksekusi itu mereka memutuskan pergi. Ah mereka mati sia-sia, mati demi kita. Misi berikutnya mereka berpisah, Garupe ke Hirado dan Rodrigues kembali ke Goto. Dari adegan perpisahan itu saya sudah curiga mereka pasti celaka. Rasa curigaku terbukti, saat tiba di Goto desa sudah porak-poranda. Pemerintah yang dipimpian jaksa kejam Innoe Sama (Issei Ogata) sudah membumihanguskan wilayah itu. “Bapa, aku meminta maaf untuk kelemahan dan keraguanku.” Dan akhirnya apa yang ditakutkanpun terjadi. Berhasilkah mereka bertemu Father Ferreira? Seberapa kuat mereka memikul beban untuk mempertahankan keyakinan di tengah deraan siksa yang pedih di dunia yang fana ini?

Adam Driver adalah aktor baru, belum terlalu lama muncul. Dia mencuat berkat aksinya sebagai Kylo Ren di film besar Star Wars: The Force Awakens. Betapa beruntungnya awal muncul langsung di proyek besar, apalagi kini mendapat tempaan sutradara hebat Martin Scorsese. Penampilannya tetap tenang, wajahnya memang teduh – mirip aktor lokal yang jadi Rangga di AADC series – jadi cocok jadi seorang Pendeta. Penampilan Garfield juara, bagusan di sini ketimbang jadi serdadu anti senjata di Hacksaw Ridge. Anehnya dua penampilan Garfield ini sebagai orang soleh yang terdampar di Jepang! Ada adegan absurd saat dua Padre ini dijamu makan, karena laparnya mereka langsung sikat! begitu mangkuk diserahkan. Sementara umatnya malah tenang dan berdoa khusuk sebelum makan. Aneh bin ajaib.

Film sebagus ini bahkan tak masuk kandidat best picture. Hanya menyumbang satu kategori, itupun bukan utama. Duh, bandingkan film foya-foya joget dan nyanyi penuh warna yang nyaris menang itu, jauh banget kualitasnya. Ini adalah film religius ketiga Martin setelah The Last Temptation of Christ dan Kundun. Skoringnya bagus banget. Begitu pas mengiringi ‘kesunyian’ yang menyelimuti. Bunyi jangkrik dalam renungan. Adegan saat si gila meludah ditemani skor jeder jeder, wuiszz serem.

Film ini pertama tayang rilis terbatas di Vatikan. Lalu screening terbatas lagi di depan ratusan Pendeta di Roma. Mendapat review positif. Yak, tentu saja mereka suka. Walau beberapa adegan memberi gambaran pilu karena simbol agama diinjak, kalau Muslim pasti pada istighfar tapi secara keseluruhan film ini tetap berpegang teguh pada keyakinan. Separuh awal kita mungkin bisa terhanyut untuk memberi simpati pada kaum yang di-dzolimi, sebuah minoritas tertindas. Separuh akhir muncullah sebuah pergolakan batin, kalau Tuhan ada kenapa diam saja – cocok dengan judulnya – saat umatnya disiksa. Dimana Tuhan saat mereka meminta pertolongan? Iman adanya di hati, bukan pada simbol-simbol keagamaan. Bukan pada salib, bukan pada tasbih, bukan pula pada peci, celana cungkring, sampai jenggot tebal. Iman itu didasari di hati. Tak perlu ditonjolkan, tak harus diungkapkan ke orang sekitar, cukup dalam sunyi bersemayam di lubuk pikiran biar Tuhan dan pribadi yang tahu.

For the Japanese Christians and their pastors Ad Majorem Dei Gloriam. Saya nikmati sampai credit title-nya habis. Tak umum karena cast and crew tak berjalan naik, tapi muncul per tulisan lalu ganti. Silence dipersembahkan untuk istri Martin, Helena dan putrinya Fransesca. Seperti katanya bahwa Silence is about the necessity of believe fighting teh voice of experience!

Beruntunglah kita, hidup di era kebebasan beragama. Toleransi dalam bergaul. Hidup dalam lindungan dan kasih sayangNya. Semoga kita semua selalu dalam limpahan rahmat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Amin.

Silence | Year 2016 | Directed by Martin Scorsese | Screenplay Martin Scorsese, Jay Cooks | Cast Andrew Garfield, Adam Driver, Liam Neeson, Yosuke Kubozuka, Issei Ogata | Skor: 5/5

Karawang, 120317 – Sherina Munaf feat Elfa’s Singers – Selamat Datang Cinta

Immobile Vs Belotti: Duel Duet Attacante Gli Azzuri

image

Lazio V Torino.
FOCCERS dengan semangat 1900 memprediksi.

LBP 3-0
Immo 16 gol vs Belotti 22 gol. Komoditas panas musim transfer jeda kompetisi nanti. Lazio nomor 4 menuju zona liga Juara, Il Toro nomor 9 tinggal 1 poin menuju salvation. Kiper muda gilang gemilang Thomas Strakosha vs Kiper timnas England yang sedang bangkit Joe Hart. Siapa unggul? Pastikan Selasa dini hari kalian duduk manis depan Trans7 untuk jadi saksi BIGMATCH Serie A pekan ini. Ale ale Lazio ti amo.

Arifin
Lajio v Torino 2-0. Immo
Lajio menang. Torino tumbang. Om Budi riang.

Arief
Lazio v Torino 1-0. Immobile.
Lazio terus mengintip zona UCL. Tim besutan Sinisa Mihajlovic tak pernah menang atas Lazio di 7 duel terakhir.
Meski menghormati eks klub, sang penyerang takkan sungkan mencetak gol.

Huang
Lazio v Torino. 2-2. Belotti.
Ini pertemuan yang saru. Apalagi kalo bukan duel 2 capocanonieri lokal yang sama-sama sedang ngocol, eh, onfire. Saya menjagokan Bellotti sebagai pencetak gol karena namanya ada berbau totti tottinya gitu, sang pangeran romlah.

Gabriel Jesus
Lazio vs Torino 3-2, Immobile
Lazio akan lanjutkan tren kemenangan. Tidak terkalahkan di 6 game beruntun jadi bukti Lazio jantan. Immobile akam teruskan rentetan gol berjalan.

Takdir
Immobile 2-1 Belloti
The hottest partners on the earth. Game on! It looks like these sports stars know how to score both on and off the field. You complete me – Jerry Maguire. #AvantiLazio

Widy
Lazio 3-1 Torino. Immobile
Lanjutin kemenangan. Lawan berikutnya cuma tim Skelas torino. Bisalah untuk  Lazio. Skor 3-1 mewarnai partai ini.

Ajie Muser
Lazio 1-2 Torino, Belloti.
Laju Lazio wajib terhenti di giornata kali ini demi memuluskan jalan bagi Internazionale Milano. #forzainter

Bagas
Lazio 4 – 2 Torino, Parolo
Lajio mulai konsisten. Begitu juga di laga ini pasti bisa memetik poin penuh. Forza Lajio.

Jk
Lazio 1-1 Torino, Immo.
Si Elang biru masih mampu mengepakkan sayap. Saatnya posisi idle biar ga cape. Hasil imbang 1-1 cukup bagi kduanya.

Imoenk 21
Lazio 1-1 Torino, Belotti.
Skor saingan sama bung Jack, cuma beda skorer. Gak opo-opo sing penting nebak. Belotti on fire hlo jack. Biasanya nyekor hlo.

DC
Lazio 2-1 Torino, Immobile
Menang tipis. Itu yang akan terjadi di laga ini. Dan 3 poin tersebut jadi milik tuan rumah.

Emas agos
Lazio 1 – 0 Torino. Felipe bale.
Kota turin milik wasit semalam. Kota roma milik Budi untuk kali ini. 3 angka mendekatkan impian bermain melawan Barca. Glory….glory….laziale ✊🏾

Karawang, 110217

Magnificent Seven: Best Remake Of The Last Few Years

image

image

image

Sam Chisolm: What we lost in teh fire, we found in the ashes

Beruntungnya saya lupa. Sepuluh tahun lalu saya sudah menonton film originalnya, dan syukurlah saya lupa. Lupa poin-poin penting Magnificent Seven. Saya bahkan mengira versi tahun 1960 dibintangi Clint Eastwood. Ketika di bagian Denzel Washington membantai penjaga bar dan mengumumkan untuk memanggil sherif itu sempat mengusik ingatan dan bilang, ‘oh saya sudah pernah melihat pola seperti ini’, namun kepala saya kembali gatal ketika ketujuh pahlawan berkumpul menyusun strategi. Dan jadilah epic battle itu mempesonaku. Jelas, kalau saya diberi opsi untuk menyusun 10 film terbaik 2016 sekumpulan koboi ini ada di dalamnya.

Fuqua saat berduet dengan Denzel Washington plus Ethan Hawke memang tak pernah mengecewakan. Training Day yang meledak, Bronklyn’s Finest yang wow dan The Equalizer yang sesak. Kolaborasi terbaru ini dibintangi para artis top berbagai warna kulit – berbagai ras dari Asia, Meksiko sampai Alaska! Seakan menyatakan kita semua harus bersatu untuk kemakmuran bersama.

Kisahnya panjang. Butuh kesabaran, tapi lunas di klimak cerita. Opening scene dibuat mendebarkan. Sebuah pertambangan emas di Rose Creek tahun 1879, tanah kaya yang menjanjikan itu dikuasai oleh Bogue dan kroni-kroninya. Semua orang tunduk padanya, termasuk para sherif. Jadi saat warga berkumpul di Gereja, rumah Tuhan untuk berdiskusi apakah tanah mereka harus dijual murah kepada Bogue atau melawan, suasana tampak menakutkan. Sebelum keputusan mutlak muncul, pintu Gereja njeplak. Bogue (Peter Sarsgaard) beserta pasukan bersenjatanya masuk. Mengancam, tanah ini akan kubeli dengan harga 20 Dollar untuk sebidang debu. Tawaran tak akan naik dan akan semakin asam. Bogue akan kembali dalam 3 minggu, yang terima tawaran itu silakan datang menghadap ke mejanya dan yang bagi menolak semoga Tuhan menolongmu. Lalu Gereja dibakar, sekelompok orang yang membantah ditembak, wanita berlari menolong dilempar kapak. Dan jerit ketakutan itu ditutup dengan pilu. ‘Perampokan’ tanah di era Western tampak begitu meyakinkan. Sebuah pembuka yang bagus sekali. Lalu setelah 11 menit 22 detik (ya saya mencatatnya) muncullah judul utama diringi skor menawan.

Sang jagoan utama muncul, dengan menunggang kuda koboi asal Wichita, Kansas Sam Chisolm (debut western menawan Denzel Washington) menuju kedai tempat judi. Diiringi tatapan curiga warga, masuk memesan busthead, sang pelayan menjawab tak ada minuman merk itu. Lalu ia minta ganda, ternyata dikeluarkan juga. Disodorkannya uang perak lagi untuk meminta informasi, bahwa ia sedang mencari seorang pemuda dengan fisik seperti sang pelayan bernama Daniel Horison – berjuluk Powder Dan. Penjahat yang telah membunuh petani itu kini buron. Namanya suka ganti-ganti. Rekan jahatnya July Bully sudah dibunuhnya dalam bisikan. ‘Bawa mereka masuk, dari ladang dosa’. Belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan, Sam mencabut pistolnya dan dar der dor, pengunjung kedai dibuat shock. Saat ada pengunjung lain yang siap-siap menarik senjata, sang penjudi Joshua Faraday (Chris Pratt) memintanya tetap tenang – ada kutipan lucu tentang Two Guns Kid yang nge-link ke seri Marvel. Dan bang bang! Pelayan itu ditembak mati. Dengan gaya tenang, Sam meminta ‘panggilkan sherif’. Semua pengunjung keluar, kecuali Faraday yang tetap duduk lalu mengemasi uang di meja judi. Ternyata pelayan tu adalah buron. Sam Chisolm adalah bounty hunter. Koboi pemburu hadiah.

Kejadian itu dilihat Emma Cullen (dimainkan dengan seksi sekali oleh Haley Bennett karena nyaris semua layar sesak para pria – wajar ia begitu cerah merona bak bintang berkilau) dan rekannya Teddy Q (Luke Grimes). Emma adalah korban di awal film yang suaminya dibunuh. Mereka menyapanya dan meminta bantuan kepada Sam, tapi ia menolak karena rasanya mereka  tak akan sanggup membayar. 4 hari perjalanan dari kota itu adalah Rose Creek, mereka dalam ancaman dan butuh bantuan. Rasanya butuh pasukan untuk mengatasinya. Tapi saat mendengar nama Bartholomew Bogue, Sam memicingkan telinga untuk mendengar lebih seksama. Terlebih pengakuan Emma yang menangis, meminta keadilan karena pasangannya tewas ditembak di tengah jalan. Dalam penjelasan lebih detail bahwa sekitar 40 petani masih bertahan, hufh rasanya berat. Tapi deal juga. Sam adalah sang leader, dan perekrutan jagoan pun dimulai.

Pertama yang bergabung jelas Josh Faraday yang terlihat di meja judi tadi. Sempat tampak ragu, tapi OK mereka sepakat. – So far so good – kutipan terkenal Steve McQueen terdengar klasik. Lalu pencarian berlanjut berpisah. Mr. Sam bersama Emma menjemput buron berdarah Meksiko. Vasquez (Manuel Garcia-Rulfo) seorang pembunuh ranger. Seorang kriminal yang unik. Dengan keahlian menembak jelas ia akan jadi pasukan yang tepat. Rekrutan keempat dan kelima adalah rekan sejawat, Goodnight Robicheaux (Ethan Hawke) – seorang veteran perang yang dihantui masa lalu dan pengawalnya, Billy Rocks (Byung-hun Lee) si jago lempar pisau, seorang Asia. pasangan aneh ini mau bergabung, awal mula mereka bersama tampak absurb karena Good adalah pemburu Billy. Dibawah perintah Nortern Pacific Railroad. Haha, bukan. Ternyata bercanda. Goody adalah promotor adu tembak Billy. Mereka mencari nafkah saling ketergantuangan. Kedatangan Josh untuk menyampaikan pesan Mr. Sam meminta Goody bergabung, tapi secara otomatis mengajak Billy.

Mereka bertemu di Junction city. Josh yang rasis, saat bertemu Vasq ia mengejek canda sang Mexican dengan gaya kera, tapi tak mengganggu persatuan. Rekrutan keenam sama anehnya dengan yang lain. Dengan dialog nyeleneh lalu sebuah kapak melayang membunuh duo Pigeon bersaudara. Tuan Jack Horne (Vincent D’Onofrion) saat bicara sedikit tertahan, ia bertubuh besar dan seorang kolektor kulit. Saat para jagoan itu mengajaknya bergabung, ia terlihat sedikit sanksi karena yang dilawan adalah mafia Bogue.

Rekrutan terakhir paling nyeleneh. Saat akhirnya mereka bermalam di bawah tebaran bintang, dengan api unggun menemani. Adalah seorang Indian Comanche bernama Red Harvest (Martin Sensmeier) yang diajak berdamai dengan memakan hati binatang, ia adalah pahlawan termuda. Dengan bersatunya Red maka komplit sudah magnificent seven. Ditemani iringan musik seru mereka menuju Rose Creek. Persiapan menyambut Bogue mendebarkan. Karena kita tahu betapa digdayanya sang mafia. Warga yang tak punya keahlian bertarung dilatih kilat, bersama 7 pahlawan hebat ini berhasilkah mereka mempertahankan Rose Creek?

Perekrutan pasukan itu berlangsung satu jam. Satu jam berikutnya adalah pertarungan seru khas koboi. Bayangkan, satu jam perang dengan tensi tinggi. Sampai akhirnya meledak di akhir. Ada sedikit kejutan karena Mr Sam menyimpan rahasia kecil. Sampai akhirnya film ditutup rasanya saya tak ingin beranjak. Musiknya asyik, sangat pas untuk iringan para koboi, penutupnya menampilkan ketujuh pahlawan satu per satu diperankan oleh aktor. Lalu mereka berkuda dari sisi kiri ke kanan dan muncullah angka 7 merah menyala. Dua tembakan memecah kaca masing-masing di kiri kanan, dan credit title pun berjalan naik. Gaya ini sama persis dengan versi 1960. Sebuah tribute yang pantas.

Film ini juga didedikasikan untuk sang komposer James Horner yang meninggal dunia saat proses produksi di tengah jalan. Proses selanjutnya dirampungkan rekannya Simon Franglen, dibawah bendera Sony.

Puas? Ya. Sangat memuaskan. Seru dan intens. Karya asli dari bukunya Shinobu Hashimoto dan Hideo Ogumi yang pertama diadaptasi ke film Seven Samurai oleh Akira Kurosawa tahun 1954 lalu didaur ulang ke Barat dengan judul Magnificent Seven tahun 1960 barulah remake era terkini yang kita tonton. Endingnya mungkin tertebak, tapi tetaplah seru. Menghentak dan meledak. Saya beri bocoran dikit ya bahwa ketujuhnya tak selamat karena nantinya ketika narasi film akan ditutup dengan suara merdu Emma, ada sederet kuburan yang memajang nama sebagian dari mereka. Masuk akal kan semua tak selamat dalam perang. Dan yeah, mereka benar-benar MAGNIFICENT!!!

Magnificent Seven | Year 2016 | Directed by Antoine Fuqua | Screenplay Nic Pizzolatto, Richard Wenk | Cast Denzel Washington, Chris Pratt, Ethan Hawke, Vincent D’Onofrio, Byung-hun Lee, Peter Sarsgaard, Manuel Garcia-Rulfo, Haley Bennett, Martin Sensmeier | Skor: 5/5

Karawang, 080117 – The Hoobastank – The Reason

Thx to Rani Wulandari, S.Kom yang memberi kopi film ini dan yang lainnya. Nuhun Langsing!

Kemenangan Teramat Istimewa

image

image

image

image

image

image

“Kami menghadapi tim yang dibilang banyak orang tidak bisa dikalahkan, kami memberikan segalanya dan meraih kemenangan yang pas.” – Simone Inzaghi

Dosa besar kalau saya sampai tak membuat tulisan kemenangan istimewa ini. Walau terlambat, saya sempatkan nulis untuk laga spesial. Derby Della Capitale adalah ritual wajib Laziale. Sebuah pertandingan penuh gengsi yang selalu dinanti. Musim ini akan ada 4 derby. Pertama sudah berjalan dengan buruk karena blunder Wallace, kedua adalah leg pertama Semifinal Coppa Italia ini. Ketiga dan terakhir dalam jadwal FIGC. Seperti biasa, sebelum derby kita gaduh mau nonton dimana bersama siapa. Jadwal derby yang biasanya sebelum tengah hari luruh kali ini karena kick off jam 02:45. Ketika LIRK – Lazio Indonesia Region Karawang nobar Udinese kita sudah polling ngumpul ga-nya. Tengah pekan dimana mayoritas adalah pekerja sebenarnya sudah memutuskan nonton sendiri-sendiri. Entah kenapa Rabu setelah Mahgrib tiba-tiba diumumkan berapa-pun yang mau datang kita jadwalkan nobar di Coach Setiadi. Dari grup BBM itu yang konfirm hanya 4 Laziale. OK, saya salah satunya. Terlalu sayang pertandingan besar dinikmati seorang diri.

Keputusan yang sangat tepat karena hasilnya adalah 2 gol cantik dengan menyaksikan tetangga frustasi sepanjang laga.

Gol tercipta dengan indah melalui skema apik Felipe dan Savic di menit 29. Dari kiri Savic memberi umpan pendek kepada Felipe yang berlari maju lalu ikut bergerak ke depan mencari ruang. Dengan jeli Felipe Bale setelah masuk kotak pinalti mendorong jauh melaju si kulit bundar. Bola nyaris saja keluar garis namun dengan kecepatan prima Felipe menjatuhkan diri untuk menyodorkannya ke depan gawang. Ada Basta, Immobile dan Parolo di sana, tapi justru Savic yang berlari kencang membelokkan bola dengan keras merobek jala Roma. Gol yang membuat gemuruh Olimpico itu disambut suka cita 5 Laziale Karawang. Lihatlah gesture Parolo sampai mengepalkan kedua tangan ke atas saking gembiranya. Bahkan ball boy belakang gawang ikut melonjak kegirangan. Simone Inzaghi yang memang ekspresif malam itu jauh lebih emosional memeluk para staf menyambut keunggulan.

Babak kedua kita lebih dominan. Harusnya bisa unggul 4-5 gol lagi. Sayang eksekusi akhir kurang tenang. Heran aja, tim jelek gini diikutkan liga Champion. Dominasi kita membuat mereka tak bisa mengembangkan permainan. Lini tengah sangat kompak, Parolo-Biglia-Lukaku begitu digdaya. Bisa jadi Basta adalah pemain Lazio minor kali ini, tak banyak kasih andil. Tapi Parolo menutupinya dengan jelajah tanpa lelah. Dalam satu adegan , Marco bahkan bersitegang dengan Strootman. DNA Derby sudah tertanam. Satu-satunya peluang bagus Roma hadir di menit 59 lewat tendangan Salah yang menerpa mistar luar. Sisanya mereka bak tim amatir.

Poin penting lain laga ini adalah keputusan menyimpan Keita untuk babak kedua. Menit 67 saat Roma mulai mencoba merangsek naik, kita menarik Felipe. Gol ganda akhirnya hadir 10 menit berselang. Prosesnya bagus banget. Melalui serangan balik cepat. Keita yang kena kawal Manolas dan Fazio dari tengah lapangan berhasil lolos membawa bola di sisi kanan. Dengan kecepatan mempesona Keita berhasil mengecoh 4 pemain Roma untuk fokus padanya, mereka lupa ada seorang Immobile yang mencari ruang di depan gawang. Hasilnya ketika Keita unggul pertarungan, bola silang itu seakan disulap cling tiba-tiba tepat di depan garis gawang, sehingga Immobile tinggal mendorongnya mengkonversi skor. Gooool. Laziale Karawang yang malam ini kedatangan (mantan) ketua LIRK yang jarang ikut nobar langsung bertepuk sapa. Immobile langsung berlari keluar lintasan untuk selebrasi mencium fan. Disambut rekan-rekan, termasuk para cadangan ikut berlari jauh memberinya selamat. Patric paling kencang tuh merayakan pesta.

Efek kemenangan ini banyak. Sangat banyak. 4 tahun tak pernah menjungkalkan mereka akhirnya kita putus. Pioli nyaris melakukannya dengan unggul 2 gol dulu, sayangnya laga itu malah dingat sebagai selfie T. Terakhir menang adalah final Copa 26 Mei 2013. Era Klose, Hernanes di bawah Petkovic itu rasanya sudah lama sekali berlalu. Jadi harusnya ini jadi suntikan semangat juang di sisa musim. Efek lainnya, pemain AC Milan, eks roma yang seorang Laziale malam itu ikut merayakan. Alesia Romagnoli dikecam Milanisti karena ikut berpesta dalam kemenangan derby ini. Wew, bisa jadi nanti kau ke Olimpico Nak. Kita dengan senang hati menyambutmu dalam menggores sejarah bersama. Suatu saat nanti…

Inzaghi Yang Percaya diri
Tak dipungkiri Simone Inzaghi adalah Laziale sejati. Melatih dengan hati. Setiap teriakannya di pinggir lapangan adalah luapan cinta pada jersey Elang. Malang melintang di Serie A dan setia dalam suka duka Biancoceleste akhirnya mendapat kepercayaan melatih tim utama. Dengan budget transfer yang akan membuat Mourinho pingsan, Inzaghi sukses meremajakan skuat. Mayoritas adalah pemain muda jebolan primavera, eks anak didiknya dipromosikan. Giuseppe Rossi, Tounkara, Allesandro Murgia, Christiano Lombardi, Crecco, Thomas Strakosha adalah sederat pemain primavera yang mendapat debut karena kepercayaan Inzaghi. Ah andai Chris Oiko dan Guido tak dipinjamkan. Derby pagi ini Simone mengubah strategi dari 4 bek menjadi 3-5-2. Strategi ini laiknya milik Spaletti – pelatih lawan. Pilihan yang sungguh berani karena lini tengah akan jadi kuci. Untungnya lini vital itu kita punya bintang yang layak diandalkan. Naiggolan adalah pemain paling buruk yang tak berandil buat lawan karena dimatikan. Sang kakak, Fillipo memberi selamat dan pujian. Pippo yang juga pernah melatih AC Milan, dan kita semua tahu gatot itu memberi pujian. ”Minggu malam, ia bersama stafnya mempelajari pertandingan Roma-Inter dan menemukan cara jitu menghentikan mereka. Ia menjelaskan akan memblokir semua bola yang mengarah ke Dzenko dan taktik itu berjalan sempurna.”

Lukaku
Lukaku malam itu tampil baik mengisi lini tengah di sisi kiri menggantikan Lu71c meredam Radja. Seimbang dalam meyerang dan bertahan, hanya skill-nya perlu terus diasah. Beberapa kali kehilangan bola dan kurang akurat dalam mengumpan. Tapi secara keseluruhan tampil bagus. Keunggulan utama memang fisik yang prima dan kecepatan di atas rata-rata. “Naiggolan kalah untuk pertama kalinya dan saya ingin seperti itu. Walau kami berteman, saya suka permainan ini. Saya lelah karena saya berlari sepanjang laga sehingga menguras energi.” Lanjutkan. Kepercayaan Simone dibayar lunas. Aksi Lukaku berakhir tepuk tangan meriah ketika ditarik memberi debut derby wonderkid Crecco. Ah Crecco, suatu hari saya ingin membuat tulisan khusus untukmu.

Savic Adalah Masa Depan
Derby 2 Feb 17 ini adalah panggung Savic. Man of the match. Daya jelajahnya juara. Passingnya akurat. Sundulan dan tendangannya bisa diandalkan. Taji tempurnya memberi bukti bahwa julukan ‘The Soldier’ bukan omong kosong. Gol pembuka pesta itu tercipta karena kecerdasan Savic menempatkan diri disertai akurasi tembakan sulit yang jitu. Berapapun penawaran harga yang diajukan ke meja Lotito, please tolak. Savic adalah masa depan Lazio. Kalau perlu beri dia ban kapten, perpanjang kontrak jangka amat-sangat panjang dengan buy-clausal-out seharga Paul Pogba agar para peminat mikir dua kali untuk membawa kehebatan Savic keluar Olimpico. Kabar terbaru menyebutkan Max Allegri yang diminta menangani Arsenal mengajukan syarat andai deal HARUS memboyong Savic. Kan gendeng, mereka transaksi mereka mendongkel bintang kita. Untuk Savic, jawabku selalu sama, NOT FOR SALE.

Thomas Strakosha Jimat Agung
Dalam empat laga derby primavera yang dijalani Thomas di bawah mistar semua disikat. Kamis dini hari itu adalah debut si jangkung di kelas senior. Hasilnya Roma luluh lantak. Ada tiga penyelamatan yang pantas dipuja. Ketenangan, disiplin, dan bukti lima kemenangan beruntun harusnya jadi alasan kuat untuk menggeser Frederico Marchetti. Ada momen ketika skor masih 1-0, Thomas berbenturan membuatnya terkapar cidera, saya sempat was-was melihat Vargic pemanasan. Vargic adalah kesalahan sedari deal – koneksi Igli Tare yang seakan asal ambil, pemain lapis ketiga Kroasia di Piala Eropa 2016 yang bahkan belum pernah turun sama sekali musim ini, membayangkan ia mengawal jala Lazio di derby pastinya akan membuat jantung Laziale berpacu 5 kali lebih cepat. Ada yang masih ingat kiper ketiga bernama Luca Mondini? Tidak? Wajarlah, saya juga. Karirnya hilang secepat datang. Vargic bisa jadi senasib. Dini hari itu, untung Thomas bangkit dan Vargic kembali melepas sarung tangannya. Thomas adalah jimat agung yang pantas dimainkan terus untuk 10 tahun ke depan.

Kokoh Tak Tertandingi
Wallace memberi bukti bahwa dia siap menebus dosa. Kepercayaan yang diberikan Inzaghi tak disia-siakan. Sepanjang 2017 inilah permainan terbaik pertahanan kita. Padu, solid, kokoh bak semen tiga roda. De Vjir jelas nomor satu kalau ditanya keseimbangan permainan sektor belakang. Bastos memang jaminan, andai tak cidera awal musim bisa jadi kita saat bersaing di puncak dan membuat Juventus tak bisa konsentrasi nyaman di Champion. Hoedt memang butuh waktu lebih untuk adaptasi tapi ia punya keunggulan bodi tinggi besar, dan (eheem… tampan). Wallace bisa menyempurnakan sisi ini menjadi begitu enak ditonton sampai-sampai Salah dan Dzenko seolah penyerang Serie C. Padahal kita belum ngomongin Lulic yang punya DNA derby kelas wahid dan senior kakap Radu yang malam itu absen.

Dengan keunggulan dua gol ini satu tangan Lazio sudah menggenggam tiket final. Juve yang juga sudah separuh jalan rasanya akan jadi lawan lagi.

Terakhir, mau dibawa ke mana Serie A bila para wakilnya tak punya karakter pemenang? Tim yang dikirim aja seperti ini, jelex. Lebih deg degan lawan Genoah yang punya taji. Gmana mau bersaing? Ya hasilnya skor 7-1, 1-7, 6-1 dan seterusnya. Aib yang ditulis sejarah. Ini kalau tak dihentikan giliran P$G, Chelsea, Celtic akan membuat malu Serie A. Beri kami kesempatan untuk bangkit ke kancah liga para juara. Cukuplah untuk wakil yang terbukti gagal. Masa depan depan Italia, separuhnya ada di Lazio. Aset utama kesuksesan ada dua: kepercayaan dan orang/pemain yang bagus (the right People). Lazio sudah punya salah satunya, setengahnya lagi berikan kami trust untuk melaju. #AvantiLazio

Karawang, 050217 – Green Day – Church On Sunday
*late post karena kesibukan HR awal bulan – lalu kabar bagus muncul lagi, Dries Martens berpose anjing pipis di pojokan.

Lazio 2-0 Roma.
Gol: Savic 29′, Immobile 77′.
Susunan Pemain
Lazio: Strakosha; Bastos, De Vrij, Wallace; Basta, Parolo, Biglia, Milinkovic-Savic (Murgia 90), Lukaku (Crecco 79); Felipe Anderson (Keita 67); Immobile
Roma: Alisson; Manolas, Fazio, Rudiger; Peres (Totti 85), Paredes (Perotti 64), Strootman, Emerson; Salah (El Shaarawy 69), Nainggolan; Dzeko