Lasmi – Nusya Kuswantin

Buku dengan tema berat seperti ini saya suka. Awalnya kukira berat, eh ternyata semakin halaman menipis semakin turun performanya. Alasan kenapa saya memutuskan memasukkan ke rak adalah ini buku lokal dengan fragmen sejarah hitam Indonesia, masa peralihan masa Orde Lama ke Orde Baru. Masa di mana kebebasan masih sangat mahal. Ekspekatsiku makin membumbung ketika membaca profil Penulis yang sudah matang di dunia jurnalis. Makin membuncah saat tahu ibu Nusya Kuswantin bilang ‘Lasmi – yang merupakan akronim dari lama sekali mimpinya ini – akhirnya selesai ditulis tahun 2008.’ Dan berujar ‘Novelmu tidak bisa menulis dirinya sendiri’. Dan poin penting bahwa ‘menulis novel yang baik tentulah membutuhkan usia.’ Benar sekali, kita sependapat. Maka tak salah ketika libur Lebaran 2016 saya pilih novel ini dibaca yang pertama dari 9 buku yang saya beli. Dengan waktu luang berlimpah memang dalam semalam selesai lahap. Hasilnya? Buku ini sangat bagus di separo pertama, sempat down di tengah dan akhirnya tergelincir di eksekusi ending. Detailnya adalah bukti bahwa sang Penulis sudah makan asam garam di dunia kepenulisan. Mengenai seluk beluk kebiasaan suku Jawa buku ini harus dikasih jempol. Namun sayang, poin terpenting kisah ini sudah diberitahukan di prolog bahwa Lasmi mati. Titik. Tak ada perdebatan lagi. Jadi apa yang akan kita nikmati kalau kita sudah dikasih tahu ending? Ya jalan menuju ke sana. Ah sempat berharap akan ada twist, namun ternyata tidak. Apa yang dituturkan di pembuka adalah kenyataan tak terbantah.

Kisah dibagi dalam empat bagian. Tahun 1957: Perjumpaan, tahun 1963: Pergumulan, tahun 1965: Pemburuan dan tahun 1965: Perpisahan. Dari sudut pandang seorang laki-laki bernama Tikno, seorang guru yang terkesima pada pandangan pertama kepada gadis bernama Lasmiyati. Saat itu tanggal 29 Juli 1957, Lasmi jadi panitia pemilihan desa. Lasmi digambarkan sebagai gadis desa yang porporsional dengan tubuh ramping, tinggi badan 156-158 cm, kulit sawo matang, rambut digelung dan tatapan yang tampak tegas dan bersahaja. Berwajah bulat telur dengan rahang yang kuat. Dagu dan tulang pipi yang digores luwes. Hidungnya ibarat buah jambu air dibelah dua, sorot mata yang teduh. Tarikan bibir menawan, mengesankan pribadi yang empatik. Lagaknya ga kemayu, tindak-tanduknya juga tak tampak berusaha mriyayeni, tertawa biasa saja dengan bibir terkatub rapat seperti yang diajarkan kaum priyayi. Yang tampak janggal, walau dari keluarga yang berkecukupan ia tak mengenakan subang di kedua daun telinganya dan tak memakai aksesoris apapun. Waaa… luar biasa gadis impian tiap laki ini. Kenapa saya memulai ulasan dengan detail karakter, ya karena ini adalah kisah tentang Lasmi.

Proses bersatunya mereka berjalan dengan cepat. Prosesinya benar-benar ala Jawa. Ga sedetail buku Para Priyayi karya Umar Kayam. Namun tetap bervitamin. Karena saya terlahir sebagai Jawa maka sebagian besar yang disampaikan Nusya langsung paham. Bagian yang saya suka adalah cerita tentang Mak Paini yang update gosip dari kantor pegadaian. Seperti ketika ia berujar, “Wah Mbakyu, kata orang-orang minyak tanah menghilang…” atau, “Tadi ada berlian besar dilelang. Kasihan sekali pemiliknya…” dan seterusnnya dan seterusnya. Mungkin di kisah ini Mak Paini hanya tokoh figuran yang datang dan pergi sambil lalu, namun ia adalah saksi perjalanan sejarah dari masyarakat kebanyakan. Dan itu disampaikan dengan komikal. Sebuah penyeimbang tema berat yang coba disodorkan.

Kemudian ketika keluarga ini akhirnya memiliki anak pertama, semua cinta mengarah pada Bagong Dewandaru. Anak semata wayang. Bagong dari salah satu tokoh Pewayangan Punakawan selain Semar, Gareng dan Petruk. Dewa – kewaskitaan serta kebijakasanaan sedang ndaru – bintang jatuh yang dimaknai sebagai berkah. Anak dengan nama dua kata. Saatnya perubahan setelah orang tua mereka (dan kebanyakan orang kita zaman dulu) hanya memiliki nama satu kata. Kisah kasih orang tua kepada anak disampaikan dengan datar, tak banyak gejolak. Kisah baru benar-benar bergolak ketika situasi politik memanas. Karena Lasmi aktif di Pendidikan lalu merambah ke dunia politik maka ia terseret.

Politik memang dinamis, tak peduli di mana kamu berpijak saat ini karena esoknya bisa jadi pijakan kokoh itu rubuh. Saat itu tahun 1965, tahun penting perjalanan negeri ini. Karena Lasmi adalah ketua Gerwani di desa itu maka ia pun was-was. Gerwani dan Pemuda Rakyat dinyatakan sebagai organisasi terlarang pasca tragedi G30S-PKI. PKI (Partai Komunis Indonesia) dan organisasi lainnya yang menjadi underbouw disapurata. Seperti PGRI non-Vaksentral, SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), BTI, IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia), CGMI (Concentratie Gerakan Mahasiswa Indonesia). Seperti Masyumi dan PSI (Partai Sosialis Indonesia), semua disikat oleh Pemerintah.

Pelarian Lasmi beserta Tikno dan Gong dari satu dusun ke dusun yang lain. Sembari menanti kabar dari radio dan gosip perkembangannya. Detail pembasmian disampaikan dengan penuh gejolak. Kejam. Sadis. Dan tak berperikemanusiaan. Bagaimana bisa manusia membunuh manusia lain bisa dengan begitu mengerikannya, padahal manusia terlahir dengan kasih sayang dari orang tua dirawat dengan cinta. Yah, pertanyaan semua orang dari segala generasi. Bagaimana bisa manusia bagai binatang yang memakai naluri membunuh sebagai dasar. Kisah itu ditulis dengan ketar-ketir sampai kapan Lasmi bisa mengelak takdir. Sampai akhirnya di suatu hari ia menyerah. Setelah menghabiskan malam penuh gelora Lasmi memutuskan inilah saatnya tampil. Apalagi pasca tragedy keluarga paling memilukan bagi seorang ibu muda, ia seperti putus harap akan hari depan. Tragedi apa? Bijaknya tak kuceritakan karena ini salah satu keberanian Nusya mengeksekusi cerita. Keberanian yang bagus dengan tampilan konflik yang lebih berat. Sayangnya kunci utama bahwa Lasmi mati, itu sudah dibocorkan di awal jadi tak ada kejutan.

Saya nyaris memberi nilai sempurna. Namun semakin jauh melahap semakin datar. Sempat berujar, ‘Akhirnya ada buku lokal tema berat yang berkualitas’. Sayang separo kedua drop. Jadi harapan itupun ikut terjatuh. Memang usia itu penting dalam menyikapi kualitas, tapi jangan lupakan pengalaman juga jauh lebih penting. Ini adalah debut novel Nusya, wajar penggarapan akhir kedodoran. Patut ditunggu karya beliau berikutnya. Setidaknya Lasmi memberi nafas berbeda di dunia literasi kita. Lasmi memberi warna seru di tengah gempuran buku remaja ga jelas atau buku komedi atau buku cinta blab la bla yang kini membanjiri tooko. Ayo Lasmi semangatmu memberi harap bahwa buku karya anak bangsa juga ada yang patut diperhitungkan.

Lasmi | oleh Nusya Kuswantin | hak cipta Nusya Kuswantin, 2009 | Cetakan 1, November 2009 | Diterbitkan oleh Kakilangit Kencana 2009.0016 | Design sampul Circlestuff Design | Tata letak Siti Nurlela | Editor Syafruddin Azhar | viii + 232 hlm; 11.5 x 19 cm | ISBN 978-602-8556-19-4 | untuk sutiari | Skor: 3.5/5

Karawang, 260816 – Sherina Munaf – 1000 Topeng

*) spesial review untuk menyambut bulan September 2016

 

Ruang Laktasi

Kamis, 25 Agustus 2016 sore ketika bersiap pulang kerja ada email masuk dari bu Kiki, Head of HR kantor pusat. Email share mengenai aturan Pekerja perempuan yang berhak mendapat ruang laktasi. Karena tujuan utama blog ini adalah berbagi hal yang bermanfaat, walau mayoritas adalah ulasan buku, film dan bola namun kalau ada informasi yang bagus untuk di-posting akan saya lakukan. Dan setiap tulisan yang bukan ketikan saya pasti saya kasih kredit, kecuali sumber-nya ga jelas hanya akan saya sampaikan saya copas-nya dari mana.

Just info: Pekan ASI sedunia yang berlangsung di awal Agustus telah berlalu. Pekan ASI sedunia dapat mengingatkan kita semua bahwa tersedianya ruang laktasi di area kerja akan sangat membantu Pekerja perempuan terhadap kebutuhan laktasinya. Hal ini sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 83 Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan: “Pekerja/buruh perempuan  yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja”

Demikian untuk sekadar menjadi info kita semua. Terima kasih.

Karawang, 260816 – Sherina Munaf – Here To Stay

Bukan Kenangan

Oleh: Lazione Budy

Honey, please…

Aku menghela nafas, ragu. Kupandangi Rita di seberang meja tempat kita duduk berhadapan. Lalu kepalaku tertunduk dan berujar lirih, “Kau sekarang bukan siapa-siapaku, aku tak ingin bertemu denganmu, aku tak ingin berhubungan denganmu. Kau adalah orang asing bagiku”

“Ya aku paham, itu sudah jadi masa lalu kita. Tapi tolonglah kali ini. Kali ini saja. Kumohon. Aku butuh uang. Aku butuh pekerjaan. Setidaknya kebaikanmu ini akan selalu aku ingat. Selalu.”

“Selalu!” bentakku. Kuangkat kepalaku menatapnya tajam penuh emosi. “Selalu. Enak sekali kamu ngomong. Di mana kamu saat aku sedang terpuruk. Di mana kamu saat aku sedang terjatuh.” Nada bicaraku meninggi. “Kau dengan santai meninggalkanku penuh luka, lalu tiba-tiba datang meminta tolong seakan masa lalu kita tak ada apa-apanya! Yang kau lakukan padaku itu jahat”

“Maafkan aku Sigit. Maafkan aku honey…, lupakan masa lalu…”

“Aku tak kan pernah melupakan masa lalu. Kau pernah mengatakannya padaku. Terkutuklah masa itu, dan jangan sebut aku honey lagi!”

***

Selepas lulus kuliah. Kutapaki karir dari bawah. Sebagai lulusan hukum, tentu saja aku ingin berkarir di dunia hukum. Sebagian besar teman-temanku mendaftar di penyelia bantuan hukum, sebagian lagi ke dunia politik, beberapa melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, sebagian lagi mencari kerja di Perusahaan swasta sebagai Personalia. Ayahku ingin aku jadi pengacara agar bisa membantu orang-orang lemah di Pengadilan. Ibuku ingin aku jadi hakim suatu hari kelak, hakim yang bijak dalam memutuskan banyak perkara. Orang tua tentu saja menginginkan anaknya yang terbaik, namun takdir berkata lain. Nilai mata kuliahku yang kurang memuaskan membuatku sadar bahwa aku tak cukup hebat dalam beradu argumen di depan banyak orang. Maka aku putuskan mencari kerja di Perusahaan. Aku diterima bekerja sebagai Personalia Perusahaan otomotif di tanah rantau, kota Bekasi. Kehidupan mandiri jauh dari keluarga, tantangan baru.

Sebagai Personalia, tugas harianku salah satunya adalah merekrut karyawan. Tahapan dalam rekrut: seleksi kandidat, menghubunginya, tes tertulis, wawancara, tes kesehatan, lalu training. Memilih kandidat karyawan sungguh memiliki keseruan tersendiri. Sumber data bisa dari mana saja. Dari email yang setiap harinya mencapai ratusan. Dari surat lamaran yang dikirim lewat pos. Dari referensi karyawan internal yang biasanya menitipkan lamaran. Atau dari yayasan bantuan rekrut yang bekerja sama. Sungguh ga seimbang antara lowongan yang tersedia dengan pelamar yang masuk. Ibaratnya lowongan hanya satu yang mendaftar 1000. Namun ternyata tak semudah yang dibayangkan saat proses seleksi. 1000 itu banyak yang tak masuk kriteria. Harus jeli dalam memilih dan memilah. Harus akurat sesuai permintaan departemen terkait dari backgroud pendidikan, pengalaman, atau usia. Namun di sinilah keseruannya. Sebuah tantangan. Mengelolah sumber daya manusia tentu saja sangat berbeda dengan mengelola mesin. Dalam proses produksi misalkan di mesin kita input angka 1, maka output-nya pasti 1. Kalau manusia, jelas beragam. Kita bisa input 1, yang pasti keluarnya bervasiasi, bisa 1, 2, 3 atau bahkan 0,5. Seperti saat pelatihan. Daya tangkap setiap orang berbeda-beda. Ada yang langsung klik sehingga lebih mudah dalam menanamkan materi, ada yang butuh berkali-kali. Itulah seninya.

Setelah dua tahun bekerja di sana, aku sudah menjadi supervisor sehingga tahapan tes kini dilakukan staf dan saat wawancara barulah aku yang melakukannya. Aku sangat menikmati keseharian bekerja. Kesibukan dari pagi sampai sore itu membuatku bergairah untuk membunuh waktu. Memanggil karyawan bermasalah, meeting satu ke meeting yang lain, bernegosiasi gaji, sampai mengisi training karyawan.

Kesibukan yang menyita sisi asmara. Sampai kini aku masih sendiri. Beberapa karyawan perempuan yang jelas-jelas naksir, aku abaikan. Dengan posisiku aku bisa saja mempunyai kekasih yang mumpuni, namun tidak. Masa laluku dengannya belum bisa kuenyahkan dari kepala. Rita, kekasihku yang berhianat.

***

Honey, aku minta maaf. Hubungan kita tak bisa dilanjutkan.” Suatu siang yang terik di sudut kampus. Rita tiba-tiba meminta putus. Aku shock.

“Ada apa sebenarnya?”

“Ada banyak hal di dunia ini yang tak akan kita mengerti. Ada banyak masalah datang dan pergi. Ada jutaan kemungkinan dalam menyongsong detik berikutnya dalam hidup ini. Ada bermacam-macam pikiran muncul dalam menghadapi situasi. Kuharap pikiran yang bijaklah yang kau pilih untuk menentukan arah ke depannya setelah kita berpisah. Aku minta maaf. Aku sangat berterima kasih atas satu-dua tahun terakhir ini. Sungguh waktu yang sangat romantis, menyenangkan dan indah. Waktu yang tak kan pernah kulupakan. Kuharap kau pun tak kan pernah lupa. Sekali lagi maafkan aku.” Rita lalu berpaling dan melangkah pelan meninggalkanku yang masih tak mengerti.

“Rita…,” aku berteriak sambil berjalan menyusulnya. “Aku tak mengerti.”

Dia berbalik, menatapku lagi. “Banyak hal lebih baik tak dimengerti. Banyak fakta yang tak baik di luar sana. Aku hanya minta kau tetap berfikiran positif.”

“Tolong pastikan, fakta apakah itu.”

Rita menghela nafas pelan. Lalu memegang kedua tanganku, menggenggam jemariku erat. Menatapku haru, kita saling berpandangan. Mata cinta yang biasanya aku lihat dikala dia bahagia. Namun kata-kata berikutnya sungguh tajam menikam hatiku. “Bulan depan aku menikah. Dan itu bukan denganmu. Mengertilah, hidup adalah seni mengambil keputusan. Masa depanmu cerah terbentang. Lupakan aku.” Lalu dia-pun pergi dengan air mata terurai meninggalkanku dalam kehampaan.

***

Tiga tahun setelah keputusan pahit itu. Dalam keterpurukan, aku tetap bisa menyelesaikan kuliahku. Walau tertatih, S1 itu harus kuraih. Tak banyak kabar yang masuk ke telingaku setelah Rita menikah. Semakin sedikit informasi semakin baik. Ternyata bohong, siapa bilang waktu bisa menyembuhkan luka. Rita selalu menyelinap dalam kepala kendati aku memutuskan menjauh, pergi ke tanah rantau dan mencoba menyibukan diri. Hati-hatilah dengan pikranmu.

Hingga akhirnya di Senin yang cerah itu. Saat ada seleksi untuk posisi marketing staf, tim rekrutku sudah memilah menyisakan beberapa kandidat karyawan lagi. Ada lima kandidat yang diwawancarai, kita sedang butuh dua karyawan. Aku duduk dalam ruang wawancara bersama Toni tim rekrutku, kubuka berkas pelamar dan kutemukan namanya di sana. Satu dari lima orang itu ternyata membuat jantungku berdegub lebih keras. Rekanku lalu meminta izin memanggil kandidat untuk mulai wawancara. Aku terpaku, masih menatap berkas itu, membolak-baliknya. Rita Wahyuni, status cerai tanpa anak, menganggur 6 bulan yang lalu. Tempat tinggal Cikarang, sebuah rumah yang tak jauh dari tempatku berteduh. Aku menelan ludah.

Sebelum mulai aku bertanya kepada Toni. “Honey, hhmmm maksudku Ri.. Rit..Rita Wahyuni. Bagaimana nilai tes tertulisnya?” Aku bergetar menyebut nama itu lagi.

“Nilainya bagus pak. Di atas rata-rata. Wawancara tahap awal dengan kami juga Oke. Tinggal bapak yang memutuskan akankah bergabung dengan Perusahaan kita atau tidak. Orangnya cantik dan wawasannya tentang seluk beluk marketing luas” Toni terus menjelaskan betapa kandidat ini sangat berpeluang bergabung.

“Baiklah, terima kasih Toni. Persilakan dia masuk.”

“Baik pak.” Toni melangkah keluar ruangan meninggalkanku sendiri. Memanggil kekasih lamaku. Perempuan yang sudah mengusik pikiranku. Seseorang yang begitu kucinta di masa lalu.

Sekian tahun tak bertemu membuatku gugup. Pertama yang kurasakan ketika Rita melihatku adalah terkejut. Menutup mulutnya dengan sebelah tanganku. Menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Menundukkan kepala, menggelengkannya lagi. Lalu melihatku lebih jelas, lebih lama. “Oh honey…”

Bukan sebuah permulaan yang bagus tentu saja dalam wawancara pekerjaan. Aku mencoba tersenyum. Pahit. “Apakah kau akan berdiri terus di depan pintu? Ataukah kita bisa mulai wawancaranya. Silakan duduk, Rita Wahyuni.”

Kulihat dia mulai mencoba mengembangkan senyum, berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman. “Maafkan aku Toni…”

Tangan itu tak kusambut. Kulihat matanya dan berujar, “Silakan duduk. Mari kita mulai wawancara hari ini dengan pertanyaan sederhana. Well, Rita Wahyuni sang mantan apakah kamu bahagia?”

***

“Pak Anton, aku minta hasil final wawancara hari ini. Agar bisa aku follow up segera untuk tes kesehatan.”

“Oh baiklah. Tunggu sebentar.”

Kubuka berkas itu, lalu mulai mengisi form wawancara.

Susi Sulawati. Sikap bagus. Motivasi bagus. Inisiatif kurang. Pengetahuan cukup. Skill kurang. Failed.

Desi Mustika. Sikap bagus. Motivasi bagus. Inisiatif kurang. Pengetahuan bagus. Skill bagus. Accept.

Dina Meyka. Sikap kurang. Motivasi cukup. Inisiatif bagus. Pengetahuan cukup. Skill kurang. Failed.

Rita Wahyuni. Aku gelengkan kepala tak percaya, ini bukan kenangan. Lalu kutulis dengan tangan bergetar. Sikap cukup. Motivasi bagus. Inisiatif cukup. Pengetahuan cukup. Skill kurang. Kutulis dengan tinta merah menyala: Failed.

Rahmawati Suky….

Karawang, 250316 – BvS day

*)judul cerita ‘Bukan Kenangan’ diambil dari judul lagu yang dinyanyikan oleh Sherina Munaf di album Primadona

The Pearl – John Steinbeck

Inilah buku tanggal 10 Agustus 2016 lalu saya beli di hari spesial ulang tahun Hermione. Buku yang sekali duduk baca selesai. Karena karya seorang peraih Nobel Sastra 1962 maka tak salah harapan saya tinggi. Sayangnya ketinggian, tak bisa meyamai apalagi melampaui karya fenomenal ‘Of Mice and Men’. Walau eksekusi ending-nya sangat berani dan seperti Of Mice yang memberi akhir sedih namun tetap secara runut tak bisa. Buku dengan 142 halaman ini mempunyai selembar bagian fantastis ketika keputusan kepada siapa mutiara itu berpihak.

Kisahnya memang pilu sedari awal. Sebuah keluarga pelaut miskin di Meksiko yang tinggal di perkampungan nelayan di sebuah gubuk sederhana. Keluarga Kino yang turun-temurun hidup miskin dengan segala problematikanya. Istrinya yang sederhana Juana dan bayi mereka Coyotito. Jangankan perabot rumah, mereka tidur saja di alas tikar. Masak dengan tungku dan batu bara serta ranting kering sebagai korbannya. Keluarga ini di suatu pagi yang cerah memulai aktivitas. Sarapan kue jagung hangat yang dicelupkan ke saus ditemani minuman pulque (minuaman fermentasi yang mengandung alcohol khas Meksiko, dibuat dari beragam tanaman agave). Matahari bersinar hangat seakan memberi harapan baru.

Saat itu lagu tragedi mulai dilantunkan. Di kotak gantung tempat tidur sang bayi, ada gerakan binatang kecil. Seekor kalajengking dengan ekor beracun yang tepat lurus siap melecut setiap saat. Nafas Kino berhembus dari cuping hidungnya dan dia membuka mulut untuk menghentikannya. Raut terkejut dan lagu kejahatan berdesis. Dalam nafasnya Juana mengulang-ulang mantra kuno untuk berlindung dari kejahatan. Dan puncak doanya dia berkomat-kamit melafalkan Salam Maria dengan gigi gemeretak. Upaya cepat menyingkirkan binatang gagal. Kalajengking itu direnggutnya lalu menggosok-gosoknya hingga lekat di tangan kemudian dibanting ke tanah. Kino meninju dan menghancurkan sang binatang hingga hancur sampai tinggal serpihan. Coyotito menangis, jeritannya sampai terdengar oleh para tetangga.

Segera mereka bergegas ke kota untuk berobat. Sempat terbesit memanggil dokter, namun keluarga ini mana bisa membayar? Perkampungan gubuk yang tak akan ditengok orang penting di Pemerintahan. Seperti halnya suasana desa yang punya kebersamaan, para tetangga lalu bersama-sama berarak ke kota. Suatu pemandangan kontras dari rumah-rumah kumuh ke rumah-rumah berplester dan rapi. Arak-arakan ini melewati Gereja, dan para pengemis ikut dalam rombongan. Para pengemis adalah orang-orang yang tahu seluk beluk kota. Orang yang tahu para hamba yang meminta pertolongan dalam mimbar pengakuan. Sehingga ketika tahu ada keluarga miskin akan menemui dokter mereka sangsi. Sang dokter adalah orang tamak yang mengukur segala dengan uang. Apa yang dikhawatirkan para pengemis jadi nyata.

Saat arak-arakan ini sampai di depan pintu rumah sang dokter. Pelayannya menghadap. “Tidak adakah hal yang lebih baik yang dapat kulakukan selain mengobati ‘Indian Kecil’ yang tersengat serangga? Aku bukan dokter hewan.” Sang pelayan hanya mengiyakan. Lalu dokter sombong itu melanjutkan, “Memangnya dia punya uang? Tidak kan, mereka tak pernah punya uang. Aku, akulah satu-satunya di dunia ini yang didesak bekerja tanpa imbalan dan aku lelah dengan hal-hal seperti ini. Lihat dulu apakah ia punya uang!”

Perintah itu tentu saja dilaksanakan dengan gemetar. Kino yang berangkat ke kota hanya memakai pakaian lusuh lalu ‘diusir’, hatinya panas. Kino mendendam, pintu diketuk-ketuk penuh amarah. Untuk waktu yang lama berdiri di depan gerbang dengan Juana di sampingnya, perlahan ia pakai lagi topinya di kepala lalu tanpa basa-basi meninju pintu sampai buku jemarinya robek dan darah mengalir. Ini adalah bagian pertama. Sebuah pembuka yang mengharu, mengajak pembaca marah terhadap ketidakadilan. Marah akan tatanan dunia yang tak berpihak pada kaum papa.

Bagian kedua adalah sebuah harapan. Keluarga Kino dalam kesehariannya melaut dengan kano sederhana dari Nayarit, sebuah negara bagian di Meksiko yang sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Pasifik. Karena buku ini berjudul ‘mutiara’, apa yang ditemukan di laut oleh keluarga ini tentu saja mutiara. Namun ini adalah mutiara istimewa. Mutiara terbesar di dunia. Kilaunya, beratnya, membuat nelayan lain ikut terkagum. Dalam kegembiraan membuncah Kino berteriak kegirangan.

Bagian tiga adalah dilema. Berita temuan mutiara itu menyebar dengan sangat cepat seperti angin. Tetangga Kino ikut bahagia, ada orang miskin di daerah mereka tiba-tiba (bisa) kaya. Para pengemis ikut bahagia, tak ada anugerah yang lebih tinggi bagi pengemis selain mendapati saudaranya bahagia. Sang dokter yang mendengar itu lalu bergegas ke rumah Kino untuk ‘mengobati’. Laksana menjilat ludahnya sendiri. Sang Pendeta ikut datang untuk melihat mukjizat itu. Permintaan Kino sederhana saja, ingin diresmikan pernikahan secara agama di Gereja. Dan seterusnya dan seterusnya. Limpahan itu menjadi magnet semua orang.

“Kemujuran, kalian tahu, biasanya mengajak serta pasangannya, yaitu tragedi.” Di bagian keempat adalah kisah keberanian. Mutiara itu mengundag kawanan pencuri dan berandal. Malam itu Kino berjibaku sampai berdarah melawan orang yang berniat jahat. Paginya Kino, Yuana dan bayinya Coyotito segera bergegas ke kota untuk menjualnya. Sama seperti di bagian awal ketika mereka pergi ke dokter dengan arak-arakan, hari itu mereka berarakan ke pembeli mutiara. Ada rasa was-was orang miskin akan ditipu. Takut harganya dimanipulasi. Kekhawatiran itu sudah dijelaskan John sedari awal. Pada dasarnya pembeli mutiara – emas juga, adalah monopoli seseorang. Memang para pembeli tersebar dengan berbagai gaya, tawaran dan mulut lamis. Tapi semua itu hanya sandiwara. Mereka menawar dengan harga ‘hanya’ 1.000 peso. Jauh dari perkiraan yang diperkirakan oleh Kino yaitu minimal 50.000 peso. “Ini bukan permata, ini benda aneh.” Akting salah satu calon pembeli. Dengan gusar Kino mengambil lagi temuannya dan bergegas pulang. “Aku akan menaikkannya hingga 1.500 peso”, pancing yang lain. Kino tak peduli, ia pulang dengan kepala panas.

Bagian kelima dan keenam adalah pengambilan keputusan. Kino berniat ke ibukota untuk mendapat harga yang lebih pantas. Namun segalanya seakan menghalangi. Kanonya dirusak. Pantai dijaga para berandal, perkelahian itu mengakibatkan Kino terluka dan sang perampok tewas. Kewaspadaan ditingkatkan. Akhirnya diputuskan mereka berangkat di tengah malam. Dengan bekal apa adanya, dengan istri di samping bersama sang bayi. Mereka mencoba menantang takdir. Berhasilkah selamat dari hadangan para perampok? Berhasilkah Kino menjadi kaya dan memperbaiki nasib keluarganya?

Well, John Steinbeck terkenal akan keberanian memberi ending yang menyedihkan. Of Mice yang fenomenal sampai dilarang dibacakan untuk siswa sekolah di Amerika saking tragisnya. Jadi apa yang terjadi terhadap keluarga Kino bisa kalian tebak. Sedih, tak ada keadilan yang kaya makin tinggi yang miskin terus terseok. Keputusan di malam di dekat sumber air itu memang berkelas. Ditampilkan dengan sisi imajinasi yang beringas. Sepakat. Andai cerita yang kubuat mentok, mungkin saya akan memberi akhir yang sama. Namun kisah ini terlalu pendek. Kurang berkembang karena fokus terus terpusat kepada Kino.

Musik mutiara mengalun lirih bagaikan bisikan, untuk kemudian hilang memudar.

Mutiara | by John Steinbeck | copyright 1945 | judul asli The Pearl | Penerjemah Ary Kristanti | Editor Bahasa Salififa Zanbihan | Design sampul Bambang Hidayatullah | Tata letak Argo Tutuka | ISBN 978-602-1526-12-5 | Cetakan I, 2013 | Penerbit Liris | Skor: 3.5/5

Karawang, 220816 – Sherina Munaf – Pergilah Kau

Welcome Serie A, Good Luck Lazio

image

Welcome Serie A. Musim ini kita lebih optimis. Lebih percaya diri. Fokus hanya kompetensi lokal. Berikut nomor punggung SS Lazio 2016-2017:

1. STRAKOSHA THOMAS
2. HOEDT WESLEY THEODORUS
3. DE VRIJ STEFAN
4. GABARRON GIL PATRICIO “PATRIC”
6. LUKAKU MENAMA MOKELENGE JORDAN
ZACHARIE
7. KISHNA RICARDO DENNIE
8. BASTA DUSAN
9. DORDEVIC FILIP “DJORDJEVIC”
10. PEREIRA GOMES FELIPE ANDERSON “F.
ANDERSON”
11. MORRISON RAVEL RYAN “RAVEL”
13. FORTUNA DOS SANTOS WALLACE “WALLACE”
14. BALDE DIAO KEITA “KEITA BALDE”
16. PAROLO MARCO
17. IMMOBILE CIRO
19. LULIC SENAD
20. BIGLIA LUCAS RODRIGO “L. BIGLIA”
21. MILINKOVIC SAVIC SERGEJ “SERGEJ”
22. MARCHETTI FEDERICO
25. LOMBARDI CRISTIANO
26. RADU STEFAN DANIEL
27. MINALA JOSEPH MARIE
32. CATALDI DANILO
33. DOS SANTOS MAURICIO “MAURICIO”
34. PEREA VARGAS BRAYAN ANDRES
44. PRCE FRANJO
55. VARGIC IVAN
70. OIKONOMIDIS CHRISTOPHER JAMES
71. TOUNKARA MAMADOU
96. MURGIA ALESSANDRO
97. GERMONI LUCA
99. BERISHA ETRIT

Laga pertama hanya lawan Atlanta. Ah mudah lah.

Perkiraan formasi:
Atalanta : D. Bassi, G. Stendardo, A. Masiello, M. Caldara, A. Conti, R. Gagliardini, G. Migliaccio, R. Freuler, J. Kurtič, A. Petagna, M. Pinilla
Pelatih : G. Gasperini
Lazio : E. Berisha, D. Basta, J. Lukaku,
Mauricio, Patric, Felipe Anderson, D. Cataldi, C. Ikonomidis, M. Parolo, Lombardi, C. Immobile
Pelatih : S. Inzaghi

Kuis Lazio the Great dibuka. Tak ada yang berubah format. Skor, skorer, analisis min 3 kalimat. Skor 0-3 punya ku. Ditutup Minggu jam 15:00. Good luck Foccers!

LBP
0-3
Formasi ofensif Simone Inzaghi akan benar benar diuji setelah dalam beberapa pertandingan pra musim yang biasa. Cidera Balde Keita bisa jadi akan berkah Lombardi yang di pertandingan terakhir lawan primavera cetak hatrik. Rekrutan baru paling dinanti Immobile akan disokong pemain penuh talenta Ricardo Kishna. Tridente maut, target tiga gol terasa kecil.

Joko Gentong
Atalanta 2-0 lajio, pinilla
Main di kandang. Awal yang bagus. 3 poin bungkus.

Huang
Atalanta 1-2 Lazio, Milinkovic Savic
Analisa: Kepergian Antonio Candreva ke Inter patut disesali. Tanpa sang playmaker tim, Lazio bisa saja kehilangan kreatifitas di lini tengah. Belum lagi Klose yang pensiun dan Mbah Lord Konko yang juga dilepas, membuat tim ini seperti merestart kekuatannya sendiri. Beruntung, lawan kali ini cuma Mylanta, calon tim degradasi. Saya pikir, musim ini SS The Great Lazio akan lebih banyak mengandalkan keberuntungan ketimbang kekuatan di atas lapangan sejak setidaknya 10 tim lain memiliki kualitas yang juga pas-pasan.

JJ
Ata 1-2 lajio Immobile
Awal musim. Kualitas pemain baru harus terbukti. Lajio ternyata masih kesusahan.

Aditya
Atalanta vs Lazio Pinilla: 2-1. Lazio pongah. Lazio kalah. Lazio payah.

DC
Atalanta 1-1 Lazio Immobile
Match pertama. Seperti biasa masih mencari cari bentuk. Hasil imbang pas banget.

JK
atlanta 1-1 Lazio, Lulic
Saling bertahan. Susah buat goal. Tipikal permainan serie a umumnya, seri hasil kerja nyata 2 team.

Arif
Atalanta 0-1 Lazio Immobile. Lazio tentu ingin menang di awal musim. Atalanta sulit dikalahkan di kandang. Immobile akan menjalani debut.

Imunk
Atalanta 1-0 lazio, andrea petagna
Hati2 sama patagna. Jebolan primavera milan ini tinggi besar hlo. Barisan bek lazio kan suka kacrut kalo ada bola2 atas. Awas hlo yaaaa.

Rohmad
Atalanta 2 – 0 LAZIO
Putih vs biru langit.
Atalanta ingin mengembalikan masa keemasan. Menjadi pembunuh raksasa.
Lazio bukan raksasa. Lazio bakal di siksa.👍

Widy
Atalanta 3-1 Lazio , Anderson
Pekan 1 serie A dimulai. Lazio laga tandang. Atalanta yg menang meyakinkan.

Bung Tak mana ada kuis nih

Karawang, 210816

The Stars Shine Down – Sidney Sheldon #8

image

Bintang berkilau menerangi bumi. Dan menyaksikan kita. Menjalani hidup kita yang remeh. Dan menangis buat kita. – Monet Nodlehs
Buku ini pertama terbit tahun 1992. Di pembuka kita dijelaskan setting waktunya adalah Kamis, 10 September 1992. Hari ulang tahun sang tokoh utama. Kisahnya seperti template kisah Sheldon yang lain. Seorang wanita karir yang sukses nan tangguh. Menantang dunia, dengan segala keglamorannya. Kali ini Sheldon merambah ke dunia real estate. Dunia bisnis yang sangat menjanjikan dari era batu sampai zaman digital. Seperti yang lalu jua, ia menggelitik pembaca dengan bocoran ending. Bahwa di ulang tahun yang sepertinya berantakan karena ada sesuatu akan menghancurkan segala sendi kehidupan, Miss Lara Cameron mencoba tabah.
Dari nukilan ending di prolog itu kita bisa menganalisis dan memperkirakan. Pertama status Lara adalah lajang karena menggunakan imbuhan Miss di depan. Jadi sepanjang kisah kalau kalian berprediksi ia akan menikah dengan salah satu karakter kalian jelas salah. Bahkan ketika menikah sudah jadi titik terdekat pun, jangan pernah berpikir ia akan jadi Mrs. Kedua ancaman runtuh bisnis Cameron masih bisa diselamatkan, di halaman 17 Lara membatin ‘Aku sudah siap menghadapi mereka’, jelas ini adalah klu yang terlalu berani. Selalu ada celah untuk melawan. Dan yang ketiga Sheldon memainkan ironi. Tahun 1992 Lara merayakan ulang tahun dalam kehampaan, tahun 1991 ulang tahunnya sangat meriah. 40 tahun lalu segalanya dimulai. Kalau jeli, pola ini adalah pola klasik khas Sheldon dan keputusan apa yang terjadi pada karakter utama pastinya akan sama. Well, sayangnya tebakanku tepat.
Beberapa teman bialng ini buku yang sangat bagus. Saya tak terpengaruh. Ingat, The Sands Of Time yang saya bilang paling lemah-pun ada yang bilang itu buku istimewa. Ingat pula ketika ada yang bilang A Stranger In The Mirror adalah masterpiece namun ketika saya kelar baca ternyata biasa. Begitu pula ini, saya merasa kok seperti pengulangan kisah. Hanya diganti nama karakter, area bisnis, dan pertaruhan nasib yang disodorkan sangat familiar.
Setelah dua bab pembuka yang berbanding balik. Kita diajak melalangbuana ke masa kisah ini bermula. Di Glace Bay, Nova Scotia tahun 1952. James Cameron (mengingatkanku pada salah satu sutradara ternama) adalah orang yang gagal. Seorang Skotlandia yang migrasi ke Glace Bay. Seakan nasib buruk memang tercipta untuknya, maka kegemarannya adalah menyalahkan orang lain. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Di usia enam belas tahun ia cidera saat bekerja di pertambangan yang membuatnya berhenti. Namun ia berwajah tampan. Modal yang bisa meluluhkan wanita bernama Peggy Maxwell. Menikah dalam pertentangan orang tua perempuan. Ayah Peggy mencoba membantu menantunya dengan modal 50.000 Dollar untuk memulai bisnis real estate yang lima tahun lagi akan jadi dua kali lipat. Namun James tak sabar menunggu tahun berganti. Yah sial, ia malah menanamnya di bisnis minyak. Sehingga dalam dua bulan ia bangkrut. Lalu muncullah Sean MacAllister, seorang bankir yang mempunyai usaha kos. Ia sedang membutuhkan pengurus, menarik uang sewa hari Jumat dan menyetorkannya hari Sabtu. Dengan tumpangan hidup gratis walau bergaji kecil, keluarga kecil ini menyanggupi. Mau bagaimana lagi, kepepet. Awalnya berniat sementara, namun setelah mencoba beberapa usaha lain gagal ia menyerah akan hidup. “Kalau takdir tidak menghendaki, keberuntungan tidak akan terjadi.”
Malam di bulan September itulah Lara terlahir. Peggy melahirkan bayi kembar, sayang yang laki-laki tidak bisa diselamatkan. James seorang cuek dan terus mengeluhkan nasib. Setelah tiga minggu diurus oleh ibu susu ia meminta James menamai bayinya, nama Lara bahkan terlontar oleh pengurus tanpa didengar dengan benar oleh James. Kehidupan terus berjalan, Lara yang keseharian dengan para pekerja di kos tak punya teman masa kecil. Sampai usia enam tahun ia belum sekolah. Ada penghuni kos baru bernama Mungo McSween, ia peduli maka ia pun menyekolahkan Lara. Dari sinilah cahaya harapan mulai tampak. Ayahnya memang tak peduli, namun orang-orang sekitar sangat peduli. Lara tumbuh kembang tanpa kasih sayang orang tua. Terlunta dan sia-sia. Tak punya mainan, tak pernah merayakan ulang tahun. Sampai berusia lima belas tahun, ia yang haus pengetahuan belajar banyak hal dari berbagai penghuni kos yang berasal dari berbagai daerah.
Dalam dua lembar yang penuh pengetahuan tentang Skotlandia. Penghuni kos berbincang masalah Great Glen tempat kedudukan Loch Ness, Lochy, dan Linnhe. Lagu-lagu kampung halaman Annie Laurie, Comin’ Through the Rye, The Hills of Home, dan the Bonnie Banks O’Loch Lomond. Kemudian rok khas Skots kilt. Kilt melindungi tubuh pria dari udara dingin yang menggigit, tapi membiarkan kaki-kakinya bebas untuk dapat lari dengan cepat melintasi rumput liar dan lumut dan menyelamatkan diri dari kejaran musuh. Dan di malam hari kalau berada di udara bebas, kain yang lebar itu bisa berfungsi sebagai alas dan selimut.
Nama-nama Skots yang terdengar bagai puisi di telinga Lara, ada Breadalbane, Glenfinnan, Kilbride, Kilninver, Kilmichael. Nama ‘kil’ mengacu pada kepada ruang yang dipakai para rahib di abad pertengahan. Kalau ada nama desa yang diawali ‘inver’ atau ‘aber’ itu artinya desa itu ada di mulut sungai. Kalau dimulai dengan ‘strath’ desa itu ada di sebuah lembah. Kalau ‘bad’ berarti desa itu di daerah belukar. Kisah paling mendebarkan terjadi tahun 1792 sebuah invasi berdarah. Motto berubah ‘Mo thruaighe ort a thir, tha ‘n caoraich mhor a’ teached’ – wahai tanah tumpah darahku, biri-biri pujaan telah datang. Tragedi perebutan tanah kekuasaan itu membuat Lara remaja berjanji, “Suatu hari kelak aku akan memiliki tanah sendiri, dan tak seorang pun – tak seorang pun- akan bisa merenggutnya dariku.” Semangat bergelora yang menjadi pemicu utama cerita ini.
Titik balik nasib Lara adalah ketika James jatuh sakit di rumah bordir karena jantung. Harus berbaring lama di tempat tidur. Pekerjaan rutin menarik uang sewa dilakukan Lara dengan cekatan. Bahkan jauh lebih bagus sehingga sang bankir terkesan. Percobaan satu bulan berjalan lancar. Sampai akhirnya suatu pagi James meninggal dunia dan dimakamkan dalam sunyi, tak ada air mata. Berikutnya adalah perjuangan kerja keras menghadapi dunia.
Dari sini semuanya berjalan seperti kisah-kisah Sheldon lain. Berjuang dari bawah. Bermula dengan perkenalan dengan seorang pembisnis real estate Charles Cohn, ia belajar dari yang kecil. Apa itu OPM – Other People Money. Apa itu bunga bank, apa itu deadline. Percobaan pertama yang penuh pengorbanan itu sempat membuatku muak namun itulah fakta kehidupan yang keras. Sekelumit kalimat ini mungkin terbaca panas: Seluruh masa depannya. Seluruh hidupnya, tergantung pada kata-kata yang akan diucapkannya ini: “Saya akan tidur dengan Anda.”
Tak ada yang mudah dalam memulai. Namun Lara yang cepat belajar sehingga bisa langsung bangkit. Setelah proyek pertamanya sukses, bangunan pertama yang memberi uang berlimpah. Ia putar uang itu untuk modal proyek yang lebih besar.
Benar saja. Pertaruhan Lara selalu membuah hasil positif. Sukses. Dari satu proyek ke proyek lain. dari kota kecil Glace Bay merambah ke Chicago, Amerika Serikat. American dream. Seakan melawan nasib buruk ayahnya, semua yang dipegangnya berubah uang bak tangan Midas. Seakan James adalah lawan kata Lara. Takdir baik berpihak padanya. Saya tak akan bercerita bagaimana kisah ini menemui puncak. Template-nya sama dengan kisah Sheldon yang lain. Konflik yang ditawarkan juga ga jauh beda. Halangan memang selalu dibangun namun selalu bisa disingkirkan, sampai akhirnya ketika setting waktu mendekat di bulan September 1992 seperti yang disampaikan di prolog kita menghadapi tanya ‘akankah ini akan berakhir bahagia?’ Kurasa kalian bisa menebaknya dengan mudah. Tipikal Sidney.
Beberapa bagian de javu dengan Rage of Angels. Nasib Jennifer Parker dalam rantau dan melawan ketidakadilan mirip dengan Lara Cameron. Beberapa bagian mengingatkanku dengan Jill Castel di A Stranger in the Mirror. Kekuasan, kemasyuran, harta. Memang timing membaca sangat penting dalam menentukan hasil akhir. Seandainya buku ini saya baca 10 tahun lalu, pasti berhasil mempesonaku seperti The Sky is Falling. Padahal Langit Runtuh kalau disejajarkan dengan buku Sheldon yang lain ternyata kalah telak. Kilau Bintang hanya ‘apes’ aja saya baca dalam deret buku bintang yang lain. Apalagi setelahnya saya menikmati buku paling hebat Sheldon, buku paling tebal dan paling menakjubkan If Tomorrow Comes. Satu hal yang pasti, buku-buku Sidney Sheldon layak dipajang di rak, dikoleksi dan diwarsikan anak cucu. Selalu enak ketika dibaca ulang, selalu menarik sebagai referensi. Sidney adalah legenda kisah fiktif. Ia adalah seorang bintang yang kilaunya berhasil menerangi bumi.
‘Kalau adil, sekarang ini aku adalah Mrs. Philip Adler.’
Kilau Bintang Menerangi Bumi | By Sidney Sheldon | Diterjemahkan dari The Stars Shine Down | copyright 1992 by Sheldon Literary Trust | Alih bahasa Drs. Budijanto T. Pramono | GM 402 97.549 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua belas, Februari 2007 | 560 hlm; 18 cm | ISBN-10: 979-605-549-X | ISBN-13: 978-979-605-549-4 | Yang satu ini kupersembahkan buat Morton Janklow, manusia segala zaman | Skor: 4/5
#8/14 #SidneySheldon, ditulis di Sabtu pagi dini hari yang gerimis – Next review: If Tomorrow Comes
Karawang, 200816 – Papa Roach – Between Angels and Insects

Shiloh – Phyllis Reynolds Naylor

image

Luar biasa. Dengan ekpektasi ala kadarnya buku ini menjelma jadi sesuatu yang mengejutkan. Apa yang bisa diharapkan dari cerita kasih sayang antara majikan dan seekor peliharaan bernama anjing? Paling kisah kasih klise yang membuat dahi berkerut. Tak banyak cerita hewan peliharaan yang bisa mempesona pembaca. Hachicko dari Jepang bisa jadi judul pertama yang muncul di kepala. Namun ketika di suatu sore hari sesaat setelah belajar bahasa Inggris dan jelang ibadah Asar, Miss Devi yang berkenan meminjamkan buku ini dan menyodorkan pada saya, yang pertama terbesit di kepala adalah binatang peliharaanku dulu pas Sekolah Dasar (SD). Pernah saya buat catatan khusus tentang Brown, anjing kecil yang terlunta di blog ini dengan judul ‘Hewan Peliharaan’. Entah kenapa Miss Devi meminjamkan buku ini terpisah dari dua buku yang lain, di hari yang sama di mushola setelah kelas bubar. Di covernya ada semacam striker penghargaan ‘New Berry Medal’ yang berarti sang Penulis pernah meraih penghargaan, lalu sebuah endorsment dari Penulis kita Sapardi Djoko Damono yang bilang, ‘bahasanya tangkas dan kisahnya menegangkan’. Dengan deretan embel-embel itu kenapa harapan saya masih rendah? Yah, karena ini bukan fabel jadi fantasi-nya pasti minim. Dari ketiga buku yang saya pinjam, jelas saya menempatkannya di urutan terakhir. Bahkan saya hampir lupa baca, baru sadar pasca Lebaran. Prediksiku yang ngelantur bakalan membosankan langsung ditepis sejak kisah dibuka. Hanya saya baca semalam kelar!
Dengan sudut pandang orang pertama cerita ini digulirkan. Jadi suatu sore yang mendung. Marty, sang tokoh utama sedang bertamasya jalan kaki sepanjang komplek rumahnya. Ketika sampai di sekitar sungai ia melihat seekor anjing beagle, berumur sekitar satu atau dua tahun. Anjing dengan ban leher yang sudah tua. Dipanggilnya untuk mendekat, “Sini boy”. Namun bergeming. Ketika Marty mencoba mendekati anjing menjauh. Tampak ia habis dipukul atau mungkin ditendang. Anjing malang. Saat ia duduk, anjing ikut duduk. Oh mungkin anjing betina, dipanggilnya, “Sini girl”. Tetap tak mau. Bosan, Marty beranjak sambil bersiul, barulah sang anjing lari mendekat dengan semangat. Semacam tombol ajaib, anjing itu langsung nurut. Siulan semacam panggilan untuk beagle itu kurasa. Mereka akrab dalam sekejap. Ketika turun hujan, Marty beranjak pulang. Binatang itu ikut sehingga Ma menanyainya. “Anjing siapa itu? Dan dimana kau bertemu denganya?”
“Tak tahu, dari tadi mengikutiku.” Jawab Marty. “Di Shiloh (sebuah nama wilayah, semacam dusun), di seberang jembatan.” Sang anjing duduk memandang jendela, menatap Marty dengan ekor menibas. Ia menamainya Shiloh.
Ayah Marty adalah tukang pos sehingga kenal betul para tetangga dan tahu itu anjing Judd Travers yang gemar berburu dan beberapa waktu lalu membeli anjing sebagai teman berburu. Ibunya gemar memasak, setiap hari Minggu ketika keluarga ini berkumpul selalu membuat masakan spesial. Marty anak sulung dengan dua adik, Becky dan Dara Lynn. Keluarga sederhana ini mungkin miskin, namun terlihat bahagia saling menjaga dan mengasihi. Kebersamaan adalah priotitas untuk mengahadapi segala masalah. Sehingga ketika Shiloh dibawa pergi dengan jip untuk diserahkan kepada Judd Travers, semua ikut sedih melihat Marty tersedu. “Aku ingin menjadi dokter hewan.” Katanya, suatu hari Marty ingin menjadi orang yang berguna yang bisa membantu sesama.
Saat Shiloh akhirnya diserahkan. Judd berjuar, “Malam ini ia akan kubiarkan, tapi jika ia keluyuran lagi, aku akan memukulinya habis-habisan. Kujamin itu.” Sebuah ancaman yang membuat Marty semakin sedih. Anjing manis yang membuatnya jatuh hati kini dalam bahaya. Di kandang Judd peliharan tak terurus dengan baik. Bahkan ia menamai binatang-binatang itu seenaknya sendiri, ‘Dungu’, ‘Minggatsana’, ‘Enyah’, dan ‘Bedebah’.
Dalam perjalanan pulang Marty marah. Ayahnya menasehati, “Marty, kadang kau tak tahu kapan harus tutup mulut. Kau tak bisa begitu saja menyuruh orang lain menamai anjingnya seperti yang kau mau. Judd Travers berhak menamai anjingnya dengan nama apa saja yang dia mau atau untuk tidak menamainya. Dan kau, harus mencatat baik-baik di kepalamu bahwa anjingnya bukan anjingmu, dan mulailah memikirkan hal-hal lain.”
Namun Marty tak bisa. Pikirannya tercurah kepada Shiloh.  Dalam jip perjalanan pulang itu terjadi dialog yang terdengar sepele dan sambil lalu, namun percakapan biasa ini, “Saat berburu kita boleh menembak apa saja yang bergerak?” dan ayahnya menjawab, “Tentu saja tidak. Kau hanya boleh menembak binatang yang memang musimnya diburu.” Nantinya akan jadi sebuah kunci yang pas dalam eksekusi ending.
Sesampai di rumah Marty meminta punya hewan peliharaan. Namun karena kondisi keuangan mereka yang kurang bagus, dan neneknya butuh perawatan khusus, Ma melarang. Beberapa hari kemudian di pagi yang cerah ketika ayahnya sudah berangkat kerja, Dara Lynn dan Becky nonton kartun di tv, Ma ada di teras belakang, Marty yang sedang duduk di meja makan sepotong roti ia mendengar gongongan Shiloh. Ia lalu keluar rumah untuk menghampiri. Hari itu Marty tahu dua hal, pertama Judd sedang mengajak anjing-anjingnya berburu dan Shiloh kabur. Kedua, ia tak akan pernah mengembalikan Shiloh. Tidak untuk kali ini, tidak akan pernah.
Dipeluknya Shiloh, dengan cepat ia bertindak. Membawa sang anjing jauh dari pandangan orang-orang, ia ke arah bukit belakang rumah. “Shiloh, Judd Travers tak akan menendangmu lagi.” Di pohon pinus, Shiloh diikat. Dibuatkan kandang dan diberi makan secara rutin. Shiloh jadi rahasia Marty. Biasanya ia susah makan dan sering kali ditegur Ma bila ada makanan sisa, namun semenjak menyembunyikan anjing, piring Marty selalu bersih karena ia menyembunyikan makanan untuk santap Shiloh.
Awalnya segalanya berjalan sesuai rencana. Namun mau sampai kapan? Judd sudah memberi pengumuman anjingnya hilang dan bagi siapa yang melihatnya untuk segera dikembalikan. Dalam sebuah kesempatan ia bertemu Marty, namun apa yang disampaikan Marty adalah kebohongan tersamar. “Aku telah mencarinya di sepanjang jalan, tak ada anjing beagle.” Perseteruan dimulai.
Dari sinilah keseruan benar-benar terjadi. Orang pertama yang mengetahuinya adalah Ma. Sahabatnya David Howard yang awalnya tak tahu malah terseret. Ma meminta Marty mengembalikan Shiloh, Marty keberatan. Diberinya waktu seminggu. Dan segalanya berantakan ketika suatu malam, Shiloh diserang seekor anjing herder hingga terluka parah. Runyam. Waktu yang semakin sempit, ayahnya marah karena ternyata anjing Judd yang dicari-cari itu ada di tangan anaknya dan kini sekarat. Berhasilkah Shiloh selamat? Dari tangan Judd dan ancaman maut?
Well, diluarduga kisahnya dieksekusi dengan bagus. Sekalimat di cover dari Sapardi Joko Darmono tak bohong. Bahasanya luar biasa dan sangat enak diikuti karena mengalir mengintimidasi sehingga tak heran saya baca terpaku dalam semalam kelar. Alurnya memang maju terus, namun disajikan dengan renyah. Mungkin selain prediksiku yang salah kisah ini akan berakhir klise, perkiraanku apa yang terjadi berikutnya juga meleset. Selalu menyenangkan baca buku yang berhasil mengecoh kita, dengan tampilan segar dan ending masuk akal. Pengalaman Penulis yang sudah punya ratusan karya tak bohong. Pengalaman memang guru terbaik dalam hidup.
Yang saya sesalkan. Buku ini adalah buku pertama dari trilogi. Mampus! Sementara Shiloh ini akan saya kembalikan, bagaimana saya bisa melanjutkan baca buku dua dan tiga? Saya meyakini setahun depan saya tak akan bisa menemukan seri berikutnya. Rasanya mustahil menemukan buku terbitan mainstream macam ‘Kaifa for Teen’. Nama penerbitnya saja baru dengar, walau masih di bawah Mizan. Inilah apesnya membaca buku berseri tanpa memegang seri utuh.
Buku ini ternyata sudah diadaptasi ke film. Dengan sambutan positif. Shiloh adalah hewan yang benar-benar ada hidup di West Virginia dan jadi selebritis lokal. Dengan debut baca karya Phyllis Reynolds Naylor yang mempesona ini, bisa jadi ke depannya saya akan berburu buku-buku beliau yang lain.
Yang pasti Shiloh lebih bernasib mujur ketimbang Brown, anjing masa kecilku yang berakhir di lapo.
Shiloh: Persahabatan Sejati | by  Phyllis Reynolds Naylor | diterjemahkan dari Shiloh | Terbitan Aladdin Paperbacks, 1230 Avenue of the Americas, New York, 2000 | Penerjemah Ibnu Setiawan | copyright 2000 by  Phyllis Reynolds Naylor | cetakan I, Juli 2003 | Penerbit Kaifa | design sampul Yulia | ilustrator isi Uget | Foto-foto Trudy Madden | 176 hlm; 20 cm | ISBN 979-9452-66 | Untuk Frank dan Trudy Madden dan seekor anjing bernama Clover | Skor: 4/5
Karawang, 180816 – Sheila On 7 – Buat Aku Tersenyum