The Rest of Us Just Live Here

“Dunia ini tak menentu, Mikey. Waktunya singkat.” – Mel

Nama Patrick Ness sudah melekat di hatiku setelah menuntaskan novel bergambar “A Monster Calls” yang luar biasa. Ini berrati buku keduanya yang kubaca. Kubaca dalam satu hari 22.01.2022 selepas Subuh, kelar selepas Isya, dengan selingan baca tiga buku lain. Karawang hujan, betah mendekam. Yang Biasa-Biasa Saja bagus, walaupun ada beberapa tak kumengerti. Bagian pembuka tiap bab, ada satu-dua paragraf yang ceritanya antah, dengan narasi semacam acak tentang Finn, Para Abadi, azimat, Satchel, sampai kehebohan anak-anak indie. Di akhir buku dijelaskan tautannya, tapi tetap saja tampak rumit. Ada vampire, dewa, hingga manusia macan.

Buku dibuka dengan kutipan ini: “Kupikir aku bisa mengorganisir kebebasan. Betapa Skandinavia-nya aku.”Bjork

Apa yang terjadi ketika kau menua? Nah, ini tentang masa coming of age yang rentan pencarian jati diri. Kisahnya mengambil sudut pandang orang pertama, Michael Mitchell yang jatuh hati sama teman sekelasnya Henna Silvennoinen. Wanita berkulit keling yang baru putus sama pacarnya Tony. Mereka kini di masa ujung sekolah, sedang ujian kelulusan, dan menyusun rencana mau ke mana setelah lulus? Dengan setting London di era masa kini, kita dapat memahami betul, usia remaja yang galau hari-hari tak menentu di masa depan. Apa masa depan akan cukup baik baginya untuk bahagia dan terlindungi?

Mikey memiliki kakak Melinda (dipanggil Mel) yang juga satu angkatan sekolah, lebih tua tapi sekolah bareng. Pacarnya dokter Panggil Aku Steve, sering nimbrung. Adik mereka yang imut berusia 10 tahun, Meredith seorang fans berat band Bolts of Fire, band kesukaan remaja putri, yah mungkin bagi kita tampak alay, tapi setiap orang pernah mengalami masa alay ‘kan? Hehe, apa kabar Backstreet Boys, Westlife, NSYNC? Lagi demen bahasa Jerman, makanya kursus dan sering mempraktekkan sama teman-teman Mike. Ia kesal kalau dipanggil ‘Merde Breath’, terutama sama Jared. Ayah mereka Ed alkoholik akut, hingga akhirnya menyerah untuk masuk rehabilitasi. Ibu mereka Alice, adalah politikus yang sedang di puncak karier, sampai akhirnya mencalonkan diri untuk menjadi orang nomor satu di kota itu setelah ‘seterunya’ tumbang lebih awal. “Itu kan politik. Kotor dan menjijikkan dan mencemari semua yang disentuhnya.”

Henna tampak luar biasa, ia adalah karakter favorit di sini. Rencana akan ke Afrika Tengah selepas lulus, melakukan kewajiban misionari. Teman-temannya coba mencegah, tapi bisa apa? Keputusan break dengan Tony juga dijelaskan dengan emosional, bukan karena ada penghianat, bukan pula karena tak lagi cinta, sang pacar ingin selepas sekolah langsung menikah, permintaan yang sulit diwujudkan, dan di sinilah Mike masuk. Nama belakangnya keren, Silvennoinen, itu nama Finlandia.

Dalam perjalanan malam, mereka berdua kecelakaan. Seekor rusa melintas dan tertabrak. Ternyata tak hanya satu, tapi gerombolan rusa. Mengakibatkan tangan Hena patah hingga harus pakai gip di sisa semeseter, wajah Mikey memar, meninggalkan luka permenan goresan. “Aku mengaku pada Henna aku mencintainya, persis sebelum kami menabrak rusa.”

Anak baru, pindahan dari Negara bagian lain, Nathan jadi sering dicurigai. Dia muncul dan anak-anak indie mulai terbunuh. Sebab tampak aneh, pindah di kelas tiga SMU, di masa tinggal ujian akhir! Apakah ia dibalik bencana? Ataukah juga korban? “Apa itu akhir dunia?” kata Nathan, dan ditimpali Jared, “Aku ragu akhir dunia akan dimulai dari kota kita, meskipun mungkin bisa saja, sebenarnya.”

Nah, satu lagi tokoh utama yang menyita perhatian. Sahabat kental, terbaik Jared yang gay. Ia tumbuh dengan unik. Di tengah-tengah keajaiban, seolah kontradiksi dengan segala isi buku ini yang katanya biasa-biasa saja. Ia ternyata memiliki kekuatan istimewa, bisa menyembuhkan luka, punya ‘pegangan’. Ia sering ada di samping sobatnya saat dibutuhkan, ia bukan manusia, ia adalah makhluk super! “Tidak semua orang harus menjadi sosok pilihan. Tidak semua orang harus menjadi sosok yang menyelamatkan dunia…”

Lantas, pusaran kisah memenuhi banyak tanya. Seperti di tiap awal bab yang abu-abu, ada vampire yang mengintai. Kematian demi kematian anak-anak indie, pembunuhan atau bunuh diri? Hingga serangan teror di konser musik amal Bolts untuk penderita kanker. Konser yang sangat dinanti Meredith itu gagal total, menodai banyak hal, termasuk nama baik kota kecil mereka. Namun, serangan teror yang beralibi gas pipa itu bukan yang terakhir, di akhir kisah malah lebih besar ledakannya, lebih menyeramkan. Kengerian terbesit bahwa ini akan jadi kesempatan emas untuk meledakkan banyak orang lagi!

Tema remaja sejatinya tetap menarik kalau dituturkan dengan bagus. Saya tak anti sama berbagai genre. Tak melulu cinta dan kegalauannya. Itu bisa jadi sisipan saja, jangan jadi tema utama. Seperti buku ini, cinta wajar di usia belasan, tapi hanya jadi tunggangan. Orang dewasa, bagaimana mereka hidup di dunia? Atau mungkin begitulah cara mereka hidup di dunia. Makanya, saya tetap menikmati buku-buku remaja, termasuk fantasi. Kalau ditulis dengan baik, tak kalah dahsyat sama sastra.

Michael digambarkan murid cerdas, ujian dianggap biasa saja. Dia sudah belajar keras selama ini, jadi ujian kelulusan tinggal jalani. Bisa melewati masa sekolah dengan selamat saja sudah syukur. Jangan lupakan pula, tradisi prom, dansa jelang kelulusan di dunia Barat yang sakral bagi kebanyakn orang. Di sini jadi momen menyenangkan juga, akan dikenang di kemudian hari. “Kuliah merupakan semacam formalitas – aku tahu aku takkan gagal – tapi senang juga melihat formalitas itu terpampang nyata. Kehidupan baru, aku datang, kurasa.”

Di negeri Barat yang maju, kecelakaan mobil bagi remaja bisa tetap tenang. Salut sama bagian, mobil dibiarkan saja tergeletak di pinggir jalan. Yang utama adalah korban diselamatkan. Setelah beberapa hari, Mikey balik lagi ke sana, HPnya yang tertinggal masih ada! Bayangkan, kalau di sini, bisa-bisa kecelakaan, barang-barang korban jadi rebutan warga. Karena pernah kejadian, temannya temanku, kecelakaan kereta api, tas berisi dompet dan HP raib diambil saksi di TKP!

Ada satu bab penuh, isinya dialog Mike dengan seorang psikolog Dr. Luther. Full kalimat langsung. Seolah tak penting, tapi tampak eksotik. Bayangkan, satu bab penuh isinya orang ngrobrol! Sederhana, menarik.

Selain bagian-bagian awal bab yang membingungkan, ada sikap Henna yang yang juga tak langsung klik. “Gara-gara perasaan perut Henna padanya.” Perasaan perut itu apa ya? Hingga ujung buku tak kutemukan jawab, lebih bingung daripada sebelumnya. Atau bagian saat debat akan sebuah kegagalan, bagi kalian dan orang lain beda-beda persepsi. “Pasien kanker tak menyebut kemoterapi adalah kegagalan. Pengidap diabetes tak menyebut insulin adalah kegagalan.”

Di bagian catatan pengarang di akhir buku, kalian akan makin jatuh hati sama Patrick Ness. Dua nama penting di sini dipinjam dari dua orang luar biasa, sungguh motivasi tribute sempurna. Salute!

The Rest of Us Just Live Here | by Patrick Ness | Copyright 2015 | “Hunter” written by Bjork © 1997 | GM 617164001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Angelic Zaizai | Editor Barokah Ruziati | Desain sampul Robby Garsia | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-03-3546-9 | 288 hlm: 20 cm | Skor: 4/5

Untuk saudariku yang jempolan, Melissa Anne Brwon, yang baik hati sekaligus kocak, kombinasi sifat terbaik

Karawang, 240122 – Linkin Park – P5hng Me Awy

Thx to Ade Buku, Bds

Nama Saya Tawwe Kabota

Nama Saya Tawwe Kabota

“Aku suka kakak Bulu sama seperti aku menyukai laut.”

Apa yang akan kunikmati dari kenangan masa lalu itu? Cerita sungguh sinetron. Hanya setting tempatnya dipindahkan ke Indonesia Timur. Dramanya juga standar, bagaimana cinta yang terluka lantas melampiaskan ke orang lain yang lantas memiliki anak, adat melarang zina, masa berlari di jauh hari kemudian, di hari tua ia bertemu dengan salah satu tokoh yang ia kenal tanpa sengaja. Nah, tipikal sinetron ‘kan? Judulnya bisa jadi, “Rekan Kerjaku dari Amerika Ternyata adalah ****ku Sendiri.” Atau bisa lebih sinetron bisa juga, “Dunia Bulu.

Kisahnya tentang Bulu yang sejatinya sudah dijodohkan dengan Ghole, perempuan satu suku. Mereka berdua dari keluarga yang sangat memelihara teguh adat Merapu turun temurun sejak moyang. “Kadang, cintaku pada Ghole sekuat benciku padanya.” Namun waktu telah menempa keduanya untuk menemui kerasnya kehidupan. Kuliah di Bali, masa muda yang menggairahkan itu kebablasan. Bulu malah menghamili wanita asing bernama Kalli. Wanita merdeka yang tampak cerdas dan membuncah. Merokok, menjunjung feminism, merdeka. Sesuai adat di sana, di daerah Merapu, Nusa Tenggara Timur. Maka dilakukan upacara buang sial. Upacara pelepas aib atau biasa disebut Tawwe Kabota.

Hiruk pikuk kemudaan akan bermuara pada kesendirian dan kekerontangan. Lantas apakah Bulu menyesal? Dalam sebuah kejadian aneh, justru menyaksi Ghole mencium sahabatnya dari luar negeri, mereka lesbi! Ya ampun, tema buku malah absurd. Keputusan-keputusan tak kalah aneh berikutnya terjadi, dan memang, dunia orang dewasa itu keras sekaligus membingungkan.

Lantas di masa kini, Bulu sudah jadi arkeolog, laki-laki kampung sarjana arkeolog tua lebih tepatnya, lajang sebab ada ‘musibah’ yang menimpa Kalli. Ia mendapat tawaran pekerjaan dari sebuah intitusi luar negeri untuk melakukan penelitian di Kupang. Dan pekerja-pekerja lain dikirim untuk jadi admin, staf, dan asistennya. Kejutan disampaikan, tapi sungguh terasa sinetron, sebab hal-hal dramatis sejenis itu hanya ada di TV dengan zoom dan skoring jreng-jreng-jreng membahana. Apakah kejutannya?

Beberapa nasehat juga disampaikan. Yang ini pernah baca: “Tiga hal yang tidak akan kembali, kata-kata yang telah diucapkan, waktu yang sudah pergi, dan kesempatan yang terbuang percuma.” Hanya dimodifikasi sahaja, salah satunya adalah “anak panah yang melesat dari busurnya” untuk kata-kata kesempatan.

Lalu hikayat Sysyphus juga disinggung, “Karena tak ada lagi siksaan yang lebih parah daripada mengerjakan suatu pekerjaan sia-sia.” Kita tahu cerita makhluk pendorong batu ke bukit, yang lantas menggelinding lagi ke bawah. Dilakukan lagi mendorong batu, menggelinding lagi, dst. Capek, tapi ini kewajiban Bro. Sedih ya? Apakah kehidupan juga seperti itu?

Atau nasehat tentang kesempatan. “Kehidupan telah memberiku kesempatan namun kebodohan telah merampok daging dan pikiranku sehingga memberiku impian yang terus saja merontok.” Tentu saja semua orang memiliki waktu selama hidup, hanya beda-beda persepsi, penggunaan, durasinya. Masa muda memang masa yang luar biasa, maka masa itulah kesempatan emas sejatinya.

Atau tentang mengenal sifat manusia? “Jika ingin tahu siapa orang itu, seperti apa budayanya, kunci utamanya adalah lihatlah apa yang dimakannya.” Ya, bisa jadi. Tapi makanan hanya salah satu indikator. Kebiasaan yang lebih luas bisa menjadi patokan. Kalau dalam ilmu sosiologi ada dua hal pembentuk karakter seseorang: kebiasaan dan tingkah laku.

Bukunya tipis sekali, dicetak mungil seperti buku saku, dan jumlah halamannya hanya seratusan. Kubaca sekali duduk pada 11.12.21 saat jadi sopir keluarga ke Mal Resinda Park, Karawang. Kutuntaskan di parkir lantai basemen. Buku pertama Mezra E. Pellondou yang kubaca, ini adalah buku keduanya setelah Loge. Terlihat beliau memiliki semangat menggebu untuk menulis cerita, patut dihargai dan dinanti. Walau buku ini terbaca biasa saja, semangat dan misinya luar biasa. Baik, kita lihat saja apakah blog ini akan mengulas buku karya beliau lainnya suatu hari nanti.

Nama Saya Tawwe Kabota | by Mezra E. Pellondou | Cetakan I, Mei 2008 | ISBN 978-979-168494-4 | Penyunting Raudal Tanjung Banua | Desain isi Adi Samara | Desain sampul Nur Wahid Idris | Gambar cover Katrin Bandel | Penerbit Frame Publishing | Skor: 3/5

Untuk tiga lelakiku: Adi, Mujizat, dan Amsal

Karawang, 200122 – Eagles – Hotel California

Thx to Jual Buku Sastra, Yogyakarta

The Man with the Answers: Tampak Dingin, Tampak Hening

“Sepertinya dunia sudah terlalu kompleks untuk jawaban sederhana.”

Tampak dingin. Tampak hening. Film perjalanan, dengan kecamuk masalah dalam kepala, seorang pria melakukan perjalanan melintasi laut dan Negara untuk menemui ibunya, yang di matanya sungguh bermasalah seakan ingin ia ledakkan. Ia mantan atlit renang hebat yang menekuri kebimbangan. Berkenalan dengan pria asing, agak nakal tapi nyatanya tak senakal itu, saling melengkapi, menghargai, dan dari keisengan jadi membuncah. Sepanjang perjalanan, yang satu melontarkan pertanyaan, yang lainnya menjawab. Ya, dalam perjalanan inilah orang belajar sabar. Inilah film Yunani yang mewakili Oscar tahun ini, tak masuk daftar pendek.

Kisahnya tentang Victor (Vasilis Magouliotis) di Yunani, yang tinggal sama neneknya yang sakit menua. Dengan sepedanya ia menjenguk, mengirim bunga, dan tak lama kemudian neneknya meninggal. Ia kini sah sendirian, maka gegas hubungi ibunya yang kini sudah menikah lagi dan tinggal di Jerman. Ibunya tak bakal sempat datang di pemakaman, dengan seremoni sederhana, ia mengantar neneknya ke peristirahatan terakhir.

Victor lantas melakukan perjalanan, jauh ke Jerman menemui ibunya, menemui adik tirinya yang akan merayakan ulang tahun. Dengan uang pas-pasan, menjual medali renang yang ia punya, mobil tuanya dibuka selubungnya, kembali diaktifkan, mulailah ia berpetualang. Mobilnya tua dan polos. Tak ada stiker bumber. Tak ada apa pun yang menunjukkan afiliasi politik, nurani sosial, atau tim olahraga favoritnya. Tak ada apa pun kecuali kesederhanaan.

Sendiri, bermobil lintas Negara, naik kapal feri. Di atas lautan itulah ia berkenalan dengan pemuda, tukang curi. Mengambil roti di kantin kapal, menawarinya separuh, ditolak. Victor mendengus dan menggelengkan kepala perlahan-lahan. “aku mengambilnya, karena harganya yang kemahalan.”

Pasif, berbohong ia tak berkendara, males kenalan sama pencuri. Namun memang keadaan memaksa mereka kembali bertemu dan pada akhirnya menjadi teman jalan. Mathias (Anton Weil) adalah seorang petualang, ia juga mau ke Jerman. Dengan melihat orang tersenyum, sebenarnya kita tahu betapa sifat orang itu, dan apabila tersenyum tulus seseorang yang baru pertama kali berkenalan dengan kita enak kedengarannya, bolehlah kita percaya, bahwa ia seorang yang baik. Sudah bisa ku tebak, Mathias akan jadi teman perjalanan yang hebat.

Ia bisa bahasa Italia, menyarankan lewat selatan agar bisa menikmati pemandangan menakjubkan, mandi di danau, mampir ke pesta perkawinan. Banyak adegan lucu akan kekakuan tindakan, pesan makan, yang mengenyangkan tapi murah. Ada polisi lalu lintas, oh tidak ada SIM. Dansa-dansa bernuansa keceriaan. Ada saat-saat mereka berbagi rokok, bukan karena ingin berhemat, tapi tersebab metafora kebersamaan. Rokok itu terasa rapuh di antara jemarinya. Hingga pada keputusan penting, apakah mereka akan terus bersama atau berpisah di jalan?

Penumpang menanyakan acak hal-hal yang pernah dilakukan Sopir di masa lalu, dan dijawab sambil lalu. Dalam perjalanan jauh ini dua orang asing saling melengkapi, terjadi tautan kuat, walau perbedaan pandangan beberapa kali muncul. Lantas, saat kita sampai di garis finish, apakah kepuasan yang didapat? Ataukah kemuakan akan kerinduan masa lalu yang takkan terulang?

Karena ini film perjalanan, kita disuguhi pemandangan indah di setiap sudutnya. Victor yang penyendiri mendapati hal-hal baru, pengalaman baru, ia seolah mendapat seseorang dengan titik temu yang klop. Dengan ditanya, ia dipaksa menjawab, dengan menjawab maka terjadilah komunikasi, secara otomatis lempar tangkap pembicaraan ini menjadi alur, Victor mencurahkan kemasygulannya. Dalam perkataannya tersembunyi ketetapan.

Drama perjalanan memang selalu menarik. Kita tak tahu ada apa di ujung perjalanan itu, apalagi walaupun ia seorang tenang, sejati memendam amarah. Ini bisa jadi bahan renungan. Riak-riak yang muncul juga terlihat realitis, dan dalam pendewasaan ia berhasil menyingkirkannya. Entah di tahun berapa setting film, ia masih mengandalkan peta kertas lebar yang dibentangkan, bukan Google map yang lebih praktis. Kejadian di hotel itu ditampilkan refleks, tak niatan menghadirkan seksualitas, tergambar mereka normal, tapi saat akhirnya terjadi kita seolah memakluminya, sebab ini sudah iradat Tuhan.

Tujuan kita semua adalah kemerdekaan. Maka akhirnya pertemuan terjadi lantas muncul rasa untuk memaafkan, sekaligus dimaafkan, di situasi seperti itulah kita semua sejatinya telah merdeka.

The Man with the Answers | Year 2021 | Greece | Directed by Stelios Kammitsis | Screenplay Stelios Kammitsis | Cast Vasilis Magou;iotis, Anton Weil, Pier Andrea Bosna | Skor: 4/5

Karawang, 190122 – Stan Getz – Tenderly

Penjual Bunga Bersyal Merah

“Bunga yang kucari benar-benar bunga yang menggambarkan kesedihan. Bunga yang menggenapkan luka.”

Apa yang bisa saya kupas? Ceritanya abu-abu, beberapa tampak tak wajar. Tak serta merta langsung terpahami sebab disampaikan dengan diksi tak umum. Butuh beberapa detik untuk klik tiap beberapa paragraf, walaupun tak rumit-rumit amat, tapi tetap saja intinya tak linier. Beberapa memang berlanjut, beberapa cerita sudah lepas landas. Tak perlu kerut kening memikirkan inti cerita, mengalir sahaja sebab seperti hidup ini, tak perlu pusing-pusing mau kemana, yang utama dan pertama adalah saat ini, bukan berlebih mengkhawatirkan masa depan apalagi masa lalu yang sudah dilindas kenyataan. Bahagia itu kapan? Sekarang! Sebab orang yang tidak bahagia akan padam perlahan-lahan.

Jangankan sebulan dua bulan, tak sampai seminggu inti buku ini sudah terlupakan. Kalau ditanya kisahnya tentang apa, sederhananya mengacu pada judul, tentu akan teringat adegan jual beli bunga. “Tuhan yang melakukannya agar aku sampai pada takdirku terlahir sebagai penjual bunga kesedihan.”

Cerita sejenis ini akan hanya masuk memori sesaat, renamen. Tancapan pakunya tak kokoh. Entah, mungkin plotnya yang biasa, atau dasar pijaknya tak kuat. Walaupun begitu, ada dua yang lumayan bagus. Pertemuan di mimpi yang tak bisa kita kendalikan dan kita bisa apa saat mimpi tak bagus, kita terpaksa menyapa dan melanjutkannya ‘kan? Kita tak sadar ini adalah mimpi, ini adalah dunia antah surantah, apa saja bisa terjadi, “Hanya saja, karena janji itu terjadi di dalam mimpi, maka aku tidak bisa menolaknya.”

Dan kesempatan kedua di cerita akhir. Bukan sebuah penyesalan saat kita memutuskan sesuatu, hidup pilihan, saat sudah memilih lubang cacing ini, maka kamu hanya bisa maju terus, entah apa yang kamu temui di ujung lubang pilihan itu, memang itulah jalan takdir. Sudah digariskan, kita hanya jalani, merangkak menyusuri cahaya dalam lubang. Lantas saat kesempatan kedua itu ada, bahwa kamu menemukan lubang cacing lain yang memberi semacam perulangan nasib yang tak dipilih, tanpa perlu membengkokkan luka, atau meneriaki dinding lupa penuh amarah, akankah diambil? Hanya dijawab, hatinya megar. “Aku tahu kau perempuan yang hidup dengan mimpi-mimpi besar.”

Banyak metafora, pengandaian dengan kupu-kupu sebagai binatang buruan. Bunga sebagai cinta, dan juga kesedihan, atau patung, sebuah benda seni yang dicipta dengan ketelitian rumit. Menyenangkan sejatinya permainan psikologis, pengandaian sebagai tunggangan. Rona-rona dunia bawah sadar, gilda-gilda puitik, atau lontaran tanya sebenarnya penulis bermaksud apa? Atau mau ke arah mana, sedikit banyak libatkan pembaca, ajaklah emosi bersama dengan tokohnya. Namun balik lagi, yang utama adalah cerita. Lelaki Harimau bisa begitu hebat, sebab twist-nya disimpan di ujung. Menuju ke sana kita harus sabar, perjalanan itu tetap menyenangkan. Cerita, utama.

Di halaman 161, ada dua paragraf penuh dengan pengulangan nama Cesel. Paragraf pendek itu terdapat 11 kata itu. Bacanya sampai kesel. Ada satu lembar cetak dobel. Ga papa sih kalau dobel, yang masalah cetak kurang. Di Toko Kue Yosilia, halaman 195-196 terdapat dua.

Nama-nama tokohnya modern atau sudah kena hok racun abad ini, tak ada Joko, Budi, Agus, atau segala nama berawalan Su- yang berarti baik. Inilah yang membuat cerita ini malah ngawang-awang. Sudah ceritanya dituturkan dengan melingkar, nama-nama karakter juga tak lazim. Simak saja: Maganda, Bibo, Martina, Dora, Lili, Landra, Kae, Odera, Masya, Tanalia, Cesel, Shana, Nomimi, Niceli, Norm, Nenek Ce, Yosilia, Loneli, Marinda, Tara, Jiro, Vivin, Derapu, Lucy, Anan, si kembar Nadhira Nadhiva. Lihat, tak satupun ndeso. Kalau saya diberi kesempatan menulis, hal sederhana seperti ini takkan kulakukan. Tak membumi, tak baik, terlalu ke-Barat-an. Kalau setting cerita misal di Middle Earth, dunia antah rekaan, kita maklum ada nama Bilbo atau Frodo, masalahnya cerita ini di Indonesia, dimana Mas Agus?

Sepintas lalu, saya menemukan pos di media sosial sebuah foto presensi anak-anak sekolah dengan kerumitan nama, bahkan ada yang berisi huruf konsonan dominan, di sini sudah diwakilkan. Masalahnya, pos itu rerata isinya hujatan, atau setidaknya kekesalan. Name, now day…

Ambil contoh beberapa buku lokal akhir-akhir ini yang kubaca. Jatisaba, tokoh utamanya bernama Mae, bukan May atau Mey, tapi Maesaroh. Membumi bukan? Saya suka sekali Jatisaba. Segala yang Diisap Langit tentang Sumatra seabad silam, nama tokohnya Bungo Rabiah. Membumi sekali ‘kan, saya suka. Rekayasa Buah, di zaman masa depan. Tokoh-tokohnya aneh semua, rekayasa murni, ngawang-awang. Rekayasa Buah mencipta banyak sekali varian kata baru yang bikin kzl, seolah turut merasakan buah busuk dilahap, pengen muntah. Saya memberi rate buruk, sangat buruk. Damar Kambang, setting Madura isinya nama-nama daerah sana seperti Kacong, Cebbhing, dan tradisi karavan sebagai tunggangannya. Sudah sungguh pas. Bagus banget. Lihat, setting menentukan kebiasaan, budaya, tradisi, dan tentu saja juga penamaan tokoh. Satu lagi deh, contoh buku Bibir karya Krishna Mihardja, itu penamaan tokohnya membumi banget, dari Dimas hingga Rini, dari Sastro sampai Gimin. Saya suka sekali, cerita kritik sosial membumi sejenis ini.

Karena saya tak bisa gambar dengan bagus (Ciprut pintar sekali bikin ilustrasi di segala tempat), ilustrasinya berhasil melukiskan sekelumit kejadian. Pada dasarnya saya mudah suka pada hal-hal yang tak umum atau tak kubisai. Menilai buku/film misalnya, itu umum dan rutin. Makanya kalau ceritanya sekadar repetitif, alai, atau biasa ditemui, nilainya pasti kecil. Karena sastra tak banyak yang mencantum ilustrasi di dalamnya, makanya mudah jatuh hati. Di sini, setiap cerita/bab ada gambarnya. Suka.

Terakhir, sebelum kututup catatan ini, ternyata bukan dua cerita yang tersisa lekat di ingatan. Satu lagi yang justru paling bagus adalah pertemuan di kafe tentang penantian. Orang asing yang ngopi, disapa, menanti kekasih yang tak kunjung datang, lantas ia malah cinta. Dan ia menggantikan kedudukannya. Bisa-bisa, agak lebai tapi nalar replacement sejenis ini masih sangat bisa diterima, dengan terbuka. “Cinta macam apa yang bisa tumbuh pada gadis yang sedang patah hati?”

Penjual Bunga Bersyal Merah dan Cerita Lainnya | by Yetti A. KA | Penyunting Mahajjah Saratini | Penyelaras akhir RN | Ilustrator Isi Amo | Tata Sampul Joni Ariadinata | Lukisan Karya Arif Bahtiar (drawing.ink on paper) | Tata Isi Violetta | Pracetak Antini, Dwi, Wardi | Penerbit Diva Press | Cetakan pertama, Juni 2016 | 224 hlm; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-391-180-6 | Skor: 3.5/5

Karawang, 180122 – Manhattan Jazz Quartet

Thx to Ade Buku, Bdg

Jatisaba: Seperti Palur, Semua Desa Memiliki Romansanya Tersendiri

Aku juga baru mendengar belum lama ini. Dulu kita masih kecil, Mae. Semua tampak indah tanpa masalah. Begitu sudah menjadi ibu seperti aku ini, kulit keindahan dunia terkoyak, dan tampaklah borok-borok tersembunyi itu.” – Musri

Bagus. Ini adalah novel kedua Ramayda Akmal yang kubaca setelah Tango dan Sadimin yang luar biasa itu. Cerita masih berkutat dalam realita muram kehidupan kampung dengan segala problematikanya. Kali mengangkat isu pemilihan kepala desa, buruh migran, dan kenangan masa kecil yang menguar mengancam. Dedikasi akan kampung halaman bisa berbagai macam cara, tapi merenggut para pemudi untuk diangkut ke negeri seberang dengan berbagai iming-iming, dan tahu bakalan amburadul, jelas bukan dedikasi yang laik ditiru. Sayangnya, ini bukan isapan fiksi belaka.

Kisahnya mengambil sudut pandang orang pertama, Mae yang dalam pembuka dinarasikan pulang kampung. Ia adalah juga buruh migran, naik pangkat sebab ekonominya sedikit terangkat. Punya koneksi dengan orang-orang penting. Ia mudik bukan sekadar nostalgia menikmati kenangan, tapi mengemban tugas merekrut para wanita untuk dijadikan Tenaga Kerja Wanita (TKW) asing ke negeri Jiran.

Secara bersamaan sedang ramai kampanye pemilihan kepala desa, dengan tiga kandidat. Dan seperti yang kita semua tahu, pilkades selalu ricuh, anarki, korupsi di mana-mana, segala cara kotor disajikan demi kemenangan. Di sini jelas dibahas banyak, dominan malah sebab sebagai kuda tunggangan Akmal untuk memuluskan plot utama.

Mae tinggal sama saudaranya, Sitas yang hidup susah. Jualan cendol, kamar kumuh, di belakang rumah bau kandang bebek. Gambaran hitam keluarga miskin dengan mengalir saja kehidupan. Mae tentu saja mengeluarkan banyak kocek demi melancarkan aksi, ia seperti berdiri di tengah-tengah dua kandidat Juragan Jompro dan Mardi. Secara umum jelas ia menjadi juru kampanye Jompro sebab calon ini membantu administrasi bagi calon TKW yang direkrut, ada pula pelindung sekaligus pelaksana pelancar misi perekrutan, Malim yang sudah tahu luar dalam Mae. Kadang hitam, kadang putih, kadang bukan keduanya.

Tapi sedikit banyak Mae juga condong ke calon Mardi, karena di sana ada sobat masa kecil yang dulunya adalah cinta monyet Gao, dulunya pemain Ebeg Jayeng Wisesa yang bubar sebab kasus rumit tentang salah lempar tuah. Walaupun tentu saja, ia muak sama pilkada, sama seperti kita semua.

Calon lainnya tak terlalu dieksprore Joko, tapi ternyata sama berbahayanya. Ketiganya mengeluarkan modal yang sungguh banyak. Janji-janji diumbar, sembako dibagikan, uang dilipat dan disalurkan. Bahkan cara buruk dengan mengintai dengan ninja dilakukan. Mae, ada dalam pusaran itu. Kebimbangan adalah wajar, siapa sih yang tak gentar di posisi dilema saat ancaman muncul di banyak penjuru? Hingga akhirnya keputusan-keputusan dibuat dengan konsekuensinya masing-masing. Endingnya bagus, tak tertebak. Bukan bagian tawonnya, tapi bagian mata-mata yang mengembara itu tak jauh dari jangkauan tangan.

Sedikit kita kupas beberapa hal yang menggelitik di sini. Calon pertama Jompro, seorang yang egois sebab tidak peduli kepada apa pun, kecuali perasaannya sendiri. Ia mengabdi untuk dirinya sendiri. Dalam negosiasi bahkan ‘memakai’ Mae. Duitnya banyak, tapi jelas sungguh gilani. Calin kedua, Mardi sama buruknya. Polos mungkin, tapi naïf juga. Banyak mengapa bila dipandang dari sisi awam, ia mengeluarkan duit tapi juntrungnya tak jelas. Ada nada kasihan, tapi ya birokrasi politik memang kejam. Ketiga, Joko. Sejatinya diluar lingkar kisah utama Jatisaba, tapi halaman terakhir buku ini malah memberi pengesahan betapa pilkades di manapun tuh bobrok.

Tahun lalu, saya saksi sendiri. Di desaku di Karawang, pilkades mawut. Money politic dilakukan terang-terangan. Uang digelontorkan bak air bah ke warga. Perbiakan jalan, pembagian sembako, amplop diedarkan dengan lancar, stiker dukungan dipasang di tiap pintu, yang lantas serangan fajar dilakukan. Lempar tulah, ancaman dukun, sihir hitam tak lepas dari lingkaran. Saya sendiri tak ambil amplop manapun, saya malah pilih calon minor, dan tentu saja kalah, tak mengapa. Setidaknya saya berpartisipasi politik, pernah dengar jargon, “Pilihlah yang buruk dari yang terburuk.”

Mempunyai kenangan indah itu memang berisiko besar. Ketika mengingatnya, seluruh kebahagiaan di dunia seolah dihadiahkan kepadaku. Itulah kenangan. Kenangan adalah kehilangan terbesar. Suka sekali bagian nostalgia. Kita semua memiliki masa kecil yang bahagia. Hal-hal kecil di masa lalu seperti itu terasa sangat indah dan berarti bagi kita semua. Di sini tentu saja dimofikasi, “kenangan bisa menggerakkan seseorang menjadi begitu kejam.” Dan dengan bigitu kita mampu memasuki babak imaji, dan konfliks yang disaji bisa dinikmati.

Suka sama kalimat ini, “Setelah gemuk dan kenyang oleh angan-angan, aku akan memasukkan mereka satu per satu ke mesin pemotong, seperti nasib ayam legorn. Berpesta sebentar sebelum kemudian disembelih.” Sebuah pengandaian pas betapa saat kita mengingin sesuatu, kita membuai target. Target bisa apa saja. Di sini, para calon korban TKW. Sedih, dengan fakta, “… kemudian disembelih.” Berita kematian TKW memang sudah sangat sering muncul di berita, tapi kenyataan pahit di daerah bagi keluarga kurang mampu tetap saja memaksa keluar kandang. Perdagangan manusia yang terus terjadi, terus berulang.

Novel ini memang Sayembara Novel DKJ 2010. Biasanya naskah yang menang, naik cetak tak lama berselang dari tahun penyelenggaraan. Entah cetakan mulanya di mana, di sini hanya dicantum dicetak kembali pada Maret 2017. Walau bukan jaminan pemenang DKJ bakal memuaskan pembaca, tapi setidaknya ada saringan handal para panitia. Dan kali ini sepakat, ini buku bagus. Mungkin sedikit dibawah Tango, yang benar-benar matang dan menghentak. Namun jelas, karya-karya Ramayda laik dinanti. Dua buku memuaskan jelas bukti sahih, dia salah satu penulis lokal paling handal.

Catatan kututup dengan nada sentimental. Dulu awal-awal merantau saya merasakan kegetiran perpisahan. Dengan orangtua, dengan saudara, dengan orang-orang terkasih. Dan tentu juga desa kecilku di Palur. Mengingat itu mencipta anak sungai air mata. Masa muda yang takkan kembali. Namun, pemuda memang pantasnya merantau, menemui banyak petualang. Maka pas sekali kalimat ini saya kutip, “Kenikmatan perpisahan justru ada pada ketidakrelaan kita untuk pergi.”

Jatisaba by Ramayda Akmal | Penerbit Grasindo | 2017 | Dicetak kembali pada Maret 2017 | 57.17.1.0017 | Penyunting Septi Ws | Perancang sampul Studio Broccoli | ISBN 978-602-375-871-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 120121 – Richie Hart – Blues for the Half Note

My Sister’s Keeper

Tidak ada api tanpa asap.” – John Heywood, Proverbes

Prolog: Tidak ada seorang pun yang memulai perang – atau mungkin lebih tepatnya tidak ada orang yang berakal sehat merasa perlu melakukannya – tanpa lebih dulu mendapat kejelasan dalam pikirannya tentang apa yang ingin dicapainya dengan perang itu dan bagaimana dia berniat melaksanakannya.Carl Von Clausewitz, Vom Kriege

Biasanya, orangtua yang membuat keputusan bagi seorang anak, karena mereka dianggap melakukannya demi kepentingan si anak. Tapi jika mereka dibutakan oleh kepentingan demi kepentingan anak mereka yang lain, sistem hancur. Dan di satu tempat, di bawah kehancuran sistem itu, terdapat korban-korban seperti Anna.

Buku pertama Jodi Picoult yang kubaca. Lumayan bagus, sayang endingnya lemah. Drama sekali, khas Hollywood dengan pahlawan super menyelamatkan menit-menit akhir. Sepertiga pertama luar biasa bikin penasaran, sepertiga kedua melayang, sepertiga akhir terjatuh. Sulit memang membuat karya konsisten keren di sepanjang halaman.

Dibagi dalam beberapa hari, tapi lantas plotnya acak. Bisa ke masa selama pasangan ini memulai hidup baru, anaknya terdiagnosa kanker darah, kelahiran yang direncana untuk donor, hingga di masa kini dalam proses pengadilan. Disampaikan dengan enak, dan pas. Dan tentu saja, buku-buku Jodi Picoult lainnya hanya masalah waktu akan kusikat.

Kisahnya tentang Anna yang datang ke seorang biro hukum untuk meminta bantuan, sebagai pengacara atas gugatan luar biasa aneh. Kepada keluarganya sendiri sebab ia melawan, ia tak sudi mendonorkan ginjalnya untuk sang kakak Kate. Kate sakit parah leukemia dan sudah bertahun-tahun mendapat donor dari Anna, tapi kali ini sang adik melawan. “Leukemia.” Kata itu basah, licin, seperti putih telur.

Disampaikan dengan berbagai sudut pandang tiap ganti bab. Sang pengacara Campbell sejatinya sempat meragu, tapi potensi kasus ini meledak membuatnya sanggup mengambilnya, imbalannya secara nominal tak seberapa, beberapa kali malah Anna menawarkan diri jadi pembantu di kantornya. Dengan diambilnya kasus ini, maka ia segera meminta hak asuh, mencarikan wali sementara Anna. “Aku penasaran bagaimana seorang anak bisa cukup berani untuk mengajukan gugatan hukum, namun juga takut menghadapi ibunya sendiri.”

Adalah Julia yang ternyata adalah cinta pertama Campbell. Mereka sudah lama tak berhubungan, jadi dengan masalah ini terjalin lagi asmara itu, apalagi keduanya masih membujang. Ia tinggal sama saudara kembarnya, Izzy. Dan dari berbagai curhatan kita tahu, jalan untuk bersatu dengan sang mantan itu sungguh besar. “Kau membenci semua lelaki, atau cuma Campbell.”

Kakak pertama adalah Jesse yang Bengal. Ia mengidap penyakit pyromania, hobi membakar. Ia terlibat narkoba, krimial pencurian mobil, membakar gudang tua, dst. Karakter menyebalkan, sebab keluarganya sedang patah hati, kedua orangtua pusing, adiknya sakit keras, ia malah salah urus. Namun berjalannya waktu, ia menjadi penyembuh luka juga.

Sara adalah seorang ibu yang keras dan berani melakukan apapun demi anak-anaknya. Dulunya ia adalah calon pengacara, kuliah hukum, tapi mimpi-mimpi itu kandas dengan sendirinya setelah ia menikah. Ia dengan sukarela mengabdi pada keluarga. Apalagi anak keduanya, Kate sakit keras. Apapun yang terjadi, ia berjanji akan menyelamatkannya. Jadi ialah pencetus kemungkin memberikan saudara kandung untuk Kate agar bisa menjadi donor untuknya, mungkin ide bagus. Namun perlawanan Anna jelas sungguh lumrah. “Kami tak menginginkan bayi super, kami hanya ingin menyelamatkan nyawa putri kami.”

Brian adalah seorang pemadam kebakaran. Ia seperti pria kebanyakan, sabar, pasif, dan ngalir saja. Keluarga ini jelas yang dominan adalah Sara. Mengatur banyak hal. Hobinya memandang bintang, ilmu astronominya lumayan. Dan sama, seiring dengan masa, ia menikah lantas mengubur mimpi-mimpinya. Bintang adalah api yang membakar ribuan tahun. Sebagian bintang terbakar lama dan panjang, seperti orang-orang kerdil berwarna merah. “Kau tahu, api dan harapan saling berkaitan.”

Yang terakhir adalah Kate, pusat segala cerita. Kate secara resmi didiagnosis menderita APL. Butuh pendonor, tak banyak yang cocok. Kakaknya tak bisa, apalagi orang lain. Maka kedua orangtuanya mencipta si Ragil Anna dengan proses genetik buatan agar bisa menyulainya. “Mereka melahirkanku agar aku bisa menyelamatkan Kate.”

Ajaib, berhasil. Kemungkinan kesembuhan molekul dengan kemoterapi sangat kecil, tapi bisa mengambil sel milik Kate dan menanamkannya kembali. Kemoterapi, membunuh apa pun yang menghalangi jalan mereka. Kate bisa bertahan hidup sampai enam belas tahun, dan kini ginjalnya bermasalah. Ia tahu, ia beban. Proses donor ginjal dari adiknya menuai berita besar dan dilema. Kematian Kate akan jadi hal terburuk yang menimpa keluarga ini, dan juga jadi hal terbaik yang menimpa keluarga ini. Rumit ya. Bagaimana akhirnya?

Saya selalu percaya, memilih pasangan sungguh akan mencipta takdir besar ke depannya. Saat Sara memutuskan menikahi seorang pekerja biasa, seorang kere pemadam kebakaran, secara otomatis kehidupannya mengalir menyesuaikan. Apalagi kakaknya yang sukses secara finansial selalu membantunya. Kakaknya secara umum jelas lebih sukses dari berbagai sisi. Apakah ia menyesal tak jadi memujudkan mimpi mudanya?

Tiap bagian dibuka dengan kutipan-kutipan. Sebagain mungkin ada kaitannya dengan cerita, seperti Brian yang memadamkan api, maka kutipannya adalah “Aku akan membacakan abu padamu, jika kau memintaku. / Aku akan mencari dalam api dan memberitahumu dari kibasan abu-abu / Dan dari lidah-lidah dan garis-garis merah dan hitam, / Aku akan memberitahu bagaimana api muncul / Dan bagaimana api bisa berlari sejauh lautan.” Dari Carl Dandburg, dalam “Fire Pages”. Jesse juga sering terlibat, tapi di nada negative sebab putung rokoknya yang memicu.

Gugutan hukum ini sesungguhnya tidak pernah berkaitan dengan donor ginjal, tapi tentang memiliki pilihan-pilihan. Saat kau mencintai seseorang, kau akan melakukan apa pun yang bisa kaulakukan agar mereka tetap bersamamu. “Kau tidak mencintai seseorang karena mereka sempurna, kau tetap mencintai orang itu meskipun mereka tidak sempurna.”

Buku ini sudah difilmkan, beberapa kali sempat niat nonton, tapi belum kesampaian. Mungkin bulan depan saya sempatkan. Moga ada waktu luang menemui Kate. Profil singkat Jodi Picoult: lahir tahun 1966 dan sejak remaja bercita menjadi penulis. Menerima gelar A.B jurusan creative writing dari Princeton University dan gelar master bidang pendidikan di Harvard University. Tahun 2003 mendapat penghargaan New England Book untuk karya fiksi.

Penyelamat Kakakku | by Jodi Picoult | Diterjemahkan dari My Sister’s Keeper | Copyright 2004 | Alih bahasa Hetih Rusli | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Jakarta, 2007 | Cetakan kelima, Desember 2008 | Desain dan ilustrasi cover Pauline St. Denis/Corbis | GM 402 08.005 | 528 hlm; 20 cm | ISBN-1o: 979-22-3399-7 | ISBN-13: 978-979-22-3399-5 | Skor: 4/5

Untuk Keluarga Curran

Karawang, 030122 – 130122 – Peter Protschka – Kindred Spirits

Thx to Ade Buku, Bandung

101 Film yang Kutonton 2021

Untuk pertama kalinya saya hitung jumlah tontonan dalam setahun periode kalender. Tak ada target, tapi bisa tembus 100 film sungguh mengejutkan. Kalau buku wajar sebab memang nyaman di sana, tapi film? Kualitas lebih kukedepankan. Film-film yang sudah kuulas, bisa klik judulnya untuk dibaca ulasannya. Panjang umur kesehatan, dan keuangan.

Berikut 101 film yang berhasil kutonton sepanjang 2021.

#1. A Sun Chung Mong-hong (2019)

Kesehatan dan keselamatan anak, segalanya.

#2. TenetChristopher Nolan (2020)

Adegan mundur dan tantangan nalar.

#3. Troll World TourWalt Dohm (2020)

Tur musik dengan kerusuhan lucu.

#4. Little Big Women Joseph Chen-Chieh Hsu (2020)

Cinta tulus hingga mati.

#5. Pretend It’s a CityMartin Scorsese (2021); Serial

Ngegoliam tentang tata kelola kota.

#6. The WailingNa Hong-jin (2017)

Hantu-hantu mengancam.

#7. Soul Pete Docter (2020)

Dunia antara dengan jazz di mana-mana.

#8. FallingViggo Mortensen (2021)

Hubungan sempurna ayah-anak.

#9. Blade Runner 2049Dennis Villeneuve (2017)

Dunia masa depan dengan klona kesasar.

#10. Shaun the Sheep: FarmageddonWill Becher, Richard Phelan (2020)

Alien dan kambing bikin rusuh.

#11. OnwardDan Scanlon (2020)

Fantasi dan mitos diungkapkan.

#12. Pieces of a WomanKornel Mundruczo (2020)

Kehilangan, kesedihan, kerelaan.

#13. Mank David Fincher (2020)

Drama naskah terbaik, hak milik perlu.

#14. Ma Rainey’s Black BottomGeorge C. Wolfe (2020)

Penciptaan jazz yang menggetarkan, membunuh.

#15. The FatherFlorian Zeller (2020)

Pikun itu kewajaran dalam tua.

#16. EmmaAutumn de Wilde (2020)

Pamer Anya, pamer kecantikan.

#17. One Night in Miami Regina King (2020)

Satu malam mengubah segalanya.

#18. Borat 2Jason Woliner (2020)

Perjalanan tak bermutu ke Barat.

#19. The Trial of the Chicago 7Aaron Sorkin (2020)

Pengadilan menakjubkan.

#20. Quo Vadis, Aida?Jasmila Zbanic (2020)

Kesedihan Aida, kesedihan perang.

#21. NomadlandChloe Zhao (2020)

Bermobil, berpindah.

#22. Better DaysDerek Tsang (2020)

Perisak tanda menyebalkan.

#23. Another RoundThomas Vinterberg (2020)

Dari mabuk hingga menyelam.

#24. My Salinger Year – Phillippe Falardeau (2020)

Pengalaman magang kerja tak terlupakan.

#25. Hillbilly Elegy Ron Howard (2020)

Kisah sukses keluarga.

#26. The White Tiger Ramin Bahrani (2020)

Sopir keluar jalur.

#27. Minari Lee Isaac Chung (2020)

Keluarga Korea di bukit Amerika.

#28. Sound of MetalDarius Marder (2020)

Tak mendengar, malah menggelegar.

#29. Promising Young WomanEmerald Fennell (2020)

Balas dendam berliku.

#30. Judas and the Black MessiahShaka King (2021)

Penghiatan dan pertobatan terlambat.

#31. Never Rarely Sometimes AlwaysEliza Hittman (2020)

Perjalanan pencarian jati diri.

#32. Alice in Borderline (2021); Serial

Permainan mematikan di dunia nyata.

#33. And Tomorrow The Entire WorldJulia von Heinz (2020)

Politik kontemporer Jerman di mata muda-mudi.

#34. Enola HolmesHarry Bradbeer (2020)

Sisi lain saudari Sherlock.

#35. MissRuben Alves (2020)

Pemilihan putri Prancis disusupi lalaki.

#36. 7. Kagustaki MucizeMehmet Ada Oztekin (2019)

Penjara adalah ladang kebebasan.

#37. I’m Thinking of Ending Things Charlie Kaufmann (2020)

Puisi-puisi di tengah salju.

#38. OxygeneAlexandre Aja (2021)

Perjalanan ke semesta tak berbatas.

#39. Spongebob Squarepants: Sponge out of RunTim Hill (2020)

Selamatkan Gerry, meow…

#40. Sunset PromiseLe Ha Nguyen (2019)

Cinta monyet tak terlupa.

#41. Stand by Me 2Ryuichi Yagi, Takashi Yamazaki (2020)

Mengajak nenek jalan-jalan.

#42. Let Them all TalkSteven Soderbergh (2020)

Di kapal pesiar ngegoliam terus.

#43. The Man Who Wasn’t ThereJoel Coen (2001)

Efek buruk investasi bodong.

#44. 2001: A Space of Oddysey Stanley Kubrick (1968)

Luar angkasa, semesta tak berujung.

#45. Kill ListBen Wheatley (2011)

Membunuh, dibunuh.

#46. Surat dari PrahaAngga Dwi Sasongko (2016)

Memang sulit minta tanda tangan sama orang sulit.

#47. One DayBanjong Pisanthanakun (2016)

Kesempatan emas mencium gadis pujaan yang tak mau dicium.

#48. A Day Sun-ho Cho (2017)

Muter-muter demi anak.

#49. Sweet and SourKae-Byeok Lee (2021)

Mari bahagia, kita ditipu.

#50. Lawrence of ArabiaDavid Lean (1962)

Gurun dalam drama kolonial.

#51. InfiniteAntoine Fuqua (2020)

Manusia super, asal pukul.

#52. BadlaSujoy Ghosh (2019)

Duduk dan ceritakan sejujurnya.

#53. Hello Ghost Young-Tak Kim (2010)

Sekumpulan hantu menyapa.

#54. Blue Velvet David Lynch (1986)

Jazz dan tembak-tembakan absurd.

#55. The Thing calls LovePeter Bogdanovich (1993)

Musik adalah bumbu sempurna percintaan.

#56. The Autopsy of Jane DoeAndre Ovredal (2016)

Hantu di rumah otopsi.

#57. Twilight Zone – Collabs (1983)

Menembus masa dalam sekejap.

#58. My Friends Tigger & Pooh (2006-2010); Serial

Pooh dan modifikasi kemeriahan di Hutan Seratus Ekar.

#59. Ready or Not?Matt Bettinelli & Tyler Gillett (2019)

Malam pertama membara.

#60. The Broken Circle BreakdownFelix van Groeningen (2012)

Musikalitas ateisme.

#61. Earwig and the WitchGoro Miyazaki (2020)

Penyihir di rumah tertutup.

#62. Bad SisterDoug Campbell (2014)

Guru cabul di sekolah agama.

#63. AnnetteLeos Carax (2021)

Nyanyi-nyanyi lalu ngantuk.

#64. The Carducci Talent ShowAnthony Fanelli (2021)

Muda-mudi dalam pertunjukan maut.

#65. My Heart Can’t Beat Unless You Tell It ToJonathan Cuartas (2021)

Darah dan doa.

#66. I and My Stupid BoyKaouther Ben Hania (2021)

Pemuda norak main gadget.

#67. The GuiltyGustav Moller (2016)

Suara petunjuk tak kasat mata.

#68. MeandreMathieu Turi (2021)

Pipa kehidupan.

#69. The HuntThomas Vinterberg (2012)

Cinta anak kecil ke panutan berujung bencana.

#70. After LoveAllem Khan (2021)

Merindu bak halilintar.

#71. Le Bal Des FollesMelanie Laurent (2021)

Rumah sakit jiwa untuk seniman.

#72. Words Bubble Up Like Soda Pop Kyohei Ishiguro (2021)

Teriakan cinta di festival tahunan.

#73. Je Suis KarlChristian Schwochow (2021)

Gerakan pemuda untuk perubahan.

#74. Raya and The Last DragonDon Hall, Carlos Lopez Estrada (2020)

Naga warna-warni.

#75. Adventures of a MathematicianThor Klein (2021)

Dilema jenius matematika.

#76. NussaBony Wirasmono (2021)

Pengorbanan, tata kelola menghadapi kecewa.

#77. Love Strikes TwiceJeff Beesley (2021)

Kesempatan kedua ke masa lalu.

#78. Memoirs of a Black GirlThato Rantao Mwosa (2021)

Album kencana masa remaja-remaja keling.

#79. 15 Minutes ShameMax Joseph (2021)

Budaya batal di masa media sosial.

#80. Raging FireBenny Chan (2021)

Polisi baik, polisi jahat.

#81. DrishyamNishikant Kamat (2015)

Siapa bilang nonton film tak ada gunanya?

#82. The BeguiledSofia Capolla (2017)

Rumah persinggahan, rumah mati.

#83. Teeth NightAdam Randall (2021)

Vampir-vampir cantek.

#84. Escape Room 2Adam Robitel (2021)

Teka-teki saling jaga.

#85. DuneDennis Villeneuve (2021)

Perebuatan takhta.

#86. Shang Chi: The Legend of Ten RingDestin Daniel Cretton (2021)

Ayahku kena bisikan setan.

#87. To OliviaJohn Hay (2021)

Dukacita Roald Dahl.

#88. Last Night in SohoEdgar Wright (2021)

Anya atau McKenzie?

#89. BenedettaPaul Verhoeven (2021)

Tipudaya berkedok agama.

#90. Blonde. PurpleMarcus Flemings (2021)

Obrolan di atas meja.

#91. Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar TuntasEdwin (2021)

Pria tak bisa ngaceng, wanita bisa apa?

#92. Garfield the MoviePeter Hewitt (2004)

Koceng orens malas.

#93. Dawid and ElfMichal Rogalski (2021)

Malam Natal hura-hura di langit.

#94. Drive my Car Ryusuke Hamaguchi (2021)

Nyupir sampai merinding disko.

#95. FleeJonas Poher Rasmussen (2021)

Kabur, selamatkan diri kalian!

#96. Spider-Man: No Way HomeJohn Watt (2021)

Remaja ngambek tak lulus tes kampus.

#97. The Power of the DogJane Campion (2021)

Merenung di hutan.

#98. The Green KnightDavid Lowery (2021)

Pangeran pengecut, kesatria bijaksana.

#99. Twyla Moves Steven Cantor, Jonathan Field (2021)

Tarian nenek-nenek.

#100. Yuni Kamila Andini (2021)

Ungu dan kegalauan remaja, mau ke mana lulus sekolah.

#101. Loving MemoryTony Scott (1971)

Dukacita dalam frame hitam putih.

Karawang, 12012022 – Rainer Tempel – Big Time

14 Best Books 2021 – Fiksi/Lokal

Kekayaan, kedudukan, kekuasaan, kepandaian, dapat mematikan rasa. Mati rasa berarti hilang kemanusiaan kita. Hidup ialah bagaimana kita merasakan sesuatu. Bukan bagaimana kita memiliki kemewahan, kekuasaan, kekayaan.” – Pasar, Kuntowijoyo

Tahun 2021 setelah dipertimbangkan lebih masak, untuk fiksi saya pecah lokal/terjemahan sahaja sebab terjemahan terlalu dominan. Total fiksi lokal kubaca 49 buku. Kupadatkan jadi 14 seperti biasa. Sebuah kebetulan, yang terbaik buku terbitan tahun lalu. Dan secara kebetulan pula, pas daftar ini kupos di instagram, muncul info buku nomor satu masuk daftar pendek buku Prosa Tempo 2021.

Berikut daftar buku non-fiksi terbaik yang kubaca tahun 2021 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. Kuda Kayu Bersayap by Yanusa Nugroho (Tiga Serangkai) – 2004

Ini adalah buku beli yang acak, artinya saya tak mengenal sang Penulis, yang ternyata sudah melalangbuana di banyak media, penulis senior yang katanya, sesuai pembuka pengantar penerbit: Ngerokok. Ngopi. Ngarang. Perjudian menikmati karya ‘asing’ seperti ini memang jarang membuahkan hasil Ok, jelas ini adalah daftar sedikit itu. Cocok seperti yang dibilang sama Bung Yanusa, “Menulis, sebagaimana halnya makan dan minum, adalah kebutuhan. Kebutuhan untuk mengungkap sesuatu…”

#13. Revolusi Nuklir by Eko Damono (Basa Basi) – 2021

Lelah, tapi puas. 22 cerpen dalam buku kecil 200 halaman. Sebagian sudah diterbitkan di media, sebagian besarnya belum. Semua yang berkisah di masa depan tampak kurang, atau kalau mau jujur tampak aneh. Burung besi berkisah, pohon android, dst. Semua yang dikisahkan di perjalanan gunung, tampak nostalgia. Ibadah puisi di Rinjani, petualang sekual Apocalyto, dst. Semua yang dikisahkan secara flashback tampak nyata, atau nyata yang dimodifikasi. Telinga putus, pacar yang hamil berencana memberi kejutan yang malah mengejutkan, hotel Kurt Cobain, dst.

“Di dunia ini terlalu banyak serba kemungkinan, dan kita dipaksa untuk meneruskan hidup.”

#12. Pseudonim by Daniel Mahendra (Grasindo) – 2016

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen yang jumlah kata lebih sedikit, dan sewajarnya tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua pembaca itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak faktor. Salah satunya tentu saja selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasarnya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

“Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

#11. Luka Batu by Komang Adnyana (Mahima Institute Indonesia) – 2020

Kisahnya berkutat di Bali, tempat sang penulis tinggal dan dibesarkan. Kebanyakan dari kita memang paling nyaman menulis tentang hidup kita dan sekeliling kita, jadi seolah dituturkan langsung dari pengalaman hidup. Relevan dan masuk akal, sebab akan tampak aneh dan tak berlogika jika kita yang lahir dan besar di Indonesia bercerita tentang dinginnya salju negeri Swiss.

“Kuatkan dirimu. Semoga mereka mendapat hukuman yang sesuai.”

#10. Bunga Kayu Manis by Nurul Hanafi (JBS) – 2021

Bunga Kayu Manis menawarkan jenis keindahan kata-kata (atau di sini berarti tulisan), dipilih dan dipilah dengan mujarab oleh Bung Nurul Hanafi. Beberapa bagian mungkin tampak terlampau lebai, atau ngapain melihat senja dari jembatan saja melankolis, itukan hal yang lumrah tak ada yang istimewa dari matahari jelang terbenam, umpamanya. Namun memang itulah keunggulan kata-kata, banyak hal dicipta berlebihan, dan terasa sentimental. Memang mudah tersentuh saat kita bicara kenangan, angan dalam kepala tentang masa lalu, setiap orang beda-beda, dan semakian mendayu, semakin terasa feel-nya.

“Hujan terlalu larut dan luka.”

#9. Damar Kambang by Muna Masyari (KPG) – 2020

Pembukanya fantastic. Seorang istri yang ngalah, legowo atas apapun keputusan suami. Dengan setting Madura, terkenal dengan adu karavan sapi dengan festival Gubeng sebagai puncaknya. Seorang suami gemar berjudi, memertaruhkan segalanya. Kemenangan/kekalahan timbul tenggelam bersama waktu. Apa yang dipertaruh berbagai hal, berbagai jenis; motor, sapi, emas, tegalan, dan pada puncaknya adalah rumah dengan segala isinya. Narasi pembuka membuat kuduk berdiri sebab sang suami kalah, dan Si Buntung berhasil membalas, ia beserta ‘dukun;’-nya datang mengambil piala kemenangan. Dahsyat bukan? Pembuka yang memesona sejenis ini biasanya langsung menegakkan punggung dan memancing konsentrasi berlebih guna terus berkutat mengikuti cerita, banyak yang tumbang gagal memertahankan tempo, sedikit yang berhasil hingga garis finish. Damar Kambang termasuk yang sedikit itu, walaupun sesekali temponya memang harus sedikit teredam. Aku baca sekali duduk di Jumat pagi yang cerah. Untungnya, suami-istri di pembuka ini identitasnya tak dikuak, fakta ini akan jadi semacam tautan yang ditaruh di tengah kecamuk adu sihir. Perhatikan sahaja, buku yang berhasil salah satu faktornya para tokoh memiliki motif yang kuat untuk mengambil tindakan, tindakan dijalankan dengan logika dasar. Tak perlu muluk-muluk, tak perlu ndakik-ndakik.

“Orangtua memang harus selalu dibenarkan ya.”

#8. Segala yang Diisap Langit by Pinto Anugrah (Bentang Pustaka) – 2021

Ringkas nan memikat. Hanya seratusan halaman, kubaca hanya sejam sekali duduk selama satu setengah jam pada Sabtu, 16 Oktober 2021 selepas Subuh. Langsung ke poin-poin apa yang hendak dituturkan. Tentang Islamisasi di tanah Sumatra di masa Tuanku Imam Bonjol. Mengambil sudut pandang sebuah keluarga lokal yang kalah dan tersingkir. Segalanya jelas, tapi akan mencipta keberpihakan abu-abu.

“Tatapanmu, tatapan pesimis dan penuh amarah! Tidak baik memelihara tatapan seperti itu! Setan-setan akan senang di dalamnya, mereka akan berpesta pora di matamu!”

#7. Jatisaba by Ramadya Akmal (Grasindo) – 2017

Bagus. Ini adalah novel kedua Ramayda Akmal yang kubaca setelah Tango dan Sadimin yang luar biasa itu. Cerita masih berkutat dalam realita muram kehidupan kampung dengan segala problematikanya. Kali mengangkat isu pemilihan kepala desa, buruh migran, dan kenangan masa kecil yang menguar mengancam. Dedikasi akan kampung halaman bisa dengan berbagai macam cara, tapi merenggut para pemudi untuk diangkut ke negeri seberang dengan berbagai iming-iming, dan tahu bakalan amburadul, jelas bukan dedikasi yang laik ditiru. Sayangnya, ini bukan isapan fiksi belaka.

“Kau selalu meminta yang tak mungkin ketika seluruh kemungkinan di dunia ini aku persembahkan kepadamu.”

#6. Melipat Jarak by Sapardi Djoko Damono (GPU) – 2015

Begini rasanya membacai puisi bagus tuh. Sebelum-sebelumnya sulit masuk atau ngawang-awang, atau tak tentu arah. Dalam Melipat Jarak, yang dominan adalah narasi. Bukan per bait yang rumit. Kata-katanya juga umum, temanya sederhana, tapi pilihan katanya mewah. Singkatnya, enak dibaca. Mau nyaring atau rilih, sama nyamannya. Beginilah puisi sejatinya dicipta. Buku ini berisi 75 sajak yang dipilih oleh Hasif Amini dan Sapardi Djoko Damono dari buku-buku puisi yang terbit antara 1998-2015 yakni Arloji, Ayat-ayat Api, Ada Berita Apa Hari ini, Den Sastro?, Mata Jendela, Kolam, Namaku Sita, Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita, dan Babad Batu. Oh, ternyata ini sejenis album terbaik terbaik, atau kalau CD/ kaset The Best of The Best-nya. Versi kedua setelah sebelumnya sudah pernah dibuat dalam rentang, 1959-1994 yang termaktup dalam buku Hujan Bulan Juni yang pertama terbit 1994.

Tiga Sajak Kecil: “Mau ke mana, Wuk?” / “ke Selatan situ.” / “Mau apa, Wuk?” / “Menangkap kupu-kupu.”

#5. Puisi Baru by Sutan Takdir Alisjahbana (Dian Rakyat) – 1946

Ini adalah kumpulan puisi dari masa lalu. Pertama terbit tahun 1946, pasca Indonesia merdeka. Yang kubaca adalah cetakan ke-10, 1996 sehingga banyak pula tambahan puisi-puisi di era Revolusi. Yang jelas, Sutan Takdir Alisjahbana memilih dan memilahnya dengan jitu. Campuran gaya dan jenis syairnya. Terlihat klasik, daftar isi ada di muka kanan seperti membaca buku-buku Arab. Terdiri 19 penyair, termasuk Sang Penulis. Benar-benar buku bagus, bisa jadi langka ini sebab puisi-puisi lama (di sini disebut baru) ini akan sulit dicari nantinya. Termasuk beruntung bisa menikmatinya di era digital yang serba wuuuz…

Ah, dunia! Dunia! / Saya pusing di atas kau. / Adakah sudah suratan saya / Akan selalu menghimbau-himbau?Betapa Seni, OR. Mandank

#4. Kritikus Adinan by Budi Darma (Bentang) – 2017

Ini adalah buku kedua Bung Budi Darma yang kubaca setelah Rafillus yang absurd itu. Langsung jadi penulis idola, tampak unik dan luar biasa aneh. Kumpulan cerpen ini sama absurd-nya dengan Rafillus, tokoh-tokohnya tak biasa. Nama-nama juga nyeleneh. Dilengkapi ilustrasi ciamik di tiap cerita, rasanya memang pantas kukasih nilai sempurna.

Rasanya buku-buku Bung Budi Darma hanya masalah waktu untuk dikoleksi, salah satu penulis besar tanah air. Apalagi kabar terbaru buku Orang-Orang Bloomington kini sudah duterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Penguins. Orang Indonesia pertama yang berhasil melakukannya. Kritikus Adinan rasanya hanya masalah waktu pula untuk menyejajarkan diri.

“Dengan mendadak kamu mengunjungi saya, Malaikat. Apa sebenarnya dosa saya? Sejak kecil saya selalu berusaha berbuat baik.”

#3. Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan oleh Raudal Tanjung Banua

Menakjubkan! Ya, itulah komentarku seusai membacai. Campur aduk perasaan, dijabarkan dengan sabar, disajikan dengan istimewa. Cerita-cerita masa kecil dari orangtua, paman sampai neneknya, kita melangkah lanjut ke tema-tema masa lalu yang lebih umum, menorehkan kenangan. Menulis tentang masa lalu, sekali lagi kubilang sungguh aktual. Dan lebih mudah diimajinasikan. Sungguh nyaman, asyik sekali diikuti, seolah membacai memoar, menelisik nostalgia.

“Sering-seringlah memandang Bukit Talau. Banyak gunanya. Melihat awan, meninjau hujan.”

#2. Pasar by Kuntowijoyo (Mataangin) – 1995 *

Novel dengan penggambaran detail mengagumkan. Mencerita apa adanya keadaan pasar dan par penghuninya. Sejatinya setting hanya satu tempat dari mula sampai jelang akhir. Pasar dan situasi yang ada. Orang-orangnya juga itu-itu saja, berkutat melelahkan. Pada dasarnya menggambarkan sifat manusia yang mengingin nyaman, ketika terusik maka ia marah, dan saat keinginan-keinginan tak terkabul, jadi petaka. Minim konflik tapi sungguh menohok saat masalah itu dilemparkan ke pembaca.

“Kalau macan mati meninggalkan belang, Pak Mantri mati meninggalkan tembang.”

#1. Anwar Tohari Mencari Mati by Mahfud Ikhwan (Marjin Kiri) – 2021

Berkelas. Bagus sekali. Rentetan katanya menyemburkan degub khawatir dan caci maki kepuasan. Dalam puncak ketegangan, saya benar-benar menikmati adu jurus di atas jembatan itu. Setidaknya tiga kali pada bab pertarungan kusela tepuk tangan dan kepal tangan. Bravo! Cerita-cerita pun mengalir dahsyat, dan saya hampir mengeluarkan HP buat kubaca rekam. Mungkin akan kulakukan nanti pas baca ulang. Bergaul dengan Warto Kemplung membuatku berlajar seni bercerita. Senyumnya bagai sambaran kilat, dan berhasil memainkan tempo.

“Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.”

Panjang umur kesehatan, panjang umur keuangan. Semoga tahun ini bisa lebih banyak lagi karya lokal yang kunikmati, bisa lebih nyaman, enak, dan berkembang. Panjang umur para penulis lokal, dedikasi kalian untuk literasi Indonesia patut diapresiasi.

Karawang, 100122 – Sammy Davis Jr. – Dedicated to You

The Exam: Lilin itu Terbakar di Kedua Sisi

“Go to university. It will be good for your mental health too.”

Keinginan merubah nasib, mengikuti ujian kuliah di kampus berujung petaka, sebab dilakukan dengan tatacara curang. Dengan opsi, kalau engga kuliah ya nikah, maka dilema itu makin berat sebab perempuan, dengan menikah maka kebebasan menentukan nasibnya sendiri otomatis terdistorsi. Sang kakak mencoba memberi solusi dengan berbagai cara curang untuk lolos tes, hasilnya ambyar. Bukan hanya soal tesnya, tapi seluruh kehidupan beserta sekelilingnya. Lilin itu terbakar di kedua sisi, dan ia tak tahu harus memprioritaskan mana yang dipadamkan.

Kisahnya tentang Shilan (Avan Jamal), yang ingin adiknya Rojin (Vania Salar) lulus ujian tes perguruan tinggi. Dalam pembuka jelas, Rojin dilamar tapi Shilan dengan tegas bilang ingin adiknya kuliah. Maka opsinya jelas, ia harus lulus tes kuliah, gagal berarti berakhir di pelaminan. Mereka mendatangi gedung setengah jadi dengan plang ‘Kursus Inggris’. Di sana banyak orang berkoordinasi untuk melakukan kecurangan dalam tes ujian kampus. Dengan resiko tinggi, tentu harga tinggi pula. Dengan alat bantu dengar yang diselipkan ke telinga, HP diselundupkan ke celana dalam, lantas nanti pas ujian, akan diberitahu kunci jawabannya. Kolaborasi curang ini, tampak realistis diwujudkan. Dengan biaya yang amat mahal, sampai menjual perhiasan kesayangan. Bahkan, walau jelas dalam Islam dilarang ke dukun, upaya itu jua dilakukan. Ke Orang Pintar minta jimat dimantrai!

Sang suami sudah mengingatkan, biarkan saja adik lu berusaha sendiri apa adanya, jangan malah kamu dorong, nanti malah rusak. Kalau engga lulus toh sudah ada yang melamar, perempuan ujung-ujungnya dapur. Seorang penjual daging ikan yang emosional ini, suatu hari makin berang sebab mendapati istrinya menelan obat KB. Mereka sudah punya seorang putri Senur, dan ia mengingin satu lagi laki-laki, Shilan berontak tak mau. Inilah gambaran keluarga yang gagal dalam komunikasi dan harmonisasi. Ibunya ingin Senur tak seperti dirinya atau Rojin, tumbuh jadi perempuan lemah di bawah kaki lelaki. Orangtua dan suaminya berusaha membuat kehidupan berjalan normal, tapi normal adalah istilah yang relatif.

Proses kecurangan dalam ujian sendiri terkendala banyak hal. Hari pertama, ada laki-laki yang ketahuan, langsung dikeluarkan. Hari kedua, ada kendala terkait alatnya harus diambil di bak sampah di luar gedung, dan karena Shilan ada di situ, dialah yang diminta ambil, dengan janji potongan biaya, hari ketiga, giliran sang suami yang kesal, ia muak akan kelakuan Shilan yang urusin adiknya, maka saat ambil HP di bak sampah, langsung diangkut, hari berikutnya, panitia ujian yang curiga, mematikan sinyal di ruangan, maka para kolabulator kecurangan ini tak mau menyerah, mereka menggunakan HT dengan truk boks daging di dekat gedung dalam jangkauan. Di boks truk itulah banyak sekali para pengirim kunci jawaban ke peserta. Dan hari terakhir, segalanya berantakan. Sungguh perjuangan manusia yang sia-sia, laiknya Sisipus ke puncak bukit dengan gelinding batu bersusah payah, yang pada akhirnya kembali menggelinding jatuh.

Keputusan-keputusan itu bersifat fana, pemicunya duniawi, akhirlah yang abadi. Sungguh menyedihkan.

Pertama yang berbesit, tentu saja film Bad Genius, tata kelola contek dalam ujian kampus. Kali ini kerja samanya melebar lebih besar, melibat orang kampus sendiri, para penggede yang sudah mendedikasikan di dunia pendidikan tiga puluh tahun. Proses kecuranganya juga tak rumit, dengan Bluetooth di telinga, menerima kunci dengan cepat dan pasti, tanpa banyak kode. Begitu pula, saat pengerjaan soal, dilakukan oleh akademisi yang sudah profesional, disalurkan melalui komunikasi langsung. Dunia pendidikan yang keras dan ambisius, jelas seperti pisau berujung tajam di kedua sisi.

Exam menautkan banyak film. Selain Bad Genius, Yuni kalau masalah feminism, justru yang paling kuat, perempuan berkeinginan membentuk masa depan yang lebih baik, atau berakhir di dapur selekas sekolah. Spider-man: No Way Home-pun kalau mau dikaitkan ada, remaja gagal masuk kuliah, dan kecewa. Haha, yang jelas Exam terasa lebih jleeb sebab realitasnya terasa, perjuangan perempuan, yang sering kalah ditekan keadaan.

Ending di pantai memang semacam jadi ritual untuk film-film bagus sekelas festival. Banyak sekali akhir dengan menatap ombak untuk film berbujet kecil. Daftarnya panjang sekali untuk tahun lalu saja yang sudah kutonton ada tiga: After Love, Yuni, My Heart Can’t Beat Unless You Tell It To. The Exam menambah daftar panjang itu. Mengingatkan pada sebuah pertanyaan di sosmed, refreshing inginnya ke mana? A. Pantai, B. Gunung; persentase mayoritas menjawab A, sebagai bukti bahwa pantai memang sebuah pengandaian tempat ideal tujuan melepas penat, maka tak heran sinema mengambilnya sebagai lanskap akhir. Ditemani matahari, ombak, hempasan gelombang, dan angin sepoi-sepoi, pikiran lepas untuk mengurai beban hidup. Awalnya di pantai, akhirnya di pantai. Menatap ombak berdiri diam tanpa bergerak, membuat kita tersadar bahwa keheningan memiliki suara.

Hidup terkadang dibuat macet oleh rincian, hingga kamu lupa hidup di dalamnya. Sebab tidak semua orang saat mendapat ujian, bisa setegar batu karang.

The Exam | Year 2021 | Iraq | Directed by Shawkat Amin | Screenplay Mohamedreza Gohari, Shawkat Amin Korki | Cast Adil Abdolrahman, Hussaen Hassan Ali, Shwan Attoof, Avan Jamal, Vania Salar | Skor: 4/5

Karawang, 050122 – Alexander ‘Sandi’ Kuhn – Long Time, No See

14 Best Books 2021 – Non Fiksi

Tahun baru, pas tanggal 1 kemarin dapat twit bagus. Kukutip kata-kata Dea Anugrah di twitter, “Suka baca fiksi oke, nonfiksi juga oke. Baca apa aja boleh. Kalau nggak suka baca, ya, nggak apa-apa. Rajin baca belum tentu pintar, malas baca belum tentu nyebelin. Yang penting jangan nyebelin.”

Tahun 2021 saya membaca 31 buku non-fiksi. Menikmati ngalir sahaja, tak ada target, tak ada pemisahan genre, tak ada pilih pilah lokal/terjemahan, tak perlu pula pusing isinya perlu atau tidaknya. Menikmati buku tuh, ngalir saja, tak usah dipeta-petakan. Makanya kutu buku melakukan book shaming, rasanya geregetan deh. Kalau itu nyaman, dan tak mengganggu kamu, udah sih jangan julid.

Susunannya sama seperti tahun lalu. Judul buku, ditulis oleh, penerbit, lalu tahun pertama buku ini diterbitkan (bukan tahun terjemahan/cetak ulang), tapi kalau terjemahan tidak mencantum sumber tahunnya maka ya yang ada di identitas aja yang kutaruh. 31 satu tuh sepertiga dari total fiksi yang kulahap. Berikut daftar buku non-fiksi terbaik yang kubaca tahun 2021 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. Menumis itu Gampang, Menulis Tidak by Mahfud Ikhwan (Mojok) – 2021

Jangan bosan, saya memasukkan nama Cak Mahfud di daftar terbaik sebab memang sudah dapat cap jaminan mutu buku-buku beliau.
Melihat ilustrasi bukunya saja sudah bikin males, tiga pose santuy, rebahan dalam kebosanan. Dan warna kuning, jersey Malaysia yang mengesalkan itu. Banyak hal mewakili pengalamanku sendiri, otomatis banyak hal pula menjadikannya ironi hidup. Sepakbola, buku, Muhammadyah, resign di tahun 2009, males keluar rumah (apapun modanya), kopi melimpah dst. Lazio, Chelsea, La Coruna rasanya hanya tim gurem yang tak ada apa-apanya dalam sejarah Eropa dibanding gelimah gelar AC Milan, Liverpool, dan eehhheemmm Madrid. Saya benar-benar mencintai bola lebih belakangan, baru di Piala Dunia 1998 kala Italia bersama aksi Vieri-nya. Sepakat sekali segala apa yang dikisah panjang lebar dalam ‘Menunggu”, yang menyata bahwa kecintaan pada permainan ini sungguh absurd.

Walau terkesan sombong, seperti yang terlihat dalam wawancara di Youtube, “saya punya buku baru lagi…”

#13. Sosiologi by Dr. Soedjono Dirdjosisworo, S.H. (Penerbit Alumni) –1981

Efek sebuah buku bisa sangat panjang. Saya menikmati sekali buku Prof Priono yang mengulas sejak terjang Anthony Giddens, mengupas kulitnya saja tentang sosiologi. Nah, dari situlah saya menelusuri banyak buku terkait. Ini salah satu gema sosiologi tersebut. Buku ini memperkenalkan sosiologi pengantar dengan peringatan bahwa pandangan falsafah terentu mempunyai pengaruh terhadap pengertian dan persespsi terhadap gejala sosial yang terjadi.

Sosiologi berarti Ilmu pengetahuan tentang hidup bersama, yang dibicarakan di sini adalah sebuah ilmu pengetahuan, artinya pelajaran yang memenuhi semua persayaratan.

Filsafat Pancasila, “Ora sanak ora kadang jen mati melu kelangan” artinya bukan sanak bukan saudara kalau mati ikut kehilangan.

#12. Think Like a Freaks by Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner (Noura) –2015

Berpikir seperti orang aneh, berarti berpikir kecil, tidak besar. Tentang pikiran kritis akan masalah aktual dunia saat ini dilihat dari kacamata orang aneh, orang yang beda. Pemecahannya juga aneh, walau saat ditelaah lebih dalam terlihat malah sungguh sederhana. Contoh, injeksi kotoran manusia untuk pengobatan. Itu hal yang terdengar ganjil, tapi saat ditelaah ternyata bisa dan ada. Atau pemikirannya untuk berhenti protes pemanasan global sebab menipisnya lapisan ozon. Karena percuma. Berani menentang arus. Berpikir seperti orang aneh itu cukup sederhana sehingga siapapun dapat melakukannya. Yang mengherankan, sedikit sekali yang melakukannya.

Roy Porter pada tahun 1997 menjelaskan, “Kita hidup pasa zaman sains. Tetapi sains tidak menghapus fantasi tentang kesehatan. stigma penyakit, makna moral kedokteran terus ada.”

#11. Sang Belas Kasih by Haidar Bagir (Mizan) – 2021

Keren. Itulah kata pertama yang kuucap seusai menuntaskan 200 halaman. Mungkin karena jarang baca buku-buku agama, apalagi terjemahan langsung isi Al Quran, maka yang saya dapat adalah sesuatu yang fresh. Enak sekali pembahasannya. Runut dan nyaman. Jadi tahu seluk beluk kandungan di dalamnya. Selama ini baca Al Quran ya baca saja Arabnya. Sesekali baca terjemahannya, tapi sungguh sangat jarang. Bahasanya yang puitis dan bernada, tak mudah dipahami. Dan ini, per katanya dibedah. Ini adalah buku tafsir surah Al Quran pertama yang tuntas kubaca.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Segala sesuatu memiliki pengantin, dan pengantinnya Al-Quran adalah surah Al-Rahman.”

#10. Mencari Setangkai Daun Surga by Anton Kurnia (IRCiS0D) – 2016

Kumpulan esai dengan banyak tema, diambil dari berbagai sumber yang pernah muncul di media dari pertama muncul sampai update buku ini dicetak tahun 2016. Variasi tema: sastra, politik, budaya, sampai olahraga. Bagian olahraga mungkin yang paling kurang, tak dalam. Bicara Piala Dunia yang dituturkan khas tabloid Bola, umum dan tak personal. Bagian sastra yang luar biasa, memang spesialisasi beliau di sastra, maka tampak ditulis dengan menggebu dan nyaman dinikmati.

Tugas seorang penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun, itu tercermin dalam karya-karyanya. – Nadine Goldminer

#9. Tasawuf dipuja Tasawuf Dibenci (editor) by Mukhlis, S.Pd.I., M.Ag; dkk (Genta Press) –2008

Sejak membaca Dunia Mistik dalam Islam karya Anmimarie Schimmel saya jatuh hati dengan tema tasawuf. Maka setiap muncul di beranda sosmed ada yang jualan, dan harga terjangkau langsung kuambil. Ini adalah salah satunya, dan ternyata sangat bagus. Semakin asyik dan syahdu terendam capaian spiritual. Ada dua nama sufi yang semakin kucinta di sini, Al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi. Tasawuf mulai abad 3-4 mulai ada dua model kecenderungan dalam penghayatan dan pengamalan tasawuf. Pertama, aliran tasawuf akhlaqi (tasawuf sunni) yang mengklaim penganutnya paling konsisten dalam usaha memagari tasawuf dengan Al-Quran dan Sunnah serta mengkaitkan keadaan dan tingakatn rohaniyah mereka dengan keduanya. Sufi paling terkenal adalah Al-Ghazali. Kedua, aliran tasawuf semi-filosofis, yang pengikutnya cenderung pada ungkapan-ungkapan ganjil (syathahiyyat) serta bertolak dari keadaan fana’ menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan (hulul). Sufi yang terkenal adalah Ibn ‘Arabi.

#8. Semesta Murakami by John Wray, dkk (Odise) –2021

Terdiri atas tujuh cerita, plus satu pengantar dari Cep Subhan KM. menyenangkan sekali menyaksi Penulis favorit menjalani hari-harinya, ditulis dengan gaya santai dalam bentuk esai dan wawancara. Sebagian besar mungkin sudah sungguh familiar, atau karena berkali-kali dibaca, sekadar pengulangan, tapi mayoritas memang hal-hal asyik. Seperti proses kreatif menulisnya, sudah sering kubaca; bagaimana ia menulis dalam bermimpi, dan dalam daya imaji, itu adalah kegiatan mimpi yang bisa dilanjutkan. Atau bagaimana adegan drama yang memberinya ilham di lapangan olahraga dalam momen ‘eureka’ Saya bisa menulis, atau di bagian familiar hampir semua jagoannya menderita.

“Untuk menulis novel yang panjang, diperlukan setidaknya satu tahun dengan tingkat konsentrasi dan semangat tinggi.”

#7. Cara Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang by Dale Carnegie (Gunung Jati) – 1979

Buku self-improvement yang luar biasa. Salah satu yang terbaik yang pernah kubaca. Sangat inspiratif dan menggugah. Tips-tips jitu, sebenarnya beberapa sudah kupraktekkan, terutama saat konseling karyawan, tapi dengan mambaca buku, saya mendapat teori yang lebih pas. Betapa menghargai orang lain itu sangat amat penting. Orang suka ditanyai pendapatnya dan gagasan-gagasannya.

Shakespeare mengatakan, “Yang baik dan buruk, semua itu semata-mata ditentukan oleh pikiran dan gagasan belaka.”

#6. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer by Jujun S. Suriasumantri (Sinar Harapan) – 2005

Kubaca santai sejak bulan September tahun lalu, setelah dengan terjal mencoba tuntaskan, akhirnya selesai juga. Sempat menghantuiku berbulan-bulan, sebab saat itu menemukan pengetahuan yang tak lazim tentang filsafat. Jelas buku ini memesona sekali, terutama separuh awal, tema serius disampaikan fun, dengan gambar-gambar lucu dan potongan kutip filsuf dari berbagai era. Sempat pula kubilang, wow. Ini ditulis oleh Penulis lokal, penuh gaya dan akrobat kata yang disodorkan luar biasa nyaman. Belajar filsafat tak melulu pening.

Einstein: “Ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh… mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hifup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita?”

#5. Civilization and Its Discontents by Sigmund Freud (Octopus; Immortal) –1979

Di akhir merasa ada ganjalan, pemaknaan hidup yang luas dan fakta-fakta yang disodorkan memang mencipta bimbang. Freud memang hebat kala memainkan pikiran, dan Civilization and Its Discontents jelas sukses besar mencipta riak kegelisahan.

“Keindahan, kebersihan, dan keteraturan jelas menduduki posisi istimewa di antara syarat-syarat yang dibutuhkan peradaban.”

#4. Cinta Bagai Anggur by Syaikh Muzaffer Ozak (PICT) –1987

Buku teragung di alam dunia ini adalah hidup ini sendiri. Baca, baca, bacalah, dan ulangi sekali lagi. masa lampaumu adalah bagian terbesar dari buku itu. Buku-buku Tasawuf memang sedang gandrung kubaca, efek menikmati Dimensi Mistik dalam Islam-nya Annemarie Schimmel. Nah, kali ini kita ke seberang Benua. Di Amerika yang asing, seorang guru sufi Syaikh Muzaffer Ozak. Nama asing bagi yang tak mendalami genre ini, tapi ia memang pahlawan sebar Islam di dunia Barat. Bila seseorang benar-benar mencintai Tuhannya, maka Dia akan menuntun tiap episode kehidupan si hamba menjadi semakin dekat pada-Nya, melalui jalan-jalan yang tidak pernah terduga sebelumnya.

“Bersihkan mukamu, dan jangan sibuk menyalahkan cermin.”

#3. Zarathursta by Frederick N (Narasi) –1977

Buku yang luar biasa (membingungkan). Kubaca ditanggal 1 Januari di rumah Greenvil sebagai pembuka tahun, di tengah mulai kehilangan arah (bosan dan mumet), maka kuselipkan bacaan-bacaan lain yang setelah bulan berganti kuhitung ada 9 buku, tapi tetap target baca kelar buku ini di bulan Januari terpenuhi tepat di tanggal 31 di lantai 1 Blok H, walau tersendat dan sungguh bukan bacaan yang tepat dikala pikiran mumet. Awal tahun ini banyak masalah di tempat kerja, pandemik harus ini itu, aturan baru semakin meluap, dan tindakan-tindakan harus diambil. Di rumah, lagi mumet urusan buku yang menggunung. Maka lengkap sudah Sang Nabi menambah kesyahduan hidup ini dengan sabda aneh nan rumitnya. Tuhan adalah sebuah dugaan, tetapi aku ingin dugaan kealian tidak lebih kuat dari kehendak cipta kalian.

“Kita adalah realis komplit dan tanpa kepercayaan atau takhayul.”

#2. Eichmann in Yerusalem by Hannah Arendt (Pustaka Pelajar) – 2012

Buku yang sangat kueeereeeen. Salah satu buku non-fiksi terbaik yang pernah kubaca. Kisahnya berliku. Walau intinya satu, pengadilan Adolf Eichmann yang berakhir dengan hukum gantung. Pengadilan Jerusalem ini dikupas tuntas, ditelusur dari awal mula proses ini menemukan kik, bahkan ditarik mundur terlampau jauh di mana tersangka lahir dan tumbuh kembang.

“Setelah beberapa saat ini, Tuan-tuan kita akan bertemu kembali. Demikianlah nasib semua orang. Hidup Jerman! Hidup Argentina! Hidup Austria! Aku tidak akan melupakan mereka.”

#1. Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat by Cindy Adams (Medpress) – 1965

Bagi Bung Karno, biografi ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap Sukarni maupun terhadap Indonesia (oleh masyarakat dunia). Buku yang sangat bagus, salah satu biografi terbaik yang pernah kubaca. Begini seharusnya sebuah pengakuan dibuat, ditulis oleh Penulis lain, dengan melakukan penuturan kisah hidupnya. “Ini adalah pekerjaan yang sulit bagiku. Sebuah otobiografi tak berbeda dengan pembedahan mental. Sangat sakit, melepas plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka itu – banyak di antaranya yang mulai sembuh – terasa perih…”

Yup, yang penting jangan nyebelin.

Karawang, 040122 – John Coltrane – Tanganyika Strut