Simply Sinful – Carly Phillips

image

“Dan walaupun kau lebih baik tanpa diriku, aku cukup egois untuk memintamu tetap bersamaku.”

Pengalaman pertama dengan buku Harlequin, dan ilfill. Buruk sekali. Vulgar tanpa dasar. Plot dungu, buku ini contoh buruk sebuah kisah dimana adegan seksual lebih penting ketimbang cerita. Balutan kisahnya cinta, tapi tetap saja yang dikedepankan adalah nafsu. Buku sepele yang tak berbobot. So predictable. So lame.

Inilah pertama kalinya saya membaca kisah detektif, dan sangat membencinya. Detektif cabul. Kisahnya adalah penyelidikan sebuah kelas etiket bernama Charmed! oleh kepolisian. Kelas itu diduga merupakan jaringan prostitusi berkedok biro bantuan pelajaran etika kencan. Adalah detektif Kane McDermott yang ditugaskan ke sana dengan berpura-pura sebagai pelanggan. Berbekal nama John Fredericks, yang tahun lalu pernah sukses belajar di sana, Kane memperkenalkan diri. Di sana dia disambut oleh seorang wanita (digambarkan cantik dan pintar) bernama Kayla Luck. Kayla adalah penerus bisnis ini, bisnis kelas etiket milik bibinya yang sudah meninggal. Paman dan bibinya meninggal dalam kecelakaan. Kakak Kayla, Catherine seorang wanita pesimis yang memandang dunia dengan nada negative, selalu menjaganya.
Kane datang untuk mendaftar. Namun dalam prosesnya dia malah jadi juru bantu membetulkan pemanas ruangan. Dengan gaya seorang bisnis-man dari luar kota yang pura-pura butuh pelajaran mendekati cewek, mereka berkelanan. Prosesnya sederhana, namun dibuat rumit sendiri oleh Penulis sehingga kisah sepele ini malah jatuhnya boring.

Perkenalan itu menjadikan persetujuan, mereka akan jalan. Kayla menemani Kane menonton pertandingan bisbol lalu makan malam.”Dia adalah klien.” Begitu kata Kayla selalu mengingatkan. Bahwa jalan malam itu bukan kencan. Namun tentu saja pembaca dengan mudah menebak akan ada cinta diantara mereka. Plot basi macam gini sudah sangat umum. Sayangnya Carly tak mempunyai rencana cadangan, sehingga tebakan itu menjadi nyata.
Setelah nonton pertandingan dan makan malam, mereka berakhir di ranjang. Nah bagian ini yang sungguh mengejutkan. Penerbit sebesar Gramed menterjemahkan buku mengandung pornografi. Cinta satu malam itu diceritakan dengan detail seronok. Bandingkan dengan buku-buku Eka Kurniawan yang walau ada beberapa konten dewasa masih relate sama cerita, ada warningnya 21+. Atau buku-buku Haruki Murakami, ada beberapa yang menjurus panas, namun sangat berkualitas. Simply Sinful kacau, sungguh mengerikan.

Setelah bercinta, sesuai skenario Kane memberi lembar uang ke Kayla. Tentu saja sang wanita marah karena dia bukan wanita murahan. Kayla pergi dengan air mata. Kane mengumpat, kenapa kepolisian menempatkannya di sana bak seorang pria jalang.
Tentu saja kisah terus bergulir untuk kembali mempertemukan mereka. Kayla yang merutuk, suatu malam saat di apartemennya kena rampok. Sang rampok tak meminta uang, namun sebuah buku. Sebelum misinya berhasil, dia kepergok. Kayla sedikit luka, kejadian itu menghantar sang detektif kembali ditugaskan ke sana. Pertemuan mereka sempat berlangsung tegang dan saling marah, dan yah karena ini cerita roman picisan, mereka berbaikan. Dan kisah cinta berlanjut. Apa yang terjadi ketika dua orang penuh nafsu berlainan jenis dalam satu ruang? Ah, kisah klise. Dengan kedok membantu menjaga Kayla, detektif cabul itu menginap di sana.

Kemudian konflik tambahan buku ini dimunculkan lagi. Sang perampok menelpon kembali dan meminta buku yang dimaksud. Minta ketemu di kafe, minta tak lapor polisi. Kesepakatan dibuat dan mereka pun siap menyergap sang antagonis. Jadi benarkan Charmed! Adalah sarang prostitusi? Berhasilkah mereka melumpuhkan musuh? Tebakan mudah sekali.
Saya baru tahu kalau kisah-kisah Harlequin memang vulgar. Pertama teman semeja Rani S,Kom yang bilang, ya memang gitu ceritanya. Klise dan jorok. Hufh, pantas. Kedua di grup Buku Love A Lot Book yang bilang buku Harlequin yang asli berbahasa Inggris-pun cukup seronok. Kedua pernyataan itu jadi nyata setelah membaca buku ini. Sayang sekali. Buku macam gini pastinya ga menarik, dan tak akan bertahan lama di rak buku. Sekali baca, lupakan!

Kutipan-kutipan
“Entahlah, mungkin kau bukan salesman. Mungkin kau…” | “Pembunuh berantai?” Kane menyela sambil tersenyum. | “Tadinya aku berfikir sudah menikah atau memiliki kekasih.” Kata Kayla sambil tersenyum gugup, “tapi saranmu juga harus dipertimbangkan.” – 50-51
Kayla makan apa yang disukainya malam ini dan menikmati setiap suapnya. Dan Kane senang mengamatinya. Ia bertanya-tanya apakah selera sensual Kayla juga tak terkekang. – 61
Kane menelurusi pinggiran renda putih yang mengelilingi payudara Kayla yang penuh, merasakan kulit lembut wanita itu di jemari. Dada Kayla naik-turun seiring nafasnya yang memburu, tetapi ia tetap menatap mata Kane dan tak berkata apa-apa. – 63
Kane menyobek kertas yang rusak itu, lalu meremas dan melemparnya ke tempat sampah. Kayla baru keluar dari kehidupannya selama beberapa jam dan dia tidak bisa berkonsentrasi. – 75
“Apakah kau selalu menawarkan uang kepada wanita-wanita yang tidur denganmu?” – 93
“Tidur denganmu membuatku kehilangan focus.” Cengkeraman Kane di kaki Kayla terlepas dan ia berdiri. “ Itu tidak akan Kane di kaki Kayla terlepas dan ia berdiri. “ Itu tidak akan tjadi lagi.” – 109
Kayla menggeleng, “Tidak tanpa bukti nyata dan tak terbantahkan.” – 129
Catherine berbalik. “Syukurlah kau baik-baik saja. Telpon darurat itu membuatku ketakutan setengah mati. Di mana anjing penjagamu?” – 142
“Naluriku sudah membuatku tetap bertahan hidup lebih dari sekali…” | “Naluriku sudah membuatku tetap kenyang.” – 162
“Hidupkulah yang sudah dijungkirbalikkan dan aku ingin menjadi orang yang meluruskannya kembali. Sama sepertimu, aku mengurus diriku sendiri selama yang kuingat. Aku tidak terbiasa menyerahkan tugas itu kepada orang lain, walaupun keadaan berubah sulit. – 176
Payudara Kayla yang bulat menempel di dada Kane, menempel di tubuhnya seolah wanita itu diciptakan untuk berbaring menempel seperti itu, bersamanya seperti itu, selamanya. – 216
Buat dia terpesona! Masuk dan berubahlah. – 1

Cinta Penuh Godaan | by Carly Phillips | Diterjemahkan dari Simply Sinful| Harlequin | copyright 2000 | alih Bahasa Iing Liana | GM 406 01 12 0010 | Sampul Marcel A. W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetatan pertama, Maret 2012 | 240 hlm; 18 cm | ISBN 978-979-22-8157-6 | Skor: 1,5/5

Ruang HR NICI – Karawang, 091216 – Sherina Munaf – Lihatlah Lebih Dekat

Pekan Suram Para Jagoan

image

“Ketika pahlawan lapangan hijau kalian keluar arena dengan kepala tertunduk memalukan, kalian berhak panik.” – LBP

Jagoan Pertama
Setelah gol yang aneh dari Zlatan Ibrahimovic, di mana bola lambung jarak jauhnya melewati Maarten Stekelenburg, si kulit bundar main lompat-loncat tepat di garis gawang, sebelum disapu keluar. Zlatan mengangkat kedua tangannya minta disahkan, teknologi garis gawang setuju dengannya dengan mengesahkan bola masuk. 0-1. Harusnya Manchester United sukses menuai 3 poin saat berduel di Goodison Park, namun sang mantan si Kribo Marouane Fellaini memberi kado buat Leighton Baines ke titik putih. Itu terjadi di menit 90.

Jagoan Kedua
Ini juga terjadi di menit 90. El Clasico di Camp Nou paling sunyi. Tak ada adegan colok mata, tak ada spy war lebay, tak ada adu jotos. Zinedine Zidane terlalu kalem untuk sebuah klub sekaya Madrid. Namun hasil ramuannya ternyata sangat ampuh, sehingga kini nangkring di puncak. Enrique bukan Pep yang suka membalas ejekan lempar batu tetangga, sehingga ia-pun turut kalem. Jadi apa yang bisa diharapkan dari dua orang pendiam yang sedang nge-date di malam Minggu? Adegan sunyi saling-tatap-mesra tanpa dialog yang patut memenangkan piala documenter, tentunya. Di atas lapangan, El Clasico jadi ajang semacam training camp karena kedua tim malah saling umpan di tengah lapangan tanpa niat menekuk kiper lawan. Karena dari permainan terbuka mustahil skor berubah, Takdir mencipta gol lewat bola mati. Setelah free kick Neymar melayang di kerumunan, sundulan Luiz Suarez menit 53 membuat peneriak ‘Visca Barca’ yuppy. Proses gol jelek macam gini di TSC – Torabika Soccer Championship juga banyak. Ketika kemenangan di depan mata, menit akhir giliran kapten Sergio Ramos yang membuat penggila ‘Hala Madrid’ yuppy. Dan prosesnya sama saja ala TSC, bola mati tendangan bebas yang juga disundul masuk. Bahkan kopi 3 gelas tak bisa membuat kantuk penonton hilang berkat laga bosan ini.

Jagoan Ketiga
Liverpool dalam aura membuncah guna mengejar Chelsea di papan klasemen. Sempat unggul 1-3 atas tim snob AFC Bournemouth – bahkan saya tak bisa menulis dengan benar nama tim ini tanpa menjiplak – pasukan Klopp pulang dengan malu. AFC Bourne-apalah memberi saklar kejutnya menjadikan FT 4-3. Biasanya yang memberi decak kagum macam gini adalah skuat The Reds, daftarnya panjang. Namun malam ini giliran mereka yang dipecundangi. Prosesnya thrilling macam menyingkirkan Dortmund untuk ke semifinal EL – Europe League tahun lalu. Setelah Mane, Origi dan Can membuat Liverpudlian bertepuk tangan girang, babak kedua luluh lantak. Sakit kali, di menit 90 pemain didikan akademi Chelsea Nathan Ake memberikan kemenangan pertama AFC Bourne-apalah atas Liverpool sepanjang sejarah!

Jagoan Keempat
Berkat kemenangan besar atas Fiorentina pekan lalu, Inter Milan dengan pede tamasya kota Naples. Hasilnya? Laziale ketawa ngikik. Bayangkan saja baru 5 menit coy, gawang Handanovic dirobek dua kali oleh Zielinski dan Hamsik. 5 menit 2 gol, serius bro? Serius, laga macam apa ini sampai Trans7 mengorbankan DDC. Skuat Pioli mencoba membalas dengan mendorong Icardi lebih menajam ke depan. Bukannya membalas gol malah dapat bonus sebiji lagi menit 51 via Insigne. Ayo para penebak ‘Pioli Dipecat Pekan Berapa?’, lempar dadu Anda sekarang, dan mulailah berdoa.

Jagoan Kelima
Tak ada yang meragukan kini Chelsea on fire. Bermain ke Manchester Biru yang punya duit tinggal gunting, mereka malah nge-poor permainan dengan mencetak gol terlebih dulu ke gawang sendiri. Pelakunya tentu saja sang kapten. Kelakuan yang membuat pemain FPL – Fantasy Premier League  pada geram, minus poin coy. Gary Cahill membelokkan tendangan silang Jesus Navas di akhir babak pertama hingga membuat Thibaut Courtois tak berkutik. Babak dua, barulah Conte mengajak pemain The Blues bermain beneran. Hanya butuh 3 shots on target untuk mencetak 3 gol oleh 3 pemain berbeda: Diego Costa, Willian dan Eden Hazard. Laga panas diwarnai drama Etihad di injury time. Tahu, peluang juara menjauh Kun melakukan tendangan ala pemain tarkam kepada Luiz David. Langsung kartu merah, dan memicu tawuran massal hingga Fernandinho kalap merubahnya macam preman pasar, langsung kartu merah juga. 9 pemain menit terakhir. Oke guys, saatnya melepas Kun #FPL

Jagoan Keenam
Atlanta punya deretan rekor menang berjumlah 6. Itu artinya 6 laga semua lawan disikat. Kehebohan Lord Konko dkk senyap di Juventus stadion. Baru juga 20 menit mereka roboh dua gol, pelakunya Alex Sandro dan Daniele Rugani. Babak kedua La Dea mencoba menemukan karakternya dengan memasukkan Alberto Grassi dan Aleksandar Pesic. Namun Jupe keburu menemukan momentum menjauh lewat Mario Marjuki. Gol Remo Fleurer jelang laga berakhir tak membuat banyak perubahan. Cukup 6 Jagoan Bergamo!

Jagoan Ketujuh
Lazio bermain cantik di babak pertama dalam laga emosional Derby Della Capitale, membuat tetangga tak berkutik hingga saat turun minum mereka dapat statistik 0 shot on target. Permainan ciamik skuat Simone Inzaghi dengan menempatkan Lucas Biglia sebagai pengatur serangan harusnya bisa membuat keunggulan satu sebelum babak berganti, sayang tendangan Felipe Anderson sedikit melebar. Lalu Wallace mendribel bola dan —— Fak —— (sensor).

Ruang HR NICI – Karawang, 061216 – Sherina Munaf – Sendiri

Allied: A Game Of Love

image

image

image

image

image

image

Max Vatan: Come with me to London to be my wife

Keren. Seru. Saru. Superb. Dengan pesona Brad Pitt yang mancho dan Marion Cotillard yang seksi – dengan kecantikan natural yang begitu menggoda, sepanjang lebih dari 2 jam kita menyaksikan lika-liku kehidupan mata-mata di era Perang Dunia II yang menegangkan. Sekali lagi, saya menutup mata dan telinga terhadap film ini. Hanya segelintir yang kutahu, itupun tak lebih dari sekedar gosip perselingkuhan mereka. Kabar perceraian Pitt dan Jolie. Kabar karma Mr and Mr. Smith. Selebihnya tak tahu, sehingga saat film meledak di akhir kisah saya sangat puas, secara keseluruhan.

Karena ini film buatan Robert Zemeckis, film ke 18-nya, harapan tinggi wajar. Dari orang yang membuat kita terpukau lewat Forrest Gump, Back To The Future trilogy sampai Cast Away. Namun pengalaman terakhir The Walk yang biasa, harus dipertimbangkan. Kekuatan utama The Walk di visual, jadi karena saya menonton bukan di layar lebar, kenikmatan menonton tak didapat. Jadi, pastinya ketika nantinya kalian menikmati Allied di layar kecil, keseruannya-pun tak maksimal.

Film dengan meyakinkan dibuka dengan adegan sunyi di padang pasir Marocco Perancis, 1942. Seorang penerjun payung mendarat, tanpa banyak dialog Max Vatan (Brad Pitt) dijemput seorang sopir (Vincent Ebrahim). Dengan Bahasa Perancis yang fasih, sang sopir memberi sebuah cincin dan petunjuk bahwa ‘istri’-mu bergaun ungu. Kemudian sesampai di pesta, Max melihat sekeliling, mencari. Saat akhrinya matanya menemukan gambar burung dengan seorang wanita berbaju ungu di atas kursi, dirinya mendekat. Bersamaan sang wanita Marianne Beausejour (Marion Cotillard) menoleh, ada jeda beberapa detik, hingga mereka berdua tersenyum. Saling ‘klaim’ pasangan suami-istri. Dalam makan malam itupun, Max diperkenalkan.

Wah, bukan cara berkenalan yang lazim. Max diceritakan sebagai pekerja tambang fosfat, dia jarang pulang sampai para teman Marianne menganggapnya sebuah mitos. Sang istri diceritakan dari keluarga hedon, dengan gaya glamour era 1940an. Dalam sebuah adegan, mereka me-reka di Casablanca adalah rutinitas setelah bercinta sang suami ke atap rumah, bersantai. Karena mereka dibuat senyata mungkin sebagai pasutri maka beberapa terlihat menggoda. Yang paling diingat ya pas adegan makan siang. Udara Casablanca yang panas, kipas yang berputar tak cukup mendinginkan suasana, termasuk kepala. Marianne membuka kancing baju atas, dua. Max masih saja fokus makan, kipas masih berputar lalu kancing ketiga dilepas. Dan penonton pun kemudian berujar bersamaan, ‘yah…’

Sebenarnya mereka dalam misi. Max adalah mata-mata Inggris dari Kanada, Marianne mata-mata dari Perancis. Mereka bersatu untuk membunuh duta besar Jerman yang sedang di Casablanca. Untuk melakukannya, mereka berperan sebagai pasutri yang diundang dalam acara makan malam. Untuk mendapatkan undangan itu mereka bertemu dengan Hobar (August Diehl). Di adegan inipun dibuat dengan seru, Hobar hobi judi. Max pura-pura pekerja sibuk yang ga minat hura-hura, seorang yang suka poker. Untuk memuluskan cerita, tentu saja Max ‘ngalah’ sehingga dua undangan yang diincar itupun dengan mudah didapat.
Saat berlatih bersama. Kita tahu Marianne bukan sembarang mata-mata. Setelah Max melatih tembang kaleng dengan jitu, Marianne lebih solid lagi karena ketiga tembakan tepat sasaran, bonus ranting orang-orangan patah. Saat hari terakhir sebelum misi mereka menghabiskan hari di padang pasir, berdua memandang matahari. Lalu saat dalam mobil, badai datang. Dan ada nada nafsu serta kekhawatiran andai besok misi gagal, maka jadikanlah hari ini istimewa. Dengan iringan skor yang lembut, badai pasir mengelilingi mobil yang terkunci, adegan panas yang pastinya bikin panas Jolie tersaji. Disorot dengan kamera istimewa, view-nya berputar lalu menjauh.

Pelaksanaan misinya sendiri dibuat seru. Menanti ledakan tanda, menanti sambutan. Dan saat akhirnya tiba, meja digulingkan, rentetan tembak terjadi. Ketika target berhasil dibunuh. Mobil menjauh, mereka selamat, segalanya ternyata lebih mulus ketimbang yang dikira. Dalam deru mesin mobil menjauh Max berujar, ‘Ayo ikut aku ke London dan jadilah istriku.’

Singkatnya mereka akhirnya menikah. Bahwa perkawinan antar agen biasanya berjalan hancur, mereka cuek. Pernikahan yang romantis. Max bekerja sebagai penerbang di Pemerintahan Inggris di section V, Marianne jadi ibu rumah tangga yang terlihat baik. Setahun berselang mereka punya anak, proses kelahiran dibuat dengan sangat dramatis. Di antara dentuman bom, rentetan tembak, Anna terlahir. Perang Dunia Kedua memang sedang terjadi, tapi Max punya keluarga kecil yang bahagia.

Ketika Anna beranjak setahun, konflik sesungguhnya film ini disajikan. Max dipanggil bosnya, Frank Heslop (Jared Harris). Dalam sebuah ruangan sempit, Max terduduk dengan Frank berdiri tegap di belakangnya sementara di depannya seorang S.E.O Official – yang pasti pangkatnya lebih tinggi ketimbang Frank – menanyakan pertanyaan pedas. Sampai akhirnya keluar kalimat menyakitkan, Marriane yang kamu nikahi bukanlah Marianne yang sebenarnya, karena Marianne sudah tewas tahun 1941, ‘Kami percaya istrimu adalah seorang dobel agen!” WTF! Ekspresi Pitt dapat banget, kursi sampai terjungkir saking kagetnya. Ga mungkin, ga mungkin itu semua. Dari penjelasan singkat itu, Pemerintah tahu beberapa data rahasia bocor ke Jerman karena ada yang mengirim dari Inggris. Langsung deh saya teringat Turing Machine, Enigma-nya Benedict Cumberbach.

Untuk menguji kebenarannya, Pemerintah mencoba melempar umpan. Skenarionya. Malam, Max akan dapat telpon, tolong dicatat dalam kertas, bertingkahlah biasa. Biarkan Marianne melihat, lalu kita lihat akankan kode itu bisa sampai ke telinga musuh. Jika terbukti sebagai dobel agen, maka Max sendiri-lah yang berkewajiban membunuhnya. Atau kalau tidak, mereka berdua yang harus dibinasakan. Nah, keseruan Allied ada di sini. Proses membongkar fakta. Proses pembuktian yang sangat solid. Penonton diajak berspekulasi, diajak menebak dan terlibat. Benar-benar mengaduk emosi. Jadi benarkah Marianne seorang agen Jerman?

Dalam proses pembuktian siapa Marianne ada adegan yang sangat dramatis. Max dipaksa ke Perancis setelah sebelumnya mengirim seorang penerbang polos yang berakhir tewas, Max harus bertemu seorang tahanan yang kenal baik Marianne, lalu memperlihatkan sebuah foto pernikahannya dengan menyobek dua. Max menanyakan apakah itu foto Marianne, namun karena mabok dan meracau, bukan jawaban langsung yang diterima, tapi sebuah fakta bahwa Marianne mahir memainkan piano dan bersuara merdu. Eksekusi yang brilian hingga Pitt dipaksa melempar bom ke tank – hello Fury, karena ketika kita dihadapkan pada adegan pasutri ini di depan tuts piano untuk menguji jari Marianne, suasana  menjadi begitu menegangkan.

Bisa jadi, Allied adalah salah satu film terbaik 2016 yang kutonton di bioskop. Cerita, yang selalu kugadang-gadang adalah poin pertama dalam film, sukses menghipnotis. Ditunjang penampilan menawan pasangan Pitt-Marion, sungguh jadi drama Perang Dunia yang sempurna. Kapan lagi kita bisa melihat Pitt berdialog French – ala Quebec? Nama Vatan artinya adalah homeland dalam Bahasa Arab, penjabaran asal Max yang seorang Kanada-Perancis.

Oscar masih sangat jauh, namun ada tiga kategori yang wajib diantisipasi: pertama jelas tata busana yang meriah, kedua original screenplay yang sukses dan terakhir sinematografi. Semoga Allied bisa lantang Februari 2017 nanti.

Setting film adalah tahun 1942, saat payung terjun Pitt mendarat hingga tahun 1944, sesuai catatan surat Marianne. Masa itulah Nazi Berjaya, masa Perang Dunia Kedua. Tentu saja film Casablanca selalu disebut sebagai perbandingan. Pioneer drama Perang Dunia yang selalu dipakai acuan.

Satu hal yang saya sesalkan dari film ini adalah, saya menonton sendiri di Selasa sepi. Selalu. Ketika saya melihat film bagus, apalagi romantis saya selalu ingin melewatkannya dengan May. Susah memang mengajaknya duduk berdua menghabiskan waktu menatap layar. Susah memang menikah dengan pasangan yang tak sehobi. Benar-benar menyesal menyaksikan sendiri, sementara ada banyak adegan drama yang asyik didiskusikan dengan pasangan. Salah dua-nya adalah ketika Max kehilangan ‘gairah’ karena kepalanya pening, sehingga saat di rumah dia lupa tak mencium istrinya hingga Marianne berujar, ‘Hey, what happened to my kiss?’ dan kalimat cinta tanpa debat Marianne, ‘I love you with all my heart’.

Allied | Year 2016 | Directred by Robert Zemeckis | Screenplay Steven Knight | Cast Brad Pitt, Marion Cotillard, Camille Cottin, Jared Harris, Charlotte Hope, Marion Bailey | Skor: 4,5/5

Karawang, 051216 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

DDC – I 2016/2017

image

Perkiraan formasi DDC
4-3-3
Marchetti
Basta-De vrij-Wallace-Radu
Parolo-Biglia-Lulic
IKA

Prediksi warga FOC

LBP
3-0
Biskuit Roma celupin air melempem. Roma Irama hobi poligamo, masuk politik melempem. Pemain Roma dibentak Lord Djordje, melempem.

Bli DC: Lazio 0-2 Roma, Dzeko
Derby ini tak mengenal homeside. Bentuk terbaik Elang sepertinya akan goyah pekan ini.ini setelah sekian kuis berada disisi biru langit, kali ini saya ada di sisi sebaliknya

Bung Gangan: Lazio 1-2 Roma. Dzeko.
Roma dulu, Ani kemudian. Dzeko hattrick, tapi satu gol dianulir.

Pak pres: Lajio 2-2 roma, Dzeko
Dzeko onfayah. Semua menganga. Srigala pun menerkam Elang yang kesakitan. Akhirnya tower roboh ga ketulungan.

Iin: Lazio 2-1 Roma Biglia. Udah lama Lazio ga menang di derby della capitale. Mungkin om Budy juga lupa kapan terakhir menang. Minggu ini aku doain menang deh.

Pap win: Lazio 1-3 AS Roma. Dzeko
Dzeko world class striker. Goooooolll. Goooool lagi.

Bung Agus‬: Lazio 2 – 0 Ciro Roma
Trend biru masih berlanjut. Semangat 212 di Undonesia akan menginspirasi pasukan biru. Lazio menang manpres senang.

Bung Widy: Lazio 3-2 Roma. Biglia
Laga Derby dihelat. Lazio dalam track kemenangan selalu. Terakhir dapat kuis ya derby ini dari pak ManPress. Semoga tembus lagi.

Kak Arief: Lazio 1-1  AS Roma. Dzeko
Dzeko berambisi menjadi top scorer. Lazio tak terkalahkan di 9 laga terakhir. Pertandingan akan berjalan ketat.

Bung Huang: Lazio 2-1 Roma ; Immobile
Analisis:
Marilah seluruh Laziale Indonesia
Arahkan pandanganmu ke depan.
Raihlah mimpimu bersama de grit.
Satukan tekadmu tuk masa depan.
Pantang…. Menyerah…
Itulah… Pedomanmu.
Nyalakan api perjuangan.
Dengungkan gema, nyatakan persatuan.
Oh, de grit , oh degrit
Jayalah laziale indonesia. 💃🏼

Bung Adit: Lazio vs Roma : 1-3, Salah.
Lazio menang salah, Roma menang tidak salah, akhirnya gol jadi salah.

Bob: Lazio 0-2 Roma, Perotti
Salah masuk nominasi pemain terbaik Afrika. Motivasi berlipat, dia akan kembali nyekor. Lawan siapapun boleh kalah asal jangan sama Lazio.

Rahmad
Lajio 1 – 5 Roma
Dzenko.
Permainan ofensif Elang benar-benar bikin Srigala kaget. Srigala fokus bertahan sedang Elang sporadis menyerang. Hasil imbang mungkin hasil yg adil. Tapi Elang lupa, yang di serang adalah Srigala sedang ia hanyalah Elang. Elang ingin makan srigala, srigalapun menyerah untuk dimakan. Dan kodrat takkan berubah.
Takdir Elang yang setia. Srigala makan daging.

Bung Tak mana?

Karawang, 041216

Nebraska: Father And Son Journey – Wonderfull, Hilarious And Poignant Movie

image

image

image

image

image

image

image

David Grant: So, you told Sheriff you were walking to Nebraska? | Woody Grant: That’s right. To get my million dollars.

Film yang sempurna. Tentang kisah cinta kasih orang tua kepada anak dan sebaliknya. Dengan latar hitam putih kita diajak menelusuri perjalanan menempuh mimpi dari Billings, Montana ke Lincoln, Nebraska. Sebuah perjalanan religi penuh perenungan. Saya sudah tahu ini film bagus setelah masuk nominasi Oscar tahun 2014, dan baru berkesempatan menontonnya semalam.

Saya memang bukan penikmat film hitam-putih. Tak banyak film tak berwarna era milinea yang kutonton. Siti yang dipuja-puji banyak kritikus kurasa biasa. Anti-klimaks. The Good German yang dua minggu lalu kutonton bahkan melewati empat kali percobaan tonton dan sampai sekarang tak kelar! Sampai di disc dua, selalu ketiduran. Nebraska lain, sekali lihat langsung tuntas dan begitu menyentuh hati. Begitu bagus, sangat bagus. Lebih hebat ini ketimbang The Artist yang mengguncang Oscar.
Awalnya kukira bakal jadi film nostalgia seorang kakek tentang masa mudanya bersama teman-teman. Karena materi poster dan trailer memang mengarah ke sana. Duduk di kafe, minum alkohol. Ngobrol dengan teman lama. Menghabiskan masa tua dengan tenang. Well, salah besar. Ini kisah perjalanan religi ayah-anak yang ditulis dengan hati.

Setelah logo A Viacom company dengan tulisan Paramouth Release (bukan sembarangan logo, itu gambar dipakai di tahun 1950an), film langsung ke pokok masalah. Pembuka yang aneh, seorang kakek berjalan kaki terhuyun di pinggir jalan dengan jaket tebal. Lalu seorang polisi menghentikan mobilnya menyapa, menanyakan mau ke mana dan dari mana. Tanpa banyak jawab, sang kakek hanya menunjuk ke depan dan ke belakang. Layar menggelap muncul tulisan Paramouth Vintage di sisi kanan beserta jajarannya hingga judul Nebraska, lalu 6 cast utama di sisi kiri. Kemudian juru mudi film ini di tengah.

Layar kembali dibuka dengan adegan David Grant (Will Forte) di kantor polisi, diantar oleh petugas bertemu sang kakek tadi. Orang tua nyentrik, Woodrow ‘Woody’ T. Grant (dimainkan dengan brilain oleh Bruce Dern) mengklaim memenangkan uang satu juta Dollar. Dengan selembar kertas yang menyatakannya, ia berencana ke Nebraska. David tentu saja tak percaya, itu adalah tipuan tua agen marketing. Namun Woody bersikukuh, ia percaya dirinya berhak menjadi milyader.
Ketika sampai rumah, mereka disambut ibunya Kate Grant (dimainkan dengan absurb oleh Jane Squibb) berambut pirang. Seorang istri yang kolot, cerewet dan suka mengatur. Dia sudah memperingatkan dua kali Woody keluar rumah, dan betapa ia keras kepala. Ah orang tua, apa yang kau mau lakukan dengan sejuta Dollar? Beli truk baru dan sebuah kompresor? Kau kan tak boleh menyetir, ya akan kubuat SIM lagi. Haha, absurb. Namun di eksekusi ending jadi begitu menggugah, bahwa seorang tau dengan keinginan sederhana ternyata begitu bermakna.

David bekerja di sebuah toko Mid City Superstore, toko elektronika dan furniture. Hanya sepintas sih diperlihatkan, namun secara ga langsung adegan David melayani dua pelanggan itu seakan bilang, ‘betapa susahnya cari duit’. Di jam kerja itupun ia mendapat telpon untuk segera pulang, ayahnya lagi-lagi mau kabur dari rumah. Bertemu kakaknya yang berfikir lebih praktis, Ross Grant (Bob Odenkirk) seorang penyiar berita televisi yang lumayan sukses. Dialog singkat itu pun sebenarnya sarat makna, ‘betapa baginya karir lebih penting ketimbang mengurus orang tua’.

Saat berikutnya kita diperkenalkan keadaan David yang ternyata kurang bagus juga. Pacarnya Noel (Missy Doty) baru saja minta break. Noel datang membawa koper, dikiranya dia akan balik, oh tidak. Ia kembali hanya untuk mengembalikan barang-barang milik David. Dua tahun tinggal bersama, dan terputus. David dari gesture-nya memberitahu kita, ia sedang down ditinggal. Saat itupun ia kembali ditelpon ibunya, Woody kabur lagi. Hufh, betapa keukeh orang tua. Perkenalan-perkenalan ini kemudian mengantar penonton untuk memulai perjalanan panjang ke Nebraska.

Dengan lanskap jalan tol Amerika yang rapi, tanpa macet ditemani skoring lembut. Melewati Wyoming yang mengajak penonton ikut mendongak ke langit melihat cuaca. Saat di rest area, David isi bensin. Woody ga ada di dalam mobil, keluar minum beer. Berhenti sejenak di pinggir jalan untuk pipis, adegan ini asli Bruce Dern beneran pipis di pinggir jalan guna mendapatkan scene yang pas. Melewati South Dakota, lalu sampailah di daerah Rushmore. Dengan pahatan kepala empat orang terkenal itu. Malamnya mereka menginap di hotel, eh Woody berjalan dalam gelap hingga kesandung sehingga kepalanya sobek. Ketika di rumah sakit, kena jahit. Dan dari penjelasan dokter, Woody butuh istirahat. Debat panjang itu memutuskan mereka tak akan segera ke Lincoln akhir pekan, namun akan mampir ke Hawthorne. Awalnya Woody menolak, David gigih kita harus ke sana. Ma dan Ross akan ikut datang, saudara-saudara jauh bahkan sudah berencana ngumpul di Minggu pagi jadi bijaknya jadi ajang reuni keluarga. Mampir ke rumah bibi Martha. Ke tempat Woody dibesarkan.

Setelah pencarian gigi palsu yang aneh di perlintasan kereta, mereka melanjutkan perjalanan ke Nebraska, the good life. Home of arbor day. Saat akhirnya mobil memasuki Hawthorne, tatapan hampa Woody memberi tanya ada apa?

Agedan demi adegan berikutnya menjelaskan itu semua. Di rumah bibi Martha dan paman Ray yang senyap. Kedua sepupunya, Bart (Tim Driscol) and Cole (Devin Ratray) yang duduk dengan keadaan tanpa ekspresi adalah pengangguran. Ekomoni sedang buruk. Menertawakan perjalanan 750 Km butuh waktu 2 hari? Bart bahkan pernah dari Dallas, 800 Km hanya dalam 8 jam. Mobilmu dari Jepang? Enggak ah KIA dari Korea. Well, Korea? Woody kan veteran perang Korea! Dialog annoying ini memang terasa mengesalkan David dan penonton, namun jelas ada sesuatu yang berarti.

Dimulailah nostalgia, Hawthorne adalah tempat lahir dan berkembang Woody jadi mereka memutuskan keliling ke rumah teman-teman lamanya. Dari bengkel Ed Pegram (Stacy Keach) yang sudah berganti pemilik, ke kafe Tom Varnik yang juga sudah tak di sana. Kemudian malamnya ke kafe Old Milwauke, Coors Light. Di sinilah segalanya mulai terang. Bertemu teman lama Ed Pegram, teman yang dulu mengambil kompresornya. Nostalgia itu pecah, ketika Woody bercerita dia memenangkan satu juta Dollars. Seisi kafe tepuk tangan dan riuh. Hufh, David langsung lemas.

Babak baru kisah ini. Warga menyambut Woody bak pahlawan. Milyader kebanggaan Hawthorne. Kabar dengan cepat menjalar bak sengatan api ke bensin. Sampai rumah kedua kakak-adik Bart-Cole sikapnya yang cuek berubah ramah. Teman-teman lama, menyelamatinya. Keadaan makin runyam saat keluarga besar kumpul di hari Minggu. Satu juta Dollar. Wow, uang sebanyak itu buat aja ya nanti? Kate selalu cuek dan bilang, ‘Apakah hanya saya orang waras di sini?”

Dalam adegan sunyi di depan televisi sekumpulan kakek sedang menyaksikan pertandingan bisbol Chicago vs Detroit. Diselingi sesekali percakapan mobil tua tahun 1970an. David terdiam, terperangkap masa. Pembicaraan saat makan bersama pun tak semembosankan sinetron karena sangat berbobot. Betapa Woody akan membeli truck dan kompresor baru, kenapa mereka ingin berkunjung ke rumah tua ayahnya tumbuh, hingga kasus yang menimpa anak Martha. Para burung bangkai yang mengelilingi mangsa minta ‘jatah’. Adegan menyentuh di rumah tua Woody lalu ke pemakaman dengan dialog absurb. Sampai adegan lucu di rumah tetangga Westendorfts. semua tersaji dengan tensi tenang namun menghanyutkan.
Saat lagi-lagi Woody harus terbaring di rumah sakit, anak dan istrinya memutuskan kembali ke Billings, rasanya peluang sudah tertutup. Tapi bagi Woody tidak. Perjalanan suci ke Nebraska harus terus ditempuh, apapun yang terjadi hari Senin harus di sana. Sampai akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Benarkan Woody memenangkan hadiah itu? Mengkalim Sejuta Dollars Mega Sweepstakes prize?

Bruce Dern layak dapat Oscar. Penampilan kikuk, gesture orang tau ringgih dengan luapan lupa sekaligus childish. Sungguh penampilan prima tiada dua. Sayang du tahun itu Matthew memang digdaya. Jane Squibb bermain lepas, cocok sekali sebagai gadis tua pirang yang masih pakai logika dengan gaya bahasa apa adanya. Penampilan orang tua yang mengundang depresi penonton. Will Forte tentu saja dapat kredit lebih. Sebagai anak sensitif, orang terasing, anak berbakti pada orang tua yang siap membantu tanpa pamrih. Lulusan SNL ini tidak hanya sukses membawa ayahnya menyerangi negara bagian sampai Nebraska namun jua sukses membawakan peran.

Inilah film terbaik Alexander Payne. Orang yang membawa kita pada The Descendants dan About Schmidt. Payne memang jeli. Menaruh potret keluarga usang Amerika dengan mimpi-mimpinya. Manaruh gambar-gambar sunyi yang memberi perenungan. Ada sebuah adegan selama setengah menit. Padang penuh kerbau, padang dengan lanskap panjang pepohonan dan rumput sesekali bergoyang terbelai angin. Film drama keluarga yang sedih, marah, gembira dan tertawa secara berututan. Kalau kalian jeli, ada penulsi naskah Bob Nelson dalam adegan saat Woody mendapat tepuk tangan di kafe. Bonus cameo sang screenplayer.

Setelah saya cek di ajang penghargaan, Nebraska mendapat 6 nominasi Oscar. Woooah banyak juga. Nominasi di bagian primer semua lagi. Dari best picture, best actor sampai original screenplay. Sayang seribu sayang, tak satupun tembus. Setelah menonton film ini saya berpendapat harusnya Nebraska bisa menang di best supporting actress. Ketimbang Lupita, jelas Jane Squibb lebih berbobot mendukung Bruce. Lalu di naskah juga layak ini film menang telak ketimbang Her yang membosankan. Bagian lain memang sedang apes karena dominasi 12 tahun sebagai budak.

Film sebrilian ini, duh kenapa tangan hampa di ajang sebesar Oscar?

Nebraska | Year 2013 | Directed by Alexander Payne | Screenplay Bob Nelson | Cast Bruce Dern, Will Forte, Jane Squibb, Bob Odenkirk, Stacy Keach, Mary Louie Wilson, Rance Howard, Tim Driscoll, Devin Ratray | Skor: 5/5
Karawang, 041216 – Backstreet Boys – Helpless

Juve Tumbang, Papan Atas Serie A Riuh

image

image

image

image

image

image

image

“Saat kita bisa mengalahkan Genoah, saat itulah kalian berhak khawatir.” – LBP

Pekan ke 14 Serie A, Lazio The Great sukses mengkonversi poin penuh saat lawatan ke Stadio Renzo Barbera, Palermo. Kemenangan satu gol yang sangat berarti. Pasalnya papan atas sekarang jadi begitu riuh, setelah sang pemuncak Juventus digebuki hingga babak belur oleh Genoah 3 gol. Milan kembali menang meyakinkan dengan gol dari sang pemuda Lapadula. Tetangga lagi-lagi dapat pinalti untuk membungkus 3 poin saat dapat tamu Pescara. Dan laju tak terbendung Atlanta yang sekarang menempati posisi lima.

Pekan ini Laziale Karawang nonton bareng (nobar) ke rumah Coach Setiadi. Hanya 5 menit dari rumah. Lawan memang sangat berpengaruh peserta nonton. Sekalipun kini jam tayang live sangat bersahabat, kick off setelah Mahgrib, yang datang hanya 7. Nard, Nda, Hanafi, Budy, Satria, Nurr, dan tuan rumah. Padahal menu istimewa nasi kuning, karena kebetulan putri kedua Setiadi sedang ulang tahun maka masak lebih. Menu istimewa yang menemani pertaruhan Serie A.

Pengalaman buruk minggu lalu, kali ini kita membawa dua koneksi. Satu pakai laptopku dengan provider Pati-sim, satu lagi dengan provider fren-smart. (karena saya tak boleh sebut merk Simpati dan Smartpren maka saya balik penyebutannya). Untungnya kali ini keduanya lancar.

Dengan formasi paten 4-3-3 dan segudang keyakinan penuh. Kiper ada di tangan yang tepat, Thomas Strakosha membuat kita nyaman. Kiper semuda itu dengan reflek bagus dan ketenangan luar biasa. Fakta kita menginginkan dia lebih sering turun ketimbang kiper pecicilan Machetti, hingga keluar celetuk, “Selama kipernya Thomas, kita tak khawatir sektor belakang.” Ada benarnya juga, sektor vital inipun kita sudah sangat solid. 4 bek: Lulic, Radu, Wallace dan Basta. Tak diragukan lagi mereka musim ini begitu meyakinkan. Bagian tengah lebih gila lagi: Parolo, Biglia dan Sergej Milinkovic-Savic, ketiganya on fire. Ketiganya menopang tridente IKA paling diantisipasi Serie A musim ini: Immobile, Keita dan Anderson. Selama ketiga pemain ini starter, adalah jaminan ada gol. Dengan skuat semenakjubkan gini, jangankan tiket Champions, persaingan juara-pun ada dalam pandangan.

Babak Pertama
Kartu kuning pertama buat Lulic di menit 14, hati-hati kawan pekan depan DDC. Gol yang ditunggu itupun hadir. Menit 31 Dusan Basta berlari masuk kotak pinalti, menerobos barisan kiri pertahanan Palermo lalu mengirim umpan datar ke depan gawang. Savic di posisi tepat guna membelokkan si kulit bundar. Prosesnya ciamik, karena Savic hanya menyentuhkan bola dengan membelakangi gawang. 1-0. Skor tak berubah sampai separuh babak.

Istirahat jeda, langsung ramai-ramai santap nasi kuning. Nardut sampai imbuh, lahap 2 piring. Satria disela kepulan asap rokok menyikat bersih. Nurr malah ngopi. Hanafi dan tuan Rumah lebih kalem dengan diam makannya, namun ternyata habis banyak jua saking khusuknya maem. Saya dan Nda sakit perut karena kebanyakan sambel. Kayaknya ini sambel mode ultra pedas.

Babak Kedua
Inzaghi melakukan pergantian lebih cepat dari biasanya. Baru menit 65, bek keling ‘Predator’ Lukaku masuk mengganti Lulic. Tak lama berselang meni 68 Lord Drodje masuk mengganti Anderson. Langsung deh pada komen negatif. Dari matikan komputer, buang kuota aja, Djordje cuma lari-lari ga jelas, sampai yang paling ekstrem teriak pemain tak guna. Sebenarnya ini kesempatan Filip buktikan diri karena menit bermain masih lumayan panjang. Sayang memang tak bisa berkutik ia. Tak ada kesempatan emas, tak ada andil bagus yang memberi kontribusi buat tim, sejauh ini.

Kesempatan paling bagus Palermo datang menit 76, sebuah tembakan jarak jauh Illija Nestorovski setelah memainkan satu dua sentuhan dengan Robin Quaison. Tembakan on target itu dengan brilian dimentahkan oleh Thomas Strakosha. Langsung deh teriak, kereeen! Andai Machetti bisa lain ceritanya.

Pergantian terakhir diberikan kepada wonder kid Christiano Lombardi menit 81. Menarik Keita Balde, sehingga kini pola kita berubah jadi 4-4-1 (Lord Djordje tak dihitung). Menit 86 sebuah adegan aneh terjadi. Lombardi yang memang punya speed power, menggiring bola dengan kecepatan penuh dari sisi kiri. Giancarlo Gonzales bukannya menekel bola atau mencoba membendung dengan cara benar, malah menubruk Lombardi dengan ‘pelukan mesra’. Tentu saja langsung merah karena posisi tepat di depan garis pinalti, dan andai lolos bisa jadi skor berubah. Saat akhirnya peluit panjang terdengar, kita pun memantabkan kemenangan. Sekalipun hanya menang satu gol, Lazio menguasai pertandingan hingga 60% dengan membukukan 6 tendangan ke gawang. Modal bagus jelang DDC.

Palermo (3-5-1-1) : Posavec; Goldaniga (LoFaso 80), Gonzalez, Andelkovic; Morganella, Bruno Henrique (Buoy 54), Jajalo, Chochev, Aleesami; Diamanti (Quaison 46), Nestorovski
Pelatih : Roberto De Zerbi
Lazio (4-3-3) : Strakosha; Basta, Wallace, Radu, Lulic (Lukaku 65); Parolo, Biglia, Milinkovic-Savic; Felipe Anderson (Djordjevic 68), Immobile, Keita (Lombardi 81)
Pelatih : Simone Inzaghi

Milan Meyakinkan
Sehari sebelumnya AC Milan juga sudah menatap puncak. Euforia kebangkitan memang bukan hanya milik The Great. Situs Whoscored mencatat dalam team of the week, tiga pemain Lazio ada di dalamnya: Wallace, Biglia dan Savic. Tiga lagi dari Milan: Abate, Suso dan Lapadula! Si Merah Hitam menang lebih meyakinkan 1-4, dua gol dari striker yang sedang galau Gianluca Lapadula. Isunya memang Milan mulai memberi kesempatan sang pemuda guna meredam penjualan Bacca, kesempatan yang tak disia (bandingkan dengan Lord Djorje). Lapadula saat musim akan bergulir sangat santer mau ke Lazio, sampai jelang mulai kompetisi malah memilih ke kota Milan.

Tetangga Menggosok Voucher Pinalti Lagi
Dari Olimpico, Agen kita Massimo Oddo nyaris menggagalkan tiga poin tetangga. Saat separuh babak mereka unggul 2-0 lewat gol ganda Edin Dzenko. Kolaborasi keduanya via asis Perotti. Pescara sempat memperkecil skor 2-1 saat sejam berjalan lewat gol Ledian Memushaj. Hingga akhirnya lagi-lagi wasit membuat Tetangga menjauh karena pinalti Perotti. Betapa setiap pemain Srigala jatuh di kotak pinalti begitu disayang wasit, hingga seolah peluit itu bunyi sendiri punya auto-whistle dan tangan wasit kena magnet ke titik 12 pas.

Jupe Haha
Inilah kabar paling ditunggu pecinta Serie A, kecuali Juventini. Si Zebra tumbang 3-1 dari tim asal Genoa. Berkat andil anak Diego Simone, Giovanno Simone yang membuat dua gol. Langsung keluar keluar meme gaya selebrasi Gio dan Diego Simone yang mirip. Bahkan saat babak berganti, mereka unggul 3-0. Ngeri kan. Allegri berujar, mereka kehilangan daya juang berkat gol cepat. Pertahankan! Genoah menggelontor Milan 5 gol, Juve 3 gol. Saat lawan Lazio kita bisa lepas kutukan Genoah, jadi ini semacam pertanda kita dalam pole possition gelar.

Senyum Pioli
Sementara Inter akhirnya bisa menang. Baru 19 menit mereka sudah unggul 3 gol via Brozovic, Candreva dan Icardi. Fio berhasil memperkecil 3-2, yang membuat Interisti ketakutan. Gol Fio dicipta lewat kreasi Kalinic dan Illicic. Gol Kalinic bahkan terlihat cantik berkat asis Milan Badelj menit 37. Ingat saat EL lawan Hapoel-who-Sheva? Dari unggul 0-2 menjadi kalah 3-2? Itulah rasa khawatir yang menyergap seantero Meazza. Harusnya memang bisa menjadi 3-3, selain karena Fio bermain 10 pemain, salah satu seranganya Borja Valero gagal menjebol gawang Handanovic di menit-menit akhir. Ah andai saja Broja lebih tenang. Kelegaan 3 poin Interisti dipastikan di saat menit injury lewat Icardi. Kebiasaan Pioli, babak pertama begitu semangat nyerang, babak dua ndobos. Malam ini nyaris.

Kabar terbaru, semalam skuat Pioli kembali luluhlantak 3 gol di Naples. Hufh, kasihan. Baru bulan Desember, sudah kibarkan bendera putih.

Hasil lengkap Serie A pekan 14:
Torino 2-1 Chievo
Empoli 1-4 AC Milan
Palermo 0-1 SS Lazio (Milinkovic-Savic 31′)
Bologna 0-1 Atlanta
Cagliari 2-1 Udinese
Crotone 1-1 Samdoria
Genoa 3-1 Juventus
Tetangga 3-2 Pescara
Napoli 1-1 Sassuolo
Inter 4-2 Fiorentina

Kombinasi FT ini, kini gap sang pemuncak dipangkas jadi 5 dengan Lazio. Namun Lazio harus waspada jua, karena Atlanta kini menyamai poin kita berkat penampilan konsisten dan impresif Etrit Berisha dkk. Pekan ini bakal lebih panas. Derby Della Capitale akan menentukan arah papan atas, Juventus akan diuji Atlanta, ayo Lord Konko tekuk mereka! Sementara Milan dapat lawan mudah juru kunci. Kini segalanya semakin saru, andai Lazio scudetto saya bernadzar…

Karawang, 031116 – Novita Dewi – Sampai Habis Air Mataku

Reasonable Doubt: Mind Game Becomes Corny Thriller

image

Clinton Davis: Well, it looks like you just f**ked up our reasonable doubt here, Mitch.

Film dengan bintang besar Samuel L Jackson. Seperti judulnya, kisah dalam film ini akan membuat penonton terhanyut dalam pikiran sang tokoh, ikut memberi alasan meragu. Permainan pikiran, awalnya sangat menjanjikan. Plotnya disusun dengan rapi dan terus tensinya terjaga — sampai di tengah. Sayangnya eksekusi akhir gagal meledak. Khas film happy ending yang akan membuat remaja ceria.

Semenjak baca buku Sidney Sheldon, ‘Malaikat Keadilan’ saya suka segala cerita tentang hiruk-pikuk gedung pengadilan. Maka saat film dibuka dengan jeritan anak kecil yang takut darah di musim salju yang dingin di sebuah taman bermain lalu judul muncul dan disambung ke sebuah Pengadilan Boston, maka tinggi jua harapan ini. Kisahnya, seorang jaksa kota Mitch Brockden (Dominic Cooper), pria asal Riverdale sedang bernarasi di depan juri betapa tersangka patut dijatuhi hukuman berat. Rekannya Stuart Wilson (Dylan Taylor) tampak terpesona, betapa Mitch begitu pintar meyakinkan orang-orang.

Mitch punya keluarga yang sempurna. Istri cantik Rachel Brockden (Erin Karpluk) yang begitu mendukung karirnya. Buah hati yang baru lahir yang begitu menggemaskan. Gambaran American Dream, keluarga kecil dengan masa depan menjanjikan. Malam itu Mitch sedang keluar sama teman-temannya ke bar sampai teler. Setelah berpisah, dalam keadaan mabuk ia pulang nyetir SUV. Di tengah jalan, di belakangnya ada sirene polisi. Panik, takut kena tilang Mitch menjaga jarak. Saat ada belokan ke kanan, ia ambil untuk memastikan polisi itu tak mengejarnya. Dan benar, sirene melaju lurus meninggalkannya. Hufh…, lega. Tapi konflik sesungguhnya baru dimulai. Karena tak konsentrasi ia menabrak pejalan kaki, eh seseorang yang lari?
Panik, setelah turun ia mencoba membantu. Lukanya parah, wajah penuh darah, gemetar, dan sekarat? Setelah diselimuti dengan jaketnya, Mitch coba telepon ambulan. Namun saat ia tengok kanan kiri sepi, ia secepatnya berlari ke telepon umum boks. 911 – cari bantuan. Setelahnya Mitch kabur, kini ia seorang kriminal tabrak lari. Segera ia cuci mobilnya, ia buang jaket yang kena darah. Semua bukti ia lembar ke bak sampah, singkirkan. Kembali ke hangatnya tempat tidur seakan tak terjadi apapun, yah sekalipun ia tak bisa terlelap. Kepikiran.

Paginya ia kena tegus istri karena bamper mobil penyok, ia minta maaf karena semalam teler dan mengemudi. Janji tak akan diulang. Di kantor setelah saling sapa yang kikuk, ada dua petugas polisi datang dan akhirnya kita semua tahu. Korban tabrak lari itu tewas. Korban bernama Cecil Akerman (Karl Thordarson). Langsung runtuh pikiran Mitch, merasa sangat bersalah meninggalkan korban tergeletak tanpa bantuan medis.

Berjalanya waktu, investigasi menunjukkan Cecil bukan korban tabrak lari, namun korban pembunuhan berencana. Sang tersangka sudah ditangkap. Seorang kulit hitam yang terlihat muram. Clinton Davis (Samuel L. Jackson) yang kini sebatang kara dituduh melakukan pembunuhan berencana tingkat pertama. Bosnya meminta Mitch untuk menuntut hukuman berat. Disinilah dilema itu. Sang penabrak lari menuntut tersangka. Sebuah gambaran menarik di ruang sidang.

Sementara saudara Mitch yang galau datang, Jimmy Logan (Ryan Robbins) yang suka memerasnya. Ada konflik keluarga yang membuat Jimmy tak diakui sebagai saudara. Dengan ironi dia bilang, betapa dunia kebebasan begitu menyenangkan. Semua orang tak ingin kebebasannya terenggut.
Mitch tentu saja setengah hati menuntut tersangka. Aksi di ruang sidang begitu dingin, sehingga membuat rekan dan bosnya bingung. Saat akhirnya sidang menemui hari pengambilan keputusan, sang pembela meminta saksi baru, seorang saksi kunci. Bersamaan itu, Mitch yang tak bisa mengenyahkan pikiran kalut karena merasa bersalah sebenarnya sudah mau mengakuinya. Sang hakim G. McKenna (John B. Lowe) yang geram mereka bicara saling silang dan bersamaan meminta saksi itu dipanggil. Mitch terkejut, ternyata saksi kunci itu adalah sang penelpon 911 dan ada di ruang sidang dan itu bukan dia! Tak lain adalah saudaranya, Jimmy. Berkat kesaksian Jimmy semua lega. Kasus ditutup, Cecil diputuskan sebagai korban tabrak lari. Clinton bebas. Penyelidikan dilanjutkan dengan mencari tersangka lain. Seharusnya Mitch-pun lega, setidaknya ada orang tak bersalah lepas dari penjara.

Babak baru film ini sebenarnya dimulai di sini. Di luar sidang, Mitch ngobrol dengan Clinton sambil merokok, mengucapkan selamat. Dan berujar kalimat yang menohok sekali. “Maybe he’ll turn himself in”. Dan dibalas dengan seyum masam, “Would you?” Jawaban Clinton itulah yang memicu keraguan, wah ini nih, sepertinya ada saksi saat mobilnya menghantam Cecil. Dengan rasa penasaran ia pun kembali ke TKP – Tempat Kejadian Perkara.
Ditemukannya puntung rokok di bak sampah pertigaan, rokok yang sama punya Clinton, lalu sebuah sidik tangan berlumpur darah, lalu dari tempatnya berdiri ia bisa dengan leluasa mengamati TKP. Jelas, Mitch dan Tuhan bukan salah dua saksi malam itu. Dalam investigasi singkat, dia meyakini Cecil dibunuh. Terlambat? Bisa jadi. Karena saat ia melapor pada detektif Blake Kanon (Gloria Reuben), dia kena omel. Bukankah dia yang minta kasus ditutup eh malah minta dibuka lagi.
Merasa yakin Clinton bersalah, Mitch bak pahlawan lokal memutuskan menyelidiki sendiri. Masuk ke kantor polisi menyelinap mencuri file kasus, membuntuti sang target, masuk rumahnya lewat jendela, ikut ke tempat kerja dengan membuntutinya, sampai berdamai dengan Jimmy meminta bantuan. Apes, dia ketahuan. Clinton yang memergokinya berbalik membalas. Berpacu dengan waktu, siapa yang akhirnya unggul dalam permainan pikiran ini?

Sebuah film yang menawarkan kesegaran plot. Memberi keraguan penonton, mengajaknya terlibat setiap keputusan yang diambil. Seperti Basic Instinct yang membuat penonton ketakutan dan setiap tanya selalu disimpan. Sayangnya, dalam Reasonable beberapa kunci sudah diungkap, dan salah eksekusi. Semua clear, tak perlu diragu mana hitam dan putih. Film yang berpotensi meledak, benar-benar patut dirutuki sumbu ledak itu tak berpicu. Jadinya malah kurang nendang.

Beberapa bagian kurang OK. Ada plot hole, kalau kalian perhatikan saat Rachel terjebak dalam rumah dengan Clinton, ia mengisi gelas dengan air kran baru keisi separuh. Lalu memutuskan kabur sembunyi, saat Clinton sampai di depan kran gelas itu full. Ada jin yang iseng?

Film ini aslinya berjudul The Good Samaritan, dan syutingnya hanya 27 hari. Hufh, pantas saja. Singkat, kilat dan serasa asal jadi. Bintang sehebat Samuel L. Jackson tak bisa dimaksimalkan. Cooper yang awalnya bagus dari sikap yang meyakinkan sebagai jaksa, meragu akan fakta lalu berani mengambil keputusan berani. Malah terjatuh karena script akhir yang buruk. Semua itu gagal landing. Jelas film ini akan segera terlupa, kali ini dengan alasan tanpa ragu.

Reasonable Doubt | Year 2014 | Director Peter Howitt | Screenplay Peter A. Dowling | Cast Dominic Cooper, Samuel L. Jackson, Gloria Reuben, Ryan Robbins, Erik Karpluk, Dylan Taylor, Karl Thordarson | Skor: 3/5

Ruang HR NICI, Karawang, 291116 – Backstreet Boys – Shape Of My Heart
Karaoke Day with Rani, Boyband List