Kawitan #12

Sebatang pohon ara, empat pina, tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu

Segala yang silam, dirimu yang lalu / terperangkap dalam liang gua / pada sebuah buku yang terbuka di perpustakaan / Dulu pernah ada semak buah beri / di mana seekor musang menyelinap / bersembunyi dari tangan mungil sang waktu / tubuhnya ringan menyelusup / jauh hingga ke pucuk bayang sehelai daun / Dan pada pukul enam sore / semuanya lingkap bagai kata-katamu / bagai cahaya di belantara raya / tersamar pekik liar burung-burung malam

Sebelum dini hari di bawah mimpi pohon kastanye / siapa dari kalian yang menyamar bajak laut Arabia / menghunus belati kayu, membuka semua pintu / mencari jalan rahasia menuju dongeng yang lain:
Kisah tentang sebuah kota di mana benda-benda / selalu bercerita dari mana muasal mereka / sebelum agama melenakan mereka / bahkan sebelum tuhan ada

Atau tentang benua yang perlahan tenggelam / dan orang-orang terlambat menuliskan namanya di sana / Tapi seekor kucing yang lelap di teras rumah / sekilas tampak terjaga, memandang kalian / mengeong seakan tengah mengigau / Cakarnya yang tumpul / tadinya membias cahaya bulan yang entah
Kini tak ada ayunan di kuil taman puingmu / tak ada sarang burung yang terjatuh / menyimpan telur-telur yang sebentar akan menetas
Dan pada buku ini, di perpustakaan ini / gambar-gambar masa lalu / telah kabur warnanya

Saya nukilkan judul terbaik dalam buku ini, berjudul ‘Kuil Taman
Menikmati puisi masih menjadi hal yang sulit bagiku. Masih kurasakan hal yang sama dari satu bait ke bait lain, kumpulan puisi yang kupilihpun tak sembarangan, rata-rata menjadi pemenang atau kandidat dalam Kusala Sastra Khatulistiwa pun Dewan Kesenian Jakarta. Kawitan dan rangkaian panjang yang kucoba hirup tiap katanya.

Seperti janjiku, tahun ini saya akan menikmati 12 buku kumpualn puisi. Buku kedua, buku bulan Februari. Buku ini kubeli Selasa lalu (12/2/19) di Gramedia Karawang bersama May dan Hermione sembari beli sampul buku dan pop toy dan refreshing, kubaca kilat Kamis (14/2/19) pulang kerja. Ga sampai satu jam selesai. Dibaca nyaring, lirih, dan beberap berulang sekalipun di ruang meeting Priority kantor.

Ada dua bagian: pertama Muhibah Tanah Jauh, kedua Kampung Halaman. Buku ini dihimpun dari berbagai sumber media massa dari tahun 2007 dalam ‘Naga Banda’ di Bali Post sampai tahun 2016 dalam ‘Doa Puisi’ di Harian Indo Post, yang membuktikan sang penyair sudah sangat berpengalaman, bahkan di sampul ada stempel ‘Pemenang II Sayembaya Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015’.

Saya selalu kesulitan mengulas puisi euy, narasinya tak runut sehingga saya tak tahu mana awal mana ujung, cerita yang dituturkan acak, random seolah ngasal, maka saya mending nukil yang menurutku menarik ya lalu sedikit berkomentar. Saya ketik dalam dua kali kesempatan duduk, pada 16 Februari sempat mengendap di folder, saya selesaikan 16 Juni hari ini, sore hari bersama serangkaian musik jazz. Sekalian saya masukkan dalam event tahunan saja.

Dalam puisi ‘Tanah Baru Di Adiwena’ ada bait yang bagus: Seekor laba-laba merambati bebatuan / Kumbang bercinta di sela wangi hujan dini hari / Dan kadal tak jemu memanggil-manggil / Kadal-kadal kecil yang lain. | Sebab adanya waktu, bagaimana dirayakan / Adanya yang tiada, bagaimana lagi mesti dilupakan?

Bagian yang kuanggap bagus adalah bait bercinta di sela wangi hujan dini hari. Laba-laba, kumbang, kadal, para binatang itu merayakan pagi dengan meriah!

Dalam judul ‘Perpustakaan Kampus’ kutemukan: Di dalam tidur diam-diam jiwaku meminta. Berdoa / Mengikat janji pada maut / agar abadi dalam dunia fana ini / Aku berjalan dari rumah ke rumah / Di sana tak ada ibu yang menunggu menyambutku / Bagai anak hilang abai tak pulang / aku berharap bisa mengembara | Mendayung sampan di hutan-hutan.

Bagian mendayung sampan di hutan-hutan menurutku unik, kita tahu maksudnya adalah mendayung di sungai yang mengalir membelah hutan, tapi dalam baitnya kita malah disodori langsung tanpa detail. Ibarat bilang mengusap air di pipi, tanpa keterangan itukah air mata?

Dalam judul ‘Aku dan Jiwaku’ menawarkan absurditas di mana fisik dan jiwa adalah dua entitas yang saling bersapa: Aku dan jiwaku berbaring berdampingan / kami telanjang | bagai dua kanak remaja / Kami saling menatap / seolah lama tak jumpa.

Di judul ‘Rumah Jean’ mari kita kutip: Apa yang dipikirkan pohon-pohon ketika tiba musim gugur; / Maut yang pias di wajah ibu atau nujuman masa depan yang tersamar kabu? | Apa yang dibayangkan pohon-pohon ketika melihat dahannya yang hijau / sarang kecil seekor pelatuk yang kuyup oleh hujan / atau lenguh kerbau di padang luas?

Menjadikan tumbuhan berpikir dan bisa membayangkan keadaan sekitar, menjadikan mereka makhluk hidup yang mengamati sekeliling, menjadikan hidup yang hidup dengan nalar dan perasaan.

Judul ‘Bunga Untuk Sitor’ ada bagian: Apakah bisa wangi dupa / mengantarkan doa-doa kepada para dewa? | Apakah bisa seorang ibu demam semalaman / terbaring di ranjang / seketika tersembuhkan / oleh sentuhan tangan tuhan?

Ga perlu diperdebatkan sih, wangi dupa sebagai sarana ibadah, sarana reliji tapi kurasa disini mereka seolah hidup sehingga bisa jadi tukang pos doa untuk para dewa. Walau sang penyair malah menambah tanda tanya(?). Mereka dicipta dengan api, melayangkan asap mistis dan menyentuh hati malaikat demi kesembuhan orang terkasih.

Sebatang pohon ara, empat pina / tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu | segala yang silam, dirimu yang lalu / terperangkap dalam liang gua / pada sebuah buku yang terbuka / di perpustakaanmu.

Bait ini ada di pembuka judul ‘Kuil Taman’ yang menarik adalah menjadikan buku terbuka sebagai perangkap, menjadikan gua, puing yang berserak menyambut para makhluk. Lalu di judul yang sama terdapat bait bagus, mungkin malahan menurutku paling bagus: Kisah tentang sebuah kota di mana benda-benda / sellau bercerita dari mana muasal mereka / sebelum agama melenakan mereka / bahkan sebelum tuhan ada.

Nah, kota yang sangat tua yang mencipta segalanya, sebelum agama dan tuhan turut!

Satu lagi, dalam judul ‘Matoa’: Kubayangkan matoa yang ini / Terusir dari tanah leluhur / Cuma berkawan membagi hidup / Bersama segugusan pakis dan rumput | yang pelan-pelan melayu / melapuk jadi rabuk akar dahan / lalu tumbuh kembali / sebagai pakis dan rumput yang lain / yang tak dikenalinya.

Suka bagian dalam pelan-pelan melayu, melapuk jadi rabuk yang nantinya akan bangkit, seolah semua siklus ini, siklus hidup mati adalah tarikan napas, bukan takdir alam yang perlu dipikirkan.

Demikian ulasan singkat dariku, sangat menanti respon kalian para penyair, para pengunjung setia blog, para penyuka puisi untuk memberi masukan. Cara menikmatinya, cara mengulasnya, cara benar-benar merasuki keindahan rima dan bait.

Sungguh sajak adalah barang mewah yang sulit kujangkau, sulit kubenamkan dalam kepala sehingga menyatu sukma.

Kawitan | Oleh Ni Made Purnama Sari | GM 616202022 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Copyright 2016 | Ilustrasi sampul Natisa Jones | Setter Nur Wulan Dari | ISBN 978-602-03-2788-4 | Skor: 3.5/5

Karawang, 160219 – Sherina Munaf – Primadona || 160619 – Dave’s True Story – Ned’s Big Dutch Wife

#Day12 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Iklan

Klop #11

Artiku tidak bergantung dari kehadiranku, tetapi pada cintaku dan cinta yang diberikan kepadaku yang tak akan pernah tak hadir. Karenanya, sekali menyalakan rumah ini, nyala itu akan tetap tak akan padam. Tak hadir pun aku tetap berarti. Aku ada, Ibu. Tak hanya kehadiran, ketidakhadiran juga membangkitan kehidupan, semuanya berguna apabila dilakukan dnegan tulus. Kini aku tahu, karena itulah kau tersenyum dan bahagia memandangku.”

Kumpulan cerita pendek yang kupinjam dari Bus Taka Taman Kota, Galuh Mas Karawang. Berisi 20 cerita dengan tema nyeneh.

#1. Mayat
Cerita absurd. Dibuka dengan baik, mengenai curhatan mayat yang jadi pergunjingan masyarakat. Mayat yang jadi bahan berita, menjadi cerita, menjadi sensai khalayak. Maka iapun protes, ke media ia mengetuk pintu menyampaikan keprihatinan. Di meja redaksi iapun berjam-jam mencurahkan tuntutan, komputer yang oenuh kata-kata kotor. Moral, asusila, tata krama, budi pekerti, kepatutan, hukum, bahkan tak urung agama, apalagi kemanusiaanyang dikibarkan selama ini, ternyata hanya sebuah koteka, untuk membungkus kebiadapan. “Semuanya busuk.” Lalu sang mayat berbincang dengan penjaga malam yang bergaji tiga puluh rupiah yang berarti hanya seperak sehari. Cukup? Itu juga dianggap sudah terlalu banyak. Wah!

Saya sudah terbiasa tidak dipercayai. Saya tidak tersinggung atau sakit hati. Dipercaya atau tidak, memang beginilah saya. Saya mayat yang harus hidup. Harus. Saya tidak boleh istirahat. Mati pun saya tetap harus bertugas.”

#2. Jenderal
Menjadi militer tidak berarti harus memakai seragam militer dan masuk Akademi Militer. Ini adalah nasehat seorang ayah kepada anaknya untuk menjadi bagian dalam militer, menjadi orang penting dalam ketentaraan. Sayangnya, sang anak menolak, ia malah mendirikan partai politik. Sang jenderal pengsiunan kecewa. Kaulah pemilik hidupmu, bukan aku. Aku hanya sebuah sejarah yang boleh kamu lupakan kalau kamu anggap tak berguna. Lalu konspirasi tercipta.

Putraku, maafkan aku, kau akan ditembak di atas podium, sesudah kamu selesai mengucapkan perintah partaimu untuk kompromi pada penguasa zalim…” dan twist!

Mungkin ini cerpen terbaik dalam daftar.

#3. Merdeka
Selamat datang di dunia. Selamat datang di Indonesia, anakku.” Seorang anak lelaki lahir tepat di HUT proklamasi kemerdekaan Indonesia. Maka iapun bernama Merdeka. Tumbuh menjadi anak pemberani, penuh tanya, pemberontak, sekaligus tukang kritik. Ia dikeluarkan dari sekolah. Ketika teman-temannya memegang ijazah, ia memegang pengetahuan. “Aku tidak hidup untuk mencari uang. Aku cari uang untuk hidup.” Mantab! Basmi korupsi, Nak. Banyak hal mengesalkan memang menjadi merdeka, maka atas saran dukun ia berniat ganti nama. Kamu tidak ingin menjadi merdeka?

Apa kamu kira Merdeka itu bebas dari kesialan? Apa kamu kira Merdeka berarti mendadak jadi kaya dan bahagia? Kamu memang goblok! Merdeka berarti beban. Selangit beban di atas pundakmu sendirian. Merdeka berarti penderitaan. Merdeka adalah sejuta kesengsaraan yang tak putus-putusnya. Merdeka berarti kamu jalan sendirian, kamu tidak punya tuan dan majikan yang akan menolongmu kalau celaka. Merdeka berarti kamu harus menghadapi keperihan, kesengsaraan, nasib busuk itu sendiri. Merdeka itu sakit. Sakit yang mahabesar. Tetapi kamu harus bangga kamu yang terpilih untuk memikulnya. Kamu dianggap mampu dan percaya. Kamu hidup.

#4. Kartini
Dalam kereta api yang salah jurusan saya bertemu dengan wanita (yang mirip sekali) Raden Ajeng Kartini, saya mulai bersapa. Berdiskusi fiktif panjang lebar mengenai kebaya dan kebiasaan dan beberapa hal yang ingin kita tahu. Maka saat Kartini mengelap bibirnya yang bergincu dengan tisu, maka sang aku meminta tisu itu, disimpan buat kenang-kenangan. Lalu saat sang Kartini ke toilet dan berganti pakaian ala wanita zaman now, sang aku terkejut. Betapa drastisnya penampilan seseorang hanya dnegan berganti pakaian. Ibu Kartini itu sebuah konsep perjuangan kebebasan dan kesetaraan perempuan, bukan kostum. Bukan kostum yang membuat perempuan menjadi Kartini, tapi cita-cita. Kartini itu konsep bukan aksesoris.

#5. Mawar
(buat Mbak Kun)

Apa yang sudah terjadi memang tak mudah, tetapi dengan hati yang terbuka, ternyata masih ada celah untuk mengubah. “Mungkin Tuhan telah mengunjungi rumah kita atau memandang kita dari kejauhan. Pandangan-Nya saja sudah membuat damai kembali menghangati rumah ini. Aku tak pernah merasa sehat seperti ini. Apa yang lebih indah dari damai?”

Bunga mawar yang dibawa ke dalam ruang rumah sakit bisa membuat ceria si sakit, bunag mawar yang sudah layu dibuang di tempat sampah dan mengeluh betapa ia kini tak guna. “Aku jadi takut berharap, aku jadi takut merasa senang, aku jadi tak berani mengalami perubahan. Karena kau tahu semuanya sudah ditetapkan…” Yah, inilah hidup selalu ada akhir, tak ada yang abadi.
Ia begitu mencintai kehidupan. Sementara kita yang masih memilikinya untuk sementara, telah begitu melalaikannya.

#6. Y2K
Perang sudah berakhir. Semua pulang. Seluruh keluarga menunggu di beranda. Kisah apa yang dibawakan dari medan tempur. “Di hati ibu kau selalu seorang pahlawan.”

Setiap perkiraan adalah rencana. Mereka menunggu snag putra tiba, tetapi tak kunjung datang. Malah, yang hadir adalah sahabat putra mereka yang membawa sebuah titipan. Kabar sedih yang dibawanya membuat remuk redam, tentunya.

#7. Konsep
Pohon yang ditaman Goen itu berusia 100 tahun. Mereka menua bersama, sang pohon sampai menegur, “Lho empat puluh tahun lalu pada ulang tahunmu ke 60 kamu bilang kamu tak akan bisa hadir hari ini, ternyata kamu masih di sini.”

Mereka bedialog banyak hal, tentang hidup, tentang masa lalu dan rencana-rencana hidup. Kamu hanya pohon, bukan gagasan. “Ya, aku hanya sebuah konsep.”

#8. Surat Kepada Setan
Di hari kemerdekaan yang meriah, di desa yang semarak, di kota pagi itu masih terlelap. “Apa kibaran bendera satu hari bisa mengubah kebrengsekan yang sudah berkerak puluhan tahun?” Di usia 60 tahun, manusia tentunya sudah dianggap tua. Bagaimana dengan sebuah negara? Ketika hal-hal buruk terjadi, setanlah yang disalahkan. Kok bisa? “Ya Tuhan, ini kenapa jadi begini, aku bukan setan, aku bukan setan, aku bukan setaaaannnn! Aku bukan setan…,” kata setan.

#9. Setan
Ada setan yang ingin berhenti jadi setan. Alasannya jelas, karena citra negatif. Protes setan itu berkelanjutan dan panjang, beberapa kesalahan manusia dibicarakan, banyak yang ditimpakan karena godaan setan. Namun setelah berapa lam, setan bertanya, ia berbicara dengan siapa? Tuhan? Bukan. Dirimu sendiri! Jadi setan mau jadi manusia? Hhmm… “Ya, sudah! Aku memang manusia, asal rezekiku tetap setan.”

#10. Siapa
Ada orang menuju gedung MPR, ia bukan siapa-siapa, hanya warga negara abu-abu. Ditanya petugas, ia gamang, ketemu mahasiswa malah diajak gabung, lumayan nambah satu suara, sebenarnya sedang Sidang Istimewa macam apa ini? Tuhan, siapakah aku sebenarnya, siapa sebetulnya mereka?

#11. Kroco
Ngomongin ekonomi, mengenai mata uang rupiah yang naik turun, mengenai politik, sungguh tak menyenangkan. Selalu muncul pro-kontra yang panas. Kroco yang hanya rakyat ngeri, panik, dan jadi bulan-bulanan berita kanan-kiri. “Mengapa para ahli itu tidka bicara dengan ahli yang lain saja? Mengapa mereka menakut-takuti kita yang tak berdaya…”

#12. Soempah Pemoeda
Benarkah soempah pemoeda sudah dilupakan? Tentu saja tidak. Ami yang jadi panitia acara sungguh bisa menghapal, mengucapkan dengan lantang. Pak Amat dan bu Amat bangga, tapi nanti dulu. Bisa mnegucapkan dengan jelas bukan berarti bisa mengaplikasikannyakan?!

#13. KTP
Kisah lucu nan aneh di dalam bus yang melaju, seorang bapak yang tak mau duduk memegang kopor, dipaksa duduk malah mengatakan bawa bom. Penumpang pada panik. Tentu saja kekacauanlah yang tercipta, entah siapa yang memulai, ia ditarik di tengah, disiram bensin dan dibakar. KTP yang tercecer diambil seseorang, waktu diantarkan ke alamatnya kau terkejut karena wajahnya mirip dan seluruh identitasnya adalah identitas yang juga tertera di KTP-mu.

#14. Raja
Sebuah kerajaan dengan segala hiruk pikuknya. Beras menjadi komoditi panas, menjadi penentu kestabilan sebuah negara. Berat laiknya nyawa yang harus dilindungi. Hanya pedagang beras yang menjadi begitu sibuk, dipuja kala bagus dicaci kala rendah. “Jadi jangan salahkan apa yang sudah aku lakukan selama ini...” baginda Raja merenggutkan kembali jubauhnya dari mayat pedagang beras, langsung memakainya kembali.

#15. Kursi
Kursi tua yang jadi rebutan. Ini adalah cerita pengumpamaan yang aneh. Kuris itu jadi sengketa, rebutan anggota keluarga, sampai-sampai ada tetangga yang mencurinya. Heran, kursi yang dibeli di pasar loak jadi rebutan. Kakek-nenek itupun heran kursi di gudang berbuah baru, dan kematian mereka beserta hilangnya kursi menjadi berita hangat, lalu kuris itupun berkelana.

#16. Damai
Barangkali ketentraman ini hanya sebuah lamunan. Walau hanya mimpi, kecantikan itu tetap saja terjamah. Padang penuh bunga, angin semilir, suasana hangat, air sungai yang mengalir tenang, bak surga. Damai. Demi mencapai hal semacam itu maka perang dikobarkan. Perang untuk damai, damai hanya mungkin lewat perang. ahh… idiom yang terus didengungkan umat.

#17. Kembali
Berita ramalan yang mengatakan Indonesia akan ditimpa bencana, apa ini yang disebut kiamat? Segala hal buruk didengungkan, hal-hal pahit diapungkan, kewaspadaan dicipta untuk rakyat. PHK di mana-mana, beberapa wilayah coba melepaskan diri. Itu adalah prediksi tahun baru, akankah terwujud? Tahun Baru heran, kan belum datang kenapa kalian panik semua?

#18. Indonesia
Apakah kamu bangga berbangsa Indonesia?” Pertanyaan ini patut disampaikan kepada kita semua. Ada yang menjawab tidak, dan si diapun dikejar wartawan, mengapa? Lalu konspirasi dicipta, karena ia tak bangga menjadi warga RI semua dipersulit. Semua memunggunginya, semua memusuhinya. Ratusan warga Indonesia melawannya. Benarkah mereka benar-benar bangga berbangsa Indonesia?

#19. Nyahok
Orang berpakaian putih-putih. Kontan mereka menuduhku menyebarkan agama baru. Ini cerita tentang dunia kerja yang slaing silang, kepercayaan jadi barang mahal dan etos kerja jadi tuhan yang harus ditaati. Kantor redaksi yang menyatroni berita. “Tunggu!”

#20. Kutu
Isu pemberantasan KKN sudah ada sejak reformasi dimunculkan. Politik jadi seru setelah banyak hal diungkap ke publik. Saling tuduh, saling sikat adalah hal bias adalam politik. Menyingkirkan kutu busuk lawan jadi lumrah. “Seorang pahlawan lagi telah gugur hari ini…” adalah kalimat retorika, karena dialah dalang pembunuhnya, menyingkirkan dari persaingan. “Kita selenggarakan upacara penbuburan besar dan khidmat hari ini, seperti ada seorang nabi yang sudah pergi…”

Semua tindakan dan segala macam akal untuk membuat kita bertambah dekat lagi pada kekuasaan adalah sah!

Klop | Oleh Putu Wijaya | Cetakan pertama, Mei 2010 | Penyunting Dhewiberta | Perancang sampul Windu | Pemeriksa aksara Titis | Penata aksara Gabriel | Foto penulis Prio | Penerbit Bentang | viii + 236 hlm.; 20,5 cm | ISBN 978-979-1227-93-3 | Skor: 4/5

Buat istriku Dewi Pramunawati, dan anakku Taksu Wijaya pada saat pernikahan perak 07-04-10 | Bahagia bila istri tersenyum, anak tertawa, tetangga menyapa, manusia bersaudara, kehidupan sejahtera, alam terpelihara

Karawang, 160619 – Glee – Call Me Maybe

#Day11 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Di Bawah Lindungan Ka’bah #10

Akan aku pikul rahasia itu jika engkau percaya padaku, setelah itu saya kunci pintunya erat-erat, kunci itu akan saya lemparkan jauh-jauh, sehingga seorang pun tidak dapat mengambilnya ke dalam hatiku.

Buku sangat tipis. Kubaca sekali duduk semalam (15/06/19), malam minggu sendirian tak butuh waktu sejam juga selesai. Kalau Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck konfliknya lebih rumit dan variasi, Di Bawah hanya satu permasalahan utamanya. Roman kasih tak sampai. Mirip sih, tapi ga serumit Tenggelamnya. Dengan setting tahun 1920an, di mana transpotasi masih begitu minim, komunikasi jarak jauh hanya mengandalkan surat dan telegram, dan adat istiadat timur yang masih sangat dijunjung, hal-hal semacam ini sudah punah saat ini.

Kita ada di era millenium, era digital. Kita hanya butuh beberapa detik untuk tahu kabar di Arab, kita hanya butuh ketik di gawai untuk mengirim kabar di ujung dunia Barat, kita hanya perlu teknologi mahir guna bersapa dengan orang-orang yang berjauhan, niscaya kisah cinta tragis Di Bawah tak perlu terjadi. Ini roman di era Indonesia belum merdeka, dengan segala kesederhanaannya.
Tata bahasanya halus, sastra klasik Indonesia yang sangat indah. Kosakata dipilih dan dipilah dengan ketelitian yang bagi generasi milenial mungkin agak janggal, plotnya mungkin ketebak, mengingat setting tempat dan alurnya mirip sekali dengan Tenggelamnya. Saya sih salut cara berceritanya, mengingatkanku pada buku-buku sains H.G. Wells di mana kisah dalam kisah, lalu diceritakan dengan cara seolah menukil kisah orang, padahal kita tahu ini cerita berdasarkan kehidupan sang Penulis dengan bumbu fantasi.

Dibuka dengan surat dari Mesir, surat dari sahabat yang mengabarkan keadaan, menyampaikan kondisi terkini dan keinginan untuk mengirim naskah sebuah kisah yang dulu pernah dilewati bersama kala di Arab Saudi, di bawah lindungan Ka’bah. “… orang yang tiada berhati-hati mengayuh perahu, memegang kemudi dan menjaga layar, karamlah ia digulung oleh ombak dan gelombang, hilang di tengah-tengah samudera yang luas itu…”

Settingnya berlapis. Pertama dari Mesir, kedua dari Mekkah, ketiga di sebuah kampung di Sumatra dan keempat di tanah rantau di Padang Panjang. Maka setelah prolog, bab pertama waktu ditarik ke era tahun 1927 di Mekkah. Indonesia di bawah kolonial mengirim jamaah haji dengan rekor tertinggi, dengan kapal Karimata sang aku menjadi salah satu umat yang beruntung itu, mereka bertolak dari pelabuhan Belawan, empat belas hari terkatung di lautan, sampailah di pelabuhan Jeddah di tepi laut Merah, dua hari kemudian mereka sampai di tanah suci Mekkah.
Selama di Mekkah sang aku bermukim di seorang syekh yang memang menampung jamaah haji. Di sanalah sang aku berkenalan dengan pemuda Indonesia yang pendiam, tampak muram, khusuk dalam berdzikir, wajahnya lebih sering sedih ketimbang ceria. Prasangka aku bahwa di tanah suci semua orang bahagia jelas salah, maka mereka saling bertukar cerita. Di atas sutuh (atap) rumah Arab yang berbentuk kubah itulah kita lagi-lagi diajak kembali ke masa lalu. Masa sang pemuda bernama Hamid itu menjalani masa kecil.

Di usia empat tahun Hamid menjadi yatim, ia terlahir miskin, maka untuk membantu ekonomi ibunya, ia membantu jualan keliling panganan, gorengan. Rumah di sampingnya adalah rumah kosong milik orang Belanda yang dijual karena pulang ke negerinya, suatu hari rumah yang dijaga tukang kebun (di sini ditulis jongos tua) Pak Paiman itu ada pembeli, direnov lalu ditempati orang lokal kaya bernama Engku Haji Ja’far, istrinya Mak Asiah suatu hari membeli gorengan Hamid, berkenalan dan meminta ibunya berkunjung sore itu. Singkatnya, Hamid kini ikut sekolah, biaya ditanggung Pak haji, bareng sama anak tunggal mereka Zainab yang usianya terpaut sedikit. Mereka mengarungi waktu bersama, sekolah di HIS (Hollands Inlandsche School) lanjut ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Wajar sekali, mereka saling mencinta, walau sudah dianggap saudara sendiri, kakak-adik era kolonial tak beda dengan sekarang. Ada benih asmara di dalamnya.

Bedanya, setelah lulus MULO, anak perempuan tak melanjutkan pendidikan, ia akan dikurung di rumah, dipingit, didatangkan guru guna mendapat ketrampilan dan budi pekerti, statusnya hanya menanti calon suami, ia dikurung, hanya mendekam dalam rumah. Sementara Hamid lanjut sekolah ke Pandang Panjang, mengambil ilmu agama. Dan sejauh manapun ia pergi, hatinya terpaut ke hati Zainab. Kunjungan pakansi, liburan ke rumah selalu istimewa saat ketemu pujaan hati.

Konflik pertama dimunculkan kala pak haji Ja’far meninggal dunia, tak lama berselang ibunya sakit keras dan dalam keadaan sekarat ia berpesan untuk menjaga hati, tahu diri, mereka dari keluarga miskin, ibunya tahu Hamid jatuh cinta pada Zainab tapi memintanya untuk memendam, derajat mereka beda, mereka adalah kaum jelata yang hanya beruntung bisa sekolah. Dan ketika ibunya meninggal, sebatang karalah ia sekarang.

Sampai di sini sejatinya pembaca bisa menebak cinta Hamid tak bertepuk sebelah tangan, hanya ia tak punya nyali, terbentur kondisi, terkena tradisi, tak berani melawan adat. Maka dipendam terus, tak berani diungkap. Waktu berjalan, ia coba melupakan, ia coba mengikhlaskan. Maka suatu hari saat Hamid bertemu bu Asiah, ia diminta ke rumahnya. Saat berkunjung disambut Zainab dengan berbunga, bagian inilah yang terbaik. Sempat terbetik asa, mereka akan saling mengucap cinta, saling terbuka mengutarkan hati, naas, ibunya pulang, ibunya keburu sampai rumah. Zainab diminta buat tiga gelas kopi, nah selama di dapur itulah maksud meminta kedatangannya dituturkan. Remuk redam hati pemuda itu, ia diminta meyakinkan Zainab untuk menikahi saudara ayahnya, karena ia yatim maka Hamid diminta mewakili keluarga. Duuuh… kamvret banget bagian ini. Bayangkan, diminta menjadi wakil orang lain mengungkap maksud lamaran kepada gadis pujaan! Gilax. Dan Hamid dengan hati yang perih dan pedih bisa, walau sakit, sakit sekali kawan. Pemuda gagah dengan nyali ciut ini lalu pergi jauh. Merantau tak terkendali, menjadi petualang karena cintanya yang kandas sebelum disampaikan.

Ia menulis surat cinta, surat perpisahan kepada Zainab bahwa ia cinta, ia sayang, ia akan merindu, maka ia pergi jauh. Ingat ya sampai di sini, Zainab tak diberi kesempatan menjawab, sejatinya agak konyol juga kenapa ga menyampaikan langsung saat bisa, kenapa ga dinanti dulu repsonnya. Ah cinta dekade pasca Perang Dunia Pertama, siapa yang tahu hati manusia? Hamid lalu melalangbuana ke berbagai negara, menelusur peta dan sampaikan ia di Arab, menjadi penghuni rumah syekh yang kita kenal di awal. Dan sampailllah kita di masa kini.

Bertemu Saleh, rekan belajar di Padanag Panjang yang akan melanjutkan studi ke Mesir, ia menyampaikan kabar dari kampung yang muram, istrinya yang sahabat Zainab itu lalu membuka fakta-demi-fakta. Duh sungguh gila, cinta mereka. Murni tanpa cela, akankah mereka bisa bersatu?

Cerita cinta di era lalu yang tanpa teknologi digital, sungguh menggugah. Saya jadi ingat pula Romeo + Juliet, bagaimana mereka mengakhiri cerita dengan tragis karena terjadi salah komunikasi. Begitu pula cerita pilu cinta dalam Bumi Manusia yang menampar pembaca di akhir. Dunia memang seperti ini, cerita cinta akan selalu dibuat dengan latar sesuai budaya dan era masing-masing. Di era sekarang-pun masih banyak kasih tak sampai, sekalipun sudah mudah dalam komunikasi, tetap saja hati orang siapa yang tahu?

Wahai anak, dari susunan katamu itu telah dapat ibu membuktikan bahwa engkau diserang penyakit cinta. Takut akan kena cinta, itulah dua sifat dari cinta…

Di Bawah Lindungan Ka’bah | Oleh HAMKA | Penerbit Bulang Bintang | Cetakan ke-32 | Rabi’ul Akhir 1433 H / Maret 2012 | 72 hlm.; 21 cm | ISBN 979-418-063-7 | Skor: 4/5

Karawang, 160619 – The Adams – Lega

#Day10 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Demi Esme Dengan Cinta dan Kesengsaraan #9

Saya sangat tersanjung jika Anda menulis sebuah kisah secara khusus untuk saya suatu hari nanti. Saya gemar membaca. Saya lebih suka kisah tentang kesengsaraan. Kesengsaraan. Saya sangat tertarik dengan kesengsaraan.

J.D. Salinger pertama baca karyanya tiga tahun lalu dari terbitan Banana, saya ingat sekali proses terjemahan yang rumit dan panjang. PO lama, tertunda sampai melewati pergantian tahun. kisah Holden Vitamin Coulfield memang legendaris. Menjadi buku yang menginspirasi pembunuhan musisi ternama John Lennon. Mark David Chapman mengaku mengidolai sang remaja galau sehingga tindakan ‘rebel’ itu malah membuatnya membunuh sang idola. Ini adalah buku beliau kedua yang kubaca. Diterjemahkan dari penerbit kecil di Solo, hanya setengah jam dari rumahku di Palur. Bagus, sayangnya kurang banyak. Dari buku aslinya berjudul ‘Nine Stories’ yang dinukil hanya dua. Ahh… banyak drama penerbit kecil yang mengalihbahasakan setengah-setengah, BukuKatta hanya salah satunya. Banyak pertimbangan, kita harus maklum, tapi jelas kepuasannya nanggung, apalagi ending buku ini juga menggantung setelah sebuah pistol ditembakkan tepat mengenai pelipis kanan.

Menemukan buku ini di toko buku Suseno, Solo belakang UNS ketika kunjungan mudik tahun lalu. Bukunya tipis, tak sampai seratus halaman berisi hanya dua cerpen yang anehnya diterjemahkan dari ‘Sembilan Cerita’ yang berarti hanya dinukil, bukan seluruhnya dialihbahasakan. Penulisnya pasti sudha pada kenal, dari orang yang mempopulerkan Holden Vitamin Coulfield dalam The Catcher In The Rye, inilah salah dua cerita pendek yang diterbitkan pertama kali tahun 1947.

#1. Demi Esme Dengan Cinta dan Kesengsaraan
Kisahnya, saya curiga adalah kisah nyata yang sedikit dimodifikasi. Dulu Salinger pernah bertugas ke Eropa, berkelana dan mendapat kenalan seorang gadis setempat. Kisah dibuka dengan sang aku yang menerima surat pos udara, undangan penikahan. Undangan dari teman, dan kisah lalu ditarik enam tahun ke belakang. Pada April 1944 aku ditugaskan di Devon, Inggris. Pelatihan tiga minggu dan libur di akhri pekan, aku ke pusat kota untuk menyaksikan latihan panduan suara di sebuah gereja. Sore itu hujan cukup lebat, banyak penonton meyaksikannya, setelah tepuk tangan yang riuh aku ke sebuah kedai teh yang lengang.

Di situlah sang aku berkenalan dengan gadis yang bersama dengan seorang anak yang ternyata salah satu peserta latihan di gereja. “Kukira orang Amerika memandang rendah teh.” Setelah basa basi cuaca dan saling lempar tanya ala kadar, mereka lalu berkisah lebih dalam. Tentang obsesi opera dan sang aku yang penulis mula.

Nama gadis itu Esme, adiknya Charles. Dan Esme-pun meminta aku untuk menuliskan kisah ini, kisah perkenalan, kisah kesengsaraan ayah mereka yang tewas di Afrika Utara, tentang semuanya. Mereka berpisah ketika nona Megley memanggil. Lalu kisah merentang dalam tugas militer, tentang surat-surat yang tiba dan kehidupan di barak. Salinger dengan hati-hati menulis nama karakternya dengan nama X karena jelas ini sisipan kisah nyata. Dan tentu saja salah satu surat itu dari Esme. D-Day serangan pasukan sekutu ke Normandia pada 6 Juni 1944.

Apa yang dikatakan sebuah dinding pada dinding lainnya?”

#2. Hari Yang Sempurna Bagi Bananafish
See more glass. Did you see more glass.” Sybil Carpenter.

Cerita absurd di sebuah hotel yang menawarkan ending gantung. Dengan gamblang sang aku membaca sebuah artikel di majalah saku perempuan berjudul ‘Seks Adalah Kesenangan atau Neraka.’ Nona Muriel Glass adalah gadis yang menepi di sebuah hotel di Florida. Ia mendapat telpin dari sambungan jarak jauh New York yang mengkhawatirkan kabar putrinya. Tampak mereka sedang dalam dilema, sang laki-laki yang menghantarkan bernama Seymour ini sepertinya bermasalah.

Karena sambungan jarak jauh itupun berkutat tetang psikiater hotel, pohon-pohon yang aneh, sampai cuaca panas matahari yang sungguh menyengat. Mulanya hanya terlihat hubungan putri dan ibu yang khawatir anaknya jauh, tapi sesuatu yang buruk sejatinya dalam selimut bayang.

Kekhawatiran ini terbukti, di hotel yang sama di sebuah pantai terdekat dua orang sedang renang dan terjadilah konspirasi rencana pembunuhan. Kita lihat apakah kita bisa menangkap (ikan) bananafish. Sebuah adegan yang dijelaskan dengan mengambang terjadi di kamar hotel nomor 507. “… Lalu dia memeriksa sebuah koper, membukanya, dan dari bawah tumpukan celana pendek dan baju kaos dalam diambilnya sebuah Ortgies otomatis kaliber 7.65. dia melepaskan tempat pelurunya, melihatnya lalu memasukkan kembali. Dia mengokang pistol itu. laludia melintas kamar dan duduk di tempat tidur yang kosong, menatap si wanita muda…”

Apakah dia mencoba berbuat aneh dengan pohon-pohon?”

Jerome David Salinger lahir di New York, Amerika pada 1 Januari 1919. Pertama kali menulsi cerita pendek di usia 15 tahun. mengikuti kelas menulsi tahun 1939 dalam bimbingan Whitt Burnett, pertama kali karyanya terbit di majalah Story edisi Maret-April 1940 berjudul The Young Folks. Setahun berselang tujuh cerpennya ditolak beberapa penerbit, namun akhir tahun itu The New Yorker menerima naskah berjudul Slight Rebellion of Madison yang berkisah tentang Holden Caulfield, tapi cerpen itu batal terbit karena Jepang keburu menyerang Pearl Harbor. Dan baru terbit di tahun 1946.

Tahun 1942 ia ikut bertugas operasi militer dari Normandia ke Jerman dan bertemu Ernest Hemingway dan mereka sempat bertukar pikiran terkait karya tulis. Bisa jadi di sinilah ilham Esme muncul. Sekembali ke Amerika Salinger menulis Bananafish. Dan kemudian ia pun mengembangkan cerita pendek Holden. Novel legendaris itu akhirnya terbit pada 16 Juli 1951 di bawah Little, Brown and Company. Dan sukses secara instan yang mengangkat namanya. Tahun 1953, kumpulan cerpennya muncul, salah satunya For Esme with Love and Squalor.

Di tahun 2000 ada film Finding Forrester berdasarkan penulis Amerika yang menyepi selama tiga puluh tahun di apartemennya. Salinger memang tak suka publisitas. Beliau meninggal pada 27 Januari 2010di Cornish, New Hampshire meninggalkan banyak karya yang belum diterbitkan yang dalam wasiatnya meminta 60 tahun kematiannya baru masuk percetakan.
Jadi sekitar tahun 2070-lah kita bisa tahu buku beliau yang konon ada 15 novel saat ini disembunyikan ahli waris. Semoga kita panjang umur, sehat wal afiat sehingga bisa menikmati karya beliau.

Demi Esme Dengan Cinta dan Kesengsaraan | By J.D. Salinger | Diterjemahkan dari (2 cerita) Nine Stories | A Signet Book published by The New American Library | Cetakan ke-11, Februari 1962 | Penerjemah Anton WP | Cover dan layout Yudhi Herwibowo | Penerbit BukuKatta | Cetakan pertama, 2014 | ISBN 978-979-1032-75-9 | 64 halaman; 13.5 x 20.5 cm | Skor: 4/5

Karawang, 150619 – Koil – Dosa Ini Tak Akan Berhenti

#Day9 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Paper Towns #8

Apa sebabnya aku mendapat kehormatan ini?

Inilah buku yang kubaca selama libur lebaran di Palur dan Jatipura, saat mudik menjadi teman jelang tidur. Selesai dalam tiga malam. Buku remaja yang memang ringan, ngalir saja, ternyata memuaskan. Memang ekspektasiku tak tinggi, ini semacam trial baca bukunya John Green, saya beli baca satu ini bila sukses membuka kran buku lainnya, semisal The Fault In Our Stars yang terkenal itu. Ternyata lumayan bagus, nama John Green dari awal 2010an sampai sekarang memang sedang hangat diperbincangkan, dulu pas sedang ramai sempat menimang-nimang bukunya di Gramedia Mega Bekasi, dan menanti lima tahun baru benar-benar terealisasi. Jadi mari kita ulas bagaimana tingkah remaja Amerika menyambut kelulusan sekolah.

Buku dibuka dengan dua kutipan. Seperti laiknya semua buku, kutipan yang mewakili isi cerita. Dari Atlas tentang cahaya yang sepintas lewat dalam gelap dan The Mountain Goats tentang arti sahabat. Memang cerita yang disodorkan adalah kisah persahabatan unik antara seorang gadis aneh dengan remaja pria tetangganya yang lurus.

Dan setelahnya, ketika kami pergi keluar untuk menatap lenteranya yang selesai dibuat dari jalan, aku berkata aku suka cara cahayanya menerangi wajah yang muncul sekelebat dalam gelap. – ‘Jack O’Lantern’, Katrina Vandenberg dalam Atlas.

Kata orang, teman takkan menghancurkan satu sama lain. Tahu apa mereka soal teman? – ‘Game Shows Touch Our Lives’, The Mountain Goats

Kisahnya dibuka dengan sebuah potongan adegan di pagi hari. Bagaimana Quentin Jacobsen (di sini lebih sering dipanggil Q) yang berpisah dengan Margo Roth Spiegelman setelah melakukan petualang. Prolog-nya memberitahu kita bahwa penemuan mayat Robert Joyner di taman Jefferson Park oleh mereka berdua di masa kecil menjadikan dua respon yang saling tolak belakang. Q yang pasif dan penurut ditenangkan oleh orang tuanya bahwa semua yang bernyawa suatu saat akan mati, petuah bijak yang wajar dari orang dewasa kepada anak-anak dan Margo yang punya rasa ingin tahu berlebihan laiknya detektif, malah menyelidiki. Ini juga jadi akar nantinya ketika mereka beranjak dewasa. Maka ceritapun dibuka dengan hari terpanjang dalam hidup Q. Cerita dipecah dalam tiga bagian: Senar, Rerumputan, dan Wadah.

Margo menyukai misteri sejak dulu. Dan dalam semua hal yang terjadi setelahnya, aku tidak pernah bisa berhenti berpikir bahwa jangan-jangan lantaran terlampau menyukai misteri, dia pun menjadi misteri.
Bagian Senar adalah satu hari full petualangan Margo dan Q, sudut pandang cerita orang pertama dengan Q yang seorang siswa baik-baik, penurut, pintar, punya absensi kehadiran di kelas menakjubkan hingga dijadikan teladan yang sering disebut para orang tua. Q bertetangga dengan Margo, gadis petualang yang cantik yang pemikirannya memang jauh lebih dewasa. Penuturan hari yang panjang itu sempat bertele dimulai dengan pagi sampai malam yang biasa, membosankan sungguh lamban, karena memang masih pengenalan karakter. Bagaimana kehidupan di kelas di Amerika sana di kelas 3 SMU. Q yang bersahabat dengan si nyentrik Ben yang terobsesi pesta prom, Chuck yang jenius, Radar yang aneh, Margo yang berpacaran dengan Jason Worthington dan berteman dekat dengan Lacey, memiliki anjing lucu Myrna Mountweazel. Setelah runut panjang, sampailah kita di tengah malam. Jendela rumah Q diketuk, dan Margo mengajaknya berpetualang. Menjadikannya sopir, melakukan sepuluh babak. Q yang dasarnya anak baik sempat bimbang, tapi Margo menawarkan malam istimewa yang takkan terlupa. Dan petualang tak terlupapun tercipta. “Ini akan menjadi malam terbaik dalam hidupmu.”

Bagian kedua Rerumputan berkisah hari pasca malam mencekam itu. Margo ga muncul di kelas, Q melanjutkan kehidupan yang wajar, tapi efek malam itu ternyata panjang. Penyelidikan, telusur kejadian untuk memecahkan misteri. Margo yang mempunyai adik Ruthie yang seru dan orang tua yang kesal, karena Margo kini sudah berusia 18 tahun dan dianggap dewasa maka kepergiaannya sudah bukan lagi menjadi urusan polisi bila orang tua tak membuat laporan kehilangan, dan benar saja Margo si anak bengal sudah direlakan pergi dari rumah, memulai kehidupan dewasanya, padahal masih ada pesta prom dan wisuda, sampai berhari-hari tak muncul. Inilah bagian dua yang ditawarkan, Q dkk melakukan penyelidikan ala detektif. Dengan bantuan buku sastra kumpulan puisi Woody Guthrie dan Whitman, terutama Whitman dnegan buku Song of Myself. Kode yang disebar, dengan kalimat-kalimat yang ditandai yang kemudian menjurus ke sebuah petunjuk di pintu kamar Q yang membuatnya harus menyelidiki keluar kota ke lubang troll. Misteri itu belum tuntas sampai bagian ini selesai. Dan beranikah Q melakukan perjalanan ke New York, karena dalam proses selidik ternyata kemungkinan Margo ada di sebuah daerah x yang fiktif. New York yang membentang jauh dari Florida, perjalanan udara tak memungkinkan, mereka kere, maka dengan mobil pemberian orang tua Q mereka pun nekad.

Bagian Wadah adalah cerita perjalanan, dijelaskan dengan detail jam per jam. Dengan mobil hadiah orang tua Q mereka bergantian di belakang stir. Perjalanan misterius menuju kota Agloe, New York yang merupakan kota kertas. Akankah mereka berhasil menemukan Margo? Saya kasih sedikit bocoran, mereka mengalami kecelakaan. Nah! Tertarik kan. Ayoo nikmati kisah remaja Amerika dengan sastra, musik klasik dan ide cemerlang dalam perjalanan darat yang menakjubkan!

Cara bercerita yang bagus. memberi tanya kepada pembaca, menyodorkan sebuah plot yang lucu. Gadis bengal yang menghilang, orang tua yang tak peduli, justru menarik minat tetangganya, remaja seusia yang sejatinya jatuh hati. Lelaki polos yang penasaran, menemukan kota kertas yang misterius yang ternyata ada, berdasarkan fakta. Bahkan kalau kalian coba di google map akan muncul juga kota itu.

Tak seperti masa remajaku yang lurus, pengalaman Q menelusuri kota akan selalu dikenang saat ia nantinya berusia 30-40 tahun. Seperti kalimat-kalimat pembukanya. “… semua orang mendapatkan satu keajaiban. Contohnya, aku mungkin takkan pernah disambar halilintar, atau memenangkan Hadiah Nobel, atau menjadi diktator suatu negara kecil di Kepulauan Pasifik, atau mengidap kanker telinga yang vtak dapat disembuhkan, atau mengalami tubuh terbakar secara tiba-tiba. Tetapi jika kita mempertimbangkan semua hal-hal yang tak mungkin itu sekaligus, setidaknya salah satunya bisa saja terjadi pada masing-masing dari kita. Kau bisa saja melihat hukan katak. Aku bisa saja menapakkan kaki di Mars. Aku bisa saja dimangsa paus. Kau bisa saja menikahi Ratu Inggris atau bertahan hidup bertahun-tahun di lautan. Tetapi keajaibanku berbeda: dari semua rumah di subdivisi di antero Florida, aku tinggal bersebelahan dengan Margo Roth Spiegelman.”

Hebat ya. coba kalimatnya sedikit diubah, aku bisa saja menikahi Sherina Munaf, aku bisa saja mendapat penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa, aku bisa saja menapakkan kaki di Hollywood, aku bisa saja menyaksikan derby della capitale di Olimpico, aku bisa saja bersalaman dengan Saoirse Ronan, dan seterusnya… tak ada yang mustahil di hidup, karena seperti yang Q alami yang tercipta hidup bertetangga dengan Margo yang mengantar malam tak terlupa, kita semua bisa saja kena kutuk menjalani hidup tak sebiasa yang kita kita suatu saat nanti.

Malam ini sayang, kita akan memperbaiki bayak hal yang keliru. Dan kita akan mengacaukan beberapa hal yang benar. Yang pertama akan jadi yang terakhir, yang terakhir akan jadi yang pertama, yang lembut hati akan mewarisi bumi, tetapi sebelum kita mengubah dunia secara radikal, kita harus belanja…

SSHISS

Kota Kertas | By John Green | Diterjemahkan dari Paper Towns | copyright 2008 | 6 15 1 60 002 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Angelic Zaizai | Desain sampul Martin Dima (martin_twenty1@yahoo.com) | Cetakan ketiga, Juni 2015 | ISBN 978-602-031834-9 | 360 hlm.; 20 cm | Skor: 4/5

Untuk Julie Strauss-Gabel, yang tanpa dirinya tak mungkin ini jadi kenyataan

Karawang, 150619 – Kylie Minogue – Spinning Around

#Day8 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami #7

“Ia memang laki-laki aneh. Hampir seharian ia sendirian di taman kota ini. Sebentar bediri, duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Pandangannya tajam selalu menatap ke arah depan seperti tidak peduli pada orang di sekitar. Dan tiba-tiba mereka hanya mendnegar tubuhnya ambruk.”

Buku kedua bulan Juni tahun ini sengaja saya membaca buku non mainstream, mencari dari terbitan kecil, setelah lelah dari lebaran, mudik dan rangkaian panjang libur, pengen santai. Ada beberapa pilihan yang ada di rak, beberapa terjemahan, malah ketemu yang penulis lokal. Bacaan terjemahan penulis Dunia sudah sangat banyak, maka buku tipis ini saya pilih. Dua hari selesai, dibaca santai di kala setelah subuh, jelang tidur atau jeda istirahat kerja. Yang paling unik kubaca di teras rumah kala tidak dibukakan pintu di malam Sherina ulang tahun. Tema-tema yang ditawarkan sederhana, sebagai lulusan pesantren sang penulis memang banyak mengambil tema reliji, walau ga semilitan jadi buku agama, cerpen yang lumayan seru. 14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek.

#1. Lelaki Izrail
Tentang Pak Ulak Ulu, lelaki yang bisa (secara tak mengaja) meramalkan kematian. Awalnya njeplak otomatis, menasehati seseorang agar lebih banyak beramal, banyak ibadah karena usia tak ada yang tahu. Ternyata esoknya beneran tewas. Kejadian yang dikira hanya kebetulan itu, terulang lagi, dan lagi sehingga diapun didapuk lelaki peramal kematian.

#2. Matilda
Perempuan hebat di bawah lima tahun, pembaca sastra dunia, rakus melahap buku dan tampak aneh. Tentu saja otomatis kita akan menyebut Matilda, karakter terkenal karya Roald Dahl yang punya daya telekinetis menggerakkan benda ala Profesor X. Di sini lebih sederhana, sebuah keluarga mendapat kunjungan anak asing bernama Picataka setiap Senin-Jumat sore hari untuk numpang baca. Buku-buku tebal dilibas, remaja putri empat tahun yang aneh itu ternyata tak senyata yang terlihat karena suatu hari iseng diikuti, rumah tempatnya tinggal adalah rumah kosong. Lho?

#3. Percintaan Firdaus dan Janneti
Asmara anak pesantren. Sang aku adalah semacam pujangga pondok ‘Raja Kata-kata’, menuliskan surat cinta dengan biaya traktir. Maka Firdaus yang siswa senior suatu hari jatuh hati dengan siswa pondok sebelah ketika beli sayuran. Janneti yang dikirimi surat ‘cinta’ oleh Firdaus menjawab dengan berbunga. Maka disepakati hari untuk bertemu, untuk mengklaim kakak-adik. Sang aku ikut senang, surat buatannya bisa membantu mewujud kisah cinta cinta itu, hingga hari H yang harusnya berbunga menjelma petaka.

#4. Migrasi Para Hantu
Kisah hantu turun temurun dari ayah sang pencerita lalu dituturkan ke anaknya. Kisah hantu yang sudah umum, lazim di kampung halaman dikisah ulang kepada anaknya. Bagaimana hantu-hantu masa silam suka iseng menampakkan diri. Sang anak diluar duga malah antusias, dan meminta izin untuk ke kampung halaman. Untuk mencari bukti? Yah, anak muda zaman sekarang, ajak teman-teman mereka berencana jadi semacam ghost buster. Duh!

#5. Seorang Perempuan di Masjid Kami
Perempuan aneh yang menginap di masjid kita. Tanpa banyak tanya, tanpa basa-basi. Agamanya yang bagus, tingkahnya yang baik membuat warga menerima dengan terbuka. Musafir yang bijak, mengikuti kajian, ibadah bagus, membantu sesama. Lama-lama membuat tanya identitas sesungguhnya. Siapa gerangan yang menebar ilmu dengan teladan ini?

#6. Pa’aliran Caran
Cerita tentang pawang buaya yang legendaris. Adalah Caran yang menjadi penakluk buaya, bisa bertahan berjam di dalam air, bisa mencari hal gaib di air. Sebagai pawang buaya senior, suatu hari ada anak tenggelam gara-gara acara mancing yang awalnya dilarang. Sudah lama Caran tak melakukannya, dan iapun kembali menyelam mencari kebenaran di dasar sungai.

#7. Libur ‘Aisya
Cerita mencari tempat liburan yang tak biasa. ‘Aisyah yang anak kota akan liburan musim panas, beberapa opsi disodorkan. Dari yang umum dari buku panduan wisata sampai kampung desa yang ada di pelosok, tapi apa istimewanya? Maka sang aku pun menawarkan liburan di pesantren, belajar agama? Wuihh… ide bagus. sebulan dua bulan ‘nebeng’ belajar agama, apa respon ‘Aisya?

#8. Perempuan Pembunuh Terang
Tentang perempuan sakti yang mematikan semua cahaya malam, lampu-lampu ditembak, semua cahaya dimatika. Dengan kuda laiknya seorang pengelana, jagoan yang meminta kembali menjaga kekhusukan malam. Warga yang takut bergegas mematikan lampu, dan derap kuda yang menakutkan itu selalu terdengar bagi mereka yang berani menyalakan cahaya. Hingga akhirnya usul menembak bulan agar pekat tercipta itu mewujud.

#9. Oleh-oleh
Seorang cucu yang galau liburan ke Bali, pertentangan reliji. Terlahir dari pasangan agama Islam dan seniman, sang aku tampak bimbang mau ke arah mana kehidupannya. Darah seni menciptanya ingin melukis, Bali jadi detinasi, dapat pertentangan dari kakeknya yang kolot. Hingga akhirnya oleh-oleh baju khas agama Hindu itu diberikan, menjelma baju koko untuk ibadah ke masjid. Lega?!

#10. Teratai Kota
Ini mungkin kisah terbaik, tentang perenungan lelaki yang menyendiri di taman kota. Melihat, terpana, dan berdiskusi dengan bunga teratai kota. Bunga yang tumbuh liar, sebuah anugrah dari Tuhan ataukah makhluk buangan? Hingga kahirnya ia ditemukan di sebuah kamar rumah sakit. Nasehat aneh dari penjual madu.

#11. Rumah di Samping Kuburan
Membangun rumah di samping kuburan. Tentu banyak pertimbangan. Tentu saja ekonomi jadi alasan utama, sang Aku yang masih lajang awalnya ditentang keluarga, tapi ia keukeh membangun rumah dengan jendela menghadap kuburan. Tiap ada prosesi pemakaman, ia menyapa, tiap ada yang ziarah ia ikut berdialog. Hingga suatu hari ia melihat penampakan yang menjadi pertanda. Serigala kenapa tampak jadi ikon korupsi ya?

#12. Perempuan Kafe Senja
Perempuan dengan empat kekasih, kekasih di hari kerja, kekasih di akhir pekan, kekasih di malam hari dan yang satu entahlah. Perempuan tanpa nama itu sering kali nongkrong di kafe sepulang kerja, hingga sang aku menyapa dan memulai menjalin kenangan.

#13. Kubur Penuh Cahaya
Agak aneh bagaimana bisa kubur warga biasa, penjual minyak luar kota bisa memancarkan cahaya? Desa yang awalnya biasa menjelma riuh. Jadi keramat, jadi tempat ziarah, jadi sakral. Mencipta hal-hal gaib, cahayanya memang tak muncul terus, hanya sesekali, tanpa teknologi ya. sampai kapan?

#14. Hidup Memang Tak Mudah, Pak Atin!
Tentang penangkapan terduga teroris. Pak Atin kena ciduk juga, padahal beliau terkenal sebagai orang alim yang tak neko-neko. Maka kisah dirunut bagaimana bisa. Ternyata bermula dari tiga pemuda yang menitipkan jual buku, buku-buku aliran radikal yang menyeret pak Atin jua. Walaupun dalam prosesnya ia kembali bebas, setidaknya benar adanya hidup itu tak mudah.

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami | Oleh Hairus Salim HS | Desain sampul Rahman | Tata letak Gapura Omah Desain | Ilustrasi Rahman | Penerbit Gading | Cetakan satu, September 2012 | x + 130 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 978-979-16776-1-5 | Skor: 3.5/5

Karawang, 130619 – James Ingram – I Dont Have The Heart

#Day7 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Sherina Munaf Dan Segala Kegilaan Yang Tercipta

Huaaa… Terima kasih ucapan ultahnya. Takut ketuker gak itu chat-chatnya.”

11 Juni 2019. Setelah menjadi Sherina Lover sejak 1999 akhirnya saya di-notif sama Sherina Munaf. Untung getar twit tanda itu sore hari, jadi gemetar tanganku, hilang konsentrasiku, lemes itu seusai jam kerja. Orgasme. Saya langsung tak bisa fokus. Sore ini sepulang kerja rencananya mau nulis blog review buku dalam event #30HariMenulis, saya sudah ketinggalan kereta, karena mudik kemarin, ini hari kesebelas, saya baru review buku enam. Buku ketujuh yang mau kuulas adalah ‘Matahari Dan Baja’ karya Yukio Mishima. Draf awal baru kuketik, sampai di bagian identitas buku. Lalu karena ruang HRGA di lantai dasar, dan beberapa teman kantor dari lantai satu mampir ke ruangan, salaman, say hay, sampai ngobrol bentar, saya sempatkan twit ucapan ulang tahun ke Sherina Munaf beberapa menit sebelum pulang. Tak butuh waktu lama, saya dapat notif langsung dari sang primadona. Dan buyarlah olah pikir segala-galanya. Lemas. Seneng banget ya Allah.

Ok, mari kita runut bagaimana saya bisa kesengsem Sherina Munaf. Kalau saya bilang cinta pertama, mungkin kalian ga akan percaya. Namun bisa saya pastikan, saya langsung jatuh hati di tahun 1999, saya ada di usia 16 tahun, masa remaja, masa darah muda yang meluap-luap. Kala itu sore hari, sepulang sekolah ba’da Asar saya biasanya memang nonton MTV, saat itu entah stasiun tv mana yang menayangkan. Lagu ‘Kembali Ke Sekolah’ sedang tayang, kala itu hujan gerimis, sesekali memang petir terdengar, tapi tak sampai menggelegar. Di luar memang riuh disertai angin sore yang sejuk, tapi sejatinya, cuaca memang adem. Saya sendirian, menyaksikan lagu itu hingga tuntas. Saya jatuh hati. Saya langsung mencintai Sherina Munaf. 16 tahun dan cinta yang membuncah. Jatuh hati sama lagu Kembali Ke Sekolah, dengan senyum sangaaaaaaat menawan di akhir video klip.

Di era itu memang informasi belum semelimpah sekarang. Segala upaya kukerahkan untuk mengetahui identitas dan kabar baru Sherina. Kabar artis sangat terbatas, dari koran yang hampir mustahil ada, saya pembaca Republika, walau koran bekas dari Paman. Dari tabloid, hanya Fantasi yang mungkin, tapi tetap sangat jarang, lagian di era itu lumayan mahal karena kertas hvs dan lapak media cetak ada di kota Palur yang merentah jauh. Dari Radio apalagi, belum tentu satu dari seribu berita Sherina muncul dalam sehari. Televisi bisa jadi media penghubung satu-satunya yang bisa kuandalkan. Masa berlari, abad melewat, tahun berganti, milenium tiba.

Tahun 2000, film ‘Petualangan Sherina’ rilis. Film ini meledak, menjadi pembuka kran kebangkitan film lokal, saya belum mengenal bioskop. Tahun 2000 adalah era emas Lazio Scudetto, dan saya memasuki bangku SMK. Tak banyak yang bisa kuperbuat, selain nempel poster, nempel artikel dari majalah tentang Sherina, dan menyelipkan gambarnya di dompet. Salah satu teman kecil yang menemani berburu Sherina adalah tetangga samping rumah, Nanang. Dia suka suka Bollywood, saya suka Sherina. Sempat saya foto copy banyak lalu kutempel di tembok. Saya pernah mengirim surat penggemar kepada Sherina tahun itu, tak ada kabar, tak ada balasan. Surat yang hanya bilang saya suka lagu-lagumu, menggunakan kartu pos dengan perangko di pojok. So classy. Saya kirimnya ke alamat di balik kover album ‘Andai aku Besar Nanti.’ Entah kertas itu terdampar di mana. Tahun 2000 juga ditandai saya pertama kalinya memiliki kaset pita Sherina. Beli? Enggak. Saya termasuk jelata, untuk uang sebesar 20 ribu saja ga kuat. Saya kopi dari kaset pita milik teman sekelas, Wisnu Suhoko. Pakai tape dek dual player, pinjam punya Pak Lik Maridi. Dua album langsung. Sejak itu saya leluasa mendengarkannya? Enggak juga, kan saya ga punya player. Maka sesekali pakai Walkman milik Masku Mury, pakai headset karena tak berspiker. Barulah tahun berselang saya memiliki sendiri.

Bersamaan dengan album berikutnya ‘My Life’ tahun 2002 berkover pink, saya sekolah jurusan elektronika, maka saya bisa merakit tape dek sendiri. Kegilaan tak terkendali, bisa mendengarkan lagu-lagunya. Setiap malam, setiap jelang tidur menjadi teman. Teman belajar, teman santai, teman berkhayal. Oiya setahun sebelumnya muncul album single duet dengan Westlife yang menyanyikan lagu ‘I Have A Dream’. Satu lagu diaransemen ulang dengan berbagai format, side A dan B sama. Lagu sama, aransemen beda, dalam satu kaset? Bosan? Nope! Tetap kunikmati, makin merasuki. Kabar duet ini pertama kudengar dari teman sekelas, kukira bercanda, eh ternyata benar. Betapa bahagianya! Empat album, hanya satu kaset yang asli, lainnya hasil rekam sendiri. Saya masih anak sekolah, saya masih prihantin. Belum lagi VCD ‘Sherina & Sherina’ yang dirilis di masa itu, baru empat tahun berselang saya punya. Veris asli dan karaoke dengan intro Sherina bersama boneka Power Puff Girl.

Tahun 2003 menjadi tahun kelulusan sekolah, tak butuh waktu lama saya mendapat kerja. Di sebuah toko elektronika, menjadi pelayan. Setiap dapat giliran kerja di sisi display kaset, saya tentu saja senang sekali, ada dua kaset Sherina Munaf original! Dan ketika gajian pertama, saya langsung beli kasetnya. Gaji pertama kubelikan novel Harry Potter dan Batu Bertuah, kaset M2M Best of dan kaset I Have A Dream yang ada posternya! Wow… langsung kulaminasi, kupajang di kamar. Oiya, semua kaset original Sherina akhirnya benar-benar kumiliki selepas kerja di sebuah pabrik makanan, menjadi kuli panggul. Semua kaset itu saya laminasi pakai selotip, bolak balik, takut rusak. Setelah itu apa? Yup, tragedy Aceh.

Februari 2004, saya mendapat kesempatan menjadi anak rantau. Saya terdampar di kota pinggiran Cikarang menjadi buruh pabrik otomotif. Sisi minusnya, saya jauh dari keluarga, saya menjadi pekerja yang dituntut mandiri. Sisi positifnya, finansialku membaik. Dengan mudahnya saya beli tape dek dual player yang sejak sekolah kuidamkan. Dan akhir tahun itu sebuah musibah besar terjadi di ujung Barat Indonesia. Saya masih ingat betul, Desember 2004 dengan bodohnya saya mengirim pesan ke kampung halaman, ‘bersyukur’ Sherina Munaf yang sempat vakum kembali dengan lagu ‘Indonesia Menangis’. Lagu ini tak terdapat di album Sherina manapun. Saya dapat justru dari sebuah kompilasi penggalangan dana. Dunia berduka.

Tahun 2005 bisa jadi adalah masa saya fokus kerja dan pendidikan, dan saya memikirkan masa depanku sendiri. Saya mulai kuliah. Saya perlu jelaskan kayaknya, saya tak pernah pacaran. Setiap ditanya siapa pasanganmu? Saya jawab Sherina Munaf. Siapa pacarmu? Sherina Munaf. Dikiranya saya bercanda, padahal saya menjawab dengan serius. Nah suatu hari nanti saya akan melamarnya, ah masa muda! Suatu hari nanti saya bisa mensejajarkan diri dengan Sherina, She is may everything. Ah impian anak muda. Namun di akhir tahun itu juga saya yang keukeh tak mau pacaran selain Sherina the one and only, akhirnya hatiku terbuka. Saya ingat sekali, seorang teman (maaf saya tak bisa menyebutkan namanya) mengatakan bahwa ada seorang gadis dari Cibitung yang memiliki wajab mirip Sherina. Mungkin antusiasme-ku yang berlebih, kalau tak bisa kumiliki yang asli setidaknya yang mirip. Saya langsung ke sana, sebuah kos di pinggir jalan Cibitung. Gadis itu bernama Miss X (saya samarkan saja). Baru ketemu langsung kuajak pacaran! Ternyata dia sudah punya pacar, saya tak peduli. Dia tetap bilang ga bisa, karena memang tak kenal. Ga papa, kita akan saling mengenal. Tetap ditolak, saya tak menyerah. Sepulang kerja, ketika tak ada jadwal kuliah saya ke sana. Cikarang Cibitung kutempuh perjalanan dengan SiKusi sekitar setengah jam, kalau ga macet. Lewat jalur kalimalang yang berlubang, dan menyisir padatnya pinggiran ibu kota. Setiap kudatang, disambut dingin. Teman yang mengenalkanku sesekali mau ikut, tapi lebih sering ga mau. ‘Ngapain? Jauh!’ Yo wes, saya pasang muka badak. Saya hanya duduk di kosnya, ikut nonton tv kalau dia mau buka pintu, ikut ngobrol sesekali, lebih sering dicuekin. Miss X akhirnya curhat ke temanku, jangan ganggu. Saya tak peduli, bahkan di ulang tahunnya saya nekad ke sana bawa boneka, hujan lebat, Miss X kerja shift dua, kos kosong, kutelpon dia, dia ga mau kutemui. Hadiah kutaruh di depan pintu, pulang menembus hujan. Selanjutnya apa? Bye bye bye. Dia pindah kos, nomor HP ganti, wassalam, dan selesai sudah kisah cinta tak sampai ini. Patah hatiku ini membuatku memiliki pacar asli. Terkandang memang untuk bangkit, kita harus terjatuh dulu. Untuk kuat, kita harus ditampar dulu. Pertama kalinya saya pacaran, saat itu usiaku 23 tahun.

Tahun 2007 menjadi tahun terbaik. Awal tahun itu Sherina Munaf untuk pertama kalinya merilis album, yang bukan anak-anak. Masa transisi. Album Primadona yang fenomenal. Saya putar setiap hari, sebelum berangkat kerja dan sebelum tidur. Teman satu kosku, Grandong sampai bosan, sampai marah-marah, terserah. Sering cekcok dia pengen lagu-lagu Rhoma Irama, saya pengen Sherina. Ketika alunan ‘Syahdu’, saya sering kali ganti. Ga peduli, ini era emas Sherina Munaf, jangan kau sia-siakan setiap menitnya. Ini adalah album musik terbaik sepanjang masa, berisi lagu-lagu hebat, menghentak di side A lagu paling hebat: ‘Primadona’, lagu dengan kata ‘berhenti’ ketika lagu berhenti. Semua temanku pasti tahu, mereka akan komentar ‘kok berhenti?’, lalu lagu ketiga adalah ‘Sendiri’ yang merupakan satu-satunya yang beat penuh, dipilih jadi single pertama. Rock abis, lagu ini pernah menjadi semacam masalah di tempat kerja yang pada saat di tv muncul saya pergi ke kantin dan menikmatinya, di jam kerja! Ada lagu ‘Ku Disini’ yang dibuat dua Bahasa, lagu 1000 Topeng yang mengenai sisi lain seorang yang bisa bersandiwara, pokoknya semua suka. Mungkin ‘Battle Dance’ yang biasa, sampai sekarang pun ini lagu minor karena jadi satu-satunya tak ada suara Sherina, hanya instrumen dengan hentakan ala tango. Album Primadona mencatat kejadian lucu, ketika di kampus seorang dosen Informatika pernah bertanya dalam kelas, fenomena apa yang terjadi terbesar tahun ini? Saya langsung mengacungkan jari, dan dengan lantang kujawab: “Album Primadona karya Sherina Munaf rilis. Dia yang produseri, dia yang nulis lagu, dia yang main alat musik pianonya, dia pula yang menyanyikan. Betapa hebat perempuan ini. Multi talent.” Kelas tergelak, dikiranya saya bercanda padahal saya menjawab dengan muka serius dan menyampaikan pendapat apa adanya. Kelas masih tergelak, tapi sang dosen sudah bilang, selanjutnya… tak ada respon, tak ada yang menanggapi. Kecewa? Enggak juga, setidaknya saya sudah menyampaikan pendapat, menyampaikan kebenaran.

Tahun 2009 album ‘Gemini’ muncul, saya beli di Mal Metropolitan, Bekasi. Naik angkutan umum, turun di bawah jembatan layang. Kenapa jauh, di Mal Lipo Cikarang belum ada, saya sudah tak sabar. Album ini lebih ngepop, lagu-lagunya komersial. Sherina jadi sangat sering tampil di tv, jadi bintang iklan, menjadi sering diundang acara talk show, menjadi orang kebanyakan. Dan entah kenapa teman-temanku juga ga sesering dulu memberi kabar kemunculan Sherina di media massa. Seakan ada sebuah klik kesepakatan. Ternyata responku tak segerlap Primadona, saya masih dengan setia mendengarkan lagu-lagu ‘Cinta Pertama dan Terakhir’, ‘Geregetan’ yang dinukil untuk iklan Simpati (saya sampai beli perdana Simpati yang mahal itu) dan lainnya. Tapi sedikitnya rasa itu agak luntur, idola yang keseringan muncul malah membuatnya biasa, selain usiaku yang seharusnya sudah matang, saya harus melangkah di dunia nyata. Saya juga sudah single lagi, saya tak mau jatuh hati kepada siapapun, saya hanya mau menikah, tak mau pacaran, saya menyendiri mencari arti setiap helaan napas. Mancari jati diri. Pindah kos ke The Adirfa Lamajd di Cikarang Utara yang sepi dari hingar bingar. Kosan dekat kuburan yang cocok untuk merenungi nasib. Kos yang sejatinya mau kujadikan titik tata hidup. Sempat mencoba melepas semua hal di rantau, pulang kampung mau usaha, mau dekat dengan orang tua, tapi saya terlanjur daftar kuliah lanjut S1. Maka saya di persimpang jalan. Kalau kalian sudah nonton film ‘A Lot Like Love’, adegan ketika Ashton Kutcher pulang kampung dengan tangan hampa, di kolam renang dalam pelukan orang tua, seperti itulah saya tahun 2009. Hampa. Kutcher melepas dengan gamang Amanda Peet. Gagal di rantau, gagal di kisah asmara.

Tahun 2011, tanpa pacaran, saya melamar seorang gadis pujaan. 11-11-11 menikah, dan kuucapkan selamat tinggal impian. Mungkin saya sedang ada di fase, hhhmmm… apa ya? Semacam mendarat di tanah, menginjak realita, mengalami fragmen hidup: impian tak selalu bisa diraih. Tersadar? Tertampar! Saya kembali menjadi apa adanya. Menjalani peran seorang suami di usia 28 tahun. Usia yang matang, setahun berselang saya kehilangan putri pertamaku: Najwa Saoirse. Obat hati kehilangan orang terkasih memang saya tenggelamkan dalam tumpukan buku. Ini juga masa krusial, mau ke arah mana saya melangkah. Buku di rakku mulai banyak sejak usia 29 tahun, beli rak pertama kalinya. Sementara Sherina Munaf memang sempat terlupakan. Sherina kini di usia ini, masa krusial untuk Sher melangkah ke depan mau ngapain?

Tahun 2013 Sherina Munaf mengeluarkan album ‘Tuna’, dengan single fantastis ‘Sebelum Selamanya’. Saya mengalami puber cinta lagi. Kini saya mendengarkan Sherina dengan pasangan hidup dan anak. Kini saya sudah menjadi seorang ayah, putri keduaku: Calista Yumna Hermione masa bayinya juga sering ditemani lagu-lagu album ini, selain ayat-ayat suci tentunya. Dan saya entah bagaimana, kembali jatuh hati dengan Sherina Munaf. Lagu-lagunya keren, ada Ada yang hening, lagu “sungguh aku beruntung, menemukan dirimu, tak perlu kau bandingkan kau dan dia”, dan seterusnya. Semua albumnya saya simpan dalam HP Blackberry: menjadi teman dalam segala perjalanan. Menjadi teman bekerja, teman semejaku sampai ikut suka: Rani Skom, Iyul, Intano, Pak Nasih, Putri, Pak Redy sampai Rayen, lalu menjadi teman nulis blog, menjadi teman belajar, menjadi teman baca, menjadi teman di banyak hal. Sehari bisa seribu lagu berkumandang, jadi kalau ada fan Sherina yang sudah mendengarkan lagunya tak akan pernah bisa mengalahkanku. Kalau ada orang yang mengaku sudah mendengarkan lagu Sherina seribu kali, maka pastinya saya sudah di angka seribu satu. Kalau ada seorang yang sudah mengaku mendengarkan Sherina sejuta kali, maka saya bisa pastikan sudah mendengarkan sejuta satu. Saya ada di puncak Sherina Lover. Saya nomor satu. Tak ada yang bisa mengalahkanku. Pernah ketika mudik tiga tahun lalu ke Solo, perjalanan yang memakan 23 jam karena terjebak macet, saya mendengarkan lagu seluruh album Sherina non stop! Dari Karawang ke Solo, saya putar semua lagunya bolak-balik bersama kedua orang tua, anak dan istri. Ada sih yang protes, tapi saya kan yang nyopir. Maka hak saya menyetel laguku. Apakah ada yang pernah mendengarkan semua lagu Sherina Munaf bolak-balik hampir sehari penuh? Kasih tahu saya…

Sampai sekarang saya masih sering mendengarkan Sherina Munaf, ketika putri ketigaku Caisha Lettie tiada awal tahun ini, saya sempat mengalihkan ke lagu-lagu jazz. Sempat pula ke musisi lain, tapi rasanya tak ada yang bisa mengalahkan Sherina Munaf. HP Bleckberry-ku sudah tewas. Pernah suatu masa, HP itu ketinggalan di teras rumah, dan ketika pulang kerja Sherina masih mengalun. Oh, pantas di kantor saya cari HPnya ga nemu, ternyata tertinggal di teras ketika memakai sepatu kuletakkan, lupa ga kumasukkan ke tas.

Di kamar Ruang_31 di Palur, keempat dinding kupenuhi poster, tentu saja poster Sherina ada. Salah satunya hadiah dari tetangga, dapat poster di tabloid ‘Fantasi’. Poster jumbo dengan pakaian skating. Di kamar kos Ruanglain_31 di Cikarang yang keempat dindingnya juga penuh poster, ga perlu ditanya ada Sherina enggaknya. Salah satunya poster dari majalah Girl. Kali ini Sherina remaja. Sebagian kegilaan Sherina pernah kubuat dalam tulisan ini. Pernah pula kubuat daftar lagu-lagu terbaik di sini. Bagaimana dulu, teman-teman selalu mengabariku ketika Sherina tampil di media.

Sherina menjadi orang Indonesia pertama yang mendapat pengikut satu juta di twitter. Saya tentu saja sering retweet. Ia sempat pindah ke Instagram, saya ikuti juga di sana. Saya mungkin orang paling sering yang mengambil gambarnya. Saya screenshot, saya jadikan status, lebih sering di WA Story. Setiap bulan Juni saya juga menjadikan program #30HariMenulis yang setiap tanggal 11 nya selalu saya bikin tagar #HBDSherinaMunaf kini memasuki tahun keempat. Dan tahukah kalian, hari ini 11 Juni 2019 setelah bertahun-tahun, setelah mencoba memberitahunya bahwa ada seorang pecinta yang memantaunya, memujanya, mencintainya, akhirnya untuk pertama kalinya saya dapat notif. Setelah kuucapkan selamat ulang tahun di twitter jam 16:46 berbunyi: “Semua grup WA memakai gambar @sherinasinna hari ini. Selamat ulang tahun Sherina Munaf. Semoga sukses segala-galanya. Semoga makinn keren. Semoga makin hebat. Semoga makin yang baik-baik ya. Ditunggu karya-karya terbaiknya. Love from Karawang ❤ ❤ ❤ ” Dengan kulampirkan ss grup Wa hari ini yang memang kuubah banyak profil picturenya dengan gambar-gambar Sherina. Tepat jam 17:07, jam pulang kerja HPku bergetar. Nada getar notif twit memang kubedakan, hanya twit Sherina Munaf yang kunyalakan lonceng, jadi setiap dia twit, saya mencoba menjadi orang nomor satu yang like dan retweet, baik langsung klik atau dengan komentar. Tahun ini juga ditandai ia kembali aktif di mikroblogging ini. Alhamdulillah… Saat itu, saya sedang menulis draf blog, dan ketika kubuka HPnya. Astaga, saya deg-degan. Saya lemes, saya gembira, teman semeja Intano dan Rani Skom menjadi saksi ketika kubaca twit istimewa itu. Teman-teman kantor yang pulang, karena mesin finger print ada di dekat ruang HRGA langsung kusalami, bukti twit langsung ss dan kusebar di platform sosmed manapun (kecuali fb) yang kupunya, Sherina Munaf dan Segala Kegilaan Yang Tercipta. Sampai sekarang (sudah jam 20:02) saya masih nulis catatan ini, yang seharusnya catatan ulasan buku, malah kubuat special buat Sherina. WA istri yang meminta pulang jangan larut rasanya mustahil terwujud, video call dari Hermione yang pamer tulisan sempat membuatku untuk segera pulang, tapi nyatanya selepas Isya masih bertahan di meja kerja. Dua ribu kata untuk catatan Sherina masih kurang. Saya masih ingin bercerita seribu kata lagi. Sejuta kata lagi.

Saya masih belum bercerita, bagaimana sejak balita hingga kini usia empat tahun Hermione kuracuni lagu-lagu Sherina sehingga ia hafal betul intro album Sherina & Sherina, terutama lagu Pelangiku yang unik, “Waktu video klip ini sedang dibuat kebetulan sedang musim hujan, aku senang bangat sama hujan…” Saya belum bercerita bagaimana punya sepatu cokelat, yang dibelikan ibu di Mal Luwes Palur, kala itu gara-gara video klip Kembali Ke Sekolah dengan adegan mengikat tali sepatunya. Saya belum bercerita, lirik lagu Bukan Kenangan: “Kawan datang dan berlalu, lawan datang dan berlalu aku diam di sini ditinggalkan kenangan.” Yang selalu kububuhkan di tiap lembar perpisahan teman kerja yang resign. Dengan tanda SH. Ada yang nanya kalau Sheina kenapa bukan SM (mengacu pada singakatbn Sherina Munaf)? SH kuambil sebagai logo tanda tanganku. Saya juga ingin bercerita asal usul tanda tanganku, itu berbentuk SH, lalu e lalu Rina. Dan kututup dengan garis lurus berdiri dan garis underline lalu titik. Yup, tanda tanganku berinisial Sherina! Saya juga belum bercerita bagaimana mula saya menamai anak kedua Pak Lik Maridi dengan usulan nama Sherina. Ya, saya kini punya saudara bernama Sherina. Tahun 2009 saya pulang kampung, membantu-bantu proses lahiran, walau sekadar naik motor ke Palur bolak-balik antar doang, usul kasih nama dan approved. Duh bahagianya. Saya juga belum bercerita, bagaimana bisa jaket pekerja pertama di tanah rantau kuberi nama Sherina Munaf, bos yang kebingungan karena tak ada timnya yang bernama itu, sehingga sempat mau ditukar sampai akhirnya ganti shift dan saya mengklaimnya. Jaket dengan nama dada Sherina Munaf di kiri. Adakah yang membuatnya juga di tahun 2005? Saya belum cerita Wiro Sableng yang membuatnya turun gunung dalam layar lebar menjadi Anggini, saya belum bercerita kisah Sherina yang selalu kubela saat kontraversi twit terkait LGBT. Saya belum cerita bagaimana semua produk Sherina sebagai ambassador kubeli: Panasonic, Advance, Curcuma Plus, Casio, dan setiap lewat tol sampai di Grand Wisata selalu kuteriak, ‘rumah Sherinaku’. Saya belum bercerita bagaimana lagu-lagu Sherina paling sering menjadi teman nulis blog sehingga saya cantumkan di akhir tulisan, betapa istimewanya. Saya belum bercerita betapa antusiasmenya saya akan film Ayat-Ayat Cinta dan Laskar Pelangi gara-gara dia isi soundtrack. Dan seterusnya dan seterunya… saya ingin membuat catatan tiga ribu kata lagi dan sejuta lagi… tentang Sherina Munaf tentang segala obsesi ini.

Terima kasih telah menjadi inspirasi, menjadi teman tidur, menjadi penjagaku: dulu, kini dan selamanya. Selamat ulang tahun Sinna Sherina Munaf ke 29 tahun. Doaku selalu untukmu, yang terbaik. Penuh cinta dari Karawang. – LBP

Ruang kerja HRGA CIF jam 21:47, Karawang, 11 Juni 2019 – ditemani dengan semua lagu dari album terbaik dunia akhirat Primadona

Catatan: tulisan kubuat dari jam 17:31 sampai 21:18 di kantor sepulang kerja, tanpa rencana tanpa banyak mikir, ngalir saja dan saya tutup di 3,148 kata. #HBDSherinaMunaf wish you all the best