Mengarang Novel itu Gampang #25

“Siapa yang melarang? Kau menjadi pengarang, berarti kau membuat sendiri, mencipta sendiri.”

Luar biasa. Ini seolah menampar wajah para penulis yang masih gamang. Dibuat dengan model tanya jawab, saat-saat membacanya mencipta kalimat ‘iya ya, iya ya… terasa mudah, terasa gampang’. Sesuatu yang malah sangat amat menohok keragu-raguan. So far, buku motivasi menulis terbaik yang pernah kubaca. Ga kebanyakan teori, ga kebanyakan motode, cas cis cus, gegas tulis. Rasanya, akan malu bila kita yang manggut-manggut tak mempraktekkan gayanya. Ini buku kedua beliau yang kubaca, dan memang legend abah Arswendo ini. Salut.
Ini adalah sekuel dari Mengarang itu Gampang. Kali ini fokus ke novel, di mana pengarang butuh perjuangan ekstra. Ini mengarang novel yang lebih membutuhkan napas yang panjang. Tak seperti cerpen yang spint, novel adalah bentuk lari marathon.
Caranya dengan eksploitasi. Tokoh itu dikembangkan. Direntangkan, dipendekkan.
Pada saat mengetik, kamu sudah mulai dengan apa yang ‘telah selesai’ dalam kepalamu.
Ulasan, pengembangan, warna, semacam ini terjadi – diperlihatkan kepada pembaca – dari peristiwa. Ini yang memperkuat dan menjadi ikatan cerita.
Titik tolak bisa dari apa saja. Dari mana saja. Yang penting eksploitasinya.
Pada dasarnya sebuah novel, adalah perkembangan karakter dari pelaku-pelakunya, perubahan, pergolakan, dan dalam rangkaian itu sebenarnya cerita sebuah novel. Itulah yang kita kenal dengan istilah, “jalannya cerita” atau “isi cerita.”
Bukan sekadar bunga-bunga kata, tetapi merupakan rangkaian yang menyatu dalam kerangka besar. Ibaratnya titik-titik kecil dari sebuah gambar mosaic yang besar.
Ketika kita menceritakan salah seorang tokoh, ceritanya berjalan. Rangkaian peristiwa terjalin, acuan dramatic berlangsung.
Yang menggariskan dasar cerita adalah waktu.
Praktek men-sinonim-kan kata terasa mudah, hanya sepuluh kata sepadan. Tidak mungkin tidak kautemukan. Pokoknya digali terus.
Dalam mengarang, pada dasarnya kita ini sedang mengadakan satu pembicaraan. Antara pembaca dengan pengarang. Dalam hal ini pengarang bisa berdialog langsung dengan pembaca, bisa juga melalui tokoh-tokohnya. Bisa dua-duanya sekaligus.
Disesuaikan dengan keseluruhan.
Akan tetapi realita bukan hanya yang berkaitan dengan tokoh-tokoh yang berdialog. Realitas itu juga merupakan realitas keseharian.
Bagaimana penggunaan dialek dalam narasi? Sebaiknya jangan, kecuali kalau pengarang memakai bentuk aku, dan dalam hal ini bercerita secara langsung kepada pembacanya, yang seusia dan sederakat.
Dalam mengarang rangkaian penggambaran semua ini merupakan bagian yang direncanakan, bagian yang secara sadar diolah.
Memang paling bagus menjallani sendiri, dengan begitu perasaan itu oetntik. Kamu sendiri bisa langsung merasakan. Dan menemukan ide-ide penulisan di situ. Terasa kekayaan bahaa dan warna untuk penggambarannya.
Yang idenya berasal ketika pengarang berada di tempat yang diceritakan.
Mengarang Novel itu Gampang | by Arswendo Atmowiloto | GM 84.123 | Penerbit PT Gramedia, 1984 | Secara bersambung pernah dimuat di majalah Hai tahun 1983 | Skor: 5/5
Karawang, 250622 – Etta James – At Last
Thx to Saut, Jakarta

30HariMenulis #ReviewBuku #25 #Juni2022

The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring #24

“Begitukah?” tawa Gildor. “Kaum Peri jarang memberikan nasihat begitu saja, karena nasihat adalah pemberian berbahaya, walau datangnya dari yang bijak dan untuk yang bijak pula, salah-salah segala sesuatunya bisa berakibat buruk…”

Akhirnya salah satu novel yang sangat ingin kubaca ini terkabul juga, di rak sudah komplit tiga seri. Sudah punya sejak September 2020, baru kubaca tahun lalu dan butuh waktu setengah tahun untuk menuntaskan. Memang tak muda, sebab fantasinya kompleks. Kalau dibanding Narnia yang lebih santai dan tipis, atau Harry Potter yang walau tebal tapi kocak, dan genrenya remaja. The Lord of the Rings sungguh berat. Banyak kosotaka baru, perlu settle dulu memulai pengembaraan. Dan jelas, ini salah satu novel fantasi terbaik yang pernah ada, atau malah yang terbaik?

Kisahnya tentu sudah tak asing. Sudah diadaptasi film dan menang banyak piala Oscar. Namun tak mengapa, saya ringkas sepintas, setiap orang punya versinya masing-masing untuk bertutur pasca melahap buku, ini tentang Frodo Baggins, menerima cincin hebat dari pamannya Bilbo Baggins, (agar nyaman, idealnya baca The Hobbit dulu). Hobbit dibagi dalam tiga jenis: Harfoor, Stoor, dan Fallohide. Cincin berkekuatan besar itu merupakan cincin utama, menjadikan yang memakainya bisa menghilang, digdaya. “Bilbo pergi untuk menemukan harta, lalu kembali tapi aku pergi untuk membuang harta, dan tidak kembali, sejauh yang kupahami.”

Dengan kekuatan besar, maka mengundang para musuh yang besar. Banyak orang menginginkannya. Gandalf sebagai sesepuh, penyihir yang menautkan perjalanan Bilbo, kini kembali tutun tangan, memandu penghancurannya. Mereka melaju pergi, cemas dan patah hati, di bawah tatapan kerumunan orang. Frodo memakai nama samaran, “Pergilan dengan nama Mr. Underhill.”

etelah memberi nasihat dan petunjuk, ia berangkat dulu memastikan keadaan. Frodo lalu ditemani tiga hobbit: Samwise Gamgee sahabat baiknya, Peregrin Took (dipanggil Pippin), dan Merry Brandybuck (nama sebenarnya Meriadoc, tapi jarang diingat orang). Memulai petualangan. Meninggalkan Shire, kampung mereka yang nyaman. “Aku tidak tahu alasan Musuh mengejarmu,” jawab Gildor, “tapi aku merasa memang itulah yang terjadi – meski ini terasa aneh bagiku. Aku ingin memperingatkanmu bahwa bahaya ada di depan maupun di belakangmu, dan di kedua sisi”

Inilah inti kisah The Lord, perjalanan menghancurkan cincin. Dibagi dalam tiga buku. Buku satu terdiri dua buku, perjalanan pertama menuju ke gunung api, bertemu Aragorn putra Arathorn alias Strider yang sangat banyak membantunya, yang ternyata adalah utusan Gandalf.

Lalu buku dua melakukan rapat akbar, ada Bilbo yang tua. Para makhluk penting menyampaikan usul dan keberatan. Bagian sangat keren, rapat itu mencapai empat puluh halaman, dan sangat amat seru. Salah satu bagian terbaik, ada bagian Gandalf yang mendatangi Sauron, malah dihianati, atau lebih pasnya tidak menemui titik sepakat, ada sejarah cincin, ada cerita hebat masa lalu tiap negeri. Mengapa Cincin ini harus dihancurkan, selama Cincin ini berada di dunia, dia akan selalu menjadi bahatya, bagi kaum bijak sekalipun. Cincin itu milik Sauron, dibuat sendiri olehnya, dan benar-benar jahat. “Para pembawa Cincin akan berjumlah Sembilan, dan Sembilan Pejalan ini akan membawa Sembilan Penunggang yang jahat. Bersamamu dan pelayanmu yang setia, Gandalf akan ikut; karena ini akan jadi tugas besarnya, dan mungkin akhir dari pekerjaannya.”

Yang jelas, keputusan bulat sudah diambil, Frodo sebagai pembaca cincin melanjutkan perjalanan, kali ini ditemani Sembilan orang: empat hobbits, Aragorn, Legolas, Gimli, Boromir, dan termasuk Gandalf. Perjalanan ini semakin jauh semakin berbahaya. “… tapi aku merasa sangat kecil dan terasing, dan yah… putus asa. Musuh sangat kuat dan mengerikan.”

Ada bagian saat dalam gua Moria, sangat amat keren, saat mereka dikejar bayang, pasukan Orc melaju, dan di jembatan yang sudah sangat dekat pintu keluar terjadi tragedy. “Lari, kalian bodoh!”

Perjalanan itu menyisa delapan, dan memasuki dunia Peri yang indah sekaligus mengerikan. Dan begitulah, kisah ditutup setelah mereka naik tiga perahu, sampai di titik puncak, terjadi perpecahan. Rasanya berat sekali beban ini, rasanya petualangan ini terlalu berbahaya untuk makhluk mungil seperti Hobbit. Tak sabar melanjutkan laju Two Towers. Berjalan menuju bahaya – ke Mordor. Kita harus mengirim Cincin itu ke Api, berhasilkah?

Sedari pembuka kita diajak mengenal para karakter, kebiasaan, jenisnya, hingga peta lokasi Shire. Hobbit yang tak suka buang barang contohnya, sebab segala sesuatu yang dianggap tidak bermanfaat oleh para hobbit tapi tidak mau mereka buang, mereka sebut mathom. Lalu ketakutan laut, laut pun menjadi kata yang ditakuti di antara mereka, sebuah tanda kematian, dan mereka pun berpaling dari perbukitan di barat. Hobbit suka cerita, mereka senang mengisi buku-buku dengan ha-hal yang sudah mereka ketahui, yang dipaparkan apa adanya, tanpa kontradiksi. Juga kebiasaan merokok, menghirup asap dedunan obat yang dibakar, yang mereka sebut rumput pipa atau daun. “Hobbit tidak akan pernah tergila-gila pada musik, puisi, dan dongeng, seperti kaum Peri. Bagi mereka, ketiga hal itu sudah seperti makanan, atau bahkan lebih…”

Karena ini misi sulit, wajar kekhawatiran sering kali muncul. Tapi harapannya segera berubah menjadi kebingungan dan kekhawatiran. Frodo malah berulang kali minta teman-temannya pergi ketimbang membahayakan nyawa mereka. “Masalah datang susul-menyusul!” kata Frodo. Namun tidak, mereka mencoba sebisa mengkin menjaga snag pembawa cincin. Terumata sobat kentalnya, Sam. Ia siap mendampingi, apa pun resikonya. Akhirnya Frodo merasa hatinya terharu, dipenuhi kebahagiaan yang tidak dipahaminya. Ada benih keberanian tersembunyi.

Suka sekali sama tokoh Strider, terutama awal mula muncul. Sebagai penyelamat di penginapan, jagoan sejati. “Pelajaran tentang kewaspadaan sudah kalian pelajari dengan baik,” kata Strider dengan senyum muram. “Tapi kewaspadaan dan keraguan adalah dua hal yang berbeda…”

Penggambaran musuhnya juga sesuai, Penunggang Hitam contohnya, sudah mencipta ngeri dari kata-kata. “Karena para Penunggang Hitam itu adalah Hantu-Hantu Cincin, Sembilan Pelayan dari Penguasa Cincin.”

Banyak tempat eksotik, alhamdulliah visual filmnya memukau. Mewakili keindahan kata-kata yang disajikan. “Tampaknya ia takkan pernah lagi mendengar air terjun yang begitu indah, senantiasa membaurkan nada-nadanya yang tak terhitung ke dalam music yang selalu berubah-ubah tak terhingga.”

Mulai dibaca 20.11.21 sore saat hujan dengan kopi dan jazz. Selesai baca 18.06.22, sore jelang malam Minggu yang biasa. Selama itu sejatinya bukan karena dibaca terus, lalu tersendat. Buku ini sering kuletakkan, tergoda baca buku lain. Lalu lupa tak lanjut, ingat saat memilah buku bacaan, lalu terlupa lagi setelah dapat beberapa bab. Memang buku yang kudu dipaksa baca, harus tuntas, bukan bacaan nyaman, fantasinya serius dan liar. Yang paling membantu, jelas adaptasinya sangat mirip, sampai ke kata-kata dan detailnya. Yang di jembatan itu terutama, kukira itu adalah modifikasi timnya Peter Jackson, ternyata malah plek. Bagaimana Gandalf jatuh dan berteriak, luar biasa. Salut. Jadi sudah menemukan novel fantasi terbaik? Mari dituntaskan dulu, perjalan masih sangat panjang…

Sembilan Pembawa Cincin | by J.R.R. Tolkien | Diterjemahkan dari The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring | Alih bahasa Gita Yuliani K. | GM 402 02.007 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Februari 2002 | Cetakan kedua, Maret 2002 | 512 hlm.; 23 cm | ISBN 979-686-693-5 | Skor: 5/5

Karawang, 240622 – Johnny Hartman – Lush Life

Thx to Dewi Sri, Bandung

30HariMenulis #ReviewBuku #24 #Juni2022

Aisyah Putri 2: Chat On-Line #23

“Kalau mau lebih aman lagi, ngajak ahwat lain pas buka internet atau chatting. Jadi kalau satu niatnya nyeleweng, yang lain bisa ngelurusin.” – Elisa

Merupakan lanjutan Aisyah Putri: Operasi Milenia, kali ini kita diajak berchatting ria. Semua tokoh seri pertama masuk lagi, tak banyak tambahan. Hanya permasalahan dan konfliksnya berbeda. Di tahun 2000, online tentunya belum semudah sekarang. Belum sebanyak dan senyaman saat ini. masih harus di warnet, tarif yang mahal, hingga tak sesederhana sekarang bila ingin lanjut ke chat berikutnya, atau hingga akhirnya kopi darat. Dalam singkatnya, zaman itu untuk chat butuh perjuangan lebih. Tak seperti sekarang, bisa rebahan dan murah.

Dalam chatting, Puput – panggilan Aisyah Putri dan kawan-kawan berkenalan dengan banyak orang asing. Salah satunya bahkan dari luar negeri, bule cewek yang menanyakan beberapa hal, salah satunya, sampai bikin shock sebab ramai-ramai, dikira in bed? Hehe… begitu pula, saat dapat kenalan bule luar negeri, salah satunya mengajak kopi darat di mal. Dan saat meet-up, ta-da… bule dari Hongkong.

Beberapa singkatan yang sudah kita kenal, disampaikan ulang. Di zaman itu mungkin tak seperti sekarang yang mudah menemukan jawab di google. Asl misalnya, sudah umum dengan menjawab identitas kita: age, sex, location. Atau singkatan-singkatan lain yang sudah dikenali: btw, brb, pls, thx, gtg, hingga imho.

Teman-teman Puput dengan segala keunikannya, Linda yang gendut dan hobi makan, Elisa mantan model yang hijrah berjilbab, Retno yang tomboy, Mimi yang non muslim, Pino yang berambut njegrak, Agung yang alim, hingga poni Windu yang norak. Semua sudah dipetakan sifat dan karakternya. Saling melengkapi dan mengisi, hari-hari penuh warna di sekolah. Masa paling indah, mau dalam bentuk apapun, masa itu tak berlebihan beban hidupnya.

Selain kisah chatting, kita juga disuguhi konfliks remaja lainnya. Pertama, tetangga baru mereka yang tinggal di jalan Kemuning 3, bule dari Amrik. Dengar bule, keempat kakak Puput langsung siap beraksi. Dengan segala upaya, untuk berkenalan. Apalagi, pas pindahan datang, mereka intip cewek-nya bening. Maka saat hari H mereka berbondong-bondong ke rumah Miss Naomi, kejutanlah yang didapat. Ini cerita masih nempel hingga sekarang, makanya pas baca ulang kemarin hanya menelusur, hanya saja bagian Encun Naomi kzl dengna nada sinisnya agak lupa.

Kedua, teman Puput yang sedih. Sehingga berhari-hari Elisa tak masuk sekolah, ditengok ramai-ramai untuk menghibur, sebagai anak broken home orangtua cerai. Dari dibawakan makanan, dibelikan buku motivasi, hingga keceriaan yang menular. Nasihat-nasihat umum, berhubung ini buku Islami dan remaja maka hal-hal itu standar saja.

Ketiga, ketika Om Piet datang rutin ke rumah dan memicu curiga anak-anak bahwa mama mereka mau menikah lagi. Maka duo Vincent dan Hamka lantas melakukan penyelidikan, mengikuti jejak calon ayah mereka. Dari kantor hingga rumah makan. Maka betapa kesalnya, saat di restoran itu menemukan sang om sedang makan siang bermesraan dengan gadis cantik, jelas itu sepasang kekasih. Walaupun seorang vice president perusahaan, walaupun tunggangannya BMW, jelas mereka tak rela mama menikah dengan lelaki tak beres.

Dan saat hal-hal penting ini mau disampaikan, mama Cuma ketawa sebab kedatangany rutin om Piet adalah untuk memberikan kabar baik yang mengakibatkan mereka sekeluarga berkereta api ke Yogya. Dan berhektar-hektar tanah siap disajikan. Berkenalan dengan cewek-cewek Yogya, jalan-jalan ke UGM, menikmati kuliner Malioboro, hingga singgah ke Candi terbesar. Sayangnya, tujuan utamanya malah terlepas.

Keempat, syuting di sekolah 2000. Ini bagian yang sangat biasa, umum, dan sederhana sekali. Sekolah di kota besar, dijadikan setting cerita film. Dan tentu murid-murid itu terlibat sekalipun pemain figuran. Nama-nama seleb-nya diplesetkan, seperti Lulu Topping, Rem Punjabi, hingga Jeremy Jorghi. Judul terkenal sinetron 2000 Ku Tersandung juga disebut. Namun memang bagian ini, biasa sekali.

Begitulah, ini novella Islami yang terbit di pergantian Millenium di mana internet masih sangat baru, dunia perkenalan maya masih sangat jarang. Pantas saja berisi nasihat, ideal chatting. Atau, kopi darat yang aneh. Saya baca sih masih relate, dan langsung klik. Entah kalau dibaca generasi remaja saat ini, mungkin kaget menyaksi peserta chat menyimpang dan ditanggapi berlebih, sebab zaman sekarang hal itu sudah sangat banyak, walau tetap saringnya tetap kudu ada.

Saya membeli buku ini tahun 2006, tertera berharga 16,5 ribu. Di sebuah toko Purwakarta, pinggir jalan. Uniknya, saat itu saya ke sana untuk berkunjung ke rumah saudara, sekaligus bertemu darat sama teman chat MirC. Namanya Citra, dan memang mengajak ke toko buku sebab memang saya berminatnya buku. Saya sih pas kopi darat pasif, sangat pasif. Makanya saya iya-iya saja pas dia ajak ke mal lantas dia dan saudaranya main game Timezone, mengajak beli makanan, dst. Saya pasif, sebab tak tahu apa yang harus dibicarakan saat pertama bertemu, tak tahu ngobrolin apa selain buku, atau bola, dan jelas dua topik yang dia tak suka. Begitulah, masa lajang yang absurd. Betapa polosnya. Hehe…

Ini saya baca ulang cepat, demi ulas. Ternyata seri pertama sudah dua tahun lalu. Buku-buku Islami yang pernah menghinggapi masa laluku, seri tiga dst juga ada di rak buku, dan sepertinya akan saya tuntaskan semua. Asma Nadia, nama yang sangat terkenal kala itu, terutama bila kamu langganan Majalah Annida. Dan saya bersyukur pernah menjalani masa itu dengan majalah keren ini.

Aisyah Putri 2: Chat On-Line | by Asma Nadia | Penerbit PT. Syaamil Cipta Media | Desain sampul dan ilustrasi isi Halfino Bery | Editor dan tata letak Agus Supriyantp | Copyright 2000 | Cetakan kedelapan: Januari 2004 | 160 hlm.; 18 cm | ISBN 979-9435-05-6 | Skor: 3/5

Karawang, 230622 – Sheila Jordan – Comes Love

Thx to Toko Buku Purwakarta (Citra), Purwakarta

#30HariMenulis #ReviewBuku #23 #Juni2022

Yes to Life #22

“Sesungguhnyalah waktu yang dimanfaatkan dengan baik seolah diawetkan. Inilah bentuk eksistensi paling aman. Eksistensi kebermanfaatan yang tidak akan terancam oleh kefanaan apapun.”

Kebahagiaan sendiri tidak termasuk dalam kategori tujuan hidup. Rilke berteriak, “Seberapa banyak lagi kita harus menderita?” Rilke memahami bahwa pencapaian kita yang bermakna dalam hidup ini setidaknya sama-sama dapat diraih melalui penderitaan sebagaimana dengan bekerja.

Awalnya, kukira ini buku baru dengan penulis yang masih aktif. Beberapa kali dikutip, dan sering kali muncul di beranda sosmed, buku-buku Frankl cetakan baru tampak fresh. Ternyata, beliau hidup di era Perang Dunia Kedua. Ini sejenis memoar, dibumbuhi nasihat kehidupan, dan ya, sebagai orang yang pernah masuk ke kamp konsentrasi NAZI, optimism menghadapi hari esok jadi sangat penting.

Dibuka dengan sangat bagus oleh penulis kenamaan Daniel Goleman, menjelaskan banyak makna dan perjalanan hidup sang penulis. Ungkapan ‘Yes to Life;, Frankl mengingatnya, berasal dari lirik lagu yang dinyayikan secara sotti voce – sepelan mungkin, agar tidak memancing kemarahan sipir penjaga kamp konsentrasi. Apa yang dimimpikan para lelaki di kamp konsentrasi? Selalu sama: selalu roti, rokok, kopi tubruk yang layak, dan terakhir tetapi tak kalah penting, berendam air hangat.

Makin tahu kehidupannya, makin kagum. Pembebasan dari kamp kerja paksa Turkeim. Menurut Frankl, tak ada yang berhak menilai hidup seseorang itu tak berarti, atau menganggap orang lain tidak layak memiliki hak untuk hidup.

Sebenarnya hanya ada tiga bab, penjabaran pembuka dan penjelasannya yang panjang. Tentang Makna dan Nilai Kehidupan I dan II, dan Experimentum Crucis (Eksperimen yang Menentukan). Hanya itu, yang lainnya penambahan edisi baru.

Hitler berpendapat bahwa orang akan percaya pada sesuatu yang sering diulang-ulang, dan jika informasi yang berlawanan denganya terus-menerus disangkal, dibungkam, atau ditolak dengan kebohongan lainnya. Inilah tugas pembawa berita, kebenaran penting. Melawan “kebenaran-semu” yang membahayakan.

Program Eutanasia adalah program pembunuhan massal pertama yang dilakukan Nazi pada 1939, dua tahun sebelum genosida kaum Yahudi di Eropa, dengan sasaran mereka yang menyangdang gangguan mental parah dan “tak tersembuhkan.” Mengerikan bukan?

Sekarang ini perdebatan eutanasia hanya menyangkut sisi ‘kematian yang baik’ dari istilah tersebut, di mana seorang penderita sakit parah, yang biasanya merasakan sakit yang luar biasam memilih mati demi mengakhiri penderitaannya sendiri.

Pendekatan yang mereka lakukan berasal dari gerakan ‘eugenetika’ Amerika, sebuah bentuk Darwinisme sosial yang membenarkan masyarakat untuk membersihkan kelompoknya sendiri dari mereka yang dianggap ‘tidak layak’, sering kali dengan melakukan sterilisasi paksa.

Menurut Frankl, ada tiga cara utama orang memenuhi makna hidupnya. Pertama, tindakan (aksi), seperti menciptakan sebuah karya, entah itu seni atau kegiatan apa pun yang dicintai. Kedua, makna bisa ditemukan saat kita menghargai alam, karya seni, atau cukup dengan mencintai seseorang. Kierkegaard bilang pintu kebahagiaan selalu membuka ke arah luar. Ketigam orang dapat menemukan makna hidupnya ketika ia beradaptasi dan merespons batas-batas yang tak terhindarkan atas kemungkinan-kemungkinan hidupnya. Hidup kita mendapat makna lewat tindakan-tindakan kita, lewat mencinta, dan lewat pederitaan.

Dia merasa bahwa anak-anak muda yang menyaksikan perang, telah melihat terlalu banyak kekejian, penderitaan yang tak bermakna, dan kegagalan yang menyedihkan untuk sekadar menanamkan pandangan positif, apalagi antusiasme. Samuel Beckett, Menunggu Godot, sebuah ekspresi sinisme dan keputusasaan pada masa-masa itu.

Di tengah kekejian penjaga kamp, pemukulan, penyiksaan, dan ancaman kematian yang terus-menerus, terdapat satu bagian hidup yang tetap bebas: pikiran mereka. Kemampun batin inilah kebebasan sejati manusia.

Persepsi kita atas peristiwa-peristiwa dalam hidup, bagaiamana kita menyikapi mereka, sama atau bahkan lebih penting ketimbang peristiwa itu sendiri. “Nasib” adalah apa yang menimpa kita tanpa bisa kita kendalikan, namun masing-masing kita bertanggung jawab atas cara bagaimana menempatkan peristiwa yang kita alami dengan cara yang lebih bermakna.

Kant bilang segala sesuatu memiliki nilai, tetapi menusia memiliki martabat, seorang manusia tidak seharusnya menjadi sebuah alat untuk suatu tujuan. Sebuah mitos kuno menyebutkan bahwa keberadaan dunia ini hanya bergantung pada tiga puluh enam orang yang sungguh-sungguh adil, yang selalu ada setiap saat. Kant juga bilang, sekarang bukan mempertanyakan. “Apa yang bisa kuharapkan dari hidup.” Melainkan, “Apa yang diharapkan hidup dari saya?”

Apa yang telah kita pelajari dari masa lalu? Dua hal: segala sesuatu bergantung pada individu-individu manusia, terlepas dari seberapa kecil jumlah orang yang berpikiran serupa dan segala sesuatu bergantung pada masing-masing orang melalui tindakannya.

Bunuh diri dengan motif kehidupan tidak pantas dijalani, tidak percaya pada makna hidup itu sendiri, umum disebut ‘bunuh diri neraca (kehidupan)’ atau balance sheet suicide. Orang yang melakukan bunuh diri, bukan hanya tidak memiliki semangat hidup, tapi juga tidak memiliki kerendahan hati terhadap hidup.

Kata Goethe, “Tidak ada kesulitan yang tak dapat dimuliakan, baik itu dengan pencapaian-pencapaian maupun dengan ketahanan dan ketabahan.” Entah kita berusaha mengubah nasib kita, jika mungkin, atau kita bersedia menerimanya bila perlu.

Holderlin bilang, “Kalau aku melangkah dan menapaki kemalanganku, maka aku berdiri lebih tinggi darinya.”

Masa hidup kita tidak akan kembali, ketetapan dari apa pun yang kita lakukan untuk untuk mengisinya, atau tidak mengisinya, yang membuat keberadaan kita penting. Setiap orang harus bertanggungjawab atas eksistensinya sendiri. Penyair Jerman, Christian Friedrich Hebbel mengatakan, hidup bukanlah sesuatu, hidup adalah kesempatan bagi sesuatu.

Pemenuhan makna hidup bagi manusia dilakukan dalam tiga arah, manusia mampu memberikan makna pada eksistensinya, pertama dengan melakukan sesuatu, dengan bertindak, dengan mencipta, kedua dengan mengalami sesuatu, ketiga manusia dapat menemukan makna bahkan ketika tidak memungkinkan bagi mereka untuk menemukannya dengan kedua sisi di atas.

Setelah usai baca, saya malah langsung teringat Mark Manson. Dua bukunya: Sikap Bodo Amat dan Segala-galanya Ambyar terasa banyak mengekor buku buku ini (atau juga buku Frankl lainnya). Tentang penderitaan, tentang positif thinking, tentang optimism, hingga pola menjalani hidup penuh syukur. Pinter juga Mark, Blogger penulis yang memodifikasi banyak gaya, belajar dari para orang hebat, menjadikannya pijakan tulisan.

Buku Frankl banyak diterbitkan Noura, ini yang gres dan malah jadi buku pertama yang kubaca. Suka, dan jelas memasukkan ke daftar antrian ingin mengoleksi. Ilmu psikologi, bagaimanapun turut membangun peradaban, menangani manusia selalu menyesuaikan zaman, tapi tetap spirit utama dalam kehidupan ini, yang utama bertahan hidup. “Apa pun yang masih manusiawi, masih layak dipertahankan.” Katakan YA pada hidup, apa pun yang terjadi. Katakan YA pada kehidupan.

Yes to Life | by Viktor E. Frankl | Diterjemahkan dari Yes to Life | Terbitan Beacon Press, 2019 | Bahasa asli Jerman Uber den Sinn des Lebens | Terbitan Beltz Verlag, Beltz Weinheim Basel | Penebit Noura Books | Penerjemah Pangestuningsih | Penyunting Shera Diva | Penyelaras aksara Nurjaman & Dhiwangkara | Penata aksara Aniza Pujiati | Ilustrator sampul Silmi Sabila | Perancang sampul @platypo | Cetakan ke-1, Juni 2021 | ISBN 978-623-242-218-6 | Skor: 4/5

Untuk mendiang ayahku

Karawang, 220622 – Carly Rae Jepsen – Western Wild

Thx to Toko Gunung Agung Mal Resinda, Karawang

#30HariMenulis #ReviewBuku #22 #Juni2022

Projo & Brojo #21

“Aku bahkan curiga dengan bayanganku sendiri.”

Novel unik. Tukar orang yang dipenjara, dan katanya buku ini merupakan terinspirasi dari pengalaman Arswendo selama dipenjara? Apakah beliau pernah melakukan tukar posisi seperti ini? Ataukah ini pure imajinasi, seandainya punya jabatan penting, bisa seenaknya saja kabur secara tersirat dari jeruji besi? Menarik, walau ditemukan beberapa kejanggalan. Seperti, bagaimana bisa istri tak mengenali suami yang menyamar? Atau perubahan sifat karakter secara tiba-tiba akibat kepergok, seolah materi tak penting? Seakan di otaknya dipasangi rem yang kelewat pakem. Atau bagian, kepolosan perempuan desa yang luar biasa sederhana, polos. apa adanya, dan begitu sabar. Mungkin ada orang-orang seperti itu, di sini diumbar dengan pesonanya sendiri.

Kisahnya tentang Don Projo yang divonis sepuluh tahun penjara, ia ketangkap Badan pengawas Korupsi melakukan tindak korupsi. Karena ia memiliki wewenang dan uang, ia bisa seenaknya kabur. Tukar peran dengan pengangguran Brojo yang baru menikah, bengkel pinggir jalan tempatnya bernaung tutup, dan ia pusing tujuh keliling. Istrinya, Wisuni dikirim ke kampung, ia siap kerja serabutan, asal ada yang bisa dimakan dan bisa bayar kontrakan.

Gayung bersambut, Zul, anak buah Projo menemukan celah dan kesempatan. Mengatur strategi tukar peran, Brojo secara perawakan mirip, didandani sebagai Projo lalu saat jam besuk, diselundupkan masuk penjara, dengan Projo keluar menghirup udara merdeka. Dengan gaji wow, dan kepastian aman keluarga. Tukar peran itu berhasil dilakukan. Penjara yang korup, selalu mengiyakan para bos, dan dengan mudahnya disusupi barang atau uang berpindah tangan.

Kehidupan baru Brojo di penjara, ya nyaman saja sebab Projo memang orang kuasa. Dilayani, dihormati, hingga dijenguk orang-orang penting. Kehidupan baru yang tak terlalu bikin pusing, sebab ia nganggur, sama saja di luar atau di dalam penjara, malah sekarang makan dan tinggal terjamin. Bahkan ia bisa mengirim uang banyak ke istrinya. Itulah, kalau orang miskin pastinya cepat adaptasi. Apalagi adaptasi ke atas. Brojo mabuk kepuasan, dan tenggelam dalam kantuk.

Kehidupan baru Projo di luar penjara. Karena biasa jadi orang sibuk, tentu saja tak berpangkutangan menikmati liburan. Ia melakukan penyelidikan. Dikulik lebih dalam, siapa orang-orang yang mengirimkan ke penjara. Juga menyelidiki istrinya, Iik apakah selingkuh atau lurus saja.

Menyamar sebagai Dewi, perempuan yang mengoleksi lukisan. Bersinggungan dengan Iik bahkan secara instan menjadi sahabat. Menjadi teman curhat, dan hal-hal pribadi-pun ditukar kata. Membingungkan. Rancu. Dan agak kacau balau. Sepintas teringat cerita film Mrs. Doubtfire di mana Robin Williams menyamar sebagai wanita, masuk ke ruang keluarga. Namun ternyata tak seperti itu. Dewi lebih gaul, dan tak terlalu memusingkan renungan.

Kecurigaan sama Syam, sahabat politiknya, apakah gosip kemungkinan selingkuh, dan telusur orang dibalik skenario jahat. Dirinya ditusuk dari luar dan dirobek dari dalam. Sejak itu ia menjadi tawar. Dan melampiaskan dengan segala kemurkaan yang selama ini bagai mau meletus.

Begitu pula dengan Zus Evi, perempuan pengagum Projo ini tampak jahat. Materialistis, menggoda sang Don dengan tubuhnya. Mengejar tandatangan untuk pengalihan tanah dan rumah ke Evi, ia mendesak terus dengan berbagai modus. Patut dicurigai juga. Bagian ini malah fun, seolah sekadar untuk memerangi sepi.

Dan terakhir, kita harus singguh perempuan hebat Wisuni. Polos, sederhana, dan begitu menyenangkan tiap tampil di lembaran buku. Sebagai istri ia khawatir, ke mana suaminya menghilang. Lalu sandiwara, Projo jadi suaminya kelihatan kaku, langsung tahu. Ia menuntut kebenaran, yang akhirnya terseret arus. Tangan tukang las pasti berbeda dengan tangan orang yang kerjanya hanya membuat tandatangan. Wisuni segera mengenalinya bukan Projo, ia akan berusaha berterus terang dan tetap tenang, kalau ternyata tak dikenali, ia akan terus memainkan perannya.

Bagaimana benturan-benturan kepentingan itu disajikan, sejatinya sangat potensial meledak, bila yang pegang kisah Mo Brother bisa jadi cerita thriller penuh darah, sayang sekali endingnya terlampau sederhana. Kelemahan utama Projo & Brojo malah di akhir yang sangat standar, kisah perjalanan hidup manusia yang seolah bilang: positif thinking-lah, optimism-lah, masa depan akan lebih baik. Semacam itulah, padahal hidup ini sejatinya pertaruhan-kan? Pahit di sana-sini, tak bisa sekadar, ok segalanya baik-baik saja.

Ada bagian lucu, menjurus penasaran berat saat Wisuni tinggal di apartemen Projo. Mereka potensial saling singgung asmara, saling mengisi. Gagasan paling gila. Paling astaga. Kepolosan yang diteriaki, “Kenapa sih kamu ini, apa hidup ini urusannya hanya saruuuung melulu. Ini dunia hampir kiamat.” Atau saat ngopi, orang desa kalau bikin kopi emang manis. Projo tahu rasa kopi, yang dibuat Wisuni sungguh tidak keruan “arahnya”. Entah pelajaran dari mana yang membuat Wisuni membuat opi begitu maniiis, begitu pekat.

Dan begitulah, ini bukan genre gore, bukan pula seperti film-film festival yang seringkali vulgar. Segala kekalutan Projo seolah berhasil diredam Wisuni dalam semalam. Ternyata kegelisahannya jungkir balik sebelumnya bisa ditepis begitu saja. Oleh sikap sederhana, sikap biasa-biasa seorang perempuan sederhana.

Ini adalah buku pertama Arswendo Atmowiloto yang kubaca. Setelah berulang kali berpeluang menikmatinya, di rak ada dua lagi, salah satunya hampir selesai baca: Mengarang Novel itu Gampang. Dan dengan dua buku bagus ini, jelas beliau adalah salah satu penulis hebat kita. Apalagi pas baca Mengarang Itu, wah makin kagum bagaimana tata cara mengelola waktu jadi terasa wajar, mengelola kata terasa bisa, dan rasanya menulis novel jadi terasa realistis.

Terakhir, sekalipun ini bisa jadi percobaan adil menjaga status keluarga harmonis. Bisa pula menyinggung tema feminis dimana Iil melawan riak hingga mendiri. Saya tutup catatan ini dengan nasehat Don Projo yang katanya mau tobat itu. “Il, kita boleh mengatakan persamaan apa saja antara laki-laki dan perempuan, tapi pada kenyataannya tetap berbeda. Lelaki memiliki ego yang begitu kuat, keakuan yang tinggi.”

Projo & Brojo | by Arswendo Atmowiloto | 40101090028 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desain dan ilustrasi cover Dito Sugito | September 2009 | 368 hlm; 20 cm | ISBN 9789792249507 | Cetakan kedua, Agustus 2017 | Novel ini pernah diterbitkan oleh Penerbit Subertra Citra Pustaka, 1994 | Skor: 4/5

Untuk Modrick dan Mopit dan keluarganya dengan salam.

Karawang, 210622 – Sade – The Sweetest Taboo

Thx to Gramedia Karawang di Bazar Mal Technomart, Karawang

#30HariMenulis #ReviewBuku #21 #Juni2022

Potongan Tubuh #20

“Menurutku, pada akhirnya bukankah semua manusia memang penjahat kambuhan? Terbiasa naik kereta, terbiasa bekerja, terbiasa makan, terbiasa menghasilkan uang, terbiasa main, terbiasa mengusik orang, terbiasa berbohong, terbiasa salah sangka, terbiasa bertemu orang…”

Luar biasa, memesona. Beginilah seharusnya cerita pendek dicipta. Dicerita dengan abu-abu tapi tetap mencipta penasaran. Dunia yang sejatinya di sekitar kita, dibuat rumit untuk membuat pembaca penasaran. Pintar sekali yang bikin kisah, kita tak dibiarkan tenang. Nama-nama penulisnya asing, tak satupun kenal. Namun tak ragu saat kubeli bukunya, sebab kualitas terbitan Baca yang beberapa kali kulihat mengalihbahasakan buku-buku Korea, bagus. Ini sama saja, sama kerennya. Tak perlu jadi fans BTS untuk bisa masuk ke dunia literasi Negeri Gingseng.

#1. Benar, Aku Seekor Jerapah? By Park Min-gyu

Mars, Venus, hingga pengandaian kehidupan yang berputar. Setiap manusia pasti memiliki aritmetika masing-masing. Bagaimana bekerja mendorong penumpang yang sesak dalam kereta, hingga tangannya kuat. Menyaksikan penderitaan begitu banyaknya orang setiap pagi perlahan menjadi salah satu sumber stres. Kereta, ah itu semacam hewan raksasa yang merangkak, menderu dari stasiun sati ke yang lainnya.  Mungkin trik rahasia pembangunan Piramida juga ketidakadilan. Sangat tidak adil kalau harus berhenti sekarang. Mungkin ini adalah aritmrtika para budak.

Saat ibunya sakit hingga masuk rumah sakit, mereka malah lebih khawatir sama biaya perawatannya, bukan fokus pada penyembuhannya. Ayahnya tampak lelah lungai. Penggambarannya, seperti warna kelabu seperti di layar kalkulator mati yang baterainya sudah habis. Sekarang hitungannya sudah tidak keluar. “Aku menangis karena lebih bahagia ketika mendengar ibu bisa keluar dari rumah sakit dibandungkan ketika mendengar bahwa ibu sudah sadar.”

Aku meluruskan kaki dan mendongakkan kepala untuk melihat awan yang bergerak sambil berbicara. Seperti Thousand Character Classic, “Dunia memang luas dan liar, sementara aku sendirian.”

#2. Pecinan by Oh Jung-hee

Kehidupan keluarga menengah ke bawah. Diambil sudut dari seorang anak yang masih sekolah, berpindah ke kota baru, temannya Chi Wok menjadi teman sejati. Ibunya yang sudah tua sudah muak jualan tembakau, ayahnya mencari kerja dengan menghubungi para kenalan. Lucu sekali cara pindahnya, sudah pamit sama tetangga kanan kiri, sudah siap berangkat sejak subuh, eh mobilnya tak kunjung datang. Truk baru sorenya, itupun izin cabut lagi sebab mengantar sapi dulu, dan baru muncul lagi tiga jam kemudian. Sebuah gambaran keluarga miskin, bertahan hidup yang luar biasa.

Pindah ke kota yang bising, sebagai anak-anak tentu perlu waktu lebih lama beradaptasi. Canggung bagai awan mendung yang memeluk hujan. Persahabatan yang menghantar pada perkenalan dengan keluarga Chi Wok, kakaknya yang jadi teman tidur orang asing, fakta ia adalah anak tiri, hingga carut marut kehidupan kota di pesisir pantai. Kapal dan perahu dirapatkan di pelabuhan, bendera mereka melambai-lambai seperti konveti.

“Bagiku, kawasan rumahku dan Pecinan merupakan buritan kapal yang sudah dimasuki air dan akan segera tenggelam.”

#3. Istri Lelaki Miskin by Eun Hee-kyung

Sang suami menemukan istrinya memiliki diary. Ia miskin, mabuk-mabukan, dan tak terlalu perhatian. Maka dengan buku harian itu ia menjadi tahu pemikiran istrinya. Sejak lajang hingga saat ini. Perempuan memang lebih peka, atau lebih perasa bila menyangkut keluarga. Sejatinya ini, seperti makna diary itu sendiri, adalah sejenis curhat.ah suami miskin, pemabuk. Bahwa ia hanya melakukan dua hal di hidup, yang pertama adalah minum alkohol dan yang kedua adalah sadar dari mabuk.

“Hidup adalah sesuatu yang serius, hidup adalah sesuatu yang garus dilakukan dalam keadaan sadar walau seperti es kotak seragam yang dibekukan menggunakan cetakan serupa.”

#4. Tanah Milik Ayah by Lim Chul-woo

Kemping militer membawa masalah. Sepasukan prajurit menggali tanah yang akan dijadikan latihan, malah menemukan tulang belulang manusia. Karena daerah itu sepi dan sebenarnya jauh dari pemukiman, mereka Prajurit Oh dan Sang Aku, lalu mencari ketua RT atau tetua desa setempat. Seorang nenek menyambut, lalu kakek muncul dari ruang lain. Ikut menyelidik, ikut mendatangi tempat tulang manusia ditemukan. Jadilah sebuah penelusuran kelam masa lalu.

“Semalam kami memimpikan orang itu. Tapi memang tidak dapat dipercaya… ternyata hanya pertanda untuk hal ini.”

#5. Menara Pasir by Jo Jung-rae

Pelukis mula yang belajar banyak dari idola. Ayahnya gagal menjadi pelukis, maka ialah harapan utamanya. Kuliah seni, jadi cewek tomboy, merdeka. Lalu perkenalannya dengan pelukis muda kenamaan Min Hyeong-woo. Kaya, elegen, lukisannya dipuja penikmat dan kritikus seni. Diam-diam mengagumi, hingga akhirnya sebuah jalan pintas malah dicipta ayahnya. Ayahnya yang kaya, malah mempenalkan sang pelukis, dan membeli mahal salah satunya. Keinginan terpendam yang diwujudkan seketika.

Perkenalan, hubungan yang lebih serius, lalu menikah. Menjadi istri pelukis ternama, menjamu tamu-tamu seniman dan pengulas karya. Menarik, hingga akhirnya jamuan makan itu mencipta kengerian. Ia memiliki dan mengetahui rahasia sang suami. Menara pasir yang luruh.

“Puluhan ribu batu bata bertabrakan dan pecah di dalam hatiku, menara pasir raksasa diempaskan ombak dan kini mulai runtuh. Serpihan diriku bertebaran ke mana-mana.”

#6. Sebatang Jarum by Cheon Un-yeong

Ini kisah pembunuhan, tapi tak biasa. Korbannya adalah biksu tua, yang sejatinya divonis bunuh diri, tapi ibunya malah mengaku membunuhnya. Aku adalah perajah tubuh, pembuat tato yang buruk rupa, dan begitu pendiam. Perempuan dengan keahlian menggambar di tubuh pelanggannya. Aku merasa sangat lelah seakan baru melakukan hubungan seks mahadahsyat setiap menyelesaikan sebuah tato. Segalanya tak wajar, dan kabar buruk menyusul kemudian.

“Aku tidak ragu sedetik pun ketika melemparkan anak kucing ke dalam WC.”

#7. Potongan Tubuh by Pyun Hye-young

Dari sudut pandang suami yang kehilangan istrinya yang terjatuh/bunuh diri/dibunuh di lembah sungai. Setelah sebulan melakukan pencarian mayat, dari kota U yang jaraknya lima jam perjalanan, kepolisian menemukan potongan tubuh. Untuk identifikasi, ia bolak-balik. Dari potongan kaki, lalu potongan tangan, dst. Dengan rasa sesal dan keraguan, sang suami menelusur kesalahan masa lalu. Toko yang ditutup, kesulitan keuangan, tak punya anak, hingga pertengkaran dengan almarhum. Tak ada jalan kembali.

“Katanya indra pendengaran adalah yang paling terakhir mati dari seluruh indra manusia.”

Sejatinya, saya tak mengenal buku-buku Korea. Negara ini memang sekarang sangat maju, dan begitu menggeliat di berbagai bidang, termasuk sastra. Sekali lagi, Terbitan Baca memuaskan. Bukti bahwa, sastra luar yang dialihbahasakan ke Bahasa Indenesia jika diolah dan diramu benar, sangat memikat.

Potongan Tubuh | by Pyun Hye-young, Park Min-gyu, dkk | under the support of Literature Translation Institute of Kore (LTI Korea) | Penerjemah Dwita Rizki | Penyunting Harum Sari | Pemeriksa aksara Dian Pranasari | Penata isi Nurhasanah Ridwan | Perancang sampul Sukutangan | Penerbit BACA | Cetakan  I, Juli 2019 | ISBN 978-602-6486-32-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 200622 – Nina Simone – I Put a Spell on You

Thx to Azi Mut, Bandung

#30HariMenulis #ReviewBuku #20 #Juni2022

Bokis 2 #19

“Kebahagiaan tidak bisa dipaksakan bro. Apa gunanya awet, kalau kata orang Sunda, awet rajet. Kelihatannya awet, nyatanya compang-camping!”

Apa yang bisa diharapkan dari buku gosip? Sambil lalu, lalu menghilang. Apa yang bisa diharapkan dari sebuah buku yang isinya curhat, cerita kebobrokan dunia selebrita? Tak muluk, walaupun ditulis oleh seorang jurnalis pengalaman, CV-nya merentang dari hiburan cetak sampai visual. Buku yang tak terlalu berfaedah, buku sekadar hiburan, yang kurang relate sama jelata macam saya. Jauh dari hingar bingar infotainment, jelas ini akan gegas terlupakan, hanya mampir di memori sementara. Bokis, tahu artinya? Enggak? Sama. Baik saya ketik ulang Prabokis-nya ya.

Ini istilah gaul dari generasi 80’-an, di mana banyak istilah gaul dengan banyak sisipan ‘ok’ di tengahnya. Bapak menjadi b-ok-ap, sepatu jadi sep-ok-at, BF jadi be ef atau be ep sehingga jadi b-ok-ep, duit jadi d-ok-u, dan banyak lagi. Semua tak berubah makna, kecuali bisa jadi b-ok-is. Haha… pantas saya tak paham, zaman ortu-ku to.

Dibagi dalam lima bab utama, dipecah dengan cerita-cerita seputar kehidupan pesohor. Uang, wanita, kedudukan para artis. Kutat dunia itu dikupas dengan gamblang, sayangnya bukan sesuatu yang baru. Hanya penegasan bahwa dunia lender infortaiment itu benar adanya. Ditulis oleh jurnalis yang benar-benar bersinggungan. Lantas kalau benar, kenapa? Ya tak mengapa, sekadar tahu saja. Jangan cari hikmahnya apa, ini buku haha-hihi, huhu-hoho yang memang apa adanya.

Seperti kisah jual anak, itu dicerita baha untuk mendongkrak karier anak, sang anak dijual ke senior. Termasuk ibunya, demi popularitas apapun dilakukan. Dari peran kecil dulu, hingga merangkak booming menjadi artis terkenal nantinya. Atau yang mengerikan, jual ginjal demi kesempatan tampil. Kompetisi ala kadar, menarik rating, sampai intermezzo berulang kali.

Lalu bagaimana menanggapi kabar miring itu? Beragam, namanya juga manusia. Seperti gugat menggugar yang tak ingin menyewa pro bono, demi saving uang hingga mendongkrak nama, hingga jadi teman tidur. Sekali lagi buat apa? Mungkin buku ini dicipta bagi orang yang niat terjun ke dunia hiburan, betapa keras dan memuakkan.

Nama baik penting, seperti akting depan tv menyumbang. Demi disorot kamera, necis dan baik hati. Namun tak semua juga, beberapa malah tak peduli nama baik atau buruk, selama diliput media asyik-asyik aja. Menjadi pembicaraan penikmat infotainment, hal itu penting.

Sampai penasehat spiritual. Pernah heboh masa itu Eyang Subur, yang viral berhari-hari karena gugat menggugat, gebrak meja, sampai para artis yang tuding nebeng tenar. Ya ampun, info-info tak penting ini. nyatanya, diikuti, dimintai, dibaca, diperbincangkan.

Kemuakan juga ditampakkan, bagaimana data-data kekerasan diapungkan dan banyak. Meningkat tiap tahunnya, walau tak semua. Lalu seorang jurnalis lain malah nyeletuk atau menyanksikan sebab data diambil dari Komnas Perempuan, ia berpegang pada kepolisian yang lebih ramah. Well, jangan kaget, dan tak perlu heran, wajar saja kok. Orang pro ke mana, selalu ada. Yang jelas-jelas busuk saja banyak yang dukung. Dunia memang seperti itu, di era digital ini saja kelihatan. Zaman dulu juga ada, hanya bedanya kita lihat blak-blakan saat ini. ya itu, kebebasan.

Begitu pula, kritik pemirsa yang ditanggapi malah menjadi boomerang. Contoh, berita dan tampilan tv banyak yang negative, gmana kalau yang ditampilkan yang bagus-bagus. Maka ketimbang isinya berita perceraian, gugatan demi gugatan, atau perkelahian psikis. Mending menampilkan keluarga artis yang samara. Maka diciptalah program “Romantika”. Menampilkan keluarga harmonis yang bertahan pernikahan minimal 10 tahun, dan baik-baik saja. Kesannya. Nyatanya tak bertahan lama, program tv-nya hanya sampai 26 episode. Resource yang sulit, tak semua mau tampil, pamer keharmonisan, hingga nasehat: ngapain pamer kemesraan di tv? Begitulah, sulit memenuhi kemauan orang banyak. “… sudahlah, nggak usah dipaksakan. Bikin yang seperti biasa saja. Yang sensasional-sensasional. Masyarakat kita suka gosip sensasional.”

Buku ini dicipta tahun 2013, setelah selang hampir sedekade, apakah masih berlalu? Banyak hal sudah berubah, begitu pula cara pandang penikmat tv. Saat ini internet sudah menjamur ke segala pelosok. Info dengan mudahnya didapat. Jurnalis masih eksis, tapi tampilannya sudah mayoritas digital, kecepatan menjadi penting, akurasi saja yang perlu diperhatikan. Trust jadi momok penting, dan sangat berharga.

Kenapa saya punya buku ini? yang jelas enggak banget. Ceritanya, tahun 2017 saya menang kuis FPL (Fantasy Premier League) dari Gangan Januar, Bandung. Sekalipun saya kutu buku, tak serta merta semua buku gegas disikat. Baru nggeh belum tuntas, bulan ini, saya menemukannya di rak, dan ingat utang tuntas. Gegas kusikat, kilat dan tanpa banyak pertimbangan. Saya dapat dua buku, satunya lagi kumpulan puisi: Penyair Midas nya Nanang Suryadi. Saya jadi curiga, ini GG niat lepas buku karena tak suka, atau beneran kasih hadiah? Well, setidaknya, lunas dulu deh.

Bokis 2: Potret Para Pesohor, dari yang Getir sampai yang Kotor | by Maman Suherman | KPG 901 13 0679 | Cetakan pertama, Juni 2013 | Ilustrasi sampul dan Isi Setianto Riyadi | Perancang sampul Fernandus Antonius | Penataletak Fernandus Antonius | x + 142 hlm.; 13.5 x 20 cm | ISBN-13: 978-979-91-0585-1 | Skor: 2.5/5

Karawang, 190622 – Shane Fillan – Beautiful in White

Thx to Gangan Januar, Bandung

#30HariMenulis #ReviewBuku #19 #Juni2022

Yang Tersisa Usai Bercinta #18

“Pandu Dewana tak akan mati sepanjang dia tidak melanggar larangan bersetubuh dengan Dewi Madri.”

Kesannya malah terjatuh. Seolah-olah bilang, “saya keren”, “saya gaul”, atau “begitu nyastra”. Jatuh. Kembali saya teringat catatan lama saya, dengan menyebut nama-nama keren, kamu tak otomatis keren. Dengan menyebut Gabriel’s Palace: Jewish Mystical Tales, Lo-shu, Montase Retrofilis, Venus in Furs, Hannibal Lecter, The Golden Bough, Dante’s Dream, Sappho’s Lyre, hingga Septem Sermones of the Dead, tak serta merta kamu wow. Malah janggal, novel mengutip para orang hebat sebelumnya terlampau sering, atau terlalu banyak. malah memuakkan dan pengen muntah. Mungkin maksudnya biar terlihat cool, “gue udah baca ini nih”, “gue paham soal yang feminisme gan”, atau “bacaan gue beda lho nih daftarnya, teenlit mah ga level”. Hal seperti ini mungkin cocok untuk mencipta jejerit para remaja, atau mahasiswa semester awal macam Yuda atau cewek bego macam Tantri, atau penggemar Tere Liye yang labil, sayangnya untuk genre yang bisa disebut sastra, pola seperti ini tak cukup.

Saya buka catatan ini dengan dua kutipan yang disertakan di awal buku. Mewakili, dan kebetulan sudah baca salah satunya.

“… kami setia sepanjang kami cinta, tetapi kalian kaum laki-laki menuntut kaum perempuan untuk setia tanpa cinta dan menyerahkan diri kami tanpa keriangan. Siapakah pihak yang kejam di sini? Perempuan atau laki-laki? Umumnya kalian orang-orang dari Utara memerlakukan cinta dengan terlalu sungguh-sungguh, terlalu serius. Kalian berbicara tentang pelbagai kewajiban ketika satu-satunya hal yang mesti diperhitungkan adalah kesenangan.” Leopold von Sacher-Masoch, Venus Bermantel Bulu

Mengapa tak kubiarkan mereka menatapku? Mungkin memang aku indah? Mungkin mereka jadi bergairah lagi di rumah? Menggauli istrinya sambil membayangkan diriku. Bukankah itu amal baik?Ramayda Akmal, Jatisaba

Kisahnya tentang Pandu Dewana yang aneh, atau pengen terlihat cool, tapi malah freak. Ga bisa ngaceng kecuali sama istrinya, Anjani. Nama satu kata. Seorang penulis terkenal, punya ruang baca (dinamai Tartarus) dengan deretan buku keren-keren. Tartarus, tentu saja diambil dari legenda Yunani. Sebuah lubang penderitaan untuk orang jahat, penjara Titan. Perpus pribadi yang bisa juga dijadikan ruang tulis, dan buat ML. “Mereka bedua suka kerapian dan di rumah tempat para pemuja kerapian selalu saja ada hal yang harus dirapikan.”

Istrinya lulusan sastra pula, kakak kelas yang kala kenalan sudah punya pacar bernama Jamal. Kenal, sang mantan jadi ustaz terkenal. Pandu merebut Anjani dengan pola menjatuhkan lawan. “Ada dua pilihan cara untuk menang dari rival cinta: pertama, tunjukkan bahwa diri kita adalah opsi lebih baik dari si rival, kedua, tunjukkan bahwa diri si rival lebih buruk dari kita.” Opsi kedualah yang digempur, dan berhasil.

Pasangan berpikir bebas merdeka. Karena pasangan tak menyembunyikan apa pun sebaluknya kamu pun harus membuatnya percaya dengan melakukan hal yang sama. Pandu percaya mata adalah gerbang ke dunia halus sebagaimana vagina adalah gerbang manusia ke dunia kasar. Ia punya ilmu mistik, dan memiliki pantangan. “Ini hari wetonnya, masa paling rentan yang biasanya dia lalui dengan melakukan ritual sesuai petunjuk dalam manuskrip warisan kakeknya. Ritual apa pun harus dilakukan dalam kondisi tubuh suci dan sanggama merusak kesucian itu.” Maka tak sembarangan hari bisa bercinta, ilmu yang diturunkan dari kakeknya.

Mereka tinggal seatap dengan cewek seksoy berdada besar Wanda. Sahabat Anjani, yang di usia matang belum juga menikah. Kaya, bebas, matang. Logika orang awam, ini sungguh riskan. Memasukkan teman wanita ke rumah tangga. Namun memang, ini bukan cerita tentang orang awam. Ini kisah mistik, di mana burung hanya berdiri pada orang special. Prabu terlihat mapan dari menulis, punya banyak fans. Salah satunya penulis pemula Tantri, yang walau berjilbab seringkali berdandan seksi. Tampak ia begitu memuja Pandu, atau sebenarnya punya niat menggoda demi menaikkan popularitas, sebagai penulis pemula, bergaul dengan senior adalah jalan pintas, apalagi bermodal kecantikan, dan kemudaan. Dan melalui penjelasan panjang lebar, kita tahu Pandu memang pria tak biasa.

Memang banyak gunjingan, bagaimana bisa semua berjalan lancar bila godaan sering kali muncul. “Menimpali perkataan orang tua itu tabu, bisa-bisa dia dikutuk menghabiskan sisa hidup sebagai ulat keket.” Saya sudah wanti-wantu, bakalan amburadul, sepercaya apapun. Menyingkirkan potensi tak baik itu perlu, apalagi itu dalam kuasamu.

Kita lantas diperkenalkan dengan karakter aneh lainnya, Zen yang memiliki ilmu kanuragan. Berteman dengan Wanda, dan hanya sekali bertemu Pandu, karena keduanya punya ilmu, terjadi kontradiksi kehebatan. Sebuah malam, saling lempar tuah, dan bagaimana malam minggu menjadi ritual mengerikan.

Sebuah reuni menjadi eksekusi kunci, Anjani ketemu sang mantan yang kini jadi ustaz kondang, yang ternyata memiliki kelainan, atau alter ego buruk. Lalu Pandu melakukan sebuah kesalahan, atau bisa dibilang pilihan tak lazim, mengambil resiko. Dunia dan takdirnya bekerja dengan seadil-adilnya, sebaik-baiknya.

Saya baca hanya dalam satu setengah jam di pergantian hari jam 00:30 sd. 02:05 dini hari, malam Jumat (17.06.22) kebangun dan tak bisa tidur lagi, gegas baca puisi dan prosa, keduanya kelar! Padahal ini hari kerja. Setelah dua jam nekad, akhirnya coba kupejamkan istirahat. Dini hari adalah masa yang sangat tenang, dengan kondisi pikiran fresh, tetap tak berhasil mengesankanku.

Terakhir, buku ini malah condong ke seperti karya Abdullah Harahap. Tak sekeren itu sih, hanya mirip. Dunia mistik Abdullah Harahap lebih vulgar dan menakutkan, sisipan ilmu hitamnya menghantui, dunia gelapnya mencipta ketegangan maksimal, hingga membuat pembaca takut tidur sendirian. Yang Tersisa masih jauh dari itu, tapi percobaannya patut diapresiasi. Hanya bagian penyebutan nyastranya yang buruk, meluap hingga muak. Bro, bikin karakter aneh tak kudu sampai hanya ngaceng sama satu dua wanita, yang tak lazim belum tentu keren. Mending Ajo Kawir sekalian, mengganas trengginas. Atau penggambaran uthy naugty yang melimpah, boleh saja, tapi membuat pembaca mudah menebak itu tak bagus. Terlalu umum, terlalu klise. Dunia twitter yang liar itu dicerita, apa menariknya?

Hanya orang yang tak banyak tahu dan terlalu banyak khawatir yang banyak bertanya dan bawel. Benarkah?

Yang Tersisa Usai Bercinta | by Cep Subhan KM | Copyright 2020 | Penerbit Odise | Cetakan pertama, November 2020 | ISBN 978-623-95462-2-9 | Penyunting Hamzah Muhammad | Tata letak The Naked! Lab | Ilustrasi sampul Mada Satyagraha | Skor: 3/5

Karawang, 180622 – Tasya – Apakah Arti Puasa

Thx to Sentaro Book, Bekasi

#30HariMenulis #ReviewBuku #18 #Juni2022

5 Detik dan Rasa Rindu #17

“Karena retina yang tak sengaja kutatap selama 5 detik, lahir beribu puisi yang belum juga mati.”

Apa yang bisa diharapkan dari seorang artis yang menulis buku, menulis puisi? Hanya sedikit artis yang sukses menapakinya, sayangnya debut Prilly ini tak sukses. Tertatih, dan biasa sekali. Harapan yang rendah, dan sesuai. Puisi memang sulit dipahami, susah diprediksi, kutipan-kutipan yang pantas di-sher di sosmed biasanya yang berhasil menautkan emosi pembaca, emosi pendengar, penikmat syair. Di sini, tak banyak, atau malah tak ada yang untuk dibagikan. Mengalir saja. Tema cinta dan kerinduan, jatuh cinta memang indah, akan lebih sangat indah bila tak bertepuk sebelah. Mencipta rindu, dan kenangan, yang tak sertamerta merangkul erat para pecinta.

Terbagi dalam tiga bagian: Muasal Puisi terdiri 7 puisi, Lorong Kenangan terdiri 37 puisi, dan Noktah satu pusi akhir. Seperti sebuah lakon, pembagian ini pembuka, inti, penutup. Tema utama adalah cinta, 5 detiknya, seperti yang tertera di pembuka, adalah masa penyair menatap lelaki hingga jatuh hati. Lima detik untuk sebuah pandangan, adalah lama. Bisa karena terpukau akan apa yang dilihat, bisa pula karena takjub sehingga perlu waktu untuk terus terpaku mengamati.

Ditulis besar-besar, dicetak mungil, sehingga seratusan halaman juga gegas kelar. Berikut sebagian yang terpilih untuk kuketik ulang:

Kamu: Kamu sangat populer di kepalaku / Bahkan saat aku tidur / kepalaku tetap disibukkan olehmu. / Karena kamu selalu singgah dalam mimpiku. / Gawat! Kamu itu seperti sel aktif di otakku / tak pernah berhenti.

Tuntutan: Cinta! / Satu kata tanpa definisi. / Tidak membawa Kejelasan / walau dampaknya kuat terasa

Degub Kesukaanku: Jika dia mencintaimu, dia tidak akan membiarkan / kamu berjuang sendirian. / Cinta memang sesederhana itu.

Pilihan: Jika hati bisa memilih. Pilihanku pasti akan jatuh lagi / kepada kamu. Tapi bagaimana bisa memilih kalau sudah / diahncurkan. Tinggal menunggu seseorang yang mau / membenahinya lagi.

3 Detik: Hanya 3 detik. / Retinaku dan retinamu bertemu. / 3 detik yang pernuh kekesalan, / kerinduan / dan beberapa rasa yang sulit dijelaskan. / Sesakit apapun aku karena tatapan itu. / doa terus kususun untuk kamu bahagia. / Dan detik-detikku terus dikepung rindu.

Merindu: Dan tubuh ini pun dingin. Merindu dekap hangat fatamorgana / digantikan sosok yang nyata, tetap gigil.

Tak Bisa Ku Miliki: Bagaiamanapun keadaan sekarang… / kamu pernah menjadi bagian terpenting dalam hidupku, / bagian yang ku jaga walau sekarang aku biarkan pergi / Tempatmu di hatiku seperti keharusan yang tak bisa digantikan / rinduku padamu juga enggan dialihkan. / Oh, fatamorgana / namamu akan selalu ada di dalam doaku.

Aku Memilih Mengenangmu: Beruntunglah kamu / jika dicinta oleh orang yang suka menulis sepertiku / Karena kemanapun kamu pergi / namamu, dan semua tentangmu akan abadi / dalam sajakku.

Aku Lemah: Karena sesungguhnya terluka mengajarkan kita satu hal. / Cinta tidak akan pernah salah memilih tempat / dimana dia harus berada.

Noktah: Aku itu seperti hujan ya? / Walau sejuk tetap saja kamu berteduh

Noktah #: kita… / bertemu… / jatuh hati… / hilang… / tidak ada kata perpisahan… / tidak ada akhir… / dan masih aku bertanya… / Mengapa?

Ini adalah buku pertama Prilly, dan buku pertamanya yang muncul di blog ini. dikenal sebagai artis, Prilly memang multitalent. Walaupun di percobaan pertama ini, tak terlalu mencipta kesan bagus di sini, setidaknya percobaan mengumpulkan tulisan, mengumpulkan coretan puisinya untuk dibukukan perlu diapresiasi. Tak semua artis berpikir ke situ, temanya terlalu kecinta-cintaan. Standar sekali.

Saya baca hanya dalam setengah jam di pergantian hari jam 00:05 sd. 00:30 dini hari, malam Jumat (17.06.22) kebangun dan tak bisa tidur lagi, gegas baca puisi dan prosa, keduanya kelar! Padahal ini hari kerja. Setelah dua jam nekad, akhirnya coba kupejamkan istirahat. Dini hari adalah masa yang sangat tenang, dengan kondisi pikiran fresh, tetap tak berhasil mengesankanku.

Semoga ke depannya muncul karya-karya lainnya yang lebih tertata dan lebih Ok, semoga artis lainnya yang memiliki bakat tulis membukukan karyanya. Semangat Prilly!

5 Detik dan Rasa Rindu | by Prilly Latuconsina | Copyright 2017 | Penyunting naskah Fuad Jauharudin | Ilustrasi sampul Nafan | Desain Pidi Baiq | Desai nisi Deni Sopian | Penerbit The PanasDalam Publishing | Cetakan V, September 2017 | ISBN 978-602-61007-0-2 | Skor: 2.5/5

Karawang, 170622 – Shane Filan – Beautiful in White

Thx to Sri Wisma Agustina (Literasi Rongsok), Bandung

#30HariMenulis #ReviewBuku #17 #Juni2022