Morning, Noon & Night #23 #10

Buku kesepuluh Sidney Sheldon yang saya review. Ternyata sudah dua setengah tahun lewat dari peminjaman buku Rani wulan skom dan kini belum tuntas juga. Saran untuk perlahan menikmati dan mereview satu per satu membuat saya kebablasan santai. Seperti novel-novel Sheldon lainnya, selalu dibuka dengan sebuah kutipan bagus. Kali ini dari Arthur Rimbaud:

“Izinkan mentari pagi menghangatkan hatimu di masa muda. Dan biarkan angin siang yang lembut mendinginkan gairahmu. Tapi waspadalah terhadap malam, sebab di sanalah maut mengintai. Menanti, menanti, menanti.”

Lalu kisah dipecah dalam tiga bagian, seperti dalam judul: Pagi, Siang dan Malam. Pagi – Harry Stanford sedang berada di Eropa bersama Sophia seorang call girl, Dmitri sang pengawal dan Prince anjing gembala Jerman berbulu putih. Harry Stanford adalah seorang milyuder tersohor. Arogan, sehingga tak punya banyak teman. Ia merasa ada yang menguntit baik pers atau pesaing bisnis. Dengan mobil mewahnya berusaha kabur di dini hari. Saat di pesiar itulah tragedi terjadi, Dmitri menyambar intercom dan berteriak, “Orang tercebur!” Harry ditemukan tewas di laut.

Kasus ini lalu ditangani Capitaine Francois Durer, chef de police di Corsica. Karena orang tersohor kasus ini dilimpahkan kepada pengacara keluarga, Renquist, Renquist & Fitzgerald. Dari sinilah akhirnya kisah sesungguhnya dimulai. Sang pengacara lalu mengumpulkan anggota keluarga Stanford untuk membahas warisan. Kita pun diajak mengenal anak Harry satu per satu. Ya putra-putri Stanford akan datang ke Boston untuk merayakan kematian ayah mereka: Tyler, Woody dan Kendal.

Tyler Stanford adalah seorang hakim. Hakim dengan hati luka. Masa kecil Tyler penuh kenangan buruk. Mengakibatkan dirinya mengalami kelainan seks. Dirinya lebih suka sesama, sehingga sampai kini belum menikah. Dia punya kenangan buruk dengan almarhum sehingga setiap tertekan ia akan teringat kalimat ini, “Aku tahu rahasiamu yang kotor.”

Kendal Stanford adalah seorang perancang busana kelas atas. Tinggal di Paris dengan para kalangan jetzet. Seperti Tyler, Kendal punya masalah dengan ayahnya. Calon suami pilihannya ditentang. “Dia bukan siapa-siapa, dia mau kawin denganmu karena dia pikir dia bakal dapat uang banyak.” Tapi cinta Kendal tak berbatas kepada Marc, mereka kawin kabur. Kendal mendapat surat pemerasan yang minta ditransfer ke bank Swiss. Jengah, tapi ia tak ingin aibnya terbuka. Sebuah dosa besar yang menghantui.

Woody Stanford adalah seorang suami yang dirundung gosip. Ia menikah dengan pelayan keluarga Peggy Malkovich. Keputusan untuk tetap menikahi Peggy lebih karena dosa masa lalu ayahnya yang pernah membuat aib dengan meniduri pelayan dan mencampakkannya. Seakan kesalahan lama terulang, Woody melakukan dosa yang sama. Tapi dia lebih gentle, ia tak kabur. Ia tak mengelak dari aib, ia dengan penuh tanggung jawab menikahi sang pelayan. Dan yah, Peggy pelayan (kelihatannya) tak cerdas. Kalangan atas membuatnya tak siap. Adaptasi dari dapur belakang menjadi nyonya rumah tak semulus yang diperkirakan. Ditambah mereka tak kunjung memiliki anak. Diperparah Woody seorang pecandu obat terlarang.

Lengkap sudah keluarga ini. Seluruh anaknya bermasalah, tak ada yang benar-benar akrab dan dekat dengan almarhum sehingga kabar kematiannya justru menjadi kabar bahagia. Woody butuh uang untuk melanjutkan hobi nge-drug. Kendal butuh uang untuk menutupi aib dari pemeras. Dan Tyler butuh uang untuk gaya hedon dengan lelaki idamannya. Tapi tunggu dulu, muncul satu karakter yang tak diduga bernama Julia Stanford. Diluar radar ketiga anaknya yang secara sah, ternyata Harry memiliki anak hubungan gelapnya dengan pelaya. Sang anak menang tak mengenal almarhum, tapi secara hukum tetap berhak jatah warisan, atau setidaknya tergantung surat wasiat yang ada di tangan pengacara. Maka saat mengdengar kabar kematian ayahnya Julia memutuskan datang ke Boston. Keputusannya itu ternyata membawa persoalan hidup dan mati.

Saat keluarga ini berkumpul, laiknya orang-orang asing karena tak saling bersapa dan lama tak bertemu. “Aku tak merasakan rasa berkabung di rumah ini. Suasananya lebih seperti sebuah perayaan.” Simon Fitgzgelard angkat bahu, ia hanya menjalankan tugas. Saat itulah muncul Clark, sang pelayan di pintu, “Maaf, ada seorang wanita yang ingin menemui Anda semua. Ia mengaku bernama Julia Stanford.”

Bagian Pagi ditutup dengan kedatangan Julia. Siang – Julia yang disangsikan keasliannya diinterogasi. Panjang lebar dengan penuh keyakinan. Dan dapat menjawab tanya yang rasanya mustahil diketahui orang luar. Sebagai satu-satunya perempuan Kendal lalu menerima kehadiran adik tirinya. Tapi saat kita ikut percaya sebuah kejutan, twist besar muncul saat Tyler berteriak, “Kita berhasil Margo! Kita berhasil!”

Siang ditutup. Malam – tiba, kita akan mengenal lebih jauh lagi bagaimana mereka menjelaskan kisah hidup masa lalunya. Dan bagaimana akhir dari debat keluarga ini? Bagaimana pembagian warisan yang dirasa ‘adil’? Lalu saat Simon muncul dengan surat wasiat yang siap dibacakan semua orang terkesima. Semua pembaca pun terkejut, ada apa gerangan?

Secara garis besar, polanya sama dengan buku-buku Sheldon lainnya. Di awal memberi harapan tinggi pada pembaca, dengan berbagai detail mengagumkan. Menyelami karakter-karakter, bukan hanya karakter utama tapi karakter sempalan pun dijelaskan untuk mendapat gambaran rinci. Seperti Sophia yang cuma numpang lewat atau sang pengacara yang muncul di sesi penting serta polisi pantai yang sebenarnya bisa saja kita skip tapi dibuat detail agar ada bayangan. 

Setelah itu, muncullah pola. Mau dibawa ke arah mana cerita ini. Di Pagi kita ternyata diajak menyelami permasalahan warisan. Kematian ini mengakibatkan anak-anaknya untuk berkumpul. Menghitung bagian-bagian, mencari haknya. Nah saat kisah menuju laiknya sinetron kita dihantam twist khas sang Penulis. Kejutan itu tak pelak menaikkan rate, membumbung tinggi karena buakn sekedar kejutan apa yang dilakukan komplotan itu masuk akal, sangat masuk akal.

Lalu setelah twist kita-pun diajak mengenal lebih dekat para karakter, mana yang jahat dan mana yang baik. Diajak bersimpati, lalu saat akhirnya penyelesaian masalah tercipta kita disguhi fakta mengejutkan lagi sebelum ditutup. Semacam itulah novel-novel Sheldon. Selalu diajak keliling dunia selalu diajak mengenal kebudayaan asing. Nah di Morning, semuanya berpola sama. Kecuali kejutan dua nama karakter yang mengaku asli, semuanya tertebak.

Pagi, Siang & Malam | by Sidney Sheldon | copyright 1995 by Sheldon literary Trust | diterjemahkan dari Morning, Noon & Night | alih bahasa Hendarto Setiadi | GM 402 96.031 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, Januari 1996 | 448 hlm.; 18 cm | ISBN 979-605-031-5 | untuk Kimberly; dengan penuh cinta | Skor: 4/5

#10/14 #SidneySheldon, ditulis di Sabtu pagi dini hari yang cerah – Next review: Lewat Tengah Malam

DDitulis di Krawang, 170617 – Solo, 230617 – Raisa – Pemeran Utama – Diposting di Palur , Sukoharjo  230617. #HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#23 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

Animal Rationale #22

​ 

Kumpulan cerita pendek yang kubeli di pelataran Masjid Al Alyaah di seberang Karaba saat buka bersama teman-teman kantor CIF ini saya lahap dengan sangat cepat. Selain karena tipis, cerpen-cerpen di awal buku ternyata seru. Bagaimana rasional binatang manusia menguasai manusia. Sayangnya semakin ke belakang semakin terpuruk. Cerpennya benar-benar cerita pendek. Sebuah kumpulan yang sederhana. 

#Desember Di Timika

Ini adalah cerpen terbaik, wuih yang paling bagus taruh di depan. Kisahnya tentang seorang pembunuh bayaran yang ditugaskan ke Timika, tanah Papua. Di sana sengketa terjado, 1 Desember 2012 OPM (Organisasi Papua Merdeka) merayakan hari jadi, unjuk rasa sedang berlangsung. Bung FX dengan jeli memainkan ironi, Derajat Mulai dengan inisial Si Bejat.

#Markum sudah Tidur

Kisah tentang dendam panjang seorang anak lelaki yang ditinggal mati ibunya karena perkosaan. Kasus tak terungkap, Markum hilang bertahun-tahun. Saat kembali ia melegenda sebaiah pria tegak dengan ukuran kemaluan di atas rata-rata. Hingga akhirnya malam naas itu terjadi.

#You Are The Lucky Man, Jess

Tentang tragedy bom Bali. Jess yang biasanya jalan mengambil kiri setiap iseng di tikungan, petang itu tak tahu mengapa malah mengambil kanan. Padahal saat itu bom Bali terguncang, Jess sedang di warnet. Dikiranya gempa, tapi ternyata dia hanya berjarak beberapa meter dari tragedy pilu nasional. Untung bunting siapa ya tahu?

#Ryan

Ini adalah cerpen terbaik kedua. Tentang Ryan Jombang. Bola mata tersaput kabut tipis yang membuat pandangan terlihat misterius. Para pembunuh segan padanya saat di penjara. Seorang pembunuh berantai, tukang jagal, mutilasi. Ngeri. Berita yang menggucang jagad negeri ini. Endingnya justru menggelitik ketika penjaga penjara berujar, “Dia di kamar mandi, Pak.”

#Hidung Kecak

Hidung istimewa Kecak, bisa mengendus pribadi seseorang. Berkat bakat itu dia sering dipecat dari pekerjaan. Tentu saja, deteksi hidungnya lebih banyak mengarah para bos berdasi. Salah satu bosnya ditangkap KPK. “Bagaimana kamu bisa maju dengan hidung pesek yang seperti anjing kampong begitu, Cak!” kecak satpam pengendus para tamu.

#Jalan Kemustahilan

Untuk sampai ke Yobar, kau harus dua kali melewati kematian. Yobar. Kau mungkin tidak pernah mendengar nama itu. Mungkin kau bertanya-tanya tempat macam apakah itu yang membuat seseorang harus melewati dua kali kematian untuk mencapainya. Ah, apakah ini semacam ‘jelan kemustahilan’ yang harus dilalui seseorang untuk menjadi seniman? Awalnya sok misterius, tapi makin ke sana makin tak jelas. Tentang komplek pelacuran di ujung timur Indonesia. Tapi yah memang tak semisterius yang dibuka. Darsih tahu, tak ada yang mustahil di dunia ini, bahkan untuk seorang pelacur mendampa kekasih?

#Metamorfosis

Yah, makin kertas menipis makin kacau. Ini kisah tentang pejabat Dulhakim bermulut lamis yang menyatakan keprihatinan terhadap kejahatan perempuan sehingga bilang ke media untuk bersimpati menjadi perempuan. “Saya melihat kondisi kaum perempuan yang masih saja tertindas hak-haknya apalagi ditambah kemiskinan yang trehimpit mereka, saya selalu kepingin menjadi perempuan, lho. Sungguh!” Dan deer! Dewa mendengar, esoknya ia berubah banci. Pejabat penting yang tegas menjadi lemah gemulai, tentu partai politiknya marah punya kader semacam itu. Metamorphosis yang jadi headline berita itu ditutup dengan hampa.

#Kilometer Nol

Tentang gagak hitam yang tinggal di hutan kilometer nol. Gagak hitam yang simbolis datangnya kematian, marah kenapa mereka diidentikkan dengan aura negative. Baiklah mereka memang memakan bangkai, segala jenis bangkai termasuk manusia tapi tahukah kalian asal usulnya? Hingga suatu ketika seekor gagak hitam bertengger di sebuah tiang listrik memperhatikan sebuah keluarga sedang makan malam. Suami, istri dan seorang anak. Tragedy dirajut.

#Hyper Sex

Cerpen paling jelek. Drop. “Jadi;ah simpananku, Binal. Aku akan memberimu kekuasaan karena aku seorang politikus berkuasa.” Seorang wanita hyper sex menjelajah kota mencari mangsa. Seorang siswa drop out sekolah Karena hamil diluar nikah, nikah terpaksa lalu cerai karena suaminya tak bisa mengimbangi nafsu syahwat. Bergulirnya waktu, si Binal merasa dialah penguasa sesungguhnya karena setiap lelaki bisa ditaklukkan. Ah, basi sekali tema ginian. Tak ada konflik, tak ada kejutan. Datar.

#The Living Legend

Seekor kerbau keramat warisan keluarga bernama Nyi Ageng Mandra telah berumur puluhan tahun, jelas kerbau istimewa karena umur jauh di atas rata-rata binatang mamalia itu. Nah si aku adalah anak dari keluarga yang setiap hari wajib minum susunya. Mau enggaknya, haus enggaknya, muntah enggaknya tak peduli. Susu ajaib itu wajib diminum. Dengan keterpaksaan, dan semakin hari semakin muak. Sampai akhirnya sebuah rahasia keluarga terungkap.

#Reinkarnasi

Sebagai cerita penutup, awalnya menjanjikan. Diskusi dewa-dewa dengan mahkluk yang akan dilahirkan kembali. Karena perbuatannya di masa lalu, si aku akhirnya terlahir ke dunia sebagai kutu. Keberatan tapi palu nasib sudah diketok. Salim diturunkan di kepala seorang lurah. Nass, sang lurah dibunuh sehingga Salim berpindah ke kepala pembunuh. Si pembunuh hanya orang suruhan, dalam pengadilan Salim meloncat ke pengacara. Di kepala pengacara yang tukang tipu sampai muak. Lalu ia pindah ke kepala polisi yang tak lebih bagus, naas Salim tewas dalam sebuah adu tembak. Bukan, bukan Salim yang tertembak tapi inangnya. Salim tergencet. Saat kembali menghadap kepada dewa, Salim tak mau terlahir sebagai manusia karena sifatnya mengerikan. Jadi apa ia kelak kembali ke dunia?

Bukan kumpulan cerpen sekelas Kompas. Bahkan untuk jadi artikel mingguan Koran Lampu Merah sekalipun tak layak pajang. Ada satu dua yang lumayan, tapi mayoritas standar cerita. Beberapa bahasanya kasar, ada adegan misug-misuh yang tak perlu. Ada adegan vurgal yang bisa saya skip. Pemilihan diksi juga tak wah. Yah, memang ala kadarnya. Sekali baca lupakan.

Karena saya belinya di beranda masjid dan membacanya di bulan suci, jelas tak rekomendasi dilahap saat puasa. Ini memang buku iseng baca jadi hasilnya sesuai ekspektasi. Tapi seandainya diberi kesempatan untuk membaca buku karya bung FX Rudy yang lain saya siap baca. Mungkin karena efek lapar jadinya kacau? Secara kover Oke, secara cetakan dan edit oke. Hanya isinya kurang greget saja. Mengingatkanku pada nocturnal animal.

Animal Rationale: Cerita-Cerita Yang Tak Pernah Usai | oleh FX Rudy Gunawan | Editor Widyawati Oktavia | Proofreader Nurul Hikmah | Penata Letak Wahyu Suwarni | Desainer cover Jeffri Fernando | Foto cover: iStockfoto.com/Zora Simin & Natalia Lukiyanova | Penerbit Gagas Media | Cetakan pertama, 2009 | ISBN 979-780-360-0 | vi + 186 hlm.; 13 x 19 cm | Untuk Sri Utami, Havel Hardian, Hasya Nindita dan Harkafka Nagendra yang selalu menjaga kemanusianku | Skor: 2/5

Ruang HRGA NICI CIF, Karawang, 200617 – Maddi Janne – Barricade — diposting di Palur. #HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#22 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

No Country For Old Men #21


Sewaktu dia bangun dia tau mungkin dia harus membunuh orang. Dia hanya belum tahu siapa yang harus dibunuh.

Inilah novel pegangan film nominasi Oscar tahun 2006, hanya kalah dari There Will Be Blood yang fenomenal itu. Film yang mengahantui dengan gaya ramput belah pinggir itu akhirnya bisa saya nikmati versi original. Dan ternyata yang di buku jauh lebih dahsyat. Detailnya lebih hebat. Kita diajak berpetualang di negeri para bandit dengan seluk beluk kehidupannya. 

Kisahnya tentang seorang sherif tua di negara perbatasan Amerika dan Meksiko. Di daerah Texas yang gersang, dimana para pencuri ternak berganti profesi menjadi kurir obat terlarang dan kota-kota kecil menjadi zona bebas tembak. Sang sherif yang seorang veteran perang seakan terjebak dalam situasi serba salah. Membantu warga yang kesulitan, menegakkan hukum dan berpusar dalam kejahatan rumit narkoba. 

Sedari awal saya sudah tahu bahwa Llewllyn Moss, seorang warga negara yang baik dan taat hukum suatu hari menemukan sebuah truk pick-up yang dikelilingi oleh beberapa mayat. Sejumlah heroin dan uang kontan dua juta Dollar dalam koper tergeletak. Ia memutuskan mengambil uang, membawanya kabur mencoba mencari tempat aman dan serangkaian sulut reaksi kekerasan dan pembunuhan yang tak bisa ditangani hukum terjadi. Karena yang mengejar adalah orang gila, si rambut belah pinggir assassin the legendary Chigurh. Seperti itulah yang disajikan dalam film, dan dalam novel tak jauh beda.

Sudut pandang kisah berganti-ganti sesuai karakter yang dikisahkan. Tapi tokoh utamanya adalah sang sherif Bell. Dia akan bercerita dalam paragraf dengan front miring. Mengenai masa lalunya yang (dianggap) gagal sampai terhenpas di Texas. Bagaimana awal dia dikirm perang, bagaimana kehidupan seorang polisi yang makin canggih era makin beringas para penjahatnya. Bagaimana rekan-rekan kerjanya tewas dalam tugas, partner kerja mati semuda itu. Bagaimana keluarga tanpa anak ini menjalani kehidupan, dan dukungan penuh seorang istri Loretta. Endingnya, saya kasih tahu mengambil sepenuhnya isi kepala Bell yang sangaaaat manis. Salah satu ‘happy ending’ terbaik yang pernah saya baca.

Sedari awal saat sudut pandang beralih kepada sang pemburu Chigurh, kiat sudah diwanti-wanti ini adalah karakter istimewa. Bagaimana bisa ia meloloskan diri dari seorang polisi yang sudah menangkapnya. Dengan borgol kedua tangan di belakang, ia bisa mengecoh sang deputi malang. Pembunuh berdarah dingin. Chigurh mengusap tangannya dengan sapu tangan, Cuma tidak ingin mengotori mobil dengan darah korban! Selain ciri rambut dan lemparan koin keberuntungan, karakter ini dikenal dengan sebuah apar – alat pemadam api ringan yang digunakan untuk membuka paksa pintu hotel. Dan ya, adegan itu dicomot plek dari buku. Dulu kukira ide itu mengada-ada, tapi ternyata penjelasannya terbaca masuk akal. Ada yang berani coba menembakkan apar pada pintu? Setiap gedung yang memenuhi standar safety pasti ada tabung apar di beberapa sudut, dan setelah membaca buku ini, setiap lihat tabung merah itu jadi takut.

Kau akan hidup sampai berumur seratus tahun. Moss adalah binatang buruannya. Semua orang mungkin akan berfikir bahwa suatu senja saat ia berburu rusa di bukit tapi malah menemukan sekoper uang dan bertumpuk heroin, plus bergelimpang mayat adalah anugerah. Sebuah keberuntungan. Dalam bayang kita, tentu tkp – tempat kejadian perkara itu adalah tempat transaksi terlarang, tapi tak terjadi deal hingga saling bunuh, entah siapa yang pertama menarik pelatuk. Moss tanpa pikir dua kali tentu saja membawa lari koper duit. Sesampai di rumah truk, ia meminta istrinya, Carla Jean untuk pergi secepatnya ke orang tuanya di Odessa. “Aku punya firasat buruk, Llewlyn.” Dari kekhawatiran istri ini harusnya Moss mau befikir ulang rencana besar mereka, tapi uang sebesar itu tentu saja sulit ditolak. Maka Moss memutuskan kabur, Carla pulang. Adegan demi adegan berikutnya adalah pemburuan koper dari satu hotel ke hotel lain. Dengan naluri binatang pemangsa Chigurh melawan seorang petarung sejati Moss, kepada siapa koper itu akhirnya berlabuh?

Covernya keren sekali. Orange menyala dengan latar matahari senja di mana bayangan seorang koboi berlari di pandang pasir dengan tangan kanan membawa koper (penuh uang) dan tangan kiri menenteng senjata. Catchy. Salah satu pemilihan cover buku terbaik yang pernah saya punya. Pernuturannya tanpa tanda petik sama sekali, sekalipun dalam dialog kalimat langsung? Yup. Bukan buku pertama dengan pola semacam ini, tapi ketiadaan tanda itu semakin membuat kita berfikir keras. Menantang imajinasi Pembaca untuk menebak ini kalimat siapa dan ditunjukkan kepada siapa. Sukses menyusup dalam daya khayal itu, berarti sukses menejawantah intinya. Syukurlah, ini jenis buku yang tak perlu banyak berkerut kening. Semua jelas tanpa penafsiran ganda. Hebatnya lagi, kejutan-kejutan dicipta tanpa berlebihan namun pas sekali. Karena saya sudah menonton filmnya maka, apa yang disampaikan tak terlalu membuat saya berdegub khawatir nasib karakter.

Saya membaca novel ini tahun 2009, mendapatnya di sebuah pameran buku di Solo bareng Grandong dan Afifah. Saat itu saya membaca dalam banyak kebimbangan, justru saya bisa menyelesaikan baca The Fight Club dan Million Dollar Baby tapi tidak dengan ini, saya terhenti di tengah karena pusingnya. Beberapa tahun berselang barulah, saya baca ulang sampai selesai. Dua buku yang saya sebut tentu saja buku fantastis, tapi novel ini sama menakjubkannya.

Ada empat adegan yang luar biasa di buku ini yang menurutku patut dibagikan. Pertama, penuturan Carla Jean tentang masa lalunya kepada sherif, bagaimana pertama ia bertemu dengan Moss. Sebagai gadis penjaga toko jatuh hati pada pandangan pertama pada pemuda yang mengajaknya kencan, itu keren sekali penyampaiannya. Kedua, bagian saat Moss menyimpan koper uangnya di saluran air lalu menariknya dengan gantungan baju. Wow, bisa-bisanya ada ide adu sembunyi semenegangkan ini!

Ketiga saat Chigurh menepi untuk isi bensi dan cari camilan, ia menanyakan penjaga tokonya tutup jam berapa lalu ada nada jesal hingga muncullah Kutipan favorit: Sembilan belas lima puluh delapan. Koin ini sudah berjalan-jalan selama dua puluh dua taun untuk sampai di sini. Dan sekarang koin ini ada di sini. Dan akau ada di sini. Dan tanganku menutupinya. Bisa kepala bisa ekor. Dan kau harus mengatakannya. Tebaklah!

Keempat adalah adegan endingnya. Sherif tua itu mimpi ataunya di alam nyata? Terbaca biasa, tapi coba baca ulang di bagian ini: Aku tau bahwa dia akan terus berjalan dan dia akan membuat api unggun di tengah udara gelap dan dingin dan aku tau bahwa jika aku sampai di sana dia akan tetapi berada di sana. Dan kemudian aku terbangun. 

Dari mimpi? Dari gelap dan dingin lalu terganggu cahaya api unggun? Tunggu dulu, kalimat itu perlu ditelaah lagi. Tuhan itu hidup dalam keheningan yang menggosok tanah ini dengan abu.

Salah satu novel terbaik yang pernah saya baca.

No Country For Old Men | by Cormac McCarthy | copyright 2005 | diterjemahkan dari No Country For Old Men: A Novel | Penerjemah Rahmani Astuti | Penyunting Setiadi R. Saleh | design sampul Prasajadi | Tata letak Tito F Hidayat | Montase Ruslan Abdul Gani | Penerbit Q-Press | Cetakan I, November 2007 | ISBN 978-979-1174-31-2 | Santa Fe Institute | Skor: 5/5

Karawang, 210617 – Nikita Willy – Pantas Untukku (Solo version) – mudik day 

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#21 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku​

Jokowi: Spirit Bantaran Kali Anyar #20

Megawati: “Rudy, orang yang kamu bawa kok kurus banget?”

Buku ini terbit di tahun 2012 jelang Pak Joko Widodo – kita kenal sebagai pak Jokowi maju ke pilkada gubernur DKI Jakarta. Buku cepat saji, karena pihak penerbit menawarkan kepada Penulis secara mendadak untuk naik cetak maka mereka hanya meramu dari media online Tribunnews.com, Tribun Jakarta Digital Newspaper, koran digital yang terbit tiga kali sehari. Selain ramuan yang sudah ada, tulisan juga ditambal dari tim Penulis lain langsung ke Solo, tempat Pak Jkowi mengabdi selama 7 tahun sebagai walikota. Dan jadilah buku setebal 250an halaman.

Awal tertarik beli ya saat itu profil calon Presiden kita ini ada di mana-mana. Di tahun 2012-2013 beritanya setiap hari ada saja di portal berita. Rata-rata positif, jadi saat itu ada jargon Indonesia masih punya harapan. Maka ketimbang merasa pesimis tiap masuk bilik dalam pemungutan suara maka saya putuskan untuk mengenal calon pemimpin kita. Dan seperti yang kita lihat saat ini. Setelah mengabdi di Solo, beliau merantau di Jakarta dan belum genap tugasnya selesai ia kini menjadi orang nomor satu di Negeri kita tercinta. 

Karena buku ini terbit tahun 2012 maka berita yang dicetak tentu saja saat-saat beliau berjuang di Solo, dari masa kecil sampai akhirnya berita fenomenal pemindahan PKL secara damai itu. Dari masa mahasiswa UGM sampai resep-resep memimpin yang luar biasa. Semua disajiakn dalam bahasa media yang khas Tribunnews. Saya sih menikmatinya, ibaratnya kita sudah dipilah pilihkan berita oleh tim ini dari ratusan ribu berita yang ada, tinggal baca santai sambil ngopi.

Buku dibuka dengan kata pengantar ketua PDIP, Megawati soekarno Putri. Kesan-kesannya, alasan beliau membawa Pak Jokowi ke Jakarta, sanjungan masa kepemimpinannya sampai harapan (Jakarta dan) Indonesia ke depan. Lalu pengantar dari Penulis yang bercerita mau menyanggupi Penerbiy Elex untuk ‘kampanye’ seorang pejabat yang mau melayani, bukan dilayani. Kemudian prolog, sangat panjang karena malah bercerita ke sana ke mari mengenai profil serta kesan-kesannya.

Setiap pergantian bab, kita akan disodori sisipan kutipan orang-orang hebat masa lampau. Di bab pertama berjudul: Bibit Kepemimpinan, kita bertemu John F. Kennedy: “Leadership and learning are indispensable to teach other.” Di bagian ini kita akan lebih banyak diajak ke masa lampau. Penulis bertemu dengan orang-orang sekitar, langsung ke Solo. Mulai drai guru, tetangga, sampai teman-teman diwawancarai. Kesederhanaanlah mengapa saya justru menyukai bagian ini. Bab terbaik ada di sini. Bagaimana Sang Presiden menghabiskan waktu masa kecilnya, laiknya kita semua, suka bermain di kali mencari telur bebek. “Saya gemar mandi di kali, mandi di kali. Mancing, cari telur bebek itu jagoan saya. Saya hafal bebek bertelur di mana, tapi itu rahasia saya, saya tidak kasih tahu teman-teman.” 

Bagian Jokowi terjatuh ada dalam penuturan ibundanya. “Ada dua pengalaman kegagalan saya. Yang pertama saya gagal masuk ke sekolah favorit SMA dan kedua kasus penipuan ini.” Penipuan yang dimaksud adalah awal usaha Pak Jokowi di bidang mebel. “Di awal usaha, dia pernah ketipu sampai klumprak-klumpruk. Sekitar satu tahun saya jalan sendiri langsung game point. Banyak itu, misalnya modal saya 10 tertipu 30, jadi tiga kali lipat. Baru satu setengah tahun kemudian saya bisa bangkit lagi.”

Bab kedua berjudul Orang Sekitar, ditemukan Jim Burning: “A loving family provides the foundation childrenneed to succeed and strong families with a man and a woman – bonded together for life – always been and always will be, the key ti such families.” 

“Ibu saya orang biasa, seperti ibu-ibu lainnya. Kalaupun hebat itu karena cara pandang dan pola pikirnya yang jauh ke depan. Ayah saya tukang kayu. Saya sebut bukan pengusaha kayu, karena nanti yang dibayangkan malah Prayogo Pangestu yang punya Barito Pasific.” Yup Jokwi adalah kita, masyarakat kebanyakan yang ketika menginginkan sesuatu butuh kerja sangat keras.

“Pagi, bangun tidur sholat Subuh. Kemudian jogging, kalau tidak ya tidur lagi jam 7 atau 8 bangun, baca koran atau keluar sepedaan. Mendengarkan lagu itu bar fresh. Paling lima belas menit, empat lima lagu cukup. Habis itu on fire lagi turun ke masyarakat.” Led Zepperlin, Megadeath, dan Lamb Of God. Wow cadas!

Bab ketiga tentang Integritas, kiat disapa W. Clement Stone: “Have the courage to say no. Have the courage to face the truth. Do the right thing because it is right. These are the magic keys to living your life with integrity.” Bagian ini menyoroti bagaimana cara keraj seorang pemimpin nothing to lose. Kerjakan yang terbaik, hasilnya akan mengikuti.

“Mau dinilai tidak baik, silakan. Mau dinilai baik, ya silakan. Saya kan tugasnya hanya bekerja. Enggak ada kemauan macam-macam. Enggak punya target apa-apa. Bekerja, begitu saja.”

Bab keempat tentang Pengabdian bersama Bob Brando: “To grasp the full significance of life is the actor’s duty to interpret is his problem, and to express is his dedication.”

Bagian yang sukses sebagai walikota. Bagaimana Surakarta menjadi lebih cantik dan sedap dipandang. Memindahkan PKL yang biasanya penuh huru hara dirubah penuh suka cita. Diantaranya butuh negosiasi panjang sampai tembus makan bersama sebanyak 54 kali! Benar-benar manusia super sabar ini. Relokasi itu masuk rekor MURI. Segala prestasinya juga diganjar di tahun 2012 menjadikannya Finalis Walikota terbaik sedunia yang diselenggarakan The City Majors Foundation yang ada di London, Inggris.

Bab terakhir tentang Jalan Berliku DKI-1. Kali ini kita disapa Chen Sui Bian: “The road to democracy may be winding and is like a river taking many curves, but eventually the river will reach teh ocean.”

Branding Solo: The Spirit of Java diperkenalkan beliau. Memanusikan warga Jakarta adalah tujuan dia dibawa ke ibukota. Awalnya mau mengubah branding kota macet, sayang tak tuntas dan sampai kini Jakarta masih sangat macet. Di bagian epilog lebih kepada sebuah pengalaman salah satu Penulis. Dan kita [un tahu, bagaimana akhirnya ciri khas baju kotak-kotak itu dicipta.

Sebagai sebuah buku kumpulan artikel media online, buku ini cukuplah untuk nostalgia. Biasanya kumpulan gini akan boring karena sedekar pengulangan, tapi untuk profil Presiden kita cukup padat. Lumayan, kita jadi lebih kenal beliau. Sayangnya beberapa foto yang disisipkan bukan dengan kertas luks jadi terlihat tak jelas karena dicetak buram. 

Nah sekarang sudah lima tahun dari 2012, ayo dong cetak lagi kumpulan artikel beliau. Pastinya sudah banyak sekali cerita yang bergulir. Lima tahun terakhir adalah masa paling sibuk, penuh huru-hara Pilpres dan pro-kontra terbesar dalam Pemilu Indonesia sepanjang masa. Kalau ada buku detail Pak Jokowi lagi, boleh deh saya coba nikmati lagi. Japri!

Panjang umur dan sehat selalu ya Mr. Presiden. Good luck!

Jokowi: Spirit Bantaran Kali Anyar | oleh Domu D. Ambarita, Albert G. Joko, Ade Rizal Avianto, Yogi Gustaman, FX Ismanto | copyright 2012 | artistik Achmad Subandi | Disain cover Setiawan | Penerbit Elex Media Komputindo | 236121777 | ISBN 978-602-00-3385-3 | Skor: 3/5

Karawang, 200617 – Taylor Swift – Everything Has Changed

Dunia Anna #19

“Aku mau seluruh jutaan jenis flora dan fauna itu semua dikembalikan. Aku Cuma bilang kalau aku mau dunia tempat hidupku ini seindah dunia nenek nikmati seumurku…”

Dari Penulis Dunia Sophie, yang sedari dulu hanya masuk daftar ingin baca. Justru buku pertama Jostein Gaarder yang saya lahap adalah Dunia Anna yang lebih langsing dan murah. Karena review Sophie yang rata-rata tinggi maka tak salah saya juga berharap pada Anna. Ternyata jauh dari ekspektasi. Ini jenis buku untuk remaja, remaja yang diajak peduli, kebetulan temanya menyelamatkan lingkungan. Apa yang ditawarkan Anna bukan barang baru, sekedar ajakan aktif para Pecinta Lingkungan. Balutan fiksi fantasi hubungan virtual nenek-cucu juga bukan sesuatu yang spektakuler.

Kisahnya adalah tentang Anna, seorang gadis 10 tahun asal Norwegia yang menyadari ada yang tak beres dengan alam di sekelilingnya. Saat akan berusia 16 tahun, tahun 2012 saat ia memasuki bangku SMA ia mendapat cincin rubi (yang annoying) berusia 100 tahun dari tante Sunniva. Karakter Anna digambarkan cerdas, aneh dan berfikiran out of the box, tak seperti remaja kebanyakan. Sifat itu klop dengan pacarnya Jonas yang sama-sama unik. Lalu muncullah Dokter Benjamin, psikiater yang sekaligus guru bagi Anna. Dari diskusi mereka kita tahu Anna mengkhawatirkan tipisnya lapisan ozon, isu pemanasan global yang semakin memprihatinkan. Perkara orang dewasa dicanangkan remaja?

Dan ta-daaa… dalam mimpi Anna adalah Nova. Nova adalah cicitnya menjerang jauh ke masa tahun 2082. Di era itu binatang dan tumbuhan yang saat ini ada sudah pada punah, cucu-cicit kita hanya bisa menikmati mahluk itu lewat video. Zaman kepunahan flora dan fauna itu hadir karena ulah generasi berikutnya yang tak peduli lingkungan. Mimpi yang aneh itu membuatnya mengetik nama nenek buyutnya, Anna Nyrud hingga ia menemukan sebuah surat yang janggal. Bagaimana bisa Anna bisa tahu punya cicit bernama Nova? Ada gadget bernama android di jelang pergantian abad ke 22? Percayalah aplikasi itu akan punah saat itu karena diganti sesuatu yang lebih canggih, lebih misterius. Plot hole woy.

Dengan cincin ajaib rubi itu sang nenek memberi maklumat untuk kebaikan generasi berikutnya maka era bisa dirubah? Pengalaman Anna yang menjelma Nova dan berdialog dalam bayang semu itu apakah sebuah pertanda untuknya? Adakah kesempatan kedua, bisakah kepunahan itu dicegah?

Niat Jostein baik. Sangat baik malah karena mengajak kita peduli lingkungan. Tapi apa yang disajikan tak sebaik yang diharapkan. Kisahnya monoton, jatuhnya sangat jemu. Bab pendek-pendek dengan jenis front huruf berbeda saat kita diajak sudut pandang berbeda. Buku setipis ini berisi 38 bab, wew. Aturan main fantasi yang ditawarkan juga sederhana. Saya bahkan ingin secepatnya mengakhiri kisah bukan karena penasaran tapi ingin secepatnya ganti buku lain. 

Buku dengan pede bilang ‘sebuah novel filsafat semesta’, terlalu ketinggian harapan sang Penulis tapi hanya yang dituturkan kepada pembaca hanya novel remaja. Sayang sekali, pengalaman pertama bersama Penulis Dunia Sophie berakhir biasa sekali.

Kutipan-Kutipan

Permintaanku yang sesungguhnya ialah supaya dunia ini mendapatkan kesempatan kedua. – halaman 193

Jika aku dapat memilih antara mati saat ini, tapi dengan jaminan bahwa umat manusia akan terus lestari ribuan tahun ke depan atau hidup dalam kondisi sehat sampai umurku seratus tahun lalu seluruh kemanusian mati bersamaku, maka aku tidak akan ragu dlaam menentukan pilihan. -208

“Kalau aku sih optimis, Jonas. Tahu nggak kenapa? Menurutku menjadi pesimis itu abnormal.” – 228

Berapa ekor harimau lagi yang ada di bumi? Dan di mana mereka tinggal? Ayo jawab dengan tepat kalau tidak mereka akan punah. – 117

Dunia mendapat kesmepatan baru. Itulah poin utamanya. Aku harus membuat dunia kembali seperti sedia kala saat nenek buyut berusia enam belas tahun. Namun aku hanya punya satu kesempatan. – 150

Aku merasa dimanfaatkan dan dihianati sumber-sumber alam dunia telah dirampok oleh generasi-generasi yang hidup sebelum aku. – 144

“Aku betah banget di kebun ini.” – 115

Dunia Anna | by Jostein Gaarder | copyright 2013 | diterjemahkan dari Anna. En Fabel om klodens klima og miljo | Penerjemah Irwan Syahrir | Penyunting Esti A. Budihabsari | Proofread Ine Ufiyatiputri | Cetakan II, November 2014 | Penerbit Mizan | Desainer sampul Andreas Kusumahadi | ISBN 978-979-433-842-1 | Skor: 2/5

Karawang, 190617 – Sherina Munaf – Pergilah Kau

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#19 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

Let’s Go Into Narnia #18


Buku tipis ini saya beli tahun 2010 gara-gara kata Narnia. Saya pertama kenal dunia ajaib ini saat SD di Perpus sekolah. Sebuah buku dongeng terbitan Dian Rakyat. Tapi mungkin karena aneh saya tak begitu paham, buku itu bahkan salah satu buku paling jarang dipinjam. Demikian pula saya, saya hanya membacanya di Perpus tanpa membawa pulang sehingga memang tak tuntas.

Tahun 2005 saat filmnya rilis, saya juga tak terlalu mengikuti. Justru setahun berselang, seorang teman satu kos Jemy K membawa VCD film yang dibeli di sebuah swalayan karena kena diskon bersama film National Treasure dan serial Sherlock. Nah di kos Ruanglain_31 itulah saya kembali terkenang masa kecil itu. Adaptasi filmnya menakjubkan sekali. Saya langsung menasbihkan sebagai salah satu film paling berpengaruh.

Mulailah saya berburu bukunya. Di toko buku Store Book Lippo Cikarang tak lengkap tapi kebetulan seri pertama dan kedua ada. Maka saya baca runut satu per satu. Seri ketiga sampai tujuh baru ada beberapa bulan kemudian. Maka saya beli satu per satu dengan membaca runut sesuai serial. Terpesona. Buku itu saya baca bersamaan dengan satu per satu Harry Potter seri lima sampai akhir terbit jadi semacam fantasi saingan. Ditambah The Chronicle of Spiderwick yang dalam bundel serta sebuah maha karya His Dark Materials plus The Hobbit. (Nyaris) lengkap sudah dunia ajaib menemaniku sepanjang tahun 2005-2010. Masa itu saya menyesal gagal merampungkan Trilogy Bartamious dan masterpiece Trilogy The Lord Of The Ring.

Tahun 2008 film kedua rilis, Pangeran Caspian merupakan salah satu viewgasme di bioskop. Saat itu saya sampai berdiri, ikut berteriak ‘For Narnia, For Aslan!’ di ending epic battle. Yang mengejutkanku, seri kedua ternyata dinyatakan gagal memenuhi ekspektasi Disney. Lho, lalu proyek itu terkatung. Tahun 2010 di sebuah bazar buku Lippo Cikarang saya menemukan buku tipis karya Arie Saptaji. Melengkapi koleksi lengkapku. Setahun berselang saya mendapatkan buku CS Lewis lain di sebuah toko buku Kristiani. tahun 2010 pula film ketiga rilis. Lebih sederhana, padahal bukunya paling tebal. Saya sampai terbang ke Bekasi untuk menikmati 3D, nonton sendiri sembari berburu buku. Film ini lebih dikenal sebagai akting memukau sang pemerang Eustace. Dan setelah enam tahun, Narnia vakum. Entah mau ke buku keenam langsung, sebagai setting pertama tahun Narnia ataukan tetap runut ke buku ketiga.

Jadi bagaimana dengan buku ‘Lets Go Into Narnia’. Saat dibaca tujuh tahun lalu lumayan juga menambah informasi dunia Narnia. Oh tahun 2005 majalah film Cinemags juga membahas panjang sekali sejarahnya, jadi saling melengkapi. Tapi kalau dibaca lagi saat ini sudah dengan mudah kita akses di web. Tinggal googling maka sebagian besar apa yang tersaji ada. 

Untuk sebuah buku panduan, apa yang terpampang lebih kepada Narnia fan level pemula. Setelah prakata dan kata pengantar yang berbelit, kita disuguhi endorsm yang menurut saya lebai. Saya paling tak suka komentar pembaca sampai memangkas berlembar-lembar. Endorsm itu cukup satu dua kalimat dalam satu halaman, useless memuji Penulis sampai 12 halaman! Alamak, novel-novel Harry Potter saja tak sepanjang itu yang puji di bukunya.

Barulah pada halaman 31! Kita benar-benar masuk ke materi. Mengenal lebih dekat CS Lewis – Clive Staples Lewis. Lahir di Belfast, 29 November 1898. Dari orang tua yang gemar membaca, hobi itu tentu saja turun kepadanya. Semoga hobi bacaku turun ke Hermione Yumna. Dalam biografinya Leweis berujar, “Buku-buku berserakan di runag belajar, di ruang belajar, di tempat penggantungan jas, di dua rak buku besar, di ruang tidur. Bahkan di loteng bak penampungan air. Buku-pun bertumpuk setinggi bahu saya, bermacam-macam buku bacaan…”

Lewis kecil lebih banyak menghabiskan waktu di rumah keranaselain cuaca Irlandia yang berkabut dan berangin ia lebih suka berteman dengan Beatrix Potter, Sir Conan Doyle, Edith Nesbitt, Henry Wadsworth Longfellow, dan Mark Twain. Saat berumur sepuluh tahun, ibunya meninggal. Sebelum pergi beliau memberi Lewis sebuah al Kitab bertulis, “Dari Mami dengan kasih yang terdalam, Agustus 1980. Efek kejadian ini akan benar-benar terasa lama berselang.

“Gambaran itu muncul saat saya berusia enam belas tahun. Suatu hari ketika saat saya berumur empat puluh tahun, saya bergumam seorang diri ‘coba kita buat cerita tentang itu’”. Dan alhirlah Yhe Lion, The Witch and The Wardrobe. Dan begitu Narnia muncul satu per satu dalam pekembangan.

Let’s Go Into Narnia | oleh Arie Saptaji | copyright 2005 | GB 11005 006 | ISBN 979-3574-08-9 | Penerbit Gradien Books | Cetakan 1 & 2, Juli 2005 | Skor: 2/5

Karawang, 180617 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#18 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

Sisters Red #17


Scarleet March: “Aku kembali ke sini dengan pikiran akan tidur selama dua jam lalu keluar lagi untuk mencoba melakukan sesuatu, tapi aku malah mendapati rekan dan adikku Cuma duduk-duduk. Bagaimana kalian bisa duduk? Bagaimana kalian bisa santai padahal kalian tahu bahwa ada monster di dunia ini, monster yang mampu kalian hentikan?”

Kovernya bagus. Dengan warna merah menyala dicermin atas bawah warna hitam. Yang merah salah satu matanya tertutup satu, yang hitam dengan kombinasi ikal sehingga tampak cantik. Dengan tatapan marah sang serigala, inilah kisah panjang sepasang saudara melawan gempuran mahkluk manusia serigala.

Kisah tentang pemburu serigala. Prolognya bercerita tentang alasan mengapa mereka harus melakukan itu. tentang neneknya yang berkorban demi mereka. Seorang tamu yang bertandang memporakporandakan rumah mereka. Oma March lalu berujar, “Scarlett, jangan khawatirkan aku. Bawa Rossie dan bersembunyilah.” Tamu tersebut adalah fenris, manusia serigala pemangsa manusia. Setelah membunuh neneknya Scarlett maju. Dan mantra itu terus berdengung. Cuma tinggal aku sendiri yang tersisa untuk bertempur. Jadi sekarang aku harus membunuhmu.

Setiap berganti bab kita akan diajak untuk berganti sudut pandang antara dua saudari. Sang kaka Scarlett March adalah gadis pemberani yang penuh dendam. Malam berdarah itu membuat luka di wajahnya, salah satu matanya rusak. Ia selalu bertudung yang fungsinya ganda. Warnay memancarkan gairah seks dan nafsu cabul yang sama sekali tidak bisa ditolak serigala dan bahan kainnya menyembunyikan sebuah alat pembunuh. Jadi Sacrlett bermula mengundang pemuda fenris untuk berjalan mengejarnya. Lalu saat fanris berubah wujud ia membantainya. Trik berburu klasik sekali, ‘kalau kau lari dari seekor binatang, maka ia akan mengejarmu.’ Setelah fenris mati, ia akan menjadi abu dan lenyap berasap.

Sudut pandang kedua adalah dari sang adik, Rossie March lebih kalem. Dengna wajah cantik bak seorang putri. Tentu saja setiap jalan, pesona Rossie terpancar. Menjadi bungsu yang coba selalu diselamatkan membuatnya tak enak hati. Ia selalu ingin ikut berburu, ikut dalam setiap petualangan. Ia mungkin gadis manja, tapi selalu dilindungi membuatnya marah.

Karakter utama ketiga adalah seorang pemuda gagah, tetangga mereka. Silas yang tampan, anak Pa Reynold. Ia dicipta memang untuk membuat dua karakter saudari ini saling cemburu. Silas seusia Scarlett, teman bermain dan belajar, teman seperjuangan berburu. Ia kembali dari jalan-jalannya ke California untuk melepas rindu Ellison, rumah mereka.

Lalu kita diajak mengenal keseharian dua saudari ini. Bagaimana mereka menghabiskan waktu dengan nonton film, melepas kenangan buruk malam itu dengan belajar berkelahi untuk berjaga-jaga. Dengan sebuah kapak atau tangan kosong mereka harus membela diri. Mempelajari sifat-sifat fenris yang harus dimusnahkan. membunuh mereka bukan hanya untuk menjaga kota dari serangan monster tapi juga untuk membalas dendam. Seperti kata Scarlett, ‘aku berniat menjadi orang terakhir yang pernah dilihat mosnter itu sebelum mati. Merahnya darah dan amarah telah mengubahku selamanya. Sebuah obsesi.’

Rosie lebih seperti gadis kebanyakan. Tak bisa menyetir mobil, dalam keluarga mereka hanya ibu yang bisa karena pesan sang nenek, obil hanyalah buang uang. Mereka lebih suka berjalan. Aku merasa seolah sedang berjalan dalam sebuah buku cerita, yang sama sekali tidak nyata. Nah konflik pertama muncul saat mulai tumbuh benih-benih cinta pada Silas. Pemuda, teman akrab yang kakak itu telah mencuri hatinya. Rasa tidak enak hati dan malu menyergapnya.

Awalnya rasa itu disembunyikannya. Silas sendiri juga cuek dan tetap cool seperti biasanya. Berjalannya waktu, sering berjalan bersama baik bertiga atau berdua ada getaran yang dirasa Silas. Dan dalam sebuah adegan seru yang memacu andrenalin, mereka menyatakan jadian. Tanpa setengetahuan Scarlett mereka jadi kekasih. “Cuma karena kau bersikap menyebalkan tidak berarti aku akan menelantarkanmu.”

Setelah merencana matang, mereka bertiga ke San Fransisco untuk menumpas fenris di kota tersebut. Dengan sebuah mobil Silas mereka berpetualang, pergi jauh meninggalkan kampung halaman tercinta Allison. Di sebuah apartemen reyot dan murah mereka lalu menyesuaikan diri. Scarlett menempa latihan, dan berburu adalah obsesi tiada henti. Aliran andrenalin yang sudah tidak asing bagiku kembali memenuhi diriku. Itu merupakan tanda cintaku pada kegiatan berburu, pada tujuan hidupku. Rosie diam-diam ikut kursus dengan keuangan seadanya dia nekad menyibukkan diri untuk hal remeh itu. aku tidak bodoh, aku pasti memilih tango daripada manusia serigala. Tapi aku tidak memiliki pilihan lain. Silas menyibukkan diri membantu. Aku pasti keliru. Aku tidak melihat hal yang kukira sudah aku lihat. Berhasilkah mereka menyelamatkan dunia? Bagaimana akhirnya hubungan cinta terlarang itu saat sang kakak tahu?

Well, bukunya tebal. Berat sekali menyelesaikan baca buku tebal yang membosankan. Saya butuh perjuangan ekstra. Ini adalah kisah fantasi remaja yang minim konflik. Minim kejutan. Dan mengalir lurus tanpa banyak kelokan berat. Dengan bertambahnya pengetahuan maka bertambah pula tanggung jawab kita. Scarlett merupakan karakter yang monoton. Di pikirannya hanya berburu dan beburu. Jadi wajar apa yang terjadi di akhir. Kalimat yang menohok itu sangat menyakitkan, “Bisakah kau melihatku sebagai seorang istri? Seorang ibu?” kalimat frustasi dan permohonan putus asa yang sedih tapi memang ada benarnya.

Ada kejutan kecil saat eksekusi ending. Jati diri Silas yang disembunyikan karena kita terus berfokus pada dua kakak-beradik ini membuat kita terkecoh pada misi yang sebenarnya. Karena pemburuan bukan sekedar membunuh fenris tapi ada sosok utama yang harus ditaklukan. Silas sendiri tak tahu, kita pun tak tahu. Karena ternyata ada pola waktu fenris mencapai puncak berbahaya, saat waktu menipis berhasilkah mereka menyadarinya?

Untuk sebuah buku terbitan Atria, ditemukan beberapa typo sungguh aneh. Atria, seperti yang sudah pernah saya singgung adalah penerbit fantasi favoritku. Semua buku yang diterbitkan selalu menarikku. Sekalipun kini beberapa mulai tak sesuai dengan harapan, mungkin lebih karena usia tapi tetap fantasi Atria adalah magnet. Sisters Red tetaplah buku young adult layak baca, temanya membunuh serigala sangat bagus dipikrkan. Karena saya adalah Elang maka membaca kata ‘bunuh serigala’ jadi begitu lebih menggigit. Tentu saja fantasi itu tak sampai ke Italia, tapi tetap senang rasanya ketika Scarlett memukulkan sebilah kapak pada pasukan serigala ibu kota. Ada rasa puas, ada rasa ceria. Ikut senang serigala mati. Semoga selamanya. #1900

Dan aku merasa kesepian dibanding sebelumnya.

Dua Saudari Bertudung Merah | by Jackson Pearce | copyright 2010 | diterjemahkan dari Sisters Red | terbitan Little, Brown and Company | Penerjemah Ferry Halim | Penyumting Ida Wadji | Pewajah sampul Aniza Pujiati & Hadi | Penerbit Atria | Cetakan I: Februari 2011 | ISBN 978-979-024-464-1 | Untuk saudariku | Skor: 3/5

Ruang HRGA NICI CIF, Karawang, 150617 – Sherina Munaf – Sebelum Selamanya

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#17 #Juni2017 #30HariMenulis #ReviewBuku

* diposting di masjid Al Muhajirin, Jababeka – Cikarang saat ngumpul konco di rumah Lelur