Lazio Bisa!

image

Lazio v Empoli
Lazio (3-5-2):
Strakosha;
Wallace, De Vrij, Radu;
Anderson, Parolo, SMS, Cataldi, Lulic
Keita, Immobile.

LBP
3-0
Saatnya kembali sikat poin penuh. Saatnya mengamuk. Saatnya tridente IKA beraksi.

Kak Arif: LAZIO V EMPOLI 2-0. IMMOBILE. LAZIO TENTU INGIN BANGKIT. REKOR PUN MEMIHAK KEPADA LAZIO. IMMOBILE KEMBALI MENCETAK GOL.

Bung Adit: Lazio vs Empoli : 2-1, Felipe.
Lazio menang. Empoli jalang. Pertandingan tidak tegang.

Bung Tak: Lazio vs empoli 1-0.
Felipe ngegolin. Bu Ani histeris. Sri Mulyani takjub. Dua Sni bahagia.

Bung Widy: Lazio 2-2 Empoli Felipe
Lazio abis tumbang. Sekarang ngarep menang. Tapi nyatanya seri yang didapat.

Bung Arifin: Lazio 1-1 Empoli Felipe
Lazio catak gol. Empoli cetak gol. Alhasil imbang.

Bung Panji: Lazio 1-2 Empoli, Felipe
Habis tumbang, tumbang lagi mental abis drop. Dua gol lawan dalam satu babak

Bli DC: Lazio 3-1 Empoli Immobile
Main kandang lagi. Lawan tim mudah lagi. 3 poin lagi.

Bung Deni: Lazio 3-1 Empoli, Felipe.
Lajio main di kandang. Lajio menyerang. Akhirnya lajio menang. Fans dan pelatih pun ikut senang 👍🏻

Bung Bob
Lazio 0-1 Empoli, Gilardino
Terlalu jumawa the Great kena batunya. tuan rumah gagal memetik poin. Sang tamu menjauhi zona merah.

Imunk
Lazio 1-0 empoli, immobille
Habis gelap terbitlah terang. Habis kalah terbitlah menang. Setelah kalah lawan merah hitam, giliran empoli yg diredam. Tapi gak iso akeh, mung cukup siji wae. Sing ngegolne mantan abang ireng soko milan.

Bung Huang
Lazio 2-0 Empoli, Lord Keita Balde
Analisis:
Banyaknya pemain cedera di tubuh Elang Ibukota menjadi wedhus ireng tatkala tumbang di kaki Milan pekan lalu. David de Marchetti, Pavel Basta, hingga Lionel Biglia, semuanya menepi karena cedera. Meski masih dijejali banyak pemain bintang lainnya, tetap saja Lazio akhirnya harus menyerah kalah.
Kala menggasak Pescara dengan skor 3-0 dua pekan sebelumnya, kita bisa mengharapkan kejadian yang kurang lebih sama akan kembali terulang sejak Empoli yang akan menjadi lawan tanding The Great kali ini bisa dibilang setali tiga uang keadannya. Cukup mengenaskan. Terlebih ketika harus menjalani partai away, Empoli adalah lumbung gol.
Dalam 9 pertemuan terakhir, Empoli tak sekalipun bisa menang. Jadi untuk Anda yang menjagokan tim tamu kali ini, sebaiknya segera merevisi jawaban karena hadiah pulsa akan menjauh dari jangkauan Anda.
Bagi Anda warga negara Api. Lazio layak untuk dibom. Jangan khawatir jika babak pertama berakhir 0-0. Itu biasa. Karena sejatinya hanya butuh 15 menit untuk meruntuhkan tembok Empoli.

Karawang, 250916

Mengukur Jalan, Mengulur Waktu – Yopi Setia Umbara

image

Tak banyak buku puisi di rak keluargaku. Puisi itu identik romantis, dan karena saya tidak romantis maka sejalan. Entah kenapa Lebaran lalu, dua dari delapan buku yang saya beli adalah buku puisi.
Kumpulan puisi ini terasa sederhana, sekali duduk sambil ngemil dan melahapnya selesai. Jumlah halaman lebih sederhana lagi, tak sampai seratus padahal ukuran buku hanya 13 x 19 cm yang artinya lebih lebar dikit dari buku saku. Beberapa puisi bahkan hanya sekalimat. Sederhana sekali. Dan membuatku terkejut buku seperti ini ternyata bisa dijual. Hooo…, dunia puisi memang aneh.
Kovernya bagus. Sangat bagus. Sebuah foto karya Dennis Nilsson berjudul ‘The main street of Oradour-sur Glane’. Berisi gambar jalan dengan sebelah kanan gedung tua yang runtuh, dua pria berjalan menjauh sebagian blur karena ada sebuah gerakan. Cover yang indah ini sayangnya tak disertai isi. Saya kurang bisa menikmati kata per kata yang disajikan. Entahlah. Sebagai pembuka berjudul ‘Pernyataan Cinta’ yang hanya satu kalimat ‘Aku menulis namamu berulangkali di air’. Biasa sekali kan? Walau maksudnya bercabang nan ambigu bagiku tetap biasa sekali.
Judul buku adalah salah satu judul puisi. Mungkin karena yang terbaik, atau karena unik saya ketik ulang deh.
Mengukur jalan mengulur waktu.
Denganmu mengukur jalan, diantara gedung-gedung besar di kota yang tercipta dari gairah.
Celah sempit dilalui banyak orang dan kendaraan semua bergerak beradu cepat entah ke mana.
Sepeti kita yang masih tak jelas, bergegas hendak pulang tak tahu ke mana.
Perjalanan hanya mengulur waktu, mencipta kesedihan demi kesedihan, sempurna sebagai insan ingatan.
Mungkin petualangan belum usai, namun di sepanjang jalan, aku mencium aroma kematian – 2008
Karena saya bingung mau cerita apa, saya nukilkan saja beberapa kalimat puisinya yang menurutku menarik.
Aku mencintaimu seperti mencintai kekasihku.
Di atas perahu bernama sajak, kita menuju sunyi sendiri-sendiri dan menabur air dari mata air tanah lahir.
Adalah hujan musim yang paling kutunggu, setiap kali datang melewati jalan-jalan, masuk ke dalam rumah sampai terus ke kamarku.
Hanya mengulang-ulang langkah, pada jalan yang telah jutaan kali kupijak itu. Ternyata tanpamu aku semakin tak tentu arah, hingga setiap pulangku tak lebih dari singgah
Perahu melayang bagai keranda yang diusung badai sungai juga diarak taburan air mata.
Jika kau tanya waktu padaku maka lihat saja secangkir kopi, mungkin dapat menterjemahkan perubahan arah angin. Juga pergantian lanskap ketika kau menikmati hidup. Dan membiarkan setiap tetes kopi merasuk ke dalam tubuh. Menelusuri lorong-lorong rapuh di mana riwayat bersemayam dan jadi denyut. Yang membuatku terjaga seperti jantung.
Kupungut satu daun paling regas, kusimpan dalam saku untuk kuberikan padamu. Sebagai bukti bahwa begitu panjang jalan yang harus kutempuh untuk sampai padamu, kekasihku.
Dari langit sajak-sajak turun, sebagai juru selamat bagi setiap kesunyian.
Bersyukur bagi siapa pun, yang masih mendapatkan cahaya jatuh tepat di kakinya.
Penyair Yopi Setia Umbara ini ternyata alumni Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Sejak kuliah sudah gemar berpuisi dan karyanya sudah beberapa kali masuk dalam antologi puisi. Ia adalah pendiri Jalan Teater dan buruan.co
Mengukur Jalan, Mengulur Waktu | oleh Yopi Setia Umbara | copyright 2015 | Design sampul Damar N Sosodoro | Design isi Mawaidi D. Mas | Cetakan pertama, Desember 2015 | vii + 61 hlm, 13 x 19 cm | ISBN 978-602-72761-6-1 | Penerbit Gambang Buku Budaya | web: penerbitgambang.com | Skor: 2/5
Ruang HR – NICI, Karawang, 210916 – Sherina Munaf – Singing Pixie

Antusiasme Vincenzo – Simone

image

image

image

image

Milan V Lazio

Lazio 3-4-1-2
Marchetti
Bastos-De vrij-Radu
Basta-Parolo-Cataldi-Lulic
Savic
Immobile-Keita

Kick off 21 September 2016 1:45 WIB
Berikut prediksi ga jelas warga FOC:

Bung Adit
Milan vs Lazio : 2-1, Bacca
Milan siap mengamuk. Lazio sedang berkecamuk. Pertandingan akan bikin ngantuk.

Pap Win
Milan 2-0 Niang
Milan dapat lawan latihan. Dona baru ngambil E-KTP. AKI encok.

Lik Jie‬
Milan 0-1 Lazio Ciro
Milan masih angin-angin. Lazio baru ketiban durian. Sepertinya begitu saja.

Bung Panji
Milan vs Lazio : 2-0, Bacca
Pertandingan yang ga mudah. Tapi Milan berhasil memanfaatkan keadaan di menit-menit krusial. Lazio susah bangkit dan berkutik

Joko G
Milan 4-1 Lajio, Bacca
Yang namanya latihan harus dengan skor gedhe. Ga boleh kecil. Akhirnya Milan nyate emprit.

Gangan‬
Milan 2-2 Lazio. Immobile.
Trio ya IKA. Belanja ya di IKEA. Hidup aa Gatot.

Bung Deni
Milan 2-1 Lazio Gianluca Lapadula
Milan sedang on fire. Laajio sedikit bertahan. Duel sengit bakal terjadi. Namun akhirnya Milan bisa menang tipis 2-1.

Bung Widy
Milan 2-2 Lazio, Felipe
Dua tim habis sama-sama menang. Semua berharap kemenangan. Ternyata keduanya bermain imbang.

Bung Arief
Milan 1-0 Lazio, Bacca.
Milan dan Lazio ingin melanjutkan tren kemenangan. Bacca lagi onfire. Milan menang tipis.

Bung Sapin
Milan 3-1 Lazio. Bacca.
ABK kapal sedang onfire. Apalah arti barisan pertahanan emprit dihadapan Bacca. Il Diavolo Rosso siap mengoyak jantung emprit.

Bli DC
Milan 2-0 Lazio, Bacca
Kedua tim meraih 3 poin di laga terakhir. Main di kandang jadi nilai lebih setan merah italia kali ini. Dan 3 poin rasanya pantas kembali dibungkus tuan rumah.

Bung Imoenk: Ok fix.
Blog pak manpres ane bookmark. Blog yang keren.
Milan 3-0 Lazio, Bacca
Kita lihat, bisakah tridente maut serie A menjebol gawang anak SMA. Donna-who kemaren ga ikut latihan, juga Calabria dan Locatelli karena bikin E-ktp. Maklum lagi mereka baru lulus SMA gitu. Kan ga enak main di serie A menghadapi tridente maut cuma bawa kartu pelajar.
Catet!

Zulk‬
Milan 1-3 Lazio, Felipe
Bismillahirahmanirahim. Dengan tekad man jadda wajadda, Lazio akan memenangkan pertandingan ini. Insya Allah

Bob Marlan
Milan 1-1 Lazio, Bacca
Dua tim yang lagi meraih kemenangan di giornata sebelumnya. Pertandingan berjalan sengit. Score seri sepertinya cukup adil.

Bung Huang
Milan 1-1 Lazio, Djorjevic
Analisis: Ternyata dengan deretan pemain kelas bintang, Lazio termasuk lawan yang menyulitkan untuk Milan. Musim lalu Elang keturunan emprit ini bahkan sanggup mengandaskan Milan di San Siro meski hanya di ajang copa. Namun karena kedua tim saat ini sedang berapi-api, menggadaikan motor untuk bertaruh penuh pada tim ibukota adalah pilihan yang bijak. Saya yakin satu motor baru akan segera Anda dapatkan. Sstt…, ada desas-desus aneh menjelang pertandingan ini. Ternyata ada seorang Laziale sekaligus Sherinator yang takut ngedengerin lagunya Chrisye. Aneh kan? Apakah ini sebuah pertanda? 🤔

Agus Lelur
Milan 0 – 1 Lazio,  Felipe Bale‬
Atas berkat rahmat tuhan yang maha kuasa, Lazio berhasil keluar dari tekanan Milan di awal pertandingan. Dengan kerja keras dan sedikit keberuntungan Lazio berhasil melesakan gol. Meski kembali tertekan takdir membawa Lazio pada kemenangan.

Andy
Milan 3-1 Lazio, Bacca
Bermain di kandang akan membuat Milan jadi semangat, walaupun Lazio sedang dalam performa bagus, Milan akan tetap memenangkan pertandingan ini.

Takdir
Milan vs Lazio. 0-1
Lazio menang sebab sherina nyanyi lagu kidung Chrisye. Trio Lazio al dente mamma mia lezatos. Sesungguhnya saya ga tau nulis apa ini.

LBP
Milan 0-3 Lazio
Tridente IKA siap memecahkan rekor 27 tahun. Immobile dapat jatah satu gol. Keita dapat jatah satu gol. Anderson dapat jatah assist untuk gol Filip ‘World Class Striker’ Djordjevic! All hail the Lord..

Karawang, 200916

Review: Lazio v Pescara – All Hail Balde!

image

image

image

image

Tajuk utama laga pekan keempat ketika menjamu Pescara adalah menyambut pulang sang legenda besar Massimo Oddo. Mantan kapten Lazio di era Italia juara dunia 2006 ini sukses membawa Si Lumba-lumba promosi ke Serie A. Applause dan teriakkan penyemangat bukan hanya untuk pasukan Elang Biru. Satu lagi fakta yang luput dari pandangan saya adalah Luciano Zauri. Semalam kaget juga ada mantan yang lain duduk di bangku cadangan saat Oddo kasih instruksi. Zauri legenda Lazio yang berduet dengan Oddo itu kini ternyata jadi asistennya. Keren! Tahu gitu judul prediksi kemarin ‘Welcome Home Massiomo and Luciano’. Pantas Pescara mempunyai pertahanan bagus lha yang menukangi adalah duet bek Lazio the Great.

Simone Inzaghi tak belajar dengan benar dari kekalahan Jupe dan 1 poin Chievo dengan tetap memasang Lulic. Bonusnya kini malah memberi duet Ciro dengan Djordjevic sang Cobra. Pasca cidera Januari 2015, Filip tak kunjung menemukan sentuhan mautnya. Kali ini strategi Simone memakai 3-5-2. Dengan Frederico Machetti mengawal gawang. Tiga bek dipercayakan kepada Stefan De Vrij sebagai central bek. Kanan ada Bastos dan sang senior Radu di kiri. Percobaan yang berani dengan tiga bek. Mungkin dipikiran Simone toh lawannya hanya Pescara, mulai berani berkreasi. Posisi gemuk di tengah dengan lima bintang. Sisi kanan udah paten kepada Felipe Bale Anderson. Parolo dan Savic di gelandang tengah dengan pengatur serangan diberikan kepada Danilo Cataldi. Senad Lulic mengisi kiri, dan ini adalah kejutan bahwa Senad masih starter. Leitner dan Luis Alberto ada dalam skuat, kenapa ga dicoba? Kali ini kaptennya adalah Radu karena Lucas Biglia cidera sehari sebelum laga. Ricardo Kishna lagi-lagi bermasalah di lututnya. Di posisi penyerang, Ciro Immobile tentu saja tak terganti. Bonus world class striker Filip Djordjevic. Mencoba lebih ofensif.

LIRK (Lazio Indonesia Region Karawang) mengadakan nonton bareng di rumah Setiadi. Awalnya coba booking tempat, eh pengelolanya minta minimal 50 penonton. Ide bodoh! Bisa ngumpul 5 orang saja syukur. Seharusnya saya hadir di nobar itu, sayang sekali terjadi miss. HP SONY SHERINA ku njebluk, ga ada pesan masuk sehingga 10 menit sebelum kick off memaksaku ke warnet lagi. Warnet depan rumah. Pas pertandingan mulai, koneksi ke Olimpico tersambung.

Babak I
Malam ini kita mengenakan kostum utama biru, tentu saja. Sementara lawan mengenakan kostum kuning, mirip keledai terbang? Tiga menit berjalan, Bastos melakukan backpass ke Machetti, sang kiper bukannya menyapu bola malah dikembalikan. Dalam tekanan, bola nyaris jadi tendangan pojok. Untung tepat ketika ruang sapu Bastos ditutup, bola langsung dibuang. Menit lima Lazio sudah menggetarkan jala, umpan free kick Cataldi berhasil disundul Ciro. Sayang terjebak offside. Tiga menit berselang, offside lagi. Kali ini Djordje yang terjebak setelah mendapat terobosan manis. Berikutnya free kick Danilo dari sisi kiri, sayang meluncur terlalu deras sehingga Lulic gagal menjangkau bola. Sepanjang laga Danilo memegang tugas Lucas. Tendangan bola mati berawal darinya. Menit 11 Savic memberi umpan bagus kepada Felipe, lalu coba diumpan lagi ke Djordje sayang tendangannya lemah.
Menit 16 kartu kuning pertama didapat lawan. Djordje ditekel keras Hugo Campagnaro. Menit ke 20 Il Delfini mendapat peluang pertamanya setelah dikurung. Tendangan bebas itu dengan mudah ditangkap sang kiper. Semenit berselang Bastos melakukan pelanggaran yang sederhana dekat garis, ah cuma disentuh gitu jatuh. Pescara mulai membuka serangan dengan memberi tekanan, membuat pertahanan mulai terbuka. Menit 26 adalah momen paling bagus. setelah sweeping move Bastos, bola dalam kontrol Ciro dari sudut kiri berhasil melakukan shoot, mental tiang! Bola muntah ada dalam posisi Parolo yang berdiri bebas tepat di depan Bizzani. Sayang seribu sayang, bola 99% gol itu ga menemui sasaran. Marco menyundul terlalu semangat sehingga melayang tinggi. Komentator sampai histeris teriak. ‘golden chance’! Menit 28 Valerio Verre kena kartu kuning. Wah mulai main keras nih. Dasar mantan Rombeng.

Apa yang ditakutkan terjadi. Pescara berpeluang unggul ketika menit memasuki 34. Gianluca Capriari ditekel Bastos dalam kotak. Si keling terlambat melakukan tekel sehingga kedua kaki pemain berciuman. Ah lagi-lagi ek-Rombeng yang berulah. Maresca langsung tunjuk si putih. Sempat melakukan protes, Bastos malah mandapatkan kuning. Tiga pemain the Great Stefan, Radu dan Cataldi mengerumuni, tapi apalah tendangan tetap akan dilakukan. Dengan jantung dag-dig-dug menyaksikan Memushaj mengambil ancang-ancang dan…. gagal! Tendangan pemain Albania, Ledian Memushaj menyamping ke kanan, tentu saja disambut gegap gempita Laziale. Bahkan Machetti bersorak loncat-loncat walau kegagalan penalti bukan karena andilnya.
Setelah pinalti buruk ada water break. Kamera menyorot Olimpico. Kok sepi? Kemana perginya Ultras Curva Nord?

Menit 38 Felipe kasih umpan matang kepada Ciro, sayang sekali shootnya lemah sehingga dengan mudah dalam pelukan Bizzari. Menit 42 lovely ball to Felipe, diotak-atik Danilo maju dan mendapat umpan. Lha ia melakukan umpan yang aneh, umpan lambungnya bahkan melayang keluar lapangan, terlampau jauh. Semenit kemudian, Felipe mendapat peluang. Shoot mendatarnya berhasil dihalau, bola jatuh ke Savic setelah digocek diberikan ke Radu di kiri. Sang Kapten melakukan tendangan spekulasi jarak jauh melengkung drop shoot yang ternyata tepat di gawang, Bizzari lagi-lagi melakukan penyelamatan. Bola kembali diberikan kepada Felipe, dan sang Brazilian melakukan nutmeg sebelum bola jadi assist. Sayang sekali kemelut itu tak menghasilkan gol. Peluit setengah babak terdengar.

Banyak peluang sia-sia. Bazzari sementara jadi antagonis dengan banyak sekali melakukan penyelamatan. Mantan kiper Chievo ternyata, pantas susah dijebol. Skor 0-0 tak mencerminkan pertandingan yang seru. Jual-beli serangan terjadi. Emosi meluap. Babak ini kita tahu, memberi kesempatan kepada si Cobra itu hampa. Nyaris tak memberi andil. Salah posisi, berlari entah ke mana.  Ada apa denganmu Filip?

Babak II
Oddo lengsung melakukan pergantian Ahmed Benali diganti Manaj. Semetara Dusan Basta tampak berlari-lari kecil sejak babak satu sampai babak dua dimulai belum diturunkan juga. Persaingan bek makin ketat karena memang sedang on fire semua. Baru berjalan 3 menit, sang kapten kena kartu kuning setelah melakukan pelanggaran ga perlu. Yah, sekali lagi pertandingan Lazio tak lengkap tanpa kartu kuning Radu.

Mungkin ini kesalahan Oddo, menit 49 menarik bek Gyomber yang bermain bagus diganti Fornasier. Atau Massimo sengaja? Menit 50 peluang hadir. Via tendangan bebas Cataldi, Stefan mendapat bola lambung yang enak. Sayang sekali sundulannya melambung. Tiga menit berselang giliran Lulic yang coba menerobos pertahanan lawan, terjatuh. Sayang Lulic bukan Keita, cara jatuhnya buruk. Menit 56 Djordje mendapat peluang bersih pertamanya. Sebuah umpan terobosan yahud melewati bek Pescara, Cobra hanya mengontrol sekali sentuh sebelum akhirnya berhadapan langsung dengan Bizzari dan… gagal. Duh! Filip.

Jelang sejam berjalan, Bastos bermain sendiri di daerah pertahanan. Kontrol bola sempat terlepas, untungnya masih aman. Hufh… lalu yang paling ditunggu tiba. Keita masuk! Tridente maut Serie A: IKA – Immobile Keita Anderson akhirnya bersatu. Djordje yang tambil buruk diganti. Aura Keita memang luar biasa. Persis seperti pekan lalu, dia memberi suntikan semangat. Karena sesaat setelahnya dalam sebuah tendangan pojok Cataldi, bola lambung itu terlepas dari tangkapan kiper. Bola mengarah ke Ciro yang langsung menendang kencang. Sekali lagi kena blok. Pertahanan musuh berlapis euy.
Dengan kondisi seperti ini, Lazio butuh pemecah kebuntuan. Segala daya dan upaya dikerahkan. Menit 66 doa terkabul. Pematah deadlock itu adalah Milinkovic-Savic. Sebuah umpan lambung dari kanan oleh Felipe berhasil diarahkan jauh dari jangkauan Albano Bizzani, pelakunya Savic the soldier. Gooool 1-0. Milinkovic menanduk dengan gaya. Sundulan istimewa. Selebrasi tak kalah heboh. Savic berlari ke pinggir lapangan namun belum sampai garis sudah dikerumuni. Kepalanya dikeplak ramai-ramai hingga ia terjungkal. Haha, love you dah Vic! Sementara sang kiper selebrasi salto lalu mengepalkan tangan.

Tak butuh waktu lama. Belum sempat menata ulang pertahanan, Pescara diganjar gol lagi menit 72. Kali ini giliran sang kapten Radu. Tendangan pojok Cataldi sukses dikonversi skor setelah bolanya jauh dari jangkauan. Gol indah. Ternyata kelemahan Bizzari adalah bola atas, pantas bola datar kena terus.
Setelah gol, Lazio mencoba bernafas lega dengan memperkuat pertahanan. Basta masuk, playmaker Felipe keluar. Gol ketiga tercipta dengan pola yang sangat bagus. Semenit Basta masuk, Keita menggiling bola dari tengah lapangan. Melewati bek-bek Pescara yang sudah loyo, melewatinya bak seorang Messi. Kotak-katik, lari menyamping ke kanan. Solo run keren melewati Gaston Brugman dan Hugo Campagnaro. Konsentrasi terpusat padanya hingga mereka lupa Ciro sudah membuka ruang dan berdiri bebas depan gawang. Kali ini si keling tak kemaruk, umpan datar itu berbuah gol menaklukkan Bizzari yang tak bisa berbuat banyak. Immobile tak melakukan selebrasi, hanya mengangkat kedua tangan tanda minta maaf. Ciro adalah legenda Pescara, menemukan titik tajam di sana. Menjadi top skorer di sana. Menjadi pemain timnas dimulai dari sana. Walau hanya semusim 2011/2012 di sana ia mencetak 28 gol dalam 36 penampilan. Salute. Respect.

Setelah tiga gol seakan Pescara sudah melemas semua. Radu dan Basta sampai ikut menyerang, blusukan sampai depan. Satu pergantian sempat berharap pengen lihat Leitner atau Luis. Namun Simone punya kejutan. Pemain tengah Primavera Allesandro ‘the wonder boy’ Murgia masuk! Wow ini adalah debut sang pemain. 10 menit tersisa mengganti Savic. Sergej mendapat appalus meriah dari penonton sebagai ucapan terima kasih. Deg-degan juga melihat aksi perdananya. Peluang bersih langsung di dapat 3 menit berselang. Keita mengirim umpan kepadanya di dalam kotak. Sayang dia grogi sehingga kontrolnya terlepas. Tenang Murgia, tenang. Semenit kemudian Keita mendapat peluang bagus pertamanya. Umpan lambung yang nyaman itu disundul dan kena mistar! Bola muntah tak bisa diapa-apakan karena ternyata offiside. 5 menit di tambahan waktu tak mencatat sesuatu yang istimewa kecuali peluang akhir Parolo yang gagal dikonversi gol. Ketika peluit akhir akhirnya berbunyi menghasilkan skor 3-0, Oddo dapat tepuk tangan meriah. Pelukan hangat Simone sebagai co-patriot semasa bermain. Skor bisa saja 10-0, 11-0 atau mungkin 11-1 tapi angka 3-0 tak terlalu buruk mengingat yang di bawah mistar adalah eks kiper Chievo dengan dua eks Roma Verre-Capriari yang bermain ngotot. Dan lawan kita dilatih oleh seorang bek handal sehingga menerapkan pertahanan berlapis-lapis. Keren Oddo, sempat membuat kita frustasi.

3 poin yang pantas. Ini adalah momen pertama clinsit musim ini. Terlihat Cataldi dan Immbole mendatangi tribun penonton dengan membagikan celana! Karena membagikan jersey terlalu biasa. Haha.. edun.

Opta mencatat Lazio the Great mencetak 11 shoot on target. Yang tertinggi di Serie A sejauh ini. Opta juga mencatat Lazio memiliki tujuh pemain pencetak gol berbeda sejauh ini yang terbanyak di Serie A. Situs whoscore memberi nilai yang sangat tinggi untuk Felipe Bale Anderson yaitu 9. Dalam tim minggu ini kita hanya kalah menyumbang pemain dari Sassuolo yang mewakilkan 4 pemain, mereka tambil trengginas. Dua pemain lainnya Senad Lulic 8.21 dan sang kapten Stefan Radu 8.24.

Yang hebat tentu saja Keita Balde. Lawan Chievo menjadi pemain pengganti hanya bermain 38 menit mendapat 2 shot 3 peluang dan mencipta 1 assist penting. Semalam hanya 35 menit, 3 dribbling dengan 1 solo run keren sekali yang membuahkan gol Ciro dan 1 peluang. Laga berikutnya harus starter ini. Bayangkan, 30 menit saja merubah banyak hal. Bagaimana kalau 90 menit penuh tridente IKA dimainkan. Porak poranda semua pertahanan lawan. Waspada saja Milan, waspada saja.

Menurut saya man of the match adalah Danilo Cataldi. Perannya vital, mainnya mirip Xabi Alonso. Di belakang striker sekaligus menjadi penjaga garis pertama pertahanan. Mengambil tendangan bola mati, menggantikan peran Biglia. Sekarang kita tahu, Biglia punya pelapis sebanding. Dan luar biasanya sangat konsisten sepanjang laga. Lulic dan Anderson babak pertama lemah, baru separo babak mereka mencuat. Danilo dominan, bagus dalam bertahan sangat keren dalam menyusun serangan. Melakukan 89 sentuhan bola. Bukti betapa vital permainannya malam ini.

Strategi 3-5-2 atau kadang transformasi 3-5-1-1 terbukti ampuh. Formasi ini memang sudah beberapa kali diuji dan layak dipertahankan, terutama setelah kita menemukan berlian bernama Bastos. Pertahanan jadi titik nyaman untuk dipuji. Kalau 3-4-3 atau 4-3-3 peran Ravel Morison masih bisa diselipkan, namun kini keputusannya pergi walau berat kurasa tepat. 3-5-2 kalau bisa kasih kesempatan turun Christiano Lombardi. PR besar ada di pendamping Ciro. Januari harus cari penyerang bagus. Djordje terbukti seorang striker kelas Serie B, bolehlah dipinjamkan ke Salernitana. Sementara bisa saja dicoba Savic menjadi pendamping Ciro, lihat ia sangat bagus dalam bola atas.

Pertandingan ini juga mencatat debut Murgia yang biasa. Sama seperti awal-awal permainan Cataldi yang grogi yang masih salah umpan, salah passing dan gagal kontrol bola. Sama seperti debut Christopher James ‘Chris’ Oikonomidis yang masih gugup di pentas sesungguhnya. Seperti Cataldi yang kini menjelma menjadi pemain berkelas, semoga Murgia terus diberi kesempatan. Moga tak bernasib seperti Zampa yang hilang entah kemana. Satu lagi catatan penting adalah Djordjevic yang entah bagaimana lagi. World class striker ini benar-benar tak kasih andil. Kesempatan berlimpah itu harusnya kau buktikan. Bagaimana lagi cara kita mau menyelamatkan karirmu Cobra? Sampai-sampai muncul goyunan, Lazio indah tanpa Djordjevic.

Pasca laga sang presiden Claudio Lotito berujar: oggi vittoria straordinaria, partita giocata con intelligenza. Inzaghi un condottiero. Okelah, Lot kamu ga usah banyak omong. Hanya satu cara untuk menjadikanmu bagus di mata kami. Scudetto. Kalau permainan bisa konsisten. Kalau pertahanan kuat terutama Bastos dan Stefan tak cidera di tengah perjalanan musim ini. Kalau striker tetap tajam, kasih suplai yang melimpah pada Ciro. Rasanya scudetto sangat bisa dijangkau. Apalagi semalam Jupe haha, Roma hihi.

Pertandingan berikutnya kita bertandang ke Milan. Akan jadi pertandingan saru tentunya. Sejarah mencatat kita tak pernah menang ke sana dalam tajuk Serie A. Terakhir menang adalah tahun 1989 alias 27 tahun lalu. Pertandingan tengah pekan ini kemungkinan masih tanpa sang kapten Biglia. Dont worry, Danilo siap! Well, tridente IKA datang untuk memecahkan rekor itu.

Lazio: 3-5-2
Marchetti; Radu, Bastos, Stefan de Vrij; Parolo, Felipe Anderson (Basta’73), Lulic, Milinkovic-Savic (Murgia’81), Cataldi; Immobile, Djordjevic, (Keita’60).
Pelatih: Simone Inzaghi
Pescara: 4-5-1
Bizzari; Gyomber (Fornasier’49), Zampano, Campagnaro, Biraghi; Ahmed Benali (Manaj’46), Verre, Brugman, Cristante (Mitrita’73), Memushaj; Caprari.
Pelatih: Massimo Oddo

#ForzaLazio! #AvantiLazio
Karawang, 190916 – Sheila on 7 – album 507

Welcome Home Oddo

image

image

image

Lazio v Pescara
Perkiraan formasi:
3-5-2
Marchetti
Bastos-dE vrij-Radu
Felipe Bale Anderson-Parolo-Cataldi-Savic-Lulic
Immobile-Djorjevic

Kick off 17 September 2016 jam 23:00 WIB

Berikut tebak skor FOCCER:
1. Arief
Lazio v Pescara 2-0. IMMOBILE.
Oddo akan bereuni dengan publik Olimpico. Setelah tertahan oleh Chievo pekan lalu, Lazio tentu ingin bangkit. Immobile kembali menjadi pahlawan.

2. Huang
SS Lazio 3-1 Delfino Pescara Felipe Bale
Raihan 1 poin di Bentegodi artinya adalah sebuah kemajuan. The Great beruntung memiliki barisan pemain-pemain kelas dunia. Yang cukup disayangkan adalah musuhnya kali ini terlalu lemah, sehingga kualitas sebenarnya dari Il Grande Lazio tidak dapat diukur.

3. DC
Lazio 1-0 Pescara , Felipe
Kemenangan 1 gol saja menunjukkan kualitas ke 2 tim yang lumayan setara hihihi.
Mahap yaa pakpres. Tapi 3 poin udah okelah. Bet ga yaa?!

4. Imoenk
Lazio 2-1 pescara, Immobille
Satu point di Marc Antonio Bentegodi kuncinya. Ya, setelah lawatan ke kandang keledai, meskipun hanya menahan keledai agar tidak terbang, cukup krusial untuk menaikkan mental tim terbaik dunia pak manpres. Rasanya menjamu Pescara bukan sesuatu yg sulit bagi Lazio. Immobille yang semakin mobile, jadi MotM pada pertandingan nanti. Super sekali.

5. Widy
Lazio 1-1 Pescara , Felipe
Maen home vs tim bernama Pescara. Poin penuh harapan didulang Lazio. Ternyata hanya poin seri berbagi buat keduanya.

6. AW
Lazio 1-2 Pescara, Caprari
Lazio punya mantan pemain namanya Oddo. Pelatih Pescara namanya Oddo. Lazio akan dibungkam oleh Oddo.

7. Tez
Lazio 0-1 Pescara. Caprari.
Lazio menemukan kembali jalur kekalahan. Kelelahan dijadikan kambing hitam. Padahal juga 1-1 sama chievo.

8. Hit and Run
Lazio 4-1 Pescara, felipe “bolanya (bal é )” Anderson
Lazio punya mantan pemain namanya Oddo. Pelatih Pescara namanya Oddo. Lazio akan dimenangkan oleh Oddo.

9. Panji
Lazio 1-1 Pescara gol: Immobile. Main di kandang sendiri,  Lazio tetap sulit memaksimalkan keadaan. Pescara bukan lawan sembarangan. Kedua tim gak boleh lengah setelah unggul.

10. Deni
Lajio 3-1 Pescara. Immobile.
Lajio main dikandang. Laajio main full menyerang. Peescara main bertahan. Pescara tertekan. Akhirnya Lajio yang menang. Pelatih dan fans Lajio pun ikut senang👍🏻

11. LBP
3-0
Di sini Oddo. Di sana Oddo. Di mana mana Massimo Oddo. Welcome home mister Oddo.

Karawang, 170916

Sully: A Real Hero

image

Sully: Everything is unprecedented until it happens for the first time.

Apa yang dipermasalahkan dari sebuah kisah pendaratan darurat pesawat terbang di sebuah sungai dengan sukses, tak ada satupun penumpang meninggal? Harusnya tak ada. Apa yang bisa diharapkan dari kisah suami yang baik hati dan disambut gegap gempita bak seorang pahlawan dengan konflik sederhana? Harusnya memang tak ada. Saya seperti menonton film dokumenter, bukan film dengan script menawan. Saya beritahu sedari awal, film ini ceritanya tidak menggigit sama sekali. Datar.

Sebelum memutuskan menonton ini film, saya hanya tahu bahwa sutradaranya Clint Eastwood. Bintangnya Tom Hanks dengan poster pesawat terbang yang terapung di sebuah sungai dengan kedua sayap penuh penumpang. That’s it. Ketika nonton mendapat bonus Aaron Eckhart dan sebuah visual jernih bak sebuah lukisan indah yang nyata.

Keputusan menontonnya lebih dilematis. Ketika laga Derby Manchester berlangsung, bukti saya hora minat ‘duel besar’ EPL malam Minggu di prime time itu. Dan bersamaan dengan sekeluarga, ibu, May, Hermione, kedua adik nonton Warkop DKI Reborn. Yeah, bakaaaaar! Jauh hari saya sudah komit ga minat. Sekalipun kini hype nya sedang tinggi. Bioskop CGV Festive Karawang penuh sesak penonton dan layar dikuasai itu film, saya bergeming. Ketika masuk studio, sendirian. Diapit pasangan-pasangan yang menghabiskan liburan akhir pekan. Siapa peduli?

Berdasarkan kisah nyata pendaratan darurat pesawat US Airway Flight 1549 (AWE 1549) di sungai Hudson pada tanggal 15 Januari 2009. Dunia tahunya kejadian itu bertajuk ‘Miracle on the Hudson’. Dari buku biografi berjudul Highest Duty oleh Chesley Sullenberger dan Jeffrey Zaslow. Kisah dibuka dengan sebuah keputusan berat sang kapten pilot Chesley ‘Sully’ Sullenberger (Tom Hanks) dan co-pilot Jeff Skiles (Aaron Eckhart) yang menahkodahi 155 penumpang. Pesawat penerbangan lokal yang baru terbang dari bandara LaGuardia selama 3 menit itu mengalami kerusakan. Beberapa burung masuk ke mesin dan mengakibatkan kedua mesin bermasalah. Menghubungi pusat untuk meminta izin kembali mendarat. Izin untuk kembali sudah didapat, silakan kembali ke LaGuardia atau ke bandara sebelah Teterboro. Selama keadaan darurat itu co-pilot Jeff diminta membuka the Quick Reference Handbook (QRH) untuk panduan. Namun sepertinya untuk ke bandara sulit, dengan pertimbangan waktu dan analisis keselamatan, akhirnya pengalamanlah yang berbicara sehingga sang kapten memutuskan mendaratkannya di sungai Hudson. Pendaratan itu sukses di mata masyarakat karena tak ada korban jiwa. Sukses secara umum, sukses di mata awam. Tv-tv berita memuatnya. Mengelu-elukannya. Di tengah banyaknya bencana terjadi, pendaratan mulus ini tentu saja harus dapat kredit dan pujian. Tagline film ini adalah ‘the untold story behind the miracle on the Hudson’, bukti ada sesuatu diceritakan di balik itu. Nah penonton diajak Tom untuk mendalaminya.

Kapten Sully dan Jeff disidang dalam sebuah ruangan. Ternyata bukan pujian atau ucapan selamat yang didapat. Pihak National Transportation Safety Board (NTSB) seolah seperti memberitahu bahwa kedua mesin tak serusak yang dikira Sully. Apakah Sully sedang memakai narkoba? Apakah ia sedang mabuk? Ada masalah keluarga akhir-akhir ini? Melalui tes mekanik para ahli, rekaman kotak hitam, dan investigasi lebih lanjut seharusnya pesawat masih bisa mendarat di landasan. Nah poin utama film adalah ini. Apakah keputusannya mendaratkan di sungai tepat ataukan karena human error?

Sepanjang film kita akan diajak menyelami pikiran Sully. Telepon istrinya Lorraine Sullenberger (Laura Linney) untuk tenang dan bilang kepada anak-anak untuk tidak khawatir. Kapan pulang? Kapan bertemu. Sully selalu bilang bahwa dia baik-baik saja, nyatanya dirinya mengalami dilema. Jangan berharap kalian akan melihat Sully bertatap langsung dengan sang istri. Karena ternyata sampai film kelar hal itu tak terjadi. Percakapan hanya lewat HP. Ada masalah apa? Ada adegan mengganggu selama telpon-telponan. Istrinya bilang, “Couldn’t you’ve done anything more dangerous?” Oh come on… di tv bilang semua penumpang selamat dan apa yang lebih dikhawatirkan?

Menginap di hotel, melakukan jogging untuk menyegarkan pikiran. Lalu adegan ditarik jauh ke belakang di masa remaja Sully. Bagaimana cita-citanya sebagai penerbang terwujud. Lalu masa dewasa yang pernah sukses mendaratkan pesawat yang bermasalah mesinnya. Bukti bahwa ia seorang pilot hebat. Bukti pengalaman sangat penting untuk mengambil keputusan. Saya sempat berharap masa lalu beliau akan dikupas, layaknya film-film Eastwood lain yang lebih mendalam. Oh tak terkabul. Durasinya hanya 95 menit. Masa lalu itu hanya sekelebat, tak mendetail, sekedar lewat. Sayang sekali.
Semakin mendekati akhir menuju hari H persidangan, semakin kabur dan menyiutkan nyali. Jangan-jangan dugaan NTSB benar, bahwa Sully pikun nih. Karena ancaman dia dipecat tanpa pesangon, tanpa uang pensiun. Istrinya khawatir. Penonton yang sedari awal santai mulai was-was. Jadi apa yang diputuskan dari Hearing Room itu?

Fisrt thing first story. Ulasan, review atau apalah itu yang utama jelas adalah cerita. Sayang sekali Sully gagal memenuhi harap. Di Amerika, mungkin kisah ini sudah pada tahu akhirnya. Pahlawan lokal. Namun bagi kita pendaratan itu paling hanya sekelebat lewat berita dan dilupakan atau malah tak tahu sama sekali. Saya sendiri tak tahu detailnya. Film ini cocoknya dijadikan film dokumenter dengan komentar para penumpang yang selamat, keluarga yang memujinya. Jadi saat 155 penumpang aman, apa yang dipermasalahkan? Safety first, kata departemen safety, dan sudah sesuai prosedur, jadi mengapa diperdebatkan?

Keunggulan film ini hanya di sektor gambar yang jernih. Sangat jernih, karena kamera yang dipakai memang kamera new ALEXA IMAX 65 mm. Seperti potongan gambar-gambar kartu pos yang menawan. Adegan pesawat saat sekawanan burung masuk mesin ditampilkan bagus, kepanikan penumpang ikut terguncang mengajak penonton terbawa panik. Yang istimewa tentu saja saat akhirnya pesawat menyentuh air, goncangannya dan akhirnya air masuk ke kabin. Penumpang ketakutan, dan emergency action yang natural dari para pemeran. Proses evakuasi digambarkan dengan megah. Pasukan penyelamat juga ditampilkan rapi, sangat rapi malah. Tapi pujian visual itu tentu saja tak cukup.

Lagu A Real Hero juga berkumandang di film ini. Lagu gubahan Frech dan Electric Youth ini pertama rilis tahun 2010 terinspirasi dari peristiwa di sungai Hudson dan omongan kakek personil Electric Youth, Austin Garrick. Reff-nya berbunyi ‘a real human being and a real hero’. Pertama kali mendengarnya di film Drive yang sangar itu. Hello Ryan Gosling! Ternyata juga pernah dipakai untuk film Taken 2. Kalau kalian jeli, ketika film baru berjalan beberapa menit ketika memasuki adegan kota New York kalian akan menemukan sebuah taksi dengan iklan film The Revenant. Padahal setting film ini tahun 2009 dan Revenant rilis tahun lalu.

Saya bisa pastikan film ini tak akan berbicara banyak di Oscar. Tom untuk Oscar ketiga setelah Philadelpia dan Forrest Gump? Nooo… musim penghargaan masih lama dan berjalannya waktu aktingnya akan tergencet aktor lain. Sektor best actor adalah yang paling ketat. Tahun lalu di Bridge of Spies yang keren saja tak dilirik apalagi ini. Dibanding Captain Phillips kualitas film ini jauh. Padahal secara garis sama, sebagai kapten dalam perjalanan yang berakhir bencana. Namun ketegangan Phillips terjaga hingga saya tasbihkan sebagai salah satu film terbaik 2013. Tom Hanks dengan rambut beruban dan Aaron Eckhart mengenakan kumis tebal?

Film ini mengingatkanku pada film Flight yang rilis tahun 2012 yang dibintangi Denzel Washinton. Namun kisah di sana lebih mendebarkan, lebih berbobot, lebih mencekam. Sully? Ah sulit memang merumuskan kisah nyata yang manis menjadi script istimewa.

Oscar di sektor naskah rasanya mustahil. Pun di bagian sutradara juga tak mungkin. Dibanding CV Eastwood yang panjang dan mewah dari Mystic River, Letters From Iwo Jiwa, Million Dollar Baby, The Unforgiven sampai Gran Torino, rasanya Sully jauh dari kata mumpuni.

Pesanku sih, kalau mau nonton film ini jangan berekspektasi tinggi, takut jatuh layaknya pesawat 1549. Sayang sekali kolaborasi perdana sutradara kawakan Clint Eastwood dan aktor besar Tom Hanks berakhir seperti ini. Sayang sekali…

Sully | Year 2016 | Directed by Clint Eastwood | Screenplay Todd Komarnicki | Cast Tom Hanks, Aaron Eckhart, Valerie Mahaffey, Laura Linney | Skor: 3/5
Karawang, 140916 – Gorillaz – Clint Eastwood

1 Poin Penting Dari Kunjungan Ke Kota Verona

image

image

image

image

Beberapa hari sebelum laga, Ciro Immobile berujar kepada media, “In him, we have a beautiful attacker and we can do well.” Komentar itu buntut dari masalah yang mendera Keita Balde yang ngambek hingga beradu argumen dengan Simone Inzaghi yang mengakibatkan ia dibekukan sampai minta dijual. Sampai akhirnya September datang dan posisi sang striker masih jadi bagian Elang Biru, Keita mendapat kontrak baru sampai 2021 dengan kenaikan gaji. Semoga semangat Ciro bisa bertahan dan stabil sampai akhir musim.
Mengingat lawatan terakhir kita ke stadiun Marc Antonio Bentegodi berakhir bencana, apa yang dibawa pulang skuat Inzaghi semalam dalam laga pekan ketiga Serie A patut diapresiasi. Tiap lawan Chievo tandang kita selalu kesulitan, sejak zaman Manfredini hingga Luciano. Corner kick Birza ngeri, tandai aja pekan-pekan berikutnya Cheivo akan banyak mendulang gol via bola mati dari pojok yang dimulai kaki Birsa!
Pasukan musim ini memang lebih berbobot ketimbang musim lalu. Walau tak banyak perubahan, ada beberapa bagian yang sudah dibenahi terutama sekali sektor bek tengah dengan melepas sang raja kartu Mauricio dan mendatangkan Bastos.
Ucapan Ciro ada benarnya. Musim ini harusnya Lazio bisa berbicara banyak dalam perebutan gelar mengingat bintang ada di segala lini. Pertandingan pertama Keita musim ini ia memberi andil atas satu poin penting. Hanya berselang tiga menit setelah ia masuk menggantikan Kishna, memberi assist untuk gol perdana Stefan di serie A!
Komposisi yang dibawa ke kota Verona sudah pas dan mumpuni, minus dua pemain baru Luis dan Leitner. Pemilihan starting depan dan belakang sidah keren, mungkin ada yang salah di bagian tengah. Dengan formasi baku 4-3-3 posisi kiper masih dipercayakan kepada senior Frederico Machetti. Bek tengah sudah paten kepada Stefan De Vrij dan Bastos dengan kedua sisi diisi Dusan Basta dan Radu. Format ini memaksa Patric, Wallace dan Hoedt harus di bangku cadangan. Di tengah sebagai jenderal penting pos yang tak tergantikan Lucas Biglia disokong kiri Senad Lulic dan kanan Marco Parolo. Kesalahan ada di pemilihan Lulic. Jelas pekan lalu ia tak banyak memberi andil kini tetap dimasukkan starting. Tridente maut sudah pas Kishna-Felipe untuk melayani ujung tombak Ciro Immobile yang sedang on fire setelah cetak gol bagus saat membela Gli Azzuri.
Ini adalah pertandingan resmi SS Lazio perdana musim ini yang saya tonton full. Pekan pertama lawan Atlanta saya tak mendapat izin May keluar untuk nobar gara-gara tayang dini hari, untung menang. Pekan kedua lawan Jupe, saat kick-off saya sedang dalam perjalanan ke kota Depok. Sehingga kesempatan live di prime time malam takbir harus saya maksimalkan. 30 menit sebelum dimulai saya sudah log in di warnet dekat rumah agar tak tertinggal sedetik-pun, yeah streaming itu butuh perjuangan lebih. Cari link, buang iklan, sampai coba sana-sini yang lancar mana. Melalui web tajetarojaonline.com akhirnya saya bisa menyaksikan partai tandang uji nyali.
Malam ini kita mengenakan kostum putih. Kostum keberuntungan, kostum yang lebih sering dipakai dua musim lalu yang menghantar kita ke posisi tiga. Mengingat musim lalu berbaju hitam amburadul, harusnya ke depannya kita terus memakai jersey putih sebagai pakaian resmi bertandang.

Babak 1
Peluang pertama didapatkan oleh Ciro, umpan terobos di menit 4 dengan tenang ia terima lalu membalik badan melakukan shoot. Ternyata offside. Shoot kiri striker Italia ini keren banget. Tiga menit berselang Kishna melakukan gocekan yahud di sisi kiri, melewati dua pemain. Sayang bola meluncur keluar karena terlalu deras mengolah. Peluang pertama Keledai Kuning didapat di menit 15, sebuah tendangan pojok Valter Birsa (nah ini pemain berbahaya!) disambut sundulan mantab Fabrizio Cacciatore menghujam keras ke gawang namun posisi Machetti pas sehingga dengan lompatan terarah ia berhasil memblok. Komentator teriak, ‘good save!’ Memasuki menit 20 lawan mulai menemukan pola dan menyusunnya. Massimo Gobbi dan Dario Dainelli jelas sekali menutup ruang dua penyokong Immobile. Felipe dan Kishna tiap dapat bola langsung dicover dua pemain sehingga semangat tinggi Ciro sia-sia. Tak ada suplai.
Menit 25 ada water break. Hooo, ternyata di sana ada istirahat mimik jua to. Ketika water break itulah Bentegodi disorot, walau tak penuh, gemuruh fan Kuning ngeri. Gema dan chant terdengar memekakkan telinga membakar nyali. Menit 34 Kishna bisa lolos dari kawalan di kiri, namun sayang lagi-lagi bola keburu keluar sebelum diumpan. Dua menit berselang giliran Parolo yang menyia-nyiakannya, sayang sekali duel udara yang dimenangkannya menghantar bola melambung tinggi. Chievo merapatkan barisan dengan mengandalkan serangan balik. Set piece mereka ketika luang, patut diamati. Pantas saja Inter dan Fiorentina dibabat, antisipasi counter attact dan bola mati harus ditingkatkan. Untung malam ini bek tengahnya Bastos, ia konsisten main bagus. Sapu bersihnya bersih. Apa kabar Mauricio? Add time 3 menit terlewati tanpa ada kejadian menarik. HT 0-0.

Babak II
Dari analisis singkat. Lulic dan Felipe main buruk harus secepatnya ditarik. Ujung-ujungnya Keita, Savic yang bakal diturunkan. Pengen lihat aksi Palombi sang pendobrak, sayang keburu dipinjamkan. Lima menit berjalan, tak ada peluang sama sekali. Keduanya masih berhati-hati. Memasuki menit 51 akhirnya yang ditakutkan terjadi. Bola mati korner Birza (nah lo!) itu membuat Machetti memungut bola dari jala. Gamberini menghukum kelengahan jaga. 1-0.
Inzaghi langsung merespon, Kishna ditarik memasukkan Keita. Keputusan tepat. Setelah duel tak perlu di sisi kanan yang menghasilkan tendangan bebas dan ganjaran kartu buat Perparim Hetemaj, Lazio menyusun strategi free kick. Tendangan diambil Biglia ke arah tepat depan gawang, kemelut lompat itu menghasilkan sundulan kecil kepada Keita di kanan. Si keling menyundul balik si kulit bundar ke kerumunan, Stefan berdiri di tempat yang tepat. Assist Keita diarahkan ke sarang. Bola sempat mantul tiang dan mengarah keluar lagi, tapi sudah melewati garis sehingga cocoran Lulic untuk mendorong bola kembali masuk percuma. Goool! 1-1 menit 55. Keita kasih bukti ia masih layak berbaju Elang Biru. Pekan depan kuharap ia starter. Ini adalah gol perdana bek seharga 80 juta pound ini di serie A. Melegakan, keputusan menahannya dari godaan Conte adalah keputusan benar dan tepat. Pilihan Conte yang akhirnya membawa pulang David Luiz membuat lega seluruh Laziale sehingga bek Holland ini bisa kembali focus membawa terbang tinggi Lazio. 
Memasuki sejam pertandingan sang kapten Biglia kena kartu kuning. Chievo terus mempraktekkan ball position. Bola berpeta di tengah. Waspada bola mati itu terjadi menit 63. Melalui tendangan pojok, sekali lagi Machetti membayar kepercayaan. Sundulan deras ke gawang lagi-lagi berhasil dimentahkannya. Amazing! Komentator sampai nggambleh ga jelas, ‘fantastic save, once again Frederico!’.
Savic the soldier akhirnya masuk menit 66 mengganti Senad Lulic yang malam ini tampil sangat buruk. Kalau lawan Pescara ia masih saja starting, Simone tak belajar malam ini. Apesnya, berselang tak lama Savic langsung kena kartu kuning gara-gara kesalahan tak perlu. Duh! Terlalu semangat jenderal, control emosinya. Tak banyak hal penting terjadi sampai menit 70 hingga ada water break lagi. Sekaligus musuh melakukan pergantian pertamanya. Sergio Pellissier keluar Robert Inglese masuk. Semenit berselang Parolo lagi-lagi dapat peluang bagus, sayang eksekuisnya melayang. Serangan bertumpu pada Keita, bola terus dilempar ke kanan. Sempat berdoa ia akan menjatuhkan diri dalam kotak namun ga muncul jua. Emang luar biasa anak muda Senegal ini. Skill-nya di atas rata-rata, hanya ego-nya harus lebih dikontrol. Menit 76 akhirnya Savic mendapat peluang pertamanya, sayang tembakannya melebar. Jonathan De Guzman masuk mengganti Valter Birsa. Huuuufhhh… lega akhirnya keluar juga sang teroris pojok ini. Well, di serie A sempat heboh karena pemilihan nomor punggung De Gusman adalah nomor 1. Weee, bukan kiper ambil nomor kiper. Unik ya.
Kalau pelatih pengalaman dan melihat musuh ternyata ga se-separtan dalam menyerang harusnya berani bertaruh memasukkan satu striker lagi. 1 poin tak cukup bagus untuk bertarung juara. Menit 80 lawan melakukan pergantian terakhir. Allesandro Gamberini yang menghantui sepanjang laga ditarik, masuk Bostjan Cesar. Duh! Mana respon-pun Simone? Untung Bastos beknya. Karena ia lagi-lagi-lagi menyapu bola dengan bagus. Sapuannya menuju kanan, di kaki Keita sampai merangsek depan gawang. Nah ini yang saya bilang ego. Melihat Ciro berlari mencari ruang harusnya segera diumpan, namun apa daya. Kemaruknya masih tinggi, dengan posisi diapit dua bek, Keita melakukan shoot pertamanya. Sayang buruk. Kemaruk satu Antonio Candreva sudah pergi, please… kemaruk dua jangan buang-buang peluang. Andai bola itu sampai di kaki Ciro, bisa jadi hari ini kita pesta kemenangan.
Bentegodi makin bergemuruh. Dukungan tuan rumah mendera. Ada ratusan Laziale hadir membentangkan poster Beppe Signori bersanding dengan banner SSL dengan tulisan Curva Nord. Di tengah serangan La Libera, patut diapresiasi kehadiran mereka dalam laga horror Bentegodi. Menit 88 Basta melakukan tekel buruk yang berujung kartu kuning. Di menit itu pula akhirnya pergantian ketiga terjadi, Filip Djordje masuk Parolo keluar. Terlambat bro, dua striker murni ketika waktu normal, menit tinggal menyisakan dua. Apa yang bisa dikejar? Masukkan Filip maka menutup pula peluang main Christiano Lombardi pekan ini, pemain muda yang sukses di debut pekan pertama dengan gol cantiknya. Sedang on fire, sedang semangat, sedang meletupnya aura kenapa ga diberi kesempatan? Sabar ya Christ, mudah-mudahan pekan depan mendapat menit bermain dan kasih bukti.
Menit 90 puncak ketegangan terjadi. Kemelut saling tuduh itu membuat wasit mengeluarkan tiga kuning sekaligus. Masing-masing buat Felipe, Cesar dan (tentu saja) Radu. Duh Radu lagi, pemain tua yang masih saja emosional. Tanding Lazio tak lengkap tanpa kuning Radu. Tahan emosi Stefan, tahan! Add time 5 menit tak banyak yang menghasilkan perubahan. Sampai akhirnya pertandingan selesai. Saya tetap terpaku, menyaksikan idola memberi applaus kepada Laziale. Terlihat Danilo Cataldi yang tak bermain, memimpin apresiasi Laziale. Sungguh berjiwa besar produk asli Lazio ini.

“Hasil ini terasa pahit bagi kami.” ujar Rolando Maran, dikutip dari Football Italia. “Kami menciptakan empat atau lima peluang mencetak gol dan hanya mampu satu kali mengkonversikannya menjadi gol.” Yah, musuh ternyata pede sekali.

Apalah itu, satu partai besar sudah dilewati. Dua lagi pekan 13 bersua Genoa dan DDC dua pekan berselang. Sembari menanti itu, bisalah partai-partai biasa kita ratakan. Pescara, Milan, Empoli dst, dst.

Pertandingan berikutnya Danilo harus diberi kesempatan. Ingat pekan pertama ia juga membuat gol dramatis lho.
1 poin penting dari lawan ke kota Verona. Pertandingan berikutnya lebih mudah. Sekedar Pescara yang kemarin tumbang oleh Inter, harusnya bisalah poin 3. Yang patut diwaspadai paling Aquilani dan Benali. Bisalah nerapin ofensif. Kuharap tridente yang dipasang adalah Immobile, Felipe dan Keita. Bayangkan tiga pemain ini nantinya disokong pemain full kreasi Luis Alberto! Dah yakin, kalau cuma 3 gol pasti dapat. Pasti bisa. Dan kita siap menyambut pulang sang legenda besar Massimo Oddo di Olimpico!

Chievo: Sorrentino; Cacciatore, Dainelli, Cesar (Gamberini 80), Gobbi; Castro, Radovanovic, Hetemaj; Birsa (De Guzman 77); Pellissier (Inglese 70), Meggiorini
Lazio: Marchetti; Basta, de Vrij, Bastos, Radu; Parolo (Djordjevic 88), Biglia, Lulic (Milinkovic- Savic 65); Felipe Anderson, Immobile, Kishna (Keita 52)
#ForzaLazio #AvantiLazio
Karawang, 130916 – Sherina Munaf – Pikir Lagi