Boneka dan Cerita Cerita yang Hilang


“Fred hanya seperti pria lainnya. Semuanya sama, mereka tidak bisa mencegahnya. Aku tidak menyalahkannya. Aku hanya marah kepada diriku sendiri sudah bersikap bodoh karena peduli.”

Mengejutkan. Isinya bagus-bagus banget. Kumpulan cerpen absurd dengan berbagai varian. Tak seperti cerita-cerita sastra jadul pada umumnya yang rumit tak terjelaskan, di sini Endingnya jelas semua, kecuali yang terakhir. Sama-sama rumit, tapi ada solusi akhir, ada penjelasan yang setidaknya membuat pembaca lega. Tak melulu sastra harus melingkar tak terjawab, bisa kok sastra dengan detail rapi dan cerita bagus. Jadi selain isi bagus, cara penyampaiannya juga ok.

1. Angin Timur

Ini adalah cerpen tragedi. Sepasang suami istri hidup di pulau yang sejuk dan indah, sejatinya. Namun hubungan mereka kini kurang harmonis, sehingga kehidupan terasa hambar. Lantas muncullah pelaut dengan kapalnya. Seperti pada umumnya, para pelaut bertandang untuk melepas waktu dengan perbekalan dan refreshing. Salah satu tamu terpikat pada sang istri, sang istri yang bosan merespons. Dan terjadilah perselingkuhan. Sang suami yang dengar desas desus lantas membuktikannya, ketika pulang lebih cepat mendapati istrinya tak ada, dan terbukti. Kemarahan yang harus dibayar sangat mahal dengan nyawa.
“Ayo turun, makan malam sudah siap sejam yang lalu. Mungkin sudah dingin.”

2. Boneka

Sebagai judul buku, cerpen ini sungguh ok. Mencekam. Bagaimana bisa boneka itu jadi obsesi seks, tanpa menjelaskan rincian obsesi tersebut? Sebuah bar dengan penyanyi wanita yang memikat itu bisa jadi menarik sang aku, lelaki kesepian dengan sekali pandang jatuh hati. Ditraktir minum, ingin mampir ke rumahnya, dan terjadilah hubungan dekat. Sang penyanyi yang tinggal sendirian sejatinya juga tertarik, tapi ada sesuatu yang aneh di kamar sebelah yang tertutup. Ketika cumpuan nyaris ke hubungan badan, sang penyanyi menolak. Dan sang aku terpaksa pulang, malam itu juga ia nekad kembali datang, dan sungguh terkejut sebab sang penyanyi didapati sedang di kamar sebelah dengan boneka?
“Aku bermain untukmu, aku ingin tahu bagaimana rasanya bermain untuk seorang pria.”

3. Frustasi

Pasangan baru nikah pindah ke Bournemouth. Mereka sudah lama pacaran, sudah tahu karakter masing-masing, maka menikah dengan modal nekad saja sebab menanti mapan rasanya sulit. Namun permulaan pernikahan mereka yang meragukan memang patut diwaspadai sebab ekonomi tetaplah motif utama sebuah hubungan yang kokoh. Keduanya kerja siang malam untuk menopangnya, beda sif pula. Ahh… dunia… Bagi mereka dunia adalah milik mereka, Satu-satunya masalah adalah mereka tidak punya uang.
“Saya sama sekali tidak tertarik dengan apa yang kamu rasakan. Bisakah kamu menghidupi seorang istri?”

4. Kucing Jinak

Hubungan saudara yang aneh. Seorang ponakan yang dulunya imut kini sudah dewasa. Kepulangannya ketemu keluarga membuat sang paman kembali jatuh hati. Dan apakah hubungan saudara ini bisa menghasilkan kebahagiaan, beda usia jauh, mendapat pertentangan keluarga tentu saja. Ahhh… cinta. Betapa konyolnya paman John, menyeringai seperti kucing Cheshire dalam kisah Alice!
“Aku sudah dewasa. Aku sudah dewasa. Aku sudah dewasa! Aku sudah dewasa!”

5. Sakitnya Tak akan Lama

May yang malang, dihibur oleh Bu Cuff untuk tak menangis. Biasa, obrolan dua perempuan. Tentu saja tentang lelaki, Fred yang kabur, lelaki biasa yang tak bisa diandalkan. Dan inipun akan berlalu May… pria yang dicintainya tugas luar ke Berlin, dan menemukan perempuan lain. Hiks,.
“Suatu hari aku akan menemukanmu, cahaya bulan ada di belakangmu…”

6. Akhir Pekan

Weekend berkelana dengan perahu. Lantas hujan. Dan hal-hal yang tak seharusnya diungkap akhirnya diungkap, pasangan muda mudi yang di ambang hubungan. Tidak ada perahu di sungai itu, sunyi dan hening, keheningan sesekali pecah oleh gerakan ikan di bawah permukaan, menimbulkan riak di permukaan. Maka Minggu malam saat mereka berkendara kembali ke London, hanya kebisuan yang menemani.
“Kau dan aku, berlayar menuju bintang-bintang.”

7. Lembah Bahagia

Ryeshire. Nama lembah yang bagus sekali. Pendakian ke lembah di hari yang cerah. Pasangan pacaran ini sempat galau akan rencana tempat tinggal mereka, tapi nyatanya saat menikah dan tinggal di lembah itu semuanya baik-baik saja. Benarkah?
“Aku di sini, aku bahagia, aku di rumah lagi.”
Kubaca dalam dua hari selesai weekend kemarin (18-19.10.25), nyaman sekali. Dapat buku ini antah, free dari belanja buku Ade Buku, Bandung. Ternyata wow. Memang buku klasik seringkali memberikan kualitas. Ini adalah buku pertama Daphne yang selesai kubaca. Kumpulan cerpen dengan segala kembang kejutnya. Ini bisa jadi masuk ke daftar Cerpen-cerpen terbaik yang pernah kususun dua tahun lalu.
Nama Du Maurier ternyata sudah terkenal, sayanya saja yang tak mainnya jauh. Hufh… cerita-cerita klasik. Mungkin bakalan kukejari buku-buku lainnya, tapi mengalir saja sebab memang antrian sudah sangat banyak. Jadi kalau ketemu ya ambil, kalaupun enggak ya sudahlah. Nohtah, Basabasi, Divapress dan sejenisnya termasuk yang banyak menerjemahkan buku-buku klasik. Untuk itulah perlu diapresiasi.
Boneka dan Cerita Cerita yang Hilang | by Daphne du Maurier | Penerjemah Laura Harsoyo | Penyunting Nisrina Lubis | Tata sampul sukutangan | Tata isi Vitrya | Pracetak Wardi | Cetakan pertama, 2021 | Penerbit Noktah | 128 hlm; 14 x 20 cm | ISBN 978-623-6564-85-1 | Skor: 5/5
Karawang, 111125 – Sherina Munaf –Lari dari Realita
Thx to Ade Buku, Bdg

#Oktober2025 Baca

“… Bisa dikatakan aku sedang menempuh perjalanan mempelajari cara yang tepat untuk mengendalikan yang disebut rasa ingin tahu sembari membenturkan kepalaku ke sana sini.” – Orang Pertama Tunggal, Haruki Murakami
Bulan pendinginan. Setelah kelahiran Howl, segala tak sama lagi. Menyenangkan akhirnya memiliki baby boy. Syukur padaNya. Baca buku sesantai mungkin, mengalir dalam kebahagiaan bersama si Kecil. 13 buku sebulan, lumayan…

#1. The Hole by Pyun Hye-Young

Horror tanpa hantu. Sepanjang cerita sang tokoh utama hanya duduk dan tiduran, mengamati kejadian sekitar tempat tidurnya. Begitu terus sampai selesai, boring? No. justru malah begitu mencekam. Entah mengapa, pikiran kita itu mengerikan, apalagi nyawa taruhannya. Segala yang disusun dalam kehidupan serasa runtuh seketika ketika terjadi kecelakaan. Dan plot menerangkan kekhawatiran itu, menimbulkan dilematis, tapi aneh juga sih, dilematis apa? Sebab toh sang tokoh utama tak bisa apa-apa sebab yang menentukan ya orang-orang sekitarnya. Ia tiduran, ia pasrah, ia juga khawatir, sebab ia hanya mengamati. Dan pembaca mengikutinya dalam narasi itu, tebakan dalam pikir, apa yang akan terjadi selanjutnya?

“Aku ingin protes.” / “Kamu protes apa, sih?” / “Kebenaran terus melaju dan tidak ada yang bisa menghentikan langkahnya.”

#2. Pipi Hendak Berlayar by Astrid Lingred

Lucu. Cerita anak bisa sebagus ini. Bagaimana bisa cerita sederhana, masalah sederhana, polemik sederhana, jalan keluarnya jauh lebih sederhana. Namun bisa sebagus dan semenarik ini. Saya tak tahu ada berapa seri Pippi, ini seri pertama yang kubaca. Ini buku kedua Astrid Lindgred yang kutuntaskan, setelah petualang Ronya, Anak Penyamun yang berkutat di hutan dan seteru dua klan, kali ini cerita jauh lebih sederhana. Kehidupan sehari-hari Pippi di kota kecil di Swedia.

“Di kota ini kita tidak memerlukan polisi, selama Pippi Langstrump ada di sini!” / “Tentu saja kita memerlukan polisi, sebab kalau polisi tidak ada, siapa yang akan mengurus supaya sepeda-sepeda tidak ditaruh di tempat yang dilarang?”

#3. Need by Corrie Jones

Atria lagi, Atria dengan template cerita remaja. Bagaimana bisa pixie, makhluk imut kecil itu diubah jadi makhluk jahat pemburu ‘manusia’? Bisa dong, namanya cerita fiksi bebas interpretasi sang pencipta. Vampir saja yang kita kenal di tahun 80 – 90an adalah makhluk penghisap darah dengan jalan loncat-loncat kini jadi makhluk tamvan dengan segala gayanya. Pixie kini jadi musuh, jadi lawan utama yang jagoan yang bahkan tak tahu kalau dirinya adalah manusia jadi-jadian. Susunan ceritanya rapi, teramat rapi malah. Namun memang kejutannya disimpan sedikit terbuka. Sang ibu yang tak mau datang ke Maine berulang kali menjadi Tanya, pasti ada sesuatu di sana.

Dan nama King berulang disebut, “Aku tahu ini buku Stephen King. Hanya saja… ada sebuah cerita di dalam sini.”

#4. Orang Pertama Tunggal by Haruki Murakami

Dengan demikian maka semua buku terjemahan Haruki Murakami ke bahasa Indonesia, baik yang resmi atau illegal sudah kubaca semuanya. Kecuali terjemahan awal tahun ini, hufhh… non fiksi. Tetap bakalan kupunya sih, tapi santai saja. Menunggu mood dan momen yang pas. Orang Pertama Tunggal seperti kumpulan cerpen Lelaki tanpa Perempuan, khas banget. Agak menurun, tapi tetap ok secara keseluruhan. Feel-nya lebih dapat yang dulu. Mungkin karena makin ke sini, karya-karya Murakami semakin akrab jadi kejutannya kurang mengejutkan.

“Menyayangi orang lain itu bisa diibaratkan menderita penyakit jiwa yang tidak ditanggung asuransi kesehatan.”

#5. Frida by Barbara Mujica

Bagus. Namun ada sesuatu yang kurang. Dengan ketebalan hampir 800 halaman, sajian buku ini menawarkan perjalanan hidup Frida yang berbeda, di mana sudut pandangnya justru dari sang adik Christina, beda usia hanya 11 bulan, artinya sepantaran. Memang dari orang dekat, tapi terasa aneh sebab nantinya ia hanya saksi, bukan pelaksana. Dan saksi-saksi itu dibumbui cinta, jelas dari saudara, tapi berbagi suami? Nah. Seniman memang tampak beda, seniman komunis tampak makin beda.

“Aku adalah orang Meksiko seperti elang yang mengepakkan sayap melintasi salju dan abu, mengarungi langit, dan menyentuh stratosfer dengan sayang-sayangnya yang kukuh.”

#6. Frustasi Puncak Gunung by Ashadi Siregar

Buku jadul, tipis, dibaca cepat. Yang membuatku tertarik judulnya, ada kata “gunung” dan memang sedang merindukan naik gunung. Harapannya bakal jadi novel petualangan cinta di pendakian. Ternyata enggak. Ini jadi cerita mahasiswa yang kandas dan lantas merentang masa kedewasaan, ditampar akan kenyataan yang pahit. Ini lebih baik, ketimbang misal akhirnya mereka bersatu dalam perkawinan. Sempat kepikir sekilas mereka bakal bersatu, tapi alangkah baik memang tidak. Dan benar, dengan berani sejoli ini cintanya kandas. Tidak melulu menampilkan kebahagiaan hakiki, tidak melulu menyampaikan keindahan hubungan cinta. Ini malah lebih nyata, lebih menginjak buku akan realitas. Yang disayangkan, Cuma kenapa gunung hanya jadi tempelan. Pendakiannya tak dijelaskan, proses nanjaknya tak dirinci, detail keindahan pemandangannya dilewati. Hanya tampilan indah sepintas dan jadi ruang kenangan sepintas.

“Sebenarnya, sebenarnya, apa cita-citamu Ambar?” / “Aku belum tahu jadi apa atau akan jadi bagaimana aku. Cuma aku ingin kehadiranku dihargai sepenuhnya. Aku bukan bagian dari seseorang, bukan bagian dari suami misalnya, bukan bagian dari orang tuaku. Pokoknya aku ya aku.” / “Aku tak mengerti.”

#7. Boneka dan Cerita Cerita yang Hilang by Daphne du Maurier

Mengejutkan. Isinya bagus-bagus banget. Kumpulan cerpen absurd dengan berbagai varian. Tak seperti cerita-cerita sastra pada umumnya yang rumit tak terjelaskan, di sini Endingnya jelas semua, kecuali yang terakhir. Sama-sama rumit, tapi ada solusi akhir, ada penjelasan yang setidaknya membuat pembaca lega. Tak melulu sastra harus melingkar tak terjawab, bisa kok sastra dengan detail rapi dan cerita bagus.

“Fred hanya seperti pria lainnya. Semuanya sama, mereka tidak bisa mencegahnya. Aku tidak menyalahkannya. Aku hanya marah kepada diriku sendiri sudah bersikap bodoh karena peduli.”

#8. Keluarga Lego by Cicilia Oday

Cerita merobotkan manusia, ide buruk. Bagaimana bisa memiliki ide manusia berakting jadi robot? Menyewakannya untuk orang-orang yang perlu anggota keluarga. Awalnya kukira bakalan beneran menyewakan robot atau sejenisnya (seperti Ex-Machina), robot yang bisa berpikir dan bertindak rasanya lebih realistis ketimbang menjadikan manusia menjadi robot dan berakting. Jelas ngaco.

#9. Frank Sinatra kena Selesma by Gay Talese

Buku tipis yang lama diinginkan ini akhirnya punya, baca, ulas, koleksi juga. Sudah mengingin sejak lama sekali. Waktu itu sekitar tahun 2015 saya sempat simpan foto buku ini. Bareng buku-buku Banana lainnya, berulang kali harap beli tapi hitungan bujet terlampau mudah didepak. Tipis murah, tapi ya memang belum berjodoh saja kala itu. Sampai akhirnya terlupa. Kubaca dalam sekali duduk pada Selasa, 28.10.25 selepas Magrib sampai adzan Isya di taman Greenvil Blok V. sudah optimis bisa sebab memang begitu tipis, 130 halaman, cetak mungil. Sebelum kutuntaskan sekali duduk, sudah kucoba baca pas istirahat kerja jam 12:30 sampai 13:00 di ruang Vikon dengan kopi dan deretan musik khusus: Westlife album Allow us to be Frank. Album rilis tahun 2000an ini dulu pernah kupunya. Namun memang nggak hit, tenggelam. Rilis pasca Greatest Hitz, ketenaran menurun. Wajar saja tak sukses. Namun tetap terkenang juga, sampai sekarang ketika bicara Sinatra, justru Westlife inilah yang pertama kuingat. Membekas.

“Begitu kau di rekaman dan menyanyi, hanya ada kau saja. Jika hasilnya buruk dan membuatmu dikecam, kaulah yang disalahkan – tak ada orang lain. Jika bagus, juga hanya kau. Dengan film tak pernah seperti itu; ada produser dan penulis naskah, ada ratusan orang di kantor dan kau tak punya kuasa apa-apa. Dengan rekaman, kaulah karya itu…”

#10. Kaya itu “Dipraktekkan” by Tim Wesfix

Buku tipis kasih tips jadi kaya. Nasehat umum sejatinya, tapi yang ini benar-benar praktis dan langsung ke poin-poinnya. Jangan sekadar wacana. Jangan hanya angan dan rencana-rencana. Pokoknya langsung terjun.

#11. Children of Lamp #1 by PB Kerr

Novel fantasi, tidak pernah gagal. Sejatinya ini template, cerita jin yang terkenal dengan lampu wasiatnya. Dimodifikasi seenak penulisnya, dan jadilah sebuah novel. Kita akan langsung berpikir Aladdin kala lampu dan jin diapungkan sebab memang dialah tokoh paling terkenal. Ini fiksi, dan di akhir juga dijelaskan cerita ini fiksi. Termasuk aturan jin yang dikurung dalam botol, jelas fiksi. Separuh permata ok banget, separuh kedua ngelantur sekali. Modifikasinya kebablasan.

“Berhati-hatilah dengan apa yang kau harapkan. Bukan karena kau akan mendapatkannya tapi karena kau tidak terlalu menginginkannya, bila sudah mendapatkannya.”

12. Nisan Annemarie by Wahid Nurrohmat

Kumpulan puisi tentang kuburan. Kukira bakalan jadi puisi sufi atau dedikasi untuk Annemarie Schimmel. Namun buku ini malah memuat bait-bait yang bisa disebut umum. Untuk sesuatu yang umum, maka sentuhannya indahnya terkikis.

#13. Benda-benda di Sekitar Kita by Zaenuddin HM

Kukira bakal jadi cerita benda jadul dengan lekat cerita pengalaman sang penulis atasnya, tapi tidak. Buku ini justru seperti Wikipedia benda lama dari asal usul sampai update terbaru keadaan. Untuk itulah sentuhan emosinya nyaris tidak ada, sebab di era digital saat ini info seperti itu mudah didapat. Pemberiaan nama, pembuatannya, sejarah perkembangan. Sayang sekali, buku yang sungguh umum. Contoh, benda topi. Kita akan mendapati sejarahnya, dari usulnya, dari proses untuk apa topi, sampai merek topi-topi terkini.

Karawang, 041125 – Christoph Spendel Trio – Y2K Blues

Orang-Orang Bloomington


“Baiklah, tidak usah tongkatnya yang menghantam perut si perempuan, tetapi bolanya yang melesat bagaikan kilat. Coba bayangkan, apa yang akan terjadi.”

Buku lama yang sungguh mengingin kumiliki. Apalagi sejak diumumkan diterjemahkan ke Inggris oleh Penguins. Kesabaran itu membuahkan hasil Oktober kemarin, dan tuntas dalam seminggu ini. Buku karya senior, memang mutunya terjaga. Suka sekali dengan kritik menulis puisi. Tersebab memang kualitas puisi itu seni, seni sulit diperkira mana bagus mana buruk. Dia yang tak bisa nulis pun bisa. Lucu, satir, pas banget.

#1. Laki-laki Tua Tanpa Nama

Pembuka cerita yang mantab banget. Mengamati penghuni lain, mencoba berkenalan. Jadi si Aku ini tinggal di apartemen. Mahasiswa yang mencoba mengakrabkan diri dengan warga sekitar. Nah, di tetangga apartemen, ada penghuni baru. Seorang veteran Perang Dunia II yang selamat dari sekapan Jepang. Lelaki tua, yang tindak tanduknya mulanya biasa saja. Berpose menembak tanpa pistol, mengancam orang sekitar, lantas si Aku melihatnya memiliki pistol. Karena kekhawatiran melaporlah ke induk semang, tapi tak dugubris.

“Apakah kau sekarang lebih banyak mengenal dia?”

#2. Joshua Karabish

Teman sekos yang sekarat. Mulanya dikira orangnya menyebalkan sehingga dijauhi teman-teman lamanya. Menawarkan diri jadi teman se-atap, mulanya memang mengesalkan sebab kebiasaan buruknya banyak, jorok, suka ikut makan makanan orang lain di kulkas. Namun terkuaklah alas an sebenarnya, Joshua Karabish ternyata sakit keras. Batuknya mengeluarkan darah, telinga dan hidungnya juga. Penyakit menular yang harus diwaspadai.

Ada kebiasaan ok dari temannya, menulis puisi. Mencurahkan perasaan pada tulisan ini nantinya malah jadi titik balik. Sebab temannya akhirnya mudik dan tak kembali, ternyata meninggal dunia. Ibu dan kakaknya meminta tolong barang-barangnya dikirim, dan uangnya diganti. Nah, puisi Joshua dibaca, dikumpulkan, lantas dikirim ke sayembaya. Boom! Masuk final.

“Atau mungkin membaca puisi orang lain?”

#3. Keluarga M

Ini bisa jadi cerita kekesalan, tapi sejatinya isinya sama. Kebencian terhadap tetangga yang mengesalkan. Polanya sama, mengamati tetangga apartemen. Jadi keluarga M ini memang keluarga tak mampu yang memiliki dua anak nakal. Kakak beradik yang usil, suka kelahi, suka rebut mainan anak lain. Nah si Aku ini kena apesnya sebab mobilnya digores paku olehnya. Komplain, marah, sampai akhirnya berniat mencelakai. Para tetangga anehnya biasa saja, ia melayangkan protes ke siapa saja yang bertanggungjawab terhadap gedung, kalau perlu sampai polisi.
Pernah suatu ketika pemilihan ketua gedung, yang terpilih diminta memasang mesin otomatis minuman cola. Mulanya memudahkan, lantas menjadi boomerang.

Ada juga kasus sang anak bungsu keluarga M ini berak sembarangan di lantai gedung, alasannya kebelet dan kuncinya tak bawa. Tetangga anehnya simpati dan membantu, bukannya marah sepertinya. Hingga sebuah kejadian buruk keluarga M mengubah perpektif banyak hal.

“Kamu mau semua makan ini, Buyung?”

#4. Orez

Ini cerita paling aneh, paling memilukan, keluar pakem. Yang biasanya mengamati tetangga kali ini si Aku terjun langsung ke konfliks. Terlibat dalam. Jadi si Aku nekad menikahi gadis keluarga absurd. Ayahnya sampai heran ada lelaki mau. Sebab historinya buruk. Calon istrinya adalah anak yang bisa bertahan hidup, sementara saudaranya meninggal semua. Maka dikhawatirkan keturunannya nanti juga bakal bernasib sama. Digambarkan ketika nafsu mereka menyatu, ada sebuah sungai dengan dua aliran sunga kecil: air keruh dan jernih: jadinya keruh. Namun cinta memang membutakan, sehingga rencana itu tetap jalan. Sang ayah tentu saja setuju, dan Hesterpun punya suami, dan jadilah keluarga.

Ternyata benar, anak pertama dan kedua tidak bisa lahir, keguguran. Berikutnya sama saja, tapi nasib akhirnya sedikit berpihak ketika ada yang bisa selamat. Dinamainya anak tersebut Orez. Bukan anak sembarangan, anak istimewa yang bakal menjadi harapan keluarga kecil ini.

“Saya menulis sejumlah surat yang sama, dan saya letakkan di tempat-tempat yang berbeda.”

#5. Yorrick

Cerpen terpanjang, bisa jadi novella. Teman kos memang ada-ada saja. Kali ini lucu, walaupun sungguh pahit. Si Aku mengincar gadis tetangga apartemen Catherine yang cantik, tapi sayangnya tak peduli padanya. Malah dekat sama teman apartemennya Yorrick. Segala upaya untuk memikat sang gadis gagal. Bahkan ketika ada gadis lain datang, malah terpikat sama teman lainnya. Hufh… segalanya susah sejak awal. Si Aku ini nekad dan terus mencoba, dari membelikan kue (yang lucunya ambyar), membelikan bunga, sampai mengajak jalan. Namun memang bukan jodoh kali ya, tetap saja gagal.
Sang induk semang sakit, dijenguk bareng-bareng, dihibur. Si Aku makin kesal sebab seolah dobel date, dua pasangan itu menunjukkan kemesraan dalam lagu. Si Aku yang marah lantas membocorkan ban mobil mereka ketika mencari aspirin. Walau tak diminum, satu tablet dibuka, dibuang. Perbuatan jahat merusak ban itu berakibat fatal. Ketika sang induk semang jatuh dan perlu dibawa ke rumah sakit, mobil mereka bocor, telepon gagal, ambulan tak datang. Lantas, rasa dosa macam apa yang harus ditebus?

“Haruskah aku menunggu aba-aba lagi?”

#6. Ny. Elizabeth

Penderita kanker yang tak disukai tetangga ini, coba didekati oleh si Aku. Tetangga yang baik hati berupaya agar tetangga lain mengajaknya sosialisasi, mengunjunginya, atau sekadar menyapa. Namun tanggapannya negative, maka ia pun berinisiatif membantu. Dari berkunjung, membantu belanja, sampai mengjenguk di rumas sakit. Ny. Elizabeth tua, sendiri, dan begitu pasif akan hubungan sesama manusia. Nah, apesnya si Aku sakit kencing manis, penyakit yang sama dengan si nyonya. Saling lempar tuduhan menulari atau penyebab entah lainnya. Bahkan pernah berkunjung ke spesialis di waktu yang sama, dokter yang sama, pura-pura tak kenal.
Pada akhirnya, justru berbalik. Ny. Elizabeth yang tua dan memang sakit-sakitan, tak bisa pulang ke rumah. Ia meninggal dunia, yang anehnya mewariskan uangnya ke si Aku, meminta mengurus pemakaman, dan yang paling mengharukan, selama hubungan mereka ia walau galak, sejatinya baik sehingga mengucapkan banyak terima kasih. Lantas tercetuslah ide menulis puisi dengan nama almarhum.

“Sebab bila ada penyakit datang, maka nyawa saya putus.”

#7. Charles Lebourne

Ini kisah pilu (lagi). Bagaimana bisa tetangga mereka yang tua, perlente, tapi miskin ini ternyata adalah ayah kandungnya? Kalau tak salah, ini satu-satunya (atau salah satunya) di buku ini karakter sudut pandang pertama memiliki nama: Russel Housman. Jadi kepindahan ke apartemen baru itu untuk mengawasi, memastikan, bahkan ‘merusak’ hidup tetangga barunya Charles Lebourne. Dari cerita ibunya yang kini sudah tiada, kehidupan muda mereka sungguh pelik. Hubungan mereka tak direstui, tapi memang Charles Lebourne juga berengsek, tak mau tanggung jawab, sehingga si Aku dibesarkan sendiri.

Dari pengamatan dan segala investigasinya. Sah, dia adalah ayahnya. Dan apa yang diperbuatnya untuk menyakiti? Beranikah? Salah satu tindakannya adalah membocorkan ban mobil, mirip cerita nomor lima. Yang berakibat fatal sebab ayahnya tak mengasuransikan, sedang miskin, dan kecelakaan itu membuatnya sakit parah. Seorang ahli nyetir, terjatuh.

“Setiap kali pintu berbunyi, kepala saya sakit seperti kena martil, dia malah tertawa.”

Pada dasarnya cerita yang bagus memang membuat penasaran pembaca. Mayoritas memang berhasil, tapi sayangnya berulang. Polanya mirip, tindakannya sama, padahal semua tokoh ‘aku’ harusnya memang bersifat beda. Begitu pula sifat dan karakternya, mirip semua. Yang bagus, sifatnya beberapa kali jahat, dalam artian muak sama kelakuan sekitar, tak diam, tapi membalas. Seperti meludahi makanan, melubangi ban, sampai dengan melaporkan ke pihak berwajib. Salut.

Ini buku kedua Bung Budi Darma yang kubaca setelah Krtikus Adinan yang juga Ok itu. Noura perlu menembitkan buku-buku klasik bermutu sejenis ini sebab buku jadulnya sudah sangat susah didapatkan. Namun typo tetap harus dihindari, untuk penerbitan ketiga: SH, Metafor, dan ini, masih terdapat itu sungguh perlu proof reader dobel. Thx.

Orang-Orang Bloomington | by Budi Darma | Copyright 2016 | Pernah diterbitakn Sinar Harapan @1980; dan Metafor Intermedia Indonesia @2004 | Penyelaras aksara Nunung Wiyati | Penata aksara Axin | Perancang sampul Fahmi Ilmansyah | Penerbit Noura Books | Jakarta, Mei 2016 | Cetakan kedua, Agustus 2016 | ISBN 978-602-385-021-1 | Skor: 4.5/5

arawang, 061125 – Eva Mayerhofer – Bend

Thx to Kevin P, Slo

Children of Lamp: The Akhenaten Adventure

“Berhati-hatilah dengan apa yang kau harapkan. Bukan karena kau akan mendapatkannya tapi karena kau tidak terlalu menginginkannya, bila sudah mendapatkannya.”

Semakin banyak yang kita ketahui dan pelajari, semakin dalam misterinya. Novel fantasi, tidak pernah gagal. Sejatinya ini template, cerita jin yang terkenal dengan lampu wasiatnya. Dimodifikasi seenak penulisnya, dan jadilah sebuah novel. Kita akan langsung berpikir Aladdin kala lampu dan jin diapungkan sebab memang dialah tokoh paling terkenal. Ini fiksi, dan di akhir juga dijelaskan cerita ini fiksi. Termasuk aturan jin yang dikurung dalam botol, jelas fiksi. Separuh permata ok banget, separuh kedua ngelantur sekali. Modifikasinya kebablasan. Di Amerika keluarga kaya ini bermuula, “Kau tidak pernah melihat langit malam yang sesungguhnya di New York.”

Kisahnya tentang keturunan jin yang menyusup ke dunia manusia. Si kembar John dan Phillipa Gaunt adalah anak dari pasangan terkenal Layla. Ayahnya yang kaya tampak pasif, ibunya yang luar biasa: cantik, sukses, cerdas. Memikat banyak orang. “Ibu mereka punya kelemahan, itu karena pujian, dan dia menelan bulat-bulat semua pujian seperti orang rakus melahap kue.”

Cerita dibuka dengan operasi gigi bungsu. Jadi keduanya kini harus menghilangkan gigi bungsu, ternyata hal ini istimewa sebab untuk kalangan jin, itu adalah pertanda. Dalam biusnya, mereka berdua bermimpi sama. Bertemu dengan paman mereka Nimrod Godwin di London. Mengarahkan liburan musim panas ini jangan minta ke perkemahan, tapi ke London saja. Setelah siuman, ternyata mimpinya sama. Akibat pembiusan tersebut, mereka mengalami. NDE – Near Death Experience. “Seperti yang selalu aku bilang, sesuatu yang sangat aneh sedang terjadi di sini. Mula-mula kita punya geraham bungsu bertahun-tahun lebih cepat daripada yang seharusnya, lalu saat cabut gigi, kita mendapat mimpi yang sama di mana paman kita muncul. Bukan hanya itu, pertumbuhan kita melejit luar biasa dalam semalam.”

Perjalanan ke London sendiri ada drama, sebab seorang penumpang hilang saat di ketinggian langit. Ulah jin. Kalau dilogika ya tak masuk, karena ini kisah fantasi ikuti saja. Sang penumpang kembali di Amerika, sebab selama perjalanan mengingin pulang. Dan oleh jin, dikabulkan. Sesampai di London, tahulah kita semua bahwa ibu mereka jin, ayah mereka manusia biasa. Mereka keturunan jin, memiliki keistimewaan-keistimewaan. “Beberapa orangtua dalam masyarakat sekarang menyesuaikan diri dengan apa yang dianggap normal adalah segalanya…”

Segala yang jadul dan mistik ujungnya ke Kairo, Mesir, tak heran lantas mereka melakukan ritual jin muda di pesisir sungai Nil, bertapa di gurun Sahara, menelusur Piramida dengan muminya, mengolah legenda Spinx sampai hal-hal mistik lainnya. Dari sini segalanya sejatinya jadi kurang ok sebab sudah memunculkan Ferrari, hotel mewah, dan segala yang mahal-mahal. Segalanya dipermudah, terlalu kaya dan mudah membuat kisah jadi terlalu mengada, bahkan di dunia jin. Harusnya tetap di pijakan, menyatu dengan manusia, berkesulitan menghadapi masalah. Sayang sekali fasilitas kekayaan itu malah menjadikan cerita ngelantur.

Lantas muncullah sang musuh, mereka juga jin. Laiknya manusia, ada yang baik dan jahat. Jin jahat di golongan ifrit, iblis, sampai yang terjahat dan kuat Ghul, nah golongan mereka adalah jin baik masuk ke ras Marid. Ada juga golongan baik seperti Jin dan Jann. Pertarungan terjadi. “Bila kita menyingkirkan hal-hal yang tidak mungkin, apa pun yang tersisa, meskipun sangat sulit dipercaya, pastilah itu kebenaran.”

Dari Mesir mereka menuju kutub Utara, melawan segala kekuatan jahat. Main kurung-mengurung dalam botol, mantra-mantra dilontarkan, pertarungan mereka adalah pertarungan yang tak umum sebab bisa menghadirkan benda-benda sepintas saja, berpindah tempat dalam sekejap, sampai mengabulkan tiga permintaan bagi yang membuka sumbat. Dan tentu saja segalanya bersyarat, tak main-main dan setiap saat. Pengabul permintaan contohnya, akan mengurangi jatah hidup mereka, maka jangan sembarangan. Atau pengaruran masa, di mana di dunia jin hanya sesaat di dunia manusia bisa seminggu, pernah dalam kejadian mereka dikurung hanya 10 menit, ternyata sudah hampir sebulan di dunia manusia. Hal-hal yang memang tak boleh dilogika. Termasuk masalah mimpi yang absurd. “… Suku Aborigin mengetahui bahwa mimpi sama pentingnya dengan kehidupan nyata. Cukup sering, di sanalah hal-hal penting terjadi.”

Kisahnya sendiri berakhir biasa sebab keluarga mereka bahagia, sampai bilang sang ayah bernyayi di kamar mandi, sesuatu yang jarang dan patur diapresiasi. Di mana sang musuh kalah, dan mereka berbahagia. Karena ini buku #1 maka persiapan untuk petualangan berikutnya sudah disiapkan. “Apa yang akan kita temukan di sana bukan hanya memengaruhi masa depan seluruh jin, tapi juga dunia mundane.”

Kata anak-anak lampu muncul pertama kali di halaman 111, di akhir paragraph sekaligus penutup bab disebutkan oleh paman mereka bahwa, “Aku di sini untuk meyakinkan kalian bahwa itulah yang terjadi. Karena kalian adalah anak-anak lampu.”

Karena ini buku fantasi anak, maka harus ada pelajaran yang bisa dipetik. Salah satunya yang kucerna, “Dunia penuh dengan hal-hal jahat, dan kalau ingin menghindarinya, kau hanya harus hidup sendiri dengan pintu terkunci dan tirai tertutup.”

Legenda tiga permintaan sudah umum dikisahkan, di akhir juga disampaikan, Aladdin adalah fiksi, maka nikmati saja bukunya, tak perlu berdebat panjang. “Orang pandai berharap mendapatkan sesuatu yang abstrak seperti talenta atau kearifan.

Beberapa orang biasanya berharap menjadi penulis andal. Tetapi sekarang, sebagian besar orang minta uang kontan atau jadi bintang film. Sangat membosankan. Tapi apa yang bisa kau lakukan? Sebuah permintaan bagaimana pun juga tetaplah sebuah permintaan.”

Saya sudah punya beberapa serinya, otomatis mau tak mau bakalan kubaca seri 2, 3, dst. Pengennya di minimal 3 seri tahun ini. Apakah bisa? Kita lihat saja, semoga petualangan di kembar makin menyenangkan.

Children of Lamp: The Akhenaten Adventure | P.B. Kerr | copyright 2004 | Penerbit Matahari | Penerjemah Utti Setiawati | Penyunting Akmal N. Basarl & Fahmi | Cetakan pertama, Maret 2008 | design Rashad Husain | Skor: 4/5

Karawang, 031125 –Ernest Olxh Trio – Night Dialogue

Thx Uchox Bazarbuku Berkah, Jkt

Service Execellence RS Permata Keluarga

“Dokternya bagus. Kita lahiran di sini saja.”

Beruntung sekali memilih RS Permata Keluarga Lippo Cikarang sebagai tempat kami melahirkan putra keempat: Howl September kemarin. Pelayanan benar-benar bagus. Pandangan pengguna BPJS bakalan repot langsung runtuh. Mungkin karena ini pertama kalinya kami rawat inap dengan kartu tersebut jadi rasanya terpukau.

Pelayanan bagus dengan asuransi? Sudah biasa. ini BPJS Kesehatan lho, dan tentu saja free. Baiklah, saya jelaskan rinciannya. Semua bermula dari penolakan cover asuransi CAR dari perusahaan dikarenakan ini adalah Caesar kelahiran keempat.

Setelah periksa kehamilan tiga kali ke RS Siloam dan tidak dicover asuransi, kami putuskan mencoba pakai BPJS. Mulanya memang iseng sebab memang kelahiran kali ini ingin di RS bagus, dan RS Siloam terkenal bagusnya. Maka Tanya-tanya ke dokter perusahaan, tidak bisa lintas kota. Faskes 1 lantas kupindahkan ke Cikarang per 1 Agustus 2025. Agar nge-link, saya pilih Klinik Siloam Meikarta. Melalui Google Maps saya ikuti tempatnya. Tempatnya tepat di pusat Meikarta dengan ruko banyak, dan apartemen tinggi di belakang dan seberangnya.

Hasilnya? Tidak bisa langsung, sebab RS Siloam tipe B, rujukan kudu ke tipe C. Oleh dokter Ardian Aghristha Devianti, dipilihkan yang Ok dan mendukung steril. Maka muncullah RS Permata Keluarga Lippo Cikarang dengan dokter Kamalia. Kami ngikut saja sebab memang tak berpengalaman.

Rabu, 20 Agustus 2025 jam 17:00 – 20:00 jadwal prakteknya. Pagi harinya saya dapat WA dari Klinik Siloam surat rujukan. Saya print. Lantas buka aplikasi JKN, muncullah rujukannya, saya klik. Karena pulang kerja pukul 17:00 maka jelas malam harinya ke sana. Perjalanan setengah jam via tol dari Karawang Barat. Sempat salah jalur ke Jababeka, kami putar balik di jembatan dekat sungai. Mending memang buka Maps, tinggal ikuti saja, RSnya dekat dengan Siloam hanya kami putar balik kala di Mal Lippo Cikarang. First impress? Jujur saja, kurang. Bangunan tua, parkir di balakang sempit, sama istri hanya berpandangan, ok nggak ya? Ya dicoba saja, gratis ini.

Di lobi, kami diarahkan ke mesin self-service pendaftaran. Namun karena pertama kali, tetap dipandu petugas. Setelah input nomor BPJS, registrasi dengan fingerprint, kami diberi map bening diarahkan ke antrian dokter kandungan. Antri banyak sekali, sangat beda dengan Siloam yang bayar sendiri, nyaris tanpa antri. Kami baru masuk ruangan pukul 8an. Pertama kali bertemu dokter Kamalia, wah dokter keturunan Arab. Wah pelayanannya bagus banget. Sungguh-sungguh informatif. Sebelum bertanya sudah dijawab, jelas ini dari sebuah pengalaman panjang. Misal, kehamilan keempat usia 40 otomatis rencana steril direncana, tapi beliau sudah menjelaskan sebelum pertanyaan mengapung. Atau bila nanti kondisi istri kurang darah sebab kehamilan kedua kudu tranfusi. Beliau sudah mengantisipasi, sedia stok. Sampai yang umum seperti kegiatan apa saja yang harus dan jangan dilakukan jelang operasi. Salut!
Keluar ruangan, kami saling mengedipkan mata dan bergumam sama: “Dokternya bagus. Kita lahiran di sini saja.” Kalimat itu kami sampaikan hanya beberapa detik keluar ruangan, duduk di kursi tunggu. Pas di kasir, free, hanya saja, foto USG tidak dikasih sebab BPJS.

Sebulan kemudian, 17 September 2025 kami periksa lagi. Kali ini ibu ikut. Hujan deras. Ternyata antri banyak banget. Dan dokter sedang ada tindakan, sehingga pukul 10an malam baru dilayani. Kami sih tak apa, beberapa pasien nyerah pulang, beberapa lagi sampai tertidur. Kami sabar dan paham kok, sebab kesibukan dokter memang luar biasa. Dan kami berpengalaman periksa kehamilan. Bagusnya lagi, sang dokter meminta maaf setelah selesai. Hebat, tetap merendah walau kesalahan bukan darinya. Hasil pemeriksaan bagus semua, dijadwalkan lahir 24 September 2025. Minggu depan, operasi pagi. Dua kali sebelum hari H saya dihubungi RS menanyakan kepastikan dan mengingatkan tanggal operasi. Betapa service-nya ok banget.

Seminggu kemudian, 24 September 2025 pukul 05:00 selepas Subuh berjamaah kami berangkat. Mampir ke Blok H rumah mertua, ayah ibu ikut. Semuanya sudah disiapkan, jadi memang tinggal berangkat. Sesuai rencana, sebelum pukul 06:00 sudah di RS. Mengurus administrasi dan cek sana-sini. Di sinilah saya kembali takjub. Receptionist-nya ya ampun, keren banget. Sungguh saya terpukau. Pelayannya extra super duper keren.

Segalanya dibantu. Karena sudah diminta bawa KK, KTP jadi prosesnya mulus. Mbak Dian menjawab apa yang akan jadi pertanyaan saya. BPJS nanti dibantu, rawat inap ruang kelas 1 mulanya penuh, tapi ada pasien keluar pagi ini, langsung dibookingkan. Untuk update KK, KIA mau dibantu juga, sayangnya beda domisili sehingga harus mengurus sendiri ke Dukcapil Karawang. Dan lain-lainnya. Bahkan sebelum ditanya parkir inap bagaimana, sudah disodorkan tiket maks bayar 30 ribu semalam seminggu. Keluar masuk bebas. Sungguh receptionist jempolan. Helpful banget.

Pukul 8 kami pindah ke ruang operasi, semua aksesoris dilepas. Anting, jam jangan, dll. Memakai jas operasi warna hijau, kami disamperi dua dokter magang untuk ditanya-tanya, untuk observasi. Lantas dokter bedah menyampaikan hal-hal teknis, lalu saya ttd untuk tindakan, foto komputer. Dokter Kamalia datang, salam sapa sebentar. Saya keluar ruangan. Di lantai 2, di ruang tunggu: Bapak, Ibu, Hermione. Saya bergabung, duduk berdoa.

Pukul 8:40 saya dipanggil perawat, terdengar tangis bayi. Alhamdulillah, lancar. Di ruang bayi, saya adzan dan iqomah ke telinga Howl. Lalu kutulis di kertas keterangan lahir, nama dan alamat. Sah saya bubuhkan nama Cello Howl di sana. Lantas kembali menunggu. Ketika menunggu itulah, pikiran saya melalangbuana: Rabu siang biasanya saya info samsat keliling, pekerjaan rutin, cek email, WA rekan, dll. Betapa dunia luar itu tak terlalu penting, keluarga adalah segalanya. Hatiku gembira sangat dengan kehadiran bayi laki-laki, dan rasanya kuingin dunia tahu siang ini saya ingin melupakan sejenak kepenatan duniawi

Tengah hari dipindahkan ke ruang rawat. Pelayaran rawat inap juga keren. Para perawat sangat komunikatif, membantu sekali. Dapat rekan sekamar dari Vila Mutiara yang usia ibunya sudah di atas 40 tahun. Berkenalan, ngobrol walau lebih banyak ibu yang berbicara. Sore saya antar ari-ari ke teras rumah, dapat WA untuk siap-siap peras susu. Namun susah, akhirnya diminta beli susu formula, 170 ribu. Ok.

Singkat cerita, Sabtu sore kami sekeluarga pulang dari RS. Semua elemen di sini sangat ok. Untuk itulah saya tulis pengalaman ini sebagai apresiasi buat kalian. Sehat dan jaya selalu orang-orang baik.

Selain pelayan yang ekstra dari RS, vendor yang bekerja di sana juga ok-ok banget. Contoh, kala menunggu dokter anak datang, kami berulang kali papasan dengan cleaning service, lewat dengan sopan dan izin menunduk, tangan kanan di depan dada, sopan berjalan. Sudah jadi SOPnya. Contoh lain, ketika pasien menunggu di lobi, saya ke parkiran ambil mobil, pak Satpam yang jaga di pintu lobi dengan sigap membantu pasien. Mambukakan pintu mobil, dengan sopan tangan di depan dada mengucapkan terima kasih. Kalau dilihat dari kacamata awam mungkin ini sesuatu yang normal dan umum, tapi sudah banyak RS tidak melakukannya.
Terima kasih banyak RS Permata Keluarga Lippo Cikarang.

Karawang, 301025 – Peter Protschka –Kindred Spirits

Howl

“Bismillah… kita usahakan yang terbaik.”

Lega. Tahun 2025 akhirnya yang dinanti-nanti itu rilis juga. Seorang anak laki-laki hadir dalam keluarga kecilku. Keinginan lama sekali ini diwujudkan oleh Allah. Alhamdulillah…

Perjalanan dimulai bulan Januari 2025. Pertengahan bulan, saya diminta untuk tidak mancing, telat haid. Yaa…, begitu pula naik gunung. Sepertinya ditahan dulu. Januari, saya sempat naik gunung Bongkok tanggal 18 Januari 2025. Tanggal 25 hujan deras sekali, gagal nanjak Parang. Lantas mancing, sudah beberapa kali. Terakhir adalah tanggal 25, gara-gara gagal nanjak siangnya mancing dapat wader banyak sekali. Dan benar saja, esoknya saat cek tes kehamilan garis dua. Untuk memastikan lagi, esoknya tes lagi, sama. Dan begitulah, tanda-tanda kehamilan sudah ada. Kita persiapkan segalanya. Sembari menunggu periksa ke dokter, kami wanti-wanti mengurangi segala aktivitas berat. Bahkan sudah tidak ikut puasa Ramadan dulu. Kami putuskan ke rumah sakit bagus di Cikarang. Browsing dan Tanya-tanya teman.

Pemeriksaan pertama ke RS Siloam pada 1 Maret 2025. Setelah buat janji temu lewat aplikasi, setelah perjalanan mobil 1 jam akhirnya ditemukan jawaban Dua garis biru itu ditegaskan lewat USG. Dan benar, sudah isi 2 bulan. Membuat janji temu dengan dokter kandungan dr. Adhitya Indrapraja, ini pertama kalinya saya ke Siloam. Rumah sakit kelas B, di mana tidak bisa menggunakan BPJS Kesehatan secara langsung, sebab harus ke RS kelas C dulu. Dapat obat 4 jenis, dari penambah darah, penurun tensi, sampai vitamin. Biaya lumayan, habis 1 juta 8 ratus lima puluh rmpat ribu lima ratus rupiah, saya coba ajukan klaim Asuransi CAR di Perusahaan. Hasilnya? 1,8 juta melayang, tidak bisa dikover sebab anak ke-4. Ya sudah… ini mengingatkanku pada periksa kehamilan 2 tahun yang mana awal ke bidan bisa klaim CAR, pas ke dokter kandungan, ada diagnose kehamilan ke-4, reimbust ditolak. Ternyata sama, aturan asuransi hanya bisa klaim 3 kali kehamilan.

Bulan-bulan awal ini, istri sering muntah, minta aneka makanan aneh, sampai minta istirahat tiduran. Dijaga ekstra, kegiatan rumah tangga saya saja yang handle: cuci piring, cuci baju, setrika, dll; feeling cowok sebab memang muntah-muntahnya lebih parah. Lebaran istri tidak ikut mudik, hanya berdua saja naik bus.

Pemeriksaan kedua di Siloam dilakukan pada 26 April 2025, mencoba pakai CAR lagi. Kalau yang pertama kala itu dikhawatirkan salah input/proses penjelasan bahwa anak satu dan tiga tidak ada, sampai cover operasinya nanti bagaimana. Obatnya tak sebanyak yang pertama, habis satu juta dua ratus dua belas ribu lima ratus rupiah. Sayangnya reimbust 1,2 juta kali ini juga ditolak, kali ini lebih ditegaskan lagi, bahwa kalau sudah 3 kali kelahiran, maka kelahiran keempat tidak dicover, apapun alasannya. Ya sudahlah… memang kudu sabar dan nabung.

Alhamdulillah, yang terpenting perkembangan bayi berlangsung bagus. Yang terpenting sehat semuanya.

Pemeriksaan ketiga pada 5 Juli 2025, sudah 6 bulan. Sudah membesar dan hasil USG sudah ketahuan bayinya laki-laki. Seperti feeling, seperti prediksi ounty-nya. Kali ini saya bayar pakai Qris langsung 1,4 juta, tanpa buat form reimbust, sudah fix nggak dicover juga ‘kan. Dari pemeriksaan ini, dari hitungan bujet, dari diskusi lebih lanjut. Akhirnya kami jajaki pakai BPJS Kesehatan. Sebelum pulang, saya tanya ke perawatnya bagaimana agar lahiran bisa ke sini? Faskes harus yang bertautan, contoh Klinik Siloam Meikarta, kedua harus minimal 1x periksa kehamilan.

Saya tindaklajuti konsultasi dengan dokter Ririn, dokter Perusahaan dibawah naungan Kimia Farma (verdor klinik). Dijelaskan bahwa untuk memakai BPJS, wajib di rumah sakit tipe c, dan harus satu kota.

Ditunjukkanlah daftar RS yang bisa jadi rujukan. Tentu tak ada Siloam. Karena faskes 1 saya di KF, maka kalau mau ke Cikarang harus dipindah ke Cikarang. Keterangan yang didapat sama dengan info yang dari Siloam. Untuk memastikan lagi, saya iseng ke faskes 1 yang dulu kugunakan, klinik Central di Badami. Makin valid, sebab di komputernya tidak bisa lintas kota. So kami putuskan pindah faskes. Dengan mobile JKN, klak-klik bentar resmilah kami sekeluarga pindah ke faskes 1 Klinik Siloam Meikarta. Berlaku efektif 1 Agustus 2025.

Pertama ke sana, dengan Google Maps, sabtu setengah hari, tapi di aplikasi sampai sore. Makanya setelah persiapan yang degebuk-gedebuk di Sabtu pagi 2 Agustus 2025, kami berangkat dengan santai. Sampai di sana pukul 12:10 dan sedang istirahat, makanya jam 1 diminta balik. Kami menelusur ruko, ada ek krim Mixue.
Jam 1 kita masuk antrian, dan setelah dua orang selesai kami masuk ke ruang dokter. Sayangnya saat ini dokter utama sedang tidak ada di tempat, dokter pengganti tidak bisa/tidak mau mengeluarkan rujukan, terutama karena ini pertama. Kami konsultasi saja akhirnya. Apalagi rumah sakit tipe B. makanya kami disarankan kembali ke klinik sabtu depan. Karena masih siang, mumpung di Cikarang. Kami akhirnya malah main ke rumah teman, Bimanto yang baru saja punya bayi. Ke daerah Cibarusah.

Sabtu depannya 9 Agustus 2025 kami ketemu dokter Ardian Aghristha Devianti, dapatlah kepastian bahwa RS Siloam tidak bisa, harus ke RS tipe C. Maka disebutkanlah beberapa RS. Dan karena kami tidak pengalaman pakai BPJS, Dokter memberikan saran yang terbaik. Bahwa lahiran keempat maka akan steril, dipilihkannya dokter dan RS yang BPJS bisa kover tersebut. Pilih dokter yang berpengalaman dan bagus. Jadilah RS Permata Keluarga Lippo Cikarang. Kami ngikut saja, yang terbaik buat semuanya.

Didapatkanlah tanggal rujukan Rabu, 13 Agustus 2025 pukul 17:00 s.d. 20:00. Agar tidak cuti maka diambillah yang sore sampai dengan malam, habis magrib saja tak apa. Semua free sebab pakai BPJS.

Rabu, 13 Agustus 2025 saya pulang kerja tengo, anak istri sudah saya minta siap-siap di rumah. Sampai rumah salat Magrib, langsung gegas. Masuk tol saja biar cepat. Sampai RS, first impress kami adalah, wah RSnya kecil. Wah, parkirnya di belakang kecil, dst. Jujur saja, agak pesimis dengan bangunan yang tampak tua ini. Sama-sama di Lippo tapi jauh sekali tampilan luarnya. Kami diarahkan ke self-service, input data rujukan BPJS Kesehatan di mesin lobi, finger print pasien, dst. Pukul 19:00 mulai antri. Banyak sekali antrian, mau sampai jam berapa ini? Ternyata bukan antrian terakhir, sebab sampai jam 20:00 masih ada yang datang. Dan begitulah, kami pertama kali bertemu dengan dokter Kamalia.

First impress-nya wow. Dokternya informative, meyakinkan sekali, keren, tak membeda-bedakan pelayanan untuk pribadi atau BPJS, dan yang utama bisa memberi rasa nyaman ke kami. Kami yang was-was jadi memutuskan tetap pakai BPJS ke rumah sakit ini. Hasil pemeriksaan aman semua, termasuk kondisi bayi. Dan fix lagi dipastikan laki-laki, dengan bercanda bu dokter bilang, sudah bisa beli barang-barang baby boy.
Kami pastikan lagi, pengantar rujukan hanya 1x saja dari Faskes 1 bisa untuk 3 bulan ke depan. Alhamdulillah, tidak perlu bolak-balik ke faskes 1. Makanya langsung ditentukan tanggal kunjungan berikutnya, dapatlah 17 September. Menyesuaikan jadwal praktek. Masih sebulan lagi, apakah perlu periksa lagi sebelum itu? Tidak perlu. Semua aman. Ok, bismillah.

Di masa-masa krusial ini, kami tetap menjaga kesibukan, segala aktivitas yang aman-aman saja. Tidak usah ikut dulu pengajian (sekali saja tetap ikut sebab tanggal 24 Agustus saya harus perpanjang SIM di Yogya Mal), kegiatan sekolah, bahkan cuci piring, setrika dibatasi. Masa kehamilan di atas 35 minggu memang sudah wanti-wanti. Sejujurnya di tempat kerja pressure makin gila. Kata istriku, itulah rezeki anak. Nikmati saja. Potensi dikeluarkan, potensi dihinakan, jalani saja. Rezeki anak lelaki.

Akhirnya 17 September datang juga, pulang tengo. Hujan sangat lebat, sangat sangat lebat. Habis Magrib mau berangkat, ada saja persiapan yang kurang. Ibu pengen ikut, bawa semua persiapan menginap, siapa tahu langsung dioperasi. Sampai di RS ternyata antrian panjang, dan dokter ada keperluan lain, jadi jam 19 baru dimulai. Sampai jam 22:00 belum juga dipanggil. Hufh… malam sekali. Dan setelah diperiksa, semuanya OK. Dijadwalkan seminggu lagi operasinya. Jam 6 harus sudah di RS agar administrasi lancar bisa operasi pagi. Semua free, pakai BPJS.
Seminggu yang krusial lagi, kerjaan makin ngaco dan pressure kagak jelas. Sungguh sungguh membagongkan diri. Malam Minggu kami sekeluarga menonton film Howl Moving Castle. Untuk memastikan ini karakter Ok. Dan yah, kami yakin.

Rabu, 24 September jam 04:00 sudah bangun, kali ini lebih smooth sebab sudah disiapkan semuanya di mobil. Kali ini Bapak juga ikut, jadi full mobilnya. Sampai di RS sebelum jam 6, di IGD ditangani dengan baik, paling tensinya yang perlu diperhatikan. Setelah segala surat ditandatangani, tindakan operasi dilakukan jam 08:00. Ganti baju operasi, emas dari anting dilepas, jam tangan, dll. Saya sayang May, doa lancar semuanya.

Jam 08:45 lahirlah anak keempatku: Howl dengan selamat. Laki-laki sesuai hasil USG. Setelah perjuangan operasi Caesar, sekitar tengah hari istri pindah ruang perawatan. Ruang kelas 1 dalam 1 ruangan ada 2 pasien.
Ari-ari saya bawa pulang untuk ditanam di teras. Bersama bapak, galian di bawah jendela itu kami tanami ari-ari Howl. Dengan kertas namanya, bismillah dan Alhamdulillah bersama pensil. Pasang lampu, semua sudah disiapkan. Jadi setelah dicuci, langsung taruh kendi, ditanam. Sore itu juga saya balik ke RS. Bapak dan Hermione ke blok H, karena besok sekolah ada latihan upacara.

Begitulah, dari Rabu sampai Jumat kami berkutat di ruang itu. Bergantian dengan ibu menjaga May. Bantu ke toilet, makan, bercengkerama. RS jauh dari perkampungan warga, jadi jajannya di pedagang keliling yang kebetulan mangkal di sekitarnya. Mie ayam (buka jam 10:00), nasi uduk dan bubur ayam (hanya pagi), kopi dan seperangkat starling. Hanya itu. Akhirnya hari kedua, saya naik mobil keluar Lippo Cikarang. Di Sukaresmi, dekat area kos dulu saya beli dan bungkus nasi pecel ayam. Hari ketiga saat salat Jumat di Lippo, saya makan siang dekat mal. Bungkus 1 untuk dibawa ke RS.

Administrasi kepulangan begitu mudah, pakai BPJS ternyata mudah dan cepat.
Kunjungan dokter, sore boleh pulang. Tapi Howl belum. Untuk itu kami nunggu malam untuk ketemu dokter anak, Dokter Pradipto untuk konsultasi. Dan semua baik-baik saja, hanya saja Howl baru boleh pulang besoknya. Sabtu siang dapat WA, Howl boleh pulang.

Selepas Duhur ke RS, sorenya sudah di rumah. Begitulah, Howl akhirnya bergabung bersama keluarga kecil kami. Alhamdulillah…
Total pemeriksaan 3 kali ke Siloam, dapat obat-obat bagus dengan biaya sendiri. 2 kali ke Permata, dapat pelayaran terbaik. Dan betapa bersyukurnya kami dapat RS yang bagus-bagus.

Karawang, 101025 – 231025 – Michael Jackson – One Day in Your Life

Thx RS Permata Keluarga Lippo Cikarang, terkhusus Dokter Kamalia, dan Dokter Pradipto Satrio Nugroho.

Dukcapil Karawang Mal Technomart

Frank Sinatra Kena Selesma


“Begitu kau di rekaman dan menyanyi, hanya ada kau saja. Jika hasilnya buruk dan membuatmu dikecam, kaulah yang disalahkan – tak ada orang lain. Jika bagus, juga hanya kau. Dengan film tak pernah seperti itu; ada produser dan penulis naskah, ada ratusan orang di kantor dan kau tak punya kuasa apa-apa. Dengan rekaman, kaulah karya itu…”

Buku tipis yang lama diinginkan ini akhirnya punya, baca, ulas, koleksi juga. Sudah mengingin sejak lama sekali. Waktu itu sekitar tahun 2015 saya sempat simpan foto buku ini. Bareng buku-buku Banana lainnya, berulang kali harap beli tapi hitungan bujet terlampau mudah didepak. Tipis murah, tapi ya memang belum berjodoh saja kala itu. Sampai akhirnya terlupa. Kubaca dalam sekali duduk pada Selasa, 28.10.25 selepas Magrib sampai adzan Isya di taman Greenvil Blok V. sudah optimis bisa sebab memang begitu tipis, 130 halaman, cetak mungil.

Sebelum kutuntaskan sekali duduk, sudah kucoba baca pas istirahat kerja jam 12:30 sampai 13:00 di ruang Vikon dengan kopi dan deretan musik khusus: Westlife album Allow us to be Frank. Album rilis tahun 2000an ini dulu pernah kupunya. Namun memang nggak hit, tenggelam. Rilis pasca Greatest Hitz, ketenaran menurun. Wajar saja tak sukses. Namun tetap terkenang juga, sampai sekarang ketika bicara Sinatra, justru Westlife inilah yang pertama kuingat. Membekas.
Ternyata berisi non fiksi 3 catatan, adalah karya jurnalistik yang dibuat seperti cerita. Pusarannya orang-orang terkenal: Sinatra dan Muhammad Ali, sedangkan satu lagi adalah bunga anggrek yang eksotik. Nah, cerita kedua juga memunculkan memori lama.

Sekitar tahun 2009 ketika ke mal Solo Grand saya ke toko buku Kharisma. Buku Pencuri Anggrek sempat saya timang-timang, dengan label sumber cerita Adaptation dengan Nic Cage sebagai bintangnya, tentu saja teramat menarik. Namun, akhirnya hanya bawa pulang dua buku Misteri Terbesar, dan Million Dollar Baby (Banana). Ya sudah, sampai sekarang belum punya juga, kali ini hanya baca penggalannya.

#1. Frank Sinatra Kena Selesma by Gay Talese (Penerjemah Yusi Avianto Pareanom)

Ini catatan wawancara dan pengamatan sang jurnalis kepada narasumber orang besar tahun 1950an, era keemasan Frank Sinatra yang kebetulan sedang sakit. Prosesnya sendiri berkelanjutan, bukan hanya hasil wawancara saja yang ditulis tapi bernarasi bagaimana, kapan, mengapa, dst sang superstar menjalani hari. Dari sifat temperamental terhadap musisi lain, sikap sinis terhadap musuh, sampai efek yang ditimbulkan kala ia sakit. “Secara terbatas, guncangan yang ditimbulkan seorang Frank Sinatra dengan selesma pada industry hiburan sebanding dengan gubncangan perekonomian nasional ketika presiden Amerika Serikat sakit mendadak.”
Dengan segala uang dan powernya, ia memang bisa melakukan apa saja yang diinginkan. Manusia dengan kebintangannya.

“Tetapi Dolly, kita tidak punya lowongan.” Dia menukas gusar, “Buat lowongan.”

#2. Demam Anggrek by Susan Orlean (Penerjemah Arif Ash-shidique)

Anggrek piaraan yang dapat melampaui umur pemiliknya dan bahkan melampaui umur anak cucu pemiliknya. Banyak orang yang mengoleksi anggrek menyertakan pewaris anggrek dalam surat wasiatnya karena tahu bahwa tanaman-tanaman itu akan tetap hidup sehabis mereka. Ini seperti potongan novel Pencuri Anggrek, atau memang potongannya. Yang jelas bunga anggrek istimewa. Makanya kala Orlean membaca Koran mendapat berita kriminal pencurian anggrek, hatinya terketuk, meliar, akhirnya menuliskannya. Sesuatu yang tak lazim, pencurian bunga. Hebat! Bukti inspirasi bisa datang dari mana saja.

“Mengoleksi bisa jadi sebentuk penyakit cinta. Kalau kau mengoleksi makhluk hidup, kau mengejar sesuatu yang tidak bisa disempurnakan karena bahkan jika kau berhasil menemukan dan memiliki makhluk hidup yang kau inginkan, tidak ada jaminan bahwa ia tidak akan mati atau berubah… seorang kolektor yang menginginkan satu dari setiap spesies anggrek di bumi pasti sudah mati sebelum dapat mencapai jumlah yang berarti.”

#3. Ali Kini by Cal Fussman (penerjemah Yusi Avianto Pareanom)

Di tahun 2000an, generasi jauh dari sang The Greatest. Generasi saya, Ali memang sudah tua dan sakit Parkinson. Beda dengan generasi 60an smapai 70an di masa emasnya. Orang yang menyaksikan keduanya bertarung di ring seperti ditakdirkan menyaksikan halilintar. Maka tulisan ini hasil karya jurnalistik masa kini dan perpaduan masa kejayaan. Salah dua kutipan wawancara adalah bagaimana pendapat Ali akan hidup ini, dengan masa tua sakit. “Sulit dijelaskan…,” bisiknya. Tetapi ia mencoba dengan caranya. “Semua orang besar diuji Tuhan… aku sedang diuji… untuk melihat apakah aku tetap berdoa… apakah aku tetap beriman. Aku sedang diuji.”

Yang kedua, rahasia perkawainan. Memang berat kalau di masa tua sakit, tapi keluarga tetaplah yang utama. “Apa rahasia perkawinan yang berhasil?” / “Kesepakatan… sepakat tentang semua hal.” / “Tetatpi, Champ, jika kau harus sepakat tentang semua hal untuk menjadikan perkawinan berhasil, tak aka nada perkawinan yang berhasil.” / “Tiga yang pertama… mengajarkan bagaimana melakukan yang keempat.”

Penerbit Banana memang jaminan kualitas. Penerbit indi mengutamakan kualitas. Makanya tahun 2000an ketika lihat buku-buku berminat, dan karena tak banyak makanya terkenang. Di rak sudah ada terbitan Banana lainnya, tak banyak memang, sungguh worth it untuk dikolekasi. Sayang sekali Kura-kura Berjanggut itu terlepas. Sayang sekali…

Frank Sinatra Kena Selesma | by Gay Talese, dkk | Penerbit Banana, 2005 | Cetakan 1, Oktober 2005 | Editor Yusi Avianto Pareanom | Tata letak dan desain cober Risdi | Ilustrasi cover Yuswantoro Adi | 130 hlm, 19 cm | ISBN 979-99986-2-X | Skor: 4.5/5

Karawang, 291025 – Matchbox Twenty – Unwell

Thx to Richar Rofiqoh, Malang

Frustasi Puncak Gunung

“Mengapa mas Herman sering naik gunung?” / “ Kenapa ya? Senang, begitu saja.” / “Masak tak ada alasan?” / “Kalau kau sudah sering ke gunung, kau akan merasakan betapa berharganya alam ini sebenarnya. Kau akan lihat betapa dahsyatnya alam ini dibandingkan dengan diri manusia. Bagaimanapun hebatnya peradaban, manusia tak akan bisa menciptakan alam semcam ini. Karena itu merupakan tanggung jawab kitalah untuk memeliharanya.”

Buku jadul, tipis, dibaca cepat. Yang membuatku tertarik judulnya, ada kata “gunung” dan memang sedang merindukan naik gunung. Harapannya bakal jadi novel petualangan cinta di pendakian. Ternyata enggak. Ini jadi cerita mahasiswa yang kandas dan lantas merentang masa kedewasaan, ditampar akan kenyataan yang pahit. Ini lebih baik, ketimbang misal akhirnya mereka bersatu dalam perkawinan. Sempat kepikir sekilas mereka bakal bersatu, tapi alangkah baik memang tidak. Dan benar, dengan berani sejoli ini cintanya kandas.

Tidak melulu menampilkan kebahagiaan hakiki, tidak melulu menyampaikan keindahan hubungan cinta. Ini malah lebih nyata, lebih menginjak buku akan realitas. Yang disayangkan, Cuma kenapa gunung hanya jadi tempelan. Pendakiannya tak dijelaskan, proses nanjaknya tak dirinci, detail keindahan pemandangannya dilewati. Hanya tampilan indah sepintas dan jadi ruang kenangan sepintas.

Kisahnya tentang Herman, mahasiswa kedokteran hewan di UGM, Yogyakarta di tahun 70-an, masa lalu yang tampak jauh itu. Orang Kalimantan, perantau yang kuat nan tabah ini tumbuh dengan kesederhanaan. Seorang anak yatim. Yang bisa kuliah karena bea siswa. Tahu diri ketika di tanah rantau, dengan tak mimpi muluk-muluk terhadap kemewahan. Para pemuda harapan bangsa yang hidup di era Orde Baru ini menampilkan kegiatan keseharian.

Dibuka dengan perkenalan karakter yang mengelilingi, dari Beni sampai Bram sobatnya, Yenni pacar Bram yang punya kerabat dengan Cecelia Ambarwati, kelahiran Salatiga. Lahir dari keluarga berada, memiliki jiwa bebas. Jadi mahasiswi yang aktif di organisasi. Dari pembuka kita tahu, dia adalah aktivis. Aktif, cantik, pintar. Memikat banyak pria. Nah, dalam pesta itu ia meminta para penonton untuk lebih menikmati, meminta beberapa untuk bernyanyi dan menari.

Tersebutlah sang protagonist kita, Herman. Dia mahasiswa senior, hobinya memeluk sepi, naik gunung. Gunung-gunung yang disebut di sini: Sindoro, Sumbing, Merbaru. Trio favorit Gunung Jawa Tengah. Dia juga jago nyayi dan gitaran, maka saat acara malam itu dia diminta mendadak bernyayi, dia sigap ke panggung, memesona teman-teman, termasuk Ambar. Berkenalan, basa-basi, dan mencoba mengakrabkan diri. Dua pribadi yang berbeda, sebab Ambar orangnya supel. Merdeka. Sementara Herman penyendiri, pemeluk kesunyian. Maka ketika naik gunung Ambar meminta oleh-oleh bunga anggrek, membekaslah permintaan itu.

Lantas kunjungan ke rumahnya, makin membuat dekat dan mencipta rasa sebab bisa mengambil hati ayahnya Ambar. Main catur, main kartu, main musik, suka berkebun. Yang semua cocok sama ayahnya. Mereka mencipta lingkar sahabat, yang secara langsung membuat pembaca berpikir betapa idealnya seandainya calon mertua – calon menantu ini bila bersatu. Koleksi bunga anggrek yang cocok sekali. Bahkan dalam bermain kartu, sang ayah bisa tertawa lepas dan terkekeh bahagia. Ditambah, Herman juga merasa seperti punya ayah sendiri. Namun dalam novel bagus, selalu jangan menuruti alur bahagia ideal sebab bakalan hambar. Jadi diciptalah penghalang yang kokoh nan perkasa bernama Susanto. Pria kaku, kaya, dosen. Gambaran ideal buat jadi menantu, di mata ibunya. Namun tidak untuk sang anak.

Kondisi ini memicu konfliks batin. Ingin mapan dan ikuti kata orang tua? Menikahlah dengan pilihannya. Ingin merdeka dan tetap bisa memertahankan idealism, kejarlah pria impian. Seorang idealis yang akhirnya terjerebab. “Sebenarnya, sebenarnya, apa cita-citamu Ambar?” / “Aku belum tahu jadi apa atau akan jadi bagaimana aku. Cuma aku ingin kehadiranku dihargai sepenuhnya. Aku bukan bagian dari seseorang, bukan bagian dari suami misalnya, bukan bagian dari orang tuaku. Pokoknya aku ya aku.” / “Aku tak mengerti.”

Pernah ada masa Ambar minta diajak naik gunung, terwujud. Naik gunung Sumbing. Nah adegan terbaik, tapi sebentar saja terjadi di pendakian bersama ini. Sayangnya, jadi yang pertama dan terakhir. “Lalu tendanya hening, ketiganya merambatkan pikirannya masing-masing ke dalam bayang-bayang kehidupan yang mereka inginkan. Sepinya gunung, selalu membuat orang-orang muda yang mendakinya merenungi dii. Dimana dan buat apa hari esok yang bakal dijalani?”

Begitulah. Kala Herman sedang KKN ke Ragunan, ada rasa rindu muncul dari mereka berdua. Padahal tak ada cinta terucap. Hanya chemistry yang tercipta. Ambar mengirim surat, tak dibalas. Ambar semakin dengan dengan pernikahan, acara pertunangan sudah dilakukan. Herman tetap geming. Dan begitulah, akhirnya hubungan ideal itu tak terjadi. Kandas. Sekembali ke Yogya, lulus kuliah. Sepenuhnya terputus. Tiba-tiba bab berganti. Terbentang ke Nusa Tenggara, bertemu dengan peternakan kuda. Bertemu dengan orang-orang baru.

Terjadilah dosa. Baik dosa dengan istri orang lain, maupun kedatangan mahasiswa KKN dari (kebetulan) UGM. Ada Ambar di sana, istri orang lain (lagi). Cerita jadi agak sinetron di sini. Bagaimana bisa seorang istri melakukan ‘kejahatan’ menahan kehamilan demi lelaki lain? Ditambah makin sinetron kala ke Jakarta bertemu teman lama Waluyo. Si pendiam ikut demo ke Pemerintah yang korup. Sampai akhirnya kita dihadapkan sebuah ‘kebahagiaan’. Apakah perlu?

Ini salah satu jejak sejarah juga, menyebut artis lama, “Mengingatkan bintang film Gina Lollobrigids.” Siapa yang kenal? Hanya orang-orang jadul. Menyebut musisi lama, sampai kegemaran pendakian dengan peralatan minim. Catatan sejarah tahun 70an yang diabadikan dalam cerita.

Untuk sebuah novel lama, saya suka. Akhir yang tak bahagia menjelma bahagia. Akhir yang bahagia menjadi kurang bahagia. Frustasinya sendiri tidak di gunung, tapi masa-masa setelah naik gunung. Memang yang namanya cinta susah ditebak arahnya. Sangat amat jarang wanita mau mengorbankan ego demi cinta, mau mengorbankan harta demi cinta, mau melepas kehebatannya demi cinta.

Frustasi Puncak Gunung | by Ashadi Siregar | Penerbit Cypress | Jakarta, November 1977 | C.P. 77.050 | Skor: 4/8

Karawang, 281025 – Miles Davis – Milestones

Thx to Nur Hasanah, Bekasi

Tour de Gowes 2025


“Acara tanggal 21 Done. Next tanggal 28.”
Seperti sebelum-sebelumnya, NICI kembali hadir untuk memeriahkan Gowes Indofood. Kali ini persiapannya lumayan matang sebab info didapat 2 minggu sebelum hari H. Saya sebar di grup factory siapa saja yang berminat, didapat 8 anggota. 7 dari CIF, 1 hari HO. Pahlepi (el) dengan sepeda jasulnya. Mas Wid dengan sepeda lipatnya. Herry dan Satria pinjam sepeda. Wahyu beli sepesa baru. Sandhi dengan federalnya. Punyaku sepeda Oddesa hitam, dan Mas Cleo dari Jakarta.
Di grup khusus gowes (namanya Sepedah Kalcer) diskusi berlanjut. Terutama ya transpotasinya, sebab olahraga sepeda memang membutuhkan effort banyak. Karena ini event Perusahaan, maka mobil boks dari Perusahaan siap support. Untuk penumpang, bisa dengan mobil Perusahaan juga. Namun karena hanya bertujuh, 2 di antaranya bisa dengan mobil boks, maka pakai mobil saya saja yang lima orang. Oiya, untuk support jersey gowes, kita beli online. Lengan panjang, biru. H-3 sudah datang, tiba-tiba dari HO minta juga, kilat H-2 sudah datang. Kekejar.
H-1, mobil boks sudah dibawa ke rumahku. Mepo di rumahku sebab dekat tol Karawang Barat. Beberapa sepeda sudah dipaking buat teman-teman yang Sabtu ingin coba gowes ke Pabrik. Yang lainnya paking di rumahku. Sabtu malam Satria datang dengan mobil boksnya. Herry yang juga datang sempat menunggu, tapi malah ajak futsal. Hawa panas Karawang, buat sekadar paking ke dalam mobil boks saja terasa gerah sekali. Pakingnya ternyata sederhana. Sepeda dimasukkan, diikat, lalu dikasih kardus biar tak lecet. Sepeda berikutnya dimasukkan, dikasih kardus, dst. Dengan tali raffia, gunting, dan kardus bekas semua teratasi. Kuat pula.
Minggu pagi janjian berangkat pukul 06:00 sebab ke Noodle Cibitung hanya 40 menit. Jadi bakalan keburu. Yang hadir pertama Wahyu, karena belum pernah ke rumahku sempat muter-muter. Lalu menyusul lainnya. Pas pukul 6, justru sopir boks Satria dan Herry yang belum datang. Pukul 06:10 dengan dua mobil kita berangkat, masuk tol Karawang Barat keluar tol kawasan Industri MM2100 Cibitung. Sesuai Maps, hanya 40 menit kita sudah tiba di Noodle. Ketemu yang dari HO, Cleo. Registrasi, makan pagi dengan Pop mie, gorengan, roti, buah jeruk, melimpah, telur rebusnya sudah habis. Air Club juga banyak. Bertemu teman-teman Noodle lainnya.
Pukul 07:40 setelah pemanasan bentar, akhirnya berangkat. Karena ini event keempat yang saya ikuti bareng JOCC, saya sudah familiar langkah-langkahnya. Masuk kawasan MM, ke pedesaan, muterin Cikarang, dst. Bakalan sama saja. Apes, El saat masih di kawasan sepedanya rusak, belum juga dua kilo udah nyerah. Pakai salah jalan pula, Herry, Sandhi, dkk di depan kuikuti tapi salah belok, akhirnya dari yang mulanya di tengah, kali ini jadi yang paling akhir. Namun untungnya di tengah jalan, kita salah jalan lagi tahu-tahu papas an dengan rombongan, balik lagi di posisi tengah.
Saat jelang Pos Istirahat, gantian Widada yang nyerah, mual. Salah sarapan, atau sedang kurang fit. Akhirnya sampai di pos istirahat pukul 08:50, dengan makanan kembali melimpah, dengan jahe hangat, kita santai dan foto-foto. Ngerumpi banyak hal. Dari cerita mendaki gunung, sampai rencana main bola. Dari gowes berikutnya sampai cerita isu global. Dari politik yang hangat sampai cerita cewek. Pokoknya bebas, asal jangan ngomongin kerjaan.
Sepeda Mas Wid dipakai El, lanjut. Bersepeda seru. Rute kali ini lebih oke dari tahun lalu sebab banyak sawahnya, banyak pohon rindangnya. Tak melulu kawasan industri dan jalanan besar. Setelah muter-muter entah sampai mana, akhirnya saya tahu rutenya tembus di jalan utama Cikarang-Cibarusah, di kawasan baru Delta Silikon Gate 4. Waaah… ini sih beberapa waktu lalu sudah saya lewati. Nah, di sini Satria aneh-aneh, mau free style direkam Sandhi, jatuh. Untung Iphonenya nggak apa-apa. Pedalnya soak sih, tapi tak seberapa harganya kalau disbanding Iphone.
Dan kalau sudah di Delta Silikon berarti sudah sangat dekat dengan Meikarta. Kutemukan orang-orang memancing di sana, bakalan saya datangi deh. Sempat kepisah lagi dengan rombongan, akhirnya kita tiba di panggung pertunjukan pukul 11:00. Ini dekat dengan klinik Siloam yang saya pilih kemarin.
Panggung yang sama, sudah familiar, bakalan karaoke dengan segala jogetnya. Disambut minuman hangat/kopi/teh, jeruk yang banyak, dan tempat penukaran makan siang. Musik mengalun dengan segala keseruannya, diselingi pembagian foorprize, kita makan siang. Dan juga beberapa salat Dhuhur. Saya sendiri dapat lagi, topi kuning dengan merek Sarimi Gelas. Yang lainnya dari kaos, tempat minum, sampai holder botol. Penunjang aktivitas gowes. Kita semua diundang ke depan panggung untuk foto bersama, ditutup dengan hadiah utama, Samsung. Yang dapat? MCnya.
Sembari nunggu jemputan truk untuk sepeda dan bus untuk kita, kita lanjut ngemil makanan. Perjalanan kembali ke Noodle lebih cepat sebab lewat kalimalang. Sesampai di Noodle langsung dibongkar dari truk, dipindahkan paking ke mobil boks. Pamit. Cleo ke Jakarta, kami balik ke Karawang.
Perjalanan pulang sempat mau masuk ke kawasan MM, tapi putar balik saat di pom bensin. Sebab sepertinya tol ke arah Cikampek tidak bisa, mau masuk tol Cikarang tapi nanggung, ya sudah tidak usah masuk tol sekalian. Lurus terus menyusuri kalimalang. Jalanan Minggu siang yang lancar sekali. Sampai di Karawang, Satria sempat mampir ke RJ Bike buat benerin pedal. Sampai di rumahku sudah Asar, dengan sebotol es teh menyegarkan.
Bubar, yang anehnya tak satupun sepeda ditinggal di rumahku. Kok bisa? Herry dan Satria lanjut dengan mobil boks. Wahyu sepeda barunya diikat di motor. El dan Sandhi dinaiki, wow. Mas Wid mengikat sepeda lipatnya. Dan begitulah, event Gowes memeriahkan HT JOCC keempat selesai digelar.
Next, fun bike with GOCCI (Gowes Club NICI). Nantikan.
Karawang, 241025 –Ronan Keating – I Hope You Dance
Thx to Wahyu, Pahlevi, Sandhi TJ, Satria, Herry, Mas Wid, Cleo.

Pengalaman Mengurus KTP di Dukcapil Karawang

“Selamat siang, Kartu Keluarga dan akta Kelahiran sudah selesai. Silakan unduh dan print menggunakan HVS A4 ukuran 80gram. Terima kasih.”

Kaget. Sudah sebagus ini. Dukcapil Karawang di Mal Techno Karawang amat sangat bagus. Stereotype bakalan dipingpong langsung musnah. Hanya 30 menit semua beres: ganti KTP saya dan istri (update data), Akta keluarga (update data), KIA 2 anak (baru). Semua berjalan sekali duduk, tak perlu bolak-balik, dan langsung beres. Salut. Bonus kopi, ada dispenser dengan gelas, kopi sachet, dan gula di atasnya.

Mulanya, dari RS Permata Keluarga Lippo Cikarang. Karena kelahiran Bekasi, dan KTPku Karawang maka tidak bisa dibantu pembuatan KIA dan KK, maka harus diurus sendiri sesuai domisili. Howl lahir 24 September dan harus diurus 14 hari setelah kelahiran, sesuai kalimat di Surat Keterangan Lahir. Seminggu setelah lahir, barulah saya dapat cuti, sekalian kontrol. Jumat (3-Oct-25) pagi saya sudah menyiapkan semua file asli dan fotokopi, masing-masing 2 lembar. Sehari sebelumnya sudah daftar online, dapat nomor antrian dan rencana datang jam 10:00.

Jam 10 kurang lima belas menit saya berangkat, eh KTP May aslinya ketinggalan di rumah Blok H, putar balik ambik, sampai di Mal Techno jam 10 kurang lima menit. Setelah Tanya satpam, diarahkan di lantai dasar ujung. Ada plang-nya, sekantor dengan instansi Pemerintah lainnya: Bank Jabar, BPJS, dll. Ketika sampai, disambut oleh anak-anak PKL SMK. Diminta isi form banyak. Sempat down, wah sebanyak ini? Sebab memang file-nya banyak. Ya sudah, saya isi satu per satu. Disarankan bawa bolpoin sendiri yang Ok, sebab bolpoin terbatas dan gantian pengunjung lain. Satu hal yang belum kusiapkan, adalah foto 2 KTP saksi kelahiran.

Akhirnya saya WA grup keluarga minta foto mertua/ounty, dan foto anak pertama.
Setelah 15 menit isi form, diarahkan ke bagian Dukcapil. Ada 3 kursi antrian dengan komputer dan petugasnya masing-masing. Mungkin karena hari kerja jadinya tak antri, antrian online jadinya tak terlalu berpengaruh. Setelah mengisi, saya bawa berkas ke konter. Dan begitulah, ketakjuban saya dimulai (lupa nama petugasnya), poinnya mereka satset banget. Satu per satu berkas dicek dan discan, berkas isian diminta dan yang asli. KK, KTP saya dan istri, surat keterangan lahir, foto anak pertama (11 tahun), materai 6 ribu 1 lembar.

Pertama cetak KTP, ada studio di belakang, kecil tapi ok. Namun karena kami tak merubah foto KTP, pakai data lama. KTPku revisi menghilangkan gelar sarjana, KTP istri mengubah status kerja: IRT. Cekrek-cekrek jadi. Dua KTP asli lama diambil diganti dua KTP baru.

Kedua KK, tidak ada warna biru. Diminta cek dalam bentuk cetak, cek satu per satu, pastikan sudah benar. Ada beberapa koreksi seperti Kawin tercatat, sampai status anak pertama Tidak Sekolah. Nah, ini diminta foto rapor. Karena tidak bisa menunjukkan, maka tidak bisa dirubah. Filenya kalau sudah OK semua bakal dicetak di situ dan diminta ttd.

Ketiga KIA, untuk anak kedua baru lahir tidak ada foto. Cekrek langsung jadi, untuk KIA anak pertama meminta foto. Mulanya saya pilih sedapatnya, sudah terlanjur print. Di WA istri untuk mengganti foto yang pakai jilbab, makanya minta tolong untuk print lagi. Dan bisa, makacih. Maaf ya pak.

Keempat, Akta lahir. Semua sesuai dengan data surat lahir, bahwa ini anak keempat. Walaupun dua anak yang lain tidak ada. Lalu kelahiran tertulis Kabupaten Bekasi sebab lahirnya di Cikarang. Kalau tertulis Bekasi saja artinya kota Bekasi. Yo wes, ngikut saja.
Semuanya jadi dalam setengah jam. Dapat file pdf asli KK dan Akta lahir. Di WA langsung di saat itu juga. Semua transaksi juga satset, file-file langsung di WA. Ktp saksi, foto anak. Benar-benar efektif. Semua digital jadi memang harusnya praktis. Benar-benar menghapus stigma bakalan lama dan pingpong. Saranku kalian urus sendiri saja bila tidak dibantu pihak Rumah Sakit. Padahal sempat ditawari tetangga akan dibantu yang artinya bakalan diminta uang, bisa 100 sampai 200 ribu. Kan mahal dan rugi besar. Mending uang segitu buat beli mie ayam dan es teh di siang yang terik, masih ada kembalian.
Salut.

Persiapkan File asli semua: KTP, KK, Surat Lahir, Foto anak (usia di atas 5 tahun), dua KTP saksi kelahiran (orang-orang yang tidak ada di KK, bisa kakek, nenek, paman, teman), Materai, Bolpoin. Catatan tambahan: semua file fotocopy tidak diminta sebab di sana ada scanner/mesin fotocopy sendiri.

“Terima kasih banyak. Pelayanan cepat dan bagus.”

Karawang, 221025 – System of a Down

Thx to Dukcapil Karawang