The Irishman: Roti Celup dan Kenikmatan Tiap Tetes Detiknya

Bahwa lebih mudah bagi seekor unta untuk melewati lubang jarum daripada orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” – Matius 19:24

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Sangat indah, sangat spiritual, sangat tepat, sangat memukau. Meski mengandung pesan pasif dalam tiap geriknya di usia senja. Untuk merangkum dalam satu kata adalah ‘Wow’. No doubt, The Irishman adalah film terbaik tahun 2019 sejauh ini. Tiga setengah jam yang wow. Ya wow, serius. Inilah film yang benar-benar berhasil memenuhi ekspektasi setelah hype berlebih Parasite dan Joker. Kenikmatan gambar gerak tiap tetes detiknya. Ketika tahu durasinya yang melimpah, biasanya kita seolah menyantap menit-menit yang menjemu bak menyaksikan seekor semut bergerak membawa beban. Irishman adalah film tutup tahun yang sempurna. Ini adalah film reuni para maestro cinema. Dengan tema mafia, dengan usia tiga pemeran utamanya tua, termasuk sang sutradara, pemirsa disuguhi akting berkelas tiada dua. Nominasi Oscar pasti, juara sekadar bonus. Mayoritas ngegoliam, ngerumpi, ngobrolin banyak hal di usia senja. Reuni di penjara, main lempar bola jauh-jauhan. Wkwkwkk… seperti itulah hari tua yang sesungguhnya. Kunyah roti sudah ga kuat, dicelup dulu dan dengan masih sangat fasih misuh, ‘fck em fck em’. Oscar for Joe Pesci please! Sejatinya ini adalah jawaban yang menohok Martin atas suara kontra tentang kritik wahana MCU-land beberapa waktu lalu. Selamat datang di wahana-cinema sesungguhnya. Andai tayang di bioskop dengan tambahan durasi director’s cut pun akan saya tonton lagi, dan lagi.

Kisahnya tentang seorang veteran perang yang bernarasi masa lalunya. Masih ada saat-saat ia merenung. Jalan macam apa yang telah ia pilih. Seperti tiap laki-laki yang karena jasanya, ia tetap memiliki memori kuat pada kejayaan. Seorang pengecat rumah istimewa. Cerita berlapis, dari masa awal sekali ia menjalin kerja sama dengan lingkar mafia, lalu lapisan kedua tentang perjalanan bermobil untuk menghadiri pesta pernikahan, dan lapisan terakhir ya present day. Hari ini ia bertutur di panti jompo dengan nuansa langit kelabu, angin lembab. Pada saat itulah seolah ia memulai hidup ketika dimana orang lain cenderung menyia-nyiakan waktu. Frank Sheeran (Robert De Niro) adalah sopir pengantar daging, truknya error, di rest area ketika bongkar mesin, disamperin seorang tua yang membantu mengatasinya. Sempat berjabat tangan memperkenalkan diri, tapi Frank tak mendapati namanya. Warna pucat daging, kontras dengan semangat berapi-api di dalamnya. Barulah beberapa hari kemudian, ketika ia kena kasus ‘hilangnya daging’ dibawa ke pengadilan, ditangani pengacara hebat, memenangkan kasus yang bahkan ia sendiri sejatinya salah, dan sang pengacara menjadi rantai perkelanaan dengan Russell Bufalino (dimainkan dengan hebat oleh Joe Pesci), orang yang membantu menemukan masalah perseneling truk.

Russ bukan hanya pemilik toko atau sebuah pertamini di rest area, ia ternyata adalah pemilik seluruh jalanan. Mafia yang menguasai wilayah itu. Russ menautkan kebanyak hal. Proyek pembunuhan pertama Frank justru malah untuk sang Whisper, orang yang membayarnya guna membakar pabrik laundri. Saat Frank akan menjalankan aksinya, ia diminta ikut ketemu Angelo Bruno (Harvey Keitel) dengan Russ disampingnya. Keganjilan yang tampak menjanjikan, hukum moral sudah tak berlaku. Menjelaskan, siapa pemilik saham laundri? Aku! Wow, ekspresi Frank yang terkejut bagus banget. Ia berencana mengembalikan uang pangkal, tapi tidak. Justru Frank diminta menghabisi Whisper. Pistolnya dibuang ke sungai dekat jembatan, dan betapa sungai adalah museum karat untuk senjata bukti pembunuhan.

Dalam narasinya, Frank berujar bahwa anak muda sekarang mana kenal Jimmy Hoffa (Al Pacino)? Sering ia mengangkat kedua ujung bibirnya. Senyum yang sedikit terdistorsi, dari keputusasaan, kerinduan masa lalu. Karena memang tak ada banyak klu, penyelidikan mandek. Dilanda waktu, zaman, hening dan muram. Jimmy menghilang di tahun 1975 tanpa banyak perkembangan penting. Kita jadi saksi, penonton jadi saksi. Frank lalu menuturkan link bagaimana ia diperkenalkan sama sang ketua Serikat kerja International Brotherhood of Teamsters. Frank disebut sebagai pengecat rumah. Jimmy adalah yang terbesar era tahun 1960an. Jimmy adalah seorang orator ulung, organisator yang luar biasa kharismanya. Sebagai mafia jalanan, proyeknya melimpah. Sikat kanan-kiri yang menghalangi, sebanyak kawan-kawannya, musuhnya juga melimpah.

Pada akhirnya Jimmy masuk penjara. Di penjara, terjadi konfliks horizontal sama temannya sendiri Anthony ‘Pro’ Provenzano (Stephen Graham), ia meminta uang pensiun. Baku hantam antar kakek-kakek. Keluar penjara, masalah belum juga selesai di antara mereka. Meeting, si Pro pakai celana pendek, telat 10 menit? 20 menit? Ya udah tengah-tengah 15 menit. Wkwkwkk… adegan aneh. Baku hantam lagi, menyenangkan sekali lihat Al Pacino masih bisa nabokin orang. Rantai kekuasaan di dalam serikat ditentukan oleh kekuatan mental dan sosial ketimbang arogansi. Sebuah pemandangan yang membuat kita terbakar dengan rasa sakit dan harapan.

Adegan trenyuh tersaji saat tragedi penembakan Presiden John F. Kennedy. Dengan latar sebuah kafe, menyaksikan kejadian besar itu lewat televisi. Lalu saat akhirnya bendera setengah tiang dikibarkan, Jimmy yang melihatnya di gedung ga rela, ia pun menaikkan sang Stars and Stripes sampai ke puncak. Sebuah tindakan berani. Sebuah arogansi yang nantinya ditampilkan sampai menit-menit akhir. Arogansi, merasa masih punya kuasa, dan kunci itu merasa ia simpan, nantinya berakibat fatal. Sangat fatal, manusia kuat yang tak tahu kapan saatnya pensiun.

Seluruh perkembangan film merupakan pendakian yang menantang dan menuju kehormatan, sebuah pengandaian yang menentang semua rintangan keraguan dan ironi. De Niro sebagai narator bermain tenang, dia melakukan itu dengan perlahan dan tekun. Mengingat santuy pada suatu petualangan kriminal dan sunyi dalam malam yang kelam, terlebih lagi mengingatkannya pada kematian, peti mati, dan pemakaman yang menjemukan, perjalanan final tanpa kata. Untuk mengerti semuanya adalah dengan memaafkan semuanya.

Setiap jeda bernarasi, sesaat tenggelam dalam pikiran. Kecenderungan kecil untuk menyelinap dalam keanehan yang tidak masuk akal, sebuah sensasi yang tidak bisa dia jelajahi sepenuhnya. Di ruang kosong yang tak bisa diukur itu, indra tentang waktu ikut menderita dan linglung dalam kebingungan tak berbentuk. Rasa kesadaran yang mengigit dan pahit. Sinema hening memang semenakjubkan ini kawan!

Orang-orang sekeliling menganggap penyelesaian adegan pasca ikan itu masuk akal. Menyerukan kata-kata yang terdengar seperti kata sandi pada dialog ikan, dan namanya yang tak tersebut demi kenyamanan bagai keranda jenazah. Kehidupan mengalahkan diri sendiri, kehidupan yang keras, mapan dan rumit, mengubahnya menjadi sebuah simbol kepahlawanan, dengan ‘mainan’ sebagai tuannya. Maka ketika teman-teman seangkatan sudah pada meninggal, apanya yang perlu diumumkan? Setelah beberapa tahun kegelisahan dan banyak percobaan, diam adalah pilihan bijak. Takdir tampaknya melanggar garis waktu, ini adalah seni yang membentuk fisiognomi semacamnya yang merupakan ciri menua dan menanggung beban pikiran.

Ini adalah film dengan Budget Netflix termahal menyentuh 169 juta dollar. Durasi terpanjang karya Martin. Mencipta banyak ledakan, benar-benar ledakan bukan layar hijau dan peremajaan wajah para pemeran. Para manula ini jadi tampak tamvan bahkan kalau Nicholas Saputra dan Aliando digabung. Rambutnya disisir rapi, menipis di dahi, berwarna abu-abu, alis menjulang dan dahi penuh kerut. Disulap tampak muda 50 tahun. haha…

Pas jelang akhir Frank ditanya duo polisi, seolah mendesak mencerita fakta. Dia harus bersandar pada keserasian batin, dan persamaan antara nasib personal dari rekan-rekan sezaman. Kukira keputusan tepat sudah diambil. Penghormatan hak pada aristokrat. Membuat dunia tetap dalam kebingungan dan mempesona, pikiran dan ingatan hingga jiwa lupa akan wataknya sendiri karena kegembiraan dan dengan kekaguman yang melekat.

Diadaptasi dari buku karya Charles Brandt berjudul ‘I Heard You Paint House’, merupakan biografi kriminal yang elok nian. Dengan cerdik, film ini menuliskan akhir hidup beberapa karakter sepintas ketika awal muncul di layar. Di akhir kisah, kita merasakan kelegaan Frank, seolah ia berteriak lantang kepada kalian, “Bukan peti mati yang kubeli atau liang lahat yang menantiku, aku akan tetap di sini selama kau juga ada di sini wahai para penonton! Masih kuat tiga jaman lagi?

Bukankah ketiadaan merupakan bentuk kesempurnaan? Karena manusia saling menghormati manusia lain selama tidak saling menghakimi, dan hasrat bertahan hidup hingga tua adalah produk terlabeli. Tidak ada yang lebih aneh dan canggung karena rahasia, daripada hubungan dua orang yang ditautkan karena profesi tukang cat!

Menyenangkan sekali menyaksikan Al Pacino ngoceh. Mengamati rambut abu-abu, wajah lelah dan garis wajah yang lugas. Jauh dari citra membosankan, di sisi lain eksentrik, kejeniusannya kukira akan memenangkan piala tertinggi perfilman. Satu, dua atau malah ketiganya. Seseorang masih bisa memiliki resolusi moral setelah menyelami kepahitan hidup.

Kegembiraan dan rasa lelah di waktu yang sama. Sebuah lagu multi-sajak menghanyutkan.

The Irishman | Year 2019 | Directed by Martin Scorsese | Screenplay Steven Zaillian | Story Charles Brandt | Cast Robert De Niro, Al Pacino, Joe Pesci, Harvey Keitel, Ray Romano, Bobby Cannavale, Anna Paquin | Skor: 5/5

Karawang, 051219 – 131219 – Roxette – Sleeping in My Car

I am just trying to understand how a person can buy a fish and not know what kind it was.”

Kusaksikan dalam beberapa tahap, ini sebagai catatan nikmat saja:

1/12 2” jam 23:30 di tempat tidur

2/12 23” jam 12:30 di mushola kantor

2/12 1’ 29” jam 17:15 di ruang meeting Integrity

2/12 1’ 48” jam 21:00 di Rumah Sakit Dewi Sri

3/12 2’ 14” jam 12:00 di meja kerja

3/12 3’ 29” jam 17:09 di ruang meeting Integrity

Done!

There’s Something about Mary: Jambul Rabut yang Mengilhami

Ted: Japan? What’s she doing in Japan?

===mungkin tulisan ini mengandung spoiler===

Semua fokus pada Cameron Diaz seolah ia adalah pusat semesta. Cantik. Muda. Pirang. Dan jambul rambut yang bikin istigfar.

Kisahnya memang tertuju utama ke Mary Jensen (Cameron Diaz). Cameron Diaz sedang gemilang, aktris romantis era 1990an. Beberapa filmnya mungkin sudah kutonton, tapi ga ada yang lebih memorable dari Charlie’s Angel yang saat ini kena reboot. Namun sudut pandang dipegang oleh Ted Stroehmann (Ben Stiller). Di tahun 1985, di akhir masa sekolah, jelang acara pesta dansa ia mengajak temannya yang dijawab dengan gantung. Ted jadi lelaki cadangan, rencana samping sang gadis bila inceran utama ga nawari. Maka dalam insiden unik, dengan adik Mary yang terjebak di dunia anak, Warren (W. Earl Brown) yang mencari bola dan sensitif telinganya. Hal mengejutkan adalah Mary tahu namanya, momen gadis tercantik mengetahui namamu saja membuatmu berdegub. Lalu mengantarnya pulang, kejutan berikutnya justru Mary yang menawarkan diri untuk pergi pesta dansa bersama. Ted si freak, culun, dan kaku tentu saja shock. Tampang Stiller mainkan mimik awkakwa. Bangga akan berdansa dengan idola sekolah. Namun sayangnya berakhir dengan bencana, saat dijemput terjadi insiden resleting di kamar mandi.

Kisah cinta remaja ini berakhir ejakulasi. Memorinya bertahan lebih lama, dan terbenam dalam kepala. 13 tahun kemudian, kita menemukan sebuah dilema. Tanpa kabar dan terpisah jarak, Ted memutuskan mencoba mencari tahu kabar cinta remajanya. Ia pun menyewa detektif swasta Healy (Matt Dillon) untuk menyelidiki status, keadaan dan segala hal yang menarik perhatian. Pokoknya update Mary minta tolong dilacak. Andai Ted hidup di jaman now, tinggal cari di facebook. Sempat ragu, tapi tetap rasa penasaran itu harus dituntaskan. Hal menariknya Healy memberi data fakta palsu, menjelek-jelekkan Mary. Ia bahkan resign dari pekerjaannya. Dalam momen awkwk, penyelidikan di apartemen dengan teropong, ia memutuskan jatuh hati.

Ternyata sang detektif menuju Florida, memainkan sandiwara. Dari hasil pengamatan, betapa Mary menyukai pria arsitek, suka jalan-jalan, suka pria yang tak terikat waktu kerja sampai hal-hal ideal yang kelak jadi pasangan. Healy memanipulasi keadaan sehingga ia tampak pria yang dicarinya, pria ideal yang ada dalam bayang, lambe lamis, menipu banyak hal. Nah, suatu malam ia diajak ke pameran arsitek secara mendadak, berkenalan dengan Tucker (Lee Evans) yang ada masalah di kakinya sehingga memakai penyangga dua. Diskusi tentang bangunan yang sudah dicipta, tampak jelas Healy bohong. Nantinya ketika di cek di lulusan Havard pun ia tak ada.

Sementara Ted yang kecewa, menemukan fakta aneh tentang sang detektif dari Dom (Chris Elliott) sobatnya. Maka iapun meluncur ke tempat pujaan hati. Dalam perjalanan penuh bahaya, menaikkan penumpang gelap seorang pembunuh, istirahat di area umum malah ke-gap komunitas gay padahal ia hanya mau buang air kecil, dan di mobilnya ditemukan karung berisi mayat. Sempat ditahan, tapi penyelidikan lebih lanjut melepasnya. Karena ini film komedi maka segala proses di sini dibuat santauy maksimal.

Sesampainya di Florida, ia pun menyapa Mary, dan langsung klik lagi. Warren masih ingat, dan dalam waktu singkat mereka akrab. Mary adalah dokter bedah, wah makin naik derajatnya. Satu apartemen dengan wanita tua yang aneh jua dengan anjingnya yang juga aneh. Magna (Lin Shaye) dan kerutan waktu. Ketika kerumitan kisah jelang akhir, ke mana hati Mary berlabuh, kita akhirnya mengetahui betapa para pria ini mendamba cintanya, termasuk Tucker sang pizza boy. Bahkan di klimaks kisah, kekasih Magna pun melakukan tembakan yang tak kalah aneh, kepada pengisi soundtrack yang bermula dari cintanya pada Mary. Absurd cara isi musik, para pemainnya ditampilkan seolah musisi jalanan yang bersenandung untuk pemirsa. Si pemain gitar (Jonathan Richman) yang apes.

Ini baru film komedi romantis yang sesungguhnya. Komedinya lebih dominan, sangat dominan malah ketimbang sisi percintaan. Menumbar tawa garing, hal-hal penting di sini dipandang remeh. Bagaimana bisa laki-laki di sekeliling jatuh hati semua terhadap Mary? Tentunya ia begitu istimewa. Sangat istimewa. Saya mengenal Cameron Diaz justru dari poster besar yang dipasang di kos temanku. Seorang maniak film yang memajang gambar artis dengan pose menantang. Saya yang masih awam menanyakannya, ia jawab dengan enteng Diaz. Apa kabar temanku di Cikarang, tempat tumbuh masa labil. Ruang lain 31 yang kurindu.

Salah satu yang paling dikenang di film ini jelas adalah jel rambut. Gambar Diaz dengan pose rambut berdiri dan tersenyum, baju cerah di resto sudah sangat banyak di media social bahkan setelah dua puluh tahun berlalu. Sepintas kukira itu gaya rambut era 1990an yang sedang trend. Saya benar-benar belum nggeh sebelum nonton film ini. Makanya sungguh ikonik, keren, absurd bahwa seorang dokter ga mengenali bau benih, awalnya saya turut heran ketika Ted melakukan itu dengan gambar cabul di depannya, lalu saat ia mencari ‘tembakan’ terjatuh di mana, saya masih ga mudeng mau ke arah mana. Barulah saat pintu diketuk dan Mary tersenyum, ya ampun. Di kuping, diminta, dibuat gaya. Jorok dalam humor. Adegan ini jelas akan diingat, dibicarakan, digibah penuh tawa sampai seabad depan. Jambul rambut yang mengilhami.

Untuk menjadi film pelepas stress There Something jelas berhasil. Untuk jadi film romantis, nanti dulu. Adegan kunci ketika Mary kasih kunci kurasa terlalu menggampangkan. Kejutan fan 49ers yang mencipta perubahan keputusan juga ga kuat. Setelah panjang lebar dalam permainan kata dan naik turun hubungan, film berakhir dengan gitu doang. Makanya ini lebih ke film lelucon. Film untuk hahahihi, pengiring musiknya ditampilkan sambil lalu di jalanan, syukurin kena tembak. Proses jatuh hatinya dibuat lebai, akting sakit Tucker yang paling annoying. Openingnya kek kartun, dengan warna warni cerah dan menyeru kehangatan. Bagaimana bisa seorang gadis terjerat sama lelaki yang jalannya kek robot, sekalipun arsitek ternama. Jangan lupakan pula musik-musiknya, renyah dan sudah langsung nempel di telinga. Yang paling asal ya endingnya, dengan mudahnya Mary mencampakkan, lalu jatuh ke pelukan lain, lalu balik lagi, lalu kunci kebahagiaan, lalu kembali lagi.

That’s good point. Tapi ah… sudahlah, kenyataan hidup tak sebercanda itu.

There’s Something About Mary | Year 1998 | Directed by Bobby Farrelly, Peter Farrelly | Screenplay Ed Decter, John J. Strauss, Peter Farrelly, Bobby Farrelly | Cast Cameron Diaz, Matt Dillon, Ben Stiller, Lee Evan, Christ Elliott, Lin Shaye, W. Earl Brown, Brett Favre | Skor: 3.5/5

Karawang, 281119 – 041219 – Fire House – I Live My Love For You

Rekomendari Romantis ketujuh dari tujuh belas Bank Movie dari Bung Firman A. Thx.

Notting Hill: Ketika Realita Lebih Indah dari Khayalan

Anna: Her most famous part. Men went to bed with the dream, they didn’t like it when they would wake up with the reality. Do you feel that way?

Impian liar semua laki-laki bisa dilihat dalam frame film Notting Hill. Bahkan mulanya untuk dibayangkan saja, rasanya ga berani. Seorang penjual buku traveling, William Thacker (Hugh Grant) yang tinggal di distrik Notting Hill, London Barat. Orang biasa kebanyakan yang menjalani rutinitas pekerjaan. Toko buku di era peralihan digital, ga ramai tapi masih menguntungkan. Suatu hari ia kedatangan calon pembeli, seorang artis besar Hollywood, Anna Scott (Julia Roberts). Saking terkenalnya, kedatangan ke London menginap di hotel Ritz dipenuhi wartawan. Maka ketika ia jalan-jalan mengenakan kacamata, wajar.

William emang istimewa, seorang yang ga suka gibah, ia tak tahu yang berkunjung adalah orang tenar. Setelah transaksi dan basa-basi, bersama pegawainya ia ngopi, lalu cari jus dan disinilah pemicu segalanya terjadi. Balik dari warung ia bertabrakan dengan Anna sehingga baju depannya basah, iapun menawarkan bantuan untuk ke rumahnya untuk ganti baju. Dan sesaat sebelum pamit, dengan canggung di depan pintu terjadi ciuman mulut, kilat tapi terasa istimewa. Wew, orang asing terkenal, tatap-tatapan, jeda yang hening dan kiss kiss. Imaji paling liar pun ga nyampai. Ini artis besar, sangat besar!

Hubungan berikutnya seharusnya lebih mudah. Kerikil ada, sandungan ada, bentakan, marahan, ngambek ada. Namun jelas, ini adalah film komedi romantis yang sangat mudah ditebak. Happy ending pastinya terjadi. Kalau saya menyebut Our Time adalah film yang menampilkan kebahagiaan yang hakiki, maka ini jauh lebih manis, hakiki di atas hakiki, tumpahan gula bukan hanya setoples, tapi melimpah ruah satu truk gula dihambur-hampurkan sepanjang Portobello road.

Makan malam merayakan ulang tahun adik, tamunya aktor Hollywood. Gilax, artis lokal saja dah heboh kok. Ketemu sama keluarga Will, salah satunya pialang saham. Lucu juga dia pening lihatin grafik, untungnya per tahun ga seberapa. Beraninya nanya penghasilan artis? Dijawab 15 juta Dollar, gaji Julia sesungguhnya di film ini. Sang pialang saham adalah kita, tertohok. Wkwkwk… Jalan kaki di malam hari bertabur bintang di jalanan yang tenang sambil ngobrol berdua, sungguh menyenangkan. Sungguh wow. Mungkin tanganku harus dimasukkan ke saku celana saking gemetarnya. Disandingkan Celine dan Jesse pasti kita berharap bisa main kuis ‘siapa lebih romantis’. Lompat pagar masuk taman tanah pribadi, duduk di kursi bercengkeraman mesra dan diiringi lagu Ronan Keating. Luar biasa, nikmat mana yang kau dustakan? Sampai di sini, saya baru sadar ternyata ost-nya akhir era 90an memang sedang di puncak. When You Say Nothing At All bahkan identik dengan film ini, kok saya bisa lupa ya? Padahal dulu MTV Most Wanted saban sore hari muterin debut solo karier Ronan.

Sepulang jalan-jalan, di hotel diajak ke kamar. Weleh. Kerikil pertama dilempar, Anna mendapat kejutan kunjung pacarnya Jeff King (Alex Baldwin) merusak rencana indehoy mereka. Anna ternyata punya pacar, fakta ini tak diketahui Will karena ia memang tak ikuti gosip. Kelar? Ah ini sih bumbu drama hubungan saja. Mereka toh jalan lagi. Pas makan malam, ada cowok-cowok gibah tentang Anna Scott sama Meg Ryan, hotan siapa coba? Anna sih kalem, tapi William marah ketika mereka menyebut artis Amerika gampangan, Anna cewek gampangan. Diakhiri dengan tampilan Anna menohok. Keren? Yeah, ini film mereka, santuy aja.

Imaji paling tinggi ditampilkan di sini, ketika Anna yang kzl dikejar paparazzi memutuskan nginep di tempat tinggal Will. Yah, tahu sendirilah akhirnya bagaimana, sejatinya usulan Will tidur di sofa hanya lamis lambe tipis. Spike freak (Rhys Ifans) teman sekosnya yang ngoceh aneh ‘kalau kamu ga mau, gmana kalau saya saja’ hanyalah guyon garing kek keripik kering. Maka terjadilah hal-hal yang diinginkan, di dini hari dengan kamera menyorot dari belakang Anna, atasan diturunkan. Pada mimisan dah menatap nafsu punggung terbuka Julia Roberts.

Tanda-tanda hubungan mereka berakhir coba diapungkan. William ngadain voting sama keluarganya, lanjut ga nih? Anna pamit, ia akan segera balik Amerika. Bahkan keluar kata-kata kasar-pun penonton waras dengan mudah bisa menebak akhirnya. Ketika di lokasi shooting, tak sengaja mendengar kalimat ‘teman biasa’ sama warga London. Heleh, riak kek buih septitenk. Dengan penuh gaya balap mobil di kepadatan lalin London, dibuat dramatis ketika di hotel Ritz, Anna dah check out, yang ternyata sedang adain konferensi pers di hotel lain. Boom, semua bahagia selamalamalamalamalamalamanya.

Di akhiri dengan sangat manis di kursi taman, Will baca buku, Anna tiduran di pangkuan dengan mengelus perut buncit. Ini adalah ejawantag dongeng Disney yang sesungguhnya. Realita > Khayalan.

Notting Hill mematik imaji saya. Saya penggemar buku, Will punya toko buku. Walau beda genre, karena calon pembeli tanya novel Charles Dickens dipelototin. Tanya Winnie The Pooh dikesalin. Berbanding terbalik sama koleksiku, buku panduan wisata ke Lubang Buaya ga akan kalian temukan, buku traveling ala Trinity Optima Production jelas akan kujual kiloan buat bungkus tempe mendoan. Pun, buku-buku Jejak Petualang ala Upin Ipin. Rak-ku mayoritas adalah novel! Poinnya adalah kesamaan di buku saja, catet.

Imaji kedua adalah jreng jreng jreng…, kalian pastinya tahu saya adalah seorang Sherina Lover nomor satu di dunia akhirat. Ga ada yang ngalahin, bahkan mungkin bapaknya shock cintanya tersaingi. Bayangkan, kamu sedang santuy sama buku (saya ga punya toko buku, jadi anggap saja saya pengunjung juga), tiba-tiba ada Sherina masuk menyapamu, menyukai buku kamu baca, ngobrol saru lalu ketika di jalan baju Sherina kena tumpahan kopi (saya jarang minum jus), lalu saya tawarkan Sherina untuk ganti baju ke rumah, lalu selama semenit lirik-lirikan terjadilah ‘hal-hal yang diinginkan’. Duuh, Listerine-ku dah habis tanggal tua.

Lalu sepanjang jalan Galuh Mas, Karawang jalan kaki malam hari bertabur bintang, ngobrolin banyak hal, ada pegamen nyanyiin lagu romantis. ‘Sher saya punya lagumu komplit lho’, ‘serius Mas Budy?’, ‘iya, dalam bentuk mp3.’ Hening, lalu ia marah karena harusnya dah bentuk sportipi atau jukz. Suatu hari tiba-tiba ia datang lagi, mau pinjam bukunya Haruki Murakami yang 1Q84 (anggap saja ini alibi) lalu bilang lagi kzl sama Ayah Triawan Munaf, boleh nginep ga? Duuerrrr… lalu pas mau buka kaus kaki, May buka pintu. Kejutan! Merusak fantasi. Iya May, saya tiap libur masih setia cuci piring kok. Lalu dan lalu dan lalu… begitulah. Notting Hill hanya akan tetap indah di layar. Our Times saya sebut bahagia hakiki, Before Sunrise saya sebut kesempatan ketemu Celine di kendaraan umum hanya satu per sejuta kesempatannya. Maka Notting Hill adalah imajinasi fantasi yang keterlaluan tingginya. Kejadian langka yang bahkan komet Halley sudah timbul tenggelam seribu kali, baru sekali kejadian. Sherina dijampi pakai pelet ajian goyang Karawang-pun ga akan luluh untuk menikahi kutu buku misquen. Iya, kalian yang beli buku daring pakai Shopee gara-gara gratis ongkir.

Sesaat setelah nonton film ini, saya langsung #unboxing bukunya Henry James: Daisy Manis karena di film ini Anna ada proyek film adaptasi novella beliau: ‘The Siege of London’. Bukunya tipis, hanya perlu sejam baca selesai. Makhluk Anna ki langka.

Ketika ia bilang ‘Rita Hayworth used to say, “They go to bed with Gilda, they wake up with me.”’ Saya membayangkan ia berkata, ‘May used to say, “They go to bed with Sherina, they wake up with me.”’ Itulah kenapa hiu putih harus dilindungi. Lalu mengalunlah lagu klasik fenomenal Elvis Castello: SHE!!!

Notting Hill | Year 1999 | Directed by Roger Michell | Screenplay Richard Curtis | Cast Julia Roberts, Hugh Grant, Richard McCabe, Rhys Ifans, James Dreyfus, Alec Baldwin | Skor: 4/5

Karawang, 291119 – Deep Purple – Soldier of Fortune

Rekomendari film romantis keenam Bank Movie ini dipersebahkan oleh Bang Oja. Thx.

Before Midnight: Tragedi Seri Telah Tercipta

Jesse: If You want love, then this is it. This is real life. It’s not perfect but it’s real.

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Well, spoiler apa? Menit belum sepuluh kita sudah tahu mereka akhirnya bahagia selamalamalalamalamalamanyaaaaa, memiliki anak kembar dan dalam kegundahan tanggung pasangan ini merubuhkan pondasi indah. Oh tidaaaaak. Very disappointing. Kenapa dua masterpiece film dialog direnggut jelang tengah malam? Ini adalah tragedi. Tragedi serial telah tercipta. Dua orang jenius bertemu di usia 20an berpisah dengan senyum karena setelah klik mereka janjian akan ketemu lagi. Poinnya adalah mereka terpisah, meninggalkan gereget. Dua orang jenius itu di usia 30an kembali ketemu, terasa terlambat karena salah satunya sudah menikah, si laki jenius hanya punya waktu beberapa menit sebelum balik ke istrinya. Kebimbangan, kekesalan dan segala hal ragu antara terbang atau tidak di kepala jenius itu terpenggal dalam akhir yang fantastis, gereget ‘I know’ yang sensasional. Lalu muncullah peri Disney, menaburkan serbuk bahagia di atas kepala Linklater, seolah mengabulkan kata happily-ever-after harus dibuat guna menyenangkan fan. Berengsek. Suram adalah koentji. Dan kunci penting itu sudah dilempar ke sungai Seine oleh mereka sebelum menyusun lego senyum ke Athena. Why oh why?!

Di bandara Kalamata, Yunani. Jesse (Ethan Hawke) mengantar anaknya Henry untuk kembali ke Amerika pasca liburan musim panas. Layaknya bapak yang khawatir akan perjalanan jauh putra kesayangannya, Jesse nanyain banyak hal terkait persiapan, bekal, dan banyak hal remeh. Di parkiran kita disambut Celine (Julie Delpy) dengan dalam ocehan telpon genggam, dialog tawaran kerja, keraguan ambil enggaknya kesempatan. Saat akhirnya kamera menyorot penumpang, terlihat dua remaja putri kembar yang kecantikannya bak bidadari, Nina dan Ella. Referensi untuk: Nina Simone – penyanyi penutup seri dua dan Ella Fitzgelard – penyanyi jazz. Sempat bikin jantung deg gitu, wah mereka akhirnya bahagia nih. Lalu penonton menjadi semacam kaca depan mobil, menyaksikan percakapan panjang lebar pasangan ini. Sampai menit 20an saya dah wanti-wanti, dah drop mood kok jadi kisah dongeng indah?

Benar saja, mereka sedang di Athena berkunjung, liburan, santuy. Memilih kota eksotis untuk lanskap romantis sah-sah saja, poinnya tetap pada cerita. Bak acara liburan umum. Ada yang masak sama bu-ibu sambil ngegosip, ada yang main bola di halaman, ada yang ngopi sambil ngerumpi lihat matahari tenggelam dengan background sempurna, lautan teduh. Anak-anak main kejar-kejaran. Sungguh pemandangan indah menikmati senja bersama orang-orang terkasih. Yah, kekhawatiranku beneran jadi nyata. Ini film menawarkan hura-hura. Huhuhuhu… Mana konfliknya?

Adegan terbaik disajikan di sini: Jesse dan Celine mencoba berfilsafat lagi dengan jalan kaki sambil bersilat lidah dengan kamera di depan, adegan keren di Sunset kala mereka jalan dari toko buku ke kafe coba dirajut. Ok sih, tapi pengulangan. Sampai akhirnya mereka di hotel, sama receptionis diminta credit card, sementara salah seorang pegawai minta tanda tangan dengan menyodorkan dua buku Jesse: This Time dan That Time. Ternyata mereka ke hotel hanya untuk nostalgia, indehoy, menikmati masa indah berdua dengan menitipkan si kembar.

Nyaris tak ada yang istimewa lagi apa yang didiskusikan di kamar setelah toples dan bersiap bercinta. Hal-hal umum yang dibicarakan, dua jenius ini menjelma konyol. Arogan. Ngomel ga jelas. Mengkhawatirkan masa depan, bukankah kalian liberal yang optimis? Mengkhawatirkan masa lalu, salam buat istri Jesse. ‘Mantan istri’ kena interupsi. Bukankah kalian makhluk open minded? Lha, film kenapa jadi gini? Kejeniusan kalian luruh, mencipta kisah pasangan tua penggerutu. Walau diakhiri dengan sweet moment, nongkrong di kursi dengan pemandangan laut, berpayung rembulan. Tetap. Ini adalah lanjutan cerita yang buruk sekali. Tragedi serial menepuk pundak mereka bertiga.

Seperti kata Jesse ketika di puncak kekesalan, ‘I fucked up my whole life because of the way you sing’. Ini menyakiti kita. Penonton jelas kesal sekali, kalimat itu terucap dari tokoh pujaan yang meronta karena usia menua. Saya jatuh hati pada performa Celine di apartemennya. Kalian pasti juga, Jesse jelas yang paling cinta. Di sini kita tahu, dia ga jadi terbang. Namun kenapa mulutnya malah teriakan kasar? Rasanya seperti ditampar, kesal sekali, semenjak adegan di hotel semua memang berantakan. Main pingpong cerdas yang kuharapkan hilang. Ini malah jadi sitkom komedi, rusak semua. Ending gantung di Sunset itu sewajarnya biarkan saja menggantung, ga usah dijelaskan.

Segala yang gamblang malah boring. Hidup ga sejelas itu, hidup jadi menarik karena selubung misteri masa depan, tanya masa lalu kecuali para pelakon. Tanda tanya selalu jadi gelitik manarik dalam bersinema. Kita tak tahu mereka melafalkan apa dalam desah di taman, festival-festival apa yang terjadi dalam jeda sembilan tahun, atau tabu-tabu yang mereka pegang. Yang paling penting, kita tak tahu fakta apa selama mereka tak ketemu, apa yang terjadi sebenarnya, apa yang mencipta keadaan hingga sekarang karena pakem Before adalah hanya obrolan. Midnight menjelaskan banyak hal, dan itulah lubang terbesar.

Di Sunrise hanya dua tokoh yang bernama, di Sunset hanya tiga tokoh yang bernama: Phillipe sang driver, di Midnight sudah banyak: kita ketemu Henry, si kembang, si tuan rumah, pasangan bahagia lain, pasangan bahagia lainnya yang lebih muda, dst. Saya lebih suka ngobrol dengan orang asing ketimbang menjalin cerita penuh petuah sama orang yang dikenal. Lantas apa menariknya menyaksikan keceriaan di tengah penerungan? Ga ada logo Castle Rock saja sudah tampak mencurigakan. Dan dari judul juga sudah ga sesuai pakem, keduanya pakai sun yang ini night. Harusnya pilih sun juga, sunlight misalnya. Fufufu…

Saya jadi teringat buku Sapiens karya Youval Noah Harari tentang Peugeot, produk fiksi hukum yang dicipta. Ini adalah fiksi. Delusi kolektif, pengaruh yang dicipta, orang-orang asing bisa bekerja sama hanya berdasar mitos, legenda lambang singa. Peugeot adalah buah imajinasi bersama. Semua ini adalah perkara menuturkan kisah, dan meyakinkan orang agar mempercayainya. Dalam trilogi ini, Midnight sudah bukan kisah tapi kenyataan apa itu ‘happy ending’. Pompeii disebut. Bee Gees disebut. Time travel ala Predestination dilakukan. Tapi tetap ga bisa menyelamatkan.

Richard please, buatlah film keempat bahwa kejadian di Yunani ini hanyalah mimpi, perbaiki segalanya. Jesse tetap terbang ke New York dan Celine menikah dengan orang lain dan hubungan mereka timbul tenggelam. Dan mereka ketemu di kota eksotis di negara dunia ketiga. Memberi anak kembar imut untuk film frustasi adalah bencana.

Perbaikilah Seri Before ini, saya ga mau rusak di sini. Saya usul kota keempat yang laik untuk setting berfilsafat, bagaimana kalau kota Solo? The spirit of Java. Lalu hening.

Before Midnight | Year 2013 | Directed by Richard Linklater | Screenplay Richard Linklater, Ethan Hawke, Julie Delpy | Story Richard Linklater, Kim Krizan | Cast Ethan Hawke, Julie Delpy | Skor: 3/5

Karawang, 241119 – Bee Gees – How Deep Is Your Love

Rekomendari romantis kelima Bank Movie oleh Bung Fariz Budiman. Thx

Before Sunset: Baby, You are Gonna Miss that Plane

Celine: Even being alone it’s better than sitting next to your lover and feeling lonely.

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Well, spoiler apa? Delapan puluh menit yang disajikan adalah adegan ngobrol! Wow. Just wow. Sekuel dahsyat. Pasca one night stand gaya filsuf di Wina sembilan tahun sebelumnya, mereka tak berjumpa. Janji temu kangen enam bulan yang disepakati tak terealisasi mulus karena sebuah bencana, neneknya Celine di Budapest meninggal dunia. Dan ujug-ujug penonton di tempatkan di Paris. Kota tujuan Celine kala berkereta sebelumnya. Dengan lanskap kota romantis inilah kita menjadi saksi betapa film orang ngegoliam sepanjang sejam dua puluh menit jadi begitu hidup.

Jesse Wallace (Ethan Hawke) kini menjadi penulis best-seller novel This Time yang terinspirasi dari pertemuan mereka di Wina dalam parade fantasi. Ia melakukan tur promo buku keliling Eropa, Paris menjadi kota terakhir sebelum balik ke New York. Dalam diskusi di toko buku Shakespeare and Company, saat sesi tanya jawab berlangsung, tak dinyana di sisi kanannya terlihat Celine (Julie Delpy). Setelah usai diskusi, mereka ngobrol bentar di tengah tatanan buku. Ya Allah, impian banget ketemu orang yang paling di rindu di antara lemari buku dengan gelora sejuta tanya, lalu janjian di depan, Jesse punya waktu sampai magrib yah sekitar jam tujuh tuga puluhlah, ia akan diantar sopir pribadi Phillipe. Maka ia meminta nomor sopirnya, lalu reuni film ngegoliam dimulai. Kalau di Before Sunrise mereka punya 24 jam bercengkrama, kali ini mereka hanya berjarak beberapa menit dari adzan magrib.

Dari beranda toko buku mereka berjalan ke kafe, menampilkan 11 menit syut tanpa putus, setelah ngopi mereka ke taman, lalu naik pesiar sungai ngegoliam di antara debur air dengan background matahari senja, merasakan aroma romantisme Paris sejati, lalu di perhentian kapal, sang sopir sudah menanti, rasa kangen masih belum hilang gan. Lanjut antar Celine ke apartemen (kedua orang yang tampil di sini adalah orang tua asli Julie Delpy), sempat berdebat di dalam mobil, fakta penting terungkap: Celine sejatinya memendam asa mendalam dan rencana mampir ngeteh di kamar menjelma buncah asmara tak berperi. Bersama ending menggantung dengan gaya joget manja Celine melontarkan kalimat “Kamu akan ketinggalan pesawat, sayang.” Dan dibalas Jesse, “I Know.” Biadab. Keren banget. Penonton terpana dan mencipta spekulasi, sukaaaaaa sekali ending ginian. Drama umat manusia dalam rangkaian sketsa kehidupan, lonceng di kepala masing terdengar gaungnya, tapi film sudah ditutup, ini jauh lebih penting ketimbang penjelasan gamblang.

Dari obrolan mereka kita tahu, Jesse menjadi penulis, sudah menikah dengan guru SD dan memiliki anak empat tahun bernama Henry. Celine masih sendiri, berpacaran dengan jurnalis, menjadi pejuang lingkungan. Yang mengerikan dari kejadian ini ada dua: pertama kenapa Celine ga datang Desember itu? Neneknya meninggal. Kok ga perjuangkan cari sih? Lantas Jesse datang ya? enggaklah. Nah… becanda. Jesse tentu saja ke Wina, mencari pujaan hatinya berhari-hari, meninggalkan tanda, nomor yang bisa dihubungi, dan frutasi. Sunset terlihat sekali betapa Jesse lebih banyak mengamati tingkah Celine yang lebih melontarkan bola. Seperti kebanyakan laki-laki, kita memang wajib menjadi pendengar yang baik.

Fakta gereget kedua adalah, Celine pernah tinggal di New York di waktu yang sama dengan Jesse. Wow, bisa jadi mereka hanya berjarak sepelemparan batu, bisa jadi mereka sejatinya sempat berpapas singkat, bisa jadi mereka hanya saling berpunggung saat di pasar loak, dan bisa jadi lainnya. Luar biasa yang bikin cerita, hanya bermodal omongan dan imaji liar pengandaian terpola menengadah. Andai mereka tukaran alamat, andai mereka tukaran nomor telpon, andai mereka punya telepati. Andai ini andai itu andai begini andai begitu andai andai andai… masa lalu ke masa kini hanya punya satu lubang cacing dalam linier waktu. Ah mengerikan, manusia tak punya kesempatan memperbaiki kejadian lampau.

Kehidupan adalah kejar-kejaran tak berujung, segala sesuatu yang pernah dikumpulkan akan lenyap bagai asap. Lalu bagaimana lolos darinya? Saya percaya reinkarnasi kata Celine sembilan tahun lalu, sekarang itu terdengar konyol. Yah, seperti kita semua. Kita akan mengalami gagap pengetahuan, asal ga terjerumus saja. Manusia mengejar kekayaan, kekuasaan, uang, pengetahuan, menghasilkan keturunan, membangun rumah nan istana. Apapun yang manusia capai, manusia tak akan pernah puas. Orang miskin memimpikan kekayaan, orang punya lima juta berharap lima puluh juta, orang punya Agya bermimpi ganti Fortuner, bahkan seorang milyader dan terkenal jarang merasa puas. Manusia dihantui oleh rasa kekhawatiran dan kepentingan tiada henti.

Masih percaya Celine dengan bukunya hanyalah mitos? Mitos ternyata lebih kuat daripada yang dibayangkan siapapun. Ketika Jesse mengamati kamar Celine, tampak buku This Time karya Jesse, ough… betapa, demi apa? Bayangkan Sherina Munaf ke kamarmu, memandangi koleksi bukumu dan ada bukumu di rak itu, buku yang didedikasikan untuk Sherina. So weird. So wild.

Film ini masuk nominasi best adapted screenplay Oscar, kalah sama film Sideways. Karena banyak improvisasi, naskah akhirnya jadi hak mereka bertiga. Memang filmnya ngalir saja, seperti kebanyakan orang jalan sambil ngobrol. Jelas, ocehan mereka laiknya filsuf sehingga sungguh berkualitas. Tentang pernikahan, tentang bahagia, tentang agama, tentang ‘penyesalan’ masa lalu dengan pengandaian mereka bisa bertemu bisa jadi keadaan ga kayak gini.

Bonus cameo kucing Che yang dipeluk Celine dari halaman ke lantai atas, lalu dilepas di kamar, seolah si kocheng jadi saksi akhir film ini sejatinya bagaimana. Jadi akhirnya, terbang atau malah indehoy Cing?

Celine memetik gitar dan bersendung lagu Waltz yang ditulis sendiri olehnya. Ada kata ‘Jesse Kecil’ di dalamnya. Hanya akting di depannya atau lirik aslinya memang itu beb? Jesse memasukkan cd musik album Tomato Colection oleh Nina Simone dan menekan play, pas di lagu ‘Just In Time’ dengan iringannya Celine berdeklamasi. Seolah ejawantah Karl Marx dalam The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte, “Gelegar musik pembuka yang mencanangkan pertandingan melenyap dari pendengaran dengan geraman malas segera saat berlaga harus dimulai, para pemain berhenti memperhitungkan dirinya dengan serius dan lakon pun ambruk sama sekali seperti gelembung tercoblos… dan memberkati musuh-musuhnya saja dalam kekuatan gelora…”

Kita tak tahu akan ke mana?’ sembilan tahun lalu dalam syair kini menjelma lagu Nina dalam lirik, ‘…Aku tahu ke mana aku akan pergi…

Anggap saja ini ongkos berpikir. Final line, ‘I know’ jelas adalah cikal bakal layangan putus.

Before Sunset | Year 2004 | Directed by Richard Linklater | Screenplay Richard Linklater, Ethan Hawke, Julie Delpy | Story Richard Linklater, Kim Krizan | Cast Ethan Hawke, Julie Delpy | Skor: 5/5

Karawang, 231119 –Michael Franks – Hourglass

Rekomendari ke 4,6 dari tujuh belas Film Paling Romantis Bank Movie ini dipersembahkan oleh Bung Fariz Budiman. Thx.

Before Sunrise: Parade Fantasi Sehari di Wina

Jesse: I wish I’d meet you earlier. I really like talking to you.

===catatan ini mungkin mengandung spoiler===

Namun apanya yang spoiler, ini adalah film full-ngegoliam tersertifikat fresh. Fufufu… Jenis film fantasi yang persentase kemungkinan terwujudnya di dunia nyata: satu per sejuta. One night stand ala filsafat. Freud bakal bertepuk tangan. Plato bakal terkagum. Spinoza menabur konveti. Locke akhirnya tahu kekosongan itu telah terisi. Descartes kembali meragukan kebenaran berpikir nan ada. Bjerkeley mengelus cerminnya. Kant tak akan menyanksikan moral. Hegel merasionalkan cinta. Marx menjelma hantu yang menyambangi Wina. Seperti kata Goethe: ‘Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.

Kereta dari Budapest menjadi altar kaidah para filsuf yang gentayangan, menjadi saksi ilusi berkenalan yang ideal untuk jalinan kasih, sungguh menyenangkan semua acara ngegoliam ini bermula dari buku, benda mati yang paling kucintai. Garis cerita adalah obrolan berkualitas antar dua orang asing: luar biasa, indah, menarik, saling isi, klik. Komunikasi, seperti dalam buku ‘Bicara Dapat Mengubah Hidup Anda’ karya Dorothy Sarnoff bahwa bicara memang mirip main pingpong, kita melempar bola, lawan menyambutnya dengan arah yang coba kita tebak, lalu kita balas lagi lempar bolanya, lawan bicara akan kembali melontarkannya. Begitu terus sampai terjadi jeda. Bila kedua pemain tenis meja bisa memainkan bola dengan apik, pastinya penonton berdecak kagum. Before Sunrise jelas jenis tenis meja kelas kakap. Sajian film ini 90%nya adalah permainan pingpong level dewa. Seolah perwujudan kutip yang umum kita lihat di beranda sosial media: ‘Ini bukan hanya masalah ke mana Anda pergi. Tapi dengan siapa Anda pergi.’

Film ini hanya berkarakter nama dua orang. Jesse and Celine, dunia milik berdua yang lain ngontrak. Film berset hanya dua hari, 16-17 Juni 1994. Pengumbar kekuatan ngobrol itu dilakukan oleh Jesse – bernama asli James diambil dari novelis Irlandia Ulysses, James Joyce – (Ethan Hawke) dalam perjalanan ke Wina naik kereta, ia akan naik pesawat keesokan harinya ke Amerika. Seorang pria backpacker pasca mengunjungi pacarnya, namun berakhir mengecewakan. Pemuda kere karena tak tahu akan menginap di mana malam itu. Celine (Julie Delpy) dalam perjalanan ke Paris untuk melanjutkan studi naik kereta, ia sudah putus sama pacarnya, dan sudah konsul ke psikiater. Dalam satu gerbong yang mencipta kebersamaan karena ada pasangan yang berantem, Jesse sedang membaca buku, dengan Celine di seberang kursi jua melakukan aktivitas sama. Jesse pegang bukunya Klaus Kinski berjudul All I Need is Love, sedang Celine melahap Madame Edwarda/Le Mort/Histoire de I’oeil karya Georges Bataille. Terjadilah percakapan, ‘baca buku apa?’ ‘ini nih…’ ‘oh’. ‘Mau kutraktir ngopi?’ Kesamaan gemar membaca, saling memikat, membelit. Keberanian menyapa membuat segalanya menjadi lebih mudah. Heran saya, belasan tahun baca buku di tempat umum ga pernah ketemu cewek nyambung sebening Celine. Apa sayanya yang terlampau pasif? Atau memang di kendaraan umum, Makhluk Celine dengan bukunya hanyalah mitos? Yah, film ini setidaknya mewakili impian liar itu.

Di kafe kereta, perkenalan basa-basi masih sangat umum, tapi kualitas otak keduanya sudah teraba. Saat kereta akhirnya sampai Wina, Jesse yang betah ngobrol seolah dipaksa turun, dengan enggan ia mengemasi barang. Setelah say bye, ia kembali. Menawarkan kegilaan, ‘merayu’ dengan analogi masuk akal. Seandainya 20 tahun ke depan dalam pernikahan kamu mengalami hal-hal yang kurang bagus, lalu Celine membayangkan masa kini, andai saja, umpamanya. Yah, anggap saja tawaran untuk turut turun ini adalah perjalanan waktu. Siapa tahu, kita berjodoh. Klik. Mari kita jalan. Gaya rayu Jesse keren euy, seolah ajakan biasa sambil mengedipkan sebelah mata, dan kedua tangan terayun ke samping.

Selanjutnya adalah pamer tempat-tempat eksotis sudut kota Wina. Semacam parade fantasi sehari semalam. Mereka ngomong apa saja yang terlintas di kepala. Dari naik bus, naik bianglala, main ding dong, nongkrong di kafe, duduk-duduk di meja pinggir jalan, ngopi di angkringan, ziarah singkat, sampai akhirnya rebahan otomatis romantis di taman. Dan malam itu diakhir dengan putusan ujar, ‘ngapain dibuat rumit sih?’

Omongan lempar tangkap kata di sini seolah deklamasi puisi gaya bebas. Tentang esensi tuhan, tentang cinta, hidup, keluarga, sampai hal-hal remeh yang kalau kita yang berkata seolah tak bermakna di sini jadi begitu hidup. Semua jalinan jalan kaki, semua adegan ngegoliam mereka sungguh menyenangkan diikuti. Sampai-sampai mematik pikir, benar juga ya. Dunia ini remeh, hidup mati tuh debu kosmik, yang kita khawatirkan setiap waktu seolah sembulan tiup, bahan canda dewa-dewa.

Ada banyak adegan keren, seolah setiap menit meninggalkan kesan. Seolah ketakutan mereka berdua akan pagi, turut dialami penonton. Seolah perpisahan mereka adalah akhir dari kenikmatan bercinta dengan kata. Pertama saat mereka melewati pinggir sungai ada pujangga jalanan sedang menulis puisi di atas perahu. Hanya meminta receh, sang pujangga kere menantang mereka menyebutkan kata untuk dirangkai syair. Celine refleks saja ucap ‘milksake’. Bah bah bah! Bisa saja idenya. Bagaimana juga mencipta puitik dari diksi tak lazim? Jadilah Delusion Angel. Bagus euy, dibacakan dengan ketenangan aliran sungai. Puisi ini aslinya dicipta oleh David Jewel.

Adegan keren berikutnya adalah saat makan malam mereka pura-pura telpon dengan gaya bercerita kepada seseorang yang akan dituju awal rencana perjalanan ini. Jesse bercerita bagaimana ia terpesona gadis dalam kereta dan mengajaknya jalan, ia jatuh hati padanya. Dus, gombalmu Lik. Lalu gantian Celine pura-pura telpon dan berujar bahwa ia saat di kereta sejatinya menanti, ajakan ngobrol, ajakan turun. Well, cara mengungkap rasa kasih yang luar biasa. Seolah natural dan sungguh menggairahkan. Udah deal jadian ini sebenarnya. Janji suci hanya masalah waktu.

Adegan di toko kaset piringan ketika mereka masuk ruang demo musik sambil main lirik begitu aduhai. Jesse melirik Celine, Celine melihat ke depan. Celine melirik Jesse, Jesse melihat ke depan. Jesse melirik Celine, Celine melihat ke depan. Celine melirik Jesse, Jesse melihat ke depan, Celine melihat ke depan. Celine melirik Jesse, Jesse melihat ke depan Celine melihat ke depan. Celine melirik Jesse, Jesse melihat ke depan. Gitu saja terus sampai celana Spongebob jadi bulet, seolah ini adalah asmara remaja yang malu-malu kucing. Dengan iringan lagu legendaris ‘Misfits’ karya The Kinks. Duuuh… gereget zaman muda. Pengen balik lagi ke masa putih abu.

Film diakhiri dengan sempurna. Salah satu ending film terbaik yang pernah kutonton. Mereka awalnya ga akan janjian ketemu, biarlah semua mengalir, biarkan jadi debu ingatan. Namun kekuatan nyambung, dan betapa kita sulit menemukan teman ngobrol yang baut-murnya pas, mencipta mereka guna mendadak membuat ikrar. Ketemu lima tahun di tempat yang sama? Wew kelamaan woy. Ok setahun ya. Hhhmmm… kayaknya masih terlalu lama juga. Baiqlah cintakuh. Setengah tahun deh. Deal. Hari ini tanggal 17 Juni, jadi kita ngegoliam lagi Desember ya. Ok, dan ciuman panas perpisahan tersaji, kereta melaju meninggalkan kenangan. Fantasi bercengkrama gaya filsuf berakhir sudah bersamaan dengan kepulan asap kereta.

Dan ya tuhan, saya belum bercerita bagaimana bisa kamera menyorot kekosongan tempat-tempat bercengkerama mereka mencipta lanskap memori fana. Hanya hati kecil yang tahu.

Before Sunrise | Year 1995 | Directed by Richard Linklater | Screenplay Ricard Linklater, Kim Krizan | Cast Ethan Hawke, Julie Delpy | Skor: 5/5

Karawang, 221119 – Maroon 5 – One More Night

*) Di akhir credit kita tahu film ini didedikasikan untuk mengenang kakek-nenek sang sutradara: Thelma dan Charles Krieger Ada serta Cecil Harmon Shirley dan Charles Linklater. So sweet dedicated.

**) Rekomendasi romantis Bank Movie ke 4,3 dari 17 film ini berasal dari Bung Fariz Budiman. Thx

Love For Sale 2: Seni Memanipulasi Keadaan

Kan ceritanya lagi training…

===catatan ini mungkin mengandung spoiler ===

Setelah tertunda beberapa lama, setelah menanti film ini tayang malam (di atas jam 21:00) di CGV Festive Walk, Karawang, setelah menengok komen-komen terkait kekhawatir lanjutan kekejaman Arini, akhirnya Jumat (15/11/19) kuberhasil duduk (dan berangkat) sendiri di studio satu. Nonton cuma bertiga, awalnya tapi pas film akan mulai nambah dua lagi. Memprihatinkan, film originalnya bagus, tapi kurang laku, kurang gaung, sekarang lanjutannya, melihat minimnya antusiasme, rasanya bernasib sama. Makin dramatis, parkir motor pas 6 ribu, pas dua jam nol menit. Tepuk tangan untuk Kharisma Biru, siKusi-ku.

Kita akan menemukan apa yang kita bayangkan sejak awal. Sayang sekali happy ending. Kisahnya kali ini lebih ke fokus orang tua, walaupun tetap garisnya tentang cinta yang dijual, sejatinya sekuel ini lebih mengedepankan keluarga dengan sentral Ibu Rosmaida (diperankan keren sekali oleh Ratna Riantiarno). Sebenarnya trailer-nya berkata: the most horror love story, sempat khawatir, sempat ketakutan jua karena kamu bisa saja menyakiti pacar kamu, kamu bisa saja marah-marah ke anak-istri, kamu juga masih bisa saling bentak kekasih, tapi kalau ibu, jangan pernah. Kalian berani sama orang tua terkasih, kalian tega sakiti, kalian melawan dunia. Dari cuplikan yang wara-wiri di sosmed, garisnya sudah jelas: Arini sekalipun merayu, sekalipun akting jadi pasangan ideal pasti akan kabur kala masa sewa habis. Memang, benang Love For Sale kan emang itu. Sayangnya sekali lagi, ini cerita berakhir bahagia. Kabur dan meninggalkan kebahagiaan kok bisa?

Indra Tauhid Sikumbang aka Ican (Adipati Dolken) adalah seorang yatim, pria kerah putih, laiknya pekerja di Jakarta kebanyakan. Kerja pagi pulang malam, kakaknya yang sudah mapan jadi PNS mulanya dibanggakan ibunya, tapi Anadoyo Tauhid Sikumbang aka Ndoy (Ariyo Wahab) dianggap salah pilih istri Maya (Putri Ayudya), yang dianggap kurang ideal. Pernikahan adalah batu ujian moralitas. Si bungsu Yunus Tauhid Sikumbang (Bastian Steel) malah lebih parah, MBA (Married by Accident), lalu menjadi pengguna narkoba, lalu cerai dan seteru tentang hak asuh anak. Karena kita tak akan membicarakan Bastian lebih lanjut dalam ulasan ini, saya keluarkan uneg-uneg sekarang saja: menurutku karakter ini annoying. Mungkin bermaksud menambah drama keluarga, ibu memiliki anak bermasalah, tapi seandaianya hanya Ican dan Ndoy akan tetap OK. Apalagi aktingnya yang berkata kasar di depan ibunya kepada ibu dari anaknya, sungguh ga faedah.
Ican yang tertekan untuk mendapatkan istri ideal lalu install aplikasi love inc yang ia lihat di halte bus. Ketika dihubungi, kriteria yang diminta disampaikan, dan taa-daaa.. Arini Kusuma – di sini menjelma Arini Chaniago (Della Dartyan) muncul di rumahnya sebagai teman lama waktu kuliah di Bandung, ia ke Jakarta untuk acara training, membutuhkan tempat singgah (di sini disebut pavilium) yang disewakan keluarga Sikumbang. Dan seterusnya, sampai di sini kita pasti tahu film ini akan mengarah ke mana. Ican dan Arini ada rasa, ibunya jatuh hati sama Arini, Keren akting hebat meyakinkan menjelma menantu impian, sampai akhirnya yah sebuah pengulangan Arini kabur. Sayangnya, kepergiannya ga membuat remuk redam hati-hati yang terluka laiknya mas Richard. Karena misi Arini menebar kebahagiaan sejatinya terwujud.

Yang amat disayangkan jelas, terlalu manis. Dambaan ibu untuk mendapat cucu perempuan terkabul, harapan penonton untuk hubungan ibu dan menantunya Maya membaik, terkabul. Bahkan permohonan maaf, Supiak yang disampaikan kala subuh kabur dari paviliumnya seolah adalah permohonan Andibachtiar kepada penonton karena memberi akhir yang terlampau manis. Suram adalah koentji, apa yang disampaikan Love for Sale dua terlampau menuruti kemauan indah penonton. Kurang suka saya. Kekhawatiran, karena film pertama yang sudah amat bagus, takut dirusak itu sebenarnya bisa saja terkikis, sayangnya terjatuh di akhir.

Salah satu adegan terbaik ditampilkan dengan kamera mengambil gambar melalui bias-bias kaca akuarium. Setelah tahu, ibunya jatuh hati pada Arini, Ican melakukan apa yang jadi imaji liar lelaki. Dia berdeklamasi untuk cinta demi ibunya. Di kedua mata Arini yang dipandang dengan ketakjuban liar, ia dalam satu waktu tak mempertimbangkan individualitas. Itu sejenis ketakutan kehilangan wanita ini, kekhawatiran akan ditinggalkan, bukan karena ia takut kehilangan, tapi takut ibuku akan kehilangan. Dia memohon seolah dia tak pernah memohon pada makhluk apapun sebelumnya. Dalam benak Ican jelas terdengar alarm meraung, ‘dialah yang selama ini orang yang dicari ibunya dalam doa setiap malam’. Ketika Arini mengangguk (walaupun penonton pastinya tahu itu akting), seketika itu ia lolos dari singularitas yang terlindungi, yang telah disusun, ditaksir dengan cermat. Arini mencipta subjek kolektif keceriaan keluarga dalam keintiman bersama. Orang-orang yang terbebas dari penderitaan bukan ketika mereka mengalami kenikmatan sementara ini-itu, tapi justru ketika mereka memahami bahwa semua perasaan mereka hanya sementara dan berhenti mengidam-idamkan perasaan nikmat sementara.

Lalu ada lagi adegan memorable di awal sekali, ketika Ican akan lari pagi. Berdiskuis dengan tetangganya yang kemudian meninggal mendadak. Mungkin itu adalah bayangan kebenaran yang tak berwujud, mungkin buah pemikiran jiwa. Dalam seketika segalanya berkelebat melewati otak dan akan terngiang, ‘pohon apa yang paling berani?’ Jadi promo itu tak bohong, beneran ada horror di sini. Semacam penampakan Pak Giran, seolah ini adalah metafora filsafat akan hidup. Film ini juga relijius, ditampilkan dengan konsisten sama Bu Ros. Pengajian rutin, sholat malam dilakukan, penuh nasehat bijak.

Permukaan bumi luasnya sekitar 500 juta kilometer persegi, dengan 155 juta diantaranya daratan, secuil permukaan bumi itu masih banyak yang belum didiami karena banyak tanah terlampau dingin, terlampau panas, tidak cocok untuk budidaya, jadi hanya sekitar 2 persen yang bisa dihuni dan didiami, dari secuil tanah itulah pentas teater sejarah manusia dibuat. Drama cinta dan nafsu Arini hanyalah sekilas lewat, tapi berhasil meluruhkan banyak umat. Sudah hukum alam laki-laki menganggap ringan ‘kejahatan’ perempuan, terutama kalau perempuan itu cantik, dan kejahatan itu dilakukan atas nama cinta.

Tiap drama keji itu, diakhri dengan kesunyian, mengepung korban, seolah ada gereget marah dan kesal. Apapun reaksi penonton, apapun hasil penjualan tiket dan kerumitan yang tersaji setelahnya, kita meyakini Arini akan hadir lagi ke layar lebar, hanya pertanyaan besarnya, setelah Gading Marten dan Adipati Dolken, siapa lelaki berikutnya yang menghubungi love inc? Siapa yang hatinya akan ambyar karena Arini? Akan jadi ledakan dahsyat kalau Andibachtiar dan tim kreatifnya bisa meluluhkan Nicholas Saputra! Wanna bet?

Dalam menikmati film Indonesia kita sudah lama mencari misteri, dan kini sudah ada di depan kita. Misteri itu bernama Arini. Tidak ada kata ‘Mistearini’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk mengungkap ‘misteri arini’, tapi sepertinya sudah saatnya kita buat bukan?

Love For Sale 2 | Year 2019 | Sutradara Andibachtiar Yusuf | Naskah Andibachtiar Yusuf, Mohammad Irfan Ramly | Pemeran Della Dartyan, Adipati Dolken, Ratna Riantiarno, Ariyo Wahab, Bastian Steel, Putri Ayudya, Gading Marten | Skor: 3.5/5

Karawang, 221119 – Angela – Don’t Know Why