The Da Peci Code by Ben Sohib

Aku meyakini bahwa setiap agama itu baik, karena setiap agama itu pada dasarnya menyuruh orang berbuat baik, tidak mencuri, menolong yang lemah, dan lain sebagainya.” – Rosid

Kubaca singkat dalam semalam sekali duduk, di malam panjang (040720). Menjadi buku kedua yang selesai baca dalam rangkaian buku baru Juli ini. Kisahnya tentang pertentangan antara anak dan orang tua, sang anak yang berpikiran bebas dan terbuka akan segala modernitas sehingga tak mau terkungkung, berambut gondrong dan ‘merdeka’, orang taunya relijius mengharap anaknya mendalami agama, meminta memakai peci. Nah karena rambut gondrong, peci mana pantas dikenakan, menyembul lucu jadinya ‘kan? Poin utamanya itu, plot penggeraknya berliku menyentuh tiga ratus halaman. Jiwa seseorang disadari atau tidak secara fitrah cenderung pada spiritualitas.

Tentang Rosid yang di persimpang jalan. Jiwa idealisnya membuncah kala lulus sekolah ingin melanjutkan kuliah di seni, cita-cita seniman. “… jangan mandi aje sebulan, elu udeh jadi seniman.” Ortang tuanya Pak Mansur dan Bu Muzna menolak, terutama abahnya, Rosid diharap menjadi teladan di bidang agama. Rosid berkenalan dengan cewek mantab di kampus kala pendaftaran. Delia beragama Kristen, dengan salib menggelayut di leher. Mereka pasangan kasih yang open-minded, terbuka akan segala kepercayaan dan memandang dunia ga sekolot itu guna menjalin pernikahan. Jadi setting-nya dua tahun setelah mereka pacaran.

Pembukanya di Condet, Jakarta. Rosid diusir keluarga, ini adalah puncak kemarahan babe. Penolakannya mengenakan peci dan segala argumennya menemukan titik didih. Kenyataan ini telah berlangsung berabad-abad lamanya, tanpa ada seorang pun menanyakannya. Ia lalu menginap ke rumah sobatnya Mahdi, nebeng tidur dan makan. Sobat kental yang kini memang hidup sendiri, soalnya ortunya udah pindah, rumah itu dihuni sendiri. Setiap bulan mengadakan kajian, bebas temanya, lebih sering filsafat dong, anak muda.

Rosid lalu curhat sama sayangnya tentang anjuran berpeci bagi umat muslim ketika beribadah, atau memutuskan mengenakannya dalam keseharian. Dari kaca mata umum, jelas peci sejatinya bukan hanya untuk umat muslim. Paus mengenakannya, umat Yahudi juga mengenakannya. Kalau peci berkaitan dengan agama , aku pikir itu hanya budaya yang dikaitkan dengan agama. Peci-peci itu benda netral, tapi kok kemudian identik dengan agama, lengkap dengan model-modelnya. Sama seperti jilbab, sejarahnya panjang nan berliku. Bukan hanya muslim yang mengenakannya, lebih ke budaya yang lalu adaptasi ke kepercayaan. Kita terjebak sama simbol yang kita ciptakan sendiri.

Sementara bapaknya mencoba berbagai cara untuk mewujudkan keinginannya, berkonsultasi sama sohibnya H. Said. Dalam keluarga juga coba dikucilkan si Kribo ini. Menghadiri upacara keagamaan tanpa menggunakan peci putih memang akan dipandang sebelah mata. Konsultasi, dari mendatangi orang pintar, dikasih air putih bermantra sampai mencipta kerusuhan menyewa orang guna membubarkan ngumpul-ngumpul anak muda di rumah Mahdi.

Sementara Rosid dan Delia ‘mengadu’ sama pemuda lajang yang sudah tua, bisa dibilang bujang lapuk yang hebat, Anto Kusumohadi. Kamu harus bisa mempertahankan rambut kamu, karena di situ ada hak asasi kamu. Tap soal kewajiban berpeci, no comment. Ga minum minuman keras, itu masalah ketaatan, masalah komitmen. Lagian saya percaya bahwa hidup ini harus dijalani secara dalam keadaan sadar. Atau istilah ketentraman jiwa itulah pahala salat.

Abahnya, lewat Said lalu mengundang Pemuda hebat ustaz Holid al-Gibran. Sama-sama anak muda, beradu argumen. Peci berikut model dan warnanya bukanlah ajaran agama, bahw aitu hanyalah budaya yang kemudian dianggap sebagai ajaran agama.

Nah poin utama kisah ini berkutat di situ, pertentangan orang tua dan anak mengenai peci. Konflik yang menurutku ga berat-berat amat, disajikan dengan sedikit kocak, saling silang pendapat tua vs muda. Reliji vs filsafat. Dengan dialog melimpah ruah lu-gue khas Betawi, kisahnya runut dan tak banyak meninggalkan misteri atau tanya. Sayang sekali, banyak kalimat langsung menggunakan bahawa daerah. Ga nyaman dibaca, kata A.S Laksana kalau sesekali sih masih bisa, taruhlah di depan, lalu setelahnya pakai EYD. Di sini kebanyakan, benar-benar bikin ga nyaman, walaupun bahasa Betawi hanya sebagian besar di sini mengganti akhiran ‘a’ menjadi ‘e’, tetap saja hufh… plot utamanya sendiri lempeng, lurus, dan sungguh biasa. Dengan kover dan judul yang mengacu pada novel ternama The Da Vinci Code-nya Dan Brown, kiranya akan menjadi novel plesetan, ternyata ga ada sangkut pautnya. Sekadar memiripkan diri, ‘menjual’-nya, siapa tahu fan pemecah kode berminat. Tagline-nya juga melucu: ‘Tidak memukau nalar, tidak mengguncang iman!’ dan ‘Misteri tak berbahaya di balik tradidi berpeci.’ Ditandai elips merah, ‘Kemungkinan Best Seller’. Wkwkwkk… ada-ada saja marketing-nya.

Ada kumpulan orang-orang beragama yang nantinya memecah belah. Salah seorang lulusan pesantren meminta kemurnian agama, sehingga selain sunah Nabi dianggap bidah. Satu lagi lebih ke liberal, terbuka sehingga menjamin perbedaan. Lalu muncullah penengah, mencoba merangkul semuanya. Well, relate sama keadaan sekarang di mana agama menjadi tunggangan ga hanya politik, tapi juga menyusup dalam bidang ekonomi, keseharian kita sama tetangga sampai ke hal-hal sensitive dalam keluarga. Endingnya sendiri walau mellow sudah pas, happy untuk semua. Ada ganjalan hubungan dengan Delia, maka sebelum jauh ada baiknya dilepas. Salut sama konsistensi Rosid untuk tak ‘merusak’ cinta dalam belitan nafsu. Rosid tak tahu harus bagaimana; sedih, bahagia, atau lega. Saat ia memutuskan hubungan dengan Delia.

Keputusan membacanya lebih kepada efek nikmat kumpulan cerita pendek-nya tahun ini yang rilis, ‘Kisah Perdagangan Paling Gemilang’ (Banana) yang sejatinya banyak kemiripan latar. Memang susah konsisten mencerita novel panjang, ga seperti cerpen yang satu kisah bisa dipenggal dan mengisah plot lain, novel lebih diminta konsestrasi ke satu pokok, dengan tiga ratus halaman, jiwa petualangan novel jelas tertantang untuk bisa nyatu, lebih rumit, dan menjaga pembaca tetap berminat hingga titik terakhir. Da Peci terlalu umum, budak tema baru tua vs muda, masalah idealism juga ga terlalu dalam. Sementara Kisah Perdagangan, variatif dengan kenikmatan jleb setiap ganti cerita.

Menutupi kepala itu termasuk dalam kesopanan, malah dalam Islam ada yang bilang itu sunah. Sebagai penutup, saya mau nukil dialog abah-anak yang absurd: “… Lu belajar sama siapa? Sama syaiton?” / “Kalau ada kebenaran, Rosid mau belajar ame syaiton…” Haha… ini tindak lanjut dari kemarahan Babe tentang dasar anak syaiton. Lha… blunder. Bapaknya juga syaiton.

The Da Peci Code | by Ben Sohib | Copyright 2006 | Penerbit RAHAT Books | Cetakan IV, Desember 2006 | Desain sampul Eja Assagaf | Penyunting Mehzy Zidane | 326 hlm.; 17 cm | ISBN 979-15303-0-0 | Skor: 3/5

Karawang, 140720 – Billie Holiday – Strange Fruit (1939)

Thx to Anita Damayanti, empat dari Sembilan.

Perempuan itu Bernama Anick by Titie Said

“… Hentikan penyelidikanmu, kamu kira aku tidak tahu kamu sering pergi? Kamu harus bisa menerima takdir. Aku tahu kamu sedang mencari keadilan… bekerja di tempat maksiat tapi tak tahu bahayanya, jangan sok suci!” – Naning

Novel yang mencoba action, dengan beking utama cerita tentang narkoba, pelacuran, dan segala dendam kesumat, tampak akan menjadi kisah aksi heroic dengan tembakan, sabetan golok, serta taburan shabu di mana-mana. Dituturkan dengan tempo sedang, tapi jelang akhir sungguh tergesa seolah ada gerebek yang bikin kerumunan harus bubar, harus selesai. Sempat berharap akhir yang pilu nan tragis, karena suram adalah koentji, apalagi sempat terjepit di restoran dalam serbuan maut, nyatanya berakhir bahagia. Sang jagoan walau ga bisa mengayunkan golok, terlihat hebat, lolos terus dari malapetaka, yah kecuali petaka utama menjadi korban perkosaan.

Kisahnya tentang Ana Maria dengan nama beken Anick, nama Anick lebih prestise daripada nama-nama komersial artis. Begitu pula nama-nama gadis penjual seks lainnya bernama gaul: Deasy, Devy, Debra, Betty, Ratih, Leoni, Sylvia… Jangan heran, KTP dobel satu tripel sudah biasa untuk para perempuan yang gelimang dosa ini. Ia adalah seorang istri dan ibu dua orang anak yang teraniaya. Orangtua penganut Katolik yang saleh, tetapi kenyataannya ia ‘abangan’ dan agama hanya tercantum dalam KTP. Kedua anak yang ikut di Kartasura-Solo: Dinda dan Dandi.

Dibuka dengan keadaan Lokasliasai Kramtung, Kramat Tunggak, Jakarta. Sebagai pelacur yang intelek, eksklusif. PSK amat takut sama sinar matahari yang berlebihan yang dapat merusak kulit, sebab kulit menjadi asset utama. Lelaki selalu gandrung pada kulit mulus. Karena apa pun juga namanya toh kerja begitu tetap tidak terhormat, tetap nista. Dibawah naungan Ibu Datu, Ibu yang tidak mau disebut mami, sebab menurutnya sebutan Ibu lebih anggun. Mami di lokasi kamu punya konotasi mucikari. Anick lalu bercerita asal mula bagaimana ia bisa terjun di lembah dosa. Penderitaan yang membuatmu berubah, rasanya aku tak mengenalmu lagi.

Anick terlahir sebagai anak tunggal dari Kartasura, sebagai seorang Katolik pernikahan adalah sakral dan sekali. Maka di pernikahannya dengan Sal yang kandas tak jelas, ia mencoba tegar. Hubungan dengan Sal dari Surabaya sebenarnya ditentang, tapi darah muda yang menggebu mencipta anak pertama yang akhirnya menikah, dan hanya berselang tiga bulan ia hamil lagi. Dinda dan Dandi seharusnya menjadi pelita keluarga. Rumah sederhana, usaha kecil-kecilan, dan tekad membaja untuk membuktikan kepada kedua orang tua akan kekuatan cinta yang menyatukan. Nyatanya, Sal ga bisa diajak susah, rumah digadai buat modal usaha taksi. Di awal sih bayar cicilan lancar, petaka tiba ketika ada kecelakaan, lalu pembayaran tersendat. Akhirnya Sal kabur, pulang ke rumah orangtuanya, meninggalkan Ana dan anaknya.

Kalut karena ekonomi ambruk membuat Ana harus memutar strategi. Tawaran menjadi koki di restoran Jakarta mengantarnya ke tanah ibu kota. Bersama Naning tetangga sekaligus bosnya mengarungi kerasnya kehidupan kota. Terkenal dengan racikan mantab, Ana menjelma koki idaman. Berjalannya waktu, ia mengenal para pelanggan. Naas, restoran itu ada di kawasan hitam pelacuran, istilah ‘ojo cedak kebo gupak’ cocok menampilkan keadaan. Ana yang terjebak pusaran, ketika Naning sedang keluar kota, dua komplotan preman: Geng Berto dan Geng Johny memperebutkannya, berakhir bencana dan kasus pemerkosaan.

Traumatis, Ana menuntut dendam. Tidak ada Ana Maria, adanya Anick. Kini ia bertranformasi identitas. Dengan nama baru, ia melakukan perburuan. Nama-nama pelaku dicatat, ditelusur, dan disusun kesumat. Melalui Monik yang belia 18 tahun!, ia yang terjerat narkoba, Anick mencari informasi. Niatnya sempat dilarang Naning, efek pelaporan akan panjang nan berliku. Lawannya adalah preman kawasan, taka da saksi, bukti minim. Rencana dendamnya dianggap gila, tapi pertunjukan harus jalan. Monik tewas dalam sakaw, entah dibunuh ataukah benar-benar kolaps?

Anick mendapat kenalan bos Priok yang pilu. Ia menjadi penguasa Jakarta Utara, terpesona sama masakan Anick, lalu melah menjadi pelanggan pijatnya. Di sinilah susunan dendam itu tampak bisa dilaksanakan. Anick mengompori Basuki Cobra, ‘Sang Presiden Preman Priok’ bahwa mereka para penjahat sedang menyusun serangan maka harus dihentikan, beberapa hari kemudian muncul di berita beberapa penjahat teri pelaku pelecehan seksual itu tewas, sebagian ditangkap polisi. Anick mencatat nama-namanya, dan tersenyum puas. Namun malamnya ia merasa berdosa, melakukan penghasutan pembunuhan, jelas dilarang dalam agama.

Satu lagi pelaku yang belum terlaksana, Jangkrong. Seorang Bandar narkoba, tampilan miskin hanya kelabu, Cobra yang mendapat informasi dari Anick betapa berbahayanya sang penjahat, besoknya target utama itupun berakhir tewas juga. Selesai sudah kesumatnya. Selesai pula kisah? Belum. Kematian Jangkrong malah berdampak panjang. Naning panik karena ia dititipi bungkusan penuh narkoba, bersama Anick yang juga kalut dan bingung mau diapakan barangnya? Setelah melalui perimbangan panjang, dibuang di sungai, ditabur bak perayaan akhir kremasi.

Anick lalu berkenalan dengan Henri, bos narkoba yang secara tersamar menjadikan sang protagonist penyalur. Dengan sebungkus buah, di dalamnya tersembunyi bubuk dan pil maksiat. Henri menitipkannya, nanti ada yang ambil. Gitu terus, kegiatan bejat ini tak disampaikan ke Cobra. Anick berupaya mencoba menjadi semacam agen, mengamati, mengelabuhi seolah ia adalah penyalur. Setelah mendapat kepercayaan, barulah melapor ke Cobra. Melakukan penggrebekan, dan jaringan Henry dan sedikit di atasnya terputus. Sudah? Belum, sedikit lagi.

Tentu tak semudah itu kabur. Jaringan narkoba itu luas dan menjerat, tak mudah melepas belitannya. Apalagi Anick menjadi agen yang menyamar sehingga menjadi target operasi dendam mereka, kedua anaknya segera diamankan anak buah Cobra. Cobra sendiri memiliki kisah pilu, seorang pembantu yang diajak menikah anak juragannya yang ayu. Yang ternyata setelah sah, tahu istrinya hamil empat bulan. Kehidupan yang terasa tak adil, hanya simbok dan Anick yang membuatnya luluh. Sampai dipanggil cah ayu, saking dekatnya mereka. Ada selip asa menikah, ada harapan akan bersatu gembong mafia dan sang protagonist. Kabar balas dendam itu mencipta ketergesaan. Anick diminta kabur, ia sudah tak aman, Naning sebagai pemilik restoran panik luar biasa. Dan seakan diburu waktu, restoran yang menjadi tempat transaksi ini akhirnya diluluhlantakan, menjelma medan tempur yang mematikan sang pria bertato cobra.

Lalu bagaimana Anick bisa terjerat ke rumah prostitusi? Dalam keadaan putus asa, tak ada gelayut dan harapan entah mau kemana. Muncullah Ibu Datu, memberikan penawaran. Endingnya sendiri, Anick mencoba menolak kenyataan pahit lumpur dosa. Aku takut seandainya mereka tahu bahwa ibunya kini bernama Anick dan mencari uang dari kerja yang erat kaitannya dengan kerja haram. Ayahnya yang marah meninggal dunia, uang kiriman ternyata ga ada yang mau pakai karena uang haram, mereka gunakan untuk membantu warga miskin, anak-anak yang putus sekolah. Lalu ketika akhirnya ia mudik, penolakan itu mencipta identitas baru. Ana, Anick, Mina, gadis sederhana nan solehah di kampung, teman SDnya.

Ini adalah buku pertama Titie Said yang kubaca. Pengalaman unik menikmati cerita tentang jaringan narkoba lokal. Premanisme, protitusi, kemiskinan, penghiatan, dendam. Tema yang sangat beragam, buku tipis maka tak heran banyak adegan tergesa. Mbak Titie sendiri mencoba mengankat tema feminism, memperjuang persamaan gender. Seperti perbedaan pandang tentang status. Itulah enaknya laki-laki, sama-sama tidak bermoral tetapi tidak mendapat sebutan jelek. Seolah ada ketidakadilan gender. Betapa wanita sering dilecehkan, menjadi nomor dua, di sini sebagai orang Jawa, wanita menjadi orang sendiko dawuh sama keluarga, terutama suami. Hal-hal yang dulu tabu memang di era sekarang mulai dikikis, atas nama kemajuan zaman, segala kesempatan di dunia ini mencoba setara. Tema seperti ini sekarang sudah banyak dibuat, terutama karya Ayu Utami yang lebih ganas dan vulgar. Perempuan Itu Bernama Anick lebih soft, lebih nyaman diikuti, mungkin karena kolaborasi dengan BNN sehingga bahasanya lebih umum untuk dinikmati luas khalayak.

Entah kenapa novel ini tanpa identitas yang biasanya berada di halaman awal, dengan kover polos berdasar warna hitam, tulisan merah menyala memikat ancaman. Tak ada ISBN, tak ada penyuntingan, pun proof reader sehingga teramat disayangkan typo di banyak tempat. Bahkan aturabn dasar seperti titik atau koma, justru berjeda di awal dan belakang kata di beberapa lembar. Justru dua surat lampiran resmi dari BNN (Badan Narkotika Nasional) yang mengucap terima kasih, tercantum lengkap stempel dan ttd Kalakhar BNN, sebagai langkah proaktif dalam memasyarakatkan bahaya penyalahgunaan narkoba dan zat-zat psikomatik. Plus sederat ucapan terima kasih, sehalaman penuh. Sederhana eksotis, kover hitam dengan pengantar BNN di dalamnya!

Niat bagus, cerita lumayan bagus, tapi tetap ga bisa memacu andrenalin tanya dan penasaran. Sehingga tebakan akhir bahagia sudah tampak menjadi wajar bahwa jagoan akan selamat. Sekadar bacaan untuk menyelesaikan baca buku Juli ini, sebulan jelang KSK 2020.

Aku bukan Ana, Ana sudah mati. Aku bukan Anick, ia telah mampus. Kotor, minggat, memalukan… jangan panggil aku Ana, jangan panggil aku Anick, panggil aku Amina…”

Perempuan itu Bernama Anick | by Titie Said | Novel kerja sama BNN dengan D’Best dan Diamond | Note: Tidak ada identitas buku | Terbit tahun 2003 | Skor: 3/5

Karawang, 130720 – Bill Withers – In the Name of Love

Thx to Anita Damayanti, tiga dari Sembilan.

Ricuhnya Hidup Bersama Adam by Anne Mather

From London with Love

Saya cuma hendak membuktikan diri sendiri, bahwa saya ini tidak terikat.” – Maria

Tema utama memang mencari jati diri, gadis remaja 18 tahun yang ingin bebas, lepas, ingin membuktikan ia bisa bertahan jauh dari ayahnya. Kuakui kenyataan bahwa kamu menginginkan kebebasan yang agak lebih luas. Tapi tidak semua yang bagus mengandung kehangatan dan berisi.

Cerita cinta yang simpel, tapi menjadi elok bila dibawakan dengan bagus. Kisah klasik percintaan di tanah Inggris. Beberapa tampak tabu dibicarakan, bahkan di dunia Barat tahun 1970an, seperti cara berpakaian Maria yang hanya berbikini berjemur di kebun belakang, laiknya pakaian renang yang hanya harus dikenakan di pantai, bukan di sebuah perumahan elit. “Kecuali itu, aku tidak punya pakaian untuknya.” Beberapa terjemahan terbaca eksotis, karena baku jadul, atau culture di tanah air saat itu. “Masya Allah, Maria kau kira aku ini apa?”

Saya sudah bisa menebak akhirnya, walaupun keputusan hidup bersama adik tiri terasa janggal, atau segala pertentangan yang muncul kemudian, jelas hati yang tertaut karena cinta lebih kuat dan abadi, ketimbang menikah karena materi, profesi, atau sebuah prestise di mata umum. “Meskipun begitu, kedatangan Anda untuk tinggal bersama abang tiri Anda, rasanya agak – bagaimana ya – rasanya agak tak lazim.”

Kisahnya mengambil sudut pandang gadis lulus SMA dari Kilcarney, Irlandia yang memutuskan ikut abang tirinya ke London untuk kursus sekretaris atau perkantoran. Maria yang beranjak dewasa, menuntut kebebasan, ingin merantau jauh dari ayahnya Patrick Sheridan yang kolot, untungnya ibu tirinya Giraldine Massey, ibu Adam mendukung rencana itu. Orangnya memang sangat praktis pada umumnya, lebih mementingkan kegunaan ketimbang segi keindahan. Betapa picik kehidupan, orang-orang cuma tahu nikah, punya anak dan membesarkannya. Lain tidak. Ayahnya menjodohkan sama anak tetangga yang punya banyak lahan, sehingga dari pernikahan akan menyatukan kedua juragan pertanian ini. Maria memilih kabur, maka Adam, abang tirinya di London diminta menampung. Kau yang mula-mulanya bosan terkukung oleh empat tembok sempit. London ini, tidak cuma terdiri dari hal yang indah, megah, dan mulia.

Dr. Adam Massey, titel dokter diperolah di Cambridge untuk dokter umum dan bedah, temannya meninggal karena leukemia, sejak itu ia memutuskan membuka praktek umum. Adam idealis, ia melakukan segalanya untuk membantu kalangan kurang mampu. Di sini sang abang memang tampak sempurna, eh nyaris sempurna saking hebat dan baiknya. Contoh kasus, ia merawat Nyoya Ainsley, sebatang kara setelah satu-satunya putri merantau ke Australia. Atau keputusannya yang hebat. Praktik di kawasan Islington yang umum, ketimbang Kawasan mewah West End bergabung dengan klinik praktek dokter di Harley Street. Prinsip, di mana tenaganya dibutuhkan. Perkampungan kumuh, bangunan lembab, merupakan sumber penyakit. Di sana banyak penduduknya yang sudah tua. Adam ingin bekerja, menolong orang, mestinya ada kepuasan, membantu orang yang tak mampu. Luar biasa! “Karena selalu ada saja orang yang nantinya akan menyalahgunakan kebaikan hati.”

Ketika menerima surat rencana kedatangan Maria, jelas ia menolak keberatan. Namun sebelum membalas atau memberitahukan keluarga, Maria keesokan harinya sudah tiba di rumahnya. Tunangan Adam, seorang artis Miss Loren Griffiths, sebagai manusia terkenal dengan kesibukan luar biasa. Di hari pertamanya di London, langsung menancapkan permusuhan. Maria merasa tak kenal sang artis, sang artis merasa kedatangan adik tiri akan membuat gaduh. Rasa tidak senang pada Loren yang memang sudah ada, semakin bertambah saja melihat ketimangan hubungan Adam dengan sang artis, bahwa rasa tidak senang itu untuk sebagian disebabkan karena cemburu?

Ya karena sudah di rumah abangnya, maka Maria menyibukkan diri sebelum daftar kursus. Ada pelayan Alice Lacey, yang ikut sejak Adam kecil, rencana mundur setelah Adam menikah, sampai sekarang bertahan. Drama ini akan berkutat di sini. Keseharian Maria yang labil, maklumlah masa peralihan. Masa remaja yang mencari jati diri. Ricuh terus. Mau aktif ke sekitar, salah. Karena pernah jalan-jalan di Hyde Park, kejauhan semacam tersesat, padahal ingin santai menyaksi Pemandangan London di kala senja yang menarik, jalan-jalan penuh wisatawan dari pelbagai bangsa. Mau berdiam diri di rumah juga serba salah karena Adam sudah punya pelayan, maka ngapain coba? Malah pernah berjemur di kebun belakang pakai bikini bikin geger orang-orang. Salah satunya teman Adam yang datang berkunjung, menyaksi keseksiannya. Larry Hadley malah lalu menelpon dan mengajak jalan. Kena omel juga karena ia orang ga benar. Berkenalan dengan David Hallam, anak sang pengacara umum Victor Hallam. Juga serba salah, sebab Adam malah melarang kluyuran. Keremajaan dan keringannya memikat para anggota pria. Bikin repot. Menekankan bibir, menekuri ufuk. Manikmati tetirah di pantai.

Apalagi ketika kursus ternyata sudah berjalan sebulan, jadi opsinya mau tetap masuk berarti menyusul ketinggalan atau menunggu gelombang berikutnya sekitar dua bulan lagi? Memutuskan sekarang sahaja join, ketimbang makin lama manyun. Maka minimal ia sudah ada aktivitas. Hubungan yang buruk dengan sang artis, dan waktu sempit Adam sebagai dokter menjadi keseharian. Kesibukan seorang dokter tidak mungkin dapat diatur terlebih dulu. Selalu tergantung dari para pasien. Bersama mobil Rover-nya Adam bertugas di lalu lintas London yang padat. Mereka terlalu sibuk mencari nafkah, agar dapat menyangingi tetangga. Mereka tidak sadar, pada suatu waktu mereka juga tua.

Dan muncullah benih cinta. Orang biasanya mengenang hal-hal yang dulu-dulu saja, tanpa mempertimbangkan proses kematanganya yang sewajarnya menyusul. Adam mungkin mengagap Mari masih kecil, tapi ia bisa buktikan sudah dewasa. Berjalannya waktu untuk pertama kalinya ia bertanya pada diri sendiri, apakah kepergiaannya ke London merupakan dorongan keinginan membebaskan diri dari kesempitan Kilcarney, atau mungkin secara tak sadar karena kerinduan kepada Adam?

Ada rasa lima tahun sebelumnya saat abangnya ke Irlandia, waktu itu jelas Maria masih anak sekolah yang manja. Ada semacam percikan cinta di remaja 12 tahun itu kepada abang tirinya. Rasa itu ternyata malah menghebat. Ia mengkhawatirkan datangnya saat, apabila Adam menyadari kehadirannya, bukan sebagai adik tiri melainkan sebagai wanita. Maria selalu kikuk saat ada Adam di dekatnya. Menggigil karena udara yang agak dingin di luar, tetapi juga disebabkan oleh bakaran semangat. Dengan tiba-tiba saja kehidupan menjadi menarik. Semakin lama ia tinggal di Inggris dan hidup di rumah Adam, semakin terlibat pula dalam jeratan perasaan. Ia tak boleh memberikan dorongan terhadap perasaan yang ada pada dirinya.

Novel menemui titik akhir di pesta malam di rumah Miss Loren Griffiths. Malam itu Adam berangkat bersama Maria, pesta kalangan elit itu awalnya dikira bakal membosankan. Justru Maria bertemu dengan Victor Hallam, pengacara tua itu menjadi teman ngobrol asyik. Dan Adam yang diam-diam bertengkar dengan tuan rumah. Malam jelang tengah malam, terjadi sebuah ciuman terlarang. Hubungan kakak-adik tiri ini menjadi dramatis ketika sang ibu datang ke London memergoki. Kalutlah segala suasana. Bagi sebagian orang tertentu, bergunjing merupakan kesibukan yang asyik.

Esoknya, harus diputuskan ke arah mana semua ini? Sang tunangan yang mendesak Maria untuk pergi? Yang penting, kau sendiri merasa bahagia denganya. Adam yang mencinta memilih siapa? Aku cukup angkuh untuk menuntut kesucian dari wanita yang tidak akan menjadi istriku, juga aku sendiri tidak begitu. Bab terakhir menjadi eksekusi manis menutup ‘Ricuhnya Hidup Bersama Adam’. Aku senang mendengar kebenaran, daripada pemutarbalikan persoalan.

Kisah semacam ini mungkin ketika dibaca sekarang tampak sangat klise, terasa klasik cinta dari London. Menurutku masih sangat nyaman melahap masa buku-buku seperti ini. Bulan Juli 2020 kucanangkan menuntaskan baca-ulas jadul. Kovernya bagus banget. Dengan warna orange kelabu, yang duduk jelas Adam. Stylist berkaca mata dengan ‘v-neck’ nya, sementara Maria berpose kalem bersama segelas wine. Keremajaannya dipulas tjakep. Buku kedua ini jelas lebih bagus.

Maria pergi untuk sementara waktu, ia berhasil melarikan diri dari realitas.

Ricuhnya Hidup Bersama Adam | by Anne Mather | Diterjemahkan dari Living with Adam | Copyright Mills & Boon Ltd., Anne Mather 1972 | Alih bahasa A. Setiadi | Penerbit PT Gramedia | GM 77 109 | Pertama terbit 1977 | Desain sampul Sriyanto | Skor: 3.5/5

Karawang, 090720 – Louis Armstrong & His Hot Five – St. James Infirmary Blues (1929)

Thx to Anita Damayanti, dua dari Sembilan.

Menggapai Hati yang Rindu by Violet Winspear

Asmara Tertata di Virginia

Maafkan aku yang marah-marah padamu, dalam permainan salah seorang terluka bukanlah suatu hal yang dapat dihindari.” – Reid McShane

Cerita cinta yang sangat mudah ditebak. Seorang gadis menjadi pengasuh sementara anak tunggal berusia lima tahun, seorang duda di pedesaan. Tak diragukan lagi, bahkan sejak kalimat pertama bahwa akan ada benih cinta, dan ujungnya ketebak bersatu. Segala kendala yang diapungkan sekadar pemanis, masalah-masalah yang ditimbulkan hanya lika-liku hubungan lazimnya koneksi timbul-tenggelam. Apa daya, sungguh sesuai alur. Namun menikmati roman klasik, atau segala kisah cinta yang dicipta di abad 20 memang rata-rata mengedepankan harapan bersatu di kemudian hari, pertentangan hanya bumbu. Apalagi pertentangan itu dari dalam, jadi jelas happy ending sejak semula muncul ke permukaan.

Kisahnya tentang Beth Anderson, art director dari perusahaan iklan yang paling besar di Washington. Ia adalah pasien Dokter Doc, karena stress. Doc menganjurkan agar ia pergi berlibur di suatu tempat yang asing dan tenang. Ide diperkenalkan pada Reid McShane, seorang arsitek gila kerja muncul. Maka di pesta malam yang sederhana, mereka dipertemukan. Tawaran kerja bertugas menjaga anak laki-laki berusia lima tahun, bernama Josh McShane selama Reid bekerja spontan diterima. Ajakan itu dilakukan dengan dorongan seketika, tapi percayalah ada peran Doc di sana yang jadi comblang.

Tugas utama memang mengasuh Josh yang biasanya bersama tetangga mereka, nenek Daisy. Namun memang ini mutualisme, Beth yang butuh menepi menemukan ruman tenang di pedesaan Virginia. Ia tidak pernah menyaksikan rumah sedemikian indah. Bagaikan yang sering dilihat di kartu pos. Ada Rufus, anjing kesayangan. Lalu Phoebe, Si kambing betina dikurung di dalam pagar yang cukup tinggi, yang setiap pagi menghasilkan susu. Sungguh aduhai hidup di tengah desa, dengan tumbuhan berlimpah dan hewan-hewan peliharaan yang imut. Maka, suasana intim yang dicota, niscaya muncul gelombang asmara di antara mereka.

Dari pembukanya saja sudah dapat ditebak, Beth menyiapkan makan malam menungguh Reid pulang kerja, sebuah gambaran istri dengan setia menanti suami pulang makaryo. Apalagi dengan sudut pandang Beth, sehingga pembaca tahu apa yang ada di dalam hatinya, kegundahan, kegelisahan, keraguan, cinta, dan segala perasaan labil sang gadis. Jelas, ini akan menjadi cerita cinta yang sederhana. Sesekali keraguan muncul, kelesuan timbul. “Ada apa dengan Anda? Kelihatannya Anda kurang bersemangat.” Hanya pemanis kata sih, ujungnya cinta.

Gunjingan di Harford and Grey muncul, karena ia menghilang begitu saja di tengah kesibukan. Permintaan cuti dua bulan, seolah memang kabur dari tanggung jawab. Orang paling geram atas tindakan ini adalah bosnya, Jack. Ia merasa kehilangan karena Beth pergi tanpa meninggalkan kontak, dan informasi yang jelas. Ketika Jack berhasil menghubungi, dengan marah ia berkata, “Aku berada di Hongkong!” Wah-wah, ternyata Hongkong-pun menjadi Negara yang jadi alibi jauh dan asing di Amerika sana, kukira hanya di sini. Ckckck…

Lalu malam-malam yang sunyi di pedesaan itu, keduanya membuka diri, juga membuka hati, dan baju nantinya. Beth ternyata terluka tentang asmara, menolak cinta seorang pemuda mapan. Merasa bersalah juga, perasaan ga enak itu menggelayutinya bertahun-tahun setelahnya. Alasan ingin jadi wanita karier dulu, ingin menikmati kebebasan. “Tidak cukup tampan, atau tidak cukup kaya?” Cara menolak halus, ah wanita, katanya mereka memang berjiwa kreatif, artistik, neurotik, sensitif, dan mudah menangis. Tentu saja keberhasilan merupakan tujuan hidup. Tapi mengapa manusia tidak pernah merasa puas? Asmara Beth tertata di Virginia, keputusan pasangan hidup harus dibuat.

Sementara Reid merasa masa lalu yang salah telah memberinya pelajaran berharga tentang pasangan hidup. Semasa muda, pacarnya yang ingin berkarier memutuskan hubungan setelah melahirkan Josh. Sang pacar malahan meminta aborsi, yang langsung ditolak. Mengajak menikah, gentian ditolak. Sang arsitek memutuskan menepi membesarkan buah hati. Ia merupakan seorang pengusaha yang berhasil yang akhirnya mundur dan masuk ke hutan. Setiap jengkal rumahnya disusun bertahap, dan dipoles dengan cinta. Seolah, memang hanya menanti seorang istri sekaligus ibu tiri. “Anda cukup beruntung karena tak perlu merisuakan makanan yang Anda lahap berikutnya. Dan jangan pedulikan ejekan orang lain karena Anda miskin.”

Setelah tugas asuh selesai, Beth kembali ke rutinitas pekerjaan di bidang iklan. Dari temannya yang berujar bahwa laki-laki di Washington kebanyakan adalah laki-laki berhidung belang. Mematik rasa, Ia selalu merasa iri hati menyaksikan orang yang memulai harinya dengan senyum dan lagu. Reid tampak berbeda (heleh… klise ya). Tekanan Jack dan segala kepenatan hidup di kota, ia memutuskan kembali ke Virginia, sekadar berkunjung. Tanpa pemberitahuan, tiba-tiba muncul di depan rumah suatu malam di akhir prkan. Well, sejatinya Beth menuntaskan rindu karena malam itu, kejadian di kolam renang kembali terulang di kamar. Ia memejamkan mata, merasakan siksaan pada bathin karena ia mencintai laki-laki ini, dan ia tak dapat melakukan apapun untuk merealisir cinta mereka. Betapa bahagianya berada berdua di bawah sinar bulan musim panas, tanpa kehadiran orang lain. Dunia seolah-olah milik mereka berdua. Percakapan aneh tersaji suatu malam, “Ya, lebih baik minuman panas.” / “Kopi, teh, cokelat susu?” / Dalam hati Beth berkata, “Kopi, teh, atau diriku?” hahaha… Dasar cewek ya, sama sahaja.

Reid, laki-laki berwajah begitu tampan, jantan, dan tenang ia tak memercayai cinta. Beth, muda, cantik, dan ideal menjadi pasangan hidup, ia begitu mengagungkan asmara. Saling melengkapi, saling mencintai. Lantas apa masalahnya? Konflik berat sebenarnya adalah hak asuh Josh akan lebih sentosa di bawah ayah dan ibu tirinya? Ataukah ibu kandungnya yang menelantarkannya ketika lahir, lalu bermasalah dengan bayinya. Menikah dengan orang kaya, menuntut hak asuh setelah lima tahun yang asing. Sang penuntut menyewa pengacara terkenal, mahal dan sering memenangkan kasus. Seorang pengacara cekatan selalu dapat mengalihkan apa yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar. Lalu keputusan klise, Beth akan menikah dengan Reid untuk melindungi hak tersebut. Kukira pernikahan adalah urusan pribadi dua orang.

Jadi setelah sepakat untuk menikah demi melindungi hak Josh, suatu malam datanglah tamu bernama Conrad Rutherford. Seorang kaya yang meminta maaf, ia adalah suami sang mantan Reid. Memohon maaf karena suatu hari ke situ mengejutkan anak kandungnya dalam keadaan mabuk, dan membuat takut seperti orang stress. Maka tanpa persidangan, mereka mundur dari tuntutan. Jadi apakah dengan kemenangan ini, Reid dan Beth tetap melanjutkan rencana pernikahan?

Konflik kedua yang diangkat adalah tentang wanita apakah cocoknya di rumah mengurus rumah tangga atau menjalani karier. Sesekali ingin memakai busana atau aksesoris mewah. Perancang terkenal: Calvin Klein, Diane von Furstenburg, Jordache. Ga ada yang salah. Wanita memang makhluk unik, sulit ditebak. Tema seperti ini juga umum, sejatinya Beth juga gambaran masa lalu sang mantan. Bedanya kini Reid sudah matang, sudah mapan, sudah sangat berpengalaman. Sang mantan memutuskan mengejar karier, sah saja. Beth memutuskan mengejar karier pula, sah juga. Ga ada yang salah dan benar, adanya adalah setiap individu memiliki hasratnya masing-masing. Pertanyaannya sekarang dibalik, “Apa salahnya dengan wanita yang berkarier di dapur?”

Sekadar iseng memasukkan buku ini ke dalam belanjaan, sejatinya mengincar satu buku Ben Sohib, yang lainnya hanya tambahan. Tambahannya delapan, rerata buku lama. Jadi buku tipis ini kubaca kilat sejak datang hari Kamis (2/7/20), dan besoknya sudah selesai baca. Menikmati buku klasik tuh gampang-gampang susah. Memasuki dunia asing dengan teknologi jadul. Beth yang mengasingkan diri, di era sekarang tentunya akan lebih mudah dihubungi, walau terbentang 3 jam perjalanan. Kata-kata yang digunakan juga terlihat kaku, saat ini jika diperhatikan. “Mengapa Anda tidak memberitahukan daku?” atau “Bukankah Anda sendiri cukup risau oleh persoalan yang sedang Anda hadapi?” Untuk percakapan dua karakter yang sudah menghabiskan beberapa malam seatap, tampak ada jarak di antara mereka. Kovernya cakep sekali, itu adalah adegan makan malam di adegan pembuka. Beth yang menanti kepulangan Reid, seolah mereka adalah pasangan suami-istri. Ilustrasi yang sepertinya dilukis dengan cat air, dengan kanvas yang lalu dicetak, latar orange menambah daya tarik. Kesan sederhana, eksotis.

Aku harus mempertahankan ketenanganku untuk mendapatkan kemenangan.

Menggapai Hati yang Rindu | by Violet Winspear | Diterjemahkan dari xxx (identitas buku tidak ada, halaman pembuka buku hilang)| Penerbit Karya Agung | Skor: 3/5

Karawang, 070720 – Roy Brown – Good Rockin’ Tonight (1947)

Thx to Anita Damayanti, satu dari Sembilan.

Setelah seminggu penuh, istirahat ngeblog pasca #30HariMenulis #ReviewBuku akhirnya saya kembali.

Tamasya Bola #30

Tamasya Bola by Damanto Simaepa

“… sepakbola (terutama di Eropa) bisa ditulis sama bagusnya dengan sastra dan sama emosionalnya dengan karya jurnalistik tentang perang atau kemiskinan…” (halaman 369)

Done. Tiga puluh review dari 30 hari di bulan Juni akhirnya selesai juga. 15 buku terjemahan, 15 buku lokal.

Apa menariknya cerita tentang Barcelona? Apa serunya ngomongin Manchester United? Mereka sudah besar dari sananya, ga perlu dikupas hal-hal umum yang tiap akhir pekan dibahas ratusan juta orang. Setelah keluhan cara pandang dan pilihan puja-puji klub, kita justru diajak menelusur dunia antah pengalaman hidup sang Penulis kala remaja, cintanya pada bola atau bahkan detail sepak bola amatir saat belajar di Belanda. Bah, ga ada yang tertarik menikmati hidup sang penulis, kecuali kamu adalah Rob Hughes atau Rayana Djakasurya. Sungguh buku yang membosankan, sempat melambung tinggi ketika membaca kata pengantar oleh Penulis pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2018: Mahfud Ikhwan, buku ini langsung terjerebab di mula, terkatung-katung tanpa arah yang nikmat di tengah dan pada akhirnya membuat ingin segera meletakkannya di rak saking bosannya, hal-hal lumrah bagi pembaca menjelang ending. Bukan seperti ini buku tentang bola ditulis, padahal bung Damanto Semaepa mengkritik habis tabloid Bola yang kini sudah selesai, karena gaya bahasanya yang melimpahi pembacanya dengan data-data boring, lha malahan Tamasya Bola sama buruknya tatacara dituturkan. Secara aksara yang coba melambungkan tinggi gayanya, gagal; secara pilihan tema yang juga ga nyaman sampai akhirnya cerita pengalaman pribadinya, astaga tiga ratus halaman yang menyiksa. Tak heran buku ini butuh sebulan untuk kutuntaskan, lebih sering tertidur pulas ketika baru beberapa lembar kusingkap, lebih membosankan dari kisah-kisah dongeng Disney yang gitu-gitu saja. Padahal kuniatkan tuntas pertama bulan Agustus ini (2019), malah jadi paling akhir selesai lahap. Atau emang lagi apes, buku ini dinikmati di sela novel Sastra Maut di Venesia yang wow, Max and the Cats yang penuh tualang, The Story Girl yang brilian? Dihimpit novel-novel ternama, Tamasya Bola seolah pamflet sales motor yang dilambaikan di pinggir jalan, diambil pejalan bukan karena kita butuh, tapi lebih karena kasihan. Sayang sekali…

Pada mulanya adalah pertengkaran, menjadi judul bagus begitu juga isinya oleh Mahfud Ikhwan. Blog belakang gawang lahir, dan bagaimana segala hal yang umum di tabloid ternama Nasional itu begitu menjemukan, jadi mengapa ga nulis sendiri, dengan gaya maskulin? Mourinho menjadi dewa yang diagungkan, sekaligus seorang pendosa yang dicaci setiap minggu, apapaun hasil akhir pertandingannya. Sosok besar di dunia bola sepak yang komentarnya dijadikan bahan dasar para wartawan untuk dikutip. Terkutuklah mereka yang hanya menyukai tebak-tebakan skor! “Yang terbaik dari sepakbola, siklus perubahan selalu terjadi.”Mou

Buku dibagi dalam empat bagian: Pesta & Gelak Sedih, Pe(r)sona, Kuasa dan Politik, dan Tamasya. Kisah pembukanya sih sebenarnya lumayan tentang final Champions 2015 ketika lagi-lagi Juventus tersungkur. Sepuluh menit yang menghadirkan ambang batas antara kalah dan menang. Remontada, Semoga! Tentang Barcelona generasi emas. “Yang hilang dari generasi kami adalah sejarah remontada.”Xavi Hernandez.

Manusia berpikir, Tuhan tertawa menjadi pembuka kisah ketiga kegagalan Barcelona musim 2011-2012. ‘Saya sepakat dengan Franklin Foer yang menyatakan, untuk menjadi penggemar Barca, Anda harus siap-siap patah hati’ (h. 22). Saya pribadi enggak sepakat, harusnya lebih luas mengambil cakupan, kenapa? Karena nama klub diganti manapun pasti klik, ‘menjadi fan blablabla, siap patah hati.’ Mau diganti Fulham, Brescia, Herta Berlin, atau Granada bisa, atau justru lebih pas. Barca sudah terlalu sering angkat piala bos, patah hati dalam lima tahun bisa dihitung jari. Nah! ‘Pemujanya yang fanatik bisa saja frustasi, tapi tidak pernah mentranformasikannya menjadi anarki atau berperilaku layaknya begundal keji.’ (h. 22).

Ada satu paragraf yang akan membuat fan Chelsea tertawa ngakak. Saya kutip yes. “Jika melihat saksama apa yang terjadi dalam pertandingan melawan Chelsea, Anda takkan menemukan penjelasan dalam aspek permainan sepakbola. Pemain terbaik Anda mendapatkan pinalti yang sangat jarang digagalkan. Tim anda menguasai bola, mendikte lawan, unggul jumlah pemain, dan mendapat peluang melimpah. Tetapi Anda tetap kalah.” (h. 25) Well, dalam sepakbola penentu pemenang yang dihitung adalah bola masuk ke gawang, dan Chelsea memainkan tempo, bertahan dengan baik dan melakukan serangan efektif. Sesederhana itu sobat. “Jawa telah lama menemukan kebenaran ini: orang pintar akan dikalahkan oleh orang yang berusaha keras, dan orang yang berusaha keras akan dikalahkan oleh orang bernasib baik.” (h. 27). Dan seterusnya, ketegangan akan terus menukik turun sampai akhir, sebagian besar ada di blog belakang gawang.

Sejarah kemenangan sepakbola adalah akumulasi kesalahan demi kesalahan.” Eto’o.

Ada satu kutipan lagi di halaman-halaman akhir tentang sang pengulas yang tenar di Indonesia tahun 1990an sampai awal 2000an, “Rob Hughes semakin jarang diterjemahkan setipa pekan. Kolom-kolom yang diisi oleh wartawannya sendiri nyaris seragam, dari segi teknis menulis dan pengambilan posisi penulis terhadap apa yang ditulisnya. Semua ditulis dengan nada netral, dingin, dan berjarak dengan sepakbola. Analisis hasil pertandingan yang muncul pada edisi Selasa nyaris tak memberi nilai tambah apapun bagi saya setelah menonton pertandingan akhir pekan.” (h. 366). Ya kita sepakat, Bola memang tutup karena kreativitas dibungkam, dan isinya berita ‘umum’.

Kita yang besar di era 1990-2000an jelas terbiasa Bola, dan terjemahan 442 yang bagus. Bola Vaganza sempat juga hadir, tapi memang hanya beberapa artikel yang menarik. Saya malah suka bonusnya sahaja untuk dipajang. Puncak kejayaan sepakbola sebelum merambah modern seperti saat ini, bisa jadi adalah 2006 ketika Italia berpesta di Jerman. Itulah masa saya berhenti berlangganan. Lagian Lazio memasuki dark era pasca Cragnotti.

Terakhir, maaf ya saya enggak anti Barcelona atau MU, apalagi timnas. Sebagai Laziale apa yang disampaikan segi-ketiganya terlampau umum, nah ketika yang ditulis mendetail khusus ke dalam justru malah tentang pribadi, pengalaman sendiri yang bagi kita tak terlampau penting untuk tahu. Alamak kamu, cerita suatu sore kepleset di lapangan tepi pantai bersama anak-anak lokal, apa menariknya? Coba sesekali ulas lebih dalam, kejayaan Genoa yang pernah ‘merampok’ scudetto Lazio jelang Perang Dunia, atau bagaimana drama dibalik kepindahan Alan Shearer ke Newcastle dan masa kepelatihannya yang singkat nan pahit, atau nulis sejarah mendalam SPAL yang terlahir kembali, Parma yang terjatuh di kubang terdalam lalu melakukan come-back per musim, drama di baliknya jelas lebih memikat. Hal-hal semacam itu sejatinya akan sangat jauh lebih sedap ketimbang mengata kehebatan Barca yang hanya sesekali terjatuh, MU yang mengeluhkan pesta norak Liverpool juara, atau mencaci dengan fasih timnas berulang kali. Kita semua sudah tahu itu. Seperti novel, mayoritas novel keren bercerita tentang penderitaan, cinta yang kandas, atau dendam lama yang tak terbalas. Sepakbola ulasan juga harus begitu…

Maaf sekali lagi.

Tamasya Bola: Cinta, Gairah, dan Luka dalam Sepakbola | Oleh Damanto Simaepa | Copyright 2015 | Penyunting Fahri Salam, Ilustrasi sampul Saiful Bachri | Pemeriksa Aksara Eko Susanto | Penata letak dan visual Janurjene | I – xviii + 384 hlm.; 14×21 cm | ISBN 978-602-1318-31-7 | Penerbit Mojok | Skor: 2.5/5

Untuk Gerei dan Nadya

Menulis sepakbola adalah menulis manusia-manusia yang menonton, memainkan, mengeluh, menangis, bergembira, bersedih, frustasi, dan seluruh perasaan yang mendefinisikan kita sebagai manusia lewat permainan indah ini.

Karawang, 300819 – 300620 – Red Hot Chili Peppers – Right On Time

#30 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

Thx to Dema Buku

The ABC Murders #29

The ABC Murders by Agatha Christie

Anda tahu, Monsieur Poirot, ini merupakan urusan yang kotor – urusan yang kotor – aku tidak suka.

Salah satu kisah detektif terbaik yang pernah kubaca. Pertama lahap pas masih sekolah di Perpus Kota Solo, Jebres. Terpesona, ini dalam rentetan baca setelah And Then There Were None… dan They Came to Bagdad. Saya ingat sekali bacanya, jam malam setelah belajar, di ruang kecil Ruang_31, Palur dalam keremangan rumah karena zaman itu masih pakai lampu bohlam cahaya orange, bukan seperti sekarang yang putih jernih nan mewah. Dengan lampu baca corong dari ‘mangkuk’ bekas produk sabun colek, kursi reyot karena dari kayu rapuh, keseringan dipaku, dan meja belajar yang dibuat sendiri dari bamboo yang ditebang di halaman kebun belakang. Sebuah gambaran kesederhanaan keluarga di masa lampau yang justru sungguh merindu.

Kisahnya tentang pembunuhan berantai yang memakai abjad sebagai sasaran korban dan lokasi. A untuk Ascher di Andover, B untuk Barnard di Bexhill, C untuk Sir Carmichael Clarke di Churston, lalu D dan ternyata segala yang tampak di permukaan tak selalu nyata. Diambil dengan sudut pandang Kapten Arthur Hastings, OBE. Saya sendiri bisa menebaknya, tampak janggal di pembunuhan D sehingga seolah korban ngacak. Sepertinya rencana itu sempurna, tapi jelas kriminal tak ada yang sempurna. Apalagi Hercule Poirot ditantang, rasa optimis membuncah, pembaca pasti sudah turut serta semangatnya ketika nama ini disebut. “Kau lihat Hastings? Seperti yang kukatakan kepadamu, selalu ada sesuatu yang akan ditemukan.”

Settingnya tahun 1935, Poirot menerima surat dari Hastings yang mengatakan pada tanggal 21 Juni, lihatlah di Andover. Surat itu menantang sang detektif, dan tertanda identitas Si ABC. Di awal sudah tampak mencurigakan akan ada pembunuhan. Dan tentu saja benar-benar terjadi. Sebagai pembuka adalah pembunuhan di toko jam satu pagi, toko posisi terbuka dan agen polisi Dover menemukan mayat wanita tergeletak di sana. Korban pertama adalah Nyonya Ascher yang telah menjanda. Meninggalkan jejak petunjuk jadwal kereta api ABC di belakangnya.

Surat kedua muncul dengan kertas cetak bermutu baik, tulisan tangan itu memberitahu bahwa tanggal 25 di pantai daerah Bexhill. Menantang kepolisian dan daya penyelidikan. Tak diragukan lagi, surat kedua ini dikirim oleh orang yang sama bila mengacu pada bentuk tulisan tangannya. Kini atensi dinaikkan. Pembunuhan kedua terjadi dengan korban gadis remaja bernama Elizabeth Barnard, pelayan kafe, seorang nelayan menemukan mayatnya tergeletak di pantai. Poirot, Hastings dkk memeriksa latar belakang sang korban. Dan bagaimana sang kakak, Megan menyebut, “Betty adalah seorang dungu kecil yang tak dapat dikurangi.” Megan kerja di kantor London, cerdas dan berpendidikan layak. Adiknya kurang beruntung. “Ia seorang bidadari dari Eden, lewat Swedia.” Dan seteru dengan gadis lain bernama Highley. Dan Donald Fraser juga ditanya begaimana jam-jam terakhir sang korban.

Surat ketiga muncul dengan pembuka, ‘Tuan Poirot yang malang…’ kali ini sang calon korban ada di daerah Churston pada tanggal 30. Cobalah lakukan sesuatu, sedikit membosankan melakukan semua ini dalam cara si ABC. Surat ditulis tanggal 27, dan mereka baru membacanya tanggal 30! Seolah-olah surat yang dikirimkan ke Poirot salah alamat, ga nyampai, barulah terlambat diterima karena dikembalikan sang petugas. “Orang tidak boleh memberikan jalan kepada kebingungan.” Tidak ada yang lebih jelek mengambil nyawa atau jiwa seorang asing daripada mencabut nyawa seorang yang dekat dan terhormat padamu.

Yang ketiga hadir lebih dramatis adalah Sir Carmichael Clarke di Churston. Sang korban berjalan-jalan dan jam 11 di hari itu ditemukan tergeletak di jalan. Kematiannya disebabkan pukulan memecahkan kepala belakangnya. Sebuah ABC yang terbuka ditemukan di atas tubuhnya. Adiknya Franlin Clarke tetap tenang memberi penjelasan kepada polisi.

Dengan pembunuhan ketiga surat kabar penuh oleh tak satupun yang lain untuk dibahas.semua jenis ‘kunci’ diberitakan telah ditemukan. Ada potret-potret dari setiap orang atau tempat yang jauh berhubungan dengan kasus. Wawancara-wawancara dilakukan setipa orang dan muncul pertanyaan-pertanyaan dari parlemen. Dengan tagline mengerikan: Ia Mungkin di Kotamu!

D itu ada di Doncaster tanggal 11 September awalnya dikira korban adalah Roger Emmanuel Downes, ternyata salah ke George Earsfield, tukang cukur. Seolah korban salah sasaran. Namun jelas ini adalah rangkaian pembunuhan ABC. Ia memilih belakang yang keliru. Dari sinilh Poirot menemukan titik terang, tautan ini mengakibat ia lebih intens memeriksa, dan jelas selalu ada motif. Pembaca mungkin terkecoh, tapi jelas ini pembunuh serial yang punya motif bukan sekadar urutan abjad. Selalu, pembunuh meninggalkan jejak yang bisa ditelaah.

Sebuah refrain lagu: “… dan tangkap seekor srigala. Dan masukkan ia ke dalam sebuah peti. Dan jangan pernah lepaskan dia.” Kau cukup selamat selama tak seorangpun mencurigaimu. Sekali kau dicurigai bukti-bukti dengan mudah didapat. Rouge, impair, manqué…!

Beberapa kali kita mengambil sudut Alexandre Bonaparte Cust (bukan dari kisah pribadi kapten Hastings) seolah selalu ada di tempat kejadian perkara, menjadi lazim untuk menyebutnya. Namun ketika bertemu langsung jelas sangat janggal. Dengan pola tersebut mengarah pada alphabet, maka di Koran-koran masyarakat dengan nama berawalan ‘D’ wajib waspada. Korban keempat terjadi di bioskop. Kali ini bukan ‘D’ tapi ‘E’ seolah merusak pola. Dengan nama Alexandre Bonaparte Cust yang membentuk ABC, jelas dengan sangat mudah kita singkirkan dari kemungkinan pelaku, Christie tak akan dengan mudah memberi klu segamblang ini. Apalagi ketika ada kalimat jelas, membunuh lalat saja tak mampu. Dengan nama besar: Alexandre the Great, Bonaparte pahlawan Prancis, sungguh berlawanan. “Tuan Cust yang malang? Ia tidak akan melukai seekor lalat.” Lily tertawa.

Era tahun 1930an yang klasik dengan informasi yang minimalis ke khalayak menjadi sangat mendebarkan. Kabar pembunuh serial berkeliaran di sekitar kita tentunya membuat ketakutan warga. Apakah korabn-korabn itu dipilih secara alfabetis, kemudian mereka tidak dipindahkan karena merupakan sumber sakit-hati kepada si pembunuh secara pribadi. Akan merupakan sebuah kebetulan yang berlebihan jika digabungkan. Poirot telah menunjukkan kecerdasan otak yang sejati dalam cara ia menanggulangi satu masalah yang sama sekali tidak sama dengan sebelumnya dihadapinya. Apa yang harus dihentikan? Pembunuhan gila ini!

Aku beranggapan bahwa salah seorang atau seluruh kalian, mengetahui sesuatu yang kalian tidak ketahui bahwa kalian mengetahuinya.”

Kau seorang yang sangat besar Tuan Poirot. Buku ini sudah dierjemahkan pula ke Gramedia Pustaka Utama.

Mengenal si Pembunuh | By Agatha Christie | Diterjemahkan dari The ABC Murders | Was originally published by John Lane The Bodley Head Ltd. USA | PB No. 76.05 | Penerbit Pochet Books Indonesia | Yayasan Karya Bakti, PO BOX 170 Bandung | Cetakan pertama, Desember 1976 | STAR Offset | Skor: 5/5

Karawang, 290620 – Bill Withers – My Imagination

#29 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf
#AuditISO17025 #Huffhhh…

Simple Stories for a Simple Investor #28

Simple Stories for a Simple Investor by Nicky Hogan

I have three things to teach: simplicity, patience, compassion.” – Lao Tzu

Investasi itu kebutuhan. Investasi, ya Anda sudah sering mendengar kata itu. Percayalah itu bukan pilihan, tapi kebutuhan. Alhamdulillah, saya sudah mulai nabung saham awal tahun lalu, berarti sudah setahun lebih saya menggelutinya. Buku ini sejatinya for beginner. Hanya untuk investor pemula yang akan dan baru mulai nabung saham. Saya sendiri aktif di grup saham, baca-baca buku saham (ini contohnya!), baca Koran Daily Investor, Kontan, dll. Ikuti akun-akun saham yang tersebar di sosmed, sampai searching di berbagai web. Jadi ketika kubaca buku ini, rasanya sudah tahu track jalanan. Rajinlah bertanya, banyaklah berpetualang.

Kukira karena ini ditulis oleh seorang yang sudah malang melintang di pasar modal bakalan detail seru nan berdebarkan. Ternyata enggak, buku ini hanya panduan umum. Terutama yang masih ragu akan memulai, seperti judulnya, isinya juga ga njelimet. Datar sahaja. Investasi bukan spekulasi dan bukan judi. Kuno banget kalau masih berpikir seperti itu. “high risk high gain?” Sebagian besar pengulangan, atau sudah beberapa kubaca dan kudengar di tempat lain, lalu kubaca di sini?

Kubaca cepat Oktober tahun lalu, dan setelah selesai justru menemukan bahwa tulisan Bung Nicky sudah tersedia di blognya: nickyhogan.com langsung kucek, isinya sama, eh lebih variatif di sana ding karena tentu bahasa internet lebih ‘merdeka’. Wah, tahu gini saya saya baca di sana saja. Hehe… tetap sih feel-nya beda. Enakan baca di kertas, lebih nyaman. Investasi memang tidak lagi melulu soal uang dan keuntungan. Ini adalah soal nilai moral kehidupan dan masa depan bangsa dengan rakyat yang penuh rasa positif serta optimis mencintai negaranya.

Tulisan yang disaji memang mayoritas pengalamannya di BEI. Cerita tentang sosialisasinya terlihat jelas berdasar kejadian yang pernah dialami. Desa nabung saham, desa Argo Mulyo, desa transmigran di Kecamatan Sepaku, Panajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Dan itulah yang pertama yang ada di bumi pertiwi. ‘Yuk Nabung Saham’ diluncurkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 12 November 2015. Jepang meluncurkan NISA (Nippon Individual Savings Account) pada tahun 2014, sebuah kampanye dibarengi pemberian insentif pajak. Pada 12 Mei 2018, genap seluruh 34 provinsi di Indonesia telah memiliki galeri investasi, akses langsung ke pasar modal dan BEI. Bila terbuka, memang ada pilihan lainnya selain BEI, yaitu tercatat di bursa efek Negara lain. Untuk perusahaan-perusahaan Indonesia yang listing di bursa efek luar negeri, kembalilah, catatlah juga saham di sini di halaman rumah sendiri. Sekarang jumlah investor pasar modal Indonesia sudah jutaan. Perusahaan yang ada di BEI, jumlahnya ratusan. 20% warga kaya, sisanya 80% tetap saja tertinggal.

The best time to invest is when you have money. Beberapa mengutip dari para penanam modal terkenal Warren Buffett ada di barisan terdepan. “My wealth has come from the combination of living in America, some lucky genes, and compound interest.” Rasanya saat ini kalau kita ngomongin investor terkemuka dunia, nama inilah yang pertama muncul. Invest your linear income so you can earn exponential income, kata Bo Sanchez. Dikutip, dibagikan, ditelaah, dan dijadikan ayat bagi para pemula. Inflation is forever. Investing is the only game in town. We have to invest, without a doubt. Sayangnya beberapa masih berbahasa Inggris asli, ini kan bacaan lokal Bung, kenapa ga sekalian diterjemahkan dengan tetap memasang sumber? Mark Twain bilang, “Twenty years from now, you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do.

Niatan Bung Nicky jelas mulia, berbagi cerita, ngajak nabung, dan sungguh komitmen berjuang bahwa ada ‘tambang emas’ di sebuah kantor di Jakarta yang sayang kalau kalian ga turut serta! Surga punya ruanganya sendiri dan melaikat selalu punya wujudnya sendiri. Tentu saja sebuah kampanye tanpa dukungan sumber daya manusia dan infrastruktur, tidak akan menghasilkan apa pun. Meminjam istilah LKH, sahamnya ‘salah harga’, masih kemurahan, kenapa tidak biarkan saja dia terus bergerak naik.

Beberapa juga berisi motivasi dan inspirasi, bak Mario Teguh. Kita butuh berpikir, bertutur kata, dan selalu positif. Bergabunglah dengan lingkunagn yang demikian. Berdiri di antaranya, itulah umumnya para loser, pecundang yang hanya menyerahkan uangnya untuk kalah dan rugi. Alam bawah sadar kita selalu mendokrin kenapa meski mengubah sesuatu yang sudah nyaman, karena kita cenderung takut pada kegagalan. Insting manusia cenderung bertahan pada keadaan yang dianggapnya familiar, situasi nyaman. Dan tak menyadari banyak pilihan lain yang lebih baik. Pikiran manusia hanya mampu mengingat antara tiga hingga tujuh hal dalam memori jangka pendeknya. Seperti kata bijak, kita terus menerus mengutuk kegelapan, dan bukannya mulai menyalakan lilin.

Mungkin karena bukan penulis novel, gaya bahasanya terasa standar. Kurang thrilling-nya, kurang mendebarkan, kurang memacu andrenalin. Joke sih beberapa ada, tapi tetap ala kadarnya. Investasi tidak ada yang instan, tidak seperti mi kesukaanmu. Yang jelas jangan cemplungkan habis dana kita di awal investasi, sisihkan sedikit demi sedikit, sambil belajar dapatkan ‘pace’ nyaman. (Bukan ‘uang belajar atau uang sekolah’ ya, yang mengatakan seolah-olah di awal investasi selalu merugi. Ndak ada itu.) Kemudian mulai investasi langsung ke saham, resiko selalu ada seperti pengusaha, that’s it. Btw, teman-temanku menganggap kerugian diawal sebagai uang belajar, ternyata dibantah di sini. Saya sendiri, sejauh ini belum pernah tombok, cut-loss atau jual rugi, see yang penting terus peduli dan tentu saja: sabar! Banyak baca, banyak belajar menjadi komoditi utama bagi para investor pemula. Saya sendiri melebarkan sayap dari pecinta fiksi, sastra dan filsafat kini merambah ke non fiksi, buku-buku motivasi dan tentang belajar investasi kini menjadi bacaan rutin.
Ilmu yang dibagikan juga sangat umum, sudah tersedia di internet rata-rata seperti bedanya investor dan trader, waktu sebagai acuan utama, dan tentu saja sabar. Saya tak suka menggunakan kata kaya karena terkesan kapitalis, lebih nyaman menggunakan kata sejahtera.

Teorinya masuk. Ada 4 hal utama yang selalu perlu kita perhatikan dalam finansial. How to earn, how to spend, how to save, dan how to invest. Teori relativitas begitu sederhana dengan rumus yang begitu singkat tetapi membawa pengaruh yang mahadahsyat. Selalu saja aka nada berita-berita negatif yang membuat pasar saham turun, bukannya itu malah peluang mendapat harga saham murah?

Adakah hal di dunia ini tanpa resiko? Tak ada. Sekecil apa pun itu, pasti ada. Resiko adalah bagian dari investasi, jadi peluklah. Kata cepat dan mudah dengan sendirinya sudah berarti spekulasi, bukan investasi. Spekulasi resiko sangat tinggi. Jadi sabarlah. Selalu cek 2L dari OJK: Legalitas dan Logis. Legalitas untuk memertanyakan produk tercatat dan mempunyai izin dari otoritas, logis untuk memertanyakan keuntungan yang ditawarkan masuk akal. Bunga bank paling tinggi saat ini adalah 6%-7% per tahun, kalau ada tawaran yang lebih dari itu dan cepat, langsung buang ke tempat sampah. Di Indonesia ini, manakah yang lebih banyak: orang serakah atau orang lugu? Konon lapar dan nekat berteman baik.

Semua lembaga rating dunia sudah kompak bilang Indonesia, layak investasi! Indonesia diprediksi menjadi Negara kelima dan keempat terbesar dunia secara ekonomi di tahun 2030 dan 2050. Kejaiban dunia kedelapan akan selalu sama, Bunga Majemuk! Terbukti hanya dengan saham yang mampu memberikan tingkat keuntungan yang kita inginkan. Teori bunga majemuk, begitu sederhana, namun siap ‘meledak’ kekayaan kita kalau kita pintar dan mau memanfaatkannya. Einstein bilang, “He who understands it, earns it… he who doesn’’t… pay it!

Keuntungan nabung saham adalah pasar selalu terbuka. Lima hari seminggu di jam kerja, jadi ga pernah takut apakah ketika butuh duit bisa dicairkan? Beli dan simpan. Jual? Kapanpun kita mau. Kita merupakan pemegang saham dan pemilik perusahaan.

Kebanyakan dari kita bukanlah konglomerat sukses, bukan pula musisi tenar kelas international, dan karangan cerita kita pun hanya sebatas percakapan di grup chatting. Boro-boro punya banyak properti. Yang ada saja cicilannya tidak kunjung tuntas. Pasar saham selalu ada yang namanya Mr. Panik. Mereka konsisten banget paniknya. Ingat juga tiga kutipan bijak: invest your linear income, so you can earn the exponential income. Never depand on single income, make investment to create a second resource, and if you don’t fine a way to make money while a sleep, you will work until you die. Dan sedikit saja ikut race!

Saat ini memang index IHSG sedang merah, beberapa saham minus bahkan yang kakap, santuy sahaja. Saya sendiri tetap tenang dan konsisten tabung. Waktu adalah sesuatu yang pasti, dan tampaknya dia tidak suka dispekulasikan, dipertaruhkan. Membeli saham hanya karena ‘katanya’. Tidak memantau terus-menerus (detik per detik), tidak ‘bersikap ketika salah posisi’. Waktu. Ya, itulah sahabat sejatimu, yang bisa kamu andalkan untuk banyak hal. Dan dalam dunia investasi, waktu adalah segalanya. Sesekali buka aplikasinya, simple. Serumit itu? Ya sesederhana itu!

Cukup fokus ke Perusahaan kita, menjadi lebih baik, dan menghasilkan keuntungan lebih besar untuk seluruh pemegang saham. Para pendiri, pemilik, manajemen perusahaan mencurahkan energinya untuk jalan terbaik Perusahaan. Faktor fundamental kinerja keuangan Perusahaan adalah harga mati dalam menilai dan menentukan pembelian saham. Abaikan rumor di pasar, pergerakan semu, nafsu ingin untung besar dan instan. Resiko yang tertinggal hanyalah pada kinerja perusahaan yang kita beli. Itu saja, yang mana harusnya sangat bisa diminimalis dan harusnya bisa ditolerir sebagai orang perusahaan.

Perusahaan yang rajin bagi-bagi deviden, ada di IDXHIDIV20, index yang isinya 20 saham di BEI yang paling rajin bagi-bagi deviden, dan gede-gede, tinggal beli saja satu, dua, tiga. Tabung di situ, tinggal tidur uang kita tambah. Yang suka saham syariah, cek index di JII70 ada 70 saham terbesar dan terlikuid. Perusahaan-perusahaan yang sudah berdiri sebelum kita lahir, dan akan terus bertahan setelah punya cucu, itulah yang wajib antisipasi. Hidup UNVR, INDF, MYOR, ICBP!!! ( Wah ternyata saya pilihnya mayoritas di costumer goods.

Niatan nabung saham memang kutujukan untuk biaya kuliah Hermione. Berinvestasi saham untuk anak dan cucu. Investor adalah orang yang selalu optimis, dan berpikiran positif ke masa depan. Masa depan keluarga, perusahaan, negeri ini. Juga untuk jaminan masa tua, saat ini di usia kepala tiga, rasanya agak terlambat memulai, tapi kalau enggak sekarang kapan lagi?

History repeating itself.

Seperti pernyataan akhir, “Bursa efek adalah berkah, dan diperuntukan untuk kita…” Yang dibutuhkan hanya keberanian luar biasa, bukan keberanian menghadapi naik turun investasi kita, melainkan keberanian memulai. Dan itu lebih dari cukup. Orientasi kita selalu sama, jangka panjang. Kita tak pernah tahu apa yang menanti di ujung sana.

Dan yang terpenting dari segalanya, modal. Ga perlu gede-gede, saya sendiri cuma buruh pabrik. Modal saya dapat dari sisipan gaji, setiap gajian saya transfer ke rekening sekuritas, lalu tabung di saham bluechip. Kalau di bulan itu sedang ada kebutuhan lebih, tetap tabung berapapun. Kalau belum memenuhi satu lot, simpan dulu saja. Nasabah-nasabah dengan untung terbanyak adalah nasabah-nasabahnya yang lupa bahwa mereka punya rekening di Perusahaan tersebut. Bulan berikutnya kalau sudah cukup belilah satu, dua lot. Begitu terus secara konsisten. Mereka merasakan bosan luar biasa (investasi memang membosankan, apa boleh buat). Kamu tahu aku adalah investor, jangka panjang. Penjang banget. Bahkan kalau memungkinkan, melampaui usiaku. Angka-angka di atas sama sekali tidak menggangguku, sama sekali. Jika saving adalah menyimpan dana untuk dibutuhkan jangka pendek, maka investing selalu ditujukan untuk jangka panjang. Itu pakem pasti dan tak bisa ditawar lagi.

Never depend on single income, make investment create a second source. Investasi seperti juga lari jarak jauh, ketika harga sedang merah, ingat saja satu jurus utama: sabar. Kata Mbah Warren Buffett. Ingatlah, pada akhirnya hidup ini adil. Mari Nabung Saham, sekarang!

Simple Stories for a Simple Investor | by Nicky Hogan | Copyright 2019 | Penerbit PT. Elex Media Komputindo | 719060331 | ISBN 978-602-04-9539-2 | ISBN (digital) 978-602-04-9540-8 | Skor: 3/5

Karawang, 280620 – Bill Witthers – Lovely Day

#28 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

#Lazio2-1Fiorentina #ForzaLazio

Aisyah Putri: Operasi Milenia #27

Aisyah Putri: Operasi Milenia by Asma Nadia

Burung dara nyangkut di kawat. Adinda cantik… nggak kuat.

Dua puluh sampai sebelas tahun lalu saya termasuk yang rutin menikmati buku-buku reliji, Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa tentu saja masuk daftar tertinggi untuk diikuti, oh jangan lupa Ayat-ayat Cinta, saya sudah membacanya jauh sebelum booming dan melayar lebar. Saya termasuk pembaca rutin majalah Annida, majalah cewek dengan cerpen bejibun. Meledak di era 90an, sayangnya bubar. Pas adaptasi ke annida-online sempat beberapa kali berkunjung dan menikmati, terasa sangat beda. Buku-buku Islami yang seandainya kujejer juga lumayan panjang. Sayangnya, beberapa dipinjam tanpa kembali, kebetulan tiga buku Aisyah Putri masih ada di rak, kemarin pas libur bingung review buku lokal siapa, nemu ini. Buku ini kubeli pada 4 April 2006 ketika sedang bermain ke Purwakarta ke tempat kakak, mampir dingdong dan toko buku di Mal Sadang. Inti cerita sudah lupa atau dulu ga sempat kubaca ya? Akhirnya Sabtu pagi (27/06/20) kukejar baca kilat.

Kisahnya tentang Asiyah Putri, anak bungsu dari single parent. Tinggal di Jalan Kemuning nomor satu. Ayahnya meninggal, dibesarkan dengan penuh cinta. Punya empat kakak: Vincent berkaca mata, tinggi tamvan. Kedua Harap, kuliah di IKJ dengan trendy aksesoris di banyak bagian, secara ga langsung calon seniman besar. Ketiga Hamka, gondrong dan kekar, olah raga adalah makanan sehari-hari. Keempat, Idwar kuliah di UI ambil Sastra. Semuanya memiliki kelebihan masing-masing, entah kekurangannya apa, tak tampak nyata. Put-Put eh Puput, panggilan sayangnya, kelas satu SMU 2000, nama beken SMU Mandiri. Diambil dari tarif ojek yang mengarah dan dari sekolah. Ada yang jago karate, berguna banget ketika Putri dkk diganggung preman mendem. Ada yang jago puisi, merayu, gombal ala kadar. Ada yang rajin bersih-bersih kamar, cool. Ada yang hobi manjat gunung, mencintai alam. Hobi-hobi positif, dan catat! Mereka ga merokok semua. Sungguh sangat luar biasa, mendekati sempurna!

Kehidupan sehari-hari remaja laiknya kita. Tapi tentu ada istimewanya Putri ini. Memakai jilbab di tahun 2000 tentu belum setrendy sekarang. Tampak sekali Asma melakukan dahwah dan ajakan menegakkan kehidupan Islami, cocok sama genre yang dipajang di pojok kiri atas, ‘Serial Islami’. Saya sekolah di tahun Silver ini, seingatku hanya tiga sampai empat siswa yang mengenakan jilbab. Masih minoritas. Pas reuni dan kini ada di grup WA sih, nyaris semua teman sekolah itu mengenakan jilbab.

Ceritanya Putri menjadi aktivis yang alim, teman-temannya variatif ga seperti sekarang satu kelas semua pakai kerudung. Ada yang kaya, sekolah saja naik mobil. Ada yang miskin, yang justru dimatikan di tengah. Bahkan dengan sadis, dibunuh dan diperkosa. Ada yang penuh jerawat, dekil dan kurang pede. Ada yang tomboy, walau sudah berjilbab tetap bisa merdeka. Ada yang sakit, pendiam, dan sangat penyendiri. Eh malah justru menjadi tokoh mencinta Putri, ‘Be my Valentine!’

Dibuka dengan ‘pesta’ ulang tahun Puput yang dirayakan sederhana, tapi istimewa bersama abang-abangnya. Lalu ada anak baru, pindahan. Namanya Elisa Damayanti, seorang artis idola remaja. Sudah sangat terkenal, maka hebohlah kelas, terutama cowok. Dan ketika hari H tiba, ternyata Elisa mengenakan jilbab. Tentu saja gabung sama Putri, welcomen to the gank! Bagian berikutnya Hamka yang bangun tidur pakai kolor saja tak sengaja keluar kamar ketika teman-teman Putri sedang ngumpul, dan kejadian ini tampak sungguh memalukan. Masalah kutu yang menghuni mahkota Putri sejatinya sederhana, apa susahnya cerita ke abangnya atau ibunya. Dengan obat bernama peditox, hal yang memusingkan itu selesai mudah. Nah, seolah mengajak hijrah itu mudah. Ada bagian ketika kak Iid mempunyai teman dekat yang menelponnya rutin, Putri yang sering angkat malah menjadi akrab dan dengan dilindas waktu, teman kak Iid yang modis dan gaya ini justru turut serta di pengajian rutin Putri, bahkan mengenakan jilbab. Hebat. Semudah itu mengajak mengajak berbusana muslim.

Operasi Milenia sendiri diambil sebagai kejadian pergantian tahun 2000, jadi ketika banyak orang merencana memeringati pergantian tahun, di sini menjadi pergantian millennium. Ada gerombolan cewek yang modis pengen ke Bali. Ada temannya yang pengen di depan tv, banyak hal. Putri merayakan dengan para abangnya. Tengah malam, berlima masuk kamar umi, mengucapkan sayang dengan serbu kecup. Luar biasa, betapa menyenangkan anak-anak tersayang berebut cium sayang kepada orang tua. Keluarga adalah segalanya.

Bagian ketika membahas narkoba, sejatinya sangat biasa. Sudah tak mungkin keluarga ini memakai. Maka kekhawatiran Putri sungguh mengada, saya sendiri bisa menjamin Asma Nadia ga akan telodor melakukan kesalahan dengan menjerumus salah satu karakter baik hati dan tidak sombongnya melakukan tindakan konyol. Ingat, keluarga ini sudah tampak istimewa sehingga upaya menyembunyikan alasan kekurangan uang lalu pinjam, happy terus, atau tampak cemas. Semua tentu saja hanya tempelan, rasanya mustahil keluarga Islami digambarkan nge-drug! Infotaiment di tv saat ini terasa mengada-ada.

Tampak sekali kehidupan Putri ideal, kalau ga mau dikatakan sempurna. Cerdas, gaul, cantik, relijius. Dikelilingi keluarga yang begitu juga. Bahkan ada adegan ketika ia tertimpa bencana, naik bus yang penuh, cuaca hujan, dan ia harus berdiri di ambang pintu kendaraan, bus tersebut kecelakaan, ia pingsan dan dirawat di rumah sakit. Tampak sekali, Teh Asma mengedepankan kesalahan orang lain, kesalahan orang luar, bukan internal.

Panggilan ahwat/ikhwan mungkin sekarang terdengar lumrah, dan sudah sering kita dengar ketika bersapa atau setidaknya kita baca di sosmed. Tahun 2000 jelas belum semeriah itu. Ada garis besar dengan tebal sekali menjadi pemisah, bahwa kaum reliji punya tempat gaul yang sulit ditembus masyarakat awam. Era sekarang sudah biasa kita lihat wanita berjilbab, lelaki dengan jenggot lebat. Ini bisa jadi akibat perjuangan, salah satunya lewat literasi.

Buku ini masih ada seri dua dan tiga, jadi tenang, Putri aman sekalipun sempat pingsan. Bolehlah bulan depan akan kulanjut seri dua lalu ulas, dan seri tiga akan kutuntaskan bulan Agustus. Sayang kalau ga dilahap habis, sudah lama mendekam, dan tipis jadi rasanya mudah bahkan dengan santuy pun bisa ini, kita selipkan di antara buku Jared Diamond. Haha…

Setelah belasan tahun berlalu, dan semakin bervariasi bacaan saya apakah masih mencintai buku-buku reliji? Oh jelas, tapi kini konfliks dan permasalahan tokoh harus lebih keras. Kini sudah ga klik kalau masalah remaja hanya sekadar kongkow atau pusing belajar kelompok atau bingung pakai sepatu jenis apa. Di Aisyah Putri, pemecahan masalah terlalu soft. Konfliksnya nyaris sepele semua. Kesalahan selalu dari eksternal, coba kalau berani Asma Nadia menulis lanjutan Putri yang kini sudah dewasa usia 40-an dan masih luar biasa konsisten akidahnya, dan idealis? Apakah bisa?! Kehidupan sekarang keras dan luar biasa canggih, seolah batas manusia baik/jahat sudah dihilangkan, dalam berkomunikasi sudah mudah sekali klik. Maka apa tanggapan Putri menghadapi zaman keterbukaan ini. Kini Putri tak sendirian ketika berjalan di mal mengenakan jilbab, justru kebalikan cewek tak mengenakan jilbab malah menjadi minoritas. Sulit membayangkan Putri yang sudah berkeluarga tetap baik hati menghadapi kerasnya dunia!

Sepintas lalu, Puput tampak ga beda jauh sama Annida yang berjilbab panjang, dengan ujung menjuntai. Sifat dan karakter juga mirip. Seolah ini adalah novel tribute buat majalah remaja Islami tersebut. Duuuh… jadi kangen. Sahabat remaja berbagi cerita.

Aisyah Putri: Operasi Milenia | By Asma Nadia | Penerbit PT. Syaamil Cipta Media | Desain sampul Tim Desain Grafis Syaamil | Ilustrasi Halfino Berry | Editor dan tata letak Halfino Berry | Copyright 2000 | Cetakan kesembilan, Januari 2004 | 162 hlm.; 18 cm | ISBN 979-95942-1-9 | Skor: 3.5/5

Karawang, 270620 – Bill Withers – Harlem

#27 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

Cocktail for Three #26

Cocktail for Three by Madelaie Wickham

Dan sekarang kukira sebaiknya memilih koktail lagi, hidup ini memang sulit.”

Tentang tiga sahabat yang bekerja di majalah Londoner rutin menghabiskan malam di Manhattan Bar, kafe yang menyajikan koktail terlezat di kota London dengan jazz dan keriuhan pengunjung. Ngumpul sebulan sekali apapun aktivitas dan kesibukan yang mendera, menyempatkan waktu bergosip dan blak-blakan dengan konco kental. Roxanne: glamor, percaya diri, memiliki kekasih gelap dan berharap pria itu akan meninggalkan sang istri dan menikah dengannya. Maggie: ambisius dan mumpuni dalam pekerjaan, hingga menemukan satu hal yang tak dapat diatasinya, menjadi ibu. Candice: polos, baik hati, jujur hingga suatu ketika hantu masa lalu muncul mengacaukan hidupnya.

Kisah dibuka di kafe koktail, ngumpul lalu memesan minuman, bergosip. Tak kusangka mereka bertiga akan ngumpul lagi di buku ini setelah lebih dari separo buku, dan berakhir kacau dan tak ada lagi sampai akhir, jadi setting kafe hanya dua kali awal dan tengah. Oh judulnya kenapa Klub Koktail! Adegan tengah di kafe itu rumit, karena seharusnya hanya bertiga, malah ngajak Heather yang tampak congak. Ia membuat Maggie lamban berpikir dan lanjut usia; wanita berpakaian lusuh di antara gadis-gadis glamor. Malam ini, seorang pelayan yang dikenali oleh Candice disapa, teman sekolah yang ternyata punya tautan masalah. Heather adalah putri dari orang yang dirugikan almarhum ayah Candice. Merasa turut bersalah, dan mencoba memperbaiki masalah lalu, ia memberi kontak dan peluang untuk bergabung ke tempat kerjanya. Memperbaiki status sosial. “Aku berusaha menebus kesalahan. Aku berusaha membantu…”

Pertama, Maggie Phillips seorang Pemimpin redaksi Londoner, menikah dengan pria kaya raya yang tinggal di pinggiran kota dengan tanah melimpah ruah, rumah bak istana bernama The Pine, kini menjadi Mrs Drakeford. Cewek asli Derbyshire yang seharusnya sangat bersyukur kini finansial bukanlah masalah. Ini adalah kehamilan pertama, ibu mertua Paddy yang seolah sering merecoki membuatnya kesal. Giles, sang suami seorang bisnisman yang sibuk luar biasa, sehingga perhatian ke keluarga terasa kurang. Maggie cuti lahiran, jadi selama ia off tugas di kantor dikerjakan oleh Justin. Dan ia adalah mantan kekasih Candice. Kekaguman semuanya mulai pudar saat ia menyaksikan Justin dari jarak dekat. Mungkin terasa ada dendam dengan sang mantan, tapi enggak. Ini lebih penegakan integritas yang salah sasaran tembak.

Proses persalinan berjalan lancar, Lucia lahir tanpa banyak kendala. Hanya penyakit kuning yang mengharuskannya bertahan lebih lama di rumah sakit. Seharunya bagian Maggie tak terlalu berat konflik yang disodorkan. Kaya, tampan, keluarga sempurna. Ya baik-baik saja, semua baik-baik saja.

Kedua, Miss Roxanne Miller yang aneh. Pekerja peliput laporan yang sering keluar kota, penulis lepas reguler. Punya banyak potensi bahagia. Bahkan saat sedang di Cyprus, di sebuah hotel mewah mendapat peluang karier dan ehemmm… kekasih orang kaya pula, Nico. Godaan itu separo iseng belaka – dan separo timbul dari kebutuahn murni untuk menyadarkan Ralph bahwa Roxanne memilih bersamanya, bahwa ia tidak tinggal bukan karena ia tidak ada pilihan. Sayangnya ia justru malah terjebak dengan status pelakor! Menjadi kekasih gelap, seorang bos. Teman-teman menyebut Mr X sebagai Pria Menikah yang misterius.

Di tengah bagian kita tahu siapa bos yang dimaksud, ternyata adalah Tuan Ralph yang memiliki keluarga yang tampak harmonis, dengan Cynthia istri yang cantik, ketiga anaknya, di mana yang ragil masih kecil. Keluarga yang tampak ideal, justru Roxanne masuk ke dalamnya. Perselingkuhan yang membawa konsekuensi panjang. Nantinya Tuan Ralph sakit kanker, meninggal dunia dalam beberapa minggu. “Anggaplah dalam waktu satu tahun kau dapat melakukan sesuatu. Apa saja, apa yang akan kau lakukan.” Kita akan ditinggal berduaan menikmati matahari terbenam yang sangat indah. Khayalan sambil lalu yang berbuntut warisan melimpah. Sementara Roxanne yang patah hati justru sedang di Lyon, menghabiskan hari-hari sedih dan tahu kematian kekasihnya di atas pesawat yang melaju ke Nairobi. Hari-hari berlalu bagaikan buritan manik-manik di seutas tali, ia merasa tak bersemangat.

Segala kejengkelan itu sirna, ketika sang almarhum mewariskan rumah mewahnya seharga sejuta Pound itu ke selingkuhannya. Neil Cooper dari firma Strawson and co. Tentu saja akan menggemparkan keluarga inti, tapi fakta ini membuka mata Roxanne bahwa ia bukan sekadar pengisi waktu bosan, ia ada di hati Ralph. Ralph telah tiada, dan hidupnya seperti kehilangan tujuan, awalnya tapi yang berlalu biarlah berlalu, masa depan lebih penting.

Ketiga, si polos Candice Brewin yang mencoba memperbaiki masa lalu dengan membantu Heather Trewaley masuk kerja ke Majalah Londoner. Ia seorang diri menanggung seluruh beban kenangan itu. Membantunya menulis artikel berkelas tentang jalanan macet London, membantu mengerjakan banyak hal, bahkan menjadikannya teman satu atap. Benaknya seperti ikan di buritan kapal, menggelepar-gelepar panik, berusaha mengerti.

Hal-hal yang ia lakukan dengan suka rela dan penuh kebaikan ini hancur lebur di akhir ketika, Candice dimanfaatkan. Tagihan palsu pribadi menjadi tanggungan Perusahaan, penggelapan uang, pemalsuan data, dan seterusnya mencipta ia dibebastugaskan oleh Justin, Pemimpin redaksi sementara. “Aku benci materialime, dan ketamakan, dan ketidakjujuran.”

Edward Armitage atau lebih sering dipanggil Ed, tetangga apartemenya menghibur, mengajaknya ke rumah bibinya di pedesaan selama beberapa hari untuk menenangkan diri. Dengan BMW melaju, dan dengan mudah kita tebak mereka saling cinta dan memutuskan menjalin hubungan. Di akhir cerita kita tahu, Candice kembali, Heather yang bilang liburan ternyata kabur ke Australia, ia bukan anak malang, ia anak kaya raya. Ia hanya ingin membalas dendam! Maka tentu, Candice disambut meriah di kantor. Segalanya lancar dan terkendali, upaya ini lebih kepada usaha meluruskan fakta-fakta membingungkan yang ruwet.

Endingnya sendiri teramat manis, sangat bahagia dengan baptis Lucia di gereja. Candice memaafkan masa lalunya dengan nyekar ke kuburan ayahnya, Gordon Brewin, dan mendapat Ed yang baik hati. Dengan kepala menunduk, suara lirih, dan perasaan mengawang Roxanne mengambil kesempatan kerja ke Cyprus dan rumah warisannya dibeli Maggie dan suaminya yang memutuskan tinggal di London. Bukankah segalanya tampak sempurna? “Apa salahnya memberikan dukungan kepada orang jika mereka pantas medapatkannya? Kau tahu, kita bertiga menjalani hidup dengan mudah jika dibandingkan dengan sisa penduduk dunia.”

Dari Penulis yang kukenal lewat Confession of A Shopaholic, termasuk penulis produktif. Dulu saya menikmatinya karena akan difilmkan, ternyata hanya tampak glamour pekerja kantor di Barat juga, lelah dan pening keseharian di kotak kubikel sama saja dengan kita yang di sini. Di sini memakai nama aslinya Madelaie Wickham yang anehnya juga menantum nama tenar. Di bagian pembuka melakukan pengakuan, bukunya banyak tapi sebelum ketenaran Shopaholic ia memang meragu.

Ada satu kalimat yang terlontar Maggie yang menyarankan gugat. “Manggugat mobilnya. Biasanya itulah yang akan menyakiti mereka.” Karena panik, seolah mobil adalah hal yang sakral. Yah, segalanya mungkin saja terjadi, sebagian tampak diambil dari pengalaman Sophie, tampak tak terlalu berbahaya konfliks yang disodorkan. Satu kaya dengan keluarga sempurna, satu lajang pelakor yang kelimapahan warisan besar, satu lagi polos dengan kekasih naik BMW. Jadi apa masalahnya?

Warga London yang makmur dengan kesibukan di kotak kubikel, sebaiknya menghabiskan akhir pekan ke Stanford Bridge sahaja nonton Chelsea FC, bukannya ke Klub Koktail bikin mabuk, pasca pesta semu. Teler.

Selamat Liverpool juara English Premier League 2019/2020, penantian panjang 30 tahun usai sudah.

Klub Koktail | by Madelaie Wickham (Sophie Kinsella) | Diterjemahkan dari Cocktail for Three | Copyright 2000 | GM 402 01 11 0055 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Nurkinanti Laraskusuma | Desain kover Marcel A.W. | 440 hlm; 18 cm | ISBN 978-979-22-7102-7 | Skor: 3.5/5

Karawang, 260620 – Bill Withers – I Can’t Wrote Left-Handed (live)

#26 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

#YNWA #LiverpoolJuara

Death in Venice #25

Death in Venice by Thomas Mann

Untuk mengerti semuanya adalah dengan memaafkan semuanya.

Dilanda waktu, zaman, hening, dan muram. Inilah novel yang penuh renungan, tenang, mencium arima bosan, dan sungguh snob, eh ternyata asyik sekali. Untuk sesaat tenggelam dalam pikiran. Kecenderungan kecil untuk menyelinap dalam keanehan yang tak masuk akal, sebuah sensasi yang tak bisa dia jelajahi sepenuhnya. Kalau kalian suka kisah yang tak banyak gejolak, jelas akan menyukai. Novel yang sastra kata-nya kental. Adegan sunyi sungguh dominan. Penyendiri akut. Emosi yang tepat milik penyendiri; bahwa alam diguncang dengan kegembiraan ketika pikiran memberi penghormatan kepada keindahan.

Seorang manusia masih bisa memiliki resolusi moral setelah menyelami kedalaman ilmu pengetahuan. Saya sudah membaca terjemahan versi Circa, beli bersamaan karena keluar cetakannya juga hampir bareng. Tentu saja ke Dema Buku, gegas sana! Alih bahasanya sama-sama enak, tapi Basabasi terasa lebih gereget. Apakah karena ini bacaan kedua? Jadi (mungkin) pengalaman pertama yang memusingkan, lalu yang kedua (mungkin) ini lebih terasa rapi? Mengikuti alur yang sudah kita tahu. Entahnya, kesunyian yang menjadi balutan utama kisah terasa lebih syahdu, sedap. Rasa kesadaran yang menggigit dan pahit. Satu petualangan kriminal dan sunyi dalam malam yang kelam. Narasinya lebih enak diikuti. Sangat indah, sangat spiritual, sangat tepat, meskipun mengandung kesan pasif yang terlalu besar.

Judulnya jadi beda walau sumbernya sama, ‘Maut’ milik Circa menjadi ‘Kematian’-nya Basabasi. Kehebatan sang tokoh utama juga terasa sekali di sini, disanjung, dipuji, walau hanya dalam pikiran. Seorang seniman hanya dapat dianggap besar dan terhormat jika dia telah sukses dalam semua tahap kehidupan. Persamaan antara nasib personal dari penulis dan rekan-rekan sezamannya. Kebahagiaan penulis adalah pikiran yang sepenuhnya menjadi emosi dan emosi yang sepenuhnya dipikirkan.

Kisah tentang Gustav von Aschenbach, seorang seniman sukses dari Jerman yang melakukan liburan ke Venesia, Italia. Untuk memberikan penghormatan kepada hak aristrokat Dia sudah kaya sejak kecil, dan akan tetap kelebihan materi ketika tua. Lebih banyak keturunan cerdas masuk ke garis keturunan mereka sebelum para penyair masuk ke dalamnya melalui sisi ibu mereka, putri seorang konduktor musik Bohemian. Menanggung beban kegeniusan pada bahunya yang kurus dan keputusan untuk melangkah sejauh ini. Sedari mula keberangkatannya, sudah tampak ragu, sinis. Kebimbangan menjadi tema yang dominan. Maklumi sahaja, tua dan sendiri. Tujuan menjadi tampak remeh ketika proses yang dijalani terasa indah.

Sang seniman tampak memainkan peran santai. Rambutnya disisir ke belakang, menipis di bagian dahi, sangat lebat di atas pelipis dan sedikti bau-abu, alisnya menjulang tinggi, dahinya berkerut. Karena usia dan pengalaman mengata: waktu tak perlu dikejar setelah perjuangan di masa muda yang melimpah. Rasa sakit akibat ketidakmampuan kata-kata untuk menggambarkan keindahan, selain dengan memuji. Di bawah topeng kepasrahan, menyembunyikan ketakutannya seperti seorang bocah yang melarikan diri.

Menara lonceng di mimpinya di tempat ini. Menikmati masa tua, banyak ragamnya. Saya sendiri hanya bisa membayangkan, nantinya gini nantinya gitu, enjoy setiap momen Bung! Menikmati debur pantai, atau alam pegunungan jelas masuk opsi paling depan. “Perhiasan, mandi air panas, dan isitrahat kerap membuat perbedaan.” Tenang, menghanyutkan. Pada usia empat puluh tahun, dia masih hidup seolah dia memulai hidup pada masa di mana orang lain cenderung menyia-nyiakan waktu dan bersenang-senang, memimpikan impian tinggi dan menunda usaha. Kesuksesan itu dia himpun dari lapisan demi lapisan, dalam hari-hari kerja yang panjang, diramu dari ratusan inspirasi tunggal. Setelah beberapa tahun kegelisahan dan banyak mencoba berbagai tempat.

Mungkin lebih baik jika dunia hanya tahu hasilnya, bukan kondisi di mana hal itu dicapai, karena pengetahuan tentang sumber inspirasi seniman mungkin dapat membingungkan mereka dan dengan cara yang sama menghilangkan efek dari karya luar biasa. Liburan ke Venesia ini sejatinya beresiko, kita sudah tahu. Ada wabah sampar yang mengancam dan pihak hotel seolah menutupi, tapi sebuah momen cinta membuatnya mengabai. Benar-benar mengabaikannya ketika dia mendapati pengetahuan itu tidak mampu melumpuhkan, mengecewakan, dan merendahkan. Sebuah lagu multi-sajak yang saat ini sedang populer di Italia. Sungguh terasa, pengambilan keputusan tak dibuat matang.

Ketika tiba di sana sudah tampak rancu, pengantar perahunya bermasalah! Di hotel segalanya memang menjanjikan masa bahagia memeluk sunyi, tapi ada peluang kabur dari maut. Sudah pergi malah balik lagi. Ia merasa lelah, bahkan hancur, dan seolah kesadarannya menuduh dirinya telah berpesta pora. Di luar kasus koper dan serba kebetulan, sejatinya memang Aschenbach terlalu sayang untuk pergi tanpa pamit sama pemuda cantik itu. Sungguh, bukan laut atau pantai yang menantinya, ia akan tetap di Venesia selama si cantik juga ada. Kehidupan mengalahkan diri sendiri, kehidupan yang keras, mapan, dan rumit, yang telah diubahnya menjadi sebuah simbol kepahlawanan kontemporer – dia bisa menyebutnya maskulin dan berani dan baginya tampak seperti Eros.

Tampak janggal, jatuh hati sama pemuda asing yang bahkan tak disapa, tak ada upaya berkenalan, hanya menikmati berjarak. Dasar aki-aki absurb. Tidak ada hubungan yang lebih aneh dan canggung daripada hubungan dua orang yang saling mengenal lewat tatapan mata. Pemuda berambut panjang berumur sekitar empat belas tahun berwajah cantik. Karena manusia mencintai dan menghormati manusia lain selama tidak saling menghakimi, hasrat adalah produk dari kurangnya pengetahuan. Dia merasakan kegembiraan di dalam darahnya, kegembiraan dan rasa sakit dalam jiwa ketika menyadari bahwa perpisahan terasa begitu melelahkan karena Tadzio. Seolah memprediksi. Dia sedikit rapuh, sakit-sakitan, mungkin tidak akan hidup lama. Fanatisme anak-anak yang diarahkan pada bagian paling lunak dari lempengan kehidupan. Keganjilan ini tampak menjanjikan baginya. Hukum moral tidak lagi berlaku. Apakah ini dipengaruhi oleh daya tarik emosi superior pada objek yang lembut dan tak berdaya? Ketampanan membuat seseorang menjadi pemalu.

Nasib dibentuk dari keputusan-keputusan kita yang tampak remeh dan ala kadar, manusia tak tahu mana yang menuju titik nyata dalam senyum ataukah duka? Mungkinkah dia tak tahu atau tak sadar betapa dia terikat pada semua ini? Keindahan layaknya dewa dari anak manusia. Seperti saat ini, kita ada di masa pandemi corona. Siaga, bertahanlah hidup. Di masa lalu, virus ini mengakibat delapan puluh dari seratus orang yang terinfeksi meninggal dengan cara yang paling mengerikan. Perjalanan aneh melewati Venesia mulai membacakan mantranya, roh para tentara bayaran dari ratu yang tenggelam kontribusi menyihir indra dengan cara yang tidak menyenangkan.

Penggambaran fisik dan keadaan sang tokoh juga nampak melimpah. Rambut abu-abu, wajah lelah, dan garis wajah yang lugas. Kelelahan jasmani begitu tak dapat dia terima dan kebutuhan untuk mencegahnya dengan cara apa pun begitu penting. Usia panjang yang berkah adalah anugerah. Jalan hidup setiap manusia berbeda.

Diam adalah emas. Tapi tampak samar udara itu menyeru-nyerukan dengan kata-kata yang terdengar seperti kata sandi. Memeluk kebosan itu, menikmati kebosanan itu. Mengulangnya perlahan dengan puas. Kegembiraan dan rasa lelah di waktu yang sama. Keteraturan yang menyenangkan dari gaya hidup ini telah memantrai dirinya, kelembutan dan pancaran dari perilaku ini membuatnya sangat kagum. Dia melakukan hal itu dengan perlahan dan tekun, pembaca menikmati kebosan juga dengan tekun.

Ada beberapa adegan yang aneh. ‘Penampakan’ di makam, pemakaman yang menjemukan dan perjalanan final tanpa kata. Bicara dengannya dengan hasrat dari orang yang tak bertuhan dan jahat, yang tidak dapat melihat keindahan di balik kesan dan yang bisa dihormati, bicara tentang teror suci yang menyerang bangsawan atas penampakan tubuh sempurna di hadapannya.

Momen juga penting dalam penilaian akhir menikmati karya. Saya sudah lebih mengenal film-film ‘renungan’ sejak terpesona film The Photograph, In The Mood For Love, atau The Table yang full ngobrol. Jauh dari citra membosankan, dan di sisi lain eksentrik, kejeniusannya diperkirakan akan memenangkan perhatian loyalitas dan perhatian masyarakat umum, Nah, Kematian di Venesia terasa sekali eksekusi sastranya tempak kental dan nyata, lebih banyak lingkupan tenang. Warnapucat daging, kontras dengan semangat yang berapi-api di dalam. Bayangkan saat difilmkan, pasti adegan dengan gambar-gambar yang diambil kamera yang perlahan dalam bayang kosong di ruang kosong yang tak dapat diukur itu, indra tentang waktu ikut menderita dan linglung dalam kebingungan yang tak berbentuk.

Sebuah pengandaian yang menentang semua rintangan keraguan dan ironi. Melimpah ruah penggambaran latar sunyi. Langit kelabu, angin lembab. Hampir semua hal besar adalah luar biasa meskipun muncul dalam penolakan, penderitaan, kesakitan, kemiskinan, kelemahan, dan ribuan penghalang lainnya. Langkah yang tidak ia ambil mungkin mengarah kepada hal-hal baik, ringan, dan membahagiakan, mungkin menyembuhkannya. Namun ia sendiri sepertinya tidak ingin disembuhkan, bahwa racun ini dia sayangi.

Saya sendiri suka duduk tenang, menatap langit. Duduk tak melakukan apa-apa. Memecah kabut hampa yang monoton. Tak perlu pusing, nikmati hening. Membingungkan dan memesona, konon pikiran dan ingatan hingga jiwa lupa akan wataknya sendiri karena kegembiraan dan dengan kekaguman yang melekat pada benda-benda yang paling menarik yang menyala. Istirahat yang cukup, lalu sangat tegang namun segar di pagi hari.

Bukan seni secara utuh, tentu saja dia adalah perwujudan seni yang dibicarakan di sini. Dalam dunia Aschenbach, diperlihatkan banyak fase dari tema ini: aristokrat yang memerintahkan kritikan dan untuk selama yang dia bisa sembunyikan kemunduran biologisnya dari mata dunia…

Judulnya memang spoiler berat, kita tahu ia akan mati di sana. Bergurau dengan dirinya sendiri tentang ketakutannya yang menggelikan. Lihat, ragu, takut, geli. Takdir memang misteri Ilahi. Kalimat-kalimat maut ada di paling ujung novel. Dan bagaimanapun juga, apa lagi yang bisa lebih jujur pada roh waktu? Memang ini bukan tentang akhir kisah, tapi apa saja yang terjadi jelang kematian lelaki terhormat yang sudah mencipta karya-karya bagus. Takdir tampaknya melanggar mahkotanya yang kerap disisir ke samping, namun itu adalah seni yang membentuk fisiognomi.

Ya, kesempatan kedua kubaca memang jauh lebih menyenangkan. Merenungkan sebuah euforia. Sebagai contoh dan cermin keindahan intelektual. Senyum yang sedikit terdistorsi dari keputusasaan. Untuk menemukan kedamaian dalam kesempurnan adalah keinginan seseorang yang mencari keunggulan; dan bukankah ketiadaan merupakan bentuk kesempurnaan?

Kematian di Venesia | by Thomas Mann | Diterjemahkan dari Death in Venice | Terbitan Ecco, 2004 | Penerjemah D.S. Rahayu | Editor Eva Sri Rahayu | Pemeriksa aksara Daruz Armedian | Tata sampul Sukutangan | Tata letak Vitrya | Pracetak Kiki | Penerbit Basabasi | cetakan pertama, Juli 2019 | ISBN 978-623-7290-08-7 | Skor: 5/5

Karawang, 250620 – Bill Withers – Lovely Day

#25 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

#WelcomenbekSerieA #Atalanta3-2Lazio #GajianDay #Rapel