#Juli2021 Baca

Lenin mengatakan, “Ploretariat tak mungkin mencapai kemerdekaan penuh tanpa ada kemerdekaan penuh bagi perempuan.”

Juli ini lebih slow bacanya, sebab kembali beraktifitas setelah isoman hampir sebulan. Karena kepadatan kerja, mood juga menurun dan benar-benar menguras emosi menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Hanya lima buku yang kutuntaskan. Memoirs of Geisha yang sebagian besar kubaca bulan sebelumnya, agak sulit dituntaskan, hanya modal maju terus. Tebal, lebar, dan kecil-kecil. Kelar juga. The March lebih gila lagi, tak ada tanda petik di dalamnya, padat melelahkan. Mau kalimat langsung atau tidak, pokoknya tak ada kutip. Ndelujur aja, kalau kisahnya di Indonieaakan lebih muda seperti Midah, ini tentang perang saudara di Amerika dengan geografi yang tak familier, dengan sudut pandang banyak. Melelahkan, maka saat akhirnya selesai, lega juga. Jadi mari kita simak kelima buku bulan tujuh tahun ini yang kutuntaskan.

#1. Memoirs of Geisha by Arthur Golden

Luar biasa. Seperti naik roller coaster, walau tak banyak liukan dan tanjakan terjal, ceritanya berliku. Awalnya sudah sangat manis, gadis miksin anak nelayan dengan kecantikan natural. Matanya yang cemerlang sering kali disebut, berulang kali. Lalu keadaan mencipta, ia dan kakaknya dikirim ke kota, dijual untuk dididik menjadi orang. Bisa jadi apa saja, tergantung nasib dan kemauan. Bisa jadi pelayan, pelacur, pekerja pabrik, atau geisha.

Memang suku kata ‘gei’ dalam kata ‘geisha’ berarti ‘seni’ jadi kata ‘geisha’ yang sebenarnya adalah seniman. Geisha, di atas segalanya adalah penghibur dan pementas. Menuang sake atau teh memang dilakukan, tapi jelas tak akan pernah mengambil acar tambahan. Geisha sejati tidak akan pernah mengotori reputasinya dengan membuat dirinya bisa disewa laki-laki dengan tarif per malam. Geisha tidak pernah menikah. Atau paling tidak, mereka menikah tidak menjadi lagi geisha.

Ke mana pun dia membawa kami, aku lebih memilih bersamanya daripada terdampar sendirian di tengah jalan-jalan besar dan bangunan-bangunan yang sama asingnya bagiku dengan dasar samudra.”

#2. Who Moved my Cheese? By Spencer Johnson

Buku motivasi lagi. kali ini tema utama adalah perubahan dan keniscayaan bahwa yang tak ikut berubah akan ketinggalan dan terlindas zaman. Sejatinya tema semecam ini sudah usang, atau sudah sangat banyak disebut dan dibahas, bahkan berulang kali kita dengar di seminar-seminar, sudah sering pula disampaikan, juga sudah banyak contohnya. Nokia, Blackberry, Bluebird, Fujifilm, dan seterusnya. Produk yang dulu merajai, bisa tenggelam saat ini. Dan tentu saja, mereka yang saat ini terasa raja suatu saat bisa ambruk. Semuanya butuh adaptasi. Nah itulah, topik utamanya, perubahan dan cara mengantisipasinya. Dibawakan dengan fun dan cerita yang nyaman diikuti.

“Karena orang mau semuanya seperti dulu dan mereka berpikir perubahan akan merugikan mereka. Saat satu orang bilang perubahan itu adalah ide buruk, yang lain akan berkata sama.”

#3. The March by E.L. Doctorow

Perang saudara di Amerika abad 19 yang menelan banyak korban dari tahun 1861 sampai 1865 antara Utara versus Selatan. Utara menuntut penyatuan disebut Union, Selatan meminta kemerdekaan dari Amerika Serikat yang membentuk Konfederasi. Tuntutan tentang perbudakan yang lanjut atau dihapus menjadi isu penting nan krusial. Ada kekayaan begitu melimpah yang dapat diperas dari tenaga budak; karena itu, tidak heran bahwa orang-orang ini mau berjuang sampai mati. The March ada di masa itu, seperti perang itu sendiri yang rumit, penceritaannya juga mencipta pusing sebab tak ada tanda kutip untuk kalimat langsung.

Kau tidak boleh mereduksi kehidupan menjadi sentimen-sentimen saja, Emily.

#4. Pseudonim by Daniel Mahendra

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen saja yang jumlah kata lebih sedikit, dan tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua orang itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak faktor. Salah satunya selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasaranya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

“Dan di mana Radesya?”

#5. Kampus Kabelnaya by Koesalah Subagyo Toer

Curhat selama belajar di Uni Soviet. Bagus, menuturkan cerita dari orangnya langsung, pengalaman yang dikisahkan dengan fun, tak perlu telaah lebih, santuy dan asyik aja menikmtai kalimat-kalimat itu. Ini adalah dunia Eropa Timur di tahun 1960-an, dunia sedang Perang Dingin. Perang ideologi Demokrasi Liberal versus Sosialis. Ini adalah catatan penulis selama belajar di Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa di Moskwa tahun 1960-1965, yang sedikit-banyak mencerminkan semangat zaman itu.

“Maafkan aku, ya, karena telah membuatmu ragu. Tapi aku memang ingin menangis. Biarkan aku menangis sampai puas. Sesudah itu aku takkan menangis lagi.”

Karawang, 260821 – Norah Jones – Don’t Know Why

#Juni2021 Baca

“Orang-orang dungu! Sekarang katakan bahwa Tuhan itu ada!”


Juni adalah bulan Isoman, sejak ulang tahun Sherina sampai awal bulan Juli. Seminggu pertama tidak banyak yang bisa dilakukan, fokus istirahat dan penyembuhan. Baru setelah itu gas, baca buku dan nonton film. Lumayan banyak untuk bulan Juni, 14 buku selesai baca! Tapi momen #30HariMenulis yang sudah sangat lama berjalan, tak gagal. Sehat itu penting.

#1. The Street Lawyer by John Grisham

Bagaimana hidup bisa berubah begitu drastis dalam sebulan? Kisahnya tentang Michael Nelson Brock, yang merupakan pengacara di sebuah biro kaya dan mapan Drake & Sweeney. Ia memiliki istri cantik yang bekerja di rumah sakit Claire, pasangan kaya ini tampak sangat ideal, materi terpenuhi, tapi dari dalam ada keruntuhan batin. Kesibukan dan cinta yang digerus waktu menjelma bosan, dan di dunia Barat yang liberal tentu saja arahnya mudah ditebak, perceraian. Menjadi bujangan lagi bukanlah hal yang hebat. Aku dan Claire sama-sama kalah.


“Aku menemukan panggilan hidupku. Kita masuk ke bisnis ini karena kita pikir menegakkan hukum adalah panggilan mulia. Kita dapat memerangi ketidakadilan dan penyakit-prnyakit masyarakat, dan mengerjakan karya-karya mulia karena kita pengacara. Kita pernah menjadi orang idealis, mengapa kita tak bisa mengulanginya?”

#2. Kanuku Leon by Dicky Senda

Cerpen-cerpen Dicky Senda mayoritas berkisah di tanah kelahirannya di Indonesia Timur. Banyak sekali mengambil bahasa lokal, melimpah ruah sampai butuh penjelasan di tiap akhir cerpen. Menonjolkan budaya lokal sah-sah saja, seolah memang menjual dan menyampaikan ke dunia bahwa budaya yang erat dilakukan itu ada. Seperti pencerita kebanyakan, kisahnya mencoba membumi dengan kegiatan rutinitas, pengalaman pribadi yang dibumbui fantasi. Semua cerpen di sini tertata dengan apik, tapi tetap inti cerita masihlah liar. Tak nyaman diikuti dengan santuy.


“Orang begitu lama mati, karena Tuhan masih kasih kesempatan untuk dia supaya bertobat.”

#3. Pasar by Kuntowijoyo

Novel dengan penggambaran detail mengagumkan. Mencerita apa adanya keadaan pasar dan par penghuninya. Sejatinya setting hanya satu tempat dari mula sampai jelang akhir. Pasar dan situasi yang ada. Orang-orangnya juga itu-itu saja, berkutat melelahkan. Pada dasarnya menggambarkan sifat manusia yang mengingin nyaman, ketika terusik maka ia marah, dan saat keinginan-keinginan tak terkabul, jadi petaka. Minim konflik tapi sungguh menohok saat masalah itu dilemparkan ke pembaca.


“Kalau macan mati meninggalkan belang, Pak Mantri mati meninggalkan tembang.”

#4. The Mummy by Anne Rice

Kisahnya tentang cinta dan pengorbanan, kerelaan, serta keabadian itu tak segaris lurus dengan kebahagiaan. Relatif, dan perubahan, apapun itu adalah keniscayaan. Termasuk para mumi yang diawetkan lalu berhasil dibangkitkan, perbedaan zaman, perabadan yang sudah sangat usang, manusia jadul itu bangkit di zaman sekarang, lantas apakah mereka bahagia? Jelas belum tentu.


Tema usang cinta diapungkan, dan tak akan bosan. Usang itu hanya beda bentuk dan genre, kali ini mumi gagah nan aneh merindu masa lalu, ia adalah raja di eranya, kini ia hanya rakyat biasa. Ini demokrasi dengan kebebasan individu, maka keputusan membangkitkan kekasihnya tentu saja wajar, walaupun tak selalu sesuai harapan.


“Berdoalah kepada dewa-dewamu, tanyakan pada mereka apa yang harus kaulakukan. Tuhanku hanya akan mengutuk perbuatanmu. Tapi apa pun yang terjadi atas makhluk itu, ada satu hal yang pasti. Kau tak boleh mengolah ramuan itu…”

5. Putri Cina by Sindhunata

Kisahnya panjang nan melelahkan, sepertiga pertama agak boring sebab menarik lurus ke balakang sejarah orang-orang Cina di tanah Jawa, agak berbelit dan seolah menikmati dongeng/sejarah. Sepertiga kedua baru kita memasuki are sesungguhnya, bagaimana arah cerita terbentuk. Dari kesenian keliling, bintang ketoprak seorang putri Cina yang menarik perhatian dua tentara/orang penting. Sepertiga akhir barulah meledak. Waktu mengubah mereka menjadi pejabat, tapi persaingan lama terus menggelayuti. Saat geger geden, eksekusi ending yang pilu disajikan. Klimaks, bagaimana susunan itu membuncah luar biasa. Sedih, tapi kisah yang bagus memang rerata berakhir dengan kesedihan.


“Semar punika saking basa samar, mapan pranyata Kyai Lurah Semar punika wujudira samar.”

#6. Isinga: Roman Papua by Dorothea Rosa Herliany

Kisahnya tentang sejoli anak asli Papua yang saling mencinta namun kandas hubungan sebab keadaan yang memaksa. Bagaiman hubungan itu dicipta, dirasa, lalu ambyar berkeping-keping. Yang cewek terus menjaga asa hingga akhirnya perang pecah antar kampung lalu ia diculik dan dijadikan alat damai. Yang cowok juga menjaga asa dalam diam, memilih menyepi pergi dari kampung melalangbuana untuk meredakan sedih, dan akhirnya menjadi ‘orang’. Sejatinya hanya itu, tapi karena ini tentang cinta yang tak sampai dengan balutan budaya daerah yang kental, kisahnya diputar jauh bertitian dengan sejarah Indonesia.


“Mulai sekarang kamu tidak boleh makan pandan merah, Irewa. Karena warna merah dari buah pandan merah adalah darah menstruasi.”

#7. Mati Bahagia by Albert Camus

Mencintai hidup berarti menjalani hidup yang mempesona dan tak terkendali. Kisahnya mendayu-dayu. Tentang hidup dan pilihan yang tersaji. Dibuka dengan menghentak, pembunuhan yang dilakukan oleh Patrice Mersault, nama akrab dalam Orang Aneh ini menjadi seolah antagonis. Ia membunuh sobatnya Zegreus di vilanya dengan menembak jarak dekat di hari minggu pagi yang suram.


Namun semua tak seperti yang kita duga, ‘pembunuhan’ itu sudah dirancang oleh sang ‘korban’ sebab ia muak akan kondisi hidupnya. Veteran perang yang terluka, satu kakinya diamputasi, mengeluhkan keadaan, mengeluhkan rutinitas, mengeluhkan suasana hati yang memang gundah, intinya mengeluhkan hidup. Saat hidup sudah tak senyaman masa lalu, apa yang bisa diharapkan?


“Ada hari-hari aku ingin bertukar hidup denganya, tapi kadang-kadang keberanian hidup lebih susah diraih daripada keberanian untuk bunuh diri.”

#8. Lotre by Shirley Jackson

Ini adalah buku pertama dari Shirley Jackson (1916 – 1965) yang kubaca. Lahir di San Francisco, California, USA. Penulis dengan genre horror dan misteri. Lulusan Syracuse University New York dan aktif di jurnal sastra kampus. Bertemu dengan calon suaminya Stanley Edgar Hyman, dan setelah lulus keduanya berkarier di The New Yorker. Shirley menjadi penulis fiksi, suaminya contributor ‘Talk of the Toen’.


“Hari saat kita mulai bekerja bersama.”

#9. Bisik Bintang by Najib Mahfuz

Luar biasa. Tipis, memukau. Dibaca sekali duduk di malam isoman tengah bulan Juni lalu. Terpesona sama plot yang disajikan tiap cerita, sederhana nan menghibur, beberapa menyakitkan tapi itu nyata, beberapa menggugah hati seperti perkataan gelandangan yang meminta orang kaya korup untuk membersihkan hartanya, beberapa lagi menampar kenyataan yang pahit seprti di permainan usia tua tapi baru merasa diberkahi. Tokoh-tokohnya juga sering sama memakai Kepala Kampung yang mengatur warganya, orang-orang kaya yang kikir, lalu gua di benteng kuno yang mistis, kaum papa yang melawan, sampai lingkup dunia Islam yang moderat.


“Ini adalah kelebat seorang perempuan yang lewat… mengapa kau berada dalam kegelapan di malam begini? Kesendirian akan mengarahkanmu pada hati yang berdebar dan akhir yang tak pasti.”

#10. Komune Paris 150

Eksperimen 72 hari yang dikenal sebagai Komune Paris. Disebut ‘komune’ karena pada rahun 1792 kaum revolusioner telah menata kota-kota mereka ke dalam kantung-kantung teritorial yang mengembangkan prinsip-prinsip pemerintahan swakelola.


Komune bermula sebagai tindakan patriotic, suatu cara untuk mempertahankan Paris dari tentara Prusia; tetapi dengan cepat ia mengambil watak demokratis yang lebih radikal sebagai konsekuensi dari kehendak rakyat dan pengaruh kelompok-kelompok revolusioner.


“Atas nama rakyat, komune diproklamirkan.”
Vive la Commune, teriak orang-orang. “Topi-topi diacungkan di ujung-ujung bayonet, bendera-bendera berkibaran di udara,”

#11. Misa Ateis by Honore de Balzac

Kumpulan cerpen yang menggugah, tipis dilahap dalam sehari hanya sebagai selingan ‘Sumur’-nya Eka Kurniawan yang juga selingan dari Memoar Geisha. Keduanya hanya selingan, saat isoman karena Covid-19. Untuk menjadi hebat memang tak selalu harus tebal, tipis semacam ini dengan penyampaian inti kisah, langsung tak banyak cingcong juga sungguh aduhai. Semua konfliks diramu dengan pas, beberapa tanda tanya sempat diapungkan, arti judul juga jadi saling kebalikan, misa dilakukan untuk orang-orang relijius, ateis berarti tidak tes, tak percaya tuhan, lantas Misa Ateis? Tenang, jawaban itu tak menggantung, ada penjelasan runut dan sajian kuat mengapa itu bisa dan harus dilakukan.


“Segala kemarahan akibat kesengsaraan ini aku lampiaskan ke dalam pekerjaan…”

#12. Sumur by Eka Kurniawan

Satu cerpen dalam satu buku. Terdengar gila ‘kan? Gila nggak? Ya aja deh. Biasanya kita disuguhi kumpulan cerpen, minimal dua atau tiga cerpen. Berarti ini diluar biasanya, hanya Eka Kurniawan yang bisa. Penulis lokal dengan ketenaran dan jaminan mutu. Hebatnya lagi, laris. Dari beranda sosmed saat masa pre-order dibuka dari harga 50k menjadi 40k, banyak sekali toko buku daring yang pajang sold out. Mendekati hari H penutupan, saya yang penasaran malah ikutan klik beli. Dan, setelah #unboxing, ini benar-benar satu cerpen dijual lima puluh ribu rupiah! Dibaca lima menit. Kalau value biaya jelas kurang worth it, tapi kembali ke kualitas yang utama. Eka adalah brand, di mana namanya yang tercetak di sampul memberi rasa penasaran, minimal ada keinginan memilikinya.


“Kamu bertemu Siti di sumur?”

#13. 100 Film by Ibnu M. Zain

Sebuah panduan tontonan yang disarikan dari era jadul awal mula film ditemukan sampai tahun 2000-an. Buku ini terbit tahun 2009 jadi selang 12 tahun ini jelas sudah sangat banyak film rilis dengan kualitas mumpuni. Sekalipun begitu tetap relevan untuk dinikmati. Sayangnya di era digital, panduan nonton sudah sangat mudah ditemukan. Gampangnya tinggal buka situs imdb.com kamu sudah bisa menemukan rating film-film yang biasanya sejalan lurus dengan kritikus.


“Di sebuah galaksi nun jauh di atas sana…”

#14. Therese Desqueyroux by Francois Charles Mauriac

Ini buku lama yang kubaca lagi, kisah istri yang diadili sebab meracuni suaminya. Penggambarannya sulit dicerna sebab meliuk-liuk rumit. Jelas ini adalah novel luar biasa. Dari pemenang Nobel Sastra!


Karawang, 130821 – 180821 – Sherina Munaf – Singing Pixie

#April2021 Baca

“Politik dalam karya sastra adalah sebuah pistol yang ditembakkan di tengah-tengah sebuah konser, sebuah tindakan kejam yang mustahil diabaikan. Kita hendak membicarakan sebuah urusan gelap.”Stendhal, The Charterhouse of Parma

Bulannya Oscar yang aneh. Tahun yang memang tidak wajar, maka saat acara penghargaan film  tahunan ini mundur jauh, saya terpaksa menyesuaikan. Menonton di rumah streaming di Senin pagi, puasa. Bulan April tak banyak yang kuselesaikan baca, sebab kebanyakan nonton film dan kejari ulas. Empat buku, salah satunya sangat tebal dalam petualangan ke Turki.

Sudah saya rekap lama, baru sempat edit Agustus ini. Waktu luang yang begitu berharga sungguh tipis. Memilahnya untuk menikmati buku, film, nulis, bola harus benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin.

#1. Kitab Writer Preneur by Sofie Beatrix

Kiat-kiat sederhana yang sudah sangat umum. Saya memang baru sedikit membaca buku-buku non fiksi pengembangan diri tentang tips menulis, tak sampai dua digit. Sebagian besar atau hampir semuanya jelas berdasarkan pengalaman pribadi, termasuk ini. Secara umum apa yang disampaikan adalah hal wajar, tak muluk-muluk, tak ada mantra atau hal khusus yang dijadikan patokan untuk menerbitkan buku. Intinya, ya kembali ke pribadi masing-masing untuk memaksa diri menulis, dan waktu akan membuktikan, apakah sampai finish ataukah terjebak di tengah jalan.

“Anda hanya butuh ‘dipaksa’ untuk menulis dengan step-step yang terjadwal ‘harus’ selesai namun Anda tidak terasa ketika mengerjakannya.”

#2. Pinky Promise by Kireina Enno

Buku yang penuh kepahitan. Tak seperti judul dan kover-nya yang pink merona, menawan bak perawan belia di usia remaja, kisah ini sungguh berat dan membuat kita menjadi berpikir ulang, sebaik dan sebijaknya kita harus bersyukur atas apa yang sudah kita dapat dari Tuhan. Dengan bintang utama Chelsea Islan, seperti filmnya, Chelsea muncul di jelang akhir. Ia tampak sebentar, hanya mengisi bagian kosong di sela kesesakan nasib apes yang menimpa para karakter.

Novel tentang empat perempuan yang terikat dalam perjuangan yang sama. Hidup tidak selalu menerima, tetapi memberi dengan tulus akan membuat hidupmu lebih bermakna. Empat perempuan yang akhirnya menyadari bahwa kenyataan pahit pun bisa menjadi akhir yang manis, jika dihadapi dengan berani. Empat perempuan yang menjadi sahabat sejati.

“Ya, makanya! Kan berarti gue emang mau dicuci dosanya. Atau gue sial aja.”

#3. Snow by Orhan Pamuk

Ka dan kehidupan yang dijalaninya di usia jelang tua. Penyair terkenal yang menjadi pelarian ke Eropa. Terkenal di Turki, tapi juga jadi bulan-bulanan sebab ideologinya dianggap membahayakan Negara, maka ia pergi ke Eropa, ke Jerman yang menampung. Nama aslinya Kerim Alakusoglu, nama kerennya Ka. Kisah ini dimulai dengan tenang, kedatangannya kembali ke Turki setelah lama pergi, ke desa kecil Kars, di mana ia diundang dan dijadwalkan membacakan puisi. Di sanalah ia kembali bertemu dengan yeman kuliahnya, cinta sejatinya Ipek. Dan drama panjang bergesekan dalam gelegar politik, budaya, serta kemampuan bertahan dalam tekanan penguasa melawan pemberontak. Ka diombang-ambing kebimbangan, yang mana keputusan-keputusan yang tamnantinya menjadi martir kematiannya di negeri jauh.

“Aku sedang sangat bahagia sekarang ini. aku tidak butuh agama,” kata Ka. “Dan lagi pula, bukan karena itulah aku kembali ke Turki. Hanya satu hal yang mampu mendorongku kembali ke sini: cintamu… apakah kita akan menikah?”

#4. Belajar Mencintai Kambing by Mahfud Ikhwan

Kumpulan cerpen dari Penulis yang menghantar kita lewat novel terkenal Dawuk. Sama bagusnya, rerata kisah di cerpen membumi, menjadikan kita bisa dengan mudah membayangkan, mengira-ira bagaimana rasanya menjadi bagian plot. Sebagian cerita tentang kucing, binatang rumah kesukaan banyak orang. Sebagian cerita tentang kera, yang aneh dan misterius. Sebagian lagi tentang kambing, yang akan dikurbankan dan yang dipelihara dengan cinta terpaksa. Lika-liku kehidupan yang umum, normal, menghantui.

Saat musim libur sekolah itu, ia berharap dibelikan sepeda. Namun, bapaknya malah membelikannya seekor kambing. “Kambing bisa membuatmu lebih dewasa, sedangkan sepeda akan membuatmu tetap jadi kanak-kanak.” Demikian bapaknya memberi alasan.””

Karawang, 310521 – 310721 – 020821 – Virginie Teychene – You Make Me Feel So Young

#Juni2020 Baca

Rekap baca bulan Juni, bulannya Sherina Munaf.

“Antara teologi dan ilmu pengetahuan terletak suatu wilayah tak bertuan. Wilayah itu diserang baik oleh teologi maupun oleh ilmu pengetahuan. Wilayah itu adalah filsafat.”Bernard Russel

Bulan Juni memang khusus untuk #30HariMenulis #ReviewBuku jadi bulan kelahiran Sherina Munaf ini kuantiti baca ga kugubris, dan mengimbas ke kualitas bukunya juga. Lebih banyak yang tipis, dan tak kusangka, semua 14 buku yang selesai kubaca berhasil kuulas di bulan yang sama! Menyenangkan sekali menghabiskan asupan buku melimpah, bersyukurnya kita hidup di era sekarang. Akses ke karya jadi mudah, dan terhubung instan.

#1. Cala Ibi Nukila Amal

Sebuah buku sebenarnya hanya terdiri dari beberapa kalimat utama. Sisanya adalah pengulangan, pemekaran, penjelasan, perumitan, bahkan pembingungan. Buku yang merumitkan diri sendiri. Memainkan pola acak, memilih diksi yang mencoba puitik – bisa juga kalian sebut aneh, menelusur kata seenaknya sendiri. Ini semacam puisi berbentuk prosa, atau bisa disebut puisi panjang tanpa penggalam rima, bagaimana bisa nyaris tak ada tanda kutip sekalipun itu kalimat langsung. Beberapa kalimat bagaikan mengingatku pada sesuatu, kadang terasa seperti remah roti dalam hutan menguatkan dugaan, menepis keraguan, menambah keraguan, bahkan membatalkannya. Maksdunya jelas, agar tampak syahdu, biar terlihat eksotis. Tindakan, tak ada yang lebih percuma daripada gagasan tanpa laku yang mengikuti, puisi yang dihidupi. Bayangkan, untuk bilang kipas angin/AC saja ia menulis: ‘Udara hasil manufaktur, dingin seperti marmer di dinding dan lantai.’ Haha… jan, sak enak dewe. Buku tanpa tanda kutip sehingga pembaca diminta menafsir mana kalimat langsung? Dalam sunyi, namun sarat bunyi.

#2. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat Dr. Harry Hamersma

Makin banyak manusia tahu, makin banyak pertanyaan timbul. Tentang asal usul dan tujuan, tentang dia sendiri, tentang nasibnya, tentang kebebasan, dan kemungkinan-kemungkinannya. Betapa beruntung saya bisa menikmati buku bermutu ini, kubeli dari Surabaya (Thx to Adi Angga, AFP) dalam rangkaian buku The Good Wives. Tipis sehingga bisa dinikmati singkat, tapi ilmunya jelas begitu tebal. Seperti judulnya, ini buku 50 halaman yang bisa jadi hanya di teras menyaksi sepintas ilmu dasar, tepat di depan pintu tuan rumah yang memiliki persoalan kompleks nan rumit, karena filsafat yang luas maka segala tanya itu harus didedah dan ditelusur. ‘Dalam sajak kuno, ada tanya besar yang hingga kini masih snagat relevan dan akan tetap revelan nantinya. ‘Aku datang – entah dari mana, aku ini – entah siapa, aku pergi – entah ke mana, aku akan mati – entah kapan, aku heran bahwa aku bergembira…’ – anom.

#3. The Devil Wears Prada Lauren Weisberger

Tentang gadis kosmopiltan di New York yang selepas lulus kuliah, melakukan kehendak bebas keliling dunia selama beberapa bulan sama pacarnya, lantas kembali ke Amerika guna menatap hidup, menata karier yang lebih serius. Dengan semburan energi baru, aku meneguk habis sisa kopiku, memanasakan lagi secangkir untuk Alex. Bercita-cita menjadi penulis di media keren The New Yorker, maka ketika ada peluang kerja di majalah mode, kontrak satu tahun diambilnya, idep-idep jadi batu loncatan, sebagai fresh graduate jelas membutuh pengalaman. Majalah runaway yang tersohor, bagi kalangan penikmat mode dan fashion. Baginya sesuatu yang baru, apalah itu, namanya majalah – satu gen dengan koran, konek ke literasi yang jadi impiannya. Dan siapa sangka, setahun di kantor itulah kenangan horror hidupnya terjadi. Bos paling kejam sedunia, yang tulunjuknya adalah perintah, yang perintahnya adalah sabda, yang sabdanya menjadi rujukan kerja, seolah SOP (standar Operational practice). Sungguh mendebarkan, sungguh mengasyikkan, diluardugaku, kisah chicklit ini sangat sangat menghibur. Bagaimana dunia perkantoran di kota sibuk, kota Apple di jantung Amerika itu berdetak. Thx to Raden Beben, Bekasi.

#4. The Mozart’s JourneyEduard Morike

Perjalanan sang maestro dari Wina ke Praha, mampir hotel lalu diminta menginap ke rumah bangsawan. Mencipta makan malam yang menakjubkan, diskusi seni melimpah, dan pamer keahlian memainkan musik. Sebuah kado istimewa dari dan untuk sang tuan rumah. Canda Tawa di Balik Karyanya. Sang istri yang seperti kehidupan khalayak umum, pusing memikirkan putaran uang, mendampingi seorang manusia besar. Thx to Afifah, Yogyakarta.

#5. Bulan KertasArafat Nur

Buku kedua bulan Juni yang kunikmati, sedang ingin bersantai memang makanya saya pilih yang roman modern dengan kerumitan kisah di level sedang. Cinta pertama memang selalu istimewa, cinta pertama di kala sekolah dari tanah Rencong, setting dari kelas tiga SMA sampai kuliah, mencintai adik kelas pindahan dari Medan, lalu ketika rasa itu bersambut ada sebuah halangan yang tak lazim. Iya, saya bilang tak lazim karena kendala itu dari dalam. Bukan internal dari kedua personal, tapi lebih dari sang gadis yang memimpikan dunia lain, dengan kesendirian, kesunyian, dan bulan kertas. “Di akhir zaman, orang yang menegakkan hukum agama, seperti memegang bara api dengan tangannya. Bila terus dipegang, tangan akan terbakar; bila dilepaskan bara akan padam.”

#6. Bukan Pasar MalamPramoedya Ananta Toer

Novel tanpa nama tokoh sama sekali. Dengan sudut pandang anak sulung, yang pulang kampung untuk menjenguk ayahnya yang sakit keras. Dengan setting Indonesia pasca merdeka di kota Blora yang sederhana. Keluarga ini memang sudah tidak utuh lagi. Si sulung yang pulang bersama istrinya yang baru setengah tahun dinikahi, penyampaian hidungnya yang dulu disukai, kini tidak lagi, heleh… bolak-balik rumah-rumahsakit, dan hari-hari terakhir penuh perenungan makna hidup sang ayah yang banyak jasanya kepada orang-orang sekitar. Drama keluarga 100 halaman yang lebih banyak merenung. “Hidup ini, Anakku, hidup ini tak ada harganya sama sekali. Tunggulah saatnya, dan kelak engkau akan berpikir, bahwa sia-sia saja Tuhan menciptakan di dunia ini.”

#7. Creative WritingA.S. Laksana

Banyak buku menyaji tips-tips menulis, saya baru baca 4-5 buku, termasuk ini. Sebelum menikmati, jargon Penulis Stephen King selalu kupegang, kuncinya satu: “Tulis, tulis, tulis.” Karena hanya mantra itu yang cocok untuk menjadi penulis. Action menulis adalah langkah utama yang tak bisa dibantah, setiap kali menikmati tata-cara entah namanya apa, termasuk saat menikmati Creative Writing. Lalu latiahn terus menerus yang akan mengasahnya. Seperti pemain bola yang pandai bikin gol, itu tak serta merta, itu butuh latihan yang keras, ditempa dengan darah dan keringat. Menurut William Blake, penyair Inggris hasrat saja tanpa ada tindakan akan membiakkan penyakit.  Oke, menulislah sekarang juga. Dan ‘menulislah yang buruk’. Beberapa tips usang, beberapa terasa baru. “Menulis cerita adalah seni merangkai adegan demi adegan, memusatkan penuturan dan memberi perhatian lebih pada bagian-bagian penting dan menurutkan secukupnya bagian-bagian kecil, tetap dengan cara yang menarik.”

#8. Kisah-kisah Perdagangan Paling Gemilang Ben Sohib

Saya tak mengenal Ben Sohib, dari biodata di akhir buku ternyata pernah nulis dua buku: The Da Peci Code (2006), Rosid dan Delia (2008). Memang selalu ada yang pertama, dan buku ini cukup menjelaskan bagaimana beliau bercerita, gayanya absurd, diselingi komedi, lalu di akhir – kalau di Stand Up Comedy, muncul punch-line yang menohok. Beberapa cukup bikin tersenyum geram, beberapa belum tune-in sama alur, ujug-ujug sudah kelar, terlalu pendek. Ada dua dari sebelas yang sukses mencipta bahak, lalu berujar, “Ya ampuuun.” Sungguh aneh, sungguh menggelitik, dan hampir semua yang dikisahkan ada di sekitar kita, ada di sekeliling kita dengan budaya Betawi yang kental, khas ente, gue, serta segala akhiran ‘e’ yang termasyur itu. Nama-nama karakter unik atau dibuat merakyat disertai julukan, kehidupan kaum jelata dengan pemikiran terdalamnya guna bertahan hidup. “Lu pade demen ngajakin Apang pegi, bakal lucu-lucuan doang. Lu pade demen nanggepin apang, terusnye lu bayar pake duit recehan. Lu pade kagak pernah mikirin nasibnye!” Thx to Dema Buku, Jakarta.

#9. No ManyoonEndang Rukmana

Cerita plesetan New Moon-nya Stephanie Meyer. Dengan budaya betawi yang kental, lengkap dengan makanan tradisionalnya, bahkan mencantumkan resep masak. Cerita vampire versus manusia srigala jadi-jadian. Sungguh biasa, entah kenapa dulu saya membeli buku semacam ini. Dan bukan satu lagi, karena Toilet dari Twilight-pun juga kubeli. Sebelum ulas saya baca ulas singkat, sungguh mengecewakan.

#10. The Stranger Albert Camus

Terbitan Immortal tampak lebih sopan, bagian ketika Marie bercinta dengan sang protagonist hanya ditulis sepintas lewat tidur bersama, dan paginya dibangunkan. Atau untuk bilang bernafsu, Marina menulis ‘indraku terangsang’, tampak sungguh aman untuk Remaja, seolah para petinggi Lulus Sensor memantau ketat. Atau bisa dibilang pemilihan diksinya lebih pas dan nyaman. Unggul di banyak segi, dari sampul saja sudah terlihat istimewa. Kesempatan baca kedua ini, tetap asyik dan aneh. Terima kasih #MojokStore

#11. Martin Luther KingAnom Whani Wicaksana

Martin Luther King Jr. lahir pada 15 Januari 1929 di Atlanta, Georgia. Bernama asli Michael King Jr., ayahnya mengganti nama untuk menghormati tokoh Kristen Protestan Martin Luther. Anak ketiga dari empat bersaudara, terlahir dari keluarga berada. Saat berusia 10 tahun, menjadi penyanyi Gereja untuk  pemutaran perdana film Gone with the Wind. Pada bulan Mei 1941, neneknya meninggal dunia. Sempat membuat depresi hingga berniat bunuh diri. Semasa kecil hingga remaja dicekokin agama terus, justru membuatnya meragukan agama. “Keraguan saya mulai muncul tak henti-hentinya.” Namun bergeraknya waktu, ia menjadi relijius. Kekristenan adalah kekuatan potensial untuk perubahan sosial.

#12. Sepotong Senja Untuk PacarkuSeno Gumira Ajidarma

Menatap senja adalah suatu cara berdoa yang langsung menjelma, perubahannya dari saat ke saat meleburkan diri seseorang ke dalam peredaran semesta. Senja adalah janji sebuah perpisahan yang menyedihkan tapi layak dinanti karena pesona kesempurnaannya yang rapuh. Dunia senja yang sempurna bagi siapa pun yang memburu senja di pantai seperti memburu cinta yang selalu berubah setiap saat, meraih pesan-pesan dari kesementaraan terindah seantero semesta… kumpulan cerpen yang luar biasa dari sastrawan besar Indonesia yang masih hidup. Waktu meninggalkankan jejak, begitu pula saat-saat yang dilaluinya bersama dia. Segenap makna perjumpaannya meresap ke dalam hatinya dan ia tidak bisa melupakan dia. Thx to Fatihah Store, Yogyakarya.

#13. Cocktail for ThreeMadelaie Wickham (Sophie Kinsella)

Tentang tiga sahabat yang bekerja di majalah Londoner yang hobi menghabiskan malam di Manhattan Bar, kafe yang menyajikan koktail terlezat di kota London dengan jazz dan keriuhan pengunjung. Ngumpul sebulan sekali apapun aktivitas dan kesibukan yang mendera, menyempatkan waktu bergosip dan blak-blakan dengan konco kental. Roxanne: glamor, percaya diri, memiliki kekasih gelap dan berharap pria itu akan meninggalkan sang istri dan menikah dengannya. Maggie: ambisius dan mumpuni dalam pekerjaan, hingga menemukan satu hal yang tak dapat diatasinya, menjadi ibu. Candice: polos, baik hati, jujur hingga suatu ketika hantu masa lalu muncul mengacaukan hidupnya. “Aku berusaha menebus kesalahan. Aku berusaha membantu…”

#14. Aisya Putri: Operasi Milenia Asma Nadia

Asiyah Putri, anak bungsu dari single parent. Tinggal di Jalan Kemuning nomor satu. Ayahnya meninggal, dibesarkan dengan penuh cinta. Punya empat kakak: Vincent berkaca mata, tinggi tamvan. Kedua Harap, kuliah di IKJ dengan trendy aksesoris di banyak bagian, secara ga langsung calon seniman besar. Ketiga Hamka, gondrong dan kekar, olah raga adalah makanan sehari-hari. Keempat, Idwar kuliah di UI ambil Sastra. Semuanya memiliki kelebihan masing-masing, entah kekurangannya apa, tak tampak nyata. Put-Put eh Puput, panggilan sayangnya, kelas satu SMU 2000, nama beken SMU Mandiri. Diambil dari tarif ojek yang mengarah dan dari sekolah. Ada yang jago karakte, berguna banget ketika Putri dkk diganggung preman mendem. Ada yang jago puisi, merayu, gombal ala kadar. Ada yang rajin bersih-bersih kamar, cool. Ada yang hobi manjat gunung, mencintai alam. Hobi-hobi positif, dan catat! Mereka ga merokok semua. Sungguh sangat luar biasa, mendekati sempurna! “Burung dara nyangkut di kawat. Adinda cantik… nggak kuat.” Thx to Masa Laluku.

Ya, Juni 2020 tak ada catatan khusus tentang Sherina Munaf, tahun lalu sudah penuh sesak tiga ribu kata. Sampai jumpa di momen yang sama tahun depan.

Karawang, 170720 – Cry Johnnie Ray & The Four Lads (1951)

#Mei2020 Baca

Bulan Mei 2020 dalam rekap bacaan.

“Aku tidak pernah memberitahu siapa pun hingga sekarang. Benar-benar bisnis kotor… setiap sekolah menawarkan uang tunai, Paul, jangan naïf. Itu bagian dari permainan.” – Neely

Bulan Mei 2020, rekapnya baru sempat kulakukan bulan Juli, setelah sebulan penuh ulas buku. Menyingkirkan banyak hal, menyita waktu melimpah karena harus fokus #30HariMenulis #ReviewBuku beberapa hari bahkan pulang kerja sampai Isya. Bulan Mei ternyata total baca 13 buku, sama dengan bulan sebelumnya. Baru sempat rekap. Yuhui…

#1. Little WomenLouisa May Alcott
Empat saudari March yang legendaris: Bejo MAy: Beth, Jo, Meg, Amy. Dengan latar Amerika abad 19, kesederhanaan keluarga demi kebersamaan menjadi tema utama. Ayah yang bertugas perang, ibu yang mengayomi. Karena betapa pun buruknya suasana hati mereka, kelebatan terakhir wajah keibuan itu pasti akan memengaruhi mereka seperti cahaya matahari. Inilah masa remaja dengan impian-impian yang ingin digapai. “Cita-citaku berada dalam sinar mentari nun jauh di sana. Mungkin aku tak dapat mencapaiknya, tetapi aku bisa mendongak dan melihat keindahannya, dan berusaha mengikuti ke mana ia pergi.”

#2. The High Mountains of Portugal Yann Martel
Dua bagian pertama luar biasa, bagian ketiga agak menurun tapi memang pada dasarnya novel berkelas. Apalah arti kita tanpa orang-orang yang kita cintai? Apakah ia berhasil bangkit dari duka? Ketika ia menatap matanya di cermin saat bercukur, hanya relung-relung kosong yang tampak. Semua tersaji dari jiwa laki-laki yang rapuh. “Aku berbicara dengannya di dalam kepalaku, ia hidup di situ sekarang.”

#3. The GatesJohn Connolly
Terlanjur beli tiga seri, jadi di buku ini sekadar bagus tetap harus dituntaskan. Ini kisah tentang malam Helloween yang janggal. Perjalanan antar dimensi, antara dua dunia. Novel aneh, teori lubang hitam dan terbentuknya semesta. Gerbang neraka dibuka, rajanya neraka menju bumi untuk menhancurkan, tapi dengan mudah digagalkan seorang bocah Samuel Johnson dan anjingnya, dibantu setan nyentrik yang bosan di padang pasir. “Bagaikan lalat di tangan anak-anak ceroboh, begitulah kita di mata para dewa, mereka membunuh kita untuk hiburan.”

#4. StardustNeil Gaiman
Tentang petualangan anak setengah manusia setengah peri yang menakjubkan. Untuk memulai perjalanan kita perlu mengenal desa asal, Desa Tembok di padang rumput Inggris yang tenang. Tak sembarangan yang bisa melintas, setiap Sembilan tahun sekali di seberang tembok yang bercelah ada bazar festival yang digelar dan desa itu menjadi penginapan mendadak. Syahdan, seorang pemuda rupawan Dunstan Thorn berusia delapan belas tahun mengalami malam sensasional. Terasa gigil dan gemetar di pusat alam. “Ini kuucapkan: kau telah mencuri pengetahuan yang tak layak kauperoleh, tetapi pengetahuan ini tak akan menguntungkanmu…”

#5. Love StoryErich Segal
Pasangan muda yang tampak ideal, mahasiswa Havard keturunan orang kaya dengan gadis cerdas dari keluarga sederhana. Oliver dan Jennifer yang menyenangkan dalam percintaan ini lantas mendapat musibah besar, berat sekali menghadapi kehilangan. Benar-benar kisah cinta yang menguras air mata. Cerita cinta memang harus berkonflik berat, ga penuh pelangi. “Cinta berarti tak perlu minta maaf.”

#6. BleachersJohn Grishman
Kisah love-hate pelatih hebat di kota kecil Messina. Eddie Rake adalah legenda, raihan gelar semasa ia melatih football memang luar biasa. Untuk menjadi pemenang memang harus kerja keras, latihan ekstra. Neely menjadi kapten dan bagian tim di masa puncak, perpisahan yang buruk mencipta jarak. Di akhir karier sang Pelatih ada noda besar. Kota terpecah. Dan ini tentang masa kabung, kematiannya menjadi duka sekaligus menggali masa lalu hitam yang tersembuyi. “Ayolah, hentikan. Nikmati saja kenangannya.”

#7. Corona Ujian TuhanQuraish Shihab
Buku yang sangat singkat, padat, dan dinikmati kilat di meja kerja. Sebuah ungkapan ‘Manusia mengenal kebaikan sejak manusia mengenal keburukan. Bagaimana mengenal indah kedamaian kalau dia tidak mengenal kekacauan? Manusia mengenal kebajikan sejak adanya keburukan. Dan mengenal keluhuran dan kesetiaan sejak adanya iblis.’ Keidupan manusia suka atau tidak, mengandung penderitaan, kesedihan, dan kegagalan di samping kegembiraan, prestasi, dan keberhasilan. Ujian adalah keniscayaan hidup. Tetap bersyukur dan tentu saja tetaplah waras, bersama keluarga. Firman Allah: “Sesungguhnya bersama kesulitan terdapat dua kemudahan.” (QS. Asy-Syarh [94]: 5-6)

#8. Reportase-Reportase TerbaikErnest Hemingway
31 tulisan Ernest Hemingway semasa di Prancis sebagai wartawan era pasca Perang Dunia Pertama. Tulisan yang bersinggungan dengan politik, sosial, budaya. Lebih merakyat dari yang kita kira, Ernest tampak menyatu dengan kehidupan setempat sehingga hafal harga hotel-hotel setara Melati, harga makanan kelas warteg sampai gang-gang sempit untuk mencari jalan untuk memotong kemacetan. Lucu dan menghibur. “Aku tidak tahu Paris itu seperti ini. Aku kira meriah banyak cahaya, indah.”

#9. Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah MengeringHasan Aspahani
Suatu hal yang wajar yang tidak bisa dihalang-halangi oleh penyair yang konon memiliki lisensi puitik maupun lembaga yang diberi tugas ‘menjaga’ bahasa. Dan karena bahasa tidak lain adalah wadah dari ‘dongeng’, bahkan juga ‘dongeng’ itu sendiri, maka ia terus bergerak tanpa arah yang bisa ditebak. Kumpulan puisi @jurubaca pertama yang kubaca. Narasinya padat. Yang menyatukan bait-bait sajak itu bukan prinsip kausalitas, tetapi suasana. Benda dan konsep yang disebut dalam sajak itu saling mendukung terciptanya suatu suasana yang, kalau boleh meminjam larik Amir Hamzah, ‘bertukar tangkap dengan lepas’. Dalam sajak ini, kematian adalah suasana dan bukan makna.

#10. The Fault is Our Stars – John Green
Novel yang luar biasa menyedihkan. Ini bukan buku tentang kanker, karena buku tentang kanker itu payah. Air pilu laksana air bah yang menghantam deretan kata sejak mula hingga perasan titik kalimat akhir. Bayangkan, The Fault in Our Stars garis besarnya bercerita tentang pasangan remaja yang keduanya sekarat, satu bermasalah dengan paru satu lagi memakai satu kaki palsu. Sederhananya keduanya sakit kanker yang menggerogoti organ vital, dan berdua harus bertahan demi kasih. Saling mencinta, saling menjaga, sampai maut benar-benar memisahkan. “Sadarlah, berusaha menjaga jarak dariku tidak dapat mengurangi rasa sayangku padamu.”

#11. The Chronicles of Narnia: Prince Caspian – C.S. Lewis
Saya baca ulang untuk Hermione jelang tidur, dua bab per malam. Melanjutkan seri sebelumnya langsung, Caspian dalam perebuatan takhta melawan pamannya sendiri. Pevensie bersaudara dipanggil via terompet Susan. Ketika mereka sedang di stasiun bersiap berangkat sekolah, kereta melaju dan semesta dimensi berganti latar. Peter, Edmind, Susan, dan Lucy datang bak dewa penolong. Seribu tiga ratus tahun di Narnia bisa saja hanya setahun di dunia kita.

#12. Kata Pengantar: Anthony GiddensB. Herry – Priyono
Kajian utama ilmu sosial adalah praktik sosial yang per definisi adalah titik temu dari dualitas struktur dan pelaku. Ilmu-ilmu sosial (politik, ekonomi, sosiologi, antropologi, sejarah, psikologi, hukum) mulai dari apa yang sudah, sedang, atau mungkin akan dilakukan orang. Giddens menyebut tindakan dan praktik sosial itu sebagai ‘dunia yang sudah ditafsirkan’. Istilah-istilah teknis yang dirumuskan ilmu sosial sudah menjadi kamus sehari-hari khalayak, dan karena sudah menjadi bagian dari insting dan praktik sehari-hari maka orang jarang mempertanyakan lagi asal-usulnya. Inilah buku tentang pokok-pokok pemikiran teoritis Giddens dalam ringkas dan seringan mungkin. B. Herry-Priyono mencipta ulang pemikiran itu dalam upaya asyik tanpa bikin kerut kening. Meskipun sudah berusaha untuk tidak salah mengerti pemikiran dasar Anthony Giddens, saya tetap jauh dari keyakinan bahwa saya tidak keliru memahaminya yang begitu luas memang bagaikan mengejar kawanan gejala modernitas yang selalu berlarian tunggang-langgang.

#13. PersepolisMarjane Satrapi
Di Iran, segala kebijakan pemerintah di masa peralihan itu memicu pro-kontra, wajar sih segala yang baru memang mematik dua sisi. Sang shah yang lengser tahun 1979, lalu mengungsi. Inilah Persepolis, masa revolusi Islam dan segala pergeserannya. Berisi 19 judul cerita, semua bersudut pandang Marji yang polos, memahami hal-hal baru yang terjadi di negaranya, sampai ending yang menyentuh. Keputusan berat, tapi mau bagaimana lagi keselamatan yang utama. “Aku ingin menjadi keadilan, cinta kasih, sekaligus kemarahan Tuhan.”

Iya, iya… segera kubuat rekap Juni, semangat…

Karawang, 020720-160720 – Bill Withers – Use Me

#Maret2020 Baca

Dunia menghancurkan semua orang, dan setelahnya, sebagian masih berdiri tegar di tempat-tempat yang luluh lantak.” Ernest Hemingway

Maret ini saya lebih santuy padahal, pasca Oscar mau kejari film menuntaskan rutinitas bikin daftar terbaik di akhir bulan. Ternyata santuy pun dapat sembilan buku, dengan enam sudah ulas. Dua buku baru dengan keduanya adalah Penulis yang sudah berteman menjadi prioritas kejar. Sejujurnya kurang memenuhi ekspektasi, sebagai naskah yang menang di kompetisi sekelas DKJ, tapi memang beberapa naskah lain tahun-tahun sebelumnya ga jauh beda sih. Jadi mari kita lihat buku apa saja yng kutuntaskan di bulan ketiga ini.

#1. Babad Kopi ParahyanganEvi Sri Rezeki
Cerita sejarah kopi dengan iringan fiksi. Kubaca hanya dalam sehari, dari pagi sampai sore di hari Senin, 16 Maret 2020 di Galuh Mas dari satu ruko ke ruko lain, lalu ke kursi Taman Baca Bustaka, Karawang. Ceritanya membentang dari present day di sebuah kedai kopi dengan blazer menawan dikenakan bertemu dengan barista terkait motif pertemuan. Lalu alurnya jauh ke masa kolonial di perkebunan Bandung. Monoton, maaf Marjin Kiri. “Orang sunda itu tidak pemalas Rim. Tidak perlu dipaksa-paksa buat kerja. Kami hanya mengambil sesuatu dari alam secukupnya.”

#2. Seorang Gembala Yang Tertidur Panjang di Akhir ZamanA. Mustofa
Cerita tentang waria, seorang penganut Ahmadyah dan selingan sebuah kolam lumpur dengan hikayat babi. Setelah 2/3 buku yang datar, jangan letakkan bukunya. Endingnya menyelamatkan cerita ini, hufh… karena saya memang ngalir saja jadi ada kejutan manis bagaimana sang gembala terbangun. Berdasarkan kisah nyata Roro Willis, menjadikannya lebih jleb. Semarang di temaram malam di pinggir jalan, dengan bidadari yang mewarnai. “Cinta-cintaan itu Cuma buat anak kecil Wan, kamu pikir kalau aku percaya sama cinta, aku bakalan nyebong kayak gini?” Selamat Opan!

#3. Kitab Para PencibirTriyanto Triwikromo
Kumpulan puisi serasa kumpulan fiksi mini. Bagus banget, ngalir diskusi tuhan dan hakikat hidup. Isinya lebih nyaman diikuti ketimbang puisi yang hanya menutur beberapa bait. Perlu tafsir jua karena banyak diskusi makhluk dengan tuhan. Aib terbesarku adalah menciptakanmu. “Di mana kau sembunyikan sesuatu yang menyerupai laut?” Ini bisa jadi kumpulan puisi pertama yang memuaskan saya. Sejauh itu, saya tak terlalu ‘in’ dengan kata-kata puitis.

#4. The Book of MirrorE.O. Chirovici
Luar biasa. Kejutan itu memberi alur mundur, penelusuran pembunuhan tiga puluh tahun yang tak terungkap tiba-tiba muncul ke permukaan dan meyentak pribadi-pribadi yang tenang. Mengalir dalam balutan novel, potongan-potongan masa lalu menjadi cekam menakjubkan. Memainkan kenangan, memainkan hati, lalu jiwa yang sekarat itu menuliskan novel berdasarkan kisah nyata, mencekam dan mengungkap dalang pembunuhan lama yang tertutup. Dengan pola telusur seru. Mendebarkan, saling slinag tebak pelaku, hingga ledakan di akhir. “Dengarkan saran orangtua Richard. Ketika perempuan merasakan kau punya sesuatu terhadapnya, dia akan mulai menguji kekuatannya dan mencoba mendominasimu.”

#5. All the Bright PlacesJenniver Niven
Kisah remaja bunuh diri yang janggal. Dibuat sepuitis mungkin, apa yang ditampilkan memang menawarkan drama remaja tapi problematikanya dewasa karena menyangkut nyawa. “Ke mana kau akan pergi kalau kau bisa ke mana saja?” / “Aku akan ke Bukit Hoosier bersama gadis cantik.” Heleh, gombal! Tapi untuk karaketr yang sakit psikologis dan mau bunuh diri, yah silakan sih. Aku merasakan desakan untuk mengucapkan sesuatu yang mengesankan dan puitis, tapi satu-satunya yang terpikir olehku adalah, “Ini Elok.” Mungkin karena mencoba memesona, justru cara itu malah mbulet sendiri, terjerat kata-kata. Toh akhirnya mati juga.

#6. Ender’s GameOrson Scott Card
Invasi pertama bugger ke bumi bisa digagalkan oleh pahlawan kita Mazzer Rackman. Invasi kedua pun bisa sukses dihalau, kini bumi menghadapi rencana invasi ketiga, tapi kali ini kita mempersiapkan diri lebih matang. Sebelum makhluk alien bugger menyerang, kita akan melakukan tindakan terlebih dulu. Adalah Ender Wiggin yang menjelma anak didik, ditempat istemewa sejak umur tujuh tahun. Di sekolah luar angkasa. Game itu menjelma nyata, tanpa ada pemberitahuan. Kisahnya berlaur lambat karena memang mengedepankan drama keluarga dan hubungan emosional aliens. Sebuah masa depan yang tak jauh dari sekarang, di mana planet-planet diduduki, dan monster luar angkasa saling menaklukkan. “Sekarang, sebelum sabun mengering. Sekarang, selama tubuhku masih licin untuk dipegang.”

#7. Mengukir Masa DepanNidhoen Sriyanto
Upaya Negara menghilangkan kesenjangan sosial di era Orde Baru dengan mensimulan warga bahwa bekerja itu ga harus di kantor. Ga harus gajian, bisa dengan berwiraswasta, dalam cerita dimodelkan dengan keluarga ideal: kerjaan mapan sang ayah, ibu rumah tangga dengan dua anak laki dan perempuan. Benar-benar untuk warga Negara yang bahagia. Meninabobokan, buku klasik yang umum ditaruh di perpustakaan sekolah. “Kau sebagai tukang di pabrik perakitan mobil, masih menerima gaji dari pabrik. Sedangkan saya sebagai tukang kayu, tak ada yang menggaji saya. Yang menggaji saya adalah pekerjaan saya. Pekerjaan yang saya ciptakan sendiri. Saya tak khawatir sedikti pun. Dapat makan, dapat membeli pakaian dan dapat membuat rumah seperti orang-orang lain yang menerima gaji tiap bulan.”

#8. A Monster CallsPatrick Ness
Ceritanya berat, monster pohon yew yang muncul di tengah malam lebih tujuh menit. Ibunya sekarat, ga cocok sama neneknya, ayahya kawin lagi dan tinggal di Amerika. Dan kesuraman akut menyelingkupi. Dengan modal empat kisah masa lalu yang mendetail menuju masa kini, dari ilusi yang tampak menyeramkan menjelma kenyataan. Sempat kubacakan ¼ awal untuk Hermione, tapi kuhentikan karena ternyata bukan cerita anak-anak. Conor O’Malley remaja dengan fantasi kelamnya. Ilustrasinya keren. Salut! Sudah difilmkan, baiklah masuk daftar buru untuk kutonton. “Kisahnya berakhir dengan penghancuran yang tepat, kalau itu maksudmu.”

#9. Winnie The PoohA. A. Milne
Sudah sejak tahun 2018 memilikinya, mau baca ketunda terus. Bukan karena ga ada waktu, sedang menanti saat yang tepat saja kubacakan ke Hermione. Dan alhamdulllah, sukses mempesonanya. Dia langsung menjadi fan berat Winnie The Pooh, bahkan bisa mencerita per bab isinya apa. Suka menyanyi lagu Pooh, suka bermain dengan binatang rekan-rekan Christopher Robin di Hutan Seratus Ekar. Dan antusias tinggi ingin memiliki boneka si kuning.

Terima kasih Noura, sudah menghadirkan buku bagus banget sebagai teman dongeng Hermione jelang tidur. Kubaca dua bab perhari yang berarti selama lima malam yang luar biasa melalangbuanakan imaji ke dunia ajaib. “Ya, sambil berjalan ke sini aku berkata kepada diriku sendiri, mungkinkah Christopher Robin punya semacam balon? Aku berbicara sendiri, memikirkan balon, dan penasaran.”Berkat buku ini, Apa cita-cita Hermione? Jadi ilustrator seperti Ernest H. Shepard. Wow

Karawang, 100420 – 160420 – Sherina Munaf – Kisah Sang Lebah