Memoirs of a Black Girl: Album Kencana Memori Masa Sekolah


If you can survive the hallways of dudley high, you can survive anything.”


Kisahnya tentang Aisha Johnson (Khai Tyler), dituturkan bak sebuah curhat. Mengambil sudut pandang orang pertama, seperti judulnya, ini memang bernarasi sang protagonist. Bagaimana impiannya untuk melanjutkan kuliah di kampus bergengsi dengan beasiswa terhambat oleh kehidupan keras di sekitarnya. Adiknya Kevon (Juvan Elisma) bermasalah dengan obat terlarang dan salah gaul. Ayahnya sudah meninggal, dan untuk melindungi ibunya dari kabar-kabar buruk, Aisha coba melakukan apapun. Keluarga adalah segalanya.


Aisha bersahabat akrab dengan Marcus (Nick Walker) dan Marisa (Carolina Soto). Ketiganya saling melengkapi dan bahu membahu, dan sungguh normal saat mereka memiliki masalahnya sendiri. Persahabatan itu mutlak diperlukan orang, agar ingatannya bisa bekerja dengan baik. Marcus ternyata gay, pilihan hidupnya tentu ditentang keluarga. Bapaknya memanggil pemuka Gereja untuk mengusir aura jahat, ibunya memarahinya sebab ia adalah jamaah yang taat, dan pilihan itu akan membawa aib keluarga, apa kata dunia! Wajar, sungguh kekhawatiran yang wajar. Namun Marcus komit, pilihannya untuk segera merantau dan menjadi artis dilandasi oleh tekad baja dari dalam.


Sementara Marisa karena dari keluarga yang sederhana dan saat itu terrlilit utang, memaksa menjual berbagai perabot, mengurangi jatah kuota, dst. Melakukan penghematan di berbabagi sektor, sampai pada memutuskan bolos sekolah demi tambahan uang dengan menjadi pelayan restoran. Amerika yang keras! Memiliki kekasih yang ekspresif, mencium di depan khayalak, di dalam bus penuh siswa. Romantis? Yah, awalnya tapi ya terlihat norak jua, hingga suatu siang pulang sekolah mereka bertiga memergoki pacar Marisa mencium gadis asing di lapangan basket. Hahaha… asem. Di situ juga langsung diputuskan. Nantinya, anehnya ia luluh, sebab ada tato namanya di tangan, dan pembacaan puisi membuatnya memaafkan. Duh gampang men!


Aisha adalah siswa cerdas, ia adalah kebanggaan sekolah dan sedang diajukan ke kampus bergengsi untuk dapat beasiswa. Dalam kelas ia dengan cekatan melibas banyak soal, baik secara attitude, baik pula secara sosial dengan lingkungan dan sekitar. Singkatnya, ia istimewa dan ini memoar tentang masa remajanya. Inilah album kencana memori semasa sekolah. Dan saking sempurnanya ia, harus ada yang mengusik. Masalah timbul di sini…


Trio siswi nakal suatu hari bolos kelas, Shakia (Alexandra Cruz), Rudy (Juliette Estime), dan Tonya (Taylor Phillips) merokok di toilet. Apesnya, Aisha sedang ke sana. Gegas buang hajat, gegas cuci tangan, gegas cabut. Di lorong ketemu guru, ditanya kenapa bau rokok, ia lantas menunjuk toilet. Ketiganya kena strap, skoring tiga hari, dan dengan konyolnya menyalahkan Aisha sebab mengadu. Tak hanya itu, rokok itu bersumber dari siswa nakal lainnya, dalam loker dibongkar ada barang bukti, ia juga kena skoring. Dari orang-orang tolol inilah, Aisha akhirnya bersentuhan persoalan.
Sepulang sekolah Aisha dicegat, dibully, dan videonya disebar di sosmed.

Membuat down, suatu hari dalam bus ia seolah mendapat surat penggemar, diberi permen, tapi ternyata menciptanya melayang yang membikin pusing di kelas. Puncaknya adalah saat ia berangkat wawancara beasiswa, ini hari krusial, ini hari menentukan, di tengah jalan karena tergesa, ditawari tumpangan mobil sama trio kacrut itu, dan ternyata tak mengarah pada gedung tempat interview, ia diculik. Sungguh menegangkan, seperti di film-film superhero, akankah kini Aisha bakal diselamatkan di menit-menit paling krusial ini? eksekusi di gudang dengan tergesa dan remeh-temeh itu sungguh kocak, bagiku justru menghibur. Ingat ya, ini film dengan bujet biasa. Nikmatilah! Semacam adegan drama cengeng untuk ditonton sendiri. Berapa kali dalam hidupnya ia punya kesempatan wawancara beasiswa? Berapa orang punya kesempatan seperti ini?


Judul aslinya adalah Memoirs of a Snitch. Sebuah sindiran yang dilontarkan para siswi bermasalah, sebab Aisha dianggap snitch (mengadu) padahal jelas ia tak berniat, dan ia terpaksa. Justru karena kebodohan mereka sendiri aja mereka kena masalah. Film tanpa orang dikenal baik cast and crew-nya. Kunikmati dengan santuy, dan nyaman-nyaman saja. Mengalir seolah membaca biografi, benar-benar enak. Secara cerita mungkin biasa saja, permasalahan sederhana siswa di lingkungan yang biasa pula. Secara akting juga terlihat datar, memang untuk sebuah film sederhana. Namun balik lagi, secara hiburan sebagai pecinta buku, aku sungguh menikmati. Terhibur.


Lingkungan itu penting, membentuk jati diri kita. Lingkungan baik akan mencipta nasib baik, begitu pula sebaliknya. Kamu tidak mungkin bisa batuk, tanpa membuat tiga orang lain tertular. Begitu pula saat kamu mengeluarkan secangkir kopi untuk dinikmati, dan jelas orang-orang sekitar akan menikmati pula, minimal baunya yang aduhai. Memoirs of a Black Girl mencoba mengupas pergaulan dan efeknya, wajar dan sungguh normal, dan ini malah keunggulan utama. Kalian harus coba saksikan.


Memoirs of a Black Girl | Year 2021 | USA | Directed by Thato Rantao Mwosa | Screenplay Thato Rantao Mwosa | Cast Khai Tyler, Christian Thomas, Colin Costello, Alexandre Cruz | Skot: 3.5/5


Karawang, 131021 – Melody Gadot – Worrisome Heart

Love Strikes Twice: Aku Menyadari Segalanya tapi Segalanya Agak Terdistorsi, Seperti dalam Mimpi

 “You’re only young once.”

Do-Over. Mengulang lalu mengubah fakta. Mustahil rasanya di dunia linier ini. namun dalam sinema segalanya bisa. Menyenangkan menyaksikan film keluarga dengan keceriaan membuncah seperti ini. Konfliksnya dari dalam, tapi peluang penyelesaiannya dari aura luar dengan dibumbui fantasi dan kenangan. Film tentang perjalanan ke masa lalu dan mengubah apa-apa yang salah, tentu bukan tema baru. Sudah sangat banyak dan umum. Cara kembalinya juga variatif dan kreatif. Mungkin ini lebih mirip Sweet 20, minus lagu-lagu dan materi-nya yang dibalik. Dalam Sweet, orangnya yang jadi muda dan setting tetap di masa sekarang, di Love Strikes Twice orangnya kembali muda, dan memang waktu mencipta mundur ke tahun 1990-an, dengan lagu klasik, HP monoponik, dst. Namun yang tak berubah adalah otaknya, memori dan ilmu dan segala yang sudah didapat di usia 37 tahun itu masih nempel dan melekat sehingga di usia 22 tahun, ia terlihat hebat dan sungguh cerdas. Tema hura-hura bukan? Bisa jadi, tapi di sini sungguh manis sebab tujuan sesungguhnya bukan sekadar cinta, tapi sebuah perpustakaan umum Elmhurst yang disingkirkan, kini coba dipertahankan. Sebuah pilhan pararel untuk menghidupi harapan.

Kisahnya tentang Maggie Turner (Katie Findlay) yang sukses secara finansial dan karier, tapi mengalami kebosanan dan rasa hambar dalam keluarga. Di tempat kerja, bosnya memuji atas kecermelangan penyelesaian tugas, big bos pemilik bahkan kesemsem padanya. Bekerja di kantor bantuan hukum prestise di Chichago, ia sejatinya memenuhi impian masa muda, menjadi pengacara. Suaminya Josh Turner (Wyatt Nash) agak defensive, mungkin bosan. Ayahnya sakit, kakinya keselo sebab jatuh dari tangga. Ibunya terlihat murung. Adiknya jadi IT game, tapi merasa kesepian sebab belum menikah juga. Ada yang kurang, ada yang janggal.

Suatu hari mereka mudik untuk merayakan ulang tahun pernikahan orangtuanya yang ke-10 tahun: Estelle Hartman (Sharon Bajer) dan George Hartman (Alex Poch Goldin), disambut meriah. Ayah – ibunya masih romantis, masih sangat mesra, mencipta rasa iri sebab percintaannya sendiri di tepi bosan. Malam itu bahkan meminya pisah ranjang, ia ingin tidur di tempat tidur masa remajanya, dan jalan-jalan. Melihat suasana kota di malam hari yang sunyi, mendapati air mancur, yang iseng berdoa melempar koin. Jreng jreng jreng… keajaiban terjadi. Ia terbangun di kamarnya, kembali ke masa lalu.

HP jadul, bagaiman model lama, dan kota khas tahun 1990-an. Rambutnya pendek, tapi tetap modis, sederhana. Hubungan asmara dengan Rick Morgan (Marshall Williams) yang kaya raya, sahabat dengan Josh pengelola perpustakaan kota (calon suaminya), mereka sedang berjuang melawan dewan kota yang akan menghancurkan perpus, menggantinya dengan gdeung komersial. Komunitas baca melawan, demo dan menghalangi petugas, mereka ditangkap polisi dan diadili.

Dewan kota diwakili oleh Malcom Baxter (Erik Athavale), ayah pacarnya sementara Maggie tak menyewa pengacara, ia maju dengan pede dan lantang. Yo jelas, di masa depan ia jago debat, juara dah di panggung persidangan, ia bisa mengorganiasi dan ia bisa bernegosiasi. Maka penuntut yang notabene adalah Malcom (calon bosanya di masa depan), jadi saling silang dilema massa. Kita tahu dan yakin Maggie dan komunitas bacanya menang sebab pikiran, cederdasan, kedewasaan itu terbawa ke masa lalu. Maka hal-hal yang salah itu diperbaiki, benar-benar kesempatan kedua. Lantas kalau segala yang di masa lalu sudah keren, akankah di masa kini yang nyata juga turut keren?

Aku tandai bintang utamanya Katie Findlay, di sini cantik sekali. Tampil rambut pendek ataupun digerai menjuntai sebahu tetap menawan. Film-film berikutnya bakal kuikuti. Setelah ku googling, ternyata usianya baru 21 tahun dan CVnya belum banyak, belum pernah main film bisokop, kebanyakan hanya tv seri, dan sesekali main Film-TV seperti ini. nah, kabar baiknya ia menyumbang soundtrack di Zoey’s Extraordinary Playlist, empat seri. Ok, kukejar Kate!

Judulnya bisa berarti pilihan juga, sebab Maggie dilamar oleh orang kaya raya, dan diterima cincin tunangannya, ataukah tetap kembali ke sobatnya, yang di masa depan adalah suaminya. Sulit? Tergantung perpektif. Namun drai acara makan malam sama calon mertua kita bisa ambil kesimpulan dengan tegas. Ini masalah prinsip. Tanpa perlu ketemu atau bicara dengan mereka pun kita sudah bisa benci pada mereka. Orang kaya, dengan uang seolah bisa membeli segalanya. Membujuk Maggie untuk legowo. Di sini jelas Maggie memantabkan diri, oh ini pilihan yang jelas dan ternyata memang tak sulit. Uang hanya materi, kepuasan menggenggam idealism sungguh besar harganya, perjuangan tetap berdiri perpus kota saja terlihat eksotik, dan aduhai. Ucapan calon mertuanya memilin-memilin hatinya. Sulit berpaling sepanjang layar menyaksi ia dengan meyakinkan di persidangan menghajar bosnya, bayangkan. Pirang, muda, cantik, cerdas, anggun. Luar biasa, terlihat sempurna.

Temanya mengulang masa lalu. Premis akrab bagi penggila genre pengelana waktu, tapi tetap menyenangkan dan asyik sekali. Maggie terbangun muda dan menyadari pengulangan, seorang time-traveler. Aku menyadari segalanya tapi segalanya agak terdistorsi, seperti dalam mimpi. Ini semacam obat penawar setelah menyaksikan film Beyond Sixty yang melelahkan, orang-orang tua curhat. Love Strikes jelas penuh kebahagiaan dan kreatif, seru dan meluap-luap. Hal-hal percintaan yang terdengar fantastis, tetapi cukup layak.

Kita dapat menyesali diri karena melakukan tindakan tertentu, memberi komentar tertentu, tetapi kita tidak bisa menyesali perasaan. Tiap pilihan menciptakan mentalitasnya sendiri untuk mengada. Ingatan harus disiram seperti pohon bunga dalam pot, dan untuk menyiram itu dibutuhkan keteguhan hati, dan sahabat sekaligus calon suami sekaligus suami itu dengan gemilang berhasil meyakinkannya. Ingatan tak usang, dan cinta itu menyuburkan. Love Strikes Twice benar-benar meluap-luap penuh konvetti, ceria dan sendu bahagia. Kalian harus coba saksikan. Serius!

Love Strikes Twice | Year 2021 | USA | Directed by Jeff Beesley | Screenplay C. Jay Cox, Neal H. Dobrofsky, Tippi Dobrofsly | Cast Katie Findlay, Wyatt Nash, Marshall Williams | Skor: 4/5

Karawang, 121021 – Al Jarreau – Midnight Sun

Love Strikes Twice diproduksi oleh Cartel Pictures dan bisa disaksikan di Hallmark Channel Homepage

Kata-kata Meluap Seperti Soda Pop

“Suara jangkrik bisa didengar bahkan oleh gadis di balik maskernya.”

Karena judul filmnya sudah eksotis maka aku tak perlu mencari judul ulasan. Words Bubble Up Like Soda Pop atau dikenal juga sebagai Palabras que burbujean como un refresco, keren ya kalimatnya. Filmnya juga, sederhana tapi sangat asyik. Walau mengetengahkan cerita remaja, cinta yang bersemi lalu dirajut sungguh menyenangkan diikuti. Gabungan pria snob dan perempuan narsis. Dunia memang penuh dengan kontradiksi, dan itu malah saling melengkapi. Laiknya aku memilih pasangan, kita bisa dengan mantab bilang, “Aku punya alasan tersendiri waktu memilihmu.”

Kartun Jepang lagi. Saya sedang menikmati film random, asal klik saja. Untuk film ini, cenderung karena puas sama Earwig. Kisah-kisah Asia Timur yang membumi, kali ini tentang remaja beda kelas. Remaja laki snob ke mana-mana memasang headset, membawa buku catatan untuk mencatat inspirasi yang tertangkap tiba-tiba lalu menggores bait-baitnya agar tertangkap lekat. Pasangannya adalah remaja populer, sekali live di sosmed penontonnya membludak. Karena kepopulerannya, penampilan tentu harus dijaga, maka untuk menutup giginya yang maju, ia selalu memakai masker. Keduanya ditemukan takdir.

Dibuka dengan langkah aneh, pria tua membawa bungkus rekaman vynil berjalan ke kebun, tampak kebingungan. Ia mencari sesuatu yang akan diungkap di tengah film. Dibantu remaja kalem, Cherry/Yui Sakura (disurakan oleh Ichikawa Somegoro) untuk kembali ke panti jompo. Cherry mengenakan headset bukan karena sedang mendengarkan musik, perilakunya lebih untuk meredam kebisingan, melawan kearamaian. Sementara itu di tempat lain, Smile/Yuki (Hana Sugisaki) melakukan siaran langsung pakai HP. Hal-hal yang biasa, tapi karena ia populer dengan banyak follower, aksinya di depan kamera HP begitu dinanti. Giginya yang tongos sedang dipermak, dikawat biar rapi, maka ia mengenakan masker. Ia tampak malu dengan ‘kekurangan’-nya itu.

Suatu hari mereka ditemukan takdir di mal, sebuah tabrakan tak sengaja membuat buku catatan Cherry dibawa Smile, begitu juga sebaliknya HP Smile sebagai gantinya. Memang tampak mirip, makanya gerak cepat pertukaran itu bisa berlangsung. Betapa terkejutnya Smile, ketika di rumah menyadari. Ia lantas meminjam HP adiknya untuk menghubungi, meminta balik. Cherry yang di rumah, bersama teman-temannya mengangkat panggilan dan janjian ketemu untuk dikembalikan. Bisa ditangkap adegan sederhana di sini tapi bermakna dalam, makan keluarga jangan main HP. Hormati pasangan, hormati yang memasak, hormati waktu kebersamaan. Hal-hal yang terjadi di dunia maya masih bisa ditunda kok, hadapi keadaan asli saat itu. Kurangi buka HP saat bersama orang lain. Catet!

Sudah tertebak, mereka akrab. Bertukar akun sosmed, bertukar cerita. Status Cherry lebih banyak tentang puisi, atau di Jepang lebih akrab disebut haiku. Memandang senja dari taman, melihat air mengalir, awan beriring yang dihalau angin, sejuknya suasana perkebunan. Dan seterusnya, mereka saling mencinta, tapi dalam diam. Gerak bisa saja ditafsir, tapi kata-kata tertahan.

Cherry ternyata sedang dalam proses pindahan, musim panas ini di tanggal 17 Agustus ia harus pindah. Kerja sementara di panti jompo hanya sukarela, Smile tak tahu karena memang tak diberi tahu. maka saat di hari H pindahan, Smile mengajak menonton festival kembang api, Cherry ragu, tapi tetap mengiyakan. Lihat, hal-hal yang tak jujur atau terbuka, malah membuat runyam keadaan. Apa sulitnya bilang, maaf tak bisa karena harus cabut. Selesai. Oh tidak, Cherry terlalu banyak merenung, terlalu banyak pertimbangan. Maka saat mobil itu tiba-tiba berhenti, lantas ia berlari. Itu bisa jadi adalah salah satu masa terpenting dalam hidupnya. Ia memang harus mengambil resiko.

Di satu sisi mereka memiliki misi mencari rekaman vynil sang kakek yang berangsur pikun. Selidik punya selidik, ternyata rekaman itu adalah milik istrinya bernama Sakura. Ia tak ingin melupakan istrinya yang sudah almarhum, ia ingin mengabadikan momen, ia ingin mendengarkan lagunya sebelum ingatannya tergerus, sebelum ia mati. Sudah sangat langka, susah dicari, di toko rekaman miliknya dibongkar sampai lelah juga ga nemu. Saat akhirnya menyerah, malah dapat. Sayangnya saat akan diputar, sama Smile, kaset malah tak sengaja dipatahkan. Karena dirasa agak melengkung, saat diluruskan malah patah. Huhuhu…

Berhasilkan keinginan sang kakek merasai suara istrinya lagi? berhasilkan cinta dua remaja ini disatukan, karena festival kembang api dan hari kepindahan terjadi di hari yang sama. Well, seperti judulnya, endingnya menghentak dengan ribuan kata membuncah. Bak soda yang meletup histeris, kata-kata itu menjelma bising, terlontar tak terkendali, indah laksana kembang api yang juga sedang gemericik di angkasa.

Aku yakin kalian punya teman dengan gaya keduanya. Seorang yang sok puitis, di mana status sosmed-nya digores penuh makna dan kutipan orang terkenal (baik dicantumkan penulis aslinya atau tidak), atau benar-benar ditulis sendiri setelah mendapat inspirasi saat jiwa kreatifnya sedang meluap-luap. Sah-sah saja, zaman dulu dicatat dulu di kertas, sekarang sudah bisa dihamburkan dalam digital. Aku yakin juga kalian memiliki sahabat populer yang tak bisa lepas HP, sok cantik, sok imut, tiap menit update status, memiliki pengikut melimpah padahal kontennya juga biasa (atau jujur saja, banyak yang jelek), narsis abis, suka joget tiktok, suka pamer tete, suka pamer skincare, suka sekali mengikuti trend. Ya ‘kan, ya ‘kan? Wajar, dunia memang berlari mengikuti perkembangan, tingkah laku manusia otomatis menghambur bersamanya. Hanya bentuk gaya, dan bungkusnya saja yang tampak lebih kreatif. Satu bait saja yang ingin kubagikan di sini, “Bagian ‘membuat awal yang salah’ dalam Cahaya malam musim panas, awal yang salah.” 

Selalu menyenangkan menonton film sederhana disampaikan dengan ciamik. Hembusan kisahnya mengalir lancar, pilihan dialog dibuat dengan nyaman. Adegan ending di festival itu kalau salah proses saja akan jadi lebai, atau salah pemilihan kata yang diluapkan sekencang-kencangnya bila terpeleset bisa jadi roman remaja biasa bak FTV. Namun tidak, endingnya pas sekali saat kita masih terpukau dan hanyut dalam nuansa puitik sehingga aura seninya masih membayang sepanjang detik lagu penutup berkumandang. Memang tepat pemilihan judulnya, di awal meluap dalam tulisan, di akhir meluap dalam gempita jeritan. Bukankah kita semua mendamba adegan romantis dari pasangan yang diguratkan dengan manis, semanis syair?

Words Bubble Up Like Soda Pop | 2020 | Japan | Directed by Kyohei Ishiguro | Screenplay Kyohei Ishiguro, Dai Sato | Cast Ichikawa Somegoro, Hana Sugisaki, Megumi Han, Natsuki Hanae, Yuichiro Umehara, Megumi Nakajima | Skor: 4/5

Karawang, 071021 –Billie Holiday – Stormy 

Words Bubble Up Like Soda Pop bisa dinikmati di Netflix

Adventures of a Mathematician: Menjaga Jalan Berkerikil Tetap Bersih dengan Sapu


You can run all sorts programs on it, not just one.”


Di abad modern ini dunia Barat unggul dalam ilmu-ilmu matematika abstrak dan metafisika. Saat itu Leibniz menyimpulkan bahwa kalkulus memiliki landasan metafisis karena mencerminkan dialektika antara Tuhan dan ketiadaan.


Ini film tentang matematikawan, lebih banyak ke drama daripada hitungan kalkulus, ini film tentang rancang bangun bom, tapi sepanjang film malah tanpa ledakan. Kemarahan yang disajikan paling kencang bahkan hanya pengusiran dari meja meeting sebab beda persepsi rumus, atau saat kemarahan adik kepada kakaknya karena kecewa lebih mementingkan rumus-rumus ketimbang kepedulian keluarga. Sepanjang hampir dua jam kita diajak mengarungi perjalanan hidup ilmuwan dan dosen matematika Havard dengan sangat tenang. Tak ada yang tahu hidup ini pangkalnya di mana, bagaimana, dan kapan. Namun usaha untuk kehidupan layak patut dipejuangankan, demi masa depan anak cucu, termasuk meledakan kota dalam perang?


Setting utama di Perang Dunia II, di Amerika tempat pelarian para jenius Yahudi setelah Jerman mencipta cekam. Stanislaw Ulam (Pholippe Tlokinski) adalah salah satu jenius itu, bersama adiknya Adam Ulam (Mateusz Wieclawek) yang masih sekolah, mereka mencoba menata kehidupan di lingkungan baru. Di tahun 1940-an di mana Nazi sedang gemar menginvasi Negara-negara Eropa sekitar, kita menjadi saksi bagaimana bom nuklir dicipta. Kita dengan takjub menyaksi diskusi panas Ulam dan Oppenheimer, dan von Neumann juga. Telaah nuklir dan konsekuensi, menyelam dalam arena diskusi yang berlarut. Bahkan Ulam diusir karena berpandangan lain, yang sangat bertentangan terhadap kebiasannya, ia lama terdiam seolah-olah ingin menguji dampak kata-katanya.


Secara garis lurus sejarah, kita tahu Manhattan Project menghasilkan dua bom yang diledakkan di Jepang tahun 1945 di bulan Agustus. Nah, separuh awal film kita melihat pertimbangan, kebimbangan, hitungan formula, dan juga nurani para ilmuwan yang menciptanya. Dunia para jenius ini berkutat di situ, dari meja kampus ke laboratorium, dari pesta dansa mendukung para tentara hingga debat hitung partikel, disajikan dengan tenang dan menjanjikan. Kemampuan mereka untuk mengatakan yang benar dari yang salah adalah tetap utuh, mereka tidak pernah menderita ‘krisis nurani’.


Stan menikah dengan Francoise (Esther Garrel), seorang penulis, berkenalan di pesta para akademisi. Drama percintaan dibuat dengan bagus dan halus, tanpa banyak rayuan gombang dan adegan panas, mereka menikah, pindah perumahan, punya anak, bertegur sapa dengan tetangga, serta kehidupan manusia pada umumnya. Harusnya memang film roman dibuat senyaman ini, tak perlu adegan ena-ena panas menggelora hanya untuk menyatakan kasih.


Konfliks utama justru dari dalam, adiknya melanjutkan sekolah ke seberang, berat melepasnya. Sementara kakaknya Stefania yang masih di Polandia berkomunikasi dengan telepon dan telegram, meminta keluarganya untuk gegas pindah, situasi sedang mencekam dalam kecamuk perang. Namun dengan beberapa pertimbangan, tetap bertahan. Keputusan yang mengantar pada penyesalan ini ditampilkan dengan apik, bagaimana seorang matematikawan jenius ini sukses mencipta hitungan bom, tapi gagal menyelamatkan saudaranya sendiri. Stan menangis keluar rumah, tersayat fakta pedih, dan pingsan. Bukankah kita juga sering merasakan pahitnya keputusan salah? Tak serta merta di bangku sekolah cocok diaplikasikan di kehidupan. Dalam pelajaran Pancasila bilang; mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Kepahitan hidup dan segala rona-ronanya melindas apa saja yang ada di depan. Gagasan pasca perang tentang ketidaktaatan terbuka adalah tak lebih dari dongeng.
Sobatnya John von Neumann bahkan nantinya terkena kanker dan ungkapan kenyataan bahwa generasi kita akan digantikan generasi berikutnya, bahkan setengah abad kemudian orang-orang mungkin sudah melupakan kita membuat takut, walaupun disajikan dalam kegetiran, Adventures ditutup dengan manis, kedua sobat ini meyaksi mentari tenggelam di senja hari, tulisan-tulisan epilog muncul.


Perang Dunia II jelas telah membentuk dunia tempat tinggal kita, dan perlombaan senjata nuklir jelas membayang-bayanginya. Ledakan di Jepang secara langsung mencipta Indonesia merdeka, tangan Sekutu mencerabut Hirosima sekaligus membilas proklamasi di Jakarta.
Seperti kebanyakan kisah-kisah nyata, memang tidak lengkap. Ini hanya penggalan dari tahun 40-an sampai 50-an, masa penting sang ilmuwan itu dihabiskan di Amerika, beberapa hanya dimunculkan dalam narasi tulisan.

Diambil dari memoar Ulam, dan nyaris sepanjang film kita hanya tahu kulitnya saja. Rasa depresi yang disaji sepintas, amarahnya yang membuncah hanya sekali, mayoritas kita hanya mengikuti gerak polahnya dengan para sahabat, merumuskan masalah menyajikan senjata untuk memenangkan perang.


Pembukanya di New Meksiko jalan kaki di perbatasan di tengah alam, di akhiri dengan nada yang sama, di tengah alam tempat uji coba senjata menyaksikan matahari tenggelam. Lingkar kehidupan damai memang selalu dengan alam. Memesona, tenang, nyaman. Keruwetan pikiran ilmuwan hanya di meja-meja kampus, di laboratorium, saat kembali ke alam semua dilabur. Hidup di era manapun tak akan pernah mulus. Kita butuh perjuangan, apapun agar menjaga jalan berkerikil tetap bersih dengan sapu. Kisah Stanislaw Ulam memberi gambaran, sehebat apapun kalian, kita akan tergeser dan menjadi sejarah. Mari meninggalkan jejak yang baik buat generasi selanjutnya.


Adventures of the Mathematician | Year 2020 | Polandia | Directed by Thor Klein | Screenplay Thor Klein | Cast Philippe Tlokinski, Esther Garrel, Sam Keeley, Joel Basman, Fabian Kociecki, Ryan Gage | Skor: 3.5/5


Karawang, 051021 – Billie Holiday – Me, My Self, and I

Hello Ghost: Manfaatkan Masa Kini dengan Baik, dan Kau akan Ditempanya

“Apa yang kulakukan sekarang akan menciptakan siapa aku nanti.” Jean-Paul Sartre (1905 – 1980) dalam “Nausea”

Pentingnya menjaga kejutan tak bocor. Film lama yang sungguh nikmat dilahap saat kita tak tahu obsesi apa yang dijalani para tokoh ini, motif yang disimpan rapat sepanjang film dibuka jelang akhir. Segala yang tampak dan diperjuangkan, terlihat masuk akal, walau membantu hantu sendiri tak masuk akal. Hiburan sejati, seolah kita tercerahkan, ada hikmah yang bisa ditangkap saat credit title muncul, cieee…, di mana dukacita lama dipoles dan diubah menjadi harapan. Orang-orang di dimensi lain biasanya dalam film bisa mengamati kegiatan kita, lantas bila karakter utama kita bisa balik mengamati mereka, apakah semenakutkan yang dikira? Oh tidak, mereka orang-orang baik, maksudnya hantu-hantu baik dengan keingina aneh-anah sahaja, tak ada salahnya dipenuhi. Dan apa konsekuensinya? Harapan! Harapan adalah bahan bakar untuk mesin mental kita. Hello Ghost menawarkan air mata pengorbanan yang sangat pantas dipeluk seerat-eratnya, sehangat-hangatnya.

Kisahnya tentang Sang-Man (Tae-hyung Cha) yang gagal bunuh diri. Ia frustasi menjalani hidup, sebatang kara tertekan keadaan. Ada di titik lelah, disintegrasi pribadi. Berbagai cara dilakukan, terbaru, setelah minum banyak obat dan tak jadi mati, ia mengalami sejenis halusinasi. Hati kecilnya terjeblos ke dalam sunyi yang meresahkan. Di rumah sakit melihat hantu, bukan hanya satu tapi empat. Keempatnya meminta tolong padanya untuk melakukan hal-hal yang tak tuntas di masa hidup. Pertama seorang lelaki parlente sopir taksi (Chang-Seok Ko) dengan rambut sigrak pinggir dan hobi merokok. Ia semena-mena duduk di tempat tidur pasien. Ia jorok dan suka mengintip rok para perawat dengan melakukan tiupan hantu sehingga roknya terangkat terayun dikit. Hantu cabul dengan senyum genit nyaris sepanjang film. Hantu ini ternyata cukup arif, untuk menjaga agar kepribadiannya, kehidupannya (di masa lampau), perasaan-perasaannya, dorongan-dorongan keinginannya, tak terkuak langsung. Ia menginginkan kembali taksinya.

Kedua, seorang ibu (Young-nam Jang) yang menangis mulu. Ia hobi masak dan ingin menyediakan masakan keluarga spesial, melewatkan makan malam istimewa. Makhluk Tuhan yang menangis sampai terlelap kini bersiap-siap menguras air mata lagi dan lagi, sementara para tukang teriak pun akan segera kembali bersuara, dialah yang ketiga, seorang anak kecil (Bo-Geun Cheon) yang merengek minta ke bioskop dan makan permen segede ikan, dalam artinya sebenarnya. Terakhir lelaki tua (Moon-su Lee) berharap Sang membantunya menemukan kamera yang belum dikembalikan.

Karena Sang yang memang tak tahu mau ngapain lagi hidup, dan rasanya tak ada salahnya memenuhi harap para hantu gentayangan itu, serta ia ingin gegas terlepas dari kewajiban nyeleneh itu, (dan mungkin agar bisa segera mati tenang) maka satu per satu keinginan itu coba dikabulkan. Mereka ikut tinggal di apartemennya dan mengikuti kegiatan sehari-hari. Pikiran Sang jumpalitan ketika ia mulai diganduli, tapi itu belum seberapa, ia nantinya juga jadi penyampai pesan dari orang mati.

Dalam prosesnya, kita malah mendalami masa lalunya. Menemukan hal-hal umum, betapa hidup masih layak diperjuangkan. Apalagi ia jatuh hati sama perawat Jung Yun-Soo (Kang Ye-won), yang tentu saja memberinya ‘ada sesuatu di masa depan yang diperjuangkan’ seolah berbisik, ayooolaaahhh semangat. Cintanya bersambut, dan misi-misi itu segera dituntaskan. Roman mukanya yang bodoh itu memang tampak meyesatkan, hantu-hantu itu seolah tampak familiar dan mereka say hello, menyapa untuk tujuan mulia.

Lantas saat mendekati akhir, keheningan seakan berdenyut. Kita menemukan sebuah titik di mana mereka yang menghantui tak asing. Sang butuh beberapa detik untuk menyusun kepingan segala informasi itu, lantas saat ia menemukan klik, harus gegas sebelum terlambat. Saat kejutan ini ditampilkan di layar, dalam adegan dramatis berlari sebelum segalanya terlambat, kita malah menemukan hikmah yang pas dari film ini. Sayangilah mereka, orang-orang tercinta yang ada di sekeliling kita sebelum perpisahan ke alam berikutnya terjadi. Sedih ya? Ya, saya sampai menitikan air mata. Lega kan? Jelas. Hal-hal yang tak tuntas kini bisa ditutup kembali dengan rapat. Betapa berharga kesempatan. Betapa dunia fana yang ada batasnya ini begitu sempit, dan bersyukurlah semua orang yang memiliki kesempatan tumbuh dalam kasih sayang orangtua serta sanak famili.

Manfaatkan masa kini dengan baik, dan kau akan ditempanya. Suka sekali sama adegan akhir saat Sang dan Yun-Soo di kursi taman, seolah perjuangan sepanjang film ini dibayar lunas. Suasana taman masih tampak lembayung, dengan rona nada bahagia. Waktu seolah berjalan lambat dan menyebar. Nada-nada musik seakan-akan saling merenggangkan tanpa kehilangan tempo. Tidak semua film happy ending itu malesi, Hello Ghost justru film mencerahkan. Ide hantu-hantu baik yang menolong mengingatkanku pada Sartre tentang keberadaan. Ia pernah bilang, “Apa yang tersisa kalau Anda menyingkirkan warna, ukuran, bentuk, tekstur, dan baunya? Apa yang tersisa ketika Anda menyingkirkan emosi dan perasaan, rekaan dan gagasan fantastis? Ketika semua yang bisa Anda sebutkan hilang dan disingkirkan dari kehidupan, apa yang tersisa?” Sartre menjawab: keberadaan.

Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah. Maka akhir yang indah ini meluap-luap. Melegakan semua orang, keberadaan orang-orang tercinta di manapun berada di dimensi lain sekalipun.

Hello Ghost | Year 2010 | Korea | Directed by Young-Tak Kim | Screenplay Young-Tak Kim | Cast Tae-Hyun Cha, Ye-won Kang, Moon-su Lee, Chang-Seok Ko | Skor: 4.5/5

Karawang, 290921 – Billie Holiday – A Foggy Day

Rekomendasi Lee, Thx.

The Guilty: Instruksi-instruksi Tak Kasat Mata

“Tidurlah dengan manis, tenangkan hatimu, dalam damai.” – Puisi Tennyson

Seluruh isi fiksi adalah wajah. Namun bagaimana kalau kita tak pernah langsung melihat wajah lawan bicara? Bagaimana plot disusun suara dua arah, tapi satu sisi wajah? Cerita hanya dalam satu tempat. Sebuah ruangan layanan kontak darurat 112 di Denmark. Ia menjawab telpon, memberi instruksi, menasehati, sampai memaki-maki. Karena hanya berdasarkan suara, kita tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di seberang. Kita hanya bisa menduga-duga, dari intonasi, dari gaya ucapan, dari tempo dan jeda suara. Dan nyatanya, sang jagoan kita tertipu. Saya tidak…

Kisahnya tentang Asger Holm (Jakob Cedergren), polisi petugas penjawab layanan telpon darurat. Jelang akhir shift dua, ia mendapat telpon dari seorang wanita bernama Iben Ostergard yang meminta tolong, ia diculik. Kedua anaknya di rumah, dan ia tak tahu sedang di mana sebab ia disekap dalam mobil. Sang penculik memberi kesempatan buatnya telpon kepada anak, dan ia secara sembunyi meminta bantuan. Dalam hati penonton pasti bergumam, Apakah ia cukup kuat untuk membongkar sebuah kasus penculikan?

Dengan akting bahwa ia menelpon anak, Asger membantu mengarahkannya. Identitas penculik, keadaan rumah, mobil yang dikendarai. Ada Mathilde, lima tahun dan adiknya Oliver di rumah, dua balita yang dihubungi Asger untuk tetap tenang dan akan dikirim petugas. Lalu Asger meminta petugas untuk memblokir mobil van putih di sekitar sinyal lokasi kejadian.

Dengan menegangkan petugas melakukan pengejaran. Dan hasilnya nihil, sebab mereka salah mobil. Asger termenung, kesal dan menunggu panggilan telpon. Ketika ada telpon darurat lain, ia dengan tegas dan gegas menutup. “Kamu jatuh dari sepeda, cari bantuan sekitar. Ke klinik kek, ke orang-orang terdekat kek.” Hahaha… esmosi. Itulah hebatnya, kita menikmati suara-suara dan merasakan ketegangan yang dicipta.

Saat hubungan dengan Iben terjadi lagi, ia meminta lebih detail kejadian dan posisi, ia gegas melaksanakan tugas mulia: membantu korban penculikan. Saat jam shift jaga sudah selesai, ia tak lantas pulang. Ada yang harus diselesaikan, ini menyangkut nyawa manusia. Ia malah masuk ke ruangan, ditutup gordennya, fokus mengubungi sana-sini, menanti hubungan sana-sini. Ia bicara dengan senyum kecut. Itulah yang membuat seorang polisi dipandang baik, insting yang tajam.

Film berakhir dengan klimaks luar biasa. Kekuatan bicara dan mendengarkan, mengantisipasi, memaknai. Apa yang kita pikir tak seperti kenyataan yang disangka. Orang-orang boleh saja memaknai, ini ide menipu penonton, nyelimur, membelokkan makna, menyiman kata-kata kunci. Hingga akhirnya adegan di jembatan menjawab segalanya. Ok, niat baik sudah dihitung pahala, niat mulia Asger sudah patut diapresiasi, ujung kisah yang pahit hanyalah goresan kecil luka kehidupan dunia yang fana. Emosinya membanting-banting ganggang telpon wajar, kemarahannya memporakporandakan meja kerja juga sangat bisa dimaklumi. Ia sudah menjalankan tugas sebaik-baiknya seadil-adilnya. Saya sudah menduga akan akhir yang mengejutkan. 

Ide menipu penonton dengan mencipta pening penonton, satu setengah jam menyaksikan orang ngobrol di telpon. Serasa lebih membosankan daripada di toilet? Impian-impian liar, fatamorgana, kegilaan akan surga dijanjikan dengan air jernih yang mengalir di taman-taman hijau. Suara-suara dalam kesunyian, maka untuk mengakhiri hukuman di dunia ini, mati adalah solusi. Sedih? Ya. Menakutkan? Ah, kita hanya menjadi saksi pembicaraan. Mungkin bisa menghanyutkan dari percakapan-percakapan itu. Namun, tak sulit menebak, arah pandang kisah. Ingat, Iben menghubungi mengaku korban, saat sisi lain menjawab kita bisa mengantisipasi ada janggal. Normalnya ia langsung mengaku status suami ‘korban’, tapi tidak, plot digulirkan untuk mengelabuhi Asger (dan penonton). Hanya keheningan biru yang tenang. Hanya air yang bergerak di sekitarnya. Dunia dengan segala isinya hanya sementara. Kembali lagi, ilusi mimpi diapungkan, kali ini di atas jembatan.

Instruksi-intruksi tak kasat mata, mengingatkanku pada kisah Tom Hardy dalam Locke yang ngegoliam sepanjang film di mobil, memberi instruksi, menyarankan kata-kata, mengalami dilemma. Kali ini petugas polisi yang jadi korban. Sampai akhirnya sang protagonist tahu sebuah fakta, kebenaran yang menggelisahkan, sebuah kesadaran bisu bahwa di hadapan keluasan tanpa batas, segala yang kita kasihi sekejap menjadi hampa. Larut… kecewa… pulanglah… pergilah…

The Guilty | Original title Den Skylide | Year 2018 | Denmark | Directed by Gustav Moller | Screenplay Gustav Moller, Emil Nygaard Albertsen | Cast Jacob Cedergren | Skor: 4/5

Karawang, 170921 – Diane Schuur – The Man I Love

Meandre: Kekosongan Diam dalam Pipa itu Bernyanyi

“Tabahkanlah hati dan berusaha tetap hidup, karena akan datang suatu hari di mana engkau akan merasa berbahagia dan menghargai hidup.” Alexandre Dumas dalam Monte Cristo

Kecuali di adegan pembuka penculikan, Meandre hanya berkutat di lorong labirin yang sesak. Seperti The Maze Runner yang mencari jalan keluar setelah berkutat di hutan labirin, seperti Oxygene yang sendiri bertanya-tanya sedang di mana dan apa yang terjadi, seperti pula Saw, manusia diculik untuk disiksa dalam permainan. Jelas idenya tak baru, eksekusi sama ganjil dan ngilunya. Rasa-rasanya ingin menyerah dalam kesesatan, capek melihat cewek disiksa penuh tanya, bukan hanya mental tapi secara fisik benar-benar tersakiti. Maksudnya apa?! Pemeran Cuma satu, perangkap dalam labirin. Menebak jalan tikus, atau mati. Membosankan…

Kisahnya dibuka dengan bantuan tumpangan mobil dari orang asing kepada Lisa (Gaia Weiss), setelah basa-basi sedang apa dan apa yang terjadi sehingga ia tenyepi jauh dari kota, dari radio terdengar kejahatan penculikan. Dan ciri-ciri sang buronan cocok sama penolongnya, baku hantam bentar lalu layar gelap. Apes benar, masuk ke kandang macan.

Lisa terbangun di sebuah kotak, dengan baju swit olahraga putih berseleret hitam membalut, tangan kanannya bergelayut gelang bercahaya dan tertera waktu mundur, kebingungan atas apa yang terjadi, ia lantas mencoba mengenali keadaan sekeliling. Sebuah lubang terbuka, ia masuk merangkak, lalu tertutup, tak bisa kembali. Lisa merangkak maju, gelang itu berfungsi sebagai cahaya dan penghitung jebakan muncul.

Bahaya pertama datang, pemancar api muncul di sela-sela lorong, detik bergerak, Lisa gegas masuk ke dalam kotak darurat. Semburan api muncul seketika. Selamat. dan seterusnya. Ia akan diberi waktu di tiap lorong labirin, lalu gegas menyelamatkan diri. Berikutnya ia menemukan mayat gosong, air yang melimpah, penjepit beton, memori yang ditampilkan layar, sesosok robot gantung yang menambal lukanya, hingga cara penyiksaan lain.

Pertanyaan utama mungkin adalah apakah ia selamat, rasanya melelahkan sekali menjadi Lisa seolah ingin menyerah sahaja. Namun tanya itu tak harus dijawab, sebab intinya memang bukan itu. Persepsi yang dibangun adalah, permainan dengan taruahn nyawa. Senang-senang orang gila. Labirin itu memberi klu di tangan dengan tanda merah menyala “XXΔ” yang tertera di tangan kanan di bawah gelang lampu semua korban. Rute selamat yang sudah beberapa kali dijelaskan tapi ya tetap saja menyakitkan, melelahkan, capek bos. Perasaan bak lari sepuluh kilo dengan kecepatan konstan, tapi treknya tak luruh. Penuh duri, gelombang, tekanan dari pelari atau pengendara lain. Benar-benar ngos-ngosan. Lisa berdiri di bibir jurang penderitaan abadi.

Meandre sendiri adalah kata dalam bahasa Prancis yang artinya Mengerikan. Cocok sama genre yang ditawarkan, tapi tak cocok ditonton dengan nyaman. Kebanyakan psikopat memang manusia gila, memasukkan manusia lain untuk mainnya dengan nyawa taruhannya. Memberi waktu untuk memecahkan misteri, atau mati. Lisa jelas bukan korban pertama sebab beberapa mayat ditemukan. Korban seolah diambail acak, seperti Lisa yang awalnya menolak dibantu, ia menjawab dramatis setelah mobi bergerak lima meter, teriakannya yang jelas sangat disesalinya.

Gaya slasher adalah genre paling akhir yang mungkin kutonton, menonton film adalah untuk hiburan, bukan untuk disiksa. Meandre menawarkan siksaan gila, mengerikan. Membayangkan manusia ditempatkan dalam labirin berbahaya saja sudah tedengar gila. Teknologi ditemukan untuk kebaikan umat, bukan untuk menyengsaralan., apalagi menyiksanya. Keputusan kutonton sendiri, saya klik asal sebab akhir pekan kemarin waktu melimpah pas jemput Hermione di rumah neneknya.

Pipa labirin yang diselubung adalah pemecah kode morse yang saya sendiri tak akrab. Apapun itu, ide menyiksa manusia sudah tak akan bisa memikatku. Tema gore dengan adegan siksa tersurat, hanya untuk orang gila. Kekosongan diam dalam pipa itu bernyanyi di telinga Lisa, dan mengantar penonton yang tersiksa. Cukup. Cukup sudah, ini benar-benar mengerikan.

Meandre | Year 2020 | Prancis | Directed by Mathieu Turi | Screenplay Mathieu Turi | Cast Gaia Weiss | Skor: 3/5

Karawang, 150921 – Diana Krall – I’ve Got You Under My Skin

After Love: Kami Merindukanmu bak Halilintar

“Bersamaku membuatnya merasa menjadi suami yang baik untuk orang lain. Ini membuatku sedih” – G

Kesedihan terdalam adalah mengingat kebahagiaan masa lalu. Cerita cinta yang hilang dan respon menghadapinya. Drama dengan kekuatan akting dikedepankan, karena ceritanya sederhana, kalau dibagi dalam babak ada tiga: kehilangan, pencarian dan penemuan fakta, legowo. Dunia duka dengan segala isinya. Kematian mendadak orang terkasih memicu tanya beruntun saat menemukan isi chat mesra di HP almarhum. Menemukan sebuah kartu identitas wanita lain diselipkan dalam dompet, dan inilah inti dari After Love, perjalanan menemukan jawaban kehidupan lain sang suami. Ini kisah tentang tautan dua wanita dalam satu hati lelaki.

Kisahnya dibuka dengan tenang, Mary (Joanna Scanlan) seorang muslim keturunan Pakistan dan suaminya Ahmed (Nasser Memarzia_ menyatakan diri kepada istrinya dengan identitas: Love), kapten kapal feri jalur Dover – Calais. Mereka tinggal di Dover, Inggris. Mereka pulang dari kondangan. Sang istri melepas hijab, memanaskan air untuk ngopi, mencuci gelas untuk persiapan. Membuka berkat, “apakah isinya ada daging?” oh tidak ada hanya lauk dan sayur. Sang suami duduk santai di ruang tamu, sembari nunggu untuk kopi disajikan, ia membuka HP dan bicara sambil lalu.

Lalu tiba-tiba ia meninggal dunia. Jangankan yang mendadak, orang sakit keras bertahun-tahun saja masih banyak yang tak siap menghadapi kematian. Adegan berikutnya menyaksi penyajian doa bersama yaa siin-an dan hulu ledak tangis dalam duka.

Barang-barang almarhum dirapikan, lantas menemukan kejanggalan. Chat tak selesai dengan wanita bernama Genevieve (Nathalie Richard), di kontak diberi nama ‘G’. Kartu identitasnya ada dalam dompet. Jadi selama ini suaminya selingkuh dengan wanita Prancis hingga memiliki anak. Mary yang kini sendirian lantas menyelidiki sisi lain hidup belahan hatinya. Berkendara jauh ke apartemen Gene, mengikuti rute feri tempat kerja almarhum, lantas menjelma tukang bersih-bersih, tenaga bantu, Sabtu ini mereka akan pindahan.

Hubungan mereka menghasilkan seorang anak lelaki Solomon (Talid Ariss) yang suka memberontak, di usia remaja dengan pikiran liarnya. Betapa ia merindukan kasih sayang seorang ayah. Ia pernah kabur dari study tour ke Dover untuk bertemu ayahnya. Setelah berhari-hari menjadi pendengar dan pengamat keluarga, mereka belum  juga mengetahui identitas asli Mary. Karena memang Mary-lah yang mengorek kehidupan. Hal-hal tabu diungkap, suaminya minum minuman keras tampak saat video kenangan diputar di tv, ideologi Gene bahwa ia memang jadi WIL, tapi semua ga papa kok. Setelah itu, perhatikan gesture Mary, menggeleng dan ekspresi tak percaya! Terdeteksi getar halus rasa sedih dan marah dalam nada suaranya. Benaknya kosong dari pikiran apa pun, seakan-akan berpikir adalah sebuah kemewahan.

Gene dan Ahmed tak menikah, walau dalam Islam diperbolehkan poligami. Gene tak mempersalahkan berbagi suami, jelas muncul tekanan di sana tapi ya ngalir aja, menyadari status ia pacaran sama suami orang. Ya Mary sedih, tapi rasa sedih itu menjadi sangat saat menemukan fakta bahwa Solomon menjalin kasih sesama jenis, ini jelas menghancurkan hati setiap ibu. Ia yang memimpikan seorang anak, menemukan anak suaminya memiliki penyimpangan seksual sungguh mencipta pilu.

Semakin hari, Mary semakin mengerti mengapa suaminya memiliki sisi lain. Mereka tak punya anak, ia gendut, ia kurang cantik; ditampilkan dengan galau dalam cermin tatapan pasrah, ditampilkan pula dalam pembaringan pasir dicium ombak bak paus terdampar. Ia tak lugas dalam diskusi ilmu, ia memang taat ibadah dan selalu salat, bahkan menangis dalam sujudnya. Namun ia juga menyadari penampilan dan kepribadian wanita lain yang lugas dan terbuka, hingga fakta-fakta kecil bahwa kekurangan yang ada di dirinya bisa ditemukan dalam selingkuhannya. Singkatnya mereka melengkapi.

Hingga akhirnya, Mary mengakui statusnya, nama Islamnya Fatima, identitas yang diketahui Gene, lantas ledakan amarah tersaji, keduanya marah, keduanya kesal. Mary menyampaikan kematian mendadak Ahmed, mereka tak siap, HP-nya ditelpon, ada dalam tasnya, dan kekalutan itu wajar, memang pantas membuncah, waktu juga yang mengantar mereka kembali membumi karena dunia terus berjalan, dan setelah kepergian Cinta, ada hal-hal yang laik diperjuangkan, diperbaiki. Fakta mengembuskan napas kekhawatiran dan juga kelemahan, yang dapat membelenggu dan juga membebaskan.

Ini drama sentimental, Mary bercerita masa pacaran pada ‘anaknya’ bahwa zaman dulu komunikasi pakai surat, membuat rekaman kaset pita untuk dikirim dan diperdengarkan bila rindu melanda. Klasik. Tak seperti sekarang, dengan HP kendala rindu menjadi sederhana untuk disampaikan. Nah, berkali-kali kita menjadi Mary untuk mendengarkan rekaman voice mail dari Love. Pesan-pesan sederhana sehari-hari, Mary menikmatinya sebagai kenangan yang sungguh bernilai, sedikit mengobati rindu. Ini jadi adegan touching sekali, saat pesan suara itu hangus. Fufufu… begitu juga saat menemukan pakaian-pakaian almarhum, diciumi, dipeluk. Hal-hal sentimental yang rasanya tak bisa dengan mudah dilepas, termasuk bau khas baju tersebut. Rasanya sayang, karena setelah dicuci arti jejak itu hilang, menguap. Kami merindukanmu bak halilintar.

Sempat memunculkan tanya, “Kapan terakhir kali kalian salat hingga sesenggukan meneteskan air mata?” Lupa saking jarangnya? Banyak alasan untuk menangis, banyak cara mendekatkan diri dengan Yang Mahakuasa, betapa lemah dan rapuhnya manusia.

Banyak sekali pengambilan gambar alam disajikan. Lautan dengan ombaknya, pohon-pohon hijau yang berkejaran saat naik bus, angin berdesir menyapu ombak, dengan sang protagonist tiduran di pasir pantai, dibelai ombak, diraba hembusan. Langit cerah yang menawarkan obat duka, hingga rentetan butir debu berterbangan jatuh dari langit-langit. Semua ditampilkan dengan lembut seolah penting, seolah hal-hal kecil yang ada di sekitar kita menyokong kehidupan fana ini. Mary duduk di kursi depan rumah, melihat kegiatan di sekitar dengan HP di tangan saja sudah tampak menarik, sebab kamera sesekali mengambil dari depan yang artinya Mary menonton penonton, menampilkan kerutan kening kesedihan di wajahnya. 

Walau disesaki kisah duka, pada akhirnya ceritanya selesai dengan bahagia, semua berdamai dengan keadaan, berziarah, mendoakan, memaklumkan. Ini berkebalikan dengan awal mula saat fakta-fakta pahit diungkap, saling marah saling tampar, saling teriak. Alih-alih berusaha mengubah riak-riak konfliks dari sesuatu yang asing dan artifial, After Love membiarkan adegannya mengalir sendiri dari dalam pikiran, lantas kamera menyorot mereka bertiga di tepi pantai, menjauh perlahan seolah mengucap ‘Goodbye‘ guna menutup film.

Mereka akhirnya menyerahkan diri pada ketiadaan beban.

After Love | Tahun 2020 | Inggris | Directed by Allem Khan | Screenplay Allem Khan | Cast Joanna Scanlan, Nathalie Richard, Talid Ariss, Nasser Memarzia | Skor: 4/5

Karawang, 150921 – Shirley Horn – I Got Lost in his Arms

Rekomendasi Lee, Thx.