Sai Rai – Dicky Senda

Sai Rai – Dicky Senda

Kau percaya Tuhan? Kalau begitu berdoalah supaya gemetar di tubuhmu hilang. Berdoalah agar kepedihan ini usai.”

Kumpulan cerpen yang sulit dinikmati. Saya pernah bilang, puisi yang ritmis yang berderet sajak nan merumitkan diri itu kurang nyaman untuk dibaca. Mau nyaring, juga mau bacakan buat siapa? Mau lirih, rasanya konsentrasi akan buyar lalu menguap membuat mata mengajak lelap. Buku pertama Dicky Senda yang kubaca ini membuat rumit dirinya sendiri. Pilihan kata-katanya memang bagus, dipilah dengan teliti, disusun dengan intensitas yang tak biasa. Namun tetap, bagi penikmat buku-buku fiksi, cerita adalah segalanya. Butuh konsentrasi lebih untuk menuntaskan tak lebih dari 200 halaman, hasilnya? Dunia yang tak familiar yang ganjil dan benar-benar tak nyaman sampai tetes terakhir.

#1. Suatu Hari di Bioskop Sunlie
Sudah aneh sedari pembuka. ‘Sering aku bermimpi jadi sutradara yang memainkan sendiri filmnya dan aku terus membunuh orang hingga berada di societeit, sebagai satu-satunya warga asli setempat.’ Tentang obsesi, tentang sebuah karya gambar gerak dalam bayang kepala. Bagaimana jika bapakmu dulu ikut membunuh para tahanan yang dituduh terlibat jaringan kiri tanpa ada pengadilan?

#2. A’bonenos dan Perempuan yang Agung
Perempuan agung yang diberi kuasa penghubung dunia akhirat dan Aku, pasrah mengganti isi kepala karena keriput serta tua bijak. Atas nama rasa yang entah semuanya pelit bersuara. Ritual agung yang dituturkan dengan berlarut dengan cabang makna. “Kawanan belutlah yang mencuri tubuh perempuan ini.”

#3. Naga
Sudah menjadi rahasia umum bahwa ayahlah yang memelihara pelangi. Banyak cara memaknai fenomena alam, ujung pelangi itu menemu sungai, air sungai yang digunakan sapi-sapi ayah buat melepas dahaga. Muntahan air maninya menyerap tanah-tanah di sawah, dari pertanian itulah Saya kuliah agar bisa melihat dunia. Penjelasan paragraf yang imajinatif-kan.

#4. Sutradara yang Memainkan Sendiri Filmnya
Perempuan di atas tanah itu adalah titisan bidadari. Dan kita diperkenalkan Leon, nama karakter yang akan sering dipakai sang Penulis. Kali ini dia menjelma sebagai sutradara sekaligus pemainnya. Lalu siapa lelaki itu.. Lalu siapa tiga perempuan itu?

#5. Wedang Uwuh untuk Saudara Baru
Ditulis di Imogiri tahun 2015, sejatinya ini hanya cerita sambutan saudara baru (atau teman-lah yang akrab hingga disebut saudara?) dengan suguhan wedang uwuh. Minuman tradisional Jawa Tengah dan DIY yang berisi daun, batang ranting, gula batu, cengkih sampai kayu manis. Ga ada yang istimewa, hanya kata-katanya dipilih dengan tak umum, mencoba membuatnya tersesat sendiri.

#6. Dua Ruangan dengan Seribu Ular
Sebenarnya bagus ceritanya, sayang cerita pendek yang sangat pendek sehingga kita baru akan memasuki fanatsi yang dicipta kita sudah diminta keluar lagi. Dua ruang yang tersekat, yang tak boleh saling membuka atau mencipta lubang sekalian pintu karena ternyata ada talian darah. Sama saja sih, sederhana tapi merumit sendiri.

#7. Tentang Kamar, Penyihir Bermata Kuning dan Rasa Gelisah
Kau terus berbohong. Mengarang kisah demi kisah palsu tentang kegiatan menulismu, sebenarnya tidak kau lakukan. “Kau bisa bicara panjang lebar, tetapi apa adanya ketimbang berdusta. Bilang pada teman di media sosial bahwa kau sedang membaca buku ini, menulis ini, bla bla bla, padahal nyatanya tidak.” Ini salah satu yang terbaik sih, tentang proses kreatif, rasa gelisah ga bisa menuntaskan target yang tercanang hingga bayang-bayang sang penyihir yang mengikuti.

#8. Batu yang Menangis dan Melahirkan Seribu anak Sungai
Menangis akan menyelamatkanmu dari kegilaan dunia.” Terlalu banyak simbolis yang tentunya akan menafsir kelok. Tentang dongeng, penyihir, perempuan adat sampai makna budaya setempat. Bagaimana kita mengingin jiwa yang bersorak diliputi suka cita sebab air kehidupan tak henti mengalir.

#9. Mok dan Kucing-kucing Tak Bernama
Seekor anjing jantan bernama Mok yang dipelihara kakek. Ketika anjingnya mati dan sang kakek memelihara lagi seekor, ia akan memberi nama Mok lagi, dan lagi dan lagi. Nenk memelihara tiga ekor kucing, merawatnya dengan kasih sayang dan makanan berlebih membuat malas dan manja. Sang aku adalah cucu yang rumahnya berjarak kiloan yang tandang dan heran dua jenis hewan saling padu, bagaimana pemiliknya jua?

#10. Bagaimana Jika Para Istri dan Gundik Ayah Adalah Berbagai Jenis Hewan dan Tumbuhan
Ayahnya setelah pensiun bisa bahasa binatang dan tumbuhan. Menolak jabatan strategis desa demi menjadi petani. Tinggal berminggu-minggu di swah, ditemani angin lembah, suara sungai, dan burung-buurng. Menghabiskan masa tua dalam ketenangan alam. Kalau ayah punya selingkuhan, kukira ia akan bersama padi dan burung-burung atau pacar seekor sapi Timor. Ini bisa jadi cerpen terbaik, bak nabi Sulaiman yang punya bala bantu ribuan binatang dan jin. Demi dewa babi, aku ingin Sophia Latjuba ada di sini sekarang juga.

#11. Orpa
Kakak-beradik merantau, mereka yatim piatu setelah ayahnya gantung diri, ibunya mati mengenaskan jadi korban biadap kepala desa yang korup. “Aku anak lelaki, aku harus merantau. Aku harus membayar belis Naomi dengan harga mahal.” Namun tanah waris tak jatuh ke anak perempuan. Jadilah mereka pergi semua. Inilah kisah tragis sebuah keluarga yang diceritakan penuh simbolis. Orpa – istri yang malang.

#12. Liuksaen dan OPK dan Kisah Lainnya
Sebab mulut lebar itu adalah modal pendongeng. Kekuatan yang serba mistis hanya mampu dilawan dengan kekuatan serbamistis pula. Ini kisah saduran Tom Sawyer, bagaimana tokoh Mark Twain itu bersenang-senang di malam hari bersama sobatnya di tanah kubur lalu tak sengaja menjadi saksi pembunuhan. Begitulah, Leon hanya menyadurnya dalam pencarian barang berharga dalam goa dengan latar politik warna kuning.

#13. Maet Mone
Kawan kau akan tahu makna kehilangan yang sebenarnya ketika kau benar-benar kehilangan seseorang yang kau cintai. Orang yang paling dekat di hatimu.” Kita tak akan pernah tahu kapan orang-orang terkasih akan pergi meninggalkan kita selamanya. Dengan setting kecelakan motor, Ficus dicipta untuk menghantui sepuluh malam berikutnya.

#14. Memento
Nostalgia di Larantuka adalah kenangan Perempuan Gunung Api dan Lelaki yang menghujam langit biru. Menunggu kedatangan seseorang yang pernah melekat di hati, tak kunjung usai rasa nanti itu. Melukis memang kegiatan meracap ingatan, membalur ketrampilan. Tunggu aku di langit, sayang.
Dan aku mengingatmu melebihi ingatan masa kecil kita di Kupang.

#15. Misteri Kaleng Susu di Kebun Pisang Nenek Min
Sebuah kenangan akan tempat yang hangat, di pinggir sebuah danau yang berdekatan dengan bukit sepasang yang puncaknya melelehkan air susu. Cerita mistis yang memang menuntut pikir. Sehingga jika di rumah itu ada tiga ekor kucing maka pada waktu tertentu dalam kalender yang ia pakai akan menajdi kucing keempat, yang terkuat dan pamungkas untuk menggalau kekuatan apapun.

#16. Pohon-Pohon yang Dibunuh Tim Doa
Siapa yang memperdulikan kita? Hah, ya kita sendiri. Kau harus merelakan kenyamanan hidup untuk sebuah tujuan mulia. Ini sebenarnya kisah tragis, bagaimana kemiskinan menikam para kaum papa. Pohon beracun serta kumpulan doa memusnah makhluk hijau bernama tumbuhan.

#17. Sai Rai: Lelaki yang Meninggalkan Bumi
Kau kini kukenal sebagai Sai Rai, lelaki yang meninggalkan bumi. Lelaki yang sedang ditunggui perempuan cantik. Tentang korban terpilih untuk kesuburan tanah di seluruh kampung dan tata cara penyiapan sesajen untuk Arwah Alam. Tentang kesadaran dan buah pikir Rai yang telah meninggalkan bumi kini kembali dalam suci bentuk ular hijau. Persembahan warga untuk para leluhur.

#18. Pulang ke Barat dari Hanga Loko Pedae
Untungnya setelah berpusing ria berlarut-larut dalam bahasa ngawang-awang, cerita penutupnya bagus. sangat bagus malah. Siapa yang meragukan kata-kata Pendeta di kampung udik seperti ini? Tidak ada. Sungguh tipis membedakan mana firman Tuhan mana suara Pendeta. Perjalanan arwah dengan analogi pelayaran di laut. Mistis, seram, dan memang penuh makna.

Hampir semua cerpen tiap ganti segmen ganti paragraf memakai ikon kamera roll, seakan memang buku ini dinukil dari bagian-bagian film. Terlalu banyak kata senja, gerimis, penyihir, kata-kata asli Timor dan mencoba puitis dengan kalimat-kalimat panjang tak langsung. Diksi yang mewah tanpa menggurui sebab Pembaca dibiarkan mencari pemaknaan sendiri. Boleh saja, tapi lagi-lagi Cerita yang utama. Sebagian hebat, sebagian standar ala kadar, sebagian besar butuh tafsir lagi. Yang jelas, ini kumpulan cerpen yang tak biasa.

Christiano Dicky Senda lahir di Desa Taiftop, Mollo, Timor Tengah Selatan pada 22 Desember 1986. Penggiat Lakoat.Kujawas di desanya. Setelah lulus kuliah menjadi psikolog lalu sebagai konselor pendidikan, ia pulang kampung. Mencipta karya, membuat diri berguna untuk sesama. Menantang kaum muda yang punya ide kreatif untuk mewujud mimpi.
Ini adalah buku pertamanya yang kubaca, terlihat aneh, ga akrab di otak dan rumit. Sejenis surealis mistis kearifan lokal, Indonesia Timur. Lebih tepatnya dari Timor, NTT serta Timor Leste. Cerminan adat yang eksotis, banyak hal yang butuh telaah seperti naungan kepercayaan leluhur atas makna hidup. Hampir saja bilang, semua cerpen terlihat mirip, mungkin karena gaya bahasanya, mungkin karena kisahnya yang absurd, mungkin juga sebagian kisah berlanjut. Seperti kisah Mok dan tiga kucing, kalian akan menemukannya lagi di cerpen berikutnya. Atau kisah Leon, karakter Aku yang berulang dijadikan tokoh dominan dalam bernarasi. Sejatinya ini buku akan lebih nikmat dibaca lagi, dan lagi. Bukan hanya sekali lewat, sebab ya memang gaya bahasanya yang tak lazim. Semakin dibaca ulang, akan menemukan percabangan, akan menemukan jalur-jalur kecil lain yang menyasar serta menggelitik.

Struktur kata terpilih seperti ini memang tak mudah dicerna dalam sekali baca, tapi bukankah Penulis itu tujuannya memang membawa Pambaca tersesat dalam labirin lembar-demi-lembar sehingga semakin kebingungan semakin sukses? Semakin terkejut semakin antusias? Betapa lega ketika jalur exit itu ditemukan, nah hebatnya pintu exit buku ini memberi beberapa tanya. Yang kalau dinalar lagi, wah saya baru saja naik wahana yang bikin mendebar, memberikan kepuasan yang aneh.

Peluang lanjut ke lima besar sangat terbuka, apalagi di kover belakang langsung dipuja Richard Oh. Good luck.

Sai Rai | Oleh Dicky Senda | 571710057 | Penyelia naskah Septi Ws | Penyunting Norman Erikson Pasar Ribu | Desainer sampul Tim Desain Broccoli | Copyright 2017 | ISBN 9786024523985 | Cetakan pertama, Oktober 2017 | Penerbit Grasindo | Skor: 3.5/5

Karawang, 25-260918 – Sherina Munaf – Pergilah Kau

Diketik setelah subuh, tengah pekan dengan dua gelas kopi berteman sederetan lagu Sherina Munaf – Gemini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s