Cogito Ergo Sum

Diskursus & Metode by Rene Descartes

Mulai saat itu saya menganggap semua pendapat saya salah, untuk mengujinya kembali, saya yakin bahwa jalan terbaik adalah mengikuti orang-orang yang paling bijaksana.”

Buku pertama Rene Descartes yang kubaca, filsuf dan matematikawan Prancis, yang sering disebut sebagai Bapak Filsafat dan Matematika Modern. Riwayat hidupnya tentu sudah sering kita lihat di berbagai literasi, terutama filsafat. Dari Buku Diskusus dan Metode ini, kita mendapati pemikiran beliau yang menarik, alasan-alasan menulis sampai semacam menyelamatkan kebenaran. Di atas sesuatu yang demikian rapuh, tidak mungkin dibangun sesuatu yang kokoh.

Terdiri atas enam bagian. Pertama tentang ilmu pengetahuan. Sebab memiliki daya nalar yang baik tidaklah cukup, yang lebih penting adalah menggunakannya dengan baik. Orang-orang yang bernalar tinggi mampu melakukan hal-hal yang menakjubkan. Yang kasat mata, kasat pikir itulah reasonable, maka itu pula yang bisa disebut benar.

Kedua tentang kaidah pokok perihal metode yang diteliti pengarang. Dengan memakainya saya yakin telah menggunakan nalar saya dalam segala sesuatu, kalau tidak secara sempurna, setidaknya sebaik mungkin. Dengan menerapkan metode ini, daya pikir saya sedikit demi sedikit terbiasa melihat objek-objeknya secara teliti dan lebih jelas.

Ketiga tentang kaidah moral yang didasarkan atas metode tersebut. Rumus kaidah moral ada tiga: Pertama, mematuhi undang-undang dan adat istiadat negeri saya, dan berpegang teguh agama yang dianut sejak kecil.

Kedua, Bersikap setegas dan semantab mungkin dalam tindakan saya, dan mengikuti pendapat yang paling meragukan secara sama mantabnya sebagaimana mengikuti pendapat yang sangat meyakinkan. Saya menjadi bebas dari segala rasa sesal dan kecewa yang biasanya menggoncang pikiran orang yang bernalar lemah dan bimbang.

Ketiga, berusaha mengalahkan diri sendiri daripada menunggu nasib; mengubah keinginan-keinginan sendiri, dan bukannya merombak tatanan dunia. Tidak ada satu pun yang berada di bawah kekuasaan kita sepenuhnya kecuali pikiran kita. Semua kebaikan yang ada di luar kita pun berada diluar jangkauan kemampuan kita.

Keempat tentang penalaran-penalaran yang membuktikan keberadaan Tuhan dan jiwa manusia. Tentu saja gagasan tentang Tuhan dan jiwa tidak akan pernah dicercap oleh indera. Jiwa manusia secara kodrati tidak tergantung pada badan, sehingga tidak mungkin mati bersama dengan kematian badan. Tidak ada sebab-sebab lain yang menghancurkan jiwa, dengan sendirinya manusia akan berpendapat bahwa jiwa itu abadi. Ketidakbenaran dan ketidaksempurnaan berasal dari Tuhan sama kontradiktifnya dengan pendapat yang mengatakan bahwa kebenaran atau kesempurnaan berasal dari ketiadaan. Kodrat berpikir berbeda dengan kodrat badaniah. Saya adalah subtansi yang seluruh esensi atau kodratnya hanyalah berpikir dan untuk keberadaannya tidak memerlukan ruang sedikit-pun, dan tidak bergantung pada benda materi apa pun.

Kelima tentang urutan masalah fisika yang ditelitinya. Diperlukan latihan panjang dan meditasi yang lama dan teratur untuk membiasakan diri memandang segala sesuatu dari sudut pandang itu (sehat dan baik). Bukan berdasarkan penalaran yang lemah melainkan berdasarkan penalaran yang jelas dan pasti. Meditasi, begitu abstrak dan di luar kelaziman. Indera kadang kala menipu kita, apa yang biasa dibayangkan oleh indera kita itu sebenarnya tidak ada.

Keenam tentang prasyarat untuk lebih maju dalam penelitian alam, dan alasan-alasan yang mendorongnya untuk menulisnya. Pikiran-pikiran yang datang dari mimpi lebih tidak benar daripada pikiran lain, padahal pikiran dalam mimpi seringkali lebih hidup dan nyata. Apakah kita terjaga atau tertidur, sekali-kali kita tidak boleh yakin kecuali atas dasar kejelasan nalar. Setiap orang harus memberikan sebanyak mungkin yang dimilikinya untuk kesejahteraan orang lain, dan kita sebetulnya tidak bernilai jika tidak berguna bagi siapapun.

Kelebihan atau kekurangannya hanyalah menyangkut hal-hal sekunder, dan sama sekali tidak terletak dalam subtansi, atau kodrat individu-individu dari jenis yang sama. Jika di antara kegiatan manusia yang murni sebagai manusia ada satu yang benar-benar baik dan perlu, saya berani berpendapat bahwa itu adalah kegiatan yang telah saya pilih. Boleh saja Anda sebut dongeng yang mengandung contoh-contoh yang tidak patut ditiru.

Buku yang berisi ilmu yang menarik perhatian atau langka, yang kebetulan jatuh ke tangan saya. Membaca buku yang baik itu bagaikan mengadakan percakapan dengan cendikiawan yang paling cemerlang dari masa lampau – yakni pengarang-pengarangnya itu – bahkan percakapan berbobot karena dalam buku itu menuangkan gagasan-gagasan terbaik.

Sejumlah besar undang-undang seringkali memberikan keringanan kepada kejahatan, sebuah Negara akan jauh lebih teratur apabila undang-undangnya sedikit tapi dipatuhi dengan ketat. Ketaatan pada beberapa prinsip yang telah saya pilih itu memberikan begitu banyak kemudahan dalam menyelesaikan segala persoalan yang tercakup oleh kedua ilmu itu.

Saya harus lebih berpegang pada apa yang mereka lakukan daripada apa yang mereka katakan, bukan saja karena hanya sedikit orang yang mau mengatakan apa mereka yakini, beberapa orang mungkin tidak tahu apa yang mereka yakini.

Mungkin karena kualitas terjemahan yang kurang, atau memang ini sekadar risalah untuk tiga buku pentingnya: Dioptrics, Meteorology, dan Meditations. Diskursus terasa standar, beberapa memang masuk dan bagus banget terutama membahas esensi Tuhan dan jiwa, tapi berkali-kali Rene berujar kekhawatirannya akan terbitnya buku. Beberapa bahkan diminta terbit ketika sudah meninggal. Dalam riwayat yang pernah kubaca, masa hidup beliau yang bersama Galileo, pernah dihukum sebab bukunya kontroversial, Rene terlihat menjaga diri, begitu berhati-hati dalam bertindak, atau menulis sehingga seolah ada sebuah batu berat yang dibebankan, sulit untuk bebas ekspresi, tidak loss plong menelurkan gagasan. Kebenaran ini – saya berpikir, karena itu saya ada – begitu kokoh dan meyakinkan, sehingga anggapan-anggapan kaum skeptik yang paling berlebihan sekalipun tidak akan mampu menggoyahkan. Ini prinsip pertama dari filsafat saya. Saya meragukan segala sesuatu justru membuktikan dengan jelas dan pasti bahwa saya ada.

Bertindak hati-hati dalam segala hal sehingga meskipun saya hanya maju sedikit sekali, paling tidak saya tidak jatuh terperosok. Ditemukan typo tahun, sang filsuf menenggelamkan diri dalam kesenangan dunia: berkelana, berjudi, berduel di tahun 1960-an? Dengan melihat sejarah hidupnya kita tahu maksudnya tentu tahun 1620-an. Lalu di akhir Kata Pengantar di halaman yang sama: Descartes menderita pneumonia awal Februari 1950, dan setelah lebih dari seminggu menderita penyakit itu, ia meninggal dunia pada tanggal 11 Februari. Mungkin terlihat sederhana, tapi jelas fatal untuk penelusuran sejarah. Karena biasanya yang ekstrem cenderung jelek. Pemikiran-pemikiran serupa yang muncul pada waktu kita sadar juga datang ketika tidak sadar.

Musim dingin di Jerman. Descartes berbaring menatap langit-langit, salju yang melimpah di luar, cocok untuk mencari inspirasi. Saat itu 10 November 1619, dan perang masih berkecamuk. Hari itu persis setahun setelah bertemu matematikawan Belanda, Issac Beeckman. Ia gelisah dalam pembaringan, Rene muda bermimpi tiga kali berturut-turut dan bersambungan. “Quad vitae sektabor iter?” – “Hidup apa yang akan kau ikuti?”

Bila terlalu banyak waktu yang digunakan untuk berkelana, seseorang akan asing di negerinya sendiri. Seperti yang Rene bilang, ia mempelajari filsafat agar ketenangan jiwa sempurna yang didambakan terwujud.

Diskursus & Metode | by Rene Descartes | Diterjemahkan dari Discourse on Method | Penerjemah Ahmad Faridl Ma’aruf | Tata sampul Ferdika | Tata isi Violet V. | Pracetak Antini, Dwi, Wardi | Cetakan pertama, Januari 2015 | Penerbit IRCiSoD | Sumber gambar Cover http://www.allgraf.com | ISBN 978-602-255-770-8 | 132 hlm.; 14 x 20 cm | Skor: 4.5/5

Karawang, 241120 – Bill Withers – Who Is He (And What Is He to You)

Thx to Lifian, Jkt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s