Hello Ghost: Manfaatkan Masa Kini dengan Baik, dan Kau akan Ditempanya

“Apa yang kulakukan sekarang akan menciptakan siapa aku nanti.” Jean-Paul Sartre (1905 – 1980) dalam “Nausea”

Pentingnya menjaga kejutan tak bocor. Film lama yang sungguh nikmat dilahap saat kita tak tahu obsesi apa yang dijalani para tokoh ini, motif yang disimpan rapat sepanjang film dibuka jelang akhir. Segala yang tampak dan diperjuangkan, terlihat masuk akal, walau membantu hantu sendiri tak masuk akal. Hiburan sejati, seolah kita tercerahkan, ada hikmah yang bisa ditangkap saat credit title muncul, cieee…, di mana dukacita lama dipoles dan diubah menjadi harapan. Orang-orang di dimensi lain biasanya dalam film bisa mengamati kegiatan kita, lantas bila karakter utama kita bisa balik mengamati mereka, apakah semenakutkan yang dikira? Oh tidak, mereka orang-orang baik, maksudnya hantu-hantu baik dengan keingina aneh-anah sahaja, tak ada salahnya dipenuhi. Dan apa konsekuensinya? Harapan! Harapan adalah bahan bakar untuk mesin mental kita. Hello Ghost menawarkan air mata pengorbanan yang sangat pantas dipeluk seerat-eratnya, sehangat-hangatnya.

Kisahnya tentang Sang-Man (Tae-hyung Cha) yang gagal bunuh diri. Ia frustasi menjalani hidup, sebatang kara tertekan keadaan. Ada di titik lelah, disintegrasi pribadi. Berbagai cara dilakukan, terbaru, setelah minum banyak obat dan tak jadi mati, ia mengalami sejenis halusinasi. Hati kecilnya terjeblos ke dalam sunyi yang meresahkan. Di rumah sakit melihat hantu, bukan hanya satu tapi empat. Keempatnya meminta tolong padanya untuk melakukan hal-hal yang tak tuntas di masa hidup. Pertama seorang lelaki parlente sopir taksi (Chang-Seok Ko) dengan rambut sigrak pinggir dan hobi merokok. Ia semena-mena duduk di tempat tidur pasien. Ia jorok dan suka mengintip rok para perawat dengan melakukan tiupan hantu sehingga roknya terangkat terayun dikit. Hantu cabul dengan senyum genit nyaris sepanjang film. Hantu ini ternyata cukup arif, untuk menjaga agar kepribadiannya, kehidupannya (di masa lampau), perasaan-perasaannya, dorongan-dorongan keinginannya, tak terkuak langsung. Ia menginginkan kembali taksinya.

Kedua, seorang ibu (Young-nam Jang) yang menangis mulu. Ia hobi masak dan ingin menyediakan masakan keluarga spesial, melewatkan makan malam istimewa. Makhluk Tuhan yang menangis sampai terlelap kini bersiap-siap menguras air mata lagi dan lagi, sementara para tukang teriak pun akan segera kembali bersuara, dialah yang ketiga, seorang anak kecil (Bo-Geun Cheon) yang merengek minta ke bioskop dan makan permen segede ikan, dalam artinya sebenarnya. Terakhir lelaki tua (Moon-su Lee) berharap Sang membantunya menemukan kamera yang belum dikembalikan.

Karena Sang yang memang tak tahu mau ngapain lagi hidup, dan rasanya tak ada salahnya memenuhi harap para hantu gentayangan itu, serta ia ingin gegas terlepas dari kewajiban nyeleneh itu, (dan mungkin agar bisa segera mati tenang) maka satu per satu keinginan itu coba dikabulkan. Mereka ikut tinggal di apartemennya dan mengikuti kegiatan sehari-hari. Pikiran Sang jumpalitan ketika ia mulai diganduli, tapi itu belum seberapa, ia nantinya juga jadi penyampai pesan dari orang mati.

Dalam prosesnya, kita malah mendalami masa lalunya. Menemukan hal-hal umum, betapa hidup masih layak diperjuangkan. Apalagi ia jatuh hati sama perawat Jung Yun-Soo (Kang Ye-won), yang tentu saja memberinya ‘ada sesuatu di masa depan yang diperjuangkan’ seolah berbisik, ayooolaaahhh semangat. Cintanya bersambut, dan misi-misi itu segera dituntaskan. Roman mukanya yang bodoh itu memang tampak meyesatkan, hantu-hantu itu seolah tampak familiar dan mereka say hello, menyapa untuk tujuan mulia.

Lantas saat mendekati akhir, keheningan seakan berdenyut. Kita menemukan sebuah titik di mana mereka yang menghantui tak asing. Sang butuh beberapa detik untuk menyusun kepingan segala informasi itu, lantas saat ia menemukan klik, harus gegas sebelum terlambat. Saat kejutan ini ditampilkan di layar, dalam adegan dramatis berlari sebelum segalanya terlambat, kita malah menemukan hikmah yang pas dari film ini. Sayangilah mereka, orang-orang tercinta yang ada di sekeliling kita sebelum perpisahan ke alam berikutnya terjadi. Sedih ya? Ya, saya sampai menitikan air mata. Lega kan? Jelas. Hal-hal yang tak tuntas kini bisa ditutup kembali dengan rapat. Betapa berharga kesempatan. Betapa dunia fana yang ada batasnya ini begitu sempit, dan bersyukurlah semua orang yang memiliki kesempatan tumbuh dalam kasih sayang orangtua serta sanak famili.

Manfaatkan masa kini dengan baik, dan kau akan ditempanya. Suka sekali sama adegan akhir saat Sang dan Yun-Soo di kursi taman, seolah perjuangan sepanjang film ini dibayar lunas. Suasana taman masih tampak lembayung, dengan rona nada bahagia. Waktu seolah berjalan lambat dan menyebar. Nada-nada musik seakan-akan saling merenggangkan tanpa kehilangan tempo. Tidak semua film happy ending itu malesi, Hello Ghost justru film mencerahkan. Ide hantu-hantu baik yang menolong mengingatkanku pada Sartre tentang keberadaan. Ia pernah bilang, “Apa yang tersisa kalau Anda menyingkirkan warna, ukuran, bentuk, tekstur, dan baunya? Apa yang tersisa ketika Anda menyingkirkan emosi dan perasaan, rekaan dan gagasan fantastis? Ketika semua yang bisa Anda sebutkan hilang dan disingkirkan dari kehidupan, apa yang tersisa?” Sartre menjawab: keberadaan.

Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah. Maka akhir yang indah ini meluap-luap. Melegakan semua orang, keberadaan orang-orang tercinta di manapun berada di dimensi lain sekalipun.

Hello Ghost | Year 2010 | Korea | Directed by Young-Tak Kim | Screenplay Young-Tak Kim | Cast Tae-Hyun Cha, Ye-won Kang, Moon-su Lee, Chang-Seok Ko | Skor: 4.5/5

Karawang, 290921 – Billie Holiday – A Foggy Day

Rekomendasi Lee, Thx.

Ready or Not: Petak Umpet Pengantin Baru


Grace: “In-Laws”


Cerita pengantin baru yang diburu dalam kastil keluarga di malam pertama, sungguh tampak mendebarkan dan eksotik bukan? Dibintangi si seksi Samara Weaving yang menebar pesona kecantikan nakal, pirang, dan penuh darah. Lihat saja posternya, menenteng senapan dengan dada penuh peluru bak Rambo. Di sekeliling oleh keluarga barunya yang tak kalah mengerikan mengancam dengan berbagai senjata. Malam yang seharusnya membahagiakan menjelma teror mematikan, dikejar waktu untuk sembunyi atau ketemu dan mati. Sebuah plot yang sejatinya kelihatan seram nan memikat, sayangnya jualan utama adalah pamer darah dan kengerian, dan eksekusi yang standar. Cerita sesungguhnya yakni motif di baliknya, hingga persembahan sihir yang dibuka ternyata berakhir biasa saja.


Dibuka dengan masa lalu di tahun 1989 dalam keluarga Le Domas yang mengerikan, pembunuhan kejam dalam silsilah keluarga baru. Merentang 30 tahun kemudian, kita dihadapkan pada kegembiraan gadis jelita Grace (Samara Weaving) dari keluarga biasa. Calon suaminya adalah keluarga kaya raya, Alex (Mark O’Brien). Sebelum Waktu-W janji suci, ia ragu dan gagu. Bisakah memasuki kalangan elit ini dengan tak memalukan? Kekasihnya meyakinkan, walau ada intimidasi dari ibu mertua. Begitu juga dari saudara-saudaranya. Bahkan ada yang genit. Muda dan bebal.


Setelah resmi, maka seolah beban berat itu sudah terangkat. Namun tidak, pesta sesungguhnya baru akan dimulai. The Game Begins.


Tepat tengah malam, saat seluruh keluarga besar Le Domas berkumpul, mereka memainkan undian dengan sang pempelai mengambil kocokan. Muncul opsi Hide and Seek, yang ditingkahi dengan nada huuufhh… Grace tak paham, ini hanya petak umpet kan? Ya, ia harus menghindar, bersebunyi dari kejaran mereka semua, sampai subuh, atau mati.


Dikira bercanda, tapi tidak. Ini jenis film gore di mana darah dan kekerasan diumbar. Seluruh keluarga bersekutu untuk membunuhnya. Gerbang ditutup, pintu dikunci, jendela dirapatkan. Cctv dimatikan, dan acara petak umpet pengantin baru pun resmi dimulai.


Aturannya, Grace harus berhasil bertahan hidup sampai subuh. Kalau berhasil tak mati maka para pemburu akan mati, sesuai mitos dan kutukan keluarga besar. Acara meriah ini lalu meliar dan sayangnya konyol. Sang suami benarkah sayang? Saudaranya yang suka menggoda, benarkah ia genit? Dan rangkaian kejadian yang tak masuk akal. Bagaimana bisa, menangkap satu tamu dalam perangkap sahaja bisa gagal? Konyol sekali bukan? Keberuntungan seharusnya tak akan bertahan selamanya. Kecuali sang pengantin memiliki kekuatan sihir dahsyat yang bisa menghilang pakai jubah gaib. Yang jelas mereka takut mati, tapi lebih takut lagi untuk memerlihatkan ketakutan mereka akan kematian. Diskusi panjang lebar, membagi tugas, menjalin kerja sama. Ini kisah horror, ini juga cerita jenaka dan juga ledakan aksi, tapi memang pesona utama adalah Samara Weaving walau tetap terjaga, terasa yaah… datar. Jadi di mana ujung kehidupan? Subuh yang merekah? Ataukah sihir hitam itu berhasil bekerja?


Ketika akhirnya adegan pecah kita pun rasanya memaklumi kengototan para anggota keluarga untuk membunuh sang tamu, tapi sekaligus tidak memaklumi sang suami yang mencoba menyelamatkan lantas di detik akhir melakukan hal lainnya. Tampak aneh memilih sisi dengan dramatis gitu. Sebagai penonton kita tak tahu hal-hal yang tersembunyi dibaliknya. Apakah sihir turun temurun itu benar-benar bekerja, atau sekadar ritual omong kosong. Sayangnya untuk sampai ke sana, kita terlampau banyak disajikan adegan kejar-tangkap ‘tak mendebarkan’.


Orang boleh kehilangan segalanya kecuali harapan, Grace masih berharap bertahan hidup hingga titik terjauh dan ia melawan balik dengan kekuatan maksimal. Pernikahan yang sejatinya memberi awal yang baik menjelma subtansi horror yang memabukkan. Kalian lihat, bintang-bintang di sana, ia berpihak pada sang protagonist malam ini. Ketakutan adalah bahan bakar untuk bertahan hidup. Ia mendengarkan suara malam. Bahkan kelelahannya pun tidak menjadi masalah, otot kaku dan perasaan tidak nyaman pada tubuhnya. Ia menikmati ketidakmatian dirinya. Ini sial nyawa dan ia melawan abis!


Seperti lautan api di atas daratan, mansion itu dibakar hebat. Seperti kilasan petir dalam awan, kita hidup kerlap-kerlip. Cemerlang bersimbah darah. Datang dengan ragu, pergi dengan gaya. Dengarkanlah bisikan-bisikannya, maka kamu tak perlu mendengar teriakannya. Siap? Aaaaarggghhhh….


Ready or Not | Tahun 2019 | Directed by Matt Bettinelli & Tyler Gillett | Screenplay Guy Busick, R. Christopher Murphy | Cast Samara Weaving, Adam Brody, Mark O’Brien, Henry Czerny | Skor: 3.5/5


Karawang, 160821 – 080921 – New York Jazz Lounge


Bisa disaksikan di Disney +