The Naked Face – Sidney Sheldon #2

image

Buku kedua Sheldon yang selesai kubaca di bulan ini. Setelah kurang menghentak di A Stranger in the Mirror buku kedua ini ternyata sama datarnya. Apakah ekspektasiku yang ketinggian? Dengan nada bombastis: Jago Cerita kelas dunia, lebih dari 200 juta eksemplar bukunya sudah beredar di pasaran dan diterbitkan dalam 73 bahasa di 100 negara, sebenarnya harapan tinggi yang kucanangkan seharusnya wajar.
Tentang dekektif. Mendengarnya saja sudah senang, saya suka semua buku Agatha Christie terlebih Sir Arthur Conan Doyle. Kisah-kisah detektif tiada duanya. Maka ketika di adegan pembuka, disebutkan sesorang dibunuh di tengah kerumunan lalu dua detektif menyelidikinya, saya langsung sumringah. Ada benang tipis yang menggelitik setiap baca kisah tebak sana-sini. Sayangnya untuk Wajah Sang Pembunuh, saya bisa menebak dan ternyata sampai halaman terakhirnya tebakan saya tepat. Sheldon kurang jeli menyembunyikan pelaku. Terutama sekali adegan di pemasangan bom di mobil korban, jelas itu blunder. Walaupun tebakan saya sudah tepat sejak awal, namun pas temuan bom mobil itu penegasan.
Kisahnya maju terus tanpa menengok ke belakang. Tentang seorang psikoanalis, Judd Stevens yang diburu. Dua orang dekatnya tewas dibunuh dengan sadis. John Hanson, pasiennya yang homoseksual suatu pagi ditusuk di punggungnya di tengah jalan yang ramai. Di bulan Desember yang dingin jelang Natal, John yang pulang dari terapi dengan Dokter Judd menyisakan tanya apakah motif sang pelaku? Hari itu juga datang dua detektif dari kepolisian setempat, McGready dan Angeli. Keduanya membawa jas hujan sang korban yang ternyata milik dokter. Judd bilang pagi itu jas hujannya dipinjam Hanson. Korban kedua muncul petang harinya, Carol Roberts sekretaris Dokter Judd dibunuh dengan keji di kantor saat dirinya sedang memberitahu keluarga Hanson. Saya justru mengapresiasi cara bercerita Sidney tentang latar belakang Carol yang runut enak dibaca. Carol adalah ramaja kulit hitam, seorang pelacur 16 tahun yang diselamatkan hidupnya. Disekolahkan, dididik untuk menata kesempatan kedua. Malam itu, akhirnya muncul kesimpulan bahwa target sesungguhnya adalah Dokter Judd. Hanson dan Carol adalah korban pembuka dan salah sasaran.
Paginya semua surat kabar memberitakan kasus ini. Lalu Judd menganalisis kemungkinan-kemungkinan pelaku. Dimulai dari para pasien. Pertama, Teri Washburn seorang wanita yang haus seks. Menikah berkali-kali, melakukan terapi untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Mantan bintang Hollywood yang pernah membunuh selingkuhannya karena selingkuh itu selalu menggoda Judd. Kedua Harrison Burke, pasien yang mengalami paranoid. Seorang wakil presiden sebuah Perusahaan besar yang merasa bahwa orang-orang di sekitar selalu mencoba membunuhnya. Dia selalu takut setiap interaksi dengan karyawan, kalut kalau-kalau ada orang akan menembaknya. Dia merasa dijegal sehingga ga bisa promosi jadi nomor satu. Ketiga  Anne Blake, pasien yang cantik. Judd jatuh hati pada istri orang. Suaminya seorang pengusaha kontruksi yang sukses, baru menikah 6 bulan. Setiap kebutuhan materi Anne terpenuhi, namun keadaan jadi janggal karena Anne yang datang ke kantor Judd tanpa buat janji, tanpa tahu masalahnya, tanpa detail profil dan selalu membayar cash setelah berobat. Bayar tunai yang memunculkan dugaan agar tak terlacak identitasnya? Masuk akal kan. Keempat Skeet Gibson, pelawak yang dicintai Hollywood. Pernah ke rumah sakit jiwa, hobinya berkelahi di bar-bar karena dia bekas petinju.
Melalui rekaman-rekaman percakapan pasien, Judd mencoba menelaah semuanya. Namun selain mereka muncul dugaan lain, bisa jadi detektif McGready sendiri yang melakukannya. Bisa jadi dia punya motif balas dendam karena pernah mengirim Ziffren ke rumah sakit jiwa. Ziffren adalah pembunuh partner McGready beberapa tahun lalu. Padahal bisa saja Ziffren dihukum mati, hal ini membuat marah McGready. Angeli juga perlu dicurigai, sebagai partner baru McGready tingkah lakunya ganjil. Sakit flu, izin ga dinas tapi ternyata keluyuran. Selain nama-nama itu, Dokter Peter bisa juga masuk pusaran, sebagai sahabat terbaik tentunya tahu seluk beluk dokter Judd. Peter dan istrinya selalu mencomblangkan Judd dengan gadis-gadis cantik agar Judd menikah lagi. Semua karakter bisa jadi tersangka. Kepada siapa Sheldon akhirnya menjatuhkan antagonis sesungguhnya?
Well, separuh awal kisah digulirkan dengan enak sekali. Detail-detail yang memanjakan mata, pengenalan karakter yang membuka imaji, sampai tatanan ruang kejadian yang asyik diikuti. Sayang sekali Sheldon terpeleset, sebuah kisah detektif akan jadi seru kalau bisa mengecoh pembaca. Kenapa Sherlock begitu memukau? Karena pola pikirnya yang out the box tak bisa diikuti kebanyakn orang. Dengan brilian diceritakan partner-nya dokter Watson, pembaca nyaris selalu berhasil ditipu. Di kisah Wajah Sang Pembunuh, Sheldon memaparkan kemungkinan-kemungkinan motif daftar karakter yang sayangnya tak ada back-up kemungkinan kedua sehingga pembaca dengan leluasa menebak tersangka dengan mudah. Lubang plot paling besar adalah mematikan karakter detektif Moody yang sebenarnya masih bisa berkembang, Sheldon dengan gegabah menceritakan rencana liburan Judd kemudian membatalkannya dengan gamblang seolah-olah menunjuk ini dia pelakunya.
Ending-nya sendiri akan lebih menarik seandainya dibuat sedih. Dokter Judd diburu sekaligus dirinya memburu, setiap detik berharga. Ketika akhirnya diungkap pelakunya lalu menuju klimak cerita, sayang sekali pelaku utama yang terdengar bengis dan cerdik justru berlaku konyol. Cara mengakhiri orang ketika ada pistol di tangan adalah tembak kepalanya dalam jarak dekat. Bukan malah ngerumpi seolah-olah ketemu teman lama yang ngajak ngopi. Keputusan Anne di kala genting juga penting untuk menentukan hasil akhir. Sangat disayangkan ini kisah happy ending.
Namun Sidney tetaplah Sidney. Bagian pengungkapan Don Vinton itu ide cemerlang, tak terpikirkan akan dipecahkan dengan unik sambil lalu. Lalu karakter paranoid Harrison Burke itu mantab. Suka dengan orang yang menganggap dirinya istimewa, over confident, nyeleneh. Walau tampil sepintas, jelas sifat Judd akhirnya terduplikat darinya. Judd Stevens harus bisa menanggalkan topeng wajah tak berdosa yang dikenakannya dan menelanjangi gejolak-gejolak emaosinya yang paling dalam, ketakutan dan kengerian, dambaan, nafsu dan dengan demikian menampilkan wajah sang pembunuh. Berhasilkah?
Wajah Sang Pembunuh | diterjemahkan dari The Naked Face | copyright 1970 by Sidney Sheldon | alih bahasa Anton Adiwiyoto | GM 402 96.034 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kesembilan, Oktober 1996 | 328 hlm; 18 cm | ISBN 979-403-034 | Untuk wanita-wanita dalam hidupku: Jorja, Mary dan Natalie | Skor: 3/5
#2/14 #SidneySheldon Next: Master of the Game, pencarian berlian di Afrika Selatan. Cover hitam yang terlihat cantik, tebalnya 764 halaman. Semoga seru.
Karawang, 221015 – Guardate che ha fatto il don vinton
E molto bene di ritornare a casa | Si, d’accordo | Signore, per piacere, guardatemi | Tutto va bene | Si, ma… | Dio mio, dove sono i miei biglietti? | Cretino, hai perduto i biglietti | ah, eccoli

Iklan

Pahat Hati

image

Back cover-nya mengiurkan. Dengan berani menuliskan: Dari Penulis yang bersanding dengan JK Rowling dan Cassandra Claire sebagai nominator BEST AUTHOR IN SOCIAL MEDIA 2013, penulis Indonesia berbakat, Andi Tenry Ayumaya siap menggebrak dunia lewat karya fenomenalnya. Bayangkan, penulis Harry Potter disebut dan disandingkan. Walau penulis favoritku dijual, ekspektasiku tak tinggi. Biasanya jualan dengan omongan koya seperti ini isinya kosong. Mungkin Eka Kurniawan sedang sibuk sehingga tak masuk, mungkin Dee sedang liburan sehingga tak tercantum sehingga Penulis lokal yang masuk nominasi adalah Andi-who? Baru dengar? Saya juga.
Saya jadi teringat Jemy teman satu kos dulu. Tiap selesai baca buku buruk dia selalu melemparnya ke bak sampah. Dia berujar, “buku seperti ini berbahaya, lebih bagus dilenyapkan”. Saya tak setuju, karena kita membeli dengan uang jerih payah maka kita harus ‘memeliharanya’ di rak. Saya berpendapat, kalau buku ini buruk di mata kita berarti buku ini memang bukan untuk kita. Bisa jadi untuk orang lain yang nantinya berkesempatan membacanya memetik hal positif. Bisa jadikan.
Saya teringat pesan teman, “sesekali kamu harus keluar zona nyaman. Bacalah genre diluar favoritmu. Mungkin kamu akan menemukan sebuah sensasi yang menakjubkan.” Dan novel Pahat hati ini di tangan, kisahnya tentang cerita semasa SMA. Seorang gadis ceria sedang ke rumah Oma setelah minggat dari rumah orang tuanya. Sampai di rumah nenek, tak ada orang. Neneknya sedang ke Jepang untuk berobat. Dia dititipi tetangga amplop berisi uang GeDhe dan akan rutin kirim uang, ia gunakan untuk sewa apartemen. Ketika pulang secara tak sengaja rebutan taksi dengan pemuda, sewot saling usir. Kebetulan sang pemuda satu kamar dalam apartemen yang ia sewa karena kena tipu. Kebetulan lagi mereka satu sekolah. Sang pemuda memiliki mobil yang bisa setiap saat berangkat-pulang sekolah bareng. Sang pemuda adalah playboy stadium akhir, setiap minggu ganti pacar. Bah pembuka macam apa in, anak durhaka, nenek gila, nyinyir hanya rebutan taksi sewot seperti mau mengantar pasien ke IGD saja. Dengan santainya membuat susunan cerita anak sekolah naik mobil. Hello dunia, SIM A sudah bisa dibuat oleh remaja lho sekarang. Dari sini saya sudah bisa menebak ke arah mana cerita ini akan berlanjut. Andai ini buku sewa atau pinjam, tentu saja saya hentikan. Namun saya tegaskan setiap lembarnya saya bayar jadi ya harus dituntaskan. Dan segalanaya mulai berjalan kacau bahkan ketika saya belum sampai separo baca.
Biar terlihat keren, daftar isi menggunakan bahasa Inggris. Dari prolog sampai epilog, dari Sweet Cherries sampai 1 month later. Kalau kalian berharap akan ada dialog puitis ala Chairil Anwar, jelas ga akan ada. Jadi ceritanya Cherry ini anak baru di SMA Bhakti. Di hari pertama sudah jadi pahlawan bagi anak kembar Alda dan Andini. Kalau yang ada di bayangan Anda ketika saya ketik pahlawan adalah melawan begal, membasmi perampok, menahan petir atau mencegah kejahatan lain Anda salah. Cherry hanya mengusir anjing. Pahlawan? Ya, tahan muntah Anda. Ulasan baru dimulai.
Di bab 2 Andi memberi judul Robber Cat. Mungkin maksudnya adalah criminal cat, plesetan ala Tukul di Bukan Empat Mata, mungkin artinya kucing garong agar terdengar cool jadilah robber cat. Itu istilah diperuntukkan buat Dicky, teman seatap Cherry seorang playboy yang giginya dipagar. Bayangkan Ashton Kucher memakai kawat gigi lalu tersenyum, mungkin terlihat lebih tampan. Dicky baru saja memutuskan Nabilah, korban terbarunya. Sementara itu Ilham pemuda yang akan tunangan sedang patah hati setelah Hannie pacarnya tewas kecelakaan. Kejadian dibuat se-dramatis mungkin, sang kekasih meninggal dalam pelukan ala sinetron lokal. Kelas 2 SMA tunangan. Kerjaan Ilham ini setiap hari melihat danau yang ada di belakang sekolah merasakan semilir angin. Ya, tahan muntah Anda, tulisan masih panjang.
Lalu secara flash back kita diberi tahu kenapa Cherry minggat dari rumah. Alasan pertama adiknya Dea nyebelin, kedua dia dijodohkan dengan anak teman ayahnya. Ya ini bukan zaman Siti Nurbaya yang bisa menyatukan pasangan lewat orang tua, kejadian ini bisa saja terjadi. Namun menyodorkan konflik keluarga seburuk ini sungguh tak ada logika. Otak Cherry jelas perlu di-ruwat. Bisa-bisa Raam Punjabi pingsan saking shock-nya membaca kisah ini. Tahan lagi muntah Anda, ini belum separo tulisan.
Dalam kisah The Ring, cincin tunangan Ilham secara tak sengaja jatuh ke danau setelah disenggol Cherry. Bodohnya Ilham ini memandang danau cincin tunangannya di-ewer-ewer mulu. Merasa bersalah, malam hari dia nekat nyebur ke danau mencari. Sungguh konyol, di siang hari ngapain? Di panas terik saja ga ketemu apalagi dalam gelap malam. Dicky dengan gagah berani menyusul ke danau, mungkin maksdunya biar terdengar romantis ala A Lot Like Love, berdua kedinginan di bawah sinar rembulan. Besoknya mereka flu. Konyolnya lagi, cincin bisa ketemu dengan mudahnya kemudian, dan diperparah Ilham memberinya kepada Cherry. Andi bisa saja sekalian menulis itu cincin The Hobbit sehingga siapa yang pakai bisa ngilang, toh sampai di sini kisah mulai liar tak terkendali.
Hobi ganti pacar Dicky berlanjut kini giliran Alda jadi korban. Salah satu si kembar ini back street (tanpa boys) jadian, namun seperti yang sudah diduga mereka putus. Dalam judul Playboy’s Aware lalu Dicky ditantang teman-temannya yang kurang kerjaan (atau PR-nya sudah selesai dikerjakan) untuk bisa menaklukkan hati Cherry. Dengan pede dia yakin bisa menjadikannya pacar. Kesempatan itu datang saat acara kemah di Tangkuban Perahu, namun saat acara belum mulai Cherry menghilang. Saya sempat berharap dia diculik Smeagol biar seru, tapi ternyata dia sedang bergelayut di tepi jurang karena kecelakaan. Setelah diselamatkan, acara itu dibatalkan. Wah wah, hebat. Seakan ke Tangkuban Perahu hanya 5 menit perjalanan, dan dengan mudahnya bubar lantaran kekonyolan karakter ini. Duh! Dunia koma.
Akhirnya kepala Cherry kepentok pintu sehingga luluh dengan cinta Dicky, dia mau pacaran dengannya, syarat dia mengaku insyaf di sekolah. Karakter macam apa, masak sedari awal kekeuh membenci Dicky tiba-tiba mencinta. Kalau alasan berubah pikiran karena sesuatu yang kuat sih oke saja, toh banyak yang benci jadi cinta, namun cinta itu bersatu karena sesuatu yang konyol seakan cinta bisa dipetik di kebun belakang rumah. Besoknya Dicky memegang megaphone berteriak-teriak ke seisi sekolah dia tobat dari mempermainkan cewek. Ini lagi, makin ke sini makin ngawur. Coba dilogika, di mana para guru? Di mana nalarnya? Bagaimana sekolah bisa menjadi arena petak umpet dengan megaphone di tangan. Siswa teriak-teriak di sekolah dan tak ada yang protes? Mungkinkah satpamnya sedang cuti? Atau setting-nya di dunia ketiga sehingga hal semacam itu lumrah. Perkara makin ga jelas saat pak guru Dion yang ditaksir bu Erlin akhirnya akan menikah dengan pacarnya yang di Perancis. Uhuk.., guru zaman sekarang apakah gajinya setara keluarga Bakrie bisa macari cewek yang eek-nya aja di Paris. Dan tak ketulungan buruknya saat Ilham dengan mudah dikirim oleh pihak sekolah ke Jepang untuk Olimpiade Kepo. Wew, my God. Rasanya kini benar-benar tak tahan muntah. Tahan tahan, bentar lagi sobat.
Cherry pun diminta memilih antara Ilham yang cool, Reza yang pengagum rahasia (sudah ga rahasia dong dia mengungkapkannya – walau mundur juga), dan Dicky sang playboy. Siapa yang dipilihnya? Baca sendiri buku ini kalau Anda penasaran, pening tanggung sendiri.
Sekarang silakan muntah. Selesai baca buku ini saya jadi prihatin. Separah inikah sekolah sekarang? Zaman saya tak ada yang naik mobil, atau sekarang anak sekolah bisa punya izin mengemudi? Setahu saya jangankan mobil, motor saja seorang pelajar belum boleh punya SIM, kecuali pelajar yang oon-nya kebangetan sehingga saat SMA usianya kepala 2. Ini jelas pengaruh buruk sinetron kita yang tayang prime time. Tentang pacaran, tentang pergaulan bebas. Di Pahat Hati lebih parah lagi dua karakter utama satu atap, satu apartemen. Walau tak ada adegan macam Lust, Caution tetap saja ini sungguh pemikiran kisah yang buruk. Saat saya sebut: BIsma, Rangga, Dicky, Ilham, Reza apa yang ada di pikiran Anda? Apa Smash? kurang keras! Smash?! Ya ya, Anda bisa memasukkan nama-nama selebritis favoritmu dalam karangan Anda. Namun belum pernah saya menjumpai novel menaruh nama-nama karakter konyol senorak ini. Bukan, saya bukan anti-smash. Saya adalah Laziale, seandainya saya menjumpai novel dengan 11 nama karakter dengan 11 nama pemain Lazio, saya sendiri yang akan membakar buku itu.
Konfliknya mutu rendah. Kisahnya datar. Settingnya memang sekolah, namun tak satu kata pun menyebut algoritma atau statistik dasar. Gaya hedon seperti ini berbahaya, bukannya iri justru saya prihatin dengan yang ditampilkan. Sedemikian kacaukah remaja Indonesia sehingga yang ada di otaknya pacaran? Awalnya saya mau beri rate 0.5 namun 2 bab terakhir mulai menarik karena karakter penting akan dimatikan, makanya saya naikkan rate, namun eksekusi ending kembali menjatuhkan cerita sehingga ya kembali saya beri rate 0.5. kalau saya kasih 0 takutnya asosiasi penulis Indonesia akan menggugat saya. Emang ada? Cari saja sendiri. Seingat saya, saya belum pernah kasih nilai 0.5 seburuk-buruknya 1. Entah kenapa di tahun baru Islam ini saya berlakukan nilai itu, bisa jadi saya shock ada buku seperti ini di Indonesia.
Menurut buku Nyanyian Ilalang karya Andi berikutnya, Pahat Hati diklaim best seller. Ini tak bagus, kalau Pahat Hati dibaca dan ditiru remaja sekarang, Indonesia dalam darurat karya. Sedemikian minimkah pilihan sehingga editor meloloskannya? Sedemikian minimkah pilihan sehingga  sampah seperti ini laku? Kalau tulisan seperti ini berani menyandingklan diri dengan JK Rowling, mungkin Tere-Liye sudah mengklaim layak dapat Nobel Sastra.
Jadi kangen Jemy. Untuk kali ini saja. Ya untuk kali ini saja saya setuju dengannya. Buku sebobrok ini lebih berbahaya ketimbang pengungkapan konspirasi Wahyudi dan layak dilempar ke tempat sampah. Benamkan ke lumpur terdalam sehingga anak cucu kita tak membacanya. Tetap semangat Andi, jangan patah hati.
Pahat Hati | karya Andi Tenry Ayumaya | copyright 2009 | cetakan II, November 2013 | ISBN: 978-602-1258-40-8 | Penerbit Matahari | Skor: 0.5/5
Karawang, 151015 – Sheldon rules

Black Or White: A Doll Boring Movie

Elliot Anderson: I couldn’t have been a worse witness if I tried

Ketika kita memutuskan untuk menikmati sebuah karya, apa sajakah pertimbangannya? Ada yang karena sutradara. “Pokoknya kalau yang bikin Nolan saya pasti nonton di bioskop, wajib IMAX 3D.” Saya pernah mendengar teman berkomentar seperti itu. Ada yang karena genre-nya. “Setiap tengah tahun saya akan semakin rutin nonton ke bioskop, karena saat itu film action bertebaran.” Ada yang karena adaptasi buku yang sudah dibaca. “Wah novel Breaking Dawn romantis sekali, jadi penasaran sama filmnya.” Ada juga yang berdasarkan aktornya, “Oh ganteng banget sih Brad Pitt, jadi pengen nonton Fury.” Nah, macam-macam alasan seseorang sampai mau meluangkan waktu buat duduk manis nonton layar. Untuk kasus Hitam Atau Putih, saya menggunakan alasan yang terakhir. Film ini dibintangi Kevin Costner, bintang besar yang kini lebih sering bermain drama. Yaiyalah, udah tua. Ga mungkin kan dia berkuda lagi jadi koboi, encoknya kambuh ntar. Layak disimak aktor yang pernah memerankan Robin Hood dan Lieutenant Dunbar ini.

Tanpa mengetahui review dan betapa bagus atau buruknya, saya menonton Black Or White tanpa ekspektasi. Film dibuka dengan kabar pilu, Elliot Anderson (Kevin Costner) baru saja ditinggal mati istrinya, Carol (Jennifer Ehle) karena kecelakaan. Tabrakannya sendiri tak ditampilkan, hanya efeknya yang disuguhkan. Sepeninggal Carol, Elliot kini harus mengasuh cucunya yang berkulit hitam, Eloise Anderson (Jillian Estell). Anak dari putrinya yang meninggal sejak lahir. Dari bangun tidur, menyisir rambutnya yang kribo, mengantar sekolah sampai belajar. Kewalahan, Elliot menyewa pengajar sekaligus sopir pribadi, yang juga berkulit hitam Duvan Araga (Mpho Koaho). Semakin ke sini semakin rumit, apalagi dirinya alkoholik. Segala masalah diakhiri dengan minum minuman keras. Cara mengasuhnya ditampilkan dengan aneh, masak orang secerdas Elliot bisa dengan buruknya menerima nasehat guru privat cucunya untuk mengurangi nonton tv atau main game.

Konflik baru digulirkan ketika bibi dari ayahnya meminta hak asuh. Rowena Jeffers (Octavia Spencer) merasa berhak mengasuh keponakannya, apalagi sepeninggal Carol dikhawatirkan dia tak terawat. Elliot bergeming, dirinya berniat mengasuh dengan cinta. Lalu muncullah ayah kandung Eloise, Reggie Davis (Andre Holland) yang begitu menyebalkan. Janji sesekali main untuk menengok anaknya untuk sekedar makan malam, eh ga datang. Kerjanya minta duit dan nge-drug. Kisah ini akhirnya di bawa ke pangadilan untuk menentukan ke mana Eloise akan berlabuh. Apakah berlanjut ataukah berpindah tangan. Sangat sederhana bukan? Namun setiap ngomongin anak-anak, apalagi sampai menyinggung perbedaan warna kulit, hal itu jelas tak jadi sederhana. Karena akan ada banyak hal yang diungkap. Seberapa berani film ini ‘memerangi’ rasis?

Well, Film yang biasa. Kalau tak mau dibilang mengecewakan. Satu-satunya adegan menarik terjadi saat adu argumen di pengadilan. Saling singgung warna, saling serang kekurangan. Namun itu bukan hal baru, perang kata-kata di pengadilan sudah banyak ditampilkan dan jauh lebih berkelas (rekomendasi dariku: The Judge). Jelas Black Or White tak ada apa-apanya. Kevin Costner tampil bagus, dan hanya dia yang menonjol. Mungkin karena dia produser-nya sehingga punya hak istimewa. Berdasarkan kisah nyata, apa yang ditampilkan tak semenarik yang dibayangkan. Akting yang buruk dari banyak cast terutama sekali Jillian Estell. Sebagai pusat cerita dirinya kaku, bermain film tanpa ekspresi, duh! Plot hole dimana-mana sehingga mudah ditebak, saat Elliot mendatangi perumahan warga kulit hitam untuk menyatakan hak-nya saya sudah bisa memprediksi bakalan menang apa kalah nantinya. Drama yang kurang dramatis, sekali tonton dan lupakan.

Black Or White | Director Mike Binder | Screenplay Mike Binder | Cast Kevin Costner, Octavia Spencer, Jillian Estell | Skor: 2/5

Karawang, 081015

Mission: Impossible – Rogue Nation Is Very Entertaining

Ethan Hunt: The Syndicate is real. A rogue nation, trained to do what we do.

Mungkin ini bukan seri terbaik Mission: Impossible (MI), tapi ini adalah film MI terseru yang pernah dibuat, yang paling koya, yang paling mendebarkan dan film MI paling impossible. Seperti kata Ethan: desperate time, desperate measure. Kecuali teknologinya, apa yang ditampilkan memang tak banyak yang baru karena segalanya sudah terstruktur dan kehancuran yang masive sudah pernah ada. Ekspektasi yang biasa menghasilkan sesuatu yang istimewa. Rogue Nation jelas membuatku terkesan.

Saya tak terkejut ketika Ethan selalu selamat. Ketika dia menyelam dalam kubangan air penuh mesin pengaman di Maroko yang mustahil itu, saat dia akhirnya kehabisan oksigen untuk waktu 3 menit yang dipersiapkan, saya tak kaget dan sudah menyangka dia akan kembali bernafas. Selalu ada jalan untuk melanjutkan detak jantung sang agen. Saya juga tak takut ketika di adegan pembuka, Benji salah buka pintu pesawat terbang saat Hunt bergelantungan di badan pesawat yang sedang take off. Kita sudah melihatnya pamer gaya otot dengan melayang-layang di gedung tertinggi. Bukan hal baru juga saat melihat tipu-tipu curi file. Masih segar diingatan di seri pertama saat file tersimpan di cd lalu trik untuk memperebutkan informasi. Kini file itu hanya diganti dengan flash disk yang dengan menawan bisa cut-paste melalui HP yang hanya dihalangi koran. Saya pernah melihat Hunt ‘mati’ di Australia ditembak jarak dekat tepat di perutnya yang begitu dramatisnya diungkap. Topeng dibuka dan yah, Hunt terlihat untouchable. Hal itu ditampilkan lagi di Rogue dan kita masih saja tepuk tangan menontonnya.

Kekurangan utama film ini mungkin adalah tak adanya karakter penting mati. Untuk jadi film istimewa kita harus berani membunuh pemain utama, atau setidaknya sidekick utama. Oke, kalau sang sekretaris kalian anggap karakter penting dan langsung dilenyapkan di awal saya kurang setuju. Sektetaris tidak memainkan peran jungkir-balik bersama Ethan, so let her die.

Rogue Nation bercerita tentang pembubar IMF karena aksinya illegal. Kini misi agen Amerika itu dibawah komando baru CIA, Alan Hurley (Alec Baldwin). Ethan Hunt (Tom Cruise) ditangkap dan akan dieksekusi oleh sekelompok pembelot dari Inggris. Saat hukuman akan dilakukan muncullah karakter baru, Ilsa Faust (Rebecca Ferguson) yang menyelamatkannya. Ilsa memainkan peran vital di seri ini. Penampilannya memukau, mungkin justru dialah bintang utama kali ini. Melihatnya selalu membuat kita menebak, ke pihak mana dirinya berlabuh. Pelarian itu membuat pemburuan CIA terus berlanjut, dan itensitasnya ditingkatkan. Ethan, tangkap dalam keadaan hidup atau mati. Dalam persembunyian, Hunt melacak sang aktor Syndicate, melalui sketsa wajah dirinya dibantu Benji (Simon Pegg) akhirnya tahu dalangnya. Adalah eks agen rahasia Inggris yang berhianat, Solomon Lane (Sean Harris) yang mengincar data top secret sang Perdana Menteri. Data yang disimpan rapat di Maroko tersebut dilengkapi dengan keamanan tingkat tinggi. Bersama William Brandt (Jeremy Renner) dan Luther Stickell (Ving Rhames) mereka berusaha mencuri file tersebut. Aksi curi data yang memukau, misi paling sulit yang pernah Hunt hadapi. Karena setelah itu mereka harus menculik PM Inggris guna membuka kode inskripsi-nya. Berhasilkah?

Penampilan Tom Cruise selalu seru, semakin tua semakin nekat aksi laganya semakin menggila. Sebuah jaminan mutu, sangat menghibur. Simon Pegg tetap kocak, pas sekali memainkan peran sidekick. Sean Harris sebagai antagonis utama sungguh bagus, tatapan jahat yang menawan sampai twist yang menyenangkan melihat dia tak berkutik. Ending Rogue Nation pastinya membuat senang penyuka aksi adu cerdik. Dan ini adalah panggung Rebecca Ferguson, pemilihan cast terbaik. Sungguh menghibur melihat Ferguson beraksi. Bravo bravo bravo, cantik mematikan. Dan satu lagi keseruan film ini, teknologi didorong sejauh mungkin ke masa depan membuat kita bilang, “wow”. Mobil dikunci dengan scan telapak tangan, undangan opera dibuka jadi notebook, security tingkat tinggi yang bisa memindai gerak langkah? Mungkin pengamanan di bawah air itu berlebihan, namun tak menutup kemungkinan akan digunakan di masa depan. Teknologi secanggih itu nantinya bukanlah suatu misi yang mustahil untuk diwujudkan. Film yang menghibur, sangat menghibur.

Well, Mission Impossible: Rogue Nation is without a doubt one of the most exciting films I’ve had the pleasure of experiencing this year. It completely took me by surprise with how well-done it was, and should just about take anyone else to the same conclusion.

Mission: Impossible – Rogue Nation | Directed Christopher McQuarrie | Screenplay Christopher McQuarrie | Cast Tom Cruise, Rebecca Ferguson, Jeremy Renner, Simon Pegg, Ving Rhames, Sean Harris, Alec Baldwin | Skor: 4/5

Karawang, 071015

Pencopet Dan Kelompok Begundal – Dr. Najib Mahfouz

image

Pengalaman pertama saya mambaca karya Dr Najib adalah Karnak Cafe yang mengalir indah. Kekuatan utama ceritanya ada pada karakter yang kuat sehingga seakan-akan kita ikut duduk ngopi bareng dengan setiap individu yang terombang-ambing sebagai korban perang. Karena itulah saat tahu buku karya Najib ada di daftar jual sebuah toko online saya langsung membelinya. Diterjemahkan dari Al-lish wa Al-Kilab tahun 1972, apa yang ditampilkan ternyata tak seperti harapan. Inilah buku kedua dari penulis peraih nobel asal Mesir yang saya nikmati.
Jika ada kata pengantar yang begitu buruk, bisa jadi di buku inilah salah satunya. Setelah membaca kata pengantar saya langsung teriak, “bangsat!” tak ada etika tak ada sopan santunnya ini menaruh spoiler di pembuka dengan entengnya. Joko Suryatno  harus belajar membuat kata pembuka dengan lebih bijak. Ada aturan tak tertulis bahwa dalam me-review jangan membuka bocoran cerita secara gamplang kecuali ada alert-nya. Joko dengan santai membuat ringkasan Sekilas tentang novel ini dengan runut menceritakan kisah dari awal sampai akhir dalam 3 halaman. Lengkap dengan siapa yang bertahan hidup siapa yang tewas. Uh, sadis sekali kau kawan. Saya langsung membanting buku ini kecewa, bahwa sebelum memulai baca bab pertama saya sudah tahu ke arah mana kisah ini akan berjalan. Asem!
Diceritakan dalam 18 bab tentang seorang narapidana baru saja bebas setelah menjalani hukuman kurung, baru menghirup udara merdeka Sa’id Mahran dihadapkan pada pilihan sulit akan kemana selanjutnya. Membalas dendam pada penghianat yang membuatnya dipenjara ataukah membiarkan segalanya berjalan apa adanya dengan memulai hidup baru biar lebih damai? Kisah dimulai di hari pertama bebas, Sa’id mengunjungi rumah mantan istrinya Nabuyah untuk bertemu putri semata wayang Sanaa yang kini berusia 6 tahun. Namun yang menemuinya adalah Alish, suami baru Nabuyah dan pengawalnya Al-Mukhbir. Bukan sambutan nyaman yang diharapkan mengingat Alish adalah musuhnya.
“Yang sudah terjadi, biarlah berlalu. Sampai hari ini sudah banyak yang terjadi. Kejadian-kejadian itu terkadang membuat kita merasa sedih dan khawatir, namun hanya lelaki cela saja yang punya aib.” (halaman 8)
Sa’id pergi dari rumah itu dengan hati penuh kecewa. Niatnya untuk menemui dan mengambil hak asuh Sanaa gagal. Alish mempertahankan Sanaa dan meminta Sa’id untuk bertarung di pengadilan. Sa’id lalu bertemu Sayid Muhamad Ali Babak seorang tua pemuka agama setempat. Sa’id lalu meminta tolong kepada pak Ali untuk sementara tinggal di sana. Menjelaskan dengan jujur bahwa dirinya baru saja keluar dari penjara. Namun setelah penjelasan Sa’id, pak Ali dengan santai berujar bahwa “engkau belum keluar dari penjara.” Secara fisik ya, Sa’id sudah bebas tapi hatimu masih dipenjara dendam. “Seorang wanita langit menyatakan, ‘kenapa engkau mesti mencari kerelaan dari seseorang yang tak rela padamu? Janganlah kau lakukan yang demikian.’”
“Berwudlulah dan bacalah! Bacalah, katakan jika kalian benar-benar mencintai Tuhan, maka ikutilah aku, niscaya Tuhan akan mencintai kalian! Dan bacalah pula. ‘Dan aku mewakilkan diriku padamu!’ selain itu katakan pula ungkapan orang berakal, ‘Cinta kasih adalah persetujuan, atau ketaatan kepada-Nya atas perintah-perintah, dan meninggalkan larangan-larangan, serta ridha dengan hukum ketentuan.’” (halaman 29)
Nasehat yang bijak tersebut ternyata tak bisa mengubah Sa’id. Malam itu memang dirinya menginap bersama pak Ali tua, namun bara hatinya masih mengembara bagaimana membalas dendam kepada orang-orang yang sudah membuatnya menderita. Keesokan harinya Sa’id menemui teman lama yang kini sudah terpandang, ustadz Rauf Alwan. Dari kolom koran Al-Zahrah milik Rauf itulah dia ingin meminta bantuan kerja ke teman lamanya. Awalnya berjalan normal, namun setelah berbasa-basi panjang lebar Rauf sudah berubah. Kini Rauf sudah kaya raya, menjadi orang penting. Berteman dengan mantan penjahat membuatnya risih, walau tak diungkapkan secara langsung. Niatan Sa’id meminta kerja sebagai wartawan ditolak. “Masa lampauku belum mengizinkan aku untuk memikirkan masa depan.”
“Alangkah indahnya jika ada orang-orang kaya yang suka menasehati orang-orang miskin dan terlantar…” Sa’id pulang dari rumah Rauf dengan kemarahan. Walau bersalaman dengan dua lembar uang sebagai ‘sumbangan’ dirinya terlanjur sakit hati. Diniatkanlah misi balas dendam. Malam hari Sa’id berencana menyusup masuk rumahnya untuk merampok dan membunuh Rauf. Inilah titik pilihan yang menyesatkannya. Pilihan untuk kembali menjadi pencopet dan begundal. Jika api amarah dan khianat sudah bersemayam di dalam hati, mana bisa ada orang yang kuasa membendungnya.
Malam itu Sa’id menyusup rumah Rauf, rumah yang dulu sudah begitu dikenalnya. Sayang dirinya kepergok, ditangkap basah. Awalnya mau dibawa ke polisi, namun Sa’id memohon maaf. Penuh hina dirinya memohon ga dilaporkan polisi dan ga akan mengusik hidupnya lagi. Rauf memaafkan dan memintanya jauh-jauh.
Sa’id makin galau. Hidup semakin berat, tak ada pijakan pasti. Akhirnya pilihan sulit itu menempatkannya ke kedai milik Tarzan, teman lama lainnya. Kedai maksiat penuh alkohol, pelacur dan hal negatif. Sayang sekali, di saat pak tua Ali mengulurkan tangan untuk menebus dosa masa lalu justru Sa’id memilih kembali ke dunia hitam. Di kedai (yang mengingatkanku cerita Karnak cafe) itulah dirinya kembali bertemu pelacur, Nur yang sedari dulu mengaguminya. Akhirnya dirinya tinggal di kos Nur sembari menyusun misi balas dendam agar lebih matang. Dendam kepada mantan istri Nabuyah, dendam kepada mantan temannya Alish, dendam kepada ‘mantan’ ustadz-nya Rauf. Berhasilkah Sa’id membunuhnya? Ataukah akan berakhir kembali di penjara? Ataukah dirinya yang tewas? Hidup ini pilihan, dan setiap pilihan selalu memberi konsekuensi. Namun, yah hidup ini juga keras bung!
Koran-koran itu lidahnya lebih panjang daripada tali gantungan buat penjahat. (halaman 135)
Di mana akan ada ketenagan, keamanan, kenyamanan? Aku ingin sekali merasakan ketenangan hidup, bisa tidur nyenyak, dan bangun tidur dengan segar bugar! Apakah semua itu hanya sekedar ilusi? (halaman 138)
Siapa yang bisa menghentikan esok hari? (halaman 167)
Bersabarlah, sabar itu suci dan mensucikan banyak hal. Hukum selamanya akan tetap adil. Tawakal dan berserah diri itu hanya kepada Tuhan. (halaman 194-195)
Dia ditanya, ‘adakah kamu melihat kesembuhan yang kita cari serta obat yang kita gunakan? Apakah semuanya terjadi karena kehendak Tuhan?’ Dia menjawab, ‘sesungguhnya semua itu dari kehendak Tuhan.’
Well, secara keseluruhan novel ini sebenarnya bagus. Walau kisahnya seperti sinetron lokal, namun apa yang ditampilkan memikat dan berani. Yang paling disayangkan adalah hasil terjemahnya yang buruk. Typo di mana-mana, susunan kalimatnya kurang rapi, hasil cetakan yang buruk padahal pakai kertas hvs, dan tentu saja kata pengantar yang sialan itu. Penerbit besar memang tak bohong karena hasil cetaknya tentu lebih menjanjikan. Penerjemah pengalaman tentunya lebih nyaman untuk dibaca. Dan penulis besar pemenang nobel memang jaminan, novel ini memikat namun tak memenuhi ekspektasi tinggi yang sudah kuharap sedari awal. Layak ditunggu buku lain karya Dr. Najib Mahfouz.
Pencopet Dan Kelompok Begundal | karya Dr. Najib Mahfouz | judul asli Al-Lish wa Al-Kilab | Penerbit Maktabah Mishr, Mesir | cetakan ke -6, 1972 | Penerjemah Joko Suryatno | Penerbit MISTSAQ | cetakan pertama, Agustus 2000 | Skor: 3/5
Karawang, 051015 – Lazio win againt Fro-apa-tuh 2-0

Ex Machina: Silence Intimidate

Nathan: Everyone is programmed, by nature or and nurture.

Kesunyian yang mengintimidasi. Luar biasa, apa yang ditampilkan Ex Machina sungguh mengerikan. Sedari awal saya sudah menduga akan ada kejutan dalam film setelah segala detail yang melelahkan itu. Yang pasti Alex Garland sudah membaca dan menganalisis buku Dr. Moreau’s Island karya HG Wells. Kecuali ending dan pemindahan zaman menyesuaikan teknologi: tema, eksekusi, dan kengerian akan rasa sepi sama.

Caleb (Domhnall Gleeson) adalah seorang jomblo, penyendiri, suka koding program komputer, seorang hidup sebatang kara, dan kikuk menghadapi cewek. Dia memenangkan sayembara memecahkan kode dalam ‘Turing Test’ yang menghadiahinya bekerja seminggu di sebuah riset pendiri Blue Book. Mendapatkan Wonka Golden Ticket untuk penelitian. Dengan sebuah helikopter, dirinya diturunkan di pulau terpencil seorang diri. Sang pilot bilang tinggal mengikuti aliran sungai Caleb akan sampai di gedung riset misterius yang dituju. Melalui skema canggih dengan melihat di monitor depan pintu dirinya mendapat kartu akses ke dalam. Sepi dan sunyi sendirian dalam gedung sampai akhirnya ketemu sang tuan rumah.

Nathan Bates (Oscas Issac) sedang berolah raga angkat barbel, seorang bilioner nyeleh khas peneliti. Seorang jenius yang mencipta mesin pencari nomor satu di dunia “Blue Book”. Minggir kau Google! Nathah kini sedang melakukan penelitian membuat robot yang bisa berfikir. Bukan ide baru? Ya kalian bisa bilang begitu namun tunggu komentar kalian sampai tulisan ini berakhir. Caleb direkrut untuk sebuah tes, tugasnya ngobrol dengan robot AI untuk diteliti sejauh nama perkembangannya. Ava (Alicia Vikander) tampak nyata, dengan bagian wajah yang terlihat sempurna andai bagian bawah tak terlihat kabel menjulur dalam perut dan kaki bisa jadi kalian akan jatuh hati. Masalah hati, akhirnya Caleb yang sebenarnya sengaja direkrut khusus itu beneran jatuh hati dengan Ava.

Gedung itu terpencil, akses keluar tak ada. Sinyal HP off. Telpon gedung dikunci. Ruang satu dengan yang lain dikunci sistem, hanya kartu Nathan yang bisa membuka semuanya. Caleb hanya bisa mengakses sebagian. Keseharian Nathan dibantu oleh robot Kyoko (Sonoya Mizuno), robot design Jepang yang tak bisa berbahasa Inggris. Tugasnya melayani dan ‘melayani’ saja. Nantinya Kyoko akan memegang peran penting untuk eksekusi ending itu.

Melalui tes Ava, Caleb berdialog dengan kaca sebagai pemisah, ngomongin tentang dirinya tentang keseharian Ava, tentang dunia luar, tentang cinta. Caleb seperti menemukan seorang gadis impian, Ava pun bilang dia ingin hidup bersama. Cinta manusia dan robot, bukan ide baru? Tahan komplain kamu sampai tulisan ini selesai kamu baca. Cinta yang tentu saja tak mungkin terwujud, Ava adalah robot yang dikurung Nathan untuk diteliti, Caleb seminggu di sana sebelum kembali ke dunia luar. Listrik sering padam tiba-tiba. Saat listrik padam itulah, terkuak fakta bahwa Ava sang pelakunya. Saat padam, Nathan tak bisa melihat cctv sehingga momen itu digunakan mereka untuk merencana kabur. Berhasilkah?

Well secara keseluruhan saya suka sekali film ini. Drama berkelas dengan setting minimal. Hanya menggunakan 4 karakter utama, satu lokasi, dialog hebat, skrip menawan, akting yang bagus. Seperti inilah sebuah film AI dibalut drama seharusnya dibuat. Gleeson yang lulusan Hogwart tampil dengan mimik pas, geek dan rapuh. Ironi keceriaan sebagai Billy Weasley. Catat, ke depannya Alicia Vikander mempunyai masa depan cerah. Aktingnya sebagai robot yang kaku yang mencinta sungguh memukau, dialah bintang utama film ini.

Saya sempat berdebat dengan teman yang menilai Ex Machina ga sebagus yang saya bilang. Dia bilang, mana mungkin seorang jenius bisa alkoholik gitu. Saya jawab: Ingat keseharian Nathan adalah olah raga, itu bisa menjernihkan kembali pikirannya. Kedua, masak dalam kondisi darurat seorang jenius tak ada ‘panic bottom’. Saya jawab: Ava dalam penelitian intelegensi karena seperti yang dijelaskannya di jelang akhir, robot tersebut akan ‘ditata’ ulang setelah diteliti. Makanya kenapa Ava dihajar tangannya bukan kepalanya saat mendesak. Ketiga, bagaimana bisa manusia jatuh cinta dengan robot? Wah yang ini mudah sekali, untuk tahu cinta kalian harus mengalami apa itu kesepian. Caleb itu pemuda kikuk yang sulit menemukan gadis yang sesuai kriteria maka saat akhirnya dia dapat, tak peduli dia kaya, cantik, robot atau apapun itu. Cinta, Caleb akhirnya menemukan cinta. Ada lagi yang mau diskusi? Silakan isi di kolom momentar nomor 4, 5 dan seterusnya.

Bagi yang suka drama, wajib tonton film ini. Endingnya walau sedikit tertebak tapi tak rusak oleh kenyamanan eksekusi. Ketika keputusan akhir diambil saya langsung teriak, “sereeem”. Hebat euy Alex Garland. Sepi dan sunyinya seperti 28 Day Later! Rekomendasi dari saya, Ex Machina adalah salah satu film terbaik 2015.

Two mastermind, one puppet.

Ex Machine | Director Alex Garland | Written Alex Garland | Cast Alicia Vikander, Domhnall Gleeson, Oscar Issac, Sonoya Mizuno | Skor: 4.5/5

Karawang, 021015

The Catcher In The Rye #30

Featured image

‘Mengapa buku ini disukai para pembunuh?’ adalah kalimat yang ada di back-cover. Entah apa maksud sesungguhnya, biasanya sampul belakang isinya sinopsis cerita yang akan dijual, namun di novel bersampul putih ini hanya berisi satu kalimat yang membuat penasaran. Inilah catatan ke 30 dari 30 review buku yang saya sajikan di bulan Juni 2015 ini. Tak terasa, 30 buku rasanya sangat kecil, ratusan masih ngantri. Dan kebetulan buku ke 30 ini baru saja saya baca, fresh from the oven! Bukunya cetakan ketiga bulan Juni dibacanya bulan Juni 2015. Cepat betul. Sungguh!

Apa yang bisa saya sampaikan tentang Holden Vitamin Coulfield? Kalian harus membaca sendiri untuk menyelami isi kepala si orang aneh ini. Cerita dibuka dengan sedih, si Holden ini dikeluarkan dari sekolah untuk ketiga kalinya. Untuk orang normal, tentunya itu nasib malang, namun bagi Holden itu biasa saja. Kisah digulirkan tanpa bab, hanya dipecah per Angka. Tanpa daftar isi, tanpa pengantar. Membuktikan bahwa JD Salinger memang tak mau pusing-pusing aturan baku. Sepanjang nyaris 300 halaman kita akan mengikuti perjalanan Holden menjelang Natal di hari Rabu. Dari sudut pandang orang pertama, kita akan dijejali Ke-AKU-an-ku. Menganggap semua orang di kota sinting, kecuali dirinya. Stress betul. Sungguh.

Di sekolah Spencer Holden menganggap, “semakin mahal uang bayaran satu sekolah semakin penuh pula sekolah itu dengan maling – serius aku tidak bercanda.” Ini jelas hanya pemikiran Holden yang memandang sinis dunia. Memang seakan Holden ini pembawa petaka. Tim anggar Spencer gagal bertanding karena peralatannya ketinggalan. Dari 5 mata pelajaran, Holden hanya lulus satu di Bahasa Inggris. Sisanya busuk, dia juga ga niat remidi. Seenak udele dewe. Sebelum pergi dari sekolah terkutuk itu, Holden ingin pamit ke guru Sejarahnya yang sudah tua. Lalu bermasalah dengan teman sekamarnya. Pergi dengan luka. Selanjutnya dari malam Minggu sampai menjelang Natal itu dia menggelandang dari satu hotel ke klab malam, ke gedung broadway untuk nge-date dengan Sally, ke kedai roti, ke stasiun, ke kebun binatang, ke museum, ke mana saja termasuk pulang untuk menemui si bungsu Phoebe.

Buku aneh betul ini ya. Sungguh. Menakutkan sekaligus mencengangkan. Segala luka berdarah dan sebagainya membuat aku kelihatan jantan. Semua orang tolol benci dipanggil tolol. Holden baru enam belas tahun, coba pesan minuman keras. – aku mengucapkan pesananku secepat-cepatnya, karena kalau kita terbata-bata dan salah-salah kata, mereka langsung berfikir bahwa kita masih di bawah dua puluh satu tahun.

Kisahnya sendiri tak tuntas, apa yang terjadi berikutnya masih tanda tanya. Holden ini tipikal orang yang suka complain, suka ngeluh, suka marah (dalam kepala) namun ternyata pecundang sejati. Satu lagi, dia cinta anak kecil. Allie adiknya yang sudah meninggal selalu diagung-agungkan sebagi satu-satunya orang normal. Lalu cintanya pada si Phoebe sungguh besar. Adegan saat dia menangis ketika menerima uang itu salah satu adegan paling menyentuh sepanjang hari. Walaupun begitu tetap saja Holden iki hanya lantang di kepala. Seperti pas adegan dia ingin keluar dari kamar lalu turun dari lift ketemu sang penjaga lalu menembaki sampai mampus. Cih, hanya angan kosong seorang pecundang. Ada lagi bagian yang bikin kesal, saat dia tanya kemana perginya bebek-bebek di kolam taman saat danau membeku. Dimana ikannya kalau air di sana menjadi es. Itu bagian yang bikin gregetan. Setuju sekali sama supir taksinya. Holden memang perlu dilabrak.

Novel ini menawarkan nihilitas. Lagi-lagi nihilitas yang berkualitas. Catat teman-teman ya, sebuah novel kosong tanpa menggurui ternyata banyak yang bagus. Intinya disajikan dengan renyah sehingga pembaca dipaksa terpaku melahap terus. The Catcher sendiri saya baca sehari kelar, menabrak jam malam saat liburan akhir pekan. Namun saat selesai saya masih bertanya juga, kenapa buku ini disukai pembunuh? Apa karena isi kepala Holden yang melalangbuana ga jelas itu? Apa karena rebel with a cause nya? Ngajak berfikir out of the box? Entahlah.

Satu lagi catatan menarik, editor novel terjemahan ini adalah bung Yusi Avianto Pareanom, orang yang menelurkan kumpulan cerpen yang unik yang beberapa bulan lalu kubaca. Setelah kuamati gaya bahasanya mirip JD Salinger. Edan betul. Sungguh!

The Catcher In The Rye | by J.D Salinger | copyright 1945, 1946, 1951 renewed 1973, 1974, 1979 | Penerbit Banana | alih Bahasa Gita Widya Laksmini | Cetakan ke 3, Juni 2015 | 14 x 21 cm, iv + 296 hlm | ISBN 979-99986-0-3 | Skor: 5/5

Karawang, 300615 – SIM day

#30 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku