Cerita Mini dari Kota Sejuta Rawa

Anak Asli Asal Mappi oleh Casper Aliandu

“Terlalu asyik, Teman. Alamnya terlalu indah.”

Cerita mini, mirip fiksi mini. Dan karena ini berdasarkan pengalaman penulis selama mengajar di Mappi, Papua maka bisa disebut fakta mini sahaja. Ceritanya terlampau biasa, terlampau sederhana, pengalaman sehari-har. Dan selain cerita mini, bukunya juga, hanya seratusan halaman. Namun harganya tak mini. Contoh buku mini harga mini yang kubeli tahun ini, Sumur-nya Eka Kurniawan. Satu cerpen dicetak, dijual dengan harga masih sungguh wajar 50 ribu. Anak Asli lebih dari itu. Sumur kubaca tak sampai setengah jam, Anak Asli hanya sejam pada Rabu, 13 Oktober 2021 selepas Subuh, ditemani kopi dan serentet lagu Sherina Munaf dalam album My Life. Serba mni, skor juga? Mari kita lihat.

Tak ada inti atau benang merah yang patut dikhawatirkan laiknya novel, tak ada alur yang patut diikuti dengan teliti, tak ada emosi di dalamnya, ngalir saja, tanpa riak sama sekali. Ini fakta mini, bertutur bagaimana keseharian Casper Aliandu mendidik, menjadi guru di pedalaman Mappi yang mendapat julukan kota sejuta rawa. Sah-sah saja, pernah baca beberapa kisah sejenis ini, tapi rerata memang biasa kalau tak mau dibilang jeleq. Termasuk ini. ditulis dengan sederhana, tanpa jiwa meletup, tanpa tautan penting ke jiwa pelahapnya. Cerita tak ada sinyal misalnya, yang mengharuskan ke kabupaten/kota hanya untuk terhubung internet, tak istimewa dan tak ada hal yang baru, wajar dong kan pedalaman. Kecuali saat cari sinyal bertemu singa dengan aumaaan terpekik, atau ketemu gadis jelita dan aku jatuh hati padanya, langit seakan runtuh. Atau cerita gaji yang terlambat, bukankah di sini di negeri ini hal ini sudah terbiasa sehingga apa yang harus dipetik hikmahnya? Korupsi atau alur yang panjang sehingga bocor bisa saja terjadi, dan memang sering terjadi; mau kritik sosial birokrasi juga tak mengarah dengan pas. Ngambang.

Atau cerita anak-anak dengan cita-citanya, dari pengen jadi perawat, dokter, guru, dst. Hal-hal yang juga bisa temui di sepanjang pulau di Indonesia. Kecuali bilang, pengen bercita menjadi bajak laut, atau penyihir wilayah Timur, atau penakluk naga, mungkin juga bilang ingin jadi pengusaha kayu gelondong, atau pengen jadi pendekar penjaga hutan, baru terdengar beda. Tidak, cerita-cerita di sini wajar dan apa adanya. Tanpa ledakan, tanpa letupan. Pemilihan diksi juga tak ada yang istimewa, tanpa kata-kata puitik, tanpa sentuhan bahasa sastrawi.

Tiap cerita dengan judul bahasa Inggris, nah ini. aku pernah komplain dulu penulis remaja bernarasi keseharian bersekolah dengan tiap bab dibuka dengan bahasa Inggris, hal ginian cuma buat gaya dengan esensi kedalaman rendah. Dengan dalil diambil dan terinspirasi dari pakaian yang dikenakan, judulnya malah terbaca ‘walaaah…’, kalau tak mau dibilang norak. Akan lebih eksotik bila judul-judulnya memakai bahasa asli Papua, atau yang biasa saja. Misal ‘Noken is Papua’, kenapa ga jadi ‘Noken adalah Papua’. Tak ada yang salah dengan bahasa Nasional. Namun ya itu tadi, gaya dikedepankan dengan cerita biasa. Coba aku ketik ulang lima judul pertama dalam daftar isi: Making magic happen, creating something from nothing, we started with trust, not just see but observe, life is nothing without love. Kalian bisa simpulkam, terdengar norak ‘kan? Seperti belajar bahasa Inggris level beginner. Ayolaaahh, ini KSK. Ini penghargaan sastra Nasional.

Sistem berceritanya juga dibuat beda, tiap karakter berbicara digambarkan dengan simbol; positif (+), negative (-), lingkaran (Ŏ), sampai sama dengan (=). Sah-sah saja, tapi tetap tak terlalu berpengaruh sama cerita. Tak ada tanda kutip untuk kalimat langsung juga sah-sah saja, mau dibuat aneh-aneh bentuk kodok, jerangkong, kuda nil juga monggo aja, sah-sah saja yang penting ada hal bagus yang didapat pembaca pasca-membaca. Ini negeri demokrasi, bebas berekspresi.

Ada dua cerita yang lumayan bagus. Tentang mencari ikan dan udang. Casper tidak bisa berenang, ia mengajak muridnya untuk berburu di tengah sungai. Takut riak dan khawatir perahu oleng. Hhhmmm… di kelas dialah gurunya, di alam, muridnyalah gurunya. Saling melengkapi. Begitu juga saat muridnya itu sudah lulus, dan ganti murid lainnya. Sama saja, keberanian naik perahu untuk seorang yang tak bisa renang saja sudah patut diapresiasi, tak semua orang berani di tengah air dalam dengan pengamanan minim, atau sekalipun dengan pelampung untuk lebih  tenang, tetap saja patut dikasih jempol. Pengabdian dan pengalaman serunya. Nah, cerita itu disampaikan ke sahabatnya. Bagaimana Casper apakah sudah move on dari pujaan hati yang terlepas, ataukah tetap tertambat. Hal-hal biasa, hal-hal yang wajar dan normal dialami semua pemuda. Pengabdiannya ke pedalaman untuk pendidikanlah yang luar biasa, tak semua orang mampu dan mau. Dan untuk itu, mungkin buku ini terjaring.

Buku ini terlampau tipis, mudah dicerna, mudah dipahami, cepat selesai, tak sebanding dengan harganya. Penutupnya mungkin akan membuat beberapa pembaca terharu, yah minimal tersentuh, perjuangan di pedalaman untuk menulis dan mengirimnya, tapi tetap bagiku biasa saja. Perjuangan yang lebih keras dan berpeluh keringat sangat banyak dilakukan pengarang lain. Haruki Murakami untuk menelurkan karya debut, begadang dari tengah malam sampai subuh lantas siangnya kerja keras sampai tengah malam lagi. penulis dari Timur Tengah dalam gejolak perang, menulis dengan suara dentuman bom sebagai teman. Maka, seperti kubilang, epilog itu juga biasa saja bagiku. Namun, keteguhannyalah yang tetap harus diapresiasi.

Prediksiku jelas, buku ini hanya sebagai pelengkap hingar bingar pesta KSK. Sudah masuk 10 besar saja sudah sungguh beruntung. Mungkin kedepannya harus lebih padat, tebal, dan dalam, yah setidaknya ada benang merah dari awal sampai akhir yang memancing rasa penasaran pembaca. cerita nyata pun harus tetap memesona.

Anak Asli Asal Mappi, Cerita-cerita Mini dari Papua | oleh Casper Aliandu | © 2020 | Penerbit IndonesiaTera | Cetakan pertama, Oktober 2020 | Penyunting Dorothea Rosa Herliany | Desain sampul Regina Redaning & Sabina Kencana Arimanintan | Lay out Irwan Supriyono | ISBN 978-9797-7531-46 | Skor: 3/5

Karawang, 141021 – Sherina Munaf – Sebuah Rahasia

Lima sudah, lima belum.

Thx to Stan Buku, Yogya. Thx to Titus, Karawang.

Love Strikes Twice: Aku Menyadari Segalanya tapi Segalanya Agak Terdistorsi, Seperti dalam Mimpi

 “You’re only young once.”

Do-Over. Mengulang lalu mengubah fakta. Mustahil rasanya di dunia linier ini. namun dalam sinema segalanya bisa. Menyenangkan menyaksikan film keluarga dengan keceriaan membuncah seperti ini. Konfliksnya dari dalam, tapi peluang penyelesaiannya dari aura luar dengan dibumbui fantasi dan kenangan. Film tentang perjalanan ke masa lalu dan mengubah apa-apa yang salah, tentu bukan tema baru. Sudah sangat banyak dan umum. Cara kembalinya juga variatif dan kreatif. Mungkin ini lebih mirip Sweet 20, minus lagu-lagu dan materi-nya yang dibalik. Dalam Sweet, orangnya yang jadi muda dan setting tetap di masa sekarang, di Love Strikes Twice orangnya kembali muda, dan memang waktu mencipta mundur ke tahun 1990-an, dengan lagu klasik, HP monoponik, dst. Namun yang tak berubah adalah otaknya, memori dan ilmu dan segala yang sudah didapat di usia 37 tahun itu masih nempel dan melekat sehingga di usia 22 tahun, ia terlihat hebat dan sungguh cerdas. Tema hura-hura bukan? Bisa jadi, tapi di sini sungguh manis sebab tujuan sesungguhnya bukan sekadar cinta, tapi sebuah perpustakaan umum Elmhurst yang disingkirkan, kini coba dipertahankan. Sebuah pilhan pararel untuk menghidupi harapan.

Kisahnya tentang Maggie Turner (Katie Findlay) yang sukses secara finansial dan karier, tapi mengalami kebosanan dan rasa hambar dalam keluarga. Di tempat kerja, bosnya memuji atas kecermelangan penyelesaian tugas, big bos pemilik bahkan kesemsem padanya. Bekerja di kantor bantuan hukum prestise di Chichago, ia sejatinya memenuhi impian masa muda, menjadi pengacara. Suaminya Josh Turner (Wyatt Nash) agak defensive, mungkin bosan. Ayahnya sakit, kakinya keselo sebab jatuh dari tangga. Ibunya terlihat murung. Adiknya jadi IT game, tapi merasa kesepian sebab belum menikah juga. Ada yang kurang, ada yang janggal.

Suatu hari mereka mudik untuk merayakan ulang tahun pernikahan orangtuanya yang ke-10 tahun: Estelle Hartman (Sharon Bajer) dan George Hartman (Alex Poch Goldin), disambut meriah. Ayah – ibunya masih romantis, masih sangat mesra, mencipta rasa iri sebab percintaannya sendiri di tepi bosan. Malam itu bahkan meminya pisah ranjang, ia ingin tidur di tempat tidur masa remajanya, dan jalan-jalan. Melihat suasana kota di malam hari yang sunyi, mendapati air mancur, yang iseng berdoa melempar koin. Jreng jreng jreng… keajaiban terjadi. Ia terbangun di kamarnya, kembali ke masa lalu.

HP jadul, bagaiman model lama, dan kota khas tahun 1990-an. Rambutnya pendek, tapi tetap modis, sederhana. Hubungan asmara dengan Rick Morgan (Marshall Williams) yang kaya raya, sahabat dengan Josh pengelola perpustakaan kota (calon suaminya), mereka sedang berjuang melawan dewan kota yang akan menghancurkan perpus, menggantinya dengan gdeung komersial. Komunitas baca melawan, demo dan menghalangi petugas, mereka ditangkap polisi dan diadili.

Dewan kota diwakili oleh Malcom Baxter (Erik Athavale), ayah pacarnya sementara Maggie tak menyewa pengacara, ia maju dengan pede dan lantang. Yo jelas, di masa depan ia jago debat, juara dah di panggung persidangan, ia bisa mengorganiasi dan ia bisa bernegosiasi. Maka penuntut yang notabene adalah Malcom (calon bosanya di masa depan), jadi saling silang dilema massa. Kita tahu dan yakin Maggie dan komunitas bacanya menang sebab pikiran, cederdasan, kedewasaan itu terbawa ke masa lalu. Maka hal-hal yang salah itu diperbaiki, benar-benar kesempatan kedua. Lantas kalau segala yang di masa lalu sudah keren, akankah di masa kini yang nyata juga turut keren?

Aku tandai bintang utamanya Katie Findlay, di sini cantik sekali. Tampil rambut pendek ataupun digerai menjuntai sebahu tetap menawan. Film-film berikutnya bakal kuikuti. Setelah ku googling, ternyata usianya baru 21 tahun dan CVnya belum banyak, belum pernah main film bisokop, kebanyakan hanya tv seri, dan sesekali main Film-TV seperti ini. nah, kabar baiknya ia menyumbang soundtrack di Zoey’s Extraordinary Playlist, empat seri. Ok, kukejar Kate!

Judulnya bisa berarti pilihan juga, sebab Maggie dilamar oleh orang kaya raya, dan diterima cincin tunangannya, ataukah tetap kembali ke sobatnya, yang di masa depan adalah suaminya. Sulit? Tergantung perpektif. Namun drai acara makan malam sama calon mertua kita bisa ambil kesimpulan dengan tegas. Ini masalah prinsip. Tanpa perlu ketemu atau bicara dengan mereka pun kita sudah bisa benci pada mereka. Orang kaya, dengan uang seolah bisa membeli segalanya. Membujuk Maggie untuk legowo. Di sini jelas Maggie memantabkan diri, oh ini pilihan yang jelas dan ternyata memang tak sulit. Uang hanya materi, kepuasan menggenggam idealism sungguh besar harganya, perjuangan tetap berdiri perpus kota saja terlihat eksotik, dan aduhai. Ucapan calon mertuanya memilin-memilin hatinya. Sulit berpaling sepanjang layar menyaksi ia dengan meyakinkan di persidangan menghajar bosnya, bayangkan. Pirang, muda, cantik, cerdas, anggun. Luar biasa, terlihat sempurna.

Temanya mengulang masa lalu. Premis akrab bagi penggila genre pengelana waktu, tapi tetap menyenangkan dan asyik sekali. Maggie terbangun muda dan menyadari pengulangan, seorang time-traveler. Aku menyadari segalanya tapi segalanya agak terdistorsi, seperti dalam mimpi. Ini semacam obat penawar setelah menyaksikan film Beyond Sixty yang melelahkan, orang-orang tua curhat. Love Strikes jelas penuh kebahagiaan dan kreatif, seru dan meluap-luap. Hal-hal percintaan yang terdengar fantastis, tetapi cukup layak.

Kita dapat menyesali diri karena melakukan tindakan tertentu, memberi komentar tertentu, tetapi kita tidak bisa menyesali perasaan. Tiap pilihan menciptakan mentalitasnya sendiri untuk mengada. Ingatan harus disiram seperti pohon bunga dalam pot, dan untuk menyiram itu dibutuhkan keteguhan hati, dan sahabat sekaligus calon suami sekaligus suami itu dengan gemilang berhasil meyakinkannya. Ingatan tak usang, dan cinta itu menyuburkan. Love Strikes Twice benar-benar meluap-luap penuh konvetti, ceria dan sendu bahagia. Kalian harus coba saksikan. Serius!

Love Strikes Twice | Year 2021 | USA | Directed by Jeff Beesley | Screenplay C. Jay Cox, Neal H. Dobrofsky, Tippi Dobrofsly | Cast Katie Findlay, Wyatt Nash, Marshall Williams | Skor: 4/5

Karawang, 121021 – Al Jarreau – Midnight Sun

Love Strikes Twice diproduksi oleh Cartel Pictures dan bisa disaksikan di Hallmark Channel Homepage

The Autopsy of Jane Doe: Aku Tidak Percaya Hantu, tapi Aku Takut Padanya

Tommy: “Jadi kalau kamu dengar bunyi ‘ting’ (di kaki), maka dia masih hidup.”

Aku tidak percaya hantu, tapi aku takut padanya. Dunia gaib berserta arwah gentayangan menghantui keluarga petugas otopsi. Ayah, anak, dan pacar anaknya dilingkupi horror, mencekam. Hal-hal mistis terjadi saat otopsi mayat istimewa, keganjilan bagaimana dibalik kulit mayat ada simbol sebuah sekte sihir dari masa lampau mendirikan bulu roma. Langkah antisipasi diambil, tapi segalanya berantakan.

Kisahnya dibuka dengan mendebarkan, sesosok mayat ditemukan ditimbun dalam lantai basemen rumah tua. Mayat masih utuh dan tampak baru walau sekelilingnya lusuh. Pihak kepolisian mengirimnya ke rumah keluarga Tilden untuk diotopsi.

Tommy (Brian Cox) dan anaknya Austin (Emile Hirsch) sebenarnya baru saja selesai tugas, tapi karena sobat polisi Sherif Burke (Michael McElhatton) meminta hasilnya esok pagi harus ada, mereka lembur. Sementara acara kencan nonton bioskop sama Emma (Ophelia Lovibond), pacar Austin diminta pulang lagi dan balik jemput nanti. Well, kengerian dimulai dari sini.

Mayat itu diberi identitas Jane Doe (Olwen Catherine Kelly), semua prosedur otopsi dilakukan. Kamera nyala, rekaman jalan, pembedahan dimulai dari pengecekan fisik luar lalu kepala dibuka. Turun ke tubuh, hingga tuntas di anggota kaki. Semua memang tampak janggal. Mayat yang sudah dikubur puluhan atau ratusan tahun ini masih utuh, darah segar muncul. Ngeri, seolah baru kemarin malaikat maut menjemput.

Makin mengerikan, mereka menemukan simbol di balik kulitnya. Simbol sihir dari masa lampau. Ini jelas bencana, teror digalakkan. Lampu mati, badai menerjang, pohon rubuh menimpa atap, pintu terkunci sendiri, bayangan hitam menyelingkupi, kabut sesaat menari, hingga terdengar suara asing meritih. Kita semua menyaksi efek bedah jenasah. Sebuah lonceng yang dipasang di ujung jari kaki sejatinya untuk memastikan tubuh ini sudah jadi mayat, maka saat pisau bedah menyentuh kulit, akan ada urat syaraf yang tertarik, menyalurkan energi itu untuk memberi tahu para petugas bahwa jiwanya masih ada.

Maka saat anak-bapak ini mencoba kabur dan sembunyi di kamar lain, dan muncul asap disertai bunyi lonceng yang bergerak, tahulah, mereka benar-benar menemukan mayat penyihir yang mengancam. Dengan celah yang terbuka, Tommy menghantamkan golok. Fatal!

Tommy yang frustasi bahkan meminta anaknya untuk langsung menembaknya bila ia nanti kesakitan dalam sekarat, ia lebih baik mati draipada menderita. Maka saat kembali ke ruang otopsi, dan tragedi berikutnya muncul, keberanian Austin diuji. Tak sampai di situ saja, saat ia mendengar langit-langit berderak dan mengira bantuan datang, adegan itu malah menjadi bencana berikutnya sekaligus penutup. Keapesan keluarga berurusan dengan mayat yang salah.

Olwen Catherine Kelly hanya berakting tidur sejak mula, dan saat layar ditutup ia tak ada dialog. Mayat memerankan karakter penting yang menghantui, ia memberi makna kalau lagi apes, masalah memang kadang mendatangi.

Genre horror memang ada di ujung daftarku, tapi dari beberapa referensi menganjurkan menikmati. Sesuai saran, kumatikan lampu, ditutup pintu dan jendela, kusaksikan tengah malam. Ditambah saat itu hujan. Aroma mistis coba dipanggungkan, mencipta suasana cekam. Memang mengerikan, walau temanya teror dari Dunia Lain, sejatinya plotnya masih bisa diterima.

Banyak cara untuk menakuti penonton. Para hantu adalah makhluk abadi sejati, di mana yang mati ‘dihidupkan’ sepanjang masa. Hantu-hantu memiliki vitalitas yang lebih besar pada masa kini daripada sebelumnya. Semakin hari semakin banyak, semakin variatif bentuknya. Para hantu yang menyatroni sinema, dan akan selalu seperti itu. Seolah para hantu tak pernah habis atau mati. Jane Doe, mungkin bukan hantu sebab ia tak menampakkan diri dalam samar. Kedokteran medis merupakan suatu ilmu terapan yang empiris. Ia bahkan benda padat yang dioprek tubuhnya, ia tak melakukan panampakan yang mengagetkan. Ia sekadar badan mati yang rebahan. Jenis horror yang tampak lain kan? Itulah, hantu-hantu modernitas. Setting di ruang otopsi, aura takut menguar dengan kuat. Hantu-hantu masa kini memiliki ketertarikan aktif bukan hanya dalam masalah publik, tapi juga seni.

Semakin manusia mengenal hukum alam, semakin tekun manusia mencari tahu masalah supranatural. Bisa saja mengklaim tak percaya takhayul, tapi tak benar-benar meninggalkannya. Sekalipun telah meninggalkan dunia sihir dan alkimia, manusia akan selalu masih memiliki waktu yang melimpah dalam penelitian yang bersifat psikis. Mereka telah mencampurkan horror dengan realitas.

Kehidupan memiliki geometri rahasia yang tidak dapat diolah oleh akal sehat.

The Autopsy of Jane Doe | Year 2016 | England | Directed by Andre Ovredal | Screenplay Ian Goldberg, Richard Naing | Cast Brian Cox, Emile Hirsch, Ophelia Lovibond, Olwen Catherine Kelly | Skor: 4/5

Karawang, 220921

Rekomendasi Lee dan Handa, Thx.

I and the Stupid Boy: Seorang yang Pikirannya Semrawut akan Melakukan Tindakan Secara Semrawut Pula

“Dalam hidup ini kita tidak akan berhasil, kalau kita tidak berani mengambil risiko.” Agatha Christie dalam Nemesis

Peradaban manusia sangat berutang pada ilmu dan teknologi. Teknologi selalu bermata dua, tajam menyayat kepedihan dan fungsi guna kemajuan. Di tangan para remaja bermasalah, yang mengedepankan penasaran dan pertalian sahabat, bisa memicu pornografi. Lihat saja, iklan aplikasi temu syahwat yang bersliweran di beranda sosmed, rerata menawarkan kemudahan kopi darat untuk mencari pasangan. Bisa dipilah apa saja bersadarkan kriteria, dari sekadar hobi, jual beli, pengembangan pergaulan, hingga cari pasangan. Namun sisi negatifnya, tersebab hati orang tak ada yang tahu, orang jahat juga bertebaran. I and The Stupid Boy menawarkan plot sejenis itu, efek buruk gadget yang dengan mudahnya pornografi tersaji. Apalagi kamu bersahabat dengan pemuda IQ jongkok. Waspadalah!

Kisahnya tentang Nora (Oulaya Amamra) siap kopi darat, ia berdandan, ia memiliki agenda bersama seorang pemuda yang tampak ideal. Ia mengirim banyak gambar ke orang asing, yang sayangnya beberapa menampakkan dirinya berpakaian minim atau bahkan bugil, kita tak tahu karena hanya mengetahuinya dari dialog. Setelah tampak rapi dan modis ia berangkat.

Di tengah jalan ketemu sahabatnya, mantan kekasih Kevin (Kaouther Ben Hania) yang menggoda. Berkomunikasi berbasa basi, lantas kepo sejatinya ketemu siapa sih? Saat ia membuka handphone-nya, apes Kevin langsung menyambar. Sambil petak umpet, kejar sana-sini, teriak meminta balik, dan jangan buka file ini itu, Kevin menemukan foto-foto yang di-sher. Ia tampak cemburu, kesal, sekaligus memanfaatkan moment. File-file itu diteruskan ke handphone-nya.

Ia memasuki gedung kosong, gelap, dan tampak menakutkan. Tak ada jalan lain, Nora harus meminta balik handphone tersebut. Banyak hal-hal pribadi dan sensitif. Semakin ke sini semakin mengesalkan tingkah sang lelaki, lantas karena sabarnya habis dan ia memiliki kesempatan menghajarnya. Ia terpaksa melakukan.

Kukira ia tewas, tapi hanya pingsan. HP-nya diambil balik, lantas Kevin difoto dalam keadaan berdarah dan limbung, kali ini sekaligus balas dendam, menggunakan HP pelaku, sembari diancam disebarkan ke semua kontak, Nora meminta Kevin meminta maaf. Ancaman itu tak digubris, dan saat klik dilakukan kehebohanlah yang terjadi. Baik kehebohan dari para penerima file maupun di gedung itu. Lihat, satu klik menimbulkan gema panjang mengerikan. Kalau sudah terjadi dan kacau, lantas apa yang kita banggakan?

Seorang yang pikirannya semrawut akan melakukan tindakan secara semrawut pula. Memang lebih baik jadi ‘penakut’ dalam arti berhati-hati daripada terlalu berani lalu lengah. Ada pepatah yang berbunyi ‘banyak lalat tertangkap dengan madu, daripada dengan asam.’ Kenyataannya banyak yang terperangkap dalam nafsu justru dengan madu ‘kan. Orang-orang asing di luar sana banyak yang bermental tempe, memanfaatkan situasi dan teknologi untuk kepentingan pribadi. Nafsu dikedepankan, logika disembunyikan, nurani hitam. Walaupun ini bukan hal baru, tapi teknologi digital telah menjadi ladang maksiat yang subur.

Pada umumnya pertumbuhan jasmani wanita lebih cepat daripada pria. Dan pertumbuhan ini tidak selalu disertai dengan kematangan pikiran. Kematangan pikiran akan tumbuh belakangan dan biasanya dipengaruhi oleh pendidikan, pergaulan, dan sebagainya. Wanita, secara naluriah akan memilih lelaki yang tahan uji, tekun, dan sabar. Maka masa remaja menuju dewasa menjadi sungguh krusial. I and the Stupid Boy menawarkan plot yang kurang lebih seperti itu. Lingkungan dan pergaulan yang baik akan membentuk karakter yang baik.

Seperti kata Voltaire, “Pemikiran seperti jenggot. Tidak tumbuh sebelum dewasa.”

I and The Stupid Boy | Year 2021 | Italy | Short Film 14m | Directed by Kaouther Ben Hania | Screenplay Kaouther Ben Hania | Cast Oulaya Amamra, Sandor Funtek | Skor: 3/5

Karawang, 220921 – Michael Fanks – The Camera Never Lies

Film ini diproduksi oleh Miu Miu, dan bisa dinikmati di Youtube

One Day: Peristiwa yang Telah Dinanti-nantikan dan Dimatangkan oleh Waktu Kini jadi Sebuah Takdir

“Beritahu aku, Sherina, apakah kau pernah punya seorang loyalis kasih sefantastis aku?”LBP

Maka, aku membuka mulutku dan meniup terompetku. Nadanya syahdu dan menelisik telinga, membuat Sherina terpental di dunia pararel hilang kesadaran, lantas ia membalas cintaku. Keberuntungan tak akan bertahan selamanya. Bagaimana kalau kamu dikasih kesempatan sehari untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasih yang sejatinya jauh diluar jangkauan? Bagaimana rasanya menikmati masa-masa itu, impian liar yang terpendam diwujudkan dalam waktu 24 jam. Katakanlah, Sherina hilang ingatan, dan hilang kewarasan sehingga mencintaiku untuk waktu tertentu. Lantas saat ia balik ingatan dan juga warasnya, segalanya normal lagi sehingga ia kembali ke suaminya. Namun jelas sehari itu akan sangat amat special. Patut diperhitungkan, dunia fantasi percintaan akan selalu laku diolah. Latarnya saja digubah, proses mencintanya disetting, manusianya yang kreatif. One Day memang menawarkan kisah picisan, tapi tetap saja nikmat untuk diikuti, apalagi tokohnya yang culun yang lantas diwujudkan impiannya. Kita diberi kesempatan menyaksi orang aneh ini bahagia, walau sesaat.

Denchai (Chantavit Dhanasevi), seorang IT yang culun abis. Ia memang bagus dalam kinerja kerja, tapi sosialnya terbelenggu. Freak menghadapi rekan-rekan, apalagi cewek, apalagi cewek cantik yang diam-diam ia kagumi. Adalah Nui (Nittha Jirayungyurn) pusat segala cinta di kantor itu. Ia adalah semesta damba, yang dicintai di balik punggung. Sang IT mengistimewakannya, membantu ekstra bukan hanya masalah informasi teknologi, tapi juga dukungan segalanya yang bisa dikeranhkan. Lagu-lagu jadul ia masukkan winamp, sebagai playlist menemai orang terkasih. Ia hapal kebiasaan selama di kantor, ia bahkan tahu ada tanda lahir di tubuhnya. Pengagum luar biasa obsesif.

Sayangnya, Nui adalah kekasih gelap sang bos. Menjadi wanita simpanan, menjadi Sephia-nya. Ia mau dimadu, dijanjikan dinikahi suatu hari kelak. Perselingkuhan itu pahit baginya, tapi tetap saja dijalani. Cantik sih tapi pelakor.

Suatu hari mereka melakukan rekreasi kantor ke Jepang, di sebuah pegunungan Hokkaido yang merupakan tempat libur impian Nui sebab di sana ada festival tahunan, yang fotonya dipajang di atas meja kerja. Ia menanti hari itu dengan antusias. Sayangnya hari itu tak berjalan mulus. Bosnya memilih bersama istrinya, dan ia tak mungkin menceraikan istrinya sebab sedang mengandung. Hatinya luluh, pikirannya lantak. Rasanya langit runtuh. Ia berniat bunuh diri.

Untung ada si freak yang memerhatikan, mengikuti perjalanan di tengah salju, menolongnya di dinginnya badai. Nui, menurut diagnose dokter mengalami sakit hilang ingatan selama sehari. Ia akan pulih otomatis saat mentari esok muncul. Maka saat terbangun dan Denchai adalah manusia pertama yang dilihat, ia memodifikasi fakta. Mengaku pacarnya, mengaku kekasih istimewa. Nui seolah tak percaya, ia menelpon ibunya, karena nama bosnya yang disodorkan Denchai, segala semesta mendukung drama sandiwara ini. Ia mengangguk, tetapi ekspresi keraguan di wajahnya tidak menghilang. Peristiwa yang telah dinanti-nantikan dan dimatangkan oleh waktu kini jadi sebuah takdir. Hello polisi, ada seorang IT meniru pacarnya Nui untuk mencuri momen! Keraguan menjadi bahan bakar pengembaraan.

Luar biasanya, Nui hanya diberi waktu beberapa jam dan sukses benar-benar jatuh hati. Dan sang pejantan jadi tangguh benaran. Cinta tak berkurang karena rekayasa dan tak bertambah karena luluhnya kekasih. Cinta yang Nui alami bukanlah hasil usaha tangan manusia, melainkan diciptakan oleh aktifitas Tuhan.

Endingnya memikat, kalian yang benar-benar mencinta pasti akan melakukan pengorbanan yang sama. Kebahagiaan orang terkasih ada di posisi tertinggi, yang mulia cinta, aku menghamba. Tertanda IT culun. Sebagaimana kalian para pujangga, seorang IT juga selalu lebih senang bergaul dengan benda-benda mati daripada makhluk hidup.

Denchai adalah seorang loyalis sejati pada cinta dan kenangan. Itu terlalu melankolis, terlalu culun untuk laki-laki, tentu saja tak baik. Budak cinta tak harus seaneh itu. Konsep-konsep tentang mencintai seperti itu tidak dapat dijejalkan ke dalam telinga-telinga orang normal. Malah bikin muak bahkan marah. Perilaku damba sejenis itu adalah maklumat sahaya. Bro, kamu tuh lelaki! Cinta dikambinghitamkan sebagai sumber inspirasi.

Akhir yang pantas untuk keduanya. Tentu saja mereka tidak bersulang untuk sebuah perpisahan. Namun aku memberi tepuk tangan meriah untuk keberanian mengambil keputusan pergi. Selamat Boy, kamu lolos.

One Day | 2016 | Thailand | Directed by Banjong Pisanthanakun | Screenplay Banjong Pisanthanakun, Chantavit Dhanasevi, Nontra Kumwong | Cast |Chantavit Dhanasevi, Nittha Jieayungyurn, Theerapat Sajakul  Skor: 4/5

Karawang, 210921 – Billie Holiday – Fine and Mellow

Recommended by Lee, Thx.

Meandre: Kekosongan Diam dalam Pipa itu Bernyanyi

“Tabahkanlah hati dan berusaha tetap hidup, karena akan datang suatu hari di mana engkau akan merasa berbahagia dan menghargai hidup.” Alexandre Dumas dalam Monte Cristo

Kecuali di adegan pembuka penculikan, Meandre hanya berkutat di lorong labirin yang sesak. Seperti The Maze Runner yang mencari jalan keluar setelah berkutat di hutan labirin, seperti Oxygene yang sendiri bertanya-tanya sedang di mana dan apa yang terjadi, seperti pula Saw, manusia diculik untuk disiksa dalam permainan. Jelas idenya tak baru, eksekusi sama ganjil dan ngilunya. Rasa-rasanya ingin menyerah dalam kesesatan, capek melihat cewek disiksa penuh tanya, bukan hanya mental tapi secara fisik benar-benar tersakiti. Maksudnya apa?! Pemeran Cuma satu, perangkap dalam labirin. Menebak jalan tikus, atau mati. Membosankan…

Kisahnya dibuka dengan bantuan tumpangan mobil dari orang asing kepada Lisa (Gaia Weiss), setelah basa-basi sedang apa dan apa yang terjadi sehingga ia tenyepi jauh dari kota, dari radio terdengar kejahatan penculikan. Dan ciri-ciri sang buronan cocok sama penolongnya, baku hantam bentar lalu layar gelap. Apes benar, masuk ke kandang macan.

Lisa terbangun di sebuah kotak, dengan baju swit olahraga putih berseleret hitam membalut, tangan kanannya bergelayut gelang bercahaya dan tertera waktu mundur, kebingungan atas apa yang terjadi, ia lantas mencoba mengenali keadaan sekeliling. Sebuah lubang terbuka, ia masuk merangkak, lalu tertutup, tak bisa kembali. Lisa merangkak maju, gelang itu berfungsi sebagai cahaya dan penghitung jebakan muncul.

Bahaya pertama datang, pemancar api muncul di sela-sela lorong, detik bergerak, Lisa gegas masuk ke dalam kotak darurat. Semburan api muncul seketika. Selamat. dan seterusnya. Ia akan diberi waktu di tiap lorong labirin, lalu gegas menyelamatkan diri. Berikutnya ia menemukan mayat gosong, air yang melimpah, penjepit beton, memori yang ditampilkan layar, sesosok robot gantung yang menambal lukanya, hingga cara penyiksaan lain.

Pertanyaan utama mungkin adalah apakah ia selamat, rasanya melelahkan sekali menjadi Lisa seolah ingin menyerah sahaja. Namun tanya itu tak harus dijawab, sebab intinya memang bukan itu. Persepsi yang dibangun adalah, permainan dengan taruahn nyawa. Senang-senang orang gila. Labirin itu memberi klu di tangan dengan tanda merah menyala “XXΔ” yang tertera di tangan kanan di bawah gelang lampu semua korban. Rute selamat yang sudah beberapa kali dijelaskan tapi ya tetap saja menyakitkan, melelahkan, capek bos. Perasaan bak lari sepuluh kilo dengan kecepatan konstan, tapi treknya tak luruh. Penuh duri, gelombang, tekanan dari pelari atau pengendara lain. Benar-benar ngos-ngosan. Lisa berdiri di bibir jurang penderitaan abadi.

Meandre sendiri adalah kata dalam bahasa Prancis yang artinya Mengerikan. Cocok sama genre yang ditawarkan, tapi tak cocok ditonton dengan nyaman. Kebanyakan psikopat memang manusia gila, memasukkan manusia lain untuk mainnya dengan nyawa taruhannya. Memberi waktu untuk memecahkan misteri, atau mati. Lisa jelas bukan korban pertama sebab beberapa mayat ditemukan. Korban seolah diambail acak, seperti Lisa yang awalnya menolak dibantu, ia menjawab dramatis setelah mobi bergerak lima meter, teriakannya yang jelas sangat disesalinya.

Gaya slasher adalah genre paling akhir yang mungkin kutonton, menonton film adalah untuk hiburan, bukan untuk disiksa. Meandre menawarkan siksaan gila, mengerikan. Membayangkan manusia ditempatkan dalam labirin berbahaya saja sudah tedengar gila. Teknologi ditemukan untuk kebaikan umat, bukan untuk menyengsaralan., apalagi menyiksanya. Keputusan kutonton sendiri, saya klik asal sebab akhir pekan kemarin waktu melimpah pas jemput Hermione di rumah neneknya.

Pipa labirin yang diselubung adalah pemecah kode morse yang saya sendiri tak akrab. Apapun itu, ide menyiksa manusia sudah tak akan bisa memikatku. Tema gore dengan adegan siksa tersurat, hanya untuk orang gila. Kekosongan diam dalam pipa itu bernyanyi di telinga Lisa, dan mengantar penonton yang tersiksa. Cukup. Cukup sudah, ini benar-benar mengerikan.

Meandre | Year 2020 | Prancis | Directed by Mathieu Turi | Screenplay Mathieu Turi | Cast Gaia Weiss | Skor: 3/5

Karawang, 150921 – Diana Krall – I’ve Got You Under My Skin

After Love: Kami Merindukanmu bak Halilintar

“Bersamaku membuatnya merasa menjadi suami yang baik untuk orang lain. Ini membuatku sedih” – G

Kesedihan terdalam adalah mengingat kebahagiaan masa lalu. Cerita cinta yang hilang dan respon menghadapinya. Drama dengan kekuatan akting dikedepankan, karena ceritanya sederhana, kalau dibagi dalam babak ada tiga: kehilangan, pencarian dan penemuan fakta, legowo. Dunia duka dengan segala isinya. Kematian mendadak orang terkasih memicu tanya beruntun saat menemukan isi chat mesra di HP almarhum. Menemukan sebuah kartu identitas wanita lain diselipkan dalam dompet, dan inilah inti dari After Love, perjalanan menemukan jawaban kehidupan lain sang suami. Ini kisah tentang tautan dua wanita dalam satu hati lelaki.

Kisahnya dibuka dengan tenang, Mary (Joanna Scanlan) seorang muslim keturunan Pakistan dan suaminya Ahmed (Nasser Memarzia_ menyatakan diri kepada istrinya dengan identitas: Love), kapten kapal feri jalur Dover – Calais. Mereka tinggal di Dover, Inggris. Mereka pulang dari kondangan. Sang istri melepas hijab, memanaskan air untuk ngopi, mencuci gelas untuk persiapan. Membuka berkat, “apakah isinya ada daging?” oh tidak ada hanya lauk dan sayur. Sang suami duduk santai di ruang tamu, sembari nunggu untuk kopi disajikan, ia membuka HP dan bicara sambil lalu.

Lalu tiba-tiba ia meninggal dunia. Jangankan yang mendadak, orang sakit keras bertahun-tahun saja masih banyak yang tak siap menghadapi kematian. Adegan berikutnya menyaksi penyajian doa bersama yaa siin-an dan hulu ledak tangis dalam duka.

Barang-barang almarhum dirapikan, lantas menemukan kejanggalan. Chat tak selesai dengan wanita bernama Genevieve (Nathalie Richard), di kontak diberi nama ‘G’. Kartu identitasnya ada dalam dompet. Jadi selama ini suaminya selingkuh dengan wanita Prancis hingga memiliki anak. Mary yang kini sendirian lantas menyelidiki sisi lain hidup belahan hatinya. Berkendara jauh ke apartemen Gene, mengikuti rute feri tempat kerja almarhum, lantas menjelma tukang bersih-bersih, tenaga bantu, Sabtu ini mereka akan pindahan.

Hubungan mereka menghasilkan seorang anak lelaki Solomon (Talid Ariss) yang suka memberontak, di usia remaja dengan pikiran liarnya. Betapa ia merindukan kasih sayang seorang ayah. Ia pernah kabur dari study tour ke Dover untuk bertemu ayahnya. Setelah berhari-hari menjadi pendengar dan pengamat keluarga, mereka belum  juga mengetahui identitas asli Mary. Karena memang Mary-lah yang mengorek kehidupan. Hal-hal tabu diungkap, suaminya minum minuman keras tampak saat video kenangan diputar di tv, ideologi Gene bahwa ia memang jadi WIL, tapi semua ga papa kok. Setelah itu, perhatikan gesture Mary, menggeleng dan ekspresi tak percaya! Terdeteksi getar halus rasa sedih dan marah dalam nada suaranya. Benaknya kosong dari pikiran apa pun, seakan-akan berpikir adalah sebuah kemewahan.

Gene dan Ahmed tak menikah, walau dalam Islam diperbolehkan poligami. Gene tak mempersalahkan berbagi suami, jelas muncul tekanan di sana tapi ya ngalir aja, menyadari status ia pacaran sama suami orang. Ya Mary sedih, tapi rasa sedih itu menjadi sangat saat menemukan fakta bahwa Solomon menjalin kasih sesama jenis, ini jelas menghancurkan hati setiap ibu. Ia yang memimpikan seorang anak, menemukan anak suaminya memiliki penyimpangan seksual sungguh mencipta pilu.

Semakin hari, Mary semakin mengerti mengapa suaminya memiliki sisi lain. Mereka tak punya anak, ia gendut, ia kurang cantik; ditampilkan dengan galau dalam cermin tatapan pasrah, ditampilkan pula dalam pembaringan pasir dicium ombak bak paus terdampar. Ia tak lugas dalam diskusi ilmu, ia memang taat ibadah dan selalu salat, bahkan menangis dalam sujudnya. Namun ia juga menyadari penampilan dan kepribadian wanita lain yang lugas dan terbuka, hingga fakta-fakta kecil bahwa kekurangan yang ada di dirinya bisa ditemukan dalam selingkuhannya. Singkatnya mereka melengkapi.

Hingga akhirnya, Mary mengakui statusnya, nama Islamnya Fatima, identitas yang diketahui Gene, lantas ledakan amarah tersaji, keduanya marah, keduanya kesal. Mary menyampaikan kematian mendadak Ahmed, mereka tak siap, HP-nya ditelpon, ada dalam tasnya, dan kekalutan itu wajar, memang pantas membuncah, waktu juga yang mengantar mereka kembali membumi karena dunia terus berjalan, dan setelah kepergian Cinta, ada hal-hal yang laik diperjuangkan, diperbaiki. Fakta mengembuskan napas kekhawatiran dan juga kelemahan, yang dapat membelenggu dan juga membebaskan.

Ini drama sentimental, Mary bercerita masa pacaran pada ‘anaknya’ bahwa zaman dulu komunikasi pakai surat, membuat rekaman kaset pita untuk dikirim dan diperdengarkan bila rindu melanda. Klasik. Tak seperti sekarang, dengan HP kendala rindu menjadi sederhana untuk disampaikan. Nah, berkali-kali kita menjadi Mary untuk mendengarkan rekaman voice mail dari Love. Pesan-pesan sederhana sehari-hari, Mary menikmatinya sebagai kenangan yang sungguh bernilai, sedikit mengobati rindu. Ini jadi adegan touching sekali, saat pesan suara itu hangus. Fufufu… begitu juga saat menemukan pakaian-pakaian almarhum, diciumi, dipeluk. Hal-hal sentimental yang rasanya tak bisa dengan mudah dilepas, termasuk bau khas baju tersebut. Rasanya sayang, karena setelah dicuci arti jejak itu hilang, menguap. Kami merindukanmu bak halilintar.

Sempat memunculkan tanya, “Kapan terakhir kali kalian salat hingga sesenggukan meneteskan air mata?” Lupa saking jarangnya? Banyak alasan untuk menangis, banyak cara mendekatkan diri dengan Yang Mahakuasa, betapa lemah dan rapuhnya manusia.

Banyak sekali pengambilan gambar alam disajikan. Lautan dengan ombaknya, pohon-pohon hijau yang berkejaran saat naik bus, angin berdesir menyapu ombak, dengan sang protagonist tiduran di pasir pantai, dibelai ombak, diraba hembusan. Langit cerah yang menawarkan obat duka, hingga rentetan butir debu berterbangan jatuh dari langit-langit. Semua ditampilkan dengan lembut seolah penting, seolah hal-hal kecil yang ada di sekitar kita menyokong kehidupan fana ini. Mary duduk di kursi depan rumah, melihat kegiatan di sekitar dengan HP di tangan saja sudah tampak menarik, sebab kamera sesekali mengambil dari depan yang artinya Mary menonton penonton, menampilkan kerutan kening kesedihan di wajahnya. 

Walau disesaki kisah duka, pada akhirnya ceritanya selesai dengan bahagia, semua berdamai dengan keadaan, berziarah, mendoakan, memaklumkan. Ini berkebalikan dengan awal mula saat fakta-fakta pahit diungkap, saling marah saling tampar, saling teriak. Alih-alih berusaha mengubah riak-riak konfliks dari sesuatu yang asing dan artifial, After Love membiarkan adegannya mengalir sendiri dari dalam pikiran, lantas kamera menyorot mereka bertiga di tepi pantai, menjauh perlahan seolah mengucap ‘Goodbye‘ guna menutup film.

Mereka akhirnya menyerahkan diri pada ketiadaan beban.

After Love | Tahun 2020 | Inggris | Directed by Allem Khan | Screenplay Allem Khan | Cast Joanna Scanlan, Nathalie Richard, Talid Ariss, Nasser Memarzia | Skor: 4/5

Karawang, 150921 – Shirley Horn – I Got Lost in his Arms

Rekomendasi Lee, Thx.

Misa Ateis: Te Deum

“Aku seorang Katolik dan aku takut neraka, tapi aku sangat mencintaimu – ah, kesayangan –aku akan mengorbankan keabadian hanya untukmu!”

Kumpulan cerpen yang menggugah, tipis dilahap dalam sehari hanya sebagai selingan ‘Sumur’-nya Eka Kurniawan yang juga selingan dari Memoar Geisha. Keduanya hanya selingan, saat isoman karena Covid-19. Untuk menjadi hebat memang tak selalu harus tebal, tipis semacam ini dengan penyampaian inti kisah, langsung tak banyak cingcong juga sungguh aduhai. Semua konfliks diramu dengan pas, beberapa tanda tanya sempat diapungkan, arti judul juga jadi kontradiktif, misa dilakukan untuk orang-orang relijius, ateis berarti tidak teis, tak percaya tuhan, lantas Misa Ateis? Tenang, jawaban itu tak menggantung, ada penjelasan runut dan sajian kuat mengapa itu bisa dan harus dilakukan. lezat, memikat.

Buku kecil bermutu besar. Jos tenan! Luapan kegembiraan yang sublim.

#1. Misa Ateis

Ini kisah balas budi, seorang dokter sukses secara akademik, finansial, hingga reputasi terkenal sebagai seorang ateis yang taat. Namun publik lantas tahu ia melakukan misa, sesuatu yang tak lazim dan kontradiktif. Lalu kita diajak melalangbuana ke masa lalu, masa muda yang berapi-api dalam perjuangan menegakkan ambisi dan kebanggaan.

Dokter jenius, ahli bedah Desplein disanjung dan dikanl luas akan dedikasinya akan pengetahuan kedokteran. Kejeniusan Desplein bertanggungjawab atas keyakinan-keyakinan, dank arena alasan itu pula, kefanaannya. Baginya atmosfet terstrial adalah amplop generatif; melihat bumi sebagai telur dalam cangkangnya, karena itu tak bisa menegaskan mana yang ada terlebih dulu antara ayam dan telur, maka ia tidak mengenali baik telur maupun ayam. Dia tak percaya baik roh hewan yang hidup sebelumnya maupun roh manusia yang hidup setelah kematian fisik. Maka ia dengan tegas dan berani, tak berkualifikasi sama seperti yang diyakini banyak ilmuwan lainnya, manusia-manusia terbaik di dunia, ateis-ateis tak tertandingi.

Kesimpulan masa tuanya, bahwa indera pendengar tidak mutlak diperlukan untuk mendengar, indera pengelihatan untuk melihat, dan bahwa pleksus matahari dapat memasok ke tempat yang seharusnya tanpa keraguan sedikitpun, yang dengan demikian menemukan dua jiwa di dalam manusia, menegaskan keistimewaannya dengan fakta itu, meskipun hal tersebut bukan merupakan bukti untuk melawan Tuhan.

Kualitas seorang manusia hebat biasanya bersifat federatif. Jika di antara roh-roh kolosal ini seseorang memiliki lebih banyak bakat daripada kecerdasan, kecerdasannya masih lebih unggul daripada orang-orang yang hanya disebut ‘ia cerdas’. Seorang jenius selalu mengandaikan wawasan moral.

Salah satu muridnya Horace Bianchon yang akrab dengannya, mahasiwa kere yang kembang kempis mengais rejeki dan bayar kos dengan budget seminim mungkin. Ia baik, jujur, dan bukan seorang puritan dan pengkotbah. Seorang periang, tak lebih munafik dari seorang polisi. Ia berjalan tegak dan pikiran penuh isi. Singkatnya, untuk menempatkan fakta di antara kata-kata, Horace adalah seorang Pylades untuk lebih dari satu Orestes.

Keduanya berteman sangat akrab, guru kepada murid dan seorang pembelajar yang baik menyerap dengan bagus apa yang dituturkan. Nah, suatu pagi jam Sembilan Bianchon melihat gurunya pergi ke gereja Saint-Sulpice di Rue du Petit-Lion. Karena rasa penasaran, ia mengikuti dan menyelinap masuk dan betapa terkejutnya ketika melihat Desplein yang agung, seorang ateis, yang tak memiliki kasihan kepada para malaikat – berlutut dengan rendah hati di dalam Lady Chapel, mengikuti misa, memberikan sedekah pada kaum papa. Tercengang akan fakta itu, ia lalu bertanya pada gurunya suatu hari, dan ternyata kegiatan itu rutin dilakukan setiap tahun dengan sembunyi-sembunyi. Jawabannya akan membuat kalian tertepuk tangan, luar biasa Prof.

 “Segala kemarahan akibat kesengsaraan ini aku lampiaskan ke dalam pekerjaan…”

#2. Facino Cane

Impian dan kenyataan memang seringkali tak segaris lurus. Kedigdayaan masa lalu, kejayaan masa muda, memori indah yang laik dikenang, belum tentu layak dikejar kembali mengingat zaman sudah beda dan era berubah. Apalagi ia ada di tanah rantau dalam keringkihan dan kebutaan.

Kehidupan biasa dari warga biasa di perkampungan sederhana. Menyaksikan desa yang berubah digilas waktu, di tengah orang-orang baik dan bersahaja, hidup di daerah Lesdiguieres yang damai. Suatu hari di pesta penikahan sahabat istrinya, ia menemui percakapan ganjil, keanehan latarnyam bayangan gudang bercat merah yang seadanya, aroma anggur yang menyengat, tarian kegembiraan di antara para pekerja, orangtua, wanita-wanita malam yang melempar ke penghiburan.

Seorang peniup klarinet tua memainkan nada dengan syahdu nan aduhai, ia sudah beruban lalu bersapa dan menjalin pershabatan, ada sesutau yang agung dan lalim dalam diri Homer tua ini,, yang menyembunyikan dala, dirinya suatu Odyssey untuk dilupakan. Pria berwaja Italia itu buta, dan dua lagi juga, mereka melakukan percakapan.

Papa Canard berasal dari Venezia, buta karena kecelakaan, ia lalu menuturkan masa lalunya, berkali pula ia mengajak sang narrator untuk mengantarnya pulang, menjanjikan harta jarun melimpah dan kau takkan menyesal karena ia adalah Facino Cane yang terkenal itu. Berkisah masa jayanya, masa lalu yang trenyuh.

“Haruskah kita berangkat besok?”

#3. Ramuan Kehidupan

“Kecantikanku memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali hati yang membeku karena usia.” Ketujuh wanita dari Ferrara, Don Juan, dan sang pangeran merancau dengan hiperbola akan kehidupan, cinta, dan banyak hal yang terjadi baru-baru ini. dalam sebuah jeda yang mengikuti terbukanya sebuah pintu, seperti pada hari raya Balthazar, Tuhan memanifestasikan dirinya dalam diri seorang pelayan tua berambut putih yang cara jalannya tak stabil dengan alis terangkat. Ini tentang ayah yang kikir dan anak yang boros.

Bartholomeo Belvidero, ayah Don Juan adalah pembisnis ulung, mengabdi pada bisnis dengan kakayaan melimpah. Don adalah anak satu-satunya, saat istrinya Juana meninggal ia menjadi murung dan tak boleh diganggu. Untuk masuk ke ruangannya bahkan Don harus meminta izin. Saat itu Bartholomeo tidur, usia rentanya tak banyak tanda kehidupan tersisa, matanya saja yang masih jernih. Menasehati dengan gusar anaknya, “Kau bersenang-senang untuk dirimu sendiri!” lalu memberi wejangan penting, “Segera setelah aku menghembuskan napas terakhirku, segera urapi aku dengan air ini dan aku akan hidup kembali.”

Saat akhirnya menjadi kenyataan Don Juan ragu, Kristal berisi air itu tak langsung diurapkan, ia malah menyimpannya di laci meja bergaya Gotik hingga pagi menjelang. Saat ketujuh wanita masuk dan turut berbelasungkawa, Don Juan terombang-ambing oleh ribuan pikiran, ragu mengambil berbagai resolusi. Maka setelah hari itu selesai menghitung kekayaan, malam harinya ia berniat melakukan kalimat wasiat sang ayah. Apakah bisa bangkit drai kematiannya? Ada sihir yang menari di antara mereka.

“Orang-orang dungu! Sekarang katakan bahwa Tuhan itu ada!”

Misa Ateis | by Honore de Balzac | Penerbit Odyssee, 2020 | Cetakan pertama, Juli 2020 | Alih bahasa Pramesti Wijaya | Penyunting Agata DS | Tata letak The Naked! Lab | Perancang sampul The Naked! Lab | Skor: 5/5

Karawang, 120821 – Netral – Hujan di Hatiku

Thx to Kedai Boekoe, Bekasi

#Mei2021 Baca

Ini air kencing asli India […], kau tidak membutuhkan uang, kedudukan atau massa untuk mendapatkannya. Kau hanya butuh keberanian. Dan Cuma itulah yang kumiliki…” – Sameer Khan dalam Halla Bol (2008).

Mei adalah bulan dengan warna merah banyak di kalender. Karena pandemi aja kita tak bisa ke mana-mana, libur Lebaran juga terasa hambar sebab silaturahmi ketemu langsung terputus, mengandalkan telpon daring. Maka tak heran bulan ini lumayan banyak menyelesaikan baca. Tercatat ada 11 buku, dua hari penulis favorit Haruki Murakami, dua lagi dari sang psikoanalis Freud. Here we go…

#1. Luka Batu by Komang Adyana

Kisahnya berkutat di Bali, tempat sang penulis tinggal dan dibesarkan. Kebanyakan dari kita memang paling nyaman menulis tentang hidup kita dan sekeliling kita, jadi seolah dituturkan langsung dari pengalaman hidup. Relevan dan masuk akal, sebab akan tampak aneh dan tak berlogika jika kita yang lahir dan besar di Indonesia bercerita tentang dinginnya salju negeri Swiss misalnya.

“Kelak kalau ada yang tahu aku penyebab kematian perempuan itu, kalau ada yang bertanya kenapa, dengan masih setengah mencari-cari aku akan tetap bisa memberi jawabannya…”

#2. Angel of Darkness (Sheldon’s Series) by Tilly Bagshawe

Novel pertama serial yang mengekor Sidney Sheldon yang kubaca, bagus. Menegangkan, gaya dan alurnya mencoba sama dengan sang maestro. Kejutan ada, pace-nya cepat, karakter ganteng dan cantik, kekayaan yang melimpah, misteri pembunuhan yang dibuka sampai bab-bab akhir. Dan saya terpikat gaya keliling dunia, dengan salah satunya nuansa lokal. Jangan lupa, karakter perempuan yang kuat bak batu karang. Malaikat perempuan yang rapuh ini memiliki kekuatan mematikan, langsung mengingatkanku pada mayoritas karakter ciptaan Sheldon…

“Tak ada yang tak termaafkan. Aku tidak mencintai masa lalumu, Lisa. Aku mencintaimu.”

#3. Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya by Haruki Murakami

Tentang persahabatan empat anak sekolah yang selepas lulus ambyar sebagian. Wajar dan sangat manusiawi. Namun karena ini ditulis oleh Haruki Murakami maka plot yang biasa menjadi luar biasa. Dengan balutan fantasi, mimpi dan keadaan tak sadar sehingga jiwa bisa seolah masuk ke dimensi lain. Kisah ini menyelingkupi keempatnya, memaafkan dan melepas hal-hal yang mengganjal menjadi begitu dominan. Ikhlas dan segalanya biarkan berjalan semestinya. Ia tak bisa terus menunggu sampai seseorang menelponnya sembari merangkul perasaannya yang kacau.

“…Bagaimanapun peristiwa itu terjadi jauh di masa silam dan sudah tenggelam sampai di dasar.”

#4. Renungan Kloset by Rieke Dyah Pitaloka

Seperti syair-syair yang lain, rasanya memang paling enak dibaca dengan nyaring. Namun tetap esensi yang utama, di sini tetap membumi dengan bahasan umum. Terbagi dalam lima bagian utama yang direntang tahun: 1998, 2000, 2001, 2002, 2003. Sejalan dengan perjalanan hidup Rieke yang tumbuh makin matang. Ditulis di banyak tempat, daro kota-kota lokal hingga manca Negara, yang secara alami bilang sudah berpesiar di belahan dunia jauh. Zaman itu adalah masa-masa kita menikmati wajah Oneng dalam Bajaj Bajuri. Kala itu saya tak tahu bahwa itu juga penulis.

Mempelai Wanita

… Suatu hari,

Perempuan itu meninggalkan dalam beku yang dingin seperti biasa, senyumnya tetap menempel di sudut jendela dan pintu.

Lelaki itu memeluknya dalam derai air mata, entah tangis kehilangan entah tangi bebas dari belanggu… – Tebel, 15062000 (h.17)

#5. Civilization and Its Discontents by Sigmund Freud

Keren adalah kata pertama yang kuucapkan ketika di tengah baca menikmati teori-teori ini. Di akhir merasa ada ganjalan, pemaknaan hidup yang luas dan fakta-fakta yang disodorkan memang mencipta bimbang. Freud memang hebat kala memainkan pikiran, dan Civilization and Its Discontents jelas sukses besar mencipta riak kegelisahan.

“Keindahan, kebersihan, dan keteraturan jelas menduduki posisi istimewa di antara syarat-syarat yang dibutuhkan peradaban.”

#6. The Man Who Loved Books Too Much by Allison Hoover Bartlett

John Gilkey sebenarnya mencuri karena cinta. Ia mencintai buku dan ingin memilikinya. Setiap kolektor, berdasarkan definisinya, sepertinya agak terobsesi, bahkan sedikit gila. Bagi seorang kolektor, satu saja tidak cukup, yang suatu koleksi lengkap, masih ada koleksi lain yang harus dilengkapi, bahkan mungkin sudah dimulai.

“Aku hanya senang mengoleksi buku, mengoleksi barang…”

#7. Aku dan Film India Melawan Dunia Buku I by Mahfud Ikhwan

Beginilah rasanya membaca sesuatu yang asing, susah tune in. Dari semua nama aktor yang disampaikan tak lebih dari lima orang saja yang kukenal, dari seluruh film yang terbaca paling banyak delapan sembilan yang pernah dengar, yang sudah nonton tak lebih dari lima. Lantas kenapa saya memasuki dunia asing ini? Tentu saja nama besar Mahfud Ikhwan, ia mencintai film-film India, mencipta dua seri karenanya, sebagian besar dari blog pribadinya. Walau asing, bahasa penyajian terasa nyaman dan rona-rona klik akhirnya terasa karena sudah sebagian besar karyanya kunikmati.

“Lebih-lebih untuk seseorang yang mendaku dirinya memiliki kewajiban profetis untuk mendakwahkan film India. Tapi, saya bersyukur pernah melakukan kegilaan kecil yang menyenangkan ini.”

#8. Kritikus Adinan by Budi Darma

Ini adalah buku kedua Bung Budi Darma yang kubaca setelah Rafillus yang absurd itu. Langsung jadi penulis idola, tampak unik dan luar biasa aneh. Kumpulan cerpen ini sama absurd-nya dengan Rafillus, tokoh-tokohnya tak biasa. Nama-nama juga nyeleneh. Dilengkapi ilustrasi ciamik di tiap cerita, rasanya memang pantas kukasih nilai sempurna.

“Dengan mendadak kamu mengunjungi saya, Malaikat. Apa sebenarnya dosa saya? Sejak kecil saya selalu berusaha berbuat baik.”

#9. Seni Menulis by Haruki Murakami

Seni menulis berisi tujuh tulisan plus satu lampiran wawancara rilis buku ‘Membunuh Commendatore’, dari berbagai sumber jadi kalian tak akan menemukan buku aslinya kecuali dari berbagai sumber yang disarikan. Menarik dan sangat menggairahkan melahap kata-kata dari idola. Setiap tulisan diawali sengan kutipan keren, saya ketik ulang kutipan tersebut biar nyaman dibaca online berulang kali.

“Bagiku menulis itu seperti bermimpi. Saat menulsi aku bisa bermimpi sekehendakku. Aku bisa memulai dan mengakhirinya kapan pun, dan bisa meneruskan mimpi itu keesokan harinya.”

#10. Cinta Bagai Anggur by Syaikh Muzaffer Ozak

Buku-buku Tasawuf memang sedang gandrung kubaca, efek menikmati Dunia Mistik dalam Islam. Nah, kali ini kita ke seberang Benua. Di Amerika yang asing, seorang guru sufi Syaikh Muzaffer Ozak. Nama asing bagi yang tak mendalami genre ini, tapi ia memang pahlawan sebar Islam di dunia Barat. Cinta bagai Anggur bagus banget, banyak menukil kisah-kisah, diselingi humor dan segala adat Islam, tentunya humor sufi. Beberapa terasa kebetulan, padahal ada Tangan Allah yang mengayunkan nasib manusia. Jelas rekomendasi tinggi, beruntung saya mendapatkan anggur ini, beruntung menikmati manisnya tiap teguknya.

Rumi berkata, “Apakah Cinta itu? Dahaga yang sempurna. Kemarilah, akan aku jelaskan tentang air kehidupan.”

#11. Narsisme by Sigmund Freud

Buku paling lemah karya Freud yang pernah kubaca. Sempat kontra dengan beberapa pendapatnya, lalu benar-benar tak sepakat. Bisa jadi beliau adalah orang hebat saat ngomonging psikologi tapi jelas terasa janggal berpendapat bahwa kekurangan alat kelamin perempuan menjadikan perempuan mengalami kecemburuan terhadap penis lelaki dan menyebabkan rasa rendah diri. Well, terdengar aneh dan tak masuk akal bukan?

“Tuntutan akan keadilan merupakan modifikasi dari kecemburuan dan menegaskan suatu kondisi yang berkaitan dengan hal yang dapat mengesampingkan kecemburuan.”

Karawang, 060821 –  Sherina Munaf – Ada

Bisik Bintang, Lirih dan Merdu

“Hidup sepanjang ini, semua tenggat masa muda sudah dilewati.”

Luar biasa. Tipis, memukau. Dibaca sekali duduk di malam isoman tengah bulan Juni lalu. Terpesona sama plot yang disajikan tiap cerita, sederhana nan menghibur, beberapa menyakitkan tapi itu nyata, beberapa menggugah hati seperti perkataan gelandangan yang meminta orang kaya korup untuk membersihkan hartanya, beberapa lagi menampar kenyataan yang pahit seprti di permainan usia tua tapi baru merasa diberkahi. Tokoh-tokohnya juga sering sama memakai Kepala Kampung yang mengatur warganya, orang-orang kaya yang kikir, lalu gua di benteng kuno yang mistis, kaum papa yang melawan, sampai lingkup dunia Islam yang moderat.

Nama Najib Mahfuz memang jaminan, ini buku ketiga yang kubaca setelah Karnak Kafe dan Pencopet dan Kelompok Begundal, semuanya memuaskan. Ini kumpulan cerpen pertamanya, walau benar-benar pendek kita langsung klik sama polanya, kejutannya, sampai adegan-adegan absurd-nya. Satu lagi saat ini yang sedang kubaca adalah Zahiya, kumpulan cerpen pula. Dari Peraih Nobel Sastra euy…

#1. Pengusiran

Zakiya yang terusir dan menuntut hak-haknya dengan kembali, ke mana? Ke kampungnya, ke depan toko orang yang menipunya. Juragan Usman dengan tabiat buruknya, Kepala Kampung yang menawarkan solusi tapi tetap, Zakiya keukeh dengan pendiriannya. Juragan Usman mencari solusi lain, dan bah! Yakinlah itu ditolak.

“Aku akan terus menjaga anak inidi depan kedua matanya agar ia selalu ingat akan kejahatannya.”

#.2 Tawhuda

Beethoven, Descartes, maupun Baudelaire tak ada yang mampu merebut hatinya dari wasiat masa lampau yang tertanam di kampung kami. Ia masih percaya akan dupa-dupa, ahli nujum, dan sama sekali tak meragukan jin-jin benteng kuno di atas ruang bawah tanah kampung kami. Penggalan paragraph yang menyatakan kenik nan klasik akan selalu ada di manapun di sunia ini. ini riwayat singkat si cantik Tawhuda yang tinggal di Rumah Putih.

“Bukan salahku jika kau tak mengenaliku.”

#3. Ibnu Hara

Ibnu Hara yang entah siapa yang menghuni ruang bawah tanah di benteng tua. Seorang gelandangan yang naik pangkat sebab suatu hari menyelamatkan nyawa Syekh Asfoury dari tempaan batu. Ibnu Hara menjadi legenda bahkan bak wali karena seolah menyaksikan masa depan. Bisikan yang seolah ramalan itu berlanjut ke orang kaya yang korup, Tuan Zawi. Dalam bisiknya ada kalimat, “Wahai Ibnu Hara, temuilah Tuan Zawi dan katakana kepadanya untuk mengembalikan pundi-pundi haramnya kepada yang berhak…” Saat disampaikan, ia kena bogem mentah, ia kena damprat. Namun tak menyerah dan kembali lagi seolah itu adalah amanat Tuhan.

“Malam yang luar biasa, melebihi anehnya cerita tentang jin benteng kuno.”

#4. Anak Panah

Ini tentang kehebatan benteng kuno lagi, bahwa ada dunia di dimensi lain yang bemain dan bersinggungan dengan dunia kita. Kematian mendadak Tuan Zain al-Baraka mencipta sensasi, tokoh yang banyak tak disukai ini tersungkur di kedai kopi bak kena anak panah. Kepala Kampung lalu menelusuri sebabnya.

“Siapa yang mengeluarkan anak panah dari tempatnya, dan mengapa?”

#5. Ramalan Namla

Ramalan orang gila Namla yang absurd kepada Harq, “Tidak, ini kabar baik untukmu, pahlawan. Kau akan dikelilingi orang-orang! Dan kau akan ditemui oleh para pembesar.”

Kepala Ka,pung Cuma bisa menangkupkan kedua tangannya, shock.

#6. Akhir Hidup Guru Saqr

Pernikahan beda usia jauh ini menjelma petaka, si tua Bangka Guru Saqr menikahi Hamila yang berusia dua puluhan. Bukan istri pertama, dan keputusan ini menjadi polemic sebab mereka tinggal di lantai atas dengan uang banyak dalam lemari. Namun suatu hari Hamila kabur membawa uang banyak di lemari, Saqr yang kaget pingsan dan koma. Apes betul istri dan anaknya merawat Saqr tua, saat kembali sadar dan mengenali anak istrinya ia bilang, “Di atas kamar mandi…” Kalimat itu tak selesai sebab ia keburu mangkat. Apa yang ditemukan benar-benar tak dinyana.

#7. Si Malang

Hasan al-Dahshan sudah menikah tiga kali dengan wanita dari keluarga di kampung, dan tiap kali istrinya menunggal sebelum sempat melahirkan benih yang tertanam di perutnya. Setelah itu Hasan dikenal dengan nama Hasan Si Malang.

Pembuka cerita yang keren sekali kan?! “Serangga tak usah pongah.”

#8. Usia adalah Sebuah Permainan

Ali Zaidan lima puluh tahun; tua, kere, lajang, mengeluhkan banyak hal atas kegagalan hidupnya. Pejudi yang galau yang tiba-tiba bilang ingin menikah. Ia lelah dan ingin mengubah hidup, tak ada kata terlambat ‘kan? Meski sebagian orang toleran terhadap pencuri, ternyata mereka tetap waswas oleh judi dan penjudi.

“Aku tidak mencari wanita penebar wewangian. Tapi aku ingin seorang gadis muda perawan yang cantik dan tidak buruk pendidikannya.”

#9. Doa Syekh Qaf

Ini keren sekali. Kasus pembunuhan dengan gamblang. Umaira el-Ayek mati, dibunuh dan diakui oleh Hanafi el-Rayek, disaksikan tiga orang Zaini, Kibrita, dan Fayek. Saksi yang sangat cukup. Maka jelas sudah, pengadilan mudah memutuskan. Namun, ada yang janggal.

“Mahasuci alam atas segala sesuatunya.”

#10. Ayah Kami, Ajwa

Ajwa tua yang sepi, teman-teman sebayanya telah tiada. Anak-anaknya juga, tinggal Anwar, 80 tahun. Anaknya sakit dan hari saat ada lelang tanah, tak dinyana Ajwa tetap datang dan memenagkan harganya. Orang-orang yang kesal, pada komplain.

“Sore ini aku ada janji dengan kontraktor bangunan. Tak sampai berlalu aku akan memperoleh manfaatnya dan begitu pula orang-orang lain…”

#11. Bisik Bintang

Cerita yang agak susah klik, melibatkan nenek, penyair, dan potongan Firman Tuhan.

“Allah Maha Mengetahui.”

#12. Rahasia Tengah Malam

Lelaki mudik, sampai di kampung halaman jelang fajar dan membaui harum yang semerbak.

“Ini adalah kelebat seorang perempuan yang lewat… mengapa kau berada dalam kegelapan di malam begini? Kesendirian akan mengarahkanmu pada hati yang berdebar dan akhir yang tak pasti.”

#13. Sheikhoun

Sheikhoun yang pergi dari kampung lama sekali, dan saat ia mudik ia dikenal sebagai manusia pilihan Allah. Melibatkan dunia gaib, segala atribut pengobatan natural. Lalu muncullah fakta.

“Esok sebelum matahari terbenam semua orang akan berdamai dengan kekhawatirannya.”

#14. Badai

Saat badai terjadi banyak orang memohon pertolongan pada Allah. Saking lamanya, mereka mengira ini hari kiamat.

“Inilah setan yang keluar dari persembunyiaanya…”

#15. Jeritan

Jeritan tengah malam dari rumah Nyonya Adliya. Tetangga kasak-kusuk ada apa gerangan. Ada yang mengira Kamila, perempuan cantik yang diceraikan  tadi pagi menuangkan minyak ke bajunya dan menyalakan api. Namun siapa yang tahu?

“… Biarlah hukuman berlaku seperti yang seharusnya.”

#16. Nasibmu dalam Hidup

Peristiwa-peristiwa umum yang terjadi di sekeliling kita. Dengan damai dan musibah yang silih berganti. Salah satunya ada yang sakit aneh, mantri dipanggil untuk mengobati. Namun bingung obatnya tak kunjung ketemu.

“Tari sufi… satu-satunya obat adalah tari sufi, wahai Pak Mantri…”

#17. Nabqa si Benteng Kuno

Nabqa si bungu nomor sepuluh yang berhasil selamat dari wabah, semua saudaranya mati. Dan sebagai nazar Adam, ayahnya. Nabqa akan diserahkan ke surau saat umur tujuh tahun untuk melayani ibadah. Hingga suatu hari ia menghilang.

“Sekarang bukan musim ziarah kubur.”

#18. Toko Roti

Uyusha, gadis cantik putri pedagang tekstil kaya-raya yang tampak baik nan anggun suatu hari memutuskan kabur dengan Zenhoum, anak si tukang roti. Paman Jum’a sedih, ia kena cemooh dan belas kasihan sebab Uyusha adalah putri satu-satunya dan akan mewarisi kekayaan keluarga. Walaupun faktanya belum jelas, dan desas-desus beredar nan dirangkai liar.

“Kesalahan terkadang menyeret manusia pada kriminalitas dan itu tetap merugikannya apa pun yang terjadi.”

Kehidupan Mesir tahun 1990-an tak ubahnya Indonesia di masa yang sama. Lihat, kehidupan warga yang percaya klenik, tempat-tempat angker, jin-jin yang murka, sampai skandal kampung yang sering kali terjadi di banyak daerah. Orang-orang rantau yang lama tak kembali lalu saat pulang tampak sangat berbeda dan asing. Rangkaian ini jelas mengingatkanku pada kampung halamanku, waktu memang seolah anak panah yang melesat dan takkan bisa kembali. Ia lurus terus melaju ke masa depan, manusia dan segala nasibnya di dunia. Bisik bintang dari Mesir adalah bisikan syahdu untuk pembaca Indonesia. Cocok dan aduhai.

Untuk jadi keren tak selalu harus tebal, muluk-muluk kisahnya, membuncah liar tak jelas ke mana-mana. Bisa dengan buku tipis efektif dengan banyak pilihan diksi kuat nan indah. Latarnya juga jelas, kehidupan di sekeliling kita sehingga langsung tune ini sama alurnya. Memang tulisan yang dihasilkan oleh orang hebat, kisah sederhana bisa tampak mewah sekali. Bisik Bintang adalh bukti bahwa untuk jadi cerita hebat, ramuan kata harus pas dan mengena. Untuk itu pengalaman menulis menjadi suatu keniscayaan.

Bisik Bintang: Kumpulan Cerita | by Naguib Mahfouz | 1993-1994 | Copyright 2018, Dar al Saqi, Beirut | Diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Muasomah | Penerbit CV. Marjin Kiri | Edisi pertama, Desember 2020 | vi + 78 hlm, 12 x 19 cm | ISBN 978-602-0788-09-8 | Skor: 5/5

Karawang, 050821 – Evanescence – Bring Me to Life