Misteri Rumah Masa Lalu – V. Lestari

Tidak tahukah, Mama rasa takut itu tidak boleh diutarkan? Karena kita jadi semakin takut.” – Kristina

Cerita Penulis janda beranak satu dengan segala kegalauannya. Kubaca tepat seminggu (01/07/19-09/07/19) diantara Alice Though The Looking Glass dan Origin, kisahnya memang tak muluk-muluk. Sesuai ekspektasi roman tahun 1990an dengan segala kesederhanaan teknologi. Sangat ketebak alurnya, cerita seakan adalah pengalamanan pribadi sang Penulis V. Lestari atau memang ini kisah nyata? Ini adalah buku pertama beliau yang selesai kubaca, lika-liku kehidupan pengarang lokal dalam menjalani keseharian. “Kau masih ingat nasihat Mama tentang isi hati orang yang bisa berbeda jauh dari penampilannya?

Yosepin (akrab dipanggil Bu Yos) adalah Penulis yang tinggal di rumah kontrakan Nyonya Samosir di Jakarta, induk semang yang kurang ideal karena suka menaikkan uang sewa rumah, suka bergosip, dan basa-basi yang pahit. Saat ini Yosepin mengalami paceklik ide, keuangan yang sedang turun, mantan suaminya Rahadi yang rese karena sering gangguin. Mereka cerai karena suaminya selingkuh. Ditambah lagi, anak semata wayangnya berusia 15 tahun yang sedang mekar-mekarnya suka gonta ganti pacar. Karena kecantikannya Kristina memang terlihat tomboy, laiknya playgirl. Setelah beberapa kali pacaran dengan teman sekolah sebaya, kini malah pacaran dengan lelaki seusia mamanya. Joko, seorang pekerja kantor berusia 33 tahun, lebih muda dua tahun dari Yosepin! Mereka memanggilnya Om Joko. Gmana ga bikin jantungan? Usia pacar anaknya dua kali lipat! Namun pada dasarnya Kristina baik jadi bisa jaga diri. Sebuah ironi dilontarkan. “Berjanjilah untuk lebih berterus terang mengenai perasaanmu. Kalau kau takut katakan saja. Jangan menyimpan sendiri. Bukankah kita bisa saling memberi keberanian?” Jelas sekali di sini hubungan ibu-anak sungguh erat, dan sang putri menjadi primadoa untuk berbagi, senasib sepenanggungan. Yosepin menyukai istilah kita yang digunakan Kristina. Itu menandakan Kristina menganggap masalah itu sebagai masalahnya juga.

Nah, plot benar-benar bergulir ketika sisa waktu perpanjangan kontrak rumah tinggal beberapa hari, diminta uang panjar buat perpanjang, dengan ancaman penghuni baru sudah mengantri, ia tak punya duit, sehingga mencoba bertahan dan mencari pinjaman, mau bilang ke Rahadi ga enak, karena kalau minta tolong ke mantan suaminya ia memberi angin harapan, Rahadi masih cinta, tapi tidak dengan Yosepin. Minta uang muka buat bukunya ke penerbit, malu. Jelas di sini Yosepin sangat menjunjung tinggi nilai hormat. Mau pinjam bank, takut susah cicil kreditnya. Ketika banyak hal yang dipeningkan bersamaan, muncullah malaikat penolong. Ia bernama Taufik SH, seorang pengacara yang tiba-tiba datang ke rumahnya kasih tahu, bahwa Yosepin dapat hibah rumah di Bogor dari seseorang yang misterius bernama Sasmita. “Lebih baik kita berprasangka daripada terlalu percaya.” Antara curiga dan bahagia, Yosepin menerima hadiah tersebut. Tanpa ketemu sosok yang berjasa, karena sang pengacara terikat sumpah jabatan, ia hanya menjalankan kewajiban. Dan Sabtu itu dengan mobilnya Joko, bertiga mengecek rumah di pinggir kali, di kawasan Gawir, Bogor.

Rumah itu tampak kumuh karena lama tak ditinggali, beralamat di Gang satu nomor dua belas A, yang ternyata adalah nomor 13 yang tabu, angka sial, sehingga nomornya disesuaikan (pintar juga idenya, dibuat mistis). Rumahnya retak-retak, pas ditikungan aliran air sungai kali Ciliwung, sehingga pondasinya dihajar air setiap saat. Dan dari tetangganya bernama Bu Sarma, ia tahu bahwa penghuni sebelumnya Pak Sasmita telah tiada, istrinya meninggal dunia karena sebuah tragedi suatu malam hujan dan badai menyeretnya dalam bencana (nantinya jadi sejenis motif menakuti). Mereka tak memiliki keturunan, tampak sering cek cok, dan musibah itu mencipta kemurungan. Lantas kenapa dia meninggalkan rumah itu begitu saja? Akibat kenangan traumatis? Yosepin karena terdesak keadaan, dan sangat membutuhkan rumah bernaung tak terlalu ambil pusing tentang omongan tetangga yang katanya rumah angker, rumah hantu, rumah yang tak aman, mereka tetap memutuskan pindah. Sekalian cari suasana baru, cari ide baru. Tantangan baru.

Kristina pindah sekolah, ia begitu ceria akan suasana asri pedesaan, kota hujan yang sejuk. Cucu bu Sarma, tetangganya bernama Iwan yang nantinya menjadi teman sekolah karena sebaya jadi akrab dan membantu adaptasi. Rumah dua kamar yang misterius itu mencipta aura janggal, malam pertama Yosepin merasa ada penghuni lain di kamarnya, malam berikutnya ada yang seakan memeluknya, padahal ia sendirian di kamar, Kristina ada di kamar sebelah yang ruangnya dipisah pintu penghubung. Kebebasan itu berbahaya, karena membuat orang kehilangan kendali diri. Jadi jangan cuma berpikir toh, tidak akan berbuat macam-macam. Kita itu manusia yang bisa berbuat salah, tergoda setan. Dan setan itu ada di mana-mana. Dan suatu malam di depan rumah ia melihat laki-laki berpeci mondar-mandir melihat rumahnya, mengawasi, pergi lalu mengamati. Semakin membuat cekam. Semalam ia tidak bisa tidur merenungkan semua. Bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terjadi?

Karena dirundung banyak tanya, akhirnya Josepin meminta bantuan Joko untuk menyelidiki masa lalu Sasmita dengan mencari Taufik SH terlebih dulu yang juga misterius karena sudah pindah kantor, lewat iklan baris di Koran, pencarian ala detektif itu membuahkan hasil dan usaha memecahkan identitas sang pemberi rumah serta motifnya, Yosepin juga mencari saudara ibunya yang hilang kontak. Bu Delima yang kini sudah tua, lalu membuka beberapa rahasia keluarga. Nah bagian ini sangat menyentuh hati. Dan betapa mengejutkan ternyata nama Sasmita muncul, jadi bukan karena pemberian gratis dan asal, ada benang yang menghubungkan mereka, ada masa lalu orang tuanya yang mengejutkan, dan hubungan tak restu sampai dosa turunan. Sampai akhirnya suatu malam, rumah masa lalu itu ditempa hujan bertubi yang mengakibatkan longsong, sekali lagi. Akankah mereka selamat? Bagaimana nasib Joko yang terus membantu keluarga ini, apakah benar ada motif tersendiri? Atauakh benar-benar cinta mati kepada Kristina? Bukankah yang nampak pada pandangan pertama ini merupakan tantangan? Bukankah kemandirian itu juga berarti keberanian?

Secara garis besar, cerita ngalir nyaman. Khas tahun 1990an, bagaimana menghubungi penerbit masih dengan telpon meja, surat menyurat, masih butuh printer dengan serba hati-hati cetaknya karena harga kertas mahal. Terima kasih Yahoo! Pencarian alamat seseorang dengan memasang iklan di Koran, keramahtamahan yang masih terjalin di antara warga, tanpa sosmed, tanpa teknologi digital yang mewah. Facebook dan Twitter pun tersenyum. Memang Yosepin sudah menggunakan komputer untuk menulis cerita, sudah mulai meninggalkan mesin ketik. Komputer tidak bisa diperintahkan seperti bos menginstruksikan sekretarisnya.

Komputer generasi awal, yang klasik. Tahun 1995? Hhhmm… yah, simpannya saja masih pakai disket!
Saya sudah bisa menebak ke arah mana kisah ini, ketika hubungan Joko dan Kristina memang tak lazim, sangat janggal. Saya bisa menebak pasti ada sesuatu dengan alasan hibah rumah ini, tapi ga nyangka juga identitas Sasmita yang ternyata punya alasan sangat kuat. Saya bisa menebak, akhir dari kebuntuan ide nulis Yosepin yang tetap saja bisa kejar dealine. Hal-hal semacam ini lumrah, wajar. Dan V. Lestari mengikuti alur rel tebak itu. Memang tak muluk harapan itu, keunggulan novel ini jelas khas manusia Indonesia. Nama-nama Indonesia sekali, Joko, Iwan, Wati, Sasmita, Didit, Taufik Sarma, dst justru menjadikan terasa asli Indonesia. Konflik yang ditawarkan juga seperti rakyat kebanyakan. Ekonomi, cinta, keceriaan remaja, mistisme, dan syukurlah tak ada sara (suku, agama, ras dan antar golongan) yang disinggung sama sekali di sini. Memang sudah sangat pas. Misteri rumah masa lalu menjadi bacaan novel bagus di tengah bacaan sastra yang berat, kumpulan cerpen melimpah, terjemahan dari Eropa Timur sampai non-fiksi yang sungguh melelahkan. Buku sederhana, yang tampak istimewa. Buku ini juga klasik dalam memetakan karakter orang, yang protagonist akan konsisten baik sampai akhir, yang tampak jahat tetap digambarkan di sisi negatif terus, ga ada konflik batin berlebih, ga ada wilayah abu-abu sifat manusia. Betapa kenangan masa lalu bisa menjadi sesuatu yang berharga sekali. Sesuatu untuk dinikmati sekarang.

Apalah arti hidup ini bila kita tidak memiliki ketenangan dan ketentraman. Orang tak bisa begitu saja tidur dan melupakn tanggung jawab atau kewajibannya.

Misteri Rumah Masa Lalu | Oleh V. Lestari | GM 401 01 15 0001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Proofreader Selviana Rahayu | Desain sampul oleh maryna_design@yahoo.com | ISBN 978-602-03-1220-0 | 456 hlm.; 18 cm | Skor: 3.5/5

Teruntuk Ikka Vertika dan Meilani

Ariobimo Jakarta, 110719 – Roxette – Milk and Toast and Honey

Iklan

Originals #28

Saya bangun pagi dan terbelah antara keinginan untuk memperbaiki dunia atau menikmati dunia. Ini menyulitkanku membuat rencana hari ini.”E.B. White

Para psikolog menemukan ada dua jalan menuju keberhasilan: konformitas dan originalitas. Konformitas artinya mengikuti orang kebanyakan di jalur konvensional dan menjaga status quo. Originalitas memilih jalur yang jarang dilalui, memperjuangkan ide baru yang melawan arus, tetapi akhirnya membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Tentu saja dari judulnya kita sudah tahu, buku ini mengupas banyak sekali hal di poin kedua.

Buku yang sangat bervitamin. Untuk menjadi original ternyata justru diminta untuk lebih berpikir sederhana, ga usah muluk-muluk. “Dalam hal gaya, ikutilah arus. Dalam hal prinsip teguhlah sekukuh karang.” Banyak ide fresh di antara kita, di sekeliling kita. Saya baca buku ini akhir tahun lalu, sebagai buku penutup rangkaian #2018lazionebudybaca, iseng menghitung, saya terhenti di angka 110. Sempat pula kumau ulas, ketik panjang lebar, tapi malah awal tahun ada tragedi yang membuatku pilu dan istirahat dari banyak hal. Nah, baru sempat lagi lanjut ketik ulas di momen #30HariMenulis ini. Mendekati akhir. Kebiasaan, aturan agama, dan hukum itu sebenarnya dibuat oleh manusia dan karenanya bisa dirubah. “Mari kita jadikan tahun mendatang berarti. Terasa energi yang tak mungkin diciptakan oleh band rock. Setiap orang ada tugas penting yang harus dilaksanakan.

Ciri khas originalitas adalah menolak status qou dan mencari jalan pilihan yang lebih baik. Titik awalnya adalah keingintahuan: memikirkan secara mendalam mengapa sesuatu yang default itu ada pada mulanya. Kita terdorong mempertanyakan hal yang default saat mengalamai vuja de, kebalikan dari de javu. Déjà vu terjadi saat kita menemui sesuatu yang baru, tapi rasanya kita pernah melihatnya sebelumnya. Vuja de, kita menghadapi sesuatu yang familier tetapi kita melihatnya dengan sudut pandang baru yang membuat kita mendapatkan wawasan baru untuk masalah lama. Sudah lama para ilmuwan sosial tahu bahwa kita cenderung terlalu percaya diri saat menilai diri sendiri. Banyak orang gagal menciptakan originalitas karena mereka menghasilkan sedikit ide dan kemudian terobsesi untuk mengasahnya agar sempurna.

Ia akan mencerahkan, menginspirasi, dan sekaligus mendukung Anda. Banyak contoh dipaparkan dalam buku ini, beberapa yang sudah sangat terkenal. Contohnya sejarah Google yang dibuat Larry Page dan Sergey Brin, aplikasi paling terkenal di dunia digital ini awalnya juga terdengar biasa. “Kami hampir tak mendirikan Google, terlalu khawatir kalau berhenti dari program doctoral kami.” Kata Larry Page. Mereka orang-orang besar yang ketika merancang sejarah, juga memiliki kekhawatiran gagal sehingga mencari pijakan di bagian lain. Jadi walaupun sedang mencipta hal besar, mereka tetap melanjutkan studi, ibarat rencana cadangan masih dalam jalur. Mereka bermain aman dengan mengikuti jalur sukses konvensional. Dapatkah penemu menilai idenya sendiri secara objektif? Yakni seni memperkirakan keberhasilan ide? Poinnya adalah, jangan serta merta melepas yang ‘pasti’ kecuali yang utama sudah mapan. Pengusaha yang melindungi diri dengan memulai usaha sembari tetap bekerja kantoran jauh lebih anti risiko dan tak percaya diri.

Banyak usahawan mengambil banyak risiko-tetapi mereka biasanya gagal, bukan sukses.” Kata Malcolm Gladwell. Setiap usaha memang memiliki resiko, tapi tetap harus menghitung jalur kemungkinan. Semakin sedikit jalur jatuh, semakin bisa ditekan minim tentunya semakin besar potensi berhasilnya. Saat menghadapi situasi yang tidak disukai, mereka memperbaikinya. Dengan berinisiatif memperbaiki keadaan, hasilnya tidak banyak alasan untuk berhenti bekerja. Mereka menciptakan pekerjaan yang mereka inginkan. Jargon berbahaya yang sering kita temui adalah: “Jika ide itu memang bagus, pasti sudah ada yang mengerjakannya.” Kalau kayak gini ga akan maju, ga akan mulai-mulai. Buku ini jelas mengajak tabrak aturan! Kita mulai menyadari bahwa sebagian besar keadaan itu punya asal-usul sosial: aturan dan sistem itu diciptakan oleh orang. “Peluang menghasilkan ide berpengaruh atau sukses adalah fungsi positif dari jumlah total ide yang dihasilkan.

Cara menjadi berkuasa bukanlah dengan menentang kemapanan, tetapi pertama-tama tempatkan diri di dalamnya dan kemudian tantang dan khianati kemapanan itu. Dalam politik, banyak hal yang perlu dibuat unik. Ahli politik mengevaluasi presiden Amerika, mereka menetapkan bahwa pemimpin yang paling tak efektif adalah yang mengikuti kehendak rakyat dan hal-hal yang telah ditetapkan presiden sebelumnya. Presiden terhebat adalah yang menentang status quo dan mewujudkan perubahan di seluruh negeri. Apapun ideologi politiknya, orang akan lebih menyukai calon yang tampak ditakdirkan akan menang. Saat peluangnya turun, orang jadi kurang menyukainya. Indonesia kini dalam situasi politik, ujung Pilpres sudah kita ketahui, hasil akhirnya Pertahana melanjutkan program kerja. Berani melawan arus demi sebuah adil makmur? Seperti kata Ira Glass, “Sesuatu yang mungkin paling penting yang bisa dilakukan adalah banyak bekerja. Hasilkan banyak karya.” Jadi mari kerja kerja kerja. Bangsa besar ini… akan berhasil dan sejahtera… satu hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri.

Sekutu terbaik Anda adalah orang-orang dengan jejak rekam yang tangguh dan menyelesaikan masalah dengan cara yang mirip dengan cara Anda. Layaknya sebuah tuah, kalau kamu ingin tahu sifat seseorang, lihatlah kawan dekatnya. Maka kalau ingin sukses ya harus berkawan, kolaborasi, bareng orang sukses pula. Sahabat adalah seseorang yang melihat lebih banyak potensi dalam diri Anda ketimbang yang Anda lihat sendiri. Saya melihat kesuksesan biasanya tak dapat diubah mendahului yang lain, tetapi menunggu dengan sabar saat yang tepat untuk bertindak. Dan ingat, sukses itu tergantung cara pandang. Sukses satu orang jelas beda dengan sukse orang lain. Saya berhasil menyelesaikan program tulis bulan Juni 30 ulasan, jelas bagiku sukses yang mungkin bagi orang lain sepele. “Yang terpenting bukan gagasannya, tetapi eksekusinya.” Mengapa musuh bisa menjadi sekutu yang lebih baik dibanding orang yang pura-pura mejadi teman, dan mengapa nilai bersama bisa memecah-belah bukan menyatukan. “Jika Anda ingin membuat koneksi yang inovatif, Anda tak boleh mempunyai serangkaian pengalaman yang sama dengan orang lain.”

Dalam teori sukses, saya pernah dengar tiga rumus: jadilah yang pertama, atau jadilah berbeda, atau jadilah yang terbaik. Kalimat ini sudah sangat sering saya dengar di banyak diskusi, nyatanya memang harus usaha ekstra. Ketika Anda semakin menghargai prestasi, Anda akan semakin takut gagal. Alih-alih mengincar prestasi unik, dorongan kuat untuk sukses membawa kita ke arah yang dijamin sukses. Menjadi orisinal bukanlah jalur termudah untuk mengejar kebahagiaan, tetapi cara ini memberikan kebahagiaan dalam rangka pengejaran tersebut. Berdasarkan kata-kata Penulis William Deresiewicz, mereka menjadi domba-domba terbaik dunia.

Di dunia kerja, saya sebagai HR dalam wawancara karyawan keluar mencantumkan penilaian selama kerja di sini. Ternyata menurut buku ini, kurang efektif. Justru dibalik. Alih-alih meminta ide pada karyawan yang akan keluar, mulailah meminta pandangan saat pertama kali mereka masuk. Semakin ahli dan pengalaman seseorang, cara pandang mereka terhadap dunia semakin sulit dirubah. Menurut Adam, orang-orang yang baru masuk memiliki pikiran yang fresh, semangat membuncah, dan tentu saja ide yang tak lazim karena mereka belum mengalami kerja di sini! Well, benar juga ya. “Tak seorang pun yang datang ke sini membawa ide yang mereka anggap jelak.” Orang yang sering berpindah pekerjaan akan lebih cepat berhenti bekerja, tetapi ternyata tidak: peluang orang yang telah lima kali pindah kerja dalam lima tahun terakhir akan berhenti dibanding dengan orang yang bertahan di tempat kerjanya selama lima tahun tidaklah berbeda. Rumus HR dalam melawan dead wood adalah mencipta situasi. Untuk mengeluarkan orang dari zona nyaman, Anda harus menumbuhkan ketidakpuasan, rasa frustasi, atau kemarahan pada keadaan sekarang dan menjadikan sebagai kegagalan pasti. Jika Anda mendapat waktu untuk berpikir, pola umum mudah lenyap dalam detail. Saya juga terpikat oleh keamanan kedudukan mapan.

Warby Parker adalah gabungan dua nama tokoh ciptaan novelis Jack Kerouac, semangat pemberontak dimasukkan ke dalam budaya mereka, dan cara itu berhasil. Saya ga terlalu mengenal sang penemu jualan daring kaca mata ini, di buku ini ia disebut berulang kali seolah menemukan emas di tanah kosong. Seperti semua pencipta, inovator, dan agen perubahan besar, empat sekawan Warby Parker mengubah dunia karena mereka mau melakukan sesuatu yang belum jelas hasilnya. Salut atas keberanian bertindak, keberanian mengambil jalan berbeda. Seolah menebas jalur hutan perawan, membuat batu setapak menuju puncak. “Periode ditemukannya produk paling minor cenderung sama dnegan periode dihasilkannya karya besar.” Luxottica lahir di masa yang sangat pas, era internet yang sedang mewabah dan kebutuhan kaca mata yang banyak dengan pembelian garansi. Mereka tidak mampu mengubah dunia adalah karena mereka tek belajar untuk berpikir original. Mereka memusatkan energi untuk melahap pengetahuan ilmiah yang ada, tetapi tak menghasilkan pengetahuan baru.

Wabah sinetron di televisi lokal di jam utama sungguh memprihatinkan. Kita mayoritas sepakat tentunya sinetron merusak moral, membuat candu buruk bagi generasi berikutnya. Nyatanya produk itu laku. Kita tahu mematikan televisi saja tak cukup menunjukkan pada para produser sinetron bahwa rakyat siap berdiri memrotes. Tapi seberapa banyak? Masalahnya produk itu laku, dijejali iklan melimpah, dan semacam jaminan finansial sehat. Ketika kita sedang berusaha memengaruhi orang lain dan mendapati mereka tak menghormati kita, keadaan ini menciptakan siklus kekesalan yang tak berujung pangkal. Jika Anda ingin mengubah perilakunya, pakai lebih baik menyoroti manfaat perubahan atau kerugian akibat perubahan? Penerima yang marah secara acak diminta memberikan satu dari tiga respons berikut: malampiaskan, mengalihkan, atau mengontrol. Bagaimana respon Anda terhadap produk sinetron kita kawan?

Model ATM – Amati, Tiru, Modifikasi sudah jadi kewajaran di era ini. Tentu saja tak ada yang benar-benar original, dalam arti bahwa semua ide kita dipengaruhi oleh hal-hal yang pernah kita pelajari dari dunia sekitar. Kita selalu meminjam pemikiran-pemikiran, baik secara sengaja atau tidak. Kita rentan terhadap ‘kleptomnesia’ – secara tidak sengaja mengingat ide-ide orang lain sebagai ide kita sendiri. Originalitas termasuk memperkenalkan dan mengembangkan sebuah ide yang relatif tidak umum di dalam sebuah domain tertentu, dan berpotensi memperbaiki domain tersebut.

Di dunia musik, kita tahu banyak sekali genre dan tergantung sudut pandang siapa yang terbaik, siapa yang biasa. Tergantung selera, tergantung obsesi. Beethoven dikenal sebagai pengkritik karya sendiri yang baik. Sesuatu yang istimewa, tahu karyanya laik enggaknya. Jadi ingat Sherina Munaf di twitter lalu bilang, sebulan stuck ide nulis lagu, butuh tambahan waktu. Kita harus segera membangkitkan ide sendiri sebelum menyaring pendapat orang lain. Dan cara ini ternyata membantu menjelaskan mengapa akhirnya lagu berhasil rilis. “Saya dianugerahi selera musik yang kuat. Terkadang tulang saya menggigil.” Kata Darwin.

Ia menghabiskan empat puluh tahun berikutnya bekerja di sebuah penerbit demi stabilitas hidup dan menulis puisi di sela-sela waktu. Seperti komentar pendiri Polaroid, Edwin Land, “Tak seorang pun benar-benar orisinal di satu bidang, kecuali ia telah memiliki stabilitas emosi dan sosial yang berasal dari sikap yang tetap di semua bidang lainnya di luar bidang tempat ia menjadi orisinal.

Ketika kita meratapi originalitas di dunia, kita menyalahkan ketiadaan kreativitas. Untuk menjadi orisinal, orang dewasa harus lebih jarang belajar dan lebih sering tak belajar. Dan mereka menginspirasi saya agar tak terlalu mengikuti harapan menciptakan dunia yang lebih baik bagi mereka. “Keyakinan pada ide sendiri itu berbahaya, bukan hanya karena membuat kita rentan terhadap ide positif salah, tetapi juga membuat kita berhenti menghasilkan variasi yang membutuhkan untuk meraih potensi kreatif kita.”

I have a dream” King, 1963

Originals “Tabrak Aturan”, Jadilah Pemenang | By Adam Grant | Copyright 2016 | Diterjemahkan dari Originals | Terbitan Viking, an imprint of Penguin Random House LLC 375 Hudson Street, New York 10014 | Penerbit Noura | Penerjemah Mursid Wijanarko | Penyunting Aswita Fitriani | Penyelaras aksara Lian Kagura, Sheilla | Penata aksara Aniza Pujiati | Perancang sampul Artgensi | Cetakan pertama, April 2017 | 348 hlm.; 15 x 23 cm | ISBN 978-602-385-277-2 | Skor: 4/5

Untuk Allison

Karawang, 311218 – The Vure – Mint Car // 280619 – Christina Aguilera – Beautiful

Thank a lot Noura. Bless you.

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day28 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing #27

Bahwa di dalam diri mereka. Kekuatan adalah saat mereka mampu membuat orang lain kesuliatn dan memohon-mohon.” – Yusuf Yasa

Ini adalah cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Buku yang hhhmmm…, OK, tapi gmana ya. Ada semacam hal janggal yang mengganjal. Plotnya mirip 100 Tahun Kesunyian-nya Gabriel Garcia Marquez, kalau ga mau dibilang contek. Gaya berceritnya agak aneh, dengan sering berujar ‘pada suatu masa’. Seperti para pencerita lokal macam Eka Kurniawan, Triyanto Triwikromo, AS Laksana, dkk, yang suka memakai nama-nama unik, Eko Triono juga melakukan hal serupa. Nama-nama karakter yang ‘muluk-muluk’ lucunya: Dari Massa Jenis, Gendis, Tulus Tapioka, Kembang Surtikanti, Yusuf Yasa, Rizal Gibran, Parta Gamin Gesit, Darma Gabus, Marzuki Kazam, Muhammad Basyirin, Jaya Kadal, Darman Gabus, Kembang Surtikanti, Dirjo Wuyung, Rodi Pahrurodi dan seterusnya. Boleh saja sih, sah-sah saja. Namun karena saya sering menemui, lama-kelamaan bosan juga. Lebih senang dengan nama-nama Indonesia yang membumi. Pilihan diksi dalam gaya bertutur kental dengan nilai lokal, kata Seno Gumira Ajidarma. Sementara Anton Kurnia bilang, menggelitik kita dengan semacam karnaval unik. Yup, sebagian sepakat. Kaya atau miskin datang dengan cara yang sama, bahagia dengan cara yang sama.

Kisahnya tentang sebuah keluarga yang melakukan transmigrasi dari Jawa ke tanah seberang. Lika-liku kehidupan para penjahat memulai petualangan baru. Yang lelaki sangat aneh, tapi terlihat jenius, yang perempuan adalah anak kiai yang termasyur. Putri pemilik pesantren baik-baik yang juga kelihatan cerdas, tapi memilih suami dengan tak lazim pula. Pasangan aneh yang menginginkan anaknya jadi ilmuwan, sekaligus ulama. Kombinasi tak wajar ini lalu berbaur dalam tiga puluh tiga kepala keluarga diangkut dengan dua bus biru. Berdesakan dengan kardus, barang dalam karung dan ikatan dalam plastik melakukan perjalanan ke Barat. Menyeberangi lautan, menancapkan bambu di tanah hutan perawan, dan drama umat manusia dimulai. “Tiap pendosa akan memiliki masa depan, sebagaimana tiap ulama yang telah memiliki masa lalu.”

Alurnya tak runut, pokoknya mirip sekali, bahkan polanya seperti 100 Tahun yang mendeskripsikan ending, lalu ditarik jauh ke belakang, Para Penjahat melakukan ‘napak tilas’ bagaimana menjalani kehidupan asing di rantau. Nama tanah rantau fiktif itu Jabalekat, nah apa bedanya dengan Macondo yang fiktif? Walau secara regional kita arahnya ke Sumatra. Nama areanya juga dibuat semenarik mungkin, seperti Gang Tokyo, Asia Kecil, Afrika Kecil, Australia Kecil, Pemukiman Perambah Hutan, Gang Shanghai Kecil, Balai Kumpul Jabalekat, dan seterusnya. Tokoh utamanya Parta Gamin, eks narapidana Nusakambangan yang tobat. Beristri jelita anak kiai, Kembang Sutikanti, putranya menjadi seorang pejuang revolusioner. Massa Jenis yang namanya diambil dari kemasan di tempat sampah, yang dibalik ya terdiri atas komposisi, produksi sampai identitas produk: Massa jenis adalah massa benda dibagi dengan volume. “Sudah kubilang, kau mencomot nama dari tempat sampah.” Dan nantinya mereka akan dikarunia anak kedua yang juga istimewa. Nama adalah doa.

Menghadapi orang-orang lokal yang sebagian tak ramah, hutan yang masih rimbun dipangkas, mengusir dan menghadapi hewan-hewan liar. “Jadi jangan percaya kalau kamu dengar tawa hantu, itu hanya tangis yang disamarkan.” Jangan memberikan ucapan dan komentar apa pun, katanya, pada orang yang belum bekerja dan bahkan tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Secara teori nenek moyang kita dari surga dan itulah sebabnya kita mabuk pada dunia. Para transmisgran ini selalu dijejali donkrin bahwa New York dan Sydney mula-mula dibangun dari migrasi bandit-bandit Inggris. Kalau mereka bisa kenapa kita enggak? Penyakit terberatnya adalah perasaan sunyi yang sering muncul tiba-tiba dan ketombe yang sulit dihilangkan; hingga sering kehilangan konsentrasi. “Jika ragu-ragumu dalam hal baik itu dari setan. Jika ragu-ragumu dalam hal buruk, itu dari malaikat.”

Parta Gamin sekalipun dapat istri istimewa dia punya pikiran liar juga tentang cinta masa lalu. Tapi, hanya ingatan diam. Karena kenyataannya tidak ada mantan yang lebih baik dibandingkan dengan mantan pacar yang menjadi istri. “Cinta dan sakit hanya beda istilah.”

Berikutnya yasu dah, segala cerita masyarat pindahan ini mengarungi kehidupan. Semacam rapat RT, koordinasi mengusir hewan buas, paguyupan membersihkan selokan, goyong royong mbangun desa, dan seterusnya. Apakah peran kucing lebih penting secara psikologis daripada peran ikan gabus secara biologis? Kelahiran para penerus, kematian para tetua hingga konfliks vertical dengan pemerintah yang memicu para penerus untuk melawan, memberontak demi revolusi. Dan begitulah kehidupan, selalu berputar, selalu pada akhirnya kita akan pergi dan diganti generasi berikutnya. Para Penjahat dan Kesunyian menampilkan sepenggal kehidupan orang-orang terasing tersebut dengan masam. Keunikan selain nama-nama yang aneh, adalah cara bercerita yang tak biasa, di mana plot-nya dipermainkan, tak segaris lurus laiknya waktu, tapi alurnya bolak-balik. Kalau kita harus menggugat Tuhan karena telah menciptakan dan memberi hidup pada orang jahat, maka kita pun harus menghukum orang-orang baik, sebab hanya dengan adanya orang-orang baiklah kita mampu menunjuk siapa orang-orang yang dianggap jahat. Kadang kita meragukan terhadap hal-hal sudah jelas. “Ini bukan tanah yang dijanjikan, ini tanah kutukan, tanah para binatang.

Awalnya memang sesuai harapan, tapi keterpencilan, perhatian pemerintah yang kecil, abai aturan, dan konfrontasi antar warga mencipta banyak masalah mendasar. Lalu saat muncul pemikiran generasi berikutnya, anak-anak mereka yang lebih modern mecuat, timbul gerakan pemberontakan, gerakan pembaruan yang coba dibasmi itu melibatkan orang-orang penting. Dan satu lagi, cerita akan semakin seru saat ditaruh seorang penghianat. Godaan komplit: harta, takhta, wanita. Siapa yang berani melawan suara rakyat? Siapakah yang teganya menjilat uang demi kenikmataan sesaat? “Saya resmi jadi penghianat. Demi cinta, ya demi cinta, saying. Apa pun saya rela, asalkan jangan menjadi kenanganmu.”

Awalnya saya kasih skor 3.5 karena kemiripan novel masterpiece Gabriel Garcia Marquez, tapi setelah kupikir-pikir sulit juga menjaga konsistensi sepanjang 200 halaman bertutur kata dalam drama yang memusing, walaupun ‘agakhappy ending. Biasanya kita menikmati Triono dalam cerita pendek, maka cerita panjang pertama beliau, novel pertama beliau yang kulahap ini sangat patut diapresiasi. Berlabel juara 3 UNNES – International Novel Writing Contest 2017. Yel-yel dan jargon itu – konon digali oleh Parta Gamin dari amanat penderitaan rakyat – bahkan telah bergema di hati mereka sendiri meski dalam diam bermain catur. Apakah perjuangan itu sebuah kesia-siaan besar?

Aku sudah melakukannya selama tiga puluh dua jam. Nggak jadi presiden nggak sipilis.”

Para Penjahat Dan Kesunyiannya Masing-Masing | Oleh Eko Triono | GM 618202020 | Editor Sasa | Desain sampul Chandra Kartika (@kartikagunawan) | Desain isi Nur Wulan | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-602-03-8315-6 | Skor: 4/5

Karawang, 180419 – Nikita Willy – Lebih Dari Indah // 270619 – Westlife – I Don’t Wanna Fight

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day27 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Magi Perempuan Dan Malam Kunang-Kunang #24

Caraku membutuhkanmu serupa rasa sepi yang tak bisa kutanggung.” – Carson McCullers, The Heart is a Lonely Hunter

Sebagian besar cerita pendek di sini pernah dimuat di surat kabar lokal dan nasional. Cerita pendek yang memang pendek. Awalnya kurang nendang, cerita dari daerah tentang hantu-hantu yang melegenda, lambat laun menjadi seru karena melibatkan banyak tema, sampai sampai keluar negeri, hingga hikayat yang dibelokkan dan misteri dalam buku yang dimodifikasi. Dan inilah 21 cerpen karya Guntur Alam.

#1. Peri Kunang-Kunang
Cerita dari daerah. Kunang-kunang dari kuku orang mati bukan hanya dari Jawa, dari Sumatra legenda itu juga ada. Dul, Padet, Liman dan anak-anak malam itu penasaran dengan cerita bujang lapuk yang suka memanggil peri kunang-kunang. Malam itu mereka sembunyi mengintip ritual di rumah limas tua. Cerita alasan mengapa sang bujang ga kawin-kawin padahal rupawan dan mapan, akhirnya disampaikan. Bagaimana bisa ada orang yang memanggil arwah pujaan hatinya, lalu bercinta? “Jangan lihat kunang-kunangnya, ia bias menyihir kita.”

#2. Tem Ketetem
Ini kisah terlarang. Kisah yang hanya akan sekali kau dengar. Dari kampung Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, bulan di langit malam memberi pertanda. Jika mengembang serupa jantan bujang isngusan itulah masa yang menyusup cemas, menyekam bala dalam balutan pekat. Mantra pengusir kecemasan, tem ketetem, sape tepi kulambani, sape tengah kukerok ijat mate… cerita lama sang gadis jelita Ketetem yang tersohor dalam memilih suami. Namun semesta mencatatkan takdir bencana. Malam seperti itulah Ketetem akan menuntaskan dendamnya. Cantik itu luka. “Itu rahasia sang Semesta, Bak.”

#3. Malam Hujan Bulan Desember
Malam ketika ayah membunuh ibu, hujan turun dengan deras. Malam dalam Kidung Natal yang bergema di gereja samping kontrakan. Cara membuka kisah yang menarik. Sebut saja nama ayahnya Joe dan ibunya Maria. Sang aku bahkan baru tahu identitas ayahnya, dan bagaimana kisah ‘keluarga kecil’ ini terbentuk lalu ditarik mundur. Maria yang terpesona ketampanan Joe di masa muda. “Kami jatuh cinta pada pandangan pertama.” Cinta yang menggebu mereka menghasilkan janin, Maria mempertahankan, Joe tidak. Sebagai calon dokter masa depannya sangat terancam, malam itu usiaku 4 bulan dan air mata ayah menetes di pipiku.

#4. Maria Berdarah
Ia mengaku bernama Mary. Hanya Mary. Ia datang membawa luka dan kegelapan yang sulit disibak. Pastor muda yang melayani dalam gereja itu kedatangan wanita yang berlumpur dosa. “Bapa, tolong aku. Tolonglah pendosa ini dari api neraka. Aku sudah bersekutu dengan iblis, Bapa. Kegelapan akan selalu hidup dalam diriku, walau berkali-kali aku memotongnya” Guntur ikut menyalak ketika sebuah angin tornado tercipta dalam dada perempuan itu.

#5. Gadis Buruk Rupa dalam Cermin
Kisah klasik gadis yang bertanya kepada cermin. “Cermin ajaib, siapakah gadis tercantik di dunia?” dan jawaban mereka selalu sama, “Ratu Ravenna-lah yang tercantik.” Kisah lama yang dituturkan dengan modifikasi, bagaiaman hikayat Ratu Ravenna menjelma jelita. Pengorbanan dengan ritual darah gadis dan bujang. Dan kisah dibelokkan ke Putri Salju. Ia bosan menjadi istri raja tua, ia ingin yang lebih muda, yang bergairah dan hangat.

#6. Tamu Ketiga Lord Byron
Tak ada yang tahu siapa tamu ketiga tuan Byron pada musim panas 1816 selain Mary Wollstonecraft Golwin dan kekasihnya, penyair Percy Bysshe Shelley di kastil megah Danau Gevena. Ah ini kisah fiktif tentang Penulis legendaris Frankenstein. Sang aku menjadi orang berikutnya yang bertutur, bahwa tamu ketiga sudah bilang kepadanya. Malam itu mereka berlomba menulis kisah mencekam. Tamu ketiga tidak ikut menulis, ia di sana karena penasaran hantu budak tuan Byron yang mati dicambuk. Dan di menara kastil itulah tamu ketiga bercerita rahasi besar sang taun rumah: Lord Byron bergumul dengan adiknya, Augusta Leigh!

#7. Dongeng Nostradamus
Legenda Michael de Nostredame, menulis surat dari abad 16 dari kota kecil St. Remy di Prancis. Kupikir ini lawakan, sempat akan kubuang surat itu tapi rasa penasaran mengalahkannya. Surat itu dari masa lalu, untukku di tahun 2012. Mungkin masa depan akan pincang karena kelancangan yang diperbuat. Durat itu memprediksi bayi tujuh bulan dalam kandungan istriku berjenis kelamin laki-laki. Dan prediksi berikutnya membuat terhenyak, anakmu adalah pembawa rahasia suku Maya yang hilang. Dan kecemasan melanda kami.

#8. Boneka Air Mata Hantu
Boneka yang berasal dari air mata hantu. Terdengar menyeramkan dan tak masuk akal. Seumur hidup aku tak pernah melihat ibu tersenyum, tidakkah itu ganjil? “Aku tidak bisa tertawa lagi karena penjual tawaku sudah diculik oleh hantu perempuan.” Dan inilah kisah lama, sang penjual tawa adalah pemuda tampan. Mereka awalnya bahagia, sampai tragedi origami tercipta.

#9. Tentang Sebatang Pohon yang Tumbuh di Dadaku
Apa kau tahu arti mencintai?

Jika aku mencintaimu apakah itu salah?”

Mencintai adalah kebebasan rasa yang ada dalam hati.”

Pergilah ke neraka dan jangan kembali lagi. Ini kisah terlarang Danu dan Nando.

#10. Dongeng Emak
Dongeng yang dibacakan emak tentang penyihir yang tak pernah tua sedang murka menuntut balas kepada sang guru. Cerita yang tak pernah usai, didongengkan berulang kali namun tak pernah selesai. Hingga suatu malam emak memutuskan menceritakan endingnya. Berhasilkah sang penyihir menuntaskan balas?

#11. Almah Melahirkan Nabi
Gadis bisu delapan belas tahun melahirkan anak-laki, malah tak kelihatan bunting dan belum bersuami. Karena tak bisa mengucapkan siapa laki-laki yang harus bertanggung jawab, ia hanya ah uh bilang dan tak bisa menuliskan nama. Desas-desus merebak. Saat orang-orang menuduhkan si A, si B, si C, dukun beranak Emak Yesaya bilang, “Almah, melahirkan nabi. Dia disetubuhi Jibril.”

#12. Kastil Walpole
Hikayat Tuan Horace Walpole yang malang, kisah cintanya yang tragis dan misterius seperti dalam novel The Castle of Otranto yang ia tulis. Tuan Walpole meninggal tahun 1797, hidupnya laiknya cerita gotik yang ia tulis sendiri. Dan Thomas Gray mencoba menjelaskan.

#13. Hari Tenggelamnya Van der Decken
Kapal dagang VOC yang tenggelam tahun 1641 di Tanjung Harapan dengan rute Batavia ke Holland menyimpan misteri. Karena hantu Flying Dutchman? Karena bencana badai? Sejatinya ada di sini, ternyata instrik keluarga yang menjadi petaka. “Aku akan menaklukkan badai dan melewati semenanjung ini, walau kiamat menghadang.”

#14. Sepasang Kutu, Kursi Rotan, dan Kenangan yang Tumbuh di Atasnya
Ini adalah cerpen yang dipilih jadi sinopsis di kover belakang. Kursi rotan yang penuh kenangan. Kursi warisan ibuku yang paling berharga. Di kursi rotan itulah konon ayahnya menjelma kutu lalu menyusup dalam anyaman. Sejak saat itulah ibunya selalu menjaganya. Kenapa ayah jadi kutu? Untuk menyelamatkan dunia. Kelak bila misi usai ia akan kembali. Mendusta? Mengada-ada? Hinga suatu ketika kursi rotan itu bisa berbicara mengungkap fakta!

#15. Lola
Tentang Lola yang dikenalnya di kafe Ubud, Bali. Lola dari San Francisco, Budi asli Indonesia bertukar kata tentang literasi dan seni. Saling memuja, saling mengenal. Namun ini kisah tak biasa, ini Lola yang istimewa, sebuah perpisahan di Pura Ubud Dalem membuat Budi harus berpikir lebih keras, ada misteri tentang kakek buyutnya.

#16. Kotak Southcott
20 Desember 1814, di London yang dingin William Sharp berjalan di gelap malam dalam guyuran slaju. Apa hal yang membuat sang wanita dalam wahyu memintanya menghadap? “Kedatangan Shiloh akan menjadi awal dari akhir dunia. Ia akan diangkat ke urge (surga) dan akan dikirim kembali ke dunia jadi saksi berkahirnya dunia. Ia sudah ada dan siap lahir dari rahimku 19 Oktober 1814.” Dan Southcott berkata, “Aku wanita yang ada dalam wahyu.” Dan kematian mendadaknya membuat Tanya, kotaknya dibuka dan berisi gulungan kertas, lotere dan tiket kuda-pistol.

#17. Kematian Heartfield
Ini kisah dari novel Haruki Murakami dalam novel Dengarkan Nyanyian Angin. Buku yang luar biasa indah, kali ini dirusak oleh sang Penulis, entah kenapa analisis kematian Heartfield yang bunuh diri loncat drai menara Empire State Building tahun 1938 seakan mengada-ada. Yang pasti, menurutku ini cerpen terburuk.

#18. Tiga Penghuni dalam Kepalaku
Yang pertama seorang laki-laki gagah yang datang kala emak mencekiknya, melawan dan meminta lari. Kedua, bocah penakut yang suka meningkuk dalam gelap. Ia datang saat bang Codet menyeretku ke toilet umum di pelabuhan Merak. Ketiga gadis manis yang menetap di kepalaku, yang datang kala Kang Asep penjual makanan yang suka memberinya makan. Lalu suatu ketika ketiganya melakukan perlawanan.

#19. Hantu Seriman
Hantu yang berasal dari kampung kecil di Kabupaten Penungkal Abab Lematang Ilir, Tanah Abang. Jangan sekali-kali merajuk di petang kelam. Hantu menakutkan yang muncul di kala pergantian terang ke gelap. Hikayatnya, ada seorang gadis jelita bernama Serina (tanpa ‘h’ ya) yang menikah dengan bujang yang biasa, ia meminta talak, dan pantangan sana wanita meminta cerai. Awalnya sang anak bernama Seriman yang magrib belum pulang, dan dicari. Tak kunjung pulang, dan tragedi dicipta.

#20. Anak Pintaan
Tidak semua, hanya anak pintaan yang punya empat tetek.” Anak Pintaan adalah anak yang didapat setelah orang tua bermunajat kepada Tuhan YME agar dikaruniai anak laki-laki, mereka percaya bahwa anak pintaan adalah reinkarnasi leluhur. Ini dongeng dari kajut (nenek) kepada cucunya.

#21. Lima Orang di Meja Makan
Kisah mencekam di meja makan. Renata yang mengeluhkan kehidupan. “Ternyata kematian itu begitu indah. Aku baru menyadarinya.” Drama keluarga yang disajikan dengan daging yang renyah, pisau dan garpu di kedua sisinya, anggur merah yang beriak dan racun yang cukup untuk mengakhiri hidup.

Beberapa kali saya membaca cerpen Guntur Alam di Kompas Minggu, memang sangat produktif. Ini adalah buku pertama beliau yang selesai kubaca, kubeli sehari jelang ulang tahun September lalu, kuselesiakan baca dalam #JanuariBaca2019 dan akhirnya baru sempat kuulas. Paling senang cerita Almah Melahirkan Nabi, ada semacam misteri yang menggantung. Kovernya bagus banget, bis ajadi salah satu daya pikat kenapa kuputuskan beli. Kumpulan cerita yang renyah, dengan ekspetasi biasa saja ternyata berhasil memenuhi harap. Buku kumpulan Cerpen memang tak senikmat dalam satu cerita novel utuh, tapi jelas pendekatan yang berbeda juga harus diapungkan, dan Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang ternyata sukses memikat hati.

Magi Perempuan Dan Malam Kunang-Kunang | Oleh Guntur Alam | 6 15 1 74 001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Ilustrasi sampul Pramoe Aga | Editor Yemima Lintang | ISBN 978-602-03-1939-1 | Skor: 4/5

Karawang, 260619 – Sherina Munaf – Ada

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day24 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Kawitan #12

Sebatang pohon ara, empat pina, tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu

Segala yang silam, dirimu yang lalu / terperangkap dalam liang gua / pada sebuah buku yang terbuka di perpustakaan / Dulu pernah ada semak buah beri / di mana seekor musang menyelinap / bersembunyi dari tangan mungil sang waktu / tubuhnya ringan menyelusup / jauh hingga ke pucuk bayang sehelai daun / Dan pada pukul enam sore / semuanya lingkap bagai kata-katamu / bagai cahaya di belantara raya / tersamar pekik liar burung-burung malam

Sebelum dini hari di bawah mimpi pohon kastanye / siapa dari kalian yang menyamar bajak laut Arabia / menghunus belati kayu, membuka semua pintu / mencari jalan rahasia menuju dongeng yang lain:
Kisah tentang sebuah kota di mana benda-benda / selalu bercerita dari mana muasal mereka / sebelum agama melenakan mereka / bahkan sebelum tuhan ada

Atau tentang benua yang perlahan tenggelam / dan orang-orang terlambat menuliskan namanya di sana / Tapi seekor kucing yang lelap di teras rumah / sekilas tampak terjaga, memandang kalian / mengeong seakan tengah mengigau / Cakarnya yang tumpul / tadinya membias cahaya bulan yang entah
Kini tak ada ayunan di kuil taman puingmu / tak ada sarang burung yang terjatuh / menyimpan telur-telur yang sebentar akan menetas
Dan pada buku ini, di perpustakaan ini / gambar-gambar masa lalu / telah kabur warnanya

Saya nukilkan judul terbaik dalam buku ini, berjudul ‘Kuil Taman
Menikmati puisi masih menjadi hal yang sulit bagiku. Masih kurasakan hal yang sama dari satu bait ke bait lain, kumpulan puisi yang kupilihpun tak sembarangan, rata-rata menjadi pemenang atau kandidat dalam Kusala Sastra Khatulistiwa pun Dewan Kesenian Jakarta. Kawitan dan rangkaian panjang yang kucoba hirup tiap katanya.

Seperti janjiku, tahun ini saya akan menikmati 12 buku kumpualn puisi. Buku kedua, buku bulan Februari. Buku ini kubeli Selasa lalu (12/2/19) di Gramedia Karawang bersama May dan Hermione sembari beli sampul buku dan pop toy dan refreshing, kubaca kilat Kamis (14/2/19) pulang kerja. Ga sampai satu jam selesai. Dibaca nyaring, lirih, dan beberap berulang sekalipun di ruang meeting Priority kantor.

Ada dua bagian: pertama Muhibah Tanah Jauh, kedua Kampung Halaman. Buku ini dihimpun dari berbagai sumber media massa dari tahun 2007 dalam ‘Naga Banda’ di Bali Post sampai tahun 2016 dalam ‘Doa Puisi’ di Harian Indo Post, yang membuktikan sang penyair sudah sangat berpengalaman, bahkan di sampul ada stempel ‘Pemenang II Sayembaya Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015’.

Saya selalu kesulitan mengulas puisi euy, narasinya tak runut sehingga saya tak tahu mana awal mana ujung, cerita yang dituturkan acak, random seolah ngasal, maka saya mending nukil yang menurutku menarik ya lalu sedikit berkomentar. Saya ketik dalam dua kali kesempatan duduk, pada 16 Februari sempat mengendap di folder, saya selesaikan 16 Juni hari ini, sore hari bersama serangkaian musik jazz. Sekalian saya masukkan dalam event tahunan saja.

Dalam puisi ‘Tanah Baru Di Adiwena’ ada bait yang bagus: Seekor laba-laba merambati bebatuan / Kumbang bercinta di sela wangi hujan dini hari / Dan kadal tak jemu memanggil-manggil / Kadal-kadal kecil yang lain. | Sebab adanya waktu, bagaimana dirayakan / Adanya yang tiada, bagaimana lagi mesti dilupakan?

Bagian yang kuanggap bagus adalah bait bercinta di sela wangi hujan dini hari. Laba-laba, kumbang, kadal, para binatang itu merayakan pagi dengan meriah!

Dalam judul ‘Perpustakaan Kampus’ kutemukan: Di dalam tidur diam-diam jiwaku meminta. Berdoa / Mengikat janji pada maut / agar abadi dalam dunia fana ini / Aku berjalan dari rumah ke rumah / Di sana tak ada ibu yang menunggu menyambutku / Bagai anak hilang abai tak pulang / aku berharap bisa mengembara | Mendayung sampan di hutan-hutan.

Bagian mendayung sampan di hutan-hutan menurutku unik, kita tahu maksudnya adalah mendayung di sungai yang mengalir membelah hutan, tapi dalam baitnya kita malah disodori langsung tanpa detail. Ibarat bilang mengusap air di pipi, tanpa keterangan itukah air mata?

Dalam judul ‘Aku dan Jiwaku’ menawarkan absurditas di mana fisik dan jiwa adalah dua entitas yang saling bersapa: Aku dan jiwaku berbaring berdampingan / kami telanjang | bagai dua kanak remaja / Kami saling menatap / seolah lama tak jumpa.

Di judul ‘Rumah Jean’ mari kita kutip: Apa yang dipikirkan pohon-pohon ketika tiba musim gugur; / Maut yang pias di wajah ibu atau nujuman masa depan yang tersamar kabu? | Apa yang dibayangkan pohon-pohon ketika melihat dahannya yang hijau / sarang kecil seekor pelatuk yang kuyup oleh hujan / atau lenguh kerbau di padang luas?

Menjadikan tumbuhan berpikir dan bisa membayangkan keadaan sekitar, menjadikan mereka makhluk hidup yang mengamati sekeliling, menjadikan hidup yang hidup dengan nalar dan perasaan.

Judul ‘Bunga Untuk Sitor’ ada bagian: Apakah bisa wangi dupa / mengantarkan doa-doa kepada para dewa? | Apakah bisa seorang ibu demam semalaman / terbaring di ranjang / seketika tersembuhkan / oleh sentuhan tangan tuhan?

Ga perlu diperdebatkan sih, wangi dupa sebagai sarana ibadah, sarana reliji tapi kurasa disini mereka seolah hidup sehingga bisa jadi tukang pos doa untuk para dewa. Walau sang penyair malah menambah tanda tanya(?). Mereka dicipta dengan api, melayangkan asap mistis dan menyentuh hati malaikat demi kesembuhan orang terkasih.

Sebatang pohon ara, empat pina / tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu | segala yang silam, dirimu yang lalu / terperangkap dalam liang gua / pada sebuah buku yang terbuka / di perpustakaanmu.

Bait ini ada di pembuka judul ‘Kuil Taman’ yang menarik adalah menjadikan buku terbuka sebagai perangkap, menjadikan gua, puing yang berserak menyambut para makhluk. Lalu di judul yang sama terdapat bait bagus, mungkin malahan menurutku paling bagus: Kisah tentang sebuah kota di mana benda-benda / sellau bercerita dari mana muasal mereka / sebelum agama melenakan mereka / bahkan sebelum tuhan ada.

Nah, kota yang sangat tua yang mencipta segalanya, sebelum agama dan tuhan turut!

Satu lagi, dalam judul ‘Matoa’: Kubayangkan matoa yang ini / Terusir dari tanah leluhur / Cuma berkawan membagi hidup / Bersama segugusan pakis dan rumput | yang pelan-pelan melayu / melapuk jadi rabuk akar dahan / lalu tumbuh kembali / sebagai pakis dan rumput yang lain / yang tak dikenalinya.

Suka bagian dalam pelan-pelan melayu, melapuk jadi rabuk yang nantinya akan bangkit, seolah semua siklus ini, siklus hidup mati adalah tarikan napas, bukan takdir alam yang perlu dipikirkan.

Demikian ulasan singkat dariku, sangat menanti respon kalian para penyair, para pengunjung setia blog, para penyuka puisi untuk memberi masukan. Cara menikmatinya, cara mengulasnya, cara benar-benar merasuki keindahan rima dan bait.

Sungguh sajak adalah barang mewah yang sulit kujangkau, sulit kubenamkan dalam kepala sehingga menyatu sukma.

Kawitan | Oleh Ni Made Purnama Sari | GM 616202022 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Copyright 2016 | Ilustrasi sampul Natisa Jones | Setter Nur Wulan Dari | ISBN 978-602-03-2788-4 | Skor: 3.5/5

Karawang, 160219 – Sherina Munaf – Primadona || 160619 – Dave’s True Story – Ned’s Big Dutch Wife

#Day12 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami #7

“Ia memang laki-laki aneh. Hampir seharian ia sendirian di taman kota ini. Sebentar bediri, duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Pandangannya tajam selalu menatap ke arah depan seperti tidak peduli pada orang di sekitar. Dan tiba-tiba mereka hanya mendnegar tubuhnya ambruk.”

Buku kedua bulan Juni tahun ini sengaja saya membaca buku non mainstream, mencari dari terbitan kecil, setelah lelah dari lebaran, mudik dan rangkaian panjang libur, pengen santai. Ada beberapa pilihan yang ada di rak, beberapa terjemahan, malah ketemu yang penulis lokal. Bacaan terjemahan penulis Dunia sudah sangat banyak, maka buku tipis ini saya pilih. Dua hari selesai, dibaca santai di kala setelah subuh, jelang tidur atau jeda istirahat kerja. Yang paling unik kubaca di teras rumah kala tidak dibukakan pintu di malam Sherina ulang tahun. Tema-tema yang ditawarkan sederhana, sebagai lulusan pesantren sang penulis memang banyak mengambil tema reliji, walau ga semilitan jadi buku agama, cerpen yang lumayan seru. 14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek.

#1. Lelaki Izrail
Tentang Pak Ulak Ulu, lelaki yang bisa (secara tak mengaja) meramalkan kematian. Awalnya njeplak otomatis, menasehati seseorang agar lebih banyak beramal, banyak ibadah karena usia tak ada yang tahu. Ternyata esoknya beneran tewas. Kejadian yang dikira hanya kebetulan itu, terulang lagi, dan lagi sehingga diapun didapuk lelaki peramal kematian.

#2. Matilda
Perempuan hebat di bawah lima tahun, pembaca sastra dunia, rakus melahap buku dan tampak aneh. Tentu saja otomatis kita akan menyebut Matilda, karakter terkenal karya Roald Dahl yang punya daya telekinetis menggerakkan benda ala Profesor X. Di sini lebih sederhana, sebuah keluarga mendapat kunjungan anak asing bernama Picataka setiap Senin-Jumat sore hari untuk numpang baca. Buku-buku tebal dilibas, remaja putri empat tahun yang aneh itu ternyata tak senyata yang terlihat karena suatu hari iseng diikuti, rumah tempatnya tinggal adalah rumah kosong. Lho?

#3. Percintaan Firdaus dan Janneti
Asmara anak pesantren. Sang aku adalah semacam pujangga pondok ‘Raja Kata-kata’, menuliskan surat cinta dengan biaya traktir. Maka Firdaus yang siswa senior suatu hari jatuh hati dengan siswa pondok sebelah ketika beli sayuran. Janneti yang dikirimi surat ‘cinta’ oleh Firdaus menjawab dengan berbunga. Maka disepakati hari untuk bertemu, untuk mengklaim kakak-adik. Sang aku ikut senang, surat buatannya bisa membantu mewujud kisah cinta cinta itu, hingga hari H yang harusnya berbunga menjelma petaka.

#4. Migrasi Para Hantu
Kisah hantu turun temurun dari ayah sang pencerita lalu dituturkan ke anaknya. Kisah hantu yang sudah umum, lazim di kampung halaman dikisah ulang kepada anaknya. Bagaimana hantu-hantu masa silam suka iseng menampakkan diri. Sang anak diluar duga malah antusias, dan meminta izin untuk ke kampung halaman. Untuk mencari bukti? Yah, anak muda zaman sekarang, ajak teman-teman mereka berencana jadi semacam ghost buster. Duh!

#5. Seorang Perempuan di Masjid Kami
Perempuan aneh yang menginap di masjid kita. Tanpa banyak tanya, tanpa basa-basi. Agamanya yang bagus, tingkahnya yang baik membuat warga menerima dengan terbuka. Musafir yang bijak, mengikuti kajian, ibadah bagus, membantu sesama. Lama-lama membuat tanya identitas sesungguhnya. Siapa gerangan yang menebar ilmu dengan teladan ini?

#6. Pa’aliran Caran
Cerita tentang pawang buaya yang legendaris. Adalah Caran yang menjadi penakluk buaya, bisa bertahan berjam di dalam air, bisa mencari hal gaib di air. Sebagai pawang buaya senior, suatu hari ada anak tenggelam gara-gara acara mancing yang awalnya dilarang. Sudah lama Caran tak melakukannya, dan iapun kembali menyelam mencari kebenaran di dasar sungai.

#7. Libur ‘Aisya
Cerita mencari tempat liburan yang tak biasa. ‘Aisyah yang anak kota akan liburan musim panas, beberapa opsi disodorkan. Dari yang umum dari buku panduan wisata sampai kampung desa yang ada di pelosok, tapi apa istimewanya? Maka sang aku pun menawarkan liburan di pesantren, belajar agama? Wuihh… ide bagus. sebulan dua bulan ‘nebeng’ belajar agama, apa respon ‘Aisya?

#8. Perempuan Pembunuh Terang
Tentang perempuan sakti yang mematikan semua cahaya malam, lampu-lampu ditembak, semua cahaya dimatika. Dengan kuda laiknya seorang pengelana, jagoan yang meminta kembali menjaga kekhusukan malam. Warga yang takut bergegas mematikan lampu, dan derap kuda yang menakutkan itu selalu terdengar bagi mereka yang berani menyalakan cahaya. Hingga akhirnya usul menembak bulan agar pekat tercipta itu mewujud.

#9. Oleh-oleh
Seorang cucu yang galau liburan ke Bali, pertentangan reliji. Terlahir dari pasangan agama Islam dan seniman, sang aku tampak bimbang mau ke arah mana kehidupannya. Darah seni menciptanya ingin melukis, Bali jadi detinasi, dapat pertentangan dari kakeknya yang kolot. Hingga akhirnya oleh-oleh baju khas agama Hindu itu diberikan, menjelma baju koko untuk ibadah ke masjid. Lega?!

#10. Teratai Kota
Ini mungkin kisah terbaik, tentang perenungan lelaki yang menyendiri di taman kota. Melihat, terpana, dan berdiskusi dengan bunga teratai kota. Bunga yang tumbuh liar, sebuah anugrah dari Tuhan ataukah makhluk buangan? Hingga kahirnya ia ditemukan di sebuah kamar rumah sakit. Nasehat aneh dari penjual madu.

#11. Rumah di Samping Kuburan
Membangun rumah di samping kuburan. Tentu banyak pertimbangan. Tentu saja ekonomi jadi alasan utama, sang Aku yang masih lajang awalnya ditentang keluarga, tapi ia keukeh membangun rumah dengan jendela menghadap kuburan. Tiap ada prosesi pemakaman, ia menyapa, tiap ada yang ziarah ia ikut berdialog. Hingga suatu hari ia melihat penampakan yang menjadi pertanda. Serigala kenapa tampak jadi ikon korupsi ya?

#12. Perempuan Kafe Senja
Perempuan dengan empat kekasih, kekasih di hari kerja, kekasih di akhir pekan, kekasih di malam hari dan yang satu entahlah. Perempuan tanpa nama itu sering kali nongkrong di kafe sepulang kerja, hingga sang aku menyapa dan memulai menjalin kenangan.

#13. Kubur Penuh Cahaya
Agak aneh bagaimana bisa kubur warga biasa, penjual minyak luar kota bisa memancarkan cahaya? Desa yang awalnya biasa menjelma riuh. Jadi keramat, jadi tempat ziarah, jadi sakral. Mencipta hal-hal gaib, cahayanya memang tak muncul terus, hanya sesekali, tanpa teknologi ya. sampai kapan?

#14. Hidup Memang Tak Mudah, Pak Atin!
Tentang penangkapan terduga teroris. Pak Atin kena ciduk juga, padahal beliau terkenal sebagai orang alim yang tak neko-neko. Maka kisah dirunut bagaimana bisa. Ternyata bermula dari tiga pemuda yang menitipkan jual buku, buku-buku aliran radikal yang menyeret pak Atin jua. Walaupun dalam prosesnya ia kembali bebas, setidaknya benar adanya hidup itu tak mudah.

Matilda, Lelaki Izrail, Dan Seorang Perempuan Di Masjid Kami | Oleh Hairus Salim HS | Desain sampul Rahman | Tata letak Gapura Omah Desain | Ilustrasi Rahman | Penerbit Gading | Cetakan satu, September 2012 | x + 130 hlm.; 13 x 19 cm | ISBN 978-979-16776-1-5 | Skor: 3.5/5

Karawang, 130619 – James Ingram – I Dont Have The Heart

#Day7 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019

A Simple Favor: Gone Girl Yang Jenaka

Stephanie: “Five days ago. Emily went missing.”

Film dengan ending mengecewakan. Dari mula sampai pertengahan sungguh seru. Keren sekali, seksi dan merumit dalam bermain pikiran. Namun semenjak setelah pengungkapan bahwa sang istri tidak mati, tapi menghilang, bah alur langsung melemah dan rontok tak terkendali. Sempat digadang-gadang sebagus Searching yang sama-sama mencoba mengungkap sebuah kasus hilang/matinya seseorang, Searching berhasil menjaga tempo, bermain serius, dan memiliki twist yang bagus. A Simple Favor gagal mempertahankan gairah itu. Malah, adegan segitiga yang dinanti-nanti itu jatuhnya kayak sinetron klise yang tayang tiap malam di SCTV atau RCTI, ah sama saja buruknya. Astaga, saling silang tunjuk ujung pistol, tembak dan ah cuma bercanda, lalu sebuah mobil menghancurkan segala plot itu. Sayang sekali film dengan bintang besar Blake Lively dan Anna Kendrick berantakan. Gone Girl yang jenaka.

Sebelum memutuskan tonton, saya kena sedikit spoiler bahwa dua bintang utama akan ciuman. Catat. Saya juga kena bocoran bahwa film akan laiknya detektif, pencarian orang hilang. Catat. Selebihnya ngalir. Kisah dibuka dengan menyenangkan, bahwa Stephanie Smothers (Anna Kendrick) yang seorang Vlogger tentang cara memasak ala ibu-ibu kosmopolitan. Ia adalah orang tua tunggal dari putra semata wayang Miles Smothers (Joshua Satine). Kegiatan rutin menjemput si buah hati suatu hari berubah ketika teman main Miles, Nicky Nelson (Ian Ho) mengajak dolanan sepulang sekolah dan sang ibu yang seksi bak model Emily Nelson (Blake Lively), mengizinkan. Adegan kala Lively turun dari mobil, gerimis mengundang, dengan desiran angin disertai musik riuh benar-benar menggambarkan betapa ia istimewa. Betapa nyata eksplorasi kecantikan sang megabintang.

Di rumah Emily yang megah dengan dinding kaca lantai atas dengan view menawan jelas mereka dari keluarga terpandang, lalu mereka saling mengenal dan bergosip. Stephanie yang polos, mengungkap beberapa rahasia. Suaminya tewas kecelakaan mobil bersama saudaranya, ia pernah melakukan zina dengan saudaranya, ketika ayahnya meninggal sang ipar yang tampak reinkarnasi sang ayah membuat jatuh hati. Nantinya ini jadi kejutan pengungkapan fakta. Sementara Emily mengungkap rahasia, pernah main threesome. Wait. MML? Nope, MFF. Waduh… dan sang suami Sean Townsend (Henry Golding) ternyata adalah penulis buku Catenbury Tales, buku yang istimewa di mata Stephanie karena pernah dibacakan di klub buku, menjadi bahan skripsi dan dibedah khusus dalam diskusi. Pasangan ini bahkan tampak mesra, berciuman mulut di depan tamu! Betapa gairah dan norma menjadi samar. Stephanie memandang dengan tatapan damba. Asem.

Alur menjadi sesuai prediksi, ketika Emily meminta Stephanie untuk menjemput anaknya karena ia ada perlu, yang ternyata terdata ke Miami. Menjadi pengasuh sementara, saling bantu teman, sementara sang suami Sean sedang ke London menemani ibunya yang sakit. Dan misteri pertama dilemparkan ke penonton. Setelah beberapa hari, Emily dinyatakan hilang. Melalui vlog-nya Stephanie mengungkapkan kesedihan. Laporan ke polisi, melacak keberadaan yang memungkinkan Emily kunjungi. Bahkan sang protagonist lalu menjelma bak detektif ketika masuk ke kantor tempat kerja Emily, mencuri berkas, membuka fakta kecil yang tak disangka. Dan ketika penyelidikan seolah menemui jalan buntu, sebuah temuan menyedihkan diungkap. Emily ditemukan tewas di danau, mobil sewa tunai ditarik, mayatnya diotopsi, sakaw gara-gara heroin, dan tiket perjalanan itu palsu. Di sini jelas, arah pikiran penonton pasti sama. Sang ibu tunggal, penggemar bukunya Sean yang kini jadi ayah tunggal. Berhari-hari menjadi pasangan saling melengkapi. Sean bekerja sebagai dosen, Emily menjelma ibu rumah tangga idaman dengan masakan istimewa. Dan kalau mereka akhirnya tinggal seatap, mencoba membangun hubungan adalah keniscayaan. Happily ever after? Nope! Ini film thriller, eh film yang mencoba thriller gan.

Pesan-pesan rahasia Emily disampaikan seolah ia menjadi arwah gentayangan. Memberi sang anak Nicky sebuah amplop berisi gambar saling silang dengan tulisan Brotherf*ker. Mencoba mengirim sinyal keberadaan. Bahkan suatu saat Stephanie mendapat telpon langsung dari almarhum. Wow, kamu mulai menggila! Kamu sudah stress tingkat atas, orang mati menelpon! Film ini mau ke film horror? Tak terima dikatakan gilax, Emily lalu menelusuri kehidupan masa lalu ‘sang arwah’. Saya sudah bilang dari awal bahwa Emily ternyata tak mati, kok bisa? Padahal kita sudah melihat dengan gamblang mayatnya dikebumikan. Yup, sampai disini cerita memang bagus banget. Tapi penelusuran lebih lanjut terhadap identitas almarhum menjadi plot jenaka. Silakan ketawa.

Seperti Baby Driver yang hebat dari awal sampai pertengahan, A Simple juga luar biasa mengesankan. Baby menjadi luluhlantak berkat, eksekusi konyol betapa mudah senjata diangkat dan dar der dor dalam adegan balap bak fast and furious. A Simple terjun bebas ketika kemunculan plot lain yang lalu sampailah adegan segitiga itu. Apalagi motifnya cuma itu. Duh, maaf sekali. Duet perdana dua aktris istimewa sebagai dua peran utama Lively dan Kendrick berakhir bencana. “Anna and Blake are forces to be reckoned with.” Moga ada lagi film mereka berdua sebagai pasangan utama. Jangan kapok yes.

Sisi positifnya adalah, cerita detektif akan memudahkan plot dengan menemukan mobil yang diperosokan ke danau, catat jua dengan sengaja. Searching juga gitu. Bahkan ini kejadian nyata, sang ratu cerita criminal Agatha Christie kita tahu, beliau memainkan peran nyata sandiwara hilangnya demi meraih simpati, atau lebih tepatnya meraih perhatian dari kekasih tercinta karena kekecewaan hidup. Jadi kalau mau bikin cerita penyelidikan, coba taruhlah mobil dalam danau, pastinya menarik perhatian pembaca, pers dan sel-sel kelabu.

Cerita ditutup bak sebuah kasha nyata dengan menampilkan tilisan singkat nasib para karakter utama. Credit title-nya kreatif sekali, layak dinikmati sampai ujung walau tak ada adegan apapun. Selama tulisan berjalan ke atas, potongan adegan, foto-foto karakter sampai sekelumit gambar warna-warni ditampilkan dengan gaya slash miring dan potongan garis yang indah. Siapa yang bisa menolak keseksian Lively? Siapa yang ga penasaran selipan foto-fotonya? Coba kalau credit title film-film dibuat gini, pastinya banyak yang bertahan hibngga detik akhir. Ditambah soundtrack-nya bagus-bagus. Dari Mambo #5 (A Little Bit of…) dari Lou Bega, Les Passants nya Zaz sampai Bonnie and Clyde nya Brigitte Bardot dan Serge Gainsbourg. Meriah.

Berdasarkan novel karya Darcey Bell dengan judul yang sama yang merupakan novel debut, bukunya belum rilis saat film sudah sepakat dibuat. Walau akhirnya beberapa hal diubah, seperti Sean yang sebenarnya kerja di Wallstreet di film menjadi dosen. Atau untuk penyederhanaan, dalam novel Stephanie bukan Vlogger tapi Blogger, dst. Salah satu konsep uniknya adalah pembuatan martini, Blake Lively bahkan berlajar langsung dan mendemonya saat CinemaCon.

Mungkin agak terselamatkan di ujung sekali ending, kala vlog-nya Stephanie menyentuh view sejuta. Sungguh bahagia, menyampaikan cerita yang bisa dinikmati banyak kalangan, apalagi ini hanya dari seorang ibu rumah tangga. Hati-hati saat sobat kamu nanya, apa hal paling gila yang pernah kamu lakukan, rahasia biarkan tetap menjadi rahasia. Ssstttcan You keep A Secret?

Well decent, until it wasn’t. The movie was quite enjoyable for the longest time. Well and tricky. Then the conclusion happened. Drop till the end, so disappointed. Is it a joke baby? Hufh… gone girl gone bad. Nah… nah… nah…

A Simple Favor | Year 2018 | Directed by Paul Feig | Screenplay Jesicca Sharzer | Cast Anne Kendrick, Blake Lively, Henry Golding, Ian Ho, Joshua Satine | Skor: 3.5/5
Karawang, 170419 – Nikita Willy – Ku Akan Menanti – 190419 – Andre Previn, Herb Ellis, Ray Brown, Shelly Mann – I Know You So Well

#PemiluDay #TheGoodFriday