Histeria Massal, Folie a Cinq

Kontak by Carl Sagan

Apakah Tuhan ada? Pertanyaan itu mempunyai nuansa yang rumit. Kalau dijawab tidak, apakah itu berarti aku yakin Tuhan tidak ada? Atau aku tidak yakin Tuhan itu ada? Itu dua hal yang berbeda.”

Novel panjang nan melelahkan. Biasanya saya komplain sehabis baca buku kurang bervitamin, buku minim pengetahuan, minim manfaat, atau minim hiburan. Nah, dalam Kontak semua dilibas. Sangat bernutrisi, pengetahuan melimpah terutama terkait astronomi yang setelah selesai-pun masih bikin kerut kening, catat pula buku ini juga ada hiburan. Kejutan surat tahun 1961 mungkin dalam drama Hollywood sudah banyak dibuat, tapi tetap saja ketika diungkap sangat menyentuh hati.

Untuk mencapai Vega dan sebuah penelusuran absurd dibalik pesan yang dikirim, kita butuh berputar melingkar panjang, sungguh melelahkan. Kumulai baca Jumat pagi 3 November sampai Ahad sore 22 November dengan kopi melimpah di teras, dalam balutan bacaan lain, menumpuk. Butuh perjuangan ekstra, sebab jenis buku seperti ini sekalinya diletakkan iseng baca buku lain tertunda seminggu saja, akan sulit dilanjutkan. Makanya harus dipaksakan. Rancang bangun antena dan analisa data.

Selain kecantikan, yang paling penting di dunia ini adalah pendidikan. Tak banyak yang ku bisa lakukan dengan kecantikan, tapi kau bisa melakukan sesuatu dengan pendidikan. Kisahnya mengambil sudut pandang Ellie Arroway, astronot Amerika yang menemukan kontak asing dalam penelitian, lalu pesan itu menjelma mesin, dan mesin itu mengantarnya ke Vega, menemukan jawab akan semesta? Pesan itu berarti intsruksi, cetak biru, sejenis mesin. Kegunaannya masih belum diketahui. Disamping minat utamanya pada matematika, fisika, dan teknik, ia pandai memecahkan kode. Istilah matematikanya existence theorem, sesuatu yang terbukti ada adalah benar. Dalam banyak hal, phi berhubungan erat dengan ketidakbatasan. Sekadar sifat aneh dan tak penting?

Tema novel sangat beragam, astronomi, matematika, agama, sampai sihir. Tak heran Carl Sagan mencampur fiksi dengan teori segalanya, maka setiap bab berganti kita disuguhi kutipan-kutipan keren. Nyaris semuanya wow/ saya kutip dua di mula:

#1. Hatiku bergetar bagaikan dedaunan malang. Planet-planet berpusar-pusar dalam mimpiku. Bintang-bintang mengintai dari jendelaku. Aku berguling dalam tidurku. Tempat tidurku sebuah planet hangat.Marvin Mercer (SD 153, Kelas Lima, Harlem), New York City, NY (1981)

#2.
Lalat kecil,
Keriangan musim panasmu
Tanganku yang tak berotak
Telah menghancurkannya
—-
Apakah aku bukan
Seekor lalat sepertimu?
Atau apakah kau bukan
Seorang manusia sepertiku?
—–
Karena aku pun menari-nari
Dan minum dan bernyanyi
Sampai sebuah tangan tak bermata
Meremukkan sayapku
William Blake, Songs of Experience “The Fly”, Stanza 1-3 (1795)

Kalau kalian penasaran sama kutipan pembuka bab lainnya, mending melahap sendiri. Jelas worth it, jelas nyaman untuk dinikmati. Semakin dalam mereka meneliti ruang angkasa, semakin banyak mereka menemukan sumber gelombang radio dari tempat-tempat jauh di luar Galaxy.

Valerian menekankan betapa kita terperangkap oleh waktu, oleh budaya, oleh struktur biologis. Betapa terbatasnya kita membayangkan makhluk atau peradaban yang secara mendasar sangat berbeda.

Ellie seperti ilmuwan kebanyakan, penasaran berat akan gugus alam semesta yang mahaluas. Kalau kau mengamati cukup banyak bintang di langit, cepat atau lambat akan ada gangguan dari Bumi, atau rangkaian gangguan acak, yang polanya untuk sesaat membuat jantungmu hampir meloncat. “Seperti kehidupan di planet Venus? Itu memang khayalan. Venus sebuah planet neraka. Dan itu cuma satu planet. Di Galaxy ada ratusan miliar bintang. Kau baru mengamati segelintir. Tidakkah terlalu pagi untuk menyerah?”

Dia lalu naik pangkat menjadi direksi di Proyek Argus adalah fasilitas proyek terbesar di dunia yang disediakan khusus untuk mencari peradaban di luar Bumi dengan menggunakan radio. Shannon pernah berkata, “Pesan sandi yang paling efisien adalah yang tidak bisa dibedakan dari suara bising atau noise. Kecuali bila kita sudah mengetahui kunci sandinya terlebih dulu…” Mungkin mereka tidak akan bisa menemukan tanda-tanda kehidupan cerdas lain di alam semesta ini, tapi mereka bisa menarik rahasia-rahasia lain dari kekayaan alam semesta.

Nah, suatu malam mereka menangkap pesan dari langit. “Halo, Ian? Mungkin ini bukan apa-apa, tapi kami menangkap bogey di sini, dan mungkin kalian bisa membantu kami memeriksanya. Frekuensinya sekitar Sembilan gigahertz, dengan lebar frekuensi beberapa ratus hertz…” Lalu pesan itu diumumkan ke pers, yang lalu mencipta histeria massal ke seluruh dunia. Nenek moyang kita berpendapat, kitalah pusat alam semesta.

Maka setiap Negara berbondong-bondong menafsir artinya. Sumber bilangan prima itu bisa dipastikan dari Vega. Sangat banyak planet lain yang menyimpan kemungkinan kehidupan. Mungkin kita bukan satu-satunya makhluk di dunia. Ada semacam kehidupan cerdas di Vega? Kita punya rumus algoritma pemecah sandi, rumus yang ideal untuk itu.

Apesnya, pesan itu berisi sinyal televisi dari Vega itu siaran tahun 1936, Olimpiade Berlin. Siaran itu hanya untuk Jerman, tapi itu siaran televisi pertama yang cukup kuat. Empat puluh juta orang meninggal dunia karena si megalomaniak ini, dan kini ia jadi bintang. Orang-orang luar angkasa menangkap siaran Hitler sebagai berita pertama dari bumi? Mereka menggunakan bahan itu berkali-kali, menuliskan sesuatu di atas tulisan lama, dan hasilnya sesuatu yang disebut palimpsest. Dan setelah telusur panjang nan rumit, kita tahu poinnya adalah instruksi untuk membuat semacam mesin.

Dilemanya, selain biaya mihil, dan kalaupun kita menjawab, jawaban itu akan sampai Vega dua puluh enam tahun lagi, dan dua puluh enam tahun kemudian menerima jawabannya. Maka semua Negara bahu membahu, salah satu sobat Ellie ilmuwan dari Rusia, Vasily Gregorovich Lunacharsky. Berpendapat, “Setiap desa adalah sebuah planet, dan setiap planet adalah sebuah desa.” Tak seorangpun tahu, pesan itu dikirim dengan simbol atau gambar. Beberapa percaya pesan itu dikirim dari Tuhan, dan beberapa percaya itu dari Setan.

Maka hal wajar proyek sangat amat mahal ini menimbulkan ptro-kontra proyek ini merembet ke banyak kalangan, salah satunya berandal berkedok agama, kata Lunacharsky. Orang bisa menghabiskan seluruh masa hidupnya dan tetap tidak bisa memahami keberadaan Tuhan yang Mahakuasa. Para ilmuwan berpendapat, mereka ingin kita meninggalkan iman kita, tetapi mereka memberikan pengganti yang mempunyai nilai spiritual.

Ah kembali ke konfliks lama. Ilmu pengetahuan dan agama, keduanya diciptakan oleh Tuhan jadi keduanya tidak boleh bertentangan. Kalau ada hal-hal yang tampak bertentangan, mungkin di ilmuwan, atau mungkin si ahli agama, atau keduanya tidak melakukan tugasnya dengan baik.

Saya sendiri sangat menghargai pilihan Ellie bahwa di luar sikap patriotism normal, ia tak ingin berkecimpung di politik praktis. Ilmu pengetahuan pada dasarnya meneliti dan membetulkan hipotesis. Agnostik adalah orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (masalah Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak dapat diketahui. “Kepercayaanku begitu teguh, sehingga aku tidak membutuhkan bukti-bukti…”

Suara dari bintang, makhluk-makhluk asing – bukan manusia, tapi juga bukan dari dewa – yang ditemukan di langit malam. Perasaan heran dan takjub. Kita gembira, kita telah mengambil keputusan ini. Kita saling bertukar data, bertukar khayalan, bertukar impian. Kita semua hidup di planet yang sama, kita semua memiliki kepentingan yang sama. Benda sehari-hari dari peradaban luar bumi yang sudah sangat maju, tidak akan bisa kita bedakan dengan sihir. “Kenikmatannya akan mengurangi hak Anda di surga.”

Bumi adalah sebuah ghetto, perkampungan kumuh. Seluruh umat manusia terperangkap di sini. Samar-samar kita mendengar bahwa di luar perkampungan kumuh ada sebuah kota besar dengan jalan-jalan lebar penuh droshky – kereta kuda Rusia, dan wanita-wanita cantik berparfum wangi mengenakan mantel bulu… Iklan mengajar orang untuk menjadi bodoh.

Proyek itu menjadi proyek umat manusia, Nama Konsorsium Pesan Dunia diganti menjadi Konsorsium Mesin Dunia. “Terlalu banyak yang kita pertaruhkan untuk sesuatu yang tidak pernah kita lihat.” Setelah diperdebat dalam rapat yang panas, akhirnya lima kursi mesin itu diisi oleh para astronot dari Amerika Serikat, China, Rusia, India, Nigeria. Hanya lima kursi menghadap ke dalam, sehingga setiap awak bisa melihat yang lain.

Emosi adalah motivasi untuk menyesuaikan diri dari waktu ketika kita terlalu bodoh untuk tahu apa yang sedang terjadi. Setidaknya harapan kita untuk masa depan itu sama pentingnya dengan penemuan api, atau tulisan, atau pertanian. Ramalan tentang kejadian-kejadian penting rupanya jauh lebih akurat bila tidak pernah dituliskan di atas kertas sebelum kejadian. Bila kitab kita dibaca lagi dengan hati-hati dan menggunakan imajinasi secukupnya, jelaslah kejadian menakjubkan itu tersirat dalam kitab-kitab.

Mereka terpesona sama teknologi sehingga melupakan bahanya. Sikap skeptis merupakan jiwa ilmu pengetahuan. Rasanya seperti ikut ujian tanpa persiapan, tapi jawabannya bisa dicari dari pengetahuan umum yang kau miliki. Bisa membuat kau menangis karena indahnya. “Peter, kenapa kau menatap langit-langit kalau sedang berpikir?”

Amerika, seperti Indonesia selalu curiga pada dua dari sedikit kelompok yang jadi kambing hitam: makhluk luar bumi (tak kasat mata) dan Orang-orang Rusia (komunis). Penerbangan ruang angkasa adalah subvertif. Negara-negara melakukannya untuk kebanggaan Nasional.

Lalu muncullah bencana pasak erbium di Wyoming sangat mengerikan. Awalnya bukan Ellie yang ditunjuk untuk berangkat, naas itu mencipta kematian gurunya, maka iapun melaju. Ia adalah penemu dan pelarian dan akhir dari kesepian.

Telaah agama (besar) hampir disebut semua. Menurut Buddha, Tuhan mereka begitu besar dan agung sehingga tidka perlu ada. Orang Kristen bilang, awal dari segalanya adalah perkataan. Aku satu-satunya penganut materialism di antara kita berlima, dan semua yang kubawa ada di kepalaku. Kalau peradaban luar bumi itu begitu cerdas, mengapa mereka membawa kami melalui begitu banyak lompatan-lompatan kecil?

Di Kompleks Hokkaido Machine segala persiapan akhirnya rampung, dan lima orang siap berangkat: Eda, Ellie, Sukhavati, Vaygay, Xi. Membawa pesan, “… Kalian adalah pahlawan-pahlawan planet bumi. Bicaralah atas nama kami semua. Bersikaplah bijaksana, dan kembalilah.” Mesin itu pergi ke suatu tempat, mesin itu adalah sarana.

Alam semesta ini terus mengembang, dan tidak cukup materi di dalamnya untuk menghentikan pengembangannya. Ada sebelas pesan tersembunyi di balik nilai phi, seseorang berkomunikasi di alam semesta dengan matematika. Nilai phi pasti sama di alam semesta, nilainya sudah terbentuk dan merupakan bagian dari alam semesta. Ia mencoba mencari sumber ketidaktenangannya

Setelah merumit dalam teori astonomi, akhirnya mereka tiba di sebuah pantai misterius. Di sinilah puncak tanya itu dijawab. Kepala Stasiun Cysgus A menciptakan bagi mereka apa yang bisa disebut sebagai cinta mereka yang paling dalam. Mungkin tujuan hanya sebagai menjembatani kesulitan komunikasi dengan makhluk yang sangat berbeda bentuk dan jenisnya. Semua hampir menangis kegirangan.

Dengan kamera merekam ‘makhluk’ yang mereka temui, bercengkerama dan mencipta hidup kenangan indah di masa lampau. Satu-satunya fungsi mesin ini adalah menciptakan ilusi, atau mungkin juga membuat mereka berlima menjadi gila.

Sayangnya setelah segalanya usai dan mereka kembali di penghujung millenium segala yang disiapkan untuk laporan temuan hilang. Semuanya tidak didukung oleh bukti fisik. Rol memori yang merekam itu seolah tak percaya, sebab mereka yakin sudah menyimpan adegan penelitian. Mereka lalu diinterogasi, seperti Kantor Kejaksaan selalu menanyakan tiga hal, “Apakah dia punya kesempatan, apakah dia punya motif, apakah dia cara?”

Kalau manusia bisa membuat obat-obatan yang menimbulkan fantasi, tidak bisakah teknologi yang jauh lebih maju menimbulkan halusinasi kelompok yang sangat terperinci? Untuk sesaat terasa kemungkinan itu ada. Kembali ke bumi dengan membawa kisah yang aneh, tanpa hal yang bisa digunakan untuk kemiliteran atau politis. Dan kisah itu memiliki implikasi.

Novel ini sungguh bombastis. Panjang berliku, saking banyaknya ilmu yang diserap sampai meluber. Saya lebih suka menyebutnya memimpikan masa lalu yang lebih sederhana. Endingnya jleb dengan pesan membumi untuk Ellie. Ia telah mempelajari alam semesta sepanjang hidupnya, tapi mengabaikan pesannya yang paling jelas. Bagi makhluk-makhluk kecil seperti kita, kebesaran alam semesta hanya bisa dihadapi dengan cinta.

Kita semua haus akan hal-hal yang menakjubkan. Aku seperti seorang murid, menunggu datangnya ilham. Menurut Cervantes, membaca terjemahan seperti melihat bagian belakang permadani. Numinous adalah ‘hal-hal yang di luar jangkauan’, dan reaksi manusia terhadapnya adalah ‘takjub luar biasa’. Setelah menyelesaikan baca Contact, jadi kepikiran film Arrival-nya Dennis tahun 2016. Tentang invasi alien yang menemui kendala bahasa, mereka datang untuk memberika ‘a gift’ dalam bentuk ‘a weapon’ yang mana bahasa menjadi pembentuk budaya. Mirip sekali dengan kontak makhluk luar yang coba membantu bumi. Sebuah inspirasi, yang segaris lurus.

Seperti dialog dimula tentang Tuhan, maka catatan ini saya tutup dengan sang Pencipta. “Kalau Tuhan ingin kita tahu Dia Ada, mengapa tidak meninggalkan pesan yang jelas? Kau berpikir Tuhan itu ahli matematika?”

Kontak | by Carl Sagan | Copyright 1985 | new cover 1997 | Atas izin cover art Warner Bros | Diterjemahkan dari Contact | Alih bahasa Andang H. Sutopo | GM 402 97.851 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Desember 1997 | 592 hlm.; 18 cm | ISBN 979-605-851-0 | Skor: 5/5

Untuk Alexandra, yang hadir menjelang datangnya millenium. Semoga kami memberi generasimu dunia yang lebih baik daripada dunia yang dulu diberikan pada kami.

Karawang, 301120 – The Ink Spots – Java Jive (1940)

Thx to Agoeng S, Bdg

Clash of Clans in Japan

Furin Kazan by Yasushi Inoue

Ya, siapapun yang menentangmu Tuanku, harus diperangi.”

Tanpa tahu ini tentang apa, siapa Inoue, dan segala awam yang menyelimuti, kunikmati lembar demi lembarnya. Terkadang memang saya membeli ke-awam-an buku, sebagai selingan atau pengen iseng petualang ke sebuah area antah. Dibaca sehari selesai, dimulai Jumat pagi (13/11) selesai Sabtu paginya (14/11), hari libur memang liar. Lumayan bagus, mengingatkanku pada Game of Throne, pertarungan antar klan memperebutkan kekuasaan. Terbit tahun 1950-an, apakah G.R.R.Martin sudah melahapnya? Tokoh utama, si ahli strategi Kansuke bertubuh pendek, pincang, mata satunya rusak, akalnya panjang yang tentu saja mengingatkan kita pada si cebol hebat di Perebutan Takhta. Endingnya ketebak, walau ada nada sedih disenandungkan, pada akhirnya tersenyum.

Kisahnya tentang Yamamoto Kansuke, seorang samurai yang sudah tak muda lagi, kepala lima. Selama Sembilan tahun mengabdi pada kerajaan, tapi nggak segera mendapat kerja tetap. Dia dicerita cerdik, suka membual, pernah berpetualang ke banyak daerah. Dan jago main pedang, maka di pembuka kita disajikan sebuah sekongkol. Menyelamatkan Itagaki, sandiwara yang mengantarnya menjadi orang kepercayaan raja Harunobu. Jadi bab pertama kita mengambil sudut pandang sang pemeras Aoki Daizen, ia mendatangi rumah Kansuke untuk meminta uang rutin sebagai biaya tutup mulut.

Nah, saat itulah ia mendengar nama seorang samurai kepercayaan raja akan melintas daerah situ, maka disusunlah strategi. Daizen nanti pura-pura merampok, lalu muncullah Kensuke menyelanatkan. Tak ada nyawa melayang, hanya sandiwara. Dan taktik ini pasti berhasil sebab utang nyawa akan selalu dihargai kepercayaan tinggi. Ternyata ini sebuah jebakan buat Daizen, sebab sandiwara dijalankan, ia terjebak dan meminta dihentikan, Sensuke malah membunuhnya. Dari sinilah sudut pandang bab dua berubah ke sang tokoh utama. Pembuka yang secara langsung bilang, ia cerdik, serta novel ini akan melibatkan banyak nyawa melayang. Bukan ratusan lagi, ribuan pasukan akan berperang. Beginilah cerita perang antar klan harus disajikan. “Selain dalam pertempuran, tidak baik menghilangkan nyawa seseorang.”

Kensuke menguasai aliran pedang Gyoryu ditantang melawan aliran pedang Shintoryu dalam duel latihan, kukira hanya bualan ternyata bisa. Maka setelah beberapa waktu Kansuke dipanggil menghadap Harunobu. Ia dites oleh seorang samurai utusan, dikira hanya memakai pedang kayu, nggaklah langsung pedang beneran yang mengakibat nyawa melayang. Ini menegaskan sekali ia mencabut pedang dan berniat membunuh, pasti tak pernah gagal. Tenggoret-tenggoret sedang mengerik menandai era baru kehidupannya. Ia ditunjuk sebagai penasehat jenderal muda Takeda Harunobu.

Maka ujian pertama sesungguhnya adalah dari klan Suwa yang dipimpin Yorishige Suwa. Aku sama sekali tidak tahu akibat-akibatnya kelak, namun justru itu yang menjadi alasan kenapa aku bertahan. Ketika ia diutus ke sana menyampaikan salam damai, disambut sang jenderal yang lalu melakukan kunjungan balasan. Ketika sang tamu dan pengiringnya tiba di wilayah Kofu, dalam rapat terbatas berbagai usulan muncul, dan saat sang jenderal menanyakan kepada Sansuke ia meminta empat mata, usulnya jelas: bunuh Yorishige sebelum ia menyerang kita. Maka eksekusi langsung dilakukan, mereka menyerang klan musuh tanpa komando dan dalam waktu singkat menguasainya.

Dalam kewajaran, keluarga jenderal yang kalah biasanya melakukan ritual seppuku (bunuh diri), Putri Huu tidak. Ia ingin bertahan hidup dan rela menjadi selir sang jenderal yang membunuh ayahnya. Ia tahu ada dendam berkobar, tapi setidaknya harapan selalu ada selama napas masih bisa dihela. Ia mendapatkan keyakinan atas kejujuran, kepercayaan diri, dan cara berpikir positif.

Perang berikutnya lebih banyak dan rumit. Cara Kensuke menunggang kuda agak aneh, tubuh kecilnya duduk di punggung seekor kuda besar. Membungkuk begitu dekat dengan leher kuda. Dalam masa perang itu, ia menemui banyak hal tapi memang yang pertama selalu istimewa. Kensuke belajar pertama kalinya tentang cinta dan kebencian bisa muncul pada saat bersamaan tanpa logika sama sekali. Ia jatuh hati sama Putri Huu, cinta yang mustahil terwujud sebab janji setia sebagai samurai yang takkan menghianati tuannya.

Zaman perang Sengoku Jidai dan akan ada perang terus-menerus selama bertahun-tahun. Panji Furin Kazan tak pernah tinggal di Kofu lebih dari setengah tahun. “Jangan biarkan saya di sini menjaga rumah. Itu sangat membosankan.” Sampai diucapkan sang samurai, karena perang memang manjadi tujuannya bergabung.

Jika menyangkut masalah penaklukan benteng atau pertempuran, ia mampu melihat segala sesuatunya dengan jelas, layaknya kabut pagi menghilang seiring terbit matahari. Namun jika sudah soal laki-laki dan perempuan, ia tak mampu melihat apa pun di hadapannya. Otaknya begitu jernih memikirkan perang yang akan segera terjadi. Sang Putri lalu mendapat seteru dengan selir lain, Puteri Ogoto. Terdengar jenaka, ia diombang-ambing sama kedua selir itu, dan sang jenderal-pun tak jujur pula. Pusing. Maka ketika Putri Huu mengancam, ia meminta sang jenderal dan ia meninggalkan kehidupan duniawi dan mengubah nama, sang jenderal kini bernama Tadeka Shingen. “… Ya aku benar-benar mengerti. Meninggalkan keduniawian, menjadi seorang rahib, dan menyerahkan diri pada kehendak langit.”

Itu hanya strategi, ia mendapat ucapan selamat dan gelar namun pasukan Takeda terus melakukan invasi. Mereka berkuda ke berbagai penjuru, bertempur menang, dan kembali ke Kofu. Ia merasa akan hidup lebih lama, jika kematian tidak segera menjemputnya, ia ingin mengendalikan takdir sendiri. Setiap manusia memiliki sendiri waktu untuk mati. Saking seringnya perang, diskusi ini disampaikan sambil santuy. “Nah, berikutnya apa yang kita lakukan?” / “Mari kita menyerbu Joshu.” / “Bagaimana dengan Bushu?” / “Baik, kita juga akan menyerang Bushu.”

Penggambaran zaman dulu yang realistis, terdengar keji tapi memang perang memang sadis. Sampai akhirnya Kansuke di masa letih. Aku sedang menghadapi masa paling sulit dalam hidupku. Akhir-akhir ini aku memikirkan dengan sungguh-sungguh berbagai hal, tapi tetap saja tak bisa memecahkan masalah. Tujuan klan Takeda membentuk persekutuan tiga keluarga: Imagawa, Hojo, dan Takeda sudah terwujud, lalu invasi terbesar disiapkan. Musuh utama Murakami Yoshikiyo bisa dikalahkan, pada dasarnya puncak pertempuran besar berikutnya adalah melawan Uesugi Kenshin Kagetora yang melibatkan ribuan pasukan. Penaklukan benteng paling sulit ini menjadi ending novel ini.

Keinginan melihat Kampanye perang Pengeran muda Katsuyori yang berusia 16 tahun (anak Putri Huu) terwujud walau terdengar rumit dalam pelaksanaan. Maklum pangeran muda yang perlu bimbingan.

Dalam cerita berlatar Jepang yang menjadi sulit dalam bayang adalah timeline. Karena di sini tak dijelaskan tahun Masehi hanya tahun ke berapa Tenbu, lalu saat pergantian era kita sudah sampai pada tahun ke-4 Koji lalu terjadi pergantian era lagi menjadi Eiroku ke-1, dst. Perlu belajar segala masa di Jepang siapa saja yang berkuasa.

Dengan usia 51 tahun ketika dimulai mengabdi, ia termasuk sebagai protagonist tua, kondisi fisik yang kurang, samurai nganggur lalu menjelma ahli strategi kisah ini potensial meledak. Suram adalah koentji, latarnya sudah memenuhinya. Sayangnya narasinya malah kurang detail, mematikan orang dengan sangat mudah. Menyebut pasukan ratusan hingga ribuan dengan mudah, penyerbuan dan menempatkan posisi perang juga kurang masuk. Sempat berharap ada asmara dengan Putri Huu malah merasa hambar, benar-benar kakek samurai sejati. Sisi cintanya dimatikan demi mengabdi kepada sang raja. Yamamoto Kensuke dikuasai oleh gagasan. Tubuhnya bersimbah keringat.

Sumpahnya ada tiga, dan sejak disampaikan jelas akan terpenuhi. Tiga orang yang ia cintai jenderal Harunobu, Putri Huu, dan sang Pangeran, semuanya menempatkan akhir yang pas. Putri Huu yang perfectionist mengalami goncangan batin, tapi pada akhirnya tersingkir. Dan anak tunggalnya, Pengeran Katsuyori menjadikan kampanye perang pertamanya sesuai pemicu, sudah sesuai alur.

Coba perhatikan perancang sampulnya. Adalah penulis kini menyandang dua kali pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa. Gambarnya keren dengan Panji Furi Kazan berkibar-kibar dengan latar seorang samurai bertopeng. Panjinya sendiri dicetak luks sehingga lebih lembut jika diraba. Dominasi biru di belakang para prajurit di markas utama

Akhirnya, mau diambil dari sudut manapun kita mendapati bahwa perang antar klan ini tak ada yang salah-dan benar. Persis seperti dalam Game of Throne, mau menjago atau menaruh simpati pada siapapun, mereka hanya terjebak di era yang salah. Era kekerasan di mana pedang diayunkan menebas leher serutin cangkul dikayuh di ladang.

Karena kami di sini juga atas perintah tuanku.”

Furin Kazan | by Yasushi Inoue | Copyright 1953 by The Heirs of Yasushi Inoue | Penerjemah Dina Faozi & Fatmawati Djafri | Penerbit Mahda Books | Penyunting Tim Kansha Books | Pewajah sampul Iksaka Banu | Pewajah isi Call Izmi | Cetakan I : Juli 2010 | ISBN 978-602-97196-0-4 | Skor: 4/5

Karawang, 181120 – Linkin Park – Pushing Me Away

Thx to Lifian, Jkt

Fiksi Etnografis Sempurna: Lock for Best Prosa KSK 20

Orang-orang Oetimu by Felix K. Nesi

Ia suka membaca buku. Sekali ia duduk di depan buku, taka da yang bis abikin ia bangun. Saya yakin ia akan enggan naik ke surga bila dikubur bersama buku.”

===Catatan ini mungkin mengandul spoiler===

Oetimu, dulu ini adalah kerajaan Timu Un, sekarang sudah menjadi Kecamatan Makmur Sentosa. Ini kisah tentang masyarakat di sana, menyelimuti segala nasib manusia. Siapa bisa menjamin, jika besok atau lusa, karena perempuan itu juga, Oetimu tidak menuntut kemerdekaan dari Indonesia?

Keren adalah kata pertama yang kuucap setelah menuntaskan baca. Luar biasa, hikayat singkat orang-orang Oetimu dari zaman dahulu sampai tahun 1998, tahun genting peralihan Orde Baru ke Reformasi. Buku ini melibat banyak karakter, dan hampir semua yang ditelusur kisah hidupnya memberi peran signifikan. Membantu menggerakkan plot secara yahud, menjadikan penentu nasib tokoh lain, dan ini hebatnya Bung Felix K. Nesi tak segan-segan menewaskan karakter favorit! Tak ada yang baik konsisten, tak ada pula yang jahat terus, mayoritas sifatnya abu-abu, pas banget dengan kenyataan kehidupan yang fana ini. Eh, kecuali satu karakter yang dungu, nyebelin tak ketulungan. Namun nyatanya, orang bodoh pun dapat durian runtuh gadis jelita yang menjadi impian semua orang. Mengangkang siap diterkam, Hajindul! Asu!

Kisahnya dibuka dengan menyakinkan sekali, di Oetimu tahun 1998 malam final Piala Dunia di Prancis yang meluluhlantakkan Samba tiga gol itu menjadi kejadian menghantar kronik drama panjang ini. Tersebutlah Sersan Ipi yang menjemput Martin Katibi dengan motor bututnya untuk nonton bareng di pos polisi. Satu jam sebelum tragedi pembunuhan itu, mereka menyumpah Amerika, dituduh dalang kekacauan dunia. Ronaldo loyo, Amerika yang dihujat. Khas kaum kadrun.

Nobar itu menjadi petaka buat warga ketika Sang Sersan mengumumkan rencana pernikahannya dengan Nona Silvy, primadona kampung yang masih sekolah, siswa pindahan yang cerdas nan jelita. Dengan hasil separuh babak amburadul dua tandukan Zidane, sang tetua pulang lebih dini, para pembunuh sudah di rumahnya, menyekap anak istri. Mereka tak mengira, sepakbola 2 x 45 menit itu tak penuh, sang tuan rumah pulang cepat! Mendebarkan? Tentu saja, tapi untuk mengetahui nasib mereka kita diajak melalangbuana jauh ke belakang.

Di Lisbon tahun 1974, Julio Craveiro dos Santos akan dikirim ke Timor membantu Mario Lemos Pires dalam proses dekolonisasi Portugal. Rencana awal istrinya Lena dan anaknya 16 tahun Laura akan ditinggal, tapi ketika disampaikan Timor itu bukan Afrika, itu Negara kecil dekat Australia jadi relatif aman, tak bar bar seperti Afrika? Gundulmu! Maka diputuskan sekeluarga dibawa. Rencana dan perkiraan yang bagus itu menjelma bencana, Timor dalam gejolak politik. Ada tiga partai yang berdiri menjelang dekolonisasi: UDT yang menginginkan persatuan dengan Portugal, Fretelin yang menginginkan kemerdekaan penuh – sebelumnya bernama ASDT, dan Apodeti yang kecil dan ingin bersatu dengan Indonesia, Negara tetangga bekas jajahan Belanda. Walau Julio mencoba tak ikut-ikut suasana, mencoba netral tak memihak politik manapun, nasib malang menimpa, menjadikannya korban keganasan politik. Semua tidak baik-baik saja. Sadis sekali kisah hidup keluarga ini. Julio Craveiro dos Santos yang malang. Atas nama rakyat Maurebe, kalian adalah martir-martir pertama.

Legenda Am Siki mencipta kisah tersendiri, kembali ditarik lebih jauh ke belakang di era penjajahan. Am Siki menjadi masyur dan dihormati di seluruh negeri. Namanya harum mewangi dan dikenal ke pulau-pulau lain. Mereka sering menyebutnya pahlawan, yaitu ksatria yang membunuh untuk menyelamatkan bangsa dari cengkeraman Jepang. Ama Nemo Manas Manikin, leluhur salah satu pemimpin negeri. Konon hujan tak pernah membasahinya, angin hanya meniupnya jika mendapat izin, dan bila ia menunggang kuda di siang terik, awan akan berputar-putar di kepalanya, melindungi ia dari sengatan matahari. Segala yang tumbuh di atas tanah itu hanya milik leluhur semata, jika membutuhkan sesuatu, ambillah, tapi jangan untuk berperang. Am Siki turunan orang sakti itu, pohon lontar yang ajaib. Pohon lontar itu membacakan syair dalam uab Meto.

Bagaimana ia menjadi pahlawan sungguh kocak. Am Siki menyelamatkan kudanya yang diperkosa tentara Jepang, tapi ditafsir menyelamatkan bangsa sebab selain membantai Nippon ia juga membakar area romusha. Orang-orang bisa menyelamatkan diri. Lalu waktu menjelma dongeng legenda. Sejak Am Nu’an pendongeng dari Oetimu yang rabun terjun ke jurang yang disangkanya kolam ikan dan mati, orang meminta Am Siki untuk mendongeng. Ia adalah pencerita yang handal, yang bercerita dengan kata kerja yang gampang diimajinasikan dan beragam isyarat tubuh. “Tidak boleh dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Ingat? Tidak boleh diperkosa, sekalipun itu kuda…

Laura yang terlunta berhari-hari dalam keadaan hamil terdampar di Toko SUBUR: Berdiri Karena Sabar. Dikira penyihir saking kumalnya, dikira orang gila. Panggilkan Am Siki, tetua kampung. Maka Am Siki mengulurkan tangannya. Menyulap gadis dekil menjadi jelita. Laura melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Siprianus Portakes Oetimu atau yang kita kenal nantinya sebagai Sersan Ipi yang kita baca di bab pertama.

Ketika lulus SMA, sang kakek angkat mencarikan jalan hidup nyaman. Sebagai tetua adat, ia lalu menyambut pejabat. Am Siki memandang mereka dengan heran dan bertanya bagaimana bisa orang terhormat tidak memahami syair, padahal ia berkata dengan diksi dan metafora yang bisa dipahami oleh orang Timor paling tolol sekalipun. Ipi berangkat pendidikan kepolisian, dan peran sang legenda berakhir sudah.

Ia menjadi seorang polisi tunggal yang gagah, ditakuti anak-anak sekaligus dihormati sebagian kalangan. Tak ada yang berani melawannya, sebab ia adalah aparat Negara yang berseragam, ia akan bertindak atas nama Negara, demi kebaikan daripada seluruh warga Negara. Dia menjaga keamanan wilayah, suatu hari dua siswa berkelahi karena permasalahan mimpi basah. Kalian boleh mimpi basah dengan siapa saja, dengan Nona Silvy, dengan istri A Teang, atau dengan Lady Diana sekalipun. Namun jangan berkelahi, demi Tuhan, kalian hanya bocah bodoh, kencing saja belum bisa bikin lubang tanah. Belum tahu dia, betapa jelitanya Nona Silvy ini. Maka ketika ia ke rumahnya yang sepi, ia gemetar jatuh hati. Bagian ini sampai melenguh lega adalah bagian terbaik, anjay kalau saya bilang. Pertama ketemu bercinta, dan saling mengikat. Menghamili adalah cara lain untuk melamar. Silvy yang cerdas memilih calon ayah bagi anaknya, Ipi yang lelah karena hobi nganu-nya menemukan sarang yang pas. Kalau ini adaptasi Disney, garongnya keok. Namun enggak, ini adalah hikayat orang sial.

Tersebut pula Atino yang membela Negara, memberantas radikalisme para pemberontak. Apes pula nasibnya sebab sebuah serbuan maut membunuh keluarganya. Dengan dendam kesumat, ia menjadi pasukan Petrus-nya Soeharto, sambil mencatat para pembunuh untuk balas dendam. Sampai di sini tentu saja kita tahu, di bab mula bahwa ia merencana balas dendam, dan Martin Katibi tentulah salah satu dalam daftar.

Untuk kembali ke benang putus bab satu, kita masih diajak muter ke sebuah kehidupan lain. SMA Santa Helena yang termasyur itu dituturkan dari mula sekali. Romo Yosef ditugaskan menjadi kepala sekolah bobrok pesisir karena hukuman. Ia sukses mengubah sekolah kumuh menjadi sekolah favorit, banyak trik. Orang-orang cepat jatuh hati pada kemiskinan dan selalu ingin menjadi pahlawan. Dari sumbangan dan kerja keras. Bagaimana ia di ditempatkan di sana memang misteri. Ada yang bilang ia melakukan pelanggaran, ada yang bilang ia naik pangkat setelah menjadi asisten pastor ia kini menjadi orang nomor satu, walau terkucil. Tenang, kita akan diberitahu detailnya, karena dari Maria Goreti Naleok-lah sumber itu. Masa muda Maria yang idealis di kampus bertemu calon pelayan Tuhan yang kalem. Untuk menutupi gerakan mahasiswa, mereka membentuk Kelompok Doa Mahasiswa Ora et Labora, dan laki-laki itu turut serta. Lelaki berilmu yang dingin kepala, akan betah bersama perempuan yang cerewet dan suka mengumpat. “Jika kita selalu menjadikan Tuhan sebagai pelita, sebagai penuntun jalan kita, maka kita pasti bisa menjalani setiap cobaan di dunia ini.” Mereka saling cinta, terjadi berkali-kali ciuman panas, Maria sudah menyatakan ketertarikannya, tapi Yosef sudah membulatkan tekad menjadi pastor. Maka melalui ciuman panas perpisahan, Mari melanjutkan hidup menikah dengan lelaki Rumah Sakit bernama Wildan. Keluarga ini sempurna ketika buah hatinya lahir. Bung Felix tertawa, sebuah kecelakaan menewaskan suami dan anaknya, dan Maria menjanda. Seorang cerdas ini mendapat nasib buruk.

Nah, janda ini melakukan ciuman dengan Romo Yosef, masih ada cinta di antara mereka. Adegan hot itu ketahuan sang kepala, maka ia harus angkat kaki. Nasib akhir Maria sendiri membuat merinding. Orang cerdas tak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan, banyak impiannya tak terkabul, cinta, karier, keluarga ini. Rapuh. Di pemakaman suami-anaknya ia mengumpat, umpatan yang fasih dan menggelegar di arena dukacita. “Kesatuan Negara? Kesatuan Negara yang mana? Yang harga mati itu? Yang harga mati itu kemanusiaan! Yang harga mati itu keluarga saya… Sangkamu kesatuan Negara lebih penting daripada… puih! Anjing!”

Kita kembali ke Silvy Hakuak Namepan yang lulus seleksi masuk SMA, Yunus Mafut Namepan menangis seperti gembala kehilangan sapi, bukan bahagia, tetapi ia menangis sebab terus-terus merasa gagal menjadi orang tua. Nasib Yunus sendiri mengambang. Setelah ditinggal istrinya Yanti yang kabur sama laki lain, ia mengalami degradasi mental. Guru yang terpuruk. Nah, Silvy putri tunggalnya ini cerdas, membuat heboh sekolah asrama ini. Sebab kerap ia menyela penjelasan mereka dan mengajukan argumen lain dengan sumber data yang jelas dan landasan berpikir yang kuat. Tak ada yang bisa membantahnya. Kecerdasan ini membuatnya diminta keluar kelas, diminta belajar mandiri dalam perpustakaan pribadi asrama. Kita tahu ada adegan mesum di dalamnya karena suatu ketika sang kepala sekolah pulang dalam keadaan demam, dan terjadilah apa yang yang menjadi penyebab Silvy ke Oetimu.

Satu tokoh lagi yang menjadi link adalah Linus Atoin Aloket. Dari enam ratus delapan puluh Sembilan orang sarjana laki-laki yang melamar, ia satu-satunya yang diterima sebagai guru SMA Santa Helena. Karakter bodoh yang aneh nan menjengkelkan. “Di dunia yang fana ini, uang bisa membeli kebahagiaan kalau kau tahu cara menggunakannya.” Menjadi guru sejarah tapi nggak nyambung masalah masa lalu. Apa pula gunanya berpikir? Ia hanya perlu bekerja. Kerja, kerja, dan kerja. Biarkan Romo Yosef yang berpikir. Tokoh paling menjijikkan ini menjadi kunci utama untuk menyambungkan adegan pembuka, mengapa Silvy pindah sekolah diantar Om Lamber dan Tanta Yuli.

Di Oetimu, segala yang ditata rapi itu berakhir berantakan. Saya suka sekali kisah hidup tragis, Bung Felix menyajikannya dengan melimpah ruah, suram adalah koentji. Orang-Orang Oetimu adalah novel lokal terbaik yang kubaca tahun ini. Serius!

Hajindul, keren banget! Sabtu malam kemarin (26/09/20) saya chat WA sama teman diskusi (buku, bola, film) – Bung Tak saya memanggilnya – bahwa pemenang KSK tahun ini adalah Orang-orang Oetimu, beliau punya podcast channel dan mau undang ngobrol. All hail mokondo channel! Beliau tanya, tahu dari mana? Pengalaman membaca banyak buku membentuk pola, otomatis feeling bagus/jeleknya bisa diperkira. Benar saja, esoknya di Minggu siang yang terik saya mendapat kabar lima besar dari Dunia Maya, dan buku ini melaju. Nah kan! Dari delapan buku KSK 20 yang sudah kubaca, ini satu-satunya yang berbintang lima. Masih dua buku lagi sore itu baru diterima via pos, tapi keduanya sudah gugur duluan. Jadi fix, bisa dipastikan juara Kusala Sastra Khatulistiwa 2020 kategori prosa adalah novel ini.

Banyak sekali kritik sosial disampaikan. Korupsi, perilaku buruk masyarakat, sampai birokrasi yang ribet. Orang-orang itu telah korup sejak dalam pikirannya, sehingga satu pejabat korup hanya akan digantikan oleh kroninya yang juga korup, dilindungi oleh rezim yang juga korup, dipermudah oleh sistem yang juga korup, dan didukung oleh budaya tidak tahu malu yang menjijikan. Atau kritik kekerasan dalam pendidikan. Dalam asrama itu diperboleh. Tak apa jika mereka dibikin nyonyor dan berdarah-darah. Lebih baik berdarah di masa muda daripada hancur seluruh masa depannya…

Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018 ini sepertinya akan berpesta di 15 Oktober nanti. Fiksi Etnografis Sempurna: Orang-Orang Oetimu is lock for best Prosa KSK 20. Wanna bet?

Orang-orang Oetimu | by Felix K. Nesi | Penerbit CV. Marjin Kiri | Juli 2019 | Cetakan ketiga, Februari 2020 | i – viii + 220 hlm, 14 x 20.3 cm | ISBN 978-979-1260-89-3 | Desain sampul TINTA Creative Production | Skor: 5/5

Karawang, 280920 – Jo Stafford – Autumn Leaves (1950)

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokopedia

Delapan sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Realitas Merenggut Mimpi-Mimpinya

La Muli by Nunuk Y. Kusmiana

Tahukah kamu, Inah, nelayan sepertiku tidak bisa memilih-milih. Aku tidak benar-benar tahu ikan apa yang memakan umpanku. Cukup sering menangkap penyu dan terpaksa kulepaskan. Meski hati ini sedih mendapati mulutnya yang terluka karena kailku.”

Buku kedua dari Nunuk Y. Kusmiana yang kubaca setelah Lengking Burung Kasuari yang memukau itu, debut yang sukses berat. Kali ini temanya lebih variatif, mengambil sudut pandang penduduk asli Papua yang ditunjuk menjadi ketua RT, mencoba memecahkan masalah warga, menjadi penghubung pemerintah dan penduduk asli dan juga pendatang. Sebagai nelayan yang baik hati. Pondasi utama cerita ini adalah sebuah sumur yang terbuka yang coba dibuatkan dinding agar tak terjadi porno aksi, mereka dianggap melakukan mandi dengan porno sebab area terbuka, mengenakan sarung untuk dewasa dan telanjang bulat untuk anak-anak. “Masuk neraka saja komandan itu. Bikin susah semua orang, mentang-mentang dong tidak pernah mengalami susah air.”

Kali ini seolah tokoh-tokoh penting di Lengking menjadi tokoh pendukung saja. Bu Letnan adalah perwujudan ibunya Asih yang membuka toko kelontong. Kisahnya hanya berkutat di Papua, ujung Timur Indonesia yang bergabung dengan Indonesia 1969. La Muli adalah ketua RT yang terpilih, tak berpengalaman berorganisasi, warga asli kebanyakan yang tak terlalu mengenal birokrasi, mengalahkan La Ode Komarudin yang lebih kaya dan telah lama diakui berkuasa (walau tak sah). Istrinya Mutmainah (dipanggil Inah) adalah pribadi yang sederhana pula, berpikir praktis yang penting dapur ngebul, ada ikan yang dibawa pulang. Urusan dinding yang rumit, tak menghasilkan uang atau makanan membuatnya muak. Sejatinya hampir semua istri juga gitu-kan, “Cari duit kakak, bukan pangkat atau jabatan!”

Sebagai nelayan kecil, La Muli menjadi presensi nyata kehidupan warga kebanyakan. Tidur awal menjadi kemewahan tersendiri bagi nelayan seperti dia. Dibuka dengan masa kecilnya yang absurd bahwa ia akan menjadi orang penting yang disampaikan berkata-kata oleh kakek berambut putih yang dianggap gila, tapi ramalannya jitu. Ketua RT yang (mencoba) mengayomi, istrinya terlihat ngalir saja hidup. Pakai seragam? Enggak! Dapat gaji? Enggak! Apa pentingnya?! “Pekerjaan ini adalah kontribusi nyata warga bagi tertib administrasi.”

Suatu ketika dapat instruksi dari Komandan untuk membuat dinding di sumur umum agar tak menjadikan porno aksi, hal sederhana ini lalu memicu rentetan panjang masalah. Iuran warga per Kepala Keluarga (KK) dua puluh lima ribu rupiah, menjadi beban. Bukan macam gini, main buka mulut saja, macam uang tinggal ambil di pohon-pohon. Tak semua mau memberi, ada yang bayar tunai, ada yang bayar separuh, ada juga yang tak mau bayar. Pak RT mumet. Polemik pertama muncul dari pelacur berambur lurus, Sarita yang tinggal menyewa rumah La Rabaenga, belakang rumah Wa Ome. Ketika ditagih, malah menyampaikan kabar untuk menagih ke palanggannya yang utang, La Udin. Dalam rapat, walau La Muli tak menyampaikan langsung salah satu masalah penarikan iuran, hanya tersirat, tetap membuatnya marah. Suatu malam, La Udin melakukan tindak kekerasan yang berakibat Sarita harus dirawat di rumah sakit. Ada warga mendengar jerit sakitnya, tapi malah pasif sama ‘Bibi’, soalnya sudah terbiasa mendengar jeritnya. “Menantuku dengarkan ini, kalau ada kejahatan sedang terjadi dan kita diam saja, padahal kita mampu melakukan sesuatu, bukankah kita ikut berdosa?” Jangan bayangkan rumah sakit yang mewah dan mudah dijangkau, di sana urusan medis juga rumit dan sebagai ketua RT, ia harus mengantar. Waktu dan tenaganya tersita banyak.

Di sinilah seninya, urusan dinding sumur merembet ke yang lain. Bahkan eksekusi endingnya ketika dinding jadi-pun masalah bukannya selesai, malah melebar ke lain hal pula, karena dinding itu bermasalah (saya bocorin dikit, masalah cakar ayam!) lalu malah La Muli dituduh korupsi dana warga. Astaga… mau mandi nyaman dan aman saja ribetnya. “Mengapa ada orang yang tega mengurusi bagaimana caranya orang mandi?”

Buku ini juga terasa bervitamin, dengan menyodorkan fakta-fakta kecil yang asyik. seperti pola tidur nelayan yang menyesuaikan jadwal kerja. “La Muli masih tidur, kamu akan sulit membangunkannya, meskipun kamu meledakkan bom di telinganya. Beginilah nelayan sejatinya, atau kamu bisa kembali sedikit siang, ia akan bangun saat itu.”

Fakta permainan harga untuk komoditi ikan, saat bulan terang dan saat ada badai, harga ikan melambung tinggi seperti harga emas. Mirip dengan budaya pertanian yang mana, kala panen raya justru harganya terjun. Atau hal sepele tentang sopan santun berpakaian ketika menghadap orang penting, “baju diseterika membuat bapa kelihatan penting.”

Tentang tata cara berniaga ada yang bikin trenyuh, bagaimana ada yang jualan hasil kebun dari pulau seberang. Pulau Muna yang jauh, mengangkut hasil alam untuk dijual di sana, dengan mengarungi laut dua hari berperahu seadanya, bersama angin yang menggerakkan layar terkembang! Gilax, terdengar janggal tapi juga nyata. “Selamat datang, selamat berjuang di tanah rantau yang keras ini.”

Di Papua nuansa reliji juga kental. Sayangnya Allah kelewat sibuk bekerja, sampai-sampai aku mendapat ‘kembung-kembung’ yang tidak berharga ini, dan teri yang jauh tidak ada harganya di pasar. Rasanya aneh debat suami-istri ini, saling silang pendapat. Dua orang yang berdoa kan lebih kuat daripada hanya satu orang, “Kurasa kalau kau ikut berdoa, Allah akan menutup kupingnya, karena kamu selalu berdoa dengan berisik. Kalau kita berdoa untuk mendapatkan hanya ikan yang tidak kelewat besar. Mungkin Allah akan mendengar doamu dengan mendatangkan ikan-ikanyang tepat.”

Satu lagi fakta asyik. bagi kita ngopi bergelas-gelas dengan aneka rasa dan merek sudah biasa, dan setiap saat juga bisa. La Muli dan uring-uringan istrinya yang kekurangan dana, buat kopi manis saja jarang-jarang. Sebuah kejadian langka, ngopi manis dan nyaman dengan buku atau HP. Maka ketika bertamu ke Sarita meluruskan masalah dan mendapat suguhan kopi, bersama Letnan. Respon keduanya berseberangan. Pak Letnan yang berkecukupan, menganggap kopinya basa-basi yang tak menarik (bahkan tak diminum!), lain halnya Pak RT. Ia mencecap dan menikmati setiap seruputannya. La Muli membayangkan akan kenangan kopi manis di rumah Sarita. Mulutnya bahkan masih bisa mencecap rasa manis yang tertinggal di sana. Haha… bersyukurlah wahai umat santuy sekalian.

Tentu saja kita harus angkat topi untuk pemilihan diksi, dibawakan dengan meriah dan renyah. Mencipta nyaman para pembaca guna mengikuti alirannya. Bahkan dengan menatap pohon pisang dengan tanpa alasan yang jelas dan menanyai tentang jenisnya. Sebaris kalimat sederhana yang mumpuni. Atau penutup paragraf berujar: Senja lenyap seperti satu tiupan napas. Malam pun datang. Nah! Sastra yang asyik-kan, tak perlu kerut kening untuk dunia jauh, dituturkan dengan porsi adonan kata pas. “Dinding yang bagus, aku ikut membangunnya.”

Nilai minusnya, ada beberapa misal: terlampau sering menyebut ‘batok kepala’ sebagai ungkapan ada pemikiran yang akan atau tertahan untuk disampaikan. Sekali dua sih OK, tapi ini udah kebablasan. Tema sumur sempat akan membuat boring, konyol sekali, sampai sebegininya urusan air bersih. Untungnya temanya diperlebar ke lainnya, terutama ketika Inah memutuskan terjun ke laut saat ‘bertemu’ teman lama Zubaidah, teman Mutmaimah satu-satunya di perantauan mati bunuh diri. Kisah menjelma abu-abu, memudar dan melejit lagi dalam bayangan. “Jangan mengingini yang aneh-aneh Idah, tidak baik menyimpan pikiran macam itu.”

Tema kritik pemerintahan juga tersebar di banyak halaman, tank bekas Perang Dunia II di lepas pantai yang akan dibeli (oleh orang Jawa), menjadi polemik suku asli. Besi rongokan yang oleh kaca mata awam otomatis berpikir, buat apa? Dihargai oleh orang jauh, buat museum misalnya. Papua besarnya tiga setengah kali pulau Jawa luasnya. Lalu kritik terhadap birokrasi, “sering kukatakan kepada anak buahku harus menangani kampung kacau-balau ini dengan tegas, tapi tidak kasar.” Dan terutama sekali ketika Bapa Ondoafi dan anaknya menghadap Gubernur. Kelihatan sekali itu suara hati sebagian rakyat, orang-orang Pemerintah itu hanya mau menafsirkan hukum yang menguntungkan mereka saja. Tentang hak guna tanah, hak kelola dong tapi dimaksudkan jual beli. Dengan naskah kumal dan kuno sebagai bukti? Kritik nyata dalam sastra. Jadi kalau kalian membenci penjajah, atau merasa nenek-moyangnya didzolimi, sampai mengutuk keras Belanda atau Jepang atau segala penindasan yang melatari segala hubungan bilateral, pikir lagi! Sangat jelas, bangsa kita juga melakukannya hal serupa. “Sudah kuduga akan begini.”

Debat suami-istri ditampilkan tak hanya La Muli dan Inah. Pak Letnan dan istrinya yang menjaga kios juga sesekali muncul. Walaupun kita sudah banyak menikmatinya dalam drama Lengking Burung, di sini sisa-sisa sausana kehebatan Bu Yatmi masih terlihat. “Dia itu polisi, Bu. Aku tentara, beda urusan… Dia urusan sipil aku urusan perang, beda jurusannya.” Asyik. Sehat terus #Wildan!

Ditemukan beberapa kata tak baku, misal ‘hutang’, typo juga berkali-kali ditemukan contoh: ‘bagaiamana’, ‘istrtinya’. Bagian teknis yang bagus tentu saja ada di covernya yang keren. Suka sama ilustrasi sederhana gini. Urusan cetak kertas buram atau hvs bagiku tak terlalu pengaruh yang penting jilidnya OK. Kalau boleh saran, editingnya harus ditingkatkan, triple check kalau perlu. Proof reader itu penting, sangat dianjurkan! Ini adalah satu dari rangkaian paket KSK Daftar Panjang dari Basabasi, yang tahun ini mengirim empat wakil! Wow… untungnya #unboxing pertama ini, bagus. Jadi ada antusiame lebih guna melanjutkan. Prediksiku, dengan skor empat setengah bintang (skor yang sama kuberikan untuk Lengking Burung) rasanya sangat pantas masuk daftar pendek. Tema mirip dengan Burung Kayu yang kemarin selesai baca (suku pedalaman, ketua RT/Kepala Desa, sampai budaya lokal yang tergerus), tapi jelas pembawaan La Muli lebih mantab, lebih hidup, lebih asyik, lebih terasa lelehan nikmat di setiap halamannya, bisa jadi sebab Nunuk mengambil setting tempat ia tumbuh, sudah menghirup dalam-dalam bertahun latar yang dicerita, singkatnya tempat yang sudah ia sangat akrabi, jadi memang seolah mencerita pengalaman pribadi. Good!

Ketika laut mampu memberimu apa saja, mengapa mengais-aisnya di daratan? “Pendek saja doanya, Allah tahu bagaimana terdesaknya kita dengan waktu.”

La Muli | by Nunuk Y. Kusmiana | Editor Faisal Oddang | Pemeriksa aksara Aris Rahman P. Putra | Tata sampul Sukutangan | Tata letak Ieka | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, Maret 2020 | Penerbit Basabasi | 200 hlmn, 14 x 20 cm | ISBN 978-623-7290-78-0 | Skor: 4.5/5

Karawang, 160920 – Linkin Park – Plc 4 Mie Head

Thx to Basabasi Store, Titus Pradita, Shopee.
Tiga sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Kami Berjodoh

Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa by Andi Eriawan

“… Asalkan kamu berdamai dengan hatimu, kamu akan menemukan jawabannya di sana.” – Bundanya Pram

Ini novel membuatku takjub tahun 2000-an, bukunya Jemy K (teman sekamar di Ruanglain_31, Cikarang) yang turut ditaruh di rak kecilku, dipinjam teman lalu tak tentu arah, entah siapa yang pinjam dan tak kembali. Hiks… Generasi Dilan akan shock ketika tahu ada cerita cinta sejoli Bandung yang mengharu biru dengan belitan romansa jauh lebih berkualitas. Dua kali baca, dua kali pula mewek.

Kisahnya tentang Laila, gadis Bandung yang dicintai penuh tanpa syarat oleh Prameswara, jejaka Bandung pula yang istimewa. Mereka telah menjalin asmara selama Sembilan tahun, sebuah angka pacaran yang luar biasa, tapi pembukanya adalah sendu, karena Laila menerima paket pos berupa jam dari Pram di ulang tahunnya. Posisinya mereka sudah putus, dan Laila yang merasa tak enak hati, menelusur kenangan. “Kamu begitu sempurna dengan ketidaksempurnaanmu.”

Alur lalu dibuat acak, kembali ke masa sekolah pertama kali bertemu, Pram seperti Dilan merayu dengan gaya. Suka nulis puisi, cita-cita arsitek, jago gambar, penyendiri. Mencintai Laila yang cantik jelita, suka cubit, ceria, dan nggak suka kaun kol. Sudah saling cinta sejak sekolah, dan apapun yang terjadi sudah pula mendeklarasikan jodoh. Selamat datang di kehidupan dewasa, segala ujian waktu mencoba menggoyahkan.
Pram terlihat sangat dekat dengan orang tua, terutama Bundanya. Segala cinta dan keseruan dunia remaja dicurahkannya, Laila adalah pujaan yang diwujud lukis pajang di kamar, rumahnya yang jauh dari hiruk-pikuk kota, masih asri. Laila juga tampak baik-baik saja, keluarganya welcome, bata-bata kehidupan terus disusun. “Mencintai tidak butuh alasan, tapi menikahi seseorang membutuhkan alasan.”

Riak-riak itu dimunculkan dalam berbagai daya dari luar. Teman lama Laila semasa SMP datang lagi dalam kehidupannya, Bubung yang baik dan pernah menyatakan cinta. Ketika mendaftar ke ITB jurusan penerbangan, ketemu. Dan jadi kakak kelasnya. Laila adalah satu-satunya cewek di angkatan itu, tiga cowok kesemsem, Laila jelas mahasiswi tercantik. Pesonanya tak terbantah. Pasca lulus, Bubung dapat kerja sebagai engineer di Malaysia Airline, menjauhkannya sementara. Namun cinta Bubung memang kuat, berjanji akan merebut Laila dari Pram, memberi cincin nikah diamond mahal, walau saat itu ditolak, Bubung meminta balik nantinya pas nikah atau saat ketetapan hati sudah final. Memperlakukan Laila seolah ia adalah perempuan terakhir di dunia. Setiap jutaan hal kecil yang dilakukan terasa begitu istimewa.

Pram masih dengan dunia imajinya sendiri. Mengaku sebagai penjelajah waktu, gombal ala Dilan. Hidup di era Majapahit, era kemerdekaan, era Kasultanan Malaysia, jadi manusia lama di Siberia, dst. Mimpi itu tampak nyata dan sungguh kuat. Bualan itu hampir saja memberi percaya. Setidaknya buat Laila, bukti-bukti terpampang. Apalagi saat perjalanan ke Malaysia, ada tautan di sana. Nah, di Negara tetangga itu Bubung belum menyerah. Membantu Laila selama tinggal di sana sebagai tenaga bantu proyek kampus. Terharu, dan sungguh miris melihat perjuangan lelaki ini. Cintanya pada Laila sungguh gila, tapi jawaban yang tegas memang diperlukan dan sudah berkali-kali diucap. Finalnya, kami berjodoh. Takdir, siapa yang bisa melawan? Bahkan ketika manusia sudah sempurna merencana, takdir pula yang menghakimi.

Semua daya dan upaya memang menuju perwujudan dua karakter utama bersatu. Kisah manis bak sinetron yang tayang di jam utama. Namun seperti yang terbaca di pembuka, mereka akhirnya berpisah. Laila memutuskan hubungan, Pram stress dan murung sekali. Cita-citanya sebagai arsitek dilepas demi membuka kafe, hari itu kafe Laila tutup. Laila bermaksud menyampaikan permohonan maaf setelah di ulang tahunnya yang ke 24 mendapat kado jam tangan. Dari bundanya Pram kita tahu, ia mencoba berdamai dengan kenyataan. “… Bila ia memang bersikeras ingin berpisah, apalagi selain melupakannya.”

Menerima pinangan teman ayahnya kerja di Yogyakarta. Maka Laila menyusul ke sana, mencoba memberi kejutan tanpa memberitahukan kehadirannya, Laila shock ada lukisan dirinya di ruang khusus di hotel tempatnya menginap. Lebih shock lagi eksekusi endingnya, pembaca juga kaget. Hiks…

Entah kenapa novel ini belum diangkat ke layar lebar, padahal semua kriteria bagus untuk diperkenalkan ke khalayak lebih umum dalam balutan visual sudah ada. Dibanding Dilan yang terlampau lembek karakternya, Laila cerita remaja yang dalam masa transisi ke dewasa menampilkan realita menyentuh, puitik, drama, dan tentunya ending yang jleb. Membayangkan adegan payung dan jajan di kantin seberang sekolah, tahi lalat di pipi kiri, sampai adegan ‘terbang’. Lebih berkelas ketimbang di boks telpon, ‘rindu itu berat’. Tahun 2011 pas ke toko buku Cikarang, sempat lihat cetak ulang. Senang, akhirnya ada cetakan berikutnya. Namun karena segel saya ga tahu cetakan ke-berapa, yang jelas gaungnya tak sebesar yang kuharapkan.

Kata Always, Laila sendiri kita temukan setelah setengah perjalanan novel (halaman 121!), di akhir email. Dengan setting 2000-an, email dan sms begitu dominan untuk komunikasi jarak jauh. Tak ada WA, tak ada sosmed, tak ada kenarsisan yang menyinggung di dunia digital. Rahasia Laila, bahkan bisa bertahan beberapa bulan, berarti memang keluarga sudah kompak menahan informasinya.

Berkorban demi orang terkasih juga menjadi tema, Pram ‘mengalah’ akan ambisi, padahal ia jago gambar. Saling mengalah, guna pacar mendapat masa depan yang lebih cerah tercermin pada tindakan Laila yang memutuskan lamaran asyik di Laila’s Cafe, 26 Desember 2003, dan ia tahu kalau jujur Pram justru akan menguat dan setegar karang, sungguh tindakan yang masuk dinalar dan berat disampaikan. Dia memang yang terbaik. Dramatisasi ketika melihat Pram bahagia naik sepeda dengan kedua tangan terentang, menjadi ironi, menjadi bumbu drama bikin gereget, yah seperti itulah hidup, pahit. Ia pernah jatuh cinta dan terluka. Bila perempuan itu memang satu-satunya perempuan yang bisa ia cintai di antara milyaran lain, ia akan terus mencintainya. “Kamu memang lelaki terbaik yang pernah kutemui.” – Laila

Tampak sekali ini ditulis sebagian adalah pengalaman pribadi, memang fiksi tapi kesamaan pendidikan Andi Eriawan dengan setting kampus di ITB jurusan penerbangan jelas bukan sebuah kebetulan. Memang beda rasanya tulisan yang berdasar pengalaman dengan angan-angan, terasa sekali diketik dengan memetakan ingatan masa lalu. Salut! Kudoakan menjadi film bioskop, Mas. Saya akan nonton di hari pertama. Semoga…

 

Laila… nama yang cantik. Orangtuamu pandai memberi nama. Mungkin mereka tahu kau akan tumbuh secantik ni.

Always Laila, Hanya Cinta yang Bisa | by Andi Eriawan | Penyunting Denny Indra | Desain sampul FN | Penata letak Jefri Fernando | Penerbit Gagas Media | Cetakan pertama, November 2004 | xii + 228 hlm.; 19 cm | ISBN 979-3600-38-1 | Skor: 4.5/5

Untuk Prameswari yang membenci daun kol

Karawang, 05-060820 – La Nina de los Peines – Al Gurugu (1946)

Thx to Lifian, Tangerang

Cinta Rahasia by Anne Mather

Seorang gadis jatuh hati pada laki-laki beristri, dan memperjuangkan cinta itu demi apa pun. Gayung bersambut.

“Matt, aku cinta padamu dan aku tidak peduli dengan yang lainnya.” – Darrel

Duh! Hujan di hari pengantin, pertanda ga bagus untuk pasangan Susan dan Frank. Dan benar saja, pesawat yang menerbangkan mereka untuk berbulan madu mengalami kecelakaan yang menewaskan keduanya. Kecelakaan pesawat terbang di dekat Palma. Kematian selalu datang dengan tak disangka-sangka. Pembukanya bagus banget. Bagaimana masalah pelik mencipta sikap para anggota keluarga, dan seorang teman. Membelit dalam asmara menggelora di Sedgeley, Yorkshire Utara.

Kisahnya tentang Darrel Anderson yang galau. Seorang perawat rumah sakit, teman sekamarnya Susan menikah. Pesta pernikahan itu berlangsung meriah dan penuh ucapan selamat. Darrel yang sudah mengenal keluarga Lawford turut gembira sahabat baiknya telah menemukan jodoh. Karena kedekatan mereka, Darrel juga mengenal semua anggota keluarga Lawford terutama Nyonya Lawford, bahkan menjadi teman curhat seolah ibu kandung. Si sulung yang secara materi sukses, mencuri hatinya. Matthew Lawford, sudah menikah. Nah, kalau kisah ini dibawa di era sosmed, bisa jadi Darrel dihujat serentak sebagai seorang pelakor – perebut laki orang. Namun berhubung ia sebagai sudut pandang sekaligus protagonist, julukan kejam itu sirna dengan sendirinya. “Kalau begitu ceraikan Celine.” / “Kau sudah tahu bahwa aku tak dapat melakukan itu. Jangan meminta ku melakukannya.”

Pernikahan Matt dan Celine jelas tak bahagia. Bayangkan saja, di hari pernikahan adik ipar, ia gusar akan suasana desa, mengingin cepat balik ke kota London. “Teh teh terus itulah yang mereka pikirkan. Obat mujarab di seluruh dunia. Tapi tak mempan bagiku.” Bahkan beberapa hari kemudian kabar suka cita menjelma duka cita, ia bukannya turut di acara pemakaman, malah meminta izin balik! Sungguh terlalu. Menikah Sabtu, dan semingggu kemudian dimakamkan.

Darrel memang gadis idealis. Masih muda dan menggebu, prinsipnya Ia tak bisa menikah dengan pria tanpa membawa rasa cinta di hatinya. Karena ia jatuh hati sama Matt, maka ia perjuangkan. “Aku tak hanya mengira mencintainya, aku memang mencintainya.” Dengan asumsi umum, kita bisa saja menyebut suatu saat Darrel akan menikah dengan orang lain untuk melarikan diri dari rasa sepi yang begitu mencekam ini. Well, saya tak memprediksi gitu karena ini cerita roman picisan. Akan ada jalan keluar menyatukan kedua tokoh utama.

“Kalau begitu kita bertemu lagi besok, di pemakaman.” Kejadian utama cerita ini ada di pasca pemakaman akan berkutat di rumah Lawford dan kosan Darrel (di Inggris sebut saja flat), dan keputusan sesudahnya. Matt mengantar pulang dan pergi, Jeff adiknya muncul menggoda. Jelas ia juga kesemsem, tapi emang sang protagonist sudah memutuskan, cintanya hanya untuk Matt yang sudah nikah. Tentu saja ada beberapa adegan panas, dua anak manusia berlainan jenis saling mencinta, walau itu buah terlarang. Laki-perempuan di kamar, jelas bukan hanya main monopoli. “Kita harus bersikap seperti orang yang berakal sehat. Kita tidak akan dapat terus saling bertemu kalau keadaannya selalu begini. Kau memang pantas waspada terhadapku Darrel, aku terbukti amoral seperti yang kau sangka.” Nafsu dan cinta terlarang.

Bagi Matt yang sudah menikah. “Keadaan itu bisa saja baru bagiku, tetapi kebutuhan itu bukan baru bagiku.” Dan kenyataan bahwa Darrel masih gadis menjadi gunjingan di luar. Semuanya tidak dipersiapkan atau direncanakan terlebih dahulu.

Benarkah perkawinan Matt tak bahagia? Tak harmonis? Untuk membalas sikap Celine ataukah karena kehidupan perkawinan mereka yang sudah sedemikian tidak harmonis? Matthew bilang ia tidak pernah tidak setia pada istrinya. Maka benar saja, suatu ketika Darrel dan Barry, sahabat lamanya sedang makan malam bertemu dengan Celine yang menggandeng lelaki lagi. Ternyata sudah taka da kecocokan. “Dunia yang sempit bukan?” Terdengar gombal tiap Matt merayu. Aku tidak tahu apakah cinta yang terlihat olehku – atau terasa olehku, perasaan padamu belum pernah kurasakan kepada wanita lain. Aku sudah hidup lebih lama darimu, aku bukanlah seorang idealis macam dirimu, dan seperti katamu, aku sinis.

Lalu pecahlah adegan saling tuduh. Mengingat peristiwa di Lanmark Square, membuat tubuhnya menggigil sampai ke tulang sumsum. Jadi Matt menjanji Darrel untuk kehidupan baru ke tanah Amerika, tampaknya dunia yang menunggunya sungguh fantastis, sungguh indah memesona. Tubuhnya gemetar, semua itu rasanya bagaikan impian yang indah. “Jadi apa sesungguhnya kebenaran itu? Kau katakan kau mencintaiku, apa artinya? Maukah kau meninggalkan duniamu yang kecil demi aku? Maukah kau ikut bersamaku, hidup bersamaku, sekalipun itu berarti mengelilingi separuh bola dunia tanpa cincin di jarimu?” Berdua jalan ke pantai, menyusun masa depan yang indah-indah, seolah Matt lupa sudah punya istri di rumah. Nah, pas pulang untuk ganti baju demi makan malam romantis, istrinya ada di rumah. Terjadilah cek cok panas. Darrel memutuskan menjauh, melepas segalanya ketika Celine bilang ia sedang hamil. Betapa kejamnya suami yang berbohong, merayu gadis kala istrinya sedang mengandung. Apa pun itu, ia pergi. Menjauh dari segalanya.

Matron (kepala perawat) mengira ia sakit efek meninggalnya sobat kental, maka diminta cuti dua minggu. Ia mudik di kota Upminster, tempat ibunya Edwina Anderson tinggal sendiri setelah bercerai. Suaminya menikah lagi dengan wanita lain bernama Delia. Menyepi di kampung halaman, menyusun rencana lain. Termasuk kemungkinan menikahi Barry. “Dua orang tidak dapat menikah hanya karena kedua orang tuanya merasa cocok dengan calon menantu.” Kau dan aku tidak akan berhasil mencobanya, kita tidak sepaham. Sedih sih, cintanya tak menemukan klik. Keterangan Barry tentang Matthew menimbulkan semacam dugaan di hatinya, walau tak mengubah cintanya. Kini ia lebih banyak berpikir. Luar biasa, ini sih cinta buta.

Diperlukan waktu untuk menyembuhkan luka. Bersama ibunya liburan ke pantai, liburannya diperpanjang yang berarti ia mengundurkan diri sebagai perawat. Dari Dr. Morison kita tahu, dedikasi dan performa kerja Darrel sungguh baik, bahkan pintu masih terbuka lebar. “Tak seorangpun lelaki yang patut untuk diratapi, percayalah padaku.” Nasihat ibunya, mengingat ia juga dihianati. Darrel tetap bersikukuh pada feeling-nya sekalipun jelas lelaki itu tampak jahat.

Karena seolah menemui jalan buntu, Anne Mather mencipta bencana. Celine dikabarkan meninggal dunia keguguran, terjatuh pendarahan. Ini menjadi jalan pintas untuk menyatukan dua insan yang terpisah. Sejak dari adegan ini, semua tampak sungguh mengada-ada. Kebahagiaan menjadi keharusan, bersatunya dua protagonist adalah keniscayaan. “Ya Tuhan, putriku satu-satunya mau saja dibodohi lelaki yang sudah menikah.” Kata ibunya, tapi Anne mencipta solusi seenaknya sendiri. Keputusan akhir ketika diskusi sama meminta Robert keluar. Menyusul di dua bab akhir, ibunya, ayah Celine, dan Darrel sendiri, meminta Barry pulang. Sebuah mocil terparkir di Corrtney Road. Bertiga rembug menemukan segala tanya. Sir Paul Galbraith membawa potongan puzzle selama ini. Akhir yang sungguh sempurna (bagiku justru agak merusak) di Peternakan Moorfoot.

Buku kedua Anne Mather yang kubaca bulan ini. Genre-nya memang drama romantis dengan happy ending menyelingkupi. Dengan tokoh cantik tentunya karena Darrel menjadi magnet banyak pria. Di sini tercatat ada tiga laki-laki yang luluh lumer hatinya: Jeff dan Matthew, saudara teman kosnya. Barry, sahabat dari kampung halaman. Jeff bisa saja dicoret lebih dini karena memang sekadar terpesona, percobaan pedekate nya termasuk gagal. Barry yang kasihan, mencinta mengharap dapat menikahi setelah kedua orang tua sudah OK, ia bahkan mendapat Warisan rumah di Harrogate, hanya lima belas mil dari Sedgeley, tapi tetap tak bisa. Barry seolah menjadi teman curhat saja kala ia suntuk. Hanya berteman sahaja. Huhuhu…

Kegugupan karena ketegangan. Sama seperti Ricuhnya Hidup Bersama Adam, kisah Cinta Rahasia menjalin orang kaya dan berwajah rupawan menjalani kegalauan, asmara di lingkaran orang berada. Sarapan dengan kiju (keju) dan selai. Makan malam di restoran mewah. Dan perjalanan kerja siang ini di London, besoknya sudah di New York, lusa ada di Tokyo, minggu berikutnya meeting di Seoul. Cinta sudah cukup menjadi bahan pertimbangan. Dalam asmara. jangan bersikap ambisius, tak banyak gunanya.

Cinta Rahasia | by Anne Mather | Diterjemahkan dari Come Running | Alih bahasa Sofia N | Penerbit Indah Jaya, Bandung | Cetakan pertama, April 1980 | Skor: 3.5/5

Karawang, 220720 – None (tidak mendengarkan lagu)

HP Mi4ku rusak, huhuhu…

Thx to Anita Damayanti, tujuh dari Sembilan

The 21 Indispensable Qualities of a Leader

The 21 Indispensable Qualities of a Leader by John C. Maxwell

Kita terperangkap dalam tahapan suatu etika bangsa kita di mana kita bukan saja meterialistik melainkan lebih parah dari itu, emosi kita mati sebagai manusia. Kita tidak lagi bernyanyi, kita tidak lagi menari, kita bahkan tidak lagi berbuat dosa dengan penuh antusiasme.”Tony Campolo, Sosiolog.

Siapapun dapat mengatakan bahwa ia berintegritas, namun perbuatannyalah yang mengindikasikan karakternya yang sesungguhnya. Buku ini kubaca dalam sehari ketika cuti menikmati hari, Jumat (100720) di masjid Puri Peruri Telukjambe, Karawang. Paginya kubaca The Constant Gardener, dapat dua ratus halaman, baru setelah Jumatan kulahap sampai jam 5 sore, sebelum pulang mampir Gramedia, bawa satu buku. Buku tipis yang sangat bervitamin. Karena saya memang membutuhkan asupan gizi tentang leadership. Secara pekerjaan sudah melaksanakan, tapi secara teori masih sangat jauh dari pemahaman ideal.

Sesuai judulnya, ada 21 kualitas pemimpin yang harus dimiliki: (1) Karakter: jadilah bagian dari batu karang. (2) Karisma: Kesan pertamalah yang terpenting. (3) Komitmen: Inilah yang membedakan pelaku dan pemimpi. (4) Komunikasi: Tanpanya Adan akan menempuh perjalanan sendiri. (5) Kompetensi: Jika anda membangunnya, mereka akan datang. (6) Keberanian: Satu orang dengan keberanian dama dengan mayoritas. (7) Pengertian: Tuntaskanlah misteri-misteri yang belum terselesaikan. (8) Fokus: Semakin tajam fokus Anda, Anda semakin tajam. (9) Kemurahan hati: Lilin Anda takkan rugi jika menerangi orang lain. (10) Inisiatif: Tanpanya, Anda takkan ke mana-mana. (11) Mendengarkan: Untuk menyelami hati mereka, bukalah telinga Anda. (12) Semangat yang tinggi: Cintailah hidup ini. (13) Sikap Positif: Jika Anda percaya bis,a Anda pasti bisa. (14) Pemecahan masalah: Janganlah biarkan berbagai persoalan Anda menjadi masalah. (15) Hubungan: Jika Anda akur, merekapun akur. (16) Tanggung Jawab: Jika Anda tidak mau membawa bolanya, Anda tidak dapat memimpin timnya. (17) Kemapanan: Kompetensi takkan pernah dapat mengkompensasikan ketidakmapanan. (18) Disiplin diri: Orang pertama yang Anda pimpin adalah diri Anda sendiri. (19) Kepelayanan: Agar maju, dahulukanlah orang lain. (20) Sikap mau diajar: Untuk terus memimpin, teruslah belajar. Dan terakhir (21). Visi: Anda dapat meraih hanya yang dapat Anda lihat. “Makna hidup bukanlah meraih kemakmuran, seperti yang kita pikirkan, melainkan mengembangkan jiwa.”

Kemudian dibagi per bab, setiap bab dibuka dengan dua kutipan kualitas yang akan dikupas, lalu dibagi dalam tuntunan: mengungkapkannya, merenungkannya, menerapkannya, dan melatih setiap hari. Polanya akan seperti itu sampai akhir. Kata Napoleon Bonaparte, pengharapan adalah harta milik yang terbaik.

Bagian awal kita ditempa karakter, pikiran bahwa bisa saja lebih banyak jiwa yang terancam adalah jauh lebih penting baginya dari pada nama buruk yang mungkin dideritanya. Si Lear penemu pesawat Jet yang langsung turun sendiri uji laik produk. Krisis belum tentu menguatkan karakter, namun pasti mengungkapkannya. Sementara Anda menjalani hidup Anda dan membuat pilihan-pilihan hari ini, Anda terus menciptakan karakter Anda. Orang yang mencapai ketinggian namun tidak memiliki dasar karakter yang kuat untuk menunjangnya melalui stress pasti akan mengalami bencana.

Saya teringat pemimpin di kantor yang memiliki karisma, apa yang diminta kiat sepenunya jalankan dengan suka cita. Hal semacam itu jelas perlu tempa. Kebanyakan orang menganggap karisma itu sesuatu yang mistik, hampir tak dapat didefinisikan. Mereka pikir karisma adalah kaulitas bawaan sejak lahir. Namun itu tak benar. Karisma adalah kemampuan untuk menarik orang kepada Anda. Dari survei seratus jutaan yang meraih suksesnya sendiri, hanya ada satu kesamaan di antara mereka, yaitu bahwa mereka hanya memandang kebaikan orang lain.

Setelah karakter dan karisma, komitmen menjadi kualitas berikutnya. Contoh cerita Thomas Edison. Jika ia menemukan gagasan yang baik untuk suatu penemuan, ia akan mengadakan konferensi pers untuk mengumumkannya. Lalu ia akan pergi ke laboratorium dan menemukannya. Untuk sekarang mungkin tampak sombong, atau berita hoax, tapi itu seolah janji kuat sendiri. “Komitmen memberi kami kekuatan baru. Apapun yang kami alami – penyakit, kemiskinan, atau bencana – kami tidak pernah mengalihkan pandangan dari sasaran kami.” Ed McElroy, USAAir.

Komunikasi jelas syarat mutlak banyak sekali hal. Sukses pernikahan Anda, pekerjaan Anda, dan hubungan-hubungan pribadi Anda, sangat tergantung pada kemampuan Anda berkomunikasi. Lupakanlah upaya mengesankan orang lain dengan kata-kata atau kalimat-kalimat yang canggih. Siapkanlah pembukaan yang bersemangat, yang akan menarik perhatian seluruh hadirin. Lalu siapkanlah rangkuman serta penutupan yang dramatis, yang akan membuat orang jadi ingin bertindak. Lalu jangan bertele-tele di tengah. Jika Anda ingin membina hubungan dengan sasama utamakanlah kesederhanaan. “Inti dari pesan kami hanyalah terdiri dari lima kata sederhana. Tak ada teori-teori ekonomi segala macam. Tak ada khotbah tentang filosofis politik. Hanya lima kata sederhana: keluarga, kerja, lingkungan, kebebasan dan perdamaian.”Reagan kala pencalonan presiden 1980.

Anda ingin menjadi komunikator yang lebih baik, berorientasilah pada pendengar. Setiap kali Anda berbicara kepada orang lain, berilah mereka sesuatu untuk dirasakan, diingta, dan dilakukan. Jika Anda sukses melakukannya, kemampuan Anda untuk memimpin orang akan meningkat. Jika dalam hati Anda tahu bahwa visi Anda hebat namun orang tetap tidak percaya, mungkin masalahnya adalah kemampuan untuk berkomunikasi dengan efektif. Bagi seorang komunikator, sahabat terbaiknya adalah kesederhanaan dan kejelasan.

Masyarakat yang menghina kesempurnaan dalam pekerjaan tukang ledeng karena merupakan bidang rendahan, dan memberikan toleransi terhadap prestasi buruk dalam filsafat karena merupakan bidang yang ditinggikan, takkan pernah dapat mengerjakan pekerjaan tukang ledeng ataupun filsafat dengan baik. Baik pipanya maupun teorinya takkan tahan air.”John Gaarder.

Pada dasarnya memang kepemimpinan harus diasah. “Jangan sembunyikan talenta-talentamu, karena semua talentamu itu diciptakan untuk digunakan. Apa gunanya sundial (penentu waktu menurut bayangan tongkat berdiri yang tertimpa cahaya matahari) di tempat teduh?” Sejujurnya saya agak tertutup, ga suka tampil di publik, mendekam dengan buku di kesunyian adalah hobi. Tak seorangpun dapat terus memperbaiki diri tanpa tekad yang kuat. Keberanian adalah melakukan apa yang Anda takut lakukan. Rasa takut ini harus dilawan, akan kulawan sepeti kucing liar. Takkan ada keberanian kecuali Anda takut. Saya tanamkan untuk lebih menempa sektor ini. “Keberanian adalah rasa takut yang disertai doa.”Karl Barth, Teologi Swis.

Saya pernah nulis tentang kurang pekanya leadership, saya sering mengambil langkah tengah. Win-win solution, tapi rancu dalam keputusan akhir. Hufh… kata G. Alan Bernard, presiden Mid Park, Inc. “Kehormatan yang harus dimiliki seorang pemimpin menuntut etika yang benar-benar sempurna. Seorang pemimpin bukan saja harus mengetahui yang benar dan salah, melainkan juga harus menghindari ‘wilayah kelabu’ (tidak jelas).”

Jangan lupa: dalam kepemimpinan, jika Anda berhenti bertumbuh, habislah riwayat Anda. Dunia yang dinamis dan terus bergerak. Jika Anda ingin memperbaiki lebih baik, Anda harus terus berubah dan memperbaiki diri. Cobalah cara berpikir yang nontradisional. Rangkullah perubahan, ketidakjelasan, dan ketidakpastian. Perluaslah cakrawala pengalaman Anda, intuisi Anda hanya akan meningkat jika digubakan. Suatu keputusan yang didorong oleh pengertian dapat menubah jalannya takdir Anda. Ngomongin takdir, kita akan terpecah di berbagai tafsir. Yang jelas saya sepakat, hasrat Anda akan menentukan takdir Anda. “Keefektivan organisasi bukanlah terletak pada konsep sempit yang disebut rasionalitas. Melainkan pada gabungan antara logika berpikir serta intuisi yang kuat.”Henry Mintzberg

Misteri uang juga memang sensitif. Kita benar-benar generasi yang sesat, yang berpacu di jalur cepat entah ke mana, selalu mencari lambang dollar sebagai petunjuknya. Menurut Earle Wilson, manusia dapat dibedakan menjadi tiga kelompok: Yang kaya, yang miskin, dan yang membayar atas apa yang mereka miliki. Dalam soal uang Anda tidak akan menang. Jika fokus mengumpulkan, materialistic. Berusaha namun tidak mendapatkan uang, pecundang. Jika mendapat banyak uang dan menyimpannya, kikir. Jika mendapatkannya dan membelanjakannya, boros. Jika Anda tak memusingkannya, Anda tidak ambisius. Mendapatkan banyak dan menyimpannya, lalu meinggal, Anda bodoh. Karena mencoba membawa serta. Satu-satunya cara untuk benar-benar menang terhadap uang adalah dengan tidak memegangnya terlalu erat. Dan bersikap murah hati untuk mencapai hal-hal yang bernilai. Seperti kata E. Stanley Jones, “Uang adalah hamba yang mengagumkan namun majikan yang mengerikan. Jika anda dikuasai oleh uang, Anda akan menjadi budaknya.”

Waktu dan uang yang digunakan untuk membawa Anda ke tingkatan berikutnya adalah investasi terbaik yang dapat Anda lakukan. Tapi ada satu ciri yang menonjol: keberanian mengambil resiko. Keberanian dimulai dengan pergumulan batin. Keberanian adalah menyangkut prinsip, bukannya persepsi. “Kualitas tidaklah pernah merupakan suatu kebetulan; kualitas selalu merupakan hasil dari tekad yang bulat, upaya yang tulus, arahan yang intelejen serta pelaksanaan yang penuh ketrampilan; kualitas mencerminkan pilihan bijaksana dari berbagai alternatif.”Willa A. Foster.

Hanya mereka yang berani gagal besarlah yang dapat mencapai sukses besar. Anda harus bersedia mengambil inisiatif dan mengambil resiko. Kata Peter Drucker, “Misteri sesungguhnya bukanlah mengapa sesekali mereka berprestasi baik. Satu-satunya hal yang universal sifatnya adalah tidak adanya kompetensi. Kekuatan itu selalu spepesifik sifatnya. Tak pernah seorangpun berkomentar, umpamanya bahwa pemain biola yang hebat itu, yaitu Jascha Heifetz, mungkin pandai memainkan trompet.”

Kita punya dua telinga, satu mulut. Seorang pemimpin itu menyentuh hati terlebih dulu, baru meminta tolong, itulah Hukum Hubungan Baik. Mempelajari dengan mendengarkan. Mulailah dengan mendengarkan, bukan saja kata-kata, melainkan juga perasaannya. Maksudnya hal-hal yang tersembunyi di baliknya. Peter Cartwright punya cerita lucu. “Saya diberitahu bahwa Presiden Andrew Jackson ada di antara jemaat. Dan saya diminta untuk menjaga mulut saya. Yang harus saya katakan adalah bahwa Andrew Jackson akan masuk neraka, jika tidak betobat atas dosa-dosanya.” Wkwkwk… salut Bapa.

Semua orang berkompetensi tinggi terus mencari cara-cara untuk terus belajar, bertumbuh, serta memperbaiki diri. Mereka melakukannya dengan menanyakan mengapa. Kata Lee Iacoca, “Bahkan keputusan yang benarpun, akan keliru jika terlambat.” Dibutuhkan langkah berani hari ini, untuk mencapai potensi Anda besok. Semakin lemahnya kebutuhan untuk menjadi orang besar, dan semakin kuatnya perasaan ‘ya kita jalani aja’. Ini sesungguhnya hanya ilusi.
Jika Anda ingin kaya, berinvestasilah pada industri ‘mengorbankan orang lain’, industri yang paling cepat tumbuh di Amerika. Industri atau bisnis yang membayar upah sama kepada karyawan yang berpretasi baik atau buruk, cepat atau lambat akan banyak memiliki karyawan berprestasi tidak baik. Memang harus ada penilaian untuk merangsang tim. Di Pabrik ada namanya award dan punishment. Setiap individu harus siap seleksi alam. Dennis Waitley, “Keunggulan pemenang bukanlah pada bawaan sejak lahir, IQ yang tinggi atau talenta. Keunggulan pemenang adalah dalam sikap, sikap adalah kriteria sukses sejati.”

Sebagai praktisi HR yang bergelut dengan manusia, hubungan baik sangat penting. Tanyakan empat lima hal yang bersifat individu, lalu cari kesamaan guna membina hubungan yang baik. Pepatah lama bilang, “Dengarkanlah bisikan-bisikannya, maka Anda tak perlu mendengar teriakannya.” Dari hubungan yang baik dengan tim baik internal atau eksternal, akan menjadikan kita punya sesuatu dibahas.

Menghargai orang sekitar, menghormati hal-hal sederhana sekitar itu baik. D. Rockefeller mengakui, “Saya sudah punya jutaan, tapi saya tidak jadi bahagia karenanya. Jika Anda tidak puas dengan jumlah kecil, Anda takkan puas dengan jumlah besar.”

Tak seorangpun bisa sukses kecuali mencintai pekerjaannya. Manusia diciptakan sedemikian rupa sehingga jika jiwanya terbakar, kemustahilan akan lenyap. Kepelayanan bukan soal posisi atau ketrampilan, melainkan soal sikap. Jika mau memimpin tingkatan tertinggi, Anda harus bersedia melayani tingkatan terendah. Nancy Dorman mengatakan, jarak terjauh dua titik adalah jalan pintas. Maka tempa, belajar belajar belajar tak kenal usia dan masa, tak ada yang instan.
Kualitas terakhir yang dibahas adalah visi. Visi adalah segalanya bagi seorang pemimpin, visi tak tergantikan. Visi tumbuh dari masa lalu serta sejarah dari orang sekeliling. Waktu terbaik menanam pohon adalah dua puluh lima tahun lalu, waktu terbaik kedua adalah hari ini.

Percobaan pertama buku Maxwell yang menyenangkan, jelas akan ada buku-buku beliau lain yang akan kulahap. Saat ini sudah pesan daring satu lagi. inilah hakikat menikmati baca, kala puas, karya lainnya akan merentet ikut. Mungkin terlalu banyak kutipan yang diambil, mungkin pula bahan ajarnya dasar, seperti arti disiplin dan komitmen, itu sangat mirip kalau ga mau dibilang sama. Kita bisa ringkas, mendisiplinkan diri dengan komit terhadap rencana! Nah kan, “Komitmen adalah musuh dari penolakan, karena komitmen adalah janji serius untuk terus maju, untuk bangkit, sudah berapa kalipun Anda dipukul roboh.” David McNally, jadi jika Anda ingin mencapai sesuatu yang layak, Anda harus punya komitmen. Disiplin diri harus menjadi gaya hidup.

Untuk melaksanakan tugas-tugas penting, ada dua hal yang penting: perencanaan, dan waktu yang cukup. Nasihat untuk kita semua, terutama untuk diri sendiri: Jangan cari alasan untuk menyerah. Kuncinya adalah prioritas dan konsentrasi. “Masa depan adalah kepunyaan mereka yang melihat kemungkinan-kemungkinannya sebelum menjadi kenyataan.”John Sculley, mantan direktur Pepsi dan Apple Computer. Orang yang berkompetensi tinggi selalu menempuh jarak ekstra. Bagi mereka, cukup itu tidak pernah cukup. Filosofi Schnatter berujar, “Berkonsentrasilah pada apa yang Anda mahiri, lalu lakukan dengan lebih baik dari orang lain.”

Terakhir, cobalah menangkap kembali antusiasme lama Anda. Jika sudah kehilangan semangat, cobalah bergaul dengan mereka yang masih punya nyala semangat. Semangat itu menular. Bacalah enam sampai dua belas buku setahun tentang kepemimpinan atau bidang spesialis Anda. Mari bersama belajar lebih giat. Jika Anda ingin memaksimalkan potensi pengertian Anda, bekerjalah di bidang yang menjadi kekuatan Anda.

Buku kecil dengan kualitas besar. 21 hal yang patut diantisipasi, sekarang!

21 Kualitas Kepemimpinan Sejati: Menjadi Panutan bagi Orang Lain | By John C. Maxwell | Diterjemahkan dari The 21 Indispensable Qualities of a Leader | Alih bahasa Drs. Arvin Saputra | Editor Dr. Lyndon Saputra | Copyright 2001 | Penerbit Interaksara, Batam | Skor: 4/5

Karawang, 150720 – Bill Withers – The Best You Can

Thx to Anita Damayanti, lima dari Sembilan.

The Da Peci Code by Ben Sohib

Aku meyakini bahwa setiap agama itu baik, karena setiap agama itu pada dasarnya menyuruh orang berbuat baik, tidak mencuri, menolong yang lemah, dan lain sebagainya.” – Rosid

Kubaca singkat dalam semalam sekali duduk, di malam panjang (040720). Menjadi buku kedua yang selesai baca dalam rangkaian buku baru Juli ini. Kisahnya tentang pertentangan antara anak dan orang tua, sang anak yang berpikiran bebas dan terbuka akan segala modernitas sehingga tak mau terkungkung, berambut gondrong dan ‘merdeka’, orang taunya relijius mengharap anaknya mendalami agama, meminta memakai peci. Nah karena rambut gondrong, peci mana pantas dikenakan, menyembul lucu jadinya ‘kan? Poin utamanya itu, plot penggeraknya berliku menyentuh tiga ratus halaman. Jiwa seseorang disadari atau tidak secara fitrah cenderung pada spiritualitas.

Tentang Rosid yang di persimpang jalan. Jiwa idealisnya membuncah kala lulus sekolah ingin melanjutkan kuliah di seni, cita-cita seniman. “… jangan mandi aje sebulan, elu udeh jadi seniman.” Ortang tuanya Pak Mansur dan Bu Muzna menolak, terutama abahnya, Rosid diharap menjadi teladan di bidang agama. Rosid berkenalan dengan cewek mantab di kampus kala pendaftaran. Delia beragama Kristen, dengan salib menggelayut di leher. Mereka pasangan kasih yang open-minded, terbuka akan segala kepercayaan dan memandang dunia ga sekolot itu guna menjalin pernikahan. Jadi setting-nya dua tahun setelah mereka pacaran.

Pembukanya di Condet, Jakarta. Rosid diusir keluarga, ini adalah puncak kemarahan babe. Penolakannya mengenakan peci dan segala argumennya menemukan titik didih. Kenyataan ini telah berlangsung berabad-abad lamanya, tanpa ada seorang pun menanyakannya. Ia lalu menginap ke rumah sobatnya Mahdi, nebeng tidur dan makan. Sobat kental yang kini memang hidup sendiri, soalnya ortunya udah pindah, rumah itu dihuni sendiri. Setiap bulan mengadakan kajian, bebas temanya, lebih sering filsafat dong, anak muda.

Rosid lalu curhat sama sayangnya tentang anjuran berpeci bagi umat muslim ketika beribadah, atau memutuskan mengenakannya dalam keseharian. Dari kaca mata umum, jelas peci sejatinya bukan hanya untuk umat muslim. Paus mengenakannya, umat Yahudi juga mengenakannya. Kalau peci berkaitan dengan agama , aku pikir itu hanya budaya yang dikaitkan dengan agama. Peci-peci itu benda netral, tapi kok kemudian identik dengan agama, lengkap dengan model-modelnya. Sama seperti jilbab, sejarahnya panjang nan berliku. Bukan hanya muslim yang mengenakannya, lebih ke budaya yang lalu adaptasi ke kepercayaan. Kita terjebak sama simbol yang kita ciptakan sendiri.

Sementara bapaknya mencoba berbagai cara untuk mewujudkan keinginannya, berkonsultasi sama sohibnya H. Said. Dalam keluarga juga coba dikucilkan si Kribo ini. Menghadiri upacara keagamaan tanpa menggunakan peci putih memang akan dipandang sebelah mata. Konsultasi, dari mendatangi orang pintar, dikasih air putih bermantra sampai mencipta kerusuhan menyewa orang guna membubarkan ngumpul-ngumpul anak muda di rumah Mahdi.

Sementara Rosid dan Delia ‘mengadu’ sama pemuda lajang yang sudah tua, bisa dibilang bujang lapuk yang hebat, Anto Kusumohadi. Kamu harus bisa mempertahankan rambut kamu, karena di situ ada hak asasi kamu. Tap soal kewajiban berpeci, no comment. Ga minum minuman keras, itu masalah ketaatan, masalah komitmen. Lagian saya percaya bahwa hidup ini harus dijalani secara dalam keadaan sadar. Atau istilah ketentraman jiwa itulah pahala salat.

Abahnya, lewat Said lalu mengundang Pemuda hebat ustaz Holid al-Gibran. Sama-sama anak muda, beradu argumen. Peci berikut model dan warnanya bukanlah ajaran agama, bahw aitu hanyalah budaya yang kemudian dianggap sebagai ajaran agama.

Nah poin utama kisah ini berkutat di situ, pertentangan orang tua dan anak mengenai peci. Konflik yang menurutku ga berat-berat amat, disajikan dengan sedikit kocak, saling silang pendapat tua vs muda. Reliji vs filsafat. Dengan dialog melimpah ruah lu-gue khas Betawi, kisahnya runut dan tak banyak meninggalkan misteri atau tanya. Sayang sekali, banyak kalimat langsung menggunakan bahawa daerah. Ga nyaman dibaca, kata A.S Laksana kalau sesekali sih masih bisa, taruhlah di depan, lalu setelahnya pakai EYD. Di sini kebanyakan, benar-benar bikin ga nyaman, walaupun bahasa Betawi hanya sebagian besar di sini mengganti akhiran ‘a’ menjadi ‘e’, tetap saja hufh… plot utamanya sendiri lempeng, lurus, dan sungguh biasa. Dengan kover dan judul yang mengacu pada novel ternama The Da Vinci Code-nya Dan Brown, kiranya akan menjadi novel plesetan, ternyata ga ada sangkut pautnya. Sekadar memiripkan diri, ‘menjual’-nya, siapa tahu fan pemecah kode berminat. Tagline-nya juga melucu: ‘Tidak memukau nalar, tidak mengguncang iman!’ dan ‘Misteri tak berbahaya di balik tradidi berpeci.’ Ditandai elips merah, ‘Kemungkinan Best Seller’. Wkwkwkk… ada-ada saja marketing-nya.

Ada kumpulan orang-orang beragama yang nantinya memecah belah. Salah seorang lulusan pesantren meminta kemurnian agama, sehingga selain sunah Nabi dianggap bidah. Satu lagi lebih ke liberal, terbuka sehingga menjamin perbedaan. Lalu muncullah penengah, mencoba merangkul semuanya. Well, relate sama keadaan sekarang di mana agama menjadi tunggangan ga hanya politik, tapi juga menyusup dalam bidang ekonomi, keseharian kita sama tetangga sampai ke hal-hal sensitive dalam keluarga. Endingnya sendiri walau mellow sudah pas, happy untuk semua. Ada ganjalan hubungan dengan Delia, maka sebelum jauh ada baiknya dilepas. Salut sama konsistensi Rosid untuk tak ‘merusak’ cinta dalam belitan nafsu. Rosid tak tahu harus bagaimana; sedih, bahagia, atau lega. Saat ia memutuskan hubungan dengan Delia.

Keputusan membacanya lebih kepada efek nikmat kumpulan cerita pendek-nya tahun ini yang rilis, Kisah Perdagangan Paling Gemilang (Banana) yang sejatinya banyak kemiripan latar. Memang susah konsisten mencerita novel panjang, ga seperti cerpen yang satu kisah bisa dipenggal dan mengisah plot lain, novel lebih diminta konsestrasi ke satu pokok, dengan tiga ratus halaman, jiwa petualangan novel jelas tertantang untuk bisa nyatu, lebih rumit, dan menjaga pembaca tetap berminat hingga titik terakhir. Da Peci terlalu umum, budak tema baru tua vs muda, masalah idealism juga ga terlalu dalam. Sementara Kisah Perdagangan, variatif dengan kenikmatan jleb setiap ganti cerita.

Menutupi kepala itu termasuk dalam kesopanan, malah dalam Islam ada yang bilang itu sunah. Sebagai penutup, saya mau nukil dialog abah-anak yang absurd: “… Lu belajar sama siapa? Sama syaiton?” / “Kalau ada kebenaran, Rosid mau belajar ame syaiton…” Haha… ini tindak lanjut dari kemarahan Babe tentang dasar anak syaiton. Lha… blunder. Bapaknya juga syaiton.

The Da Peci Code | by Ben Sohib | Copyright 2006 | Penerbit RAHAT Books | Cetakan IV, Desember 2006 | Desain sampul Eja Assagaf | Penyunting Mehzy Zidane | 326 hlm.; 17 cm | ISBN 979-15303-0-0 | Skor: 3/5

Karawang, 140720 – Billie Holiday – Strange Fruit (1939)

Thx to Anita Damayanti, empat dari Sembilan.

Perempuan itu Bernama Anick by Titie Said

“… Hentikan penyelidikanmu, kamu kira aku tidak tahu kamu sering pergi? Kamu harus bisa menerima takdir. Aku tahu kamu sedang mencari keadilan… bekerja di tempat maksiat tapi tak tahu bahayanya, jangan sok suci!” – Naning

Novel yang mencoba action, dengan beking utama cerita tentang narkoba, pelacuran, dan segala dendam kesumat, tampak akan menjadi kisah aksi heroic dengan tembakan, sabetan golok, serta taburan shabu di mana-mana. Dituturkan dengan tempo sedang, tapi jelang akhir sungguh tergesa seolah ada gerebek yang bikin kerumunan harus bubar, harus selesai. Sempat berharap akhir yang pilu nan tragis, karena suram adalah koentji, apalagi sempat terjepit di restoran dalam serbuan maut, nyatanya berakhir bahagia. Sang jagoan walau ga bisa mengayunkan golok, terlihat hebat, lolos terus dari malapetaka, yah kecuali petaka utama menjadi korban perkosaan.

Kisahnya tentang Ana Maria dengan nama beken Anick, nama Anick lebih prestise daripada nama-nama komersial artis. Begitu pula nama-nama gadis penjual seks lainnya bernama gaul: Deasy, Devy, Debra, Betty, Ratih, Leoni, Sylvia… Jangan heran, KTP dobel satu tripel sudah biasa untuk para perempuan yang gelimang dosa ini. Ia adalah seorang istri dan ibu dua orang anak yang teraniaya. Orangtua penganut Katolik yang saleh, tetapi kenyataannya ia ‘abangan’ dan agama hanya tercantum dalam KTP. Kedua anak yang ikut di Kartasura-Solo: Dinda dan Dandi.

Dibuka dengan keadaan Lokasliasai Kramtung, Kramat Tunggak, Jakarta. Sebagai pelacur yang intelek, eksklusif. PSK amat takut sama sinar matahari yang berlebihan yang dapat merusak kulit, sebab kulit menjadi asset utama. Lelaki selalu gandrung pada kulit mulus. Karena apa pun juga namanya toh kerja begitu tetap tidak terhormat, tetap nista. Dibawah naungan Ibu Datu, Ibu yang tidak mau disebut mami, sebab menurutnya sebutan Ibu lebih anggun. Mami di lokasi kamu punya konotasi mucikari. Anick lalu bercerita asal mula bagaimana ia bisa terjun di lembah dosa. Penderitaan yang membuatmu berubah, rasanya aku tak mengenalmu lagi.

Anick terlahir sebagai anak tunggal dari Kartasura, sebagai seorang Katolik pernikahan adalah sakral dan sekali. Maka di pernikahannya dengan Sal yang kandas tak jelas, ia mencoba tegar. Hubungan dengan Sal dari Surabaya sebenarnya ditentang, tapi darah muda yang menggebu mencipta anak pertama yang akhirnya menikah, dan hanya berselang tiga bulan ia hamil lagi. Dinda dan Dandi seharusnya menjadi pelita keluarga. Rumah sederhana, usaha kecil-kecilan, dan tekad membaja untuk membuktikan kepada kedua orang tua akan kekuatan cinta yang menyatukan. Nyatanya, Sal ga bisa diajak susah, rumah digadai buat modal usaha taksi. Di awal sih bayar cicilan lancar, petaka tiba ketika ada kecelakaan, lalu pembayaran tersendat. Akhirnya Sal kabur, pulang ke rumah orangtuanya, meninggalkan Ana dan anaknya.

Kalut karena ekonomi ambruk membuat Ana harus memutar strategi. Tawaran menjadi koki di restoran Jakarta mengantarnya ke tanah ibu kota. Bersama Naning tetangga sekaligus bosnya mengarungi kerasnya kehidupan kota. Terkenal dengan racikan mantab, Ana menjelma koki idaman. Berjalannya waktu, ia mengenal para pelanggan. Naas, restoran itu ada di kawasan hitam pelacuran, istilah ‘ojo cedak kebo gupak’ cocok menampilkan keadaan. Ana yang terjebak pusaran, ketika Naning sedang keluar kota, dua komplotan preman: Geng Berto dan Geng Johny memperebutkannya, berakhir bencana dan kasus pemerkosaan.

Traumatis, Ana menuntut dendam. Tidak ada Ana Maria, adanya Anick. Kini ia bertranformasi identitas. Dengan nama baru, ia melakukan perburuan. Nama-nama pelaku dicatat, ditelusur, dan disusun kesumat. Melalui Monik yang belia 18 tahun!, ia yang terjerat narkoba, Anick mencari informasi. Niatnya sempat dilarang Naning, efek pelaporan akan panjang nan berliku. Lawannya adalah preman kawasan, taka da saksi, bukti minim. Rencana dendamnya dianggap gila, tapi pertunjukan harus jalan. Monik tewas dalam sakaw, entah dibunuh ataukah benar-benar kolaps?

Anick mendapat kenalan bos Priok yang pilu. Ia menjadi penguasa Jakarta Utara, terpesona sama masakan Anick, lalu melah menjadi pelanggan pijatnya. Di sinilah susunan dendam itu tampak bisa dilaksanakan. Anick mengompori Basuki Cobra, ‘Sang Presiden Preman Priok’ bahwa mereka para penjahat sedang menyusun serangan maka harus dihentikan, beberapa hari kemudian muncul di berita beberapa penjahat teri pelaku pelecehan seksual itu tewas, sebagian ditangkap polisi. Anick mencatat nama-namanya, dan tersenyum puas. Namun malamnya ia merasa berdosa, melakukan penghasutan pembunuhan, jelas dilarang dalam agama.

Satu lagi pelaku yang belum terlaksana, Jangkrong. Seorang Bandar narkoba, tampilan miskin hanya kelabu, Cobra yang mendapat informasi dari Anick betapa berbahayanya sang penjahat, besoknya target utama itupun berakhir tewas juga. Selesai sudah kesumatnya. Selesai pula kisah? Belum. Kematian Jangkrong malah berdampak panjang. Naning panik karena ia dititipi bungkusan penuh narkoba, bersama Anick yang juga kalut dan bingung mau diapakan barangnya? Setelah melalui perimbangan panjang, dibuang di sungai, ditabur bak perayaan akhir kremasi.

Anick lalu berkenalan dengan Henri, bos narkoba yang secara tersamar menjadikan sang protagonist penyalur. Dengan sebungkus buah, di dalamnya tersembunyi bubuk dan pil maksiat. Henri menitipkannya, nanti ada yang ambil. Gitu terus, kegiatan bejat ini tak disampaikan ke Cobra. Anick berupaya mencoba menjadi semacam agen, mengamati, mengelabuhi seolah ia adalah penyalur. Setelah mendapat kepercayaan, barulah melapor ke Cobra. Melakukan penggrebekan, dan jaringan Henry dan sedikit di atasnya terputus. Sudah? Belum, sedikit lagi.

Tentu tak semudah itu kabur. Jaringan narkoba itu luas dan menjerat, tak mudah melepas belitannya. Apalagi Anick menjadi agen yang menyamar sehingga menjadi target operasi dendam mereka, kedua anaknya segera diamankan anak buah Cobra. Cobra sendiri memiliki kisah pilu, seorang pembantu yang diajak menikah anak juragannya yang ayu. Yang ternyata setelah sah, tahu istrinya hamil empat bulan. Kehidupan yang terasa tak adil, hanya simbok dan Anick yang membuatnya luluh. Sampai dipanggil cah ayu, saking dekatnya mereka. Ada selip asa menikah, ada harapan akan bersatu gembong mafia dan sang protagonist. Kabar balas dendam itu mencipta ketergesaan. Anick diminta kabur, ia sudah tak aman, Naning sebagai pemilik restoran panik luar biasa. Dan seakan diburu waktu, restoran yang menjadi tempat transaksi ini akhirnya diluluhlantakan, menjelma medan tempur yang mematikan sang pria bertato cobra.

Lalu bagaimana Anick bisa terjerat ke rumah prostitusi? Dalam keadaan putus asa, tak ada gelayut dan harapan entah mau kemana. Muncullah Ibu Datu, memberikan penawaran. Endingnya sendiri, Anick mencoba menolak kenyataan pahit lumpur dosa. Aku takut seandainya mereka tahu bahwa ibunya kini bernama Anick dan mencari uang dari kerja yang erat kaitannya dengan kerja haram. Ayahnya yang marah meninggal dunia, uang kiriman ternyata ga ada yang mau pakai karena uang haram, mereka gunakan untuk membantu warga miskin, anak-anak yang putus sekolah. Lalu ketika akhirnya ia mudik, penolakan itu mencipta identitas baru. Ana, Anick, Mina, gadis sederhana nan solehah di kampung, teman SDnya.

Ini adalah buku pertama Titie Said yang kubaca. Pengalaman unik menikmati cerita tentang jaringan narkoba lokal. Premanisme, protitusi, kemiskinan, penghiatan, dendam. Tema yang sangat beragam, buku tipis maka tak heran banyak adegan tergesa. Mbak Titie sendiri mencoba mengankat tema feminism, memperjuang persamaan gender. Seperti perbedaan pandang tentang status. Itulah enaknya laki-laki, sama-sama tidak bermoral tetapi tidak mendapat sebutan jelek. Seolah ada ketidakadilan gender. Betapa wanita sering dilecehkan, menjadi nomor dua, di sini sebagai orang Jawa, wanita menjadi orang sendiko dawuh sama keluarga, terutama suami. Hal-hal yang dulu tabu memang di era sekarang mulai dikikis, atas nama kemajuan zaman, segala kesempatan di dunia ini mencoba setara. Tema seperti ini sekarang sudah banyak dibuat, terutama karya Ayu Utami yang lebih ganas dan vulgar. Perempuan Itu Bernama Anick lebih soft, lebih nyaman diikuti, mungkin karena kolaborasi dengan BNN sehingga bahasanya lebih umum untuk dinikmati luas khalayak.

Entah kenapa novel ini tanpa identitas yang biasanya berada di halaman awal, dengan kover polos berdasar warna hitam, tulisan merah menyala memikat ancaman. Tak ada ISBN, tak ada penyuntingan, pun proof reader sehingga teramat disayangkan typo di banyak tempat. Bahkan aturabn dasar seperti titik atau koma, justru berjeda di awal dan belakang kata di beberapa lembar. Justru dua surat lampiran resmi dari BNN (Badan Narkotika Nasional) yang mengucap terima kasih, tercantum lengkap stempel dan ttd Kalakhar BNN, sebagai langkah proaktif dalam memasyarakatkan bahaya penyalahgunaan narkoba dan zat-zat psikomatik. Plus sederat ucapan terima kasih, sehalaman penuh. Sederhana eksotis, kover hitam dengan pengantar BNN di dalamnya!

Niat bagus, cerita lumayan bagus, tapi tetap ga bisa memacu andrenalin tanya dan penasaran. Sehingga tebakan akhir bahagia sudah tampak menjadi wajar bahwa jagoan akan selamat. Sekadar bacaan untuk menyelesaikan baca buku Juli ini, sebulan jelang KSK 2020.

Aku bukan Ana, Ana sudah mati. Aku bukan Anick, ia telah mampus. Kotor, minggat, memalukan… jangan panggil aku Ana, jangan panggil aku Anick, panggil aku Amina…”

Perempuan itu Bernama Anick | by Titie Said | Novel kerja sama BNN dengan D’Best dan Diamond | Note: Tidak ada identitas buku | Terbit tahun 2003 | Skor: 3/5

Karawang, 130720 – Bill Withers – In the Name of Love

Thx to Anita Damayanti, tiga dari Sembilan.

Menggapai Hati yang Rindu by Violet Winspear

Asmara Tertata di Virginia

Maafkan aku yang marah-marah padamu, dalam permainan salah seorang terluka bukanlah suatu hal yang dapat dihindari.” – Reid McShane

Cerita cinta yang sangat mudah ditebak. Seorang gadis menjadi pengasuh sementara anak tunggal berusia lima tahun, seorang duda di pedesaan. Tak diragukan lagi, bahkan sejak kalimat pertama bahwa akan ada benih cinta, dan ujungnya ketebak bersatu. Segala kendala yang diapungkan sekadar pemanis, masalah-masalah yang ditimbulkan hanya lika-liku hubungan lazimnya koneksi timbul-tenggelam. Apa daya, sungguh sesuai alur. Namun menikmati roman klasik, atau segala kisah cinta yang dicipta di abad 20 memang rata-rata mengedepankan harapan bersatu di kemudian hari, pertentangan hanya bumbu. Apalagi pertentangan itu dari dalam, jadi jelas happy ending sejak semula muncul ke permukaan.

Kisahnya tentang Beth Anderson, art director dari perusahaan iklan yang paling besar di Washington. Ia adalah pasien Dokter Doc, karena stress. Doc menganjurkan agar ia pergi berlibur di suatu tempat yang asing dan tenang. Ide diperkenalkan pada Reid McShane, seorang arsitek gila kerja muncul. Maka di pesta malam yang sederhana, mereka dipertemukan. Tawaran kerja bertugas menjaga anak laki-laki berusia lima tahun, bernama Josh McShane selama Reid bekerja spontan diterima. Ajakan itu dilakukan dengan dorongan seketika, tapi percayalah ada peran Doc di sana yang jadi comblang.

Tugas utama memang mengasuh Josh yang biasanya bersama tetangga mereka, nenek Daisy. Namun memang ini mutualisme, Beth yang butuh menepi menemukan ruman tenang di pedesaan Virginia. Ia tidak pernah menyaksikan rumah sedemikian indah. Bagaikan yang sering dilihat di kartu pos. Ada Rufus, anjing kesayangan. Lalu Phoebe, Si kambing betina dikurung di dalam pagar yang cukup tinggi, yang setiap pagi menghasilkan susu. Sungguh aduhai hidup di tengah desa, dengan tumbuhan berlimpah dan hewan-hewan peliharaan yang imut. Maka, suasana intim yang dicota, niscaya muncul gelombang asmara di antara mereka.

Dari pembukanya saja sudah dapat ditebak, Beth menyiapkan makan malam menungguh Reid pulang kerja, sebuah gambaran istri dengan setia menanti suami pulang makaryo. Apalagi dengan sudut pandang Beth, sehingga pembaca tahu apa yang ada di dalam hatinya, kegundahan, kegelisahan, keraguan, cinta, dan segala perasaan labil sang gadis. Jelas, ini akan menjadi cerita cinta yang sederhana. Sesekali keraguan muncul, kelesuan timbul. “Ada apa dengan Anda? Kelihatannya Anda kurang bersemangat.” Hanya pemanis kata sih, ujungnya cinta.

Gunjingan di Harford and Grey muncul, karena ia menghilang begitu saja di tengah kesibukan. Permintaan cuti dua bulan, seolah memang kabur dari tanggung jawab. Orang paling geram atas tindakan ini adalah bosnya, Jack. Ia merasa kehilangan karena Beth pergi tanpa meninggalkan kontak, dan informasi yang jelas. Ketika Jack berhasil menghubungi, dengan marah ia berkata, “Aku berada di Hongkong!” Wah-wah, ternyata Hongkong-pun menjadi Negara yang jadi alibi jauh dan asing di Amerika sana, kukira hanya di sini. Ckckck…

Lalu malam-malam yang sunyi di pedesaan itu, keduanya membuka diri, juga membuka hati, dan baju nantinya. Beth ternyata terluka tentang asmara, menolak cinta seorang pemuda mapan. Merasa bersalah juga, perasaan ga enak itu menggelayutinya bertahun-tahun setelahnya. Alasan ingin jadi wanita karier dulu, ingin menikmati kebebasan. “Tidak cukup tampan, atau tidak cukup kaya?” Cara menolak halus, ah wanita, katanya mereka memang berjiwa kreatif, artistik, neurotik, sensitif, dan mudah menangis. Tentu saja keberhasilan merupakan tujuan hidup. Tapi mengapa manusia tidak pernah merasa puas? Asmara Beth tertata di Virginia, keputusan pasangan hidup harus dibuat.

Sementara Reid merasa masa lalu yang salah telah memberinya pelajaran berharga tentang pasangan hidup. Semasa muda, pacarnya yang ingin berkarier memutuskan hubungan setelah melahirkan Josh. Sang pacar malahan meminta aborsi, yang langsung ditolak. Mengajak menikah, gentian ditolak. Sang arsitek memutuskan menepi membesarkan buah hati. Ia merupakan seorang pengusaha yang berhasil yang akhirnya mundur dan masuk ke hutan. Setiap jengkal rumahnya disusun bertahap, dan dipoles dengan cinta. Seolah, memang hanya menanti seorang istri sekaligus ibu tiri. “Anda cukup beruntung karena tak perlu merisuakan makanan yang Anda lahap berikutnya. Dan jangan pedulikan ejekan orang lain karena Anda miskin.”

Setelah tugas asuh selesai, Beth kembali ke rutinitas pekerjaan di bidang iklan. Dari temannya yang berujar bahwa laki-laki di Washington kebanyakan adalah laki-laki berhidung belang. Mematik rasa, Ia selalu merasa iri hati menyaksikan orang yang memulai harinya dengan senyum dan lagu. Reid tampak berbeda (heleh… klise ya). Tekanan Jack dan segala kepenatan hidup di kota, ia memutuskan kembali ke Virginia, sekadar berkunjung. Tanpa pemberitahuan, tiba-tiba muncul di depan rumah suatu malam di akhir prkan. Well, sejatinya Beth menuntaskan rindu karena malam itu, kejadian di kolam renang kembali terulang di kamar. Ia memejamkan mata, merasakan siksaan pada bathin karena ia mencintai laki-laki ini, dan ia tak dapat melakukan apapun untuk merealisir cinta mereka. Betapa bahagianya berada berdua di bawah sinar bulan musim panas, tanpa kehadiran orang lain. Dunia seolah-olah milik mereka berdua. Percakapan aneh tersaji suatu malam, “Ya, lebih baik minuman panas.” / “Kopi, teh, cokelat susu?” / Dalam hati Beth berkata, “Kopi, teh, atau diriku?” hahaha… Dasar cewek ya, sama sahaja.

Reid, laki-laki berwajah begitu tampan, jantan, dan tenang ia tak memercayai cinta. Beth, muda, cantik, dan ideal menjadi pasangan hidup, ia begitu mengagungkan asmara. Saling melengkapi, saling mencintai. Lantas apa masalahnya? Konflik berat sebenarnya adalah hak asuh Josh akan lebih sentosa di bawah ayah dan ibu tirinya? Ataukah ibu kandungnya yang menelantarkannya ketika lahir, lalu bermasalah dengan bayinya. Menikah dengan orang kaya, menuntut hak asuh setelah lima tahun yang asing. Sang penuntut menyewa pengacara terkenal, mahal dan sering memenangkan kasus. Seorang pengacara cekatan selalu dapat mengalihkan apa yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar. Lalu keputusan klise, Beth akan menikah dengan Reid untuk melindungi hak tersebut. Kukira pernikahan adalah urusan pribadi dua orang.

Jadi setelah sepakat untuk menikah demi melindungi hak Josh, suatu malam datanglah tamu bernama Conrad Rutherford. Seorang kaya yang meminta maaf, ia adalah suami sang mantan Reid. Memohon maaf karena suatu hari ke situ mengejutkan anak kandungnya dalam keadaan mabuk, dan membuat takut seperti orang stress. Maka tanpa persidangan, mereka mundur dari tuntutan. Jadi apakah dengan kemenangan ini, Reid dan Beth tetap melanjutkan rencana pernikahan?

Konflik kedua yang diangkat adalah tentang wanita apakah cocoknya di rumah mengurus rumah tangga atau menjalani karier. Sesekali ingin memakai busana atau aksesoris mewah. Perancang terkenal: Calvin Klein, Diane von Furstenburg, Jordache. Ga ada yang salah. Wanita memang makhluk unik, sulit ditebak. Tema seperti ini juga umum, sejatinya Beth juga gambaran masa lalu sang mantan. Bedanya kini Reid sudah matang, sudah mapan, sudah sangat berpengalaman. Sang mantan memutuskan mengejar karier, sah saja. Beth memutuskan mengejar karier pula, sah juga. Ga ada yang salah dan benar, adanya adalah setiap individu memiliki hasratnya masing-masing. Pertanyaannya sekarang dibalik, “Apa salahnya dengan wanita yang berkarier di dapur?”

Sekadar iseng memasukkan buku ini ke dalam belanjaan, sejatinya mengincar satu buku Ben Sohib, yang lainnya hanya tambahan. Tambahannya delapan, rerata buku lama. Jadi buku tipis ini kubaca kilat sejak datang hari Kamis (2/7/20), dan besoknya sudah selesai baca. Menikmati buku klasik tuh gampang-gampang susah. Memasuki dunia asing dengan teknologi jadul. Beth yang mengasingkan diri, di era sekarang tentunya akan lebih mudah dihubungi, walau terbentang 3 jam perjalanan. Kata-kata yang digunakan juga terlihat kaku, saat ini jika diperhatikan. “Mengapa Anda tidak memberitahukan daku?” atau “Bukankah Anda sendiri cukup risau oleh persoalan yang sedang Anda hadapi?” Untuk percakapan dua karakter yang sudah menghabiskan beberapa malam seatap, tampak ada jarak di antara mereka. Kovernya cakep sekali, itu adalah adegan makan malam di adegan pembuka. Beth yang menanti kepulangan Reid, seolah mereka adalah pasangan suami-istri. Ilustrasi yang sepertinya dilukis dengan cat air, dengan kanvas yang lalu dicetak, latar orange menambah daya tarik. Kesan sederhana, eksotis.

Aku harus mempertahankan ketenanganku untuk mendapatkan kemenangan.

Menggapai Hati yang Rindu | by Violet Winspear | Diterjemahkan dari xxx (identitas buku tidak ada, halaman pembuka buku hilang)| Penerbit Karya Agung | Skor: 3/5

Karawang, 070720 – Roy Brown – Good Rockin’ Tonight (1947)

Thx to Anita Damayanti, satu dari Sembilan.

Setelah seminggu penuh, istirahat ngeblog pasca #30HariMenulis #ReviewBuku akhirnya saya kembali.