Historia Bintang Jatuh: Sebuah Fantasi Liar

Stardust by Neil Gaiman

Aku bersedia dibayar dengan warna rambutmu, atau semua ingatanmu sebelum kau berusia tiga tahun. Aku bersedia dibayar dengan pendengaran dari telinga kirimu – tidak semuanya, cukup supaya kau tak bisa menikmati musik atau menghargai desau arus sungai atau desir angin.”

Tentang petualangan anak setengah manusia setengah peri yang menakjubkan. Untuk memulai perjalanan kita perlu mengenal desa asal, Desa Tembok di padang rumput Inggris yang tenang. Tak sembarangan yang bisa melintas, setiap Sembilan tahun sekali di seberang tembok yang bercelah ada bazar festival yang digelar dan desa itu menjadi penginapan mendadak. Syahdan, seorang pemuda rupawan Dunstan Thorn berusia delapan belas tahun mengalami malam sensasional. Terasa gigil dan gemetar di pusat alam. “Ini kuucapkan: kau telah mencuri pengetahuan yang tak layak kauperoleh, tetapi pengetahuan ini tak akan menguntungkanmu…”

Dengan setting waktu masa Ratu Victoria yang bertakhta sebelum menjadi janda Windsor, Charles Dickens tengah menerbitkan novel Oliver Twist. Mr. Draper baru saja memotret bulan untuk pertama kalinya, membekukan wajah pucatnya pada kertas dingin; Mr. Morse baru-baru saja mengumumkan cara mengirim pesan melalui kawat logam. Dunstan memasuki bazar berkenalan gadis cantik terikat di karavan, dengan satu ciuman yang menderet asmara mistis. Ciuman gadis dengan bibir yang bercita rasa lumatan arbei hutan. Tak disangka satu malam berkelindan peluk itu mencipta keturunan. Sembilan bulan pasca bazar, di celah Desa Tembok ada keranjang bayi dengan secarik kertas berpeniti bertuliskan ‘Tristran Thorn.’

Ini kisah tentang Tristran Thorn. Jadi kejadian melompat delapan belas tahun kemudian. Ia jatuh hati sama gadis desa Victoria Forester, dan dalam canda gombal remaja, si Victoria bilang bawakan saya bintang jatuh. “Kau masih muda dan sedang kasmaran, setiap pemuda dalam situasimu adalah pemuda paling merana yang pernah hidup.” Tristran menanggapinya serius, maka ia pamit sama ibu, bapak, dan adiknya melakukan petualang ke hutan seberang. Dibawakan bunga tetes salju dari ayahnya, yang didapat dari ibu aslinya. Perjalanan inilah yang menjadi komoditi utama Stardust. Walau banyak hal terasa kebetulan tapi jelas tutur kata di negeri peri ini sungguh dahsyat. Seni bertahan hidup, termasuk dalam memasak, bagaimana di hutan tak ada garam, tapi dibumbui sedikit semangi, sedikit serpili gunung, ini pasti sama lezatnya.

Berkenalan dengan katai, manusia kecil yang baik hati, ia merasa lelaki ini sungguh polos dan jujur sekali dalam bercerita tujuan utamanya mencari bintang jatuh. Dan, terlalu lugu untuk merasa takjub, terlalu muda untuk merasa gentar, Tristran menyeberangi padang yang kita kenal… dan memasuki Negeri Peri. Terasa sulit tapi ga mustahil, maka ia membantu Tristran dengan memberi lilin cahaya yang bisa melakukan perjalanan antar dimensi. Aturan mainnya, lilin nyala itu akan mengantarnya menembus ruang dan waktu, lalu sekejap saat dimatikan ia sudah sampai tujuannya. Lilinnya dikit maka gunakan dengan bijak. Pesannya agar berhati-hati, ketika ditanya orang asing jangan berkata apa adanya, bilang saja; ia dari belakang dan akan maju ke depan. Maka dengan pamit ala kadar yang memusing, Tristran melesat. Bintang yang diajarkan Mrs Cherry adalah bola gas yang berkobar dan menyala, selebar ratusan mil, mirip matahari, hanya lebih jauh.

Betapa terkejutnya, bahwa bintang jatuh mirip berlian atau batu, jelas ia tak menyangka adalah seorang gadis. “Ini kulakukan demi cinta, dan kau benar-benar harapanku satu-satunya…” Bintang itu cedera, satu kakinya patah, maka ia ikat dan papah dalam perjalanan, dan dibawanya pulang. Dengan kuda bertanduk yang diselamatkan ketika akan diterkam singa, bertiga melakukan perjalanan balik. Nah, di sinilah keseruan benar-benar diramu. Perjalanan itu tak mudah, penuh onak duri dan orang-orang berniat jahat.

Halangan pertama dari Ratu Penyihir hitam, panggil dia dengan sebutan Morwanneg. Tiga saudari di dimensi lain, yang tertua keluar dari dunia cermin, mendapatkan kembali usia mudanya, ia ke negeri Peri untuk mendapatkan bintang jatuh. Karena jantung-bintang-hidup adalah obat manjur untuk melawan jerat usia dan waktu, adik-adiknya menanti pulang. Sang Ratu penyihir memiliki kekuatan besar, paling mungkin memenangkan pertarungan perebutan bintang, tapi nikmati saja perjalanan ini kejutan demi kejutan bersaji. “Kami hanya makan kegelapan, dan kami hanya minum cahaya. Jadi aku tidak lapar, aku kesepian dan takut dan dingin dan merana dan disandera tapi aku tidak lapar.”

Halangan kedua dari perebutan takhta Stormhold di gunung Houn. “Takdirku. Hak memerintah.” Jadi sang raja mangkat, mutiara manikamnya ia lempar ke langit yang mengakibat bintang jatuh, jadi ketujuh putera mahkota yang memilikinyalah yang akan resmi memerintah kerajaan. Empat saudaranya sudah tewas, saling tikam dan bunuh: Secundus, Quintus, Quartus, dan Sextus. Sisa tiga: Primus, Tertius, dan Septimus. Di sini alurnya unik sekali, bintang jatuh bukan karena tersandung tapi sejatinya tertabrak sebuah kuningan utas perak yang dilempar raja. Dalam perjalanan menuju takhta, di penginapan satu orang diracun saudaranya sendiri, sehingga menyisa dua. Karena panik, Primus kabur terlebih dulu. Menjaga diri tak akan makan dari produk asing. Septimus mengejar, sembari juang mencari jatuhnya bintang. Oiya, mereka yang tewas bisa melihat kehidupan. Jadi saudara-saudara ini membayang menyaksi perjuangan menuju takhta siapa yang tersisa. Ternyata ada orang-orang baik di negeri yang gelap ini, si bintang memutuskan dengan rasa hangat dan tenteram.

Pertempuran puncak sejatinya di penginapan. Kereta ratu penyihir yang tiba duluan, menikam pemilik lalu menjelma mengubah diri pemilik baru, dan kusir serta kudanya (yang disihir dari manusia menjadi hewan) menjadi pelayan. Menanti bintang dan kuda bertanduknya tiba. Karena Tristran dan Bintang slek, melarikan diri. Bintang dan kuda bertanduk tiba disambut, alat bedah sudah disiapkan namun tiba-tiba pintu diketuk, muncullah Tristran dan Primus yang bersatu di jalan. Kalimat: “Ini bisa menunggu.” Menjadi penyelamat. Dia tahu, di suatu tempat aneh dalam dirinya yang mengetahui arah dan jarak benda-benda yang belum pernah dilihatnya dan tempat-tempat yang belum dikunjunginya, dan si bintang sudah mendekat… ini bisa menunggu. Kebetulan atau entah apa namanya, Primus yang terbunuh dulu, Tristran dan bintang yang terdesak, sekelibat pikir cepat, menyala lilin intas dimensi, dan wuuuzzzz…. Mereka selamat. Lilin redup lalu mati di negeri awan. Mereka diselamatkan Kapal Merdeka Pardita. Menurunkannya di suatu bukit, lalu melanjut perjalan pulang.

Ratu Penyihir geram, lalu strategi diubah. Ia akan menanti di Parit Diggory, tempat terbuka celah lembah menuju Desa Tembok. Sementara Septimus yang kini menjadi satu-satunya yang masih hidup, sejengkal lagi jadi raja, syarat terakhir harus dipenuhi, membalas dendamkan saudaranya. Di Parit itulah titik akhir para penghalang berakhir. Adegan bakar serta seni menipu, well dia Ratu Penyihir yang punya kekuatan dahsyat ya, sehingga takhta itu lenyap kini.

Sementara Tristran dan bintang kini menjadi akrab. “Aku membencimu. Aku sudah membencimu utuk segalanya, tetapi sekarang ini aku paling membencimu.” Setelah ¾ kisah, barulah kita tahu siapa namanya. Saudari-saudariku memanggilku Yvaine, karena aku bintang senja. Ia membuka diri, menjadi turut serta pulang sekalipun ketika melintas dinding perbatas akan menjadi serbuk bintang, butir biasa di dunia manusia. Kau tahu gadis itu sebuah bintang dan seorang manusia fana. Di sini kebetulan kembali dicipta, Tristran bertemu penyihir yang di mula diperkenal sebagai Mistress Semele (nama kenalan), aslinya Ditchwater Sal. Penyihir ini mau menukar bunga tetes salju yang dibawa sang pengelana, syarat mengantarnya sampai Desa Tembok dengan selamat tanpa kurang apa pun. “Dan aku tak bisa menyesali petualanganku sedetikpun, meskipun ada kalanya merindukan tempat tidur yang empuk, dan aku tak akan pernah lagi melihat tikus dengan cara yang sama…”

Siapa sangka Tristran disulap jadi tikus, sang bintang disimpan juga. Dengan begitu mereka selamat lemintas Parit Diggory dan sampai di perbatasan dengan selamat. Selesai? Penutup yang njelimet karena fakta-fakta baru diungkap membuat bungah, Yvaine memiliki mahkota, burung yang dibawa sang penyihir ternyata memiliki kekuatan super juga setelah sihir tahanannya lenyap ehem Daisy Thorn, ketika Senin ketemu Senin di hari Jumat. Dan segalanya menyenangkan. Ending sempurna untuk kisah yang sungguh sempurna. Identitas Lady Una, penguasa Stormhold muncul ketika kerajaan mencapai titik hopeless. Bahagia itu apa? Tristran mewujudkannya, bukan harta, bukan takhta, bukan pula gelimang fantasi imaji: tapi bersama orang terkasih yang tepat, saling mencinta, saling mengisi. So sweet, too sweet untuk sebuah epic Neil Gaiman.

Dimula buku ada puisi karya John Donne, 1572-1631 berjudul Dendang.

Kisahnya sangat Gaiman, fantasi murni di Negeri Peri yang penuh keajaiban dan segala imaji yang tak terbatas. Saya menyukai fantasi khas Inggis seperti ini ketimbang kisah-kisah yang dicipta di daratan Amerika. Belum bisa menandingi The Ocean Lane at the End of the Lane yang fenomenal itu, tapi ini jelas lebih liar ketimbang kehidupan malaikat dan makhluk-makhluk ajaib di subway kereta api London. Bagaimana bisa mencerita petualangan dengan aturan lentur menyeret keadaan mendesak untuk gegas menyelamatkan situasi, yang paling kutakjubkan ada tiga. Cahaya lilin yang menghantar lintas dan waktu sebagai semacam portkey, kedua bintang jatuh itu adalah putri. Gadis yang memukau kecantikan dan tutur lembutnya. Dan terakhir, runutan kisah yang rapi dan menempa pikiran terliar sekalipun. Genre fantasi imaji banyak sekali yang indah-indah, dan Stardust jelas masuk salah satunya.

Permintaan sederhana, budi terkecil yang kuminta darimu, “Kadangkala, malam-malam aku dan saudari-saudariku bernyanyi bersama, bersenandung lagu tentang ibu kami, dan sifat masa, dan nikmatnya bersinar dan kesepian.” Tampak manis bukan?!

Serbuk Bintang | by Neil Gaiman | Diterjemahkan dari Stardust | Copyright 1999 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | 617188003 | Alih bahasa Femmy Syahrani Ardiyanto dan Herman Ardiyanto | Desain dan ilustrasi cover Martin Dima | Cetakan kelima, Mei 2017 | ISBN 9789792226881 | 256 hlm; 20 cm | Skor: 5/5

Untuk Gene dan Rosemary Wolfe

Karawang, 220520 – Bill Withers – Hello Like Before

“Adakah Kau Juga Menjual Doa?”

Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering by Hasan Aspahani

Aku tanya, “Adakah kau juga menjual doa?”Penjual Bunga di Jalanan Kota Bangkok

Dibuka oleh ulasan maestro penyair Tanah Air Sapardi Djoko Damono, dan ditutup oleh Goenawan Moehammad yang lebih sederhana. Hebat, kalau empunya puisi sudah mau turun gunung memberi sambutan atau kata pengantar, berarti ada sesuatu yang istimewa sehingga perlu ditelaah lebih lanjut. Beliau berujar: “… Suatu hal yang wajar yang tidak bisa dihalang-halangi oleh penyair yang konon memiliki lisensi puitik maupun lembaga yang diberi tugas ‘menjaga’ bahasa. Dan karena bahasa tidak lain adalah wadah dari ‘dongeng’, bahkan juga ‘dongeng’ itu sendiri, maka ia terus bergerak tanpa arah yang bisa ditebak. Dalam khazanah sastra modern kita, restoran adalah tempat yang sering muncul, baik sebagai sekadar latar maupun sebagai penanda. Yang menyatukan bait-bait sajak itu bukan prinsip kausalitas, tetapi suasana. Benda dan konsep yang disebut dalam sajak itu saling mendukung terciptanya suatu suasana yang, kalau boleh meminjam larik Amir Hamzah, ‘bertukar tangkap dengan lepas’. Dalam sajak ini, kematian adalah suasana dan bukan makna…”SDD

Rangkaian puisi yang berselibat narasi rasanya lebih kusukai ketimbang syair-syair pendek penuh rima. Ada jalinan utas kisah yang nyambung dari tiap sisinya, maka Bagian III. Penjahit Telanjang dan Sosok-Sosok Lainnya terasa biasa, yang lainnya dengan total empat bagian besar, tak jadi soal. Atau bisa kubilang Ok lah.

Kumpulan puisi yang lebih banyak bertutur dari sudut pandang orang pertama lebih nyaman dan asyik disenandungkan, karena melibat pembaca langsung, kata-kata boleh runut atau ditebar dalam petak lurus kanan per bait. Maka wajar, saya menyukai buku ini. Sempat berujar ‘huuufhhh… so typical…’ pas bagian tiga, tapi langsung membuncah lagi, bagian keempat mungkin yang terbaik selain awal-awal yang bersinggungan dengan kematian, terasa janggal dan absurd. Metafora yang membalikkan posisi kata dalam larik itu merupakan sumber keterampilan berbahasa sekaligus ambiguitas.

Karena saya ga romantis, dan ga terlalu bisa menikmati atau mencipta puisi, sajak-sajak pujian sakral bagiku, saya kutip sahaja sebagian yang menurutku bagus atau setidaknya menarik hati. Monggo dieja dengan kenyamanan tersendiri:

Sajak Ini Kuberi Judul: Buku: Diam-diam aku sedang mempersiapkan /

sebuah kematian yang paling sempurna: / dikuburkan di dalam buku. Engkau tahu? /Buku akan hidup abadi. Tak mati-mati! – (h. 40)

GMT, The Home of Time: Akhirnya aku memilih sebuah jam yang / bisa menangis setiap pergantian hari tiba. (h. 44)

Skenario Untuk Klip Video Lagu Rock: “Beri aku lirik yang lebih keras!” / “Tuan, beri aku hingar yang lebih meraung!” / “Beri aku gelap yang tak tembus suara…” (h. 49)

Tawa Untuk Karikatur Lainnya: “Hasil jepretanmu itu kartun atau gambar biasa?” tanyaku / Kau tertawa. Aku juga tertawa. Tawa untuk karikatur lainnya: / Negeri tak kelar berkelakar, yang tak akan habis kita gambar. (h. 67)

Sungai Yang Mengalir di Negeri Kami: /1/ Inilah sungai yang mengalir di negeri kami. Arusnya berlapis tiga: di permukaan ada pedih kenyataan, di tengahnya harapan yang kadang-kadang beku, lebih kerap buntu, dan di dasarnya darah yang masih deras dari hulu: luka lama itu. /2/ Inilah sungai yang mengalir ke petak-petak sawah tua, mengentalkan lumpur, yang berabad-abad lekat di kaki kami. (h.71)

Rapsodi Pembunuh Lembu: Ya, aku harus pergi, Pak, bukan karena takut itu, tapi hanya dengan jalan ini aku bisa membunuh kepengecutanku. (h. 77)

Melangkah Aku Seperti Langkah Seorang Lelaki: Kalau nanti kusaksikan letak paksi ke arah paksina / aku harus pulang ke sana, melipat peta, lalu / melangkah seperti langkah kaki seorang lelaki – / seperti lagu yang aku dengar dari Springteen – dan / menuliskan puisi yang aku takut pada bait-baitnya. (h. 79)

Mimpi, Sajak Apakah Ini: Kalau aku menangis, ikan di dalam mataku pasti / ada yang terperangkap ke luar. Di kulkas ada / garam. Dengan sedikit luka di pangkal sisiknya, / kukira cukup nikmat rasa pedih itu untuk kusantap, / sekadar penahan laparku. Lagi pula perutku / sendiri, mungkin aku bisa lain melihat diriku. (h. 82)

Kamus Yang Sangat Tidak Lengkap: II. ada sebuag panggung, dan kau berada di panggung / itu melakonkan dirimu sendiri, kau juga duduk di kursi / penonton, menyaksikan dirimu sendiri. Ketika terbangun / kau tak tahu pasti, “Aku ini adalah aku yang tadi berlakon, ataukah aku yang duduk sebagai penonton.” (h. 87)

Relikui: Apa yang tak mengenangkan aku padamu? Segala seperti relikui / Layangan putus, menyerahkan ujung benang, menyentakkan relikui (h. 92)

Pemetik, 2: Kalau sudah teramat rimbun waktu / aku duga itu dari serbuk air matamu / menempias sejuk ke hutan usiranku (h. 103)

Pendayung, 1: Lautku mendayungkan perahumu, berlabuhlah / Anginku menunjukkan ke pelabuhanmu, berlayarlah / Malamku memperada kerlip bintangmu, berianglah! (h. 107)

Pelupa: Tidur lama, dan lupa, membebaskan kita dari maut dan tua. / Tapi, kita terkurung sawang, menebal di pintu guha. Tak / terbaca tanda waktu, di tulang anjing dan kerangka kuda (h. 130)

Ia Menulis di Linimasa: Pada usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian, / Ia menulis di linimasanya, hidup yang baik telahg / memberi satu hal: aku telah mampu untuk lupa… // Pada usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian, / ia menulis di linimasanya, hidup yang baik tetap / memberi satu hal: aku masih mampu untuk ingat. (h. 134)

Lelaki Ke-15 dan Seorang Perempuan yang Tak Sempat Ia Ajak Menulis Sajak Bersama: 6. Saya di rak buku itu? nama kita, nama yang melupakan kita. / Tiap napas: sepasang hirup dan hembus, adalah kalimat tidak / sederhana, dengan gumpal tanda tanya di ujungnya, Kita tak bisa / berhenti bertanya, kita terus mempertanyakan pertanyaan kita.

7. Kita yang lama mengawani sunyi, tak pernah baik mengenal / sunyi. Berpapasan denganya, kita ragu dan kecut, tapi talk / bisa menghindar, “Kesunyian dan kesendirian adalah cabang / filsafat yang tak pernah selesai dirumuskan.” Kata profesor yang / tertinggal ajarannya, padahal sudah beberapa jam lalu dia pulang / entah ke rumah yang mana. (h. 151)

Beberapa Sajak yang Aku Pikir Seharusnya Aku yang Menulisnya: Aku pernah mencoba melacak apa sebenarnya / rahasia, dibalik bait-baitnya. Diam-diam aku pun / menjadi diam. Menyelinap masuk ke bait-bait / sajak pendek itu, dan oh, baru aku tahu kemudian, / ternyata rumit sekali kata di balik kalimat yang / ketika sekilas kubaca, tampak sangat sederhana. (h. 159)

Tak banyak buku kumpulan puisi yang kubaca, selain memang agak sulit tune in dengan aliran kata dan diksi dan segala yang spontan, saya tak bisa runut nikmat dari awal hingga kalimat terakhir. Saya langganan Koran Kompas Minggu doeloe, bagian puisi nyaris skip semua. Tak seperti novel yang ada klik dalam sebuku, atau kumpulan cerpen yang walau mungkin terpenggal-penggal tiap ganti cerita namun masih ada aliran benangnya. Buku Kumpulan puisi masihlah oase gurun dan menjadi sekadar selingan baca, dulu sempat merencana sebulan sekali baca kumpulan puisi, tapi pas ada tragedi awal tahun, mencipta kesedihan akut yang merusak tatanan, yang akhirnya kembali ke habitat. Pena Sudah Diangkat, setidaknya memberi banyak narasi, jalinannya masih nyaman, seperti kumpulan puisi terakhir yang kunikmati: Kitab Para Pencibir yang juga nyaman karena naratif, sama-sama terbuka segala tafsirnya.

Mungkin karena memainkan waktu, usia, dan beberapa kejanggalan linier masa, menurutku yang terbaik di kumpulan puisi ini ada di judul: Aku Belum Tua:

Segala rupa puitik selama alirannya mendegub jantung dan berhasil menelisik telinga, sah-sah saja untuk dilahap. Nyaring atau lirih? Ah itu sekadar pilihan lahap. Demi waktu baca dan segelas kopi, mari gegas bersajak! Penasaran kumpulan puisi apa lagi berikutnya yang tersedia untuk kudedah?

Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering | by Hasan Aspahani | GM 616202048 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, September 2016 | Penyelia naskah Mirna Yulistiani | Proof read Sasa | Desain cover Kuro-neko | Setter Fitri Yuniar | ISBN 978-602-03-3402-8 | Skor: 4/5

Judul buku ini diambil dari kalimat terakhir hadist ke-19 dari kumpulan 40 hadist yang dikumpulkam oleh Imam An-Nawawi, yang sangat termahsyur sebagai Hadist Arba’in.

Karawang, 150520-210520 – Bill Withers – Railroad Man / Katy Perry – Last Friday Night

Reportase-Reportase Terbaik Ernest Hemingway

Aku tidak tahu Paris itu seperti ini. Aku kira meriah, banyak cahaya, dan indah.”

Berisi 31 tulisan yang bertema variatif, berpusat di Paris tempat ia bertugas menjadi wartawan. Tulisannya rata-rata bersinggung kehidupan sosial dan poilitik, kritik budaya, agama, sampai laporan perkembangan kehidupan jelata bertahan hidup. Memikat di satu sisi, menyenangkan bak gelombang oase yang menyejukan, memuakkan atas perilaku politik di sisi lain. Beragam budaya yang ditangkap dalam tulisan klasik tahun 1920an pasca Perang Dunia Pertama. Seru, mendebar, hingar bingar.

Lebih merakyat dari yang kita kira, karena Ernest menyatu dengan kehidupan setempat. Jika Anda mendapatkan cukup orang Prancis di kafe-kafe di berbagai pernjuru Prancis, Anda akan mendapat opini nasional sejati, bukan bayang-bayang opini nasional yang direfleksikan dalam pemilu atau koran-koran. Bagaimana ia bisa mendapat harga murah penginapan, makan yang murah di berbagai sudut kota. Masakannya di atas semua harga. Bagaikan permata dari buritan pertama dalam masakannya. Pakaian hanya masalah kecil.

Karena suasana pasca perang dan teknologi terbatas, pengiriman warta juga mengalami ketersendatan, penyensoran. Saat wartawan Inggris dan Amerika siap menggunakan Corona, selalu ada antrean mengerikan di belakang mereka. Sistem sensor kepausan telah ditetapkan dan semua surat kawat berisi nama-nama kardinal tertentu akan secara otomatis ditahan di kantor pengiriman. Pada akhirnya, penyensoran ini melindungi koresponden yang telah belajar dari ‘sumber-sumber yang dapat diandalakan’ dari pemilihan ini tentang kardinal tertentu yang tidak bisa menjadi paus baru, dan mengirim surta kawat mengumukan keterpilihannya. Klasik sekali, sensor menjadi begitu benar-benar memainkan perannya.

Nasib sebuah negara tergantung pada isi perut perdana menterinyaVoltaire. Nah, Ernest di Prancis di era Perdana Menteri Poincare, kenalah ia kritik, sasaran warta. Salah satunya tentang pose foto di pemakaman yang tampak tersenyum, itu bisa melukai banyak orang, atau bisa juga tak sengaja? “Apa jadinya jika Poincare benar-benar tertawa di pemakaman?” Semua orang bisa saja tertawa secara tak sengaja, lagi pula soal apa semua kegemparan ini berlangsung. Bisa dikatakan, tidak ada satu pun orang bernyawa di Prancis yang mendapat respek lebih besar daripada yang didapatkan orang-orang yang tak bernyawa. Marsekal Foch, Anatole France, Henri Barbuse, M. Poincare, atau Paus, tidak akan pernah – salah satu pun dari mereka – menerima penghormatan penuh seutuhnya dari semua orang yang akan mereka temui jika berkendara dua blok saja dari Champ-Elysees. Adalah spirit penghormatan besar terhadap orang-orang mati, dipadu dengan pentingnya Verdun sebagai kota martir, yang menimbulkan pertanyaan besar tentang apakah M. Poincare tertawa atau tidak sehingga menjadi keterkenalan nasional. Ia tiba-tiba diisyaratkan untuk melakukan semua hal yang ia sarankan sebagai pengamat.

Situasinya menghadirkan kesulitan.

Reportase tentang penjualan topi lucu melibat burung gereja. Para pembuat topi di Paris akhirnya menemukan kegunaan dari English Sparrow (burung gereja). Tapi bulu monyetnya yang sulit karena harus diimpor dari Afrika atau Amerika Selatan dan sekarang menjadi langka. Begitu pula laporan tentang penjual karpet yang bajakan, dari kulit harimau tapi palsu, kulit kambing! Harganya gila, dari 400 franc di mula, bisa deal di angka 40 franc! Ditulis dengan lucu karena para penjual imigran begitu gigih dan luar biasa menggugah, roda ekonomi jelata yang terus berputar.

Buku yang menciptakan badai adalah novel Batouala karya Rene Maran, warga kulit hitam pemenang Goncount Academy Prize sebesar 5,000 Franc untuk penulis muda tahun ini. Tentang imperalisme Prancis atas koloni-koloninya sebuah karya seni, kecuali prakatanya penuh propaganda. Yang kontroversi adalah betapa komunitas damai 10.000 orang kulit hitam di Afrika bisa berkurang menjadi 1.000 di bawah pemerintahan Prancis. Dibuka dengan kepala desa bernama Batouala terbangun pagi hari di gubugnya yang dingin dan ditempa tungu penghangat, lalu ditutup dengan usia senja dengan sendi-sendi yang kaku dicapik leopard yang lolos dari tombaknya, terbaring diam di lantai tanah gubugnya, warga desa sudah melupakannya karena ada kepala desa baru. Demam, sekarat dengan anjing kurap menjilati luka-lukanya.

Aperitif atau minuman pembuka adalah minuman yang tinggi, terang, berwarna merah atau kuning yang dikucurkan dari dua atau tiga botol oleh pelayan yang bergerak cepat dalam satu jam sebelum makan siang dan makan malam. Pemerintah mengeluarkan beberapa juta franc untuk pesta-pesta jalanan semacam itu. itu dipandang sebagai pembelanjaan yang bijak dalam hal untuk mengenang dan membangkitkan patriotisme. Bendera-bendera Prancis ada di mana-mana, kembang api meletus menghiasi angkasa di berbagai tempat sepanjang saat, ada pameran militer besar di Longchamps pada jam delapan pagi, inilah pesta jalanan.

Koran-koran Prancis menjual kolom-kolom berita mereka sebagaimana mereka lakukan pada ruang iklan. Maka Pemerintah membayar koran-koran dalam jumlah tertentu untuk mencetak berita-berita tentang pemerintah. Itu dipandang sebagai iklan pemerintah. Maka, Pemerintah adalah klien terbesar bagi koran-koran. Semua pemerintah di Eropa memiliki dana khusus untuk publisitas koran-koran yang tidak harus diperhitungkan. Tak peduli betapa idealistiknya politisi Eropa, suatu idealis kepercayaan adalah sama amannya dalam sistem sebagaimana orang buta tersandung-sandung dalam pabrik penggergajian.

Kehidupan malam di Eropa tidak sekadar deretan kafe-kafe. Itu adalah suatu bentuk penyakit aneh, selalu ada, dan terus dikipasi agar membara sejak era perang. Bara itu membakar seluruh generasi. Paris beradab dan menghibur. Berlin paling mesum, gawat, dan kejam. Madrid paling membosankan. Konstantinopel sangat memikat, dulunya. Di bar Cocteau lah kehidupan malam berada di citarasa tertinggi – takni hidup di malam hari – dibawa hingga ke titik didih. Sampanye sementara itu, adalah nama yang disakralkan di Prancis. Satu-satunya wine yang diperbolehkan hukum untuk disebut ‘anggur sampanye’ datang dari distrik yang sudah ditetapkan di sekitar Rheims di propinsi Champagne.

Kehidupan malam adalah hal yang menyenangkan. Tampaknya tidak ada alasan atau aturan yang mengontrolnya. Anda tidak bisa menemukannya saat Anda menginginkannya. Dan Anda tidak bisa menghindar darinya saat Anda tidak menginginkannya. Ini adalah produk Eropa.

Ada satu kalimat langsung yang mengingatkanku pada salah satu esai Seno Gumira Ajidarma di kumpulan tulisannya dalam ‘Tiada Ojek di Paris’ kalimat itu berbunyi “Jadi ini yang namanya Paris.” Yang sama beliau menjadi “Jadi ini yang namanya Jakarta.” Bagaimana seorang pendatang melihat Kuningan, disanggah sama beliau dan diseret ke kolong jembatan dan pemukiman kumuh. Berujar, inilah Jakarta yang sesungguhnya!

Studi tentang memperdayai orang asing kaya dalam mencari-cari kesenangan telah diturunkan menjadi karya seni bagus. Paris telah menjadi kiblat bagi para pemalsu, penipu, dan pembohong dalam setiap garis usaha keras mulai dari musik hingga tinju. Inilah ironi, artis yang terkenal yang tak dikenal di negeri sendiri. Artis dari Rusia, Amerika, Inggris menjadi sangat terkenal dan dihormati di Prancis, padahal di negaranya sendiri adalah artis antah, atau minimal kelas b. Ya seperti itulah, keterbatasan informasi beredar, menjadi jumawa di negeri asing, menjadi kerdil di negeri sendiri.

Rakyat Prancis selalu mendukung Pemerintah dalam upaya apa pun yang dilakukan terhadap musuh asing begitu pemerintah telah memulai. Itu adalah patriotisme menakjubkan dari Prancis. Semua orang Prancis adalah patriotik – dan hampir semua orang Prancis adalah politisi. Prang Prancis merasa mereka harus mutlak setia pada pemerintah namun mereka bisa saja mendepak pemerintah dan menempatkan pemerintah baru yang loyal setiap waktu tentunya. Akan sulit untuk menemukan detail arsitektur yang lebih populer pada wisatawan Eropa daripada gargoyle-gargoyle dari Notre Dame di Paris.

Catatan tentang seorang algojo hukuman mati, menjadi absurd karena tetangga tak tahu profesinya. Aneh bin nyeleneh. “Deibler sudah kembali. Ia sudah melakukan perjalanan jauh untuk pemerintah. Tapi, saya heran, apa sih yang dilakukan Deibler?” Inilah Kota penuh pahlawan, bagaimana lencana dan tropi dicipta sedemikian mudah demi gengsi dan rasa patriotisme, sayangnya ga bertahan lama karena jadi semacam kencana biasa bila terlampau sering dicetak.

Masa lalu sudah semati catatan pemutar rekaman musik Victoria yang rusak. Mengejar kemarin adalah pertunjukan untuk gelandangan, dan jika Anda harus membuktikan kembalilah ke front lama Anda.

Tidak mungkin menulis secara tidak berpihak tentang suatu negara jika Anda sedang mencintainya. Ernest sekalipun melempar banyak kritik, sebagai seorang ekspatriat di Paris begitu mencinta hiruk pikuk dan segala kekumuhan dan keindahan sudut-sudut ibu kota Prancis.

Reportase terbaik ini dicetak mini oleh penerbit indi, sekalipun kualitas cetak dan terjemahan ga semegah penerbit major, jelas kualitas seorang Ernest Hemingway dengan kalimat langsung dan menohok tanpa banyak basa-basi tetaplah berkualitas.
Anda tidak akan tahu apa Natal hingga Anda kehilangan dia di tahan yang asing.

Reportase-Reportase Terbaik: Biarlah Air Mengalir di Bawah Jembatan, dan Alkohol di Tenggorokanmu | by Ernest Hemingway | copyright 1922 | Penerjemah Tom Bapallaz | Editor Arturo | Penyelaras bahasa Dianve | Pemeriksa aksara Agus AHA | Desain sampul Bambang Hidayatullah | Tata letak teks Bambang Hidayatullah | Penerbit Ecosystem Publishing | ISBN 978-602-1527-47-4 | Cetakan I, 2017 | Skor: 4/5

Karawang, 200520 – Bill Withers – Let Me in Your Life

Thx to Angga Adi di Surabaya

Corona Ujian Tuhan by M. Quraish Shihab

Allah tidak menurunkan satu penyakit, kecuali menurunkan juga penyebab kesembuhannya, maka bertobatlah.”HR. Bukhari

Buku yang sangat singkat, padat, dan dinikmati kilat di meja kerja. Sejatinya saya sangat jarang membaca buku-buku reliji baik fiksi ataupun non fiksi, baik berdasar Al Quran dan Hadis maupun agama yang lain. Buku bentuk pdf ini muncul di grup WA – Bank Buku dan karena tipis dan bisa dibaca sambil lalu di waktu kerja, serta temanya yang umum dan aktual, jadinya cepat dilahap. Lumayan bergizi, ketimbang baca berita daring mending baca buku yang lebih kredibel dan nyaman.

Sebuah ungkapan ‘Manusia mengenal kebaikan sejak manusia mengenal keburukan. Bagaimana mengenal indah kedamaian kalau dia tidak mengenal kekacauan? Manusia mengenal kebajikan sejak adanya keburukan. Dan mengenal keluhuran dan kesetiaan sejak adanya iblis.’

Setiap muslim wajib percaya ‘Qada’ yakni ilmu Allah menyangkut segala sesuatu sebelum terjadinya dan ‘Qadar’ yakni terjadinya sesuatu dalam kenyataan sesuai dengan ilmu-Nya itu dan sesuai kehendak dan ukuran yang ditetapkan Allah baik kecil atau besar. Manusia kendati ditetapkan juga takdirnya, tetapi ia diberi pilihan dan memiliki kebebasan dalam ‘ruang takdir’ yang ditetapkan Allah itu. Manusia bisa menghindar takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Sayyidina Umar r.a. pernah berkata, “Kita menghindari takdir Allah, menuju takdir Allah yang lain.”

Seorang ahli bedah Prancis A. Carrel (1873-1941 M) peraih nobel kedokteran menulis dalam bukunya Pray (doa) tentang pengalamannya mengobati pasien. “Banyak di antara mereka mendapat kesembuhan melalui doa. Doa adalah suatu kejala keagamaan yang paling agung bagi manusia karena pada saat itu jiwa manusia terbang menuju Tuhannya.” Pentingnya power of belief (kekuatan kepercayaan).

Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Al Baqarah [2]: 2016). Jadi demikian jangan menggerutu atau protes pada Tuhan akibat bencana ini, mari cari hikmah di baliknya dan tetap bersyukur padaNya, karena Allah tak pernah berbuat zalim pada hamba-hamba-Nya sambil memahami dan memerhatikan tuntunan agama yang disampaikan oleh para ahli serta pengalaman mengalami situasinya.

Senang ada tanggapan bahwa corona itu tentara Allah, langsung disanggah salah. Bahwa Allah berfirman: “Tidak ada yang mengetahui tentara-tentara Tuhan-Mu kecuali Dia.” (QS. Al Muddaststir [74]: 31). Haha… masih ingat kan awal mula kemunduran corona, berita itu digaungkan seorang penceramah. Tak ada yang mengetahui jenis, hakikat, jumlah dan kekuatannya kecuali Allah.

Tahun 1720 terjadi wabah Tha’un yang membuat 100.000 orang meninggal di Marseille. Tahun 1820 terjadi di Indonesia, Thailand, dan Filipina yang mewafatkan puluhan ribu. 1920 ada flu Spanyol yang konon memakan korban jutaan orang. Jadi sekarang corona, sejauh ini sudah terdata 320.173 orang meninggal (Karawang, 19/05/20 jam 10:00 dari situs worldmeters.info/coronavirus/) dan akan terus bertambah. Di sisi lain, Allah Mahabaik, tentara Allah melakukan hal-hal yang baik, bukan buruk. Penyakit adalah buruk, jadi jelas ini bukan tentara Tuhan. “Siapa yang hendak beriman silakan, siapa yang hendak kufur silakan juga.”

Sungguh dalam menafsirkan sunnah, banyak ditemukan dan semestinya dihindari adalah menampilkan hadis-hadis yang yang belum tentu kesahihannya lalu memberi penafsiran yang menakutkan. Rasul SAW berpesan, “Menyampaikan yang menggembirakan bukan yang menakutkan, yang mempermudah bukan yang memberatkan, yang mendekatkan Allah bukan yang menjauhkan.”

Memang pembaruan pemikiran agama – menyangkut rinciannya – harus terus dilakukan karena agama Islam menyatakan bahwa ajarannya selalu selaras dengan setiap waktu dan tempat. Teks-teks agama (AL Quran dan hadis) terbatas jumlahnya dan tak berkembang lagi, sedang kasus-kasus yang terjadi dan dihadapi manusia demikian banyak dan terus bertambah. Diperlukan apa yang namanya ijtihad yakni upaya pemikiran sungguh-sungguh untuk menemukan tuntunan dengan memerhatikan teks keagamaan dan kaidah-kaidah umum yang telah dirumuskan para ahli. Bukan sekadar tanya Google yang terlalu liar. Terutama betapa bahaya informasi yang disampaikan oleh orang yang disebut ustaz atau mubalig yang sekadar mengandalkan internet atau satu dua kitab lama. Contoh paling aktual, penangguhan sholat Jumat.

Ketetapan ini jelas sudah dikaji dan telaah mendalam, serta dikeluarkan langsung oleh Mejelis Ulama Indonesia (MUI). Kaidah ini berdasar yang dinamai maqashid asy-syariah yang mengandung penjelasan tentang maksud dan kehadiran agama. Ada lima ketentuan pokok agama yang hadir untuk memelihara: agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Semua yang mendukung tujuan tersebut diperintahkan dan didukung oleh agama dalam berbagai tingkat dukungan dan semua yang mengakibatkan terabaikannya salah satu dari tujuan tersebut terlarang oleh agama dalam berbagai tingkat larangan. Karena para ahli sudah merumuskan larangan berkumpulnya jumlah besar di satu tempat, sehingga timbul potensi tertular Covid-19 yang mengakibat kematian, maka semua perhimpunan yang mengarah kepada dugaan kematian harus dilarang agama. Di zaman Nabi SAW pernah ada hujan lebat yang mengakibat jalan becek menuju masjid maka muazin diperintahkan mengganti redaksi ajakan ke masjid dari ‘hayya ‘ala ash-shalat’ diganti dengan ‘shallu fi buyutikum’ (shalatlah di rumah masing-masing). Jadi bagaimana hukumnya meninggalkan salat Jumat tiga kali berturut? Jawabannya ancaman ditutup hatinya adalah yang meninggalkan tanpa uzur, sedangkan yang beruzur diperbolehkan selama uzur masih melekat pada dirinya. Wallahu a’lam.

Virus Covid-19 yang melanda dunia harusnya lebih memperkokoh hubungan kemanusiaan kita, karena kita semua adalah manusia yang dari satu turunan Adam dan Hawa. Saling membantu dan mengasihi. Udah pada bayar zakat belum? Tinggal empat hari nih, monggo gegas. Zakat merupakan kewajiban karena apa yang dihasilkan seseorang bukan merupakan usaha sendiri, ada pihak lain yang mendukung. Manusia hanya mengelolanya, bantuan yang diberi bukan terbatas materi, tapi juga mencakup tenaga dan pikiran serta dukungan moral, bisa dalam bentuk mengabarkan semangat optimism serta informasi yang menguatkan ketegaran menghadapi bencana. Betapa pun sulitnya keadaan, kita harus yakin ada hikmah sekaligus jalan keluar. Firman Allah: “Sesungguhnya bersma kesulitan terdapat dua kemudahan.” (QS. Asy-Syarh [94]: 5-6)

Jangan menakut-nakuti umat. Contoh bentar lagi kiamat, akibat virus ini ibadah Umrah dan (terancam) Haji ditutup, well ini bukan yang pertama. Dalam catatan resmi Kerajaan Arab Saudi, pernah 40 kali ibadah haji dibatalkan karena satu dan sebab lain. Serangan kelompok Qaramithah ke Mekkah yang membunuh siapa pun yang melakukan tawaf, serta mencuri Hajar Aswad. Yaitu tahun 317 H dan terhenti beberapa tahun kemudian. Lalu tahun 357 H ada wabah yang menyerang Mekkah, tahun 419 H karena biaya yang tinggi, lalu perang yang terjadi antara tahun 654-658 H. Tahun 1213 H, ada ekspedisi militer Prancis. Bukti bahwa kewajiban itu bersyarat dengan kemampuan melaksanakannya. QS. Ali Imran [3]: 97.

Pandemik corona mengubah banyak hal dalam budaya seperti pakai masker, sering cuci tangan, tak bersentuhan dengan orang lain, jaga jarak, salat tarawih, iktikaf, silaturahmi mudik, dst. Harus diakui bulan Puasa tahun ini sangat berbeda, tak pernah kusangka kita akan mengalami era wabah yang dulu hanya bisa kita baca di buku sejarah. Tahun 2020 akan dibaca anak-cucu-cicit kita, jangan konyol. Bagi kalian yang masih bisa membaca ulasan blog ini, selamat kalian masih selamat dari maut corona. Tetap pertahankan, tetap jaga kesehatan dan keselamatan. Ikuti anjuran positif, kurang dari seminggu Lebaran. #DiRumahAja #JanganMudik dan tetap #Ngopi

Kehidupan manusia suka atau tidak, mengandung penderitaan, kesedihan, dan kegagalan di samping kegembiraan, prestasi, dan keberhasilan. Ujian adalah keniscayaan hidup. Tetap bersyukur dan tentu saja tetaplah waras, bersama keluarga.

Corona Ujian Tuhan: Sikap Muslim Menghadapinya | by M. Quraish Shihab | Terbit Pertama, April 2020 | Penerbit Lentera Hati | Penyunting Mutimmatun Nadhifah | Pewajah isi @nurhasanahridwan12 | Perancang sampul @nurhasanahridwan12 | 136 hlm.; 10 x 14.5 cm | ISBN 978-623-7713-26-5 (pdf) | Skor: 3/5

Karawang, 190520 – Bill Withers – Friend of Mine (live)

Teman terbaik sepanjang waktu adalah buku

File bisa diunduh di sini https://play.google.com/store/books/details?id=siXfDwAAQBAJ

Reuni Hitam di Pemakaman Sang Pelatih

Bleachers by John Grisham

Bagaimana kau bisa tidak merindukan Rake begitu kau bermain untuknya? Aku melihat wajahnya setiap hari, aku mendengar suaranya. Aku bisa mencium bau keringatnya. Aku bisa merasakan dia menghantamku, tanpa bantalan. Aku bisa menirukan geramannya, gerutuannya, omelannya. Aku ingat cerita-ceritanya, ceramah-ceramahnya, pelajaran-pelajarannya. Aku ingat keempat puluh permainan dan ketiga puluh delapan permainan yang kujalani sewaktu masih mengenakan seragam. Ayahku meninggal empat tahun yang lalu dan aku sangat menyayanginya, tapi, dan ini sulit dikatakan, Eddie Rake lebih berpengaruh bagiku daripada ayahku sendiri.” – Nat

Tidak ada yang menyayangi Rake seperti Silo. Apa yang terlitas pertama kali saat selesai menikmati Bleachers? Sir Alex Ferguson. Seorang pelatih kenamaan yang bertahan lama di Manchester United dalam liga paling keras sedunia English Premier League, metode pelatihnya yang keras sehingga menimbulkan banyak konfliks dalam tim. Hubungan dengan Roy Keane yang buruk, bisa sangat mirip dengan bintang lapangan Neely. Yah, karena saya tak mengenal football Amerika, dan sangat akrab dengan football maka pembandingnya sepak bola saja.

Kisahnya mengambil sudut pandang Neely, mantan kapten football Amerika yang sudah lima belas tahun tak kembali ke Messina. Hari Selasa ia menelusuri lapangan yang membesarkan namanya. Kabar sang pelatih terhebat Eddie Rake sekarat telah mengetuk hatinya, dan sebagian mantan anak asuh untuk pulang. “Lima belas tahun, Pal…” Jadilah ini seperti reuni hitam, dibuka dengan hari Selasa, ditutup pada hari Jumat, hari pemakaman. Selain setting waktu yang minim hanya empat hari, setting tempat juga minim: bangku penonton, kafe, pemakaman, mobil, dst. Novel ini mengandalkan kekuatan dialog dan narasi sehingga hujaman kata harus benar-benar memikat untuk terus bertahan sepanjang 200 halaman. Kubaca kilat dalam dua hari Minggu malam setelah tarawih, kutuntaskan Senin sore sepulang kerja (100520). Tipis, dengan pacu kata kencang.

Neely Crenshaw bertemu dahulu dengan Paul Curry di bangku penonton Rake Field mengenang kenang. Mereka duduk terpisah sejauh tiga kaki, keduanya menatap ke kejauhan, bercakap-cakap tapi sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu pembaca diantar memutar memori itu. Di kelas Sembilan Rake sendiri mengawasi latihan kita dan kita hafal keempat puluh play yang ada di bukunya. Bahkan dalam tidur. Hari-hari jaya kita hilang dalam sekejap mata. “Ayolah, hentikan. Nikmati saja kenangannya.”

Mereka juga membuka kelabu masa lalu tentang pilihan kuliah pasca kelulusan. “Aku tidak pernah memberitahu siapa pun hingga sekarang. Benar-benar bisnis kotor… setiap sekolah menawarkan uang tunai, Paul, jangan naïf. Itu bagian dari permainan.” Bagaimana pilihan Neely ke kampus Tech melukai beberapa pihak. Ternyata dibalik itu, ada uang tunai yang terselip. “Kenapa menabung kalau kau berada dalam daftar gaji?” Anak muda yang lulus tahun 1987 dengan uang melimpah. Sapaan saling dilontarkan, penghinaan dibalas. Begitu banyak yang tertinggal di antara mereka berdua hingga tidak satu pun ingin memulainya.

Lalu muncul alumni lain yang lebih muda, bintang terakhir arahan Rake. Randy Jaeger, “Kapan kau selesai? Tanya Neely. / “Sembilan puluh tiga.” / “Dan mereka memecatnya tahun__?” / “Sembilan puluh dua, tahun seniorku. Aku salah satu kapten.” Beda angkatan ini lalu mengupas apa saja waktu-waktu kenang sang pelatih. Bahas apa saja. Musim pertandingan tanpa kebobolan gawang satu kali membutuhkan waktu semenit untuk dicerna, tahun-tahun yang lebih mula diapungkan. Dan di akhir karier kepelatihan koran-koran mencetak berita besar di headline. “… Selama tiga puluh empat tahun ia melatih tujuh ratus empat belas pemain. Itu judul artikelnya – Eddie Rake dan Ketujuh Ratus Spartan.”

Muncul pula angkatan yang lebih tua, seorang polisi Mal, seangkatan lainnya bankir Curry dan sebagainya. Neely mengetahui legendanya, bukan orangnya. Bangku lapangan itu di malam Rake sekarat karena kanker menjadi malam nostalgia. Bagaimana Rake, selalu merupakan pakar motivator, menggunakan penundaan itu untuk memicu semangat pasukannya. Rake memiliki masalah dengan bintang. Kita semua mengetahuinya. Kalau kau memenangkan terlalu banyak piala, membuat rekor terlalu banyak, Rake iri. Sesederhana itu. Ia melatih kita seperti anjing dan ingin setiap orang dari kita menjadi pemain hebat. “Rasanya seperti baru kemarin, tapi kalau dipikir lagi rasanya seperti mimpi.”

Messina memiliki para pahlawannya, dan mereka diharapkan menikmati nostalgianya. “Hak untuk membual, apalagi yang bisa mereka bualkan?” Setiap Jumat malam menjadi altar pemujaan sekaligus hujatan di lapangan football yang keras. Di kota seukuran Messina, bakat datang berdasarkan siklus. Saat-saat puncak dengan Neely, Silo, Paul, Alonzo Taylor, dan empat penebang kayu yang brutal. Skornya sangat bagus. “Aku tak ingin membicarakan football, oke? Aku tak ingin membicarakan betapa hebatnya diriku dulu.”

Sejatinya ada apa dengan pelatih legendaris ini sehingga dipecat secara tak hormat? Kita tahu dalam kupasan lembar hari berikutnya. Neely ngopi di kafe yang memajang posternya di atas kasir. “Tidak ada yang membencimu Neely, kau jagoan Amerika.” Pada waktu itu ia telah melatih Spartan selama lebih dari tiga dekade dan sudah melihat segalanya. Gelar terakhirnya yang ketiga belas, diraihnya tahun 1987. Rake terkenal akan gerutuannya, yang selalu bisa didengar. Tahun 1992, di akhir musim yang berakhir buruk Rake melakukan training yang lebih keras di hari Minggu pagi, hari suci yang harusnya di gereja itu malah berakhir bencana karena seorang pemain tewas kala latihan. Kota terpecah, situasi memburuk. Menyedihkan untuk Scotty, dan menyedihkan karena era Rake tampaknya telah berakhir.

Era akhir itu pilu, Rake dipuja dan dibenci. Waktu berjalan, pertandingan tetap ada. Dan menang adalah segalanya. Situasi tampaknya bisa oke ketika kita menang, tapi satu kekalahan itu telah memecah belah kota hingga bertahun-tahun. “Isu selalu bisa dipercaya di sini, terutama tentang Rake.”

Rake lalu menepi, jarang muncul di keramaian, lebih dekat dengan keluarga. Dan salah satu mantan anak didik Nat yang membuka toko buku di Messina membuka pintu khusus buatnya. Ngopi dan baca buku. Buku-buku bacaan karya Raymond Chandler, Dashiell Hammett, Elmore Leonard. Menjadi bahan diskusi, menghabiskan masa tua. Tersisih, tapi tetap dikenang.

Di toko buku itulah Neely lalu datang di hari berikutnya. Bertemu rekan setim Nat yang antusias menyambut pahlawan yang pulang. Semangat itu perlu kawan, usia tua adalah keniscayaan. Ada pelanggan seratus sepuluh tahun usianya, dan ia menyukai novel koboi erotis. Pikirkanlah. Kita belum separuhnya, jangan muram. Pameran itu merupakan penghargaan bagi pelatih yang cemerlang dan pemain yang berdedikasi, dan pengingat yang menyedihkan mengenai keadaan yang menyedihkan dulu.

Waktu berjalan, hal-hal biasa bisa saja berubah. Football adalah raja dan ini tidak berubah. Football membawa kemegahan dan membayar tagihan-taguhan dan hanya itu. Kariermu yang meriah hanya akan menjadi catatan kaki, semua gadis kecil yang manis akan menjadi ibu-ibu. Barang SMU, barang anak-anak. Hanya sedikit yang berubah. Pelatih-pelatih yang berbeda, pemain-pemain yang berbeda, bocah-bocah yang berbeda dalam band, tetapi mereka masih tetap Spartan di Rake Field dengan Rabbit di atas mesin pemotong rumput dan kegugupan menghadapi Jumat malam.

Hari Kamis malam, setelah pengumuman duka para mantan anak didik itu berkumpul di bangku penonton Rake Field. Nat membawa boom-box lalu menyalakan rekaman kaset Buck Coffey menyiarkan pertandingan kejuaraan ’87. Kenangan komentar laga paling dramatis perebutan juara. Dari tertinggal jauh di separuh babak, lalu membalikkan keadaan dengan kejanggalan tak ada pelatih di bangku. Apa sejatinya yang terjadi di ruang ganti dibuka dengan dahsyat. Jadi ingat segala pertandingan sepak bola yang membalik di babak kedua: Manchester United tahun 99, Liverpool tahun 2005, atau semacam kejadian ajaib itulah.

Kita memakamkan penduduk kita yang paling terkenal. Neely lalu mengajak Cameron ke acara pemakaman itu. “Ada sesuatu yang ajaib di cinta pertama Cameron, sesuatu yang kurindukan selamanya.” Cinta pertamanya yang terluka. Ia sudah menikah dan hidup bahagia dengan orang lain. Permintaan maaf Neely karena mencampakkannya, serta kehidupannya sebagai karyawan real estat yang berantakan, dan bagaimana pacar yang merebutnya kini sengsara di Hollywood, sebagai pemain film kelas B. Ahh… Menjadi pahlawan yang terlupakan tidaklah mudah.

Acara perpisahan dengan legenda, penghomatan terakhir Eddi Rake ditulis dengan gagah luar biasa menyentuh. Tidak ada yang tergesa-gesa, ini saat-saat yang akan dipuja dan dikenang oleh Messina. Neely duduk diantara Paul Curry dan Silo Mooney, bersama ketiga puluh anggota regu 1987 lainnya, dua di antara mereka telah meninggal, enam menghilang, dan sisanya tak bisa hadir. Ada tiga orang yang memberi semacam pidato, tiga bintang di tiga angkatan yang berbeda. Seorang pekerja di biro hukum yang pintar bicara di muka umum, lalu pendeta yang sudah biasa di mimbar. Dan seorang bintang yang menghilang. Ia mendapat pekerjaan itu karena tidak ada orang lain yang menginginkannya, ia melatih di sini selama tiga puluh empat tahun, memenangkan lebih dari empat ratus pertandingan, meraih tiga belas gelar negara bagian, dan kita mengetahui angka-nagka sisanya.

Prinsipnya sederhana, tetap berpegang pada hal-hal mendasar, dan bekerja tanpa henti hingga kau bisa melakukannya dengan sempurna. Kita bukan orang-orang hebat, kita mungkin orang-orang baik, jujur, adil, bekerja keras, setia, ramah, dermawan, dan sangat sopan, atau mungkin sebaliknya. Tapi kita tidak dianggap sebagai orang hebat. Kehebatan jarang muncul sehingga sewaktu melihatnya kita ingin menyentuhnya. Eddie Rake memungkinkan kita para pemain dan penggemar untuk menyentuh kehebatan. Walau sangat tangguh, ia luar biasa peka terhadap penderitaan orang lain.

Masa lalu akhirnya benar-benar berlalu sekarang, berlalu bersama Rake. Neely bosan dengan kenangan dan mimpi-mimpi yang gagal, menyerahlah, katanya pada diri sendiri. Kau tak akan pernah menjadi pahlawan lagi. Hari-hari itu telah berakhir sekarang. “Aku menyayangi Eddie Rake melebihi siapa pun dalam hidupku. Ia hadir dalam sidang ketika mereka memvonisku. Aku menghancurkan hidupku, dan aku malu. Aku menghancurkan hati kedua orang tuaku, dan aku merasa muak karenanya…” Jesse yang malang mengingat masa emas itu.

John Grisham tak pernah mengecewakan. Buku tipis ini juga sama dahsyatnya dengan buku lain. temanya bervariasi, dari pengadilan, kenangan masa kecil di perkebunan kapas, boikot natal, kumpulan cerita pendek di kotanya sampai sebuah memoar samar nan fiktif pelatih Rake ini. Sungguh luar biasa penulis ini, bagaimana memacu andrenalin pembaca menuju puncak malam pemakaman, semakin lembar menipis semakin membikin penasaran. Seperti kenyataan malam kejayaan 87 itu, ternyata ada tragedi pahit antara bintang utama dan pelatih. Dikuak dengan dramatis.

Lebih dahsyat Neely sebagai penutur narasi malah menjadi orang yang menutup sambutan kalimat perpisahan. Seperti yang disampaikan di mula, Neely membenci Rake karena sebab yang jelas, ia bintang utama sekaligus mata pisau paling tajam untuk menyampai kebencian. Pelatih Rake tidak mudah disayangi, dan saat kau bermain di sini, kau benar-benar tidak menyukai dia. Tetapi sesudah kau pergi, sesudah meninggalkan tempat ini, sesudah kau didepak beberapa kali di sana-sini, menghadapi tentangan, beberapa kegagalan, dikalahkan hidup, kau segera menyadari betapa pentingnya Pelatih Rake dulu dan sekarang… begitu kau jauh dari pelatih Rake, kau merindukannya. Bayangkan saja, lima belas tahun tak mau jumpa!

Rake memang jago dalam menyampaikan pesan terakhir. Rake memang jago memanipulasi para pemainnya untuk yang terakhir kalinya.

Keberhasilan bukanlah kebetulan.

Sang Pelatih | by John Grisham | Diterjemahkan dari Bleachers | Copyright 2003 | Alihbahasa B. Sendra Tanuwidjaja | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 04.007 | Cetakan pertama, Juli 2004 | 208 hlm.; 18 cm | ISBN 9789-22-0741-4 | Skor: 5/5

Untuk Ty, dan anak-anak luar biasa yang bermain football dengannya di SMU; pelatih mereka yang hebat; dan kenangan tentang dua gelar Negara bagian

Karawang, 180520 – 230520 – Bill Withers – Lovely Day & The Best You Can

Love Story by Erich Segal

Oliver: “Jenny, kita sudah sah menjadi suami istri.”

Jenny: “Yeah, mulai sekarang aku boleh bawel.”

Uang THR tahun ini, sebagian saya belikan buku, seperti biasa (ketimbang beli baju) melakukan enam kali transaksi beli buku. Transaksi kelima dan keenam, bingkisan kubuka (Ciprut yang #unboxing) malam minggu kemarin (160520) dari Bekasi (Raden Beben) dan Surabaya (Angga Adi) berisi total 16 buku. Kebetulan yang paling tipis buku ini, jadi gegas kubaca selepas nonton bola Bundesliga, ya ampun saya menurunkan kasta nonton live Dortmund versus Schalke, di pergantian hari buku berisi 160 halaman ini sudah selesai baca. Langsung kuulas sekalian, karena waktu melimpah di dini hari begadang ini. Inilah kisah cinta sejati, seperti pembukanya yang berkata pilu, endingnya luluh lantak dalam tangis. Bisa jadi cerita cinta pedih seperti ini sudah banyak dibuat saat ini, tapi buku pertama Erich Segal yang kubaca ini dituturkan dengan kelenturan kata yang menyeset emosi, dan lelaki mana yang tak menangis di lobi rumah sakit dalam pelukan ayah itu? Setegar Hercules-pun akan sesenggukan.

Kisahnya tentang pasangan muda yang tampak sungguh ideal. Oliver Barrett IV adalah mahasiswa Havard yang kaya, keturunan Barrett yang tersohor, jurusan ilmu sosial. Atilt hoki es yang menjadi andalan kampus. Sungguh gambaran pria sempurna untuk menjadi pasangan hidup. Jennifer Cavilleri adalah mahasiswi kere, anak penjual kue dari Cranston, Rhode Island, sebuah kota di selatan Boston, keturuan Italia. Kuliah musik di Radcliffe, berkaca mata, dan tentu saja cerdas. Ini kisah sedih, dan pembaca sudah dikasih tahu di kalimat pertama bahwa, Apa yang bisa kita ceritakan mengenai gadis dua puluh lima tahun yang telah tiada?

Perkenalan mereka tampak biasa tapi dibalut kalimat puitik, Oliver meminjam buku jelang ujian di perpustakaan, Jenny di sana memancing tanya, “Hey mana sopan santunmu preppie?” Dijawab “Kenapa kau begitu yakin aku dari prep school?” Ditimpali, “Tampangmu bodoh dan kaya.” Haha… dibalas lagi “Kau keliru sebenarnya aku cerdas dan miskin.” Dan kena jab, “Oh, jangan menfada-ada, aku cerdas dan msikin.” Justru dari saling sindir itulah hubungan berlanjut panjang.

Oliver anak orang kaya, keturuan keempat Barrett, hubungan dengan ayahnya Oliver Barrett III ga akrab. Memanggil Sir, nurut dalam tekanan dan beban piala, karena sudah tradisi keluarga akan prestasi, bukan sekadar akademi tapi juga olahraga. “Ada yang bisa dibantu?” Adalah keluarga jetset yang sepertinya tak peduli materi, karena melimpah. Keluarga kaya raya pada umumnya yang banyak menuntut sukses anak-anaknya. “Demi aku Oliver, aku belum pernah minta apa pun darimu, please.”

Sementara Jenny adalah keluarga biasa, kepulangan disambut mewah, dan betapa ia sungguh akrab sama ayahnya, karena ibunya sudah meninggal dunia dalam kecelakaan, hungan ayah-putri ini begitu erat dan kuat. Memanggil ayahnya dengan nama langsung, Phil. Menjadi kikuk Ollie akhirnya ketika mengikuti. “Ya, Phil, Sir.” Dan ketika ditegur, makin canggung dan tetap menjawab, “Baik, Phil, Sir.”

Bak cerita sinetron, hubungan ini tak dapat restu si keluarga kaya. Cinta sejati Ollie harus diperjuang, maka selepas lulus S1, mereka menikah. Karena keduanya beda keyakinan maka menikah di tengah-tengah kepercayaan, bangunan kuno Phillips Brokes House, di utara Harvard Yard, dengan pendeta Unitarian. Hidup pas-pasan di apartemen murah, Jenny mengajar, Ollie bekerja sambil lanjut S2 hukum. Kehidupan pasangan muda penuh perjuangan. Hubungan dengan ayahnya sudah putus, sehingga mereka benar-benar berusaha mandiri, berjuang bersama. Cinta mereka, saling menguatkan. Sungguh romantis.

Oliver lulus pasca sarjana hukum, bukan nomor satu tapi nomor tiga, tetap di Law Review. Namun rasa penasaran Jenny, akan siapa yang bisa mengalahkan suaminya menjadi lucu ketika diberitahukan di atas kapal dan ia yang kecewa malah melompat di laut. Ternyata nomor satunya adalah seorang pria kutu buku, introvert yang luar biasa pasif bersosial, dan yang kedua cewek cerdas dengan talenta tinggi. Sebuah kewajaran. Dengan ijazah barunya, ia memiliki peluang karier lebih luas, dengan berbagai pertimbangan dan tawaran yang masuk, Oliver setelah diskusi dengan istrinya mengambil kesempatan kerja di firma hukum Jonas and Marsh di New York dengan gaji tinggi 1.800 dollar. Ekomoni mereka lumayan mapan, Jenny mulai menata harap, dan Ollie ikut club elite. Bencana tiba secepat melesatnya karier mereka ketika program memiliki anak dilakukan. Berbagai percobaan sudah dilakukan, lalu konsultasi ke dokter kandungan. “Rasanya seperti jatuh dari tebing secara slow motion.”

Hasil yang diterima mencengangkan. Bukan hanya gagal memiliki anak, tapi ada masalah pelik yang sungguh berat harus disampaikan. Oliver sempat berujar, yang penting saling mencintai dan ikrar setia. Masalahnya ini menyangkut nyawa. Kesedihan membuncah, ia tak kuasa menyampaikan kepada orang terkasih. Rencana hidup yang tertunda sempat diapungkan, salah satunya harapan Jenny ke kota Romantis Paris, karena dulu sempat mau ambil kursus musik khusus ke sana, tapi gagal demi pernikahan dengannya. Dua tiket diambil, dan rasanya ia tak tega menyampaikan kabar duka itu, sampai akhirnya, fakta mau tak mau mengapung, dalam duka dan kepedihan yang teramat. Ini baru Love Story sejati. Menikam jantung dengan hujaman keras, tak hanya sekali, bertubi dalam duka dan segala kandungan di dalamnya. “Nomor berapa C Minor Piano Concerto? Dulu aku hapal.”

Harus diakui, kisahnya awal terasa klise. Pasangan beda kasta, tampan dan cerdas bersatu lalu mengarungi perjuangan bahtera pernikahan, lalu ekonomi membaik dan timbul benih cerahnya masa depan. Tikaman itu dari vonis dokter, sampai halaman berakhir adalah kesedihan akut. Ditulis dengan kenyamanan dan pemilihan (terjemahan) diksi yang bagus sehingga kita turut terkoyak. Jelas ini tak semanis yang dikira. “Seandainya aku tak berjanji pada Jenny untuk bersikap tabah.

Cerita bagus memang harus menjual konflik berat, lalu pemecahan yang pas. Semakin runyam masalah yang disodorkan semakin asyik diikuti. Love Story memunculkan masalah dengan tikaman yang dalam, bagi pecinta romcom ini alur yang umum. Adegan akhir menantu-mertua di ruang rokok solarium bisa jadi sangat menyedihkan, tapi kesedihan maksimal justru di kalimat-kalimat akhir di lobi. Saya turut menitikan air mata, walau kutahan-tahan juga karena itu sudah menghadapi lembar akhir. Drama cinta memang tak rumit, drama cinta memang harus alami. Dan kepedihan Oliver jelas terasa sangat mendalam, dan nyata. Pernah menangis di rumah sakit? Ya. pernah melelehkan air mata membuncah di pelukan orang tua? Ya. Oliver adalah gambaran duka yang sempurna.

Dan kemudian aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan di depan ayahku, apalagi di dalam pelukannya. Aku menangis.

Cinta berarti tak perlu minta maaf.

Kisah Cinta | by Erich Segal | Diterjemahkan dari Love Story | Copyright 1970 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | GM 402 95 135 | Alih bahasa Hendarto Setiadi | Jakarta, Januari 1995 | Cetakan ketujuh, Juli 2001 | 160 hlm; 18 cm | ISBN 978-605-135-4 | Skor: 5/5

Untuk Sylvia Herscher dan John Flaxman

…namque… solebatis.

Meas esse aliquid putare nuqas

Karawang, 170520 – Patti Austin – Baby, Come to Me

A Fall From Grace: Jatuh yang Janggal

Kau tiba-tiba ingin menjadi pahlawan dan mengusut kasus?” – Rory

Tentang pengacara muda yang menangani kasus pembunuhan. Anehnya, mayat korban tak ditemukan. Jadi ini seolah menelusur kabut. Kamu melakukan penghajaran, tapi tubuh korban hajar menghilang. Ide absurd macam apa ini? Kalau diibaratkan kurva, A Fall seperti sebuah pendakian gunung dimulai dari bukit, naik-naik sampai puncak adegan pukulan bisbol, lalu menurun, terus turun, dan terjun bebas saat kejutan dibuka, terperosok jurang. Agak konyol, sangat disayangkan endingnya terkesan mengada. Terasa dibuat-buat.

Kisahnya tentang pasangan muda berkulit keling, pengacara hijau Jasmine Bryant (Bresha Webb) bekerja di firma hukum Negara, pasangan polisi Jordan Bryant (Matthew Law). Tinggal di Virginia, sepertinya memiliki masa depan cerah dengan karier dan pasangan yang saling kasih. Film dibuka dengan kasus di sebuah rumah, ada nenek frustasi di puncak mengancam terjun bunuh diri, Jordan sudah di jendela untuk menolong, naas misi itu gagal. Sang nenek yang memiliki persoalan penik tak kuasa menahan, dan ia loncat. Skoring masuk, judul muncul.

Jasmine mendapat tugas dari bosnya Rory (dimainkan langsung sang kreator langsung Tyler Perry) untuk menangani kasus pembunuhan, ia memintanya mendatangi tersangka lalu meminta pengakuan. Terlihat kasus mudah, karena Grace Waters (Crystal Fox) menuju ke keputusan itu, ia hanya meminta dipenjara di dekat domisili anaknya. Saat Jasmine akhirnya bertemu langsung dengan Grace, ternyata tak semudah itu. Pengakuan itu hampir dilakukan, tapi Grace yang faceless malah curhat.

Dari catatan Negara, Grace adalah warga Negara yang ideal, baik hati dan tak sombong, melakukan pelayanan dan bernyayi untuk abdi gereja, menjadi orang tua yang manis, memasak untuk yatim, dst. Hanya kasus dugaan pembunuhan inilah yang mengganjal janggal (entah kenapa kasus bank ga disebut Jasmine). Maka Jasmine mengata akan meminta keringanan 15 tahun dengan pengurangan masa tahanan, kalau siap. Tidak, justru Grace ngoceh akan kasih tuhan. Dan hancurnya masa hidupnya secara instan.

Jasmine lalu menyelidiki, datang ke sobat terdekatnya Sarah (Phylicia Rashad). Darinya kita tahu, awal mula kasus ini. Awal mula sekali kenapa Grace bisa berubah radikal. Grace adalah janda, mantan suaminya menikah lagi dengan gadis muda, hal yang membuatnya patah hati dan pesimis. Sarah lalu mencoba menyelamatkan hari, ia tak bisa menyelamatkan masa lalu, tapi ia bisa menawarkan masa depan, ia memberinya kartu nama/undangan ke pameran fotografi Shannon (Mechad Brooks), sang fotografer menyambutnya, menatap damba, berkenalan, dan memberinya harap. Jadi sarah merasa turut bersalah telah menjadi koneksi pasangan itu. Mengenakan kalung sebuah simbol. Penjelajah Afrika yang mencinta nenek-nenek, well catet yes.

Dari kunjungan berikutnya, Jasmine yang dipaksa bosnya meminta pengakuan, dan nyaris diiyakan malah menentang. Ada yang janggal, entah apa, harus dikorek, harus ditelusur. Maka kepada Grace ia memohon kisah selengkapnya. Yes, kita akan maju ke pengadilan. Alur lalu mundur, di awal mula lagi. Grace yang merasa sudah tua malu akan cinta menggebu khas remaja, pasca kenalan sang fotografer mengajak makan malam, ngobrol kencan menghabiskan waktu hingga larut, datang ke kantor bank-nya membawa bunga, mengucap kata-kata romantis, sungguh segala tindak cinta liar khas anak muda menghantamnya dengan keras. Grace merasa terberkati mendapat Shannon yang lembut dan romantis, sehingga ia bisa move on kilat dan menatap masa depan dengan lebih bersemangat.

Maka suatu malam di kebun bunga penuh kunang-kunang, Shannon berjongkok melamarnya, tak ada kuasa menolak. Romantisnya mengalahkan kisah cinta pujangga yang puitik, tapi justru terlalu romantis malah adalah kejanggalan belaka. Apalah, pada akhirnya menikahlah mereka, pasangan yang tak muda lagi ini memenuhi beranda waktu dengan kebahagiaan. Perkenalan singkat, pacaran singkat, menikah kilat. Mungkin ada sisi positifnya kalau cinta itu murni, tapi di sini enggak. Ada motif terselubung, saya sudah curiga sih dari gerak-geriknya. Ini pasti ada niat jahat, lelaki bejat sudah tampak dari tatapan mata. Seperti kebahagiaan yang datang mendadak, kesedihan menyapa cepat pula.

Benar saja, Grace suatu hari dipanggil bos dan pemangku direksi bank. Ia dipecat dengan tak hormat karena melakukan transaksi transfer ilegal ratusan ribu dollar ke akunnya, konyol sekali sih kalau dengan sadar melakukannya. Ia diminta mengembalikan uangnya atau dituntut penjara. Shock pertama ini berlanjut ketika diusut lebih lanjut, rumah yang dibeli dengan kerja keras dan tabungan ketat itu dihipotek, jadi akan disita. Hah, kok bisa ia merasa tak melakukan, ia merasa tak menandatangani, oh sudah disahkan notaris, dan ketika ke alamat notaris, kantor itu palsu. Surat menumpuk, dan kosong.

Kalut, benar-benar hancur segalanya. Langit runtuh, segala-galanya ambyar. Maka ia meminta pihak bank memutar rekaman cctv kala transaksi terjadi. Bukan kejutanlah, pelakuknya adalah suaminya. Marah, sangat marah. Tak ada cinta ternyata, ia hanya memanfaatkannya. Ketika uang diminta, ga bisa. Ia harus membayar utang, maka hampa sudah rasa itu, jeruji besi siap memantri. Maka ketika suatu hari Shannon membawa gadis lain ke rumah, wikwik dan menggangap Grace sekadar pengganggu, terjadilah kasus yang menghinggapi titik utama film ini. Grace memukul suaminya dengan tongkat bisbol berkali-kali, dengan keras nan mematikan. Grace yang kalut menelpon sahabatnya, bahwa ia telah membunuh suaminya lalu kabur.

Ketika kembali ke masa kini, jadilah ¼ akhir film adalah persidangan. Kurang menggigit karena sejatinya tampak aneh, sungguh aneh, kasus pembunuhan tapi mayatnya tak ditemukan. Jasmine yang pengacara muda tampak menolak nyerah, melawan jaksa pengalaman. Bos Rory akan memecatnya pasca kasus ditutup, memalukan firma, suaminya tetap mendukung karier istrinya. Sampai akhirnya saksi kunci dipanggil, Sarah yang bijak menyatakan kebaikan Grace dan dengan sangat terpaksa meminta maaf, pengakuan telpon pasca kejadian menenggelamkan segalanya. Dan sisa menit kejut, terasa hambar. Sangat hambar, sayang sekali.

Terlihat sekali ini film budget mini, banyak adegan tampak kasar. Tergesa, seolah editing dilakukan mahasiswi magang. Lihat pembukanya, loncatnya palsu tampak sekali. Lihat sidangnya, hiruk pikuk pengadilan tampak monoton tanpa ketegangan, lihat eksekusi akhir bagaimana para korban dilepas, ya ampun… itu nenek-nenek sangat ketara kesedihannya akting permukaan. Setelah kucek trivia, ternyata shoting film hanya lima hari, dan ini debut film panjang Tyler Perry Studio. Hhhmm…

Bayangkan, dari film yang nyaris wow. Terutama pas Grace yang bahagia menemukan belahan hati, lalu wajah hampa dan melakukan kejahatan, A Fall benar-benar terjatuh di separuh kedua, luluh lantak penuh onak kejanggalan. Apalagi saya habis menikmati film persidangan yang wow, Section 375. Drama India berkelas yang memainkan pikiran, menantang nalar. A Fall jelas sulit mendekati. Orang-orang memang memuakkan, dan hidup ini sungguh sulit dan tidak bisa ditebak. Kebanyakan dari kita menjalani hidup ini asal ngalir aja, dan sebagian malah sungguh-sungguh tersesat.

A fall from grace, terrible acting, a lame script, and predictable. Film dekektif/pengacara/thriller/polisi-polisian ga bisa seperti ini. Anggap saja, ini sekadar tontonan pasca sahur lalu lupakan.

A Fall From Grace | Year 2020 | Directed by Tyler Perry | Screenplay Tyler Perry | Cast Crystal Fox, Phylicia Rashad, Bresha Webb, Mehcad Brooks, Cicely Tyson, Tyler Perry, Donovan Christie Jr., Walter Fauntleroy, Angela Marie Rogsby | Skor: 2.5/5

Karawang, 150520 – Bill Withers – Something That Turns You On

Thx to Rani S.kom

Okja: Cinta Kasih Gajah Babi

Well, former CEO Nancy is my sister, but uuh… we’re very different people. We have very different ways of being. We have very different business ethics…” – Lucy

Jenis film fantasi yang tak biasa. Babi sebesar gajah, menjadi komoditi pasar tapi sang babi seperti memiliki jiwa, persahabatan dengan remaja itu kuat, memiliki cinta kasih, dan menuntut perjuangan melangkah jauh. Lihat posternya, babi dengan pabrik mengepul di punggungnya. Ada sesuatu yang bernilai di sana, artinya Anda masih memiliki harapan. Mengundang komunitas pecinta binatang turut serta memerjuangkan. Dari pegunungan desa ke Seoul, dari Seoul ke New York, dan di sebuah pabrik jagal titik akhir juang.

Lucy Mirando (Tilda Swinton) mengepalai perusahaan warisan ayahnya, ingin menghapus image sang bapak dan saudara kembarnya Nancy Mirando (diperankan juga oleh Tilda Swinton), ia memiliki proyek ambisius tentang pengembangan binatang guna mendukung industri makanan. PT. Mirando melakukan percobaan mencipta babi super, dengan sample 26 babi yang beda mengirimkannya ke berbagai Negara agar dirawat oleh petani lokal, proyek itu akan memakan waktu 10 tahun. Sebuah penantian yang lama… tapi ia pede dengan mengatakan, ‘rasanya sangat lezat’

Di Korea Selatan, sepuluh tahun berselang. Remaja 14 tahun. Mija (diperankan imut sekali oleh Seo-Hyun Ahn) sedang angon babi super (baiklah, saya menyebutnya gajah babi sahaja karena penampilannya mirip gajah) bernama Okja. Mereka hidup di pegunungan bersama kakeknya, hidup damai nan asri. Agar tampak dramatis, Mija mengalami meusibah terperosok di jurang, Okja seolah adalah hewan yang bisa berpikir. Melakukan penyelamatan dengan heroik. Jelas ada ikatan special di antara mereka, bukan sekadar tuan dan binatang peliharaan. Rasanya gemes sekalia meluk gajah imut.

Suatu hari datanglah utusan Mundo, seorang host tv terkenal channel Zoologist, Dr. Johnny Wilcox (dimainkan gilax oleh Jake Gyllenhaal), dengan krunya melakukan rekaman. Perjalanan ke gunung yang melelahkan, dan hasil monitor rasanya Okja adalah babi favorit untuk menang kontes. Untuk mengalihkan perhatian Mija, kakeknya mengajak ke makam orang tua dan menunjukkan babi emas, dan bilang Okja akan dibawa ke New York. Tentu saja marah, saat sudah kembali ke rumah, sang gajah babi sudah ga ada. Pengejaran rasanya percuma, maka malam itu iapun memecah celengan, membawa bekal seadanya, dan nekat berangkat mengejar binatang kesayangan. Inti kisah adalah ini, menyelamatkan binatang peliharaan istimewa dari penjagalan menjadi santapan.

Di Seoul, di kantor cabang Mundo ia datang dengan keren. Setelah dicuekin, ia memecah kaca kantor, berteriak mencari Okja, dikejar petuga, adegan kucingan, sampai ke truk yang bersiap berangkat. Bak seorang jagoan, Mija bergelayut di truk yang melaju ke bandara. Ternyata ia tak sendirian dalam misi penyelamatan ini. Sebuah organisasi penyayang binatang, muncul truk lain yang mefet dan seperti misi-misi mustahil Fast and Furious, Okja coba dibajak. Mengacaukan banyak sekali hal-hal di depannya, masuk mal dengan derap, menghancurkan segala yang menghadang.

Organisasi itu ALF (Animal Liberation Front) yang dipimpin oleh Jay (diperankan unik – seperti biasa – oleh Paul Dano). Genk terdiri dari Red (Lily Collins), Blond (Daniel Henshall), Silver (Devon Bostick), dan K (Steven Yeun). K adalah orang Korea jadi sekaligus menjadi penerjemah. Ada adegan bagus ketika Mija ditanya mereka, dan diterjemahkan ya. Padahal K memodifikasi. “Menerjemahkan adalah sakral.” Walau akhirnya gagal, Okja tetap dikirim ke New York, seantero negeri tahu, ada sebuah kekejaman memisahkan remaja imut dengan binatang imut. Fakta ini membuat gusar Lucy sehingga malah berencana membuat acara reuni temu dalam festival yang disiarkan live.

Kita tahu para anggota organiasasi akan mengacaukannya. Perjuangan melawan kekejaman terhadap binatang, itu berjalan dengan intesitas aksi pas ‘sungguh hollywood’ walaupun sineas-nya Korea. Dramatisasi penyelamatan Okja, berlarut-lari dan penampilan saudari kembar Lucy, Nancy (Tilda juga) di London yang lebih berpengalaman demi menyelamatkan Perusahaan turun tangan. Dan di area penjagalan gajah babi, klimaks kisah terjadi. Dengan bonus piglet yang imut, kisah ini happy ending. Dan sedikit merusak keseruan jargon, suram adalah tjoenci. Ada scene after credit di ujung film, kenakan maskermu kawan, perjuangan belum berakhir.

Pasca kegemparan Parasite, film-film Bong Joon Ho sebelumnya diburu. Walau sudah nonton Snowpiercer yang membingungkan karena bertema politik dalam kereta, Okja justru malah menampilkan keanehan. Bagaimana mencipta makhluk babi sebesar gajah? Menaburkan drama di dalamnya, dan akhir yang bahagia malah tak terlampau wow, tetap bagus tapi terasa ada yang janggal. Para organisasi penentang benaran ada, entah kalian setelah menyaksi apakah langgung jadi vegan atau tetap lahap makan daging, bukan hanya babi yang tampak menggemaskan; ayam, bebek, sapi, dst segala hewan ternak yang menggiurkan di meja makan itu juga menggemaskan kalau dirawat dengan cinta. Seolah memang tujuan utama Okja dibuat untuk perjuangan kaum vegetarian.

Suka Tilda sejak jadi Penyihir Putih di Narnia, suka Paul Dano sejak membisu Little Miss Sunshine, suka Jake sejak mendekam di Brokeback Mountain. Dan tentu saja mulai suka Jeong-eun Lee sejak bersahabat dengan Okja.

Translation are sacred.

Okja | South Correa | Year 2017 | Directed by Bong Joon Ho | Screenplay Bong Joon Ho, Jon Ronson | Story Bong Joon Ho | Cast Tilda Swinton, Jake Gyllenhaal, Seo-hyun Ahn, Jeong-eun Lee, Steven Yeun, Paul Dano, Daniel Henshall, Lily Collins, Devon Bostick | Skor: 4/5

Karawang, 130520 – Bill Withers – I’II Be With You

Section 375: Drama Pengadilan Mencipta Kerut Kening Berlapis

Zero tolerance policy for sexual misconduct.”

===tulisan ini mungkin mengandung spoilert===

Film India tak hanya menari dan bernyanyi. Film India juga banyak yang slow dan menantang nalar serta edukasi hidup, inilah salah satu produk unggul sinema tentang drama di pengadilan. Mengingatkanku pada novel-novel John Grisham yang solid, perdebatan mendalam di kursi-kursi panas, mengingat pula kegigihan dan kepahlawanan perempuan di novel-novel Sidney Sheldon, terutama Rage of Angels yang dahsyat. Di sini, perempuan tampak lebih hebat, lebih perkasa, dan menangan. Urusan syahwat, lelaki selalu apes berkonotasi. Alurnya khas Sheldon yang upaya membalikkan keadaan dan dramatis-nya dapat. Section 375 merupakan bagian KUHP yang berlaku di India, yang jadi rujukan ayat kasus pelecehan seksual.

Dibuka dengan ditangkapnya seorang sutradara terkenal Rohan Khurana (Rahul Bhat) atas tuduhan pemerkosaan disertai kekerasan terhadap desainer kostum yang membidani filmnya, Anjali Dangle (Meera Chopra). Tampak sangat meyakinkan kasus ini, pendulum salah memberat pada laki-laki kalau mengenai syahwat. Pengacara yang ditunjuk adalah pengacara senior Tarun Saluja (akting hebat Akshay Khanna) berupaya sebaik-baiknya mendampingi, melawan jaksa penuntut umum muda ambisius, mantan anak didiknya Hiral Gandhi (Richa Chadda), bisa jadi ini adalah kasus besar pertamanya yang berarti bisa untuk mendongkrak karier. Segala daya dikerahkan demi kemenangan sang korban. Kemenangan menjadi hal mutlak yang harus diraih walau mengorban kemanusiaan, rasa empati diredam di lumpur terdalam.

Kasus yang tampak mudah ini lalu mengabu, meragu, luruh dengan berjalannya menit, sangat mengingatkan film noir 12 Angry Men di mana, para juri berubah haluan perlahan dengan terungkapnya fakta-fakta baru dalam selidik. Section 375 mengupas perlahan detail perkara, tak lurus bernarasi tapi jelas dipikat dengan gaya menegangkan. Khurana seorang public figure, sehingga mengundang lalat perhatian, ia dicerca dengan dalih menggunakan kuasa sutradara film dengan melaksana pelecehan. Membakar emosi nitizen. Sampai muncul demo berjilid-jilid meminta terdakwa dihukum seberat-beratnya, atau sebijaknya dibilang seadil-adilnya? Sejujurnya adegan demo-nya kelihatan banget palsu. Property massa dan lembar bendanya kaku, tak digarap dengan intens. Khurana ditengah tekanan publik tampak tenang, tak menggebu, tampak sangat bersalah – ya, tampak menyembunyikan poin penting – ya, pertaruhan aib dan mertabat. Aib seorang lelaki, dan martabat pekerja seni. Anjali sebagai korban juga pasif, menampil perempuan lemah yang dirugikan – ya, menjaga emosi tetap tertahan – ya. Yang jelas ada sesuatu yang disembunyi mereka berdua. Menempatkan diri sebagai designer yang tak bernama di kancah Bollywood, tapi ketika menit mula kedatangannya di apartemen diungkap, kita tahu ada yang janggal.

Ia hanya seorang rekomendasi, ia seorang fan, ia seorang posesif akut!

Anjali datang ke apartemen Khurana untuk menunjukkan kostum filmnya. Pembantu diminta keluar, lalu kasus itu terjadi. Kejanggalan pertama muncul, rambut Anjali ada di kasur padahal pertemuan di ruang tengah. Apakah ada paksaan masuk kamar ataukah sukarela? Kejanggalan berikutnya, memar luka di selakangan, andai ada kekerasan fisik, kenapa ada di kedua sisi dengan bekasnya kena benda keras. Tak ada barang bukti ditemu, tak ada benda keras yang ditemukan di TKP. Lalu CCTV dan rekaman coba dibuka, booom! Menarik sekali. Adu cerdik ini menemui titik akhir yang mengejutkan. Menggemaskan. Kasus pemerkosaan ini lebih suram dari yang dikira.

Jelas ini adalah salah satu film pengadilan terbaik, angka penjualan tiket bioskop mengecewakan – mungkin karena tema drama merenungnya, tapi secara ulasan sangat positif – jelas, ini kisah drama roller coaster. Penampilan terbaik Akshay Khanna, turut gereget, ikut sedih tapi tak sampai nangis. Menampilkan perjuangan hingga titik keringat terakhir, tampak lelah sekaligus semangat membara dalam sorot mata harap. Keyakinan, memang sekalipun benar terkadang menampar umatnya. Simbol pengadilan menampil wanita dengan mata ditutup kain dengan memegang timbangan, yah begitulah. Telaah Section 375 membutuhkan kemampuan Kognitif Elliot yang terdiri atas kecerdasan, ingatan, dan perhatian. Produk hukum tak ada yang sempurna, bisa dimanipulasi dan disalahgunakan. Menikmati jenis film drama semacam ini butuh konsentrasi dan sejumput kesabaran.

Secara naskah juara. Seolah kupas kulit bawang, yang perlahan nan pasti kebenaran adalah inti, selongsong kulit itu diungkap satu per satu, satu per satu, lalu ketika sampai di keputusan ternyata malah menimbulkan air mata kepedihan. Naskah seperti ini sulit dibuat, plot maju-mundur, drama kriminal tanpa tembakan dan ledakan. Mencintai sepi dan kebosanan, laksana perdu puisi. Baca syair melengking nyaring, moral diikat ketat, ruang sidang pengadilan yang menolak gema kebenaran. Simpan argumenmu, jabat tangan di makan malam menjadi fakta pahit ironi kehidupan berikutnya. Lantas, siapa penista pengadilan sesungguhnya?

Endingnya bikin marah penonton. Tak kita kira akhir babak semacam itu. Hakim berkerut kening, penonton berkerut kening, para juri berkerut kening, inilah film yang mencipta kerut kening berlapis-lapis. Pak Pengacara dan Bu Jaksa lalu ngopi bareng. Hahaha… film yang mengajarimu banyak hal. Film yang tak nyaman, mencipta hingar bingar di meja kursi pengadilan.

Contoh nyata, bagaimana sebuah sinema berhasil mengatrol keadaan dan emosi penonton, film tenang yang perlahan nan pasti riaknya menggelombang luapan atensi tinggi. Suatu hari, entah sepuluh atau lima puluh tahun lagi Film Ini akan jadi pembahasan seru para akademisi calon-calon sarjana hukum, dengan dalih yang tampak di permukaan tak seperti yang kamu kira. Beruntung kita sudah mengerutkan kening terlebih dulu. John Grisham bertepuk tangan dengan nyaring di sana. #MeToo

Section 375 | India | Year 2019 | Directed by Ajay Bahl | Screenplay (additional & dialogue) Ajay Bahl | Story and screenplay (dialogue) Manish Gupta | Cast Akshaye Khanna, Richa Chadha, Meera Chopra, Rahul Bhat, Shriwara, Kishore Kadam, Kruttika Desai | Skor: 4/5

Karawang, 130520 – Bill Withers – Lean on Me

Jojo Rabbit: Komedi Satir di Era Nazi

Nothing makes sense anymore.” – Jojo

===tulisan ini mungkin mengandung spoilert===

Idenya gila. Kekejaman dibalut keimutan. Adegan gantung-nya terlihat walau sepintas. Kematian, ditutur bagaimanapun, tetaplah kematian. Cerita anak-anak yang dididik mencintai Nazi sejak dini, mengajarkan Swastika dengan segala keimutannya. Mencipta Hitler khayal yang menemaninya sepanjang tumbuh kembang – lalu menghilang, sehingga seolah pelindung. Setting-nya di era Perang Dunia Kedua, Nazi sedang tinggi-tingginya, sekolah di Jerman mewajibkan kurikulum itu, sampai serangan Sekutu yang mengakhiri segalanya. Film dibuka dengan manis, betapa Jojo di usia imut begitu mendewakan Hitler, ditutup dengan lebih imut lagi, Elsa dan Jojo yang ‘merdeka’ melakukan tari tik-tok artsy. Sejatinya memang ini film anti-perang, dibuat komedi, berton-ton komedi malah yang menikam. Komedi gelap. Lantas kepahlawanan jenis apa yang bisa dipeluk semua umat?

Jojo Betzler (diperankan imut sekali oleh Roman Griffin Davis) adalah remaja sepuluh tahun yang tumbuh di masa kejayaan Nazi, ia begitu mengidola Hitler yang patriotik dan keren. Dalam pendidikan yang ketat dan nasionalis, ketika Jojo membutuhkan pertolongan serta teman ngobrol, muncullah Penampakan Hitler (Taika Watiti) menjelma teman curhat, jadi supporter yang menggelorakan semangat. Bersama teman karibnya yang ndut Yoki (Archie Yates) menjalani kamp pelatihan di sekolah alam. Dikepalai pelatih yang tak kalah aneh, Kapten Klezendorf (Sam Rockwell). Di training kamp tersebut, ambisi Jojo juara sungguh tinggi. Sayangnya, jiwa pemberaninya diuji dengan bully-an tugas senior untuk membunuh kelinci, gagal. Kelembutan hatinya, tak tega sekadar mematikan binatang. Sejak itulah ia kena panggilan Jojo Rabbit.

Bully yang malah mencipta luka, ketika sang kapten menerangkan taktis melempar bom, Jojo berlari kencang lalu mengambilnya, melemparanya, kena pohon malah mbalik ke dia, dan meletus. Jojo terbangun dari pingsan di rumah sakit, ibunya Rosie (Scarlett Johansson) marah, mendatangi kantor dan ngomel berat karena insiden ini. Wajah Jojo ada bekas luka, dan ia sementara harus menggendong satu tangannya.Di rumah, kejutan kecil terjadi. Sebagai Hitler-holic betapa terkejutnya di rumahnya, ada ruang rahasia tempat sembunyi seorang gadis Yahudi Elsa Korr (Thomasin McKenzie). Membekap mulut Jojo agar tak berteriak dan melarang melaporkan temuannya. Di era itu, menyembunyikan warga Yahudi hukumannya mati. Sebuah dilema besar untuk jiwa remaja yang labil. Tentu saja ibunya tahu, karena memang ini inisiatifnya. Jojo sayang ibunya, maka seorang fanatik Hitler pun terdiam. Masing-masing dari kita, ada kalanya, suka memperdaya diri sendiri dengan percaya bahwa apa yang baik untuk kita pasti juga baik untuk semua orang. Apa yang bagus buat Jojo harusnya baik pula buat Elsa, ahh… dunia anak-anak yang polos. Tak sejernih itu Nak.

Elsa adalah putri dari teman sekolah Rosie, menjaganya, menyembunyikannya. Jojo dan penampakan Hitler yang lucu (duuh sang sutradara, kamu kocak banget aktingnya) debat keputusan apa yang pantas. Maka diputuskan menginterogasi Elsa, dari Elsa ia mulai paham dunia yang luas dengan melihatnya lebih terbuka. Marah besar pada ibunya, dan merindu ayahnya. Maka makan malam itu, Rosie pun akting sebagai ayahnya dengan kumis lebat palsu bergaya Nazi. “What did they do?” direspon tenang, “Plenty of good.” Di sinilah saya langsung ketawa serius, harusnya Scarlett menang Oscar. Kocak banget, sayangnya (spoilert… maaf) ia keburu dimatikan. Coba bisa konsisten ngelawak sampai akhir, akting ibu yang bimbang ini jauh lebih hebat dari pengacara kapitalis itu.

Free Germany” merebak, suatu hari ada inspeksi mendadak dari kapten Deertz (Stephen Merchant) ke rumahnya. Jojo yang sendirian panik, menyembunyikan surat-surat Elsa, menyembunyikan segala yang memancing kecurigaan keberadaannya. Muncul pula kapten Klezendorf di sana, Elsa yang ada di tangga dalam masalah besar. Dalam kengerian mefet itulah, ia memberanikan muncul dan memperkenalkan sebagai kakaknya. Menunjukkan Kartu Tanda Penduduk, dalam adegan dramatis ia diuji tanggal lahirnya. Elsa menjawab dengan keraguan, Klezendorf yang tahu salah, malah melindunginya dengan bilang tepat dan pasukan inspeksi-pun pergi. Serem banget ini, setidaknya Jojo dan Elsa tahu Kapten Klezendorf memiliki kebaikan di lubuk hatinya. Sebuah moralitas itu bisa diwujudkan di masa depan harus dimulai dengan sesuatu yang disebut amor fati, ‘cinta pada nasib seseorang.’ Bukan sekali, sang kapten melakukannya. Nurani akan kebaikan tergugah di masa-masa yang tak terduga. Pada akhirnya, hanya emosilah yang menggerakkan kita untuk bertindak. Ini karena tindakan adalah emosi.

Rosie yang keesokan harinya digantung (huhuhu… pengen nangis), dan pecah serangan Sekutu memporakporandakan Jerman. Dengan tank dan pasukan penuh memasuki kota. Dengan kekacauan yang tercipta, sekali lagi Klezendorf menyelamatkan nyawa Jojo yang terancam turut dibinasakan Sekutu. Setiap orang memiliki kemampuan melawan kejahatan. Pengorbanan terakhir untuk Jerman di masa depan. Jojo, remaja Nazi itu pulang dan memberitahu Elsa, Jerman sudah kalah. Ia mencinta (heleh) yang membuat murka Penampakan Hitler, lalu ditendang keluar jendela. Seperti mula, endingnya manis dengan joget artsy yang sungguh memorable. Ditutup dengan puisi Rainer Maria Rilke: Biarkan segalanya terjadi padamu; Kecantikan dan teror; Biarlah mengalir; Tiada rasa yang berakhir. Perang tidak lain adalah ujian duniawi terhadap harapan.

Sebagai film kandidat best picture, promonya paling tak gencar. Kalah gegapnya dengan unggulan seperti 1917, Parasite atau Joker jadi wajar peluangnya sangat kecil. Naskah adaptasinya memang sangat keren, saya memang menjago Gerwig, tapi Taika Waititi menang-pun saya tak akan komplain. Semua naskah adaptasi Oscar tahun ini, sejujurnya bagus. Yang disayangkan cuma Little Women dan The Irishman Film Lima Bintang itu, nirgelar Oscar. Hiks, sedih.

Menanamkan ideologis ke anak-anak menjadi tema utama kisah ini, lalu dilontarkan opsi lain. Agama ideologi, harapan dari luar dunia natural. Ideologi merupakan kepercayaan yang dikontruksi secara sosial yang sepenuhnya kita terima berdasar keyakinan belaka. Pada dasarnya perkembangan psikologi kita senantiasa berevolusi untuk menuhankan segala yang tidak kita pahami. Jojo dengan lugunya mengidola Sang Fuhrer, diterima mentah-mentah apa yang diajarkan, lalu seperti di ending, segalanya tampak kontradiksi.

Film ini jelas melebihi harap, entah kenapa cerita sebagus ini ga bisa meledak. Komedi satir tentang Nazi mungkin sudah banyak, mengambil sudut pandang anak-anak juga sudah umum (kisah sedih The Boy in the Pyjamas), begitu juga ending serangan sekutu yang mengakhirinya. Jojo Rabbit menampil kedigdayaan yang lebih luwes. Lebih nyaman, lebih hidup. Sangat komedi, tapi tak komedi.

Beberapa saat setelah Taika Waititi memenangi Oscar, tampak ia duduk dengan senyum dan meletakkan pialanya di bawah kursi depannya. Sebuah ironi sekali lagi tercipta. Jojo Rabbit adalah film sangat komedi, tapi sekaligus tak komedi. Kalian mungkin tertawa, tapi sejatinya menertawakan apa? Seperti tagline-nya jleeb banget: ‘An anti-hate satire.’

Jojo Rabbit | Year 2019 | Directed by Taika Waititi | Screenplay Taika Waititi | Novel Christine Leunens | Cast Scarlett Johansson, Roman Griffin Davis, Thomasin McKenzie, Sam Rockwell, Archie Yates, Taika Waititi | Skor: 4/5

Karawang, 120520 – Will Withers – Lovely Day

Puasa ke-19, hati yang cerah untuk jiwa yang sepi