The Broken Circle Breakdown: Sumber dari Segala Keindahan adalah Kehidupan

Hidup membuatmu merasa dendam. Hidup mengambil semuanya darimu dan menertawaimu. Hidup menghianatimu.”

Pandangan keras ideologi baik politik, agama, sosial, atau apapun itu tak laik disampaikan ke khayalak pendengar heterogen karena potensi menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), apalagi ini di tengah konser yang hening dan syahdu. Lebih gila lagi, yang disampaikan menghujat agama mayoritas dengan pelik pekik menyatakan ateis. Luar biasa konyol bukan? Luar biasa gila!

Sedih maksimal. Kesedihan layar sinema yang ditawarkan sungguh menggerus hati, pahit getirnya kehidupan dalam rumah tangga, dijalin dan dililitkan dengan erat, mencekik megap-megap sesak napas dalam ketidakberdayaan menapaki kerasnya masalah yang didapat. Kalau ngomongin luka keluarga, jelas sungguh sulit diabaikan. Dunia fana ini, memberi kita keniscayaan bahwa orang terkasih nomor satu, dan sarinya jelas keluarga di urutan teratas. Maka saat plotnya tentang anggota kelurga sakit keras dan efek setelahnya, jelas ini menjadi suguhan tema berat. Disajikan dengan riak timbul tenggelam antara harapan dan keambyaran, The Broken Circle Breakdown adalah fakta betapa manusia selalu tak berdaya di hadapan takdir. Sekuat apapun, secerdas apapun, sesuper apapun.

Kisahnya tentang pasangan keren di Ghent, Belgia. Mereka tampak ideal di luar, tapi setelah berkeluarga dan kita turut serta menyaksikan kehidupan rutinitas, kita tahu ada masalah besar di antara mereka. Masalah yang bakalan meledak di masa depan. Didier  (Johan Heldenbergh) adalah musisi kenamaan, ia adalah lead vocal, seorang idealis. Musik yang dibawakan sama grup adalah jenis bluegrass, sering tampil di kafe, menjadi idola lokal. Nantinya makin besar dan berkembang hingga bisa tampil dalam konser. Seorang ateis murni dan radikal.

Dalam ensiklopedia dijelaskan bahwa ateis berasal dari bahasa Yunani, athos. Kata itu tidak mengacu pada orang-orang yang tidak memercayai Tuhan: kata itu mengacu pada orang-orang kesepian, orang-orang yang diabaikan oleh para dewa. Maka, ini membuktikan bahwa manusia tak pernah bisa benar-benar ateis. Karena, kalaupun kita ingin diabaikan oleh-Nya, Tuhan tidak akan mengabaikan kita di sini. Maka untuk menjadi seorang (hampir) ateis, pertama-tama harus menyendiri dan tak menikah. Didier banget, tapi sekali lagi ia hanya hampir ateis.

Elise (Veerle Baetens) adalah perempuan pencipta tato, sekujur tubuhnya dihiasi, nama-nama mantan kekasih diukir, tapi setelah putus dihapus. Ia seorang realis, menjalani hidup dengan dasar pijakan kepercayaan padaNya yang kuat. Lihat, pasangan musisi dan pembuat tato, tampak serasi bukan? Masalah agama/keyakinan-lah yang dirasa menjadi pijakan penting.

Awal mula bertemu adalah Didier mengunjungi toko tato, berkenalan, mengajak Elise menyaksikan konser lokal, dan malam itu kita tahu Elise jatuh hati. Adegan pembukanya adalah ini, lagu Will the Circle Be Unbroken? Apa yang menarik di dunia ini? Amerika. Musisi bluegrass terhebat siapa? Memang ada yang lebih hebat dari Musisi Amerika? Dst… dialog puitik dan keren yang laik dikenang dalam keromantisan akut. Hubungan mereka langsung klik dan panas. Berlanjut ke jenjang serius, dan saat Elise memberitahu bahwa ia hamil, Didier marah. Dalam rumah koboinya, ia langsung pergi dengan perasaan murka sebab ia malas berkomitmen.

Entah kenapa tiba-tiba saat pulang ia membawa bahan material bangunan, anak kita tak kan tidur di trailer yang secara tak langsung berteriak, ‘Ok kita berkeluarga’. Kehadiran buah hati Maybelle (Nell Cattysse) melengkapi keping kebahagiaan mereka. Tumbuh kembang dalam suasana indah hubungan. Namun tunggu saja, ini film berat, dan masalah pelik itu muncul juga, Tuhan mengirim penyakit kanker untuk Maybelle setelah ulang tahunnya yang keenam.

Film dibuka dengan adegan nyanyi mendayu, lalu di rumah sakit Maybelle diambil darahnya. Diagnose kanker, proses terapi, penyembuhan berlarut, rambutnya gundul, kemoterapi yang gagal, dan berakhir dengan kesedihan maksimal. Keluarga ini hancur, rumah yang ceria itu menjelma seketika kesunyian. Pedih sekali.

Endingnya sendiri menghentak, luar biasa. Saat tekanan hidup sungguh berat. Elise sendiri juga menjadi penyanyi, masuk ke dalam grup dan sukses berat sebab suaranya bagus. Saat keruntuhan itu terjadi ia kembali ke toko tato, dan mengganti namanya jadi Alabama. Termasuk alasan sentimental di baliknya, seperti dimula Didier yang mengagumi Amerika, di akhir menjadi boomerang kemarahan karena dalam siaran TV Presiden Bush yang menentang penelitian embio dan menolak gerakan aborsi. Begitulah, satu-satunya konsistensi adalah ketidakkonsistensian.

Adegan ujung di rumah sakit menampilkan jawaban makna kehidupan. Seperti disebutkan dalam kitab-kitab kuno, nyawa seseorang meninggalkan tubuhnya enam jam setelah ajal menjemputnya, menurut Suyuti pada saat itu jiwa seseorang menjadi suatu yang gaib dan dapat berpindah-pindah, dan ia harus tinggal di alam Barzakh hingga kiamat datang. Maka bergemalah nyanyian itu mengantar di titik akhir.

Didier bilang ke anaknya, tak ada kehidupan setelah kematian. Mati ya mati, hilang dari dunia, menuju ketiadaan. Sementara Alabama, percaya ada surga dan segala konsekuensi akhir. Maka saat Maybelle menyaksi kematian burung gagak yang menabrak teranda (tenda/beranda) ia bertanya kemana perginya jiwa si burung? Surga itu dimana? Surga adalah masa depan yang kita semua impikan, tapi bagi Didier, surga adalah tempat mimpi-mimpi dalam kenangan dilestarikan.

Tak aneh setelah kehilangan anaknya, Elise menempel stiker burung di teranda agar burung-burung lain selamat. Kegiatan sederhana ini memicu kemarahan sang suami dan begitulah, runtuh segalanya. Tak semua orang bisa sepakat denganmu, tak bisa dipaksakan keyakinan orang lain agar sama. Dunia yang berbeda adalah dunia yang universal, tak perlu merasuki isi kepala orang terdekat. Jadi lingkaran itu akan hancur juga kalau dipaksa belok ‘kan?!

Berkat The Broken, saya teringat kata-kata N.G. Cherneshebvski (1928-1889), seorang filsuf, sastrawan, kritikus serta perjuang revolusioner dari Uni Soviet. Beliau bilang, “Sumber segala keindahan adalah kehidupan. Kenyataan hidup dan keindahannya mendahului kesenian dan perasaan estetis tentang keindahan. Kesenian hanyalah reproduksi kehidupan, dan di dalam karya-karya kesenian kiranya tak ada hal yang tak terdapat di dalam kenyataan hidup. Keindahan tertinggi dan sebenar-benarnya adalah keindahan yang ditemukan di dalam dunia kehidupan.” Dengarkan kau, kehidupan bukan melulu soal prinsip, kehidupan adalah soal mencari keindahan.

Tokoh Elise/Alabama dimainkan oleh artis sekaligus penyanyi, maka lantunan lagunya terasa menghentak indah. Tokoh Didier juga terlihat nyata, sifat ateis dan komitmennya juga luar biasa. Pedonan utama ateis adalah ia tidak memedulikan apa pun, kecuali cinta dan kebahagiaan. Masalahnya seorang filsuf entah siapa saya lupa, pernah bilang, “… dan ingatlah ini: mereka yang mencari kebahagiaan justru tidak akan pernah menemuinya.”

Ini bisa juga disebut film musikal sebab banyak sekali selingan nyanyi, bagus-bagus lagi. saya lebih suka menyebut ini jenis film drama pilu. Tindakan-tindakan yang diambil seolah nyata, tragedinya juga pas banget, seolah para tokoh benar-benar memiliki opsi tindakan, bukan menurut skenario.

Polanya sendiri acak, kita diminta menyusun potongan-potongan adegan yang tersaji. Pembukanya adalah nyanyian awal mula mereka berkenalan, lalu di rumah sakit saat cek darah itu jelas Maybelle sudah enam tahun, makin ke tengah durasi justru makin mundur masanya, dan adegan penghujung adalah final masa kini. Pola macam ini bagus, dan membuat gelombang pikir. Lega sekali akhirnya tuntas, melelahkan mengharukan. Seperti di dalam mimpi buruk, semua orang merasa sendirian, dan kita tak menyadarinya itu hanyalah maya. Orang-orang yang membuat keputusan buruk dalam kehidupan mereka gara-gara gejolak kekeraskepalaan sesaat, dan kemudian seumur hidup patut menyesalinya.

Pada akhirnya, burung gagak di dalam dadaku akan hidup; ia akan mengepakkan sayangnya dan, tepat sebelum gerakannya menyesakkan dadaku, sebelum air mata ini menetes – ia sudah terbang bebas.

The Broken Circle Breakdown | Tahun 2012 | Negara Belgia | Directed by Felix van Groeningen | Screenplay Carl Joos | Story Johan Heldenbergh & Mieke Dobbels; Play The Broken Circle Breakdown featuring the Cover-Ups of Alabama | Cast Veerle Baeten, Johan Heldenbergh, Nell Cattrysse | Skor: 5/5

Karawang, 070821 – The Corrs – So Young

Pseudonim #21

Pseudonim #21

“Lho-lho? Kenapa jadi nyalahin Maya?”

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen saja yang jumlah kata lebih sedikit, dan tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua orang itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak waktor. Salah satunya selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasaranya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

Buku dibuka dengan kutipan: “Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; Kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam sendiri.” – Multatuli, Max Havelaar.

Itulah yang pertama terbesit sesaat setelah menyelesaikan baca Pseudonim. Plotnya sudah umum, tipikal sekali. Cinta diapungkan, kelesuan menghadapi perubahan, adaptasi yang berhasil, lantas saat kenyamanan sudah diraih, kita dihadapkan masalah pelik. Umum bukan? Bahkan cara menyampaikan kata akhir, sebagai bukti bahwa ‘apa yang ditulis itu adalah ini’, sudah banyak kutemui. Sehingga tak mengejutkan sama sekali, bagi yang sudah banyak melahap bacaan pola ‘apa yang ditulis itu adalah ini’ sudah terlihat biasa. Namun untuk Pseudonim, beberapa kerikil masalah itu relevan dan untungnya bagus.

Kisahnya tentang Wipra Supraba, penulis novel yang kere. Mengeluhkan banyak hal. Pembukanya bilang ia ditangkap polisi, ia mengeluhkan keadaan ekonomi yang amburadul, dan profesi menulis nyaris diiyakan dengan ‘kere’. Lalu nama asing di akhir pembuka diapungkan, “Dan di mana Radesya?” Kisah lalu ditarik mundur, di awal sekali bagaimana Pra memulai karier dan bagaimana lingkungan sekitar membentuknya.

Pertama kita diperkenalkan Suhar, sahabat kuliah jurnalistik Unpad yang sudah menikah dan tinggal Jakarta. Ia selalu mendorong Pra untuk menulis novel, walau sudah punya beberapa karya ia, tak kunjung menemukan karya monumental yang bisa mengangkat namanya. “A good writer always work at the impossible.”John Steinbeck. Ia nganggur, sesekali dapat order menyupir sobatnya di Bandung, Saefullah yang hidup lurus dan vegetarian. Manusia pekerja keras yang berjuang dari bawah. Punya rental juga usaha merangkak bukan warisan atau turunan. Lulusan SMU berjiwa membumi.

Lalu kita diperkenalkan dengan Ardi, orang penting di dunia entertainment nasional. Menjadi penghubung banyak hal, awalnya Pra ditantang untuk menulis skenario kartun sebab sudah pengalaman nulis novel. Dengan kerja keras dan sudah banyak literature, tantangan itu sukses dilewati. Keuangannya membaik hingga bisa punya laptop bagus, tinggal di tempat yang laik, dan terutama bisa jalan-jalan saat proyek animasi lagi senggang.

Nah, ini mungkin yang paling menyebalkan. Ia memiliki lima pacar dalam waktu bersamaan. Kemala di Jakarta, Luska di Bandung, Kirana di Yogya, Alinka di Surabaya, dan Pradnya di Bali. Kelimanya digilir, pas kerja di Jakarta dengan entengnya support pacar tampil. Pas mudik Bandung, santainya jalan dengan yang lokal, pas punya waktu luang cus ke  Yogya, lanjut Surabaya, dan berakhir pekan ke Bali. Kan kamvret, sampai di bagian ini saya sempat muak. Ga gitu bos hidup, enak aja. Apalagi mereka berlima loyal, seolah Pra adalah sultan, raja di raja dengan kekuasaan atau uang melimpah. Oh dia kere, dan penulis tak terkenal. Bisa-bisanya… sabar, tenang saja dulu. Akan ada masanya semua runtuh. Kesendirian dan kesepian adalah dua hal yang nyata berbeda. Sendiri adalah objektif, sementara kesepian itu subjektif.

Dan benar saja, Ardi menyampaikan kabar buruk. Serial animasi dihentikan, proyek cinema juga batal sebab PH nya ambyar karena mengganti uang konser yang gagal, hingga pada titik di mana Pra kembali miskin, semiskin-miskinnya. Menjual yang bisa dijual, serta kembali ke Bandung nebeng rumah orantuuanya. Dan kembali ke biasaan lama, bertahan hidup dengan nyupir kalau ada order. Gila adalah menyerah di tengah jalan, padahal sukses telah menunggunya di ujung jalan.

Sudah bisa ditebak juga, sebuah alur yang menyakitkan tapi setimpal mencipta kelima pacarnya mengetahui perbuatannya selingkuh. Eh empat ding, Pradnya yang akhir disampaikan dengan jujur bahwa selama ini ia tak sebaik yang dikira, berakhir pula hubungan pacar. “Perempuan selalu menunggu kepastian, Pra.” Kenapa Pra bisa setega itu, Saefullah menjadi saksi kisah bagaimana hatinya hancur sama Maya.

Dari Ardi pula kita diarahkan mengenal seorang penulis skenario sinetron Satar. Karena kalang kabut order melimpah, ia menawarkan pada Pra untuk membantunya, menulis skenario bayangan. Namanya tak disebut, ia hanya membuat skenario dengan nama yang menjual Satar. Terdengar memuakkan, tapi uangnya bagus. Maka dicoba, dan berhasil. Kini aku menusia praktis, yang hidup, bekerja, demi uang, untuk menyambung hidup kembali. “… Kamu bisa menggiring cara berpikir kebanyakan orang di Indonesia melalui sinetron.”

Perlahan segalanya kembali membaik, lalu muncul godaan dari penulis skenario lain yang mencium alibinya. Landung menawarkan uang lebih plus bonus untuk FTV, sulit sekali memberontak, menghianati, tapi ini uang lebih wow. Sikat! Keadaan ini lebih menggiurkan saat bertemu gadis yang idealnya kebangetan.

Aku selalu takut ketika harus bertemu apalagi berdekatan dengan seseorang yang berhasil membuatku bergetar. Radesya adalah dokter, bertemu dengannya di kafe apartemen saat ngopi. Membaca buku The Celestine Prophecy karya James Redfield, yang kebetulan dibaca Pra juga. Kalau ini benaran ada, luar biasa indah, menggigit imajinasi semua orang. “Karena kita sama-sama nggak percaya kebetulan.” Radesya tinggal di apartemen nomor 1503 di lantai 15 hanya berjarak satu lantai dengannya.

“… Lalu aku mikir, spesialis apa yang nggak menimbulkan fitnah saat aku nanganin pasien? Tiba-tiba aku kayak dapat jawaban: anak! Maka itulah yang kuambil. Sederhana ‘kan?” Dokter anak yang lanjut kuliah lagi, bercita memiliki klinik di pedesaan, mudik beberapa kali tiap bulan ke Bandung dengan Jazz merah! Aku lelaki yang tak pernah mengizinkan cinta menjadi jangkar pada setiap pelabuhan. Untuk kali ini bisa jadi pengecualian.

Lalu segala-galanya ambyar.

Sejujurnya kisah dalam Pseudonim lebih mendekati plot sinetron dengan penawaran mimpi-mimpi indah, untungnya seperlima akhir menyelamatkan. Riaknya mewarnai fakta, hidup ini pahit gan. Ga begitu menjalaninya, rona-rona kemarahan harus ada, dinamika kesedihan harus membuncah, dan satu lagi, akhir yang ‘agak menggantung’ ditampilkan. Seperti kalimat akhir bab pertama, di mana gerangan gadis aduhai itu?

Banyak kutipan bagus ditampilkan, dan itu sah-sah saja, “Cinta. Tentang kerinduan untuk kembali pada asal-usul yang sejati.”Plato. Lalu “Cinta adalah ketika kuat kau rasakan kehadiran Tuhan dalam pasanganmu.”Sudjiwo Tedjo. Atau “Apa pun yang menjadikan tergetar, itulah yang terbaik.” – Rumi. Tapi yang paling keren mungkin ini, “Kepalaku adalah parbik kata-kata dan jari ini adalah buruhnya.” Lisa Febrianti (Iluminasi, 2009)

Satu lagi yang laik kutip, walau sudah sangat sering kita temui makna kalimat ini, terutama dari Pram. Sobarnya bilang, “Ketimbang nulis skenario pake nama samara terus, nggak menjadikamu siapa-siapa. Sejarah aja nggak sudi mencatat namamu. Apalagi karyamu. Sementara kalo nulis novel, karyamu abadi. Usiamu panjang. Sepanjang masa.”

Pilihan nama-nama karakter sangat modern terutama untuk tokoh penting, tak ada kata Joko, Agus, Budi, Asep. Walau ada Saefullah atau Suhar, tetap saja mereka tokoh pembantu. Hampir semua nama tokoh idalaman sungguh catchy, sangat stylist. Kemala Luska Kirana Alinka Pradnya adalah rentetan nama kekasihnya, dan di akhir bahkan ketemu nama Radesya untuk cewek ideal kebangetan. Sah-sah saja namanya juga fiksi.

Ini adalah karya pertama Daniel Mahenda yang kubaca. Ada sekitar 28 karya lainnya, beberapa di antaranya Selamat Datang di Pengadilan (kumpulan cerpen, 2001), Epitaph (novel, 2009), Perjalanan ke Atap Dunia (travel narrative, 2012), Niskala (novel, 2013), 3360 (novel, 2014), Rumah Tanoa Alamat Surat (kumpulan cerpen, 2016). Seperti biasa, berhubung trial pertama ini sukses, maka rasanya buku-buku lain hanya masalah waktu untuk dilahap. Selamat!

Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

Pseudonim | by Daniel Mahendra | Desain kover Mico Prasetya | Penata isi Widia Novita | Copyright 2016 | ISBN 978-602-375-596-7 | Cetakan pertama, Juli 2016 | Penerbit Grasindo | Skor: 4/5

Karawang, 210721 – New York Jazz Lounge – Bar Jazz Classic

#30HariMenulis #ReviewBuku #21 #Juli2021

Who Moved My Cheese? #20

Karena orang mau semuanya seperti dulu dan mereka berpikir perubahan akan merugikan mereka. Saat satu orang bilang perubahan itu adalah ide buruk, yang lain akan berkata sama.”

Buku motivasi lagi. kali ini tema utama adalah perubahan dan keniscayaan bahwa yang tak ikut berubah akan ketinggalan dan terlindas zaman. Sejatinya tema semecam ini sudah usang, atau sudah sangat banyak disebut dan dibahas, bahkan berulang kali kita dengar di seminar-seminar, sudah sering pula disampaikan, juga sudah banyak contohnya. Nokia, Blackberry, Bluebird, Fujifilm, dan seterusnya. Produk yang dulu merajai, bisa tenggelam saat ini. Dan tentu saja, mereka yang saat ini terasa raja suatu saat bisa ambruk. Semuanya butuh adaptasi. Nah itulah, topik utamanya, perubahan dan cara mengantisipasinya. Dibawakan dengan fun dan cerita yang nyaman diikuti.

Buku dibuka dengan banyak puja-puji dan endorse dari banyak pihak. Satu kata di kover buku, ‘A Gem’ dari Small and Valuable tentu saja seolah mengada-ada, tapi bolehlah yang namanya respon guna menjual. Lalu ada dua kutipan bagus, saya ketik ulang.

“Rencana terbaik tikus dan manusia sering kali menyesatkan.” – Robert Burns (1759-1796)

“Kehidupan bukanlah jalan yang lurus dan mudah dilalui di mana kita bias bebas bepergian tanpa halangan, namun jalan-jalan yang simpang siur membuat kita harus mencari-cari, tersesat, dan kebingungan, dan kini sekali agi kita sampai di jalan tak berujung.  Namun, apabila kita selalu memiliki keyakinan, pintu pasti terbuka bagi kita, mungkin bukan pintu yang selama ini kita dambakan, dakan tetapi pintu yang pada akhirnya terbukti justru paling baik bagi kita.”A.J. Cronin.

Terdiri atas tiga bab, pertama adalah pertemuan teman-teman lama di Chicago, reuni sekolah dan bertukar pikiran. Dipimpin oleh Michael.  Kedua adalah intinya cerita Who moved my cheese? Dan terakhir adalah diskusi yang menghasilkan bahwa keempat tokoh mewakili bagian dari diri kita – yang sederhana dan rumit – dan tentu Anda akan lebih beruntung jika kita bertindak secara sederhana menghadapi perubahan. Semuanya bergantung pada apa yang kita percayai.

Kisahnya sederhana tentang empat karakter utama, dua tikus dua kurcaci. Si tikus: Sniff (Endus), Scurry (Lacak), dan si kurcaci: Hem (Kaku), Haw (Aman). Personifikasi manusia, baik dari sisi yang sederhana maupun rumit tanpa membedakan usia, jenis kelamin, ras, atau suku bangsa. Kadang kita seperti Sniff yang mampu mencium adanya perubahan dengan cepat, atau Scurry yang segera bergegas mengambil tindakan, atau Hem yang menolak dan mengingkari adanya perubahan karena takut apabila perubahan itu menfatangkan hal yang buruk, atau Haw yang baru mencoba beradaptasi jika ia melihat perubahan ternyata mendatangkan sesuatu yang lebih baik. Yang manapun bagian diri kita, kita memiliki ciri yang sama: kebutuhan untuk menemukan jalan di dalam labirin dan kesuksesa dalam menghadapi perubahan yang terjadi.

Ini adalah perumpamaan tentang hal-hal yang kita inginkan dalam hidup ini, baik itu pekerjaan, hubungan, uang, rumah yang besar, kebebasan, kesehatan, pengakuan, kedamaian batin, atau bahkan kegiatan ringan seperti lari pagi atau golf.

Jadi empat karakter itu selalu menemukan keju di sebuah stasiun C di pagi hari, dua tikus selalu antusias dan memperlakukan pagi dengan semangat. Terus memantau keadaan dan siap sedia andai terjadi hal-hal di luar kendali. Dua kurcaci menghadapi pagi dengan santai, meyakini keju itu memang hak mereka dan sudah semestinya ada, jadi tiap pagi berangkat tanpa gairah, nyaman saja.

Setiap orang tahu bahwa tidak setiap perubahan itu baik atau bahkan diperlukan. Namun di dunia yang terus-menerus berubah kita harus mengambil bagian untuk belajar begaimana beradaptasi dan enikmati sesuatu yang lebih baik.

Nah suatu pagi, tak ada keju di sana. Dua tikus sudah meyakini dan sekarang terjadi, mereka mengantisipasi dengan cepat, menggunakan metode trial dan error untuk menemukan stasiun baru tempat keju berada. Gerak cepat dalam labirin yang tak pasti dan masa depan yang misterius. Sniff mengendus, Scurry berlari. Kegagalan beberap kali ada, dan mudah ditebak. Manusia, eh tikus akan berhasil bagi mereka yang mau berusaha. Benar saja, mereka menemukan keju di stasiun  N. Selamat.

Sementara dua kurcaci menghadapi keadaan dengan loyo. Rasa takut yang membuatnya tetap berada di tempat yang sama hingga saat ini. Haw yang tahu bahwa masa keju di stasiun C sudah berakhir, dipaksa keadaan untuk mencari di tempat lagi. Haw yang menyadari perbedaan antara aktivitas dan produktivitas. Sedang Hem menggerutu dan pasrah, tiap pagi masih saja ke sana dan memang tak ada keju. “Perasaan kosong seperti ini sudah sering kurasakan.” Sampai di sini juga kita pasti sudah bisa menebak, Haw akan menemukan keju dan Hem tewas mengenaskan. Mengandalkan angan saja tak cukup bos. Ia melukiskan suatu gambaran di pikirannya. Ia melihat dirinya sendiri berkelana ke dalam labirin dengan senyum mengembang…

Begitulah, sebagian cerita lalu fokus pada usaha pencarian yang dilakukan Haw. Haw pun sadar bahwa perubahan tidak akan mengejutkan jika ia memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya dan mengantisipasi perubahan. Menulis banyak kata mutiara di dinding labirin, mengingat keadaan dan kemungkinan, menjadikan kesalahan masa lalu menjadi pelajaran, dan tentu saja berhasil. Ia bertanya-tanya mengapa sebelumnya ia selalu berpikir perubahan akan mengarah ke sesuatu yang lebih buruk. Sekarang ia menyadarinya bahwa perubahan juga bisa mengarahkan ke sesuatu yang lebih baik.

Ia menyadari cara tercepat untuk berubah adalah menertawakan kebodohan diri sendiri, setelah itu kita bisa bergerak dan terus bergerak. Endingnya menggantung, entah Hem apakah mengikuti saran Hew ataukah mati mengenaskan karena gagal adaptasi. Apa yang akan kita lakukan kalau kita tidak takut?

Lihat, bukan tema baru bukan? Sudah sangat banyak sekali dibedah, lantas kenapa buku ini menarik dan tampak istimewa? Cara pembawaan dan pemilihan kata yang bagus. Ada unsur cerita yang mudah dicerna, ada pengandaian yang tak sulit untuk dipahami. Jelas buku ini sejatinya berisis nasehat-nasehat umum, tapi dikemas dengan aduhai dan enak dibaca. Buktikan!  

Ketakutannya disebabkan karena keyakinan-keyakinannya yang menakutkan. Aku melihat bahwa para Sniff, Scurry, Hem, Daw perlu diperlakukan dengan cara yang berbeda. Cheese di sini bisa apa saja. Salah satunya ya karyawan. Maka karena individu memang unik dan keempatnya pasti ada di Perusahaan, kita harus memperlakukan mereka berbeda. Hidup di dalam air yang selalu bergolak juga mendatangkan stes kecuali jika kita punya pegangan untuk memahami perubahan yang terjadi.

Saat cheese itu dipindahkan mereka merasa sebagai korban dan mulai menyalahkan orang lain. Penyakit mereka menjadi lebih parah dibandingkan mereka yang mengikhlaskan dan segera bertindak. Mungkin akan lebih baik jika ada yang memulai perubahan daripada hanya bereaksi dan menyesuaikan diri.

Ini buku kedua dari Spencer Johnson ang kubaca setelah ‘Yes or No’ yang polanya sama, buku motivasi dengan cerita sebagai benang merah. Bedanya yang pertama nasehatnya umum, temanya tak spesifik walau intinya adalah ketegasan mengambil keputusan tapi melebar ke mana-mana, yang kedua ini benar-benar fokus bagaimana menghadapi perubahan. Keduanya bagus, tapi Who Moved my Cheese? Jelas terasa lebih lezat.

Bergerak bersama cheese dan menikmatinya!

Who Moved My Cheese? | by Spencer Johnson, M.D. | Published by G.P. Puttnam’s Sons Publishers since 1838 a member of Penguin, New York | Copyright 1998, 2002 | ISBN 0-399-14446-3 | Alih Bahasa Antonius Eko | Penerbit Media Komputindo | 236122201 | ISBN 978-602-02-0197-9 | Skor: 4/5

Karawang, 200721 –ABBA – Dancing Queen

#30HariMenulis #ReviewBuku #20 #Juli2021

Memoirs of a Geisha #19

“Kita tak boleh membuang-buang waktu memikirkan hal semacam itu, taka da tabf lebih suram daripada masa depan, kecuali mungkin masa lalu.”

Luar biasa. Seperti naik roller coaster, walau tak banyak liukan dan tanjakan terjal, ceritanya berliku. Awalnya sudah sangat manis, gadis miksin anak nelayan dengan kecantikan natural. Matanya yang cemerlang sering kali disebut, berulang kali. Lalu keadaan mencipta, ia dan kakaknya dikirim ke kota, dijual untuk dididik menjadi orang. Bisa jadi apa saja, tergantung nasib dan kemauan. Bisa jadi pelayan, pelacur, pekerja pabrik, atau geisha.

Memang suku kata ‘gei’ dalam kata ‘geisha’ berarti ‘seni’ jadi kata ‘geisha’ yang sebenarnya adalah seniman. Geisha, di atas segalanya adalah penghibur dan pementas. Menuang sake atau teh memang dilakukan, tapi jelas tak akan pernah mengambil acar tambahan. Geisha sejati tidak akan pernah mengotori reputasinya dengan membuat dirinya bisa disewa laki-laki dengan tarif per malam. Geisha tidak pernah menikah. Atau paling tidak, mereka menikah tidak menjadi lagi geisha.

Di tengah di suguhi kelokan konfliks internal, bagaimana mencipta geisha yang cakap. Perseteruan dengan geisha magang dan kakaknya, perseteruan dengan para tamu, lalu luluh lantak oleh perang. Seolah semuanya di-reset, setelah ambyar Jepang mencoba membangun negeri.

Bagian akhir awalnya kukira bakalan landai, menjurus ke bosan sebab keinginan sang protagonist banyak sekali terwujud. Hanya satu hal, ia tak mau jadi danna seorang yang cacat sekalipun orang tersebut sudah banyak membantu, sudah sering sekali mengangkatnya dari lembah kenistaan, bahkan menyelamatkan nyawanya. Nah bagian akhir inilah kejutan dicipta, sempat bilang wow, lalu eksekusi ending, makin bilang wow. Happy ending sih, tapi kurasa worth it sebab ini memang memoar yang memastikan sedari mula Sayuri selamat dan terdampar di Amerika, seperti kata pengantar yang memang bocoran utama.

Kisahnya tentang Sakamoto Chiyo, atau sekarang bernama Nitta Sayuri, nama geisha-nya. Ia bercerita kepada sang penulis, memberitahukan kisah masa lalunya. Sayuri kini tinggal di New York, membuka kedai minuman khas Jepang dan bisnis lainnya. Dari sini saja sudah merupakan kunci penting novel ini.

Cerita ditarik dari mula sekali. Chiyo-san adalah anak kedua dari dua bersaudara, ayahnya nelayan miskin dengan rumah miring di pesisir pantai Yoroido. Ibunya sakit-sakitan. Suatu hari saat sedang berlari untuk membeli sesuatu, Chiyo kecil terjatuh dan terluka. Tetangganya Tuan Tanaka Ichiro membantunya, membawanya ke rumah dan jelas sekali ia tampak terkesan. Matanya cemerlang, jelita sekali.

Kejadian itulah yang mengubah masa depan Chiyo. Suatu hari ia dijemput Tuan Tanaka diajak naik kereta api bersama kakaknya Satsu juga. Lalu disambung oleh Tuan Bekku, orang asing pula. Ini adalah perjalanan paling jauh yang pernah ia rasakan, sekaligus menakutkan sebab tak tahu akan ke mana. “Ke mana pun dia membawa kami, aku lebih memilih bersamanya daripada terdampar sendirian di tengah jalan-jalan besar dan bangunan-bangunan yang sama asingnya bagiku dengan dasar samudra.” Katanya setelah menyadari mereka sampai di Kyoto.

Mereka ditempatkan di Okiya, tempat geisha tinggal. “Ini Okiya, tempat tinggal geisha. Kalau bekerja keras, nantinya kau bisa menjadi geisha…” Adalah Hatsumomo, geisha yang utama. Ia dilayani banyak orang. Bibi, nenek, pelayan, dan juga Chiyo. Sementara kakaknya dikirim ke tempat lain. Penguasa utama adalah ibu, ia yang mengatur banyak hal. “Si Hatsumomo itu cantik sekali, tapi lihat sendiri, bodoh sekali dia.”

Hari-hari berat dilaluinya, belajar, bekerja, dan memerhatikan situasi baru ini. “Kalau kau mengamati geisha-geisha paling sukses di Gion, semuanya penari.” Suatu hari ia niat kabur, janjian sama kakaknya di tepi sungai, lalu rencananya pulang. Naas, malam itu ia naik ke atap, merangkak dalam senyap, lalu melewati pagar. Yah, malah jatuh. Ia terluka, dan saat siuman hari sudah berganti. Kesempatan satu itupun lenyap, dan ia tak bertemu kakaknya hingga sekarang. Betapa mudanya untuk mengambil langkah sebesar itu

Kabar duka malah tiba, orangtuanya meninggal dunia. Ibunya yang memang sakit-sakitan dan ayahnya yang sudah menanggung banyak beban. Kini ia sebatang kara, dunia yang kejam menghantamnya sedari masa kecil. Mereka punya anjing bernama Taku. Taku adalah makhluk pemarah dengan muka jelek. Kegemarannya dalam hidup ini cuma tiga – menggonggong, mendengkur, dan menggigit orang yang mencoba membelainya.

Chiyo suatu sore di tepi sungai menyaksikan iring-iringan orang kaya menuju teater, ia terpesona dan saat itulah ada salah seorang laki-laki menghampirinya. Memberinya uang untuk membeli makanan, senja itu mencetak kenangan. Laki-laki itu mencipta kenangan, kenangan yang akan banyak menentukan masa depannya.

Perseteruan dengan Hatsumomo kian parah, ia mengangkat temannya Labu untuk dijadikan geisha magang, sementara Chiyo diangkat oleh geisha rumah sebelah Mameha mengganti namanya Nitta Sayuri. Pertaruhan ini dicerita panjang dan berbelit. Promosi geisha magang dari akting terluka untuk menggoda seorang dokter, mendatangi seorang pelukis, hingga jamuan teh dan sake seolah tak henti. Menyaksikan tanding sumo. “Aku tak berniat mengalahkan lawanku, aku berniat mengalahkan kepercayaan dirinya. Pikiran dirasuk keraguan tidak bisa terfokus pada jalan kemenangan…” Mameha adalah geisha besar di zamannya. Pernah menjamu Penulis besar Jerman Thomas Mann, Bintang film terkenanl Charlie Chaplin, Peraih Nobel Sastra Amerika Ernest Hemingway ke Jepang dijamu istimewa dengan para geisha yang tampil. Jelas, ia di tangan yang tepat.

Dari pelatihan ini kita mencatat nama-nama penting. Ketua adalah pemilik Iwamura Elektrik yang membuat Sayuri jatuh hati. Lalu Nobu, veteran perang yang kehilangan salah satu tangannya. Ia orang kepercayaan Ketua, ia sudah jatuh hati sama Sayuri sejak magang. Namun jelas, cinta itu tak beriring. Lalu Dr. Kepiting, orang yang menolong membebat luka, seorang predator perawan. Nantinya ialah yang membeli mizuage-nya. Mizu berarti ‘air’ dan age berarti ‘menaikkan’ atau ‘meletakkan’ sehingga mizuage kedengarannya berkaitan dengan menaikkan air atau menaruh sesuatu dalam air. Sayuri mendapat pelajaran seks dengan pengandaian aneh. “Belut tak berumah” Lelaki punya semacam belut di tububmereka. Belut menghabiskan sepanjang hidupnya untuk mencari rumah, dna tahukah kau apa yang dipunyai perempuan di dalam tubuhnya? Gua, tempat belut suka tinggal. Gua ini adalah tempat dari mana keluar darah setiap bulan ketika ‘awan melintasi bulan’.

Dan jangan lupakan Uchida Kosaburo, pelukis ini juga masuk radar. Nantinya ia melukis Sayuri dengan eksotis, menjadikannya model geisha. Dan namanya akan terkenal, bukan hanya di Gion tapi seisi Jepang.

Kisah ini bersetting tahun 1930-an. Di Jepang zaman setelah zaman Malaise sampai Perang Dunia II disebut kuraitani – lembah kegelapan. Ketika begitu banyak orang hidup seperti anak-anak yang kepalanya terbenam di bawah ombak. Dan susunan bata yang mengasyikkan itu porak poranda akibat Jepang kalah perang. Malam demi malam kami menyaksikan bulan berubah merah karena kobaran api di Osaka. Kehidupan jadi sangat sulit dan terlunta. “Sungguh aneh, apa yang dibawa masa depan untuk kita. Kau harus berhati-hati, Sayuri, jangan pernah mengharap terlalu banyak.”

Rumah minum teh Ichiriki yang biasa menggelar pesta langsung sunyi. Banyak geisha menjadi pekerja pabrik, membuat parasut, mencetak peluru, dan sebagainya. Sayuri setelah meminta tolong beberapa orang penting, akhirnya justru dibantu Nobu, direkomendasikan tinggal di Keluarga Arashino. Itulah sebabnya khayalan bisa sangat berbahaya. Mereka menjalar seperti api, dan kadang-kadang membakar habis kita.

Tak ada yang bisa lebih baik mengatasi kekecewaan daripada kerja. Saat perang usai dan keadaan membaik, ia akhirnya dijemput bibi untuk kembali ke Okiya. Kembali menjalankan bisnis, tapi jelas sudah tak sama lagi. ia kalut. Kegiatan dalam sarang semut pun kalah sibuk dengan pikiranku. Angsa yang meneruskan hidup di pohon orangtuanya akan mati, itulah sebabnya mereka yang cantik dan berbakat menahan penderitaan untuk menemukan jalan mereka sendiri di dunia. Segera saja pikiranku serasa seperti vas pecah yang tak bisa berdiri. Pikiranku terasa kosong.

Geisha sangat percaya tahayul, seperti pernah kukatakan. Bibi dan ibu, bahkan juga juru masak dan para pelayan, jarang sekali mengambil keputusan sederhana seperti membeli sandal tanpa berkonsultasi pada almanak. Kurasa yang dimaksud dengan ‘anggun’ adalah semacam percaya diri atau kepastian, sedemikian rupa sehingga sepoi angin atau jilatan ombak tidak akan membuat perubahan berarti.

Saat seolah segalanya membaik, Sayuri lalu akan diambil sebagai danna, sejenis wanita simpanan yang menetap pada satu orang laki-laki. Ia memang seolah ditakdirkan menjadi wanita-nya Nobu, yang jelas-jelas ia mengharap Ketua. Nah, suatu hari mereka bertamasya ke Pulau Amami bersama para pembesar, termasuk Menteri yang memiliki pengaruh keberlangsungan Iwamura Elektrik. Di pulau itulah drama yang dimainkan berantakan dan twist. Kehidupan telah bertindak kejam kepadanya, dan dia hanya menerima sedikit sekali kebaikan.

Bagian berikutnya bisa saja menjadi sad ending pilu nan menyakitkan, serta memalukan. Namun tidak. Malam saat ia seharusnya resmi menyandang sebagai danna, kejutan lain menghantam. Manis, terlalu manis. Segalanya lantas berubah, mereka membeli rumah mewah di timur laut Kyoto dan menamainya Eisha-an – Tetirah Kebenaran Makmur. Dan segalanya baik-baik saja, akhirnya. Duduk di sini mengenang malam bersamanya sebagai saat ketika suara-suara dukacita dalam diriku menjadi diam.

Buku tebal, lebar, dengan tulisan kecil-kecil. Tipe buku yang akan sulit diselesaikan jika tak dipaksa kelar. Hampir 500 halaman, kisah yang panjang nan berliku. Kebetulan sekali kumulai baca saat Isoman, dan butuh sebulan tuntas, kuselesaikan baca dengan kekuatan santai saja. Kubaca bersama Kronik Burung Pegang yang lebih dahsyat tebalnya. Kita tidak menjadi geisha agar hidup kita memuaskan. Kita menjadi geisha karena kit arak punya pilihan lain.

Kurasa kenangan akan tahun-tahun mengerikan itulah yang membuatku merasa sangat sendirian. Harapan itu seperti hiasan rambut. Gadis-gadis ingin memakai terlalu banyak hiasan rambut. Ketika sudah tua, mereka tampak boidoh bahkan kalaupun hanya memakai satu. “Kadang-kadang, kurasa hal-hal yang kuingat lebih realistis daripada hal-hal yang kulihat.”

Memoar Seorang Geisha | by Arthur Golden | Diterjemahkan dari Memoirs of a Geisha | Copyright 1997 | 6 17 1 86 002 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Listiana Srisanti | Desain sampul Martin Dina | Pertama terbit 2008 | Cetakan ketigabelas: Februari 2018 | ISBN 978-602-03-3769-2 | 496 hlm; 23 cm | Skor: 5/5

Untuk istriku, Trudy, dan anak-anakku, Hyas dan Tess

Karawang, 190721 – Very best of Jazz (Louis Armstrong)

#30HariMenulis #ReviewBuku #19 #Juli2021

The Joy Luck Club #17

Ada suatu pendapat bahwa orangtua tidak seharusnya mengkritik anak-anak. Mereka sebaliknya harus memberikan dorongan. Mama tahu, orang selalu berusaha bangkit untuk memenuhi harapan orang lain. Dan jika Mama mengkritik artinya Mama mengharapkan kegagalan.”

Buku yang luar biasa. Padat dan melelahkan. Kita jadi saksi kehidupan empat ibu imigran Cina ke Amerika Serikat, dan menjadi pula saksi kehidupan empat putrinya yang terlahir sebagai warga Amerika. Segalanya tumpang tindih. Bahasanya mendayu, agak rumit, nyastra di beberapa bagian yang butuh telaah. Seperyi kehidupan ini sendiri, novel ini juga menyajikan banyak sekali tragedy. Bagian-bagina pedih bahkan menjadi sangat banyak sebab mereka adalah orang asing di negeri asing. Butuh perjuangan ekstra untuk adaptasi dan menjalani rutinitas baru, jelas ini masuk radar buku istimewa. Ditulis dengan detail mengagumkan, dituturkan dengan sabar, renyah dan seperti judulnya novel ini juga memberi kebahagian, seperti kebanyakan orang Cina, keberuntungan bisa dibentuk. Kami orang-orang yang beruntung.

Kisahnya dibuka dengan Jing-Mei Woo memiliki nama panggilan June yang sudah kehilangan ibunya. Ia menggantikan main mahyong dalam perkumpulan, dan lalu mendengar banyak sekali pengakuan masa hidup ibunya yang dulu dianggap aneh dan keras.  Joy Luck Club adalah suatu ide yang diingat ibuku dari masa perkawinan pertamanya di Kweilin, sebelum masuknya Jepang.

Agar mudah mencerna ulasan kita jelaskan terpisah masa saja. Empat anak dan empat ibu, setelah mengambil sudut June, kita mengambil sudut lainnya. Saya urutakn dari anak-anak saja, yang kedua Rose Hsu Jordan. Memiliki masa lalu tragis saat menyaksikan adik kecilnya Bing tenggelam di pantai. Benar-benar bagian paling menggetarkan. Ia menikah dengan doctor Ted Jordan, sebenarnya menjadi tampak istimewa. Sayangnya tidak, mereka bercerai dan menyeret kasus di pengadilan. Aku akan selalu mengingat pesan orangtuaku, tetapi aku tak akan melupakan diriku sendiri.

Ketiga Waverly Jong, masa kecil hingga remaja menjadi kebanggan keluarga. Juara catur cuy, cerdas dan sungguh menggairahkan. Ia menjadi semacam contoh anak lain, terutama June. Sayangnya telenta hebat itu seolah menghilang, tekanan dan seteru sama ibunya menjadikannya muak. Dia suka membicarakan permainanku seolah-olah dia yang menciptakan strateginya. Kehebatan main catur seolah lenyap, seperti datangnya, ia berhenti total seperti ada rem darurat diinjak.

Keempat Lena St. Clair seorang penerjemah. “Karena perempuan adalah yin, kegelapan yang tersembunyi, tempat nafsu yang tak terkendali bersarang. Dan laki-laki adalah yang, kebenaran yang bersinar, menerangi pikiran kita.” Ia menikah dengan Harold, sedari mula pernikahan ini tampak meragukan. Ada perjanjian pembagian harta, suaminya juga adalah atasannya. Ia mendesain dan menyuport banyak hal. Namun pembagian harta itu malah mengacaukan banyak sekali hal. Berakhir pula dalam frustasi.

Keempat ibu lebih banyak berkisah di masa lalu, di Cina yang gundah. Pertama Suyuan Woo, kisah paling menyedihkan adalah saat perang ia harus melepas satu dari dua anaknya, yang selamat bernama Jing-Mei yang menjadi pondasi utama novel ini.

Kedua An Mei-Hsu yang belajar banyak sama ibunya. Setelah percerian orangtuanya, ia tinggal sama ibu dan ayah barunya. Yang ternyata sudah punya istri lainnya lagi, ibunya tampak pasrah dan menerima keadaan, tapi jelas sakit siapa yang mau dimadu. An Mei ke Amerika dan menikah, memiliki tujuh anak. Ia adalah ibu Bing, yang mati tenggelam.

Ketiga adalah Lindo Jong, wanita kuat dan ibunya Waverly si juara catur. Ia banyak mengatur kehidupan, terlalu masuk ke pribadi yang justru membuat muak orang sekitar. Ia bangga menjadi seorang Amerika, yang lantas agak mengikis jiwa Cina-nya.

Keempat Ying-Ying St. Clair yang terlalu banyak tahayul. Timur adalah awal dari segala sesuatu, ibuku pernah berkata begitu kepadaku, arah dari matahari terbit, dari mana angin datang. Ia menikah bukan karena cinta, ia menyebutnya takdir. Menjalani hidup yang ngalir aja. Sampai suatu hari seorang Amerika di Shanghai Clifford St. Clair. Setelah suaminya meninggal dunia, ia menikah dengannya, pindah ke Amerika memiliki anak, salah satunya Lena, yang satunya lagi meninggal dunia. Sang Tiger. Jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus di tengah-tengahnya. Aku belajar permainan tengah dan mengapa taktik antara dua lawan itu seperti benturan ide. Pemain yang lebih baik memiliki rencana yang lebih jelas, baik untuk menyerang maupun untuk meloloskan diri dari jebakan. Aku mempelajari pentingnya membuat ramalan yang tepat pada akhir permainan, pengertian matematis tentang semua gerakan yang mungkin dibuat, kesabaran.

Para ibu-ibu ini rutin ngumpul dan main mahyong. Main mahyong Cina, kau harus bermain memakai kepalamu, sangat rumit. Lalu kami mengobrol sepanjang malam sampai pagi, menceritakan kisah-kisah yang menyenangkan di masa lalu, dan di masa yang akan datang.

Karena ini kisah para imigran, maka kerja keras adalah wajib. Saat agak mapan, mereka tentu coba penghasilan yang lebih baik lagi. Jadi, sejak lama kami memutuskan untuk berinvestasi pada bursa saham. Di sana tidak ada keahlian. Bahkan ibumu pun setuju.

Ini merupakan permainan yang serba rahasia, di mana kita harus menunjukkan tapi tak boleh menceritakan. Rasa sakitnya harus dilupakan. Karena terkadang karena itulah satu-satunya cara untuk mengingat apa yang ada pada tulang kita. Aku selalu akan ingat, peran orangtuaku, tetapi aku tak akan melupakan diriku sendiri. “Kalau sesuatu berlawanan dengan watak kita, kita dalam keadaan tak seimbang…”

Aku menangis gembira bersama mereka, karena aku sudah salah sangka. Aku sudah merasakan yang terburuk, setelah ini tak mungkin ada yang lebih buruk lagi. Ini bukan soal harapan. Ini soal alasan. Ini takdirmu. Ini hidupmu, sesuatu yang harus kau lakukan.

Dalam arus Cina kita dianggap harus menerima segalanya, mengalir mengikuti arus Tao dan tidak membuat gelombang Dan entah mengapa, melihat semua tanda-tanda kecil kedomestikan yang familier ini, ritus ehari-hari kami, membuatku mabuk di dalam. Seolah-olah dia membangun dinding tak tak kehilatan, setiap hari diam-diam merabanya untuk melihat seberapa tinggi dan lebarnya dinding itu.

Amy Tan lahir di Oakland, California tahun 1952. Ia menyandang gelar master linguistic dari San Jose State University. Esainya banyak dimuat di majalah, begitu juga cerpen-cerpennya. The Joy Luck Club adalah novel debut dan menjadi finalis National Book Award dan National Book Critics Award. Tahun 1990 memperoleh penghargaan Bay Area Book Reviewer Award for Fiction. Ini juga menjadi buku pertama Amy Tan yang selesai kubaca, buku lainnya jelas masuk radar wajib lahap! Kado terbesar tidak selalu yang terbagus.

Pepatah Cina yang mengatakan Chunwang chihan: jika bibir tidak ada, gigi akan kedingingan. Yang artinya satu hal merupakan akibat dari hal yang lain. Bagaimana mungkin di dunia yang penuh kesemrawutan bisa timbul begitu banyak persamaan dan perbedaan yang persis bertolak belakang?

Perkumpulan Kebahagiaan dan Keberuntungan | by Amy Tan | Diterjemahkan dari The Joy Luck Club | Copyright 1989 | Alihbahasa Joyce K. Isa | GM 402.94.990 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Mei 1994 | Cetakan kedua, Juli 1994 | 488 hlm; 18 cm | ISBN 979-511-990-7 | Skor: 5/5

Untuk ibuku dan kenangan akan ibunya;

Kau pernah bertanya kepadamu apa yang akan kuingat;

Ini, dan masih banyak lagi.

Karawang, 060421 – 110621 – 170721 – New York Jazz – Bar Jazz Classics

Thx to Lifian, Jakarta

Sumur #16

“Setiap buku langka adalah buku curian.”

Satu cerpen dalam satu buku. Terdengar gila ‘kan? Gila nggak? Ya aja deh. Biasanya kita disuguhi kumpulan cerpen, minimal dua atau tiga cerpen. Berarti ini diluar biasanya, hanya Eka Kurniawan yang bisa. Penulis lokal dengan ketenaran dan jaminan mutu. Hebatnya lagi, laris. Dari beranda sosmed saat masa pre-order dibuka dari harga 50k menjadi 40k, banyak sekali toko buku daring yang pajang sold out. Mendekati hari H penutupan, saya yang penasaran malah ikutan klik beli. Dan, setelah #unboxing, ini benar-benar satu cerpen dijual lima puluh ribu rupiah! Dibaca lima menit. Kalau value biaya (saat ini) jelas kurang worth it, tapi kembali ke kualitas yang utama. Eka adalah brand, di mana namanya yang tercetak di sampul memberi rasa penasaran, minimal ada keinginan menikmatinya.

Cerpen ini pertama terbit dalam bahasa Inggris di antologi Tales of Two Planets dengan judul ‘The Well’ yang diterbitkan oleh Penguins Books tahun 2020. Kisahnya tentang hikayat sejoli yang saling mencinta tapi kandas karena keadaan. Lihat, tema usang kasih tak sampai kalau dicerita dengan mantab menghasilkan thriller bermutu.

Adalah Toyib yang sedari kecil mencintai Siti dari kampung sebelah. Setiap pagi berangkat sekolah bersama, kadang berdua, kadang ramai-ramai. Garis nasib mencipta, ayah keduanya berduel hingga ayah Siti mati. Gara-gara sepele, masalah pembagian pengairan sawah. Ayah Toyib setelah kabur ke hutan, berhasil ditangkap lalu dibui. Keadaan ini jelas turut serta membawa sejoli ini merenggang, ada aib dan sengsara yang memisahkan mereka.

Setelah empat tahun delapan bulan, ayah Toyib bebas. Ia banyak belajar memperbaiki mesin semasa di penjara. Ia bahkan berhasil mengumpulkan uang dengan jasanya, dan uang itu ingin diberikan kepada Siti, lewat Toyib. Berat, tapi diiyakan.

Nah, ada sebuah sumur di lembah, di balik bukit seberang perkampungan. Satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan. Siti melaksanakan tugas mengambil air, Toyib juga. Kesempatan ini dipakai untuk menyampaikan niatnya. Sore itu mereka bertegur sapa dalam canggung. Saat niat utama disampaikan, hanya satu kata yang terucap dari sang gadis, “Tidak.”

Siti yang coba menghindar terjatuh dan luka kakinya, Toyib mencoba membantu. Berikutnya seolah mendapat amanat memikul dua ember untuk dua keluarga ini. Siti diam, dan dianggap sepakat saja. Waktu lalu mencipta perubahan, Toyib diterima masuk rumah dan ibu Siti yang menerima bungkusan tersebut. Saat ditanya di mana Siti? Ternyata sudah berangkat merantau ke kota. Pupus sudah harapan itu…

Dan begitulah, perpisahan tanpa kata-kata itu mencipta jarak yang sungguh lebar. Kabar satu tertimbun kabar lainnya, masa membawa manusia-manusia ini dewasa dengan sangat cepat. Siti menikah, Toyib patah hati dan berniat mencari kerja ke kota, tragedi lain terjadi, dan sekali lagi saat ada kesempatan kedua, akankah cinta pertama ini dapat dipersatukan?

Pertanyaan mendasar orang yang menikah, “Apakah kamu bahagia dengan pernikahanmu?” Sejatinya bukan khusus untuk orang-orang pacaran yang kandas ke pelaminan. Ini pertanyaan umum, bahkan bagi pasangan yang saling mencinta, saling berjanji sejati, saling sepakat untuk setia, menikahi orang terkasih. Masa akan melindas banyak sekali kenyataan pahit manis, dan pertanyaan itu layak diapungkan juga. Dunia fana yang membuncah tanya, masa depan yang misterius.

Dihadiahi jaket buku yang manis dan pembatas buku sederhana dengan pesan makjleb dari Penerbit. “Terima kasih telah membawa pulang Sumur karya Eka Kurniawan. Buku ini hanya dicetak sekali. Pada suatu saat nanti dia akan menjadi langka. Semoga kamu senang membacanya. Seperti kami yang bersuka cita saat menyiapkan kelahirannya.” Semoga saja benar hanya dicetak sekali, karena antusiasme yang tinggi dan gegap gempitanya terasa, setelah sebulan terbit hypenya masih meriah, akankah suatu masa berubah pikiran? Ya, saya sepakat suatu hari akan langka. Kriteria langka itu bagaimana? Burt Auerback, juru tafsir buku langka di Manhattan pernah bilang, “Buku langka adalah buku yang harganya jauh lebih mahal sekarang daripada saat diterbitkan.”

Kolektor buku dari Amerika, Robert H. Taylor berkata, “Buku langka adalah buku yang sangat kuinginkan dan tidak bisa kutemukan.” Saat orang-orang menjawab serius, mereka semua sependapat bahwa ‘rare’ – langka, adalah istilah yang sangat subjektif. Satu-satunya kualitas ‘langka’ yang disepakati para kolektor adalah kombinasi kejarangan, kepentingan, dan kondisinya.

Ada kasih unik masalah ini, buku langka Tamerlane and Others Poems ditulis oleh pengarang tanpa nama yang hanya diidentifikasi sebagai, “Seorang Warga Boston.” Lalu berjalannya waktu baru diketahui ternyata adalah karya Edgar Allan Poe saat berusia 14 tahun. Buku setelah 40 halaman yang dicetak tahun 1827 oleh percetakan yang biasa mencetak resep, harga awalnya hanya 12 sen, dan kini setelah ratusan tahun berselang harga dalam lelang bisa mencapai 200 ribu dollar! Nilai Tamerlane yang biasa-biasa saja saat pertama terbit, tampak biasa saja, dibuat hanya 50 sampai 500 eksemplar, kini menjadi legenda dan tercatat hanya ditemukan 14 buku. Lihat Sumur, kita bukan cenayang, tapi kalau Penerbit komitmen tak mencetaknya lagi, tak sampai seratus tahun lagi bukankah tak mustahil berwujud prediksinya? Mirip semua ‘kan, kecuali nama Eka yang memang sudah sungguh terkenal.

Kasus dalam negeri yang paling terkenal tentu saja buku-buku awal Pram, harganya menggila. Semakin lama cetakannya semakin mahal. Saya pernah lihat di posting Facebook, ‘Arus Balik ‘dihargai sejuta lebih, kukira penjualnya gila. Eh ternyata ada komentar pembeli, itupun disusul komen lainnya yang turut antri!

Dalam buku, The Man Who Loved Books Too Much karya Allison Hoover Bartlett, “Selain menjadi kendaraan untuk menyampaikan kisah (dan puisi, informasi, referensi, dll) buku merupakan artefak sejarah dan tempat berkumpulnya kenangan. Kita senang mengingat-ingat siapa yang memberi buku kepada kita, di mana saat kita membacanya, berapa usia kita, dan sebagainya.” Jadi semakin jelas alasan kenapa Sumur harus dicetak. Sepuluh dua puluh tiga puluh tahun lagi, buku ini akan jadi semacam artefak, dimana keunikan dan rare tadi akan lebih menonjol daripada isinya.

Sumur dan misteri diam. Kebetulan saya lagi baca Kronik Burung Pegas-nya Haruki Murakami. Ada kisah bersisian, bagaimana sang protagonist merenung ke dasar sumur tua yang sudah tak mengeluarkan air. Menapaki kesunyian dan mencapai ketenangan luar biasa, semadi yang menghasilkan tompel dan segala tanya dunia antah di dimensi lain. Sumur yang ini lebih kalem, perannya seolah hanya menjadi saksi biru cinta kandas dan membuncah. “Kamu bertemu Siti di sumur?”

Sumur | by Eka Kurniawan | GM 621202009 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Mirna Yulistianti | Desain sampul & ilustrasi Umar Setiawan | Setting Sukoco | Cetakan pertama, Juni 2021 | ISBN 978-602-06-5324-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 160721 – The Cranberries – Animal Instinct

#30HariMenulis #ReviewBuku #16 #Juli2021

Buku ini kubeli di Kedai Boekoe, Bekasi. Saya ambil sepaket sama Misa Ateis-nya Honore de Balzac. Kunikmati saat isoman, menjadikan serangkai buku (dan film) yang berhasil kutuntaskan.

Putri Cina #15

Korsiah: “Oalah Tien, hidup ini sudah pahit, mengapa kamu masih mau mencari makanan yang pahit-pahit? Kamu ini seperti nyidham saja.”

Sifat orang Cina, senang menikmati kebadanan, tapi tak membenci kehorhanian. Padahal kata leluhurnya, hanya dengan menjadi sederhana kau dapat menemukan dirimu yang sesungguhnya. Epic memang, kata-kata mutiara ditebar di banyak tempat. Pepatah Cina, manusia itu seharusnya seperti burung, yang terbang tanpa meninggalkan bekas dan tapaknya.

Kisahnya panjang nan melelahkan, sepertiga pertama agak boring sebab menarik lurus ke balakang sejarah orang-orang Cina di tanah Jawa, agak berbelit dan seolah menikmati dongeng/sejarah. Sepertiga kedua baru kita memasuki are sesungguhnya, bagaimana arah cerita terbentuk. Dari kesenian keliling, bintang ketoprak seorang putri Cina yang menarik perhatian dua tentara/orang penting. Sepertiga akhir barulah meledak. Waktu mengubah mereka menjadi pejabat, tapi persaingan lama terus menggelayuti. Saat geger geden, eksekusi ending yang pilu disajikan. Klimaks, bagaimana susunan itu membuncah luar biasa. Sedih, tapi kisah yang bagus memang rerata berakhir dengan kesedihan.

Kisah utama sejatinya tentang Giok Tien, sang Putri Cina. Namun untuk ke sana kita diajak bersafari jauh ke masa lalu, riwayat orang-orang Cina mula di tanah Jawa, sejarah kerajaan-kerajaan di pulau Jawa yang terhubung dengan Negeri Tirai Bambu, lantas menyusut ke keturunan paling ujung yang ada di kisah ini. Di Tuban aku datang / ketika perahuku datang di Tanah Jawa. / Dari Tuban aku pergi / ketika selamanya aku harus meninggalkan Tanah Jawa.

Membawa serta kisah-kisah legendaris masa lampau. Tentu saja kisah Perang Bratayudha disebut, satu kerajaan Astina di bawah Kurawa dengan rajanya Duryudana, si sulung dari Kurawa sedang lainnya Kerajaan Amarta, di bawah Pandawa dengan Yudhistira, si sulung dari Pandawa. Buminya sudah ditaburi dengan darah dendam dan pembalasan. Semua hanya lanjutan darah Kurusetra, di ama nenenk moyang mereka, saudara sesama, berperang habis-habisan meninggalkan warisan dendam, sampai sekarang. Sabdopalon-Nayagenggong berkata, “Sesungguhnya sejarah hanya berulang. Apa yang akan terjadi kelak, telah terjadi sekarang. Dan apa yang terjadi sekarabf, telah terjadi dulu. Hamba tak perlu menyebut satu per satu riwayat pertikaian di Tanah Jawa yang tiada hentinya itu…”

Jadi memang sudah turun-temurun rasa itu, mengapa ia dan kaumnya selalu tergoda untuk mencari harta dan kekayaan yang berlebih-lebihan. Padahal leluhur mengajarkan berulang-ulang, untuk menemukan tao, jalan kebahagiaan itu, manusia tak boleh terikat akan benda atau harta apa pun jua.

Mega-mega berarak, membawa lamunannya terbang jauh ke padang bunga. Segala bunga tumbuh di sana. Satu-satunya bunga yang di sana taka da adalah mawar hitam yang kini menjadi wajahnya. Di manakah ua ketika tiada lagi wajahnya? Ia pun bertanya, siapa ia sesungguhnya, dan mengapa ia bernama Putri Cina?

Ngomongi Jawa tentu saja kisah wayang kulit disampaikan. Kyai Dhudha Nanang Nunung, “Semar punika saking basa samar, mapan pranyata Kyai Lurah Semar punika wujudira samar.” Semar itu dari kata samar, memang ternyata Kyai Lurah Semar itu wujudnya adalah samar.

Kemegahan Majapahir berakhir lalu muncullah kerajaan Islam. Raden Patah dipanggil dengan nama Jim Bun, nama Cina itu disandang olehnya saat sebagai Sultan Demak. Nama lengkapnya, Jimbun Ngabudir-Rahman. Para wali berpesan hendaknya raja yang baru bisa menjadi jembatan antara Jawa lama menuju Jawa baru, antara agama lama menuju agama yang baru.

Settingnya di era Kerajaan Medang Kamulan Baru atau nantinya diplesetkan jadi Pedang Kemulan. Awalnya damai dipimpin oleh Prabu Murhardo, tapi berjalannya waktu rakyat muak sama pemerintahan kerajaan sebab banyak huru-hara. Adalah Giok Tien, pemain ketoprak keliling Sekar Kastubo, gadis keturun Cina ini memainkan perannya dengan cantik. Memikat banyak penonton, dan salah satu penontonnya Radi Prawiro bahkan sampai obsesif mencintai membabi buta, ia mengejar sang Putri Cina ke manapun, menuntut untuk dijadikan istri.

Lalu muncul penonton yang juga mengaguminya bernama Setyoko. Ia sukses mempersunting dan membuat Giok Tien rela meninggalkan dunia seni yang ia cintai saat di puncak karier. Hati-hati bila sedang di puncak kehebatanmu. Sebab justru di puncak kehebatanmu itulah berada di titik kejatuhanmu. Di negeri ini kemunafikan adalah kekuatan luar biasa, yang bisa menjatuhkan siapa saja yang terjerat oleh hukum kemunafikan itu.

Sebelum pamit sama teman-teman teater-nya ia memerankan kisah legendaris Cina yang tragis. Eng Tay dan Sam Pek. Dulu memang di rumah orang-orang Jawa, kayu jati yang menjadi soko guru rumahnya selalu di-patek dengan bamboo sehingga keduanya menyatu. Persatuan itulah yang menyangga kokohnya rumah tersebut. Melambangkan agar keluarga yang menghuninya tak terpisah seperti cinta Sam Pek dan Eng Tay.

Lalu kisah ini seolah berakhir bahagia, mereka menikah dan pindah kota. Namun ini jauh dari kata itu, sebab kerajaan yang penuh huru-hara ini lalu membuat kebijakan yang tak bijak, mereka membuat aturan untuk menyingkirkan warga keturunan Cina. Cerita pilu ini sudah turun-temurun, langsung saya teringat tragedy 1998. Hiks, sedih banget. Kata K’ung Tzu, kemanusiaan itu melebihi api dan air. Manusia bis amati karena air dan api. Tapi kemanusiaan terus abadi, tak bakal mati oleh apa pun, juga oleh air dan api.

Kali ini kita di masa yang huru-hara dengan nama lain, yang ternyata Setyoko sudah menjadi Gurdo Paksi dan Radi Prawiro menjadi Joyo Sumengah. Keduanya ada di lingkaran pemerintahan tapi Setyoko masih lebih tinggi pangkatnya. Apes, saat itu ia mundur dan keris utama senapati ia lepas. Dan tragedi cinta segitiga ini-pun terjadi. Sedih, hiks…

Banyak hal ingin disampaikan. Benar-benar kisahnya liar. Kepercayaan di banyak area muncul. Para peziarah Gunung Kawi percaya, siapa kejatuhan buah Shianto di pelataran pesarean Eyang Djoego, ia akan mendapat rezeki, keberhasilan, dan kebahagiaan. Namun seolah memang dipadatkan.

Kata-kata mutiara juga berserakan. Liu Tsung-yuan, penyair kuno Cina bilang, “Aku tahu, usia tua akan tiba. Usia itu akan datang dengan tiba-tiba. Tahun ini mungkin aku belum menjadi lemah, tapi lama-lama ketuaan itu akan tiba juga. Gigi-gigiku akan berguguran, dan rambutku akan rontok…”

Manusia yang bahagia adalah dia yang berani lepas dari dunia, tapi tanpa membenci dunia. Seperti kata penyair Tao Yuan Ming, “teguklah dengan nikmat anggur dunia, tapi sekaligus jangan kauikatkan dirimu oada dunia, kehormatan, dan hartanya, sampai kau dibelenggunya.

Ojo dumeh, maksudnya kalau sudah sakti dan berkuasa janganlah lupa bahwa wong sekti ana kalane apes, pangkat bisa minggat, wong pinter bisa lali, rejeko bisa mati, donya bisa lunga… Dadi luhur iku ora gampang, sebab wong luhur iku wong sing asor. Menjadi luhur itu tidak mudah, sebab orang yang luhur itu adalah orang yang rendah hati.

Suatu hari buku ini akan jadi cult, sebab kisahnya menarik tapi tak sampai meledak di pasaran. Diskusi literasi yang disaji juga jarang kutemui, justru nama besar Sindhunata yang lebih mentereng ketimbang novel ini. Jelas rekomendari, nikmatilah sebelum terlambat. Dunia dengan segala keterbatasannya.

Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, Sj lahir di kota Batu, 12 Mei 1952. Karya klasik terkenalnya, Anak Bajang Menggiring Angin. Tulisannya sudah wara-wiri di media massa, paling sering jelas di Kompas karena memang beliau wartawan Kompas. Telah menulis karya ilmiah, Dilema Usaha Manusia Rasional, Hoffen auf den Ratu Adil-Das eschatologische Motiv de “Gerechten Konigs” Bauernprotest auf Java wahrend des 19 und zu Beginn de 20 Jahrhundrerts (Menanti Ratu Adil-Motif Eskatologis dari Ratu Adil dalam Protes Petani di Jawa Abad ke-19 dan awal Abad ke-20), Sakitnya Melahirkan Demokrasi (1999), dan  Kambing Hitam, Teori Rene Girard (2006). Putri Cina adalah buku pertama beliau yang saya baca, dan akan kubaca beberapa karyanya setelah ini. ingat, kepuasan di pengalaman pertama akan mengantar kita ke pengalaman berikutnya oleh penulis yang sama, yang mungkin bukan karya ilmiahnya, setidaknya esai atau buku fiksi lainnya.

Catatan ini saya tutup dengan kutipan dari Chuang Tzu yang pernah berkata, “Jika saat berpulang telah tiba, aku hanya membutuhkan beberapa lembar daun pisang saja.” Untuk apakah semuanya, bila akhirnya manusia cukup dibaringkan di atas daun ketika ia untuk selamanya tidur? Sesuai endingnya yang pilu nan surealis…

Putri Cina | by Sindhunata | 617173013 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Ilustrasi dan desain sampul Orkha Creative | copyright 2017 | Cetakan ketiga, November 2017 | ISBN 9789792230796 | 304 hlm; 20 cm | Skor: 4/5

“Mengenang Koo Soen Ling, ibuku”

Karawang, 150721 – Netral – Terompet Iblis

#30HariMenulis #ReviewBuku #15 #Juli2021

Mencari Setangkai Daun Surga #13

Mencari Setangkai Daun Surga #13

Pablo Neruda: “Orang Spanyol mengambil emas kita, tapi kita memperoleh emas mereka. Yakni kata-kata.”

Kumpulan esai dengan banyak tema, diambil dari berbagai sumber yang pernah muncul di media massa dari pertama muncul sampai update buku ini dicetak tahun 2016. Variasi tema: sastra, politik, budaya, sampai olahraga. Bagian olahraga mungkin yang paling kurang, tak dalam. Bicara Piala Dunia yang dituturkan khas tabloid  Bola, umum dan tak personal. Bagian sastra yang luar biasa, memang spesialisasi beliau di sastra, maka tampak ditulis dengan menggebu dan nyaman dinikmati.

Tulisan singkat-singkat, tiga empat halaman jadi bisa dibaca santai. Hanya beberapa yang lebih panjang, dan tulisan singkat seperti ini terasa kurang dalam. Bagi saya yang bukan basic-nya sastra sudha banyak namanya muncul di kancah sastra nasional bahkan internasional, jelas isinya cukup bervitamin, karena diambil dari tulisan di media massa, kita menempatkan diri pada pembaca umum. Saat buku ini muncul di beranda jual, saya sempat tanya ke grup Buku untuk beli tidaknya, bukan karena nama Bung Anton-nya tapi apakah sudah ada yang baca? Ternyata belum baca buku ini tapi banyak menemukannya di artikel koran, dan memang nama Anton Kurnia jaminan, yo wes langsung kuangkut.

Sebagian besar yang kunukil di sini kutipan sahaja, sebab saya memang tak terlalu dalam mengkritisi isi. Apalagi bila ditulis dengan tergesa, dengan target sehari satu pos seperti saat ini. maka saya ambil kutipan dari dalam buku. Kurasa hal-hal indah seperti ini laik dibagikan. Enjoy it.

Tugas seorang penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun, itu tercermin dalam karya-karyanya. Nadine Goldminer

Mo Yan bernama asli Guan Moye, ia memilih nama pena yang berarti ‘Jangan Bicara’. Di kampung halamanannya kemiskinan adalah hal lumrah. Dan di masa Revolusi Kebudayaan (1966-1976) ia muncul dengan keunggulan, ia seorang otodidak yang tekun dan banyak membaca.

Gao Xingjian mengakui dengan jujur bahwa ia menulis untuk ‘mengusir rasa sepinya’ dan dengan rendah hati menyatakan ‘menulis untuk diri sendiri’ tanpa pretensi menyampaikan khotbah bagi orang banyak.

“Kita bisa memiliki apa yang kita inginkan, tapi kita harus memperjuangkannya agar bisa menikmati dengan layak.”

Sejak awal, sastra Amerika Latin adalah gugatan kritis yang mempertenaykan tatanan sosial masyarakatnya (kebobrokan warisan colonial, penindasan dan kekerasan oleh Negara, kemiskinan, dan keterbelakangan). Mengutip kata Jose Ortega, kritikus sastra Meksiko, sastra Amerika Latin adalah reaksi imajinatif terhadap segala pandangan funia, norma, dan pranata sosial yang datang dari Barat.

Carlos Fuentes menyatakan bahwa Sastra Amerika Latin adalah ‘sastra yang marah’ karena pusaran ‘rasa takut, kekejaman, cinta, dan maut’ yang berlangusng turun-temurun dari abad ke abad, dari satu penaklukan ke penaklukan lain, dari rezim yang satu ke rezim yang berikutnya.

Dalam esainya Alejo Carpentier mengatakan, “Menulis tentang tanah ini (Amerika Latin) dengan sendirinya akan menghasilkan sebuah karya sastra tentang kenyataan yang ajaib.”

Gabriel Garcia Marquez suatu kali menulis, “Tugas seorang penulis adalah menulis dengan sebaik-baiknya.” Dengan begitu penulis berbakti pada bangsanya.

Nadine Gordimer dalam pidato penyerahan Hadiah Nobel Sastra 1991 ‘Writing and Being’ menegaskan pendiriannya bahwa tugas penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun.

Orhan Pamuk bilang, “Terjemahan yang baik tak hanya berhasil mengantarkan kesamaan makna, tapi juga bisa mengikuti irama kata-katanya dengan tepat.”

Kuntowijoyo menegaskan bahwa mereka yang hidup di dalam mitos tak akan pernah bisa menangani realitas. Bagi guru besar bangsa ini, akar permasalahannya terletak dalam cara berpikir kita sebagai bangsa, yakni bagaimana meninggalkan kepercayaan terhadap mitos menuju cara berpikir berdasarkan realitas.

Kritik sosial. Lebih tragis lagi, di negeri ini buku kerap bernasib tak jauh beda dengan film prono, sama-sama sering dilarang beredar, bahkan terkadang dibakar di muka umum.

Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak boila, membaca karena ingin tahu berapa persen diskon obral besar di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca subtitle opera sabun di televisi untuk mendapat hiburan.

Joseph Brodsky, pemenang nobel sastra 1987, “Membakar buku adalah kejahatan, tapi ada lagi yang lebih jahat, yakni tidak membaca buku.”

Meminjam istilah Rendra, ‘orang yang berumah di angin’. Karena ini sering dianggap berbahaya.

Mochtar Lubis, sastrawan dan wartawan terkemuka kita yang pernah dipenjarakan tanpa diadili oleh rezim Sukarno, suatu kali menulis, “Seorang intelektual adalah ia yang tidak merintih ketika ditindas dan yang tidak menindas saat berkuasa.” Komitmennya adalah pada nilai-nilai kebenaran, bukan pada seseorang atau kelompok tertentu. Pertanyaan berikutnya, masih bisakan kita berharap pada kaum intelektual jika mereka telah menjelma menjadi teknokrat – alat kekuasaan – atau sekadar hamba partai?

Istilah ‘kiri’ dipahami secara umum mengacu pada komunisme, sosialisme, dan marxisme (walaupun ketiganya tentu saja berbeda). Sejak era Orde Baru, istilah ini jadi the invisible enemy – musuh tak kasat mata, bahaya laten, dan sebagainya.

Si vis pacem para bellum, pepatah latin yang berarti jika mau damai, siaplah perang. Sepintas jelas terdengar aneh dan paradoksal. Namun sesungguhnya yang dimaksud dari kalimat itu adalah jika kita tak mau diperangi orang, perkuatlah diri kita agar orang segan menyerAng kita.

Dalam Black Beauty karya Anna Sewell, si kuda bertutur, “Tak ada agama tanpa cinta. Banyak manusia yang senang berbicara tentang agama, tapi itu tak membuat mereka bersikap baik kepada sesama manusia dan binatang. Sungguh memalukan…”

Rendra bilang, “Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.”

Salah satu ajaran Gandhi yang terkenal adalah penolakan terhadap tujuh dosa sosial, yakni kekayaan tanpa kerja, kenikmatan tanpa nurani, ilmu tanpa kemanusiaan, pengetahuan tanpa karakter, politik tanpa prinsip, bisnis tanpa moralitas, dan ibadah tanpa pengorbanan.

Dalam buku The Anatomy of Melancholy karya Ricahrd Burton mengemukakan pandangan yang sangat dalam mengenai ‘penyakit hitam’ alias melankoli, serta menyebutkan ketakutan akan kematian, kekalahan, dan perbuatan jahat yang menjadi gejala dan musababnya.

Dalam buku Istanbul: Kenangan Sebuah Kota karya Orhan Pamuk memerikan satu istilah unik untuk menyebut situasi murung yang menggelayuti sebuah masyarakat. Ia menyebutnya huzul. Dalam bahasa Turki berarti kemurungan atau kesedihan. Nabi Muhammad Saw. Menyebut tahun ketika beliau kehilangan istrinya Khadijah dan pamannya Abu Thalib sebagai ‘amul huzl’ atau tahun kemurungan; kata itu berarti perasaan kehilangan yang amat spiritual.

Sabda Ronggowarsito dalam serat Kalatidha sesungguhnya kita ada di zaman edan ketika semua orang menjadi gila harta dan kuasa. Bila ikut gila, kita bisa-bisa tidak tahan mengatasi jeritan nurani. Tapi bila tak ikut gila, tak bakal kebagian harta benda dan kuasa.

Albert Einstein bilanG, “Imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu terbatas, sementara imajinasi tiada batas…”

“Sebagian orang percaya sepak bola adalah soal hidup-mati. Saya kecewa dengan perilaku itu. Saya jamin, sepakbola jauh lebih penting ketimbang hanya soal hidup dan mati.”Bill Shankly

Hitler bilang kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran.

Remy Sylado berujar pada dasarnya bahasa dan kebudayaan kita ini serupa gado-gado sejak asal mulanya.

Saya mengucapkan terima kasih untuk Pak Ade Buku di Bandung, buku-buku bagus yang kunikmati setahun ini banyak kubeli di sana. Termasuk Mencari Setangkai Daun Surga ini. makna judul buku ini ada di bagian akhir, merupakan kutipan dari seorang Goenawan Mohamad. Kutipan dari puisi ‘Daun’ yang ternyata juga terdapat di Belanda Cor de Bruijn (1883 – 1978) yang disadur dari A. Dt. Madjoindo (1896 – 1970), yang terbit tahun Setangkai Daun Surga 1972. Nah, sekarang kita menemukan buku lain berjudul ‘Mencari Setangkai Daun Surga’. Banyak hal dalam kehidupan ini tak sejalan, tapi seperti pepatah Jerman, Orang boleh kehilangan segalanya kecuali harapan, sebab “Harapan adalah yang terindah dalam hidup manusia.”

Mencari Setangkai Daun Surga | by Anton Kurnia | Editor Rusdianto | Tata letak Zizi | Pracetak Antini, Dwi, Wardi |  Cetakan pertama, Februari 2016 | Penerbit IRCiSoD |384 hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-391-114-1 | Skor: 4.5/5

Tanda mata untuk anak-anak tercinta: Kafka, Kalam, Javid, dan Maura

Karawang, 160221 – 100621 – 130721 – Dinah Shore – My Funny Valentine

Thx to Ade Buku, Bandung

Surat dari Praha: Gegap Gempita Kesetiaan

Jaya: “Saya akan mencintai dia selama-lamanya.”

Romantisme berbalut politik dan amarah yang tertahan, saat terbuka sumbat, buncahnya malah menyatukan jiwa-jiwa yang sepi. Tak ada yang bisa kita perbuat lebih selain mengikhlaskan masa lalu, kesalahan-kesalahan, egoisme masa muda, ideologi yang teguh. Sejatinya pilihan hidup yang menjadi komitmen adalah lubang cacing yang wajib dijalani tanpa sesal. Surat dari Praha mencipta kisah cinta yang sungguh sentimental. Terusir sebab mempertahankan ideologi sah-sah saja, mempertahankan cinta sejati juga sah-sah saja. Setiap pribadi adalah unik. Bukannya tak ada, manusia jenis ini langka, dan gegap gempita kesetiaan itu dipetakan dengan pas. Musik, atau di sini seni sangat dominan. Ini Praha Bung, tempat Franz Kafka lahir.

Kisahnya tentang Larasati (Julie Estelle) yang kesal sama ibunya sebab ia dalam kesulitan finansial, ditambah ia kini bercerai. Sang ibu Sulastri (Widyawati) yang terbaring sakit bersikeras cinta tak boleh terputus. Tak berselang lama setelah adegan saling ngambek itu, Bu Sulastri meninggal dunia, dalam surat wasiatnya menyatakan bahwa Larasati akan mendapat rumah warisan jika berhasil mengantar satu boks ke orang asing di Praha. Sang notaris sudah mendaku, silakan kejar, pakai tanda terima. Hufh… petualangan di negeri asing-pun dimulai.

Larasati mendarat dengan mulus di kota eksotik ini, mencari orang asing juga dengan mudahnya. Ternyata Pak Jaya (Tio Pakusadewo) adalah sarjana nuklir, menjadi seorang cleaning service di sebuah gedung teater. Ia mahir memainkan harmonika, fasih bernyanyi dengan suara merdu, ia adalah aktivis yang terasing di masa Orde Baru. Situasi pertemuan dengan Jaya tak berjalan mulus, saat tahu bahwa  ia adalah anak Sulastri, dan membawa kabar duka. Ada nada amarah dan sedih di sana, Laras diusir dari kosnya. Ia yang tak tahu sebabnya pergi dengan situasi kesal.

Cerita bagus memang mewajibkan dibuat untuk mempersulit para karakter, maka saat Laras naik taksi menuju hotel, ia kena begal. Bukan hanya di Indonesia begal taksi ternyata, di Cekoslovakia begalnya bersenjata dan lancar sekali menjalankan aksi, Laras diturunkan di tempat sepi, ditodong senjata dan semua barang diminta tak dibawa. Ia tentu saja pening lalu menghubungi polisi, diantar ke kantor kedubes Indonesia, tutup karena larut. Lantas karena tak ada lagi tempat yang laik dituju, ia kembali ke alamat di mana ia memulai, ke kos Pak Jaya.

Jaya yang frustasi mabuk berat, kaget sang gadis kembali. Karena situasi, ia diperkenankan menginap semalam. Esoknya ke kantor dubes, lagi tutup layanan karena sedang ada pergantian jabatan (ah… khas Indonesia). Yo wes, ia menelpon temannya, pinjam uang untuk ditransfer ke rekening Pak Jaya. Selama itulah mereka bedua akhirnya dipaksa mengenal lebih dekat satu sama lain.

Jaya yang keukeh menolak menerima kotak, lantas karena penasaran Laras membukanya. Betapa terharunya, isinya adalah surat Pak Jaya kepada ibunya, dibacanya curahan hati itu. Ibunya yang rapuh dan sakit, ibunya yang antusias saat menerima surat, ibunya yang dulu merupakan kekasih Jaya. Ada hubungan istimewa ternyata, Jaya marah sebab kotaknya dibuka, Laras marah sebab Jaya adalah penyebab kehidupan orangtuanya goyah. Saling marah dan menjaga jarak.

Yah, itu tak kan lama. Mudah ditebak mereka luluh akan keadaan, sama-sama terasing. Dalam adegan haru, andai ia tak ke Ceko apa yang terjadi, mungkin kamu adalah anakku. Fufufu… Laras pandai memainkan piano, piano tua dimainkan di rumah dengan meriah. Saat lagi kerja, piano di panggung berpenonton kosong, dimainkan pula. Syahdu dan merdu. Dunia tampak adem dan asri. Selamat, Julie Estelle lulus, benar-benar bernyali.

Lantas, saat masalah uang selesai. Tiket dan berkas pulang sudah beres, ia seharunsya pergi tapi tak segera pergi. Saat surat tanda terima sudah ditandatangani, ia seharusnya pergi tapi tak segera pergi. Saat semua urusan selesai, ia seharusnya pergi, dan yah memang harus pergi. Malam terakhir di Praha menjadi meriah dengan pesta, tapi terasa hati itu hambar. Bahkan menit-menit akhir jelang kepulangan ke Indonesia, masih saja labil hati yang tua ini. Surat-surat itu menjadi penghubung fisik keduanya, tapi tak serta merta langsung ke hatinya.

Ini adalah jenis drama mendayu, menjadi film yang diwakilkan ke Oscar dan terdepak. Wajah sih, sangat wajar. Tanggung kelasnya. Sekadar lumayan, terlalu formal bahasanya. Ngomong sama orang asing, bilang ‘Anda tak seharusnya bla bla bla…’ dan lucunya ditimpali pula dengan jawaban normatif yang mirip seolah tukang naskah yang menulisnya membuat makalah di kampus. Lagu-lagu almarhum Glenn Fledly menyelingkupi di banyak adegan seolah pamer keistimewaan vocal. Memang ciamik musisi ini dalam merangkai kata puitik dalam lirik.

Jaya sendiri mendaku bukan komunis, ia bertahan di Praha karena secara ideologi tak setuju dengan Orde Baru, ia dan beberapa temannya yang tetap teguh dengan apa yang dipegang dengan segala konsekuensinya. Situasi politik tahun 1966 dan setelahnya memang genting.  Ideologi merupakan kepercayaan yang dikontruksi secara sosial yang sepenuhnya diterima berdasar keyakinan belaka. Ideologi buruk macam rasisme atau seksisme langgeng lebih karena ketidaktahuan ketimbang kebencian. Apakah komunisme buruk? Belum tentu. Apakah sosialisme butuk? Belum tentu. Bahkan apakah Pancasila benar-benar baik? Juga belum tentu. Banyak faktor yang menyelingkupi. Tidak ada Negara yang sepenuhnya adil dan aman, apapun ideologi yang dipakai. Tidak ada filsafat politik yang mampu mengatasi masalah setiap orang dalam sepanjang waktu. Jangan mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Cukup hiduplah dengan baik. Hidup dengan baik bukan berarti menolak penderitaan, yang sesungguhnya adalah menderita untuk alasan-alasan yang benar.

Kalian memiliki iman bahwa cinta adalah hal yang penting, ideologi juga hal yang penting, pekerjaan juga hal penting, pengetahuan yang didapat juga penting, dan semua hal ini adalah sesuatu yang penting. Lantas kalau semua penting, mana yang menjadi prioritas? Pengorbanan bisa jadi hal yang menjadi tema istimewa, tapi tentu saja yang paling penting dari segalanya adalah bertahan hidup.

Seperti kata Gustave Flaubert,Saat kita menemukan dunia ini terlalu buruk, kita butuh mengungsi ke dunia lain.” Sebagai eksil, Jaya bisa merasa merdeka di negeri asing. Walau pahit terpisah drai orang-orang terkasih, dan terutama jelas sekali saat mengetahui kabar kematian kedua orang tuanya. Sedo. Jadi kabar menyedihkan saat di pengasingan tanpa bisa berbuat apa-apa. Sedih sekali, tapi masa itu memang banyak terjadi.

Secara keseluruhan, sebenarnya serba nanggung. Dramanya nanggung, naskahnya nanggung, akting Estelle dan Tio bisa jadi meletup-letup luar biasa, tapi tetap saja nanggung. Bahkan malam terakhir itu kalau versi Freddy S. bisa lebih liar. Namun tidak, semua yang dipaparkan di Surat dari Praha dicipta datar, bermain aman, serta tak meledak meriah. Wajar sekali dicoret dari Oscar, film-film kita masih jauh perjalanan menuju Penghargaan Hollywood.

Surat dari Praha | Tahun 2016 | Sutradara Angga Dwi Sasongko | Naskah M Irfan Ramli | Pemain Julie Estelle, Tio Pakusadewo, Widyawati, Rio Dewanto | Skor: 3.5/5

Karawang, 080721 – Hanson – Look at You

*) Film ini kusaksikan di Mola TV, dapat paket gratis IndonesiaSehat selama PPKM, thx.

Sweet and Sour: Meluap-luap dalam Didih Penuh Citarasa

Pak Satpam: “Jika tertinggal taksi, kau bisa menunggu yang berikutnya. Tapi jika kehilangan seseorang, maka sampai situ aja. Aku akan merindukanmu…”

Setiap bentuk rasa frustasi, setiap akibat dari kepuasan naluriah yang dihalangi, atau yang mungkin diakibatkan, adalah berada dalam pemuncakan rasa bersalah. Waktu tak bisa diputar balik, tapi cerita bisa kan? Penyesalan selalu di akhir, kesalahan demi kesalahan diberbuat manusia, yang terlindas waktu tak bisa diubah. Bertabrakan menjadi sangat aduhai jika terjadi di bandara, dalam posisi lari mengejar wanita yang sama. Ini masa lalu, ini masa kini. Lantas masa depan apa yang lebih menawan untuk dijalani? Harga yang mesti dibayar demi kemajuan peradaban kita adalah hilangnya kebahagiaan melalui pemuncakan rasa bersalah.

Keren sekali yang bikin cerita. Tak menyangka akan seterkejut ini, walaupun curiga juga di awal, diet kok semudah ini. haha.. berjuang ekstra keras, sempat bilang beruntung sekali si Ndut dapat perawat cantik dan baik hati, lantas saat film bergulir jauh, langsung oh… Su!  

Ini adalah jenis film yang mengesalkan, atau setidaknya membuat penonton kaget atau bisa juga sampai marah, sebab kita ditipu. Kita dibohongi plot, apa yang tampak di permukaan, setidaknya sampai tinggal beberapa menit, tak seperti yang kita kira. Kita menjadi semacam, penikmat display pigura yang hanya bisa mengangguk-angguk tanpa mengerti, kesal, marah, geregetan. Lantas, kalau kita ditipu mengapa kita malah menyukainya? Ya, sejatinya hal-hal yang menggelitik otak itu jauh lebih mencipta penasaran dan kekuatan untuk bilang wow ketimbang mengikuti garis lurus buku tulis.

Kisahnya tentang cinta segitiga dan kekuatan untuk bertahan dalam asmara LDR antara Seoul dan Icheon. Walaupun tiap hari bertemu, tapi tak berkualitas sebab sudah lelah. Dibuka dengan kata ‘Sepatu Baru’ di rumah sakit, seorang pasien didorong dalam tempat tidur dengan tergesa. Sutradara dengan cerdik tak memperlihatkan wajah mula, lalu setelah beberapa detik, tahulah kita, bahwa Jang-Hyuk (Lee Woo-je) si gendut sakit Hepatitis B dan dalam perjalanan perawatan ia jatuh hati sama perawat Da-eun (Chae Soo-bin).  

Da-eun yang cantik dengan rambut lurus dan lalu keriting tampak pribadi unik, emosinya labil, makannya banyak, merokok tampak untuk menghilangkan stress. Setelah masa rawat inap selesai, Hyuk berusaha mendapat nomor HP-nya. Perjuangan itu membutuhkan banyak tingkah, sampai dibentak perawat senior sebab buka data rumah sakit, di layar kita melihat ia menderet kertas dengan berbagai kontak, menghubunginya satu per satu, sampai akhirnya Da-eun yang asli menjawab ‘Hyuk’ dalam tanda kutip. Nantinya kita tahu, ada kesalahpahaman, yang menjelma erat hubungan. Situasi dan peluanglah yang menciptanya. Maka dalam tempo sesingkat-singkatnya, mereka bertemu, menginap, berciuman, dan mendeklamasikan hubungan pacar. Adegan mengganti lampu mati dengan lampu yang nyala seolah adegan sederhana, oh ternyata justru ini adalah adegan sangat penting. Perempuan mudah tersentuh akan kebaikan hati, betapa dunia digulirkan dengan dahsyatnya tersebab kamuflase ini. Schillr berkata bahwa rasa lapar dan cinta adalah hal-hal yang menggetarkan dunia.

Mereka lantas berlibur Natal, karena baju couple tak ada yang muat, maka Da-eun membelikan sepatu couple, Hyuk terharu dan dengan tekad yang bulat akan melakukan diet. Lantas adegan di bandara dalam surealis, samar terlihat Hyuk lari dan adegan berubah ‘Sepatu Lama’, Hyuk berlari dan sudah tampak ganteng, maskulin asli. Saya langsung complain, ya ampun menurunkan berat badan tak semudah itu, merubah wajah menjadi setamvan itu, jelas ganti pemeran dan segala hal dalam dirinya. Namun sekali lagi, simpan semua argumenmu, kawan.

Lantas kita diajak bersafari hubungan mereka sejauh mana. mereka tinggal seatap, satu apartemen. Beli mobil, menabung, suka duka dalam pergaulan anak muda menyongsong masa depan. Hyuk mendapat promosi kerja ke Seoul, sebagai designer bangun yang masih muda menjanjikan, petualangan di tempat baru memberinya tantangan besar. Bergabung dengan arsitek lain, Han Bo-yeong (Krystal Jung) yang cantik dan ambisius, workaholic. Proyek jembatan yang menjadi tanggung jawab mereka menemui beberapa kendala, memaksa mereka berdua kerja lembur lebih sering. Bahkan menjadi dua karyawan akhir di gedung tiap malam, sampai lampu dimatikan.

Nah, kebersamaan ini mencipta hubungan erat. Sama-sama karyawan outsource yang mendapat beban kerja berat. Hyuk mencoba tetap pulang-pergi antar kota, tampak kemacetan dan suasana lalu lintas khas kota besar yang membosankan. Awalnya ia menertawa beberapa traveler lain yang makan, sikat gigi, bahkan mandi ala kadar dalam mobil. Nantinya, ia juga sama saja. Melakukan hal yang ia tawa di masa lalu, sinis sekali kawan.

Awalnya hubungan jarak jauh itu masih baik-baik saja, Hyuk yang lelah sampai apartemen langsung tidur, Da-eun yang lelah sebagai perawat mengeluhkan kerja shift yang panjang. Lalu beban kerja melindas mereka, karena pekerjaan dan hal lain ia sesekali tidak pulang, toh besok pagi hadir di kantor lagi, sang pacar mulai mencium gelagat tak menyenangkan hubungan ini. Dua orang lelah yang sudah bosan, dan tetap coba dipertahankan. Sekadar mengganti lampu mati, saja ia tak mau, tak antusias. Beginilah jadinya.

Da-eun hamil, tapi akhirnya digugurkan. Ia marah dan lantas mengirim kembali cicin tunangan, hal itu memberi efek domino, Hyuk juga marah dan kecewa, kesetiaanya runtuh, lantas gadis cantik rekan kerjanya disikat juga. Ia tak pulang, dan kini memiliki affair. Tentu kalian yang tahu permukaan marah dan memaki banyak kata bijak ke Hyuk. Namun segalanya menjelma kejut saat Hyuk di pesta besar sukses proyek sukses, Da-eun yang sudah bersiap berlibur ke Jeju, tiketnya atas namanya tapi tak dicancel, dan dengan dramatis mengejar pesawat ke bandara sekaligus melamar sang pujaan hati. Apa yang terlihat di sana mencipta kerut kening berlipat-lipat. Kukira tulisan pembuka sepatu baru adalah salah ketik atau semacam lelucon, oh ternyata itu klu penting. Kita lantas ditampar banyak fakta mengejutkan, tampar bolak-balik sampai melongo. Luar biasa.

Cerita yang mengasyikkan. Menyenangkan sekali menjadi saksi hubungan yang ambyar dan direkat ulang dengan subjek lain. Berdasarkan pada novel Jepang karya Kurumi Imui dan sudah difilmkan dengan judul ‘Initiation Love’. Ini adalah film kesekian dari Korea yang kutonton selama Isoman, atas rekomendasi BM. Rerata bagus dan memuaskan sekali. Yang kukhawatirkan mulai mencinta produk Korsel sepertinya menampakkan diri.

Kekuatan segala motif aktivitas umat manusia berjalan menuju pertemuan dua tujuan yaitu keperluan dan kesenangan. Hyuk yang gendut punya motif mengejar cinta pada pandangan pertama, Hyuk yang tamvan punya motif mencoba mengembalikan hubungan yang retak. Da-eun punya motif, mencari yang pasti-pasti aja toh, ini dalam masa sulit. Bo-yeong? Tentu saja punya motif, kalian kira kerja sampai larut itu tamasya? Semuanya punya motif, yang jelas dua unsur perlu dan rasa senang-lah yang menyelingkupi. Jika tindakan itu digerakkan oleh cinta atau benci terhadap seseorang, berarti tindakan itu digerakkan oleh, dalam terminologi Emmanuel Kant, ‘kecenderungan’, dan tindakan ini tidak rasional sama sekali. Egois, tapi begitulah manusia. Boleh saja kita mendukung atau mencoba menjadi sosok yang kita raih simpati dari ‘tiga tokoh utama‘. Dalam praktiknya, kita sukar memilih antara sudut pandang netral dan sudut pandang kekinian. Yang jelas plot yang disajikan rapi dan aduhai, sungguh aduhai, terjalin terorganisasi dalam kemeriahan puisi kehidupan.

Ceritanya terlalu memesona untuk dikeluarkan dari relnya oleh fakta. Selamat, sejauh ini Sweet and Sour adalah film paling menghibur tahun ini. Kita butuh kualitas, kita butuh keseruan. Menghibur sama artinya tidak membosankan. Jangan kelamaan kalian merenung, gegas nikmati sajian menu istimewa ini, mumpung masih hangat. Manusia tidak pernah berhenti tumbuh dalam penegetahuan mengenai nasibnya.

Sweet and Sour | Year 2021 | Directed by Kae-Byeok Lee | Cast Jacky Jung, Krystal Jung, Jang Ki-Yong, Chae Soo-bin, June Yoon | Skor: 4.5/5

Karawang, 070721 – Hanson – This Time Around (Best Live and Acoustic)

*) RIP Angga Nurfian (tenang di sana kawan)

**) Tayang di Netflix 4 Juni 2021