The High Mountains of Portugal: Cinta yang Amat Besar, dan Rasa Kehilangan yang Tak Terhingga

The High Mountains Portugal by Yann Martel

Apakah ada artinya? Dari mana jiwa berasal? Ada beragam jiwa yang diasingkan dari surga. Jiwa tetaplah jiwa yang harus diberkati dan dibawa kepada kasih Tuhan.”

Apalah arti kita tanpa orang-orang yang kita cintai? Apakah ia berhasil bangkit dari duka? Ketika dia menatap matanya di cermin saat bercukur, hanya relung-relung kosong yang tampak. Dan dia menjalani hari-harinya bagaikan hantu yang membayang-bayangi kehidupannya sendiri. Buku tentang duka yang terbagi dalam tiga bab panjang. Tanpa Rumah, Menuju Rumah, Rumah. Semua adalah kesedihan kehilangan orang terkasih. Menguras air mata, takdir yang pilu. Tanpa rumah adalah sebuah kehilangan yang sempurna: ayah, kekasih, anak tahun 1904. Menuju rumah adalah kehilangan pasangan hidup, dokter spesialis patologi yang kebahagiaannya terenggut tahun 1939. Rumah adalah perjalanan duka dari Kanada ke Puncak pegunungan Portugal, pencarian rumah tahun 1989.

Semua yang tersaji bisa saja sekadar kisah pilu para lelaki rapuh yang ditinggal mati istrinya, tapi setiap sisi terselip perjuangan dan pencarian makna hidup. “Aku berbicara dengannya di dalam kepalaku, ia hidup di situ sekarang.” Jangan menyerah, kerelaan, waktu yang menyembuhkan, rutinitas akan menjadi imun hidup, dan seterusnya. Ternyata di sini malah dibuat dengan benang indah – atau kalau mau lebih lembut, koneksi sejarah – ketiganya berpusat di puncak dan tanya itu diakhiri dengan sunyi. Tomas merasa bagikan kepingan es yang terhanyut di sungai. Ketergantungan ini menciptakan semacam kesetaraarn bukan?

Pertama tahun 1904, adalah Tomas yang miskin. Pamannya kaya, memiliki pembantu cantik bernama Dora, kisah cinta mereka yang langgeng, memiliki Gaspar yang menyenangkan, tiba-tiba dihantam duka. Ketiga orang terkasih meninggal berurutan hingga membuatnya murka akan takdir. Dia kerap meratap, terlampau kerap sejak malaikat maut memberinya tiga pukulan telak. Kenangan akan Gaspar, Dora, atau ayahnya sering menjadi sumber sekaligus inti kesedihannya, tetapi ada kalanya air matanya mengalir tanpa alasan yang sulit dipahaminya, datang seketika seperti bersin.

Ia berjalan mundur, ia terjatuh luruh. Yang tak dipahami pamannya adalah berjalan mundur, memunggungi dunia, memunggungi Tuhan, bukanlah cara Tomas untuk mengungkap duka. Ini adalah caranya mengajukan keberatan. Karena jika semua yang kaucintai dalam kehidupanmu telah diambil, apakah yang bisa kauperbuat selain mengajukan keberatan?

Menemukan sebuah surat/buku harian seorang pastor Bapa di Ulisses yang lalu menyeretnya dalam petualangan, hanya beberapa minggu setelah kehidupannya luluh lantak di Museum Nasional Karya Seni Kuno, tempatnya bekerja sebagai asisten kurator. Surat itu mengisah kehidupan sunyi, dan mengarah pada pencarian salib di pegunungan Portugal. Dengan mengendarai mobil Eropa pertama milik pamannya. Orang-orang akan berlama-lama melihatnya, mulut mereka akan ternganga, benda itu akan membuat hura-hura. Dengan benda itu, aku akan memberi Tuhan atas perbuatan-Nya kepada orang-orang yang kucintai. Keheningan yang menyelubunginya akibat pemusatan konsentrasi sekonyong-konyong meledak ke dalam derap kaki-kaki kuda yang menggelegar, keriat-keriut nyaring kereta pos. Kemudian mereka dan kedua kusir kereta saling bertukar umpatan dan isyarat marah.

Mobil di era itu memang belum banyak, awal-awal masa penemuan. Barang yang dibelinya sebagai bahan bakar, oleh mereka dijual sebagai pembasmi parasit. Tempat tinggal mungil beroda ini dengan potongan-potongan kecil ruang tamu, kamar mandi, dan perapian, adalah contoh mengenaskan bahwa kehidupan manusia tidak lebih dari ini: upaya untuk merasa seperti di rumah sendiri saat mengejar kenisbian. Seorang pria atau wanita, tak perlu bekerja sekeras itu untuk menunjang kehidupan, tetapi roda gigi di dalam sistem harus diputar tanpa henti.

Pada 2 Juni 1633, terdapat satu tempat nama baru Sao Tome, pulau koloni kecil di Teluk Guinea yang disebut sebagai ‘serpihan ketombe di kepala Afrika, berhari-hari perjalanan panjang di sepanjang pesisir lembap benua gersang ini’. Tertulis Isso e minha casa (Ini adalah Rumah). Bapa Ulisses rupanya terserang kerinduan mendalam pada kampung halaman. Ruang arsip Episkopal di Lisbon, setelah mengabaikan buku harian Bapa Ulisses selama lebih dari dua ratus lima puluh tahun, tidak akan merasakan kehilangan untuk ia ambil.

Perjalanan religi mencari gereja. Kesederhanaan arsitektur paling sesuai dengan bangunan religius. Apapun yang mewahadalah arogansi manusia yang disamarkan sebagai keimanan. Semua berada di tempat masing-masing, dan waktu bergerak dengan kecepatan yang sama. Gravitasi akan marah dan benda-benda akan melayang malas. Namun tidak, ladang-ladang tetap diam, jalan tetap membentang lurus, dan matahari pagi tetap bersinar terang.

Dia mengingat-ingat dan menghitung. Satu, dua, tiga, empat – empat malam. Empat malam dan lima hari cutinya dari cutinya yang sepuluh hari. Separuh jalan, tapi tempat tujunya belum terlihat. Di sana hujan terlampau sering turun, hingga menggaggu kewarasan. Menit-menit berlalu. Keheningan terbingkai oleh deris hujan, embik domba, dan salak anjing. Aku sedang mencari harta yang hilang.

Niat semula sepuluh hari cuti untuk menemukan benda kuno demi pemaknaan hidup, justru berakhir bencana karena tak sengaja menabrak seorang anak, tewas seketika. Batin Tomas berkemauk. Dia pernah menjadi korban pencurian, dan kini menjadi pelaku pencurian. Aku memasuki bui itu sebagai kristen. Aku keluar dari sana sebagai seorang prajurit Romawi. Kami tidak lebih baik dari binatang.

Dalam kisah ini, cara menanggapi kedukaan tampak sangat sentimental. Mengajukan keberatan akan takdir, melakukan perjalanan pemaknaan hidup, lalu dihantam musibah perih tak terkira. Ruang dan waktu menjadi tanya kembali, menjadi teka-teki sejati. Kembali ke individu, dan rumah yang dituju justru menggoreskan luka. Dia nyaris menangis lega. Menguarkan waktu dan memancarkan keterpencilan.

Ketika benda yang dicari akhirnya ketemu, lalu apa? Benda itu terpampang di sana, setelah melakukan perjalanan jauh dari Sao Tome. Oh betapa menakjubkan. Kemenangannya terusik oleh luapan emosi: kesedihan yang meluluhlantakkan jiwa. Muntah-muntah dengan raungan lantang.

Jika ia memprotes Tuhan, lalu ia malah mencipta protes manusia lain? Kapankah masa duka yang janggal ini berakhir? “Cukup! Cukup!” Dia berbisik. Apa makna nestapa bagi manusia? Apakah ini membuka dirinya? Apakah penderitaan ini membuatnya lebih mengerti? Mereka memang menderita, tapi aku juga. Jadi apa yang istimewa?

Kedua tahun 1939, di akhir tahun seorang dokter spesialis patologi melakukan otopsi mayat perempuan yang meninggal di dekat jembatan, pembunuhan atau bunuh diri? Dokter Eusebio Lozora yang sedang melakukan bedah dikunjungi istrinya, Maria Luisa Motaal Lozora yang menyukai kisah detektif. Buku-buku Agatha Christie dikoleksi dan dinikmati, malam itu istrinya berkisah panjang lebar tentang teori Tuhan, seperti Yesus yang mati misterius, Agatha juga mencipta kasus pembunuhan misterius. Autopsi, bagi mata awam bukanlah pemandangan yang enak dilihat. Tujuan tindakan ini adalah mencari abnormalitas fisiologis – penyakit atau kecelakaan – yang menyebabkan kematiannya.

Dokter spesialis patologi adalah detektif yang melakukan penyelidikan dan menggunakan sel-sel kelabunya untuk menerapkan aturan dan logika hingga kedok salah satu organ terbuka dan sifat aslinya, kejahatannya, akan bisa dibuktikan tanpa keraguan. Kesabarannya benar-benar menyentuh. “Kau mengerti bukan, bukan dia yang dibunuh.”

Malam itu setelah istrinya pulang meninggalkan novel terbaru Agatha Christie: Perjanjian Dengan Maut, sekuel Pembunuhan di Sungai Nil, datang lagi seorang ibu dengan koper. Namanya juga Maria, mengejutkan, koper itu berisi mayat suaminya, minta diotopsi segera, kisah cintanya yang vulgar dan menggairahkan, dan segala pilu kehilangan. Ibu Maria berasal dari Pegunungan Tinggi Portugal, perjalanan tiga hari ke Braganca, mencari rumah sakit untuk otopsi mayat suaminya. Cinta hadir dalam kehidupan saya dengan penyamaran tidak terduga. Seorang pria. Saya seterkejut bunga yang melihat lebah datang untuk pertama kalinya.

Setelah urusan raja selesai, kita berlaih ke ratunya yaitu kepala. Memeriksa otak dan batang otak…” Hasil otopsi mengejutkan, ada simpanse dan beruang, dan teka-teki itu meledak di ending yang mengejutkan. Saya sampai geleng-geleng, wow. Novel yang sempurna. Seperti itulah duka, ia makhluk yang memiliki banyak lengan tetapi hanya beberapa kaki, dan ia terhuyung-huyung mencari sandaran. Hati memiliki dua pilihan, menutup atau membuka diri. Tutur katanya kadang-kadang pedas, diamnya meresahkan.

Kisah ini nge-link dengan yang pertama. Kami mencintai putra kami, seperti laut yang mencintai pulau, selalu menyelingkupinya dengan pelukan, selalu menyentuh dan membelai pantainya dengan perhatian dan kasih sayang. Ketika dia pergi, hanya laut yang tertinggal, kedua lengan kami memeluk kehampaan. Kami menangis sepanjang waktu. Satu-satunya putra yang dicintai meninggal dunia, dan pelaku tabrak lagi itu adalah Tomas.

Namun sayang, bagian ketiga tahun 1989 justru agak merusak pola. Seorang senator Kanada Peter Tovy adalah pemilik sah seekor simpanse jantan, pan troglodytes, bernama Odo. Prosesnya panjang. Yang jelas ia baru saja kehilangan istri tercinta Clara. Dalam kedukaan, ia disarankan temannya menepi, ke Amerika dalam kunjungan, ia lalu ke kebun binatang, dan sekilat pintas membeli simpanse jantan dengan harga mahal. “Saya akan membayar Anda Lima belas ribu dolar.” Oh godaan bilangan bulat, itu jelas angka yang lebih mahal dari harga mobilnya.

Orang-orang berduka sebaiknya menunggu setidaknya satu tahun sebelum membuat perubahan penting dalam hidup. Perubahan pemandangan, bahkan perubahan udara – lembut dan lembab – terasa menenangkan.

Ia muak dengan pekerjaannya sebagai politikus. Pidato, pencitraan yang tiada habisnya, rencana busuk, ego yang ditelan mentah-mentah, ajudan arogan, media-media tak kenal ampun, tetek bengek yang merepotkan, birokrasi yang kaku, kemanusiaan yang tak kunjung membaik, dia memandang semua hal itu sebagai ciri khas demokrasi. Dengan gejolak kegembiraan yang meresahkan, dia bersiap-siap membuang semua rantai yang mengikatnya.

Segalanya bergerak cepat, Peter lalu melepas semua atribut duniawi dan memutuskan pulang. Ke rumah nenek-kakeknya di Portugal bersama Odo. Penenungan makna hidup, kehilangan, melepas, damai. Iman seharusnya diperlakukan secara radikal, dia menatap salib, penyeimbang keyakinan dan kegamangannya.

Melakukan perjalanan panjang, melakukan pencarian rumah. Dia masih ingat caranya bercinta, tapi sudah tidak mengingat alasannya. Kehilangan istri membuatnya merenung sepi. Selama sekitar satu jam, sambil duduk di puncak tangga, menyesap kopi, lelah, agak lega, agak khawatir, dia merenungkan titik itu. Apa yang akan dihadirkan kalimat selanjutnya?

Simpanse adalah kerabat terdekat di garis evolusi. Kita dan simpanse memiliki leluhur yang sama, dan baru berpisah jalan sekitar enam juta silam. Mempelajari simpanse sama juga mempelajari refleksi leluhur kita, dalam ekspresi wajah mereka. Masing-masing kera, kini dia mengerti, adalah sesuatu yang tidak pernah diduganya, individu dengan kepribadian unik.

Mungkin agak aneh, memilih simpanse sebagai teman perjalanan untuk menepi, tapi keputusan ini nantinya nge-link dengan hasil otopsi. Bianatang mengenal rasa bosan, tetapi apakah mereka mengenal rasa kesepian? sepertinya tidak. Bukan kesepian seperti ini yang mendera jiwa dan raga. Dia adalah spesies kesepian. Kalau masa lalu dan masa depan sudah tidak menarik, apa yang bisa mencegahnya dari duduk di lantai sambil merawat seekor simpanse dan mendapat perawatan balasan?

Tidak ada derajat yang membedakan tingkat ketakjuban.

Salah satu makna duka bisa jadi adalah sekarang. Simpanse Odo hampir sepanjang hari menikmati waktu, misalnya duduk di tepi sungai menyaksikan air mengalir. Ini ilmu yang sulit dikuasai, hanya duduk dan berada di sana. Kadang-kadang Odo bernapas dengan waktu, menarik dan melepasnya, menarik dan melepasnya. Binatang-binatang ini hidup dalam amnesia emosional yang berpusat di masa kini. Kesyahduan menjelma di sanubarinya, menenangkan bukan hanya masalah yang diderita tubuhnya, tetapi juga kerja keras otaknya.

Di dalam udara ada matahari dan gumpalan-gumpalan awan putih yang saling menggoda, cahaya yang melimpah tidak terkatakan keindahannya. Tidak ada suara di sekelilingnya, baik dari serangga, burung-burung, maupun angin. Yang tertangkap telinganya hanyalah bebunyian yang dihasilkannya sendiri. Tanpa keberadaan suara, lebih banyak yang dilihat oleh matanya, terutama bunga-bunga musim dingin cantik yang bermekaran menembus tanah berbatu-batu di sana-sini.

Rasa sakitnya datang bagaikan ombak, dan setiap gelombang membuatnya bisa merasakan setiap dinding perutnya. Setelah kisah panjang perjalanan ke puncak, lalu sebuah adegan panjang di ruang otopsi yang luar biasa, kisah ini ditutup dengan anti-klimaks di puncak. Memainkan duka, dan segala kandungan di dalamnya. The High Mountains memang menutup rapat akhirnya, tak ada yang menggantung, tapi perjalanan panjang Kanada ke Potugal dengan monyet terlampau mudah menemukan rumah. Bagaimana bisa Peter langsung menemukan rumah, di kesempatan pertama menginap di tanah asing? Ini kebetulan yang mengagumkan. Tuizelo, dari sanalah orangtuanya berasal, ia dan Odo akan menetap. Ini bingkisan mungil berisi rasa takut, tetapi tidak melukai ataupun merisaukan.

Buku kedua Yann Martel yang kubaca setelah Beatrice and Virgil yang absurd. buku ketiga Life of Pi sudah ada di rak, menjadi target berikutnya. Sepertinya memang genre Martel adalah filsafat yang merenung. Banyak tanya dan duka yang dipaparkan serta pencarian makna hidup. “Orang-orang tinggal sejenak, lalu satu per satu pergi, dan Anda diberi waktu untuk berduka, dan sesudahnya Anda diharapkan untuk kembali ke dunia, menjalani kehidupan lama Anda. Setelah pemakaman, pemakaman yang bagus, semua hal kehilangan makna dan kehidupan lama pun sirna. Kematian memakan kata-kata…”

Pegunungan Tinggi Portugal | by Yann Martel |Copyright 2016 | Diterjemahkan dari The High Mountain Portugal | GM 617186006 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Berliani M. Nugrahani | Editor Tanti Lesmana | Desain dan ilustrasi sampul Martin Dima | Cetakan pertama, 2017 | ISBN 978-602-03-4638-0 | 416 hlm; 20 cm | Skor: 4.5/5

Untuk Alice, dan untuk Theo, Lola, Felix, dan Jasper: kisah hidupkau

Karawang, 090520 – Norman Brown – Don’t You Stay

Tanah Liat dan Api yang Melebur

The Golem and the Jinni by Helene Wecker

Dalil mana yang menyebutkan bahwa manusia harus murtad untuk berbuat kebaikan di dunia? Siapa yang mengajarimu? Para filsuf yang kaubaca?” – Avram Meyer sang rabi

Ceritanya sangaaaat panjang, menembus 600 halaman yang berliku. Dari timur tengah di gersangnya gurun abad abad perrtengahan sampai awal abad 20 di New York, Amerika yang kala itu disebut benua baru, tanah yang dijanjikan. Seolah manusia menuju ke sana demi kehidupan baru. Kisahnya bersisian dua makhluk ini, dari judul saja kalian bisa menebak mereka nantinya bersama. Yang satu ciptaan tangan manusia dari tanah liat (lempung), yang satu dari api yang terpenjara dalam tabung. Untuk menemukan titik temu itu butuh hampir separuh perjalanan, panjang dan sungguh berliku.

Sang golem terlahir di lambung kapal Baltika yang melaju dari Danzig ke New York. Dicipta oleh seorang rabi Schaalman untuk menjadi pasangan Otto Rotfeld, seorang yahudi Prissoa yang asli Kronin, selatan Danzig, Sang Golem yang ketika dibangunkan di tengah lautan, calon suaminya mendapat serangan sakit hingga meninggal. Chava, si golem yang harusnya mengabdi pada suami menjadi makhluk kebingungan, apa yang harus dilakukan di tanah Amerika tanpa pemandu? Setelah sempat diburu kabur dari kapal, Chava berjumpa dengan rabi Avram yang mengasuhnya, memberi tempat bernaung, dan mengajari banyak hal kehidupan manusia. “Berikan padanya rasa ingin tahu, dan kecerdasan. Aku takkan tahan menghadapi perempuan yang konyol, buat dia sopan, tidak cabul. Istri yang pantas untuk pria baik-baik.” Well, semua golem di dunia ini pada akhirnya akan berubah kacau, kau harus siap-siap menghancurkannya.

Di lingkungan Lower Manhattan yang disebut Little Syria, tak jauh dari tempat tinggal Sang Golem, Sang Jin Ahmad terlepas dari tabung guci yang memenjaranya ratusan tahun karena secara tak sengaja digosok oleh seorang pengrajin/patri bernama Boutros Arbeely, seorang Katolik Maronit, ia pria asli Zahlel (Lebanon). Kehidupan berikutnya menjadi asistennya, mengenal banyak tetangga dan teman terutama Maryam sang pemilik kafe yang ramah dan Dokter Saleh yang kini menjadi penjual es krim keliling, dan betapa kehidupan sudah sangat berubah. Ahmad mencinta gadis konglomerat Watson bernama Sophia yang mendatanginya suatu malam di lantai atas rumahnya, berkencan dan melewatkan banyak waktu bersama, secara sembunyi karena sang putri akan bertunangan, dan menikah dengan kalangan bangsawan pula.

Chava bekerja di toko roti milik Mrs. Radzin, karena golem ga tidur dan bertenaga kuat, maka kerjanya luar biasa bagus. Tak mengenal kata lelah. Berteman dengan pekerja lain Anna yang lalu mengajaknya berdansa berkenalan pula dengan Phyllis, Jerry, dan Estelle, konflik dengan pacarnya Irving yang janji menikahi tapi ga jadi, memicu kemarahan dan kehebohan malam dansa hingga ada yang terluka parah. Chava sendiri akhirnya menikah dengan keponakan sang rabi, Michael Levy yang seorang pekerja amal rumah singgah yang berpandangan liberal. Bayangkan, golem menikah dengan manusia! Yang jelas, ini tak seperti Twilight blink-blink yang malam senggamanya mengguncang, golem di sini pasif dan tak bisa tidur, jadi ia hanya akan pura-pura terlelap.

Ahmad menjadi asisten pengrajin yang handal, banyak karyanya yang dicipta memesona. Dari besi, tembaga, perak, emas. Mendapat pujian artistik, dan omzet Arbeely otomatis melambung. Kehidupan mereka hangat, seolah tak banyak masalah. Justru kehidupan lama Ahmad yang sungguh mendebarkan, diceritakan secara dramatis bagaimana awal mula ia diperangkap. Gurun Suriah yang gersang dengan seorang remaja penuh tanya Fadwa, kehidupan sisian dunia lain itu sempat membuat khawatir tapi ternyata ayahnya Abu Yusuf pernah mengalami imaji/fantasi yang sama. Sampai suatu ketika Fadwa seperti kesurupan, sehingga oleh bapaknya dibawa ke dukun hitam Wahab Ibn Malik yang lalu mengelurkan jin, tapi ritual itu harus dibayar sangat mahal. Mulai saat itulah sang jin menghuni guci.Kisahnya dituturkan berganti-ganti dari kedua sudut pandang karakter, lalu dilebur ketika sampai bab 12, mereka bertemu, mencuriga ada yang aneh, dan saling mencoba mengenal dekat. Janjian setiap seminggu sekali bertemu di malam hari untuk melewatkan hari bersama, berjalan-jalan di gelap malam Washington Street, ngobrol dan memaknai hidup.

Lalu dimunculkanlah sang antagonis, Yehudah Schaalman yang menyamar memakai nama Joseph Schall, sang pencipta golem turut ke Amerika. ia memiliki obsesi hidup abadi. Mencari buku petunjuk. Buku yang ditulis rabi Avram Meyer menjelaskan beberapa aspek, maka ia pun ke sana, rabi Meyer yang karena usia, meninggal, maka buku dan warisnya ada di Michael dan Chava. Shmira, tradisi yahudi berjaga di samping jenazah. Ia bergabung dengan badan amal tersebut, mengejar dan akhirnya mengetahui kehidupan makhluk ciptaannya. Di sinilah sejatinya buku mulai meriah. Karena antagonis yang tua dan mengejar kehidupan abadi, karena jin mulai terancam, dan golem sendiri terdesak. Semua melebur dalam ledak harapan masing-masing.Memang buku ini ditulis dengan detail, tapi adegan perang dan memetakan aturan mainnya lemah, berliku tapi tak bikin penasaran. Seolah memang dicipta untuk diarahkan ke layar film, seperti kejadian di rumah singgah dan ancaman-ancaman sang rabi ke Anna, itu sudah khas Hollywood, dramatis terasa palsu. Termasuk keputusan final jin yang mengingin ke Timur Tengah lagi, menuntaskan misi lalu ending yang sweet, duh betapa eksukusinya sangat film-able, salah satu bagian yang mengehingkan layar bisa jadi adalah saat sang rabi terpecah-jiwanya bak harcrux Lord Voldemort. “Dan melihat jiwa-jiwanya sendiri di hadapannya, mutiara-mutiara dalam rangkaian tak berujung, yang dimulai dengan ibn Malik dan diakhiri dengan dirinya.”

Untuk sebuah novel yang tebal, menyajikan hal-hal semacam itu sangat disayangkan. Kurang worth it melahap lembar-lembarnya, kurang bervitamin, melelahkan. Seolah setelah bercinta bermenit-menit, anti-klimaks. Buku ini ternyata debut, dan aliran dramanya sangat biasa. Libur tiga hariku beruntun tanggal 10, 11, 12 April 2020 terasa kurang gereget menyelesaikan ini. Untuk buku pinjaman. Hiks,… “Jin tolong! Kami sedang bertempur dengan segerombolan ifrit dan kami terluka – kami butuh tempat berlindung.”

Aturan golem yang tak bisa luka, jin yang menghuni tubuh manusia, rahasia kehidupan abadi yang jiwanya tersiksa karena reinkarnasi dan hanya berganti tubuh, serta segala aturan gaib itu memang sah-sah saja dicipta. Dunai fantasi imaji masih sangat luas nan tak bertepi, namun untuk Sang Golem dan Jin terasa mengada, mungkin karena penyampaian yang biasa, atau pemilihan diksi yang kurang luwes, atau memang pada dasarnya inti cerita ini sendiri yang sangaaat standar. Mempertemukan golem lempung dengan jin api saja sudah terdengar janggal, apalagi menyatukannya. Bubuhkan cinta maka dunia manusia yang fana mengalirkan gelombang asmara. “Ya, aku janji. Tapi kita harus pergi ke tempat lain. Yang privat, agar tidak didengar orang lain.”

Sang Golem dan Sang Jin | By Helene Wecker | Diterjemahkan dari The Golem and the Jinni | Copyright 2013 | GN 402 01 15 0032 | Alih bahasa Lulu Fitri Rahman | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Editor Primadonna Angela | Desain sampul @ibgwiraga | 664 hlm.; 23 cm | ISBN 978-602-03-1425-9 | Skor: 3/5

Untuk Kareem

Karawang, 250420 – Glee Cast – Pompeii

Thx to Titus Pradita

110 Buku Yang Kubaca 2019

Hanya kebetulan belaka, tahun ini saya merampungkan baca 110 buku, sama persis dengan total baca tahun lalu. Ini sekadar catatan, betapa nikmat bercengkerama dengan buku.

#1. Seorang PendatangK. Usman
Dua cerpen lawas yang disatukan tahun 1963. Residivis pulang kampung dan melihat betapa banyak perubahan. Mengingat masa muda yang penuh amarah, cinta dan pengorbanan.

#2. Menolak AyahAshadi Siregar
Kisah Tondi sebagai PRRI melawan pusat, perjalanan dari Toba ke Bukittinggi yang mistis dan perjuangan melawan kecewa atas pilihan ayah. Kental budaya Batak, minus tukang tambal ban dan pengacara.

#3. Demi Esme dengan Cinta dan KesengsaraanJ.D. Salinger
“Apa yang dikatakan sebuah dinding pada dinding lainnya?” Dua cerpen klasik karya penulis ‘The Catcher in the Rye.’

#4. Magi Perempuan dan Malam Kunang-KunangGuntur Alam
“Jangan lihat kunang-kunangnya, ia bisa menyihir kita.” Dua puluh satu cerita pendek dengan tema beragam. Legenda hantu daerah, modifikasi hikayat. Kumpulan cerpen yang renyah.

#5. The Life and Adventures of Santa Claus L. Frank Baum
Dasarnya kita tahu. Sederhana, fiktif dan sudah sangat umum. Entah kenapa Frank Baum menulis ulang kisah semacam ini. Jauh dari bayangan ‘The Wizard of OZ’.

#6. Guru Generasi MilenialTri Winarno
Tulislah buku tentang bidang yang kuasai, Mas Tri dengan jeli menceritakan pengalamannya sendiri dalam kelas. Seperti membuat tantangan menulis puisi untuk murid-muridnya, mencerita keseharian dengan buku.

#7. Para Penjahat dan Kesunyiannya Masing-MasingEko Triono

Cerita orang-orang terusir dalam program membangun kota yang serupa New York dan Sydney. Para mantan bajingan bersatu dalam perenungan. Plotnya mirip 100-tahun-kesunyian.

#8. MemoarPablo Neruda
“Kita para penyair memiliki hak untuk bahagia, sepanjang kita tetap dekat dengan masyarakat di negeri kita dan dalam kegigihan perjuangan untuk kebahagiaan mereka.”

#9. Di Kaki Bukit Cibalak Ahmad Tohari
Cinta yang tak harus miliki, politik orang bawah, permainan mistis sampai kritik birokrasi. Perubahan zaman, perubahan kebiasaan, teknologi masuk desa, sampai polemik dasar makhluk Tuhan untuk bertahan hidup.

#10. Handmaid’s TaleMargaret Atwood *
Para handmaid di masa depan, aturan absurd dan pertentangan tak berkesudahan. Gadis kerudung tunduk, pikiran penuh luapan teriak.

#11. About a BoyNick Hornby
Filmnya kita tahu keren sekali. Ncik Hornby kalau bahas bola tajam dan sangat mendalam. Fan Gunners. Entah kenapa novelnya terlihat biasa. Plotnya ngelantur ke mana-mana, menjemukan.

#12. Breakfast at Tiffany’sTruman Capote *
Renyah di setiap lapisannya. Tampak seperti kisah nyata saat masih kere, menjalani sebagai penyendiri di apartemen sebagai penulis lokal tak bernama, sunyi, perenung mencari jati diri. Lalu muncul tetangga istimewa.

#13. Sesat Pikir Para Binatang Triyanto Triwikromo
Sembahyang adalah wujud cinta kita kepadaNya. Sembahyang tak boleh kita jadikan upeti. Sembahyang bukanlah semacam jual beli kita kepadaNya.

#14. Jokowi, Sangkuni, MachiavelliSeno Gumira Ajidarma
Pemimpin yang ideal adalah yang bebas dari kontrak politik, karena dukungan partai yang mana pun tidaklah mungkin dilakukan tanpa kepentingan. Kumpulan esai kedua SGA yang kubaca.

#15. Ups! Rieke Diah Pitaloka
Tugas penyair adalah mendewasakan bangsanya. Bagaimana kalau masyarakat tidak mau didewasakan dan ingin tetap seperi kanak-kanak? Jadi mari biarkan waktu menempa, mau ke arah mana perahu rima ini berlayar.

#16. Old Death Karl May
Kisah detektif dengan nuansa koboi, tak seperti cara penelusuran Holmes atau Poirot yang penuh deduksi dan telaah mendalam, cerita dalam The Wild West Journey ini dibarengi banyak keberuntungan, tak detail dan siasat tricky.

#17. The Murder of Roger AckroydAgatha Christie *
Dan ya, saya bisa menebaknya. Ada dua kalimat yang JELAS SEKALI yang menunjukkan sang pelaku, saya konsisten. Yakin dialah pelakunya. Terbukti. Salah satu yang terbaik dari Christie, dari Hercule Poirot.

#18. Around the World in Eighty DaysJules Verne *
Buku pinjam di taman baca Bus Taka Kota Galuh Mas, kubaca cepat saat pulang kerja hujan lebat, mencipta genangan sehingga menanti reda, baca di kantor. Sungguh menyenangkan melahap buku keren saat hujan dengan kopi.

#19. KawitanNi Made Purnama Sari
Sebatang pohon ara, empat pina, tiga pohon abu / Inilah kuil taman puingmu. Sungguh sajak adalahbarang mewah yang sulit dijangkau, sulit kubenamkan dalam kepala sehingga menyatu sukma.

#20. Mardi GrasAdriani Sukmoro
Lupakan konflik, kisah hanya berkutat pamer perjalanan hidup pengantin baru ke Amerika dengan salah satunya menyaksikan festival Margi Gras.

#21. Telembuk Kedung Darma Romansha *
Cerita dari Indramayu yang keras. Makian dan umpatan berbagai kelas. Lha judulnya saja sudah berat: Kisah Cinta yang Keparat.

#22. White FangJack London *
Kubaca dalam sehari dari siang sampai malam, di sela ibadah dan tidur di lantai satu Blok H nomor 279 hari Sabtu, 23 Feb 19. Ini semacam prekuel ‘The Call of the Wild’ yang sudah kubaca dua tahun lalu. Dituturkan dengan berkelas.

#23. Go Set A WatchmanHarper Lee *
Kisah lanjutan novel legendaris ‘To Kil A Mockingbird’, sekarang Scout sudah dewasa jadi perantau di New York dan buku berkutat di Maycomb saat liburan dua minggunya yang menegangkan. Bagaimana orang tuanya yang sudah tua tetap bekerja membela kebenaran. Sabar, tenang dan menghanyutkan.

#24. Mari LariNinit Yunita
Kubaca sekali duduk pada Selasa, 260219 sepulang kerja. Sinetron sekali, tentang Rio yang selalu mengecewakan orang tua. Saat ibunya meninggal dunia, dia harus buktikan tiga hal: bisa kerja benar di dealer sebagai sales mobil mewah, lulus kuliah di kesempatan kedua, dan lari marathon di Bromo dengan memakai nomor lari almarhum. Semua indah.

#25. Masa Depan Sebuah Ilusi Sigmund Freud
Esai buku kecil ide besar. “Tidak, sains kita bukan merupakan ilusi. Tetapi menganggap bahwa apa yang tidak bisa diberikan sains kepada kita bisa kita dapatkan di tempat lain akan merupakan sebuah ilusi.”

#26. The Clockwork ThreeMatthew Kirby
Premis bagus. Menempatkan tiga remaja dalam dilema rumit. Satu ingin pulang, satu ahli jam, satu untuk keluarga yang sakit. Terjepit finansial kusut. Sayang eksekusinya remuk. “Kau tahu, kau tegar seperti Hannah dalam al kitab.”

#27. Hujan Bulan JuniSapardi Djoko Damono
Kamu ga otomatis hebat saat sebut orang-orang hebat. Hepburn style. Jazz klasik menjadi teman Sarwono. Apakah membuatku terkesan? Enggak. Cerita sinetron yang coba berpuisi. “Kamu ini cengeng Sar, jualan gombal.”

#28. Kumpulan Budak SetanEka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad *
Kumpulan cerita pendek yang digarap bertiga atas dasar horror Abdullah Harahap. Seram, mistis, dan tragis. “Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya. Katakan apa yang tidak boleh kulakukan.”

#29. Manuskrip yang Ditemukan di Accra Paulo Coelho
Hidup ini untuk bersenang-senang, positif thinking, positif feeling. Dah kalau mau itulah review sangat singkat untuk buku ini. Benar-benar ya, buku perdana Paulo Coelho yang saya baca berakhir buruk.

#30. Dunia SophieJostein Gaarder *
Buku rangkuman filsafat yang luar biasa. Cara cepat belajar jadi filsuf. Butuh waktu empat bulan buat menuntaskannya. Hidup ini fiksi bagi mereka yang terjebak dalam ambiguitas.

#31. Perempuan PalaAzhari
“Aku tak mungkin menolak dan menutup pintu bagi siapapun yang datang ke rumah ini bukan? Aku diajarkan untuk memberikan apa yang kumakan bagi setiap orang lemah yang meminta. Itulah kemuliaan.”

#32. Bilik Musik James Joyce
Kumpualn puisi lengkap dari Penulis legendaris Ullyses. “Karena suaramu terdengar di sisiku / kuberi ia cemburu / dan dengan tanganku. kugenggam / tanganmu ‘tuk kali kesekian. Diterjemahkan oleh Gita Kharisma.

#33. Yang Telah TiadaJames Joyce
“Oh saya rela kehilangan apa saja demi mendengar Caruso bernyanyi.” Disebut novella, padahal lebih tepat cerita pendek ++. Buku ini selesai baca hanya dalam jeda Magrib ke Isya. Fufufu…

#34. Matahari dan BajaYukio Mishima
Gagasan tentang mengubah dunia merupakan kebutuhan yang sama pentingnya dengan tidur dan makan tiga kali sehari. Pemikiran yang tak lazim, ga mudah dicerna, berkali-kali baca ulang, nyaring, dan tetap mengernyitkan dahi.

#35. Kamis Yang Manis John Steinbeck
“Cara terbaik di seluruh dunia untuk membela dirimu adalah dengan menjaga tinjumu tetap ke bawah.” Ga seperti Steinbeck lainnya yang tragis, endingnya manis seperti judul. Tapi tetap karakter kuat dengan keanehan masing-masing.

#36. Water for ElephantsSara Gruen
Karena ia binatang yang begitu cantik, luar biasa, dengan hati yang sangat pemaaf dan mampu memahami kesalahpahaman. Kita akan berada di tingkat yang sama dengan sirkus-sirkus besar dan itu takkan bisa terjadi tanpa kalian.”

#37. Sad CypressAgatha Christie
Ini mungkin kisah Poirot yang paling mudah ditebak. Karena hanya menyisakan dua kemungkinan pembunuh, yang walau nantinya mencabang ke target lain, tapi jelas ada yang tak mungkin melebar liar. “Saya bisa mencari kebenaran…”

#38. MetamorfosisFranz Kafka *
Buku yang berat sekali. Mungkin jua karena kualitas terjemahannya yang aneh, typo berserakan, walau dialihbahasakan keroyokan berempat tapi tetap masih saja ditemukan kalimat-kalimat nyeleneh. “Ia bersuara seperti seekor hewan…”

#39. KubahAhmad Tohari
Cerita baik untuk orang baik yang dianugerahi akhir yang baik. “Takdir Tuhan adalah hal yang paling baik bagimu, betapapun getir rasanya, bertakwa kepadaNya akan membuat segala penderitaan ringan.” Sabar, tawakal, iqtiar.

#40. Kumpulan Cerita Pendek TerbaikLeo Tolstoy
Memang istimewa penulis satu ini. Mau cerpen atau novel sama hebatnya. Epos Sevastopol di mana rakyat Rusi adalah pahlawan sesungguhnya, meninggalkan jejak besar untuk waktu yang lama. “Kamu tak akan bisa bedakan bom dan bintang.”

#41. HumanismeYB Mangunwijaya
Keragu-raguan adalah sebentuk penghormatan kepada kebenaran.” Ernest Renan dalam Qu’est qu’une nation? (1882)

#42. Paper Town John Green
“Ini akan menjadi malam terbaik dalam hidupmu.” Kisah remaja yang tak biasa. Pengalaman pertamaku dengan Green berakhir menyenangkan. Tentang Q dan asmara tak biasa. Satu malam, terkenang sepanjang hidup, menuju kota kertas.

#43. Di Bawah Lindungan Ka’bah HAMKA
Buku sangat tipis. Kubaca sekali duduk (15/06/19), malam minggu sendirian tak butuh waktu sejam juga selesai. Kisah kasih tak sampai. Cerita berlapis, tragis tapi tak semenangis Tenggelamnya Kapal…

#44. Matilda, Lelaki Izrail, dan Seorang Perempuan di Masjid KamiHairus Salim HS
14 cerita dalam seratus tiga puluh halaman? Ini baru benar-benar cerita pendek. “Dan tiba-tiba mereka hanya mendengar tubuhnya ambruk.”

#45. Teach Me Like FinlandTimothy S. Walker
Di Finlandia moto ‘bekerja untuk hidup’ bukan ‘hidup untuk bekerja’. Mereka tampak serius dalam bekerja, namun di waktu luang mereka ikuti hobi daripada menggunakannya untuk meningkatkan pertumbuhan profesi mereka.

#46. Dalam Kobaran Api Tahar Ben Jellous *
Hebat. Penulis kelahiran Maroko, tinggal di Prancis bercerita tentang Tunisia dan efeknya. “Aku tidak menjelaskan apapun, ini adalah karya sastra.” Arab Spring, demi rasa keadilan.

#47. Misteri Rumah Masa LaluV. Lestari
Buku klasik dalam memetakan karakter yang protagonis akan konsisten baik sampai akhir, yang jahat tetap digambarakan di sisi negatif terus, ga ada konflik batin berlebih, ga ada wilayah abu-abu sifat manusia.

#48. OriginDan Brown
Semua tertebak. Saya bisa menebak motifnya, saya bisa memprediksi apa isi presentasinya, saya bis atahu endingnya. Puisi William Blake tahun 1790an, Amerika sebuah nubuat, Eropa sebuah nubuat. Dan mereka sudah datang!

#49. Alice Through The Looking Glass Lewis Caroll
Buku yang aneh sekali. Masih bagusan seri pertama, karena teras original, seri kedua ini menawarkan kebingungan yang sama, hanya dengan pola lebih rumit, lebih acak, dan jauh di luar nalar.

#50. Maut di VenesiaThomas Mann
Narasinya berbelit panjang, melingkar-lingkar, merenung, lalu putus karena frustasinya mengurai, dengan detail tempat, suasana, gambaran orang sekitar, smapai cuaca yang tak ramah. “Untuk Tuhan kami yang asing.”

#51. Max and the CatsMoacyr Scliar
Novel seratus halaman ini kubeli kala dalam tugas luar mengikuti pelatihan di Hotel Horison, Bekasi seminggu. Kubeli di Gramedia MM dengan Gadis Pendongeng, kubaca singkat di pagi dan sore waktu istirahat. Pi!

#52. If I StayGayle Forman
Keluarga yang sempurna. Orang tua utuh yang benar-benar mencinta. Adik manis yang menggemaskan. Dan masa depan cerah untuk karier seni dan lagu snob. Dalam hujan salju di pagi hari libur, kecelakaan merusak semuanya. Ini adalah novel religi di dunia antara.

#53. Tamasya BolaDarmanto Simaepa
Pengantarnya bagus banget dari Mahfud Ikhwan. Diambil dari blog, tulisan sepak bola dengan sudut pandang belakang gawang. Apa menariknnya cerita Barcelona, MU, Timnas dan pengalaman pribadi Penulis sejak kecil? Bukan kayak gini cerita bola yang bagus tuh.

#54. The Story GirlL.M. Montgomery *
Cerita anak-anak pada suatu masa di Amerika. Lucu, seru dan apa adanya. Benar-benar membumi, seolah ini adalah diari sang Penulis. Setara ‘Secret Garden’-lah, tapi ini lebih riuh dan ceria karena melibatkan banyak karakter. Tak sabar baca lanjutan.

#55. Kisah Pedagang Buku yang Tewas di Bagdad (kumpulan esai)
‘Belajar dari para maestro nonfiksi’. Karena buku ini tidak diperjualbelikan, tipis berisi 66 halaman, dan isinya yang sungguh bikin penasaran. “… Kairo yang menulis, Beirut yang menerbitkan, Bagdad yang membaca.”

#56. Dijamin Bukan Mimpi Musmarwan Abdullah
Kumpulan pos di sosmed, terutama Facebook. Ga semuanya tapi kebanyakan. Tulisan dikit tiap judul, kek orang curhat aja. Bisa tebal juga, kumpulan cerita satiris bisa benar, kalau cerita inspirasi ya hhhmmm… Enggak terlalu. Sekadar lumayan…

#57. Cerita Cerita Telapak Tangan Yasunari Kawabata
Ini adalah kumpulan cerita dikit-dikit tiap judul, curhat orang Jepang terhadap keseharian, kejadian sekitar. Tmpak sederhana, tapi kualitas imaji dan asosiasi mendalam. Beberapa memicu tafsir beragam.

#58. Cat Among the PigeonsAgatha Christie
Poirot melacak pembunuhan berantai? Di dalam sekolah elit khusus putri, orang-orang kaya yang panik, dan cerita putri dari Timur Tengah yang diculik. Gempar dan memusingkan, tapi bagi Poirot (aka Christie) tampak sederhana. Saling tipu. Dush!

#59. Tanah Air ImajinerSalman Rushdie
Kumpulan esai yang menggairahkan. Bergizi tinggi. Curhat Rushdie ketika jadi juri lomba tulis, prediksi untuk Penulis muda yang akan menghentak dunia. Beberapa menjadi, curhatnya tentang India yang lama ditinggalkan dan efek psikologi. Runut dan wow.

#60. Time Machine H.G. Wells
Mungkin ekspektasiku ketinggian, Mesin Waktu terasa mengada-ada, eksekusinya tergesa, melupakan detail bagaimana bisa memutar waktu. Penjelasan mesinnya bekerja tampak meragukan, semeragukan sang Penjelajah Waktu bercerita.

#61. NeverwhereNeil Gaiman *
Pertarungan malaikat, iblis dan makhluk bawah tanah London. Richard, manusia normal di atas tanah terjebak dalam permainan kotor. Fantasi luar biasa, kejutan akhir yang hebat. “Bagaimana aku bisa kembali normal?” Gaiman tak pernah mengecewakan.

#62. OEka Kurniawan
“Aku akan menjadi manusia.” Kata O si monyet cerdik.

#63. Max Havelaar Multatuli
Tata bahasanya memang agak susah dipahami. Cerita asisten Residen yang keren, mencoba menerbitkan buku dnegan modal makelar kopi.

#64. The Adventures of PinocchioCarlo Collodi
Kisah abadi boneka kayu pembohong. Susah diberitahu, tak mau mendengarkan nasihat, mudah tergiur rayuan manis. Hikayat ikan paus dan semburannya.

#65. Sharp ObjectGillian Flynn
Ketika penulis mudik untuk mewartakan pembunuhan anak-anak sejatinya sudah menunjuk siapa pelakunya. Kombinasi buruk pengenalan karakter, susunan plot dan misteri detektif ala kadar.

#66. Do Android Dream of Electric Sheep?Phillip K. Dick
Dunia masa depan yang mengerikan. Hewan elektrik murah, hewan asli mahal. Untuk membelinya bahkan perlu dicicil. Dan misi pemburuan manusia mesin? Tak ada nurani.

#67. Artemis Fowl Eoin Colfer
Dunia peri yang menakjubkan. “Aku mendengar suara-suara di malam hari. Suara itu merayap di bantal dan memasuki telingaku.”

#68. SapiensYuval Noah Harari *
“Orang-orang yang hidup saat itu tidak melakukan hal-hal yang penting.” Tiap sepuluh kalimat kubaca, kubaca ulang separuhnya. Nikmat di tiap lembarnya.

#69. Cara Berbahagia Tanpa Kepala Triskaidekaman
Bukan fantasi, bukan misteri, bukan humor, bukan surealis. Blas. Kepala terpenggal dan bersenang-senang palsu.

#70. Dekat & NyaringSabda Armandio
Buku tipis yang melegakan. Bagus tapi ada yang kurang. Cerita gang Patos dalam dilematis.

#71. Bertarung Dalam SarungAlfian Dippahatang
Perseteruan adat dan pertarungan harga diri dalam sarung yang mematikan.

#72. Tango & SadiminRamayda Akmal *
Nyaman diikuti, lezat dilahap, tenang dalam bercerita dengan komplektivitas. “… berusahan mengapai-gapai Tuhan…”

#73. Bugiali Arianto Adipurwanto
Banyak suku kata Sasak yang tertera, sampai menyita dua halaman penuh guna menjelaskan. Hikayat bugiali.

#74. Seekor Capung MerahRilda A. Oe. Taneko
25 cerpen yang kubaca dalam perjqalanan bus Solo-Karawang, selesai saat di Semarang (30/09/19). “Apa tidak ingin ke Brouwesweg 10?”

#75. JamalokeZoya Herawati
Jamaloke, sandang pangan goleko dewe. Sandang pangan carialh sendiri. “Itulah sepenggal lakon sejarah.”

#76. Teh dan PenghianatIksaka Banu *
“Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat, pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar…”

#77. Republik Rakyat LucuEko Triono
Ini hanya buat fun. Lelucon rakyat, semua warganya lucu.

#78. Atraksi Lumba-Lumba Pratiwi Juliani
Narasi bagus, dialog bagus, susunan plot bagus. Mengalir merdu. “Tidak pernah kumengerti, aku juga tidak mengerti banyak hal. Andai aku bisa mengerti banyak hal.”

#79. The MartianAndy Weir
“Para astronot pada dasarnya gila. Dan sangat baik hati. Aku ingin dengar ide itu.” Mark Watney perjuangan bertahan hidup di Mars.

#80. Aku dan Surabaya dan NakamuraGerson Poyk
Semacam memoir Poyk. Tidak pernah ada seniman yang tak punya utang, sudah niat menghidupi keluarga walau ancaman kere.

#81. Skipping ChristmasJohn Grisham
Terpingkal-pingkal menamatkan novel Grisham ini. “Ini adalah boikot Nora, boikot total Natal.”

#82. Perjalanan Nun Jauh ke Atas SanaKurt Vonnegut
“Kota Anda berterima kasih pada Anda, negeri Anda berterima kasih pada Anda, planet Anda berterima kasih pada Anda, tapi yang paling berterima kasih adalah generasi mendatang.” Dua cerpen masa depan yang misterius.

#83. MissingR.L. Stine
Orang tua Cara dan Mark menghilang, awal pesta berubah cekam.

#84. Bastian dan Jamur AjaibRatih Kumala
Bagaimana jamur bisa mencipta gadis fantasi, mantan kekasih yang mati. Raquel…

#85. Jeritan Dari Pintu KuburAbdullah Harahap
“… di kota banyak kami dengar kabar-kabar aneh tentang kampong ini. Pencurian mayat bayi, tempat perampok berkumpul, kematian-kematian ganjil…”

#86. AlexPierre Lemaitre
Alex yang diculik tampak seperti korban, dalam perkembangannya ternyata pembunuh, dan dalam perkembangan lagi, ada twist. Wow. Detektif Prancis yang absurd.

#87. Goosebumps: Makhluk Mungil Pembawa BencanaR.L. Stine
Grool hanya bisa beralih tangan kalau pemilik sebelumnya mati. Kengerian setiap ganti bab.

#88. Ocean SeaAlesandro Baricco
Tagline saja, ‘Love, Murder & Betrayal in Almayer Inn’

#89. Simple Stories for a Simple InvestorNicky Hogan
Buku tentang saham pertama yang kubaca berakhir mengecewakan. Pamer jalan-jalan promo ‘Yuk Nabung Saham’. Ga banyak ulasan detail. Only for beginner.

#90. LoversusFarah Hidayati
Elang Terbang vs Cinta Lestari. FTV banget, Cinta yang miskin di antara para lelaki berada.

#91. Apollo dan Para PelacurCarlos Fuentes
Diari mencipa kenangan masa kecil. Dan kisah kematian dicerita dengan pola tak lazim.

#92. Dalih Pembunuhan Massal John Roosa *
Bencana kemanusiaan dari sisi lain. Kemelut kusut tanpa kepaduan, sejarah kelam Republik ini. Semua janggal sedari awal.

#93. The Giraffe and the Pelly and MeRoald Dahl
Kera, jerapah, bangau dan aku menyewakan jasa bersih kaca gedung bertingkat. Sang Duke memanggil…

#94. DiaHenry Rider Haggard
Leo dan Holly berpetualang ke rimba imaji Kor. Dia yang immortal, cinta mengorban banyak hal.

#95. Daisy Manis Henry James
Selasa malam nontong film Notting Hill, Julia Roberts bilang sedang proses syuting film adaptasi Henry James. Langsung ku #unboxing dan esoknya baca kilat sepulang kerja. Tentang gadis Amerika abad 19 jalan-jalan ke Eropa, ada insiden.

#96. Soekarno, Arsitek BangsaBob Hering
Biografi singkat Bung Karno yang nyaman diikuti. 32 halaman cerita perjalanan hidup, 125 foto yang dibubuhi keterangan dari kecil hingga wafat. Terbit memperingati 100 tahun pada 2001. Dibaca sekali waktu untuk teman tidur Hermione.

#97. MaryamOkky Madasari
Tentang Ahmadyah yang dianggap sesat. Pertentangan Maryan dan keluarganya, dan masyarakat sekitar. “Yang namanya keyakinan memang tak bisa dijelaskan. Ia datang sendiri tanpa punya alasan.”

#98. Kematian di VenesiaThomas Mann
Versi Basa Basi dari buku yang sama yang diterjemahkan pula oleh Circqa. Ini lebih bagus, entah karena bacaan kedua atau emang kualitas alih bahasanya lebih nyaman. Aschenbach yang jatuh hati pada pemuda cantik Tadzio.

#99. Tarian Bumi Oka Rusmini
Bagus sekali alurnya. Pemahaman yang sesungguhnya kalimat, ‘demi cinta akan kulakukan segalanya untukmu.’ Hikayat tari dan gesekan harga diri. Aku selalu mohon pada dewa di sanggah agar kau bisa keluar dari lingkaran karmaku.

#100. Rumah Hujan Dewi Ria Utari
Kubaca dua hari. Novel yang dikembangkan dari cerita pendek dan cerita lainnya. Seniman, hujan, sepi, kenangan, hujan. Buku keseratus tahun ini seram.

#101. Goosebump: Hantu Penunggu SekolahR.L. Stine
Salah satu seri Goosebumps terbaik. Dunia pararel misteri, siswa yang hilang dengan kilat kamera, cekam takut warna kelabu dan ending menggantung terselebung teror. Tommy dan kawan-kawan berpetualang di negeri antah di balik dinding sekolah. Gawat!

#102. The Notting Hill MysteryCharles Felix
Tahun 1850an terjadi pembunuhan berencana, melibatkan uang warisan dan polis asuransi sebesar 50.000 pound. Penyelidikan dengan detail saksi, surat pos, dampai catatan harian. “Musuh paling fatal kejahatan adalah kehati-hatian yang berlebihan.”

#103. AparajitoBibhutibhusan Banerji *
Novel India terbaik yang pernah kubaca. Riwayat Apurbo dari masa kanak-kanak, perjuangan pendidikan, merantau ke Kalkuta demi menyambut masa depan gemilang. Inilah gambaran hidup sesungguhnya. Leela dan Aparna, cinta dan tragedy. Kisah luar biasa.

#104. Alex and the Ironic GentlementAdrienne Kress
Saat bumi telah berdamai / Dan elemen-elemen terbakar / Dengan rasa paling prima / Hasratmu akan kau dapatkan. Petualangan bajak laut dengan banyak kejanggalan. Kisah yang buruk.

#105. Si Cacing dan Kotoran KesayangannyaAjahn Brahm
Sepertiga awal terasa biasa, mungkin karena cerita motivasi umum. Barulah jelang tengah, terutamqa terkait meditasi danyang terbesar adalah pikiran, banyak menawarkan keindahan dunia Buddha. Salur: Seorang Inggris, Ilmuwan, Biksu.

#106. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ariZuhairi Misrawi
Lebih seperti sejarah NU ketimbang riwayat pendirinya. Karena saya ga ikuti perkembagan NU banyak vitaminnya. “Tanda-tanda mati hati adalah mencari keuntungan dunia dalam urusan akhirat.”

#107. Lady SusanJane Austen
Hanya dari surat menyurat semua cerita bergulir. Janda dan putri remajanya, saudara yang bimbang tentang moral. Perjodohan. Asmara abad 18 di London yang rumit (dalam arti sebenarnya). Bagaimana tukang pos menjelma penggerak plot.

#108. PlayonF Aziz Manna
Garis awal garis pintu, satu kaki di depan, satu kaku di belakang, kepala lurus angina bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah. Garis jalan, garis belokan, satu kaki membumi, satu kaki mengawang, kepala lurus, angina bersidorong. Yang lalu lintaslah, yang lintas lalulah.

#109. Kapitalisme, Islam dan Sastra PerlawananOkky Madasari
Beberapa karya sastra berfungsi transformatif terhadap pembacanya dan masyarakat skala lebih luas. Buku-buku dapat mengubah pandangan dan tingkah laku mereka. – O’Leary

#110. Cannery Row John Steinbeck
Hikayat Doc dengan laboratoriumnya. Mack dan konco-konconya dalam lingkup ranjang pesta.

Alhamdulillah…

Karawang, 311219 – Roxette – Almost Unreal

Our Times: Esensi Bahagia Yang Hakiki

Ketika seorang gadis mengatakan ‘aku baik-baik saja’ dia tidak baik-baik saja. Tidak ada apa-apa berarti ada apa-apa…”

Film pertama dari rangkaian Film Paling Romantis versi Bank Movie (BM) yang selesai tonton dan ulas. Too sweet to be true. Terlalu manis ending-nya. Hidup tak seindah itu, cerita dengan akhir yang sempurna biarkan Disney yang mengelola, kita biar menikmati kepahitan keseharian manusia apa adanya. Film suram adalah koentji. Ceritanya mirip You Are The Apple of My Eye. Namun dengan ujung yang sangat berbeda, esensi bahagia yang hakiki?

Our Times tentang kisah cinta masa remaja yang tumbuh tak sesuai harapan, awalnya. Karena waktu jua yang merubah seseorang, lelaki yang menjadi klik adalah preman sekolah, kepala geng yang siap hantam sana-sini kalau berani ganggu. Padahal ia dalam bayang artis idola, Andy Lau yang ganteng-nya tak terkira. Dan seolah abadi, karena dari dia remaja sampai akhirnya nanti sudah berkarier, sang idola tetap memenjara hatinya. Sampai ngoceh, bagaimana bisa kau tetap populer selama 30 tahun?

Truly Lin (dewasa diperankan Joe Chen) menghadapi rutinitas kehidupan yang membosankan sebagai bos yang disebali anak buah, sedih sekali menjadi beban gosip orang lain, hidup ini tidak selalu berjalan sebagaimana yang kita harapkan, tapi itulah yang membuat hidup ini menarik. Lalu saat di rumah ia membuka laci yang berisi album foto, benda-benda sejarah dan catatan masa lalu, kamera menyorot tape compo Sony merah penuh kerlap-kerlip dengan lebih dekat, lalu kita pun kembali ke era Lin remaja dengan kamar penuh poster, Andy Lau sedang di puncak karier. Truly Lin (remaja diperankan Vivian Sung) tampak culun dengan kaca mata tebal dan imaji meluap. Hampir semua cewek naksir si tamvan Ouyang (Dino Lee), tak terkecuali dia. Yang cowok pastinya kesemsem Min-Min (Dewi Chein), berdua tampak pasangan ideal. Lin seolah karakter minor, siswa kebanyakan yang memandang para bintang kelas penuh damba. Arah asmara Lin justru mengarah kepada Taiyu (Talu Wang), sang bos genk sekolah yang disegani. Celaka 13!? Haha… Namun tenang saja, urusan takdir baik biar penulis skenario yang urus. Persahabatan sesama pria selalu berujung pada persaingan, persahabatan erat dengan lawan jenis berakhir pada kasih. Teori sederhananya, orang-orang yang pernah menjadi korban di masa lalu, kemungkinan akan menjadi korban lagi. Sementara orang-orang yang pernah memiliki posisi istimewa, kemungkinan akan memperoleh keistimewaan lagi. Ketika hasil buruk yang dicapai, apa yang dilakukan sang pejuang? Dengan dukungan penuh orang terkasih, mereka terus berjuang dengan melipatgandakan upaya ke batas maksimal. Belajar bersama, dengan janji akan masa depan. Lin memaku Taiyu dengan memohon kepadanya untuk kembali ke jalan yang lurus, jalan yang diridhoi cahaya, seolah tak pernah memohon pada makhluk hidup apa pun sebelumnya. Lalu apa yang didapat? Cinta pertama dan senyum merekah di ujung kisah!

Ada bagian yang lucu yang mengingatkanku pada kenangan menyebar kebaikan, dalam tanda kutip, dibarengan ancaman. Lebih dramatis lagi, surat itu diterima Lin bersamaan dengan Min-Min yang cantik menerima surat cinta meluap, maka dengan penuh pertimbangan Lin mengirim salah satunya ke bos genk yang nyebelin, di mana sebab surat itu si Taiyu yang berbunga malah tertabrak mobil. Surat berantai dari Afrika Selatan yang meminta untuk memfotokopi lima buah lalu mengirim ke orang lain, kalau enggak dilakukan maka akan tertimpa sial. Saya ingat sekali doeloe, saya pernah menerima surat kayak gitu, berantai dari Arab Saudi dari generasi sesudah cicit Nabi, kebetulan saat itu kelas enam SD, akan ujian EBTANAS, jadi sempat takut juga. Setelah rundingan dengan cs, dan ngobrol sama jamaah masjid, diminta abaikan. Duh, anak zaman dulu. Mengingat itu, terasa konyolnya. Masa muda yang tak mampu menimbang konsekuensi lengkap keputusan dan tindakan.

Bicara masa lalu, kita tahu tak akan ke sana lagi. Langkah yang konkrit tentang hal konyol yang pernah menghinggapi adalah mengakui kompleksitas dilema tersebut dan menerima bahwa membagi-bagi masa lalu secara sederhana, membagi-bagi orang-orang baik dan orang-orang jahat sesungguhnya tak membawa kita ke mana-mana. Terkecuali, tentu saja kita bersedia mengakui bahwa kita biasanya mengikuti orang-orang jahat itu. keputusan dengan beberapa pertimbangan yang akhirnya meski lewat jendela samping. Masa muda, ah masa muda: sehat, bebas, tanpa rasa takut.

Memainkan plot dengan kilas balik ke masa lalu sejatinya ide cemerlang, saya suka gaya tak linier, kita menyaksikan adegan demi adegan masa remaja Lin bukan untuk mengetahui masa depan, melainkan memperluas cakrawala kemungkinan tindakan untuk mengerti bahwa situasi kita di masa kini tidaklah alami atau tak terhindarkan, sehingga kita lebih banyak memiliki kemungkinan di hadapan kita yang tak terbayangkan. Kesalahan merupakan bagian dari kehidupan. Lalu lihatlah, Lin dengan berani menantang sang bos dengan penuh gaya, saya ada dan saya bernilai. Punya sesuatu yang melambangkan kebebasan barangkali membuat seseorang lebih bahagia daripada mendapat kebebasan itu sendiri.

Sebenarnya pondasi cerita ini sangat bagus. Kita tak menyangka karakter utama sampai sepuluh menit kemudian, karena ini adalah kilas balik tak mengira protagonist cantik di masa kini adalah remaja culun yang dicinta cowok nakal. Kita juga ga nyangka, love interest-nya adalah si begudal sekolah, tukang tawuran, yang akhirnya memantul balik perhatian, padahal berkali-kali kamera mencerita betapa ia mendamba si tamvan Ouyang. Lalu di separuh akhir, cerita menjadi smash hit duo ini. Di awal ga ada rasa, membelit kekuatan cinta pada akhirnya. Sayang sekali ending Our Times terlampau manis.

=== spoiler ===

Selain memberi kebahagiaan kepada penonton yang akhirnya si Truly Lin bertemu Andy Lau, bahkan bukan sekadar nonton konser tapi berbincang langsung, diberi tanda tangan dan senyum manis sang idola, selfie berdua dengan bibir monyong, lalu adegan paling ujung, Penonton diberi bonus luar biasa, karena Taiyu dewasa adalah Jerry Yen! Personil termasyur dari F4. Benar-benar manisnya keterlaluan. Sangat amat manis bukan? Sakit gula dah. Bahkan apa yang orang-orang anggap sebagai hasrat mereka yang paling pribadipun biasanya diprogram oleh tatanan khayalan. Andy Lau memainkan titik pusat harapan, lalu Jerry Yen mencipta nyata saking kesemsemnya pembuat cerita Our Times akan akhir yang manis.

Kita cenderung percaya bahwa seandainya kita bisa berpindah kerja, tunangan dengan pasangan ideal, makan sate yang lezat, membeli Iphone X 11 Pro Max, kita akan bahagia setengah mati. Ternyata ketika terjadi, kita sepertinya tak lebih bahagia. Betemu Andy Lau tak mengubah biokimia, hanya melonjak. Kejadian-kejadian itu memang mengejutkan, sejenak. Namun kemudian itu akan kembali ke titik semula. Maka jangan heran, setiap ada kesempatan bertemu Sherina, atau ada kemungkinan bantuan kawan untuk mewujdukannya, saya menjaga jarak. Saya ingin aura itu terus terjaga, dengan tak menjadi nyata rasanya saya mengurung sensasi nikmat, yup itu salah satu cara aman memanipulasi biokimia. Orang tidak membuat film tentang pengalaman dirinya sendiri untuk mengisah-ulang kehidupan, tetapi lebih untuk mengubahnya dengan menambahkan sesuatu.

Bertemu dan bersapa senyum dengan Sherina Munaf (mungkin nanti) adalah kebahagiaan, perwujudan impian remaja. Namun bisa memeluk Nikita Willy setiap saat adalah esensi bahagia. Setiap hari, setiap kali bisa memandang wajahnya, melihatnya, sungguh luar biasa. Yah, ending Our Time semacam itulah. Angan-angan sang sutradara yang dipetakan di layar.

Memang banyak peristiwa luar biasa terjadi pada kehidupan. Menjeritlah bersama idolamu!

Our Times | Year 2015 | Directed By Yu Shan Chen | Screenplay Yung-Ting Tseng | Cast Vivian
Sung, Talu Wang, Dino Lee, Dewi Chien, Berry Wen-I Kuo, Andy Lau, Jerry Yen | Skor: 4/5

Karawang, 111119 – Michael Franks – Hourglass

*) Happy Anniversary 8 tahun 11-11-11 – 11-11-19

**) Rekomendasi Iwan dari BM, 1 dari 17 akhirnya done.

Kamis Yang Manis #30

Orang-orang berubah, digantikan dengan orang baru. Dan Tuhan mengetuk-etuk diriNya dalam banyak cara.” Mack

Kau bisa menilai banyak hal dari cara berjalan. Akhirnya event #30HariMenulis #ReviewBuku ada di penghujung juga. 30 buku, 15 dari Penulis lokal dan 15 terjemahan selesai kuulas dalam 30 hari selama bulan Juni. Ini adalah perayaan kelima sejak 2015. Konsisten, dan terus diperbarui. Sebenarnya malah sangat banyak yang pengen kukejar menuntaskan ulas buku, tapi tetap di bulan ini sesuai target. Hufh… #HBSherinaMunaf #HBDNikitaWilly

Siapa yang tahu apa yang tertidur di kedalaman pikiran seseorang? Siapa yang tahu apa yang diinginkan seseorang?”

Fresh from the oven. Ini tidak baru. Setan gunakan matamu.

Buku ini terbit bulan Maret, dan saya selesaikan baca di bulan April 2019. Sempat mau langsung kuulas, tapi ternyata kegilas buku lain. Bulan puasa tiba dan akhirnya terendam. Ekspektasiku terhadap John Steinbeck ketinggian, memang laik tinggi sih, buku ini happy ending dengan terlalu manis, kebanyakan gula, makanya kurang sreg bagiku mengingat beberapa buku lain yang sudah kubaca. Tak ada di dunia ini yang seperti Suzy. The Pearl, Of Mice and Men yang memberi akhir sangat mengejutkan. Ini adalah buku sekuel, saya sendiri belum membaca seri satu, Cannery Row. Namun ga masalah dah biasa saya diterjunkan langsung di tengah permasalahan. “Aku mungkin akan menghilang. Aku menyimpan kegelisahan dalam diriku, aku mungkin akan menghilang.

Ceritanya tentang orang-orang di daerah Cannery Row dengan kegalauan masing-masing. Fokus utama sejatinya ada di Doc yang seorang ilmuwan nyentrik yang jomblo akut, yang ada di pemikirannya adalah ilmu pengetahuan, percobaan penemuan tentang fauna laut, dan hobinya nongkrong di laboratorium itu menyita banyak sekali daya dan waktu. Perubahan bisa jadi diberitahukan oleh sedikit rasa sakit, sehingga kau sedang terserang flu. Mengorbankan banyak hal. Maka dimunculkan karakter cantik yang mencoba mendobrak kerasnya hati. Suzy. Misalnya Doc mengatakan sesuatu dan kau tidak tahu apa artinya. Tanyalah! Hal paling baik di dunia yang bisa kau lakukan untuk sembarang orang adalah membiarkannya membantumu. Suzy sebagai pendatang memberi angin segar, dan diciptalah konspirasi ‘comblang’. Sendiri dia merenung, bukan tentang kelemahan Doc, tetapi tentang penghianatan teman-teman Doc yang mempertanyakannya, siapa yang berani mempertanyakannya. Sepanjang 400 halaman kalian akan disuguhi cinta mereka, dengan banyak kalimat filosofis. “Aku mencintai kebenaran, bahkan jika kebenaran itu menyakitkan. Bukankah lebih baik mengetahui kebenaran tentang seseorang.” Cinta monyet untuk para senior. Suzy yang diletakkan dalam posisi kasih. Jika seorang laki-laki mengatakan sesuatu yang menarik perhatianmu, maka jangan menyembunyikan itu darinya. Semacam mencoba untuk membayangkan apa yang sedang dia pikirkan alih-alih kau akan menjawabnya.

Dan seperti judulnya yang manis, endingnya juga sangat manis. Jika aku tak bisa mendapat keberanian dari keagungannya, dia berpikir, aku sebaiknya menyerah. Tak seperti dua buku Steinbeck sebelumnya yang sudah kubaca, jelas ini keluar jalur. Tak seperti harapanku. Sebuah kejadian tidak perlu merupakan kebohongan jika ia tidak perlu terjadi.

Apakah aku sudah cukup kerja? (1) Apakah aku sudah cukup makan? (2) Apakah aku sudah dicinta? (3) Adalah tagline di kover warna orange ini. Cukup mewakili hati yang terasing yang mendamba kenyamanan, cukup untuk menampar jiwa yang egois. Pernahkah kau tahu orang-orang yang sangat sibuk dengan kepandaian mereka sampai tidak punya waktu untuk melakukan hal yang lain?

Kisahnya tentang persahabatan Mack dan Doc, ini kisah antara, ini kisah yang menghubungkan nasib orang-orang di sekeliling mereka. Jangan berbangga diri dan mengatakan bahwa kau tidak membutuhkannya atau menginginkannya. Itu adalah tamparan ke pipi. Hal yang disukai orang di dunia adalah memberimu sesuatu dan melihatmu menyukai dan membutuhkannya. Itu bukan sifat rendahan.

Suka banget dengan kalimat ini. “Salah satu penyakit di zaman kita adalah mendakwahkan bahaya pada orang-orang sepertimu yang khawatir dan tergesa-gesa. Orang yang tidak berpikir bahwa dunia akan berakhir adalah orang yang berbahaya.” Menampar kita, cocok untuk semua era sebenarnya, tapi sangat pas di saat ini. Waktu esok seolah sangat panjang, well tak ada yang tahu kan?! Lalu kalimat ini juga cukup keras memukul kita. “Orang-orang tidak mengetahui apa yang mereka inginkan. Mereka harus didorong. Ada orang yang dalam pikirannya tidak ingin menikah, tapi menikah juga.” Banyak temanku yang di usia sangat matang, belum menikah karena menikmati masa lajang. Banyak pula yang sudah menikah tapi malah mendamba masa lajang, mengingat waktu lalu yang sudah lewat. Ironi kehidupan. Itu hanya akan menjadi jalan palsu lainnya sebuah rasa frustasi baru. Lalu kalimat “Aku ingin menyumbang pada ilmu pengetahuan. Mungkin itu adalah pengganti bagi keinginan untuk menjadi ayah buat seorang anak. Sekarang, sumbanganku bahkan jika ia keluar, sepertinya masih lemah.” Ini juga menjadi pertanyaan semua umat manusia, hidup ini apa? Berguna bagi orang lain? melakukan penemuan-penemuan untuk kenyamaan umat masa depan? Lalu apa? Pahit, kawan! Lihatlah setiap kekacauan yang pernah kau dapatkan dan kau akan menemukan bahwa lidahmulah yang memulai.

Tahun 2019 ini saya mulai menikmati musim Jazz, indah banget ternyata aliran musik ini. Maka pas bagian ketika salah satu karakter mendengarkan ‘Stormy weather’ by Cacahuete saya langsung menyalakan musiknya, teduh dalam badai, saya tahunya lagu jazz ini dinyanyikan oleh Lena Horne dengan instrumen terompet yang dominan. Dari musik tidakkah keinginan-keinginan dan kenangan-kenangan terbentuk?

Saya belum sempat browsing, apakah benar ada novel berjudul ‘Akar Pi Oedipus’? Rasanya memberi tautan untuk turut menikmatinya. Ujaran tentang ledakan penduduk, banyak anak banyak rejeki tapi intaian kemiskinan ada. Sudah banyak yang mengulas, tapi masih tetap keren ketika Steinbeck yang menulis. Populasi meningkat dan produktivitas bumi menurun. Dan pada masa depan yang teramalkan kita akan tercekik oleh jumlah kita sendiri. Hanya pengendalian kelahiran yang bisa menyelamatkan kita, dan itu adalah satu hal tak akan pernah dipraktikkan umat manusia.

Kutipan indah tentang sabar muncul pula kala ada kegaduhan. “Cara terbaik di seluruh dunia untuk membela dirimu adalah dengan menjaga tinjumu tetap di bawah.” Atau yang ini “Untuk rasa sakit atau frustasi manusia punya banyak obat, tapi tak satupun obat itu adalah amarah.” Karena semua orang tahu kau hanya membodohi dirimu sendiri. Kau tidak akan menulis makalah itu karena kau tidak bisa menulisnya. Kau hanya duduk di sini seperti seorang anak kecil yang bermain-main dengan harapan.

Aku sepertinya takut. Sesuatu semacam teror mendatangiku ketika aku memulai. Sejatinya Doc memang dikelilingi orang-orang yang penuh kasih. Saling membantu, saling mengisi, Minggu ke gereja, malam ngopi di kafe, hari kerja yang riang, dan kenyamanan di laboratorium yang tak terperikan. Mitosnya adalah laut, angin dan ombak pasang dan dia menghubungkan mereka semua dengan mengumpulkan binatang. Dia membawa harta karunnya ke dalam laboratorium. Bersikap tenang untuk diri sendiri membuatnya tenang dalam menghadapi dunia. Lalu apa masalahnya? Bukankah ini adalah akhir yang bahagia? Ya, sejatinya sudahlah ditutp saja. Ratusan halaman kalian akan disuguhi cerita yang indah-indah, sementara syarat buku yang bagus salah satunya harus ada konfliks berat. Enggak ada di sini. Doc yang menghadapi hari-hari ceria di tengah masyarakat yang ideal. Ternyata, konfliks yang diharap itu adalah cinta. Ahhh… dari Pemenang Nobel Sastra, kita diajak bercinta. Memang bukan sembarang cinta karena karakter utama sudah tak muda lagi. Doc dicomblangkan, didesak, dan bahkan sampai dipertaruhkan dengan Suzy agar coba bersama. Dan yah, sweet thursday itu mewujud nyata. Walau sesekali ada masalah, poinnya adalah happily ever after. Doc menemukan belahan jiwanya. Cukup. Siap jadi presiden?

Kelebihan utama buku ini bukan pada cerita, tapi kedua hal: pertama sifat para karakter yang unik. Selain penamaan yang aneh, mereka juga memiliki kebiasaan tak lazim. Sungguh bagus memberi kegiatan para tokoh dengan tindakan tak wajar. Semua karakter yang dicipta bagus banget membawakan perannya. Kedua, sekalipun ini buku cinta yang terlambat, pembawannya tak cemen. Tak melow, tak mendrama berlebihan. Kisah cinta yang dituliskan dengan rasa dewasa. Kapan lagi kalian baca buku cinta yang menawarkan alur berliku? “Aku membutuhkanmu, aku akan tersesat tanpamu.” Ehem… Sekalipun tujuan utama pada akhirnya bisa disentuh, liku labirin itu sangat seru. Dan kalian pasti ikut bahagia atas kebahagiaan tokoh favorit. Nama-nama yang bagus: Mack, Doc, Hazel, Joseph and Mary (satu orang), Lee Chong, Suzy, Fauna, Whitney No. 2, Old Jingeballicks, dan seterusnya.

Terjemahan Basa Basi bagus banget. Beberapa istilah yang masih rumit diberikan catatan kaki, semisal. “Ini semisal ‘whatcha-macallit’ yang artinya ‘pembicaraan tentang orang yang namanya tak bisa diingat.’ Atau “Veritas in vino” adalah idiom Latin yang artinya ‘kejujuran dalam anggur’ yang bermaksud orang akan jujur ketika mabuk. Hal-hal yang sangat membantu mengimaji tanya. Beberapa masih ketemu typo, tapi dalam 400 halaman rasanya salah ketik tak lebih dari sepuluh kata adalah lumrah. Sebagai terjemahan Bahasa Indonesia pertama ‘Sweet ThursdayBasa Basi termasuk sukses menghantarkan kisah Doc. Salute!

Aku benci hukum yang menahan kemurahan hati dan menjadikan amal sebagai ladang bisnis.Dia sedang mengalami perubahan yang sangat mendalam sampai dia sendiri tidak menyadari perubahan itu sedang terjadi.

Di antara semua angan-angan muram kita, perasaan bersalah adalah yang paling penuh liku, paling jenaka dan paling menyakitkan. Ah penyataan yang manis, “Aku tak utuh tanpanya. Aku tak hidup tanpanya. Ketika dia bersamaku aku merasa lebih hidup dibanding sebelumnya, dan tak hanya ketika dia merasa senang saja.” Suzy yang bahagia, Pembaca yang bahagia, penduduk Cannery Row yang suka cita. Mencoba untuk melepas dari proses berpikir meskipun berpikir adalah pekerjaan manusia yang paling bermanfaat.

Dia pernah kuliah – dia sudah membaca begitu banyak buku sampai aku tidak bisa menyacah mereka – dan bukan komik juga. “Ketika kau membuat rencana, langit runtuh ke ekormu.” Henry Penny. Ah hidup ini… Seseorang berteriak untuk mendapatkan perhatian di dalam dunia yang tak terpersepsi atau mungkinkah bahwa kebahagiaan pamungkas manusia justru adalah rasa sakit? Mari ngopi.

Kamis Yang Manis | By John Steinbeck | Diterjemahkan dari Sweet Thursday (renewed edition) | Terbitan Penguins Books, New York, 1982 | Penerjemah Hari Taqwan Santoso | Editor Tia Setiadi | Pemeriksa aksara Daruz Armedian | Tata sampul Sukutangan | Tata isi Rania | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, Maret 2019 | Penerbit Basa Basi | 400 hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-5783-82-1 | Skor: 4/5

Karawang, 130419 – Michael Jackson – One Day in Your Life || 300619 – Melody Gardot – Worrisome Heart

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day30 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Bones Yang Malang #8

Featured image

Tes, anjing border collie saya yang berusian 8 tahun, terluka akibat tertabrak mobil yang ngebut. Saya bergegas membawanya ke dokter hewan. Pintu-pintu ruang bedah berayun terbuka, lampu-lampu menyala terang dan alat-alat bedah mengkilap. Jangan khawatir, kami akan melakukan segala yang kami bisa untuknya,” seorang perawat yang baik berjanji, seraya menuntunku menjauh…

Sebuah paragraf pembuka yang sudah cukup menjelaskan apa isi buku ini. Ditulis oleh Jenny Oldfield dengan judul asli ‘Skin and Bone’ di tahun 1998. Bones Yang Malang bercerita tentang kumpulan manusia pecinta binatang di sebuah city farm Sedgewood. Carly Grey membawa George – seekor kuda jenis shire—ke dokter hewan. Dokter Liz Hutchins sepertinya sudah akrab dengan Carly, dan George bukanlah hewan milik Carly, dan sepertinya sering kali dia membawa hewan-hewan asing ke sana. Carly jelas seorang pecinta binatang.

Suatu hari ayah Carly, Paul Grey membawa pulang burung nuri yang berantakan bernama Mac. Burung langka yang kemungkinan hewan selundupan itu terlihat memprihatinkan, bulu-bulunya rontok. Steve yang membawa burung itu juga ga tahu asal-muasalnya karena baru memilki seminggu, beli dari teman. Burung tersebut lalu dirawat.

George dan Mac hanyalah hewan pengantar menuju sang hewan utama yang dijadikan cover. Seekor keledai tampak kurus dan tak terawat, kurus kering hingga terlihat tonjolan-tonjolan tulang di sekujur tubuhnya. Deretan tulang iga terlihat jelas dengan lekukan berjalur yang sangat dalam, hanya berbalut kulit cokelat tua yang pucat. Keempat kakinya tinggal tulang bergetar menahan badannya yang menggigil. Bersama Hoody dan Steve mereka mencoba menyelamatkan Bones yang terikat di tengah salju tanpa makanan, tak terurus. Sayangnya dalam misi tersebut Hoody malah terluka. Sementara Vinny, anjing periharaan mereka menghilang. Bones seakan menambah penderitaan di Pusat Penyelamatan hewan. Berhasilkah mereka menyelamatkan Bones? Siapa yang begitu kejam tak berperi-hewan-an membiarkan keledai tersebut? Ataukah segalanya sudah terlambat?

Ceritanya sederhana. Kumpulan orang-orang pecinta binatang. Menyelamatkan yang terluka dan ada instrik di dalamnya. Sayangnya konflik yang dilempar kurang kuat. Jelas menyelamatkan nyawa manusia adalah prioritas. Kisahnya datar, karena awalnya saya berharap akan menemukan cerita yang mengharukan layaknya Rin Tin Tin, atau Hachiko dalam tubuh keledai, sayangnya harapan itu tak terpenuhi. Bahkan untuk orang-orang yang suka memelihara binatang sekalipun saya yakin ini buku anti-klimaks. Teladan kebaikan perawatan hewan, teladan apa? Apa yang kalian lakukan saat melihat kucing yang tertabrak mobil? Menyelamatkannya, membawanya ke dokter hewan? Mustahil, sejauh 100 Km kalian tak akan menemukannya. Oh kucing yang malang.

Bones Yang Malang | oleh Jenny Oldfield | Penerjemah Nelly Novrianti | Penerbit Medium | Cetakan I, September 2011 | 136 hlm; 14,5 x 20 cm; mechanical paper 50 gram | ISBN: 978-602-8144-13-1 | Skor: 1.5/5

Karawang, 080515 – Oz the great

#8 #Juni2015 #30HariMenulis #ReviewBuku

(review) The Giver: Kearifan Yang Menyakitkan

image

“Betapa musik adalah anugerah terindah untuk umat manusia, selain cinta.”
Bersamaan dengan hari saya menonton PK saya membawa pulang 3 novel, dan the Giver adalah salah satunya. Menjadi buku pertama yang kubaca, libur akhir tahun menyelesaikan dengan cepat karena hanya 200 halaman. Novel terbitan baru Gramedia ini ternyata pertama rilis tahun 1993, sudah dua dekade.
The Giver bercerita tentang sebuah dunia masa depan di mana masa itu tak ada perbedaan. Semua sudah diatur, tak ada warna, emosi, cinta. Tak ada perang, dendam, kelaparan, sakit. Terlihat sempurna, segalanya dikelola sedemikian rupa agar terkendali dan teratur. Bahkan tak ada nama yang sama. Adalah Jonas, karakter utama yang berusia 11 tahun. Dalam komunitas saat usia 12 tahun akan menentukan tugas apa yang akan diterima sesuai kemampuan masing – masing setelah diamati oleh komite. Setelah usia 12 tahun dianggap dewasa, mereka tak akan tahu dan tak peduli umurnya berapa. Dalam tiap keluarga ada 2 orang anak, laki-aki dan perempuan. Jonas memiliki Adik bernama Lily. Bukan keluarga kandung karena mereka dipilihkan oleh komite.
Saat hari H pengumuman tugas. Asher teman Jonas duduk di nomor 4, sedang Fiona gadis cantik yang akrab dengannya duduk di nomor 18. Jonas ada di sampingnya nomor 19. Satu per satu anak Dua Belas dipanggil Tetua untuk menerima tugas. Asher yang ceroboh menjadi Asisten Direktur Rekreasi, Fiona yang telaten mendapatkan tugas Pengurus Lansia, saat detik-detik akan dipanggil maju ke depan Jonas gugup. Namun dia terkejut karena setelah Fiona, langsung loncat ke nomor 20. Dirinya tak dipanggil Tetua? Ada apa? Jonas ketakutan, apa salahnya?
Setelah angka terakhir diumumkan, Tetua baru memanggilnya. Ternyata dia dapat tugas istimewa, tugas ini pernah diberikan kepada Dua Belas yang lain 10 tahun lalu, seorang wanita namun gagal. Kini kehormatan itu diberikan kepada Jonas sebagai sang Penerima. Dia akan dilatih khusus setiap hari setelah sekolah di pavilium.

“Aku memulai pelatihanmu dengan ingatan yang menyenangkan. Kegagalan sebelumnya memberiku kearifan untuk melakukan itu. Ini akan menyakitkan, tapi sekarang belum. Belum menyakitkan”.

Dia mendapat tugas menerima ingatan dari the Giver (sang Pemberi) yang sudah tua. Jadi dalam komunitas hanya ada seorang Penerima, setiap memori yang disalurkan akan berpindah. Ada 8 aturan dalam menjalankan tugas, salah satunya no 8 yaitu diperbolehkan berbohong. Melalui punggung yang diusap, Jonas melewati masa-masa yang tak terbayangkan olehnya. Bahwa benda itu berwarna. Apel yang beberapa waktu lalu terlihat aneh ketika dilempar ternyata berwarna merah. Dulu ada salju yang turun dari langit. Ada hangat matahari. Dan seterusnya dan seterusnya… Satu per satu ingatan sang Pemberi disalurkan. Awalnya menyenangkan tapi kemudian saat sesi ingatan perang, gajah yang sedih dan memori seram lainnya dia mulai ketakutan. Lalu apakah ini yang membuat sang Penerima 10 tahun lalu menyerah dan minta Pelepasan?!  Ternyata bukan, hanya bertahan 5 minggu Rosemary sang Penerima gagal karena memori kesepian. Jelas wanita paling takut akan kesepian. Perlahan tapi pasti Jonas mengetahui rahasia-rahasia Komite. Rahasia dunia luar. Dan puncak kejutan cerita ini adalah saat dia tahu arti Pelepasan. Gabriel, seorang anak 1 tahun yang gagal dipilih diberi kesempatan setahun lagi dirawat keluarga Jonas sebagai tamu untuk dipilih tahun berikutnya. Nyatanya masih gagal sehingga akan Dilepas. Jonas yang terkejut (begitu juga saya) arti Pelepas memutuskan melakukan pemberontakan. Malam itu jelang Desember dan Jonas memutuskan kabur. Berhasilkah?!
Cover novel ini pas banget, menggambarkan isi cerita dimana seorang anak laki-laki menginjak apel yang telah digigit warna merah menghadap dunia luar. Dia berdiri membelakangi orang-orang yang seragam, berwarna sama. Sayang ada beberapa typo terjemahan. Di belakang, di akhir cerita akan ada pidato penerimaan penghargaan Newberry. Ini novel young adult, namun ada beberapa adegan yang membuatku ngilu dan menitikan air mata. Secara keseluruhan, novel ini layak koleksi. Premis cerita tentang dunia terasing yang dimodifikasi Tetua lalu setiap anak mendapatkan tugas mengingatkan ku pada cerita City of Amber. Lina Mayfleet sang messager akhirnya memutuskan mencari dunia luar yang lebih menjanjikan, setelah tahu bahwa kota yang mereka tinggali terbatas.
Endingnya menggantung, karena memori dibagi dengan Gabriel dan Jonas akhirnya memiliki kenangan tersendiri. Akankah komunitas bertahan? Bagaimana nasib Jonas selanjutnya? Apa tindakan komite saat hari H pengumuman dan ada warga terpilihnya menghilang? Sepertinya saya sudah tak sabar menanti seri berikutnya. Mudah-mudahan bagus.

The Giver | Penulis: Lois Lowry | Penerjemah: Ariyantri Eddy Tarman | Tahun terbit 1993 | Diterbitkan di Indonesia oelh: PT. Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, Agustus 2014 | 232 hlm; 20 cm | Skor: 4/5
Karawang, 291214
Soton 1-1 Chelsea

6 Buku Baru Yang Kubeli


Kenapa saya suka gajian, salah satunya adalah selalu ada buku baru yang hadir di rak saya. Ada 6 buku yang saya beli di awal Oktober 2014 ini. 2 dibeli pas jeda nobar Chelsea versus Arsenal di toko buku Salemba, KCP – Karawang. 4 beli online, dikirim dari Klaten.
1. Karnak Café – Najib Mahfudz
2. Angkong Hantu – Rudyard Kipling
3. Animal Farm – George Orwell
4. Sang Sutradara dan Wartawati Burung – Gerson Poyk
5. … And a Hard Rain Fell – Ketwig
6. Seratus Tahun Kesunyian – Gabriel Garcia Marquez
Ga yakin sih keenamnya akan selesai baca sebulan saat akan datang buku baru berikutnya, apalagi 2 diantaranya berisi 500 halaman lebih, dan saya hutang baca Kubik Leadership yang akan saya kembalikan ke teman kantor minggu depan, jadi wajib dituntaskan segera. Well, apapun itu berada di antara tumpukan buku selalu membuatku bergairah. Happy Reading!
Ruang HRD NICI – Karawang, 071004

Yang Terjadi Dalam Seminggu

Kesibukan telah kembali mewarnai rutinitasku.

1. Manchester City Juara EPL 2013/2014

Liga yang dianggap paling mentereng sedunia itu kini berakhir sudah, dengan menempatkan Man City sebagai pemenang. Puncak klasemen sempat berganti-ganti Antara Chelsea, Liverpool, dan Arsenal. Namun konsistensilah yang membuat Manchester Biru juara. Selamat!

2. Futsal

Gambar

Lama tak bermain futsal, hari Kamis lalu akhirnya saya menyempatkan diri cari keringat. Bersama teman-teman baru di tempat kerja baru. Saya coba menyesuaikan diri. Rencananya sih rutin dari kantor tiap Kamis. Yah, mudah-mudahan bisa.

3. Adik Ipar Menikah

Hari Jumatnya adik iparku menikah, tepat sehari setelah ultahnya yang ke 22 tahun. Sayangnya kesibukan kerja membuatku ga bisa hadir full. Sebagai orang baru di kantor saya belum bisa ijin. Jadi saya datang ke acara pulang kerja jam 21:00 saat acara bebas. Selamat ya Dek!

4. Kebunku

Kebun di depan rumah kami yang sempit sudah menghasilkan. Berisi campur aduk tanaman, akhirnya pohon singkong itu berfungsi juga. Daunnya sudah mulai dipetik buat dibikin lalapan, cabe-nya bisa buat bumbu masakan. Sayangnya buah melon yang siap petik tiba-tiba dimakan tikus/hewan liar sehingga gagal dinikmati.

5. Koran

Gambar

Sebulan sudah saya bekerja di tempat baru, sehingga rutinitas baca Koran kembali bisa dinikmati di akhir pekan. But it’s OK!

Karawang, 130514

Yang Terjadi Hari Ini

Gambar

Kamis, 20 Maret 2014 apa saja kejadian yang tak biasa di hari ini?

1.      1. Whats App Upgrade

Ga tahu sudah berapa kali saya upgrade ini aplikasi chat lintas platform, sudah terlalu sering. Jadi saat pagi hari ada pemberitahuan di BB bahwa versi terbaru sudah ada. Biasanya memang langsung saya klik unduh, sayangnya jaringan bermasalah, sehingga dua kali gagal. Blackberry world sedang error. Saya biarkan saja sampai sore sudah tiga kali percobaan. Di kesempatan keempat, setelah menjemput istri pulang kerja, saya coba lagi. HP saya taruh di atas bantal, pintu rumah saya buka maksudnya biar sinyal lancar, dan klik unduh lagi. Dari 6.1 Mb, butuh sekitar setengah jam. Saya tinggal cuci piring, tahu-tahu sudah 100%. Setelah saya isi data verifikasi, saya lihat ga banyak perubahan di versi 2.11.662 ini.

2.      2. Gagal Bertemu

Pagi-pagi saya sudah dikasih peringatan untuk menghadap bos atas kesalahan yang kulakukan kemarin. Saya tak sengaja menghapus file payroll sehingga program gajian ga bisa jalan. Kejadiannya cepat sekali, saat saya mau format flashdisk yang gagal detect, partisi yang kena malah yang lain dan karena saya hilang fokus saya dengan cepat meng-IYA-kan saja klik konfirmasi format. Dan Boom! di tutup buku gajian bulan ini akan dihitung manual pakai excel, sementara, gara-gara salah klik saya. Fatal, sehingga pagi ini saya dipanggil bos untuk disidang. Sayang gagal bertemu karena dia sedang ada urusan ke Polsek setempat, sedang ada urusan yang lebih urgent. Kuakui saya salah dan minta maaf, saya kehilangan konsentrasi. Jagoan memang kadang harus terjatuh, konsekuensi apapun saya siap terima.

3.      3. Beli Manggis

Kemarin tiba-tiba istri bilang pengen makan buah manggis karena yang dibeliin bapak sudah habis, jadinya hari ini saya mampir ke toko buah.

“Mas berapa harga manggis ini?” saya tunjuk salah satu buah yang sudah pilah-pilah.

“Biasa mas,” jawabnya.

Dalam hati saya bingung, saya ga pernah beli buah manggis di sini, masak jawabnya gitu. “Iya, biasanya berapa?”

“Dua puluh ribu.”

Karena saya tergesa, tanpa menawar langsung saya bayar. Setelah dibungkus sang penjual kasih kembalian tiga ribu. Saya heran karena saya bayar dengan uang pas.

“Buat penglaris, buat langganan.”

Saya hanya mengernyitkan dahi sambil berlalu dari toko itu. Saya ga tahu harga per-kilo berapa. Biasanya ibu kalau beli buah terjadi tawar-menawar, mudah-mudahan penjualnya jujur. Di zaman sekarang ini, menjadi pedagang yang jujur sudah langka.

4.      4. Nyekar ke Makam (alm) Najwa

Seminggu ini istri merengek minta saya nengokin makam anak kami yang pertama. Katanya dia sering bermimpi ketemu anak perempuan, mungkin dia kangen. Dalam mimpi dia pengen digendong ayahnya terus. Akhirnya sore tadi saya bersama adik ipar dan ibu ke sana untuk kirim doa. Makamnya mulai banyak ditumbuhi rumput, daun-daun pohon bambu berserakan di sekeliling, kami bersihkan. Setelah tabur bunga, kita kirim doa, “tenang di surga nak.”

5.      5. Tabloid Bola

Sudah lama ga beli tabloid Bola. Terakhir bulan Agustus tahun lalu pas liga Inggris akan bergulir. Banyak perubahan selama ini ternyata. Harganya sudah tembus di angka delapan ribu, terbitnya bukan dua kali seminggu tapi sekarang sekali seminggu, halamannya dipangkas jadi 44 saja itupun isi yang saya inginkan yaitu bola international hanya separo. Dan yang mengejutkanku, beritanya standar sekali, sangat biasa justru bagusan berita online macam bolanet, detiksport, atau goal. Di tengah gempuran persaingan dengan media digital, media cetak dituntut untuk lebih kreatif. Kita dengan mudah akan mendapatkan akses informasi tim pujaan, sehingga media cetak yang beritanya lebih lambat harus punya nilai lebih dengan memberikan feature istimewa, kalau mau bertahan. Dan kurasa Bola kini dalam tekanan.

Karawang, 210314