Perempuan itu Bernama Anick by Titie Said

“… Hentikan penyelidikanmu, kamu kira aku tidak tahu kamu sering pergi? Kamu harus bisa menerima takdir. Aku tahu kamu sedang mencari keadilan… bekerja di tempat maksiat tapi tak tahu bahayanya, jangan sok suci!” – Naning

Novel yang mencoba action, dengan beking utama cerita tentang narkoba, pelacuran, dan segala dendam kesumat, tampak akan menjadi kisah aksi heroic dengan tembakan, sabetan golok, serta taburan shabu di mana-mana. Dituturkan dengan tempo sedang, tapi jelang akhir sungguh tergesa seolah ada gerebek yang bikin kerumunan harus bubar, harus selesai. Sempat berharap akhir yang pilu nan tragis, karena suram adalah koentji, apalagi sempat terjepit di restoran dalam serbuan maut, nyatanya berakhir bahagia. Sang jagoan walau ga bisa mengayunkan golok, terlihat hebat, lolos terus dari malapetaka, yah kecuali petaka utama menjadi korban perkosaan.

Kisahnya tentang Ana Maria dengan nama beken Anick, nama Anick lebih prestise daripada nama-nama komersial artis. Begitu pula nama-nama gadis penjual seks lainnya bernama gaul: Deasy, Devy, Debra, Betty, Ratih, Leoni, Sylvia… Jangan heran, KTP dobel satu tripel sudah biasa untuk para perempuan yang gelimang dosa ini. Ia adalah seorang istri dan ibu dua orang anak yang teraniaya. Orangtua penganut Katolik yang saleh, tetapi kenyataannya ia ‘abangan’ dan agama hanya tercantum dalam KTP. Kedua anak yang ikut di Kartasura-Solo: Dinda dan Dandi.

Dibuka dengan keadaan Lokasliasai Kramtung, Kramat Tunggak, Jakarta. Sebagai pelacur yang intelek, eksklusif. PSK amat takut sama sinar matahari yang berlebihan yang dapat merusak kulit, sebab kulit menjadi asset utama. Lelaki selalu gandrung pada kulit mulus. Karena apa pun juga namanya toh kerja begitu tetap tidak terhormat, tetap nista. Dibawah naungan Ibu Datu, Ibu yang tidak mau disebut mami, sebab menurutnya sebutan Ibu lebih anggun. Mami di lokasi kamu punya konotasi mucikari. Anick lalu bercerita asal mula bagaimana ia bisa terjun di lembah dosa. Penderitaan yang membuatmu berubah, rasanya aku tak mengenalmu lagi.

Anick terlahir sebagai anak tunggal dari Kartasura, sebagai seorang Katolik pernikahan adalah sakral dan sekali. Maka di pernikahannya dengan Sal yang kandas tak jelas, ia mencoba tegar. Hubungan dengan Sal dari Surabaya sebenarnya ditentang, tapi darah muda yang menggebu mencipta anak pertama yang akhirnya menikah, dan hanya berselang tiga bulan ia hamil lagi. Dinda dan Dandi seharusnya menjadi pelita keluarga. Rumah sederhana, usaha kecil-kecilan, dan tekad membaja untuk membuktikan kepada kedua orang tua akan kekuatan cinta yang menyatukan. Nyatanya, Sal ga bisa diajak susah, rumah digadai buat modal usaha taksi. Di awal sih bayar cicilan lancar, petaka tiba ketika ada kecelakaan, lalu pembayaran tersendat. Akhirnya Sal kabur, pulang ke rumah orangtuanya, meninggalkan Ana dan anaknya.

Kalut karena ekonomi ambruk membuat Ana harus memutar strategi. Tawaran menjadi koki di restoran Jakarta mengantarnya ke tanah ibu kota. Bersama Naning tetangga sekaligus bosnya mengarungi kerasnya kehidupan kota. Terkenal dengan racikan mantab, Ana menjelma koki idaman. Berjalannya waktu, ia mengenal para pelanggan. Naas, restoran itu ada di kawasan hitam pelacuran, istilah ‘ojo cedak kebo gupak’ cocok menampilkan keadaan. Ana yang terjebak pusaran, ketika Naning sedang keluar kota, dua komplotan preman: Geng Berto dan Geng Johny memperebutkannya, berakhir bencana dan kasus pemerkosaan.

Traumatis, Ana menuntut dendam. Tidak ada Ana Maria, adanya Anick. Kini ia bertranformasi identitas. Dengan nama baru, ia melakukan perburuan. Nama-nama pelaku dicatat, ditelusur, dan disusun kesumat. Melalui Monik yang belia 18 tahun!, ia yang terjerat narkoba, Anick mencari informasi. Niatnya sempat dilarang Naning, efek pelaporan akan panjang nan berliku. Lawannya adalah preman kawasan, taka da saksi, bukti minim. Rencana dendamnya dianggap gila, tapi pertunjukan harus jalan. Monik tewas dalam sakaw, entah dibunuh ataukah benar-benar kolaps?

Anick mendapat kenalan bos Priok yang pilu. Ia menjadi penguasa Jakarta Utara, terpesona sama masakan Anick, lalu melah menjadi pelanggan pijatnya. Di sinilah susunan dendam itu tampak bisa dilaksanakan. Anick mengompori Basuki Cobra, ‘Sang Presiden Preman Priok’ bahwa mereka para penjahat sedang menyusun serangan maka harus dihentikan, beberapa hari kemudian muncul di berita beberapa penjahat teri pelaku pelecehan seksual itu tewas, sebagian ditangkap polisi. Anick mencatat nama-namanya, dan tersenyum puas. Namun malamnya ia merasa berdosa, melakukan penghasutan pembunuhan, jelas dilarang dalam agama.

Satu lagi pelaku yang belum terlaksana, Jangkrong. Seorang Bandar narkoba, tampilan miskin hanya kelabu, Cobra yang mendapat informasi dari Anick betapa berbahayanya sang penjahat, besoknya target utama itupun berakhir tewas juga. Selesai sudah kesumatnya. Selesai pula kisah? Belum. Kematian Jangkrong malah berdampak panjang. Naning panik karena ia dititipi bungkusan penuh narkoba, bersama Anick yang juga kalut dan bingung mau diapakan barangnya? Setelah melalui perimbangan panjang, dibuang di sungai, ditabur bak perayaan akhir kremasi.

Anick lalu berkenalan dengan Henri, bos narkoba yang secara tersamar menjadikan sang protagonist penyalur. Dengan sebungkus buah, di dalamnya tersembunyi bubuk dan pil maksiat. Henri menitipkannya, nanti ada yang ambil. Gitu terus, kegiatan bejat ini tak disampaikan ke Cobra. Anick berupaya mencoba menjadi semacam agen, mengamati, mengelabuhi seolah ia adalah penyalur. Setelah mendapat kepercayaan, barulah melapor ke Cobra. Melakukan penggrebekan, dan jaringan Henry dan sedikit di atasnya terputus. Sudah? Belum, sedikit lagi.

Tentu tak semudah itu kabur. Jaringan narkoba itu luas dan menjerat, tak mudah melepas belitannya. Apalagi Anick menjadi agen yang menyamar sehingga menjadi target operasi dendam mereka, kedua anaknya segera diamankan anak buah Cobra. Cobra sendiri memiliki kisah pilu, seorang pembantu yang diajak menikah anak juragannya yang ayu. Yang ternyata setelah sah, tahu istrinya hamil empat bulan. Kehidupan yang terasa tak adil, hanya simbok dan Anick yang membuatnya luluh. Sampai dipanggil cah ayu, saking dekatnya mereka. Ada selip asa menikah, ada harapan akan bersatu gembong mafia dan sang protagonist. Kabar balas dendam itu mencipta ketergesaan. Anick diminta kabur, ia sudah tak aman, Naning sebagai pemilik restoran panik luar biasa. Dan seakan diburu waktu, restoran yang menjadi tempat transaksi ini akhirnya diluluhlantakan, menjelma medan tempur yang mematikan sang pria bertato cobra.

Lalu bagaimana Anick bisa terjerat ke rumah prostitusi? Dalam keadaan putus asa, tak ada gelayut dan harapan entah mau kemana. Muncullah Ibu Datu, memberikan penawaran. Endingnya sendiri, Anick mencoba menolak kenyataan pahit lumpur dosa. Aku takut seandainya mereka tahu bahwa ibunya kini bernama Anick dan mencari uang dari kerja yang erat kaitannya dengan kerja haram. Ayahnya yang marah meninggal dunia, uang kiriman ternyata ga ada yang mau pakai karena uang haram, mereka gunakan untuk membantu warga miskin, anak-anak yang putus sekolah. Lalu ketika akhirnya ia mudik, penolakan itu mencipta identitas baru. Ana, Anick, Mina, gadis sederhana nan solehah di kampung, teman SDnya.

Ini adalah buku pertama Titie Said yang kubaca. Pengalaman unik menikmati cerita tentang jaringan narkoba lokal. Premanisme, protitusi, kemiskinan, penghiatan, dendam. Tema yang sangat beragam, buku tipis maka tak heran banyak adegan tergesa. Mbak Titie sendiri mencoba mengankat tema feminism, memperjuang persamaan gender. Seperti perbedaan pandang tentang status. Itulah enaknya laki-laki, sama-sama tidak bermoral tetapi tidak mendapat sebutan jelek. Seolah ada ketidakadilan gender. Betapa wanita sering dilecehkan, menjadi nomor dua, di sini sebagai orang Jawa, wanita menjadi orang sendiko dawuh sama keluarga, terutama suami. Hal-hal yang dulu tabu memang di era sekarang mulai dikikis, atas nama kemajuan zaman, segala kesempatan di dunia ini mencoba setara. Tema seperti ini sekarang sudah banyak dibuat, terutama karya Ayu Utami yang lebih ganas dan vulgar. Perempuan Itu Bernama Anick lebih soft, lebih nyaman diikuti, mungkin karena kolaborasi dengan BNN sehingga bahasanya lebih umum untuk dinikmati luas khalayak.

Entah kenapa novel ini tanpa identitas yang biasanya berada di halaman awal, dengan kover polos berdasar warna hitam, tulisan merah menyala memikat ancaman. Tak ada ISBN, tak ada penyuntingan, pun proof reader sehingga teramat disayangkan typo di banyak tempat. Bahkan aturabn dasar seperti titik atau koma, justru berjeda di awal dan belakang kata di beberapa lembar. Justru dua surat lampiran resmi dari BNN (Badan Narkotika Nasional) yang mengucap terima kasih, tercantum lengkap stempel dan ttd Kalakhar BNN, sebagai langkah proaktif dalam memasyarakatkan bahaya penyalahgunaan narkoba dan zat-zat psikomatik. Plus sederat ucapan terima kasih, sehalaman penuh. Sederhana eksotis, kover hitam dengan pengantar BNN di dalamnya!

Niat bagus, cerita lumayan bagus, tapi tetap ga bisa memacu andrenalin tanya dan penasaran. Sehingga tebakan akhir bahagia sudah tampak menjadi wajar bahwa jagoan akan selamat. Sekadar bacaan untuk menyelesaikan baca buku Juli ini, sebulan jelang KSK 2020.

Aku bukan Ana, Ana sudah mati. Aku bukan Anick, ia telah mampus. Kotor, minggat, memalukan… jangan panggil aku Ana, jangan panggil aku Anick, panggil aku Amina…”

Perempuan itu Bernama Anick | by Titie Said | Novel kerja sama BNN dengan D’Best dan Diamond | Note: Tidak ada identitas buku | Terbit tahun 2003 | Skor: 3/5

Karawang, 130720 – Bill Withers – In the Name of Love

Thx to Anita Damayanti, tiga dari Sembilan.

Kakegurui: Judi itu Ada Seninya

“Even lacking trust, people can be manipulated with the promise of profit.”

Wow, ketika Yumeko bilang sweet sekali makanannya di akhir saya langsung bilang wow. Keren. Tanpa tahu ini film tentang apa, sejatinya lemparan kartu remi di atas meja itu menjelma thrilling. Benar-benar seni berjudi. Sungguh beruntung, saya tak tahu detail film ini. Bahkan judulnya baru tahu setelah ku-Googling yang berarti maniak judi. Posternya memperlihatkan gadis dengan pose mengintip dengan kartu Joker. Andai kulihat posternya sebelum main, pasti saya menebak jagoannya Yumeko, padahal sepanjang film yang tampak digdaya adalah Murasame yang cool dan misterius. Bahkan ia bisa menghitung kartu, bak seorang dewa judi. Di Sabtu dini hari (18/04/20) setelah nonton Blue Summer dari Jepang juga, yang terasa so so, melanjutkan film ini tanpa banyak ekspektasi. Cling cling cling… Jackpot!

Kisah dibuka dengan laporan reporter sekolah elit Hyakkaou Private Academy, bahwa OSIS mengusung judi sebagai pembuktian berkelas. Sekolah ini memang mencipta lulusan hebat, dan permainan haram ini dilegalkan. Bersegaram merah cerah, sangat kontras dan menyolok mata. Dengan kamera berjalan menelusur mengikutinya, kita diarahkan ke sebuah ruangan bak tempat judi Las Vegas, dengan di atas singgasana sebagai ketuanya. Di sekolah ini, permainan judi menjadi kewajiban, walau tampak kejam bagi pecundang dengan memakai kalung, gengsi dan pertaruhannya benar-benar tinggi. Menang berarti uang melimpah, harum namanya, kalah menjadi budak sehingga menjadi bully-an.

Tersebutlah organisasi tandingan yang menentang OSIS, dalam adegan dramatis tampak cool dikepalai oleh Eri Arukibiju (Haruka Fukuhara) berseragam putih, melakukan promosi, menentangnya, melawannya. Mereka menempati gedung sebelah, menyusun strategi berlawanan, dan diketuai oleh sosok cool Murasame (Hio Miyazawa), yang nantinya baru kita tahu pernah mengalahkan dewi judi, lalu pensiun. Mereka membuka pendaftaran anggota baru, Sang murid baru Jabami Yumeko (Minami Hamabe) masuk. Tampak misterius, dan ternyata sangat canggih mainnya.

OSIS lalu melakukan kompetisi judi untuk menyingkirkan Villey dengan hadiah umum menjadi perwakilan dewan dan hadiah istimewa: rencana masa depan bebas menulisnya, panitia akan berupaya mewujudkan impian itu. Demi kepadatan durasi hanya dua sistemnya, seleksi semua yang mau daftar dengn aturan sederhana ‘gunting batu kertas’ lalu disaring, menjadi hanya delapan peserta, satu tim dua orang jadi setelah lolos, langsung ke semifinal. Murasame sendiri diminta ikut, sama anggotanya, tapi keukeh tak hadir. Maka demi perlawanan untuk mempertahankan Villey, sebagian dari mereka yang jago manipulas join.

Bagi penonton yang tak ikuti manga-nya tenang, akan dijelaskan aturan mainnya. Sederhana, tapi tetap mengutamakan adu cerdik/bejo. Babak pertama adalah mengumpulkan poin, setiap peserta memiliki tiga kartu dengan aturan umum, ‘gunting’ mengalahkan ‘kertas’, ‘kertas’ mengalahkan ‘batu’ dan ‘batu’ mengalahkan ‘gunting’. Yang kalah menyerahkan kartunya ke yang menang. Pertandingan acak, jadi siapa saja boleh beradu pilih lawan. Semakin banyak kartu yang dikoleksi semakin besar poinnya, dan maju ke semifinal.

Peserta pertama: Ada satu peserta yang kaya raya, bukannya main dia malah membeli kartu-kartu lawan. Ga heran ia dan ‘pelayan’nya masuk. Peserta kedua: adalah jagoan yang sedari mula tampak menonjol: Yumeko dan partner lolos setelah banyak manipulasi lawan, menghitung persentase, bahkan menipu pasangan demi poin. Peserta ketiga adalah si gadis cool pembela Aruki, dan si rambut pendek yang tampak berontak. Dan yang terakhir adalah pasangan OSIS unggulan juga. Keempat tim lalu dibuka untuk umum, bagi siapapun yang mau bertaruh, dan ini tentatif. Artinya selama permainan berlangsung-pun para siswa bisa menanamkan duitnya menjagokan siapa, ada layar terkembang yang memperlihatkan persentase sebelum benar-benar ditutup. Dan suara mereka sangat berpengaruh akan hasil akhir. Karena akan dihitung persentase-nya dikali gim yang dimenangkan.

Aturan gim-nya sangat sederhana, gede-gedean kartu. Setiap pemain mendapat 8 kartu: 1-7 & joker. Joker bisa menjadi nomor berapa saja. Ketika keempat pemain melempar kartu yang dibuka bersama, maka pemenang diambil kartu lain yang lebih besar. Ada bandarnya, yang ceria. Justru mencuri perhatian, cakep. Hanya seperti itu, tapi degub misterinya sampai ke sumsum, daya ledaknya membumbung penuh penasaran tiap remi diletakkan di meja. Kiu-kiu gaya Jepang, eksotis dengan penampilan gadis-gadis anime menjelma nyata.

Film menjadi dramatis ketika, si cool yang dulu pernah mengalahkan ratu judi akhirnya tampil menggantikan si rambut pendek, yang detik-detik menuju dimulai laga malah ga muncul. Ia diculik, pelakunya? Jadi kejutan akhir. Aturannya sih ga boleh Murasame ikut serta, tapi karena ia istimewa dan ada ‘rasa’ dengan sang ratu, maka ia punya hak prerogatif untuk mengesahkan turut serta. Maka duel semifinal pun dimulai. Tampak hebat memang, ia bisa menghitung kartu. Yang paling hebat nan memikat ternyata adalah Yumeko, memegang kartu truf. Memiliki strategi dua-tiga langkah ke depan. Partai final siapa versus siapa mungkin ketebak, tapi siapa yang menang dan dengan cara apa, kalian pasti meleset. Selain itu, suara siswa dalam menaruh uangnya ke pihak siapa menjadi startegi sendiri. Selamat datang di pertandingan judi berkelas, di mana setiap kartu yang muncul menampilkan belalak kejut. Saya jadi fan baru Minami Hamabe, mari kita lihat beberapa film lain yang sanggup kukejar.

Pasca nonton langsung ke sher grup BM – Bank Movie, ga tahu ini film jenis apa? Barulah kucari di internet. Ternyata berdasarkan manga yang sudah dibuat anime-nya tahun lalu season dua, dan ini adalah adaptasi live action pertama. Mungkin bagi yang mengikuti serialnya bisa menebak arah kartu, karena udah tahu detail kisah, mungkin. Namun bagi yang awam kayak saya, sungguh memesona. Shock, pola dan gairahnya dapat banget, permainan pikiran. Kejutan di ending, bagaimana kartu seni dilempar tertubi-tubi, dramatis sekali. Setelah ketinggalan tiga gol bisa-bisanya membalikkan keadaan, mirip pertandingan Liverpool yang mind-blowing. Ada yang masih ingat gim Reds versus Dortmund di liga Eropa? Mirip tandukan Sakho-lah endingnya. Bikin draf cerita dengan satu gim berempat peserta, masing-masing pegang 8 kartu yang berarti hanya 4×8 = 32 perkiraan kejadian, bisa bikin deg-degan kayak nunggu ciuman pertama pacar baru. Eh

Kita sudah kemakan pameo, judi itu diatur Bandar. Maka para pemain adalah gembala yang di-angon dengan rumput uang sebagai umpan. Pada dasarnya, permainan ini candu. Tak heran para siswa yang tajir seolah uang mengalir terus tak merasa sedang dirampok. Unsur ketegangan menjadi komoditi utama film-film sejenis ini, Kakegurui jelas memenuhinya, melimpah malah, karena tiap langkah memberi kerut pikir bertubi. Judi memang menjanjikan kemenangan! “Bring on the madness!”

Kakegurui | Japan | Year 2019 | Directed by Tsutomu Hanabusa | Screenplay Tsutomu Hanabusa, Minato Takano | Manga Homura Kawamoto, Toru Maomura | Cast Minami Hamabe, Mahiro Takasugi, Aoi Morikawa, Yurika Nakamura, Matsume Mito, Ruka Matsuda, Natsumi Okamoto, Elaiza Ikeda, Hio Miyazama, Haruka Fukuhara, Yuma Yamoto, Miki Yanagi, Sayuri Matsunura | Skor: 4.5/5

Karawang, 210420 – Bill Withers – Family Table

Harapan Itu Masih Ada

https://lazionebudy.files.wordpress.com/2014/10/upload-11.jpg?w=199
Timnas u-19 kita mengejutkan banyak pihak tahun 2013 lalu. Juara AFF U-19 dan lolos ke AFC U-19 2014 Myanmar. Yang fenomenal jelas saat menjungkalkan tim favorite sekaligus juara bertahan Korea Selatan 3-2. Saat itu Garuda Muda belum seterkenal sekarang. Dari juara di Sidoarjo, lalu menghentak Jakarta kini langkah berikutnya adalah Yangon, Myanmar. Kita menuju Piala Dunia junior di Auckland.
Kegagalan demi kegagalan tim nasional kita membuat banyak pihak pesimis atas masa depan sepak bola tahan air. Dualisme Liga yang merusak, sepak bola yang di-politisi, ribut rebutan jabatan sampai akhirnya berimbas hasil kompetisi yang memalukan silih berganti jadi santapan kita. Terakhir kita juara sepak bola tahun 1991, SEA Games di Filipina. Itu sudah dua dekade yang lalu, puasa juara terlalu lama. Era Widodo C Putra, Kurniawan DY, Bambang Pamungkas sudah lewat.
Namun harapan itu masih ada. Kini di bawah pelatih keras asal Sumatra, Indra Sjafri kita harus bersatu demi masa depan sepak bola nasional. Hari ini jam 16:00 WIB timnas U-19 akan melakoni pertandingan pertama kualifikasi grup B AFC U-19 di Myanmar. Jalan terjal itu dimulai dengan melawan Uzbekistan(10/10). Lalu Uni Emirat Arab (12/10) dan Australia (14/10).
Berikut Skuat Garuda Muda yang berlaga di Myanmar:
Kiper: Ravi Murdianto, Moch Diky Indriyana, Rully Desrian
Pemain Belakang: Putu Gede Juni Antara, Febly Gushendra, Mahdi Fahri Albaar, Muhammad Fatchurohman, Muhamad Sahrul Kurniawan, Ricky Fajrin Saputra, Hansamu Yama Pranata, Rudolof Yanto Basna
Pemain Tengah: Evan Dimas Darmono, Muhammad Hargianto, Dinan Yahdian Javier, Hendra Sandi Gunawan, Maldini Pali, Paulo Oktavianus Sitanggang, Zulfiandi, Ilham Udin Armaiyn, Ichsan Kurniawan
Pemain Depan: Muhammad Dimas Drajad, Muchlis Hadi Ning Syaifulloh, Septian David Maulana
Pastikan jam 16:00 channel TV Anda di RCTI untuk mendukung Evan Dimas dkk hari ini. Saya memprediksi kita tak juara, tapi minimal bisa lolos ke Piala Dunia Junior untuk kedua kalinya. Selandia Baru 2015 bersiaplah! Ya, harapan itu masih ada.
Karawang, 101014

Jahatnya Orang Itu

Gambar

Baru beberapa meter keluar komplek perumahan ada seorang cewek teriak-teriak dekat saya minta tolong. “Mas-mas tolong HP saya hilang. Tolong antar saya kejar angkot yang barusan jalan.”

Saya kaget, tanpa permisi si cewek langsung saja sudah duduk di jok motor saya. Saya coba kebut buat ngejar angkot yang dimaksud. Angkot 63 yang arah Alun-alun Karawang. Setelah muter-muter akhirnya kekejar juga, setelah di depan angkotnya saya hentikan itu mobil.

“Pak sopir, si mbaknya kehilangan HP di angkot ini, Kita mau cek dulu di kursi belakang”.

Si cewek langsung masuk saja ke kursi penumpang menggeledahnya. Ga ketemu, dia bilang tadi ada seorang pemuda yang mencurigakan duduk pindah tempat di dekatnya. Katanya mau bantu, nanti turun biar dia yang bayar angkotnya dan diajak ngobrol terus sama dia.

Sang sopir nimpali: “Oh laki yang mbak maksud tadi barusan turun di sana, dekat Alfamidi. Turun pas setelah mbaknya turun.”

Wah makin rumit juga nih. Saya segera keluarkan HP buat miss call HP yang hilang. Aktif, tapi ga ada di angkot. Dua sampai lima kali ditelpon, nomornya aktif tapi ga diangkat. Kita segera bergegas menuju Alfamidi yang dimaksud. Saya minta ke si cewek buat cari pemuda yang dimaksud, katanya masih ingat wajahnya. Sesampainya di sana dia clingak-clinguk kebingungan sampai nangis, “mama pasti marah, mana HP Samsung baru beli dua hari lagi…, hiks.”

Saya coba miss call lagi, aktif tapi kini ditolak panggilannya. Saya coba lagi, langsung di-reject. Wah rumit juga nih. Sementara si cewek makin kalut dan nangis di tengah jalan. “saya harus bagaimana ini mas. Huhuhuu. Jahatnya orang itu.”

Hopeless.

Dia mau tes kerja di yayasan siang ini. Setelah beberapa menit yang tak pasti kita menyerah, dia akhirnya sadar waktu tes sudah hampir lewat. Dia pun minta diantar ke tempat tes sehingga akhirnya saya bisa kembali ke tujuan siang ini ke bengkel. Sebelum berpisah saya coba tenangkan dia di pinggir jalan. Rasanya berat, karena ini mungkin baru lima menit dari kejadian tapi segalanya memang cepat. Akhirnya dia cerita, tadi di angkot dia main HP barunya. Saat lagi asyik-asyiknya ada pemuda yang menawarkan bantuan, entah bantuan apa saya ga nanya. Intinya si cewek tertarik dan berfikir ini orang asing berniat baik sehingga pemuda itu pindah duduk mendekatinya. Ngobrol panjang lebar, HPnya dimasukkan ke dalam tas. Ketika si cewek sudah sampai tujuan dan turun dari angkot baru berjalan bentar dia sadar HPnya ternyata sudah tak ada. Dia pun berlari ke tempat dia turun dan minta bantuan kepada pengendara sepeda motor yang ada saat itu juga buat mengejar angkot. (baca lagi ke atas selanjutnya).

Karawang, 040114

Rencananya setelah sholat Jumat saya akan service motor. Sudah tiga bulan ga anti oli, kasihan ini kuda besi. Setelah makan siang dan ngopi bentar berangkatlah ke bengkel.