Potongan Tubuh #20

“Menurutku, pada akhirnya bukankah semua manusia memang penjahat kambuhan? Terbiasa naik kereta, terbiasa bekerja, terbiasa makan, terbiasa menghasilkan uang, terbiasa main, terbiasa mengusik orang, terbiasa berbohong, terbiasa salah sangka, terbiasa bertemu orang…”

Luar biasa, memesona. Beginilah seharusnya cerita pendek dicipta. Dicerita dengan abu-abu tapi tetap mencipta penasaran. Dunia yang sejatinya di sekitar kita, dibuat rumit untuk membuat pembaca penasaran. Pintar sekali yang bikin kisah, kita tak dibiarkan tenang. Nama-nama penulisnya asing, tak satupun kenal. Namun tak ragu saat kubeli bukunya, sebab kualitas terbitan Baca yang beberapa kali kulihat mengalihbahasakan buku-buku Korea, bagus. Ini sama saja, sama kerennya. Tak perlu jadi fans BTS untuk bisa masuk ke dunia literasi Negeri Gingseng.

#1. Benar, Aku Seekor Jerapah? By Park Min-gyu

Mars, Venus, hingga pengandaian kehidupan yang berputar. Setiap manusia pasti memiliki aritmetika masing-masing. Bagaimana bekerja mendorong penumpang yang sesak dalam kereta, hingga tangannya kuat. Menyaksikan penderitaan begitu banyaknya orang setiap pagi perlahan menjadi salah satu sumber stres. Kereta, ah itu semacam hewan raksasa yang merangkak, menderu dari stasiun sati ke yang lainnya.  Mungkin trik rahasia pembangunan Piramida juga ketidakadilan. Sangat tidak adil kalau harus berhenti sekarang. Mungkin ini adalah aritmrtika para budak.

Saat ibunya sakit hingga masuk rumah sakit, mereka malah lebih khawatir sama biaya perawatannya, bukan fokus pada penyembuhannya. Ayahnya tampak lelah lungai. Penggambarannya, seperti warna kelabu seperti di layar kalkulator mati yang baterainya sudah habis. Sekarang hitungannya sudah tidak keluar. “Aku menangis karena lebih bahagia ketika mendengar ibu bisa keluar dari rumah sakit dibandungkan ketika mendengar bahwa ibu sudah sadar.”

Aku meluruskan kaki dan mendongakkan kepala untuk melihat awan yang bergerak sambil berbicara. Seperti Thousand Character Classic, “Dunia memang luas dan liar, sementara aku sendirian.”

#2. Pecinan by Oh Jung-hee

Kehidupan keluarga menengah ke bawah. Diambil sudut dari seorang anak yang masih sekolah, berpindah ke kota baru, temannya Chi Wok menjadi teman sejati. Ibunya yang sudah tua sudah muak jualan tembakau, ayahnya mencari kerja dengan menghubungi para kenalan. Lucu sekali cara pindahnya, sudah pamit sama tetangga kanan kiri, sudah siap berangkat sejak subuh, eh mobilnya tak kunjung datang. Truk baru sorenya, itupun izin cabut lagi sebab mengantar sapi dulu, dan baru muncul lagi tiga jam kemudian. Sebuah gambaran keluarga miskin, bertahan hidup yang luar biasa.

Pindah ke kota yang bising, sebagai anak-anak tentu perlu waktu lebih lama beradaptasi. Canggung bagai awan mendung yang memeluk hujan. Persahabatan yang menghantar pada perkenalan dengan keluarga Chi Wok, kakaknya yang jadi teman tidur orang asing, fakta ia adalah anak tiri, hingga carut marut kehidupan kota di pesisir pantai. Kapal dan perahu dirapatkan di pelabuhan, bendera mereka melambai-lambai seperti konveti.

“Bagiku, kawasan rumahku dan Pecinan merupakan buritan kapal yang sudah dimasuki air dan akan segera tenggelam.”

#3. Istri Lelaki Miskin by Eun Hee-kyung

Sang suami menemukan istrinya memiliki diary. Ia miskin, mabuk-mabukan, dan tak terlalu perhatian. Maka dengan buku harian itu ia menjadi tahu pemikiran istrinya. Sejak lajang hingga saat ini. Perempuan memang lebih peka, atau lebih perasa bila menyangkut keluarga. Sejatinya ini, seperti makna diary itu sendiri, adalah sejenis curhat.ah suami miskin, pemabuk. Bahwa ia hanya melakukan dua hal di hidup, yang pertama adalah minum alkohol dan yang kedua adalah sadar dari mabuk.

“Hidup adalah sesuatu yang serius, hidup adalah sesuatu yang garus dilakukan dalam keadaan sadar walau seperti es kotak seragam yang dibekukan menggunakan cetakan serupa.”

#4. Tanah Milik Ayah by Lim Chul-woo

Kemping militer membawa masalah. Sepasukan prajurit menggali tanah yang akan dijadikan latihan, malah menemukan tulang belulang manusia. Karena daerah itu sepi dan sebenarnya jauh dari pemukiman, mereka Prajurit Oh dan Sang Aku, lalu mencari ketua RT atau tetua desa setempat. Seorang nenek menyambut, lalu kakek muncul dari ruang lain. Ikut menyelidik, ikut mendatangi tempat tulang manusia ditemukan. Jadilah sebuah penelusuran kelam masa lalu.

“Semalam kami memimpikan orang itu. Tapi memang tidak dapat dipercaya… ternyata hanya pertanda untuk hal ini.”

#5. Menara Pasir by Jo Jung-rae

Pelukis mula yang belajar banyak dari idola. Ayahnya gagal menjadi pelukis, maka ialah harapan utamanya. Kuliah seni, jadi cewek tomboy, merdeka. Lalu perkenalannya dengan pelukis muda kenamaan Min Hyeong-woo. Kaya, elegen, lukisannya dipuja penikmat dan kritikus seni. Diam-diam mengagumi, hingga akhirnya sebuah jalan pintas malah dicipta ayahnya. Ayahnya yang kaya, malah mempenalkan sang pelukis, dan membeli mahal salah satunya. Keinginan terpendam yang diwujudkan seketika.

Perkenalan, hubungan yang lebih serius, lalu menikah. Menjadi istri pelukis ternama, menjamu tamu-tamu seniman dan pengulas karya. Menarik, hingga akhirnya jamuan makan itu mencipta kengerian. Ia memiliki dan mengetahui rahasia sang suami. Menara pasir yang luruh.

“Puluhan ribu batu bata bertabrakan dan pecah di dalam hatiku, menara pasir raksasa diempaskan ombak dan kini mulai runtuh. Serpihan diriku bertebaran ke mana-mana.”

#6. Sebatang Jarum by Cheon Un-yeong

Ini kisah pembunuhan, tapi tak biasa. Korbannya adalah biksu tua, yang sejatinya divonis bunuh diri, tapi ibunya malah mengaku membunuhnya. Aku adalah perajah tubuh, pembuat tato yang buruk rupa, dan begitu pendiam. Perempuan dengan keahlian menggambar di tubuh pelanggannya. Aku merasa sangat lelah seakan baru melakukan hubungan seks mahadahsyat setiap menyelesaikan sebuah tato. Segalanya tak wajar, dan kabar buruk menyusul kemudian.

“Aku tidak ragu sedetik pun ketika melemparkan anak kucing ke dalam WC.”

#7. Potongan Tubuh by Pyun Hye-young

Dari sudut pandang suami yang kehilangan istrinya yang terjatuh/bunuh diri/dibunuh di lembah sungai. Setelah sebulan melakukan pencarian mayat, dari kota U yang jaraknya lima jam perjalanan, kepolisian menemukan potongan tubuh. Untuk identifikasi, ia bolak-balik. Dari potongan kaki, lalu potongan tangan, dst. Dengan rasa sesal dan keraguan, sang suami menelusur kesalahan masa lalu. Toko yang ditutup, kesulitan keuangan, tak punya anak, hingga pertengkaran dengan almarhum. Tak ada jalan kembali.

“Katanya indra pendengaran adalah yang paling terakhir mati dari seluruh indra manusia.”

Sejatinya, saya tak mengenal buku-buku Korea. Negara ini memang sekarang sangat maju, dan begitu menggeliat di berbagai bidang, termasuk sastra. Sekali lagi, Terbitan Baca memuaskan. Bukti bahwa, sastra luar yang dialihbahasakan ke Bahasa Indenesia jika diolah dan diramu benar, sangat memikat.

Potongan Tubuh | by Pyun Hye-young, Park Min-gyu, dkk | under the support of Literature Translation Institute of Kore (LTI Korea) | Penerjemah Dwita Rizki | Penyunting Harum Sari | Pemeriksa aksara Dian Pranasari | Penata isi Nurhasanah Ridwan | Perancang sampul Sukutangan | Penerbit BACA | Cetakan  I, Juli 2019 | ISBN 978-602-6486-32-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 200622 – Nina Simone – I Put a Spell on You

Thx to Azi Mut, Bandung

#30HariMenulis #ReviewBuku #20 #Juni2022

In Front of Your Face: Aneka Warna Tingkah Laku Manusia

In front of your face film.jpg
Produksi: Jeonwonsa Film Co.

“Aku percaya surga bersembunyi di depan wajah kita.” – Sangok

Komunikasi timbul setelah kontak terjadi. Saya menemui si A maka terjalin perbicaraan. Saya menghubungi si B, maka komunikasi tercipta. Saya diajak ngopi sama si C, maka terjadi interaksi. Ini jenis film ngegoliam, di mana kata-kata lebih dikedepankan. Kekuatan ngobrol, keseruan dialog. Dan bobotnya, makin berat konfliks yang dibahas, maka makin menentukan kualitas cerita. Cerita sejatinya sangat sederhana, dan karena kesederhanaan itulah, tampilannya justru menarik. Minim pemain, minim lokasi, jelas minim bujet. Seorang artis yang mudik ke Seoul, tinggal sama saudarinya, menekuri hari-hari yang cerah, minum kopi, sarapan roti, melihat-lihat taman penuh bunga, makan di resto, lalu siangnya ada janji temu sama seorang sutradara muda. Janji tengah hari itu ditunda sore, maka sang artis memutuskan membelokkan taksinya ke tempat ia lahir dan tumbuh, rumah masa lalunya sudah direnovasi dan ditempati orang lain. Merokok jadi kebiasaan, guna mengakrabi kenalan. Sorenya ketika ketemu di bar sama sang sutradara, ia mendapat tawaran main film layar lebar. Ia mengaguminya, ia siap menyesuaikan jadwal syuting, dan saat naskah dikerjakan, Sang artis diperbolehkan balik ke Amerika barang setengah tahun atau lebih, nanti dikabari saat siap. Dan jawaban kejutan yang didapat. Tawaran-tawaran lain disampaikan, dan alkohol diedarkan. Siang terik, sore hujan deras ditemani petir, dan segalanya tersapu badai…

Jelas ini bukan film untuk semua orang. Isinya cuma ngobrol dari satu meja ke meja lain, dari jalan kaki menikmati pemandangan taman penuh bunga hingga merokok di bawah jembatan menikmati aliran air, percikannya menenangkan, menjadi backsound lembut seolah di taman firdaus. Dari pertemuan di resto ke pertemuan di bar, dan begitulah, seolah memang dipamerkan keindahan lanskap kota. Hiruk pikuknya jadi semacam latar, dan kata-kata bergulir semarak, keputusan-keputusan harus diambil, waktu terus berjalan, waktu berjalan linier, kita dilindasnya. Hidup, begitulah, tak pernah ada yang tahu masa depan.

Korea Selatan adalah Negara maju, ekspansi produknya sudah mengglobal. Dari Samsung hingga Hyundai, dari K-Pop sampai Drakor. Budaya baik ditampilkan di banyak adegan, misal menghormati yang lebih tua, salam sapa dengan saudara, pelukan hangat sebagai tanda kasih sayang, hingga menawarkan makanan bagi teman yang absen makan siang. Manusia harus mempelajari kebudayaan sejak ia lahir, selama seluruh jangka waktu hidupnya, hingga saatnya ia mati, semuanya dengan jerih payah, dan faktor kebiasaan jadi faktor paling dominan pembentuknya. Sistemnya sudah ada, tinggal eksekusinya. Kita misalkan, terbiasa makan dengan hanya menggunakan tangan kanan, berdoa sebelum makan, dan sedikit berbincang di atas meja. Hal itu tak serta merta, ada proses dan tempaan. Akan sangat sulit mengubahnya, faktor lingkungan memang sangat berpengaruh. Kita mungkin terbiasa melihat orang buang sampah sembarangan, atau pengendara menerobos lampu merah. Anehnya, warga kita, orang yang sama tersebut melancong ke Korea, akan otomatis mengikuti aturan yang ada. Orang Indonesia di Korea akan membuang sampah pada tempatnya, akan mengikuti antrian, dst. Lantas kemana sifat melanggar aturan itu menghilang? Unsur-unsur terkandung dalam watak itu tadi tentu saja tidak hilang lenyap begitu saja, melainkan hanya terdesak masuk ke dalam bagian dari jiwa manusia, hanya diredam, prinsip di mana bumi dipijak langit dijunjung secara naluriah aktif. Aneka warna tingkah laku manusia memang karena kolektif di mana manusia itu bergaul dan berinteraksi.

Endingnya sendiri sangat bagus. Menertawakan kekonyolan? Tersenyum masam atas keputusan sambil lalu, ataukah ada penyesalan yang terkandung di dalamnya. Yang jelas itu tawa getir, saat tahu dunia yang kamu tinggali akan kamu tinggalkan, lalu memaksimalkan masa yang ada dengan segala kekreatifannya, itu seolah tak bermakna. Apa yang dikejar, dunai fana, waktu fana, tubuh ini fana. Seribu tahun lagi kita semua dilupakan, mungkin Seoul masih ada, mungkin pula bumi masih baik-baik saja, hanya individunya yang berganti, lantas apa yang dikhawatirkan atas pembatalan janji temu?

Menurut Profesor Clyde Kluckhohn kelima masalah dasar dalam kehidupan manusia yang menjadi landasan bagi kerangka variasi sistem nilai budaya: (1) Masalah mengenai hakekat hidup manusia, (2) dari karya manusia, (3) dari kedudukan manusia dalam ruang waktu, (4) dari hubungan manusia dengan alam sekitar, (5) dari hubungan manusia dengan sesamanya. Kelima ada di film ini. kalau diperhatikan Sangok begitu bimbang, di mana opening adalah ending, dan ending adalah penafsir perjalanan manusia. Ia seperti terperangkap di sekitar, ia begitu mencoba menikmati hal-hal yang ada. Rokok, kopi, roti, pelukan, hingga warna-warni bunga. Rasa cukup menjadi titik utama, syukur, sabar, merdeka.

Bersikap dan berbuatlah seolah-olah kamu sangat bahagia. Maka ini akan membuat kamu betul-betul berbahagia. Seperti kata Sangok, surga tuh tersembunyi di depan wajahmu. Jadi kebahagiaanmu, hanya tergantung kepada apa yang kamu pikirkan.

Film sederhana yang bagus. Cerdas, sangat menggugah, dan juga diplomatis.

In Front of Your Face | Tahun 2021 | Korea Selatan | Sutradara Hong Sang-soo | Cerita Hong Sang-soo | Pemain Yunhee Cho, Lee Hye-yeong, Hae-hyo Kwon | Skor: 4/5

Karawang, 070422 – Eagles – Hotel California

Hello Ghost: Manfaatkan Masa Kini dengan Baik, dan Kau akan Ditempanya

“Apa yang kulakukan sekarang akan menciptakan siapa aku nanti.” Jean-Paul Sartre (1905 – 1980) dalam “Nausea”

Pentingnya menjaga kejutan tak bocor. Film lama yang sungguh nikmat dilahap saat kita tak tahu obsesi apa yang dijalani para tokoh ini, motif yang disimpan rapat sepanjang film dibuka jelang akhir. Segala yang tampak dan diperjuangkan, terlihat masuk akal, walau membantu hantu sendiri tak masuk akal. Hiburan sejati, seolah kita tercerahkan, ada hikmah yang bisa ditangkap saat credit title muncul, cieee…, di mana dukacita lama dipoles dan diubah menjadi harapan. Orang-orang di dimensi lain biasanya dalam film bisa mengamati kegiatan kita, lantas bila karakter utama kita bisa balik mengamati mereka, apakah semenakutkan yang dikira? Oh tidak, mereka orang-orang baik, maksudnya hantu-hantu baik dengan keingina aneh-anah sahaja, tak ada salahnya dipenuhi. Dan apa konsekuensinya? Harapan! Harapan adalah bahan bakar untuk mesin mental kita. Hello Ghost menawarkan air mata pengorbanan yang sangat pantas dipeluk seerat-eratnya, sehangat-hangatnya.

Kisahnya tentang Sang-Man (Tae-hyung Cha) yang gagal bunuh diri. Ia frustasi menjalani hidup, sebatang kara tertekan keadaan. Ada di titik lelah, disintegrasi pribadi. Berbagai cara dilakukan, terbaru, setelah minum banyak obat dan tak jadi mati, ia mengalami sejenis halusinasi. Hati kecilnya terjeblos ke dalam sunyi yang meresahkan. Di rumah sakit melihat hantu, bukan hanya satu tapi empat. Keempatnya meminta tolong padanya untuk melakukan hal-hal yang tak tuntas di masa hidup. Pertama seorang lelaki parlente sopir taksi (Chang-Seok Ko) dengan rambut sigrak pinggir dan hobi merokok. Ia semena-mena duduk di tempat tidur pasien. Ia jorok dan suka mengintip rok para perawat dengan melakukan tiupan hantu sehingga roknya terangkat terayun dikit. Hantu cabul dengan senyum genit nyaris sepanjang film. Hantu ini ternyata cukup arif, untuk menjaga agar kepribadiannya, kehidupannya (di masa lampau), perasaan-perasaannya, dorongan-dorongan keinginannya, tak terkuak langsung. Ia menginginkan kembali taksinya.

Kedua, seorang ibu (Young-nam Jang) yang menangis mulu. Ia hobi masak dan ingin menyediakan masakan keluarga spesial, melewatkan makan malam istimewa. Makhluk Tuhan yang menangis sampai terlelap kini bersiap-siap menguras air mata lagi dan lagi, sementara para tukang teriak pun akan segera kembali bersuara, dialah yang ketiga, seorang anak kecil (Bo-Geun Cheon) yang merengek minta ke bioskop dan makan permen segede ikan, dalam artinya sebenarnya. Terakhir lelaki tua (Moon-su Lee) berharap Sang membantunya menemukan kamera yang belum dikembalikan.

Karena Sang yang memang tak tahu mau ngapain lagi hidup, dan rasanya tak ada salahnya memenuhi harap para hantu gentayangan itu, serta ia ingin gegas terlepas dari kewajiban nyeleneh itu, (dan mungkin agar bisa segera mati tenang) maka satu per satu keinginan itu coba dikabulkan. Mereka ikut tinggal di apartemennya dan mengikuti kegiatan sehari-hari. Pikiran Sang jumpalitan ketika ia mulai diganduli, tapi itu belum seberapa, ia nantinya juga jadi penyampai pesan dari orang mati.

Dalam prosesnya, kita malah mendalami masa lalunya. Menemukan hal-hal umum, betapa hidup masih layak diperjuangkan. Apalagi ia jatuh hati sama perawat Jung Yun-Soo (Kang Ye-won), yang tentu saja memberinya ‘ada sesuatu di masa depan yang diperjuangkan’ seolah berbisik, ayooolaaahhh semangat. Cintanya bersambut, dan misi-misi itu segera dituntaskan. Roman mukanya yang bodoh itu memang tampak meyesatkan, hantu-hantu itu seolah tampak familiar dan mereka say hello, menyapa untuk tujuan mulia.

Lantas saat mendekati akhir, keheningan seakan berdenyut. Kita menemukan sebuah titik di mana mereka yang menghantui tak asing. Sang butuh beberapa detik untuk menyusun kepingan segala informasi itu, lantas saat ia menemukan klik, harus gegas sebelum terlambat. Saat kejutan ini ditampilkan di layar, dalam adegan dramatis berlari sebelum segalanya terlambat, kita malah menemukan hikmah yang pas dari film ini. Sayangilah mereka, orang-orang tercinta yang ada di sekeliling kita sebelum perpisahan ke alam berikutnya terjadi. Sedih ya? Ya, saya sampai menitikan air mata. Lega kan? Jelas. Hal-hal yang tak tuntas kini bisa ditutup kembali dengan rapat. Betapa berharga kesempatan. Betapa dunia fana yang ada batasnya ini begitu sempit, dan bersyukurlah semua orang yang memiliki kesempatan tumbuh dalam kasih sayang orangtua serta sanak famili.

Manfaatkan masa kini dengan baik, dan kau akan ditempanya. Suka sekali sama adegan akhir saat Sang dan Yun-Soo di kursi taman, seolah perjuangan sepanjang film ini dibayar lunas. Suasana taman masih tampak lembayung, dengan rona nada bahagia. Waktu seolah berjalan lambat dan menyebar. Nada-nada musik seakan-akan saling merenggangkan tanpa kehilangan tempo. Tidak semua film happy ending itu malesi, Hello Ghost justru film mencerahkan. Ide hantu-hantu baik yang menolong mengingatkanku pada Sartre tentang keberadaan. Ia pernah bilang, “Apa yang tersisa kalau Anda menyingkirkan warna, ukuran, bentuk, tekstur, dan baunya? Apa yang tersisa ketika Anda menyingkirkan emosi dan perasaan, rekaan dan gagasan fantastis? Ketika semua yang bisa Anda sebutkan hilang dan disingkirkan dari kehidupan, apa yang tersisa?” Sartre menjawab: keberadaan.

Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah. Maka akhir yang indah ini meluap-luap. Melegakan semua orang, keberadaan orang-orang tercinta di manapun berada di dimensi lain sekalipun.

Hello Ghost | Year 2010 | Korea | Directed by Young-Tak Kim | Screenplay Young-Tak Kim | Cast Tae-Hyun Cha, Ye-won Kang, Moon-su Lee, Chang-Seok Ko | Skor: 4.5/5

Karawang, 290921 – Billie Holiday – A Foggy Day

Rekomendasi Lee, Thx.

Sweet and Sour: Meluap-luap dalam Didih Penuh Citarasa

Pak Satpam: “Jika tertinggal taksi, kau bisa menunggu yang berikutnya. Tapi jika kehilangan seseorang, maka sampai situ aja. Aku akan merindukanmu…”

Setiap bentuk rasa frustasi, setiap akibat dari kepuasan naluriah yang dihalangi, atau yang mungkin diakibatkan, adalah berada dalam pemuncakan rasa bersalah. Waktu tak bisa diputar balik, tapi cerita bisa kan? Penyesalan selalu di akhir, kesalahan demi kesalahan diberbuat manusia, yang terlindas waktu tak bisa diubah. Bertabrakan menjadi sangat aduhai jika terjadi di bandara, dalam posisi lari mengejar wanita yang sama. Ini masa lalu, ini masa kini. Lantas masa depan apa yang lebih menawan untuk dijalani? Harga yang mesti dibayar demi kemajuan peradaban kita adalah hilangnya kebahagiaan melalui pemuncakan rasa bersalah.

Keren sekali yang bikin cerita. Tak menyangka akan seterkejut ini, walaupun curiga juga di awal, diet kok semudah ini. haha.. berjuang ekstra keras, sempat bilang beruntung sekali si Ndut dapat perawat cantik dan baik hati, lantas saat film bergulir jauh, langsung oh… Su!  

Ini adalah jenis film yang mengesalkan, atau setidaknya membuat penonton kaget atau bisa juga sampai marah, sebab kita ditipu. Kita dibohongi plot, apa yang tampak di permukaan, setidaknya sampai tinggal beberapa menit, tak seperti yang kita kira. Kita menjadi semacam, penikmat display pigura yang hanya bisa mengangguk-angguk tanpa mengerti, kesal, marah, geregetan. Lantas, kalau kita ditipu mengapa kita malah menyukainya? Ya, sejatinya hal-hal yang menggelitik otak itu jauh lebih mencipta penasaran dan kekuatan untuk bilang wow ketimbang mengikuti garis lurus buku tulis.

Kisahnya tentang cinta segitiga dan kekuatan untuk bertahan dalam asmara LDR antara Seoul dan Icheon. Walaupun tiap hari bertemu, tapi tak berkualitas sebab sudah lelah. Dibuka dengan kata ‘Sepatu Baru’ di rumah sakit, seorang pasien didorong dalam tempat tidur dengan tergesa. Sutradara dengan cerdik tak memperlihatkan wajah mula, lalu setelah beberapa detik, tahulah kita, bahwa Jang-Hyuk (Lee Woo-je) si gendut sakit Hepatitis B dan dalam perjalanan perawatan ia jatuh hati sama perawat Da-eun (Chae Soo-bin).  

Da-eun yang cantik dengan rambut lurus dan lalu keriting tampak pribadi unik, emosinya labil, makannya banyak, merokok tampak untuk menghilangkan stress. Setelah masa rawat inap selesai, Hyuk berusaha mendapat nomor HP-nya. Perjuangan itu membutuhkan banyak tingkah, sampai dibentak perawat senior sebab buka data rumah sakit, di layar kita melihat ia menderet kertas dengan berbagai kontak, menghubunginya satu per satu, sampai akhirnya Da-eun yang asli menjawab ‘Hyuk’ dalam tanda kutip. Nantinya kita tahu, ada kesalahpahaman, yang menjelma erat hubungan. Situasi dan peluanglah yang menciptanya. Maka dalam tempo sesingkat-singkatnya, mereka bertemu, menginap, berciuman, dan mendeklamasikan hubungan pacar. Adegan mengganti lampu mati dengan lampu yang nyala seolah adegan sederhana, oh ternyata justru ini adalah adegan sangat penting. Perempuan mudah tersentuh akan kebaikan hati, betapa dunia digulirkan dengan dahsyatnya tersebab kamuflase ini. Schillr berkata bahwa rasa lapar dan cinta adalah hal-hal yang menggetarkan dunia.

Mereka lantas berlibur Natal, karena baju couple tak ada yang muat, maka Da-eun membelikan sepatu couple, Hyuk terharu dan dengan tekad yang bulat akan melakukan diet. Lantas adegan di bandara dalam surealis, samar terlihat Hyuk lari dan adegan berubah ‘Sepatu Lama’, Hyuk berlari dan sudah tampak ganteng, maskulin asli. Saya langsung complain, ya ampun menurunkan berat badan tak semudah itu, merubah wajah menjadi setamvan itu, jelas ganti pemeran dan segala hal dalam dirinya. Namun sekali lagi, simpan semua argumenmu, kawan.

Lantas kita diajak bersafari hubungan mereka sejauh mana. mereka tinggal seatap, satu apartemen. Beli mobil, menabung, suka duka dalam pergaulan anak muda menyongsong masa depan. Hyuk mendapat promosi kerja ke Seoul, sebagai designer bangun yang masih muda menjanjikan, petualangan di tempat baru memberinya tantangan besar. Bergabung dengan arsitek lain, Han Bo-yeong (Krystal Jung) yang cantik dan ambisius, workaholic. Proyek jembatan yang menjadi tanggung jawab mereka menemui beberapa kendala, memaksa mereka berdua kerja lembur lebih sering. Bahkan menjadi dua karyawan akhir di gedung tiap malam, sampai lampu dimatikan.

Nah, kebersamaan ini mencipta hubungan erat. Sama-sama karyawan outsource yang mendapat beban kerja berat. Hyuk mencoba tetap pulang-pergi antar kota, tampak kemacetan dan suasana lalu lintas khas kota besar yang membosankan. Awalnya ia menertawa beberapa traveler lain yang makan, sikat gigi, bahkan mandi ala kadar dalam mobil. Nantinya, ia juga sama saja. Melakukan hal yang ia tawa di masa lalu, sinis sekali kawan.

Awalnya hubungan jarak jauh itu masih baik-baik saja, Hyuk yang lelah sampai apartemen langsung tidur, Da-eun yang lelah sebagai perawat mengeluhkan kerja shift yang panjang. Lalu beban kerja melindas mereka, karena pekerjaan dan hal lain ia sesekali tidak pulang, toh besok pagi hadir di kantor lagi, sang pacar mulai mencium gelagat tak menyenangkan hubungan ini. Dua orang lelah yang sudah bosan, dan tetap coba dipertahankan. Sekadar mengganti lampu mati, saja ia tak mau, tak antusias. Beginilah jadinya.

Da-eun hamil, tapi akhirnya digugurkan. Ia marah dan lantas mengirim kembali cicin tunangan, hal itu memberi efek domino, Hyuk juga marah dan kecewa, kesetiaanya runtuh, lantas gadis cantik rekan kerjanya disikat juga. Ia tak pulang, dan kini memiliki affair. Tentu kalian yang tahu permukaan marah dan memaki banyak kata bijak ke Hyuk. Namun segalanya menjelma kejut saat Hyuk di pesta besar sukses proyek sukses, Da-eun yang sudah bersiap berlibur ke Jeju, tiketnya atas namanya tapi tak dicancel, dan dengan dramatis mengejar pesawat ke bandara sekaligus melamar sang pujaan hati. Apa yang terlihat di sana mencipta kerut kening berlipat-lipat. Kukira tulisan pembuka sepatu baru adalah salah ketik atau semacam lelucon, oh ternyata itu klu penting. Kita lantas ditampar banyak fakta mengejutkan, tampar bolak-balik sampai melongo. Luar biasa.

Cerita yang mengasyikkan. Menyenangkan sekali menjadi saksi hubungan yang ambyar dan direkat ulang dengan subjek lain. Berdasarkan pada novel Jepang karya Kurumi Imui dan sudah difilmkan dengan judul ‘Initiation Love’. Ini adalah film kesekian dari Korea yang kutonton selama Isoman, atas rekomendasi BM. Rerata bagus dan memuaskan sekali. Yang kukhawatirkan mulai mencinta produk Korsel sepertinya menampakkan diri.

Kekuatan segala motif aktivitas umat manusia berjalan menuju pertemuan dua tujuan yaitu keperluan dan kesenangan. Hyuk yang gendut punya motif mengejar cinta pada pandangan pertama, Hyuk yang tamvan punya motif mencoba mengembalikan hubungan yang retak. Da-eun punya motif, mencari yang pasti-pasti aja toh, ini dalam masa sulit. Bo-yeong? Tentu saja punya motif, kalian kira kerja sampai larut itu tamasya? Semuanya punya motif, yang jelas dua unsur perlu dan rasa senang-lah yang menyelingkupi. Jika tindakan itu digerakkan oleh cinta atau benci terhadap seseorang, berarti tindakan itu digerakkan oleh, dalam terminologi Emmanuel Kant, ‘kecenderungan’, dan tindakan ini tidak rasional sama sekali. Egois, tapi begitulah manusia. Boleh saja kita mendukung atau mencoba menjadi sosok yang kita raih simpati dari ‘tiga tokoh utama‘. Dalam praktiknya, kita sukar memilih antara sudut pandang netral dan sudut pandang kekinian. Yang jelas plot yang disajikan rapi dan aduhai, sungguh aduhai, terjalin terorganisasi dalam kemeriahan puisi kehidupan.

Ceritanya terlalu memesona untuk dikeluarkan dari relnya oleh fakta. Selamat, sejauh ini Sweet and Sour adalah film paling menghibur tahun ini. Kita butuh kualitas, kita butuh keseruan. Menghibur sama artinya tidak membosankan. Jangan kelamaan kalian merenung, gegas nikmati sajian menu istimewa ini, mumpung masih hangat. Manusia tidak pernah berhenti tumbuh dalam penegetahuan mengenai nasibnya.

Sweet and Sour | Year 2021 | Directed by Kae-Byeok Lee | Cast Jacky Jung, Krystal Jung, Jang Ki-Yong, Chae Soo-bin, June Yoon | Skor: 4.5/5

Karawang, 070721 – Hanson – This Time Around (Best Live and Acoustic)

*) RIP Angga Nurfian (tenang di sana kawan)

**) Tayang di Netflix 4 Juni 2021

Okja: Cinta Kasih Gajah Babi

Well, former CEO Nancy is my sister, but uuh… we’re very different people. We have very different ways of being. We have very different business ethics…” – Lucy

Jenis film fantasi yang tak biasa. Babi sebesar gajah, menjadi komoditi pasar tapi sang babi seperti memiliki jiwa, persahabatan dengan remaja itu kuat, memiliki cinta kasih, dan menuntut perjuangan melangkah jauh. Lihat posternya, babi dengan pabrik mengepul di punggungnya. Ada sesuatu yang bernilai di sana, artinya Anda masih memiliki harapan. Mengundang komunitas pecinta binatang turut serta memerjuangkan. Dari pegunungan desa ke Seoul, dari Seoul ke New York, dan di sebuah pabrik jagal titik akhir juang.

Lucy Mirando (Tilda Swinton) mengepalai perusahaan warisan ayahnya, ingin menghapus image sang bapak dan saudara kembarnya Nancy Mirando (diperankan juga oleh Tilda Swinton), ia memiliki proyek ambisius tentang pengembangan binatang guna mendukung industri makanan. PT. Mirando melakukan percobaan mencipta babi super, dengan sample 26 babi yang beda mengirimkannya ke berbagai Negara agar dirawat oleh petani lokal, proyek itu akan memakan waktu 10 tahun. Sebuah penantian yang lama… tapi ia pede dengan mengatakan, ‘rasanya sangat lezat’

Di Korea Selatan, sepuluh tahun berselang. Remaja 14 tahun. Mija (diperankan imut sekali oleh Seo-Hyun Ahn) sedang angon babi super (baiklah, saya menyebutnya gajah babi sahaja karena penampilannya mirip gajah) bernama Okja. Mereka hidup di pegunungan bersama kakeknya, hidup damai nan asri. Agar tampak dramatis, Mija mengalami meusibah terperosok di jurang, Okja seolah adalah hewan yang bisa berpikir. Melakukan penyelamatan dengan heroik. Jelas ada ikatan special di antara mereka, bukan sekadar tuan dan binatang peliharaan. Rasanya gemes sekalia meluk gajah imut.

Suatu hari datanglah utusan Mundo, seorang host tv terkenal channel Zoologist, Dr. Johnny Wilcox (dimainkan gilax oleh Jake Gyllenhaal), dengan krunya melakukan rekaman. Perjalanan ke gunung yang melelahkan, dan hasil monitor rasanya Okja adalah babi favorit untuk menang kontes. Untuk mengalihkan perhatian Mija, kakeknya mengajak ke makam orang tua dan menunjukkan babi emas, dan bilang Okja akan dibawa ke New York. Tentu saja marah, saat sudah kembali ke rumah, sang gajah babi sudah ga ada. Pengejaran rasanya percuma, maka malam itu iapun memecah celengan, membawa bekal seadanya, dan nekat berangkat mengejar binatang kesayangan. Inti kisah adalah ini, menyelamatkan binatang peliharaan istimewa dari penjagalan menjadi santapan.

Di Seoul, di kantor cabang Mundo ia datang dengan keren. Setelah dicuekin, ia memecah kaca kantor, berteriak mencari Okja, dikejar petuga, adegan kucingan, sampai ke truk yang bersiap berangkat. Bak seorang jagoan, Mija bergelayut di truk yang melaju ke bandara. Ternyata ia tak sendirian dalam misi penyelamatan ini. Sebuah organisasi penyayang binatang, muncul truk lain yang mefet dan seperti misi-misi mustahil Fast and Furious, Okja coba dibajak. Mengacaukan banyak sekali hal-hal di depannya, masuk mal dengan derap, menghancurkan segala yang menghadang.

Organisasi itu ALF (Animal Liberation Front) yang dipimpin oleh Jay (diperankan unik – seperti biasa – oleh Paul Dano). Genk terdiri dari Red (Lily Collins), Blond (Daniel Henshall), Silver (Devon Bostick), dan K (Steven Yeun). K adalah orang Korea jadi sekaligus menjadi penerjemah. Ada adegan bagus ketika Mija ditanya mereka, dan diterjemahkan ya. Padahal K memodifikasi. “Menerjemahkan adalah sakral.” Walau akhirnya gagal, Okja tetap dikirim ke New York, seantero negeri tahu, ada sebuah kekejaman memisahkan remaja imut dengan binatang imut. Fakta ini membuat gusar Lucy sehingga malah berencana membuat acara reuni temu dalam festival yang disiarkan live.

Kita tahu para anggota organiasasi akan mengacaukannya. Perjuangan melawan kekejaman terhadap binatang, itu berjalan dengan intesitas aksi pas ‘sungguh hollywood’ walaupun sineas-nya Korea. Dramatisasi penyelamatan Okja, berlarut-lari dan penampilan saudari kembar Lucy, Nancy (Tilda juga) di London yang lebih berpengalaman demi menyelamatkan Perusahaan turun tangan. Dan di area penjagalan gajah babi, klimaks kisah terjadi. Dengan bonus piglet yang imut, kisah ini happy ending. Dan sedikit merusak keseruan jargon, suram adalah tjoenci. Ada scene after credit di ujung film, kenakan maskermu kawan, perjuangan belum berakhir.

Pasca kegemparan Parasite, film-film Bong Joon Ho sebelumnya diburu. Walau sudah nonton Snowpiercer yang membingungkan karena bertema politik dalam kereta, Okja justru malah menampilkan keanehan. Bagaimana mencipta makhluk babi sebesar gajah? Menaburkan drama di dalamnya, dan akhir yang bahagia malah tak terlampau wow, tetap bagus tapi terasa ada yang janggal. Para organisasi penentang benaran ada, entah kalian setelah menyaksi apakah langgung jadi vegan atau tetap lahap makan daging, bukan hanya babi yang tampak menggemaskan; ayam, bebek, sapi, dst segala hewan ternak yang menggiurkan di meja makan itu juga menggemaskan kalau dirawat dengan cinta. Seolah memang tujuan utama Okja dibuat untuk perjuangan kaum vegetarian.

Suka Tilda sejak jadi Penyihir Putih di Narnia, suka Paul Dano sejak membisu Little Miss Sunshine, suka Jake sejak mendekam di Brokeback Mountain. Dan tentu saja mulai suka Jeong-eun Lee sejak bersahabat dengan Okja.

Translation are sacred.

Okja | South Correa | Year 2017 | Directed by Bong Joon Ho | Screenplay Bong Joon Ho, Jon Ronson | Story Bong Joon Ho | Cast Tilda Swinton, Jake Gyllenhaal, Seo-hyun Ahn, Jeong-eun Lee, Steven Yeun, Paul Dano, Daniel Henshall, Lily Collins, Devon Bostick | Skor: 4/5

Karawang, 130520 – Bill Withers – I’II Be With You

Mata Malam – Han Kang

Harus menyerah, jika pilihan lainnya hanya mati, kalian harus membuang senapan dan langsung menyerah. Cari cara untuk menyelamatkan diri.” Mereka sedang berjalan dalam barisan. Mengikuti perintah kami, mereka berjalan dalam satu barisan sambil mengangkat kedua tangan. Apakah dengan begitu mereka selamat?

Tidak tahu. Karena sepertinya itu hal yang wajar untuk dilakukan. Kisah tentang tragedi di Korea Selatan pada tanggal 18 Mei 1980, bagaimana sebuah demonstran buruh, mahasiswa dan warga dibubarkan dengan kekerasan yang mengkibatkan banyak kematian. Uprising Gwangju menjadi sejarah hitam Negeri Gingseng laiknya peristiwa pembersihan PKI tahun 1965 di Indonesia, semakin mengesahkan bahwa era diktator memang harus diruntuhkan. Katanya, bulan adalah bola mata malam.
Aku bahkan tak bisa mengeluarkan suara untuk berdoa sampai selesai.

Tuhan akan memaafkan dosa kami, seperti kami memaafkan mereka. Aku tidak memaafkan dan dimaafkan siapapun. Buku dibagi dalam tujuh bab yang berarti ada tujuh karakter yang diambil sudut pandang.

#1. Burung Kecil (Sang Pemuda, 1980)
Bagian dalam cermin adalah dunia dingin dan tenang. Ia diam memandang wajah asing yang menatapnya dari dunia ini, memandang pipi yang masih lembam kebiruan. Butuh waktu beberapa halaman untuk memahami Mata Malam ini akan ke arah mana, dah biasa saya ga baca kover belakang, takut kena spoiler. Pembukanya adalah narasi berisi sebuah gedung yang mencekam karena mayat bergelimpangan, sederet panjang ranjang berisi orang mati, dan ini bukan yang terakhir karena akan datang lagi truk berisi lebih banyak tubuh terluka atau sudah tak bernyawa. Karena memang ga paham Korea, maka saya ngalir saja sampai pada satu titik klik bahwa kekejaman ini dilakukan oleh tentara pemerintahan yang menembaki warganya sendiri. Kamu merasa aneh melihat mereka menggelar bendera Korea di atas peti mati dan mengikatnya kuat-kuat dengan tali. Kenapa mereka menyanyikan lagu kebangsaan untuk orang-orang yang dibunuh oleh tentara? Kenapa mereka menyelimuti peti mati dengan bendera Korea? Seolah-olah yang membunuh mereka bukan Negara. Ia baru berusia 15 tahun saat hari naas itu terjadi.

Ya, ironis memang. “Benar, bau busuk bisa hilang jika kita menyalakan lilin.”

#2. Napas Hitam (Kawan Sang Pemuda, 1980)
Ketika seseorang masih hidup, di mana gerangan burung kecil yang pergi ketika orang itu mati? Di dahi yang berkerut, di bagian atas kepala seperti lingkaran cahaya, atau di suatu tempat di jantung? Berikutnya kita diajak berpindah karakter, kalau yang pertama adalah sang pemuda (lebih tepatnya sebenarnya remaja), kita sekarang ke kawannya yang sudah mati. Ia menjadi saksi tumpukan mayat, betapa malaikat kematian begitu sibuknya. Bahwa di dunia sesaat setelah kematian, satu jiwa dengan jiwa lain tak bisa komunikasi, mereka hanya bersinggungan, dimensi yang sama frekuensi lintas yang beda. Kekejaman militer dikupas sedemikian mengerikan. Padahal hanya bunyi tetesan air, tapi aku mengingatnya, seakan-akan ada orang yang datang.

Manusia meninggal yang menghuni dunia antara. Ke mana jiwa pergi ketika raga sudah mati? Mendadak kamu berpikir begitu. Berapa lama jiwa bertahan di sisi raganya semula?
Yang menakutkan itu tentara. Orang mati sih tidak menakutkan.”

#3. Tujuh Tamparan (Sang Penyunting, 1985)
Sudut berganti dengan aneh, sekarang kita menjadi seorang penyunting. Melesat lima tahun kemudian. Tentang peristiwa berdarah itu, ditulis, diedit, disunting hingga nantinya akan disebarluaskan – diwartakan. Pihak Pemerintah tentu saja menyunat segala hal yang buruk tentang mereka. Sang penulis dicari, penerbit diancam, jurnalisme dibungkam. Terdengar familiar dengan periode kelam Indonesia masa Orde Baru? Ya, di Korea hal seperti ini ternyata juga terjadi. Di Korea Selatan yang sekarang tampak sangat maju itu, tahun 1980an masih mencekam. Aku tidak akan menghabiskan hidupku hanya untuk melindungi diri sendiri.

Tiba-tiba kamu berpikir jendela itu seperti sesuatu menghembuskan napas yang panjang. Malam, seperti makhluk raksasa, membuka mulut untuk menghembuskan napas dingin yang lembab. Udara panas yang tadi memenuhi kantor tertutup, terisap ke dalam paru-paru kelam. Tujuh tamparan untuk perempuan itu terjadi sore jam empat di tengah pekan. Keras dan berkali-kali. Bukan keluhan yang tercipta, tapi sebuah kesumat tulus untuk menegakkan kebenaran. Gulingkan Chun Doo Hwan si Penjagal. Aku ingat perasaan tidak takut lagi, perasaan rela mati, perasaan segar, seakan-akan darah puluhan ribu orang terkumpul membentuk satu pembuluh darah.

#4. Besi Dan Darah (Sang Tahanan, 1990)
Aku butuh lebih banyak kenangan. Aku harus memutar kenangan, lebih cepat lagi, agar tidak terputus. Ini sama seramnya. Setelah bercerita para korban yang meninggal kita diajak menjadi korban yang selamat, ditahan, disiksa, diintimidasi hingga traumatis bak zombie, sepuluh tahun kemudian. Kisahnya detail di hari berdarah itu bahwa banyak anggota demo sebenarnya yang memegang senjata tapi mereka tak menggunakan untuk benar-benar melindungi diri, banyak remaja, anak-anak dan sang karakter utama yang terlihat senior pun baru berusia 23 tahun. Divonis sembilan tahun, tapi tak sampai setahun dibebaskan bersyarat, bebas apa? Hati mereka remuk redam atas penyiksaan. Seandainya masa pada musim panas semi tahun itu kembali lagi, kamu mungkin akan mengambil jalan yang serupa. Seperti ketika kamu hanya sibuk menghindar dalam permainan menghidari bola waktu dirimu masih SD, sampai akhirnya kamu harus memegang bola karena hanya dirimu sendirian yang tersisa.

Kita pikir senapan bisa melindungi kita.”

#5. Bola Mata Malam (Sang Gadis Buruh, 2002)
Bukan berarti pula kelompok massa pertama bersifat biadab. Kebiadaban yang memang pada dasarnya ada pada manusia, pada mereka hanya menjadi ekstrem akibat kekuatan massa. Sang pencerita berikutnya adalah korban yang tampaknya hanya ikut-ikut demo, selalu memanggil kak Seong Hee. Menurut konstitusi, kita sama berharganya dengan orang lain. Berarti kita juga punya hak yang setara, menurut Peraturan Buruh. Mengandalkannya, menjadikannya panutan, segala hal yang disampaikan menjadi acuan tindakan. Di tahun 2002 ia diminta wawancara media, tapi menolak. Akhirnya dikirim rekorder agar menyampaikan hal-hal yang ingin disampaikan, merekam sendiri. Kemudian kita tahu betapa berat masa itu. Menghadapi hari esok dalam hilang hasrat, bahkan ketika halaman bab ini akan habis saya sampai hampir menangis, bagaimana manusia bisa sekejam itu mengambil hak hidup dengan tangan-tangan kotor. Ke mana nurani pergi?

Apakah kamu bisa bersaksi dan mengatakan bahwa kamu menderita karena kecupan singkat, karena sentuhan tangan di pipimu, dan bahkan tatapan mata yang singgah di lengan dan betismu pada musim panas? Kamu berdiri terdiam tidak tahu ke mana perginya sesuatu yang bagai burung kecil itu saat melihat wajah keriput nenek yang telah berubah menjadi mayat.

Ya, saya dengar.”

#6. Ke Arah Bunga Mereka (Ibunda Sang Pemuda, 2010)
Ini bagian paling menyedihkan. Menjadi sang ibunda korban tragedi. Sebagai janda yang membesarkan tiga anak, anak pertama bekerja ke Seoul, anak kedua hidup dalam satu atap dan si bungsu adalah remaja yang tewas di bab pertama. Kejadian saat hari H sungguh ‘menggemaskan’. Sang ibunda malam itu sudah datang ke gedung dengan anak nomor dua, mencari si bungsu. Dibentak petugas, diminta kembali pulang oleh tentara dengan acungan senjata, karena sekarang berlaku jam malam. Awalnya anak keduanya melawan, memaksa. Namun dengan tenang sang ibu memintanya mengalah pulang, ia tak mau kehilangan anaknya lagi. Dan esoknya kita tahu, si bungsu tewas. Gemas, karena misi menyelamatkan nyawa orang terkasih itu hanya sejengkal dalam gedung, dibatas tembok saja! Sedih, menyedihkan sekali dunia ini. Katanya, pohon hanya bernapas satu kali sehari. Mereka menghirup dalam-dalam cahaya matahari saat terbit, kemudian mengembuskan dalam-dalam karbon dioksida saat matahari terbenam.

Dong Ho…, hiks.

#7. Lampu Berselimut Salju (Sang Penulis, 2013)
Aku dihadiahi radio kecil oleh seseorang. Radio itu bisa memutar balik waktu. Katanya aku hanya perlu memasukkan tanggal ke layar digital radio itu. Aku menerima dan memasukkan waktu ’18:05:1980’. Aku harus ke tanggal itu jika aku ingin menulis tentang peristiwa 18 Mei. Yang terakhir kita menjelma menjadi sang Penulis, Han Kang. Ia menuturkan bagaimana jalan liku untuk menulis kisah ini. Ditelusur, dicek and ricek, wawancara, meminta izin pada para keluarga korban, dan alasan mengapa kisah ini harus dituturkan. Saat Uprising Gwangju terjadi, Han Kang baru berusia sepuluh tahun.

Sekarang kita sudah memiliki raga, jadi seharusnya kita tidak perlu menggerakkan tubuh jika ingin bertemu. Namun kalau aku tidak punya tubuh, bagaimana caranya menemui Kakak? Bagaimana aku bisa mengenali Kakak yang tidak bertubuh? Ada ingatan yang tak bisa sembuh. Ingatan tersebut tidak memudar seiring berlalunya waktu, tapi malah akan menjadi satu-satunya yang tersisa ketika segala yang lain terkikis.

Well yeah, saya tak mengikuti segala hal berbau Korea. Saya tak tahu musik-musik K-Pop, drama K-Pop, atau sekedar selintas lewat di beranda sosmed langsung saya skip. Lebih bikin males, mereka memiliki nama-nama yang mirip. Di ulasan ini saya hanya menyebut tiga nama dan saya yakin seminggu lagi hanya satu yang akan kuingat, mungkin sebulan kemudian lupa semua nama-nama karakternya. Hanya sang Penulis yang mudah diingat. Kecuekanku ini, termasuk dunia literasi dari Negeri Gingseng. Kenapa saya putuskan baca ini, yang pertama ini adalah terbitan Baca. Saya sudah baca dua terbitan lama mereka, keduanya masuk best 100 Novel versiku: Herman Hesse: Stephenwolf dan karya William Golding: The Lord of the Flies (Apakah mereka dari Penerbit yang sama? Entahlah). Kiranya mereka fokus ke karya terjemahan sastra dunia, maka saat dari Penulis Vegetarian yang mengalahkan buku Eka Kurniawan ini dialihbahasakan, hanya masalah waktu saja saya pasti nikmati. Jadi wujud lahap buku ini bukan karena Korea-nya tapi penghargaan Man Booker International Prize 2016. Ini penghargaan jaminan mutu. Kedua ini adalah buku hadiah dari rekan sekerja Iyul yang bulan lalu resign untuk fokus jadi IRT. Sejatinya kalau Iyul ga belikan buku ini (dan Seribu Kunang-Kunang di Manhattan) saya juga akan beli paket 100,000 tiga buku itu (bersama Vegetarian dan Kafka), tapi justru saya malah dapat durian runtuh bahwa Mata Malam sudah pesan di Dema Buku, yo wes jadinya budget itu saya alihkan untuk Harbolnas kemarin, meluncur ke Mizan Store.

Jadi seberapa bagus kisah tragedi Uprising Gwangju ini? Rekomendasi dah, untuk penikmat sastra yang butuh konsentrasi lebih. Kata-katanya disusun dengan jeli, terjemahan Ok banget, hanya menemukan satu typo: rasa rakut – halaman 60; kover fresh dalam artian Mata Malam sendiri adalah bulan dengan coretan urek-urekan bulan hitam. Terima kasih Penerbit Baca, terima kasih Dema Buku, terima kasih sekali untuk Iyul.

Sepertinya Vegetarian dan karya Han Kang berikutnya yang beralih bahasa Indonesia tinggal tunggu waktu yang tepat untuk kubaca. NexT…

Mata Malam | By Han Kang | Diterjemahkan dari Human Acts | copyright 2014 | First published in Korea by Changbi Publishers, Inc | Indonesian translation rights by Baca Publishing House, 2017 – Bentang Aksara Cahaya | Penerjemah Dwita Rizki | Penyunting Arif Bagus Prasetyo | Pemeriksa aksara Moh. Sidik Nugraha | Penata isi Aniza Pujiati | Perancang sampul Wirastuti – TEKOBUKU | Ilustrasi sampul Freepik | Cetakan I: Oktober 2017 | ISBN 978-602-6486-12-7 | Skor: 4/5

Karawang, 12-131218 – Sherina Munaf – Ada