Decision to Leave: Dalam Diam, Suara-Suara itu Meraung dan Bahasa Cinta Melolong

Di sebuah kota yang selalu diselimuti kabut…

Kalau saya membuka ulasan The Batman dengan kalimat, “Di sebuah kota yang selalu ditempa hujan…” Maka Decision to Leave kubuka dengan kalimat yang hampir serupa. Sesedikit mungkin tahu alurnya, semakin aduhai. Sedikitnya ada sepuluh kali saya bilang, “anjir keren keren, anjir keren keren, anjir keren keren.” Diolah berulang seolah mantra. Rumit, benangnya membelit hati.

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler===

Jelas ini drama berkelas. Suka sekali adegan berlapis saat pengungkapan. Suka sekali bagaimana penjelasan bahasa cinta, tanpa kata cinta. Meskipun belum pernah cinta disebut-sebut di antara mereka. Tetapi keputusan melindungi itu seakan melemaskan lidah mereka. Suka sekali sama kegugupan diramu bahagia, saat ketemu tak sengaja di pasar ikan. Memandangi mereka secara bergantian sementara mereka berbicara, seakan mendengarkan dengan matanya. Saling tersenyum dan berbicara selagi masing-masing bersaing mengulur basa-basi normal sebab pasangan mereka ada di samping, sebelum akhirnya mengedip kode manja. Suka sekali bagaimana sang nenek memanggil Siri untuk menyenandungkan Kabut. Ah kabut, aduh kabut. Sejatinya apa sih warna kabut? Dan seribu satu kata suka sekali lainnya. Jelas, Decision adalah film terbaik 2022, sejauh ini.

Seorang pria ditemukan mati di hutan, polisi detektif Hae-jun (Park Hae-il) ditugaskan menyelidiki langsung. Di TKP, tampak meyakinkan ini bunuh diri, seorang hobi mendaki gunung, menjatuhkan diri dari bukit, apalagi ditemukan surat wasiat pamitnya. Sang istri korban Seo-rae (Tang Wei), seorang perawat saat kejadian secara meyakinkan di jam kematian sedang bertugas merawat lansia di panti jompo. Lapisan pertama tata cara deduksi, jelas tak mungkin manusia ada di dua tempat berbeda. Ia adalah warga China yang bermigrasi ke Korea. Izin tinggal sempat bermasalah. Namun berkat kejelian, ia berhasil bertahan.

Tersebab ia-lah orang terdekat korban. Ia dipanggil dan interogasi tertutup dilakukan, dengan kata-kata saling lempar, yang kita tahu ada aura saling jaga. Makanan mewah disajikan, dan es krim meleleh. Jangankan es krim, batu saja akan meleleh di dalam mulut perempuan secantik itu. Lalu terungkap ada masalah di keluarga ini, ada KDRT maka kita semua jadi perlu tahu seberapa parah luka di pahanya. Perlu memanggil polisi perempuan untuk mengecek? Oh tak perlu. Berikutnya keduanya diam lagi, saling tatap di kursi masing-masing. Dalam diam, suara-suara itu meraung dan bahasa cinta melolong. Betapa singgung kedekatan bisa menimbulkan asmara. Karena sering bertemu, ada riak di sana. Terlalu riskan, polisi berselingkuh dengan tersangka utama pembunuhan. Padahal Hae-jun memiliki kehidupan keluarga harmonis. Istri cantik yang se-frekuensi. “Harus tetap bercinta rutin, bahkan saat saling ngambek.” Perselingkuhan itu, jelas memberi pengaruh kuat keputusan akhir, dan juga riskan untuk kehidupan utama sang detektif. Terlalu besar pertaruhannya.

Pantas sekali menang Best Director di Cannes, yang mencipta decak kagum tentu saja adegan lapis kayak wafer, tempel-tempelan. Tak hanya sekali, beberapa kali muncul tumpang tindih. Sang pria, seorang suami yang tampak setia dan bersahaja, mencintai perempuan lain dengan penuh pengorbanan, bagaimana saat di puncak bukit melihat tindakan bayang, dorongan maut penuh kengerian. Setelah Hae-jun membaca sekilas-sekilas isi HP temuan itu lantas memahami semuanya, dia duduk gemetaran, tidak berani menyentuh bayangan surealis yang muncul karena takut melihatnya akan meledak di depan wajahnya, seperti bom rakitan sendiri. Angka di HP tercetak menjadi realita, mencipta pengungkapan tak terbantahkan. Terasa kabur fakta pahit itu, mencipta aroma kebingungan oh mengapa, seolah tak mampu meresapi lingkungan sekeliling.

Kukira saat tahu kebenaran akan mengambil sikap tegas, nyatanya logika kalah sama perasaan cinta. Saat perpisahan, dan ciuman di tengah dinginnya salju, ada getar gairah mengaliri, dan itu sungguh keputusan sulit. Usaha melindungi membutuhkan usaha yang cakap. Begitulah bila manusia mengecap kenikmatan terlarang. Dia membela tersangka habis-habisan sampai ke titik liur terakhir, tetapi sekaligus mengakui dia sangat mencintai istrinya.

Kata kabut disebut berulang, baik dalam bentuk puisi atau syair lagu. Lagu utama kisah ini, menjadi lagu wajib sang nenek yang ditanamkan Seo-rae. Banyak adegan kelabu memang di kota berkabut. Kabut tipis yang datang dan seolah tak mau pergi. Malam, saat menampilkan lanskap kota yang kosong diselimuti warna kelabu melankolis, bertabur titik-titik lampu kuning yang mengambang di udara seperti air mata. Kelabu seperi malam tak berawan. Jadi benarkan warna kabut itu kelabu?

Karena ini drama percintaan, adegan romantis melimpah ruah. Sekalipun thriller juga dominan, sejatinya ini tentang asmara hitam. Salah satu adegan bagus tersaji saat hujan, sepayung berdua, saling tatap di tepian gong, menyampaikan pendapat secara tersirat. Menikmati keheningan sarat rasa malu yang diperpanjang oleh raut senyum saling silang. Hanya selingan suara hantaman air hujan yang mengiringi. Sungguh ironi, adegan romantis sama pasangan resmi, di tengah-tengah kebahagiaan bagaimana suami-istri ini mengakali penuaan dengan daging kura-kura dan ikan, yang meranum setelah dipelihara begitu cermat. Dibaliknya, ada perempuan lain yang tak kalah intens. Hal-hal seperti itu meresahkan. Menclok sana-sini.

Mereka mengecap ribuan kesenangan yang menggoda, menemukan dunia alter baginya, dan menyelaminya dengan nikmat, seperti ikan tua berenang-renang di tengah cahaya matahari. Maka setelah memutuskan jaga jarak, lantas bertemu kembali, ada nuansa kenang. Hingga akhirnya kata ‘sebuah kebetulan’ yang janggal disampaikan, bagaimana sekali lagi kematian mengenaskan terjadi. Kejahatan kedua, menimbulkan kebimbangan lagi, dan ibaratnya, saat itu situasinya seperti tupai yang tersesat di hutan besi. Fatal, bingung, serba salah, dan kali ini keputusan berat kudu diambil. Hae-jun gemetar saking marah. Seo-rae gemetar saking syahdunya.

Ada kutipan menarik dari Konfusius, Orang baik memilih gunung, orang jahat memilih pantai. Seolah hanya selingan, maknanya benar-benar diterapkan. Pantai pun menjadi kata yang ditakuti di antara mereka, sayangnya dia suka pantai. Sebuah tanda kematian, dan mereka pun coba berpaling ke perbukitan. Namun tak semudah itu. Bunuh diri, gunung, pantai, dan mengapa memilih menikah sama orang yang penuh masalah. Manusia dari zaman batu sampai era modern selalu butuh pengakuan. Maka jawaban bahwa orang berbudi sepertimu sulit dijangkau malah menambah sesak di dada. Ahh… pantai. Terasa ngeri saat airnya menggeluguk di kaki berselimut pasir, dan perlahan tapi pasti semakin naik.

Sebenarnya tata kelola Decision bukan barang baru, film detektif dengan pengungkapan bagus seperti ini pernah kujumpai di Sherlock Holmes-nya Robert Downey Jr., ada slow-mo penuh penjelasan deduksi. Bukan barang baru juga, kebimbangan keputusan selingkuh orang kuasa sama orang lemah, yang bukan korban tapi malah penjahatnya. Soundtrack keren, juga banyak kita temui di film-film daun yang lebih aduhai. Namun mengapa, saya tetap terpesona saat hal-hal yang umum itu dirajut dan ditampilkan di layar? Bisa jadi kita haus film festival tayang di layar lebar, film bagus di tengah kemonotonan, sudah jenuh sama deretan film mainstream yang mengalir tiada henti. Ya gitu-gitu saja, ya biasa-biasa saja. Makanya, saat tahu bakal tayang di CGV langsung kuantisipasi, film festival Eropa muncul di Karawang lho. Langka. Dan benar saja, cuma seminggu tepat tayang, hari ini sudah turun layar.

Memutuskan cuti untuk Memutuskan Pergi. Kutonton Senin (18.07.22) di show pertama jam 11:15, jalan kaki dari rumah. Nonton sendirian, tak ada kawan sama sekali di bioskop. Kedua kalinya saya nonton sendiri seolah bioskop pribadi, yang pertama The Green Book. Sempat kukira batal, sebab sampai jam 11:30 belum juga nyala layarnya sekadar trailer atau iklan-iklan. Keluar lagi, minta tolong Pak Satpam, dan setelah kembali masuk, menanti lagi jam 11:45 akhirnya proyektor menyala. Terlambat 30 menit hufh…, tak mengapa, daripada batal. Resiko film daun di kota penuh daging. Cuti untuk merenung di bioskop itu, terbayar lunas.

Orang baik punya bakat alami untuk tahu bagaimana melaksanakan hal yang benar. Namun baik saja tak cukup di kota kabut, mungkin di kota kita juga. Sehebat apapun, manusia memang tempatnya berbuat salah. Dan saat kita menyadarinya, waktu sudah pudar seperti segenggam daun-daun layu.

Decision to Leave | Year 2022 | Directed by Park Chan-wook | Screenplay Park Chan-wook, Seo kyeong Jeong | Cast Tang Wei, Park Hae-il, Go Kyung-Pyo | Skor: 5/5

Karawang, 220722 – Jo Stafford – You Belong to Me

In Front of Your Face: Aneka Warna Tingkah Laku Manusia

In front of your face film.jpg
Produksi: Jeonwonsa Film Co.

“Aku percaya surga bersembunyi di depan wajah kita.” – Sangok

Komunikasi timbul setelah kontak terjadi. Saya menemui si A maka terjalin perbicaraan. Saya menghubungi si B, maka komunikasi tercipta. Saya diajak ngopi sama si C, maka terjadi interaksi. Ini jenis film ngegoliam, di mana kata-kata lebih dikedepankan. Kekuatan ngobrol, keseruan dialog. Dan bobotnya, makin berat konfliks yang dibahas, maka makin menentukan kualitas cerita. Cerita sejatinya sangat sederhana, dan karena kesederhanaan itulah, tampilannya justru menarik. Minim pemain, minim lokasi, jelas minim bujet. Seorang artis yang mudik ke Seoul, tinggal sama saudarinya, menekuri hari-hari yang cerah, minum kopi, sarapan roti, melihat-lihat taman penuh bunga, makan di resto, lalu siangnya ada janji temu sama seorang sutradara muda. Janji tengah hari itu ditunda sore, maka sang artis memutuskan membelokkan taksinya ke tempat ia lahir dan tumbuh, rumah masa lalunya sudah direnovasi dan ditempati orang lain. Merokok jadi kebiasaan, guna mengakrabi kenalan. Sorenya ketika ketemu di bar sama sang sutradara, ia mendapat tawaran main film layar lebar. Ia mengaguminya, ia siap menyesuaikan jadwal syuting, dan saat naskah dikerjakan, Sang artis diperbolehkan balik ke Amerika barang setengah tahun atau lebih, nanti dikabari saat siap. Dan jawaban kejutan yang didapat. Tawaran-tawaran lain disampaikan, dan alkohol diedarkan. Siang terik, sore hujan deras ditemani petir, dan segalanya tersapu badai…

Jelas ini bukan film untuk semua orang. Isinya cuma ngobrol dari satu meja ke meja lain, dari jalan kaki menikmati pemandangan taman penuh bunga hingga merokok di bawah jembatan menikmati aliran air, percikannya menenangkan, menjadi backsound lembut seolah di taman firdaus. Dari pertemuan di resto ke pertemuan di bar, dan begitulah, seolah memang dipamerkan keindahan lanskap kota. Hiruk pikuknya jadi semacam latar, dan kata-kata bergulir semarak, keputusan-keputusan harus diambil, waktu terus berjalan, waktu berjalan linier, kita dilindasnya. Hidup, begitulah, tak pernah ada yang tahu masa depan.

Korea Selatan adalah Negara maju, ekspansi produknya sudah mengglobal. Dari Samsung hingga Hyundai, dari K-Pop sampai Drakor. Budaya baik ditampilkan di banyak adegan, misal menghormati yang lebih tua, salam sapa dengan saudara, pelukan hangat sebagai tanda kasih sayang, hingga menawarkan makanan bagi teman yang absen makan siang. Manusia harus mempelajari kebudayaan sejak ia lahir, selama seluruh jangka waktu hidupnya, hingga saatnya ia mati, semuanya dengan jerih payah, dan faktor kebiasaan jadi faktor paling dominan pembentuknya. Sistemnya sudah ada, tinggal eksekusinya. Kita misalkan, terbiasa makan dengan hanya menggunakan tangan kanan, berdoa sebelum makan, dan sedikit berbincang di atas meja. Hal itu tak serta merta, ada proses dan tempaan. Akan sangat sulit mengubahnya, faktor lingkungan memang sangat berpengaruh. Kita mungkin terbiasa melihat orang buang sampah sembarangan, atau pengendara menerobos lampu merah. Anehnya, warga kita, orang yang sama tersebut melancong ke Korea, akan otomatis mengikuti aturan yang ada. Orang Indonesia di Korea akan membuang sampah pada tempatnya, akan mengikuti antrian, dst. Lantas kemana sifat melanggar aturan itu menghilang? Unsur-unsur terkandung dalam watak itu tadi tentu saja tidak hilang lenyap begitu saja, melainkan hanya terdesak masuk ke dalam bagian dari jiwa manusia, hanya diredam, prinsip di mana bumi dipijak langit dijunjung secara naluriah aktif. Aneka warna tingkah laku manusia memang karena kolektif di mana manusia itu bergaul dan berinteraksi.

Endingnya sendiri sangat bagus. Menertawakan kekonyolan? Tersenyum masam atas keputusan sambil lalu, ataukah ada penyesalan yang terkandung di dalamnya. Yang jelas itu tawa getir, saat tahu dunia yang kamu tinggali akan kamu tinggalkan, lalu memaksimalkan masa yang ada dengan segala kekreatifannya, itu seolah tak bermakna. Apa yang dikejar, dunai fana, waktu fana, tubuh ini fana. Seribu tahun lagi kita semua dilupakan, mungkin Seoul masih ada, mungkin pula bumi masih baik-baik saja, hanya individunya yang berganti, lantas apa yang dikhawatirkan atas pembatalan janji temu?

Menurut Profesor Clyde Kluckhohn kelima masalah dasar dalam kehidupan manusia yang menjadi landasan bagi kerangka variasi sistem nilai budaya: (1) Masalah mengenai hakekat hidup manusia, (2) dari karya manusia, (3) dari kedudukan manusia dalam ruang waktu, (4) dari hubungan manusia dengan alam sekitar, (5) dari hubungan manusia dengan sesamanya. Kelima ada di film ini. kalau diperhatikan Sangok begitu bimbang, di mana opening adalah ending, dan ending adalah penafsir perjalanan manusia. Ia seperti terperangkap di sekitar, ia begitu mencoba menikmati hal-hal yang ada. Rokok, kopi, roti, pelukan, hingga warna-warni bunga. Rasa cukup menjadi titik utama, syukur, sabar, merdeka.

Bersikap dan berbuatlah seolah-olah kamu sangat bahagia. Maka ini akan membuat kamu betul-betul berbahagia. Seperti kata Sangok, surga tuh tersembunyi di depan wajahmu. Jadi kebahagiaanmu, hanya tergantung kepada apa yang kamu pikirkan.

Film sederhana yang bagus. Cerdas, sangat menggugah, dan juga diplomatis.

In Front of Your Face | Tahun 2021 | Korea Selatan | Sutradara Hong Sang-soo | Cerita Hong Sang-soo | Pemain Yunhee Cho, Lee Hye-yeong, Hae-hyo Kwon | Skor: 4/5

Karawang, 070422 – Eagles – Hotel California

The Batman: Deklamasi Sinema

“Ketakutan adalah alat. Saat cahaya itu menerpa langit, itu bukan sekadar panggilan. Itu peringatan.”

Di sebuah kota yang selalu ditempa hujan… Darah dan kata-kata pasti meluap bersamaan. Gotham yang basah dalam berkah limpahan kata-kata sang superhero seolah penyair pelamun, ia murung dan lelah. Apakah perlu kita menghitung air hujan yang diguyur langit, yang umlahnya tak terhingga, seperti penderitaan yang harus Batman pikul. Jalan yang harus ditapaki seorang pahlawan tidaklah semulus yang kita bayangkan: berliku-liku dan melewati kerasnya gunung pengorbanan.

Ini adalah deklamasi sinema, drama panggung dengan syair meluap. Saya tidak pernah dengan sengaja berniat menghafal puisi Batman, tetapi puisi ini masuk ke pikiranku seperti wahyu tuhan turun kepada para nabi. Gelap dan semakin gelap. Penonton dijejali bergalon-galon kata sambil mencoba menautkan klu, serta bualan itu yang makin lama makin ngelatur. Puisi itu seolah filosofis, samar-samar mencoba membentuk benak para penonton, kata-kata melayang di baris subtitle yang menggugah, bermakna, bermanfaat, dan sepertinya siap dipraktikkan. “Mereka pikir saya bersembuyi di balik bayangan, tapi akulah bayangannya.” Cocok dikutip, dibagikan di sosial media, dijadikan status motivasi ala ala Arnold P. Bolang. Ini jelas Batman yang beda, maka lebih tepatnya, saat topeng dibuka ternyata Bruce Wayne adalah alter ego Widji Thukul.

Mendendam dan saat pembunuhan orang-orang penting terjadi tiap malam jelang pilihan umum walikota, Batman menemukan tautan penting ke arahnya. Titik-titik hubung itu mengarah padanya, surat cinta berisi klu ‘To The Batman’, pembunuh serial ini gila, walaupun dasarnya pembaruan kota, pembersihan atas para pejabat yang salah menggunakan wewenang, pembunuhan ini harus dihentikan, bersama sahabat malamnya Catwoman, Gotham butuh pahlawan, sebelum meledak.

Bruce Wayne (Robert Pattinson) anak yatim piatu dengan kekayaan besar diasuh oleh Alfred (Andy Serkis), hobinya berkenala malam hari, dengan penanda Batman di langit. Saat senjakala jatuh di kota yang ramai dan sibuk ini, kereta malam menderu membelah keriuhan, kejahatan-kejahatan terjadi. Matahari terbenam menyorotkan jubah hitamnya di atas gedung. Di Gotham Batman belum dikenal, di malam Helloween gerombolan, berandal yang akan menghajar orang asing malah bertanya, “siapa kau”. Secara bersamaan terjadi pembunuhan wali kota, kematian tokoh besar mencipta sensasi. Batman turut serta ke TKP untuk menyelidiki atas ajakan sobatnya di kepolisian Gordon (Jeffrey Wright). Banyak klu, tapi pesan terpenting adalah amplop untuknya. Malam kedua pembunuhan terjadi lagi, Komisaris Pete Savage (Alex Ferns). Klu kembali ditebar dan mengarah pada mobil korban, ada file di sana. Sudah mulai terlihat di sini, target korban adalah orang-orang penting yang menyalahgunakan jabatan.

Penyelidikan lanjut ke bar tertutup milik Penguins (Colin Farrell). Bar penuh orang-orang penting, separuh kejari ada di sana. Mabuk dan terbang sama pil koplo The Drop. Di sana ia mendapati pramusaji Selina Kyle (Zoe Kravitz) yang setelah diikuti ternyata memiliki hobi yang sama. Kucing berkelana di malam hari. Keduanya kini satu arah memburu pelaku, walau tujuan utama jelas beda. Batman ingin memecahkan kasus, Selina ingin menyelamatkan teman sekos Annika. Yang ternyata adalah gadis di foto walikota.

Malam ketiga korbannya adalah Pengacara Colson (Peter Sarsgaard), ia dijerat di mobilnya. Esoknya saat hari pemakanan wali kota, gempar mobil menerjang masuk masuk di pelataran duka, dengan Colson di sana, leher terikat, bom ditanam, dan sebuah panggilan telepon dari Riddler (Paul Dano) yang memberi teka-teki, dua pertama dibantu jawab Batman, tapi pertanyaan ketiga siapa sang informan, tak mau, dan yang akhirnya menewaskannya.

Begitulah, film terus bergulir menuju hari pemilihan umum. Kedok Riddle dan kroninya baru terungkap saat informan ditangkap, dan itu juga belum usai sebab semuanya malah kembali ke Batman, dan sekalipun otak kejahatan sudah diamankan di Arkham. Motifnya lebih besar, Gotham dirudung ancaman lebih dahsyat. Siapa berani memberantas lingkaran KKN di pemerintahan?

Durasinya terlampau lama, entah kenapa seolah dipanjang-panjangkan. Pembacaan puisi bagus, tapi kalau terus dilakukan, malah mencipta kantuk. Dalam deklamasi, pembaca yang memakai baju hitam artinya puisi duka. Batman yang ini sedihnya kebangetan. Bersuara parau dan gemar menyanyikan lagu tentang ketidakadilan, kejadian lampau yang mengecewakan, tentang rasa yang ditinggalkan, dan neraka. Mencoba gelap, ada satu adegan layar benar-benar gelap. Hanya sesekali muncul cahaya dari salakan tembakan, di lorong Batman sedang menghajar mush-musuhnya.

Setalah berpanjang-panjang, inti cerita ternyata hanya mengarah pada pembaruan kota, dibersihkan dari sampah masyarakat, orang-orang yang menyalahgunakan wewenang dibunuh satu per satu, sampai akhirnya arah senjata ke Batman, masa lalu ayahnya yang pernah mencalonkan diri jadi pejabat. Klu-klu itu menarik? Biasa saja. Jaring mereka makin merapat menit demi menit. Semua petunjuk sudah digaris, titik-titik disambungkan. Ternyata tak ada twist, kalau boleh bilang, dua setengah jam lebih lalu bilang, ‘hah, gitu aja?’

Ada tiga adegan yang cukup menghibur, seolah menjadi obat lelah dan ngantuk dalam penantian. Pertama jelas adegan kejar-kejaran versus Oz. mobil keren yang dinanti-nanti itu akhirnya keluar garansi. War-biasa aksinya, melawan arah, kebut sampai gaaasnya mentok, dan akhirnya ledakan dengan dramatis mobil Bat terbang. Dan kamera yang dibalik dengan gaya. Nah begitulah adegan film action dibuat, keseruan nampak dan bergetar.

Kedua saat teka-teki kematian, bagaimana bisa infomasi sang informan tetap ditahan saat nyawa terancam, hitungan detik dan dramatis, betapa berat menyangga rahasia gelap dan berisiko. Saya sudah prediksi bakalan tetap mati sih, sebab temanya pembunuhan berantai, jadi begitu tahu korban nomor tiga masih hidup, hanya tinggal eksekusinya saja.

Ketiga, saat Batman berciuman dengan latar cahaya mentari subuh yang masih asri, warna oranye dominan bersemburat. Saya tak tahu di komiknya bagaimana, apakah ada asmara di antara kucing dan kelelawar, tapi romansa mereka tampak saling melengkapi. Jadi sejatinya sudah cocok, walau adegan cheezy Batman diselamatkan dramatis tampak malah merusak mood, dan perpisahan sendu di ujung dengan arah berlawannya, dengan iringan skoring ciamik, jelas keduanya bisa akur memburu penjahat. Sebagaimana kucing dan kelelawar, binatang malam yang selalu lebih senang bergaul dengan benda-benda mati daripada makhluk hidup. Batman tetap tenang dan diam lama setelah menawarkan kebersamaan, tetapi ekspresi keyakinan di wajahnya tidak menghilang. Percayalah, kucing ini akan balik. Dengan catatan kontraknya Zoe diperpanjang.

Harus diacungi jempol usaha reboot kali ini, pembaruan itu bukan Gotham sejatinya tapi Batmannya sendiri, sangat manusiawi. Ini jelas jauh lebih baik dari Batman encok. Pattinson sangat pantas, ia masih sangat muda, dan sebagai orang yang memproklamirkan diri sendiri berjiwa merdeka, ia sudah selalu berusaha tampil hebat, beda, avant-garde, canggih. Dan sekaligus pemurung. Dalam wawancara dengan the Hollywood Reporter yang muncul di beranda sosmed, ia mendeskripsikan dalam tiga kata: crazy, sexy, cool. Sepakat?

Seperti kebanyakan orang Indonesia yang muak akan kelakuan warganya yang tak disiplin, mudah marah, bermuka dua, pejabat yang bloon, hingga berhianat, pada dasarnya tetap saja mencintai kota kelahiran, kota tempat dibesarkan, kota berpijak mengais harta. Begitulah, sebobrok apapun, Batman mencintai Gotham dan akan selalu menjaganya. Kota ini adalah perkuburan, mengapa aku harus tetap di sini? Apa yang harus tetap membuatku di sini? Puisi Batman tak kurang daripada pencarian makna hidup dan kecintaan akan tempat ia dibesarkan. Apakah tindakan Riddler dapat dibenarkan? Menyingkirkan orang-orang jahat di pemerintahan lalu menenggelamkan kota demi pembaruan? Tentu saja tidak, kita harus bersepakat, seburuk apapun kota dan penghuninya, kekerasan dan pembersihan massal tak bisa diterima. Sama seperti Real Madrid yang muak sama panitia Liga Champions yang korup, lalu mencipta Liganya sendiri. Jelas itu salah. Atau para radikal yang tiap hari mengumbar kata-kata kasar semua kebijakan tak bijak pemerintahan, lalu esoknya antri paling depan subsidi beras. Tidak, tidak, sistemnya sudah salah, butuh waktu bertahun-tahun untuk revolusi, memotong generasi lama tak bisa dengan seketika memutus rantai pemerintahan. Pejabat korup tumbang, pajabat korup lainnya akan naik. Di manapun berada, ada. Hanya levelnya saja yang beda, paling tidak mengikisnya, memperbaiki sistem dengan teknologi terbaru, aturan win-win solution, hingga menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat. Dus, gue nulis apa ini bro… maaf ngelantur.

Dunia ini sepanjang masa akan seperti ini; kita boleh mengejeknya, mengkritisinya kalau perlu, ketika kepentingan seseorang menjadi terlalu dominan, tak ada yang patut diperjuangkan. Banyak hal tak bisa kita rubah, kita di luar lingkaran itu. Maka, mengubah diri sendiri lebih masuk akal ketimbang mengubah mindset warga twitter. Para legistalif yang mencari uang dengan menyalahgunakan kedudukan apakah bisa kita rubah langsung? Apakah tetangga kamu yang ngeselin motong keramik di hari Minggu bisa kamu hentikan langsung? Apakah chat ngeselin dari grup WA bisa kamu kendalikan dan atur seketika untuk jadi memihakmu? Banyak hal tak bisa kita modifikasi, peran kita di dunia ini kecil. Peran kita dalam keluargalah yang utama, dan berpengaruh, dan masih dalam kendali. Bangsat! Gue nulis apa lagi ini…

Siapapun yang bisa bertahan dari rasa lelah akan keluar dari perburuan ini dengan penuh kemenangan. Selamat, The Batman berhasil memesonaku.

The Batman | 2022 | USA | Directed by Matt Reeves | Screenplay Matt Reeves, Peter Craig | Cast Robert Pattison, Zoe Kravitz, Jeffrey Wright, Collin Ferrell, Paul Dano, Andy Serkis, Peter Sarsgaards | Skor: 4/5

Karawang, 010422 – Billie Holyday

Thx to Rubay. One down, Four to go.

Best Films 2021

“Santai saja tak usah teriak-teriak” – Quote of the year dari Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas by Edwin

Dari perang antar genk hingga burung yang tertidur, dari bu-ibu vakansi mengenang masa lalu hingga kesatria merenung, dari remaja melawan tradisi hingga pahit manis asmara, dari wanita labil pencarian jati diri hingga perjalanan kapsul ke angkasa, dari istri yang kesepian ditinggal mati mendadak suami hingga perjalanan suami yang kehilangan istri yang amat dicintainya. Tahun 2021 yang merentang panjang.

Ini adalah tahun keenam saya buat daftar 14 film terbaik. Masih nyaman dan konsisten. Tahun 2021 menonton 101 film, 2022 so far 24. Total film tahun 2021 yang selesai kutonton 55.

Inilah film-film terbaik 2021 versi LBP (Lazione Budy Poncowirejo):

#14. The Green KnightDavid Lowery                                                  

Ini tak seperti yang kita kira, pace-nya lambat dengan iringan musik sendu. Tentang pangerang yang melalangbuana memenuhi takdirnya. Dengan banyak simbolisasi, bait-bait puisi, fantasi dengan mantra di setiap benang rajutan kain pelindung, danau tak berbatas, hantu jelmaan, raksasa melintas, hingga metafora masa. Waktu bisa dilipat hingga ribuan tahun dalam sekejap. Pemenggalan kepala jadi sejenis ritual penting, keampuhan sihir dipertaruhkan. Drama fantasi sejati. Rapalan sihirnya sangat akurat, puitik, dan eksak, hanya mengizinkan pemegang kekuatan yang layak menerima, tidak lebih sedikitpun.

“Aku hanya pengelana tersesat. Mencari tempat istirahat malam ini.”

#13. The Lost DaughterMaggie Gyllenhall

Bagus banget. Alurnya sangat lambat, tapi sangat patut dinanti hingga tikungan terakhir. Meskipun banyak dialog sampingan yang melenceng dari inti film, kita tahu ini film Oscar, kita harus menyimak dan mengayaknya untuk memperoleh butir-butir fakta yang bisa mengungkap benang cerita. Kesabaran itu terbayarkan. Iya, Jessie Buckley sangat cantik, tapi hiks, ia juga jahat. Olivia Colman memang sudah kelas aktingnya, udah level tinggi. Cuma senyum kecut, atau meringis pamer gigi kelinci aja bisa bikin meleleh. Mereka jadi duo Leda, keduanya sangat pas dan memukau. Namun Sang juara bagiku adalah Maggie Gyllenhaal. Adaptasi cerita ini berhasil bermain-main dengan konteksnya. Suatu hari ia bakalan dapat piala Oscar untuk bidang sutradara. Catet ya. Mencipta film alur lambat penuh pesan moral, dengan permainan tempo yang ciamik seperti ini, sangat sulit. Rasanya The Lost Daughter laik dapat lebih dari tiga nominasi.

“Saya adalah bunda yang tak wajar.”

#12. After Love Allem Khan

Kesedihan terdalam adalah mengingat kebahagiaan masa lalu. Cerita cinta yang hilang dan respon menghadapinya. Drama dengan kekuatan akting dikedepankan, karena ceritanya sederhana, kalau dibagi dalam babak ada tiga: kehilangan, pencarian dan penemuan fakta, legowo. Dunia duka dengan segala isinya. Kematian mendadak orang terkasih memicu tanya beruntun saat menemukan isi chat mesra di HP almarhum. Menemukan sebuah kartu identitas wanita lain diselipkan dalam dompet, dan inilah inti dari After Love, perjalanan menemukan jawaban kehidupan lain sang suami. Ini kisah tentang tautan dua wanita dalam satu hati lelaki.

“Bersamaku membuatnya merasa menjadi suami yang baik untuk orang lain. Ini membuatku sedih”

#11. West Side StorySteven Spielberg

Tawuran pemuda. Pertama yang terlintas saat adu pukul di cat tembok itu bukan seni musiknya, bukan pula pamer tari di jalan, tapi malah gerombolan Pemuda Pancasila (PP), GMBI, Gibas Betawi Rempug dan sejenisnya. Tawuran dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) adalah seperangkat persoalan dan efek samping idealisme salah kaprah, persoalan ini jauh lebih rumit daripada narasi asmara yang dibawakan. Kalian kira seusai para korban berjatuhan, mereka akan merenungkannya mendalam, lantas esok berdamai? Oh tidak, ini adalah tradisi, kebiasaan, harga diri, (maaf) uang, dan tak peduli ada di dunia Barat atau di kota-kota Jabar, tawuran akan selalu ada. Kau tidak mungkin bisa batuk di sana tanpa membuat tiga orang lain tertular. Akar tradisi ini sungguh kuat.

“Di kota ini penuh dengan keburukan, binatang-binatang malang seperti kalian?”

#10. Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar TuntasEdwin

Semua hal bisa dibuat menjadi dongeng. Ini salah satunya. Mencerita masa lalu, selalu nyaman. Kita bisa menelusuri masa itu di kepala dan mempelajarinya seperti di galeri seni yang penuh dengan instalasi video. Memutar memori, menuangkan dalam tulisan dengan berbagai modifikasi diaduk fantasi, lantas menjelma film. Ini adalah kisah tentang cinta, kerinduan, dan dendam serta burung yang tertidur terlalu lama. Cerita keren adalah cerita yang mampu bolak-balik menyeberangi batas antara keremehtemehan dan kekacauan, antara hal gila dengan hal biasa.

#9. OxygeneAlexandre Aja

Film berpenampilan satu orang, yang suka film mikir harusnya suka. 1,5 jam menonton cewek rebahan pening pecahkan teka-teki dengan oksigen terbatas. Mengambil setting hanya satu tempat memanfaatkan ruang gerak sempit hanya dalam tabung, jelas mengingatkan Buried. Perjalanan nun jauh ke atas sana lalu kerusakan terjadi, jelas menautkannya pada Passenger. Scifi dengan klona demi menyelamatkan umat manusia di luar angkasa, jelas sekali terinspirasi Moon, mati satu tumbuh seribu. Ini adalah kisah fantasi, menanam ingatan mengembangbiakkan makhluk terancam segera punah, dan sesak napas tak terkira. Segala sesuatu yang tampak begitu infantil, begitu jauh dari realita.

“Aku adalah kau. Aku adalah kau di dalam bahaya.”

#8. Sweet and SourKae-Byeok Lee

Setiap bentuk rasa frustasi, setiap akibat dari kepuasan naluriah yang dihalangi, atau yang mungkin diakibatkan, adalah berada dalam pemuncakan rasa bersalah. Waktu tak bisa diputar balik, tapi cerita bisa kan? Penyesalan selalu di akhir, kesalahan demi kesalahan diberbuat manusia, yang terlindas waktu tak bisa diubah. Bertabrakan menjadi sangat aduhai jika terjadi di bandara, dalam posisi lari mengejar wanita yang sama. Ini masa lalu, ini masa kini. Lantas masa depan apa yang lebih menawan untuk dijalani? Harga yang mesti dibayar demi kemajuan peradaban kita adalah hilangnya kebahagiaan melalui pemuncakan rasa bersalah.

“Jika tertinggal taksi, kau bisa menunggu yang berikutnya. Tapi jika kehilangan seseorang, maka sampai situ aja. Aku akan merindukanmu…”

#7. Yuni Kamila Andini

Menyenangkan menyimak puisi dalam bentuk visual audio. Puisi itu menjelma filosofi yang samar-samar dalam benak semua orang jadi beberapa baris kalimat ringkas yang bermakna, bermanfaat, dan siap dipraktikkan. Film ini, dalam pengandaianku seolah menggambar menggunakan angka-angka, rumit sekaligus seru. Pridom abis!

“Perempuan harus mahir di dapur, di kasur, dan pakai pupur…”

#6. Last Night in SohoEdgar Wright

Tentang gadis desa Cornwall yang melanjutkan sekolah design ke kota London untuk meraih impian. Memiliki masalah mental sering melihat penampakan, ditinggal ibunya bunuh diri sejak usia tujuh tahun. Dibesarkan dengan kasih sayang nenek. Dengan sering wanti-wanti untuk jaga diri, waspada di kota besar banyak setannya, selalu menghubungi rutin, dst. Terdengar klasik? Ya, tapi film menjelma gila saat hantu-hantu manusia tanpa wajah tahun 1960-an bermunculan, dan penyelidikan membuahkan kejutan.  

“A murder in the past. A mystery in the future.”

#5. EternalsChloe Zhao

Dengan segala hormat, kali ini Marvel benar-benar menaikkan tensi ke area dimensi tak berbatas. Melintas semesta, jangkauannya sudah bukan New York lagi, dramanya bukan sekadar Bumi dengan segala isinya, kali ini menantang Sang Pencipta. Hitungannya bukan tahun, atau bulan, tapi sudah abad. Itupun ribuan abad lampau. Para penjaga bumi mendapati tugas berat setelah tahu bahwa misinya kini malah tak memihak penghuninya. Dilema kesetiaan pada sang pencipta, ataukah melawan tangguh untuk kelangsungan umat?

“Jika kau mencintai sesuatu, kau melindunginya. Itu hal yang paling alami di dunia.”

#4. The Power of the DogJane Campion

Luar biasa. Jangan remehkan orang yang terlihat lemah. Kita tak tahu apa potensi yang bisa dikembangkan, air yang tenang lebih berbahaya ketimbang riak alir berisik. Ini film keluarga, bagaimana bertahan hidup di tengah teriknya mentari di rumah peternakan. Isu-isu berkembang lewat hembusan angin. Pohon-pohon jadi saksi perbuatanmu. Beberapa hal mungkin perlu disangkal, tapi buat apa.

“Selamatkan jiwaku dari pedang, dari cengkeraman anjing-anjing.”

#3. King RichardReinaldo Marcus Green

Ayah selalu mencintai anak perempuannya lebih daripada ibunya. Bikin film biografi tuh seperti ini, sodorkan hal-hal yang tak diketahui khalayak umum. Aduk emosi penonton dengan curang. Kalau diberi buku tulis, jangan menulis mengikuti garis, bikinlah tulisan miring, kalau perlu bukunya dibalik, kertanya disobek-sobek, lalu tulisannya dipecah, sehingga pembaca tak langsung paham. King Richard benar-benar mengaduk-aduk emosi. Salut. Bisa-bisanya Will Smith menemukan naskah cerita sekeren ini.

“Kau akan menjadi yang terhebat sepanjang masa. Bagaimana ayah tahu? Karena ayah sudah merencanakannya.”

#2. The Worst Person in the World Joachim Trier

Ini jelas bukan film yang sekadar Oke, ini film adalah luar biasa. Seusai nonton seperti ada rasa yang mengganjal, ada yang meresahkan, tapi yang meresahkan itu memang sudah berlalu. Ya seperti waktu, kita sudah menjalani, lantas kita merasa ada yang salah di masa lalu, keputusan-keputusan dan tindakan kita salah, seperti kejahatan atau perbuatan yang menyakitkan orang lain yang terlanjur dilakukan. Namun rasa itu terdistorsi, seolah gumam, “ya mau gmana lagi? Setiap perbuatan ada konsekuensinya.” Nah seperti itulah perasaan saat credit title muncul, ada efek yang menggelenyar setelahnya, penonton tak dibiarkan tenang, penonton bahkan kena beban, seolah merasa kasih andil kesalahan, feminism kebablasan? Ataukah egoism yang membuncah? Film ditutup menimbulkan perasaan kacau, saya merasa seolah-olah turut melakukan kejahatan.

“Aku benci mendengarnya, tapi bisakah kau bilang bahwa aku akan menjadi ibu yang baik?”

#1. Drive My CarRyusuke Hamaguchi

Perbuatan selalu lebih banyak pengaruhnya daripada kata-kata, tapi bagaimana kalau kata-kata itu dialirkan dalam rengkuhan penuh cinta seolah langsung ditancapkan ke dalam pikiran? Kebenaran itu mengalir deras, dan ia menginginkan seluruhnya. Pengaruhnya tentu begitu tinggi, hingga hak-hak kita diabaikan dengan sukarela. Drive my Car adalah film dengan penerungan mendalam. Kata-kata dipilah dan dipilih sehingga penuh intimidasi tersirat. kata-kata membuncah, digurat dengan pena tajam, dipikirkan dengan sungguh-sungguh. Disajikan dalam mangkuk emas, citarasa sinema tiada dua.

“Jika aku hidup normal, mungkin aku akan jadi Schopenhauer atau Dostoevsky yang lain.”

Karawang, 310321 – Eagles – Hotel California

Happy Birthday Winda Luthfi Isnaini 16 tahun.

The Eyes of Tammy Faye: Keserakahan adalah Binatang yang Sangat Aneh

“Ini belum berakhir, sampai semuanya berakhir.” – Tammy Faye

Luar biasa. Riwayat hidup manusia dibuat dengan memesona, beginilah sebuah biografi seharusnya disajikan. Runut dan enak dilihat. Seorang pengabar Injil, bersama suaminya mengumpulkan banyak dana, lantas disalahgunakan, dihukum, semua haknya dilucuti. Di titik terendah, ia tetap percaya Tuhan masih bersamanya. Seperti kutipan di atas, semuanya baru berakhir kalau benar-benar sudah berakhir. Dan Jessica Chastain amat sangat layak menang Best Actress. Piala yang sudah dinanti-nantinya itu akhirnya tergapai juga.

Tammy Faye kecil (Chandler Head) dididik secara Kristen taat sejak kecil. Ibunya (Cherry Jones) adalah tim penyanyi gereja. Ia sudah tertarik terlibat dalam naungan keagamaan, ia bisa bernyanyi bagus, dan dengan ketekunan orangtua, ia berhasil meujudkan mimpinya.

Perkenalan dengan pelayan restoran Jim Baker (Andrew Garfield) saat ia bekerja di butik mencipta keserasian. Setahun setelah menikah mereka pindah kota dan mulai misi penyebaran iniil. Keduanya lantas merintis pertunjukkan talkshow PLT Club yang sukses luar biasa. Bagi mereka jadi pendakwah adalah panggilan hidup. Mereka juga mengumpulkan dana jamaah untuk digunakan sebagai dana amal. Lihat betapa mudahnya umat dengan mudah memberikan uangnya atas nama agama. Kesuksesan pengumpulan dana di awal itu memberi konsekuensi lain. Sesudahnya uang datang bagaikan gelombang pasang, meminta jamaah melipatgandakan, meminta jamaah sedekah sebanyak mungkin. Nah, di sinilah mereka terpeleset. Godaan uang besar, keserakahan adalah binatang yang sangat aneh.

Pendeta senior Jerry Falwell (Vincent D’onofrio) yang tahu banyak hal membocorkan penyalahgunaan dana amal. Seorang reporter diminta bungkam atas sebuah kasus miring Jim. Dan puncaknya, dakwaan berat menimpa suaminya sehingga memaksa masuk bui. Runtuh sudah tatanan bangun kehidupan agamis mereka.

Lantas saat sudah dititik terendah, bagaimana bisa Tammy masih bisa meyakini hal-hal esensial menyangkut kepercayaan? Bagaimana ia bangkit? Selembar foto mengatakan, kau bahagia, dan ingin orang lain menangkap momen itu. Selembar foto mengatakan, kau tampak cemerlang sehingga orang lain bisa melihat segalanya agar bisa datang dan menikmati penampilan. Tammy Faye menutup layar dengan sempurna, ditolak program acara tv tak serta merta menutup peluang lain. Selembar foto closed-up itu, ah masih ada yang membutuhkannya. Suara telepon yang bilang, dulu kamu baik dan ia berniat menggandengnya lagi, adalah suara malaikat putih. Kebaikan yang ditanamnya di masa lalu, kini bergema untuknya.

Pertama yang terlintas di pikiranku justru adalah penceramah lokal yang gemar berinvestasi dengan kedok sedekah. Yusuf Mansur berhasil menjaring uang umat bernominal besar, dilaporkan berkali-kali ke kepolisian, coba diseret atas tuduhan penyalahgunaan dana, hingga kedok investasi bodong yang terkuak. Nyatanya, ia tak pernah tinggal di jeruji besi. Entah ilmu apa yang dipakai, ia benar-benar tangguh dan selalu lolos. Entah budaya kita yang mudah memaafkan, ataukah benar-benar ia bersih? Yang jelas kehidupan Amerika yang liberal berhasil menyeret pria agamis Jim lima tahu penjara. Jim adalah orang besar dan sangat peduli dengan bagaimana ia harus dikenang. Tulisan di akhir film makin mengukuhkannya. Dosa-dosanya sudah ditebus di bui.

Kedua, saya langsung browsing Wikipedia kehidupan Tammy Faye. Ternyata ia orang besar, menulis biografinya, penyanyi dengan 16 album! Musik rejili yang mungkin saja pernah muncul dan terlintas akhir pekan di televisi tahun 1990-an di RCTI selepas acara Planet Football. Nyanyian kristiani yang pernah sesekali tak sengaja kulihat.

Ketiga tentang kehidupan glamor selebrita. Saat kamera menyorot mereka tampak tetap optimis, menyampaikan terima kasih sama orang-orang yang tetap percaya pada mereka, meminta maaf bila terjadi kesalahan, dan mencoba tetap tegak. Lalu saat kamera mati, tampaklah aslinya, berdua sedang dirundung kepanikan, kalut kesalahan yang terlanjur dilakukan, konsekuensi dihukum. Bersikap wajar adalah sesuatu yang mereka lakukan saat dalam sorotan, namun gesture dan gerakannya sama sekali tak wajar hanya sekian detik setelah off. Ya, ketakutan terbesar adalah apa yang mungkin mereka alami esok hari. Mereka tampak begitu menyesal sampai-sampai penonton merasa kasihan.

Apakah hal-hal seperti ini juga terjadi di kehidupan nyata? Apakah artis-artis yang tampak ceria dan bahagia di tv itu juga menampakkan kesedihan saat tak ada sorotan kamera? Orang-orang yang tiap hari kita tonton di layar, jugalah warga biasa yang pusing akan rutinitas.

Tammy Faye tersenyum dengan kombinasi emosional melankolis. Sesekali tertawa masam, riasannya tampak berlebihan, ia bisa memainkan suara berbeda: berat dan riang bergantian, dan setelah lama vakum benyanyi ia kembali. Terlihat gugup, dan ia mengakui. Penonton tak merespons, tetap diam seolah bertanya ‘bisa apa dia di atas panggung?’ Sebuah akhir yang manis dan pantas disampaikan. Tepuk tangan yang paling meriah untuk Jessica.

The Eyes of Tammy Faye | 2021 | USA | Directed by Michael Showalter | Screenplay Abe Sylvia | Cast Jessica Chastain, Andrew Garfield, Cherry Jones, Vincent D’onofrio, Chandler Head | Skor: 4/5

Karawang, 300322 – Image Dragon – Believer

Prediksi Oscars 2022: Nyupir

Izin cuti besok sudah kukantongi. Ini akan jadi Oscar ke-13 yang kutonton secara beruntun. Live di Disney +. Seperti biasa saya akan menebak 14 kategori, kategorinya bebas sesukaku. Tahun ini saya berhasil melahap 21 film Oscars sebelum pengumuman. Angka yang sangat tinggi walaupun di antaranya kukebut dalam dua minggu terakhir. Penurunan satu film dari tahun lalu. Sudah dua per tiga, jadi angka yang cukup untuk memainkan ramalam. Mari kita lihat…4. Animated feature film – Encanto

#14. Animated feature filmEncanto

Alasan: Raya bagiku film ngantuk, Flee tak cukup kuat.

Tiga film yang kunikmati, Encanto menawarkan hiburan yang sesungguhnya. Secara cerita mungkin biasa, tapi secara hiburan benar-benar fresh. Kebetulan timing-nya pas, Minggu sore, menit-menit akhir masa liburan.3. Actor in a supporting role – Kodi Smit-McPhee (The Power of the Dog)

#13. Actor in a supporting role – Kodi Smit-McPhee (The Power of the Dog)

Alasan: Transformasi singkat yang mengagumkan.

Semua mata tertuju pada Troy, tapi bagiku lebih memesona akting pemuda lugu yang berubah ditempa lingkungan, dan seorang guru yang awalnya melecehkan. Lelaki lembut berkekuatan dahsyat.2. Actor in a leading role – Andrew Garfield (tikc, tick… BOOM!)

#12. Actor in a leading role – Andrew Garfield (tick, tick… BOOM!)

Alasan: Musisi yang terluka, ditampar kerasnya kehidupan

Antara dia dan Will Smith, tapi saya lebih suka sang komposer musik yang gagap, gemulai, marah akan kehidupan. Film yang berhasil diangkat oleh satu aktor. Belum lihat Denzel, yang jelas bukan Javier Bardem.

#11. Actress in a supporting role – Ariana Debose (West Side Story)

Alasan: Ini sih locked. Terlalu unggul.

Ada dua adegan yang bernilai piala. Pertama saat suaminya dipastikan terbujur di kamar mayat, kedua saat ia menantang di kandang macan. Ia memberi ultimatum, bukan pemberitahuan kosong bagaimana nantinya adik ipar akan menyusul. Dan boom!

#10. Actress in a leading role – Jessica Chastain (The Eyes of Tammy Faye)

Alasan: Penyebar agama yang dikelilingi materi dunia.

Belum lihat Kristen Stewart yang katanya bagus, awalnya pegang Kidman, tapi film terakhir tadi pagi malah membelokkan tebakan. Pasangan pemuka Kristiani yang dililit materi dunia, melawan media, Membantah/mendukung ibunya, melawan sangkaan, melawan pahitnya cercaan. Bagian saat ia disebut badut oleh suaminya, sedih banget. Padahal datang dengan senyuman…. International Feature Film – Drive My Car (Japan)

#9. International Feature FilmDrive My Car (Japan)

Alasan: Sudahlah, pasti menang.

Oscar tahun ini bagiku berpusat pada film ini, tak peduli segala omongan orang dan cibiran nyupir selow 20 km/jam, bikin ngantuk, hingga tak logis ada suami seperti itu. Sebagai pembaca setia Murakami, apa yang ditampilkan sungguh seolah hadiah literasi. Lebih panas dari Burning.8. Film Editing – tick, tick… BOOM!

#8. Film Editingtick, tick… BOOM!

Alasan: Suaraku untuk para pencipta karya yang tak mau menyerah dimakan usia.

Tak banyak film musikal yang berhasil membuatku takjub akan kegigihan musisi ditampilkan di layar. Sungguh menginspirasi.. Visual effects – Spider-man: No Way Home

#7. Visual effectsSpider-man: No Way Home

Alasan: Adegan kereta api meluncur di langit…

Yang jelas bukan Shang-Chi dengan naganya yang cupu. Atau planet ngantuk dalam Dune. Keunggulan Spdey memang di teknis, yang sukses membuat geram bagaimana Dr. Strange dikalahkan di rumahnya oleh matematika? Kereta api tut tut tut… menembus udara dan segala yang mengikat dalam jaring.. Original Scoring – The Power of the Dog

#6. Original ScoringThe Power of the Dog

Alasan: Suara-suara nyata di peternakaan kuda meringkik.

Bisa jadi Dune lagi, tapi Kekuatan Anjing lebih memikat.. Cinematography – Dune

#5. CinematographyDune

Alasan: Pohon kurma di planet antah surantah.

Ini kategori tersulit, sebab bagus semua. Kecuali Macbeth yang belum kulihat, empat film lainnya secara teknis bagus. Pengambilan gambar, pencahayaan, dan rasanya keunggulan Dune ya di teknis ini.. Writing (adapted screenplay) – Drive My Car

#4. Writing (adapted screenplay) Drive My Car

Alasan: Sukses menterjemahkan Murakami ke sinema kudu diganjar piala.

Suka sekali sama cerita The Lost Daughter, tapi Nyupir terlalu digdaya. Tak akan berani seorang pembaca loyal melawan penulis panutannya.. Writing (original screenplay) – Don’t Look Up

#3. Writing (original screenplay)Don’t Look Up

Alasan: Komedia dunia kiamat, kurang ajar kau Adam!

Pengen pilih The Worst Person yang gilax itu, tapi cerita tema kiamat ini patut diapresiasi lebih. Asal jangan Coda aja, apalagi Belfast z z z z…. Directing –Steven Spielberg (West Side Story)

#2. Directing –Steven Spielberg (West Side Story)

Alasan: Seremonial tragedi itu, khidmat.

Sudah tebak Hamaguchi jauh hari, tapi setelah nonton West Side, sisi lainku tergerak. Sudah pernah dapat tuan Spielberg, ya ga masalah dapat lagi.. Best picture – Drive My Car

#1. Best pictureDrive My Car

Alasan: Film terbaik Oscars tahun ini.

Piala tertinggi untuk film terbaik.

Karawang, 270322 – Billie Eilish – Happier than Ever: A Love Letter to Los Angeles

#1. Rencana nonton besok sambil servis mobil di Auto 2000, mau mudik si Biru didandani, sekalian saja pas cuti.

#2. Oscar live di Disney Plus mulai jam 7 pagi.

101 Film yang Kutonton 2021

Untuk pertama kalinya saya hitung jumlah tontonan dalam setahun periode kalender. Tak ada target, tapi bisa tembus 100 film sungguh mengejutkan. Kalau buku wajar sebab memang nyaman di sana, tapi film? Kualitas lebih kukedepankan. Film-film yang sudah kuulas, bisa klik judulnya untuk dibaca ulasannya. Panjang umur kesehatan, dan keuangan.

Berikut 101 film yang berhasil kutonton sepanjang 2021.

#1. A Sun Chung Mong-hong (2019)

Kesehatan dan keselamatan anak, segalanya.

#2. TenetChristopher Nolan (2020)

Adegan mundur dan tantangan nalar.

#3. Troll World TourWalt Dohm (2020)

Tur musik dengan kerusuhan lucu.

#4. Little Big Women Joseph Chen-Chieh Hsu (2020)

Cinta tulus hingga mati.

#5. Pretend It’s a CityMartin Scorsese (2021); Serial

Ngegoliam tentang tata kelola kota.

#6. The WailingNa Hong-jin (2017)

Hantu-hantu mengancam.

#7. Soul Pete Docter (2020)

Dunia antara dengan jazz di mana-mana.

#8. FallingViggo Mortensen (2021)

Hubungan sempurna ayah-anak.

#9. Blade Runner 2049Dennis Villeneuve (2017)

Dunia masa depan dengan klona kesasar.

#10. Shaun the Sheep: FarmageddonWill Becher, Richard Phelan (2020)

Alien dan kambing bikin rusuh.

#11. OnwardDan Scanlon (2020)

Fantasi dan mitos diungkapkan.

#12. Pieces of a WomanKornel Mundruczo (2020)

Kehilangan, kesedihan, kerelaan.

#13. Mank David Fincher (2020)

Drama naskah terbaik, hak milik perlu.

#14. Ma Rainey’s Black BottomGeorge C. Wolfe (2020)

Penciptaan jazz yang menggetarkan, membunuh.

#15. The FatherFlorian Zeller (2020)

Pikun itu kewajaran dalam tua.

#16. EmmaAutumn de Wilde (2020)

Pamer Anya, pamer kecantikan.

#17. One Night in Miami Regina King (2020)

Satu malam mengubah segalanya.

#18. Borat 2Jason Woliner (2020)

Perjalanan tak bermutu ke Barat.

#19. The Trial of the Chicago 7Aaron Sorkin (2020)

Pengadilan menakjubkan.

#20. Quo Vadis, Aida?Jasmila Zbanic (2020)

Kesedihan Aida, kesedihan perang.

#21. NomadlandChloe Zhao (2020)

Bermobil, berpindah.

#22. Better DaysDerek Tsang (2020)

Perisak tanda menyebalkan.

#23. Another RoundThomas Vinterberg (2020)

Dari mabuk hingga menyelam.

#24. My Salinger Year – Phillippe Falardeau (2020)

Pengalaman magang kerja tak terlupakan.

#25. Hillbilly Elegy Ron Howard (2020)

Kisah sukses keluarga.

#26. The White Tiger Ramin Bahrani (2020)

Sopir keluar jalur.

#27. Minari Lee Isaac Chung (2020)

Keluarga Korea di bukit Amerika.

#28. Sound of MetalDarius Marder (2020)

Tak mendengar, malah menggelegar.

#29. Promising Young WomanEmerald Fennell (2020)

Balas dendam berliku.

#30. Judas and the Black MessiahShaka King (2021)

Penghiatan dan pertobatan terlambat.

#31. Never Rarely Sometimes AlwaysEliza Hittman (2020)

Perjalanan pencarian jati diri.

#32. Alice in Borderline (2021); Serial

Permainan mematikan di dunia nyata.

#33. And Tomorrow The Entire WorldJulia von Heinz (2020)

Politik kontemporer Jerman di mata muda-mudi.

#34. Enola HolmesHarry Bradbeer (2020)

Sisi lain saudari Sherlock.

#35. MissRuben Alves (2020)

Pemilihan putri Prancis disusupi lalaki.

#36. 7. Kagustaki MucizeMehmet Ada Oztekin (2019)

Penjara adalah ladang kebebasan.

#37. I’m Thinking of Ending Things Charlie Kaufmann (2020)

Puisi-puisi di tengah salju.

#38. OxygeneAlexandre Aja (2021)

Perjalanan ke semesta tak berbatas.

#39. Spongebob Squarepants: Sponge out of RunTim Hill (2020)

Selamatkan Gerry, meow…

#40. Sunset PromiseLe Ha Nguyen (2019)

Cinta monyet tak terlupa.

#41. Stand by Me 2Ryuichi Yagi, Takashi Yamazaki (2020)

Mengajak nenek jalan-jalan.

#42. Let Them all TalkSteven Soderbergh (2020)

Di kapal pesiar ngegoliam terus.

#43. The Man Who Wasn’t ThereJoel Coen (2001)

Efek buruk investasi bodong.

#44. 2001: A Space of Oddysey Stanley Kubrick (1968)

Luar angkasa, semesta tak berujung.

#45. Kill ListBen Wheatley (2011)

Membunuh, dibunuh.

#46. Surat dari PrahaAngga Dwi Sasongko (2016)

Memang sulit minta tanda tangan sama orang sulit.

#47. One DayBanjong Pisanthanakun (2016)

Kesempatan emas mencium gadis pujaan yang tak mau dicium.

#48. A Day Sun-ho Cho (2017)

Muter-muter demi anak.

#49. Sweet and SourKae-Byeok Lee (2021)

Mari bahagia, kita ditipu.

#50. Lawrence of ArabiaDavid Lean (1962)

Gurun dalam drama kolonial.

#51. InfiniteAntoine Fuqua (2020)

Manusia super, asal pukul.

#52. BadlaSujoy Ghosh (2019)

Duduk dan ceritakan sejujurnya.

#53. Hello Ghost Young-Tak Kim (2010)

Sekumpulan hantu menyapa.

#54. Blue Velvet David Lynch (1986)

Jazz dan tembak-tembakan absurd.

#55. The Thing calls LovePeter Bogdanovich (1993)

Musik adalah bumbu sempurna percintaan.

#56. The Autopsy of Jane DoeAndre Ovredal (2016)

Hantu di rumah otopsi.

#57. Twilight Zone – Collabs (1983)

Menembus masa dalam sekejap.

#58. My Friends Tigger & Pooh (2006-2010); Serial

Pooh dan modifikasi kemeriahan di Hutan Seratus Ekar.

#59. Ready or Not?Matt Bettinelli & Tyler Gillett (2019)

Malam pertama membara.

#60. The Broken Circle BreakdownFelix van Groeningen (2012)

Musikalitas ateisme.

#61. Earwig and the WitchGoro Miyazaki (2020)

Penyihir di rumah tertutup.

#62. Bad SisterDoug Campbell (2014)

Guru cabul di sekolah agama.

#63. AnnetteLeos Carax (2021)

Nyanyi-nyanyi lalu ngantuk.

#64. The Carducci Talent ShowAnthony Fanelli (2021)

Muda-mudi dalam pertunjukan maut.

#65. My Heart Can’t Beat Unless You Tell It ToJonathan Cuartas (2021)

Darah dan doa.

#66. I and My Stupid BoyKaouther Ben Hania (2021)

Pemuda norak main gadget.

#67. The GuiltyGustav Moller (2016)

Suara petunjuk tak kasat mata.

#68. MeandreMathieu Turi (2021)

Pipa kehidupan.

#69. The HuntThomas Vinterberg (2012)

Cinta anak kecil ke panutan berujung bencana.

#70. After LoveAllem Khan (2021)

Merindu bak halilintar.

#71. Le Bal Des FollesMelanie Laurent (2021)

Rumah sakit jiwa untuk seniman.

#72. Words Bubble Up Like Soda Pop Kyohei Ishiguro (2021)

Teriakan cinta di festival tahunan.

#73. Je Suis KarlChristian Schwochow (2021)

Gerakan pemuda untuk perubahan.

#74. Raya and The Last DragonDon Hall, Carlos Lopez Estrada (2020)

Naga warna-warni.

#75. Adventures of a MathematicianThor Klein (2021)

Dilema jenius matematika.

#76. NussaBony Wirasmono (2021)

Pengorbanan, tata kelola menghadapi kecewa.

#77. Love Strikes TwiceJeff Beesley (2021)

Kesempatan kedua ke masa lalu.

#78. Memoirs of a Black GirlThato Rantao Mwosa (2021)

Album kencana masa remaja-remaja keling.

#79. 15 Minutes ShameMax Joseph (2021)

Budaya batal di masa media sosial.

#80. Raging FireBenny Chan (2021)

Polisi baik, polisi jahat.

#81. DrishyamNishikant Kamat (2015)

Siapa bilang nonton film tak ada gunanya?

#82. The BeguiledSofia Capolla (2017)

Rumah persinggahan, rumah mati.

#83. Teeth NightAdam Randall (2021)

Vampir-vampir cantek.

#84. Escape Room 2Adam Robitel (2021)

Teka-teki saling jaga.

#85. DuneDennis Villeneuve (2021)

Perebuatan takhta.

#86. Shang Chi: The Legend of Ten RingDestin Daniel Cretton (2021)

Ayahku kena bisikan setan.

#87. To OliviaJohn Hay (2021)

Dukacita Roald Dahl.

#88. Last Night in SohoEdgar Wright (2021)

Anya atau McKenzie?

#89. BenedettaPaul Verhoeven (2021)

Tipudaya berkedok agama.

#90. Blonde. PurpleMarcus Flemings (2021)

Obrolan di atas meja.

#91. Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar TuntasEdwin (2021)

Pria tak bisa ngaceng, wanita bisa apa?

#92. Garfield the MoviePeter Hewitt (2004)

Koceng orens malas.

#93. Dawid and ElfMichal Rogalski (2021)

Malam Natal hura-hura di langit.

#94. Drive my Car Ryusuke Hamaguchi (2021)

Nyupir sampai merinding disko.

#95. FleeJonas Poher Rasmussen (2021)

Kabur, selamatkan diri kalian!

#96. Spider-Man: No Way HomeJohn Watt (2021)

Remaja ngambek tak lulus tes kampus.

#97. The Power of the DogJane Campion (2021)

Merenung di hutan.

#98. The Green KnightDavid Lowery (2021)

Pangeran pengecut, kesatria bijaksana.

#99. Twyla Moves Steven Cantor, Jonathan Field (2021)

Tarian nenek-nenek.

#100. Yuni Kamila Andini (2021)

Ungu dan kegalauan remaja, mau ke mana lulus sekolah.

#101. Loving MemoryTony Scott (1971)

Dukacita dalam frame hitam putih.

Karawang, 12012022 – Rainer Tempel – Big Time

Annette: Bosan sampai Mampus


“We love each other so much.”

Judul eksotik, poster menawan, stempel Cannes seolah menjamin kualitas. Padahal, ini film buruk yang menghantui. Membuat film musikal yang menarik memang sangat sulit. Sulit sekali. Menyisipkan nyanyian dalam plot terdengar rumit, harus benar-benar bisa pas dalam tunning segmennya. Aku baru tahu ini film nyanyian, saat beberapa menit berjalan. Sudah banyak review buruk, dan saat di tengah film aku merasakan apa yang banyak teman (Bank Movie) rasakan, kebosanan akut, mumet ndahe. Kesalahanku adalah memaksakan, dan di dunia ini kata ‘nyaman’ ada di urutan tinggi. Kalau tak nyaman, bijaknya memang ditinggalkan. Ini adalah opera film, ya ampuuun… bisa bertahan hingga garis finish aja sudah sebuah prestasi.

Kisahnya tentang komedian stand up Henry (Adam Driver) yang memiliki banyak fans, dibuka dengan nyanyian ia berpamitan naik motor besar dengan kamera berkedip seolah tak berkesudahan. Ia mengumumkan pertunangan dengan penyanyi sopran terkenal Ann (Marion Cotillard). Media mengulas betapa pasangan sempurna, keduanya adalah selebritas terkenal yang menyita perhatian publik. Pernikahan ini menghasilkan Annette (digambarkan dengan boneka puppet). Kehidupan tampak sempurna.

Karier yang menanjak mencipta kesibukan, dan keluarga menjadi pertaruhan, Popularitas Ann melampaui suaminya yang mencipta kesenjangan. Saat Ann sedang kerja, Annette diasuh oleh bapaknya, dan hal-hal salah lantas bermunculan. Penampilan Henry di panggung sendiri tampak memikat, penonton terhanyut dalam lelucon (walau tentu saja penonton film ini tak tertawa), turut andil pula dalam panggung dengan interaksi berlebih. Bayangkan, lelucon dibuat untuk pemain-pemain film figuran, bukan untuk kita. Pasar film yang aneh, menyiksa penonton film yang asli.

Dalam perjalanan berlibur dengan kapal pesiar, terjadilah tragedi. Badai yang membahana mencipta kematian, Ann dibunuh/tenggelam mati akibat bencana? Yang jelas malam itu kepedihan menghampiri, keluarga ini mendadak remuk redam. Spekulasi bemunculan, Henry diinterogasi, walau putusan ia tak bersalah, ada hantu kekalutan dalam pikiran. Bayangkan, para polisi ini bernyanyi saat harusnya serius mencatat data wawancara kasus. Ampun deh!

Kematian Ann, otomatis membuat lubang finansial sehingga mendorong Annette naik panggung. Dan secara instan mencipta hit, bayi ini menjadi selebriti dengan ketenaran luar biasa. Eksplorasi anak mencapai batas tertinggi. Suaranya, suara ibunya, nyanyiannya nyanyian ibunya; kepedihan yang menyayat. Lantas, kenyataan diungkap, hal-hal yang tak tampak itu membuat Henry harus menjalani hukuman. Hingar bingar, lantas senyap. Dan kelegaan penonton akhirnya tercapai. Usai sudah siksaan ini.

Benar-benar film yang menyiksa, kutonton empat kali percobaan. Seharusnya memang sudah cukup, tutup saat tahu ini musikal (buruk). Awali nyanyi-nyayi, naik motor, habis itu close. Itu percobaan pertama, dan kesalahannya berulang (Lee bilang TGK tahan 30 menit crooot, Annette 20 menit doang). Dalih usaha menuntaskan menjerumus pada kemualan. Bah! Untung percobaan keempat sambil setrika, jadi tak terlalu rugi sebab menghasilkan setumpuk baju rapi. Lagu-lagunya juga tak mudah nyantol, bikin kerut kening berlarut, liriknya turut boring bersama menit yang berlalu. Entah mengapa, kombinasi memualkan dan menyebalkan dan benar-benar marai misuh ini membuat penonton memberi standing aplaus. Akunya yang tak bisa ‘masuk’ dunia Annette atau penonton Cannes yang liar dan sepakat di akhir kisah memberi tepuk tangan? Jelas, ini jenis film segmen, tak banyak orang akan bisa menikmati. Sebagai penikmat film umum, aku bosan sampai mampus.

Apa yang mau dipermasalahkan, pasangan selebritis yang melimpah ruah hartanya. Bernyayi bisa lebih pas untuk menghibur diri yang gundah, ini nyanyian puja puji dua orang kaya raya. Komedian tak lucu, beberapa kali adegan tak senonoh yang tak terlalu penting dalam pengembangan karakter, rutinitas biasa yang dinyayikan dengan over adalah ide buruk. Berjalan, menyupir, memanggil nama, tampil di panggung, berdebat di meja, bahkan bercinta! Dilagukan dengan muak melimpah; bahkan boneka-nya malah terlihat seram, alih-alih imut. Tahapan-tahapan hujat akan bisa sangat panjang bila mau diketik, tapi buat apa? Intinya Annette adalah kegagalan. Bagi yang tulus menilai ini film brilian, aku ucapkan selamat. Kamu aneh! Bosan sampai mampus.

Seusai nonton, rasanya mual-mual butuh penetralisir. Film Bad Sister dengan plot sederhana tapi fun, malah tampak menarik setelah hampir dua jam terkantung nyanyian antah surantah. Sedikit film musikal bagus bagiku, salah satunya tentu Petualangan Sherina. Lagunya masuk ke dalam cerita, saling silang mendukung. Imut dan ceritanya bagus pula. Mendidik serta asyik ditonton semua umur, benar-benar hiburan sejati. Annette adalah lawan dari semua itu. Bosan sampai mampus.

Jika kalian bisa bertahan hingga film selesai (aku contohnya) berarti kalian berhasil menghadapi cobaan melawan bosan. Ya, film terasa amat sangat membosankan. Tapi, itu jenis kebosanan yang aneh. Perasaan bosan yang mual, jenis yang bisa menimbulkan gangguan pencernaan. Kita bisa merasakan kebosanan menetes dalam tubuh kita bagaikan keran bocor, hanya saja yang menetes bukan air, tapi sesuatu yang seperti suara biola rusak yang terpaksa terus digesek, dan kita merasakan setiap tetesnya (bisa) merusak organ penting dalam tubuh. Bosan sampai mampus.

Itu adalah kisah tentang cinta dan kemualan. Kemualan sampai mampus.

Annette | Year 2021 | French | Directed by Leos Carax | Screenplay Ron Mael, Russell Mael, Leos Carax | Cast Adam Driver, Marion Cotillard, Simon Helberg | Skor: 2/5

Karawang, 031121 – Michael Franks – Songbird

The Beguiled: Kamu Dimaafkan, tapi Kamu Tetap Harus Dihukum

“Aku sudah lelah dengan perang ini.”

Di tahun 1984 di Virginia, tiga tahun setelah perang saudara digaungkan. Di sebuah sekolah khusus perempuan, satu kepala sekolah, satu guru, lima murid yang tenang semuanya perempuan, suatu hari terusik. Amy (Oona Laurence) salah satu murid bertemu Kopral McBurney (Colin Farrel) yang terluka dan terduduk di balik pohon, kala mencari jamur. Dengan niat menolong, sang kopral dibawa ke sekolah.

Sang kepala sekolah Miss Martha (Nicole Kidman) langsung melakukan operasi jahit di kaki yang terluka parah. Sempat menjadi perdebatan, sebab McBurney adalah pasukan Union yang notabene adalah musuh. Apakah tak seharusnya lapor ke pidak berwajib saja? Tidak, ini masalah kemanusiaan. Orang yang terluka harus diobati, ia diperbolahkan tinggal hingga lukanya pulih. Sekolah itu sepi sebab banyak muridnya pergi dan para budak kabur.

Guru Edwina (Kirsten Dunst) yang pesimis mulanya, tapi malah berjalannya waktu hatinya tertaut. Mereka menjalani hari-hari yang tenang, jauh dari perang yang sedang berkecamuk. Hari-hari pemulihan ini, dirasa menumbuhkan keterikatan. Ia tak sendirian, seorang murid juga tergoda Alicia (Elle Fanning) bersemu merah saat bersapa sang kopral. Malahan murid lainnya turut labil, mencoba mendapat perhatiaan. Satu-satunya pria sih. Dan Betapa McBurney merasa beruntung menemukan mereka, sungguh berterima kasih pada Amy yang kala itu mencari jamur.

Lantas terjadilah tragedi, suatu malam dalam jamuan makan yang tenang dan meriah sebagai malam perpisahan sebab ia sudah pulih. Lilin-lilin dinyalakan, musik syahdu dimainkan, dan pesta keakraban dilakukan. Setelahnya sungguh menyesakkan, Edwina melihat hal yang tak disangka, dan McBurney terluka parah hingga harus diamputasi kakinya. Runyam, sedih, sekaligus memuakkan. Lantas dengan keadaan ini, sebagai tentara yang marah, sampai kapan berlangsung? Baiklah, saatnya Amy mencari jamur lagi.

Kisahnya sunyi, bersetting hanya di satu tempat. Di sekolah yang tampak seperti penginapan jadul itu segalanya berkutat. Satu setengah jam bergolak, antara berbuat seperti kewajiban sebagai warga yang baik, atau mengedepankan nurani. Namun memang sulit ditentang, kondisi yang memaksa eksekusi akhir itu. Film ini lebih dari separuhnya gelap, gambar-gambar samar di malam hari tanpa lampu (karena Thomas Edison masih meracik bola pijar), siang-pun lebih banyak nuansa redup. Pohon-pohon besar menaungi, geleyar udara hutan yang sejuk, ruang-ruang tanpa lilin, hingga hati yang hampa ditampilkan.

Dari satu sisi tema keterasingan juga melanda, lantas apa yang terjadi saat seorang pria malang yang kesepian bertemu wanita-wanita yang juga terkucil? Cinta atau di sini nafsu diapungkan, dan mungkin terdengar naïf, apa yang dilakukan McBurney terlihat normal dan wajar, tapi yo kebablasan Cuk. Ingat ini kondisi perang, segalanya setiap saat bisa terenggut. Mereka membawa rahasia umum kepengecutan yang nyaris tak pernah dikendalikan, naluri untuk lari, diam, dan bersembunyi, dan inilah beban terberat dari semuanya, sebab mereka di persimpang jalan. Ragu dan tergugu.

Film ini potensi jatuh dalam kebosanan, terlalu lambat plotnya. Pelan sekali, apalagi konfliks batin tak gegas muncul, baru dua puluh menit akhir film ini menata bomnya, meletakkan hati-hati di atas meja, lantas meledakkannya di pesta makan malam. Lega, walau terlambat, setidaknya The Beguiled memberi ending yang bagus sekali. Ada perasaan rileks saat menyaksikan makan malam itu, ada keteraturan dan juga kepastian. Harusnya sudah dieksekusi pas dimula, yah lebih baik telat ketimbang menyesal.

Ketenangan yang menakjubkan itu berlalu di depan mata kita – seolah seluruh dunia sedang ditata ulang – dan walaupun kita sedang bertahan dalam perang, kita merasakan kedamaian yang amat sangat di gedung itu. Maka kondisi ini harus diperjuangkan. Saat McBurney marah akan kondisinya, sampai muak dan memaki wanita jalang di rumah jagal, ia seolah sedang memberi penjelasan pada hakim yang tak tampak. Ia membenci keadaan terbaru, yang sejatinya ia sendiri yang mencipta. Kamu dimaafkan, tapi kamu tetap harus dihukum.

Kehidupan sekarang adalah gabungan dari berbagai macam kemungkinan. Rentang masa yang disaji mendorong berbagai kemungkinan, umpamanya bagaimana kalau Edwina tak dijanjikan kata-kata manis ‘pulang’ ke Barat, bagaimana kalau McBurney tak marah atau mengancam dengan pistol kala kunci dibuka, bagaimana kalau Amy gagal menemukan jamur (lagi)? Segala pengandaian itu terjalin berkelindan di ujung cerita. Dan kisi-kisi The Beguiled bermain di tepinya, seolah sebuah permainan petak umpet aneh yang dilangsungkan di medan mimpi buruk.

Saat gerbang dibuka, dan McBurney ditempatkan di depannya kelegaan yang dinanti itu timbul, kita terbangun. Walau agak shock, tapi sejujurnya lega, akhirnya…

Lihat, semua terduduk tenang. Tak ada perkataan, mereka hanya berbagi kesunyian.

The Beguiled | Year 2017 | USA | Directed by Sofia Capolla | Screenplay Albert Maltz, Grimes Grice | Based on novel Thomas Cullinan | Cast Colin Farrell, Nicole Kidman, Kirsten Dunst, Elle Fanning, Ooma Laurence, Angourie Rice, Addison Riecke | Skor: 3/5

Karawang, 021121 – VoB – The Enemy of Earth is You

15 Minutes of Shame: Kita Takkan Tahu Apa yang Disebut Mengerikan sampai Kita Mengalaminya Sendiri

“Sosial media was a good idea. But people ruin everything.”

Selamat datang di dunia digital yang penuh kemudahan, segala berita/informasi yang disampaikan serba instan. Saringnya tak kuat, bisa dengan mudah diakses. Di manapun, kapanpun. Sosial media (sosmed) membetuk peradaban baru, manusia-manusia yang dulu melewatkan waktu dengan lebih banyak memerhatikan sekitar, kini lebih sering menunduk melihat gadget. Efeknya, tentu saja ada. Semua barang baru yang diluncurkan ke publik selalu menemukan dua sisi yang memang patut diperhitungkan.

Dibuka dengan kutipan bagus dari Andy Warhol: “In the future, everyone will be world-famous for 15 minutes.” Seperti yang kita tahu, kutipan itu pertama muncul tahun 1968 di program tv Moderna Museet. Kata-kata itu lantas menjadi trend yang diplesetkan berbagai bentuk, termasuk film ini.

Ini tentang efek buruk sosmed. Kisah-kisah ini disampaikan dengan metode wawancara, beberapa korban serangan kata-kata, ini film dokumenter dunia digital dari sisi humanisme. Dari seorang petugas yang sedang patroli, tangan menjulur keluar satu saat menyetir, disangka kasih kode rasis. Foto yang diunggah ke sosmed itu menuai banyak sekali kecaman, sang petugas teridentifikasi, kena skorsing, bahkan diberhentikan sementara oleh atasannya. Namun berjalannya waktu, dan penyelidikan intens ternyata ia tak sengaja, dan sosmed yang terlanjur menghakimi tak bisa ditarik lagi, untungnya pekerjaannya bisa. Lihat, dunia digital yang memberi kebebasan tiap individu ini, ngeri kan.

Ada lagi, seorang penjual kebutuhan pokok di Amazon terlihat di sosmed menumpuk hand sanitizer. Indikasi menaikkan harga, dan saat pandemi melanda Amerika, barang itu langka. Ia dihujat dan dimaki-maki seantero dunia, rakus dan tak berperikemanusiaan. Akunnya bahkan kena blokir, dan ia dihakimi massa secara daring. Beberapa saat kemudian, segalanya berubah. Ternyata faktanya tak seperti yang disangkakan, beramai-ramai meminta maaf, dan apakah twit yang sudah di-sher, dikomentari, dan maki-maki itu bisa memulihkankan dengan sendirinya? Oh tak semudah itu.

Ada pula seorang mahasiswi keling berprestasi, mendapat beasiswa. Ia begitu cerdas dan pawai berbicara di depan umum. Potensi keahliaanya, antusiasme di kampus ternama, hingga segala harapan keluarga itu, seketika runtuh pada suatu pagi ia mendapat foto rasis, ftnah kejam, hingga penghinaan akan latar keluarga. Seketika ia drop, dan mencoba menenangkan diri. Butuh waktu untuk menyelidiki pelaku, dan karena memang sosmed liar, berbagai kemungkinan terhubung.

Satu lagi, ini kasus yang menghebohkan Amerika saat terbongkar perselingkuhan presiden aktif Bill Clinton dengan sekretarisnya, Monica Lewinsky. Kasusnya seolah dinaikkan lagi di sini, Monica jadi produser dan ia mengisahkan bagaimana masa itu remuk redam. Memang beda zaman, saat itu tak semasif sekarang di mana informasi masih satu arah: tv, radio, Koran, majalah. Kini informasi sudah benar-benar banjir bah, meluap-luap tak terkendali.

Budaya Batal, atau cancel culture saat ini sedang tinggi-tingginya. Sebuah pos di sosmed dikomentari, dihujat, dimaki, dipanasi, dikompori hingga gosong. Pelaku dihakimi berramai-ramai, lantas saat kenyataan ternyata tak sejahat itu, segalanya batal. Padahal pelaku kini malah jadi korban. Kasus seperti ini sudah sangat banyak terjadi, termasuk Indonesia.

Audrey mungkin salah satu yang heboh kala itu, semua orang (hampir semua orang tepatnya) menghujat pelaku kekerasan seksual, Audrey mengaku kena bully hingga selamut kemaluan rusak. Bahkan sampai bikin petisi keadilan dan galang dana. Dan tanpa dinyana, dari hasil penelusuran lebih lanjut, ternyata sebagain besar mengada-ada. Yang rada baru, adalah hilangnya anak kecil lima tahun, sudah dilaporkan polisi dan tak ketemu. Namun secara ajaib, baru beberapa jam dipos di twitter, ketemu di panti asuhan. Dunia serentak menghujat pihak berwenang yang tak becus bekerja, menguatamakan amplop untuk begerak, dst. Dan booomm… tak seperti itu ferguso. Ada scenario tolol dibaliknya. Yang menghujat polisi, bahkan tak menarik makiannya, malah konsisten mencari celah lainnya. Aneh bin ajaib. Untungnya, aku tak terbawa arus untuk dua kasus ini, aku pasif saja sebab memang sudah tampak janggal di mula. Mending ikut giveaway, atau sher berita Lazio, atau film-film yang baru kuulas, atau tentu saja berbagi info bacaan. Lebih faedah. Yang mengendalikan teknologi harusnya kita sebagai manusia, bukan teknologi yang mengatur kita.

Temanya memang tak baru, sudah terbiasa kita lihat di sosmed. Polanya sama, bikin kontravesi, digeruduk komentar, meminta maaf. Hal-hal yang sudah lazim dalam lima tahun ini, akan riuh saat ada pesta demokrasi, ada even olahraga besar, ada kasus unik yang menyita perhatian, dst. Hal-hal yang umum ini hanya dibalut lebih rapi dalam film. Tak ada penawaran solusi, tak ada makna dunia ideal, tak muncul pula perbaikan signifikan. Ini film rajutan masalah sosial mutahir.

Dengan poster kuning menyala berkarikatur wanita menitikan air mata, ber-tagline: “Who’s next?” sudah sangat pas. Seolah memang siapa saja bis ajadi korban. Dibuat dengan unik, bagaimana ikon ujung pointer komputer/HP dengan simbol jari dimodifikasi ciamik membentuk wajah. Dominan di rambut kepala, segala ikon hitam itu memenuhi rambut, hingga alis dan bulu mata. Keren, kreatif. Salah satu poster terbaik tahun ini.

Di dunia yang serba cepat ini, informasi tuh terasa seperti bola pingpong. Kita bisa membuatnya melintir, kita bisa membuatnya menari. Kita yang mengendalikan bolanya, membatasi diri bisa jadi adalah opsi menarik, tak semua yang gaul dan up to date itu keren. Kata Bli DC, temanku, “Dunia perlu diperlambat.” Banjir informasi membuat kepala kita berdesing bisa dipaksakan masuk. Fakta berita sendiri tersaput ketidakpastian: yang bertahan yang waras.

Aku teringat masa labil kalau bicara mengenai informasi. Sepulang kuliah, aku chat dengan kekasih. Ia membalas tak bisa jalan-jalan sebab sedang tak enak badan, aku biasa saja merespon. Sesampai di kos, iseng kubuka sosmed dan karena aku athu paswordnya aku klik. Ternyata siang itu ia ada janji jalan sama orang lain. See… sakit kan. Kecepatan informasi seperti ini, walau dengan tingkah sedikit memutar, tak akan terjadi tahun 90-an. Bagaimana aku bisa mengatakan ini tanpa terdengar terlalu sentimental? Hiks, aku sedih belasan menit, tapi lantas memutuskan. Jadi benar, aku mengasihi diriku sendiri yang polos ini, sekitar 15 menit itu, lalu segalanya biasa saja. Semua ada jalan. Dunia sosmed keras Lur, maka kita harus menghantam balik pula dengan keras.

Kita takkan tahu apa yang disebut mengerikan sampai kita mengalaminya sendiri. Mirip seperti hutan, hanya saja tempatnya jauh di atas sana dan selalu ada kabut – seperti hujan, tapi ini bukan hujan – semuanya basah, tak jelas, kacau balau, dan kita tak bisa melihat apa-apa…

A Look at public shaming in modern day culture.

15 Minutes of Shame | Year 2021 | USA | Directed by Max Joseph | Documenter | Cast Monica Lewinsky, Max Joseph | Skor: 4/5

Karawang, 011121 – Voice of Baceprot – God, Allow Me (Please) to Play Music