Memoirs of a Black Girl: Album Kencana Memori Masa Sekolah


If you can survive the hallways of dudley high, you can survive anything.”


Kisahnya tentang Aisha Johnson (Khai Tyler), dituturkan bak sebuah curhat. Mengambil sudut pandang orang pertama, seperti judulnya, ini memang bernarasi sang protagonist. Bagaimana impiannya untuk melanjutkan kuliah di kampus bergengsi dengan beasiswa terhambat oleh kehidupan keras di sekitarnya. Adiknya Kevon (Juvan Elisma) bermasalah dengan obat terlarang dan salah gaul. Ayahnya sudah meninggal, dan untuk melindungi ibunya dari kabar-kabar buruk, Aisha coba melakukan apapun. Keluarga adalah segalanya.


Aisha bersahabat akrab dengan Marcus (Nick Walker) dan Marisa (Carolina Soto). Ketiganya saling melengkapi dan bahu membahu, dan sungguh normal saat mereka memiliki masalahnya sendiri. Persahabatan itu mutlak diperlukan orang, agar ingatannya bisa bekerja dengan baik. Marcus ternyata gay, pilihan hidupnya tentu ditentang keluarga. Bapaknya memanggil pemuka Gereja untuk mengusir aura jahat, ibunya memarahinya sebab ia adalah jamaah yang taat, dan pilihan itu akan membawa aib keluarga, apa kata dunia! Wajar, sungguh kekhawatiran yang wajar. Namun Marcus komit, pilihannya untuk segera merantau dan menjadi artis dilandasi oleh tekad baja dari dalam.


Sementara Marisa karena dari keluarga yang sederhana dan saat itu terrlilit utang, memaksa menjual berbagai perabot, mengurangi jatah kuota, dst. Melakukan penghematan di berbabagi sektor, sampai pada memutuskan bolos sekolah demi tambahan uang dengan menjadi pelayan restoran. Amerika yang keras! Memiliki kekasih yang ekspresif, mencium di depan khayalak, di dalam bus penuh siswa. Romantis? Yah, awalnya tapi ya terlihat norak jua, hingga suatu siang pulang sekolah mereka bertiga memergoki pacar Marisa mencium gadis asing di lapangan basket. Hahaha… asem. Di situ juga langsung diputuskan. Nantinya, anehnya ia luluh, sebab ada tato namanya di tangan, dan pembacaan puisi membuatnya memaafkan. Duh gampang men!


Aisha adalah siswa cerdas, ia adalah kebanggaan sekolah dan sedang diajukan ke kampus bergengsi untuk dapat beasiswa. Dalam kelas ia dengan cekatan melibas banyak soal, baik secara attitude, baik pula secara sosial dengan lingkungan dan sekitar. Singkatnya, ia istimewa dan ini memoar tentang masa remajanya. Inilah album kencana memori semasa sekolah. Dan saking sempurnanya ia, harus ada yang mengusik. Masalah timbul di sini…


Trio siswi nakal suatu hari bolos kelas, Shakia (Alexandra Cruz), Rudy (Juliette Estime), dan Tonya (Taylor Phillips) merokok di toilet. Apesnya, Aisha sedang ke sana. Gegas buang hajat, gegas cuci tangan, gegas cabut. Di lorong ketemu guru, ditanya kenapa bau rokok, ia lantas menunjuk toilet. Ketiganya kena strap, skoring tiga hari, dan dengan konyolnya menyalahkan Aisha sebab mengadu. Tak hanya itu, rokok itu bersumber dari siswa nakal lainnya, dalam loker dibongkar ada barang bukti, ia juga kena skoring. Dari orang-orang tolol inilah, Aisha akhirnya bersentuhan persoalan.
Sepulang sekolah Aisha dicegat, dibully, dan videonya disebar di sosmed.

Membuat down, suatu hari dalam bus ia seolah mendapat surat penggemar, diberi permen, tapi ternyata menciptanya melayang yang membikin pusing di kelas. Puncaknya adalah saat ia berangkat wawancara beasiswa, ini hari krusial, ini hari menentukan, di tengah jalan karena tergesa, ditawari tumpangan mobil sama trio kacrut itu, dan ternyata tak mengarah pada gedung tempat interview, ia diculik. Sungguh menegangkan, seperti di film-film superhero, akankah kini Aisha bakal diselamatkan di menit-menit paling krusial ini? eksekusi di gudang dengan tergesa dan remeh-temeh itu sungguh kocak, bagiku justru menghibur. Ingat ya, ini film dengan bujet biasa. Nikmatilah! Semacam adegan drama cengeng untuk ditonton sendiri. Berapa kali dalam hidupnya ia punya kesempatan wawancara beasiswa? Berapa orang punya kesempatan seperti ini?


Judul aslinya adalah Memoirs of a Snitch. Sebuah sindiran yang dilontarkan para siswi bermasalah, sebab Aisha dianggap snitch (mengadu) padahal jelas ia tak berniat, dan ia terpaksa. Justru karena kebodohan mereka sendiri aja mereka kena masalah. Film tanpa orang dikenal baik cast and crew-nya. Kunikmati dengan santuy, dan nyaman-nyaman saja. Mengalir seolah membaca biografi, benar-benar enak. Secara cerita mungkin biasa saja, permasalahan sederhana siswa di lingkungan yang biasa pula. Secara akting juga terlihat datar, memang untuk sebuah film sederhana. Namun balik lagi, secara hiburan sebagai pecinta buku, aku sungguh menikmati. Terhibur.


Lingkungan itu penting, membentuk jati diri kita. Lingkungan baik akan mencipta nasib baik, begitu pula sebaliknya. Kamu tidak mungkin bisa batuk, tanpa membuat tiga orang lain tertular. Begitu pula saat kamu mengeluarkan secangkir kopi untuk dinikmati, dan jelas orang-orang sekitar akan menikmati pula, minimal baunya yang aduhai. Memoirs of a Black Girl mencoba mengupas pergaulan dan efeknya, wajar dan sungguh normal, dan ini malah keunggulan utama. Kalian harus coba saksikan.


Memoirs of a Black Girl | Year 2021 | USA | Directed by Thato Rantao Mwosa | Screenplay Thato Rantao Mwosa | Cast Khai Tyler, Christian Thomas, Colin Costello, Alexandre Cruz | Skot: 3.5/5


Karawang, 131021 – Melody Gadot – Worrisome Heart

Love Strikes Twice: Aku Menyadari Segalanya tapi Segalanya Agak Terdistorsi, Seperti dalam Mimpi

 “You’re only young once.”

Do-Over. Mengulang lalu mengubah fakta. Mustahil rasanya di dunia linier ini. namun dalam sinema segalanya bisa. Menyenangkan menyaksikan film keluarga dengan keceriaan membuncah seperti ini. Konfliksnya dari dalam, tapi peluang penyelesaiannya dari aura luar dengan dibumbui fantasi dan kenangan. Film tentang perjalanan ke masa lalu dan mengubah apa-apa yang salah, tentu bukan tema baru. Sudah sangat banyak dan umum. Cara kembalinya juga variatif dan kreatif. Mungkin ini lebih mirip Sweet 20, minus lagu-lagu dan materi-nya yang dibalik. Dalam Sweet, orangnya yang jadi muda dan setting tetap di masa sekarang, di Love Strikes Twice orangnya kembali muda, dan memang waktu mencipta mundur ke tahun 1990-an, dengan lagu klasik, HP monoponik, dst. Namun yang tak berubah adalah otaknya, memori dan ilmu dan segala yang sudah didapat di usia 37 tahun itu masih nempel dan melekat sehingga di usia 22 tahun, ia terlihat hebat dan sungguh cerdas. Tema hura-hura bukan? Bisa jadi, tapi di sini sungguh manis sebab tujuan sesungguhnya bukan sekadar cinta, tapi sebuah perpustakaan umum Elmhurst yang disingkirkan, kini coba dipertahankan. Sebuah pilhan pararel untuk menghidupi harapan.

Kisahnya tentang Maggie Turner (Katie Findlay) yang sukses secara finansial dan karier, tapi mengalami kebosanan dan rasa hambar dalam keluarga. Di tempat kerja, bosnya memuji atas kecermelangan penyelesaian tugas, big bos pemilik bahkan kesemsem padanya. Bekerja di kantor bantuan hukum prestise di Chichago, ia sejatinya memenuhi impian masa muda, menjadi pengacara. Suaminya Josh Turner (Wyatt Nash) agak defensive, mungkin bosan. Ayahnya sakit, kakinya keselo sebab jatuh dari tangga. Ibunya terlihat murung. Adiknya jadi IT game, tapi merasa kesepian sebab belum menikah juga. Ada yang kurang, ada yang janggal.

Suatu hari mereka mudik untuk merayakan ulang tahun pernikahan orangtuanya yang ke-10 tahun: Estelle Hartman (Sharon Bajer) dan George Hartman (Alex Poch Goldin), disambut meriah. Ayah – ibunya masih romantis, masih sangat mesra, mencipta rasa iri sebab percintaannya sendiri di tepi bosan. Malam itu bahkan meminya pisah ranjang, ia ingin tidur di tempat tidur masa remajanya, dan jalan-jalan. Melihat suasana kota di malam hari yang sunyi, mendapati air mancur, yang iseng berdoa melempar koin. Jreng jreng jreng… keajaiban terjadi. Ia terbangun di kamarnya, kembali ke masa lalu.

HP jadul, bagaiman model lama, dan kota khas tahun 1990-an. Rambutnya pendek, tapi tetap modis, sederhana. Hubungan asmara dengan Rick Morgan (Marshall Williams) yang kaya raya, sahabat dengan Josh pengelola perpustakaan kota (calon suaminya), mereka sedang berjuang melawan dewan kota yang akan menghancurkan perpus, menggantinya dengan gdeung komersial. Komunitas baca melawan, demo dan menghalangi petugas, mereka ditangkap polisi dan diadili.

Dewan kota diwakili oleh Malcom Baxter (Erik Athavale), ayah pacarnya sementara Maggie tak menyewa pengacara, ia maju dengan pede dan lantang. Yo jelas, di masa depan ia jago debat, juara dah di panggung persidangan, ia bisa mengorganiasi dan ia bisa bernegosiasi. Maka penuntut yang notabene adalah Malcom (calon bosanya di masa depan), jadi saling silang dilema massa. Kita tahu dan yakin Maggie dan komunitas bacanya menang sebab pikiran, cederdasan, kedewasaan itu terbawa ke masa lalu. Maka hal-hal yang salah itu diperbaiki, benar-benar kesempatan kedua. Lantas kalau segala yang di masa lalu sudah keren, akankah di masa kini yang nyata juga turut keren?

Aku tandai bintang utamanya Katie Findlay, di sini cantik sekali. Tampil rambut pendek ataupun digerai menjuntai sebahu tetap menawan. Film-film berikutnya bakal kuikuti. Setelah ku googling, ternyata usianya baru 21 tahun dan CVnya belum banyak, belum pernah main film bisokop, kebanyakan hanya tv seri, dan sesekali main Film-TV seperti ini. nah, kabar baiknya ia menyumbang soundtrack di Zoey’s Extraordinary Playlist, empat seri. Ok, kukejar Kate!

Judulnya bisa berarti pilihan juga, sebab Maggie dilamar oleh orang kaya raya, dan diterima cincin tunangannya, ataukah tetap kembali ke sobatnya, yang di masa depan adalah suaminya. Sulit? Tergantung perpektif. Namun drai acara makan malam sama calon mertua kita bisa ambil kesimpulan dengan tegas. Ini masalah prinsip. Tanpa perlu ketemu atau bicara dengan mereka pun kita sudah bisa benci pada mereka. Orang kaya, dengan uang seolah bisa membeli segalanya. Membujuk Maggie untuk legowo. Di sini jelas Maggie memantabkan diri, oh ini pilihan yang jelas dan ternyata memang tak sulit. Uang hanya materi, kepuasan menggenggam idealism sungguh besar harganya, perjuangan tetap berdiri perpus kota saja terlihat eksotik, dan aduhai. Ucapan calon mertuanya memilin-memilin hatinya. Sulit berpaling sepanjang layar menyaksi ia dengan meyakinkan di persidangan menghajar bosnya, bayangkan. Pirang, muda, cantik, cerdas, anggun. Luar biasa, terlihat sempurna.

Temanya mengulang masa lalu. Premis akrab bagi penggila genre pengelana waktu, tapi tetap menyenangkan dan asyik sekali. Maggie terbangun muda dan menyadari pengulangan, seorang time-traveler. Aku menyadari segalanya tapi segalanya agak terdistorsi, seperti dalam mimpi. Ini semacam obat penawar setelah menyaksikan film Beyond Sixty yang melelahkan, orang-orang tua curhat. Love Strikes jelas penuh kebahagiaan dan kreatif, seru dan meluap-luap. Hal-hal percintaan yang terdengar fantastis, tetapi cukup layak.

Kita dapat menyesali diri karena melakukan tindakan tertentu, memberi komentar tertentu, tetapi kita tidak bisa menyesali perasaan. Tiap pilihan menciptakan mentalitasnya sendiri untuk mengada. Ingatan harus disiram seperti pohon bunga dalam pot, dan untuk menyiram itu dibutuhkan keteguhan hati, dan sahabat sekaligus calon suami sekaligus suami itu dengan gemilang berhasil meyakinkannya. Ingatan tak usang, dan cinta itu menyuburkan. Love Strikes Twice benar-benar meluap-luap penuh konvetti, ceria dan sendu bahagia. Kalian harus coba saksikan. Serius!

Love Strikes Twice | Year 2021 | USA | Directed by Jeff Beesley | Screenplay C. Jay Cox, Neal H. Dobrofsky, Tippi Dobrofsly | Cast Katie Findlay, Wyatt Nash, Marshall Williams | Skor: 4/5

Karawang, 121021 – Al Jarreau – Midnight Sun

Love Strikes Twice diproduksi oleh Cartel Pictures dan bisa disaksikan di Hallmark Channel Homepage

Bad Sister: Bergaya tak Berdaya


Apa yang di Bumi yang Anda maksud?”


Guru sekolah Katolik cabul, menggoda siswa cakep. Menjeratnya adalah kebanggaan. Mengandalkan keseksian dan artis tak terkenal, dengan low budget. Gadis Pirang. Muda. Menggoda. Sekaligus mematikan! Dunia pendidikan, dunia remaja yang hingar bingar itu menjadi cekam ngeri saat pengampu ajarnya adalah maniak. Sudah salah sejak mula, niatnya memang jahat. Persaingan bukan hanya soal nilai akademi, tapi juga soal gaya dan keterikatan. Ini kasus moral, ini gila, ini… yah sekadar hiburan fiksi di akhir pekan.


Kisahnya tentang siswa populer, Jason Brady (Devon Werkheiser) yang diidolai banyak orang, bisa main gitar, memiliki kanal streaming yang mencipta histeris cewek-cewek. Tampan dan pemberani. Wajar ia jadi rebutan, selain kebanggaan keluarga, ia adalah siswa teladan. Adiknya Zoe Brady (Ryan Whitney) juga sekolah di sana, beda kelas tapi sering bersapa ria.


Sekolah asrama agama St. Adeline, sekolah favorit ini suatu hari kedatangan guru baru. Sister Sophia/Laura (Alyshia Ochse) tampak sungguh menggoda. Ia sering mengenakan baju dengan belahan menggoda, memakai lipstick dan bedak mencolok, andai sinema bisa menghasilkan indera bau, pasti minyak wanginya juga menyengat, padahal ini sekolah agama yang mengajarkan tata karma, dengan kerudung dan di banyak sesi doa-doa pada Tuhan bertaburan. Teguran jelas dilontarkan, tapi gelagat tetap muncul. Sudah tampak aneh, di hari pertama saat doa mulai pelajaran, ia hanya menunduk tanpa bisa melafalkan dengan benar. Nantinya kalian akan paham kenapa ia berkelakuan seperti itu.


Ditambah runyam, sesi belajar juga serampangan. Guru-guru lain curiga, apalagi siswanya. Jason yang digandrungi cewek-cewek coba direbutnya, ya ampun! Siswi yang mendekati disingkirkan, tak langsung tapi dengan tata cara tersembunyi, menaruh minuman keras di kamarnya misal. Pesta-pesta di luar sekolah malah semakin liar, dan ia menyusup di sana. Lalu terjadi semacam perumusan suatu misteri.


Separuh awal adalah tentang godaan, film dengan jaualan vulgar mengarah ke seks dan desah seksi dalam kata-kata, separuh kedua malah menjelma horror, atau thriller lebih tepatnya. Karena saat borok Sister Sophia dibuka, penonton yang awalnya turut terombang birahi, langsung memuntahkannya, ia bukanlah guru yang selama ini kita tahu. ia punya misi dan nama lain, ia memiliki alibi. Dunia pendidikan itu sama sekali tak mendidik, memang apa yang bisa diambil hikmahnya dari seorang guru penggoda kepada muridnya yang tamvan? Bergaya tak berdaya, mematutkan diri dalam irama. Menemui hal-hal muskil di dunia. Bisa jadi ini adaptasi bebas novel Freddy S., tapi eksekusi akhir malah bergerak liar.


Tak perlu telaah mendalam, duduk dan nikmatilah. Kusaksikan sekali duduk di Minggu sore dengan perasaan kebas. Memang tak terlalu berharap, jadi teman nonton sambil menyetrika baju kerja yang akan kukenakan hari-hari berikutnya. Bad Sister justru malah menjadi komedi, lucu saja melihat tongkah polah para karakter, keliahat sekali digerakkan skenario. Aku sendiri heran kenapa, bisa klik ini film, tak ada motif apapun. Muncul di paling ujung bawah, dengan poster aneh, mengingatkanku pada film Nun yang mencekam, tapi menatap damba pria tamvan yang takjub. Bisa-bisanya jadi pilihan.


Godaan-godaan itu menyelubung, dan iman perlu diperkuat. Apakah Jason tidak punya nyali? Atau apakah dia menahan diri? Adegan di kamar itu tampak sungguh senonoh, hubungan guru-murid. Jantungnya mulai menggedor-gedor, segalanya begitu tak rapi dan sialan. Mungkin memang jualan utama film ini adalah simpang gelora nafsu remaja, walaupun hanya menyerempet lalu adegan berganti, hal-hal tabu itu sedikit diperlihatkan, tapi tak tuntas. Orang yang paling lemahlah yang harus berteriak paling keras, dan membuat orang lain menderita. Laura tidak.


Bad Sister | Year 2015 | USA | Directed by Doug Campbell | Screenplay Barbara Kymlicka | CastAlyshia Ochse, Devon Werkheiser, Ryan Whitney | Skor: 3/5


Karawang, 081021 – Alexandre Desplat – Ost Little Women

Kata-kata Meluap Seperti Soda Pop

“Suara jangkrik bisa didengar bahkan oleh gadis di balik maskernya.”

Karena judul filmnya sudah eksotis maka aku tak perlu mencari judul ulasan. Words Bubble Up Like Soda Pop atau dikenal juga sebagai Palabras que burbujean como un refresco, keren ya kalimatnya. Filmnya juga, sederhana tapi sangat asyik. Walau mengetengahkan cerita remaja, cinta yang bersemi lalu dirajut sungguh menyenangkan diikuti. Gabungan pria snob dan perempuan narsis. Dunia memang penuh dengan kontradiksi, dan itu malah saling melengkapi. Laiknya aku memilih pasangan, kita bisa dengan mantab bilang, “Aku punya alasan tersendiri waktu memilihmu.”

Kartun Jepang lagi. Saya sedang menikmati film random, asal klik saja. Untuk film ini, cenderung karena puas sama Earwig. Kisah-kisah Asia Timur yang membumi, kali ini tentang remaja beda kelas. Remaja laki snob ke mana-mana memasang headset, membawa buku catatan untuk mencatat inspirasi yang tertangkap tiba-tiba lalu menggores bait-baitnya agar tertangkap lekat. Pasangannya adalah remaja populer, sekali live di sosmed penontonnya membludak. Karena kepopulerannya, penampilan tentu harus dijaga, maka untuk menutup giginya yang maju, ia selalu memakai masker. Keduanya ditemukan takdir.

Dibuka dengan langkah aneh, pria tua membawa bungkus rekaman vynil berjalan ke kebun, tampak kebingungan. Ia mencari sesuatu yang akan diungkap di tengah film. Dibantu remaja kalem, Cherry/Yui Sakura (disurakan oleh Ichikawa Somegoro) untuk kembali ke panti jompo. Cherry mengenakan headset bukan karena sedang mendengarkan musik, perilakunya lebih untuk meredam kebisingan, melawan kearamaian. Sementara itu di tempat lain, Smile/Yuki (Hana Sugisaki) melakukan siaran langsung pakai HP. Hal-hal yang biasa, tapi karena ia populer dengan banyak follower, aksinya di depan kamera HP begitu dinanti. Giginya yang tongos sedang dipermak, dikawat biar rapi, maka ia mengenakan masker. Ia tampak malu dengan ‘kekurangan’-nya itu.

Suatu hari mereka ditemukan takdir di mal, sebuah tabrakan tak sengaja membuat buku catatan Cherry dibawa Smile, begitu juga sebaliknya HP Smile sebagai gantinya. Memang tampak mirip, makanya gerak cepat pertukaran itu bisa berlangsung. Betapa terkejutnya Smile, ketika di rumah menyadari. Ia lantas meminjam HP adiknya untuk menghubungi, meminta balik. Cherry yang di rumah, bersama teman-temannya mengangkat panggilan dan janjian ketemu untuk dikembalikan. Bisa ditangkap adegan sederhana di sini tapi bermakna dalam, makan keluarga jangan main HP. Hormati pasangan, hormati yang memasak, hormati waktu kebersamaan. Hal-hal yang terjadi di dunia maya masih bisa ditunda kok, hadapi keadaan asli saat itu. Kurangi buka HP saat bersama orang lain. Catet!

Sudah tertebak, mereka akrab. Bertukar akun sosmed, bertukar cerita. Status Cherry lebih banyak tentang puisi, atau di Jepang lebih akrab disebut haiku. Memandang senja dari taman, melihat air mengalir, awan beriring yang dihalau angin, sejuknya suasana perkebunan. Dan seterusnya, mereka saling mencinta, tapi dalam diam. Gerak bisa saja ditafsir, tapi kata-kata tertahan.

Cherry ternyata sedang dalam proses pindahan, musim panas ini di tanggal 17 Agustus ia harus pindah. Kerja sementara di panti jompo hanya sukarela, Smile tak tahu karena memang tak diberi tahu. maka saat di hari H pindahan, Smile mengajak menonton festival kembang api, Cherry ragu, tapi tetap mengiyakan. Lihat, hal-hal yang tak jujur atau terbuka, malah membuat runyam keadaan. Apa sulitnya bilang, maaf tak bisa karena harus cabut. Selesai. Oh tidak, Cherry terlalu banyak merenung, terlalu banyak pertimbangan. Maka saat mobil itu tiba-tiba berhenti, lantas ia berlari. Itu bisa jadi adalah salah satu masa terpenting dalam hidupnya. Ia memang harus mengambil resiko.

Di satu sisi mereka memiliki misi mencari rekaman vynil sang kakek yang berangsur pikun. Selidik punya selidik, ternyata rekaman itu adalah milik istrinya bernama Sakura. Ia tak ingin melupakan istrinya yang sudah almarhum, ia ingin mengabadikan momen, ia ingin mendengarkan lagunya sebelum ingatannya tergerus, sebelum ia mati. Sudah sangat langka, susah dicari, di toko rekaman miliknya dibongkar sampai lelah juga ga nemu. Saat akhirnya menyerah, malah dapat. Sayangnya saat akan diputar, sama Smile, kaset malah tak sengaja dipatahkan. Karena dirasa agak melengkung, saat diluruskan malah patah. Huhuhu…

Berhasilkan keinginan sang kakek merasai suara istrinya lagi? berhasilkan cinta dua remaja ini disatukan, karena festival kembang api dan hari kepindahan terjadi di hari yang sama. Well, seperti judulnya, endingnya menghentak dengan ribuan kata membuncah. Bak soda yang meletup histeris, kata-kata itu menjelma bising, terlontar tak terkendali, indah laksana kembang api yang juga sedang gemericik di angkasa.

Aku yakin kalian punya teman dengan gaya keduanya. Seorang yang sok puitis, di mana status sosmed-nya digores penuh makna dan kutipan orang terkenal (baik dicantumkan penulis aslinya atau tidak), atau benar-benar ditulis sendiri setelah mendapat inspirasi saat jiwa kreatifnya sedang meluap-luap. Sah-sah saja, zaman dulu dicatat dulu di kertas, sekarang sudah bisa dihamburkan dalam digital. Aku yakin juga kalian memiliki sahabat populer yang tak bisa lepas HP, sok cantik, sok imut, tiap menit update status, memiliki pengikut melimpah padahal kontennya juga biasa (atau jujur saja, banyak yang jelek), narsis abis, suka joget tiktok, suka pamer tete, suka pamer skincare, suka sekali mengikuti trend. Ya ‘kan, ya ‘kan? Wajar, dunia memang berlari mengikuti perkembangan, tingkah laku manusia otomatis menghambur bersamanya. Hanya bentuk gaya, dan bungkusnya saja yang tampak lebih kreatif. Satu bait saja yang ingin kubagikan di sini, “Bagian ‘membuat awal yang salah’ dalam Cahaya malam musim panas, awal yang salah.” 

Selalu menyenangkan menonton film sederhana disampaikan dengan ciamik. Hembusan kisahnya mengalir lancar, pilihan dialog dibuat dengan nyaman. Adegan ending di festival itu kalau salah proses saja akan jadi lebai, atau salah pemilihan kata yang diluapkan sekencang-kencangnya bila terpeleset bisa jadi roman remaja biasa bak FTV. Namun tidak, endingnya pas sekali saat kita masih terpukau dan hanyut dalam nuansa puitik sehingga aura seninya masih membayang sepanjang detik lagu penutup berkumandang. Memang tepat pemilihan judulnya, di awal meluap dalam tulisan, di akhir meluap dalam gempita jeritan. Bukankah kita semua mendamba adegan romantis dari pasangan yang diguratkan dengan manis, semanis syair?

Words Bubble Up Like Soda Pop | 2020 | Japan | Directed by Kyohei Ishiguro | Screenplay Kyohei Ishiguro, Dai Sato | Cast Ichikawa Somegoro, Hana Sugisaki, Megumi Han, Natsuki Hanae, Yuichiro Umehara, Megumi Nakajima | Skor: 4/5

Karawang, 071021 –Billie Holiday – Stormy 

Words Bubble Up Like Soda Pop bisa dinikmati di Netflix

Adventures of a Mathematician: Menjaga Jalan Berkerikil Tetap Bersih dengan Sapu


You can run all sorts programs on it, not just one.”


Di abad modern ini dunia Barat unggul dalam ilmu-ilmu matematika abstrak dan metafisika. Saat itu Leibniz menyimpulkan bahwa kalkulus memiliki landasan metafisis karena mencerminkan dialektika antara Tuhan dan ketiadaan.


Ini film tentang matematikawan, lebih banyak ke drama daripada hitungan kalkulus, ini film tentang rancang bangun bom, tapi sepanjang film malah tanpa ledakan. Kemarahan yang disajikan paling kencang bahkan hanya pengusiran dari meja meeting sebab beda persepsi rumus, atau saat kemarahan adik kepada kakaknya karena kecewa lebih mementingkan rumus-rumus ketimbang kepedulian keluarga. Sepanjang hampir dua jam kita diajak mengarungi perjalanan hidup ilmuwan dan dosen matematika Havard dengan sangat tenang. Tak ada yang tahu hidup ini pangkalnya di mana, bagaimana, dan kapan. Namun usaha untuk kehidupan layak patut dipejuangankan, demi masa depan anak cucu, termasuk meledakan kota dalam perang?


Setting utama di Perang Dunia II, di Amerika tempat pelarian para jenius Yahudi setelah Jerman mencipta cekam. Stanislaw Ulam (Pholippe Tlokinski) adalah salah satu jenius itu, bersama adiknya Adam Ulam (Mateusz Wieclawek) yang masih sekolah, mereka mencoba menata kehidupan di lingkungan baru. Di tahun 1940-an di mana Nazi sedang gemar menginvasi Negara-negara Eropa sekitar, kita menjadi saksi bagaimana bom nuklir dicipta. Kita dengan takjub menyaksi diskusi panas Ulam dan Oppenheimer, dan von Neumann juga. Telaah nuklir dan konsekuensi, menyelam dalam arena diskusi yang berlarut. Bahkan Ulam diusir karena berpandangan lain, yang sangat bertentangan terhadap kebiasannya, ia lama terdiam seolah-olah ingin menguji dampak kata-katanya.


Secara garis lurus sejarah, kita tahu Manhattan Project menghasilkan dua bom yang diledakkan di Jepang tahun 1945 di bulan Agustus. Nah, separuh awal film kita melihat pertimbangan, kebimbangan, hitungan formula, dan juga nurani para ilmuwan yang menciptanya. Dunia para jenius ini berkutat di situ, dari meja kampus ke laboratorium, dari pesta dansa mendukung para tentara hingga debat hitung partikel, disajikan dengan tenang dan menjanjikan. Kemampuan mereka untuk mengatakan yang benar dari yang salah adalah tetap utuh, mereka tidak pernah menderita ‘krisis nurani’.


Stan menikah dengan Francoise (Esther Garrel), seorang penulis, berkenalan di pesta para akademisi. Drama percintaan dibuat dengan bagus dan halus, tanpa banyak rayuan gombang dan adegan panas, mereka menikah, pindah perumahan, punya anak, bertegur sapa dengan tetangga, serta kehidupan manusia pada umumnya. Harusnya memang film roman dibuat senyaman ini, tak perlu adegan ena-ena panas menggelora hanya untuk menyatakan kasih.


Konfliks utama justru dari dalam, adiknya melanjutkan sekolah ke seberang, berat melepasnya. Sementara kakaknya Stefania yang masih di Polandia berkomunikasi dengan telepon dan telegram, meminta keluarganya untuk gegas pindah, situasi sedang mencekam dalam kecamuk perang. Namun dengan beberapa pertimbangan, tetap bertahan. Keputusan yang mengantar pada penyesalan ini ditampilkan dengan apik, bagaimana seorang matematikawan jenius ini sukses mencipta hitungan bom, tapi gagal menyelamatkan saudaranya sendiri. Stan menangis keluar rumah, tersayat fakta pedih, dan pingsan. Bukankah kita juga sering merasakan pahitnya keputusan salah? Tak serta merta di bangku sekolah cocok diaplikasikan di kehidupan. Dalam pelajaran Pancasila bilang; mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Kepahitan hidup dan segala rona-ronanya melindas apa saja yang ada di depan. Gagasan pasca perang tentang ketidaktaatan terbuka adalah tak lebih dari dongeng.
Sobatnya John von Neumann bahkan nantinya terkena kanker dan ungkapan kenyataan bahwa generasi kita akan digantikan generasi berikutnya, bahkan setengah abad kemudian orang-orang mungkin sudah melupakan kita membuat takut, walaupun disajikan dalam kegetiran, Adventures ditutup dengan manis, kedua sobat ini meyaksi mentari tenggelam di senja hari, tulisan-tulisan epilog muncul.


Perang Dunia II jelas telah membentuk dunia tempat tinggal kita, dan perlombaan senjata nuklir jelas membayang-bayanginya. Ledakan di Jepang secara langsung mencipta Indonesia merdeka, tangan Sekutu mencerabut Hirosima sekaligus membilas proklamasi di Jakarta.
Seperti kebanyakan kisah-kisah nyata, memang tidak lengkap. Ini hanya penggalan dari tahun 40-an sampai 50-an, masa penting sang ilmuwan itu dihabiskan di Amerika, beberapa hanya dimunculkan dalam narasi tulisan.

Diambil dari memoar Ulam, dan nyaris sepanjang film kita hanya tahu kulitnya saja. Rasa depresi yang disaji sepintas, amarahnya yang membuncah hanya sekali, mayoritas kita hanya mengikuti gerak polahnya dengan para sahabat, merumuskan masalah menyajikan senjata untuk memenangkan perang.


Pembukanya di New Meksiko jalan kaki di perbatasan di tengah alam, di akhiri dengan nada yang sama, di tengah alam tempat uji coba senjata menyaksikan matahari tenggelam. Lingkar kehidupan damai memang selalu dengan alam. Memesona, tenang, nyaman. Keruwetan pikiran ilmuwan hanya di meja-meja kampus, di laboratorium, saat kembali ke alam semua dilabur. Hidup di era manapun tak akan pernah mulus. Kita butuh perjuangan, apapun agar menjaga jalan berkerikil tetap bersih dengan sapu. Kisah Stanislaw Ulam memberi gambaran, sehebat apapun kalian, kita akan tergeser dan menjadi sejarah. Mari meninggalkan jejak yang baik buat generasi selanjutnya.


Adventures of the Mathematician | Year 2020 | Polandia | Directed by Thor Klein | Screenplay Thor Klein | Cast Philippe Tlokinski, Esther Garrel, Sam Keeley, Joel Basman, Fabian Kociecki, Ryan Gage | Skor: 3.5/5


Karawang, 051021 – Billie Holiday – Me, My Self, and I

Hello Ghost: Manfaatkan Masa Kini dengan Baik, dan Kau akan Ditempanya

“Apa yang kulakukan sekarang akan menciptakan siapa aku nanti.” Jean-Paul Sartre (1905 – 1980) dalam “Nausea”

Pentingnya menjaga kejutan tak bocor. Film lama yang sungguh nikmat dilahap saat kita tak tahu obsesi apa yang dijalani para tokoh ini, motif yang disimpan rapat sepanjang film dibuka jelang akhir. Segala yang tampak dan diperjuangkan, terlihat masuk akal, walau membantu hantu sendiri tak masuk akal. Hiburan sejati, seolah kita tercerahkan, ada hikmah yang bisa ditangkap saat credit title muncul, cieee…, di mana dukacita lama dipoles dan diubah menjadi harapan. Orang-orang di dimensi lain biasanya dalam film bisa mengamati kegiatan kita, lantas bila karakter utama kita bisa balik mengamati mereka, apakah semenakutkan yang dikira? Oh tidak, mereka orang-orang baik, maksudnya hantu-hantu baik dengan keingina aneh-anah sahaja, tak ada salahnya dipenuhi. Dan apa konsekuensinya? Harapan! Harapan adalah bahan bakar untuk mesin mental kita. Hello Ghost menawarkan air mata pengorbanan yang sangat pantas dipeluk seerat-eratnya, sehangat-hangatnya.

Kisahnya tentang Sang-Man (Tae-hyung Cha) yang gagal bunuh diri. Ia frustasi menjalani hidup, sebatang kara tertekan keadaan. Ada di titik lelah, disintegrasi pribadi. Berbagai cara dilakukan, terbaru, setelah minum banyak obat dan tak jadi mati, ia mengalami sejenis halusinasi. Hati kecilnya terjeblos ke dalam sunyi yang meresahkan. Di rumah sakit melihat hantu, bukan hanya satu tapi empat. Keempatnya meminta tolong padanya untuk melakukan hal-hal yang tak tuntas di masa hidup. Pertama seorang lelaki parlente sopir taksi (Chang-Seok Ko) dengan rambut sigrak pinggir dan hobi merokok. Ia semena-mena duduk di tempat tidur pasien. Ia jorok dan suka mengintip rok para perawat dengan melakukan tiupan hantu sehingga roknya terangkat terayun dikit. Hantu cabul dengan senyum genit nyaris sepanjang film. Hantu ini ternyata cukup arif, untuk menjaga agar kepribadiannya, kehidupannya (di masa lampau), perasaan-perasaannya, dorongan-dorongan keinginannya, tak terkuak langsung. Ia menginginkan kembali taksinya.

Kedua, seorang ibu (Young-nam Jang) yang menangis mulu. Ia hobi masak dan ingin menyediakan masakan keluarga spesial, melewatkan makan malam istimewa. Makhluk Tuhan yang menangis sampai terlelap kini bersiap-siap menguras air mata lagi dan lagi, sementara para tukang teriak pun akan segera kembali bersuara, dialah yang ketiga, seorang anak kecil (Bo-Geun Cheon) yang merengek minta ke bioskop dan makan permen segede ikan, dalam artinya sebenarnya. Terakhir lelaki tua (Moon-su Lee) berharap Sang membantunya menemukan kamera yang belum dikembalikan.

Karena Sang yang memang tak tahu mau ngapain lagi hidup, dan rasanya tak ada salahnya memenuhi harap para hantu gentayangan itu, serta ia ingin gegas terlepas dari kewajiban nyeleneh itu, (dan mungkin agar bisa segera mati tenang) maka satu per satu keinginan itu coba dikabulkan. Mereka ikut tinggal di apartemennya dan mengikuti kegiatan sehari-hari. Pikiran Sang jumpalitan ketika ia mulai diganduli, tapi itu belum seberapa, ia nantinya juga jadi penyampai pesan dari orang mati.

Dalam prosesnya, kita malah mendalami masa lalunya. Menemukan hal-hal umum, betapa hidup masih layak diperjuangkan. Apalagi ia jatuh hati sama perawat Jung Yun-Soo (Kang Ye-won), yang tentu saja memberinya ‘ada sesuatu di masa depan yang diperjuangkan’ seolah berbisik, ayooolaaahhh semangat. Cintanya bersambut, dan misi-misi itu segera dituntaskan. Roman mukanya yang bodoh itu memang tampak meyesatkan, hantu-hantu itu seolah tampak familiar dan mereka say hello, menyapa untuk tujuan mulia.

Lantas saat mendekati akhir, keheningan seakan berdenyut. Kita menemukan sebuah titik di mana mereka yang menghantui tak asing. Sang butuh beberapa detik untuk menyusun kepingan segala informasi itu, lantas saat ia menemukan klik, harus gegas sebelum terlambat. Saat kejutan ini ditampilkan di layar, dalam adegan dramatis berlari sebelum segalanya terlambat, kita malah menemukan hikmah yang pas dari film ini. Sayangilah mereka, orang-orang tercinta yang ada di sekeliling kita sebelum perpisahan ke alam berikutnya terjadi. Sedih ya? Ya, saya sampai menitikan air mata. Lega kan? Jelas. Hal-hal yang tak tuntas kini bisa ditutup kembali dengan rapat. Betapa berharga kesempatan. Betapa dunia fana yang ada batasnya ini begitu sempit, dan bersyukurlah semua orang yang memiliki kesempatan tumbuh dalam kasih sayang orangtua serta sanak famili.

Manfaatkan masa kini dengan baik, dan kau akan ditempanya. Suka sekali sama adegan akhir saat Sang dan Yun-Soo di kursi taman, seolah perjuangan sepanjang film ini dibayar lunas. Suasana taman masih tampak lembayung, dengan rona nada bahagia. Waktu seolah berjalan lambat dan menyebar. Nada-nada musik seakan-akan saling merenggangkan tanpa kehilangan tempo. Tidak semua film happy ending itu malesi, Hello Ghost justru film mencerahkan. Ide hantu-hantu baik yang menolong mengingatkanku pada Sartre tentang keberadaan. Ia pernah bilang, “Apa yang tersisa kalau Anda menyingkirkan warna, ukuran, bentuk, tekstur, dan baunya? Apa yang tersisa ketika Anda menyingkirkan emosi dan perasaan, rekaan dan gagasan fantastis? Ketika semua yang bisa Anda sebutkan hilang dan disingkirkan dari kehidupan, apa yang tersisa?” Sartre menjawab: keberadaan.

Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah. Maka akhir yang indah ini meluap-luap. Melegakan semua orang, keberadaan orang-orang tercinta di manapun berada di dimensi lain sekalipun.

Hello Ghost | Year 2010 | Korea | Directed by Young-Tak Kim | Screenplay Young-Tak Kim | Cast Tae-Hyun Cha, Ye-won Kang, Moon-su Lee, Chang-Seok Ko | Skor: 4.5/5

Karawang, 290921 – Billie Holiday – A Foggy Day

Rekomendasi Lee, Thx.

Raya and the Last Dragon: … dan Mereka Bahagia Selamanya

“Mencintai artinya berbagi kebahagiaan demi kebahagiaan kepada orang yang kita cintai.” GW Von Leibnitz (1646 – 1716)

Film obat tidur, kata Hermione. Kita sudah coba nonton belasan kali dan selalu tertidur, selalu gagal mencapai bahkan separuhnya. Kita ulang lagi dari awal tiap nonton ulang. Paling jauh mentok di adegan Raya berhasil ketemu Sisu. Semalam kita paksakan. Jadi kalau aku yang ngantuk, dia yang bangunin, begitu juga sebaliknya, kalau dia ngantuk, aku yang menyemangatinya buat jaga. Dan benar saja, komitmen dan kolaborasi ini sukses, sebelum ganti hari akhirnya kelar. Hufh, lega. Mungkin penilaian ini kurang fair atau pas sebab ditonton dengan kekuatan lemah mata. Ada ribuan film dibuat setiap tahun yang siap kita tonton, perkiraan setahun kita menonton seratus saja. Namun, belum pernah saya mengakhiri film dengan demikian gemilang. Hahaha… Mungkin Raya memang bukan jenis film nyamanku aja.

Kisahnya di Kumandra, tentang melawan kekuatan jahat Druun. Naga-naga zaman old pada jadi patung, hanya satu naga yang selamat tapi menghilang. Sebuah permata harus dijaga agar Druun tak bangkit. Beberapa klan sekitar Kumandra berkumpul, tapi terjadi peperangan perebutan permata. Raya dan ayahnya Chief Benga, akhirnya gagal mempertahankannya sebab klan-klan saling berebut. Druun merajalela, menerjang banyak makhluk dan mencipta patung di mana-mana. Termasuk sang ayah yang melakukan pengorbanan. Raya kini sendiri.

Enam tahun kemudian, Raya dan Tuk Tuk (binatang lucu yang bisa berjalan bak roda) yang kini juga sudah besar menjelajah gurun. Namaari, putri Chief Virana yang dulu berhianat mencoba mencegah, permusuhan lama muncul. Nah dalam adegan dramatis, Raya berhasil membangkitkan naga terakhir Sisu. Mereka lantas kabur, dibantu kapten Boun dalam kapal. Mereka melanjutkan mencari permata-permata lain.

Singkat cerita, permata dan para pemiliknya berhasil berkumpul. Druun mengancam dengan ganasnya, mereka masing-masing menjaga jarak dan ego untuk menyelamatkan diri. Kalau ego dan kepentingan pribadi diapungkan, mereka takkan berhasil menyatukan. Hanya kepercayaan dan pengorbanan yang mungkin bisa menyelamatkan segalanya.

Raya mengajukan diri, ia rela menyerahkan permata itu di tangan Namaari, seterunya. Lalu ia mematung. Yang lain juga dalam kebimbangan, dan kekalutan. Demi kelangsungan hidup warga dan naga-naga yang hilang, demi kebersamaan, demi segala yang hidup dan masa lalu terang. Satu per satu menyerahkan permata ke Namaari, satu per satu pula mematung disambit Druun. Namaari memiliki tanggung jawab besar, taka da jalan kembali. Dan saat semua permata bersatu, para pemiliknya jadi patung semua. Beberapa detik yang menegangkan, sebab permata bersatu itu tak bergeming. Berhasilkah?

Ini film Disney, di mana ketegangan hanya selingan. Kekhawatiran sekadar lintas masa sesaat, ketakutan bahkan tak berarti. Meyakini happy ending adalah niscaya, menjadikan segalanya baik-baik saja adalah tradisi mereka, apa yang sudah dibuka dalam gegap gempita diakhiri dengan taburan konveti meriah bak 17 Agustus. Merayakan tempat yang tenang dan damai, dunia Disney adalah dunia impian.

Secara cerita jelas ini biasa, ini film anak-anak. Film dengan cerita ringan. Tak perlu kerut kening, rebahan, nikmatilah. Masih untung berhasil tuntas. Karena Hermione habis nonton Earwig, jelas Raya kalah kelas.

Naganya lucu, kurus, imut, dan taka da seram-seramnya. Di sini jadi karakter baik, jadi jangan berharap ada semburan api. Naganya gemerlap, tampak aneh sebab lincah sekali seolah beban badannya yang panjang berliku tak jadi masalah. Benar-benar film untuk fun. Saya malah tertarik sama monster tak kasat mata, Druun yang menghantui warga. Ibarat hantu yang mengancam manusia, bisa muncul setiap saat. Kalau yang tersentuh Druum menjadi patung, manusia yang tergosa setan akan terjerumus dosa. Pengembaraan kehidupan kan sejenis itu. Sentuhan jadi patung juga secara otomatis mengingatkanku pada Penyihir Putih di Narnia pertama, di mana untuk berkuasa, dia mengubah para seteru menjadi arca. Dan walau pada akhirnya kembali hidup (sama dengan di Raya), waktu-waktu terdiam itu seolah abadi. Kita tak bergerak, sementara dunia berjalan terus. Kita adalah titik diam, waktu berputar tak mengenal ampun. Ibarat usia kita saat terpatung 30 tahun, lantas enam tahun kemudian kembali hidup, apakah dihitung umur 36 tahun secara aktual, atau menjadi 31 sebab terbeku selama itu?

Tema memercayai teman juga disuguhkan, terutama eksekusi kunci. Saat semuanya mencoba menyelamatkan diri masing-masing, Raya memulai dengan pasrah dan yakin bahwa musuhnya bisa dipercaya dengan menyerahkan pertama itu. Pengorbanan untuk misi utama yang lebih mulia. Dalam hidup bisa saja seperti itu, justru jalan keluar terbaik adalah menjerumuskan diri dalam hal-hal yang dibenci. Menyatu sama musuh-musuh, atau orang-orang di luar lingkaran. Yang biasanya ngumpul sama teman sehobi, kini malah keluar dari zona nyaman demi hal-hal baru yang perlu dijelajahi. Selamat datang di semesta raya.

Raya and The Last Dragon | Year 2021 | USA | Directed by Don Hall, Carlos Lopez Estrada | Screenplay Qui Nguyen, Adele Lim | Cast (Voices) Kelly Marie Tran, Awkwafina, Gemma Chan | Skor: 3.5/5

Karawang, 280921 – Nassar – Seperti Mati Lampu

The Autopsy of Jane Doe: Aku Tidak Percaya Hantu, tapi Aku Takut Padanya

Tommy: “Jadi kalau kamu dengar bunyi ‘ting’ (di kaki), maka dia masih hidup.”

Aku tidak percaya hantu, tapi aku takut padanya. Dunia gaib berserta arwah gentayangan menghantui keluarga petugas otopsi. Ayah, anak, dan pacar anaknya dilingkupi horror, mencekam. Hal-hal mistis terjadi saat otopsi mayat istimewa, keganjilan bagaimana dibalik kulit mayat ada simbol sebuah sekte sihir dari masa lampau mendirikan bulu roma. Langkah antisipasi diambil, tapi segalanya berantakan.

Kisahnya dibuka dengan mendebarkan, sesosok mayat ditemukan ditimbun dalam lantai basemen rumah tua. Mayat masih utuh dan tampak baru walau sekelilingnya lusuh. Pihak kepolisian mengirimnya ke rumah keluarga Tilden untuk diotopsi.

Tommy (Brian Cox) dan anaknya Austin (Emile Hirsch) sebenarnya baru saja selesai tugas, tapi karena sobat polisi Sherif Burke (Michael McElhatton) meminta hasilnya esok pagi harus ada, mereka lembur. Sementara acara kencan nonton bioskop sama Emma (Ophelia Lovibond), pacar Austin diminta pulang lagi dan balik jemput nanti. Well, kengerian dimulai dari sini.

Mayat itu diberi identitas Jane Doe (Olwen Catherine Kelly), semua prosedur otopsi dilakukan. Kamera nyala, rekaman jalan, pembedahan dimulai dari pengecekan fisik luar lalu kepala dibuka. Turun ke tubuh, hingga tuntas di anggota kaki. Semua memang tampak janggal. Mayat yang sudah dikubur puluhan atau ratusan tahun ini masih utuh, darah segar muncul. Ngeri, seolah baru kemarin malaikat maut menjemput.

Makin mengerikan, mereka menemukan simbol di balik kulitnya. Simbol sihir dari masa lampau. Ini jelas bencana, teror digalakkan. Lampu mati, badai menerjang, pohon rubuh menimpa atap, pintu terkunci sendiri, bayangan hitam menyelingkupi, kabut sesaat menari, hingga terdengar suara asing meritih. Kita semua menyaksi efek bedah jenasah. Sebuah lonceng yang dipasang di ujung jari kaki sejatinya untuk memastikan tubuh ini sudah jadi mayat, maka saat pisau bedah menyentuh kulit, akan ada urat syaraf yang tertarik, menyalurkan energi itu untuk memberi tahu para petugas bahwa jiwanya masih ada.

Maka saat anak-bapak ini mencoba kabur dan sembunyi di kamar lain, dan muncul asap disertai bunyi lonceng yang bergerak, tahulah, mereka benar-benar menemukan mayat penyihir yang mengancam. Dengan celah yang terbuka, Tommy menghantamkan golok. Fatal!

Tommy yang frustasi bahkan meminta anaknya untuk langsung menembaknya bila ia nanti kesakitan dalam sekarat, ia lebih baik mati draipada menderita. Maka saat kembali ke ruang otopsi, dan tragedi berikutnya muncul, keberanian Austin diuji. Tak sampai di situ saja, saat ia mendengar langit-langit berderak dan mengira bantuan datang, adegan itu malah menjadi bencana berikutnya sekaligus penutup. Keapesan keluarga berurusan dengan mayat yang salah.

Olwen Catherine Kelly hanya berakting tidur sejak mula, dan saat layar ditutup ia tak ada dialog. Mayat memerankan karakter penting yang menghantui, ia memberi makna kalau lagi apes, masalah memang kadang mendatangi.

Genre horror memang ada di ujung daftarku, tapi dari beberapa referensi menganjurkan menikmati. Sesuai saran, kumatikan lampu, ditutup pintu dan jendela, kusaksikan tengah malam. Ditambah saat itu hujan. Aroma mistis coba dipanggungkan, mencipta suasana cekam. Memang mengerikan, walau temanya teror dari Dunia Lain, sejatinya plotnya masih bisa diterima.

Banyak cara untuk menakuti penonton. Para hantu adalah makhluk abadi sejati, di mana yang mati ‘dihidupkan’ sepanjang masa. Hantu-hantu memiliki vitalitas yang lebih besar pada masa kini daripada sebelumnya. Semakin hari semakin banyak, semakin variatif bentuknya. Para hantu yang menyatroni sinema, dan akan selalu seperti itu. Seolah para hantu tak pernah habis atau mati. Jane Doe, mungkin bukan hantu sebab ia tak menampakkan diri dalam samar. Kedokteran medis merupakan suatu ilmu terapan yang empiris. Ia bahkan benda padat yang dioprek tubuhnya, ia tak melakukan panampakan yang mengagetkan. Ia sekadar badan mati yang rebahan. Jenis horror yang tampak lain kan? Itulah, hantu-hantu modernitas. Setting di ruang otopsi, aura takut menguar dengan kuat. Hantu-hantu masa kini memiliki ketertarikan aktif bukan hanya dalam masalah publik, tapi juga seni.

Semakin manusia mengenal hukum alam, semakin tekun manusia mencari tahu masalah supranatural. Bisa saja mengklaim tak percaya takhayul, tapi tak benar-benar meninggalkannya. Sekalipun telah meninggalkan dunia sihir dan alkimia, manusia akan selalu masih memiliki waktu yang melimpah dalam penelitian yang bersifat psikis. Mereka telah mencampurkan horror dengan realitas.

Kehidupan memiliki geometri rahasia yang tidak dapat diolah oleh akal sehat.

The Autopsy of Jane Doe | Year 2016 | England | Directed by Andre Ovredal | Screenplay Ian Goldberg, Richard Naing | Cast Brian Cox, Emile Hirsch, Ophelia Lovibond, Olwen Catherine Kelly | Skor: 4/5

Karawang, 220921

Rekomendasi Lee dan Handa, Thx.

I and the Stupid Boy: Seorang yang Pikirannya Semrawut akan Melakukan Tindakan Secara Semrawut Pula

“Dalam hidup ini kita tidak akan berhasil, kalau kita tidak berani mengambil risiko.” Agatha Christie dalam Nemesis

Peradaban manusia sangat berutang pada ilmu dan teknologi. Teknologi selalu bermata dua, tajam menyayat kepedihan dan fungsi guna kemajuan. Di tangan para remaja bermasalah, yang mengedepankan penasaran dan pertalian sahabat, bisa memicu pornografi. Lihat saja, iklan aplikasi temu syahwat yang bersliweran di beranda sosmed, rerata menawarkan kemudahan kopi darat untuk mencari pasangan. Bisa dipilah apa saja bersadarkan kriteria, dari sekadar hobi, jual beli, pengembangan pergaulan, hingga cari pasangan. Namun sisi negatifnya, tersebab hati orang tak ada yang tahu, orang jahat juga bertebaran. I and The Stupid Boy menawarkan plot sejenis itu, efek buruk gadget yang dengan mudahnya pornografi tersaji. Apalagi kamu bersahabat dengan pemuda IQ jongkok. Waspadalah!

Kisahnya tentang Nora (Oulaya Amamra) siap kopi darat, ia berdandan, ia memiliki agenda bersama seorang pemuda yang tampak ideal. Ia mengirim banyak gambar ke orang asing, yang sayangnya beberapa menampakkan dirinya berpakaian minim atau bahkan bugil, kita tak tahu karena hanya mengetahuinya dari dialog. Setelah tampak rapi dan modis ia berangkat.

Di tengah jalan ketemu sahabatnya, mantan kekasih Kevin (Kaouther Ben Hania) yang menggoda. Berkomunikasi berbasa basi, lantas kepo sejatinya ketemu siapa sih? Saat ia membuka handphone-nya, apes Kevin langsung menyambar. Sambil petak umpet, kejar sana-sini, teriak meminta balik, dan jangan buka file ini itu, Kevin menemukan foto-foto yang di-sher. Ia tampak cemburu, kesal, sekaligus memanfaatkan moment. File-file itu diteruskan ke handphone-nya.

Ia memasuki gedung kosong, gelap, dan tampak menakutkan. Tak ada jalan lain, Nora harus meminta balik handphone tersebut. Banyak hal-hal pribadi dan sensitif. Semakin ke sini semakin mengesalkan tingkah sang lelaki, lantas karena sabarnya habis dan ia memiliki kesempatan menghajarnya. Ia terpaksa melakukan.

Kukira ia tewas, tapi hanya pingsan. HP-nya diambil balik, lantas Kevin difoto dalam keadaan berdarah dan limbung, kali ini sekaligus balas dendam, menggunakan HP pelaku, sembari diancam disebarkan ke semua kontak, Nora meminta Kevin meminta maaf. Ancaman itu tak digubris, dan saat klik dilakukan kehebohanlah yang terjadi. Baik kehebohan dari para penerima file maupun di gedung itu. Lihat, satu klik menimbulkan gema panjang mengerikan. Kalau sudah terjadi dan kacau, lantas apa yang kita banggakan?

Seorang yang pikirannya semrawut akan melakukan tindakan secara semrawut pula. Memang lebih baik jadi ‘penakut’ dalam arti berhati-hati daripada terlalu berani lalu lengah. Ada pepatah yang berbunyi ‘banyak lalat tertangkap dengan madu, daripada dengan asam.’ Kenyataannya banyak yang terperangkap dalam nafsu justru dengan madu ‘kan. Orang-orang asing di luar sana banyak yang bermental tempe, memanfaatkan situasi dan teknologi untuk kepentingan pribadi. Nafsu dikedepankan, logika disembunyikan, nurani hitam. Walaupun ini bukan hal baru, tapi teknologi digital telah menjadi ladang maksiat yang subur.

Pada umumnya pertumbuhan jasmani wanita lebih cepat daripada pria. Dan pertumbuhan ini tidak selalu disertai dengan kematangan pikiran. Kematangan pikiran akan tumbuh belakangan dan biasanya dipengaruhi oleh pendidikan, pergaulan, dan sebagainya. Wanita, secara naluriah akan memilih lelaki yang tahan uji, tekun, dan sabar. Maka masa remaja menuju dewasa menjadi sungguh krusial. I and the Stupid Boy menawarkan plot yang kurang lebih seperti itu. Lingkungan dan pergaulan yang baik akan membentuk karakter yang baik.

Seperti kata Voltaire, “Pemikiran seperti jenggot. Tidak tumbuh sebelum dewasa.”

I and The Stupid Boy | Year 2021 | Italy | Short Film 14m | Directed by Kaouther Ben Hania | Screenplay Kaouther Ben Hania | Cast Oulaya Amamra, Sandor Funtek | Skor: 3/5

Karawang, 220921 – Michael Fanks – The Camera Never Lies

Film ini diproduksi oleh Miu Miu, dan bisa dinikmati di Youtube

One Day: Peristiwa yang Telah Dinanti-nantikan dan Dimatangkan oleh Waktu Kini jadi Sebuah Takdir

“Beritahu aku, Sherina, apakah kau pernah punya seorang loyalis kasih sefantastis aku?”LBP

Maka, aku membuka mulutku dan meniup terompetku. Nadanya syahdu dan menelisik telinga, membuat Sherina terpental di dunia pararel hilang kesadaran, lantas ia membalas cintaku. Keberuntungan tak akan bertahan selamanya. Bagaimana kalau kamu dikasih kesempatan sehari untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasih yang sejatinya jauh diluar jangkauan? Bagaimana rasanya menikmati masa-masa itu, impian liar yang terpendam diwujudkan dalam waktu 24 jam. Katakanlah, Sherina hilang ingatan, dan hilang kewarasan sehingga mencintaiku untuk waktu tertentu. Lantas saat ia balik ingatan dan juga warasnya, segalanya normal lagi sehingga ia kembali ke suaminya. Namun jelas sehari itu akan sangat amat special. Patut diperhitungkan, dunia fantasi percintaan akan selalu laku diolah. Latarnya saja digubah, proses mencintanya disetting, manusianya yang kreatif. One Day memang menawarkan kisah picisan, tapi tetap saja nikmat untuk diikuti, apalagi tokohnya yang culun yang lantas diwujudkan impiannya. Kita diberi kesempatan menyaksi orang aneh ini bahagia, walau sesaat.

Denchai (Chantavit Dhanasevi), seorang IT yang culun abis. Ia memang bagus dalam kinerja kerja, tapi sosialnya terbelenggu. Freak menghadapi rekan-rekan, apalagi cewek, apalagi cewek cantik yang diam-diam ia kagumi. Adalah Nui (Nittha Jirayungyurn) pusat segala cinta di kantor itu. Ia adalah semesta damba, yang dicintai di balik punggung. Sang IT mengistimewakannya, membantu ekstra bukan hanya masalah informasi teknologi, tapi juga dukungan segalanya yang bisa dikeranhkan. Lagu-lagu jadul ia masukkan winamp, sebagai playlist menemai orang terkasih. Ia hapal kebiasaan selama di kantor, ia bahkan tahu ada tanda lahir di tubuhnya. Pengagum luar biasa obsesif.

Sayangnya, Nui adalah kekasih gelap sang bos. Menjadi wanita simpanan, menjadi Sephia-nya. Ia mau dimadu, dijanjikan dinikahi suatu hari kelak. Perselingkuhan itu pahit baginya, tapi tetap saja dijalani. Cantik sih tapi pelakor.

Suatu hari mereka melakukan rekreasi kantor ke Jepang, di sebuah pegunungan Hokkaido yang merupakan tempat libur impian Nui sebab di sana ada festival tahunan, yang fotonya dipajang di atas meja kerja. Ia menanti hari itu dengan antusias. Sayangnya hari itu tak berjalan mulus. Bosnya memilih bersama istrinya, dan ia tak mungkin menceraikan istrinya sebab sedang mengandung. Hatinya luluh, pikirannya lantak. Rasanya langit runtuh. Ia berniat bunuh diri.

Untung ada si freak yang memerhatikan, mengikuti perjalanan di tengah salju, menolongnya di dinginnya badai. Nui, menurut diagnose dokter mengalami sakit hilang ingatan selama sehari. Ia akan pulih otomatis saat mentari esok muncul. Maka saat terbangun dan Denchai adalah manusia pertama yang dilihat, ia memodifikasi fakta. Mengaku pacarnya, mengaku kekasih istimewa. Nui seolah tak percaya, ia menelpon ibunya, karena nama bosnya yang disodorkan Denchai, segala semesta mendukung drama sandiwara ini. Ia mengangguk, tetapi ekspresi keraguan di wajahnya tidak menghilang. Peristiwa yang telah dinanti-nantikan dan dimatangkan oleh waktu kini jadi sebuah takdir. Hello polisi, ada seorang IT meniru pacarnya Nui untuk mencuri momen! Keraguan menjadi bahan bakar pengembaraan.

Luar biasanya, Nui hanya diberi waktu beberapa jam dan sukses benar-benar jatuh hati. Dan sang pejantan jadi tangguh benaran. Cinta tak berkurang karena rekayasa dan tak bertambah karena luluhnya kekasih. Cinta yang Nui alami bukanlah hasil usaha tangan manusia, melainkan diciptakan oleh aktifitas Tuhan.

Endingnya memikat, kalian yang benar-benar mencinta pasti akan melakukan pengorbanan yang sama. Kebahagiaan orang terkasih ada di posisi tertinggi, yang mulia cinta, aku menghamba. Tertanda IT culun. Sebagaimana kalian para pujangga, seorang IT juga selalu lebih senang bergaul dengan benda-benda mati daripada makhluk hidup.

Denchai adalah seorang loyalis sejati pada cinta dan kenangan. Itu terlalu melankolis, terlalu culun untuk laki-laki, tentu saja tak baik. Budak cinta tak harus seaneh itu. Konsep-konsep tentang mencintai seperti itu tidak dapat dijejalkan ke dalam telinga-telinga orang normal. Malah bikin muak bahkan marah. Perilaku damba sejenis itu adalah maklumat sahaya. Bro, kamu tuh lelaki! Cinta dikambinghitamkan sebagai sumber inspirasi.

Akhir yang pantas untuk keduanya. Tentu saja mereka tidak bersulang untuk sebuah perpisahan. Namun aku memberi tepuk tangan meriah untuk keberanian mengambil keputusan pergi. Selamat Boy, kamu lolos.

One Day | 2016 | Thailand | Directed by Banjong Pisanthanakun | Screenplay Banjong Pisanthanakun, Chantavit Dhanasevi, Nontra Kumwong | Cast |Chantavit Dhanasevi, Nittha Jieayungyurn, Theerapat Sajakul  Skor: 4/5

Karawang, 210921 – Billie Holiday – Fine and Mellow

Recommended by Lee, Thx.