Black Or White: A Doll Boring Movie

Elliot Anderson: I couldn’t have been a worse witness if I tried

Ketika kita memutuskan untuk menikmati sebuah karya, apa sajakah pertimbangannya? Ada yang karena sutradara. “Pokoknya kalau yang bikin Nolan saya pasti nonton di bioskop, wajib IMAX 3D.” Saya pernah mendengar teman berkomentar seperti itu. Ada yang karena genre-nya. “Setiap tengah tahun saya akan semakin rutin nonton ke bioskop, karena saat itu film action bertebaran.” Ada yang karena adaptasi buku yang sudah dibaca. “Wah novel Breaking Dawn romantis sekali, jadi penasaran sama filmnya.” Ada juga yang berdasarkan aktornya, “Oh ganteng banget sih Brad Pitt, jadi pengen nonton Fury.” Nah, macam-macam alasan seseorang sampai mau meluangkan waktu buat duduk manis nonton layar. Untuk kasus Hitam Atau Putih, saya menggunakan alasan yang terakhir. Film ini dibintangi Kevin Costner, bintang besar yang kini lebih sering bermain drama. Yaiyalah, udah tua. Ga mungkin kan dia berkuda lagi jadi koboi, encoknya kambuh ntar. Layak disimak aktor yang pernah memerankan Robin Hood dan Lieutenant Dunbar ini.

Tanpa mengetahui review dan betapa bagus atau buruknya, saya menonton Black Or White tanpa ekspektasi. Film dibuka dengan kabar pilu, Elliot Anderson (Kevin Costner) baru saja ditinggal mati istrinya, Carol (Jennifer Ehle) karena kecelakaan. Tabrakannya sendiri tak ditampilkan, hanya efeknya yang disuguhkan. Sepeninggal Carol, Elliot kini harus mengasuh cucunya yang berkulit hitam, Eloise Anderson (Jillian Estell). Anak dari putrinya yang meninggal sejak lahir. Dari bangun tidur, menyisir rambutnya yang kribo, mengantar sekolah sampai belajar. Kewalahan, Elliot menyewa pengajar sekaligus sopir pribadi, yang juga berkulit hitam Duvan Araga (Mpho Koaho). Semakin ke sini semakin rumit, apalagi dirinya alkoholik. Segala masalah diakhiri dengan minum minuman keras. Cara mengasuhnya ditampilkan dengan aneh, masak orang secerdas Elliot bisa dengan buruknya menerima nasehat guru privat cucunya untuk mengurangi nonton tv atau main game.

Konflik baru digulirkan ketika bibi dari ayahnya meminta hak asuh. Rowena Jeffers (Octavia Spencer) merasa berhak mengasuh keponakannya, apalagi sepeninggal Carol dikhawatirkan dia tak terawat. Elliot bergeming, dirinya berniat mengasuh dengan cinta. Lalu muncullah ayah kandung Eloise, Reggie Davis (Andre Holland) yang begitu menyebalkan. Janji sesekali main untuk menengok anaknya untuk sekedar makan malam, eh ga datang. Kerjanya minta duit dan nge-drug. Kisah ini akhirnya di bawa ke pangadilan untuk menentukan ke mana Eloise akan berlabuh. Apakah berlanjut ataukah berpindah tangan. Sangat sederhana bukan? Namun setiap ngomongin anak-anak, apalagi sampai menyinggung perbedaan warna kulit, hal itu jelas tak jadi sederhana. Karena akan ada banyak hal yang diungkap. Seberapa berani film ini ‘memerangi’ rasis?

Well, Film yang biasa. Kalau tak mau dibilang mengecewakan. Satu-satunya adegan menarik terjadi saat adu argumen di pengadilan. Saling singgung warna, saling serang kekurangan. Namun itu bukan hal baru, perang kata-kata di pengadilan sudah banyak ditampilkan dan jauh lebih berkelas (rekomendasi dariku: The Judge). Jelas Black Or White tak ada apa-apanya. Kevin Costner tampil bagus, dan hanya dia yang menonjol. Mungkin karena dia produser-nya sehingga punya hak istimewa. Berdasarkan kisah nyata, apa yang ditampilkan tak semenarik yang dibayangkan. Akting yang buruk dari banyak cast terutama sekali Jillian Estell. Sebagai pusat cerita dirinya kaku, bermain film tanpa ekspresi, duh! Plot hole dimana-mana sehingga mudah ditebak, saat Elliot mendatangi perumahan warga kulit hitam untuk menyatakan hak-nya saya sudah bisa memprediksi bakalan menang apa kalah nantinya. Drama yang kurang dramatis, sekali tonton dan lupakan.

Black Or White | Director Mike Binder | Screenplay Mike Binder | Cast Kevin Costner, Octavia Spencer, Jillian Estell | Skor: 2/5

Karawang, 081015

Mission: Impossible – Rogue Nation Is Very Entertaining

Ethan Hunt: The Syndicate is real. A rogue nation, trained to do what we do.

Mungkin ini bukan seri terbaik Mission: Impossible (MI), tapi ini adalah film MI terseru yang pernah dibuat, yang paling koya, yang paling mendebarkan dan film MI paling impossible. Seperti kata Ethan: desperate time, desperate measure. Kecuali teknologinya, apa yang ditampilkan memang tak banyak yang baru karena segalanya sudah terstruktur dan kehancuran yang masive sudah pernah ada. Ekspektasi yang biasa menghasilkan sesuatu yang istimewa. Rogue Nation jelas membuatku terkesan.

Saya tak terkejut ketika Ethan selalu selamat. Ketika dia menyelam dalam kubangan air penuh mesin pengaman di Maroko yang mustahil itu, saat dia akhirnya kehabisan oksigen untuk waktu 3 menit yang dipersiapkan, saya tak kaget dan sudah menyangka dia akan kembali bernafas. Selalu ada jalan untuk melanjutkan detak jantung sang agen. Saya juga tak takut ketika di adegan pembuka, Benji salah buka pintu pesawat terbang saat Hunt bergelantungan di badan pesawat yang sedang take off. Kita sudah melihatnya pamer gaya otot dengan melayang-layang di gedung tertinggi. Bukan hal baru juga saat melihat tipu-tipu curi file. Masih segar diingatan di seri pertama saat file tersimpan di cd lalu trik untuk memperebutkan informasi. Kini file itu hanya diganti dengan flash disk yang dengan menawan bisa cut-paste melalui HP yang hanya dihalangi koran. Saya pernah melihat Hunt ‘mati’ di Australia ditembak jarak dekat tepat di perutnya yang begitu dramatisnya diungkap. Topeng dibuka dan yah, Hunt terlihat untouchable. Hal itu ditampilkan lagi di Rogue dan kita masih saja tepuk tangan menontonnya.

Kekurangan utama film ini mungkin adalah tak adanya karakter penting mati. Untuk jadi film istimewa kita harus berani membunuh pemain utama, atau setidaknya sidekick utama. Oke, kalau sang sekretaris kalian anggap karakter penting dan langsung dilenyapkan di awal saya kurang setuju. Sektetaris tidak memainkan peran jungkir-balik bersama Ethan, so let her die.

Rogue Nation bercerita tentang pembubar IMF karena aksinya illegal. Kini misi agen Amerika itu dibawah komando baru CIA, Alan Hurley (Alec Baldwin). Ethan Hunt (Tom Cruise) ditangkap dan akan dieksekusi oleh sekelompok pembelot dari Inggris. Saat hukuman akan dilakukan muncullah karakter baru, Ilsa Faust (Rebecca Ferguson) yang menyelamatkannya. Ilsa memainkan peran vital di seri ini. Penampilannya memukau, mungkin justru dialah bintang utama kali ini. Melihatnya selalu membuat kita menebak, ke pihak mana dirinya berlabuh. Pelarian itu membuat pemburuan CIA terus berlanjut, dan itensitasnya ditingkatkan. Ethan, tangkap dalam keadaan hidup atau mati. Dalam persembunyian, Hunt melacak sang aktor Syndicate, melalui sketsa wajah dirinya dibantu Benji (Simon Pegg) akhirnya tahu dalangnya. Adalah eks agen rahasia Inggris yang berhianat, Solomon Lane (Sean Harris) yang mengincar data top secret sang Perdana Menteri. Data yang disimpan rapat di Maroko tersebut dilengkapi dengan keamanan tingkat tinggi. Bersama William Brandt (Jeremy Renner) dan Luther Stickell (Ving Rhames) mereka berusaha mencuri file tersebut. Aksi curi data yang memukau, misi paling sulit yang pernah Hunt hadapi. Karena setelah itu mereka harus menculik PM Inggris guna membuka kode inskripsi-nya. Berhasilkah?

Penampilan Tom Cruise selalu seru, semakin tua semakin nekat aksi laganya semakin menggila. Sebuah jaminan mutu, sangat menghibur. Simon Pegg tetap kocak, pas sekali memainkan peran sidekick. Sean Harris sebagai antagonis utama sungguh bagus, tatapan jahat yang menawan sampai twist yang menyenangkan melihat dia tak berkutik. Ending Rogue Nation pastinya membuat senang penyuka aksi adu cerdik. Dan ini adalah panggung Rebecca Ferguson, pemilihan cast terbaik. Sungguh menghibur melihat Ferguson beraksi. Bravo bravo bravo, cantik mematikan. Dan satu lagi keseruan film ini, teknologi didorong sejauh mungkin ke masa depan membuat kita bilang, “wow”. Mobil dikunci dengan scan telapak tangan, undangan opera dibuka jadi notebook, security tingkat tinggi yang bisa memindai gerak langkah? Mungkin pengamanan di bawah air itu berlebihan, namun tak menutup kemungkinan akan digunakan di masa depan. Teknologi secanggih itu nantinya bukanlah suatu misi yang mustahil untuk diwujudkan. Film yang menghibur, sangat menghibur.

Well, Mission Impossible: Rogue Nation is without a doubt one of the most exciting films I’ve had the pleasure of experiencing this year. It completely took me by surprise with how well-done it was, and should just about take anyone else to the same conclusion.

Mission: Impossible – Rogue Nation | Directed Christopher McQuarrie | Screenplay Christopher McQuarrie | Cast Tom Cruise, Rebecca Ferguson, Jeremy Renner, Simon Pegg, Ving Rhames, Sean Harris, Alec Baldwin | Skor: 4/5

Karawang, 071015

Focus: A Fun Way To Focus

Nicky: There’s two kinds of people in this world. There’s hammers and there’s nails. You decide which one you want to be.

Wah ternyata bagus. Tanpa tahu ini film tentang apa, saya tertarik menontonnya karena dibintangi oleh Will Smith dan Margot Robbie. Seperti yang saya bilang sebelumnya untuk jadi film bagus di era sekarang ini, penonton harus dibuat terpukau sejak menit awal. Fokus memberikan rasa penasaran bahkan sebelum saya duduk menonton dalam posisi nyaman. Film tentang tukang tipu emang selalu menarik.

Nicky (Will Smith) menelpon sebuah restoran elit melalui telpon hotel untuk memesan meja makan malam, dijawab mejanya penuh dan harus booking sehari sebelumnya. Lalu dia menelpon menggunakan HP. Dan adegan berikutnya Nicky duduk santai makan malam. Dan muncullah Jess (Margot Robbie) mengajaknya berkencan. Saat di kamar, muncullah lelaki yang mengaku suaminya dan mengancam Nicky karena menyelingkuhi istrinya. Dengan enteng, Nick menampiknya. Dia tahu ini trik dan tipuannya dengan mudah diketahuinya. Kagum akan pengetahuan Nick masalah kejahatan, Jess lalu bergabung dengan genk Nicky.

Dimulailah pelatihan kejahatan dari kelas jalanan dampai kelas elite. Dari mencopet yang terorganisasi sampai menipu bos-bos kalangan atas. Awalnya mereka profesional, atas dasar pekerjaan dan uang namun perlahan dan pasti ada rasa di antara mereka. Puncaknya dalam melakukan tipuan di lapangan football Amerika. Melalui rencana yang rumit mereka bisa dengan brilian menghantam bos judi Las Vegas. Namun setelah itu mereka pisah, Nick menganggap ini selesai sementara Jess yang jatuh hati merasa sedih segalanya berakhir. Jalan pisah yang berat ini sempat menyentuh hatiku, chemistry mereka luar biasa.

Bergulirnya waktu mereka secara tak sengaja bertemu dalam misi penipuan yang lebih besar bedanya kini mereka berlawanan. Intrik lama dikuak, hati yang luka sibuka. Menyeret persaingan pembalap, pencurian dokumen, strategi akal-akalan, sampai hubungan keluarga. Perhatikan penjelas Nick soal keadaan yang mendesak, itu akan jadi kunci di adegan puncak. Walau sempat menebak akan seperti itu namun saya sempat shock juga saat letusan tembakan itu dibidikkan. Baguslah, film dengan tensi ketegangan, drama dan analisis disajikan pas. Akankah mereka akhirnya bisa bersama?

Well, setelah The Wolf of Wallstreet yang heboh itu, ini adalah penampilan bagus Margot. Tetap mengandalkan keseksian, dia bak permata di sekumpulan para begundal. Tatapan menggoda, gerak-gerik khas penipu dan penjiwaan yang solid dengan mimik baik. Sangat bagus, dia cocok memerankan karakter penggoda dengan porsi karakter yang menawan. Penampilan Will Smith tak usah dibahas, selalau istimewa!

Focus | Director: Glenn Ficarra, John Requa | Screenplay: Glenn Ficarra, John Requa | Cast: Will Smith, Margot Robbie, Rodrigo Santoro | Year: 2015 | Skor: 4/5

Karawang, 170915

Boyhood – Once In A Lifetime Experience

Mason: I just feel like there are so many things that I could be doing and probably want to be doing that I’m just not.

Film yang digadang-gadang di Oscar 2015 ini akhirnya ketonton sudah. Durasi panjang nan melelahkan, sehingga harus mengalokasikan waktu khusus untuk menikmatinya. Untungnya saya menonton setelah perhelatan Oscar, coba kalau sebelumnya,bisa jadi saya akan menjagokannya meraup banyak piala. Film karya Richard Linklater memang layak bersaing dalam best picture, semua syarat untuk menang ada padanya hanya ketidakberuntungan yang membuatkanya ditendang Birdman. Yang melewati masa 2000-an dalam puncak kegalauan pasti menyukai film ini. Dan saya adalah salah satunya…

Seperti di adegan pembuka, kita langsung disuguhi gambar di poster film dengan iringan lagu syahdu, Coldplay. Mason Jr (Ellar Coltrane) masih SD dijemput ibunya (Patricia Arquette) pulang sekolah. Catat, Coldplay di masa jaya ada dalam adegan. Sepanjang film kalian akan bernostalgia. Bersama kakaknya Samantha (Lorelei Linklater) suatu hari dijemput ayahnya (Ethan Hawke) untuk berlibur. Mason dan Sam terlahir di keluarga broken home, orang tua mereka cerai. Sehingga ayah hanya sesekali bertemu untuk meluangkan waktu bersama. Nah adegan saat Mason dan Sam gundah setelah sebelumnya dmarahi ayah tiri, saat berbincang dengan ayahnya di mobil itu, dialog-nya mirip dengan adegan film ‘Before Midnight’ saat di bandara Jesse yang juga diperankan oleh Etahn Hawke menghantar anaknya terbang. Linklater copy-paste nih. Sam yang diperankan oleh keluarga Linklater mencuri perhatian, terutama pas masih kecil. Imut, lucu sekaligus menyebalkan.

Selanjutnya cerita akan fokus ke Mason, yaiyalah judulnya aja Boyhood. Kalau judulnya Girlsmile pasti fokus ke Samantha. Atau Dadcool ya ke Ethan. Ih garing, biarin! Mason beranjak dari anak-anak ke dewasa. Ibunya menikah lagi, 2 kali keduanya kacau. Yang pertama bahkan lebih parah, seorang dosen bertangan besi, berakhir seram mereka bertiga kabur dari rumah. Yang kedua dengan marinir yang tak beda dari si dosen, galak. Namun kini Mason sudah bisa ‘melawan’. Kisahnya sebenarnya sederhana, menangkap keseharian sebuah keluarga di barat dari sudut pandang seorang anak. Titik hebat film ini ada di drama yang menyentuh. Dan wajar Patricia memenangkan satu piala untuk ‘best supporting actress’, yang sayangnya jadi satu-satunya piala yang disabet Boyhood.

Mason dari SD, SMP, SMU sampai akhirnya kuliah hebatnya film ini adalah diperankan oleh orang yang sama. Pembuatannya memakan waktu 7 tahun, hal yang selayaknya diganjar penghargaan tertinggi. Saya sendiri ga berani bayangin betapa sabar Richard yang penuh dedikasi untuk sebuah film. Keseruan ada di tiap scene yang penuh nostalgia. Ada saat premiere Harry Potter, saya langsung teringat saat pertama kali membaca buku ke 5 Harpot sampai demam. Lalu pas Pemilu Presiden, ingatkan euphoria Barract Obama? Merinding dengan slogan: ‘Change’ –nya. Dan seterusnya dan seterusnya, tak salah saya menyebutnya film yang memberi pengalaman tak terlupa. Namun saat ada yang sampai bilang Boyhood dirampok di Oscar, saya ga sependapat. Ingat, Birdman memberi semua syarat jadi pemenang. Salah satu kelebihan film istimewa untuk menang piala adalah: kasih ending yang ambigu dan Boyhood tak memberikannya.

Boyhood | Directed by: Richard Linklater | Writter: Richard Linklater | Cast: Ellar Coltrane, Ethan Hawke, Patricia Arquette, Elijah Smith, Lorelei Linklater | Skor: 4.5/5

Karawang, 200815

The Sitter: Unfunny and Drama Unwelcome

Noah: I know you’re a little kid, and I know I’m not supposed to say this kind of stuff to you, but f**k you. F**k you so much. You’re a douche.

Gara-gara salah bajak nih, saya salah nonton film. Di sampul dvd bajag-an tertulis ‘The sisters’ dengan embel-embel berdasarkan buku karya Anton Chekov. Saya langsung minat untuk nonton filmnya karena beberapa hari yang lalu saya baru saja menyelesaikan baca salah satu buku Anton. Eh pas diputar, adegan pembuka isinya Jonah Hill sedang merayu cewek. Tapi karena sudah klik ‘play’ ya lanjut terus. Tagline-nya unik dengan tulisan ‘Need a sitter?’ dengan poster pose kepala Jonah Hill menatap hampa.

The Sitter (pengasuh) mengenai Noah Griffith (Jonah Hill) yang terpaksa mengasuh tiga anak yang ditinggal orang tuanya ke pesta. Noah adalah pemuda hopeless, anak kuliahan yang klontang-klantung. Suatu hari dia diminta menjadi baby sitter tetangganya, menjaga Slater Pedulla (Max records), Blitte Pedulla (Landry Bender) dan Rodrigo (Keven Hernandez). Ketiganya tampak aneh. Satu gay bermasalah dengan teman sekolahnya, satu anak adopsi dari Spanyol yang suka mainin bom. Beneran bom, hobinya meledakkan toilet. Satu lagi cewek centil yang dewasa lebih cepat, hobinya berdandan dan menari. Dari awal saja segalanya tampak rusuh. Dan malam itu seakan dunia berkonspirasi melawan Noah.

Berawal dari telpon Marisa Lewis (Ari Graynor), cewek nakal yang meminta narkoba dari Noah dengan iming-iming diajak bercinta, Noah yang awalnya bergeming berubah pikiran. Noah diminta menemui Karl (Sam Rockwell) untuk bertransaksi. Karena sedang mengasuh, jadinya Noah mengajak ketiganya memulai petualangan malam yang panjang. Traksaksi narkoba yang seharusnya hanya sebentar berubah jadi kacau saat Rodrigo mengambil ‘telur naga’ yang berisi bubuk narkoba. Bubuk istimewa tersebut malah berhamburan ketika diminta Noah, dan telpon dari Karl untuk mengembalikannya segera atau mengganti uang membuat makin rumit. Petualangan yang seru, mulai dari mobilnya dicuri, minta tolong kepada ayahnya yang sudah menikah lagi, bertemu teman lama yang dulu bermusuhan, sampai kejar-kejaran menghindar polisi. Malam yang runyam itu, berhasilkah Noah dan anak asuhnya selamat?

Well, kisahnya klise. Ketebak. Ga lucu, menjurus ke kasar. Tokohnya memang anak-anak namun ga bagus ditonton anak-anak. Film ini khas banget Jonah Hill, typecast dari karakter-karakter sebelumnya yang pernah ia perankan. Tak ada kejutan berarti, banyak plot hole, dan yah ga bisa diteima logika. Film ini memang untuk fun, sekali tonton segera dilupakan.

The Sitter | Director: David Gordon Green | Screenplay: Brian Gatewood, Alessandro Tanaka | Cast: Jonah Hill, Ari Graynor, Sam Rockwell, JB Smoove | Year: 2011 | Skor: 2/5

Karawang, 050615

Biutiful: The Ugly Beauty Of Life

Uxbal: Look in my eyes, look at my face. Remember me, please. Don’t forget me, Anna. Don’t forget my my love, please.  

Film nominasi Oscar 3 tahun lalu ini akhirnya ketonton juga. Ternyata filmnya dark, ga ada cantik-cantiknya. Beberapa scene bahkan menakutkan, jadi ngeri lihat cermin di malam hari. Dengan menggunakan Bahasa Spanyol, film ini ngalir dengan lancar. Opening scene adalah ending-nya. Tenang ini bukan spoiler, kerahasiaan cerita tetap terjaga.

Tentang seorang duda frustasi yang divonis penyakit kanker, hidupnya hanya tinggal beberapa bulan. Uxbal (Javier Bardem) memiliki dua orang anak, Ana (Hanaa Bouchaib) yang penurut dan memimpikan keharmonisan keluarga dan Mateo (Guilermo Estralle) yang masih sering ngompol. Kehidupan Uxbal sudah rumit sedari awal. Bekerja sama dengan pengedar narkoba dari warga Afrika, yang akhirnya dideportasi sampai menerima suap untuk sebuah usaha jahit warga Tionghoa yang diserahkan ke polisi. Namun berakhir tragis.

Sembari bertahan hidup, Uxbal juga sering berselisih paham dengan mantan istrinya Marambra (Maricel Alvarez) yang frustasi kesulitan keuangan. Adik Uxbal semakin memperuncing masalah. Konflik yang dihadirkan sungguh komplek, kumpulan orang-orang frustasi. Eksekusinya pas. Uxbal sendiri akhirnya menerima kenyataan takdir, hanya kedua anaknya yang jadi prioritas seandainya dia pergi selamanya. Sampai kapan Uxbal bertahan hidup?

Kalau Anda memimpikan bakal melihat gambar-gambar yang cantik penuh warna, salah besar. Tak ada indah-indahnya yang ditampilkan, suram dari awal sampai akhir. Kata biutiful yang dijadikan judul sendiri muncul saat Anna menanyakan kepada ayahnya cara mengeja ‘beautiful’. Lalu dijawab, “Like that, like it sounds.” Yang saya maksud serem saat lihat cermin adalah, Uxbal ternyata bisa indra keenam. Bisa melihat orang yang meninggal yang ‘masih’ tinggal di bumi. Beberapa scene tampak menyeramkan, terutama saat bayangan cermin memperlihatkan penampakan wajah tanpa ekspresi.

Judulnya sendiri sangat pas. Dibuat ambigu atas fakta pahit, lalu muncul harapan. Apakah worth it to watch? Jelas. Dua jam lebih yang menghibur. Dari orang yang sudah memukau kita lewat Babel, 21 Grams dan kemudian Birdman yang Februari lalu menang Oscar. Inarritu adalah salah satu sutradara terbaik saat ini. Film-filmnya selalu nyeleh. Bermain-main dengan kematian. Sehingga tak heran akhirnya beliau menang Oscar. Hanya tinggal tunggu waktu. If I’m depressed because I’m depressed. Hurt but true. Bravo Javier!

Biutiful | Directed by: Alejandro Gonzalez Innaritu | Screenplay: Alejandro Gonzalez Innaritu | Star: Javier Bardem, Maricel Alvarez, Hanaa Bouchilab | Skor: 4/5

Karawang, 21042015

Selamat Hari Film Nasional

Featured image

30 Maret datang lagi, hari film Nasional. Sejujurnya saya jarang nonton film buatan anak negeri. Setiap ke bioskop saat ada opsi film luar selalu pilih Hollywood. Kenapa? Ya karena sering kecewa. Selama satu dekade ini tak lebih dari 20 film lokal kutonton di bioskop. Berbanding ratusan film luar, angka 20 tak ada apa-apanya. Masih segar diingatan kekecewaan ‘Generasi Biroe’, penonton yang awalnya ada separo belum muncul kredit title sudah tinggal segelintir. Kabuuuuur. Pun saat nonton horror lokal, jangan berharap banyak karena akan kecewa. Namun diantara film yang buruk tersebut tetap ada yang membuat kita tersenyum. Saya masih ingat betapa ‘Alexandria’ begitu menyentuh. ‘Ungu Violet’ yang membuatku berkaca-kaca. ‘The Raid’ dan sekuelnya yang bad-ass, ‘Kuntilanak’ yang shocking ending sampai ‘Pintu Terlarang’ yang wow. Jadi ke depan kita optimis bisa bangkit. 30 Maret diperingati sebagai hari film nasional  karena di tanggal inilah film ‘Darah dan Doa’ karya Usmar Ismail memulai syuting. Film yang dianggap sebagai pioneer film nasional.

Saya sih siap menonton film lokal (selektif) seperti yang saya lakukan saat masih tinggal di Cikarang. Namun sayang sekali setelah hijrah ke Karawang saya ga bisa nonton bioskop lagi, lumbung pagi yang jauh dari hingar bingar update film. Kabarnya di seberang KCP – Galuh nantinya akan ada bioskop, dari site plan sih akhir tahun 2015. Memang ada gedung yang sedang dibangun di sana, namun tetap harap-harap cemas juga akan realisasinya.

Hari ini ada ‘promo buy 1 get 1’ tiket bioskop film nasional. Film-film lama kembali diputar dari ‘3 Nafas Likas’, ‘Hijab’, ‘Manusia Setengah Salmon’, ‘7/24’, ‘Modus Anomali’, ‘Tabula Rasa’, ‘Selamat Pasgi Malam’, sampai ‘Kapan Kawin?’. Kecuali ‘Pintu Terlarang’,  yang lain belum kutonton. Momen bagus sebenarnya untuk menikmati film lokal di bioskop. Mudah-mudahan tahun depan ada lagi yang seperti ini dan bisa menyaksikannya di kota Karawang tercinta. Selamat hari Film Nasional.

Karawang, 300315