Rabbit Hole: Apa Obat Trauma yang Paling Mujarab?

Somewhere out there I’m having a good time.” – Becca

Rencana mau ambil film Jennifer Lawrence yang mengantarnya menang Oscar, malah keklik ini. Salah unduh film. Namun ga masalah, ternyata bintang Kidman masih sangat cemerlang di sini. Ternyata dia masuk nominasi best actress, kalah sama Black Swan di tahun yang sama. Tahun 2010, hhmm… berarti ini pasca serangan alien yang rumit itu. Masa masih merdeka, sepuluh tahun lalu. Kisahnya tentang trauma menghadapi kematian anak, rasa kehilangan itu menghantui keluarga kecil ini dari awal menit sampai benar-benar akhir. No debate, jelas sedih sekali, cara menata kembali keadaan itu sulit, sangat sulit, berdamai dengan kenyataan pahit, dan benda-benda lama yang selalu mengingat. Rasanya memang berat sekali, dan akting pasangan Eckhart – Kidman luar biasa. Duka kedua orang tua dan kandungan kepedihan di tiap tetesnya.

Becca Corbett (Nicole Kidman) dan Howie Corbett (Aaron Eckhart) menjalani hari dengan suram, film dibuka dengan Becca menata kebun, menampakan kandang anjing yang kosong, diundang makan malam tetangganya, menolak, mungkin suatu saat nanti. Howie pulang kerja, makan pancake bersama, dan malamnya mereka istirahat dalam keheningan. Waktu sudah berjalan sekitar delapan bulan, dan duka itu masih benar-benar menggelayuti. Putra tunggal mereka, Danny meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas di depan rumah saat mengejar anjing, Tex. Becca ingin membuang segala kenang Danny, Howie ingin memiliki anak lagi, istrinya belum siap. Keluarga ini sepertinya sudah akrab dengan duka, ibu Becca, Nat (Diane Weist) juga kehilangan anaknya karena overdosis. Namun Becca menolak disamakan. Kata Virginia Woolf Aku merasa kita tak mampu melewati satu lagi periode mengerikan itu.”

Lalu mereka bergabung dengan grup sharing is caring, yang berkumpul membentuk lingkaran, duduk kemudian bercerita. Berkenalan dengan keluarga Gabby (Sandra Oh), berpasangan. Para orang terluka ini berbagi kisah pilu, kehilangan anak, dan bagaimana mengatasinya. Becca ternyata ga klop, karena ada yang cerita kematian anaknya untuk menjadi malaikat Tuhan, ia menyanggah. ‘kenapa tuhan tak menciptakan saja malaikat lain?’ maka mereka keluar.

Suatu kali Becca bertemu dengan sosok yang mencipta kesedihan. Di jalan, ia tak sengaja melihat Jason (Miles Teller) di bus sepulang sekolah. Mengikutinya, memantaunya. Untuk apa? Entahlah. Ke perpustakaan mengembalikan buku, terlambat kena denda. Dan buku itu tentang dunia Pararel, Becca berniat meminjamnya. Kegiatan memantau Jason berlangsung terus, dan akhirnya kepergok. Mereka lalu duduk di bangku taman, bertukar kata. Maaf selalu jadi kata yang sulit ketika pilu menerpa. Maaf untuk saat itu karena berkendara terlalu kencang, maaf untuk segala hal yang telah lewat. Ia kini sedang membuat komik berjudul Rabbit Hole, saat ini belum usai. Baik, Becca berniat membacanya. Janji temu dan bertukar kata dengan pelaku kecelakaan ini berjalan tanpa sepengetahuan suami. Banyak cara untuk menyembuhkan hati.

Sementara Howie tetap mengikuti terapi sharing, berlarut. Dan suatu malam, Gabby bercerita telah ditinggalkan suaminya. Tanpa sebab yang jelas, tanpa info yang jelas, kabur saja. Begitulah, duka membuat manusia bertingkah serba aneh. Maka ia menghisap ganja di parkiran, Howie lalu bergabung. Pakai narkotika, bermain fun world lempar bola, tertawa bersama, bercengkerama. Kedekatan mereka menjadi rekat dalam. Sekali lagi, banyak cara untuk menyembuhkan hati.Becca yang masih trauma belum bisa bercinta, belum siap dan belum bisa program anak. Howie yang mendamba perubahan bersikap pening juga, entah bagaimana keluar dari aliran sedih ini. Lalu ide pindah rumah muncul, harus ada sesuatu yang diubah, maka rumah dijual, meninggalkan kenangan, mendesak masa lalu ke belakang, pakaian Danny, mainan, segala barangnya disingkirkan. Trauma ini harus dilewati bersama. Apa obat trauma yang paling mujarab? Banyak hal bisa dilakukan, setiap individu pasti berbeda penanganannya, film ini menggambarkan salah satu opsi. Sepertiga akhir yang luar biasa.

Jason tiba-tiba datang ke rumah memberi buku Rabbit Hole yang sudah jadi. Howie marah karena selama ini istrinya ternyata bertemu dengannya. Sementara Becca juga marah pada suaminya karena kegiatan menghisap ganja dilakukannya. Serasa impas, serasa menyedihkan. Pencarian makna hidup yang merekat, siapa salah? Pertengkaran membutuhkan dua orang yang saling peduli. Dalam eksekusi ending yang bagus banget di mana malam itu Howie keluar rumah untuk mengikuti sharing, malah ke rumah Gabby, perselingkuhan di ambang jadi. Tampak menggoda. Sementara Becca diam-diam berkendara ke rumah Jason, sudah rapid an dandan juga, walau tak betemu langsung, Becca yang menangis sejadi-jadinya, terlelap di mobil hingga pagi menjelang. Keduanya sama, butuh pelampisan duka. Inilah kisah sedih dengan kemuraman akut menyelingkupi, sepanjang menit, sepanjang kisah, selama satu setengah jam yang muram.

Segala-galanya ambyar. Karena suram adalah koetji maka Rabbit Hole jelas sukses besar menampil. Melimpah ruah kesedihan itu, sampai luber menjurus depresi dalam. Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah yang parah. Jason dengan tatapan duka, jelas berhasil diperankan bagus oleh Miller. Seolah memang serba salah, ilustrasi ciptanya memang memberi peranan penting akan keinginan dan khayal di dunia lain. Nicole Kidman jelas melakukan peran istri yang luar biasa, tangisnya di mobil sejatinya adaah luapan amarah dalam lelehan air mata yang menganak sungai seolah berteriak, ‘Tuhaaaan… kenapa kau ambil anakku?’ Tak kalah sangar akting Aaron Eckhart, mengimbangi kedukaan, menyelimuti kehampaan. Tak kecewa rasanya salah unduh film ini. Lubang Kelinci dengan ide kehidupan pararel, adakah jiwa kita juga ‘hidup’ dalam lingkup waktu di sisi sana? Duka juga ataukah, bahagia menggelayuti? Ending di taman usai pesta kebun itu sangat menyentuh, menatap langit biru dan bukan hanya mereka berdua yang laik bertanya, penonton juga turut mengajukan hal yang sama: ‘selanjutnya bagaimana?

Layar Rabbit Hole adalah ejawantah desahan yang penuh penderitaan dan kehilangan. Penderitaan itu semacam permainan ‘gebuki tikus tanah’ yang muncul sesekali lalu kita gebuki berturut dan semakin lama semakin cepat. Seperti itulah derita, setiap kita bisa mengatasi satu derita akan muncul derita lain, dan terkadang muncul raksasa tikus dalam artian kehilangan anggota keluarga terkasih. Hidup akan selalu bersisian dengan derita. Biarlah waktu menyembuhkan luka itu. Harapan dan kesabaran berdamai dengan keadaan. Mau gegas melakukan laiknya Howie atau tetap alon-alon, semua sama saja. Ini kisah pencarian obat duka, dan pemberian maaf atas segalanya. Mendorongmu terjatuh dalam lubang kelinci. Sabar, tawakal, iqtiar.

Hidup yang baik bukan berarti menolak penderitaan, yang sesungguhnya adalah menderita untuk alasan-alasan yang benar.

Rabbit Hole | Year 2010 | Directed by John Cameron Mitchell | Screenplay David Lindsay-Abaire | Cast Nicole Kidman, Aaron Eckhart, Dianne Weist, Miller Teller, Tammy Blanchard, Sandra Oh | Skor: 4/5

Karawang, 200520 – Bill Withers – Family Table

A Fall From Grace: Jatuh yang Janggal

Kau tiba-tiba ingin menjadi pahlawan dan mengusut kasus?” – Rory

Tentang pengacara muda yang menangani kasus pembunuhan. Anehnya, mayat korban tak ditemukan. Jadi ini seolah menelusur kabut. Kamu melakukan penghajaran, tapi tubuh korban hajar menghilang. Ide absurd macam apa ini? Kalau diibaratkan kurva, A Fall seperti sebuah pendakian gunung dimulai dari bukit, naik-naik sampai puncak adegan pukulan bisbol, lalu menurun, terus turun, dan terjun bebas saat kejutan dibuka, terperosok jurang. Agak konyol, sangat disayangkan endingnya terkesan mengada. Terasa dibuat-buat.

Kisahnya tentang pasangan muda berkulit keling, pengacara hijau Jasmine Bryant (Bresha Webb) bekerja di firma hukum Negara, pasangan polisi Jordan Bryant (Matthew Law). Tinggal di Virginia, sepertinya memiliki masa depan cerah dengan karier dan pasangan yang saling kasih. Film dibuka dengan kasus di sebuah rumah, ada nenek frustasi di puncak mengancam terjun bunuh diri, Jordan sudah di jendela untuk menolong, naas misi itu gagal. Sang nenek yang memiliki persoalan penik tak kuasa menahan, dan ia loncat. Skoring masuk, judul muncul.

Jasmine mendapat tugas dari bosnya Rory (dimainkan langsung sang kreator langsung Tyler Perry) untuk menangani kasus pembunuhan, ia memintanya mendatangi tersangka lalu meminta pengakuan. Terlihat kasus mudah, karena Grace Waters (Crystal Fox) menuju ke keputusan itu, ia hanya meminta dipenjara di dekat domisili anaknya. Saat Jasmine akhirnya bertemu langsung dengan Grace, ternyata tak semudah itu. Pengakuan itu hampir dilakukan, tapi Grace yang faceless malah curhat.

Dari catatan Negara, Grace adalah warga Negara yang ideal, baik hati dan tak sombong, melakukan pelayanan dan bernyayi untuk abdi gereja, menjadi orang tua yang manis, memasak untuk yatim, dst. Hanya kasus dugaan pembunuhan inilah yang mengganjal janggal (entah kenapa kasus bank ga disebut Jasmine). Maka Jasmine mengata akan meminta keringanan 15 tahun dengan pengurangan masa tahanan, kalau siap. Tidak, justru Grace ngoceh akan kasih tuhan. Dan hancurnya masa hidupnya secara instan.

Jasmine lalu menyelidiki, datang ke sobat terdekatnya Sarah (Phylicia Rashad). Darinya kita tahu, awal mula kasus ini. Awal mula sekali kenapa Grace bisa berubah radikal. Grace adalah janda, mantan suaminya menikah lagi dengan gadis muda, hal yang membuatnya patah hati dan pesimis. Sarah lalu mencoba menyelamatkan hari, ia tak bisa menyelamatkan masa lalu, tapi ia bisa menawarkan masa depan, ia memberinya kartu nama/undangan ke pameran fotografi Shannon (Mechad Brooks), sang fotografer menyambutnya, menatap damba, berkenalan, dan memberinya harap. Jadi sarah merasa turut bersalah telah menjadi koneksi pasangan itu. Mengenakan kalung sebuah simbol. Penjelajah Afrika yang mencinta nenek-nenek, well catet yes.

Dari kunjungan berikutnya, Jasmine yang dipaksa bosnya meminta pengakuan, dan nyaris diiyakan malah menentang. Ada yang janggal, entah apa, harus dikorek, harus ditelusur. Maka kepada Grace ia memohon kisah selengkapnya. Yes, kita akan maju ke pengadilan. Alur lalu mundur, di awal mula lagi. Grace yang merasa sudah tua malu akan cinta menggebu khas remaja, pasca kenalan sang fotografer mengajak makan malam, ngobrol kencan menghabiskan waktu hingga larut, datang ke kantor bank-nya membawa bunga, mengucap kata-kata romantis, sungguh segala tindak cinta liar khas anak muda menghantamnya dengan keras. Grace merasa terberkati mendapat Shannon yang lembut dan romantis, sehingga ia bisa move on kilat dan menatap masa depan dengan lebih bersemangat.

Maka suatu malam di kebun bunga penuh kunang-kunang, Shannon berjongkok melamarnya, tak ada kuasa menolak. Romantisnya mengalahkan kisah cinta pujangga yang puitik, tapi justru terlalu romantis malah adalah kejanggalan belaka. Apalah, pada akhirnya menikahlah mereka, pasangan yang tak muda lagi ini memenuhi beranda waktu dengan kebahagiaan. Perkenalan singkat, pacaran singkat, menikah kilat. Mungkin ada sisi positifnya kalau cinta itu murni, tapi di sini enggak. Ada motif terselubung, saya sudah curiga sih dari gerak-geriknya. Ini pasti ada niat jahat, lelaki bejat sudah tampak dari tatapan mata. Seperti kebahagiaan yang datang mendadak, kesedihan menyapa cepat pula.

Benar saja, Grace suatu hari dipanggil bos dan pemangku direksi bank. Ia dipecat dengan tak hormat karena melakukan transaksi transfer ilegal ratusan ribu dollar ke akunnya, konyol sekali sih kalau dengan sadar melakukannya. Ia diminta mengembalikan uangnya atau dituntut penjara. Shock pertama ini berlanjut ketika diusut lebih lanjut, rumah yang dibeli dengan kerja keras dan tabungan ketat itu dihipotek, jadi akan disita. Hah, kok bisa ia merasa tak melakukan, ia merasa tak menandatangani, oh sudah disahkan notaris, dan ketika ke alamat notaris, kantor itu palsu. Surat menumpuk, dan kosong.

Kalut, benar-benar hancur segalanya. Langit runtuh, segala-galanya ambyar. Maka ia meminta pihak bank memutar rekaman cctv kala transaksi terjadi. Bukan kejutanlah, pelakuknya adalah suaminya. Marah, sangat marah. Tak ada cinta ternyata, ia hanya memanfaatkannya. Ketika uang diminta, ga bisa. Ia harus membayar utang, maka hampa sudah rasa itu, jeruji besi siap memantri. Maka ketika suatu hari Shannon membawa gadis lain ke rumah, wikwik dan menggangap Grace sekadar pengganggu, terjadilah kasus yang menghinggapi titik utama film ini. Grace memukul suaminya dengan tongkat bisbol berkali-kali, dengan keras nan mematikan. Grace yang kalut menelpon sahabatnya, bahwa ia telah membunuh suaminya lalu kabur.

Ketika kembali ke masa kini, jadilah ¼ akhir film adalah persidangan. Kurang menggigit karena sejatinya tampak aneh, sungguh aneh, kasus pembunuhan tapi mayatnya tak ditemukan. Jasmine yang pengacara muda tampak menolak nyerah, melawan jaksa pengalaman. Bos Rory akan memecatnya pasca kasus ditutup, memalukan firma, suaminya tetap mendukung karier istrinya. Sampai akhirnya saksi kunci dipanggil, Sarah yang bijak menyatakan kebaikan Grace dan dengan sangat terpaksa meminta maaf, pengakuan telpon pasca kejadian menenggelamkan segalanya. Dan sisa menit kejut, terasa hambar. Sangat hambar, sayang sekali.

Terlihat sekali ini film budget mini, banyak adegan tampak kasar. Tergesa, seolah editing dilakukan mahasiswi magang. Lihat pembukanya, loncatnya palsu tampak sekali. Lihat sidangnya, hiruk pikuk pengadilan tampak monoton tanpa ketegangan, lihat eksekusi akhir bagaimana para korban dilepas, ya ampun… itu nenek-nenek sangat ketara kesedihannya akting permukaan. Setelah kucek trivia, ternyata shoting film hanya lima hari, dan ini debut film panjang Tyler Perry Studio. Hhhmm…

Bayangkan, dari film yang nyaris wow. Terutama pas Grace yang bahagia menemukan belahan hati, lalu wajah hampa dan melakukan kejahatan, A Fall benar-benar terjatuh di separuh kedua, luluh lantak penuh onak kejanggalan. Apalagi saya habis menikmati film persidangan yang wow, Section 375. Drama India berkelas yang memainkan pikiran, menantang nalar. A Fall jelas sulit mendekati. Orang-orang memang memuakkan, dan hidup ini sungguh sulit dan tidak bisa ditebak. Kebanyakan dari kita menjalani hidup ini asal ngalir aja, dan sebagian malah sungguh-sungguh tersesat.

A fall from grace, terrible acting, a lame script, and predictable. Film dekektif/pengacara/thriller/polisi-polisian ga bisa seperti ini. Anggap saja, ini sekadar tontonan pasca sahur lalu lupakan.

A Fall From Grace | Year 2020 | Directed by Tyler Perry | Screenplay Tyler Perry | Cast Crystal Fox, Phylicia Rashad, Bresha Webb, Mehcad Brooks, Cicely Tyson, Tyler Perry, Donovan Christie Jr., Walter Fauntleroy, Angela Marie Rogsby | Skor: 2.5/5

Karawang, 150520 – Bill Withers – Something That Turns You On

Thx to Rani S.kom

Section 375: Drama Pengadilan Mencipta Kerut Kening Berlapis

Zero tolerance policy for sexual misconduct.”

===tulisan ini mungkin mengandung spoilert===

Film India tak hanya menari dan bernyanyi. Film India juga banyak yang slow dan menantang nalar serta edukasi hidup, inilah salah satu produk unggul sinema tentang drama di pengadilan. Mengingatkanku pada novel-novel John Grisham yang solid, perdebatan mendalam di kursi-kursi panas, mengingat pula kegigihan dan kepahlawanan perempuan di novel-novel Sidney Sheldon, terutama Rage of Angels yang dahsyat. Di sini, perempuan tampak lebih hebat, lebih perkasa, dan menangan. Urusan syahwat, lelaki selalu apes berkonotasi. Alurnya khas Sheldon yang upaya membalikkan keadaan dan dramatis-nya dapat. Section 375 merupakan bagian KUHP yang berlaku di India, yang jadi rujukan ayat kasus pelecehan seksual.

Dibuka dengan ditangkapnya seorang sutradara terkenal Rohan Khurana (Rahul Bhat) atas tuduhan pemerkosaan disertai kekerasan terhadap desainer kostum yang membidani filmnya, Anjali Dangle (Meera Chopra). Tampak sangat meyakinkan kasus ini, pendulum salah memberat pada laki-laki kalau mengenai syahwat. Pengacara yang ditunjuk adalah pengacara senior Tarun Saluja (akting hebat Akshay Khanna) berupaya sebaik-baiknya mendampingi, melawan jaksa penuntut umum muda ambisius, mantan anak didiknya Hiral Gandhi (Richa Chadda), bisa jadi ini adalah kasus besar pertamanya yang berarti bisa untuk mendongkrak karier. Segala daya dikerahkan demi kemenangan sang korban. Kemenangan menjadi hal mutlak yang harus diraih walau mengorban kemanusiaan, rasa empati diredam di lumpur terdalam.

Kasus yang tampak mudah ini lalu mengabu, meragu, luruh dengan berjalannya menit, sangat mengingatkan film noir 12 Angry Men di mana, para juri berubah haluan perlahan dengan terungkapnya fakta-fakta baru dalam selidik. Section 375 mengupas perlahan detail perkara, tak lurus bernarasi tapi jelas dipikat dengan gaya menegangkan. Khurana seorang public figure, sehingga mengundang lalat perhatian, ia dicerca dengan dalih menggunakan kuasa sutradara film dengan melaksana pelecehan. Membakar emosi nitizen. Sampai muncul demo berjilid-jilid meminta terdakwa dihukum seberat-beratnya, atau sebijaknya dibilang seadil-adilnya? Sejujurnya adegan demo-nya kelihatan banget palsu. Property massa dan lembar bendanya kaku, tak digarap dengan intens. Khurana ditengah tekanan publik tampak tenang, tak menggebu, tampak sangat bersalah – ya, tampak menyembunyikan poin penting – ya, pertaruhan aib dan mertabat. Aib seorang lelaki, dan martabat pekerja seni. Anjali sebagai korban juga pasif, menampil perempuan lemah yang dirugikan – ya, menjaga emosi tetap tertahan – ya. Yang jelas ada sesuatu yang disembunyi mereka berdua. Menempatkan diri sebagai designer yang tak bernama di kancah Bollywood, tapi ketika menit mula kedatangannya di apartemen diungkap, kita tahu ada yang janggal.

Ia hanya seorang rekomendasi, ia seorang fan, ia seorang posesif akut!

Anjali datang ke apartemen Khurana untuk menunjukkan kostum filmnya. Pembantu diminta keluar, lalu kasus itu terjadi. Kejanggalan pertama muncul, rambut Anjali ada di kasur padahal pertemuan di ruang tengah. Apakah ada paksaan masuk kamar ataukah sukarela? Kejanggalan berikutnya, memar luka di selakangan, andai ada kekerasan fisik, kenapa ada di kedua sisi dengan bekasnya kena benda keras. Tak ada barang bukti ditemu, tak ada benda keras yang ditemukan di TKP. Lalu CCTV dan rekaman coba dibuka, booom! Menarik sekali. Adu cerdik ini menemui titik akhir yang mengejutkan. Menggemaskan. Kasus pemerkosaan ini lebih suram dari yang dikira.

Jelas ini adalah salah satu film pengadilan terbaik, angka penjualan tiket bioskop mengecewakan – mungkin karena tema drama merenungnya, tapi secara ulasan sangat positif – jelas, ini kisah drama roller coaster. Penampilan terbaik Akshay Khanna, turut gereget, ikut sedih tapi tak sampai nangis. Menampilkan perjuangan hingga titik keringat terakhir, tampak lelah sekaligus semangat membara dalam sorot mata harap. Keyakinan, memang sekalipun benar terkadang menampar umatnya. Simbol pengadilan menampil wanita dengan mata ditutup kain dengan memegang timbangan, yah begitulah. Telaah Section 375 membutuhkan kemampuan Kognitif Elliot yang terdiri atas kecerdasan, ingatan, dan perhatian. Produk hukum tak ada yang sempurna, bisa dimanipulasi dan disalahgunakan. Menikmati jenis film drama semacam ini butuh konsentrasi dan sejumput kesabaran.

Secara naskah juara. Seolah kupas kulit bawang, yang perlahan nan pasti kebenaran adalah inti, selongsong kulit itu diungkap satu per satu, satu per satu, lalu ketika sampai di keputusan ternyata malah menimbulkan air mata kepedihan. Naskah seperti ini sulit dibuat, plot maju-mundur, drama kriminal tanpa tembakan dan ledakan. Mencintai sepi dan kebosanan, laksana perdu puisi. Baca syair melengking nyaring, moral diikat ketat, ruang sidang pengadilan yang menolak gema kebenaran. Simpan argumenmu, jabat tangan di makan malam menjadi fakta pahit ironi kehidupan berikutnya. Lantas, siapa penista pengadilan sesungguhnya?

Endingnya bikin marah penonton. Tak kita kira akhir babak semacam itu. Hakim berkerut kening, penonton berkerut kening, para juri berkerut kening, inilah film yang mencipta kerut kening berlapis-lapis. Pak Pengacara dan Bu Jaksa lalu ngopi bareng. Hahaha… film yang mengajarimu banyak hal. Film yang tak nyaman, mencipta hingar bingar di meja kursi pengadilan.

Contoh nyata, bagaimana sebuah sinema berhasil mengatrol keadaan dan emosi penonton, film tenang yang perlahan nan pasti riaknya menggelombang luapan atensi tinggi. Suatu hari, entah sepuluh atau lima puluh tahun lagi Film Ini akan jadi pembahasan seru para akademisi calon-calon sarjana hukum, dengan dalih yang tampak di permukaan tak seperti yang kamu kira. Beruntung kita sudah mengerutkan kening terlebih dulu. John Grisham bertepuk tangan dengan nyaring di sana. #MeToo

Section 375 | India | Year 2019 | Directed by Ajay Bahl | Screenplay (additional & dialogue) Ajay Bahl | Story and screenplay (dialogue) Manish Gupta | Cast Akshaye Khanna, Richa Chadha, Meera Chopra, Rahul Bhat, Shriwara, Kishore Kadam, Kruttika Desai | Skor: 4/5

Karawang, 130520 – Bill Withers – Lean on Me

Jojo Rabbit: Komedi Satir di Era Nazi

Nothing makes sense anymore.” – Jojo

===tulisan ini mungkin mengandung spoilert===

Idenya gila. Kekejaman dibalut keimutan. Adegan gantung-nya terlihat walau sepintas. Kematian, ditutur bagaimanapun, tetaplah kematian. Cerita anak-anak yang dididik mencintai Nazi sejak dini, mengajarkan Swastika dengan segala keimutannya. Mencipta Hitler khayal yang menemaninya sepanjang tumbuh kembang – lalu menghilang, sehingga seolah pelindung. Setting-nya di era Perang Dunia Kedua, Nazi sedang tinggi-tingginya, sekolah di Jerman mewajibkan kurikulum itu, sampai serangan Sekutu yang mengakhiri segalanya. Film dibuka dengan manis, betapa Jojo di usia imut begitu mendewakan Hitler, ditutup dengan lebih imut lagi, Elsa dan Jojo yang ‘merdeka’ melakukan tari tik-tok artsy. Sejatinya memang ini film anti-perang, dibuat komedi, berton-ton komedi malah yang menikam. Komedi gelap. Lantas kepahlawanan jenis apa yang bisa dipeluk semua umat?

Jojo Betzler (diperankan imut sekali oleh Roman Griffin Davis) adalah remaja sepuluh tahun yang tumbuh di masa kejayaan Nazi, ia begitu mengidola Hitler yang patriotik dan keren. Dalam pendidikan yang ketat dan nasionalis, ketika Jojo membutuhkan pertolongan serta teman ngobrol, muncullah Penampakan Hitler (Taika Watiti) menjelma teman curhat, jadi supporter yang menggelorakan semangat. Bersama teman karibnya yang ndut Yoki (Archie Yates) menjalani kamp pelatihan di sekolah alam. Dikepalai pelatih yang tak kalah aneh, Kapten Klezendorf (Sam Rockwell). Di training kamp tersebut, ambisi Jojo juara sungguh tinggi. Sayangnya, jiwa pemberaninya diuji dengan bully-an tugas senior untuk membunuh kelinci, gagal. Kelembutan hatinya, tak tega sekadar mematikan binatang. Sejak itulah ia kena panggilan Jojo Rabbit.

Bully yang malah mencipta luka, ketika sang kapten menerangkan taktis melempar bom, Jojo berlari kencang lalu mengambilnya, melemparanya, kena pohon malah mbalik ke dia, dan meletus. Jojo terbangun dari pingsan di rumah sakit, ibunya Rosie (Scarlett Johansson) marah, mendatangi kantor dan ngomel berat karena insiden ini. Wajah Jojo ada bekas luka, dan ia sementara harus menggendong satu tangannya.Di rumah, kejutan kecil terjadi. Sebagai Hitler-holic betapa terkejutnya di rumahnya, ada ruang rahasia tempat sembunyi seorang gadis Yahudi Elsa Korr (Thomasin McKenzie). Membekap mulut Jojo agar tak berteriak dan melarang melaporkan temuannya. Di era itu, menyembunyikan warga Yahudi hukumannya mati. Sebuah dilema besar untuk jiwa remaja yang labil. Tentu saja ibunya tahu, karena memang ini inisiatifnya. Jojo sayang ibunya, maka seorang fanatik Hitler pun terdiam. Masing-masing dari kita, ada kalanya, suka memperdaya diri sendiri dengan percaya bahwa apa yang baik untuk kita pasti juga baik untuk semua orang. Apa yang bagus buat Jojo harusnya baik pula buat Elsa, ahh… dunia anak-anak yang polos. Tak sejernih itu Nak.

Elsa adalah putri dari teman sekolah Rosie, menjaganya, menyembunyikannya. Jojo dan penampakan Hitler yang lucu (duuh sang sutradara, kamu kocak banget aktingnya) debat keputusan apa yang pantas. Maka diputuskan menginterogasi Elsa, dari Elsa ia mulai paham dunia yang luas dengan melihatnya lebih terbuka. Marah besar pada ibunya, dan merindu ayahnya. Maka makan malam itu, Rosie pun akting sebagai ayahnya dengan kumis lebat palsu bergaya Nazi. “What did they do?” direspon tenang, “Plenty of good.” Di sinilah saya langsung ketawa serius, harusnya Scarlett menang Oscar. Kocak banget, sayangnya (spoilert… maaf) ia keburu dimatikan. Coba bisa konsisten ngelawak sampai akhir, akting ibu yang bimbang ini jauh lebih hebat dari pengacara kapitalis itu.

Free Germany” merebak, suatu hari ada inspeksi mendadak dari kapten Deertz (Stephen Merchant) ke rumahnya. Jojo yang sendirian panik, menyembunyikan surat-surat Elsa, menyembunyikan segala yang memancing kecurigaan keberadaannya. Muncul pula kapten Klezendorf di sana, Elsa yang ada di tangga dalam masalah besar. Dalam kengerian mefet itulah, ia memberanikan muncul dan memperkenalkan sebagai kakaknya. Menunjukkan Kartu Tanda Penduduk, dalam adegan dramatis ia diuji tanggal lahirnya. Elsa menjawab dengan keraguan, Klezendorf yang tahu salah, malah melindunginya dengan bilang tepat dan pasukan inspeksi-pun pergi. Serem banget ini, setidaknya Jojo dan Elsa tahu Kapten Klezendorf memiliki kebaikan di lubuk hatinya. Sebuah moralitas itu bisa diwujudkan di masa depan harus dimulai dengan sesuatu yang disebut amor fati, ‘cinta pada nasib seseorang.’ Bukan sekali, sang kapten melakukannya. Nurani akan kebaikan tergugah di masa-masa yang tak terduga. Pada akhirnya, hanya emosilah yang menggerakkan kita untuk bertindak. Ini karena tindakan adalah emosi.

Rosie yang keesokan harinya digantung (huhuhu… pengen nangis), dan pecah serangan Sekutu memporakporandakan Jerman. Dengan tank dan pasukan penuh memasuki kota. Dengan kekacauan yang tercipta, sekali lagi Klezendorf menyelamatkan nyawa Jojo yang terancam turut dibinasakan Sekutu. Setiap orang memiliki kemampuan melawan kejahatan. Pengorbanan terakhir untuk Jerman di masa depan. Jojo, remaja Nazi itu pulang dan memberitahu Elsa, Jerman sudah kalah. Ia mencinta (heleh) yang membuat murka Penampakan Hitler, lalu ditendang keluar jendela. Seperti mula, endingnya manis dengan joget artsy yang sungguh memorable. Ditutup dengan puisi Rainer Maria Rilke: Biarkan segalanya terjadi padamu; Kecantikan dan teror; Biarlah mengalir; Tiada rasa yang berakhir. Perang tidak lain adalah ujian duniawi terhadap harapan.

Sebagai film kandidat best picture, promonya paling tak gencar. Kalah gegapnya dengan unggulan seperti 1917, Parasite atau Joker jadi wajar peluangnya sangat kecil. Naskah adaptasinya memang sangat keren, saya memang menjago Gerwig, tapi Taika Waititi menang-pun saya tak akan komplain. Semua naskah adaptasi Oscar tahun ini, sejujurnya bagus. Yang disayangkan cuma Little Women dan The Irishman Film Lima Bintang itu, nirgelar Oscar. Hiks, sedih.

Menanamkan ideologis ke anak-anak menjadi tema utama kisah ini, lalu dilontarkan opsi lain. Agama ideologi, harapan dari luar dunia natural. Ideologi merupakan kepercayaan yang dikontruksi secara sosial yang sepenuhnya kita terima berdasar keyakinan belaka. Pada dasarnya perkembangan psikologi kita senantiasa berevolusi untuk menuhankan segala yang tidak kita pahami. Jojo dengan lugunya mengidola Sang Fuhrer, diterima mentah-mentah apa yang diajarkan, lalu seperti di ending, segalanya tampak kontradiksi.

Film ini jelas melebihi harap, entah kenapa cerita sebagus ini ga bisa meledak. Komedi satir tentang Nazi mungkin sudah banyak, mengambil sudut pandang anak-anak juga sudah umum (kisah sedih The Boy in the Pyjamas), begitu juga ending serangan sekutu yang mengakhirinya. Jojo Rabbit menampil kedigdayaan yang lebih luwes. Lebih nyaman, lebih hidup. Sangat komedi, tapi tak komedi.

Beberapa saat setelah Taika Waititi memenangi Oscar, tampak ia duduk dengan senyum dan meletakkan pialanya di bawah kursi depannya. Sebuah ironi sekali lagi tercipta. Jojo Rabbit adalah film sangat komedi, tapi sekaligus tak komedi. Kalian mungkin tertawa, tapi sejatinya menertawakan apa? Seperti tagline-nya jleeb banget: ‘An anti-hate satire.’

Jojo Rabbit | Year 2019 | Directed by Taika Waititi | Screenplay Taika Waititi | Novel Christine Leunens | Cast Scarlett Johansson, Roman Griffin Davis, Thomasin McKenzie, Sam Rockwell, Archie Yates, Taika Waititi | Skor: 4/5

Karawang, 120520 – Will Withers – Lovely Day

Puasa ke-19, hati yang cerah untuk jiwa yang sepi

Pet Sematary: Kematian Orang Terkasih dan Kandungan Duka di Dalamnya

In the woods today, Ellie discovered a charming little landmark.” – Rachel

Cerita horror memang pada umumnya melibatkan kedukaan anggota keluarga, Pet Sematary dimula hewan peliharaan, menyeret anak lalu segala-galanya ambyar. Seperti kata Jud, kadang mati lebih baik. Merelakan, melepaskan, mengiklaskan. Semua upaya mempertahankan kedukaan, apalagi tak mau beranjak melepas duka berakibat buruk. Di sini, sangat buruk karena malah menarik anggota keluarga lain dan booom! Salah satu ending paling menyayat hati film 2019 saya sematkan.

Kisahnya tentang horror di rumah baru, pemakaman binatang yang mistis meneror keluarga. Dimula dengan kepindahan Louis Creed (Jason Clarke) bersama istrinya Rachel (Amy Seimetz), serta dua anak Ellie (Jet Laurence) dan Gage (Hugo/Lucas Lavoie) ke Ludlow, Maine. Perhatikan, banyak sekali novel Stephen King dimulai dengan kepindahan. Menempati rumah baru memberi opsi banyak hal baru sehingga banyak pula yang bisa dicerita. Ellie melihat ada pemakaman binatang di hutan dekat rumah, Pet Sematary (salah ketik, seharusnya ‘Cemetery’). Ada kekumpulan anak mengenakan topeng, membawa alat makam, beriringan mencipta keseraman. Keluarga ini berkenalan dengan tetangga baru Jud Randall (John Lighgow) yang aneh.

Lalu kita mengenal lebih dekat semua anggota keluarga. Di kampus Louis sebagai dokter pengajar mengalami kejadian aneh, saat seorang siswa Victor Pascow (Obssa Ahmed) yang tertabrak mobil mengalami kritis bilang untuk menjauh dari hutan, ‘the barrier must not be broken’, semacam penampakan karena ternyata ia audah tewas. Jadi itu tadi jiwanya? Sementara istrinya mengalami trauma sebab kematian sudarinya Zelda sewaktu masih muda. Cara matinya menjadi klu cerita, perlahan diungkap penyebabnya. Yang pasti, tragis dan Rachel merasa ada yang salah.

Church adalah kucing kesayangan Ellie, suatu ketika tertabrak truk. Ayah dan Jud yang menemukannya merasa sedih sekali, ga tahu bagaimana reaksi putrinya nanti. Mereka menguburkannya di Pet Sematary. Bukan yang umum, tapi lokasi yang lebih tinggi melintas batas, area mistis misterius. Betapa terkejutnya Louis esoknya menemukan Church bangkit dari kubur, hidup tampak kotor, jorok membawa tikus mati, bermain dengan Ellie. Terkuat sebuah misteri, bahwa area pemakaman itu bisa membangkitkan yang tewas, tapi dengan jiwa yang tak utuh. Wendigo.

Ulang tahun Ellie yang meriah berakhir bencana ketika sedang main petak umpet, Ellie mengejar Church Palsu di jalanan dan mengakibatkan kematiannya karena sebuah truk melaju kencang, yang hampir juga menabrak Gage. Sebuah kedukaan besar, kehilangan anak. Masa berkabung, setelah pemakaman ibu dna Gage pergi ke neneknya, dan Louis yang tak kuasa menahan kesedihan bertaruh dengan takdir. Membongkar makam anaknya, membawa mayatnya ke Pet Sematary, untuk dikubur ulang. Apakah cara ini juga bisa bekerja untuk manusia?

Ternyata bisa. Ellie bangkit keesokan harinya, mendatangi keluarga dengan wajah pucat tanpa ekspresi. Inilah masalah utama di sini, seorang ayah yang tak bisa merelakan kepergian orang terkasih. Dan tentu saja, Ellie yang ini bukanlah Ellie yang ia besarkan. Teror datang, saat istri dan Gage balik, makin runyamlah keadaan. Film ini menemui titik akhir yang luar biasa menyedihkan, sangat menyedihkan. Kejutan dan sebuah frasa, ‘suram adalah koentji’ menjelma nyata. Pemakaman binatang menjadi wahana baru seluruh yang melanggarnya, tanpa kecuali.

Tanpa ada bintang besar, ditangani sutradara yang tak terkenal, kisah ini lebih menjual nama sang Penulis yang sudah kadung terkenal. Mungkin yang sudah akrab cerita hantu menganggap biasa, mungkin yang sudah baca novelnya sudah tahu, mungkin pula yang suka menebak plot horror tahu. Namun bagiku ada sesuatu yang laik dipuji. Pertama kisahnya, tragis saja tak cukup untuk menggambarkan kehilangan orang terkasih, di sini malah menyeret yang lain, atas nama cinta tak mau dipisahkan. Bayangkan, kamu hidup, dan diajak memasuki dunia antah setelah kematian, tapi ini jenis kematian yang tak lazim. Jelas tak nyaman, jelas seram sekali. Kedua, saya tak menyangka ini membawa serta semuanya. Dengan berani, Pet Sematary memberi ending kejut. Sedih kuadrat.

Sudah sangat banyak novel King yang diadaptasi ke layar lebar, hasil suskes sama banyaknya dengan hasil busuk, baik box office atau kritikan. Yang jelas bagiku, film ini masuk best film 2019, walaupun ada di urutan buncit. Ini adalah kisah memberi kesedihan maksimal.

Pet Sematary | Year 2019 | Directed by Kevin Kolsch, Dennis Widmyer | Screenplay Jeff Buhler | Based on movel Stephen King | Screen story Matt Greenberg | Cast: Jason Clarke, Amy Seimetz, John Lighgow, Jet Laurence, Hugo Lavoie, Lucas Lavoie, Obssa Ahmed | Skor: 4/5

Karawang, 080520 – Bill Withers – I’ll Be With You

HBD Meiga Ria Rahayu

Sea Fever: Horor Parasite Laut

Sebenarnya alasan utama nonton film ini karena mencoba film non-mainstream, dan ada Hermione Corfield. Setelahnya blank. Hermione seingatku hanya dua film yang tersimpan dalam, jadi peran antah di toko kaset di Mission Impossible 5 dan jadi Syren King Arthur yang absurd. Memang bukan artis besar seperti Jolie atau Kristen Stewart, tapi pesona gadis Inggris dengan akses British-nya memiliki magnet tersendiri. Dengan poster yang mengingatkanku pada Underwater yang kulihat bulan sebelumnya, kurasa Sea Fever malah terjebak ke dalam kebingungannya sendiri.

Kisahnya tentang mahasiswi sains diminta Profesor (Dag Malmberg) guna melakukan penelitian di laut, Siobhan (Hermione Corfield) di kapal pukat pukat ikan di Irlandia Barat yang dinahkodai oleh Gerard (Dougray Scott) dan Freya (Connie Nielsen). Awaknya sendiri ga banyak, hanya lima orang dengan karakteristik unik, demi mencipta konflik/pemecahan masalah yang timbul nantinya. Omid (Ardalan Esmaili), seorang Timur Tengah yang tampak cerdas. Johnny (Jack Hickey) yang obesesif, dan Ciara (Olwen Fouere). Siobhan membawa perlengkapan menyelam, nantinya malah jadi kewajiban paksa ketika sebuah kejanggalan tercipta.

Masalah muncul ketika ada goncangan, dikira gempa atau kena karang, ternyata kapal nyenggol sebuah tentakel berwarna hijau. Tentakel itu malah sampai merembes ke lambung kapal, sehingga beberapa kayu berlubang. Ketakutan sempat menyeruak, apalagi setelah Siobhan terjun dan menemukan makhluk ini sejenis biolumniscent, ada potensi menyebar virus.

Ada sebuah kapal yang terdiam di dekat, tampak aneh karena dikontak radio taka da jawaban, taka da respon sama sekali. Maka bertiga mencoba naik perahu memeriksa. Hasilnya negative, tak ada penumpang hidup. Semua awak meninggal tragis, salah satunya bahkan dengan mata berdarah. Pistol tergeletak di meja, muram sekali. Anehnya, ketika mereka kembali ke kapal, malah berbohong, taka da kendala.

Endingnya agak mengecewakan. Ketika parasite mengepung dan satu-dua korban jatuh, bukannya kompak melakukan tindakan demi keselamatan bersama, malah terjadi sabotase. Tindakan heroik agar wabah tak menular keluar? Agar aneh, juga ketika sang pemilik yang getol menahan kapal, lalu dramatis mengucap ‘hanya kapal’ dengan kru yang seolah abai demi kesemalatan sendiri. Bisa jadi film ini rilis tepat waktunya dengan pandemic Corona, karena Sea Fever memberi opsi, virus bisa ditutup kasus dengan para korban ditiadakan, ketimbang menular. Namun tetap saja terdengar janggal melihat seseorang menyerahkan golok dan berujar, ‘bunuh aku’.

Ini film science fiction sederhana, budget terbatas, dengan eksekusi sederhana pula. Sempat terlintas Triangle ketika mereka menemukan kapal lain yang kosong penumpang, yang setelah diselidiki semua sudah tewas, ada burung camar yang mengoak, yang menakuti penonton karena kalau burung itu tewas, nasib buruk yang ada. Sayangnya Sea Fever berjalan linier tanpa banyak permainan waktu.

Rilis di Festival Film Toronto 2019, April lalu direct to streaming dan VOD. Saya sendiri memutuskan nonton ketika muncul di halaman pertama situs dengan nama Hermione di muka. Dan hasilnya film yang biasa banget. Mungkin bisa jadi pelajaran berharga pula, kalau memilih tontonan jangan subjektif semu. Hermione yang ini masih ga familiar, sehingga memang kurang menjual.

Sea Fever jelas hanya sekadar lewat, tak akan banyak bekas di kepala sepuluh tahun lagi. Bukan horror, bukan thriller, bukan pula fiksi ilmiah yang memerlukan mikir. Permainan nasib akan bahaya menghadang di tengah laut, keterbatasan bantuan, pilihan tindakan guna juang mempertahankan napas. Lalu lupakan…

Sea Fever | Ireland | Year 2020 | Directed by Neasa Hardiman | Screenplay Neasa Hardiman | Cast Hermione Corfield, Connie Nielsen, Dougray Scott, Olwen Fouere, Jack Hickey, Ardalan Esmaili, Elie Bouakaze, Dag Malmberg | Skor: 3/5

Karawang, 060520 – Bill Withers – I Want to Spend the Night

1917: Rancang Bangun Kemegahan Sinema

Down to Gehenna, or up to the Throne, He travel the fastest who travels alone.”Rudyard Kipling

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler==

Kisahnya di tanggal 6 April 1917, dan akan berakhir esoknya. Di ladang perang dari New Hendenburg Line ke Devon, Inggris. Dua tentara muda William Schofield (George MacKay) dan Tom Blake (Dean-Charles Chapman) diperintahkan Jenderal Erinmore (Colin Firth) untuk membawa sebuah pesan kepada Kolonel Mackenzie (Benedict Cumberbact), di battalion kedua resimen Devonshire. Surat yang berisi pembatalan serangan demi menyelamatkan nyawa 1.600 pasukan termasuk di dalamnya Joseph Blake, saudara Tom. Makin dalam maknanya, sebab melibat misi penyelamatan anggota keluarga.

Kalau dirangkum dalam satu kalimat: ‘Film tentang kirim surat, dengan berbagai kendala di perjalanan’. Tak banyak yang bisa dicerita, karena setelah menerima tugas, mereka bergegas gerak, waktu tak banyak. Namun karena blog ini mewajib ngoceh panjang kali lebar, maka ada baiknya saya ketik sahaja, beberapa detail ‘kendala’ petualangan. Yang pasti, berdua menemui berbagai masalah yang mematik peri kemanusiaan. Film jenis bom, bang, bang, wuuz…, jenis keseruan tanpa banyak cingcong dan renungan. Dalam sebuah gua bekas tempat duduk pasukan Jerman, mencipta sebuah degub bertalu-talu karena gua itu berisi bom, dan jebakan mematikan. Tikus dan segala kamuflase gelap di dalamnya. Sampai menahan napas saya ketika ledakan terjadi, seolah kisah berhenti bahkan ketika baru beberapa menit. Gilax, bahkan tikus mereka lebih besar!

Sampai pada sejenis rumah pertanian, saat mendapat susu sapi dan air bersih, sebuah pesawat Jerman tertembak dan meluncur jatuh ke arah mereka. Bayangkan, moncong pesawat mengarah kepadamu, kamu menghindar sejadi-jadinya. Dalam keadaan terluka sang pilot keluar dari pesawat yang terbakar, jiwa baik Blake malah menjadi petaka. Ketika ia mencoba menolong, justru kena tikam. Seluruh penonton turut menutup mata ngeri, seterkejut Blake yang akhirnya gugur. Rasanya pengen turutserta menjelma Schofield memberondong peluru ke sang pembunuh. Dalam adegan sunyi nan menyentuh, ia sekarat dan ia berjanji melanjutkan misi, sobatnya pamit dalam pelukan leleh air mata.

Saat senja menjelang, Schofield mencapai jembatan roboh dekat Ecoust Saint Mein, melintasi dalam rentetan tembak. Ia mamasuki reruntuhan kota setelah berjibau dengan sang sniper. Malam itu ia melintas dengan dingin, menemukan seorang ibu dan anaknya yang kepalaran, memberi botol susu, dan walaupun dia ada di pihak musuh, ia menggunakan nurani. Ini bisa jadi adegan menyentuh, bagaimanapun perang bisa merenggut beberapa hal, tapi nuranimu tetaplah ada. Adegan mengharu juga tersaji dalam tembakan suar di area no man’s land (medan di antara dua kubu).

Bagian yang mendebarkan tersaji ketika ia terjepit dalam kejaran, dan desingan peluru yang memaksanya terjun ke sungai. Menuruti aliran, menghanyutkan jiwa, lelahnya menyusup ke sumsum, seolah tulang itu turut menjerit capek. Sehingga ketika ia berhasil menepi, memasuki hutan dengan jalan gontai seolah pasrah. Pagi fajar menyingsung itu, diiringi untaian lagu pasukan D Company di Devons II, wow dikira kelar justru ia malah menemukan dituju. Sehingga kelesuan itu menjadi secercah semangat dan gegas mencari Kolonel Mackenzie. Agak terlambat, karena serangan sudah dimulai. Dalam deru tembakan dan serbuan, ia berlari sekuat tenaga untuk menyampaikan surat.

Banyak adegan bagus yang laik dibahas dan dibicarakan, yang pasti sinematografi juara. Sesuai prediksi, Deakin lock Oscar. Saya juga menyematkan best picture, yang sayangnya direnggut Parasite. Kalau Birdman yang menampil one take beberapa menit, dengan celana kolor bergaya ke panggung saja menang Oscar, bagaimana bisa yang sepanjang ini gagal? Akan sulit menandingi konsisten penonton menjelma mata kamera. Film yang nyaman sekali ketika dinikmati di layar lebar. Salah satu pengalaman cinema langka, di mana kita menyaksikan film dari awal sampai akhir seolah hanya satu kali pengambilan gambar. Klik, dan sepanjang 119 menit kita menyatu dengan desingan peluru, seolah kejadian ada di depan kita!

Secara cerita memang biasa, lha premis isinya cuma misi menyampaikan surat pembatalan serangan. Kalau kalian berharap ada semacam kejutan di akhir, semisal isi suratnya bersama bingkisan bunga ya ga akan nemu, atau surat 4×4, sempat ga sempat, jelas ga ada. Pesan itu hanya dibaca sekilas, lalu serangan yang terlanjur dimulai, akhirnya harus ditarik kembali, lalu mentari pagi menyoroti jiwa yang lega. Selesai. Strategi Jerman dengan pasukan yang seolah mundur, lalu menyerang balik musuh benar-benar ada, namanya Operation Alberich. Strategi itu dilakukan tanggal 9 Februari sampai 20 Maret 1917, yang juga nyata berdasarkan Kejadian Pertempuran Passchendaele atau Pertempuran Ypres III (31 Juli – 10 November 1917). Karena setting waktu di film ini justru adalah hari pertama Amerika turut Perang Dunia I.

Sam Mendes melakukan gebrakan sinema yang menakjubkan secara teknis. Sebuah achievement yang seharusnya bisa lebih dihargai di Oscar, sensasi layar lebar, senikmat Gravity yang memberi efek layang, atau Avatar yang biru membuncah memberi gambaran terbang di dalam gedung bioskop. Masterpiece visual, teknologi memang sudah sangat maju, tapi ga semua bisa semegah ‘one take’ ini. Ga usah mengerutkan kening. Ini jenis film yang memanjakan indera pengelihatan, pendengar, dan asupan pengecap. Sebuah Rancang Bangun Kemegahan Sinema.

I hope today would be a good day. Hope is a dangerous thing.”

1917 | Year 2019 | Directed by Sam Mendes | Screenplay Sam Mendes, Krysty Wilson-Cairns | Cast Dean-Charles Chapman, George MacKay, Daniel Mays, Colin Firth, Mark Strong, Benedict Cumberbatch | Skor: 4/5

Karawang, 050520 – Bill Withers – Family Table

*) Film ini kutonton di hari pertama tayang di Blitz Karawang bersama Titus Pradita

**) RIP Lord of Godfather of broken heart: Didi Kempot 1966-2020, Sad news. Kabar duka ini kutahui ketika mengantre di Samsat Karawang untuk ganti pelat SiBiru lewat lini masa sosmed. Tindak kundor, Legend. #Ambyar