I, Tonya: A Triple Axel Skating Movie

I, Tonya: A Triple Axel Skating Movie

Tonya Harding: America. They want someone to love, they want someone to hate.

Karena saya tak akrab sama olahraga skating, apalagi di Amerika sana. Drama bersaingan yang disajikan sungguh mendebarkan. Wow, ini kisah nyata. Sebuah sabotase, kecurangan dan upaya jahat untuk menjatuhkan lawan satu Negara demi sebuah medali di Olimpiade Skating. Ending-nya juga mengejutkan, bagaimana sifat kasar orang tua menurun sehingga coba dipoles sedemikian rupa menjadi anggun pun tak sesukses yang diharap maka jalan keras jua yang terpaksa diambil. Luar biasanya si Margor Robie yang biasanya tampil cantik dan seksi di sini dirubah menjadi kasar dan skeptis menghadapi hari. Namun tetap aktingnya masih di bawah McD dan Saoirseku tentunya.

Kisahnya dituturkan dengan cara yang sedikit unik. Bagaimana film biografi olahragawati es skater Tonya Harding (diperankan dengan keren oleh Margot Robie) dibuat bak sebuah wawancara diperankan aktor lalu narasi itu membawa kita mengikuti alur kehidupan. Tonya terlahir dari keluarga broken home, ayahnya kabur, hidup dengan ibunya Lavona (Allison Janney) yang keras, bekerja sebagai pelayan restoran. Tiap scene wawancara, si ibu pakai semacam selang oksigen yang menjuntai. Hobi minuman keras dan tak hentinya merokok, jelas ada masalah kesehatan, kebiasaan buruk, sifat yang menurun. Setiap sen yang dikeluarkan dihitung, mempertaruhkan segalanya demi masa depan sang buah hati. Mendaftarkan sekolah skating dalam keadaan ekonomi yang memprihatinkan. Hidup memang sebuah perjudian ‘kan? Tonya adalah anak ke-5 dari suami ke-4. Wuih… pernah punya 6 suami!

[[Based on irony free, wildly contradictory. Totally true interviews with Tonya Harding and Jeff Gillooly]]

Dengan setting utama di Portland, Oregon. Tonya begitu berbakat. Melakukan putaran yang sulit dan memukau penonton. Di rumah ia dibesarkan dengan disiplin, makian, sinisme dan keras. Bahkan dalam sebuah adegan Tonya dilempar pisau yang melukai tangan, dan hatinya! Sehingga memutuskan kabur. Hidup dan menikahi pacarnya Jeff Gilloony (Sebastian Stan), ia seorang montir yang awam olahraga yang digeluti pasangannya, tapi memberi dukungan penuh. Namun lepas dari ibunya yang keras, ternyata sang suami juga melakukan KDRT – kekerasan dalam rumah tangga. Semakinlah Tonya menampakkan sifat melawannya. Hubungan keluarga ini memang tak harmonis dalam segala segi. Sama ibunya retak, sama suami remuk. Padahal karir olahraganya menanjak. Tonya tampil bagus saat ada penonton mencehooh, ibunya kasih duit si peneriak. Jiah! Tonya makin sayang suami, dan hot setelah pertengkaran. Emang stress.

Dalam ranking tahun 1991 ia menjadi nomor satu di USA dan runner up international, posisi ketiga di Orlando. Di kejuaraan Albertvill, Perancis ia dikenang dalam gerakan sulit Triple Axel, menegangkan, berdebar. Dan gagal. Ia menempati urutan keempat. Tonya menyalahkan sepatu yang rusak dan diperbaiki bilahnya seada, tapi selalu ada kesempatan kedua dalam kompetisi bila kita terus bekerja keras. Namun tidak untuk hubungan rumah tangga. Ibunya memprediksi Tonya salah pilih suami, sang suami yang sebenarnya sayang juga akhirnya melakukan kesalahan fatal yang menjadikan hubungan di ujung jarum. Puncaknya pada tahun 1994 jelang kejuaraan international Olimpiade Winter 1994 di Lillehammer, Norwegia di mana seleksi ice skating yang panas antara Nancy Kerrigan (Caitlin Carver) dan Tonya. Sebuah konspirasi untuk mengintimidasi lawan sekaligus rekan senegara, konfrontasi itu menghasilkan sebuah kekerasan. Rencana hanya meneror justru menjadi tak terkendali saat sang bodyguard gendut yang gila Shawn Eckhardt (Paul Walter Hauser) melakukan melampaui imaji. Ngeri, wew dan jelas melukai sportivitas. Mereka menyebutkan ‘the incident’. Lalu bagaimana hasil olimpiade kejuaraan akbar itu? Sekali lagi, dalam olahraga ini, akankah ada kesempatan kedua?

Dengan segala hype yang ada, Margot memang masih dibawah McD. Sepakat. Ini adalah nominasi Oscar pertamanya, rasanya ia melakukan lonjakan karir yang bagus. I, Tonya adalah kandidat satu-satunya yang kirim kandidat best actress tapi ga masuk best picture. Bukan hanya menggambil peran gadis manis dan panas, Margot memberi bukti bahwa ia bisa mengubah image. Jelas suatu hari ia akan muncul lagi dalam daftar Oscar, dan menang! Suatu hari nanti…

Untuk Allison Janney yang menang Oscar supporting actress, saya kurang setuju. Aksi Laurie Metcalf sebagai ibu Saoirse lebih bagus dan meyakinkan. Keras itu tak perlu sampai melempar pisau, mendidik anak akan lebih mencekam dengan memberi aturan main yang diluar jangkau pikiran remaja ketimbang adegan tabok-tabokan. Sama-sama dari kelurga sederhana, sama-sama memerankan ibu yang kolot mencoba mengatur masa depan anaknya, keduanya memang layak dinominasikan, tapi tetap Laurie lebih memberi nyawa dan pas banget. Sayang sekali antipasti juri terhadap Lady Bird memberi 0 piala termasuk yang paling kurang prestise sekalipun. Hiks,…

Akhir kisah juga sadis, hukuman yang dijatuhkan pada Tonya membuatnya kecewa. Dan mengakhiri segalanya. Efek salah penanganan dan tekanan berlebih memang serem. Tonya yang berbakat sejatinya bisa jauh lebih hebat andai dalam jalur yang benar. Sayang sekali, keputusan-keputusan hidup yang mendorongnya menuju lorong hitam. Kalimat umpatan di ending “That’s the fucking truth” dirasa seperti sebuah kekesalan atas segala keputusan salah di masa lalu. Credit akhir yang memunculkan Tonya asli bermain es skating di kejuaran 1991, cukup memberi gambaran betapa hebatnya dia. Putaran sulit, bermain percaya diri, memukau penonton, berjoget penuh gaya. Luar biasa Indah. Diakhiri dengan standing applaus dan keceriaan bersahaja.

You skated like a graceless bull dyke. I was embarrassed for you. Sial!

I, Tonya | Year 2017 | Directed by Craig Gillespie | Screenplay Steve Rogers | Cast Margot Robbie, Sebastian Stan, Allison Janney, Julianne Nicholson, Paul Walter Hauser, Mckenna Grace | Skor: 4/5

Karawang, 180418 – Sherina Munaf – Sahabat Sepanjang Masa

Prediksiku Di Oscar 2018: #SacramentoProud

Pertama kalinya saya bisa menuntaskan tonton seluruh kandidat best picture. Pertama kalinya pula saya tak beli dvd bjgbye bye DVD player yang barusan saya service solder, karena sudah ganti HP dan unduh di LK21.org yang nyaris semua film dikejar dari sana. Thx to Rani Wulan S.Kom. Tahun ini saya akan nonton live untuk yang ke sembilan tahun beruntun. Izin cuti besok sudah kukantongi. Setelah mendapat hasil buruk hari ini, Lazioku kalah menit ke 92 dan Roma menang meyakinkan ke Naples, semoga Senin akan lebih cerah. Berikut 14 tebakanku.

#14. Animated feature filmCoco

Alasan: Tema kartun yang hebat, kehidupan setelah kematian.

Saya hanya nonton satu film dan sudah cukup yakin Pixar menang lagi. Bagian animasi memang paling mudah ditebak, dari dulu tipikal ceria anak-anak dengan tema cerita tak lazim masih sangat disukai juri Oscar.

#13. Actor in a supporting role – Woody Harrelson (Three Billboards Outside Ebbing, Missouri)

Alasan: Dengan dua wakil dari Three Billboards, rasanya kategori ini hanya untuk Woody atau Sam.

Sayang saja Ray Ramona-nya Big Sick tak masuk. Bagian saat pembacaan surat perpisahan di depan kandang kuda itu sangat menyentuh, tema kematian tapi dibawakan dengan komedi satir. Aneh sekali lima menit lalu saya ketik Sam lho, ga tahu kenapa saya malah backspace dan ganti Woody. Juri selalu suka orang-orang yang bernasib tragis. Luka bakar masih bisa diobati, tapi kematian adalah akhir dari perjalanan fana.

#12. Actor in a leading role – Gary Oldman (Darkest Hour)

Alasan: Pidato ending yang luar biasa, perubahan dratis Oldman dengan prostetik make up

Timothee Chalamet bisa langsung kita coret karena tema gay berciuman sudah tak menarik. Day-Lewis seperti sebelum-sebelumnya yang kharismatik, perpisahan manis. Denzel terlepas. Kaluuya yang pendatang baru justru tampil manis dengan senyum dan air mata di ruang karam. Namun jelas, tak terbantahkan sejarah mencatat perubahan tampilan fisik sudah sangat sering dicatat juara. Tahun ini hanya bencana besar yang bisa mengalahkan Sirius Black.

#11. Actress in a supporting rose – Laurie Metcalf (Lady Bird)

Alasan: Boyhood versi cewek, Patricia Arquette-nya tahun ini.

Senang sekali lihat Laurie mengatur Saoirse. Khas hubungan ibu-anak dimana saat dekat saling marahan, saat jauh rindu. Apalagi saat anak remaja yang beranjak dewasa, di mana banyak pilihan masa depan terbentang, sang ibu hanya menuntun. Sedih, senang, sendu, sayang.

#10. Actress in a leading role – Saoirse Ronan (Lady Bird)

Alasan: Penampilan terbaik Saoirse Ronan, kesempatan ketiga, wajib diganjar piala.

Pesaing sejatinya hanya Frances McDormand yang membara dan luar biasa. Kalau bukan fanatisme, rasanya sang ibu yang melempari kantor polisi dengan api akan menang. Namun Saoirse juga luar biasa hebat menghadapi ibu yang posesif dan ayah yang defensif. Bagian saat ia meminta nominal uang asuh itu absurd, sakit memang sekaligus menyentuh hati terdalam.

#9. Music (original song) – “This is Me” (The Greatest Showman)

Alasan: Saya sudah nonton kandidat lain, terasa biasa.

Saya belum menonton The Greatest Showman, tapi melihat pesaing lain yang biasa rasanya mending menjagokan filmnya Jackman. Apalagi film musikal punya sejarah dominan menang bagian ini. Kenapa Never Forget-nya Michelle Pfeiffer ga masuk ya?

#8. Makeup and hairstyling – Darkest Hour

Alasan: Oldman jadi ga kayak Oldman, sangat berbeda dari Black yang saya kenal

Kalau ga tahu cast sebelum menonton kalian pasti pangling. Sama seperti saat Tom Cruise ambil bagian di Tropic Thunder yang dance aneh itu. Saya terkejut saat di credit title muncul namanya. Sampai butuh tiga jam hanya untuk mendandani satu aktor? Ini gila.

#7. Visual effects – Guardians Of The Galaxy Vol. 2

Alasan: I am Groot! Hahaha.. sinar di mana-mana

Saya baru lihat Guardians dan War For. Banyaknya review negatif film sama tinggi dengan ulasan negatfi-nya. Namun kita sepakat, film ini memiliki efek visual luar biasa. Perang antar galaxy yang melelahkan, untung Mantis punya antena.

#6. Music (original score)Dunkirk

Alasan: Skor film bahkan jauh lebih bagus ketimbang ceritanya.

Sudah saya plot musim panas tahun lalu. Sudah saya prediksi, minimal masuk nominasi – terbukti ‘kan. Iringan musiknya berkejaran beriringan lari pasukan Inggris yang terdesak serangan Jerman dari udara, laut dan darat. Saingan utama The Shape of yang memang bagus menyertai makhluk air, tapi tetap komitmen jago – apakah juga terbukti?

#5. Cinematography – Blade Runner 2049

Alasan: Angka 14 adalah angka istimewa.

Sebenarnya tadi sudah ketik Mudbound, tapi berubah pikiran berkat teringat angka 14, angka spesial. Henry, Keita, Simone, dkk. Angka yang menjadi jimat Roger Deakins untuk pecah telur. Come on doa penggemar King of Highbury menyertaimu.

#4. Writing (adapted screenplay) – Mudbound

Alasan: Narasi yang hebat

Adaptasi novel memang harus seperti ini. Kenikmatan membaca berhasil dialihkan ke pendengaran. Narasinya juara, seperti menikmati novel audio. Sebenarnya suka sekali Logan, tapi sayang sekali kesempatan langka superhero masuk kategori bergengsi ini bersamaan dengan kegemaranku di seni tulis. Dosa besar kalau saya tak menjago takdir yang menyertai dalam lumpur.

#3. Writing (original screenplay) – Lady Bird

Alasan: diary, screenplay, moving picture

Ini kategori favoritku. The Big Sick bisa dicoret. The Shape yang biasa saja juga yakin bisa dihilangkan. Lady Bird yang memang jadi film istimewaku, tak mungkin tak kujago. Terlihat sekali ini adalah pengalaman hidup Greta Gerwig yang sukses diaplikasikan di layar. Three Billboards yang menang menghentak bisa saja, tapi saya akan histeris andai yang menang Get Out.

#2. Directing – Greta Gerwig (Lady Bird)

Alasan: Look like a memory, kita satu angkatan Bu.

Satu-satunya kandidat wanita, keputusan tepat memilih Saoirse di mana kisah penunjukan cast-nya berturut dengan Brooklyn. Hebat sekali, bisa menulis cerita pribadi, menuliskan naskah dan memfilmkan, serta hasilnya qualify. Ganjaran piala akan menyempurnakan itu.

#1. Best picture – Lady Bird

Alasan: For Saoirse. For Gerwig. For Sacramento

Saya akan ulasan sepintas semuanya. Skor, satu kalimat, dan pendapat singkat:

* Call Me By Your Name – 2/5 cheesy, hebat kalau kalian bisa menuntaskan tonton tanpa mengantuk. Tema homo, coming of age yang berat, dan orang asing yang berhasil mencuri hati. Jelas peluangnya paling kecil.

* Darkest Hour – 4,5/5 powerful speech, Film biografi tahun ini. Sungguh memikat, selama ini saya hanya tahu Churchill dari buku-buku – pemenang Nobel Sastra Bro, ini adalah film tentang dirinya pertama yang kutonton dan langsung memikat. Film ini lebih pada aksi tunggal Oldman, bukan milik Joe Wright.

* Dunkirk – 4/5 technical masterpiece, kejutan musim panas. Secara kulitas cerita biasa, Nolan kalau sampai menang justru ironis karena beliau terkenal sebagai master twist ending, masak di puncak pas pamer skill teknik? Lelucon tak lucu

* Get Out – 5/5 sunken place, saya akan kasih aplaus khusus kalau sampai juri Oscar berani memenangkannya. Ini jelas film yang melawan arus, ide brilian memasuki pikiran manusia dengan meletakkan penghuninya di ruang karam. Hebat, canggih, gila.

* Lady Bird – 5/5 Sayangku Saoirse, sesubjektif saya, saya tak pegang Broonklyn dua tahun lalu. Walau film itu sangat personal tapi jelas posisinya tentang cinta yang jauh akan sulit menang. Kali ini Lady Bird sangat layak, sangat pantas. Sebuah kesuksesan tersendiri biografi tak resmi diri sendiri bisa menang di piala tertinggi. #PalurProud

* Phantom Thread – 4/5 ini film Daniel Day-Lewis, bukan Paul Thomas Anderson. Mau dipegang Paul Thomas ataupun Paul Rudd tetap saja akan bagus kalau punya cast semewah Lewis. Film ngegoliam perang batin dua jam yang hanya disukai kaum snob. Jiah, saya nilai 4 bintang shob juga nih? Hiks…

* The Post – 3.5/5 Newspaper Power, sudah sangat banyak film tentang Perang Vietnam, sudah sangat banyak pula film tentang media cetak yang mengungkap fakta rahasia, tapi jelas The Post bukan yang terbaik.

* The Shape Of Water – 3/5 Beauty and the Beast in Nude Mode, 13 nominasi untuk film macam gini? Bah! Del Toro punya masterpiece Pan’s Labyrinth, jadi ini bukannya grafik naik malah drop. Cerita, akting, teknikal, semua biasa. Ampun deh, jangan hilangkan kepercayaan kami, please bapak ibu juri.

* Three Billboards Outside Ebbing, Missouri – 4/5 Membara Berkobar Terbakar, inilah favorit juri sesungguhnya. Kalau kalian jagoin film ini kalian ikuti arus aman laiknya La La Land, Spotlight, Birdman, 12 Years A Slave, Argo, The Artist, dst. Hidup tak seru da menarik kalau tak ada kejutan, dalam delapan tahun terakhir Best Picture Academy Award yang kusaksikan para juri hanya punya keberanian memilih keluar jalur rel kereta tahun lalu. Bagaimana tahun ini?

Karawang, 050318 – Sherina Munaf – Singing Pixie

Catatan tambahan: Saya ketik prediksi ini tanpa browsing, tanpa buka referensi, tanpa pembanding siapapun dari media sosial ataupun copas pendapat orang lain. Murni penilaianku dari menonton yang mungkin terdengar subjektif. Baiklah, Baby Driver ternyata belum kusebut, perkiraanku bakal menang minimal satu piala, tapi bagian editing tak kucantumkan karena mulai tahun ini saya hanya akan memilih 14 kategori.

Darkest Hour: Oldman Triumph

Winston Churchill: Nations which go down fighting rise again, and those that surrender tamely are finished.

Wow. Powerful Speech. Tak ada keraguan, Gary Oldman pasti menang best actor. Berkat Darkest Hour saya akan jagokan England juara Piala Dunia 2018. Simpati, doa, dukungan, harapan. Orator ulung, kalimat-kalimat akhir film ini sungguh menggugah. Mak jleb!

Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain (Ronald Pickup) mundur di bulan Mei 1940 karena kehilangan kepercayaan dalam menghadapi krisis, dan parlemen segera mencari pengganti. Krisis yang dimaksud adalah Jerman dengan Hitler-nya sedang meruntuhkan negara-negara tetangga, saat ini sedang di perbatasan Belgia dan segera merembet Perancis yang tentu saja Inggris dalam posisi tak nyaman. Welcome to War World II film! Housepainter.

Ini adalah salah satu film sejarah/biografi terbaik yang pernah dibuat. Benar-benar menghentak, memotivasi, memberikan semangat meluap. Saya jadi membayangkan suatu saat sang Proklamator Ir. Soekarno di film-kan Hollywood, pasti akan sangat heboh. Orator ulung yang tak kalah glamor dalam memicu nasionalis warga. Ataukah sudah ada yang buat?

Juru ketik cantik Elizabeth Layton (Lily James – film kedua Oscar yang kutonton setelah menggoda Baby Driver) direkrut menjadi sekretaris Winston Churchill (diperankan dengan gagah oleh Gary Oldman). Diperkenalan awal, tak berjalan lancar. Salah ketik, salah dengar, salah komunikasi ‘banyak banyak banyak…, ada berapa banyak?’ Istrinya Clemmie (Kristin Scott Thomas) menasehatinya, ‘ojo kasar-kasar lah dadi uwong. Dah tua. ‘Yes I am afraid you are.’ Telegram yang menjadikannya Perdana Menteri diterima Layton saat ia akan kabur, seorang pengantar pesan memberinya dengan cuek. Ragu, lantas berbalik, dan siap melanjutkan pekerjaan.

Sang Raja George VI (Ben Mendelsohn) mengundang Churchill ke Buckingham Palace, setelah menerima pengunduran diri Chamberlain ia menyambut dengan absurd. ‘Well even a stopped clock is right twice a day.’ Memang kalau menerima perintah Raja dan tunduk gitu harus cium tangan ya? Churchill ternyata tak sepenuhnya didukung banyak pihak, ia memang jadi pengambil kebijakan utama, tapi banyak suara sumbang dan penentang di sekitar parlemen. Di film ini jelas sekali ditunjukkan ada pertemuan tatap muka rahasia antara mantan Pendana Menteri dan sekjen luar negeri Lord Halifax (Stephen Dillane). Halifax digambarkan tak suka Churchill, menginginkan perdamaian dengan pihak Jerman, sering minta perantara Italia. Ia terus menekan Churchill, ayo bos kita gencatan senjata, tersamar tapi jelas ada aura ketakutan yang menggantung di udara. ‘Will you stop interrupting me while I am interrupting you!’ Chamberlian ternyata sakit kanker dan mengkhawatirkan akan menyaksikan Inggris jatuh di sisa hidupnya. Nantinya ia justru mendesak sang raja kembali mencopot Churchill yang dirasa tak klasify. Konflik yang memang sangat dibutuhkan film berkualitas, sampai di sini mulai bercabang rumit. Antara pendapat pribadi para oposisi, keluarga sang pejabat dan tentu saja kepentingan utama Negara yang terus terancam, didesak waktu.

Keputusan berat pertama harus diambil sang Perdana Menteri, saat ada 300,000 pasukan yang terdampar di Dunkirk dan dalam gempuran Jerman, apakah perlu mengirim pasukan penyelamat atau segera membantu negara tetangga Perancis yang mulai goyah. Rencana penyelamatan dirahasiakan, ia menuju Perancis dulu untuk diskusi kebijakan darurat. Bagian ketika ia mencoba berbicara dengan Pihak France terlihat lucux, Oldman yang coba merebut simpati terasa berlebihan. ‘Negara sahabat, kita pasti bisa melewati masa ini seperti yang sudah-sudah, apa serangan balik yang dipersiapkan, jadi apa rencanamu?’ Well, tak ada rencana! Wew pasrah gan.

Melalui siaran radio, Churchill menghimbau agar warga siap mengeratkan tangan dan siap melawan. Pertemuan dengan Perancis ada kemajuan, maka kita harus berani hadapi tirani gelap ini, bersiaplah perang demi kemenangan kita! Dengan background wilayah-wilayah runtuh dalam serangan Jerman, sungguh kalimat menggugah itu adalah ironi. Suatu ketika ia berfoto dengan dua jari membentuk V yang berarti Victory. Namun sang sekretaris menjelaskan V bisa artinya ‘up your bum’, makna negatif dan positif. Sampai sejauh mana Inggris Piala Dunia nanti?

Di Dunkirk yang darurat, butuh pertolongan, Churchill berencana mengirim 4,000 pasukan untuk melakukan evakuasi, ide itu ditentang para Lord karena seperti misi bunuh diri. Frustasi, ia meminta bantuan Amerika untuk mengirim 40 mesin penghancur. Melalui sambungan telpon jarak jauh Presiden Franklin Roosevelt tak langsung bilang tidak. Secara halus menolak karena kena aturan perang, bisa saja ia mengirim bantuan pasukan berkuda , pasukan tanpa mesin. Bah! Ngeledek ini. Ekspresi Churchill yang berang tapi tetap berkata halus sungguh mengaharu.

Sementara para Lord mendesak meminta Churchill untuk segera berunding damai saja sebelum Herr Hitler menyerang pelosok negeri. Desakan yang makin membuatnya pening, apalagi Halifax malah mengancam 24 jam lagi ia mundur kalau negosiasi tak segera diapungkan. Situasi mendesak itu mengakibat, rencana pengiriman pasukan bantuan diurungkan. ‘He mobilized the English language and send it into battle.’ Dan Churchill justru menjawabnya dengan membentuk Operasi Dinamo dengan melibatkan warga sipil dengan meminta mengirim perahu/kapal ke Dunkirk, ralat ini bukan permintaan, ini perintah! Ide yang terdengar aneh, sipil dilibatkan militer, tapi tidak. Ini jelas ide brilian. Hebat! Apa yang terjadi berikutnya kalian bisa lihat di film karya Nolan yang teknikal unsurnya luar biasa, yang entah kebetulan atau sengaja rilis bersamaan di tahun Oscar.

Belgia akhirnya menyerah. Perancis segera menyusul. Inggris ketar-ketir. Lukaku mejan, Pogba mandul, Rooney pindah. Churchill yang punya opsi menyerah atau berani melawan digdaya Jerman akhirnya menemukan jawab dari kaum jelata. ‘You can not reason with a Tiger when your head is in its mouth.’ Saat di West End, London lalu lintas macet, dan mobil terhenti, ia memutuskan kabur. Naik kereta bawah tanah, membaur dengan warga. Berdiskusi langsung. Meminta api buat rokoknya, warga yang shock karena ada orang penting di kursi kereta pada terdiam dan manut. Ia berdiri, penumpang ikut berdiri. Ia duduk, semua menunduk. Hormat. Sang Perdana Menteri menanyakan, meminta saran dan memastikan apa yang harus kalian lakukan saat ini? Tunduk ke Jerman atau terus melawan? Luar biasa, suara bulat: Lawan! Saya lebih baik mati tercekik darah di tanah merdeka ketimbang menjadi budak. Wow, para warga biasa ternyata punya jiwa ksatria ketimbang para pejabat yang kecut.

Maka saat kereta berhenti di Westminster ia berjalan ke gedung dengan kepala tegak penuh percaya diri. Mengutarkan suara rakyat, mereka para pemberani yang tak takut berperang. Maka jadilah final act, pidato beliau yang terkenal itu. Adegan akhirnya luar biasa menggugah, parlemen mengibarkan, menggelombangkan sapu tangan dan kertas-kertas bertaburan yang tentu saja sepakat bulat, Lawan!

Saya sudah prediksi pasti pidato itu akan dijadikan boom, gong penutup film. Kenapa? Ya karena saat penonton mengakhirinya aura membuncah masih sangat menempel, akan terkenang. Hebat! Joe Wright memenuhi harapan itu. sempat bilang Darkest Hour is movie of the year, sesaat setelah tulisan credit berjalan. Namun kini saya ralat, Orient Express tetap yang terbaik, sejauh ini. Hehe…

Succes is not final. Failure is not fatal. It is the courage to continue that counts.’

Epilog text kurasa tak perlu karena jelas ini film historikal yang kisahnya ada di banyak buku sejarah. Bisa jadi Dunkirk-nya Nolan adalah sekuel Darkest Hour versi popcorn. Atau The Darkest Hour adalah prekuelnya? Hahaha…

V for Victory. Koran-koran jadul yang menunjukkan keklasikannya dimunculkan, salah satunya sebuah koran terbitan Daily Express yang memuat headline ‘Change must be made quickly’. Jadi membayangkan zaman itu betapa mencekam.

Sepanjang film, raut Oldman yang kharismatik ditutupi. Ia menjadi tambun, gugup dan tertekan. Dengan cerutu dan minuman berwarna, segala yang diperbuatnya seolah menjadi sabda. Oldman mempelajari setahun terakhir sebelum mengambil peran ini. Ganjaran yang pas. Saat dia dianugerahi dalam Golden Globe, ia mengucapkan terima kasih untuk istri Gisele yang telah menjadikannya keren, serta ironi ‘I go to bed with Winston Churchilland wake up with Gary Oldman.’ Patut dinanti apa yang diucapnya Senin nanti. Komisaris Gordon, Sirius Black, George Smiley, Vladislav Dukhovich, Winston Churchill. Puncak Oldman, akhirnya Oscar!

Sepintas mengenai Churchill. Karena saya pengikut Nobel Sastra, maka beliau tentu saja akan selalu dikenang berkat kemenangannya di tahun 1953. Churchil adalah anggota partai Konservatif sebelum akhirnya pindah ke Partai Liberal. Di tahun 1931 saat partainya menang Pemilu ia tak dilibatkan Ramsay MacDonald dalam kabinet, menjadikan titik terendah karir politiknya. Ia lalu malah menulis buku History of the English Speaking Peoples, yang diterbitkan setelah Perang Dunia II. Beliau adalah penentang utama Chamberlain yang menjadi penggembira Hitler, maka ketika ia menjadi Perdana Menteri tahun 1940 ia melawan, memperkuat persenjataan. Pidato awal setelah dilantik sangat terkenal memang inspiratif, ‘Saya tidak mempunyai apa-apa untuk ditawarkan kecuali darah, kerja kuat, air mata dan peluh.’

Karena kenekadnya menentang arus, ia banyak musuh di parlemen maka tak heran kalah telak pasca perang dari Partai Buruh. Barulah tahun 1951 Churchill kembali menjadi Perdana Menteri, dua tahun berselang dapat gelar Sir dan menang Nobel Sastra. Kalimat paling fenomenalnya, yang menjadi final speech film ini akan selalu dikenang generasi ke generasi berikutnya.

Kita akan mempertahankan pulau kita, walau apapun harganya, kita akan bertempur di pantai, kita akan bertempur di tempat pendaratan, kita akan bertempur di padang dan di jalan, kita akan bertempur di bukit, kita tidak akan sekali-kali menyerah!

Darkest Hour | Year 2017 | Directed by Joe Wright | Screenplay Anthony McCarten | Cast Gary Oldman, Kristin Scott Thomas, Ben Mendelsohn, Lily James, Ronald Pickup, Joe Armstrong, Stephen Dillane | Skor: 4.5/5

Karawang, 030318 – Sherina Munaf – Lari Dari Realita

Oscar 2015: The Winners

Akhirnya bisa nonton bareng Oscar di bioskop juga. Senin (23/2) kemarin saya ambil cuti untuk ke Mal FX Sudirman, Jakarta. Acara yang diselenggarakan atas kerja sama Big Tv, HBO Asia dan Cinemaxx, first impress – nya seru. Ga rugi jauh-jauh dari Karawang berangkat subuh demi acara ini. Ngumpul bareng Gila Film (GF), Bank Movie (BM), Layar-Tancep (LT) dan beberapa komunitas film lain. Catatan khusus acara akan saya posting besok, yang ini khusus review pemenang Oscar. Here we are..

Best Supporting Actor – Salah (0/15)

WINNER: JK Simmons for Whiplash

Robert Duvall for The Judge

Ethan Hawke for Boyhood

Edward Norton for Birdman

Mark Ruffalo for Foxcatcher

Saat pengumuman pemenang, saya ga lihat. Sampai FX terlambat euy jadi ga lihat red carpet. Bayangkan perjalanan macet 3 jam yang melelahkan! Untuk kategori ini memang prediksi bakalan menang JK Simmons, saya belum lihat jadi yah KO.

Costume Design – Benar (1/15)

WINNER: The Grand Budapest Hotel – Milena Canonero

Inherent Vice – Mark Bridges

Into the Woods – Colleen Atwood

Maleficent – Anna B Sheppard

Mr Turner – Jacqueline Durran

Ingat prediksi saya, Lobby boy, topi miring? Yup! Ternyata terbukti kan.

Best Supporting Actres – Benar (2/15)

WINNER: Patricia Arquette for Boyhood

Laura Dern for Wild

Keira Knightley for The Imitation Game

Emma Stone for Birdman

Meryl Streep for Into the Woods

Ternyata tebakan liarku membuahkan hasil. Kecewa sama ke-4 kandidat lain. Kategori ini malah tepat.

Visual Effect – Benar (3/15)

WINNER: Interstellar – Paul J Franklin, Andrew Lockley, Ian Hunter, Scott R Fisher

Captain America: The Winter Soldier – Dan Deleeuw, Russell Earl, Bryan Grill, Daniel Sudick

Dawn of the Planet of the Apes – Joe Letteri, Dan Lemmon, Daniel Barrett, Erik Winquist

Guardians of the Galaxy – Stephane Ceretti, Nicolas Aithadi, Jonathan Fawkner, Paul Corbould

X-Men: Days of Future Past – Richard Stammers, Lou Pecora, Tim Crosbie, Cameron Waldbauer

Saya berpendapat film Nolan ga boleh tangan hampa, dan adegan black hole itu perlu diapresiasi. Correct!

Animated Feature – Benar (4/15)

WINNER: Big Hero 6

The Boxtrolls

How to Train Your Dragon 2

Song of the Sea

The Tale of the Princess Kaguya

Sekali lagi benar. Sampai di menit saat film animasi saya sempat berujar ‘wah tebakanku rata-rata benar. Ini kah tahunku?’ 4 dari 5 sejauh ini benar.

Cinematography – Benar (5/15)

WINNER: Birdman: Emmanuel Lubezki

The Grand Budapest Hotel: Robert D Yeoman

Ida: Lukasz Zal, Ryszard Lenczewski

Mr Turner: Dick Pope

Unbroken: Roger Deakins

Well, kekuatan utama film ini ya di sini.

Film Editing – Salah (5/15)

WINNER: Whiplash – Tom Cross

Boyhood – Sandra Adair

The Imitation Game – William Goldenberg

The Grand Budapest Hotel – Barney Pilling

American Sniper – Joel Cox, Gary Roach

Kaget juga saya ikut nebak bagian ini, saya kepleset ketik bukan film editing tapi sound editing. Birdman ga ada di kategori ini, malah saya tebak. Duh!

Original Song – Benar (6/15)

WINNER: Glory from Selma – Lonnie Lynn (Common), John Stephens (John Legend)

The Lego Movie – Shawn Patterson (Everything Is Awesome)

Beyond the Lights – Diane Warren (Grateful)

Glen Campbell: I’ll Be Me – Glen Campbell, Julian Raymond (I’m Not Gonna Miss You)

Begin Again – Gregg Alexander, Danielle Brisebois (Lost Stars)

Yuhui, pada nangis setelah lagu dibawain di acara. Saya sih biasa saja, ini Amerika sekali. Glory!

Original Score – Salah (6/15)

WINNER: Alexandre Desplat – The Grand Budapest Hotel

Alexandre Desplat – The Imitation Game

Hans Zimmer – Interstellar

Jóhann Jóhannsson– The Theory of Everything

Gary Yershon – Mr Turner

Tak kusangka Theory bakal tumbang di sini, padahal score-nya luar biasa.

Original Screenplay – Salah (6/15)

WINNER: Alejandro González Iñárritu, Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, Armando Bo – Birdman

Richard Linklater – Boyhood

E Max Frye, Dan Futterman – Foxcatcher

Wes Anderson, Hugo Guinness – The Grand Budapest Hotel

Dan Gilroy – Nightcrawler

Ini hal yang paling mengecewakan di Oscar 2015. Film sesempurna Budapest kalah di naskah. Mulai kategoti ini saya was-was, tebakanku mulai ngaco.

Adapted Screenplay – Salah (5/15)

WINNER: Graham Moore – The Imitation Game

Jason Hall – American Sniper

Paul Thomas Anderson – Inherent Vice

Anthony McCarten – The Theory of Everything

Damien Chazelle – Whiplash

Theory lagi-lagi gagal menang. Inilah bukti bagi-bagi piala. Imitation juga sepertinya ga akan tangan hampa makanya dikasih menang di sini. Duh salah lagi.

Best Director – Salah (5/15)

WINNER: Alejandro González Iñárritu for Birdman

Richard Linklater for Boyhood

Bennett Miller for Foxcatcher Wes Anderson for The Grand Budapest Hotel

Morten Tyldum for The Imitation Game

Wow, just wow. Richard yang 12 tahun ga dapat piala. Boyhood dirampok? Hanya dikasih best supporting actress!  Gila.

Best Actor – Benar (6/15)

WINNER: Eddie Redmayne for The Theory of Everything

Steve Carell for Foxcatcher

Benedict Cumberbatch for The Imitation Game

Bradley Cooper for American Sniper

Michael Keaton for Birdman

Ini jelas sekali, Eddie harga mati. Ga terkejut.

Best Actress – Benar (7/15)

WINNER: Julianne Moore for Still Alice

Marion Cotillard for Two Days, One Night

Felicity Jones for The Theory of Everything

Rosamund Pike for Gone Girl Reese

Witherspoon for Wild

Finally Moore dapat piala juga. Momen paling mengharukan dan menggembirakan di Oscar 2015 yaini. Congrat Moore.

Best Picture – Benar (8/15)

WINNER: Birdman American

Sniper

Boyhood

The Imitation

Game

The Grand Budapest Hotel

Selma

The Theory of Everything Whiplash

Yak benar, Riggan meloncat darijendela memang untuk meraih piala Oscar! Dan Zul pundapat TV LED 32’ karena film ini. Selamat! Gmana menurut teman-teman semua, 8 dari 15 tepat. 3 dari 5 kategori utama benar. Dan Best Picture untuk kedua kalinya dalam 6 tahun terakhir OK. See…

Karawang, 240215

(Review) The Theory of Everything: Oscar Worthy Performance Eddie Redmayde

Featured image

Teori Lubang Hitam dalam sistem astronomi yaitu daerah dalam alam semesta di mana materi, foton, atau partikel dasar maupun isyarat apapun tak dapat lolos ke luar. Demikian pula foton dan materi luar yang bergerak terlalu dekat dengan daerah ini akan tersedot ke dalamnya dan tidak akan dapat lolos lagi. Bagaimana proses Lubang Hitam terbentuk? Lubang hitam muncul ketika sebuah bintang yang besar dan padat di sebuah supernova meredup dan mati dengan membakar seluruh tenaga nuklirnya. Gaya gravitasi menarik berat mahabesar dari lapisan-lapisan luar bintang itu untuk ikut meluruh ke arah inti ataukah Permukaan dari sebuah lubang hitam disebut dengan sebuah event horizon. Hancurnya gaya gravitasi menjadikan hampir seluruh cahaya tidak dapat melepaskan diri dan tidak ada satu pun informasi dari permukaan itu yang berhasil lolos.

Ga usah pusing-pusing ketika menonton film The Theory of Everything, karena kisah akan lebih fokus ke drama kehidupan sang penemu Teori Lubang Hitam, Teori Kosmologi, Gravitasi Kuantum, dan Radiasi Hawking. Berdasarkan buku yang ditulis istrinya: Travelling to Infinity: My Life With Stephen. Film dibuka di tahun 1963 di masa kuliah Stephen (Eddie Redmayde) yang satu kamar dengan Brian (Harry Llyod) sedang di pesta. Stephen lalu berkenalan dengan Jane (Felicity Jones). Sempat tampak canggung, namun Jane lalu meninggalkan nomor HP. Dari perkenalan singkat itu, mereka jalan. Walau ada perbedaan pandangan keyakinan, Stephen atheis, Jane seorang yang taat ke Gereja namun akhirnya kedekatan mereka berlanjut. Suatu hari Stephen terjatuh saat berlari di kampus, sebenarnya beberapa hari sebelumnya dia sudah merasa sakit kaki. Dari hasil rekam medis, Stephen divonis tetraplegia (kelumpuhakn motorik) karena sklerosis lateral amiotrofik. Awalnya dia mau menjauh dari Jane karena cacat, namun Jane malah memberi dukungan dan menyatakan cinta. Akhirnya dengan memakai tongkat, Stephen dan Jane menikah.

Setelah menikah karir ilmiahnya meningkat. Buku-buku yang dirilisnya ke publik membuatnya terkenal karena best seller dan menjadi seleb kampus. Semakin hari kelumpuhannya semakin parah, Jane dan kedua anaknya lalu memberi kursi roda. Dari situ keadaan kelurga mulai goyah, Stephen yang masih saja menganggap keluarga masih normal sementara sebagai seorang istri Jane mulai kelelahan mengurus anak dan suami. Dalam kepenatan, Jane memutuskan ikut paduan suara penyanyi Gereja, berkenalan dengan seorang duda Jonathan Hellyer Jones (Charlie Cox). Semakin hari tumbuh benih-benih cinta diantara mereka. Jonathan sendiri mendekatkan diri dengan keluarga Hawking, termasuk kedua anaknya. Terlihat di beberapa scene, mereka berlibur bareng, main petak umpet sampai di pesta. Termasuk saat undangan ke Bordeux, Perancis. Jane lalu melahirkan anak ketiga, kerepotan mengurus keluarga membuat Jane tampak frustasi dan momen itu ditangkap oleh Stephen yang akhirnya memberi Jane opsi kalau ingin mendua silakan.

Kisah dituturkan dengan sangat bagus. Catat prediksi saya, Eddie Redmayde akan menang Best Actor. Penampilan memikat sebagai seorang jenius dengan mimik wajah yang meyakinkan. Kecuali Keaton, total 4 kandidat best actor yang kutonton, ini yang terbaik. Seyakin saat saya nebak Matthew mengalahkan Leo tahun lalu. Sedangkan untuk Felicity Jones, rasanya kurang. Di sini dia memang tampil cantik sekali, gigi kelincinya membuat makin imut. Mungkin momen terbaiknya saat dia bilang ada rasa dengan Jonathan, itu gerak tubuh dan mimik muka yang terlihat natural. Untuk best actress saya sudah menonton 3 kandidat. Jones masih kalah cemerlang sama Pike. Mudah-mudahan bisa segera nonton Two Days, One Night dan Still Alice buat pembanding.

Apakah The Theory of Everything akan menang best picture? Tunggu nonton Birdman dan Boyhood dulu ya. Diluar dua film tersebut, film ini leading.

The Theory of Everything | Director: James Marsh | Screenplay: Anthony McCarten | Cast: Eddie Redmayde, Felicity Jones | Skor: 4/5

(review) Big Hero 6: Oscar Lock For Best Animated Feature

Dari adegan pembukanya saja kita sudah dibuat takjub dengan animasinya yang lembut. Sebuah pertarungan robot mini illegal, Hiro (voice by Ryan Potter) yang baru lulus SMU di usia muda memenangkan taruhan adu robot. Polisi datang, arena tarung bubar lalu Hiro kabur dari arena diselamatkan kakaknya Tadashi (Daniel Henney). Sampai di rumah Hiro dinasehati untuk menyalurkan kejeniusan otaknya ke hal yang lebih berarti. Hiro berpendapat kuliah akan membuang waktunya, namun pada suatu ketika dia diajak kakaknya ke kampus. Di sebuah lab penelitian, Hiro dibuat terpukau karena banyak hal canggih tersedia. Bersama teman-teman kuliah Tadashi, memperlihatkan bahwa kuliah tak semembosankan yang dikiranya. Salah satu robot penelitian bernama Baymax (Scott Adsit).

Sepulang dari kampus, Hiro langsung berminat kuliah di sana. Lalu dibuatlah sebuah karya untuk presentasi. Sebuah karya yang memukau Alistair Krei (Alan Tudyk), orang kaya dari Krei enterprise, dan berniat membelinya. Namun ditolaknya, dari hasil presentasi itu professor Robert Callaghan (James Cromwell) memberinya golden ticket masuk universitas. Puas dengan karyanya dua bersaudara ini bersantai di luar gedung. Naas, gedung terbakar berdua mereka segera bergegas berlari kea rah TKP. Api yang meluluhkan sebagi gedung membuat panik orang-orang, sampai ada yang berteriak bahwa professor Callaghan masih terjebak di dalam. Tadashi dengan berani berusaha masuk ke gedung untuk menyelamatkannya. Sayang kemudian gedung meledak menewaskannya, topinya terlempar. Topi tersebutlah yang manjadi kenang-kenangan terakhir kakaknya.

Kejadian menyedihkan ini membuat Hiro patah semangat. Klontrak-klantruk di kamar, hopeless. Sampai akhirnya muncullah Baymax yang ternyata disimpan di kamar. Baymax lalu dengan lucunya menyampaikan keadaan Hiro, oiya kelebihan Baymax salah satunya bisa men-scan tubuh manusia lalu muncul mood 1-10, bagaimana keadaanmu hari ini. Kalau buruk maka Anda perlu pelukan, salah satu scene paling memorable tahun 2014 ya si Baymax meluk Hiro ini. Tentu saja Hiro keadaannya buruk setelah ditinggal meninggal kakaknya. Di adegan ini saya ikut sedih.

Baymax menemukan ada potongan karya Hiro yang bergerak-gerak di dalam box plastik (mengingatkanku pada kompas). Hiro tentu saja ga percaya karena karyanya sudah hancur pas kebakaran. Dia abai, Baymax malah mengikuti arah gerak potongan tersebut. Terpaksa Hiro lalu mengikuti juga, sampai di sebuah gudang gedung terkunci. Penasaran, berdua memanjat dinding dan masuk lewat jendela. Betapa terkejutnya Hiro, karena ternyata karyanya terkumpul di situ dan sedang digunakan oleh seseorang bertopeng. Kabur, dirinya terancam. Dari situ Hiro lalu membentuk tim untuk melawan. Karena mengira manusia bertopeng itu Krei yang mau membeli karyanya, namun merebutnya dengan meledakkan gedung. Terdiri dari 6 pasukan yang kemudian muncul judul Big Hero 6: dirinya, 4 teman kuliah Tadashi dan Baymax. Berhasilkah Hiro membalas dendam kakaknya? Siapa jati diri manusia bertopeng tersebut?

Setelah film selesai saya langsung mem-plot jatah animasi terbaik sudah ketemu. Feel Oscarnya dapat. Saya baru nonton Boxtroll, yang 3 belum tapi saya sudah yakin Big Hero 6 akan menang. Animasi lembut, cerita kuat yah walau ga kuat-kuat amat karena ketebak, tanpa Pixar di daftar dan dramatisasi yang disuguhkan pas. Setting film ada di San Fransico tapi berasa di Jepang. Unik dan cerdas.

Saat kredit title muncul, jangan beranjak dulu. Tonton sampai tuntas karena aka nada scene after credit yang WOW. Bravo Lee!

Big Hero 6 | Directed by: Don Hall, Chris Williams | Written by: Jordan Roberts, Daniel Gerson | Star: Ryan Potter, Daniel Henney, Scottv Adsit, TJ Miller, Jamie Chung | Skor: 4/5

Karawang. 060215

Good and Bad in Oscar 2014

Tulisan lanjutan mengenai pesta perhelatan akbar Oscar 2014. Berikut lima hal yang menurut saya terbaik dan terburuk:

Good:

1. Ellen Is The Best Choice!

Gambar

Mega selfie-nya bikin twitter sampai nge-hang gara-gara retweet (RT) foto ini. Awalnya saya kira komputer warnet ngadat sehingga saya refresh berkali-kali ga muncul new tweet. Akhirnya saya tahu penyebabnya, tweet Ellen memecahkan rekor RT. Kurang ajar, kompor meleduk. Belum lagi adegan pizza, minta receh, sampai dandan peri yang mengundang tawa. Acara Oscar tampak cair dan sungguh nikmat dilihat. Ellen adalah pilihan bagus untuk MC tahun ini, semua orang pasti setuju.

2. Photobomb Benedict

Sebagai Sherlock yang jenius, Khan yang kejam dan naga Smaug yang gila  dalam diri seorang Benedict Cumberbath tentunya kita mengira dia mengalir darah seorang serius. Saat foto red carpet U2, Benedict bergaya konyol di belakangnya. Aneh, unik, konyol sekaligus keren. Ada yang mau niru?

3. Lupita Dalam Pidato Emosionalnya

Gambar

Benedict Cumberbath terlihat matanya merah dan sedikit menitikan air mata mendengar pidato kemenangan Lupita. Saya-pun terharu.

“It doesn’t escape me for one moment that so much joy in my life is thanks to so much pain in someone else’s. And so I want to salute the spirit of Patsey for her guidance. And for Solomon, thank you for telling her story and your own.”

4. Gravity Menang Besar

Ya, saya terkejut. Kemenangan besar Gravity dengan meraup tujuh dari sepuluh nominasi membuat saya geleng-geleng kepala. Apalagi mereka menang beruntun di pengumuman awal jadi sempat berpikir, jangan-jangan sapu bersih. Syukurlah tak terjadi: Best Director, Visual Effects, Cinematography, Film Editing, Sound Editing, Sound Mixing, and Original Score. Deretan piala yang membuat David O. Russels gigit jari.

5. Leto Membayar Janjinya

Sebelum Hari-H Jared Leto memberitahukan publik bakalan pidato yang menggugah seandainya dia menang, dan benar saja saat namanya disebut, dia pun mempersembahkan kemenangannya untuk 36 juta orang yang kalah (meninggal ) dalam melawan AIDS.

“Di 1971 Boger City, Louisiana, ada seorang remaja perempuan yang hamil anak keduanya. Dia keluar dari SMA dan menjadi seorang ibu tunggal, entah bagaimana caranya berhasil memberikan kehidupan yang layak untuknya dan anak-anaknya.  Dia mendorong anak-anaknya untuk kreatif, bekerja keras dan dia adalah ibu saya. Dia ada di sini malam ini. Kemenangan ini juga kutujukan untuk semua orang yang merasa diperlakukan tak adil karena siapa dirimu dan siapa yang kau cintai,”

Bad:

1. Pink

Untuk memperingati anniversary film The Wizard of Oz. Pink menyanyikan lagu ‘Somewhere Over the Rainbow’. Dengan latar yang mencerahkan, sayang penampilannya hari ini sedang tak bagus.

2. Leo Kalah Lagi

Gambar

Walau sudah terprediksi Mathhew bakalan menang, namun saya tetap sedih melihatnya sedih karena kalah lagi. Karir panjangnya selama lebih dari 20 tahun tak segera berbuah Oscar satu pun. Padahal kita semua tahu, film yang dibintanginya selalu berkualitas. Mungkin hanya satu yang flop, sisanya adalah film kaliber Oscar. Lihat mimik Jonah Hill yang duduk di belakangnya saat pengumuman dibacakan, walau dia bertepuk tangan namun wajahnya melirik Leo terlihat kasihan. Tatapan itu seperti mewakili seluruh fan Leo di dunia. Setelah empat kali gagal, entah sampai kapan sang mega-bintang akan meraihnya. Tetap semangat, better luck next time bro!

3. U2 Mengigau

Gambar

Entah kenapa dengan U2, legenda pop yang sudah malang melintang di dunia tarik suara itu seakan redup bintangnya saat menyanyikan soundtrack Mandela: Long Walk to Freedom. Wajar saja mereka kalah dengan Idina Menzel yang dengan cerianya menghentak panggung dengan Let It Go! Saya menguap mendengakannya.

4. Jen-Law Slip Again

Tahun lalu si cantik Jennifer Lawrence terpeleset ketika dia menang best actress, saat itu dia dua kali mendapat nominasi. Saya maklum, mungkin mentalnya belum siap dan usianya yang masih sangat muda untuk sebuah penghargaan besar. Kemarin di acara yang ketiga kalinya dia hadir, dia kepleset lagi. Semacam ritual jatuh agar juara? Ough!

5. Ada Apa Dengan Alfonso?

Sepertinya dia belum siap naik ke atas panggung, ataukah terkejut filmnya menang? Saat pengumuman pemennag best editing untuk film Gravity dia seakan seseorang yang pertama kali di depan umum, seperti demam panggung. Nyelonong begitu saja ‘saat pidatonya belum selesai’. Walau akhirnya dibalas saat pidato best director namun tetap saja, hal ini membuatku mengernyitkan dahi.

Karawang, 040314