Rabbit Hole: Apa Obat Trauma yang Paling Mujarab?

Somewhere out there I’m having a good time.” – Becca

Rencana mau ambil film Jennifer Lawrence yang mengantarnya menang Oscar, malah keklik ini. Salah unduh film. Namun ga masalah, ternyata bintang Kidman masih sangat cemerlang di sini. Ternyata dia masuk nominasi best actress, kalah sama Black Swan di tahun yang sama. Tahun 2010, hhmm… berarti ini pasca serangan alien yang rumit itu. Masa masih merdeka, sepuluh tahun lalu. Kisahnya tentang trauma menghadapi kematian anak, rasa kehilangan itu menghantui keluarga kecil ini dari awal menit sampai benar-benar akhir. No debate, jelas sedih sekali, cara menata kembali keadaan itu sulit, sangat sulit, berdamai dengan kenyataan pahit, dan benda-benda lama yang selalu mengingat. Rasanya memang berat sekali, dan akting pasangan Eckhart – Kidman luar biasa. Duka kedua orang tua dan kandungan kepedihan di tiap tetesnya.

Becca Corbett (Nicole Kidman) dan Howie Corbett (Aaron Eckhart) menjalani hari dengan suram, film dibuka dengan Becca menata kebun, menampakan kandang anjing yang kosong, diundang makan malam tetangganya, menolak, mungkin suatu saat nanti. Howie pulang kerja, makan pancake bersama, dan malamnya mereka istirahat dalam keheningan. Waktu sudah berjalan sekitar delapan bulan, dan duka itu masih benar-benar menggelayuti. Putra tunggal mereka, Danny meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas di depan rumah saat mengejar anjing, Tex. Becca ingin membuang segala kenang Danny, Howie ingin memiliki anak lagi, istrinya belum siap. Keluarga ini sepertinya sudah akrab dengan duka, ibu Becca, Nat (Diane Weist) juga kehilangan anaknya karena overdosis. Namun Becca menolak disamakan. Kata Virginia Woolf Aku merasa kita tak mampu melewati satu lagi periode mengerikan itu.”

Lalu mereka bergabung dengan grup sharing is caring, yang berkumpul membentuk lingkaran, duduk kemudian bercerita. Berkenalan dengan keluarga Gabby (Sandra Oh), berpasangan. Para orang terluka ini berbagi kisah pilu, kehilangan anak, dan bagaimana mengatasinya. Becca ternyata ga klop, karena ada yang cerita kematian anaknya untuk menjadi malaikat Tuhan, ia menyanggah. ‘kenapa tuhan tak menciptakan saja malaikat lain?’ maka mereka keluar.

Suatu kali Becca bertemu dengan sosok yang mencipta kesedihan. Di jalan, ia tak sengaja melihat Jason (Miles Teller) di bus sepulang sekolah. Mengikutinya, memantaunya. Untuk apa? Entahlah. Ke perpustakaan mengembalikan buku, terlambat kena denda. Dan buku itu tentang dunia Pararel, Becca berniat meminjamnya. Kegiatan memantau Jason berlangsung terus, dan akhirnya kepergok. Mereka lalu duduk di bangku taman, bertukar kata. Maaf selalu jadi kata yang sulit ketika pilu menerpa. Maaf untuk saat itu karena berkendara terlalu kencang, maaf untuk segala hal yang telah lewat. Ia kini sedang membuat komik berjudul Rabbit Hole, saat ini belum usai. Baik, Becca berniat membacanya. Janji temu dan bertukar kata dengan pelaku kecelakaan ini berjalan tanpa sepengetahuan suami. Banyak cara untuk menyembuhkan hati.

Sementara Howie tetap mengikuti terapi sharing, berlarut. Dan suatu malam, Gabby bercerita telah ditinggalkan suaminya. Tanpa sebab yang jelas, tanpa info yang jelas, kabur saja. Begitulah, duka membuat manusia bertingkah serba aneh. Maka ia menghisap ganja di parkiran, Howie lalu bergabung. Pakai narkotika, bermain fun world lempar bola, tertawa bersama, bercengkerama. Kedekatan mereka menjadi rekat dalam. Sekali lagi, banyak cara untuk menyembuhkan hati.Becca yang masih trauma belum bisa bercinta, belum siap dan belum bisa program anak. Howie yang mendamba perubahan bersikap pening juga, entah bagaimana keluar dari aliran sedih ini. Lalu ide pindah rumah muncul, harus ada sesuatu yang diubah, maka rumah dijual, meninggalkan kenangan, mendesak masa lalu ke belakang, pakaian Danny, mainan, segala barangnya disingkirkan. Trauma ini harus dilewati bersama. Apa obat trauma yang paling mujarab? Banyak hal bisa dilakukan, setiap individu pasti berbeda penanganannya, film ini menggambarkan salah satu opsi. Sepertiga akhir yang luar biasa.

Jason tiba-tiba datang ke rumah memberi buku Rabbit Hole yang sudah jadi. Howie marah karena selama ini istrinya ternyata bertemu dengannya. Sementara Becca juga marah pada suaminya karena kegiatan menghisap ganja dilakukannya. Serasa impas, serasa menyedihkan. Pencarian makna hidup yang merekat, siapa salah? Pertengkaran membutuhkan dua orang yang saling peduli. Dalam eksekusi ending yang bagus banget di mana malam itu Howie keluar rumah untuk mengikuti sharing, malah ke rumah Gabby, perselingkuhan di ambang jadi. Tampak menggoda. Sementara Becca diam-diam berkendara ke rumah Jason, sudah rapid an dandan juga, walau tak betemu langsung, Becca yang menangis sejadi-jadinya, terlelap di mobil hingga pagi menjelang. Keduanya sama, butuh pelampisan duka. Inilah kisah sedih dengan kemuraman akut menyelingkupi, sepanjang menit, sepanjang kisah, selama satu setengah jam yang muram.

Segala-galanya ambyar. Karena suram adalah koetji maka Rabbit Hole jelas sukses besar menampil. Melimpah ruah kesedihan itu, sampai luber menjurus depresi dalam. Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah yang parah. Jason dengan tatapan duka, jelas berhasil diperankan bagus oleh Miller. Seolah memang serba salah, ilustrasi ciptanya memang memberi peranan penting akan keinginan dan khayal di dunia lain. Nicole Kidman jelas melakukan peran istri yang luar biasa, tangisnya di mobil sejatinya adaah luapan amarah dalam lelehan air mata yang menganak sungai seolah berteriak, ‘Tuhaaaan… kenapa kau ambil anakku?’ Tak kalah sangar akting Aaron Eckhart, mengimbangi kedukaan, menyelimuti kehampaan. Tak kecewa rasanya salah unduh film ini. Lubang Kelinci dengan ide kehidupan pararel, adakah jiwa kita juga ‘hidup’ dalam lingkup waktu di sisi sana? Duka juga ataukah, bahagia menggelayuti? Ending di taman usai pesta kebun itu sangat menyentuh, menatap langit biru dan bukan hanya mereka berdua yang laik bertanya, penonton juga turut mengajukan hal yang sama: ‘selanjutnya bagaimana?

Layar Rabbit Hole adalah ejawantah desahan yang penuh penderitaan dan kehilangan. Penderitaan itu semacam permainan ‘gebuki tikus tanah’ yang muncul sesekali lalu kita gebuki berturut dan semakin lama semakin cepat. Seperti itulah derita, setiap kita bisa mengatasi satu derita akan muncul derita lain, dan terkadang muncul raksasa tikus dalam artian kehilangan anggota keluarga terkasih. Hidup akan selalu bersisian dengan derita. Biarlah waktu menyembuhkan luka itu. Harapan dan kesabaran berdamai dengan keadaan. Mau gegas melakukan laiknya Howie atau tetap alon-alon, semua sama saja. Ini kisah pencarian obat duka, dan pemberian maaf atas segalanya. Mendorongmu terjatuh dalam lubang kelinci. Sabar, tawakal, iqtiar.

Hidup yang baik bukan berarti menolak penderitaan, yang sesungguhnya adalah menderita untuk alasan-alasan yang benar.

Rabbit Hole | Year 2010 | Directed by John Cameron Mitchell | Screenplay David Lindsay-Abaire | Cast Nicole Kidman, Aaron Eckhart, Dianne Weist, Miller Teller, Tammy Blanchard, Sandra Oh | Skor: 4/5

Karawang, 200520 – Bill Withers – Family Table

Jojo Rabbit: Komedi Satir di Era Nazi

Nothing makes sense anymore.” – Jojo

===tulisan ini mungkin mengandung spoilert===

Idenya gila. Kekejaman dibalut keimutan. Adegan gantung-nya terlihat walau sepintas. Kematian, ditutur bagaimanapun, tetaplah kematian. Cerita anak-anak yang dididik mencintai Nazi sejak dini, mengajarkan Swastika dengan segala keimutannya. Mencipta Hitler khayal yang menemaninya sepanjang tumbuh kembang – lalu menghilang, sehingga seolah pelindung. Setting-nya di era Perang Dunia Kedua, Nazi sedang tinggi-tingginya, sekolah di Jerman mewajibkan kurikulum itu, sampai serangan Sekutu yang mengakhiri segalanya. Film dibuka dengan manis, betapa Jojo di usia imut begitu mendewakan Hitler, ditutup dengan lebih imut lagi, Elsa dan Jojo yang ‘merdeka’ melakukan tari tik-tok artsy. Sejatinya memang ini film anti-perang, dibuat komedi, berton-ton komedi malah yang menikam. Komedi gelap. Lantas kepahlawanan jenis apa yang bisa dipeluk semua umat?

Jojo Betzler (diperankan imut sekali oleh Roman Griffin Davis) adalah remaja sepuluh tahun yang tumbuh di masa kejayaan Nazi, ia begitu mengidola Hitler yang patriotik dan keren. Dalam pendidikan yang ketat dan nasionalis, ketika Jojo membutuhkan pertolongan serta teman ngobrol, muncullah Penampakan Hitler (Taika Watiti) menjelma teman curhat, jadi supporter yang menggelorakan semangat. Bersama teman karibnya yang ndut Yoki (Archie Yates) menjalani kamp pelatihan di sekolah alam. Dikepalai pelatih yang tak kalah aneh, Kapten Klezendorf (Sam Rockwell). Di training kamp tersebut, ambisi Jojo juara sungguh tinggi. Sayangnya, jiwa pemberaninya diuji dengan bully-an tugas senior untuk membunuh kelinci, gagal. Kelembutan hatinya, tak tega sekadar mematikan binatang. Sejak itulah ia kena panggilan Jojo Rabbit.

Bully yang malah mencipta luka, ketika sang kapten menerangkan taktis melempar bom, Jojo berlari kencang lalu mengambilnya, melemparanya, kena pohon malah mbalik ke dia, dan meletus. Jojo terbangun dari pingsan di rumah sakit, ibunya Rosie (Scarlett Johansson) marah, mendatangi kantor dan ngomel berat karena insiden ini. Wajah Jojo ada bekas luka, dan ia sementara harus menggendong satu tangannya.Di rumah, kejutan kecil terjadi. Sebagai Hitler-holic betapa terkejutnya di rumahnya, ada ruang rahasia tempat sembunyi seorang gadis Yahudi Elsa Korr (Thomasin McKenzie). Membekap mulut Jojo agar tak berteriak dan melarang melaporkan temuannya. Di era itu, menyembunyikan warga Yahudi hukumannya mati. Sebuah dilema besar untuk jiwa remaja yang labil. Tentu saja ibunya tahu, karena memang ini inisiatifnya. Jojo sayang ibunya, maka seorang fanatik Hitler pun terdiam. Masing-masing dari kita, ada kalanya, suka memperdaya diri sendiri dengan percaya bahwa apa yang baik untuk kita pasti juga baik untuk semua orang. Apa yang bagus buat Jojo harusnya baik pula buat Elsa, ahh… dunia anak-anak yang polos. Tak sejernih itu Nak.

Elsa adalah putri dari teman sekolah Rosie, menjaganya, menyembunyikannya. Jojo dan penampakan Hitler yang lucu (duuh sang sutradara, kamu kocak banget aktingnya) debat keputusan apa yang pantas. Maka diputuskan menginterogasi Elsa, dari Elsa ia mulai paham dunia yang luas dengan melihatnya lebih terbuka. Marah besar pada ibunya, dan merindu ayahnya. Maka makan malam itu, Rosie pun akting sebagai ayahnya dengan kumis lebat palsu bergaya Nazi. “What did they do?” direspon tenang, “Plenty of good.” Di sinilah saya langsung ketawa serius, harusnya Scarlett menang Oscar. Kocak banget, sayangnya (spoilert… maaf) ia keburu dimatikan. Coba bisa konsisten ngelawak sampai akhir, akting ibu yang bimbang ini jauh lebih hebat dari pengacara kapitalis itu.

Free Germany” merebak, suatu hari ada inspeksi mendadak dari kapten Deertz (Stephen Merchant) ke rumahnya. Jojo yang sendirian panik, menyembunyikan surat-surat Elsa, menyembunyikan segala yang memancing kecurigaan keberadaannya. Muncul pula kapten Klezendorf di sana, Elsa yang ada di tangga dalam masalah besar. Dalam kengerian mefet itulah, ia memberanikan muncul dan memperkenalkan sebagai kakaknya. Menunjukkan Kartu Tanda Penduduk, dalam adegan dramatis ia diuji tanggal lahirnya. Elsa menjawab dengan keraguan, Klezendorf yang tahu salah, malah melindunginya dengan bilang tepat dan pasukan inspeksi-pun pergi. Serem banget ini, setidaknya Jojo dan Elsa tahu Kapten Klezendorf memiliki kebaikan di lubuk hatinya. Sebuah moralitas itu bisa diwujudkan di masa depan harus dimulai dengan sesuatu yang disebut amor fati, ‘cinta pada nasib seseorang.’ Bukan sekali, sang kapten melakukannya. Nurani akan kebaikan tergugah di masa-masa yang tak terduga. Pada akhirnya, hanya emosilah yang menggerakkan kita untuk bertindak. Ini karena tindakan adalah emosi.

Rosie yang keesokan harinya digantung (huhuhu… pengen nangis), dan pecah serangan Sekutu memporakporandakan Jerman. Dengan tank dan pasukan penuh memasuki kota. Dengan kekacauan yang tercipta, sekali lagi Klezendorf menyelamatkan nyawa Jojo yang terancam turut dibinasakan Sekutu. Setiap orang memiliki kemampuan melawan kejahatan. Pengorbanan terakhir untuk Jerman di masa depan. Jojo, remaja Nazi itu pulang dan memberitahu Elsa, Jerman sudah kalah. Ia mencinta (heleh) yang membuat murka Penampakan Hitler, lalu ditendang keluar jendela. Seperti mula, endingnya manis dengan joget artsy yang sungguh memorable. Ditutup dengan puisi Rainer Maria Rilke: Biarkan segalanya terjadi padamu; Kecantikan dan teror; Biarlah mengalir; Tiada rasa yang berakhir. Perang tidak lain adalah ujian duniawi terhadap harapan.

Sebagai film kandidat best picture, promonya paling tak gencar. Kalah gegapnya dengan unggulan seperti 1917, Parasite atau Joker jadi wajar peluangnya sangat kecil. Naskah adaptasinya memang sangat keren, saya memang menjago Gerwig, tapi Taika Waititi menang-pun saya tak akan komplain. Semua naskah adaptasi Oscar tahun ini, sejujurnya bagus. Yang disayangkan cuma Little Women dan The Irishman Film Lima Bintang itu, nirgelar Oscar. Hiks, sedih.

Menanamkan ideologis ke anak-anak menjadi tema utama kisah ini, lalu dilontarkan opsi lain. Agama ideologi, harapan dari luar dunia natural. Ideologi merupakan kepercayaan yang dikontruksi secara sosial yang sepenuhnya kita terima berdasar keyakinan belaka. Pada dasarnya perkembangan psikologi kita senantiasa berevolusi untuk menuhankan segala yang tidak kita pahami. Jojo dengan lugunya mengidola Sang Fuhrer, diterima mentah-mentah apa yang diajarkan, lalu seperti di ending, segalanya tampak kontradiksi.

Film ini jelas melebihi harap, entah kenapa cerita sebagus ini ga bisa meledak. Komedi satir tentang Nazi mungkin sudah banyak, mengambil sudut pandang anak-anak juga sudah umum (kisah sedih The Boy in the Pyjamas), begitu juga ending serangan sekutu yang mengakhirinya. Jojo Rabbit menampil kedigdayaan yang lebih luwes. Lebih nyaman, lebih hidup. Sangat komedi, tapi tak komedi.

Beberapa saat setelah Taika Waititi memenangi Oscar, tampak ia duduk dengan senyum dan meletakkan pialanya di bawah kursi depannya. Sebuah ironi sekali lagi tercipta. Jojo Rabbit adalah film sangat komedi, tapi sekaligus tak komedi. Kalian mungkin tertawa, tapi sejatinya menertawakan apa? Seperti tagline-nya jleeb banget: ‘An anti-hate satire.’

Jojo Rabbit | Year 2019 | Directed by Taika Waititi | Screenplay Taika Waititi | Novel Christine Leunens | Cast Scarlett Johansson, Roman Griffin Davis, Thomasin McKenzie, Sam Rockwell, Archie Yates, Taika Waititi | Skor: 4/5

Karawang, 120520 – Will Withers – Lovely Day

Puasa ke-19, hati yang cerah untuk jiwa yang sepi

1917: Rancang Bangun Kemegahan Sinema

Down to Gehenna, or up to the Throne, He travel the fastest who travels alone.”Rudyard Kipling

===tulisan ini mungkin mengandung spoiler==

Kisahnya di tanggal 6 April 1917, dan akan berakhir esoknya. Di ladang perang dari New Hendenburg Line ke Devon, Inggris. Dua tentara muda William Schofield (George MacKay) dan Tom Blake (Dean-Charles Chapman) diperintahkan Jenderal Erinmore (Colin Firth) untuk membawa sebuah pesan kepada Kolonel Mackenzie (Benedict Cumberbact), di battalion kedua resimen Devonshire. Surat yang berisi pembatalan serangan demi menyelamatkan nyawa 1.600 pasukan termasuk di dalamnya Joseph Blake, saudara Tom. Makin dalam maknanya, sebab melibat misi penyelamatan anggota keluarga.

Kalau dirangkum dalam satu kalimat: ‘Film tentang kirim surat, dengan berbagai kendala di perjalanan’. Tak banyak yang bisa dicerita, karena setelah menerima tugas, mereka bergegas gerak, waktu tak banyak. Namun karena blog ini mewajib ngoceh panjang kali lebar, maka ada baiknya saya ketik sahaja, beberapa detail ‘kendala’ petualangan. Yang pasti, berdua menemui berbagai masalah yang mematik peri kemanusiaan. Film jenis bom, bang, bang, wuuz…, jenis keseruan tanpa banyak cingcong dan renungan. Dalam sebuah gua bekas tempat duduk pasukan Jerman, mencipta sebuah degub bertalu-talu karena gua itu berisi bom, dan jebakan mematikan. Tikus dan segala kamuflase gelap di dalamnya. Sampai menahan napas saya ketika ledakan terjadi, seolah kisah berhenti bahkan ketika baru beberapa menit. Gilax, bahkan tikus mereka lebih besar!

Sampai pada sejenis rumah pertanian, saat mendapat susu sapi dan air bersih, sebuah pesawat Jerman tertembak dan meluncur jatuh ke arah mereka. Bayangkan, moncong pesawat mengarah kepadamu, kamu menghindar sejadi-jadinya. Dalam keadaan terluka sang pilot keluar dari pesawat yang terbakar, jiwa baik Blake malah menjadi petaka. Ketika ia mencoba menolong, justru kena tikam. Seluruh penonton turut menutup mata ngeri, seterkejut Blake yang akhirnya gugur. Rasanya pengen turutserta menjelma Schofield memberondong peluru ke sang pembunuh. Dalam adegan sunyi nan menyentuh, ia sekarat dan ia berjanji melanjutkan misi, sobatnya pamit dalam pelukan leleh air mata.

Saat senja menjelang, Schofield mencapai jembatan roboh dekat Ecoust Saint Mein, melintasi dalam rentetan tembak. Ia mamasuki reruntuhan kota setelah berjibau dengan sang sniper. Malam itu ia melintas dengan dingin, menemukan seorang ibu dan anaknya yang kepalaran, memberi botol susu, dan walaupun dia ada di pihak musuh, ia menggunakan nurani. Ini bisa jadi adegan menyentuh, bagaimanapun perang bisa merenggut beberapa hal, tapi nuranimu tetaplah ada. Adegan mengharu juga tersaji dalam tembakan suar di area no man’s land (medan di antara dua kubu).

Bagian yang mendebarkan tersaji ketika ia terjepit dalam kejaran, dan desingan peluru yang memaksanya terjun ke sungai. Menuruti aliran, menghanyutkan jiwa, lelahnya menyusup ke sumsum, seolah tulang itu turut menjerit capek. Sehingga ketika ia berhasil menepi, memasuki hutan dengan jalan gontai seolah pasrah. Pagi fajar menyingsung itu, diiringi untaian lagu pasukan D Company di Devons II, wow dikira kelar justru ia malah menemukan dituju. Sehingga kelesuan itu menjadi secercah semangat dan gegas mencari Kolonel Mackenzie. Agak terlambat, karena serangan sudah dimulai. Dalam deru tembakan dan serbuan, ia berlari sekuat tenaga untuk menyampaikan surat.

Banyak adegan bagus yang laik dibahas dan dibicarakan, yang pasti sinematografi juara. Sesuai prediksi, Deakin lock Oscar. Saya juga menyematkan best picture, yang sayangnya direnggut Parasite. Kalau Birdman yang menampil one take beberapa menit, dengan celana kolor bergaya ke panggung saja menang Oscar, bagaimana bisa yang sepanjang ini gagal? Akan sulit menandingi konsisten penonton menjelma mata kamera. Film yang nyaman sekali ketika dinikmati di layar lebar. Salah satu pengalaman cinema langka, di mana kita menyaksikan film dari awal sampai akhir seolah hanya satu kali pengambilan gambar. Klik, dan sepanjang 119 menit kita menyatu dengan desingan peluru, seolah kejadian ada di depan kita!

Secara cerita memang biasa, lha premis isinya cuma misi menyampaikan surat pembatalan serangan. Kalau kalian berharap ada semacam kejutan di akhir, semisal isi suratnya bersama bingkisan bunga ya ga akan nemu, atau surat 4×4, sempat ga sempat, jelas ga ada. Pesan itu hanya dibaca sekilas, lalu serangan yang terlanjur dimulai, akhirnya harus ditarik kembali, lalu mentari pagi menyoroti jiwa yang lega. Selesai. Strategi Jerman dengan pasukan yang seolah mundur, lalu menyerang balik musuh benar-benar ada, namanya Operation Alberich. Strategi itu dilakukan tanggal 9 Februari sampai 20 Maret 1917, yang juga nyata berdasarkan Kejadian Pertempuran Passchendaele atau Pertempuran Ypres III (31 Juli – 10 November 1917). Karena setting waktu di film ini justru adalah hari pertama Amerika turut Perang Dunia I.

Sam Mendes melakukan gebrakan sinema yang menakjubkan secara teknis. Sebuah achievement yang seharusnya bisa lebih dihargai di Oscar, sensasi layar lebar, senikmat Gravity yang memberi efek layang, atau Avatar yang biru membuncah memberi gambaran terbang di dalam gedung bioskop. Masterpiece visual, teknologi memang sudah sangat maju, tapi ga semua bisa semegah ‘one take’ ini. Ga usah mengerutkan kening. Ini jenis film yang memanjakan indera pengelihatan, pendengar, dan asupan pengecap. Sebuah Rancang Bangun Kemegahan Sinema.

I hope today would be a good day. Hope is a dangerous thing.”

1917 | Year 2019 | Directed by Sam Mendes | Screenplay Sam Mendes, Krysty Wilson-Cairns | Cast Dean-Charles Chapman, George MacKay, Daniel Mays, Colin Firth, Mark Strong, Benedict Cumberbatch | Skor: 4/5

Karawang, 050520 – Bill Withers – Family Table

*) Film ini kutonton di hari pertama tayang di Blitz Karawang bersama Titus Pradita

**) RIP Lord of Godfather of broken heart: Didi Kempot 1966-2020, Sad news. Kabar duka ini kutahui ketika mengantre di Samsat Karawang untuk ganti pelat SiBiru lewat lini masa sosmed. Tindak kundor, Legend. #Ambyar

Us: Misteri Dunia Terbalik

But the soul remains one.” – Red

Us memang sebuah penurunan dari debut hebat Get Out, tapi tetap sensasi merinding dan tahapan membuka kejut terasa sukses, bagaimana reaksi identitas utama, wow. Memang adegan slasher pembunuhannya bikin ngeri karena menampilkan darah yang banyak dan terlihat sadis, horror-nya lebih ngena tanpa hantu. Sensasi teror bayangan di cermin, oh itu kita!

Di Santa Cruz, California tahun 1986 Adelaide kecil (Madison Curry) terpisah dari orang tuanya di bazar malam, dengan baju album Thriller-nya Michael Jackson, ia berjalan mendekati pantai yang ada rumah hantu, di sana ia menatap cermin, dan bayangannya terasa hidup, bukan hanya terasa, dia keluar dari cermin! Kedua orang tuanya yang bingung, mendapati beberapa saat kemudian, Adelaide tampak linglung, ada memori yang hilang. Seolah sebagian masa-masa-nya tercerabut, kalau di Jawa semacam kena rep-rep, ada hantu nempel. Dari proses terapi, diminta segalanya harus dicerita ulang, seolah ia kena reset. Klu pertama.

Kukira Adelaide dewasa (diperankan dengan bagus banget Lupita Nyong’o) akan tumbuh error, ternyata ia bisa memiliki keluarga utuh yang bahagia. Tampak sangat bahagia, dan ideal. Di present day, ia sudah menikah dengan Gabe (Winston Duke), memiliki dua anak Zora (Shahidi Wright Joseph) dan Jason (Evan Alex), mereka sedang berlibur ke rumah pantai. Liburan bersama keluarga lain yang terdiri dari Kitty Tyler (Elizabeth Moss), Josh (Tim Heidecker), serta putri kembarnya Gwen dan Maggie. Apa yang ditampilkan di rumah berlantai satu itu, bagiku terlalu brutal. Adegan eksplisit seperti ini malah membuat skor turun.Malam itu, ada tamu tak diundang. Tampak aneh, karena ketika diusir tetap tenang menatap. Telpon polisi, pintu dikunci, tetap saja mereka berhasil masuk dan menguasai keadaan. Tamu itu semacam bayangan sang tuan rumah, dengan topeng, kata-kata serak terseret, air mata meleleh yang entah (awalnya) maksudnya apa. Mereka adalah kita, kata Jason. Ayah, ibu, dan dua anak masing-masing dinamai Red, Abraham, Pluto, dan Umbrae (diperankan sama). Seolah mereka adalah hasil-hasil pantulan cermin? Jason diminta ngumpet, Zora diminta lari yang lalu dikejar, Gabe yang sudah dihajar tongkat baseball, kesakitan mengerang. Dan inti dari semua ini, adalah Adelaide. Ia diborgol di meja, untuk diperlihat alasan sejatinya.

Dalam larinya Zora dikejar bayangnya. “Run, Rabbit, run!” Gabe diadu dalam perahu di danau, yang mana hanya satu bisa keluar hidup-hidup dari air. Jason dan bayangnya memainkan api, karena Pluto memakai selambu kepala, kita tak tahu bagaimana wajahnya hingga nantinya terbuka dalam titik seram. Memainkan trik jitu dalam lemari tertutup. Dan Red vs Adelaide-lah kisah utama Us menemui jawab. Saya fokus ke sang protagonist, nyatanya yang perlu kita khawatirkan salah sasaran.

Keluarga Tyler sendiri tragis, lalu setelahnya malah tampak chaos di seluruh kota. Tv memberitahukan bagaimana huru-hara akibat ‘bayangan cermin’ yang menguasai kota. Itulah malam cekam yang terasa sangaaat panjang. Pertanyaan utama mungkin sangat umum, siapa selamat, siapa menang? Tapi Us tak melulu soal siapa yang bisa bertahan hidup di menit akhir. karena adegan jelang eksekusi ending di pantai malah membuat pening lainnya. Semua tampak baik-baik saja? Sampai akhirnya Jason menatap ngeri, tatapan kerut yang sama kita berikan saat kredit akhir tampak di layar. Tangan-tangan berpegangan melintas batas menjadi penghubung, menjelma konduksi kemanusiaan. Lantas apa yang kita cari dalam hidup ini sesungguhnya? Hand Across America.

Saya kutip al kitab Jeremiah 11:11 yang berbunyi, “Sebab itu beginilah firman Tuhan: Sesungguhnya, Aku mendatangkan ke atas mereka malapetaka yang tidak dapat mereka hindari, dan apabila mereka berseru-seru kepada-Ku, maka Aku tidak akan mendengrkan mereka.” Di sini, Tuhan murka dan menghukum manusia karena manusia melanggar perjanjian. Orang-orang yang kehilangan imannya pada Tuhan yang spiritual, akan mencari Tuhan duniawi. “Kita terjebak di 11:11.

Harapan di Yunani dipakai Hesiodos dengan ‘ekspektasi yang menipu’. Get Out memang masterpiece horror, debut yang akan menjadi titik pijak pembanding Jordan Peele di film-film berikutnya, maka ketika Us muncul dan tak bisa bicara di Oscar, jelas sebuah penurunan. Akting Lupita Nyong’o luar biasa, memainkan mimik, logat serak tertahan dengan air mata mengalir, seolah ada makhluk asing menginggapi. Semakin baik kondisi yang kita dapatkan, semakin cemas dan putus asa diri kita.

Setelah nonton Us jadi agak takut sama gunting, pegang gunting dengan mencekam kedua lubang menjadi terasa ngilu. Apalagi pegang persis di poster, seolah akan menikam. Us mencipta keseraman pula saat bercermin, dunia bayang yang misterius itu akankah memiliki jiwa jika lubang cacing terbuka? Orientasi hidup apa sih? Hidup seimbang apa sih? Panjang umur apa sih? Masuk surga apa sih? Jangan-jangan hidup ini ada dunia pararel yang menginginkan kehidupan kita? Bayang di ‘cermin’ itu membawa gunting untuk memenggal segala asa. Twist! Salut sama ide-ide nyeleneh Jordan Peele. Untuk kali ini, agak brutal tapi secara cerita memang amazing. Muncul bebera penafsiran terkait gambaran ayat dalam al kitab. Adegan absurd yang menampil hukuman manusia, serta berbagai arti ganda yang mematik iman. Kelinci? Sebuah kajian ambisiusitas yang akan diperdebat lagi, dan lagi di kemudian hari.

Hidup yang baik bukan berarti menolak penderitaan, yang sesungguhnya adalah menderita untuk alasan-alasan yang benar. Ophelia, call the police!

Us | Year 2019 | Directed by Jordan Peele | Screenplay Jordan Peele | Cast Lupita Nyong’o, Winston Duke, Elizabeth Moss, Tim Heidecker, Shahadi Wright Joseph, Evan Alex, Yahya Abdul Mateen II, Anna Diop Madison Curry | Skor: 4/5

Karawang, 290420 – 040520 – Bill Withers – The Same Love That Made Me Laugh

Happy Birthday Meyka, Sudah tiga lima saja ya. Waktu berlari dengan liarnya.

I, Tonya: A Triple Axel Skating Movie

I, Tonya: A Triple Axel Skating Movie

Tonya Harding: America. They want someone to love, they want someone to hate.

Karena saya tak akrab sama olahraga skating, apalagi di Amerika sana. Drama bersaingan yang disajikan sungguh mendebarkan. Wow, ini kisah nyata. Sebuah sabotase, kecurangan dan upaya jahat untuk menjatuhkan lawan satu Negara demi sebuah medali di Olimpiade Skating. Ending-nya juga mengejutkan, bagaimana sifat kasar orang tua menurun sehingga coba dipoles sedemikian rupa menjadi anggun pun tak sesukses yang diharap maka jalan keras jua yang terpaksa diambil. Luar biasanya si Margor Robie yang biasanya tampil cantik dan seksi di sini dirubah menjadi kasar dan skeptis menghadapi hari. Namun tetap aktingnya masih di bawah McD dan Saoirseku tentunya.

Kisahnya dituturkan dengan cara yang sedikit unik. Bagaimana film biografi olahragawati es skater Tonya Harding (diperankan dengan keren oleh Margot Robie) dibuat bak sebuah wawancara diperankan aktor lalu narasi itu membawa kita mengikuti alur kehidupan. Tonya terlahir dari keluarga broken home, ayahnya kabur, hidup dengan ibunya Lavona (Allison Janney) yang keras, bekerja sebagai pelayan restoran. Tiap scene wawancara, si ibu pakai semacam selang oksigen yang menjuntai. Hobi minuman keras dan tak hentinya merokok, jelas ada masalah kesehatan, kebiasaan buruk, sifat yang menurun. Setiap sen yang dikeluarkan dihitung, mempertaruhkan segalanya demi masa depan sang buah hati. Mendaftarkan sekolah skating dalam keadaan ekonomi yang memprihatinkan. Hidup memang sebuah perjudian ‘kan? Tonya adalah anak ke-5 dari suami ke-4. Wuih… pernah punya 6 suami!

[[Based on irony free, wildly contradictory. Totally true interviews with Tonya Harding and Jeff Gillooly]]

Dengan setting utama di Portland, Oregon. Tonya begitu berbakat. Melakukan putaran yang sulit dan memukau penonton. Di rumah ia dibesarkan dengan disiplin, makian, sinisme dan keras. Bahkan dalam sebuah adegan Tonya dilempar pisau yang melukai tangan, dan hatinya! Sehingga memutuskan kabur. Hidup dan menikahi pacarnya Jeff Gilloony (Sebastian Stan), ia seorang montir yang awam olahraga yang digeluti pasangannya, tapi memberi dukungan penuh. Namun lepas dari ibunya yang keras, ternyata sang suami juga melakukan KDRT – kekerasan dalam rumah tangga. Semakinlah Tonya menampakkan sifat melawannya. Hubungan keluarga ini memang tak harmonis dalam segala segi. Sama ibunya retak, sama suami remuk. Padahal karir olahraganya menanjak. Tonya tampil bagus saat ada penonton mencehooh, ibunya kasih duit si peneriak. Jiah! Tonya makin sayang suami, dan hot setelah pertengkaran. Emang stress.

Dalam ranking tahun 1991 ia menjadi nomor satu di USA dan runner up international, posisi ketiga di Orlando. Di kejuaraan Albertvill, Perancis ia dikenang dalam gerakan sulit Triple Axel, menegangkan, berdebar. Dan gagal. Ia menempati urutan keempat. Tonya menyalahkan sepatu yang rusak dan diperbaiki bilahnya seada, tapi selalu ada kesempatan kedua dalam kompetisi bila kita terus bekerja keras. Namun tidak untuk hubungan rumah tangga. Ibunya memprediksi Tonya salah pilih suami, sang suami yang sebenarnya sayang juga akhirnya melakukan kesalahan fatal yang menjadikan hubungan di ujung jarum. Puncaknya pada tahun 1994 jelang kejuaraan international Olimpiade Winter 1994 di Lillehammer, Norwegia di mana seleksi ice skating yang panas antara Nancy Kerrigan (Caitlin Carver) dan Tonya. Sebuah konspirasi untuk mengintimidasi lawan sekaligus rekan senegara, konfrontasi itu menghasilkan sebuah kekerasan. Rencana hanya meneror justru menjadi tak terkendali saat sang bodyguard gendut yang gila Shawn Eckhardt (Paul Walter Hauser) melakukan melampaui imaji. Ngeri, wew dan jelas melukai sportivitas. Mereka menyebutkan ‘the incident’. Lalu bagaimana hasil olimpiade kejuaraan akbar itu? Sekali lagi, dalam olahraga ini, akankah ada kesempatan kedua?

Dengan segala hype yang ada, Margot memang masih dibawah McD. Sepakat. Ini adalah nominasi Oscar pertamanya, rasanya ia melakukan lonjakan karir yang bagus. I, Tonya adalah kandidat satu-satunya yang kirim kandidat best actress tapi ga masuk best picture. Bukan hanya menggambil peran gadis manis dan panas, Margot memberi bukti bahwa ia bisa mengubah image. Jelas suatu hari ia akan muncul lagi dalam daftar Oscar, dan menang! Suatu hari nanti…

Untuk Allison Janney yang menang Oscar supporting actress, saya kurang setuju. Aksi Laurie Metcalf sebagai ibu Saoirse lebih bagus dan meyakinkan. Keras itu tak perlu sampai melempar pisau, mendidik anak akan lebih mencekam dengan memberi aturan main yang diluar jangkau pikiran remaja ketimbang adegan tabok-tabokan. Sama-sama dari kelurga sederhana, sama-sama memerankan ibu yang kolot mencoba mengatur masa depan anaknya, keduanya memang layak dinominasikan, tapi tetap Laurie lebih memberi nyawa dan pas banget. Sayang sekali antipasti juri terhadap Lady Bird memberi 0 piala termasuk yang paling kurang prestise sekalipun. Hiks,…

Akhir kisah juga sadis, hukuman yang dijatuhkan pada Tonya membuatnya kecewa. Dan mengakhiri segalanya. Efek salah penanganan dan tekanan berlebih memang serem. Tonya yang berbakat sejatinya bisa jauh lebih hebat andai dalam jalur yang benar. Sayang sekali, keputusan-keputusan hidup yang mendorongnya menuju lorong hitam. Kalimat umpatan di ending “That’s the fucking truth” dirasa seperti sebuah kekesalan atas segala keputusan salah di masa lalu. Credit akhir yang memunculkan Tonya asli bermain es skating di kejuaran 1991, cukup memberi gambaran betapa hebatnya dia. Putaran sulit, bermain percaya diri, memukau penonton, berjoget penuh gaya. Luar biasa Indah. Diakhiri dengan standing applaus dan keceriaan bersahaja.

You skated like a graceless bull dyke. I was embarrassed for you. Sial!

I, Tonya | Year 2017 | Directed by Craig Gillespie | Screenplay Steve Rogers | Cast Margot Robbie, Sebastian Stan, Allison Janney, Julianne Nicholson, Paul Walter Hauser, Mckenna Grace | Skor: 4/5

Karawang, 180418 – Sherina Munaf – Sahabat Sepanjang Masa

Prediksiku Di Oscar 2018: #SacramentoProud

Pertama kalinya saya bisa menuntaskan tonton seluruh kandidat best picture. Pertama kalinya pula saya tak beli dvd bjgbye bye DVD player yang barusan saya service solder, karena sudah ganti HP dan unduh di LK21.org yang nyaris semua film dikejar dari sana. Thx to Rani Wulan S.Kom. Tahun ini saya akan nonton live untuk yang ke sembilan tahun beruntun. Izin cuti besok sudah kukantongi. Setelah mendapat hasil buruk hari ini, Lazioku kalah menit ke 92 dan Roma menang meyakinkan ke Naples, semoga Senin akan lebih cerah. Berikut 14 tebakanku.

#14. Animated feature filmCoco

Alasan: Tema kartun yang hebat, kehidupan setelah kematian.

Saya hanya nonton satu film dan sudah cukup yakin Pixar menang lagi. Bagian animasi memang paling mudah ditebak, dari dulu tipikal ceria anak-anak dengan tema cerita tak lazim masih sangat disukai juri Oscar.

#13. Actor in a supporting role – Woody Harrelson (Three Billboards Outside Ebbing, Missouri)

Alasan: Dengan dua wakil dari Three Billboards, rasanya kategori ini hanya untuk Woody atau Sam.

Sayang saja Ray Ramona-nya Big Sick tak masuk. Bagian saat pembacaan surat perpisahan di depan kandang kuda itu sangat menyentuh, tema kematian tapi dibawakan dengan komedi satir. Aneh sekali lima menit lalu saya ketik Sam lho, ga tahu kenapa saya malah backspace dan ganti Woody. Juri selalu suka orang-orang yang bernasib tragis. Luka bakar masih bisa diobati, tapi kematian adalah akhir dari perjalanan fana.

#12. Actor in a leading role – Gary Oldman (Darkest Hour)

Alasan: Pidato ending yang luar biasa, perubahan dratis Oldman dengan prostetik make up

Timothee Chalamet bisa langsung kita coret karena tema gay berciuman sudah tak menarik. Day-Lewis seperti sebelum-sebelumnya yang kharismatik, perpisahan manis. Denzel terlepas. Kaluuya yang pendatang baru justru tampil manis dengan senyum dan air mata di ruang karam. Namun jelas, tak terbantahkan sejarah mencatat perubahan tampilan fisik sudah sangat sering dicatat juara. Tahun ini hanya bencana besar yang bisa mengalahkan Sirius Black.

#11. Actress in a supporting rose – Laurie Metcalf (Lady Bird)

Alasan: Boyhood versi cewek, Patricia Arquette-nya tahun ini.

Senang sekali lihat Laurie mengatur Saoirse. Khas hubungan ibu-anak dimana saat dekat saling marahan, saat jauh rindu. Apalagi saat anak remaja yang beranjak dewasa, di mana banyak pilihan masa depan terbentang, sang ibu hanya menuntun. Sedih, senang, sendu, sayang.

#10. Actress in a leading role – Saoirse Ronan (Lady Bird)

Alasan: Penampilan terbaik Saoirse Ronan, kesempatan ketiga, wajib diganjar piala.

Pesaing sejatinya hanya Frances McDormand yang membara dan luar biasa. Kalau bukan fanatisme, rasanya sang ibu yang melempari kantor polisi dengan api akan menang. Namun Saoirse juga luar biasa hebat menghadapi ibu yang posesif dan ayah yang defensif. Bagian saat ia meminta nominal uang asuh itu absurd, sakit memang sekaligus menyentuh hati terdalam.

#9. Music (original song) – “This is Me” (The Greatest Showman)

Alasan: Saya sudah nonton kandidat lain, terasa biasa.

Saya belum menonton The Greatest Showman, tapi melihat pesaing lain yang biasa rasanya mending menjagokan filmnya Jackman. Apalagi film musikal punya sejarah dominan menang bagian ini. Kenapa Never Forget-nya Michelle Pfeiffer ga masuk ya?

#8. Makeup and hairstyling – Darkest Hour

Alasan: Oldman jadi ga kayak Oldman, sangat berbeda dari Black yang saya kenal

Kalau ga tahu cast sebelum menonton kalian pasti pangling. Sama seperti saat Tom Cruise ambil bagian di Tropic Thunder yang dance aneh itu. Saya terkejut saat di credit title muncul namanya. Sampai butuh tiga jam hanya untuk mendandani satu aktor? Ini gila.

#7. Visual effects – Guardians Of The Galaxy Vol. 2

Alasan: I am Groot! Hahaha.. sinar di mana-mana

Saya baru lihat Guardians dan War For. Banyaknya review negatif film sama tinggi dengan ulasan negatfi-nya. Namun kita sepakat, film ini memiliki efek visual luar biasa. Perang antar galaxy yang melelahkan, untung Mantis punya antena.

#6. Music (original score)Dunkirk

Alasan: Skor film bahkan jauh lebih bagus ketimbang ceritanya.

Sudah saya plot musim panas tahun lalu. Sudah saya prediksi, minimal masuk nominasi – terbukti ‘kan. Iringan musiknya berkejaran beriringan lari pasukan Inggris yang terdesak serangan Jerman dari udara, laut dan darat. Saingan utama The Shape of yang memang bagus menyertai makhluk air, tapi tetap komitmen jago – apakah juga terbukti?

#5. Cinematography – Blade Runner 2049

Alasan: Angka 14 adalah angka istimewa.

Sebenarnya tadi sudah ketik Mudbound, tapi berubah pikiran berkat teringat angka 14, angka spesial. Henry, Keita, Simone, dkk. Angka yang menjadi jimat Roger Deakins untuk pecah telur. Come on doa penggemar King of Highbury menyertaimu.

#4. Writing (adapted screenplay) – Mudbound

Alasan: Narasi yang hebat

Adaptasi novel memang harus seperti ini. Kenikmatan membaca berhasil dialihkan ke pendengaran. Narasinya juara, seperti menikmati novel audio. Sebenarnya suka sekali Logan, tapi sayang sekali kesempatan langka superhero masuk kategori bergengsi ini bersamaan dengan kegemaranku di seni tulis. Dosa besar kalau saya tak menjago takdir yang menyertai dalam lumpur.

#3. Writing (original screenplay) – Lady Bird

Alasan: diary, screenplay, moving picture

Ini kategori favoritku. The Big Sick bisa dicoret. The Shape yang biasa saja juga yakin bisa dihilangkan. Lady Bird yang memang jadi film istimewaku, tak mungkin tak kujago. Terlihat sekali ini adalah pengalaman hidup Greta Gerwig yang sukses diaplikasikan di layar. Three Billboards yang menang menghentak bisa saja, tapi saya akan histeris andai yang menang Get Out.

#2. Directing – Greta Gerwig (Lady Bird)

Alasan: Look like a memory, kita satu angkatan Bu.

Satu-satunya kandidat wanita, keputusan tepat memilih Saoirse di mana kisah penunjukan cast-nya berturut dengan Brooklyn. Hebat sekali, bisa menulis cerita pribadi, menuliskan naskah dan memfilmkan, serta hasilnya qualify. Ganjaran piala akan menyempurnakan itu.

#1. Best picture – Lady Bird

Alasan: For Saoirse. For Gerwig. For Sacramento

Saya akan ulasan sepintas semuanya. Skor, satu kalimat, dan pendapat singkat:

* Call Me By Your Name – 2/5 cheesy, hebat kalau kalian bisa menuntaskan tonton tanpa mengantuk. Tema homo, coming of age yang berat, dan orang asing yang berhasil mencuri hati. Jelas peluangnya paling kecil.

* Darkest Hour – 4,5/5 powerful speech, Film biografi tahun ini. Sungguh memikat, selama ini saya hanya tahu Churchill dari buku-buku – pemenang Nobel Sastra Bro, ini adalah film tentang dirinya pertama yang kutonton dan langsung memikat. Film ini lebih pada aksi tunggal Oldman, bukan milik Joe Wright.

* Dunkirk – 4/5 technical masterpiece, kejutan musim panas. Secara kulitas cerita biasa, Nolan kalau sampai menang justru ironis karena beliau terkenal sebagai master twist ending, masak di puncak pas pamer skill teknik? Lelucon tak lucu

* Get Out – 5/5 sunken place, saya akan kasih aplaus khusus kalau sampai juri Oscar berani memenangkannya. Ini jelas film yang melawan arus, ide brilian memasuki pikiran manusia dengan meletakkan penghuninya di ruang karam. Hebat, canggih, gila.

* Lady Bird – 5/5 Sayangku Saoirse, sesubjektif saya, saya tak pegang Broonklyn dua tahun lalu. Walau film itu sangat personal tapi jelas posisinya tentang cinta yang jauh akan sulit menang. Kali ini Lady Bird sangat layak, sangat pantas. Sebuah kesuksesan tersendiri biografi tak resmi diri sendiri bisa menang di piala tertinggi. #PalurProud

* Phantom Thread – 4/5 ini film Daniel Day-Lewis, bukan Paul Thomas Anderson. Mau dipegang Paul Thomas ataupun Paul Rudd tetap saja akan bagus kalau punya cast semewah Lewis. Film ngegoliam perang batin dua jam yang hanya disukai kaum snob. Jiah, saya nilai 4 bintang shob juga nih? Hiks…

* The Post – 3.5/5 Newspaper Power, sudah sangat banyak film tentang Perang Vietnam, sudah sangat banyak pula film tentang media cetak yang mengungkap fakta rahasia, tapi jelas The Post bukan yang terbaik.

* The Shape Of Water – 3/5 Beauty and the Beast in Nude Mode, 13 nominasi untuk film macam gini? Bah! Del Toro punya masterpiece Pan’s Labyrinth, jadi ini bukannya grafik naik malah drop. Cerita, akting, teknikal, semua biasa. Ampun deh, jangan hilangkan kepercayaan kami, please bapak ibu juri.

* Three Billboards Outside Ebbing, Missouri – 4/5 Membara Berkobar Terbakar, inilah favorit juri sesungguhnya. Kalau kalian jagoin film ini kalian ikuti arus aman laiknya La La Land, Spotlight, Birdman, 12 Years A Slave, Argo, The Artist, dst. Hidup tak seru da menarik kalau tak ada kejutan, dalam delapan tahun terakhir Best Picture Academy Award yang kusaksikan para juri hanya punya keberanian memilih keluar jalur rel kereta tahun lalu. Bagaimana tahun ini?

Karawang, 050318 – Sherina Munaf – Singing Pixie

Catatan tambahan: Saya ketik prediksi ini tanpa browsing, tanpa buka referensi, tanpa pembanding siapapun dari media sosial ataupun copas pendapat orang lain. Murni penilaianku dari menonton yang mungkin terdengar subjektif. Baiklah, Baby Driver ternyata belum kusebut, perkiraanku bakal menang minimal satu piala, tapi bagian editing tak kucantumkan karena mulai tahun ini saya hanya akan memilih 14 kategori.

Darkest Hour: Oldman Triumph

Winston Churchill: Nations which go down fighting rise again, and those that surrender tamely are finished.

Wow. Powerful Speech. Tak ada keraguan, Gary Oldman pasti menang best actor. Berkat Darkest Hour saya akan jagokan England juara Piala Dunia 2018. Simpati, doa, dukungan, harapan. Orator ulung, kalimat-kalimat akhir film ini sungguh menggugah. Mak jleb!

Perdana Menteri Inggris Neville Chamberlain (Ronald Pickup) mundur di bulan Mei 1940 karena kehilangan kepercayaan dalam menghadapi krisis, dan parlemen segera mencari pengganti. Krisis yang dimaksud adalah Jerman dengan Hitler-nya sedang meruntuhkan negara-negara tetangga, saat ini sedang di perbatasan Belgia dan segera merembet Perancis yang tentu saja Inggris dalam posisi tak nyaman. Welcome to War World II film! Housepainter.

Ini adalah salah satu film sejarah/biografi terbaik yang pernah dibuat. Benar-benar menghentak, memotivasi, memberikan semangat meluap. Saya jadi membayangkan suatu saat sang Proklamator Ir. Soekarno di film-kan Hollywood, pasti akan sangat heboh. Orator ulung yang tak kalah glamor dalam memicu nasionalis warga. Ataukah sudah ada yang buat?

Juru ketik cantik Elizabeth Layton (Lily James – film kedua Oscar yang kutonton setelah menggoda Baby Driver) direkrut menjadi sekretaris Winston Churchill (diperankan dengan gagah oleh Gary Oldman). Diperkenalan awal, tak berjalan lancar. Salah ketik, salah dengar, salah komunikasi ‘banyak banyak banyak…, ada berapa banyak?’ Istrinya Clemmie (Kristin Scott Thomas) menasehatinya, ‘ojo kasar-kasar lah dadi uwong. Dah tua. ‘Yes I am afraid you are.’ Telegram yang menjadikannya Perdana Menteri diterima Layton saat ia akan kabur, seorang pengantar pesan memberinya dengan cuek. Ragu, lantas berbalik, dan siap melanjutkan pekerjaan.

Sang Raja George VI (Ben Mendelsohn) mengundang Churchill ke Buckingham Palace, setelah menerima pengunduran diri Chamberlain ia menyambut dengan absurd. ‘Well even a stopped clock is right twice a day.’ Memang kalau menerima perintah Raja dan tunduk gitu harus cium tangan ya? Churchill ternyata tak sepenuhnya didukung banyak pihak, ia memang jadi pengambil kebijakan utama, tapi banyak suara sumbang dan penentang di sekitar parlemen. Di film ini jelas sekali ditunjukkan ada pertemuan tatap muka rahasia antara mantan Pendana Menteri dan sekjen luar negeri Lord Halifax (Stephen Dillane). Halifax digambarkan tak suka Churchill, menginginkan perdamaian dengan pihak Jerman, sering minta perantara Italia. Ia terus menekan Churchill, ayo bos kita gencatan senjata, tersamar tapi jelas ada aura ketakutan yang menggantung di udara. ‘Will you stop interrupting me while I am interrupting you!’ Chamberlian ternyata sakit kanker dan mengkhawatirkan akan menyaksikan Inggris jatuh di sisa hidupnya. Nantinya ia justru mendesak sang raja kembali mencopot Churchill yang dirasa tak klasify. Konflik yang memang sangat dibutuhkan film berkualitas, sampai di sini mulai bercabang rumit. Antara pendapat pribadi para oposisi, keluarga sang pejabat dan tentu saja kepentingan utama Negara yang terus terancam, didesak waktu.

Keputusan berat pertama harus diambil sang Perdana Menteri, saat ada 300,000 pasukan yang terdampar di Dunkirk dan dalam gempuran Jerman, apakah perlu mengirim pasukan penyelamat atau segera membantu negara tetangga Perancis yang mulai goyah. Rencana penyelamatan dirahasiakan, ia menuju Perancis dulu untuk diskusi kebijakan darurat. Bagian ketika ia mencoba berbicara dengan Pihak France terlihat lucux, Oldman yang coba merebut simpati terasa berlebihan. ‘Negara sahabat, kita pasti bisa melewati masa ini seperti yang sudah-sudah, apa serangan balik yang dipersiapkan, jadi apa rencanamu?’ Well, tak ada rencana! Wew pasrah gan.

Melalui siaran radio, Churchill menghimbau agar warga siap mengeratkan tangan dan siap melawan. Pertemuan dengan Perancis ada kemajuan, maka kita harus berani hadapi tirani gelap ini, bersiaplah perang demi kemenangan kita! Dengan background wilayah-wilayah runtuh dalam serangan Jerman, sungguh kalimat menggugah itu adalah ironi. Suatu ketika ia berfoto dengan dua jari membentuk V yang berarti Victory. Namun sang sekretaris menjelaskan V bisa artinya ‘up your bum’, makna negatif dan positif. Sampai sejauh mana Inggris Piala Dunia nanti?

Di Dunkirk yang darurat, butuh pertolongan, Churchill berencana mengirim 4,000 pasukan untuk melakukan evakuasi, ide itu ditentang para Lord karena seperti misi bunuh diri. Frustasi, ia meminta bantuan Amerika untuk mengirim 40 mesin penghancur. Melalui sambungan telpon jarak jauh Presiden Franklin Roosevelt tak langsung bilang tidak. Secara halus menolak karena kena aturan perang, bisa saja ia mengirim bantuan pasukan berkuda , pasukan tanpa mesin. Bah! Ngeledek ini. Ekspresi Churchill yang berang tapi tetap berkata halus sungguh mengaharu.

Sementara para Lord mendesak meminta Churchill untuk segera berunding damai saja sebelum Herr Hitler menyerang pelosok negeri. Desakan yang makin membuatnya pening, apalagi Halifax malah mengancam 24 jam lagi ia mundur kalau negosiasi tak segera diapungkan. Situasi mendesak itu mengakibat, rencana pengiriman pasukan bantuan diurungkan. ‘He mobilized the English language and send it into battle.’ Dan Churchill justru menjawabnya dengan membentuk Operasi Dinamo dengan melibatkan warga sipil dengan meminta mengirim perahu/kapal ke Dunkirk, ralat ini bukan permintaan, ini perintah! Ide yang terdengar aneh, sipil dilibatkan militer, tapi tidak. Ini jelas ide brilian. Hebat! Apa yang terjadi berikutnya kalian bisa lihat di film karya Nolan yang teknikal unsurnya luar biasa, yang entah kebetulan atau sengaja rilis bersamaan di tahun Oscar.

Belgia akhirnya menyerah. Perancis segera menyusul. Inggris ketar-ketir. Lukaku mejan, Pogba mandul, Rooney pindah. Churchill yang punya opsi menyerah atau berani melawan digdaya Jerman akhirnya menemukan jawab dari kaum jelata. ‘You can not reason with a Tiger when your head is in its mouth.’ Saat di West End, London lalu lintas macet, dan mobil terhenti, ia memutuskan kabur. Naik kereta bawah tanah, membaur dengan warga. Berdiskusi langsung. Meminta api buat rokoknya, warga yang shock karena ada orang penting di kursi kereta pada terdiam dan manut. Ia berdiri, penumpang ikut berdiri. Ia duduk, semua menunduk. Hormat. Sang Perdana Menteri menanyakan, meminta saran dan memastikan apa yang harus kalian lakukan saat ini? Tunduk ke Jerman atau terus melawan? Luar biasa, suara bulat: Lawan! Saya lebih baik mati tercekik darah di tanah merdeka ketimbang menjadi budak. Wow, para warga biasa ternyata punya jiwa ksatria ketimbang para pejabat yang kecut.

Maka saat kereta berhenti di Westminster ia berjalan ke gedung dengan kepala tegak penuh percaya diri. Mengutarkan suara rakyat, mereka para pemberani yang tak takut berperang. Maka jadilah final act, pidato beliau yang terkenal itu. Adegan akhirnya luar biasa menggugah, parlemen mengibarkan, menggelombangkan sapu tangan dan kertas-kertas bertaburan yang tentu saja sepakat bulat, Lawan!

Saya sudah prediksi pasti pidato itu akan dijadikan boom, gong penutup film. Kenapa? Ya karena saat penonton mengakhirinya aura membuncah masih sangat menempel, akan terkenang. Hebat! Joe Wright memenuhi harapan itu. sempat bilang Darkest Hour is movie of the year, sesaat setelah tulisan credit berjalan. Namun kini saya ralat, Orient Express tetap yang terbaik, sejauh ini. Hehe…

Succes is not final. Failure is not fatal. It is the courage to continue that counts.’

Epilog text kurasa tak perlu karena jelas ini film historikal yang kisahnya ada di banyak buku sejarah. Bisa jadi Dunkirk-nya Nolan adalah sekuel Darkest Hour versi popcorn. Atau The Darkest Hour adalah prekuelnya? Hahaha…

V for Victory. Koran-koran jadul yang menunjukkan keklasikannya dimunculkan, salah satunya sebuah koran terbitan Daily Express yang memuat headline ‘Change must be made quickly’. Jadi membayangkan zaman itu betapa mencekam.

Sepanjang film, raut Oldman yang kharismatik ditutupi. Ia menjadi tambun, gugup dan tertekan. Dengan cerutu dan minuman berwarna, segala yang diperbuatnya seolah menjadi sabda. Oldman mempelajari setahun terakhir sebelum mengambil peran ini. Ganjaran yang pas. Saat dia dianugerahi dalam Golden Globe, ia mengucapkan terima kasih untuk istri Gisele yang telah menjadikannya keren, serta ironi ‘I go to bed with Winston Churchilland wake up with Gary Oldman.’ Patut dinanti apa yang diucapnya Senin nanti. Komisaris Gordon, Sirius Black, George Smiley, Vladislav Dukhovich, Winston Churchill. Puncak Oldman, akhirnya Oscar!

Sepintas mengenai Churchill. Karena saya pengikut Nobel Sastra, maka beliau tentu saja akan selalu dikenang berkat kemenangannya di tahun 1953. Churchil adalah anggota partai Konservatif sebelum akhirnya pindah ke Partai Liberal. Di tahun 1931 saat partainya menang Pemilu ia tak dilibatkan Ramsay MacDonald dalam kabinet, menjadikan titik terendah karir politiknya. Ia lalu malah menulis buku History of the English Speaking Peoples, yang diterbitkan setelah Perang Dunia II. Beliau adalah penentang utama Chamberlain yang menjadi penggembira Hitler, maka ketika ia menjadi Perdana Menteri tahun 1940 ia melawan, memperkuat persenjataan. Pidato awal setelah dilantik sangat terkenal memang inspiratif, ‘Saya tidak mempunyai apa-apa untuk ditawarkan kecuali darah, kerja kuat, air mata dan peluh.’

Karena kenekadnya menentang arus, ia banyak musuh di parlemen maka tak heran kalah telak pasca perang dari Partai Buruh. Barulah tahun 1951 Churchill kembali menjadi Perdana Menteri, dua tahun berselang dapat gelar Sir dan menang Nobel Sastra. Kalimat paling fenomenalnya, yang menjadi final speech film ini akan selalu dikenang generasi ke generasi berikutnya.

Kita akan mempertahankan pulau kita, walau apapun harganya, kita akan bertempur di pantai, kita akan bertempur di tempat pendaratan, kita akan bertempur di padang dan di jalan, kita akan bertempur di bukit, kita tidak akan sekali-kali menyerah!

Darkest Hour | Year 2017 | Directed by Joe Wright | Screenplay Anthony McCarten | Cast Gary Oldman, Kristin Scott Thomas, Ben Mendelsohn, Lily James, Ronald Pickup, Joe Armstrong, Stephen Dillane | Skor: 4.5/5

Karawang, 030318 – Sherina Munaf – Lari Dari Realita

Oscar 2015: The Winners

Akhirnya bisa nonton bareng Oscar di bioskop juga. Senin (23/2) kemarin saya ambil cuti untuk ke Mal FX Sudirman, Jakarta. Acara yang diselenggarakan atas kerja sama Big Tv, HBO Asia dan Cinemaxx, first impress – nya seru. Ga rugi jauh-jauh dari Karawang berangkat subuh demi acara ini. Ngumpul bareng Gila Film (GF), Bank Movie (BM), Layar-Tancep (LT) dan beberapa komunitas film lain. Catatan khusus acara akan saya posting besok, yang ini khusus review pemenang Oscar. Here we are..

Best Supporting Actor – Salah (0/15)

WINNER: JK Simmons for Whiplash

Robert Duvall for The Judge

Ethan Hawke for Boyhood

Edward Norton for Birdman

Mark Ruffalo for Foxcatcher

Saat pengumuman pemenang, saya ga lihat. Sampai FX terlambat euy jadi ga lihat red carpet. Bayangkan perjalanan macet 3 jam yang melelahkan! Untuk kategori ini memang prediksi bakalan menang JK Simmons, saya belum lihat jadi yah KO.

Costume Design – Benar (1/15)

WINNER: The Grand Budapest Hotel – Milena Canonero

Inherent Vice – Mark Bridges

Into the Woods – Colleen Atwood

Maleficent – Anna B Sheppard

Mr Turner – Jacqueline Durran

Ingat prediksi saya, Lobby boy, topi miring? Yup! Ternyata terbukti kan.

Best Supporting Actres – Benar (2/15)

WINNER: Patricia Arquette for Boyhood

Laura Dern for Wild

Keira Knightley for The Imitation Game

Emma Stone for Birdman

Meryl Streep for Into the Woods

Ternyata tebakan liarku membuahkan hasil. Kecewa sama ke-4 kandidat lain. Kategori ini malah tepat.

Visual Effect – Benar (3/15)

WINNER: Interstellar – Paul J Franklin, Andrew Lockley, Ian Hunter, Scott R Fisher

Captain America: The Winter Soldier – Dan Deleeuw, Russell Earl, Bryan Grill, Daniel Sudick

Dawn of the Planet of the Apes – Joe Letteri, Dan Lemmon, Daniel Barrett, Erik Winquist

Guardians of the Galaxy – Stephane Ceretti, Nicolas Aithadi, Jonathan Fawkner, Paul Corbould

X-Men: Days of Future Past – Richard Stammers, Lou Pecora, Tim Crosbie, Cameron Waldbauer

Saya berpendapat film Nolan ga boleh tangan hampa, dan adegan black hole itu perlu diapresiasi. Correct!

Animated Feature – Benar (4/15)

WINNER: Big Hero 6

The Boxtrolls

How to Train Your Dragon 2

Song of the Sea

The Tale of the Princess Kaguya

Sekali lagi benar. Sampai di menit saat film animasi saya sempat berujar ‘wah tebakanku rata-rata benar. Ini kah tahunku?’ 4 dari 5 sejauh ini benar.

Cinematography – Benar (5/15)

WINNER: Birdman: Emmanuel Lubezki

The Grand Budapest Hotel: Robert D Yeoman

Ida: Lukasz Zal, Ryszard Lenczewski

Mr Turner: Dick Pope

Unbroken: Roger Deakins

Well, kekuatan utama film ini ya di sini.

Film Editing – Salah (5/15)

WINNER: Whiplash – Tom Cross

Boyhood – Sandra Adair

The Imitation Game – William Goldenberg

The Grand Budapest Hotel – Barney Pilling

American Sniper – Joel Cox, Gary Roach

Kaget juga saya ikut nebak bagian ini, saya kepleset ketik bukan film editing tapi sound editing. Birdman ga ada di kategori ini, malah saya tebak. Duh!

Original Song – Benar (6/15)

WINNER: Glory from Selma – Lonnie Lynn (Common), John Stephens (John Legend)

The Lego Movie – Shawn Patterson (Everything Is Awesome)

Beyond the Lights – Diane Warren (Grateful)

Glen Campbell: I’ll Be Me – Glen Campbell, Julian Raymond (I’m Not Gonna Miss You)

Begin Again – Gregg Alexander, Danielle Brisebois (Lost Stars)

Yuhui, pada nangis setelah lagu dibawain di acara. Saya sih biasa saja, ini Amerika sekali. Glory!

Original Score – Salah (6/15)

WINNER: Alexandre Desplat – The Grand Budapest Hotel

Alexandre Desplat – The Imitation Game

Hans Zimmer – Interstellar

Jóhann Jóhannsson– The Theory of Everything

Gary Yershon – Mr Turner

Tak kusangka Theory bakal tumbang di sini, padahal score-nya luar biasa.

Original Screenplay – Salah (6/15)

WINNER: Alejandro González Iñárritu, Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, Armando Bo – Birdman

Richard Linklater – Boyhood

E Max Frye, Dan Futterman – Foxcatcher

Wes Anderson, Hugo Guinness – The Grand Budapest Hotel

Dan Gilroy – Nightcrawler

Ini hal yang paling mengecewakan di Oscar 2015. Film sesempurna Budapest kalah di naskah. Mulai kategoti ini saya was-was, tebakanku mulai ngaco.

Adapted Screenplay – Salah (5/15)

WINNER: Graham Moore – The Imitation Game

Jason Hall – American Sniper

Paul Thomas Anderson – Inherent Vice

Anthony McCarten – The Theory of Everything

Damien Chazelle – Whiplash

Theory lagi-lagi gagal menang. Inilah bukti bagi-bagi piala. Imitation juga sepertinya ga akan tangan hampa makanya dikasih menang di sini. Duh salah lagi.

Best Director – Salah (5/15)

WINNER: Alejandro González Iñárritu for Birdman

Richard Linklater for Boyhood

Bennett Miller for Foxcatcher Wes Anderson for The Grand Budapest Hotel

Morten Tyldum for The Imitation Game

Wow, just wow. Richard yang 12 tahun ga dapat piala. Boyhood dirampok? Hanya dikasih best supporting actress!  Gila.

Best Actor – Benar (6/15)

WINNER: Eddie Redmayne for The Theory of Everything

Steve Carell for Foxcatcher

Benedict Cumberbatch for The Imitation Game

Bradley Cooper for American Sniper

Michael Keaton for Birdman

Ini jelas sekali, Eddie harga mati. Ga terkejut.

Best Actress – Benar (7/15)

WINNER: Julianne Moore for Still Alice

Marion Cotillard for Two Days, One Night

Felicity Jones for The Theory of Everything

Rosamund Pike for Gone Girl Reese

Witherspoon for Wild

Finally Moore dapat piala juga. Momen paling mengharukan dan menggembirakan di Oscar 2015 yaini. Congrat Moore.

Best Picture – Benar (8/15)

WINNER: Birdman American

Sniper

Boyhood

The Imitation

Game

The Grand Budapest Hotel

Selma

The Theory of Everything Whiplash

Yak benar, Riggan meloncat darijendela memang untuk meraih piala Oscar! Dan Zul pundapat TV LED 32’ karena film ini. Selamat! Gmana menurut teman-teman semua, 8 dari 15 tepat. 3 dari 5 kategori utama benar. Dan Best Picture untuk kedua kalinya dalam 6 tahun terakhir OK. See…

Karawang, 240215

(Review) The Theory of Everything: Oscar Worthy Performance Eddie Redmayde

Featured image

Teori Lubang Hitam dalam sistem astronomi yaitu daerah dalam alam semesta di mana materi, foton, atau partikel dasar maupun isyarat apapun tak dapat lolos ke luar. Demikian pula foton dan materi luar yang bergerak terlalu dekat dengan daerah ini akan tersedot ke dalamnya dan tidak akan dapat lolos lagi. Bagaimana proses Lubang Hitam terbentuk? Lubang hitam muncul ketika sebuah bintang yang besar dan padat di sebuah supernova meredup dan mati dengan membakar seluruh tenaga nuklirnya. Gaya gravitasi menarik berat mahabesar dari lapisan-lapisan luar bintang itu untuk ikut meluruh ke arah inti ataukah Permukaan dari sebuah lubang hitam disebut dengan sebuah event horizon. Hancurnya gaya gravitasi menjadikan hampir seluruh cahaya tidak dapat melepaskan diri dan tidak ada satu pun informasi dari permukaan itu yang berhasil lolos.

Ga usah pusing-pusing ketika menonton film The Theory of Everything, karena kisah akan lebih fokus ke drama kehidupan sang penemu Teori Lubang Hitam, Teori Kosmologi, Gravitasi Kuantum, dan Radiasi Hawking. Berdasarkan buku yang ditulis istrinya: Travelling to Infinity: My Life With Stephen. Film dibuka di tahun 1963 di masa kuliah Stephen (Eddie Redmayde) yang satu kamar dengan Brian (Harry Llyod) sedang di pesta. Stephen lalu berkenalan dengan Jane (Felicity Jones). Sempat tampak canggung, namun Jane lalu meninggalkan nomor HP. Dari perkenalan singkat itu, mereka jalan. Walau ada perbedaan pandangan keyakinan, Stephen atheis, Jane seorang yang taat ke Gereja namun akhirnya kedekatan mereka berlanjut. Suatu hari Stephen terjatuh saat berlari di kampus, sebenarnya beberapa hari sebelumnya dia sudah merasa sakit kaki. Dari hasil rekam medis, Stephen divonis tetraplegia (kelumpuhakn motorik) karena sklerosis lateral amiotrofik. Awalnya dia mau menjauh dari Jane karena cacat, namun Jane malah memberi dukungan dan menyatakan cinta. Akhirnya dengan memakai tongkat, Stephen dan Jane menikah.

Setelah menikah karir ilmiahnya meningkat. Buku-buku yang dirilisnya ke publik membuatnya terkenal karena best seller dan menjadi seleb kampus. Semakin hari kelumpuhannya semakin parah, Jane dan kedua anaknya lalu memberi kursi roda. Dari situ keadaan kelurga mulai goyah, Stephen yang masih saja menganggap keluarga masih normal sementara sebagai seorang istri Jane mulai kelelahan mengurus anak dan suami. Dalam kepenatan, Jane memutuskan ikut paduan suara penyanyi Gereja, berkenalan dengan seorang duda Jonathan Hellyer Jones (Charlie Cox). Semakin hari tumbuh benih-benih cinta diantara mereka. Jonathan sendiri mendekatkan diri dengan keluarga Hawking, termasuk kedua anaknya. Terlihat di beberapa scene, mereka berlibur bareng, main petak umpet sampai di pesta. Termasuk saat undangan ke Bordeux, Perancis. Jane lalu melahirkan anak ketiga, kerepotan mengurus keluarga membuat Jane tampak frustasi dan momen itu ditangkap oleh Stephen yang akhirnya memberi Jane opsi kalau ingin mendua silakan.

Kisah dituturkan dengan sangat bagus. Catat prediksi saya, Eddie Redmayde akan menang Best Actor. Penampilan memikat sebagai seorang jenius dengan mimik wajah yang meyakinkan. Kecuali Keaton, total 4 kandidat best actor yang kutonton, ini yang terbaik. Seyakin saat saya nebak Matthew mengalahkan Leo tahun lalu. Sedangkan untuk Felicity Jones, rasanya kurang. Di sini dia memang tampil cantik sekali, gigi kelincinya membuat makin imut. Mungkin momen terbaiknya saat dia bilang ada rasa dengan Jonathan, itu gerak tubuh dan mimik muka yang terlihat natural. Untuk best actress saya sudah menonton 3 kandidat. Jones masih kalah cemerlang sama Pike. Mudah-mudahan bisa segera nonton Two Days, One Night dan Still Alice buat pembanding.

Apakah The Theory of Everything akan menang best picture? Tunggu nonton Birdman dan Boyhood dulu ya. Diluar dua film tersebut, film ini leading.

The Theory of Everything | Director: James Marsh | Screenplay: Anthony McCarten | Cast: Eddie Redmayde, Felicity Jones | Skor: 4/5

(review) Big Hero 6: Oscar Lock For Best Animated Feature

Dari adegan pembukanya saja kita sudah dibuat takjub dengan animasinya yang lembut. Sebuah pertarungan robot mini illegal, Hiro (voice by Ryan Potter) yang baru lulus SMU di usia muda memenangkan taruhan adu robot. Polisi datang, arena tarung bubar lalu Hiro kabur dari arena diselamatkan kakaknya Tadashi (Daniel Henney). Sampai di rumah Hiro dinasehati untuk menyalurkan kejeniusan otaknya ke hal yang lebih berarti. Hiro berpendapat kuliah akan membuang waktunya, namun pada suatu ketika dia diajak kakaknya ke kampus. Di sebuah lab penelitian, Hiro dibuat terpukau karena banyak hal canggih tersedia. Bersama teman-teman kuliah Tadashi, memperlihatkan bahwa kuliah tak semembosankan yang dikiranya. Salah satu robot penelitian bernama Baymax (Scott Adsit).

Sepulang dari kampus, Hiro langsung berminat kuliah di sana. Lalu dibuatlah sebuah karya untuk presentasi. Sebuah karya yang memukau Alistair Krei (Alan Tudyk), orang kaya dari Krei enterprise, dan berniat membelinya. Namun ditolaknya, dari hasil presentasi itu professor Robert Callaghan (James Cromwell) memberinya golden ticket masuk universitas. Puas dengan karyanya dua bersaudara ini bersantai di luar gedung. Naas, gedung terbakar berdua mereka segera bergegas berlari kea rah TKP. Api yang meluluhkan sebagi gedung membuat panik orang-orang, sampai ada yang berteriak bahwa professor Callaghan masih terjebak di dalam. Tadashi dengan berani berusaha masuk ke gedung untuk menyelamatkannya. Sayang kemudian gedung meledak menewaskannya, topinya terlempar. Topi tersebutlah yang manjadi kenang-kenangan terakhir kakaknya.

Kejadian menyedihkan ini membuat Hiro patah semangat. Klontrak-klantruk di kamar, hopeless. Sampai akhirnya muncullah Baymax yang ternyata disimpan di kamar. Baymax lalu dengan lucunya menyampaikan keadaan Hiro, oiya kelebihan Baymax salah satunya bisa men-scan tubuh manusia lalu muncul mood 1-10, bagaimana keadaanmu hari ini. Kalau buruk maka Anda perlu pelukan, salah satu scene paling memorable tahun 2014 ya si Baymax meluk Hiro ini. Tentu saja Hiro keadaannya buruk setelah ditinggal meninggal kakaknya. Di adegan ini saya ikut sedih.

Baymax menemukan ada potongan karya Hiro yang bergerak-gerak di dalam box plastik (mengingatkanku pada kompas). Hiro tentu saja ga percaya karena karyanya sudah hancur pas kebakaran. Dia abai, Baymax malah mengikuti arah gerak potongan tersebut. Terpaksa Hiro lalu mengikuti juga, sampai di sebuah gudang gedung terkunci. Penasaran, berdua memanjat dinding dan masuk lewat jendela. Betapa terkejutnya Hiro, karena ternyata karyanya terkumpul di situ dan sedang digunakan oleh seseorang bertopeng. Kabur, dirinya terancam. Dari situ Hiro lalu membentuk tim untuk melawan. Karena mengira manusia bertopeng itu Krei yang mau membeli karyanya, namun merebutnya dengan meledakkan gedung. Terdiri dari 6 pasukan yang kemudian muncul judul Big Hero 6: dirinya, 4 teman kuliah Tadashi dan Baymax. Berhasilkah Hiro membalas dendam kakaknya? Siapa jati diri manusia bertopeng tersebut?

Setelah film selesai saya langsung mem-plot jatah animasi terbaik sudah ketemu. Feel Oscarnya dapat. Saya baru nonton Boxtroll, yang 3 belum tapi saya sudah yakin Big Hero 6 akan menang. Animasi lembut, cerita kuat yah walau ga kuat-kuat amat karena ketebak, tanpa Pixar di daftar dan dramatisasi yang disuguhkan pas. Setting film ada di San Fransico tapi berasa di Jepang. Unik dan cerdas.

Saat kredit title muncul, jangan beranjak dulu. Tonton sampai tuntas karena aka nada scene after credit yang WOW. Bravo Lee!

Big Hero 6 | Directed by: Don Hall, Chris Williams | Written by: Jordan Roberts, Daniel Gerson | Star: Ryan Potter, Daniel Henney, Scottv Adsit, TJ Miller, Jamie Chung | Skor: 4/5

Karawang. 060215