(review) Pompeii: Awful Film

Berawal dari info grup film yang ramai bilang: Pompeii salah satu film tarbaik 2014 (walau Cuma satu orang). Setelah Oscar sudah lewat (catatan pesta menyusul), dan di-embel-embeli 3D yang nampol. Akhirnya semalam nonton film Pompeii.

Film dibuka dengan serem. Pembantaian di mana-mana. Setting sebelum Masehi, Romawi sedang berjaya dan berkuasa. Seluruh warga dihabisi, namun ada yang masih hidup. Seorang anak Milo (Dylan Schombing) yang menyaksikan orang tuanya dibunuh. Penuh dendam dan menatap tajam sang pembunuh, film lalu bergulir.

Milo (Kit Harington) yang sudah dewasa, kini menjadi budak. Di bawa menuju kota Pompeii, di bawah kaki gunung Vesuvius. Di sana akan ada pertarungan gladiator antar budak. Dalam perjalanan, kereta sang putri Pompeii Cassia (Carrie-Anna Mos) terjebak lumpur sehingga kudanya terjatuh. Dalam posisi dirantai, Milo seorang penunggang kuda pun mencoba menolong. Kuda yang sekarat tersebut lalu dihilangkan dari penderitaannya. Sang putri terpesona, bukan hanya karena ketampanan dan  kejantanan Milo tapi juga kharismanya.

Sampai di kota Pompeii, persiapan pertarungan akbar hampir rampung. Di sel budak, Milo berkenalan dengan Atticus (Adewale Akinnouye-Akbaje). Budak juara bertahan tahun lalu, budak yang akan merdeka jika meraih (kemenangan) pertarungan gladiator tahun ini. Sementara itu kaisar Roma Corvus (Kiefer Sutherland) dan rombongan baru tiba di Pompeii, mereka adalah tamu besar yang berkunjung lalu melamar sang Putri. Di malam hari saat budak dipamerkan, Milo melihat Corvus, orang yang membunuh ayah-ibunya. Penuh dendam Milo menyusun strategi.

Saat peluang untuk bebas, saat dia berhasil kabur membawa kuda berserta putri Cassia, dia bukannya pergi dari Pompeii malah kembali lagi ke sel. Karena dalam benak Milo, inilah kesempatan untuk balas dendam. Hari H pertarungan tiba. Budak, termasuk Atticus dan Milo dimasukkan arena. Dirantai dan dipersenjatai sekedarnya. Lalu teater Roma digelar, pasukan berkuda Roma masuk ke arena untuk bertarung. Namun apa daya, suguhan yang seharusnya menyenangkan Corvus malah berbalik. Ternyata pertunjukan tersebut dimenangkan Atticus dan Milo. Seluruh pasukan Roma tewas. Marah, Corvus memerintahkan pasukan pemanah untuk masuk, bersiap menembakan panah ke arah dua budak di tengah arena. Tiba-tiba Putri Cassia, menjulurkan tangan tanda pengampunan. Selamatlah jagoan kita.

Perpanjangan waktu, sang juara gladiator Roma Bellator (Currie Graham) masuk ke arena. Duel dengan Milo. Namun pertarungan tak sampai ada pemenang, karena tiba-tiba gunung Vesuvius meletus meluluhlantakan kota Rowani Kuno, terutama Pompeii. Berhasilkah Milo membalas dendam? Bagaimana nasib jagoan kita? Berhasil selamatkah?

Well, Pompeii adalah film yang ringan. Tonton santai sambil ngopi tanpa perlu banyak berfikir. Kelebihan utama film ini jelas tampilan visual yang ciamik. Tombak yang mengarah ke penonton, semburan lahar, lontaran batu, debu-debu yang melayang seolah-olah ada di sekitar kita. Air yang meluap sampai detail kecil lumpur yang menciprat. Namun sayang, visual wah tersebut tak dibarengi dengan cerita yang bagus. Plot hole di mana-mana. Salah satu yang paling menonjol, saat musuh utama terjatuh bersamaan dengan sang putri, jagoan malah menolong putri dulu, kalau dilogika harusnya bunuh musuh baru ke arah putri. Duh, script yang payah. Jangan berharap seperti Gladiator yang megah. Jauh-jauh sekali.

Bencana meletusnya gunugn Vesuvius yang terjadi tahun 79 Masehi adalah nyata. Bencana yang konon ledakannya setara 40 bom nuklir ini menenggelamkan kota Romawi Kuno. Reruntuhan kota  Pompeii baru ditemukan 1500 tahun kemudian.

Overall, saya kecewa. Kecewa berat, film yang mengerikan. Buang waktu saja.

Pompeii | Director: Paul W.S Anderson | Screenplay: Janet Scott Batchler, Lee Batchler | Cast: Kiefer Sutherland, Kit Harington, Carrie-Anna Moss, Emily Browning, Jared Harris | Slor: 2/5

Karawang, 260215

4 Cara Melepas – Si Cacing Dan Kotoran Kesayangannya 2!

Ketika kemarin saya diberitahu bahwa pagi ini dapat giliran mendapat ‘ngisi’ briefing inspirasi dan motivasi pagi. Malamnya saya langsung lihat buku-buku yang ada di rak, buku mana yang akan saya nukil. Setelah pilih dan pilah akhirnya saya comot buku karya Ajahn Brahm: Si Cacing Dan Kotorannya 2!, yang saya beli tahun 2012. Saya ingat sekali, waktu itu bulan November saya lagi berduka, dan buku ini sedikit banyak menyembuhkan.

Buku berisi 108 cerita pembuka hati. Perlu diketahui ajahn Brahm adalah seorang Budha yang lahir di London, Inggris. Lulusan Cambridge University ini memutuskan mejadi biksu dan berlatih di bawah bimbingan Ajahn Chah selama 9 tahun di Thailand kemudian ke Australia. Nah materi yang saya sampaikan tadi pagi saya ambil dari bab 14 – 18 tentang “4 cara melepas”. Entah Anda bermeditasi atau tidak, entah Anda Buddhist, Kristiani, Muslim, atau apapun, kita masing-masing dari waktu ke waktu harus belajar cara melepas. Dengan tidak mampu melepas, membawa terus kenangan buruk masa lalu, perasaan negative masa kini dan ketakutan masa depan akan menimbulkan banyak duka dan rasa sakit. Bukan hanya pada kita namun juga pada orang-orang yang bersama kita. Kadang kita memiliki segala ketakutan mengenai masa depan. Masalahnya kita tahu, bahwa melepas itu masuk akal – tapi kita tidak mampu melakukannya. Berikut adalah 4 cara melepas:

1. Satu Hal Pada Satu Waktu

Ajahn Chah memungut sebuah ranting di pinggir jalan. Ia berbalik dan berkata, “Brahmavamso, apa ini berat?” Sebelum saya menjawab, ia sudah melempar ranting itu ke semak-semak lalu berkata, “Lihat kan, itu hanya berat jika kita melekat padanya”. Ya itu hanya berat ketika kita memegangnya, namun begitu kita lepas, tidaklah berat lagi. Sungguh mendalam, sederhana dan tak terlupakan.

Jadi hal-hal berat apa yang Anda miliki sekarang dalam hidup? Pekerjaan, kanker, kesulitan uang,… apakah itu berat? Hanya berat jika Anda memegangnya. Hal ini memberi Anda pemahaman bahwa cara pertama untuk melepas adalah “membuang” hal-hal. Anda menjalani hidup yang begitu rumit. Anda memiliki begitu banyak hal di dalam keranjang, itu berarti Anda tidak bisa berpergian dengan ringan dalam menjalani hidup.

Saya tak tahu apakah sejarah hidup saya bagus atau buruk. Saya telah membuang batu itu lama sekali. Masa lalu adalah penjara. Masa lalu adalah sebuah sel dengan pintu yang terbuka, kita bisa melangkah keluar dari sana kapan saja kita suka, namun sering kali persis seperti orang yang telah lama di penjara, mereka takut meninggalkan penjara.

Anda tidak belajar dari masa lalu, Anda sebenarnya mendapat lebih banyak duka dari masa lalu. Anda akan belajar jauh lebih banyak dari melepas masa lalu ketimbang terus menyimpan masa lalu itu. Lao Tzu, seorang guru besar dari China setiap sore berjalan-jalan. Ia akan memilih salah satu siswanya – hanya satu siswa yang boleh pergi bersamanya. Namun ada aturan emas, jika berjalan dengan guru agung Tao, Anda harus diam tidak bicara sepatah kata pun. Suatu hari siswa muda, berjalan bersama guru, dan mereka sampai di puncak gunung saat matahari terbenam. Matahari terbenam sangat indah, sampai pemuda itu tak tahan bergumam, “Wow.. indahnya matahari terbenam.” Ia telah melanggar aturan. Lao berbalik dan masuk ke Biara dan tak pernah mengizinkan siswa tersebut untuk ikut berjalan lagi bersamanya. Sahabat pemuda tersebut mohon ampunan, “Dia kan  cuma  mengucapkan satu kalimat. Ampunilah dia Guru, menjaga kesunyian masa sampai segitunya.” Saat itulah guru besar berkata: “Ketika pemuda itu berkata betapa indahnya matahari terbenam, dia tidak melihat matahari terbenam lagi. Ia hanya memperhatikan kata-kata dalam batinnya.”

2. Mau Di Sini

Cara melepas kedua adalah mengetahui apa itu sesungguhnya kebebasan. Jika kita tidak suka mendengarkan ceramah, kita bertanya-tanya kapan ceramah akan berakhir, itulah penjara kita. Kita tidak ingin berada di sana. Jika kita berada dalam hubungan yang tidak kita sukai, hubungan itulah penjara kita. Jika kita berada dalam pekerjaan yang tidak memuaskan kita, itulah penjara kita. Bahkan dalam tubuh ini, ketika kita sakit kita tidak ingin ada di sana, tubuh kita pun menjadi penjara.

Namun ada cara yang sangat mudah untuk melepaskan diri dari penjara-penjara kehidupan. Anda tidak perlu mengubah suami anda, istri anda, Anda tak perlu ganti pekerjaan, anda bahkan tak perlu membaik dari penyakit. Anda cukup mengubah sikap Anda menjadi mau di sini.

3. Memberi Tanpa Harap Kembali

Cara ketiga melepas adalah dengan memberi – bukan sekedar memberi, namun memberi tanpa harap kembali. Di Wihara saya, tidak ada tulisan atau plakat tentang siapa yang menyumbang bangunan iti. Tidak ada nama donator, bahkan di tempat retret kami yang dibangun senilai 5 juta Dollar Australia. Banyak orang donator, banyak sekali sumbangan besar dan kecil, namun tak ada satu pun plakat di tempat itu mengenai siapa menyumbang apa.

Apa hubungan hal ini dengan melepas? Ketika Anda menikah dan menjalin hubungan, apakah Anda memberi? Ataukah Anda mengharap sesuatu imbalan? Apakah Anda benar-benar melepas? Terlampau sering kita mengharapkan imbalan dan hal itu malah menyebabkan duka besar dalam hidup, toh pengharapan tak terwujud. Meditasi adalah tindakan memberi tanpa harap kembali. Untuk mengkosongkan, untuk melepas. Mini adalah cara yang indah pula untuk mejalani hidup.

Jadi mengapa Anda tidak memberi kepada kehidupan ini? Berilah segenap kebaikan, cinta, energi Anda kepada kehidupan, maka Anda akan tahu apakah melepas itu dan apakah sesungguhnya makna kehidupan spiritual itu.

4. Batin Teflon

Cara keempat untuk melepas adalah memiliki batin ala Teflon. Maksdunya tidak ada apa pun yang menempel padanya. Anda memiliki momen indah ini, nikmatilah sekarang; ketahuilah bahwa ini pun akan berlalu, sehingga Anda bisa bebas dan siap untuk kedatangan momen berikutnya, dan melepas pula momen itu.

Orang-orang yang memiliki terlalu banyak pengetahuan tidak akan bisa memahami kebenaran saat kini. Terlampau sering kita menyantap menu –pengetahuan– kita belaka dan tidak menyantap makanannya – pengalaman. Itulah sebabnya saya katakan: jangan pernah biarkan pengetahuan menghalangi kebenaran. Namun begitu banyak orang berkata, “Tapi Budha berkhotbah…”, “Yesus bersabda…”, “Para pakar mengatakan..”, “Pemerintah memutuskan..” atau apapun. Memangnya kenapa? Jadi ingatlah bahwa semua pengetahuan hanyalah papan petunjuk, hanyalah arah, mereka bukanlah yang sejati. Belajar cara menjadi bebas. Itulah cara untuk melepas.

Ruang HR NICI – Karawang, 250215

Oscar note pending dulu

Oscar 2015: The Winners

Akhirnya bisa nonton bareng Oscar di bioskop juga. Senin (23/2) kemarin saya ambil cuti untuk ke Mal FX Sudirman, Jakarta. Acara yang diselenggarakan atas kerja sama Big Tv, HBO Asia dan Cinemaxx, first impress – nya seru. Ga rugi jauh-jauh dari Karawang berangkat subuh demi acara ini. Ngumpul bareng Gila Film (GF), Bank Movie (BM), Layar-Tancep (LT) dan beberapa komunitas film lain. Catatan khusus acara akan saya posting besok, yang ini khusus review pemenang Oscar. Here we are..

Best Supporting Actor – Salah (0/15)

WINNER: JK Simmons for Whiplash

Robert Duvall for The Judge

Ethan Hawke for Boyhood

Edward Norton for Birdman

Mark Ruffalo for Foxcatcher

Saat pengumuman pemenang, saya ga lihat. Sampai FX terlambat euy jadi ga lihat red carpet. Bayangkan perjalanan macet 3 jam yang melelahkan! Untuk kategori ini memang prediksi bakalan menang JK Simmons, saya belum lihat jadi yah KO.

Costume Design – Benar (1/15)

WINNER: The Grand Budapest Hotel – Milena Canonero

Inherent Vice – Mark Bridges

Into the Woods – Colleen Atwood

Maleficent – Anna B Sheppard

Mr Turner – Jacqueline Durran

Ingat prediksi saya, Lobby boy, topi miring? Yup! Ternyata terbukti kan.

Best Supporting Actres – Benar (2/15)

WINNER: Patricia Arquette for Boyhood

Laura Dern for Wild

Keira Knightley for The Imitation Game

Emma Stone for Birdman

Meryl Streep for Into the Woods

Ternyata tebakan liarku membuahkan hasil. Kecewa sama ke-4 kandidat lain. Kategori ini malah tepat.

Visual Effect – Benar (3/15)

WINNER: Interstellar – Paul J Franklin, Andrew Lockley, Ian Hunter, Scott R Fisher

Captain America: The Winter Soldier – Dan Deleeuw, Russell Earl, Bryan Grill, Daniel Sudick

Dawn of the Planet of the Apes – Joe Letteri, Dan Lemmon, Daniel Barrett, Erik Winquist

Guardians of the Galaxy – Stephane Ceretti, Nicolas Aithadi, Jonathan Fawkner, Paul Corbould

X-Men: Days of Future Past – Richard Stammers, Lou Pecora, Tim Crosbie, Cameron Waldbauer

Saya berpendapat film Nolan ga boleh tangan hampa, dan adegan black hole itu perlu diapresiasi. Correct!

Animated Feature – Benar (4/15)

WINNER: Big Hero 6

The Boxtrolls

How to Train Your Dragon 2

Song of the Sea

The Tale of the Princess Kaguya

Sekali lagi benar. Sampai di menit saat film animasi saya sempat berujar ‘wah tebakanku rata-rata benar. Ini kah tahunku?’ 4 dari 5 sejauh ini benar.

Cinematography – Benar (5/15)

WINNER: Birdman: Emmanuel Lubezki

The Grand Budapest Hotel: Robert D Yeoman

Ida: Lukasz Zal, Ryszard Lenczewski

Mr Turner: Dick Pope

Unbroken: Roger Deakins

Well, kekuatan utama film ini ya di sini.

Film Editing – Salah (5/15)

WINNER: Whiplash – Tom Cross

Boyhood – Sandra Adair

The Imitation Game – William Goldenberg

The Grand Budapest Hotel – Barney Pilling

American Sniper – Joel Cox, Gary Roach

Kaget juga saya ikut nebak bagian ini, saya kepleset ketik bukan film editing tapi sound editing. Birdman ga ada di kategori ini, malah saya tebak. Duh!

Original Song – Benar (6/15)

WINNER: Glory from Selma – Lonnie Lynn (Common), John Stephens (John Legend)

The Lego Movie – Shawn Patterson (Everything Is Awesome)

Beyond the Lights – Diane Warren (Grateful)

Glen Campbell: I’ll Be Me – Glen Campbell, Julian Raymond (I’m Not Gonna Miss You)

Begin Again – Gregg Alexander, Danielle Brisebois (Lost Stars)

Yuhui, pada nangis setelah lagu dibawain di acara. Saya sih biasa saja, ini Amerika sekali. Glory!

Original Score – Salah (6/15)

WINNER: Alexandre Desplat – The Grand Budapest Hotel

Alexandre Desplat – The Imitation Game

Hans Zimmer – Interstellar

Jóhann Jóhannsson– The Theory of Everything

Gary Yershon – Mr Turner

Tak kusangka Theory bakal tumbang di sini, padahal score-nya luar biasa.

Original Screenplay – Salah (6/15)

WINNER: Alejandro González Iñárritu, Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, Armando Bo – Birdman

Richard Linklater – Boyhood

E Max Frye, Dan Futterman – Foxcatcher

Wes Anderson, Hugo Guinness – The Grand Budapest Hotel

Dan Gilroy – Nightcrawler

Ini hal yang paling mengecewakan di Oscar 2015. Film sesempurna Budapest kalah di naskah. Mulai kategoti ini saya was-was, tebakanku mulai ngaco.

Adapted Screenplay – Salah (5/15)

WINNER: Graham Moore – The Imitation Game

Jason Hall – American Sniper

Paul Thomas Anderson – Inherent Vice

Anthony McCarten – The Theory of Everything

Damien Chazelle – Whiplash

Theory lagi-lagi gagal menang. Inilah bukti bagi-bagi piala. Imitation juga sepertinya ga akan tangan hampa makanya dikasih menang di sini. Duh salah lagi.

Best Director – Salah (5/15)

WINNER: Alejandro González Iñárritu for Birdman

Richard Linklater for Boyhood

Bennett Miller for Foxcatcher Wes Anderson for The Grand Budapest Hotel

Morten Tyldum for The Imitation Game

Wow, just wow. Richard yang 12 tahun ga dapat piala. Boyhood dirampok? Hanya dikasih best supporting actress!  Gila.

Best Actor – Benar (6/15)

WINNER: Eddie Redmayne for The Theory of Everything

Steve Carell for Foxcatcher

Benedict Cumberbatch for The Imitation Game

Bradley Cooper for American Sniper

Michael Keaton for Birdman

Ini jelas sekali, Eddie harga mati. Ga terkejut.

Best Actress – Benar (7/15)

WINNER: Julianne Moore for Still Alice

Marion Cotillard for Two Days, One Night

Felicity Jones for The Theory of Everything

Rosamund Pike for Gone Girl Reese

Witherspoon for Wild

Finally Moore dapat piala juga. Momen paling mengharukan dan menggembirakan di Oscar 2015 yaini. Congrat Moore.

Best Picture – Benar (8/15)

WINNER: Birdman American

Sniper

Boyhood

The Imitation

Game

The Grand Budapest Hotel

Selma

The Theory of Everything Whiplash

Yak benar, Riggan meloncat darijendela memang untuk meraih piala Oscar! Dan Zul pundapat TV LED 32’ karena film ini. Selamat! Gmana menurut teman-teman semua, 8 dari 15 tepat. 3 dari 5 kategori utama benar. Dan Best Picture untuk kedua kalinya dalam 6 tahun terakhir OK. See…

Karawang, 240215

Prediksi Oscar Teman-Teman FOC

image

Karena Lazio the Great ga live dan benturan dengan acara akbar Oscar. Kuis minggu ini adalah tebak pemenang Oscar 5 kategori utama.
Best Picture | Best Director | Best Actor | Best Actress | Best Original Screenplay
Ditutup Minggu jam 17:00. Pemenang adalah yang pertama nebak benar semua.
Good luck foc-ers!

Kandidat!
Best Picture:
American Sniper
Birdman
Boyhood
The Grand Budapest Hotel
The Imitation Game
Selma
The Theory of Everything
Whiplash

Best Director:
Wes Anderson (The Grand Budapest
Hotel)
Alejandro González Iñárritu (Birdman )
Richard Linklater (Boyhood )
Bennett Miller (Foxcatcher )
Morten Tyldum (The Imitation Game)

Best Actor:
Steve Carell (Foxcatcher)
Bradley Cooper (American Sniper)
Benedict Cumberbatch (The Imitation
Game)
Michael Keaton (Birdman)
Eddie Redmayne (The Theory of
Everything)

Best Actress:
Marion Cotillard (Two Days, One Night)
Felicity Jones (The Theory of Everything)
Julianne Moore (Still Alice)
Rosamund Pike (Gone Girl)
Reese Witherspoon (Wild)

Original Screenplay:
Alejandro González Iñárritu, Nicolás
Giacobone, Alexander Dinelaris and
Armando Bo (Birdman)
Richard Linklater (Boyhood)
E. Max Frye and Dan Futterman
(Foxcatcher)
Wes Anderson, Hugo Guinness (The Grand
Budapest Hotel)
Dan Gilroy (Nightcrawler)

Penebak – Jawaban
1. LBP
Birdman |  Richard Linklater | Eddie Redmayne | Julianne Moore | The Grand Budapest Hotel
2. Sapin
Birdman | Inaritu | Michael keaton | Julianne moore | Birdman
3. William
Boyhood | Linklater | Keaton | Cotillard |  Birdman
4. Jacobs
Sniper | Inaritu | Cumberbitch | Pike | Inaritu
5. Takdir
Boyhood | Linklater | Keaton | Moore | Birdman
6. Huang
Boyhood | Linklater | Redmayne | Moore | Birdman 😁
7. Jefan
Boyhood | Linklater | Keaton | Moore | The Grand Budapest Hotel
8. Zul
Birdman | Linkater | Keaton | Rosamund Pike | The Grand Budapest
9. Andyka
Boyhood | Birdman | Steve Carell | Rosamund Pike | The Grand Budapest Hotel
10. Galih
Boyhood | Anderson | Redmayne | Moore | Birdman

Karawang, 230215 – 3 jam sebelum kick off

Oscar Prediction 2015: Look Up, Who’s Fly!

Akhirnya tiba juga acara yang dinanti itu. Tepat sehari sebelum diumumkan saya mencoba memprediksi. 15 kategori akan saya coba tebak hitung kancing. Daftar legkap kandidat ada di sini. Mari kita mulai:

1. Best Animated Feature

Baru dua film yang saya tonton, Boxtrolls dan Big Hero 6. Namun sudah yakin Big Hero 6 akan menang, jadi 3 film sisanya ga kulanjutkan cari. Semua syarat ada di film ini. Pengen rasanya dipeluk Baymax untuk untuk mengucapkan selamat.

2. Original Score

Ada tiga yang membuatku benar-benar terpesona, Mr. Turner, The Grand Budapest Hotel dan The Theory of Everything. Saya pilih yang terakhir. Sekali tonton kelembutan musiknya masih membekas sampai keesokan harinya saya tulis reviewnya.

3. Original Song

Hanya dari Selma yang sudah kutonton dan itu sudah cukup untuk meyakinkanku menebak “Glory” bakalan menang. Apalagi film sekelas Selma hanya mendapat 2 nominasi itu sungguh mengherankan. Dengan peluang best picture yang tipis, sayang sekali kalau film perjuangan King ini pulang dengan tangan hampa.

4. Best Cinematography

Unbroken memang ungul di kategori ini. Saya terpesona dengan film Wes Anderson, sejauh ini hanya film dia yang kuberi skor 5/5 untuk Oscar tahun 2015. Namun selalu, yang terbaik belum tentu menang. Apalagi Birdman sungguh luar biasa cinematografi-nya. Jadi maaf Yeoman, saya dengan yakin menebak Emmanuel Lubenzki.

5. Best Film Editing

Jelas sekali kategori ini dimenangkan Birdman. Editing film seolah-olah melakukan long take dari awal sampai menjelang akhir adalah sebuah masterpiece.

6. Best Visual Effect

Interstellar. Keunggulan utama film Nolan ini ada di sini. Oke adegan perang Dawn of the Planet of the Apes itu luar biasa. Tapi siapa yang tak terkesima scene visualisasi ‘black hole’ yang bukan sekedar teori segalanya?

7. Best Supporting Actress

Kategori ini tak ada yang benar-benar membuatku terpesona. Semuanya biasa tak ada yang wah. Sungguh mengecewakan aktris senior Meryl yang tampil biasa di Into the woods masuk nominasi lagi. Laura Dern di Wild juga sekedar lewat. Karena hanya Boyhood yang belum kutonton, jadi mending saya jagoin Patricia Arquetta, siapa tahu dia bermain bagus. Sebuah tebakan liar dari daftar yang biasa.

8. Best Supporting Actor

Ini kebalikan dari yang supporting actress, semuanya bagus. Yang unik dari daftar ini adalah ada dua pemeran Hulk. Awalnya saya berharap Mark akan menang namun di hari-hari terakhir saya justru dikejutkan penampilan Robert Duvall yang luar biasa di the Judge. Penampilan hakim yang rapuh saat diadili, jadi saya tebak aktor senior ini yang akan terseyum nanti.

9. Costume Design

Lobby Boy! Zero itu karakter unik dan memorable, topi miringnya membuatku tersenyum sepanjang film. Saingan berat paling dari Into the Woods yang menampilkan banyak dongeng sehingga memanjakan mata dengan banyaknya opsi tampilan, maksudku red riding hood? Haha, awas nanti dimakan Sapin! Yah, whatever. Saya pilih Milena Canonero dalam the Grand Budapest Hotel yang menang.

10. Adapted Screenplay

Lupakan si Sniper yang so so. The Imitation Game memikatku, terutama saat klimak pengungkapan jati diri Turing. Sayang The Theory of Everything ditulis dengan jauh lebih indah, paling suka saat Stephen menemukan ide black hole via baju yang dipakainya. Jadi pilihanku jatuh ke anthony McCarten.

Memasuki 5 kategori utama. Jreng jreng jreng, dum dum dum… (ceritanya suara drum dan simbal biar dramatis).

>.<

11. Original Screenplay

Bagus semua. Tahun ini naskah asli yang tercantum di daftar bagus semua (thank god, si sniper ga masuk di sini). Terakhir, Sabtu kemarin nonton Nightclawler. Itu film klimak to the maxx. Masuk salah satu yang terbaik 2014. Foxcatcher yang suram, itu ide bagus. Namun kini yang benar-benar terbaik yang wajib menang. Wes Anderson, please….

12. Best Actress

Awalnya terkesan Pike bakal menang karena sebagai film pertama Oscar yang saya tonton, namun mendekati hari H justru drama keluarga Alice mengalihkan dukunganku. Kini saatnya Julianne Moore angkat piala. Finally, finally, finally…

13. Best Actor

Kecuali Cooper, ke-4 nya bagus. Slot Cooper emang harusnya diisi si Jake. Saya apresiasi Steve yang keluar dari pakem komedi, hebat euy tiap dia bicara semua perhatian langsung fokus ke dia. Namun di kategori ini, hanya dua yang paling berpeluang menang. Keaton dan Eddie. Saya pilih Eddie, senyum nyebelin di atas kursi roda dengan mimik meyakinkanlah sebabnya.

14. Best Director

Ini kisahku mencari Boyhood ke lapak-lapak: 1. Pak ada film Boyhood? | Banyak mas pilih aja di rak itu | Ini film India pak | Katanya nyari film Boliwood? 2. Di lapak lain, mas ada film ini? [sambil nunjuki HP bertuliskan Boyhood] | Film apa ini? | Oscar | Oh pernah lihat, saya bantu cari [5 menit kemudian] Ini mas ketemu | Oh makasih [hati berbunga-bunga, tersenyum girang. Pas saya terima ternyata film Robinhood] 3. Muter lagi ke lapak lain, karena pada ga ngerti juga saya langsung cari ke rak drama terbaru. [5 menit kemudian ga ketemu] akhirnya saya tanya: Mas ada film Boyhood? | Penjualnya diam, memperhatikan saya dari atas ke bawah lalu berujar: Film XXX banyak di sini, silakan pilih di rak pojokan. God damn it! H-1 gagal nonton. Hiks.

Saya belum nonton tapi kenapa saya bisa yakin nebak Boyhood? Jawabnya ada di 12 tahun proses pembuatannya. Harus di-apresiasi dengan piala.

15. Best Picture

Selain Boyhood, Whiplash sampai H-1 belum ketonton. 5 Film Ok, 1 film NG. Buang yang NG, kita fokus ke 5 kandidat. Yang terbaik selalu paling kecil untuk menang, maaf The Grand Budapest Hotel saya coret. The Imitation Game, sip film ini memang bagus tapi tidak sampai membuat klimak di akhir. Selma, King’s Speech-nya luar biasa sayang momen perlawanan kulit hitam momennya sudah lewat tahun lalu di 12 Years a Slave. The Theory of Everything adalah jagoanku di hari Rabu lalu. Namun itu langsung digeser manusia burung sehari setelahnya. Yup, tahun ini saya menjagokan Birdman yang akan menang. Film yang intens dari awal sampai akhir. Ditampilkan dengan pesona luar biasa semua aktor yang terlibat. Ending-nya membuat kita pecah dua pendapat, dan juri Oscar sangat suka ending bercabang semacam ini. Jadi apa yang dilakukan Riggan saat melompat dari jendela? Untuk mengangkat piala Oscar tentunya.

Karawang, 220215 — SAP finally GO LIVE!

(review) Nighclawler: A Darkly Video Treat

“Aku tidak bisa membahayakan kesuksesan Perusahaan aku untuk mempertahankan seorang karyawan yang tak bisa dipercaya”

Wow, just wow. Film yang bagus, cerita yang disuguhkan sangat berkelas. Film dibuka di sebuah kota Los Angeles, Louis Bloom (Jake Gyllenhaal) di malam hari sedang mencoba mencuri pagar besi, kepergok petugas. Berpura-pura tersesat, Lou yang melihat petugas mengenakan jam tangan keren malah merampoknya. Pagar tersebut dijualnya kepada penadah, kepada penadah dia bilang butuh kerjaan. Dia pekerja keras, loyalitas, dan semangat tinggi. Dia meminta tolong untuk dimasukkan kerja, bahkan sebagai magang sekalipun. Namun dengan entengnya dia ditolak, “kami tak mempekerjakan seorang pencuri”.

Dari adegan pembuka kita sudah diberitahu bahwa Lou bukan orang baik-baik. Catat itu dengan benar, karena akan jadi pegangan kita sampai akhir film. Lalu saat dia mengendarai mobil menelusuri kota dia melihat ada kecelakaan lalu lintas, dia melihat dari dekat. Ada beberapa petugas sedang mencoba menolong korban, lalu ada pencari berita sedang mengambil gambar. Diperhatikannya dengan seksama, setelah dengar tawar menawar dengan sebuah stasiun televisi bahwa dia punya gambar berita kecelakaan kerja via telepon, harga video sang kameramen sungguh pantas. Tiga ratus dollar untuk sebuah rekaman sesaat. Dia pun mendekati kameramen, untuk meminta kerjaan namun ditolak mentah-mentah. Lou pun menyusun strategi untuk menjadi kameramen.

Dicurinya sebuah sepeda di pantai, lalu dijual dan duitnya buat beli kamera kecil, lalu dia search di internet untuk mempelajari kode panggilan darurat polisi, radio pemancar sampai menggunakan GPS mobil. Akhirnya momen yang ditunggu datang juga, dia berhasil mendapatkan gambar video bagus untuk dijual ke Tv-news, bertemu Nina Romina (Rene Russo) sang pimpinan berita pagi dia menjual seribu dollar, namun laku 250 dollar. Padahal dia tahu pasarannya bukan seribu dollar. Dari situ kita tahu, Lou adalah seorang business-man. Catat itu baik-baik, karena akan jadi pegangan kita sampai akhir film. Lou menabrak aturan jurnalistik, dan moral. Video yang dihasilkannya vulgar dan ekplisit.

Lalu dia pun buka lowongan untuk pekerja magang sebagai partnernya. Didapatnya seorang pemuda dengan latar belakang ga jelas, kerja serabutan, tempat tinggal ga nentu sampai pendidikan yang kurang. Debat di restoran saat interview ditampilkan dengan bagus, “sell your self!”. Tawar-menawar gaji, sampai akting gugup Rick (Riz Ahmed) yang menyakinkan. Dimulailah petualangan mencari video yang layak jual ke tv. Mulai dari kecelakaan lalu lintas, perampokan, kekerasan jalanan sampai pembunuhan semuanya terjadi di malam hari. Salah satu momen Lou mendapati kecelakaan lalu lintas, sang korban tergeletak diambilnya gambar tersebut. Namun karena angel-nya ga bagus, sang korban diseret di tengah untuk mendapatkan pencayahaan yang pas. Dari situ kita tahu, Lou orang yang licik, catat itu dengan baik-baik, karena akan jadi pegangan kita sampai akhir film.

Dalam sbuah scene dia menjelaskan untuk menjadi sukses, orang harus mengetahui potensi diri sendiri. Lalu mengetahui kelebihan dan kekurangannya, kelebihan itulah yang digali terus dan dikembangkan akan menjadi apa kamu kelak. Menjadi kameramen adalah pilihan karirnya dan dia yakin akan sukses di situ. Dari sini kita tahu Lou adalah orang yang cerdas. catat itu dengan baik-baik, karena akan jadi pegangan kita sampai akhir film.

Sampai akhirnya dia mendapatkan sebuah berita besar. Sebuah perampokan disertai pembunuhan terjadi, dia berhasil mendapat gambar sebelum polisi datang. Bahkan bisa merekam sepintas dua penjahatnya sebelum kabur, lalu direkamnya TKP pembunuhan di rumah besar tersebut beserta tiga korban penuh darah. Sampai detail ke dalam rumah. Ini akan jadi sebuah video dengan harga mahal, karena eksklusif. Benar saja Nina berani bayar 15.000 Dollar plus gratis gambar kecelaakn lalu lintas seorang kru kameremen. Bahkan Lou meminta dalam berita, nama production house (dadakan) dicantumkan dengan presiden-nya Lou. Sebuah lompatan karir. Rick dijadikan assisten / wakil presiden dengan kenaikan gaji dari 30 dollar semalam menjadi 75 dollar.

Puncak cerita, Lou mengetahui plat mobil pembunuh. Dari internet, dia berhasil menemukan alamat rumah lalu membuntutinya sampai di sebuah resto. Lalu dia menghubungi 911 bahwa dia melihat duo pembunuh. Lalu disiapkannya kamera untuk merekam penangkapan. Tahu bahwa ini akan jadi sebuah video ekslusif Rick meminta bonus. Sempat terdiam sesaat, Lou menyetujuinya. Sebuah pengambilan video berbahaya, berhasilkah?

Well, saya terpukau. Sebuah cerita yang sangaaaat bagus. Pantas sekali masuk best original screenplay. Seandainya menang, ya emang pantas walau jagoankua karya Wes Anderson. Akting Jake sangat keren, heran ga masuk nominasi best actor. Lebih bagus dia ketimbang Cooper. jadi benarkah cahaya akan lebih terang terlihat di malam hari?

Nightclawler | Director: Dan Gilroy |Screenplay: Dan Gilroy | Cast: Jake Gylenhaal, Michael Papajohn, Marco Rodriguez | Skor: 4.5/5

Karawang, 210215

(review) Mr. Turner: Unfortunately Fails To Live Up The Biopic

The Great of Eccentric British Painter, Joseph Mallord William Turner (Timothy Spall) atau lebih dikenal dengan J. M. W. Turner adalah pelukis legendaris, dia masuk dalam 10 pelukis paling berpengaruh di dunia. Pelukis lanskap zaman Romantic, air colourist dan print maker pada zaman Renaisans. Butuh dua kali percobaan nonton untuk biopic-nya. Pertama saat Rabu malam, belum setengah jam sudah terlelap. Bayangkan 2,5 jam durasi dengan tempo sangat lambat. Kedua pada hari Kamis kemarin saat libur tahun baru Imlek akhirnya di pagi yang mendung, saya berhasil tuntaskan. Hasilnya, sebuah film biopic yang melelahkan.

Film dibuka dengan sebuah pagi yang cerah, dua wanita berjalan sambal mengobrol sepanjang sungai. Lalu muncullah karakter utama Mr. Turner terlihat sedang menggambar matahari yang sedang terbit. Dari coretan di buku kecil tersebut, dia bawa pulang lalu dipindahkan ke kertas kanvas. Tinggal bersama pembantunya yang gugup Hannah Danby (Dorothy Atkinson) dan ayahnya William Turner (Paul Jesson), keseharian Mr. Turner adalah melukis lalu travelling untuk mencari inspirasi. The sun is God, dia sering melukis matahari tenggelam di pagi hari saat terbit agar waktu yang dia punya lebih banyak. Pagi adalah awal, sehingga mencerahkan.

Suatu hari datanglah Sophia Booth (Marion Bailey) seorang akademisi yang tampak cerdas. Dia mengajarkan seni melukis dengan cara memantulkan cahaya mentari ke kristal lalu muncullah pelangi, dari pantulan pelangi tersebut Mr. Turner bisa membuat sketsa yang menawan, yang akan mempengaruhi karya-karya lukisannya. Tampak betapa ayahnya bergitu dekat dan bersahabat. Sehingga saat ayahnya meninggal Turner begitu terpukul dan depresi. Dia kehilangan pegangan hidup. Terlibat banyak affair dengan wanita, termasuk pembantunya yang loyal. Salah satu adegan memorable film ini adalah saat pengambilan gambar. Sungguh di zaman itu bikin foto saja ribet. Beruntungnya kita hidup di zaman serba praktis. Lalu scene saat seluruh lukisannya mau dibeli seorang konglomerat dengan harga fantastis (di zaman itu), dia menolak dengan alasan agar lukisannya bisa dipamerkan dan dinikmati orang banyak. Hati yang besar, yah walau beberapa lukisannya kini banyak yang hilang.

Saat dirinya mencari penginapan yang menghadap pantai, agar bisa menangkap cahaya mentari saat terbit atau tenggelam dirinya lagi-lagi terlibat affair dengan pemilik penginapan. Disinyalir Mr. Turner memiliki anak diluar pernikahan. Sampai film berakhir, nyaris tak ada sesuatu yang WOW ditampilkan. Termasuk di masa senja saat Hannah bersama anaknya mau bertemu denganya namun ditutup dengan anti-klimaks. Sungguh sayang.

Bayangkan liburanku yang berharga kulepas nyaris 3 jam untuk film yang booooring ini. Saya bertahan karena awalnya berharap ada sesuatu yang layak ditunggu, namun tak kudapat. Dengan setting tahun 1800-an pemandangan yang ditampilkan memang klasik dan elegan serta penataan skor music yang renyah, dan hanya itu kelebihan film ini. Mr Turner sendiri digambarkan orangnya arogan dan kontraversi. Salah satu lukisannya adalah seorang pelacur yang berpose yang banyak dicerca namun berkelas. Di masa akhir hidupnya dia pergi ke London sampai kematiannya. Biopic yang gagal, lupakan.

Mr. Turner | Director: Mike Leigh | Screenplay: Mike Leigh | Cast: Timothy Spall, Paul Jesson, Dorothy Atkinson | Skor: 2/5

Karawang, 200215